<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682</atom:id><lastBuildDate>Thu, 19 Dec 2024 03:30:06 +0000</lastBuildDate><category>Anak</category><category>Pendidikan</category><category>Pernikahan</category><category>Muharram</category><category>Kemerdekaan</category><category>Poligami</category><category>Qurban</category><category>Tahun Baru</category><title>Nuansa Islami</title><description>Blog yang berisi informasi tentang Islam dan Dunia Islam</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Kingramli)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-5950124339359447382</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2020 14:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-31T23:05:54.196+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Menangkan dulu hati lelaki kita...</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;960&quot; data-original-width=&quot;540&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH38fKlS6233-ZfmOWaukGbknv7ee4IZEz7okxio3tDvUy6BcFOGQ3Bz-T5qZ1IyT43h-j_IXI8i-xIwai_qeRNRmvpVDqhA8maAAX2GUbnMUCb8bktdJUAS_utwFVwXitTvucgrSuUIrQ/s0/islam.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Gambar Ilustrasi, Air Terjun Sindang Gile Senaru Lombok Utara&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Di sebuah acara “reality show” Indonesia, seorang lelaki botak yang juga mentalis terlihat mewawancarai bintang tamunya. Begini kalimat pembukanya “Menjadi istri yang baik atau ibu yang baik?”
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Sayangnya saya tidak mengikuti acara tersebut. Sudah dua tahun terakhir ini rumah kami bebas televisi. Cuplikan acara tersebut saya temui di beranda akun media sosial seorang teman. Saya tertarik membahasnya karena kajian ini persis dengan tema yang saya dapat beberapa bulan lalu.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Kalian tahu apa jawaban pertanyaan yang awalnya membingungkan saya itu? Padahal ada satu kitab ajaib yang sudah menjelaskan secara apik jawabannya. Alquran berbicara tentang perempuan. Dia adalah kunci segalanya. Kebaikan keluarga, masyarakat, dan negara. Masih di dalam kitab yang menakjubkan itu perempuan dalam hal perannyanya dibagi menjadi empat bagian berdasar prioritas terbaiknya. Pertama, sebagai istri. Kedua, sebagai ibu. Ketiga sebagai pribadi. Terakhir, peran sosial.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Diantara keempat hal tersebut, alquran paling banyak bercerita tentang kiprah perempuan sebagai istri. Dan yang minim adalah kiprahnya dalam bidang sosial. Maka yang hari ini masih disibukkan oleh berbagai aktifitas yang manfaatnya hanya berdampak bagi dirinya sendiri sebaiknya segera berbenah. Begitu pula para “sosialita” diminta untuk berpikir ulang tentang perannya jika menginginkan dari rahimnya lahir generasi mulia.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Perhatikan urutan dominannya baik-baik. Ketika kita coba untuk membaliknya atau menggeser letaknya sekehendak nafsu kita, maka yang terjadi adalah tumbuhnya anak-anak yang bermasalah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Jadi ketika ditanya “Menjadi istri yang baik atau ibu yang baik?”. Maka jawabannya adalah istri yang baik. Itu adalah tingkatan peran teratas. Selesaikan dengan baik bagian ini. Berikan pengabdian istimewa untuk suami. Lalu perhatikanlah kemudian tugas perempuan sebagai ibu akan dengan mudah dijalani.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Inilah jawaban kenapa sebuah rumah yang “broken home” akan sulit sekali melahirkan anak-anak yang kokoh kepribadiannya. Karena tak lain, ia tak mendapatkan teladan itu di rumahnya. Tempat di mana kegemilangan generasi itu bermula.
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;Beberapa kali saya menemui kasus perempuan yang abai pada suaminya setelah hadirnya anak-anak. Mereka menganggap peran suci sebagai ibu di atas segalanya. Kemudian menuntut suami untuk paham bahwa kini sudah hadir makhluk kecil yang patut diprioritaskan dari pada suami. Ternyata ini keliru, perempuan cenderung mengikuti perasaannya untuk terus dipahami. Lihat saja betapa banyak literasi yang membahas tentang betapa peliknya peran perempuan sebagai istri dan ibu sekaligus. Bahkan lengkap dengan sajian data bahwa peran ini rawan depresi. Sampai pada kasus bunuh diri. Terus diulas gangguan psikologis yang sering sekali terjadi pada mereka.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya tak hendak menafikan fakta tersebut, tetapi saya ingin setiap wanita paham tentang urutan prioritas yang telah dirumuskan wahyu. Bukankah kita tak pernah ragu bahwa alquran itu adalah sebenar-benar petunjuk?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Seperti nasihat yang disampaikan ustazah saya di suatu siang ketika membahas tentang pengasuhan anak. “Sajikan pengabdian dan bakti terbaik yang bisa kita lakukan kepada suami, maka perhatikan keajaiban yang akan terjadi. Pengasuhan anak-anakpun menjadi kian mudah”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Berapa banyak kejadian emak yang temperamen kepada anak-anaknya hanya karena masalahnya dengan suami yang belum selesai. Maka sekali lagi, perhatikan prioritas penting ini ya Mak. Menangkan dulu hati lelaki kita.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Adalah tak mudah mencari tulisan dari lelaki yang mengulas tentang ini. Jikapun ada, maka ini tema yang tak menarik. Kurang dramatis. Bagi perempuan yang kapasitas perasaannya lebih mendominasi, menganggap hal ini adalah “lebay”. Makanya kemudian mereka menjuluki suami sebagai “bayi besar”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya tertarik sekali dengan pengalaman seorang teman ngaji yang ikut suaminya tugas belajar tinggal di Jeddah. Maka hal pertama yang saya tanyakan padanya waktu itu adalah
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Wah.. enak ya kalau akhir pekan bisa sering-sering ke Mekkah buat umrah, terus ramadhan juga bisa iktikaf di masjidil haram”. Mengingat jarak antara kedua kota itu tak begitu jauh.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Saya sukses melongo ketika ia menjawab “Nggak juga, aku tuh gak enak mikirin ibadah sunnah, sementara yang wajib terbengkalai”.
&lt;br /&gt;“Maksudnya?” tanya saya bodoh.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Iya.. hatiku nggak plong gitu kalau pergi iktikaf ataupun umrah sementara suami di sini makan minumnya gimana? yang nyiapin bajunya siapa? ininya terus itunya?”
&lt;br /&gt;Jleb!
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dan pikiran egois saya langsung meleleh takjub. Masya Allah..
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Dialog lain yang terjadi belasan tahun silam antara saya dan dosen tingkat pertama di bangku kuliah dulu juga masih begitu melekat erat. Ketika beliau mengkhawatirkan gelar paska sarjana dan penghasilan bulanannya berada di atas gelar dan gaji sang suami.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Aku khawatir gelar dan penghasilan ini menghalangiku dari bakti pada suami”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Sungguh kesadaran yang keren pada zaman di mana perempuan hari ini ribut menuntut kesetaraan gender dalam bungkus kemasan emansipasi yang salah kaprah. Dan bangga dengan kemampuan dirinya yang bisa mandiri menghasilkan sejumlah rupiah dari keringatnya sendiri. Perlahan ketundukan dan ketaatan pada suami sedikit demi sedikit tergerus. Ini keniscayaan. Hukum alam kepada mereka yang di dalam hatinya bersemayam biji kesombongan dan jauh dari majelis ilmu.
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;Betapa seringnya kita, eh saya maksudnya merasa segala pekerjaan melayani suami dari mulai menyiapkan hal-hal kecil itu adalah pekerjaan sepele. Dan berpikir keras mengejar amalan lainnya. Kehadiran bayi dan suami seperti penghalang antara diri kita dan ibadah yang nyaman. Bagaimana sulitnya mencari waktu untuk sekadar tenang membaca alquran tanpa interupsi ini dan itu. Bangun tahajud susah waktu si bayi bentar-bentar bangun malam minta Asi. Padahal syarat masuk surga seorang istri itu tak disebut harus tahajud atau tadarusan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Coba perhatikan lagi hadits yang luar biasa ini. Ah, semoga kita tidak termasuk istri yang “ngeyelan” sampai “ngambekan” hanya gara-gara menganggap amalan masa lajang dulu jauh melesat pencapaiannya dibanding ketika kita menjadi “emak-emak”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Camkan lagi kata-kata terakhir dari sabda Sang Nabi tersebut, : “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ganjaran keren yang bagaimana lagi coba yang mau kita kejar?
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Taubat yuk Mak
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;By. Fri Okta Fenni
&lt;br /&gt;Banda Aceh, 17 Januari 2019
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href=&quot;https://www.facebook.com/photo.php?fbid=811530762932227&amp;amp;set=a.113110202774290&amp;amp;type=3&amp;amp;theater&quot;&gt;copas FB&lt;/a&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2020/10/menangkan-dulu-hati-lelaki-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH38fKlS6233-ZfmOWaukGbknv7ee4IZEz7okxio3tDvUy6BcFOGQ3Bz-T5qZ1IyT43h-j_IXI8i-xIwai_qeRNRmvpVDqhA8maAAX2GUbnMUCb8bktdJUAS_utwFVwXitTvucgrSuUIrQ/s72-c/islam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-7627145578446774608</guid><pubDate>Mon, 19 Aug 2019 11:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:03:38.813+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kemerdekaan</category><title>Memaknai Hari Kemerdekaan dalam Bingkai Islam Bagian 2</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s1600/Merdeka.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;265&quot; data-original-width=&quot;650&quot; height=&quot;261&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s640/Merdeka.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari wahdah.or.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Agustus ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya. Semarak menyambutnya telah nampak sejak jauh jauh hari. Spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalan-jalan raya. Semuanya menyambut dengan semarak hari bersejarah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun di balik kesemarakannya, masih terselip berbagai pertanyaan di benak kita; apa makna kemerdekaan bagi kita? benarkah kita sudah merdeka secara hakiki? bagaimana kita mengisi kemerdekaan yang kita rasakan saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Berikut adalah sambungan dari tulisan pertama di link &lt;a href=&quot;https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/memaknai-hari-kemerdekaan-dalam-bingkai.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;berikut&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Salah Kaprah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemahaman kemerdekaan yang sempit adalah ketika seorang hanya memandang bahwa kemerdekaan itu hanya ketika pasukan musuh berhasil dipukul mundur dari wilayah perbatasan sebuah bangsa. Ya, itu memang adalah bagian dari indikasi kemerdekaan, namun bukan esensi (pokok). Mengapa demikian? Hal ini karena penjajahan terhadap suatu negeri, bukan hanya berupa penghancuran negeri tersebut oleh pasukan musuh, dirampasnya berbagai kekayaan alam dan sumberdaya oleh para penjajah, dan semacamnya, melainkan dengan corak dan ragamnya yang banyak, dan bahkan lebih buruk dari bentuk penjajahan fisik tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa besar keuntungan yang diraih dengan kepulangan pasukan musuh ke negerinya, jika sistem kehidupan para penjajah (baca: Barat) yang bertentangan dengan Islam dan jatidiri bangsa masih diterapkan di negeri ini? Jika demikian adanya, bukankah sebenarnya kita masih tetap dijajah, meski tidak dengan mesiu dan peluru? Memang, entah karena tidak tahu, lupa atau disengaja, masalah ini kerap dilupakan oleh generasi saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, penjajahan dalam arti yang sebenarnya adalah upaya untuk menjauhkan dan menghalangi manusia untuk mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh). Dari sini, kemerdekan itu sejatinya bersifat bertingkat-tingkat, antara satu individu atau komunitas dengan individu atau komunitas lainnya. Semuanya tergantung dari sejauh mana ia mampu menerapkan Islam dan nilai-nilainya yang agung dan mulia dalam hidup dan kehidupannya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhoG8XEZs_hTWIQcrTyKsp0WYSWGngXCFTwLycszJ4r55TK8GnsxKkhNnimgxOAtrI1te3WkUF8Wqugh1TaqDaKzQ_AVl5NZcWGm_3JD_W-J4DdyjSKJ2fn1hSqDp-6SH9zfz4Y0vqkjA/s1600/Merdeka1.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;450&quot; data-original-width=&quot;720&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhoG8XEZs_hTWIQcrTyKsp0WYSWGngXCFTwLycszJ4r55TK8GnsxKkhNnimgxOAtrI1te3WkUF8Wqugh1TaqDaKzQ_AVl5NZcWGm_3JD_W-J4DdyjSKJ2fn1hSqDp-6SH9zfz4Y0vqkjA/s640/Merdeka1.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari islami.co&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kemerdekaan adalah Bertindak Etis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan manusia meliputi hak untuk menjadi ada dan dihargai, beragama dan berkepercayaan, berpikir dan mengekspresikannya, dan beraktualisasi diri, berproduksi dan bereproduksi, hak untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan, kemerdekaan untuk tidak dirampas, diselewengkan, disalahgunakan dan dihambur-hamburkan, baik hak miliknya sendiri maupun hak miliki bersama. Manusia juga tidak boleh diperbudak oleh aturan dan kekuasaan apapun. Sebaliknya aturan dan kekuasaan diperlukan sebagai cara manusia memperoleh rasa aman, damai, keadilan dan kesejahteraan. Semua hak yang disebutkan ini adalah hak-hak fundamental manusia dan bersifat universal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tentu segera harus dikemukakan bahwa berbagai kemerdekaan manusia ini tidak berarti bahwa dia boleh bertindak semau-maunya. Ini adalah hal yang tak mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena setiap manusia berada dalam batas-batas ruang, waktu dan orang lain yang juga memiliki kemerdekaan. Atas dasar inilah maka tidak seorangpun berhak memaksakan kehendaknya atas orang lain. Karena yang lain juga punya kehendak yang sama. Pemaksaan kehendak, apalagi dengan cara-cara kekerasan, pembatasan dan perendahan martabat adalah melanggar prinsip kemanusiaan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan seseorang selalu membawa konsekuensi pertanggungjawaban atas seluruh tindakan dan pikirannya. Kemerdekaan dan tanggungjawab bagai dua sisi mata uang. Maka setiap orang dituntut secara etis untuk saling memberikan perlindungan, rasa aman dan penghormatan atas martabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini tampak logis bahwa kemerdekaan memiliki korelasi tak terpisahkan dengan kesetaraan antar manusia dan penghargaan satu atas yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan begitu, kemerdekaan adalah berpikir dan bertindak etis. Yakni berpikir dan bertindak untuk memperoleh kebaikan bagi diri dan orang lain dalam sistem atau institusi yang adil. Karena inilah tujuan kehidupan bersama manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrjDtKCDdbl2sK22Ol7oR-jB-WrWQFGAPJnAz_jOfocGqluvbUHByGwga_SNwPOfMIBXqxo2iyIlNNj_rG4GBvEdp7PP91SfynWwe10roNsacmnsll22_8uKVU-_3pNe2xRf5rOhhk6c4/s1600/Merdeka2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;480&quot; data-original-width=&quot;768&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrjDtKCDdbl2sK22Ol7oR-jB-WrWQFGAPJnAz_jOfocGqluvbUHByGwga_SNwPOfMIBXqxo2iyIlNNj_rG4GBvEdp7PP91SfynWwe10roNsacmnsll22_8uKVU-_3pNe2xRf5rOhhk6c4/s640/Merdeka2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari assajidin.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bentuk Penjajahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Corak dan ragam penjajahan itu bermacam-macam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, iblis adalah penjajah yang paling berbahaya bagi manusia. Bahayanya seperti apa? Ia senantiasa berupaya untuk menyesatkan manusia dari jalan hidayah dan Islam hingga hari kiamat. Iblis berkata sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’raf : 17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iblis menjajah manusia melalui bujuk rayunya yang dipoles dengan cover berbau ilmiyah, agar manusia menjauhi dan bahkan memusuhi ajaran dan syari’at Islam. Hingga tak ayal lagi, sebagian besar umat manusia dari dulu hingga sekarang telah tertipu oleh propagandanya. Maka, selayaknya kita menjadikannya sebagai musuh abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya syetan itu musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Al-Faathir : 6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, penjajah manusia yang tidak kalah bahayanya adalah nafsu dan syahwatnya, yang selalu mengajak kepada kejelekan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS. Yusuf : 53). Nafsu di sini adalah nafsu lawwamah yaitu jiwa yang selalu goncang, yang jika tidak diarahkan, akan mengantarkan manusia kepada keburukan. Nafsu dan syahwat seperti ini akan bisa diatasi di antaranya dengan ilmu (agama) untuk memperkuat ruhiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, penjajah dalam rupa dunia, juga kerap menampakkan kedigyantaraannya dalam menjajah jiwa manusia. Penjajah yang satu ini, tak puas-puas membuat ulah, padahal hampir semua darah yang tertumpah di permukaan bumi atas namanya. Ya, cinta dunia adalah racun dalam kehidupan umat manusia. Karena seorang yang cinta dunia dikhawatirkan akan membuang cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian pula sebaliknya, seseorang yang cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak akan memberikan tempat bagi dunia itu menempel di hatinya. Di antara racun dunia yang paling berbahaya bagi umat manusia adalah fitnah wanita, harta dan tahta. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diminta oleh seseorang untuk menunjukkan suatu amal dimana pelakunya akan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan manusia, beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya engkau akan dicintai Allah dan bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimilki manusia, nsicaya engkau akan dicintai manusia.” (HR. Ibnu Majah. Imam An-Nawawi men-hasan-kannya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;, penjajahan dalam bentuk ghazwul fikri (perang pemikiran), yaitu invasi nilai-nilai menyimpang yang bisa mengganggu dan merusak keyakinan, moralitas dan pola pikir kaum muslimin agar jauh dari nilai-nilai agamanya. Model penjajahan dan invasi ini juga tak kalah bahayanya karena ia datang dengan begitu halus dan tersembunyi melalui media-media propaganda yang hadir di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin hari ini, seperti televisi, internet, media cetak dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkLKofk72TfYqOAnm_Pgg-jjUpnDbFUJCPZbttXLzdGnOwRv-QA8ttsGczFNTJvzpyiAhhah1xYKILQyq3gbL6K2pxvVe_4yVTckLiCRYB6IoHnmW12lpVNWV8H6ER9DOi9EDwStwIIhs/s1600/Kemerdekaan.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;692&quot; height=&quot;333&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkLKofk72TfYqOAnm_Pgg-jjUpnDbFUJCPZbttXLzdGnOwRv-QA8ttsGczFNTJvzpyiAhhah1xYKILQyq3gbL6K2pxvVe_4yVTckLiCRYB6IoHnmW12lpVNWV8H6ER9DOi9EDwStwIIhs/s640/Kemerdekaan.gif&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi Kemerdekaan dari mediaumat.news&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mensyukuri Kemerdekaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan bangsa Indonesia dari rongrongan para penjajah terhadap hak dan kehormatan bangsa adalah sebuah nikmat besar yang wajib untuk disyukuri. 71 tahun yang lalu ketika bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya, para pendiri bangsa telah menyatakan pengakuannya dalam Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa…”. Sehingga jelas, bahwa kemerdekaan yang hingga saat ini kita rasakan adalah berkat Rahmat dan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri. Jika diingkari, tidak menutup kemungkinan, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencabut nikmat-Nya dan menggantinya dengan niqmah (adzab). Sebailiknya, jika disyukri maka kesyukuran tersebut akan mengundang nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lebih besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (kenikmatan tersebut) kepada kalian” (QS. Ibrahim: 7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mensyukuri kemerdekaan adalah mensyukurinya dengan lisan-lisan kita, dalam bentuk kalimat tahmid, berterima kasih dan menyebut jasa serta mendoakan para pahlawan, semoga amalnya diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menyebut jasa baik tersebut juga menjadi bagian dari syukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Abu Daud. Di-shahih-kan oleh Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Mensyukuri kemerdekaan adalah dengan mengisi masa kemerdekaan dengan amalan yang disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam berbangsa dan bernegara, bukan dengan mengisinya dengan kemaksiatan kepadaNya. Dengan tegas Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi arahan kepada bangsa ini bagaimana seharusnya mengisi kemerdekaan dan mensyukuri nikmat kepemimpinan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 41, ”(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” Kalimat ”kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi” dapat berarti suatu bentuk kemerdekaan dari penjajahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan mempertahankan keutuhan jati diri bangsa ini dengan nilai-nilai Islam yang tinggi dan cinta kepada negeri ini sebagai negeri Islam. Dengan itu, insyaaAllah kita akan mampu meraih kejayaan di masa yang akan datang dan meneruskan sejarah bangsa ini menjadi sebuah “baldatun thayyibatun warabbun ghafuur“ yaitu sebuah negara dan bangsa yang meraih maghfirah (ampunan), kesejahteraan dan kedamaian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala selama-lamanya. Semoga. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. wahdah.or.id&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. assajidin.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/memaknai-hari-kemerdekaan-dalam-bingkai_19.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s72-c/Merdeka.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-6823487129522023535</guid><pubDate>Mon, 19 Aug 2019 10:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:50:14.897+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Jangan Salah Memilih Sekolah untuk Anak</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s1600/pendidikan-islam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;393&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s640/pendidikan-islam.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari rijal09.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan anak menjadi hal penting untuk diperhatikan orang tua. Apalagi untuk yang beragama Islam, pendidikan umum dan agama harus sama-sama diperhatikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk para orang tua baru, memilih sekolah tentu jadi tantangan  tersendiri. Terlebih saat ini begitu banyak sekolah dengan beragam  metode dan kurikulum pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran orang tua sangat penting dalam memilih sekolah dasar untuk anak. Apalagi sekolah dasar inilah yang nantinya akan membentuk karakter anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sini, anak akan bertemu dengan guru yang memiliki cara mengajar berbeda dari sekolah sebelumnya yaitu ketika masih di bangku taman kanak-kanak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda saat ini tengah memiliki anak yang akan memasuki bangku  sekolah dasar, tentu perlu mengetahui tips memilih sekolah dasar Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pilihlah Sekolah yang mengajarkan tsaqafah islam yang dibutuhkan sesuai jenjang usia anak didik. Lebih baik lagi jika sekolah itu menerapkan kurikulum yang berbasis aqidah islam, yang memiliki kurikulum sesuai dengan tingkat perkembangan umur anak dan tentunya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sehingga para anak bisa mencintai dan mentaati Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pilihlah Sekolah yang merekrut guru-guru yang professional, amanah dan kafa’ah. Guru sangat menentukan dalam keberhasilan proses belajar mengajar untuk membentuk syakhsiyah (kepribadian) anak didik karena guru akan menjadi teladan terdekat setelah kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Pilih Sekolah yang menjalankan proses belajar mengajar secara islami. Para gurunya berusaha menyampaikan pelajaran dengan talaqy dan fikry, yakni dengan bahasa yang berpengaruh sehingga anak didik bisa benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan (tidak hanya sekedar transfer ilmu).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Pilihlah Sekolah dengan lingkungan dan budaya yang kondusif bagi pencapaian tujuan pendidikan secara optimal. Tidak hanya menanamkan pikiran yang islami terhadap anak didik, tetapi juga menerapkan kebiasaan yang islami seperti mewajibkan seluruh personil (guru, karyawan dan siswa) menutup aurat, tidak bercampur-baur (ikhtilat) dengan lawan jenis dalam kegiatan belajar-mengajar, juga yang tertib dan bersih bisa sehingga membuat anak menjadi lebih senang dan  betah dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKG8YA67Qe0ZXHxH_Z3wMNG78wQxkd_SNKZFNhK0pH_nTvlMg-qCDFZXR-a3yuNWV61YSAD8sN4oZ0ZHy37ZsXSkhuo4YUpaj7d7RXyOa2r7j-wMM4_t6ywH28QSzC2_WnXwkyaIz4pNs/s1600/mendidik-anak.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;365&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;487&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKG8YA67Qe0ZXHxH_Z3wMNG78wQxkd_SNKZFNhK0pH_nTvlMg-qCDFZXR-a3yuNWV61YSAD8sN4oZ0ZHy37ZsXSkhuo4YUpaj7d7RXyOa2r7j-wMM4_t6ywH28QSzC2_WnXwkyaIz4pNs/s640/mendidik-anak.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari sdi.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
5. Pilihlah Sekolah yang membuka lebar ruang interaksi dengan keluarga dan masyarakat agar keluarga dan masyarakat dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sekolah berusaha menyatukan visi dan misi pendidikannya kepada pihak keluarga dan masyarakat sehingga kepribadian anak didik terbentuk secara utuh sesuai dengan islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Pilihlah Sekolah yang sesuai dengan minat dan juga kemampuan anak dan mempunyai fasilitas&amp;nbsp; yang mendukung proses kegiatan pembelajaran lebih maksimal. Yang memiliki beragam kegiatan ekstrakurikuler yang di sesuaikan dengan bakat dan minat anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Sesuaikan kemampuan anda dengan sekolah yang di tuju.  Maka dari itu, tentu tidak ada salahnya jika memilih selain sekolah  unggulan dengan catatan; komitmen orangtua sebagai pendidik yang utama  harus tinggi. Orangtua tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pendidikan  anaknya kepada sekolah. Orangtua harus aktif terlibat dalam proses  pendidikan terutama dalam implementasi penanaman nilai-nilai islam yang  mungkin kurang terkontrol di sekolah umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selain itu bisa memilih sekolah berdasarkan Metode Pembelajaran tertentu yaitu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah dengan Metode Montessori. Metode ini biasanya&amp;nbsp; menggunakan alat bantu dalam proses pembelajaran. Anak-anak di sekolah Montessori umumnya akan lebih aktif dari gurunya. Mereka umumnya jarang mendapat work sheet. Anak-anak dengan karakter rapih, logis dan terstruktur cocok dengan sekolah metode Montessori.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah berbasis alam. Sekolah ini pada umumnya menggunakan kurikulum dari Dinas Pendidikan. Hanya saja semua alat-alat yang digunakan melibatkan alam. Misalnya belajar biologi langsung di alam, matematika dengan alat-alat dari alam dan sebagainya. Sekolah jenis ini sangat umum melakukan banyak kegiatan di alam, sehingga sangat cocok untuk anak-anak yang aktif atau berkarakter observer dan eksploratif. Tapi jangan coba-coba memasukkan anak rapih ke sekolah ini. Mereka mungkin akan tertekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah Berbasis Karakter. Sekolah dengan metode ini juga sedang banyak digandrungi. Sekolah karakter biasanya akan memasukkan nilai moral dalam setiap pelajarannya. Ada sembilan karakter yang akan dilibatkan dalam setiap pelajaran yang diberikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekolah dengan metode Multiple Intelligence. Untuk sekolah jenis ini biasanya akan melibatkan delapan kecerdasan dalam kegiatan pembelajarannya. Tujuannya untuk melihat dari delapan kecerdasan tersebut di mana anak paling menonjol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgakBBSrTNzA4zzGKeQqbVKPssmgh9GZPNmlXfrJtdTPSOfhMlKmV3zSdP3AI54ore2VQRccCY5yIKR2lk3bd7SCB_dsIVe57dpaTXDyW8203QUt_tTZa_tIEd0FZXOavtPzuq1O1AkMkA/s1600/mendidik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;219&quot; data-original-width=&quot;540&quot; height=&quot;260&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgakBBSrTNzA4zzGKeQqbVKPssmgh9GZPNmlXfrJtdTPSOfhMlKmV3zSdP3AI54ore2VQRccCY5yIKR2lk3bd7SCB_dsIVe57dpaTXDyW8203QUt_tTZa_tIEd0FZXOavtPzuq1O1AkMkA/s640/mendidik.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari bestfard.wordpress.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selain itu bisa memilih sekolah berdasarkan Metode Kurikulum&amp;nbsp; tertentu yaitu :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Indonesia ada beberapa kurikulum yang berlaku :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum Dinas Pendidikan (diknas) dan Kurikulum Departemen Agama (depag). Diknas produknya biasanya sekolah-sekolah negeri. Sementara Depag sekolah seperti madrasah. Anak-anak tekun, rapih dan terstruktur pas di sekolah dengan kurikulum ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Kurikulum Sekolah Islam terpadu. Umumnya ada muatan Islam lebih banyak seperti hafalan Alquran. Untuk anak-anak yang sekolah di Sekolah Islam Terpadu, sebaiknya orang tuanya ikut menyesuaikan. Jangan sampai menurutnya anak belajar hafalan dan melaksanakan berbagai shalat sunah, namun orang tuanya tidak. Anak-anak yang tekun, logis, rapih dan terstruktur cocok untuk sekolah dengan kurikulum ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum Cambridge. Kurikulum ini biasanya sangat akademis dan mengejar prestasi akademis. Terakhir adalah International Baccalaureate (IB). Anak-anak IB biasanya baru benar-benar belajar di kelas enam Sekolah Dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukup memusingkan bukan? Tapi begitulah gambarannya saat ini. Menjadi orang tua bukan hanya memasukkan anak ke sekolah dan selesai. Setiap apa yang dipilih harus diperhatikan baik-baik oleh orang tua. Ingat untuk menyesuaikannya dengan anak dan tidak memaksakan kehendak atau ambisi orang tua. Sebab jika salah pilih, maka potensi anak tak akan tereksplorasi secara maksimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat memilih sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber :republika.co.id</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/jangan-salah-memilih-sekolah-untuk-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s72-c/pendidikan-islam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-1119786452727325629</guid><pubDate>Sun, 18 Aug 2019 09:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:03:18.854+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kemerdekaan</category><title>Memaknai Hari Kemerdekaan dalam Bingkai Islam Bagian 1</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s1600/Merdeka.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;265&quot; data-original-width=&quot;650&quot; height=&quot;261&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s640/Merdeka.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari wahdah.or.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wahdah.or.id&lt;/b&gt; - Bulan Agustus ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari kemerdekaannya. Semarak menyambutnya telah nampak sejak jauh jauh hari. Spanduk, bendera, umbul-umbul, dan baliho-baliho bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan” menghiasi jalan-jalan raya. Semuanya menyambut dengan semarak hari bersejarah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun di balik kesemarakannya, masih terselip berbagai pertanyaan di benak kita; apa makna kemerdekaan bagi kita? benarkah kita sudah merdeka secara hakiki? bagaimana kita mengisi kemerdekaan yang kita rasakan saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “merdeka” diartikan dengan bebas dari penghambaan dan penjajahan. Yakni, tidak terikat dan bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Pengertian yang diungkapkan KBBI tersebut merupakan makna umum. Tentu, yang dimaksudkan merdeka di sini adalah bukan sebagai kebebasan melakukan segalanya dengan sekehendak  hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah bangsa ini, maka kita akan menemukan jejak Islam di setiap lembarannya. Ya, jejak perjuangan kaum muslimin dan para ulama yang menentang penindasan dan mengagungkan nama Islam. Bahkan perjuangan kemerdekaan tersebut telah ada jauh sebelum terbayangnya sebuah komunitas bernama Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sejarah itu, kita dapat melihat bagaimana semangat jihad melebur ke dalam budaya masyarakat Indonesia, yang memang menjadi mayoritas muslim kala itu. Tampilnya para pejuang Islam di beberapa wilayah seperti ; di Aceh dengan Hikayat Perang Sabil-nya, di Jawa dengan dengan Pangeran Diponegoro yang hendak merdeka dan melawan penjajahan, di Makassar dengan Sultan Alauddin yang berdiri tegak mempertahankan kesultanannya dari rongrongan VOC, dan daerah-daerah lainnya, semuanya menjadi warna perjuangan kemerdekaan bangsa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertumpuk-tumpuk badan telah menjadi syahid, insyaaAllah. Bersahut-sahut takbir memanggil, mengantar nyawa mereka bercerai dari badannya, yang dengannya mereka mempertanggung-jawabkan jihadnya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan, ketika perjuangan beralih ke zaman setelah itu, Islam tetap menjadi sumbu dari berputarnya usaha-usaha menuju kemerdekaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak heran, jika para ulama dan tokoh Islam, ketika memiliki kesempatan untuk mewarnai lahirnya Indonesia, mereka memanfaatkannya dengan memperjuangkan Islam sebagai pondasi negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui Piagam Jakarta (Jakarta Charter), umat Islam mencoba menyalurkan citanya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara merdeka yang bertauhid. Meskipun akhirnya pupus karena suatu sebab yang disesalkan para tokoh Islam waktu itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhoG8XEZs_hTWIQcrTyKsp0WYSWGngXCFTwLycszJ4r55TK8GnsxKkhNnimgxOAtrI1te3WkUF8Wqugh1TaqDaKzQ_AVl5NZcWGm_3JD_W-J4DdyjSKJ2fn1hSqDp-6SH9zfz4Y0vqkjA/s1600/Merdeka1.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;450&quot; data-original-width=&quot;720&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhoG8XEZs_hTWIQcrTyKsp0WYSWGngXCFTwLycszJ4r55TK8GnsxKkhNnimgxOAtrI1te3WkUF8Wqugh1TaqDaKzQ_AVl5NZcWGm_3JD_W-J4DdyjSKJ2fn1hSqDp-6SH9zfz4Y0vqkjA/s640/Merdeka1.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari islami.co&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Makna Kemerdekaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia, berdasarkan tabiat (fitrah)-nya, merupakan  makhluk yang merdeka. Dalil yang menunjukan hal ini dapat dilihat dalam  beberapa ayat Al-Quran, khususnya saat ruh manusia mengikat perjanjian  yang suci dengan Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu  mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah  mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah  Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami  menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat  kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang  yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (Q.S. al-A’rāf/ 7: 172).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia sebagai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala telah dianugerahi keistimewaan tersendiri yang tidak diperoleh oleh makhluk-makhluk lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ : 70).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain ilmu dan akal, di antara bentuk kemuliaan dan kelebihan manusia atas makhluk-makhluk lain, menurut sebagian para mufassirin (ahli tafsir), adalah kecenderungannya untuk terbebas dari penindasan dan penjajahan (Lihat Tafsir Bahrul Muhith 6/59).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, kemerdekaan merupakan kunci kemuliaan manusia. Manusia tak akan lebih utama dari makhluk-makhluk lain dan menjadi mulia sebelum ia terbebas dari penjajahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrjDtKCDdbl2sK22Ol7oR-jB-WrWQFGAPJnAz_jOfocGqluvbUHByGwga_SNwPOfMIBXqxo2iyIlNNj_rG4GBvEdp7PP91SfynWwe10roNsacmnsll22_8uKVU-_3pNe2xRf5rOhhk6c4/s1600/Merdeka2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;480&quot; data-original-width=&quot;768&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrjDtKCDdbl2sK22Ol7oR-jB-WrWQFGAPJnAz_jOfocGqluvbUHByGwga_SNwPOfMIBXqxo2iyIlNNj_rG4GBvEdp7PP91SfynWwe10roNsacmnsll22_8uKVU-_3pNe2xRf5rOhhk6c4/s640/Merdeka2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari assajidin.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lalu pertanyaannya, kemerdekaan seperti apa yang akan menjadikannya mulia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah atsar (riwayat) disebutkan, ketika Rib’i bin Amir radhiyallahu anhu, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qadishiyah ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia, ia menjawab,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.” (Lihat Al-Jihad Sabiluna hal. 119).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari atsar di atas, nampak bahwa Islam, ternyata, memandang kemerdekaan bukan dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi, baik dari segi lahiriyah maupun batiniyah, yakni kemerdekaan atau bebas dari penghambaan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala menuju tauhid untuk ranah batiniyah dan kemerdekaan dari kesempitan dunia dan ketidakadilan menuju kelapangan dan keadilan Islam dalam ranah lahiriyah. Sehingga bisa dikatakan bahwa makna kemerdekaan dalam ajaran Islam adalah kemerdekaan yang sempurna bagi umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Al-Aqidah Al-Washithiyyah berkata, “Ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah adalah kemerdekaan yang hakiki, (sehingga) orang yang tidak menyembah kepada Allah semata, maka dia adalah hamba (budak) bagi selain Allah”. Jika ia masih menjadi budak, tentu saja belum pantas disebut merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan yang asasi adalah ketika manusia berada dalam fitrahnya, yaitu Islam dan tauhid. Setiap manusia yang terlahir di muka bumi, sejatinya adalah manusia merdeka. Bagaimana bisa? Hal ini karena sejatinya tak seorang pun yang terlahir ke dunia ini kecuali telah bersaksi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Rabbnya dan Islam adalah agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf : 172).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika manusia tidak berada di atas fitrah tersebut, sekali lagi, sesungguhnya ia adalah manusia yang belum merdeka dan masih terjajah. Kemerdekaan manusia yang asasi ini kemudian bisa terampas dari lingkungan dimana manusia itu tumbuh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, selanjutnya orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nashrani, atau majusi” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, manusia tidak bisa dan tidak boleh menjadi budak bagi manusia yang lain. Perbudakan manusia atas manusia sama artinya dengan melanggar hak Tuhan. Manusia yang memperbudak manusia lain sama dengan memosisikan dirinya sebagai Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Muhammad dan para Nabi yang lain adalah para utusan Tuhan. Mereka ditugaskan membawa misi Tauhid ini, yang tidak lain hanya bermakna memerdekakan dan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan manusia atas manusia yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1PB3vhkjOIm_mQgu5RDo983ZzmxprgdIMJQ2rOg1jENobivpauatBgwxoaMRh234Y5TzRpbl-DekVIEyDTL_RC1ORi2uV59Ld7ESIHR9RjVJ2_TSi3gmuVfxpc808aVAPmOpviLGTAFc/s1600/Kemerdekaan.gif&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;692&quot; height=&quot;333&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1PB3vhkjOIm_mQgu5RDo983ZzmxprgdIMJQ2rOg1jENobivpauatBgwxoaMRh234Y5TzRpbl-DekVIEyDTL_RC1ORi2uV59Ld7ESIHR9RjVJ2_TSi3gmuVfxpc808aVAPmOpviLGTAFc/s640/Kemerdekaan.gif&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi Kemerdekaan dari mediaumat.news&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an menegaskan: “(Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang-benderang dengan izin Tuhan mereka”. (Q.S. Ibrahim, [14:1].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengeluarkan adalah membebaskan. Kegelapan di sini bermakna, kekafiran, kezaliman, kesesatan dan kebodohan. Cahaya adalah keimanan kepada Tuhan, keadilan, jalan lurus dan Ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini semua merupakan ajaran paling inti dari Islam dan setiap agama yang dibawa para nabi, utusan Tuhan dan para pembawa misi kemanusian yang lain. Karena ia merupakan refleksi dan aksi dari pernyataan Ke-Maha-Esa-an Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan manusia dalam Islam telah diperoleh sejak ia dilahirkan ibunya dan oleh karena itu tidak seorangpun dibenarkan memperbudaknya atas dasar kekuasaan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan Islam ini dipraktikkan Nabi melalui perintah-perintahnya kepada manusia untuk membebaskan sistem perbudakan melalui segala cara yang mungkin. Diinspirasi oleh tindakan Nabi ini, Umar bin Khattab, khalifah kaum muslim ke dua, kemudian mengembangkannya melalui tindakan pembebasan penzaliman manusia atas manusia yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, setiap muslim hendaknya memaknai kemerdekaan itu sebagai pembebasan dari segala bentuk kesyirikan yang dapat menyimpangkannya dari jalan fitrahnya. Begitu pula, kemerdekaan oleh seorang muslim adalah terbebasnya seorang hamba dari segala sistem kehidupan yang tidak bersumber dari aturan Islam dan sunnah NabiNya sebagai wahyu Ilahi. Olehnya, ketika seorang hamba senantiasa komitmen akan hal ini, maka sejatinya ia adalah manusia merdeka di sepanjang hidupnya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/memaknai-hari-kemerdekaan-dalam-bingkai_19.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bersambung ke bagian 2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. wahdah.or.id&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. assajidin.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/memaknai-hari-kemerdekaan-dalam-bingkai.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHaiOiKiJQ4NcQg0RgicqxUAqQzPGdk3dOoQ2w3OosXW59XKLTtYsCakBoAikb5iF2pHDmjWVvyZVpgwkihuh_JXDCzhSZopDRuMsG4ZmD0B3c9W4O-4CeISfvGJ31HiIvwz_p7mSuPFs/s72-c/Merdeka.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-555508139774784497</guid><pubDate>Sat, 17 Aug 2019 09:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-09-16T17:29:37.683+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Poligami</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Qurban</category><title>Nabi Ibrahim Sang Teladan, dari Poligami hingga Qurban</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwQQrYmv3H4rzUkHqnYXsTWiYFX4aLlmPZJPHc7SEc80_jL-C8nHXu7ZfmUuPv6CChxQyL9HuuoY9gU-eeraBFZhAh2KKbf7RaOvvbSjF54jRXmMsJFeztW1zNm-7iZ4vJmHX_aSF8VE/s1600/Qurban.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;927&quot; data-original-width=&quot;1023&quot; height=&quot;580&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwQQrYmv3H4rzUkHqnYXsTWiYFX4aLlmPZJPHc7SEc80_jL-C8nHXu7ZfmUuPv6CChxQyL9HuuoY9gU-eeraBFZhAh2KKbf7RaOvvbSjF54jRXmMsJFeztW1zNm-7iZ4vJmHX_aSF8VE/s640/Qurban.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PANJIMAS.COM&lt;/b&gt; – Qurban merupakan syariat yang sangat tua. Perintah qurban ini tidak lepas dari kisah Khalilullah, Ibrahim Alaihissalam. Maka semestinya kita mempelajari bagaimana jejak keteladanan Nabi Ibrahim tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Ibrahim berasal dari Babilonia. Saat itu negeri Babilonia diselimuti oleh kegelapan, di mana penduduknya menjadi penyembah berhala. Bahkan, Azar, ayah dari Nabi Ibrahim pun seorang pengrajin berhala. Nabi Ibrahim melakukan amar ma’ruf nahi munkar untuk mendidik umatnya, dengan menghancurkan patung-patung berhala, hingga ia dibakar hidup-hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ&amp;nbsp; قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ&amp;nbsp; قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ&amp;nbsp; قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ&amp;nbsp; قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ&amp;nbsp; قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.” Mereka (yang lain) berkata, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah engkau yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata, “Sesungguhnya kamulah yang menzalimi (diri sendiri).” Kemudian mereka menundukkan kepala  (lalu berkata), “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.” Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti?” Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim,” dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi. Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam. Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub, sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang shalih. (QS. Al-Anbiya: 58-72)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya kepada rakyat jelata, Nabi Ibrahim pun berdakwah kepada penguasa Babilonia yang zalim lagi kafir saat itu, yakni Raja Namrud. Dakwah Nabi Ibrahim kepada penguasa negeri Babilonia itu juga diabadikan dalam Al-Qur’an&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Baqarah: 258).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;هذا الذي حاج إبراهيم في ربه وهو ملك بابل: نمروذ بن كنعان بن كُوش بن سام بن نوح. ويقال: نمرود بن فالخ بن عابر بن شالخ بن أرفخشذ بن سام بن نوح والأول قول مجاهد وغيره&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya dalam ayat ini adalah Raja Babil (yaitu Namrud ibnu Kan’an ibnu Kausy ibnu Sam ibnu Nuh), dan menurut pendapat yang lain dikatakan Namrud ibnu Falik ibnu Abir ibnu Syalikh ibnu Arfakhsyad ibnu Sam ibnu Nuh. Pendapat yang pertama dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nabi Ibrahim dan Poligami&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Ibrahim menikah dengan Sarah, wanita satu-satunya yang beriman kepada Allah saat itu. Keduanya kemudian berhijrah ke Mesir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun di negeri tersebut Ibrahim kembali diuji Allah, ketika raja Mesir yang zalim hendak merebut Sarah. Kisah ini disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَاجَرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام بِسَارَةَ فَدَخَلَ بِهَا قَرْيَةً فِيهَا مَلِكٌ مِنْ الْمُلُوكِ أَوْ جَبَّارٌ مِنْ الْجَبَابِرَةِ فَقِيلَ دَخَلَ إِبْرَاهِيمُ بِامْرَأَةٍ هِيَ مِنْ أَحْسَنِ النِّسَاءِ فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ مَنْ هَذِهِ الَّتِي مَعَكَ قَالَ أُخْتِي ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهَا فَقَالَ لَا تُكَذِّبِي حَدِيثِي فَإِنِّي أَخْبَرْتُهُمْ أَنَّكِ أُخْتِي وَاللَّهِ إِنْ عَلَى الْأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرُكِ فَأَرْسَلَ بِهَا إِلَيْهِ فَقَامَ إِلَيْهَا فَقَامَتْ تَوَضَّأُ وَتُصَلِّي فَقَالَتْ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ آمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحْصَنْتُ فَرْجِي إِلَّا عَلَى زَوْجِي فَلَا تُسَلِّطْ عَلَيَّ الْكَافِرَ فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجْلِهِ قَالَ الْأَعْرَجُ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَتْ اللَّهُمَّ إِنْ يَمُتْ يُقَالُ هِيَ قَتَلَتْهُ فَأُرْسِلَ ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا فَقَامَتْ تَوَضَّأُ تُصَلِّي وَتَقُولُ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ آمَنْتُ بِكَ وَبِرَسُولِكَ وَأَحْصَنْتُ فَرْجِي إِلَّا عَلَى زَوْجِي فَلَا تُسَلِّطْ عَلَيَّ هَذَا الْكَافِرَ فَغُطَّ حَتَّى رَكَضَ بِرِجْلِهِ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ إِنْ يَمُتْ فَيُقَالُ هِيَ قَتَلَتْهُ فَأُرْسِلَ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَقَالَ وَاللَّهِ مَا أَرْسَلْتُمْ إِلَيَّ إِلَّا شَيْطَانًا ارْجِعُوهَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَأَعْطُوهَا آجَرَ فَرَجَعَتْ إِلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَتْ أَشَعَرْتَ أَنَّ اللَّهَ كَبَتَ الْكَافِرَ وَأَخْدَمَ وَلِيدَةً&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu’aib] telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zanad] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] berkata; Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nabi Ibrahim Alaihissalam berhijrah bersama isterinya Sarah lalu memasuki suatu kampung yang dipimpin oleh seorang raja atau seorang yang diktator diantara para penguasa bengis. Ada yang berkata; Nabi Ibrahim datang dengan seorang wanita yang paling cantik. Lalu Nabi Ibrahim dipanggil kemudian ditanya: Wahai Ibrahim, siapakah wanita yang bersamamu itu?” Nabi Ibrahim berkata: “Dia adalah saudariku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Nabi Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata: “Janganlah kamu mendustakan perkataanku karena aku telah mengabarkan kepada mereka bahwa kamu adalah saudaraku. Demi Allah sesungguhnya tidak ada orang beriman di tempat ini selain aku dan kamu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Sarah dibawa menghadap raja untuk hidup bersamanya. Maka Sarah berwudhu’ lalu shalat seraya berdo’a: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepadaMu dan kepada RasulMu dan aku memelihara kemaluanku kecuali untuk suamiku maka janganlah Engkau satukan aku dengan orang kafir ini”. Maka tiba-tiba raja itu langkahnya terhenti hingga kakinya tidak menempel ke tanah selain ujung-ujung jari-jemari kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata [Al A’raj], berkata [Abu Salamah bin ‘Abdurrahman], [Abu Hurairah radliallahu ‘anhu] berkata; Sarah berdo’a: “Ya Allah, seandainya dia mati nanti akan dikatakan bahwa wanita ini telah membunuhnya”. Maka Sarah dibawa kepada raja itu dan telah berdiri dihadapannya. Maka Sarah berwudhu’ lalu shalat seraya berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku beriman kepadaMu dan kepada RasulMu dan aku memelihara kemaluamku kecuali untuk suamiku maka janganlah Engkau satukan aku dengan orang kafir ini”. Secara tiba-tiba lagkah raja terhenti dan kakinya tidak menempel ke tanah selain ujung jari jemari kakinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQAbcX6_9Eji-eXUNg8gmdxH8mqEJRpPG7PKOG8IcIJNcslUiPxRhITYsfcFU3T3M-2v0HBos_Hz8jzYJjUtfQaW7QbM1kciimDOU0HflnytFOaJOJhw2G2rxog-85SIC667cbvCIeiXM/s1600/Qurban1.jpeg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;414&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;421&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQAbcX6_9Eji-eXUNg8gmdxH8mqEJRpPG7PKOG8IcIJNcslUiPxRhITYsfcFU3T3M-2v0HBos_Hz8jzYJjUtfQaW7QbM1kciimDOU0HflnytFOaJOJhw2G2rxog-85SIC667cbvCIeiXM/s640/Qurban1.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari hidayatullah.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Berkata ‘Abdurrahman, berkata Abu Salamah berkata, Abu Hurairah radliallahu ‘anhu: Sarah berkata: “Ya Allah, seandainya dia mati nanti akan dikatakan bahwa wanita ini telah membunuhnya”. Maka Sarah dibawa untuk kali kedua atau ketiga. Maka raja itu berkata: “Demi Allah, tidaklah kalian bawa ke hadapanku melainkan syetan. Kembalikanlah wanita itu kepada Ibrahim dan berikan dia upah. Maka Sarah kembali kepada Ibrahim Alaihissalam lalu berkata: “Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah menghinakan orang kafir itu dan menjadikannya sebadai budak seorang hamba sahaya?” (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat yang lain,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;فَقَالَ إِنَّكُمْ لَمْ تَأْتُونِي بِإِنْسَانٍ إِنَّمَا أَتَيْتُمُونِي بِشَيْطَانٍ فَأَخْدَمَهَا هَاجَرَ فَأَتَتْهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ مَهْيَا قَالَتْ رَدَّ اللَّهُ كَيْدَ الْكَافِرِ أَوْ الْفَاجِرِ فِي نَحْرِهِ وَأَخْدَمَ هَاجَرَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ تِلْكَ أُمُّكُمْ يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kemudian raja berkata: “Sungguh yang kalian bawa kepadaku ini bukan manusia, melainkan setan”. Akhirnya Sarah dihadiahi Hajar (sebagai pelayannya). Kemudian dia pulang dan mendapatkan Ibrahim sedang shalat maka dia memberi isyarat dengan tanganya yang inti pesannya “Tunggu sebentar”. Sarah berkata; “Allah telah membalikkan tipu daya orang kafir atau fajir ke tenggorokannya”. Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; “Itulah ibu kalian (bangsa Arab), wahai anak keturunan air langit (air zamzam) “. (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa tak hanya dalam Islam, dalam Bible pun dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim memperistri Sarah (Sarai) dan Hajar, bahkan ada istri Nabi Ibrahim yang ketiga bernama Ketura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: “Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak.” Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, –yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya (Kejadian 16: 1-3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abraham mengambil pula seorang isteri, namanya Ketura. Perempuan itu melahirkan baginya Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah. (Kejadian 25: 1-2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari penjelasan di atas disepakati bahwa Nabi Ibrahim itu berpoligami. Maka sangat ironis jika masih ada yang mempersoalkan tentang poligami. Padahal, dari keturunan Nabi Ibrahim yang berpoligami itulah lahir para Nabi dan Rasul yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nabi Ibrahim dan Qurban&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, Nabi Ibrahim kemudian menjadikan Hajar sebagai istri yang kedua, dari Hajar kemudian lahirlah Nabi Ismail. Seorang putra yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ . رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ . فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS. QS. Ash-Shaaffaat: 99-101).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وهذا الغلام هو إسماعيل عليه السلام، فإنه أولُ ولد بشر به إبراهيم، عليه السلام، وهو أكبر من إسحاق باتفاق المسلمين وأهل الكتاب، بل في نص كتابهم أن إسماعيل وُلِدَ ولإبراهيم، عليه السلام، ست وثمانون سنة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Anak ini adalah Nabi Ismail ‘Alaihissalam karena sesungguhnya dia adalah anak pertamanya yang sebelum kelahirannya, dia telah mendapat berita gembira mengenainya. Dia lebih tua daripada Nabi Ishaq, menurut kesepakatan kaum muslim dan kaum Ahli Kitab, bahkan di dalam nash kitab-kitab mereka disebutkan bahwa ketika Ibrahim a.s. mempunyai anak Ismail, ia berusia delapan puluh enam tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar apa yang dikatakan Ibnu Katsir, bahwa anak pertama yang dilahirkan oleh Nabi Ibrahim adalah Ismail. Hal ini sebagaimana tertera dalam Bible hingga saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Hagar melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abram dan Abram menamai anak yang dilahirkan Hagar itu Ismael. Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya. (Kejadian 16: 15-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kejadian 21: 5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, usia antara Nabi Ismail dan Ishak terpaut 14 tahun. Artinya lebih tua Nabi Ismail 14 tahun dari Nabi Ishak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dalam ayat selanjutnya, setelah dikarunikan seorang putra semata wayang, Nabi Ibrahim diperintahkan berqurban, dengan mengorbankan Ismail.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ وَبَشَّرْنَاهُ بِإِسْحَاقَ نَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu)Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang Zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (QS. Ash-Shaaffaat: 102-113).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan, setelah lebih dari delapan puluh tahun merindukan buah hati, tapi setelah dianugerahkan anak yang shalih, Allah memerintahkan agar disembelih. Sebuah ujian berat harus dihadapi Nabi Ibrahim. Sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وإنما كان المقصود من شرعه أولا إثابة الخليل على الصبر على ذبح ولده وعزمه على ذلك؛ ولهذا قال تعالى: { إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ } أي: الاختبار الواضح الجلي؛ حيث أمر بذبح ولده، فسارع إلى ذلك مستسلما لأمر الله، منقادا لطاعته؛ ولهذا قال تعالى: {وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى}&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan sesungguhnya tujuan utama dari perintah ini pada mulanya hanyalah untuk menguji keteguhan dan kesabaran Nabi Ibrahim a.s. dalam melaksanakan perintah Allah Swt. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (Ash-Shaffat: 106)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya, ujian yang jelas dan gamblang, yaitu perintah untuk menyembelih anaknya. Lalu Ibrahim a.s. bergegas mengerjakannya dengan penuh rasa berserah diri kepada Allah dan tunduk patuh kepada perintah-Nya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (An-Najm: 37).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat di atas sangat gamblang, bahwa yang disembelih sebagai obyek qurban adalah Nabi Ismail. Dalam sistematika ayat tersebut secara berurutan bahwa Allah akan mengaruniakan Nabi Ibrahim anak yang sabar (halim) yakni Ismail dan kemudian anak yang shalih yaitu Ishak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun syubhat yang menyatakan bahwa yang diqurbankan adalah Ishak ditolak oleh Al-Imam Ibnu Katsir karena bertentangan dengan nash yang ada, sebagaimana dalam Bible, Firman-Nya: ”Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” (Kejadian 22: 2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkata Al-Imam Ibnu Katsir,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وعندهم أن الله تعالى أمر إبراهيم أن يذبح ابنه وحيده، وفي نسخة: بكْره، فأقحموا هاهنا كذبا وبهتانا “إسحاق”، ولا يجوز هذا لأنه مخالف لنص كتابهم، وإنما أقحموا “إسحاق” لأنه أبوهم، وإسماعيل أبو العرب، فحسدوهم، فزادوا ذلك وحَرّفوا وحيدك، بمعنى الذي ليس عندك غيره، فإن إسماعيل كان ذهب به وبأمه إلى جنب  مكة وهذا تأويل وتحريف باطل، فإنه لا يقال: “وحيد” إلا لمن ليس له غيره، وأيضا فإن أول ولد له معزة ما ليس لمن بعده من الأولاد، فالأمر بذبحه أبلغ في الابتلاء والاختبار.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Menurut mereka (Ahli Kitab), Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anak tunggalnya itu, dan dalam salinan kitab yang lain disebutkan anak pertamanya. Akan tetapi, mereka mengubahnya dan membuat-buat kedustaan dalam keterangan ini, lalu mengganti dengan Ishaq. Padahal hal tersebut bertentangan dengan nas kitab asli mereka. Sesungguhnya mereka menyusupkan penggantian dengan memasukkan Ishaq sebagai ganti Ismail karena bapak moyang mereka adalah Ishaq, sedangkan Ismail adalah bapak moyang bangsa Arab. Orang-orang Ahli Kitab dengki dan iri hati kepada bangsa Arab, karena itu mereka menambah-nambahinya dan menyelewengkan arti anak tunggal dengan pengertian ‘anak yang ada di sisimu,’ karena Ismail telah dibawa pergi oleh Ibrahim bersama ibunya ke Mekah. Takwil seperti ini merupakan takwil yang menyimpang dan batil, karena sesungguhnya pengertian anak tunggal itu adalah anak yang semata wayang bagi Ibrahim (saat itu). Lagi pula anak pertama merupakan anak yang paling disayang lebih dari anak yang lahir sesudahnya, maka perintah untuk menyembelih­nya merupakan ujian dan cobaan yang sangat berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZrb1uM-5H4iy449vB1BI5hDfrtCtAEITOVczpv06Qwqeg1OE8L7nmxkiLSIzz4KTlExsNyNXQw8XNc9_lnH-gKlJs_WtrzGX9Cieb9hxtmbXa5BFGzTKCkF9sbfsjS5fTmVHIE8lFVL4/s1600/Qurban2.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;378&quot; data-original-width=&quot;1000&quot; height=&quot;242&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZrb1uM-5H4iy449vB1BI5hDfrtCtAEITOVczpv06Qwqeg1OE8L7nmxkiLSIzz4KTlExsNyNXQw8XNc9_lnH-gKlJs_WtrzGX9Cieb9hxtmbXa5BFGzTKCkF9sbfsjS5fTmVHIE8lFVL4/s640/Qurban2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari syaamilquran.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Bahkan bila ditelaah dalam Bible, seharusnya putra tunggal yang diqurbankan oleh Nabi Ibrahim adalah Ismail, bukan Ishak. Sebagaimana ayat-ayat Bible tentang kelahiran Ismail dan Ishak telah disebutkan di atas. Karena Ismail pernah menjadi anak tunggal satu-satunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari penjelasan di atas kita bisa menarik kesimpulan, bahwa poligami dan qurban adalah dua ajaran yang disyariatkan serta diamalkan Nabi terdahulu, dalam hal ini adalah nenek moyang para Nabi yaitu Nabi Ibrahim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga, jangan sampai kedua syariat itu dibeda-bedakan, misalnya; kaum hawa lebih suka berquban karena bisa menikmati dagingnya yang diolah dengan berbagai cara sesuai selera kulinernya. Lalu membenci poligami, karena rasa cemburu atau tak mau dimadu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kaum adam tak suka dengan syariat qurban karena menambah anggaran pengeluaran rumah tangga, padahal ia mampu melakukannya. Di sisi lain begitu gemar berbicara, bahkan mempraktekkan poligami, meskipun tak memiliki kemampuan ilmu, sikap adil maupun nafkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang perlu diperhatikan juga, orang yang mampu namun enggan berqurban harus berhati-hati karena dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berqurban, makan jangan sekali-kali mendekat ke tempat sholat kami. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari berislam secara kaffah, melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan seutuhnya. Wallahu a’lam. [AW]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;b&gt;panjimas.com&lt;/b&gt; &lt;span&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;!--more--&gt;&lt;/span&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/nabi-ibrahim-sang-teladan-dari-poligami.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwQQrYmv3H4rzUkHqnYXsTWiYFX4aLlmPZJPHc7SEc80_jL-C8nHXu7ZfmUuPv6CChxQyL9HuuoY9gU-eeraBFZhAh2KKbf7RaOvvbSjF54jRXmMsJFeztW1zNm-7iZ4vJmHX_aSF8VE/s72-c/Qurban.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-8773296658734732576</guid><pubDate>Sat, 17 Aug 2019 09:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:22:16.234+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muharram</category><title>Mari Puasa Sunnah Tasu’a dan ‘Asyura Agar Terhapus Dosa Setahun</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha32QyAHycdaGofx0zGQdipEGD9q5drJMPY6MIQCwaOLjvZyEREKstppEUS7XDskCi1cx5x21Z5jB56WHhoXxxUzsoj02ZSiKtOsbGFsekdlGqtPxcxtHBZ7hkxcubeVdpudf1Rf8pb48/s1600/asyura.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;471&quot; data-original-width=&quot;620&quot; height=&quot;486&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha32QyAHycdaGofx0zGQdipEGD9q5drJMPY6MIQCwaOLjvZyEREKstppEUS7XDskCi1cx5x21Z5jB56WHhoXxxUzsoj02ZSiKtOsbGFsekdlGqtPxcxtHBZ7hkxcubeVdpudf1Rf8pb48/s640/asyura.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari kiblat.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Hari Asyura adalah hari yang mulia. Rasulullah saw memerintahkan untuk  berpuasa pada hari ini. Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, dari Abu  Qatadah ra bahwa dia berkata, “Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Puasa tiga hari setiap (pertengahan) bulan, puasa dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya sama dengan puasa setahun penuh. Puasa pada hari Arafah, aku memohon pula kepada Allah, agar puasa itu bisa menghapus dosa setahun penuh sebelumnya dan setahun sesudahnya. Adapun puasa pada hari Asyura, aku memohon kepada Allah agar puasa tersebut bisa menghapus dosa setahun sebelumnya’.” (HR. Muslim) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abbas berkata, “Aku tidak pernah melihat Nabi saw sengaja berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari Asyura dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian, perbuatan yang disunahkan pada hari Asyura adalah berpuasa saja. Rasulullah saw telah berpuasa pada hari itu dan memberitahukan keutamaannya, sebagaimana disebutkan di hadits tersebut. Beliau&amp;nbsp; memerintahkan agar puasa tersebut ditegakkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta&#39;ala menjelaskan dalam Al-Qur&#39;an, bahwa Dia telah menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan yang disucikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah: 36)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larangan &quot;Janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,&quot; menunjukkan bahwa mengerjakan perbuatan maksiat pada empat bulan ini dosanya lebih besar dibandingkan maksiat pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu amal shalih yang dianjurkan Nabi SAW untuk dikerjakan pada bulan ini adalah ibadah puasa (shaum). Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya. Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;‏أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (syahrullah) Muharram. Sedangkan shalat malam merupakan shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu” (HR. Muslim, no. 1982).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SYARIAT PUASA TASU’A DAN ‘ASYURA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW menganjurkan untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram, khususnya puasa ‘Asyura, dengan keutamaan bisa menghapuskan dosa setahun pada masa lalu. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu” (HR. Muslim no. 1975).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؟ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&quot;Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, maka beliau bersabda: “Puasa &#39;Asyura dapat menghapuskan dosa-dosa kecil setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abbas RA mengabarkan semangat puasa Nabi SAW sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَهَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي شَهْرَ رَمَضَانَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah melihat Nabi SAW bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan pada satu bulan ini, yakni bulan Ramadhan” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIHUGepQD1qiXHRaX1ZQ2gJcs70PQ5GtCsn4XjXofMDK24K9Szxwpb905S5v8EEN00peBEYjk88v8fiUhAlriVrN7bTYJWtJwjMtSQlHzpw-6ZwCXAen5yn7BKXBgYJE4YNhvQZdWnwfY/s1600/asyura1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;415&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;379&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgIHUGepQD1qiXHRaX1ZQ2gJcs70PQ5GtCsn4XjXofMDK24K9Szxwpb905S5v8EEN00peBEYjk88v8fiUhAlriVrN7bTYJWtJwjMtSQlHzpw-6ZwCXAen5yn7BKXBgYJE4YNhvQZdWnwfY/s640/asyura1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari bangkitmedia.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LENGKAPILAH PUASA ‘ASYURA DENGAN PUASA TASU’A&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW menganjurkan kepada yang melaksanakan puasa ‘Asyura, untuk melengkapi dengan puasa Tasu’a sehari sebelumnya. Puasa pada tanggal 9 Muharram ini disyariatkan untuk menyelisihi syariat puasa Yahudi dan Nasrani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada hari itu, mereka berkomentar, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nasrani.’ Rasulullah SAW pun menjawab, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi SAW sudah wafat” (HR. Muslim no. 1916).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berkata: “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara keseluruhan, karena Nabi SAW telah berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Nawawi rahimahullaah menyebutkan ada tiga hikmah disyariatkannya puasa pada hari Tasu’a:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama, &lt;/b&gt;Untuk menyelisihi orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa Al-Kubra berkata, “Rasulullah SAW melarang bertasyabbuh dengan Ahli Kitab dalam banyak hadits, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Jika saya masih hidup di tahun depan, niscaya akan berpuasa pada hari kesembilan” (HR Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Hajar rahimahullaah memberi catatan terhadap hadits tersebut sebagai berikut: “Keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan dibawa maknanya agar tidak membatasi pada hari itu saja. Tapi menggabungkannya dengan hari kesepuluh, baik sebagai bentuk kehati-hatian ataupun untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Dan ini merupakan pendapat yang terkuat dan yang disebutkan oleh sebagian riwayat Muslim.”&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua.&lt;/b&gt; Untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga.&lt;/b&gt; Untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari kesembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HUKUM BERPUASA ‘ASYURA SAJA TANPA PUASA TASU’A&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski disunnahkan berpuasa Tasu’a, namun terkadang seseorang tidak ingat atau memiliki halangan untuk berpuasa Tasu’a, seperti sakit, bepergian, ada pekerjaan yang berat, atau alasan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban terhadap persoalan ini: “Puasa hari ‘Asyura menjadi kafarat (penghapus) dosa selama satu tahun dan tidak dimakruhkan berpuasa pada hari itu saja” (Al-Fatawa Al-Kubra Juz IV; Ikhtiyarat, hlm. 10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senada itu, Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Tuhfah Al-Muhtaj juga menyimpulkan bahwa tidak apa-apa berpuasa pada hari itu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lajnah Daimah, lembaga riset Ilmiyah dan fatwa yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah juga menyatakan pembolehan puasa ‘Asyura saja tanpa puasa Tasu’a (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah Lil-Buhuts al-Ilmiyah wal-Ifta’: 10/401).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, berpuasa pada hari ‘Asyura saja tanpa menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya dibolehkan. Tapi yang lebih utama adalah menambah puasa Tasu’a sehari sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7cSjx7mkQY-IjLc1Ejfc6QiSSnjXZ20lFxrjAUsfgC44hI3aJaFW2onsrs1aBaM1CbOoZBTgY9RFllsBJ789YQiTys60BiNzKqm61DidLGzMojLsnIEo9XQbmJH0p_lkR3udtBQCdk4E/s1600/asyura.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh7cSjx7mkQY-IjLc1Ejfc6QiSSnjXZ20lFxrjAUsfgC44hI3aJaFW2onsrs1aBaM1CbOoZBTgY9RFllsBJ789YQiTys60BiNzKqm61DidLGzMojLsnIEo9XQbmJH0p_lkR3udtBQCdk4E/s640/asyura.jpg&quot; width=&quot;640&quot; height=&quot;450&quot; data-original-width=&quot;800&quot; data-original-height=&quot;563&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;TATA CARA CARA MELAKUKAN PUASA &#39;ASYURA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa ‘Asyura bisa dilakukan dengan tiga cara, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERTAMA:&lt;/b&gt; Mengiringi puasa Asyura dengan puasa sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya. Jadi puasa tiga hari yaitu  tanggal 9, 10 dan 11 Muharrom. Inilah yang paling sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DR Said bin Ali Al-Qohthoni dalam kitab As-Shiyam fil Islam halaman 364 mendukung cara pertama ini dengan beberapa argumen berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai kehati-hatian. Karena bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari. Apabila tidak diketahui penetapan awal bulan dengan tepat, maka berpuasa pada tanggal 11-nya akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapati puasa Tasu’a (tanggal 9) dan puasa ‘Asyura (tanggal 10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan mendapat pahala puasa tiga hari dalam sebulan, sehingga baginya pahala puasa sebulan penuh (sesuai hadits riwayat Muslim 1162).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia akan berpuasa tiga hari pada bulan Muharrom yang mana nabi telah mengatakan: “Puasa yang paling afdhol setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram” (HR. Muslim 1163).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tercapai tujuan dalam menyelisihi orang Yahudi, tidak hanya puasa ‘Asyura, akan tetapi menyertakan hari lainnya juga (Fathul Bari 4/245, Syarah Riyadhus Shalihin, Ibnu Utsaimin 5/305).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEDUA:&lt;/b&gt; Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram (puasa Tasu’a dan Asyura), sesuai dengan petunjuk dalam banyak hadits Nabi SAW.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KETIGA:&lt;/b&gt; Berpuasa pada hari ‘Asyura tanggal 10 Muharram saja. Wallahu Ta’ala A’lam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;b&gt;infaqdakwahcenter.com&lt;/b&gt; </description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/mari-puasa-sunnah-tasua-dan-asyura-agar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha32QyAHycdaGofx0zGQdipEGD9q5drJMPY6MIQCwaOLjvZyEREKstppEUS7XDskCi1cx5x21Z5jB56WHhoXxxUzsoj02ZSiKtOsbGFsekdlGqtPxcxtHBZ7hkxcubeVdpudf1Rf8pb48/s72-c/asyura.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-6304497074250376129</guid><pubDate>Sat, 17 Aug 2019 03:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:20:33.415+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muharram</category><title>Menyambut Bulan Muharram dengan Beramal Sholeh</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPZWeGkzblqWGo_sZR3GHX48ts__IXc_AWTJeuNKZIVH5VEXEqD9mMNeIehFatStg-t8juYkX1shjTiSuwirVppj2IVdViHMg4Gl64-UAgN-tw98h0RJFXLyR82ApyJGT0q8lmEX4BrQk/s1600/muharram1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;393&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPZWeGkzblqWGo_sZR3GHX48ts__IXc_AWTJeuNKZIVH5VEXEqD9mMNeIehFatStg-t8juYkX1shjTiSuwirVppj2IVdViHMg4Gl64-UAgN-tw98h0RJFXLyR82ApyJGT0q8lmEX4BrQk/s640/muharram1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;gambar dari tribunnews.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram menjadi bulan yang sangat berpengaruh untuk sejarah umat Islam yang penuh barokah dan rahmah. Bulan Muharram merupakan bulan pertama di dalam penanggalan Hijriyah yang memiliki pahala berlipat ganda apabila berbuat baik ataupun berbuat dosa di dalam nya. Kali ini, kami hadirkan kajian mengenai amalan amalan di bulan Muharram untuk anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perbanyak Amalan Shalih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bersabda di dalam tafsir firman Allah ta’ala pada Surat At Taubah ayat 36, “maka janganlah kalian menzhalimi diri kalian…, Allah telah mengkhususkan empat bulan dari kedua belas bulan tersebut. Dan Allah menjadikannya sebagai bulan yang suci, mengagungkan kemuliaan-kemuliaannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar (dari bulan-bulan lainnya) serta memberikan pahala (yang lebih besar) dengan amalan-amalan shalih.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat akan besarnya pahala yang akan diberikan Allah  SWT dalam bulan Muharram, hendaknya kita sebagai  umat muslim lebih memperbanyak amalan amalan ketaatan pada Allah SWT di  bulan Muharram yakni dengan membaca Al Quran, berdzikir, puasa, shadaqah  dan amalan shalih lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jauhi Maksiat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qotadah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kezaliman pada bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada kezaliman yang dilakukan di luar bulan-bulan haram tersebut. Meskipun kezaliman pada setiap kondisi adalah perkara yang besar, akan tetapi Allah Ta’ala menjadikan sebagian dari perkara menjadi agung sesuai dengan kehendaknya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram juga menjadi bulan untuk menjauhi  kemaksiatan pada Allah, sebab dosa yang diperbuat pada bulan bulan  haram, akan lebih besar jika dibandingkan dengan dosa selain bulan  haram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memperbanyak Puasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram juga sebaiknya memperbanyak puasa  karena puasa yang dijalankan pada bulan Muharram adalah puasa terbaik setelah puasa  bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Puasa Asyura&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari Asyuro merupakan hari yang selalu dijaga keutamaannya oleh Rasulullah seperti dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dimana beliau berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari ‘Asyura) dan bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah bersabda &quot;Puasa ‘Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.&quot; (HR.Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam an-Nawawi berkata: “Keutamaannya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar” Majmu’ Syarah al-Muhadzzab, an-Nawawi 6/279&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu puasa ‘Asyura diwajibkan sebelum turunnya kewajiban puasa Ramadhan. Hal ini menujukkan keutamaan puasa ‘Asyura.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Umar berkata: “Nabi dahulu puasa ‘Asyura dan memerintahkan manusia agar berpuasa pula. Ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura ditinggalkan” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selisihi Orang Yahudi Dengan Puasa Tasu’a (Puasa di hari ke sembilan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi ﷺ melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada sahabat yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila tiba tahun depan kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Belum sampai tahun depan, Nabi ﷺ sudah&amp;nbsp; meninggal dunia.” (HR. Muslim, no. 1134)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, bahwa maksud Rasulullah SAW memerintahkan sahabat berpuasa pada tanggal 9 Muharram adalah untuk menyelisihi orang Yahudi yang cuma berpuasa tanggal 10 Muharram saja. (Syarh Shahih Muslim, 8/14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4pAmsyLIa6r0dKpNnLbDdEfxMu_vSJupJhInx0_1qqYwbx0ommtHJd7zmiF3DbXwc4lY6o-PI4uRslh484PhA71jjHjZ9Dos4U4DxCwIXbZwORaeC90Xd2fvmPaolSgFJCfHxU3f4crw/s1600/muharram.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1280&quot; data-original-width=&quot;1207&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4pAmsyLIa6r0dKpNnLbDdEfxMu_vSJupJhInx0_1qqYwbx0ommtHJd7zmiF3DbXwc4lY6o-PI4uRslh484PhA71jjHjZ9Dos4U4DxCwIXbZwORaeC90Xd2fvmPaolSgFJCfHxU3f4crw/s640/muharram.jpg&quot; width=&quot;604&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Puasa Sunnah 11 Muharram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa ‘Asyura. Pendapat ini berdasarkan hadits,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puasalah hari ‘Asyura, namun jangan menyamai orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadits ini menurut mereka sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Syaikh al-Albani dan Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Qudamah menukil perkataan Imam Ahmad, “Jika awal Bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari; (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram).” Ibnu Siirin pun menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram. (al-Mughni, 3/174).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak&amp;nbsp; hadist.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja. (Zaadul Ma’ad, 2/72)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11  Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak  puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam  hadist dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, bahwa ﷺ bersabda,  “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Bulan  Muharram.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tidak Berbuat Dzalim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan Muharram juga sangat dianjurkan untuk tidak berbuat dzalim baik dalam perkara kecil atau pun perkara besar. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu.”(QS. at-Taubah: 36)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian terhadap kedhaliman, karena sesungguhnya kedhaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim dan lainnya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau juga bersabda dalam hadits lainnya, “Tidak ada dari satu dosapun yang lebih pantas untuk dicepatkan siksanya dari pelaku dosa itu baik di dunia maupun di akhirat daripada melewati batas (kedhaliman) dan memutus silaturrahim.” (ash-Shahihah, no. 915)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menyantuni Anak Yatim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain lebih memperbanyak puasa, bulan Muharram juga menjadi bulan yang disarankan untuk menyantuni anak yatim sebab termasuk dalam pahala yang dianjurkan Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menjenguk Orang Sakit&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bulan Muharram juga disarankan untuk menjenguk dan menengok satu orang yang sedang sakit sebab pahalanya seperti sudah menengok orang satu dunia. Setelah itu dilanjutkan dengan shalat 4 raka’at dan setiap raka’at sesudah membacakan surat Al Fatihah dilanjutkan dengan membacakan surat Al Ikhlas sebelas kali sehingga akan diampuni dosanya selama 50 tahun yang dilakukan pada waktu dhuha dengan niat sholat sunnah mutlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Meluaskan Belanja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram yakni pada hari Asyura juga disarankan untuk meluaskan belanja pada keluarga sehingga Allah SWT juga akan meluaskan atas belanja selama setahun. Sebagian ulama hadits memang melemahkan hadits tersebut, akan tetapi sebagian ulama lagi mengatakan jika hadits tersebut adalah shahih dan sebagian lagi mengatakan hasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama yang menshahihkan diantaranya adalah Zainuddin Al-Iraqi, Ibnu Nashiruddin. As-Suyuthi dan juga Al Hafidz Ibnu Hajar yang mengatakan jika sangat banyak jalur periwayatan hadits tersebut sehingga derajat hadits ini menjadi hasan dan bahkan menjadi shahih.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bersedekah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersedekah juga menjadi amalan di bulan Muharram, dimana seseorang yang melakukan sedekah pada bulan tersebut maka akan seperti bersedekah selama setahun. Kalangan mazhab Malik juga menyarankan banyak bersedekah, namun untuk mazhab lainnya tidak memiliki landasan dalil yang dengan khusus membahas akan hal tersebut dan memiliki derajat hadits yang kuat sehingga mendhaifkan hadits tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Muhasabah dan Intropeksi Diri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amalan  berikutnya yang harus diperbanyak pada bulan Muharram adalah muhasabah  dan juga intropeksi diri seiring dengan bertambahnya usia. Ini semua  dilakukan sebagai bekal menuju perjalanan panjang di akhirat yakni  dengan memperbanyak amalan amalan shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai  orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan setiap diri  hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok  (akhirat)…” (QS. Al Hasyr: 18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Taubat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taubat  merupakan kembali pada Allah SWT dari perkara yang Allah SWT benci  secara lahir dan batin menuju ke perkara yang Allah SWT senangi. Taubat  memiliki arti menyesal dengan semua dosa yang sudah diperbuat pada masa  lalu dan kemudian meninggalkannya serta bertekad untuk tidak  mengulanginya kembali dan taubat ini merupakan tugas yang berlangsung  untuk seumur hidup. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim yang  jatuh dalam dosa dan perbuatan maksiat untuk segera bertaubat khususnya  pada bulan Muharram dan tidak menundanya sebab kematian yang menjemput  tidak diketahui waktu kedatangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memberbanyak Berdoa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram adalah bulan yang mulai di mana amalan ibadah di dalamnya berlipat ganda. Memperbanyak berdoa adalah salah satu amalan yang seharusnya di lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah mengajarkan kepada orang yang beriman untuk berdoa demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Doa itu termuat dalam Surat Al Baqarah ayat 201, &#39;&#39;Rabbana atinaa fid dun-ya hasanah wafil aakhirati hasanah waqinaa &#39;adzabannaar (Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka).&#39;&#39; Keinginan yang kuat untuk dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat, juga harus dibarengi dengan doa yang sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda tentang permintaan orang yang berdoa. Sabda Rasulullah SAW, &#39;&#39;... akan tetapi hendaknya ia meyakini dengan apa yang dimintanya.&#39;&#39; Ad Dawudi dalam Fath Al Baari menjelaskan makna &#39;meyakini dengan apa yang dimintanya&#39; adalah bahwa manusia yang berdoa itu bersungguh-sungguh dan bersikeras seperti berdoanya seorang fakir yang benar-benar kesusahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hadis riwayat Muslim juga disebutkan hadis Nabi SAW tentang doa yang seharusnya dipanjatkan penuh hasrat dan keinginan. Rasulullah SAW bersabda, &#39;&#39;Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaknya ia membesarkan hasrat dan keinginannya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang dianggap besar bagi Allah SWT.&#39;&#39; Doa yang penuh semangat, yakin dan penuh harapan tersebut juga dapat memperkuat ingatan seorang hamba kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNqvlHOpchfpUPK392jjbJDVfOI1WpqSJsyofsljwCELZOo1zA4d4ssN0wnCmtkk3sJdbjVqs9fIehphjn_JvNGOBifKP-tqtu09lmS2gr1USJQ-Et33FC2Ma2QfbTxiUvyh494fhSeec/s1600/muharram2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNqvlHOpchfpUPK392jjbJDVfOI1WpqSJsyofsljwCELZOo1zA4d4ssN0wnCmtkk3sJdbjVqs9fIehphjn_JvNGOBifKP-tqtu09lmS2gr1USJQ-Et33FC2Ma2QfbTxiUvyh494fhSeec/s640/muharram2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt;&quot;&gt;Masjid Al-Saleh Sana’a, Yaman (foto dari &lt;a href=&quot;http://www.nationalgeographic.com/wallpaper/ngm/photo-contest/2010/entries/wallpaper/week-3/ngpc-wp-wk-3-16/&quot;&gt;nationalgeographic.com&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Membaca Doa Akhir Tahun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amalan membacakan doa saat akhir Dzulhijjah bisa dilakukan  selepas ashar dengan doa ini, kita sebagai Mu’min  memohon pada Allah SWT supaya bisa meninggalkan penuh pengambunan dan keberkahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menyebut nama Allah  Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat da salam tetap  tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad beserta keluarga da sahabat  beliau. Yaa Allah ya Tuhanku, apa yang aku perbuat sepanjang tahun ini  berupa perbuatan-perbuatan yang Engau larang aku melakukannya, sedang  aku belum bertaubat dari padanya, dan Engkaupun telah menyayangiku  setelah Engkaupun kuasa untuk menyiksaku, kemudian Engkau menyeruku  untuk bertaubat dari padanya setelah aku bermaksiat kepada-Mu, maka  ampunilah aku kerjakan di tahun ini, adalah berupa perbuatan yang Engkau  ridhoi dan Engkau janjikan pahala atasnya. Dan aku memohon kepada-Mu  wahai Tuhanku, wahai dzat Yang Maha Mulia, Yang memiliki kebesaran dan  kemuliaan, agar Engau terima amalku ini, wahai Dzat Yang Maha Mulia.  Semoga rahmat dan salam Alloh tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi  Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Doa Awal Tahun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amalan membacakan doa saat memasuki tanggal 1 Muharram bisa dilakukan selepas maghrib atau sesudahnya dan dengan doa ini, kita sebagai Mu’min memohon pada Allah SWT supaya bisa memasuki tahun baru dengan amal kebajikan dan juga ketaqwaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-‘azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti: Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, Nabi yang ummi dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian beberapa amalan yang bisa di amalkan saat berada di bulan Muharram, semoga setelah membaca informasi ini, kita sekalian mau mengamalkan agar bisa menambahkan pahala di akhirat nanti. Aamiiin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;b&gt;dalamislam.com&lt;/b&gt; </description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/menyambut-bulan-muharram-dengan-beramal.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPZWeGkzblqWGo_sZR3GHX48ts__IXc_AWTJeuNKZIVH5VEXEqD9mMNeIehFatStg-t8juYkX1shjTiSuwirVppj2IVdViHMg4Gl64-UAgN-tw98h0RJFXLyR82ApyJGT0q8lmEX4BrQk/s72-c/muharram1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-8305748180972099797</guid><pubDate>Fri, 16 Aug 2019 05:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-17T10:52:07.818+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muharram</category><title>Keistimewaan Bulan Muharram</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivfuNmyziiO78kFjvbLSjBx0Sp3BXjiA5By3Y22HPFxSH0W9YoYMHpwieFMdvKeNNV6J16oOpsxvXFtzc6ZpkF04uEOnHJfa1bPlD44_qogOxJxfh7V3g8Y69vNewOYR-o192iqjc3eBI/s1600/muharram.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;500&quot; data-original-width=&quot;810&quot; height=&quot;395&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivfuNmyziiO78kFjvbLSjBx0Sp3BXjiA5By3Y22HPFxSH0W9YoYMHpwieFMdvKeNNV6J16oOpsxvXFtzc6ZpkF04uEOnHJfa1bPlD44_qogOxJxfh7V3g8Y69vNewOYR-o192iqjc3eBI/s640/muharram.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi dari muslim.or.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan bulan muharram bisa kita raih dengan mengamalkan amalan-amalan utama yang di sunnahkan di bulan muharram dalam kehidupan sehari – hari. Arti dari kata muharram sendiri ialah diharamkan. Bisa dinamakan sebagai bulan muharram karena dahulu kala bulan ini diharamkan untuk melakukan suatu aktivitas berperang, dikecualikan untuk perang mempertahankan diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu  Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;: pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan/peperangan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;:  pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih  ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut.  Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan  ketaatan.” Demikian pendapat Ibnul Jauziy ketika menafsirkan surat At  Taubah ayat 36.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut  sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci. Melakukan maksiat pada  bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang  dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Saw memberikan julukan sebagai bulannya Allah Swt. Jaman dahulu sebelum muncul nama bulan muharram, bulan ini dinamakan sebagai bulan Shafar Al-Awwal. Bulan muharram dalam Islam merupakan bulan yang menjadi pembuka dalam penentuan penanggalan hijriah.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keistimewaan Bulan Muharram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Bulan Muharram Merupakan Bulan Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. [ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan Muharram betul-betul istimewa karena disebut syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh jalalah Allah. Karena disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, inilah yang menunjukkan keagungan dan keistimewaannya. ( Lihat Tuhfatul  Ahwadzi, Al Mubarakfuri, 3/368, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan yang sangat bagus dari As Zamakhsyari, kami nukil dari Faidhul Qadir (2/53), beliau rahimahullah mengatakan, ”Bulan Muharram ini disebut syahrullah (bulan Allah), disandarkan pada lafazh jalalah ’Allah’ untuk menunjukkan mulia dan agungnya bulan tersebut, sebagaimana pula kita menyebut ’Baitullah’ (rumah Allah) atau ’Ahlullah’ (keluarga Allah) ketika menyebut Quraisy. Penyandaran yang khusus di sini dan tidak kita temui pada bulan-bulan lainnya, ini menunjukkan adanya keutamaan pada bulan tersebut. ( Lihat Faidul Qodir, Al Munawi, 2/53, Mawqi’ Ya’sub.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iraqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram). ( Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnMNhyphenhyphenMoR_jpRqoUIrLRyhBheTta41FYeNJYNtWFA1DXeri9TGY3YhgY26DMP9K4jMeFVFnb25Bn2WxYato85TAgaUxg2Gk2IJg3jmIOj6IgQVdmDCPJ4h3005rwgAX8R-7SPHpkpPmQ8/s1600/muharram1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;400&quot; data-original-width=&quot;600&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnMNhyphenhyphenMoR_jpRqoUIrLRyhBheTta41FYeNJYNtWFA1DXeri9TGY3YhgY26DMP9K4jMeFVFnb25Bn2WxYato85TAgaUxg2Gk2IJg3jmIOj6IgQVdmDCPJ4h3005rwgAX8R-7SPHpkpPmQ8/s640/muharram1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi dari ikadi.or.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Bulan Muharram Merupakan Salah Satu di antara Bulan Haram&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..” (QS. At-Taubah: 36)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Az-Zuhri mengatakan,&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
“Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.17301).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Bulan Muharram Adalah Bulan Mulia Setelah Ramadhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasan Al-Bashri mengatakan, &quot;Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini.&quot; (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Dianjurkan Memperbanyak Puasa Sunnah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah  (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat  fardhu adalah shalat malam”. [ H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu  Hurairah radhiyallohu anhu]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEf6aLmu5WlBZvj1xRBTxtAw_bSv9359ptcNF7_MDVZBUD407T6oBQWyMHnn_-cqzbK7lsnGtMdpHxREQKZTt4-0G16emykmNeiPJt9sjm8Q8X8yRddMH9mXcQtVhtI_Pz5NdqR0oOImY/s1600/muharram2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;393&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEf6aLmu5WlBZvj1xRBTxtAw_bSv9359ptcNF7_MDVZBUD407T6oBQWyMHnn_-cqzbK7lsnGtMdpHxREQKZTt4-0G16emykmNeiPJt9sjm8Q8X8yRddMH9mXcQtVhtI_Pz5NdqR0oOImY/s640/muharram2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi dari tribunnews.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutip dari Harakah Islamiyah, dalam riwayat Bukhari dan Muslim,  dari Abu Musa Al Asy&#39;ari, Rasulullah shallallahu&#39;alaihi wa sallam  berkisah mengenai kebiasaan orang-orang Quraisy berpuasa saat Hari  Asyura di masa jahiliyah. Rasulullah kemudian menyuruh umat Islam puasa  Asyura.&lt;br /&gt;
&quot;Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan  dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah  shallallahu&#39;alaihi wa sallam bersabda, &#39;Berpuasalah kamu sekalian pada  hari itu&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama seperti Imam Asy Syafi’i , Imam  Ahmad, Ishaq dan ulama lain pernah berkata bahwa dianjurkan untuk  melaksanakan puasa sunah pada hari kesembilan dan juga hari kesepuluh,  karena zaman dahulu Rasulullah Saw melaksanakan puasa pada hari  kesepuluh dan juga berniat melaksanakan puasa juga pada hari kesembilan.  (Syarh Muslim, 8: 12-13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Pada Bulan Muharram Terdapat Hari Asyura’&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari Asyura’ artinya hari kesepuluh dari bulan Muharram. Pada hari itu dianjurkan untuk berpuasa, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Ibnu Abbas ra berkata : “ Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’, maka beliau bertanya : &quot;Hari apa ini?”. Mereka menjawab :“Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, oleh karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda : &quot;Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“ . Maka beliau berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa.”(HR Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara berpuasa pada hari Asyura ? Menurut keterangan para ulama dan berdasarkan beberapa hadist, maka puasa Asyura bisa dilakukan dengan empat pilihan : berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram atau berpuasa pada tanggal 9,10, dan 11 Muharram, atau berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja, tetapi yang terakhir ini, sebagian ulama memakruhkannya, karena menyerupai puasanya orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berpuasa di atas berdasarkan hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata : Ketika Rasulullah saw. berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum Muslimin berpuasa, para shahabat berkata : &quot;Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani&quot;. Maka Rasulullah pun bersabda :&quot;Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pada hari kesembilan.“ (H.R. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga hadist Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda : &quot;Puasalah pada hari Asyura’, dan berbuatlah sesuatu yang berbeda dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ ( HR Ahmad dan Ibnu Khuzaimah ) Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan : “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.“&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini ? Keutamaannya adalah barang siapa yang puasa dengan ikhlas pada hari Asyura’ tersebut, niscaya Allah swt akan menghapus dosa-dosanya yang telah dikerjakan selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana yang tersebut di dalam hadist Abu Qatadah ra, bahwasanya seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyura’, maka Rasulullah saw menjawab : “ Saya berharap dari Allah swt agar menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya. “ ( HR Muslim )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa-dosa yang dihapus disini adalah dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, maka seorang Muslim harus bertaubat dengan taubat nasuha, jika ingin diampuni oleh Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hikmah puasa Asyura’ adalah sebagai bentuk kesyukuran atas selamatnya nabi Musa as dan pengikutnya serta tenggelamnya Fir’aun dan bala tentaranya, sebagaimana yang tersebut dalam hadist Ibnu Abbas di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dari berbagai sumber </description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/keistimewaan-bulan-muharram.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivfuNmyziiO78kFjvbLSjBx0Sp3BXjiA5By3Y22HPFxSH0W9YoYMHpwieFMdvKeNNV6J16oOpsxvXFtzc6ZpkF04uEOnHJfa1bPlD44_qogOxJxfh7V3g8Y69vNewOYR-o192iqjc3eBI/s72-c/muharram.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-7443280142000318709</guid><pubDate>Wed, 14 Aug 2019 13:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-16T08:20:05.381+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Muharram</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tahun Baru</category><title>Mengenal Muharram, Bulan Pertama di Tahun Hijriyah</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaFMKWKwqssAW0NGMkJSjBUaEgn66Deski5JFogd101DYDOSlsLLvddyPFmncSxUWQwz2uxj7j6LVIjEB2ND5I64SOOz6dYumsqjQMLvonT3MxLJXHDLsEJIwyaLgQuFOrHz6v20DWugE/s1600/hijriah.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1152&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaFMKWKwqssAW0NGMkJSjBUaEgn66Deski5JFogd101DYDOSlsLLvddyPFmncSxUWQwz2uxj7j6LVIjEB2ND5I64SOOz6dYumsqjQMLvonT3MxLJXHDLsEJIwyaLgQuFOrHz6v20DWugE/s640/hijriah.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto indopos.co.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hitungan hari, kaum Muslimin akan menyambut Tahun Baru Islam. Yaitu Tahun Baru Hijriyah. Tahun Baru Islam merupakan hari yang bersejarah bagi umat islam di seluruh dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks masa kini, peristiwa hijrah dimaknai sebagai penanaman nilai dan semangat berhijrah untuk diri sendiri. Berani meninggalkan sesuatu yang buruk dan beralih kepada kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun hijriyah mulai diberlakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab sekaligus dimulainya sistem penanggalan Islam, sistem penanggalan ini diberlakukan untuk membedakan diri dengan sistem penanggalan Tahun Masehi yang diambil dari gelar Nabi Isa Al-Masih atau Messiah (Ibrani)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalender hijriyah adalah penanggalan rabani yang menjadi acuan dalam hukum-hukum Islam. Seperti haji, puasa, haul zakat, ‘idah thalaq dan lain sebagainya. Dengan menjadikan hilal sebagai acuan awal bulan. Sebagaimana disinggung dalam firman Allah ta’ala,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang-orang bertanya kepadamu tentang hilal. Wahai Muhammad katakanlah: “Hilal itu adalah tanda waktu untuk kepentingan manusia dan ibadah haji.”(QS. Al-Baqarah: 189)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat Arab sejak masa silam, sebelum kedatangan Islam, telah menggunakan kalender qamariyah (kalender berdasarkan peredaran bulan). Mereka sepakat tanggal 1 ditandai dengan kehadiran hilal dan juga menetapkan nama bulan sebagaimana yang kita kenal.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mengenal bulan Dzulhijah sebagai bulan haji. Selain itu, mereka kenal bulan Rajab, Ramadhan, Syawal, Safar, dan bulan-bulan lainnya. Bahkan, juga menetapkan adanya 4 bulan suci: Dzulqadah, Dzulhijah, Shafar Awal (Muharam), dan Rajab. Selama 4 bulan suci ini, mereka sama sekali tidak boleh melakukan peperangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja masyarakat jazirah Arab belum memiliki angka tahun. Mereka tahu tanggal dan bulan, tapi tidak ada tahunnya. Biasanya, acuan tahun yang digunakan adalah peristiwa terbesar yang terjadi ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun renovasi Ka’bah misalnya, karena pada tahun tersebut, Ka’bah direnovasi ulang akibat banjir. Tahun fijar, karena saat itu terjadi perang fijar. Tahun fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Ka’bah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan istilah tahun fiil/tahun gajah. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian seorang tokoh sebagai patokan, misal 7 tahun sepeninggal Ka’ab bin Luai.” Untuk acuan bulan, mereka menggunakan sistem bulan qomariyah (penetapan awal bulan berdasarkan fase-fase bulan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh pada Rasulullah, Tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang musyrik. Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan  firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah  mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud. Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum muslimin menghadapi  berbagai cobaan ekonomi, keamanan, krisis pangan, karena perang khandaq.  (Arsyif Multaqa Ahlul Hadits, Abdurrahman al-Faqih, 14 Maret 2005)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem penanggalan seperti ini berlanjut sampai ke masa  Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan khalifah Abu Bakr Ash-Sidiq  radhiyallahu’anhu. Barulah di masa khalifah Umar bin Khatab  radhiyallahu’anhu, ditetapkan kalender hijriyah yang menjadi pedoman  penanggalan bagi kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar bin Khattab. Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib, keponakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wassallam. Beliau inilah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya dari peristiwa hijrah, saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5rTubFNZPcBU0u7Y4XaNpcT8IH9FpN0Jt2J34VsFUbA8sWAcwWaIGrjGqNs8TbzhsBn39mC00xtWdJMd5TCDffaSuuEt-I3l9hbXmKEBeC2bdXnCwDFdAWKEdoPP2UUG-Z-UFfZliCfE/s1600/hijriah1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;556&quot; data-original-width=&quot;830&quot; height=&quot;429&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5rTubFNZPcBU0u7Y4XaNpcT8IH9FpN0Jt2J34VsFUbA8sWAcwWaIGrjGqNs8TbzhsBn39mC00xtWdJMd5TCDffaSuuEt-I3l9hbXmKEBeC2bdXnCwDFdAWKEdoPP2UUG-Z-UFfZliCfE/s640/hijriah1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto: Pixabay&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Latar Belakang Penanggalan dan Penentuan Tahun dan Bulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berawal dari surat-surat tak bertanggal, yang diterima Abu Musa  Al-Asy-‘Ari radhiyahullahu’anhu; sebagai gubernur Basrah kala itu, dari  khalifah Umar bin Khatab. Abu Musa mengeluhkan surat-surat tersebut  kepada Sang Khalifah melalui sepucuk surat,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan: “Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami  tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami  telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak  tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena  kejadian inilah kemudian Umar bin Khatab mengajak para sahabat untuk  bermusyawarah; menentukan kalender yang nantinya menjadi acuan  penanggalan bagi kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umar mengumpulkan para sahabat, lalu berkata kepada mereka : &quot;Tetapkan tahun untuk masyarakat, yang bisa mereka jadikan acuan. Ada yang usul, kita gunakan acuan tahun bangsa Romawi. Namun usulan ini dibantah, karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Perhitungan tahun Romawi sudah dibuat raja Iskandar (Alexander). Yang lain mengusulkan, dimulai dari tahun hijrahnya Nabi  shallallahu’alaihiwasalam ke kota Madinah. Usulan ini disampaikan oleh  sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Hati Umar bin Khatab  radhiyallahu’anhu ternyata condong kepada usulan ke dua ini (Mahdhu ash-Shawab, 1:316, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian disebutkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dari Said bin  al-Musayib, beliau menceritakan: Umar bin Khattab mengumpulkan kaum  muhajirin dan anshar radhiyallahu anhum, beliau bertanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mulai kapan kita menulis tahun. Kemudian Ali bin Abi Thalib  mengusulkan: Kita tetapkan sejak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  hijrah, meninggalkan negeri syirik. Maksud Ali adalah ketika Nabi  shallallahu alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Kemudian Umar menetapkan  tahun peristiwa terjadinya Hijrah itu sebagai tahun pertama  (al-Mustadrak 4287 dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa  bukan tahun kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menjadi  acuan? Jawabannya disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Para sahabat yang diajak musyawarah oleh Umar bin Khatthab, mereka  menyimpulkan bahwa kejadian yang bisa dijadikan acuan tahun dalam  kalender ada empat: tahun kelahiran Nabi shallallahu alaihi wa sallam,  tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika  beliau wafat. Namun ternyata, pada tahun kelahiran Nabi shallallahu  alaihi wa sallam dan tahun ketika beliau diutus, tidak lepas dari  perdebatan dalam penentuan tahun peristiwa itu. Mereka juga menolak jika  tahun kematian sebagai acuannya, karena ini akan menimbulkan kesedihan  bagi kaum muslimin. Sehingga yang tersisa adalah tahun hijrah beliau.  (Fathul Bari, 7:268).&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Peristiwa Hijrah menjadi pemisah antara yang benar dan yang batil. Jadikanlah ia sebagai patokan penanggalan.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu mengutarakan alasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya para sahabatpun sepakat untuk menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun. Landasan mereka adalah firman Allah ta’ala,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.&quot; (QS. At-Taubah:108)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sahabat memahami makna “sejak hari pertama” dalam ayat, adalah hari pertama kedatangan hijrahnya Nabi. Sehingga moment tersebut pantas dijadikan acuan awal tahun kalender hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bari menyatakan,&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وأفاد السهيلي أن الصحابة أخذوا التاريخ بالهجرة من قوله تعالى : لمسجد أسس على التقوى من أول يوم لأنه من المعلوم أنه ليس أول الأيام مطلقا ، فتعين أنه أضيف إلى شيء مضمر وهو أول الزمن الذي عز فيه الإسلام ، وعبد فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – ربه آمنا ، وابتدأ بناء المسجد ، فوافق رأي الصحابة ابتداء التاريخ من ذلك اليوم ، وفهمنا من فعلهم أن قوله تعالى من أول يوم أنه أول أيام التاريخ الإسلامي ، كذا قال ، والمتبادر أن معنى قوله : من أول يوم أي دخل فيه النبي – صلى الله عليه وسلم – وأصحابه المدينة والله أعلم .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan As-Suhaili memberikan tambahan informasi: para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan, karena merujuk kepada firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat. Yaitu hari pertama kemuliaan islam. Hari pertama Nabi shallallahu’alaihiwasallam bisa menyembah Rabnya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid (red. masjid pertama dalam peradaban Islam, yaitu masjid Quba). Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ta’ala: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya ke kota Madinah. Allahua’lam. ” (Fathul Bari, 7/335)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya ada opsi-opsi lain mengenai acuan tahun, yaitu tahun kelahiran atau wafatnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Namun mengapa dua opsi ini tidak dipilih? Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan alasannya,”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لأن المولد والمبعث لا يخلو واحد منهما من النزاع في تعيين السنة ، وأما وقت الوفاة فأعرضوا عنه لما توقع بذكره من الأسف عليه ، فانحصر في الهجرة ، .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tahun kelahiran dan tahun diutusnya beliau menjadi Nabi, belum diketahui secara pasti. Adapun tahun wafat beliau, para sahabat tidak memilihnya karena akan menyebabkan kesedihan manakala teringat tahun itu. Oleh karena itu ditetapkan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun.” (Fathul Bari, 7/335)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan lain mengapa tidak menjadikan tahun kelahiran Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai acuan; karena dalam hal tersebut terdapat unsur menyerupai kalender Nashrani. Yang mana mereka menjadikan tahun kelahiran Nabi Isa sebagai acuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan tidak menjadikan tahun wafatnya Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai acuan, karena dalam hal tersebut terdapat unsur tasyabuh dengan orang Persia (majusi). Mereka menjadikan tahun kematian raja mereka sebagai acuan penanggalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abu Zinad mengatakan: Umar bermusyawarah dalam menentukan tahun untuk kalender Islam. Mereka sepakat mengacu pada peristiwa hijrah (Mahdzus Shawab, 1:317, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab, Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150). Karena hitungan tahun dalam kalender Islam mengacu kepada hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, selanjutnya kalender ini dinamakan kalender hijriah.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mereka sepakat, perhitungan tahun mengacu pada tahun hijrah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, selanjutnya mereka bermusyawarah, bulan apakah yang dijadikan sebagai bulan pertama. Pada musyawarah tersebut Umar bin Khatab  dan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu mengusulkan agar bulan pertama dalam kalender Hijriah adalah Muharam. Karena beberapa alasan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbincangan berlanjut seputar penentuan awal bulan kalender hijriyah. Sebagian sahabat mengusulkan bulan Ramadhan. Sahabat Umar bin Khatab dan Ustman bin Affan mengusulkan bulan Muharram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebaiknya dimulai bulan Muharam. Karena pada bulan itu orang-orang usai melakukan ibadah haji.” Kata Umar bin Khatab radhiyallahu’anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan lain dipilihnya bulan muharam sebagai awal bulan diutarakan oleh Ibnu Hajar rahimahullah,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لأن ابتداء العزم على الهجرة كان في المحرم ؛ إذ البيعة وقعت في أثناء ذي الحجة وهي مقدمة الهجرة ، فكان أول هلال استهل بعد البيعة والعزم على الهجرة هلال المحرم فناسب أن يجعل مبتدأ ، وهذا أقوى ما وقفت عليه من مناسبة الابتداء بالمحرم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena tekad untuk melakukan hijrah terjadi pada bulan muharam. Dimana baiat terjadi dipertengahan bulan Dzulhijah (bulan sebelum muharom). Dari peristiwa baiat itulah awal mula hijrah. Bisa dikatakan hilal pertama setelah peristiwa bai’at adalah hilal bulan muharam, serta tekad untuk berhijrah juga terjadi pada hilal bulan muharam (red. awal bulan muharam). Karena inilah muharam layak dijadikan awal bulan. Ini alasan paling kuat mengapa dipilih bulan muharam.” (Fathul Bari, 7/335)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari musyarah tersebut, ditentukanlah sistem penanggalan untuk kaum muslimin, yang berlaku hingga hari ini. Dengan menjadikan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun dan bulan muharam sebagai awal bulan. Oleh karena itu kalender ini populer dengan istilah kalender hijriyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiySqA3Bse-ExRsK_Ff40FmiexxYUB-xGN-LTTnygXjPbN-6uTuwUWUkjpBrBeL5jSfULRD8pGZcL5OhpgZzXu3NNQmi63m-VZImST1JtSM0nQ4GCR6xUkIVVtIE7tMh9-LEslegbK9uSU/s1600/hijriah2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1153&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiySqA3Bse-ExRsK_Ff40FmiexxYUB-xGN-LTTnygXjPbN-6uTuwUWUkjpBrBeL5jSfULRD8pGZcL5OhpgZzXu3NNQmi63m-VZImST1JtSM0nQ4GCR6xUkIVVtIE7tMh9-LEslegbK9uSU/s640/hijriah2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto : bimbinganislam.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pelajaran dari Kisah Penetapan Tahun Hijriyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalender hijriyah ditetapkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para sahabat. Dan kita tahu bahwa ijma’ merupakan dalil qot’i yang diakui dalam Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem penanggalan yang dipakai oleh para sahabat adalah bulan qomariyah. Hal ini diketahui dari surat Umar bin Khatab yang ditulis untuk Abu Musa Al-Asy-‘ariy; di situ tertulis bulan sya’ban, hanya saja tidak diketahui tahunnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para sahabat menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam segala urusan kehidupan mereka; baik urusan ibadah maupun dunia. Sehingga memisahkan penggunaan kalender hijriyah, antara urusan ibadah dan urusan dunia, adalah tindakan yang menyelisihi konsesus para sahabat. Seyogyanya bagi seorang muslim, menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan penanggalan dalam kesehariannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalender hijriyah merupakan syi’ar Islam, yang menbedakannya dengan agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian yang bisa kami sampaikan. Allahu ta’ala a’lam bis showab. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, wa’ala aalihi wa shahbihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sumber : &lt;br /&gt;
1. kabar24.bisnis.com&lt;br /&gt;
2. muslim.or.id</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/mengenal-muharam-bulan-pertama-di-tahun.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaFMKWKwqssAW0NGMkJSjBUaEgn66Deski5JFogd101DYDOSlsLLvddyPFmncSxUWQwz2uxj7j6LVIjEB2ND5I64SOOz6dYumsqjQMLvonT3MxLJXHDLsEJIwyaLgQuFOrHz6v20DWugE/s72-c/hijriah.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-5389609678138174140</guid><pubDate>Sun, 11 Aug 2019 15:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-18T21:25:02.246+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Pendidikan Karakter Islami</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnLCRuYSs2ljTZm9FqrwvPOUHjIHBk7rTxNgKWrYJ4vxMA8kCb5ScfccfsHSjCQWmE36167zfhNvjbC0bQspqNhdx_SvhSNFl7LHxushq-5jSDivPTSFLF9S2iT600nc0sVhdnQmZMh0I/s1600/islami.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1067&quot; data-original-width=&quot;1600&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnLCRuYSs2ljTZm9FqrwvPOUHjIHBk7rTxNgKWrYJ4vxMA8kCb5ScfccfsHSjCQWmE36167zfhNvjbC0bQspqNhdx_SvhSNFl7LHxushq-5jSDivPTSFLF9S2iT600nc0sVhdnQmZMh0I/s640/islami.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari ceritamedan.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Insists.id - Pendidikan karakter adalah sesuatu yang baik. Dalam Islam, karakter identik dengan akhlaq, yaitu kecenderungan jiwa untuk bersikap/bertindak secara otomatis. Akhlaq yang sesuai ajaran Islam disebut dengan akhlaqul karimah atau akhlaq mulia (Mohamed Ahmed Sherif, Ghazali’s Theory of Virtue, 1975), yang dapat diperoleh melalui dua jalan. &lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, bawaan lahir, sebagai karunia dari Allah. Contohnya adalah akhlaq para nabi. &lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, hasil usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa (SM Ziauddin Alavi, Muslim Educational Thought in The Middle Ages, 1988).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengkajian penulis terhadap konsep akhlak Islam yang berlandaskan nash al-Quran dan hadits Nabi serta konsep karakter dalam tradisi empiris-rasional Barat, program pendidikan karakter yang baik seyogyanya memenuhi enam prinsip pendidikan akhlaq, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan mendasar antara masyarakat sekular dengan Islam terletak pada cara memandang Tuhan. Masyarakat sekular hanya mengimani “ide ketuhanan” karena ide ini berpengaruh baik bagi perilaku manusia. Mereka tidak ambil pusing apakah yang diimani benar-benar wujud atau sekedar khayalan (Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam, 1993). Sebuah penelitian menunjukkan, 80% responden menyatakan bahwa mencuri tetap salah sekalipun diperintahkan Tuhan (Larry Nucci, Handbook of Moral and Character Education, 2008). Kaum secular mengurung agama dalam interpretasi kemanusiaan. Agama versi sekular tidak dapat menjelaskan keajaiban yang dialami Nabi Ibrahim tatkala menerima wahyu untuk menyembelih putranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam mengimani Allah sebagai Tuhan yang wujud sehingga ketaatan kepadaNya menjadi mutlak. Islam bukanlah agama sekular yang memasung agama dalam dinding kehidupan privat. Agama tidak diakui sekedar diambil manfaatnya. Agama merupakan penuntun kehidupan dunia menuju keridhaan Allah. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” [QS. al-Dzaariyaat 56]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keridhaan Allah merupakan kunci sukses kehidupan. Ilmu, kecerdasan, maupun rizki hanya mungkin dicapai apabila Allah menganugerahkannya kepada manusia (Zibakalam-Mofrad, 1999; Alavi, 1975). Untuk menggapai keridhaan Allah inilah, manusia wajib menghiasi diri dengan akhlaq mulia (Sherif, 1975).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Memperhatikan Perkembangan Akal Rasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku manusia dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahamannya tentang hidup (an-Nabhani, 2002). Pendidikan karakter tidak akan membawa kesuksesan apabila murid tidak memahami makna-makna perilaku dalam kehidupannya. Untuk itu, Islam sangat menekankan pendidikan akal. Allah Swt menyebutkan keutamaan orang-orang yang berpikir dan mempunyai ilmu dalam berbagai ayat, salah satunya adalah QS. at-Thariq [86] ayat 5 (yang artinya): Maka hendaklah manusia memperhatikan (sehingga memikirkan konsekuensinya) dari apakah dia diciptakan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal adalah alat utama untuk mencapai keimanan. Akal harus diasah dengan baik sehingga manusia memahami alasan perilaku baiknya. Pada tahap awal pendidikan, anak-anak memerlukan doktrinasi. Orang tua tidak boleh membiarkan mereka memukul teman atau bermain api walaupun mereka belum memahami alasan pelarangan itu. Namun, sejalan dengan usia, akal manusia mulai mempertanyakan alasan rasional. Keingintahuan ini tidak boleh diabaikan. Salah satu cara untuk mengasah akal adalah dengan perumpamaan dan dialog (Abdullah Nasih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, 1995). Rasulullah Saw sering melakukan dialog dengan para sahabatnya dalam rangka mengasah kemampuan akal mereka. Salah satunya tergambar dalam hadist berikut: “Apakah pendapat kalian, jika sebuah sungai berada di depan pintu salah satu dari kalian, sehingga ia mandi darinya sehari lima kali; apakah akan tersisa kotoran pada badannya?” Para sahabat menyahut, “Tidak sedikit pun kotoran tersisa pada badannya.” Nabi melanjutkan, “Demikianlah seperti shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” [HR. Muslim]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9KfYAi_q17IsNFmUj9ZLESLoEM_u3Hb5ZAv5Ofd4DPGXUhHj2klMfgq6_P-1OEY3-ak3ZTO9WGrdLlPdCIPOMGsDYWPNZCxbkceT1A_LOiVFGYuErd3-M-PQ2s6JuAQ-nnd8tLNkqpDE/s1600/islami1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;534&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9KfYAi_q17IsNFmUj9ZLESLoEM_u3Hb5ZAv5Ofd4DPGXUhHj2klMfgq6_P-1OEY3-ak3ZTO9WGrdLlPdCIPOMGsDYWPNZCxbkceT1A_LOiVFGYuErd3-M-PQ2s6JuAQ-nnd8tLNkqpDE/s640/islami1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Dialog antara pendidik dan anak didik harus selalu dipelihara. Pendidik harus cerdas sehingga mampu mengimbangi pertanyaan-pertanyaan dari anak didik. Pendidik memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memikirkan persoalan yang dihadapi dan mengarahkannya pada solusi Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku manusia banyak terpengaruh oleh kecenderungan emosinya (Elias dkk, 2008; Narvaez, 2008). Pendidikan karakter yang baik memperhatikan pendidikan emosi, yaitu bagaimana melatih emosi anak agar dapat berperilaku baik. Penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan karakter yang efektif harus disertai dengan pendidikan emosi (Elias dkk, 2008; Kessler &amp;amp; Fink, 2008).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika seorang pemuda datang meminta ijin berzina, Rasulullah Saw tidak menghardik pemuda ini atas kegagalannya memahami larangan zina secara kognitif. Nabi Saw menyentuh faktor emosinya dengan mengatakan, “Sukakah dirimu jika seseorang menzinai ibumu?” Sang pemuda menjawab, tidak. Maka Nabi mengatakan, “Sama, orang lain juga tidak suka ibunya kamu zinai. Sukakah dirimu jika seseorang menzinai putrimu?” Sang pemuda terkejut dan secara tegas menolaknya. Nabi Saw melanjutkan, “Sama, orang lain juga tidak suka jika putrinya kamu zinai.” Nabi Saw memahami gejolak sang pemuda dan memilih menyentuh faktor emosinya. Sang pemuda diarahkan untuk merasakan bahwa apa yang hendak dilakukannya akan menyakiti orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembangunan kecerdasan emosi juga Rasulullah Saw lakukan melalui upaya meningkatkan kedekatan hamba kepada Allah Swt. Disebutkan dalam sebuah hadits qudsi: “Jika seorang hamba bertaqarrub kepadaKu sejengkal, Aku mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatiKu sehasta, Aku medekatinya sedepa. Jika ia mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku mendekatinya dengan berlari.” (Shahih Bukhari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecerdasan emosi anak didik harus mendapatkan perhatian. Emosi anak yang ditekan dapat menjadikan anak tumbuh sebagai individu yang masa bodoh (al-Naqib, 1993). Kehebatan akal yang tidak didukung dengan kecerdasan emosi menyebabkan manusia melakukan tindakan spontan yang bertentangan dengan rasional dan nilai-nilai akhlaq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Praktik Melalui Keteladanan dan Pembiasaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan masyarakat yang mempraktikkan akhlaqul karimah merupakan bentuk keteladanan dan pembiasaan terbaik. Penelitian menyebutkan bahwa perilaku anak lebih ditentukan oleh lingkungannya daripada kondisi internal si anak (Leming, 2008). Keteladanan dan pembiasaan merupakan faktor utama dalam mengasah kecerdasan emosi (Narvaez, 2008).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam mendidik karakter umat Islam, Rasulullah Saw menjadikan dirinya suri teladan terlebih dahulu sebelum menuntut umatnya mempraktikkannya. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh para pendidik. Bahkan, para teladan harus menunjukkan kebaikan yang lebih besar dari apa yang dituntut atas anak-anak sehingga anak-anak menjadi lebih termotivasi dalam menjalankan kebaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keteladanan Rasululullah Saw ditegaskan Allah Swt dalam firmanNya di Surat al-Ahzab ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah Saw selalu berpegang teguh kepada perilaku terpuji sesuai ajaran Islam, sehingga Aisyah ra. menyatakan: “Akhlaq Rasulullah Saw adalah (sesuai) al-Qur’an.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain memberikan keteladanan, Rasulullah Saw menyuruh para orang tua untuk membiasakan anak-anak menjalankan perintah agama sejak kecil, walaupun mereka baru terkena beban agama setelah baligh. Dalam sebuah hadist Nabi Saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya.” (HR. Abu Daud &amp;amp; al-Hakim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMPuzn5HazwIhcP6BEBkWwGfFfWdshMxDPM9xiKbd4xtTdcxzkTMZk9XFvOE3q3y_UvcJl_jin7Wpirvo3VByOVkE0K3RbDS3tDyTo2EI_u4-K2-NbnkPMTKy_PZhLtAqufxTSNa6_L9c/s1600/islami2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;666&quot; data-original-width=&quot;1000&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMPuzn5HazwIhcP6BEBkWwGfFfWdshMxDPM9xiKbd4xtTdcxzkTMZk9XFvOE3q3y_UvcJl_jin7Wpirvo3VByOVkE0K3RbDS3tDyTo2EI_u4-K2-NbnkPMTKy_PZhLtAqufxTSNa6_L9c/s640/islami2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah Saw memberikan keteladanan sekaligus membiasakan perbuatan baik melalui penerapan Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Larangan zina, misalnya, didukung dengan langkah-langkah untuk menjauhkan manusia dari berzina, seperti larangan untuk berdua-duaan, kewajiban untuk menutup aurat, serta pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Hidup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Seseorang yang beristri lebih mudah untuk menghalau keinginan berzina daripada mereka yang membujang. Seseorang yang kenyang akan terhindar dari mencuri makanan. Tindakan kriminalitas sering terjadi akibat tekanan kebutuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat. Apabila seseorang tidak mampu mendapatkan pekerjaan sendiri, maka negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan untuknya. Apabila seseorang tidak mampu bekerja (cacat, tua, gila, dsb) maka Islam mewajibkan keluarganya untuk menanggung hidupnya. Apabila keluarganya tidak mampu atau tidak memiliki keluarga, maka Islam mewajibkan negara untuk mengurusi segala keperluannya (Abdul Aziz Al-Badri, Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam, 1995). Rasulullah Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa mati meninggalkan harta, maka itu hak ahli warisnya. Dan barangsiapa mati meninggalkan keluarga yang memerlukan santunan, maka akulah penanggungnya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaminan atas kebutuhan dasar hidup memberikan rasa aman bagi tiap-tiap individu dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi perlu khawatir biaya sekolah anak cucunya sehingga menumpuk harta melebihi kebutuhannya, bahkan dengan cara-cara tidak halal. Masyarakat lebih rela mengantri apabila ada jaminan bahwa mereka yang mengantri tidak akan kehabisan sembako, tiket, atau kursi. Penumpang pesawat terbang bersedia mengantri dengan tertib karena jatah kursinya sudah terjamin. Penumpang kereta ekonomi tidak mau mengantri karena mereka harus berebut kursi.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot;/&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Menempatkan Nilai Sesuai Prioritas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter seringkali tidak efektif karena ada perbedaan prioritas dalam memandang nilai. Ada seorang siswa laki-laki sekolah menengah trauma ke sekolah akibat digundul secara paksa oleh gurunya. Perbedaan persepsi rambut panjang bahkan pernah berujung menjadi tawuran antara orang tua murid dengan guru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam memiliki konsep prioritas perbuatan, yang terbagi dalam 5 (lima) kategori, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Penilaian moralitas tidak terlepas dari kelima tingkatan prioritas ini. Islam tidak melarang laki-laki berambut panjang, namun mewajibkan merapikan dan menjaga kebersihannya (Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah Jilid 1, 2011). Dalilnya adalah kisah Abu Qatadah ra. yang memiliki rambut panjang dan menanyakan kebolehannya kepada Nabi. Beliau Saw menyuruhnya untuk merapikan dan menyisirnya setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidik wajib mengetahui kedudukan tiap-tiap perbuatan sebelum mengambilnya sebagai aturan kedisiplinan. Dalam wilayah yang sunnah, mubah, dan makruh, apabila ada hal yang ingin dijadikan aturan kedisiplinan, maka pendidik harus mengkomunikasikan dan mengikutsertakan anak-anak dalam membuat keputusan sehingga mereka memaklumi manfaat aturan tersebut bagi kelangsungan komunitas dan menjalankannya secara bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah enam prinsip pendidikan karakter. Keenam prinsip ini harus dipenuhi agar pendidikan karakter dapat mencapai kesuksesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt;&quot;&gt;Penulis : Erma Pawitasari&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;calibri&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt; sumber : &lt;b&gt;Insists.id&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/pendidikan-karakter-islami.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnLCRuYSs2ljTZm9FqrwvPOUHjIHBk7rTxNgKWrYJ4vxMA8kCb5ScfccfsHSjCQWmE36167zfhNvjbC0bQspqNhdx_SvhSNFl7LHxushq-5jSDivPTSFLF9S2iT600nc0sVhdnQmZMh0I/s72-c/islami.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-5446200659294131395</guid><pubDate>Sun, 11 Aug 2019 15:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:17:49.345+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Merenung Pesan Luqmanul Hakim</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhThdEvYI60arVyFVGuiN1hFvAZNCkrz7pBmF6lzYXRjeDRl4GFF1mikk9ebNKU2Y0e9R7aPe6BXnMrUObFvS6yEaLRg3cwd_BFGKVZWP1EBacK722u3SEQn4gKNx6QyjRbI8Jf768cL4M/s1600/Kisah+dan+Nasehat-Nasehat+Lukmanul+Hakim.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;211&quot; data-original-width=&quot;400&quot; height=&quot;338&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhThdEvYI60arVyFVGuiN1hFvAZNCkrz7pBmF6lzYXRjeDRl4GFF1mikk9ebNKU2Y0e9R7aPe6BXnMrUObFvS6yEaLRg3cwd_BFGKVZWP1EBacK722u3SEQn4gKNx6QyjRbI8Jf768cL4M/s640/Kisah+dan+Nasehat-Nasehat+Lukmanul+Hakim.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : kidsklik.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Oleh Urwah el Qudsy&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يبني لاتشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: &lt;i&gt;&quot;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.&quot;&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luqmanul Hakim merupakan salah satu suri tauladan diantara para bapak yang sangat memperhatikan pendidikan anak. Baik pendidikan ruhiyah maupun jismiyah, mental maupun badan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau merupakan orang tua yang sadar akan tugas yang diamanahkan kepadanya, yakni merawat dan memelihara serta mendidik anak-anaknya. Memberinya pelajaran, memberinya makan dari hasil yang halal, serta memberi pakaian dengan pakaian yang baik, pakaian ihsan dan taqwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luqman adalah seorang lelaki yang dikaruniai hikmah oleh Allah berupa ilmu, agama dan kebenaran dalam ucapan. Dia memberi fatwa sebelum Dawud diutus dan sempat menjumpai masanya. Lalu Lukman menimba ilmu dari Nabi Dawud dan meninggalkan fatwanya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mujahid berkata,”Luqman adalah seorang budak hitam dari Habasyah, tebal kedua bibirnya, dan lebar kedua telapak kakinya. Pada suatu hari ketika dia duduk di majelis sedang berceramah kepada orang banyak, datanglah seorang lelaki menemuinya, lalu bertanya, ‘Bukankah engkau yang tadi menggembala kambing di tempat ini dan itu?’ Luqman menjawab, ‘Benar.’ Lelaki itu bertanya, ‘Lalu apa yang menghantarkanmu sampai pada kedudukan terhormat seperti yang kulihat sekarang ini?’ Luqman menjawab, ‘Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.’”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan-pesan yang disampaikan Luqmanul Hakim kepada anaknya meliputi pesan yang berkenaan antara hubungan hamba dengan Robnya, antara hamba dengan sesama. Itu semua tertuang dalam bait-bait ayat yang telah Allah abadikan di dalam surat Luqman.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pesan-pesan Luqman kepada anaknya adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Tidak mensekutukan Allah swt.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Pesan ini beliau katakan seperti dalam firman Allah &quot;Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: &quot;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.&quot;&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua yang bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya dan keselamatan hidupnya kelak di akhirat adalah orang tua yang mendidik anaknya dengan pendidikan tauhid, yaitu memurnikan segala amalnya hanya untuk Allah, tanpa dicampuri dengan yang lain, karena itu akan menjadi sekutu dan tandingan Allah, dan sesungguhnya syirik itu merupakan dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah jika si pelaku dosa syirik itu meninggal dalam keadaan musyrik (mensekutukan Allah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana firman Allah : &lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.”.&lt;/i&gt; (QS. An Nisa’ : 116). Dan firman-Nya : &lt;i&gt;“Dan Robmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…”.&lt;/i&gt; (QS. Al Isro’ : 23).&amp;lt;  Tugas orang tua dalam mendidik anak sejak kecil adalah mengenalkan anak akan siapa Tuhannya, siapa yang mencipta dan mengurusi alam semesta ini, mengerti siapa nabinya, dan mengerti apa agamanya, sehingga anak mengerti dan paham akan tugas hidup di dunia ini, yaitu beribadah kepada Allah semata dengan cara mengikuti sunnah Rosul-Nya. Sebagaimana yang telah dipesankan oleh nabi Ibrahim dan Ya’qub kepada anak-anaknya:  &lt;i&gt;&quot;Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya&#39;qub. (Ibrahim berkata): &quot;Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.&quot;&lt;/i&gt; (QS. Al Baqoroh : 132)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan seperti yang di wasiatkan Ya’qub kepada anak-anaknya sebelum beliau wafat : &lt;i&gt;&quot;Apa yang kamu sembah sepeninggalku?&quot; Mereka menjawab: &quot;Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.&quot;&lt;/i&gt; (QS. Al Baqoroh : 133)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah gambaran orang tua yang sangat memperhatikan pendidikan agama kepada anaknya. Pertanyaan yang pertama kali ia tanyakan sebelum ia meninggal adalah apa yang akan kamu ibadahi, bukan apa yang akan kamu makan nanti setelah sepeninggalku ?. pendidikan agama lebih dikedepankan daripada pendidikan materialistik, karena pendidikan agama akan membawa anak kepada keselamatan di kehidupan akhirat kelak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua yang mengajar anaknya akan ilmu akhirat, maka anak itupun akan mendapatkan juga ilmu dunia, berbeda kalau cuman dididik dengan ilmu dunia saja, maka anak tidak akan mungkin mendapat ilmu akhirat. Dikatakan dalam pepatah : &lt;i&gt;“Siapa mencari akhirat maka dunia akan dia dapat, tapi siapa yang hanya mencari dunia maka akhirat tak akan dia dapat”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSolUezNMIE5v5DgcIsgMdyG1uQ7PP6y1IojKQWViqexpUGHH3q_csjqjNH_B62bjyLffYd5OAqo9kMlNFsvF5iLjxqxDmNpeLAzNn7JIPyxpRfX9kP8BpDi2l2Z_zkZbQoKdE2chZv9A/s1600/kisah-seorang-duta-islam-pertama.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;363&quot; data-original-width=&quot;625&quot; height=&quot;372&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiSolUezNMIE5v5DgcIsgMdyG1uQ7PP6y1IojKQWViqexpUGHH3q_csjqjNH_B62bjyLffYd5OAqo9kMlNFsvF5iLjxqxDmNpeLAzNn7JIPyxpRfX9kP8BpDi2l2Z_zkZbQoKdE2chZv9A/s640/kisah-seorang-duta-islam-pertama.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari kisahislam.info&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Berbuat baik kepada kedua orang tua&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik anak untuk berbuat baik kepada orang tua ditekankan dari sedini mungkin oleh Luqmanul Hakim kepada anak-anaknya, karena orang tua adalah yang menyebabkan mereka ada di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan ini Allah abadikan dalam firman-Nya : &lt;i&gt;“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun”.&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan sopan santun hendaknya diajarkan mulai sejak dini, dari mulai sopan kepada kedua orang tua, berbakti kepadanya dan tidak durhaka kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kehidupan modern sekarang, banyak anak yang tidak mengerti sopan dan santun&amp;nbsp; kepada orang tuanya, bahkan tidak sedikit yang mendurhakainya. Berani kepadanya dan melawan keduanya. Bahkan tidak sedikit anak yang memperbudak orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik anak agar mengerti sopan santun dan beradab kepada orang tua sangat ditekankan dalam Islam, bahkan Allah swt. pun menekankan hal ini. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan Robmu talah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “UF (Ah)”dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Robku, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil”.&lt;/i&gt; (QS. Al Isro’ : 23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbuat baik kepada orang tua merupakan kewajiban bagi anak yang harus ia tunaikan, selaku anak yang telah dilahirkan dan dirawat sejak kecil. Patuh kepada kedua orang tua merupakan keharusan, walaupun kedua orang tuanya berlainan agama, ia tetap dipatuhi perintahnya jika perintahnya tidak maksiat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan jika keduanya memaksamu untuk mensekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauililah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Menanamkan pada diri anak akan kasih sayang Allah swt.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanamkan pada diri anak akan kasih dan sayang Allah kepada nya merupakan pendidikan yang sangat baik dan mulia. Dengan itu anak akan merasa senang dan bahagia serta optimis dalam beribadah kepada-Nya, karena setiap amalan yang ditujukan kepada-Nya akan mendapat balasan dari-Nya. Yaitu balasan pahala Jannah. Allah swt. berfirman &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;(Luqman berkata) : “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau langit atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui”.&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 16)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anak mengerti bahwa Allah akan membalas semua jerih payahnya, maka ia akan selalu berusaha untuk beramal yang baik. Ia akan senantiasa meningkatkan amalnya dan selalu taat kepada perintah-Nya serta selalu berbakti kepada kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Mengenalkan anak akan kewajiban dia kepada Robnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenalkan anak akan kewajiban yang harus ia tunaikan dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti, sholat, shodaqoh, amar ma’ruf-nahi mungkar, syukur dan sabar. Sebagaimana firman Allah swt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anak mengerti dan paham akan kewajiban yang harus ia tunaikan, maka dengan sendirinya ia akan melakukan amalan tersebut dengan baik dan dengan lapang hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheFPrlPZAODhu-H_bZW10aoUwwRY05zzflGjV1vuto930GJr9-4px1PJlISvJV-G2OtwJ-agQ3NQUpY_QiMdeLsXiN3z_QPy2IhVIm78BYVMrluKitIf1VJ3p9CSFy_kgUKalZCZRKVrM/s1600/Luqmanul+Hakim.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1000&quot; data-original-width=&quot;1600&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheFPrlPZAODhu-H_bZW10aoUwwRY05zzflGjV1vuto930GJr9-4px1PJlISvJV-G2OtwJ-agQ3NQUpY_QiMdeLsXiN3z_QPy2IhVIm78BYVMrluKitIf1VJ3p9CSFy_kgUKalZCZRKVrM/s640/Luqmanul+Hakim.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto : randomwallpapers.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Mengajarkan sopan santun dan rendah hati kepada anak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhlak adalah penghias diri seseorang. Ia akan dihormati dan dihargai karena akhlak mulianya, sementara ia akan dihina dan dilecehkan karena kesombongan dan akhlaknya yang tercela. Pesan sopan santun dan merendahkan hati telah dipesankan oleh Luqmanul hakim kepada anaknya yang termaktub dalam firman Allah :&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.&lt;/i&gt; (QS. Luqman : 18-19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang akan dicintai karena akhlak dan ilmunya, bukan pangkat dan kekuasaannya. Karena pada hakikatnya kekuasaan hanyalah sementara. Akhlak yang mulia menjadi penghias diri seorang mukmin dan ia akan menjadi pakaian yang mulia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua yang bertanggung jawab akan pendidikan anaknya, maka ia akan selalu memperhatikan pendidikannya dari sejak lahir hingga balig nanti. Ia didik anaknya dengan didikan islami, sebagaimana para salafus sholih mendidik anak-anaknya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak adalah amanah, siapa saja yang menyia-nyiakan amanah maka ia telah mendurhakai yang memberi amanah. Anak laksana tanah liat yang siap dibentuk dengan bentukan apa saja. Ia akan menjadi bentuk yang baik manakala pendesainannya baik dan rapi, tapi ia akan menjadi gambar yang jelek jika desainnya jelek dan amburadul. Anak bagaikan kain putih yang bersih dan suci, ia siap diberi warna apa saja, dan sebaik-baik warna yang menghiasi kain putih adalah warna dan cahaya Ilahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana firman Allah : &lt;i&gt;“Sibghoh Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghohnya daripada Allah ? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah”.&lt;/i&gt; (QS. Al Baqoroh : 138).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapakah yang akan meniru jejak langkah Luqmanul Hakim. Dan siapakah yang akan menjadi Lukmanul Hakim kedua? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sibghoh Allah adalah celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/08/merenung-pesan-luqmanul-hakim.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhThdEvYI60arVyFVGuiN1hFvAZNCkrz7pBmF6lzYXRjeDRl4GFF1mikk9ebNKU2Y0e9R7aPe6BXnMrUObFvS6yEaLRg3cwd_BFGKVZWP1EBacK722u3SEQn4gKNx6QyjRbI8Jf768cL4M/s72-c/Kisah+dan+Nasehat-Nasehat+Lukmanul+Hakim.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-9215973591391309699</guid><pubDate>Mon, 10 Jun 2019 10:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T13:56:57.145+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Konsep Pendidikan Anak Usia Dini</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpglnjtmyzl7qzQGWteQ_cMXlAPEP9b9FLIntgDCdXzKhc5xgOZBQujbZJtFe7sgEeUlXk1iZSR_giobtIbH6p-JaBi6BfNS51QNJEDZqLtTrWFKktOkUEs8gGyHbWAcaRg-_W9myGuT0/s1600/Sejarah-PAUD.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;459&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;367&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpglnjtmyzl7qzQGWteQ_cMXlAPEP9b9FLIntgDCdXzKhc5xgOZBQujbZJtFe7sgEeUlXk1iZSR_giobtIbH6p-JaBi6BfNS51QNJEDZqLtTrWFKktOkUEs8gGyHbWAcaRg-_W9myGuT0/s640/Sejarah-PAUD.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi PAUD dari silabus.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan anak adalah suatu hal yang niscaya oleh orang tua, maka sudah seyogyanya para orang tua dan calon orang tua, menyiapkan ilmu terkait hal tersebut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut kami sajikan kajian tentang pendidikan anak dari orang yang sudah mumpuni di bagian tersebut. Tulisan ini merupakan bekal yang luar biasa bagi orang tua dan calon orang tua masa depan. selamat membaca dan menyimak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak yang menjadi dambaan setiap keluarga adalah rizki sekaligus ujian dari Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; menyebutkan dalam firman-Nya bahwa anak adalah salah satu kesenangan dan perhiasan dunia,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;الْمَـالُ وَالْبَنُونَ زِيْنَةُ الْـحَيَاةِ الـدُّ نْيَـا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.”&lt;/i&gt; (Qs. Al-Kahfi: 46)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran anak di tengah-tengah keluarga merupakan amanah yang sangat besar bagi kedua orang tuanya. Oleh karenanya, para orang tua dituntut untuk senantiasa memperhatikan perkembangan jasmani dan rohani sang buah hati. Namun, belakangan sering kita temui peristiwa-peristiwa memilukan yang menimpa anak-anak akibat perbuatan orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saja, seorang wanita yang berdomisili di Bandung dan pernah mengecap pendidikan di salah satu Universitas ternama di kota tersebut, dengan begitu tega membunuh ketiga buah hati yang telah susah payah dikandungnya, hanya karena kekhawatirannya yang tidak beralasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal serupa juga menimpa seorang bayi mungil di daerah Sulawesi yang dibanting ayah kandungnya sendiri hingga tewas, hanya karena ayahnya kesal mendengar tangisan anaknya yang tidak kunjung berhenti. Dan peristiwa yang baru-baru ini terjadi adalah seorang anak lelaki di daerah Jakarta yang dihajar oleh ayah kandungnya sendiri hanya karena anaknya tersebut lupa mematikan air yang sedang dimasak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah-kisah ini merupakan tragedi dalam sejarah pendidikan dan perkembangan anak. Tidak sedikit orang tua yang masih memiliki anggapan bahwa kekerasan dapat menjadi cara yang ampuh agar membuat anak menjadi faham akan sesuatu hal. Jadi, berapa banyak lagi kisah-kisah serupa yang harus dialami anak-anak dengan dalil pendidikan…??? Bukankah tubuh mungil itu seharusnya mendapatkan limpahan kasih sayang…???&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap rumah tangga haruslah memiliki keinginan untuk mewujudkan keluarga yang &lt;i&gt;sakinah, mawaddah wa rahmah&lt;/i&gt;. Dan untuk menjalankan amanah tersebut maka setiap anggota keluarga mesti memiliki peranan dan tanggung jawab yang dijalankan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. &lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 893, 5188, 5200), Muslim (no. 1829), dan Ahmad (II/5, 54-55, 111), dari Ibnu ‘Umar &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhuma&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suami dan istri haruslah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memelihara keluarganya, dalam hal ini adalah anak-anaknya yang akan menjadi generasi penerus mereka kelak. Sebab anak merupakan usaha orang tuanya, yang dapat menjadi “simpanan” di akhirat, sebagaimana sabda Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ، وَ إِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anak itu termasuk dari usahanya.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (II/108), An-Nasa’i (II/211), At-Tirmidzi (II/287), Ad-Darimi (II/247), Ibnu Majah (II/2-430), Ath-Thayalisiy (no. 1580), dan Ahmad (VI/41, 126, 162, 173, 193, 201, 202, dan 220), dari ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu’anha&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8FPMIgnmGic5VqjybEBID7dkw6jloqU0GFEa84b3LMK0XZ5l_JZ7raskE9myWVC4TYaZ665vPH5EPkeAo4jOESFnMMgsUycjRg4ZLkGvaKgHjkYdYCzfc5mDq_Xe_BqrkRqyAsuoYMB8/s1600/PAUD.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;657&quot; data-original-width=&quot;1000&quot; height=&quot;420&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8FPMIgnmGic5VqjybEBID7dkw6jloqU0GFEa84b3LMK0XZ5l_JZ7raskE9myWVC4TYaZ665vPH5EPkeAo4jOESFnMMgsUycjRg4ZLkGvaKgHjkYdYCzfc5mDq_Xe_BqrkRqyAsuoYMB8/s640/PAUD.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi PAUD dari olympics30.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Ketika Pendidikan Anak Dimulai&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usia anak-anak terbagi ke dalam dua tahapan hingga mencapai masa baligh-nya. Tahapan yang pertama adalah &lt;b&gt;sebelum &lt;i&gt;tamyiz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan tahapan kedua adalah &lt;b&gt;sesudah &lt;i&gt;tamyiz&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Adapun &lt;i&gt;tamyiz&lt;/i&gt; adalah masa dimana anak-anak telah dapat membedakan sesuatu dengan baik, mana yang baik untuk dirinya dan mana yang buruk atau berbahaya bagi dirinya. Dan pencapaian usia tamyiz akan sangat dipengaruhi dengan pelajaran, peringatan dan arahan dari orang tua yang dapat difahami oleh si anak dengan baik dan sesuai dengan pertumbuhan akal si anak&amp;lt;  Metode pendidikan terbaik bagi anak dalam usia sebelum &lt;i&gt;tamyiz&lt;/i&gt; dan sesudah &lt;i&gt;tamyiz&lt;/i&gt; adalah dengan jalan mendengar dan menyimak. Karena pada usia tersebut, seorang anak memiliki ingatan yang amat kuat terhadap segala hal yang dilihat dan didengarnya. Itulah sebabnya, anak-anak pada zaman dahulu diketahui memiliki hafalan yang luar biasa, sebut saja seperti Imam Asy-Syafi’i, Imam Bukhari, dan yang lainnya. [Lihat &lt;b&gt;&lt;i&gt;Menanti Buah Hati&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, hal. 346]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Beginilah Nabi Shalallahu Alaili Wasallama mendidik Anak&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; merupakan &lt;i&gt;uswah&lt;/i&gt; bagi orang-orang beriman. Untuk itulah, kita diperintahkan untuk mencontoh beliau dalam berbagai perkara syari’at, salah satunya adalah tarbiyatul aulad (mendidik anak).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua, berkaitan dengan pendidikan anak, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Memberikan pendidikan agama kepada anak, terutama ‘aqidah yang akan menjadi pondasi ke-Islamannya.&lt;/b&gt; Perhatikan bagaimana perkataan Luqman kepada anaknya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَإِذْ قَالَ لُقْمَنُ لِآبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ, يَبُنَىَّ لاَ تُـشْرِكْ بِاللهِۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ‘Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu merupakan kezhaliman yang besar.”&lt;/i&gt; (Qs. Luqman: 13)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;يَاغُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَ اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باللهِ . وَاعْلَمْ، أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ إِلاَّ قَدْ كَتَبَ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ وَاعْلًمْ، أّنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَأَنَّ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Wahai anak, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya ummat ini bersatu untuk memberimu manfaat maka manfaat tersebut tidak akan sampai kepadamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Dan apabila ummat ini bersatu untuk mencelakakanmu maka sedikit pun mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering. Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabar atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (no. 2516), Ahmad (I/292, 303, 307) dan ini lafazhnya, Al-Hakim (III/541), Ath-Thabrani dalam &lt;i&gt;Al-Mu’jamul Kabir&lt;/i&gt; (XII/12988, 12989), Abu Ya’la (no. 2549), Ibnus Sunni (hal. 427), Ibnu Abi ‘Ashim dalam &lt;i&gt;As-Sunnah&lt;/i&gt; (no. 316), dan Al-Ajurri dalam &lt;i&gt;Asy-Syari’ah&lt;/i&gt; (hal. 198)]&amp;lt;  Perhatikanlah, bagaimana besarnya perhatian para Salaf untuk mengajarkan ‘aqidah kepada buah hatinya, karena begitu pentingnya kedudukan ‘aqidah bagi seorang hamba. Dan pengajaran tentang ‘aqidah ini mestilah diberikan dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh anak-anak.  Tidak hanya ‘aqidah, tapi anak juga harus dibiasakan untuk menjalani rutinitas ibadah sedari dini, seperti shalat dan puasa. Karena pemenuhan hak Allah, tidak hanya terbatas pada ‘aqidah saja, tetapi juga mencakup &lt;i&gt;‘ubudiyyah&lt;/i&gt; (peribadatan). Dan untuk menjalankan rutinitas ini, orang tua akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, hendaknya orang tua memperhatikan kualitas peribadatannya. Dengan demikian, maka pendidikan agama bagi anak diperlukan sedari dini, agar kelak ketika anak dewasa, dia tidak akan menjadi seorang yang bodoh terhadap agamanya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Asy-Syafi’i &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Kewajiban bapak dan ibu mendidik anak-anak mereka serta mengajari mereka tatacara bersuci dan shalat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam An-Nawawi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; menambahkan, “Orang tua juga wajib mendidik anak mereka hadir shalat secara berjama’ah dan menjelaskan kepada mereka tentang haramnya zina, homoseks, minum khamr, berdusta, bergunjing, dan semisalnya. (Dan ini diberikan) kepada anak laki-laki maupun perempuan.” [Lihat &lt;i&gt;Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab&lt;/i&gt; (III/12) dan &lt;i&gt;Bekal Menanti Si Buah Hati&lt;/i&gt; (hal. 56)]&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Membiasakan anak-anak untuk berakhlak baik dan menasihatinya ketika melakukan kesalahan.&lt;/b&gt; Karena akhlak mulia menjadi pemberat timbagan pada hari Kiamat nanti, sebagaimana disebutkan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (IV/2002) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahihul Jami’&lt;/i&gt; (no. 5632), dari Abud Darda’ &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pun diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, sebagaimana sabda beliau,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأَ تَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang shalih.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari dalam &lt;i&gt;Al-Adabul Mufrad&lt;/i&gt; (no. 273), Ahmad (III/381), dan Al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam syarahnya untuk &lt;i&gt;Al-Musnad&lt;/i&gt; (XVII/79, no. 8939), dan dishahihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam &lt;i&gt;Shahihul Adabul Mufrad&lt;/i&gt; (no. 207) dan &lt;i&gt;Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah&lt;/i&gt; (no. 45)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian orang tua menganggap bahwa membiasakan anak untuk berakhlak baik pada usia dini belumlah perlu, karena anak-anak akan mendapatkannya pada pendidikan formal kelak. Padahal, orang tua memiliki andil yang sangat besar untuk mengarahkan anak, karena rumah merupakan sekolah pertama bagi anak-anak. Dan sebelum anak beranjak menuju pendidikan formal, dia akan terlebih dulu mendapatkan pendidikan di rumah dan ditengah-tengah keluarganya. Seorang anak tidak hanya akan mewarisi bentuk fisik orang tuanya, tetapi juga akan mewarisi tabiat kedua orang tuanya. Dan rumah merupakan tempat dimana anak akan mengadaptasi ajaran dan kebiasaan yang dilakukan oleh orang tuanya untuk kemudian diaplikasikan, tidak hanya didalam rumah tetapi juga diluar rumah. [Lihat &lt;i&gt;Akhlak-Akhlak Buruk&lt;/i&gt;, hal. 82]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika salah satu dari orang tua, baik itu ayah maupun ibu, sedang menasihati anaknya, hendaknya orang tua yang lain ikut mendukungnya dan jangan menyelanya atau bahkan menjatuhkan wibawanya. Sebagai contoh, seorang ayah tengah menasihati anaknya agar melaksanakan shalat tepat pada waktunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, sang ibu menyela perkataan sang ayah, &lt;i&gt;“Kayak ayahnya gak pernah telat shalat aja..”&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;“Emang ayahnya suka shalat tepat waktu gitu?”&lt;/i&gt; dan perkataan-perkataan senada lainnya yang menyebabkan suatu nasihat itu akan menjadi “mentah” bagi sang anak. Karena dengan begitu, anak akan menganggap bahwa orang tuanya tidak memiliki otoritas untuk mengaturnya, sebab kesalahan yang dilakukan olehnya ternyata dilakukan pula oleh orang tuanya. Dan ini adalah sebuah kesalahan dalam mendidik anak…!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmsCGo3itYbXrzYywiobf-5pOMB60sX7PK0wQ8IekeD_dAIY6LlfsWZiJt4YXABtF5SxMk5Jphc-_HBC591lzVJUaTvetn5hEVfdaHPdTr9SBZuagxZ08_CUZUVBF0vz-lQUfltxuCbkI/s1600/outbound-tk.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;298&quot; data-original-width=&quot;448&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmsCGo3itYbXrzYywiobf-5pOMB60sX7PK0wQ8IekeD_dAIY6LlfsWZiJt4YXABtF5SxMk5Jphc-_HBC591lzVJUaTvetn5hEVfdaHPdTr9SBZuagxZ08_CUZUVBF0vz-lQUfltxuCbkI/s640/outbound-tk.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi outbond dari outboundmalang.co.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Mengajarkan adab dan etika kepada anak.&lt;/b&gt; Para Salaf telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap adab Islami. Simak saja perkataan seorang Salaf kepada anaknya ini, “Wahai anakku, engkau mempelajari satu bab tentang adab lebih aku sukai daripada engkau mempelajari tujuh puluh bab dari ilmu.” [Lihat &lt;i&gt;Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim&lt;/i&gt; (hal. 2) dan &lt;i&gt;Ensiklopedi Adab Islam&lt;/i&gt; (I/10)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Sufyan ats-Tsauri &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; pun pernah berkata tentang kebiasaan para Salaf mengirimkan anak-anaknya untuk mempelajari adab dan ibadah selama 20 tahun sebelum mereka dapat menuntut ilmu. [Lihat &lt;i&gt;Hilyatul ‘Auliya’&lt;/i&gt; (VI/361), &lt;i&gt;Min Hadyis Salaf fi Thalabil ‘Ilm&lt;/i&gt; (hal. 23), dan &lt;i&gt;Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga&lt;/i&gt; (hal. 130)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal serupa juga digambarkan oleh Imam Adz-Dzahabi &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berikut ini, “Bahwasanya majelis Imam Ahmad dihadiri oleh lima ribu orang. Lima ratus (orang) diantara mereka mencatat, sedangkan selebihnya mengambil manfaat dari perilaku, akhlak dan adab beliau (Imam Ahmad).” [Lihat &lt;i&gt;Siyar A’lamin Nubala’&lt;/i&gt; (XI/316) dan &lt;i&gt;Ensiklopedi Adab Islam&lt;/i&gt; (I/10)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan inilah kesaksian seorang Abu Bakar Al-Mithwa’i &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt;, “Aku bolak-balik kepada Abu ‘Abdillah –yakni Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah– selama sepuluh tahun. Beliau membacakan kitab Al-Musnad kepada anak-anaknya. Aku tidak menulis satupun hadits darinya, aku hanya melihat adab dan akhlak beliau (pada anak-anaknya).” [Lihat &lt;i&gt;Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim&lt;/i&gt; (hal. 3) dan &lt;i&gt;Ensiklopedi Adab Islam&lt;/i&gt; (I/10)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada banyak macam adab yang mesti diajarkan kepada anak, namun secara garis besar, pembahasan tentang masalah adab, etika, dan akhlak terbagi kepada:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Adab dan akhlak terhadap Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt;,&lt;/b&gt; seperti penghambaan, tidak melakukan syirik, mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, ridha terhadap takdir-Nya, dan bersyukur atas semua nikmat-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Adab dan akhlak terhadap Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;/b&gt; seperti mengimani beliau sebagai Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, mencintai Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;, mentaati apa yang beliau perintahkan dan menjauhi apa yang beliau larang, mengikuti Sunnah beliau &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dan menjauhi segala bentuk bid’ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Adab dan akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia,&lt;/b&gt; seperti adab makan dan minum, adab tidur, adab berpakaian, adab bertamu, adab meminta izin, adab berdo’a dan adab-adab lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d. Adab dan akhlak terhadap hewan dan tumbuhan yang sesuai dengan tuntunan syari’at,&lt;/b&gt; seperti tidak menyakitinya, tidak menyiksanya, memberinya makan dan minum, merawatnya, dan tidak membunuhnya dengan cara-cara yang dilarang oleh agama. [Lihat &lt;i&gt;Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga&lt;/i&gt; (hal. 131-161) dan &lt;i&gt;Menanti Buah Hati&lt;/i&gt; (hal. 396)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hendaknya semua adab-adab tersebut dijadikan sebagai suatu kebiasaan di dalam rumah, sehingga ketika si anak pergi keluar rumah, dia akan membawa adab tersebut bersamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Orang tua hendaknya menyertakan anak-anak dalam beribadah, bukan hanya sekedar memerintahkannya saja.&lt;/b&gt; Karena pendidikan anak akan lebih berhasil manakala setiap inderanya diberdayakan. Jadi, orang tua tidak hanya memberdayakan indera pendengaran anak saja untuk memerintahnya melakukan ini dan itu, tapi orang tua juga perlu memberdayakan indera penglihatannya untuk mencontoh sikap dan perilaku baik dari orang tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya itu, orang tua juga dapat mengajak anak untuk memberdayakan perasaannya ketika beribadah, yakni menghadirkan rasa cinta dalam menjalankan suatu ibadah, sekaligus mengajarkan kepadanya bagaimana menghadirkan hati yang khusyu’ ketika beribadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, ‘Abdullah bin ‘Abbas &lt;i&gt;radhiyallahu’anhuma&lt;/i&gt; pernah shalat disamping Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; disebelah kiri, kemudian beliau memegang telinganya dan memindahkannya ke sebelah kanan beliau. [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 6316) dan Muslim (no. 763)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin &lt;i&gt;rahimahullah&lt;/i&gt; berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa urutan shaf terdepan bagi anak-anak adalah dibelakang shaf laki-laki dewasa, kecuali jika keadaan tersebut (dikhawatirkan) akan mengganggu jama’ah. Karenanya pada saat itu, perlu bagi kita untuk menempatkan anak-anak laki-laki diantara shaf laki-laki dewasa agar jama’ah dapat mengerjakan shalat secara khusyu’.” [Lihat &lt;i&gt;Asy-Syarhul Mumti’&lt;/i&gt; (IV/391)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Bersikap lemah lembut kepada anak dan bersikap tegas manakala diperlukan.&lt;/b&gt; Karena anak bukanlah benda yang tidak memiliki rasa. Sehingga, orang tua sesekali dianjurkan untuk mencandai anak, bermain dengannya, dan mencium mereka sebagai bentuk kasih sayang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; pernah bersabda kepada Aqra’ yang memiliki 10 orang anak, tetapi dia belum pernah mencium mereka sekalipun,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنْ لاً يَرْحَمْ لاَ يُرْحَمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 5997) dan Muslim (no. 2318), dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap tegas orang tua kepada anak juga perlu dilakukan sesekali, manakala anak melanggar ketentuan syar’i. Namun, sikap tegas yang dimaksudkan bukanlah sikap kasar dan menganiaya anak, karena sikap tegas disini ditujukan sebagai metode pendidikan anak yang memberikan efek jera, bukan “efek luka”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh sikap tegas yang dapat dilakukan oleh orang tua kepada anaknya adalah memukul anaknya yang tidak melaksanakan shalat ketika sudah menginjak usia 10 tahun, sebagaimana disabdakan oleh Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مُرُوا أُوْلاَدَكُمْ بِالصًّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِ بُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Suruhlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”&lt;/i&gt; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (II/ 180, 187), Abu Dawud (no. 495), Al-Hakim (I/197), Al-Baihaqi (III/84), Ibnu Abi Syaibah (no. 3482), Ad-Daruquthni (I/230), Al-Khathib (II/278), dan Al-‘Uqaili (II/167), dari ‘Abdullah bin ‘Amr &lt;i&gt;radhiyallahu’anhuma&lt;/i&gt;. Lihat juga &lt;i&gt;Shahihul Jami’&lt;/i&gt; (no. 5868)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa &lt;b&gt;syarat&lt;/b&gt; yang harus dipenuhi berkaitan dengan pukulan kepada anak ini, yaitu:&lt;br /&gt;
a. Anak mengerti atas alasan apa dia dipukul.&lt;br /&gt;
b. Orang yang memukulnya adalah walinya, misalkan ayahnya.&lt;br /&gt;
c. Tidak boleh memukul anak secara berlebihan.&lt;br /&gt;
d. Kesalahan yang dilakukan oleh sang anak memang patut untuk mendapatkan hukuman.&lt;br /&gt;
e. Pukulan dimaksudkan untuk mendidik anak, bukan untuk melampiaskan kemarahan.&lt;br /&gt;
[Lihat &lt;i&gt;Al-Qaulul Mufid&lt;/i&gt; (II/473-474) dan &lt;i&gt;Bekal Menanti Si Buah Hati&lt;/i&gt; (hal. 55-56, cat. kaki no. 89)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pukulan yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt;
a. Pukulan yang dapat diterima oleh si anak, yakni pukulan yang ringan,&lt;br /&gt;
b. Pukulan yang tidak menimbulkan bekas atau luka pada tubuh si anak,&lt;br /&gt;
c. Pukulan di bagian tubuh, kecuali wajah.&lt;br /&gt;
[Lihat &lt;i&gt;Menanti Buah Hati&lt;/i&gt;, hal. 347-348)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s1600/pendidikan-islam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;393&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s640/pendidikan-islam.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi Pendidikan Anak dari rijal09.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Bersikap adil kepada semua anak dan bersabar dalam menghadapi mereka.&lt;/b&gt; Orang tua terkadang memiliki kecenderungan pada salah satu atau sebagian anak dibandingkan dengan anak-anak lainnya, baik dalam hal materi maupun imateri. Padahal, sikap orang tua yang demikian itu tidak akan memberikan dampak yang baik bagi kejiwaan anak-anaknya. Sebab akan ada anak yang merasa tidak disayangi dan tersisihkan, sementara dia melihat saudaranya mendapatkan perlakuan berbeda dari orang tuanya. Hal seperti ini akan sangat mungkin untuk memicu perselisihan bahkan permusuhan antar sesama saudara. Dan sikap seperti ini juga berarti menzhalimi mereka. [Lihat &lt;i&gt;Ensiklopedi Adab Islam&lt;/i&gt; (I/201)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لاَ أَشْهَـدُ عَلَى جَوْرٍ، اتّقُوا اللهَ، وَاعْـدِلُوا فِي أَوْلاَدِكُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan zhalim, bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anak kalian.” &lt;/i&gt;[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 2586, 2587) dan Muslim (no. 1623), dari Nu’man bin Basyir &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, orang tua juga harus menyadari bahwa anak adalah fitnah (ujian) bagi orang tua maka hendaknya orang tua dapat bersabar dalam menghadapi gangguan dari anak-anaknya. Allah &lt;i&gt;‘Azza wa Jalla&lt;/i&gt; berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَاعْلَمُوآ أَنَّمَآ أَمْوَ لُكُمْ وَأَوْلَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan ketahuilah! Sesungguhnya harta-hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (ujian/cobaan bagimu). Dan sesungguhnya Allah (yang) disisi-Nyalah terdapat ganjaran yang besar.”&lt;/i&gt; (Qs. Al-Anfal: 28)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّمَآ أَمْوَ لُكُمْ وَأَوْلَدُكُمْ فِتَنَةٌ وَاللهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيْمٌ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Hanya saja harta-hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (ujian/cobaan bagimu). Dan sesungguhnya Allah (yang) disisi-Nyalah terdapat ganjaran yang besar.”&lt;/i&gt; (Qs. Ath-Taghabun: 15)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terutama bagi pasangan orang tua yang memiliki anak perempuan, hendaknya mereka bersabar dalam mengasuh dan mendidiknya, karena anak perempuan yang diasuh dengan baik oleh orang tuanya dapat menjadi penghalang bagi kedua orang tuanya dari api Neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; dalam sabdanya berikut ini,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَـذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهَنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan lalu dia memberi asuhan yang baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi penghalang antara dirinya dari Neraka.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari (no. 1418, 5998) dan Muslim (no. 2629), dari ‘Aisyah &lt;i&gt;radhiyallahu’anha&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan wajib bagi para orang tua untuk membiasakan anak-anak perempuannya untuk mengenakan jilbab. Jangan biasakan dia mengenakan pakaian tipis, ketat, dan pendek, meskipun dia belum baligh. Karena kebiasaan berpakaiannya sedari kecil akan mempengaruhi “model pakaiannya” ketika dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. Memperhatikan kesehatan anak, baik secara jasmani maupun rohani,&lt;/b&gt; karena sesungguhnya Allah lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…&quot; [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 2664), Ahmad (II/366, 370) dan Ibnu Majah (no. 79, 4168), dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah beberapa hal yang harus menjadi perhatian orang tua terkait dengan pendidikan anak. Tidak hanya menjadi bahan perhatian orang tua saja, tetapi juga menjadi kewajiban bagi orang tua, karena apa yang telah diuraikan diatas dapat dikategorikan sebagai hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;AYAH... BUNDA... SAYANGILAH ANAKMU... &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak manapun, tentu saja mendambakan kasih sayang kedua orang tuanya. Karena meskipun dia telah mendapatkan kasih sayang dari kerabat dan teman-temannya, jauh di dalam lubuk hatinya dia rindu untuk mendekap sang ayah dan dibelai oleh sang bunda. Andaikan para orang tua mau sedikit lebih peka terhadap sikap dan perasaan sang anak, tentunya mereka dapat mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sangat disayangkan bahwa para orang tua masa kini lebih sibuk dengan dunianya masing-masing tanpa mau menengok ke dalam dunia anak-anaknya barang sebentar saja. Karena banyak dari mereka menggunakan alasan perekonomian sebagai alibi untuk menghindar dari tindakan “salah asuh” yang kerap terjadi belakangan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga, para orang tua menjerumuskan anak-anak mereka ke dalam lembah kenistaan tanpa sadar, dengan sebab sikap acuh tak acuh dengan pendidikan anak. Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَلاَتَقْـتُلُوآ أَوْلَدَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَقٍۖ نَّحْنُ نَرْزُقُـهُـمْ وَإِيَّاكُمْۖ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu…” (Qs. Al-Isra’: 31)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun ayat diatas menyebutkan tentang larangan membunuh anak karena takut miskin, akan tetapi Allah &lt;i&gt;Tabaraka wa Ta’ala&lt;/i&gt; telah menegaskan dalam ayat yang sama bahwa Allah-lah yang memberikan rizki kepada orang tua dan anak tersebut maka tidak ada alasan bagi setiap orang tua untuk mengabaikan hak anak dan hanya memberikan wewenang pada instansi formal untuk memberikan pendidikan kepada anak, tanpa orang tua turut terlibat di dalamnya, hanya karena alasan perekonomian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, sesibuk apa pun aktifitas kedua orang tua, hendaknya orang tua dapat meluangkan waktu bersama anak untuk mengetahui sejauh mana pendidikan yang telah diterimanya dan mengamati hal-hal apa saja yang harus diperbaiki, ditambah, atau mungkin dikurangi dari “porsi” pendidikan si anak. Dengan demikian, hubungan antara orang tua dan anak tidak lagi berada dalam dua dunia yang berbeda dan terpisahkan oleh jurang yang sangat jauh dan dalam. Dan dalam hal ini diperlukan pendekatan yang komunikatif antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepatutnya anak mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tua dan kerabatnya. Dan yang terpenting dari semuanya adalah pendidikan yang menjadi hak anak dan prioritas bagi setiap orang tua, karena Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; telah berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;يَآيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (Qs. At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Ali bin Abi Thalib &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt; menegaskan bahwa maksud dari ayat diatas adalah mendidik dan mengajari keluarga. [Lihat &lt;i&gt;Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim&lt;/i&gt;(IV/408) dan &lt;i&gt;Bekal Menanti Si Buah Hati&lt;/i&gt; (hal. 52)]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah, risalah ini tersusun dengan maksud untuk mengingatkan kepada setiap orang tua, bahwasanya anak adalah titipan yang harus dijaga. Dan “titipan” itu juga harus dikelola sebaik mungkin agar kelak menjadi “aset” yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tidakkah setiap orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang shalih agar kelak dapat mendo’akannya ketika tidak ada lagi satupun “simpanan” yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِذَ مَاتَ الْإِنْسَانُ إِنْقَـطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَلِحٍ يَدْعُوْلَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan &lt;b&gt;anak shalih yang mendo’akan kebaikan baginya.&lt;/b&gt;” &lt;/i&gt;[Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), Ahmad (II/372), Bukhari dalam &lt;i&gt;Al-Adabul Mufrad&lt;/i&gt; (no. 38), Abu Dawud (no. 2880), An-Nasa’i (VI/251), Tirmidzi (no. 1376), dan Al-Baihaqi (VI/278) dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu’anhu&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;الحمد لله الذى بنعمته تتم الصالحات&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;والله تعالى أعلم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Penyusun: Ummu Sufyan Rahma bintu Muhammad&lt;br /&gt;
Muraja’ah: Ibnu Isma’il Al-Muhajirin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Maraji’:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. &lt;i&gt;Akhlak-Akhlak Buruk&lt;/i&gt;, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad, cetakan Pustaka Darul Ilmi, Jakarta&lt;br /&gt;
2. &lt;i&gt;Al-Masaail&lt;/i&gt; Jilid 6, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Darus Sunnah, Jakarta&lt;br /&gt;
3. &lt;i&gt;Bekal Menanti Si Buah Hati&lt;/i&gt;, Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi, cetakan Media Tarbiyah, Bogor&lt;br /&gt;
4. Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Ummu Salamah As-Salafiyyah, cetakan Pustaka Ibnu Katsir, Bogor&lt;br /&gt;
5. &lt;i&gt;Ensiklopedi Adab Islam&lt;/i&gt; Jilid 1, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi As-Sayyid Nada, cetakan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Jakarta&lt;br /&gt;
6. &lt;i&gt;Jangan Salah Mendidik Buah Hati&lt;/i&gt;, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad, cetakan Darus Sunnah, Jakarta&lt;br /&gt;
7. &lt;i&gt;Menanti Buah Hati dan Hadiah Untuk yang Dinanti&lt;/i&gt;, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cetakan Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Jakarta&lt;br /&gt;
8. &lt;i&gt;Menggapai Surga Tertinggi dengan Akhlak Mulia&lt;/i&gt;, Ummu Anas Sumayyah bintu Muhammad Al-Ansyariyyah, cetakan Pustaka Darul Ilmi, Jakarta&lt;br /&gt;
9. &lt;i&gt;Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga&lt;/i&gt;, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan Pustaka At-Taqwa, Bogor&lt;br /&gt;
10. &lt;i&gt;Panduan Keluarga Sakinah&lt;/i&gt;, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, cetakan Pustaka At-Taqwa, Bogor&lt;br /&gt;
11. &lt;i&gt;Tarbiyatul Abna&lt;/i&gt; (Edisi Terjemah), Syaikh Musthafa Al-Adawi, cetakan Media Hidayah, Yogyakarta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;bumiislam.wordpress.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/konsep-pendidikan-anak-usia-dini.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpglnjtmyzl7qzQGWteQ_cMXlAPEP9b9FLIntgDCdXzKhc5xgOZBQujbZJtFe7sgEeUlXk1iZSR_giobtIbH6p-JaBi6BfNS51QNJEDZqLtTrWFKktOkUEs8gGyHbWAcaRg-_W9myGuT0/s72-c/Sejarah-PAUD.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-2169593622647801168</guid><pubDate>Mon, 10 Jun 2019 07:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:49:25.622+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Kewajiban Orang Tua Mendidik Anak</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s1600/pendidikan-islam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;393&quot; data-original-width=&quot;700&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s640/pendidikan-islam.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari rijal09.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menikah dan kemudian berharap memiliki seorang anak, seharusnyalah kita juga telah mempersiapkan konsep seperti apa yang hendak kita terapkan dalam mendidik anak kita kelak, karena mendidik anak dalam Islam memiliki tata cara dan aturan tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, seharusnya&amp;nbsp; para orang tua atau calon orang tua muslim mengedepankan pola pendidikan anak menurut Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Islam, anak memiliki kedudukan tersendiri yang harus kita jadikan pegangan dalam memilih model/cara mendidik anak yang akan kita lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedudukan Anak dalam Pandangan Islam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik anak dalam Islam harus didasarkan pada petunjuk dari Allah, yaitu Al-Quran, karena Al-Qur’an tidak hanya membahas tentang kewajiban anak kepada orang tua, namun juga kewajiban orang tua kepada anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan berikut ini adalah pandangan Al-Quran tentang anak, yang perlu kita ketahui dalam mendidik anak :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Anak sebagai Amanah bagi Orangtuanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selayaknya para bijak mengatakan bahwa sesungguhnya anak-anak bukanlah milik kita; mereka adalah titipan dari Allah kepada kita. Untuk itu sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mendidik anak sesuai dengan yang telah Allah perintahkan. Jadi, adalah kesalahan bagi orang tua apabila seorang anak jauh dari ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Anak sebagai Generasi Penerus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak adalah harapan di masa depan; merekalah kelak yang akan menjadi pengaman dan pelopor masa depan agama dan bangsa. Jadi wajib bagi kita mendidik mereka untuk menjadi generasi tangguh di masa depan. Lebih jauh, Allah memerintahkan kita sebagai orang tua untuk menjauhkan mreeka dari api neraka kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKG8YA67Qe0ZXHxH_Z3wMNG78wQxkd_SNKZFNhK0pH_nTvlMg-qCDFZXR-a3yuNWV61YSAD8sN4oZ0ZHy37ZsXSkhuo4YUpaj7d7RXyOa2r7j-wMM4_t6ywH28QSzC2_WnXwkyaIz4pNs/s1600/mendidik-anak.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;365&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;487&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKG8YA67Qe0ZXHxH_Z3wMNG78wQxkd_SNKZFNhK0pH_nTvlMg-qCDFZXR-a3yuNWV61YSAD8sN4oZ0ZHy37ZsXSkhuo4YUpaj7d7RXyOa2r7j-wMM4_t6ywH28QSzC2_WnXwkyaIz4pNs/s640/mendidik-anak.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari sdi.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Anak adalah Tabungan Amal Kita di Akhirat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti telah kita tahu, bahwa selain amal kita di dunia, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh merupakan amalan yang pahalanya akan terus mengalir hingga hari penghitungan kelak. Jadi, mendidik anak sesuai perintah Allah tetaplah merupakan keuntungan bagi diri kita juga pada akhirnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Anak adalah Penghiburan dan Perhiasan Dunia bagi Orang Tuanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak adalah perhiasan bagi orang tua. Di satu sisi, ia akan menjadi penghibur di kala lelah dan kesusahan melanda, namun di satu sisi, ia juga dapat menggelincirkan dari jalan Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar pemahaman akan kedudukan anak dalam al-Qur’an diatas, maka ada 3 kewajiban orang tua dalam mendidik anak, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Memberikan Dasar Hubungan Harmonis dengan Allah SWT (&lt;i&gt;Habbuminnallah&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai orang tua kita harus dapat mengenalkan kepada anak-anak kita siapa Allah dan mengapa kita wajib taat padaNya. Ketaatan itu tidak karena Allah adalah pencipta, dan pemilik kita, namun karena dengan taat kepadaNya, hidup kita akan menjadi lebih baik dan bahagia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan memberikan dasar sedemikian, maka anak tidak akan menganggap Allah sebagai sebagai “hakim” atau “pengawas”; namun sebagai zat yang memang kita butuhkan keberadaanNya. Hal inilah yang harus kita jadikan landasan utama dalam mendidik anak sekaligus merancang pola asuh yang tepat baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu cara untuk memberikan dasar habbuminnallah adalah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil. Dan kemudian mulai memberikan pengertian mengapa kita harus shalat, apa manfaat shalat dan seterusnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Memberikan dasar hubungan yang harmonis dengan orang-orang di sekelilingnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Islam, hubungan antar manusia (hablumminanas), sama pentingnya dengan hubungan manusia dengan Allah (hablumminnallah). Bahkan nabi Ibrahim berdoa kepada Allah: “… agar mereka dicintai orang-orang…” Jadi, wajib bagi kita mengajarkan tata cara pergaulan yang baik dengan sesama dan dilandasi rasa saling hormat-menghormati; serta mampu bersikap asertif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgakBBSrTNzA4zzGKeQqbVKPssmgh9GZPNmlXfrJtdTPSOfhMlKmV3zSdP3AI54ore2VQRccCY5yIKR2lk3bd7SCB_dsIVe57dpaTXDyW8203QUt_tTZa_tIEd0FZXOavtPzuq1O1AkMkA/s1600/mendidik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;219&quot; data-original-width=&quot;540&quot; height=&quot;260&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgakBBSrTNzA4zzGKeQqbVKPssmgh9GZPNmlXfrJtdTPSOfhMlKmV3zSdP3AI54ore2VQRccCY5yIKR2lk3bd7SCB_dsIVe57dpaTXDyW8203QUt_tTZa_tIEd0FZXOavtPzuq1O1AkMkA/s640/mendidik.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari bestfard.wordpress.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Memberikan dasar yang kuat guna menghadapi tantangan jaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, mari &lt;i&gt;Parents&lt;/i&gt;, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika telah benar dan sesuai perintah Allah, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga keistiqomahan, lisan dan hati kita dari hal-hal yang tidak Allah kehendaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://id.theasianparent.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/kewajiban-orang-tua-mendidik-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjwM4SBUYDpumPiKsbOr3UkW3LL-fYQgGzTcx1wMbFpg-EoDjzC0kOEj5rZREnhE7xm4uH_ocp19N0sZA5jY8Dw6Gd5lhyKNuUn1ERZD0enya0m3PKrOfPrs066p34sVYLuMuPgj-_zfw/s72-c/pendidikan-islam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-6354487181534153589</guid><pubDate>Mon, 10 Jun 2019 07:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:15:32.143+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Mendidik Anak Dalam Islam</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhG3Kqa5Y0JxH_LinhbtRbf8zz_el2KoAkdbQO7QAr64uywP1rnpOWvDd5wYvCIV6FPpe8s38uOsORK2zInXv4-_SOqClv7rh2G5y84wcFOHq0bgsZitZlc3qSJkx81G8Ld1hSYgzCAHUc/s1600/seorang-ayah-mengajarkan-anaknya-mengaji-_120825074354-569.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;556&quot; data-original-width=&quot;830&quot; height=&quot;429&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhG3Kqa5Y0JxH_LinhbtRbf8zz_el2KoAkdbQO7QAr64uywP1rnpOWvDd5wYvCIV6FPpe8s38uOsORK2zInXv4-_SOqClv7rh2G5y84wcFOHq0bgsZitZlc3qSJkx81G8Ld1hSYgzCAHUc/s640/seorang-ayah-mengajarkan-anaknya-mengaji-_120825074354-569.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari republika.co.id&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah fatwa dari Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid terkait metode pendidikan anakdalam Islam, selamat membaca dan menyimak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memohon nasehat Anda tentang bagaimana cara meningkatkan akhlaq dan cara mengasuh anak-anak saya agar memiliki akhlaq yang baik. Saya mendengar banyak nasehat dari para ulama bahwa anak-anak seharusnya tinggal dan belajar di bawah bimbingan ulama selama beberapa waktu agar bisa mempelajari akhlaq yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat ini saya sangat khawatir terhadap akhlaq anak-anak saya karena kami tinggal di lingkungan yang buruk, dan akhlaq masyarakat di lingkungan kami sangat rendah, yang mana tidak menunjang peningkatan akhlaq yang baik. Saya belum lama masuk Islam, sehingga saya tidak memiliki ilmu yang cukup untuk meningkatkan akhlaq saya ataupun anak-anak saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka sangat suka menonton TV dan bergaul dengan kerabat-kerabat dan teman-teman yang menularkan akhlaq-akhlaq yang jelek. Sampai-sampai, meskipun kami selalu berupaya mengajari mereka akhlaq yang baik, namun contoh jelek dari masyarakat dan teman-temannya lebih berpengaruh kepada mereka. Saya bingung &amp;nbsp;apakah saya harus terus berusaha untuk tetap sabar dan mengingatkan mereka dengan lembut, atau saya harus bersikap keras untuk mengajari mereka akhlaq yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala puji bagi Allah. Kami mengucapkan selamat kepada Anda untuk nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada Anda berupa hidayah untuk masuk Islam, dan kami memohon kepada Allah &lt;i&gt;Ta’alaa&lt;/i&gt; agar meneguhkan kami dan Anda dalam mengikuti agama ini sampai kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan Dia ridha kepada kita. Kami juga mengucapkan selamat kepada Anda kerena semangat Anda dalam memberikan anak-anak Anda pendidikan yang baik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian jawaban dari pertanyaan Anda, kami menunjukkan beberapa hal penting dengan harapan dapat membantu Anda, dengan taufik Allah &lt;i&gt;Ta’alaa&lt;/i&gt;, untuk mencapai apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Pertama:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami harus mengingatkan Anda bahwa, umumnya, akhlaq yang jelek itu sesuai dengan syahwat dan hawa nafsu seseorang; sehingga seorang anak akan melakukannya tanpa perlu disuruh atau susah-susah. Sebaliknya, akhlaq yang baik itu membutuhkan latihan bagi jiwa serta pengendalian dari syahwat, yang merusak dan merugikan jiwa. Akhlaq yang baik berarti mengikuti jalan yang bertentangan dengan hawa nafsu, sehingga merupakan suatu proses yang membutuhkan usaha dan perjuangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan yang baik adalah dengan menanamkan akhlaq yang baik secara kuat dan kokoh ke dalam jiwa anak, sehingga ia mampu menolak syahwat yang jelek, dan menjadikan jiwanya tidak akan merasa nyaman kecuali dengan hal-hal yang baik, dan jiwanya akan membenci apa pun yang bertentangan dengan akhlaq yang baik. Sehingga anak akan menerima akhlaq yang baik, dan mencintai akhlak tersebut. Cinta tidak dapat ditanamkan dengan cara kekerasan; melainkan membutuhkan hal-hal berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7_IrDpiFak8yK-NYb_e5YFFv1dGBbNsoAe9P9bUtIMJgXtzWzmlzhWRfFC7TYWsR1l6YMBQpNGZa4J-rc35XvACxjWD4RqhRjmfCBhs1QLsEn0e4RVHIoEtpuvEmQhTO3RYn0cNEJkps/s1600/mendidik.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;219&quot; data-original-width=&quot;540&quot; height=&quot;260&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7_IrDpiFak8yK-NYb_e5YFFv1dGBbNsoAe9P9bUtIMJgXtzWzmlzhWRfFC7TYWsR1l6YMBQpNGZa4J-rc35XvACxjWD4RqhRjmfCBhs1QLsEn0e4RVHIoEtpuvEmQhTO3RYn0cNEJkps/s640/mendidik.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari bestfard.wordpress.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Kelembutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terdapat sejumlah hadits Nabi yang mengajarkan kita untuk menggunakan kelembutan saat berinteraksi dengan orang lain, seperti berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْج النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “&lt;i&gt;Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal.&quot;&lt;/i&gt; (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, 6024).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;عَنْ جَرِيرٍعَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ ، يُحْرَمِ الْخَيْرَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jarir bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &lt;i&gt;&quot;Barangsiapa yang terhalangi dari kelembutan, maka dia akan terhalangi dari kebaikan.&quot;&lt;/i&gt;” (Diriwayatkan oleh Muslim, 2592)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وعَنْ عَائِشَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِي شيء إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شيء إِلاَّ شَانَهُ &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah, istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah meridhai beliau, berkata, ‘Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &lt;i&gt;“Sesungguhnya kelembutan, tidaklah berada pada sesuatu kecuali pasti menghiasinya, dan tidaklah kelembutan diambil dari sesuatu, kecuali pasti merusaknya.”&lt;/i&gt; (Diriwayatkan oleh Muslim, 2594)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وعَنْ عَائِشَةَ : أَنَّهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًاأَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ‘Aisyah semoga Allah meridhai beliau bahwa dia berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: &lt;i&gt;&quot;Jika Allah ‘azza wa jalla menginginkan kebaikan bagi anggota rumah tangga, Dia akan memasukkan kelembutan kepada mereka&quot;&lt;/i&gt; (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (24427); yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami ‘as-Shaghir (303)).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara tabiat anak-anak adalah mereka mencintai orang tua yang lemah lembut kepada mereka, membantu mereka, dan yang perhatian kepada mereka, sebisa mungkin tanpa teriak dan amarah; bahkan dengan penuh hikmah dan kesabaran. Anak usia dini membutuhkan hiburan dan permainan; sebagaimana juga usia dini adalah usia yang tepat untuk menanamkan adab-adab dan pendidikan yang baik. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menyeimbangkan antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat anak-anak mencintai orang tua yang penuh kelembutan, maka cintanya ini akan memotivasi mereka dengan kuat untuk menaati orang tuanya. Sebaliknya, tidak adanya kelembutan pada orang tua, bahkan adanya kekerasan, akan menyebabkan anak menjauh, yang pada gilirannya akan menyebabkan keras kepala dan ketidaktaatan, atau menyebabkan ketakutan yang akan menumbuhkan sifat dusta dan tipu daya pada diri anak kepada orang tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Kelembutan tidak berarti meniadakan hukuman pada saat diperlukan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, perlu dicatat bahwa hukuman, ketika membesarkan anak-anak, harus digunakan secara bijak. Tidak benar jika anak selalu dihukum untuk setiap pelanggaran yang dilakukan. Hukuman diterapkan saat kelembutan tidak lagi berpengaruh, dan ketika nasehat, perintah dan larangan telah diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, hukuman juga harus memberikan manfaat. Misalnya, Anda memiliki masalah pada kebiasaan anak-anak Anda menghabiskan waktu yang lama di depan televisi, maka Anda dapat membatasi program yang mereka tonton, yakni yang bermanfaat dan tidak membahayakan secara umum, dan bebas dari perkara mungkar sebisa mungkin. Jika mereka melampaui waktu tonton yang telah ditentukan, Anda dapat menghukum mereka dengan melarang mereka menonton televisi selama satu hari penuh. Suatu ketika mereka melanggar lagi, maka Anda dapat melarang mereka dari menonton televisi untuk jangka waktu yang lebih lama, sesuai dengan tujuan kebaikan yang hendak digapai dan manfaat dalam pendidikan adab dan budi pekerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Memberikan contoh yang baik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang tua harus memiliki akhlaq yang baik terlebih dahulu, sebelum mengajari anaknya berakhlaq baik. Sebagai contoh, tidak tepat jika seorang ayah melarang anaknya merokok padahal dia sendiri merokok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah seorang ulama mengatakan kepada guru anak-anaknya, “Hal pertama yang harus Anda lakukan untuk mendidik keshalihan anak-anak saya adalah membuat diri Anda sendiri menjadi shalih. Karena kesalahan mereka adalah bentuk mencontoh dari kesalahan Anda; Hanya perbuatan baik saja yang harus Anda lakukan dan tinggalkanlah perbuatan yang jelek di hadapan mereka” (&lt;i&gt;Tariikh Dimasyq&lt;/i&gt;, 38 / 271-272).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioaho7AB7Ioe8NU30eI0mIkaLIs3IP9hHhDy4uMdfTwnmUmUX-ByhL4Zm26DeKx3XJ3zY4SFmfInzvMnm5RXDWHZOK1BTh3veVpV1u2IyRUMSXZMgY1PeskW8cXg26Zv81H0JsQr-24hc/s1600/Pendidikan+Anak.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;829&quot; data-original-width=&quot;1005&quot; height=&quot;528&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioaho7AB7Ioe8NU30eI0mIkaLIs3IP9hHhDy4uMdfTwnmUmUX-ByhL4Zm26DeKx3XJ3zY4SFmfInzvMnm5RXDWHZOK1BTh3veVpV1u2IyRUMSXZMgY1PeskW8cXg26Zv81H0JsQr-24hc/s640/Pendidikan+Anak.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi Belajar dari voa-islam.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Menerapkan lingkungan yang baik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan yang baik adalah lingkungan di mana perbuatan baik dipuji dan pelakunya dimuliakan, sedangkan perbuatan buruk dan pelakunya dicela. Saat ini, lingkungan seperti ini sangat jarang kita temui. Namun, dengan usaha keras dan sungguh-sungguh secara fisik, psikologis dan finansial, insyaAllah kita mampu untuk membuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, jika terdapat sebuah keluarga muslim yang tinggal di lingkungan di mana tidak ada keluarga muslim lainnya, keluarga ini harus berusaha keras untuk pindah ke lingkungan atau kota di mana terdapat banyak muslim, atau lingkungan di mana terdapat masjid atau pusat kegiatan Islam yang aktif dalam menjalankan program-program untuk anak-anak muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh lain, jika seorang anak tertarik dalam olahraga tertentu atau aktivitas lainnya, orang tua bisa mencarikan klub olahraga atau organisasi serupa yang cocok, yang dikelola oleh muslim yang berkomitmen pada syariat Islam, yang diikuti oleh keluarga-keluarga muslim yang bersemangat untuk memberikan anak-anak mereka pendidikan yang baik dalam seluruh perkara. Interaksi satu sama lain sangat memberikan pengaruh besar, seperti yang Anda katakana. Sehingga, cobalah untuk mengurangi efek negatif yang Anda lihat sebagai hasil dari interaksi tersebut, dengan mengatur interaksi yang positif dengan keluarga muslim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika orang tua mampu mengeluarkan uang untuk pakaian bagus, makanan lezat, dan rumah yang nyaman, mereka juga harus bersedia mengeluarkan uangnya dalam usaha untuk memperoleh akhlaq yang baik, dengan mengharap pahala dari Allah &lt;i&gt;Ta’alaa&lt;/i&gt; dengan hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kedua:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wajib bagi Anda untuk senantiasa memanjatkan doa tanpa henti, terutama pada waktu-waktu mustajab, seperti saat sepertiga malam terakhir, saat sujud, dan pada hari Jumat. Perbanyaklah meminta kepada-Nya agar menjadikan anak-anak Anda menjadi anak-anak yang shalih dan agar membimbing mereka ke jalan yang lurus. Berdoa untuk kebaikan anak adalah salah satu ciri hamba Allah yang shalih. Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا الفرقان&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Dan (hamba-hamba Ar Rahman adalah) mereka yang mengatakan:” Ya Tuhan kami! Anugerahkan kepada kami, istri-istri dan keturunan kami yang akan menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin untuk orang-orang yang bertakwa.&quot;&lt;/i&gt; (Al-Furqaan 25:74).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh ‘Abd ar-Rahman as-Sa’di, semoga Allah merahmatinya, berkata, “penyejuk mata” artinya sumber kebahagian bagi kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita mempelajari karakteristik dari mereka (yang memanjatkan doa ini), kita akan ketahui bahwa di antara indikasi kuatnya kehendak baik dan tingginya martabat mereka adalah mereka tidak akan bahagia sampai mereka melihat istri dan keturunan mereka menaati Tuhan mereka, berilmu dan mengamalkan ilmunya. Dan doa untuk keshalihan istri dan anak-anak juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya akan kembali kepada mereka juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, mereka menganggap hal tersebut sebagai bentuk karunia (Allah) kepada mereka. Mereka berkata “Anugerahkan kepada kami”, bahkan sebenarnya doa mereka tidak hanya membawa manfaat untuk mereka, namun juga bagi semua umat Islam, karena keshalihan satu orang akan menyebabkan shalihnya orang-orang di sekelilingnya, dan akan memberikan manfaat bagi mereka” (&lt;i&gt;Taisiirul kariimil mannaan fi tafsiri kalaamir rahmaan&lt;/i&gt;, 587).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menganjurkan bagi Anda untuk menelaah fatwa penting no. 4237 dan 10016.&lt;br /&gt;
Dan Allah Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://muslimah.or.id&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/mendidik-anak-dalam-islam_10.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhG3Kqa5Y0JxH_LinhbtRbf8zz_el2KoAkdbQO7QAr64uywP1rnpOWvDd5wYvCIV6FPpe8s38uOsORK2zInXv4-_SOqClv7rh2G5y84wcFOHq0bgsZitZlc3qSJkx81G8Ld1hSYgzCAHUc/s72-c/seorang-ayah-mengajarkan-anaknya-mengaji-_120825074354-569.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-2244833456153786128</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 13:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:12:43.614+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><title>Tuntunan Menyambut Kelahiran</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidWPkoXxcbdJKGu7AJc3PjYhCob95Ls_8TZYnOMbVWKuMMwsC-5eoZeozpmgZeFeGmtZBu-Oic1iWbiqLv1bxzyfHldBxcMiRmULxT1om4-JJXFQ151kEkJBx3a5xFvr63063WNVTXV78/s1600/kelahiran.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;349&quot; data-original-width=&quot;620&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidWPkoXxcbdJKGu7AJc3PjYhCob95Ls_8TZYnOMbVWKuMMwsC-5eoZeozpmgZeFeGmtZBu-Oic1iWbiqLv1bxzyfHldBxcMiRmULxT1om4-JJXFQ151kEkJBx3a5xFvr63063WNVTXV78/s640/kelahiran.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi bayi dari curhatbidan.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Anak adalah karunia  Allah yang tiada terhingga bagi semua keluarga. Keberadaannya sangat  dinantikan karena akan menjadi penerus sejarah manusia, dan menjadi  salah satu penguat ikatan berumah tangga. Banyak pasangan suami istri  yang belum dikaruniai anak sangat berharap agar segera mendapatkannya.  Ini menunjukkan demikian penting kehadiran anak bagi semua umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama Islam telah memberikan perhatian yang sangat detail tentang anak, sejak proses konsepsi, kehamilan, kelahiran, sampai pendidikan ketika anak lahir dan masa tumbuh kembang hingga dewasa. Semua mendapatkan perhatian dan tuntunan yang teliti. Ini menunjukkan demikian penting menjaga, merawat, serta mendidik anak sejak awal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam agama Islam, ada beberapa adab atau tuntunan dalam menyambut kelahiran bayi. Diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Mendoakan Bayi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hendaknya  orang tua mendoakan untuk kebaikan bagi bayi yang baru lahir. Bukan  hanya orang tua, bahkan orang lain turut mendoakan ketika mendengar  berita kelahiran bayi. Dalam rubrik &lt;b&gt;www.konsultasisyariah.com&lt;/b&gt;  dijelaskan, ada beberapa tuntunan doa bagi bayi yang baru lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama,&lt;/b&gt; doa memohon keberkahan untuk si anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Musa Ra, beliau mengatakan, “Ketika anakku lahir, aku membawanya ke hadapan Nabi saw. Beliau memberi nama bayiku, Ibrahim dan men-tahnik dengan kurma lalu mendoakannya dengan keberkahan. Kemudian beliau kembalikan kepadaku. (HR. Bukhari 5467 dan Muslim 2145).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal  yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah saw kepada putra Asma bintu  Abu Bakr, yang bernama Abdullah bin Zubair. Sesampainya Asma hijrah di  Madinah, beliau melahirkan putranya, Abdullah bin Zubair. Bayi ini  dibawa ke hadapan Nabi saw. Asma mengatakan, “... Kemudian Nabi saw  minta kurma, lalu beliau mengunyahnya dan meletakkannya di mulut si  bayi. Makanan pertama yang masuk ke perut si bayi adalah ludah  Rasulullah saw, kemudian beliau mendoakannya dan dan memohon keberkahan  untuknya” (HR. Bukhari 3909).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada teks doa khusus yang  isinya permohonan berkah untuk anak. Dalam Fatawa Syabakah Islam  dinyatakan, &quot;Tidak terdapat dalil – sepengetahuan kami – yang  menunjukkan dianjurkannya membaca ayat Al-Quran atau doa tertentu ketika  seorang anak dilahirkan. Baik doa dari ibunya, bapaknya, atau doa dari  orang lain&quot; [Fatawa Syabakah Islam, di bawah bimbingan Dr. Abdullah  Al-Faqih, no. 13605].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, kita bisa berdoa dengan bahasa  apapun yang kita pahami. Misalnya dengan membaca, “Baarakallahu fiik”  (semoga Allah memberkahi kamu) atau semacamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua,&lt;/b&gt; doa memohon perlindungan dari godaan setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah  satu contohnya adalah doa yang dipraktekkan oleh istri Imran, ibunya  Maryam. Allah menceritakan kejadian ketika istri Imran melahirkan  Maryam: &lt;i&gt;&quot;Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata:  “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan  Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki  tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia  Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya  kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”&lt;/i&gt; (QS. Ali  Imran: 36).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang istimewa, karena doa ibu Maryam inilah  ketika Maryam lahir, dia tidak diganggu setan, demikian pula ketika Nabi  Isa dilahirkan. Allah mengabulkan doa ibunya Maryam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah  ra, Rasulullah saw bersabda, &quot;Setiap bayi dari anak keturunan adam akan  ditusuk dengan tangan setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia  berteriak menangis, karena disentuh setan. Selain Maryam dan putranya  (HR. Bukhari 3431). Kemudian Abu Hurairah ra, membaca surat Ali Imran ayat 36 di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita  bisa meniru doa istri Imran ini. Hanya saja, perlu disesuaikan dengan  jenis kelamin bayi yang dilahirkan. Karena perbedaan kata ganti dalam  bahasa arab antara lelaki dan perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bayi yang dilahirkan perempuan, bisa membaca doa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bayi yang lahir laki-laki, bisa membaca doa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu untuknya dan untuk keturunannya dari setan yang terkutuk.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita  juga bisa memohon perlindungan untuk anak dari gangguan setan, dengan  doa seperti yang pernah dipraktekkan Nabi saw, ketika mendoakan cucunya  Hasan dan Husain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Abbas menceritakan, bahwa Rasulullah saw membacakan doa perlindungan untuk kedua cucunya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Aku  memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari  semua godaan setan dan binatang pengganggu serta dari pAndangan mata  buruk”&lt;/i&gt; (HR. Abu Daud 3371, dan dishahihkan al-Albani).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita bisa meniru doa beliau ini, dengan penyesuaian jenis kelamin bayi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bayi yang dilahirkan perempuan, bisa dibaca doa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lafazh : U’iidzuki ...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika bayi yang lahir laki-laki, bisa membaca doa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lafazh : U’iidzuka ...&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Adzan dan Iqamah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0EQm8svNBfb6PqEzu9VMNS9Kswo3S_-dmFDu5VjDBsNvhzaEEQte1JTDqzNCr04K1hW82W5nTj1QCvz-TRJ06r5lRDFnt7u-S590zS-bIPH-wr6NuxvUwHn2KFaCz-fMh2czFLdF84wg/s1600/kelahiran.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;480&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;384&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0EQm8svNBfb6PqEzu9VMNS9Kswo3S_-dmFDu5VjDBsNvhzaEEQte1JTDqzNCr04K1hW82W5nTj1QCvz-TRJ06r5lRDFnt7u-S590zS-bIPH-wr6NuxvUwHn2KFaCz-fMh2czFLdF84wg/s640/kelahiran.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ilustrasi dari bangkapos.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Sang  ayah segera mengazani di telinga kanan dan mengiqamahkan di telinga  kiri pada anaknya yang baru lahir. Pemberian adzan dan iqamah baru lahir  ini salah satu tujuannya agar kalimat yang pertama kali didengar sang  bayi adalah kalimat thayyibah dan dijauhkan dari segala gangguan setan  yang terkutuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian ulama menganggap sunnah membacakan adzan  dan iqamah untuk bayi yang baru lahir. Ulama yang berpendapat seperti  ini diantaranya adalah Hasan al-Bashri, Umar bin Abdul ‘Aziz, ulama  madzhab Syafi’i dan Hanbali. Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah, ulama madzhab  Hanbali, termasuk ulama yang menyunnahkan pembacaan adzan pada bayi yang  baru lahir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama kontemporer, Wahbah  az-Zuhaily juga menyunnahkan hal ini dalam kitab al-Fiqh al-Islami Wa  adillatuhu, “Disukai bagi orang tua untuk mengadzani di telinga kanan  bayi yang baru dilahirkan dan diiqamati seperti iqamat untuk shalat di  telinga kirinya” (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu : 4/288).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayyid  Sabiq dalam kitab Fiqh Sunnahnya juga menyunnahkan dibacakan adzan ini,  “Termasuk sunnah dilakukan, mengadzani telinga kanan dan mengiqamahi  telinga kiri bayi yang baru dilahirkan, supaya yang pertama kali  didengar telinga anak adalah asma Allah SWT”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam an-Nawawi,  tokoh ulama madzhab asy-Syafi’i dalam al-Majmu’ pada juz 8/443 menulis,  “Berkata sekelompok ulama dari sahahabat-sahabat kami (ulama  Syafi’iyyah), disukai untuk diadzani di telinga kanan dan diiqamahi di  telinga kiri bayi yang baru dilahirkan”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebagian ulama yang  lain tidak menyunnahkan adzan dan iqamat bagi bayi yang baru lahir  bahkan menganggapnya sebagai bid’ah. Di antara ulama yang berpendapat  seperti ini adalah Imam Malik bin Anas. “Imam Malik mengingkari  perbuatan mengadzani di telinga bayi ketika dilahirkan” (Mawahib  al-Jalil fi Syarh Mukhtashar asy-Syaikh Khalil : 3/321).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam  kitab Mausu’ah Fiqh al-Ibadat dijelaskan sikap Imam Malik, “Imam Malik  benci perkara-perkara ini (adzan selain panggilan untuk shalat) dan  menganggapnya sebagai bid’ah” (Mausu’ah Fiqh al-Ibadat : 7/7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para  ulama yang yang menganggap perbuatan ini sebagai bid’ah karena dalil  atau hadits yang memerintahkan adzan untuk bayi yang baru lahir tidak  kuat, alias hadits dhaif. Oleh karena haditsnya lemah, maka tidak bisa  dipakai sebagai landasan untuk menyunnahkan adzan untuk bayi yang baru  lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, aktivitas memperdengarkan adzan dan iqamah untuk bayi  yang baru lahir, dari segi hukum fikih termasuk amal yang diperdebatkan  para ulama. Walaupun dari segi manfaat bisa diterima, bahwa  memperdengarkan kalimat tauhid bagi bayi yang baru lahir merupakan  bagian dari pendidikan keimanan untuk anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Tahnik &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1iXtfH0ELGC7Ozr_dmsO6ZldtzfgG58OXyAnWPxQY_CCaNyx_HYQBZxuGqz2xzMTU35YuxJJZZFwiuo9lQOa0CyYDHTJNxmaMBmVJkFaW3mMBH6HFxTTXOpR546liteYpWEJngox2OqE/s1600/Kelahiran.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;334&quot; data-original-width=&quot;500&quot; height=&quot;428&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1iXtfH0ELGC7Ozr_dmsO6ZldtzfgG58OXyAnWPxQY_CCaNyx_HYQBZxuGqz2xzMTU35YuxJJZZFwiuo9lQOa0CyYDHTJNxmaMBmVJkFaW3mMBH6HFxTTXOpR546liteYpWEJngox2OqE/s640/Kelahiran.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi Tahnik dari bincangsyariah.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Kita  perhatikan tindakan yang dilakukan Rasulullah saw terhadap bayi yang  baru saja lahir, sebagaimana penuturan istri beliau, Aisyah ra:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila  didatangkan bayi yang baru lahir ke hadapan Rasulullah saw, maka beliau  mendoakan barakah kepadanya dan mentahniknya” (HR. Imam Bukhari no.  5468 dan Imam Muslim no. 2147).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan tahnik adalah  mengunyah kurma sampai lumat hingga bisa ditelan, kemudian menyuapkan  kurma lembut tersaebut ke mulut bayi. Apabila tidak didapatkan kurma,  maka diganti dengan makanan manis lain yang bisa digunakan untuk  mentahnik. Para ulama bersepakat bahwa istihbab (disenangi) melakukan  tahnik pada hari kelahiran anak. Demikian dijelaskan oleh Imam An Nawawi  rahimahullah ketika menerangkan tahnik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatan Rasulullah  saw ini bisa kita lihat dalam hadits Anas bin Malik ra, “Aku membawa  Abdullah bin Abi Thalhah al Anshari kepada Rasulullah saw pada hari  kelahirannya, dan waktu itu beliau menggunakan mantelnya sedang mengecat  untanya dengan ter. Lalu beliau bertanya: &lt;i&gt;“Apakah engkau membawa  kurma?”&lt;/i&gt; Aku menjawab: “Ya.” Kemudian kuberikan pada beliau  beberapa buah kurma, lalu beliau masukkan ke mulut dan mengunyahnya.  Kemudian beliau membuka mulut bayi dan meludahkan kurma itu ke mulut  bayi. Mulailah bayi itu menggerak-gerakkan lidahnya untuk merasakan  kurma tersebut. Maka Rasulullah saw bersabda, &lt;i&gt;“Kesukaan Anshar adalah  kurma,”&lt;/i&gt; dan beliau memberinya nama Abdullah” (HR. Imam Bukhari no. 5470  dan Imam Muslim no. 2144).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits Anas bin Malik di atas juga  memberikan penjelasan kepada kita bahwa tahnik dilakukan dengan  menggunakan kurma, dan ini yang utama. Tahnik hendaknya dilakukan oleh  orang yang shalih, baik laki-laki ataupun perempuan. (Syarh Shahih  Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula bisa kita simak kisah-kisah tentang  pelaksanaan tahnik yang datang dari sahabat-sahabat yang lainnya. Abu  Musa Al Asy’ari ra menceritakan: Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku  membawanya kepada Nabi saw kemudian beliau memberinya nama Ibrahim dan  mentahniknya dengan kurma (HR. Imam Bukhari no. 5467 dan Imam Muslim no.  2145).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asma’ binti Abi Bakr ra mengisahkan ketika dia mengandung anaknya, Abdullah ibnu Az Zubair di Mekkah: “Aku  keluar (untuk hijrah), sementara telah dekat waktuku melahirkan. Maka  aku pergi ke Madinah dan aku singgah di Quba’, serta melahirkan di sana.  Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw lalu beliau meletakkan anakku di  pangkuannya. Kemudian beliau meminta kurma, dan mengunyahnya lalu  meludahkannya ke dalam mulut anakku. Maka yang pertama kali masuk ke  perutnya adalah ludah Rasulullah saw. Beliau mentahniknya dengan kurma,  kemudian mendoakannya dan memintakan barakah baginya. Dan dia adalah  bayi pertama yang dilahirkan dalam Islam (dari kalangan Muhajirin)” (HR.  Imam Bukhari no. 5469 dan Imam Muslim no. 2146).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan tahnik  adalah persiapan agar bayi nantinya mudah untuk merasakan manisnya air  susu ibu dan juga agar mulut bayi kuat sehingga mampu menghisap air susu  ibunya. Cara mentahnik bayi adalah dengan meletakkan sedikit buah kurma  di atas jari telunjuk dan dimasukkan ke mulut bayi serta dengan  perlahan-lahan digerakkan ke kanan dan kiri. Ini dilakukan agar kurma  tadi bisa menyentuh seluruh mulut bayi hingga terkena rongga tekaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Aqiqah &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut  bahasa kata ‘aqiqah berarti memotong. Dinamakan ‘aqiqah, karena  dipotongnya leher binatang. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama  bagi hewan yang disembelih, dinamakan demikian karena lehernya  dipotong. Ada pula yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah :  rambut yang terdapat pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim  ibu, rambut ini disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum  aqiqah adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi′i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu  Tsaur dan kebanyakan ulama ahli fiqih (fuqaha).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalil aqiqah ini  dari Samurah bin Jundab dia berkata : Rasulullah saw bersabda : &lt;i&gt;&quot;Semua  anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuh disembelih  hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya&quot;&lt;/i&gt; (HR Abu Dawud,  Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah kambing aqiqah bayi bisa dilihat dari hadits Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw telah bersabda : &lt;i&gt;&quot;Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi  perempuan satu kambing&quot; &lt;/i&gt;(HR Ahmad Tirmidzi, Ibnu Majah).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Memberi Nama yang Baik &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah  satu kewajiban orang tua adalah memberi nama yang baik untuk anaknya.  Nama anak merupakan doa dan harapan dari orang tua. Memberi nama tidak  boleh sembarangan, dengan nama-nama yang sekedar indah atau unik, namun  harus mengandung makna yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat Sahl bin Sa’d ra  menceritakan, didatangkan Al Mundzir putra Abu Usaid ke hadapan  Rasulullah saw ketika dia dilahirkan. Maka Nabi saw meletakkannya di  atas pangkuannya, sedangkan Abu Usaid duduk. Pada waktu itu Rasulullah  saw sedang sibuk sehingga Abu Usaid memerintahkan agar anaknya dibawa  kembali, maka anak itu diangkat dari pangkuan Rasulullah saw dan mereka  pun mengembalikannya pada Abu Usaid. Ketika Rasulullah saw selesai  dari kesibukannya, beliau bertanya, &lt;i&gt;“Di mana bayi tadi?”&lt;/i&gt; Abu Usaid pun  menjawab: “Kami membawanya kembali, ya Rasulullah!” Lalu beliau  bertanya, &lt;i&gt;“Siapa namanya?”&lt;/i&gt; Jawab Abu Usaid: “Fulan, ya Rasulullah!”  Beliau pun bersabda, &lt;i&gt;“Tidak, akan tetapi namanya Al Mundzir.”&lt;/i&gt; Kemudian  pada hari itu beliau memberinya nama Al Mundzir (Diriwayatkan oleh Imam  Muslim no. 2149).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut rubrik &lt;b&gt;www.konsultasisyariah.com&lt;/b&gt;,  memberi nama anak bisa dilakukan pada hari kelahirannya, hari ketiga  atau hari ketujuh. Ciri nama yang baik adalah enak didengar, mudah  diucapkan oleh lisan, mengandung makna yang mulia dan sifat yang benar  dan jujur, jauh dari segala makna dan sifat yang diharamkan atau dibenci  agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dianjurkan menamai anak laki-laki dengan nama Abdu  (penghambaan) yang disambungkan dengan asma’ul husna, seperti Abdul  ‘Aziz, Abdul Malik, dan sebagainya. Yang sangat dianjurkan adalah  Abdullah atau Abdurrahman, sebagaimana sabda Rasulullah saw,  “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan  Abdurrahman” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik  juga menamai anak dengan nama-nama Nabi dan Rasul. Nabi saw pernah  menamai sebagian sahabat dengan nama Nabi dan Rasul. Baik pula menamai  anak dengan nama orang-orang salih, seperti dengan nama sahabat, tabi’in  dan imam kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dilarang adalah menamai anak dengan  nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah, seperti Abdul  Ka’bah, Abdusy Syams, Abdul Husain dan sebagainya. Tidak boleh juga  memberi nama anak dengan nama-nama yang khusus bagi Allah, seperti Ar  Rahman, Al Khaaliq, Ar Rabb dan sebagainya. Tidak boleh menamai anak  dengan nama-nama patung atau berhala yang disembah selain Allah, seperti  Latta, Uzza, Hubal dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Mencukur Rambut Bayi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2eE_CjqsYGl_E52LNT0GstyiVXV2G3s_WZ7fqrnPa_qtXsnFaDlogAIvkpDBBseBAGvADK6_ahiECQmw_KFB3A5ROpuFXVE_GocLpFDqs-7d2HPOfZyT6eJxNfVg9yd18jM8PUL5pUuI/s1600/Rukun-Aqiqah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;462&quot; data-original-width=&quot;509&quot; height=&quot;581&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2eE_CjqsYGl_E52LNT0GstyiVXV2G3s_WZ7fqrnPa_qtXsnFaDlogAIvkpDBBseBAGvADK6_ahiECQmw_KFB3A5ROpuFXVE_GocLpFDqs-7d2HPOfZyT6eJxNfVg9yd18jM8PUL5pUuI/s640/Rukun-Aqiqah.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari aqiqahalkautsar.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Pada  hari ketujuh kelahiran bayi, disunnahkan untuk memotong rambut si bayi.  Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasululah SAW ketika cucunya  Hasan dan Husain lahir. Rasulullah saw memerintahkan untuk memotong  rambut dan menimbangnya ukuran perak, kemudian disedekahkan kepada fakir  miskin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut rubrik &lt;b&gt;www.konsultasisyariah.com&lt;/b&gt;, salah satu  dalil yang biasa dijadikan acuan dalam hal ini adalah hadits dari Ali  bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi saw mengaqiqahi Hasan  dengan kambing, dan beliau menyuruh Fatimah untuk mencukur rambutnya.  &lt;i&gt;“Cukur rambutnya, dan bersedekahlah dengan perak seberat rambut itu.”&lt;/i&gt; Fatimah  pun menimbang rambut itu, dan ternyata beratnya sekitar satu dirham  atau kurang dari satu dirham. (HR. Turmudzi 1519, Ibnu Abi Syaibah dalam  Mushanaf 24234, dishahihkan al-Hakim dalam Mustadrak 7589 dan didiamkan  azd-Dzahabi). Catatan: satu dirham setara dengan 2,975 gr perak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam  kitab Tuhfatul Maudud, Ibnul Qoyim menyebutkan beberapa riwayat dan  keterangan ulama yang menganjurkan bersedekah dengan perak seberat  rambut bayi. Pertama, Imam Ahmad mengatakan, “Sesungguhnya Fatimah ra  mencukur rambut Hasan dan Husain, dan bersedekah dengan wariq (perak)  seberat rambutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Imam Malik meriwayatkan dalam  al-Muwatha’, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, beliau mengatakan,  “Fatimah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab, dan Ummu Kultsum, dan  beliau bersedekah dengan perak seberat rambut itu”. Ketiga, Imam Malik  juga menyebutkan dalam al-Muwatha’ dari Muhammad bin Ali bin Husain,  bahwa beliau mengatakan, “Fatimah bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam menimbang rambut Hasan dan Husain, kemudian beliau bersedekah  dengan perak seberat rambut itu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di masa terdahulu, perak  termasuk mata uang yang berlaku di masyarakat dan mudah didapatkan.  Karena itu, sedekah pada masa ini tidak harus berujud perak. Boleh  diberikan dalam bentuk uang, namun mengacu pada harga perak. Caranya,  timbang rambut bayi. Jika tidak memungkinkan, karena kesulitan  mendapatkan timbangan benda ringan, cukup diprediksi saja. Perkirakan  berapa gram berat rambut itu. Misalnya 2 gr.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cari informasi harga  perak/gr saat ini. Misal: 12.000. Kalikan seberat prediksi berat rambut  bayi. (2 gr x Rp 12.000 = Rp 24.000). Sedekahkan uang Rp 24.000 kepada  orang miskin siapapun yang ada di sekitar kita. Boleh juga ditambahi  atau digenapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://www.kompasiana.com/pakcah&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/tuntunan-menyambut-kelahiran.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidWPkoXxcbdJKGu7AJc3PjYhCob95Ls_8TZYnOMbVWKuMMwsC-5eoZeozpmgZeFeGmtZBu-Oic1iWbiqLv1bxzyfHldBxcMiRmULxT1om4-JJXFQ151kEkJBx3a5xFvr63063WNVTXV78/s72-c/kelahiran.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-9171723924815019427</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 12:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:48:57.594+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Anak</category><title>Amalan Sunnah Di Saat Hamil</title><description>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgANu1Ge2_pcAJ5MSLe5RDawYBf-88rzApGh8F_BFfdPSkRaocMM_tzQWw9e0tzlh8bSWGiVlYkW7SE5a1ouwwgXMmKVBZNv3nIIEM8-2hOhjfY9McO70WOAvC6c7S9HQSgr6XhuyLQReU/s1600/Hamil1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;234&quot; data-original-width=&quot;400&quot; height=&quot;374&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgANu1Ge2_pcAJ5MSLe5RDawYBf-88rzApGh8F_BFfdPSkRaocMM_tzQWw9e0tzlh8bSWGiVlYkW7SE5a1ouwwgXMmKVBZNv3nIIEM8-2hOhjfY9McO70WOAvC6c7S9HQSgr6XhuyLQReU/s640/Hamil1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari aproapparel.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Kehamilan merupakan momen yang  ditunggu-tunggu oleh setiap wanita yang sudah menikah. Selain itu wanita  akan terasa sempurna ketika mendapati dirinya sedang mengandung hasil  cinta kasihnya dengan suami yang ia idam-idamkan. Dalam hukum islam ibu  hamil pun dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan sholeh agar semasa  hamil penuh berkah dan diberikan kemudahan dan kelancaran hingga proses melahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di  dalam masa kehamilan wanita cenderung mengalami perubahan sikap seperti  halnya menjadi lebih hati-hati, perasaan menjadi lebih sensitif,  tingkat kecemasan terlihat berlebihan. Namun semua itu memang wajar  karena adanya perubahan hormon saat hamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah amalan yang bisa dilakukan oleh  ibu hamil menurut islam untuk kebaikan calon Ibu dan anaknya kelak, yuk kita  simak penjelasannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Banyak Memanjatkan Do’a Kepada Allah ta&#39;ala&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap  calon orang tua selalu mempunyai harapan besar terhadap calon  anak-anaknya di masa depannya. Orang tua selalu berharap anak-anaknya  akan menjadi hamba yang sholeh dan sholehah sebagaimana digambarkan oleh Allah ta&#39;ala dalam firmannya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ya  Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam  kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat karena itu  terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha  Mengetahui dan aku mohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada  (pemeliharaan) Engkau dari setan yang terkutuk.”&lt;/i&gt; (QS. Al-Imran : 35-36)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ya Allah berikanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau adalah pendengar permohonan (do’a).”&lt;/i&gt; (QS. Al-Imran : 38)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
oleh karenanya, ibu hamil jangan lupa selalu berdoa di setiap kesempatan &lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Tidak Meninggalkan Shalat Wajib Dan Memperbanyak Melaksanakan Shalat Sunah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat  merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Menjadi pribadi yang taat  pastinya menjadi keinginan bagi setiap orang tua untuk anak-anaknya. sebagaimana di gambarkan oleh Allah dalam firmannya terkait doa nabi Ibrahim as :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.”&lt;/i&gt; (QS. Ibrahim : 40)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usahakan selalu melaksanakan sholat wajib di awal waktu, dan membiasakan diri menambah dengan sholat sunnah, untuk membiasakan diri dan calon bayi terbiasa dengan aktifitas sholat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Perbanyak Bertaubat membiasakan diri untuk Selalu Beristighfar Kepada Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai  manusia tentunya kita tidak lepas dari dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Untuk itu senantiasa kita harus memperbanyak taubat dan  memohonkan ampun atas dosa-dosa kita yang telah lalu agar semua yang  kita lakukan mendapatkan keridhoan dari-Nya. Allah ta&#39;ala berfirman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ya Tuhan kami, jadikanlah  kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah)  diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan  tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami,  dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima  taubat lagi Maha Penyanyang.”&lt;/i&gt; (QS. Al-Baqarah : 128)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”&lt;/i&gt; (QS. Al-Baqarah : 222)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Senantiasa Melaksanakan Puasa Sunat (Senin Dan Kamis)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa  senin dan kamis yang kita lakukan secara rutin akan membuat kita  semakin dekat dengan Allah. Selain itu, hal ini berguna untuk melatih  calon anak kita sejak dalam lahir untuk melaksanakan kewajibannya  sebagai muslim yakni dengan melaksanakan ibadah puasa. terutama di masa mendekati kelahiran, membiasakan puasa sunnah Insya Allah akan mempermudah proses kelahiran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu  Hurairah, Rasulullah shalallahu &#39;alaihi wasallam bersabda : &lt;i&gt;“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari  Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku  sedang berpuasa.&lt;/i&gt;” (HR. Tirmidzi no. 747)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQ9jhg56EbguWXaqyMSpAJ9pOgGVGj8BkpFeiTXnxmppMIMhEgW7xVKcWq64WfxRNtINazkHcfUuqytcH_p9RAAfiyHukVPqvc_DCUAHAzcgQ4I0g0ng4_ldcpiV879bmzf9KZ7I9NyE0/s1600/hamil.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;284&quot; data-original-width=&quot;427&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQ9jhg56EbguWXaqyMSpAJ9pOgGVGj8BkpFeiTXnxmppMIMhEgW7xVKcWq64WfxRNtINazkHcfUuqytcH_p9RAAfiyHukVPqvc_DCUAHAzcgQ4I0g0ng4_ldcpiV879bmzf9KZ7I9NyE0/s640/hamil.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari brilio.net&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Memperbanyak Melantunkan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melantunkan  ayat-ayat suci Al-Qur’an selain membuat hati kita menjadi tenang,  tentram dan damai, hal ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan dan  membiasakan anak kita sejak ia masih di dalam Rahim, agar kelak setelah  ia lahir ke dunia bisa menjadi anak yang bermanfaat untuk agamanya.  Selain itu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an bisa dikatakan melakukan  perniagaan yang tidak akan mengalami kerugian dalam segi apapun. Hal  ini dijelaskan dalam Al-Qu’an surat Fathir ayat 29 sampai 30.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Sesungguhnya  orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan  menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka  dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan  yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka  pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya  Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensukuri.&lt;/i&gt;” (QS. Fathir : 29 sampai 30).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Memperbanyak Melakukan Dzikir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dzikir  bisa dilakukan kapan saja tidak harus setelah selesai sholat saja.  baik dalam kondisi ber wudhu maupun tidak. Dzikir akan membuat kita senantiasa lebih bersyukur dan mendekatkan diri  kepada Allah. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan pada surat Qaf ayat 39 dan Ar-Rum  ayat 17 :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Maka bersabarlah  kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji  Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam.”&lt;/i&gt; (QS. Qaf : 39)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Maka bertasbilah kepada Allah di waktu kamu berada di sore hari dan waktu kamu berada di waktu pagi hari.”&lt;/i&gt; (QS.Ar-Rum : 17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. Memperhatikan Adab Dan Akhlak Keseharian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berperilaku  baik tentunya menjadi hal yang diinginkan oleh setiap orang.  Berperilaku baik ataupun tidak akan sangat mempengaruhi terhadap akhlak  anak kita nantinya. Al-Qur’an surat Al-A’raf&amp;nbsp;ayat  55 - 56.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri  dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang  yang melampaui batas. Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,  sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut  (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya  rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”&lt;/i&gt; (QS. Al-A’raf : 55 sampai 56)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;8. Makan Dan Minumlah Yang Baik dan Halal&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang  dimaksud makan dan minum yang baik adalah mengkonsumsi makanan dan  minuman yang sewajarnya dan tentunya terjamin kehalalannya. Hal ini  dijelaskan di Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi  baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti  langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh  yang nyata bagimu.”&lt;/i&gt; (QS. Al-Baqarah : 168)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;9. Hindari Diri Kita Dari Penyakit Hati Seperti Dendam Dan Dengki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyakit  hati yang kita simpan berlarut-larut dalam jangka waktu lama hanya akan  membuat dada kita menjadi sesak dan hanya melakukan hal-hal yang tidak  terasa sia-sia saja. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat  57,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Hai Manusia,  sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan Penyembuh  bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta  rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10. Perbanyaklah Senyum Untuk Menebar Kebaikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam  islam, senyum saja sudah termasuk ibadah. Senyum yang kita perlihatkan  ke orang lain sama saja kita menebar kebahagiaan dan kebaikan. Dari Abu Dzar ra, dia berkata, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu&lt;/i&gt;“&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;11. Perbanyaklah Hadir Di Majelis Untuk Menambah Ilmu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  kita rajin menghadiri majelis akan merangsang dan membiasakan anak kita  untuk bersilaturahmi, berkumpul dengan orang-orang sholeh serta menuntut  ilmu. Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga.” &lt;/i&gt;(HR. Muslim no.2699)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;12. Jangan Bermalas-Malasan Agar Proses Kelahiran Menjadi Lebih Lancar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  kita melakukan aktivitas dan rutinitas sehari-hari dengan catatan masih  dalam kategori aman, maka nantinya akan membantu memperlancar proses  persalinan. Bermalas-malasan juga perbuatan yang tidak disukai oleh  Allah. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 54&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas.&lt;/i&gt;” (QS. At Taubah : 54).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;13. Buatlah Diri Kita Se-enjoy Mungkin Agar Tidak Mudah Stres Ataupun Tertekan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika  kita berpikir terlalu berat mengenai pekerjaan ataupun hal lain akan  mempengaruhi perkembangan janin pada kandungan sehingga membuat bayi  ikut stress. Sebaiknya disarankan anda melakukan aktivitas yang  sewajarnya saja dan tidak berlebihan. dan usahakan dalam kondisi yang selalu nyaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2CJibHX9StCMIjmZCV437a3O3XEZ6bF3RfzGq3qCNLOWSR6FDic4mKUG4xMVm4q62MNDq6ikOUntdmZMJuus83rQ3gXOTy9E9KapVPNpOiEIDgrlSkOuXblnj-2m2KEqRvfSLDdPl00s/s1600/Hamil2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;551&quot; data-original-width=&quot;980&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2CJibHX9StCMIjmZCV437a3O3XEZ6bF3RfzGq3qCNLOWSR6FDic4mKUG4xMVm4q62MNDq6ikOUntdmZMJuus83rQ3gXOTy9E9KapVPNpOiEIDgrlSkOuXblnj-2m2KEqRvfSLDdPl00s/s640/Hamil2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;foto dari lombokita.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;14. Memperbanyak Membaca Buku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan  membaca buku maka kita akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang  baru dan membiasakan anak kita sejak dalam kandungan untuk memperbanyak  ilmu. Banyaklah membaca buku khususnya mengenai kisah para nabi ataupun  para sahabat nabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;15. Membiasakan Untuk Membiasakan Mengajak Komunikasi Bayi Sejak Masih Di Dalam Rahim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fungsi  berkomunikasi sangatlah penting. Dengan membiasakan komunikasi bayi  sejak masih di dalam kandungan berarti kita mengajarkan hubungan  baik&amp;nbsp;antara anak dengan orang tua sehingga setelah anak kita lahir nanti  ia sudah tidak asing dengan suara kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah  beberapa penjelasan mengenai amalan ibu hamil menurut islam yang sudah  saya ulas di atas mungkin bias anda jadikan sebagai referensi untuk  menambah pengetahuan dan wawasan baru sehingga pada saat mengalami  proses kehamilan, anda bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  Sampai disini dulu artikel kali ini yang membahas mengenai amalan ibu  hamil menurut islam. Semoga bermanfaat dan terima kasih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://dalamislam.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/amalan-sunnah-di-saat-hamil.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgANu1Ge2_pcAJ5MSLe5RDawYBf-88rzApGh8F_BFfdPSkRaocMM_tzQWw9e0tzlh8bSWGiVlYkW7SE5a1ouwwgXMmKVBZNv3nIIEM8-2hOhjfY9McO70WOAvC6c7S9HQSgr6XhuyLQReU/s72-c/Hamil1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-3364042435528592940</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 11:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-09-02T14:07:00.439+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Malam Pertama Sesuai Sunnah ?</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS1WXx3q9mmSJsaccsZF7zvcoGfKZ4fgpM5TfoYH8d7ugWjKXmW5pv9MahVfZ0Mch1AXBJ55YKsdAA-tY_u6W0fSNy2PoAouEMsj42yjAbC1tSsagNmW6GsmK-FvDnqbe7CEzPPkDIBhI/s1600/adab7.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;382&quot; data-original-width=&quot;663&quot; height=&quot;369&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS1WXx3q9mmSJsaccsZF7zvcoGfKZ4fgpM5TfoYH8d7ugWjKXmW5pv9MahVfZ0Mch1AXBJ55YKsdAA-tY_u6W0fSNy2PoAouEMsj42yjAbC1tSsagNmW6GsmK-FvDnqbe7CEzPPkDIBhI/s640/adab7.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai acara akad nikah dan walimah, pengantin laki-laki dan perempuan masuk ke dalam kamar pengantin berdua saja. Inilah yang disebut dengan &lt;i&gt;khalwah&lt;/i&gt;, yang sering disebut dengan istilah &#39;malam pertama&#39;.  Padahal kejadiannya tidak selalu malam hari. Khalwah bisa dilakukan  pagi hari, siang, atau sore hari. Yang jelas, setelah selesai akad  nikah. Disebut &#39;pertama&#39;, karena itulah pertemuan pertama setelah mereka  berdua resmi menjadi suami dan istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Dr. Wahbah Az-Zuahili dalam kitab &lt;i&gt;Fiqhul Islam wa Adillatuhu&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;khlawah&lt;/i&gt;  adalah &#39;berkumpulnya istri dan suami setelah akad nikah yang sah, di  suatu tempat yang memungkinkan bagi keduanya untuk bermesraan secara  leluasa, dan keduanya merasa aman atau terjamin dari datangnya seseorang  kepada mereka berdua. Pada mereka berdua tidak ada sesuatu penghalang  yang bersifat alami, atau jasmani, atau syar&#39;i, yang dapat mengganggu  mereka berdua dalam bermesraan atau bercumbu.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata malam  pertama menurut tuntunan Islam bukanlah malam bebas semau pengantin sendiri untuk melakukan apapun yang di suka. Ada sejumlah  tuntunan yang di sunnah kan untuk dilakukan pada malam pertama tersebut.  Jika istri sudah mendahului berada di kamar, pihak  laki-laki mengetuk pintu perlahan-lahan sembari mengucapkan salam yang  lembut bagi istrinya yang telah menunggu di dalam. Segera suami masuk ke  dalam kamar dan melakukan hal-hal berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama, Suami mengucapkan salam &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrl15Puu0UugrPouUyovBKSdYsIBj7NAXNH1V0MnDzqzomRv_LoaR6nx5Z326w16iRieKZSsvKyn6GAGmYyUEkAQHxRcgwWpktjQG14DS39ox577bdUlWp5mMBNLmw3OXsuM1yy15CN_g/s1600/malam+pertama.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;332&quot; data-original-width=&quot;664&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrl15Puu0UugrPouUyovBKSdYsIBj7NAXNH1V0MnDzqzomRv_LoaR6nx5Z326w16iRieKZSsvKyn6GAGmYyUEkAQHxRcgwWpktjQG14DS39ox577bdUlWp5mMBNLmw3OXsuM1yy15CN_g/s640/malam+pertama.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Suami hendaknya mengucapkan salam (Assalamu’alaikum warahmatullahi  wabarakatuh) kepada istri ketika menemui istri atau masuk ke kamar pengantin, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh  Rasulullah shallalahu alaihi wa sallam. Hal ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan rasa cemas dari hati mempelai istri dan menumbuhkan rasa di cinta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam&amp;nbsp; bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Maukah kalian aku beritahukan satu hal yang apabila kalian  praktikkan, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di  antara kalian.&lt;/i&gt;” (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua, memegang ubun-ubun istri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh30-8B4uC8xnPt4dBYd_l5ZApvxG6N1W-t3m0ls_VtNm2J8a2-15WsEEkIPFop1LBsybOliaLpt3nRb_e86ZAjZYuGVN7peLnjm-SckSaolLaoFpQk70qjmjK1PvG0ncAiEa7ZgA44i9o/s1600/adab3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;380&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;386&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh30-8B4uC8xnPt4dBYd_l5ZApvxG6N1W-t3m0ls_VtNm2J8a2-15WsEEkIPFop1LBsybOliaLpt3nRb_e86ZAjZYuGVN7peLnjm-SckSaolLaoFpQk70qjmjK1PvG0ncAiEa7ZgA44i9o/s640/adab3.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pada  malam pertama, dianjurkan kepada suami agar meletakkan  tangannya pada ubun-ubun istri untuk mendoakan keberkahan bagi istri. Rasulullah  Saw bersabda : &quot;&lt;i&gt;Apabila  salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak maka  peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah &#39;basmalah&#39; serta doakanlah dengan  doa berkah&lt;/i&gt;&quot;. Hadits Riwayat Abu Dawud no. 2160, Ibnu Majah no. 1918,  al-Hakim II/185 al-Baihaqi VII/148.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga, mendoakan istri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXxritV8MtgqYGLZbt2WoMMXTfU66v_NEi2yxhAQdaoUO6-g1Eo03NFq08DPwKLq71e4QMO4WcoddYOQOJsjc1eWs9eb4qiQHcrxZhyphenhyphen5TpBADckA_ajNyzHR8Z1laTiGcanw3gLPUVzPM/s1600/malam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;720&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXxritV8MtgqYGLZbt2WoMMXTfU66v_NEi2yxhAQdaoUO6-g1Eo03NFq08DPwKLq71e4QMO4WcoddYOQOJsjc1eWs9eb4qiQHcrxZhyphenhyphen5TpBADckA_ajNyzHR8Z1laTiGcanw3gLPUVzPM/s640/malam.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil meletakkan tangan di ubun-ubun istri, suami dianjurkan untuk membaca doa keberkahan bagi istri. Adapun doa yang dibaca adalah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;&lt;i&gt;Allahumma inni as-aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha alaih, wa a&#39;udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha alaih&lt;/i&gt;. (Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa.  Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.)&quot;  Hadits Riwayat Abu Daud, no. 2160; Ibnu Majah, no. 1918. Al-Hafizh Abu  Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat, shalat sunnah pengantin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuAIQ6x2g4UNwK1amhMBbcxPd7YZWMcsBjKSlBlNeLvNjE-117cxkv9wT87E5tl3gmHcHSFFRiZ1UsAhNGNgjDNxsITReJLpo-8p2gl9U38-CT-1hVuNLBrwMliwZRljBxH-Xefv2Aku0/s1600/malam1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;480&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiuAIQ6x2g4UNwK1amhMBbcxPd7YZWMcsBjKSlBlNeLvNjE-117cxkv9wT87E5tl3gmHcHSFFRiZ1UsAhNGNgjDNxsITReJLpo-8p2gl9U38-CT-1hVuNLBrwMliwZRljBxH-Xefv2Aku0/s640/malam1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dianjurkan  bagi kedua mempelai untuk mengerjakan shalat sunnah dua raka&#39;at. Ingat,  ini dilakukan hanya berdua saja, oleh suami dan istri. Jangan mengajak  orang tua, mertua, apalagi tetangga. Suami menjadi imam, dan istri  menjadi makmum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Al-Albani menyatakan, &quot;Hal itu telah ada  sandarannya dari ulama Salaf --yakni Sahabat dan Tabi&#39;in--. Di  antara sandarannya adalah hadits dari Abu Sa&#39;id, ia berkata: &quot;Aku  menikah ketika aku masih seorang budak. Ketika itu aku mengundang  beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya &#39;Abdullah bin Mas&#39;ud, Abu  Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu &#39;anhum. Lalu tibalah waktu shalat, Abu  Dzarr bergegas untuk mengimami shalat. Tetapi mereka berkata: &#39;Kamulah  (Abu Sa&#39;id) yang berhak!&#39; Ia (Abu Dzarr) berkata: &#39;Apakah benar  demikian?&#39; &#39;Benar,&#39; jawab mereka. Aku pun maju mengimami mereka shalat.  Ketika itu aku masih seorang budak. Selanjutnya mereka  mengajariku, &#39;Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian  berdua shalat dua raka&#39;at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu  itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya  terserah kamu berdua.&quot; Hadits diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam  al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan &#39;Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf  (VI/191-192).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelima, membaca doa setelah shalat sunnah pengantin&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi7z6CCThocNSzfM28BExjFupSaVMbj6ozjpAJsba6sqlhdwHlRsEnUV5t-vlAIYWtYWIMISsLD6RFMYMcs-pzU5zuJOrKKqP6mYmREad4adjKpCWwruRaGP0PJXFUorSdJx_u3_3NhqA/s1600/adab4.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;380&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;386&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi7z6CCThocNSzfM28BExjFupSaVMbj6ozjpAJsba6sqlhdwHlRsEnUV5t-vlAIYWtYWIMISsLD6RFMYMcs-pzU5zuJOrKKqP6mYmREad4adjKpCWwruRaGP0PJXFUorSdJx_u3_3NhqA/s640/adab4.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan  hadits dari Abu Waail, ia berkata, &quot;Seseorang datang kepada &#39;Abdullah  bin Mas&#39;ud radhiyallaahu &#39;anhu, lalu ia berkata, &#39;Aku menikah dengan  seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.&#39; &#39;Abdullah bin Mas&#39;ud  berkata, &#39;Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian  berasal dari syaitan, untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika  isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan shalat  dua raka&#39;at di belakangmu. Lalu berdo&#39;alah : &lt;i&gt;&quot;Allahumma  baarikli fi ahli, wa baarik lahum fi, Allahummarzuqni minhum, warzuqhum  minni, Allahummajma&#39; bainana maa jama&#39;ta ila khair, wa farriq bainana  idza farraqta ila khair. &lt;/i&gt;(Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku  dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah,  berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada  mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam  kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.)&quot; Hadits  Riwayat &#39;Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf VI/191, no. 10460, 10461.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keenam, Bersiwak (sikat gigi) sebelum bersenang-senang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQelmNAdR9U2tlu2iOw4oluBqtY_0tibguboAtrD9iY3AM-JHiboGYwKuMlbDpZbhqKr_5xYwCTRrctFY0UCPpSNyAmmKa38mhghyphenhyphenciHCxK59JK7iT1tm-WG7_LBjlCvF1O5PmV2FLRnI/s1600/adab5.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;427&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQelmNAdR9U2tlu2iOw4oluBqtY_0tibguboAtrD9iY3AM-JHiboGYwKuMlbDpZbhqKr_5xYwCTRrctFY0UCPpSNyAmmKa38mhghyphenhyphenciHCxK59JK7iT1tm-WG7_LBjlCvF1O5PmV2FLRnI/s640/adab5.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaran Islam sangat memperhatikan kebersihan, terutama kebersihan mulut. Kedua mempelai sangat dianjurkan untuk bersiwak sebelum menikmati malam pertamanya. Sehingga bau mulut tidak mengganggu keduanya saat memadu kasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketujuh, bersenang-senang dan bercumbu rayu di malam pertama&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiycVnocJHLRv6KyEQpfMij96jEq4mrcfky6CHnr2RNX9-76iMOSXdwdrKUIKCS6phg4lC1GUMI67gSxKblshKdh3CDwidCQp_7pbNlaMjmHzTp92YySG-x6BI5am4_6quP2-4gY8_xDH8/s1600/adab2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;380&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;386&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiycVnocJHLRv6KyEQpfMij96jEq4mrcfky6CHnr2RNX9-76iMOSXdwdrKUIKCS6phg4lC1GUMI67gSxKblshKdh3CDwidCQp_7pbNlaMjmHzTp92YySG-x6BI5am4_6quP2-4gY8_xDH8/s640/adab2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Di  antara sunnah kenabian pada malam pertama adalah bersenang-senang dan bercumbu rayu dengan  penuh kelembutan dan kehangatan. Hal ini berdasarkan hadits Asma&#39; binti  Yazid binti as-Sakan ra, ia berkata: &quot;Saya merias &#39;Aisyah untuk  Rasulullah Saw. Setelah itu saya datangi dan saya panggil beliau supaya menghadiahkan sesuatu kepada &#39;Aisyah. Beliau pun datang lalu duduk di  samping &#39;Aisyah. Ketika itu Rasulullah Saw disodori segelas susu.  Setelah beliau minum, gelas itu beliau sodorkan kepada &#39;Aisyah. Tetapi  &#39;Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu. &#39;Asma binti Yazid  berkata: &quot;Aku menegur &#39;Aisyah dan berkata kepadanya, &#39;Ambillah gelas itu  dari tangan Rasulullah Saw&quot;. Akhirnya &#39;Aisyah pun meraih gelas itu dan  meminum isinya sedikit. Hadits Riwayat Ahmad VI/438, 452, 453, 458.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedelapan, melakukan hubungan seksual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS1WXx3q9mmSJsaccsZF7zvcoGfKZ4fgpM5TfoYH8d7ugWjKXmW5pv9MahVfZ0Mch1AXBJ55YKsdAA-tY_u6W0fSNy2PoAouEMsj42yjAbC1tSsagNmW6GsmK-FvDnqbe7CEzPPkDIBhI/s1600/adab7.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;382&quot; data-original-width=&quot;663&quot; height=&quot;369&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS1WXx3q9mmSJsaccsZF7zvcoGfKZ4fgpM5TfoYH8d7ugWjKXmW5pv9MahVfZ0Mch1AXBJ55YKsdAA-tY_u6W0fSNy2PoAouEMsj42yjAbC1tSsagNmW6GsmK-FvDnqbe7CEzPPkDIBhI/s640/adab7.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan  seksual antara suami dan istri tidak mesti dilakukan pada saat  pertemuan pertama tersebut, bisa dilakukan pada waktu-waktu setelahnya  kapan saja yang memungkinkan. Pada prinsipnya, hubungan suami istri  dilakukan ketika sudah ada kesiapan penuh dari kedua belah pihak.  Apabila istri masih ada perasaan takut, cemas, dan khawatir, karena  belum terbangun suasana yang enak di antara keduanya, sebaiknya hubungan  suami istri ditunda sampai ada suasana yang kondusif. begitu juga jika pihak suami merasakan hal yang sama. pada intinya sampai keduanya merasa siap. dan boleh di lakukan kapan saja, tidak mesti harus di malam pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila  suasana mental keduanya telah siap, keduanya bisa meningkatkan  kedekatan secara lebih intim, disertai dengan cumbu rayu sebagai sebuah  pengantar untuk melakukan hubungan suami istri. Itulah fasilitas yang  Allah berikan kepada suami dan istri bahwa mereka berdua bisa saling menikmati keindahan-keindahan ciptaan Allah dari diri pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah  Swt. telah berfirman, &quot;&lt;i&gt;Istri-istri kalian itu seperti sawah  ladang kalian maka datangilah ladang kalian itu dari arah mana pun yang  kalian suka&lt;/i&gt;&quot; (Al-Baqarah: 223).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini menunjukkan kebebasan  dalam bersenang-senang antara suami dan istri sehingga mereka berdua  bisa mengekspresikan kegembiraan secara optimal. Islam menghendaki  hubungan suami istri adalah bagian yang utuh dari ibadah, sehingga  diperlukan sejumlah etika di dalam menunaikannya. bukan sembarangan tanpa aturan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antaranya adalah  dengan doa yang dibaca oleh suami dan istri sebelum mereka melakukan  hubungan. Apabila hendak melakukan hubungan suami istri, hendaklah  membaca doa berikut. Dari Ibnu &#39;Abbas radhiyallahu &#39;anhuma, ia berkata  bahwa Rasulullah Saw bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;&lt;i&gt;Jika  salah seorang dari kalian (yaitu suami) ingin berhubungan intim dengan  istrinya, lalu ia membaca do&#39;a: Bismillah. Allahumma jannibnasy  syaithana wa jannibisy syaithana ma razaqtana&lt;/i&gt;. (Dengan (menyebut) nama  Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah  setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami), kemudian jika  Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka  setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya&quot;. Hadits  Riwayat Bukhari no. 141, 3271, 3283, 5165, Muslim no. 1434, Abu Dawud  no. 2161, at-Tirmidzi no. 1092, ad-Darimi II/145, Ibnu Majah no. 1919,  an-Nasa-i dalam &#39;Isyratun Nisaa&#39; no. 144, 145, Ahmad I/216, 217, 220,  243, 283, 286.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesembilan, Jika Istri sedang Haid&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika sang suami ingin berjima’ dengan istri, namun sang istri sedang  haid maka ia boleh bercumbu dengan istrinya dengan syarat  tidak pada kemaluannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang maknanya: “&lt;i&gt;Lakukanlah apa saja kecuali jima’ atau bersetubuh.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;
Hadist Shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 302 dan Abu Dawud no.  257. Dan dibawakan oleh sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kesepuluh, Jika ingin mengulangi berhubungan seksual&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRIImEICeakP0AzTUhlvbGtXBkh8h7bWO2G7Pt7OwhaBlSjvIw_wy9g_dIp_E5X7KHCTbxhjGURitqkFlBDqqbRf18K_tGaUmknXCdb_IszY6yTgvbPgIpekKZcHNNCnJnHL6UWil9ZSY/s1600/adab10.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;380&quot; data-original-width=&quot;630&quot; height=&quot;386&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRIImEICeakP0AzTUhlvbGtXBkh8h7bWO2G7Pt7OwhaBlSjvIw_wy9g_dIp_E5X7KHCTbxhjGURitqkFlBDqqbRf18K_tGaUmknXCdb_IszY6yTgvbPgIpekKZcHNNCnJnHL6UWil9ZSY/s640/adab10.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ingin mengulangi berhubungan (biasanya sih pengantin baru ^_^), maka disunnahkan untuk berwudhu atau mandi wajib. Pendapat terkuat dari mayoritas para ulama adalah dilakukan oleh  suami saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan terakhir bagi suami-istri sebelum tidur pastikan sudah dalam kondisi mandi wajib atau paling tidak dalam kondisi ber wudhu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah sunnah yang dilakukan pengantin  pada malam pertama. Selamat bersenang-senang menikmati keindahan malam  pengantin yang halal dan penuh pahala serta keberkahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bahan Bacaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Cahyadi Takariawan, &lt;b&gt;Wonderful Marriage&lt;/b&gt;, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017&lt;br /&gt;
2. Syaikh Nashiruddin Al Albani, &lt;b&gt;Bagaimana Anda Menikah?&lt;/b&gt; Gema Insani Press, Jakarta, 1998&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://www.kompasiana.com/pakcah&lt;/b&gt; dengan sdikit perubahan</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/malam-pertama-sesuai-sunnah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS1WXx3q9mmSJsaccsZF7zvcoGfKZ4fgpM5TfoYH8d7ugWjKXmW5pv9MahVfZ0Mch1AXBJ55YKsdAA-tY_u6W0fSNy2PoAouEMsj42yjAbC1tSsagNmW6GsmK-FvDnqbe7CEzPPkDIBhI/s72-c/adab7.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-4040088665007500097</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 10:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:48:38.966+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Pedoman Pernikahan Islami</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcvnqzZZ3h7fHLfwDtMFNH9wBg6b97LU_n14UojuoFhoBh0Z0Vg_OBq5-fOzVw4lvIfwbNhumBigE7HqggANp4qvYQF4VChtTWuInNT5_KeIzVRT3Wec9KI2vBbaJxkC6boN8R24dl0WE/s1600/nikah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;449&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcvnqzZZ3h7fHLfwDtMFNH9wBg6b97LU_n14UojuoFhoBh0Z0Vg_OBq5-fOzVw4lvIfwbNhumBigE7HqggANp4qvYQF4VChtTWuInNT5_KeIzVRT3Wec9KI2vBbaJxkC6boN8R24dl0WE/s640/nikah.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya Islam telah memberikan pedoman kepada pemeluknya yang akan memasuki jenjang pernikahan, lengkap dengan tata cara atau aturan-aturan Allah swt. Sehingga mereka yang semangat keislamannya masih baik, Insya Allah tidak akan memilih tata cara yang lain selain tata cara yang di tuntun oleh Islam. Walau di masyarakat, hal yang demikian ini kadang tidak banyak diketahui orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tulisan yang singkat ini, kami akan mengetengahkan tata cara pernikahan yang sesuai dengan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang hanya dengan cara inilah kita terhindar dari jalan yang sesat (bid&#39;ah). Sehingga orang-orang yang mengamalkannya akan berjalan di atas landasan yang jelas tentang ajaran agamanya karena meyakini kebenaran yang dilakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam masalah pernikahan, sesunggguhnya Islam telah mengatur sedemikian rupa, dari mulai bagaimana mencari calon pendamping hidup sampai mewujudkan sebuah pesta pernikahan. Walaupun sederhana tetapi penuh barakah dan tetap terlihat mempesona. Islam juga menuntun bagaimana memperlakukan calon pendamping hidup setelah resmi menjadi sang penyejuk hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini kami akan membahas tata cara pernikahan menurut Islam secara singkat. mulai dari persiapan sampai walimahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Meminta Pertimbangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi seorang lelaki, sebelum ia memutuskan untuk mempersunting seorang wanita  untuk menjadi istrinya, hendaklah ia juga meminta pertimbangan dari kerabat dekat wanita tersebut yang baik agamanya. Mereka hendaknya orang yang tahu benar tentang hal ihwal wanita yang akan dilamar oleh lelaki tersebut, agar ia dapat memberikan pertimbangan dengan jujur dan adil. Begitu pula bagi wanita yang akan dilamar oleh seorang lelaki, sebaiknya ia minta pertimbangan dari kerabat dekatnya yang baik agamanya. Meminta pertimbangan ini, untuk memperjelas kondisi sang calon pasangan baik itu sifat, kebiasaan dll. yang dengan ini bisa menjadi referensi untuk saling memahami nanti ketika membangun rumah tangga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Shalat Istikharah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendapatkan pertimbangan tentang bagaimana calon istrinya, hendaknya ia melakukan shalat istikharah sampai hatinya diberi kemantapan oleh Allah Taala dalam mengambil keputusan. Shalat istikharah adalah shalat untuk meminta kepada Allah Taala agar diberi petunjuk dalam memilih mana yang terbaik untuknya. Shalat istikharah ini sunnah dilakukan tidak hanya untuk keperluan mencari jodoh saja, akan tetapi dalam segala urusan jika seseorang mengalami rasa bimbang untuk mengambil suatu keputusan tentang urusan yang penting. Hal ini dilakukan agar Allah ta&#39;ala menunjukkan jalan terbaik dan memantapkan hati kita ke arahnya serta dijauhkan dari kemungkinan terjatuh kepada penderitaan hidup. Insya Allah ia akan mendapatkan kemudahan dalam menetapkan suatu pilihan.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Khithbah (peminangan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah seseorang mendapat kemantapan dalam menentukan wanita pilihannya, maka hendaklah segera meminangnya. Laki-laki tersebut harus menghadap orang tua/wali dari wanita pilihannya itu bersaam dengan orang tua dan keluarganya (menurut kebiasaan di Indonesia) untuk menyampaikan kehendak hatinya, yaitu meminta agar ia direstui untuk menikahi anaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun wanita yang boleh dipinang adalah yang memenuhi dua syarat sebagai berikut, yaitu: &lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Pada waktu dipinang tidak ada halangan-halangan syari yang menyebabkan laki-laki dilarang memperisterinya saat itu. Seperti karena suatu hal sehingga wanita tersebut haram dinikahi selamanya (masih mahram) atau sementara (masa iddah/ditinggal suami atau ipar dan lain-lain).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Belum dipinang orang lain secara sah, sebab Islam mengharamkan seseorang meminang pinangan saudaranya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Uqbah bin Amir radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : &quot;&lt;i&gt;Orang mukmin adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu meninggalkannya&lt;/i&gt;.&quot; (HR. Jamaah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila seorang wanita tidak memiliki dua syarat di atas maka haram bagi seorang laki-laki untuk meminangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYwKqpYNWMbBAJ2GF40XLWdxd-X4SsSDz6HDj1kncN9gL6kUaW14JL3eJBRRDM_5p7_v_N1QU0kAZ_Zaq3RJ0dM4gjgT02fj7C_9KiyITkeLjehK2ua5Zv3k7bnOwRd02PMr-Qk5wZVOo/s1600/nikah1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;360&quot; data-original-width=&quot;640&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYwKqpYNWMbBAJ2GF40XLWdxd-X4SsSDz6HDj1kncN9gL6kUaW14JL3eJBRRDM_5p7_v_N1QU0kAZ_Zaq3RJ0dM4gjgT02fj7C_9KiyITkeLjehK2ua5Zv3k7bnOwRd02PMr-Qk5wZVOo/s640/nikah1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Melihat Wanita yang Dipinang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam adalah agama yang hanif yang mensyariatkan pelamar untuk melihat wanita yang dilamar dan mensyariatkan wanita yang dilamar untuk melihat laki-laki yang meminangnya, agar masing-masing pihak benar-benar mendapatkan kejelasan tatkala menjatuhkan pilihan pasangan hidupnya supaya tidak menyesal di kemudian hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Jabir ra, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: &quot;&lt;i&gt;Apabila salah seorang di antara kalian meminang seorang wanita, maka apabila ia mampu hendaknya ia melihat kepada apa yang mendorongnya untuk menikahinya&lt;/i&gt;.&quot; Jabir berkata: &quot;Maka aku meminang seorang budak wanita dan aku bersembunyi untuk bisa melihat apa yang mendorong aku untuk menikahinya. Lalu aku menikahinya.&quot; (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abu Dawud, 1832).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ketentuan hukum yang diletakkan Islam dalam masalah melihat pinangan ini di antaranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Dilarang berdua&#39;an, antara wanita yang dipinang dengan laki-laki peminang tanpa disertai mahram.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wanita yang dipinang tidak boleh berjabat tangan dengan laki- laki yang meminangnya&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Aqad Nikah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi: &lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adanya suka sama suka&lt;/b&gt; dari kedua calon mempelai.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adanya ijab qabul&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Ijab artinya mengemukakan atau menyatakan suatu perkataan. Qabul artinya menerima. Jadi Ijab qabul itu artinya seseorang menyatakan sesuatu kepada lawan bicaranya, kemudian lawan bicaranya menyatakan menerima. Dalam perkawinan yang dimaksud dengan &quot;ijab qabul&quot; adalah seorang wali atau wakil dari mempelai perempuan mengemukakan kepada calon suami anak perempuannya/perempuan yang di bawah perwaliannya, untuk menikahkannya dengan lelaki yang mengambil perempuan tersebut sebagai isterinya. Lalu lelaki bersangkutan menyatakan menerima pernikahannya itu. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa: Sahl bin Said berkata: &quot;Seorang perempuan datang kepada Nabi shallallahu alaihiwa sallam untuk menyerahkan dirinya, dia berkata: &quot;Saya serahkan diriku kepadamu.&quot; Lalu ia berdiri lama sekali (untuk menanti). Kemudian seorang laki-laki berdiri dan berkata: &quot;Wahai Rasulullah kawinkanlah saya dengannya jika engkau tidak berhajat padanya.&quot; Lalu Rasulullah shallallahu alaih wa sallam bersabda: &quot;&lt;i&gt;Aku kawinkan engkau kepadanya dengan mahar yang ada padamu.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;
Hadist Sahl di atas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengijabkan seorang perempuan kepada Sahl dengan mahar atau maskawinnya ayat Al-Quran dan Sahl menerimanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adanya Mahar&lt;/b&gt; (mas kawin)&lt;br /&gt;
Islam memuliakan wanita dengan mewajibkan laki-laki yang hendak menikahinya menyerahkan mahar (mas kawin). Islam tidak menetapkan batasan nilai tertentu dalam mas kawin ini, tetapi atas kesepakatan kedua belah pihak dan menurut kadar kemampuan. Islam juga lebih menyukai mas kawin yang mudah dan sederhana serta tidak berlebih-lebihan dalam memintanya.&lt;br /&gt;
Dari Uqbah bin Amir, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : &quot;&lt;i&gt;Sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan&lt;/i&gt;.&quot; (HR. Al-Hakim dan Ibnu Majah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 3279 oleh Al-Albani)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Adanya Wali&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari Abu Musa radliyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &quot;&lt;i&gt;Tidaklah sah suatu pernikahan tanpa wali.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no.1836). Wali yang mendapat prioritas pertama di antara sekalian wali-wali yang ada adalah ayah dari pengantin wanita. Kalau tidak ada barulah kakeknya (ayahnya ayah), kemudian saudara lelaki seayah seibu atau seayah, kemudian anak saudara lelaki. Sesudah itu barulah kerabat-kerabat terdekat yang lainnya atau hakim.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;gt;&lt;b&gt;Adanya Saksi-Saksi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: &quot;Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil&lt;/i&gt;.&quot; (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557).&lt;br /&gt;
Menurut sunnah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, sebelum aqad nikah diadakan khuthbah lebih dahulu yang dinamakan khuthbatun nikah atau khuthbatul-hajat.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;6. Walimah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walimatul Urus atau pesta pernikahan hukumnya adalah wajib. Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaih wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf : &quot;&lt;i&gt;Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memenuhi undangan walimah hukumnya juga wajib. &quot;&lt;i&gt;Jika kalian diundang walimah, sambutlah undangan itu (baik undangan perkawinan atau yang lainnya).  Barang-siapa yang tidak menyambut undangan itu berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Bukhari 9/198, Muslim 4/152, dan Ahmad no.6337 dan Al-Baihaqi 7/262 dari Ibnu Umar).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi tidak wajib menghadiri undangan yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya, kecuali dengan maksud akan mengubah atau menggagalkannya. Jika telah terlanjur hadir, tetapi tidak mampu untuk mengubah atau menggagalkannya maka wajib meninggalkan tempat itu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ali berkata: &quot;Saya membuat makanan maka aku mengundang Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan beliaupun datang. Beliau masuk dan melihat tirai yang bergambar maka beliau keluar dan bersabda : &quot;&lt;i&gt;Sesungguhnya malaikat tidak masuk suatu rumah yang di dalamnya ada gambar.&lt;/i&gt;&quot; (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah, shahih, lihat Al-Jamius Shahih mimma Laisa fis Shahihain 4/318 oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadii).  Adapun Sunnah yang harus diperhatikan ketika mengadakan walimah adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Dilakukan selama 3 (tiga) hari setelah hari dukhul (masuk-nya) seperti yang dibawakan oleh Anas radliallahu &#39;anhu, katanya : Dari Anas radliallahu &#39;anhu, beliau berkata: &quot;&lt;i&gt;Rasulullah shallallahu&#39;alaihi wa sallam telah menikahi Shafiyah dengan maskawin pembebasannya sebagai tawanan perang Khaibar) dan mengadakan walimah selama tiga hari&lt;/i&gt;.&quot; (HR. Abu Yala, sanadhasan, seperti yang terdapat pada Al-Fath 9/199 dan terdapat di dalam Shahih Bukhari 7/387 dengan makna seperti itu. Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthaharah oleh Al-Albani hal. 65)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hendaklah mengundang orang-orang shalih, baik miskin atau kaya sesuai dengan wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam : &quot;&lt;i&gt;Jangan bersahabat kecuali dengan seorang mukmin dan jangan makan makananmu kecuali seorang yang bertaqwa.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Abi Said Al-Khudri, hasan, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir 7341 dan Misykah Al-Mashabih 5018).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sedapat mungkin memotong seekor kambing atau lebih, sesuai dengan taraf ekonominya. keterangan ini terdapat dalam hadits Al-Bukhari, An-Nasai, Al-Baihaqi dan lain-lain dari Anas radliallahu &#39;anhu. Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada Abdurrahman bin Auf : &quot;&lt;i&gt;Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 1854) Akan tetapi dari beberapa hadits yang shahih menunjukkan dibolehkan pula mengadakan walimah tanpa daging.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dibolehkan pula memeriahkan perkawinan dengan nyanyi-nyanyian dan menabuh rebana bukan musik) dengan syarat lagu yang dinyanyikan tidak bertentangan dengan ahklaq seperti yang diriwayatkan dalam hadits berikut ini : Dari Aisyah bahwasanya ia mengiring seorang wanita menemui seorang pria Anshar. Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda: &quot;&lt;i&gt;Wahai Aisyah, mengapa kalian tidak menyuguhkan hiburan? Karena kaum Anshar senang pada hiburan.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Bukhari 9/184-185 dan Al-Hakim 2/184, dan Al-Baihaqi 7/288).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tuntunan Islam bagi para tamu undangan yang datang ke pesta perkawinan hendaknya mendoakan kedua mempelai dan keluarganya. Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaih wa sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau mengucapkan doa: &quot;&lt;i&gt;Mudah-mudahan Allah memberimu berkah. Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mudah-mudahan Dia mempersatukan kalian berdua dalam kebajikan.&lt;/i&gt;&quot; (HR. Said bin Manshur di dalam Sunannya 522, begitu pula Abu Dawud 1/332 dan At-Tirmidzi 2/171 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 89)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun ucapan seperti &quot;Semoga mempelai dapat murah rezeki dan banyak anak&quot; sebagai ucapan selamat kepada kedua mempelai adalah ucapan yang dilarang oleh Islam, karena hal itu adalah ucapan yang sering dikatakan oleh Kaum jahiliyyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhf9RPvNeufEPVRXSE892ch8o6ptPxOgcHavVeCXhQhIAxfOpyd4OFmR_TGq8vuz6YgrPeLpjHKcCnyNTNaQFzr1Ko5md4kGrkDM9DiiPEm8uK8J5GrQEicLe9hgViaQJXMhwVQmNyYWBk/s1600/nikah2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;533&quot; data-original-width=&quot;800&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhf9RPvNeufEPVRXSE892ch8o6ptPxOgcHavVeCXhQhIAxfOpyd4OFmR_TGq8vuz6YgrPeLpjHKcCnyNTNaQFzr1Ko5md4kGrkDM9DiiPEm8uK8J5GrQEicLe9hgViaQJXMhwVQmNyYWBk/s640/nikah2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Hasan bahwa Aqil bin Abi Thalib menikah dengan seorang wanita dari Jisyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyyah: &quot;Bir rafa wal banin.&quot; Aqil bin Abi Thalib mencegahnya, katanya: &quot;Jangan kalian mengatakan demikian karena Rasulullah melarangnya.&quot;Para tamu bertanya: &quot; Lalu apa yang harus kami ucapkan ya Aba Zaid?&quot; Aqil menjelaskan, ucapkanlah: &quot;Mudah-mudahan Allah memberi kalian berkah dan melimpahkan atas kalian keberkahan.&quot; Seperti itulah kami diperintahkan. (HR. Ibnu Abi Syaibah 7/52/2, An-Nasai 2/91, Ibnu Majah 1/589 dan yang lainnya, lihat Adabuz Zifaf hal. 90)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah tata cara pernikahan yang disyariatkan oleh Islam. Semoga Allah Taala memberikan kelapangan bagi orang-orang yang ikhlas untuk mengikuti petunjuk yang benar dalam memulai hidup berumah tangga dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu alaih wa sallam. Mudah-mudahan mereka digolongkan ke dalam hamba-hamba yang dimaksudkan dalam firman-Nya: &quot;&lt;i&gt;Yaitu orang-orang yang berdoa: Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami). Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.&lt;/i&gt;&quot; (Al-Furqan: 74).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Maraji:&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
1. Fiqhul Marah Al-Muslimah, Ibrahim Muhammad Al-Jamal. &lt;br /&gt;
2. Adabuz Zifaf fis Sunnah Al-Muthahharah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;http://www.khabib.staff.ugm.ac.id&lt;/b&gt; dengan sedikit tambahan</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/pedoman-pernikahan-islami.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcvnqzZZ3h7fHLfwDtMFNH9wBg6b97LU_n14UojuoFhoBh0Z0Vg_OBq5-fOzVw4lvIfwbNhumBigE7HqggANp4qvYQF4VChtTWuInNT5_KeIzVRT3Wec9KI2vBbaJxkC6boN8R24dl0WE/s72-c/nikah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-2666358251044781888</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 10:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:48:03.531+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Tuntunan Melamar Dalam Islam</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEz3a-z5rZae1yawn1jjo8PBpRGJn4sJD7fiYIpioXUTjKdA48tlJvh2-_R-xiHX4GB-GEPgVOzwMF7Ap_T9-iMHzgaoi3MHPbFuPuoXe7YqMUSFLZAE2imIJMxOJgwtA_TD_uN46VP8c/s1600/o_19muc29kntik87h110k1mi41v37a.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;366&quot; data-original-width=&quot;653&quot; height=&quot;359&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEz3a-z5rZae1yawn1jjo8PBpRGJn4sJD7fiYIpioXUTjKdA48tlJvh2-_R-xiHX4GB-GEPgVOzwMF7Ap_T9-iMHzgaoi3MHPbFuPuoXe7YqMUSFLZAE2imIJMxOJgwtA_TD_uN46VP8c/s640/o_19muc29kntik87h110k1mi41v37a.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Melamar Wanita yang islami itu adalah melamar yang tidak melanggar ketentuan syariah. Tentang teknik dan gayanya, boleh disesuaikan dengan adat dan kebiasaan yang berlaku pada tiap  masyarakat asal tetap memenuhi tuntunan syariah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lamaran atau pinangan atau dalam bahasa arabnya &lt;b&gt;khitbah&lt;/b&gt; merupakan pintu gerbang dalam pernikahan karena sebelum melewati proses ini pernikahan tidak akan berlangsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan yang sering kita saksikan di dalam film Barat, atau di sinetron sesat tentang cara melamar wanita, yaitu laki-laki melamar seorang wanita  untuk dijadikan istri. Posisinya biasanya si laki-laki berlutut di depan wanita yang ingin dilamarnya itu, sambil mengulurkan cincin pertunangan kemudian si perempuan menerima atau menolaknya. Sedangkan dalam syariah Islam punya cara melamar wanita yang unik.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Perbedaan Khitbah dengan Tunangan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna &lt;b&gt;khitbah&lt;/b&gt; dalam bahasa Indonesia ada bermacam terjemahan, antara lain bermakna melamar atau meminang. Akan tetapi, khitbah tidak selalu sama dengan  pertunangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertunangan&lt;/b&gt; adalah semacam upacara atau ritual tertentu yang meresmikan bahwa suatu pasangan itu sepakat akan/mau menikah nantinya. Budaya ini datang dari Barat, biasanya  ditandai dengan disematkannya cincin pertunangan di jari masing-masing calon pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertunangan bukanlah sesuatu yang original datang dari syariah Islam. Bisa saja orang menggelar acara yang di sebut acara pertunangan, tetapi di dalamnya belum tentu berupa khitbah. Atau kadang sebenarnya merupakan khitbah, tetapi diberi nama acara pertunangan. Sebab antara keduanya memang ada perbedaan yang mendasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaannya terletak pada langkahnya. Khitbah adalah pengajuan lamaran atau pinangan kepada pihak wanita. Namun pengajuan ini sifatnya belum lantas berlaku, karena belum tentu diterima. Pihak wanita bisa saja meminta waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang atas permintaan itu untuk beberapa  waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Cara Melamar Wanita Menurut Tuntunan Islam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada Siapa Khitbah/Lamaran Diajukan? Lamaran  bukan diajukan kepada wanita, melainkan kepada ayah kandung sebagai wali dari wanita. Sebab beliau lah nantinya yang akan menikahkan, kalau lamaran itu diterima dan pernikahan terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi dalam Islam tidak akan dikenal ungkapan,”Will you marry me?’. Yang ada adalah  pengajuan seorang laki-laki kepada ayah kandung wanita yang ingin  dinikahinya, setidak-tidaknya berbunyi,”Kalau diizinkan, perkenankan Saya ingin menikahi puteri Bapak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara melamar wanita ini biasanya urusannya dilakukan tidak langsung oleh calon suami, melainkan dengan mengajak orang tuanya dan atau keluarga besar nya. Sehingga nanti yang menyampaikan lamaran itu pihak keluarga laki-laki kepada pihak keluarga calon istri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5qS5w9UFnfLGzR4va9pEZ75zTA7eTPBTiU0ZJW-k5IpvWVM8rK9IMZGy6N4LxZaCAzBfGmKxjHv00PFINJsECcl0knuQkgp_KpQ9BNJDyap_gYt0pD8rBIziu5XSTsK5NCSjny4yUT6M/s1600/lamar.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;170&quot; data-original-width=&quot;297&quot; height=&quot;366&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5qS5w9UFnfLGzR4va9pEZ75zTA7eTPBTiU0ZJW-k5IpvWVM8rK9IMZGy6N4LxZaCAzBfGmKxjHv00PFINJsECcl0knuQkgp_KpQ9BNJDyap_gYt0pD8rBIziu5XSTsK5NCSjny4yUT6M/s640/lamar.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Status Wanita Yang Sudah Dilamar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam proses melamar wanita secara islam, setelah proses lamaran/khitbah, harus ada jawaban dari pihak wanita tentang apakah lamaran ini diterima atau  tidak atau masih menunggu jawaban beberapa waktu sesuai yang di tentukan bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila khitbah itu diterima, maka wanita itu menjadi wanita yang berstatus &lt;b&gt;makhthubah&lt;/b&gt; (مخطوبة), yaitu wanita yang sudah dilamar, sudah dipinang, atau bisa disebut dengan wanita yang sudah dipertunangkan. Sehingga sejak saat itu  hingga pernikahan berlangsung, dirinya sudah tidak boleh lagi menerima lamaran dari laki-laki lain. Atau sampai lamaran itu dibatalkan oleh salah satu pihak, baik itu oleh pihak laki-laki maupun oleh  pihak perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apabila khitbah itu tidak diterima, misalnya ditolak dengan cara yang halus, atau tidak dijawab sampai waktunya, sehingga statusnya menggantung, maka wanita itu tidak dikatakan sebagai  wanita yang sudah dikhitbah. Dan pertunangan belum terjadi. sehingga wanita tersebut bisa menerima pinangan laki-laki lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Hal-hal yang harus diperhaatikan dalam khitbah&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Melihat calon/wanita.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat yang dimaksudkan disini adalah meliht diri wanita yang ingin dinikahi dengan tetap berpedoman pada aturan syar’i&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Anas bin Malik, ia berkata, Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang perempuan. Lalu Rasulullah Saw. Bersabda,”&lt;i&gt;Pergilah untuk  melihat perempuan itu karena dengan melihat itu akan memberikan jalan untuk dapat lebih membina kerukunan antara kamu berdua&lt;/i&gt;”. Lalu ia  melihatnya, kemudian menikahi perempuan itu dan ia menceritakan kerukunannya den&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Tidak melamar wanita yang telah dilamar Lelaki lain (meskipun belum memberi jawaban)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meminang/melamar ini berarti melamar secara resmi. Dari  Abu Hurairah, Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,&lt;i&gt;”Seorang lelaki tidak boleh meminang perempuan yang telah dipinang saudaranya.”&lt;/i&gt; (HR. Ibnu  Majah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Merahasiakan pelamarannya (tidak mengumumkan ke orang banyak)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Ummu Salamah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,&lt;i&gt;”Kumandangkanlah pernikahan dan rahasiakanlah peminangan”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Wanita yang dilamar terbebas dari segala &lt;i&gt;mawani`&lt;/i&gt; (pencegah) dari sebuah pernikahan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksudnya adalah wanita tersebut adalah bukan wanita yang tidak boleh di lamar. Misalnya tidak boleh dilamar karna wanita itu sedang menjadi istri seseorang. Atau wanita itu sudah dicerai atau ditinggal mati suaminya, namun masih dalam masa `iddah. Selain itu wanita yang dilamar tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang masih menjadi mahram bagi seorang laki-laki. Maka di dalam Islam tidak dikenal ada seorang laki-laki meminang adiknya sendiri, atau ibunya sendiri atau bibinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Calon Istri Masih Wanita Ajnabi Yang Haram Diapa-apakan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak  orang keliru memahami, bahwa mentang-mentang sudah terjadi lamaran, seolah-olah sudah layaknya jadi suami istri. Orang tua lantas membolehkan pasangan ini kemana-mana berduaan, bahkan tidak sedikit mereka yang sudah mendahului melakukan percumbuan sampai zina bersetubuh. Sayang sekali pandangn keliru ini kemudian dianggap biasa, seiring dengan masuknya gaya hidup hedonis dan permisif yang  melanda umat Islam. Masyarakat seolah membolehkan kalau pasangan yang belum sah jadi suami istri berduaan dan melakukan apa-apa yang  sebenarnya belum boleh mereka lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3CqLapQ-3y_fIHCtwbIIKajvQJlq2gUpGlUwGLmUMhUEnbtV121m3hgpjdcevMMSW9RzSrTNnIYEeFR4X1YSGV58XqQZ7zEKXsxF2dVXURH_J8Pd26zue-3ze_ZNL2ZvgVLiRq_YYW4Y/s1600/lamar1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;602&quot; data-original-width=&quot;900&quot; height=&quot;428&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3CqLapQ-3y_fIHCtwbIIKajvQJlq2gUpGlUwGLmUMhUEnbtV121m3hgpjdcevMMSW9RzSrTNnIYEeFR4X1YSGV58XqQZ7zEKXsxF2dVXURH_J8Pd26zue-3ze_ZNL2ZvgVLiRq_YYW4Y/s640/lamar1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Dua Jenis Cara Melamar Wanita&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menyampaikan khitbah dikenal ada dua macam metode, yaitu tashrih (تصريح) dan ta’ridh (تعريض).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;* Tashrih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan tashrih (تصريح) adalah ungkapan yang jelas dan tegas, dimana khitbah disampaikan dengan menggunakan ungkapan yang tidak bisa  ditafsirkan apapun kecuali hanya khitbah. Seperti kalimat berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya melamar dirimu untuk kujadikan istriku&amp;lt; atau Bila masa iddahmu sudah selesai, Aku ingin menikahi dirimu  Para ulama sepakat bahwa tashrih ini bila disampaikan kepada wanita yang masih belum boleh dikhitbah, seperti wanita yang belum usai masa iddahnya, hukumnya haram. Dasarnya adalah firman Allah SWT :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&amp;nbsp;وَلاَ تَعْزِمُواْ عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىَ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Dan janganlah kamu ber`azam untuk beraqad nikah, sebelum habis `iddahnya.&quot;&lt;/i&gt;(QS. Al-Baqarah : 235)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun cara melamar wanita atau dengan cara tashrih ini boleh disampaikan bila  wanita yang dikhitbah memang seorang wanita yang bebas dari ikatan  pernikahan dan hal-hal yang sejenisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;* Ta’ridh&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ta’ridh (تعريض) adalah penyampaian khitbah yang menggunakan kata bersayap, sehingga bisa ditafsirkan menjadi khitbah atau juga bisa bermakna sesuatu yang lain di luar khitbah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Wanita melamar laki-laki&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara syar’i dibolehkan. &quot;Dari Tsabit, ia berkata, Kami duduk bersama dengan Anas bin Malik yang disebelahnya ada seorang anak perempuannya. Lalu Anas berkata, ”Datanglah seorang perempuan kepada Nabi SAW, lalu ia menawarkan dirinya kepada beliau, kemudian perempuan itu berkata,”Wahai Rasulullah maukah  tuan mengambil diriku? Kemudian anak perempuan. Anas menyeletuk, ”Betapa tidak malunya perempuan itu!” Lalu Anas menjawab, ”Perempuan itu lebih baik daripada kamu”. Ia menginginkan Rasulullah, karena itu ia menawarkan dirinya kepada beliau”. (HR. Ibnu  Majah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini menunjukkan betapa hukum Islam sangat menjunjung  tinggi hak wanita. Mereka tidak hanya berhak dilamar tetapi juga  memiliki hak untuk melamar lelaki yang disukainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah alangkah  beruntungnya anda yang belum menikah sempat membaca artikel cara melamar  wanita ini sehingga anda tidak tersesat mengikuti cara cara melamar  wanita yang tidak sesuai syariat islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://lifeblogid.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/tuntunan-melamar-dalam-islam.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEz3a-z5rZae1yawn1jjo8PBpRGJn4sJD7fiYIpioXUTjKdA48tlJvh2-_R-xiHX4GB-GEPgVOzwMF7Ap_T9-iMHzgaoi3MHPbFuPuoXe7YqMUSFLZAE2imIJMxOJgwtA_TD_uN46VP8c/s72-c/o_19muc29kntik87h110k1mi41v37a.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-1659686476522035931</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 10:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:47:49.512+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Mengenal Calon Pasangan</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbzS0JkHKxJlQ6yMSQxpc6QmUhfzGb-tny9jsy9Sycm5OouX_0N_XeAXWkWeIOQnVjeeUCqmajQKV_HLZMg3o3Rt84QhtMun1M68wPW12kkt_bnz4_S2sx-KTJK0dHoDXWgcKW12POzMQ/s1600/pasangan1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;326&quot; data-original-width=&quot;501&quot; height=&quot;416&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbzS0JkHKxJlQ6yMSQxpc6QmUhfzGb-tny9jsy9Sycm5OouX_0N_XeAXWkWeIOQnVjeeUCqmajQKV_HLZMg3o3Rt84QhtMun1M68wPW12kkt_bnz4_S2sx-KTJK0dHoDXWgcKW12POzMQ/s640/pasangan1.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencari calon pasangan hidup yang ideal sesuai tuntunan Islam, tentunya perlu diperhatikan adab dan tata caranya yang sesuai syar&#39;i sehingga tidak terjatuh dalam perbuatan dosa dan maksiat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya tuntunan yang syar&#39;i, maka proses mencari pasangan hidup, insya Allah akan lebih berkah, baik ketika mencari maupun setelah terbentuk keluarga nantinya, lebih lebih jika berkah ini turun ke anak cucu nanti, aamiin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu kami hadirkan salah satu tulisan yang mumpuni terkait hal tersebut. berikut ulasannya. silakan di baca dan di simak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh Al-Ustadz Abu Sa’id Hamzah bin Halil dan Ummu Luqman Salma&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada sebuah urusan pun kecuali telah dijelaskan oleh agama Islam  yang sempurna ini. Agama yang telah diridhai oleh Allah, Rabb semesta  alam. Agama yang menjadi nikmat agung yang diberikan kepada kaum  muslimin. Segala aspek kehidupan manusia telah diatur dengan sedemikian  indah. Bahkan, dalam urusan mencari jodoh dan berumah tangga, Islam  telah mengaturnya dengan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam menghendaki kehidupan yang bersih nan mulia bagi manusia.  Berbagai pintu yang bisa mengantarkan manusia menuju jurang kehinaan  hidup ditutup rapat. Salah satu perbuatan yang hina adalah zina. Islam  menutup semua pintu yang menuju ke sana. Misalnya, berdua-duaan antara  laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, berjabat tangan antara  laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, memandang sesuatu yang tidak  halal, wanita menghaluskan dan melembut-lembutkan suara atau ucapan di  depan laki-laki yang bukan mahram, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat seseorang mencari jodoh, semua hal di atas tetap terlarang.  Berdasarkan hal ini, kita bisa memahami bahwa pacaran itu terlarang  karena mesti melibatkan salah satu larangan di atas. Banyak orang  mengira bahwa pacaran adalah perbuatan yang lumrah untuk mencari jodoh.  Pemuda atau pemudi yang tidak punya pacar dianggap kuno, kuper,  ketinggalan jaman, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh, propaganda orang-orang kafir telah meraih sukses di negeri  yang mayoritas penduduknya muslim ini. Padahal, jika kaum muslimin mau  mempelajari agama Islam yang telah diridhai oleh Allah ini, ternyata ada  jalan yang selamat dan diberkahi untuk mendapatkan jodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali ini kita akan membahas tuntunan pernikahan yang syar’i, yaitu taaruf dan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt;. Sebelum membahas proses taaruf dan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt;, sekilas akan kita bahas tentang niat dan shalat istikharah karena pentingnya hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Niat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang berkeinginan kuat untuk menikah hendaklah mengoreksi&amp;nbsp; hatinya. Tanyakan kepada kalbunya, “Apa niatmu untuk menikah; Apakah  engkau menikah dalam rangka ibadah kepada Allah? Apakah engkau menikah  karena Allah (ikhlas karena-Nya)? Apakah engkau menikah dalam rangka  menjalankan perintah Allah?” Kalbunya akan jujur menjawab tiga  pertanyaan tersebut. Perhatikan niat yang ada di dalam kalbu ini. Sebab,  niat menjadi penentu yang menyebabkan sukses atau gagalnya sebuah  amalan. Allah Yang Mahabijaksana berfirman,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah  Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama  yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat;  dan yang demikian itulah agama yang lurus”&lt;/i&gt; (al-Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulallah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;وَإِنَّمَا لِكُلٍّ امْرِئٍ مَا نَوَى&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya, setiap orang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan niatnya.”&lt;/i&gt; (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Niatkan pernikahan dalam rangka &lt;b&gt;ibadah&lt;/b&gt; kepada Allah &lt;i&gt;‘azza wa jalla&lt;/i&gt; dan &lt;b&gt;ber &lt;i&gt;taqarrub&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (mendekatkan diri) kepada-Nya. Hindari pernikahan yang tidak diniatkan  untuk ibadah, seperti seseorang yang telah mencapai usia tertentu kemudian menikah hanya &lt;b&gt;karena keumuman&lt;/b&gt; orang menikah  pada usia tersebut. Dia dihantui oleh perasaan tidak enak apabila tidak  menikah pada usia tersebut. Atau, ketika telah menjabat jabatan  tertentu, seseorang menikah hanya &lt;b&gt;karena gengsi&lt;/b&gt; jika  tidak punya pasangan. Perbaiki niat tersebut. Jadikan menikah sebagai  amalan ibadah kepada Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7_Aa0BSe2GeCDP6WdjYyrifY6xNVhZMGT8J8LhPIKmcOnpwZooSgbNIgxyQzCqajLpSTBKsqSXm8UwmVLsIsK3BYabrUAZjozz_vAjSYpKQPqWmlrCTX9mNaL5KHqBtWqAbp_bB2S9Ow/s1600/pasangan2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;377&quot; data-original-width=&quot;400&quot; height=&quot;603&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7_Aa0BSe2GeCDP6WdjYyrifY6xNVhZMGT8J8LhPIKmcOnpwZooSgbNIgxyQzCqajLpSTBKsqSXm8UwmVLsIsK3BYabrUAZjozz_vAjSYpKQPqWmlrCTX9mNaL5KHqBtWqAbp_bB2S9Ow/s640/pasangan2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Niatkan pernikahan &lt;b&gt;hanya mengharap wajah Allah&lt;/b&gt; (ikhlas karena-Nya). Hindari niat menikah untuk selain Allah, semisal  untuk tujuan duniawi semata. Barang siapa beramal tanpa keikhlasan, dia  akan menuai penyesalan di dunia dan di akhirat. Bukankah dunia ini penuh  dengan tipuan? Sekian banyak penghuninya telah tertipu, kecuali  orang-orang yang dirahmati oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, niatkan pernikahan &lt;b&gt;dalam rangka menerapkan perintah Allah&lt;/b&gt;.  Yakinilah bahwa sesuatu yang diperintahkan oleh Allah pasti baik dan  sesuatu yang dilarang-Nya pasti buruk. Di antara perintah Allah Yang  Mahabijaksana adalah menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kali melakukan amalan, seorang yang beriman hendaklah  meniatkannya untuk ibadah, ikhlas karena Allah, dan dalam rangka  menerapkan perintah-Nya. Niat yang demikian ini adalah niat yang paling  agung. Jika niat di atas ada pada seseorang yang berkeinginan kuat untuk  menikah, kebahagiaanlah yang akan diraihnya, baik di dunia maupun di  akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Shalat Istikharah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang muslim tidaklah menyandarkan urusannya kepada dirinya --apalagi  kepada orang lain--meskipun memiliki sedikit kemampuan dalam hal  tersebut. Kemampuan yang ada pada dirinya adalah pemberian Allah Yang  Mahaperkasa, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Seluruh manusia  sangat membutuhkan Allah, Dzat Yang Mahakaya, yang tidak butuh kepada  makhluk-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang muslim disunnahkan untuk melakukan shalat istikharah sebelum  mengerjakan suatu urusan, termasuk saat mencari jodoh. Demikian juga  sebaliknya, seorang wanita yang dipilih oleh laki-laki untuk dijadikan  pasangan hidupnya, disunnahkan menunaikan shalat istikharah sebelum  melangkah dan mencari informasi tentang calon suaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istikharah artinya meminta pilihan kepada Allah, Dzat Yang Maha  Mengetahui urusan yang gaib. Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua  rakaat yang diikuti oleh doa istikharah. Doa tersebut dibaca setelah  shalat. Lafadznya sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;اللهُمَّ  إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ،  وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ  وَتَعْلَمُ وَلَاأَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ، اللهُمَّ إنْ  كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ &lt;b&gt;هَذَا الْأَمْرَ &lt;/b&gt;خَيْرٌ لِي فِي  دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاقْدُرْهُ لِي، وَيَسِّرْهُ لِي،  ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ &lt;b&gt;هَذَا الْأَمْرَ&lt;/b&gt;شَرٌّ  لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي، وَعَاقِبَةِ أَمْرِي فَاصْرِفْهُ عَنِّي  وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْلِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ  رَضِّنِي بِه&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&quot;Ya Allah sesungguhnya aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon ketentuan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu. Aku memohon karunia-Mu yang agung karena Engkau Mahakuasa sedangkan aku tidak mampu, Engkau  Mahatahu sedangkan aku tidak tahu, dan Engkau mengetahui segala sesuatu yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau tahu bahwa &lt;b&gt;urusan ini&lt;/b&gt; —disebutkan urusannya— baik bagiku, untuk agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku, takdirkanlah dia untukku dan mudahkanlah serta berkahilah. Apabila Engkau tahu bahwa &lt;b&gt;urusan ini&lt;/b&gt; buruk bagiku,  untuk agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku, palingkanlah dia  dariku dan palingkanlah aku darinya. Takdirkanlah bagiku kebaikan di  mana saja, lalu jadikanlah aku ridha dengannya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hendaknya dia menyebutkan urusannya dengan mengganti lafadz هَذَا  الْأَمْرَ. Misalnya, diganti dengan هَذَا الزَّوَاجَ (pernikahan ini).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah seseorang melakukan shalat istikharah, di antara tanda-tanda  kebaikan adalah dimudahkannya sebab-sebab yang mengantarkan kepada  urusan yang sedang dihadapinya. Tidak benar istikharah yang bersandar kepada mimpi-mimpi atau hal-hal lain yang tidak ada landasannya dalam  agama kita ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtTUwf81lUHbd_fRlw700qivxnSG_XwCnYag4H202uqd4aMZBKd7DoRusIe4o8glvlCA3UVdFX9j_4XFMs83KjURafgPSROQkGY8yMi1Gh-s7q7txN6FG3KPX7SppqmkPR_rG7VNvwQxY/s1600/pasangan3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;350&quot; data-original-width=&quot;750&quot; height=&quot;299&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtTUwf81lUHbd_fRlw700qivxnSG_XwCnYag4H202uqd4aMZBKd7DoRusIe4o8glvlCA3UVdFX9j_4XFMs83KjURafgPSROQkGY8yMi1Gh-s7q7txN6FG3KPX7SppqmkPR_rG7VNvwQxY/s640/pasangan3.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Taaruf&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taaruf secara bahasa artinya saling mengenal. Untuk mengenal calon  pasangannya, seorang pemuda tidak perlu berkenalan langsung dengan  seorang pemudi, mengobrol berdua, pergi berdua, dan lain-lain. Semua itu  bukan tuntunan Islam. Dia bisa mencari informasi tentang calon istri  salihah melalui ibunya, saudarinya, atau orang lain yang tepercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendapatkan calon dengan kriteria yang diinginkan, dia bisa  mencari informasi lebih detail tentangnya melalui walinya atau orang  lain yang mengenal baik wanita tersebut. Hal itu bisa dilakukan sendiri  atau melalui perantara. Segala hal tentang si wanita yang ingin  diketahuinya bisa ditanyakan, seperti daerah asal, kondisi fisik,  pengalaman belajar, kegemaran, prestasi, dan lain-lain. Perlu diingat,  hendaknya orang yang ditanya adalah orang yang jujur dan amanah sehingga  tidak memberi informasi yang dibuat-buat, dan tidak menyebarkan rahasia  sesuatu yang mestinya dirahasiakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum taaruf hendaklah seseorang melakukan shalat istikharah  terlebih dahulu sebagaimana dijelaskan di atas. Apa pun yang diputuskan  oleh Allah setelah istikharah tersebut, itulah yang terbaik baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nazhor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah seseorang merasa mantap dengan calon pasangannya, Islam menganjurkan melakukan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt;  artinya melihat wanita yang hendak dilamar dan mengamatinya dengan  saksama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, memandang wanita bukan mahram yang hukum asalnya  dilarang, menjadi halal. Nabi bersabda kepada seorang pria yang  hendak menikahi seorang wanita,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;أَنَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَاذْهَبْ فَانْظُرْهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sudahkah engkau melihatnya?”&lt;/i&gt; Dia menjawab, “Belum.” Beliau bersabda, &lt;i&gt;“Pergilah dan lihatlah dia!”&lt;/i&gt;(HR. Muslim dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallahu ‘anhu&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaiknya, &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; dilakukan sebelum lamaran agar pihak pria bisa mundur --ketika merasa tidak cocok-- tanpa menyakitinya. Namun, &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; bisa juga dilakukan saat melamar atau setelahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Persyaratan &lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt; yang syar’i memiliki beberapa persyaratan sebagai berikut&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. &lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt; dilakukan dengan ditemani oleh mahram si wanita, tidak berkhalwat (menyendiri berduaan dengan wanita yang bukan mahram).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab, Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; melarang hal tersebut sebagaimana dalam sabda beliau,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا تُسَافِرَنَّ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Tidak boleh seorang berduaan dengan seorang wanita, dan tidak boleh seorang wanita bepergian (safar) melainkan dengan mahramnya.&quot;&lt;/i&gt;(HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. &lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt; dilakukan tanpa syahwat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dengan syahwat, hukumnya haram. Sebab, tujuan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; adalah untuk mengetahui keadaan si wanita, bukan untuk bersenang-senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt; dilakukan jika si lelaki memiliki persangkaan kuat bahwa lamarannya akan diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Hendaknya si lelaki hanya melihat bagian tubuh wanita yang biasa tampak, seperti wajah, leher, dua tangan, dan dua betis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Adanya tekad dari si lelaki untuk melamar. Jika sekedar coba-coba, &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Hendaknya si wanita tidak di&lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; dalam keadaan berdandan, berminyak wangi, bercelak, atau jenis berhias yang lain, karena hal itu akan menimbulkan kejelekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal di atas semestinya dilakukan oleh seorang wanita di depan  suaminya. Selain itu, hal-hal tersebut akan menjadi mafsadah baginya.  Sebab, jika setelah menikah ternyata suami tidak mendapati kecantikan  yang pernah dipertontonkannya, suami bisa kecewa dan tidak menyukainya.  Akhirnya, penyesalan dan penderitaanlah yang akan dituainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Nazhor&lt;/i&gt; boleh dilakukan lebih dari sekali jika si pria belum mantap dengan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; pertama. Namun, perlu tetap diingat, tujuannya bukan untuk bersenang-senang dan memuaskan hawa nafsu. Selain itu, &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt;  boleh dilakukan tanpa sepengetahuan si wanita, apabila hal ini aman  dari dampak yang jelek. Jika dia ingin mengetahui hal-hal yang lebih  detail tentang si wanita, dia bisa mengutus ibu atau saudarinya untuk  meneliti keadaannya, seperti bau mulut, bau badan, keindahan rambut, dan  lain-lain. Sebaliknya, si wanita bisa meminta bantuan ayah atau  mahramnya yang lain untuk mendapatkan informasi yang ingin diketahuinya  tentang pria yang me-&lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt;nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG2hHArNZwTzFSYA8szdVjMl9XQkHfrxqDtDqxzSUzbir2XYHjntaZafWlmgyZF7x_mDatljfUk_BeGV_RX7EnP2Ae8YI_gamZOZqp1QCLfB3KurzGEQBUuero6K4QiOCNaMN03lt-anU/s1600/pasangan4.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;300&quot; data-original-width=&quot;450&quot; height=&quot;427&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG2hHArNZwTzFSYA8szdVjMl9XQkHfrxqDtDqxzSUzbir2XYHjntaZafWlmgyZF7x_mDatljfUk_BeGV_RX7EnP2Ae8YI_gamZOZqp1QCLfB3KurzGEQBUuero6K4QiOCNaMN03lt-anU/s640/pasangan4.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah sekelumit pembahasan taaruf dan &lt;i&gt;nazhor&lt;/i&gt; dalam  proses pernikahan syar’i. Semoga Allah, al-Hadi (Yang Maha Memberi  Petunjuk) memberikan taufik kepada kita semua untuk mengamalkan  syariat-Nya dan mengampuni dosa-dosa kita yang melanggar syariat-Nya  yang agung ini. Sesungguhnya, Dia Dzat Yang Maha Pengampun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu A&#39;lam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://qonitah.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/mengenal-calon-pasangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbzS0JkHKxJlQ6yMSQxpc6QmUhfzGb-tny9jsy9Sycm5OouX_0N_XeAXWkWeIOQnVjeeUCqmajQKV_HLZMg3o3Rt84QhtMun1M68wPW12kkt_bnz4_S2sx-KTJK0dHoDXWgcKW12POzMQ/s72-c/pasangan1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7746618246153627682.post-6282700529781608681</guid><pubDate>Sun, 09 Jun 2019 10:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-31T18:47:27.460+08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pernikahan</category><title>Adab Melihat Calon Istri</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-AtxdctEr5ERY6GCNFfBKpw3IsL_UKSflTDLqeVDGd11VpNTIhMHX3xzgxZAAJWdGAk05syrd8Q0erSeX6hylcqzMOewGCKdPNPE5SDhotJVsJY1-cqQVBAlT00O7ANChQ7kYSoUGgI4/s1600/melihat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;319&quot; data-original-width=&quot;480&quot; height=&quot;425&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-AtxdctEr5ERY6GCNFfBKpw3IsL_UKSflTDLqeVDGd11VpNTIhMHX3xzgxZAAJWdGAk05syrd8Q0erSeX6hylcqzMOewGCKdPNPE5SDhotJVsJY1-cqQVBAlT00O7ANChQ7kYSoUGgI4/s640/melihat.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menikah tentunya kita harus melihat terlebih dahulu calon  pasangan hidup kita nanti. Ini semua di adakan demi menghindari adanya penyesalan di kemudian hari ketika sudah menjadi pasangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, bukan berarti dibolehkan untuk melakukan apa saja demi mendapatkan pandangan yang jelas tentang calon pendamping hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam datang dengan memberikan adab tentang batasan-batasan yang boleh di lakukan oleh seorang lelaki dalam rangka melihat (nazdor) calon pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan1&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adab ketika melihat calon pasangan, di antaranya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama : pihak laki-laki harus benar-benar serius dan berkeinginan untuk menikahinya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits dari sahabat Abu Humaid Al-Anshari ra., Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِذَا خَطَبَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً، فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَنْظُرَ إِلَيْهَا إِذَا كَانَ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا لِخِطْبَةٍ، وَإِنْ كَانَتْ لَا تَعْلَم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Apabila kalian melamar seorang wanita, tidak ada dosa baginya untuk melihatnya, jika tujuan dia melihatnya hanya untuk dipinang. Meskipun  wanita itu tidak tahu,” (HR. Ahmad 23603, At-Thabrani dalam Al-Ausath  911 dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua : ada peluang dan harapan untuk menikahinya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohkan, memungkinkan untuk diizinkan oleh walinya, atau memungkinkan  untuk diterima oleh pihak wanita. Jika kemungkinan besar pasti ditolak, baik  oleh pihak wali atau pihak wanita yang dinadzar maka tidak boleh untuk tetap nekad  untuk nadzar. Ibnul Qatthan Al-Fasi dalam Ahkam An-Nadzar mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لو كان خاطب المرأة عالما أنها لا تتزوجه ، وأن وليها لا يجيبه ، لم يجز له النظر ، وإن كان قد خطب [ يعني : وإن كان يطلب خِطبتها ] ؛ لأنه إنما أبيح له النظر ليكون سببا للنكاح، فإذا كان على يقين من امتناعه ، بقي النظر على أصله من المنع&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jika lelaki  yang hendak meminang wanita mengetahui bahwa pihak wanita tidak akan  bersedia menikah dengannya, atau pihak wali tidak akan mengabulkan  pinanganya, maka tidak boleh dia melakukan nadzar. Meskipun dia sudah  menyampaikan lamarannya. Karena dibolehkannya nadzar, hanya karena  menjadi sebab untuk menikah. Jika dia yakin bahwa dia pasti ditolak,  maka kembali pada hukum asal melihat wanita, yaitu dilarang,” (An-Nadzar  fi Ahkam An-Nadzar, hal. 391).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQSyE6eFWWbYmn9kKMiMs3VEZGopq1IhSiARCzKyCtzxAfzdvsGy-QFEN3LIQUc3FEjoRlDkWSpw4RdZoF2U-utIBtai7pEjs57LrflclOepFREp2L_RmhcWcqlorWTo3ZBB-wkyHzQ6M/s1600/melihat2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;330&quot; data-original-width=&quot;719&quot; height=&quot;294&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQSyE6eFWWbYmn9kKMiMs3VEZGopq1IhSiARCzKyCtzxAfzdvsGy-QFEN3LIQUc3FEjoRlDkWSpw4RdZoF2U-utIBtai7pEjs57LrflclOepFREp2L_RmhcWcqlorWTo3ZBB-wkyHzQ6M/s640/melihat2.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga : tidak boleh ada sentuhan anggota badan sedikitpun dengan sengaja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Abu Hurairah ra., Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا، أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ، فَزِنَا العَيْنِ النَّظَرُ، وَزِنَا اللِّسَانِ المَنْطِقُ، والقلب تَمَنَّى وَتَشْتَهِي، وَالفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah menetapkan jatah dosa zina untuk setiap manusia.  Dia akan pasti mendapatkannya dan tidak bisa dihindari : Zina mata dengan  melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan  gejolak syahwat, sedangkan kemaluan membenarkan semua itu atau  mendustakannya,” (HR. Bukhari 6243)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Az-Zaila&#39;i mengatakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;ولا يجوز له أن يمس وجهها ولا كفيها – وإن أَمِن الشهوة – لوجود الحرمة ، وانعدام الضرورة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak boleh menyentuh wajahnya, telapak  tangannya – meskipun aman dari gejolak syahwat – karena adanya larangan  dan tidak ada alasan dharurat,” (Tabyin al-Haqaiq, 16/361)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keempat : tidak boleh berduaan, wajib ada pihak keluarga yang menemaninya, terutama keluarga pihak wanita.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلاَّكاَنَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sampai seorang lelaki berdua-duaan dengan seorang perempuan.  Jika terjadi, maka makhluk ketiganya adalah setan,” (HR. Ahmad 177, Turmudzi  2165, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Qudamah mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;ولا يجوز له الخلوة بها لأنها مُحرّمة ، ولم يَرد الشرع بغير النظر فبقيت على التحريم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Lelaki yang melamar, tidak boleh berduaan  dengan wanita yang dilamarnya, karena ini haram. Dan tidak ada dalil  yang menyebutkan pengecualian larangan ini, dengan mengatakan ‘kecuali nadzar’. Sehingga  kembali kepada hukum asala yaitu tetap diharamkan,” (al-Mughni, 7/453).&lt;br /&gt;
&lt;br id=&quot;iklan2&quot; /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelima : tidak boleh sambil menikmati apa yang dilihat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat dengan cara penuh menikmati (taladzudz) termasuk diantara  bentuk zina mata. Nadzar disyariatkan untuk mewujudkan sunah, dan bukan  untuk menikmati keindahan parasnya. Sehingga jika sudah cukup membuat  pihak lelaki tertarik untuk menikahinya, itu sudah cukup baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ahmad pernah mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;ينظر إلى الوجه ، ولا يكون عن طريق لذة . &amp;nbsp;وله أن يردّد النظر إليها ، ويتأمل محاسنها ، لأن المقصود لا يحصل إلا بذلك&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia melihat ke wajahnya, namun tidak  boleh dengan cara menikmati. Dia boleh melihat berulang-ulang, dan  menimbang kecantikannya. Karena tujuan saling mencintai hanya bisa  diwujudkan dengan cara itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMLFCxwt6Aq0bD4Kfa3v7ZUW1JAhwT9kn5zbtAagraP18IThKCHhI2qPqTjr4iNVMTiV9XbPIIolJnDDsiUfyhB8j5Ez7xEWrqygWqm8fEmxIbxWLsqOcyh9bI5lHCGzLnvr06CLqoS1U/s1600/melihat3.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;413&quot; data-original-width=&quot;900&quot; height=&quot;294&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMLFCxwt6Aq0bD4Kfa3v7ZUW1JAhwT9kn5zbtAagraP18IThKCHhI2qPqTjr4iNVMTiV9XbPIIolJnDDsiUfyhB8j5Ez7xEWrqygWqm8fEmxIbxWLsqOcyh9bI5lHCGzLnvr06CLqoS1U/s640/melihat3.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keenam : dibolehkan untuk melakukan komunikasi, berbicara langsung dengannya ataupun berdiskusi, selama tidak berduaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Ibnu Baz mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;يجوز للرجل إذا أراد خطبة المرأة أن يتحدث معها ، وأن ينظر إليها من دون خلوة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh bagi lelaki yang hendak melamar  wanita untuk berbincang-bincang dengannya dan melihatnya tanpa berduaaan, jika pembicaraan dilakukan untuk membahas terkait pernikahan, tempat  tinggal, atau latar belakang keluarga, sehingga kita tahu hal ihwal tentang calon pasangan, ini dibolehkan. Jika dia hendak menikahinya,” (Majmu’  Fatawa, 20/429).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketujuh : dibolehkan untuk melihat berkali-kali ke arah calon pasangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;يجوز تكرار النظر إن احتاج إليه ليتبين هيئتها، فلا يندم بعد النكاح، إذ لا يحصل الغرض غالبا بأول نظرة&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh mengulang-ulang melihat  wanita yang dilamar, jika dibutuhkan, sehingga semakin jelas semua  kondisinya. Agar tidak menyesal setelah nikah. Karena tujuan itu umumnya  tidak terwujud di awal nadzar,” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 22/17)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu A&#39;lam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
disadur dari &lt;b&gt;https://konsultasisyariah.com&lt;/b&gt;</description><link>https://nuansa-islamy.blogspot.com/2019/06/adab-melihat-calon-istri.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-AtxdctEr5ERY6GCNFfBKpw3IsL_UKSflTDLqeVDGd11VpNTIhMHX3xzgxZAAJWdGAk05syrd8Q0erSeX6hylcqzMOewGCKdPNPE5SDhotJVsJY1-cqQVBAlT00O7ANChQ7kYSoUGgI4/s72-c/melihat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>