<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577</id><updated>2026-01-17T22:55:08.398-08:00</updated><category term="Refleksi &amp; Opini"/><category term="Hidup Pendidikan"/><category term="Kabar Persaudaraan"/><category term="Hidup Doa"/><category term="Hidup Pelayanan"/><category term="Informasi Penting"/><category term="Kontak"/><category term="Sejarah Ordo"/><category term="Hidup Persaudaraan"/><category term="Admin Website"/><category term="Sejarah Gereja"/><title type='text'>OFM KAPUSIN</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18180776322546841567</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-8941569566392463733</id><published>2017-04-06T18:41:00.001-07:00</published><updated>2017-04-06T19:19:40.446-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Aku dan Persaudaraan Kapusin: Suatu Refleksi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihzIxZgR5kbszEj2SUWGm7SZJgQW3D03h_6eLZVuf-54a_b8NauM_Vm68x8aJ1RXxRB-f17bSL36Cq7Wcj3TywDOPMcWW6NJlIgxF3No1p3EjXneXAVS7q73NDwxNQD-wdgCZXnLjNZC27/s1600/aloy.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihzIxZgR5kbszEj2SUWGm7SZJgQW3D03h_6eLZVuf-54a_b8NauM_Vm68x8aJ1RXxRB-f17bSL36Cq7Wcj3TywDOPMcWW6NJlIgxF3No1p3EjXneXAVS7q73NDwxNQD-wdgCZXnLjNZC27/s640/aloy.jpg&quot; width=&quot;546&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Perjumpaan pertama dengan Kapusin&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perkenalan ini, terjadi ketika Kapusin merayakan pesta Jubelium seratus tahun di tanah belantara Kalimantan, tepatnya di Kota Singkawang. Biasalah, awal perjumpaan ini, di awali dengan kekaguman kepada saudara-saudara Kapusin, yang mengenakan jubah coklatnya. Suasana perayaan berjalan dengang baik, hingga aku tertegun pada perbincangan nuntius yang tidak sempat ku ingat namanya. Sebagai pembicara, maksudnya penerjemah waktu itu adalah Pater William Chang. Kekagumankupun semakin bertambah. Luar biasa pikirku. Sempat terlintas dalam benakku; “kapan aku bisa menjadi dia yang bisa berbicara untuk orang banyak yang tidak mengerti menjadi tahu”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perkenalan berikutnya, kutemukan ketika aku mengunjungi Stan Pameran tentang perjuangan para missionaris pertama serta karya dan kerasulan mereka di tanah Borneo. Ketika saya sampai ke tingkat dua, aku melihat papan kecil yang bertuliskan “Bagi yang ingin bergabung bersama Ordo Saudara-saudara Dina Kapusin, bisa menghubungi secretariat Propinsi Kapusin Pontianak” dan seterusnya. Begitulah kurang lebih ajakan itu kepadaku. Tertarik! Ya. Tapi tidak tahu apa itu?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kapusin itulah yang sering didengungkan oleh Pastor Paroki ku saat itu, ketika ia “merayu” aku untuk masuk dalam persaudaraan Kapusin, ketika aku menyatakan niat untuk masuk TOPANG atau Retorika di Nyarumkop. Pendeknya aku masuk Kapusin karena pastor Paroki. Tapi, memang sebelumnya aku tidak mengerti apa-apa tentang IMAM atau Pastor. Bagiku, semua pastor itu sama tidak ada bedanya. Apakah ia seorang Kapusin atau seorang imam Diosesan, dan lain-lain. Tapi suatu keberuntungan yang amat besar, ketika aku masuk menjadi anggota tarekat religious ini. Karena aku langsung mendapatkan teman yang karakter dan spiritualitasnya hampir sama, meskipun tidak mirip.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Siapa dan Apa Itu Kapusin?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah Itu Kapusin untuk saat itu aku tidak tahu. Dan, sampai sekarang jika ditanyakan apa itu kapusin jawabanku pasti masih dalam mengambang. Pertanyaan tersebut, meminta suatu pemahaman dan sekaligus pengertian. Pemahaman berarti diandaikan tahu dan mengerti. Ya, seandainya ini menjadi pertanyaan yang mendalam harus ku akui secara jujur aku belum sepenuhnya mengerti secara mendalam dan betul-betul memahami apa itu Kapusin?.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setahuku Kapusin itu adalah cara hidup yang saat ini ku hidupi, ku jalani dan ku pilih menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan. Kapusin yang ku hidupi adalah pola hidup komunitas yang menggaris-bawahi hidup dalam persaudaraan “Be Brother For All”. Lebih spesifik hidup persaudaraan ini adalah hidup membiara yang membaktikan diri pada Allah dan sesama. Kapusin itulah sekarang jiwaku dan ragaku. Aku tidak akan bisa terpisah daripadanya. Karena ia telah menjadi bagian dari diriku. Dan sekarang aku dalam tahap penyempurnaan untuk menuju KAPUSIN itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Hidup yang berjanji?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hidup kok harus berjanji? Begitulah seloroh yang sekaligus permenungan dalam hidup ini. Terlebih bagi diriku. Mengapa harus berjanji? itulah yang dilontarkan orang yang tidak tergabung dalam cara hidup ini. Kata-kata tersebut dulunya juga menjadi pertanyaan bagiku. Sekarang Janji itu menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul atau janji yang ku ikrarkan dan ku hidupi sekarang ini, secara sadar ku ucapkan di depan publik. Dan janji itu berbunyi untuk setia kepada Injil dan Tuhan. Kaul tersebut menjadi pengikat yang sangat erat dalam persaudaraan Kapusin. Dan melalui Kaul itu semua menjadi sama sebagai saudara. Seraya itupula Kaul menjadi cerminan bagi saya untuk melihat kebahagiaan yang akan datang. Sembari berkontemplasi dalam kehiruk-pikukkan hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul-kaul yang ku hidupi memberi suatu “kebebasan” kepada ku untuk menjadi TAAT, MURNI dan MISKIN. Kaul-kaul ini memberikan suatu pembelajaran sekaligus mengajarkan hidup, &amp;nbsp;dihadapan Allah dan sesama. Serentak juga membentuk kedewasaan dan kemandirian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul menjadi “SIM” bagiku untuk terus maju sebagai laskar Kristus seturut teladan hidup St. Fransiskus dari Assisi di dalam Ordo Kapusin, untuk mewartakan kabar Gembira kepada semua makhluk insani. Janji untuk hidup miskin, murni dan taat serentak meminta aku untuk hidup berkomitmen dan bertanggung jawab atas hidup yang telah diberikan. Memang harus ku, akui untuk menghidupi ketiganya bukanlah hal yang gampang, namun juga bukan berarti sesuatu yang sulit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Pergulatan Ketiga Kaul&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga kaul yang ada di dalam persaudaraan Kapusin, bukanlah sesuatu yang gampang untuk dihidupi, karena aku hidup di dalam dunia yang real, nyata. Duniaku ini menyuguhkan banyak hal yang senantiasa menantang adrenalin, memikat mata, dan menggoda jiwa. Dunia hidupku, adalah dunia yang semakin hari semakin menunjukkan ‘keelokkannya” zaman, terus memacu otak ku untuk terus “berkontemplasi” dalam hayal dan renunganku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hingga saat ini. Bisakah aku melangkah dengan ringan, sementara banyak hal yang menjadi beban yang sekaligus membuat aku melanyang. Terkatung-katung antara langit dan bumi. Kiranya kaul yang ku hidupi ini akan menjadi jawaban yang pasti. Lascar iblis datang bagai kawanan burung yang berhijrah di musim dingin. Ketika kunyatakan diriku siap untuk berperang melawan mereka. Setan menampakkan keelokkannya melalui hobi-hobiku, kesukaanku, dan keburukkannya pada sikap kebenciannkku. Setan pintar berubah rupa. Tapi aku tetap memiliki Allah yang juga siap menyatakan damai bersama mereka di dalam aku sehingga aku tidak memusuhi hobiku dan kebencianku.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak gampang bukan berarti sulit. “Gampang” dapat ku katakana demikian, karena persaudaraan yang telah merawat dan mengasuh aku membekali diriku dengan ilmu dunia yang dinamakan dengan Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu ini, persaudaraan mendidikku untuk hidup menjadi bijak dan sana. Tahu berbuat dan bertindak. Dapat mengerti dan tahu. Baik dan benar. Ilmuku adalah salah satu jalan hidup yang diberikan untuk mencapai kematangan dalam hidup berkaul. Melaluinya aku diminta untuk mengolah semua yang nyata dan maya, melalui ilmu itupula aku diminta untuk dewasa. Dengan pengetahuan dan ilmu yang kumiliki memberikan kematangan untuk berdistansi dengan dunia nyata dan maya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kerap dalam pertanyaan batin ini, berkata: “mengapa mereka yang telah mendapatkan pengetahuan yang baik dan benar, justru menyimpangkan pengetahuan itu?, bukankah seharusnya mereka menjadi lebih bijaksana dibanding dengan kakek dan nenek ku yang tidak mengenal pengetahuan”. Apakah ada yang salah? Hati ku kembali berbicara. Perkataan hati ini serentak menantang dan mengingatkan aku. Sungguhkah aku akan menjadi orang yang berilmu dan berpengetahuan?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Keyakinan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keyakinanku kepada Allah dan Persaudaraan Kapusin. Keyakinan ini tidak akan memberikan kekecewaan, sebaliknya menghantar aku pada pembebasan, kemerdekaan dan kebahagiaan. Allah akan senantiasa menemani dan menuntun aku. Ia akan mengarahkan aku pada kehendak-Nya. Sedangakan aku yang senantiasa dikuasai keegoisan ini, akan terus menemukan cara untuk memberikan signal, tanda kepada Allah, agar Ia bisa menemukan aku yang masih tinggal dalam kekelaman dunia ini. Dan, dengan-Nya aku akan berkumpul bersama domba-domba yang lain dalam satu kawanan dan satu Gembala yaitu Kristus Yesus.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sedangkan, Persaudaraan Kapusin akan terus membentuk aku menjadi seorang saudara yang mampu melanjutkan karya dan cita-cita pendiri Ordo ini, agar alam ciptaan di dunia ini tetap utuh dan harmoni. Persaudaraan ini akan banyak memberikan pengetahuan dan pengalaman hidup bersama Allah melalui sesama yang menderita, papa, miskin dan terpinggirkan. Harapanku ialah aku dapat tumbuh menjadi kuntum coklat yang berbuah matang dan menjadi bibit coklat &amp;nbsp;yang baru. Karena aku yakin, Coklat ini akan memberikan warna dan keindahan tersendiri bagi banyak insan.&lt;i&gt;&lt;b&gt; - P. Aloysius Anong, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/8941569566392463733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/04/aku-dan-persaudaraan-kapusin-suatu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/8941569566392463733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/8941569566392463733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/04/aku-dan-persaudaraan-kapusin-suatu.html' title='Aku dan Persaudaraan Kapusin: Suatu Refleksi'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihzIxZgR5kbszEj2SUWGm7SZJgQW3D03h_6eLZVuf-54a_b8NauM_Vm68x8aJ1RXxRB-f17bSL36Cq7Wcj3TywDOPMcWW6NJlIgxF3No1p3EjXneXAVS7q73NDwxNQD-wdgCZXnLjNZC27/s72-c/aloy.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Pontianak, West Kalimantan, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.0263303 109.3425039</georss:point><georss:box>-0.0263303 109.3425039 -0.0263303 109.3425039</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-5698099270019152835</id><published>2017-04-06T18:29:00.000-07:00</published><updated>2017-04-06T19:19:30.386-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Menimba Kedalaman pada Sumur yang Berair: Sebuah Refleksi</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtEAoamX3ggjAWTaJ41z8U9L9AZSiE5vK8s7QVWpnOJmVKbXHcM_RjDfKdjFlAR3hla2-9SfFm00zHFnr4B2jWm4zepl6UWRPiBDqLQxODAVDJ0-28app4iLEBByx6JcTWfkjf5b0tlaIT/s1600/frater.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtEAoamX3ggjAWTaJ41z8U9L9AZSiE5vK8s7QVWpnOJmVKbXHcM_RjDfKdjFlAR3hla2-9SfFm00zHFnr4B2jWm4zepl6UWRPiBDqLQxODAVDJ0-28app4iLEBByx6JcTWfkjf5b0tlaIT/s640/frater.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;SALAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak terasa waktu terus berjalan dan menghantar aku pada tahun yang ketiga di BiKap Alverna – Sinaksak. Waktu memang tak pernah &amp;nbsp;berhenti. Ia terus berjalan pada aturan yang telah ditentukan bagi dirinya. Ia tidak akan pernah terpengaaruh oleh situasi ataupun keadaan. Sang waktu juga tidak pernah mau memberikan saat yang baik atau buruk. Ia tidak suka menunda apalagi berhenti. Ia tetap memiliki komitmen. Mengarungi pengalaman insan dunia, selama masih diberi kesempatan. Aku salah satu insan yang hidup di dalam serta berada bersama waktu. Setiap hari, dan waktu, aku telah dibekali banyak pengalaman dan permenungan. Dan pengalaman itu menjadikan aku sebagai aku yang sekarang menjadi aku. &amp;nbsp;Terimakasih sang waktu terlebih kepada-Mu sang pencipta waktu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;HIDUP PERSAUDARAAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walau hanya tertulis aku mau berucap terima kasih kepada saudara-saudara tua, sebagai staf pendamping dan pengajar di BiKap Alverna dan STFT. Karena dengan segala kesabaran dan kebijkasanaan dan &amp;nbsp;contah teladan hidup mereka, saya semakin dimatangkan dalam menapaki panggilan sebagai biarawan Kapusin. Terimakasih Pater, Bruder, telah menjadi orang tuaku yang baik dan selalu mengarahkan aku pada jalan panggilan Fransiskan Kapusin. Aku beraharap Tuhan &amp;nbsp;yang Mahabaiklah membalas semua kebaikan dan kebijaksanaan kalian semua. Kuucapkan juga terimakasih atas ilmu-ilmu, nilai-nilai persaudaraan yang telah kalian wariskan. Semoga semua itu menjadikan aku semakin matang, dewasa dan bertumbuh dalam iman dan panggilan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terimakasih juga aku ucapkan kepada saudara-saudara seangkatan, terlebih saudara-saudara seangkatan dari propinsi Kapusin Pontianak. Karena kalian semua kita saling mendukung dan mendoakan sehingga kita sama-sama berjuang hingga pada tahun yang ketiga sekarang ini. Terimakasih telah mau berbagi cerita dan pengalaman hidup kalian. Aku yakin cerita dan cita kita dapat terwujud di dalam panggilan Tuhan ini.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk saudara-saudaraku tingkat I dan tingkat II sepropinsi terimakasih karena ada kalian aku merasa menjadi layak untuk melangkah ke tingkat IV di tahun ajaran ini. Doakan kami. Saudara-saudara muda di Alverna, suster, bapak, ibu, kakak-kakak dapur terimakasih semuanya karena berkat kehadiran kalian seluruh proses perkuliahan dan hidup doa, studi dan kerja dapat berjalan dengan baik dan lancar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aku senang, bahagia dan bergembira bisa hidup bersama di Komunitas Alverna. Meskipun banyak hal yang terkadang membuat aku kehilangan diriku. Namun dengan itu pula menjadikan aku banyak belajar. Terlebih belajar berdistansi, mendalami dan mengenal diriku. Ku sadari hidup persaudaraan yang kuhidupi ini banyak mengubah cara pandang pola pikir dan cara bertindak dalam proses pengolahan hidup pribadiku. Dengan perjalanan bersama waktu dan bersama kalian saudara-saudara, aku semakin mampu menyadari siapa aku sebagai aku dihadapan sang AKU. Semoga kegembiraan, kebahagiaan di komunitas ini terus menemani dan mengiringi perjalananku selanjutnya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hidup persaudaran di Alverna memang unik. Disinilah aku menemukan banyak karakter yang tidak kalah untuk mewakili kehidupan di luar biara. Semua kompleks. Ada tua, ada muda, ada dewasa, ada setengah dewasa, ada yang jujur ada yang berpura-pura, ada yang rajin dan ada yang malas-malasan. Ada yang rendah hati dan ada yang egois. Ada yang bijaksana dan ada yang plin-plan. Dan lain sebagainya. Karakter-karakter diatas sepertinya “dikondisikan” untuk membuat setiap pribadi untuk mampu belajar dan menimba kekuatan dan kehidupan plural. Disatu sisi menjengkelkan, namun disisi lain (positif) mengasyikkan. Bagi saya secara pribadi, setelah merenungkan ini secara tenang, saya merasa bersyukur. Sebab aku yakin kehidupan diluar sana akan menampilkan karakter-karakter yang lebih hebat dan tanpa kompromi. Keadaan seperti bagiku adalah tantangan dan materi pembelajaran yang lumayan merepotkan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;DUNIA KAMPUS&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kampus adalah rumah kedua selama proses pendidikan di STFT. Separoh hari dalam seminggu ku habiskan disini. Kampus adalah rumahku. Rumah tempat aku dibentuk seperti tanah liat, tempat pembinaan bagi yang mencari kebenaran, dan &amp;nbsp;kebijaksanaan, dan sarana yang ideal untuk menyalurkan kreativitas dan afeksitas. Kampus menjadi saluran ber-relasi dan berpastoral. Kampus memberikan konstribusi yang cukup memadai sebagai wadah, locus, untuk menempa dan membentuk pribadi yang berkualitas dan modernitas.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang kampus tidak memberikan umpan yang baik untuk menangkap ikan yang hendak ditangkap, tetapi mereka memberikan mata pancing yang berkualitas wahid, untuk menangkap berbagai macam ikan yang hendak ditangkap dengan pancing. Bagi saya, mata kail, yang hebat itu adalah suatu modal yang sangat menentukan saya, sebagai pemancing yang akan menangkap banyak ikan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dunia Kerasulan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun ketiga kali ini, kami diminta untuk menggunakan mata kail yang telah diberikan; yakni kerasulan ke stasi dan memberikan rekoleksi, serta retret. Kegiatan-kegiatan tersebut salah satu umpan yang coba diberikan, sepenuhnya dipercayakan kepada kami untuk mengolah, memanfaatkan dan menggunakannya sebagai media untuk mengembangkan diri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun yang paling mengesankan bagiku ialah kerasulan, karena tugas ini, kami laksanakan selama kurang lebih dua semester. Dalam kerasulan banyak hal yang membuat saya belajar dan mengalami cara beriman kepada Yesus, yang setiap hari kami pelajari di kampus. Yesus yang kami kenal di kampus ternyata sedikit berbeda dengan pribadi Yesus yang di imani. Yesus di stasi (melalui perjumpaan dengan umat) ternyata memberikan pengertian akan hidup di dalam sesama tanpa pamrih, dan penuh dengan kesederhanaan. Ia nyata. Ada bersama dengan aku.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena itu pengalaman kerasulanku berbeda dengan pengalaman kerasulan dengan teman-teman yang lain. Umat yang kukunjungi setiap dua kali dalam satu bulan menggambarkan suatu kerinduan saya untuk bertemu dengan Dia, yang selalu berbicara dan mengajar. Sebab melalui pembicaraan dan pengajaran itu, aku juga bisa berkata-kata dan sedikit memberikan pembelajaran kelak.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;HIDUP DALAM KETIGA KAUL&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul yang hampir satu tahun yang lalu ku ikararkan memberikan arah dan pertolongan yang berarti dalam menjalani hidup panggilanku sebagai biarawan Kapusin dan sekaligus Mahasiswa di kampus.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kaul Ketaatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari kata ketaatan sepintas ditelinga memang mengerikan. Itu berarti kita harus berjalan seperti robot alias kaku. Sebab kita harus senantiasa taat kepada perintah dan pimpinan yang dipercayakan kepada kita. Namun bagi saya, dengan ketaatan mengajarkan aku, akan satu nilai yang tidak bisa terwakilkan hanya lewat kata-kata. Sebab ketaatan bukanlah hal yang abstrak melainkan nyata, konkret, real. Secara analisis phenomenologis kata taat, memang abstrak. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan dengan ketaatan. Ketaatan menghendaki suatu tindakan yang membebaskan namun terarah pada bentuk yang terbatas. Ketaatan mengajarkan aku untuk bercermin kepada Dia yang menjadi pelaku ketaatan yang sejati: Yesus.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kaul Kemiskinan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul yang kedua ini, telah memberikan banyak konstribusi dalam hidup sehari-hari. Sebab, dari kemiskinan, saya terbantu untuk dapat melihat sesuatu dari manfaat, dan kegunaannya serta akan kelangsungan mendatang. Kemiskinan juga mengajarkan sikap sederhana yang tidak mudah untuk dijalani di zaman modern ini. sebab tidak lagi pada tempatnya untuk tidak mengikuti perkembangan mode, dan life style, yang sungguh menjadi bagian dari kehidupan manusia modern. Namun dengan mendalami kaul ini, saya setia untuk mengenakan jubah coklat saya yang tampak lusuh dimakan usia. Biarlah orang berkata apa, tetapi saya bisa berbicara ada apa rupanya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;Apple-tab-span&quot; style=&quot;white-space: pre;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaul ini, sungguh memberikan suatu pencerminan yang tidak tanggung, namun menyeluruh. Sifat menyeluruh ini dimaksudkan untuk senantiasa berserah kepada Tuhan dan menjadikan diri “haus” akan cinta dan kasih dari Allah, yang tidak menyurutkan diri kita pada pencarian hidup yang sejati. Sebab saya sependapat dari banyak orang yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini adalah suatu peziarahan, dan kelak kita akan sampai pada tujuan dan tempat yang definitif.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kaul Kemurniaan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hidup murni, barangkali impian semua orang. Sebab tidak ada seorangpun yang mau hidupnya diracuni, apalagi dinodai. Tetapi sayangnya kita telah ter-racuni dan ter-nodai, oleh situasi, lingkungan, dan meluas pada zaman. Saya tidak bisa memungkiri itu semua. Sekarang, yang saya lakukan ialah memperkecil kemungkinan untuk &amp;nbsp;keracunan dan tidak banyak terkena noda. Artinya saya masih dalam perjuangan yang luar biasa ketat dan senantiasa mengawaskan diri. Namun, saya yakin sang teladan kemurnian pasti akan membantu saya. Agar saya semakin mengarahkan diri pada kehendakNya, semakin mantap menapaki jejak-Nya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kemurnian, memberikan jalan kepada saya untuk menjadikan diri saya sebagai pribadi yang berintegritas, memiliki komitmen, serta mampu untuk berdistansi dengan pola hidup yang mapan dan menggairahkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;PENDALAMAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kehidupan yang ku jalani saat ini, tidak terlepas dari peran dan kuasa dari DIA tuan kehidupan. DIa selalu hadir dikala aku, memerlukan dan mengalami kesulitan. DIa menghadirkan diri lewat udara yang setiap hari kuhirup dan menjadikan aku hidup. Dia &amp;nbsp;mendengarkan doa-doaku, dan sekaligus menjawabnya walau aku sendiri tidak tahu. Dia telah menjadi teman sekaligus sahabatku, dalam kerinduan manusiawiku. Dia menjadi penyemangatku, saat aku lelah dan putus asa. Dapat ku katakan separoh dari diriku berasal dari DIA.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kata-kataku tidak terlepas dari ucapan rasa syukur dan rasa terimakasih yang mendalam, kepada persaudaraan, dan terlebih kepada DIA yang telah sanggup memberi ruang dan gerak bagi ku untuk mengapresiasikan diri dalam hidup sebagai saudara bagi semua. Semoga aku mampu terus berkanjang dan menemukan sang Putri Kemiskinan yang sejati. Serta meneguk air dari mata air yang sejati. &lt;b&gt;&lt;i&gt;- P. Aloysius Anong, OFMCap.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/5698099270019152835/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/04/menimba-kedalaman-pada-sumur-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5698099270019152835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5698099270019152835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/04/menimba-kedalaman-pada-sumur-yang.html' title='Menimba Kedalaman pada Sumur yang Berair: Sebuah Refleksi'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtEAoamX3ggjAWTaJ41z8U9L9AZSiE5vK8s7QVWpnOJmVKbXHcM_RjDfKdjFlAR3hla2-9SfFm00zHFnr4B2jWm4zepl6UWRPiBDqLQxODAVDJ0-28app4iLEBByx6JcTWfkjf5b0tlaIT/s72-c/frater.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Pontianak, West Kalimantan, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-0.0263303 109.3425039</georss:point><georss:box>-0.1540463 109.1804554 0.1013857 109.5045524</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-5823567972777619923</id><published>2017-02-03T04:37:00.000-08:00</published><updated>2017-02-03T05:31:00.999-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>“Semua Kembang Bernyanyi Riang”: Selamat Jalan Pastor Sanding Tercinta!</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-dPR7FjdpwSzVw94Nif0qGc6fzXrTATh7UJjkIhOUs1iPL1YPeiHs_GMoWMdKUKc4jImisXzp1ceXv4LNijzeTd38-PwzkykDfX4JRzc5Navttcu6Pvx_2z9XF_fPvj4x4Hq38GWanI_/s1600/kakek1.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-dPR7FjdpwSzVw94Nif0qGc6fzXrTATh7UJjkIhOUs1iPL1YPeiHs_GMoWMdKUKc4jImisXzp1ceXv4LNijzeTd38-PwzkykDfX4JRzc5Navttcu6Pvx_2z9XF_fPvj4x4Hq38GWanI_/s640/kakek1.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1 Februari 2017 akan terpatri jelas dalam hati dan ingatan saya sebagai hari yang mengejutkan. Mengejutkan karena dalam masa-masa penuh konsentrasi menjalani ujian semester, saya menerima kabar wafatnya Pastor Mateus Sanding. Cukup mengejutkan karena selama satu setengah tahun terakhir, saya tidak pernah menerima berita tentang situasi gawat darurat yg mungkin sedang dia hadapi baik terkait dengan penyakit tertentu maupun usianya yang sudah lanjut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;1 Februari 2017 juga akan terpatri dalam-dalam sebagai hari
yang mengecewakan. Mengecewakan karena saya sedang jauh dari kemungkinan untuk
bisa hadir secara fisik bersama umat dan para saudara se-Propinsi di sisi
jenasah beliau. Saya tidak bisa hadir dalam doa-doa bersama dan ikut
menghantarnya ke Pemakaman. Saya hanya bisa membayangkan dari jauh bagaimana
suasana duka dan sibuknya para saudara bersama umat. Ada cinta dan kerinduan
yang sangat kuat untuk hadir secara fisik, tetapi Roma - Pontianak terlalu jauh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Syukur bahwa walaupun sangat jauh jarak membentang, namun
saya (bersama Pastor Harmoko, Pastor Viktor dan Bruder Willem) tetap merasakan
dan menghayati persekutuan iman dan kesatuan hati dalam doa dan ekaristi untuk
beliau. Perasaan dan penghayatan iman yang sama, saya percaya ada juga di
setiap hati dan pikiran setiap saudara di Timor Leste, Philipina, Australia dan
Selandia Baru. Untuk mengobati kekecewaan atas ketidakhadiran secara langsung,
saya putuskan untuk menulis dan mengirim ucapan selamat jalan ini. Semoga
Pastor Propinsial bisa menyampaikannya atas nama kami yang tidak bisa hadir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Kenangan hidupku bersama Pastor Sanding tidak lama, hanya
berlangsung selama satu setengah tahun. Itu terjadi ketika saya menjalani masa
formasi sebagai frater TOP di paroki Menjalin dari awal desember 2003 sampai
akhir juni 2005. Soal sapaan dalam interaksi dengan beliau, pastor Yeremias
Melis biasa menyapanya “Pastor Sanding”. Pastor Frederic Samri, saudara Benediktus Benik dan saudara Silvinus Senan menyapanya “Pastor Sanding”
atau “Kakek Sanding”. Para katekis dan petugas paroki umumnya menyapanya
“Kakek” atau “Pastor Sanding”. Umat Paroki Menjalin umumnya menyapanya “pastor
Sanding”. Ada juga sejumlah kecil umat yang menyapanya “Pak Sanding”. Saya
sendiri mulai dengan sapaan “Pastor Sanding” utk minggu-minggu awal dan
kemudian berani membiasakan diri menyapanya “Kakek Sanding”, sapaan yang saya
gunakan sampai sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Dibandingkan dengan Pastor Yeri, kebersamaan saya sangat
singkat. Mereka berdua pernah hidup bersama sebagai rekan sekomunitas di Paroki
Menjalin selama lebih dari 25 tahun. Karena itu, dari segi lamanya, masa satu
setengah tahun yang sudah saya lalui bersamanya seperti tidak berarti.
Kenyataannya tidak demikian. Meskipun singkat, kehadirannya berkesan dan
membekas kuat bagi pertumbuhan dan penguatan pilihan hidupku sebagai saudara
Kapusin Propinsi Pontianak. Apa rupanya keutamaan-keutamaan Pastor Sanding yang
sudah turut membantu menguatkan dan menumbuhkan semangat untuk pilihan hidupku
sebagai saudara Kapusin?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Tentu ada banyak dan saya hanya akan bagikan 2 untuk
kesempatan ini. Saya ingin mengawali 2 catatan hatiku dengan catatan sejarah
tentang saudara kapusin pertama asal Monterado-Indonesia, almarhum Pastor
Pacificus Bong Ofm Cap. Dalam buku&lt;i&gt; A History of Christianity in Indonesia&lt;/i&gt; (hlm.
507), Karel Steenbrink memasukkan juga kutipan tentang kesaksian dari seorang
saudara kapusin belanda, Gentilis Aster tentang saudaranya almarhum Pastor kita
Pacificus Bong sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkxbaCghkzhsy7doqAhFpc7r5832juaI71eCVW92_3bcm2dImGrg01hRh9fLfNoOfjKnm4ykPsp7rjQgI89cdBGXccwtWTNqgLPIveKzTQ0kIK69GeV0c33OCDVR2H_SuRybRxNPqv5NzA/s1600/kakek2.jpeg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkxbaCghkzhsy7doqAhFpc7r5832juaI71eCVW92_3bcm2dImGrg01hRh9fLfNoOfjKnm4ykPsp7rjQgI89cdBGXccwtWTNqgLPIveKzTQ0kIK69GeV0c33OCDVR2H_SuRybRxNPqv5NzA/s640/kakek2.jpeg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;“(He is) A small, quiet
man with a soft voice and quiet manners. In company his presence was barely
noticed, because he does not say much and only gives his opinion when asked for
it. But then he would give it in short, but precise wording, identifying the
matter in a touching way. Someone who knows how to listen, surprising everybody
by his balanced wisdom free from emotions.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Terjemahannya kira-kira demikian: “Dia adalah seorang pria
berperawakan kecil dan pendiam, dengan suara yang lembut dan pembawaan yang
tenang. Dalam kebersamaan, kehadirannya sering luput dari perhatian, karena dia
tidak banyak bicara dan hanya memberikan pendapatnya kalau diminta. Saat
diminta, dia akan menyampaikannya secara singkat namun dengan pilihan kata-kata
yang tepat, mengacu pada pokok persoalan, dengan cara yang menyentuh hati. Dia
seorang yang tahu bagaimana mendengarkan. Dan dia mengejutkan siapapun dengan
kebijaksanaan yang seimbang, bebas dari belenggu perasaan dan prasangka.”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Kutipan ini terlintas dalam benak saya ketika mencoba
mengingat dan merenungkan kenangan-kenangan indah dalam hidup bersama sebagai
saudara kapusin dengan Kakek Sanding.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Catatan hati pertama adalah Kakek Sanding sebagai figur
kapusin yang gembira dan penuh sukacita. Setengah dari judul ucapan selamat
jalan ini mengambarkan kekhasannya itu. “Semua Kembang Bernyanyi Riang” adalah
judul lagu kesukaannya. Kita pasti kenal lagu itu karena nadanya sama dengan
lagu “Semua Bunga Ikut Bernyanyi” dari Madah bakti no. 477. Saya diberitahu
ketika menanyakannya langsung dalam satu kesempatan, lebih sebagai persiapan
komunitas untuk tampil memeriahkan perayaan 100 tahun misi Kapusin di Indonesia.
Masih ada 1 atau 2 lagu lain yang tidak bisa lagi saya ingat. Sejauh pengalaman
saya, lagu “Semua Kembang Bernyanyi Riang” bisa dinyanyikan sendiri dengan
penuh semangat oleh Kakek Sanding, lengkap dengan ekspresi wajah dan gerak
tubuhnya. Beberapa kali saya ikut berbahagia karena menemaninya bernyanyi
bersama iringan gitar. Saudara Senan pasti mudah mengingat kembali aksi
rekreatif spontan ini, ditemani 1 botol bir untuk mereka berdua dan 1 kaleng
lasegar untuk saya. Bagi saya, “Semua Kembang Bernyanyi Riang” menjadi ungkapan
dari kegembiraannya yg alami sebagai kapusin, bersama semesta dalam pilihan
hidup sebagai saudara, bersama dan dalam pelayannanya bagi saudara yang lain
dan umat Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Catatan hati kedua adalah Kakek Sanding sebagai figur kapusin
yang bersaudara dengan semua orang dan memperlakukan semua orang dengan rasa
hormat yang sama. Proses adaptasi dan integrasi saya ke dalam dinamika hidup
komunitas kapusin dan gereja lokal di Paroki Menjalin menjadi relatif lancar
karena banyak terbantu oleh kehadiran dan teladan Kakek Sanding. Sebagai
kapusin muda yang datang dari luar Kalimantan, saya memerlukan waktu dan
kondisi-kondisi tertentu yang memungkinkan tumbuhnya perasaan at home. Tuntutan
untuk memulai hidup di tempat baru, bersama orang baru, dengan suasana yang
baru selalu diawali dengan rasa asing dan was-was apakah akan di terima atau
ditolak, dipandang dan diperlakukan sebagai bagian dari komunitas atau sekadar
penumpang sementara. Saya harus mengakui bahwa perhatian, rasa hormat,
kehangatan dan keramahan yang Kakek Sanding tunjukkan sejak hari pertama saya
tiba di Menjalin (15 Desember 2003) sampai hari terakhir (26 Juni 2005),
terutama di saat-saat sulit, membuat saya merasa “di rumah” dan bersama
saudara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Oleh karena itu, bersama semua kembang di taman hati dan alam
lepas, hati saya bersyukur dalam nyanyian riang penuh syukur untuk kehadiranmu
yang menyentuh, menggembirakan dan menguatkan dalam perjalanan sejarah pribadi
setiap saudara dan saudari, juga sejarah kolektif kapusin dan Gereja Indonesia.
“Semua Kembang Bernyanyi Riang: Selamat Jalan Pastor Sanding Tercinta” adalah
sapaan kami semua untukmu. Saya menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai
“Kakek Sanding” tentu karena cocok untuk pria seusiamu yang memang sudah sepuh
dan pantas kami panggil “Kakek”. Namun saya menggunakannya juga dengan perasaan
dan makna lain yang lebih dari sekedar usia 81 tahun masa hidupmu. Saya
menyapamu dan akan selalu mengingatmu sebagai “Kakek Sanding” lebih sebagai
ungkapan kedekatan dan rasa kasih sayang sebagai saudara yang telah kau sentuh
dengan kegembiraanmu yang alami, perhatianmu yang tulus, keramahanmu yang
hangat, dan rasa hormatmu yang tidak membedakan warna dan umur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 12.0pt; line-height: 107%;&quot;&gt;Semoga bagi semua saudara dan umat,engkau akan selalu
dikenang dan dirindukan sebagai pribadi kapusin dengan catatan sejarah yang
baik seperti kutipan untuk almarhum Pastor Pasificus Bong. Bagi saya Kakek
Sanding selalu menjadi “&lt;i&gt;A great man with a loud voice but a gentle heart and
quiet manners&lt;/i&gt;”. Mungkin benar bahwa dalam distribusi tanggung jawab pelayanan,
Kakek Sanding selalu menjadi Pastor Pembantu Paroki dan tidak sekali pun
mendapat tanggung jawab sebagai Pastor Kepala Paroki. Dengan demikian, bisa
saja ada kesan bahwa &lt;i&gt;“in company your
presence was barely noticed, because you did not say much and only give your
opinion when asked for it. Namun untuk saya “you always give it in short, but
precise wording, identifying the matter in a touching way”.&lt;/i&gt; Saya menjadi
saksi bahwa Kakek Sanding telah hadir sebagai &lt;i&gt;someone who knows how to listen,
surprising me and everybody by your balanced wisdom free from emotions.&lt;/i&gt; Selamat
Jalan Kakek Sanding Tercinta! Semua kembang Bernyanyi Riang bersama doa dan
cinta kami untuk mengiringi perjalananmu kembali ke rumah Bapa kita. Amin. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 107%;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;- P.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 16px;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Isidorus Yoseph Jawa, OFMCap.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 17.12px;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt;&quot;&gt;Roma, Jumat 3 Februari 2017)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/5823567972777619923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/02/semua-kembang-bernyanyi-riang-selamat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5823567972777619923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5823567972777619923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/02/semua-kembang-bernyanyi-riang-selamat.html' title='“Semua Kembang Bernyanyi Riang”: Selamat Jalan Pastor Sanding Tercinta!'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-dPR7FjdpwSzVw94Nif0qGc6fzXrTATh7UJjkIhOUs1iPL1YPeiHs_GMoWMdKUKc4jImisXzp1ceXv4LNijzeTd38-PwzkykDfX4JRzc5Navttcu6Pvx_2z9XF_fPvj4x4Hq38GWanI_/s72-c/kakek1.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-6927385684748841587</id><published>2017-02-01T09:44:00.000-08:00</published><updated>2017-02-02T22:41:41.659-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Ordo"/><title type='text'>Pastor Sanding telah Berpulang ke Rumah Bapa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDHK8t9JzkG5zDKrGF425cahlz2GH_4s7ZwD8uZNMTEX3c5vLiq8uHWECAzuHdAS53YoN-1Fm9z-RQ9lsQbkYCUhrTR6H9Z-GRzsUL0b7znwezSDWVGZcxyvJH5h1b-cqdouKG1tO75CTx/s1600/010+P+Matheus+Sanding.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDHK8t9JzkG5zDKrGF425cahlz2GH_4s7ZwD8uZNMTEX3c5vLiq8uHWECAzuHdAS53YoN-1Fm9z-RQ9lsQbkYCUhrTR6H9Z-GRzsUL0b7znwezSDWVGZcxyvJH5h1b-cqdouKG1tO75CTx/s320/010+P+Matheus+Sanding.jpg&quot; width=&quot;270&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pastor Mattheus Sanding OFMCap, atau yang lebih akrab disapa P. Sanding, lahir di Nyandang, Sanggau Kapuas, pada tanggal 23 Desember 1935 dari sebuah keluarga petani sederhana. Beliau adalah anak pertama dari lima bersaudara. Pada masa kecilnya, beliau tidak pernah bercita-cita menjadi seorang imam. Namun, beliau kemudian mengagumi figur pastor-pastor misionaris Ordo Kapusin dari Belanda dan mulai tertarik dengan jubah coklatnya. Maka setelah menamatkan jenjang Sekolah Rendah (SR), beliau memutuskan untuk masuk ke Seminari Menengah St. Paulus Nyarumkop dan bercita-cita menjadi imam Kapusin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak masa mudanya, P, Sanding sudah memiliki devosi yang mendalam kepada Santa Perawan Maria. Devosi ini pulalah yang dihidupi dan dijalankannya dengan setia sampai akhir hayatnya. Melihat adanya potensi yang baik dalam diri P. Sanding yang kala itu masih muda, P. Honorius van den Heijde, OFMCap. – selaku Pimpinan Umum Persekolahan Nyarumkop – meluluskan permohonannya sebagai calon novis Ordo Kapusin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
P. Sanding menempuh pendidikan tahap pertamanya di Novisiat St. Fidelis, Parapat, Sumatera Utara. Beliau diterima sebagai calon novis pada tanggal 01 Agustus 1959. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 02 Agustus 1960, beliau diperkenankan untuk mengucapkan kaul perdananya di hadapan P. Marianus van den Acker, OFMCap., Magister Novisiat dan Superior Regularis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu. Dengan penerimaan kaulnya ini, P. Sanding dinobatkan sebagai orang Dayak pertama yang menjadi imam dalam persaudaraan Ordo Kapusin di Indonesia. Tahun berikutnya (1961) Mgr. Hieronymus Bumbun, uskup Emeritus Keuskupan Agung Pontianak, menyusul dan mengikuti jejaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
P. Sanding selalu bangga dengan masa-masa pendidikannya di STFT (Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi) yang kala itu berpusat di Parapat. Pada waktu itu, ada sekitar 13 dosen yang dengan setia mengajarinya. “Saya selalu menjadi juara pertama di kelas,” demikian selorohnya. Betapa tidak, dosen-dosen tersebut hanya memiliki satu orang murid, P. Sanding!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komitmen P. Sanding untuk menjalani hidup sebagai seorang biawaran Ordo Kapusin dari hari ke hari semakin kokoh. Itulah sebabnya pada tanggal 02 Agustus 1963, beliau dengan penuh ketetapan hati mengikrarkan kaul kekalnya di hadapan pimpinan pada waktu itu, P. Gonzalvus Snijders, OFMCap. Pengikraran kaul kekal ini sekaligus menjadi tanda bahwa seluruh hidup dan baktinya akan didedikasikan bagi Allah, Ordo Kapusin, dan umat yang dilayaninya. Tiga tahun kemudian, tepatnya tanggal 05 Maret 1966, P. Sanding menerima tahbisan imamat suci dari Uskup Agung Pontianak yang pertama, Mgr. Herculanus J.M. van der Burgt, OFMCap. Jejaknya menjadi seorang imam Ordo Kapusin ini kelak akan diikuti pula oleh adik kandungnya, P. Paduanus Aga, OFMCap. yang juga masuk sebagai calon novis Kapusin pada tanggal 12 Januari 1976.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah pentahbisannya, P. Sanding ditunjuk untuk membantu pelayanan di Paroki Singkawang selama tiga tahun (1966-1969). Namun karena kebutuhan umat yang semakin meningkat, sementara jumlah tenaga imam belum memadai, beliau kemudian ditugaskan sebagai pastor rekan di Paroki Pahauman selama enam tahun (1969-1975). Dari sana, beliau kemudian diutus untuk melayani di Paroki Batang Tarang selama empat tahun (1975-1979). Beliaulah perintis awal berdirinya gereja Katolik di Sosok, Tayan Hulu (sekarang Paroki Kristus Raja, Sosok).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Tempat P. Sanding melayani paling lama adalah di Paroki Menjalin, Mempawah Hulu (dan Tiang Tanjung). Selama kurang lebih 30 tahun (1979-2009), beliau melayani umat di paroki ini tanpa kenal lelah. Selain menangani tugas parokial, P. Sanding juga merupakan anggota aktif team pengelola Majalah Paroki, &lt;i&gt;Batakki &lt;/i&gt;(Berita Antar Kampung Kita).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 2009 beliau diminta oleh pimpinan untuk pindah dan memperkuat personil di Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak, Sei Raya. Kehadiran P. Sanding di komunitas pusat ini sungguh membawa berkat dan nuansa tersendiri. Beliau adalah sosok pendoa yang ulung dan memiliki devosi istimewa kepada Bunda Maria; beliau juga sering memberikan berkat untuk para saudara muda yang meminta doanya. Di samping itu, kepribadiannya yang ceria dan humoris mampu menghidupkan suasana yang kaku menjadi akrab, di mana pun beliau berada. Bahkan dalam acara pertemuan para imam muda (IMUD), beliau seringkali menyempatkan diri untuk hadir dan bersenda-gurau dengan para imam lain yang berusia jauh di bawahnya. Kendati sering diejek oleh para saudara yang lebih muda, beliau tidak pernah marah. Terkait hal ini, P. Faustus Bagara, OFMCap. memberikan kesannya, “dia sumber kegembiraan bagi komunitas, setia dalam doa, tidak mau merepotkan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
P. Sanding juga terkenal dengan semangat kerja kerasnya, beliau tidak pernah diam. Sekali diberi kepercayaan untuk menekuni sebuah pekerjaan, hal tersebut akan dikerjakan sebisa-bisanya sampai tuntas. Lebih daripada itu, keutamaan lain yang dimiliki oleh P. Sanding adalah kesederhanaan dalam hidup. Beliau tidak memiliki banyak tuntutan dalam hidup, dan dengan senang hati menggunakan apa saja yang diberikan oleh persaudaraan kepadanya. Maka dengan sendirinya, beliau merupakan salah satu figur teladan bagi para saudara muda Ordo Kapusin Propinsi Pontianak maupun seluruh umat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Satu hal yang agak sulit untuk diterka dari P. Sanding adalah untuk memastikan apakah beliau sedang sakit atau sehat-sehat saja. Kerapkali, beliau pandai menyembunyikan perasaan sakitnya agar tidak diketahui oleh orang lain. Beliau tidak ingin menyusahkan para saudaranya dan karenanya sangat jarang mengeluh ketika sakit. Itulah yang terjadi pada tanggal 01 Februari 2017. Tanpa ada keluh-kesah ataupun tanda-tanda aneh sebelumnya, P. Sanding tiba-tiba ditemukan telah meninggal dunia pada saat jam tidur siangnya, yakni sekitar jam 16.00 WIB. Terkait hal ini, P. Iosephus Erwin, OFMCap. berkomentar, “saudara yang sederhana itu telah pergi dengan cara yang sederhana pula.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemazmur berkata, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun” (Mzm. 90:10). P. Sanding menutup usia pada umur 81 tahun; menjalani hidup sebagai biarawan Kapusin selama 57 tahun; dan melayani sebagai imam lebih dari 50 tahun. Selamat jalan saudara kami yang baik, selamat berpisah kakek tercinta… Kami percaya bahwa Allah menerimamu dalam kebahagiaan para kudus-Nya di surga. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini. &lt;i&gt;&lt;b&gt;- P. Pionius Hendi, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;u&gt;NB&lt;/u&gt;: Misa Requiem dilaksanakan pada hari Jumat, 03 Februari 2017, jam 9.00 WIB. Jenazahnya dimakamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir, di Pemakaman Santo Yusuf, Sungai Raya, Pontianak.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/6927385684748841587/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/02/pastor-sanding-telah-berpulang-ke-rumah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/6927385684748841587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/6927385684748841587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2017/02/pastor-sanding-telah-berpulang-ke-rumah.html' title='Pastor Sanding telah Berpulang ke Rumah Bapa'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDHK8t9JzkG5zDKrGF425cahlz2GH_4s7ZwD8uZNMTEX3c5vLiq8uHWECAzuHdAS53YoN-1Fm9z-RQ9lsQbkYCUhrTR6H9Z-GRzsUL0b7znwezSDWVGZcxyvJH5h1b-cqdouKG1tO75CTx/s72-c/010+P+Matheus+Sanding.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-3932731726781887456</id><published>2016-12-21T04:37:00.000-08:00</published><updated>2017-02-01T14:13:59.308-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Keuskupan Sintang Mempunyai Seorang Uskup Baru</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSdekPQmT4cR7b76mSr73txnuhlncaSpZjpqTvBPQRqInnjubWUx7cF9R8ADlD2CNop-lEnwSTjUW0cXbyvRF11kYh6V6MRPb7ufWk-U3nx-AwxVFNR_6u7EBCDMJkaHP8ST-P6nRTMs1n/s1600/Samuel+Sidin1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSdekPQmT4cR7b76mSr73txnuhlncaSpZjpqTvBPQRqInnjubWUx7cF9R8ADlD2CNop-lEnwSTjUW0cXbyvRF11kYh6V6MRPb7ufWk-U3nx-AwxVFNR_6u7EBCDMJkaHP8ST-P6nRTMs1n/s640/Samuel+Sidin1.jpg&quot; width=&quot;536&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;Sore ini, pada hari-hari menjelang pesta natal, persaudaraan Ordo Kapusin Pontianak menerima sebuah berita gembira: salah seorang angggota persaudaraan – Pastor Samuel Oton Sidin OFMCap. – ditunjuk oleh Paus Fransiskus menjadi uskup di Keuskupan Sintang. Keuskupan tersebut lowong sejak tanggal 03 Juni 2014, saat Mgr. Agustinus Agus diangkat menjadi Uskup Agung Pontianak. Penunjukan Pastor Samuel sebagai uskup ini terjadi hanya berselang satu minggu setelah perayaan ulang tahun beliau yang ke-62.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;S&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;edikit mengenai biografi beliau: Pastor Samuel lahir di Peranuk, Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang (Kalimantan Barat) pada tanggal 12 Desember 1954. Beliau masuk biara Kapusin di Parapat pada tanggal 12 Januari 1977, dan setahun kemudian beliau mengucapkan kaul perdananya, tepatnya pada tanggal 13 Januari 1978. Setelah menjalani pendidikan Filsafat dan Teologi, beliau mengucapkan kaul kekalnya di Pematangsiantar pada tanggal 18 Juli 1982. Dua tahun kemudian beliau ditahbiskan menjadi seorang imam Kapusin di tempat kelahirannya, tepat pada tanggal 01 Juni 1984. Setelah ditahbiskan, beliau memperoleh tugas pertamanya sebagai pastor rekan di Nyarumkop.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Selanjutnya,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;pada tahun 1985-1990, beliau diutus ke Roma untuk menempuh studi Master dan Doktoral di Universitas Antonianum dengan spesialisasi dalam bidang Spiritualitas Fransiskan. Disertasinya yang berjudul&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;(Peran Segala Makhluk Ciptaan dalam Pujian Santo Fransiskus kepada Allah) sungguh menjadi fondasi kuat yang mengantarnya pada penghayatan mendalam akan nilai-nilai kefransiskanan dalam dunia modern.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-indent: 36pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pastor Samuel adalah sosok pendoa, pendidik dan berjiwa pemimpin. Hidup doa menjadi poros utama dalam kehidupannya. Dalam bidang akademik, beliau pernah ditugaskan sebagai Socius maupun Magister di Novisiat Parapat, Sumatera Utara, antara tahun 1990-1997. Beliau juga banyak memberi retret dan rekoleksi bagi biarawan/biarawati, terutama yang terkait dengan spiritualitas fransiskan. Di samping berjiwa pendidik, beliau juga telah beberapa kali menjadi pimpinan umum (propinsial) Ordo Kapusin Pontianak, yakni pada tahun 1997-2000, 2000-2003, dan 2009-2012. Suatu kiprah kepemimpinan yang tidak bisa dimiliki oleh setiap orang!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Kendati bergelar doktor, pernah menjadi formator bagi para calon pastor/bruder Kapusin, serta beberapa kali menjadi pimpinan tinggi dalam Ordo Kapusin Pontianak, beliau tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau tidak segan-segan untuk bekerja di kebun dengan tangannya sendiri; terkadang sulit membedakannya dengan tukang kebun ketika beliau sedang bekerja mengenakan topi daun nipahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pastor Samuel adalah pribadi yang tidak banyak kata, tetapi banyak bekerja; beliau adalah &lt;i&gt;man of action.&lt;/i&gt; Namanya dikenal di kalangan luas (bahkan di antara orang-orang non-Katolik) bukan karena promosi yang dilakukannya, melainkan karena aksi nyatanya. Hal itu terutama tampak dalam usahanya untuk menghijaukan kembali lahan kritis di Bukit Tunggal, yang terletak di Dusun Gunung Benuah, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sei Ambawang, Kabupaten Kubu Raya (Kalimantan Barat) pada tahun 2003-2008. Dalam usahanya untuk pelestarian alam ini, beliau tidak segan-segan untuk menginap di sebuah pondok sederhana yang diberinya nama Rumah Pelangi, sebuah tempat yang saat ini mulai ramai menjadi tempat wisata rohani dan ekologis.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak mudah memang mengembangkan ide pelestarian alam seperti ini; banyak kekurangan finansial maupun rintangan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Namun seperti pepatah Latin mengatakan, &lt;i&gt;per aspera ad astra&lt;/i&gt; (menuju bintang melalui jerih payah), demikianlah usaha keras seseorang pada akhirnya pasti akan membuahkan hasil. Ketekunan dan keuletan Pastor Samuel membuahkan hasil yang memuaskan: beliau mendapat piagam penghargaan dari Dinas Kehutanan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, bahkan pada tahun 2012 beliau mendapat hadiah Kalpataru dari Presiden Republik Indonesia yang ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebuah pencapaian yang fantastis!&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tugas Pastor Samuel yang terakhir sebelum penunjukannya sebagai uskup adalah sebagai pastor kepala Paroki Santo Fransiskus Assisi, Tebet (Jakarta). Dan, pada hari ini – Rabu, 21 Desember 2016 – namanya diumumkan secara resmi di Vatican sebagai gembala utama di Keuskupan Sintang. Proficiat Bapa Uskup! Semoga menjadi gembala yang baik bagi umat Allah di tempat yang baru. –&lt;b&gt;&lt;i&gt; P. Pionius Hendi, OFMCap.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/3932731726781887456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/12/keuskupan-sintang-mempunyai-seorang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3932731726781887456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3932731726781887456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/12/keuskupan-sintang-mempunyai-seorang.html' title='Keuskupan Sintang Mempunyai Seorang Uskup Baru'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSdekPQmT4cR7b76mSr73txnuhlncaSpZjpqTvBPQRqInnjubWUx7cF9R8ADlD2CNop-lEnwSTjUW0cXbyvRF11kYh6V6MRPb7ufWk-U3nx-AwxVFNR_6u7EBCDMJkaHP8ST-P6nRTMs1n/s72-c/Samuel+Sidin1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4058943082120300226</id><published>2016-10-29T04:51:00.001-07:00</published><updated>2016-10-31T19:13:34.557-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Peristiwa yang Terjadi pada Saat-Saat Terakhir Hidup Pastor Bart Janssen</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhquMyvjqQW7rMd19IjmUIyNeHqfIBAnqZYS7QZHJHz0DDjJh_9oje8P257xg7H0gTZG0gPNEh8no-3ddAlJIB6mFxuohBx3UL6SP9PmjYDGkeIR70buOeoIEWDLhgrxPbPT2PrDS7UFom5/s1600/bart-1+%25281%2529.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhquMyvjqQW7rMd19IjmUIyNeHqfIBAnqZYS7QZHJHz0DDjJh_9oje8P257xg7H0gTZG0gPNEh8no-3ddAlJIB6mFxuohBx3UL6SP9PmjYDGkeIR70buOeoIEWDLhgrxPbPT2PrDS7UFom5/s640/bart-1+%25281%2529.jpg&quot; width=&quot;480&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak diragukan lagi bahwa &lt;a href=&quot;http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/selamat-jalan-pastor-bart-janssen.html&quot;&gt;Pastor Bart Janssen, OFMCap.&lt;/a&gt; (3 Juli 1927 – 13 Oktober 2016) adalah permata yang sangat berharga, baik bagi persaudaraan Ordo Kapusin Belanda maupun Ordo Kapusin Indonesia, khususnya Ordo Kapusin Propinsi Pontianak. Beliau adalah seorang misionaris yang tangguh, bersemangat dan pantang menyerah. Beliau juga merupakan pimpinan Ordo Kapusin Propinsi Pontianak yang pertama, sebagai seorang peletak dasar yang kokoh bagi persaudaraan imam dan bruder Ordo Kapusin di Kalimantan Barat, Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berikut ini adalah “Kata Pengantar” dan “Renungan” yang disampaikan oleh P. Antoon Mars, OFMCap. (Guardian di Biara Kapusin Tilburg) pada saat acara perpisahan dan Misa Requiem yang dipersembahkan bagi almarhum P. Bart di Tilburg, Belanda, pada tanggal 18 Oktober 2016. Di dalamnya, banyak sekali informasi-informasi yang bernilai dan bersejarah. Team redaksi menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada P. Jan van Maurik, OFMCap. yang telah berjerih-payah untuk menerjemahkannya dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia. Selamat membaca...&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;KATA PENGANTAR&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selamat datang saudara-saudari sekalian yang telah berkenan hadir untuk menghormati  dan mensyukuri Sdr Bart Janssen karena hidupnya yang panjang dan lengkap, karena apa yang telah diperbuatnya dan karena siapa dia. Semoga kita berkumpul di sini dalam damai, atas nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Betapa indah rasanya Anda datang beramai-ramai: para Saudara Kapusin, terutama para mantan misionaris dari Kalimantan Barat dan para Saudara dari Biara Den Bosch, di mana Sdr Bart sempat tinggal selama sembilan tahun; para sanak-saudara, termasuk para cucunya – yang dengan tekun mengunjungi dia dan berada dekat bersamanya; para missionaris dari Ordo dan Kongregasi lain yang bekerjasama dengan dia; para  petugas di rumah kami, terlebih mereka yang merawat Sdr Bart sampai akhir hayatnya; teman-teman dan para sahabatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita semua datang karena Sdr Bart telah menyelesaikan misinya. Kita memperingatinya dengan penuh rasa terima kasih bersama dengan semua orang di Kalimantan Barat, yang pada hari ini bersatu dengan kita, yaitu mereka yang di pelbagai tempat telah mengenalnya sebagai seorang misionaris  yang rajin, seorang pekerja yang membanting-tulang demi Kerajaan Allah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sdr Bart adalah pertama-tama seorang misionaris: selama 48 tahun ia tinggal di Indonesia, yaitu dari tahun 1957 sampai tahun 2005. Misinya ialah membawa Yesus dan kabar baik-Nya karena ia yakin, bahwa jalan yang ditunjukkan oleh Kristus adalah memang jalan keselamatan yang membawa pada kebahagiaan dan sukacita bagi semua orang yang siap dan sanggup membuka diri bagi-Nya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu, waktu ia kembali pada tahun 2005, dia meneruskan misinya dan melengkapinya dengan pelayanannya bagi para Saudara di Den Bosch dan bagi banyak orang yang ia jumpai di luar biara pada berbagai kesempatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sore ini, kita mensyukuri dan memuliakan Tuhan yang Mahatinggi karena Ia telah memanggil Bart – sebagai imam Kapusin – untuk pertama-tama menjadi seorang misionaris. Banyak yang telah dibangun oleh Bart dalam misinya, dan hidupnya sendiri dibangun di atas bukit batu. Dengan keteguhan hati dan iman yang optimis, ia telah menanggung bermacam-macam penyakit yang dideritanya secara jiwa-raga dalam beberapa tahun terakhir ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teringat akan kenangan kita masing-masing mengenai Sdr Bart, marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah yang baik karena Sdr Bart telah sekian lama bersatu dengan kita. Dalam memimpin perayaan perpisahan ini, saya didampingi oleh Propinsial kami, Sdr Gerard Remmers, dan Sdr Jan Philippus, Guardian Biara Den Bosch, yang juga adalah seorang mantan misionaris Indonesia. Marilah kita terlebih dahulu mohon kerahiman Tuhan atas segala kekurangan kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;
&lt;br&gt;
&lt;center&gt;
&lt;a href=&quot;https://drive.google.com/file/d/0B62s1qquGp-CVFNlN0hwcHRYVk0/view?usp=sharing&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;button&gt;&lt;b&gt; KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT FOTO-FOTO SAAT MISA REQUIEM &lt;/b&gt;&lt;/button&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/center&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;RENUNGAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saudara-saudari, sanak-saudara dan sahabat-sahabat yang baik. Tepat kurang empatbelas hari, Bart telah tinggal dua tahun lamanya di bagian perawatan di rumah kami, setelah ia terkena stroke pada tanggal 21 Juli 2014 . Keadaannya waktu itu buruk, ia lumpuh sebelah. Perawatan pertama diterimanya di Maria Oord, Rosmalen. Disana, ia telah berusaha dengan sebaik-baiknya dan cukup berhasil dalam revalidasinya, sehingga pada tanggal 27 Oktober 2014 ia pindah ke sini, Tilburg.  Dalam waktu dua tahun terakhir ini, kami semua sangat terkesan. Itulah sebabnya, saya memulai &lt;i&gt;In Memoriam&lt;/i&gt; ini dalam lingkaran waktu ini, dari sejarah hidupnya yang panjang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah yang saya dengar pada hari-hari terakhir ini dari para Saudara dan para perawat: Sdr  Bart sungguh seorang yang berjuang, yang pantang menyerah dan yang mau maju terus. “Segalanya akan beres,” demikian katanya berulang-ulang. Ia tekun latihan, jalan-jalan di biara dan ia yakin, bahwa ia akan bisa berjalan lagi dengan lancar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia biasanya menyinggung sebuah tulisan dari seorang profesor yang pernah mengalami hal yang sama sebagai pasien. Sdr Bart sungguh percaya bahwa ia akan sembuh. Kadang-kadang ia bertindak seolah-olah ia masih sanggup berbuat apa saja: memakai komputer, jalan-jalan ke luar biara, menerima tamu, bahkan ia menyempatkan diri setiap minggu untuk mengunjungi sebuah kelompok dari teman-teman senasib, yang mendorong dia untuk tetap bertahan. Menurut perasaannya, dia harus menghadiri setiap pertemuan di keluarganya atau di Biara Den Bosch, atau entah di mana saja...&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di samping semangatnya yang penuh kepercayaan ini, kadang-kadang ada juga sikapnya yang terlalu berani: ia kurang sanggup lagi menilai pembatasan-pembatasan dalam fungsi otaknya akibat stroke itu. Ia tetap yakin bahwa ia dapat melakukan hal-hal yang sebetulnya tak mungkin lagi diperbuatnya; itu terjadi sebagai akibat dari penyakitnya. Tetapi, ketekunannya untuk maju terus dan sikapnya yang pantang menyerah, sungguh mengagumkan. Kami semua benar-benar menyegani sikapnya itu… Lebih-lebih lagi, sesudah stroke-nya yang kedua: ia hampir tak dapat lagi berbicara dan menelan sesuatu. Makanannya diberikan melalui sonde sehingga ia tak dapat merasakan apa-apa, dan komunikasinya harus memakai sehelai karton dengan huruf-huruf di kursi rodanya. Namun ia tetap optimis dan bersemangat...&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mulai tanggal 06 September 2016  keadaannya memburuk, baik jiwa maupun badannya. Hari itu, kami para biarawan dan para petugas di rumah kami, jalan-jalan sambil berpiknik. Sdr Bart ikut, tetapi ia tak dapat menikmatinya benar; ia sedikit &lt;i&gt;down &lt;/i&gt;dan nampak sedikit pucat. Sejak hari itulah, keadaannya lambat-laun menyusut, semangatnya tampak pudar dan ia tak sanggup lagi bertahan. Ia ingin meninggal, sudah baik dan selesai semuanya. Ia berpamitan, memberkati sanak-keluarganya, lalu kami pun memberkatinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun Saudari Maut belum juga datang. Maka Sdr Bart minta lagi makanan serta mau memakai kursi rodanya. Dan keesokan harinya, ia duduk kembali di depan laptop dan tabletnya. Ia nampak juga di ruang doa dan ikut minum kopi dengan para Saudara di ruang rekreasi, namun ia tetap sangat lemah... Itulah keadaannya sampai pada hari Rabu yang lalu, waktu timbul komplikasi penyakitnya yang membutuhkan perawatan sementara di Rumah Sakit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari berikutnya (Kamis, 13 Oktober), ia terbaring terus di tempat tidurnya. Pikirannya terang, namun badannya letih. Dan tepat pada waktu kami sedang minum kopi, ia meninggal secara mendadak. Kami dengan sebulat hati menyerahkannya kepada Sang Penciptanya. Pada akhirnya ia boleh beristirahat, deritanya telah selesai; kita sungguh merelakan dia beristirahat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya sempat mempelajari riwayat hidup Sdr Bart. Empat setengah tahun yang lalu, ia mengarangnya  untuk seseorang dari Best (Belanda) yang ingin menerbitkan sebuah buku tentang para misionaris dari kota itu. Sdr Bart memakai karangannya sebagai ucapan Selamat Natal/Tahun Baru kepada sanak-saudaranya, dan menandatanganinya dengan nama “Paman Theo”. Dalam karangan ini, saya juga membaca tentang perjuangan, sikap pantang menyerah, dan keteguhan dari seorang “yang membangun rumah hidupnya di atas bukit batu”. Izinkanlah saya mengutip beberapa hal, kadang-kadang dengan perkataannya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ibunya yang tercinta berasal dari kampung Langeweg (tempat Seminari Menengah Kapusin dahulu), sesuatu yang pasti mempengaruhi pilihannya untuk hidup sebagai Kapusin. Pada mulanya, ia harus ke Enschede (ada sebagian dari Seminari Menengah di sana). Perjalanannya ke Enschede lumayan jauh, tetapi ia dapat naik kereta api dengan murah karena ayahnya bekerja di Perusahaan Kereta Api. Kemudian, ia kembali ke Langeweg untuk meneruskan pendidikannya di Seminari. Di sana ia mengalami akibat Perang Dunia II, yang sempat menghancurkan Seminari itu; suatu masa yang penuh ketakutan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah belajar di Seminari-Seminari Darurat  di Eindhoven, Tilburg dan Voorschoten, maka Theo masuk novisiat di Enschede pada tahun 1946, dan menerima nama Bartholomeus yang disingkatkan menjadi Bart. Pada tahun 1953, ia ditahbiskan menjadi imam bersama 8 teman sekelasnya, hanya Sdr Anastasius yang masih hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 1954, ia dihunjuk untuk bertugas di daerah misi. Maka, ia mengikuti kursus-kursus khusus sebagai persiapan. Namun, visa ke Indonesia belum bisa diperolehnya saat itu. Waktunya kemudian diisi dengan pelayanan kepada para katekumen, asistensi-asistensi keliling, dan ia sempat bertugas satu tahun lamanya sebagai Pastor Pembantu di Paroki Charlois, Rotterdam. Pada tanggal 13 Juni 1957, ia berangkat ke Indonesia dengan naik kapal &lt;i&gt;Willem Ruys&lt;/i&gt; dari pelabuhan Rotterdam. Maka mulailah pekerjaannya sebagai misionaris.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tempat tugasnya yang pertama adalah Jangkang Benua, bagian Timur dari Keuskupan Agung Pontianak. Perjalanannya yang pertama ke sana ditulisnya dengan teliti: “Berhari-hari lamanya kami berjalan. Semuanya serba primitif: tak ada alat komunikasi, tiada surat kabar selama bulan-bulan lamanya, taraf kehidupan rendah, bahasanya sulit, makanannya kurang biasa, pemondokan sangat sederhana, hanya bisa jalan kaki atau naik perahu di sungai.” Kadang-kadang ia bertindak sebagai ‘dokter’ dan membagikan obat-obatan. “Setelah tiga tahun, saya terkena sakit lambung dan dioperasi di Pontianak. Walaupun hidup di sana agak berat, namun itulah waktu saya yang paling memuaskan, penuh petualangan dan kaya akan kenang-kenangan...” Kemudian, ia bertugas sebagai pastor di Bodok dan Pahauman. Di antaranya, ia sebentar melayani di Singkawang sebagai pemimpin bruder-bruder muda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Habis liburannya yang pertama (1965), ia menerima tugas sebagai pastor paroki Santo Fransiskus di Jakarta. Hidupnya sebagai misionaris berubah drastis. Dari pihak keuskupan, ia menerima sebuah motor&amp;nbsp;&lt;i&gt;Vespa&lt;/i&gt;. Pada mulanya, ia membangun sebuah Sekolah Dasar, yang mana pada tahun 1968, Barack Obama (dengan nama Barry Suntoro) termasuk salah satu muridnya di kelas 1. Komplek paroki itu dilengkapi dengan sekolah-sekolah, gereja, klinik dan fasilitas organisasi-organisasi... Rumah-rumah ini pun dibangun di atas bukit batu. Ia berusaha terus-menerus sampai semuanya berfungsi sebagaimana mestinya.  Duapuluh tahun lamanya Sdr Bart tinggal di Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesuatu yang menonjol adalah keterlibatannya dalam gerakan “Marriage Encounter”, yang bertujuan membantu pasangan suami-isteri untuk berkomunikasi satu sama lain. “Saya bahkan turut serta dalam kepemimpinannya, memimpin banyak &lt;i&gt;weekend &lt;/i&gt;di kota-kota besar di Indonesia dan mengikuti konferensi-konferensi setingkat Asia. Maka, saya telah mengunjungi kongres-kongres di Seoul, Manila, Singapura, Sri Lanka, Bombay dan Tokyo”.  Pelayanan ini tetap sangat menarik bagi Sdr Bart.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kembali ke Kalimantan Barat (tahun 1968), ia ditempatkan di Sanggau Kapuas menjadi ekonom untuk Keuskupan Sanggau, dan kemudian juga ekonom bagi persaudaraan Kapusin di Regio Pontianak. Di antaranya, ia sempat mengambil bagian dalam kepemimpinan propinsi, tetapi juga diminta untuk meneruskan tugasnya membangun sebuah rumah retret dan kantor propinsialat yang baru.  Pada tahun 1991, ia dipilih menjadi Superior Kapusin. Lalu pada tahun 1994, ia dihunjuk menjadi Propinsial pertama untuk Ordo Kapusin Propinsi Pontianak (1994 – 1997).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sdr Bart bertambah tua, dan pada tahun 2001 ia harus menjalani operasi jantung. Setelah sembuh, ia  masih sempat bertugas selama  tiga tahun di Pontianak. Pada tahun 2005, ia pulang untuk selamanya ke Negeri Belanda. 48 Tahun lamanya ia bekerja sebagai seorang misionaris. Ia merasa bangga dengan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia sempat menyinggung situasi gerejawi dan hidup kepercayaan di Negeri Belanda. “Kepercayaan di sini hampir hilang seluruhnya. Mungkin akibat perbedaan budaya dengan dunia Timur/Selatan, maka saya merasa diri tidak sungguh-sungguh ‘&lt;i&gt;at home&lt;/i&gt;’. Untunglah, saya masih dapat bekerja sedikit, selama saya masih sehat.”... Bart mengisi waktunya dengan menerjemahkan teks-teks, dengan kontak bersama para mantan misionaris, dengan asistensi ke susteran JMJ, dengan sewaktu-waktu memimpin Misa dalam bahasa Indonesia, dengan tugasnya sebagai anggota pimpinan biara dan sebagai ekonom biara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikianlah Saudara Bart Janssen: ia seorang yang ramah, tetapi kadang-kadang tegas dalam soal  hukum Gereja. Ia seorang yang rajin berusaha, suka berbelanja dan membeli barang-barang di toko; ia selalu mengantongi sejumlah &lt;i&gt;dollar&lt;/i&gt;. Ia getol memakai barang: secara teknis, ada segala macam kemudahan padanya. Maka dapat dimengerti bahwa ia gemar akan usaha bangunan. Pada saat bersamaan, Sdr Bart adalah seorang imam yang saleh dengan devosi kuat terhadap Padre Pio serta Bunda Maria. Keduanya dihormatinya dengan sangat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sdr Bart tinggalkan jejak-jejaknya, di mana saja ia telah sempat berada, dan terutama oleh karena kepribadiannya: ia adalah seorang yang bersemangat, seorang optimis yang beriman teguh, yang membangun rumahnya di atas fondasi yang kokoh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Salah seorang perawat di rumah kami mengatakan, bahwa Sdr Bart pada akhirnya dapat menikmati santapan yang lezat sesudah sekian bulan, dengan menyalurkan makanan itu melalui sonde; ia sungguh-sungguh menikmatinya sedemikian rupa, katanya. Saya rasa, bahwa itulah yang dimaksudkan ketika kita berkata: semoga  ia untuk  selamanya terlindung dalam cinta Allah. Saudara Bart, terima kasih atas semuanya dan beristirahatlah dalam damai. (P. Antoon Mars, OFMCap.) – &lt;i&gt;&lt;b&gt;Penerjemah: P. Jan van Maurik, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&quot;Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;br&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/4058943082120300226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/peristiwa-yang-terjadi-pada-saat-saat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4058943082120300226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4058943082120300226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/peristiwa-yang-terjadi-pada-saat-saat.html' title='Peristiwa yang Terjadi pada Saat-Saat Terakhir Hidup Pastor Bart Janssen'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhquMyvjqQW7rMd19IjmUIyNeHqfIBAnqZYS7QZHJHz0DDjJh_9oje8P257xg7H0gTZG0gPNEh8no-3ddAlJIB6mFxuohBx3UL6SP9PmjYDGkeIR70buOeoIEWDLhgrxPbPT2PrDS7UFom5/s72-c/bart-1+%25281%2529.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-2118969691586511862</id><published>2016-10-19T06:23:00.003-07:00</published><updated>2016-10-21T08:49:49.708-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Selamat Jalan Pastor Bart Janssen</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhm4fR-8Zdu0WzfhMIyOcf2jcqo1mXA8rSVbKmrGo6po979LlJl9edV6IelaB_IaWb7ZlhDeodkLlXwdfnUemKBeV2ro3wakzvnoxaoMzKI21IzdfqD2hdvaC9e-3EYqUdSJoKKMvrtTIaM/s1600/CCI18102016.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhm4fR-8Zdu0WzfhMIyOcf2jcqo1mXA8rSVbKmrGo6po979LlJl9edV6IelaB_IaWb7ZlhDeodkLlXwdfnUemKBeV2ro3wakzvnoxaoMzKI21IzdfqD2hdvaC9e-3EYqUdSJoKKMvrtTIaM/s640/CCI18102016.jpg&quot; width=&quot;392&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Masa Muda&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pastor Bartholomeus Theo Janssen OFMCap., atau yang sering disapa sebagai Pastor Bart, lahir di Eindhoven, Belanda, pada tanggal 3 Juli 1927. Beliau adalah anak yang tertua dari 9 bersaudara. Sejak masih kanak-kanak, beliau memiliki devosi khusus kepada Santa Perawan Maria.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka tidak mengherankan, jika kecintaannya terhadap Bunda Maria telah mengantarkannya masuk ke Novisiat Kapusin pada tanggal 30 Agustus 1946 di Belanda. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1947, beliau mengucapkan kaul perdananya yang menjadi tanda bahwa beliau resmi sebagai anggota persaudaraan Ordo Kapusin Propinsi Belanda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perjalanannya sebagai seorang saudara Kapusin dijalaninya dengan penuh kesetiaan. Itulah sebabnya, pada tanggal 31 Agustus 1950 beliau berani mengikrarkan kaul kekal, yang menandakan keputusan finalnya untuk menjadi anggota tetap persaudaraan Ordo Kapusin Belanda untuk selama-lamanya. Tiga tahun berikutnya, beliau menerima tahbisan imamat pada tanggal 04 Agustus 1953.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Semangat Misioner&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Konstitusi Ordo Kapusin no. 174, 4 menyatakan bahwa “Ordo kita menerima tugas mewartakan Injil sebagai kewajibannya yang khas, biarpun, termasuk tanggungjawab seluruh Gereja. Kita memandang dan menerima karya misi itu sebagai salah satu dari usaha kerasulan kita yang terpenting.” Kata-kata indah dalam konstitusi ini telah mengobarkan semangatnya untuk menjadi seorang misionaris. Beliau ditunjuk untuk mengembangkan misi di Kalimantan Barat (&lt;i&gt;West Borneo&lt;/i&gt;). Pada tanggal 09 Juli 1957, beliau menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di bumi Borneo.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada awal karya misinya, beliau aktif melayani di pedalaman Jangkang Benua. Tiga tahun kemudian, beliau pindah ke Bodok. Tak lama sesudahnya, beliau pun ditugaskan ke Singkawang sebagai pemimpin para saudara muda. Dari sana, beliau lalu menjadi pastor rekan di Pahauman.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada awalnya, Ordo Kapusin di Indonesia masih ditangani oleh tenaga misionaris dari Belanda. Pimpinan Ordo Kapusin saat itu disebut sebagai Superior Regularis. Waktu itu, Vikarius Apostolik untuk Borneo, Mgr. Herkulanus J.M. van den Burgt, OFMCap. (13 Juli 1957 - 02 Juli 1976) meminta agar Superior Regularis Ordo Kapusin membuka sebuah rumah persaudaraan Kapusin di Jakarta.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk kebutuhan itu, P. Bart diutus ke Jakarta pada tanggal 31 Agustus 1966. Beliau ditugaskan untuk mempersiapkan wilayah Menteng Dalam dan Tebet menjadi paroki mandiri (Paroki St Fransiskus Assisi), terpisah dari tiga paroki sekitarnya. Selama kurang lebih setengah tahun, beliau menjalankan tugasnya dari sebuah pastoran Serikat Jesuit (SJ) di Bidara Cina. Misi awal di Paroki Tebet ini tidaklah berjalan mulus dan damai karena letaknya di tengah daerah pemukiman muslim. Namun dengan adanya pembangunan sekolah, aula, dan poliklinik – lewat kerjasama dengan para suster SFIC, maka perlahan-lahan konflik tersebut mereda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selama pelayanannya 20 tahun di Jakarta, P. Bart merupakan sosok yang aktif dalam gerakan &lt;i&gt;Marriage Encounter&lt;/i&gt; (ME). Beliau mendampingi pasangan-pasangan yang hendak menikah dan meletakkan fondasi iman bagi perkawinan mereka. Selain itu, P. Bart juga pernah menjabat sebagai ekonom di Keuskupan Sanggau; menjadi pastor paroki di Paroki Sungai Raya, Pontianak; dan menggagas berdirinya Rumah Retret Tirta Ria dan Propinsialat Ordo Kapusin Pontianak. Beliau memiliki wawasan praktis, bekerja cekatan dan memiliki penilaian yang seimbang atas setiap orang, yang menjadikannya layak sebagai pemimpin yang berkualitas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Minister Propinsial Pertama&lt;/b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara itu, banyak sekali perubahan yang telah terjadi dalam wajah Gereja Katolik di Indonesia. Setelah lewat pertimbangan yang matang, maka pada tanggal 31 Januari 1976, Ordo Kapusin di Indonesia mulai berkembang dan dibagi menjadi tiga regio (Medan, Pontianak dan Sibolga). Pimpinan tertinggi regio itu disebut Superior Regionis. Ada dua nama Superior Regionis Ordo Kapusin Indonesia pada waktu itu, yakni P. Amantius Pijnenburg (1975-1981) dan P. Franz Xaver Brantschen (1981-1990).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 1990, P. Bart terpilih sebagai Superior Regionis yang terakhir, sebelum terbentuknya tiga propinsi mandiri pada tanggal 21 Februari 1994. Setelah meletakkan dasar bersejarah ini, beliau kemudian terpilih menjadi Minister Propinsial pertama Ordo Kapusin Propinsi Santa Maria Ratu Para Malaikat, Pontianak, untuk periode 1994-1997.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Setelah pensiun dari tugasnya sebagai pimpinan ordo, P. Bart banyak menghabiskan waktunya untuk pelayanan bagi persaudaraan, terutama managemen perpustakaan ordo di Tirta Ria, Pontianak, di samping tugas-tugas parokial dan kategorial lainnya. Singkatnya, beliau telah memberikan pelayanan yang terbaik bagi perkembangan Ordo Kapusin dan Gereja Katolik di Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;Masa Tua&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keinginan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman dan juga karena kondisi fisik yang semakin menurun telah memaksa P. Bart untuk kembali ke negara asalnya, Belanda. Pada tahun 2005, beliau kembali ke propinsi induknya dan tinggal di Den Bosch. Di sana, beliau bertanggung jawab sebagai ekonom rumah, aktif melayani di gereja lokal, dan memimpin kelompok doa Padre Pio.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 2014, P. Bart menderita stroke, setengah badannya lumpuh. Kendati demikian, beliau tetap ceria dan optimis. Beliau tetap aktif dengan komputer, selalu siap menerima kunjungan dan berterima kasih untuk setiap perhatian yang diberikan kepadanya. Namun, situasinya memburuk setelah serangan jantung kedua yang menyebabkannya hampir tidak bisa berbicara dan menelan makanan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 13 Oktober 2016 di biara Kapusin di Tilburg, setelah menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Beliau menutup usia pada umur 89 tahun, setelah mengabdi selama 70 tahun sebagai anggota Ordo Kapusin Propinsi Belanda, 63 tahun sebagai imam Kapusin dan 48 tahun sebagai misionaris di Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Misa requiem dan pemakaman dilaksanakan di Gereja Biara Kapusin Korvelseweg (Korvelseweg 165, 5025 JD Tilburg) pada hari Selasa, 18 Oktober 2016 pada pukul 15.00 waktu di Belanda. Semoga Allah, sumber segala kebaikan membawanya pada sukacita abadi. Selamat jalan pater tercinta, doakanlah kami yang masih berjuang di dunia ini. -&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;P. Pionius Hendi, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/watch?v=G5ODC-l9HcU&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT VIDEO SINGKATNYA&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&amp;lt;&amp;lt;&amp;lt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;Beberapa foto terakhir Pastor Bart Janssen, OFMCap.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;(Kontributor: Br. Jan Wijnans, OFMCap. &amp;amp; Br. Wilhelmus Baknenok, OFMCap.)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;3&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs7l8Q_QQ_4e_bpXdLAQZ5RknzhOdQWxNqpwBnj8DUZUvKPlzn2YuHQJHlyyrhhxTk5gP5fhb5nY0-163lzIJJGmM4Orx1UwpY2OC2uBTCAzj23vpQnZmR9ulq0rXDX9Cl7pCf6nUWrZ0I/s1600/bart4.jpg&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs7l8Q_QQ_4e_bpXdLAQZ5RknzhOdQWxNqpwBnj8DUZUvKPlzn2YuHQJHlyyrhhxTk5gP5fhb5nY0-163lzIJJGmM4Orx1UwpY2OC2uBTCAzj23vpQnZmR9ulq0rXDX9Cl7pCf6nUWrZ0I/s640/bart4.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6ZyK4pnZB8feAcMIzIuFGbQug2H6bJO8xBKkdoMv3zJ9wNsY6F_eHCcXYMXyodheY1oc5IYFbsR3qfi1C_ttQyBv11iTFKtTZO9ORG0qAk8BxWITB2LDTRGOYILfbL1aB2cHBrv3QSkNk/s1600/bart2.jpg&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6ZyK4pnZB8feAcMIzIuFGbQug2H6bJO8xBKkdoMv3zJ9wNsY6F_eHCcXYMXyodheY1oc5IYFbsR3qfi1C_ttQyBv11iTFKtTZO9ORG0qAk8BxWITB2LDTRGOYILfbL1aB2cHBrv3QSkNk/s640/bart2.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUEEntRgwbxh-iWFfz27AuA-aFHpUZe-iqDMC_TvNBPb7pSJ9zKa0hm13u0CO1YyOm2JplP6TuymPswW0pErfE0XAlkEPmeS8TeYT-EaW6BdjLlC9j2TjEN6ZbzTub_8ITmRXhUZel_jiE/s1600/bart3.jpg&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUEEntRgwbxh-iWFfz27AuA-aFHpUZe-iqDMC_TvNBPb7pSJ9zKa0hm13u0CO1YyOm2JplP6TuymPswW0pErfE0XAlkEPmeS8TeYT-EaW6BdjLlC9j2TjEN6ZbzTub_8ITmRXhUZel_jiE/s640/bart3.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;3&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/center&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/2118969691586511862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/selamat-jalan-pastor-bart-janssen.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2118969691586511862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2118969691586511862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/selamat-jalan-pastor-bart-janssen.html' title='Selamat Jalan Pastor Bart Janssen'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhm4fR-8Zdu0WzfhMIyOcf2jcqo1mXA8rSVbKmrGo6po979LlJl9edV6IelaB_IaWb7ZlhDeodkLlXwdfnUemKBeV2ro3wakzvnoxaoMzKI21IzdfqD2hdvaC9e-3EYqUdSJoKKMvrtTIaM/s72-c/CCI18102016.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-850370563927568024</id><published>2016-06-26T06:10:00.001-07:00</published><updated>2016-10-21T02:19:21.547-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Ordo"/><title type='text'>Awal Mula Ordo Saudara-Saudara Dina (1209-1226)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipeZ1m9dhjNgM6xvHXdkOUrleZb97Fb5tLyk3r4b6dHbaavRLzqeFhlpgpoA2I2iZwFyLNftRjzRASnGAEAwAVoou1JSRjuJB9oV84YtJV6GwHZowfNxtSW1DR9N0JpQ6Iwzk0GkV6W-3o/s1600/Francisbyelgreco.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipeZ1m9dhjNgM6xvHXdkOUrleZb97Fb5tLyk3r4b6dHbaavRLzqeFhlpgpoA2I2iZwFyLNftRjzRASnGAEAwAVoou1JSRjuJB9oV84YtJV6GwHZowfNxtSW1DR9N0JpQ6Iwzk0GkV6W-3o/s400/Francisbyelgreco.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ordo Saudara-saudara Dina lahir pada tanggal 16 April 1209, ketika Fransiskus Assisi bersama Bernardus dari Quintavalle dan Petrus Catanii tiga kali membuka buku Injil dan melaksanakan Sabda Allah yang mereka temukan itu. Fransiskus mencatatnya dalam sebuah Anggaran Dasar singkat yang disahkan secara lisan oleh Paus Innocentius III.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fransiskus adalah pemimpin dan pendiri Ordo yang baru ini, dan ia pula yang memilih namanya: &quot;Ordo Saudara-saudara Dina&quot;&amp;nbsp;&lt;i&gt;(Ordo Fratrum Minorum)&lt;/i&gt;. Ordo ini berkembang dengan pesatnya, di Eropa dan juga di Timur&amp;nbsp;Tengah. Para saudara hidup sebagai perantau dan pewarta Injil, di bawah bimbingan satu minister dan hamba seluruh persaudaraan. Dari waktu ke waktu, mereka semua berkumpul untuk membicarakan cara hidup mereka dan menimba semangat baru. Cara hidup mereka dilukiskan dalam Anggaran Dasar yang mengikuti perkembangan hidup persaudaraan. Pada tanggal 29 Nopember 1223, Paus Honorius III mengesahkan Anggaran Dasar ini secara definitif. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cara hidup Saudara-saudara Dina memang baru dan sangat menarik bagi banyak orang, tetapi tidak selalu mudah. Hidup merantau sambil mewartakan Injil menuntut semangat religius sejati dan hanya cocok bagi orang yang matang. Padahal, mula-mula penyaringan calon dan pendidikan saudara baru kurang diperhatikan. Sehingga ada saudara yang hidup secara tak teratur, yang berkeliaran di luar ketaatan, dan ketularan ajaran sesat (bidaah). Demikian pula persaudaraan muda ini telah tergantung dari pribadi Fransiskus sendiri. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk menanggulangi kesulitan itu, Fransiskus minta bantuan Kuria Roma, khususnya Kardinal Hugolino, yang kemudian menjadi Paus Gregorius IX. Maka para calon diwajibkan menempuh tahun novisiat sebelum mengucapkan kaul. Para saudara mulai menetap di rumah biara yang dipimpin oleh seorang guardian dan mempunyai tata harian seperti lazim bagi semua biarawan. Ikatan dengan Gereja diperteguh melalui jabatan kardinal protektor, dan bahaya bidaah ditangkis dengan pen- didikan teologi yang baik.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1226, Ordo Saudara-saudara Dina tersebar di hampir seluruh Eropah dan di Timur Tengah. Jumlah saudara kira-kira 5000 orang, terbagi atas 12 - 13 propinsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;(Sumber: Sejarah Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin 1525-1990. Parapat: 1990).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/850370563927568024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/06/awal-mula-ordo-saudara-saudara-dina_97.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/850370563927568024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/850370563927568024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/06/awal-mula-ordo-saudara-saudara-dina_97.html' title='Awal Mula Ordo Saudara-Saudara Dina (1209-1226)'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipeZ1m9dhjNgM6xvHXdkOUrleZb97Fb5tLyk3r4b6dHbaavRLzqeFhlpgpoA2I2iZwFyLNftRjzRASnGAEAwAVoou1JSRjuJB9oV84YtJV6GwHZowfNxtSW1DR9N0JpQ6Iwzk0GkV6W-3o/s72-c/Francisbyelgreco.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-7316803086124729560</id><published>2016-06-01T06:49:00.001-07:00</published><updated>2016-10-20T04:34:08.438-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Tubuh Kristus Diarak di Kota Brisbane</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv_nDN96X1uWlxfpRxBp2QzknUntKC236rvD6bQr-oOa74GB_FQr6dmkil0CXeaj4iJvqGyy5g0cLHA-KsCqLVTLKWNYsJpsi9sA__UCUD6y-WCBhBwKAP68WrHZEs-C4wzH1Dza9t2RKB/s1600/20160529_143736.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv_nDN96X1uWlxfpRxBp2QzknUntKC236rvD6bQr-oOa74GB_FQr6dmkil0CXeaj4iJvqGyy5g0cLHA-KsCqLVTLKWNYsJpsi9sA__UCUD6y-WCBhBwKAP68WrHZEs-C4wzH1Dza9t2RKB/s640/20160529_143736.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
BRISBANE - Sekularisasi dan modernisasi tidak menyurutkan semangat umat Katolik dalam menghayati dan menghidupi imannya. Sebaliknya, hal itu justru menantang mereka untuk semakin berani menampakkan diri sebagai saksi Kristus di dalam dunia. Semangat itulah yang tampak nyata dalam kegiatan &lt;i&gt;Corpus Christi Procession&lt;/i&gt; yang diadakan pada hari Minggu, 29 Mei 2016 di Katedral St Stephen, Brisbane (Australia).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Uskup Agung Brisbane, Mark Coleridge D.D., mengizinkan agar prosesi yang biasanya dilaksanakan di luar kota ini, pada tahun 2016 ini, bisa dilakukan di tengah-tengah keramaian kota Brisbane. Dan itulah yang memang terjadi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kegiatan ini diawali dengan doa Rosario pembuka pada jam 1.30 siang. Perarakan kemudian dimulai tepat pada jam 2.00 siang, dipimpin oleh Uskup Auxilier Brisbane, Joseph Oudeman OFMCap. dengan didampingi oleh misdinar, seminaris, suster-suster dan para imam, termasuk beberapa imam dari Ritus Timur. Dalam perarakan ini, Sakramen Mahakudus ditakhtakan dalam sebuah monstran indah dan ditudungi. Sementara itu, umat yang jumlahnya lebih dari 1000 orang mengikuti dari belakang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDmRTf7jitaLTCU2h11_Aiq5Y5c8NlfZLlUzk60yzCxgHOPduk_1sl5uQWFsx7xpXQy9oCHs7ymuL7r9uK5YJhPko9jiL_BShxdaAxwKUbqGkAcbou-6gHulLC1UdNAyZ_ibL6E6ikK-v2/s1600/20160529_141339.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDmRTf7jitaLTCU2h11_Aiq5Y5c8NlfZLlUzk60yzCxgHOPduk_1sl5uQWFsx7xpXQy9oCHs7ymuL7r9uK5YJhPko9jiL_BShxdaAxwKUbqGkAcbou-6gHulLC1UdNAyZ_ibL6E6ikK-v2/s640/20160529_141339.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mereka berjalan selama kurang lebih dua jam melintasi jalan-jalan dan keramaian kota Brisbane di hari Minggu. Sepanjang perjalanan, kidung puji-pujian dilantunkan, doa Rosario didaraskan, dan ujud-ujud pribadi dipanjatkan. Lewat perarakan ini, umat Katolik menguduskan kota Brisbane bagi Kristus. Mereka benar-benar menerapkan apa yang pernah dikatakan oleh St Yohanes Paulus II, “Jangan takut membawa Kristus ke jalan-jalan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perarakan ini turut pula dimeriahkan dengan aneka spanduk atau umbul-umbul yang berasal dari kelompok-kelompok doa di paroki-paroki, seperti Legio Maria dan aneka persekutuan doa. Hadir juga komunitas-komunitas etnis dengan aneka coraknya, seperti: Indonesia, India, Filipina, Korea, China, Meksiko, dan lain-lain. Anak-anak sekolah pun tidak mau ketinggalan. Melalui kegiatan ini, inti iman Katolik diwartakan secara terang-terangan bagi dunia, yakni bahwa Kristus sungguh hadir nyata dalam Ekaristi. -&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;P. Pionius Hendi, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;Suasana Seputar Kegiatan&lt;i&gt; Corpus Christi Procession&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;center&gt;

&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/XuGpktmWvXg&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;/center&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/7316803086124729560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/06/tubuh-kristus-diarak-di-kota-brisbane.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/7316803086124729560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/7316803086124729560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/06/tubuh-kristus-diarak-di-kota-brisbane.html' title='Tubuh Kristus Diarak di Kota Brisbane'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv_nDN96X1uWlxfpRxBp2QzknUntKC236rvD6bQr-oOa74GB_FQr6dmkil0CXeaj4iJvqGyy5g0cLHA-KsCqLVTLKWNYsJpsi9sA__UCUD6y-WCBhBwKAP68WrHZEs-C4wzH1Dza9t2RKB/s72-c/20160529_143736.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Brisbane QLD, Australia</georss:featurename><georss:point>-27.4710107 153.02344889999995</georss:point><georss:box>-29.275130700000002 150.44166189999996 -25.6668907 155.60523589999994</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-3199339223013335770</id><published>2016-03-16T16:51:00.000-07:00</published><updated>2016-10-20T04:35:09.273-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Keluarga adalah Inti Pendidikan dalam Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_0qsr-tct98Qn_s-9S9suDoeCks1BiWBZMRhyphenhyphenCOPxVJdb88pBMF_7PFVHHa7of9cvyq8IusFXtAgdmtvSgVPH1LvIs34uhu3RV6eGoq8_JkK_wLgEaYEbU8BGUJ1bL2fhf4Gt6dSz-AS/s1600/Family.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_0qsr-tct98Qn_s-9S9suDoeCks1BiWBZMRhyphenhyphenCOPxVJdb88pBMF_7PFVHHa7of9cvyq8IusFXtAgdmtvSgVPH1LvIs34uhu3RV6eGoq8_JkK_wLgEaYEbU8BGUJ1bL2fhf4Gt6dSz-AS/s640/Family.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagian fundamen dari terbentuknya masyarakat sekarang ini adalah kehadiran dari keluarga-keluarga kecil. Keluarga adalah mikrokosmos dari dunia makrokosmos. Kehidupan kecil di tengah kehidupan yang maha besar. Karena iu sebuah keluarga bisa kita katakan sebagai  miniatur dari masyarakat yang luas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;KELUARGA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Keluarga adalah tempat persatuan/komunitas yang &lt;i&gt;genuine&lt;/i&gt;, asli. Sebagai komunitas yang asli, keluarga berperanan penting untuk menata kehidupan baru. Keluarga menjadi pusat perkembangan person secara jasmani maupun rohani. &lt;i&gt;Locus of attitude &lt;/i&gt;pertama dan menentukan. Disinilah wadah pemenuhan kehidupan moral dan keagamaan secara personal.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
“&lt;i&gt;The family is the basic cell of society and for that reason the primery locus of humanizatio&lt;/i&gt;n”. Keluarga menjadi sel/inti utama dari masyarakat. Dari padanya insan manusia baru di bentuk dan di beri pelajaran akan cinta kasih. Keluarga sebagai tempat yang sangat potensial dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Keluarga menjadi instrumen yang paling mendasar serta memiliki &lt;i&gt;power&lt;/i&gt;, untuk kebaikan anak di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
Peranan keluarga secara aktif sangat diperlukan, agar keutuhan keluarga yang bermartabat tetap utuh dan terjaga. Keluarga menjadi titik tolak untuk menentukan dan mengatakan tentang diri seseorang. “&lt;i&gt;pantaslah dia begitu karena orangtuanya aja seperti itu”, “bagaimana mungkin dia bisa mengurus orang banyak, keluarganya saja tidak beres”, “kalau mau mencari jodoh lihatlah bibit bebet dan bobotnya&lt;/i&gt;”. Keutuhan, integritas dalam sebuah keluarga sangat berarti untuk membentuk suatu pola pikir yang baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;ANAK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara kodrati penyatuan antara pria dan wanita yang diikat dengan sebuah perkawinan adalah ingin menghadirkan kembali manusia baru di muka bumi ini. Menjadikan suatu masyarakat besar yang tidak terputus. Menjadi perpanjangan Allah dalam karya penciptaan dan pemenuhan kebaikan di muka bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Allah memberikan tanda cinta yang paling nyata dalam sebuah keluarga ialah anak. Meskipun ada yang beranggapan kehadiran seorang anak di dalam keluarganya menjadi &lt;i&gt;trouble maker&lt;/i&gt;. Maka ada yang mencoba mengadopsi hewan piaraan (Kucing, Anjing, kelinci) sebagai pengganti anak. Mereka tidak mau direpotkan dengan kehadiran seorang anak. Manusia yang adalah Citra dari Allah (Kej. 1:26) dianggap sebagai pembuat masalah. Tentulah paham ini, tidak akan mampu memberikan kontribusi yang berarti dalam tatanan hidup bermasyarakat. Hampir dapat dipastikan kehadiran mereka hanya sebagai penikmat bukan pemberi nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini kita bisa bertanya, Apakah seorang anak yang lahir itu menjadi &lt;i&gt;trouble maker&lt;/i&gt;? atau pasutri itu yang tidak lagi bisa membedakan manusia dan hewan dalam hidupnya? Anak adalah harta yang tidak ternilai dan tak tergantikan oleh apapun. Karena bagaimanapun juga, anak adalah generasi, pewaris kehidupan yang akan memberikan kehidupan kepada makhluk hidup yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;TANTANGAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Keluarga yang merupakan bagian kecil dari kehidupan di dunia ini, memiliki suatu tanggung jawab yang tidak kecil. Gaya hidup yang terus berkembang, memberikan pesonanya tersendiri. Ditambah lagi dengan banyaknya permasalahan yang cenderung berakibat pada  kedisharmonisan.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
Radio, televisi, surat kabar, internet, komputer, hand phone dan lain sebagainya menjadi bagian penting yang juga mengisi kehidupan dalam sebuah keluarga. Instrumen-instrumen ini terkadang bisa menjadi malaikat sekaligus iblis pencabut nyawa. Dari situlah, peran orangtua sangat menentukan dalam pemanfaatan dan penggunaan alat peraga pendidikan kecerdasan manusia ini. Banyak kasus kejahatan anak-anak yang sering kita dengar berbuah dari kurangnya pengawasan orangtua atas penggunaan internet dan hand phone.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Rasionalitas &lt;/i&gt;dijadikan tolok ukur dalam modernitas yang membebaskan manusia dari sistem tradisi dan otoritas agama yang dogmatis. Namun di sisi lain, melahirkan proses &lt;i&gt;dehumanisasi&lt;/i&gt;. Jika anggota keluarga terlepas dari komunitas keluarga (&lt;i&gt;the community of family&lt;/i&gt;) dan bisa menjadikan dirinya kehilangan jati diri sebagai manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila  salah satu anggota keluarga terlepas dari komunitas, ia akan seperti “anak ayam kehilangan induknya”. Ia akan dihadapkan pada berbagai macam masalah, seperti krisis &lt;i&gt;alienasi&lt;/i&gt;, krisis identitas, dan krisis &lt;i&gt;depersonalisasi&lt;/i&gt;. Krisis yang dialami secara &lt;i&gt;continue&lt;/i&gt; berbagai macam bentuk mampu berdampak bagi keluarga itu sendiri, serta cenderung mengarah pada pola hidup yang &lt;i&gt;konsumeristis, hedonitas&lt;/i&gt;, dan dapat mengarah pada tindakan kriminal, serta ‘amoral’  di dalam keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;CINTA KASIH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&quot;&lt;i&gt;Cinta kasih merupakan panggilan yang sangat mendasar bagi setiap manusia dan sudah tertera dalam kodratnya&lt;/i&gt;&quot;.  Maka penekanan di dalam anggota keluarga yang integral ialah cinta kasih. Cinta tidak hanya menjadi kata-kata belaka namun, tercermin dalam segala perbuatan, baik di dalam keluarga maupun di masyarakat. Sebab cerminan ini, telah diwariskan oleh Allah yang penuh Kasih yang menciptakan manusia. Cinta Kasih adalah hukum utama dan terutama dalam sebuah masyaratkat kecil, yang menjadi bagian dari masyaratkat yang luas.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Penanaman cinta kasih di zaman global sekarang ini, bisa menjadi kunci keberhasilan dalam sebuah keluarga. Sebab pemberian cinta yang ditujukkan kepada seorang anak akan berpengaruh pada masa pertumbuhan menju dewasa. Seseorang akan bisa mencintai apabila ia pernah merasakan cinta. Demikian halnya, kasih dapat diberikan seseorang karena ia pernah merasakan dikasihi. Namun, tetap mendapat catatan bahwa pemberian Cinta dan Kasih untuk seorang anak mesti proporsional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, kita bisa berangan-angan, apabila setiap keluarga mampu saling memberikan cinta kasih, saling memperhatikan dan saling mengingatkan, kita akan hidup di dalam dunia yang penuh canda, tawa dan nyanyian kegembiraan. Sebab tidak adalagi kejahatan yang mencemaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutuhan sebagai keluarga sangat memberikan makna yang tidak terhingga. Dimana anggota keluarga saling berbagi dan saling mengenal dalam banyak hal. Keluarga menjadi wahana untuk penyelesaian segala problem. Menjadi tempat pendidikan iman dan kemanusiaan. Maka, kesatuan dan keutuhan di dalam anggota keluarga sangat di utamakan, terlebih pada masa transisi peradaban globalisasi.&lt;i&gt;&lt;b&gt; -&amp;nbsp;Fr. Aloysius Anong, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/3199339223013335770/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/01/keluarga-adalah-inti-pendidikan-dalam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3199339223013335770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3199339223013335770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/01/keluarga-adalah-inti-pendidikan-dalam.html' title='Keluarga adalah Inti Pendidikan dalam Masyarakat'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS_0qsr-tct98Qn_s-9S9suDoeCks1BiWBZMRhyphenhyphenCOPxVJdb88pBMF_7PFVHHa7of9cvyq8IusFXtAgdmtvSgVPH1LvIs34uhu3RV6eGoq8_JkK_wLgEaYEbU8BGUJ1bL2fhf4Gt6dSz-AS/s72-c/Family.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4398754559109839718</id><published>2015-12-14T06:36:00.000-08:00</published><updated>2016-10-20T04:36:58.763-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pelayanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Operasi Kapuas</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdHwB7dNQ68nai1skGCj8NfYd7WGxuqRVIVBOwsASYFKxscaVleOIYul7yE_kdUPsO0d7B_OLaCpFHsKnFSMrt0fJMYtz9AL5WB9JPH4MJiGcq3_-IDHxbZnR5kqzgg2ATP3jA9kdvGJLk/s1600/aaakap.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdHwB7dNQ68nai1skGCj8NfYd7WGxuqRVIVBOwsASYFKxscaVleOIYul7yE_kdUPsO0d7B_OLaCpFHsKnFSMrt0fJMYtz9AL5WB9JPH4MJiGcq3_-IDHxbZnR5kqzgg2ATP3jA9kdvGJLk/s640/aaakap.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
RASAU JAYA - Para saudara muda Kapusin dari komunitas rumah pendidikan San Lorenzo-Pontianak diberi waktu untuk mengaplikasikan pengetahuan yang didapat dari kampus, lewat kegiatan kerasulan ke stasi-stasi pada hari Minggu. Mereka dijadwalkan dua kali sebulan untuk mengadakan kegiatan kerasulan ini. Di samping itu, ada juga yang kerasulan di bidang karya kategorial, seperti pendampingan ASMIKA, Ordo Fransiskan Sekular (OFS) dan Legio Maria. Pada kesempatan ini kami akan berbagi cerita tentang pengalaman &lt;i&gt;tourne &lt;/i&gt;bersama Pastor Warsito dan Pak Beni ketika mengunjugi umat yang ada di stasi Gempar, Separok, Kancil dan Gunung Tamang. Keempat stasi itu berada dalam wilayah pelayanan Paroki Santa Theresia, Delta Kapuas (Rasau Jaya).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Stasi-stasi itu terletak di tepi aliran sungai Kapuas. Jarak antara Pontianak ke lokasi kerasulan cukup jauh. Dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam naik &lt;i&gt;Speed Boat,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;bila jalur yang ditempuh adalah sungai. Jalur darat memang bisa dipilih sebagai jalan alternatif, namun kondisinya cukup berat karena jalan menuju ke stasi-stasi itu masih berupa tanah kuning. Selain itu, jembatan yang digunakan untuk menyeberangi sungai Kapuas juga belum tersedia. Maka, kami memilih jalur sungai karena jalur itu kami anggap sebagai akses tercepat untuk sampai ke stasi-stasi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kami berangkat dari dermaga sekolah pertukangan St. Yusuf pada hari Sabtu, pukul 15.00 WIB. Tetapi setelah setengah jam berada di atas &lt;i&gt;Speed Boat&lt;/i&gt;, perjalanan kami menjadi terhalang oleh angin kencang yang disertai hujan deras. Cuaca buruk membuat Pak Beni, sang&amp;nbsp;&lt;i&gt;driver,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;tidak berani memacu kecepatan &lt;i&gt;Speed Boat-&lt;/i&gt;nya karena jarak pandang yang sangat terbatas. Alhasil, perjalanan kami menjadi lebih lama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Waktu terasa cepat berlalu. Di tengah perjalanan, petang pun mulai menggayut. Awan hitam yang menyelubungi langit semakin menambah gelapnya mayapada. Pekatnya malam ternyata membawa rintangan tersendiri bagi perjalanan kami. &lt;i&gt;Speed boat&lt;/i&gt; yang kami tumpangi sempat kehilangan arah dan akhirnya kandas di atas permukaan air yang dangkal. Kejadian itu sempat membuat kami cemas, karena tidak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa ada bagian Sungai Kapuas yang tinggi airnya hanya selutut, apalagi posisi kami saat itu masih cukup jauh dari pantai. Baling-baling&amp;nbsp;&lt;i&gt;speed boat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tersangkut di pasir, namun kesulitan itu berhasil kami atasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kejadian yang sama tidak terulang kembali,&lt;i&gt; speed boat&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kemudian dikemudikan dengan lebih berhati-hati karena selain permukaan airnya dangkal, sampah kayu yang hanyut terbawa aliran sungai juga bisa merusak baling-baling apabila tertabrak. Syukurlah, berkat usaha dan doa yang disertai kepiawaian pak Beni dalam mengemudikan&amp;nbsp;&lt;i&gt;speed&lt;/i&gt;, perjalanan pun bisa kami lanjutkan dengan aman dan selamat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;center&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/nyVLX1ef7-o&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pukul 19.10 WIB kami tiba di Stasi Gempar. Di tempat ini, salah seorang di antara kami harus bermalam, sementara tiga orang lagi harus melanjutkan perjalan menuju ke stasi-stasi berikutnya. Untunglah, beberapa umat di Stasi Gempar masih setia menunggu kedatangan kami, meskipun sebelumnya mereka telah berencana akan mengadakan acara penutupan bulan doa rosario pada pukul 19.00 WIB. Namun, karena kami datang terlambat maka doa rosario pun akhirnya bisa dilaksanakan mulai pukul 19.45 WIB, didampingi oleh Frater Aloysius yang bermalam di tempat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kami terus melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 20.30 WIB kami tiba di Stasi Separok, dan langsung menuju ke rumah ketua umat. Suasana tampak sepi. Kedatangan kami hanya disambut oleh bapak ketua umat dan beberapa umat, yang pada malam itu kebetulan sedang bertamu. Rupanya, stasi ini sengaja tidak mengadakan kegiatan doa rosario karena menurut informasi yang diterima, stasi mereka akan dikunjungi oleh frater dari &amp;nbsp;Stasi Gempar pada hari Minggunya, setelah kegiatan ibadat di sana selesai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keesokan harinya, hujan mengguyur bumi persada. Hari Minggu, yang seharusnya disambut dengan susana ceria, menjadi terasa sepi karena cuaca yang kurang bersahabat. Suhu udara terasa dingin karena mulai dari pagi hingga menjelang siang, hujan deras disertai angin kencang terus mengguyuri perkampungan. Umat yang hendak pergi ke gereja untuk beribadat pun menjadi terhalang. Ibadat Sabda, yang rencananya dimulai pukul 09.00 WIB, terpaksa ditunda dan akhirnya baru dilaksanakan pada pukul 10.30 WIB. Walaupun tidak banyak umat yang hadir, Ibadat Sabda tetap dilaksanakan dan Sabda Allah tetap diwartakan dengan penuh sukacita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah perayaan Ibadat Sabda selesai, umat pulang ke rumah mereka masing-masing. Kami pun kembali ke rumah ketua umat untuk makan siang dan beristirahat sejenak, sambil menunggu kedatangan Pastor Warsito dan Pak Beni, yang merayakan Misa di stasi Gunung Tamang. Ketika mereka tiba di Separok, kami langsung berangkat menuju ke Stasi Gempar untuk menjemput saudara yang menginap di sana. Setiba di Stasi Gempar, kami singgah sebentar di rumah ketua umat dan disuguhkan dengan makanan &lt;i&gt;ala &lt;/i&gt;kampung yang sederhana, tetapi lezat. Selesai santap siang bersama, kami kemudian kembali menuju ke Pontianak. &lt;i&gt;Pax et Bonum. -&amp;nbsp;&lt;b&gt;Br. Roymundus, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/4398754559109839718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/12/operasi-kapuas.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4398754559109839718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4398754559109839718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/12/operasi-kapuas.html' title='Operasi Kapuas'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdHwB7dNQ68nai1skGCj8NfYd7WGxuqRVIVBOwsASYFKxscaVleOIYul7yE_kdUPsO0d7B_OLaCpFHsKnFSMrt0fJMYtz9AL5WB9JPH4MJiGcq3_-IDHxbZnR5kqzgg2ATP3jA9kdvGJLk/s72-c/aaakap.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4979495541802993686</id><published>2015-11-23T02:07:00.000-08:00</published><updated>2016-10-21T03:03:56.724-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pelayanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Menelusuri Jejak Sang Penebar Terang di Singkawang</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwLTc5Rmg_IUu6-WaVmdFWx13GleRqlx8zCFa3L21fwII7y-VAGn7d2MD1wt0IBLSpcASv-somx_ZY5rbuk2-s_HvQMZVZh0PQoulFzbnAS98XZoJAlwPgSr2FSwCSOzilxFyGkbD_9v6u/s1600/Gereja+Singkawang+8-9-050025b.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;472&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwLTc5Rmg_IUu6-WaVmdFWx13GleRqlx8zCFa3L21fwII7y-VAGn7d2MD1wt0IBLSpcASv-somx_ZY5rbuk2-s_HvQMZVZh0PQoulFzbnAS98XZoJAlwPgSr2FSwCSOzilxFyGkbD_9v6u/s640/Gereja+Singkawang+8-9-050025b.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SINGKAWANG - Belasan tenda lengkap dengan panggung utama sudah terpasang dan tertata rapi di halaman Gereja Katolik St Fransiskus Assisi Singkawang. Hari itu, 23 November 2015 memang menjadi catatan tersendiri bagi umat Katolik Paroki Singkawang karena gelaran peringatan 110 Kapusin di Bumi Kalimantan akan dibuka secara resmi oleh P. Amandus Ambot OFMCap selaku Minister Propinsial Kapusin Pontianak. Acara yang dikemas dalam sebuah pesta rakyat itu rencananya akan digelar selama sepekan penuh. Inti yang hendak dimaknai adalah menimba semangat heroik para misionaris Kapusin perdana dalam menanamkan warta gembira di Bumi Borneo. Maka tidak salah bila tema yang diusung dalam gelaran ini adalah Menelusuri Jejak Sang Penebar Terang di Singkawang. Sekedar menengok sebentar ke belakang. Panitia 110 Kapusin mencoba meletakkan gelaran ini dalam bingkai edukasi, sosial dan seni budaya. Itulah misi yang diemban dalam gelaran kali ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ0U_DapDCJwJy1bsJ1jf09q7cR1SlnwQFhKsgMIHHzVwyZeKvbq3nbz6c6XA7-lXzHstUbvtGzdvC7qK57hNGV310NY1lXGXPxhsp4RpJij0jLZwOcJhvze7BEn1q3jFj2eawhTb2q6lc/s1600/057b+Gereja+di+Singkawang+1925-1926-a.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ0U_DapDCJwJy1bsJ1jf09q7cR1SlnwQFhKsgMIHHzVwyZeKvbq3nbz6c6XA7-lXzHstUbvtGzdvC7qK57hNGV310NY1lXGXPxhsp4RpJij0jLZwOcJhvze7BEn1q3jFj2eawhTb2q6lc/s640/057b+Gereja+di+Singkawang+1925-1926-a.JPG&quot; width=&quot;468&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Aspek edukasinya nampak dalam ajang pameran. Tidak kurang dari 10 instansi terlibat aktif dalam memeriahkan acara ini. Secara khusus stand Kapusin, SFIC, MTB dan Klaris Kapusines menyajikan pembelajaran bagi para pengunjung untuk mengingat kembali sejarah Singkawang di masa lalu. Foto-foto dan benda-benda yang akan dipamerkan diharapkan mampu mengajak pengunjung untuk bernostalgia ke masa lampau. Aspek sosialnya diwujudkan dengan memberikan konsultasi kesehatan dan pemeriksaan kesehatan secara gratis kepada para pengunjung. Stand yang digawangi oleh para medis dan dokter dari Rumah Sakit St Vincentius ini diharapkan bisa memberikan sumbangsih yang nyata. Sedangkan aspek seni budayanya terjabarkan dengan jelas melalui pentas seni yang akan digelar selama sepekan ke depan mulai pukul 19.00 sampai 21.00. Ini menjadi pentasnya siswa-siswa sekolah Katolik se Kotamadya Singkawang. Mereka tak mau ketinggalan untuk menunjukkan kreasi dan kebolehannya. Seluruh rangkaian pesta ini akan memuncak dengan Misa Syukur yang akan dipersembahkan oleh Bapak Uskup Agung Pontianak pada hari Minggu, 27 November. Menurut rencana perayaan puncak ini juga akan dihadiri oleh Bpk Walikota Singkawang dan tokoh-tokoh lintas agama yang ada di Singkawang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kembali kepada acara pembukaan. Derasnya hujan yang mengguyur kota Singkawang sore itu tidak menyurutkan langkah umat Katolik untuk datang ke gereja yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu. Sementara ini tak kalah sibuknya adalah 14  kring yang mulai menata menu jajanan pasar yang akan digelar untuk &lt;i&gt;open house&lt;/i&gt; bagi para pengunjung di halaman gereja. Begitulah cara mereka melibatkan diri dalam pesta rakyat kali ini. Sangat murah dan meriah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan memakai payung dan jas hujan, umat terus berdatangan. Dari raut wajah umat tergambar antusiame yang tidak mau melewatkan momen yang sangat langka ini. Tepat pukul 15.00 gelaran pesta dimulai dengan memanjatkan doa Koronka Kerahiman Ilahi di gereja. Doa ini memang tidak bisa dilepaskan dari rancangan Bapa Suci yang mencanangkan tahun 2016 sebagai Tahun Suci Kerahiman Ilahi. Sementara doa Koronka masih dipanjatkan, lima penari sumpit sudah bersiap di halaman gereja. Begitu doa koronka selesai, P. Propinsial, P. Paroki Singkawang, Ketua DPP terpilih, Ketua Panitia 110 tahun Kapusin dan Sr Abdis Klaris Kapusines didaulat untuk menyumpit  5 balon sebagai tanda dimulainya pesta 110 Kapusin. Dengan gerakan yang luwes 5 penari sumpit  menjemput dan menghantar kelima orang yang telah ditunjuk ke arena penyumpitan. Kepada mereka akhirnya diberikan masing-masing satu sumpit. Dan mata umat yang hadir tertuju kepada 5 balon. Gemuruh tepuk tangan menggema saat balon terakhir berhasil disumpit dan terbanglah spanduk perayaan 110 Tahun Kapusin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc0f7GqENGHILqqZABgST__PFMZqVyDUxp5xRMoKOxcalUV3EFfXCZfIaW6vUxdfwym_tGhs-3q0vfnpktJ9S9zrJbOunKyLC-Zg3EXsOqzk_xPcyS0y2nx5Vv8CLt5B0MHJNr_0pG0Q86/s1600/022ba+Gereja+Singkawang+1908-a.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;460&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjc0f7GqENGHILqqZABgST__PFMZqVyDUxp5xRMoKOxcalUV3EFfXCZfIaW6vUxdfwym_tGhs-3q0vfnpktJ9S9zrJbOunKyLC-Zg3EXsOqzk_xPcyS0y2nx5Vv8CLt5B0MHJNr_0pG0Q86/s640/022ba+Gereja+Singkawang+1908-a.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pembukaan pesta semakin semarak dengan pentas tari barongsai yang dimainkan secara apik oleh mahasiswa STIE Mulia Singkawang. Acara ini memberikan warna tersendiri dan menyempurnakan tarian sumpit, seolah mau mengatakan keragaman budaya yang ada di Singkawang. Di akhir tariannya, barongsai berkenan menjemput P. Ambot dan menghantarnya ke stand pameran. Di sana sudah menunggu acara berikutnya, yakni pengguntingan pita dan pembukaan pintu utama. Dengan pengguntingan pita maka secara resmi acara pameran pun dibuka. Para pengunjung dipersilahkan mengunjungi stand-stand pameran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dipenuhi rasa ingin tahu umat pun memasuki ruang pameran. Satu demi satu foto-foto dan benda-benda yang dipamerkan tak lepas dari pandangan mata. Ada satu sudut yang tidak pernah dilewatkan oleh para pengunjung. Mereka selalu singgah di sudut itu untuk melakukan sesi foto karena sudut itu dirancang oleh panitia pameran. Dengan latar belakang Gereja Singkawang tempo dulu dan sekarang, dilengkapi dengan sepeda onthel pengunjung bisa mengabadikan dirinya, seolah dirinya berada di masa lalu. Rancangan yang sungguh kreatif dan menarik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCiC91IrndvuHgaeYfrbarcRXj3rG2dKzooA3bECIFyo7-6CB83wDprjc-zsQBGHuSSLEM9uj2dgFFR9XABDkt0PAIsyop8hmwKBqEoktK433w2buhTi7FnuROQOJ8s6NoSXO5nGRlsAbO/s1600/001a8c1+1905+Rumah+Misi+Katolik+pertama+di+Singkawang+1905-a.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;532&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCiC91IrndvuHgaeYfrbarcRXj3rG2dKzooA3bECIFyo7-6CB83wDprjc-zsQBGHuSSLEM9uj2dgFFR9XABDkt0PAIsyop8hmwKBqEoktK433w2buhTi7FnuROQOJ8s6NoSXO5nGRlsAbO/s640/001a8c1+1905+Rumah+Misi+Katolik+pertama+di+Singkawang+1905-a.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Setelah puas berkeliling di stand-stand pameran, umat dipersilahkan untuk pindah ke halaman gereja Di sana sudah menunggu 14 stand jajanan kuliner khas Singkawang. Tanpa menunggu dikomando untuk kedua kalinya, umat pun tumpah ruah menuju halaman gereja untuk mencicipi hidangan yang disediakan secara gratis. Suasana persaudaraan begitu terasa karena semuanya berbaur menjadi satu. Acara &lt;i&gt;open house&lt;/i&gt; menjadi penutup dari rangkaian pembukaan pesta 110 Kapusin di Singkawang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam wawancaranya dengan media cetak, P. Ambot mengungkapkan rasa bangga dan terimakasihnya kepada umat Singkawang. Dari gelaran ini P. Ambot mendapat kesan bahwa umat Singkawang menaruh perhatian yang besar kepada karya-karya Kapusin. Kecintaan umat kepada Kapusin tergambar dalam pesta ini. Harapan ke depan tentunya umat pun mampu menimba semangat para Kapusin dalam menerbarkan Sang Terang dan mewujudkannya dalam masa sekarang ini. Selamat pesta bagi Saudara-saudara Kapusin.&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;- P. Stephanus Gathot Purtomo, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;FOTO-FOTO SELAMA PERAYAAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: medium;&quot;&gt;&lt;b&gt;110 TAHUN ORDO KAPUSIN DI BUMI KALIMANTAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;3&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWGx-Zx5ApAjakzngiJKdFL6_LTyt2GR8floXWlnBozrasc_MyZ3p9k00RvC2q9-laByEkZOcuCzpTEdpxt1Iv2fFNSEaJZIN6HaiWE38K2EDqq6-_PBHXptxPEUZ2dltXgJrEY8QX8MwE/s1600/Propinsial+Kapusin+Bersama+Pastor+Paroki+Melepaskan+Burung+Simbol+Kecintaan+St.+Fransiskus+Assisi+Pada+Fauna.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWGx-Zx5ApAjakzngiJKdFL6_LTyt2GR8floXWlnBozrasc_MyZ3p9k00RvC2q9-laByEkZOcuCzpTEdpxt1Iv2fFNSEaJZIN6HaiWE38K2EDqq6-_PBHXptxPEUZ2dltXgJrEY8QX8MwE/s640/Propinsial+Kapusin+Bersama+Pastor+Paroki+Melepaskan+Burung+Simbol+Kecintaan+St.+Fransiskus+Assisi+Pada+Fauna.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9LLV2ZE1ruEDJaEHFK8llcMjz44gU0iM2RVidlBesgWk66qWtQi_166I9nHPBNJJ7aKGNtTopxlrGA9yVtb1aGC8tiLaB-5oi-6XZfQNcDrjXKo6Oh8L8DQhe90vzGhQf0Ba1v15lrh6h/s1600/Propinsial+Kapusin+Meresmikan+Pameran+110+Tahun+Kapusin.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9LLV2ZE1ruEDJaEHFK8llcMjz44gU0iM2RVidlBesgWk66qWtQi_166I9nHPBNJJ7aKGNtTopxlrGA9yVtb1aGC8tiLaB-5oi-6XZfQNcDrjXKo6Oh8L8DQhe90vzGhQf0Ba1v15lrh6h/s640/Propinsial+Kapusin+Meresmikan+Pameran+110+Tahun+Kapusin.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDk0B13GNlewWwdWV4q2_8F9Jbh_oy2TCOPg7YbAeGAT4p03xQLdjfny_8mnKD9ruyeDFn2zOG8zO0Hkc-GPPOfs4hmXS8ylXWE9XWv_rWisQ6BGysHJzRmSFigQPfApkEbI91Ty9-5GpT/s1600/IMG-20151206-WA0020.jpg&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDk0B13GNlewWwdWV4q2_8F9Jbh_oy2TCOPg7YbAeGAT4p03xQLdjfny_8mnKD9ruyeDFn2zOG8zO0Hkc-GPPOfs4hmXS8ylXWE9XWv_rWisQ6BGysHJzRmSFigQPfApkEbI91Ty9-5GpT/s640/IMG-20151206-WA0020.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;3&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUtiEBCPUEjgc2vX2F9Jxl6NNR0u_nViDX5CahvolnN_LxhGT-SVkBPO6XVNYD-cUtGoS2Ovv56mY0POW2FpP1_3P-fxxCd6XWGmmzUSnsoOjvNS7hyphenhyphentjhjbOsIhyphenhyphen0608ZkKKDzTbpTAlF/s1600/Puncak+Perayaan+110+Tahun+Kapusin+Dihadiri+Uskup+Agung%252C+Walikota+Singkawang%252C+Kapolres+dan+Anggota+DPRD.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgUtiEBCPUEjgc2vX2F9Jxl6NNR0u_nViDX5CahvolnN_LxhGT-SVkBPO6XVNYD-cUtGoS2Ovv56mY0POW2FpP1_3P-fxxCd6XWGmmzUSnsoOjvNS7hyphenhyphentjhjbOsIhyphenhyphen0608ZkKKDzTbpTAlF/s640/Puncak+Perayaan+110+Tahun+Kapusin+Dihadiri+Uskup+Agung%252C+Walikota+Singkawang%252C+Kapolres+dan+Anggota+DPRD.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHiBWs5TLbTOkiyQ7UBwfxx_JKSKt3AdU_jO1sCMKU8CYP26E8Voi5o9DDudwZxgmQju2YDf-Oh5pJ2RxdrSwlW_HhBDHc56R2J-WiZG0qf54aiM-ll46gK3dF5uz7YZl8tUOuKYZIuenH/s1600/Propinsial+Kapusin++Menerima+Penjelasan+Berbagai+Barang++Pameran+oleh+Koordinator+Pameran.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjHiBWs5TLbTOkiyQ7UBwfxx_JKSKt3AdU_jO1sCMKU8CYP26E8Voi5o9DDudwZxgmQju2YDf-Oh5pJ2RxdrSwlW_HhBDHc56R2J-WiZG0qf54aiM-ll46gK3dF5uz7YZl8tUOuKYZIuenH/s640/Propinsial+Kapusin++Menerima+Penjelasan+Berbagai+Barang++Pameran+oleh+Koordinator+Pameran.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVb8P-zQ5MmPGRqKglDqHAkL7BtRBhWjzn3XwpahtzcxF9ysYgeykh7I31F3vADacn_adxl3TsswWV8dgr-J525EnD1ijyhXgQXaS0RJjmk1LLgBuqioH9y0k60Ne8r_XrUh90EN9OG8hH/s1600/Tim+Pameran+110+Tahu+Misi+Kapusin+Berpose+Bersama+Pastor+Paroki.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVb8P-zQ5MmPGRqKglDqHAkL7BtRBhWjzn3XwpahtzcxF9ysYgeykh7I31F3vADacn_adxl3TsswWV8dgr-J525EnD1ijyhXgQXaS0RJjmk1LLgBuqioH9y0k60Ne8r_XrUh90EN9OG8hH/s640/Tim+Pameran+110+Tahu+Misi+Kapusin+Berpose+Bersama+Pastor+Paroki.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding=&quot;3&quot;&gt;
&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip7mmkjQGqK-XNNIzaUeTBVWfl0dKp0qcJUFhEY17t61SAuQMZLBbMdJVSMTyLfti5T48qP_soQu-fZinW1kM4x423YCiAljbNMTN4j2z4tYGNIlrR7Byjsv5c0uum3R7yy0_waBheem7b/s1600/Propinsial+Kapusin+Pontianak+Membuka+Kunci+Ruang+Pameran++didampingi+Pastor+Paroki.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEip7mmkjQGqK-XNNIzaUeTBVWfl0dKp0qcJUFhEY17t61SAuQMZLBbMdJVSMTyLfti5T48qP_soQu-fZinW1kM4x423YCiAljbNMTN4j2z4tYGNIlrR7Byjsv5c0uum3R7yy0_waBheem7b/s640/Propinsial+Kapusin+Pontianak+Membuka+Kunci+Ruang+Pameran++didampingi+Pastor+Paroki.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9Wb8oyxvmxeO_pC26jHI9BpR-8OyNfrATo6uQQRaVvonTOvS0iQi4bpShitFvphxn921rSaCDg7-UzCVz_GN3hezvRTtAv9Kevyx0YgNIdqgFb22u9_uYIsg0unx9NbbVEpR57Y4ZXSF/s1600/Suasana+Doa+Perdana+Menyambut+Tahun+Kerahiman+Ilahi.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9Wb8oyxvmxeO_pC26jHI9BpR-8OyNfrATo6uQQRaVvonTOvS0iQi4bpShitFvphxn921rSaCDg7-UzCVz_GN3hezvRTtAv9Kevyx0YgNIdqgFb22u9_uYIsg0unx9NbbVEpR57Y4ZXSF/s640/Suasana+Doa+Perdana+Menyambut+Tahun+Kerahiman+Ilahi.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;td align=&quot;center&quot; width=&quot;25%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfKFaTaQPg927NfrSvUaFMA9c1IDydLKu3vzZLRHg4-6C5vgKoOvOXhvymXmdgP1CWNnFtiR0SPPG_rJEPO5-qOQWYxMu1rZhFFDjapiTOAm9NpXjW56u4urr27WDCt8dMqE9NqSPRB-Vp/s1600/Tarian+Teatrikal++Para+Penyumpit+Pada+Pembukaan+Perayaan+110+Tahun+Kapusin.JPG&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfKFaTaQPg927NfrSvUaFMA9c1IDydLKu3vzZLRHg4-6C5vgKoOvOXhvymXmdgP1CWNnFtiR0SPPG_rJEPO5-qOQWYxMu1rZhFFDjapiTOAm9NpXjW56u4urr27WDCt8dMqE9NqSPRB-Vp/s640/Tarian+Teatrikal++Para+Penyumpit+Pada+Pembukaan+Perayaan+110+Tahun+Kapusin.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/center&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif;&quot;&gt;SUASANA SEPUTAR MISA SYUKUR &amp;amp; PUNCAK PERAYAAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;(Oleh P. Marius Tjhin, OFMCap.)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;
&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;350&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/e65dtKM1L_w&quot; width=&quot;600&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;georgia&amp;quot; , &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;SELAMAT PESTA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/4979495541802993686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/menelusuri-jejak-sang-penebar-terang-di.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4979495541802993686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4979495541802993686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/menelusuri-jejak-sang-penebar-terang-di.html' title='Menelusuri Jejak Sang Penebar Terang di Singkawang'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwLTc5Rmg_IUu6-WaVmdFWx13GleRqlx8zCFa3L21fwII7y-VAGn7d2MD1wt0IBLSpcASv-somx_ZY5rbuk2-s_HvQMZVZh0PQoulFzbnAS98XZoJAlwPgSr2FSwCSOzilxFyGkbD_9v6u/s72-c/Gereja+Singkawang+8-9-050025b.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4534880340291884780</id><published>2015-11-18T03:50:00.000-08:00</published><updated>2016-10-19T21:11:11.797-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Persaudaraan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Saudara Muda Yang Ceria Itu Kini Telah Tiada</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtr8tcLMKIBdnn_ZGoEnCbIpp93aQCjls11Zd-vlWDZE7HYi553DdS2EkX8SgimfHXOiUtI8xbGqjKYAF6Piq2XTPZSh8X5z5eVoJWg3YhW9UylO2TGqB-CobUJnbAqVqWRBt9OxLx0u0-/s1600/joni1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtr8tcLMKIBdnn_ZGoEnCbIpp93aQCjls11Zd-vlWDZE7HYi553DdS2EkX8SgimfHXOiUtI8xbGqjKYAF6Piq2XTPZSh8X5z5eVoJWg3YhW9UylO2TGqB-CobUJnbAqVqWRBt9OxLx0u0-/s640/joni1.jpg&quot; width=&quot;566&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
PONTIANAK - Pada hari Rabu, 18 November 2015, para saudara Kapusin Provinsi Pontianak dikejutkan oleh sebuah berita menyedihkan: Pastor Martinus Joni Minggulius OFMCap telah berpulang ke rumah Bapa. Betapa tidak, pastor kelahiran 04 Juni 1978 di Jelatok, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, itu meninggal pada usia yang masih sangat muda, 37 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pastor Joni masuk biara dan menerima jubah coklat Kapusin pada tanggal 03 Juli 1998. Satu tahun kemudian, tepatnya 02 Agustus 1999, beliau resmi menjadi anggota persaudaraan Ordo Kapusin Provinsi Pontianak. Pada tanggal 15 Agustus 2007, tepat pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, beliau mengikrarkan kaul kekal untuk hidup selama-lamanya dalam persaudaraan Ordo Kapusin. Satu tahun kemudian, yakni tanggal 05 April 2008, beliau ditahbiskan menjadi seorang imam. Dengan demikian, pengabdiannya sebagai seorang imam Kapusin adalah selama 7 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada usia imamatnya yang baru tujuh tahun, beliau sudah melayani di dua tempat di mana Ordo Kapusin Pontianak berkarya, yakni di Paroki Pusat Damai dan Paroki Tebet. Tempat terakhir beliau berkarya adalah di Paroki St. Fransiskus Assisi, Tebet, Jakarta Selatan. Di sana beliau bertugas sebagai pastor rekan sekaligus mahasiswa pasca-sarjana di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), fakultas Manajemen Pendidikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penampilan yang sederhana dan selalu tampil ceria menjadi ciri khas dari Pastor Joni. Kehadirannya memberi kesan tersendiri, baik bagi para saudara Kapusin maupun bagi umat di paroki-paroki yang pernah dilayaninya. Pribadinya yang luwes, murah senyum dan kadang terkesan lugu seringkali menimbulkan kerinduan tersendiri bagi setiap orang yang pernah bertemu dengannya. Mungkin itulah sebabnya beliau sangat mudah bergaul dengan siapa saja, mulai dari kalangan orang tua sampai dengan anak-anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekitar pertengahan tahun 2015, Pastor Joni didiagnosis dokter mengidap penyakit lupus, salah satu penyakit berbahaya karena &lt;i&gt;antibody &lt;/i&gt;– yang seharusnya melindungi tubuh dari virus dan bakteri luar – kini berbalik menyerang organ tubuhnya yang sehat. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, penyakit ini sudah menyebar dan menggerogoti organ-organ tubuhnya, termasuk jantung. Berbagai usaha telah diupayakan, baik oleh paroki maupun ordo. Pengobatan telah dilaksanakan di berbagai tempat, termasuk ke Kuching, Malaysia, namun tanpa membuahkan hasil. Tuhan ternyata mempunyai rencana lain bagi pastor muda ini. Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Siloam, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada hari Rabu, 18 November 2015, sekitar jam 12.30 siang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jenazah almarhum rencananya akan diberangkatkan ke Pontianak, Kalimantan Barat, pada hari Kamis, 19 November 2015, jam 6.00 pagi, untuk disemayamkan sementara di kapel Rumah Retret Tirta Ria, Pontianak. Keesokan harinya (Jumat, 20 November 2015), jenazah akan diberangkatkan menuju ke Rumah Retret Laverna, Sanggau Kapuas, tempat persemayamannya yang terakhir. Malamnya, jam 7.00 WIB, akan diadakan Misa Arwah di Aula St. Maria, Rumah Retret Laverna, Sanggau Kapuas. Misa &lt;i&gt;requiem &lt;/i&gt;akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 November 2015, jam 8.00 pagi di tempat yang sama. Akhirnya, jenazahnya akan dikebumikan di “Taman Getsemani”, tempat pemakaman umum bagi para saudara Kapusin di Sanggau Kapuas, Kalimantan Barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam salah satu tulisan di account Facebook-nya, tertanggal 14 April 2014, Pastor Joni menulis demikian: “&lt;i&gt;Keluar dari kabutnya kehidupan dunia ini menuju ke hadapan Allah Yang Maha Kudus dan penuh belas kasih. Berkatilah orang-orang yang mengenalku dan kukenal, yang meminta maupun tidak meminta doa-doaku. Semoga mereka semua menjadi Kasih-Mu yang nyata di dunia ini. Amin&lt;/i&gt;.” Kata-katanya ini kini menjadi kenyataan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selamat jalan, saudara! Semoga pengabdianmu di dunia ini membawa hasil melimpah di kehidupan yang abadi. Doakanlah kami para saudaramu yang masih berjuang. &lt;i&gt;Rest in peace&lt;/i&gt;. -&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;P. Pionius Hendi, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/4534880340291884780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/saudara-muda-yang-ceria-itu-kini-telah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4534880340291884780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4534880340291884780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/saudara-muda-yang-ceria-itu-kini-telah.html' title='Saudara Muda Yang Ceria Itu Kini Telah Tiada'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgtr8tcLMKIBdnn_ZGoEnCbIpp93aQCjls11Zd-vlWDZE7HYi553DdS2EkX8SgimfHXOiUtI8xbGqjKYAF6Piq2XTPZSh8X5z5eVoJWg3YhW9UylO2TGqB-CobUJnbAqVqWRBt9OxLx0u0-/s72-c/joni1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4023392358675603965</id><published>2015-11-08T02:33:00.002-08:00</published><updated>2016-10-17T04:26:42.074-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pelayanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Capuchin&#39;s Camp</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/yizkf19ZKNw&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguNfThhrGuMZSjZRmdcNu7QuajicZuVOSnrR7JaQArKgtudj3qcw4vfrAF4VXPXEQduw9QsCatcBLgDjct6a0u7iy63zAUq9y9BVSmdZE0ILAG_g0iFSRovWAKuJJm8_yzq6Yn5oCnRTf1/s1600/image003.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEguNfThhrGuMZSjZRmdcNu7QuajicZuVOSnrR7JaQArKgtudj3qcw4vfrAF4VXPXEQduw9QsCatcBLgDjct6a0u7iy63zAUq9y9BVSmdZE0ILAG_g0iFSRovWAKuJJm8_yzq6Yn5oCnRTf1/s640/image003.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;SANGGAU KAPUAS - Beberapa &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;bulan
yang lalu, Saudara-saudara Imam Muda Kapusin mengadakan event besar di Rumah
Retret Laverna-Bunut, Sanggau Kapuas. Kegiatan bersejarah ini diadakan pada
tanggal 28-30 Januari 2015. Event ini mereka namakan “&lt;b&gt;Capuchin’s Camp&lt;/b&gt;” (CC). Event ini adalah event yang pertama kalinya.
CC merangkul orang-orang muda Katolik yang ada di wilayah teritorial Paroki
Kapusin, khsususnya Kapusin Provinsi Pontianak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=9007244992411926577&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Ada sekitar 250-an Rekan Muda
Katolik yang hadir. Mereka berasal dari 15 Paroki Kapusin Provinsi Pontianak: Paroki
St. Maria Balai Sebut, Jangkang; Paroki Gembala Yang Baik - Kuala Dua;
Paroki St. Yohanes – Balai Karangan; Paroki Salib Suci – Ngabang; Paroki
Yohanes Pemandi – Pahauman; Paroki St. Maria – Nyarumkop; Paroki St. Yoseph – Sanggau
Ledo; Paroki St. Fransiskus Assisi – Singkawang; Paroki Kristus Raja – Sambas;
Paroki Nanga Bulik; Paroki St. Paulus – Pangkalan Bun; Paroki St. Sesilia –
Pontianak; Paroki St. Theresia Delta Kapuas – Rasau Jaya; Paroki St. Fransiskus
Assisi – Tebet, Jakarta. Dua paroki absen yakni Paroki Gembala Baik – Pontianak
dan Paroki St. Yoseph Kathedral – Pontianak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=9007244992411926577&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhi0tmV2OqrZZDiyzvv8azlLFZWFwtjIyX4yzju_q-G2TyBq5-P-y5VrflqDDpUgLmHSoZIAajJ5b6IQAo4_xgLEgcoMOqenUqijF1hoLVZuQGYlYn9-8ZemJTzIiAXMjW8myCeFiYKyr28/s1600/image009.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhi0tmV2OqrZZDiyzvv8azlLFZWFwtjIyX4yzju_q-G2TyBq5-P-y5VrflqDDpUgLmHSoZIAajJ5b6IQAo4_xgLEgcoMOqenUqijF1hoLVZuQGYlYn9-8ZemJTzIiAXMjW8myCeFiYKyr28/s640/image009.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=9007244992411926577&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Event ini dikemas dalam dua bentuk.&lt;i&gt; In door&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;out door&lt;/i&gt;. Kegiatan &lt;i&gt;in door&lt;/i&gt;
diisi dengan ibadat, Misa dan penyampaian materi seputar “orang muda yang baik,
beriman dan bersaudara”. Pada sesi ini, rekan-rekan muda ditemani oleh P.
Joseph Juwono, OFMCap dan P. Iosephus Erwin, OFMCap. Mereka mengetengahkan
bagaimana peran rekan&amp;nbsp; muda Katolik dalam
membangun Gereja masa depan dan menjalin persahabatan yang baik, beriman dan
bersaudara. Sementara, pada pembukaan acara Pater Provinsial Kapusin Pontianak,
menyingung seputar kehidupan Fransiskus dari Assisi dan Fransiskan
(Pengikut-pengikut Fransiskus), sebagai pentobat dan pembaharu Gereja yang
tidak meninggalkan Gereja Katolik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Kegiatan &lt;i&gt;out door&lt;/i&gt;, dirangkai dengan Ibadat dan meditasi bersama dengan alam
dan&amp;nbsp; berani kotor dan basah (o&lt;i&gt;utbound)&lt;/i&gt;. Kegiatan &lt;i&gt;outbound&lt;/i&gt; mendapat tempat utama di hati rekan muda. Sebab kegiatan
ini sungguh-sungguh membuat mereka menyatu, kompak, satu dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t75&quot;
 coordsize=&quot;21600,21600&quot; o:spt=&quot;75&quot; o:preferrelative=&quot;t&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot;
 filled=&quot;f&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;
 &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;/&gt;
 &lt;v:formulas&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;/&gt;
  &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;/&gt;
 &lt;/v:formulas&gt;
 &lt;v:path o:extrusionok=&quot;f&quot; gradientshapeok=&quot;t&quot; o:connecttype=&quot;rect&quot;/&gt;
 &lt;o:lock v:ext=&quot;edit&quot; aspectratio=&quot;t&quot;/&gt;
&lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1026&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot; style=&#39;position:absolute;
 margin-left:0;margin-top:-11.25pt;width:195.65pt;height:129.75pt;z-index:-251658240;
 mso-position-horizontal:left&#39; wrapcoords=&quot;-22 0 -22 21566 21600 21566 21600 0 -22 0&quot;&gt;
 &lt;v:imagedata src=&quot;file:///C:\Users\FR@\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg&quot;
  o:title=&quot;cc38&quot;/&gt;
 &lt;w:wrap type=&quot;square&quot;/&gt;
&lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQfAJVIEYi7ohJGjx5oSLjXvWX-YS1ZDEdwpflGo1thToM54v-Y9B8aQY7KUzKBoFPqCIFdyWjxK7utln31nv_Ry-BovjX2lujmu-ykzm_60-Ba0vkh_w4HebfgQEypUUaU3f4sVbtmpKI/s1600/image011.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;424&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQfAJVIEYi7ohJGjx5oSLjXvWX-YS1ZDEdwpflGo1thToM54v-Y9B8aQY7KUzKBoFPqCIFdyWjxK7utln31nv_Ry-BovjX2lujmu-ykzm_60-Ba0vkh_w4HebfgQEypUUaU3f4sVbtmpKI/s640/image011.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Setelah kegiatan berakhir,
rekan-rekan muda diajak untuk menyaksikan acara pentahbisan Imam baru Kapusin
di Paroki Gembala Yang Baik-Kuala Dua. Disela-sela bersantai setelah acara
pentahbisan Imam, panitia berkeliling dan bertanya kepada peserta CC.
Pertanyaan itu seputar kesan dan pesan mereka ketika dan setelah mengikuti CC.&amp;nbsp; Hampir semua rekan muda yang dimintai
pendapatnya mengatakan “&lt;i&gt;Seru, asyik,
mantap&lt;/i&gt;”. Mereka berharap ada CC yang berikutnya. Dalam seloroh mereka berkata
“&lt;i&gt;aku ngak mau kawin dulu, sebelum ada CC
yang kedua.&lt;/i&gt;” Beberapa pendamping dan pastor paroki yang juga ikut terlibat
dalam kegiatan ini merasakan hal yang sama, seperti rekan-rekan muda peserta
CC. Harapan mereka semoga dengan CC ini rekan-rekan muda semakin menyadari
tugas dan tanggung jawab mereka sebagai orang yang beriman Katolik. Mewujudkan
orang muda yang baik, beriman dan bersaudara. Saling kenal satu dengan yang
lain. Apa yang menjadi harapan para pendamping dan Pastor Paroki, tentu juga
menjadi harapan bagi Panitia CC.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Jadi, para sahabat muda, kami tunggu kedatangan Anda di Capuchin&#39;s Camp II yang akan diselenggarakan di Tirta Ria dan Gunung Banuah pada tanggal 28-31 Januari 2016. Kali ini, acaranya akan lebih seru lagi!&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;Pace e Bene&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 115%;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;(Fr Aloysius Anong, OFMCap.)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/4023392358675603965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/caphucin-camp.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4023392358675603965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4023392358675603965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/caphucin-camp.html' title='Capuchin&#39;s Camp'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/yizkf19ZKNw/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-17663681005954453</id><published>2015-11-07T04:07:00.000-08:00</published><updated>2016-01-28T01:05:46.752-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Memaafkan Itu Membebaskan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Fr. Aloysius Anong, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPjR1eU_5A8mb7jswnNrVR_nutkNxVFAfXNteCrlMGQdY7_aoPSUc8CJgslwJePNmgWzrf0LPouCYBlV0j-69lQgpXBLUT1iqPsTnig4dEKZzwhLZlO95SRYdqn7p7a2mucn7Xm-ctyIQb/s1600/heart-229727_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPjR1eU_5A8mb7jswnNrVR_nutkNxVFAfXNteCrlMGQdY7_aoPSUc8CJgslwJePNmgWzrf0LPouCYBlV0j-69lQgpXBLUT1iqPsTnig4dEKZzwhLZlO95SRYdqn7p7a2mucn7Xm-ctyIQb/s1600/heart-229727_1280.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kata&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;maaf” &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;adalah&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;ungkapan biasa yang sering kita dengar dan ucapkan.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
Bahkan dalam bahasa asingpun gampang diucapkan “&lt;i&gt;sorry&lt;/i&gt;” artinya sama yaitu “maaf”. Selain suku katanya sedikit, kata
ini juga gampang dalam pelafalannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kata “Maaf” meskipun hanya empat huruf&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;,
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;tetapi menuntut keberanian
dari seseorang &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;untuk &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;mengucap&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;. Mengatakan maaf itu
mudah&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;elaksanakan
makna yang terkandung di dalamnya itu &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;tidak gampang.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;line-height: 150%; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Memaafkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Memaafkan adalah pekerjaan, aktivitas yang menjadikan
seseorang merasa nyaman, memberikan rasa lega dan sakit, yang disebabkan oleh
amarah dan dendam. Memaafkan merupakan suatu pengalaman adanya suatu
perpindahan dari suatu peristiwa yang tidak mengenakan beralih menjadi
peristiwa yang membebaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Memaafkan
itu berarti membebaskan. Artinya dengan tindakan itu kita melepaskan seluruh
kekecewaan, kegelisahan, benci, marah, sakit hati, dan dendam di dalam diri
kita sendiri. Seraya itu pula kita ingin membuka diri untuk membangun pribadi
yang dewasa dalam pola pikir, sikap dan tindakan yang positif dalam&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; menata&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; kehidupan. Memaafkan
juga menjadi suatu pembelajaran berharga bagi kita. Karena memaafkan menuntut
kerendahan hati, dan keterbukaan diri bagi orang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Memaafkan diri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sebagai
makhluk ciptaan kita harus sadar bahwa kita tidak sempurna. Cerminan ini
hendaknya menghantar kita untuk bisa &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;memberikan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;maaf&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; kepada&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;sesama&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; yang telah &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;berlaku tidak adil&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.
Setelah&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
kita &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;bisa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
memaafkan orang lain, kita juga harus belajar memaafkan diri sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tindakan ini, menandakan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;diri
kita adalah bagian dari makhluk ciptaan, yang tidak sempurna. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;asa lalu, biarlah berlalu
dan tidak perlu diungkit lagi. Kita mesti belajar untuk menerima diri apa
adanya. Dengan itu, kita berani untuk membuka lembar&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;an&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; baru dalam hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tentulah
untuk memaafkan diri sendiri, tidak seperti kita memaafkan orang lain.
Memaafkan diri memerlukan suatu permenungan dan refleksi yang mendalam. Artinya&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; kita mau mengenali diri
kita secara penuh sebagai manusia yang tidak sempurna. Kita mau membuka diri untuk
kelemahan dan kelebihan diri kita. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mampu &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;berdialog dengan batin &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;sendiri “menelanjangi” diri dihadapan diri&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;
kita. Maka, &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;tuntutan kepada
kita ialah menarik diri&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; dari &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;segala &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;kesibukan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;hidup &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;harian kita “menyepi”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah
pemeriksaan batin, dan sungguh mau mengakui dan menyadari semua kekurangan dan
kelebihan kita, maka kita bisa mengucapkan kata maaf untuk diri sendiri, yang
telah membuat orang lain sakit hati. Kita mau dan mulai berdamai dengan diri
sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Introfeksi secara
mendalam dan total. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tindakan ini adalah hal yang paling
“kecil“ tetapi sangat berarti. Karena menuntut suatu kesungguhan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;kesadaran yang mendalam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Memaafkan orang lain&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah
kita berdamai dengan diri sendiri, maka kita juga harus bisa berdamai dengan
orang lain. Bagaimana caranya, ialah dengan memaafkan orang yang telah
menyakiti kita. Tentu ini akan menjadi berat jika tidak kita mulai terlebih
dahulu dengan diri sendiri. Semuanya akan menjadi mustahil, apabila kita
sendiri tidak berani untuk memaafkan diri sendiri. Jadi keduanya harus berjalan
ber&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;iri&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;ngan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Barangkali
kita masih ingat akan peristiwa penembakan almarhum Paus Yohanes Paulus II oleh
Mehmet Ali Agca. Bagaimana sikap&amp;nbsp;
almarhum Sri Paus Yohanes Paulus II kepada si pelaku? Apakah ia mengutuk
sipelaku dan kru-krunya. Tidak! Sebaliknya, beliau membukakan pintu maaf serta
berdoa bagi Ali Agca. Bahkan, setelah sembuh dari lukanya Bapa Paus pergi
menjenguk Ali, dan berbicara secara kasih persaudaraan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tindakan
Bapa Suci di atas bukan tidak mungkin kita perbuat dan laksanakan. Bahkan bisa
lebih dari itu asalkan kita mau. Yesus sendiri telah mengajarkan kepada kita
bagaimana kita harus mengampuni. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&quot;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab
mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&quot; (Luk23:34). &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Yesus
sanggup memberikan maaf kepada orang-orang yang ikut menyalibkan Dia, termasuk
di dalamnya ialah kita. Bahkan, Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Ia memberikan
jaminan kepada seorang penyamun untuk hadir bersama dengan dirinya di firdaus, &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&quot;&lt;i&gt;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada
bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus&lt;/i&gt;.&quot;(Luk 23: 43). Ajaran dan
teladan dari kedua tokoh suci di atas bisa kita jadikan sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;permenungan
dalam&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; hidup kita,
untuk semakin menghargai sesama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengan memberikan maaf kepada orang
lain&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;. K&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;ita &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;bisa memperoleh dua hal yakni &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;membebaskan orang itu &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;dari segala
kesalahannya. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, ialah kebebasan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; diri kita sendiri. Menurut &lt;b&gt;&lt;i&gt;Lewis
B. Smedes&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ada empat keuntungan yang kita peroleh ketika kita memaafkan.
diantaranya ialah: &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;&amp;nbsp;kita
bisa membebaskan diri kita dari perasaan tersiksa, gelisah, dan susah karena
benci. Selain itu kita bisa membangun suatu sikap “&lt;i&gt;Positif Thingking&lt;/i&gt;”
atau berpikir jernih. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;kita tidak menjadi hakim bagi diri sendiri,
dan terhindar dari keinginan menyiksa diri dengan narkoba atau minuman keras. &lt;i&gt;Ketiga,
&lt;/i&gt;kita siap menuju hidup baru, menyongsong hari esok dengan luwes dan lebih
cerah. Dan yang &lt;i&gt;keempat, &lt;/i&gt;kita menciptakan kedamaian, serta menghargai
hidup di tengah manusia lain. Dengan demikian kita semakin menjadi manusia yang
utuh dan terintegrasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: center; text-autospace: none;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;***&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;††††††††††††††&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 13pt; line-height: 26px; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Memaafkan adalah suatu sikap untuk menuju ke arah “&lt;i&gt;Positif Thingking&lt;/i&gt;“ atau berpikir jernih. Dengan berpikir jernih kita bisa dan berani untuk membuka diri secara universal kepada orang&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-size: 13pt; line-height: 26px; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&amp;nbsp;lain&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-size: 13pt; line-height: 26px; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&amp;nbsp;diluar diri kita. Memaafkan, juga&amp;nbsp; merupakan suatu pilihan dalam hidup. Dengan “memaafkan“ berarti kita memilih satu pilihan yang selama ini di lupakan dan dijauhi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13pt; line-height: 150%; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Memberi
maaf berarti kita menawarkan suatu kehidupan yang baru. Kita mau hidup bersama
dengan kedamaian dan ketenangan. Maka, mari kita untuk berani memaafkan diri
sendiri dengan terus menggali nilai-nilai kerohanian kita, dan memaafkan orang
ain yang telah menyakiti hati kita secara tulus ikhlas, dan tanpa pamrih.
Dengan demikian kita menjadi pelopor yang bebas dan membebaskan, baik di
lingkungan sekitar kita maupun di dalam diri kita sendiri&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;i&gt;Damaiku Bagimu.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;EN-US&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , serif; font-size: 13.0pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/17663681005954453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/memaafkan-itu-membebaskan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/17663681005954453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/17663681005954453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/11/memaafkan-itu-membebaskan.html' title='Memaafkan Itu Membebaskan'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPjR1eU_5A8mb7jswnNrVR_nutkNxVFAfXNteCrlMGQdY7_aoPSUc8CJgslwJePNmgWzrf0LPouCYBlV0j-69lQgpXBLUT1iqPsTnig4dEKZzwhLZlO95SRYdqn7p7a2mucn7Xm-ctyIQb/s72-c/heart-229727_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-1077763562840889128</id><published>2015-10-28T20:36:00.001-07:00</published><updated>2016-10-17T04:30:56.394-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Persaudaraan"/><title type='text'>Perayaan Pesta Perak Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic Sanggau</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SANGGAU KAPUAS - Pada tanggal 14 Oktober  2015 yang lalu di Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic, Bunut-Sanggau, diadakan perayaan syukur  25 tahun  Postulat. Perayaan dilangsungkan pada sore hari, diawali dengan perarakan yang diikuti oleh sejumlah besar para  Saudara Kapusin Pontianak serta umat yang hadir. Jumlahnya sekitar 300-an orang. Perarakan tersebut dimulai dari gedung Postulat menuju ke patung Santo Leopold Mandic sebagai santo pelindung dari Postulat Kapusin Bunut-Sanggau. Letaknya di Persimpangan jalan postulat. Patung yang baru dibuat oleh Bapak Bujang Kirei  itu adalah bantuan Rumah Retret Laverna untuk Postulat. Patung tersebut diberkati oleh Mgr. Julius Mencucini,CP, Uskup Keuskupan Sanggau.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqBbGs9bHDb2welViAJt73hOGBlrkiUTATYRzlg72AB0hj6QK8ehruX3zizDqAHfFfBoi21843Tnzp03Ah4ciWBAsqRrThegIyoIziHLpmArd6S0a0OWpXDd6LZJB7ni4lx85NCt5qTns5/s1600/image001.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqBbGs9bHDb2welViAJt73hOGBlrkiUTATYRzlg72AB0hj6QK8ehruX3zizDqAHfFfBoi21843Tnzp03Ah4ciWBAsqRrThegIyoIziHLpmArd6S0a0OWpXDd6LZJB7ni4lx85NCt5qTns5/s640/image001.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah pemberkatan patung Santo Leopold Mandic,  perarakan dilanjutkan menuju Aula Santa Maria, Rumah Retret Laverna untuk merayakan Misa Syukur 25 tahun Postulat. Perayaan misa dipimpin oleh Mgr. Julius Mencucini, CP, dan didampingi oleh dua konselebran, yakni Minister Provinsial Kapusin Pontianak, P. Amandus Ambot OFMCap dan Magister Postulat Santo Leopold Mandic, P. Egidius  OFMCap. Dalam Khotbahnya Mgr. Julius menekankan tentang Kerajaan Allah yang diumpamakan seperti benih yang tumbuh.  Beliau mengatakan:  setiap umat yang beriman harus terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan hal-hal lain akan ditambahkan oleh Allah sendiri sesuai dengan Kehendak-Nya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah Perayaan Misa syukur ada beberapa kata sambutan yang disampaikan oleh Minister Provinsial Pontianak dan Magister Postulat Santo Leopold Mandic. Dalam sambutannya P. Egidius OFMCap mengucapkan banyak terima kasih kepada para Saudara Kapusin yang hadir dalam perayaan ini dan  kepada seluruh umat yang yang hadir dan mendukung acara ini. Kemudian, P. Amandus Ambot OFMCap, sebagai Minister Propinsial Kapusin, menekankan bahwa para Saudara Kapusin harus dapat memberikan  kesaksian hidup yang  baik dan benar tentang  karisma dan spiritualitas hidup Santo Fransiskus Assisi, supaya panggilan untuk menjadi seorang religius kapusin semakin berkembang.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Selanjutnya, setelah Perayaan Misa Syukur berakhir, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan santap malam bersama di ruang makan Laverna. Perayaan syukur pesta perak Postulat santo Leopold Mandic ini, berjalan dengan lancar hingga perayaan berakhir.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-xQnconzAOgfJQvozqTh5pd5ssKnrqTCA6jMNHI8k4djj6hCT3X5BeHR_JQgyBAVg1r0YNjum9xca59MH5Kv4qfDj6wgn8JCtTHTcawVcxNlByI_v6dGXG87uhbLQRHybIpDVtHsWLxHI/s1600/image002.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-xQnconzAOgfJQvozqTh5pd5ssKnrqTCA6jMNHI8k4djj6hCT3X5BeHR_JQgyBAVg1r0YNjum9xca59MH5Kv4qfDj6wgn8JCtTHTcawVcxNlByI_v6dGXG87uhbLQRHybIpDVtHsWLxHI/s640/image002.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Diharapkan dengan Perayaan pesta perak ini, Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic, Sanggau ini dapat menjadi tempat persemaian benih-benih panggilan  bagi para calon kapusin sehingga kelak mereka dapat menjadi kapusin yang unggul dalam kesaksian hidup dan karya  pada masa yang akan datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat ini ada sembilan calon kapusin muda yang sedang menempuh pendidikan  di Postulat Santo Leopold Mandic, Bunut-Sanggau Kapuas. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Barat dan di Luar Kalimantan Barat. Masa pendidikan di sini berlangsung selama satu tahun. Setelah itu mereka melanjutkan di Novisiat Kapusin Padre Pio, Gunung Poteng. &lt;i&gt;&lt;b&gt;(Sdr Meldi Irwandi)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;(Penulis adalah Postulan Kapusin Pontianak - tahun 2015)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/1077763562840889128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/perayaan-pesta-perak-postulat-kapusin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1077763562840889128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1077763562840889128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/perayaan-pesta-perak-postulat-kapusin.html' title='Perayaan Pesta Perak Postulat Kapusin Santo Leopold Mandic Sanggau'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqBbGs9bHDb2welViAJt73hOGBlrkiUTATYRzlg72AB0hj6QK8ehruX3zizDqAHfFfBoi21843Tnzp03Ah4ciWBAsqRrThegIyoIziHLpmArd6S0a0OWpXDd6LZJB7ni4lx85NCt5qTns5/s72-c/image001.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-4855799940524469110</id><published>2015-10-17T07:20:00.000-07:00</published><updated>2016-10-17T09:07:36.310-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Doa"/><title type='text'>Kalender Liturgi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbs7gHMdzgHDqOcBZjcXPiTdqjhLN781aHiKLqgnbocVwwR7xNtyJ3RgDwh9g_m0mpXQqhXV1ynVuUCKvZB4mnJajn0Jdo5waCc70UfVpxjjRuplJU6d7CIeoeFZMoNBZ8Y8Y5Kh365hfh/s1600/St.FrancisAssisi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbs7gHMdzgHDqOcBZjcXPiTdqjhLN781aHiKLqgnbocVwwR7xNtyJ3RgDwh9g_m0mpXQqhXV1ynVuUCKvZB4mnJajn0Jdo5waCc70UfVpxjjRuplJU6d7CIeoeFZMoNBZ8Y8Y5Kh365hfh/s1600/St.FrancisAssisi.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Januari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
03 - Nama Tersuci Yesus, Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
12 - St. Bernardus dari Corleone, Saudara Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
16 - St. Berardus dan sahabat-sahabat, protomartir dari Ordo Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Februari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
04 - St. Joseph dari Leonessa, Imam Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
06 - SS. Petrus Baptis, imam dan sahabat, martir Jepang - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Maret&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
02 - St. Agnes dari Bohemia, Ordo Santa Klara - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;April&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
21 - St. Konrad dari Parzham, saudara &amp;nbsp;Kapusin- Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
24 - St. Fidelis dari Sigmaringen, Protomartir dari Popaganda Fide - Pesta&lt;br /&gt;
30 - Bl. Benediktus dari Urbino, Priest Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mei&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
08 - Bl. Yeremia dari Valacchia,&amp;nbsp;saudara&amp;nbsp;Kapusin - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
11 - St. Ignatius dari Laconi,&amp;nbsp;saudara&amp;nbsp;Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
12 - St. Leopold Mandic dari Herzegovina, imam Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
16 - St. Margaret dari Cortona, Fransiskan Sekular - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
18 - St. Felix dari Cantalice, Capuchin saudara - Pesta&lt;br /&gt;
19 - St. Crispin dari Viterbo, Capuchin saudara - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
20 - St. Bernardinus dari Siena, imam Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
24 - Dedikasi dari Basilika Santo Fransiskus dari Assisi - Pesta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Juni&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
02 - St. Felix dari Nicosia, Capuchin saudara - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
08 - Bl. Nicholas dari Gesturi, Capuchin saudara - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
12 - Bl. Florida Cevoli, Capuchin Poor Clare - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
13 - Santo Antonius dari Padua, imam Fransiskan dan Pujangga Gereja - Pesta&lt;br /&gt;
16 - Bb. Anizet Koplin, Capuchin imam dan teman - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
26 - Bl. Andrea Giacinto Longhin, Capuchin uskup - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Juli&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
10 - St. Veronica Giuliana, Capuchn Poor Clare - Pesta&lt;br /&gt;
15 - St. Bonaventure, Franciscan Uskup dan Pujangga Gereja - Pesta&lt;br /&gt;
16 - St. Francis Solanus, imam Fransiskan - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
21 - St. Lawrence dari Brindisi, Pujangga Gereja - Pesta&lt;br /&gt;
27 - Bl.&lt;br /&gt;
28 - Bl. Mary Teresa Kowalska, Capuchin Poor Clare - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Agustus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
02 - Our Lady of the Angels - Pesta&lt;br /&gt;
07 - Bb. Agathangelo dan Cassian, imam dan martir - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
08 - St. Dominic, imam dan Pendiri Ordo Pengkhotbah - Pesta&lt;br /&gt;
11 - St. Clare dari Assisi, Pendiri Clares Miskin - Pesta&lt;br /&gt;
13 - Bl. Marco dari Aviano, imam Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
14 - St. Maximilian Kolbe, imam Fransiskan dan martir - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
18 - Bl. John Louis Loir, dan sahabat, imam dan martir - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
23 - Bl. Bernard dari Offida, saudara Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
25 - St. Louis IX dari Perancis, Raja dan Fransiskan Sekular - Pesta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;September&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
02 - Bl. Apollinaris dari Posat, imam Kapusin dan martir - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
17 - Stigmata Santo Fransiskus dari Assisi - Pesta&lt;br /&gt;
18 - St. Joseph dari Cupertino, imam Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
19 - St. Francis Mary dari Camporosso, saudara Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
22 - St. Igantius dari Santhia, imam Kapusin- Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
23 - St. Pio dari Pietrelcina, imam Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
26 - Bl. Aurelio dari Vinalesa dan sahabat, imam dan martir - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
28 - Bl. Innocent of Berzo, imam Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oktober&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
04 - St Fransiskus dari Assisi - Hari Raya&lt;br /&gt;
12 - St. Seraphin dari Montegranaro, saudara Kapusin - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
13 - Bl. Honorat dari Biala, imam Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
22 - St. Peter dari Alcantara, imam Fransiskan - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
23 - St. John dari Capistrano, imam Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
25 - Bb. Maria Jesus Masia Ferragut dan sahabat, martir - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
31 - Bl. Angelo dari Acri, imam Kapusin- Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;November&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
14 - St. Nicholas Tavelic dan sahabat, imam dan martir - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
17 - St Elizabeth dari Hungaria, janda, dan Fransiskan Sekular - Pesta&lt;br /&gt;
26 - St. Leonard dari Port Maurice, Imam Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
27 - St. Francis Anthony Fasani - Imam Fransiskan - Peringatan Wajib&lt;br /&gt;
28 - St. James dari Marches, Franciscan Priest - Peringatan Fakultatif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Desember&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
02 - Bl. Mary Angela Astorch, Ordo Santa Klara Kapusines - Peringatan Fakultatif</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4855799940524469110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/4855799940524469110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/10/kalender-liturgi.html' title='Kalender Liturgi'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbs7gHMdzgHDqOcBZjcXPiTdqjhLN781aHiKLqgnbocVwwR7xNtyJ3RgDwh9g_m0mpXQqhXV1ynVuUCKvZB4mnJajn0Jdo5waCc70UfVpxjjRuplJU6d7CIeoeFZMoNBZ8Y8Y5Kh365hfh/s72-c/St.FrancisAssisi.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-3049574245522890121</id><published>2015-06-29T05:02:00.000-07:00</published><updated>2016-01-28T01:16:37.132-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Ordo"/><title type='text'>Berkenalan dengan Ordo Kapusin Pontianak</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;P. Egidius Egiono OFMCap.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah Ordo Kapusin Propinsi Pontianak tidak dapat dilukiskan tanpa kaitannya dengan pendirian Keuskupan Agung Pontianak. Para Biarawan Kapusin adalah pionir dalam pendirian paroki-paroki dan Keuskupan Agung Pontianak. Misi Kapusin di Kalimantan dimulai pada tanggal 30 November 1905, tepatnya di Singkawang, Kalimantan Barat. Misi ini dirintis oleh empat orang Kapusin dari Belanda, yaitu: Pater Pasificus Boos, Pater Eugenius, Bruder Wilhelmus, dan Bruder Theodovicus. Misi ini sebenarnya melanjutkan misi yang telah dimulai oleh Ordo Jesuit yang melayani Indonesia pada waktu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKpU0A3OnPMF4XqLr0fft4vu6NRzkORVlrhepgiS7W1YqU1A5W5UB3YzVfUvZsz_ow0kW-7PR2LJV5zqyTuR5XjgF6Fgqq4AHkG99V2fKlU9zoL4gDD06X9CB31svjYoRQu_5iImCRcNMz/s1600/sacre-coeur-102110_1920.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKpU0A3OnPMF4XqLr0fft4vu6NRzkORVlrhepgiS7W1YqU1A5W5UB3YzVfUvZsz_ow0kW-7PR2LJV5zqyTuR5XjgF6Fgqq4AHkG99V2fKlU9zoL4gDD06X9CB31svjYoRQu_5iImCRcNMz/s640/sacre-coeur-102110_1920.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Singkawang adalah stasi pertama. Umat Katolik di Singkawang pada waktu itu sekitar 300-an orang Tionghoa. Pada Tahun 1906 Para Kapusin berangkat ke Sejiram dan mendirikan sebuah paroki. Pada tahun 1908 mereka mendirikan sebuah Paroki di Lanjak. Kemudian, datang dua orang misionaris baru Kapusin di Kalimantan Barat. Pada tahun 1907, kedua-duanya ditempatkan di Laham Kalimantan Timur. Pada tahun yang sama yakni tahun 1907 didirikan Paroki Pemangkat, Paroki Pontianak tahun 1909, Paroki Sambas tahun 1914, Paroki Nyarumkop pada tahun 1916, dan Paroki Sanggau tahun 1925. Pada permulaan karya misi di Kalimantan Barat tidaklah begitu mudah. Oleh karena itu, para misionaris mendirikan lembaga-lembaga pendidikan untuk menarik kaum muda. Lembaga-lembaga pendidikan itu antara lain: Sekolah Pertukangan di Singkawang tahun 1913, Pusat Pendidikan di Nyarungkop pada tahun 1913, dan Sekolah Pertukangan di Pontianak pada tahun 1928. Sekolah-sekolah ini pada akhirnya menghasilkan tokoh- tokoh Gereja di Kalimantan Barat.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pulau Kalimantan adalah daerah misi yang terbesar, sebab itu pada tahun 1925, Wilayah Sintang diserahkan ke Serikat Maria Montfortan (SMM). Pada tahun 1926 misi Kapusin di Kalimantan Timur diserahkan kepada Kongregasi MSF dan sesudah penjajahan Jepang, karya misi di Ketapang diserahkan kepada Kongregasi Passionis. Pada waktu itu, Mgr. Pacificus Boos OFMCap adalah Prefect Apostolic yang kemudian menjadi Vicaris Apostilic pertama. Ketika dia sakit, dia digantikan oleh Mgr. Tarcicius Van Valenberg OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada Tahun 1942-1945, semua misionaris di Kalimantan Barat dipenjara di Kuching- Sarawak, Malaysia oleh penjajah Jepang. Setelah selesai masa penjajahan, pada tahun 1957, Mgr. Herkulanus Van den Berg OFMCap menggantikan Mgr. Tarcicius OFMCap. Pada tahun yang sama, tiba di Kalimantan Barat tiga orang Misionaris Kapusin dari Swiss, yakni: Pater Franz Xaver Brantschen OFMCap, Pater Ewald Beck OFMCap, Pater Rene Roscy OFMCap. Sementara itu para kapusin dari Propinsi Belanda melaksanakan karya misi mereka di Tanzania. Ini disebabkan karena para misionaris dari Belanda tidak lagi diijinkan masuk di Indonesia oleh Pemerintah Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 1934, Fr. Pacifikus Bong OFMCap, Kapusin Indonesia pertama ditahbiskan sebagai seorang imam. Tahun 1966 menyusul Fr. Matheus Sanding OFMCap menerima tahbisan imamat dan tahun 1967 Fr. Hieronymus Bumbun OFMCap juga ditahbiskan menjadi imam. Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1977 Pater Hieronymus Bumbun OFMCap ditahbiskan menjadi seorang uskup dari Keuskupan Agung Pontianak, Kalimantan Barat.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena jumlah para Kapusin di Indonesia semakin bertambah, pada tanggal 31 Januari 1976 Propinsi Kapusin Indonesia didirikan. Propinsi Kapusin Indonesia terdiri dari tiga Regio, yakni: Regio Kapusin Medan, Regio Kapusin Pontianak dan Regio Kapusin Sibolga. Propinsial pertama Kapusin Indonesia adalah Pater Gonsalvus Snijders OFMCap; Propinsial kedua adalah Pater Barnabas Winkler OFMCap, sementara Superior pertama Kapusin Regio Pontianak adalah Pater Amantius Pidjenburg OFMCap. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, karena jumlah Kapusin Indonesia semakin bertambah significan dan karena alasan geografis, pada tanggal 2 Februari 1994, Propinsi Kapusin Indonesia dibagi menjadi tiga Propinsi, yakni: Propinsi Kapusin Medan, Propinsi Kapusin Pontianak dan propinsi Kapusin Sibolga. Sampai saat ini ketiga propinsi Kapusin telah bekerjasama, terutama dalam bidang pendidikan para calon kapusin di Pematangsiantar, Sumatra Utara. Sekarang ini Kapusin di Propinsi Pontianak berjumlah 139 orang termasuk postulan dan novis (s/d Maret 2015). Para saudara kapusin berkarya di di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Sintang, Keuskupan Palangkaraya, dan Keuskupan Agung Jakarta. Beberapa dari mereka sedang berkarya di Australia, New Zealand, Timor Leste dan Roma, dan beberapa orang sedang studi lanjut di Roma, Philippina dan Indonesia. Karya-karya para Kapusin antara lain di Paroki-paroki, Rumah Retret, Persekolahan, Asrama, LSM dan sebagainya&lt;i&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/3049574245522890121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/berkenalan-dengan-ordo-kapusin-pontianak_22.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3049574245522890121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3049574245522890121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/berkenalan-dengan-ordo-kapusin-pontianak_22.html' title='Berkenalan dengan Ordo Kapusin Pontianak'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKpU0A3OnPMF4XqLr0fft4vu6NRzkORVlrhepgiS7W1YqU1A5W5UB3YzVfUvZsz_ow0kW-7PR2LJV5zqyTuR5XjgF6Fgqq4AHkG99V2fKlU9zoL4gDD06X9CB31svjYoRQu_5iImCRcNMz/s72-c/sacre-coeur-102110_1920.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-1919485119486146114</id><published>2015-05-15T22:54:00.000-07:00</published><updated>2016-01-28T01:07:02.866-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Doa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Menjadikan Yesus Kristus Tidak Sekedar “Idola” Sejati Kita</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif;&quot;&gt;P. Gabriel Marcel OFMCap.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Siapa idola kita? Mengapa kita perlu “idola” atau tepat orang, figur yang menginspirasikan atau dapat dijadikan panutan bagi kita? Tentu bagi kita YK tak sekedar jadi idola, karena Ia adalah Penyelamat bagi kita. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Kalau idola bagi kita bisa menjadi berbeda. Mengapa jadi bisa lain, karena setiap orang dari kita memiliki pandangan, ide, cita-cita, impian akan orang atau apa yang ingin lakukan. Soal idola taklah salah bila kita berbeda. Lalu mengapa kita mengidolakan seseorang? Bisa jadi karena orang ini atau &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
itu memenuhi “kerinduan” atau “impian” saya. Dalam diri atau pribadi orang itu terdapat hal-hal yang ingin kita miliki atau figur itu bisa memenuhi “kehausan” hati kita. Lebih jauh, kehadiran sang panutan itu menggerakkan kita untuk lebih kreatif, membuat kita makin bergairah dan bahkan semangat hidup berlipat ganda, bahkan kita jadi rajin dalam menjalani tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepada kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihqqllGwdC8qvQOdYAx06F3WFmKATSA2fGUQ51SNx2Dob59QXYwx1rzt51sN5CgdI7k-7Whd1RWqXN6TD4mHd0E9PqWSomH_q4hNBmfj9GLbFD1XDaEncZfDPfAXFG6KbRqA9lJF0JMsAa/s1600/jesus-414398_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihqqllGwdC8qvQOdYAx06F3WFmKATSA2fGUQ51SNx2Dob59QXYwx1rzt51sN5CgdI7k-7Whd1RWqXN6TD4mHd0E9PqWSomH_q4hNBmfj9GLbFD1XDaEncZfDPfAXFG6KbRqA9lJF0JMsAa/s640/jesus-414398_1280.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kalau kita sudah memiliki idola atau panutan yang patut digugu dan ditiru, maka kita sebenarnya sudah mengenal lebih dalam orang yang kita sukai dan layak dijadikan teladan bagi kita. Nah, sejauh mana pengenalan kita akan pribadi unggul yang pantas dicontoh itu menjadi kata kunci bagi kita untuk dapat melangkah lebih jauh bahwa ia bukan sekedar idola namun menjadi penopang perjalanan kehidupan kita, dia jadi andalan hidup kita? Untuk itu perlulah kita mengenalnya lebih dalam. Bila Yesus Kristus idola dan sekaligu Penyelamat kita, maka kita saat ini tak perlu membuang waktu banyak untuk langsung menyimpulkan Dialah idola dan tokoh yang patut dipuji dan jadi andalahku. “Yesus, Engkaulah andalanku” (bdk Doa Kerahiman Ilahi).&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Siapakah Yesus? Anda sudah kenal baikkah? Pertanyaan siapakah Yesus bagiku juga merupaka pertanyan Yesus sendiri bagi kita saat ini.  Pertanyan yang sama ini pernah Yesus ajukan kepada murid-muridNya (bdk Mat. 13: 15; Mrk 8: 27; Luk 19: 20). Mengapa pertanyaan ini penting diajukan, karena siapa saja yang mau ikuti Dia mesti kenal benar dahulu, sehingga dalam pewartaan akanNya, menjadi tepat. Yesus sering digelari: Anak Allah, Mesias, Anak Manusia. Para murid rupanya lebih mudah mengutip ucapan orang banyak tentang Yesus tentang Yesus itu. Ada yang katakan Dia itu Yohanes Pembaptis, Elia,  atau satu diantara para nabi. Lalu siapakah Dia bagiku? &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kita tahu kita suci dan tradisi mengajarkan dan sumber utama untuk mengenal Yesus. Konsili vatikan II dalam konstitusi Dogmatis “Dei Verbum” menyatakan bahwa “Gereja dalam ajarannya, hidup serta ibadatnya melestraikan serta meneruskan kepada semua keturunan, dirinya seluruhnya, imannya seutuhnya” (DV 8). Nah proses komunikasi iman dari satu generasi ke generasi berikutnya dan diantara orang sejaman disebut tradisi. Tradisi ini bermakna penyerahan, penerusan, komunikasi terus-menerus. Tradisi bukan sesuatu yang kolot, atau ketinggalan jaman atau dari “tempoe doeloe”, melaiankan sesuatu yang masih terjadi hingga saat ini juga. Gereja masih terus hidup dan berkembang, itulah tradisi yang senantiasa dinamis. Dalam tradisi itu memang ada waktu tang khusus, yakni jaman Yesus, dan para Rasul. Atau sering kita dengar jaman Gereja Perdana yang jadi dasar dan pokok untuk tradisi berikutnya, “yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjurunya’ (Ef. 2: 20). Nah perumusan iman Gereja Perdana itu yang disebut PB (Perjanjian Baru) karena iman Gereja Perdana yang terungkap di dalamnya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kemudian apa yang ditulis dalam Kitab Suci merupakan kisah Yesus seperti yang diwartakan oleh orang beriman, yaitu Yesus yang sudah dialami oleh orang-orang beriman dan kemudian diwartakan oleh mereka. Apa yang di tulis dalam Kitab Suci adalah naskah yang disusun atas pewartaan dasar lisan dan tulisan mengenai Yesus Kristus yang dibuat oleh Gereja Perdana. Nah bila kita mau kenal Dia, maka kita perlu pelajari proses sejarah yang panjang itu, inilah “PR” kita sepanjang hidup.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kita takkan mungkin mengenal Allah secara tuntas, kalau tidak Dia yang lebih dulu mengenalkan diriNya kepada kita. Allah sendirilah yang mewahyukan diriya kepada kita. Menjadi Orang Kristen berarti menjadi murid-murid YK. Hidup sebagai murid YK, berarti mempunyai komitment untuk mengikuti Dia secara bebas dan setia, dengan kata lain menjadikan Dia sungguh idola dan penyelamat. Kita melaksanakan dan mengembangkan kebebasan dan kesetiaan kita secara kreatif dengan mendengarkan dan menjawab panggilanNya.  Selain itu seluruh hidup kita harus merupakan suatu tanggapan terhadap Allah melalui Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita oleh Yesus. Pertanggungjawaban tersebut memuat beberapa unsur dari panggilan kita mengikuti Yesus yakni: tanggapan, kebebasan, tuntutan Yesus dan pertobatan. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Jemaat Perdana atau umat Purba mengaku Yesus sebagai “Kristus”, “Putera Allah yang hidup” (Mat 16: 16). Mereka mengikuti Yesus bukan sebagai nabi dan guru namun sebagai Kristus, Putera Allah yang hidup. Yesus adalah pernyataan keselamatan Allah sendiri. Mereka mengimani Yesus sebagai pengantara Allah dan manusia. Yesus adalah penyelamat dunia, karena menyampaikan keselamatan dari Allah kepada dunia. Yesus bukan sekedar pewarta keselamatan namun dalam Dia keselamatan itu dilaksanakan. Manakah tanggapan kita atas panggilanNya dalam YK? Pertama-tama adalah iman. Iman mengajarkan kita bahwa Allah berbicara kepada kita dalam dan melalui peristiwa-peristiwa dan pribadi-pribadi yang mengisi hidup kita. Tanggapan kita haruslah menjadi wujud cinta kasih kepada sesama dan Allah. Tuntutan menjadi muridNya adalah menjadikan seluruh hidup kita sebagai suatu tanggapan terhdapa Allah. Tanggapan itu tampak dalam perbuatan atau pelayanan kita yang menjadi kesaksian nyata. Beberapa tanggapan terhadap panggilan dalam hidup kita itu adalah bagaimana kita menata dan mengembangkan hidup kita manusia baru dalam Kristus: bermartabat luhur, lebih melayani daripada dilayani, dsb.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kebebasan adalah salah satu karunia yang paling berharga yang diberikan Tuhan kepada manusia. Andaikata Allah tidak memberikan kebebasan kepada manusia maka manusia akan menjadi robot atau seperti binatang yang tidak bisa menentukan tindakkannya. Kerapkali kebebasan itu disalahgunakan oleh manusia, seakan-akan kebebasan itu “ijin” untuk boleh berbuat apa saja. Namun kebebasan itu mestinya bukan “bebas dari” aturan, larangan melainkan “kebebasan untuk” menentukan pilihan. Tentu pilihan yang baik, benar dan menyelamatkan. Kita menerima kebebasan itu dari dan dalam YK, yang menunjukkan jalan kasih yang bebas dan kreatif. Yesus sendiri mengambil bagian dalam kebebasan yang tak terbatas, sebagai Sabda Allah, namun Ia telah menyerahkan kebebasan itu bagi kita dengan membebaskan kita dari segala sesuatu yang dapat memperbudak kita pada dunia. Dengan mengenal cinta Ilahi, kita menemukan kebenaran hidup dan belajar bahwa adalah mungkin mengasihi sesama  seperti Dia telah mengasihi kita. Seperti Yesus, para pengikutNya pun menemukan keberanian untuk melawan “kuasa dunia”. Lalu menjadi pengikutnya juga menjadikan kita “co-creator” bersama Allah.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tentu dalam mengikuti Yesus ada tuntutan yang mesti dipenuhi. Yesus sendiri berkata kepada murid-muridNya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikuti Aku”, (Mat 19: 24; Mrk 8: 34; Luk 9:23). Taklah mudah mengikutinya, maka kita terus memperbaharui diri dalam segala dimensi hidup kita. Pembaharuan diri itulah yang kita kenal dengan pertobatan. Pertobatan itulah juga tema utama pewartaan Yesus: “...Kerajaan Allah sudah dekat bertobatlah....(Mrk 1:15). Seruan pertobatan ini sudah sejak jaman para nabi dalam Perjanjian Lama berkitan perlunya “perubahan hati yang menyeluruh”, berbalik dari dosa, lalu kembali kepadaNya. Bahkan kita lihat Yohanes Pembaptis serukan hal yang sama (Mat 3:10). Lalu pertobatan itu sejatinya adalah sebuah sikap dan perilaku yang melibatkan seluruh diri untuk sepenuhnya bertindak sesuai kehendakNya. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;                Lalu apa yang bisa kita pelajari dari “idola” kita, YK? &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tanpa bermaksud mengurangi dan membatasi “keunggulan” yang ada pada YK, saya hanya menyodorkan beberapa aspek pribadi yang dimilikiNya, yang kiranya dapat dijadikan contoh bagi kita. Pertama, Yesus sebagai pemimpin, pemimpin dengan motivasi yang jelas, yaitu memuliakan Bapa di surga (Luk 2: 49). Sebagai pemimpin Ia memiliki karakter yang konsisten dengan apa yang diajarkan dan dibuatNya. Kita mau mencotoh karakternya yang mau kerja keras, jujur, peka dan perbuatan kasihNya. Kedua, Yesus berani, yaitu keberanian berbuat baik, walau harus menanggung resiko pengurbanan diri, berhadapan dengan konflik pada zamannya begitupun kita. Ketiga, Yesus bebas, Yesus menjalankan tugasNya dengan bebas tanpa terikat dan kaku pada aturan dan hukum serta tradisi pada zamanNya. Apa yang dibuatNya demi keselamatan umat Manusia. Empat, Yesus rendah hati, Ia mau melayani dan menaruh “pelayanan” sebagai syarat mutlak menjadi muridNya (mat 22: 34-40; Yoh 13: 1-11; Mrk 10: 35).&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kelima, Yesus peka dan tanggap, Yesus berasal dari keluarga sederhana di Nazaret, namun ketika Ia menjadi terkenal Ia tak lupa asal-Nya. Ia senantiasa berasda di tengah suka-duka hidup manusia dan berbuat sesuatu demi membantu dan mengatasi segala kesulitan hidup (perkawinan di Kana, Yoh 2: 2; menyembuhkan yang sakit, Mat 8: 14-17, memberi makan, Mrk 6: 30-44). Keenam, Yesus setia pada tugasNya, kesetiaanNya pada tugas yang Bapa berikan kepadaNya. KetekunanNya untuk menemukan dan menjalankan kehendak BapaNya. Inilah rahasia kesuksesanNya, kesetian menjalani tugas yang dipercayakan oleh BapaNya. Ketujuh, Yesus kreatif, Yesus menggunakan segenap kemampuannya untuk mewujudkan KA, bahkan dengan sadar dan mampu menempatkan diri dalam situasi zamanNya serta memilih berpihak pada yang kecil. Demikianlah dari sekian banyak kualitas pribadi Yesus yang dapat kita jadikan juga bagian dari kita yang mau melayani dan menjadi pengikutNya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/1919485119486146114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/menjadikan-yesus-kristus-tidak-sekedar.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1919485119486146114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1919485119486146114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/menjadikan-yesus-kristus-tidak-sekedar.html' title='Menjadikan Yesus Kristus Tidak Sekedar “Idola” Sejati Kita'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihqqllGwdC8qvQOdYAx06F3WFmKATSA2fGUQ51SNx2Dob59QXYwx1rzt51sN5CgdI7k-7Whd1RWqXN6TD4mHd0E9PqWSomH_q4hNBmfj9GLbFD1XDaEncZfDPfAXFG6KbRqA9lJF0JMsAa/s72-c/jesus-414398_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-5186529385586280258</id><published>2015-04-10T18:26:00.000-07:00</published><updated>2016-01-28T01:31:38.292-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah Gereja"/><title type='text'>Sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Barat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;Editor: P. Gabriel Marcel, OFMCap.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large; font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large; font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2JgQwGCDGA0zmdxQdu-T9ubpK85MdziWl52s4b3IejQYXwYBbqSC4FbXtmLA-eV1EwEz3frhJbCWs3sveNsvYG9LHk0uWaYHJNKGgNf0XL6yT-jrJv5p1vDQvFou52kyEwYAYCVSkNNSV/s1600/pontianak-gereja-katedral-santo_20141220_144504.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2JgQwGCDGA0zmdxQdu-T9ubpK85MdziWl52s4b3IejQYXwYBbqSC4FbXtmLA-eV1EwEz3frhJbCWs3sveNsvYG9LHk0uWaYHJNKGgNf0XL6yT-jrJv5p1vDQvFou52kyEwYAYCVSkNNSV/s640/pontianak-gereja-katedral-santo_20141220_144504.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;Kondisi Geografis Kalimantan Barat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Secara geografis Kalimantan Barat adalah salah satu provinsi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi Kalimantan Barat dengan ibukotanya Pontianak terletak di antara garis 20 08’ LU dan 30 05’ LS serta di antara 1080 0’ BT dan 1140 10’ BT pada peta bumi. Berdasarkan letak geografis yang spesifik ini, maka daerah Kalimantan Barat tepat dilalui oleh Garis Khatulistiwa (garis lintang 00 ) tepatnya di atas kota Pontianak.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Wilayah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang langsung berbatasan dengan negara tetangga, yaitu Negara Bagian Serawak, Malaysia Timur. Posisi geografis ini menjadikan Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang secara resmi telah memiliki akses jalan darat masuk dan keluar ke/dari negara asing, seperti Malaysia dan Brunai Darussalam. Hal ini terjadi karena antara Kalbar dengan Serawak terbuka jalan darat antar negara yang bisa dilalui kendaraan umum via poros jalan antar negara Pontianak–Entikong–Kuching (Serawak Malaysia) sepanjang 400 Km dan dapat ditempuh enam sampai delapan jam perjalanan darat. Batas wilayah Provinsi Kalimantan Barat adalah sebelah utara Serawak (Malaysia), sebelah selatan dengan Laut Jawa, sebelah timur dengan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur dan sebelah barat dengan Laut Natuna dan Selat Karimata. Ada empat kabupaten sebelah utara Kalimantan Barat yang berbatasan dengan negara jiran Malaysia : Sambas, Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu. Sebagian besar wilayah Kalimantan Barat merupakan daratan berdataran rendah dengan luas sekitar 140.807 Km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia, atau 1,13 kali luas pulau Jawa. Wilayah ini Membentang lurus dari utara ke selatan sepanjang lebih dari 600 kilometer dan sekitar 850 kilometer dari barat ke timur. Bagian lain adalah perairan laut dengan puluhan pulau-pulau. Pulau yang besar adalah pulau Karimata dan pulau Maya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;Kedatangan Injil di Kalimantan Barat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Menurut data-data arsip Ordo Fransiskan mencatat bahwa pada tahun 1313 Kalimantan dikunjiungi oleh Odorico de Pordone. Ia singgah dalam rangka menuju ke Cina dari Eropa dan mampir ke Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta sempat singgah ke ibukota Majapahit. Selama abad 16 banyak misionaris mengunjungi Indonesia, tetapi tidak seorangpun yang ke Kalimantan. Ini berlangsung sampai tahun 1688, ketika akhirnya datang lagi beberapa imam dari Kongregasi Theatin ke Kalimantan.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tahun 1847 Mgr. Vrancken mengadakan kontak pertama dengan Ordo Yesuit untuk membicarakan tentang Kalimantan. Pada masa itu Kalimanatan merupakan bagian dari provinsi Ordo Yesuit. Dalam tahun yang sama Vikaris berunding dengan G.G. Rochussen. Kemudian dia berbicara dengan Residen Willer dari Sambas dan Residen Pontianak dengan hasil keputusan bahwa: G.G. Rochussen tidak keberatan misi mulai bekerja di Kalimantan Barat, asal di daerah di mana belum ada pendeta. Menurut artikel 171 yang dikeluarkan pemerintahan Hindia-Belanda melarang adanya misi ganda di suatu wilayah. Pada masa itu wilayah Borneo Selatan (Kalimantan Selatan dan Tengah saat ini) sudah dimasuki misi Protestan. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalam tahun 1851-1853 pastor Sanders beberapa kali melakukan survey hingga jauh di Kalimantan Barat dan Timur, untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pembukaan misi. Tahun 1862 Pastor van Grinten berkeliling di pelbagai daerah orang Dayak di Kalimantan Barat. Laporan mereka optimis jika Kalimantan akan menjadi daerah pekabaran Injil yang berkembang, tetapi bertahun-tahun lamanya tidak ada berita lagi. Hal ini disebabkan karena kekurangan tenaga dan waktu itu di Kalimantan Barat cukup lama kurang aman, dan sering kali terjadi pertentangan yang kadang-kadang hingga menimbulkan pertumpahan darah antara pemerintah dengan kongsi-kongsi yang berkuasa di sana.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Umat Katolik Kalimantan Barat dikunjungi oleh para misionaris dari Jakarta. Pater de Vries dalam tahun 1865 bertemu di Singkawang dengan seorang Tionghoa yang sudah dibaptis dan yang sudah mendapat lima orang katekumen. Dalam tahun-tahun berikutnya tidak ada berita lagi.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalam tahun 1872 pastor Timmermans mengunjungi Kalimantan-Barat disertai oleh Petrus Chang, seorang katekis yang datang dari Tiongkok dan akan bekerja di Bangka. Antara 7 Mei dan 12 Juli 1874 Pater de Vries mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Singkawang dan Monterado. Di Singkawang ada umat Katolik Tionghoa berjumlah 51 orang yang sudah dibaptis, ada yang menjadi Katolik di Singkawang sendiri, ada yang datang dari Bangka atau Malaya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Di Pontianak masih terdapat enam orang Tionghoa yang Katolik, dan beberapa di Monterado. Di tiga kota ini Pater de Vries telah mengangkat seorangsensang atau katekis; sensang di Pontianak ternyata mencandu, lalu dipecat. Di Singkawang seorang wanita Tionghoa menyumbangkan sebidang tanah dengan 700 pohon kelapa. Sebuah gereja dibangun di sana, dengan sebuah kamar untuk pastor. Koster penjaga mendapat hasil dari pohon-pohon kelapa itu sebagai gajinya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karena umat Katolik sedikit demi sedikit bertambah, Pater de Vries dan Pater Staal SJ yakin bahwa harus ditempatkan seorang pastor tetap. Dalam tahun 1880 sudah ada umat Katolik 110 orang, yang hampir semuanya diam di Singkawang. Tahun 1884 beberapa pastor Mill Hill dari Borneo Inggris menawarkan diri untuk bekerja di Kalimantan Barat, tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tahun 1885 G.G. van Rees mengizinkan didirikan stasi Singkawang yang meliputi Kalimantan Barat dengan 150 orang Katolik Tionghoa dan pulau Belitung 100 orang Tionghoa Katolik. Di samping itu masih terdapat 100 hingga 200 orang Belanda sipil, dan sejumlah tentara yang bertugas secara temporer. Pater Staal SJ sebagai pastor Paroki yang pertama. Maksud utama misi Singkawang ialah mendirikan basis bagi karya misi di antara orang-orang Dayak. Beberapa kali pastor Staal mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi. Nasihatnya adalah supaya misi dimulai di antara orang-orang Dayak yang diam di sekitar Bengkayang, khususnya di Kampung Sebalau, daerah itu tidak terlalu jauh dari Singkawang sehingga antara pastor Sebalau dan pastor Singkawang bisa selalu mengadakan kontak. Residen Gijsbers dari Pontianak menganjurkan agar Pater Staal juga mengunjungi daerah lain. Lima hari berlayar memudiki sungai Kapuas sampai Semitau, pusat orang-orang Dayak dari suku Rambai, Sebruang, dan Kantuk. Walaupun orang-orang Daya di sana baik, namun karena jumlah mereka sekitar 1500 jiwa saja, dan perjalanan sulit sekali maka Pater Staal tetap di Sebalau.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karena belum ada misionaris, misi Dayak diundur-undurkan saja, sampai tahun 1888-1889 ketika ada kabar bahwa salah satu Zending Protestan mungkin akan bekerja di sana, setelah itu tentu daerah itu tertutup bagi Misi Katolik. Karena sudah dijanjikan tambahan tenaga dari Negeri Belanda, Mgr. Claessens mohon izin untuk membuka dua pos baru, yaitu di Bengkayang dan di Nanga Badan, dekat perbatasan Sarawak Inggris, tempat menjabat seorang Kontrolir.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
G.G. Pijnacker Hordijk tidak keberatan, namun menganjurkan supaya Semitau dipilih karena lebih gampang dicapai, apalagi pos Kontrolir Nanga Badan juga dipindahkan ke sana. Akhirnya Bengkayang tidak dipilih, karena terletak di daerah kuasa Sultan Sambas di mana para pejabatnya semua beragama Islam dan tidak ada jaminan bahwa mereka tidak akan menghalang karya misi di antara orang-orang Daya yang masih kafir.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Yang terpilih untuk misi baru itu ialah Pater H. Looymans, pastor di Padang (Sumatera Barat). Tanggal 29 Juli 1890 tiba di Kalimantan. Belum lama ia di Semitau, tapi jelas baginya bahwa Semitau bukan tempat yang ideal; daerah ini merupakan pusat perdagangan bagi daerah di sekitarnya, tetapi penduduknya hanya terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Melayu, dan kontak lebih mendalam dengan orang-orang Daya hampir tidak mungkin. Karena itu ia pindah ke Sejiram , di tepi sungai Sebruang. Daerah ini cukup banyak penduduknya dan menerima Pastor dengan ramah tamah. Pada puncak bukit dibangun rumah sederhana. Dengan itu mulailah stasi kedua di Sejiram.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sementara itu perkembangan Gereja Katolik di luar Kalimantan semakin meningkat, khususnya di Jawa dan Flores, sehingga sangat memerlukan tenaga. Karena tidak ada tenaga baru, maka dua pastor yang berada di Sejiram dan Singkawang di tarik kembali. Ini terjadi pada tahun 1897. Tahun-tahun selanjutnya Singkawang masih dapat dikunjungi oleh seorang pastor dari Bangka dua kali setahun, sedangkan Sejiram tidak mendapat kunjungan sama sekali. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Pada tanggal 11 Februari 1905 wilayah misi Kalimantan ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik Kalimantan yang berpusat di Pontianak. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;Titik Balik Misi Katolik Kalimantan Barat &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Setelah terjadi penyerahan wilayah pelayanan Borneo dari Ordo Yesuit kepada Ordo Kapusin (OFM. Cap) pada tahun 1905 terjadi titik balik perkembangan Gereja Katolik di Kalimantan Barat.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Suasana dramatis terjadi di Tilburg 16 Oktober 1905. Ratusan warga terkumpul di depan gereja dan biara kapusin dalam upacara pengutusan ini. Borneo (Kalimantan) pada masa itu masih dikenal sebagai daerah liar, Masyarakat Dayak digambarkan sebagai Wild Men from Borneo oleh orang Eropah. Cuaca dingin. Tapi hati mereka hangat mengambil bagian dalam semangat enam kapusin yang siap diutus ke Kalimantan. Dari umat ada yang kelihatan sedih. Ada yang secara tersembunyi mengusap sesuatu antara mata dan pipi. Itu pasti saudara keluarga dari enam misionaris itu. Ada yang menepuk bahu enam misionaris itu dengan membisikan yang sesuatu; tetapi dari wajah dan gerakan tangan mereka jelas mereka mau menggalang semangat kapusin-kapusin muda itu. Dari enam misionaris muda itu wajahnya ada yang serius dengan bayangan Kalimantan Barat sudah di depannya. Yang lain membalas umat dengan senyum gaya pahlawan. Pewartaan Injil. Itulah daya dorong bagi mereka sehingga sanggup meninggalkan saudara saudaranya; tanpa memperhitungkan kapan bisa berkumpul kembali dengan mereka. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Enam Kapusin itu adalah: &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
1.Pacificus Bos, imam, 31 tahun &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
2.Eugenius van Disseldorp, imam, 30 th  &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
3.Beatus Baijens, imam, 29 th  &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
4.Camillus Buil, imam,28 th . &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
5.Wilhelmus Verhulst, bruder, 30 th &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
6.Theodoricus van Lanen, bruder, 31 th.  &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Mereka tiba di Singkawang, 30 Nopember 1905, untuk pertama kalinya enam kapusin misionaris itu menyaksikan dengan gunung Raya dan gunung Pasi yang selama ini hanya mereka dengar saja. Kapal menurunkan mereka di pelabuhan kuala. Sesudah mendarat, mereka diantar ke “pastoran”, tempat sederhana yang ditinggalkan oleh misionaris misionaris Jesuit yang sebelumnya melayani Singkawang dari Batavia. Sebelumnya pada tanggal 10 April Pasifikus Bos OFM.Cap sudah diangkat menjadi Prefek Apostolik Kalimantan yang pertama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Maklumlah bahwa enam misonaris itu belum mengerti bahasa warga warga setempat. (Kemungkinan orang Khek dan Hoklo yang meninggalkan nama daerah Hoklonam). Syukur ada yang berperan sebagai juru bahasa.Segeralah pemimpin umat mengumpulkan umatnya sekitar 150 orang. Demikanlah enam kapusin mulai dengan bagian karya mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dengan bahan bahan yang mereka bawa dari Belanda maka mereka mulai dengan sekolah. Perhatian untuk pendidikan ternyata sangat tepat, baik dalam rangka pewartaan maupun dalam perkembangan sosial lain. Jelas terasa bahwa sudah ada dasar yang diletakkan oleh misionaris misonaris dari Batavia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tenaga awam sebagai katekis dan pemimpin umat melanjutkan karya pewartaan dan pelayanan rohaniah bagi warga warga. Mereka bekerjasama dengan misionaris misonaris yang baru datang itu Maka umat gereja berkembang terus dan meluas dari pantai ke daerah daereh pedalaman. Pada periode permulaan sebagian besar pekerjaan pelayanan umat ditangani oleh kaum awam, selaku katekis atau guru agama. Seorang katekis yang banyak bereperan besar dalam menyebarkan iman Katolik adalah Tsjang A Kang.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-size: large;&quot;&gt;Penyerahan Wilayah Pelayanan Kepada Konggregrasi Lain &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Wilayah Borneo terlalu luas bagi Ordo Kapusin. Sehingga pada Pada tanggal 13 Agustus 1924 Superior Provinsi Ordo OFMCap di Nederland mengirim surat meminta bantuan tenaga misionaris kepada Kongregasi MSF di Grave. Pada tanggal 12 Januari 1925 pater General MSF (Congregatio Missionariorum a Sacra Familia/kongregrasi misionaris Keluarga Kudus ) membalas surat itu dan memberitahu, bahwa MSF bersedia mengambil alih sebagian dari Vikariat Apostolik Pontianak. Dalam tempo yang tidak lama menjadi jelas bahwa MSF kemudian dipercayai untuk mengambil alih daerah Kaltim dan Kalsel (pada waktu itu Kalteng termasuk wilayah Kalsel). Seluruh anggota Kongregasi MSF, terutama di Belanda, bersorak-sorai. Meskipun tidak ada seorang anggota dewan general yang tahu sedikitpun mengenai daerah Kalimantan yang diambil alih, tetapi hal itu dianggap tidak penting; yang penting mempunyai daerah misi sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Setelah penyerahan wilayah kepada Kongregrasi MSF, ternyata Wilayah yang sangat luas dan medan yang sangat berat mendorong prefecture apostolic Borneo – Kalimantan, Mgr. Pasificus Bos, OFM. Cap. mengundang misionaris-misionaris dari kongregasi-kongregasi lain untuk ikut serta terlibat dalam karya misi di Kalimantan. Salah satu kongregasi yang diundang adalah SMM. Mgr. Pasificus Bos, OFM. Cap. mengundang SMM (Serikat Maria Montfortran) melalui provincial SMM Belanda. Pimpinan Umum SMM di Roma menyetujui usulan SMM propinsi Belanda untuk menerima undangan Prefektur Apostolik Borneo. Pada 23 September 1938, Tahta Suci melalui Propaganda Fide menyetujui permohonan yang diajukan oleh Prefektur Apostolik Kalimantan untuk menyerahkan sebagian karya misi di Borneo – Kalimantan, yakni daerah misi Sintang (sekarang keuskupan Sintang) kepada Serikat Maria Montfortan.  &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Daerah misi Sintang adalah daerah yang sangat luas, kira-kira 65.000 km. Pada saat itu, benih-benih iman mulai tertanam dan tersebar. Hal ini terbukti dengan sudah adanya 4 paroki, yakni paroki Sejiram (1888 – paroki pertama di Kalimantan), paroki Benua Martinus (1909), paroki Bika Nazareth (1925), dan paroki Sintang (1932). &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Pada 7 April 1939, 3 misionaris SMM pertama dari Belanda, yakni P. Harry L’Ortye, P. Jan Linsen dan Br. Bruno, tiba di Pontianak. Inilah tahun di mana SMM untuk pertama kalinya hadir di bumi pertiwi ini. Setelah menempuh 900 km dengan perahu menyusuri sungai Kapuas, mereka tiba di Bika Nazareth, Kapuas hulu pada 29 April 1939. Paroki ini menjadi paroki pertama yang diserahkan Ordo Kapusin kepada SMM. Dua bulan kemudian, P. Jan Linsen mulai membangun paroki baru, yakni paroki Maria Tak Bernoda, Putussibau. Inilah paroki pertama yang dibangun oleh misionaris Montfortan. Untuk memperkuat karya misi, pada 7 Maret 1940, 2 missionaris Montfortan Belanda, yakni P. Josef Wintraaecken dan P. Lambertus van Kessel (kemudian menjadi uskup Sintang pertama) tiba di Bika. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kendati daerah misi sangat luas dan berat, para Montfortan mencoba untuk melakukan yang terbaik. Semakin hari karya misi bertumbuh dan berkembang. Mereka kemudian merencanakan untuk mengambil alih beberapa paroki dari Kapusin. Akan tetapi, perang dunia II membuat rencana mereka tak terpenuhi. Jepang mengalahkan Belanda dan menduduki seluruh kepulauan nusantara. Semua orang Eropa, baik orang Belanda maupun Ingris – misionaris dan kaum awam, termasuk kelima misionaris Montfortan ditangkap dan dibawa ke Kuching, Malaysia. Mereka tinggal di kamp tawanan selama 3 tahun sampai perang selesai. Setelah perang usai, mereka kembali ke tempat pelayanan masing-masing. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Adalah penting untuk diketahui bahwa dalam masa perang, pada 1945, Aloysius Ding, orang Dayak pertama menerimakan tahbisan imamat di Flores. Ia ditahbiskan sebagai imam keuskupan. Kemudian, ia memutuskan untuk menjadi Montfortan. Setelah menjalani masa Novisiat di Belanda, ia mengucapkan kaul pertamanya pada 1949. Ia adalah Montfortan Indonesia pertama. Ia wafat pada 1995. &lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Setelah perang usai, beberapa misionaris Montfortan Belanda kembali diutus untuk memperkuat karya misi Sintang. Pada Paskah 1947, seluruh karya misi di Kapuas Hulu dan Sintang secara resmi diambil alih oleh para Montfortan dari tangan Kapusin. Para Kapusin kemudian meninggalkan daerah misi Sintang.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Karya misi para Montfortan di dalam membangun Gereja lokal semakin hari – semakin bertumbuh dan berkembang. Pada 11 Maret 1948, Propaganda Fide meningkatkan status daerah misi Sintang menjadi Prefectur Apostolik Sintang dan mengangkat. P. Lambertus van Kessel sebagai Prefektur Apostolik. Pada tahun ini, terdapat 15 Montfortan dan 7 paroki. Para Montfortan tidak hanya membangun gereja-gereja, tetapi juga sekolah-sekolah. Pada saat itu, sudah ada 17 sekolah Katolik. Para Montfortan tidak bekerja sendiri. Mereka dibantu oleh para katekis. Terdapat kira-kira 25 katekis pada 1948. Dengan ditingkatkannya status misi Sintang menjadi Prefektur Apostolik, itu berarti bahwa terdapat dua pimpinan structural dalam karya misi, yakni Mgr. Lambertus van Kessel, SMM sebagai Prefektur Apostolik dan P. Harry L’Orthy sebagai Pimpinan SMM. Tampaknya Tahta Suci begitu senang melihat pertumbuhan dan perkembangan Prefektur Apostolik Sintang. Pada 1956, Tahta Suci, melalui Propaganda Fide, kembali meningkatkan status karya misi Sintang dari Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Perkembangan Gereja semakin pesat sedangkan jumlah misionaris tidak terlalu banyak, maka bagian selatan Kalimantan Barat yaitu Kabupaten Ketapang belum dapat dilayani Prefektur Apostolik Pontianak secara maksimal. Baru setelah perang dunia II berakhir, ketika para Pater Passiionis datang membantu, daerah Ketapang mendapat perhatian penuh. Mulai saat itu ketapang menghadapi masa depan gemilang. Awal Mula Passionis di Ketapang Atas permintaan Mgr.Van Valenberg, OFM Cap memohon agar Pater-Pater Passionis bersedia berkarya di Kalimantan Barat. Maka permohonan ini disambut baik oleh Pater General dari Perserikatan Passionis dan Vicaris Apostolik Pontianak memutuskan bahwa konggregasi Passionis akan berkarnya dibawah vikariat Pontianak.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Wilayah karya pertama Passionis Belanda meliputi: Daerah Ketapang, Suka Dana dan Telok Melano. Kebanyakan penduduk terdiri atas orang Melayu, Tionghoa yang tinggal di daerah pantai dan orang Dayak di daerah pedalaman. Perjanjian dengan Kapusin dilaksanakan dengan Pater Clemens.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tahun 1939 Pater Dominikus sebagai propinsial menunjuk P.Canisius Pijnappels, CP,P.Theophile Seesing, CP dan P.Bernadinus Knippenberg,CP untuk bersedia berkarya di Kalimantan Barat. Atas usul Mgr.Van Valenberg sebelum berangkat sebagai missionaris perlu dipesiapkan para missionaris dua orang belajar Bahasa Melayu selama 1 taun dan satu orang P.Bernadinus belajar bahasa Tionghoa selama 4 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tanggal 18 Juni 1946 tiga missionaris pertama berangkat dengan kapal laut tentara negeri Belanda “Bolendam” ke Indonesia. Keberangkatan tiga misionaris ke Indonesia merupakan saat bersejarah bagi konggregasi Passionis.P.Theo-phile Seesing, CP batal berangkat karena kondisi belum mengizinkannya diganti oleh P.Plechelmus Dullaert, CP.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tanggal 26 Juli 1946 dengan pesawat Dakota berangkat menuju Pontianak, P.Plechelmus Dullaert, CP langsung ke Ketapang, P.Canisius Pijnappels, CP langsung ke Nyarumkop sedangkan P.Bernadinus Pijnappels, CP sebagai superior tinggal beberapa bulan di Pontianak mempelajari garis-garis besar karya pastoral, administrasi, kearsipan kebijakan misi, pemerintahan, dan agama lain serta memperdalam bahasa Tionghoa khususnya Bahasa Hok Lo.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tanggal 1 Oktober 1946, P Bernardinus tiba di Ketapang. Bulan November 1946 ketiga misionaris sudah berada di Ketapang, dua pastor yaitu P.Canisius dan P.Plechelmus menetap di pedalaman yaitu Tumbang Titi. Sedangkan P.Bernardinus menetap di Ketapang kota untuk melayani orang-orang TiongHoa Katolik. Sampai bulan Juni 1947 ketiga Pater masih didampingi 2 Pater Kapusin yaitu Pater Martinus dan P.Leo De Jong. Umat Katolik waktu itu baru berjumlah kurang dari 600 orang. Umat Katolik di Ketapang berjumlah 140 orang yang terdiri dari 106 orang Tionghoa, 19 Dayak, 10 Belanda, selebihnya di stasi-stasi. Terdiri dari 133 orang di stasi. Mereka tinggal tersebar di Sungai Awan, Teluk Batang, Suka Dana dan Pulau Kumbang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Tahun 1948, Misi membuka daerah baru di Randau dan permulaan tahun 1949 di Tanjung. Dengan demikian sudah empat daerah misi yaitu Tumbang Titi, Ketapang, Randau, dan Tanjung. Tahun 1953 misi membuka basis di Sepotong (Sungai Laur) dua Pater menetap di situ. Tanggal 1 Juli 1950 Mgr.Van Valenberg, Uskup Agung Pontianak mengangkat Pater Raphael Kleyne, CP sebagai vicarius delegatus untuk daerah misi Ketapang. Tanggal 27 Februari 1952, ia bersama bruder Caspard Ridder de can de Schueren meninggal dunia akibat kecelakaan kapal motor, tenggelam di Sungai Pesaguan. Tahun 1953 Pater Gabriel W. Silekens, CP diangkat menjadi superior religious Passionis misi Ketapang dan vicarius delegatus/wakil vikaris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://andikagz.blogspot.co.id/2014/07/sejarah-gereja-di-kalimantan.html?m=1&quot;&gt;http://andikagz.blogspot.co.id/2014/07/sejarah-gereja-di-kalimantan.html?m=1&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: large; font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/5186529385586280258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/sejarah-gereja-katolik-di-kalimantan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5186529385586280258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/5186529385586280258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/sejarah-gereja-katolik-di-kalimantan.html' title='Sejarah Gereja Katolik di Kalimantan Barat'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2JgQwGCDGA0zmdxQdu-T9ubpK85MdziWl52s4b3IejQYXwYBbqSC4FbXtmLA-eV1EwEz3frhJbCWs3sveNsvYG9LHk0uWaYHJNKGgNf0XL6yT-jrJv5p1vDQvFou52kyEwYAYCVSkNNSV/s72-c/pontianak-gereja-katedral-santo_20141220_144504.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-1734117809991978721</id><published>2015-02-05T06:12:00.000-08:00</published><updated>2016-10-17T04:57:10.933-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Informasi Penting"/><title type='text'>Dewan Pimpinan Ordo</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUIca1h1IWZuEjxBrQbCcR8AiVQhraDlBjahwbcy-ulqYGrH4uymFgbpmFdOEVf50A3UUnRVo7k9pfbemOxKGqesXGeORmTKDcNo9zaUQVla4Xxm82HDLevN-TXsuWLsW5bC7tSlJq3bU7/s1600/Propinsial+dan+Definitor.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUIca1h1IWZuEjxBrQbCcR8AiVQhraDlBjahwbcy-ulqYGrH4uymFgbpmFdOEVf50A3UUnRVo7k9pfbemOxKGqesXGeORmTKDcNo9zaUQVla4Xxm82HDLevN-TXsuWLsW5bC7tSlJq3bU7/s1600/Propinsial+dan+Definitor.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
PONTIANAK - Pada tanggal 05 Februari 2015, bertempat di Rumah Retret Tirta Ria Pontianak, telah terpilih Dewan Pimpinan Ordo Kapusin Provinsi Pontianak yang baru untuk periode 2015 - 2018. Pemilihan ini juga dihadiri oleh Definitor General Ordo Kapusin untuk wilayah Asia/Pasifik, P. Victorius Dwiardy, OFMCap (nomor tiga dari kiri). Berikut ini adalah nama propinsial beserta para definitornya:&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;&lt;b&gt;Minister Propinsial:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
P. Amandus Ambot, OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Para Definitor:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
(1) P. Hermanus Mayong, OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
(2) P. Iosephus Erwin, OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
(3) P. William Chang, OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
(4) P. Damian Doraman, OFMCap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Proficiat kepada Dewan Pimpinan Ordo Kapusin Pontianak yang baru! Semoga dapat mengemban amanah yang dipercayakan oleh persaudaraan dengan baik. Bagi para saudara yang tidak ikut serta dalam proses pemilihan tersebut, namun ingin melihat secara langsung suasana kapitel, berikut ini kami sertakan videonya lewat liputan &lt;i&gt;RUAI TV&lt;/i&gt;. Selamat menyaksikan.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;-webkit-text-stroke-width: 0px; color: black; font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: medium; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: auto; text-align: center; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 1; word-spacing: 0px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 0px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; class=&quot;YOUTUBE-iframe-video&quot; data-thumbnail-src=&quot;https://i.ytimg.com/vi/gcucKHtji6s/0.jpg&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;366&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/gcucKHtji6s?feature=player_embedded&quot; width=&quot;620&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1734117809991978721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/1734117809991978721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/dewan-pimpinan-ordo.html' title='Dewan Pimpinan Ordo'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUIca1h1IWZuEjxBrQbCcR8AiVQhraDlBjahwbcy-ulqYGrH4uymFgbpmFdOEVf50A3UUnRVo7k9pfbemOxKGqesXGeORmTKDcNo9zaUQVla4Xxm82HDLevN-TXsuWLsW5bC7tSlJq3bU7/s72-c/Propinsial+dan+Definitor.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-3543402303990409252</id><published>2015-01-27T14:35:00.000-08:00</published><updated>2016-10-17T20:54:59.772-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Informasi Penting"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kabar Persaudaraan"/><title type='text'>Promosi Panggilan</title><content type='html'>&lt;h1 style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/h1&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIJvAX_XZNvi7XOKg6oqf-xJ72t0pv5rwCexF8ture2e4P_OgpJrIa0C-0y3avIWwCeQUa7OhBaS2xUGtNt7HOJYzFi0Ql-LcsijwtCvYLUsqxvCiv2GOYJYoMsRaKclPSHGjrzsWbs_u/s1600/receive.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIJvAX_XZNvi7XOKg6oqf-xJ72t0pv5rwCexF8ture2e4P_OgpJrIa0C-0y3avIWwCeQUa7OhBaS2xUGtNt7HOJYzFi0Ql-LcsijwtCvYLUsqxvCiv2GOYJYoMsRaKclPSHGjrzsWbs_u/s1600/receive.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Kami adalah religius, yang menghidupi kerohanian St. Fransikus dari Assisi.&amp;nbsp;Kami berkarya di Indonesia di Sumatera, Kalimantan, dan Nias. Selain itu kami hadir juga di Jawa (Jakarta) dan Flores.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Calon yang hendak melamar menjadi anggota persaudaraan Kapusin haruslah seorang pria beriman Katolik (paling tidak telah hidup aktif sebagai warga Gereja selama 3 tahun penuh).Punya kemauan yang baik dan suci. Artinya, ingin mewujudkan dalam hidupnya cita-cita/ideal persaudaraan Kapusin. Secara negatif bisa dikatakan: bukan karena mau menghindar dari kesulitan pribadi/keluarga dan bukan pula sekedar mencari pendidikan yang baik untuk mendapatkan status di tengah masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sehat jiwa dan raga sehingga berdaya untuk mengemban salah satu jenis pengabdian dengan baik dan menggembirakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Berpendidikan SMU ke atas demi menjamin mutu pemahaman atas cara hidup membiara dan terbukanya kemungkinan pengembangan diri sesuai dengan bakat dan kemampuan. Calon yang belum sempat menyelesaikan SMU dapat diterima bila mempunyai keterampilan yang memadai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Dalam hati setiap calon sudah harus terkandung keinginan untuk hidup seturut nasehat-nasehat Injil secara total dan bersemangat untuk mengabdi Gereja dan masyarakat; cinta akan hidup doa dan kesederhanaan; siap mendengarkan dan berdialog dengan semua dan untuk semua, berbagi dan bersatu dengan yang paling miskin dan lemah, seturut teladan Santo Fransiskus dari Assisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Meneladan Santu Fransiskus dari Assisi sebagai tokoh panutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Sebagai tanda kesungguhan, setiap calon harus menulis SURAT LAMARAN kepada:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Minister Propinsial Kapusin Pontianak&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Jl. Adisucipto km. 9,6&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tirta Ria - Sei Raya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pontianak 78391&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kalimantan Barat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Pada surat lamaran turut dilampirkan:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Surat Keterangan dari Pastor Paroki&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Surat Kesaksian dari pembimbing rohani atau Surat Rekomendasi dari sekolah atau tempat kerja&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Riwayat hidup singkat&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Pasfoto 3 x 4 (dua lembar)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
- Surat persetujuan orangtua atau wali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu” (Yoh 15, 16).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bila seorang calon diterima untuk menjadi anggota Kapusin di Propinsi St. Maria Ratu Para Malaikat - Pontianak, maka ia menjalani pendidikan sebagai postulan selama satu tahun minimum di Postulat Kapusin St. Leopold Mandic – Sanggau - Kalimantan Barat. Ia adalah calon yang secara dekat hendak melihat cara hidup Kapusin, lalu mengajukan Surat Permohonan untuk diterima menjadi anggota Kapusin. Bila diterima, ia menjalani pendidikan Kapusin selama satu tahun novisiat di Parapat atau Gunung Poteng - Nyarumkop, Kalbar yang diakhiri dengan mengucapkan kaul perdana; selanjutnya diulangi setiap tahun sampai ia mengucapkan kaul kekal. Dalam pertimbangan bersama Minister Propinsial dan Dewan Penasehatnya, ia bisa memilih menjadi calon imam atau bruder. Biaya hidup dan pendidikan disanggupi oleh Ordo Kapusin sambil mengharapkan sumbangan dari keluarga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
“Betapa baik dan indahnya, hidup bagai SAUDARA” (Mzm 133).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Kaum muda, kedatangan Anda rahmat khusus bagi kami, dan St. Fransiskus berkata, “Setiap Saudara adalah rahmat”. Saudara-saudara Dina Kapusin adalah Saudara-saudara rakyat; seantero dunia jadi biara kami; di sana kami hadir bersama mereka yang susah, yang berjuang, yang berkehendak baik. PERSAUDARAAN INJILI ingin dihidupi senantiasa dan di mana saja. “Semoga Tuhan, memberi engkau damai” &lt;i&gt;(St. Fransiskus dari Assisi).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3543402303990409252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3543402303990409252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2016/01/promosi-panggilan.html' title='Promosi Panggilan'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIJvAX_XZNvi7XOKg6oqf-xJ72t0pv5rwCexF8ture2e4P_OgpJrIa0C-0y3avIWwCeQUa7OhBaS2xUGtNt7HOJYzFi0Ql-LcsijwtCvYLUsqxvCiv2GOYJYoMsRaKclPSHGjrzsWbs_u/s72-c/receive.jpg" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-2219832708790631193</id><published>2015-01-27T05:34:00.000-08:00</published><updated>2016-01-28T01:18:26.883-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Admin Website"/><title type='text'>Selamat Datang di Website Kita</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;(Admin Website)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Setelah &quot;parkir&quot; beberapa waktu lamanya, akhirnya website kita ini kembali bernafas dan mulai menggeliat. Kini, ia bukan hanya tampil dengan wajahnya yang baru tetapi juga isinya yang bertambah. Website ini dirancang dan difokuskan sebagai media informasi dan edukasi bagi para pengunjungnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Di website ini, Anda akan memperoleh update terbaru berita-berita seputar aksi, kreasi dan inovasi dari para saudara Kapusin Pontianak. Di samping itu, Anda juga bisa berkenalan sepintas dengan siapa sebenarnya mereka itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXBsZHqroItoa7TaXuBsEVn_cf1HYAZNtePyx09EFM3vRhEzTwm7rn6rRHS8QzDNBIRChH_OzpGxcjV9_qiLMcDJHFq0MLcr7X5rNK8hDgn48pqszFRG77xPuIWW6korNlVv7zUIvyuocu/s1600/monitor-862135_1920.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;452&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXBsZHqroItoa7TaXuBsEVn_cf1HYAZNtePyx09EFM3vRhEzTwm7rn6rRHS8QzDNBIRChH_OzpGxcjV9_qiLMcDJHFq0MLcr7X5rNK8hDgn48pqszFRG77xPuIWW6korNlVv7zUIvyuocu/s640/monitor-862135_1920.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Saat ini, website ini sedang dalam tahap pengembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, saudara-saudara akan menemukan bahwa masih ada beberapa halaman yang kosong. Itu berarti, uluran tangan saudara dibutuhkan untuk mengisinya. Team memang sedang bekerja keras untuk meng-update isinya, namun kerja ini akan jauh lebih ringan jika dikerjakan dalam kebersamaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Team kami sungguh menyadari bahwa website yang bermutu adalah sebuah website yang mampu menarik banyak orang untuk membacanya. Oleh karena itu, website ini akan diupdate secara berkala dengan sajian-sajian berita dan pendidikan fransiskan yang berkualitas dan bermanfaat bagi kita semua. Maka, selamat menikmati sajian dari kita, oleh kita, untuk dunia!&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/2219832708790631193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/01/selamat-datang-di-website-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2219832708790631193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2219832708790631193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/01/selamat-datang-di-website-kita.html' title='Selamat Datang di Website Kita'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXBsZHqroItoa7TaXuBsEVn_cf1HYAZNtePyx09EFM3vRhEzTwm7rn6rRHS8QzDNBIRChH_OzpGxcjV9_qiLMcDJHFq0MLcr7X5rNK8hDgn48pqszFRG77xPuIWW6korNlVv7zUIvyuocu/s72-c/monitor-862135_1920.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-3217259057828234877</id><published>2014-01-01T18:20:00.000-08:00</published><updated>2016-01-28T01:08:58.018-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Doa"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Merayakan Natal dalam “Semangat” Kesederhanaan  Di Kota Abadi (Roma)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;P. Gabriel Marcel, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRkkQ4TPaqVSZaPK9SKArLFEmqdQTtQpIwoi17IPm1oqxFxPlh6glnPCtzyQamuoUaPK5YDp3jHfW1quQyZHR0eAUFSL3We4GfHRmk7COqkJGtZYMogE_GKYcofHk3qS4aFB_pL4e-Bz7g/s1600/image001.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;456&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRkkQ4TPaqVSZaPK9SKArLFEmqdQTtQpIwoi17IPm1oqxFxPlh6glnPCtzyQamuoUaPK5YDp3jHfW1quQyZHR0eAUFSL3We4GfHRmk7COqkJGtZYMogE_GKYcofHk3qS4aFB_pL4e-Bz7g/s640/image001.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Krisis ekonomi yang sedang melanda Eropa pada umumnya dan khususnya di Italia sangat terasa dan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan. Hari-hari sebelum perayaan natal di Roma khususnya di warnai dengan banyaknya aksi demo atau pemogokkan kerja (sciopero) yang dilakukan oleh para buruh atau pun kalangan pekerja bahkan sesekali para pelajar juga tak ketinggalan sekadar unjuk perasaan, solider, atas situasi krisis. Umumnya di Roma aksi demo cukup teroganisir, biasanya dilakukan pada hari Jumat, hampir pasti dilakukan, namun karena krisis ekonomi “kebiasaan berdemo” itu dilakukan juga di hari lainnya. Bahkan tak jarang sekolah dan universitas memilih meliburkan pelajar dan mahasiswanya untuk mencegah atau sebagai langkah antisipasi akan dampak buruknya karena ada demo besar-besaran.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Penulis sendiri tak jarang harus berjalan kaki beberapa kilometer untuk dapat menemukan tempat bus parkir agar bisa kembali dari kampus. Tak heran, banyak pembangunan yang ditunda dan terpaksa tidak bisa dilanjutkan karena kondisi keuangan yang tidak memadai. Harga barang melonjak sangat terasa, dan lapangan pekerjaan sangat langka dan arus imigrasi yang tak tertahankan berdatangan ke Eropa, khususnya Italia yang disangka banyak lapangan kerja, namun mereka menemukan bahwa tak ada lowongan atau lapangan kerja bagi mereka, maka para pengemis makin banyak saja menghiasi kota Roma.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Situasi demikian itu selalu disuarakan dalam audiensi dan pertemuan umat dan para generasi muda Italia kepada Paus. Boleh jadi karena itu, bentuk nyata wujud keprihatinan Paus khususnya menyikapi dan menjawab kondisi krisis tampak dalam renungan, homili yang membahas isu-isu hidup sederhana, solider dengan yang miskin, menderita dan terpinggirkan, lalu dalam merayakan natal tahun ini (2013) jauh dari suasana “glamour” atau kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya. Hiasan di sekitar dan dalam Basilika St. Petrus pun sangat sederhana. Contohnya di tengah Piazza St. Petrus didirikan pohon natal yang sangat sederhana, minus hiasan, lalu di sampingnya terdapat kandang natal (presepio) yang sangat sederhana.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
Sejak terpilihnya Paus Francesco, “warna kesederhanaan” sangat “kentara” menghiasi Vatikan, Tahta St. Petrus.  Kemungkinan ini juga sebagai wujud nyata penghayatan pemilihan nama Franceso, yang diinspirasikan oleh Fransiskus dari Asisi pencinta kemiskinan suci dan persaudaraan dengan semua, serta yang kecil, terpinggirkan. Hampir sejauh ini, selama kurang dari setahun Tahta St. Petrus di bawah penggembalannya wajah gereja Katolik Roma tampak lain, berubah “ronanya”, semakin dekat dengan segala kalangan, jauh dari kesan “kebesaran” yang membuat segan dan kesan “arogan”.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg33zYZ_J0cuNVj0GPUzm9oEbzzPL8_LYZqqjqRY1JICKthzjzlzJw_6yA3Ohyx0W0Ji4cAvYrKY86GC0DKfbdYuJ6kd_7XG8esm8EF8-xP8j3r9d2objoViMcIAC_LF2FCfkkawKGFKqAk/s1600/image003.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;378&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg33zYZ_J0cuNVj0GPUzm9oEbzzPL8_LYZqqjqRY1JICKthzjzlzJw_6yA3Ohyx0W0Ji4cAvYrKY86GC0DKfbdYuJ6kd_7XG8esm8EF8-xP8j3r9d2objoViMcIAC_LF2FCfkkawKGFKqAk/s640/image003.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Peristiwa Natal; Emmanuel, Allah beserta kita, Ia masuk dalam kehidupan manusia, menjadi sama dengan manusia. Ia mengenakan kemanusiaan yang rapuh, hidup, berkerja, dan bergaul dengan siapa saja, melakukan apa saja seperti manusia. Semua ini dilakukan seorang bernama Yesus dari Nazaret, anak Yusuf si tukang kayu dan Maria, gadis bersahaja. Dari keluarga sederhana itulah terpancar sinar keselamatan  bagi manusia dan dunia.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
Bagi kita, tema natal Tahun ini mengumandangkan damai, kedamaian adalah syarat mutlak untuk kebahagian. Bagaimana bisa bahagia bila tiada kedamaian; di hati dan pikiran (diri), di dalam keluarga, di lingkungan, di kampung, di kota dan di negara. Ketika kita rayakan natal dengan semangat kesederhanaan kita akan tak segan berbagi, membantu, tidak berpoya, hadir dalam situasi yang perlu bagi sahabat, tetangga, keluarga. Kita tak pusing dengan kekurangan yang ada namun berusaha berbuat apa yang bisa bagi kebutuhan yang semestinya dan bukan selebihnya yang merugikan. “Sang Sabda telah menjadi manusia dan Tinggal diantara kita. Kita telah melihat “bintang-Nya”, indah dikejauhan, menuntun, menunjuk arah, menerangi langkah yang membawa berkah, ganjaran keselamatan semua bagi semua. Selamat merayakan Natal bagi kita semua, Emmanuel. Selamat Tahun Baru 2014, Sang Bintang Kejora menuntun kita semua. Amin.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/3217259057828234877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/merayakan-natal-dalam-semangat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3217259057828234877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/3217259057828234877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/merayakan-natal-dalam-semangat.html' title='Merayakan Natal dalam “Semangat” Kesederhanaan  Di Kota Abadi (Roma)'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRkkQ4TPaqVSZaPK9SKArLFEmqdQTtQpIwoi17IPm1oqxFxPlh6glnPCtzyQamuoUaPK5YDp3jHfW1quQyZHR0eAUFSL3We4GfHRmk7COqkJGtZYMogE_GKYcofHk3qS4aFB_pL4e-Bz7g/s72-c/image001.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9007244992411926577.post-2843111720725622715</id><published>2013-07-16T21:54:00.000-07:00</published><updated>2016-01-28T01:09:20.345-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hidup Pendidikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Refleksi &amp; Opini"/><title type='text'>Fransiskus Assisi Pencinta Damai dan Pelindung Pelestarian Alam</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot; , sans-serif; font-size: large;&quot;&gt;&lt;b&gt;P. F. Cahyo Widiyanto, OFMCap.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinVPrDXIBP7hx3HenqLnaxRnb4HYut57eEtle3AsT_bQiCpIusbPoT3iZpXQeABquFawRTU0a_uRK6XWbfZouNKciFdqVHNMGVDfd8Sj3rr9zAntfF_BTqqlG7t5RRUauM8GhL8QZqDmNi/s1600/st-francis-373549_1920.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinVPrDXIBP7hx3HenqLnaxRnb4HYut57eEtle3AsT_bQiCpIusbPoT3iZpXQeABquFawRTU0a_uRK6XWbfZouNKciFdqVHNMGVDfd8Sj3rr9zAntfF_BTqqlG7t5RRUauM8GhL8QZqDmNi/s1600/st-francis-373549_1920.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dalam buku Fioretti, ada sebuah kisah tentang St. Fransiskus yang memperdamaikan penduduk kota Gubbio dengan seekor serigala yang ganas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Pada waktu itu, di kota Gubbio hiduplah seekor serigala yang amat besar, lagi mengerikan dan ganas. Ia bukan saja memakan binatang-binatang, tetapi juga manusia. Semua penduduk kota itu hidup dalam ketakutan dan tidak berani pergi sendirian. Melihat situasi yang demikian St. Fransiskus merasa kasihan, sehingga ia ingin mendamaikan serigala itu dengan penduduk kota Gubbio, sekalipun mereka melarangnya pergi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ketika Fransiskus memasuki daerah serigala itu bersama-sama sahabatnya, ia membuat tanda salib dan menaruh kepercayaan sepenuh-penuhnya pada Allah. Ketika saudara-saudara lain tidak mau pergi lebih jauh lagi, St. Fransiskus berjalan terus menuju tempat serigala itu bersarang. Ketika serigala itu melihat Fransiskus, maka ia pun menyerbu ke arahnya dengan cakar-cakar yang terbuka. Ketika ia mendekat, St. Fransiskus membuat tanda salib di atasnya dan menyapanya, “Kemarilah saudara Serigala. Demi nama Kristus aku memerintahkan kepadamu jangan menyerang aku”. Dan aneh bin ajaib, begitu St. Fransiskus membuat tanda salib, serigala yang ganas itu pun memasukkan cakar-cakarnya kembali. Ia menaati perintah St. Fransiskus dan datang membaringkan diri di kaki St. Fransiskus dengan lembut seperti seekor anak domba. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kemudian St. Fransiskus mengajak Serigala itu membuat suatu perjanjian dengan penduduk kota Gubbio. Dari pihak Serigala, ia harus berjanji bahwa ia takkan mengganggu dan melakukan kejahatan dengan penduduk kota Gubbio lagi. Dari pihak penduduk kota Gubbio, mereka berjanji, akan menyediakan makanan yang dibutuhkan serigala itu setiap hari.  Dan sebagai jaminan bahwa perjanjian itu akan dilaksanakan dan ditepati, maka St. Fransiskus mengulurkan tangannya, dan serigala itu mengangkat kaki depannya dan menempatkannya dengan lembut dalam tangan St. Fransiskus, sebagai bukti kesetiaannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Fransiskus Pencinta Damai dan Pelindung Kelestarian Alam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dari kisah di atas dapat diketahui, bahwa St. Fransiskus memang sungguh-sungguh seorang yang mencintai kehidupan damai dan hidup bersaudara dengan semua makhluk ciptaan.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Bahwa St. Fransiskus dikenal luas sebagai pencinta damai dapat dibuktikan dalam pertemuan para pemimpin agama sedunia yang diadakan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 27 Oktober 1986. Pada waktu itu pertemuan tidak diadakan di kota Roma ataupun kota besar yang lain, melainkan di kota Assisi. Di sana pertama kalinya semua pemimpin agama sedunia bersatu dalam doa untuk perdamaian dunia. Mengapa kota Assisi yang dipilih? Karena mereka tahu bahwa St. Fransiskus Assisi adalah pelopor perdamaian bagi semua agama.  St. Fransiskus Assisi juga dikenal sebagai pelindung kelestarian alam, terbukti dengan dikukuhkannya beliau oleh Paus Yohanes Paulus II, sebagai “Pelindung Pemeliharaan Kelestarian Lingkungan Hidup”, pada tanggal  29 November 1979. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Melihat kehidupan St. Fransiskus yang dipenuhi dengan damai dan cinta akan lingkungan hidup, mungkin timbul pertanyaan di hati kita. Bagaimana St. Fransiskus sungguh dapat hidup damai dengan semua orang dan semua makhluk? Sumber-sumber inspirasi manakah yang ia gali sehingga ia dapat hidup harmonis dengan seluruh ciptaan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Semua pertanyaan ini sumbernya hanya pada satu pribadi yang agung dan karismatis, yakni Yesus Kristus, Tuhan kita yang kisah hidup dan pandangan-pandangan-Nya dapat kita kenal melalui Kitab Suci. Kalau St. Fransiskus dikenal sebagai pencinta damai, maka ia belajar hidup dalam damai itu dari Yesus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, Fransiskus tentu belajar dari ucapan yang penting dan fundamental dari Yesus yang bangkit – seperti kita dengarkan dalam Injil Yohanes – &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Damai sejahtera bagi kamu!”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (Yoh 20:19; 21). Jadi dari teks ini Fransiskus tentu menyadari bahwa sumber kedamaian sejati itu datangnya dari Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, Fransiskus tentu memahami juga, bahwa &lt;strong&gt;di dalam Yesus lah surga dan bumi diperdamaikan dan dipersatukan kembali dengan Allah yang mahakuasa&lt;/strong&gt; (SurOr 13; bdk. Kol 1:20). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, Fransiskus tentunya dipengaruhi oleh &lt;strong&gt;Sabda Bahagia&lt;/strong&gt; yang berkata, &lt;em&gt;“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”&lt;/em&gt; (Mat 5:9). Orang yang membawa damai ini oleh Fransiskus ditafsirkan sebagai “orang yang dalam segala penderitaannya di dunia ini tetap memelihara kedamaian dalam jiwa dan raganya demi cinta kasih kepada Tuhan kita Yesus Kristus” (Pth XV). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kalau St. Fransiskus dikenal sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, maka gelar ini dikenakan kepadanya karena selama hidupnya ia sungguh-sungguh bersikap sebagai Saudara terhadap seluruh alam ciptaan. Dan puncak dari doa dan semua tulisan St. Fransiskus, nampak dalam “Kidung Saudara Matahari”, di mana semua makhluk ciptaan, ia undang untuk bersyukur dan memuji Allah. Bahwa Fransiskus dapat hidup bersaudara dengan seluruh alam ciptaan ini: matahari, bulan. Bintang, angin, air, api dan ibu pertiwi (tanah), semua itu karena Fransiskus dapat melihat kehadiran Kristus dalam seluruh ciptaan.  Kehadiran Kristus dalam ciptaan ini sudah ditegaskan oleh Paulus, &lt;em&gt;“Sebab dalam Kristus telah diciptakan segala sesuatu, baik di angkasa maupun di bumi: baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, singgasana, kerajaan, pemerintah dan penguasa. Segala sesuatu diciptakan dengan perantaraan-Nya dan untuk Dia” &lt;/em&gt;(Kol 1:16). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Jika seluruh ciptaan bersaudara, maka itulah hasil karya penyelamat yang memperdamaikan segala-galanya dalam diri-Nya. Kalau makhluk-makhluk dilihat sebagai saudara-saudari yang disatukan secara akrab, hal itu terjadi, karena Kristus menerima semua makhluk ke dalam cinta-Nya yang tak kenal batas. Walaupun ciptaan amat besar dan luas, namun dalam pandangan Fransiskus semua disatukan dalam cinta yang sama, &lt;em&gt;“karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia telah nyata.”&lt;/em&gt; (Tit 2:11). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;color: blue;&quot;&gt;Menuju Hidup dalam Damai dan Cinta akan Alam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Menjadi seorang pembawa damai dan seorang yang memperjuangkan kelestarian alam seperti St. Fransiskus pada dunia dewasa ini masih sangat relevan.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Coba saja faktanya kita lihat. Pilkada di beberapa daerah di Indonesia menuai konflik: bentrokan antar pendukung dan perusakan fasilitas-fasilitas umum. Di tingkat internasional konflik Israel dan Palestina yang telah berlangsung bertahun-tahun sampai sekarang juga belum menemukan solusinya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Di bidang lingkungan hidup, kita juga tahu, bahwa Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu  tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [&lt;em&gt;Badan Planologi Dephut, 2003&lt;/em&gt;].” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Di tengah situasi yang mengancam perdamaian dan kelestarian lingkungan ini, baik dalam skala kecil dalam rumah tangga kita masing-masing, di komunitas kita, maupun dalam lingkungan masyarakat kita, kita sebagai orang beriman diundang menjadi pembawa damai dan pencipta kelestarian lingkungan. Bagaimana tugas perutusan ini dapat kita wujudkan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pertama&lt;/strong&gt;, kita sendiri harus mengalami diri &lt;strong&gt;kita didamaikan dengan Tuhan&lt;/strong&gt;. Artinya dalam kehidupan kerohanian kita, kita sendiri harus mengalami bahwa aku dikasihi Tuhan; bahwa dosa-dosaku telah ditebus oleh-Nya di kayu salib; bahwa Dia selalu menyertai aku dalam seluruh hidupku. Sehingga dalam hidupku aku merasa aman dalam tangan Tuhan. Dan untuk dapat mencapai pengalaman iman yang menyembuhkan, mengutuhkan dan mendamaikan ini, kita harus sungguh berserah diri kepada Tuhan.&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Kedua&lt;/strong&gt;, kita harus mendengarkan apa yang dikatakan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, &lt;em&gt;“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, &lt;strong&gt;hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang&lt;/strong&gt;.”&lt;/em&gt; (Rm 12:18). Apa artinya kata-kata Paulus ? Artinya Paulus menyadari, bahwa hidup dalam perdamaian bersama orang lain itu tidaklah mudah. Kita memang ingin hidup dalam damai, tetapi selalu ada saja hal yang membuat kita kemudian menjadi jengkel, marah, dan kemudian mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati, dan kemudian kita menjadi menyesal lagi. Namun di tengah kesulitan untuk menciptakan perdamaian ini kita tidak boleh menyerah. Dalam situasi apapun sedapat-dapatnya kita diminta berjuang untuk hidup berdamai dengan orang lain. Prinsip di sini yang dapat kita pegang – menurut Paulus adalah – &lt;em&gt;“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”&lt;/em&gt; (Rm 12:21)&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Ketiga&lt;/strong&gt;, untuk bisa hidup menghargai sesama ciptaan, baik binatang maupun tumbuhan, kita harus mampu seperti St. Fransiskus &lt;strong&gt;melihat makhluk ciptaan dari sudut pandang Allah sendiri&lt;/strong&gt;. Chesterton ketika mengomentari “Kidung Saudara Matahari“ karya St. Fransiskus mengatakan kepada kita, “Fransiskus dalam pengalaman mistik telah membuat “salto” dengan memandang semua ciptaan dari pihak Allah, dan sesudahnya, ia kembali ke dunia ini dan sejak saat itu, ia melihat dan mengalami semua makhluk dalam bentuk abadi dan sempurna.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Marilah bersama St. Fransiskus, kita ciptaan perdamaian di rumah kita, tempat kita bekerja, dan di manapun kita berada; marilah kita hormati juga segala makhluk ciptaan lain, kita pelihara lingkungan hidup kita, sehingga dunia kita semakin menjadi harmonis dan indah, karena kita semua memantulkan keindahan pencipta kita, yakni Yesus Kristus Tuhan kita. Semoga.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot;;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.pontianak.kapusin.org/feeds/2843111720725622715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/fransiskus-assisi-pencinta-damai-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2843111720725622715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9007244992411926577/posts/default/2843111720725622715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.pontianak.kapusin.org/2015/10/fransiskus-assisi-pencinta-damai-dan.html' title='Fransiskus Assisi Pencinta Damai dan Pelindung Pelestarian Alam'/><author><name>Admin Website</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12928956273480210021</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNJCh5rQqdwJgqna7M8xe3PaYLWWJ55eBye90GbilVCK_yFHJtGgQPyJWD039FflLAvdd6bMns50yj5aMB_qJ53OYdKn8xTkZB7glfV8SO926HCrs-a8nE69OL6ilJVw/s113/Priest-icon.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinVPrDXIBP7hx3HenqLnaxRnb4HYut57eEtle3AsT_bQiCpIusbPoT3iZpXQeABquFawRTU0a_uRK6XWbfZouNKciFdqVHNMGVDfd8Sj3rr9zAntfF_BTqqlG7t5RRUauM8GhL8QZqDmNi/s72-c/st-francis-373549_1920.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>