<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" gd:etag="W/&quot;D04HRnc6fip7ImA9WhRRFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672</id><updated>2011-11-28T06:18:57.916+07:00</updated><category term="PR" /><category term="My Story" /><category term="Cermin" /><category term="Alia" /><category term="Cerbung" /><category term="Kisah Nyata" /><category term="Sosial" /><category term="Cerpen" /><category term="PE-ER" /><category term="Taman Baca" /><category term="Alia." /><category term="Celoteh" /><category term="Novel Sulang Dari Timur" /><title>Orkestra Debu | The Dust Symphony</title><subtitle type="html">Music always make us comfortable in this environment life's, People get what he deserved and get they own karma from they attitude.</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>57</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/OrkestraDebu" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="orkestradebu" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">OrkestraDebu</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;DUAMQHw6fSp7ImA9WhdaE0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-1496454038959700925</id><published>2011-10-23T23:36:00.000+07:00</published><updated>2011-10-23T23:36:21.215+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-23T23:36:21.215+07:00</app:edited><title>Pa, Tante Dokter Mana?</title><content type="html">Tiba-tiba saja handphoneku berdering dan segera aku angkat, aku segera terkejut. Ini suara Alia, dia mau menelponku sendiri. Sebelumnya tak pernah kamu lakukan ini nak, dan Papa bahagia sekali. Kamu langsung bilang, "Pa, Alia sakit Pa".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera aku sadar, kamu mau curhat. Aku pun menjawab dengan khawatir, disertai rasa bahagia karena kamu mau menelponku Nak. Kemudian kamu menanyakan dimana &lt;a href="http://www.drgvegi.com/"&gt;Tante Dokter Vegi&lt;/a&gt;. Dan meski sebentar kamu cerita, sebuah kebahagiaan bagiku begitu besar menerima telponmu langsung, tanpa harus menunggu dibujuk mamamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga cepat sembuh ya Nak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I love you.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-1496454038959700925?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iqmvlVjfmaTA5aEdGHZkn2nTXQ8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iqmvlVjfmaTA5aEdGHZkn2nTXQ8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iqmvlVjfmaTA5aEdGHZkn2nTXQ8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/iqmvlVjfmaTA5aEdGHZkn2nTXQ8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/1496454038959700925/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=1496454038959700925" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1496454038959700925?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1496454038959700925?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2011/10/pa-tante-dokter-mana.html" title="Pa, Tante Dokter Mana?" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAHRX0_fCp7ImA9WhdbF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4983066582896609172</id><published>2011-10-16T19:33:00.002+07:00</published><updated>2011-10-16T19:38:54.344+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-16T19:38:54.344+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Story" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia" /><title>Teruslah Terbang Anakku.</title><content type="html">Dear Alia putri Papa yang cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin hari, kita jalan bersama dengan Mamamu dan juga calom Mamamu. Kamu tampak bahagia sekali Nak, wajahmu berseri-seri dan tidak berhenti tersenyum hingga kita berpisah kembali. Mungkin kamu belum menyadarinya Anakku, senyumanmu yang membuatku terus bersemangat. Dan mungkin kamu belum sadar juga bahwa hari kemarin kita berbelanja, kamu sedang memainkan perasaan 3 manusia dewasa. Betapa hebatnya kamu Nak, demi kebahagiaanmu, kami yang sudah terbentuk besar dan dewasa dengan berbagai macam egoisitas bisa tertawa bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-4yzNj2okyOg/TprOjoZXw0I/AAAAAAAAAew/leDIA1HqKBc/s1600/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-4yzNj2okyOg/TprOjoZXw0I/AAAAAAAAAew/leDIA1HqKBc/s320/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Calon Mamamu, Mamamu dan Kamu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Mamamu (mantan istri papa) terlihat mencoba untuk meredam gejolak perasaannya, begitu juga dengan calon Mama sambungmu. Dia terus tetap mencoba dan berusaha untuk tetap berada di samping Papa yang sedang ingin bercengkerama denganmu, meski bukan tidak mungkin kalau dia menyimpan cemburu pada Mamamu. Apalagi melihat aku yang harus tetap memanggil Mamamu dengan kata "Mama" bagimu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anakku, saat ini Papa mencintai calon Mama sambungmu. Apapun akan Papa jalani untuk membahagiakannya, sekeras kepala apapun Papamu ini. Biar Papa bisa sekalian belajar bagaimana mencintaimu dan juga calon Mamamu sekaligus. Keadaan ini sangat sulit untuk dijelaskan Nak, apalagi kamu masih kecil saat ini. Semoga suatu saat kamu bisa memahami keadaan Papa dan Mamamu kenapa mesti berpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papa dan Mamamu masih saling menghormati dan menjaga hubungan baik Anakku. Semoga kamu ketika mulai bisa mendengar suara atau ucapan banyak orang nanti, bisa memahami dan juga bisa tetap menghormati kami berdua dan juga Mama sambungmu. Jangan sampai kamu menjadi pembenci karenanya. Papa yakin ketika kamu dewasa nanti, kamu akan mewarisi cinta kasih dariku. Kebencian tidak akan menyelesaikan apapun Nak, karenanya teruslah terbang dengan cinta. Papa akan terus mendampingimu hingga suatu saat harus berpindah ke Surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papa masih terus berdoa agar suatu hari kamu mau ikut tinggal dirumah Papa. Papa akan bangunkan satu kamar khusus dirumah Nak, seperti papa membangun ruangan khusus buatmu dihati. Ketika kamu usia 8-14 bulan, kamu selalu ada dipelukanku Nak, di dalam satu kamar kumuh sebuah kos-kosan. Tapi sungguh Papa merindukan suasana saat itu. Kamu bahkan tidak bisa lepas dari pelukanku, kalau tidak maka kamu akan menangis keras. Tapi sekarang, kamu dipeluk Papa sebentar saja sulit sekali, kamu selalu berontak. Maafkan Papa bila ada salah Nak. Maafkan pula karena telah menyerahkanmu ke Mamamu waktu itu tanpa pamit kepadamu. Waktu itu, Papa sudah menahan tangis selama perjalanan menyerahkanmu ke Mamamu. Hingga kamu tertidur dan Papa segera menyerahkanmu, sebelum kamu terbangun dan aku harus pingsan melihatmu menangis. Maafkan Papa Nak. Semua demi kebaikanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-x2R-2z0vSWo/TprO4-E6SeI/AAAAAAAAAe4/Dk9xPRs13s4/s1600/320783_10150479367282306_777117305_11075519_932125580_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-x2R-2z0vSWo/TprO4-E6SeI/AAAAAAAAAe4/Dk9xPRs13s4/s320/320783_10150479367282306_777117305_11075519_932125580_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Putri Aalia Kika Syafii&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Teruslah terbang Alia, putri tercintaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-4983066582896609172?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dkhjov1sXbikMgdNI3AV20MV-pc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dkhjov1sXbikMgdNI3AV20MV-pc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dkhjov1sXbikMgdNI3AV20MV-pc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Dkhjov1sXbikMgdNI3AV20MV-pc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4983066582896609172/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=4983066582896609172" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4983066582896609172?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4983066582896609172?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2011/10/teruslah-terbang-anakku.html" title="Teruslah Terbang Anakku." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-4yzNj2okyOg/TprOjoZXw0I/AAAAAAAAAew/leDIA1HqKBc/s72-c/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkIMRnczfSp7ImA9WhZUGUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-9193639724586800146</id><published>2011-06-13T23:56:00.004+07:00</published><updated>2011-06-14T00:03:07.985+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-06-14T00:03:07.985+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia" /><title>Mimpi</title><content type="html">&lt;a href="http://www.putrialia.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC0213.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 560px; height: 375px;" src="http://www.putrialia.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC0213.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Wahai &lt;a href="http://www.putrialia.com/"&gt;anakku&lt;/a&gt;, saat aku tulis ini mungkin saja kamu sedang tertidur lelap. Disini Papa mencoba menangkap mimpi nak, barangkali saja impianmu saat ini mendekatiku. Sekian waktu dari setiap malam yang aku lewati, doa selalu terkirim untukmu. Papa merindukanmu Nak, ingin sekali rasanya aku dengar panggilanmu membangunkan tidurku. Baik-baik ya dengan Mamamu. Katakan padanya, tak ada yang lebih baik selain menjalani sisa hidup yang dipilih. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bekasi, 2011.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-9193639724586800146?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VpQiqXglrEFsLcpd37-bXkj4A6c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VpQiqXglrEFsLcpd37-bXkj4A6c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VpQiqXglrEFsLcpd37-bXkj4A6c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VpQiqXglrEFsLcpd37-bXkj4A6c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/9193639724586800146/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=9193639724586800146" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/9193639724586800146?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/9193639724586800146?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2011/06/mimpi.html" title="Mimpi" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cCQ3s_fyp7ImA9WhZSGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7050489086520820542</id><published>2011-04-04T08:31:00.003+07:00</published><updated>2011-04-04T08:37:42.547+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-04T08:37:42.547+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia" /><title>Kamu dimana Alia?</title><content type="html">Semalam Papa bermimpi yang tidak mengenakkan, dan sulit untuk menuliskannya disini. Rasa kangen yang besar makin membesar karena Mamamu sudah satu bulan lebih tidak memberi kabar. Sementara aku tidak tahu dimana dirimu berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, Engkau tentu tahu yang terbaik bagi makhluk-makhlukMu. Terima kasih atas penjagaanMu terhadap Alia. Maaf atas kelemahan hamba sebagai makhlukMu. Hamba yakin Engkau akan mempertemukanku dengan Alia dan mengembalikannya padaku selamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-7050489086520820542?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/781B01hkRgqIY3opQI9AC73nQ3Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/781B01hkRgqIY3opQI9AC73nQ3Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/781B01hkRgqIY3opQI9AC73nQ3Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/781B01hkRgqIY3opQI9AC73nQ3Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7050489086520820542/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=7050489086520820542" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7050489086520820542?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7050489086520820542?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2011/04/kamu-dimana-alia.html" title="Kamu dimana Alia?" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIMSXo8fSp7ImA9Wx5aF0U.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4616558566824647429</id><published>2010-11-15T08:48:00.004+07:00</published><updated>2010-11-15T09:19:48.475+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-11-15T09:19:48.475+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia" /><title>Lithium</title><content type="html">"Papa aku keren, aku diajak jalan-jalan naik Gondola dan lihat ikan besar", &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang Mamamu ceritakan padaku setelah kita selesai jalan-jalan kemarin Anakku. Betapa bahagianya aku, mendengar cerita-cerita tentangmu dari Mamamu. Setelah sekian bulan kita tak bisa bertemu, akhirnya kita bertemu kemarin. Selalu ada cerita menarik setiap kali kita selesai bertemu. Kamu yang selalu malu-malu pada awal pertemuan atau acara jalan-jalan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia, kamu tahu nak, Papa lebih bahagia daripadamu. Sangat bahagia setiap kali bisa bertemu dan memelukmu. Mamamu menceritakan bagaimana kamu tidak mau menghapus stempel dari Ancol tempat kita jalan-jalan kemarin. Bukan kamu saja Nak, Papa juga begitu. Papa tidak mau menghapusnya saking bahagianya. Seandainya bisa, Papa ingin menghentikan hari kemarin. Biar Papa bisa lebih lama denganmu, bisa tertawa lebih lama denganmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/TOCYsrWKcrI/AAAAAAAAAdA/--euFbS3nNQ/s1600/Alia1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/TOCYsrWKcrI/AAAAAAAAAdA/--euFbS3nNQ/s400/Alia1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539595434983060146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak henti-hentinya Papa memandangi fotomu hasil jalan-jalan kemarin. Kamu sudah besar nak, kamu semakin cantik. Wajahmu yang benar-benar duplikat dariku, semakin membuatku bahagia namun juga ngeri. Terbayang semua keburukan yang telah aku lakukan. Semoga kamu tidak melakukannya Nak, semoga kamu bisa menjadi orang yang lebih bijaksana dari Papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia, Papa akan terus berdoa agar kamu tumbuh menjadi anak yang bisa mengerti masalah. Semoga pula calon ayah (tirimu) tidak memberimu warna kebencian dan kedengkian yang selalu dia lakukan pada Papamu. Yang dimana seharusnya dialah yang malu sama Papamu. Karena, pada kenyataannya Papa masih bisa baik dengannya, bahkan dengan semua bagian keluarga Mamamu. Agar kamu tahu Nak, sebagian hutang keluarga Mamamu, Papa lah yang melunasinya. Yang sebenarnya itu Papa siapkan untuk masa depanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, berbahagialah selalu. Papa mencintaimu lebih dari perempuan manapun di dunia ini. Belajarlah tentang kehidupan, belajarlah tentang memaafkan, belajarlah terus tentang memberi, agar hidupmu menjadi lebih bahagia dari Papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you my Child, Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/TOCYNP6mAdI/AAAAAAAAAc4/LP4PRp3wS7k/s1600/Alia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/TOCYNP6mAdI/AAAAAAAAAc4/LP4PRp3wS7k/s400/Alia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539594895043723730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-4616558566824647429?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cibLkS738oFYpM2O_IESbc_gKtY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cibLkS738oFYpM2O_IESbc_gKtY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cibLkS738oFYpM2O_IESbc_gKtY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cibLkS738oFYpM2O_IESbc_gKtY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4616558566824647429/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=4616558566824647429" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4616558566824647429?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4616558566824647429?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/11/lithium.html" title="Lithium" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/TOCYsrWKcrI/AAAAAAAAAdA/--euFbS3nNQ/s72-c/Alia1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEDQXo_eip7ImA9Wx5QFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-636658341148986327</id><published>2010-09-03T15:32:00.003+07:00</published><updated>2010-09-03T16:04:30.442+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-09-03T16:04:30.442+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia." /><title>Alia, cepatlah besar nak..</title><content type="html">Hari ini, aku akhirnya mengikhlaskan diri untuk tidak bisa lagi ketemu dirimu sampai kamu beranjak besar nak. Mamamu atau lebih tepatnya calon ayah tirimu, tidak menginginkan kita sering ketemu. Mereka takut pertemuan kita akan mengganggu perjalanan rumah tangga yang akan mereka rintis, padahal sudah aku katakan "aku bahkan sudah tidak lagi punya rasa cinta sama mamamu". Papa hanya ingin bisa ketemu kamu Alia, sewaktu waktu, itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamamu beralasan kehadiranku yang menemui bisa semakin mendekatkan kembali ke mamamu dan itu akan membuat calon ayahmu marah. Padahal anakku, Papamu ini paling pintar memegang komitmen. Papamu bisa memisahkan apapun dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, demi kebaikan mamamu yang tentu itu akan berimbas ke kamu Alia, Papa mengikhlaskanmu nak. Hanya satu doaku, semoga kamu selalu dilindungi oleh Allah SWT dan segera setelah besar carilah Papa Nak. Papa menunggumu kapanpun kamu akan datang. Papa akan bikinkan kamar khusus untukmu dirumah, seperti kamu yang selalu aku tempatkan di kamar hati paling dalam dan khusus. Cepatlah besar nak, Papa mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini. Cepatlah besar dan temui papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, seperti yang pernah papa tuliskan. Maafkan atas ketidakmampuan papa memperjuangkanmu. Mungkin papa terlalu ambisius menumpuk harta, sehingga harus lupa denganmu. Tapi anakku, semua bukan tanpa sebab, dulu aku lakukan untuk mengusir kesepian atas tidak adanya dirimu. Alia, kamulah penyebabnya, kamulah pemantik semangat didadaku. Sekarang, papa akan berjuang semakin kuat agar ketika kamu pulang nanti kamu bisa merasakan papa seutuhnya tanpa harus meninggalkanmu karena papa harus kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepakkan sayapmu Anakku, terbanglah setinggi mungkin. Jadilah kebanggaan Papa. I love you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-636658341148986327?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqIHLDdb7ZbGL9mMfRs1etaRySA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqIHLDdb7ZbGL9mMfRs1etaRySA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqIHLDdb7ZbGL9mMfRs1etaRySA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bqIHLDdb7ZbGL9mMfRs1etaRySA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/636658341148986327/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=636658341148986327" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/636658341148986327?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/636658341148986327?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/09/alia-cepatlah-besar-nak.html" title="Alia, cepatlah besar nak.." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcGRHY5fCp7ImA9Wx5RFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7993062575673129928</id><published>2010-08-24T22:58:00.003+07:00</published><updated>2010-08-24T23:07:05.824+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-08-24T23:07:05.824+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia" /><title>Alia.</title><content type="html">Seperti biasa, kehilanganmu masih terus menemaniku. Sesekali aku ajak semua bercanda, layaknya kupu-kupu yang mencandai beningnya air sungai. Hingga sungai menguak senyum terkena cubitan genit kupu-kupu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Alia, anakku. Begitu banyak rupa perjalanan ini. Cerita dan juga sejarahnya. Pastikan kamu tahu, tak ada yang lebih menginginkanmu selain aku. Kepakkan sayapmu dan terbanglah tinggi. Aku tunggu disini, ditaman sebelum surga dan di surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-7993062575673129928?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-XeUiLm6GBLCDgQNf3kr_x4NxQw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-XeUiLm6GBLCDgQNf3kr_x4NxQw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-XeUiLm6GBLCDgQNf3kr_x4NxQw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-XeUiLm6GBLCDgQNf3kr_x4NxQw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7993062575673129928/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=7993062575673129928" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7993062575673129928?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7993062575673129928?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/08/alia.html" title="Alia." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkQBQns6cCp7ImA9WxFUEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3464280179515174904</id><published>2010-06-22T23:17:00.002+07:00</published><updated>2010-06-23T00:39:13.518+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-06-23T00:39:13.518+07:00</app:edited><title>Alia anakku.</title><content type="html">Anakku, hari ini aku kembali berbicara dengan Mamamu. Aku hanya menuntut waktu agar bisa diperbolehkan menjengukmu sewaktu-waktu. Tanpa harus menunggu hari minggu ataupun Mamamu ada waktu. Namun sepertinya masih gagal, dan lagi. Maafkan aku yang kurang keras berjuang untuk mendapatkanmu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, perjalanan hidupku terasa tak lengkap tanpamu. Karir, nama besar dan kekayaan, tak bisa mengobatinya. Kamulah alasanku berusaha keras, kamu pulalah hal utama yang membuatku bekerja keras. Kamu sebagai pemantik yang membuatku terbakar untuk membuat semua ini menjadi nyata, senyata senyum mungilmu itu. Anakku, sungguh aku ingin sekali mendengar celotehmu "Papa mana Ma? atau Papa pulang ya Ma?". Dimana itu hanya aku dengar dari cerita Mamamu setiap kalian berdua jalan-jalan ke Mall atau selepas aku pulang menjengukmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, aku tak bisa melakukan apapun saat ini. Tempatmu berbaring tidur dan bercanda tawa di setiap pagi pun aku tak tahu. Mamamu begitu pandai menyembunyikanmu, dan aku seperti terkena pagar listrik bila ingin mencarimu. Karena aku selalu kembali sadar bahwa kamu lebih baik sama Mamamu saat ini. Jauh didalam hati, aku selalu berdoa agar doaku bisa menemukanmu. Semoga hal pertama yang menciummu disaat kamu beranjak tidur adalah doaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, maafkan papamu ini bila mungkin nanti Tuhan tetap tidak mengijinkan kita berkumpul dalam waktu dekat ini. Papa akan terus berdoa agar kita bisa bersama di suatu hari nanti. Di setiap detak jantungku yang berlompatan kesana kemari, namamulah yang terdengar sebagai nyanyiannya. Kamu selalu duduk di pelupuk mataku, bagaimana aku tidak terus menerus merindukanmu anakku. Salahkanlah aku suatu hari, marahilah aku suatu hari nanti tapi mohon jangan kamu benci Papa. Kamu boleh pecahkan semua benda yang ada di sekelilingmu, boleh pula kamu layangkan caci maki kepadaku tapi mohon jangan benci papa. Jangan arahkan kebencianmu pada papamu ini, Papamu manusia biasa nak, manusia yang banyak kesalahan. Tapi Papa pula yang akan pertama menangis bila kamu sakit, Papalah yang akan pertama bersedih bila kamu menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, malam ini aku tuliskan ini dengan airmata berderai. Betapa aku merindukanmu. Betapa aku ingin memelukmu, menciummu dan tidur disampingmu seperti dulu. Merasakan kakimu yang menendang mukaku, mendesakku hingga jatuh ke bawah ranjang. Betapa aku ingin memegang jemari lentikmu, membelai rambutmu dan merasakan desah nafasmu dipipiku. Jangan benci papa nak, jangan kamu tatap aku dengan mata benci. Mohon, jangan sampai terjadi itu di kemudian hari. Ya Tuhan, kepadaMu aku memohon, selamatkan Alia dari kebencian dan dari surga dunia yang fana ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, meski perasaan cinta papamu terhadap mamamu sudah tak ada. Namun demi mendapatkanmu kembali, aku rela meminta bahkan mengemis agar kamu kembali. Yang tentunya dengan mengajak mamamu kembali berkumpul bersama papa. Anakku, banyak teman-teman papa yang berargumen, bahwa perpisahan aku dan Mamamu ini dikarenakan aku. Semua itu salah, Mamamulah yang meninggalkanku. Karena dulu Papa ini miskin dan tidak punya uang. Anakku, maafkanlah mamamu juga atas semua kejadian ini. Hingga kamu akhirnya menjadi korban. Mungkin mamamu belum cukup dewasa untuk memahami kehidupan yang sebenarnya. Dengan sangat Papa memohon kepadamu, apapun yang terjadi suatu hari jangan menjadikanmu tumbuh rasa benci kepada kami berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku. Papa bisa saja menghilang darimu, namun kamulah satu-satunya cinta dihatiku. Kamulah yang menjadi semangat untuk terus hidup, sembari terus berdoa agar kita ketemu kembali ketika kamu besar nanti. Dengan sengaja Papa menjadikan diri untuk terkenal dan dikenal, hanya dengan satu alasan "agar kamu mudah mengenali dan mengenalku". Sehingga kamu mudah untuk menemukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku. Berkembanglah dan teruslah mekar. Kamu adalah serpihan surga yang dikirim untukku. Papa mencintaimu Zaneta Putri Aalia Kika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-3464280179515174904?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WsREG6yHXzN0gC9JVdiE9RFUnKc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WsREG6yHXzN0gC9JVdiE9RFUnKc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WsREG6yHXzN0gC9JVdiE9RFUnKc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WsREG6yHXzN0gC9JVdiE9RFUnKc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3464280179515174904/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=3464280179515174904" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3464280179515174904?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3464280179515174904?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/06/alia-anakku.html" title="Alia anakku." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QDQXo_fyp7ImA9WxFQEEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-5167785896259228298</id><published>2010-05-05T19:20:00.003+07:00</published><updated>2010-05-06T01:49:30.447+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-05-06T01:49:30.447+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Novel Sulang Dari Timur" /><title>Membuka Pintu [Bab I]</title><content type="html">“Ayah, buku apa itu?”, tanya Joko. “Kamu harus simpan buku ini baik-baik, jangan sampai siapapun tahu…”, bisik ayah Joko. Seminggu kemudian Ayahnya mati tertembus peluru. Joko masih tak tahu apa yang terjadi, sampai saat usianya beranjak dewasa dan ditangannya tergenggam buku pemberian ayahnya. Tertulis disitu pengarangnya “Pramoedya……..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahnya bergejolak, jaman kebebasan berpendapat ternyata belum benar dilalui oleh ayahnya hingga sekarang. Dibukanya kembali kamar ayah ibunya yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi, dari bawah ranjang hingga atas lemari dicarinya sesuatu yang Joko sendiri tak tahu apa itu. Tanpa lelah terus dicarinya, bongkar sana bongkar sini. Sampai akhirnya duduk bersandar lemari di dekat ranjang, sesaat Joko menarik nafas panjang dan tidak dirasakannya kelelahan. “Pluk….” tiba-tiba didepannya jatuh segulungan kertas, secepatnya Joko membukanya. “Kudeta Soeharto pada….” Judul gulungan kertas yang langsung dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko berlari cepat meninggalkan kamar orang tuanya. Digenggamnya erat gulungan kertas kumal itu, dia berlari menuju pusat kota dimana ada bangunan tua peninggalan belanda bertuliskan Perpustakaan. Sepertinya dia tahu benar apa yang dicarinya, matanya memandang lurus menyilang ruangan perpustakaan. “Iya disana, aku pernah membacanya disana…”, bisik Joko. Bergegaslah dia menuju arah pandang matanya, “disini iya disini… Seharusnya disini, aku yakin ada disini..dulu disini”, matanya tiada henti melihat beberapa sab buku yang pernah tak sengaja kena senggol olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, seharusnya ada disini… disini..”, mata Joko masih terus mencari-cari sembari mulut tak berhenti berdesis dan tangan menggeser-geser susunan buku yang ada dengan cepat.  “kenapa bisa tidak kelihatan ya, kemana ya….”, tangan Joko sedikit demi sedikit mulai gemetar mengikuti kalut pikirannya. Sampai di bagian bawah, dibongkarnya beberapa sab buku yang sudah terlihat usang dan tua. “Seharusnya disini…”, Harap Joko tiada berhenti, keringat mulai menetes dan tak peduli dengan suasana Perpustakaan yang semakin sepi. Terus saja matanya mencari dari buku-buku usang yang berdiri sejajar, ditengokkannya kepala ke samping kanan… “Sedang apa disini!”, spontan Joko berbalik badan karena kaget dan ayunan tangannya menyambar beberapa sab buku hingga berjatuhan menimpa kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah wajah dengan perawakan kurus berusia 40an tahun dan kulit coklat menghitam tanpa senyum menatap erat Joko, penjaga perpustakaan!!. “Apa yang kau cari hingga membongkar buku-buku itu?”, tetap dengan tanpa senyum dan juga tanpa melepas pandangan mata ke arah kedua tangan Joko. Sejenak Joko bingung harus berkata apa, dalam benaknya berkecamuk pikiran. “Apa yang mesti aku katakan, sedang aku sendiri bingung dengan judul buku yang aku cari..”, batin Joko terus berdialog. Makin gemetar dia mendapat pandangan tajam dari penjaga perpustakaan ini. “Ini.. ini saya.. sedang mencoba mencari buku..”, tertatih Joko berusaha menjawab. “Buku apa?!”, kembali pertanyaan yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Joko terucap dari penjaga perpustakaan. “Pramoedya..!”, tiba-tiba Joko mengucapkannya dengan lantang. Seketika tangan penjaga perpustakaan langsung menarik tangan kiri Joko dengan kasar, beberapa buku langsung ikut berhamburan jatuh terkena tarikan tangan kanan Joko yang berusaha menahan agar tidak ikut terbawa oleh tarikan kasar penjaga Perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat sudah usaha Joko untuk bertahan dan tidak ikut terbawa, namun sembari tetap mencoba bertahan Joko mengikuti arah jalan penjaga perpustakaan yang seakan sangat kuat dan tak ingin melepasnya. Melewati beberapa lorong bangunan perpustakaan yang mulai melepuh kulit dindingnya, tidak jelas terlihat apa warna sebenarnya dinding itu. Beberapa kali Joko mengaduh karena kakinya terantuk meja atau tumpukan buku yang dilewati oleh mereka. Penjaga perpustakaan yang sudah hapal tentu dengan mudah melalui semua lorong, berbeda dengan Joko yang harus tetap mempertahankan matanya melihat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, Joko dibawa masuk ke sebuah ruangan gelap yang pengap dan terasa kalau tempat ini sudah lama sekali tidak ada yang memakainya. Namun meja dan beberapa rak buku masih tertata rapi berselimut sarang laba-laba nan tebal. Seperti melempar, tangan penjaga perpustakaan menarik keras dan melepas Joko yang menabrak dinding. Dalam keadaan remang-remang Joko mencoba mengamati arah gerak mata penjaga perpustakaan tersebut. Di cobanya melihat agar lebih jelas dengan memicingkan matanya keras-keras, dan hanya kerah baju yang terlihat oleh matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko mendadak berhenti menulis, sebuah tulisan yang selama ini menjadi percakapan di dalam otaknya. Terlihat Joko lebih memilih untuk menyalakan lilin dan mematikan listrik dikamarnya. Naskah itu dibiarkannya menggeletak dan berserakan. Naskah fiksi yang selama ini selalu berbincang dan bercakap-cakap diluar kemauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok hari terakhirku dirumah,rasanya berat meninggalkan kamar ini”,bisik joko kepada lilin yang menemaninya. Api diujung lilin bergoyang, seakan ikut mengiyakan bisik Joko. Dua puluh dua tahun yang lalu, Joko pindah di kota kabupaten kecil ini berlima dengan ayahnya yang seorang pegawai negeri. Ayahnya baru saja menduda, karena ibunda Joko yang telah diperkenankan pergi menemui Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat ketika dirinya dituntun oleh Buleknya untuk melihat sesosok tubuh yang tertidur diatas sebuah dipan dengan balutan kain putih sekujur tubuh dan  hidung tertutup kapas putih bersih. “Itu ibu dik, lihatlah beliau tersenyum… Cantik sekali”, ucap buleknya memeluk joko sembari menangis sesenggukan. Dia yang tidak tahu, hanya diam. Diputarkannya pandangan mata ke sekeliling ruangan, semua orang berdoa, ayah terlihat sibuk menemui tamu dan kakak perempuannya terlihat sesenggukan di sudut ruangan begitu melihat tatap mata Joko. Dua kakak laki-lakinya terlihat menempel di pelukan Buleknya yang lain. “Ada apa ini Bulek?”, tanya Joko. Hanya dekapan yang dia terima. Makin erat dan kuat, dia semakin tidak tahu. Tak berapa lama tubuh ibunya diangkat beramai-ramai oleh saudara-saudara dan tetangganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikuuuuuuuuttt….”, joko tiba-tiba berteriak. “Ibu mau kemanaaaa….”, seketika buleknya yang lain memeluknya dan mengangkat tubuh kecil Joko ke ruangan lain. Dibawanya dia ke ruangan pesantren yang ada dibelakang rumah kakek nenek Joko. Dia menangis keras, bersikeras untuk ikut kemana ibunya mau dibawa. Buleknya tak kuasa lagi untuk tidak menangis, Joko semakin tidak mengerti. Dia merasa gelisah karena ada sesuatu yang tidak diperbolehkan untuknya tahu. “Bulek, ibu mau kemana?, kok aku tidak diajak? Biasanya ibu selalu mengajak aku kalau pergi…”, dipukuli buleknya yang masih terus mendekap tubuhnya. Joko masih terus berteriak dan memanggil ibunya untuk ikut. Berkali-kali dan menangis hingga akhirnya dia kelelahan, tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan kejadian itu masih membekas dipikirannya hingga sekarang. Hari ini di bulan agustus, Ayahnya pergi menyusul ibunya. Dan kembali Joko memasuki fase ketidakmengertian. Dua hari yang lalu ayahnya sudah dikuburkan, sementara dia masih berada di Jogjakarta. Joko menyesali sikap temannya yang tidak langsung menuju kerumahnya ketika dia pulang ke kampung. Waktu itu Dadang akan pulang dan dia titip agar dikabarkan ke ayahnya kalau dirinya baik-baik saja di Jogjakarta. Sebelumnya Joko sudah merasa ada sesuatu yang membuatnya dia menitip pesan kepada Dadang. Sayangnya Dadang datang ke rumahnya sehari setelah ayahnya dikuburkan. Hingga kabar yang datang kepadanya pun terlambat. Tapi semua itu ditepiskan olehnya. Dadang dan keluarganya sudah seperti rumah kedua baginya. Darimana pun dia pulang, dia selalu menyempatkan untuk datang ke rumah Dadang, sekedar menyapa ayah dan ibunda Dadang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi aku berangkat”, gumam Joko sembari mematikan lilin dan kembali menyalakan lampu kamarnya. Perbekalan yang sedikit memudahkannya untuk bersiap-siap. Semua saudaranya sudah tahu akan rencananya ini, dan karena Joko sudah terbiasa bepergian jauh maka saudaranya juga tidak ada yang melarang. Hanya sedikit pesan-pesan untuk tetap berhati-hati dan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Tak berapa lama, dia sudah sampai di pojok kantor Telkom tempatnya biasa nongkrong bila sore hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Temukan jalanmu sendiri nak, disana akan ada banyak lubang entah kering maupun berair yang siap menangkap, memeluk dan mengasah ketajamanmu untuk keluar dari semua rintangan". Ucap Pak Bardi tukang becak yang menemaniku menunggu bis untuk berangkat ke Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu mata Pak Bardi menerawang jauh ke atas sembari mengepulkan asap dari kretek putih yang terselip di tangan kokoh berurat namun menampakkan uzurnya. Pak Bardi adalah salah satu teman mainku setiap sore hari, dia tak banyak bicara dan cekatan dalam membantu orang. Beliau pulalah yang pertama kali membangunkan dan memapahku berdiri kembali ... See moreketika tanpa sengaja sebuah mobil minibus menabrakku keras dari arah timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang terburu-buru menyeberang ke tempat kerja agar bisa mendapatkan insentif untuk liburan nanti, aku yang berencana naik gunung di daerah Purwokerto dan terkenal angker itu. Akhirnya hanya mendapati tubuhku duduk-duduk di depan teras di kemudian hari tanpa bisa menikmati hasil kerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bardi pulalah yang dengan tegas menyuruhku menolak untuk memanfaatkan kejadian itu agar mendapatkan uang ganti rugi dari penabrakku, seorang tionghoa tua yang keluar dari mobil. Dan menyuruh mereka segera pergi sebelum Polisi datang. Dikarenakan jarak kantor Polisi dan kejadian ini tidak sampai 100 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Pak Bardi seperti membayangkan sesuatu. Aku dengar anaknya pun ada yang di Jakarta dan berhasil. Namun aku tak berani menanyakannya. Takut salah menghantuiku. Bisa jadi Pak Bardi sedang membayangkan anaknya dan menyamakannya denganku. Karena terlihat pelan dan perlahan dibalik kokoh tangannya, ada sesuatu yang bergetar di pundaknya. Pak Bardi yang berjanji membantuku menghentikan Bis jurusan Jogjakarta - Jakarta, malah beberapa kali melewatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku sendiri bingung, bagaimana meminta kepadanya untuk segera menghentikan Bis-Bis yang melaju kencang dengan sesekali menyorotkan lampu jauhnya. Dan waktu semakin larut, semakin takut bagiku kehabisan Bis Malam yang menuju Jakarta. Di jalan raya pantai utara yang terkenal rame ini, semakin sepi dan ngelangut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Bardi menolehku dan tersenyum, "Berangkatlah nak, aku yakin kamu akan berhasil. Kamu bisa, karena kamu lebih mudah bergaul daripada anakku. Pulanglah setiap kali ada kesempatan, aku tetap mangkal di sudut kantor Telkom situ dan kunjungi aku sesekali ya..., jangan lupa bawakan kretek kesukaanku". Sederak roda Pak Bardi sudah tertawa sembari melambai-lambaikan tangan untuk mencegat Bis-Bis Malam yang semakin kehilangan kesopanannya. Tak berapa lama, aku sudah tertidur di dalam bis malam dengan tujuan Jakarta dan akan berakhir di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-5167785896259228298?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6FUJvBUlmSnq10qaiDUZAdl3z8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6FUJvBUlmSnq10qaiDUZAdl3z8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6FUJvBUlmSnq10qaiDUZAdl3z8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/K6FUJvBUlmSnq10qaiDUZAdl3z8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/5167785896259228298/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=5167785896259228298" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5167785896259228298?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5167785896259228298?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/05/membuka-pintu-bab-i.html" title="Membuka Pintu [Bab I]" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIARH0-eSp7ImA9WhdbF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7807645383871355937</id><published>2010-04-21T02:19:00.002+07:00</published><updated>2011-10-16T19:35:45.351+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-16T19:35:45.351+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen" /><title>Paktua dan aku.</title><content type="html">&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
Sibuk aku menyibak kerumunan orang yang ada didepanku, keringat menetes hingga serasa mandi sore hari di Sungai Ciliwung. Teringat tadi pagi kawan lamaku mengetuk pintu kamar dan mengajakku pergi keluar. Dia mengatakan bahwa aku terlalu lama bersembunyi di depan layar 12 inci hingga tak kenal matahari. Iya, aku begitu menikmati dunia itu, dunia selebar 12 inci. Disana banyak aku temukan cinta yang meluber layaknya air penuh dalam gelas, juga banyak serpihan sakit hati yang tertuang seperti deras air terjun. Kawanku ini orang yang mengajariku menulis, dia selalu saja memberiku semangat akan sebuah tulisan. Kepak sayapnya telah terbang hingga negeri jauh disana. Dia juga yang menyediakanku rumah kedua dihatinya. Di dalam gazebo hati karyanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
Masih sibuk aku coba menengok-nengokkan kepala hingga menjulurkannya, ingin melihat ada apa sebenarnya di depan sana. Kerumunan ini banyak berbisik, ada pula isak maaf dan tangis. Seperti bisikan wanita tua kepada anaknya untuk terus hidup bila nanti ajal menjemput dirinya sebagai ibu. Aku tersentuh mendengarnya. Anganku melayang ketika penceramah itu datang menghampiriku waktu duduk dipinggir sungai berair jernih bersama kawan lamaku, hingga ikan pun seakan malu untuk bercanda karena aku melihatnya dari atas air. &lt;a href="http://berbagipuisi.blogspot.com/"&gt;Ah, air dan ikan&lt;/a&gt;. Itu sejatinya kehidupan manusia, bisik penceramah tua berbaju putih tadi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
"Teruslah renangi kehidupanmu dari hari ke hari anakku", begitu katanya. "Tapi apakah ini dejavu?, sekelebat tadi aku melihat tubuhku ada dalam keranda itu". 'Bukan anakku, coba lihat aku, gambaran itu? Itu hanya pintu, pintu menuju banyak janji yang harus kamu perjuangkan. Dengan langkah pertamamu", Suaranya semakin hangat. Setiap kenangan akan mencari sendiri pintunya. Dia terus memberitahuku, namun sekejap aku melihat tubuhku berbicara dengan seseorang tua berbaju putih di depan pintu pemakaman. Tak berapa jauh dari situ, rumahku sudah tak lagi ramai. Lengang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
Depok, 2010 &lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;
To night I only see the door and afraid to open it. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-7807645383871355937?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/08Ttin9Zj7lAYWuvjw19IK3wUOo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/08Ttin9Zj7lAYWuvjw19IK3wUOo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/08Ttin9Zj7lAYWuvjw19IK3wUOo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/08Ttin9Zj7lAYWuvjw19IK3wUOo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7807645383871355937/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=7807645383871355937" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7807645383871355937?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7807645383871355937?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/04/paktua-dan-aku.html" title="Paktua dan aku." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYNQXw-eip7ImA9WxBWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7080456796998466688</id><published>2010-02-03T17:16:00.000+07:00</published><updated>2010-02-03T17:16:30.252+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-02-03T17:16:30.252+07:00</app:edited><title>Menghidupkan Wisata Danau Lumpur Lapindo</title><content type="html">Setelah 3 tahun ditambah 100 hari pemerintahan yang sekarang, ternyata tidak sedikitpun menyentuh kondisi sosial korban lumpur Lapindo yang ada di Desa Porong, Sidoarjo. Perlahan dan (seperti) pasti, kondisi sosial di Porong dan desa-desa lainnya yang terkena dampak lumpur Lapindo dilupakan bahkan ditinggalkan. Rembug Nasional (National Summit) yang diadakan Presiden setelah pelantikannya juga seperti sengaja untuk tidak mengundang korban lumpur Lapindo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih tercecer saat ini lebih dari 300 KK yang menganggur, hak penghidupan yang semestinya menjadi hak paten manusia hidup masih juga tidak diperjuangkan dengan baik. Bisa dibayangkan, berapa total nyawa yang terancam kelangsungan hidup, pendidikan dan masa depan bila dihitung dari 300 KK. Uang ganti beli (yang jelas-jelas uangnya dari Negara alias Rakyat) juga tidak membantu banyak, karena masih banyak penduduk yang belum menerima uang ganti asset tersebut.&lt;br /&gt;
Kebijakan Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-216"&gt;&lt;/span&gt;Terakhir minggu ketiga bulan pertama tahun ini, saya mencoba melakukan assesment secara nyata ke desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Lokasi pengungsian yang masih semrawut, pengangguran nyata yang terlihat di sisi danau lumpur, hingga wajah-wajah tegang yang berseliweran disekitarnya. Namun terlihat juga beberapa pengunjung yang menikmati danau lumpur ciptaan Lapindo itu. Luas tanggul yang hampir mencapai 1 KM menjadi strategic view untuk menikmatinya. Terlihat sekali minim aktifitas yang terjadi disini. Hampir seperti daerah mati. Sebelum menikmatinya, saya dicegat dan di minta membayar sebesar 5000 rupiah sebagai ganti uang tiket masuk ke lokasi wisata danau lumpur. Tanpa senyum dan tanpa basa basi, terlihat sekali ketegangan yang sudah akut menyelimuti pikiran mereka-mereka yang ada di daerah ini.&lt;br /&gt;
Berbekal melihat dan mencermati keadaan, kebutuhan perut para pengungsi yang berjumlah lebih dari 300 KK tersebut sudah tidak bisa lagi dihindarkan. Sudah sangatlah mendesak. Menurut Ipung M Nizar, salah satu koordinator pengungsi, mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kebanyakan dari mereka sulit untuk diajak keluar dari daerah lumpur tersebut. &amp;nbsp;Hingga akhirnya dia sebagai koordinator tidak bisa juga meninggalkan rekan-rekan dan beberapa saudaranya yang masih tinggal dan menunggu uang ganti beli dari Pemerintah. Namun mereka berjanji bila ada jaminan penghidupan yang layak, mereka akan berusaha untuk keluar dari lingkungan Lumpur yang jelas-jelas sudah tidak lagi kondusif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama ini Ipung dan teman-teman mencoba untuk berkarya dengan membuat &lt;a href="http://kukira.net/"&gt;CD/DVD dokumenter&lt;/a&gt; tentang kejadian Lumpur Lapindo.&lt;br /&gt;
Untuk membantu Ipung dan rekan-rekannya, saya beserta teman-teman mencapai pada tahap kesepakatan untuk membantu dengan cara menghidupkan saja sekalian wisata di Danau Lumpur Lapindo. Secara SDM dan kreatifitas, daerah Tanggulangin dan Porong merupakan sentra produksi kerajinan yang sangat dikenal di Indonesia. Di Tanggul pembatas lumpur yang lebar mencapai 15 Meter serta panjang hampir 1 KM itu nantinya akan didirikan pasar wisata dengan berbagai penjualan. Hanya saja dibutuhkan banyak modal untuk orang-orang korban Lapindo ini agar bisa berjualan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mensiasatinya, saya secara pribadi akan menggandakan CD/DVD Dokumenter Lumpur Lapindo serta membuat beberapa macam produk yang berhubungan dengan tragedi ini. Dan bisa dilihat di situs SocioDistro serta Social Movement yaitu &lt;a href="http://kukira.net/" target="_blank"&gt;http://kukira.net&lt;/a&gt;. Yang nantinya hasil penjualan dikurangi modal akan saya kirim ke beberapa koordinator pengungsi disana, entah itu LSM atau personal. Diantaranya Ipung dan LSM yang tergabung dalam http://korbanlumpur.info . Beberapa produknya adalah T-Shirt dan Topi.&lt;br /&gt;
Pengadaan konsep Pasar Wisata Danau Lumpur ini juga merupakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa masih banyak masalah yang diakibatkan oleh Lapindo dan pemerintah secara tidak langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
N.B&lt;br /&gt;
Dan bila ada rekan-rekan yang sanggup memberikan jaminan peminjaman uang baik perorangan maupun lembaga kepada para korban untuk digunakan sebagai modal usaha awal, silahkan hubungi saya atau langsung kepada Ipung M Nizar dengan nomor telpon 0817335244&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-7080456796998466688?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MeYK_rWFbJZgCJG1E68Vn8Ez2yc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MeYK_rWFbJZgCJG1E68Vn8Ez2yc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MeYK_rWFbJZgCJG1E68Vn8Ez2yc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MeYK_rWFbJZgCJG1E68Vn8Ez2yc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7080456796998466688/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=7080456796998466688" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7080456796998466688?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7080456796998466688?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/02/menghidupkan-wisata-danau-lumpur.html" title="Menghidupkan Wisata Danau Lumpur Lapindo" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcBRnwyfCp7ImA9WxBXEUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-8036666752900362920</id><published>2010-01-22T23:17:00.001+07:00</published><updated>2010-01-22T23:17:37.294+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-22T23:17:37.294+07:00</app:edited><title>Curhat.</title><content type="html">Ternyata lama sudah aku tidak menuliskan sesuatu yang esensial. Terlalu lama berkacak pinggang dan tak mau turun dari tahta piala yang mesti aku potong dan aku geser letaknya. Mencoba meniduri semua tempat yang memang semestinya menjadi tempatku tidur, ternyata tidak baik, ternyata berakibat buruk untuk pikiran. Dulu apapun yang ingin aku tulis pasti aku tuliskan. Sekarang tak bisa lagi. Aku bukan peluru lagi, karena aku penarik latuk maka aku perlu untuk hati-hati mengarahkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-8036666752900362920?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nR_QfWC9ONt4qwPPpYM_NbSwdkE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nR_QfWC9ONt4qwPPpYM_NbSwdkE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nR_QfWC9ONt4qwPPpYM_NbSwdkE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nR_QfWC9ONt4qwPPpYM_NbSwdkE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/8036666752900362920/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=8036666752900362920" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8036666752900362920?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8036666752900362920?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/01/curhat.html" title="Curhat." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ADRno7fyp7ImA9WxBRFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4757301761015232161</id><published>2010-01-02T18:01:00.004+07:00</published><updated>2010-01-02T19:36:17.407+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-02T19:36:17.407+07:00</app:edited><title>Maafkan Ayah nak...</title><content type="html">&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hari ini adalah hari terakhir Karsa bermain dan tidur bersama putri mungil nan cantik yang masih berumur 1,5 tahun. Sejak pagi tadi Karsa memandikan Kaisa dengan kasih sayang lebih dari biasanya. Memberikannya baju tercantik yang dipunyai untuk putrinya itu. Terlihat betul Karsa ingin menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi putrinya dan tentu juga untuk dirinya sendiri. Dia menikmati benar setiap detik canda, senda gurau dan gaya lucu putri cantiknya Kaisa. Meski dengan airmata yang menetes jauh didalam lubuk hatinya. Diajaknya Kaisa untuk membereskan semua mainan dan perlengkapan kebutuhannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hari ini adalah hari yang paling dilematis dalam pikiran Karsa. Tuntutan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk bisa menghidupi belahan nyawanya itu semakin menekan seiring dengan besarnya tuntutan perkembangan tumbuh besarnya Kaisa. Harga susu yang serasa sangat mahal bagi Karsa, menuntut untuk berpikir lebih keras dalam mengusahakannya. Ya, Karsa adalah seorang Ayah yang sendiri menghidupi anaknya selama satu tahun lima bulan ini. Ibu Kaisa terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya yang serba glamour, serta tuntutan dalam tuntunan keluarga besarnya yang lebih mengedepankan kemewahan. Kehidupan yang sangat bertolak belakang dari kepribadian Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Selama satu tahun lebih ini, Karsa bekerja dirumah sebagai seorang desainer sembari juga merawat Kaisa dengan penuh kasih sayang. Beruntung Karsa dulunya pernah menjadi desainer yang lumayan dikenal dibeberapa tempat sebelum tempat usahanya jatuh dan membuatnya hidup memulai dari nol kembali. Kembali dari nol dan harus menanggung semuanya sendiri. Sekian ratus juta rupiah hutang yang dideritanya dia tanggung dengan hanya bermodalkan komitmen dan keyakinan diri bahwa semua permasalahan pasti ada ujungnya. Karsa sangat bersyukur karena beberapa di antara temannya masih banyak yang mempercayakan pembuatan desain kepadanya. Maka semua dikerjakannya dengan sepenuh hati. "Semua demi Kaisa", begitu batinnya berdoa setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Karsa sangat mengerti arti kata "orang tua", dia berusaha sebisa mungkin memberikan yang terbaik demi kehidupan putrinya kelak. Dengan prinsip keindahan yang selalu dia bayangkan dan terapkan, Karsa selalu bersemangat kembali setiap ingat Kaisa. Putri mungil yang selalu tertawa dan jarang menangis. Tanpa terasa Kaisa sudah tidur dipelukannya. Dipandanginya Kaisa dengan penuh cinta. "Nak, Ayah sungguh mencintaimu...", bisik Karsa lirih ditelinga putri cantiknya itu. Perlahan bibir mungil Kaisa membentuk segurat senyum seakan menjawab bisikan Ayahnya dengan senyum indah yang membuat Karsa tak kuasa menahan tangisnya. "Maafkan Ayah nak, hari ini Ibumu datang untuk mengambilmu", Ucap Karsa. "Ayah yakin dengan Ibumu kamu akan lebih baik Nak, untuk segala hal".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Terbayang dalam pikiran Karsa, selama setahun lebih dia dan putrinya hidup berdua di sebuah kamar sempit. Berjuang setiap detiknya memenuhi kebutuhannya dan Kaisa, mempelajari kehidupan seorang anak agar bisa mengerti dan merawatnya dengan baik. "Tuhan, ijinkan kali ini aku mengeluh", bisik Karsa. Dia sangat takut berpisah dengan Kaisa, namun untuk saat ini dia tak mengerti harus bagaimana. Tuntutan harus bekerja sembari membesarkan anak tak bisa disikapinya dengan baik, hingga takut anaknya makin terlantar karenanya. Banyak buku yang berhubungan dengan orang tua tunggal dia pelajari, berharap bisa untuk mempraktekannya namun ternyata tidaklah mudah. Apalagi Karsa bukan seorang pegawai atau karyawan di sebuah tempat usaha, karena sangat terbatas dari sisi legalitas. Iya, Karsa tidak punya Ijazah. Dia tidak mau makan hati karena ditolak saat melamar bekerja di sebuah perusahaan ataupun apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hari ini adalah hari terakhir Karsa tidur dan bebas memeluk Kaisa. Diliriknya jam dinding dalam kamar, tepat pukul 12.30 WIB. "Ah, sebentar lagi Ibumu datang Nak", kembali Karsa berbisik sembari mencium pipi montok putrinya. Tak ada reaksi apapun dari Kaisa, mungkin karena sudah terlelap. Digunakannya waktu yang sebentar itu untuk membeli rokok di warung samping kos-kosan. Kemudian diseduhnya kopi hitam yang memang setia menemaninya saat bekerja. Karsa berjalan mondar-mandir tidak mengerti mesti bagaimana, gelisah makin mencengkeram dalam tengkorak kepalanya hingga seakan mempersempit jalan pikir diotaknya. Tiba-tiba dering Hp menyalak mengagetkannya. Karsa semakin gemetar ketika membaca nama yang memanggil di Hp, "Ibu Kaisa". "Aku sudah sampai Mas", begitu suara di hp itu. Karsa hanya bisa menjawab "Iya", dan langsung putus sambungan telponnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Bergegas dia menuju kamarnya, diangkatnya Kaisa yang masih tertidur pulas dan dipeluknya erat-erat. "Maafkan Ayah nak", isak Karsa. Karsa tak mampu lagi menyembunyikan air mata yang sedari tadi sudah memaksa untuk keluar dari lubang dimatanya. "Papa di surga, maafkan anakmu yang tidak bisa menjaga cucumu", dan makin pecah batinnya. Tanpa sadar Ibu Kaisa sudah ada di depan pintu kamar. Dengan sebuah tas besar untuk membawa semua perlengkapan Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Hai, sudah siap?", tanya Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Sudah, Insya Allah sudah", jawab Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Sudah aku persiapkan juga semua perlengkapan Kaisa di tas", seru Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Ya baiklah, berarti tinggal aku bawa ke mobil", sahut Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sejenak waktu suasana menjadi hening, Karsa masih memeluk erat putrinya yang tertidur. Ibu Kaisa seperti tidak mengerti apa yang harus diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Semoga kekasihmu itu memberi ijin padaku untuk bisa menengok Kaisa setiap saat", Karsa mencoba membuka percakapan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Iya, kami sudah diskusikan itu kok jangan takut", jawab Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Ya sudah, ayoo ke depan", Karsa mencoba mempercepat proses hatinya yang semakin berat.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Tiba di depan mobil Ibu Kaisa, Karsa kembali memeluk erat Kaisa. "Nak, Ayah sangat mencintaimu, karena itu pulalah Ayah perlu kamu ada dengan Ibumu. Kita akan berjumpa lagi secepatnya, semoga kamu memaafkan Ayah".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;**&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Setahun lebih beberapa hari, Karsa termenung memandangi laptop didepannya. Huruf-huruf yang menempel di layar tidak terlihat satu pun. Pandangannya masih teringat pada pertemuan terakhir dengan Kaisa kemarin siang. Kaisa masih takut setiap kali melihatnya, sirat matanya seperti tidak mau mengenal Karsa. Padahal pertemuan ini adalah pertemuan yang ke sepuluh kali dalam setahun ini, namun Kaisa tetap saja tidak mau disentuh sedikitpun olehnya. Mestinya anak akan kembali terbiasa setelah 24 jam bersama, namun tidak dengan Kaisa. Dia selalu menjerit bahkan berubah kasar setiap Karsa mencoba memegangnya. Semua rayuan untuk membuat Kaisa tersenyum juga tidak sedikitpun ada hasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Sekarang ini secara ekonomi, Karsa tak lagi kekurangan. Boleh dibilang sangat cukup karena usahanya sudah mulai berkembang kembali. Namun satu sisi ruang hatinya kosong, sangat kosong. Dia masih belum bisa mendapatkan kembali canda gurau putri mungilnya. Sorot mata Kaisa masih seperti menyimpan dendam. Karsa masih belum merasa lengkap karenanya. Semua usaha yang dilakukannya demi Kaisa dan untuk Kaisa. Bahkan dia mengesampingkan kehidupan pribadinya hanya karena berharap Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;"Maafkan Ayah nak, semoga suatu hari kamu memahami dan mengerti akan semua ini", tulis Karsa di buku pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Depok, 2009&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Untuk Putri Tercinta.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-4757301761015232161?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/58S6elsq5jllzimw3-hPaqReTZY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/58S6elsq5jllzimw3-hPaqReTZY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/58S6elsq5jllzimw3-hPaqReTZY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/58S6elsq5jllzimw3-hPaqReTZY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4757301761015232161/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=4757301761015232161" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4757301761015232161?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4757301761015232161?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2010/01/maafkan-ayah-nak.html" title="Maafkan Ayah nak..." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cHQH8zeip7ImA9WxNbGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3765407030924950427</id><published>2009-11-23T22:29:00.002+07:00</published><updated>2009-11-23T22:43:51.182+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-11-23T22:43:51.182+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen" /><title>Nak, Ayah merindukanmu...</title><content type="html">&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Merasakan dinginnya angin malam, Pak Pardi mengencangkan selimut yang selalu menjadi andalan kala malam tiba. Di teras kamar yang selebar gedung bioskop, asap rokok mengepul dari bibir samping mulutnya yang meruncing setiap kali menghembuskannya. Membentuk warna putih yang lama-lama terlihat seperti makhluk halus yang menghilang dengan sendirinya. Pardi mendesah dengan desahan yang aku rasa akan menakutkan ular yang suka mendesis. "Sudah 5 tahun aku tak juga bisa bercengkerama dengan Liana", terdengar lirih nada kecewa dari ucap Pak Pardi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Beberapa hari ini Pak Pardi sering memimpikan Liana dalam tidurnya. Putri kecilnya yang sekarang sudah menjelma menjadi seseorang yang sangat dihormati oleh kolega dan teman-temannya. Sebagai Fashion designer yang hebat dan kreatif. Masih terekam dipikirannya, bahwa Liana adalah putri mungilnya. Yang selalu menurut untuk diajak bercanda, tertawa terbahak akan leluconnya sendiri bahkan sampai tergelak bila melihat gerakan apa saja yang dianggapnya lucu. Setiap hari minggu, Pak Pardi, Liana dan Bu Pardi selalu merencanakan agenda kecil yang menyenangkan. Entah itu dengan bepergian ke pantai, bukit-bukit atau makan siang di taman kota. Tanpa terasa sungging senyum merekah dibibirnya. Teringat betapa merdeka dan menyenangkan sebuah keluarga kecil yang selalu dirundung bahagia meski tetap dengan riak-riak kecil terkadang mengelus-ngelus hubungan Pak Pardi dan istrinya. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Hingga suatu hari, Pak Pardi mendapat kehormatan untuk menjabat ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin benar kiranya, hubungan keluarga yang harmonis akan sangat mendukung kinerja tulung punggung mereka. Mereka pun merayakannya dengan makan malam di tempat termahal yang belum pernah dikunjungi. Liana menjadi putri semalam karena malam itu dia dimanjakan sepenuh hati oleh Ayahnya. Bersama istri, dia merencanakan masa depan Liana dengan sebaik mungkin dalam sebuah catatan kecil untuk di simpan kemudian dalam kamar tidur mereka bahkan kamar Liana.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Ketika Liana beranjak memasuki usia SD, Ayahnya memasukkannya ke dalam sekolah dasar yang sangat besar namanya, tentu dengan harga yang sangat mahal pula. Namun semua itu sudah bukan sebuah masalah bagi Pak Pardi muda. Penghasilan perbulannya sudah sangat mampu untuk itu. Meski Bu Pardi hanya sebagai ibu rumah tangga. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Bu Pardi berusaha untuk bertugas dengan baik. Sebaik-baik seorang istri. Karena dalam pembagian tugas dia memegang peran sebagai pengawas langsung kehidupan Liana, tentu dia tak mau sedikitpun anaknya Liana menjadi tidak terkontrol. "Karena aku sangat menyayangi Liana", begitu jawab Bu Pardi selalu atas kekhawatiran sang suami yang selalu sedikit memprotes bila istrinya berlebihan dalam menyikapi Liana.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Perlahan Liana menjadi anak yang cerdas, namun penurut bila sama ibunya. Ibunya akan selalu ada bila Liana membutuhkan, dan tidak begitu bila dengan ayahnya yang selalu mengajarkan kemandirian dan sedikit keras. Liana sering sekali duduk sendirian dan menanyakan "Kemana Ayah bu??", bilamana sudah dalam seminggu tidak sekalipun menengok Liana meski masih dalam satu rumah. Kemudian Bu Pardi akan menyambungkannya kepada Sang Suami, "Ayah kan selalu capek Bu, begitu banyak pekerjaan di kantor". Jawaban yang selalu sama, bagaikan panjangnya rambut yang akan selalu tumbuh meski sudah di potong pendek. Bu Pardi pun mencoba menenangkan Liana diesokan hari, dikala mereka siap-siap sarapan tanpa sang ayah yang sudah hilang di telan debu kota.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;*******&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Kini Pak Pardi teringat kembali masa-masa lalu yang Indah, sementara istrinya sudah terlelap dalam keheningan mimpi di alam tidur. Begitu sulitnya dia mendapatkan waktu dari Liana, hanya untuk sekedar bercengkerama meski itu 5 menit. Terakhir kali dia mencoba menghubungi Liana. "Nak, Ayah merindukanmu", ucapnya membuka pembicaraan dengan  Liana yang ada di seberang. "Ayah, Liana sedang sibuk sekali, lain waktu kita ketemu ya..", jawab Liana dari selularnya. Ayahnya terdiam dan merenung, apakah ini karena waktu dulu aku selalu menunda-nunda keinginannya untuk bermain bersama, bercanda bersama dan sekedar menemaninya melipat kertas?. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Tanpa terasa, pagi sudah mulai sedikit menyingkirkan malam. Dan Liana belum juga pulang.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;Depok, 2009&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-3765407030924950427?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GhX1C7gdODWelKTDYRlPke4vnng/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GhX1C7gdODWelKTDYRlPke4vnng/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GhX1C7gdODWelKTDYRlPke4vnng/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/GhX1C7gdODWelKTDYRlPke4vnng/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3765407030924950427/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=3765407030924950427" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3765407030924950427?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3765407030924950427?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/11/nak-ayah-merindukanmu.html" title="Nak, Ayah merindukanmu..." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MHQXY9cSp7ImA9WxBXEUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-195497264396814716</id><published>2009-07-12T00:14:00.001+07:00</published><updated>2010-01-23T01:37:10.869+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-01-23T01:37:10.869+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sosial" /><title>Teras Waktu</title><content type="html">Disini di teras waktu yang masih terus berputar, yang tiada berhenti untuk meninggalkan tulang-belulang hidup dimana didalamnya terselip picing pandangan akan kehidupan sosial yang semakin hari semakin menimpang. Duduk dengan pantat tiada menentu untuk menetap, entah dimana sebenarnya pantatku layak berada. Tangan dan kakiku kaku layaknya Patung Sudirman yang hanya diperingati untuk perayaan saja tanpa mengerti jejak langkahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tengadahi langit, mencari selarik benang merah yang "mungkin" menghubungkan satu manusia ke manusia lainnya. Barangkali pula, bisa aku temukan benang yang sewarna denganku hingga akhirnya bisa saling mengikat bahkan melibat. Ahh... Betapa rumitnya menemukan simpul berwarna yang menarik perhatian dan bisa membuatku mati didalamnya. Pernah aku memakai cat warna untuk memoles benang yang tertangkap tangan, namun lama kelamaan warna itu memudar selayaknya cat yang terkena minyak tanah. Pernah juga suatu ketika, aku menangkap paksa satu warna untuk membuatnya berubah dan menjadi sepertiku, namun sabetan kulitku tergores karenanya. Seketika aku lari, aku kembali lari untuk mencari lagi hingga tanpa terasa aku sudah berlarian sedikit menjauh dari pikiran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali aku mencari tempat duduk, tiada peduli berselimut permadani atau tidak namun terpenting aku dapati kenyamanan. Sudut kenyamanan yang tidak mempunyai bentuk serta presisi tertentu namun selalu membuat manusia sanggup untuk membunuh dengan menanggalkan sifat ketuhanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Depok, 2010&lt;br /&gt;
Edited. &lt;br /&gt;
In my feel those people are flowers. Should I cut..?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-195497264396814716?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Im7JkX36JsIc6fbzg_5dLVcUCR0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Im7JkX36JsIc6fbzg_5dLVcUCR0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Im7JkX36JsIc6fbzg_5dLVcUCR0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Im7JkX36JsIc6fbzg_5dLVcUCR0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/195497264396814716/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=195497264396814716" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/195497264396814716?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/195497264396814716?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/07/teras-waktu.html" title="Teras Waktu" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck8DSHk5eip7ImA9WxBbFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3492185152148342249</id><published>2009-06-26T22:26:00.002+07:00</published><updated>2010-03-13T16:01:19.722+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-03-13T16:01:19.722+07:00</app:edited><title>Apa itu PUISI</title><content type="html">Puisi - Adalah susunan kosa kata yang minim dengan pemadatan struktur yang dimanipulasikan. Menggunakan gaya tutur serta pelukisan yang dahsyat dimana mampu menggerakkan emosi pembaca. Puisi mempunyai bahasa yang lebih padat, lebih indah, lebih cemerlang dan hidup. Puisi juga mengandung kata-kata perlambang [metafora] dengan bentuk-bentuk instuisi yang mengekspresikan gagasan, perasaan dan emosi. Karena puisi [hendaknya] mampu menggapai secara ekslusif ke arah imajinasi dan emotif serta artistiknya alam pembaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagan sederhana sebuah &lt;a href="http://berbagipuisi.blogspot.com/"&gt;puisi&lt;/a&gt;;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Materi Isi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Gagasan&lt;br /&gt;
2. Perasaan &amp;lt;--- Alam serta peristiwa kehidupan [pengalaman] 3. Emosi  - Materi Bentuk  1. Kosa kata 2. Struktur  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Entah itu di sebut kriteria puisi atau syarat sebuah puisi. Yang jelas bagi saya, saat puisi menyentuh semua aspek yang tertulis di atas maka sangat terasa indah bagi saya. Bagi saya, puisi begitu banyak perbedaan dalam cara mengapresiasikannya. Dan seperti itu pulalah keindahan dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhana sebuah puisi bisa menjadi sangat istimewa bila kita mampu menggambarkannya. Semakin rumit rahasia kata untuk di ungkap bisa menjadi sangat bagus bila memang kita mampu membuat pembaca merasa sebagai pelaku dalam penggambaran isi puisi tersebut. Dan sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Depok, 2009.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-3492185152148342249?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QyXjDTqDU6Sk9MLaNmeMFvXqI5o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QyXjDTqDU6Sk9MLaNmeMFvXqI5o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QyXjDTqDU6Sk9MLaNmeMFvXqI5o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/QyXjDTqDU6Sk9MLaNmeMFvXqI5o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="related" href="http://berbagipuisi.blogspot.com" title="Apa itu PUISI" /><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3492185152148342249/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=3492185152148342249" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3492185152148342249?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3492185152148342249?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/06/apa-itu-puisi.html" title="Apa itu PUISI" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ck4CQ385fyp7ImA9WxJTGEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-2145768899494998650</id><published>2009-04-27T23:43:00.001+07:00</published><updated>2009-04-27T23:49:22.127+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-27T23:49:22.127+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Nyata" /><title>Kisah Nyata "Tukang Loak"</title><content type="html">"Permisiiiiiii...mas...permisiiiiii...."&lt;br /&gt;Aku langsung tergegas bangun tanpa cuci muka, melirik jam dinding.. Ahhh..masih pukul 9, berarti aku sudah 2 jam tidur lagi.&lt;br /&gt;"Ada yang bisa aku bantu mas.." tanyaku.&lt;br /&gt;"Itu buku-buku dijual nggak mas.." tanya orang ini yang ternyata bekerja sebagai pengumpul barang bekas alias tukang loak bukan pemulung.&lt;br /&gt;"Waduh mas, mending kalau mas punya buku-buku saya saja yang beli.." jawabku.&lt;br /&gt;"Lah kok..??" Mas loak malah jadi bingung.&lt;br /&gt;"Iya, kalau Mas ada buku-buku bekas yang masih bagus biar saya saja yang beli..." jawabku.&lt;br /&gt;"Buat aku kirim ke Taman Baca di Cianjur kok Mas, aku bukan pengepul hahaha..." tawaku sembari mencoba menjawab pertanyaan dari kernyit dahinya yang memandang tajam padaku.&lt;br /&gt;"Ohhh...memang seperti apa sih mas itu Taman baca?, kayak perpustakaan begitu??" kembali dia bertanya.&lt;br /&gt;"Sebentar, kenalin dulu saya Kika, njenengan??" sembari aku sodorkan tangan dan mengajaknya masuk ke ruang tamu.&lt;br /&gt;"Prop, tolong dong bikinkan teh buat Mas ini, Mas siapa tadi?, kan belum sebutkan ke saya", tanyaku sembari meminta pada temanku Edwin yang biasa aku panggil Propesor karena tipenya yang pemikir untuk membikinkan teh.&lt;br /&gt;"Saya Mamat Mas", dengan malu akhirnya menyebut nama.&lt;br /&gt;Aku ambil beberapa rokok dengan masih berbungkus rapi yang memang selalu aku sediakan untuk orang-orang seperti Mas Mamat yang mampir ke gubukku. "Silahkan ambil dulu Mas rokoknya.." pintaku. Sebelum akhirnya aku lanjutkan pembicaraan seperti yang tadi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Taman Baca itu Mas, semacam perpustakaan untuk anak-anak putus sekolah atau tidak mampu. Karena akses mereka untuk mendapatkan buku tidak mudah, jadi ya biarlah buku mendatangi mereka..begitu Mas Mamat..", ceritaku panjang.&lt;br /&gt;Sembari menerima suguhan teh dari Edwin, Mas Mamat mulai menghisap rokoknya dalam-dalam. Tanda tanya besar dari gurat warna pertanyaan membahana siap digelontorkannya.&lt;br /&gt;"Lah kalau saya Mas, bisa makan saja sudah bersyukur rasanya", jawabnya. "Apalagi dengan mikirin begini kayak Mas Kika" sambungnya.&lt;br /&gt;"Wah Mas, saya ini bukan apa-apa, hanya menjalankan kewajiban sebagai makhluk Tuhan saja. Setelah Sholat, Zakat dan lain-lain terpenuhi berarti waktunya berpikir ke yang lain Mas", terangku.&lt;br /&gt;"Saya pernah batalin berangkat haji gara-gara ketemu anak menangis buku-bukunya dijual sama ibunya ke tukang loak Mas. Dan saya juga tidak menyalahkan situasi ibunya" cerita saya.&lt;br /&gt;"Jadi saya salah ya Mas begini ini?", tanya Mas Mamat.&lt;br /&gt;"Wah ga ada yang salah Mas, itu tugas anda sebagai pedagang", buru-buru aku potong.&lt;br /&gt;Setelah akhirnya ngobrol panjang, Mas Mamat meneruskan perjalanannya berburu buku dari rumah ke rumah. Dan aku kembali menjadi manusia Autis di depan komputer. Ngurusi Alurkria, ngurusi Taman Baca, ngurusi Diskusi Penyair dan tentunya tetap dagangan Website dengan sesekali melirik kekasih baruku si cantik fesbuk. Selagi enak-enaknya utak-atik photoshop mendesain web pesanan Mbak Nia Febriana, tiba-tiba ada ketukan lagi di pintu pagar.&lt;br /&gt;"Permisiiiiiiiiiii...mas...ada buku-buku bekas nggak?" teriak seseorang langsung menodong persis rambo meneriaki pasukan afganistan yang bersembunyi di gua tanpa peduli ada orangnya apa tidak.&lt;br /&gt;Aku julurkan kepalaku sembari senyum-senyum sendiri. "Iya Pak??", tanyaku.&lt;br /&gt;"Buku-bukunya di jual apa nggak Mas?" tanyanya.&lt;br /&gt;Kembali seperti kejadian Mas Mamat, saya persilahkan masuk dan berbincang-bincang dulu dengan topik kurang lebih sama, sekitar 10 menit kemudian akhirnya Pak Mo keluar meneruskan perjalanannya.&lt;br /&gt;Akhirnya kembali lagi saya menghadap ke depan komputer. Kembali meremas-remas kegiatan tanpa rutinitas yang tak pernah aku tahu kapan akan berakhir. Dan tiba-tiba datang lagi pengumpul loak mengetuk pintu pagar.&lt;br /&gt;"Aha..ini sudah ketiga kalinya hehehee.." batinku tersenyum.&lt;br /&gt;Dan kejadian sama dengan Mas Mamat dan Pak Mo pun berlangsung, namun ini lebih singkat karena tawaran teh dan rokok satu bungkus juga ditolaknya.&lt;br /&gt;"Ya sudah, mungkin karena masih buru-buru", aku mencoba menghibur diri.&lt;br /&gt;Eh, belum juga 5 menit aku duduk sudah datang lagi yang lain, jadi curiga diriku ini melihat dua kejadian hampir sama dengan waktu berdekatan. tapi coba kesampingkan dulu, dan aku pun menemuinya. Hampir sama persis dengan yang sebelumnya hanya berselang 5 menit sudah langsung "terima kasih mas", tapi kali ini rokoknya diterima..&lt;br /&gt;Dan berlangsunglah kejadian ini selama 5 kali, hingga 5 kali pula aku harus bolak balik duduk kembali di bangku merah yang tidak pernah menjerit aku duduki dengan keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berlalu, malam pun mengganti jubahnya menjadi pagi. Jam 7 pagi yang seakan menjadi awal kerinduan setiap harinya. Menyeduh Teh, mengambil batangan rokok dan menghidupkan musik keras-keras punyanya Grup Band "Extreme" favoritku, kemudian ambil bukunya nietze. Menikmati hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu alaikum Mas Kika",&lt;br /&gt;"Wa alaikum salam..woyy Mas Mamat, apa kabar?" bergegas aku membuka pagar.&lt;br /&gt;"Saya sebentar saja kok Mas, mau nitip buku buat anak-anak Taman Baca", katanya.&lt;br /&gt;"Loh Mas Mamat ga usah repot, saya beli saja", jawabku buru-buru.&lt;br /&gt;"Nggak bisa mas, saya sudah putuskan untuk menyumbangkan buku-buku yang saya beli setiap saya sudah membeli buku sebanyak 10 kali", ujarnya pelan tapi mantap.&lt;br /&gt;"Aduuuuuh..mas Mamat beneran nih?", aku coba meyakinkan.&lt;br /&gt;"Beneran mas, saya sudah diskusi semalam sama istri saya, istri saya mengatakan agar saya tidak jadi orang jahat yang mengambil buku-buku dari anak-anak yang seharusnya bisa menikmatinya", cerita mas Mamat panjang.&lt;br /&gt;"Dan ini buku-bukunya mas, seadanya dari kami sekeluarga", penuh senyum ikhlas dimatanya.&lt;br /&gt;Aku peluk mas Mamat, tiada bandingan rasanya keihlasan mas Mamat dimataku. Sembari aku berujar, "mas Mamat, saya akan selalu bilang ke anak-anak di Taman Baca untuk mendoakan dirimu dan sekeluarga disetiap ibadahnya".&lt;br /&gt;Setelah mas Mamat pergi, aku berpikir keras apa yang bisa aku lakukan untuknya, bilamana dia seorang pebisnis, mungkin dengan mudah aku bisa menggantinya dengan membuatkan website. Tapi ini...susah sekali menjawabnya. Baginya uang 5000 sudah merupakan kekayaan, baginya makan dengan lauk ayam sudah merupakan kemewahan. Namun dengan ikhlas dia membantu menyumbang buku-buku hasil perjuangannya memutari setiap rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kisah ini nyata, saya tulis sekedar untuk berbagi)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-2145768899494998650?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WcgG6H6mJgOfaUjlEhkgz-hw2Zo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WcgG6H6mJgOfaUjlEhkgz-hw2Zo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WcgG6H6mJgOfaUjlEhkgz-hw2Zo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WcgG6H6mJgOfaUjlEhkgz-hw2Zo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/2145768899494998650/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=2145768899494998650" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/2145768899494998650?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/2145768899494998650?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/04/permisiiiiiii.html" title="Kisah Nyata &quot;Tukang Loak&quot;" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEARHg9eip7ImA9WxJVEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-8439329548282443288</id><published>2009-04-16T19:42:00.002+07:00</published><updated>2009-06-27T21:40:45.662+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-06-27T21:40:45.662+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerbung" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Celoteh" /><title>Memoar at Stasioen Toegoe - I -</title><content type="html">Pada sebuah malam, pasca gempa di Wilajah Propensi Bhantoel, Kota Pathoke, Kecamatan Gunung Khidoel. Saat sedang membersihkan puing-puing sisa penyerangan gempa beberapa hari yang lalu, mendadak ada pangilan darurat dari rekanan meminta bantuan ekstra besar di lokasi kota Semhine. “Mak ya, mak ya…segera kontak kemari……dibutuhkan tenaga–tenaga ekstra”.&lt;br /&gt;Lalu saya pun menjawab panggilan tersebut “Ya, diterima…tenaga siap satu gerobak”&lt;br /&gt;Melajulah saya berserta teman sesama ahli bangunan ‘teknologi sipil’ yang sangat ektrim produktifitas [namanya saja kuli batu].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya disana, ternyata ditemukan salah satu korban yang terkurung oleh reruntuhan bangunan, hanya ada satu celah dan sepertinya cukup utk dilewati seseorang yang berpostur kecil.&lt;br /&gt;“Broer, ente bisa coba masuk melalui celah itu ?” Tanya saya pada teman satu tiem.&lt;br /&gt;“Oh, bisa man !” jawab teman saya semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segulung tali tambang untuk layar perahu pun. kami julurkan ke bawah dan dengan sigapnya pula teman saya meluncur turun ke bawah lokasi tersebut. Ternyata ada seorang lelaki dewasa yang terjebak dalam reruntuhan tersebut. Disampingnya ada sebakul nasi lengkap dengan lauk pauknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kawan, anda tidak apa-apa ?” Tanya teman saya pada lelaki tersebut&lt;br /&gt;“Ga apa apa kok mas, aku sembunyi dibawah meja saat dateng serangan gempa waktu itu” Tawab lelaki itu pada teman saya.&lt;br /&gt;“lalu dari mana nasi sebakul dan lauk pauk itu asalnya ?” Tanya teman saya lagi.&lt;br /&gt;“Oh, ini mas….nasi dan lauk pauknya, aku dapatkan dari sana” Jawab sang lelaki.&lt;br /&gt;Teman saya menengok. “Haaaaaah…duan tjuuuuk !” Teriak teman saya dengan suara sampai terdengar keluar.&lt;br /&gt;Saya yang di atas mau tidak mau penasaran dan berteriak keras untuk bertanya "Kenapa Bro?", "Ntar saja ceritanya setelah di atas", Jawab teman saya yang di bawah tak kalah keras. Selang beberapa saat, keluarlah teman saya beserta lelaki dewasa yang berdandan sensual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di balik tripleks tersebut terdapat sebuah dapur dengan ukuran luas mirip dapur umum. Sungguh sebuah persiapan yang sangat hebat, begitu terjadi serangan gempa lelaki ini langsung sigap mengamankan perbekalan makan yang mungkin disiapkannya untuk seminggu ke depan. Dan sungguh seorang lelaki yang sangat memanjakan diri untuk urusan makanan, terbukti dengan mendirikan ruang dapur khusus di balik kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini saya masih ingat akan sosok seorang lelaki dengan rambut panjangnya itu. Begitu pula dengan teman saya yang menamakannya lelaki cantik. Bukan tanpa sebab teman saya menyebutnya begitu, karena saat itu selain berkutat di dapur, lelaki ini juga suka akan olesan lipstick biru gelap dibibirnya itu. “Gaya gothic dan sensual” kata lelaki cantik kala itu. Sungguh lelaki yang sensual, terbukti meski terkena gempa pun keperluan pribadinya masih banyak yang utuh. Tidak hanya makanan, wewangian juga masih terlihat utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sejak beberapa tahun kemudian, kami berdua bernostalgila di resto bintang tujuh depan ‘stasiun tugu’ dengan master ‘sego meong’ monsinyuer ‘le k mante’ dari sebuah kota di Paris [parangtritis]. Disaat kami sedang asyiik menikmati suguhan nasi putih dengan irisan tuna bakarnya, sembari menyeruput teh kental ala ‘inep’ mendadak kami dikagetkan akan kehadiran sesosok lelaki berambut panjang dengan rombongan orchestra ala malboro light [bergaya koboi malioboro]. Dandanannya lebih macho dengan ikat pinggang kulit besar dan tonjolan HP ‘sirip hiu’, plus lipstick biru tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Bersambung]&lt;br /&gt;Stanis and Me.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-8439329548282443288?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eBU7lW4jMzAFVfw9jHv9ZibUcgk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eBU7lW4jMzAFVfw9jHv9ZibUcgk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eBU7lW4jMzAFVfw9jHv9ZibUcgk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eBU7lW4jMzAFVfw9jHv9ZibUcgk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/8439329548282443288/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=8439329548282443288" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8439329548282443288?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8439329548282443288?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/04/memoar-at-stasioen-toegoe-i.html" title="Memoar at Stasioen Toegoe - I -" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D04FRHs_eSp7ImA9WxVaGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-5263658630309125146</id><published>2009-04-16T19:42:00.000+07:00</published><updated>2009-04-16T19:45:15.541+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-04-16T19:45:15.541+07:00</app:edited><title>Menulis itu untuk mengajak, mempengaruhi dan menyebarkan damai hati..</title><content type="html">Sepagi tadi, ada rasa menggugah untuk mengarungi tapak-tapak yang meninggalkan tilasnya di catatan-catatan semua teman-teman baik di fesbuk maupun di buku. Begitu banyak rupa begitu banyak wajah, tidak terbilang keindahan keindahan yang terbalut dari ketikan ketikan teman-teman. Dari mulai kamuflase topeng, ketelanjangan yang telanjang hingga gelisah gelisah yang sudah beranak pinak berbaris rapi. Tidak terlupa ada juga yang mengecat sendiri wajahnya menutup sedikit coreng di hidung ataupun tahi lalat di atas alis kakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari seniman tulis, seniman ekonomi hingga seniman musik juga seniman kehidupan terpampang hangat seperti hadirnya sejumput teh hangat dipagi hari ditemani tempe goreng yang hangat pula. Seakan mengayuh waktu ramai-ramai menghias dinding dan catatan catatan putih yang dibangun dengan keahlian algoritma yang sangatlah luwes dan episentrum ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Amalia Hazen "Berkaca dengan Bintang", aku terima sebuah realita kerinduan teramat dalam yang menusuk mengiris-iris sejumput iman dalam hati untuk terus menambal layaknya tukang tambal bagi hati yang berlobang di ruh suci yang setia menemani kehidupan. Sungguh keindahan religi terpampang jelas bila terselami. Khrisna Pabichara dalam "12 Rahasia Pembelajar Cemerlang" yang bermaksud menggugah kemajuan pendidik dalam mendidik sembari tidak mengeluhkan apa yang sudah terjadi seakan menguliti satu demi satu idiom kaku yang selama ini berlangsung dan tertanam di pikiran. Gores masa lalu menjadi nuansa kental yang mempengaruhi semangat untuk merubah cara pandang dalam mendidik generasi-generasi yang akan datang. Keberhasilannya mengungkap sisi kehidupan cara belajar yang lebih cerdas namun ringan adalah buah kehidupan sejati darinya yang inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ada terpampang kegelisahan akan situasi terpinggirkan yang dikemas dengan lugas oleh Sawali Tuhusetya dalam "Perempuan Bergaun Putih" nya. Seorang pengajar sebuah sekolah menengah atas yang selalu obsesif akan kehidupan masa sekarang dan selalu menggelitik pikirannya untuk memperjuangkannya melalui tulisan. Sebuah gambar nyata di kehidupan dimana sering terjadi kemewahan-kemewahan yang tidak perlu untuk ditegakkan. Politik Tuan Besar dan Nyonya Besar hanya untuk menyenangkan hati Tuan Tua dan Nyonya Tua yang bertempat di sudut sebuah gedung mewah dengan selalu berkacak pinggang menyerupai Gatotkaca pikun karena sering memberi perintah tak wajar. "Marno Tembem tak meninggalkan secuil tanahpun", ungkap Sawali. Sosial adalah penting, begitu pesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda sederhana penuh semangat, Gemi Mohawk. Mengajakku untuk bercinta dengan cinta itu sendiri sembari memahami cinta itu untuk berlanjut. Kegelisahannya terpampang jelas akan Jakarta yang menjadi sentral di Indonesia ini. "Aku adalah rangkaian kata-kata, kau adalah titiknya". Seakan mengajak tubuh untuk terus bergerak menjilati rangkaian demi rangkaian kehidupan nyata dimana titik adalah semua dan semua punya titik. (Sirami Jakarta, halaman 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis disini pun tiada kalah garang tersaji. Ali Salim menuliskan "Apakah aku berubah" dengan memberi sentuhan glamornya setiap detail tubuh manusia. Daging, tulang, darah, mata, rambut hingga cairan tanpa warna dalam tubuh telah bisa menjadikan bukti bahwa manusia adalah sempurna setelah otaknya. Menangkapku untuk mensyukuri atas keringanan hidup yang telah diberikan olehNya di setiap hela nafas dan helai langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudan hidayat yang selalu memberi pengertian akan banyaknya sisi pandang kehidupan, keringanan berpikir dengan menjadikan diri sendiri tuhan kecil di Dunia sebelum benar-benar menghadap Tuhan. Maka dijawab oleh Tanadi Santoso, bahwa diri kita adalah Boss bagi diri sendiri dan selayaknya untuk bebas terbang dengan kebebasan finansial itu sendiri. Korelasi syiar berbeda warna namun satu tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saut situmorang yang selalu "bergembira" membawa suasana lain yang bila di pandang dengan hati jernih akan kembali ke tempat yang sama, yaitu mencintai kemajuan dunia tulisan. Tentunya dengan sudut pandang masing-masing sisi pandang mata yang memandang. Kurniawan Yunianto, Irfan Darsina dan Fitrah Anugerah juga menyudutkan cinta untuk terus menjadi cinta dan jangan berubah benci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dan semua adalah untuk maju ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koelit Kecil, Andreas T Wong dan Tory Suryo, bergejolak marah melawan keseksian parodi pengelola negara yang memang seksi hingga mampu menjadikan para penyelenggaranya duduk mewah dengan pelayan cantik dan cangkir berlian. Tidak ketinggalan pemuda penuh bakat Joshua Liem, bersyiar atas apa yang terjadi pada dirinya dan lingkungan sosialnya. Dengan harapan tidak lagi terjadi seperti apa yang terjadi pada dirinya. Ahh...Joshua, dirimu seperti diriku di masa lalu. Belajar lebih dalam ya Josh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila hati mau memahami semua inti tulisan yang tersebar di sekitar mata, belajar menjadikan hidup lebih bagus menjadi lebih mudah. Seperti apapun itu kotak dan sekat yang tercipta dengan sengaja maupun tidak sengaja, hendaknya tepiskanlah dulu. Kembalikan ke satu tujuan bersama, M A J U. Ya, kemajuan untuk lebih maju ke depan. Indonesia ini membutuhkan tangan-tangan seperti anda semua disini. Jangan biarkan terjadi, saat kita sedang ribut tiba-tiba ada "karya" dari negeri entah berantah yang menikam dan menggemparkan masuk ke negeri kita. Mari saling genggam tangan dalam perbedaan indah ini. We shall overcome and walk hand in hand. Bukankah pernikahan untuk menyatukan perbedaaan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lengkapnya kehidupanku ini, dikelilingi orang-orang hebat bukan orang-orangan. Dari religi, sastrawi hingga ekonomi mampu memberikan vitamin bergizi bagi otak dan hati. Tulisan-tulisan ini itu telah menggugahku, bergerak dan maju. Karena inti tulisan adalah mengajak, mempengaruhi dan menyebarkan hati untuk lebih dahsyat lagi maju ke depan. Pertengkaran bukan sebuah jawaban dari keinginan untuk maju. Jadikan dunia menulis ini sebagai bagian kemajuan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya berbagi, indahnya menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah air, rumah kita air terjun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note;&lt;br /&gt;Aku pernah bermimpi para tokoh tulisan di Indonesia ini bersatu mengesampingkan ego pribadi demi hal yang lebih besar dan membangun ke depan lebih jauh dengan tetap berjalan sesuai kemampuan masing-masing. Mustahilkah kiranya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-5263658630309125146?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/31QRXigNoShuhpBqnSzysKlP8Rg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/31QRXigNoShuhpBqnSzysKlP8Rg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/31QRXigNoShuhpBqnSzysKlP8Rg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/31QRXigNoShuhpBqnSzysKlP8Rg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/5263658630309125146/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=5263658630309125146" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5263658630309125146?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5263658630309125146?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/04/menulis-itu-untuk-mengajak-mempengaruhi.html" title="Menulis itu untuk mengajak, mempengaruhi dan menyebarkan damai hati.." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEECR3cyfip7ImA9WxVVFUU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-6510226974343132494</id><published>2009-03-09T15:16:00.000+07:00</published><updated>2009-03-09T15:17:46.996+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-09T15:17:46.996+07:00</app:edited><title>Tatkala aku susah berteman.</title><content type="html">Pertanyaan sederhana, lugas dan enak untuk dipikir. Baik diri sendiri maupun beramai-ramai. Hampir setiap orang mengalaminya, dari rumah bilik bambu hingga tembok tebal berhias kaca seharga 20 digit. Kesulitan diri sebagai manusia yang merasa utuh, dan terkadang sulit menelaah apa sebenarnya terjadi telah membuat otak kanan-kiri tertutup. Tak terkecuali diriku ini, dengan keremangan hari hari tanpa orang tua, ditambah budaya masyarakat yang (masih) sering mengkambing-hitamkan anak-anak berbaju jelek dan bermuka kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman? bisa menjadi lawan, lawan yang buruk, lawan yang tidak mengenakkan, lawan bicara, lawan curhat, lawan berbisnis, lawan tidur, lawan menulis, lawan berkelahi, lawan chatting, lawan blog, lawan fesbukan hingga lawan-lawan lain yang akan selalu menjadi sisi lain dalam kehidupan pribadi masing-masing. Dan bila kita menambahkan kata "baik" dibelakangnya, maka selesailah sudah derita dari kemarahan dan kecurigaan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tatkala teman susah dicari? maka ambigulah yang menyertainya. Karena setiap pribadi mempunyai aura masing-masing untuk bisa mendekat dan mengenali temannya. Kecepatanku untuk berteman dengan sesama seniman dibanding teman berbisnis jauhlah berbeda. Namun pintu tidak menutup serta mengunci ketukanku untuk berlencana sama dengan para pebisnis. Disini sedikit ada jawaban, bilamana semuanya adalah tergantung diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diri sendirilah letak kesalahan dan kebenaran yang mengukir bangunan pertemanan yang berdiri megah disekeliling lingkungan. Pribadi lain yang berdiri tegak disamping, hanya perupa yang bertuliskan faktor pendukung yang juga bersifat sedikit melukis dengan sedikit ramuan warna-warninya dalam sebuah pertemanan. Menghilangkan "tuntutan" terhadap teman juga merupakan elemen cetak biru yang mesti menjadi pegangan otomatis dalam menganggap seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman baik tidak untuk dicari, karena mereka akan mendatangi. Jujurkan hati, terima apapun bentuk teman, sejelek apapun teman, segila apapun teman, sehebat apapun teman, sejahat apapun teman!. Ikhlas. Karena teman tetaplah teman, dan kita akan berkumpul kembali dengan mereka saat di surga nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Aku menulis karena anda semua adalah temanku, meskipun aku belum tentu teman anda. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-6510226974343132494?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LYBrIMGHAvfwD1dwm26g49tInCk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LYBrIMGHAvfwD1dwm26g49tInCk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LYBrIMGHAvfwD1dwm26g49tInCk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LYBrIMGHAvfwD1dwm26g49tInCk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/6510226974343132494/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=6510226974343132494" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/6510226974343132494?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/6510226974343132494?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/03/tatkala-aku-susah-berteman.html" title="Tatkala aku susah berteman." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YMQ384cCp7ImA9WxVQFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-1712067818059485338</id><published>2009-02-03T18:35:00.000+07:00</published><updated>2009-02-03T18:39:42.138+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-02-03T18:39:42.138+07:00</app:edited><title>Taman Baca</title><content type="html">Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bacalah, bacalah, bacalah...... dan telaah".&lt;br /&gt;Demikian arogansi prinsip yang saya anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sedikitpun hal di dunia bisa diketahui dan terketahui tanpa ada tulisan yang bisa dibaca. Percintaan tangan dan mata serta pikiran membuahkan tulisan, dimana tulisan tiada arti tanpa bisa dibaca. Bahkan tulisan salah berbunyi bila pembacanya telah salah membaca. Dan pastinya teknologi, sistem, politik, dan semua unsur di dunia ini tak akan tergali tanpa membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang politisi, menafsirkan dirinya mampu berbuat banyak bila terpilih untuk duduk di kursi kekuasaan, tentunya sudah membaca dimana kekuatan diri sendiri dalam menghadapi "kemungkinan" di kemudian hari saat dirinya terpilih. Namun, sering terjadi pembacaan yang hanya terjadi dalam lingkup kedaerahan, "daerah partai, daerah saudara, daerah bisnis dan daerah pribadi". Hingga Banyak memunculkan tulisan dan bacaan dengan ulasan yang hanya bersifat "Omah dan Kebon dewe". Dan itu terjadi karena kurang "membaca" dalam hal lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seorang kyai, mampu menggerakkan massa ribuan bahkan jutaan orang dengan memberi satu atau dua ayat tafsir (yang mungkin ala kyai itu sendiri). Demi melakukan sesuatu yang dianut hasil tafsir (membaca) ayat tersebut. Tanpa ada penerusan di belakang ayat seperti apa dan bagaimana ihtisar ayat lainnya berbunyi. Itu terjadi (seringkali) buah dari hasil pemotongan pohon baca yang masih pendek dan dangkal ketinggiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir bebas tanpa kembali ke dalam sangkur kitab suci secara utuh banyak menenggelamkan pembacanya sendiri. Tafsir bebas dalam mengartikan sebuah kehidupan tanpa diiringi pengembalian diri utuh ke dalam ruh kitab suci akan mendekatkan diri dalam ruas ruas getas pemantik api neraka. Kekuatan membaca sudah jelas tertulis dalam teks dan kontekstual agama apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, secara pribadi sedang dalam pembelajaran untuk bisa membaca lebih baik. Dengan mendirikan "Taman Baca" di hati dan pikiran, agar saya bisa membaca secara bagus dan benar dalam menjalani kehidupan ini. Dan juga secara nyata dengan mendirikan Taman Baca, untuk berbagi serta meneguhkan pendidikan yang belum bisa menyapa saudara-saudara dekat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selayaknya "Taman Baca" saya juga bisa dihuni oleh anda semua disini, dan mungkin anda malah melayangkan undangan agar saya bisa menikmati baca dengan duduk berselir kopi dalam "Taman Baca" anda. Alangkah indahnya bila dalam diri setiap insan, taman baca adalah ruang terang yang bisa memancarkan cahaya senyum dan kekuatan mendirikan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepandaian entreprenuer, kepandaian presiden, kepandaian kyai, kepandaian ustad, kepandaian direktur, kepandaian pemimpin (bukan pimpinan) dan semuanya didapat dengan membaca. Maka sungguh aniaya bila kita menutup diri untuk berbagi "baca" dengan lingkungan sekitar terutama dengan lingkungan terdekat, yaitu hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note :&lt;br /&gt;Tulisan diatas masih dalam skala "Bacaan" pribadi, bila ada yang kurang bahkan salah, mohon dimaafkan dan masukkan dalam keranjang sampah.&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aalia Kika SM&lt;br /&gt;http://tamanbaca.org&lt;br /&gt;admin@tamanbaca&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-1712067818059485338?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5reagEBXzIyxEx4-WbLRUQkF14I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5reagEBXzIyxEx4-WbLRUQkF14I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5reagEBXzIyxEx4-WbLRUQkF14I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/5reagEBXzIyxEx4-WbLRUQkF14I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/1712067818059485338/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=1712067818059485338" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1712067818059485338?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1712067818059485338?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/02/taman-baca.html" title="Taman Baca" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4BRH89cSp7ImA9WxVQEko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-6738812438756192927</id><published>2009-01-30T08:04:00.003+07:00</published><updated>2009-01-30T08:12:35.169+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-01-30T08:12:35.169+07:00</app:edited><title>Add widget Macet, kenapa yah..?</title><content type="html">Apakah hanya diriku yang mengalaminya ya... Panel add widget di blog macet, jadi nggak bisa ngisi widget neh... Ada yang punya solusinya? Nih aku ambil gambarnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/SYJTwhOK3uI/AAAAAAAAAVI/6yMtCMSV_Ao/s1600-h/dash.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 285px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/SYJTwhOK3uI/AAAAAAAAAVI/6yMtCMSV_Ao/s400/dash.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5296888204757753570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Barangkali bukan hanya aku, apa mr google sedang rehat yah...?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-6738812438756192927?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FOiVzXPD4guTZbx0YH9O5wWVJG4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FOiVzXPD4guTZbx0YH9O5wWVJG4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FOiVzXPD4guTZbx0YH9O5wWVJG4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FOiVzXPD4guTZbx0YH9O5wWVJG4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/6738812438756192927/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=6738812438756192927" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/6738812438756192927?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/6738812438756192927?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/01/add-widget-macet-kenapa-yah.html" title="Add widget Macet, kenapa yah..?" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/SYJTwhOK3uI/AAAAAAAAAVI/6yMtCMSV_Ao/s72-c/dash.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEUHRHs_fyp7ImA9WxVRGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4974369122697410016</id><published>2009-01-26T16:18:00.002+07:00</published><updated>2009-01-26T16:30:35.547+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-01-26T16:30:35.547+07:00</app:edited><title>Perkenalan ah...</title><content type="html">Beberapa hari menenggelamkan diri ke dalam kesibukan duniawi dan rohani, akhirnya dunia blog jadi ketinggalan deh. But feel better to get start again. Let's go...(sembari jalan untug untud...) menuju tempat posting. Nah sudah ready. Hari ini &lt;a href="http://tamanbaca.org" target="_blank"&gt;Taman Baca&lt;/a&gt; mendapatkan banyak sokongan dari teman-teman yang notabene aku sendiri belum pernah ketemu, sungguh sebuah keajaiban. Senang-senangggg...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari ucap selamat sana sini Gong Xi fat cai ke teman-teman asli china yang di ranah jauh sana, meski pake bahasa neneknya pangeran charles. Sempat banyak kenangan terungkap dalam percakapan dan itu menambah hariku menjadi terang layaknya matahari pagi. Teman-teman yang banyak aku temui waktu masih jadi teman akrabnya Andre Kwong yang asli taiwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah hari ini nih, aku sempat juga upload video klip grup band yang judulnya "Hampir Mati". Nih videonya;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;object width="320" height="265"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/MW9cKPAef70&amp;hl=en&amp;fs=1"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/MW9cKPAef70&amp;hl=en&amp;fs=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="320" height="265"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Doakan ya biar nanti klip amatir yang selanjutnya bisa secepatnya jadi. amin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sungguh menyenangkan hari ini, meski ada beberapa kejadian kecil yang sedikit mengganggu perasaan, but everything is okey. It's just a little bit bite. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-4974369122697410016?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cpAEcjbuLu_FhKZ-WEttFkSxE88/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cpAEcjbuLu_FhKZ-WEttFkSxE88/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cpAEcjbuLu_FhKZ-WEttFkSxE88/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cpAEcjbuLu_FhKZ-WEttFkSxE88/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4974369122697410016/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=4974369122697410016" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4974369122697410016?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4974369122697410016?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/01/perkenalan-ah.html" title="Perkenalan ah..." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkAFRXs5eCp7ImA9WxVRFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-5060504008657388218</id><published>2009-01-21T09:57:00.003+07:00</published><updated>2009-01-21T11:05:14.520+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-01-21T11:05:14.520+07:00</app:edited><title>Saatnya PR nih...</title><content type="html">Setelah beberapa hari bahkan mungkin minggu, akhirnya bisa juga mengerjakan PR dari sobatku &lt;a href="http://t1to.com" target="_blank"&gt;Tito&lt;/a&gt;. Pertanyaan yang gokil, aku mau cerita apa yah... setelah putar puter puntir otak, akhirnya keluar juga ingatan yang dulu waktu masih di SMU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini, dahulu kala waktu werkudoro dan arjuno masih jadi kakak adik, pangeran sentani berlari kecil melewati guritan sawah dan mencoba menaiki kuda menuju adipati pajang...loh loh iki cerito apaan sih???? (walah malah jauh bener). Serius serius....&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Waktu SMA aku dulu, badanku cuman bertinggi 135 cm. Jadi sangat kecil dibanding teman-teman apalagi teman-teman cewek. Dan buat menambah kepercayaan diri karena badanku yang tingginya cuman sa'uprit kata mr bagyo guru sejarahku. Maka aku selalu gabung dengan teman-teman yang tingginya menjulang, jadi sekalian piriku. Nah, kebetulan anak-anak yang aku gabung ini ternyata golongan anak mama, yang kalau berangkat sekolah di antar supirlah, ibunyalah, neneknya lah, Oomnyalah dan bahkan antar jemput becak (jadi mirip anaknya tukang becak). Untuk masuk sekolah mereka selalu sudah stand by di kelas 30 menit sebelum masuk.  Dengan lagaknya akan seperti jagoan di kelas. Duduk di atas meja dan corat coret sana sini..pfuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah karena aku ini paling kecil, jadilah aku bulan-bulanan buat mereka meledek. Dikatakannya mereka bahwa aku pasti tidak akan berani masuk terlambat, tidak akan berani bolos, dan tidak akan berani aneh-aneh. Mereka lupa kalau aku ini sudah sering terlambat, gimana ga terlambat wong sekolah saja jalan kaki sejauh 10 km. Sampai-sampai guru BPnya hapal diluar kepala.... "Kikaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...Jongkok disitu!" begitu teriaknya begitu aku memasuki gerbang sekolah, padahal ga kelihatan orang yang teriak. kayaknya nih orang hapal bauku, yang memang bau tinta fotokopi karena aku kerja part time di toko fotokopi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah one day, karena bangun sudah jam 07.00 sudah pastilah aku terlambat. Dan ketika sudah mendekati gerbang, aku mengendus di balik dinding dulu, adakah ibu cici (guru BPku) ini ada disitu...pelan satu langkah, aku tunggu tidak ada teriakan...kosong, kemudian satu langkah lagi dan nunggu lagi apa ada teriakan...kosong, dan kemudian satu langkah lagi dan nunggu lagi apa ada teriakan...kosong!, akhirnya bulatkan tekad mengendap-endap dan jalan cepat melewati pintu-pintu kelas menuju toilet cowok untuk ngumpet, tapi sejurus kemudian aku hentikan jalanku, bu cici biasanya akan stand by di toilet cowok untuk mencari yang terlambat masuk atau yang bolos jam pertama. Maka aku putuskan lari ke Toilet cewek. Toh jam segini belum ada yang buru-buru pipis, batinku. Sembari tengak tengok kiri kanan depan belakang, langsung saja aku masuk ke kotak paling pojok di sebelah pintu kedua toilet aku pegang gagang pintu ckrek ckrek.. dan "Kikaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........" bu cici berteriak keras, dan aku juga kaget "iyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... maaf bu, saya ga tahu kalau ibu di dalam toilet" smebari ngeloyor pergi dan sebelum dicari lebih jauh dan mendapatkan hukuman lebih besar, aku langsung lari menghadap kepala sekolah sembari cerita dan serta meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hehehe... begitu Bro pengalamanku. Payah niih. Thanks bro.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-5060504008657388218?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T2P-2cAQ7XfGOPqNuCD0p4AO4nE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T2P-2cAQ7XfGOPqNuCD0p4AO4nE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T2P-2cAQ7XfGOPqNuCD0p4AO4nE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/T2P-2cAQ7XfGOPqNuCD0p4AO4nE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/5060504008657388218/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=5060504008657388218" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5060504008657388218?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5060504008657388218?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/01/saatnya-pr-nih.html" title="Saatnya PR nih..." /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYFQns9fSp7ImA9WxVREkk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-8621268439722218053</id><published>2009-01-18T09:39:00.000+07:00</published><updated>2009-01-18T09:51:53.565+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-01-18T09:51:53.565+07:00</app:edited><title>Sedikit berbagi</title><content type="html">Dalam sebuah perjumpaanku dengan Mbok Tiyem, di daerah Indramayu, sempat terjadi percakapan yang menggugah setiap detik langkah yang ingin aku lakukan. &lt;br /&gt;"Mau kemana nak??" sapa Mbok Tiyem,&lt;br /&gt;"Mau ke Depok mbah..." sahutku.&lt;br /&gt;"Ohh... Jaman dulu simbah kalau perang sampai daerah sana" sambungnya.&lt;br /&gt;"Wah... tahun berapa itu mbah?" aku tertarik.&lt;br /&gt;"Iya, dulu aku jalan kaki dari Jogjakarta menuju Jakarta bareng rombongan Pak Dirman (Jendral Sudirman maksudnya) sekitar tahun 1948 (ini kalau saya nggak salah dengar yah, soalnya rame dipinggir jalan raya)".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sembari terlihat matanya menerawang seakan kembali ke masa lalunya. Gurat wajahnya yang masih terlihat kokoh, menandakan begitu banyaknya pengalaman yang sudah dilaluinya. Langsung keinginanku untuk secepatnya pulang mereda. Penasaran membawaku berusaha ngobrol lebih banyak. &lt;br /&gt;"Emang sekarang simbah mau kemana?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Mbah mau ke Jakarta nak, mau ngurus Truk - truk yang kena masalah di Mabes Polri di daerah komdak". sahutnya.&lt;br /&gt;"Busyet" batinku.&lt;br /&gt;Nenek-nenek ngurusin masalah truk di kepolisian??? &lt;br /&gt;"Simbah nggak dapat pensiun nak, apa yang sudah pernah diperbuat tidak bisa meninggalkan bekas penghormatan yang layak", begitu menurutnya. &lt;br /&gt;"Simbah cuma dapat kenalan, dan koneksi dari para anak sejawat simbah yang sekarang banyak jadi pejabat di kepolisan". &lt;br /&gt;benakku menerawang jauh, mencoba menggali dan menjadi simbah Tiyem di masa lalu. Berjuang meneteskan darah, keringat dan nyawa, namun saat sudah merdeka, justru merekalah yang dijajah oleh para penerusnya (mungkin termasuk aku ikut andil). Bila mereka mampu dekat dengan penguasa maka jalan terbuka lebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelumit cerita pertemuanku dengan Mbah Tiyem ini sungguh menginspirasi. Kenapa sejarah menjadi kacau balau, belum lagi sifat para penggede yang masih seperti ini? Apa sebab mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang 5 bulan setelahnya, aku kembali teringat percakapan itu. Aku coba pecahkan inti masalah ala "aku". Ketika orang membutuhkan makan, maka akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari alat untuk makan dengan bekerja. Ketika orang butuh bekerja dengan layak, maka dia akan dihadapkan dengan situasi akan tingkat pengetahuan dan ilmunya. Dan setelah dihadapkan dengan tingkat pengetahuan dan ilmu seperti itu, maka kita akan berujung dengan satu kata "Pendidikan". &lt;br /&gt;Dan inilah inspirasi yang mendorongku mendirikan Taman Baca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pendidikan di negeri ini bagus, maka pejabat kita pun akan jadi bagus, dan bila pejabat kita bagus, maka mbah tiyem tidak akan lagi kesulitan mendapatkan penghormatan akan pengorbanan yang sudah dilakukannya di masa perang kemerdekaan, dan beliau bisa makan dengan tenang tanpa harus pergi ke Jakarta untuk mendapatkan sedikit komisi agar bisa menyambung hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-2133271935129009";
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = "5688670233";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6464259191298471672-8621268439722218053?l=orkestradebu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BMwtRkl1khSRyV2s7F6JtRNp4sM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BMwtRkl1khSRyV2s7F6JtRNp4sM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BMwtRkl1khSRyV2s7F6JtRNp4sM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BMwtRkl1khSRyV2s7F6JtRNp4sM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/8621268439722218053/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6464259191298471672&amp;postID=8621268439722218053" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8621268439722218053?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8621268439722218053?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://orkestradebu.blogspot.com/2009/01/sedikit-berbagi.html" title="Sedikit berbagi" /><author><name>Dexter</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="23" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_Zsx8a16eDQM/S9wM3DKyjRI/AAAAAAAAAcQ/KsOi8qwZKuc/S220/PICT0208a.jpg" /></author><thr:total>5</thr:total></entry></feed>

