<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672</id><updated>2024-12-19T10:31:48.212+07:00</updated><category term="Alia"/><category term="Cerpen"/><category term="Alia."/><category term="My Story"/><category term="Novel Sulang Dari Timur"/><title type='text'>Orkestra Debu | The Dust Symphony</title><subtitle type='html'>It&#39;s about me and my children</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3419533652261708989</id><published>2012-06-12T14:46:00.002+07:00</published><updated>2012-06-12T14:46:34.376+07:00</updated><title type='text'>Tabirpun terbuka..</title><content type='html'>Di sebuah malam menjelang tidur, aku katakan kepada istriku kalau aku ingin mampir dan melihat Alia ke sekolahnya. Waktu itu senin malam, dan entah mengapa begitu besar keinginanku untuk menghampiri Alia di sekolahnya. Tanpa sengaja, aku bisa mendapatkan nama sekolah TKnya Alia ketika dia tanpa sadar bercerita kepada istriku.&amp;nbsp;&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Di hari selasa pagi, pergilah aku ke sekolahnya. Dengan hati berdebar, karena jelas ini akan membuat Mamanya Alia marah besar. Tapi dengan tekad besar, aku tetap melanjutkan niatku ini. Aku adalah orang &amp;nbsp;yang takkan berhenti ditengah jalan ketika memiliki niat.&amp;nbsp;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Selang satu jam, sampailah aku di sebuah TK yang berada didalam sebuah komplek sekolah lain. Namun bangunannya terletak di sudut sempit sehingga kendaraan besar tidak bisa memasuki halamannya. Memaksaku parkir dikejauhan. Dan berjalan menghampiri ke sekolah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ketika aku tiba didepan sekolahnya, aku tidak tahu apa yang harus aku kerjakan. Yang aku tahu saat itu, berdiri memandang halaman sekolah dan mencoba mencari sosok Aalia. Beberapa saat, bengong dan hanya berdiri mematung. Sehingga menarik perhatian para ibu yang sedang duduk ngobrol menunggu anak-anaknya bersekolah di TK tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Keberadaanku menarik perhatian banyak orang, hingga akhirnya Mbak Yana, orang yang selama ini mengasuh Alia melihatku. Sangat beruntung, aku sempat bertemu dengan Mbak Yana dan dia masih hapal dengan wajahku. Dia pun berteriak, &quot;eh itu Papanya Alia&quot;. Dan segera mencari Alia untuk menemuiku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Putri cantikku, Aalia. Akhirnya papa berhasil melihatmu di sekolahmu, juga berhasil melihatmu berseragam. Sesuatu yang dulu pernah menjadi impianku, bisa mengantarmu sekolah dan menjemputmu. Meski akhirnya hanya bisa memandangmu saat itu. Aku bahagia, airmataku menitik saking bahagianya bisa menemukanmu. Walaupun kamu menangis karena takut. Entah, apa yang sudah ditanamkan oleh Mamamu, kamu jadi begitu waspada dan takut berdekatan denganku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sempat aku berkenalan dengan Ibu Kepala Sekolah di TK itu, yang bernama Ibu Ida. Beliau menceritakan bahwa Alia itu pendiam di sekolah. Akhirnya aku bilang, &quot;Mungkin karena dia mau punya adik baru dari Bapaknya yang baru, jadi dia pendiam&quot;. Kebetulan Mamanya Alia memang sedang mengandung anak dari pernikahannya yang baru. Sembari aku lanjutkan bahwa sejatinya, aku ingin bisa berkenalan lebih dekat dengan keluarga Alia yang baru, dengan mungkin suatu saat bisa main ke rumah mereka. Karena bagaimanapun ada tanggungjawab yang harus aku emban berkaitan dengan Alia. Baik perkembangan maupun masa depan. Dan aku tinggalkan nomor telpon ke beliau, barangkali saja ada sesuatu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Setelah sekitar satu jam berada disitu dan Alia yang menangis sudah pulang sekolah, aku pulang balik menuju kantor. Sepanjang perjalanan, aku masih berusaha menenangkan diri. Bagaimanapun, hari ini seperti akan membuka banyak hal baru yang selama ini tidak aku ketahui. Dan aku lewati hari ini hingga waktunya pulang kerja dan kembali ke rumah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ketika aku dan istriku sedang membicarakan tentang perjalanan hari ini di Sekolah Alia, tiba-tiba masuk sebuah sms dari nomor yang tidak tercatat di HPku. &quot;Halo, ini saya Yana yang ngasuh Alia. Saya dapat nomor dari ibu kepala sekolah, apa benar ini nomornya Papa Alia?&quot;. Langsung aku balas, &quot;Iya benar&quot;. Kemudian masuk lagi balasan, yang isinya sangatlah mengagetkan. Jantungku serasa berpindah tempat, dan meraba-raba untuk bernafas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Terkuaklah beberapa kenyataan yang membuat aku dan istriku tidak sanggup menahan emosi. Suami Mbak Yana yang bernama Mas Muji, mencoba menceritakan sedikit tentang banyak hal yang selama ini berlangsung dan berjalan tanpa sepengetahuanku. Namun Mas Muji masih sedikit takut untuk membuka lebih dalam, karena sepengetahuannya hasil informasi dari Mamanya Alia, bahwa Papanya Alia itu punya sifat Galak, Tidak terbuka dan Gampang Emosi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sengaja aku menelpon Mas Muji langsung, agar beliaunya bisa mendapatkan kesan seperti apa Aku ketika bicara. Aku katakan kepadanya bahwa, Papanya Alia tidak dan jauh dari sifat seperti itu. Kemudian aku beritahu mereka untuk membaca beberapa tulisan tentang perjalananku selama ini mencari Alia, merindukan Alia, memimpikan Alia dan lain sebagainya di Blog Orkerstradebu.blogspot.com ini. Tempat yang memang aku sengajakan untuk menuliskan tentang anakku Alia, karena berharap suatu saat nanti dia akan membacanya dan bisa meredakan kemarahannya terhadapku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dan..&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Akhirnya aku tahu, bahwa selama ini, selama hampir 4 tahun lebih, putri cantikku Alia tidak hidup bersama Mamanya. Semenjak pertama Alia dibawanya, Alia sudah langsung diberikan ke Mbak Yana dan Mas Muji. Hancur hatiku. Ternyata Mamanya Alia masih juga bohong. Selama ini dia selalu mengatakan bahwa Alia hidup bersamanya. Sungguh aku tidak bisa menerima ini. Aku marah, sangat marah. Belum pernah aku semarah ini seumur hidupku. Hanya karena Allah semata aku bisa meredam kemarahan ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Informasi bahwa Alia sudah mempunyai 2 adik dan Mamanya adalah istri simpanan dari Taufik tidak sedikitpun membuatku tertarik atau membuatku sedih. Aku tidak peduli dengan kebohongan yang ini. Tapi kebohongan tentang Alia selama ini membuatku runtuh. Aku menangis di depan istriku, juga ketika Omnya Alia datang mencoba menghiburku, tangisanku makin menjadi. Aku hancur, untuk apa aku mengejar semua ini bila ternyata Alia putri cantikku dalam keadaan tidak sehat psikologisnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Secara tidak langsung, mamanya Alia telah membuang Alia dari perawatan dan kehidupannya. Pantaslah kalau Alia seperti memendam kemarahan kepadaku, hanya karena dia belum mengerti apa dan apa. Mungkin dia merasa, bahwa Papa dan Mamanya tidak menginginkannya. Mungkin juga Alia merasa kalau dia sudah dibuang. Atau mungkin Alia ingin sekali mengatakan kepadaku agar segera membawanya, namun dia belum tahu cara mengatakannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ketahuilah Alia anakku, Papamu selama ini berusaha mencarimu kemana-mana. Namun aksesnya ditutup rapat-rapat oleh Mamamu. Dengan berbagai ancaman bila sampai aku menemukan tempatmu. Demi menghormatinya, aku menahan diri untuk tidak banyak melakukan hal yang bisa membahayakanmu. Tapi bila aku tahu keadaan sebenarnya seperti ini, sudah tentu aku akan langsung mengambilmu dari tangan Mamamu. Tentu tidak akan aku biarkan kamu menderita nak. Betapa kamu adalah alasanku hidup sejauh ini, bahkan manakala beristri lagi, aku berpikir agar bisa ada pendamping yang membuatku mudah membawamu dari lingkungan mamamu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sulit aku menuliskan semuanya, sulit bagiku mengungkapkan betapa jahat Mamanya Alia. Tapi suatu hari kamu akan mengerti sendiri. Yang bahkan selama ini, ternyata aku tidak sekedar membiayai Alia tetapi juga membiayai kebutuhan adik-adik Alia, anak dari Taufik, yang notabene orang yang sudah membuat Mamanya Alia meninggalkanku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3419533652261708989/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/3419533652261708989' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3419533652261708989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3419533652261708989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2012/06/tabirpun-terbuka.html' title='Tabirpun terbuka..'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-1496454038959700925</id><published>2011-10-23T23:36:00.000+07:00</published><updated>2011-10-23T23:36:21.215+07:00</updated><title type='text'>Pa, Tante Dokter Mana?</title><content type='html'>Tiba-tiba saja handphoneku berdering dan segera aku angkat, aku segera terkejut. Ini suara Alia, dia mau menelponku sendiri. Sebelumnya tak pernah kamu lakukan ini nak, dan Papa bahagia sekali. Kamu langsung bilang, &quot;Pa, Alia sakit Pa&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera aku sadar, kamu mau curhat. Aku pun menjawab dengan khawatir, disertai rasa bahagia karena kamu mau menelponku Nak. Kemudian kamu menanyakan dimana &lt;a href=&quot;http://www.drgvegi.com/&quot;&gt;Tante Dokter Vegi&lt;/a&gt;. Dan meski sebentar kamu cerita, sebuah kebahagiaan bagiku begitu besar menerima telponmu langsung, tanpa harus menunggu dibujuk mamamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga cepat sembuh ya Nak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I love you.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/1496454038959700925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/1496454038959700925' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1496454038959700925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/1496454038959700925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2011/10/pa-tante-dokter-mana.html' title='Pa, Tante Dokter Mana?'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4983066582896609172</id><published>2011-10-16T19:33:00.002+07:00</published><updated>2011-10-16T19:38:54.344+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Story"/><title type='text'>Teruslah Terbang Anakku.</title><content type='html'>Dear Alia putri Papa yang cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin hari, kita jalan bersama dengan Mamamu dan juga calom Mamamu. Kamu tampak bahagia sekali Nak, wajahmu berseri-seri dan tidak berhenti tersenyum hingga kita berpisah kembali. Mungkin kamu belum menyadarinya Anakku, senyumanmu yang membuatku terus bersemangat. Dan mungkin kamu belum sadar juga bahwa hari kemarin kita berbelanja, kamu sedang memainkan perasaan 3 manusia dewasa. Betapa hebatnya kamu Nak, demi kebahagiaanmu, kami yang sudah terbentuk besar dan dewasa dengan berbagai macam egoisitas bisa tertawa bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoXtx7ZH1BSsEOtrR2wSXheuffGhrQLtRduxaKP2R8fAFjCghS8eA9Gt8XstPmGPvfNKia5JAicX0N_Pm_I2AXHkARr_bZFGruJs_sZ4hNAzpzlYHQOIhNUrpc3r7BdWGBr1u-_9WBTNM/s1600/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoXtx7ZH1BSsEOtrR2wSXheuffGhrQLtRduxaKP2R8fAFjCghS8eA9Gt8XstPmGPvfNKia5JAicX0N_Pm_I2AXHkARr_bZFGruJs_sZ4hNAzpzlYHQOIhNUrpc3r7BdWGBr1u-_9WBTNM/s320/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Calon Mamamu, Mamamu dan Kamu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Mamamu (mantan istri papa) terlihat mencoba untuk meredam gejolak perasaannya, begitu juga dengan calon Mama sambungmu. Dia terus tetap mencoba dan berusaha untuk tetap berada di samping Papa yang sedang ingin bercengkerama denganmu, meski bukan tidak mungkin kalau dia menyimpan cemburu pada Mamamu. Apalagi melihat aku yang harus tetap memanggil Mamamu dengan kata &quot;Mama&quot; bagimu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anakku, saat ini Papa mencintai calon Mama sambungmu. Apapun akan Papa jalani untuk membahagiakannya, sekeras kepala apapun Papamu ini. Biar Papa bisa sekalian belajar bagaimana mencintaimu dan juga calon Mamamu sekaligus. Keadaan ini sangat sulit untuk dijelaskan Nak, apalagi kamu masih kecil saat ini. Semoga suatu saat kamu bisa memahami keadaan Papa dan Mamamu kenapa mesti berpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papa dan Mamamu masih saling menghormati dan menjaga hubungan baik Anakku. Semoga kamu ketika mulai bisa mendengar suara atau ucapan banyak orang nanti, bisa memahami dan juga bisa tetap menghormati kami berdua dan juga Mama sambungmu. Jangan sampai kamu menjadi pembenci karenanya. Papa yakin ketika kamu dewasa nanti, kamu akan mewarisi cinta kasih dariku. Kebencian tidak akan menyelesaikan apapun Nak, karenanya teruslah terbang dengan cinta. Papa akan terus mendampingimu hingga suatu saat harus berpindah ke Surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Papa masih terus berdoa agar suatu hari kamu mau ikut tinggal dirumah Papa. Papa akan bangunkan satu kamar khusus dirumah Nak, seperti papa membangun ruangan khusus buatmu dihati. Ketika kamu usia 8-14 bulan, kamu selalu ada dipelukanku Nak, di dalam satu kamar kumuh sebuah kos-kosan. Tapi sungguh Papa merindukan suasana saat itu. Kamu bahkan tidak bisa lepas dari pelukanku, kalau tidak maka kamu akan menangis keras. Tapi sekarang, kamu dipeluk Papa sebentar saja sulit sekali, kamu selalu berontak. Maafkan Papa bila ada salah Nak. Maafkan pula karena telah menyerahkanmu ke Mamamu waktu itu tanpa pamit kepadamu. Waktu itu, Papa sudah menahan tangis selama perjalanan menyerahkanmu ke Mamamu. Hingga kamu tertidur dan Papa segera menyerahkanmu, sebelum kamu terbangun dan aku harus pingsan melihatmu menangis. Maafkan Papa Nak. Semua demi kebaikanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFBYRQLRbEnWgcZJ92eMjmRTt6FoqE-4gy5RagnNvduv_HSwkUxonij1TLXqo8w9eYomOCmJbR2K7JNUHiqW7ilODF2hzQhKncgHUpFjdoylQCPzki72N5KGW4gCq8c63gBTVnKrKZGQI/s1600/320783_10150479367282306_777117305_11075519_932125580_n.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhFBYRQLRbEnWgcZJ92eMjmRTt6FoqE-4gy5RagnNvduv_HSwkUxonij1TLXqo8w9eYomOCmJbR2K7JNUHiqW7ilODF2hzQhKncgHUpFjdoylQCPzki72N5KGW4gCq8c63gBTVnKrKZGQI/s320/320783_10150479367282306_777117305_11075519_932125580_n.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Putri Aalia Kika Syafii&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Teruslah terbang Alia, putri tercintaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4983066582896609172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/4983066582896609172' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4983066582896609172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4983066582896609172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2011/10/teruslah-terbang-anakku.html' title='Teruslah Terbang Anakku.'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoXtx7ZH1BSsEOtrR2wSXheuffGhrQLtRduxaKP2R8fAFjCghS8eA9Gt8XstPmGPvfNKia5JAicX0N_Pm_I2AXHkARr_bZFGruJs_sZ4hNAzpzlYHQOIhNUrpc3r7BdWGBr1u-_9WBTNM/s72-c/320747_10150477596492306_777117305_11068016_50115877_n.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-9193639724586800146</id><published>2011-06-13T23:56:00.004+07:00</published><updated>2011-06-14T00:03:07.985+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia"/><title type='text'>Mimpi</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;http://www.putrialia.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC0213.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 560px; height: 375px;&quot; src=&quot;http://www.putrialia.com/wp-content/uploads/2011/02/DSC0213.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Wahai &lt;a href=&quot;http://www.putrialia.com/&quot;&gt;anakku&lt;/a&gt;, saat aku tulis ini mungkin saja kamu sedang tertidur lelap. Disini Papa mencoba menangkap mimpi nak, barangkali saja impianmu saat ini mendekatiku. Sekian waktu dari setiap malam yang aku lewati, doa selalu terkirim untukmu. Papa merindukanmu Nak, ingin sekali rasanya aku dengar panggilanmu membangunkan tidurku. Baik-baik ya dengan Mamamu. Katakan padanya, tak ada yang lebih baik selain menjalani sisa hidup yang dipilih. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bekasi, 2011.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/9193639724586800146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/9193639724586800146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/9193639724586800146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/9193639724586800146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2011/06/mimpi.html' title='Mimpi'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7050489086520820542</id><published>2011-04-04T08:31:00.003+07:00</published><updated>2011-04-04T08:37:42.547+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia"/><title type='text'>Kamu dimana Alia?</title><content type='html'>Semalam Papa bermimpi yang tidak mengenakkan, dan sulit untuk menuliskannya disini. Rasa kangen yang besar makin membesar karena Mamamu sudah satu bulan lebih tidak memberi kabar. Sementara aku tidak tahu dimana dirimu berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, Engkau tentu tahu yang terbaik bagi makhluk-makhlukMu. Terima kasih atas penjagaanMu terhadap Alia. Maaf atas kelemahan hamba sebagai makhlukMu. Hamba yakin Engkau akan mempertemukanku dengan Alia dan mengembalikannya padaku selamanya.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7050489086520820542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/7050489086520820542' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7050489086520820542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7050489086520820542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2011/04/kamu-dimana-alia.html' title='Kamu dimana Alia?'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4616558566824647429</id><published>2010-11-15T08:48:00.004+07:00</published><updated>2010-11-15T09:19:48.475+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia"/><title type='text'>Lithium</title><content type='html'>&quot;Papa aku keren, aku diajak jalan-jalan naik Gondola dan lihat ikan besar&quot;, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang Mamamu ceritakan padaku setelah kita selesai jalan-jalan kemarin Anakku. Betapa bahagianya aku, mendengar cerita-cerita tentangmu dari Mamamu. Setelah sekian bulan kita tak bisa bertemu, akhirnya kita bertemu kemarin. Selalu ada cerita menarik setiap kali kita selesai bertemu. Kamu yang selalu malu-malu pada awal pertemuan atau acara jalan-jalan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia, kamu tahu nak, Papa lebih bahagia daripadamu. Sangat bahagia setiap kali bisa bertemu dan memelukmu. Mamamu menceritakan bagaimana kamu tidak mau menghapus stempel dari Ancol tempat kita jalan-jalan kemarin. Bukan kamu saja Nak, Papa juga begitu. Papa tidak mau menghapusnya saking bahagianya. Seandainya bisa, Papa ingin menghentikan hari kemarin. Biar Papa bisa lebih lama denganmu, bisa tertawa lebih lama denganmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3ECpcfMFS2FIq9YlKn3hGGaxC1d7SgkT8JOJZqV2vkGfWNWq6clPqpqQtNv5qFi8omPwgp4risQcvEbfqHBrw6xpoN7BK_SR89b5XGzG0XiM3Px1Kuev1CI4WsF2klt_RDiN6Y9FYpRs/s1600/Alia1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3ECpcfMFS2FIq9YlKn3hGGaxC1d7SgkT8JOJZqV2vkGfWNWq6clPqpqQtNv5qFi8omPwgp4risQcvEbfqHBrw6xpoN7BK_SR89b5XGzG0XiM3Px1Kuev1CI4WsF2klt_RDiN6Y9FYpRs/s400/Alia1.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5539595434983060146&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak henti-hentinya Papa memandangi fotomu hasil jalan-jalan kemarin. Kamu sudah besar nak, kamu semakin cantik. Wajahmu yang benar-benar duplikat dariku, semakin membuatku bahagia namun juga ngeri. Terbayang semua keburukan yang telah aku lakukan. Semoga kamu tidak melakukannya Nak, semoga kamu bisa menjadi orang yang lebih bijaksana dari Papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia, Papa akan terus berdoa agar kamu tumbuh menjadi anak yang bisa mengerti masalah. Semoga pula calon ayah (tirimu) tidak memberimu warna kebencian dan kedengkian yang selalu dia lakukan pada Papamu. Yang dimana seharusnya dialah yang malu sama Papamu. Karena, pada kenyataannya Papa masih bisa baik dengannya, bahkan dengan semua bagian keluarga Mamamu. Agar kamu tahu Nak, sebagian hutang keluarga Mamamu, Papa lah yang melunasinya. Yang sebenarnya itu Papa siapkan untuk masa depanmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak, berbahagialah selalu. Papa mencintaimu lebih dari perempuan manapun di dunia ini. Belajarlah tentang kehidupan, belajarlah tentang memaafkan, belajarlah terus tentang memberi, agar hidupmu menjadi lebih bahagia dari Papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you my Child, Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA7pxmo7E9t3pBt048KxOqB5zjr7LCa4YSd5ExfYI9CjOqxDyZDt3X64ySSx49WFI8qoGAJqw4S51eR4X-lN8z_VXZ1Xp4OiJ3BzbupUgaC-nqdjwluV6zNRm050nW2x2J51-b75GlpNM/s1600/Alia.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA7pxmo7E9t3pBt048KxOqB5zjr7LCa4YSd5ExfYI9CjOqxDyZDt3X64ySSx49WFI8qoGAJqw4S51eR4X-lN8z_VXZ1Xp4OiJ3BzbupUgaC-nqdjwluV6zNRm050nW2x2J51-b75GlpNM/s400/Alia.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5539594895043723730&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4616558566824647429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/4616558566824647429' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4616558566824647429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4616558566824647429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/11/lithium.html' title='Lithium'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3ECpcfMFS2FIq9YlKn3hGGaxC1d7SgkT8JOJZqV2vkGfWNWq6clPqpqQtNv5qFi8omPwgp4risQcvEbfqHBrw6xpoN7BK_SR89b5XGzG0XiM3Px1Kuev1CI4WsF2klt_RDiN6Y9FYpRs/s72-c/Alia1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-636658341148986327</id><published>2010-09-03T15:32:00.003+07:00</published><updated>2010-09-03T16:04:30.442+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia."/><title type='text'>Alia, cepatlah besar nak..</title><content type='html'>Hari ini, aku akhirnya mengikhlaskan diri untuk tidak bisa lagi ketemu dirimu sampai kamu beranjak besar nak. Mamamu atau lebih tepatnya calon ayah tirimu, tidak menginginkan kita sering ketemu. Mereka takut pertemuan kita akan mengganggu perjalanan rumah tangga yang akan mereka rintis, padahal sudah aku katakan &quot;aku bahkan sudah tidak lagi punya rasa cinta sama mamamu&quot;. Papa hanya ingin bisa ketemu kamu Alia, sewaktu waktu, itu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mamamu beralasan kehadiranku yang menemui bisa semakin mendekatkan kembali ke mamamu dan itu akan membuat calon ayahmu marah. Padahal anakku, Papamu ini paling pintar memegang komitmen. Papamu bisa memisahkan apapun dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, demi kebaikan mamamu yang tentu itu akan berimbas ke kamu Alia, Papa mengikhlaskanmu nak. Hanya satu doaku, semoga kamu selalu dilindungi oleh Allah SWT dan segera setelah besar carilah Papa Nak. Papa menunggumu kapanpun kamu akan datang. Papa akan bikinkan kamar khusus untukmu dirumah, seperti kamu yang selalu aku tempatkan di kamar hati paling dalam dan khusus. Cepatlah besar nak, Papa mencintaimu lebih dari siapapun di dunia ini. Cepatlah besar dan temui papa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, seperti yang pernah papa tuliskan. Maafkan atas ketidakmampuan papa memperjuangkanmu. Mungkin papa terlalu ambisius menumpuk harta, sehingga harus lupa denganmu. Tapi anakku, semua bukan tanpa sebab, dulu aku lakukan untuk mengusir kesepian atas tidak adanya dirimu. Alia, kamulah penyebabnya, kamulah pemantik semangat didadaku. Sekarang, papa akan berjuang semakin kuat agar ketika kamu pulang nanti kamu bisa merasakan papa seutuhnya tanpa harus meninggalkanmu karena papa harus kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepakkan sayapmu Anakku, terbanglah setinggi mungkin. Jadilah kebanggaan Papa. I love you.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/636658341148986327/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/636658341148986327' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/636658341148986327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/636658341148986327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/09/alia-cepatlah-besar-nak.html' title='Alia, cepatlah besar nak..'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7993062575673129928</id><published>2010-08-24T22:58:00.003+07:00</published><updated>2010-08-24T23:07:05.824+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alia"/><title type='text'>Alia.</title><content type='html'>Seperti biasa, kehilanganmu masih terus menemaniku. Sesekali aku ajak semua bercanda, layaknya kupu-kupu yang mencandai beningnya air sungai. Hingga sungai menguak senyum terkena cubitan genit kupu-kupu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Alia, anakku. Begitu banyak rupa perjalanan ini. Cerita dan juga sejarahnya. Pastikan kamu tahu, tak ada yang lebih menginginkanmu selain aku. Kepakkan sayapmu dan terbanglah tinggi. Aku tunggu disini, ditaman sebelum surga dan di surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 2010&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7993062575673129928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/7993062575673129928' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7993062575673129928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7993062575673129928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/08/alia.html' title='Alia.'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3464280179515174904</id><published>2010-06-22T23:17:00.002+07:00</published><updated>2010-06-23T00:39:13.518+07:00</updated><title type='text'>Alia anakku.</title><content type='html'>Anakku, hari ini aku kembali berbicara dengan Mamamu. Aku hanya menuntut waktu agar bisa diperbolehkan menjengukmu sewaktu-waktu. Tanpa harus menunggu hari minggu ataupun Mamamu ada waktu. Namun sepertinya masih gagal, dan lagi. Maafkan aku yang kurang keras berjuang untuk mendapatkanmu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, perjalanan hidupku terasa tak lengkap tanpamu. Karir, nama besar dan kekayaan, tak bisa mengobatinya. Kamulah alasanku berusaha keras, kamu pulalah hal utama yang membuatku bekerja keras. Kamu sebagai pemantik yang membuatku terbakar untuk membuat semua ini menjadi nyata, senyata senyum mungilmu itu. Anakku, sungguh aku ingin sekali mendengar celotehmu &quot;Papa mana Ma? atau Papa pulang ya Ma?&quot;. Dimana itu hanya aku dengar dari cerita Mamamu setiap kalian berdua jalan-jalan ke Mall atau selepas aku pulang menjengukmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, aku tak bisa melakukan apapun saat ini. Tempatmu berbaring tidur dan bercanda tawa di setiap pagi pun aku tak tahu. Mamamu begitu pandai menyembunyikanmu, dan aku seperti terkena pagar listrik bila ingin mencarimu. Karena aku selalu kembali sadar bahwa kamu lebih baik sama Mamamu saat ini. Jauh didalam hati, aku selalu berdoa agar doaku bisa menemukanmu. Semoga hal pertama yang menciummu disaat kamu beranjak tidur adalah doaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, maafkan papamu ini bila mungkin nanti Tuhan tetap tidak mengijinkan kita berkumpul dalam waktu dekat ini. Papa akan terus berdoa agar kita bisa bersama di suatu hari nanti. Di setiap detak jantungku yang berlompatan kesana kemari, namamulah yang terdengar sebagai nyanyiannya. Kamu selalu duduk di pelupuk mataku, bagaimana aku tidak terus menerus merindukanmu anakku. Salahkanlah aku suatu hari, marahilah aku suatu hari nanti tapi mohon jangan kamu benci Papa. Kamu boleh pecahkan semua benda yang ada di sekelilingmu, boleh pula kamu layangkan caci maki kepadaku tapi mohon jangan benci papa. Jangan arahkan kebencianmu pada papamu ini, Papamu manusia biasa nak, manusia yang banyak kesalahan. Tapi Papa pula yang akan pertama menangis bila kamu sakit, Papalah yang akan pertama bersedih bila kamu menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, malam ini aku tuliskan ini dengan airmata berderai. Betapa aku merindukanmu. Betapa aku ingin memelukmu, menciummu dan tidur disampingmu seperti dulu. Merasakan kakimu yang menendang mukaku, mendesakku hingga jatuh ke bawah ranjang. Betapa aku ingin memegang jemari lentikmu, membelai rambutmu dan merasakan desah nafasmu dipipiku. Jangan benci papa nak, jangan kamu tatap aku dengan mata benci. Mohon, jangan sampai terjadi itu di kemudian hari. Ya Tuhan, kepadaMu aku memohon, selamatkan Alia dari kebencian dan dari surga dunia yang fana ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku, meski perasaan cinta papamu terhadap mamamu sudah tak ada. Namun demi mendapatkanmu kembali, aku rela meminta bahkan mengemis agar kamu kembali. Yang tentunya dengan mengajak mamamu kembali berkumpul bersama papa. Anakku, banyak teman-teman papa yang berargumen, bahwa perpisahan aku dan Mamamu ini dikarenakan aku. Semua itu salah, Mamamulah yang meninggalkanku. Karena dulu Papa ini miskin dan tidak punya uang. Anakku, maafkanlah mamamu juga atas semua kejadian ini. Hingga kamu akhirnya menjadi korban. Mungkin mamamu belum cukup dewasa untuk memahami kehidupan yang sebenarnya. Dengan sangat Papa memohon kepadamu, apapun yang terjadi suatu hari jangan menjadikanmu tumbuh rasa benci kepada kami berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku. Papa bisa saja menghilang darimu, namun kamulah satu-satunya cinta dihatiku. Kamulah yang menjadi semangat untuk terus hidup, sembari terus berdoa agar kita ketemu kembali ketika kamu besar nanti. Dengan sengaja Papa menjadikan diri untuk terkenal dan dikenal, hanya dengan satu alasan &quot;agar kamu mudah mengenali dan mengenalku&quot;. Sehingga kamu mudah untuk menemukanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alia anakku. Berkembanglah dan teruslah mekar. Kamu adalah serpihan surga yang dikirim untukku. Papa mencintaimu Zaneta Putri Aalia Kika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 2010.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3464280179515174904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/3464280179515174904' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3464280179515174904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3464280179515174904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/06/alia-anakku.html' title='Alia anakku.'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-5167785896259228298</id><published>2010-05-05T19:20:00.003+07:00</published><updated>2010-05-06T01:49:30.447+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Novel Sulang Dari Timur"/><title type='text'>Membuka Pintu [Bab I]</title><content type='html'>“Ayah, buku apa itu?”, tanya Joko. “Kamu harus simpan buku ini baik-baik, jangan sampai siapapun tahu…”, bisik ayah Joko. Seminggu kemudian Ayahnya mati tertembus peluru. Joko masih tak tahu apa yang terjadi, sampai saat usianya beranjak dewasa dan ditangannya tergenggam buku pemberian ayahnya. Tertulis disitu pengarangnya “Pramoedya……..”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darahnya bergejolak, jaman kebebasan berpendapat ternyata belum benar dilalui oleh ayahnya hingga sekarang. Dibukanya kembali kamar ayah ibunya yang sudah bertahun-tahun tak pernah lagi, dari bawah ranjang hingga atas lemari dicarinya sesuatu yang Joko sendiri tak tahu apa itu. Tanpa lelah terus dicarinya, bongkar sana bongkar sini. Sampai akhirnya duduk bersandar lemari di dekat ranjang, sesaat Joko menarik nafas panjang dan tidak dirasakannya kelelahan. “Pluk….” tiba-tiba didepannya jatuh segulungan kertas, secepatnya Joko membukanya. “Kudeta Soeharto pada….” Judul gulungan kertas yang langsung dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko berlari cepat meninggalkan kamar orang tuanya. Digenggamnya erat gulungan kertas kumal itu, dia berlari menuju pusat kota dimana ada bangunan tua peninggalan belanda bertuliskan Perpustakaan. Sepertinya dia tahu benar apa yang dicarinya, matanya memandang lurus menyilang ruangan perpustakaan. “Iya disana, aku pernah membacanya disana…”, bisik Joko. Bergegaslah dia menuju arah pandang matanya, “disini iya disini… Seharusnya disini, aku yakin ada disini..dulu disini”, matanya tiada henti melihat beberapa sab buku yang pernah tak sengaja kena senggol olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, seharusnya ada disini… disini..”, mata Joko masih terus mencari-cari sembari mulut tak berhenti berdesis dan tangan menggeser-geser susunan buku yang ada dengan cepat.  “kenapa bisa tidak kelihatan ya, kemana ya….”, tangan Joko sedikit demi sedikit mulai gemetar mengikuti kalut pikirannya. Sampai di bagian bawah, dibongkarnya beberapa sab buku yang sudah terlihat usang dan tua. “Seharusnya disini…”, Harap Joko tiada berhenti, keringat mulai menetes dan tak peduli dengan suasana Perpustakaan yang semakin sepi. Terus saja matanya mencari dari buku-buku usang yang berdiri sejajar, ditengokkannya kepala ke samping kanan… “Sedang apa disini!”, spontan Joko berbalik badan karena kaget dan ayunan tangannya menyambar beberapa sab buku hingga berjatuhan menimpa kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah wajah dengan perawakan kurus berusia 40an tahun dan kulit coklat menghitam tanpa senyum menatap erat Joko, penjaga perpustakaan!!. “Apa yang kau cari hingga membongkar buku-buku itu?”, tetap dengan tanpa senyum dan juga tanpa melepas pandangan mata ke arah kedua tangan Joko. Sejenak Joko bingung harus berkata apa, dalam benaknya berkecamuk pikiran. “Apa yang mesti aku katakan, sedang aku sendiri bingung dengan judul buku yang aku cari..”, batin Joko terus berdialog. Makin gemetar dia mendapat pandangan tajam dari penjaga perpustakaan ini. “Ini.. ini saya.. sedang mencoba mencari buku..”, tertatih Joko berusaha menjawab. “Buku apa?!”, kembali pertanyaan yang sebenarnya tidak diharapkan oleh Joko terucap dari penjaga perpustakaan. “Pramoedya..!”, tiba-tiba Joko mengucapkannya dengan lantang. Seketika tangan penjaga perpustakaan langsung menarik tangan kiri Joko dengan kasar, beberapa buku langsung ikut berhamburan jatuh terkena tarikan tangan kanan Joko yang berusaha menahan agar tidak ikut terbawa oleh tarikan kasar penjaga Perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlambat sudah usaha Joko untuk bertahan dan tidak ikut terbawa, namun sembari tetap mencoba bertahan Joko mengikuti arah jalan penjaga perpustakaan yang seakan sangat kuat dan tak ingin melepasnya. Melewati beberapa lorong bangunan perpustakaan yang mulai melepuh kulit dindingnya, tidak jelas terlihat apa warna sebenarnya dinding itu. Beberapa kali Joko mengaduh karena kakinya terantuk meja atau tumpukan buku yang dilewati oleh mereka. Penjaga perpustakaan yang sudah hapal tentu dengan mudah melalui semua lorong, berbeda dengan Joko yang harus tetap mempertahankan matanya melihat ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama, Joko dibawa masuk ke sebuah ruangan gelap yang pengap dan terasa kalau tempat ini sudah lama sekali tidak ada yang memakainya. Namun meja dan beberapa rak buku masih tertata rapi berselimut sarang laba-laba nan tebal. Seperti melempar, tangan penjaga perpustakaan menarik keras dan melepas Joko yang menabrak dinding. Dalam keadaan remang-remang Joko mencoba mengamati arah gerak mata penjaga perpustakaan tersebut. Di cobanya melihat agar lebih jelas dengan memicingkan matanya keras-keras, dan hanya kerah baju yang terlihat oleh matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko mendadak berhenti menulis, sebuah tulisan yang selama ini menjadi percakapan di dalam otaknya. Terlihat Joko lebih memilih untuk menyalakan lilin dan mematikan listrik dikamarnya. Naskah itu dibiarkannya menggeletak dan berserakan. Naskah fiksi yang selama ini selalu berbincang dan bercakap-cakap diluar kemauannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok hari terakhirku dirumah,rasanya berat meninggalkan kamar ini”,bisik joko kepada lilin yang menemaninya. Api diujung lilin bergoyang, seakan ikut mengiyakan bisik Joko. Dua puluh dua tahun yang lalu, Joko pindah di kota kabupaten kecil ini berlima dengan ayahnya yang seorang pegawai negeri. Ayahnya baru saja menduda, karena ibunda Joko yang telah diperkenankan pergi menemui Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat ketika dirinya dituntun oleh Buleknya untuk melihat sesosok tubuh yang tertidur diatas sebuah dipan dengan balutan kain putih sekujur tubuh dan  hidung tertutup kapas putih bersih. “Itu ibu dik, lihatlah beliau tersenyum… Cantik sekali”, ucap buleknya memeluk joko sembari menangis sesenggukan. Dia yang tidak tahu, hanya diam. Diputarkannya pandangan mata ke sekeliling ruangan, semua orang berdoa, ayah terlihat sibuk menemui tamu dan kakak perempuannya terlihat sesenggukan di sudut ruangan begitu melihat tatap mata Joko. Dua kakak laki-lakinya terlihat menempel di pelukan Buleknya yang lain. “Ada apa ini Bulek?”, tanya Joko. Hanya dekapan yang dia terima. Makin erat dan kuat, dia semakin tidak tahu. Tak berapa lama tubuh ibunya diangkat beramai-ramai oleh saudara-saudara dan tetangganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikuuuuuuuuttt….”, joko tiba-tiba berteriak. “Ibu mau kemanaaaa….”, seketika buleknya yang lain memeluknya dan mengangkat tubuh kecil Joko ke ruangan lain. Dibawanya dia ke ruangan pesantren yang ada dibelakang rumah kakek nenek Joko. Dia menangis keras, bersikeras untuk ikut kemana ibunya mau dibawa. Buleknya tak kuasa lagi untuk tidak menangis, Joko semakin tidak mengerti. Dia merasa gelisah karena ada sesuatu yang tidak diperbolehkan untuknya tahu. “Bulek, ibu mau kemana?, kok aku tidak diajak? Biasanya ibu selalu mengajak aku kalau pergi…”, dipukuli buleknya yang masih terus mendekap tubuhnya. Joko masih terus berteriak dan memanggil ibunya untuk ikut. Berkali-kali dan menangis hingga akhirnya dia kelelahan, tertidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan kejadian itu masih membekas dipikirannya hingga sekarang. Hari ini di bulan agustus, Ayahnya pergi menyusul ibunya. Dan kembali Joko memasuki fase ketidakmengertian. Dua hari yang lalu ayahnya sudah dikuburkan, sementara dia masih berada di Jogjakarta. Joko menyesali sikap temannya yang tidak langsung menuju kerumahnya ketika dia pulang ke kampung. Waktu itu Dadang akan pulang dan dia titip agar dikabarkan ke ayahnya kalau dirinya baik-baik saja di Jogjakarta. Sebelumnya Joko sudah merasa ada sesuatu yang membuatnya dia menitip pesan kepada Dadang. Sayangnya Dadang datang ke rumahnya sehari setelah ayahnya dikuburkan. Hingga kabar yang datang kepadanya pun terlambat. Tapi semua itu ditepiskan olehnya. Dadang dan keluarganya sudah seperti rumah kedua baginya. Darimana pun dia pulang, dia selalu menyempatkan untuk datang ke rumah Dadang, sekedar menyapa ayah dan ibunda Dadang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi aku berangkat”, gumam Joko sembari mematikan lilin dan kembali menyalakan lampu kamarnya. Perbekalan yang sedikit memudahkannya untuk bersiap-siap. Semua saudaranya sudah tahu akan rencananya ini, dan karena Joko sudah terbiasa bepergian jauh maka saudaranya juga tidak ada yang melarang. Hanya sedikit pesan-pesan untuk tetap berhati-hati dan kuat menghadapi apapun yang terjadi. Tak berapa lama, dia sudah sampai di pojok kantor Telkom tempatnya biasa nongkrong bila sore hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------------------  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Temukan jalanmu sendiri nak, disana akan ada banyak lubang entah kering maupun berair yang siap menangkap, memeluk dan mengasah ketajamanmu untuk keluar dari semua rintangan&quot;. Ucap Pak Bardi tukang becak yang menemaniku menunggu bis untuk berangkat ke Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu mata Pak Bardi menerawang jauh ke atas sembari mengepulkan asap dari kretek putih yang terselip di tangan kokoh berurat namun menampakkan uzurnya. Pak Bardi adalah salah satu teman mainku setiap sore hari, dia tak banyak bicara dan cekatan dalam membantu orang. Beliau pulalah yang pertama kali membangunkan dan memapahku berdiri kembali ... See moreketika tanpa sengaja sebuah mobil minibus menabrakku keras dari arah timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang terburu-buru menyeberang ke tempat kerja agar bisa mendapatkan insentif untuk liburan nanti, aku yang berencana naik gunung di daerah Purwokerto dan terkenal angker itu. Akhirnya hanya mendapati tubuhku duduk-duduk di depan teras di kemudian hari tanpa bisa menikmati hasil kerja keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bardi pulalah yang dengan tegas menyuruhku menolak untuk memanfaatkan kejadian itu agar mendapatkan uang ganti rugi dari penabrakku, seorang tionghoa tua yang keluar dari mobil. Dan menyuruh mereka segera pergi sebelum Polisi datang. Dikarenakan jarak kantor Polisi dan kejadian ini tidak sampai 100 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini Pak Bardi seperti membayangkan sesuatu. Aku dengar anaknya pun ada yang di Jakarta dan berhasil. Namun aku tak berani menanyakannya. Takut salah menghantuiku. Bisa jadi Pak Bardi sedang membayangkan anaknya dan menyamakannya denganku. Karena terlihat pelan dan perlahan dibalik kokoh tangannya, ada sesuatu yang bergetar di pundaknya. Pak Bardi yang berjanji membantuku menghentikan Bis jurusan Jogjakarta - Jakarta, malah beberapa kali melewatkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku sendiri bingung, bagaimana meminta kepadanya untuk segera menghentikan Bis-Bis yang melaju kencang dengan sesekali menyorotkan lampu jauhnya. Dan waktu semakin larut, semakin takut bagiku kehabisan Bis Malam yang menuju Jakarta. Di jalan raya pantai utara yang terkenal rame ini, semakin sepi dan ngelangut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Bardi menolehku dan tersenyum, &quot;Berangkatlah nak, aku yakin kamu akan berhasil. Kamu bisa, karena kamu lebih mudah bergaul daripada anakku. Pulanglah setiap kali ada kesempatan, aku tetap mangkal di sudut kantor Telkom situ dan kunjungi aku sesekali ya..., jangan lupa bawakan kretek kesukaanku&quot;. Sederak roda Pak Bardi sudah tertawa sembari melambai-lambaikan tangan untuk mencegat Bis-Bis Malam yang semakin kehilangan kesopanannya. Tak berapa lama, aku sudah tertidur di dalam bis malam dengan tujuan Jakarta dan akan berakhir di Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/5167785896259228298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/5167785896259228298' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5167785896259228298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/5167785896259228298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/05/membuka-pintu-bab-i.html' title='Membuka Pintu [Bab I]'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-7807645383871355937</id><published>2010-04-21T02:19:00.002+07:00</published><updated>2011-10-16T19:35:45.351+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Paktua dan aku.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
Sibuk aku menyibak kerumunan orang yang ada didepanku, keringat menetes hingga serasa mandi sore hari di Sungai Ciliwung. Teringat tadi pagi kawan lamaku mengetuk pintu kamar dan mengajakku pergi keluar. Dia mengatakan bahwa aku terlalu lama bersembunyi di depan layar 12 inci hingga tak kenal matahari. Iya, aku begitu menikmati dunia itu, dunia selebar 12 inci. Disana banyak aku temukan cinta yang meluber layaknya air penuh dalam gelas, juga banyak serpihan sakit hati yang tertuang seperti deras air terjun. Kawanku ini orang yang mengajariku menulis, dia selalu saja memberiku semangat akan sebuah tulisan. Kepak sayapnya telah terbang hingga negeri jauh disana. Dia juga yang menyediakanku rumah kedua dihatinya. Di dalam gazebo hati karyanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
Masih sibuk aku coba menengok-nengokkan kepala hingga menjulurkannya, ingin melihat ada apa sebenarnya di depan sana. Kerumunan ini banyak berbisik, ada pula isak maaf dan tangis. Seperti bisikan wanita tua kepada anaknya untuk terus hidup bila nanti ajal menjemput dirinya sebagai ibu. Aku tersentuh mendengarnya. Anganku melayang ketika penceramah itu datang menghampiriku waktu duduk dipinggir sungai berair jernih bersama kawan lamaku, hingga ikan pun seakan malu untuk bercanda karena aku melihatnya dari atas air. &lt;a href=&quot;http://berbagipuisi.blogspot.com/&quot;&gt;Ah, air dan ikan&lt;/a&gt;. Itu sejatinya kehidupan manusia, bisik penceramah tua berbaju putih tadi. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
&quot;Teruslah renangi kehidupanmu dari hari ke hari anakku&quot;, begitu katanya. &quot;Tapi apakah ini dejavu?, sekelebat tadi aku melihat tubuhku ada dalam keranda itu&quot;. &#39;Bukan anakku, coba lihat aku, gambaran itu? Itu hanya pintu, pintu menuju banyak janji yang harus kamu perjuangkan. Dengan langkah pertamamu&quot;, Suaranya semakin hangat. Setiap kenangan akan mencari sendiri pintunya. Dia terus memberitahuku, namun sekejap aku melihat tubuhku berbicara dengan seseorang tua berbaju putih di depan pintu pemakaman. Tak berapa jauh dari situ, rumahku sudah tak lagi ramai. Lengang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
Depok, 2010 &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;
To night I only see the door and afraid to open it. &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/7807645383871355937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/7807645383871355937' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7807645383871355937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/7807645383871355937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/04/paktua-dan-aku.html' title='Paktua dan aku.'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-8036666752900362920</id><published>2010-01-22T23:17:00.001+07:00</published><updated>2010-01-22T23:17:37.294+07:00</updated><title type='text'>Curhat.</title><content type='html'>Ternyata lama sudah aku tidak menuliskan sesuatu yang esensial. Terlalu lama berkacak pinggang dan tak mau turun dari tahta piala yang mesti aku potong dan aku geser letaknya. Mencoba meniduri semua tempat yang memang semestinya menjadi tempatku tidur, ternyata tidak baik, ternyata berakibat buruk untuk pikiran. Dulu apapun yang ingin aku tulis pasti aku tuliskan. Sekarang tak bisa lagi. Aku bukan peluru lagi, karena aku penarik latuk maka aku perlu untuk hati-hati mengarahkannya.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/8036666752900362920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/8036666752900362920' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8036666752900362920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/8036666752900362920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/01/curhat.html' title='Curhat.'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-4757301761015232161</id><published>2010-01-02T18:01:00.004+07:00</published><updated>2010-01-02T19:36:17.407+07:00</updated><title type='text'>Maafkan Ayah nak...</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Hari ini adalah hari terakhir Karsa bermain dan tidur bersama putri mungil nan cantik yang masih berumur 1,5 tahun. Sejak pagi tadi Karsa memandikan Kaisa dengan kasih sayang lebih dari biasanya. Memberikannya baju tercantik yang dipunyai untuk putrinya itu. Terlihat betul Karsa ingin menjadikan hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi putrinya dan tentu juga untuk dirinya sendiri. Dia menikmati benar setiap detik canda, senda gurau dan gaya lucu putri cantiknya Kaisa. Meski dengan airmata yang menetes jauh didalam lubuk hatinya. Diajaknya Kaisa untuk membereskan semua mainan dan perlengkapan kebutuhannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Hari ini adalah hari yang paling dilematis dalam pikiran Karsa. Tuntutan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk bisa menghidupi belahan nyawanya itu semakin menekan seiring dengan besarnya tuntutan perkembangan tumbuh besarnya Kaisa. Harga susu yang serasa sangat mahal bagi Karsa, menuntut untuk berpikir lebih keras dalam mengusahakannya. Ya, Karsa adalah seorang Ayah yang sendiri menghidupi anaknya selama satu tahun lima bulan ini. Ibu Kaisa terlalu sibuk dengan kehidupan keluarganya yang serba glamour, serta tuntutan dalam tuntunan keluarga besarnya yang lebih mengedepankan kemewahan. Kehidupan yang sangat bertolak belakang dari kepribadian Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Selama satu tahun lebih ini, Karsa bekerja dirumah sebagai seorang desainer sembari juga merawat Kaisa dengan penuh kasih sayang. Beruntung Karsa dulunya pernah menjadi desainer yang lumayan dikenal dibeberapa tempat sebelum tempat usahanya jatuh dan membuatnya hidup memulai dari nol kembali. Kembali dari nol dan harus menanggung semuanya sendiri. Sekian ratus juta rupiah hutang yang dideritanya dia tanggung dengan hanya bermodalkan komitmen dan keyakinan diri bahwa semua permasalahan pasti ada ujungnya. Karsa sangat bersyukur karena beberapa di antara temannya masih banyak yang mempercayakan pembuatan desain kepadanya. Maka semua dikerjakannya dengan sepenuh hati. &quot;Semua demi Kaisa&quot;, begitu batinnya berdoa setiap saat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Karsa sangat mengerti arti kata &quot;orang tua&quot;, dia berusaha sebisa mungkin memberikan yang terbaik demi kehidupan putrinya kelak. Dengan prinsip keindahan yang selalu dia bayangkan dan terapkan, Karsa selalu bersemangat kembali setiap ingat Kaisa. Putri mungil yang selalu tertawa dan jarang menangis. Tanpa terasa Kaisa sudah tidur dipelukannya. Dipandanginya Kaisa dengan penuh cinta. &quot;Nak, Ayah sungguh mencintaimu...&quot;, bisik Karsa lirih ditelinga putri cantiknya itu. Perlahan bibir mungil Kaisa membentuk segurat senyum seakan menjawab bisikan Ayahnya dengan senyum indah yang membuat Karsa tak kuasa menahan tangisnya. &quot;Maafkan Ayah nak, hari ini Ibumu datang untuk mengambilmu&quot;, Ucap Karsa. &quot;Ayah yakin dengan Ibumu kamu akan lebih baik Nak, untuk segala hal&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Terbayang dalam pikiran Karsa, selama setahun lebih dia dan putrinya hidup berdua di sebuah kamar sempit. Berjuang setiap detiknya memenuhi kebutuhannya dan Kaisa, mempelajari kehidupan seorang anak agar bisa mengerti dan merawatnya dengan baik. &quot;Tuhan, ijinkan kali ini aku mengeluh&quot;, bisik Karsa. Dia sangat takut berpisah dengan Kaisa, namun untuk saat ini dia tak mengerti harus bagaimana. Tuntutan harus bekerja sembari membesarkan anak tak bisa disikapinya dengan baik, hingga takut anaknya makin terlantar karenanya. Banyak buku yang berhubungan dengan orang tua tunggal dia pelajari, berharap bisa untuk mempraktekannya namun ternyata tidaklah mudah. Apalagi Karsa bukan seorang pegawai atau karyawan di sebuah tempat usaha, karena sangat terbatas dari sisi legalitas. Iya, Karsa tidak punya Ijazah. Dia tidak mau makan hati karena ditolak saat melamar bekerja di sebuah perusahaan ataupun apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Hari ini adalah hari terakhir Karsa tidur dan bebas memeluk Kaisa. Diliriknya jam dinding dalam kamar, tepat pukul 12.30 WIB. &quot;Ah, sebentar lagi Ibumu datang Nak&quot;, kembali Karsa berbisik sembari mencium pipi montok putrinya. Tak ada reaksi apapun dari Kaisa, mungkin karena sudah terlelap. Digunakannya waktu yang sebentar itu untuk membeli rokok di warung samping kos-kosan. Kemudian diseduhnya kopi hitam yang memang setia menemaninya saat bekerja. Karsa berjalan mondar-mandir tidak mengerti mesti bagaimana, gelisah makin mencengkeram dalam tengkorak kepalanya hingga seakan mempersempit jalan pikir diotaknya. Tiba-tiba dering Hp menyalak mengagetkannya. Karsa semakin gemetar ketika membaca nama yang memanggil di Hp, &quot;Ibu Kaisa&quot;. &quot;Aku sudah sampai Mas&quot;, begitu suara di hp itu. Karsa hanya bisa menjawab &quot;Iya&quot;, dan langsung putus sambungan telponnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Bergegas dia menuju kamarnya, diangkatnya Kaisa yang masih tertidur pulas dan dipeluknya erat-erat. &quot;Maafkan Ayah nak&quot;, isak Karsa. Karsa tak mampu lagi menyembunyikan air mata yang sedari tadi sudah memaksa untuk keluar dari lubang dimatanya. &quot;Papa di surga, maafkan anakmu yang tidak bisa menjaga cucumu&quot;, dan makin pecah batinnya. Tanpa sadar Ibu Kaisa sudah ada di depan pintu kamar. Dengan sebuah tas besar untuk membawa semua perlengkapan Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Hai, sudah siap?&quot;, tanya Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Sudah, Insya Allah sudah&quot;, jawab Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Sudah aku persiapkan juga semua perlengkapan Kaisa di tas&quot;, seru Karsa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Ya baiklah, berarti tinggal aku bawa ke mobil&quot;, sahut Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Sejenak waktu suasana menjadi hening, Karsa masih memeluk erat putrinya yang tertidur. Ibu Kaisa seperti tidak mengerti apa yang harus diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Semoga kekasihmu itu memberi ijin padaku untuk bisa menengok Kaisa setiap saat&quot;, Karsa mencoba membuka percakapan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Iya, kami sudah diskusikan itu kok jangan takut&quot;, jawab Ibu Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Ya sudah, ayoo ke depan&quot;, Karsa mencoba mempercepat proses hatinya yang semakin berat.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Tiba di depan mobil Ibu Kaisa, Karsa kembali memeluk erat Kaisa. &quot;Nak, Ayah sangat mencintaimu, karena itu pulalah Ayah perlu kamu ada dengan Ibumu. Kita akan berjumpa lagi secepatnya, semoga kamu memaafkan Ayah&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;**&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Setahun lebih beberapa hari, Karsa termenung memandangi laptop didepannya. Huruf-huruf yang menempel di layar tidak terlihat satu pun. Pandangannya masih teringat pada pertemuan terakhir dengan Kaisa kemarin siang. Kaisa masih takut setiap kali melihatnya, sirat matanya seperti tidak mau mengenal Karsa. Padahal pertemuan ini adalah pertemuan yang ke sepuluh kali dalam setahun ini, namun Kaisa tetap saja tidak mau disentuh sedikitpun olehnya. Mestinya anak akan kembali terbiasa setelah 24 jam bersama, namun tidak dengan Kaisa. Dia selalu menjerit bahkan berubah kasar setiap Karsa mencoba memegangnya. Semua rayuan untuk membuat Kaisa tersenyum juga tidak sedikitpun ada hasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Sekarang ini secara ekonomi, Karsa tak lagi kekurangan. Boleh dibilang sangat cukup karena usahanya sudah mulai berkembang kembali. Namun satu sisi ruang hatinya kosong, sangat kosong. Dia masih belum bisa mendapatkan kembali canda gurau putri mungilnya. Sorot mata Kaisa masih seperti menyimpan dendam. Karsa masih belum merasa lengkap karenanya. Semua usaha yang dilakukannya demi Kaisa dan untuk Kaisa. Bahkan dia mengesampingkan kehidupan pribadinya hanya karena berharap Kaisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&quot;Maafkan Ayah nak, semoga suatu hari kamu memahami dan mengerti akan semua ini&quot;, tulis Karsa di buku pribadinya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Depok, 2009&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Untuk Putri Tercinta.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/4757301761015232161/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/4757301761015232161' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4757301761015232161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/4757301761015232161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2010/01/maafkan-ayah-nak.html' title='Maafkan Ayah nak...'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6464259191298471672.post-3765407030924950427</id><published>2009-11-23T22:29:00.002+07:00</published><updated>2009-11-23T22:43:51.182+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Nak, Ayah merindukanmu...</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Merasakan dinginnya angin malam, Pak Pardi mengencangkan selimut yang selalu menjadi andalan kala malam tiba. Di teras kamar yang selebar gedung bioskop, asap rokok mengepul dari bibir samping mulutnya yang meruncing setiap kali menghembuskannya. Membentuk warna putih yang lama-lama terlihat seperti makhluk halus yang menghilang dengan sendirinya. Pardi mendesah dengan desahan yang aku rasa akan menakutkan ular yang suka mendesis. &quot;Sudah 5 tahun aku tak juga bisa bercengkerama dengan Liana&quot;, terdengar lirih nada kecewa dari ucap Pak Pardi.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Beberapa hari ini Pak Pardi sering memimpikan Liana dalam tidurnya. Putri kecilnya yang sekarang sudah menjelma menjadi seseorang yang sangat dihormati oleh kolega dan teman-temannya. Sebagai Fashion designer yang hebat dan kreatif. Masih terekam dipikirannya, bahwa Liana adalah putri mungilnya. Yang selalu menurut untuk diajak bercanda, tertawa terbahak akan leluconnya sendiri bahkan sampai tergelak bila melihat gerakan apa saja yang dianggapnya lucu. Setiap hari minggu, Pak Pardi, Liana dan Bu Pardi selalu merencanakan agenda kecil yang menyenangkan. Entah itu dengan bepergian ke pantai, bukit-bukit atau makan siang di taman kota. Tanpa terasa sungging senyum merekah dibibirnya. Teringat betapa merdeka dan menyenangkan sebuah keluarga kecil yang selalu dirundung bahagia meski tetap dengan riak-riak kecil terkadang mengelus-ngelus hubungan Pak Pardi dan istrinya. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Hingga suatu hari, Pak Pardi mendapat kehormatan untuk menjabat ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin benar kiranya, hubungan keluarga yang harmonis akan sangat mendukung kinerja tulung punggung mereka. Mereka pun merayakannya dengan makan malam di tempat termahal yang belum pernah dikunjungi. Liana menjadi putri semalam karena malam itu dia dimanjakan sepenuh hati oleh Ayahnya. Bersama istri, dia merencanakan masa depan Liana dengan sebaik mungkin dalam sebuah catatan kecil untuk di simpan kemudian dalam kamar tidur mereka bahkan kamar Liana.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Ketika Liana beranjak memasuki usia SD, Ayahnya memasukkannya ke dalam sekolah dasar yang sangat besar namanya, tentu dengan harga yang sangat mahal pula. Namun semua itu sudah bukan sebuah masalah bagi Pak Pardi muda. Penghasilan perbulannya sudah sangat mampu untuk itu. Meski Bu Pardi hanya sebagai ibu rumah tangga. Sebagai Ibu Rumah Tangga, Bu Pardi berusaha untuk bertugas dengan baik. Sebaik-baik seorang istri. Karena dalam pembagian tugas dia memegang peran sebagai pengawas langsung kehidupan Liana, tentu dia tak mau sedikitpun anaknya Liana menjadi tidak terkontrol. &quot;Karena aku sangat menyayangi Liana&quot;, begitu jawab Bu Pardi selalu atas kekhawatiran sang suami yang selalu sedikit memprotes bila istrinya berlebihan dalam menyikapi Liana.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Perlahan Liana menjadi anak yang cerdas, namun penurut bila sama ibunya. Ibunya akan selalu ada bila Liana membutuhkan, dan tidak begitu bila dengan ayahnya yang selalu mengajarkan kemandirian dan sedikit keras. Liana sering sekali duduk sendirian dan menanyakan &quot;Kemana Ayah bu??&quot;, bilamana sudah dalam seminggu tidak sekalipun menengok Liana meski masih dalam satu rumah. Kemudian Bu Pardi akan menyambungkannya kepada Sang Suami, &quot;Ayah kan selalu capek Bu, begitu banyak pekerjaan di kantor&quot;. Jawaban yang selalu sama, bagaikan panjangnya rambut yang akan selalu tumbuh meski sudah di potong pendek. Bu Pardi pun mencoba menenangkan Liana diesokan hari, dikala mereka siap-siap sarapan tanpa sang ayah yang sudah hilang di telan debu kota.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;*******&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Kini Pak Pardi teringat kembali masa-masa lalu yang Indah, sementara istrinya sudah terlelap dalam keheningan mimpi di alam tidur. Begitu sulitnya dia mendapatkan waktu dari Liana, hanya untuk sekedar bercengkerama meski itu 5 menit. Terakhir kali dia mencoba menghubungi Liana. &quot;Nak, Ayah merindukanmu&quot;, ucapnya membuka pembicaraan dengan  Liana yang ada di seberang. &quot;Ayah, Liana sedang sibuk sekali, lain waktu kita ketemu ya..&quot;, jawab Liana dari selularnya. Ayahnya terdiam dan merenung, apakah ini karena waktu dulu aku selalu menunda-nunda keinginannya untuk bermain bersama, bercanda bersama dan sekedar menemaninya melipat kertas?. &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Tanpa terasa, pagi sudah mulai sedikit menyingkirkan malam. Dan Liana belum juga pulang.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;Depok, 2009&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;pub-2133271935129009&quot;;
/* 468x60, created 9/28/08 */
google_ad_slot = &quot;5688670233&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://orkestradebu.blogspot.com/feeds/3765407030924950427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/6464259191298471672/3765407030924950427' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3765407030924950427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6464259191298471672/posts/default/3765407030924950427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orkestradebu.blogspot.com/2009/11/nak-ayah-merindukanmu.html' title='Nak, Ayah merindukanmu...'/><author><name>Cangkang</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07653563079408947791</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>