<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>PACUL DORAN</title><description>Papat Aja Ucul</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Admin)</managingEditor><pubDate>Fri, 18 Apr 2025 03:33:53 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://paculdoran.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>clean</itunes:explicit><copyright>Pacul Doran</copyright><itunes:summary>Papat Aja Ucul</itunes:summary><itunes:subtitle>Pacul Doran</itunes:subtitle><itunes:category text="Education"><itunes:category text="Higher Education"/></itunes:category><itunes:category text="Education"/><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="History"/></itunes:category><itunes:category text="Kids &amp; Family"/><itunes:author>Mustain</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>paculdoran@gmail.com</itunes:email><itunes:name>Mustain</itunes:name></itunes:owner><item><title>Risalah Islam Indonesia</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/10/risalah-islam-indonesia.html</link><category>Islam Nusantara</category><pubDate>Fri, 26 Oct 2012 01:04:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-3298624600190682459</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiE3VEa9iigAN4X3pkfFrOUFgBeK-2HPB2U9D9E5NU_FsNVowXqDBZlD1w3sy-ZJnisxIsnSMsgE2Eb6PoSycWdCpDucgF8a6tsij1ceeDmYs6-jPBJiSa-RD6xXWR7pX3JpSkKv8WbSO_-/s1600/Arab+Jawa1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiE3VEa9iigAN4X3pkfFrOUFgBeK-2HPB2U9D9E5NU_FsNVowXqDBZlD1w3sy-ZJnisxIsnSMsgE2Eb6PoSycWdCpDucgF8a6tsij1ceeDmYs6-jPBJiSa-RD6xXWR7pX3JpSkKv8WbSO_-/s1600/Arab+Jawa1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada beberapa teori yang hingga kini masih sering dibahas, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan intelektual Islam sendiri. Setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan kedatangan Islam ke Timur Jauh termasuk ke Nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Teori pertama&lt;/b&gt; diusung oleh Snouck Hurgronje yang mengatakan Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali dan Malabar disebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan teori tersebut didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan India.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck Hurgronje yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Teori kedua&lt;/b&gt;, adalah Teori Persia. Tanah Persia disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini berdasarkan kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Misalnya saja tentang peringatan 10 Muharam yang dijadikan sebagai hari peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Rasulullah. Selain itu, di beberapa tempat di Sumatera Barat ada pula tradisi Tabut, yang berarti keranda, juga untuk memperingati Hasan dan Husein. Ada pula pendukung lain dari teori ini yakni beberapa serapan bahasa yang diyakini datang dari Iran. Misalnya jabar dari zabar, jer dari ze-er dan beberapa yang lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori ini menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah pertama yang dijamah adalah Samudera Pasai.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua teori di atas mendatang kritikan yang cukup signifikan dari teori ketiga, yakni Teori Arabia. Dalam teori ini disebutkan, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13, melainkan pada awal abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai ekspidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan sumber-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkampungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal dan membentuk komunitas-komunitas Muslim.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-o-rang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab, pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan untuk Amirul Mukminin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biasanya, para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh, termasuk Indonesia. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal ini juga bisa dilacak dari catatan para peziarah Budha Cina yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 untuk pergi ke India. Bahkan pada era yang lebih belakangan, pengembara Arab yang masyhur, Ibnu Bathutah mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara. Tapi sayangnya, tak dijelaskan dalam catatan Ibnu Bathutah daerah-daerah mana saja yang pernah ia kunjungi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kian tahun, kian bertambah duta-duta dari Timur Tengah yang datang ke wilayah Nusantara. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu saja, tak hanya ke negeri Cina perjalanan dilakukan. Beberapa catatan menyebutkan duta-duta Muslim juga mengunjungi Zabaj atau Sribuza atau yang lebih kita kenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju ke Cina tanpa melawat terlebih dulu ke Sriwijaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebuah literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib al Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar al Ramhurmuzi pada tahun 1000 memberikan gambaran bahwa ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur Tengah terus berlanjut hingga di masa khalifah Umar bin Abdul Azis. Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,” demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya Sri Indravarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada tahun 100 hijriah atau 718 masehi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak dapat diketahui apakah selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara Sriwijaya Dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada awal abad ke-12, Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan. Kemunduran Sriwijaya ini pula yang berpengaruh pada perkembangan Islam di Nusantara. Kemerosotan ekonomi ini pula yang membuat Sriwijaya menaikkan upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Dan hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain Sabaj atau Sribuza atau juga Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera seperti Aceh dan Minangkabau menjadi lahan dakwah. Bahkan di Minangkabau ada tambo yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatera. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy dalam makalahnya pada Seminar Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh yang digelar pada tahun 1978. Menurut Ali Hasjmy, kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masih banyak perdebatan memang, tentang hal ini. Tapi apapun, pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan. Pada periode ini pula hubungan antara Aceh dan kilafah Islam di Arab kian erat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain pada pedagang, sebetulnya Islam juga didakwahkan oleh para ulama yang memang berniat datang dan mengajarkan ajaran tauhid. Tidak saja para ulama dan pedagang yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam dan datang langsung ke sumbernya, di Makkah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh, terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke-16. Bahkan pada tahun 974 hijriah atau 1566 masehi dilaporkan, ada lima kapal dari Kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ukhuwah yang erat antara Aceh dan kekhalifahan Islam itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Makkah. Puncak hubungan baik antara Aceh dan pemerintahan Islam terjadi pada masa Khalifah Utsmaniyah. Tidak saja dalam hubungan dagang dan keagamaan, tapi juga hubungan politik dan militer telah dibangun pada masa ini. Hubungan ini pula yang membuat angkatan perang Utsmani membantu mengusir Portugis dari pantai Pasai yang dikuasai sejak tahun 1521. Bahkan, pada tahun-tahun sebelumnya Portugis juga sempat digemparkan dengan kabar pemerintahan Utsmani yang akan mengirim angkatan perangnya untuk membebaskan Kerajaan Islam Malaka dari cengkeraman penjajah. Pemerintahan Utsmani juga pernah membantu mengusir Parangi (Portugis) dari perairan yang akan dilalui Muslim Aceh yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain di Pulau Sumatera, dakwah Islam juga dilakukan dalam waktu yang bersamaan di Pulau Jawa. Prof. Hamka dalam Sejarah Umat Islam mengungkapkan, pada tahun 674 sampai 675 masehi duta dari orang-orang Ta Shih (Arab) untuk Cina yang tak lain adalah sahabat Rasulullah sendiri Muawiyah bin Abu Sofyan, diam-diam meneruskan perjalanan hingga ke Pulau Jawa. Muawiyah yang juga pendiri Daulat Umayyah ini menyamar sebagai pedagang dan menyelidiki kondisi tanah Jawa kala itu. Ekspedisi ini mendatangi Kerajaan Kalingga dan melakukan pengamatan. Maka, bisa dibilang Islam merambah tanah Jawa pada abad awal perhitungan hijriah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika demikian, maka tak heran pula jika tanah Jawa menjadi kekuatan Islam yang cukup besar dengan Kerajaan Giri, Demak, Pajang, Mataram, bahkan hingga Banten dan Cirebon. Proses dakwah yang panjang, yang salah satunya dilakukan oleh Wali Songo atau Sembilan Wali adalah rangkaian kerja sejak kegiatan observasi yang pernah dilakukan oleh sahabat Muawiyah bin Abu Sofyan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peranan Wali Songo dalam perjalanan Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa sangatlah tidak bisa dipisahkan. Jika boleh disebut, merekalah yang menyiapkan pondasi-pondasi yang kuat dimana akan dibangun pemerintahan Islam yang berbentuk kerajaan. Kerajaan Islam di tanah Jawa yang paling terkenal memang adalah Kerajaan Demak. Namun, keberadaan Giri tak bisa dilepaskan dari sejarah kekuasaan Islam tanah Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum Demak berdiri, Raden Paku yang berjuluk Sunan Giri atau yang nama aslinya Maulana Ainul Yaqin, telah membangun wilayah tersendiri di daerah Giri, Gresik, Jawa Timur. Wilayah ini dibangun menjadi sebuah kerajaan agama dan juga pusat pengkaderan dakwah. Dari wilayah Giri ini pula dihasilkan pendakwah-pendakwah yang kelah dikirim ke Nusatenggara dan wilayah Timur Indonesia lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Giri berkembang dan menjadi pusat keagamaan di wilayah Jawa Timur. Bahkan, Buya Hamka menyebutkan, saking besarnya pengaruh kekuatan agama yang dihasilkan Giri, Majapahit yang kala itu menguasai Jawa tak punya kuasa untuk menghapus kekuatan Giri. Dalam perjalanannya, setelah melemahnya Majapahit, berdirilah Kerajaan Demak. Lalu bersambung dengan Pajang, kemudian jatuh ke Mataram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski kerajaan dan kekuatan baru Islam tumbuh, Giri tetap memainkan peranannya tersendiri. Sampai ketika Mataram dianggap sudah tak lagi menjalankan ajaran-ajaran Islam pada pemerintahan Sultan Agung, Giri pun mengambil sikap dan keputusan. Giri mendukung kekuatan Bupati Surabaya untuk melakukan pemberontakan pada Mataram.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski akhirnya kekuatan Islam melemah saat kedatangan dan mengguritanya kekuasaan penjajah Belanda, kerajaan dan tokoh-tokoh Islam tanah Jawa memberikan sumbangsih yang besar pada perjuangan. Ajaran Islam yang salah satunya mengupas makna dan semangat jihad telah menorehkan tinta emas dalam perjuangan Indonesia melawan penjajah. Tak hanya di Jawa dan Sumatera, tapi di seluruh wilayah Nusantara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Muslim Indonesia mengantongi sejarah yang panjang dan besar. Sejarah itu pula yang mengantar kita saat ini menjadi sebuah negeri Muslim terbesar di dunia. Sebuah sejarah gemilang yang pernah diukir para pendahulu, tak selayaknya tenggelam begitu saja. Kembalikan izzah Muslim Indonesia sebagai Muslim pejuang. Tegakkan kembali kebanggaan Muslim Indonesia sebagai Muslim bijak, dalam dan sabar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita adalah rangkaian mata rantai dari generasi-generasi tangguh dan tahan uji. Maka sekali lagi, tekanan dari luar, pengkhianatan dari dalam, dan kesepian dalam berjuang tak seharusnya membuat kita lemah. Karena kita adalah orang-orang dengan sejarah besar. Karena kita mempunyai tugas mengembalikan sejarah yang besar. Wallahu a’lam.n (Oleh Herry Nurdi/Sabili)&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiE3VEa9iigAN4X3pkfFrOUFgBeK-2HPB2U9D9E5NU_FsNVowXqDBZlD1w3sy-ZJnisxIsnSMsgE2Eb6PoSycWdCpDucgF8a6tsij1ceeDmYs6-jPBJiSa-RD6xXWR7pX3JpSkKv8WbSO_-/s72-c/Arab+Jawa1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Islam Masuk  ke Nusantara Saat Rasulullah SAW Masih Hidup</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/10/islam-masuk-ke-nusantara-saat.html</link><category>Islam Nusantara</category><pubDate>Fri, 26 Oct 2012 00:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-2099511909425638205</guid><description>Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhj9f_oSsiJ1ZEG6Dlv-ushfPI8Z67gd6isKX1yQi2S4uwelxEaG5arx9QHTaEXNTEbVZOHbnwrUYDYhSniwpQpGvr5WvYt_fqFIrpDfoBMtAFzkPDaMD8sqI0gTQqVJxnB-Q4Y0dIzZb4e/s1600/Peta+Nusantara.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhj9f_oSsiJ1ZEG6Dlv-ushfPI8Z67gd6isKX1yQi2S4uwelxEaG5arx9QHTaEXNTEbVZOHbnwrUYDYhSniwpQpGvr5WvYt_fqFIrpDfoBMtAFzkPDaMD8sqI0gTQqVJxnB-Q4Y0dIzZb4e/s320/Peta+Nusantara.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Peta Nusantara Zaman Dulu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tahukah Anda bahwa &lt;i&gt;Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip buku &lt;b&gt;Gerilya Salib di Serambi Makkah&lt;/b&gt; (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, &lt;i&gt;“Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…”&lt;/i&gt; Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Temuan G. R Tibbets&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ”&lt;/i&gt; tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Nusantara&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “&lt;b&gt;The Preaching of Islam&lt;/b&gt;” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Perjanjian Versailes&lt;/b&gt; (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan inilah yang membuat sejarawan &lt;b&gt;Ahmad Mansyur Suryanegara&lt;/b&gt; sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,”&lt;/i&gt; ujar Mansyur yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gujarat Sekadar Tempat Singgah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat/eramuslim).</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhj9f_oSsiJ1ZEG6Dlv-ushfPI8Z67gd6isKX1yQi2S4uwelxEaG5arx9QHTaEXNTEbVZOHbnwrUYDYhSniwpQpGvr5WvYt_fqFIrpDfoBMtAFzkPDaMD8sqI0gTQqVJxnB-Q4Y0dIzZb4e/s72-c/Peta+Nusantara.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Makanan Orang Sufi dengan dZikrullah</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/makanan-orang-sufi-dengan-dzikrullah.html</link><category>Pengajian</category><pubDate>Thu, 24 May 2012 15:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-309743817243633705</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkTvFbjxKKhQjv3BVOtIfG36utt2uIi6ni7lQHQHeBfsAOV8zTeRj1fs016LTopxG5SxtGcSHyhIiUprcE29gvvmM08PLhMP_hmR0e3rEBLso-IxGfNcUeWd8iPbfJ6dwvNPJPJ4XtMHxJ/s1600/sufi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkTvFbjxKKhQjv3BVOtIfG36utt2uIi6ni7lQHQHeBfsAOV8zTeRj1fs016LTopxG5SxtGcSHyhIiUprcE29gvvmM08PLhMP_hmR0e3rEBLso-IxGfNcUeWd8iPbfJ6dwvNPJPJ4XtMHxJ/s320/sufi.jpg" width="255" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peganglah dengan kuat ucapanmu, lahir dan batin, karena ada malaikat yang selalu mengawasi lahiriyahmu, sedangkan Allah Azza wa-Jalla yang mengawasi batinmu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai orang yang membangun istana dan apartemen, yang umurnya hilang dalam pembangunan dunia, yang tidak menegakkan bangunan dengan niat yang shaleh. Padahal membangun dunia itu fondasinya adalah niat yang saleh, bukan membangun dengan fondasi  nafsu dan kesenanganmu. Hanya orang bodoh yang membangun dengan nafsu dan kesenangan, watak dan tradisinya tanpa disertai aturan yang jelas dan keselarasan dengan ketentuan Allah azza wa-Jalla dan tindakanNya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ia membangun tidak disertai keserasian yang benar dan tidak dipersiapkan untuk apa ia membangunnya, lalu orang lain yang menempatinya. Kemudian di hari kiamat ia ditanya, “Untuk apa kamu membangun? Darimana uang kamu dapatkan? Untuk apa uang itu kamu salurkan? Semua dihisab. Karena itu carilah ridhoNya dan carilah keserasian dengan kehendakNya. Terimalah apa yang telah dibagikan padamu, dan jangan berburu yang bukan bagianmu. Nabi Saw, bersabda:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih pada hambaNya di dunia adalah perburuannya pada bagian yang bukan bagiannya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Datanglah kepadaku, dan apa yang ada padamu dengan baik sangka padaku, sungguh kalian akan bahagia dengan ucapanku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Celakalah, kamu mengakui sebagai muslim, sementara kamu menentang Allah azza wa-Jalaa, kontra pada hamba-hambaNya yang saleh. Kamu dusta dengan pengakuan itu. Islam itu bersumber dari kata Istislam, yang berarti menyerahkan diri pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada takdirNya, serta rela dengan tindakanNya disertai pijakan pada Kitab dan Sunnah RasulNya Saw. Jika anda bisa demikian, benarlah Islam anda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akibat negatif dari angan-angan panjangmu, membuatmu banyak terlibat maksiat kepada Allah azza wa-Jalaa, kontra padaNya. Sebaliknya bila anda membatasi angan-angan anda, kebaikan bakal tiba dengan sendirinya. Maka peganglah kebaikan itu bila anda ingin bahagia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa pun yang datang padanya, ia raih dengan tangannya, dan ia ridho, disertai keserasian syari’at, dan kerelaan padaNya, tidak kerena kerelaan nafsu atau watak diri, tidak pula karena kerelaan syetan, sungguh, maksudnya  Allah Azza wa-Jalla telah menentukan takdir pada mereka. Bukan berarti mereka tiada, dari berbagai segi mana pun, karena kita semua tidaklah ma’shum setelah usainya periode Kenabian –semoga sholawat salam pada mereka-. Jiwanya tenteram, hawa nafsunya dikalahkan, pengaruh wataknya padam, syetannya terpenjara. Apa yang ada di tangannya dariNya tidak pernah berputar, tidak pernah berserah atau mandeg pada sebab akibat, karena tauhid itu bukannya memandang bahaya dan manfaat datang dari seseorang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal dirimu itu semuanya nafsu, semuanya penuh selera kesenangan, semuanya berdasar kebiasaan diri, tak ada sedikitpun tawakal. Sedangkan bertauhid kepada Allah Swt, awalnya adalah kabar pahit, kemudian berubah manis, lalu remuk redam, kemudian keterpaksaan, selanjutnya mati, baru kehidupan yang abadi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hinakan dirimu, baru raih kemuliaan. Fakirlah, baru kaya raya. Awalnya tiada lalu ada bersamaNya, bukan bersama dirimu. Jika dirimu sabar, maka benarlah apa yang anda kehendaki berserah dengan Allah Azza wa-Jalla, jika tidak, maka anda tidak meraih yang benar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala hal yang membuat mu sibuk jauh dari Allah Azza wa-Jalla pasti tercela bagimu, walaupun anda telah melakukan sholat dan puasa, setelah anda melaksanakan hal-hal yang fardhu dan sunnah. Bila anda melaksanakan kewajiban  puasa, kemudian setelah itu anda lapar dan dahaga ketika melaksanakan puasa sunnah, namun hati anda tidak hadir di hadapan Allah Azza-wa-Jalla, tidak bisa muroqobah padaNya, tidak hidup bersamaNya, dekat padaNya, sungguh anda menjadi hamba yang terhijab, hambanya makhluk, dan hamba hawa nafsu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang arif biLlah itu senantiasa tegak di hadapanNya di bawah panji-panji taqarrub padaNya, melalui ilmu dan batinnya, pada saat yang sama ia menjalankan ketentuan dan takdirNya. Karena itu ia tak berdaya dalam peran, dirinya tanpa peran, ia bergerak tanpa gerak dari dirinya, ia diam tanpa diam dari dirinya, dan ia tergolong pada firmanNya Azza wa-Jalla:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika sifat tak berdaya muncul, mereka bergerak dengan kemampuan, sementara ketika tak berdaya mereka diam dan pasrah. Gerak itu ketika wujudmu ada, dan diam itu ketika wujudmu tiada. Gerak dalam aturan hukum dan diam dalam ilmu. Sesungguhnya diri anda baru benar jika anda keluar dari diri anda sendiri, keluar dari nafsu, kesenangan, karakter dan perilaku secara total. Janganlah anda bergelayut dengan makhluk yang sesungguhnya tidak memiliki bahaya dan manfaat bagimu, begitu pula rizkimu. Kecuali bergelayut kepada Allah azza wa-Jalla.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selamanya anda harus menjalankan perintah dan menghindari laranganNya. Tak ada yang tersisa di tanganmu, kecuali Allah azza wa-Jalla, sehingga anda menjadi manusia paling kaya dan pling mulia, seperti Adam as, segala sesuatu bersujud padanya. Ini semua tersembunyi dari umumnya akal makhluk, dan banyak diantaranya kaum khusus (khawash) yang merupakan nukleus dari Adam as dan tergolong meraih lubuk jiwanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hai orang yang  sangat sedikit memanfaatkan pengetahuan, lihatlah mereka ini semula konsentrasi belajar pada kaum Sufi, kemudian mereka hatinya uzlah dari makhluk, walau lahiriyahnya berinteraksi untuk membangun dan mendidik sesama, namun batinnya bersama Allah azza wa-Jalla, senantiasa berbakti dan bersamaNya. Mereka eksis di tengah makhluk secara syariat, tetapi batin mereka menghindar dari makhluk, bahkan menghindar dari segalanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara lahiriyah mereka sibuk dengan aturan hukum, ketika pakaian mereka kotor, mereka cuci, mereka perbaiki pakaian itu, mereka beri parfum wewangian. Ketika robek mereka jahit. Mereka inilah pemuka-pemuka makhluk, laksana gunung-gunung yang kokoh, sedangkan hatinya senantiasa bersama Allah Azza wa-Jalla, lunglai di hadapanNya, senantiasa muroqobah padaNya dan tenggelam dalam pengetahuanNya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah jadikanlah dzikir kepadaMu sebagai konsumsi kami, dan berikanlah rasa puas kami dengan mendekat kepadaMu. Amin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan hati anda, mati.kawan-kawan anda adalah oerang-orang yang hatinya mati. Seharusnya anda bergaul dengan orang yang hatinya hidup, para kekasihNya yang Nujaba’,  dan kaum abdal.  Anda adalah kuburan yang mendatangimkuburan. Mayat yang mendatangi mayat. Masa anda adalah zaman yang menmggiring anda seperti zaman anda. Orang buta yang menuntun orang buta seperti anda. Karena itu bergaullah dengan orang yang beriman, yang yaqin dan saleh. Bersabarlah dengan ucapan-ucapan mereka, terima dan amalkan, maka anda akan bahagia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terimalah ucapan-ucapan para Syeikh, amalkan dan hormati mereka jika anda ingin bahagia. Aku punya seorang Syeikh, apabila ada problema dalam diriku, dan ungkapan dalam hatiku, aku tidak ingin mengutarakan padanya, semata karena rasa hormatku padanya, dan adab yang baik yang harus kulakukan. Aku tak pernah berguru dengan seorang Syeikh, kecuali aku sangat hormat padanya dengan adab yang bagus.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang Sufi tidak pernah pelit, karena memang tidak ada yang tersisa pada dirinya, karena segalanya sudah ia tinggalkan. Jika ia diberi sesuatu, maka sesuatu itu diberikan lagi pada orang lain, bukan untuk dirinya. Hatinya sudah bersih dari materi yang ada dan fenomena gambaran yang ada. Orang pelit itu adalah orang yang menyimpan hartanya. Sedangkan para Sufi hartanya untuk orang lain. Bagaimana  ia akan pelit dengan harta milik orang lain? Sedangkan ia tidak membenci dan menyenangi harta itu, tidak pula berpaling pada harta tersebut, bahkan tidak butuh pujian, tidak peduli cacian, tidak memandang pemberian, pencegahan, bahaya dan manfaat,  dari selain Allah azza wa-Jalla.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka ini tidak gembira dengan kehidupan, juga tidak gelisah dengan kematian. Yang dinilai sebagai kematian manakala ia mendapatkan amarah Tuhannya, dan yang disebut kehidupan adalah ridhoNya itu sendiri. Kecemasannya ketika dalam kesibukan ramai, dan kebahagaiannya ketika dalam kesendirian. Konsumsi makannya adalah dzikir kepada Tuhannya Azza wa-Jalla, dan minumannya bersumber dari kemesraan denganNya. Bagaimana mereka disebut pelit dengan benteng dunia dan seisinya, sedangkan mereka tidak butuh semua itu?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ya Tuhan kami, berikanlah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan (pula), dan lindungi kami dari ‘azab neraka.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href="http://www.sufinews.com/index.php/Pengajian/makanan-sufi-adalah-dzikrullah.sufi"&gt;Sufinews.com&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkTvFbjxKKhQjv3BVOtIfG36utt2uIi6ni7lQHQHeBfsAOV8zTeRj1fs016LTopxG5SxtGcSHyhIiUprcE29gvvmM08PLhMP_hmR0e3rEBLso-IxGfNcUeWd8iPbfJ6dwvNPJPJ4XtMHxJ/s72-c/sufi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengetahui Nafsu Nyata Nafsu Tersembunyi</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/mengetahui-nafsu-nyata-nafsu.html</link><category>Al Hikam</category><pubDate>Tue, 22 May 2012 13:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-2627173850863836386</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinyMAHQN8tyNYPiyG1dPVkwsfUHwQFb-Tz_POVLTJKWc-6DmQCIjY8f3FAl1pQywJNErxPGwHsKnNMbYk4EDHL6-28zYzNmKX1BLe7ntgc9Mfb9MnbyJIJ-UNT8MPxie-AgqMXII8GHb5Z/s1600/morning_sunlig.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="181" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinyMAHQN8tyNYPiyG1dPVkwsfUHwQFb-Tz_POVLTJKWc-6DmQCIjY8f3FAl1pQywJNErxPGwHsKnNMbYk4EDHL6-28zYzNmKX1BLe7ntgc9Mfb9MnbyJIJ-UNT8MPxie-AgqMXII8GHb5Z/s200/morning_sunlig.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengobati yang tersembunyi itu sangat sulit terapinya.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan tindak maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap di balik aktivitas taat, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi. Alur nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Takut pada sesama makhluk, &lt;br /&gt;
Ambisi rizki,&lt;br /&gt;
Rela pada kemauan nafsu itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan perselingkuhan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul rekayasa untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan aktivitas kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut berperan? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian  dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki matahatilah yang mengenal karakter itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik aktivitas ibadah dan gerakan massa keagamaan, bahkan nafsu merangsek ornamen penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih tersisa di hatimu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra,  menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas, adalah Allah jika anda diampuni (lalu meninggalkan) kedua faktor di atas.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika seseorang berlaku riya’, dalam kondisi khalwat, secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiat, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena, menurut Syeikh Zarruq, ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya. Karena orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dijabdi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang pamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal  kondisi ruhaninya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan keterkenalan (popularitas).”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan menghapus riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selain DiriNya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sumber : Sufinews.com</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEinyMAHQN8tyNYPiyG1dPVkwsfUHwQFb-Tz_POVLTJKWc-6DmQCIjY8f3FAl1pQywJNErxPGwHsKnNMbYk4EDHL6-28zYzNmKX1BLe7ntgc9Mfb9MnbyJIJ-UNT8MPxie-AgqMXII8GHb5Z/s72-c/morning_sunlig.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Tenangkan Hatimu...</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/tenangkan-hatimu.html</link><category>Jangan Bersedih</category><pubDate>Sun, 20 May 2012 13:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-2790759745819365728</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6XKIV5h5Wln5xdSumGFUa0DSug37iugGCtgV11ZojJU7hB5mVrTWzjpdcwXt_aLGC32suDKj1gVv_iEZTVMIVvo_SNTkdkc5UNtWdUAuEmgpog3t76MDwN8ESfn8tg_IB84JaA_6JgVhy/s1600/air-yang-tenang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="156" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6XKIV5h5Wln5xdSumGFUa0DSug37iugGCtgV11ZojJU7hB5mVrTWzjpdcwXt_aLGC32suDKj1gVv_iEZTVMIVvo_SNTkdkc5UNtWdUAuEmgpog3t76MDwN8ESfn8tg_IB84JaA_6JgVhy/s200/air-yang-tenang.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Roda kehidupan terus menggelinding. Banyak cerita dan episode yang dilewati pada setiap putarannya. Ada sedih, ada senang. Ada derita, ada bahagia. Ada suka, ada duka. Ada kesempitan, ada keluasan. Ada kesulitan, dan ada kemudahan. Tidak ada manusia yang tidak melewatinya. Hanya kadarnya saja yang mungkin tidak selalu sama. Maka, situasi apapun yang tengah engkau jalani saat ini, tenangkanlah hatimu ..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu ..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran …&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudaraku, ketenangan sangat kita butuhkan dalam menghadapi segala situasi dalam hidup ini. Terutama dalam situasi sulit dan ditimpa musibah. Jika hati dalam kondisi tenang, maka buahnya lisan dan anggota badan pun akan tenang. Tindakan akan tetap pada jalur yang dibenarkan dan jauh dari sikap membahayakan. Kata-kata akan tetap hikmah dan tidak keluar dari kesantunan, sesulit dan separah apa pun situasi yang sedang kita hadapi. Dan dengan itu lah kemudian –insya Allah- kita akan meraih keuntungan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ketenangan Milik Orang yang Beriman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketenangan adalah karunia Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman. Tentang hal ini Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Abdurrahman As-Si’dy rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan tentang karunia-Nya atas orang-orang yang beriman dengan diturunkan kepada hati mereka sakinah. Ia adalah ketenangan dan keteguhan dalam kondisi terhimpit cobaan dan kesulitan yang menggoyahkan  hati, mengganggu pikiran dan melemahkan jiwa. Maka diantara nikmat Allah atas orang-orang yang beriman dalam situasi ini adalah, Allah meneguhkan dan menguatkan hati mereka, agar mereka senantiasa dapat menghadapi kondisi ini dengan jiwa yang tenang dan hati yang teguh, sehingga mereka tetap mampu menunaikan perintah Allah dalam kondisi sulit seperti ini pun. Maka bertambahlah keimanan mereka, semakin sempurnalah keteguhan mereka.” (Taisir al Karim: 791)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Senjata Orang Beriman&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jiwa yang tenang dan hati yang teguh adalah senjata orang-orang shaleh dari sejak dahulu dalam menghadapi kondisi sulit yang mereka temui dalam kehidupan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ashabul Kahfi adalah diantaranya. Saat mereka mengumandangkan kebenaran tauhid dan orang-orang pun berusaha untuk menyakiti mereka, sehingga mereka terusir dari tempat mereka dengan meninggalkan keluarga dan kenyamanan hidup yang sedang mereka nikmati, serta tinggal di gua tanpa makanan dan minuman, ketenangan dan keteguhanlah yang membuat mereka mampu bertahan. Allah berfirman tentang mereka,&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (QS. Al Kahfi [18]: 14)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingat kisah perjalanan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya yang mulia Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika mereka berdua masuk ke dalam gua, berlindung dari kejaran orang-orang musyrik yang saat itu tengah dalam kemarahan yang memuncak dan dengan pedang-pedang yang terhunus, hingga Abu Bakar berkata, “Jika salah satu mereka menundukkan pandangannya ke arah kedua sandalnya, niscaya ia akan melihat kita.” Dalam kondisi genting itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh ketenangan berkata, &lt;i&gt;“Bagaimana menurutmu tentang dua orang, yang Allah ketiganya.” (Lihat Shahîh al Bukhâri no: 3653, Shahîh Muslim no: 2381)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya.” (QS. Al Taubah [9]: 40)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah lain yang sangat menakjubkan adalah kisah pada hari perang badar. Musuh dalam kondisi sangat kuat dan digdaya, dengan persenjataan yang cukup lengkap di depan mata, menghadapi tentara Allah yang sedikit, persenjataan kurang dan tanpa persiapan untuk berperang. Akan tetapi ketenangan bersemayam dalam hati-hati mereka. Maka Allah memenangkan mereka dengan kemenangan yang jelas.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, “Oleh karena itu, Allah mengabarkan tentang turunnya ketenangan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang beriman dalam situasi-situasi sulit.” (Madâriju al Sâlikîn: 4/392 cet. Dâr al Thîbah)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;Meraih Ketenangan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika demikian penting ketenangan dalam hidup kita, karena kesuksesan juga sangat bergantung kepadanya, maka bagaimanakah cara untuk meraih ketenangan itu? Sebagian orang mencari ketenangan dengan perbuatan sia-sia, sebagian mereka bahkan mencari ketenangan di tempat-tempat kemaksiatan. Semua itu keliru dan fatal akibatnya. Alih-alih ketenangan, semua itu justru akan semakin membuat hati diliputi kesedihan. Jika pun ketenangan didapatkannya, namun ia adalah ketenangan yang palsu dan sesaat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syaikh Dr. Sa’ad bin Nashir al Syatsry –semoga Allah menjaganya- dalam kitabnya “Hayâtu al Qulûb” menyebutkan arahan-arahan yang terdapat dalam al Qur`an dan sunnah untuk meraih ketenangan tersebut:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Berkumpul dalam rangka mencari ilmu.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;« مَا اجتمعَ قَوم في بيت من بُيُوتِ الله تباركَ وتعالى يَتْلُونَ كتابَ الله عزَّ وجلَّ ، ويَتَدَارَسُونَهُ بينهم ، إِلا نزلت عليهم السكينةُ ، وَغَشِيَتْهم الرحمةُ ، وحَفَّتْهم الملائكة ، وذكرهم الله فيمن عنده »&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Tidaklah suatu kaum berkumpul sebuah rumah Allah tabaraka wa ta’ala, mereka membaca Kitabullah azza wa jalla, mempelajarinya sesama mereka, melainkan akan turun kepada mereka sakinah, rahmat akan meliputi mereka, para malaikan akan mengelilingi mereka dan Allah senantiasa menyebut-nyebut mereka dihadapan malaikan yang berada di sisi-Nya.” (HR Muslim no. 2699)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: blue;"&gt;&lt;b&gt;Berdoa.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah mengulang-ulang kalimat doa berikut dalam perang ahzab:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;فَأَنْزِلَنَّ سَكِيْنَةً عَلَيْنَا   وَثَبِّتِ الأَقْدَامِ إِنْ لَاقِينَا&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Maka turunkanlah ketenangan kepada kami Serta teguhkan lah kaki-kaki kami saat kami bertemu (musuh)”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Allah memberikan mereka kemenangan dan meneguhkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membaca al Qur`an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;« تِلْكَ السَّكِينَةُ تَنَزَّلَتْ بِالْقُرْآنِ »&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ia adalah ketenangan yang turun karena al Qur`an.” (HR Bukhari: 4839, Muslim: 795)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memperbanyak dzikrullah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersikap wara’ (hati-hati) dari perkara syubhat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;الْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَالإِثْمُ مَا لَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Kebaikan itu adalah yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tentram kepadanya. Sementara dosa adalah yang jiwa meresa tidak tenang dan hati merasa tidak tentram kepadanya, walaupun orang-orang mememberimu fatwa (mejadikan untukmu keringanan).” (HR Ahmad no. 17894, dishahihkan al Albani dalam Shahîh al Jâmi no: 2881)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jujur dalam berkata dan berbuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Sesungguhnya jujur itu ketenangan dan dusta itu keragu-raguan.” (HR Tirmidzi no: 2518)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu pun semua ketaatan kepada Allah dan sikap senantiasa bersegera kepada amal shaleh adalah diantara faktor yang akan mendatangkan ketenangan kepada hati seorang mukmin. Jika kita selalu mendengar dan berusaha untuk mentaati Allah dan rasul-Nya, maka hati kita akan kian tenang dan teguh. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“…Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. An Nisâ [4]: 68)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saudaraku, jika kita dapat mempertahankan ketenangan hati sehingga senantiasa teguh berada dalam jalan Allah, apa pun yang terjadi kepada kita, maka bergembiralah, karena kelak saat kita meninggalkan dunia yang fana ini, akan ada yang berseru kepada kita dengan seruan ini:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr [89]: 27-30) (Lihat Hayâtu al Qulûb: 90-91)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallâhu ‘alam, wa shallallâhu ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;[Meteri ilmiah dalam tulisan ini banyak diispirasi oleh Kitab Madâruju al Sâlikîn karya Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, cet. Dâr al Thîbah dan Kitab Hayâtu al Qulûb cet. Dâr Kunûz Isybîliyâ karya Syaikhunâ Dr. Sa’ad bin Nâshir al Syatsry hafidzahullâh]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Riyadh, 27 Jumada Tsani 1433 H&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: &lt;i&gt;Ustadz Abu Khalid Resa Gunarsa, Lc (Alumni Universitas Al Azhar Mesir dan da’i di Maktab Jaliyat Bathah Riyadh KSA)&lt;/i&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6XKIV5h5Wln5xdSumGFUa0DSug37iugGCtgV11ZojJU7hB5mVrTWzjpdcwXt_aLGC32suDKj1gVv_iEZTVMIVvo_SNTkdkc5UNtWdUAuEmgpog3t76MDwN8ESfn8tg_IB84JaA_6JgVhy/s72-c/air-yang-tenang.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Dimanakah letak ketenangan hati itu?</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/dimanakah-letak-ketenangan-hati-itu.html</link><category>Jangan Bersedih</category><pubDate>Sun, 6 May 2012 12:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-4123366735187540958</guid><description>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi47g_ZCEI3iM_iwPRUaUsYtR86j2RJE5NCtv6OS-fk1vA2eHqajMWU1EcFsjxmRO80tcLJucWP4hOlu2G-uNZUYz2aB6bRqGoyQo9OgBfYueXLCocpoQrRnjP2eXLvdAW_cUBwOEgmnNia/s1600/Diam.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi47g_ZCEI3iM_iwPRUaUsYtR86j2RJE5NCtv6OS-fk1vA2eHqajMWU1EcFsjxmRO80tcLJucWP4hOlu2G-uNZUYz2aB6bRqGoyQo9OgBfYueXLCocpoQrRnjP2eXLvdAW_cUBwOEgmnNia/s200/Diam.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Merenung&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dimanakah letak ketenangan hati itu ?&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Letak ketenangan hati adalah di hati setiap manusia itu sendiri,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hati dipengaruhi oleh pikiran, maka kalau pikiran manusia tidak tenang, hati jadi gundah gulana&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pikiran akan tenang apabila kita pasrah kepada ALLAH atas segala sesuatu yang terjadi pada kita, dan optimis       mengharap keridho an Allah atas apa yang telah kita perbuat&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kita sendiri yang mengolah pikiran, dan akan bermuara pada ketenangan hati.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;letak ketengan batin itu mengingat Allah dengan melakukan dzikir ( diucapkan tapi tidak bersuara ) karena Allah menginginkan langsung dari hambaNya&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Firman Allah dalam surah Ar-Ra’d ayat 28   ألا بذكر الله تطمعن القلوب yang artinya: Ketahuilah, dengan berdzikir kepada Allah jiwa (hati) menjadi tenang, damai (tenteram).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ketenangan itu ada di jiwa kita sendiri&lt;br /&gt;
Jiwa yang rapuh mencerminkan hati yg tidak tenang&lt;br /&gt;
Kurangnya iman akan membuat jiwa kita rapuh dan kurang percaya diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketenangan jiwa adalah suatu anugerah Allah swt yang sangat berharga. Banyak manusia yang merindukanya, namun sedikit sekali yang dapat memperolehnya. Hal ini disebabkan banyak manusia lupa pada penciptanya, lupa pada Dzat yang memberi kebahagiaan. Ketenangan jiwa adalah suatu anugerah Allah swt yang sangat berharga. Dalam mencari kebahagiaan manusiapun beragam dalam prosesnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka yg terlalu bernafsu. Namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yg mereka cari.Kita mungkin dapt mencarinya dengan menerjang kesana kemari, menabrak sana sini, atau mungkin menerobos sana sini untk mendapatkanya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, keseluruh penjuru arah. Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang kita dapat kita santap setelah mendapatkanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebahagiaan tidak bisa di dapat dg cara seperti itu. Bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di genggam atau benda yg dapat disimpan. Bahagia layaknya udara dan kebahagiaan adalah aroma dari udara tsb. Bahagia itu ada di dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pergi pula kebahagiaan itu dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya, semakin jauh pula itu dari jangkauan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cobalah temukan kebahagiaan itu didalam hati. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu di setiap langkah yg kita lakukan. Dalam bekerja, dlam belajar, dan dalam menjalani hidup. Dalam sedih maupun gmbira. Temukanlah bahagia itu perlahan, dengan tenang, dan dengan ketulusan hati.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai orang beriman, seseorang harus senantiasa meng-agungkan Allah Azza wa jalla, takut dan berharap hanya kepada Nya semata, dan merasa malu bila mengabaikanNya. Seorang mukmin tidak boleh kendor dari tingkatan iman yang telah dicapainya, meski intensitas keimanan seseorang amat ditentukan oleh tingkat kekuatan iman yang dimiliki. Terabaikannya hal-hal tersebut dalam sholat, dapat disebabkan oleh kekacauan pikiran, perhatian yang terpecah, hilangnya jiwa dalam munajat, dan lalai dalam sholat. Oleh karena itu aktivitas mental yang acak yang akan mengganggu sholat sedapat mungkin harus diatasi, sehingga ketenangan hati selalu terjaga dalam setiap sholat. Untuk menghilangkan gejala tersebut, kita harus mencari penyebabnya, karenanya marilah kita cari di mana letak penyebabnya. Pikiran sesat memang dapat disebabkan oleh hal-hal yang bersifat lahiriah, ataupun hal-hal yang bersifat batiniah. Sebab-sebab batiniah (internal) merupakan suatu persoalan yang lebih serius dan untuk mengatasinya memang lebih sulit. Barangsiapa pikirannya bercabang-cabang pada persoalan duniawiah, niscaya akan melayang-layang ke mana-mana. Menutup mata sekalipun tidak akan membantu memecahkan persoalan, karena sumber gangguan sudah ada di dalam diri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka cara untuk mengatasi gangguan tersebut adalah dengan memahami makna bacaan sholat, kemudian berusaha memusatkan perhatian pada makna tersebut, seraya mengusir pikiran lain. Akan sangat bermanfaat apabila sebelum takbiratul ihram melakukan beberapa persiapan, yaitu dengan memperbarui ingatan akan kemungkinan datangnya hari akhirat, dengan menyadari bahwa dirinya akan mermunajat kepada Allah Azza wa jalla, Dzat Yang Maha Perkasa. Tak kalah pentingnya, apabila sebelum takbiratul ihram kita mengosongkan hati dan pikiran dari segala sesuatu yang mengganggu, serta membebaskan diri daripadanya.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi47g_ZCEI3iM_iwPRUaUsYtR86j2RJE5NCtv6OS-fk1vA2eHqajMWU1EcFsjxmRO80tcLJucWP4hOlu2G-uNZUYz2aB6bRqGoyQo9OgBfYueXLCocpoQrRnjP2eXLvdAW_cUBwOEgmnNia/s72-c/Diam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Menurut Ibnu al-Qoyyim Dzikir Memiliki 73 Manfaat</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/menurut-ibnu-al-qoyyim-dzikir-memiliki.html</link><category>Dzikir</category><pubDate>Wed, 2 May 2012 03:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-2136829924357092868</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1OOASeyXdl_qK7FcUItOOGJT7OSAYf6CK-VFzrE2VfZaqTqbiTtTlSGkoXE7JqQT0wtmjJTpLLDTxH9S6aGggOSb3Tk3s84mKMfiO66NGrE7wHiLGZpMalzrNjKWpwHhgZoT_2wcvoLCd/s1600/tasbih.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="149" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1OOASeyXdl_qK7FcUItOOGJT7OSAYf6CK-VFzrE2VfZaqTqbiTtTlSGkoXE7JqQT0wtmjJTpLLDTxH9S6aGggOSb3Tk3s84mKMfiO66NGrE7wHiLGZpMalzrNjKWpwHhgZoT_2wcvoLCd/s200/tasbih.jpeg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&amp;nbsp;Dzikir atau mengucapkan kata-kata pujian yang mengingat kebesaran Allah SWT, adalah amalan istimewa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dzikir merupakan media yang membuat kehidupan Nabi dan para sahabat benar-benar hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Ibnu al-Qoyyim Rahimahullah mengatakan bahwa dzikir memiliki tujuh puluh tiga manfaat yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Mengusir setan dan menjadikannya kecewa. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membuat Allah ridah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghilangkan rasa sedih,dan gelisah dari hati manusia. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membahagiakan dan melapangkan hati. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menguatkan hati dan badan. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menyinari wajah dan hati. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membuka lahan rezeki. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghiasi orang yang berdzikir dengan pakaian kewibawaan, disenangi dan dicintai manusia. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melahirkan kecintaan. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengangkat manusia ke maqam ihsan. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melahirkan inabah, ingin kembali kepada Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang berdzikir dekat dengan Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembuka semua pintu ilmu. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membantu seseorang merasakan kebesaran Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjadikan seorang hamba disebut disisi Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghidupkan hati. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjadi makanan hati dan ruh. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membersihkan hati dari kotoran. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membersihkan dosa. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membuat jiwa dekat dengan Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menolong hamba saat kesepian. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Suara orang yang berdzikir dikenal di langit tertinggi. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penyelamat dari azab Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghadirkan ketenangan. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjaga lidah dari perkataan yang dilarang. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Majlis dzikir adalah majlis malaikat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendapatkan berkah Allah dimana saja. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak akan merugi dan menyesal di hari kiamat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berada dibawah naungan Allah dihari kiamat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendapat pemberian yang paling berharga. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah ibadah yang paling afdhal. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah bunga dan pohon surga. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendapat kebaikan dan anugerah yang tak terhingga. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak akan lalai terhadap diri dan Allah pun tidak melalaikannya. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam dzikir tersimpan kenikmatan surga dunia. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendahului seorang hamba dalam segala situasi dan kondisi. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah cahaya di dunia dan ahirat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir sebagai pintu menuju Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir merupakan sumber kekuatan qalbu dan kemuliaan jiwa. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir merupakan penyatu hati orang beriman dan pemecah hati musuh Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendekatkan kepada ahirat dan menjauhkan dari dunia. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjadikan hati selalu terjaga. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah pohon ma’rifat dan pola hidup orang shalih. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pahala berdzikir sama dengan berinfak dan berjihad dijalan Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah pangkal kesyukuran. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendekatkan jiwa seorang hamba kepada Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melembutkan hati. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjadi obat hati. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir sebagai modal dasar untuk mencintai Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendatangkan nikmat dan menolak bala. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Allah dan Malaikatnya mengucapkan shalawat kepada pedzikir. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Majlis dzikir adalah taman surga. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Allah membanggakan para pedzikir kepada para malaikat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Orang yang berdzikir masuk surga dalam keadaan tersenyum. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir adalah tujuan prioritas dari kewajiban beribadah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Semua kebaikan ada dalam dzikir. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melanggengkan dzikir dapat mengganti ibadah tathawwu’. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir menolong untuk berbuat amal ketaatan. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghilangkan rasa berat dan mempermudah yang susah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghilangkan rasa takut dan menimbulkan ketenangan jiwa. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memberikan kekuatan jasad. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menolak kefakiran. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pedzikir merupakan orang yang pertama bertemu dengan Allah. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pedzikir tidak akan dibangkitkan bersama para pendusta. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dengan dzikir rumah-rumah surga dibangun, dan kebun-kebun surga ditanami tumbuhan dzikir. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penghalang antara hamba dan jahannam. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Malaikat memintakan ampun bagi orang yang berdzikir. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pegunungan dan hamparan bumi bergembira dengan adanya orang yang berdzikir. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membersihkan sifat munafik. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memberikan kenikmatan tak tertandingi. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wajah pedzikir paling cerah didunia dan bersinar di ahirat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dzikir menambah saksi bagi seorang hamba di ahirat. 
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memalingkan seseorang dari membincangkan kebathilan. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Sungguh luar biasa manfaatnya…. tetapi orang tidak akan yakin dengan manfaat-manfaat diatas kecuali yang telah merasakan dan menikmatinya...
Mari kita coba memulainya dari sekarang</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1OOASeyXdl_qK7FcUItOOGJT7OSAYf6CK-VFzrE2VfZaqTqbiTtTlSGkoXE7JqQT0wtmjJTpLLDTxH9S6aGggOSb3Tk3s84mKMfiO66NGrE7wHiLGZpMalzrNjKWpwHhgZoT_2wcvoLCd/s72-c/tasbih.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Dzikir Nafas (Nafsi)</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/mengenal-dzikir-nafas-nafsi.html</link><category>Dzikir</category><pubDate>Tue, 1 May 2012 01:50:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-7018891656799475350</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh94wULlzNDqWFHYX5bRnVS4KGpMXq6KbiOsmceLt7uZfhP0r8ZEXs0DybSV1e_acruJm2kVCG5to15tYglMfBmwqMk8iP7VUgSewbimCiiVnCSoDlHEQnjCQPORuKL_6qEebDbLzm_IM7H/s1600/Dzikir3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="154" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh94wULlzNDqWFHYX5bRnVS4KGpMXq6KbiOsmceLt7uZfhP0r8ZEXs0DybSV1e_acruJm2kVCG5to15tYglMfBmwqMk8iP7VUgSewbimCiiVnCSoDlHEQnjCQPORuKL_6qEebDbLzm_IM7H/s200/Dzikir3.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dzikir Nafas Maksudnya adalah Dzikir yang beriringan dengan irama nafas, melaksanan dzikir ketika menghirup dan menghembuskan nafas tanpa melambatkan atau mempercepat irama nafas, sebab jika melambatkan atau mempercepat irama nafas maka akibatnya sangat berbahaya bagi tubuh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam melaksanakan Dzikir Nafas haruslah didampingi oleh seorang Pembimbing, karena jika ada kesalahan sedikit saja dapat langsung di konsultasikan agar tidak menjadi fatal, lebih bagusnya secara tatap muka. Banyak sekali orang yang tergelincir pada tahap ini gara-gara ia terlalu yakin akan kemampuan dirinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bacaan yang didzikirkan sangatlah beragam tergantung dari tingkatan Salik yang bersangkutan. Jika belum tahu tentang bacaannya cobalah bertanya kepada Guru/ Pembimbing/Mursyid atau apalah Anda memanggilnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahap awal,  dalam melaksanakan Dzikir Nafas, sebaiknya dalam kondisi tubuh yang tenang, misalnya duduk, atau tiduran, supaya konsentrasi Anda tidak terganggu. Setelah terbiasa melaksanakannya, silakan saja berdzikir sambil beraktifitas melakukan kegiatan lain. misalnya berkendara atau bekerja.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Kita menghirup Udara bersamaan dengan itu kita berdzikir kepada Allah, Oksigen yang kita hirup diserap oleh paru-paru dan diikat oleh sel darah merah untuk dibawa ke jantung dari jantung di alirkan ke seluruh tubuh, maka darah dan seluruh anggota tubuhpun ikut berdzikir kepada Allah Ta a’ala&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika  menanyakan berapa  pahala yang diperoleh ? sebagai perbandingan adalah biasanya yang  berdzikir secara lisan adalah satu anggota tubuh,  sedangkan ini adalah seluruh Anggota  tubuh ikut berdzikir kepada Allah, silakan hitung...&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh94wULlzNDqWFHYX5bRnVS4KGpMXq6KbiOsmceLt7uZfhP0r8ZEXs0DybSV1e_acruJm2kVCG5to15tYglMfBmwqMk8iP7VUgSewbimCiiVnCSoDlHEQnjCQPORuKL_6qEebDbLzm_IM7H/s72-c/Dzikir3.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Dzikir Lisan</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/mengenal-dzikir-lisan.html</link><category>Dzikir</category><pubDate>Tue, 1 May 2012 00:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-2771066051341731430</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-OWKqRyhx3pW0Yb8PleIaxCJRQ58Z4Ih8pKSuPhdKrLQ9YrRcgrJpaQ7LCtS9iYx3lINqvMOf2SdwKg3VwK7Sngo6OCsK_mDGzOq2yQfyc7Lpf7pXj7o6yrhPvojfRila4eLv8L92fLe/s1600/Dzikir2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="220" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-OWKqRyhx3pW0Yb8PleIaxCJRQ58Z4Ih8pKSuPhdKrLQ9YrRcgrJpaQ7LCtS9iYx3lINqvMOf2SdwKg3VwK7Sngo6OCsK_mDGzOq2yQfyc7Lpf7pXj7o6yrhPvojfRila4eLv8L92fLe/s320/Dzikir2.jpg" width="130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Puncak dzikir adalah ketika kita telah mampu menanggalkan atribut-atribut artificial yang kita sandang. Yakni kita benar-benar telah bebas dari keinginan-keinginan pribadi. Semua tindakan kita didasarkan pada prinsip lillahi ta'ala (hanya karena Allah ). Pada stadium inilah keikhlasan dan ihsan itu berada. Pada saat itu kita akan menemukan kesadaran akan nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaannya. Seperti memiliki kelembutan hati, kehalusan budi pekerti (akhlak), keadilan, keberanian, kasih sayang, kejujuran, amanah, kedermawanan, keikhlasan, dan keta'atan untuk mencapai ridho Allah SWT. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian hidup ini akan senantiasa sibuk memperbaiki diri dan dibarengi dengan amal shaleh. Itulah derajat taqwa yang ingin kita raih bersama. Sebagai seorang muslim, kita selalu dituntut untuk berdzikir atau untuk selalu mengingat Allah SWT dalam kondisi apapun. Baik dalam keadaan berdiri maupun duduk maupun berbaring, baik dalam keadaan senang maupun susah. Karena dengan mengingat Allah SWT hati kita akan menjadi tenang. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi: &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPuX0OYqitf6hPw4nJZ8V25SaF-x9JP0g49DkLGYaSk3SkcMcGIc48m2elaiE2xwcxB6PWdtPpB_54DnO7SJbEqjcJv7jeYh-1PHIm80CLcw31Oc1brDUV1uMp6e5aCD-lNOMscMxoxh2R/s1600/Ar+Raad+28.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="56" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjPuX0OYqitf6hPw4nJZ8V25SaF-x9JP0g49DkLGYaSk3SkcMcGIc48m2elaiE2xwcxB6PWdtPpB_54DnO7SJbEqjcJv7jeYh-1PHIm80CLcw31Oc1brDUV1uMp6e5aCD-lNOMscMxoxh2R/s320/Ar+Raad+28.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Yang artinya: &lt;i&gt;(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah SWT. Ingatlah! Hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram. (QS. Ar-Ra'ad: 28)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam ayat ini seakan-akan Allah SWT mengatakan kepada kita: ketahuilah! Hanya dengan berdzikir kepada Allah , maka pasti hatimu akan tenang. Karena yang mengatakan ini adalah Allah SWT, berarti ini aksioma langit (ketentuan mutlak) yang tidak dapat ditawarkan lagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: Artinya: perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al-Asyâ€™ari).&lt;/div&gt;Demikian pentingnya kita untuk selalu mengingat Allah SWT, sampai-sampai Allah SWT mengumpamakan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dzikir Lisan&lt;/b&gt; adalah buah dari dzikir hati dan akal. Setelah melakukan dzikir hati dan akal, barulah lisan berfungsi untuk senantiasa berdzikir, selanjutnya lisan berdo'a dan berkata-kata dengan benar, jujur, baik dan bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang merasa hatinya hadir di hadapan Allah SWT dan sadar bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan-Nya disebut muraqabah. Dengan muraqabah akan mendorong seorang muslim untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Dengan melakukan muraqabah dan muhasabah, kita akan menemukan hikmah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang merupakan tujuan akhir dari dzikir lisan, yaitu menemukan hikmah dibalik semua ciptaan Allah SWT setelah merasakan kehadiran-Nya dan befikir tentang semua ciptaan-Nya. Kalau kita tidak melakukan dzikir lisan, maka hati dan pikiran kita akan tumpul dan mudah di bisiki oleh bisikan-bisikan syetan yang akan merenggut ketenangan hati.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgm-OWKqRyhx3pW0Yb8PleIaxCJRQ58Z4Ih8pKSuPhdKrLQ9YrRcgrJpaQ7LCtS9iYx3lINqvMOf2SdwKg3VwK7Sngo6OCsK_mDGzOq2yQfyc7Lpf7pXj7o6yrhPvojfRila4eLv8L92fLe/s72-c/Dzikir2.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Dzikir</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/04/mengenal-dzikir.html</link><category>Dzikir</category><pubDate>Mon, 30 Apr 2012 21:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-4762038263132901224</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDNPof6XMTlWnXDFK1v1MAiau51SSFSJ2EVCTGDvbOGc1CQaHqEyeI44QnBJ09kTIPQHYi6PxFsRvgvR5bHOErLotPwmq0jSBeQ9fWatnXKE9OdePZleT54D6CH-AOaA5cYFUqfR1snj9D/s1600/dzikir.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDNPof6XMTlWnXDFK1v1MAiau51SSFSJ2EVCTGDvbOGc1CQaHqEyeI44QnBJ09kTIPQHYi6PxFsRvgvR5bHOErLotPwmq0jSBeQ9fWatnXKE9OdePZleT54D6CH-AOaA5cYFUqfR1snj9D/s200/dzikir.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dzikir Dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, Selain melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan, sebaiknya kita juga melaksanakan ibadah-ibadah lain yang sunnah. Diantaranya adalah ibadah, sholat sunnah, memperbanyak sodaqoh maupun memperbanyak dzikir kepada Allah swt.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan ini kita akan bahas tentang dzikir. Secara harfiah Dzikir berarti ingat, tentu saja ingat kepada Allah swt. Tujuan kita beribadah adalah untuk mengingat kepada Allah. Karena sesungguhnya dzikir itu diperintahkan oleh Allah untuk mengingat Dia ditiap ruang dan waktu. Ketika malam atau siang, ketika kaya atau miskin, di waktu sehat atau sakit. Singkatnya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, tidak dibatasi uzur apapun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dzikir merupakan upaya untuk mensucikan hati kita, dari kotoran-kotoran hati yang dengan sengaja atau tidak telah kita menjadi hijab bagi kolbu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Macam-macam Dzikir:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://paculdoran.blogspot.com/2012/05/mengenal-dzikir-lisan.html"&gt;&lt;b&gt;Dzikir Lisan&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;: dzikir ini diucapkan dengan lisan, ada yang melaksanakannya dengan suara keras tapi ada yang lebih suka dengan pelan-pelan.&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dzikir Nafas&lt;/b&gt;: dalam melaksanakan dzikir ini pengucapan bacaannya seiring dengan irama keluar-masuknya udara dalam kita bernafas.&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dzikir Posisi&lt;/b&gt;: melaksanakan dzikir dalam posisi tertentu, tidak bergerak sedikitpun, dalam jangka waktu tertentu pula.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Dzikir qolbu atau hati&lt;/b&gt;: dalam dzikir qolbu bacaannya dibaca dalam hati.&lt;/li&gt;
&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Dzikir Sirri atau rahasia&lt;/b&gt;: Proses dzikir yang satu ini adalah sangat rahasia ketika dzikir ini dilaksanakan hanya pedzikir dan yang dituju (Allah) saja yang tahu. Makhluk lain tidak ada yang bisa mengetahuinya bahkan malaikatpun tidak tahu.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam melaksanakan dzikir-dzikir tersebut haruslah dibimbing oleh Pembimbing (Mursyid atau Guru).&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDNPof6XMTlWnXDFK1v1MAiau51SSFSJ2EVCTGDvbOGc1CQaHqEyeI44QnBJ09kTIPQHYi6PxFsRvgvR5bHOErLotPwmq0jSBeQ9fWatnXKE9OdePZleT54D6CH-AOaA5cYFUqfR1snj9D/s72-c/dzikir.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Nabi Syits A.S.</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/04/mengenal-nabi-syits-as.html</link><category>Jejak Pemimpin</category><pubDate>Wed, 4 Apr 2012 16:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-8194222307393585941</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; Nabi Syits (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Mahaesa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh. Rupa Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut Kristen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kitab Kejadian dari Kitab Suci Ibrani dan Alkitab, adalah salah satu anak (kemungkinan anak ketiga) dari Adam dan Hawa, dan merupakan adik dari Kain dan Habel. Ia dilahirkan setelah Habel dibunuh oleh Kain. Nama Set disebut sepuluh kali dalam Alkitab, tujuh kalinya di kitab Kejadian, sekali di kitab Bilangan, I Tawarikh, dan Lukas.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Set bagi Adam adalah seorang anak yang "menurut rupa dan gambarnya". Set diberikan oleh Allah sebagai pengganti Habel yang dibunuh. Ia mempunyai seorang anak yang bernama Enos pada usia 105 tahun dan hidup hingga mencapai usia 912 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui keturunan Set dilahirkanlah Nuh, Abraham, Daud, hingga akhirnya menurunkan Yesus.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut Kitab Yobel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Kitab Yobel, Set menikahi adik perempuannya, Azura dan umurnya 105 tahun ketika anaknya Enos dilahirkan. Ia meninggal pada usia 912 tahun. Dalam literatur rabinik, nama Set (bahasa Ibrani: Sheth) dijelaskan berarti "dasar." Menurut tradisi ini, Set dianggap sebagai "Dasar atau Fondasi Dunia," karena ia adalah leluhur pertama umat manusia yang dilahirkan dari orang tua yang manusia. Dengan demikian, seluruh umat manusia dianggap terkait dengan Set melalui keturunannya, Nuh. Banyak juga yang menganggap Yesus sebagai anak dari Yusuf, yang adalah juga keturunan Set.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut kepercayaan Mormon&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam teologi Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir, Set ditahbiskan oleh Adam pada usia 69 tahun. Tiga tahun sebelum kematian Adam, ia memberkati Set agar keturunannya akan menjadi "pilihan Tuhan" dan bahwa mereka "akan dipelihara hingga akhir zaman" (Doktrin dan Perjanjian 107:42). Lebih jauh, Set adalah "seorang yang sempurna, dan ia sangat mirip dengan ayahmya" (Doktrin dan Perjanjian 107:43). Set juga merupakan nama seorang suku Yared dalam Kitab Mormon (Ether).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut Yosefus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Yosefus merujuk kepada Set sebagai salah satu anak Adam yang paling penting dalam Zaman Kuno bangsa Yahudi, dan melaporkan bahwa keturunannya membangun Tiang-tiang keturunan Set.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut Cerita non-Alkitabiah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut kitab Perjanjian Adam, mengisahkan bahwa Adam, ketika mengetahui bahwa ajalnya telah dekat, memanggil Set ke sisinya. Ia menyuruh Set kembali ke Taman Eden, masuk dan mengambil tiga benih dari buah Pohon Kehidupan. Adam kemudian meminta Set kembali kepadanya dan menempatkan ketiga benih itu di mulutnya sebelum menguburkan jenazahnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Set melakukan apa yang diminta ayahnya dan pergi ke Taman Eden. Di gerbang taman itu berdirilah Penghulu Malaikat Mikail, yang menanyakan tujuan Set. Set memberitahukannya, dan Mikail mengizinkannya masuk, dan menunjukkan kepadanya pohon kehidupan itu. Set mengumpulkan tiga benih dari buah pohon itu dan kemudian kembali, melalui pintu gerbang, dan kembali ke ayahnya, yang saat ini telah meninggal. Ia menggali kuburan untuk Adam, dan menguburkannya, setelah menempatkan ketiga benih itu di mulutnya lalu menutup liang kuburnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiga pohon kemudian muncul dari kubur Adam, dan ketiga pohon inilah yang kemudian ditebang untuk diambil kayunya untuk dijadikan tiga salib di Golgota.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Syits Menurut Cerita Jawa (Java)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keturunan Nabi Adam yang diangkat menjadi nabi hanya satu; Nabi Syits (Set, dalam bahasa Ibrani; Sang Hyang Esis, dalam bahasa Jawa). Syith merupakan keturunan Adam yang lahir tunggal (semua anak Adam dilahirkan kembar) diturunkan Yang Mahaesa sebagai pengganti anak Adam yang terbunuh. Rupa Syith sangat mirip dengan rupa Adam dan menjadi satu-satunya manusia yang memiliki kebijaksanaan terhebat sepanjang masa.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitu mengasihinya Adam meminta pada Yang Mahaesa supaya kelak keturunan Syits diizinkan menjadi penguasa atas keturunan saudara-saudaranya. Saat berdoa, Malaikat Ngajajil (Iblis) ternyata mencuri dengar. Ngajazil paham, bila doa Adam akan selalu didengar dan dikabulkan Yang Mahaesa. Seketika itu pula, tumbuh keinginan Ngajazil untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah keturunan Syits.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Malaikat Ngajazil terus mengintai Syith dan menunggu kesempatan mencampurkan darah keturunannya. Maka ketika Syith menikah dengan Dewi Mulat, pada suatu malam, Dewi Mulat di-sirep, diambil Ngajazil, lalu keberadaannya digantikan putrinya, Dewi Dlajah, yang telah beralih rupa menjadi Dewi Mulat. Setelah dibuahi, Malaikat Ngajazil langsung mengangkat Dewi Dlajah dan mengembalikan Dewi Mulat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu pagi, Dewi Mulat melahirkan dua orang anak; satu berwujud laki-laki normal dan satunya berupa cahaya berkilauan (kasat mata). Sore harinya Dewi Dlajah juga melahirkan, wujudnya berupa gumpalan darah yang berkilauan. Oleh Malaikat Ngajazil, gumpalan darah berkilauan itu disatukan cahaya berkilauan anak Dewi Mulat. Dari hasil penggabungan itu, muncullah seorang anak laki-laki yang cakap. Anak Dewi Mulat diberi nama Sayid Anwas, sedang anak campuran Dewi Mulat dan Dewi Dlajah diberi nama Sayid Anwar.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayid Anwas maupun Sayid Anwar memiliki rupa yang sangat tampan. Sayid Anwas besar dalam perlindungan Adam, sedang Sayid Anwar besar dalam asuhan Ngajazil. Sebagai keturunan yang terberkati, keduanya memiliki kemampuan yang sama-sama hebat. Bedanya, Sayid Anwas gemar mempelajari ilmu agama, sedang Sayid Anwar gemar tirakat dan bertapa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika Sayid Anwar dewasa, dia bertanya pada Dewi Dlajah tentang siapa ayah sejatinya. Maka diberitahulah Sayid Anwar bila dia merupakan keturunan Syith. Pada Dewi Dlajah dan Ngajazil, Sayid Anwar berpamitan untuk menjumpai sang ayah. Ketika berjumpa dengan Syith, terkejutlah sang ayah. Semula Syith tidak mau mengakui keberadaannya, tetapi setelah Yang Mahaesa membisikan mengenai asal-usal Sayid Anwar, barulah Nabi Syith menerima kenyataan itu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayid Anwas dan Sayid Anwar kemudian besar dalam asuhan Adam. Ketika melihat Sayid Anwas dan Sayid Anwar, Adam mulai paham bila Sayid Anwas kelak akan melahirkan keturunan yang mempertahankan ajaran agama, sedang Sayid Anwar kelak akan melahirkan keturunan yang menghancurkan ajaran agama. Dalam asuhan Adam, Sayid Anwar melanggar pantangan dengan meminum air kehidupan yang membuat hidupnya abadi. Mengetahui itu, Nabi Adam marah lalu mengusir Sayid Anwar.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sayid Anwar sangat kecewa dengan sang kakek lalu pergi berkelana. Di tengah perjalanan dia bertemu Malaikat Harut dan Marut yang menyesatkannya menuju ke arah Sungai Nil dan bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya. Dengan sang paman, Sayid Anwar belajar ilmu melihat masa depan (semacam ilmu laduni) dan berbagai ilmu hebat lain. Usainya, Sayid Anwar melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau kecil di antara Pulau Maldewa dan Laksdewa, yang bernama Lemah Dewani.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di situlah Sayid Anwar melakukan tapa brata dengan cara melihat matahari mulai terbit sampai tenggelam. Setelah tujuh tahun bertapa, daya linuwih pada Sayid Anwar terolah hebat sehingga bisa menghilang (kasat mata). Dalam pengembaraannya di Lemah Dewani, Sayid Anwar banyak bertarung dengan para jin dan membuat mereka tunduk di bawah kekuasaannya. Mendengar kehebatan Sayid Anwar, lama-lama banyak kaum jin yang memilih mengabdi padanya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kejadian tersebut sangat mengganggu Prabu Nuradi, raja para jin yang menguasai Lemah Dewani. Prabu Nuradi melabrak Sayid Anwar dan mengajaknya bertarung. Dalam pertarungan itu Orabu Nuradi kalah dan tunduk pada kekuasaan Sayid Anwar. Prabu Nurani memilih turun tahta lalu mengangkat Sayid Anwar menjadi raja para jin dan menyerahkan putrinya menjadi isteri. Ketika menjadi raja jin, Sayid Anwar mendapatkan gelar Prabu Nurasa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prabu Nurasa yang telah memiliki kehidupan abadi, kemudian tinggal di tempat tinggi dan meminta izin pada Yang Mahaesa untuk mengangkat diri sebagai Tuhan Semesta Alam. Yang Maha esa mengabulkan dan membiarkan Prabu Nurasa murtad dari ajaran keturunan Nabi Adam. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah nama menjadi Tanah Jawi (Tanah Jawa). Dari Prabu Nurasa lahirkan keturunan-keturunannya yang kemudian menjadi para dewa mulai dari Batara Guru sampai raja-raja di Tanah Jawi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di lain pihak, Sayid Anwas yang besar dalam asuhan Nabi Adam, keturunanya kemudian menjadi manusia-manusia terpilih mulai Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa sampai Muhammad. Keturunan Sayid Anwas juga menumbuhkan suku-suku bangsa superior seperti bangsa Israil, bangsa Arab, bangsa Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya. Di lain pihak keturunan Sayid Anwar, karena juga mendapatkan berkah dari doa Adam, juga banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada masa-masa kerajaan Jawa. Tidak sedikit raja-raja keturunan Sayid Anwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di permukaan bumi.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam perputaran peradaban, keturunan Sayid Anwar dan Sayid Anwas telah banyak yang bersilangan. Persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka tumpang-tinduh. Ada keturunan Sayid Anwas yang kemudian mengikuti jejak pemikiran Sayid Anwar yang sesat. Sebaliknya, tidak sedikit pula keturunan Sayid Anwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Adam serta leluhur mereka Nabi Syith. Terlepas dari semua itu, keturunan-keturunan Sayid Anwas maupun Sayid Anwar sama-sama memiliki darah superioritas yang membuat mereka banyak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Adam Manusia Pertama DiBumi</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/04/adam-manusia-pertama-dibumi.html</link><category>Jejak Pemimpin</category><pubDate>Tue, 3 Apr 2012 14:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-6914478135784530985</guid><description>&lt;b&gt;Nabi Adam Alaihissalam (sekitar 5872-4942 SM)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
adalah dipercaya oleh agama-agama Samawi sebagai manusia pertama, bersama dengan istrinya yang bernama Hawa. Menurut Agama Samawi pula, merekalah orang tua dari semua manusia yang ada di dunia. Rincian kisah mengenai Adam dan Hawa berbeda-beda antara agama Islam, Yahudi, Kristen, maupun agama lain yang berkembang dari ketiga agama Abrahamik ini.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Adam Menurut Agama Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah [2]:30-38 dan Al-A’raaf [7]:11-25.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Ibnu Humayd, Ibnu Ishaq, dan Salamah anak-anak Adam adalah: Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda, Sith dan Azura, Ashut dan saudara perempuannya, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya, Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, dan Baraq dan saudara perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Wujud Adam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut hadits Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter). Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adam adalah manusia sempurna, berjalan tegak dengan kedua kakinya, berpakaian menutup aurat, dan berbahasa fasih dengan jutaan kosa kata. Dia adalah seorang nabi dan rasul yang menerima wahyu dari Allah serta hukum syariat untuk manusia saat itu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai manusia dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan jauh lebih cerdas dari peradaban manusia sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai `khalifah` (pemimpin) di muka bumi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa' 70.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut riwayat di dalam Al-Qur'an, ketika Nabi Adam as baru selesai diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba menurut Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan empat kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Penciptaan Adam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Allah SWT. menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengumumkan para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Iblis Yang Sombong &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Iblīs (bahasa Arab: إبليس) adalah nama yang diberikan untuk suatu makhluk yang tidak kelihatan dan yang jahat. Menurut agama Islam, nama aslinya Azazil. Azazil adalah nama asli dari Iblis yang merupakan pemimpin kelompok Syaitan. Menurut legenda bahwa sebelum diciptakannya Adam, Azâzîl pernah menjadi Imam para Malaikat atau Sayyid al-Malaikat (Penghulu para Malaikat), Khazin al-Jannah (Bendaharawan Surga) dan Abu al-Jan (Bapak para Jin).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat semua makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya Iblis dari bangsa Jin yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan karena Iblis merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal-usul menjadikannya sombong dan merasa enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak. Disamping itu, ia telah dijamin sebagai penghuni neraka yang abadi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Iblis dengan sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada Allah untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Iblis mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pengetahuan Adam&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Allah hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Allah lah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Adam menghuni surga&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adam diberi kesempatan oleh Allah untuk tinggal di surga dulu sebelum diturukan ke Bumi. Allah menciptakan seorang pasangan untuk mendampinginya. Adam memberinya nama, Hawa. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu beliau masih tidur sehingga saat beliau terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tipu daya Iblis&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesuai dengan ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat pembangkangannya, Iblis mulai berencana untuk menyesatkan Adam dan Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai dengan menggoda mereka untuk mendekati pohon yang dilarang oleh Allah kepada mereka.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Iblis menipu mereka dengan mengatakan bahwa mengapa Allah melarang mereka memakan buah terlarang itu karena mereka akan hidup kekal seperti Tuhan apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia menurunkan mereka ke bumi. Allah berfirman:&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (Q.S. Al-Baqarah [2]:36)
&lt;/blockquote&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mendengar firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Mereka lalu bertaubat kepada Allah dan setelah taubat mereka diterima, Allah berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Adam dan Hawa turun ke bumi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke Bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut kisah Adam diturunkan di (Sri Lanka) di puncak bukit Sri Pada dan Hawa diturunkan di Arabia. Mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah di dekat Mekkah setelah 40 hari berpisah. Setelah bersatu kembali, konon Adam dan Hawa menetap di Sri Lanka, karena menurut kisah daerah Sri Lanka nyaris mirip dengan keadaan surga. Di tempat ini ditemukan jejak kaki Adam yang berukuran raksasa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di bumi pasangan Adam dan Hawa bekerja keras mengembangkan keturunan. Keturunan pertama mereka ialah pasangan kembar Qabil dan Iqlima, kemudian pasangan kedua Habil dan Labuda. Setelah keempat anaknya dewasa, Adam mendapat petunjuk agar menikahkan keempat anaknya secara bersilangan, Qabil dengan Labuda, Habil dengan Iqlima.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun Qabil menolak karena Iqlima jauh lebih cantik dari Labuda. Adam kemudian menyerahkan persolan ini kepada Allah dan Allah memerintahkan kedua putra Adam untuk berkurban. Siapa yang kurbannya diterima, ialah yang berhak memilih jodohnya. Untuk kurban itu, Habil mengambil seekor kambing yang paling disayangi di antara hewan peliharaannya, sedang Qabil mengambil sekarung gandum yang paling jelek dari yang dimilikinya. Allah menerima kurban dari Habil, dengan demikian Habil lebih berhak menentukan pilihannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Adam menurut Yahudi dan Kristen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kisah tentang Adam terdapat dalam Kitab Kejadian pada Torah dan Alkitab pasal 2 dan 3, dan sedikit disinggung pada pasal 4 dan 5. Beberapa rincian lain tentang kehidupannya dapat ditemukan dalam kitab-kitab apokrif, seperti Kitab Yobel, Kehidupan Adam dan Hawa, dan Kitab Henokh.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut kisah di atas, Adam diciptakan menurut gambar dan rupa Allah[5]. Adam kemudian ditempatkan di dalam Taman Eden yang berarti tanah daratan, terletak di hulu Sungai Pison, Gihon, Tigris, dan Efrat (di sekitar wilayah Irak saat ini). Ia kemudian diperintahkan oleh-Nya untuk menamai semua binatang. Allah juga menciptakan makhluk penolong, yaitu seorang wanita yang oleh Adam dinamai Hawa. Adam dan Hawa tinggal di Taman Eden dan berjalan bersama Allah, tetapi akhirnya mereka diusir dari taman itu karena mereka melanggar perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah diusir dari taman itu, Adam harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Adam dan Hawa mempunyai tiga orang putra yang disebut dalam Kitab Kejadian, yaitu Kain, Habel, Set, dan sejumlah putra dan putri yang tidak disebutkan jumlahnya. Kitab Yobel menyebutkan dua orang anak perempuan Adam dan Hawa, yaitu Azura yang menikah dengan Set dan Awan, yang menikah dengan Kain. Baik Kitab Kejadian maupun Kitab Yobel menyatakan bahwa Adam mempunyai anak yang lain, tetapi nama mereka tidak disebutkan.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut silsilah Kitab Kejadian, Adam meninggal dunia pada usia 930 tahun. Dengan angka-angka seperti itu, perhitungan seperti yang dibuat oleh Uskup Agung Ussher, memberikan kesan bahwa Adam meninggal hanya sekitar 127 tahun sebelum kelahiran Nuh, sembilan generasi setelah Adam. Dengan kata lain, Adam masih hidup bersama Lamekh (ayah Nuh) sekurang-kurangnya selama 50 tahun. Menurut Kitab Yosua, kota Adam masih dikenal pada saat bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan untuk memasuki Kanaan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut legenda, setelah diusir dari Taman Eden, Adam pertama kali menjejakkan kakinya di muka bumi di sebuah gunung yang dikenal sebagai Puncak Adam atau Al-Rohun yang kini terdapat di Sri Lanka.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Syekh Siti Jenar</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/04/mengenal-syekh-siti-jenar.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Mon, 2 Apr 2012 23:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-6249766291534056704</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai sufi dan salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat, terdapat banyak variasi cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjylL8lbW3xmL5-QfYzZnaCS7mk-xBSG6Z3YUyUv4IF9xFC58bO1TS9Px_WiOOXEITb1RpXmEgJIu0Sj_nRIeKm-dAeRf_DG9udnfKFcYbS1hEEZAX5EBqP43TpqEAPnBJNgtydVH_LFInh/s1600/Makam+Syekh+Siti+Jenar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="198" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjylL8lbW3xmL5-QfYzZnaCS7mk-xBSG6Z3YUyUv4IF9xFC58bO1TS9Px_WiOOXEITb1RpXmEgJIu0Sj_nRIeKm-dAeRf_DG9udnfKFcYbS1hEEZAX5EBqP43TpqEAPnBJNgtydVH_LFInh/s320/Makam+Syekh+Siti+Jenar.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Makam Syekh Siti Jenar Di Demak&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling Kawula Gusti. Akan tetapi, sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah seorang intelektual yang telah memperoleh esensi Islam itu sendiri. Ajaran-ajarannya tertuang dalam karya sastra buatannya yang disebut pupuh. Ajaran yang sangat mulia dari Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan ajaran Walisongo. Pertentangan praktik sufi Syekh Siti Jenar dengan Walisongo terletak pada penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan oleh Walisongo.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, apa yang disebut umum sebagai kematian, justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi olehnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai konsekuensinya, kehidupan manusia di dunia ini tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian, misalnya hukum negara, tetapi tidak termasuk hukum syariat peribadatan sebagaimana yang ditentukan oleh syariah. Menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Syekh Siti Jenar, manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu syahadat, Sholat, puasa, zakat, dan haji. Baginya, syariah baru akan berlaku setelah manusia menjalani kehidupan pasca kematian. Syekh Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu, mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam, kira-kira pada abad ke-9 Masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat Tuhan dan manusia.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dimana seharusnya pemahaman ketauhidan melewati empat tahap, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Syariat&lt;/span&gt;, dengan menjalankan hukum-hukum agama seperti salat, zakat, dan lain-lain,&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Tarekat&lt;/span&gt;, dengan melakukan amalan-amalan seperti wirid, zikir dalam waktu dan hitungan tertentu,&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Hakekat&lt;/span&gt;, di mana hakikat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan, dan&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;Makrifat&lt;/span&gt;, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-luasnya.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut, maka tahapan di bawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa dipahami ratusan tahun setelah wafatnya Syekh Siti Jenar. Para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat awam di mana pada masa itu, ajaran Islam yang harus disampaikan seharusnya masih pada tingkatan syariat, sedangkan ajaran Syekh Siti Jenar telah jauh memasuki tahap hakekat, bahkan makrifat kepada Allah. Oleh karena itu, ajaran yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan label sesat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus memperdebatkan masalah agama. Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apa pun, setiap pemeluknya sebenarnya menyembah zat Yang Maha Kuasa, hanya saja masing-masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu, masing-masing pemeluk agama tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agama yang dianutnya adalah yang paling benar.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan. Arti dari Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal dari roh Tuhan sesuai dengan ayat Al-Quran yang menerangkan tentang penciptaan manusia:
Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." Q.S. Shaad: 71-72

Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala penyembahan terhadap Tuhan terjadi. Perbedaan penafsiran ayat Al-Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham Manunggaling Kawula Gusti.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini, sering ditemui manusia yang mengalami zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Allah. Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja sehingga ketika keinginannya sudah lebur terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanyalah Allah. Di sekelilingnya tidak tampak manusia lain, kecuali hanya Allah yang berkehendak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini. Dan inilah yang dibahayakan karena apabila tidak ada Guru yang Mursyid yang berpedoman pada Al Quran dan Hadits maka hamba ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia. Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil 'alamin. Seseorang dianggap muslim salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya, bukannya menciptakan kerusakan di muka bumi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kontroversi yang lebih hebat muncul mengenai hal-ihwal kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat Kesultanan Demak. Di sisi kekuasaan, Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga, adalah keturunan elite Majapahit, sama seperti Raden Patah, dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Kesultanan Demak khawatir ajaran ini akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini membuat mereka merencanakan suatu tindakan bagi Syekh Siti Jenar untuk segera datang menghadap ke Kesultanan Demak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tidak cukup untuk membuat Siti Jenar memenuhi panggilan untuk datang menghadap ke Kesultanan Demak hingga konon akhirnya para Walisongo sendirilah yang akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Syekh Siti Jenar berada.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka, berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah &lt;span style="color: blue;"&gt;Sunan Bonang&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: blue;"&gt;Sunan Kalijaga&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: blue;"&gt;Pangeran Modang&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: blue;"&gt;Sunan Kudus&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="color: blue;"&gt;Sunan Geseng&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut dengan Syekh Siti Jenar. Menurut Syekh Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuhnya karena ia bisa meminum tirta marta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menuju kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak lama kemudian, terbujurlah jenazah Syekh Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang pandai, yaitu &lt;span style="color: blue;"&gt;Ki Bisono&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: blue;"&gt;Ki Donoboyo&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: blue;"&gt;Ki Chantulo&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="color: blue;"&gt;Ki Pringgoboyo&lt;/span&gt; ikut mengakhiri "kematian"-nya dengan cara yang misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Syekh Siti Jenar disemayamkan di Masjid Demak, menjelang salat Isya, semerbak bunga dan cahaya memancar dari jenazahnya. Jenazah Syekh Siti Jenar sendiri selanjutnya dimakamkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki, antara lain Kiai Lonthang dari Semarang, Ki Kebo Kenanga, dan Ki Ageng Tingkir.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kontroversi yang lain adalah bahwa kemungkinan terbesar Syekh Siti Jenar adalah salah satu tokoh Islam yang dengan segala kebijaksanaannya telah dapat mengadaptasi Islam dengan keluhuran ajaran Hindu dan Budha yang menjadi pegangan Bangsa Indonesia sehingga dapat terlihat dengan jelas bagaimana nilai daripada kehidupan dan kesejatian manusia dengan penciptanya yang ada dalam Bhagawad Gita berpadu dengan nilai yang diajarkan Alquran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hal ini tentu saja tak berlebihan, karena dengan tingkat kerohanian dan kebijaksanaan yang dimiliki oleh Syekh Siti Jenar, ia akan mampu melakukan penghormatan kepada leluhur dan melestarikan nilai kebenaran yang diwariskan, menyerap agama baru dan melakukan penyesuain nilai agar dapat diterima oleh seluruh bangsa sehingga menjadi berkah keluhuran bagi alam semesta. Kalau para wali songo dengan pola gerakan yang lebih kepada keduniawian berusaha mengadopsi konsep Dewata Nawa Sanga di Hindu yang mereka personifikasikan ke dalam Wali Songo untuk mengubah pandangan masyarakat Hindu dan membelokkan kepada Islam pun dalam penggunaan cerita pewayangan Hindu seperti Mahabharata / Brathayudha dan Ramayana untuk membantu penyebaran agama Islam dengan melakukan sisipan sisipan ke dalamnya, namun Syekh Siti Jenar mengadaptasi nilai yang terkandung yang memang sudah ada di masyarakat Hindu dan Budha pada jaman keemasan Nusantara sehingga nilai kombinasi yang diperkenalkannya kepada masyarakat terbukti sangat cocok bahkan hingga saat ini. Terbukti bahwa dairah seperti Jogjakarta adalah salah satu daerah dengan eksistensi budaya yang sangat tinggi dan pranata sosial yang sangat beradab sebagai hasil penerapan konsep Hindu Budha dari para leluhur Bangsa Indonesia dengan nilai Islam sebagai budaya serapan baru.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjylL8lbW3xmL5-QfYzZnaCS7mk-xBSG6Z3YUyUv4IF9xFC58bO1TS9Px_WiOOXEITb1RpXmEgJIu0Sj_nRIeKm-dAeRf_DG9udnfKFcYbS1hEEZAX5EBqP43TpqEAPnBJNgtydVH_LFInh/s72-c/Makam+Syekh+Siti+Jenar.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Muria</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/04/mengenal-sunan-muria.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Sun, 1 Apr 2012 23:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-5625583877040522785</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT2Xq2DiMZT7Fd2ilufcv4FD4LyPnRk6OoLfbxsgTVWXSv0ypYjV5ubj0yBGFl0gJboAmhyphenhyphenCo_UKtvaeYdna2vksQnXxfpOvVnRywffu1zZR4SGa_HyZAwLQTfLktg2c2gGgZdcOKlZzob/s1600/sunan_muria.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT2Xq2DiMZT7Fd2ilufcv4FD4LyPnRk6OoLfbxsgTVWXSv0ypYjV5ubj0yBGFl0gJboAmhyphenhyphenCo_UKtvaeYdna2vksQnXxfpOvVnRywffu1zZR4SGa_HyZAwLQTfLktg2c2gGgZdcOKlZzob/s320/sunan_muria.jpeg" width="260" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Muria&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiT2Xq2DiMZT7Fd2ilufcv4FD4LyPnRk6OoLfbxsgTVWXSv0ypYjV5ubj0yBGFl0gJboAmhyphenhyphenCo_UKtvaeYdna2vksQnXxfpOvVnRywffu1zZR4SGa_HyZAwLQTfLktg2c2gGgZdcOKlZzob/s72-c/sunan_muria.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Gunung Jati</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengeal-sunan-gunung-jati.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Sat, 31 Mar 2012 22:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-840208281351644265</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa Barat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimBMyaP9GlO8F9FM8A0xx2f7YA3BadgAM-hsB6GV4vspyrRvV8cKIw9xOT8-ndX3fN33825mlpuT_-8gN8MOiScusz8y-7YQ7zJrUmUR_bcyCtW5GQwm-MhdL9VLLQWd3AnldKbs4-hG7Q/s1600/sunan_gunung_jati.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimBMyaP9GlO8F9FM8A0xx2f7YA3BadgAM-hsB6GV4vspyrRvV8cKIw9xOT8-ndX3fN33825mlpuT_-8gN8MOiScusz8y-7YQ7zJrUmUR_bcyCtW5GQwm-MhdL9VLLQWd3AnldKbs4-hG7Q/s320/sunan_gunung_jati.jpg" width="244" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Gunung dJati&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah, lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar, seorang Mubaligh dan Musafir besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar bagi kaum Sufi di tanah air. Syekh Maulana Akbar adalah putra Ahmad Jalal Syah putra Abdullah Khan putra Abdul Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibu Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang (Syarifah Muda'im) yaitu putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang, dan merupakan adik dari Kian Santang atau Pangeran Walangsungsang yang bergelar Cakrabuwana / Cakrabumi atau Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi, seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia dimakamkan bersebelahan dengan putranya yaitu Sunan Gunung Jati di Komplek Astana Gunung Sembung ( Cirebon )&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan Rara Santang dengan Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar masih diperselisihkan. Sebagian riwayat (lebih tepatnya mitos) menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar perkembangan Islam di pesisir ketika itu, pertemuan mereka di tempat-tempat pengajian seperti yang di Majelis Syekh Quro, Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara Santang) atau di Majelis Syekh Datuk Kahfi, Cirebon (tempat belajar Kian Santang kakanda dari Rara Santang).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syarif Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar, sangat mungkin terlibat aktif membantu pengajian di majelis-majelis itu mengingat ayah dan kakeknua datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong perkembangan agama Islam yang telah dirintis oleh para pendahulu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernikahan Rara Santang putri dari Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Larang dengan Abdullah cucu Syekh Maulana Akbar melahirkan seorang putra yang diberi nama Raden Syarif Hidayatullah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raden Syarif Hidayatullah mewarisi kecendrungan spiritual dari kakek buyutnya Syekh Maulana Akbar sehingga ketika telah selesai belajar agama di pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan ke Timur Tengah. Tempat mana saja yang dikunjungi masih diperselisihkan, kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian dari ibadah haji untuk umat Islam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Babad Cirebon menyebutkan ketika Pangeran Cakrabuwana membangun kota Cirebon dan tidak mempunyai pewaris, maka sepulang dari Timur Tengah Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim yang baru dibentuk itu setelah Uwaknya wafat.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memasuki usia dewasa sekitar di antara tahun 1470-1480, ia menikahi adik dari Bupati Banten ketika itu bernama Nyai Kawunganten. Dari pernikahan ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa ini kurang banyak diteliti para sejarawan hingga tiba masa pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana ia memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yang sekarang kita kenal dengan nama Walisongo. Pada masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Demak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian bawahan vassal state dari kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling di-tua-kan di Dewan Muballigh, bahwa agama Islam akan disebarkan di P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah pendirian Kesultanan Demak antara tahun 1490 hingga 1518 adalah masa-masa paling sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan Raden Patah karena proses Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentang personaliti dari Syarif Hidayat yang banyak dilukiskan sebagai seorang Ulama kharismatik, dalam beberapa riwayat yang kuat, memiliki peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid Demak. Ia ikut membimbing Ulama berperangai ganjil itu untuk menerima hukuman mati dengan lebih dulu melucuti ilmu kekebalan tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Eksekusi yang dilakukan Sunan Kalijaga akhirnya berjalan baik, dan dengan wafatnya Syekh Siti Jenar, maka salah satu duri dalam daging di Kesultana Demak telah tercabut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raja Pakuan di awal abad 16, seiring masuknya Portugis di Pasai dan Malaka, merasa mendapat sekutu untuk mengurangi pengaruh Syarif Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di saat yang genting inilah Syarif Hidayat berperan dalam membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan Kesultanan Banten, Demak, Cirebon di P. Jawa dengan misi utama mengusir Portugis dari wilayah Asia Tenggara. Terlebih dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati Unus yang ke 2 di tahun 1511.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kegagalan expedisi jihad II Pati Unus yang sangat fatal di tahun 1521 memaksa Syarif Hidayat merombak Pimpinan Armada Gabungan yang masih tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang syahid di Malaka, sebagai Panglima berikutnya dan menyusun strategi baru untuk memancing Portugis bertempur di P. Jawa.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sangat kebetulan karena Raja Pakuan telah resmi mengundang Armada Portugis datang ke Sunda Kelapa sebagai dukungan bagi kerajaan Pakuan yang sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedatangan armada Portugis sangat diharapkan dapat menjaga Sunda Kelapa dari kejatuhan berikutnya karena praktis Kerajaan Hindu Pakuan tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa setelah Banten dan Cirebon menjadi kerajaan-kerajaan Islam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam serangan dahsyat dari Pasukan Islam yang telah bertahun-tahun ingin membalas dendam atas kegagalan expedisi Jihad di Malaka 1521.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa secara resmi ke dalam Kesultanan Banten-Cirebon dan di rubah nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar Fatahillah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perebutan pengaruh antara Pakuan-Galuh dengan Cirebon-Banten segera bergeser kembali ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh yang telah kehilangan banyak wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para pembesarnya. Satu persatu dari para Pangeran, Putri Pakuan di banyak wilayah jatuh ke dalam pelukan agama Islam. Begitu pula sebagian Panglima Perangnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang sangat unik dari personaliti Syarif Hidayatullah adalah dalam riwayat jatuhnya Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum ia wafat dalam usia yang sangat sepuh hampir 120 tahun (1569). Diriwayatkan dalam perundingan terakhir dengan para Pembesar istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang pertama Pembesar Istana Pakuan yang bersedia masuk Islam akan dijaga kedudukan dan martabatnya seperti gelar Pangeran, Putri atau Panglima dan dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke dua adalah bagi yang tidak bersedia masuk Islam maka harus keluar dari keraton masing-masing dan keluar dari ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten wilayah Cibeo sekarang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perundingan terakhir yang sangat menentukan dari riwayat Pakuan ini, sebagian besar para Pangeran dan Putri-Putri Raja menerima opsi ke 1. Sedang Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40 orang) yang merupakan Korps Elite dari Angkatan Darat Pakuan memilih opsi ke 2. Mereka inilah cikal bakal penduduk Baduy Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman hanya sebanyak 40 keluarga karena keturunan dari 40 pengawal istana Pakuan. Anggota yang tidak terpilih harus pindah ke pemukiman Baduy Luar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang menjadi perdebatan para ahli hingga kini adalah opsi ke 3 yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan. Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata lain mereka ingin tetap memeluk agama Sunda Wiwitan (aliran Hindu di wilayah Pakuan) tetapi tetap bermukim di dalam wilayah Istana Pakuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejarah membuktikan hingga penyelidikan yang dilakukan para Arkeolog asing ketika masa penjajahan Belanda, bahwa istana Pakuan dinyatakan hilang karena tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian riwayat yang diyakini kaum Sufi menyatakan dengan kemampuan yang diberikan Allah karena doa seorang Ulama yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif Hidayat telah memindahkan istana Pakuan ke alam ghaib sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar dari wilayah Istana Pakuan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi para sejarawan, ia adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggilnya dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimBMyaP9GlO8F9FM8A0xx2f7YA3BadgAM-hsB6GV4vspyrRvV8cKIw9xOT8-ndX3fN33825mlpuT_-8gN8MOiScusz8y-7YQ7zJrUmUR_bcyCtW5GQwm-MhdL9VLLQWd3AnldKbs4-hG7Q/s72-c/sunan_gunung_jati.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Kalijaga</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-kalijaga.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Fri, 30 Mar 2012 22:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-5544552134382627580</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa. Makamnya berada di Kadilangu, Demak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhI6QJrgjRVgATM7jFaX8KmNFA6p2hae4AKwIacQVSvVeS_3PlX4yC-NdWQuhFJIQSMG2540afO8MNcWJuAnsZMZUuqSUqXVvYbkH8U-3yRbiYJSC0lAp0PBccdHSnmM4iXnWb8B5kbr4G8/s1600/Sunan_Kalijaga.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhI6QJrgjRVgATM7jFaX8KmNFA6p2hae4AKwIacQVSvVeS_3PlX4yC-NdWQuhFJIQSMG2540afO8MNcWJuAnsZMZUuqSUqXVvYbkH8U-3yRbiYJSC0lAp0PBccdHSnmM4iXnWb8B5kbr4G8/s320/Sunan_Kalijaga.jpg" width="181" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Kalijaga&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenai asal usul beliau, ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa beliau juga masih keturunan Arab. Tapi, banyak pula yang menyatakan ia orang Jawa asli. Van Den Berg menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu menurut Babad Tuban menyatakan bahwa Aria Teja alias 'Abdul Rahman berhasil mengislamkan Adipati Tuban, Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan ini ia memiliki putra bernama Aria Wilatikta. Menurut catatan Tome Pires, penguasa Tuban pada tahun 1500 M adalah cucu dari peguasa Islam pertama di Tuban. Sunan Kalijaga atau Raden Mas Said adalah putra Aria Wilatikta. Sejarawan lain seperti De Graaf membenarkan bahwa Aria Teja I ('Abdul Rahman) memiliki silsilah dengan Ibnu Abbas, paman Muhammad. Sunan Kalijaga mempunyai tiga anak salah satunya adalah Umar Said atau Sunan Muria.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam satu riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai 3 putra: R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi. Dan hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara). Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhI6QJrgjRVgATM7jFaX8KmNFA6p2hae4AKwIacQVSvVeS_3PlX4yC-NdWQuhFJIQSMG2540afO8MNcWJuAnsZMZUuqSUqXVvYbkH8U-3yRbiYJSC0lAp0PBccdHSnmM4iXnWb8B5kbr4G8/s72-c/Sunan_Kalijaga.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Kudus</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-kudus.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Thu, 29 Mar 2012 22:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-6732969767428171797</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan. Dia adalah putra dari pasangan Sunan Ngudung (Sayyid Utsman Haji) dengan Syarifah Dewi Rahil binti Sunan Bonang. Lahir pada 9 September 1400M/ 808 Hijriah. Bapaknya yaitu Sunan Ngudung adalah putra Sultan di Palestina yang bernama Sayyid Fadhal Ali Murtazha (Raja Pandita/Raden Santri) yang berhijrah fi sabilillah hingga ke Jawa dan sampailah di Kekhilafahan Islam Demak dan diangkat menjadi Panglima Perang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHV758rZIJ2Tltrfgm71rtLxW6fIfGvMa6hguINv_YIlJhaNJ1GqaBljGgDtg8fCW-UHeuUfCPxIezT0qTnFbr4rVVm5FKtIc7hICvDSLtkicQ7-6ZX9lTnEDHZsGD16rMjaQZYY-HLcZM/s1600/sunan_kudus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHV758rZIJ2Tltrfgm71rtLxW6fIfGvMa6hguINv_YIlJhaNJ1GqaBljGgDtg8fCW-UHeuUfCPxIezT0qTnFbr4rVVm5FKtIc7hICvDSLtkicQ7-6ZX9lTnEDHZsGD16rMjaQZYY-HLcZM/s320/sunan_kudus.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Kudus&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Ja'far Shadiq diambil dari nama datuknya yang bernama Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib yang beristerikan Fatimah az-Zahra binti Muhammad.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kudus sejatinya bukanlah asli penduduk Kudus, ia berasal dan lahir di Al-Quds negara Palestina. Kemudian bersama kakek, ayah dan kerabatnya berhijrah ke Tanah Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Babad Tanah Jawi (selanjutnya disebut BTJ) adalah terjemahan dari Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegiing Taoen 1647 yang disusun oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada tahun 1941. Seperti pada pengertian babad pada umumnya, di sini terdapat cerita-cerita tentang pendirian sebuah negara (kerajaan) dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar kerajaan tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“…Orang di tanah Jawa taat serta menganut agama Islam. Mereka bermusyawarah akan mendirikan masjid di Demak. Para wali saling berbagi tugas, semua sudah siap sedia. Hanya Sunan Kali Jaga yang masih ketinggalan, bagian garapannya belum berbentuk, sebab sedang tirakat di Pamantingan. Sekembalinya ke Demak, masjid sudah akan didirikan. Sunan Kali Jaga segera mengumpulkan sisa-sisa kayu bekas sudah menjadi tiang.Pagi harinya tanggal 1 bulan Dulkangidah masjid didirikan dengan sengkalan tahun 1428. Kiblat di masjid searah dengan ka’bah di Mekkah. Penghulunya Sunan Kudus. Setelah beberapa Jumat berdirinya masjid tadi, ketika para wali sedang berdzikir bersama di masjid itu, Sunan Kudus duduk khusuk bertafakur di bawah beduk, tiba-tiba ada bungkusan jatuh dari atas-buku kulit kambing, di dalamnya ada sajadah serta selendang Kanjeng Rasul.”&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
“Pada waktu itu banyak orang Jawa yang belajar agama Islam, kedigdayaan, dan kekuatan badan. Ada dua orang guru yang terkenal, yaitu Sunan Kali Jaga dan Sunan Kudus. Sunan Kudus itu muridnya tiga orang, yaitu Arya Penansang di Jipang, Sunan Prawata, dan Sultan Pajang. Yang paling disayang adalah Arya Penansang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu itu Sunan Kudus sedang duduk-duduk di rumahnya dengan Pangeran Arya Penansang, Sunan Kudus berkata kepada Arya Penansang, “Orang membunuh sesama guru itu, hukumnya apa?” Perlahan jawab Arya Penangsang, “Hukumnya harus dibunuh, tetapi saya belum tahu siapa yang berbuat demikian itu.” Sunan Kudus berkata,”Kakakmu di Prawata.” Arya Penansang setelah mendengar perintah Sunan Kudus, bersedia membunuh Sunan Prawata. Ia lalu mengutus abdi pengawalnya bernama Rangkud dan diperintah untuk membunuh Sunan Prawata. Rangkud lalu berangkat. Sesampai di Prawata ketemu dengan Sunan Prawata yang sedang sakit dan bersandar pada istrinya. Setelah melihat Rangkud Sunan Prawata bertanya, “Kamu itu orang siapa?” Rangkud menjawab, “Saya adalah utusan Arya Penansang, memerintahkan untuk membunuhmu.” Sunan Prawata berkata, “Ya, terserah, tetapi saya sendiri sajalah yang engkau bunuh, jangan mengikutkan orang lain.” Rangud lalu menusuk sekuat-kuatnya. Dada Sunan Prawata tembus sampai ke punggungnya serta menembus dada istrinya. Sunan Prawata setelah melihat istrinya terluka, segera mencabut kerisnya yang bernama Kyai Betok, lalu dilemparkan ke Rangkud. Si Rangkud tergores oleh kembang kacang (hiasan pada pangkal keris), ia jatuh di tanah lalu tewas. Sunan Prawata dan isterinya juga meninggal dunia. Meninggalnya ber-sinengkalan tahun 1453. Arya Penangsang begitu tega membunuh Sunan Prawata sebab ayahnya juga dibunuh oleh Sunan Prawata, saat pulang dari sholat Jum'at. Ia dicegat di tengah jalan oleh utusan Sunan Prawata bernama Sura Yata. Ki Sura Yata tadi juga sudah dibunuh oleh teman ayahnya Arya Jipang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Prawata tadi mempunyai saudara perempuan namanya Ratu Kali Nyamat. Dia begitu tidak terima atas kematian saudara laki-lakinya itu. Lalu berangkat ke Kudus bersama suaminya berniat minta keadilan kepada Sunan Kudus. Lalu jawab Sunan Kudus, “Kakakmu itu sudah hutang pati pada Arya Penangsang. Sekarang tinggal membayar hutang itu saja.” Ratu Kali Nyamat mendengar jawaban Sunan Kudus itu sangat sakit hatinya. Lalu kembali pulang. Di tengah jalan dibegal utusannya Arya Penansang. Laki-lakinya dibunuh. Ratu Kali Nyamat sangat terpukul hatinya. Sebab baru saja kehilangan saudaranya, lalu kehilangan suaminya. Ia jadi sangat menderita. Lalu bertapa telanjang di Bukit Dana Raja. Sebagai ganti kain untuk menutup auratnya adalah rambutnya yang diurai. Ratu Kalinyamat berprasetia tidak mau memakai kain selama hidup jika Arya Penansang belum meninggal. Ia bernadar barangsiapa dapat membunuh Arya Jipang, dia akan mengabdi kepadanya dan akan menyerahkan seluruh kekayaannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada suatu ketika Sunan Kudus sedang berbincang-bincang dengan Arya Penangsang, Sunan Kudus berkata, “Kakakmu Sunan Prawata dan Kali Nyamat sekarang sudah mati, tapi belum lega rasanya kalau belum menguasai tanah Jawa semua. Jika masih ada adikmu Sultan Pajang saya kira tidak mungkin bisa jadi raja, sebab dia adalah penghalang.” Arya Penansang berkata, “Jika diperkenankan atas izin Sunan Kudus, Pajang akan saya gempur dengan perang, adik saya di Pajang akan saya bunuh supaya tidak ada penghalang.” Sunan Kudus menjawab, “Maksudmu itu saya kurang setuju sebab akan merusak negara serta banyak korban. Adapun maksud saya, kakakmu di Pajang bisa mati, secara diam-diam saja, jangan diketahui banyak orang.” Arya Penangsang menjawab sangat setuju. Lalu mengutus abdi pengawal untuk menculik dan membunuh Sultan Pajang. Utusan segera berangkat. Datang di Pajang tengah malam, lalu masuk ke dalam istana. Sultan Pajang sedang tidur berselimut kain kampuh, jarik/kain sarung. Para istrinya tidur di bawah. Utusan menerjang dan menusuk dengan sekuat tenaga. Sultan Pajang tidak mempan (kebal), masih enak tidur saja. Kain yang digunakan untuk berselimut itu pun tidak tertembus. Para isrti terkejut, bangun, menangis, dan menjerit. Sultan Pajang terkejut juga dan bangun. Kain selimut terlempar menerpa para utusan itu, mereka terjatuh terkapar di tanah, tiak ada yang dapat pergi….”&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dahulu kota Kudus masih bernama Tajug. Kata warga setempat, awalnya ada Kyai Telingsing yang mengembangkan kota ini. Telingsing sendiri adalah panggilan sederhana kepada The Ling Sing, seorang Muslim Cina asal Yunnan, Tiongkok. Ia sudah ada sejak abad ke-15 Masehi dan menjadi cikal bakal Tionghoa muslim di Kudus. Kyai Telingsing seorang ahli seni lukis dari Dinasti Sung yang terkenal dengan motif lukisan Dinasti Sung, juga sebagai pedagang dan mubaligh Islam terkemuka. Setelah datang ke Kudus untuk menyebarkan Islam, didirikannya sebuah masjid dan pesantren di kampung Nganguk. Raden Undung yang kemudian bernama Ja’far Thalib atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kudus adalah salah satu santrinya yang ditunjuk sebagai penggantinya kelak.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kota ini sudah ada perkembangan tersendiri sebelum kedatangan Ja’far Shodiq. Beberapa kiah tutur percaya bahwa Ja’far itu seorang penghulu Demak yang menyingkir dari kerajaan. Awal kehidupan Sunan Kudus di Kudus adalah dengan berada di tengah-tengah jamaah dalam kelompok kecil. Penafsiran lainnya itu memperkirakan bahwa kelompok kecilnya itu adalah para santrinya sendiri yang dibawa dari Demak sana, sekaligus juga tentara yang siap memerangi Majapahit. Versi lainnya mereka itu adalah warga setempat yang dipekerjakannya untuk menggarap tanah ladang. Berarti ada kemungkinan juga Ja’far memenuhi kebutuhan hidupnya di Kudus dimulai dengan menggarap ladang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Kudus berhasil menampakkan warisan budaya dan tanda dakwah islamiyahnya yang dikenal dengan pendekatan kultural yang begitu kuat. Hal ini sangat nampak jelas pada Menara Kudus yang merupakan hasil akulturasi budaya antara Hindu-China-Islam yang sering dikatakan sebagai representasi menara multikultural. Aspek material dari Menara Kudus yang membawa kepada pemaknaan tertentu melahirkan ideologi pencitraan tehadap Sunan Kudus. Oleh Roland Barthes disebut dengan mitos (myth), yang merupakan system komunikasi yang memuat pesan (sebuah bentuk penandaan). Ia tak dibatasi oleh obyek pesannya, tetapi cara penuturan pesannya. Mitos Sunan Kudus selain dapat ditemui pada peninggalan benda cagar budayanya, juga bisa ditemukan di dalam sejarah, gambar, legenda, tradisi, ekspresi seni maupun cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Kudus. Kini ia populer sebagai seorang wali yang toleran, ahli ilmu, gagah berani, kharismatik, dan seniman.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Satu fakta utama yang dapat masyarakat lihat pada mata uang kertas Rp. 5.000,00 dengan gambar Menara Kudus. Ini merupakan suatu bentuk apresiasi dari Gubernur Bank Indonesia yang dijabat oleh Arifin Siregar pada masa itu. Berikut petikan sambutannya: “…Kami sewaktu bertugas sebagai Gubernur Bank Indonesia mendapat kesempatan untuk mengeluarkan uang kertas Lima Ribu Rupiah dengan gambar Menara Kudus. Hal ini kami lakukan antara lain mengingat keindahan dan kenggunan Menara Kudus. Disamping itu Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah Indonesia yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat kita dan juga khalayak luar negeri.”&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengenai hari jadi kota Kudus sendiri (23 September 1549, berdasarkan Perda No. 11 Tahun 1990 yang diterbitkan tanggal 6 Juli 1990) memang tak bisa dilepaskan dari patriotisme Sunan Kudus sendiri. Bukti nyatanya dapat dilihat dalam inskripsi yang terdapat pada Mihrab di Masjid Al-Aqsa Kudus yang dibangun pada 956 H/1549 M oleh Sunan Kudus. Maka dalam setiap perayaan hari jadinya tak pernah lupa semangat dan patriotisme Sunan Kudus dalam memajukan rakyat dan ummatnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Muliadi via Castles (1982); Ismudiyanto dan Atmadi (1987); dan Suharso (1992), menyebutkan bahwa: “ Dalam sejarah, Kudus Kulon dikenal sebagai kota lama dengan diwarnai oleh kehidupan keagamaan dan adat istiadatnya yang kuat dan khas serta merupakan tempat berdirinya Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus; serta merupakan pusat tempat berdirinya rumah-rumah asli (adat pencu). Sementara Kudus Wetan terletak di sebelah Timur Sungai Gelis, dan merupakan daerah pusat pemerintahan, pusat transportasi, dan daerah pusat perdagangan.”&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu bentuknya ialah tarian Buka Luwur yang menggambarkan sejarah perjalanan masyarakat Kudus sepeninggal Sunan Kudus hingga terbentuk satuan wilayah yang disebut Kudus. Tradisi ini telah menjadi kegiatan rutin pengurus Menara Kudus setiap tanggal 10 Muharram dengan dukungan umat Islam baik di Kudus maupun sekitarnya. Ini merupakan prosesi pergantian kelambu pada makam Sunan Kudus diiringi doa-doa dan pembacaan kalimah toyyibah (tahlil, shalawat, istigfar, dan surat-surat pendek al-quran yang sebelumnya telah didahului dengan khataman quran secara utuh).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada lagi tradisi Dhandangan yang digelar setahun sekali menjelang bulan Ramadhan. Pada masa Sunan Kudus tradisi ini ditandai dengan pemukulan bedug di atas Menara Kudus (berbunyi dhang dhang dhang). Tradisi ini pun memperkuat eksistensi Sunan Kudus. Selain itu masyarakat Kudus hingga saat ini tak pernah berani menyembelih sapi/lembu sebagai suatu penghormatan kepada Sunan Kudus yang mana dakwahnya menekankan unsure kebijaksanaan dan toleransi karena kala itu masyarakat Kudus masih beragama Hindu yang mensucikan hewan lembu. Kini, setiap Kamis malam makam Kanjeng Sunan Kudus selalu ramai oleh peziarah dengan beragam latar beragam latar belakang dan etnis, dari berbagai daerah. Mereka datang dengan beragam cara, baik sendiri maupun bersama rombongan. Pada momen-momen tertentu ada yang datang dari mancanegara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Fenomena pencitraan ini berhasil menjadi sumber penggerak dalam bertindak (untuk beberapa hal), Bourdieu menyebutnya sebagai “tindakan yang bermakna” baik keberagamaan maupun fenomena budaya lainnya. Citra Sunan Kudus dalam masyarakat Kudus telah melewati kuasa dan pertarungan sistem tanda yang merekontruksi budaya lokal mereka. Suatu tandanya dapat dihubungkan dengan tanda lain yang dapat ditemui dalam model keberagamaan maupun kontruksi budaya masyarakat agama (Islam). Jadilah mereka memiliki identitas keislaman yang khas dan unik serta memiliki warisan spirit dan patriotisme yang melegenda. Hal ini terus digali hingga menjadi model dalam sosial-budaya dan sikap keberagamaan umat Islam (suatu identitas kultural).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kanjeng Sunan Kudus (selanjutnya disingkat KSK) banyak berguru kepada Sunan Kalijaga dan ia menggunakan gaya berdakwah ala gurunya itu yang sangat toleran pada budaya setempat serta cara penyampaian yang halus. Didekatinya masyarakat dengan memakai simbol-simbol Hindu-Budha seperti yang nampak pada gaya arsitektur Masjid Kudus. Suatu waktu saat KSK ingin menarik simpati masyarakat untuk mendatangi masjid guna mendengarkan tabligh akbarnya, ia tambatkan Kebo Gumarang (sapinya) di halaman masjid. Masyarakat yang saat itu memeluk agama Hindu pun bersimpati, dan semakin bersimpati selepas mendengarkan ceramah KSK mengenai “sapi betina” atau Al-Baqarah dalam bahasa Al-qurannya. Teknik lainnya lagi adalah dengan mengubah cerita ketauhidan menjadi berseri, betujuan menarik rasa penasaran masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau adalah Sunan Kudus yang bernama asli Syekh Ja’far Shodiq. Beliau pula yang menjadi salah satu dari anggota Wali Sanga sebagai penyebar Islam di Tanah Jawa. Sosok Sunan Kudus begitu sentral dalam kehidupan masyarakat Kudus dan sekitarnya. Kesentralan itu terwujud dikarenakan Sunan Kudus telah memberikan pondasi pengajaran keagamaan dan kebudayaan yang toleran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak heran, jika hingga sekarang makam beliau yang berdekatan dengan Menara Kudus selalu ramai diziarahi oleh masyarakat dari berbagai penjuru negeri. Selain itu, hal tersebut sebagai bukti bahwa ajaran toleransi Sunan Kudus tak lekang oleh zaman dan justru semakin relevan ditengah arus radikalisme dan fundamentalisme beragama yang semakin marak dewasa ini.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam perjalanan hidupnya, Sunan Kudus banyak berguru kepada Sunan Kalijaga. Cara berdakwahnya pun sejalan dengan pendekatan dakwah Sunan Kalijaga yang menekankan kearifan lokal dengan mengapresiasi terhadap budaya setempat.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa nilai toleransi yang diperlihatkan oleh Sunan Kudus terhadap pengikutnya yakni dengan melarang menyembelih sapi kepada para pengikutnya. Bukan saja melarang untuk menyembelih, sapi yang notabene halal bagi kaum muslim juga ditempatkan di halaman masjid kala itu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Langkah Sunan Kudus tersebut tentu mengundang rasa simpatik masyarakat yang waktu itu menganggap sapi sebagai hewan suci. Mereka kemudian berduyun-duyun mendatangi Sunan Kudus untuk bertanya banyak hal lain dari ajaran yang dibawa oleh beliau.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lama-kelamaan, bermula dari situ, masyarakat semakin banyak yang mendatangi masjid sekaligus mendengarkan petuah-petuah Sunan Kudus. Islam tumbuh dengan cepat. Mungkin akan menjadi lain ceritanya jika Sunan Kudus melawan arus mayoritas dengan menyembelih sapi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain berdakwah lewat sapi, bentuk toleransi sekaligus akulturasi Sunan Kudus juga bisa dilihat pada pancuran atau padasan yang berjumlah delapan yang sekarang difungsikan sebagai tempat berwudlu. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu dalam kehidupannya. Pola akulturasi budaya lokal Hindu-Budha dengan Islam juga bisa dilihat dari peninggalan Sunan Kudus berupa menara. Menara Kudus bukanlah menara yang berarsitektur bangunan Timur Tengah, melainkan lebih mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan Pura di Bali.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menara tersebut difungsikan oleh Sunan Kudus sebagai tempat adzan dan tempat untuk memukul bedug setiap kali datangnya bulan Ramadhan. Kini, menara yang konon merupakan menara masjid tertua di wilayah Jawa tersebut dijadikan sebagai landmark Kabupaten Kudus.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Strategi (akulturasi) dakwah Sunan Kudus adalah suatu hal yang melampaui zamannya. Melampaui zaman karena dakwah dengan mengusung nilai-nilai akulturasi saat itu belumlah ramai dipraktikkan oleh penyebar Islam di Indonesia pada umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini, toleransi beragama berada di titik nadir. Ironisnya, toleransi beragama tak cuma menjadi barang mahal tetapi sudah terlalu langka. Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit dakwah Sunan Kudus, kiranya masyarakat muslim bisa mengembalikan lagi wajah Islam yang ramah dan toleran setelah sebelumnya dihinggapi oleh stigma negatif.Ajaran Toleransi Ala Sunan Kudus.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kota Kudus, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada tahun 1550 M Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di Masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud. kemudian dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di antara keturunan Sunan Kudus yang menjadi Ulama' dan Tokoh di Indonesia adalah: Syekh Kholil Bangkalan Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini, Syekh Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini, dan Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Ba'alawi Al-Husaini.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHV758rZIJ2Tltrfgm71rtLxW6fIfGvMa6hguINv_YIlJhaNJ1GqaBljGgDtg8fCW-UHeuUfCPxIezT0qTnFbr4rVVm5FKtIc7hICvDSLtkicQ7-6ZX9lTnEDHZsGD16rMjaQZYY-HLcZM/s72-c/sunan_kudus.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Drajat</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-drajat.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Wed, 28 Mar 2012 01:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-7318579399013780679</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Drajat diperkirakan lahir pada tahun 1470 masehi. Nama kecilnya adalah Raden Qasim, kemudian mendapat gelar Raden Syarifudin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel, dan bersaudara dengan Sunan Bonang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6G1AWMJ26MN-ZX8SLmCFiMhHzIItSML0pTlHdEjDOT2zh7_VRamRZM2u6mpQE6dzVdVs90ZvLOmOvB0kl28n5NE76QmNMTUbacd6dKYvQgEVApFTxsjGSNo-oNZEKySqK3OZ6GLM2FcFZ/s1600/Sunan+Drajat.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6G1AWMJ26MN-ZX8SLmCFiMhHzIItSML0pTlHdEjDOT2zh7_VRamRZM2u6mpQE6dzVdVs90ZvLOmOvB0kl28n5NE76QmNMTUbacd6dKYvQgEVApFTxsjGSNo-oNZEKySqK3OZ6GLM2FcFZ/s320/Sunan+Drajat.jpeg" width="241" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Drajat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika dewasa, Sunan Drajat mendirikan pesantren Dalem Duwur di desa Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Drajat yang mempunyai nama kecil Syarifudin atau raden Qosim putra Sunan Ampel dan terkenal dengan kecerdasannya. Setelah menguasai pelajaran islam beliau menyebarkan agama Islam di desa Drajat sebagai tanah perdikan di kecamatan Paciran. Tempat ini diberikan oleh kerajaan Demak. Ia diberi gelar Sunan Mayang Madu oleh Raden Patah pada tahun saka 1442/1520 masehi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Makam Sunan Drajat dapat ditempuh dari Surabaya maupun Tuban lewat Jalan Daendels (Anyar-Panarukan), namun bila lewat Lamongan dapat ditempuh 30 menit dengan kendaraan pribadi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Drajat bernama kecil Raden Syari­fuddin atau Raden Qosim putra Sunan Ampel yang terkenal cerdas. Setelah pelajaran Islam dikuasai, beliau me­ngambil tempat di Desa Drajat wilayah Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan sebagai pusat kegiatan dakwahnya sekitar abad XV dan XVI Masehi. Ia memegang kendali keprajaan di wilayah perdikan Drajat sebagai otonom kerajaan Demak selama 36 tahun.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau sebagai Wali penyebar Islam yang terkenal berjiwa sosial, sangat memperha­tikan nasib kaum fakir miskin. Ia terle­bih dahulu mengusahakan kesejahteraan sosial baru memberikan pemahaman tentang ajaran Islam. Motivasi lebih ditekankan pada etos kerja keras, kedermawanan untuk mengentas kemiskinan dan menciptakan kemakmuran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Usaha ke arah itu menjadi lebih mudah karena Sunan Drajat memperoleh kewenangan untuk mengatur wilayahnya yang mempu­nyai otonomi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai penghargaan atas keberha­silannya menyebarkan agama Islam dan usahanya menanggulangi kemiskinan dengan menciptakan kehidupan yang makmur bagi warganya, beliau memperoleh gelar Sunan Mayang Madu dari Raden Patah Sultan Demak pada tahun saka 1442 atau 1520 Masehi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Memangun resep teyasing Sasomo (kita selalu membuat senang hati orang lain)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jroning suko kudu eling Ian waspodo (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Laksitaning subroto tan nyipto marang pringgo bayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meper Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mulyo guno Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menehono teken marang wong kang wuto, Menehono mangan marang wong kang luwe, Menehono busono marang wong kang wudo, Menehono ngiyup marang wongkang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam sejarahnya Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang Wali pencipta tembang Mocopat yakni Pangkur. Sisa - sisa gamelan Singomeng­koknya Sunan Drajat kini tersimpan di Musium Daerah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghormati jasa - jasa Sunan Drajat sebagai seorang Wali penyebar agama Islam di wilayah Lamongan dan untuk melestarikan budaya serta benda-­benda bersejarah peninggalannya Sunan Drajat, keluarga dan para sahabatnya yang berjasa pada penyiaran agama Islam, Pemerintah Kabupaten Lamongan mendirikan Musium Daerah Sunan Drajat disebelah timur Makam. Musium ini telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur tanggal 1 Maret 1992.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Upaya Bupati Lamongan R. Mohamad Faried, SH untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan sejarah bangsa ini mendapat dukungan penuh Gubernur Jawa Timur dengan alokasi dana APBD I yaitu pada tahun 1992 dengan pemugaran Cungkup dan pembangu­nan Gapura Paduraksa senilai Rp. 98 juta dan anggaran Rp. 100 juta 202 ribu untuk pembangunan kembali Masjid Sunan Drajat yang diresmikan oleh Menteri Penerangan RI tanggal 27 Juni 1993. Pada tahun 1993 sampai 1994 pembenahan dan pembangunan Situs Makam Sunan Drajat dilanjutkan dengan pembangunan pagar kayu berukir, renovasi paseban, bale rante serta Cungkup Sitinggil dengan dana APBD I Jawa Timur sebesar RP. 131 juta yang diresmikan Gubernur Jawa Timur M. Basofi Sudirman tanggal 14 Januari 1994.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6G1AWMJ26MN-ZX8SLmCFiMhHzIItSML0pTlHdEjDOT2zh7_VRamRZM2u6mpQE6dzVdVs90ZvLOmOvB0kl28n5NE76QmNMTUbacd6dKYvQgEVApFTxsjGSNo-oNZEKySqK3OZ6GLM2FcFZ/s72-c/Sunan+Drajat.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Bonang</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-bonang.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Tue, 27 Mar 2012 01:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-1412862491398841419</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO4PRmc6CerGV5tTFslB0VPBg06wPiLggGODu2eH-N6v3sFMyzjtsni051FzIqBug6EQtrt9kUt_heEKI53OZCM9Ph1GJMTk57QNiFf3VVqYKZuiiYQaDW0adGdLtyeljsYVUryUo-oMwF/s1600/Sunan+Bonang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO4PRmc6CerGV5tTFslB0VPBg06wPiLggGODu2eH-N6v3sFMyzjtsni051FzIqBug6EQtrt9kUt_heEKI53OZCM9Ph1GJMTk57QNiFf3VVqYKZuiiYQaDW0adGdLtyeljsYVUryUo-oMwF/s320/Sunan+Bonang.jpg" width="255" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Bonang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun, yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar wafatnya beliau sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Bonang disebut Sayyid Kramat merupakan seorang Arab keturunan Nabi Muhammad.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga menggubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian beliau kombinasi dengan kesimbangan pernapasan yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا ل م ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu. Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Beliau ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an. Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO4PRmc6CerGV5tTFslB0VPBg06wPiLggGODu2eH-N6v3sFMyzjtsni051FzIqBug6EQtrt9kUt_heEKI53OZCM9Ph1GJMTk57QNiFf3VVqYKZuiiYQaDW0adGdLtyeljsYVUryUo-oMwF/s72-c/Sunan+Bonang.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Giri</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-giri.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Mon, 26 Mar 2012 01:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-6920737447806130233</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Giri adalah nama salah seorang Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton, yang berkedudukan di daerah Gresik, Jawa Timur. Ia lahir di Blambangan tahun 1442. Sunan Giri memiliki beberapa nama panggilan, yaitu Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden 'Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Ia dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhImWGX3uUMMCBhsT-wyWjGQ_gZQa6bw1_MlKMvH73rSNqFO_2amk208_4aOPjxAV6dqInu9FLIj-cMvfebcOu0XECpOJ3qpx6gd0hfWD8hpV0S23C1tEA5EXKQZfkyodogBjrrN4RXV26/s1600/Sunan+Giri.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhImWGX3uUMMCBhsT-wyWjGQ_gZQa6bw1_MlKMvH73rSNqFO_2amk208_4aOPjxAV6dqInu9FLIj-cMvfebcOu0XECpOJ3qpx6gd0hfWD8hpV0S23C1tEA5EXKQZfkyodogBjrrN4RXV26/s320/Sunan+Giri.jpg" width="262" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Giri&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa babad menceritakan pendapat yang berbeda mengenai silsilah Sunan Giri. Sebagian babad berpendapat bahwa ia adalah anak Maulana Ishaq, seorang mubaligh yang datang dari Asia Tengah. Maulana Ishaq diceritakan menikah dengan Dewi Sekardadu, yaitu putri dari Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir kekuasaan Majapahit.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan 'Ainul Yaqin (Sunan Giri). Umumnya pendapat tersebut adalah berdasarkan riwayat pesantren-pesantren Jawa Timur, dan catatan nasab Sa'adah BaAlawi Hadramaut.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai (Jeumpa?) dan Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera. Putera ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian melahirkan Pangeran Giri. Putri Pasai adalah puteri Sultan Pasai yang diambil isteri oleh Raja Majapahit yang bernama Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Mangkubumi Majapahit masa itu adalaha Patih Maudara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah, dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit. Namun kelahirannya dianggap telah membawa kutukan berupa wabah penyakit di wilayah tersebut. Maka ia dipaksa ayahandanya (Prabu Menak Sembuyu) untuk membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Lalu, Dewi Sekardadu dengan rela menghanyutkan anaknya itu ke laut/selat bali sekarang ini.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian, bayi tersebut ditemukan oleh sekelompok awak kapal (pelaut) dan dibawa ke Gresik. Di Gresik, dia diadopsi oleh seorang saudagar perempuan pemilik kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Ampeldenta (kini di Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai. Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku, mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Jawa. Ia kemudian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawa, giri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, Lir-ilir dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhImWGX3uUMMCBhsT-wyWjGQ_gZQa6bw1_MlKMvH73rSNqFO_2amk208_4aOPjxAV6dqInu9FLIj-cMvfebcOu0XECpOJ3qpx6gd0hfWD8hpV0S23C1tEA5EXKQZfkyodogBjrrN4RXV26/s72-c/Sunan+Giri.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Raja Jawa Pada Masa Mataram Kuno Wangsa Syailendra</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/raja-jawa-pada-masa-mataram-kuno-wangsa.html</link><category>Raja Nusantara</category><pubDate>Sun, 25 Mar 2012 23:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-1555218149736332276</guid><description>&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Wangsa Syailendra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sri Indrawarman (752-775)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri Maharaja Indra Warmadewa atau Sri Indrawarman merupakan seorang maharaja Sriwijaya, yang namanya dikenal dalam kronik Tiongkok sebagai Shih-li-t-'o-pa-mo.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Munculnya nama Maharaja Sriwijaya Sri Indrawarman berdasarkan surat kepada khalifah Umar bin Abdul-Aziz dari Bani Umayyah tahun 718. Dalam surat itu disebutkan dikirim dari seorang Maharaja, yang memiliki ribuan gajah, memiliki rempah-rempah dan wewangian serta kapur barus, dengan kotanya yang dilalui oleh dua sungai sekaligus untuk mengairi lahan pertanian mereka dan mengantarkan hadiah untuk khalifah pada waktu itu. Kemungkinan khalifah Umar bin Abdul-Aziz juga memberikan hadiah untuk utusan Sriwijaya dan mereka kembali dengan membawa hadiah Zanji (budak wanita berkulit hitam).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian dari kronik Tiongkok disebutkan Shih-li-fo-shih dengan rajanya Shih-li-t-'o-pa-mo pada tahun 724 mengirimkan hadiah buat kaisar Cina, berupa ts'engchi (bermaksud sama dengan Zanji dalam bahasa Arab).&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwJ95phUT_Lu8jPb-1hoW4m1MV97tdmVPd_8KLQdjMjigmmn77vT_Dj4uBVb5B-lc5-sXUi_B42EzrGnAOYXS1bgR2Uu10Mhkm6cE3v6GHDpu4iEyBNrUZMIgHuOOTj8bHQOAD_iTzw03_/s1600/Prasasti+Ligor.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="194" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwJ95phUT_Lu8jPb-1hoW4m1MV97tdmVPd_8KLQdjMjigmmn77vT_Dj4uBVb5B-lc5-sXUi_B42EzrGnAOYXS1bgR2Uu10Mhkm6cE3v6GHDpu4iEyBNrUZMIgHuOOTj8bHQOAD_iTzw03_/s320/Prasasti+Ligor.jpg" width="259" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Prasasti Ligor&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;b&gt;Wisnuwarman (775-782)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maharaja Wisnu adalah seorang raja dari Wangsa Sailendra yang dipercaya telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya. Beberapa literatur menyebut tahun pemerintahannya terjadi pada 775 – 782. Namun rentang waktu ini hanya bersifat dugaan yang kebenarannya masih perlu untuk dibuktikan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Wisnu terdapat dalam prasasti Ligor yang ditemukan di Semenanjung Malaya. Prasasti ini berupa sebongkah batu yang bertuliskan pada kedua sisinya. Sisi pertama disebut prasasti Ligor A, dikeluarkan oleh raja Kerajaan Sriwijaya yang dipuji bagaikan Indra. Raja tersebut meresmikan bangunan Trisamaya Caitya pada tahun 775. Dengan kata lain daerah Ligor pada saat itu merupakan jajahan Sriwijaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sisi yang satu lagi disebut dengan istilah prasasti Ligor B, dikeluarkan oleh raja dari Wangsa Sailendra yang disebut Wisnu dan bergelar Sri Maharaja (terjemahan Dr. Chhabra). Sisi yang kedua ini berisi pujian terhadap raja tersebut sebagai Sarwwarimadawimathana, yang artinya “pembunuh musuh-musuh perwira”.&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1lVHpp-1_C88H1_NXshTZq_YrcJOiBKEDq9s3Twj5CF34BUYHjztP-qI1Kg4gHd9uMRixy-TiPejd73iEZOOOEqBIdSGiG9N8hbngYxifD1sv0tZWQqNjbBr84FMsOTRfwCrdYnOpLOt_/s1600/Prasasti+Ligor2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="247" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1lVHpp-1_C88H1_NXshTZq_YrcJOiBKEDq9s3Twj5CF34BUYHjztP-qI1Kg4gHd9uMRixy-TiPejd73iEZOOOEqBIdSGiG9N8hbngYxifD1sv0tZWQqNjbBr84FMsOTRfwCrdYnOpLOt_/s320/Prasasti+Ligor2.jpg" width="167" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Prasasti Ligor B&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarawan Prof. George Cœdès (1950) berbeda penafsiran dengan Dr. Chhabra. Ia berpendapat bahwa prasasti Ligor A dan B dikeluarkan oleh Wisnu pada saat yang bersamaan, yaitu pada tahun 775. Menurutnya pula, dalam prasasti Ligor B terdapat dua orang raja, yaitu Wisnu dan Sri Maharaja.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
George Coedes berpendapat bahwa Wisnu adalah ayah dari Sri Maharaja yang tidak jelas namanya itu. Sri Maharaja sendiri dianggap identik dengan Dharanindra yang mengeluarkan prasasti Kelurak (782). Dengan kata lain, Maharaja Wisnu raja Sriwijaya adalah ayah dari Dharanindra raja Jawa. Beberapa sejarawan lainnya yang sependapat menganggap tokoh Dharanindra ini sebagai maharaja yang menaklukkan Rakai Panangkaran putra Sanjaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarawan Slamet Muljana (1960) berpendapat bahwa, terjemahan Dr. Chhabra lebih benar, yaitu Wisnu dan Sri Maharaja bukan ayah dan anak, melainkan satu orang yang sama. Berdasarkan perbedaan tata bahasa, ia juga menolak anggapan kalau prasasti Ligor A dan B ditulis pada waktu yang bersamaan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurutnya Slamet Muljana, hanya prasasti A saja yang ditulis pada tahun 775 oleh raja Sriwijaya yang dipuji bagaikan Indra. Sedangkan prasasti B dikeluarkan oleh Maharaja Wisnu setelah Kerajaan Sriwijaya berhasil dikuasai Wangsa Sailendra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wisnu dan Dharanindra masing-masing dijuluki sebagai Sarwwarimadawimathana (prasasti Ligor B) dan Wairiwarawiramardana (prasasti Kelurak) yang keduanya bermakna sama, yaitu "pembunuh musuh-musuh perwira". Selain itu, nama Wisnu dan Dharanindra juga memiliki makna yang sama, yaitu "pelindung dunia". Dengan kata lain, Slamet Muljana menganggap Maharaja Wisnu dan Dharanindra adalah orang yang sama.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Slamet Muljana juga membantah teori bahwa Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang dikalahkan Dharanindra. Dalam prasasti Kalasan (778) Rakai Panangkaran disebut sebagai "permata wangsa Sailendra", jadi tidak mungkin kalau ia adalah putra Sanjaya. Justru menurutnya, Rakai Panangkaran merupakan raja Sailendra pertama yang berhasil mengalahkan keluarga Sanjaya dan merebut takhta Kerajaan Medang periode Jawa Tengah (atau lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lebih lanjut Muljana berpendapat, Dharanindra adalah raja pengganti Rakai Panangkaran yang berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya dengan kekuatannya. Setelah peristiwa itu, Ligor yang merupakan jajahan Sriwijaya secara otomatis menjadi jajahan Wangsa Sailendra. Daerah itu pun dijadikannya sebagai pangkalan militer untuk menyerang Kamboja dan Campa. Sebagai tanda kekuasaan, Dharanindra menulisi bagian belakang prasasti Ligor A, sehingga lahir prasasti B yang isinya berupa puji-pujian untuk dirinya sebagai penjelmaan Wisnu.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori Slamet Muljana ini juga didasarkan pada data sejarah Kamboja, bahwa Campa pernah diserang Jawa tahun 787. Kemudian pada tahun 802 Raja Jayawarman berhasil memerdekakan Kamboja dari penjajahan Jawa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila teori ini benar, maka penulisan prasasti B merupakan tanda berkuasanya Wangsa Sailendra atas daerah Ligor yang terjadi antara tahun 778 dan 787. Muljana menyimpulkan, setelah berhasil menaklukkan Jawa, keluarga Sailendra pun menaklukkan Sriwijaya dan menjadikan Ligor sebagai batu loncatan untuk menyerang Kamboja.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila teori Slamet Muljana benar, maka tahun pemerintahan Maharaja Wisnu yang berlangsung dari 775 – 782 sebagaimana banyak ditemukan dalam beberapa literatur perlu untuk ditinjau ulang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan pertama ialah, tahun 775 merupakan tahun penulisan prasasti Ligor A oleh raja Kerajaan Sriwijaya sebelum berkuasanya Wangsa Sailendra. Muljana menganggap hanya prasasti B yang dikeluarkan oleh Wisnu dan itu pun ditulis sesudah tahun 775.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan kedua ialah, andaikata prasasti A benar-benar dikeluarkan oleh Maharaja Wisnu tahun 775, tetap saja tidak ada bukti kuat kalau prasasti ini adalah prasasti pertamanya. Dengan kata lain, Wisnu belum tentu naik takhta tepat tahun 775.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan ketiga ialah, tahun 782 merupakan tahun dikeluarkannya prasasti Kelurak oleh Dharanindra. Apabila teori Coedes benar bahwa Dharanindra adalah putra Wisnu, tetap saja tidak ada bukti kuat kalau prasasti Kelurak merupakan prasasti pertamanya. Dengan kata lain, Dharanindra mungkin saja naik takhta menggantikan Wisnu sebelum tahun 782.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, masa pemerintahan Maharaja Wisnu tidak dapat dipastikan benar-benar terjadi pada tahun 775 – 782.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dharanindra (782-812)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dharanindra, atau kadang disingkat Indra, adalah seorang raja dari Wangsa Sailendra yang memerintah sekitar tahun 782. Namanya ditemukan dalam prasasti Kelurak dengan disertai gelar Sri Sanggrama Dhananjaya. Tokoh ini dipercaya telah berhasil melebarkan wilayah kekuasaan Wangsa Sailendra sampai ke Semenanjung Malaya dan daratan Indocina.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Salah satu pendapat yang dikemukakan Sejarawan Slamet Muljana menyebut Dharanindra identik dengan Sri Maharaja Rakai Panunggalan, yaitu raja ketiga Kerajaan Medang periode Jawa Tengah, atau yang lazim disebut Kerajaan Mataram Kuno.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPXzq8nGAZ9WkDk-jSLZLrYTEj4Aey79cwLf1TKYMKCYUwC68izF2_I0X1Zpq-T7qP3kawKL2AsArIDbOaDkRU-Sdl7vCwN7roZmyofyIUt3g2Jn_LGSHIxNpYa1DS4NTWw-e4eeA4Vyfn/s1600/prasasti+Kelurak.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhPXzq8nGAZ9WkDk-jSLZLrYTEj4Aey79cwLf1TKYMKCYUwC68izF2_I0X1Zpq-T7qP3kawKL2AsArIDbOaDkRU-Sdl7vCwN7roZmyofyIUt3g2Jn_LGSHIxNpYa1DS4NTWw-e4eeA4Vyfn/s320/prasasti+Kelurak.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Dharanindra terdapat dalam prasasti Kelurak tahun 782. Dalam prasasti itu ia dipuji sebagai Wairiwarawiramardana, atau "penumpas musuh-musuh perwira". Julukan yang mirip terdapat dalam prasasti Nalanda, yaitu Wirawairimathana, dan prasasti Ligor B yaitu Sarwwarimadawimathana.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarawan Slamet Muljana menganggap ketiga julukan tersebut merupakan sebutan untuk orang yang sama, yaitu Dharanindra. Dalam prasasti Nalanda, Wirawairimathana memiliki putra bernama Samaragrawira, ayah dari Balaputradewa (raja Kerajaan Sriwijaya). Dengan kata lain, Balaputradewa adalah cucu Dharanindra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu prasasti Ligor B yang memuat istilah Sarwwarimadawimathana menurut pendapat Sejarawan George Cœdès dikeluarkan oleh Maharaja Wisnu raja Sriwijaya. Prasasti ini dianggap lanjutan dari prasasti Ligor A, yang berangka tahun 775. Dalam hal ini Slamet Muljana berpendapat bahwa, hanya prasasti A saja yang ditulis tahun 775, sedangkan prasasti B ditulis sesudah Kerajaan Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa Sailendra.&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-dxX9nQ3oQYAf8UdLzhkpVQGGYVUawCrRxmoJzUiI4SqoGoPAWIZi_5tmI69DtD4MnLbYyqstNFLxOu7pH8amP8VsKRzZpg5l03jmyEyyVV8x6YZMnr1FSOyN3D6c02_0f4nuLibtHfQv/s1600/Champa_Po_Nagar_Nha_Trang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="222" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-dxX9nQ3oQYAf8UdLzhkpVQGGYVUawCrRxmoJzUiI4SqoGoPAWIZi_5tmI69DtD4MnLbYyqstNFLxOu7pH8amP8VsKRzZpg5l03jmyEyyVV8x6YZMnr1FSOyN3D6c02_0f4nuLibtHfQv/s320/Champa_Po_Nagar_Nha_Trang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasan Muljana adalah terdapat perbedaan tata bahasa antara prasasti A dan B, sehingga kedua prasasti itu menurutnya ditulis dalam waktu yang tidak bersamaan. Ia kemudian memadukannya dengan berita dalam prasasti Po Ngar, bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-La) sampai tahun 802. Selain itu, Jawa juga pernah menyerang Campa tahun 787.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra sebagai raja Jawa telah berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya di Semenanjung Malaya, yaitu Ligor. Prasasti Ligor B ditulis olehnya sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya. Prasasti ini berisi puji-pujian untuk dirinya sebagai penjelmaan Wisnu. Daerah Ligor kemudian dijadikannya sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa tahun 787 dan juga Kamboja.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja ini sesuai dengan julukan Dharanindra, yaitu "penumpas musuh-musuh perwira". Kamboja sendiri akhirnya berhasil merdeka di bawah pimpinan Jayawarman tahun 802. Mungkin saat itu Dharanindra telah meninggal dunia.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam teorinya, George Coedes menganggap Maharaja Wisnu merupakan ayah dari Dharanindra. Sementara itu, Slamet Muljana menganggap Wisnu dan Dharanindra merupakan orang yang sama. Selain karena kemiripan julukan, juga karena kemiripan arti nama. Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna “pelindung jagad”.&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2cPHCNNGrQWZJceOs0CccqT4hfxOejLa2C6pRWwIMZQ_dENKjB-A3rznIRmo7S_QiHqgGtKvAhGtb8hVjgAuNULf_HLXajSRtcBaDmZlJWhFNeTKprg_fPu5PuNXqkPF934FZFybE3xQn/s1600/Candi+Kalasan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2cPHCNNGrQWZJceOs0CccqT4hfxOejLa2C6pRWwIMZQ_dENKjB-A3rznIRmo7S_QiHqgGtKvAhGtb8hVjgAuNULf_HLXajSRtcBaDmZlJWhFNeTKprg_fPu5PuNXqkPF934FZFybE3xQn/s320/Candi+Kalasan.jpg" width="249" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Candi Kalasan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rakai Panangkaran adalah raja kedua Kerajaan Medang (periode Jawa Tengah) versi prasasti Mantyasih. Pada tahun 778 ia membangun Candi Kalasan atas permohonan para guru raja Sailendra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut teori van Naerrsen, Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sanjaya yang menjadi bawahan raja Sailendra. Nama raja Sailendra itu kemudian ditemukan dalam prasasti Kelurak (782), yaitu Dharanindra. Dengan kata lain, Dharanindra adalah atasan Rakai Panangkaran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut teori Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto, Wangsa Sanjaya tidak pernah ada karena tidak pernah disebutkan dalam prasasti mana pun. Sanjaya dan Rakai Panangkaran merupakan anggota Wangsa Sailendra namun berbeda agama. Sanjaya beragama Hindu Siwa, sedangkan Rakai Panangkaran adalah putranya yang berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahayana.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori ini menolak anggapan bahwa Rakai Panangkaran adalah bawahan Wangsa Sailendra, karena ia sendiri dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan (778). Jadi, yang dimaksud dengan "para guru raja Sailendra" tidak lain adalah para guru Rakai Panangkaran sendiri. Prasasti Kalasan dan prasasti Kelurak hanya berselisih empat tahun, jadi kemungkinan besar dikeluarkan oleh raja yang sama. Dengan kata lain, Dharanindra adalah nama asli Rakai Panangkaran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut teori Slamet Muljana, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya. Keduanya berasal dari dua dinasti yang berbeda. Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sailendra yang berhasil merebut takhta Kerajaan Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Jika ia hanya menjadi raja bawahan saja, maka ia tidak mungkin bergelar maharaja dan dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka. Sementara itu, menurut prasasti Kalasan, nama asli Rakai Panangkaran adalah Dyah Pancapana, jadi tidak mungkin sama dengan Dharanindra. Dengan kata lain, Dharanindra adalah raja pengganti Rakai Panangkaran.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam prasasti Mantyasih diketahui nama raja Kerajaan Medang sesudah Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan. Jadi, menurut teori Slamet Muljana, Dharanindra adalah nama asli dari Rakai Panunggalan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Samaratungga (812-833)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri Maharaja Samarottungga, atau kadang ditulis Samaratungga, adalah raja Kerajaan Medang dari Wangsa Syailendra yang memerintah pada tahun 792 – 835. Tidak seperti pendahulunya yang ekspansionis, pada masa pemerintahannya, Smaratungga lebih mengedepankan pengembangan agama dan budaya. Pada tahun 825, dia menyelesaikan pembangunan candi Borobudur yang menjadi kebanggaan Indonesia. Untuk memperkuat aliansi antara wangsa Syailendra dengan penguasa Sriwijaya terdahulu, Samaratungga menikahi Dewi Tara, putri Dharmasetu. Dari pernikahan itu Samaratungga memiliki seorang putra pewaris tahta, Balaputradewa, dan Pramodhawardhani yang menikah dengan Rakai Pikatan, putra Sri Maharaja Rakai Garung, raja kelima Kerajaan Medang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Samaratungga terdapat dalam prasasti Kayumwungan atau prasasti Karangtengah yang dikeluarkan pada tanggal 26 Mei 824. Dalam prasasti itu disebutkan bahwa, Samaratungga memiliki seorang putri bernama Pramodawardhani yang meresmikan sebuah jinalaya yang sangat indah. Prasasti ini dianggap berhubungan dengan pembangunan Candi Borobudur.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prasasti Kayumwungan terdiri atas dua bagian. Bagian pertama berbahasa Sanskerta sebagaimana disinggung di atas, sedangkan bagian kedua berbahasa Jawa Kuno yang dikeluarkan oleh Rakai Patapan Mpu Palar. Disebutkan, tokoh Mpu Palar menghadiahkan beberapa desa sebagai sima swatantra untuk ikut serta merawat candi Jinalaya tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarawan De Casparis menganggap tokoh Rakai Patapan Mpu Palar adalah raja bawahan Samaratungga. Nama lengkapnya ditemukan dalam Prasasti Gandasuli, yaitu Dang Karayan Patapan Sida Busu Pelar. Prasasti yang kedua ini dikeluarkan tahun 832 dan menyebutkan adanya istilah "kerajaan". Jadi, menurut De Casparis, Mpu Palar pada tahun itu melepaskan diri dari kekuasaan Samaratungga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
De Casparis juga menemukan bahwa, dalam prasasti Kedu terdapat informasi tentang desa Guntur yang masuk wilayah wihara Garung, serta masuk pula wilayah Patapan. Atas dasar ini, Rakai Patapan dianggap identik dengan Sri Maharaja Rakai Garung dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Rakai Garung adalah raja sebelum Rakai Pikatan, yang merupakan menantu Samaratungga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpulannya ialah, Rakai Patapan Mpu Palar pada tahun 824 masih menjadi bawahan Samaratungga. Kemudian pada tahun 832 ia sudah membangun kerajaan sendiri dan memakai gelar Maharaja Rakai Garung. Putranya bernama Rakai Pikatan Mpu Manuku menikah dengan Pramodawardhani putri Samaratungga sehingga bisa mewarisi takhta Kerajaan Medang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori De Casparis ini ditolak oleh Slamet Muljana. Menurutnya, prasasti Gondosuli dikeluarkan ketika Mpu Palar sudah meninggal. Gelar terakhirnya menurut prasasti itu ialah haji, yaitu gelar untuk raja bawahan di bawah maharaja. Jadi Haji Rakai Patapan tidak mungkin sama dengan Maharaja Rakai Garung. Selain itu, disebutkan pula bahwa anak-anak Mpu Palar semuanya perempuan, jadi tidak mungkin ia berputra Rakai Pikatan. Ditinjau dari tata bahasa prasasti Gondosuli, tokoh Mpu Palar diperkirakan berasal dari pulau Sumatra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam prasasti Munduan diketahui yang menjabat sebagai Rakai Patapan pada tahun 807 adalah Mpu Manuku. Kemudian pada prasasti Kayumwungan (824) dijabat oleh Mpu Palar. Namun, pada prasasti Tulang Air (850) Mpu Manuku kembali memimpin daerah Patapan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpulannya ialah, Mpu Manuku mula-mula menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian ia diangkat oleh Maharaja Samaratungga sebagai Rakai Pikatan, sehingga jabatannya digantikan oleh Mpu Palar, seorang pendatang dari Sumatra. Atas jasa-jasa dan kesetiaannya, Mpu Palar kemudian diangkat sebagai raja bawahan bergelar haji.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rakai Pikatan Mpu Manuku berhasil menikahi Pramodawardhani sang putri mahkota. Ia bahkan berhasil menjadi raja Kerajaan Medang sepeninggal Samaratungga. Kemudian setelah Mpu Palar meninggal, daerah Patapan kembali diperintah olehnya. Mungkin dijadikan satu dengan Pikatan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sri Maharaja Rakai Garung adalah raja kelima Kerajaan Medang dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Pada prasasti Pengging tanggal 21 Maret 819 juga ditemukan istilah Rakryan i Garung, namun tidak diketahui siapa nama aslinya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagaimana telah disebutkan di atas, De Casparis menganggap Rakai Garung identik dengan Rakai Patapan Mpu Palar. Namun, teori ini ditolak Slamet Muljana berdasarkan analisis perbandingan prasasti Gondosuli, Kayumwungan, dan Mantyasih.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut prasasti Mantyasih, Maharaja Rakai Garung memerintah Kerajaan Medang sebelum Rakai Pikatan. Maka, tokoh yang mungkin identik dengannya adalah Maharaja Samaratungga, bukan Mpu Palar yang hanya bergelar haji.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, menurut teori ini, sebelum menjadi raja di Kerajaan Medang, Samaratungga lebih dahulu menjabat sebagai kepala daerah di Garung (bergelar Rakryan i Garung atau Rakai Garung).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Balaputradewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya yang mengaku sebagai putra Samaragrawira. Berdasarkan kemiripan nama, De Casparis menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga. Teori ini kemudian dipopulerkan oleh para sejarawan lainnya, misalnya Dr. Bosch.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori ini sangat populer sehingga muncul anggapan bahwa, sepeninggal Samaratungga terjadi perang saudara memperebutkan tahta antara Balaputradewa melawan Rakai Pikatan, suami saudarinya, Pramodawardhani. Akhirnya, Balaputradewa kalah dan menyingkir ke Palembang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bantahan kembali muncul dari Slamet Muljana yang menolak identifikasi Samaratungga dengan Samaragrawira. Prasasti Kayumwungan dengan jelas menyebutkan bahwa, Samaratungga hanya memiliki seorang putri saja, bernama Pramodawardhani. Menurut Slamet Muljana, tokoh Balaputradewa tidak memiliki hak atas tahta Jawa karena ia hanyalah adik Samaratungga, bukan putranya. Dengan kata lain, Samaragrawira memiliki dua orang putra, yaitu Samaratungga dan Balaputradewa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin, Balaputradewa menyingkir ke Sumatra bukan karena kalah perang, tetapi karena sejak awal ia memang sudah tidak memiliki hak atas tahta Jawa. Menurut teori populer, markas Balaputradewa sewaktu berperang melawan Rakai Pikatan adalah bukit Ratu Boko. Namun, prasasti-prasasti yang ditemukan di bukit tersebut ternyata membuktikan kalau musuh Rakai Pikatan bukan Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Analisis terhadap prasasti-prasasti Ratu Baka tersebut dilakukan oleh Pusponegoro dan Notosutanto.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila teori Slamet Muljana benar, bahwa Samaratungga identik dengan Rakai Garung, maka tokoh ini diperkirakan naik tahta Kerajaan Medang sebelum tahun 819 (prasasti Pengging). Peresmian Candi Borobudur dianggap terjadi pada tahun 824 dan dilakukan oleh Pramodawardhani sang putri mahkota (prasasti Kayumwungan). Pada tahun ini Samaratungga dipastikan masih hidup.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian, prasasti Kahulunan tahun 842 menyebut adanya tokoh Sri Kahulunan yang telah menetapkan beberapa desa sebagai daerah perdikan untuk merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur). Ada dua versi penafsiran tokoh Sri Kahulunan ini, yaitu permaisuri atau ibu suri. Nama Samaratungga tidak disebut dalam prasasti itu sehingga ia diperkirakan sudah meninggal.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat itu diperkirakan masa pemerintahan Rakai Pikatan. Apabila Sri Kahulunan bermakna permaisuri, berarti ia adalah Pramodawardhani. Sedangkan apabila bermakna ibu suri, berarti ia adalah permaisuri Samaratungga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi kesimpulannya, pemerintahan Samaratungga diperkirakan terjadi sebelum tahun 819 dan berakhir sebelum tahun 842.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pramodhawardhani (833-856)&lt;/b&gt;, menikah dengan Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya)&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pramodawardhani adalah putri mahkota Wangsa Sailendra yang menjadi permaisuri Rakai Pikatan, raja keenam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah sekitar tahun 840-an.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Pramodawardhani ditemukan dalam prasasti Kayumwungan tanggal 26 Maret 824 sebagai putri Maharaja Samaratungga. Menurut prasasti itu, ia meresmikan sebuah bangunan Jinalaya bertingkat-tingkat yang sangat indah. Bangunan ini umumnya ditafsirkan sebagai Candi Borobudur.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu, prasasti Tri Tepusan tanggal 11 November 842 menyebutkan adanya tokoh bergelar Sri Kahulunan yang membebaskan pajak beberapa desa agar penduduknya ikut serta merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur). Sejarawan Dr. De Casparis menafsirkan istilah Sri Kahulunan dengan “permaisuri”, yaitu Pramodawardhani, karena pada saat itu Rakai Pikatan diperkirakan sudah menjadi raja.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendapat lain dikemukakan oleh Drs. Boechari yang menafsirkan Sri Kahulunan sebagai ibu suri. Misalnya, dalam Mahabharata tokoh Yudhisthira memanggil ibunya, yaitu Kunti, dengan sebutan Sri Kahulunan. Jadi, menurut versi ini, tokoh Sri Kahulunan bukan Pramodawardhani, melainkan ibunya, yaitu istri Samaratungga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang menurut prasasti Mantyasih. Dari prasasti Wantil diketahui bahwa Rakai Pikatan menganut agama Hindu Siwa dan menikah dengan seorang putri beragama Buddha. Mayoritas sejarawan sepakat bahwa putri tersebut adalah Pramodawardhani.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prasasti Kayumwungan tahun 824 hanya menyebut nama Pramodawardhani dan Samaratungga tanpa menyebut nama Mpu Manuku. Dapat diperkirakan bahwa pada tahun itu Pramodawardhani dan Mpu Manuku belum menikah.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu pada prasasti Munduan tahun 807 Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan, padahal pada tahun 824 Pramodawardhani masih menjadi gadis. Ini berarti di antara keduanya terdapat perbedaan usia yang cukup jauh. Mungkin usia Rakai Pikatan Mpu Manuku sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani diperkirakan lahir Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (prasasti Wantil). Berkat jasanya dalam menumpas musuh negara bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni, Rakai Kayuwangi pun bisa menjadi raja sesudah Rakai Pikatan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pengangkatan Rakai Kayuwangi, seorang putra bungsu, menjadi raja tersebut kelak menimbulkan kecemburuan di hati Rakai Gurunwangi, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan tahun 887.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Balaputradewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya putra Samaragrawira. Prof. N.J. Krom menganggap Samaragrawira identik dengan Samaratungga, sehingga Balaputradewa secara otomatis dianggap sebagai saudara Pramodawardhani.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dr. De Casparis kemudian menyusun teori bahwa telah terjadi perang saudara memperebutkan takhta sepeninggal Samaratungga, antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani. Akhirnya Balaputradewa dikalahkan Rakai Pikatan suami Pramodawardhani. Ia kemudian menyingkir ke Pulau Sumatra dan menjadi raja Kerajaan Sriwijaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori De Casparis tersebut berpedoman pada prasasti Wantil tahun 856 yang menyebutkan adanya peperangan antara Rakai Pikatan melawan seorang musuh yang bersembunyi dalam benteng timbunan batu. Pada prasasti Wantil ditemukan istilah Walaputra yang ditafsirkan sebagai nama lain Balaputradewa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu Prof. Slamet Muljana berpendapat bahwa Balaputradewa bukan saudara Pramodawardhani. Pendapat ini berpedoman pada prasasti Kayumwungan yang menyebut Samaratungga hanya memiliki seorang anak perempuan (yaitu Pramodawardhani). Menurut Slamet Muljana, Balaputradewa lebih tepat sebagai adik Samaratungga, dan keduanya merupakan putra dari Samaragrawira. Dengan kata lain, Pramodawardhani merupakan keponakan Balaputradewa.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Benteng timbunan batu yang menjadi markas Balaputradewa identik dengan Situs Ratu Boko. Drs. Boechari menemukan beberapa prasasti di sekitar situs tersebut, namun bukan atas nama Balaputradewa, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (yaitu Sanjaya).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Boechari berpendapat bahwa, musuh Rakai Pikatan bukan Balaputradewa, melainkan Rakai Walaing. Istilah Walaputra dalam prasasti Wantil menurutnya bukan bermakna Balaputradewa, melainkan bermakna “anak bungsu”, yaitu julukan untuk Rakai Kayuwangi selaku pahlawan penumpas Rakai Walaing.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukti lain menunjukkan adanya kerusakan pada sebagian prasasti yang mencatat urutan silsilah Rakai Walaing. Kerusakan ini seolah sengaja dilakukan oleh Rakai Pikatan sebagai sesama keturunan Sanjaya yang bersaing memperebutkan takhta Medang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila pendapat Slamet Muljana dan Boechari dipadukan maka dapat diajukan sebuah teori bahwa perang antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa mungkin tidak pernah terjadi. Menurut prasasti Po Ngar pada tahun 802 negeri Kamboja berhasil melepaskan diri dari penjajahan Jawa. Mungkin hal ini menjadi alasan Samaragrawira pada akhir pemerintahannya membagi kekuasaan Wangsa Sailendra untuk kedua putranya. Samaratungga berkuasa di Jawa, sedangkan Balaputradewa berkuasa di Sumatra.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teori kedua ini menjadi alternatif selain teori pertama yang menyebut Balaputradewa menyingkir ke Sumatra akibat kalah perang melawan Pramodawardhani yang dibantu Rakai Pikatan.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_raja_Jawa#Kalingga</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwJ95phUT_Lu8jPb-1hoW4m1MV97tdmVPd_8KLQdjMjigmmn77vT_Dj4uBVb5B-lc5-sXUi_B42EzrGnAOYXS1bgR2Uu10Mhkm6cE3v6GHDpu4iEyBNrUZMIgHuOOTj8bHQOAD_iTzw03_/s72-c/Prasasti+Ligor.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Ampel</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-ampel.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Sat, 24 Mar 2012 15:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-4649578220156555826</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Raden Rahmat, dan diperkirakan lahir pada tahun 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja. Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Sunan Ampel adalah Makhdum Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati). Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Kapten Cina di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn79uacKa42I8bl93D1YCHOD5Q5hWuJe96ykN_5efDwtxFzC5Lap6zfdNDjJjakh46e5VjpIcUebDuyA1_Y40Z4DYfSsNFuV1pedf1HP9TIAeS4_njzT4bnTTmE6vFUVDfHk2Co-8OGOJ9/s1600/Sunan+Ampel.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn79uacKa42I8bl93D1YCHOD5Q5hWuJe96ykN_5efDwtxFzC5Lap6zfdNDjJjakh46e5VjpIcUebDuyA1_Y40Z4DYfSsNFuV1pedf1HP9TIAeS4_njzT4bnTTmE6vFUVDfHk2Co-8OGOJ9/s320/Sunan+Ampel.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Ampel&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Asia Tengah (Samarkand). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati (anak Sultan Champa) yang menjadi permaisuri raja Brawijaya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Beliau datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil isteri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maudara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan isteri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika isterinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibukota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristerikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai isteri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn79uacKa42I8bl93D1YCHOD5Q5hWuJe96ykN_5efDwtxFzC5Lap6zfdNDjJjakh46e5VjpIcUebDuyA1_Y40Z4DYfSsNFuV1pedf1HP9TIAeS4_njzT4bnTTmE6vFUVDfHk2Co-8OGOJ9/s72-c/Sunan+Ampel.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Mengenal Sunan Gresik</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/mengenal-sunan-gresik.html</link><category>Walisongo 1 Syekh</category><pubDate>Fri, 23 Mar 2012 15:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-9027831132374380151</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid.&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8AkEkexFyPNqwi6Z_g9WyNwySMzahRrq2z_SI0cMPBTkaEVCWDYsVSpICtubapLrHDHwzh86l8NgVuaTtPiLUOHQ9okw1O6jEDf-6sixdE7OCwuCNGOlH-9jR2GBs1uQg0Pybym_ehc9G/s1600/Sunan+gresik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8AkEkexFyPNqwi6Z_g9WyNwySMzahRrq2z_SI0cMPBTkaEVCWDYsVSpICtubapLrHDHwzh86l8NgVuaTtPiLUOHQ9okw1O6jEDf-6sixdE7OCwuCNGOlH-9jR2GBs1uQg0Pybym_ehc9G/s320/Sunan+gresik.jpg" width="257" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunan Gresik&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat "sembilan wali" ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai "tabib" bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai "paus dari Timur" hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Maulana Malik Ibrahim&lt;/b&gt; 
(Wafat 1419)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8AkEkexFyPNqwi6Z_g9WyNwySMzahRrq2z_SI0cMPBTkaEVCWDYsVSpICtubapLrHDHwzh86l8NgVuaTtPiLUOHQ9okw1O6jEDf-6sixdE7OCwuCNGOlH-9jR2GBs1uQg0Pybym_ehc9G/s72-c/Sunan+gresik.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Memahami Aksara Jawa</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/memahami-aksara-jawa.html</link><category>Filsafat Jawa</category><pubDate>Thu, 22 Mar 2012 14:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-4753450846231156994</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;• Ha-Na-Ca-Ra-Ka&lt;/b&gt; berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;• Da-Ta-Sa-Wa-La&lt;/b&gt; berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;• Pa-Dha-Ja-Ya-Nya&lt;/b&gt; berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;• Ma-Ga-Ba-Tha-Nga&lt;/b&gt; berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEeCzDnUBadE5t8gChupKSWtwUYM3ldYdUUBqlem3U6cUIVBhHfENofmJvHKSZnGUTsCI4vAdnecEQwT8_lhvxTymmCX_hZwORI1eLF0vHWMd7IZmMHExsO1JWeKe8Qj_tqkZoUn3ZosGk/s1600/Aksara+Jawa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="147" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEeCzDnUBadE5t8gChupKSWtwUYM3ldYdUUBqlem3U6cUIVBhHfENofmJvHKSZnGUTsCI4vAdnecEQwT8_lhvxTymmCX_hZwORI1eLF0vHWMd7IZmMHExsO1JWeKe8Qj_tqkZoUn3ZosGk/s320/Aksara+Jawa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Makna Huruf &lt;b style="color: lime;"&gt;HANACARAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Ha&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Hana hurip wening suci – adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: blue;"&gt;Na&lt;/b&gt; Nur candra, gaib candra, warsitaning candara – pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: blue;"&gt;Ca&lt;/b&gt; Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi – arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: blue;"&gt;Ra&lt;/b&gt; Rasaingsun handulusih – rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: blue;"&gt;Ka&lt;/b&gt; Karsaningsun memayuhayuning bawana – hasrat diarahkan untuk kesajeteraan alam&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: lime;"&gt;Da&lt;/b&gt; Dumadining dzat kang tanpa winangenan – menerima hidup apa adanya&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: lime;"&gt;Ta&lt;/b&gt; Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa – mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian dalam memandang hidup&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: lime;"&gt;Sa&lt;/b&gt; Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: lime;"&gt;Wa&lt;/b&gt; Wujud hana tan kena kinira – ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: lime;"&gt;La&lt;/b&gt; Lir handaya paseban jati – mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: orange;"&gt;Pa&lt;/b&gt; Papan kang tanpa kiblat – Hakekat Allah yang ada disegala arah&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: orange;"&gt;Dha&lt;/b&gt; Dhuwur wekasane endek wiwitane – Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: orange;"&gt;Ja&lt;/b&gt; Jumbuhing kawula lan Gusti – Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: orange;"&gt;Ya&lt;/b&gt; Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah/kodrat Illahi&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;Nya&lt;/span&gt; Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: red;"&gt;Ma&lt;/b&gt; Madep mantep manembah mring Ilahi – yakin/mantap dalam menyembah Ilahi&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: red;"&gt;Ga&lt;/b&gt; Guru sejati sing muruki – belajar pada guru nurani&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Ba&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: red;"&gt;Tha&lt;/b&gt; Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: red;"&gt;Nga&lt;/b&gt; Ngracut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kisah &lt;b style="color: lime;"&gt;AJISAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: blue;"&gt;ha na ca ra ka&lt;/span&gt; Dikisahkanlah tentang dua orang abdi yang setia&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: lime;"&gt;da ta sa wa la&lt;/span&gt; Keduanya terlibat perselisihan dan akhirnya berkelahi&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: orange;"&gt;pa da ja ya nya&lt;/span&gt; Mereka sama-sama kuat dan tangguh&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;ma ga ba tha nga&lt;/span&gt; Akhirnya kedua abdi itu pun tewas bersama Aksara Jawa ha-na-ca-ra- ka mewakili spiritualitas orang Jawa yang terdalam: yaitu kerinduannya akan harmoni dan ketakutannya akan segala sesuatu yang dapat memecah-belah harmoni. Konon aksara Jawa ini diciptakan oleh Ajisaka untuk mengenang kedua abdinya yang setia.Dikisahkan Ajisaka hendak pergi mengembara, dan ia berpesan pada seorang abdinya yang setia agar menjaga keris pusakanya dan mewanti-wanti: janganlah memberikan keris itu pada orang lain, kecuali dirinya sendiri: Ajisaka. Setelah sekian lama mengembara, di negeri perantauan, Ajisaka teringat akan pusaka yang ia tinggalkan di tanah kelahirannya. Maka ia pun mengutus seorang abdinya yang lain, yang juga setia, agar dia pulang dan mengambil keris pusaka itu di tanah leluhur. Kepada abdi yang setia ini dia mewanti-wanti: jangan sekali-kali kembali ke hadapannya kecuali membawa keris pusakanya. Ironisnya, kedua abdi yang sama-sama setia dan militan itu, akhirnya harus berkelahi dan tewas bersama: hanya karena tidak ada dialog di antara mereka. Bukankah sebenarnya keduanya mengemban misi yang sama: yaitu memegang teguh amanat junjungannya? Dan lebih ironis lagi, kisah tragis tentang dua abdi yang setia ini selalu berulang dari jaman ke jaman, bahkan dari generasi ke generasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;UNEN UNEN JAWA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;* Pamulange sangsarane sesami = pelajarannya sengsaranya sesama&lt;br /&gt;
* Sakti tanpa aji = berhasil tanpa sarana&lt;br /&gt;
* Sugih tanpa banda = bisa menginginkan apa saja tanpa persiapan&lt;br /&gt;
* Ngluruk tanpa bala = menyusup tanpa teman, tetapi selalu mendapatkan hasil&lt;br /&gt;
* Ngasorake tanpa peperangan = menang tanpa menggunakan kekerasan/perang (objek)apa kang sinedya teka,apa kang kacipta dadi = apa yang diinginkan/diamaui akan terjadi/ tercipta.&lt;br /&gt;
* Digdaya tanpa aji = sakti tanpa ajian&lt;br /&gt;
* Trimah mawi pasrah = menerima dengan menyerah&lt;br /&gt;
* Suwung pamrih tebih adjrih = sepi hasrat jauh dari takut&lt;br /&gt;
* Langgeng tan ana susah tana ana bungah= tenang tetap hidup nama&lt;br /&gt;
* Mmurid gurune pribadi = murid gurunya pribadi</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEeCzDnUBadE5t8gChupKSWtwUYM3ldYdUUBqlem3U6cUIVBhHfENofmJvHKSZnGUTsCI4vAdnecEQwT8_lhvxTymmCX_hZwORI1eLF0vHWMd7IZmMHExsO1JWeKe8Qj_tqkZoUn3ZosGk/s72-c/Aksara+Jawa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item><item><title>Sejarah Jawa Dari Awal hingga Akhir (Kiamat)</title><link>http://paculdoran.blogspot.com/2012/03/sejarah-jawa-dari-awal-hingga-akhir.html</link><category>Filsafat Jawa</category><pubDate>Wed, 21 Mar 2012 15:29:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8667065423222025700.post-5101044217760701642</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk lanjutanya serat pramono sidhi coba kami tuliskan dalam bahasa nasional dan kami beri keterangan tambahan.&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-HDKFyaMDYXVaxHwLINF85IZEw6ksXmTVagQMs1DUvSOmKnUHREJ9fMtz0fbg9DVIM2VwX4zjdF-yzrqBHO8eGDt1cxcRsuSiDYB1ceox_UbHsjCaGnNrVaLKkKjKR_WLBGPEunBE5Sny/s1600/tn_jawa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="172" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-HDKFyaMDYXVaxHwLINF85IZEw6ksXmTVagQMs1DUvSOmKnUHREJ9fMtz0fbg9DVIM2VwX4zjdF-yzrqBHO8eGDt1cxcRsuSiDYB1ceox_UbHsjCaGnNrVaLKkKjKR_WLBGPEunBE5Sny/s320/tn_jawa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pulau Jawa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;PULAU JAWA JAMAN PERTENGAHAN:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinamakan jaman kala yoga artinya jaman PEPATUT.Umur tanah jawa menurut tahun masehi berumur 700tahun sedangkan menurut kalender jawa berumur 703 tahun.Dijaman KALA YOGA terdapat 7 masa lagi.Dan setiap masanya terdiri dari 100tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA BRATA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman LAMPAH LAKU.Saat itu orang jawa banyak melakukan laku NGESTHI kepada Tuhanya.Tanah jawa berumur 800tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA WIGNYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman lumprah.Orang jawa saat itu melumprahkan ilmunya.Tanah jawa berumur 900tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA YUDA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman perang.Ditanah jawa mulai banyak peperangan.Umur tanah jawa 1000tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA WISESA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman menangnya sendiri2.Mulai berkurangnya keadilan ditanah jawa yang sudah tertata.Tanah jawa berumur 1100 tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA WISAYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya banyak kemaksiatan dan perselisihan.Tanah jawa berumur 1200tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KOLO JANGGA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman memuja kerongkongan.Orang ditanah jawa mulai mengejar materi.Tanah jawa berumur 1300tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #b45f06;"&gt;KALA SAKTI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman kesaktian.Orang ditanah jawa mulai mengolah kesaktian.Tanah jawa berumur 1400tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;LALU MENGINJAK JAMAN AKHIR ATAU DISEBUT JAMAN KALI SANGORO&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Artinya jaman WEKASAN/Akhir.Yang didalamnya ada 7 masa pula:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA JAYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman UNGGUL tanah jawa mencapai kemakmuran.Tanah jawa berumur 1500tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA BENDHU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman murka.Penduduk tanah jawa mendapat murka dari tuhan.Mulai banyak perselisihan dan egois menuruti keinginan individu.Tanah jawa berumur 1600tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA MARTA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya ketentraman.Orang tanah jawa mendapatkan ketentraman karena dipimpin oleh RATUNING HAMBEG PARAMARTA disebut juga RATU ADIL.Tanah jawa berumur 1700tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA ASMARA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman KASMARAN.raja2 dan orang tanah jawa mulai berpoligami.Tanah jawa berumur 1800tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA BRASMA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman kepanasan RATUNING ONCAT SAKING PENGADILAN/rajanya dapat lepas dari jerat hukum.(tambahan: yaitu masa orde baru).Tanah jawa berumur 1900tahun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #f6b26b;"&gt;KALA SINELA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman KASELAN/DISELINGI/JEDA.Ditanah jawa diselingi pemimpin yang bukan keturunan raja.”Ing tanah jawi kaselan ratu sanes dharahipun ratu jawi.Inggih puniko ratu sabrang ing nuswa sarenggi utawi saking sabrang ngatas angin. Wekasan dadosaken susahing tiyang alit”.Tanah jawa berumur 2000tahun (tambahan:tanah jawa mulai dipimpin oleh pemimpin bukan dr keturunan raja dia berasal dr luar jawa/sabrang.Berasal dr negri ngatas angin yaitu dr asalnya angin mamiri=Bpk.BJ.HABIBIE.Rakyat kecil mulai menderita sampai batas waktu yang ditentukan. sudah kodratnya jaman harus begitu).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaman &lt;b style="color: #e06666;"&gt;KALA TINATA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Artinya jaman lagi dibenahi.Mulai masa itu tanah jawa dibenahi.Rajanya raja yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi rakyat.Hilangnya agama2 dan keyakinan2 lama dan timbulnya agama baru yang akhirnya/wekasan tiba hari KIAMAT dengan ditandai datangnya BAB BATU ARLI(maaf kami tidak tahu artinya)berperang melawan IMAM MAHDI.Tanah jawa berumur 2100 tahun masehi.Kalau menurut kalender jawa berumur 2163 tahun.Artinya hari kiamat didahului adanya pertanda musnahnya agama muhamad saw. Jadi sudah tidak ada SALAT SEMBAHYANG,PITEKUR PUJO,Lan OLAH BROTO(sudah tidak ada orang sholat,tafakur dzikir dan orang bertapa).Ing ngriku kanjeng nabi NGISA tumurun puniko pasemon dados ing jaman wekasan sampun angrasuk agami kristen sedoyo(lalu disitu Turunya nabi ISA as.Yang merupakan pertanda ditanah jawa diakhir jaman sudah beragama kristen semua).Tambahan:coba kita cocokan dg hari kiamat yg bersumber dari hadits:tidak akan terjadi hari kiamat bila masih ada orang islam walau hanya satu orang saja.Mungkinkah kiamat sudah sangat dekat ditahun 2100?Wallohu ‘alam.Bukan 212 lho kl dari ulasan serat ini.Mohon maaf bila ada kesalahan dalam menterjemahkan.Yang ada tulisan Tambahan berarti tambahan dr saya pribadi.Sedangkan lainya saya berusaha menterjemahkan teks aslinya.Nuwun…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sumber : http://songgobumi.wordpress.com/2011/09/02/sejarah-pulau-jawa-dari-awal-sampai-kiamattamat/</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-HDKFyaMDYXVaxHwLINF85IZEw6ksXmTVagQMs1DUvSOmKnUHREJ9fMtz0fbg9DVIM2VwX4zjdF-yzrqBHO8eGDt1cxcRsuSiDYB1ceox_UbHsjCaGnNrVaLKkKjKR_WLBGPEunBE5Sny/s72-c/tn_jawa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>paculdoran@gmail.com (Mustain)</author></item></channel></rss>