<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;A0cMSHw6fSp7ImA9WhVbFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030</id><updated>2012-06-01T23:44:49.215+07:00</updated><category term="Kolom Hikmah" /><category term="Kristologi" /><category term="Istifta" /><category term="Ringkasan Khutbah" /><category term="Bulan Ramadhan" /><category term="Baiti Jannati" /><category term="Artikel" /><category term="Istiqro'" /><category term="Resensi Buku" /><category term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><category term="Kolom Motivasi" /><category term="Dari Redaksi" /><category term="Cerita Renungan" /><title>Masjid Pajagalan</title><subtitle type="html">"Wa'bud Rabbaka hattaa ya`tiyakal yaqiin"</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.pajagalan.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>74</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/pajagalan" /><feedburner:info uri="pajagalan" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>pajagalan</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;C04ERXk9fCp7ImA9WhRQGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-2380090374652746399</id><published>2011-12-05T20:22:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T10:05:04.764+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-14T10:05:04.764+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Bentangkan semua Ciutkan semua JANGAN BIARKAN HATI ANDA MENJADI LAWAN BAGI ANDA</title><content type="html">Qalbu diciptakan Tuhan bukan untuk di jadikan musuh yang selalu merintangi dan menentang segala gerak dan tidak kita, kita di perlengkapi dengan hati agar dapat memanfaatkan akal berlandaskan hati, jadikan hati nurani itu penasehat untuk memudahkan segala tindak dan gerak, dan memberi arah bagi segala amal dan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ ( الحج:46)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mereka berjalan di muka bumi, agar mereka memiliki hati yang dengannya mereka dapat menggunkan akal, dan mereka memiliki telinga yang dengannya mereka dapat mendengar, karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi hati yang di dalam dada yang buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan otak, menggerakkan akal tidak berarti mesti membutakan hati nurani, hendaklah akal itu bergerak berlandaskan hati nurani, supaya tidak berlaku kejam dan menghianati perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabishah pernanah meminta nasehat kepada Rasulullah tentang kebaikan dan keburukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;أتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ دَعُوا وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ تَسْأَلُنِي قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak terdapat kaum muslimin yang sedang meminta nasehat kepadanya beliau. Maka aku pun nekat melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata, "Wahai Wabishah, menjauhlah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, menjauhlah wahai Wabishah!" Saya berkata, "Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati." Maka beliau pun berkata, "Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah." Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata, "Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya: "Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?" saya menjawab, "Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku." Beliau lantas bersabda: "Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)?" Saya menjawab."Benar." Beliau kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: "Wahai Wabishah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu." (AHMAD - 17320)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati nurani yang sehat mampu memberi fatwa yang baik, memberi keputusan dan menentukan satu pilihan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah satu siksaan yang sangat berat, penderitaan yang sangat meletihkan dan memutusasakan bila kita melakukan sesuatu yang tidak di setujui hati, bertentangan dengan kemauan, tidak searah dengan kemauan; orang yang bekerja dengan rasa terpaksa, bila menemukan kesulitan dalam pekerjaan, maka otak pikiran bukan membantu untuk memecahkan dan memudahkannya, atau menggagalkannya, akhirnya timbullah keinginan untuk menjadi manusia bebas lepas dari aturan dan ketentuan, bebas daripada yang dinamakan kesopanan, tata tertib atau kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang melakukan kejahatan atau pelanggaran yang tidak di siksa batinnya, atau yang tidak di gelisahkan hidupnya, di ragukan tindakannya, di kacaukan fikirannya, dan tidak menentu arah tujuan hidupnya. Itu tandanya hati nuraninya sudah mati, atau sudah buta mata hatinya yang dalam dadanya (ta’ma’lqulubullati fish-Shudur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;لينذر من كان حيا (يس:70)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Supaya Dia (Muhammad) memberi peringatan kepada manusia yang masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan maksud &lt;a href="http://www.pajagalan.com/"&gt;hidup&lt;/a&gt; disini bukan hidup sebalik dari mati, tapi hidup disini dengan arti memilii hati nurani. Memanusiaakan binatang tidak akan dan belum pernah terjadi, belum pernah ada kerbau yang berubah jadi berakal berpikir dan berbudi, tapi tidak sedikit manusia yang sudah di binatangkan atau membinatangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(الاعراف:179 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh kami akan isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi tidak di pergunakan (untuk memahami ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tapi tidak di pergunakan melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka memiliki telinga tapi tidak di pergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih dari binatang, mereka itulah orang yang rugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka lalai, mereka tidak menggunakan akalnya dengan landasan hati nurani, tidak memiliki qulubun ya’qiluna biha, tidak memiliki hati yang dengannya dapat menggunakan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِنْ هُمْ إِلا كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلا (الفرقان:44 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mereka tiada lain hanya seperti binatang bahkan lebih sesat jalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang masih memiliki hati nurani yang sehat, bila melakukan suatu pelanggaran, penyelewengan, penghianatan terhadap iman atau ilmu, hati nuraninya berontak, menagih imannya dan memaksa agar kewajiban dan tugas itu di sempurnakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibiarkan hati berontak, bertindak seperti lawan, pasti akan kehilangan ketentraman, selalu gelisah dan penghargaan terhadap dirinya semakin rendah, yang akibatnya akan merasa malu melakukan perbuatan-perbuatan yang hina dan rendah sesuai dengan kerendahan diri atau hidup seperti binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunaikan kewajiban, melakukan aml baik, dan akhlak utama tidak boleh di tangguhkan menunggu datangnya keinginan dan kerelaan hawa nafsu sebab tindakan seperti itu, sama halnya dengan yang menunggu-nunggu tibanya waktu yang kosong dan luas, tapi relakan hati agar rela dia islam, dia tunduk kepada aturan ketentuan dan undang-undang dan syari’at agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mesti di usahakan, di biasakan, bukan di tunggu-tunggu, usahakan agar hati nurani tetap sehat,merestui segala amal yang manfaat dan baik, dan menolak membenci segala perbuatan yang buruk, supaya tiap gerak dan tindak, melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu selalu searah dengan fitrah jiwa, dan sesuai dengan keinginan hati nurani, dan disitu akan terasa keni’matan beragama, kebahagiaan Negara yang berundang-undang, karena semua penghuninya merelakan hati untuk hidup teratur, tidak lepas dari aturan dan undang-undang, dan itulah jiwa yang tentram (nafsul-muthmainnah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang susah tidur, walaupun dia ngantuk, dan sudah berbaring di tempat tidur, sebab dia sedang berperang dengan hati nurani, sebab dia tidur meninggalkan pintu tidak terkunci, matanya menyuruh tidur, hati nuraninya memesan agar pintu di kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Islam yang belum melakukan shalat isya,tapi sudah ngantuk, bila ia berbaring di kamarnya, dia tidak bisa tidur dengan mudah, sebab hatinya berontak, hatinya menjadi lawan bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah contoh enteng, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tepat orang menasehatkan, agar kita membiasakan mendidik atau melatih keinginan yang dinamakan tarbiyatul-iradah agar hati kita selalu searah dan sejalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pekerjaan, tidak ada pekerjaan yang membosankan bila pekerjaan itu di sertai dengan hati,dan sebaliknya pekerjaan yang mudah dan ringan bila tidak di sertai dengan hati akan terasa berat dan membosankan serta meletihakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjiwa “am-maratun bissu”, yang buta hati nuraninya, dapat melakukan kejahatan dan pelanggaran dengan senang hati, dia bermusuh dengan aturan dan syari’at agama, dia berpenyakit alergi nasehat dan tabligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjiwa “musawwalah”, hati nuraninya baru dapat bersinar bila di bantu dengan lingkungan, gerak tindaknya, sikap dan pendiriannya berubah-ubah, tergantung kepada pengaruh lingkungan, dia seperti benda mati bukan bergerak tapi di gerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjiwa “lawwamah”, selalu berperang dengan nafsunya, selalu merelakan hatinya untuk menerima kebenaran, dan melakukan kebaikan, dan dia selalu ada dalam kemenangan walupun dengan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berjiwa “muthmainnah” hidup berbahagia, hati nuraninya selalu membantu, otaknya bergerak berlandaskan hati nurani, tidak bermusuh dengan kalbu tidak menjadi lawan bagi hati nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي (الفجر:27-30)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada (ketentuan) Tuhan kamu dengan segala kepuasan, dan kembalilah dengan di ridhai Tuhan, masuklah seiring dengan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke surga-Ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: KH. E Abdurrahman&lt;br /&gt;Dipublikasikan Oleh: Basyir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-2380090374652746399?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/3cQ_BF_VB_0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/2380090374652746399/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=2380090374652746399" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2380090374652746399?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2380090374652746399?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/3cQ_BF_VB_0/bentangkan-semua-ciutkan-semua-jangan.html" title="Bentangkan semua Ciutkan semua JANGAN BIARKAN HATI ANDA MENJADI LAWAN BAGI ANDA" /><author><name>Basyir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01663686019941483546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2011/12/bentangkan-semua-ciutkan-semua-jangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkYDQno9fSp7ImA9WhdXE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-6399372873458000273</id><published>2011-08-26T19:01:00.001+07:00</published><updated>2011-08-26T19:02:53.465+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-26T19:02:53.465+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah" /><title>Hakikat Taqwa</title><content type="html"> &lt;p&gt;Pada suatu hari Rasulullah Saw., Melihat orang-orang berkumpul  menggerumuni seorang laki-laki yang mengamuk karena gila. lantas  Rasulullah Saw, bertanya Ada apa? mereka menjawab orang ini &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt; (gila) wahai Rasulullah! Rasullah Saw besabda:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ia tidak &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt; tetapi &lt;em&gt;mushaabun &lt;/em&gt;(orang yang di timpa musibah penyakit). Seraya Rasulullah Saw bersabda: &lt;em&gt;&lt;span&gt;“sesungguhnya  yang di katakan majnun itu adalah orang selalu menepuk bahunya  (dadanya) karena takabur, yang melihat di dua sisinya (ujub), dan  sombong cara berjalannya.” (Al-nibayah 1 : 3&lt;span&gt;0&lt;/span&gt;9).&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang di sabdakan Rasulullah Saw itu, mengundang pertanyaan di  hati para sahabat pada waktu itu. Tetapi mereka sadar itulah nasehat  Rasulullah Saw. Yang selalu di selipkan dalam setiap pembicaraan yang  perlu di renungkan, dan baru di pahami setelah kian lama di pikirkan.  sungguh merupakan ucapan yang filosofis.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sering melihat di kehidupan sehari-hari orang-orang yang tidak  waras akalnya. Pakaiannya kotor penuh debu, makan minum tidak terurus,  tidur di mana saja, Dan omongannya juga tidak karuan. Ada kalanya mereka  di perlakukan tidak secara manusiawi. Diejek, dihina, diperolok-olokan,  dan dijadikan bahan guyonan. Padahal tidak seharusnya di perlakukan  demikian, karena mereka itu sedang sakit, di timpa musibah penyakit yang  menutupi fungsi akalnya. kasihanilah mereka, dan itulah yang di katakan  Rasulullah Saw, Al-Mushab (orang yang di timpa musibah).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebaliknya Rasulullah mengatakan, justu yang di sebut &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt;  itu adalah orang yang sehat jasmaniyahnya, berakal tetapi tidak dapat  memfungsikan akalnya secara benar. Ini di tandai dengan suka menepuk  dada, merasa Dia yang paling hebat dan berjasa dengan segala macam  keberhasilan. Ia ujub dan takabur dengan segala atribut yang di  pakainya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka gagah dan ma shiyyat, merasa modern dan maju dengan perilaku  yang hebat jika melakukan menimpang dari ketentuan agamanya. Di manakah  akal sehat mereka itu? jawabnya &lt;em&gt;majnun&lt;/em&gt;, tertutup rapat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rasulullah Saw bersabda : &lt;em&gt;Ada tiga macam yang dapat membinasakan  manusia, yaitu: mengikuti kerakusan atau ketamakan, mengikuti hawa nafsu  dan merasa megah dengan apa-apa yang ada pada dirinya&lt;/em&gt;. Yang di  maksud dengan majnun yang di sabdakan nabi tadi, ialah orang yang  dihinggapi sifat ujub, yang selanjutnya melahirkan ketakaburan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ujub ini adalah gambaran kejiwaan yang sangat berlebih-lebihan, saat  seseorang menganggap dirinya paling hebat di bandingi yang lainnya. Ia  merasa paling pintar, paling gagah, paling kaya, paling berkuasa, paling  dominan dan sebagainya. Pokoknya Dia merasa orang super dalam segala  hal, yang akhirnya memicu siafat arogansi dalam dirinya, menghina dan  melecehkan orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sifat percaya diri memang harus ada dalam diri seseorang ,merasa  senang dan gembira di persilahkan, tetapi jika sudah memasuki  ketekaburan dan menganggap rendah terhadap yang lain, inilah yang  dikatakan ujub yang di larang agama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Siti Aisyah ra., pernah di tanya ; &lt;em&gt;kapan seseorang di katakan melakukan perbuatan jelek? beliau menjawab: Justru ketika Ia melakukan perbuatn baik&lt;/em&gt;.  Maksudnya di saat seseorang melakukan perbuatan yang baik, tetapi dalam  dirinya ada perasaan  bahwa  hanya dirinyalah yang dapat melakukan hal  itu,  orang  lain tidak ada, timbul takabur dalam dirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ujub ini di golongkan kepada akhlak radzilah (rendah) yang harus di  hindari. Manusia harus ingat dan sadar, bahwa Allah menciptakan manusia  ini dalam bentuk tubuh yang indah di banding dengan makhluk lainnya.  Kemudian Allah SWT pun melebihkan manusia satu dari yang lainnya, dalam  harta atau kedudukan , fisik, dan kepintarannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akibat buruk dari ujub ini ialah hilangnya rasa saling hormat  menghormati, lenyapnya rasa simpati orang kepadanya, menanamkan  kebencian, dan yang paling parah ialah jika yang di jadikann pendorong  ujub itu kemegahan yang semu, merasa paling hebat, padahal di dalamnya  itu kropos. Ia tidak sadar bahwa orang lain mengetahui kelemahannya.  sungguh ini adalah pembodohan terhadap dirinya sendiri. Bukankah ada  peribahasa  sepintar-pintarnya tupai melompat , adakalanya  terjatuh  jua.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ulama mengatakan, bahwa sifat ujub ini tidak berdiri sendiri, tapi  ada penunjangnya, ada pemicunya, Artinya ada bahan-bahan yang dapat  dijadikan  alat  untuk melakukan ujub.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada delapan macam yang dapat menjadi pemicu sifat ini. berikut ini macam-macamnya dan cara pengobatannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pertama,&lt;/strong&gt; ujub dengan merasa megah dan kelebihan  dalam fisik dan bentuk badannya. Ia merasa bahwa fisiknya lebih hebat,  lebih cantik atau lebih tampan dan kuat dari yang lainnya. di tambah  dengan suaranya yang lebih merdu. lantas ia over acting, takabur dan  merendahkan yang lainnya. ia merasa bahwa semua itu  hasil jerih  payahnya. padahal semua itu adalah pemberian Tuhan yang maha  kuasa yang  harus di syukuri. Ia sibuk mengurus dirinya, tetapi melupakan sang  pencipta yang telah menganugerahkan ni’mat kepadanya. Waktu-waktunya di  habiskan untuk memamerkan keindahan tubuhnya, kemerduan suaranya, dan  kecantikan parasnya. pujian yang di harapkannya, tepuk tangan dan sorak  sorai dambaannya. materi atau uang semata-mata di carinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kedua,&lt;/strong&gt; ujub dengan merasa megah dan hebat karena  mengendalikan kekuatan fisiknya, dalam melawan musuh. Ia takabur dan  susumbar bahwa tidak akan ada orang yang  dapat mengalahkan  Dia.  Ini   adalah sikap yang keliru,  karena  akan menghilangkan  kewaspadaannya.   Ia akan lemah karena menganggap enteng lawan. Oleh sebab itu, banyak  kekalahan-kekalahan yang di derita oleh suatu kaum bukan karena tidak  dilatih atau tidak menggunakan alat alat canggih, tetapi kecolongan  menganggap enteng kepada lawan. untuk pengobatannya tidak ada jalan lain  kecuali manusia harus ingat, bahwa semakin tambah usia dari segi jumlah  akan semakin menurun dari segi kekuatan badannya. tenaga dari hari ke  hari semakin melemah, kosentrasi dan pemikiran juga semakin menurun. Ia  harus sadar dalam sejarah orang yang ujub, takabur dengan kekuatannya,  maka Allah yang akan menghancurkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketiga, &lt;/strong&gt;Orang yang ujub dengan ilmu, akal dan  kecerdikannya dalam memahami ilmu-ilmu agama dan juga urusan-urusan  keduaniaannya. Umumnya orang yang demikian itu merasa dan menggap  dirinya paling pintar. merasa bahwa pendapatnya paling benar. Ia dapat  bersilat lidah, tetapi bukan kebenaran yang di cari, popularitas murahan  yang ia dambakan. Tidak mau bermusyawarah karena yang lain di anggap  bodoh. jarang bertanya kepada yang lain karena merasa cukup dengan  ilmunya hasil otodidaknya. Padahal adakalanya belajar sendiri tanpa guru  akan menemui kekeliruan, karena kecerdasan itu ada batasnya. Ia  menganggap rendah bahkan menghina kepada orang yang bersebrangan paham  dengannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keempat,&lt;/strong&gt; Ujub atau merasa megah dan bangga dengan  keturunan. Artinya sombong dirinya, karena ia merasa dirinya turunan  ningrat atau bangsawan. Biasanya orang yang demikian itu menganggap  bahwa dirinyalah yang harus di hormati dan di muliakan. Ia harus di  perioritaskan dalam segala hal. ia selalu mebayangkan bahwa orang  yang  ada  di sekitarnya  itu adalah pembantunya, atau khadamnya yang dapat di  perlakukan seenaknya saja. Dia merasa menjadi Raja di lingkungan  masyarakatnya. Timbullah sifat sombong dan angkuhnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;kelima,&lt;/strong&gt; orang yang ujub dan ta jub dengan  pemimpinnya yang zhalim. Ia merasa megah mempunyai pemimpin yang hebat  dalam pidatonya, banyak para pengawalnya, bertumpuk harta kekayaannya,  tinggi kekuasaannya, luas pengaruhnya. sehingga si pemimpin zhalim ini  menjadi idolanya. Ia  hanya  memandang dari  luarnya,  tidak  memperhatikan bagaimana agama dan ilmu dari sang pemimpin itu. Maka  terjadilah pengultusan atau pendewaan terhadap seseorang. Sebenaranya  ini adalah kebodohan yang sangat besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Keenam&lt;/strong&gt;, orang yang merasa megah, gagah karena banyak  anaknya yang dapat di andalkan, banyak pembantu rumah tangganya, banyak  kerabat dan handai taulannya, banyak teman-teman sekantornya, tak  terhitung pendukung dan pengikutnya, punya backing dan pengawal yang  kuat dan sebagainya. Ia mengganggap bahwa dirinya tidak akan  tergoyahkan. timbullah sifat ujubnya, takabur dan menghina orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ketujuh, &lt;/strong&gt;Orang yang merasa hebat karena harta yang  berlimpah ruah. Ia sombong, takabur, dan riya dengan hartanya itu.  Seolah-olah  Dia saja yang yang kaya. Tinggi dalam ucapannya, over  acting dalam tindakannya, tidak mau kenal dengan yang miskin, suka pamer  kekayaan, dan hidupnya mewah. Ia suka infak atau zakat tetapi dasarnya  riya. Dambaannya tiada lain hanya ingin menambah kendaraannya yang lebih  mewah, gedungnnya yang tinggi menjulang, makannya yang lezat-lezat,  pakaian yang mahal-mahal. Uruasan agamanya terbangkalai.&lt;/p&gt; &lt;strong&gt;Kedelapan,&lt;/strong&gt; Orang yang ujub dengan hasil  pemikirannnya, yang keliru atau salah, (Al-Rayu al-khata). Lalu Ia  dengan mati-matian mempertahankan pahamnya yang keliru itu, karena  merasa benar, yang lain salah. Inilah yang di sabdakan Rasulullah Saw.  Bahwa yang akan melanda umat di akhir zaman ialah ujubnya orang yang  mempunyai pendapat terhadap paham atau pendapatnya itu. Di sisi lain  akan membinasakan umat, sehingga cerai berai jauh dari petunjuk  Al-Qur’an dan As-sunnah, dan tiap-tiap firkah merasa megah dengan apa  yang ada pada mereka. Umumnya Ahli bid’ah dan aliran-aliran sesat   mereka enggan atau tidak mau meninggalkan pendapatnya atau bid’ahnya  itu, karena menganggap pendapatnya itu adalah baik dan benar.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Khatib: Drs. Ahmad Daerobi. M Ag
&lt;br /&gt;Editor: Basyir&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-6399372873458000273?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/81IGS8y5OQw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/6399372873458000273/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=6399372873458000273" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/6399372873458000273?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/6399372873458000273?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/81IGS8y5OQw/hakikat-taqwa.html" title="Hakikat Taqwa" /><author><name>Basyir</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01663686019941483546</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2011/08/hakikat-taqwa.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4GQnY4fSp7ImA9WhdTFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-1712620631256079962</id><published>2011-07-13T12:58:00.003+07:00</published><updated>2011-07-13T13:02:03.835+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-13T13:02:03.835+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom Motivasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bulan Ramadhan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom Hikmah" /><title>Persiapan Menjelang Ramadhan</title><content type="html">&lt;a href="http://www.pajagalan.com/search/label/Bulan%20Rhttp://www.blogger.com/img/blank.gifamadhan"&gt;Ramadhan&lt;/a&gt; telah diambang pintu, tanpa kita rasakan, waktu bergulir begitu cepat, kita telah berada di bulan Sya'ban, bulan yang menjadi bulan istimewa, selain bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Waktu-waktu yang kita lewati, masing-masing mempunyai kelebihan dan keutamaan yang berbeda, maka kita harus bisa memperlakukannya secara proposional. Termasuk dalam menyiapkan kedatangan bulan suci Ramadhan yang memiliki banyak keutamaan. Karena didalam Ramadhan adalah bulan diwajibkannya shaum, dianjurkan memperbanyak amalan sunnah, serta diperintahkan memperbanyak membaca Al-Quran. Disamping itu, &lt;a href="http://www.pajagalan.com/search/label/Bulan%20Ramadhan"&gt;bulan Ramadhan&lt;/a&gt; adalah bulan pengendalian diri dari syahwat perut, hawa nafsu serta pengendalian anggota tubuh dari &lt;span class="fullpost"&gt;hal-hal yang dapat mengurangi nilai shaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaknya kita menyambut bulan suci ini dengan suka cita dan penuh kerinduan, serta mempersiapkannya sebelum ramadhan tiba, sehingga dapat menumbuhkan motivasi/semangat dalam menjalankan segala amal ibadah di bulan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus kita persiapkan dalam rangka menyongsong kedatangan tamu agung ini? Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan agar kita mampu untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah amalan kita ketika kita menghadap Allah SWT. Diantara persiapan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Persiapan Keimanan. Ini adalah persiapan yang paling utama, karena kekuatan iman-lah yang akan menjadi motor penggerak segala bentuk ibadah kita sebelum, ketika dan pasca ramadhan. Apabila kita membaca sejarah Rasulullah saw dan para sahabatnya, betapa persiapan mereka dari sisi ini sangat luar biasa, yaitu dengan melaksanakan shaum-shaum sunnah di bulan sya'ban. Hal tersebut mereka lakukan dalam rangka mempersiapkan dan menyongsong kedatangan bulan Ramadhan. Disamping itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak istighfar dan memohon serta memberi maaf agar kedatangan bulan suci ini kita sambut dengan hati bersih dari segala bentuk dosa dan perselisihan, rasa dengki dan penyakit-penyakit hati yang lainnya. Dengan demikian, persiapan keimanan menjelang Ramadhan merupakan bagian terpenting yang harus dilakukan setiap mukmin. Bahkan didalam surat Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan, bahwa shaum Ramadhan diwajibkan kepada orang-orang yang beriman. Artinya, hanya orang-orang beriman-lah yang memiliki kemampuan untuk menjalankan shaum Ramadhan dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Persiapan Akhlak. Tak sedikit umat Islam yang menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja, tanpa ada keistemewaan yang ia dapatkan dibalik pelaksanaan ibadah shaum tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Berapa banyak orang yang shaum, namun mereka tidak mendapatkan dari shaum mereka kecuali lapar dan dahaga" (HR.Thabrani, Ahmad dan Baihaqi). Agar shaum yang kita laksanakan berkualitas, maka persiapkanlah diri kita dengan akhlak Islam, seperti menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang dan menjaga lisan dari ucapan yang kotor. Intinya, kita harus menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Persiapan Fisik. Badan kita adalah salah satu komponen yang juga harus kita siapkan dalam menyongsong bulan ramadhan, karena tanpa badan yang sehat kita tidak akan mampu melaksanakan kegiatan dalam menjalankan ibadah shaum. Rasulullah saw pernah bersabda "Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah". Artinya, setiapkali kita menjalankan ibadah, terlebih lagi ibadah shaum, maka fisik kita harus tetap fit, agar ibadah yang kita laksanakan bisa optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Persiapan keilmuan. Agar ibadah Ramadhan yang kita laksanakan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi) yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis taklim yang membahas tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai perintah Allah dan tuntunan Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah empat &lt;a href="http://www.pajagalan.com/2011/07/persiapan-menjelang-ramadhan.html"&gt;persiapan dalam menyambut bulan suci Ramadhan&lt;/a&gt;. Tanpa empat persiapan tersebut, maka shaum kita akan sia-sia. Wallaahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Kang Ayat&lt;br /&gt;www.percikaniman.org&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-1712620631256079962?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/ephiutifwX0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/1712620631256079962/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=1712620631256079962" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1712620631256079962?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1712620631256079962?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/ephiutifwX0/persiapan-menjelang-ramadhan.html" title="Persiapan Menjelang Ramadhan" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2011/07/persiapan-menjelang-ramadhan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYEQX45fip7ImA9WhZaGEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-1412141790924102106</id><published>2011-07-05T11:46:00.003+07:00</published><updated>2011-07-05T12:01:40.026+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-05T12:01:40.026+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dari Redaksi" /><title>Da'i Sejuta Ummat Itu Telah Berpulang Ke Rahmatullah</title><content type="html">&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 188px; height: 141px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-RhkqUX7n7GU/ThKaLWI2iMI/AAAAAAAAAOk/94BG2Vihmec/s400/KH-Zaenuddin-MZ-meninggal-dunia.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625728404251117762" border="0" /&gt;Innalillahi wainna ilaihi raajiun... Telah berpulang keharibaan Allah SWT Kyai Haji Zainuddin MZ (Muhammad Zein) pada pukul 10.15 WIB (Selasa, 5 Juli 2011)  di Rumah Sakit Pertamina, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau, sempat tak sadarkan diri sebelum dibawa ke rumah sakit. "Sampai rumah keluarga langsung bawa ke RSPP karena pingsan," kata Mahdi. Menurut dia, beliau menderita beberapa penyakit. "Beliau, sakit gula darahnya kambuh, naik. Jantungnya juga kambuh," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainuddin Muhammad Zein begitu nama lengkapnya lahir di&lt;span class="fullpost"&gt; Jakarta tanggal 2 Maret 1951.  Beliau menyelesaikan semua sekolahnya di Jakarta dan menyelesaikan strata satu di Universitas Syarif Hidayatullah, Jakarta. Beliau mendapat gelar doktor honoris causa dari  Universitas Kebangsaan Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah agamanya yang kharismatik diminati banyak orang. Baik yang mendengar langsung pada setiap acara ceramah, maupun lewat radio dan televisi. Sukses dengan ceramah agama itu, Zainuddin dijuluki "Dai Sejuta Umat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan beliau mencoba peruntungan lain di jalur politik. Masuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Beliau menjadi juru kampanye partai itu. Gaya dan pilihan katanya memikat banyak orang. Bersama raja dangdut H.Rhoma Irama, Beliau berkeliling daerah. Hasilnya cukup memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai itu kemudian terlibat friksi, Beliau ikut menggalang kekuatan PPP Reformasi, yang belakangan menjelma menjadi Partai Bintang Reformasi. Beliau bahkan sempat menjadi ketua umum partai itu. Belakangan terjadi friksi ketika ada pergantian ketua umum. beliau pamit dari politik dan kembali memberi ceramah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan KH.Zainuddin MZ dalam politik itu, tidak terlepas dari pengaruh Kyai Haji Idham Chalid. Beliau lama belajar di pesantren milik KH.Idham Khalid yang menjadi salah seorang deklarator PPP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama segenap staf &lt;a href="http://www.pajagalan.com/"&gt;Buletin Jum'at Pajagalan&lt;/a&gt; kami turut berbela-sungkawa, merasa sangat kehilangan sosok da'i yang begitu kharismatik. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT, diampuni segala dosa dan kekhilafannya, dilapangkan kuburnya, ditempatkan disisi yang mulia. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-1412141790924102106?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/k7vezPbUS8c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/1412141790924102106/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=1412141790924102106" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1412141790924102106?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1412141790924102106?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/k7vezPbUS8c/dai-sejuta-ummat-itu-telah-berpulang-ke.html" title="Da'i Sejuta Ummat Itu Telah Berpulang Ke Rahmatullah" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-RhkqUX7n7GU/ThKaLWI2iMI/AAAAAAAAAOk/94BG2Vihmec/s72-c/KH-Zaenuddin-MZ-meninggal-dunia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2011/07/dai-sejuta-ummat-itu-telah-berpulang-ke.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIGQX86eip7ImA9WxZXFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-524223404155848013</id><published>2008-03-05T07:34:00.003+07:00</published><updated>2008-03-05T07:38:40.112+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-05T07:38:40.112+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>Tahiyatul Masjid Pada Waktu yang Dilarang</title><content type="html">&lt;i&gt;Ada sebagian anggota masyarakat yang biasa mengerjakan shalat tahiyyatul masjid pada waktu tahrim. Seperti, ketika masuk masjid, padahal ia telah shalat ashar. Dan waktu tahrim lainnya seperti sesudah shalat subuh sebelum matahari terbit, saat matahari terbit, saat berada di tengah dan terbenam. [Jama’ah Masjid Agung Jami Sultan Muhammad Tsafiuddin, Sambas.]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya waktu yang terlarang untuk shalat ada tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ {ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ تُصَلِّيَ فِيْهِنَّ. وَأَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَـتَّي تَزُوْلَ الشَّمْسُ وَحِيْنَ تَتَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ} رواه مسلم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Uqbah bin 'Amr, ada tiga waktu yang Rasulullah Saw, larang kami bershalat padanya dan larang kami tanam mayit-mayit kami padanya, ketika sedang terbit hingga tinggi ia dan ketika tegak panas yang terik hingga tergelincir matahari, dan ketika hampir matahari terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun shalat yang terlarang ba'dal 'ashri dan ba'das shubhi adalah shalat rowatib. Jadi artinya tidak ada shalat rowatib setelah ashar dan setelah shubuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-524223404155848013?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/GcTdhu9gPB4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/524223404155848013/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=524223404155848013" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/524223404155848013?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/524223404155848013?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/GcTdhu9gPB4/tahiyatul-masjid-pada-waktu-yang.html" title="Tahiyatul Masjid Pada Waktu yang Dilarang" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/03/tahiyatul-masjid-pada-waktu-yang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUCRHwycCp7ImA9WxZXFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-4074600478764230935</id><published>2008-03-05T07:29:00.002+07:00</published><updated>2008-03-05T07:34:25.298+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-05T07:34:25.298+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>Ma'na Isrof Dalam Surat Al-A'rof</title><content type="html">&lt;i&gt;Mohon tafsir dari “berlebih-lebihan” yang terdapat dalam surat al-A’raf ayat 31. [Iin Sopian, Subang.]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an Surat Al-A’rof Ayat 31 tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَـا بَنِي آدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُـلِّ مَسْجِدٍ وِكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلاَتُسْرِفُوْا إِنَّـهُ لاَيُحِبُّ اْلمُسْرُفِيْنَ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap akan memasuki masjid, makanlah dan minumlah. Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan isrof (berlebihan) adalah yang melewati batas ketentuan. Isrof dalam berpakaian tidak sesuai dengan syariat Islam. Misalnya tidak menutup aurat, tidak memakai pakaian yang bersih, berpakaian yang tidak sopan dan tidak layak di hadapan Allah, atau memakai pakaian karena sombong dan ingin dipuji orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isrof dalam makan dan minum; Misalnya menahan lapar dan dahaga padahal makanan tersedia dan tidak terlarang. Terlalu banyak makan dan minum sehingga melebihi duapertiga isi perut (makan-minumlah pada waktunya dan berhentilah ketika kenyang). Makan-minum dengan senang sampai kenyang sementara tetangga kelaparan. Makan dan minum yang tidak thoyib (yang tidak bernamfaat).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-4074600478764230935?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/ogm5XDYCHqg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/4074600478764230935/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=4074600478764230935" title="51 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/4074600478764230935?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/4074600478764230935?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/ogm5XDYCHqg/mana-isrof-dalam-surat-al-arof.html" title="Ma'na Isrof Dalam Surat Al-A'rof" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>51</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/03/mana-isrof-dalam-surat-al-arof.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIBQnk_eCp7ImA9WxZXFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-5954925734641522102</id><published>2008-03-03T09:39:00.003+07:00</published><updated>2008-03-03T09:49:13.740+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-03T09:49:13.740+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Baiti Jannati" /><title>Keluarga: Sarana Pendidikan Kesehatan Mental</title><content type="html">&lt;i&gt;“Dan sesungguhnya kami akan memberikan cobaan kepada kamu berupa ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa, kekurangan buah-buahan dan gembirakanlah orang yang sabar.”&lt;/i&gt; (QS. Albaqarah [2]: 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita menghayati arti kehidupan yang diberikan Allah Swt, tentunya kita sepakat mengatakan bahwa hidup yang kita jalani ini adalah semata-mata hanya untuk ibadah kepada Allah , seperti yang dijelaskan pada surat adz-dzariyat ayat 56. Tetapi dalam menjalani proses ibadah tersebut, Allah akan menyeleksi dengan memberikan ujian kepada hamba-Nya seperti yang sudah dijelaskan pada ayat diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang diuji dengan kesulitan, kemudah-mudahan kesenangan dan kekuatan, dll. Bagi umat yang mampu melalui ujian dengan sabar, yaitu ketika mendapat cobaan mereka mengatakan sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan kepada-Nyalah kami kembali, mereka inilah yang selamat kelak. Maka untuk mempunyai sikap sabar, penulis berpendapat bahwa kita harus mendapatkan ilmu dan pendidikan bagaimana cara bersikap bijak, dan pendidikan ini sebetulnya bisa didapatkan dari dalam keluarga sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering melihat atau bahkan mengalami sendiri, saat mengalami berbagai cobaan hidup, biasanya banyak orang yang mengalami ketegangan, kekecewaan/frustasi, atau konlfik-konflik, baik konflik yang muncul secara intern yaitu dalam diri sendiri maupun konflik antar manusia. Bila hal ini terjadi secara terus menerus tanpa penyelesaian yang optimal maka akhirnya tidak mustahil akan muncul suatu gangguan mental, terutama bagi orang-orang yang mempunyai potensi/ kecenderungan untuk timbulnya gangguan mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kehidupan globalisasi seperti sekarang ini, orang-orang asyik berpacu dan bersaing ketat dalam perlombaan hidup, sehingga dalam suasana hidup yang serba konfetitif itu, biasanya sering diwarnai oleh fenomena-fenomena tingkah laku (TL) yang tidak wajar, seperti: TL criminal, TL spekulasi, manipulasi atau cara-cara hidup (gaya hidup) yang mengandung bahaya, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah laku tersebut pada pernyataanya banyak menimbulkan ketakutan dan ketegangan sehingga dapat menjadi bibit timbulnya berbagai penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gangguan Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Penyakit mental atau gangguan mental secara umum merupakan ketidakmampuan sesorang untuk mengadakan adaptasi (penyesuaian) terhadap lingkungan. Biasanya ditandai dengan munculnya ketakutan, kecemasan banyak kesulitan dan konflik baik dalam dirinya maupun konflik dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu iri hati, dengki, curiga yang berlebihan, rasa marah yang meledak (mudah emosional) dan ketegangan batin. Sakit mental umummnya merupakan bentuk pada ketenangan batin dan ketentraman hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pribadi yang sehat mental biasanya berTL serasi, tepat (adekwat) mampu untuk berusaha beradaptasi terhadap lingkungannya (keluarga dan masyarakat) juga sikapnya bisa diterima pada umumnya. Sikap pada umumnya sesuai dengan norma dan pola hidup kelompok masyarakatnya. Sehingga terjadi relasi interpersonal dan intersosial yang baik dan lancar (hubungan dengan manusia yang baik dan memuaskan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini bukan berarti tidak ada konflik dengan orang lain, tetapi bila terjadi konflik/problem, dia dapat menyelesaikan dengan optimal sehingga tidak merugikan/menyakitkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membentuk kesehatan mental yang baik, ternyata sarana utamanya, terdapat pada keluarga. Karena keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Pola TL pikiran dan cara mengekpresikan diri pada ayah dan ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anggota-anggopta keluarga lainnya. Maka interaksi didalam keluarga sangat besar pengaruhnya pada proses pembentukan TL, dan sikap anggota keluarga terutama bagi anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ayah dan ibu agresif mudah marah, otoriter, egoisme, dan mau menang sendiri , tidak mau menghargai pendapat orang lain, maka sikap ini akan merangsang kemunculan reaksi-reaksi emosional yang implusif dan eksplosif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak akan meledak-ledak pula. Bahkan bagi anak-anak tertentu akan diekspresikan berupa agresivitas tetapi ada juga yang ditekan/ditahan kedalam diri sehingga anak terlihat seperti gejala depresi (tertekan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang mengindikasikan adanya ketidaksehatan mental pada anak-anak. Kehidupan keluarga memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian anak untuk menggapai keseimbangan batin dan sehat mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila seseorang seringkali menemui jalan buntu dan tidak mampu memecahkan kesulitannya, dia akan mengalami ketegangan dan konflik batin. Dalam jangka panjang. Bila tidak disalurkan, akan menimbulkan macam-macam bentuk gannguan mental, baik ringan maupun berat. Waliyadlu Billahi.&lt;br /&gt;______________________&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis: Lia D Hakim, S.Psi&lt;br /&gt;Rewriter: Dikdik&lt;br /&gt;Penyunting: &lt;a href="http://hakimtea.blogspot.com/"&gt;Hakimtea&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-5954925734641522102?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/x1yFxZqaoLw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/5954925734641522102/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=5954925734641522102" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5954925734641522102?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5954925734641522102?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/x1yFxZqaoLw/keluarga-sarana-pendidikan-kesehatan.html" title="Keluarga: Sarana Pendidikan Kesehatan Mental" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/03/keluarga-sarana-pendidikan-kesehatan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0UER3c-fCp7ImA9WxZXFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-2658299594871310078</id><published>2008-03-03T09:10:00.001+07:00</published><updated>2008-03-03T09:26:46.954+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-03-03T09:26:46.954+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Jauhkan Diri Dari Mental Mengemis dan Berjudi (Bag 2)</title><content type="html">&lt;b&gt;Kiat menghindar dari mental yang rusak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mental Mengemis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mental mengemis yang dimaksud, yaitu ketika seseorang menginginkan sesuatu atau merencanakan sesuatu, ia hanya mengandalkan pemberian atau sumbangsih dari orang lain dan tidak ada kreativitas darinya untuk berusaha sendiri yang produktif, padahal ia mampu untuk itu. Paling tidak kreativitasnya itu hanya sebatas mengemis. Seperti pura-pura sakit padahal sehat. Membuat proposal sumbangan yang isinya merengek-merengek dengan setumpuk perencanaan dan pembiayaan yang diperlukan agar dipercaya, dan kreatif menipu orang agar mendapat belaskasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau dia mau ia dapat bekerja sendiri, secara  terhormat dan bermartabat, tanpa harus menggantungkan diri terhadap orang lain. Sifat kemandirian inilah yang harus ditanamkan. Berusahalah dahulu dengan sabar dan tawakkal dan jagalah kehormatan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw bersabda, “Orang-orang yang meminta-minta bukan karena kebutuhan mendesak, seperti orang yang memungut bara api.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam hadist lain diterangkan, jika seseorang mengambil tali untuk mencari kayu bakar lalu disimpan dipunggungnya, dibawa kepasar untuk dijual, maka Allah akan menjaga kehormatannya dengan perbuatan itu.dan perbuatan itu lebih baik dari pada meminta-minta kepada orang lain, diberi atau tidak.(Hr. Bukharidan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mental Mergutang/Meminjam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mental mengutang/meminjam, orang yang hobinya meminjam atau menghutang tanpa didorong oleh kebutuhan yang mendesak, cuma karena dorongan hawa nafsu dan karena tergiur dengan kemewahan orang lain, tanpa memperhatikan kemampuan dirinya untuk membayar, pada hakekatnya ia tidak memiliki mental yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya orang ini akan dijadikan obyek oleh orang-orang yang mempinyai i'tikad yang tidak baik yang hanya ingin memeras harta atau menyita barangnya. Oleh sebab itu ia harus memperhatikan ajaran agamanya, bukankah Rasul enggan menyalatkan jenazah yang masih ada urusan dengan utangnya. Bahkan yang meninggal dalam keadaan syahid akan diampuni dosanya kecuali ada utangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya jika seseorang mempunyai utang ia akan berjanji tetapi dusta dan mengingkari janji itu, sehingga ia melakukan dosa yang lainnya. Dan Rosulpun pernah bersabda, “Jiwa seorang mu'min nasibnya kelak pada hari kiamat berkaitan erat dengan utangnya. Artinya baru akan diberikan ganjaran amal shalehnya jika utangnya itu ada yang membayarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu untuk menghindarkan dari mental mengutang ini adalah, harus meyakinkan bahwa menghutang atau meminjam itu pada dasarnya adalah perbuatan yang tidak terpuji, kecuali terdesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa yang dipinjamkan adalah kepunyaan orang lain yang mungkin didapat dengan susah payah. Oleh sebab itu cepat kembalikan dan harus tanggung jawaab atas harta orang lain tersebut. Sebab jika seseorang meminjam dengan niat tidak akan membayar itu hakikatnya adalah penjahat atau pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutang itu adalah beban mental yang akan mempengaruhi pikiran seseorang. Dalam satu riwayat dikatakan, “Hati hati dengan hutang karena hutang itu menjadikan bingung pada malam harinya dan kehinaan disiang harinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mental Judi.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mental judi ini bukan  berarti main judi karena judi sudah jelas hukumnya haram, tapi yang dimaksud ketika seseorang menghasilkan sesuatu atau memiliki sesuatu, dilakukan dengan cara untung-untungan (spekulasi), dengan modal dan cara yang enteng dengan harapan (lamunan) hasil yang besar, tanpa mengeluarkan tenaga yang banyak dan pemikiran yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya mental ini dimiliki oleh orang yang prustasi, tipis imannya dan dalam keadaaan yang sulit perekonomiannya. Ia mau bekerja tetapi hasil kerjanya yang halal itu ia gunakan untuk mencari penghasilan yang lebih besar lagi yang sifatnya untung-untungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak lagi memikirkan kerja yang produktif, bahkan etos kerjanya menurun yang ada dalam benak pikirannya adalah keuntungan yang besar dengan modal yang sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang bermental seperti ini menjadi sasaran empuk bagi pelaku ekonomi atau pengusaha yang ingin meraih keuntungan yang besar, seperti iming-iming hadiah atau apa saja yang penting belanja ini atau itu. Atau dengan sarat-sarat yang lain yang dianggap ringan. Yang akhirnya mereka berlomba –lomba mendapatkan hadiah walaupun membeli sesuatu yang tidak perlu atau tidak ada manfa'atnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil, dan umumnya yang berhasil itu sedikit saja. Yang jelas mental judi ini terjadi dalam segala sektor kehidupan. Akibat buruk dari mental ini adalah kemalasan (bekerja yang produktif akan hilang)  dalam kehidupan sikapnya spekulatif (untung-untungan) yang akan menimbulkan permainan judi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasinya kembalilah kepada jalan agama. Berusahalah dengan mencari karunia Allah itu dengan bekerja yang halal, menghargai prestasi pekerjaan dengan upah yang sesuai. Sehingga jangan ada istilah lebih baik main judi dari pada kerja dengan upah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan ekonomi yang serba sulit ini, ketiga mental diatas memang sulit dibendung sebab kehidupan manusia yang serba praktis dan pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja yang bisa jadi uang itulah yang diburu. Dan dalam pemburuan itu seringkali nilai-nilai agama yang dikesampingjkan moral diabaikan. Ditambah lagi dengan arus globalisasi dalam segala sector kehidupan yang semakin merambah dengan dampak yang positif dan negativenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang belum siap, yang akan menjadi korbannya. Jalan yang terakhir agar selamt dari pengaruh buruk adalah kembali kejalan Allah swt. Laksanakan ajaran dengan penuh kedisiplinan dan keikhlasan. Tawakkallah dengan mencari karunia Allah pasti Allah akan memberikan perlindungannya. Amien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-2658299594871310078?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/8bxDXziDQ6o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/2658299594871310078/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=2658299594871310078" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2658299594871310078?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2658299594871310078?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/8bxDXziDQ6o/jauhkan-diri-dari-mental-mengemis-dan.html" title="Jauhkan Diri Dari Mental Mengemis dan Berjudi (Bag 2)" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/03/jauhkan-diri-dari-mental-mengemis-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUAFQXs4fyp7ImA9WxZXEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-7583046423014762705</id><published>2008-02-27T18:51:00.004+07:00</published><updated>2008-02-27T19:01:50.537+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-27T19:01:50.537+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Jauhkan Diri Dari Mental Mengemis dan Berjudi (Bag 1)</title><content type="html">&lt;b&gt;Muqadimah:&lt;/b&gt; Dalam prinsip Islam, bumi dan segala isinya telah disiapkan dan ditundukan oleh Allah Swt, untuk kesejahteraan dan kehormatan manusia. Karena itulah seyogyanya manusia mampu memanfa'atkan dan mengelola anugerah (ni’mat) Allah ini. Sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain sesuai dengan sunatullah. Allah Swt, memerintahkan manusia agar berusaha mencari anugerah dan keni’matan Allah dimuka bumi ini, sesuai dengan dasar tauhid, berpijak pada prinsip keadilan, ta'awun (tolong-menolong), bertitik-tolak dari ibadah dan tidak berbuat fasad (destruktif).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika prinsip-prinsip ini tidak dilaksanakan maka anugerah atau ni’mat Allah itu akan berubah menjadi adzab dan laknat bagi manusia. Kejadian-kejadian yang menimpa ummat manusia yang disebut bencana alam yang terjadi dilautan ataupun didaratan, sebenarnya adalah akibat ulah manusia itu sendiri (doyan berbuat maksiat), disamping sebagai peringatan dari Allah. Karena mustahil Allah mendzalimi hamba-hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, Islam tidak membenarkan seseorang bermalas-malasan dalam mencari karunia Allah ini, sekaligus Islam tidak membenarkan mengeksploitasi anugerah Allah dengan cara merusak, karena didorong oleh sifat rakus dan tamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yang terjadi dan kita saksikan, pertama disatu pihak manusia ada yang rakus dan mengeksploitasi kekayaan bumi ini tanpa batas karena punya modal yang besar, serta memamerkan harta kekayaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dipihak lain yang kena imbasnya yaitu meraka yang terpinggirkan dan hidupnya miskin, bahkan dibawah garis kemiskinan. Hari demi hari dihimpit terus dengan kesulitan ekonomi. Sedangkan yang dipertontonkan kepada mereka adalah kemewahan dan gemerlapnya harta yang menggiurkan dan godaan nafsu seksual yang vulgar yang dilakukan oleh orang-orang mutrafien (ulu al-ni'mat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih fatal lagi, selain miskin materi mereka juga tidak sedikit yang miskin kreativitas. Akhirnya dihinggapi mental pengemis, mengutang dan mental judi (untung-untungan). Obsesinya tiada lain hanya ingin meniru perilaku orang-orang yang hidupnya glamour, tanpa diimbangi dengan kemampuan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan lahir dan kemiskinan batin (rohani) ini adalah korban ketidakadilan dan salah lurus, atau dampak negative dari arus globalisasi yang tidak menghiraukan prinsip keadilan dan tolong menolong yang ditimpakan kepada orang-orang yang kondisi imannya tipis. Untuk memenuhi ambisinya itu mereka melakukan berbagai cara antara lain: menjamurnya pengemis, semakin banyak orang yang mengutang atau mengambil kredit barang karena dorongan hidup konsumtif dengan alasan untuk usaha, tanpa menghiraukan resikonya.dan semakin subur pula orang-orang yang ingin mendapatkan rezeki walaupun dengan cara malas (untung-untungan spekulasi) atau judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gairah untuk kerja yang produktif menurun, kehormatan diri dan martabat sebagai manusia sudah tidak dihiraukan lagi, (tanpa rasa malu mengemis dan meminta) dan sulit mencari kerja yang diidam-idamkan (karena upahnya ingin besar dan gengsi-gengsian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu yang terjadi bahkan mungkin menimpa diri kita sendiri, maka selaku mu'min kita wajib meneliti diri kita sendiri (muhasabah) dan mencari solusinya dengan cara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu hadist diterangkan ada shabat Nabi namanya Qubaishah. Ia datang kepada Rasulullah Saw untuk konsultasi, karena ia berada dalam kesulitan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: “Tungu sebentar mudah-mudahan ada orang yang ingin besedekah, nanti saya akan perintahkan supaya diberikan kepada anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas Rasulullah menasehatinya: “Wahai Qubaishah sesungguhnya mengemis itu tidak diperbolehkan oleh agama, kecuali bagi salah satu diantara yang tiga, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Orang-orang yang menanggung kesulitan karena kebutuhan yang sangat mendesak, ia boleh meminta-minta sehingga hilang kesulitannya itu, sesudah itu ia harus berhenti dari meminta-mintanya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang ditimpa dari hartanya sehingga habis sama sekali. Ia boleh meminta-minta sehingga dapat bangun kembali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang yang mengalami kemiskinan yang benar-benar miskin (tidak dibuat-buat) sehingga ia dapat bangkit dari kemiskinannya itu.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Oleh sebab itu meminta-minta atau mengemis selain dari ketiga macam tadi adalah haram hukumnya.(Hr. Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadist ini dapat ditarik faidah, yaitu seorang muslim wajib menjaga kehormatannya dan martabat dirinya sebagai manusia dengan jalan kasab yang halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminta-minta atau mengemis pada dasarnya dilarang (apalagi dijadikam sebagai bahan ladang usaha) jauhkan diri dari mental mengemis, mental mengutang dan mental judi. Bagi pengusaha wajib memberikan arahan dan diberikan didikan yang benar, dan memberikan teladan yang baik serta hidup yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penulis: KH. Ahmad Daeroby&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dosen UIN - Asatidzah Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rewriter: Dikdik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyunting: &lt;a href="http://hakimtea.blogspot.com/"&gt;Hakimtea&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-7583046423014762705?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/Nz1rTWRlNbA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/7583046423014762705/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=7583046423014762705" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/7583046423014762705?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/7583046423014762705?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/Nz1rTWRlNbA/jauhkan-diri-dari-mental-mengemis-dan.html" title="Jauhkan Diri Dari Mental Mengemis dan Berjudi (Bag 1)" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/02/jauhkan-diri-dari-mental-mengemis-dan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcNQHo9cCp7ImA9WxZRFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-8286988284724636555</id><published>2008-02-09T21:57:00.000+07:00</published><updated>2008-02-11T00:04:51.468+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-11T00:04:51.468+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kristologi" /><title>Valentine’s Day Budaya Kafir</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R68t5ztOFgI/AAAAAAAAAHo/K_iEeDm_M7E/s1600-h/valentindays%2Bsalib%2Bbintang-daud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 177px; height: 177px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R68t5ztOFgI/AAAAAAAAAHo/K_iEeDm_M7E/s200/valentindays%2Bsalib%2Bbintang-daud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165397768772916738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Menjelang pertengahan bulan februari dimana-mana terlihat nuansa warna-warni romantis seperti merah muda (pink) yang dianggap mencerminkan kasih sayang. Hampir seluruh dunia mengenal tanggal 14 februari sebagai valentine’s day atau popular dengan sebutan hari kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum diketahui dengan pasti dari mana asal mulanya penetapan tanggal 14 februari, sebagai hari kasih sayang Valentine’s day mulai diadakan sekitar pada abad ke-7 untuk memperingati seorang pendeta, saints valentine, seorang yang dianggap suci, perlambang kasih sayang, meninggal diroma pada tanggal 14 februari 269 M. selain sebagai pendeta ia juga seoarang tabib yang dermawan, baik hati dan punya jiwa patriotisme yang mampu membangkitkan semangat berjuang dan menyadarkan rakyat roma dari keterkukungan dan ketidakadilan para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu romawi diperintah oleh kaisar claudius the ghoth yang terkenal dengan kekejamannya. Kaisar claudius ingin memperluas daerah kekuasaannya sehingga membutuhkan banyak tentara yang kuat yang harus diambil dari kalangan para pemuda. Tetapi ketika itu banyak kalangan pemuda yang menolak menjadi tentara karena tidak mau berpisah dengan kekasihnya. Tentu saja kejadian ini membuat kaisar&lt;span class="fullpost"&gt; marah, sehingga membuat ketentuan tidak boleh pacaraan atau menikah bagi kaum muda. Pelanggar diancam dengan hukuman berat. Tidak ada yang berani menentang peraturan tersebut kecuali pendeta saint valentine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendukung hubungan asmara itu antara pemuda, dan secara diam-diam sering menikahkan pasangan yang saling mencintai. Lama-kelamaan tindakan valentine diketahui kaisar, sehingga ia dimasukan keadalam penjara. Tetapi hukuman tidak membuatnya jera. Sikap  ini membuat para kaum muda bersimpati padanya. Salah satu putri sipil yang secara diam-diam sering mengunjungi penjara untuk menemui valentine sambil membawa hadiah berupa makanan ataupun bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat reaksi para kaum muda begitu besar perhatiannya kepada valentine, kaisar merasa khawatir jika kondisi ini dibiarkan bukan tidak mungkin rakyat memberontak melawan. Kaisah memerintahkan untuk membunuh pendeta valentine. Akhirnya dipenggalah kepalanya. Sebelum mati ia menulis surat kepada putri sipir penjara yang berbunyi ia tidak akan menyesal dengan apa yang ia perbuat, dia tetap memegang prinsip cinta tidak dapat dikalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghormati pengorbanannya itu, tahun 496 M. Paus glasius menetapkan 14 Februari sebagai hari saint valentine. Waktupun bergulir perayaan kematian saint valentine sebagai tokoh kasih sayang berubah menjadi hari memilih pasangan diantara kaum muda. Perayaan ini diperkirakan diambil dari pesta muda-mudi di roma. Pesta lupercalia yang digelar setiap tanggal 15 februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu laki-laki menempelkan tulisan nama perempuan yang dipilihnya di lengan bajunya. Dalam acara pesta itu diadakan acara tukar menukar hadiah kemudian lupercalia dijadikan hari untuk memperingati saint valentine tetapi tradisinya tetap terbawa. Akhirnya hari valentine lebih dikenal sebagai hari cari jodoh. Yang semula untuk perayaan hari kematian, menjadi hari mencari pasangan. Ini terjadi di eropa pada abad ke-15. Perayaan valentin akhirnya dimanfaatkan oleh kalangan dunia bisnis. Para intertainer berlomba mengadakan pagelaran bertema valentine yang lain daripada yang lain dan tidak sedikit mengarah kepergaulan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERLARANG UNTUK ORANG ISLAM&lt;br /&gt;Setalah mengetahui asal mula terjadi valentine. Hendaknya kita jangan mencoba-coba kebiasaan mereka. Allah SWT telah melarang umat Islam untuk tidak mengikuti sesuatu yang tidak jelas sumbernya dan hukumnya seperti dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya” (Qs. Al- isro).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah dengan keras melarang umat islam untuk mengikuti kebiasaan orang kafir, dan harus menjauhinya agar tidak terpedaya oleh mereka. Allah juga telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an. “Wahai orang-orang yang beriman jika kamu mengikuti orang-orang yang kafir, niscaya mereka mengembalikan kamu menjadi kafir, lalu kamu menjadi orang-oarang yang rugi.” (Qs. Ali Imron:149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, mereka selalu berusaha agar umat Islam mau mengikuti agama mereka. “Orang-orang yahudi dan nashrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti mereka.” (Qs. Al-Baqorah: 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “mengikuti” disini buikan berarti murtad atau pindah agama, tetapi juga termasuk mengikuti tradisi, adat, budaya. Upacara dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mengikuti suatu kaum, maka ia akan menjadi bagian atau menjadi satu dengan kaum yang ditiru.” (Hr. Ibnu Hanbal dan Abu dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikannlah apa yang telah dikatakan oleh Samuel Zwemmer salah satu direktur organisasi misi dari Amerika Serikat, dan juga ketua Asosiasi agen Yahudi, dalam konferensi di yarusalem tahun 1935.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi utama yang dibebankan negara-negara kristen kepada kita bukanlah menjadi kaum muslimin sebagai kristen, karena hal ini tidak akan sanggup kita laksanakan, tetapi ingatlah, misi utama kita adalah harus menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam supaya mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Allah. Sehingga mereka tidak menggunakan norma akhlak sebagai pegangan hidup Islam. Dengan demikian akan membuka pintu kemenangan bagi imperialis atas kerajaan-kerajaan Islam. Tetapi tidak usah bergabung dengan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih mau merayakan Valentine…?&lt;br /&gt;___________________________&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis: Abu Luthfi&lt;br /&gt;Risalah No. 11 Th 42 Feb 05&lt;br /&gt;Re-writer: Dikdik Durohim&lt;br /&gt;Penyunting: A. Saepul Hakim&lt;br /&gt;Gambar diambil dari &lt;a href="http://hakimtea.blogspot.com/"&gt;http://hakimtea.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-8286988284724636555?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/DriZqhyvML8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/8286988284724636555/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=8286988284724636555" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8286988284724636555?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8286988284724636555?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/DriZqhyvML8/valentines-day-budaya-kafir.html" title="Valentine’s Day Budaya Kafir" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R68t5ztOFgI/AAAAAAAAAHo/K_iEeDm_M7E/s72-c/valentindays%2Bsalib%2Bbintang-daud.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/02/valentines-day-budaya-kafir.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcCSH89eip7ImA9WxZREkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-2943231887920947331</id><published>2008-02-06T15:19:00.000+07:00</published><updated>2008-02-06T18:07:49.162+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-02-06T18:07:49.162+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah" /><title>AKULTURASI AGAMA BUDAYA DAN ISLAM</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6mNgZCIjqI/AAAAAAAAAHY/6ssJ8eoYaeQ/s1600-h/akulturasi+agama.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6mNgZCIjqI/AAAAAAAAAHY/6ssJ8eoYaeQ/s200/akulturasi+agama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163814035372150434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah Saw pernah mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Islam tidak tetap dalam satu keadaan tapi berubah dan bersifat fluktuatif (pasang surut) dalam sabdanya, “Innal islaama bada`a ghariiban wa saya’udu ghariiban kama bada`a.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad Saw di tengah masyarakat kafir Quraisy, mereka merasa asing dan aneh. Islam mengajak untuk bertauhid (mengesakan Allah) sementara mereka terbiasa menyembah berhala dengan jumlah yang banyak. Islam menuntun untuk beraklakul karimah (mulia) sementara mereka telah terbiasa dengan ahlak madzmumah (tercela) bergelimang dosa. Sabda Nabi, Islam akan kembali dianggap aneh seperti pertama kali datang kepada kafir Quraisy. “Fatuuba lighuraba`i,” beruntunglah orang-orang yang dianggap aneh. yang dimaksud aneh disini bukanlah mereka yang membuat hal-hal yang aneh-aneh apalagi nyeleneh! Waktu itu juga para sahabat bertanya, “Man hum ya Rasulallah?” siapakah orang yang dianggap aneh itu wahai Rasul? Beliau menjawab, &lt;span class="fullpost"&gt;“Alladziina yushlihuuuna ‘inda fasaadinnaas.” Mereka adalah orang-orang yang tetap istiqomah (konsisten) melaksanakan kebaikan sesuai dengan ajaran Alquran dan assunah disaat orang-orang lain sudah berbuat kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sampai ke Indonesia tidaklah straight on (langsung) dibawa oleh para sahabat dari madinah ke Indonesia. Sebagaimana kita baca di dalam sejarah, Islam sampai ke Indonesia setelah melewati pusat-pusat agama budaya yang merupakan agama buatan dan hasil olah pikir manusia, sebalik dari agama wahyu yang berdasar kepada wahyu ilahi. Pusat-pusat agama budaya yang dilewati para pembawa ajaran Islam sebelum sampai ke Indonesia adalah Persia (Iran), India (anak benua asia), dan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi proses akulturasi antara pembawa ajaran Islam dengan masyarakat di pusat-pusat agama budaya tersebut. Terjadi proses “Iltibas bainal haq wal bathil,” percampuradukan antara nilai-nilai yang datang dari Islam dengan nilai-nilai batil yang bersumber dari ajaran-ajaran agama di pusat agama budaya tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Persia ada agama Zarathustra (Zoroaster) dengan kitab suci Parasutra, pengaruhnya sampai saat ini masih melekat dari kisah Zaratusta yang ada dikitab tersebut jika kita bandingkan dengan Manakib Syeikh Abdul Qodir Zailani. Hanya pelaku utamanya saja yang berbeda. Ceritanya tetap sama aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dari agama Sumeria Akkadia (thn 4000 sM), Tuhan tertingginya disebut Nebuila mempunyai anak laki-laki bergelar Bil dan anak perempuan bergelar Biltu (bahasa Arab; Bin dan Bintu). Anak laki-laki Nebuila bernama Bil Samek berwujud kepalanya manusia sedangkan tubuhnya ikan (kuda laut). Anak perempuan bernama Biltu Firish berkepala perempuan cantik bertubuh kuda. Karena keduanya merupakan “dewa” maka sayap menjadi pelengkap agar mereka bisa terbang. Jika kita bandingkan gambaran tersebut dengan gambaran “Buroq” pembawa Nabi isra mi’raj yang sering kita lihat di kalender-kalender kepercayaan dahulu mirip sekali; tubuhnya kuda wajahnya perempuan cantik dan bersayap. Demikian itu pengaruh agama Sumeria Akkadia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masuk ke India disana terdapat banyak macam-macam agama. Diantaranya yang berpengaruh hingga detik ini pengaruh dari agama Upanisad yaitu Yoga; mengatur nafas dengan membaca puji-pujian, yang dibaca “Aham Brahmasmi berarti “Aku seorang brahma.”. Ketika membaca “Aham” nafas ditarik dan kepala menengok ke kanan, membaca “Brahmasmi” nafas dilepas kepala menengok ke kiri. Mempengaruhi agama Islam kalimat Aham Brahmasmi diganti dengan tahlil “Laa Ilaaha Illallah” sedangkan gerakan menengok ke kanan-kirinya tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari China ada sebuah agama tertua di dunia, Hiyang. Ada yang disebut dengan Hiyang Firasat; dewa yang suka memberi firasat dengan menunggang berbagai binatang; Jika menunggang kupu-kupu maka Hiyang tersebut memberi isyarat akan ada tamu. Jika menunggangi burung peniang (cungcuing) memberi firasat ada orang mati. Jika menunggangi burung hantu lantas berbunyi memberi firasat ada orang mati. Dsbnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang disebut Hiyang Poh-Yan (Dewa hujan) konon berbentuk ular naga jumlahnya ada empat untuk mengatur hujan di keempat penjuru angin. Ular naga itu tinggal tiga karena yang melanggar amanah Hiyang Ambu dan Hiyang Bapa dewa tertinggi sehingga hujan menjadi tidak merata. Ketika dewa tertinggi membuat istana, Hiyang Poh-Yan yang berbentuk ular menangis karena tidak bisa membantu. Air matanya jatuh mengkristal seperti mutiara. Gundukan airmata tersebut diuntai oleh istrinya diberi nama Aksamala yang berarti untaian biji airmata. Itulah konon menurut ajaran agama Hiyang menjadi alat untuk menghitung puji-pujian. Mempengaruhi agama kristen dikalungkan dengan liontin Salib namanya berubah menjadi Rosario. Mempengaruhi agama Islam digunakan untuk menghitung bacaan subhanallah diberi nama tasbe berasal dari kata tasbih terkena gejala bahasa apoko (pembuangan ponem diakhir seperti; bapak menjadi bapa, nenek menjadi nene) demikian tasbih menjadi tasbe. Nama aslinya Aksamala yang berasal dari agama Hiyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang disebut Hiyang Kunyang (Dewa kucing) dengan kepercayaan jika kita membunuh kucing akan dibalas oleh Hiyang Kunyang. Di kalangan sopir kepercayaan tersebut masih kuat. Mereka lebih menghargai nyawa kucing daripada manusia. Bahkan pada masyarakat dahulu ketika musim kemarau melanda mereka memandikan kucing agar hujan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dongeng Kuntilanak pun pengaruh dari agama Hiyang yang asalnya bernama Puntianak. Kepercayaannya jika ada perempuan melahirkan dan meninggal dunia arwahnya tidak diterima diakhirat berpunggung bolong jika dimasukkan paku akan kembali lagi menjadi manusia. Itu semua bersumber dari kepercayaan agama Hiyang yang sampai hari ini masih banyak dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara tiga dan tujuh bulan ketika wanita hamil termasuk ibadah dalam agama Hiyang. Wanita hamil memasuki bulan ketujuh harus mandi tujuh kali di tujuh sumur, mengganti pakaian tujuh kali, membuat manisan rujak tujuh macam, mandi kembang tujuh rupa terus dijual kepada anak-anak dengan uang pecahan genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang meninggal dunia dalam agama Hiyang ada upacara tiga hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari sampai 1000 hari. Sampai detik ini masih banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Kalangan awam muslim menganggap itu semua bersumber dari ajaran Islam karena oleh kalangan pemuka agama dibumbui dengan membaca ayat quran dan do’a-do’a sehingga nampak seperti dari ajaran Islam. Dalam agama Hiyang air bekas memandikan orang yang meninggal digunakan untuk mencuci muka keluarga konon untuk menghapus bayangan orang yang meninggal. Kemudian dipakaikan pakaian bekas pernikahan bahkan jika dia orang berada dalam mulutnya dimasukan mutiara, tujuannya supaya lancar menjawab pertanyaan Hiyang Akhirat. Bahkan umat Islam yang berangkat Haji terpengaruh dengan mencari sobekan qiswah ka’bah (baju ka’bah) tujuannya sama ketika meninggal dimasukkan ke mulut supaya lancar menjawab pertanyaan malaikat Munkar-Nakir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal tersebut di atas sekedar ilustrasi saja bagaimana ajaran Islam masuk ke Indonesia melewati pusat-pusat agama budaya dan terjadi akulturasi pencampuradukan nilai. Orang menganggap bahwa itu semua adat istiadat padahal bukan karena ada perbedaan yang sangat jelas antara adat dengan agama. Dalam surat Albaqoroh 42 Allah berfirman, “Wa laa talbisulhaqqo bilbaatili, wataktumul haqqo waantum ta’lamuun.” Janganlah sekali-kali kamu mencampur adukkan antara nilai-nilai alhaq yang datang dari Islam dengan nilai-nilai bathil yang bukan dari ajaran Islam dan janganlah sekali-kali kamu menyembunyikan, karena itu dilarang Allah apalagi ketika kita mengetahui bahwa itu semua salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Islam masuk ke Indonesia di dalamnya pun sudah terdapat agama-agama budaya dan kepercayaan lainnya; animisme (kepercayaan akan roh) bahwa ada tempat-tempat tertentu yang ditunggui roh (arwah); di pohon besar, di batu besar, di goa yang gelap. Maka agar tidak menggangu diberikanlah sesajen (sesajian). Cara-cara seperti ini masih ada dikalangan masyarakat kita. Datang bulan Muharram (syuro) dimana pada bulan tersebut konon meski banyak kebaikan juga banyak malapetaka oleh sebab itu dibuatlah labuan mengirim sesajen ke gunung atau kelautan bagi arwah yang menunggu ditempat-tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinamisme (kepercayaan akan kekuatan ghaib pada benda-benda tertentu) seperti keris, batu ali, tombak, rambut bahkan tato (rajah) yang dulu dipercaya mempunyai kekuatan magis bisa mengusir jin, hantu sehingga para kriminal dahulu menggunakan tato dengan tujuan jika lari (buron) ke hutan lebat tidak akan diganggu oleh “penunggu hutan” tidak ada yang ditakuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang berangkat haji para tetangga pesan bukan minta do’a tapi minta dibelikan batu ali dengan kepercayaan bahwa batu ali jenis tertentu mempunyai kekuatan magis. Inilah pengaruh dari dinamisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw pernah mengingatkan, sesungguhnya rukyah dalam pengertian jampi-jampi berbau syirik dan bercampur dengan nilai-nilai bathil, tamimah (isim atau jimat), tiwalah (pelet) semua itu perbuatan syirik yang sangat dilarang dalam ajaran Islam. Namun ada seorang tokoh ormas Islam besar mengatakan bahwa agama Islam yang bercampur aduk dengan nilai-nilai seperti di atas itu katanya “Islam keindonesiaan” yang harus dilestarikan. Ketika kita menggugat hal tersebut maka mereka mencap kita sebagai kelompok fundamentalis dengan terminologi negatif dengan pengertian kelompok ekstreem. Padahal kita hanya mengingatkan apa yang diingatkan Allah, “Wa laa talbisulhaqqo bilbaathili.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bukanlah adat karena menurut kaidah ushuliyah, “Alashlu fiel aadaati ma’qulul ma’na.” Yang disebut adat itu rasional, dapat dimengerti! Berbeda dengan ibadah, “Alashlu fiel ibaadaati ghair ma’qulul ma’na.” Yang disebut ibadah tidak bisa dimengerti; kenapa shubuh dua rakaat dan kenapa dzuhur empat rakaat. Tidak ada jawaban! Orang hanya mengatakan aturannya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang disebut adat itu dapat dimengerti akal; kenapa kita makan? Karena lapar! Kenapa kita tidur? Karena ngantuk! Inilah adat. Tapi, kenapa wanita hamil harus membuat manisan rujak tujuh macam? Kenapa pengantin harus menginjak telur? Ini semua tidak ada jawaban! Hal-hal seperti ini sulit untuk dikategorikan sebagai adat istiadat tetapi hal tersebut sama dengan ibadah. Hanya saja jika hal tersebut dikategorikan ibadah adakah sumbernya dari Rasulullah Saw? Kalau tidak ada maka itulah hal-hal yang harus kita jauhi karena termasuk perbuatan-perbuatan bathil yang telah Allah ingatkan dengan keras, “Walaa talbisul haqqo bilbaathil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah Swt membimbing kita dengan rahmat dan hidayahnya sehingga kita tidak terjerumus ke dalam upaya iltibas percampuradukkan nilai-nilai yang terkontaminasi oleh nilai-nilai bathil seperti ilustrasi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah Swt mengampuni segala kealfaan dan ketidaktahuan kita dan menunjukkan ke jalan yang lurus serta menempatkan kita bersama dengan orang-orang yang berada dalam ni’matnya. Amien!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Khutbah Jum’at&lt;br /&gt;Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung&lt;br /&gt;Khatib: KH. Shiddiq Amien, MBA&lt;br /&gt;Penyunting: A. Saepul Hakim&lt;br /&gt;Jum’at Pertama, 1 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-2943231887920947331?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/i842P5L3TEM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/2943231887920947331/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=2943231887920947331" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2943231887920947331?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2943231887920947331?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/i842P5L3TEM/akulturasi-agama-budaya-dan-islam.html" title="AKULTURASI AGAMA BUDAYA DAN ISLAM" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6mNgZCIjqI/AAAAAAAAAHY/6ssJ8eoYaeQ/s72-c/akulturasi+agama.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/02/akulturasi-agama-budaya-dan-islam.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYBQns6fCp7ImA9WxZSF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-990808654299304529</id><published>2008-01-31T00:17:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T00:29:13.514+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-01-31T00:29:13.514+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>IBADAH DAN ISTI'ANAH</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6CzzJCIjpI/AAAAAAAAAHQ/9HWy2Z5QLtY/s1600-h/sujud.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6CzzJCIjpI/AAAAAAAAAHQ/9HWy2Z5QLtY/s200/sujud.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161322864146157202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Allah Swt berfirman yang artinya, “Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Hanya kepada-Mulah kami beribadah, (inilah yang dimaksud dengan ibadah). Dan, hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan, (inilah yang dimaksud dengan isti'anah).” (Q.S. Al-Fatihah [1]: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah adalah satu ungkapan akumulasi kesempurnaan terhadap dua hal; puncak kecintaan dan puncak ketundukan. Untuk memahaminya kita bisa mengilustrasi sebagai berikut, seorang ayah atau ibu sudah pasti ia mencintai anaknya. Tapi, keduanya tidak tunduk dan patuh kepada anak tersebut. Bahkan terkadang, &lt;span class="fullpost"&gt;beberapa kemauan anak dicegah demi kebaikannya. Maka, kedua orang tua tersebut tidak beribadah kepada anaknya. Hal ini karena tidak ada unsur ketundukan, meskipun disana ada unsur kecintaan. Begitu pula dengan seorang budak. Ia akan selalu tunduk kepada tuannya dan melaksanakan apa yang diperintahkan olehnya. Tetapi ketundukan dia bukanlah wujud dari rasa kecintaan dirinya kepada tuannya. Jadi yang dimaksud dengan ibadah adalah ungkapan akumulasi kesempurnaan dari kecintaan dan juga ketundukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang dimaksud dengan isti'anah (memohon pertolongan) adalah ungkapan akumulasi kesempurnaan terhadap dua hal; tsiqqoh (percaya) kepada Allah Swt dan i'timad (bersandar penuh) kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena faktor kebutuhan, terkadang seseorang menyandarkan suatu urusan kepada yang lain, walaupun ia tidak percaya kepadanya. Sebaliknya, karena tidak membutuhkan, bisa saja seseorang percaya kepada yang lain, tetapi tidak bersandar kepadanya. Terlepas dari itu semua, adakah manusia yang tidak membutuhkan Allah Swt, Dzat Yang Maha Mampu atas segalanya, yang mengatur alam dan seisinya? Kalaulah ada orang yang tidak tsiqqah kepada Allah Azza wa Jalla pastilah ia seorang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita perhatikan surat alfatihah di atas, maka kita dapatkan bahwa ibadah lebih didahulukan daripada isti'anah. Menurut Ibnul Qoyyim al-Jauziyah hal ini karena beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Karena ibadah adalah tujuan, sementara isti'anah adalah wasilah (sarana). Ibadah adalah tujuan diciptakannya hamba, sementara isti'anah adalah wasilah untuk mencapai tujuan itu. [2] Karena isti'anah adalah bagian dari ibadah dan bukan sebaliknya. [3] Karena ibadah tidak akan muncul kecuali dari orang yang ikhlas. Sedangkan isti'anah bisa muncul, baik dari hamba yang ikhlas maupun yang tidak. [4] Karena ibadah bisa dikatakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, sedangkan i'aanah (pertolongan) adalah perbutan dan taufiq Allah. [5] Karena ibadah dipagari dengan dua macam pertolongan, yaitu pertolongan untuk bisa beriltizam dan menegakkannya, serta pertolongan- setelah ibadah, yaitu untuk bisa melaksanakan bentuk ibadah yang lain dan bisa konsisten menjalankannya, sampai ajal datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim juga menyebutkan bahwa ungkapan lain dari isti'anah adalah rasa tawakkal. Begitu pentingnya ibadah dan isti'anah (tawakal) ini, sehingga beberapa kali Allah Swt menyebutkannya secara bersamaan. Diantaranya adalah firman Allah Swt sebagai berikut: "Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka ibadahilah Dia dan bertakwalah kepadanya." (QS. Huud: 123)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Robb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (Al-Mumtahanah: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialah Rabbku tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepadaNya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (QS. Ar-Ro'du: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beribadah dan beristi'anah, manusia terbagi menjadi empat golongan. Golongan yang paling afdal yaitu ahli ibadah sekaligus ahli isti'anah. Bagi kelompok ini ibadah kepada Allah Swt adalah terminal akhir mereka. Untuk itu, mereka meminta pertolongan kepada Allah Swt agar membantu mereka terhadap hal ini dan memberikan taufik untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, termasuk doa yang afdal untuk diucapkan adalah doa agar diberi pertolongan (i'anah) dalam beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah mengajarkan sebuah doa kepada Mua'adz bin Jabal r.a. beliau bersabda yang artinya, “Wahai Mu'adz demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Dan janganlah kamu lupa setiap penghujung shalat untuk membaca, Ya Allah, berikanlah i'anah kepadaku untuk berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR Abu Dawud, Ahmad dan al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Aku perhatikan seluruh doa, ternyata yang paling bermanfaat adalah doa meminta pertolongan untuk mendapatkan ridho-Nya. Kemudian aku melihat dalam surat al-Fatihah, ternyata ia adalah iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua adalah mereka yang berpaling dari ibadah dan isti'anah. Kalaupun ada diantara mereka yang beribadah atau beristi'anah, hal itu dilakukan hanyalah dalam rangka memenuhi syahwat atau kebutuhannya. Bukan atas dasar ridho kepada Allah Swt atau memenuhi hak-hakNya. Dan, Allah banyak mengabulkan segala permintaan hamba-hambaNya termasuk iblis. Namun, karena permintaannya bukan untuk menggapai ridho Allah, maka pengabulan dan pemberian Allah ini hanya akan menambah kesengsaraan dan jauhnya dirinya dari Allah Swt. Dan demikianlah yang akan terjadi, kepada semua saja yang meminta pertolongan kepada Allah Swt untuk suatu perkara yang bukan dalam rangka menggapai keridhoan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang berakal, pastilah ia memperhatikan dirinya dan orang lain. Sudah pasti, ia mengerti bahwa dikabulkannya suatu permintaan oleh Allah tidaklah selalu bermakna bahwa Allah memuliakannya. Suatu saat, seorang hamba meminta sesuatu yang ia butuhkan kepada Allah, lalu Dia memenuhinya. Padahal, disanalah letak kehancurannya. Betapa banyak orang-orang yang menjadi bakhil setelah dilapangkan rizki-Nya. Betapa banyak orang-orang yang menjadi takabbur dan zalim setelah diberi kekuasaan. Sementara di saat yang lain, Allah Swt tidak mengabulkan permintaan hamba-Nya. Bukan apa-apa, hal ini justru karena Allah SWT menghendaki kemuliaan baginya. Allah tidak memberi dalam rangka menjaga dan memeliharanya dan bukan karena bakhil. Namun sayang sekali, orang-orang yang bodoh malah berburuk sangka, merasa dihinakan oleh Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt berfirman yang artinya, “Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata, Rabbku menghinakanku.” (Al-Fajr: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Swt menyangkal pendapat orang yang memastikan bahwa lapangnya rezeki merupakan ikrom (pemuliaan) dari-Nya, dan kefakiran adalah ihanah (penghinaan). Allah Swt menjelaskan bahwa ikram dan ihanah tidaklah didasarkan kepada banyaknya harta, lapangnya rezeki atau kefakiran. Terkadang, Allah Swt melapangkan rezeki bagi orang kafir dan sebaliknya tidak memberikannya kepada orang mukmin. Tentu, itu bukanlah suatu kemuliaan bagi orang kafir dan kehinaan bagi orang mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah Swt hanya memuliakan orang-orang yang memuliakan-Nya dengan mengenal-Nya, cinta kepada-Nya dan mentaati-Nya. Dan, Allah Swt hanya menghinakan orang-orang yang menghinakan-Nya, yakni orang-orang yang berpaling dari-Nya atau bermaksiat kepada-Nya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya kemuliaan yang hakiki berporos kepada intensitas seseorang dalam mengejawantahkan Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta’in (Hanya kepada-Mulah kami beribadah dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok yang ketiga adalah golongan yang hanya beribadah, tanpa meminta pertolongan (isti'anah) kepada Allah Swt. Mereka beranggapan bahwa ibadah yang mereka kerjakan sudah cukup untuk dijadikan bekal safar ke negeri akhirat. Mereka lupa bahwa ada dua hal yang pasti, su’ul khaatimah dan khusnul khatimah. Tanpa pertolongan dan rahmat dari Allah Swt, seorang muslim bisa saja (bahkan pasti) mengalami futur (stagnasi/mandeg) dalam beramal, lalu berkelanjutan dan berakhir dengan kekafiran yang mengekalkannya tinggal di neraka. Na'udzubillaahi min dzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok yang ketiga ini masih termasuk golongan kaum muslimin, karena ibadah mereka, hanya saja ada nila kurang. Duhai, andaikan mereka mau beristi'anah dan bertawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok keempat adalah mereka yang mengerti betul bahwa hanya Allah yang bisa mendatangkan dan mencegah manfaat atau madharat (bahaya). Mereka juga tahu bahwa apa saja yang menjadi kehendak-Nya pasti terjadi. Namun demikian, mereka tidak mau menghiasi diri dengan hal-hal yang dicintai dan diridhoi Allah Swt. Kalaupun mereka bertawakal dan beristi'anah, hal itu mereka lakukan sebatas memenuh syahwat dan ambisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang harus kita fahami bahwa kekuasan, pangkat, pengaruh dan harta tidaklah Allah khususkan bagi orang-orang yang shaleh saja. orang-orang faajir atau maksiat pun mendapat bagian. Tetapi sekali lagi, itu bukanlah ukuran untuk dijadikan jaminan menjadi wali atau kekasih Allah Swt.&lt;br /&gt;Marilah kita berdoa semoga Allah menjadikan kita orang yang selain ahli ibadah juga ahli isti'anah kepada-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari Tahdziib Madaarijus Saalikiin Ibnu Qoyyim, Abdul Mun'im bin Sholih al-Aliy al-'Izz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-990808654299304529?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/3IUNhI7GjTQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/990808654299304529/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=990808654299304529" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/990808654299304529?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/990808654299304529?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/3IUNhI7GjTQ/ibadah-dan-istianah.html" title="IBADAH DAN ISTI'ANAH" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R6CzzJCIjpI/AAAAAAAAAHQ/9HWy2Z5QLtY/s72-c/sujud.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/01/ibadah-dan-istianah.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUQBQns7fyp7ImA9WxZSE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-2380682683278735946</id><published>2008-01-25T21:19:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T21:22:33.507+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-01-26T21:22:33.507+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istiqro'" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><title>Syukur Ni'mat</title><content type="html">Kata syukur telah berasimilasi dengan bahasa Indonesia, sehingga jika mendengar kata syukuran, orang lupa terhadap bahasa aslinya. Para ahli banyak yang mendefinisikan kata syukur dari bahasa aslinya, antara lain, Al-Jurjani (1992:167) menyebutkan, “Syukur itu suatu ungkapan pernyataan menerima ni’mat, baik dengan lisan, badan atau dengan hati.” Dan dalam pada definisi lain; “Syukur adalah pujian kepada yang memberi kebaikan dengan menyebut kebaikannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hamba bersyukur kepada Allâh, artinya hamba itu memuji Allâh dengan menyebut kebaikannya, yaitu ni’mat. Sedangkan Allâh bersyukur kepada hamba, berarti Allâh memuji hamba dengan menerima kebaikan hambanya, yaitu karena ketaatannya. Al-Raghib (tt, 265) menjelaskan, Syukur ni’mat, yaitu senantiasa mengingat ni’mat dan mengungkapkannya, yaitu mengaplikasikan dengan bentuk yang diridhai Allâh. Sebaliknya kufur ni’mat, yaitu melupakan ni’mat dan menutupinya. “Syukur ni’mat adalah mengingat-ingat dan menampakkannya sedangkan kufur ni’mat adalah melupakan dan menutupinya.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qurân kita jumpai kata al-Ni’mat, seperti pada surat Al-Baqarah, “Dan ingatlah ni’mat Allâh kepadamu” (QS. Al-Baqarah [2]:231) Dan kata Na’mâ` dalam surat Hûd, “Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya” (QS. Hûd [11]:10) Dan juga kita jumpai kata al-Na’îm seperti pada surat al-Takatsur, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang keni’matan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. Al-Takatsur [102]:8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Raghib (tt, 499) menjelaskan, al-Ni’mat itu adalah suatu hal yang bagus (baik), al-Ni’mat al-Hâlat al-Hasanat dari kata al-Na’mâ`a adalah kebahagiaan, keni’matan setelah hilangnya bencana al-Na’mâ`u (al-Ni’mat) bi-izâ`i ad-Dharâ`i, sementara al-Naîm ialah ni’mat yang banyak al-Naîm al-Ni’mat al-Katsîrat. Kata al-An’âm bentuk jama dari kata al-Na’amu yang pada mulanya khusus untuk arti unta. Disebut demikian karena unta pada orang Arab merupakan ni’mat yang paling besar. Selanjutnya kata itu berarti unta, sapi dan kambing. Al-Jurjani (1992:311) menyebutkan, “Ni’mat itu adalah sesuatu yang dimaksudkan dengannya kebaikan dan manfaat tidak karena adanya sesuatu tujuan dan tidak karena mengharapkan pengganti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam al-Qur`ân disebutkan macam-macam ni’mat, ada dua: 1. Ni’mat Bâthinat. 2. Ni’mat Dzhâhirat. “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allâh telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allâh tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman [31]:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu al-Jauzi (VI:324) mengutip pertanyaan Ibnu Abbas kepada Nabi, tentang ni’mat dhahir dan ni’mat bathin. Sabda Nabi, Ni’mat dhahir adalah Islam, wujud yang bagus sempurna dari Allâh dan rizki yang diberikan Allâh. Dan ni’mat bathin adalah Allâh menutupi keaiban amal dan tidak membukakannya. Sementara al-Dhahak, menyebutkan al-Bâthinat ialah al-Ma’rifat dan al-Dzhâhirat adalah Husnu al-Shûrat (wujud yang bagus), Imtidâd al-Qâmat (lurus perawakan) dan Taswiyat al-A’dhâ’u (keseimbangan anggota badan). Al-Maraghi (VII:88) menyebutkan, nimat itu Ni’mat mahsûsat dan Ghair mahsûsat. Nimat mahsus atau dhahir, apa yang dapat dilihat oleh mata seperti harta dan kecantikan. Dan ni’mat ghair mahsus atau bathin, apa yang terdapat dalam jiwanya seperti mengenal Allâh dan baiknya keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Jurjani (1992:168), membagi syukur pada, as-Syukr al-‘Urf (kebiasaan) dan as-Syukr al-Lughawiy (syukur bahasa). “Syukur Uruf, yaitu Hamba menggunakan semua apa yang Allâh berikan kepadanya baik berupa pendengaran, penglihatan dan lainnya, sesuai dengan yang semestinya. Syukur Lughawi, yaitu ungkapan/bentuk kebaikan terhadap keagungan dan kemuliaan (pemberi ni’mat) atas ni’mat (yang diberikan) baik dengan lisan, hati dan dengan anggota badan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Raghib (tt, 265), membagi syukur kepada tiga macam; 1. Syukr al-Qalb (Syukur hati) 2. Syukr al-Lisân (Syukur lidah) 3. Syukr sâiri al-Jawârih (Syukur semua anggota badan). Syukur hati, yaitu syukur dengan cara mengingat-ingat ni’mat. Syukur Lidah, yaitu memuji kepada yang memberi ni’mat. Syukur anggota badan, yaitu membalas ni’mat sesuai dengan kepatutan (kepantasannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur kepada pemberi ni’mat dan pemberi kebaikan hendaknya dilahirkan dalam bentuk perbuatan, baik perbuatan hati, lisan juga anggota badan. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allâh, “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada diatas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allâh). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba [34]:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Raghib (tt, 265) menjelaskan, disebut dengan kata I’malû bukan dengan Usykurû memberi arti, bersyukur itu hendaknya dilahirkan berupa pekerjaan, yang meliputi al-Qalb (hati), al-Lisân (ucapan) dan al-Jawârih (Anggota badan -perbuatan-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Syukur qalbi. Dilakukan dengan mengingat-ingat ni’mat atau meng-gambarkan ni’mat yang telah diberikan Allâh dengan perasaan hati. Misalnya dulu tidak punya apa-apa sekarang punya kekayaan, dulu tidak bekerja sekarang dapat pekerjaan, dulu sakit-sakitan sekarang ada dalam kesehatan, kita cukup sandang dan pangan sementara orang lain hidup dalam kesulitan. Dengan demikian akan muncul perasaan hati untuk lebih bersyukur kepada pemberi ni’mat. Al-Maraghi (I:29) menyebutkan, syukur dengan hati itu dengan melahirkan ketulusan, kemurnian hati dan rasa cinta kita pada Allâh (al-Nashu wa al-Mahabbah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syukur Lidah. Yaitu bentuk syukur yang diucapkan dengan lisan, baik kepada Allâh, juga kepada sesama manusia. Syukur lisan kepada Allâh antara lain kita mengucapkan kalimat al-Hamdulillah. Ibnu Abbas menyebutkan al-Hamdulillah adalah kalimat syukur, jika hamba menyebut al-Hamdulillah, Allâh Swt berfirman, Syakaranî ‘Abdî. Pada kesempatan lain Ia mengatakan al-Hamdu adalah al-Syukru dan al-Iqrâru bini’amihi wa hidâyatihi. Dan Jalaludin al-Suyuthi (I:30) mengutif riwayat Ibnu Jarir dan al-Hâkim, menyebutkan hadits Nabi Saw, “Rasulullah Saw bersabda, apabila kalian mengucapkan “al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin” dengan demikian engkau telah bersyukur kepada Allâh dan Dia akan menambah ni’mat-Nya” Dan syukur lisan kepada sesama manusia dilakukan dengan mengucapkan kata-kata pujian, kata yang baik (al-Madhu-Al-Tsana`u) terhadap orang yang berbuat ihsan (baik), sebagai ungkapan rasa syukur (Al-Maraghi, I:29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Syukur anggota badan. Dilakukan dengan membalas ni’mat atau kebaikan dengan kepatutan atau kepantasan yang layak. Syukur Jawarih kepada Allâh, dilakukan dengan membalas ni’mat Allâh dengan ibadah kepada Allâh. Untuk itu Ibnu al-Mundzir dalam al-Suyuthi (I:31) menyebutkan, “Shalat itu adalah syukur, shaum juga syukur, seluruh kebaikan yang dilakukan atas dasar karena Allâh itu adalah syukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk bentuk syukur terhadap Allâh Swt, melakukan Sujud syukur karena Nabi bila mendapatkan sesuatu yang menggembirakan, ia melakukan sujud. “Sesungguhnya Nabi Saw, adalah beliau apabila datang kepadanya suatu urusan yang memudahkannya beliau tersungkur bersujud syukur kepada Allâh yang maha tinggi.” (Riwayat Imam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika Ali ra menulis surat pada Nabi Saw memberitahukan Islamnya pembesar Yaman bernama Hamdân beliau bersujud. “Beliau tersungkur bersujud lalu mengangkat kepalanya dan bersabda, Keselamatan atas Hamdân, keselamatan atas Hamdân.” Dalam riwayat Abu Daud dari Saad bin Abi Waqash, dijelaskan ketika Nabi meminta Syafa’at untuk umatnya kepada Allâh Swt, Ketika Ka’ab bin Malik mendapat berita gembira, tentang taubatnya diterima, Ia sujud syukur. Dan Abu Bakar al-Siddiq bersujud ketika terbunuhnya Musailamah. (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 1995, I:361:362)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan syukur al-jawarih pada manusia dapat dilakukan antara lain dengan cara Mukâfa`at yaitu membalas kebaikan orang lain dengan pekerjaan yang baik pula dan dengan Khidmat, yaitu mengabdi dan memberikan bantuan (Al-Maraghi, I:29) Di dalam melahirkan syukur tersebut, tampaknya perlu juga diperhatikan kepada siapa lebih awal hendaknya bersyukur? Untuk itu al-Qur`ân telah menunjukkan, pertama, bersyukur itu kepada Allâh Swt, karena Allâhlah sebagai pencipta, pemberi kehidupan dan kepada-Nya pula kita akan kembali. Kedua bersyukur kepada orangtua, karena keduanya tangan kedua setelah Allâh, yang menjaga, mengasuh, mendidik, membesarkan dan menikahkan. Dan selanjutnya Ketiga kepada orang lain, kerabat dekat, kerabat jauh, tetangga dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]:14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo'a: Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. Al-Naml [27]:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Maraghi (I:30) dan Al-Suyuthi (I:30) menjelaskan, dari ketiga syukur tersebut di atas, syukur qalbi, syukur lisan dan syukur jawarih maka yang menjadi pangkal syukur adalah syukur lisan, yaitu mengucapkan al-Hamdu, sebagaimana dijelaskan Sabda Nabi Saw, Al-hamdu sebagai pangkal syukur itu karena diucapkan, terdengar sehingga dapat ditiru yang lain, mengandung nilai da’wah di dalamnya, secara tidak langsung mengajak yang lain untuk sama melakukannya. Sementara syukur qalbi, karena tersembunyi dalam hati, tidak diketahui yang lain, maka sulit ditiru. Sedangkan syukur jawarih, syukur yang dilahirkan dengan semua anggota badan, tidak banyak yang dapat melakukannya, ini termasuk pada sesuatu yang tidak mudah. Al-Suyuthi (I:31) mengutip riwayat Ibnu Mandzur dan Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan “Afdhalu al-Syukr; al-Hamdu” Dan juga al-Tirmidzi menye-butkan Sabda Nabi Saw, “Afdhalu al-Du’â; al-Hamdu” Namun demikian, sekalipun kalimat al-Hamdu itu mudah untuk diucapkan, murah dilakukan, tapi tidak banyak pula yang biasa melakukannya. Untuk itu al-Baihaqi menyebutkan, “al-Hamdulillah aktsaru al-Kalâm tadh’îfân.” Padahal Banyak manfaat yang diperoleh dari padanya, antara lain yang dikutif Al-Suyuthi (I:32), telah bersabda Rasulullah Saw, “Tauhid itu harganya surga sedangkan al-Hamdulillah itu harga setiap keni’matan.” (al-Dailamiy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah bersabda Rasulullah Saw: “Apabila salah seorang diantara kalian bersin lalu ia mengucapkan ‘al-Hamdulillah’ berkata Imam Malik: (disambung dengan Rabbil ‘Alamîn) apabila ia mengucapkan Rabbil ‘Alamîn, berkata Imam Malik ‘Yarhamukallâh’ (Semoga Allâh merahmatimu).” (al-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Saba 13 terdapat firman Allâh yang menyebutkan sedikit sekali hamba yang bersyukur, “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada diatas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allâh). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (QS. Saba [34]:13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa bersyukur itu tidak mudah. Dalam Al-Qur`ân kata Syâkirân hanya disebutkan sebanyak dua kali oleh Allâh untuk hambanya, pertama Ibrâhîm dan kedua bagi Nûh As dengan firmannya, Syâkirân lian’umihi dan Innahu kâna ‘abdân syakûrân dalam al-Nahal 121 dan al-Isra 3, “(lagi) yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allâh, Allâh telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Nahl [16]:121). “(yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nûh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allâh) yang banyak bersyukur”. (QS. Al-Isra` [17]:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutnya dalam al-Qur`ân dua kali bagi hamba bersyukur, ini bukan berarti Nabi-Nabi yang lain tidak suka bersyukur, tapi hal ini menunjukkan bahwa tidak banyak hamba yang pandai bersyukur ni’mat (Al-Raghib, tt, 125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sulaiman As seorang manusia yang kaya ilmu, kaya harta, tinggi kekuasaan, tapi tidak melupakan bersyukur, malah khawatir menjadi orang yang tidak mampu mensyukuri ni’mat dari yang memberi ni’mat Allâh Swt. Ini dijelaskan Allâh QS. Al-Naml [27]: 15-19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini suatu pelajaran berharga bagi para ilmuwan (ulama) agar bersyukur pada yang memberinya ilmu. [Assaha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Drs. Dedeng Rosyidin, M.Ag&lt;br /&gt;(Praktisi Pendidikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-2380682683278735946?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/YMACj2anTNU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/2380682683278735946/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=2380682683278735946" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2380682683278735946?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2380682683278735946?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/YMACj2anTNU/syukur-nimat.html" title="Syukur Ni'mat" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/01/syukur-nimat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ADRH47fip7ImA9WB9aFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-8495739828517250899</id><published>2008-01-06T00:44:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T00:56:15.006+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-01-06T00:56:15.006+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dari Redaksi" /><title>FENOMENA PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R3_EZ5va9jI/AAAAAAAAAGI/iTPZsE1hU0k/s1600-h/tahun+baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 133px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R3_EZ5va9jI/AAAAAAAAAGI/iTPZsE1hU0k/s200/tahun+baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152052448010630706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bila kita mengamati secara seksama realitas yang ada menjelang berakhirnya setiap tahun Masehi, maka akan kita dapatkan seakan Rasulullah Saw., berbicara tentang kondisi kontemporer saat ini. Betapa tidak, hampir mayoritas umat ini merayakan datangnya Tahun Baru Masehi tersebut persis dengan apa yang dilakukan oleh pemilik Hari Besar tersebut, yaitu kaum Yahudi. Anehnya, hal ini banyak juga dirayakan oleh kalangan Nashrani. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;i&gt;Dari Abu Sa’id al-Khudry bahwasanya Nabi Saw., bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (tata-cara) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka masuk lubang semutpun, niscaya kalian akan memasukinya juga”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”.&lt;/i&gt; (Hr. Al-Bukhari)&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;Perayaan yang berisi hura-hura, kemaksiatan dan pemubaziran dilakukan di hampir seluruh pelosok negeri, tidak oleh kalangan muda-mudi saja tetapi juga oleh orang-orang tua. Pada tengah malam menjelang pergantian tahun; berpesta pora, lelap dalam gegap-gempita serta suara hiruk-pikuk musik yang menggila. Beramai-ramai dalam suasana sesak, saling himpit dan bergaya dengan berbagai mode yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat nama, sepertinya memperingati dan merayakan Tahun Baru Masehi identik dengan tahunnya orang-orang Nashrani saja. Tetapi sebenarnya, perayaan Tahun Baru tersebut merupakan bagian dari aktifitas ritual agama Yahudi dan Majusi (yang disebut dengan an-Nayrûz). Oleh karena itu, merekalah yang sebenarnya memiliki misi merayakan dan memeriahkannya bukan kaum Nashrani apalagi kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, hanya dikenal tiga Hari Besar (’Ied) yang memang disyariatkan untuk dirayakan dan dimeriahkan; dua bersifat tahunan, yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adlha yang belum lama ini kita lalui. Satu lagi, bersifat pekanan, yaitu Hari Jum’at. Selain tiga Hari Besar ini, tidak dikenal peringatan dan perayaan hari besar lainnya, apalagi bila perayaan itu identik dengan agama selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah kemudian adalah keterlibatan sebagian besar dari umat Islam di dalamnya; Kenapa mereka ikut merayakan dan memeriahkannya juga? Tidak tahukah bahwa perayaan itu khusus untuk non Muslim, khususnya, kaum Yahudi dan Majusi? Tahukah bahwa hal ini bertentangan dengan ajaran agama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita amat prihatin dengan nasib umat yang semakin lama semakin terkikis ‘aqidahnya, sedikit-demi sedikit sebagaimana yang disinyalir di dalam hadits Nabi di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua faktor besar yang menyebabkan terjadinya hal tersebut: pertama, kurangnya ilmu sebagian besar umat Islam akan ajarannya. Kedua, Kurangnya kontrol para ulama, khususnya penekanan terhadap sisi ‘aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembelajaran selama ini hanya bertumpu kepada acara-acara ceremonial. Rujukan-rujukan yang digunakan dari sisi materi kurang memberikan tekanan kepada pemurnian ‘aqidah dari syirik dan penyakit TBC (Takhayyul, Bid'ah, Syirik dan Churafat) sementara dari sisi otentititas dan validitasnya kurang dapat dipertanggungjawabkan pula karena banyak sekali hadits-hadits yang dijadikan sebagai hujjah sangat lemah kualitasnya bahkan maudlu’ (palsu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat yang awam hanya mengerti bahwa acara-acara ceremonial semacam itu adalah bagian dari agama yang mereka anggap “wajib” dilakoni dari masa ke masa secara turun-temurun. Terlepas apakah hal itu benar-benar dicontohkan oleh Rasulullah melalui hadits shahih atau tidak. Apalagi bila ditanyakan tentang rujukannya, logika berfikir hanya menjawab bahwa hal itu “Memang dari sononya.” terbiasa dengan “taqlid buta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain acara-acara ceremonial tersebut, memang banyak sekali diadakan majlis-majlis ta’lim tetapi amat disayangkan bahwa bobot materinya kurang berimbang. Sangat sedikit -untuk tidak mengatakan hampir tidak pernah- di dalamnya menyentuh sisi ‘aqidah dan bagaimana mereka bisa terlepas dari kesyirikan dan penyakit TBC tersebut. Yang sering disuguhkan “hanyalah” masalah dzikir bersama, dzikir nasional, fadlâ-il ‘amâl (pahala ibadah yang ini sekian dan yang itu sekian) padahal hadits-hadits yang digunakan sebagai hujjahnya sebagian besar dla'if (lemah) bahkan maudlu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan posisi seperti ini, sudah sepatutnya bahkan wajib bagi mereka untuk memberikan pelajaran-pelajaran agama yang benar kepada umat sebab umat yang awam hanya bertaqlid kepada mereka. Mereka harus mengambil dalil-dalilnya dari rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan dan valid sebab kelak mereka akan mempertanggungjawabkan hal ini di hadapan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sepantasnya, para ulama meneladani sikap para Imam empat Madzhab yang semuanya sepakat menyatakan keharusan untuk merujuk kepada hadits yang shahih. Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i mengatakan: “Bila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku”. Imam Ahmad berkata: “Janganlah kalian mentaqlidiku, jangan pula mentaqlidi Malik, asy-Syafi'i, al-Awza'i dan ats-Tsawry tetapi ambillah darimana mereka mengambil”. Imam Malik berkata: “Tidak ada seorangpun setelah (wafatnya) Nabi Saw., kecuali pendapatnya diambil atau ditinggalkan kecuali Nabi Saw.” Para Imam ini melarang umat dan pengikutnya mentaqlid mereka secara buta bahkan salah seorang dari mereka, yakni Abu Hanifah amat keras sekali ucapannya, “Haram bagi siapa yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan ucapanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilamana pemurnian ‘aqidah dari kesyirikan dan penyakit TBC tersebut lebih difokuskan tentu kejahilan umat akan ajaran agamanya akan dapat teratasi dan terkikis sehingga perayaan semacam “Natal Bersama,” “Valentine Days,” “Tahun Baru (Happy New Year)” dan sebagainya tidak akan mampu membuai dan menggoyahkan ‘aqidah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat korelasi yang jelas antara hadits di atas dengan hadits larangan Tasyabbuh (menyerupai) dengan suatu kaum. Dalam hadist diatas, Rasulullah mensinyalir bahwa umat ini akan mengikuti sunnah (tata-cara) orang-orang Yahudi dan Nashrani. Maka, di dalam mengikuti cara mereka tersebut terdapat penyerupaan di dalam banyak hal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Rasulullah banyak sekali larangan agar kita jangan menyerupai suatu kaum, terutama sekali terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani, diantaranya sabda beliau, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Munawy dan Al-‘Alqamy mengomentari makna “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, yakni secara zhahirnya dia berpakaian seperti pakaian mereka, mengikuti gaya hidup dan petunjuk mereka di dalam berpakaian serta sebagian perbuatan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qary mengatakan, “Barangsiapa menjadikan dirinya serupa dengan orang-orang kafir, misalnya di dalam berpakaian dan selainnya atau serupa dengan orang-orang fasiq, Ahli Tasawwuf atau serupa dengan orang-orang yang lurus dan baik, maka dia adalah bagian dari mereka, yakni di dalam mendapatkan dosa atau kebaikan/pahala.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, tentu saja Fenomena Merayakan Tahun Baru tersebut masuk ke dalam katogeri larangan Tasyabbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada cara lain bagi kita kecuali dengan membentengi diri dengan ‘aqidah yang benar sehingga tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang dapat menodai, mengotori apalagi menggoyahkannya. Peranan orang tua pun sangat penting dalam mengarahkan pendidikan agama yang memadai bagi anak-anaknya terutama penekanan sisi ‘aqidah. Tidak hanya menjadi komandan di tengah keluarga namun hendaknya menjadi seorang imam seperti yang pernah disampaikan al-Ustadz Shiddiq Amien dalalm salah satu satu khutbahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang “Tahun Baru” adalah salah satu momen yang mengingatkan bahwa jatah usia semakin berkurang. Padahal setiap hari pun, setiap jam, menit dan detik jatah usia memang terus berkurang, kematian semakin dekat, tamu terakhir sebentar lagi datang. Sudahkah mempersiapkan diri menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan agar Dia menguji kamu siapakah yang paling banyak amalnya.” (Qs. Al Mulk [67]:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah kesempatan hidup, kesempatan kita untuk beramal, untuk beribadah karena kita memang diciptakan untuk beribadah (Qs. Adz Dzariyat: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan bisnis dan kerja, sering orang membuat suatu target pencapaian dan perencanaan yang begitu matang. Namun sudahkah kita membuat suatu perencanaan dan target untuk ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Hasyr:18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Toto Tasmara, dalam bukunya Kecerdasan Ruhaniah, mengatakan bahwa orang yang menghayati ayat tersebut adalah orang yang mempunyai visi, yang mempunyai gambaran masa depan. “Mereka menjadikan masa lalu sebagai pelajaran yang sangat berharga untuk membuat rencana yang lebih cermat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa maksud kalimat “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)” adalah hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lihatlah apa yang sudah kamu tabung untuk diri-diri kamu, berupa amal saleh, untuk hari dimana kamu akan kembali dan berhadapan dengan Tuhan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita melihat dan meneliti apa yang telah kita lakukan dan membuat rencana kedepan agar lebih baik. Banyak orang yang menyatakan (terlepas dia seorang yang awam terhadap agama atau mereka yang memang faham akan agama), mereka menyatakan, “Ingat tahun ini harus lebih dari tahun lalu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah! anugerahilah kepada kami kecintaan terhadap iman, dan anugerahilah kami kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Jadikanlah kami diantara orang-orang yang mendapat petunjuk dan senantiasa bergesa atas panggilan dan perintah-Mu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita semua mendapatkan petunjuk Allah Swt., dan senantiasa dibimbing ke jalan yang diridlai oleh-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Redaksi Buletin Jum'at Pajagalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Gambar diambil dari: http://www.bergoiata.org/&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-8495739828517250899?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/vxL5fdXWAuE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/8495739828517250899/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=8495739828517250899" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8495739828517250899?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8495739828517250899?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/vxL5fdXWAuE/fenomena-perayaan-tahun-baru-masehi.html" title="FENOMENA PERAYAAN TAHUN BARU MASEHI" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R3_EZ5va9jI/AAAAAAAAAGI/iTPZsE1hU0k/s72-c/tahun+baru.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2008/01/fenomena-perayaan-tahun-baru-masehi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkIFRHc-eyp7ImA9WB9bF0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-1716243807405464520</id><published>2007-12-27T21:55:00.000+07:00</published><updated>2007-12-27T22:15:15.953+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-27T22:15:15.953+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah" /><title>PENGURBANAN DENGAN MENYISIHKAN WAKTU</title><content type="html">Selaku muslim, kita meyakini bahwa setiap manusia menjalani mati dan hidup masing-masing dua kali; mati pertama, saat manusia belum lahir ke dunia dan mati kedua saat manusia meninggalkan dunia. Hidup pertama saat manusia terlahir ke dunia dan hidup kedua saat manusia dibangkitkan kembali di akhirat nanti untuk mempertanggungjawabkan segala amalan untuk hidup abadi dengan berbagai kenikmatan (surga) atau hidup abadi dengan penuh penderitaan (neraka). Oleh karenanya &lt;span class="fullpost"&gt;selaku muslim hendaknya kita jadikan hidup pertama ini sebagai modal menghadapi hidup kedua nanti yang abadi guna mendapatkan kebahagiaan. Tiada kebahagiaan abadi dan sempurna kecuali nanti dihari akhir, dan tiada penderitaan yang abadi kecuali nanti penderitaan di hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup manusia bagaikan seseorang yang dikejar harimau (alam kubur) di hutan belantara, dia lari memanjat pohon tinggi tinggal di atasnya dan selamat dari terkaman harimau. Tetesan madu dari sarang lebah (dunia dan isinya) membuatnya terlupa bahwa sang harimau (alam kubur) tetap menunggu di bawah pohon. Dia terus mencicipi manisnya madu (dunia), merasa tenang dan yakin sang harimau tidak bisa memanjat. Tetapi ternyata batang pohon (umur manusia) tersebut kian lama kian lapuk digerogoti tikus hitam dan tikus putih (malam dan siang). Manisnya madu (dunia) membuatnya tidak sadar bahwa batang pohon mulai lapuk (usia senja) dan hampir tumbang. Tidak ada persiapan untuk menghadapi bahaya harimau (alam kubur) yang tetap menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam dituntut untuk memprogramkan agar hidup &lt;i&gt;fieddunya hasanah dan fiel akhirati hasanah&lt;/i&gt;. Mempersiapkan untuk hasanah di dunia dan memprogramkan untuk mendapatkan hasanah di akhirat. Hanya untuk meraih hasanah di dunia saja begitu susah; kerja keras, keluh kesah, banting tulang, memeras keringat dari pagi hingga sore kenyataannya tidak semua mendapatkan kebahagiaan dunia dengan kekayaan yang melimpah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meraih &lt;i&gt;fiel akhirati hasanah&lt;/i&gt; tentu juga tidak hanya sekedar dengan persiapan yang minim, diperlukan persiapan yang kuat. Bahkan umat Islam dituntut untuk meyakini &lt;i&gt;walal âkhiratu khairul laka minal ûla&lt;/i&gt;, yakinkanlah bahwa akhirat lebih baik daripada dunia. Maka tentu untuk persiapan &lt;i&gt;fiel akhirati hasanah&lt;/i&gt; memerlukan persiapan yang kuat dan maksimal, tidak asal-asalan. Dalam hal ini Iedul Adha; bulan peningkatan ketakwaan, bulan ujian ketakwaan, bulan pengurbanan. Setiap muslim di dunia diingatkan bahwa kita dituntut untuk berkurban agar meraih &lt;i&gt;fiel akhirati hasanah&lt;/i&gt;, kebahagiaan yang abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun berhak mendapat surga dengan catatan &lt;i&gt;âmanu wa âmilusshâlihât&lt;/i&gt;, beriman dan beramal sholeh. Seorang Bilal saja pernah ditanya Rasul, &lt;i&gt;"Amal apa yang menyebabkan tadi malam aku dengar suara sandal kamu di surga!"&lt;/i&gt; dengan pertanyaan yang merupakan kabar gembira tersebut Bilal hanya menyatakan, &lt;i&gt;"Saya tidak mempunyai harta untuk berzakat, saya tidak mampu berinfak seperti orang lain hanyasaja saya selalu membiasakan shalat dua rakaat (syukrul wudlu-shalat thuhur) setiap habis wudlu baik siang maupun malam."&lt;/i&gt; Rasul menyatakan, &lt;i&gt;Dengan itulah kamu berhak mendapatkan surga!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya surga terbuka untuk siapa saja. Oleh karenanya untuk meraih surga dibutuhkan pengorbanan; menyisihkan sebagian anugerah dan pemberian Allah Swt., bukan menyisihkan sebagain besar namun sebagian kecil; zakat misalnya, hanya 5 s.d 10% (pertanian), 2.5% (perdagangan, dll). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menghitung usia per hari 24 jam (1440 menit); sebanyak itu kita sisihkan 25 menit untuk shalat 5 waktu (@ 5 menit), plus wudlu, @ 5 menit, total 50 menit. Lalu kita sisihkan untuk menghadiri majelis pengajian sekitar 2 jam (120 menit) dalam seminggu, berarti ± 20 menit dalam sehari. Total 70 menit menyisihkan waktu untuk meraih surga. Sungguh sebagian kecil waktu kita tersisihkan per hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bandingkan dengan waktu untuk tidur 8 jam per hari, jika jatah usia 60 tahun berarti 20 tahun untuk tidur (1/3 usia). Sementara waktu untuk shalat menurut perhitungan di atas, misalnya dari 60 tahun usia manusia hanya membutuhkan 285 hari. Sungguh sangat minim sekali. Belum lagi potongan karena lupa, qashar dan lainnya. Apalagi untuk para wanita dipotong haid 25% dari 285 hari dikurangi 75 hari tinggal 210 hari, belum nifas untuk sekali melahirkan 40 hari, jika melahirkan 5 kali tinggal 10 hari dari total usia 60 tahun. Tidak terbayangkan jika punya anak 8, habislah waktu kita, sedangkan masih ada utang (kasbon) untuk waktu shalat. Demikian jika kita hitung secara matematis sungguh sebagian kecil sekali waktu yang kita sisihkan untuk meraih surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi menggugah bahwa dalam diri manusia ada 360 tulang, 360 sendi, Nabi bersabda, &lt;i&gt;"Coba setiap tulang itu disedekahi!"&lt;/i&gt; para sahabat kurang mengerti maksud sabda Nabi, bagaimana cara mensedekahi tulang. Nabi bersabda, &lt;i&gt;"Disamping shalat yang wajib, rajinlah shalat sunnat!"&lt;/i&gt; karena shalat merupakan ibadah badaniyah, dengan shalat, 360 tulang semua tergerakkan. Maka sebagai salah satu wujud syukur kita adalah dengan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri kita ada tiga anggota indera yang sering disinggung dalam Alquran; pendengaran, penglihatan dan hati (akal). Ketiganya akan dimintai pertanggunganjawaban. Pendengaran sebagai anugerah dari Allah sudah selayaknya kita sisihkan untuk mendengarkan pengajian, membaca Alquran dan mendengarkan nasihat. Begitu dengan mata, sisihkan sebagian untuk membaca Alquran dan alhadits. Pun dengan akal (hati) hendaknya disisihkan dengan memberikan perhatian dalam memikirkan kemajuan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pengurbanan harta. Bukan saja Allah Swt., menciptakan fisik kita yang begitu sempurna, Allah Swt., juga menyediakan bekal hidup manusia; baik berupa makanan, minuman, rumah, pakaian dan kendaraan, cobalah untuk menyisihkan sebagiannya (berqurban) untuk mengabdi dan berbakti di jalan Allah; bisa dengan zakat, infak dan shadaqoh. Zakat telah serba ditentukan oleh agama; apa, berapa, dan kepada siapa zakat itu harus dibagikan, telah ditentukan. Infak, juga wajib tapi tidak ditentukan besar dan kecilnya tergantung kebutuhan dan tuntutan. Shadaqoh, terserah kesiapan dan kesanggupan masing-masing. Bisa jadi seseorang tidak mampu berzakat karena memang tidak ada sesuatu yang harus dizakati (miskin), tapi tentu tidak lepas begitu saja, masih ada infak yang tidak ditentukan dan shadaqoh yang sesuai dengan kesanggupan. Nabi bersabda, &lt;i&gt;"Jagalah keselamatan diri kamu dari sentuhan api neraka walau sedekah dengan sebelah kurma."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tuntutan berqurban, bukan berarti dalam artian penyembelihan hewan qurban saja, tapi apapun anugerah dari Allah Swt.; baik berupa waktu, tempat, harta dan kesempatan cobalah sisihkan sebagian kecilnya untuk kepertingan agama yang hakikatnya untuk kepentingan diri kita sendiri dalam rangka menjaga keselamatan diri di hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya kita semua mempunyai tiga sahabat; sahabat A (harta), sahabat B (keluarga), dan sahabat C (agama). Pelayanan dan perhatian kepada masing-masing sahabat itu berbeda. Kepada sahabat A, perhatian kita begitu kuat dan berlebihan. Kepada sahabat B, perhatian kita wajar dan biasa saja. Dan kepada sahabat C, perhatian yang kita berikan hanya merupakan sisa dari perhatian kita terhadap sahabat A dan B. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari kita dipanggil pengadilan (kematian-alam kubur). Lantas kita minta tolong pada tiga sahabat tersebut. Sahabat A (harta kekayaan) tidak bisa menolong bahkan mengantarpun tidak sedangkan perhatian kita padanya begitu lebih dari sahabat yang lain. Sahabat B (sanak keluarga), hanya bisa mengantar (sampai pintu kubur) selebihnya mereka pulang dan kita sendiri yang harus menghadapi pengadilan (alam kubur). Tetapi ternyata sahabat C (agama) yang mampu mengantar bahkan mendampingi kita di pengadilan, sedangkan perhatian kepadanya saat hidup di dunia hanya sekedarnya saja. Waktu itulah kita menyesal kenapa tidak memberikan perhatian lebih kepada sahabat C (agama), dengan perhatian lebih dia (agama) tidak hanya mengantar dan mendampingi bahkan bisa membela kita di pengadilan alam kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan Iedul Adha ini kita dituntut untuk berqurban, apapun anugerah dari Allah yang telah kita terima, qurbankanlah sebagiannya, hakikatnya untuk keselamatan diri kita nanti dihari akhir, untuk mendampingi dan membela diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah makna pengurbanan dari Iedul Adha yang harus kita hayati, resapi sekaligus berintropeksi, &lt;i&gt;"Wal tandzur nafsun mâ qoddamat li ghad!"&lt;/i&gt; apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok, hari akhir, hari kiamat yang senantiasa menunggu kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan selamanya kita mendapatkan hidayah dan inayah dari Allah Swt., mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari-Nya agar betul-betul kita mampu meningkatkan pengurbanan untuk keselamatan kita nanti di hari akhir. Mudah-mudahan Allah membukakan pintu hati kita untuk senantiasa taat terhadap ajaran dan ajakan-Nya. [Assaha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ringkasan Khutbah Iedul Adha 1428 H&lt;br /&gt;Kamis, 20 Desember 2007&lt;br /&gt;Halaman Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung&lt;br /&gt;Imam/Khatib: KH. Aceng Zakaria (Ketua Bidgar Da'wah PP. Persis)&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-1716243807405464520?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/odyb2nywzUY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/1716243807405464520/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=1716243807405464520" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1716243807405464520?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1716243807405464520?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/odyb2nywzUY/pengurbanan-dengan-menyisihkan-waktu.html" title="PENGURBANAN DENGAN MENYISIHKAN WAKTU" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/12/pengurbanan-dengan-menyisihkan-waktu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08NRXc-cCp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-1317651807949397114</id><published>2007-12-20T08:22:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:31:34.958+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:31:34.958+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><title>QURBAN &amp; KEIKHLASAN</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R2nJzJva9hI/AAAAAAAAAFY/Gei20Ktp9po/s1600-h/qurban+sapi.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R2nJzJva9hI/AAAAAAAAAFY/Gei20Ktp9po/s200/qurban+sapi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145865929872832018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Syariat Qurban telah mengalami perjalanan yang panjang. Bagaimana tidak, Qurban merupakan salah satu syariat (aturan) yang pertama turun kepada manusia. Syariat ini turun pertama kali kepada dua anak Adam. Umur syariat ini sama dengan umur manusia hidup di dunia. Usia yang lama dan perjalanan yang panjang menjadikan syariat ini mengalami berbagai penyimpangan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini di ingatkan Allâh kepada Nabi terakhir, Rasûlullâh Muhammad Saw., &lt;i&gt;"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil), Aku pasti membunuhmu! Berkata Habil, Sesungguhnya Allâh hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa."&lt;/i&gt; (Qs. Al-Maidah [5]:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ada qurban yang di tolak (Qabil) dan diterima (Habil)? Bila kita perhatikan ternyata penolakan tersebut terjadi diakibatkan adanya unsus-unsur asarah (sikap manusia lebih mementingkan urusan duniawi). Dalam pengertian umum, apabila unsur ra’yu (pertimbangan akal) sudah ikut campur mengatur urusan wahyu itulah yang menjadi sebab diantara tertolaknya suatu amal ibadah. Meskipun perbuatan itu terlihat baik dan benar, tetapi Allâh Maha Tahu bahwa perbuatan itu tidak baik dan tidak benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mendengar ungkapan &lt;i&gt;"Yang penting ikhlas"&lt;/i&gt; orang sering tertipu dengan ungkapan seperti itu. Ikhlas yang mana? Apakah putera Adam yang qurbannya di tolak itu tidak ikhlas? Menurut pemikirannya, dia berqurban dengan ikhlas, tetapi kenyataannya Allâh menolak qurbannya karena tidak ikhlas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang di maksud ikhlas adalah satu sikap mengosongkan satu pekerjaaan dari segala unsur selain unsur wahyu. Kita perhatikan firman Allâh Swt., &lt;i&gt;"Wa mâ umirû illâ liya’budûllâha mukhlishîna lahuddîn - Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya."&lt;/i&gt; (Qs. Al-Bayyinah [98]:5) yang dimaksud "Mukhlishîna lahuddîn" bukan mengikhlaskan agama tetapi mengikhlaskan ibadah hanya bagi-Nya. Dalam arti dalam setiap ibadah diharuskan tunduk, patuh dan taat kepada syariat yang telah ditentukan. Jika demikian akan mendapatkan apa yang di nyatakan Allâh Swt., &lt;i&gt;"Wallâhu yuhibbul mukhlisîn,"&lt;/i&gt; Allâh menyukai orang-orang yang patuh, tunduk dan taat, dan seperti inilah gambaran dari keikhlasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dilalah (petunjuk) bahwa Qabil tidak ikhlas dalam berqurban muncul sifat hasud dalam dirinya setelah mengetahui qurbannya tidak diterima. Dia mengatakan &lt;i&gt;"Laaqtulannak"&lt;/i&gt; karna engkau di terima sedangkan aku di tolak, biar di kemudian hari tidak ada saingan lagi tidak ada cara yang lain kecuali harus dihilangkan saingan itu. Inilah barangkali ciri dari ketidakikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan umat terdahulu adalah ketika suatu ibadah itu diterima atau tidak, pada saat itu juga akan terlihat ciri-cirinya; seperti yang terjadi pada qurban anak Adam. Sehubungan dengan hal tersebut, Rasûlullâh Saw., pada satu saat pernah menyatakan kepada para sahabat dalam ungkapan yang mutlaq, &lt;i&gt;"Satarauna asaratan,"&lt;/i&gt; pada satu saat kalian akan melihat asarah (sikap manusia lebih mementingkan urusan duniawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat jenis pertanyaan yang biasa berlaku; (1) Pertanyaan karena ingin tahu, (2) Pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, (3) Pertanyaan karena ingin memberi tahu, dan (4) Pertanyaan untuk menguji. Pada suatu saat Rasûlullâh Saw., mengajukan pertanyaan pada para sahabat, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Diantara makhluk Allâh, menurut kalian siapa yang paling beriman? Para sahabat menjawab, para Malaikat! Rasûlullâh menyatakan, tidak mengherankan jika para malaikat paling beriman karena mereka berada di sisi Tuhan mereka, siapa yang paling beriman selain malaikat?. Sahabat menjawab lagi, bila demikian, para Nabi! Rasûlullâh menyatakan, tidak heran para Nabi beriman karena wahyu turun kepada mereka, selain para Nabi? Para sahabat kembali menjawab, jika demikian kamilah yang paling beriman! Kembali Rasûlullâh menyatakan, tidak heran kalian beriman dan tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak beriman sedangkan aku sebagai Nabi berada di tengah kalian, kalian melihat mu’jizat dan kalian menyaksikan wahyu turun di tengah-tengah kalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah para sahabat kehilangan jawaban, kemudian Rasûlullâh menjelaskan, yang paling beriman diantara makhluk Allah dan yang paling mentakjubkan adalah mereka, orang-orang yang hidup jauh setelah kalian, mereka yang hanya menemukan suhuf, lembaran-lembaran wahyu (Alquran) tetapi mereka beriman kepada isi lembaran-lembaran tersebut. Merekalah yang paling beriman diantara makhluk Allah.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi Rasûlullâh mengagumi keimanan kita yang hidup di zaman ini, namun dari sisi lain (segi amal) Rasûlullâh merasa khawatir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asarah yang diungkapkan beliau secara muthlaq bisa berada dalam berbagai amal; dalam shalat, shaum, zakat, umrah dan haji termasuk di dalam qurban, sehingga jika semuanya mengandung unsur-unsur asarah, apakah kiranya termasuk ibadah yang diterima atau termasuk ibadah yang ditolak? Yang terakhir inilah yang perlu kita khwatirkan dan berusaha melepaskan segala unsur asyarat dari setiap amal ibadah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap umat mempunyai kaifiat tertentu dalam syariat, tetapi yang paling sempurna adalah syariat pada umat yang paling akhir karena berhubungan dengan qurban secara mutlaq. Qurban pada umat terakhir ini ada yang disebut 'Aqiqah, udhiyyah, dan hadyu. Pada semua syariat inilah Rasûlullâh merasa khawatir; dalam 'aqiqah, unsur ra’yu turut serta mengatur masalah wahyu sehingga bukan daging ‘aqiqah yang dibagikan melainkan daging yang telah dimasak. Ada ungkafan, &lt;i&gt;"Jangan tanggung dalam beramal, dimasak sekalian daging 'aqiqah baru dibagikan!"&lt;/i&gt; Ungkapan tersebut sepertinya baik, padahal telah jauh melampaui syariat yang telah ditentukan. Inilah unsur ra'yu ikut campur dalam masalah wahyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam pelaksanaan hadyu pada ibadah haji. Berapa ratus ribu jamaah haji kita yang berangkat setiap tahunnya ke Makkah, namun dari sekian ratus ribu itu, kiranya berapa ribu yang melaksanakan hadyu (qurban) dengan baik dan benar? Sering terdengar banyak jamaah haji kita yang tidak melakukan hadyu di Makkah atau di Mina melainkan di kampung halamannya sendiri, dititipkan pada keluarganya untuk disembelih di sana, karena merasa akan lebih bermanfaat; masyarakat kampungnya bisa terbagi dan alasan lainnya. Padahal hadyu pada ibadah haji sifatnya sudah jelas merupakan hadyan balighan ka’bah. Ibadah qurban yang ditentukan tempat dan waktunya. Jika hadyu dilakukan di kampung halaman sendiri maka dengan demikian ibadah hajinya perlu diulangi lagi, ekstrimnya bisa dikategorikan tidak sah karena unsur ra’yu sudah ikut campur dalam masalah wahyu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Rasûlullâh menjelaskan tata cara udhiyyah (qurban) namun ada diantara sahabat yang menyertakan ra'yu dalam pelaksanaannya. Salah seorang sahabat menyembelih hewan qurbannya sebelum shalat ied dilaksanakan dengan alasan dia ingin ibadah qurbannya yang paling pertama pada hari itu. Ketika Rasûlullâh mengetahui hal tersebut beliau bersabda, &lt;i&gt;"Barang siapa yang melakukan sembelihan sebelum shalat maka dia harus menyembelih seekor kambing lagi sebagai ganti sembelihan yang tidak sah!."&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan seorang sahabat di Tanya, &lt;i&gt;"Bagaimana sembelihan yang kalian lakukan pada zaman Rasul? Sahabat itu mejawab, Seseorang menyembelih itu untuk dirinya juga atas nama keluarganya, lalu mereka memakannya, membagikan dan menyimpannya sehingga terjadilah kejadian yang seperti kau lihat pada saat ini, orang sudah saling membanggakan diri dalam qurbannya."&lt;/i&gt; Membanggakan diri karena merasa hewan qurbannya paling besar, paling bagus, dan paling mahal. Inilah yang dikhawatirkan Rasûlullâh, suatu saat umatnya akan saling membanggakan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab sengaja tidak melakukan qurban. Keduanya tidaklah lupa ataupun sudah kehabisan uang untuk berqurban. Akan tetapi keduanya melakukan hal tersebut sebagai saddu dara'i (pencegahan) jangan sampai umat menganggap udhiyah itu wajib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qurban yang kita lakukan pada hari raya Iedul Adha, di hari-hari tasyrik merupakan sembelihan udhiyyah yang mudah-mudahan unsur-unsur ra'yu yang ada dalam benak kita tidak ikut campur dalam masalah wahyu. Semoga ibadah qurban kita termasuk ibadah yang diterima di sisi Allâh Swt. Amien! [Basyir, edited by Assaha]&lt;br /&gt;_______________________&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ringkasan Khutbah Jum'at Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung&lt;br /&gt;Khatib: KH. Ikin Shodikin (Ketua Majelis Penasihat Pimpinan Pusat Persatuan Islam)&lt;br /&gt;Jum'at, 14 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar disadur dari tokasid.blogspot.com&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-1317651807949397114?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/CqbBKDYMqFc" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/1317651807949397114/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=1317651807949397114" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1317651807949397114?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/1317651807949397114?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/CqbBKDYMqFc/qurban-keikhlasan.html" title="QURBAN &amp; KEIKHLASAN" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_T6Qj98l6vH4/R2nJzJva9hI/AAAAAAAAAFY/Gei20Ktp9po/s72-c/qurban+sapi.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/12/qurban-keikhlasan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D04DSX46fip7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-299558868921357144</id><published>2007-12-13T00:17:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:32:58.016+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:32:58.016+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><title>Climate Change &amp; Global Warming : Sebab Terjadinya Bencana &amp; Musibah</title><content type="html">Hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang banyaknya musibah dan bencana yang terjadi diberbagai belahan dunia dalam berbagai bentuk dan skala. Jika kita kembalikan kepada Alquran, kita mendapatkan petunjuk tiga macam sebab yang menyebabkan musibah dan bencana itu terjadi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, musibah dan bencana yang terjadi karena memang kehendak Allah. Hal tersebut seperti dalam firman-Nya, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At Taghaabun [64]:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kita semua telah berusaha menjaga kesehatan; makan teratur, istirahat cukup, bekerja tidak melebihi batas, dan berolahraga secara teratur. Tapi dalam kenyataannya musibah (sakit) datang juga. Atau dalam kegiatan usaha (dagang); untuk mendapat keuntungan kita telah memasang strategi usaha, manajemen bisnis telah diterapkan, menjauhi unsur-unsur yang diharamkan seperti riba, gharar (menipu), maisir (gambling, spekulasi), riswah (suap-menyuap). Bahkan zakat tijarah pun dibayar tapi ternyata masih datang juga musibah (rugi). Maka musibah itu termasuk dalam kategori “kehendak Allah” kita tidak bisa menghindarinya, semua diluar jangkauan kemampuan kita, semua kita serahkan kepada Allah dan kewajiban kita adalah bersabar, dengan kesabaran itulah insya Allah, Dia akan memberikan pahala kepada kita dan kesabaran itu menjadi penebus atas segala dosa yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, musibah dan bencana yang menimpa disebabkan karena kesalahan kita. Seperti diisyaratkan dalam firman-Nya, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Qs. Asy-Syuura [42]:30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh sederhana, kita makan dengan sambal yang sangat pedas, berlebihan, lantas sakit perut tentu saja itu disebabkan kesalahan kita kenapa makan sambal berlebihan. Demikian pula kita jalan lengah kemudian kesandung batu atau tabrakan. Kedua musibah ini termasuk disebabkan karena kesalahan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan yang turun hampir setiap hari dengan intensitas yang sangat tinggi tentu saja bagi kawasan yang biasa terkena banjir membuat hati cemas. Banjir besar yang pernah melanda kota Jakarta. Banyak yang menyalahkan karena intensitas hujan yang tinggi padahal tidak sepenuhnya, ada kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia dan itu disadari oleh sebagian kalangan. Misalnya, Jakarta itu semestinya memiliki lahan kosong untuk resapan air minimal 30% tapi yang ada hanya 9%. Wilayah Jakarta dahulu yang memiliki 220 rawa dan danau sekarang hanya tersisa ± 40 saja, semuanya telah berubah menjadi estate dan mall. Belum lagi pola pembangunan yang dinilai lapar tanah. Di kota-kota besar seperti Jakarta pembangunan semestinya berbentuk vertical (rumah susun) bukan horizontal, sehingga banyak lahan untuk resapan air menjadi perumahan. Pun dengan drainase (saluran air) yang selalu tersumbat karena membuang sampah sembarangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bogor dan Puncak yang sering menjadi kambing hitam pengirim banjir bagi kota Jakarta yang merupakan daerah resapan sekarang ± 1200 Vila memenuhi kawasan Puncak, sehingga praktis ketika hujan turun maka air tidak lagi meresap tapi hanyut dan terkirim menggenangi Jakarta. Demikian pula kota Bandung jika dibiarkan kawasan resapan air tidak ditertibkan tidak mustahil bencana serupa akan menimpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran Allah mengingatkan, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Qs. Ar-Rum [30]:41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ± 11 hari para pakar dan wakil dari 189 negara berkumpul di Bali mendiskusikan persoalan yang sangat mengkhawatirkan masyarakat bumi ini yaitu yang disebut dengan Climate Change (perubahan iklim), Global Warming (pemanasan global). Dan semua sepakat meningkatnya suhu udara bumi yang konon kabarnya diperkirakan sejak tahun 1990 sampai nanti 2100 suhu udara bumi ini akan meningkat dari kisaran antara 1.1 sampai 6.4 derajat celcius dan ini disebabkan karena Ecological Destruction rusaknya lingkungan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan suhu dirasakan, kota Bandung yang dulu sejuk sekarang kesejukan itu hampir tidak ada. Ini akibat pemanasan yang terus meningkat menimbulkan pola tanam berubah sebab pola musim juga bergeser, musim panas menjadi musim penghujan dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutub utara dan kutub selatan yang terdiri dari gunung dan benua es secara berangsur terus mencair bahkan menurut Emil Salim mantan menteri lingkungan hidup menyatakan dalam 10 tahun terakhir 23 pulau-pulau kecil tak berpenghuni tenggelam akibat permukaan air laut naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Pantura; sudah setengah tahun desa dan kampong-kampungnya setiap hari terendam banjir akibat air laut naik. Dan ini tidak mungkin bisa diatasi dengan membendung laut. Semua disebabkan pemanasan global yang efeknya sudah sangat jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari pengaruh perubahan iklim ini kita menyaksikan banyak gunung meletus, badai besar, hujan dengan intensitas yang sangat tinggi. Bahkan kawasan yang mengandalkan sumber airnya dari cadangan salju pegunungan Himalaya seperti India, Pakistan dan Banglades, sekarang gletser turun dengan deras, salju mencair dengan cepat. Jika global warming ini tidak segera ditanggulangi kawasan itu akan mengalami kekeringan. Dan akan mengakibatkan hancurnya flora fauna, pertanian pun akan sangat terganggu dan dikhawatirkan akan menimbulkan wabah kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan menurut pakar kesehatan global warming pun berakibat terhadap kesehatan kita. Udara yang semakin panas menyebabkan jantung kita harus bekerja ekstra keras melebihi kapasitasnya, memompa darah untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan suhu di luar. Dan jika darah terus menerus memaksa jantung bekerja ekstra akan mengakibatkan berbagai penyakit yang sangat patal. Bahkan diprediksi mewabahnya diare dan malaria disebabkan climate change dan global warming ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita dengar istilah efek rumah kaca akibat gas karbon (monooksida dan dioksida) yang dihasilkan negara-negara industri membentuk semacam lapisan kaca di udara mengakibatkan cahaya matahari yang masuk ke bumi tidak bisa terpantulkan lagi karena terhalang efek rumah kaca ini. Demikian halnya dengan hutan, pepohonan dan dedaunan yang seharusnya mampu mengatasi proses asimilasi karbon tapi karena illegal loging dimana-mana maka gas karbon kemudian mengangkasa mengakibatkan global warming yang terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua adalah peringatan-peringatan yang bisa kita baca di media, tentu saja sebagai bagian dari kehidupan di muka bumi ini kita harus menyadarinya, seperti dalam surat Ar-Rum ayat 41 di atas, kerusakan itu disebabkan karena perilaku manusia baik secara individu ataupun kelompok, maka penanggulangannya pun harus dilakukan secara individu maupun bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu maka sekecil apapun kepedulian kita perlu dilakukan, salah satunya dengan menanam baik dilahan kosong maupun dihalaman dan belakang rumah merupakan bagian kepedulian kita supaya musibah itu tidak datang disebabkan karena kesalahan dan ketidakpedulian kita terhadap persoalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, musibah bisa datang karena perbuatan dosa yang dilakukan manusia. Alquran menyatakan, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29]:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw., pernah bertanya pada para sahabat, “Bagaimana pendapat kalian mengenai tiga perbuatan dosa; berzina, mencuri, minuman keras?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasulnya yag tahu!” Nabi menyatakan, “Perbuatan itu termasuk fahisyah (perbuatan dosa), dan pada ketiga perbuatan dosa itu ada akibat, sangsi dan hukuman.” Dalam surat Al-A’raf [7]:80 lesbi dan homoseks termasuk dalam jenis fahisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perbuatan dosa itu dibiarkan dalam hadits disebutkan, maka ditengah masyarakat itu akan bermunculan virus dan wabah penyakit yang belum pernah ada sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengisyaratkan bahwa perbuatan dosa pun mengundang datangnya bencana dan musibah. Dan tentu saja tidak ada cara untuk mencegahnya kecuali kita menahan diri untuk tidak terlibat dalam perbuatan fahisyah tersebut dan sudah menjadi kewajiban kita untuk bersama-sama melakukan amar ma’ruf dan nahyi munkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Mungkinkah penduduk sebauah negeri dituruni musibah dan bencana oleh Allah padahal disana ada orang-orang sholeh, ahli ibadah dan orang-orang baik?” Nabi menjawab, “Bisa!” Para sabat kembali bertanya, “Bagaimana bisa?” Nabi menjelaskan, “Jika orang-orang sholeh itu berdiam diri, tidak peduli terhadap kemaksiatan yang terjadi disekelilingnya!” [Assaha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khatib: KH. Drs. Shiddiq Amien, MBA&lt;br /&gt;(Pimpinan Pusan Persatuan Islam)&lt;br /&gt;Jum'at pertama Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-299558868921357144?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/x4rHevcbWMY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/299558868921357144/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=299558868921357144" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/299558868921357144?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/299558868921357144?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/x4rHevcbWMY/climate-change-global-warming-sebab.html" title="Climate Change &amp; Global Warming : Sebab Terjadinya Bencana &amp; Musibah" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/12/climate-change-global-warming-sebab.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcHRXc-fyp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-5430547306947338466</id><published>2007-12-09T21:57:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:33:54.957+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:33:54.957+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>JAHAR PADA SHALAT ASHAR</title><content type="html">&lt;i&gt;Saya ikut berjamaah shalat ashar, imam menjaharkan bacaannya. Apakah hal ini dibolehkan? Bagaimana hukumnya. Dan mengapa bacaan shalat dzhuhur dan ashar harus dibaca sir (dalam hati) sedangkan untuk shalat shubuh, maghrib, dan isya bacaannya boleh dijaharkan ?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Suryonjo. Bandung]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qiraah di dalam shalat itu ada tiga macam : 1) jahar, 2) Sir, 3) Isma.&lt;br /&gt;[1] Jahar ialah membaca keras, seperti yang ada pada shalat fardlu, 2 Rakaat awal maghrib, 2 rakaat awal isya dan 2 rakaat shubuh.&lt;br /&gt;[2] Sir ialah membaca tidak bersuara atau pelan, seperti pada rakaat ketika shalat maghrib, 2 rakaat akhir shalat isya, dzuhur dan ashar.&lt;br /&gt;[3] Adapun Isma adalah dengan sengaja memperdengarkan bacaan-bacaan yang asalnya sir yang tujuannya untuk mengajar ma'mum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ أَبِي قَتَادَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ فِي الْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ وَفِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُخْرَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَيُسْمِعُنَا الأَيَةَ أَحْيَانًا ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abi Qotadah, sesungguhnya Nabi Saw., membaca pada shalat dzuhur pada dua rakaat awal masing-masing dengan ummul kitab dan surat, dan pada dua rakaat akhir dengan Fatihah. Dan kadang-kadang beliau memperdengarkan ayat kepada kami." (HR.Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat "wayusmi'unal ayata ahyanan" (kadang-kadang memperdengarkan ayat kepada kami) menunjukkan bahwa bacaan tersebut termasuk sir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahar atau Sir dalam bacaan shalat ada contohnya dari Rasulullah Saw. Kenapa du'a iftitah disirkan fatihah dijaharkan? ini karena contohnya demikian, begitu pula mengapa mabghrib, isya, shubuh dijaharkan? Karena begitulah contohnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-5430547306947338466?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/yqllNprm6aY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5430547306947338466?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5430547306947338466?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/yqllNprm6aY/jahar-pada-shalat-ashar.html" title="JAHAR PADA SHALAT ASHAR" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/12/jahar-pada-shalat-ashar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkIGQXs8fSp7ImA9WB9UEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-4018907579367166072</id><published>2007-12-09T21:44:00.000+07:00</published><updated>2007-12-09T22:35:20.575+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-09T22:35:20.575+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>SHALAT SEBELUM ASHAR</title><content type="html">&lt;i&gt;Apa yang dimaksud dengan shalat rawatib. Adalah shalat sunat qobla ashar dan qobla isya? Dan bagaimana kedudukan hadits "Allah memberikan rahmat atas orang yang shalat 4 rakaat sebelum ashar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Nandang H. Tasikmalaya]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  dimaksud dengan shalat sunat rawatib adalah shalat qobliyah atau ba'diyah shalat yang lima waktu, dan seluruhnya berjumlah sepuluh atau dua belas rakaat berdasarkan&lt;span class="fullpost"&gt; hadits Muttafaq 'alaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ حَفِظْتُ عَنْ رَسُولِ اللهِ ص رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ  وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلِ الغَدَاةِ كَانَتَ سَاعَةً لَا أدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا. – متفق عليه&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abdullah bin Umar ia mengatakan, Aku hafal dari Rasulullah Saw., dua rakaat qobla dzuhur, 2 rakaat ba'da maghrib, 2 rakaat ba'da isya, 2 rakaat ba'da dzuhur, dan 2 rakaat qobla shubuh, itulah waktu yang aku tidak pernah bertamu kepada Nabi." (Muttafaq 'alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ عَنِ النَّبِيِّ ص. قَالَ مَنْ صَلَََّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَي عَشْرَةَ سَجْدَةً سِوَى الْمَكْتًوبَةُ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّة. – رواه الجماعة الا البخاري&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;وَلَفْظُ التِّرْمِذِيُ. مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Dari Umi Habibah binti Abi Sufyan dari Nabi Saw. beliau bersabda, "Siapa yang shalat satu hari satu malam 12 rakaat selain shalat fardlu, maka akan dibangun untuknya sebuah rumah di syurga." (HR. Jama'ah, kecuali Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan lafadz Imam Tirmidzi "Siapa yang shalat sehari semalam 12 rakaat akan dibangun untuknya sebuah rumah di syurga, yaitu 4 rakaat sebelum dzuhur, 2 rakaat sesudahnya, 2 rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya dan 2 rakaat sebelum shubuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai shalat sunat 4 rakaat sebelum ashar keterangannya adalah sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيِّ ص. قَالَ رَحِمَ اللهُ امْرَأً صَلَى قَبْلَ الْعَصْرِ اَرْبَعًا. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar, sesungguhnya Nabi Saw., beliau bersabda, "Allah akan memberi rahmat kepada orang yang shalat sebelum ashar 4 rakaat." (HR.Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;Hadist ini tidak shahih, karena pada sanadnya ada rawi yang bernama Muhammad bin Mihran. Meskipun oleh Ibnu Hibban dimasukkan di dalam "as-tsiqat", tetap ia pun dinyatakan yukhtiu (suka salah dalam periwayatan). (Tadzibul Kamal, XIV: 333).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian shalat sunat 4 rakaat sebelum ashar sebelum ashar tidak dapat diamalkan. Adapun mengenai shalat sunat qobla isya kami tidak menemukan keterangannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-4018907579367166072?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/QKK3IpZs4cY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/4018907579367166072?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/4018907579367166072?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/QKK3IpZs4cY/shalat-sebelum-ashar.html" title="SHALAT SEBELUM ASHAR" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/12/shalat-sebelum-ashar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8GQHwyeip7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-6221069146384606877</id><published>2007-11-27T08:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:47:01.292+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:47:01.292+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom Motivasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Renungan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom Hikmah" /><title>Bidadari Untuk Umar</title><content type="html">Umar r.a. adalah salah satu dari sahabat Rasulullah Saw. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani sholat dan thowaf dika'bah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang yang waro', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah Saw., "Wahai Rasulullah Saw., apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh, apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya". Rasulullah menjawab, "Sudah..."!. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar r.a. mengamalkan agama sesuai dengan kehendak Allah Swt. Karena kesungguhannya itu maka banyak ayat di Al-Qur'an yang diturunkan Allah berdasarkan kehendak yang ada pada hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj menghadap Allah Swt. Beliau Saw., sering pula menceritakan bagaimana keadaan surga yang dijanjikan Allah Swt kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika Rasulullah Saw dimi'rajkan menghadap Allah malaikat Jibril As memperlihatkan kepada Beliau Saw., taman-taman surga. Rasulullah Saw., melihat ada sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang bidadari yang begitu berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu. Rasulullah Saw., bertanya kepada Jibril As., "Wahai Jibril  bidadari siapakah itu"?. Malaikat Jibril As., menjawab, "Bidadari itu adalah diperuntukkan bagi sahabatmu Umar". Pernah suatu hari ia membayangkan tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat yang sangat pemalu. Karena sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah Swt maka saat itu juga Allah Swt menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan apa yang dikehendaki hatinya".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-6221069146384606877?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/zhixstkyHr0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/6221069146384606877/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=6221069146384606877" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/6221069146384606877?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/6221069146384606877?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/zhixstkyHr0/bidadari-untuk-umar.html" title="Bidadari Untuk Umar" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/bidadari-untuk-umar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4CQnk4cSp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-8804360856486509061</id><published>2007-11-27T07:42:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:49:23.739+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:49:23.739+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>Qunut Pada Shalat Shubuh</title><content type="html">&lt;i&gt;Dalam shalat shubuh sering terdapat qunut, apakah qunut tersebut dibolehkan. Bagaimana dalilnya?&lt;/i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aziz Ridwan. Darussalam Ciamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ulama yang mengatakan bahwa bacaan yang panjang setelah membaca &lt;i&gt;Sami'allahu liman hamidah&lt;/i&gt; disebut "qunut daim". Qunut itu dibaca pada setiap ruku, bukan hanya pada shalat shubuh saja. Sedangkan Qunut Nazilah dilakukan apabila ada bencana atau malapetaka yang menimpa umat islam. Isi do'anya berkaitan dengan kebutuhan, biasanya Rasulullah Saw mendo'akan keselamatan bagi kaum Muslimin dan mendo'akan kecelakaan bagi kaum yang dzalim yang menindas orang-orang yang lemah dari kaum Mu'minin. Dilakukan setelah bangkit dari ruku terakhir pada setiap shalat fardlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قَالَ  أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ لَأُقَرِّبَنَّ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ. – رواه البخاري&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kata Abu Hurairah "Aku akan manunjukan shalat Rasulullah Saw. Maka adalah Abi Hurairah itu biasa qunut di rakaat yang akhir dari shalat Dhuhur, Isya dan shalat Shubuh, sesudah mengucapkan sami'allahu liman hamidah yaitu mendo'akan keselamatan kaum Mu'minin dan melaknat kaum kafir". (HR.Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;قَالَ  اِبْنُ عَبَّاسٍ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ. – رواه ابوداود&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kata Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. pernah qunut sebulan berturut-turut pada shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Shbuh di setiap akhir shalat, apabila mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" yaitu di rakaat akhir. Beliau mendo'akan kecelakaan bagi kaum Ri'idzakwan dan 'Ushoyyah dari kaum Bani Sulaim. Dan Ma'mum yang dibelakangnya meng-aminkan". (HR. Ab Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan qunut khusus Shubuh bid'ah. Sa'ad bin Thoriq al-Asyjaiy berkata kepada ayahnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;يَا أَبَتِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ أَفَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ؟  فَقَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ. – رواه  الخمسة  الاّ ابو داود&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Bapak, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar, Utsaman, dan Ali. Apakah meraka qunut pada shalat Shubuh? Beliau menjawab, "Wahai anakku, (qunut shubuh) itu amal yang dibuat-buat (bid'ah)." (HR.Ahmad, Tirmidzi, Nasiy, Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan 'Ashim bin Sulaiman berkata kepada sahabat Anas ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ قَوْمًا يَزْعَمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ ص. لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ. فَقَالَ كََذَّبُوا. إِنََّمَا قَنَتَ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْمُشْرِكِيْنَ. – رواه  الخطيب&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya ada satu golongan yang berkata, bahwa Anbi Saw terus-terusan qnut pada shalat Shubuh". Kata Anas ra. "Mereka itu dusta. Nabi Saw hanya qunut sebulan lamanya, mendo'akan kecelakaan bagi salah satu kaum Musyrikin (HR.Khotib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bishshawaab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-8804360856486509061?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/gqp91-zKMDg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8804360856486509061?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/8804360856486509061?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/gqp91-zKMDg/qunut-pada-shalat-shubuh.html" title="Qunut Pada Shalat Shubuh" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/qunut-pada-shalat-shubuh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4NR3szfyp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-3988248561012616649</id><published>2007-11-27T07:34:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:49:56.587+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:49:56.587+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Istifta" /><title>Menyalatkan Mayit Ba'da Ashar</title><content type="html">&lt;i&gt;Seusai berjamaah shalat ashar, datang orang membawa jenazah untuk dishalat jenazahkan, dengan harapan sore itu juga dapat dikemumikan. Tetapi si imam/ustadz tidak mau menshalatkan jenazah tersebut, dengan harus menunggu waktu maghrib. Pertanyaan mengapa harus di tunggu sampai waktu maghrib? Bukankah kalau anak Adam meninggal dunia harus segera dikuburkan? Mohon penjelasan dengan dalil yang jelas!&lt;/i&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;M.Yunus. Duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini berkaitan dengan "shalat ba'da ashar" dan hal ada dua pendapat. Pertama, ada ulama yang mengharamkan shalat jenazah setelah ashar, pendapat ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;لَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَلَا صَلَاةَ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada shalat setelah shalat ashar, hingga terbenam matahari, dan tidak ada sembarang shalat setelah shalat fajar hingga terbit matahari". (Muttafaq 'alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hadits ini semua shalat terlarang dengan mutlaq, termasuk shalat jenazah, apabila dilakukan setelah shalat ashar atau setelah shalat shubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak kedua berpendapat bahwa boleh shalat jenazah ba'da shalat Ashar selama matahari masih tinggi pendapat ini berdasarkan keterangan sebagai berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْعَصْرِ إِلَّا وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ. ابو داود, عون العبود 4 :154&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Dari Ali bahwasannya Nabi Saw melarang shalat ba'da ashar keculai keadaan matahari masih tinggi". (Abu Dawud. Aunul Ma'bud 4 :154 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata-kata ILAA WASY-SYAMSU MURTAFI"ATUN, jelaslah bahwa shalat  setelah ashar boleh asal matahari masih tinggi. Al-Hafidz Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah menjelaskan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;فَتَجُوزُ الصَّلاَةَ مُطْلَقًا سَوَاءً كَانَتْ الْمَكْتُوبَةَ الْفَائِتَةَ أَوْ سُنَةً أَوْ نَقْلاً أَوِ الْجَنَازَةَ.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Maka bolehlah (shalat ba'da ashar) secara mutlaq sama saja shalat itu, shalat wajib yang fait (ketinggalan) atau shalat sunat atau shalat nafilah atau shalat jenazah ". (Aunul Ma'bud 4 :154 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengennai larangan shalat ba'da Ashar dan ba'da Shubuh yang tersebut di hadits Muttafaq 'alaih, Ibnu Qoyyim mengutip penjelasan Abu Al-Fath al-Ya'mane dari jamaah as-Salaf, yang tercantum di kitab Fathul Barie, mereka menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;إِنَّ النَّهْيَ عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصُّبْحِ وَبَعْدَ الْعَصْرِ إِنَّمَا اِعْلاَمُ بِأَنَّهَا لاَيَتَطَوَّعُ بَعْدَهُمَا وَلَمْ يُقْصِدِ الْوَقْتُ بِالنَّهْيِ كَمَا قُصِدَ بِهِ وَقْتُ الطُّلُوعِ وَوَقْتُ الْغُرُوبِ وَتُؤَيِّدُ رِوَايَةُُ اَبِي دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍ بِإِسْنَادٍ حَسنٍ فَدَلَّّ أَنَّ الْمُرَادََ بَِالْبَعْدِيَّةِ لَيْسَ عََلَى عُمُومِهِ وَإِنَّمَا الْمُرَادُ وَقْتُ الطُّلُُوعِ وَوَقْتُ الْغُرُوبِ وَمَاقَارَبَهَا. - عون العبود 4 :154&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya larangan shalat ba'da shubuh dan ba'da ashar itu, tidak lain kecuali (merupakan) pemberitahuan bahwasannya tidak ada shalat sunat setelah kedua shlat itu, dan dengan larangan itu tidak dimakasudkan (mengenai) waktu sebagaimana dimaksudkan (dengan larangan shalat) waktu terbit matahri dan waktu terbenamnya, yang menguatkan (pemahaman ini) ialah riwayat Abu Dawud yang diterima dari Ali dengan isnad yang hasan. Maka riwayat (Muttafaq 'alaih) menunujukan bhawa yang dimaksud denhgan "ba'diyah' (setelah)" ini bukan untuk umum, tidak lain maksudnyaitu waktu terbit matahari dan waktu terbenamam matahari dan yang hampir terbenam atau terbitnya ". (Aunul Ma'bud 4 :154 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian maka pendapat kami cenderung kepada pendapat pihak yang kedua ini. Tegasnya boleh menyalati jenazah setelah shalat Ashar selama matahari masih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam Bishshawaab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-3988248561012616649?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/SV4tqV4KiDA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/3988248561012616649?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/3988248561012616649?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/SV4tqV4KiDA/menyalatkan-mayit-bada-ashar.html" title="Menyalatkan Mayit Ba'da Ashar" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/menyalatkan-mayit-bada-ashar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcGSXo7eyp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-5224404084892332284</id><published>2007-11-27T06:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:50:28.403+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:50:28.403+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Renungan" /><title>Antara Sabar &amp; Mengeluh</title><content type="html">Abul Hassan berangkat menunaikan ibadah haji ke Baitul Haram. Diwaktu tawaf tanpa sengaja dia melihat seorang wanita cantik dengan wajah yang bersinar dan berseri, indah sekali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita ini, pasti hidupnya bahagia tidak kurang satu apapun tanpa masalah yang membebani." Bisik Abul Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata wanita tersebut mendengar perkataannya dan menghampiri Abul HAsan lalu dia bertanya, "Apa yang Anda katakan? Demi Allah, kalau engkau tahu, aku masih dalam masa berkabung, berdukacita, dengan duka yang begitu dalam karena musibah yang sungguh berat kuterima dan tidak ada seorangpun ada disisiku untuk berbagi." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hassan bertanya, "Bagaimana itu bisa terjadi?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suatu hari saat suamiku sedang menyembelih kambing, dua orang anak kami yang masih balita menyaksikan ayahnya menyembelih. Tanpa diduga anakku yang agak besar mengajak adiknya untuk bermain seperti pekerjaan ayahnya, si kakak menyembelih adiknya. Karena melihat darah yang berlumuran si kakak ketakutan dan lari ke atas bukit lalu menghilang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari ayah dari anak-anakku mencarinya, bukannya berhasil menemukan anakku malah dia menemui ajalnya dibukit itu karena mati kehausan, sedang anakku yang lari itu pun meninggal disantap serigala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku coba melihat jasad keduanya, bayiku yang masih belajar merangkak kuletakkan di dalam rumah. Tanpa kusadari dia merangkak menuju air yang tengah kudidihkan, dia menarik periuk yang berisi air mendidih lalu tumpah menyiram seluruh tubuhnya hingga menyebabkan kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang singkat aku kehilangan semua orang-orang yang paling aku cintai. Dan kini aku tinggal sebatang kara." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Hassan bertanya, "Tapi aku melihat engkau begitu sabar, tidak terlihat keluhan seperti orang pada umumnya yang tekena musibah, sekecil apapun, bagaimana Anda mengatasi musibah yang begitu berat ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak ada balasan bagi hamba-Ku (Allah) yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan surga baginya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rasulullah s.a.w bersabda, "Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam hadits yang lain, "Mengeluh diantara kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh jika sebelum taubat ia meninggal, maka Allah akan memotongkan pakaian baginya dari lap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita dijadikan sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa sabar dalam menghadapi segala musibah. Amien.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-5224404084892332284?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/Qn2MfX2IP4A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/5224404084892332284/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=5224404084892332284" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5224404084892332284?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5224404084892332284?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/Qn2MfX2IP4A/antara-sabar-mengeluh.html" title="Antara Sabar &amp; Mengeluh" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/antara-sabar-mengeluh.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcBSXw4fyp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-2443049369708327615</id><published>2007-11-22T07:54:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:50:58.237+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:50:58.237+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><title>Muhammad, Nabi &amp; Rasûl Terakhir</title><content type="html">Allâh Swt., berfirman, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasûlullâh dan khâtamañabiýîn (penutup para Nabi). Dan adalah Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab [33] :40) ayat tersebut menjelaskan hakikatnya Muhammad bin Abdillâh bin Abdil Muthallib dengan tiga ciri; Pertama, Muhammad bukanlah bapak perseorangan, bermakna beliau merupakan bapak dunia, bapak seluruh orang, bukan bapak bangsa Arab terlebih bapaknya orang Timur Tengah. Kedua, Muhammad adalah Rasûlullâh (utusan Allâh) yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah-Nya. Hal ini untuk mencounter prasangka diantara orang Arab (waktu itu) yang menganggap beliau seorang ahli sya’ir bahkan lebih buruk memandang beliau sebagai tukang sihir. Ketiga, Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus Allâh. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sekian banyak ayat Alqurân hanya satu ayat di atas (Qs. Al-Ahzab [33] :40) yang menjelaskan bahwa Muhammad merupakan Nabi terakhir. Ini menunjukkan kekhususan Nabi Muhammad Saw., yang tidak ada lagi Nabi sesudah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seribu pertanyaan mengalir mempertanyakan; “Kenapa” Allâh menjadikan Muhammad sebagai bapak dunia, “Kenapa” Allâh mengutus Muhammad sebagai Rasûl, dan “Kenapa” Allâh menjadikan Muhammad sebagai Nabi terakhir. Tentu pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan ada habisnya. Otak dan pengetahuan manusia terbatas dan tidak akan sampai untuk memahami segala pertanyaan itu. Cukup mengimani apa yang diwahyukan Allâh. Oleh karenanya di akhir ayat tersebut Allâh menutup dengan, “Dan adalah Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli bahasa memberikan makna terhadap kalimat “khâtama” dengan Al-Istîtsâqu wal man’u (Lihat Lisânul ‘Arab Bab Kha), artinya memastikan dan menolak sesuatu. Dengan demikian Alqurân menyebutkan Muhammad sebagai “khâtamañabiýîn” artinya pasti dan tidak ragu bahwa Muhammad sebagai Nabi terakhir dan menolak orang yang mengaku Nabi di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mufasir mengartikan khâtamañabiýîn dengan tiga tafsiran; pertama, Khâtamañubuwata, artinya Allâh telah menutup kenabian. Kedua, Allâh menyempurnakan kenabian dan Rasûl sejak awal sampai akhir dan disempurnakan dengan ditutupnya oleh Muhammad Rasûlullâh Saw. Ketiga, Muhammad paling akhir di antara para Nabi Allâh yang diutus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas, sahabat sekaligus ahli tafsier terkemuka di zaman Nabi mengomentari ayat di atas, “Seolah-olah Allâh berkehendak dengan firman-Nya, kalaulah Allâh tidak menutup nabi-nabi dengan kenabian Muhammad, seolah Allâh berfirman, pasti Aku jadikan seorang Nabi di antara anaknya. Tapi Allâh Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. Kenapa tidak menjadikan salah satu anak Muhammad sebagai Nabi dan Rasûl karena memang Allâh berkehendak Muhammad sebagai Nabi terakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu logika yang digunakan Ibnu Abbas adalah bukti sejarah yang menunjukkan bahwa tiga putra beliau; dua dari khadijah, pertama, Qasim sehingga beliau Saw., dipanggil Abul Qasim, lahir sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan meninggal dalam usia 2 tahun. Kedua, Abdullah yang dijuluki Ath-Thayyib dan Ath-Thahir karena ia dilahirkan dalam Islam meninggal dunia setelah lahir beberapa hari. Ketiga, putra dari Mariah Qibtiyah bernama Ibrahim meninggal dalam usia 16-18 bulan (Al-Wafa, hal 536-537). Kalaulah putra beliau Saw., hidup sampai dewasa tidak mustahil dikemudian hari orang akan mendewakan salah satunya dan mengangkatnya sebagai Nabi. Tapi Allâh mentakdirkan tidak menjadikan seorang pun hidup sampai dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak hadits yang mempertegas bahwa beliau adalah Nabi terakhir. Antara lain dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim. Rasûl menyatakan, “Perumpamaanku dibandingkan dengan nabi-nabi sebelumku, bagaikan seorang laki-laki yang sedang membangun rumah (akidah). Masing-masing dari laki-laki itu memperbagus dan memperindah bagaimana supaya rumah (akidah) itu kuat. Dan aku adalah Nabi yang paling terakhir diantara nabi-nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits kedua menjelaskan, “Aku diberi kelebihan enam hal dibandingkan dengan Nabi lain; (1) Aku diberi kumpulan ajaran-ajaran. (2) Aku diberi pertolongan oleh Allâh dengan rasa takut pada musuh sebelum tentaraku datang. (3) Ghanimah dihalalkan bagiku. (4) Tanah dijadikan tempat bersuci dan bersujud untukku. (5) Aku diutus untuk seluruh makhkluk. (6) Dan nabi-nabi ditutup olehku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ketiga, dipertegas lagi oleh Rasûlullâh Saw., “Aku punya banyak nama; Muhammad, Ahmad, Al-Mâhi (karena Allâh menghapus kekufuran dariku), Al-Hâsir (orang-orang dikumpulkan pada telapakku, dan Al-‘Âkib (karena tidak ada Nabi sesudahku).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap ayat Alqurân dan hadits-hadits di atas, Ibnul Jauzi memberikan penafsiran, “Agar orang-orang tahu siapa yang mengaku Nabi setelah Muhammad maka orang itu diberi gelar; Pembohong, Pengada-ada, Dajjal, Sesat dan Menyesatkan sekalipun orang itu mendatangkan bermacam-macam jenis sihir agar orang lain percaya bahwa dirinya Nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui firman-Nya, Allâh mengisyaratkan akan adanya pendusta (orang) yang mengaku sebagai Nabi dan Rasûl baik pada zaman Nabi Saw., dan masa sesudahnya. Allâh Swt., berfirman, “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, (satu berita yang besar dan menggemparkan yang hakikatnya tidak perlu terjadi. Karena yang dikatakan An-Naba adalah berita besar berbeda dengan Al-Khabar. Berita besar akan adanya orang yang akan mengaku Nabi dan Rasûl yang pada hakikatnya mereka mendapat bisikan-bisikan Syaitan) kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (Qs. Asy-Syu’ara’ [26]:221-223)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas merupakan salah satu kemu’jizatan Alqurân, karena mengungkap (isyarat) suatu hal yang ghaib tentang orang yang mengaku Nabi; baik pada masa Nabi dan pada masa sesudahnya (sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauzi, Shâwi juga Al-Maraghi mencatat tidak kurang 8 orang yang mengaku Nabi disaat Nabi Saw., masih hidup. Diantaranya, (1) Aswad Al-Ansi di Yaman, (2) Musailamah Al-Kadzâb di Yamamah, (3) As-Sâti’ bin Rabi’ah, (4) Abdullâh bin Abdi Jabhari As-Sahni, (5) Khubairah bin Abi Wahab Al-Mahzumi, (6) Musâfi’ bin Abdil Manâf, (7) Abu Izzah Amr bin Abdillâh Al-Jamhi (8) Umayyah bin Abdi Sholah Ats-Tsaqofi yang menyatakan, “Aku katakan seperti perkataan Muhammad.” Mensejajarkan dirinya dengan Rasûl seolah-olah bahwa dirinya dapat menjadi Nabi dan Rasûl dengan sendirinya. Mereka semua mengaku Nabi pada saat Nabi Muhammad Saw., masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alqurân sudah dengan tegas menjelaskan, Alhadits dengan detail menjabarkan, para mufasir mempertegas dengan lima nama bagi pengaku Nabi; Pembohong, Pengada-ada, Dajjal, Sesat dan Menyesatkan. Jika seandainya ada orang yang mengaku Nabi setelah kenabian Muhammad tentu bukan Nabi utusan Allâh tetapi Nabi liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bercermin pada Alqurân, kedatangan dan pengakuan orang-orang yang mengaku sebagai Nabi tentu tidak akan asing bagi orang mu’min karena Alqurân sendiri mengisyaratkan akan munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Nabi sekaligus menjelaskan hakikatnya mereka mendapatkan bisikan Syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Jauzi mencatat sebuah peristiwa tentang buktinya Alqurân mengungkap sesuatu yang ghaib setelah Nabi wafat. Pada abad 13 H tepatnya pada tahun 1252 s.d. 1326 H seorang Imam Qadian (Punjab-Pakistan-India) pada saat itu bernama Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (Lahir, 13 Februari 1835 – Wafat, 26 Mei 1908 M, Wikipedia), Hazrat merupakan panggilan kehormatan dari pengikutnya yang disebut Ahmadiyah sedangkan nama “Mirza” melambangkan keturunan bangsawan dari Turki-Moghul. Dia menyatakan diri sebagai Nabi dan Rasûl dengan menyebut dirinya Al-Masih Al-Mau’ûd. Keyakinan yang diajarkannya bahwa kenabian itu belum putus akan terus berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “Unabbi`u”, pada Qs. Asy-Syu’ara’ [26]: 221 di atas merupakan bentuk fi’il mudhari yang bermakna continuitas, akan terus berlangsung orang mengaku Nabi; baik di zaman Nabi juga pada masa yang akan datang (sekarang dan nanti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, setelah Allâh menyebutkan bahwa Muhammad Nabi dan Rasûl terakhir (Qs. Al-Ahzab [33]:40), Allâh menyambung dengan memberikan petunjuk sebagai sikap preventif untuk mencounter dari orang-orang yang mengaku Nabi setelah Muhammad Saw., untuk memperkokoh keimanan dan senantiasa mengingat (dzikir) kepada Allâh, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allâh, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Ahzab [33]:41-43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah kapanpun dan dimanapun kita mesti memperkokoh keimanan, bercermin pada Alqurân, berdialog dengan Allâh karena kalam-kalam Allâh tertuang di dalam Alqurân dan Alqurân memberikan jawaban. [Assaha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Khutbah Jum;at&lt;br /&gt;Masjid Persatuan Islam Pajagalan-Bandung, 16 November 2007&lt;br /&gt;Khatib: Drs. H. Dedeng Rosyidin, M.Ag&lt;br /&gt;[Staf Bidgar Kurikulum PPI 1-2, Dosen UPI, Pakar Pendidikan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://buletinpajagalan.googlepages.com/MuhammadNabidanRasulTerakhir.WAV"&gt;Download Rekaman Khutbah Ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-2443049369708327615?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/ldN2UUgm3oQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/2443049369708327615/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=2443049369708327615" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2443049369708327615?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/2443049369708327615?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/ldN2UUgm3oQ/muhammad-nabi-rasl-terakhir.html" title="Muhammad, Nabi &amp; Rasûl Terakhir" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/muhammad-nabi-rasl-terakhir.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUFSHo-fCp7ImA9WB9bEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-4605599093145502030.post-5616274458197184113</id><published>2007-11-14T15:46:00.000+07:00</published><updated>2007-12-21T15:53:39.454+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-12-21T15:53:39.454+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ringkasan Khutbah Jum'at" /><title>Ciri Kenabian &amp; Palsunya Pengaku Nabi</title><content type="html">Pada tahun ke-6 Hijriah para sahabat menyertai Rasûlullâh Saw., berangkat ke Makkah untuk melaksanakan umrah. Namun belum sampai di tengah perjalanan mereka dihadang kaum Quraisy yang melarang mereka memasuki ke kota Makkah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Diantara isinya adalah; pertama, gencatan senjata, tidak akan saling menyerang untuk jangka waktu 10 tahun. Kedua, untuk sementara orang-orang Islam tidak boleh memasuki kota Makkah. Ketiga, orang-orang Makkah (Quraisy) yang ada di Madinah harus dikembalikan tapi orang-orang Madinah yang berada di Makkah tidak boleh dikembalikan ke Madinah dan ini dianggap salah satu yang merugikan umat Islam, namun semuanya diterima dan disetujui oleh Rasûlullâh Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung isi perjanjian itu merupakan kekalahan total bagi orang-orang Makkah (Quraisy). Pasca Perjanjian Hudaibiyah, umat Islam bertambah bebas berda'wah melebarkan sayapnya kesebelah utara sampai ke Syria dan Mesir lalu kesebelah selatan bahkan kesebelah timur dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy melakukan perjalanan niaga seperti yang diungkapkan Alqurân, “Li`îlâ fîquraisyin, îlâfihim rihlatasy syitâ`i wash shaif.” Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan panas. (Qs. Alquraisy [106]:1-2). Mereka berniaga kesebelah utara (Syam) dan bertepatan pada saat itu pemimpin Romawi, Kaisar Heraklius sedang melaksanakan nadzar. Dan saat itu bertepatan pula surat da'wah Rasûlullâh Saw., menyebar ke beberapa negara termasuk ke negara Romawi. Saat sampai di Syam, kaisar Heraklius telah menerima surat da'wah Rasûlullâh Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia mendengar kabar bahwa ada orang Makkah sedang berada di Syam, dia memerintahkan tentaranya untuk memanggil orang-orang Quraisy. Pada saat itu Abu Sufyan dan para pedagang lainnya menghadap atas perintah kaisar. Heraklius bertanya, “Siapakah diantara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku Nabi ini?”. Tidak ada yang menjawab kecuali Abu Sufyan. “Sayalah yang paling dekat nasabnya diantara mereka!” Kaisar memerintahkan untuk mendekatkan Abu Sufyan kepadanya dan menempatkan yang lain di belakangnya. Sehingga dengan cara seperti itu tidak ada kesempatan bagi Abu Sufyan dan kaumnya untuk melakukan konspirasi kebohongan. “Sungguh aku akan bertanya kepada orang ini, jika dia berdusta kepadaku dustakanlah oleh kalian.” Waktu itu dalam benaknya Abu Sufyan berkata, “Sungguh demi Allah seandainya tidak akan menimbulkan rasa malu dikemudian hari orang-orang akan mendustakan aku, aku akan berdusta tentang Muhammad.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu barulah terjadi tanya jawab antara Heraklius dan Abu Sufyan; “Bagaimana nasab orang yang mengaku Nabi itu pada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Dia bukan orang lain, dia seketurunan dengan kami.” “Apakah ada orang lain yang pernah mengaku Nabi sebelum dia?” “Tidak ada! Baru dia yang mengaku Nabi.” “Adakah diantara leluhurnya yang pernah menjadi raja, pernah menjadi pemimpin?” “Tidak ada!”. “Siapa pengikutnya, apakah orang-orang mulia atau orang yang lemah?” “Yang disayangkan pengikutnya adalah orang-orang lemah.” Tapi justru kaisar Romawi memiliki pandangan berbeda. “Justru itulah para pengikut Rasûlullâh. Umumnya bukan orang-orang yang kuat tetapi para pengikutnya itu orang-orang yang lemah!” Heraklius melanjutkan, “Para pengikutnya itu bertambah atau berkurang?” “Bertambah.” “Apakah ada diantara pengikut Muhammad yang keluar karena benci kepada agamanya bukan karena sentimen kepada orangnya?” “Tidak pernah ada!” “Pernahkah kalian menuduh Muhammad itu berdusta sebelum dia menyatakan dirinya Nabi?” &lt;br /&gt;“Jangankan menuduh dusta bahkan kami pernah memberikan gelar terhormat Al-Amien, orang jujur, terpercaya!” “Apakah dia suka ingkar janji?” “Tidak! Seingatku dia tidak pernah ingkar janji!” “Apakah kalian pernah berperang dengan dia?” “Benar! Sudah beberapa kali sampai sekarang kami berperang dengannya, bahkan setiap kali dia memimpin perang maka aku pula yang memimpin perang dari pihak Quraisy.” “Bagaimana peperangannya?” “Biasa saja, sewaktu-waktu dia yang unggul, dan sewaktu-waktu kami yang menang.” “Apa yang dia perintahkan kepada pengikutnya?” “Dia memerintahkan untuk jujur, menyambungkan silaturahim, shalat, dan menahan diri dari perkara-perkara yang syubhat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama mengajukan beberapa pertanyaan, kaisar Romawi itu menyatakan, “Inilah pemimpin umat zaman sekarang sudah muncul!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernyataan Heraklius tersebut dapat kita pahami bahwa pengakuan dan pernyataan sebagai Nabi dari seseorang bukan hanya diakui oleh dirinya sendiri tetapi diakui juga oleh orang lain yang mengetahui masalah kenabian. Kaisar Romawi bukanlah orang Islam, dia seorang pendeta (uskup) namun secara jujur dia mengakui bahwa Muhammad Rasûlullâh adalah pemimpin umat yang telah diungkapkan di dalam injil dan taurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri Nabi bukanlah melarang tetapi yang pertama adalah memerintah; memerintah shalat bukan melarang shalat! Dan satu saat akan timbul keanehan ada orang yang mengaku dirinya Nabi tetapi menunjukkan kebohongan dengan larangan; melarang shalat, shaum dan melarang yang lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah merupakan sunnatullâh dan sunnatulanbiyâ` yang berkesinambungan bahwa kesemuanya adalah, Innad dîna indallâhil Islâm. Secara syariat tauhidiyah akan sama dikalangan para Rasûlullâh hanya kaifiat syar'iyah yang berbeda. Dari segi shalatnya sama; di dalam Taurat dan Injil ada perintah shalat, demikian dalam Alqurân. Tetapi justru pada akhir-akhir ini ada Nabi yang melarang shalat. Inilah yang menunjukkan kepalsuan dari orang yang mengaku dirinya Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan menjawab semua pertanyaan itu jauh sebelum dia masuk Islam, bahkan saat itu dia merupakan musuh besar Islam. Dia baru memeluk Islam setelah Fathu Makkah. Tetapi secara jujur dia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu apa adanya. Karena demikianlah kenyataannya Rasûlullâh Muhammad Saw. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dalam hal ini wajar apabila ada yang mengatakan Heraklius itu masuk Islam tetapi pendapat yang lebih kuat menyatakan, dia tidak masuk Islam karena pada akhirnya dia merasa berat untuk meninggalkan kerajaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari ada dua orang sahabat berbincang-bincang. Salah seorang sahabat itu bertanya, “Aku mendengar sahabatmu tadi malam menerima wahyu?” “Benar!” “Apa yang dia terima?” Lalu dibacakan surat Alkautsar. Kemudian dia menjelaskan bahwa dia pun tadi malam menerima wahyu yang hampir sama lalu dia membacakan “seperti” halnya surat Al-Kautsar. Lalu dia bertanya, “Apakah kamu percaya kepada yang aku terima?” Sahabat itu dengan tegas menjawab. “Aku percaya bahwa engkau adalah pendusta!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Rasûlullâh pun telah ada kejadian-kejadian seperti ini, bahkan dikemudian hari tidak mustahil akan lebih banyak lagi, jadi tidak perlu aneh, yang aneh dan sangat disayangkan adalah kenapa orang-orang yang telah maju cara berpikirnya tetapi masih mengikuti pola berpikir yang mundur kebelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang sahabat yang setiap kali bertemu dengan Rasûlullâh Saw., beliau berpaling dan memalingkan wajah darinya. Sahabat ini akhirnya secara terus terang bertanya kepada Rasûlullâh. “Ya Rasûlullâh ada apa gerangan, apakah engkau benci aku, apakah tobatku ini tidak diterima Allâh, karena aku merasa setiap bertemu dengan engkau, engkau selalu berpaling dan memalingkan muka.” Rasûlullâh dengan tegas menyatakan, “Aku bukan benci engkau tetapi apabila melihat wajah engkau terlintas dan terbayang dalam pikiranku wajah pamanku yang engkau bunuh.” Sahabat inilah yang bernama Wahsyi yang telah membunuh paman Rasûlullâh, Hamzah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Wahsyi bertekad, “Satu saat aku harus membunuh orang yang sangat membenci Islam. Kalau dulu aku membunuh orang yang sangat dicintai oleh Rasûlullâh, satu saat aku harus bisa membunuh salah seorang yang sangat dibenci oleh Rasûlullâh.” Dan dikemudian hari Wahsyi berhasil membunuh orang yang pertama mengaku Nabi yaitu, Musailamah Al-Kadzab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Wahsyi tidak mendapatkan hukum qisos tetapi justru mendapatkan kehormatan dalam arti bila ada orang Islam sanggup membunuh orang yang mengaku Nabi setelah Nabi Muhammad maka itu bukanlah satu kesalahan tetapi satu kehormatan. Seandainya tidak membunuh jiwanya yang dibunuh itu adalah keyakinannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kisah sejarah di atas menggambarkan benarnya Rasûlullâh dan bohongnya orang-orang yang mengaku Rasûlullâh. [Assaha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasan Khutbah Jum'at &lt;br /&gt;Masjid Persatuan Islam Pajagalan Bandung&lt;br /&gt;Khatib: KH. Ikin Shodikin (Ketua Dewan Penasihat PP Persis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://buletinpajagalan.googlepages.com/CiriKenabiandanPalsunyaPengakuNabi.WAV"&gt;Download Rekaman Khutbah ini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4605599093145502030-5616274458197184113?l=www.pajagalan.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/pajagalan/~4/WzPtFcUzU8A" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.pajagalan.com/feeds/5616274458197184113/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4605599093145502030&amp;postID=5616274458197184113" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5616274458197184113?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/4605599093145502030/posts/default/5616274458197184113?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/pajagalan/~3/WzPtFcUzU8A/ciri-kenabian-palsunya-pengaku-nabi.html" title="Ciri Kenabian &amp; Palsunya Pengaku Nabi" /><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://www.pajagalan.com/2007/11/ciri-kenabian-palsunya-pengaku-nabi.html</feedburner:origLink></entry></feed>

