<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001</atom:id><lastBuildDate>Mon, 28 May 2012 01:58:41 +0000</lastBuildDate><category>Formulir Pajak</category><category>PPh Pasal 23</category><category>KUP</category><category>Pelayanan Pajak</category><category>PPN</category><category>Pajak Penghasilan</category><category>PPh Pasal 22</category><category>Peraturan Perpajakan</category><category>Pajak Umum</category><category>Pengkreditan Pajak Masukan</category><title>PAJAKITA</title><description>Berbagi informasi, pengalaman dan pengetahuan seputar pajak</description><link>http://pajakita.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Ahmadi)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Pajakita" /><feedburner:info uri="pajakita" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>Pajakita</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-3802295529430793941</guid><pubDate>Mon, 14 May 2012 04:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-14T15:19:50.524+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengkreditan Pajak Masukan</category><title>Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak Yang Melakukan Penyerahan Yang Terutang Pajak dan Penyerahan Yang Tidak Terutang Pajak Sesuai PMK Nomor : 78/PMK.03/2010</title><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-b7R-1-zgh_c/T6FquPPLbaI/AAAAAAAAAOA/Gh_jfAEwVHQ/s1600/Sawit_Tiga.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="http://1.bp.blogspot.com/-b7R-1-zgh_c/T6FquPPLbaI/AAAAAAAAAOA/Gh_jfAEwVHQ/s200/Sawit_Tiga.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan bagi pengusaha kena pajak yang melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang tidak terutang pajak&lt;/span&gt;, diatur di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 tanggal 5 April 2010. Peraturan Menteri Keuangan ini efektif berlaku mulai tanggal 1 April 2010. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010&lt;/span&gt; merupakan peraturan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang&amp;nbsp; Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 (selanjutnya akan saya sebut dengan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Undang-undang PPN&lt;/span&gt;).&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seiring dengan perubahan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai sejak tahun 1984 sampai dengan sekarang, maka&amp;nbsp; &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;PMK Nomor 78/PMK.03/2010&lt;/span&gt; ini pun telah mengalami beberapa kali perubahan atau merupakan hasil perubahan dari peraturan menteri keuangan yang telah diterbitkan sebelumnya. &amp;nbsp;Riwayat peraturan menteri keuangan yang diterbitkan sebelum PMK ini dapat disebutkan secara kronologis sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;KMK Nomor : &amp;nbsp;1441b/KMK.04/1989 tanggal 29 Desember 1989&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KMK Nomor :&amp;nbsp; 296/KMK.04/1994 tanggal 27 Desember 1994&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KMK Nomor : &amp;nbsp;643/KMK.04/1994 tanggal 29 Desember 1994&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KMK Nomor : &amp;nbsp;575/KMK.04/2000 tanggal 26 Desember 2000&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PMK Nomor &amp;nbsp;: &amp;nbsp;78/PMK.03/2010 tanggal 5 April 2010&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Ketentuan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelum kita mencoba &lt;i&gt;“menguliti”&lt;/i&gt; apa yang diatur di dalam PMK Nomor 78/PMK.03/2010, mari kita coba pahami ketentuan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN menyatakan, &lt;i&gt;apabila dalam suatu Masa Pajak Pengusaha Kena Pajak selain melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt; juga melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang tidak terutang pajak&lt;/span&gt;, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memori penjelasan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN menjelaskan pengertian &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang tidak terutang pajak&lt;/span&gt;.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang dimaksud dengan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;"penyerahan yang terutang pajak"&lt;/span&gt; adalah &lt;i&gt;penyerahan barang atau jasa yang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini, &amp;nbsp;dikenai Pajak Pertambahan Nilai.&amp;nbsp; Sebagaimana kita ketahui bahwa pengenaan Pajak Pertambahan atas penyerahan barang atau jasa diatur di dalam Pasal 4, Pasal 16C dan Pasal 16D Undang-undang PPN.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang dimaksud dengan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;"penyerahan yang tidak terutang pajak"&lt;/span&gt; adalah &lt;i&gt;penyerahan barang dan jasa yang tidak dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4A UU PPN dan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16B UU PPN&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka berdasarkan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN tersebut, jika dalam suatu masa pajak pengusaha kena pajak melakukan dua macam penyerahan sekaligus yaitu penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak, sedangkan Pajak Masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, maka jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Artinya, pengusaha kena pajak dapat menggunakan pedoman pengkreditan pajak masukan jika memenuhi syarat-syarat kumulatif sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dalam suatu masa pajak pengusaha kena pajak melakukan penyerahan yang terutang pajak sekaligus melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk penyerahan yang tidak terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Hal-hal yang Diatur Dalam PMK Nomor 78/PMK.03/2010&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya, apa sebenarnya yang diatur dan dimuat dalam Peraturan Menteri Keuangan ini?&amp;nbsp; Hal-hal yang diatur dalam PMK ini paling tidak meliputi;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ketentuan perlakuan pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan dan juga melakukan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pedoman / cara penghitungan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pembatasan penggunaan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Contoh penghitungan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perlakuan pengkreditan Pajak Masukan Bagi Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan dan juga melakukan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Pasal 8 PMK Nomor 78/PMK.03/2010&lt;/span&gt;, dinyatakan bahwa Tata cara penghitungan pengkreditan Pajak Masukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini adalah sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Menteri Keuangan ini, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri Keuangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selanjutnya di dalam Lampiran PMK ini diatur bahwa, Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan juga melakukan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak dapat terjadi dalam kondisi antara lain :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pengusaha Kena Pajak yang melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;kegiatan usaha terpadu (&lt;i&gt;integrated&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;, misalnya Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan jagung (jagung bukan merupakan Barang Kena Pajak), dan juga mempunyai pabrik minyak jagung (minyak jagung merupakan Barang Kena Pajak),&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengusaha Kena Pajak yang melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;usaha jasa yang atas penyerahannya terutang dan tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai&lt;/span&gt;, misalnya Pengusaha Kena Pajak yang bergerak di bidang perhotelan, disamping melakukan usaha jasa di bidang perhotelan, juga melakukan penyerahan jasa persewaan ruangan untuk tempat usaha,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengusaha Kena Pajak yang melakukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan barang dan jasa yang atas penyerahannya terutang dan yang tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai&lt;/span&gt;, misalnya Pengusaha Kena Pajak yang kegiatan usahanya menghasilkan atau menyerahkan Barang Kena Pajak berupa roti juga melakukan kegiatan di bidang jasa angkutan umum yang merupakan jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengusaha Kena Pajak yang &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;menghasilkan Barang Kena Pajak yang terutang Pajak Pertambahan Nilai dan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai&lt;/span&gt;, misalnya pengusaha pembangunan perumahan yang melakukan penyerahan berupa rumah mewah yang terutang Pajak Pertambahan Nilai dan rumah sangat sederhana yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Untuk Pengusaha Kena Pajak yang melakukan Penyerahan yang Terutang Pajak dan Penyerahan yang Tidak Terutang Pajak sebagaimana diuraikan di atas, &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;perlakuan pengkreditan Pajak Masukan&lt;/span&gt;adalah sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Pajak Masukan&lt;/span&gt; atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang nyata-nyata hanya digunakan untuk kegiatan yang &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;atas penyerahannya terutang Pajak&lt;/span&gt; Pertambahan Nilai, &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;dapat dikreditkan seluruhnya&lt;/span&gt;, seperti misalnya :   &lt;ol style="list-style-type: decimal;"&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk perolehan mesin-mesin yang digunakan untuk memproduksi minyak jagung;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk perolehan alat-alat perkantoran yang hanya digunakan untuk kegiatan penyerahan jasa persewaan kantor.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Pajak Masukan&lt;/span&gt; atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang nyata-nyata hanya digunakan untuk kegiatan yang &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;atas penyerahannya tidak terutang Pajak&lt;/span&gt; Pertambahan Nilai atau mendapatkan fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;tidak dapat dikreditkan seluruhnya&lt;/span&gt;, seperti misalnya :   &lt;ol style="list-style-type: decimal;"&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk pembelian traktor dan pupuk yang digunakan untuk perkebunan jagung, karena jagung bukan merupakan Barang Kena Pajak yang atas penyerahannya tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk pembelian truk yang digunakan untuk jasa angkutan umum, karena jasa angkutan umum bukan merupakan Jasa Kena Pajak yang atas penyerahannya tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk pembelian bahan baku yang digunakan untuk membangun rumah sangat sederhana, karena atas penyerahan rumah sangat sederhana dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedangkan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Pajak Masukan&lt;/span&gt; atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;belum dapat dipastikan penggunaannya&lt;/span&gt; untuk penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak, pengkreditannya &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan &lt;/span&gt;sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.     Misalnya : &lt;ol style="list-style-type: decimal;"&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk perolehan truk yang digunakan baik untuk perkebunan jagung maupun untuk pabrik minyak jagung;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan untuk perolehan komputer yang digunakan baik untuk kegiatan penyerahan jasa perhotelan maupun untuk kegiatan penyerahan jasa persewaan kantor.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pedoman Penghitungan Pajak Masukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pedoman penghitungan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan yang dimaksudkan dalam PMK ini diformulasikan dengan persamaan matematis sebagai berikut :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table border="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="15%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="3"&gt;P = PM  X  Z&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;dengan ketentuan :&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;P&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;PM&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;Z&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak terhadap penyerahan seluruhnya&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang telah mengkreditkan Pajak Masukan dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan seperti tersebut diatas harus menghitung kembali besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.&amp;nbsp; Penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dilakukan dengan menggunakan pedoman penghitungan sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;Untuk Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang masa manfaatnya lebih dari 1 (satu) tahun : &lt;br /&gt;&lt;table border="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="15%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;P’  =  &lt;/td&gt;    &lt;td&gt;&lt;u&gt;PM&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;X  Z'&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;T&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;dimana :&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;P'&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dalam 1 (satu) tahun buku&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;PM&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;T&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Masa manfaat Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan ketentuan; untuk Barang Kena Pajak berupa tanah dan bangunan adalah 10 (sepuluh) tahun, sedang untuk Barang Kena Pajak selain tanah dan bangunan dan Jasa Kena Pajak adalah 4 (empat) tahun&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak terhadap seluruh penyerahan dalam 1 (satu) tahun buku&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak yang masa manfaatnya 1 (satu) tahun atau kurang :  &lt;br /&gt;&lt;table border="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="15%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;P’  =  &lt;/td&gt;    &lt;td&gt;PM&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;X  Z'&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;dimana :&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;P'&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dalam 1 (satu) tahun buku&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;PM&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Pajak Masukan atas perolehan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak terhadap seluruh penyerahan dalam 1 (satu) tahun buku&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dari hasil penghitungan kembali, diperhitungkan dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada suatu Masa Pajak, paling lama pada bulan ketiga setelah berakhirnya tahun buku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Contoh &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penghitungan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan&lt;/span&gt; maupun &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penghitungan kembali Pajak Masukan&lt;/span&gt; &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;yang dapat dikreditkan&lt;/span&gt; dapat dibaca pada lampiran &lt;a href="http://www.pajak.go.id/engine/rule_engine/engine/peraturan/view.php?id=231d831a778dc5cb0bd16b330a547cba&amp;amp;str=&amp;amp;q_do=match" target="_blank"&gt;PMK &lt;u&gt;Nomor:78/PMK.03/2010&lt;/u&gt;&lt;/a&gt; atau Anda dapat men-download-nya di &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/peraturan-perpajakan.html" target="_blank"&gt;&lt;u&gt;halaman ini&lt;/u&gt;.&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pembatasan Penggunaan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini tidak berlaku bagi Pengusaha Kena Pajak yang telah ditetapkan untuk menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (7) dan ayat (7a) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang telah ditetapkan untuk menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan sesuai Pasal 9 ayat (7) Undang-undang PPN adalah Pengusaha Kena Pajak yang mempunyai peredaran usaha dalam 1 (satu) tahun buku tidak melebihi Rp.1.800.000.000. (&lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/peraturan-perpajakan.html"&gt;PMK Nomor&amp;nbsp; 74/PMK.03/2010&lt;/a&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang telah ditetapkan untuk menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan sesuai Pasal 9 ayat (7a) Undang-undang PPN adalah Pengusaha Kena Pajak yang melakukan kegiatan usaha tertentu (&lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/peraturan-perpajakan.html"&gt;PMK Nomor&amp;nbsp; 79/PMK.03/2010&lt;/a&gt;).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Catatan Penulis atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor&amp;nbsp; 78/PMK.03/2010&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Definisi Penyerahan Yang Terutang Pajak&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Definisi menurut memori Penjelasan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Yang dimaksud dengan "penyerahan yang terutang pajak" adalah penyerahan barang atau jasa yang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang ini dikenai Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Definisi menurut Pasal 1 ayat (6) PMK Nomor : 78/PMK.03/2010 :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Penyerahan yang Terutang Pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, tidak termasuk penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16B Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari 2 (dua) definisi “&lt;i&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;”  tersebut di atas, ada beberapa catatan yang menjadi perhatian Penulis :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Menurut &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;memori penjelasan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN&lt;/span&gt;, yang dimaksud dengan penyerahan yang terutang pajak adalah &lt;i&gt;penyerahan barang atau jasa yang sesuai dengan ketentuan Undang-undang ini dikenai Pajak Pertambahan Nilai&lt;/i&gt;. Di dalam definisi ini, ketentuan pengenaan PPN disebutkan secara umum dan tidak menyebutkan pasal tertentu dari Undang-undang. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa ketentuan pengenaan PPN pada Undang-undang PPN terdapat pada Pasal 4, Pasal 16C dan Pasal 16D.  Pasal 16C Undang-undang PPN mengatur pengenaan PPN atas kegiatan membangun sendiri sehingga tidak termasuk dalam pengertian penyerahan barang atau jasa.  Sedang Pasal 16D secara jelas menyatakan bahwa &lt;i&gt;Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak ….dst.&lt;/i&gt;  Sehingga kita dapat memahami bahwa &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang dikenai pajak sesuai Pasal 4 dan Pasal 16D Undang-undang PPN&lt;/span&gt;. [Definisi I]&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (6) PMK Nomor : 78/PMK.03/2010, &lt;i&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Penyerahan yang Terutang Pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai,&lt;/span&gt; tidak termasuk penyerahan yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16B Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Dalam definisi ini secara jelas dinyatakan bahwa yang dimaksud &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak adalah penyerahan barang atau jasa yang dikenai Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Undang-undang PPN [saja], sedangkan penyerahan BKP yang dikenai PPN sesuai Pasal 16D tidak termasuk dalam pengertian/definisi penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt;. [Definisi II]&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pada akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa definisi penyerahan yang terutang pajak menurut memori penjelasan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN berbeda dengan definisi penyerahan yang terutang pajak menurut PMK Nomor 78/PMK.03/2010. Perbedaan ini tentu akan menjadi masalah pada saat kita menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan. Ilustrasi kasus seperti dibawah ini akan memberikan penjelasan bahwa perbedaan definisi tersebut akan mempengaruhi hasil penghitungan jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh pengusaha kena pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ilustrasi Kasus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;PT. Gema Sawit Moncer (GSM) sebuah perusahaan yang melakukan kegiatan usaha terpadu meliputi perkebunan kelapa sawit dan produksi minyak sawit (CPO). Pada bulan Januari 2011 perusahaan menjual 2 (dua) unit genset lama merk &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Sukomat&lt;/span&gt;&amp;nbsp;kapasitas 1000kVA yang sudah tidak digunakan, dengan harga total Rp.1.200.000.000. Atas penjualan genset tersebut Perusahaan telah memungut PPN dan menerbitkan faktur pajak. &lt;br /&gt;Pada bulan yang sama, Perusahaan juga membeli 3 (tiga) unit truck baru dengan harga Rp.300.000.000 per unit dan telah menerima faktur pajak (nilai PPN sebesar Rp.90.000.000. Masa manfaat truck sebenarnya 5 (lima) tahun, tetapi untuk tujuan penghitungan sesuai PMK ini ditentukan paling lama 4 (empat) tahun. Truck tersebut akan digunakan untuk kegiatan perkebunan dan produksi CPO. &lt;br /&gt;Selanjutnya diketahui bahwa total peredaran usaha selama tahun buku 2011 adalah Rp 100.000.000.000 yang berasal dari penjualan CPO sebesar &amp;nbsp; Rp 80.000.000.000 dan penjualan Tandan Buah Segar (TBS) sebesar Rp 20.000.000.000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan :&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Berapakah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan oleh PT. GSM pada saat penghitungan kembali Pajak Masukan yang dapat dikreditkan pada akhir tahun buku?&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Jawaban sesuai Definisi I&lt;/u&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;table border="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;P’&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;u&gt;PM&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;X&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;T&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;&lt;u&gt;90.000.000&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;X&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;u&gt;80.000.000.000&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;4&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;101.200.000.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;17.786.561&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="5"&gt;Penjelasan  :&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;P'&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dalam 1 (satu) tahun buku = Rp.17.786.561&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;Persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak (Rp.80.000.000.000) terhadap seluruh penyerahan dalam 1 (satu) tahun buku (Rp.80.000.000.000 + Rp.20.000.000.000 + Rp.1.200.000.000 = Rp.101.200.000.000)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;u&gt;Jawaban sesuai Definisi II&lt;/u&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;table border="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;P’&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;u&gt;PM&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;X&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;T&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;&lt;u&gt;90.000.000&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;X&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;u&gt;81.200.000.000&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;4&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;101.200.000.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="5%"&gt;=&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="2"&gt;18.053.360&lt;/td&gt;    &lt;td width="10%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td width="55%"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td width="5%"&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="5"&gt;Penjelasan  :&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;P'&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dalam 1 (satu) tahun buku = Rp.18.053.360&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;&lt;tr valign="top"&gt;    &lt;td&gt;&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;Z'&lt;/td&gt;    &lt;td&gt;:&lt;/td&gt;    &lt;td colspan="4"&gt;Persentase yang sebanding dengan jumlah Penyerahan yang Terutang Pajak (Rp.80.000.000.000 + Rp.1.200.000.000) terhadap seluruh penyerahan dalam 1 (satu) tahun buku (Rp.80.000.000.000 + Rp.20.000.000.000 + Rp.1.200.000.000 = Rp.101.200.000.000)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dari ilustrasi di atas menunjukkan secara jelas bahwa hasil penghitungan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan menurut &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Definisi I&lt;/span&gt; berbeda dengan hasil penghitungan menurut &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Definisi II&lt;/span&gt;, dengan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;selisih perbedaan sebesar Rp.266.798 per tahun buku&lt;/span&gt; atau &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;secara total sebesar Rp.1.057.194&lt;/span&gt;. Besar atau kecilnya selisih tersebut tergantung kepada besarnya nilai penyerahan BKP (eks Pasal 16D UU PPN), dalam hal ini adalah nilai penjualan aktiva berupa genset.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Keterkaitan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN dengan PMK Nomor 78/PMK.03/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memperhatikan ketentuan mengenai &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;perlakuan pengkreditan Pajak Masukan&lt;/span&gt; sebagaimana diuraikan pada &lt;i style="color: #6aa84f;"&gt;poin a&lt;/i&gt; dan &lt;i style="color: #6aa84f;"&gt;poin b&lt;/i&gt; di atas, menurut Penulis,&amp;nbsp; lebih tepat jika dikatakan bahwa ketentuan perlakuan pengkreditan Pajak Masukan pada poin a dan poin b tersebut merupakan penegasan dan penjelasan ketentuan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN.&amp;nbsp; Alasannya adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Perlakuan pengkreditan Pajak Masukan pada poin a dan poin b tersebut tidak melibatkan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan sebagaimana dimaksudkan oleh Pasal 9 ayat (6) UU PPN&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ketika Pengusaha Kena Pajak sudah dapat mendefinisikan bahwa Pajak Masukan atas perolehan BKP dan/atau JKP nyata-nyata&amp;nbsp; hanya digunakan untuk kegiatan yang atas penyerahannya terutang Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam poin a, berarti bagian penyerahan yang terutang pajak sudah dapat diketahui dengan pasti, maka jelas ini merupakan “wilayah” Pasal 9 ayat (5) UU PPN.&amp;nbsp; Contoh kasus yang dimuat pada Memori Penjelasan Pasal 9 ayat (5) UU PPN, akan lebih memperjelas alasan ini.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Disisi lain, perlakuan pengkreditan Pajak Masukan pada poin b, dimana Pengusaha Kena Pajak juga sudah dapat mendefinisikan bahwa Pajak Masukan atas perolehan BKP dan/atau JKP nyata-nyata hanya digunakan untuk kegiatan yang atas penyerahannya tidak terutang Pajak Pertambahan Nilai, juga jelas merupakan wilayah Pasal 9 ayat (5) mengingat bahwa Pajak Masukan yang dapat dikreditkan hanyalah Pajak Masukan yang berkenaan (digunakan) untuk kegiatan yang terutang Pajak Pertambahan Nilai, sehingga sebaliknya Pajak Masukan yang tidak berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak, tidak dapat dikreditkan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemuatan ketentuan perlakuan pengkreditan Pajak Masukan seperti pada poin a dan poin b di atas dalam PMK Nomor 78/PMK.03/2010 ini, berpotensi &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;menimbulkan ketidakpastian hukum&lt;/span&gt; mengenai dasar pengkreditan Pajak Masukan. Karena atas suatu perlakuan pengkreditan Pajak Masukan, &lt;i&gt;misalnya&lt;/i&gt; &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Pajak Masukan atas pembelian pupuk pada perusahaan produsen jagung dan minyak jagung (&lt;/span&gt;&lt;i style="color: #6aa84f;"&gt;terintegrasi&lt;/i&gt;&lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;)&lt;/span&gt;, maka perlakukan tersebut bisa mendasarkan pada Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN atau bisa juga mendasarkan pada Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN juncto Pasal 8 PMK Nomor 78/PMK.03/2010.&amp;nbsp; Padahal antara Pasal 9 ayat (5) dan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN mengatur hal yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam implementasinya, terutama pada ranah &lt;i&gt;official-assessment&lt;/i&gt; (pemeriksaan pajak)&amp;nbsp; akan sangat mungkin menimbulkan &lt;i&gt;dispute&lt;/i&gt; antara wajib pajak dan fiskus. Bisa terjadi fiskus mendasarkan pada Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN juncto Pasal 8 PMK Nomor 78/PMK.03/2010 atas penyesuaian fiscal (koreksi) yang dilakukan, sementara menurut Wajib Pajak seharusnya dasar hukumnya adalah Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun demikian, perlu diketahui juga bahwa atas Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 ini sudah pernah dilakukan &lt;i&gt;permohonan hak uji materiil &lt;/i&gt;oleh &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia&lt;/span&gt; (GAPKI) dan Mahkamah Agung dalam hal ini telah mengeluarkan putusannya pada awal&amp;nbsp; Januari 2011. Adapun keputusan Mahkamah Agung dalam hal ini adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;menolak&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; permohonan Hak Uji Materiil dari Pemohon yaitu GAPKI.&amp;nbsp; Dengan demikian berdasarkan putusan Mahkamah Agung, dinyatakan bahwa Pasal 8 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 &lt;i&gt;tidak bertentangan&lt;/i&gt; dengan Pasal 1 ayat (16), Pasal 9 ayat (2), Pasal 9 ayat (5) jo. Pasal 9 ayat (8) huruf b dan Pasal 16B ayat (3) Undang-undang PPN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.pajak.go.id/content/putusan-mahkamah-agung-republik-indonesia-atas-uji-materiil-peraturan-menteri-keuangan-nomor" target="_blank"&gt;&lt;img border="0" height="235" src="http://2.bp.blogspot.com/-Ip2fxAjelIA/T7B9EQzmCRI/AAAAAAAAAOM/SB_Q3h2h_as/s320/JR_PMK78_2010_upload.PNG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun mengenai hubungan antara Pasal 8 PMK Nomor 78/PMK.03/2010 dengan Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN, tidak termasuk dalam objek yang dilakukan permohonan Hak Uji Materiil.&amp;nbsp; Oleh karena itu isu kekurangtepatan pemuatan ketentuan perlakuan pengkreditan Pajak Masukan seperti dimaksud pada poin a dan poin b dalam PMK Nomor 78/PMK.03/2010 ini, masih relevan untuk didiskusikan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Peraturan Menteri Keuangan Nomor 78/PMK.03/2010 merupakan peraturan pelaksanaan dari Pasal 9 ayat (6) Undang-undang PPN, namun demikian didalamnya mengatur juga ketentuan yang terkait dengan materi Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Terdapat perbedaan definisi &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;penyerahan yang terutang pajak&lt;/span&gt; antara &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;Memori penjelasan Pasal 9 ayat (5) Undang-undang PPN&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;PMK Nomor 78/PMK.03/2010&lt;/span&gt;. (setidaknya menurut pemahaman Penulis).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;Ketentuan perlakuan pengkreditan Pajak Masukan di dalam PMK ini dikategorikan dalam 3 (tiga) kelompok yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;dapat dikreditkan seluruhnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;tidak dapat dikreditkan seluruhnya&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Masukan &lt;span style="color: #6aa84f;"&gt;dikreditkan menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan&lt;/span&gt;. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-3802295529430793941?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Qo04eLmHrirLV-A9268nRQSirFs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Qo04eLmHrirLV-A9268nRQSirFs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Qo04eLmHrirLV-A9268nRQSirFs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Qo04eLmHrirLV-A9268nRQSirFs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/XotJUGTJrrs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/XotJUGTJrrs/pedoman-penghitungan-pengkreditan-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-b7R-1-zgh_c/T6FquPPLbaI/AAAAAAAAAOA/Gh_jfAEwVHQ/s72-c/Sawit_Tiga.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2012/05/pedoman-penghitungan-pengkreditan-pajak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2853890310656052315</guid><pubDate>Wed, 22 Feb 2012 07:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-14T15:43:55.042+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Registrasi Ulang Pengusaha Kena Pajak Tahun 2012</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan, penertiban administrasi, pengawasan dan untuk menguji pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif Pengusaha Kena Pajak (PKP), Direktorat Jenderal Pajak (DJP) akan melakukan registrasi ulang &lt;span style="color: #38761d;"&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/span&gt; secara nasional. Registrasi ulang tersebut akan dilaksanakan mulai bulan Februari sampai dengan &lt;span style="background-color: white; color: #38761d;"&gt;31 Agustus 2012&lt;/span&gt;, oleh kantor pelayanan pajak setempat atau Kantor Pelayanan Pajak dimana Pengusaha Kena Pajak terdaftar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara nasional registrasi ulang akan diterapkan terhadap sekitar 700 ribu PKP terdaftar per Desember 2011. Menurut penjelasan Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas (P2Humas) DJP Dedi Rudaedi, dari sekitar 700 ribu PKP terdaftar baru sekitar 290 ribu PKP atau sekitar 42% yang menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN. Diduga pemilik Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP) yang tak melaporkan SPT masa PPN ini sebenarnya sudah tidak memiliki usaha, tapi masih terdaftar. Karena itu, para pengusaha diminta untuk melakukan daftar (registrasi) ulang. (www.pajak.go.id, 15 Februari 2012). &lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari pelaksanaan registrasi ulang tersebut, Direktur Jenderal Pajak karena jabatan dapat melakukan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak. Pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak tersebut dilakukan berdasarkan hasil verifikasi terhadap PKP yang memenuhi kriteria tertentu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Yang dimaksud dengan Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria tertentu adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang telah dipusatkan tempat terutangnya Pajak Pertambahan Nilai di tempat lain.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang pindah alamat ke wilayah kerja kantor Direktorat Jenderal Pajak lainnya, atau&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengusaha Kena Pajak yang sudah tidak lagi memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sebagai Pengusaha Kena Pajak.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Verifikasi yang dilakukan terhadap PKP yang memenuhi kriteria tertentu tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah wajib pajak benar-benar tidak mempunyai persyaratan subjektif dan objektif untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apabila berdasarkan laporan hasil verifikasi diketahui bahwa Pengusaha Kena Pajak termasuk dalam kriteria tertentu maka akan diterbitkan Surat Pencabutan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketentuan mengenai registrasi ulang Pengusaha Kena Pajak tersebut diatur dala Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/peraturan-perpajakan.html" target="_blank"&gt;PER-05/PJ/2012&lt;/a&gt; tanggal 3 Februari 2012.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2853890310656052315?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_byBB4z8MKdq-jFutEh1XuYONcc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_byBB4z8MKdq-jFutEh1XuYONcc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_byBB4z8MKdq-jFutEh1XuYONcc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_byBB4z8MKdq-jFutEh1XuYONcc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/bucDvXPoA1w" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/bucDvXPoA1w/registrasi-ulang-pengusaha-kena-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2012/02/registrasi-ulang-pengusaha-kena-pajak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2355510074098327230</guid><pubDate>Fri, 09 Dec 2011 00:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-09T07:52:53.307+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Formulir Pajak</category><title>The Use of  Annual Income Tax Form Template in the English Language in accordance with PER-4/PJ/2011</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-8WW7Ik-yjiM/TuEPVZ_41pI/AAAAAAAAAMs/PBvRBjJM26M/s1600/formulir_spt.gif" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" mda="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-8WW7Ik-yjiM/TuEPVZ_41pI/AAAAAAAAAMs/PBvRBjJM26M/s1600/formulir_spt.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;To make it easy for corporate taxpayers and individual taxpayer, especially for a foreign citizen taxpayer, the government (Directorate General of Taxes) have created a template or tool for taxpayers who do not understand Indonesian language in filling the Annual Income Tax. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;This template is a refinement of the template that was created earlier. The enhancement is done to adjust the old template with the annual income tax return form, as specified in the Regulations the Director-General of Taxation Number PER-34/PJ/2010, which is effective from tax year 2010.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;The templates are in PDF and displayed in a form of the Annual Income Tax in the English language that can generate a print-out form of the Annual Income Tax in Indonesian and English which has been filled.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Templates of the Annual Income Tax can be obtained by downloading the &lt;a href="http://www.pajak.go.id/"&gt;http://www.pajak.go.id/&lt;/a&gt; site or obtained at the Tax Office where taxpayer is registered, or you can download from here. &lt;a href="https://sites.google.com/site/pajakita/formulir-pajak/01Form_1771_US%24_2010_inEnglish.pdf" target="_blank"&gt;[Form 1771 US Dollar]&lt;/a&gt; or &lt;a href="https://sites.google.com/site/pajakita/formulir-pajak/01Form_1771_Rp_2010inEnglish.pdf" target="_blank"&gt;[Form 1771 Rp]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2355510074098327230?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/V6P6MohPhgHhX8JR20lkFm6TGHk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/V6P6MohPhgHhX8JR20lkFm6TGHk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/V6P6MohPhgHhX8JR20lkFm6TGHk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/V6P6MohPhgHhX8JR20lkFm6TGHk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/8Eo1hIjwb0o" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/8Eo1hIjwb0o/use-of-templates-annual-income-tax.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-8WW7Ik-yjiM/TuEPVZ_41pI/AAAAAAAAAMs/PBvRBjJM26M/s72-c/formulir_spt.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2011/12/use-of-templates-annual-income-tax.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2301993338810867553</guid><pubDate>Mon, 21 Nov 2011 00:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-26T09:04:47.971+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pelayanan Pajak</category><title>Batasan Pengusaha Untuk Dikukuhkan Sebagai Pengusaha Kena Pajak</title><description>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span id="goog_1387491557"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1387491558"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gzvWl9AkApM/Tstej4Jr2sI/AAAAAAAAALw/n3GcYGfMuMk/s1600/KPP_Kby_Satu_1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" hda="true" height="111px" src="http://2.bp.blogspot.com/-gzvWl9AkApM/Tstej4Jr2sI/AAAAAAAAALw/n3GcYGfMuMk/s200/KPP_Kby_Satu_1.jpg" width="200px" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tulisan &amp;nbsp;ini &amp;nbsp;untuk &amp;nbsp;menjawab &amp;nbsp;pertanyaan &amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; &amp;nbsp;pembaca &amp;nbsp;yang&amp;nbsp; &amp;nbsp;menanyakan &amp;nbsp;tentang&amp;nbsp; batasan&amp;nbsp; kapan pengusaha menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP).&amp;nbsp; Mungkin yang menjadi pertanyaan pembaca tersebut adalah; pada batas peredaran usaha berapakah sebuah entitas usaha berkewajiban melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai &lt;span style="color: #38761d;"&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/span&gt;.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Untuk melengkapi pembahasan, akan diuraikan juga isu-isu lain yang terkait. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Isu lain yang kami rasa cukup penting adalah tentang &lt;span style="color: #38761d;"&gt;batasan pengusaha kecil&lt;/span&gt;, &lt;span style="color: #38761d;"&gt;kapan pengusaha harus melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP&lt;/span&gt; serta &lt;span style="color: #38761d;"&gt;bagaimana pengenaan PPN untuk pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/ atau Jasa Kena Pajak (JKP) tetapi belum dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Batasan Pengusaha Kecil&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Di dalam Pasal 3A ayat (1) Undang-undang PPN diatur bahwa pengusaha yang melakukan penyerahan BKP/JKP atau melakukan ekspor BKP/JKP wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) kecuali pengusaha yang memenuhi kriteria sebagai Pengusaha Kecil. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Selanjutnya di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 didefinisikan bahwa Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dengan jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp 600.000.000 (enam ratus juta rupiah).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Yang dimaksud dengan &lt;span style="color: #38761d;"&gt;peredaran bruto&lt;/span&gt; disini&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;adalah pengertian peredaran bruto dari sudut pandang PPN yaitu jumlah keseluruhan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukan oleh pengusaha dalam rangka kegiatan usahanya.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Pengusaha yang peredaran usahanya dalam satu tahun buku telah melebihi Rp 600.000.000 &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, karena sudah tidak termasuk dalam batasan sebagai pengusaha kecil.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Walaupun kewajiban melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP tidak berlaku untuk Pengusaha Kecil, Pengusaha Kecil dapat memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP maka melekatlah kewajiban padanya untuk memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang dilakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Kapan pengusaha harus melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, apabila&amp;nbsp;sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 600.000.000.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kewajiban melaporkan usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak tersebut dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah bulan saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 600.000.000.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Direktur Jenderal Pajak dapat mengukuhkan pengusaha sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan, apabila diperoleh data dan/atau informasi yang menunjukkan bahwa pengusaha sebenarnya telah berkewajiban melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP tetapi hal tersebut &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tidak dipenuhi pengusaha.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;&lt;b&gt;Pengenaan PPN untuk pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/ atau Jasa Kena Pajak (JKP) tetapi belum dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Kewajiban perpajakan bagi Pengusaha yang dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak secara jabatan dimulai sejak saat Pengusaha memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, paling lama 5 (lima) tahun sebelum dikukuhkannya sebagai&amp;nbsp;Pengusaha Kena Pajak. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 10pt;"&gt;Oleh karena itu Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak dan/atau surat tagihan pajak untuk Masa Pajak sebelum pengusaha dikukuhkan secara jabatan sebagai Pengusaha Kena Pajak, terhitung sejak saat jumlah peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp 600.000.000.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2301993338810867553?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cbJGk8EphiWl9fpXzemeT4YSt2A/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cbJGk8EphiWl9fpXzemeT4YSt2A/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cbJGk8EphiWl9fpXzemeT4YSt2A/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cbJGk8EphiWl9fpXzemeT4YSt2A/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/84JDldmAlJs" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/84JDldmAlJs/batasan-pengusaha-untuk-dikukuhkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-gzvWl9AkApM/Tstej4Jr2sI/AAAAAAAAALw/n3GcYGfMuMk/s72-c/KPP_Kby_Satu_1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2011/11/batasan-pengusaha-untuk-dikukuhkan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-8087260240382472168</guid><pubDate>Sun, 26 Sep 2010 00:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-14T16:39:21.373+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>[Mencoba] Mendefinisikan Kendaraan Bermotor Jenis Station Wagon</title><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ4mWZ91yzI/AAAAAAAAAIU/h3ynyFpr4t8/s1600/220px-1990_volvo_240dl_wagon_2.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520892359572048690" src="http://3.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ4mWZ91yzI/AAAAAAAAAIU/h3ynyFpr4t8/s200/220px-1990_volvo_240dl_wagon_2.jpg" style="float: left; height: 150px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 10px; margin-top: 0px; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada tulisan kali ini saya masih ingin mengulas sedikit mengenai salah satu perubahan dalam Undang-undang PPN terbaru (UU. Nomor 42 Tahun 2009). Salah satu perubahan yang saya maksudkan adalah ketentuan pada Pasal 9 ayat (8) huruf c UU Pajak Pertambahan Nilai. Untuk melihat perubahan tersebut, berikut saya kutipkan bunyi ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf c UU PPN sebelum dan setelah mengalami perubahan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br/&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sebelum mengalami perubahan (UU. Nomor 18 Tahun 2000) :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pasal 9 ayat (8),&lt;/em&gt; Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan menurut cara sebagaimana diatur dalam ayat (2) bagi pengeluaran untuk : c. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor sedan, jeep, &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;, van, dan kombi kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Setelah mengalami perubahan (UU. Nomor 42 Tahun 2009) :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Pasal 9 ayat (8),&lt;/em&gt; Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk : c. perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan;&lt;br /&gt;Dari materi ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf c UU PPN di atas, baik sebelum atau setelah mengalami perubahan, maka ada beberapa hal yang patut untuk kita cermati :&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Perubahan redaksi pada kalimat &lt;em&gt;"... kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi..."&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;" ... kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon ..."&lt;/em&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;[Mencoba] Mendefinisikan Kendaraan Bermotor Berupa Station Wagon&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;strong&gt;Perubahan redaksi pada kalimat &lt;em&gt;"... &lt;u&gt;kendaraan bermotor sedan, jeep, station wagon, van, dan kombi&lt;/u&gt;..."&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;" ... &lt;u&gt;kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon&lt;/u&gt; ..."&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak dipungkiri bahwa sebelum ketentuan ini mengalami perubahan, kita sering mengalami kesulitan untuk menerapkan ketentuan ini di lapangan disebabkan karena kesulitan atau ke-gamang-an kita dalam mendefinisikan kendaraan bermotor jenis jeep, station wagon, van dan kombi. Hal ini karena memang belum ada ketentuan perpajakan yang menjelaskan atau memberikan batasan dan kriteria yang pasti mengenai jenis kendaraan jeep, &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;, van dan kombi. Sangat cepatnya perkembangan industri otomotif dalam persaingan merebut hati konsumen melalui model-model terbaru yang ditawarkan, menambah permasalahan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kita patut bersyukur karena pada ketentuan yang baru, pasal ini telah mengalami perubahan (atau bisa diartikan juga sebagai penyempurnaan) dari ketentuan sebelumnya, sehingga menjadi lebih sederhana. Kita menjadi lebih mudah memahami bahwa Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan dalam konteks pasal ini adalah atas perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Permasalahan yang masih tersisa adalah sebuah pertanyaan, apakah definisi (batasan) dan bagaimana spesifikasi kendaraan bermotor yang termasuk sebagai &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;[Mencoba] Mendefinisikan Kendaraan Bermotor Berupa &lt;em&gt;Station Wagon&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf c UU PPN terbaru, disebutkan &lt;em&gt;bahwa pengkreditan pajak masukan tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan&lt;/em&gt;. Sebagian besar kita pasti sudah sangat familiar dengan kendaraan jenis sedan, sehingga tidak perlu untuk dijelaskan di sini. Adapun untuk kendaraan jenis station wagon adalah tugas dan tujuan saya menuliskannya di blog ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengingat bahwa peraturan perpajakan belum ada yang memberikan definisi dan penjelasan spesifikasi &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; (asumsi Penulis), maka Penulis akan berusaha memberikan referensi yang memadai agar Anda bisa mendefiniskan kendaraan (mobil) apa saja yang masuk kriteria sebagai &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Station Wagon&lt;/em&gt; Menurut Wikipedia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"A &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; or &lt;em&gt;estate car&lt;/em&gt; is a body style variant of a sedan/saloon with its roof extended rearward[1] over a shared passenger/cargo volume with access at the back via a third or fifth door (the liftgate or tailgate), instead of a trunk lid. The body style transforms a standard three-box design into a two-box design — to include an A, B &amp;amp; C-pillar, as well as a D pillar. Station wagons feature flexibility to allow configurations that either favor passenger or cargo volume, e.g., fold-down rear seats."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut definisi tersebut dapat dipahami bahwa sebuah mobil &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; pada dasarnya merupakan &lt;em&gt;variant&lt;/em&gt; dari jenis sedan, dengan atap diperpanjang kebelakang melampaui ruang penumpang dan kargo/barang, dengan akses di belakang melalui pintu ketiga atau kelima (pintu-ekor/&lt;em&gt;tail-gate&lt;/em&gt;), bukan dari bagasi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ilustrasi gambar di bawah ini mudah-mudahan dapat memperjelas definisi ini. Pada gambar atas adalah jenis &lt;em&gt;sedan&lt;/em&gt; dimana badan mobil terdiri atas &lt;em&gt;tiga kotak&lt;/em&gt; (pada gambar dibedakan dengan warna) yaitu &lt;em&gt;bagian depan&lt;/em&gt; (ruang mesin), &lt;em&gt;bagian tengah&lt;/em&gt; (ruang penumpang) dan &lt;em&gt;bagian belakang&lt;/em&gt; (bagasi/kargo). Sedang &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; adalah gambar yang tengah, dimana badannya hanya terdiri dari &lt;em&gt;dua kotak&lt;/em&gt; yaitu &lt;em&gt;bagian depan&lt;/em&gt; (ruang mesin) dan &lt;em&gt;bagian belakang&lt;/em&gt; (ruang penumpang dan kargo/barang).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ4jsPCpcCI/AAAAAAAAAIM/EgKIFpCHTJY/s1600/220px-Three_body_styles_with_pillars_and_boxes.png"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520889436061659170" src="http://2.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ4jsPCpcCI/AAAAAAAAAIM/EgKIFpCHTJY/s320/220px-Three_body_styles_with_pillars_and_boxes.png" style="cursor: hand; height: 279px; width: 220px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Station Wagon&lt;/em&gt; Menurut The American Heritage Dictionary&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;The American Heritage Dictionary defines a &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; as "&lt;em&gt;an automobile with one or more rows of folding or removable seats behind the driver and no luggage compartment but an area behind the seats into which suitcases, parcels, etc., can be loaded through a tailgate&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi dari The American Heritage Dictionary lebih memperjelas gambaran kita akan sebuah station wagon, dimana digambarkan bahwa &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; adalah sebuah mobil dengan satu atau lebih baris kursi yang dapat dilipat atau dilepas di belakang sopir dan tidak ada ruang bagasi [seperti pada sedan] tapi sebuah ruang di belakang kursi di mana koper, paket, dll, dapat dimuat melalui sebuah pintu belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penggunaan Istilah &lt;em&gt;Station Wagon&lt;/em&gt; dan Perkembangannya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Station wagon&lt;/em&gt;" atau "&lt;em&gt;wagon&lt;/em&gt;" adalah istilah yang secara umum digunakan dalam bahasa Inggris United States, Australia, Kanada dan New Zealand. Sedang "&lt;em&gt;estate car&lt;/em&gt;" atau "&lt;em&gt;estate&lt;/em&gt;" adalah umum digunakan pada British English.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabrikan-pabrikan mobil dunia telah memasarkan body-style &lt;em&gt;wagon&lt;/em&gt; dengan istilah yang bermacam-macam; misalnya Audi dengan "&lt;em&gt;Avant&lt;/em&gt;", BMW dengan "&lt;em&gt;Touring&lt;/em&gt;", Citroen dengan "&lt;em&gt;Break&lt;/em&gt;", Volkswagen dengan "&lt;em&gt;Variant&lt;/em&gt;", Opel dengan "&lt;em&gt;Caravan&lt;/em&gt;", Wartburg dengan "&lt;em&gt;Tourist&lt;/em&gt;", Fiat dengan "&lt;em&gt;Weekend&lt;/em&gt;", Mazda dengan "&lt;em&gt;Estate&lt;/em&gt;", serta pabrikan lainnya dengan istilah yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Persamaan dan Perbedaan &lt;em&gt;Station wagon&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;Hatchback&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Persamaan antara &lt;em&gt;Station wagon&lt;/em&gt; dengan &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; adalah keduanya mempunyai design konfigurasi yang sama yaitu dua kotak, kotak bagian depan adalah ruang mesin dan kotak belakang adalah ruang penumpang dan kargo/barang dalam satu ruang, serta terdapat pintu belakang untuk akses kargo/barang. Disamping mempunyai persamaan, keduanya juga mempunyai sedikit perbedaan yang antara lain adalah sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br/&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ46Dl-y2qI/AAAAAAAAAIk/Fm3ociG_TNA/s1600/220px-Hatch_and_wagon_with_pillar_layout.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5520914026612316834" src="http://1.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ46Dl-y2qI/AAAAAAAAAIk/Fm3ociG_TNA/s320/220px-Hatch_and_wagon_with_pillar_layout.jpg" style="cursor: hand; cursor: pointer; height: 85px; width: 220px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br/&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Ruang Kargo/barang&lt;/em&gt;. Ruang kargo pada &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; lebih luas dengan jendela pada ruang kargo juga lebih luas, sedang pada &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; relatif lebih sempit dan jendela yang minim, bahkan mungkin tanpa jendela samping di area kargo.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Kursi&lt;/em&gt;. Pada &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; mempunyai dua atau tiga baris kursi penumpang sedang pada &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; hanya satu atau dua baris kursi saja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Suspensi Belakang&lt;/em&gt;. Suspensi belakang pada &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; pada umumnya didesign dengan suspensi yang lebih memungkinkan untuk mengangkut beban tambahan dibanding dengan &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;em&gt;Pintu Belakang&lt;/em&gt;. Pintu belakang pada &lt;em&gt;hatchback&lt;/em&gt; biasanya didesign dengan fitur pintu berengsel dibuka keatas (&lt;em&gt;top-hinged liftgate&lt;/em&gt;) atau kombinasi dengan pintu dibuka ke bawah untuk akses ke ruang kargo/barang.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Spesifikasi &lt;em&gt;Station Wagon&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tentang definisi &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; di atas maka dapat kita simpulkan bahwa &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; adalah sebuah mobil dengan spesifikasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Konfigurasi badan mobil terdiri dua kotak (&lt;em&gt;two-box&lt;/em&gt;) yaitu kotak depan (ruang mesin) dan kotak belakang (ruang penumpang dan kargo/barang menyatu dalam satu ruang), bukan tiga kotak (&lt;em&gt;three-box&lt;/em&gt;) sebagaimana &lt;em&gt;sedan&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempunyai akses keruang penumpang/kargo melalui pintu belakang (bukan bagasi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mempunyai dua atau tiga baris kursi penumpang&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Hatchback&lt;/em&gt; mempunyai spesifikasi mirip dengan &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt;, hanya size dan volume badan (body) relatif lebih kecil, sehingga kita kategori-kan juga sebagai station wagon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mengidentifikasi Mobil di Pasar Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui spesifikasi khusus dari kendaraan jenis station wagon maka dengan mudah kita akan bisa mengidentifikasi apakah sebuah mobil termasuk dalam kriteria sebagai station wagon atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan spesifikasi yang sudah disebutkan di atas, untuk mobil keluaran Toyota yang dipasarkan di Indonesia, yang memenuhi kriteria sebagai station wagon antara lain Avanza, Innova, Rush, Fortuner, Previa, Land Cruiser dan Alphard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mobil keluaran Suzuki yang termasuk kategori station wagon antara lain Aerio, Escudo, Vitara, Karimun dan Katana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mobil keluaran Honda antara lain CRV, Odyssey dan Freed. Pada mobil keluaran Hyundai antara lain Tucson, H-1, dan Santa Fee.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk &lt;em&gt;Jazz&lt;/em&gt; (Honda), &lt;em&gt;Yaris&lt;/em&gt; (Toyota), &lt;em&gt;X-Over&lt;/em&gt; (Suzuki), &lt;em&gt;Aveo&lt;/em&gt; (Hyundai), dan yang sejenisnya mempunyai spesifikasi sebagai &lt;em&gt;Hatchback&lt;/em&gt;, merupakan &lt;em&gt;station wagon&lt;/em&gt; dengan ukuran relatif lebih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas mudah-mudahan mengurangi ke-gamang-an kita untuk mengidentifikasi apakah suatu jenis kendaraan bermotor termasuk dalam kategori station wagon atau bukan sehingga ketentuan Pasal 9 ayat (8) huruf c UU PPN ini dapat diterapkan sebagaimana mestinya.&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-8087260240382472168?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eLRB1Q7H_RewW3lBxq4iT0LHMZw/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eLRB1Q7H_RewW3lBxq4iT0LHMZw/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eLRB1Q7H_RewW3lBxq4iT0LHMZw/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eLRB1Q7H_RewW3lBxq4iT0LHMZw/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/5GJ7UQFjYBc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/5GJ7UQFjYBc/mencoba-mendefinisikan-kendaraan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/TJ4mWZ91yzI/AAAAAAAAAIU/h3ynyFpr4t8/s72-c/220px-1990_volvo_240dl_wagon_2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/09/mencoba-mendefinisikan-kendaraan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-9045701222259171408</guid><pubDate>Mon, 10 May 2010 16:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-01T08:46:37.444+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Keterangan-keterangan  Yang Harus Dicantumkan Pada Faktur Pajak Per 1 April 2010</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tentu sering mendengar istilah &lt;span style="color: green;"&gt;faktur pajak standar&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: green;"&gt;faktur pajak sederhana&lt;/span&gt;. Yang dimaksud dengan Faktur Pajak Standar adalah Faktur Penjualan yang memuat keterangan dan yang pengisiannya sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (5) UU PPN. (PenjelasanPasal 13 ayat (5) UU. Nomor 18 Tahun 2000).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Faktur Pajak Sederhana adalah Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (7) UU Nomor 18 Tahun 2000. Oleh karena Faktur Pajak Sederhana merupakan Faktur Pajak yang isinya tidak mencantumkan secara lengkap hal-hal yang diatur dalam Pasal 13 ayat (5), maka Faktur Pajak Sederhana hanya merupakan bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilai dan tidak dapat dipakai sebagai dasar pengkreditan Pajak Masukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada Undang-undang PPN yang baru (UU. No. 42 Tahun 2009) tidak dikenal lagi istilah Faktur Pajak Standar dan Faktur Pajak Sederhana. Oleh karena itu formulir faktur pajak yang harus dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak perlu disesuaikan, dari &lt;span style="color: green;"&gt;"Faktur Pajak Standar"&lt;/span&gt; menjadi &lt;span style="color: green;"&gt;"Faktur Pajak"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Pasal 13 ayat (5) UU. Nomor 18 Tahun 2000 disebutkan bahwa dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat :&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;﻿&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-size: 100%;" type="a"&gt;&lt;li&gt;Nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pajak Penjualan Atas Barang Mewah yang dipungut;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kode, nomor seri dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nama, jabatan dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasal 13 ayat (5) adalah merupakan salah satu pasal dalam UU. PPN yang mengalami perubahan. Perubahan dimaksud adalah perubahan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 13 ayat (5) UU. Nomor 42 Tahun 2009, yang berbunyi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit memuat:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="font-size: 100%;" type="a"&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita perhatikan, perubahan keterangan yang harus dicantumkan pada faktur pajak adalah tidak perlu lagi mencantumkan jabatan dari pejabat yang berhak menandatangani faktur pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut kalau perhatikan contoh formulir faktur pajak pada Peraturan Dirjen Pajak No. PER-13/PJ/2010, tidak perlu lagi mencantumkan NPPKP dan tanggal pengukuhan PKP baik untuk PKP Penjual maupun PKP Pembeli. Formulir Faktur Pajak sesuai ketentuan PER-13/PJ./2010 dapat didownload di sini (Faktur Pajak Rupiah dan Faktur Pajak Valas)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-9045701222259171408?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kcLnfQ2EImXFVZNp7trMhzUP7ZI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kcLnfQ2EImXFVZNp7trMhzUP7ZI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kcLnfQ2EImXFVZNp7trMhzUP7ZI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kcLnfQ2EImXFVZNp7trMhzUP7ZI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/LzGBoWdsutE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/LzGBoWdsutE/keterangan-keterangan-yang-harus.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/05/keterangan-keterangan-yang-harus.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-217768325003693178</guid><pubDate>Fri, 07 May 2010 09:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-09T09:15:07.845+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Faktur Pajak 2010, Kapan Harus Dibuat?</title><description>&lt;p align="justify"&gt;Di dalam Pasal 13 ayat (1a) Undang-undang  Nomor 42 Tahun 2009 dan Pasal 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-13/PJ/2010 dijelaskan bahwa faktur pajak harus dibuat pada:&lt;/p&gt;&lt;ol type="a" style="font-size:100%;"&gt;&lt;li&gt;saat penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan/atau Jasa Kena Pajak (JKP)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal yang baru atau merupakan ketentuan baru terkait dengan kapan faktur pajak harus dibuat adalah apa yang disebutkan pada poin a sebagaimana tersebut di atas, &lt;font color="green"&gt;bahwa faktur pajak harus dibuat pada saat penyerahan barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak&lt;/font&gt;.  Ketentuan pada poin b, poin c dan poin d tidak mengalami perubahan atau sama dengan ketentuan yang berlaku sebelumnya.  Oleh karena itu, pembahasan berikut hanya menguraikan hal yang terkait dengan ketentuan pada poin a, sedangkan poin b, poin c dan poin d dianggap sudah jelas.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan poin a, pada ketentuan yang berlaku sebelumnya (sebelum 1 April 2010), faktur pajak harus dibuat paling lambat pada akhir bulan berikutnya setelah bulan terjadinya penyerahan BKP dan/atau JKP dalam hal pembayaran diterima setelah akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP.  Namun jika pembayaran diterima sebelum akhir bulan berikutnya setelah bulan penyerahan BKP dan/atau JKP, maka faktur pajak harus dibuat pada saat penerimaan pembayaran.&lt;br/&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh kasus:&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Jika penyerahan BPK dan/atau JKP dilakukan pada bulan April 2009 maka faktur pajak harus dibuat paling lambat tanggal 31 Mei 2009.  Kecuali jika pembayaran dilakukan sebelum tangggal tersebut, misalnya pembayaran tanggal 20 Mei 2009 maka faktur pajak harus dibuat paling lambat tanggal 20 Mei 2009.&lt;br/&gt; &lt;br /&gt;Mulai tanggal 1 April 2010, berlaku ketentuan baru bahwa faktur pajak harus dibuat pada saat penyerahan BKP dan/atau JKP.  Atau dapat diartikan bahwa tanggal faktur pajak harus sama dengan tanggal saat penyerahan BKP dan/atau JKP dilakukan.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Contoh kasus :&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;PT. Hijau Muda melakukan penjualan barang dagangan (BKP) memenuhi P.O. tertanggal 3 April 2010 dari PT. Biru Tua. Sesuai perjanjian barang tersebut akan sampai di gudang pembeli (PT. Biru Tua) pada tanggal 30 April 2010, dan pembayaran akan dilakukan 30 hari setelah barang diterima. Karena masalah transportasi barang tersebut baru diterima di gudang PT. Biru Tua pada tanggal 5 Mei 2010, dan tanda terima barang ditandatangi oleh pejabat dari PT. Biru Tua pada tanggal tersebut.  Invoice diterbitkan oleh PT. Hijau Muda pada tanggal 5 Mei 2010 dan mengirimkannya kepada PT. Biru Tua. Dan pada tanggal 3 Mei 2010 PT. Biru Tua melunasi  hutangnya kepada PT. Hijau Muda. Pertanyaannya adalah kapan faktur pajak harus dibuat oleh PT. Hijau Muda?&lt;br/&gt; &lt;br /&gt;Pada kasus tersebut, PT. Hijau Muda harus membuat (menerbitkan) faktur pajak pada tanggal 5 Mei 2010.  Mengapa faktur pajak harus diterbitkan pada tanggal 5 Mei 2010? Karena penyerahan BKP terjadi pada tanggal 5 Mei 2010, yaitu pada saat hak atas BKP berpindah dari Penjual (PT. Hijau Muda) kepada Pembeli (PT. Biru Tua).  Penyerahan BKP pada kasus ini, termasuk penyerahan barang kena pajak karena suatu perjanjian (jual-beli) [lihat Pasal 1A UU. Nomor 42 tahun 2009]. Dan penyerahan hak atas BKP ini dibuktikan dengan dokumen serah terima barang yang ditandatangani oleh kedua belah pihak (penjual dan pembeli).&lt;br/&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Faktur Pajak Gabungan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Adapun untuk Faktur Pajak Gabungan, harus dibuat paling lama pada akhir bulan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak.  Faktur Pajak Gabungan adalah Faktur Pajak yang meliputi seluruh penyerahan yang dilakukan kepada pembeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang sama selama 1 (satu) bulan kalender.&lt;br /&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-217768325003693178?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qOL5DHvhSjVGBsLUvUhelOPUvyc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qOL5DHvhSjVGBsLUvUhelOPUvyc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qOL5DHvhSjVGBsLUvUhelOPUvyc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qOL5DHvhSjVGBsLUvUhelOPUvyc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/mhVMX196d8Y" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/mhVMX196d8Y/faktur-pajak-2010-kapan-harus-dibuat.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>10</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/05/faktur-pajak-2010-kapan-harus-dibuat.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-5151111952704018148</guid><pubDate>Tue, 04 May 2010 15:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-01T00:05:11.838+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Faktur Pajak Baru Per 1 April 2010 Sesuai  Peraturan Dirjen Pajak Nomor : PER-13/PJ/2010</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Salah satu tema penting terkait dengan telah diberlakukannya Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 sejak 1 April 2010 adalah tema tentang faktur pajak. Tema ini penting karena perubahan beberapa ketentuan pada undang-undang tersebut terkait erat dengan faktur pajak dalam kedudukannya sebagai bukti pungutan Pajak Pertambahan Nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa forum diskusi, milist, dan situs jejaring social yang sempat saya baca, saya menangkap ada “kegundahan” yang dialami wajib pajak dalam mengimplementasikan ketentuan baru ini.&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegundahan ini saya kira beralasan, karena kekhawatiran terjadinya kesalahan dalam penerbitan faktur pajak yang tentu membawa konsekuensi tertentu. Konsekuensi tertentu dimaksud bisa berupa denda administrasi pajak atau tidak dapat dikreditkannya faktur pajak karena cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi kegundahan dan kegamangan ini, saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa hal penting terkait ketentuan baru mengenai faktur pajak. Disamping itu juga akan diuraikan beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam mengimplementasikan ketentuan baru (transisi) mengenai faktur pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi perubahan-perubahan yang terkait dengan faktur pajak tersebut, dilakukan dengan membandingkan ketentuan-ketentuan yang termuat dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-13/PJ/2010 dengan ketentuan-ketentuan pada peraturan yang berlaku sebelumnya yaitu PER-159/PJ/2006. Perubahan-perubahan yang diuraikan adalah perubahan-perubahan yang substansial, perubahan yang sifatnya redaksional yang sifatnya hanya untuk memperjelas pengertian atau batasan tidak diuraikan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perubahan-perubahan Mengenai Faktur Pajak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita pelajari secara seksama Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-13/PJ/2010 dan kita bandingkan dengan PER-159/PJ/2006, maka kita akan mendapatkan beberapa perubahan terkait dengan faktur pajak. Perubahan-perubahan tersebut meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol style="font-size: 100%;"&gt;&lt;li&gt;Saat Faktur Pajak harus dibuat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perubahan keterangan-keterangan yang dimuat pada Faktur Pajak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis penggunaan kode cabang pada Kode Faktur Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Setempat (Pasal 7 ayat [2] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis Penambahan dan/atau Pengurangan penggunaan kode cabang pada Kode Faktur Pajak oleh PKP kepada Kepala KPP Setempat (Pasal 7 ayat [5] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis perihal nomor urut pada faktur pajak telah mencapai angka 99999999 (Sembilan puluh Sembilan juta Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan ribu Sembilan puluh Sembilan) sebelum bulan Januari awal tahun kalender berikutnya, oleh PKP kepada Kepala KPP Setempat (Pasal 9 ayat [6] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis nama pejabat yang berhak menandatangani faktur pajak (Pasal 10 ayat [1] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis nama kuasa yang berhak menandatangani faktur pajak oleh PKP Orang Pribadi kepada Kepala KPP Setempat (Pasal 10 ayat [3] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Batas akhir pemberitahuan tertulis perubahan pejabat atau kuasa yang berhak menandatangani faktur pajak oleh PKP kepada Kepala KPP Setempat (Pasal 10 ayat [4] PER-13/PJ/2010)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Itulah perubahan-perubahan penting mengenai faktur pajak sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (8) UU. Nomor 42 Tahun 2009 juncto Pasal 9 Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 38/PMK.03/2010 tanggal 22 Pebruari 2010 juncto PER-13/PJ/2010. Penjelasan masing-masing perubahan tersebut akan diuraikan pada tulisan berikutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-5151111952704018148?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kSAgJGonjAfxDNXmT7fHsgOLnuc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kSAgJGonjAfxDNXmT7fHsgOLnuc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kSAgJGonjAfxDNXmT7fHsgOLnuc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kSAgJGonjAfxDNXmT7fHsgOLnuc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/r65m4RTWENA" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/r65m4RTWENA/faktur-pajak-baru-per-1-april-2010.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/05/faktur-pajak-baru-per-1-april-2010.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-8873330290040460203</guid><pubDate>Tue, 13 Apr 2010 01:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-16T16:59:08.318+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Pengenaan PPN Pasal 16C Atas Kegiatan Membangun Sendiri (Bagian II)</title><description>&lt;strong&gt;Tarif, Dasar Pengenaan Pajak dan Saat Terutangnya PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tarif PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri adalah sebesar 10% (sepuluh persen) dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Sedangkan Dasar Pengenaan Pajak atas kegiatan Membangun sendiri adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan untuk membangun bangunan, tidak termasuk harga perolehan tanah.  Saat terutangnya PPN atas kegiatan membangun sendiri adalah saat mulai dibangunnya bangunan.&lt;/p&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;PPN KMS = 10% x 40% x Total Biaya&lt;/strong&gt; (tidak termasuk harga tanah)&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembayaran dan Pelaporan PPN atas Kegiatan Membangun Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="blue"&gt;Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai terutang dilakukan setiap bulan&lt;/font&gt;&lt;/em&gt; sebesar 10% (sepuluh persen) dikalikan dengan 40% (empat puluh persen) dikalikan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dan/atau yang dibayarkan pada setiap bulannya.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Pajak Pertambahan Nilai terutang tersebut wajib &lt;font color="blue"&gt;disetor&lt;/font&gt; ke Kas Negara melalui Kantor Pos atau Bank Persepsi &lt;font color="blue"&gt;paling lama tanggal 15 bulan berikutnya&lt;/font&gt; setelah berakhirnya masa pajak.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib &lt;font color="blue"&gt;melaporkan penyetoran tersebut&lt;/font&gt;  kepada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayahnya meliputi tempat bangunan tersebut,  dengan mempergunakan lembar ketiga Surat Setoran Pajak &lt;font color="blue"&gt;paling lama akhir bulan berikutnya&lt;/font&gt; setelah berakhirnya masa pajak.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bangunan Digunakan Oleh Pihak Lain&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam hal bangunan sebagai hasil kegiatan membangun sendiri digunakan oleh pihak lain sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha, orang pribadi atau badan yang melakukan kegiatan membangun sendiri wajib menyerahkan bukti Surat Setoran Pajak asli PPN atas kegiatan membangun sendiri kepada pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal orang pribadi atau badan yang membangun sendiri bangunan untuk digunakan pihak lain tidak dapat menunjukkan bukti Surat Setoran Pajak asli PPN atas kegiatan membangun sendiri, pihak lain yang menggunakan bangunan tersebut bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang terutang.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengkreditan PPN Masukan&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;PPN Masukan yang dibayar sehubungan dengan kegiatan membangun sendiri tidak dapat dikreditkan.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-8873330290040460203?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qUHAwS95ginzeIFfV1Y0KvodWOA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qUHAwS95ginzeIFfV1Y0KvodWOA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qUHAwS95ginzeIFfV1Y0KvodWOA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qUHAwS95ginzeIFfV1Y0KvodWOA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/RaNTitrLQpc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/RaNTitrLQpc/pengenaan-ppn-pasal-16c-atas-kegiatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/04/pengenaan-ppn-pasal-16c-atas-kegiatan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-1479847869099128059</guid><pubDate>Mon, 12 Apr 2010 00:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-12T18:52:45.563+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Atas Kegiatan Membangun Sendiri (Bagian I)</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Istilah &lt;em&gt;Kegiatan Membangun Sendiri &lt;/em&gt;mulai kita kenal sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 tentang &lt;em&gt;Perubahan Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai 1984&lt;/em&gt;, tepatnya terdapat pada Pasal 16C undang-undang tersebut, yang menyebutkan sebagai berikut :&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas &lt;em&gt;kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;yang dilakukan tidak dalam  lingkungan perusahaan atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri  atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya ditetapkan oleh Menteri Keuangan."&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada UU. Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Undang-undang Pajak Pertambahan Nilai  Tahun  1984, Pasal 16C ini mengalami sedikit perubahan, sehingga menjadi berbunyi sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas &lt;em&gt;kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain yang batasan dan tata caranya diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan."&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengertian dan Definisi&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menurut Pasal 1 ayat (1) Keputusan Menteri Keuangan  Nomor : 595/KM.04/1994 tanggal 21 Desember 1994, yang dimaksud dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Membangun Sendiri  &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16C UU. PPN  adalah :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;a.  membangun sendiri bangunan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat usaha;&lt;br /&gt;b. luas bangunan 400 m2  atau lebih;&lt;br /&gt;c. bangunan bersifat permanen.&lt;br/&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pengertian tersebut mengalami perubahan &lt;em&gt;redaksional&lt;/em&gt; (tidak substantif) seiring dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 554/KMK.03/2000 tanggal 22 Desember 2000 menjadi sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“yang dimaksud dengan &lt;em&gt;kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;adalah kegiatan membangun sendiri  bangunan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat usaha dengan luas bangunan 400 m2 (empat ratus meter persegi) atau lebih dan bersifat permanen.”&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun terhitung mulai tanggal 1 Juli 2002, ada perubahan yang signifikan terkait mengenai batasan luas bangunan dalam konteks &lt;em&gt;kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;ini, dari batasan &lt;em&gt;luas bangunan 400 m2 atau lebih&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;200 m2&lt;/em&gt;.  Hal ini diatur dalam Pasal 1 Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 320/KMK.03/2002 tanggal 28 Juni 2002, yang mengatakan :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Dalam Keputusan Menteri Keuangan ini, yang dimaksud dengan &lt;em&gt;Kegiatan Membangun Sendiri&lt;/em&gt; adalah  kegiatan membangun sendiri bangunan yang diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat usaha dengan luas bangunan 200 m2 (dua ratus meter persegi) atau lebih dan bersifat permanen."&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terhitung mulai tanggal 1 April 2010 seiring dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 39/PMK.03/2010 tanggal 22 Pebruari 2010, batasan luas bangunan mengalami perubahan lagi dari luas bangunan 200 m2 atau lebih menjadi 300 m2 atau lebih.  Selain mengenai batasan luas bangunan yang mengalami perubahan, terdapat juga penegasan-penegasan lain terkait mengenai kegiatan membangun sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Agar lebih jelas dan lengkap di bawah ini adalah petikan bunyi Pasal 2 ayat (3) dan ayat (4) Peraturan Menteri Keuangan tersebut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pasal 2 ayat (3)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah kegiatan membangun bangunan yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau digunakan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pasal 2 ayat (4)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa satu atau lebih konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada satu kesatuan tanah dan/atau perairan dengan kriteria:&lt;br /&gt;a. konstruksi utamanya terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis, dan/atau baja;&lt;br /&gt;b. diperuntukkan bagi tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha; dan&lt;br /&gt;c. luas keseluruhan paling sedikit 300 m2 (tiga ratus meter persegi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari beberapa ketentuan perundang-undangan tersebut, maka dapat diikhtisarkan bahwa &lt;em&gt;kegiatan membangun sendiri &lt;/em&gt;(bangunan) yang dikenakan (terhutang) Pajak Pertambahan Nilai adalah kegiatan membangun sendiri dengan kriteria dan persyaratan sebagai berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(1) Dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan pertama membatasi bahwa kegiatan membangun sendiri tersebut dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan pihak yang membangun.  Sebagai ilustrasi, jika sebuah perusahaan pabrikan obat (PT. XYZ) membangun sendiri sebuah bangunan gudang penyimpanan maka dapat dikatakan bahwa kegiatan membangun sendiri gudang penyimpanan yang dilakukan oleh PT. XYZ, tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaan PT. XYZ (sebagai pabrikan obat).  Berbeda kasusnya jika yang melakukan pembangunan tersebut adalah perusahaan yang bergerak dibidang real estate, maka kegiatan membangun sendiri tersebut dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(2) Bangunan digunakan sendiri atau digunakan pihak lain&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini memberikan penegasan atas apa yang belum disebutkan secara eksplisit pada ketentuan yang berlaku sebelumnya, bahwa siapapun yang akan menggunakan bangunan, digunakan sendiri atau digunakan oleh pihak lain, bukanlah faktor yang relevan untuk menentukan apakah termasuk sebagai Kegiatan Membangun Sendiri atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(3) Konstruksi bangunan terdiri dari kayu, beton, pasangan batu bata atau bahan sejenis dan/atau baja&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada ketentuan yang berlaku sebelumnya, syarat bangunan adalah permanen.  Persyaratan “permanen “ pada  Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 39/PMK.03/2010 diubah dengan batasan tentang konstruksi bangunan yang digunakan, sehingga mengurangi interpretasi yang bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(4) Diperuntukkan untuk tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan batasan ini cukup jelas bahwa bangunan diperuntukkan sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha.  Sehingga dengan demikian jika bangunan diperuntukkan tidak sebagai tempat tinggal atau tempat kegiatan usaha, maka tidak termasuk sebagai kegiatan membangun sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(5) Luas bangunan minimal 300m2&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Luas bangunan yang termasuk sebagai Kegiatan Membangun Sendiri adalah bangunan dengan luas minimal 300m2 (tiga ratus meter persegi).&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-1479847869099128059?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xaSffD-jljSO6FHfFldlKcattEU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xaSffD-jljSO6FHfFldlKcattEU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xaSffD-jljSO6FHfFldlKcattEU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xaSffD-jljSO6FHfFldlKcattEU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/fK2L9caVF2s" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/fK2L9caVF2s/pengenaan-pajak-pertambahan-nilai-ppn.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2010/04/pengenaan-pajak-pertambahan-nilai-ppn.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-4371459368496701934</guid><pubDate>Sun, 24 Jan 2010 16:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-11-30T23:33:25.141+07:00</atom:updated><title>Download Formulir Perpajakan</title><description>&lt;b&gt;Formulir-formulir perpajakan&lt;/b&gt; berikut ini dapat Anda &lt;b&gt;download&lt;/b&gt; untuk pemenuhan kewajiban perpajakan, baik terkait dengan kewajiban pemotongan/pemungutan pajak, penyetoran dan pelaporan ke kantor pajak, meliputi pelaporan bulanan (&lt;b&gt;SPT Masa&lt;/b&gt;) maupun tahunan (&lt;b&gt;SPT Tahunan&lt;/b&gt;). Sebagian besar telah menggunakan format excel sehingga mudah untuk dipergunakan. | Halaman ini telah diperbarui, silakan &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/formulir-perpajakan-free-download.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Klik di sini.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: darkgreen;"&gt;SPT Tahunan Pajak Penghasilan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Badan Form-1771 Rupiah Tahun Pajak 2009 PER-39/PJ/2009&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Excel&lt;/span&gt; | Form-1771 Rupiah | Lampiran Khusus | Lampiran Khusus Transkrip LK |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Pdf&lt;/span&gt; | Form-1771 Rupiah | Lampiran Khusus | Lampiran Khusus Transkrip LK | &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Badan Form-1771 Dollar Tahun Pajak 2009 PER-39/PJ/2009&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Excel&lt;/span&gt; | Form-1771 Dollar | Lampiran Khusus | Lampiran Khusus Transkrip LK |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Pdf&lt;/span&gt; | Form-1771 Dollar | Lampiran Khusus | Lampian Khusus Transkrip LK | &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Form-1770 Tahun Pajak 2009 PER-34/PJ/2009&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Excel&lt;/span&gt; | Form-1770 | Form-1770S | Form-1770SS |&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Pdf&lt;/span&gt; | Form-1770 | Form-1770S | Form-1770SS | &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Badan Form-1771 Rupiah Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum: PER-81/PJ/2007 | Excel 245kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Badan Form-1771 Dollar Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 278kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Badan Pembetulan Form-1771Y Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 59kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Pasal 21 Form-1721 Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 211kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Form-1770 Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 381kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Form-1770S Tahun Pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 104kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Form-1770SS Tahun Pajak 2007 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007, PER-8/PJ/2008 | Excel 131kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Form-1770SS Tahun Pajak 2008 | Dasar hukum : PER-24/PJ/2008, PER-7/PJ/2009 | Excel 627kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Pembetulan Form-1770Y Tahun pajak 2007/2008 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007 | Excel 55kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Petunjuk Pengisian SPT Tahunan PPh Badan Form-1771 Tahun Pajak 2007 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Petunjuk Pengisian SPT Tahunan PPh Pasal 21 Form-1721 Tahun Pajak 2007 | Dasar hukum : PER-81/PJ/2007&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: darkgreen;"&gt;&lt;strong&gt;SPT Masa Pajak Penghasilan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPh Pasal 21 | Mulai berlaku Juli 2009 | Petunjuk Pengisian SPT Masa PPh Pasal 21 | Dasar hukum : PER-32/PJ/2009 | Excel 326kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPh Pasal 23/26 | Daftar Bukti Potong PPh Pasal 23/26 | Bukti Potong PPh Pasal 23 | Bukti Potong PPh Pasal 26 | Mulai Nopember 2009 | Dasar Hukum : PER-53/PJ/2009 | Pdf 527kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2)&lt;span style="color: red;"&gt;New !!!&lt;/span&gt; | Daftar Bukti Potong PPh Pasal 4 ayat(2 | Daftar Bukti Potong PPh Pasal 4 ayat(2) Bunga Deposito | Bukti Potong PPh Final Hadiah Undian | Bukti Potong PPh Final Penjualan Saham | Bukti Potong PPh Final Bunga Deposito | Mulai Nopember 2009 | Dasar hukum : PER-53/PJ/2009 | Pdf&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: darkgreen;"&gt;SPT Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPN 1108 | Mulai Masa Januari 2008 | Dasar hukum : PER-180/PJ/2007, PER-14/PJ/2008, PER-29/PJ/2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPN 1108 | Mulai Masa Januari 2008 | Dasar hukum : PER-180/PJ/2007, PER-14/PJ/2008, PER-29/PJ/2008&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPN 1107 | Mulai Jan 2007 s/d Des 2007 | Dasar hukum : PER-146/PJ/2006, PER-142/PJ/2007 | Excel 172Kb&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SPT Masa PPN 1195 | Mulai Masa Januari 1995 s/d Desember 2006 | Dasar hukum : KEP-12/PJ/1995, KEP-155/PJ/1997, KEP-222/PJ/1997 | Excel 235Kb&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;| Halaman ini telah diperbarui, silakan &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/p/formulir-perpajakan-free-download.html"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Klik di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; |&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-4371459368496701934?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VPcBpXIIXl3q0yehbHvEG2l5Bb0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VPcBpXIIXl3q0yehbHvEG2l5Bb0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VPcBpXIIXl3q0yehbHvEG2l5Bb0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VPcBpXIIXl3q0yehbHvEG2l5Bb0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/pubbjpA2_xg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/pubbjpA2_xg/download-formulir-perpajakan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/04/download-formulir-perpajakan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2560260923461163436</guid><pubDate>Sun, 27 Dec 2009 17:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-28T07:32:19.225+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Pengenaan PPN Pasal 16D Atas Penyerahan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan Menurut Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pengenaan &lt;strong&gt;Pasal 16D&lt;/strong&gt; yang mengatur tentang &lt;em&gt;Pengalihan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan&lt;/em&gt;, termasuk pasal yang mengalami perubahan di dalam Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Perubahan Ketiga Atas UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Perubahan pada Pasal 16D yang dilakukan dalam undang-undang ini bisa dikatakan cukup signifikan dan relatif lebih memberikan kepastian hukum.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Agar dapat melihat perubahan-perubahan apa saja yang dilakukan dalam Pasal 16D UU PPN, berikut disajikan persandingannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pasal 16 D Sebelum mengalami perubahan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan &lt;strong&gt;aktiva&lt;/strong&gt; oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan, &lt;strong&gt;sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya dapat dikreditkan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pasal 16D setelah mengalami perubahan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas penyerahan &lt;strong&gt;Barang Kena Pajak berupa aktiva&lt;/strong&gt; yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, &lt;strong&gt;kecuali atas penyerahan aktiva yang Pajak Masukannya tidak dapat dikreditkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Perubahan-perubahan :&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan persandingan Pasal 16D sebelum dan sesudah perubahan, sebagaimana diuraikan di atas, dapat pahami sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Perubahan kata “&lt;strong&gt;aktiva&lt;/strong&gt;” menjadi frase “&lt;strong&gt;Barang Kena Pajak berupa aktiva&lt;/strong&gt;”&lt;br /&gt;Penggunaan istilah &lt;strong&gt;Barang Kena Pajak berupa aktiva&lt;/strong&gt; memberikan batasan yang lebih jelas atas objek yang diserahkan dalam konteks Pasal 16D, karena istilah &lt;strong&gt;Barang Kena Pajak &lt;/strong&gt;mempunyai definisi yang jelas dalam Undang-undang PPN (&lt;strong&gt;baca Pasal 1 UU PPN&lt;/strong&gt;), berbeda dengan istilah “&lt;strong&gt;aktiva&lt;/strong&gt;” yang definisinya kurang begitu jelas diterangkan di dalam UU. PPN.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kriteria atau persyaratan pengenaan PPN&lt;br /&gt;Di dalam Pasal 16D sebelum perubahan, &lt;strong&gt;persyaratan pengenaan PPN&lt;/strong&gt; atas &lt;em&gt;penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan&lt;/em&gt; adalah &lt;strong&gt;sepanjang PPN yang dibayar pada saat perolehannya (menurut ketentuan) dapat dikreditkan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sedangkan menurut Pasal 16D setelah perubahan, dapat dikatakan bahwa semua penyerahan Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dikenakan PPN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;kecuali &lt;/strong&gt;atas penyerahan Barang Kena Pajak yang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjual belikan yaitu kendaraan bermotor berupa &lt;strong&gt;&lt;em&gt;sedan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan &lt;em&gt;&lt;strong&gt;station wagon&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (8) huruf b dan huruf c UU PPN.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2560260923461163436?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gXnCf0Xda_jySJ4fWV71T2dDFyY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gXnCf0Xda_jySJ4fWV71T2dDFyY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gXnCf0Xda_jySJ4fWV71T2dDFyY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gXnCf0Xda_jySJ4fWV71T2dDFyY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/cDqBK9aNxmo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/cDqBK9aNxmo/pengenaan-ppn-pasal-16d-atas-penyerahan_28.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/12/pengenaan-ppn-pasal-16d-atas-penyerahan_28.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-6153943257945310816</guid><pubDate>Fri, 18 Dec 2009 05:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-18T13:28:43.803+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Pengenaan PPN Pasal 16D Atas Penyerahan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan (Bagian-II)</title><description>&lt;strong&gt;Ilustrasi Kasus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Board of Directors&lt;/em&gt; (B.O.D) &lt;strong&gt;PT. XYZ&lt;/strong&gt; sebuah perusahaan pembuat sepeda terkenal merk “P” telah memutuskan untuk mengganti sebagian mesin-mesin yang dibeli tahun1998 kepada distributor lokal yang berstatus sebagai &lt;em&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/em&gt;. Perusahaan bermaksud melepas mesin-mesin tersebut pada awal tahun 2010 dengan cara menjualnya kepada calon pembeli, dan kebetulan sudah ada pihak yang bersedia untuk membelinya (calon pembeli &lt;em&gt;&lt;strong&gt;bukan Pemungut PPN&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;). &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan juga bermaksud untuk menjual tiga buah kendaraan jenis sedan perolehan tahun 2000 yang selama ini digunakan oleh para direksi, dan akan menggantinya dengan kendaraan baru. Sebagai informasi tambahan PT. XYZ adalah wajib pajak yang telah dikukuhkan sebagai &lt;em&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/em&gt; (PKP) oleh &lt;strong&gt;Ditjen Pajak&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan rencana penjualan mesin-mein dan kendaraan tersebut, ada beberapa permasalahan yang perlu kita jawab yaitu, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;apakah atas penjualan mesin-mesin dan kendaraan tersebut harus dikenakan PPN? Bagaimana mekanisme pengenaannya? Bagaimana cara mempertanggungjawabkan PPN terutangnya?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan apa yang telah diuraikan pada &lt;strong&gt;Bagian-I&lt;/strong&gt; tulisan ini, maka dapat dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bahwa aktiva yang akan dilepas (dijual) terdiri atas dua jenis yaitu &lt;em&gt;mesin-mesin&lt;/em&gt; dan kendaraan bermotor jenis jenis sedan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mesin-mesin yang dibeli pada tahun 1998 adalah mesin-mesin &lt;em&gt;yang berhubungan dengan kegiatan usaha&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;dibeli dari Pengusaha Kena Pajak PPN dipungut dengan faktur pajak standar&lt;/em&gt;, dengan demikian &lt;strong&gt;&lt;em&gt;PPN yang dibayar pada saat perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kendaraan bermotor jenis sedan yag dibeli tahun 2000, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;menurut ketentuan yakni Pasal 9 ayat (8) UU PPN 1984, tidak dapat dikreditkan.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PT.XYZ sebagai pengusaha yang melakukan penyerahan aktiva tersebut adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Atas penjualan aktiva berupa mesin-mesin yang akan dilakukan pada awal 2010, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dikenakan PPN Pasal 16D&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; sebesar 10% dari &lt;strong&gt;&lt;em&gt;harga jual-&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;nya. Sebagai pertanggungjawaban atas pengenaan PPN tersebut diterbitkan faktur pajak dan harus &lt;em&gt;dilaporkan pada SPT Masa PPN&lt;/em&gt; sebagai Penyerahan Dalam Negeri Dengan Faktur Pajak (Lampiran 1 Romawi II Formulir 1108A).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Atas penjualan aktiva berupa kendaraan bermotor jenis sedan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak dikenakan PPN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; karena salah satu persyaratan dalam Pasal 16D UU PPN 1984 yaitu bahwa PPN yang dibayarkan pada saat perolehan aktiva tersebut (menurut ketentuan) dapat dikreditkan tidak terpenuhi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Mudah-mudahan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-6153943257945310816?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Znhdb9UzUm972Fs-766mXrbRmWM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Znhdb9UzUm972Fs-766mXrbRmWM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Znhdb9UzUm972Fs-766mXrbRmWM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Znhdb9UzUm972Fs-766mXrbRmWM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/awRcCYkCy0Q" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/awRcCYkCy0Q/pengenaan-ppn-pasal-16d-atas-penyerahan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/12/pengenaan-ppn-pasal-16d-atas-penyerahan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-6657227728978246465</guid><pubDate>Sat, 12 Dec 2009 17:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-13T09:08:21.160+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Pengenaan PPN Pasal 16D Atas Penyerahan Aktiva Yang Menurut Tujuan Semula Tidak Untuk Diperjualbelikan (Bagian-I)</title><description>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/SyPkbN2oz9I/AAAAAAAAAGA/nJ2iqxILjJ4/s1600-h/mesin-sepeda.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 161px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/SyPkbN2oz9I/AAAAAAAAAGA/nJ2iqxILjJ4/s320/mesin-sepeda.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414422333255897042" /&gt;&lt;/a&gt;Tulisan ini terdiri atas dua bagian, &lt;em&gt;bagian&lt;/em&gt; &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt; akan mengulas tentang aspek Pajak Pertambahan Nilai atas &lt;em&gt;penyerahan aktiva oleh Pengusaha Kena Pajak yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan,&lt;/em&gt; dengan pendekatan &lt;em&gt;historis&lt;/em&gt; tentang perubahan-perubahan ketentuan terkait pengenaan PPN dan cara mempertanggungjawabkan pajak terutangnya, sejak tahun 1984 hingga sekarang. Sedang pada &lt;em&gt;bagian kedua&lt;/em&gt; akan disajikan ilustrasi kasus untuk memperjelas implementasi dari ketentuan-ketentuan yang relevan.&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, sebelum 1 Januari 1995 &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Sebelum diberlakukannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 1994 tentang &lt;em&gt;Perubahan atas Undang-undang Nomor 8 tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah&lt;/em&gt;, (selanjutnya akan disebut UU. PPN 1984) atau sebelum tanggal &lt;strong&gt;1 Januari 1995&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan&lt;/em&gt;, tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Hal ini dapat dilihat pada Pasal 1 huruf d sub 2) sub c) Undang-undang PPN 1984, beserta memori penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, sejak 1 Januari 1995&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Perubahan mendasar terjadi melalui &lt;strong&gt;Pasal 16D&lt;/strong&gt; Undang-undang PPN 1984. Pasal ini mengatur &lt;em&gt;bahwa penyerahan aktiva oleh &lt;strong&gt;Pengusaha Kena Pajak&lt;/strong&gt; yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, dikenakan pajak, &lt;strong&gt;sepanjang Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada waktu perolehan aktiva tersebut dapat dikreditkan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam memori penjelasan Pasal 16D UU PPN 1984, dikatakan bahwa penyerahan mesin , peralatan, perabotan atau aktiva lain yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan oleh Pengusaha Kena Pajak, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;dikenakan pajak&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sepanjang memenuhi persyaratan, yaitu bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dibayar pada saat perolehannya, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;sesuai ketentuan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; UU PPN 1984, dapat dikreditkan. Sebaliknya apabila Pajak Pertambahan Nilai dimaksud tidak dapat dikreditkan menurut ketentuan undang-undang , maka atas penyerahan aktiva tersebut tidak dikenakan PPN, kecuali jika tidak dapat dikreditkannya PPN ini karena bukti pengkreditannya tidak memenuhi persyaratan administratif misalnya faktur pajaknya cacat karena tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 13 ayat (5) UU PPN 1984.&lt;br /&gt;Dengan demikian penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, dikenakan PPN jika memenuhi 2 (dua) persyaratan kumulatif sebagai berikut : &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Yang melakukan penyerahan atau pemindahtanganan adalah Pengusaha Kena Pajak,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PPN yang dibayar pada saat perolehan aktiva tersebut menurut ketentuan dapat dikreditkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Kata “&lt;strong&gt;dapat&lt;/strong&gt;” pada persyaratan yang kedua ini memberikan indikasi bahwa ketentuan tersebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;bersifat normatif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Apakah Pajak Pertambahan Nilai tersebut benar-benar sudah dikreditkan atau belum, bukan faktor yang relevan. (Untung Sukardji, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 8 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 143 Tahun 2000 atas penyerahan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, &lt;strong&gt;Dasar Pengenaan Pajak&lt;/strong&gt;-nya adalah &lt;strong&gt;Harga Jual&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara Mempertanggungjawabkan PPN yang Terutang atas Pengalihan Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan (Periode 1/1/1995 s.d. 31/12/2006)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mempertanggungjawabkan PPN terutang atas &lt;em&gt;pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan&lt;/em&gt;, adalah sebagaimana ditegaskan dalam Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE-18/PJ.52/1996 tanggal 4 Juni 1996 sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;PPN yang terutang atas pengalihan aktiva eks Pasal 16D UU. PPN 1984 harus disetor seluruhnya atau sebesar Pajak Keluaran, &lt;em&gt;&lt;strong&gt;dengan menggunakan SSP tersendiri&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, jadi berbeda dengan cara mempertanggungjawabkan Pajak Keluaran lainnya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Penyetoran tersebut harus dilakukan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;paling lambat tanggal 15 bulan berikutnya&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; setelah bulan terjadinya pengallihan&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Atas pengalihan tersebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dapat dibuatkan Faktur Pajak Standar&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, namun tidak perlu dicantumkan pada formulir 1195 A1 (Lampiran Pajak Keluaran) SPT Masa PPN 1195.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pelaporan pada SPT Masa PPN dilakukan pada bulan terjadinya pengalihan aktiva tersebut . Sedangkan SSP-nya harus dilampirkan pada SPT Masa PPN yang bersangkutan dan mengisi kode J butir 8 (Kode I.2&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Apabila aktiva tersebut diperoleh sebelum berlakunya UU. PPN 1984 (sebelum 1 April 1985), maka atas pengalihan aktiva tersebut, tidak terutang PPN.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Dalam hal pada saat perolehannya, aktiva tersebut memperoleh fasilitas &lt;em&gt;penangguhan Pembayaran PPN&lt;/em&gt;, maka pada waktu pengalihannya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;memenuhi syarat untuk dikenakan PPN&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, karena Penangguhan Pembayaran PPN diartikan sama dengan Pajak Masukan yang dapat dikreditkan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Ketentuan ini berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara Mempertanggungjawabkan PPN yang Terutang atas Pengalihan Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan (sejak 1/1/2007 s.d. 31/3/2007) &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejak diberlakukannya PER-146/PJ./2006 tentang &lt;em&gt;Bentuk Isi dan Cara Penyampaian SPT Masa PPN&lt;/em&gt;, yaitu mulai masa pajak &lt;em&gt;Januari 2007&lt;/em&gt;, PPN yang terutang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;tidak disetorkan dengan SSP tersendiri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; tetapi dengan cara menerbitkan faktur pajak dan melaporkannya pada SPT Masa PPN Lampiran 1 Romawi II Formulir 1107A sebagai Penyerahan Dalam Negeri Dengan Faktur Pajak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE-11/PJ.52/2006, apabila PKP terlanjur menyetor PPN atas &lt;em&gt;Penyerahan Aktiva yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan &lt;/em&gt;(Pasal 16D UU PPN) &lt;strong&gt;dengan SSP tersendiri&lt;/strong&gt; (Kode Jenis Setoran 104), maka setoran tersebut dimasukkan ke butir II huruf b Formulir 1107 (Induk SPT) yaitu &lt;strong&gt;&lt;em&gt;PPN Disetor Di Muka Dalam Masa Pajak Yang Sama&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum tidak ada perbedaan antara faktur pajak yang diterbitkan atas pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan (Pasal 16D UU PPN) dengan faktur pajak yang diterbitkan atas penyerahan BKP/JKP lainnya. Yang membedakan hanyalah kode transaksi yang harus dicantumkan pada faktur pajak, yaitu kode “09” untuk Pengalihan Aktiva (eks Pasal 16D).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara Mempertanggungjawabkan PPN yang Terutang atas Pengalihan Aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan (sejak 1/1/2008)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masa pajak Januari 2008 adalah masa pajak dimana wajib pajak sudah harus menggunakan &lt;strong&gt;formulir 1108&lt;/strong&gt;, hal diatur oleh Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-180/PJ./2007 tanggal 28 Desember 2007. Sebagaimana pada formulir 1107, PPN yang terutang tidak disetorkan dengan SSP tersendiri , tetapi dengan cara menerbitkan faktur pajak atas pengalihan aktiva yang menurut tujuan semula aktiva tersebut tidak untuk diperjualbelikan (eks. Pasal 16D UU PPN), dilaporkan pada Lampiran 1 Romawi II Formulir 1108A. Kode transaksi pada faktur pajak adalah “09” (dalam hal pengalihannya bukan kepada Pemungut PPN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan ini masih berlaku paling tidak sampai dengan saat diberlakukannya UU. Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang &lt;em&gt;Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah&lt;/em&gt;, terhitung mulai tanggal 1 April 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-6657227728978246465?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Z6yqAJ0twT6_2_Crx75HCxljfU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Z6yqAJ0twT6_2_Crx75HCxljfU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Z6yqAJ0twT6_2_Crx75HCxljfU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_Z6yqAJ0twT6_2_Crx75HCxljfU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/kh1DqDNSaNY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/kh1DqDNSaNY/pengenaan-ppn-atas-penyerahan-aktiva.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_no7Bqy7Ky6s/SyPkbN2oz9I/AAAAAAAAAGA/nJ2iqxILjJ4/s72-c/mesin-sepeda.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/12/pengenaan-ppn-atas-penyerahan-aktiva.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-4126165548114876262</guid><pubDate>Thu, 19 Nov 2009 05:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-06T17:45:41.837+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan Ekspor Jasa Kena Pajak, Perluasan Objek PPN Sesuai UU. Nomor 42 Tahun 2009</title><description>&lt;div style="text-align:justify"&gt;Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang &lt;i&gt;Perubahan Ketiga Atas Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah&lt;/i&gt;, telah diundangkan tanggal 15 Oktober 2009. Undang-undang ini mulai berlaku per 1 April 2010. Terdapat beberapa perubahan yang dilakukan dalam undang-undang ini, dan salah satu perubahan &lt;i&gt;substansial&lt;/i&gt; yang dilakukan adalah &lt;i&gt;perluasan objek Pajak Pertambahan Nilai&lt;/i&gt; sebagaimana dimuat dalam Pasal 4 Undang-undang ini. Sebelum adanya perubahan, objek PPN adalah sebagai berikut :&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;penyerahan Barang Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Impor Barang Kena Pajak;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ekspor Barang Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br/&gt;Di dalam Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009, objek PPN ditambahkan 2 (dua) objek pajak baru yaitu :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ekspor Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan &lt;i&gt;Ekspor BKP Tidak Berwujud adalah setiap kegiatan pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari dalam Daerah Pabean di luar daerah pabean.&lt;/i&gt; Pasal 4 ayat (1) huruf g UU. PPN memberikan batasan tentang apa yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, yang terdiri atas 6 (enam) hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang kesusasteraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model, rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk kekayaan intelektual/industrial atau hak serupa lainnya;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan industrial, komersial, atau ilmiah;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal, industrial atau komersial;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian bantuan tambahan atau pelengkap sehubungan dengan penggunaan atau hak menggunakan hak-hak tersebut pada angka 1, angka 2, atau angka 3 di atas;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penggunaan atau hak menggunakan film gambar hidup &lt;i&gt;(motion picture films)&lt;/i&gt;, film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita suara untuk siaran radio, dan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana halnya dengan kegiatan ekspor BKP Berwujud, pengusaha yang melakukan ekspor BKP Tidak Berwujud hanya pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Ekspor Jasa Kena Pajak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan &lt;i&gt;Ekspor Jasa Kena Pajak&lt;/i&gt; adalah setiap kegiatan penyerahan JKP ke luar Daerah Pabean. Termasuk dalam pengertian &lt;i&gt;Ekspor Jasa Kena Pajak&lt;/i&gt; adalah penyerahan JKP dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan dan melakukan ekspor BKP Berwujud atas dasar pesanan atau permintaan dengan bahan dan atas petunjuk dari pemesan di luar Daerah Pabean. Batasan kegiatan dan jenis jasa Kena Pajak yang atas ekspornya dikenai PPN diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;/p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Tarif Pajak atas ekspor BKP dan ekspor JKP&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya atas ekspor BKP Berwujud, ekspor BKP Tidak Berwujud dan/atau ekspor JKP juga dikenakan tarif pajak 0%.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-4126165548114876262?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VjUZQMVTYYGQPMNadTJQJcmMdEo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VjUZQMVTYYGQPMNadTJQJcmMdEo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VjUZQMVTYYGQPMNadTJQJcmMdEo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/VjUZQMVTYYGQPMNadTJQJcmMdEo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/ZvuBbDlzDSE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/ZvuBbDlzDSE/ekspor-barang-kena-pajak-tidak-berwujud.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/11/ekspor-barang-kena-pajak-tidak-berwujud.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-6772006953917719614</guid><pubDate>Mon, 12 Oct 2009 04:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-01T00:07:41.805+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Formulir Pajak</category><title>Perubahan Formulir SPT Masa dan Bukti Potong PPh Pasal 4 ayat (2), PPh Pasal 15, PPh Pasal 22,  PPh Pasal 23 dan/atau Pasal 26</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Sudahkah Anda mengetahui bahwa sejak 1 Nopember 2009 ada formulir perpajakan baru yang harus Anda gunakan ketika anda melakukan pemotongan PPh dan pelaporan ke kantor pajak? Formulir perpajakan baru yang saya maksudkan di sini adalah formulir Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) PPh Pasal 4 ayat (2), SPT Masa PPh Pasal 15, PPh Pasal 22, Pasal 23 dan/atau Pasal 26 beserta bukti pemotongan/pemungutan dan daftar bukti pemotongan/pemungutan.&lt;br /&gt;Ketentuan ini diatur di dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor &lt;b&gt;PER-53/PJ/2009&lt;/b&gt; tanggal 30 September 2009. Peraturan Dirjen Pajak ini menghapuskan/mencabut peraturan yang ditetapkan sebelumnya yakni &lt;b&gt;PER-43/PJ/2009&lt;/b&gt; tanggal 24 Juli 2009, yang praktis hanya berlaku efektif satu bulan sejak 1 Oktober 2009 sampai dengan 31 Oktober 2009.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Jika Anda menginginkan untuk men-download &lt;b&gt;PER-53/PJ/2009&lt;/b&gt; silakan klik di sini. Atau Anda ingin mendownload secara lengkap formulir-formulir tersebut (format pdf) silakan &lt;a href="http://www.pajak.go.id/dmdocuments/PER53-2009.rar" target="_blank"&gt;klik di sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Mulai 1 Nopember 2009 berlaku ketentuan baru sebagaimana diatur dalam &lt;b&gt;PER-53/PJ/2009&lt;/b&gt;, dimana kita harus melakukan beberapa perubahan pada bentuk formulir baik SPT Masa maupun bukti pemotongan/pemungutan PPh. Perubahan-perubahan bentuk formulir disini mencakup beberapa aspek seperti redaksi pada formulir-formulir tertentu, jumlah/rangkap formulir yang harus dibuat pada bukti pemotongan/pemungutan dan peruntukannya (seperti pada bukti pemotongan PPh Final atas bunga deposito /tabungan) serta perubahan-perubahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-6772006953917719614?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UUhxL7FdP8iFKK5Cd1CSvKALudY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UUhxL7FdP8iFKK5Cd1CSvKALudY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UUhxL7FdP8iFKK5Cd1CSvKALudY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/UUhxL7FdP8iFKK5Cd1CSvKALudY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/MxJclbLR-G4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/MxJclbLR-G4/perubahan-formulir-spt-masa-dan-bukti.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/10/perubahan-formulir-spt-masa-dan-bukti.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2705448836049684585</guid><pubDate>Mon, 29 Jun 2009 02:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T16:00:12.130+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pelayanan Pajak</category><title>Pengukuhan Sebagai Pengusaha Kena Pajak</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Ketika kita berbelanja barang-barang tertentu di toko, katakanlah kita membeli barang elektronik, kita sering mendapatkan secarik dokumen transaksi yang bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;faktur Pajak&lt;/span&gt;.  Atau kalau kita memeriksa struk belanja kita, biasanya tertera disitu jumlah PPN yang kita bayar.  Ini artinya, ketika kita melakukan pembayaran atas barang atau jasa yang kita beli maka pada saat yang sama kita juga membayarkan PPN-nya kepada negara melalui penjual barang tersebut. Lho kok membayar PPN-nya kepada penjual? Ya, karena negara telah memberikan semacam otorisasi kepada para penjual barang dan/atau penyedia jasa tersebut untuk memungut PPN dari konsumen. Kemudian mereka harus menyetorkan kepada negara atas PPN yang telah mereka collect tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, apakah semua penjual barang dan/atau penyedia jasa  tersebut boleh melakukan pemungutan PPN? Bagaimana caranya agar bisa melakukan pemungutan PPN? Bagaimana kewajiban &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pengusaha kena pajak&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;Itulah beberapa hal yang akan kita bahas pada tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pertanyaan pertama, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apakah semua penjual barang dan/atau penyedia jasa bisa melakukan pemungutan PPN&lt;/span&gt;,  jawabannya "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak&lt;/span&gt;".  Hanya wajib pajak yang sudah dikukuhkan oleh otoritas pajak sebagai pengusaha kena pajak (PKP) saja yang dapat melakukan pemungutan PPN dari konsumennya. Jika pengusaha sebagai wajib pajak belum dikukuhkan sebagai PKP tetapi melakukan pemungutan PPN, maka itu merupakan pelanggaran dan ada konsekuensi hukumnya.  Atau telah dikukuhkan sebagai PKP tetapi justru tidak melakukan pemungutan PPN ketika melakukan penjualan produknya, juga akan ada sanksi hukumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dikukuhkan sebagai PKP maka wajib pajak orang pribadi yang menjalankan usaha atau melakukan pekerjaan bebas, atau wajib pajak badan wajib mendaftarkan usahanya kepada kantor pelayanan pajak. Caranya dengan mendatangi dan mendaftarkan diri ke &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kantor pelayanan pajak&lt;/span&gt; yang wilayah kerjanya sesuai dengan tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha Wajib Pajak.  Jangka waktu pemrosesannya paling lama 1 hari kerja, dan kepada wajib pajak akan diberikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak&lt;/span&gt; (SPPKP). Jika pengajuannya bersamaan juga dengan permohonan NPWP, maka wajib pajak SPPKP, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Surat Keterangan Terdaftar&lt;/span&gt; (SKT) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kartu NPWP&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pengusaha dikukuhkan sebagai PKP, maka pengusaha tersebut wajib menerbitkan faktur pajak setiap melakukan transaksi penjualan produk kepada konsumen atau pelanggan sebagai bukti pemungutan PPN yang mereka lakukan.  Faktur Pajak dibuat minimal 3 rangkap, 1 untuk pembeli, 1 untuk penjual dan 1 untuk dilaporkan ke kantor pajak sebagai lampiran dari Surat Pemberitahuan (SPT) masa PPN.&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2705448836049684585?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TttSuZGwCqg7UpcNj0p2ii6BjeI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TttSuZGwCqg7UpcNj0p2ii6BjeI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TttSuZGwCqg7UpcNj0p2ii6BjeI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TttSuZGwCqg7UpcNj0p2ii6BjeI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/zcv0FgvFHsE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/zcv0FgvFHsE/pengukuhan-sebagai-pengusaha-kena-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/06/pengukuhan-sebagai-pengusaha-kena-pajak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-6583682453680568357</guid><pubDate>Wed, 24 Jun 2009 03:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-05T11:10:00.956+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pelayanan Pajak</category><title>Tata Cara Pendaftaran dan Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pada tulisan saya sebelumnya, &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/2009/06/kewajiban-wajib-pajak.html"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Kewajiban Wajib Pajak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; saya telah jelaskan bahwa salah satu kewajiban wajib pajak adalah mendaftarkan diri untuk memperoleh &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Nomor Pokok Wajib Pajak&lt;/span&gt; (NPWP) dan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;pengusaha kena pajak&lt;/span&gt;.  Pertanyaannya adalah apakah semua orang harus mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP? Apa saja yang harus disiapkan untuk mendaftarkan diri sebagai wajib pajak? Bagaimana caranya untuk mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan saya kali ini akan menjelaskan tentang beberapa hal yang terkait dengan pertanyaan-pertanyaan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan saya sebelumnya, saya sengaja menggunakan kalimat "&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Kewajiban Wajib Pajak&lt;/span&gt;", ini artinya kewajiban untuk melaksanakan kewajiban perpajakan hanya melekat kepada seseorang yang telah memenuhi syarat baik secara subjektif maupun objektif sebagai wajib pajak menurut ketentuan undang-undang Perpajakan.  Undang-undang Perpajakan kita menjelaskan bahwa yang dimaksud &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;wajib pajak&lt;/span&gt; adalah  &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;orang pribad&lt;/span&gt;i atau &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;badan&lt;/span&gt;, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kewajiban perpajakan yang harus dilaksanakan oleh wajib pajak baik orang pribadi maupun badan adalah mendaftarkan diri sebagai wajib pajak untuk mendapatkan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Nomor Pokok Wajib Pajak&lt;/span&gt; (NPWP). Dengan demikian, kewajiban untuk mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak adalah orang pribadi atau badan yang telah memenuhi persyaratan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;subjektif&lt;/span&gt; dan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;objektif&lt;/span&gt; menurut ketentuan undang-undang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan buatkan ilustrasi untuk memperjelas hal ini.  Jika &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Cristiano Ronaldo&lt;/span&gt; (CR7-MU) datang ke Indonesia karena dikontrak oleh perusahaan jamu PT. Air Manjur untuk sebuah iklan produknya dan mendapatkan honor sebesar misalnya Rp 3 milyar, dia tidak perlu mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak karena &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;tidak memenuhi persyaratan subjektif&lt;/span&gt; (karena dia WNA) sebagai wajib pajak di Indonesia, walaupun telah memenuhi persyaratan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;objektif&lt;/span&gt;, yaitu menerima penghasilan di Indonesia.  Kecuali jika dia kemudian tertarik dengan gadis Indonesia, menikah dan kemudian memutuskan untuk tinggal di Indonesia untuk selama-lamanya maka persyaratan subjektif terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang bernama &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Paijo&lt;/span&gt; (mohon maaf jika ada yang namanya sama) berprofesi sebagai penjual rokok asongan di depan stasiun Jatinegara, penghasilannya sehari Rp 20 ribu.  Persyaratan subjektif terpenuhi karena dia WNI, tetapi penghasilannya masih di bawah PTKP sehingga persyaratan objektif tidak terpenuhi, dan dia tidak wajib untuk mendaftarkan dirinya sebagai wajib pajak.  Jika kemudian, karena kejujurannya, dia dipinjami modal oleh seseorang dan dengan modal itu dia kembangkan usahanya dengan membuka sebuah toko distributor rokok, dan penghasilan bersihnya menjadi Rp 5 juta per hari maka persyaratan objektif menjadi terpenuhi karena penghasilannya menjadi di atas PTKP. Dan dia wajib mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekarang menjadi jelas siapa yang wajib mendaftarkan diri sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun anda bukan seorang usahawan, misanya hanya seorang karyawan dari sebuah perusahaan swasta, tetapi penghasilan neto anda setahun telah melebihi PTKP maka sebagai warga negara yang sebaiknya anda harus bergegas ke kantor pelayanan pajak untuk mendapatkan kartu NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebelum anda berangkat ke kantor pajak, ada beberapa hal yang harus anda siapkan sebagai data pendukung untuk mengisi formulir permohonan seperti saya uraikan berikut :&lt;br /&gt;&lt;ol style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;Untuk Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan/tidak menjalankan usaha  atau pekerjaan bebas:  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kartu Tanda Penduduk bagi Penduduk Indonesia, atau paspor bagi orang asing  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk Wajib Pajak Badan:  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Akte pendirian dan perubahan atau surat keterangan penunjukan dari kantor  pusat bagi bentuk usaha tetap;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;NPWP Pimpinan/Penanggung Jawab Badan;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kartu Tanda Penduduk bagi penduduk Indonesia, atau paspor bagi orang asing  sebagai penanggung jawab. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk Bendahara sebagai Wajib Pajak Pemungut/Pemotong:  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;surat penunjukan sebagai Bendahara;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kartu Tanda Penduduk Bendahara. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk Joint Operation sebagai Wajib Pajak Pemungut/Pemotong:  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Perjanjian Kerjasama/Akte Pendirian sebagai Joint Operation;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kartu Tanda Penduduk bagi penduduk Indonesia, atau paspor bagi orang asing  sebagai penanggung jawab;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;NPWP Pimpinan/Penanggung Jawab JO. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Anda sebagai Wajib Pajak mendaftarkan diri pada KPP yang wilayah kerjanya sesuai dengan  tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha anda sebagai Wajib Pajak, tanpa harus sesuai dengan alamat tempat  tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha pada dokumen formal  seperti KTP/Paspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak perlu menyampaikan hardcopy data pendukung sebagaimana  dimaksud pada rincian tersebut diatas seperti KTP, paspor dsb. pada saat menyampaikan formulir permohonan  pendaftaran Wajib Pajak dan/atau formulir permohonan pengukuhan PKP dan/atau formulir permohonan pengukuhan PKP. Setidaknya inilah yang diatur dalam &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Peraturan Dirjen Pajak Nomor : PER-44/PJ/2008&lt;/span&gt; tanggal 20 Oktober 2008.  Tetapi yang perlu diperhatikan, anda harus mengisi formulir permohonan tersebut secara benar dan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan menerima &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Bukti Penerimaan Surat&lt;/span&gt; (BPS) yang telah di  ditandatangani oleh petugas pendaftaran setelah Formulir Permohonan Pendaftaran  Wajib Pajak diisi secara lengkap.  Jangka waktu penyelesaian permohonan pendaftaran NPWP paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak permohonan  diterima secara lengkap.  Kepada anda sebagai Wajib Pajak diberikan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Surat Keterangan Terdaftar&lt;/span&gt; (SKT)  dan Kartu NPWP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerbitkan SKT dan Kartu NPWP,  petugas pajak dalam  jangka waktu paling lama 1 tahun akan melakukan konfirmasi lapangan dengan prioritas sesuai tingkat resiko Wajib Pajak  Baru dalam rangka membuktikan kebenaran pengisian formulir/data yang disampaikan  Wajib Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ulasan saya di atas cukup bisa menjelaskan terkait beberapa pertanyaan mengenai kewajiban untuk mendaftarkan diri sebagai wajib pajak.&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-6583682453680568357?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qMkBWCZUrwTXkJ2aJf244dAjfDg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qMkBWCZUrwTXkJ2aJf244dAjfDg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qMkBWCZUrwTXkJ2aJf244dAjfDg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/qMkBWCZUrwTXkJ2aJf244dAjfDg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/gmquI2lMlZ8" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/gmquI2lMlZ8/tata-cara-pendaftaran-dan-pemberian.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/06/tata-cara-pendaftaran-dan-pemberian.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-7432862217899445279</guid><pubDate>Mon, 22 Jun 2009 09:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-05T11:11:17.417+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Formulir Pajak</category><title>Formulir Baru SPT Masa PPh Pasal 21, Mulai Juli 2009</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Sebagian dari Anda barangkali ada yang sudah mengetahui bahwa saat ini telah diberlakukan ketentuan baru tentang bentuk formulir SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau 26, yaitu dengan diberlakukannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER-32/PJ/2009 tanggal 25 Mei 2009. Ketentuan ini efektif mulai berlaku sejak 1 Juli 2009, artinya mulai masa pajak Juli 2009 wajib pajak sudah harus menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 21/26 dengan menggunakan formulir baru sesuai yang ditentukan oleh peraturan Dirjen Pajak ini. &lt;br&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sedikit pekerjaan tambahan memang bagi anda yang kebetulan mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berkaitan dengan pemotongan pajak di perusahaan tempat anda bekerja. Karena anda tentu harus mencari atau menyiapkan formulir baru-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jangan khawatir karena saya sudah siapkan formulir barunya (hasil download dari website-nya Ditjen Pajak). Anda bisa mendapatkan (mendownload) file-nya di blog ini pada menu &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/2009/06/formulir-pajak.html"&gt;&lt;font color="blue"&gt;Downloads&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;, dan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-33/PJ/2009 dapat anda dapatkan di menu &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/2009/05/peraturan-perpajakan-terkini.html"&gt;&lt;font color="blue"&gt;Kumpulan Peraturan&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping SPT Masa PPh Pasal 21 dan/atau 26 yang harus menggunakan formulir baru, Bukti Pemotongan PPh yang digunakan juga mengalami perubahan. Semuanya bisa Anda dapatkan &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/2009/06/formulir-pajak.html"&gt;&lt;font color="blue"&gt;di sini&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;. Jadi dalam paket download sudah berisi formulir SPT Masa PPh Pasal 21/26, Bukti Pemotongan PPh Pasal 21/26 dan Daftar Bukti Pemotongan PPh Pasal 21/26.&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-7432862217899445279?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/X9-NbzjSx9KnmjHsW_uevgw_7_o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/X9-NbzjSx9KnmjHsW_uevgw_7_o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/X9-NbzjSx9KnmjHsW_uevgw_7_o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/X9-NbzjSx9KnmjHsW_uevgw_7_o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/r2bpmm_upjw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/r2bpmm_upjw/perubahan-formulir-spt-masa-pph-pasal.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/06/perubahan-formulir-spt-masa-pph-pasal.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-8747718495355759607</guid><pubDate>Sun, 14 Jun 2009 15:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-05T11:12:19.262+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Peraturan Perpajakan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">KUP</category><title>Kewajiban Wajib Pajak</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tentu sudah sering sekali mendengar istilah &lt;b&gt;wajib pajak&lt;/b&gt;. Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan wajib pajak? Menurut Pasal 1 ayat (2) UU.Nomor 6 tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU. Nomor 28 tahun 2007 tentang &lt;i&gt;Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan&lt;/i&gt;, &lt;b&gt;Wajib Pajak&lt;/b&gt; adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak,pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan &lt;b&gt;kewajiban&lt;/b&gt; perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Berbicara mengenai kewajiban maka kewajiban yang melekat pada wajib pajak adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mendaftarkan diri untuk memperoleh &lt;b&gt;NPWP&lt;/b&gt; dan mendaftarkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai &lt;b&gt;pengusaha kena pajak&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghitung, memotong/memungut dan membayar sendiri pajak dengan benar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengisi dengan benar surat pemberitahuan (SPT) dan menyampaikannya ke kantor pelayanan Pajak sesuai ketentuan mengenai batas waktu penyampaian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika dilakukan pemeriksaan wajib : &lt;ol&gt;&lt;li&gt;memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang terutang pajak;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memberikan keterangan lain yang diperlukan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apabila dalam mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakannya, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-8747718495355759607?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVOE8VCiiANTd40Gq4UQYaoMRRs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVOE8VCiiANTd40Gq4UQYaoMRRs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVOE8VCiiANTd40Gq4UQYaoMRRs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/cVOE8VCiiANTd40Gq4UQYaoMRRs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/G2WSp3Z9p5g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/G2WSp3Z9p5g/kewajiban-wajib-pajak.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/06/kewajiban-wajib-pajak.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-3196918740160839783</guid><pubDate>Tue, 26 May 2009 14:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-05T11:14:18.870+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pajak Penghasilan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Peraturan Perpajakan</category><title>Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;p&gt;Terhitung mulai tahun pajak 2009 atau tepatnya mulai 1 Januari 2009 telah diberlakukan ketentuan baru &lt;span style="color:blue;"&gt;Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)&lt;/span&gt;, yaitu mengacu kepada ketentuan pasal 7 ayat(1) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Dalam tahun berjalan yaitu tahun pajak 2009, ketentuan ini sudah harus diterapkan pada saat kita menghitung PPh pasal 21 masa (bulanan).&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;p&gt;Dalam tabel di bawah disajikan besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak sesuai dengan ketentuan terbaru (UU. Nomor 36 Tahun 2008) sekaligus perbandingan dengan ketentuan yang berlaku sebelumnya.&lt;/p&gt;&lt;table border="1" cellpadding="5"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan="5" align="center"&gt;&lt;b&gt;Tabel PTKP dan Persandingannya&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr bgcolor="#ffffcc"&gt;&lt;td width="125%" align="center"&gt;Status Wajib Pajak&lt;/td&gt;&lt;td&gt;UU.No.36/ 2008&lt;/td&gt;&lt;td&gt;137/PMK.03/ 2005&lt;/td&gt;&lt;td&gt;564/KMK.03/ 2004&lt;/td&gt;&lt;td&gt;UU.No.17/ 2000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Wajib Pajak Orang Pribadi&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;15.840.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;13.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;12.000.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;2.880.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Tambahan utk Wajib Pajak Kawin&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.320.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.440.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Tambahan utk istri yang penghasilannya digabung dgn penghasilan suami&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;15.840.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;13.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;12.000.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;2.880.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Tambahan utk setiap anggota keluarga sedarah dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3 (tiga) orang utk setiap keluarga&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.320.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.200.000&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;1.440.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Masa berlaku (Tahun Pajak)&lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;2009 dst.&lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;2006 s/d 2008&lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;2005&lt;/td&gt;&lt;td align="center"&gt;2001 s/d 2004&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color="blue"&gt;&lt;u&gt;Contoh Penghitungan PTKP Tahun Pajak 2009&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;:&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tuan Sarimin, status kawin, mempunyai tanggungan 3 (tiga) orang anak. Maka PTKP-nya dapat dihitung sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;table border="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td width="125%"&gt;Untuk Wajib Pajak Pribadi&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;15.840.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Tambahan untuk status kawin&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;13.200.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Tanggungan 3 anak [3 x Rp 1.320.000]&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;&lt;u&gt;3.960.000&lt;/u&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;br /&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;Jumlah PTKP&lt;/td&gt;&lt;td align="right"&gt;21.120.000&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;br /&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-3196918740160839783?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/27wvwjgCiQdeXPttXrd3xdHNYFA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/27wvwjgCiQdeXPttXrd3xdHNYFA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/27wvwjgCiQdeXPttXrd3xdHNYFA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/27wvwjgCiQdeXPttXrd3xdHNYFA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/cED-snYsQ-0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/cED-snYsQ-0/penghasilan-tidak-kena-pajak-ptkp_26.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/05/penghasilan-tidak-kena-pajak-ptkp_26.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2617924642192063203</guid><pubDate>Thu, 21 May 2009 17:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-17T09:56:05.308+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPN</category><title>Tata Cara Pengembalian Kelebihan Pembayaran PPN atau PPnBM</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa terhitung mulai 16 Desember 2008, ketentuan mengenai tata cara pengembalian pembayaran PPN dan PPnBM mengacu kepada Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-48/PJ./2008 tanggal 16 Desember 2008. Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-48/PJ./2008 mencabut peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-122/PJ/2006 tanggal 15 Agustus 2006.&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pengertian-pengertian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengertian-pengertian yang perlu dipahami dalam peraturan ini antara lain :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;font color="blue"&gt;Pengusaha Kena Pajak Kriteria Tertentu&lt;/font&gt; adalah Wajib Pajak dengan kriteria tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17C Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;font color="blue"&gt;Pengusaha Kena Pajak Yang Memenuhi Persyaratan Tertentu&lt;/font&gt; adalah Wajib Pajak dengan persyaratan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007. &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;font color="blue"&gt;Pengusaha Kena Pajak Tertentu&lt;/font&gt; adalah Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan butir 2 di atas.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengembalian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran PPN dan PPn BM dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu melalui &lt;font color="blue"&gt;Surat pemberitahuan Masa PPN&lt;/font&gt; dengan mencantumkan tanda permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dengan mengisi kolom “Dikembalikan (restitusi)” atau melalui &lt;font color="blue"&gt;surat permohonan tersendiri&lt;/font&gt; apabila kolom “Dikembalikan (restitusi)” dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN tidak diisi atau tidak mencantumkan tanda permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Permohonan pengembalian disampaikan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak di tempat Pengusaha Kena Pajak dikukuhkan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Permohonan pengembalian ditentukan 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) Masa Pajak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelengkapan Permohonan Pengembalian&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pasal 3 ayat (1) &lt;font color="blue"&gt;PER-48/PJ/2008&lt;/font&gt; permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak harus dilengkapi dengan faktur pajak dan/atau dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak. Dibandingkan dengan ketentuan sebelumnya &lt;font color="blue"&gt;(PER-122/PJ/2006)&lt;/font&gt;, maka persyaratan kelengkapan pengajuan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran PPN menurut ketentuan ini menjadi lebih sederhana. Kelengkapan permohonan pengembalian tersebut dapat disampaikan secara lengkap bersamaan dengan penyampaian permohonan pengembalian atau disusulkan setelah disampaikannya permohonan pengembalian. Dalam hal kelengkapan permohonan pengembalian disusulkan, pengusaha kena pajak harus menyampaikan seluruh kelengkapan permohonan pengembalian paling lambat 1 (satu) bulan sejak saat diterimanya permohonan.&lt;br /&gt;Dalam hal permohonan pengembalian diajukan oleh &lt;font color="blue"&gt;Pengusaha Kena Pajak Tertentu&lt;/font&gt;, kelengkapan tersebut di atas tidak wajib disampaikan.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangka Waktu Penyelesaian Permohonan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan pengembalian pembayaran pajak harus menerbitkan surat ketetapan pajak paling lama &lt;u&gt;12 (dua belas)&lt;/u&gt; bulan sejak permohonan diterima.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan penelitian atas permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang diajukan oleh Pengusaha Kena Pajak Tertentu, harus menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak paling lambat &lt;u&gt;1 (satu)&lt;/u&gt; bulan sejak saat diterimanya permohonan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2617924642192063203?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8BUGs3lVuhFlao4v1n7UPnsZYRE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8BUGs3lVuhFlao4v1n7UPnsZYRE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8BUGs3lVuhFlao4v1n7UPnsZYRE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8BUGs3lVuhFlao4v1n7UPnsZYRE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/53HiwgWtUsk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/53HiwgWtUsk/tata-cara-pengembalian-kelebihan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/05/tata-cara-pengembalian-kelebihan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-1190401238411308337</guid><pubDate>Sat, 16 May 2009 14:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-17T09:58:14.932+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPh Pasal 23</category><title>Objek Pajak dan Tarif PPh Pasal 23</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Dalam tulisan saya sebelumnya mengenai Objek Pajak Penghasilan, dijelaskan bahwa pembayaran pajak terutang atas penghasilan dilakukan melalui pemotongan, atau pemungutan atau dengan cara dibayar sendiri oleh pihak yang menerima penghasilan.&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pasal 23 Undang-undang Pajak Penghasilan mengatur bahwa atas penghasilan tersebut di bawah ini dengan nama dan dalam bentuk apapun yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah jatuh tempo pembayarannya oleh badan pemerintah, subjek pajak badan dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, atau perwakilan perusahaan luar negeri lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap, dipotong pajak oleh pihak yang wajib membayarkan :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sebesar 15% dari jumlah bruto atas Dividen, bunga, royalty, serta hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) huruf e Undang-undang Pajak Penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Sebesar 2% dari jumlah bruto atas :&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta, kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang telah dikenai Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undang PPh; dan&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan &lt;span style="color:red;"&gt;jasa lain&lt;/span&gt; selain jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 Undang-undang PPh.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal Wajib Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan tersebut di atas tidak memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, besarnya tarif pemotongan adalah lebih tinggi 100% (seratus persen) daripada tarif sebagaimana tersebut diatas.&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis &lt;span style="color:red;"&gt;jasa lain&lt;/span&gt; sebagaimana dimaksud diatas diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 244/PMK.03/2008 tanggal 31 Desember 2008 &lt;a href="http://www.pajak.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=75&amp;lgkp=oyes&amp;idp=13772" target="_blank" title="lihat file disini"&gt;[lihat disini]&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Pemotongan pajak sebagaimana dimaksud di atas tidak dilakukan atas:&lt;br /&gt;penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan hak opsi; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f UU. PPh dan dividen yang diterima oleh orang pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2c) UU. PPh; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf i; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya; &lt;/li&gt;&lt;li&gt;penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan-ketentuan tersebut diatas berlaku efektif sejak 1 Januari 2009.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-1190401238411308337?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8dygUVTTz_TwXBPRnHeTX9Ezmy0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8dygUVTTz_TwXBPRnHeTX9Ezmy0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8dygUVTTz_TwXBPRnHeTX9Ezmy0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8dygUVTTz_TwXBPRnHeTX9Ezmy0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/zDCYVBkXSvc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/zDCYVBkXSvc/objek-pajak-dan-tarif-pph-pasal-23.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/05/objek-pajak-dan-tarif-pph-pasal-23.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-2481412317310291992</guid><pubDate>Sun, 10 May 2009 03:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-17T10:00:43.182+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pajak Umum</category><title>Update Peraturan Perpajakan Terkini</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Hal yang sering dikeluhkan oleh masyarakat terutama dalam posisinya sebagai wajib pajak adalah terlalu seringnya terjadi perubahan regulasi/peraturan perpajakan. Perubahan peraturan yang terlalu cepat tentu saja cukup menyulitkan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Wajib Pajak dituntut untuk juga menyesuaikan diri dan mengikuti ketentuan-ketentuan perpajakan sesuai dengan peraturan yang baru.&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, perubahan peraturan perpajakan yang sering sekali dilakukan oleh pemerintah juga merupakan sebuah konsekuensi yang tidak bisa dihindari karena regulasi itu dibuat untuk mengikuti dinamika perekonomian yang berkembang. Hal ini terkait dengan salah satu fungsi pajak sebagai salah satu instrumen untuk ikut mengatur perekonomian. Sehingga sangatlah wajar jika peraturan perpajakan ini sangat dinamis, mengikuti dinamika perekonomian yang terus berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu memberikan update informasi tentang perkembangan peraturan perpajakan, melalui blog ini akan disajikan informasi penerbitan peraturan perpajakan terbaru. Informasi ini akan selalu saya update agar anda tidak ketinggalan informasi sehingga kewajiban perpajakan dapat anda tunaikan secara benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, untuk sementara file-file peraturan terkini belum dapat anda dowlnload. Mudah-mudahan dalam kesempatan yang lain saya akan menyediakan fasilitas download file peraturan di Blog ini. Pembatasan lain yang saya lakukan adalah hanya peraturan-peraturan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat secara umum yang disajikan. Dan diawali dengan peraturan perpajakan yang diterbitkan bulan April 2009. Selamat mengikuti di tulisan saya, &lt;a href="http://pajakita.blogspot.com/2009/05/peraturan-perpajakan-terkini.html"&gt;---Kumpulan Peraturan Perpajakan---&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-2481412317310291992?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MhB2LK8v9hTBmXOcQLXB6XwiJvQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MhB2LK8v9hTBmXOcQLXB6XwiJvQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MhB2LK8v9hTBmXOcQLXB6XwiJvQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/MhB2LK8v9hTBmXOcQLXB6XwiJvQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/wlJlRyhEjEo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/wlJlRyhEjEo/update-peraturan-perpajakan-terkini.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/05/update-peraturan-perpajakan-terkini.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7831172371858143001.post-3017951929075610062</guid><pubDate>Mon, 04 May 2009 04:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-10T01:22:23.187+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PPh Pasal 22</category><title>Pemungutan PPh  Pasal 22 oleh Badan Usaha Yang Bergerak Dalam Bidang Industri Rokok</title><description>Beberapa hari yang lalu, ada kawan saya yang baru bergabung di perusahaan industri rokok di Cepu, menanyakan kepada saya mengenai &lt;em&gt;&lt;strong&gt;PPh Pasal 22&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang terkait dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;industri rokok&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Agar jawaban saya bermanfaat juga untuk teman-teman yang lain, tidak ada salahnya kalau saya posting penjelasannya di blog saya ini.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Apa yang menjadi Objek PPh Pasal 22 dan siapa yang menjadi pemungut PPh Pasal 22 ?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembahasan ini kita mulai dengan mengenal secara umum &lt;em&gt;objek PPh Pasal 22&lt;/em&gt; dan siapa yang menjadi &lt;em&gt;pemungut pajak&lt;/em&gt;-nya. Pemungut Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 Undang- undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat Pemerintah Pusat maupun di tingkat Pemerintah Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian barang;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah, yang melakukan pembelian barang dengan dana yang bersumber dari belanja negara (APBN) dan atau belanja daerah (APBD), kecuali badan-badan tersebut pada butir 4;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bank Indonesia (BI), Badan Penyehatan dan Perbankan Nasional (BPPN), Badan Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Garuda Indonesia, PT Indosat, PT Krakatau Steel, Pertamina, dan bank-bank BUMN yang melakukan pembelian barang yang dananya bersumber baik dari APBN maupun non-APBN;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha industri semen, industri rokok, industri kertas, industri baja, dan industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pertamina serta badan usaha lainnya yang bergerak dalam bidang bahan bakar minyak jenis premix, super TT dan gas atas penjualan hasil produksinya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dengan demikian badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha &lt;em&gt;industri rokok&lt;/em&gt; harus memungut &lt;em&gt;PPh Pasal 22&lt;/em&gt; atas &lt;em&gt;penjualan hasil produksi rokok&lt;/em&gt; di dalam negeri. Namun sebelum melakukan pemungutan pajak, badan usaha tersebut harus sudah &lt;em&gt;terdaftar sebagai wajib pajak&lt;/em&gt;, dan mempunyai &lt;em&gt;Surat Keputusan Penunjukan&lt;/em&gt; dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak setempat. Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi badan usaha yang bergerak di bidang industri rokok yang tergolong &lt;em&gt;pengusaha pabrik hasil tembakau golongan kecil sekali&lt;/em&gt; sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 89/KMK.05/2000 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 384/KMK.04/2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan usaha yang bergerak di bidang industri rokok yang tergolong pengusaha pabrik hasil tembakau golongan kecil sekali adalah jika jenis produksinya adalah SKT atau KLB atau KLM atau CRT maka batasan produksi tahun takwim maksimal 20 juta batang. Jika jenis produksinya TIS maka batasan produksi maksimal dalam 1 tahun takwim adalah 1,5 juta bungkus dengan berat bersih maksimal 75 juta gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Berapa tarif PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi rokok ?&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 22 yang wajib dipungut oleh industri rokok pada saat penjualan rokok di dalam negeri adalah sebesar 0,15% (nol koma lima belas persen) dari harga bandrol dan bersifat final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Bagaimana mekanisme pemungutan, pelaporan dan penyetoran PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksi rokok?&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan pemungutan &lt;em&gt;Pajak Penghasilan Pasal 22&lt;/em&gt; sebagaimana dimaksud pada Pasal 2, industri rokok selaku &lt;em&gt;Pemungut Pajak&lt;/em&gt; wajib menerbitkan Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 Final dalam rangkap 3 (tiga) dimana lembar ke-1 untuk &lt;em&gt;Pembeli&lt;/em&gt;, lembar ke-2 untuk &lt;em&gt;KPP&lt;/em&gt;, dan lembar ke-3 untuk &lt;em&gt;Pemungut Pajak&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal penjualan rokok dilakukan oleh industri rokok secara kanvas kepada pembeli perseorangan yang belum mempunyai NPWP, maka NPWP pembeli pada Bukti pemungutan PPh Pasal 22 Final diisi "0.000.000.0.kode KPP tempat pembeli berdomisili".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal terjadi retur, maka PPh Pasal 22 atas penjualan rokok yang dikembalikan (retur) setelah masa pajak terjadinya penjualan, dapat dikurangkan dari Pajak Penghasilan Pasal 22 terutang dalam masa pajak terjadinya pengembalian, kecuali apabila dalam masa pajak terjadinya pengembalian industri rokok mengganti dengan rokok yang sama, baik fisik maupun harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 wajib menyetorkan Pajak Penghasilan Pasal 22 yang dipungut paling lambat tanggal 10 (sepuluh) bulan takwim berikutnya, dengan menggunakan Surat Setoran Pajak ke Bank Persepsi atau Kantor Pos dan Giro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22 wajib menyampaikan laporan mengenai Pajak Penghasilan Pasal 22 yang telah dipungut dan telah disetor setiap bulan kepada Kantor Pelayanan Pajak di tempat kedudukan Pemungut Pajak, paling lambat 20 (dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa PPh Pasal 22 yang dilampiri Bukti Pemungutan PPh Pasal 22 Final dan lembar ketiga Surat Setoran Pajak dan apabila ada lembar kedua Nota Retur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Perubahan peraturan mengenai Pemungutan PPh Pasal 22 oleh badan usaha yang bergerak dalam bidang industri rokok&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009 ada perubahan yang cukup mendasar mengenai kewajiban pemungutan PPh Pasal 22 bagi badan usaha yang bergerak dalam bidang &lt;em&gt;industri rokok&lt;/em&gt;. Jika sebelumnya, &lt;em&gt;industri rokok&lt;/em&gt; harus melakukan pemungutan PPh Pasal 22 atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri, maka sejak 1 Januari 2009 badan usaha yang bergerak dalam bidang &lt;em&gt;industri rokok&lt;/em&gt; tidak lagi ditunjuk sebagai &lt;em&gt;badan pemungut PPh Pasal 22&lt;/em&gt; (Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor : 210/PMK.03/2008 tanggal 11 Desember 2008).&lt;br /&gt;Sebagai konsekuensinya, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh &lt;em&gt;&lt;strong&gt;penyalur/distributor&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; rokok dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan umum tarif Pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. (Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-52/PJ./2008 tanggal 31 Desember 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dasar hukum : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor : 254/KMK.03/2001 tanggal 30 April 2001 tentang Penunjukan Pemungut Pajak Penghasilan Pasal 22, Sifat dan Besarnya Pungutan serta Tata Cara Penyetoran dan Pelaporannyasebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Menkeu RI Nomor 210/PMK.03/2008 tanggal 11 Desember 2008.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-417/PJ./2001 tanggal 27 Juni 2001 tentang Petunjuk Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22, Sifat dan Besarnya Pungutan, serta Tata Cara Penyetoran dan Pelaporannya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP-529/PJ./2001 tanggal 20 Juli 2001 tentang tentang Tarif dan Tata Cara Pemungutan, Penyetoran serta Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas Penjualan Hasil Produksi Industri Rokok di Dalam (berlaku s/d 31 Desember 2008) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peraturan Dirjen Pajak Nomor : PER-52/PJ./2008 tanggal 31 Desember 2008 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan atas Penghasilan Penyalur/Distributor Rokok. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7831172371858143001-3017951929075610062?l=pajakita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/W_QflPa4ogaE8pIACgrb-xe47YM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/W_QflPa4ogaE8pIACgrb-xe47YM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/W_QflPa4ogaE8pIACgrb-xe47YM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/W_QflPa4ogaE8pIACgrb-xe47YM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pajakita/~4/PvPF5HWlylE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Pajakita/~3/PvPF5HWlylE/pemungutan-pph-pasal-22-oleh-badan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmadi)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://pajakita.blogspot.com/2009/05/pemungutan-pph-pasal-22-oleh-badan.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

