<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>Pedantic Bastard</title>
	
	<link>http://pedanticbastard.com</link>
	<description>Scratching itch since 2008</description>
	<lastBuildDate>Sun, 31 Jan 2010 12:49:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/PedanticBastard" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="pedanticbastard" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item>
		<title>Makan Umpan? Yuck!</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/makan-umpan-yuck/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/makan-umpan-yuck/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 12:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Dari dulu saya kurang suka pemadanan kata feed dengan umpan, seperti kata feedback yang—menurut saya tanpa pikir panjang—diterjemahkan menjadi umpan balik. Kayaknya gara2 pemadanan feedback yang cukup populer ini sehingga kata feed sendiri sering kali diterjemahkan menjadi umpan. Menurut saya ini salah kaprah.
Kata feed sendiri, sebagai verb (to feed), bisa berarti memberi makan (e.g. to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari dulu saya kurang suka pemadanan kata feed dengan umpan, seperti kata feedback yang—menurut saya tanpa pikir panjang—diterjemahkan menjadi umpan balik. Kayaknya gara2 pemadanan feedback yang cukup populer ini sehingga kata feed sendiri sering kali diterjemahkan menjadi umpan. Menurut saya ini salah kaprah.</p>
<p>Kata feed sendiri, sebagai verb (to feed), bisa berarti memberi makan (e.g. to feed the fish), tapi juga bisa mempunyai arti memberi pasokan (e.g. to feed continuous paper into the printer), atau mendistribusikan (e.g. did TVRI use to feed their news program into private TV stations?).</p>
<p>Sedangkan sebagai noun, feed bisa berarti pakan (e.g. cattle feed), bisa juga berarti saluran/medium yang digunakan untuk pemasokan sesuatu (e.g. the printer has a continuous paper feed), atau distribusi (siaran) (e.g. the TV network has its own satellite feed).</p>
<p>Kemungkinan salah kaprah pemadanan feed menjadi umpan ini sepertinya bermula dari istilah umpan balik dalam konteks olahraga permainan seperti sepak bola. Dalam konteks olahraga permainan, penggunaan umpan masuk akal karena ada unsur pancingan, tapi umpan di sini lebih cocok dipadankan dengan kata bait. Kemudian orang yang mencari padanan kata feedback mulai rancu dengan kata umpan balik yang mungkin dia sudah pernah dengar sebelumnya, &#8220;oh, feed berhubungan dengan makanan masih nyambung sama umpan, dan back berarti balik, yeah, that&#8217;s it, pasti terjemahannya umpan balik.&#8221;</p>
<p>Contoh kasus seperti ini menegaskan kembali bahwa kebanyakan proyek &#8220;kamus&#8221; terjemahan Inggris-Indonesia tidak dirancang dengan pemikiran panjang bahwa satu kata bisa mempunyai banyak arti dalam fungsi yang mungkin berbeda tergantung konteksnya, sehingga banyak &#8220;kamus&#8221; yang hanya berupa pemetaan tunggal dari satu kata dalam satu bahasa ke satu atau lebih kata dalam bahasa satunya, tanpa penjelasan apa2. But I digress. That&#8217;s another post by itself.</p>
<p>Intinya, menurut saya, pemadanan kata feed menjadi umpan adalah salah kaprah. Tidak ada satu pun contoh kasus yang mempunyai penjelasan yang meyakinkan mengapa feed harus dipadankan dengan umpan.</p>
<p>Sebetulnya diskusi ini dimulai dengan pencarian padanan istilah RSS feed. Ivan Lanin <a href="http://ivanlanin.wordpress.com/2010/01/30/umpan-web/" target="_blank">memadankan feed dengan umpan</a> di blognya. Beliau lebih condong ke penggunaan umpan sebagai padanan feed. Sebelumnya saya sudah menyarankan pasokan RSS atau pemasok RSS, tergantung penggunaannya. Setelah dipikir2 kembali, sepertinya distribusi RSS atau siaran RSS juga masih cocok digunakan sebagai padanan RSS feed.</p>
<p>Sedangkan untuk feedback, dalam kebanyakan konteks, saya menyarankan masukan ketimbang umpan balik. Lebih lugas, singkat, dan masuk akal.</p>
<p>Bagaimana menurut anda?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/makan-umpan-yuck/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Unduh dan Unggah</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/unduh-dan-unggah/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/unduh-dan-unggah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jan 2010 11:43:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Pertama denger kata unduh dan unggah, yang digunakan sebagai pengganti kata download dan upload, pada awalnya terasa aneh. Karena belum biasa dan karena kita mungkin belum tahu asal mula kata-kata tersebut. Sekarang kedua kata tersebut sudah makin sering digunakan, jadi sudah makin berkurang rasa canggungnya. Tinggal memahami asal mula kata-kata tersebut supaya bikin kita jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertama denger kata unduh dan unggah, yang digunakan sebagai pengganti kata download dan upload, pada awalnya terasa aneh. Karena belum biasa dan karena kita mungkin belum tahu asal mula kata-kata tersebut. Sekarang kedua kata tersebut sudah makin sering digunakan, jadi sudah makin berkurang rasa canggungnya. Tinggal memahami asal mula kata-kata tersebut supaya bikin kita jadi makin nggak canggung lagi dalam menggunakannya.</p>
<p>Bermula dari <a href="http://twitter.com/mialegria/status/7559075717" target="_blank">tweet @mialegria</a> yang melihat/mendengar reporter di salah satu acara TV menggunakan kata punggah, saya jadi penasaran dan cari tahu. Kalau kata unduh sih kayaknya jelas dan belum ada perdebatan apa2. Kata unduh ini serapan dari bahasa Jawa yang lebih umum digunakan dalam konteks mengambil buah dari pohon. Karena aksinya adalah menurunkan dari atas, maka masuk akal jika kata unduh dipinjam sebagai pengganti kata download yang mempunyai arti kurang lebih mengambil sesuatu dari tempat yang jauh ke tempat yang lebih dekat (disimpan di sisi pihak pengambil).</p>
<p>Saya baru ngeh kalau kata unggah ini diambil dari bahasa Jawa juga yang artinya naik. Pertamanya mikir dulu, akhirnya teringat kata munggah (seperti munggah nang loteng, naik ke loteng), dan dari situ padanan dinaikkan dan menaikkan dalam bahasa Jawa menggunakan kata dasar yang sama, jadinya seperti diunggahno nang nduwur (dinaikkan ke atas) dan munggahno barange nang nduwur (menaikkan barangnya ke atas).</p>
<p>Nah karena grammar bahasa Jawa agak lain dengan bahasa Indonesia, jadi ada sedikit kebingungan kata dasarnya sebetulnya apakah unggah, punggah atau munggah. Menurut saya kata dasarnya adalah unggah, bukan punggah. Saya sependapat dengan Pak <a href="http://blog.bahtera.org/author/setyadi/" target="_blank">Setyadi Setyapranata</a> di bawah ini (disampaikan kepada <a href="http://ivan.lanin.org/" target="_blank">Ivan Lanin</a> melalui email pribadi dan dipost di sini dengan ijin):</p>
<blockquote><p>Sebenarnya derivasi yg benar adalah &#8220;memunggah&#8221;, tapi mungkin orang berpikir bentuk ini &#8220;terlalu Jawa&#8221;, maka diciptakan kata &#8220;punggah&#8221; yg kedengaran &#8220;lebih Indonesia&#8221;. Banyak kata2 Indonesia yg dijawakan mengubah &#8220;P&#8221; menjadi &#8220;M+&#8221;. Secara &#8221;analogi terbalik&#8221; orang mengira bhw kata Jawa yg diawali dg &#8220;m&#8221; gampang &#8221;diindonesiakan menjadi &#8220;p&#8221;, maka munggah menjadi punggah. Contoh P menjadi M+ :</p>
<ul>
<li>paku =&gt; memaku ==&gt; MAku</li>
<li>payung =&gt; memayungi ==&gt; MAyungi</li>
<li>pikul =&gt; memikul ==&gt; Mikul</li>
<li>pungut =&gt; memungkut ==&gt; Mungut</li>
<li>petik =&gt; memetik ==&gt; MEtik</li>
<li>pojok =&gt; memojok ==&gt; Mojok</li>
<li>program =&gt; memrogram ==&gt; Mrogram</li>
</ul>
<p>Seperti Anda lihat deret kata kiri itu Indonesia, sedangkan deret paling kanan = Jawa yg kemudian menjadi kata Indonesia tidak baku. Maaf itu cuma pikiran sekilas saya, mungkin agak ngawur.</p>
<p>…</p>
<p>Sedikit tambahan yg mungkin dpt dianggap &#8220;ralat&#8221;. &#8221;Punggah&#8221; sebenarnya ada dlm bhs Jawa, tapi yg digunakan selalu derivasinya. Kata dipunggah memang grammatical, tapi tidak pernah dipakai. Yg biasa dipakai hanya &#8220;dipunggahi&#8221;, implikasinya barang yg dinaikkan tidak cuma satu, tapi sejumlah barang. &#8221;Barang2e wis dipunggahi = Apakah barang2nya sudah &#8220;di-naik2kan&#8221;?&#8221; Saya pikir2 untuk padanan &#8220;uploaded&#8221;, &#8220;diunggah&#8221; lebih tepat drpd &#8220;dipunggah&#8221; kalau kita berkeyakinan bhw kata dasarnya &#8220;unggah&#8221; bukan &#8220;punggah&#8221;. Jadi untuk &#8220;to upload&#8221; yg lebih tepat &#8220;memunggah&#8221;, bukan &#8220;mempunggah&#8221;. Iya kan?</p></blockquote>
<p>(Kutipan di atas diformat ulang supaya lebih enak dibaca.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2010/01/31/unduh-dan-unggah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Based Floor</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/12/10/based-floor/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/12/10/based-floor/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[
(Thanks to @ivanlanin for submitting the photo.)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img title="Based Floor" src="http://farm3.static.flickr.com/2674/4173527648_c64632d9e5.jpg" alt="based Floor" width="500" height="375" /></p>
<p>(Thanks to <a href="http://twitter.com/ivanlanin" target="_blank">@ivanlanin</a> for submitting the photo.)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/12/10/based-floor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Etimologi dan Sejarah Indonesia</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/10/09/etimologi-dan-sejarah-indonesia/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/10/09/etimologi-dan-sejarah-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 04:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[[Ed.: Artikel ini ditulis oleh penulis tamu @ivanlanin.]
Etimologi, dari bahasa Yunani ήτυμος (étymos, arti kata) dan λόγος (lógos, ilmu), adalah cabang ilmu linguistik yang menyelidiki asal-usul kata serta perubahan dalam bentuk dan maknanya. Kajian etimologi sebenarnya merupakan ranah akademis, tapi bagi penutur suatu bahasa, pengetahuan atau pemahaman dasar tentang etimologi sangat berguna antara lain dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Ed.: Artikel ini ditulis oleh penulis tamu </em><a href="http://twitter.com/ivanlanin" target="_blank"><em>@ivanlanin</em></a><em>.]</em></p>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Etimologi" target="_blank">Etimologi</a>, dari bahasa Yunani ήτυμος (<em>étymos</em>, arti kata) dan λόγος (<em>lógos</em>, ilmu), adalah cabang ilmu <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Linguistik" target="_blank">linguistik</a> yang menyelidiki asal-usul <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kata" target="_blank">kata</a> serta perubahan dalam bentuk dan maknanya. Kajian etimologi sebenarnya merupakan ranah akademis, tapi bagi penutur suatu bahasa, pengetahuan atau pemahaman dasar tentang etimologi sangat berguna antara lain dalam menentukan ejaan mana yang benar, berdasarkan asal katanya (disebut <em>etimon</em>), serta untuk proses pembentukan istilah baru.</p>
<p>Etimologi sangat erat kaitannya dengan sejarah suatu bangsa. Hubungan dengan (atau pendudukan oleh) bangsa lain sangat berpengaruh terhadap kosakata suatu bahasa, termasuk <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Indonesia" target="_blank">bahasa Indonesia</a>.</p>
<p>Bahasa Indonesia berasal dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Melayu" target="_blank">bahasa Melayu</a> yang merupakan bagian dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rumpun_bahasa_Austronesia" target="_blank">rumpun bahasa Austronesia</a>. Hal ini menyebabkan banyak kosakata bahasa Indonesia yang mirip dengan bahasa serumpun seperti bahasa Melayu, Sunda, Jawa, Tagalog (Filipina), dll.</p>
<p>Antara abad ke-7 dan ke-9, bangsa-bangsa di India masuk ke Indonesia melalui perdagangan dan penyebaran agama Hindu dan Buddha. Ini merupakan alasan mengapa banyak kosakata kita yang berasal dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta" target="_blank">bahasa Sanskerta</a>, bahasa klasik India.</p>
<p>Sekitar abad ke-7, kerajaan-kerajaan Nusantara mulai menjalin kontak melalui perdagangan dengan bangsa-bangsa Cina dan Arab. Dalam interaksi ini, masuk pulalah beberapa kosakata <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/bahasa%20Cina" target="_blank">bahasa Cina</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab" target="_blank">bahasa Arab</a> ke dalam bahasa Indonesia.</p>
<p>Awal abad ke-16 bangsa Portugis masuk ke Indonesia dan membuat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Portugis" target="_blank">bahasa Portugis</a> pun banyak diserap ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Namun, pendudukan Belanda selama 3,5 abad sejak awal abad ke-17 telah membuat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Belanda" target="_blank">bahasa Belanda</a> menjadi salah satu sumber serapan utama bahasa Indonesia.</p>
<p>Bangsa-bangsa lain yang sempat berinteraksi dengan Indonesia sepanjang sejarah bangsa juga telah menjadi sumber kosakata bahasa Indonesia, meskipun tidak dominan dan hanya sedikit. Contohnya adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Spanyol" target="_blank">Spanyol</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Perancis" target="_blank">Perancis</a>, dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa%20Jepang" target="_blank">Jepang</a>.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, dengan semakin diakuinya bahasa Inggris sebagai <em><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lingua_franca" target="_blank">lingua franca</a></em>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kosakata" target="_blank">kosakata</a> bahasa Indonesia semakin banyak yang bersumber pada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris" target="_blank">bahasa Inggris</a>. Tidak hanya kosakata baru, kosakata yang sudah ada pun dapat mengalami perubahan ejaan karena peralihan rujukan ini.</p>
<p>Jadi, jika Anda menemukan suatu kata bahasa Indonesia yang diragukan ejaannya, cobalah untuk menelisik, kira-kira dari manakah asal kata tersebut. Baca <em><a href="http://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Pembentukan_Istilah" target="_blank">Pedoman Umum Pembentukan Istilah</a></em> untuk mencari tahu bagaimana pola penyerapannya.</p>
<p>Atau sebaliknya, jika ada kata bahasa Inggris yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia, Anda bisa mencoba untuk melakukan penyerapan dengan menggunakan pedoman yang disebut di atas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/10/09/etimologi-dan-sejarah-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LET’S JOIN WITH US</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/10/07/lets-join-with-us/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/10/07/lets-join-with-us/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 03:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[[Ed.: Artikel ini ditulis oleh guest blogger @kuncoro. Lihat juga tulisan Pedantic Bastard sebelumnya mengenai Join dan Joint.]
Ini sebelumnya beberapa kali aku lihat, baik di Jakarta maupun di Bandung. Tapi yang betul-betul bikin pingin nulis ini adalah tulisan di Planet Dago, Bandung. &#8220;LET&#8217;S JOIN WITH US.&#8221;
Membaca kalimat-kalimat ajaib, kita otomatis mencoba merekonstruksi kenapa bentuk seperti itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Ed.: Artikel ini ditulis oleh guest blogger <a href="http://twitter.com/kuncoro" target="_blank">@kuncoro</a>. Lihat juga tulisan Pedantic Bastard sebelumnya mengenai <a href="http://pedanticbastard.com/2008/10/10/bedanya-join-dan-joint/" target="_blank">Join dan Joint</a>.]</em></p>
<p>Ini sebelumnya beberapa kali aku lihat, baik di Jakarta maupun di Bandung. Tapi yang betul-betul bikin pingin nulis ini adalah tulisan di Planet Dago, Bandung. &#8220;LET&#8217;S JOIN WITH US.&#8221;</p>
<p>Membaca kalimat-kalimat ajaib, kita otomatis mencoba merekonstruksi kenapa bentuk seperti itu bisa terjadi. &#8220;Marilah bergabung bersama kami,&#8221; gitu barangkali.</p>
<p>Tapi si penulis yang sejak SD dan SMP selalu mencontek itu, tentu lupa bahwa LET&#8217;S itu penyingkat dari LET US. Let us join with us. Konyol kan? Dan satu lagi, kata kerja JOIN tak perlu diimbuhi kata sambung WITH.</p>
<p>Jadi cukup tulis saja: JOIN US. Setidaknya kami jadi tahu bahwa si penulis bukan tukang contek di SD dan SMP, dan barangkali jadi mempertimbangkan untuk bergabung.</p>
<p>Speak poor English? Worry not. Let&#8217;s join with us. We speak poor English too.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/10/07/lets-join-with-us/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Salah Kaprah EYD Yang Anda Mungkin Tidak Sadari #1</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/10/06/sumber-salah-kaprah-eyd-yang-anda-mungkin-tidak-sadari-1/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/10/06/sumber-salah-kaprah-eyd-yang-anda-mungkin-tidak-sadari-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Mengikuti semangat blog ini, saya lebih membahas salah kaprahnya. Salah eja dalam konteks penulisan gaul merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun, kecintaan pada penggunaan bahasa adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, saat salah eja tersebut dibawa ke konteks profesional (penulisan, pendidikan, jurnalisme, dll), yang terjadi adalah penularan virus salah kaprah.
Jangan salah. Sumber virus ini bisa jadi adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengikuti semangat blog ini, saya lebih membahas salah kaprahnya. Salah eja dalam konteks penulisan gaul merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun, kecintaan pada penggunaan bahasa adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, saat salah eja tersebut dibawa ke konteks profesional (penulisan, pendidikan, jurnalisme, dll), yang terjadi adalah penularan virus salah kaprah.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jangan salah. Sumber virus ini bisa jadi adalah acuan utama Anda selama ini.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sumber Virus Itu Bernama: Sekolah</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pengalaman belajar di sekolah sering kali dijadikan acuan dasar kesalahkaprahan. Sebagai contoh, seorang novelis (tidak perlu saya sebut namanya) menerbitkan karya fiksi pertamanya yang langsung menjadi bestseller. Di dalamnya, ia menuliskan dialog seperti berikut:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum”!.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mengagumkan memang. Tanda petik ganda yang salah dikombinasikan dengan titik yang redundan. Lebih hebat lagi, sang penulis sempat berkata dalam suatu diskusi bahwa itulah cara yang ia pelajari di sekolah. Beberapa kali, saya menjumpai para penggemarnya menulis komentar di media daring (online) bahwa mereka juga begitu.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Padahal sudah rahasia umum bahwa apa yang diajarkan di sekolah bukanlah pedoman mati. Ngotot bahwa suatu praktik benar karena “dulu di sekolah begitu” sama saja seperti yakin akan kebenaran sesuatu karena “itulah yang dikatakan orangtua saya!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Mari lihat sumber yang jelas saja. Berdasarkan EYD yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi keempat terbitan Gramedia Pustaka Utama, penulisan dialog yang benar adalah:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Tanda petik ganda selalu mengurung dialog. Panduan (sedikit) lebih lengkap bisa dibaca di sini. http://bertanyaataumati.blogspot.com/2005/06/penulisan-kreatif-1-kreatif-beraturan.html (Catatan: tautan itu menuju blog saya, jadi ini promosi tulisan sendiri tanpa malu-malu.)</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Ejaan juga tak lepas dari salah kaprah ini. Cobalah tes sederhana berikut:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Napas atau nafas?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Apotek atau apotik?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Praktik atau praktek?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Kreativitas atau kreatifitas?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Salat, solat, atau shalat?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Wudu, wudhu, atau wudlu?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Jumat atau Jum’at?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">- Silakan atau silahkan?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Jika sekali saja dari daftar di atas Anda tidak memilih yang paling kiri, Anda telah terpengaruh referensi yang keliru. Oh, tentunya masih banyak contoh. Coba saja kunjungi Kateglo (http://bahtera.org/kateglo/) dan lihat bagian Salah Eja. Tekan F5 untuk memunculkan salah eja lainnya.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kembali, poin terpenting di sini adalah salah kaprah akan acuan yang resmi. Bukan masalah kepatuhan pada ejaan. Anda boleh saja merasa, “Ah, lebih enak solat dong. Lebih sesuai dengan pengucapannya! Jadi itu yang akan saya tulis!” Silakan. Asalkan tidak beralasan, “Dulu di sekolah begitu. Jadi pasti benar!”</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Kalau ya, tolong tinggalkan nama dan alamat. Saya perlu Anda sebagai bukti nyata hipotesis bahwa hanya ada dua tipe pelaku salah kaprah: pertama, orang-orang yang mengaku malas bertanya. Kedua? Yang tidak mengaku.</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">____________</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">Pertanyaan Bonus:</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">1) Manakah kata sifat yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bergerak: bergeming atau tidak bergeming?</div>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow-x: hidden; overflow-y: hidden;">2) Manakah yang menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli: acuh atau tidak acuh?</div>
<p><em>[Ed.: Artikel ini ditulis oleh guest blogger </em><a href="http://twitter.com/ismanhs" target="_blank"><em>@ismanhs</em></a><em>.]</em></p>
<p>Mengikuti semangat blog ini, saya lebih membahas salah kaprahnya. Salah eja dalam konteks penulisan gaul merupakan hal yang wajar. Bagaimanapun, kecintaan pada penggunaan bahasa adalah pilihan, bukan paksaan. Namun, saat salah eja tersebut dibawa ke konteks profesional (penulisan, pendidikan, jurnalisme, dll), yang terjadi adalah penularan virus salah kaprah.</p>
<p>Jangan salah. Sumber virus ini bisa jadi adalah acuan utama Anda selama ini.</p>
<p><strong>Sumber Virus Itu Bernama: Sekolah</strong></p>
<p>Pengalaman belajar di sekolah sering kali dijadikan acuan dasar kesalahkaprahan. Sebagai contoh, seorang novelis (tidak perlu saya sebut namanya) menerbitkan karya fiksi pertamanya yang langsung menjadi bestseller. Di dalamnya, ia menuliskan dialog seperti berikut:</p>
<blockquote><p>Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum”!.</p></blockquote>
<p>Mengagumkan memang. Tanda petik ganda yang salah dikombinasikan dengan titik yang redundan. Lebih hebat lagi, sang penulis sempat berkata dalam suatu diskusi bahwa itulah cara yang ia pelajari di sekolah. Beberapa kali, saya menjumpai para penggemarnya menulis komentar di media daring (online) bahwa mereka juga begitu.</p>
<p>Padahal sudah rahasia umum bahwa apa yang diajarkan di sekolah bukanlah pedoman mati. Ngotot bahwa suatu praktik benar karena “dulu di sekolah begitu” sama saja seperti yakin akan kebenaran sesuatu karena “itulah yang dikatakan orangtua saya!”</p>
<p>Mari lihat sumber yang jelas saja. Berdasarkan EYD yang didefinisikan dalam <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/" target="_blank">Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)</a> edisi keempat terbitan Gramedia Pustaka Utama, penulisan dialog yang benar adalah:</p>
<blockquote><p>Sang tokoh fiktif berkata, “Kalimat ini akan membuat kalian terkagum-kagum!”</p></blockquote>
<p>Tanda petik ganda selalu mengurung dialog. <a href="http://bertanyaataumati.blogspot.com/2005/06/penulisan-kreatif-1-kreatif-beraturan.html " target="_blank">Panduan (sedikit) lebih lengkap</a>. (Catatan: tautan itu menuju blog saya, jadi ini promosi tulisan sendiri tanpa malu-malu.)</p>
<p>Ejaan juga tak lepas dari salah kaprah ini. Cobalah tes sederhana berikut:</p>
<ul>
<li>Napas atau nafas?</li>
<li>Apotek atau apotik?</li>
<li>Praktik atau praktek?</li>
<li>Kreativitas atau kreatifitas?</li>
<li>Salat, solat, atau shalat?</li>
<li>Wudu, wudhu, atau wudlu?</li>
<li>Jumat atau Jum’at?</li>
<li>Silakan atau silahkan?</li>
</ul>
<p>Jika sekali saja dari daftar di atas Anda tidak memilih yang paling kiri, Anda telah terpengaruh referensi yang keliru. Oh, tentunya masih banyak contoh. Coba saja kunjungi <a href="http://bahtera.org/kateglo/" target="_blank">Kateglo</a> dan lihat bagian Salah Eja. Tekan F5 untuk memunculkan salah eja lainnya.</p>
<p>Kembali, poin terpenting di sini adalah salah kaprah akan acuan yang resmi. Bukan masalah kepatuhan pada ejaan. Anda boleh saja merasa, “Ah, lebih enak solat dong. Lebih sesuai dengan pengucapannya! Jadi itu yang akan saya tulis!” Silakan. Asalkan tidak beralasan, “Dulu di sekolah begitu. Jadi pasti benar!”</p>
<p>Kalau ya, tolong tinggalkan nama dan alamat. Saya perlu Anda sebagai bukti nyata hipotesis bahwa hanya ada dua tipe pelaku salah kaprah: pertama, orang-orang yang mengaku malas bertanya. Kedua? Yang tidak mengaku.</p>
<p><strong>Pertanyaan Bonus:</strong></p>
<ol>
<li>Manakah kata sifat yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bergerak: bergeming atau tidak bergeming?</li>
<li>Manakah yang menunjukkan bahwa seseorang tidak peduli: acuh atau tidak acuh?</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/10/06/sumber-salah-kaprah-eyd-yang-anda-mungkin-tidak-sadari-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Februari dan November</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/10/05/februari-dan-november/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/10/05/februari-dan-november/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 11:28:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[[Ed.: Artikel ini adalah yang pertama dari serangkaian tulisan karya guest bloggers Pedantic Bastard yang akan dihadirkan dalam beberapa hari ke depan. Artikel ini ditulis oleh guest blogger @kuncoro.]
Dua kali setahun, aku membuat pengingat kepada para penulis se-Indonesia: gunakan nama bulan yang telah dibakukan. Bulan kedua adalah Februari, dan bulan kesebelas adalah November. Mungkin bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Ed.: Artikel ini adalah yang pertama dari serangkaian tulisan karya guest bloggers Pedantic Bastard yang akan dihadirkan dalam beberapa hari ke depan. Artikel ini ditulis oleh guest blogger <a href="http://twitter.com/kuncoro" target="_blank">@kuncoro</a></em><em>.]</em></p>
<p>Dua kali setahun, aku membuat pengingat kepada para penulis se-Indonesia: gunakan nama bulan yang telah dibakukan. Bulan kedua adalah Februari, dan bulan kesebelas adalah November. Mungkin bahasa daerah tertentu, yang terancukan ke bahasa nasional, membuat kita kadang tak sengaja menuliskannya sebagai Pebruari dan Nopember. Tetapi ada baiknya kita memulai menyehatkan budaya kita dengan menggunakan bentuk yang telah dibakukan di KBBI, yaitu Februari dan November.</p>
<p>Waktu aku masih jadi programmer, yang harus membuat post-processing atas laporan-laporan dalam bentuk teks atau database, beberapa kali aku terpaksa membuat parser yang bentuknya jadi agak ajaib. Semacam “if bulan ==’Feb’ | or bulan ==’Peb’” &#8212; begitulah.</p>
<p>Memang disayangkan bahwa aktivis online kita cukup banyak yang abai pada pembakuan nama bulan. Akibatnya kita sering melihat nama bulan yang inkonsisten antar aplikasi web yang telah dilokalkan.</p>
<p>Ada masalah kecil juga pada nama hari. Nama hari pertama adalah Minggu atau Ahad, dan dua-duanya diakui. Namun untuk aktivitas digital, ada baiknya kita juga melakukan pembakuan, dengan menggunakan nama yang secara umum paling sering digunakan, yaitu Minggu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/10/05/februari-dan-november/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Tertib Arena Bermain</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/tata-tertib-arena-bermain/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/tata-tertib-arena-bermain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 08:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[
I don&#8217;t know where to start   I most probably wouldn&#8217;t let my kids play in this playground. Management won&#8217;t be responsible for missing things and accidents, seriously? Even if they did it?
Photo by kamugendut.com.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3441/3952932358_604660d5a7.jpg" alt="" /></p>
<p>I don&#8217;t know where to start <img src='http://pedanticbastard.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  I most probably wouldn&#8217;t let my kids play in this playground. Management won&#8217;t be responsible for missing things and accidents, seriously? Even if they did it?</p>
<p>Photo by <a href="http://kamugendut.com" target="_blank">kamugendut.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/tata-tertib-arena-bermain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WTF Sign</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/wtf-sign/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/wtf-sign/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 03:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[
If you can solve this puzzle, you will get the clue for the next one. Batu Amazing Race?
Apparently this sign is for the public transport cars in Batu. Now, why the hell do they need signs for? High turnover rate for the drivers or something?
Photo by kamugendut.com.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2535/3947297267_4fcfc2de01.jpg" alt="" /></p>
<p>If you can solve this puzzle, you will get the clue for the next one. Batu Amazing Race?</p>
<p>Apparently this sign is for the public transport cars in Batu. Now, why the hell do they need signs for? High turnover rate for the drivers or something?</p>
<p>Photo by <a href="http://kamugendut.com" target="_blank">kamugendut.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/09/25/wtf-sign/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hati-hati Mate</title>
		<link>http://pedanticbastard.com/2009/09/24/hati-hati-mate/</link>
		<comments>http://pedanticbastard.com/2009/09/24/hati-hati-mate/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 03:00:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pedanticbastard.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[
Lack of planning, trying too hard, or just like being verbose?
Photo by kamugendut.com.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm3.static.flickr.com/2498/3947296053_84f8296052.jpg" alt="" /></p>
<p>Lack of planning, trying too hard, or just like being verbose?</p>
<p>Photo by <a href="http://kamugendut.com" target="_blank">kamugendut.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pedanticbastard.com/2009/09/24/hati-hati-mate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
