<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 10:53:41 +0000</lastBuildDate><title>Penyejuk Hati</title><description>Allah Ta'ala berfirman :"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."(Q.S. Ar Ra'd:28)</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Nano)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Allah Ta'ala berfirman :"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram."(Q.S. Ar Ra'd:28)</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-5686525358585275289</guid><pubDate>Sat, 15 Jan 2011 05:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-15T12:52:31.368+07:00</atom:updated><title>Menghindari Kemiskinan Jiwa</title><description>&lt;p style="font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;Oleh : &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;KH. Abdullah Gymnastiar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kita belum terlatih untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah dari hati ke hati. Masalah yang datang sering dihadapi dengan adu otot dan kekuatan. Ujungnya, bukan solusi yang didapatkan bangsa ini, melainkan semakin terpuruk pada titik nadir kehinaan. Padahal, kita dibekali dengan akal dan nurani, juga iman dan rambu-rambu. Negeri kita sedang mendapatkan ujian yang bertubi-tubi dan aneka peringatan dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita harus merenung keras mengapa kita yang berada di sebuah negeri yang di mana umat Islam menjadi yang terbesar jumlahnya di dunia, namun harus mengalami kehidupan seperti ini. Kalau kita memepelajari indahnya Islam, sepatutnya Indonesia ini menjadi negara yang sangat dihormati dan disegani oleh seluruh dunia karena keindahan pribadi-pribadi yang ada di negeri ini. Alam Indonesia yang indah ini seharusnya menjadikan pribadi kita lebih indah. Alam yang kaya ini seharusnya menjadikan pribadi kita lebih kaya. Tapi dalam kenyataannya, justru negeri ini memiliki citra yang kurang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia mengajarkan kejujuran. Islam juga mengajarkan kebersihan. Misalnya sebelum shalat kita harus berwudlu terlebih dahulu. Tapi, mengapa kemudian di Indonesia sulit sekali menemukan tempat yang bersih? Bahkan masjid yang kita cintai pun seringkali tidak terawat kebersihannya. Islam juga mengajarkan kerapihan shaf dalam shalat berjamaah. Tapi ironisnya, begitu banyak ruas jalan yang macet. Hal ini diakibatkan karena tidak ada disiplin. Untuk antre pun sangat susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya menjadi tidak tertib dalam berbagai hal. Ada juga yang menganggap bahwa di negeri ini terlalu banyak orang-orang yang tidak jujur. Buktinya, banyak sekali terjadi korupsi. Bukankah korupsi itu adalah tanda ketidakjujuran? Diakui atau tidak, keterpurukan ini terjadi karena sebagai kaum Muslimin yang mayoritas, perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari belum Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa demikian? Selama 350 tahun kita dijajah bangsa asing, dan sesudah itu umat Islam hampir tidak bertemu dengan pelajaran tentang keindahan Islam. Di sekolah-sekolah umum, pelajaran tentang keislamam hanya diberikan selama beberapa jam dalam sepekan. Kita dan anak-anak sangat sedikit mengenal keindahan dan kemuliaan Islam. Di televisi atau radio, acara siraman ruhani keislaman paling banter hanya setengah jam sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, negeri ini nyaris terpuruk karena belum seluruh orang Islam hidup secara Islami. Mereka mayoritas, tapi belum mendapatkan informasi dan suri teladan tentang keindahan Islam. Islam sangat mementingkan perubahan perilaku atau karakter. Karakter itu terdiri dari empat hal. Pertama, ada karakter lemah; misalnya penakut, tidak berani mengambil risiko, pemalas, cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah, dan sebagainya. Kedua, karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi, pantang menyerah, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karakter jelek; misalkan licik, egois, serakah, sombong, pamer, dll. Keempat, karakter baik; seperti jujur, terpercaya, rendah hati, dan sebagainya. Orang-orang yang merusak negeri ini masuk ke dalam salah satu kategori tadi. Hari ini, yang kita rindukan adalah meskipun secara lambat laun negeri ini akan bangkit kembali. Ini bisa terjadi bila dua karakter, yaitu karakter yang kuat dan baik bersinergi. Misalkan dia tangguh, ulet tapi tetap rendah hati dan merupakan pekerja keras yang sangat gigih. Dia berprestasi gemilang tapi ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang diharapkan dari setiap pertemuan kita. Yakni, mewujudkan manusia-manusai tangguh, berani, gigih, ulet, jujur, rendah hati, dapat dipercaya, dan sebagainya. Allahu Akbar!. Satu hal yang patut kita sayangkan kemudian adalah, karakter manusia Indonesia khususnya kaum Muslimin, tidak terlalu sesuai dengan karakter yang diinginkan di atas. Ternyata, banyak manusia di Indonesia yang mempunyai kebiasaan korupsi, dari yang raksasa sampai yang kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini disebabkan karena kita mempunyai jiwa miskin. Pernah suatu ketika di Mekkah, tepatnya di Masjid Al Haram, di saat buka shaum ada beberapa orang pengemis membawa kain yang tampaknya penuh dan isinya terlihat berat. Mereka meminta-minta sampai kain bawaannya semakin banyak. Ternyata, dia melakukan itu karena merasa bahwa belum tentu besok hari akan mendapatkan kesempatan yang sama. Orang yang miskin jiwa seperti itu terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang licik, koruptor, yang mengambil harta orang lain tanpa hak, sebetulnya mereka adalah orang-orang miskin. Walaupun jabatannya tinggi, kedudukan dan hartanya berlimpah, tetapi jiwanya tetap miskin. Dia akan terus mengambil apa saja yang ada di hadapannya, meski itu bukan miliknya. Saat pembagian beras untuk orang miskin (Raskin), mereka menjadi orang pertama yang mengambil beras itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai kepada yang berhak sudah dimakan lebih dulu oleh oknum-oknum yang miskin jiwa tersebut. Atau kalau tidak, beras itu mereka timbun untuk kemudian dijual. Orang yang miskin jiwa, bila naik jabatan akan sibuk mencari rampasan. Akibatnya, kewajibannya menjadi terbengkalai. Miskin jiwa, meski kaya harta; dia akan merusak. Oleh karena itu, jangan mencari pasangan yang kaya secara lahiriah. Carilah manusia yang kaya batin dengan penuh kemuliaan. Kekayaan lahir itu hanyalah topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang hanya mempertontonkan topeng adalah kekanak-kanakan. Harta yang didapat dengan tidak halal tidak akan membuat bahagia. Bahkan akan jadi racun untuk keluarga. Kita belum terlatih untuk menyelesaikan masalah dengan musyawarah dari hati ke hati. Masalah yang datang sering dihadapi dengan adu otot dan kekuatan. Atau saling menjungkirkan dan menjatuhkan. Bila demikian, kita tidak beda dengan binatang. Padahal, kita dibekali dengan akal dan nurani, juga iman dan rambu-rambu. Wallahua'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;REPUBLIKA - Senin, 01 September 2003&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2011/01/menghindari-kemiskinan-jiwa.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-4482782220043919651</guid><pubDate>Fri, 07 Aug 2009 01:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-08-07T09:21:37.126+07:00</atom:updated><title>Waspadai Fatamorgana Dunia</title><description>&lt;p style="font-weight: bold; text-align: justify;"&gt;Oleh : &lt;span style="font-weight: normal;"&gt;KH. Abdullah Gymnastiar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.” (QS. Luqman [31]: 33)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dunia hanya kesenangan sementara, namun banyak yang tidak selamat pada jebakan itu. Nafsu menjadi pengendali hidupnya, hingga tidak pernah ada kepuasan atas apa yang dimiliki. Semua selalu kurang dalam pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hanya karena untuk memenuhi kebutuhan dunia, manusia rela mengorbankan waktu, tenaga, fikiran? Seolah-olah dunia adalah segalanya? Penyebabnya karena dunia dianggap penting! Semakin orang menganggap penting suatu perkara, maka semakin besar pula pengorbanan untuk mencapai hal tersebut. Demikian pula dengan kehidupan duniawi, hingga ibadah pun biasa saja, sekadar luput dari kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, banyak orang menunda panggilan muadzin untuk bersegera melakukan shalat, hanya karena rapat belum selesai. Itu terjadi karena rapat dianggap lebih penting daripada shalat. Betapa sombongnya kita seolah-olah kehidupan ditentukan oleh kita lewat rapat tersebut. Seolah-olah tahu yang akan terjadi, dan semuanya tergantung pada ikhtiar kita. Padahal, segala sesuatu itu terjadi mutlak kehendak Allah yang Maha Menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada ikhtiar, ilmu, tenaga dan kecerdasannya, lupa kepada sang Maha Pemberi Segalanya. Kejayaan dunia, harta dan tahta menjadi tolak ukur kemuliaan dalam hidup. Hatinya telah tertutup dengan silaunya dunia, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-baqarah [2]: 212): “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukuplah Allah segala-galanya bagi kita, Ia Maha Tahu yang terbaik bagi kita. Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Kasih dan Sayang. Insya Allah, bagaimanapun banyaknya masalah yang dihadapi namun bagi orang yang hatinya sudah mantap kepada Allah, tidak ada gentar ataupun takut. Allah telah memberikan ketenangan hati padanya dan solusi dari jalan yang tidak disangka-sangka serta dibukakan hikmah dari setiap kejadian. Semoga kita selalu mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi pecinta Allah sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : Cybermq.com&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2009/08/waspadai-fatamorgana-dunia.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-4150807980056119255</guid><pubDate>Sat, 31 Jan 2009 00:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-31T08:09:30.992+07:00</atom:updated><title>Bahasa Allah</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : &lt;/span&gt;&lt;span&gt; Syaefudin Simon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kecil, kita sering mendengar dari orang tua berbagai kisah yang menggambarkan tentang keadilan Allah SWT. Di antara kisah itu diceritakan ada seorang yang pernah meragukan keadilan Allah ketika membandingkan buah semangka dan beringin. Mengapa pohon semangka itu kecil, padahal buahnya besar -- sedang beringin sebaliknya? Ketika orang itu sedang asyik mengamati 'ketidak-adilan' pada pohon beringin itu, tiba-tiba beberapa buah pohon beringin jatuh dan mengenai kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu ia langsung beristighfar, ''Allah Mahaadil. Coba seandainya buah beringin sebesar semangka, tentu muka saya sudah hancur.'' Sebelum mengakhiri cerita itu, orang tua kita lalu menyimpulkan bahwa itulah cara Allah memperingatkan hamba-Nya. Orang tadi beruntung karena cepat menyadari kekeliruan jalan pikirannya terhadap keadilan Allah. Ia peka akan 'tanda-tanda' alam sebagai 'bahasa' Tuhan yang mengingatkan kesalahan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda-tanda alam sebagai 'bahasa' Tuhan sesungguhnya tidak hanya terdapat pada kisah orang tua kita di atas. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendapatkan berbagai peringatan dari 'bahasa' Allah itu. Dalam sejarah Islam, misalnya, 'bahasa' Allah untuk memberitahukan kepada manusia tentang kerasulan Muhammad saw, ditunjukkan dengan beraraknya awan yang selalu menaungi beliau ke mana pergi. Banyak rabbi Yahudi, antara lain Buhaira, masuk Islam setelah membaca 'bahasa' Allah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, kita juga sering diingatkan Allah akan kekeliruan langkah dan perilaku kita dengan bahasa-bahasa alam semacam itu. Tapi, karena kita kurang peka, peringatan-peringatan tersebut sering kita abaikan hingga akhirnya kita terkena bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah masih terus mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan bahasa-bahasa alam. Ketika kita menyaksikan sepotong daun yang layu dan jatuh, itu sesungguhnya 'bahasa' Allah untuk mengingatkan kita bahwa pada saatnya kedudukan daun yang terletak pada setiap bagian pohon akan lengser juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibn Al-Arabi memandang alam sebagai simbol-simbol eksistensi Tuhan. Karena itu, kejadian sehari-hari di alam bisa merupakan 'perumpamaan' dari 'bahasa' Allah. Alquran menjelaskan, ''Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun bagi orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Tapi mereka yang kafir mengatakan, ''Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu banyak pula yang diberi petunjuk ... (Al-Baqarah: 26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, di zaman reformasi, 'bahasa' Allah tak hanya ditunjukkan melalui bahasa-bahasa alam yang halus, tapi melalui 'bahasa-bahasa' manusia yang nyata dan terang benderang. Lihat saja, betapa banyak penguasa dan hartawan yang dulu sangat dihormati dan disembah-sembah, tiba-tiba kini dicemooh orang. Itu semua terjadi karena mereka tak mau memperhatikan 'bahasa' Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sumber : ng.republika.co.id&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/strong&gt; /Jumat, 09 Januari 2009&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2009/01/bahasa-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-8141514924455724349</guid><pubDate>Mon, 22 Dec 2008 02:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-24T09:58:55.042+07:00</atom:updated><title>Hindari Sifat Hasad</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : &lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Ust. Kholid Syamhudi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah memberikan nimmatNya tidak sama pada semua hambaNya, ada yang diberi banyak dan ada yang sedikit. Semua itu untuk menguji para hambaNya dalam kehidupan dunia ini. Ujian ini bagaikan api membersihkan dan memisahkan emas dari campurannya. Sehingga dengan ujian ini dapat terlihat mana yang benar-benar beriman dan yang tidak. Oleh karena itu jangan sampai kita kalah dalam ujian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adam vs Iblis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena perbedaan inilah, sering timbul sifat-sifat jelek hamba Allah terhadap yang lainnya. Lihat awal perseteruan Adam dan iblis, ketika Iblis melanggar perintah Allah untuk sujud kepada Adam disebabkan perasaan hasadnya terhadap Adam. Ia merasa Allah tidak adil dalam perintah tersebut, bagaimana tidak? –menurut Iblis-. Ia yang lebih baik dan pantas dari Adam mendapat kemuliaan tersebut, kok malahan diminta sujud padanya, sampai ia mengatakan:&lt;br /&gt;:”Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. 7:12)&lt;br /&gt;Perseteruan itu ada disebabkan hasad kepada Adam yang telah Allah muliakan. Akibatnya Allah kutuk Iblis dan menjadikannya musuh anak Adam sampai hari kiamat.&lt;br /&gt;Demikian juga permusuhan orang kafir terhadap kaum mukminin, sehingga mereka mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk menjauhkan kaum mukmin dari keimanan, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firmanNya:&lt;br /&gt;Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguh-Nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 2:109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa itu Hasad?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang tidak suka orang lain lebih darinya atau tidak suka orang lain mendapatkan kenikmatan Allah baik dengan keinginan kenikmatan tersebut hilang darinya atau tidak, bila disertai perasaan ingin menghancurkan milik orang lain maka ini merupakan hasad tingkat tinggi dan paling jelek, seperti hasadnya Iblis kepada Adam.&lt;br /&gt;Sifat hasad ini dapat digambarkan dengan contoh, misalnya tetangga kita memiliki kelebihan harta benda, atau anak atau istri yang cantik jelita atau memiliki kedudukan dan nama baik dimasyarakat, lalu kita iri dan dengki kepadanya, baik berusaha jelek merusaknya ataupun tidak. Sifat hasad ini dapat membuat orang berbuat dzolim kepada tetangganya, bahkan juga ngosipin dan menjelek-jelekkannya didepan orang lain. Tentu ini akan menjadikan suasana bermasarakat yang tidak kondusif dan buruk sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Bahaya Hasad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasad sangat berbahaya sekali, diantara bahayanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. hasad merupakan sifat orang yahudi yang Allah laknat, sehingga siapa yang memilikinya berarti telah menyerupai mereka. Allah berfirman tentang hal ini:&lt;br /&gt;Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. 4:54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. orang yang memiliki sifat hasad tidak dapat menyempurnakan imannya, sebab ia tidak akan dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Padahal Rasululloh bersabda:&lt;br /&gt;tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai cinta untuk saudaranya seperti cinta untuk dirinya. (Muttafaqun Alaihi) bahkan lebih dari itu orang yang hasad sangat bahagia dan senang bila saudaranya celaka dan binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada dalam sifat hasad ini ketidak sukaan terhadap taqdir yang Allah berikan kepadanya, sebab siapa yang memberikan nikmat kepada orang lain tersebut? Tentu saja Allah. Seakan-akan ia ingin ikut berperan aktif dalam penentuan takdir Allah dengan merasa bahwa ia lebih pantas mendapatkan nikmat tersebut dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setiap orang lain mendapatkan kenikmatan, semakin besar dan kuat api hasad dalam dirinya, sehingga ia selalu penasaran dan duka serta hatinya terbakar api hasad tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. menimbulkan sekap egois yang tinggi dan tidak menyukai kebaikan pada orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hasad memakan dan melumat kebaikan yang dimilikinya sebagaimana api memakan dan melumat kayu bakar yang kering. Ini yang dinyatakan Rasululloh dalam sabdanya:&lt;br /&gt;Jauhkanlah (oleh kalian) dengki (hasad) karena ia akan memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar (riwayat Abu daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. menyusahkan diri sendiri sebab ia tidak mampu merubah sedikitpun takdir Allah. Allah telah memberikan nikmat pada orang lain dan tidak akan tercegah dan terhalangi oleh ulah orang yang hasad tersebut. Walaupun ia telah berusaha dengan mencurahkan seluruh kesungguhan dan kemampuannya tidak akan mungkin merubah takdir Allah yang sudah ditetapkan. Sehingga semua usahanya hanyalah sia-sia belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. hasad mencegah pemiliknya dari berbuat amal kebaikan dan kemanfaatan. Hal ini karena ia selalu sibuk dengan memikirkan dan melihat milik orang lain sehingga seluruh hidupnya hanya untuk memikirkan bagaimana datangnya kenikmatan pada orang lain dan bagaimana cara menghilangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. hasad dapat memecah persatuan, kesatuan dan persaudaraan kaum muslimin. Memang demikian, karena itulah Rasululloh bersabda:&lt;br /&gt;Janganlah saling hasad dan berbuat najasy dan janganlah saling bermusuhan serta saling mendiamkan dan jadilah kalian bersaudara. (riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. hidupnya tidak pernah tenang dan tentram, apalagi bahagia. Orang yang hasad selalu dalam keadaan gundah gulana dan resah melihat orang lain lebih darinya. Padahal mesti ada orang ;ain yang memiliki kelebihan darinya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Rasululloh melarang kita melakukan perbuatan hasad ini.&lt;br /&gt;Alangkah mengerikan bahaya dan kerusakan yang timbul dari dengki (hasad) ini. Oleh karena itu marilah kita berusaha menanggalkan dan menghilangkannya dari diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10 Kiat menghindari dan mencegah sifat Hasad.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui bahayanya, tentunya kita harus berusaha menghindari dan manjauhkan diri dari sifat yang satu ini. Untuk itu perlu melihat kiat-kiat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Belajar dan memahami aqidah islam yang benar, baik tentang keimanan ataupun syari’at serta nmengamalkannya. Kebenaran aqidah merupakan sumber segala perbaikan dan kebaikan. Hal ini dilakukan dengan terus senantiasa menggali isi kandungan Al Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. memahami dengan benar konsep takdir menurut syari’at Islam, sehingga faham kalau segala kenikmatan dan rizqi serta yang lainnya tidak lepas dari ketentuan takdir Allah. Dengan memahami ini diharapkan tidak timbul dalam diri kita rasa iri dan dengki terhadap orang lain, karena tahu itu semua tidak lepas dari ketetapan takdir Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. meyakini dengan benar dan kokoh bahwa semua kenikmatan tersebut berasal dari Allah dan diberikan kepada setiap orang sesuai dengan hikmah yang diinginkanNya. Sebab tidak semua kenikmatan yang Allah berikan kepada orang lain itu baik untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. membersihkan hati dengan berusaha mengamalkan seluruh syari’at islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. memandang dunia dengan segala perhiasannya sebagai sesuatu yang akan punah dengan cepat dan sesuatu yang tidak seberapa dibanding akherat. Demikian juga memandang tujuan akhir kehidupannya adalah akherat yang kekal abadi, sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman di bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. 10:24-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. selalu mengingat bahaya hasad bagi kehidupan dunia dan akheratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. selalu mencanangkan dalam hatinya kewajiban mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cinta untuk dirinya, sehingga tidak merasa panas melihat saudaranya lebih baik darinya dalam permasalahan dunia. Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya (Mutafaqun Alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. berusaha memenuhi hak-hak saudaranya sesama muslim dan mencari teman baik yang mengingatkan dan menasehatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. selalu mengingat kematian dan pembalasan Allah atas kedzoliman dan kerusakan yang ditumbulkan hasad tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. mengingat keutamaan zuhud dan lapang dada terhadap nikmat yang Allah anugrahi kepada orang lain serta kewajiban bersyukur terhadap nikmat yang dianugrahkan kepadanya. Sebab semua ini akan menimbulkan sifat qana’ah dan kaya diri. Sifat qana’ah dan kaya diri ini yang akan membawanya kepada sifat iffah dan takwa. Rasululoh bersabda:&lt;br /&gt;mudah-mudahan dengan selalu berusaha menjauhi dan meninggalkan sifat hasad ini kita semua dimudahkan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :http://ustadzkholid.wordpress.com/&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/12/hindarilah-sifat-hasad.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-578529785235809700</guid><pubDate>Tue, 26 Aug 2008 02:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-26T10:44:29.307+07:00</atom:updated><title>Positive Thinking Di Era Globalisasi Menurut Islam</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; Drs HM Abid Fauzi MM&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara naluriah, setiap manusia pasti merindukan perubahan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupannya.Baik secara individu, maupun sosial untuk membangun jiwa serta pikiran yang bersih menuju &lt;i&gt;positive thinking&lt;/i&gt;. Terutama dalam menyikapi kehidupan yang sarat dengan tantangan di era globalisasi saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Banyak langkah yang ditempuh untuk membangun jiwa menuju pola pikir yang &lt;i&gt;positive thinking &lt;/i&gt;dan pikiran yang bersih berdasarkan hati nurani yang fitrah. Dimulai dengan mengubah paradigma dan meluluskan tekad dan niat yang tulus untuk meraih perubahan. Tidak berpikiran statis (jumud), tak angkuh, aniaya, egoisme, menjadi sosok yang berbeda, teguh dalam prinsif, istiqomah serta ridho dalam menerima takdir Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membangun jiwa &lt;i&gt;positive thinking &lt;/i&gt;dalam kajian fokus kali ini, mari kita mengambil beberapa penelitian yang membahas tema kecemasan jiwa dari sisi pandang agama Islam yang dilandasi oleh keimanan yang telah meresap dalam qalbu manusia yang hatinya mati dapat dibangkitkan dengan ketenangan dan ketenteraman jiwanya.Awa man kaana mayyitan, faahyaynaahu wa ja’alnaa lahunuuron, yamsyii bihii fin naasi kamam matsaluhu fidhdhulumaatilaysa bikhooriji minhaa.&lt;i&gt;Dan apakah orang-orang yang sudah mati hatinya kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia bisa berjalan,bergaul di tengah manusia seperti orang yang sedang berjalan dalam gelap gulita sekali-kali dia tidak dapat keluar darinya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat bagaimana membangun jiwa yang memiliki &lt;i&gt;positive thinking &lt;/i&gt;secara Islam yang dirilis oleh Adil Fathi, Abdullah yang disadur dari buku yang judul aslinya &lt;i&gt;asyi-syiruunahu nashiyhatan naajihatan lillatiy hiyaminalqolbi &lt;/i&gt;yang diterjemahkan oleh Faishal Hakim Halimy, yakni sebagai berikut, pertama, luruskan pikiran anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan QS Arro’dhu: 11,ayat tersebut menjelaskan tentang hukum perubahan dalam kehidupan manusia.Oleh karenanya keadaan anda tidak akan berubah dari satu kondisi selama anda belum mengenal hukum perubahan ini dengan baik. Maka tinggal upaya anda untuk mengatasi rasa cemas atau agar terbebas dari keresahan.Tidak akan berguna hidup anda adalah refleksi dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; berpikir anda dengan kapasitas anda pula. Anda bisa sakit atau juga bisa menikmati sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan seseorang bukan penentu kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang. Tetapi bagaimana menyikapinya mengubah cobaan berat menjadi sebuah karunia seperti diungkap oleh Mujtahid dan ulama besar Ibnu Taimiyah berkata, &lt;i&gt;Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku? Tamanku dan surgaku berada dalam dadaku&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Membunuhku sama halnya dengan mati syahid&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Mengasingkanku sama dengan bertamasya&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;memenjarakanku sama dengan berkhalwat&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tinggalkan sifat perfeksionisme, yaitu sifat orang-orang yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dengan semestinya atau berjalan dengan sekehendaknya. Sifat ini banyak menjadikan orang stress dan gangguan jiwa berupa cemas atau gangguan-gangguan lainnya. Ciri-ciri sifat perfeksionisme adalah a). Mereka tidak mau menerima kekurangan yang ada pada dirinya. b). Mereka ingin segala maksud dan tujuannya tercapai dengan mulus tanpa rintangan sesuai dengan yang diinginkan. c). Memiliki sifat hipokrit (munafik). &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; hadits Nabi Muhammad SAW yang mengandung makna demikian: &lt;i&gt;“Orang yang mati syahid, orang yang berilmu, orang yang mengaku dermawan, ketiga-tiganya terlempar ke neraka lantaran lahiriahnya berjiwa malaikat,tapi karakternya berhati iblis”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hilangkan rasa cemburu terhadap apa yang dimiliki orang lain. Rasa cemburu salah satu sebab timbulnya rasa cemas. Rasa cemburu timbul lantaran kurangnya memiliki sifat kepercayaan diri. Rasa cemburu tidak hanya menimpa pada sektor kehidupan rumah tangga saja, akan tetapi bisa dalam sector lainnya. Bisa cemburu lantaran orang tersebut kurang dihormati di masyarakat, padahal orang tersebut pintar, alim dan lainnya. Bisa cemburu lantaran kurang sukses dalam bidang ekonomi, politik, sosial, jabatan, gelar akademik dan sebagainya. Ingatlah, bahwa berpikir cemburu adalah cara berpikir yang keliru dan salah. Kita memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuan yang kita miliki. Ingatlah, kebahagiaan anda bukan dari orang lain, tetapi muncul dari diri anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, jadilah sosok berbeda dan jadilah diri sendiri.Islam sebagai agama kita telah menentang sifat ikut-ikutan.Islam sangat mengagumkan dalam independensi dalam kepribadian individu. Dalam Islam istilah ikut-ikutan dinamakan imma’iyyah, yang diambil dari kata imma’a yang tersusun dari 2 kata yang berarti jika dan ma’a, bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi artinya, jika orang berbuat ini, maka saya bersama mereka.Rasulullah SAW bersabda, &lt;i&gt;“Laatakuunuu imma’atan. Qooluu: Wamaa imma’atan ya rasuulallaah?Qooluu: Inaa ma’an naasi inahsanan naasu ahsanan, wa indholamuu, dholamnaa. Artinya:“Janganlah kalian ikut-ikutan.Para sahabat bertanya: Apa arti Imma’atan ya Rasulullah?Rasulullah SAW menjawab, “Saya bersama orang-orang yang jika orang-orang berbuat baik, maka saya pun berbuat baik&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Jika mereka berbuat zalim, maka saya pun berbuat zalim, melainkan aturlah dirimu sendiri&lt;/i&gt;,” hadits Turmudzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem tarbiyah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya tak berdasarkan metode ikut-ikutan, dengan tujuan agar menghasilkan karakter yang berbeda beda, tapi memiliki keunggulan masing-masing. Sesuai dengan porsinya. Mari kita renungkan hadits Rasulullah SAW yang maknanya, &lt;i&gt;“Orang yang paling penyayang kepada ummatku adalah Abu Bakar&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Orang yang paling tegas dalam urusan agama atau hukum Allah adalah Umar bin Khotob, orang yang memiliki rasa malu adalah Utsman bin Affan, orang yang pandai membaca Quran adalah Ubay bin Ka’ab, orang yang pandai ilmu faroo-idl adalah Zaid bin Tsabit, orang yang paling pandai atau ‘alim adalah Mu’adz bin Jabal&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Bukankah setiap umat ini ada yang berjiwa pemimpin? Dan orang yang memiliki jiwa ini adalah Abu Ubaidah bin Zarrah,” &lt;/i&gt;HR AtTirmidzi, An Nasa’I, At Thabarani dan Al Bayhaqqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, hilangkan penyakit hati.Penyakit ini tentu bukan virus atau sejenis mikroba. Akan tetapi penyakit ini akibat adanya kerusakan pikiran yang bersumber dari hati manusia. Dan akibat tipisnya iman kita kepada Allah SWT. Bahaya sifat ini ditegaskan Nabi Muhammad SAW, &lt;i&gt;Lyyakum wal hasada&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Fainnal hasada yak-kulul hasanaati kamaa takkulun naarul hathob.Aw qoolal ‘usyba, rowaahu abuu daawudu. Waspadalah kalian dari sifat iri, karena sifat iri itu akan memakan kebaikan-kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar atau rerumputan kering, &lt;/i&gt;Hadist Riwayat Abu Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotimah, tantangan hidup manusia di era globalisasi saat ini berkaitan dengan bagaimana cara membangun nilai-nilai &lt;i&gt;positive thinking&lt;/i&gt;. Maka yang perlu kita sikapi sebagai da’i adalah bagaimana seharusnya profil seorang da’i yang selalu memberi pencerahan dan tausiyah kepada umat dalam membangun masyarakat madani yang berperadaban seperti diungkap oleh Nurcholis Madjid mengutip masyarakat yang pernah dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 5 pilar dalam membangun masyarakat madani, Satu, masyarakat rabbaniyah, masyarakar religius, yang dilandasi semangat berketuhanan atau tauhidiyah. Dua, masyarakat demokratis, hidup dalam suasana musyawarah dalam memecahkan persoalan kemasyarakatan atau muamalat. Ketiga, masyarakat toleran. Masyarakat Madaniyah adalah masyarakat majemuk, &lt;i&gt;plural&lt;/i&gt;, baik dari suku maupun agama. Keempat, masyarakat yang berkeadilan. Kelima, masyarakat yang berilmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;[Penulis adalah pemerhati masalah sosial kemasyarakatan]&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.madina-sk.com/"&gt;www.madina-sk.com&lt;/a&gt; edisi &lt;b&gt;28 Juli - 3 Agustus 2008&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/08/positivethinking-di-era-globalisasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-7118149286163666200</guid><pubDate>Wed, 06 Aug 2008 04:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-06T12:00:39.485+07:00</atom:updated><title>Etika Bergaul</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; Ust. Fariq bin Gasim Anuz&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai olah orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim,dalam Shahih Jami’ush Shaghir no.283]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa dalil yang menguatkan keterangan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Pergauilah mereka (isteri) dengan baik”. [An-Nisaa : ’1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. [Ali-Imran : 134]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URGENSI PEMBAHASAN ETIKA BERGAUL&lt;br /&gt;Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”.[Al-Qalam 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran : 103]&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan. Jika kita seorang da’i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da’i atau lainnya dan dengan mad’u (yang didakwahi) atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.&lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOTIVASI DALAM BERGAUL&lt;br /&gt;Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Allah. ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik. Demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan temannya, ketika menepati janji, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. jangan sebaliknya, yaitu, bertujuan bukan dalam rangka mencari ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena kepentingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dengan non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang mau akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika oramg lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Sikap seperti itu merupakan perbuatan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal 249 : “Diantara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu; maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi. atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”. hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya :seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika seseorang masih menjadi murid, sangat menghormati gurunya. Namun ketika sudah lulus (tidak menjadi muridnya lagi), bahkan sekolahnya sudah lebih tinggi dari gurunya itu, bertemu di jalan pun enggan untuk menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang berteman akrab hanya sebatas ketika ada kepentingannya saja.yakni ketika menguntungkannya, dia akrab, sering mengunjungi, berbincang-bincang dan memperhatikannya.namun ketika sudah tidak ada keuntungan yang bisa didapatnya, kenal pun tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seseorang yang hanya hormat kepada orang kaya saja. Adapun kepada orang miskin, memandang pun sudah tidak mau. Hal semacam ini bukan berasal aturan-aturan Islam. menilai seseorang hanya dikarenakan hartanya, hanya karena nasabnya, hanya karena ilmunya, yaitu jika kepada orang yang berilmu dia hormat dan menyepelekan kepada orang yang tak berilmu. hal-hal seperti itu merupakan perbuatan yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’Fatawa juz 10, beliau berkata: “Jiwa manusia itu telah diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakekatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan kebaikannya atau perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan demikian bukan karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang mencintai orang lain dikarenakan dia itu memberi sesuatu kepadanya, maka dia semata-mata cinta kepada pemberian. Dan barang siapa yang mengatakan: “saya cinta kepadanya karena Allah”, maka dia pendusta. Begitu pula, barang siapa yang menolongnya, maka dia semata-mata mencintai pertolongan, bukan cinta kepada yang menolong. Yang demikian itu, semuanya termasuk mengikuti hawa nafsu. Karena pada hakekatnya dia mencintai orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya, atau agar tehindar dari bahaya. Demikianlah pada umumnya manusia saling mencintai pada sesamanya, dan yang demikian itu tidak akan diberi pahala di akhirat, dan tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal demikian itu mengakibatkan terjerumus pada nifaq dan sifat kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Ibn Taimiyah rahimahullah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zukhruf 67,artinya: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa. adapun orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. Yaitu cinta karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: “Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar persahabatan mereka bukan karena dien, tetapi karena kepentingan duniawi. Berupa ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, harta dan sebagainya dengan tidak memperdulikan apakah cara yang mereka lakukan diridhoi Allah, sesuai dengan aturan-aturan Islam ataukah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA&lt;br /&gt;[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman. "Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,” Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan tentang ayat : "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah". Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, tentu akan berbeda tanggapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;"Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA&lt;br /&gt;Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian&lt;br /&gt;Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia&lt;br /&gt;Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan&lt;br /&gt;Aku tidak ridho mendengarnya&lt;br /&gt;Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku&lt;br /&gt;Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan secara tidak langsung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – Kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah.&lt;br /&gt;[2]. Isti’jal atau terburu-buru.&lt;br /&gt;[3]. Ta’ashub atau fanatik.&lt;br /&gt;[4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Aqidahnya benar.&lt;br /&gt;[2]. Akhlaqnya baik.&lt;br /&gt;[3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.&lt;br /&gt;[4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu membalas kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. " sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Harta atau uang .&lt;br /&gt;[2]. Ilmu.&lt;br /&gt;[3]. Nasab atau keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran Tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul ‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk memberikan nasehat kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/08/etika-bergaul.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-3826674716214016788</guid><pubDate>Wed, 16 Jul 2008 07:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-16T14:51:01.975+07:00</atom:updated><title>Hidup Adalah Memaknai</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh: &lt;/span&gt;Ust. Heru Pudji Hartanto&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkakan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan, serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan yang baik, yaitu surga ‘Adn, Mereka masuk kedalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya. Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “keselamatan atasmu berkat kesabaranmu.”&lt;span class="gen"&gt; Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( QS Al-Ra’d : 22-24 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Betapa Allah memberikan kelebihan balasan kepada mereka yang memiliki kesabaran, dan menjadikan kesabaran itu sebagai cara mensikapi kenyataan hidupnya (walaupun terkadang amat pahit untuk dijalani). Beragam cobaan datang menerpa, baik itu berupa kebaikan atau keburukan, dapat dengan bijak diatasi dengan kesabaran yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang didalamnya bersemayam “sabar”, menjadikan personanya memiliki sikap positif terhadap kemungkinan. Bukankah masa depan tidak lain adalah berisi kemungkinan-kemungkinan ? dan sikap positif terhadap kesemuanya itu, tentu membuahkan harapan hidup lebih besar bagi seorang mukmin. Sementara itu, kehadiran “sabar” dalam hati seseorang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya memaknai berbagai peristiwa  yang terjadi dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan akan hakekat hidup menjadi factor penting dalam menentukan kualitas sabar dalam diri seseorang. Untuk itulah Allah melalui firman-firman-Nya, Rasulullah saw. Melalui sabdanya, menjelaskan dann mengungkapkan hakekat dan tujuan dari  beragam cobaan hidup yang menimpa kita, sehingga kita mendapatkan “keselamatan” sebagai “berkah” dari “kesabaran”  yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurayrah,  Rasulullah saw. Bersabda, “Allah berfirman, Jika Aku menguji hamba-Ku yang beriman dan ia tidak mengeluhkan penyakitnya kepada-Ku, maka ia akan Aku bebaskan dari penawanan-Ku. Kemudian Aku akan menggantikan dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya, darahnya dengan darah yang lebih baik. Sehingga iapun memulai lembaran amal yang baru.” (HR. Al-Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disaat A’isyah ditanya tentang firman Allah, “Dan jika kamu menampakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan denganmu tentang perbuatan itu.” (QS. Al-Baqarah : 284), dan firman-Nya, “Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu.” (QS. An-Nisa’ : 123). A’isyah berkata, “Tak seorangpun bertanya kepadaku tentang ayat ini sejak aku menanyakannya kepada Rasulullah saw. Ketika itu, beliau bersabda kepadaku, “Wahai A’isyah, ini ujian Allah kepada hamba-Nya berupa penyakit demam, bencana, kesulitan, sampai kehilangan barang yang ia simpan di sakunya dan sempat mencemaskannya, tetapi ia lalu temukan dibawah ketiaknya (dengan ujian itu) seorang mukmin keluar dari dosa-dosanya seperti keluarnya emas merah dari tungku ukupan” (H.R. Ibn Abi al-Dunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah tuntunan Rasulullah saw. Guna memaknai berbagai peristiwa dalam kehidupan ini (terlebih-lebih disaat cobaan serta ujian hidup datang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abd al-Rahman ibn Abu Bakr berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya perumpamaan seorang hamba yang beriman ketika ditimpa rasa nyeri ataupun demam, adalah seperti besi yang dimasukan api. Itu dapat menghilangkan cacatnya dan yang tinggal hanya kebaikannya.” (HR. al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari al-Hasan, dalam sebuah hadist yang marfuk Rasulullah saw. Bersabda, “sesungguhnya Allah akan menutupi seluruh kesalahan seseorang mukmin dengan menimpakan demam pada satu malam saja” (HR Ibn Abi al-Dunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Burdah berkata, “Suatu ketika aku berada dekat Mu’awiyah, dan seorang dokter sedang mengobati luka dipunggungnya. Ia berkata. “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapat musibah pada tubuhnya, kecuali ia menjadi kaffarat bagi dosa-dosanya.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Menjauhi dunia bukan dengan mengharamkan apa yang halal dan membuang harta. Tetapi, hendaknya apa yang ditanganmu tidak lebih kamu percayai dari apa yang ada di tangan Allah. Hendaknya musibah yang menimpamu karena kehilangan sesuatu lebih kamu sukai daripada sesuatu yang hilang itu  tetap bersamamu.” (HR. al-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/07/hidup-adalah-memaknai.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-8799618975556115145</guid><pubDate>Tue, 24 Jun 2008 03:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-24T10:09:36.758+07:00</atom:updated><title>Meredam Rasa Tersinggung</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; KH. Abdullah Gymnastiar &lt;p style="text-align: justify;"&gt;Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya amal kita. Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, saleh, tampan, dan merasa sukses. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri. Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan&lt;b style=""&gt;. Pertama&lt;/b&gt;, belajar melupakan. Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita ustadz lupakan keustadzan kita. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini amanah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah amanahkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati. &lt;b style=""&gt;Kedua&lt;/b&gt;, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian, dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji′uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al Baqarah: 155-157). &lt;b style=""&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, kita harus berempati.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah. Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung, cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri. &lt;b style=""&gt;Keempat&lt;/b&gt;, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mengamalkan sifat mulia. Yaitu, memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan. Wallahu a′lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/06/meredam-rasa-tersinggung.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-3983447895628870030</guid><pubDate>Sat, 21 Jun 2008 04:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-21T12:11:12.982+07:00</atom:updated><title>Hakikat Fakir</title><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar M.A.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sesungguhnya, kefakiran dan kemiskinan itu tidak identik dengan kefakiran dan kemiskinan harta. Jika kita merasa fakir dan miskin di hadapan kebesaran dan kekayaan Allah SWT, itulah yang dinamakan “&lt;em&gt;al-faqr&lt;/em&gt;”. Orang yang merasakan seperti ini bisa saja hartanya banyak. Dan sebaliknya, orang yang angkuh bisa saja dia miskin. Sudah miskin harta, angkuh lagi di hadapan Allah SWT.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;Sebaik-baiknya yang kita inginkan adalah bahagia di dunia dan di akhirat. Kalau kita harus memilih, maka lebih baik bahagia di akhirat, daripada bahagia di dunia saja. Dan lebih jelek lagi, jika di dunia tidak bahagia, di akhirat pun tidak bahagia.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; 5 (&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;) hal keadaan fakir:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;, jika ia diberikan harta, maka ia tidak akan menyukainya, dan ia akan merasa tersiksa dengan harta tersebut dan tidak mau mengambilnya. Ia selalu menjaga diri dari kejahatan dan kesibukan pada harta tersebut. Inilah yang disebut dengan “&lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;”. Sedangkan orang yang memiliki sifat tersebut dinamakan “&lt;em&gt;zahid&lt;/em&gt;”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hal ini sungguh sangat berat untuk kita jalani. Jika ada orang yang ketika diberikan harta kepadanya, kemudian ia tidak menyukai harta tersebut, ia merasa tersiksa akan harta itu, dan kemudian dia tidak mau mengambilnya. Mengapa? Karena kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, kemudian tiba-tiba mendapatkan lagi harta dari orang lain, sehingga ia sebetulnya merasa tidak terlalu senang dan juga merasa tersiksa akan harta tersebut. Untuk apa harta yang ia dapatkan lagi tersebut lebih dari apa yang ia butuhkan. Jangan-jangan nanti harta tersebut akan memberatkannya dalam perjalanan menuju Allah SWT.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jarang sekali yang bisa melakukan ini. Pada umumnya adalah kebalikannya, yaitu sudah dapat harta banyak, kemudian berdoa lagi agar hartanya bertambah banyak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Memang tidak gampang untuk menjadi &lt;em&gt;zahid&lt;/em&gt;. Apabila kita sudah mampu merasakan hal seperti ini, maka kita sudah terpilih menjadi orang yang &lt;em&gt;zahid&lt;/em&gt;. Sebenarnya juga tidak terlalu berat untuk menjadi &lt;em&gt;zahid&lt;/em&gt;, jika kita sudah membiasakan diri untuk bersikap dekat kepada Allah. Yang kita butuhkan sebenarnya bukan harta Tuhan, bukan rahmat Tuhan, bukan rizki Tuhan, melainkan Tuhannya itu sendiri yang kita butuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ambil harta itu, yang saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Bahkan ada yang mengatakan, “Ambil surga itu, yang sangat saya butuhkan adalah Engkau ya Allah.” Dia lupa kenikmatan surga itu seperti apa, yang penting “aku memiliki-Mu, aku bersama-Mu ya Allah. ” Ia lupakan surga itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita masih awam, sehingga belum sampai kepada tingkatan seperti itu. Tapi tidak mustahil, misalkan kita dapat rizki, dapat promosi untuk jabatan baru, maka kita ucapkan, “Terima kasih ya Allah, saya bersyukur kepada-Mu. Tapi sesungguhnya bukan ini yang paling saya butuhkan. Yang saya butuhkan Engkau ya Allah.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada orang yang seperti ini, ketika rizkinya banyak, dia tidak terlalu bahagia, melainkan Allah sebenarnya yang ia butuhkan. Orang yang seperti ini tidak akan pernah mabuk dengan pemberian Tuhan, melainkan Tuhan itulah yang ia butuhkan. Sebaliknya, jika yang diberikan kebalikannya, seperti: miskin, sakit, kematian, maka yang ia ucapkan adalah, “Tidak apa-apa ya Allah, yang penting aku dekat dengan-Mu, yang penting Engkau tidak menjauhiku.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika kita mampu berprinsip seperti ini, insya Allah, surga akan datang lebih awal menjemput kita. Karena ketika diberikan kekayaan, kita kemudian menjadi tidak mabuk akan kekayaan tersebut. Jadi, seandainya harta itu, atau jabatan itu diambil oleh Tuhan, maka kita tidak terlalu merasa kecewa. Mengapa? Karena memang bukan itu yang paling kita butuhkan, melainkan Tuhan-lah yang paling kita butuhkan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, yang disebut dengan &lt;em&gt;zuhud &lt;/em&gt;itu adalah, bahwa jika lebih daripada kecukupannya, maka itu akan menjadi beban pada dirinya sendiri. Persoalannya, definisi cukup itu berapa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tingkat kecukupan antara orang kaya dengan orang miskin tentunya berbeda. Tidak pernah ada orang yang merasa cukup. Bagi orang yang dekat dengan Tuhan, pasti dia mampu mendefinisikan apa pengertian cukup itu. Jika kita tidak tahu batas kecukupan tersebut, merupakan pertanda bahwa ada masalah diri kita dengan Allah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orang yang merasa kelaparan saja bisa merasa cukup, “Ya Allah, terima kasih. Mungkin ini yang terbaik pilihan-Mu. Karena jika aku kekenyangan, maka aku tidak bisa khusyu’ dengan-Mu.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kita tentunya bercita-cita menjadi orang yang seperti ini. Karena untuk menjadi orang yang &lt;em&gt;zuhud &lt;/em&gt;itu tidak mesti harus melarat. Jika kita sudah mampu bersikap agar harta yang yang kita miliki tersebut tidak membebani kita, maka hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan kita sebagai seorang &lt;em&gt;zahid&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Misalkan: walaupun hartanya banyak, depositonya banyak, sahamnya di mana-mana, tapi ia merasa tidak terbebani. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena ia selalu berzakat, bahkan juga berwakaf. Alangkah kikirnya bagi seorang yang kaya, jika pengeluarannya hanyalah zakat. Kelewatan kikir bagi orang tersebut, karena hanya 2,5 persen yang ia keluarkan untuk zakat. Sudah selayaknya ia juga mengeluarkan shadaqah, infaq, jariyah, hadiah kepada pembantu yang akan pulang kampung misalnya, ada ujrah (upah yang meningkat) yang diberikan kepada karyawannya. Meningkatkan gaji karyawan, kelebihan dari standardnya itu adalah shadaqah. Hal-hal ini menjadikan seseorang tidak terbebani oleh harta bendanya tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanakah caranya agar kita tidak terbebani, walaupun harta yang kita miliki begitu banyaknya? Tidak bermasalah bagi kita, walaupun Tuhan akan menjemput kematian kita hari ini. Karena semua harta yang kita miliki sudah beres dan bersih. Lebih dari sekedar zakat yang kita keluarkan, bahkan misalkan sudah ada wasiat, bahwa jika kita meninggal, maka sepertiga dari harta kita diikhlaskan untuk &lt;em&gt;fi sabilillah&lt;/em&gt;, dan tiga perempatnya untuk keluarga. Sebagai catatan, bahwa di dalam Fiqh Islam juga tidak dibenarkan berwasiat lebih dari sepertiga itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;, bahwa ia tidak menyukai harta dengan kesenangan yang dapat menggembirakannya karena dapat meraihnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jika yang pertama adalah orang yang tidak suka dengan harta, sedangkan yang kedua ini ia masih mencari harta. Bahkan ia tidak membenci harta, malahan masih mencari dan menyukainya. Ketika ia diberi harta, maka ia akan &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;. Jika ia mendapat harta, maka ia akan merasa, bahwa harta tersebut bukan mutlak miliknya, melainkan hanya titipan Allah lewat dirinya. Orang yang memiliki sikap ini disebut sebagai orang yang rela, bukan &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;. Pada orang yang &lt;em&gt;zuhud &lt;/em&gt;(pada yang pertama), memang ada unsur ketidaksukaan lagi kepada harta yang sudah lebih dari batas standard hidupnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt; &lt;/em&gt;(ini kebanyakan di antara kita), yaitu bila wujud harta itu lebih dicintainya daripada ketidaksenangannya kepada harta.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maksudnya, cinta terhadap harta lebih dominan dibandingkan tidak senang terhadap harta tersebut (yang hal ini adalah normal), namun tidak sampai menggerakkan orang tersebut untuk mencarinya. Yaitu, tidak semua daftar keinginannya itu akan diburu dan dikejar-kejarnya (ada pembatasan diri). Ia hanya akan mengambil apa yang pantas menjadi haknya. Tetapi jika ia diberikan harta dengan bersih, ataupun gratis tanpa usaha, maka ia juga akan mengambilnya, sepanjang harta tersebut halal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada yang &lt;em&gt;pertama&lt;/em&gt; (seperti disebutkan di atas), jika ia mendapatkan harta seperti ini, maka dia akan merasa terbebani. Sedangkan yang &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt; ini, baginya tidak ada urusan hal tersebut (tidak terbebani). Baginya, mendistribusikan harta tersebut lebih mudah dibandingkan untuk memperolehnya. Ia senang jika mendapatkan harta dan keuntungan dengan tiba-tiba tersebut. Inilah kebanyakan di antara kita. Akan tetapi, apabila memerlukan sesuatu usaha dalam mencarinya, maka ia tidak berbuat. Jadi, ada pembatasan-pembatasan diri. Orang yang seperti ini disebut sebagai “orang yang menerima”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;, ia meninggalkan mencari harta karena kelemahan dan ketidakmampuannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada yang &lt;em&gt;keempat ini, h&lt;/em&gt;idupnya habis untuk mencari harta. Nanti, ketika sudah loyo, sudah tidak ada energi lagi, barulah ia akan berhenti mencari harta. Ketika ia mencari harta, maka ia akan mencarinya dengan kesenangan, meskipun harus berusaha dan bersusah-payah dalam mencarinya. Namun, ketika ia diajak untuk shalat berjamaah misalkan, maka akan banyak sekali alasannya. Orang yang seperti ini di dalam bahasa tasawuf disebut sebagai “orang yang rakus.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;, ia tidak memiliki harta, padahal ia sangat memerlukannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Contoh yang &lt;em&gt;kelima &lt;/em&gt;ini adalah orang yang lapar, ataupun orang yang menggelandang di jalanan tanpa memiliki tempat tinggal. Orang seperti ini disebut sebagai “orang yang terdesak.” Ia miskin karena terpaksa, tidak ada jalan lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keterpaksaan seseorang itu menjadi miskin bukanlah disebut &lt;em&gt;al-faqr&lt;/em&gt;. “&lt;em&gt;Al-Faqr&lt;/em&gt;” itu sebetulnya punya potensi untuk kaya, tapi ia tidak mencapainya, karena ia ingin lebih memprioritaskan dirinya dekat kepada Tuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kedahagaan itu seperti minum air laut, yang hal tersebut tidak akan menghentikan haus. Dalam hal ini, perlu adanya sikap “&lt;em&gt;al-qana’ah&lt;/em&gt;” (tahu diri). Memang, cobaan itu banyak sekali. Misalkan: biasanya ketika pensiun, maka semakin banyak peluang rizki. Itu sebenarnya adalah godaan. Itu adalah cara iblis untuk men-&lt;em&gt;su-ul khatimah&lt;/em&gt;kan seseorang. Ketika semakin tua semakin bagus rizkinya, akhirnya semakin tidak punya waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tentunya kita tidak ingin seperti ini. Alangkah lebih baiknya kita regenerasikan kepada generasi penerus kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Biasanya, jarang sekali ada yang mau mendelegasikan usahanya, kekayaannya kepada anak-anaknya, sepanjang orang tersebut masih kuat. Sementara anaknya ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ke mari mencari kerja. Mengapa tidak ada kepercayaan dalam hal ini? Apakah karena terlalu banyak kekhawatiran, atau karena di alam bawah sadarnya memang sudah disetel oleh iblis dengan berbagai kekhawatiran?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kadang-kadang, bukan anak kita yang tidak siap, melainkan kita yang terlalu rakus sebagai orang tua. Terlalu besar kekhawatiran kita, padahal itu hanya bisikan iblis. Kita mau menangani semuanya, yang kemudian kita tidak ada waktu lagi untuk beribadah. Suatu waktu ketika ajal menjemput, kita hanya bisa menyesal.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketahuilah, bahwa &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt; itu adalah suatu derajat yang merupakan kesempurnaan bagi orang-orang yang baik. Kesempurnaan akhlak seseorang tersebut adalah ketika muncul padanya perasaan &lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Salah satu ciri-ciri dari orang yang &lt;em&gt;zuhud &lt;/em&gt;itu adalah “&lt;em&gt;low profile&lt;/em&gt;”. Antara orang miskin dengan orang kaya, standard &lt;em&gt;low profile&lt;/em&gt;-nya juga berbeda. Bukanlah &lt;em&gt;low profile &lt;/em&gt;kalau sesungguhnya orang tersebut sebenarnya pantas untuk memiliki &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; lembar pakaian, tapi ia tetap memiliki satu lembar pakaian dengan maksud untuk ber-&lt;em&gt;zuhud&lt;/em&gt;. Siapa tahu misalkan pakaiannya itu terpercik najis, maka pakaian mana lagi yang akan ia pakai untuk shalat?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Orang yang ingin ber-&lt;em&gt;zuhud &lt;/em&gt;itu sudah semestinya mengantisipasi segala kemungkinan, sehingga kuantitas dan kualitas ibadahnya kepada Allah menjadi tidak berkurang. Antisipasi seperti ini perlu, bagi seorang yang mempunyai perencanaan. Jika akhirat mempunyai perencanaan, maka dunia pun tentunya harus ada perencanaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah bersabda: “&lt;em&gt;a-‘uzubika minal faqri &lt;/em&gt;(Aku berlindung kepada Engkau dari kefakiran).”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Doa Rasulullah tersebut adalah memohon agar tidak menjadi miskin “kere”, bukan miskin seperti yang didefinisikan di atas. Bahkan Allah mengatakan, “&lt;em&gt;qadal faqru ayyakuna kufran&lt;/em&gt; (hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran).”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Deislamisasi itukan seringnya terjadi di daerah-daerah miskin. Bahwa kadang-kadang karena kefakiran dan kemiskinan, maka orang tersebut pindah agama. Hadits ini memang semestinya menjadi perhatian kita bersama. Jangan sampai kita tidak mau memperbaiki perekonomian kita, yang akhirnya Umat Islam akan menjadi sengsara.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah bersabda, “&lt;em&gt;ahyani miskinan wa amitni miskinan&lt;/em&gt; (Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin).” Hadits ini jangan dipertentangkan dengan hadits yang pertama tadi, karena maksudnya berbeda. Hadits yang ini maksudnya adalah miskin di depan Tuhan, sekalipun hartanya banyak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kefakiran yang Rasulullah mohon perlindungan dari Allah seperti dalam sabdanya yang pertama di atas adalah kefakiran orang-orang yang terdesak, yang terpaksa miskin karena keadaan. Sedangkan kemiskinan pada sabda yang kedua yang dimaksudkan di atas adalah pengakuan kemiskinan dan kehinaan di hadapan Allah SWT.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah besabda: “&lt;em&gt;Ilaqallaha faqiran wa la talqahu ghaniyyan&lt;/em&gt; (Bertemulah kepada Allah dalam keadaan fakir, dan janganlah menemuinya dalam keadaan kaya).”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maksudnya adalah, bertemu kepada Allah dalam keadaan merasa miskin dihadapan-Nya. Karena memang tidak mungkin kita bisa berhadapan langsung dengan Tuhan dengan merasa kaya. Itu artinya ada keangkuhan. Contohnya, lebih bagus mana perut dalam keadaan berpuasa, atau dalam keadaan kekenyangan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“&lt;em&gt;Innalaha yuhibbul faqir al-mutha’affif abbal a’yal&lt;/em&gt; (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang fakir yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga).”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maksudnya ialah, seorang yang miskin tidak akan mendemonstrasikan kemiskinannya supaya mendapat perhatian dan bantuan dari orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah bersabda: “Orang-orang fakir dari ummatku masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka, dengan selisih waktu 500 tahun.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, orang-orang miskin masuk surga duluan 500 tahun, baru kemudian orang kaya. 500 tahun akhirat itu, satu hari di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; perbandingannya sama dengan 5000 tahun di dunia. Tetapi tentunya kita ber&lt;em&gt;husnudz-dzan&lt;/em&gt;, bahwa penantiannya itu bukanlah di neraka, karena akan diperiksa semua kekayaannya lebih teliti lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jadi, hal ini mungkin sangat penting bagi kita. Marilah kita mencoba memelihara, jangan sampai kita merasa kaya di depan Allah. Ber-&lt;em&gt;tawadhu’&lt;/em&gt;lah kita kepada-Nya, karena Allah Maha Tahu. &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/06/hakikat-fakir.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-7698589174688005785</guid><pubDate>Mon, 26 May 2008 06:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-22T09:24:58.741+07:00</atom:updated><title>Jangan Membanggakan Jerih Payah dan Amal Perbuatan</title><description>Diambil dari buku Telaga Ma'rifat, karya Syaikh Ibnu Athaillah&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Orang yang membangga-banggakan jerih payah dan perbuatannya, ketika gagal akan berkurang harapannya terhadap rahmat Allah"&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang belajar ilmu ma'rifat, maka janganlah kita mempunyai anggapan bahwa segala sesuatu yang telah kita raih itu semata-mata atas jerih payah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita menghindari anggapan semacam itu. Karena jika kita terbiasa merasa bahwa keberhasilan hidup, kebahagiaan, rejeki yang melimpah, jabatan dan lain sebagainya itu semata-mata karena perjuangan kita, maka tentu mata hati akan tertutup dari kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat jika kita menghadapi kegagalan dari jerih payah yang kita lakukan, maka yang timbul hanyalah penyesalan. Kita dapat menyalahkan diri sendiri, bisa juga menyalahkan orang lain, dan mungkin pula menyalahkan Allah, na'udzu billaahi min dzaalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia seringkali lupa bahwa di balik daya upaya dirinya itu ada Kekuatan Yang Maha Kuat. Kekuatan Yang Berkuasa dan menentukan harapan-harapannya. Jika mata hati kita tajam dan indra keenam cukup merasakan, maka kita akan melihat bahwa asal penyebab di balik jerih payah dan hasil yang kita dapatkan hanyalah dari Allah semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang telah memiliki ilmu ma'rifat, kehidupan di duniaini dipandang oleh mata hatinya sebagai 'permainan'. Karena ia menganggapnya sebagai permainan, maka jika menemukan kegagalan, jiwanya tetap tegar. Jika mendapati kenikmatan atau keberhasilan, ia tak akan tinggi hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan diantara manusia lupa diri. Mereka menganggap semua harapan itu dapat diraih dengan kekuatan usahanya sendiri. Karenanya jika ia telah dapat mencapai kenikmatan hidup, akhirnya jadi berbangga diri. Mereka mengingkari nikmat yang dirasakan. Mereka lupa bahwa yang menentukan hasil akhir dari jerih payahnya adalah Tuhan. Tanpa campur tangan kekuasaan-Nya, tak mungkin dapat mencapai kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita lupa bahwa takdir Allah itu sangat mempengaruhi jerih payah dan usaha kita, maka kita pasti kecewa ketika menemui kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jika kita sadar terhadap adanya penyebab kegagalan di balik usaha, maka kegagalan hanya sebagai peringatan guna memperkuat kesadaran dalam berkehendak.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/05/jangan-membanggakan-jerih-payah-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-8642281331973927208</guid><pubDate>Fri, 23 May 2008 10:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-23T17:24:04.605+07:00</atom:updated><title>Budi Pekerti Luhur</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; H. Usep Romli H.M.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;NABI Muhammad SAW. diutus menjadi Nabi dan Rasul, membawa tugas utama mendidik budi pekerti umat. Memperbaiki perilaku manusia agar berakhlak mulia (akhlakul karimah). Beliau bersabda, "Innama buitsu li utamima makarimal ahlak (Sesungguhnya kami diutus untuk menjadikan manusia berakhlak mulia).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa kelahiran Nabi SAW., hingga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, kehidupan masyarakat Arab di Kota Mekah dan di seluruh jazirah Arab, dalam keadaan kacau balau. Aturan tidak ada, hukum tidak tegas. Sebab yang menjadi ukuran harkat derajat manusia, semata-mata hanya pada kondisi fisik belaka. Gagah, kuat, tampan, cantik. Dengan demikian, orang-orang yang dianggap lemah, terutama kaum perempuan, dilenyapkan saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada waktu itu, mempunyai bayi perempuan dianggap hina. Maka setiap ada bayi perempuan lahir, langsung dikubur hidup-hidup karena dianggap tidak akan berguna untuk menopang kekuatan orang tua dan keluarga. Sebab yang diperlukan adalah laki-laki calon pahlawan di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keadaan materi, juga menjadi peringkat pertama. Kaya, termashyur, banyak pengikut, keturunan darah biru, dan sebagainya. Sedikit pun tak menghargai orang-orang miskin, orang-orang kebanyakan, yang mereka tetapkan sebagai budak-budak sasaran penghinaan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu, zaman tersebut, dinamakan zaman jahiliah. Zaman penuh kebodohan. Namun bukan berarti bodoh otak, tak dapat tulis baca. Melainkan bodoh dalam pengertian tidak memiliki akhlak, tidak memiliki budi pekerti yang baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa itu, secara intelektual, orang-orang Arab sudah terkenal sebagai ahli sastra. Pencipta puisi (syair) dan, prosa (atsar) yang indah-indah. Terkenal sebagai orator yang memikat gaya bahasanya. Setiap tahun, mereka mengadakan pasar malam Ukadz, yang diisi perlombaan menulis karya sastra. Yang paling indah ditempel pada tembok Kabah agar dibaca semua orang, disanjung dan dipuji keindahannya. Nama-nama para sastrawan Arab di zaman jahiliah, seperti Umrul Qoisy, Bari-un Nabih, Thorfah Abu Ziyad, dsb, hingga kini masih lestari karya-karya mereka terus berkumandang dalam setiap kajian bahasa dan sastra Arab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka istilah jahiliah sama sekali tidak identik dengan zaman batu, zaman primitif. Namun identik dengan perilaku jahat, kasar, ganas, tidak menghargai orang lain, tidak mengenal tata krama adab sopan santun, dan tak dapat membedakan salah dan benar. Yang penting dapat mengumbar nafsu melampiaskan amarah pada setiap kesempatan, baik terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini perlu ditegaskan sebab banyak yang berpendapat bahwa jahiliah sama dengan kuno. Sebuah pendapat yang amat salah. Sebab jahiliah berkaitan dengan akhlak atau mental, dan budi pekerti. Tidak dengan kemajuan atau kemunduran zaman. Bangsa Arab jahiliah, sebagaimana diungkapkan di atas, sudah menguasai kebudayaan tinggi. Selain terkenal sebagai pencipta dan penikmat sastra, mereka juga terkenal sebagai ahli perniagaan yang ulung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam Alquran, Surat Al Quraisy, dijelaskan kebiasaan (ilaf) orang Arab Quraisy, yang pada musim dingin (as-syita) berniaga ke kawasan selatan (Yaman) yang bersuhu hangat. Sementara itu pada musim panas (ash shoif), menuju ke utara (Syam atau Suriah) yang bersuhu sejuk. Berarti yang jahiliah itu, sudah mengenal pengetahuan tentang perdagangan dan peralihan cuaca. Jika pada zaman modern sekarang, masih ada orang, kelompok atau institusi, menganggap kekuatan dan keindahan fisik, serta hal-hal bersifat material lainnya, sebagai ukuran kamajuan, dapat disebut berpola pikir jahiliah. Walaupun tampak mewah, megah, sehat, harum, naik-turun kendaraan mutakhir, namun tidak berperangai halus, kejam, meremehkan orang lain, dapat dikategorikan jahiliah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meminjam istilah Muhammad Al Gazhali, tipe orang semacam itu, merupakan profil jahiliah modern. Karena hakikatnya masih diselimuti kebodohan-kebodohan perilaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang yang merasa senang berbuat kejahatan, puas jika mampu menyiksa orang lain, merampas hak orang lain (korupsi), dan sejenisnya, itu pertanda berjiwa jahiliah. Sebab orang berjiwa modern, sebagaimana dinyatakan Nabi Muhammad saw. idza sa-atka sayyiatuka wa sarrotka hasanatuka fa anta muminun (jika engkau merasa tidak tenang karena berbuat kesalahan, namun merasa gembira sebab telah berbuat kebaikan, merupakan pertanda engkau manusia beriman sempurna).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan logika hadis tersebut, orang yang merasa bahagia jika berbuat keburukan dengan alasan apa saja, bukanlah orang beriman. Sementara itu orang tak beriman, sama dengan orang yang bodoh (jahil), dan berpandangan jahiliah. Adapun orang yang gembira, jika berbuat kebaikan serta kebajikan, itulah pertanda Mumin. Derajat orang beriman, yang mendapat petunjuk ke jalan haq, bersih dari hal-hal dosa dan kejahatan, dinilai oleh Allah SWT sebagai orang yang mendapat kebahagiaan (Q.S. Asy Syamsu : 10).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian tanda dari orang-orang berbudi pekerti luhur adalah menunjukkan sikap tidak berlebihan, baik dalam berbicara maupun di dalam bertindak. Ketika bicara, tidak dengan suara keras membentak-bentak. Isi pembicaraannya pun tidak menyinggung hati dan perasaan orang yang mendengarnya. Dalam tindakan, selalu tertib, penuh kerendahhatian, jauh dari keangkuhan, dan menggagah-gagahkan diri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sikap besar kepala yang ditunjukkan dalam perilaku, dilarang keras oleh Allah SWT (Q.S. Luqman : 19). Sebab hakikat manusia, walaupun mengaku dan merasa modern, maju serta kuasa, tetap dalam kedaan lemah. Tak berdaya sama sekali. Allah SWT (Q.S. An Nisa : 28) menyatakan wa huliqal insana dlaifan (Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kekuatan manusia, dalam kelemahannya itu, adalah memiliki akhlak mulia, budi pekerti halus, dan bagus. Bersih dari sifat-sifat ganas, kejam, dan tidak tunduk kepada hawa nafsu jahiliah. Sebab, kepada setiap orang yang berbuat baik, Allah SWT akan menunjukkan jalan serta selalu menyertainya. (Q.S. Al Ankabut : 69).***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis, penggiat Majelis Taklim di Cibiuk Limbangan Garut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/05/budi-pekerti-luhur.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-3058089910990899904</guid><pubDate>Fri, 18 Apr 2008 06:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-18T14:05:24.474+07:00</atom:updated><title>Kesehatan Jiwa Seorang Muslim</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : &lt;/span&gt;Zu'alfi Azyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama kita mengajarkan hendaknya kita sabar setiap kali menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Sebagaimana kita ketahui bahwa ajaran Rasulullah SAW, misalnya dalam hal makan tetapi hendaknya makanan itu seadanya, tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita dilarang oleh Nabi menyumpah-nyumpah makanan itu. Kita dilarang oleh Nabi mencari-cari yang bukan-bukan, kita harus makan hidangan yang telah tersedia itu dengan penuh syukur dan gembira, dengan sabar dan dimakannya tenpa perasaan yang bukan-bukan. Kita harus dapat menyesuaikan diri terhadap realita yang meskipun realitas yang dihadapinya tidak sesuai dengan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaknya dapat mensyukuri hasil perjuangannya dan memperoleh kepuasan. Mensyukuri atas hasil perjuangan dalam agama kita dinamakan mensyukuri nikmat. Syukur bergembira atas hasil yang didapatnya apapun keadaannya. Berterimakasih kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat karuni-Nya kepada kita, baik yang diminta maupun yang tidak diminta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Syukur bukan sekedar bergembira, bukan sekedar mengucapkan Alhamdulillah terhadap apa yang dia dapat. Tetapi syukur yang sebenarnya adalah melaksanakan pemberian tuhan sesuai dengan kehendak tuhan, misalnya kita diberi oleh tuhan nikmat lahir dan batin, kita dikaruniai oleh tuhan nikmat kesehatan, diberi oleh tuhan dengan nikmat umur yang panjang dan lain-lain kenikmatan lagi. Semua pemberian tuhan itu dimaksudkan agar supaya kita menghambakan diri kepadaNya, menyembah kepadaNya firman Allah SWT : “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku. (QS. Adz Dzariyaat ; 56)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu mensykuri nikmat tidak lain telah melaksanakan perintah-perintah Tuhan sesuai dengan keinginan Tuhan, karena itu telah diberi nikmat oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;Hendaknya kita selalu bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT, orang yang tidak tahu bersyukur dan tidak bergembira atas pemberian nikmat dari Tuhannya. Tidak tahu syukur maka dalam agama disebut kufur nikmat. Orang yang seperti itu , dia telah ingkar terhadap karunia allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaknya kita merasa puas untuk memberi daripada menerima. Rasulullah telah memberikan semboyan kepada kita semua melalui sabdanya : “Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.” Orang yang suka memberi lebih baik daripada orang yang suka menerima. Sebagaimana kita semua tahu bahwa segala sesuatu itu tergantung pada latihan. Orang yang ingin jadi juara tinju harus latihan tinju, orang yang latihan balap sepeda jadi juara balap sepeda, orang yang latihan lari cepat, jadi juara lari cepat, dan orang yang latihannya untuk menerima pemberian semata-mata hanya meminta kemana-mana, maka orang itu akan menjadi juara miskin. Oleh karena latihannya sehari-hari jadi orang miskin.Betigu juga sebaliknya orang yang latihannya latihan kaya, suka memberikan pertolongan terhadap orang yang kecingkrangan, memberikan pertolongan untuk fakir miskin, kepentingan sosial, maka orang ini akan dikabulkan oleh Tuhan menjadi juara kaya, akan diganti oleh Allah SWT dengan ganti yang berlipat ganda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hendaknya orang secara relatif bebas dan dapat menguasai rasa tegang dan cemas.Orang yang cemas terus menerus adalah orang yang tidak mempunyai Tawakkal, tidak mempunyai keyakinan bahwa dibalik itu ada satu sandaran yang kuat dan terkuat yaitu Allah SWT. Allah SWT menyatakan dalam Al Qur’an yang artinya “Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah”(QS.Ali Imrom:159).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai umat yang beragama dan beriman, kita telah dituntun oleh Allah Swt agar segera bertaubat, agar kembali kejalan yang benar.Rasulullah saw bersabda : “walaupun engkau hai manusia pernah berbuat dosa kepada Tuhan sehingga langit itu penuh dengan dosamu, asalkan engkau menyesal, taubat dengan taubat nasuha, maka Aku jamin bahwa taubatmu akan diterima oleh Allah SWT.” (HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan bertaubat, insya Allah kita dari hal-hal yang tidak dianjurkan dalam Islam selama ini dan berusaha berjuang memperbaiki diri. Insya Allah kita akan menjadi orang-orang yang sabar dan mulia dihadapan Allah Swt. Kita berusaha menciptakan rasa tenggang rasa yang tinggi, rasa kasih sayang terhadap umat sesama muslim dan umat manusia pada umumnya. sebagaimana Allah mempunyai sifat Maha Pemurah, Maha Pengasih, hendaknya menyesuaikan dengan sifat-sifat ketuhanan. Inilah syarat yang harus dilaksanakan bagi seseorang yang ingin mendapatkan kesehatan jiwa serta mendapat ketenangan didunia dan Akhirat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Demikianlah tulisan singkat ini mudah-mudahan akan dapat dipetik hikmah dari uraian tersebut diatas dan akan bermanfaat bagi kita beserta keluarga dan umat manusia. Amin&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/04/kesehatan-jiwa-seorang-muslim.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-220902548664083155</guid><pubDate>Mon, 07 Apr 2008 00:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-07T07:53:09.769+07:00</atom:updated><title>Selalu Puas Atas Pemberian Allah SWT</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; Habib Alwi Assagaf&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w. yang merupakan pintu gerbang kota ilmu Rasulullah saw. berkata, "Sesungguhnya aku telah membaca kitab Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Furqan. Kemudian kuambil satu kalimat sebagai intisari dari keempat Kitab Samawi tersebut. Aku ambil kalimat inti dari Taurat, `Barangsiapa yang puas atas pemberian Allah (Qana`ah), maka dia akan selalu kenyang`. Aku ambil kalimat inti dari Zabur, `Barangsiapa yang mampu meninggalkan keinginan-keinginan muluknya, maka ia akan selamat dari malapetaka`. Aku ambil kalimat inti dari Injil, `Barangsiapa yang taat, maka dia akan sukses`. Dan aku ambil kalimat inti dari Al-Furqan, `Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan selalu mencukupinya`." (Q.S. Ath-Thalaq: 3)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Qana`ah yaitu merasa puas dan menerima dengan senang hati apa pun yang diberikan Allah SWT kepada kita. Apakah bentuk pemberian tersebut sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak, dengan satu keyakinan bahwa kenyataan itulah yang terbaik dan paling maslahat bagi kita, sebab hanya Allah SWT yang Mahatahu, Mahabijak, dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang beriman kepada Allah SWT tentu ia akan mematuhi semua perintah-Nya dan melaksanakan apa-apa yang dikehendaki-Nya, lalu menyerahkan urusan dirinya secara total kepadan-Nya serta tidak sembrono dalam beribadah kepada-Nya. Doa adalah roh ibadah yang merupakan kewajiban mutlak bagi setiap hamba selama ia merasa dan menyadari kefakiran dirinya serta masih punya kebutuhan terhadap Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin sejati akan senantiasa berdoa dan menyampaikan hajat-hajatnya kepada Allah SWT, kemudian ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang ia harapkan. Sebab, hakikat doa adalah usaha itu sendiri. Demikian juga bahwa pemberian Allah SWT tidak turun begitu saja kepada manusia kecuali harus ada sebab-musababnya dan melalui suatu proses hukum alam (sunatullah) yang Dia berlakukan di jagad raya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, doa dan usaha tidak bisa dipisahkan karena merupakan bagian dari sebab-musabab atau mekanisme untuk melewati dan menerobos hukum alam itu sehingga akhirnya antara doa, usaha, dan perkenaan (ijabah) Allah SWT bertemu di satu titik, saat itulah apa yang diinginkan si hamba akan diturunkan. Namun, perlu diingat juga bahwa doa dan usaha ini harus disertai tawakal yaitu penyerahan diri dan semua urusan kepada Allah SWT dengan satu keyakinan bahwa Dialah pemilik kekuasaan tertinggi di atas hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Mengatur segala urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal bukanlah suatu pilihan terakhir yang dipaksakan atau solusi kepepet atas usaha-usaha kita yang gagal, juga bukanlah satu sikap semu untuk menghibur batin kita yang sebenarnya sedang kecewa. Tawakal juga bukan berarti berdiam diri menyerah pada kenyataan dan tidak mau merubah keadaan, tetapi tawakal adalah sebentuk kesadaran yang lahir dari keyakinan puncak seorang hamba kepada Tuhannya. Bahwasannya manusia hanya bisa berkehendak, berdoa, dan berusaha, namun hasil adalah mutlak di tangan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal seperti sebuah pipa atau selang, sedangkan doa dan usaha adalah air yang mengalir di dalamnya. Supaya aliran air berjalan lancar tanpa gangguan maka pipanya pun harus selalu dalam keadaan bagus dan normal. Tatkala kita memulai doa dan usaha, saat itu juga tawakal harus senantiasa menyertai keduanya. Setiap doa dan usaha yang tidak dibarengi dengan tawakal, akan berujung pada kekecewaan dan keputusasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. bersabda, "Barangsiapa yang menggantungkan dirinya terhadap akal dan kecerdasannya maka dia akan tersesat. Barangsiapa yang mengantungkan dirinya terhadap harta dan kekayaannya maka ia akan selalu miskin. Barangsiapa yang menggantungkan dirinya terhadap reputasi dan jabatannya maka ia akan terhina. Tetapi barangsiapa yang menggantungkan dirinya kepada Allah maka ia tidak akan pernah tersesat, miskin, ataupun hina".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah doa dan usaha yang disertai tawakal itu dilakukan, apa pun bentuk hasilnya, sesuai harapankah atau tidak, kita harus menerimanya dengan puas dan senang hati. Inilah esensi Qana`ah. Orang yang merasa puas dengan apa yang diberikan, ia akan dibebaskan dari kesedihan dan keletihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. mengajarkan kepada Imam Ali as., "Wahai Ali, jika engkau bisa qana`ah, maka engkau dengan para raja dan penguasa di dunia ini akan berada dalam satu level. Wahai Ali, sesungguhnya qana`ah adalah kekayaan yang tidak pernah habis dan kerajaan yang takkan pernah musnah. Wahai Ali, jika engkau menginginkan kemuliaan dunia dan akhirat maka putuskanlah semua keinginanmu terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia. Sesungguhnya derajat-derajat tertinggi yang telah dicapai para nabi dan rasul adalah karena mereka telah memutuskan harapannya terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sangat sulit menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, namun kita harus belajar dan mencoba menghendaki realitas tersebut dengan qana`ah. Sebab, dengan jalan inilah kita akan senantiasa mendapat ketentraman dan kepuasan batin, dan mampu bersyukur dalam segala keadaan. Sebaliknya, ketika qana`ah seseorang menurun, hawa nafsunya yang akan meningkat. Dari sinilah muncul berbagai macam penyakit jiwa, depresi, frustasi, stres, dsb. yang diakibatkan oleh hasrat-hasrat duniawi dan dorongan hawa nafsu serakah yang tidak terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman kepada Nabi Daud as., "Wahai Daud, engkau punya keinginan dan Aku pun punya keinginan. Jika engkau puas dan rela menerima keinginan-Ku, maka Aku akan berikan semua keinginanmu, tetapi jika engkau tidak rela menerima keinginan-Ku, maka Aku akan persulit semua keinginanmu. Dan setelah itu, tidak akan ada yang terjadi melainkan atas keinginan-Ku".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucu Nabi saw., al-Husain r.a. berkata, "Seandainya yang engkau inginkan tidak ada, maka inginilah (nikmatilah) yang ada". Qana`ah ibarat kapal keridaan Ilahi, mengangkut siapa pun yang ada di atasnya menuju istana kerajaan Tuhan. Milikilah keyakinan pada apa yang belum kita dapatkan dan rasa puas pada apa yang telah didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila orang yang beriman dan puas hatinya bersumpah bahwa pada akhirnya ia akan memperoleh kedua dunianya, Allah SWT akan membenarkannya dalam hal itu, dengan mewujudkan harapannya melalui kebesaran hati, keyakinan, dan kepuasan batinnya. Allah SWT berfirman, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S. An-Nahl: 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ali menjelaskan bahwa yang dimaksud Hayaatan Thayyibah dalam ayat ini adalah suatu kehidupan yang baik, manis, dan indah yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang qana`ah. Dia juga menambahkan, "Sesungguhnya kekayaan dan kemiskinan selalu berkeliling dan berpindah-pindah dari satu orang kepada yang lainnya, keduanya tidak pernah berkumpul pada satu orang, kecuali dalam diri orang yang qana`ah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang qana`ah, kaya atau miskin, dalam kondisi senang maupun susah, ketika urusannya lancar ataupun macet, ia tetap bisa menikmati hidup dengan kepuasan hati dan ketentraman batinnya. Sedangkan di akhirat kelak, surga telah menantinya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penulis, Ketua Majelis Habib, Jln. Kembar VI No. 8 Bandung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/04/selalu-puas-atas-pemberian-allah-swt.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-5569003649176819057</guid><pubDate>Thu, 06 Mar 2008 04:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-06T11:16:47.856+07:00</atom:updated><title>Ingat Aku, Ku Ingat Kamu</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; Hj. R. Farida Fauzy&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Allah SWT tidak menciptakan hamba-Nya untuk suatu kesia-siaan. Ada amanah yang harus diemban dalam menjalani kehidupan di dunia ini, utamanya menjalankan perintah-Nya agar menyembah dan beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berzikir (mengingat Allah) adalah perbuatan yang diperintahkan oleh Allah dan merupakan salah satu aktivitas ibadah untuk meraih kecintaan-Nya. Dengan berzikir, cahaya petunjuk Allah akan selalu menyertai kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dan Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang), dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al Ahzab (33):41-43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikrullah, mengingat Allah, menyebut nama-Nya, mengakui keberadaan-Nya, merasakan kenikmatan yang dianugerahkan-Nya, tertunduk dihadapan-Nya, memuji-Nya, mengagungkan-Nya, adalah salah satu jalan untuk menuju kepada Allah, jalan untuk mendekat kepada-Nya, jalan untuk diingat oleh-Nya. "Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu ..." (QS. Al Baqarah (2):152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya bila Allah ingat kepada kita, manfaat yang sangat besar akan kita rasakan. Mengingat Allah dan merasa dekat dengan-Nya, akan menjadikan diri kita dapat merasakan limpahan kasih sayang-Nya, dapat merasakan pertolongan-Nya, dapat merasakan kehebatan kekuasaan-Nya, dapat pula merasakan keindahan dan nikmatnya kehidupan dalam pengaturan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapa indah janji Allah bagi hamba-Nya yang mau mengingat dan mendekat kepada-Nya. Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Ash-Shahihain, sebuah hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, "Allah berfirman, "Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku pun megingatnya di dalam Dzat-Ku. Dan jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, maka akan Aku ingat ia di tengah kerumunan orang yang lebih baik darinya. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, Aku pun akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku pun mendekat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun akan datang kepadanya dengan berlari cepat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berzikir kehidupan dapat dijalani dengan lebih nikmat, bukan dalam kegelapan yang tanpa arah. Segala permasalahan dapat dihadapi dengan penuh kesabaran, tidak lagi menjadikan kegelisahan atau keputusasaan, melainkan akan menjadi jalan untuk dapat mengingat Allah dan berusaha mendekat kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya..." (QS Al Maidah 5:35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan zikir dan doa, optimisme lahir, dengan itu pula sering kali menjadi jalan bagi seseorang mendapati ketenangan dan kedamaian, sirna kegelisahan, dada terasa lapang, pikiran menjadi terang. Indahnya kehidupan akan dapat dirasakan, bila senantiasa hidup ini diiringkan dengan banyak mengingat Allah. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Rad (13):28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ilustrasi, bila kita menjadi seorang anak yang selalu mengingat dan memperhatikan orang tua, niscaya orang tua kita pun akan selalu teringat kepada kita. Mereka akan selalu membela, menyayangi dan tidak akan pernah rela membiarkan anaknya menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT adalah yang kasih sayang-Nya begitu hebat melebihi kasih sayang orang tua pada anaknya. Tentunya kepada hamba yang selalu mengingat dan mematuhi aturan yang ditetapkan-Nya, Dia akan selalu menganugerahkan rahmat dan maghfirah-Nya. Rasulullah saw., bersabda, "Perbanyaklah mengingat Allah dalam segala hal. Sebab tidak ada perbuatan yang sangat disenangi Allah dan dapat menyelamatkan seorang hamba dari kejahatan dunia dan akhirat selain banyak berzikir kepada Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzikrullah, tidak terbatas hanya dalam ibadah khusus ritual saja. Namun ia mencakup pula seluruh aktivitas yang berhubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Merasakan dinginnya setetes embun di pagi hari, melihat indahnya bunga yang berwarna warni, mendengar kicau burung dan gemericiknya air. Semua itu dapat menjadi sarana untuk dapat mengingat Allah Sang Pencipta dan Penguasa alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat diragukan lagi, menyadari hal-hal tersebut merupakan salah satu bentuk dan cara berzikir yang diajarkan oleh Alquran. Seperti halnya di dalam surat Ar-Rahman (55) berulang-ulang Allah menggugah hati manusia untuk mengingat nikmat-nikmat-Nya yang terbentang di alam raya, di samping mengingatkan janji dan ancaman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadis diberitakan, bahwa ada seseorang yang mengadu kepada Rasulullah saw., "Ya Rasulullah, sesungguhnya pintu kebaikan itu amatlah banyak. Saya tidak mampu melakukan semuanya. Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang dapat saya pegang teguh. Saya mohon jangan terlalu banyak hingga memberatkanku dan menjadikan aku mudah melupakannya." Kemudian Rasulullah saw. menjawab,"Senantiasalah engkau menjaga lidahmu basah karena mengingat Allah." (H.R. at-Tirmidzi, Ahmad, Al Hakim dan Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kesempatan Rasulullah saw. pernah berpesan, "Janganlah banyak berbicara tanpa mengingat Allah, karena bicara tanpa mengingat Allah akan mengakibatkan hati menjadi keras; dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah yang berhati keras."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits Qudsi ditegaskan: "Barang siapa yang lebih sibuk berzikir kepada-Ku daripada berdoa, maka Aku pasti memberikan kepadanya yang lebih utama daripada yang diberikan kepada orang-orang yang meminta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu alam bish-showab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis, pengasuh Majelis Dzikir Al Farras Bandung.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/03/ingat-aku-ku-ingat-kamu.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-4810616061289761642</guid><pubDate>Sat, 01 Mar 2008 00:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-01T12:34:56.782+07:00</atom:updated><title>Sukses Sejati</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : &lt;/span&gt;KH. Abdullah Gymnastiar&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Allah Yang Maha agung, mengaruniakan kepada kita kehati-hatian atas kesuksesan karena orang yang diuji dengan kegagalan ternyata lebih mudah berhasil dibandingkan dengan mereka yang diuji dengan kesuksesan. Banyak orang yang tahan menghadapi kesulitan, tetapi sedikit orang yang tahan ketika menghadapi kemudahan dan kelapangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada orang yang bersabar ketika tidak mempunyai harta, tetapi banyak orang yang hilang kesabaran ketika hartanya melimpah. Ternyata, harta, pangkat, dan gelar yang sering kali dijadikan sebagai alat ukur kesuksesan, dalam praktiknya malah sering membuat orang tergelincir dalam kesesatan dan kekeliruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang budiman, setiap manusia pasti di dalam lubuk hatinya mempunyai cita-cita di masa depannya, dengan tergambar dalam pikirannya akan gemilang dan kesuksesannya. Namun, tidak sedikit dari sahabat-sahabat kita kebingungan dalam mengartikan kesuksesan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah sebenarnya makna dari sebuah kesuksesan? Setiap orang bisa jadi memiliki paradigma yang berbeda mengenai kesuksesan. Namun secara sederhana, sukses bisa dikatakan sebagai sebuah keberhasilan akan tercapainya sesuatu yang telah ditargetkan. Pada dasarnya, dalam dimensi yang lebih luas, sukses adalah milik semua orang. Namun, persoalan yang sering terjadi adalah bahwa tidak semua orang tahu bagaimana cara mendapatkan kesuksesan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paradigma Islam, kesuksesan memang tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, namun juga ukhrawi. Untuk itu, kita butuh suatu sistem atau pola hidup yang memungkinkan kita untuk dapat meraih sukses di dunia sekaligus di akhirat. Satu hal yang sejak awal harus direnungi bahwa sukses dunia jangan sampai menutup peluang kita untuk meraih sukses akhirat. Justru sukses hakiki adalah saat kita berjumpa dengan Allah nanti. Apalah artinya di dunia dipuji habis-habisan, segala kedudukan digenggam, harta bertumpuk-tumpuk, namun ternyata semua itu tidak ada harganya secuil pun di sisi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sukses sebenarnya adalah orang yang berani taat kepada Allah, dan berhasil menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang sukses sejati adalah orang yang terus-menerus berusaha membersihkan hati. Di sisi lain, dia terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan pengabdian terbaik, di mana hal itu akan terlihat dari keikhlasan dan kemuliaan akhlaknya. Sukses akhirat akan kita raih ketika sukses dunia yang didapatkan tidak berbenturan dengan rambu-rambu larangan Allah. Betapa bernilai ketika sukses duniawi diperoleh seiring ketaatan kita kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, siapa pun bisa menjadi orang mulia dan sukses, tak peduli ia seorang pembantu rumah tangga, guru, tukang sayur, atau pejabat pemerintah. Selama orang itu bekerja dengan baik dan benar, taat beribadah, dan akhlaknya mulia, dia bisa menjadi orang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan jabatan yang membuat seseorang terlihat baik. Itu semua hanyalah "topeng". Semuanya tak ada apa-apanya kalau pribadinya sendiri tak berkualitas. Oleh karena itu, pantang kita hormat kepada orang yang tidak menjadikan kemuliaannya untuk taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran Surat Al-Hujuraat ayat 13 Allah berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu". Jadi, yang paling mulia bukanlah orang yang paling banyak gelarnya atau orang yang paling kaya dan dianggap paling sukses. Orang mulia dan sukses adalah orang yang berhasil mengenal Allah. Lalu, dia taat pada-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sukses adalah orang yang paling berhasil menata dirinya, menata pikirannya, menata matanya, menata mulutnya sehingga hidup ini ada di jalan yang tepat, yang disukai Allah. Posisi apa saja tidak apa-apa, tidak harus menjadi orang top dalam pandangan manusia, yang penting top dalam pandangan Allah. Toh, tidak mungkin satu negara presiden semuanya. Tidak mungkin kita jenderal semua. Kalau kesuksesan dianggap jenderal, cuma sedikit orang yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sukses adalah orang yang tidak merasa suci dan ingin dipuji. Orang sukses selalu bisa memuji Allah, dan tobat memohon ampun. Dia sadar bahwa apa pun yang diperolehnya adalah amanah. Insya Allah kita songsong saat kematian kita besok lusa dengan mempersembahkan karya terbaik kita dalam kehidupan. Ikhlas karena Allah. Itulah misi kehidupan kita, bukan pengumpul dunia yang akan kita tinggalkan. Itulah makna sukses yang sejati. Wallahualam. ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/03/sukses-sejati.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-4361986379485540652</guid><pubDate>Tue, 05 Feb 2008 01:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-05T09:28:35.061+07:00</atom:updated><title>Hidup Bahagia Awal Kesuksesan</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; KH.Abdullah Gymnastiar&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kebahagiaan.Karena bahagia ini yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan.Menurut penelitian, orang yang hari-harinya diliputi  kebahagian, hidupnya lebih optimis dibanding orang yang biasa-biasa saja, yang cenderung pesimis.Ingat, kesuksesan hanya dimiliki oleh orang-orang yang optimis.Adapun yang menjadi indikasi seseorang mudah mencapai kesuksesan karena beberapa sebab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; kuatnya iman.Dapat dipastikan seseorang yang kuat imannya kuat pula tekadnya.Sebesar apapun persaingan tak menjadikan dirinya gentar.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; tidak bergantung pada mahluk.Dia meyakini betul dengan bergantung pada mahluk maka kekecewaan yang terjadi.Di musim pemutihan atau musim PHK misalnya.Seseorang yang berjiwa optimis tidak terlalu menghiraukan apakah dirinya kena PHK atau tidak.Yang jelas, bagaimana caranya untuk tetap bekerja sebaik mungkin.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; tampil apa adanya atau just the way you are.Orang yang tampil apa adanya orientasinya bukan pada penilaian mahluk melainkan pada Allah SWT.Mau dipuji atau tidak dipuji tetap bahagia.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; jangan sebel sama orang lain.Rasa tidak suka pada orang lain pasti pernah dialami setiap orang.Bagaimana rasanya? justru tambah sengsara.Mau bertegur sapa malas karena sebel.Mau ada kepentingan pun lebih baik dibatalkan karena sebel.Ujung-ujungnya sengsara yang terasa.Maka benarlah musuh satu terasa banyak dibandingkan dengan teman seribu.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelima,&lt;/span&gt; mudah memaafkan.Orang yang bahagia hidupnya penuh dengan kelapangan.Setiap ada perlakuan yang tidak mengenakan dari orang lain serta merta memaafkan.Karena percuma, mau dibuat sebel juga sudah terjadi.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keenam,&lt;/span&gt; menjauhkan diri dari dosa.Ini sudah menjadi kewajiban bagi kita selaku muslim.Karena dosa inilah yang akanmenguragi amalan.Syukur-syukur kalau ada sesuatu yang mendatangkan pahala jika tidak, kita tekor.Nah, untuk itu saudaraku, mari kita hiasi hidup kita yag sebentar ini dengan kebahagiaan.Kuatkan iman, jauhkan diri dari bergantung pada mahluk, tampil apa adanya, jangan sebel sama orang lain, mudah memaafkan, dan menjauhlah dari dosa.Semoga Allah tetap menggolongkan kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Amiin. Wallahu a'lam bishshawwab.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/02/hidup-bahagia-awal-kesuksesan.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-5920031809809111010</guid><pubDate>Mon, 04 Feb 2008 00:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-05T09:51:42.584+07:00</atom:updated><title>Kiat Meredam Kecemasan</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh :&lt;/span&gt; E.Rahman, S.Pd.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecemasan selalu hadir diantara riak waktu.Merambat, menerobos, lalu mengalir dengan deras ke sela-sela ventilasi keseharian kita.Dalam prakteknya, kecemasan sering kali menguras daya dan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, saat kecemasan membanjiri dan meredam hati, pada saat yang sama parameter iman kerap tersungkur pada titik minimalis.Ujungnya banyak diantara kita yang mengalami stress, stroke, dan akhirnya stop alias mati.Gejala stress pada umumnya dimulai dari rasa sakit.Entah itu sakit secara fisikmaupun sakit secara jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, kecemasan, kegelisahan dan ketakutan adalah jejaring yang sengaja Allah SWT ciptakan untuk kita.Namun demikian, banyak diantara kita yang tidak memahami makna cemas dan kegelisahan tersebut.Kita bahkan sering menilai kegelisahan, kecemasan dan ketakutan adalah sebuah penyakit kronis.Sehingga banyak diantara kita yang sekuat tenaga mencari obat atau menghindari fenomena yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Allah yang Maha Agung menciptakan kecemasan kepada kita? Bagaimana kiat meredam keresahan menurut petunjuk Rasulullah SAW ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menghadapi kecemasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah menarik yang dialami seorang rekan.Beliau sebut saja, Fulan.Fulan adalah seorang kepala rumah tangga yang sudah dikaruniai dua orang anak.Ia sudah mendayuh bahtera rumah tangganya sekitar sepuluh tahun.Fulan adalah seorang suami yang baik dan bertanggug jawab.Karenanya, ia berusaha keras untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, setiap hari ia berangkat ke kantor pagi-pagi.Pulang ke rumah menjelang petang atau malam hari.Fulan bekerja di sebuah yayasan sosial di kota Bandung.Selama lima tahub bekerja Fulan tak pernah mengelu.Apapun tugas yang dibebankan atasannya, ia lakukan dengan khidmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lima tahun bekerja, tiba-tiba ketenangannya terusik.Kondisi itu disebabkan karena yayasan sosial dimana ia bekerja mengalami stagnasi.Stagnasi itu dilatar belakangi oleh pengelolaan yayasan yang gonjang ganjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kabar yang ia terima, sebagian besar karyawan terpaksa akan dirumahkan.Konon yayasan tak lagi sanggup untuk membayar kewajibannya kepada karyawan.Menyikapi Fenomena tersebut, istri Fulan gelisah, cemas dan takut.Berkali ia mengeluh dan merasa khawatir suaminya termasuk daftar tunggu yang akan di PHK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi situasi "genting" seperti itu Fulan tetap kelihatan tenang.Meskipun, sesekali kadang ia pun merasakan kegetiran yang bakal menimpa diri dan keluarganya.Beberapa hari yanglalu ia merasakan tak nyeyak tidur dan makan.Pikirannya dibalut oleh kecemasan PHK yang siap menerkamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meredam Kecemasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegetiran Fulansuatu hari tiba-tiba mereda.Meredanya kegelisahan itu disebabkan oleh nasehat guru spritualnya.Nasehat itu antara lain, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;pertama,&lt;/span&gt; keresahan, kegelisahan, dan ketakutan sebenarnya adalah nikmat dan karunia dari Allah bagi orang beriman.Artinya, keresahan yang tengah menggerogoti hati kita menunjukkan bukti sayangnya Allah kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah firman-Nya."Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan,Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Inna lillahi wa innaa ilahi Raaji'un."(QS.Al-Baqarah[2]:155-156).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan ayat diatas Allah pun mengingatkan dalam Al-Quran surat Al-Anbiya ayat 35."Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebajikan sebagai suatu ujian dan kepada Kami kamu akan dikembalikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menelaah kedua ayat di atas, kita mendapat suatu gambaran, selama hayat masih dikandung badan, kita tidak akan lepas dari berbagai ujian dan cobaan.Adapun bentuk ujian dan cobaan itu antara lain, kecemasan, kegelisahan serta ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada saat kecemasan melanda, setan segera merasuk dan menakuti pikiran kita sehingga Allah mengingatkan,"Sesungguhnya setan-setan itu hanya mempertakuti orang-orang yang dibawah pimpinanya, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku."(QS.Ali Imran[3]:175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; tingkatkan dzikrullah.Allah berfirman dalam Al-Quran surat Ar-Rad ayat 28,"(yaitu) Orang-orang yang beriman, dan mereka meenjadi tenang dengan mengingat Allah." Manusia  yang kurag berdzikir kepada Allah akan banyak mengalami kesulitan dan keresahan.Selain itu, akan menimbulkan kekerasan hati(qaswatul qalb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Allah memeringatkan dalam Al-Quran surat Al-Hadid ayat 16, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan keadaan kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yangpanjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.Dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, kecemasan adalah fitrah.Karena fitrah, maka dipastikan setiap orang akan mengalaminya.Jika sekarang anda tengah mengalami gejala serupa, cemas, takut, was-was, atau gelisah, maka tak ada pilihan lain, kecuali meningkatkan kesabaran dan menegakkan shalat sebagai upaya preventif dalam menanggulangi kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/02/kiat-meredam-kecemasan.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-4593409549422645830</guid><pubDate>Sat, 02 Feb 2008 03:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-05T10:52:01.905+07:00</atom:updated><title>Jangan Bersedih</title><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh:&lt;/span&gt; Ulis Tofa, Lc&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika suasana dunia dengan beragam problematikanya terasa menyempitkan dada orang beriman, ketika itu hendaknya ia meyakinkan dirinya bahwa ia sedang menuju Allah swt dengan tulus ikhlas. Yakinlah ketika itu suasana akan berubah menjadi gembira, tenang dan percaya akan adanya pertolongan Allah swt. Inilah sunnatullah yang tidak akan pernah berubah dan tidak akan pernah tergantikan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ikhlaskan Hidupmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kita sudah sangat berpengalaman bahwa faktor pertolongan dan kemenangan itu datang dari dalam diri orang beriman, ketika ia merasa benar-benar ikhlas, ketika itu Allah swt akan campur tangan dengan menurunkan pertolongan, memberikan keberkahan dan kemenangan.&lt;br /&gt;“Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, pertolongan hanya datang dari Allah swt, karena itu hendaknya ma’iyatullah atau merasa bersama Allah swt selalu bersemayam dalam hati, jiwa dan lisan bahkan dalam setiap perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Nabiyullah Musa as membuktikan itu. Ketika ia dengan pengikutnya dikejar-kejar Fir’aun dan bala tentaranya. Pengikutnya bergumam seakan putus asa:“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul” (Asy-Syu’ara:61)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Musa dengan sepenuh keyakinan menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul, Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (Asy-Syu’ara’:62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ma’iyyatullah, merasa ditolong Allah, tenang dan yakin akan campur tangan Allah swt berbuah kemenangan dan kegembiraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (Asy-Syu’ara’:63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terbayang dalam benak Nabi Musa ketika itu, apa bentuk pertolongan Allah swt. Bahkan kita tidak bisa menebak bentuk pertolongan Allah swt itu, selain adanya informasi dari Al Qur’an, bahwa dengan izin Allah swt laut terbelah yang dengannya Musa selamat, subhanallah.&lt;br /&gt;Pertolongan ini jualah yang Allah swt turunkan pada Nabi Muhammad saw. Sejarah hijrah dari Makkah ke Madinah telah menjadi buktinya. Allah swt berfirman: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya.” (At-Taubah:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad saw ketika itu terusir dari kampung halamannya, semua ia tinggalkan tanpa terkecuali, ia keluar hanya karena Allah dan untuk Allah swt. “(yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua.” (At-Taubah:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar sepenuh cinta, ikhlas, dan tsiqah atau yakin dengan Penciptnya. Itu terlihat dari perkataan beliau kepada sahabatnya Abu Bakar yang menemaninya, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.” (At-Taubah:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jargon Hijrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Subhanallah, di tengah himpitan hidup, kejaran musuh, intaian pedang lawan, Rasulullah saw tetap tenang, ikhlas dan yakin akan pertolongan Allah swt.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi setelahnya? Tak terduga, Allah swt menyelamatkan keduanya hanya dengan seekor laba-laba yang sangat lemah dan seekor burung yang bertelur di sangkarnya di mulut gua. Allahu Akbar walillahil hamd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah syi’ar atau jargon Rasulullah saw di awal hijrahnya: “Jangan bersedih, Allah bersama kita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun yang merasa bersama Allah swt dengan sebenar-benar keyakinan, ia tidak akan sedih. Untuk apa ia bersedih? Untuk kehidupan, yang Allah swt pengaturnya? Untuk dakwah, yang Allah swt sendiri pemilik dan penolongnya? atau ia bersedih karena dirinya sendiri ? Atau terhadap pengikut-pengikut setan yang Allah swt pasti menghinakannya dan mengadzabnya di dunia dan di akhirat? “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan kepada setiap mukmin: “Angkat muka Anda, yakinlah di jalan Anda, jalan kebenaran, karena Allah bersama Anda. Bisikkan kepada setiap muslim: “Buka lebar-lebar telinga Anda, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jargon setiap mukmin yang menapaki jalan menuju Allah swt., apapun tantangan yang menghadang, jangan bersedih! Apapun kendala merintang. Berlalulah dan jangan gubris. Sabarlah terhadap apa yang menimpamu, karena tujuan masih jauh, yaitu surga penuh kenikmatan menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarlah ayat-ayat Allah swt. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:111)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kriteria Pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Agar kita senantiasa memiliki perilaku ikhlas dan keyakinan akan datangnya pertolongan Allah swt, hendaknya kita memiliki kreteria sebagaimana yang Allah swt firmankan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (At-Taubah:112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Atta’ibun: senantiasa memperbaharui taubat, karena setiap bani Adam pasti salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang yang segera beristighfar dan bertaubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Al’abidun: senantiasa mengabdi kepada Allah swt. Duhai, sejauh mana kita mengabdikan diri kepada-Nya ? Hanya di saat gembira saja, di kala sedih, atau di setiap situasi dan kondisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Alhamidun: kondisikan hati untuk senantiasa senang ketika Allah swt memanggil dan menyeru dengan perintah dan larangan. Segeralah menuju Allah swt dengan bersyukur dan suka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Assa’ihun: hendaknya senantiasa siap siaga untuk berjihad menegakkan keadilan, menyemai kebahagiaan dan menebar rasa aman di tengah-tengan masyarakat. Tak lupa berjihad mengendalikan hawa nafsu dengan melaksanakan shaum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Arraki’un Assajidun: Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang senantiasa ruku’ dan sujud secara berjama’ah. Ya Allah, jangan halangi kami untuk itu karena sakit atau malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Al Aamiruna bil ma’ruf wannahuna ’anil munkar: menegakkan yang baik dan melarang yang buruk. Duhai indahnya kedua hal ini bisa dilaksanakan dengan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, Alhafidhuna lihududillah: menjaga dan menerapkan hukum-hukum Allah swt, karena tiada satu pun hukum dan perintah Allah swt yang tidak layak diterapkan dan dijalankan dan karena itu membawa manfaat dan jauh dari madharat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ketujuh hal di atas dijalankan dengan baik, maka layaklah kita mendapatkan kabar gembira dari Allah swt ”wabasy syiril mukminin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, ketika rasa takut lenyap dari hati, tatkala rasa sedih menghilang dari jiwa, ketika itu kita merasakan ma’iyyatullah atau bersama Allah swt dan karenanya kita akan mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hijrah yang sebenarnya, hijrah yang mengantarkan kita kepada percepatan pertolongan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marhaban, ayolah kita semua, siapapun kita tanpa terkecuali bertaubat, diiringi dengan keseriusan pengabdian kepada Allah swt, yang akan mengikis noda kelam dalam hati secara berangsur. Bangun lisan dengan memperbanyak memuji dan bersyukur. Bantu anggota badan untuk menapaki dakwah ilallah dan perjuangan menegakkan syariat-Nya. Hendaknya kita menjadi ”Qur’an” yang berjalan di muka bumi. Ketika itu, kita akan mendengar lirih suara batu dan pohon memanggil: ”Wahai Muslim, wahai Abdullah, di belakangku ada musuh Allah, perangilah!” sebagaimana yang dijanjikan Rasulullah saw. Dan pertolongan Allah itu dekat. Kemenangan itu di depan mata. Allahu ’alam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/02/jangan-bersedih.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6477377562036479402.post-9157822068315544799</guid><pubDate>Sat, 02 Feb 2008 01:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-02T15:25:57.570+07:00</atom:updated><title>Sabar dan Musibah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."(QS Al-Baqarah[2]:155)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://zuhud-kita.blogspot.com/2008/02/sabar-dan-musibah.html</link><author>noreply@blogger.com (Nano)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>