<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Pesan Hari Akhir</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</managingEditor><pubDate>Wed, 6 Nov 2024 09:48:15 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Ada China di Semenanjung Korea</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ada-china-di-semenanjung-korea.html</link><category>Konflik Sosial</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Thu, 25 Nov 2010 08:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-1675202699310253993</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://www.hidayatullah.com/images/stories/korea_thumb.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Banyak media massa menyebut telah terjadi baku tembak antara militer  Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel). Akibat dari peristiwa  itu maka di Semenanjung Korea terjadi ketegangan yang dapat menyulut  perang Perang Korea seperti yang terjadi pada tahun 1950-1953. Pihak  Korut, seperti yang dikatakan kantor beritanya, KCNA, menganggap  serangan itu bukan aksi resmi militer negaranya namun sebuah ekses dari  latihan perang yang diadakan di perbatasan laut bagian utara, &lt;i&gt;North  Limited Line (NLL).&lt;/i&gt; Namun bagi Korsel latihan perang itu ditanggapi  secara serius sehingga perang-perang yang dilakukan Korut dianggap  sebagai perang sungguhan oleh Korsel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila itu merupakan latihan perang, maka Korut sedang melakukan uji nyali  kepada Korsel, sejauh mana negara itu mau melakukan aksi balasan ketika  diserang. Dan ternyata Korsel berani melakukan itu. Sebenarnya Korut  sudah sering melakukan latihan perang dan menguji rudal-rudalnya namun  Korsel jarang terpancing, baru pada peristiwa ini ia terpancing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seringnya  Korut melakukan provokasi dengan aksi-aksi militer (&lt;i&gt;show force&lt;/i&gt;)  menyebabkan DK-PBB sering mengingatkan negara tersebut agar tidak memacu  perlombaan senjata. Meski DK-PBB telah mengeluarkan Resolusi 1695 dan  Resolusi 1718 Tahun 2006 dan Resolusi 1874 Tahun 2009, namun Korut tetap  tak mempedulikan resolusi-resolusi itu. Resolusi itu yang dikeluarkan  pada tahun 2006 yang salah satu isinya menuntut Korut agar menghancurkan  semua senjata nuklir, senjata pemusnah masal, dan rudal-rudal balistik  itu, serta resolusi yang dikeluarkan pada tahun 2009 itu yang isinya  memperkeras sanksi bagi Korut atas tindakan negara tersebut melakukan  uji coba nuklir pada 25 Mei 2009, seolah-olah masuk telinga kanan  kemudian langsung keluar dari telinga kiri atau malah balik lagi ke  keluar lewat telinga kanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buktinya, pada 2 Juli 2009, Korut  melakukan uji coba peluncurkan rudal jarak dekat atau pendek.  Berdasarkan saksi-saksi mata dan intelejen Korsel, empat rudal  diluncurkan dari pantai timur Disebutkan juga rudal-rudal itu memilik  daya sampai 160 km, namun dalam uji coba itu daya tempuhnya hanya 100  km. Setelah meluncur di udara sejauh itu akhirnya rudal dengan nama KN-1  itu jatuh ke laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya uji coba itu sebenarnya sudah  diketahui pihak militer Amerika Serikat. Dugaan ini terkait adanya  anjuran dari pemerintah Korut agar kepada para pelaut dan nelayan  menghindari kawasan sekitar Laut Jepang pada 24 Juni sampai 9 Juli 2009.  Dan itu terbukti pada 2 Juli 2009, KN-1 diluncurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukses  dengan rudal jarak pendek itu, menurut surat kabar dari Jepang dan  Korsel tidak membuat Korut puas. Dikatakan oleh kedua surat kabar itu  negara berhaluan komunis itu beberapa hari setelah peluncuran itu, rudal  jarak menengah Scud-B dan rudal antarbenua, Rodong-1 dengan daya  jelajah 1.300 km, juga akan diujicobakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkiraan itu benar,  pada hari Sabtu, 5 Juli 2009, Korut melepaskan 7 rudal Scud yang  diluncurkan dari Pangkalan Gitdaeryong, tidak jauh dari Distrik Wonsan,  Provinsi Gangwon. Scud yang diluncurkan itu menurut pihak Pertahanan  Korsel lebih berbahaya dibanding dengan KN-1 sebab termasuk dalam rudal  katagori jarak menengah dengan daya jelajah 400 sampai 500 km.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujicoba  senjata yang dilakukan Korut itu merupakan ujicoba yang kasusekian  kalinya. Sebelumnya, pada 25 Mei 2009, negara itu melakukan ujicoba  senjata nuklir. Semua itu dilakukan Korut sebagai bentuk unjuk gigi akan  kekuatan militernya dan sebagai protes atas sanksi yang diberikan  DK-PBB kepada negaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Korsel sendiri apa yang dilakukan  saudaranya yang berada di sebelah utara selama ini merupakan tindakan  provokasi. Akibatnya militer Korsel pun siaga di sepanjang perbatasan  laut, udara, dan darat. Pihak Korsel meyakini bahwa penembakan itu  dilakukan dengan maksud untuk memanaskan hubungan antarKorea. Sebab  rudal yang diluncurkan adalah rudal jarak sedang atau jarak jauh yang  daya jelajahnya mampu menjangkau Korsel. Bagi Amerika Serikat sendiri,  apa yang dilakukan Korut itu juga merupakan sebuah &lt;i&gt;ledekan&lt;/i&gt; sebab  ujicoba-ujicoba rudal yang dilakukan itu ada yang bertepatan atau  menjelang &lt;i&gt;Independent Day of USA.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://www.hidayatullah.com/images/stories/korea-lagi.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Meski DK-PBB telah tiga resolusinya, namun ‘membengkuk’ Korut&amp;nbsp; tidak  mudah. Apa faktornya sehingga Korut meski diberi sanksi DK-PBB tetap  dengan &lt;i&gt;leha-leha&lt;/i&gt; melakukan ujicoba rudal-rudalnya? Faktornya  karena sikap China. China sebagai tetangga, saudara lama, dan seideologi  komunis dengan Korut membuat sikap China diam-diam mendukung apa yang  dilakukan negara itu.&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski DK-PBB mengeluarkan resolusi namun dalam resolusi itu tidak ada  pasal-pasal yang mengatur soal ancaman militer. Bandingkan dengan  resolusi DK-PBB kepada Iraq ketika negara itu di bawah Presiden Sadam  Husein. Dalam resolusi soal Iraq selain adanya ancaman militer juga  adanya &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; kapan ancaman militer itu dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti  dari kasusetiaan China adalah, negara tirai bambu itu tidak bersikap  ketika Korut melakukan ujicoba rudal-rudalnya yang dilakukan selama ini.  Pada April 2009, China pun secara tegas menolak segala bentuk resolusi  DK-PBB terkait peluncuran satelit dan China juga menolak segala bentuk  sanksi terhadap Korea Utara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
China sebagai negara yang disegani  membuat Amerika Serikat, Korsel, Jepang, dan negara-negara sekutu  lainnya berpikir-pikir bila melakukan invasi atau agresi militer kepada  Korut. Bila negara-negara itu melakukan invasi dan agresi militer ke  Korut, maka China akan melibatkan diri dalam peperangan itu. Untuk itu  diplomasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa terganggu dengan  ‘kenakalan’ Korut adalah diplomasi bersama China. China diharap oleh  Jepang, Amerika Serikat, dan Korsel, agar membujuk Korut untuk  menghentikan segala bentuk ujicoba persenjataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;*)Penulis &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://www.hidayatullah.com/images/foto/ardi%20winangun.jpg" width="573" /&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah pengamat masalah hubungan internasional. Pernah bekerja di vivil militery relations studies (Vilters), dan pengurus Presidium Nasional Masika ICMI&lt;/i&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>Asal Usul Perang Korea</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/asal-usul-perang-korea.html</link><category>Asal Usul</category><category>Konflik Sosial</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 24 Nov 2010 20:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-3587885306112246859</guid><description>&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Sejarah permusuhan Korea Selatan dan Korea Utara sudah berlangsung lama.  Namun di tahun 1945 Uni Soviet menduduki Korea di bagian utara dan  Amerika Serikat di bagian selatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sebuah perjanjian  Korea akhirnya dibagi sejajar dengan garis lintang 38. Di selatan  berdiri Republik Korea dan di utara didirikan Negara Republik Demokratik  Rakyat Komunis Korea Utara. Namun pembagian ini tidak menuntaskan  konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Sejarah Perang Korea &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;iframe allowtransparency="false" frameborder="0" height="375" scrolling="no" src="http://video.tvone.co.id/video/45883" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204);" width="573"&gt;&lt;/iframe&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Tentara PBB dan AS menghitung jumlah tentara China dan Korea Utara yang tewas berdasarkan laporan korban-tewas di lapangan, interogasi tahanan perang, dan intelejen militer (dokumen, mata-mata, dan lain-lain). Korban tewas: &lt;strong&gt;AS&lt;/strong&gt;: 36.940 terbunuh, &lt;strong&gt;China&lt;/strong&gt;:100.000—1.500.000 terbunuh; kebanyakan sumber memperkirakan 400.000 orang yang terbunuh; &lt;strong&gt;Korea Utara&lt;/strong&gt;: 214,000-520,000; kebanyakan sumber memperkirakan 500.000 orang yang terbunuh. &lt;strong&gt;Korea Selatan&lt;/strong&gt;: Rakyat sipil: 245.000—415.000 terbunuh; Total rakyat sipil yang tewas antara 1.500.000—3.000.000; kebanyakan sumber memperkirakan 2.000.000 orang tewas.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Simbol Illuminati di OVJ</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/pesan-hari-akhir-sebuah-fakta.html</link><category>Organisasi Setan</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Sun, 21 Nov 2010 19:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-4268199557941779229</guid><description>&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="318" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1sZq2bfyVNhzFC-LsQ8m2N0LJaelLUnCJ52y6SPRN4SGwFf4dU45HOK2xZ0Pdr4I6HJ7xErUKdcFucrP4hJ46uIxt7G77VA8aS2kwjdDQh0ALfX0dRzdbRm1Fb6RFYPCxfwBFJ35pUJ7t/s400/operavanjava.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Sebuah fakta bahwasannya &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/apa-itu-illuminati.html"&gt;&lt;b&gt;Illuminati&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; sudah merasuki dunia pertelevisian di Indonesia. Kali ini Simbol Illuminati muncul dibeberapa program televisi swasta yg sangat terkenal. Trans7 dengan OVJ nya kini melambung tinggi yang semakin digemari oleh penikmat acara televisi di seluruh penjuru. Sebuah penampakan simbol Mata Satu alias  simbol &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/apa-itu-illuminati.html"&gt;&lt;b&gt;Illuminati&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; pemuja&amp;nbsp;&lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/09/gambaran-dajjal-menurut-al-hadits.html"&gt;&lt;b&gt;Dajjal&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; yang  ada pada OVJ episode ini. Sangat jelas terlihat. Entah ini kebetulan  semata atau hal yang disengaja oleh tim OVJ.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Cuplikan gambar: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHeYhIkZfg7N4gKb963VStw_2oPLQymLEvB5x4bPJqwz3DKskaSBZe5ah-IeCmyICcSDxjxhaxg2grrI7OBY64zbaGtPXgRu4coI18iqI02rmbvE74lCFRwhYTJ5VTS40Ksu9WP76lVW0/s1600/oney-notext.jpg" width="563" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;disini videonya: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;object height="375" width="553"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/etoNQpAI2nw?fs=1&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/etoNQpAI2nw?fs=1&amp;amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="573" height="355"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Apakah trans corp memang dipimpin oleh kelompok illuminati, atau  disusupi kelompok illuminati, untuk meng-kampanye-kan simbol-simbol  nya…??? Atau hanya kebetulan semata…??? Di program lain ada simbol lagi yang menampilkan bentuk mata satu dalam segitiga/piramid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Terlihat simbol mata satu &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i32.tinypic.com/11t23y0.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Dan di logo Trans TV sendiri &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i27.tinypic.com/2uz5wxz.png" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj1sZq2bfyVNhzFC-LsQ8m2N0LJaelLUnCJ52y6SPRN4SGwFf4dU45HOK2xZ0Pdr4I6HJ7xErUKdcFucrP4hJ46uIxt7G77VA8aS2kwjdDQh0ALfX0dRzdbRm1Fb6RFYPCxfwBFJ35pUJ7t/s72-c/operavanjava.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total></item><item><title>Apa itu illuminati ??</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/apa-itu-illuminati.html</link><category>Organisasi Setan</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Sun, 21 Nov 2010 18:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-8390412707622992315</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9IIaupH7Tf1CbVAiMYxDsbA_X-YH5DYEqhiSWhJr9AqNSyqL01wasxIznd9VWbAtWx3zOLMc9Kza2Uzc125Ssr4aMGpHtdrLP0f_9VIkeZbigN0ZUA2BmSOEpEoAaqbgLpF_Cw5C06NA/s320/freemason.jpg" width="318" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Illuminati (dari perkataan 'illuminate' bermaksud menerangi) adalah  sebuah organisasi sulit terhasil dari gabungan pertubuhan kaum pagan  khasnya Kabbalah-Yahudi dan kaum Kristian yang murtad dari agama mereka.  Illuminati pada asalnya adalah berasaskan pengetahuan rahsia yang  kononnya dicapai oleh kaum pagan sejak turun temurun yang lebih kepada  dunia sihir,ramalan astrologi dan mistik sesat.Pengetahuan ini akhirnya  diminati pula oleh kaum Kristian yang mula tidak percaya dengan agama  mereka akibat kelemahan-kelemahan yang terdapat di dalamnya termasuk  kecelaruan konsep Triniti dan kesahihan Bible yang bercampur aduk dengan  tulisan paderi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sejarah moden Illuminati, pertubuhan ini telah ditubuhkan oleh  Adam Weishupt (mati pada tahun 1830M) pada tahun 1776M. Dia yang  merupakan salah seorang anggota Freemasonry telah keluar dari Kristian  dan menubuhkan pertubuhan ini.Sebelum itu, dia telah dikunjungi oleh  tokoh-tokoh Yahudi Jerman untuk menarik dirinya ke dalam sarang  Freemason dan mistik Kabbalah.Dia yang juga adalah seorang profesor  Teologi di Universiti Angold Stadt,Jerman telah menganut fahaman  Ateisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan Illuminati dinisbatkan kepada salah satu daripada kumpulan  mazhab Yahudi iaitu kumpulan Illuminati yang dianggotai golongan  bijaksana (hukama) Yahudi.Dalam bahasa Arab pula perkataan Illuminati  bermaksud al-Nuraniyyin.Ini berasal dari salah satu nama Iblis yang  dinisbatkan kepada 'bintang pagi' yang bercahaya terang atau dengan nama  panggilannya ialah Lucifer.Oleh itu,perkataan ini diambil dari maksud  Lucifer itu sendiri iaitu 'Pemegang Cahaya'.Pertubuhan ini dibiayai oleh  Rothschid yang merupakan gedung kewangan Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adam Weishupt percaya bahawa dunia ini patut berubah mengikut kehendak  Iblis dan dia juga percaya keamanan dan kestabilan berserta hidup  gembira adalah mengikut sistem Iblis.Untuk mencapai matlamat ini,dia  telah membuat helah dengan mengatakan dunia ini patut dipimpin oleh  orang-orang yang berwibawa sahaja dan dia telah berjaya menarik lebih  kurang dua ribu orang untuk menjadi pelaksana kepada agenda yang telah  dirancang olehnya dengan mendapat sokongan anggota Freemasonry peringkat  tertinggi.Pengikut-pengikut ini memang mempunyai berkemahiran tinggi  dalam semua aspek kehidupan dunia telah membina markas-markas sulit di  seluruh dunia yang diberi nama sebagai 'Lodges of The Grand Orient'  untuk melaksanakan agenda Dajal Laknatullah yang merekrutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan asas Illuminati ialah menguasai dunia dan isinya.Dengan itu  mereka dapat melaksanakan apa jua kehendak mereka sendiri.Namun begitu  mereka bukanlah yang sebenar-benarnya memegang kuasa di Illuminati  ini.Terdapat 'The Hidden Hand' yang memantau mereka.Dia adalah Dajal  Laknatullah Al-Muntazhor, manusia berwatak syaitan yang dilengahkan  ajalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source :&amp;nbsp; &lt;a href="http://cornermystery.blogspot.com/"&gt;Corner Mystery &lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9IIaupH7Tf1CbVAiMYxDsbA_X-YH5DYEqhiSWhJr9AqNSyqL01wasxIznd9VWbAtWx3zOLMc9Kza2Uzc125Ssr4aMGpHtdrLP0f_9VIkeZbigN0ZUA2BmSOEpEoAaqbgLpF_Cw5C06NA/s72-c/freemason.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Gunung Ini Meletus, Kiamatlah Dunia !!</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/gunung-ini-meletus-kiamatlah-dunia.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 19 Nov 2010 11:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-6043318460882429037</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2009/02/11/0947498p.JPG" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan  Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat  Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter  dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan  Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen  Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de  Physique du Globe) Paris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada  gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur  Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman  kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330  km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman  1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki  kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum  mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,”  katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih  milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan&amp;nbsp;&lt;em&gt;streamer  &lt;/em&gt;terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei  seismik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi  dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma  akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka  (fore arc basin) perairan Sumatera.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan  lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera  yang menarik minat banyak peneliti asing. Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama  memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber  dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (&lt;em&gt;deep  seismic image&lt;/em&gt;).&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">10</thr:total></item><item><title>Ramalan Babad Tanah Jawa : Letusan Merapi dan Semeru Tanda SBY Lengser ??</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ramalan-babad-tanah-jawa-letusan-merapi.html</link><category>Ramalan</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Sat, 13 Nov 2010 20:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-3090593331905934814</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/_6v6zbo_uI-g/TNT06p9UxvI/AAAAAAAAAfE/7o-ZGhKHGfw/sby%20merapi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Mungkinkah Presiden  SBY dilengserkan atau digulingkan sebelum waktunya? Boleh percaya boleh tidak, tiap pergantian presiden di  negeri ini ternyata selalu diawali dengan meletusnya gunung Merapi. Itu  terjadi sejak lengsernya Bung Karno dengan tampilnya Pak Harto, Habibie,  Gus Dur, Mbak Mega, sampai SBY.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Babad Tanah Jawi, juga Serat Kanda disebut, jika gunung Merapi  mulai batuk-batuk dan disusul dengan meletusnya gunung-gunung yang lain,  maka itu pertanda terjadi suksesi di tanah Jawa. Pakem berdasar mitos  itu diyakini sampai kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung Merapi juga amat disakralkan banyak orang. Popularitas Mbah  Maridjan 'mengalahkan' pamor Sultan Hamengkubuwono X (HB X) juga  gara-gara gunung ini. Ketika kawah Merapi menggelegak dan pengungsi  mulai berhamburan, Raja Jawa itu meminta Mbah Maridjan, juru kunci  gunung ini meninggalkan wewengkonnya (daerahnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbah Maridjan kukuh tidak mau mengungsi. Dia tetap dalam rumahnya yang  berada persis di gigir gunung. Lelehan lava tak membuat lelaki khusyuk  ini kabur. Malah beberapa pendaki yang bersembunyi di bunker buatan  pemerintah setempat yang ditentang Mbah Maridjan bernasib sial. Saat  lava mengalir, mereka mati gosong di dalamnya dan berikut &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-erupted-no-sensor.html"&gt;Foto-foto Pasca Letusan Merapi.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu pangkal larisnya 'roso'. Itu muasal berdirinya masjid di depan  rumahnya. Kendati maksud HB X menyuruh Mbah Maridjan turun gunung sangat  manusiawi, tapi rakyat menangkapnya beda. Mereka berasumsi Mbah  Maridjan lebih sidik paningale. Dia menyatu dengan Kiai Sapujagat, tokoh  mistik yang dipercaya sebagai mbaurekso (penguasa) gunung ini. Dan dia  tahu yang bakal terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ramalan-sabdo-palon-noyo-genggong.html"&gt;Jangka Sabdo Palon Noyo Genggong&lt;/a&gt; Gunung Merapi kembali dijadikan  sebagai pengingat. Kehancuran Pulau Jawa akan ditandai dengan letusan  gunung ini, disusul gempa bumi dan laut yang menggelegak. "Pratanda  tembayan mami, hardi merapi yen wus njebluk milir lahar."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah dalam serat ini terurai cukup rinci. Aliran lahar akan mengarah ke  barat daya. Membakar tanaman dan membunuh manusia, hingga aroma anyir  mayat bertebaran di mana-mana. Itu sebelum daerah lain di tanah Jawa  lantak, ikut hancur lebur berkeping-keping. Terus bagaimana kabar gunung  Merapi hari-hari ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah sebulan ini Gunung Merapi batuk-batuk. Statusnya dari hari ke hari terus meningkat hingga terjadi&amp;nbsp; letusan terdahsyat dalam sejarahnya.  Bagi orang Jawa, ini tengarai, bahwa tatanan negeri ini mulai tidak  bajek (kokoh) lagi. Situasi chaostis mungkin terjadi. Kamtibmas  terganggu. Dan bisa lebih dari itu. Adakah juga sinyal akan terjadinya  suksesi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya kok belum sampai ke sana. Berdasar ilmu titen, kegoncangan itu  meminta tumbal pergantian pucuk pimpinan kalau sudah meletus dan diikuti  letusan gunung- gunung lain yang dalam 'peta mistik' tidak disakralkan.  Kali ini Merapi baru 'berdehem'. Gunung ini baru riuh di dalam  perutnya, belum sampai muntah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalaulah ada gunung lain yang bergejolak, justru itu adalah Gunung  Semeru. Gunung ini dalam keyakinan Jawa dianggap sebagai 'gunung tua',  identifikasi dari Mahameru. Gunung manjingnya (tinggal)  Semar, sosok  lelaki tua, sakti, sederhana, dan arif dalam pewayangan Jawa. Adakah  dengan begitu SBY masih menjadi presiden sampai tahun 2014 nanti?</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://3.bp.blogspot.com/_6v6zbo_uI-g/TNT06p9UxvI/AAAAAAAAAfE/7o-ZGhKHGfw/s72-c/sby%20merapi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>Asal Usul Gunung Semeru</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/asal-usul-gunung-semeru.html</link><category>Asal Usul</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Sat, 13 Nov 2010 19:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-4412669460814400981</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="http://www.voltras.net/sites/default/files/images/Gunung%20Semeru.JPG" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu  Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, Pulau Jawa pada suatu saat  mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari. Para Dewa  memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung  Meru di India ke atas Pulau Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewa Wisnu menjelma menjadi  seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara  Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya  pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut  dengan aman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas  bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau  Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur  terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau  tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong  sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penggalan  ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung  Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa  Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang  Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga  pulau tersebut dinamakan Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan geografis pulau Jawa  dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama  Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai  rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi  (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka  harus semedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali  sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman  Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih  dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat semedi untuk mendengar suara  gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak  Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji  kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali.  Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali  hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru.  Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua  Widodaren untuk mendapat Tirta suci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang naik sampai puncak  Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu  juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun  alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh  macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu  tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan,  bukit, pohon serta danau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga  macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di  danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Tengah malam ada  cahaya berwarna orange di tengah danaunya dan tiba-tiba berubah wujud  menjadi sesosok hantu wanita. Biasanya hanya orang yang punya kekuatan  mistis dia akan melihat hantu dan dapat bicara dengan hantu. Terserah  orang percaya pada hantu atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang  percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh  hantu-hantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="font-weight: normal;"&gt;Location:&lt;/h3&gt;&lt;h4 style="font-weight: normal;"&gt;&lt;div class="location vcard"&gt;&lt;div class="adr"&gt;&lt;div class="fn"&gt;Taman Nasional Bromo Tengger Semeru&lt;/div&gt;&lt;span class="locality"&gt;Kabupaten Malang&lt;/span&gt;, &lt;span class="region"&gt;Jawa  Timur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="country-name"&gt;Indonesia&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h4&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total></item><item><title>Asal Mula Tatoo Dan Dampaknya</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/asal-mula-tatoo-dan-dampaknya.html</link><category>Asal Usul</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 12 Nov 2010 22:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-6276767868351560191</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://media.tumblr.com/tumblr_l58n20gRW41qaziy4.jpg" width="266" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Courier New;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;SEJARAH TATOO&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TATTOO berasal dari bahasa Tahiti “tatu” yang konon artinya tanda.  Walaupun bukti-bukti sejarah tattoo ini tidak begitu banyak, tetapi para  ahli mengambil kesimpulan bahwa seni tattoo ini udah ada sejak 12.000  tahun SM. Jaman dahulu tattoo semacam ritual bagi suku-suku kuno seperti  Maori, Inca, Ainu, Polynesians, dll.Kalo kamu jalan-jalan ke Mesir,  coba maen-maen ke pyramids, mungkin kamu bisa menemukan tattoo tertua di  sana. Karena menurut sejarah, bangsa Mesir-lah yang jadi biang tumbuh  suburnya tattoo di dunia. Bangsa Mesir kan dikenal sebagai bangsa yang  terkenal kuat, so gara-gara ekspansi mereka terhadap bangsa-bangsa laen,  seni tattoo ini juga ikut-ikutan menyebar luas, seperti ke daerah  Yunani, Persia, dan Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa alasan bagi suku-suku kuno di dunia membuat Tattoo? Bangsa Yunani  kuno memakai tattoo sebagai tanda pengenal para anggota dari badan  intelijen mereka, alias mata-mata perang pada saat itu. Di sini tattoo  menunjukan pangkat dari si mata-mata tersebut. berbeda dengan bangsa  Romawi, mereka memakai tattoo sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal  dari golongan budak, dan Tattoo juga dirajahi ke setiap tubuh para  tahanannya. Suku Maori di New Zealand membuat Tattoo berbentuk  ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat. Menurut mereka, ini adalah  tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan Solomon, Tattoo ditorehkan  di wajah perempuan sebagai ritus untuk menandai tahapan baru dalam  kehidupan mereka. Hampir sama seperti di atas, orang-orang Suku Nuer di  Sudan memakai Tattoo untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki.  Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk  menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tattoo alias Wen Shen atau Rajah smulai merambahi negara Cina sekitar  taon 2000 SM. Wen Shen konon artinya “akupunktur badan”. perlu  diketahui, sama seperti bangsa Romawi, bangsa Cina kuno memakaiTtattoo  untuk menandakan bahwa seseorang pernah dipenjara. Sementara di Tiongkok  sendiri, budaya Tattoo terdapat pada beberapa etnis minoritasnya, yang  telah diwarisi oleh nenek moyang mereka, seperti etnis Drung, Dai, dan  Li, namun hanya para wanita yang berasal dari etnis Li dan Drung yang  memilik kebiasaan mentato wajahnya. Riwayat adat-istiadat Tattoo etnis  Drung ini muncul sekitar akhir masa Kedinastian Kaisar Ming (sekitar 350  tahun yang lalu), ketika itu mereka diserang oleh sekelompok grup etnis  lainnya dan pada saat itu mereka menangkapi beberapa wanita dari etnis  Drung untuk dijadikan sebagai budak. Demi menghindari terjadinya  perkosaan, para wanita tersebut kemudian mentato wajah mereka untuk  membuat mereka kelihatan kurang menarik di mata sang penculik. Meskipun  kini para wanita dari etnis minoritas Drung ini tidak lagi dalam keadaan  terancam oleh penyerangan dari etnis minoritas lainnya, namun mereka  masih terus mempertahankan adat-istiadat ini sebagai sebuah lambang  kekuatan kedewasaan. Para anak gadis dari etnis minoritas Drung mentato  wajahnya ketika mereka berusia antara 12 dan 13 tahun sebagai sebuah  simbol pendewasaan diri. Ada beberapa penjelasan yang berbeda, mengapa  para wanita tersebut mentato wajahnya. Sebagian orang mengatakan, bahwa  warga etnis Drung menganggap wanita yang ber-Tattoo terlihat lebih  cantik dan para kaum Adam etnis Drung tidak akan menikahi seorang wanita  yang tidak memiliki Tattoo di wajahnya. Di Indonesia Orang-orang  Mentawai di kepulauan Mentawai, suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba  di NTB, sudah mengenal tattoo sejak jaman dulu. Bahkan bagi suku Dayak,  seseorang yang berhasil “memenggal kepala” musuhnya, dia mendapat  tattoo di tangannya. Begitu juga dengan suku Mentawai, tattoo-nya Tidak  dibuat sembarangan. Sebelum pembuatan tattoo dilaksanakan, ada Panen  Enegaf alias upacara inisiasi yang dilakukan di Puturkaf Uma (galeri  rumah tradisional suku mentawai). Upacara ini dipimpin oleh Sikerei  (dukun). Setelah upacara ini selesai, barulah proses Tattoo-nya  dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AWALNYA, bahan untuk membuat Tattoo berasal dari arang tempurung yang  dicampur dengan air tebu. Alat-alat yang digunakan masih sangat  tradisional. Seperti tangkai kayu, jarum dan pemukul dari batang.  Orang-orang pedalaman masih menggunakan teknik manual dan dari  bahan-bahan tradisional. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum yang  terbuat dari tulang binatang. Di kuil-kuil Shaolin menggunakan gentong  tembaga yang dipanaskan untuk mencetak gambar naga pada kulit tubih.  Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan  simbol itu, dengan menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan  gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu. Jauh  berbeda dengan sekarang. Saat ini, terutama di kalangan masyarakat  perkotaan, pembuatan Tattoo dilakukan dengan mesin elektrik. Mesin ini  ditemukan pada tahun 1891 di Inggris. Kemudian zat pewarnanya  menggunakan tinta sintetis (tinta tattoo).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Courier New;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;PETUNJUK UMUM SEBELUM  MELAKUKAN PROSES TATOO&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ikuti prosedur umum dan peraturan yang ditetapkan oleh Tattoo Artist  anda, berkonsultasilah terlebih dahulu serta dapatkan informasi  selengkap-lengkapnya seputar Tattoo yang anda inginkan. Berpikirlah  secara matang menjaga agar tidak terjadi kemungkinan adanya penyesalan  dikemudian hari. Bagi anda yang berumur dibawah standar ketetapan yang  dikeluarkan oleh Tattoo Artist anda, diharuskan membawa surat  persetujuan dari orang tua/wali sebelum anda melakukan proses Tattoo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Perhatikan dengan benar alat-alat yang akan digunakan oleh Tattoo  Artist anda dalam melakukan prosesnya, apakah sudah didesinfeksikan  dengan bersih dan steril? tidak terkontaminasi oleh berbagai macam  bentuk kuman dan bakteri, agar anda terbebas dari berbagi macam penyakit  yang cukup serius. Untuk anda yang mempunyai permasalahan serius dengan  kulit yang cukup sensitif, disarankan untuk memeriksakan diri anda  terlebih dahulu kepada Dokter spesialis (bila diperlukan), atau tanyakan  langsung pada Tattoo Artist anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Untuk lebih mempermudah jalannya proses tattoo, usahakan kondisi dan  kesehatan tubuh anda harus dalam keadaan normal dan stabil, cukup tidur  dan makan, terbebas dari pengaruh Alkohol (minuman keras) dan Narkoba  (obat-obatan terlarang dan sejenisnya), menjaga agar tidak terjadi  permasalah yang cukup serius pada saat proses pengerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Courier New;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;DAMPAK NEGATIF TATOO&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari dampaknya terhadap kesehatan, tattoos dapat menimbulkan  resiko yang serius apabila tidak dilakukan secara tepat. Pembuatan tato  yang tepat perlu memperhatikan 3 hal berikut, yaitu: kondisi,  profesionalitas, dan kebersihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Dr. Sriyatti Sengkey, DK, ahli aesthetic, penggunaan jarum untuk  tato sering tidak steril. Dan jika ini tidak diperhatikan, seni tato  justru bisa jadi media menularkan beberapa penyakit seperti hepatitis,  penyakit kulit dan bahkan HIV.Ditambahkannya, banyak orang juga yang  tidak mengetahui efek yang ditimbulkan oleh tattoo art. Kulit yang  terkena tattoos art bisa bengkak dan terjadi infeksi, sementara kulit  yang sudah terkena tato sampai pada bagian dermis atau bagian paling  dalam kulit, tidak bisa dikeluarkan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menindik tato pada kulit dapat terkena MRSA, penyakit kulit yang  mematikan. MRSA merupakan jenis bakteri yang tumbuh berkembang melalui  penindikan tato oleh pihak ilegal. MRSA adalah jenis staphylococcus yang  resisten terhadap methicilin. Penyebaran virus MRSA tampak dalam bentuk  benjolan-benjolan kecil atau kulit yang meradang sehingga mungkin  sekali menyebabkan terjadinya problema besar dan berbahaya seperti  radang paru dan kanker darah.[ &lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; ]</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>RENUNGKAN: MALAM PERTAMA DAN TERAKHIR</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/renungkan-malam-pertama-dan-terakhir.html</link><category>Renungan</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 12 Nov 2010 21:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-6038189773239202646</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs330.ash2/61019_153048688060846_150775758288139_309855_3118912_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Malam pertama…&lt;br /&gt;
Malam itu ialah Malam Pertama Di Alam Kubur&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkah engkau melihat kuburan?Pernahkah engkau melihat gelapnya  kuburan?Pernahkah engkau melihat sempit dan dalamnya liang  lahat?Pernahkah engkau membayangkan kengerian dan kedahsyatan alam  kubur?Sedarkah engkau bahawa kuburan itu dipersiapkan untukmu dan untuk  orang-orang selain darimu?Bukankah  telah silih berganti engkau melihat  teman-teman, orang-orang tercinta  dan keluarga terdekatmu diusung dari  dunia fana ini ke kuburan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah  Malam Pertama Kita di Alam Kubur Nanti Asyik dan Nikmat atau  Penuh  Derita dan Sengsara? Wahai anak Adam, apa yang telah engkau  persiapkan  saat malam pertamamu nanti di alam kubur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidakkah   engkau tahu, bahawa ia adalah malam yang sangat mengerikan. Malam yang   kerananya para ulama’ serta orang-orang yang soleh menangis dan   orang-orang bijak mengeluh. Apa tidaknya, kala itu kita sedang berada di   dua persimpangan dan di dunia yang amat berbeza. ”Suatu hari pasti   engkau akan tinggalkan tempat tidurmu (di dunia), dan ketenangan pun   menghilang darimu. Bila engkau berada di kuburmu pada malam pertama,   demi Allah, fikirkanlah untung nasibmu dan apa yang akan terjadi padamu   di sana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini kita berada di dunia yang penuh  keriangan  dengan anak-anak, keluarga dan sahabat handai, dunia yang  diterangi  dengan lampu-lampu yang pelbagai warna dan sinaran, dunia  yang  dihidangkan dengan pelbagai makanan yang lazat-lazat serta minuman  yang  pelbagai, tetapi pada keesokannya kita berada di malam pertama di  dalam  dunia yang kelam gelap-gelita, lilin-lilin yang menerangi dunia  adalah  amalan-amalan yang kita lakukan, dunia sempit yang dikelilingi  tanah dan  bantalnya juga tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat kita mula  membuka mata di malam  pertama kita di alam kubur, segala-galanya amat  menyedihkan, tempik  raung memenuhi ruang yang sempit tapi apakan daya  semuanya telah  berakhir. Itukah yang kita mahukan? Pastinya tidak  bukan? Oleh itu  beramallah dan ingatlah sentiasa betapa kita semua akan  menempuhi Malam  Pertama Di Alam Kubur! Di dalam usahanya mempersiapkan  diri menghadapi  malam pertama tersebut, adalah diceritakan bahawa  Rabi’ bin Khutsaim  menggali liang kubur di rumahnya. Bila ia mendapati  hatinya keras, maka  ia masuk ke liang kubur tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia  menganggap dirinya telah  mati, lalu menyesal dan ingin kembali ke  dunia, seraya membaca ayat: “Ya  Rabbku, kembalikanlah aku semula (ke  dunia), agar aku dapat berbuat  amal soleh terhadap apa yang telah  kutinggalkan (dahulu).” (Surah  Al-Mu’minun, ayat 99-100)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian  ia menjawab sendiri; “Kini  engkau telah dikembalikan ke dunia wahai  Rabi’..” Dan disebabkan hal  tersebut, Rabi’ bin Khutsaim didapati pada  hari-hari sesudahnya sentiasa  dalam keadaan beribadah dan bertaqwa  kepada Allah! Wahai saudaraku,  tidakkah engkau menangis atas kematian  dan sakaratul maut yang bakal  menjemputmu? Wahai saudaraku, tidakkah  engkau menangis atas kuburan dan  kengerian yang ada di dalamnya? Wahai  saudaraku, tidakkah engkau  menangis kerana takut akan hausnya di hari  penyesalan? Wahai saudaraku,  tidakkah engkau menangis kerana takut  kepada api Neraka di Hari Kiamat  nanti? Sesungguhnya kematian pasti  menghancurkan kenikmatan para  penikmatnya. Oleh itu, carilah  (kenikmatan) hidup yang tidak ada  kematian di dalamnya. “Ya Allah,  tolonglah kami ketika sakaratul maut!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian  itu  pasti. Ia tidak meleset meski hanya sedetik. Ia biasa datang  menyerap  dengan tiba-tiba. Ia misteri. Kerananya setiap orang semestinya  selalu  siap. Dan tentu, husnul khatimah harus menjadi pilihan. Untuk  mencapai  itu, harus melalui jalan syari’at dengan menjalankan segala  perintah  dan menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Tanpanya, husnul  khatimah  itu nihil. Bukankah, perahu tak akan berjalan di daratan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai   orang tua yang telah bongkok punggungnya dan dekat ajalnya, apakah   engkau telah bersiap-siap menghadapi malam pertama? Wahai pemuda gagah   yang bergelimang harta dan sejuta asa, apakah engkau telah bersiap-siap   menghadapi malam pertama? Ia adalah malam pertama dengan dua wajah,   mungkin menjadi malam pertama bagi malam-malam syurga berikutnya, atau   menjadi malam pertama bagi malam-malam neraka selanjutnya.﻿ [ &lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; ]</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Terungkap Magma 3Kg Gunung Merapi</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/terungkap-magma-3kg-gunung-merapi.html</link><category>Berita Kocak</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 18:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-7299401493628360005</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs005.ash2/33632_171458479532768_100000058517944_579064_7086338_n.jpg" width="392" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Magma 3Kg Merapi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;BeCak [Berita-Kocak], Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Gunung berapi aktif di Indonesia tercatat kembali meletus pada 26 Oktober silam yang sebelumnya terakhir meletus di tahun 2006. Letusan Gunung Merapi ini memakan korban yang lebih banyak dibanding  dengan Gunung Merapi meletus pada tahun 2006 lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PVMBG&amp;nbsp; telah menemukan penyebab letusan explosif merapi yang terburuk sejak tahun 1807 tak lain adalah &lt;b style="color: red;"&gt;"Magma 3Kg"&lt;/b&gt;. Korban tewas terakhir tercatat menjadi 64 orang. Diperkirakan korban akan terus bertambah mengingat &lt;b style="color: red;"&gt;"Magma 3Kg"&lt;/b&gt; banyak dijumpai di rumah-rumah warga.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total></item><item><title>Merapi Erupted No Sensor Part 2</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-erupted-no-sensor-part-2.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 16:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-8062018800878507106</guid><description>&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;From &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-erupted-no-sensor.html"&gt;Merapi Erupted No Sensor&lt;/a&gt;&amp;nbsp; - &lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A girl weeps at a temporary shelter for those who are affected by the eruption of Mount Merapi in Bawukan, Indonesia, Friday, Nov. 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74027_162263163813813_100000903928379_298159_4475774_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A melted radio-cassette tape recorder sits covered with volcanic ash from the eruption of Mount Merapi in the abandoned village of Kaliadem, Yogyakarta, Indonesia on Nov. 1, 2010. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs927.snc4/74027_162263167147146_100000903928379_298160_7555591_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Mount Merapi, viewed from Sidorejo village in Klaten on November 1, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74027_162263170480479_100000903928379_298161_7353044_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Volcanic ash from the eruption of Mount Merapi covers a village in Muntilan, Central Java, Indonesia, Sunday, Nov. 7, 2010. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs932.snc4/74533_162263757147087_100000903928379_298175_1097354_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;An Indonesian veterinarian tends to a cow injured after Mouth Merapi's eruption in the village of Umbulharjo, in Sleman, Jogjakarta Province, on October 29, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs932.snc4/74533_162263760480420_100000903928379_298176_4791171_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A woman prays in a temporary shelter at Maguwoharjo Stadium in Yogyakarta, November 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs932.snc4/74533_162263763813753_100000903928379_298177_5109606_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A farmer stands in a rice field as volcanic material from Mount Merapi erupts, in Klaten, Central Java on November 4, 2010 near Yogyakarta, Indonesia. Over 70,000 people have now been evacuated with the danger zone being extended to over 15km as the volcano continues to spew ash and volcanic material. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs952.snc4/74533_162263767147086_100000903928379_298178_325657_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Rescuers remove the charred remain of the body of a victim of Mount Merapi eruption in Argomulyo, Yogyakarta, Indonesia, Friday, Nov. 5, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs932.snc4/74533_162263773813752_100000903928379_298179_6231534_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Residents ride their motorcycles in Yogyakarta, blanketed by volcanic ash falling from Mount Merapi's latest eruption early on October 30, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74065_162264260480370_100000903928379_298192_5668304_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A villager takes a stroll at Ketep village in Magelang, Indonesia's Central Java province, November 6, 2010, as Mount Merapi volcano erupts spewing out towering clouds of hot gas and debris in the background. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs927.snc4/74065_162264263813703_100000903928379_298193_6805755_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Villagers flee their homes following another eruption Mount Merapi in Klaten ,Indonesia, Friday, Nov. 5, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74065_162264267147036_100000903928379_298194_4287798_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Dead trees and ash cover a damaged house with the erupting Mount Merapi in the background in Sleman, Yogyakarta province &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74065_162264270480369_100000903928379_298195_6128401_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Dead trees and mud clog a river as clouds of hot ash spew from the erupting Mount Merapi in Sleman, Jogjakarta province, on November 6, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs467.ash2/74065_162264273813702_100000903928379_298196_7664864_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Lightning strikes as Mount Merapi erupts, as seen from Ketep village in Magelang, Indonesia's Central Java province November 6, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs923.snc4/73629_162264797146983_100000903928379_298211_5626560_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Villagers escorted by police carry a suspected looter caught in an abandoned village in Sleman located in Mount Merapi's danger zone on November 1, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs923.snc4/73629_162264800480316_100000903928379_298212_6943066_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Villagers gather at the grave of the victims of Mount Merapi eruption for a mass burial at Sleman, Yogyakarta, Indonesia, Sunday, Nov. 7, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs968.snc4/76176_162285057144957_100000903928379_298260_4025684_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Refugees rummage through second-hand clothes that were distributed at a refugee camp in Yogyakarta, November 7, 2010 &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs488.ash2/76176_162285060478290_100000903928379_298261_5118618_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Merapi volcano erupts: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1142.snc4/148416_162288523811277_100000903928379_298265_5548316_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Residents fled to the motor after Mount Merapi erupted again on Friday (5 / 11). The government expanded the danger zone to 20 miles from the center of the crater of Merapi. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1122.snc4/148416_162288527144610_100000903928379_298266_7111962_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Rescuers search for victims in Argomulyo Merapi, Yogyakarta, Friday (5 / 11) &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1122.snc4/148416_162288533811276_100000903928379_298268_1845614_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Community activity using a mask when crossing at Jalan Diponegoro, Yogyakarta, Friday (5 / 11). Mount Merapi eruption occurred again on Thursday (5 / 11) issued a volcanic ash that blanketed the city of Yogyakarta, so people are suggested to use a mask when doing outdoor activities in anticipation of health problems due to volcanic dust. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs562.ash2/148416_162288537144609_100000903928379_298269_7780115_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;some bodies who have been evacuated &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs570.ash2/149287_162289073811222_100000903928379_298270_5085112_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A child walking among the trees that fell on the ring road Muntilan, Central Java, on Friday (5 / 11). Many fallen trees in some areas due to rain Muntilan volcanic ash from Mount Merapi. &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs570.ash2/149287_162289077144555_100000903928379_298271_8193286_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Indonesian soldiers from Kopassus Special Forces evacuate bodies &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1130.snc4/149287_162289083811221_100000903928379_298273_3364671_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;The team of volunteers and soldiers in Argomulyo flee after Merapi erupted again on Friday (5 / 11). &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1150.snc4/149287_162289087144554_100000903928379_298274_2638169_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Evacuation of the population remaining: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/83752472.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Evacuation of the population remaining &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/3b6f1777.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;The victims who died of wedus gembel &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/4309840e.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;victim's hand: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/26299e37.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;many cows falling: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/496530a4.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A graveyard of its surface covered with volcanic ash: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs578.ash2/150014_169768013051835_167636163265020_473083_4115249_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;SEMOGA SELURUH KORBAN LETUSAN  GUNUNG MERAPI DITERIMA DI SISI TUHAN YME.DAN UNTUK KELUARGA YANG DI  TINGGALKAN SEMOGA DI BERI KETABAHAN&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="short_text" id="result_box" lang="en"&gt;&lt;span title=""&gt;Source : &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://cornermystery.blogspot.com/"&gt;Corner Mystery&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/album.php?aid=31805&amp;amp;id=100000903928379"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://i684.photobucket.com/albums/vv210/mesinkasir/ruanghati/th_83752472.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Sudah Berakhirnya Perjanjian Merapi Di 2000 Masehi</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/sudah-berakhirnya-perjanjian-merapi-di.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 16:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-261067347542389913</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2MLazTkhLJm0ydWoJ-n-4o2rw7-ZUo7EjbKk0Vo5zyEggE2qFbVGCZI9t1qzAWToflOtbsZRcFD7nQ438OO4m1PL7a2Wscg55mtEa1yVNuYKEcsaRlCZ1ypdLma_5Wje-8V4IeJ5awvWS/s660/Affandi,+Gunung+Merapi+Meletus.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Dalam "Babad Tanah Jawi", kisah nyatanya pulau jawa  dulu sebelum tahun 1200 M tepatnya sebelum kedatangan para wali  sembilan(&lt;i&gt;wali songo&lt;/i&gt;), tanah jawa masih sangat luar biasa penuh  dengan energi-energi gaib yang berasal dari jin-jin yang ganas yang  menempati pulau jawa. Para wali menggunakan sebagian karomahnya untuk  membabad tanah jawa muali dari Sunan Maulana Malik Ibrahim pada tahun  1250 Masehi mendarat di pelabuhan Banten. Dulu apabila ada penduduk luar  masuk tanah jawa, mesti akan menghilang dan tak selamat karena dimangsa  jin jin terkuat yang menduduki pulau jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para wali mengetahui kekuatan dan kekuasaan jin-jin tersebut, dengan  mengurung mereka semua ke daerah gunung merapi. Para wali mengatakan  &lt;i&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;"Nanti apabila perjanjian ini berakhir sampai abad 20 (tahun 2000  Masehi) maka keluarlah kamu seperti pada saat awalnya kamu berada dan  saat itulah Allah membiarkan kamu merusak manusia"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, saat itu perjanjian  itu dimulai pada &amp;nbsp;tahun 1300-1400 Masehi atau abad 13-14.jin-jin ini  demikian jahat karena selain dapat mencelakakan manusia mampu juga  merusak akhlak-akhlak manusia mereka dapat mempengaruhi ulama-ulama  untuk meyebar kesesatan pada umat islam di jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung merapi menyimpan dan mengurung jin-jin terkuat yang pernah ada di  jawa, selain di merapi ada juga di banyuwangi sampai sekarang ini,  namun para wali hanya mengurung sebagian besar yang terkuat di gunung  merapi. dalam buku babad tanah jawi, dikatakan jin-jin di jawa termasuk  kanjeng nyi roro kidul hanya takut oleh para wali saja, karena para wali  adalah kekasih Allah yang begitu dekatnya kepada Allah.Apa yang  diucapkan para wali akan terbukti secara langsung di depan mata karena  Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an : "Sungguh para wali itu tidak ada  kesedihan ataupun berduka karena mereka amat cinta kepada TuhanNya".  Dalam hadis qudsi Allah berfirman "waliku sungguh aku tidak mau  mengusiknya, pandangannya adalah pandanganKu, ucapannya adalah ucapanKu,  tangannya adalah tanganKu dan langkah kakinya adalah langkahKu".(Hadis  Shahih Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masyarakat sekitar lereng merapi khususnya dan masyarakat Jawa pada umumnya percaya bahwasannya &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ramalan-sabdo-palon-noyo-genggong.html"&gt;Sabdo Palon Noyo Genggong&lt;/a&gt; sedang menagih janji. Dan kini mulai detik penulisan ini 05-11-10 Merapi kembali meletus dari pukul 00.00 WIB dengan daya letusan lebih buruk daripada tahun 2006 bahkan lebih dahsyat pada letusan pertama tanggal 26-10-10 yang menewaskan juru kunci Merapi Mbah Marijan..&lt;br /&gt;
Baca &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ramalan-sabdo-palon-noyo-genggong.html"&gt;Ramalan atau Sabdo Palon Noyo Genggong&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2MLazTkhLJm0ydWoJ-n-4o2rw7-ZUo7EjbKk0Vo5zyEggE2qFbVGCZI9t1qzAWToflOtbsZRcFD7nQ438OO4m1PL7a2Wscg55mtEa1yVNuYKEcsaRlCZ1ypdLma_5Wje-8V4IeJ5awvWS/s72-c/Affandi,+Gunung+Merapi+Meletus.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">15</thr:total></item><item><title>Merapi Erupted No Sensor</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-erupted-no-sensor.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 16:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-2150782451069697718</guid><description>&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Since its initial eruptions on October 25th, Indonesia's Mount Merapi  continues to spew hot gases and ash as far as 5,000 meters into the  atmosphere, wreaking havoc on surrounding villages and farms, and  disrupting air travel - and more than 140 people have been killed by the  eruptions over the past two weeks. Hundreds of thousands of residents  have been displaced, many of them living in temporary shelters until the  Indonesian government reduces the existing 20 km "safe zone", and  allows them and their livestock to return. Collected here are recent  images from the area near the unpredictable Mount Merapi as it still  rumbles and erupts.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs568.ash2/149023_162289630477833_100000903928379_298275_3167204_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs568.ash2/149023_162289630477833_100000903928379_298275_3167204_n.jpg" width="231" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;Ini akan menjadi kenangan bagi kita semua, mari kita mulai sadar utk  mulai menjaga alam agar bs lebih selaras...silahkan kirim bantuan anda  ke posko2 pengungsi di seputaran gunung merapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Lava and ash spews from the top of Mount Merapi, viewed from Klaten district in Central Java province before dawn on November 6, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1153.snc4/149534_162258557147607_100000903928379_298102_2300743_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A kitchen is covered by ash in Cangkringan village off the Indonesia's Jogjakarta province, November 6, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs573.ash2/149534_162258560480940_100000903928379_298103_4766071_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Residents leave a danger zone as Merapi volcano releases ash clouds above Balerante village, Klaten on November 1, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs573.ash2/149534_162258563814273_100000903928379_298104_4558441_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Molten lava flows from the crater of Mount Merapi captured in this long exposure photograph taken from Klaten district in Central Java province late on November 2, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs573.ash2/149534_162258567147606_100000903928379_298105_3041341_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A pair of shoes sit covered in volcanic ash from the eruption of Mount Merapi in the abandoned village of Kaliadem, Yogyakarta, Indonesia on Nov. 2, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1133.snc4/149534_162258570480939_100000903928379_298106_3060738_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Mount Merapi spews lava and smoke as it erupted again on Wednesday as seen from Sidorejo village in Klaten on November 3, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs990.snc4/76373_162259090480887_100000903928379_298113_6490842_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Search and rescue team members from Yogyakarta carry a victim of Merapi volcano's eruption at the village of Ngancar in Sleman on November 8, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs970.snc4/76373_162259093814220_100000903928379_298114_6256489_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A farmer walks through his corn field covered in volcanic ash from Mount Merapi eruption in Muntilan, Central Java, Indonesia on Monday, Nov. 8, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs990.snc4/76373_162259097147553_100000903928379_298115_2103846_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Mount Merapi volcano spews smoke as seen from Deles village in Klaten, near the ancient city of Yogyakarta, November 1, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs970.snc4/76373_162259100480886_100000903928379_298116_1986828_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Survivor Sri Sucirathaasri, 18, stands beside her injured sister Prisca in a hospital in Yogyakarta, Indonesia on Nov. 5, 2010. The hospital at the foot of Indonesia's most volatile volcano is struggling to cope with victims brought in after the mountain's most powerful eruption in a century: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs490.ash2/76373_162259103814219_100000903928379_298117_7732089_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;one journalist who was killed 5km from the summit Merapi 26th October: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs969.snc4/76217_174267699251846_100000058517944_598150_6242815_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1123.snc4/148528_174267715918511_100000058517944_598151_2563605_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;there were many who thought the victim was a doctor, but the victim is a member of PMI: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs988.snc4/76129_169759893052647_167636163265020_473006_5454603_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs968.snc4/76129_169759896385980_167636163265020_473007_1200593_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;a mother and her baby son who died in the arms: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs488.ash2/76129_169759899719313_167636163265020_473008_7163573_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs116.snc4/36182_169760703052566_167636163265020_473011_8064989_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Another victim Merapi 26th October: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs096.snc4/36182_169760706385899_167636163265020_473012_6560503_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs056.ash2/36182_169760709719232_167636163265020_473013_5452423_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs056.ash2/36182_169760713052565_167636163265020_473014_6397053_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Maridjan position on untouched: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs096.snc4/36182_169760716385898_167636163265020_473015_4617178_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1154.snc4/149628_169761549719148_167636163265020_473017_6473886_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;And after his funeral back in the clear, we got back he was surprised to see the condition of the fire was not the slightest trace of injury. The prostration a SYUFFI.ALLAHU AKBAR: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1134.snc4/149628_169761553052481_167636163265020_473018_846410_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A search and rescue team looks for victims at Wukirsari village in Sleman district in the Indonesian Central Java province November 7, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1122.snc4/148485_162261333813996_100000903928379_298145_4671209_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Mount Merapi erupts, as seen from Wukirsari village in Sleman, near the ancient city of Yogyakarta, November 4, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1122.snc4/148485_162261337147329_100000903928379_298146_6433063_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Volunteers rescue burned victims of Mount Merapi eruption in Argomulyo village, devastated by deadly hot clouds of volcanic ash early on November 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs1142.snc4/148485_162261343813995_100000903928379_298148_7236818_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;The hand of a victim of the eruption of Mount Merapi, among body bags at a hospital morgue in Yogyakarta, Indonesia, Friday, Nov. 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs562.ash2/148485_162261347147328_100000903928379_298149_7378800_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Houses are in flames as volunteers rescue burned victims of an eruption of Mount Merapi in Argomulyo village early on November 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs950.snc4/74383_162262390480557_100000903928379_298151_6184117_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Refugees look out from inside a tent during rain at a temporary evacuation center set up as a result of the repeated eruptions of Mount Merapi, in Keputran village, Klaten, Central Java on November 4, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs950.snc4/74383_162262393813890_100000903928379_298152_1323187_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Bodies of victims of an eruption of Mount Merapi rest amongst ashes and debris in front of a house in Argomulyo village, Cangkringan, in Sleman November 5, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs930.snc4/74383_162262397147223_100000903928379_298153_3897736_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Stumps are all that remain of trees felled by an eruption of Mount Merapi, at Kinahrejo village in Sleman, Indonesia on October 27, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs930.snc4/74383_162262400480556_100000903928379_298154_885168_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A view from a domestic flight from Denpasar to Yogyakarta that was subsequently diverted to Surabaya airport shows a plume of gas and ash billowing some 10 km (six mi) high from Mount Merapi, during an eruption on November 4, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs470.ash2/74383_162262403813889_100000903928379_298155_661943_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;A pet bird, killed during the eruption of Mount Merapi, lies in its cage in the abandoned village of Kaliadem, Yogyakarta, Indonesia on Nov. 2, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs947.snc4/74027_162263157147147_100000903928379_298157_7694941_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 3px 5px 5px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Indonesian soldiers of Special Force of Kopassus evacuate an elderly woman who refuses to leave her home during an evacuation after a new violent explosion in Umbulharjo, Sleman on October 30, 2010: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = '';        this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" style="font-size: 10px; margin: 0px; padding: 0px; width: auto;" type="button" value="Show" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 3px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;img alt="spoiler gambar" height="375" src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs927.snc4/74027_162263160480480_100000903928379_298158_3649757_n.jpg" width="573" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Go to &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-erupted-no-sensor-part-2.html"&gt;Merapi Erupted No Sensor Part II&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Kutipan Sabdo Palon dan Noyo Genggong</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/kutipan-sabdo-palon-dan-noyo-genggong.html</link><category>Asal Usul</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 16:53:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-7107527612371729577</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://gantharwa.files.wordpress.com/2007/06/wayangan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Suatu hari, Darmo Gandhul bertanya kepada Ki Kalamwadi demikian, “Awal  mulanya bagaimana sehingga orang Jawa meninggalkan agama Buddha dan  masuk agama Islam ?” Ki Kalamwadi lantas bercerita, “Hal ini perlu  diketahui, supaya orang yang tidak tahu bisa mengerti.” Pada jaman  dahulu negara &lt;i&gt;Majapahit&lt;/i&gt; itu namanya negara &lt;i&gt;Majalengka&lt;/i&gt;.  Adapun nama Majapahit itu, hanya untuk pasemon, tetapi yang belum tahu  riwayatnya menganggap bahwa nama Majapahit itu memang sudah namanya  sejak semula. Raja Majalengka yang terakhir bernama Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-393"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Waktu itu sang Prabu sedang susah hati. Sang  Prabu kawin dengan &lt;i&gt;Putri Cempa&lt;/i&gt;, padahal Putri Cempa tadi  beragama Islam. Kalau sedang berkasih-kasihan, ia selalu bercerita  kepada sang raja tentang keluhuran agama Islam. Setiap bertemu selalu  memuji agama Islam sehingga menyebabkan Sang Prabu terpikat dengan agama  Islam. Sang &lt;i&gt;Prabu Brawijaya&lt;/i&gt; memiliki seorang putra dari  istrinya Putri Cina, anak tersebut lahir di di Palembang dan diberi nama  &lt;i&gt;Raden Patah&lt;/i&gt;. Menurut aturan leluhur dari ayahandanya yang  beragama Jawa Buddha, putra raja yang lahir si gunung, namanya adalah  Bambang. Jika menurut alur ibu, sesebutannya adalah Kaotiang. Adapun  jika orang Arab sebutannya adalah Sayid atau Sarib. Lalu sang Prabu  meminta pertimbang sang Patih, menurut sang Patih maka putra sang Prabu  tersebut dinamai Bambang, akan tetapi karena ibunya Cina, lebih baik  disebut &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;i&gt;Babah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;  artinya lahir di negara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Negeri Majalengka, pada suatu hari Prabu Brawijaya sedang dihadap Patih  serta para madya bala. Patih memberi laporan bahwa baru saja menerima  surat dari Tumenggung Kertasana. Isi surat memberi tahu bahwa negeri  Kertasan sungainya kering. Sungai yang dari Kediri alirannya menyimpang  ke timur. Sebagian surat tadi bunyinya begini, “Disebelah barat laut  Kediri, beberapa dusun-dusun rusak. Semua itu terkena sabda ulama dari  Arab, namanya &lt;i&gt;Sunan Bonang&lt;/i&gt;. Mendengar kata Patih tersebut, Sang  Prabu sangat marah. Patih kemudian diutus ke Kertasana, memeriksa  keadaan senuanya, penduduk dan hasil bumi yang diterjang air bah. Serta  diperintahkan memanggil Sunan Bonang. Sang Prabu kemudian memerintahkan  kepada Patih, orang Arab yang di tanah Jawa diusir pergi, karena  membuat kerepotan negara, hanya di Demak dan Ampelgading yang boleh  melestarikan agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain dua tempat diperintahkan kembali ke  negerinya. Jika tidak mau pergi diperintahkan untuk dibunuh, jawab  Patih, ” Gusti ! benar perintah Paduka itu, karena ulama Giripura sudah  tiga tahun juga tidak menghadap dan tidak mengirim upetti. Mungkin  maksudnya hendak menjadi raja sendiri, tidak merasa makan minum di tanah  Jawa. Berarti santri Giri hendak melebihi wibawa Paduka. Namanya &lt;i&gt;Sunan  Ainul Yakin&lt;/i&gt;, itu nama dalam bahasa Arab, artinya Sunan itu budi,  Ainal itu makrifat, Yakin itu tahu sendiri. Jadi maknanya tahu dengan  pasti. Dalam bahasa Jawa sama dengan kata &lt;i&gt;Prabu Satmata&lt;/i&gt;. Itu  nama luhur yang hanya dimiliki Yang Maha Kuasa, maha melihat. Di dunia  tidak ada duanya nama Prabu Satmata, kecuali hanya &lt;i&gt;Batara Wisnu&lt;/i&gt;  ketika bertahta di negeri Medang Kasapta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kata Patih, kemudian Sang Prabu memerintahkan untuk memerangi  Giri. Orang di Giri geger, tidak kuat menanggulangi amukan prajurit  Majapahit. Sunan Giri lari ke Bonang, mencari bantuan kekuatan. Setelah  mendapat bantuan , kemudian perang lagi musuh orang Majalengka. Perang  ramai sekali, waktu itu tanah Jawa sudah hampir separo yang masuk agama  Islam, orang-orang pesisir utara sudah beragama Islam. Adapun yang di  selatan masih tetap memakai agama Buddha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunan Bonang sudah mengakui kesalahanya, tidak menghadap ke Majalengka.  Maka kemudian pergi dengan Sunan Giri ke Demak. Sesampainya di Demak,  kemudian memanggil Adipati Demak, diajak menyerang Majalengka. Kata  Sunan Bonang kepada Adipati Demak, ” Ketahuilah, sekarang sudah saatnya  Kraton Majalengka hancur, umurnya sudah seratus tiga tahun”. Dari  penglihatan gaibku yang kuat menjadi raja tanah Jawa, menggantikan tahta  raja hanya kamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu hancurkan Kraton Majalengka, tetapi dengan  cara halus, jangan sampai kelihatan. Menghadaplah besok Garebeg Maulud,  tetapi siapkan senjata perang, nanti kalau semua sudah berkumpul, para  sunan dan para bupati dan prajuritnya yang sudah Islam, pasti menurut  kepada kamu. Adipati Demak berkata, “Saya takut menyerang negeri  Majalengka, karena memusuhi ayah dan rajaku. Apa balasan saya kecuali  kesetiaan. Sunan Bonang berkata lagi, “Meskipun musuh ayah dan raja,  tidak ada jeleknya, karena itu orang kafir. Kalau membunuh orang kafir  Buda kawak, kamu akan mendapatkan ganjaran surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunan Bonang yang  sudah dipuji orang sealam semesta, keturunan rasul pemimpin orang Islam  semua. Kamu musuh ayah raja, meskipun dosa sekali, hanya dengan satu  orang, lagi pula raja kafir. Tetapi bila ayahmu kalah, orang setanah  Jawa Islam semua. Yang demikian itu, seberapa pahalamu nanti di hadapan  Allah, lipat berkali-kali. Sebenarnya ayahmu itu sia-sia kepada kamu.  Buktinya kamu diberi nama Babah, tahu artinya Babah ? Babah itu artinya  jorok sekali yaitu saja mati saja hidup, benih Jawa dibawa putri Cina,  maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, manusia  keturunan raksasa. Itu memutuskan tali kasih namanya. Ayahandamu  pikirnya tetap tidak baik, maka kuanjurkan balaslah dengan halus,  artinya jangan sampai ketahuan. Dalam bathin Sunan Bonang berkata,  “Sesaplah darahnya, remuklah tulangnya.”&lt;br /&gt;
Singkat cerita, tidak lama kemudian para Sunan dan para Bupati sudah  berdatangan semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian mereka bermusyawarah untuk memperbesar  masjid. Setelah jadi, kemudian mereka melakukan shalat berjamaah di  Masjid. Setelah selesai shalat kemudian mereka menutup pintu. Semua  orang diberitahu oleh Sunan Bonang, bahwa adipati Demak akan menjadi  raja Jawa. Untuk itu Majapahit harus ditaklukkan. Mereka semua terbujuk  oleh Sunan Bonang yang sangat piawai berbicara itu. Para sunan dan para  Bupati sudah mufakat semua, hanya satu yang tidak sepakat, yaitu &lt;i&gt;Seh  Siti Jenar&lt;/i&gt;, Sunan Bonang marah, maka Seh Siti Jenar dibunuh.  Adapun yang diperintahkan membunuh adalah Sunan Giri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seh Siti Jenar  dipenggal kepalanya hingga tewas. Sebelum Seh Siti Jenar tewas, ia  meninggalkan suara, “Ingat-ingat ulama Giri, kamu tidak kubalas di  akhirat, tetapi kubalas di dunia saja. Kelak apabila ada raja Jawa  bersama orang tua, saat itulah lehermu akan kupenggal.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Prabu Brawijaya mendengar laporan Patih sangat terkejut, berdiri  mematung seperti tugu. Mengapa putranya dan para ulama datang hendak  merusak negara. Sang patih juga tidak habis mengerti, karena tidak masuk  akal orang diberi kebaikan kok membalas kejahatan. Semestinya mereka  membalas kebaikan juga, Ki patih tak habis berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat cerita, setelah pasukan Majapahit dipukul mundur oleh pasukan  yang dipimpin adipati Demak Raden Patah yang juga Putra Prabu Brawijaya,  para ulama dan para bupati, kemudian perjalanan Prabu Brawijaya sampai  di Blambangan, karena merasa lelah kemudian berhenti dipinggir mata air.  Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang dihadapannya hanya  dua abdi dalem, yaitu &lt;i&gt;Noyo Genggong dan Sabdo Palon&lt;/i&gt;. Kedua  abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja  terjadi. Sabdo Palon ? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing  kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak  berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa,  langgeng selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil ketemu dengan sang Prabu  diperjalanan, lalu Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu.  Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Sahid ! Kamu  datang ada apa ? Apa perlunya mengikuti aku ?” Sunan Kalijaga berkata,  “Hamba diutus paduka untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada  paduka di manapun bertemu. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya  sampai lancang berani merebut tahta paduka, karena terlena oleh darah  mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintahkan  negeri, disembah para bupati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Prabu Brawijaya bersabda, ” Aku sudah  dengar kata-katamu, sahid ! Tetapi tidak aku gagas ! Aku sudah muak  bicara dengan santri ! Mereka bicara dngan mata tujuh, lamis semua, maka  blero matanya ! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang.  Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke  mata, agar buta mataku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengar sabda Prabu demikian,  Sunan Kalijaga merasa bersalah karena ikut menyerang Majapahit. Ia  menarik nafas dalam dan sangat menyesal. Sang Prabu Brawijaya berkata,  “Sekarang aku akan ke pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung  di Klungkung. Aku akan beri tahu tingkah Si Raden Patah, menyia-nyiakan  orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar  Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunan Kalijaga sangat  prihatin, ia berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng  Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak  tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai  menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak  pasti tidakkalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa,  ketiga pemberi anugrah. Sudah pasti orang Jawa yang belum Islam akan  membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata. Pasti akan kalah orang  islam tertumpas dalam peperangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kemarahan sang Prabu yang  tak tertahankan, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka  kemudian beliau menyembah kaki sang Prabu sambil menyerahkan senjata  kerisnya dengan berkata, apabila sang Prabu tidak bersedia mengikuti  sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena&amp;nbsp; akan malu mengetahui  peristiwa menjijikan ini. Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga,  “Coba pikirkan Sahid ! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua renta,  lemah tak berdaya kok akan direndam dalam air”. Sunan Kalijaga memendam  senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung,  hamba yakin tidak akan tega putra paduka memperlakukan sia-sia kepada  paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak paduka,  namun lebih baik jika paduka berkenan berganti syariat Rasul, dan  mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan itu tidak  masalah, toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat,  meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga  tetap kafir namanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya setelah Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu  Brawijaya berkenan pindah agama Islam, setelah itu minta potong rambut  kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan dipotong,  Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam Lahir bathin,  karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang  Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir bathin, maka rambutnya bisa  dipotong. Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdo  Palon dan Noyo Genggong, “Kamu berdua keberi tahu mulai hari ini aku  meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut  nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah  agama Rasul dan meninggalkan agama Buddha. Lalu Sado Palon berkata  sedih, ” Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, siapa yang  bertahta, mejdi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, sang  Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, terun-temurun sampai  sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika tidur sampai  200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh  saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang  ini umur hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa,  tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menepati agama Buddha.  Baru paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Kalau hanya  ikut-ikutan akan membuat celaka muksa paduka kelak, kata Wikuutama  disambut halilintar bersahutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata  karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia  ditambah tiga hal :&lt;br /&gt;
(1) rumput Jawan,&lt;br /&gt;
(2) padi Randanunut, dan&lt;br /&gt;
(3) padi  Mriyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Prabu bertanya, “Bagaimana niatmu, mau apa tidak  meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad  Rasulallah dan nama Allah yang sejati !”. Sabdo Palon berkata sedih, ”  Paduka masuklah sendiri, hamba tidak tega melihat watak sia-sia,  seperti manusia Arab itu, menginjak-nginjak hukum, menginjak-nginjak  tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak.  Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji  diri sendiri. Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan  tetangga mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebutkan Dewa  Yang Maha Lebih. Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan kembali kepada yang  suwung, kekosongan ketika aku belum maujud apa-apa, demikianlah tujuan  kematianku kelak”. “Itu matinya manusia tak berguna, tidak punya iman  dan ilmu, ketika hidup seperti hewan, hanya makan minum dan tidur.  Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing  saja, hilang makna hidup dalam mati”. Sang prabu berkata,”Aku akan muksa  dengan ragaku”. Sabdo Palon tersenyum, ” Kalau orang Islam terang tidak  bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakkan  daging. Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak  meninggalkan jasad. Sang Prabu, ” Keinginanku kembali ke akhirat, masuk  surga menghadap Yang Maha Kuasa”. Sabdo Palon berkata, “Akhirat, surga,  sudah paduka bawa kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam  kecil dalam besar. Paduka akan pergi ke akhirat mana, nanti tersesat lho  ! Bila mau hamba ingatkan jangan sampai paduka mendapatkan kemelaratan  seperti pengalidan negara. Jika salah menjawab tentu dihukum, ditangkap,  dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa  Srenggi. Nusa artinya Manusia, Sreng artinya berat sekali, Enggi artinya  kerja. Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi,  Apa tidak celaka ! Paduka jangan sampai pulang akhirat, jangan sampai  masuk surga, malah tersesat, banyak binatang mengganggu, semua tidur  berselimut tanah, hidupnya bekerja dengan paksaan, paduka jangan sampai  menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak  berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, paduka belum  kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan.  Saya tidak tahan dekat apalagi paduka, Kangjeng Nabi musa toh tidak  tahan melihat Gusti Allah, maka Allah tidak kelihatan hanya Dzatnya yang  meliputi semua mahluk. Paduka bibit ruhani bukan malaikat, manusia  raganya berasal dari nutfah menghadap Hyang Lata wal Hujwa, jika sudah  lama minta yang baru tidak bolak-balik, itulah hidup-mati.&lt;br /&gt;
Sang Prabu bertanya, “Dimana Tuhan yang Sejati ?”. Sabdo Palon berkata,  “Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya, paduka wujud sifat suksma,  sejatinya tunggal budi, hawa, dan badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak  terpisahkan, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tentu  tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini”. “Apa kamu tidak mau masuk  agama Islam ?” Sabdo Palon berkata sedih, “Ikut agama lama, kepada  agama baru tidak !! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba ?  Apakah Paduka lupa nama hamba Sabdo Palon ! “Bagimana ini, aku sudah  terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh  kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi dan  langit “. “Iya sudah, silakan Paduka jalani sendiri, hamba tidak  ikut-ikutan, kata Sabdo Palon kepada Prabu Brawijaya.&lt;br /&gt;
Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdo Palon dalam batin merasa sangat  menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha.  Lama beliau tidak berkata, kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama  Islam itu karena terpikat kata Putri Cempa, yang mengatakan bahwa agama  Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang  kafir. Sado Palon berkata sambil meludah, ” Sejak jaman kuno,bila  laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu  utamanya wadah, tidak berwewenang memulai kehendak”. Sabdo Palon  banyak-banyak mencaci kepada Sang Prabu. Sabdo Palon berkata bahwa  dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan  kemana ? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada disitu, hanya  menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela  kalingan padang. Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua  berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon. Orang Jawa akan  diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdo Palon dan  Noyo Genggong, tetapi dua orang tadi kemudian musnah.&lt;br /&gt;
Sang Prabu menyesal dan meneteskan air matanya, kemudian berkata kepada  Sunan Kalijaga, “Besuk negara Blambangan gantilah dengan nama negara  Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdi Palon ke Tanah Jawa  membawa asuhannya. Adapun kini Sabdo Palon masih dalam alam gaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Sejak jaman kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit  hancur dengan disengat tawon serta digerogotin tikus saja, dan bubarkan  orang sekerejaan hanya dengan karena disantet demit. Hancurnya Majapahit  suaranya menggelegar, terdengar sampai ke negara mana-mana.  Kehancurannya tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu  yaitu wali delapan atau sunan delapan yang disujudi orang Jawa.  Sembilannya Adipati Demak, mereka semua memberontak dengan licik.&lt;/i&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">9</thr:total></item><item><title>Mesin Waktu dan Penjelajah Waktu Dari Tahun 2036</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/mesin-waktu-dan-penjelajah-waktu-dari.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 10 Nov 2010 16:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-1353322256676865469</guid><description>&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Sebuah berita yang menggemparkan dengan adanya mesin waktu dan seseorang yang mengaku dari tahun 2036 datang ke tahun 2000. Dia mengaku sebagai prajurit amerika di tahun 2036 yang sedang mengemban  misi ke tahun 1975 untuk mengambil komputer portable pertama di dunia  yaitu &lt;b&gt;IBM 5100,&lt;/b&gt; dan mampir di tahun 2000-2001 untuk melihat  keluarganya.&lt;br /&gt;
Benarkah manusia akan mampu menciptakan mesin waktu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;John Titor&lt;/b&gt; adalah nama yang digunakan seseorang pada beberapa  forum selama tahun 2000 dan 2001 oleh seseorang yang mengaku adalah  penjelajah waktu dari tahun 2036. Dalam postingan di forumnya, dia  membuat banyak prediksi (beberapa prediksinya abstrak, sedangkan  beberapa prediksi lainnya sangat spesifik) tentang peristiwa-peristiwa  masa depan dalam waktu dekat, dimulai dengan peristiwa-peristiwa pada  tahun 2004. Dia menggambarkan masa depan akan berubah secara drastis di  mana Amerika Serikat telah pecah menjadi lima wilayah negara bagian yang  kecil, lingkungan dan prasarana akan dihancurkan oleh serangan nuklir,  dan banyak negara akan hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah mengenai John Titor dengan mesin waktunya hingga kini masih  menjadi salah satu kisah unik yang hingga kini masih menarik untuk  disimak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Postingan pertamanya muncul di &lt;b&gt;Time Travel Institute Forum&lt;/b&gt;  Waktu pada tanggal 2 November 2000, dengan menggunakan nama &lt;b&gt;TimeTravel_0.&lt;/b&gt;  Pada awalnya, semua trit di forum tersebut tidak ada sangkut pautnya  dengan prediksi mengenai masa depan dan nama John Titor. Tiba-tiba dia  mulai menceritakan dan membahas secara umum mengenai perjalanan waktu  dan melai menanggapi mereka yang menanyakan bagaimana sistem kerja dari  mesin waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mulai mendapat banyak respon dari mereka yang penasaran, Time  Travel_0 tiba-tiba mengaku sebagai penjelajah waktu dari masa depan dan  mulai pemposting trit mengenai masa depan-nya. Ia kemudian mulai  menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan mengenai gambaran masa  depan dengan lebih kompleks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama John Titor kemudian mulai digunakan sejak January 2001, dimana  si ‘TimeTravel_0’ mulai memposting trit di &lt;b&gt;Art Bell BBS Forums&lt;/b&gt;  yang meminta satu nama resmi (nama yang bukan pake bunga-bunga untuk  tujuan gaul-gaul seperti ‘TimeTravel_0’). Titor kemudian berhenti  mem-post trit pada 21 Maret 2001.&lt;br /&gt;
Dalam postingan-postingannya, Titor mengaku bahwa ia adalah seorang  prajurit Amerika dari tahun 2036 yang bermarkas di &lt;b&gt;Tampa&lt;/b&gt; di  Hillsborough County, Florida yang sedang ditugaskan pemerintah untuk  melakukan perjalanan waktu ke tahun 1975 untuk mengambil komputer  portabel pertama, &lt;b&gt;IBM 5100&lt;/b&gt; yang menurutnya dibutuhkan untuk  mengatasi &lt;i&gt;‘timeout error’&lt;/i&gt; dari &lt;b&gt;UNIX 2038&lt;/b&gt; (generasi masa  depan komputer).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut John Titor, IBM 5100 menggunakan &lt;b&gt;APL&lt;/b&gt; dan  &lt;i&gt;Basic Programming languages.&lt;/i&gt; John Titor mengaku dipilih khusus  dalam misi ini karena kakek dari pihak ayahnya terlibat langsung dalam  perakitan dan pemrograman IBM 5100.&lt;br /&gt;
John Titor mengaku ‘mampir’ ke tahun 2000 untuk alasan pribadi yakni  mengunjungi keluarganya.&lt;br /&gt;
John Titor juga mengaku dalam  persinggahannya di tahun 2000 juga dalam rangka memperingatkan manusia  zaman itu akan wabah &lt;i&gt;Creutzfeldt-Jakob&lt;/i&gt; yang akan banyak dijumpai  di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Megenai UFO, ketika ditanya oleh salah satu penyimak  forum, John Titor mengaku bahwa manusia belum tahu apa-apa tentang  mereka, namun ada kemungkinan bahwa mereka adalah evolusi manusia di  masa yang lebih ke depan yang memiliki mesin waktu yang lebih canggih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika  ditanya mengenai mesin waktu, John Titor menjelaskan mengenai mesin  waktu dalam beberapa kali. Namun dalam postingan awallah dia menjelaskan  mesin waktu secara lebih spesifik dimana John Titor mengatakan bahwa  mesin waktu terdiri dari:&lt;br /&gt;
* Dua unit rumah megnetik untuk &lt;i&gt;dual micro singularities,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
*  Sebuah &lt;i&gt;electron injection manifold&lt;/i&gt; untuk mengkonversi massa dan  mikro gravitasi singularitas,&lt;br /&gt;
* Sebuah pendingin dan sistem ventilasi  x-ray,&lt;br /&gt;
* Sensor Gavitasi,&lt;br /&gt;
* Empat jam cesium utama,&lt;br /&gt;
* Tiga  unit komputer utama.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="286" src="http://erdonny.files.wordpress.com/2010/02/mt546871262787351titor1.jpg?w=300" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Konsep Mesin Waktu John Titor&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://erdonny.files.wordpress.com/2010/02/habber.jpeg?w=200" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://erdonny.files.wordpress.com/2010/02/habber.jpeg?w=200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;John Titor juga mengatakan bahwa teori fisika quantum &lt;b&gt;Everett-Wheeler&lt;/b&gt;  adalah benar. Teori ini lebih dikenal dengan nama &lt;i&gt;many-worlds  interpretation&lt;/i&gt;. Maksud dari John Titor adalah jika John Titor  misalnya kembali ke 2001 untuk membunuh ayahnya, dan kemudian dia  kembali ke tahun 2036, dia tetap akan mendapati jika ayahnya masih ada  di tahun 2036, tapi di interpretasi di tahun 2001 yang dia datangi untuk  membunuh ayahnya, ayahnya sudah tidak ada lagi. Beberapa cerita  mengenai John Titor dikukuhkan dengan beberapa dokumen dari John Titor  yang ditipkan kepada &lt;b&gt;Larry Haber&lt;/b&gt;, yang diklaim sebagai pengacara  pribadi keluarga John Titor. &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Prediksi Masa Depan Jhon Titor&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dalam  semua trit John Titor di forum, dia tidak pernah memberikan prediksi  kepada orang-orang yang mewawancaranya untuk menghindari kematian. John  Titor juga tidak pernah memberikan prediksi mengenai misalnya seputar  piala dunia dan sebagainya yang dapat memperkaya pihak-pihak tertentu.&lt;br /&gt;
Berikut merupakan rangkuman dari apa yang disampaikan John Titor  dalam semua prediksi yang dimuat John Titor dalam tritnya.&lt;br /&gt;
1. John  Titor menyebutkan insial &lt;b&gt;Tipler&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Kerr&lt;/b&gt; , yang menurutnya  merupakan ilmuwan yang akan berpengaruh dengan mesin waktu.&lt;br /&gt;
2. John Titor menyebutkan bahwa konsep dasar mesin waktu akan di  kemukakan oleh CERN di tahun 2001. Kenyataanya di tahun 2000-2001 belum  banyak masyarakat yang tahu mengenai CERN, dimana CERN merupakan Pusat  Penelitian Nuklir Eropa. &lt;br /&gt;
3. John Titor juga menyebutkan bahwa penyakit sapi gila akan mewabah  dan makin parah di tahun 2036, karena penyakit itu dapat berdiam dalam  tubuh manusia selama 30 tahun lebih dan mulai menimbulkan gejala ketika  manusia mulai tua.&lt;br /&gt;
4. Menurut John Titor, penyakit AIDS juga belum dapat diobati di  tahun 2036.&lt;br /&gt;
5. John Titor mengatakan jika di tahun 2036, penyakit kanker sudah  bisa diobati dengan menggunakan virus yang melawan kanker itu sendiri.  Teori ini sudah terbukti pada zaman sekarang.&lt;br /&gt;
6. John Titor mengatakan jika di tahun 2036, makanan dan air bersih  akan sangat sukar didapatkan akibat dari radiasi nulir pada perang dunia  ketiga yang akan terjadi pada tahun 2015.&lt;br /&gt;
7. Menurut John Titor, dimasa depan kehidupan bertani akan kembali  muncul, keagamaan akan menjadi sangat kuat, banyak orang yang akan  menyesalkan Perang Dunia Ketiga hanya karena permainan politik.&lt;br /&gt;
8. John Titor pernah mengatakan jika di New York akan ada gedung  pencakar langit yang akan hilang dalam waktu dekat (Tragedi WTC sudah  terbukti) dan tidak ditemukan nya Senjata pemusnah massal di timur  tengah (Irak) tetap membuat Amerika melanjutkan kebijakan politiknya  untuk berperang.&lt;br /&gt;
9. Perkembangan IT akan sangat berkembang, John Titor menyatakan  bahwa orang banyak akan membuat video mereka sendiri dan di upload ke  internet. Teori yang ini sudah terbukti dengan eksisnya YouTube. John  Titor juga mengatakan jika sistem internet akan independen dengan hanya  menggunakan alat kecil dengan menggunakan tenaga matahari, maka dapat  memancarkan signal sejauh 60 mil. Teori ini juga terbukti dengan  hadirnya teknologi &lt;i&gt;wi-max.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
10. John Titor mengatakan jika di tahun 2036 energi hydrogen dan ene&lt;br /&gt;
rgi panas matahari berperan sangat penting dan lebih efisien bagi  kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
11. John Titor juga mengatakan jika di tahun 2036 tidak ada  organisasi kesehatan yang akan melindungi orang banyak, jadi menurut  John Titor, jika anda sakit parah, siap-siaplah untuk menggali kubur  sendiri. Perlu diketahui jika hingga saat ini asuransi merupakan hal  yang wajib bagi penduduk Amerika.&lt;br /&gt;
12. John Titor mengatakan temperatur dan suhu di dunia akan menjadi  lebih dingin. Teori ini sekaligus mendukung teori-teori yang menmbantah  Global Warming.&lt;br /&gt;
13. John Titor mengaku juga tahu tentang prediksi bangsa maya tentang  tahun 2012. Menurut John Titor, memang akan terjadi sesuatu yang unik  dengan bumi pada tahun 2012, namun mengenai apa yang akan terjadi dengan  bumi, John Titor hanya memberikan gambaran abstrak dimana menurut John  Titor akan terjadi sesuati kira-kira seperti kisah Laut Merah dan Orang  Mesir ketika mengejar Musa.&lt;br /&gt;
14. Yahoo! Dan Microsoft tidak akan ada lagi di tahun 2036 menurut  John Titor.&lt;br /&gt;
15. Menurut John Titor manusia juga masih belum menemukan apa-apa  mengenai planet Mars dan UFO.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Beberapa hal yang di sarankan John  Titor kepada manusia;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
• Jangan makan atau menggunakan  produk dari binatang yang di beri makan atau makan bangkai sesamanya,&lt;br /&gt;
•  Belajarlah dasar sanitasi dan penjernihan air,&lt;br /&gt;
• Biasakanlah  menggunakan senjata api, belajar menembak dan membersihkan senjata api,&lt;br /&gt;
•  Selalu sediakan kotak P3k dan belajarlah untuk menggunakannya,&lt;br /&gt;
•  Carilah 5 org yang anda percaya dalam radius 100mil dan biasakanlah  untuk selalu berkomunikasi dengan menanyakan keadaan sekitar,&lt;br /&gt;
•  Bersepedalah 2mil setiap minggu,&lt;br /&gt;
• Pikirkanlah apa yang harus anda  bawa jika anda harus meninggalkan rumah dalam waktu 10 menit dan tidak  akan pernah kembali lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Kontroversi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Dari  semua prediksi John Titor, yang paling menarik adalah klaim John Titor  yang menurutnya akan terjadi perang saudara di Amerika mulai tahu 2004,  lalu mencapai puncaknya pada tahun 2015, kemudian diikuti dengan perang  dunia ketiga yang juga dimulai pada tahun 2015. Selain itu, prediksi  bahwa Olimpiade Beijing akan gagal dilaksanakan. Sejak awalnya, prediksi  dari John Titor ini sudah sempat diragukan oleh beberapa orang, namun  mereka tidak dapat membantah banyak karena John Titor juga menyebutkan  bahwa teori ‘many world interpretation’ bisa saja terjadi sehingga apa  yang terjadi di masanya bisa saja tidak terjadi di masa kita. Namun  alasan ini telah dipakai oleh mereka yang tidak percaya bahwa John Titor  adalah &lt;i&gt;hoax&lt;/i&gt; belaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://erdonny.files.wordpress.com/2010/02/bobdubkecroppedsmall.jpg?w=168" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://erdonny.files.wordpress.com/2010/02/bobdubkecroppedsmall.jpg?w=168" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketika diselidiki juga mengenai pernyataan John Titor mengenai IBM 5100,  seorang insinyur dari IBM, &lt;b&gt;Bob Dubke&lt;/b&gt; membenarkan mengenai  spesifikasi dari IBM 5100, dimana Bob mengatakan bahwa informasi ini  tidak pernah dipublikasikan kepada umum pada tahun 2000 hingga 2001 dan  memang benar IBM 5100 mampu meniru dan bisa mengatasi eror pada &lt;i&gt;mainframe&lt;/i&gt;,  tapi yang memunculkan pandangan keraguan terhadap John Titor adalah  ternyata informasi teknologi dari IBM 5100 ini juga sudah tersedia di  internet sejak tahun 1999. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Masalah Dengan Cerita&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa  dari mereka yang ragu dengan John Titor sering menyimak trit dari John  Titor mengatakan bahwa banyak kemiripan antara cerita-cerita John Titor  dengan suatu karya fiksi klasik dari &lt;b&gt;Pat Frank&lt;/b&gt; yang berjudul &lt;b&gt;Babylon.&lt;/b&gt;  Dalam karya fiksi tersebut, mengisahkan tentang kehidupan perjuangan  hidup sebuah keluarga sebelum dan sesudah perang nuklir di Florida.  Menurut beberapa kalangan yang meragukan John Titor, kemungkinan John  Titor terinspirasi dari karya fiski tersebut untuk melakukan kebohongan  publik, dimana John Titor juga mengaku tinggal di Fort yang juga  terdapat dalam karya fiksi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Dibalik John Titor&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Sebuah  investigasi mengenai siapa dibalik John Titor telah dilakukan pada  tahun 2008. Seuah program TV Italia (Voyager – Ai confini della  conoscenza) menyiarkan penyelidikan mengenai cerita-cerita John Titor  yang mengaku laihr pada tahun 1998. Seorang detektif swasta bernama &lt;b&gt;Mike  Lynch&lt;/b&gt; disewa untuk meyelidiki keberadaan John Titor yang mengaku  lahir pada tahun 1998, namun tidak ditemukan satu jejak pun mengenai  keberadaan John Titor yang terus diklaim benar-benar ada oleh Larry  Haber, pengacara keluarga Jihn Titor. Hal inipun menimbulkan indikasi  jika sebenarnya yang menjadi John Titor selama ini adalah saudara Larry  Haber sendiri yang merupakan seorang ahli komputer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah investigasi lain juga dilakukan oleh &lt;b&gt;John ‘Razimus’  Hughston&lt;/b&gt; yang merasa penasaran dengan John Titor. Investigasi  dilakukan dengan cara melacak kata-kata ‘unik’ yang pernah diucapkan  John Titor pada trit-trit forumnya, seperti , “gravity lock”, “super  universe”, dan “local gravity”. Kata-kata ini sangat langka (atau bisa  jadi belum pernah ada) pada saat John Titor pertama kali menyebutkannya.  Ternyata, kata-kata ini pertama kali juga disebutkan oleh seorang pria  bernama &lt;b&gt;Gerald O’Docharty.&lt;/b&gt; Selain itu, banyak kemiripan yang  ditemukan antara kalimat-kalimat yang digunakan O’Docharty dengan John  Titor. Namun penemuan ini juga tidak menyelesaikan investigasi mengenai  John Titor, bisa saja O’Docharty adalah John Titor atau John Titor yang  banyak mengutip kata-kata dari O’Docharty. Selain itu semua kesalahan  prediksi dari John Titor bisa saja terjadi karena teori &lt;i&gt;many world  interpretation.&lt;/i&gt; Mungkinkah Manusia akan bisa menciptakan mesin  waktu?&lt;br /&gt;
Sumber : thenoock.com</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Dari Ruang Angkasa Untuk Bumi</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/dari-ruang-angkasa-untuk-bumi.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Tue, 9 Nov 2010 11:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-2836989580453857881</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/09/1031225620X310.JPG" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;James O'Brien, Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Bumi, kata Profesor Brian J O'Brien, ibarat pesawat ruang angkasa yang  amat berharga. Kalau dilihat dari ruang angkasa, Bumi sungguh kecil,  bahkan hanya titik di antara berbagai planet dan bintang. Meski kecil,  inilah satu-satunya planet yang diketahui dapat dihuni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran  ini bukan sekadar doktrin suatu kepercayaan untuk Brian J O'Brien,  mantan Kepala Peneliti NASA (National Aeronautics and Space  Administration) yang menjalankan proyek Apollo pada tahun 1960-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar  tahun itu pula dia tercatat sebagai pengajar ilmu pengetahuan ruang  angkasa di Rice University, Houston, Texas, dengan Buzz Aldrin, salah  satu mahasiswanya yang kemudian menjadi astronot yang mendarat di bulan  dengan Apollo 11.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari sepenuhnya kenyataan itu, O'Brien  memilih fokus dan mendorong perbaikan kualitas lingkungan. Sejak 1991,  selama tujuh tahun, ayah tiga anak ini menjadi First Director and  Chairman Environmental Protection Authority for Western Australia  Government. Setelah itu, perusahaan konsultan yang bergerak di bidang  strategi lingkungan, Brian J O"Brien &amp;amp; Associates Pty Ltd,  didirikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sekarang saya bisa melakukan apa pun yang saya  inginkan," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perusahaannya, O'Brien juga mendorong  terbitnya 10 peraturan terkait perlindungan lingkungan di Australia  Barat. Beberapa peraturan itu tentang pengelolaan air, polusi,  pertambangan, serta etika lingkungan untuk bisnis dan turisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Debu  Bulan dan Apollo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Masalah lingkungan ini pula yang  mengembalikan perhatian O’Brien pada debu Bulan yang sudah dideteksinya  sejak 1969, saat pendaratan pertama manusia di Bulan dengan Apollo 11.  Apalagi Presiden Amerika Serikat George W Bush (waktu itu) sempat  melontarkan wacana lanjutan misi ke Bulan pada 2020.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data  mengenai debu Bulan sudah diambil sejak misi Apollo 11, Apollo 12,  Apollo 14, dan Apollo 15. Sampai kini, kata O’Brien, terdapat sekitar 30  juta data digital tentang debu Bulan. Data mengenai debu Bulan itu  ditransmisikan ke Bumi setiap 54 detik ketika misi Apollo 11, 12, 14,  dan 15. Namun, sampai proyek ditutup pada 19 September 1977, belum ada  yang menganalisis masalah debu Bulan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, debu itu  sangat mengganggu penelitian tim Apollo di Bulan. Karakteristik debu  Bulan sangat berbeda dengan debu di Bumi. Debu Bulan lengket dan semakin  siang semakin lekat. Bahkan, debu Bulan melekat di seismometer seberat  47 kilogram yang dipasang di badan Apollo 11 setinggi 17 meter, juga  pada pakaian ruang angkasa. Karena lengket, debu ini merepotkan  penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengurangi kadar kelengketan debu, kata  O’Brien, pendaratan di Bulan selalu pada pagi hari atau pada bulan baru.  Masalah debu ini perlu dipertimbangkan dalam proyek pendaratan manusia  di Bulan pada masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memantau debu itu, O’Brien  membuat detektor debu (&lt;i&gt;dust detector experiment&lt;/i&gt;) sederhana  menggunakan sel surya. Menurut dia, sinar matahari menghasilkan tegangan  listrik. Adanya debu akan membuat tegangan turun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Detektor debu  ini digunakan pada Apollo 11, Apollo 12, Apollo 14, dan Apollo 15. Dua  detektor debu—yang digunakan pada Apollo 11 dan 12—bahkan dibawa dan  ditunjukkan kepada para mahasiswa yang mengikuti kuliah tamu yang  disampaikan O’Brien, awal Oktober lalu di Institut Teknologi 10 Nopember  Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara logika, kata O’Brien, tumbukan benda keras akan  menimbulkan partikel yang terlepas. Namun, keberadaan debu Bulan yang  bersifat lengket dan sangat mengganggu penelitian itu sungguh di luar  perkiraan para ilmuwan. Kendati demikian, lanjutnya, NASA tak terlalu  memerhatikan masalah debu Bulan tersebut. Pada proyek Apollo 13 dan  seterusnya, NASA hanya menyediakan sikat pembersih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, banyak  catatan tentang penelitian Apollo, tetapi debu Bulan terselip. Apalagi,  kebanyakan pelaku proyek sudah meninggal. Salah seorang yang masih  menyimpan catatan itu adalah O’Brien, yang pernah menerima penghargaan  dari NASA atas prestasi luar biasa dalam sains.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Aurora&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
O’Brien  juga tertarik pada aurora. Semburat cahaya cantik yang bisa ditemukan  pada musim dingin di daerah yang dekat dengan kutub utara atau selatan,  menurut kakek sembilan cucu ini, disebabkan pertarungan medan magnetik  dan plasma Matahari. Energi akibat saling pengaruh itu ditransfer pada  medan magnetik ke partikel yang membentuk aurora.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini  ditemukannya pada 1967 setelah mencoba membuat alat ukur partikel dan  energi pembentuk aurora. Dalam catatan Rice University, tahun 1967  satelit Aurora I diluncurkan untuk meneliti aurora. Satelit itu dibangun  O’Brien bersama mahasiswanya, Curt Laughlin dan Paul Cloutier, yang  kini juga profesor fisika ruang angkasa dan astronomi. Alat itu dibuat  dengan suku cadang yang dikerjakannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proyek penelitian  untuk mengukur cahaya dan partikel energi aurora sebenarnya sudah  dimulai pada 1963. Saat itu, seperti ditulis dalam www.media.rice.edu,  dibuat satelit yang dinamakan Sammy I, II, III, dan IV sesuai maskot  kampus Sammy Si Burung Hantu. Satelit pertama diluncurkan tahun 1964.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari  penelitian, diketahui medan magnet yang memengaruhi Bumi tidak seperti  medan magnet yang dihasilkan magnet batang yang simetris. Alurnya sangat  berbeda karena Bumi juga dipengaruhi angin radiasi Matahari. Hasil  penelitian ini pun mengubah cara pandang para ilmuwan tentang medan  magnet Bumi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari berbagai pengetahuan tentang ruang angkasa  inilah, O’Brien dan masyarakat dunia menyadari sepenuhnya bahwa Bumi  adalah bagian kecil dari semesta. Kesadaran bahwa Bumi sebagai  satu-satunya planet yang diketahui bisa dihuni dan dikelilingi ruang  kosong, membuat manusia semakin menghargai lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya suka  berbicara dengan mahasiswa yang antusias (dan tertarik pada ruang  angkasa dan lingkungan). Umur saya sudah 76 tahun, 'baterai' dalam diri  ini harus selalu dicas, dan Andalah yang mengecas 'baterai' itu,"  tuturnya.&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href="http://sains.kompas.com/read/2010/11/09/10320589/Dari.Ruang.Angkasa.untuk.Bumi."&gt;&lt;span class="right"&gt;Kompas Cetak&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Surga Dan Neraka Dajjal</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/surga-dan-neraka-dajjal.html</link><category>Dajjal</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Tue, 9 Nov 2010 01:43:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-5492517725766195957</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://ustadchandra.files.wordpress.com/2010/01/choices-heaven-or-hell.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; - Menurut  Hadits,     tanda Dajjal yang paling besar adalah bahawa ia akan  membawa surga     dan neraka. Apa yang pertama kali harus diingat  sehubungan dengan     ini ialah, apabila dalam suatu Hadits, kata-kata  jannah dan nar     dipakai untuk menunjukkan syurga dan neraka Dajjal,  maka di lain     Hadits, surga dan neraka Dajjal itu dinyatakan dengan  kata-kata     lain. Misalnya, sebagai pengganti kata-kata surga dan  neraka Dajjal,      digunakanlah kata-kata ma' (air) dan nar (api); dan  di lain Hadits     digunakan kata-kata nahar (sungai) dan nar (api).  Lalu di lain     Hadits digunakan kata-kata dua sungai, sungai air dan  sungai api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ada Hadits lagi     yang menerangkan,  bahawa Dajjal akan membawa "Gunung roti dan sungai     air". Bahkan ada  Hadits lagi yang sebagai pengganti kata-kata surga     dan neraka  Dajjal, digunakan kata-kata "dua gunung; yang satu penuh     dengan  tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan dan air, sedang yang lain,     penuh  dengan api dan asap.&lt;br /&gt;
﻿&lt;br /&gt;
Dari uraian tersebut,     terang  sekali bahawa kata jannah dan nar tidaklah bererti Surga dan     Neraka  yang sesungguhnya; demikian pula kata-kata sungai, api , asap,       gunung roti, dll, janganlah diertikan secara harfiyah. Semuanya itu      adalah kata ibarat; misalnya kata jannah, ini mengibaratkan      melimpahnya persediaan bahan-makanan, kesenangan dan kemewahan,      sedang kata nar mengibaratkan kurangnya bahan -makanan dan      kesenangan hidup. Adapun maksud sebenarnya ialah, barangsiapa      mengikuti Dajjal, ia akan hidup mewah, dan barang siapa menentangnya,       ia tak akan mempunyai persediaan bahan-makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bandingkanlah  keadaan     kehidupan dua bangsa, iaitu bangsa-bangsa Islam yang hidup  serba     kekurangan, dan bangsa-bangsa Nasrani yang hidup serba mewah;  dan     inilah yang dimaksud dengan syurga dan neraka Dajjal. Kata-kata      surga dan neraka tidaklah bererti bahawa Dajjal benar-benar membawa      surga dan neraka seperti pedagang membawa barang dagangannya.  Namun&amp;nbsp;      yang sebenarnya dimaksud ialah bahwa Dajjal akan menguasai  syurga     dan neraka sebagaimana diterangkan dalam Hadits berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sungai  dan buah-buahan     dunia akan tunduk kepadanya".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah  erti yang     sebenarnya dari kata-kata itu, yakni bahawa segala macam  persediaan     yang mendatangkan kesenangan, kemewahan dan kenikmatan  hidup di     dunia, semuanya dikuasai oleh Dajjal. Dan inilah yang  disebut syurga     Dajjal bagi orang yang picik pandangannya; akan  tetapi sebenarnya,     ini semua disebut neraka, kerana siapa saja yang  tenggelam dalam     kesenangan hidup seperti berdansa,  bersenang--senang, bersukaria,     melihat theater, bioskop, pergaulan  bebas antara lelaki dan wanita,     minum, berjudi, melacur, pasti tidak  ingat kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibatnya jiwanya menjadi     rusak;  dan inilah neraka yang sebenarnya; dan sekalipun tidak     terlihat oleh  mata jasmani, tetapi di Akhirat akan nampak dengan     terang.  Sebaliknya apa yang disebut neraka Dajjal yang berupa     kehidupan yang  tidak diliputi oleh kesenangan duniawi, adalah Surga     yang  sebenarnya, kerana semakin orang tidak tenggelam dalam     kesenangan  duniawi, semakin besar pulalah keuntungan rohaninya,     sehingga ia  dapat terus meningkat sampai mencapai hubungan dengan     Allah. Jadi  surga Dajjal itu terdiri dari kesenangan jasmani, yang     diperolehi  dengan mengorbankan kehidupan rohani. Barang siapa     tenggelam dalam  hidup senang, ia akan kehilangan kesenangan di zaman     yang akan  datang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/ramalan-sabdo-palon-noyo-genggong.html</link><category>Ramalan</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 5 Nov 2010 04:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-1735533043228345606</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://zadith.files.wordpress.com/2008/09/danghyang-pic.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://zadith.files.wordpress.com/2008/09/danghyang-pic.jpg" width="144" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad  tentang  negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan  pertemuan  dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang  bernama Sabda  Palon Naya Genggong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Prabu Brawijaya berkata  lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon  sekarang saya sudah  menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut  Islam sekali, sebuah  agama suci dan baik.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak  mau masuk Islam Sang Prabu, sebab  saya ini raja serta pembesar Dang  Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang  membantu anak cucu serta para raja  di tanah jawa. Sudah digaris kita  harus berpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berpisah  dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu  kami  mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama  Budha  lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.  Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan   jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya   hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya   ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.  Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah   pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh   Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang   Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.  Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon  Sapta  Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di   tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan   manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Bahaya yang  mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak  Tuhan tidak  mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya.  Hal tersebut  sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang  membuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.  Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja   hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya.   Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa.   Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.  Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun   banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang   berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak   maling tapi siang hari banyak begal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Manusia bingung dengan  sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka  tidak mengingat aturan  negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya  perut. Hal tersebut  berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang  luar biasa. Penyakit  tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit  sorenya telah  meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini  banyak orang mati. Hujan tidak  tepat waktunya. Angin besar menerjang  sehingga pohon-pohon roboh  semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila  dilihat persis lautan  pasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Seperti lautan meluap airnya  naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri.  Kayu-kayu banyak yang hanyut.  Yang hidup di pinggir sungai terbawa  sampai ke laut. Batu-batu besarpun  terhanyut dengan gemuruh suaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Gunung-gunung besar  bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta  ke kiri sehingga  menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang  meninggal sedangkan  kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur  tidak ada yang  tertinggal sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga  membuat susahnya manusia.  Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang  menyeret manusia ke dalam  tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini,  banyak yang sakit.  Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat  sembuh. Kebanyakan mereka  meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
16. Demikianlah  kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak  tampak lagi  diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun  sejenak. Sama  sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan  merasa salah.  Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang  tidak  mungkin diubahnya lagi. [ &lt;b&gt;Pesan Hari Akhir&lt;/b&gt; ]&lt;br /&gt;
Source : &lt;a href="http://cornermystery.blogspot.com/"&gt;Corner Mystery &lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">38</thr:total></item><item><title>Hujan Kerikil Di Merapi</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/hujan-kerikil-di-merapi.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 5 Nov 2010 01:34:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-1255657028039295449</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://kurangajar.files.wordpress.com/2008/07/merapi_d9497.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Sleman, Pesan Hari Akhir&lt;/strong&gt; -   Setelah gemuruh keras disertai getaran cukup keras dari Gunung Merapi  di perbatasan Magelang-Yogyakarta, lereng Merapi dijatuhi hujan kerikil.  Ribuan pengungsi berbondong-bondong turun Gunung menuju tempat yang  aman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pantauan detikcom di posko utama Pakem, Sleman,  Yogyakarta, Jumat (5/11/2010), hujan kerikil terjadi sekitar lima menit  setelah gemuruh keras di Gunung Merapi. Setelah gemuruh keras, petir  menyambar-nyambar dan turun hujan kerikil yang belum berhenti hingga  pukul 00.40 WIB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekalipun dihujani kerikil, saat ini ribuan  pengungsi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Pakem, Turi dan Cangkringan  tengah menuruni lereng Merapi. Mereka mengenakan mobi, motor, dan  kendaraan TNI. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemeritnah  setempat membantu mengevakuasi pengungsi. Para pengungsi ini akan  dipindahkan ke Stadion Maguoharjo di Kecamatan Depok, Sleman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat  ini kondisi jalan turunan menuju lokasi relokasi pengungsian sangat  padat. Mobil yang membawa pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang  menggunakan kendaraan bermotor buru-buru. Selain jalanan penuh debu  bekas hujan abu sejak sore tadi, bunyi klakson dimana-mana membuat warga  makin panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya gemuruh disertai getaran keras  mengguncang lereng Merapi. Kementerian ESDM kemudian mengumumkan agar  seluruh warga di lereng merapi direlokasi ke pengungsian yang lebih  aman.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Fenomena Sinkhole</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/fenomena-sinkhole.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Fri, 5 Nov 2010 00:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-6197833234828440980</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="261" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCCR3iFAD7PNgHCjY3D11iVn47GaepHecdzQU3a8WkUdNSln9RW57z2smR5-HjhCosTwelSht6Y4f6FLzYepVsY9ZYuejBwqv-leqMBzM0k-DLUP3x4sv5g2ATdChPZe1rgzJ-_mKK53w/s400/Sinkhole.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Foto Sinkhole di Guatemala&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sinkhole merupakan Fenomena  Alam yang sampai saat ini masih menjadi bahan pembicaraan yang  mengemparkan diberbagai belahan dunia. Sinkhole adalah depresi  alami yang disebabkan tergerusnya tanah oleh air dalam tanah. Biasanya,  hal itu terjadi ketika lapisan tanah dibentuk oleh batu gamping, batuan  karbonat, garam atau batu lain yang mudah terkikis oleh air sungai bawah  tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbaru adalah terjadinya &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/munculnya-lubang-raksasa-di-jerman.html"&gt;fenomena Sinkhole&lt;/a&gt;  di Jerman dimana kejadian ini juga banyak menjadi perhatian sekaligus  menjadi berita ramai diberbagai media massa asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fenomena  Sinkhole sebenarnya sudah sering terjadi. Salah satu yang pernah menjadi  heboh diseluruh dunia adalah terjadinya Sinkhole di Guatemala pada  bulan Juni yang lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lubang raksasa di tengah kota Guatemala  City itu menelan sebuah gedung berlantai tiga dan sebuah rumah. Lubang  serupa pernah muncul tiba-tiba di daerah tersebut pada tahun 2009 lalu.  Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun peristiwa  terbentuknya sinkhole di Kota Saint-Jude, Montreal, Kanada pada 10 Mei  lalu menimbulkan empat korban jiwa. Satu keluarga yang terdiri dari  ayah, ibu dan dua putri mereka tewas saat tanah di sekitar rumah mereka  ambles. Sinkhole tersebut juga menelan sebuah kendaraan truk yang tengah  melintas. Mujur, si pengemudi truk berhasil selamat dalam peristiwa  itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di China bahkan pernah dilaporkan beberapa lubang menganga  yang muncul tiba-tiba di Yinbin City pada April lalu serta di  daerah-daerah lain. Gambar-gambar mengenai sinkhole yang pernah terjadi  di China bisa dilihat di situs China Smack.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terbentuknya lubang  raksasa di Tampa, Florida, Amerika Serikat beberapa waktu lalu juga  ramai diberitakan. Bagi warga Florida, kemunculan sinkhole bukanlah hal  asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Itu sering terjadi di sini," kata Dr. Robert Dardenne,  profesor Departemen Jurnalisme dan Studi Media USF kepada detikcom  beberapa waktu lalu. Bahkan saking seringnya sampai-sampai di Florida  ada asuransi untuk meng-cover kejadian sinkhole tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada  tahun 1981 silam, sebuah sinkhole sedalam 100 kaki (30,5 meter) muncul  di Winter Park dekat Orlando, Florida. Lubang menganga tersebut menelan  sebuah rumah dan sebagian gedung dealer mobil. Helikopter besar  dikerahkan untuk mencoba mengangkat beberapa mobil mahal keluar dari  sinkhole tersebut, namun kendaraan-kendaraan itu terus terperosok lebih  dalam dan tak pernah terlihat lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Badan Survei Geologi AS  menyatakan, peristiwa terbentuknya sinkhole umumnya terjadi di  daerah-daerah di mana batuan dasar adalah batu-batu gamping, atau  bebatuan lain yang bisa dilarutkan dengan air tanah.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCCR3iFAD7PNgHCjY3D11iVn47GaepHecdzQU3a8WkUdNSln9RW57z2smR5-HjhCosTwelSht6Y4f6FLzYepVsY9ZYuejBwqv-leqMBzM0k-DLUP3x4sv5g2ATdChPZe1rgzJ-_mKK53w/s72-c/Sinkhole.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Munculnya Lubang Raksasa Di Jerman</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/munculnya-lubang-raksasa-di-jerman.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Thu, 4 Nov 2010 23:54:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-2988684232110482521</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV8DB65l5TLxDdboEFIuZot6LZwWPqWxRj5pki3p5dB9jHB6sTJXO9BBSmBwwYQaewK0FDG41gBTOOWgc85vW7SP3WCoyKHWr7jTP4gj8gIQ_NrrQccIXlrI-eID0c68irag99Yay10VA/s400/lubang_jerman.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jerman - Sebuah lubang  raksasa sekitar 40 meter muncul di kawasan permukiman penduduk di  Schmalkalden, Jerman, Senin (1/11). Lubang dengan kedalaman 20 meter itu  membuat kaget penduduk karena muncul tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
Kemunculan lubang besar tersebut diawali dengan suara gemuruh dahsyat  yang didengar warga setempat. Akibat peristiwa amblesnya tanah ini, 6  rumah telah dikosongkan. Sebanyak 25 orang penghuni rumah-rumah tersebut  untuk sementara ini tinggal di tempat lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ilmuwan  berasumsi bahwa penyebab lubang &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/fenomena-sinkhole.html"&gt;(sinkhole)&lt;/a&gt; karena  fenomena alam.  Sebelumnya, pada awal tahun ini, lubang yang lebih  dahsyat menelan  bangunan di Guatemala City, terjadi setelah kota  tersebut diamuk topan  tropis Agatha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan  &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/fenomena-sinkhole.html"&gt;sinkhole-sinkhole&lt;/a&gt; umumnya ditemukan di daerah-daerah di mana  batuan  dasar adalah batu-batu gamping, atau bebatuan lain yang bisa  dilarutkan  dengan air tanah. &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/fenomena-sinkhole.html"&gt;sinkhole&lt;/a&gt; kemungkinan disebabkan susunan  bebatuan bawah tanah yang retak  dan kemudian menciptakan rongga.  Menurut Lutz Katschmann, pejabat kantor geologi dan lingkungan hidup   negara bagian Thuringia, Jerman kadang-kadang  mengalami fenomena  &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/fenomena-sinkhole.html"&gt;sinkhole&lt;/a&gt; ini saat air menciptakan rongga di  daerah-daerah runtuhnya  tambang-tambang kuno. &lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: transparent; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: transparent; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: transparent; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiV8DB65l5TLxDdboEFIuZot6LZwWPqWxRj5pki3p5dB9jHB6sTJXO9BBSmBwwYQaewK0FDG41gBTOOWgc85vW7SP3WCoyKHWr7jTP4gj8gIQ_NrrQccIXlrI-eID0c68irag99Yay10VA/s72-c/lubang_jerman.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Asal Mula Gunung Merapi</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/asal-mula-gunung-merapi.html</link><category>Asal Usul</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Thu, 4 Nov 2010 14:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-7253167929648386700</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQh6WLURlEnxuegMncIksjZ1vs7msan3wyEftAc60ZfH4cyCFs&amp;amp;t=1&amp;amp;usg=__Z4cDLlXwAYB9y27ubkfsf1kLpGk=" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir &lt;/b&gt;- Gunung Merapi terletak di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan di beberapa kabupaten di Provinsi Jawa Tengah seperti Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten. Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu daerah yang kini ditempati oleh Gunung Merapi masih berupa tanah datar. Oleh karena suatu keadaan yang sangat mendesak, para dewa di Kahyangan bersepakat untuk memindahkan Gunung Jamurdipa yang ada di Laut Selatan ke daerah tersebut. Namun setelah dipindahkan, Gunung Jamurdipa yang semula hanya berupa gunung biasa (tidak aktif) berubah menjadi gunung berapi. Apa yang menyebabkan Gunung Jamurdipa berubah menjadi gunung berapi setelah dipindahkan ke daerah tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita /Asal Mula Gunung Merapi/ berikut ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau&lt;br /&gt;
tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk&lt;br /&gt;
memindahkan Gunung Jamurdipa yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah Empu Rama dan Empu Pamadi yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus Batara Narada dan Dewa Penyarikan beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua?&lt;br /&gt;
sapa Dewa Penyarikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada apa gerangan, &lt;i style="color: lime;"&gt;Pukulun &lt;/i&gt;Ada yang dapat hamba bantu?? tanya Empu Rama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,? jawab Batara Narada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah permintaan itu?? tanya Empu Pamadi penasaran, ?Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maafkan hamba, &lt;i style="color: lime;"&gt;Pukulun&lt;/i&gt;! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu &lt;i style="color: lime;"&gt;Pukulun&lt;/i&gt; ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah&lt;br /&gt;
tempat? jelas Empu Rama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring,? kata Dewa Penyarikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua? bujuk Empu Narada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maaf, &lt;i style="color: lime;"&gt;Pukulun&lt;/i&gt;! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu? kata Empu Pamadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini,? ujar Batara Narada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya&lt;br /&gt;
terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan. Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna,? lapor Batara Narada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran,? ujar Batara Guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!? seru Batara Guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika. Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Merapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian cerita &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/asal-mula-gunung-merapi.html" style="color: blue;"&gt;Asal Mula Gunung Merapi&lt;/a&gt;&lt;u&gt; &lt;/u&gt;dari Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Hingga saat ini, kawah Gunung Merapi tersebut masih aktif dan sering mengeluarkan lahar disertai dengan hembusan awan panas. Sejak tahun 1548, gunung berapi ini sudah meletus sebanyak kurang lebih 68 kali. Hingga cerita ini ditulis (4/11/2010), Gunung Merapi kembali meletus dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi, ratusan rumah hancur, serta puluhan orang meninggal dunia, termasuk Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Baca : &lt;a href="http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/wedus-gembel-renggut-nyawa-sang-juru.html"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;Wedus  Gembel Renggut Nyawa Sang Juru Kunci&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat akan mendapatkan celaka seperti halnya Empu Rama dan Empu Pamadi. Oleh karena enggan mendengar nasehat para dewa, akibatnya mereka tewas tertindih Gunung Jamurdipa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i style="color: lime;"&gt;Pukulun&lt;/i&gt; : berarti tuan, yaitu panggilan untuk dewa.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total></item><item><title>Antara Gunung Merapi, Keraton, dan Pantai Selatan</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/antara-gunung-merapi-keraton-dan-pantai.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 3 Nov 2010 23:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-467054028039794512</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://media.vivanews.com/thumbs2/2010/10/29/98616_keraton-yogyakarta-dan-gunung-merapi-satu-garis_300_225.jpg" width="320" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;b&gt;Pesan Hari Akhir - Ada garis lurus antara Keraton dan Merapi. Apa arti gunung itu bagi  Keraton Yogyakarta?&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wedhus Gembel atau awan panas dari erupsi Gunung Merapi pada  Selasa 26 Oktober 2010 petang menewaskan 35 orang termasuk Mas Penewu  Ki Suraksohargo atau penjaga Gunung Merapi, Mbah Maridjan, dan rekan  kami Redaktur Senior VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbah Maridjan adalah sosok kontroversial. Namanya meroket sejak  menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X,&amp;nbsp; ketika Merapi meletus  pada tahun 2006, untuk mengungsi dari tempat tinggalnya di Dusun  Kinahrejo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tempat  tinggalnya memang sangat rawan, merupakan daerah tertinggi yang paling  dekat dengan puncak Merapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa keengganan Mbak Maridjan  mengungsi merupakan bentuk loyalitas terhadap perintah Sri Sultan  Hamengkubuwono IX untuk menjaga Merapi. Yang menjadi pertanyaan mengapa  raja Yogyakarta sampai perlu memerintahkan orang untuk “menjaga’ gunung  paling aktif dan destruktif di dunia tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Nelly Murni Roossadha, dari Departemen Antropologi, Fakultas  Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia, gunung tersebut menduduki posisi penting dalam mitologi Jawa. Diyakini sebagai pusat kerajaan mahluk halus, sebagai ‘swarga  pangrantunan’, tempat di alam baka untuk menunggu giliran para roh yang  meninggal dipanggil ke surga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunung Merapi, kata dia,&amp;nbsp; selain&amp;nbsp; merupakan sebuah fenomena alam,  yang dapat dijelaskan oleh para ilmuwan vulkanologi,&amp;nbsp; dengan segala  perangkat canggihnya, juga merupakan simbol kekuatan magis yang  melingkupi Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pantai Parang Kusumo di Laut  Selatan, dan juga Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang  dihubungkan oleh Tugu Jogja di tengahnya. Pengamatan citra satelit memang memperlihatkan lokasi-lokasi  tersebut, berikut jalan yang menghubungkannya, hampir terletak segaris  dan hanya meleset beberapa derajat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan garis imajiner tersebut dibenarkan oleh mantan Guru Besar  Filsafat Universitas Gadjah Mada Profesor Damarjati Supadjar. "Garis  imajiner itu sudah menjadi wacana lama," kata Damarjati. Gunung Merapi terletak di perbatasan DIY dan Jawa Tengah, yang juga  sebagai batas utara Yogyakarta. Disinilah garis lurus itu dimulai.  Membujur ke arah selatan, terdapat Tugu Yogya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugu menjadi simbol 'manunggaling kawulo gusti' yang juga berarti  bersatunya antara raja (golong) dan rakyat (gilig). Simbol ini juga  dapat dilihat dari segi mistis yaitu persatuan antara khalik (Sang  Pencipta) dan makhluk (ciptaan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Garis selanjutnya mengarah ke Keraton dan kemudian lurus ke selatan  terdapat Panggung Krapyak.&amp;nbsp; Gedhong Panggung, demikian bangunan itu kini  disebut,&amp;nbsp; merupakan podium batu bata setinggi 4 meter, lebar 5 meter,  dan panjang 6 meter. Tebal dindingnya mencapai 1 meter.&amp;nbsp; Bangunan di  sebelah selatan Keraton ini menjadi batas selatan kota tua Yogyakarta.  Titik terakhir dari garis imajiner itu adalah Pantai Parang Kusumo, di  Laut Selatan dengan mitos Nyi Roro Kidul-nya. Seperti Merapi, pada titik  ini juga ada juru kuncinya, yaitu RP Suraksotarwono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Damarjati, daerah-daerah yang dilintasi garis lurus imajiner itu  hanya 'kebetulan' saja terlintasi garis. Tetapi yang sesungguhnya  memiliki arti adalah titik di masing-masing ujung imajiner, Merapi dan  Laut Selatan.&lt;br /&gt;
Dua lokasi itu memiliki arti yang sangat penting bagi Keraton yang  dibangun berdasarkan pertimbangan keseimbangan dan keharmonisan. Keraton  merupakan titik imbang dari api dan air. Api dilambangkan oleh Gunung  Merapi, sedangkan air dilambangkan pada titik paling selatan, Pantai  Parang Kusumo. Dan keraton berada di titik tengahnya. "Keraton dan dua  daerah itu merupakan titik keseimbangan antara vertikal dan horizontal,"  jelas Damarjati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseimbangan horizontal dilambangkan oleh Laut Selatan yang  mencerminkan hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan Gunung Merapi  melambangkan sisi horizontal yang mencerminkan hubungan antara manusia  dengan Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Filosofi garis lurus imajiner dari Merapi hingga Laut&amp;nbsp; Selatan ini  sarat kearifan lokal. Damarjati menyarankan pemimpin di negeri ini harus  peka terhadap peristiwa letusan Merapi yang menewaskan sang juru kunci.  Menurut dia,&amp;nbsp; magma dalam gunung Merapi itu tidak boleh tersumbat untuk  memuntahkan laharnya. Karena kalau tersumbat, dan terlambat, maka akan  mengakibatkan letusan yang luar biasa. "Seperti kalau suara rakyat  tersumbat, maka akan terjadi revolusi sosial.”&lt;br /&gt;
[VivaNews]</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Merapi Mengancam Menteri Sosial Saat Kunjungan</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/merapi-mengancam-menteri-sosial-saat.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 3 Nov 2010 20:35:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-8042258556172601605</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/11/01/1204115620X310.jpg" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BOYOLALI - Saat erupsi Gunung Merapi berlangsung, Rabu (3/11/2010), Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri tengah berada 4,5 kilometer dari puncak Merapi dari arah utara, yakni Kabupaten Boyolali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salim tengah memantau pengungsi di tempat pengungsian akhir Samiran di Kecamatan Selo. Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri sempat mengunjungi lokasi itu dari sekitar pukul 16.00 WIB hingga 17.00 WIB.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia didampingi Bupati Boyolali Seno Samodro berkeliling ke dapur umum, melihat pengungsi di tenda, serta melihat lokasi penampungan logistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa staf Menteri Sosial yang mendengar kabar perluasan daerah aman dari 10 kilometer menjadi 15 kilometer oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pukul 16.05, terlihat panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih setelah mengetahui lokasi pengungsian itu berjarak sekitar 4,5 kilometer garis lurus dari Merapi. "Tolong hal itu disampaikan kepada bapak Menteri mas," tutur seorang staf perempuan Mensos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika itu hujan masih turun deras dan Merapi tertutup kabut, sehingga hanya sesekali terdengar suara seperti petir. Namun, Mensos yang ditanya soal jarak aman itu mengatakan, warga dan Pemkab Boyolali meyakini ada tameng bukit yang menjadi pengaman alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Saya melihat mereka (pemkab) lebih tahu wilayah, kecuali ada tim khusus yang menangani Gunung Merapi berpendapat lain. Sejauh ini belum ada pendapat lain," ujar Mensos.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aktivitas 20 Gunung Berapi di Indonesia Meningkat</title><link>http://pesan-hari-akhir.blogspot.com/2010/11/aktivitas-20-gunung-berapi-di-indonesia.html</link><category>Bencana Alam</category><author>noreply@blogger.com (Pesan hari akhir)</author><pubDate>Wed, 3 Nov 2010 00:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4729074278557243161.post-5414129381920441224</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://yudhipri.files.wordpress.com/2010/07/merapi_source-www-poedjituhan-edublogs-org.jpg" width="400" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;b style="color: red;"&gt;Letusan Sulit Diramalkan Secara Akurat   &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
YOGYAKARTA, (PRLM).- Kenaikan aktivitas tak kurang dari 20  gunung berapi di Indonesia mendapatkan perhatian dari para ahli. Gunung  Merapi di Jawa Tengah telah meletus beberapai kali sejak 26 Oktober  sementara Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan peningkatan  aktivitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kantor berita "Antara" melaporkan data di pos pemantau sampai 28  Oktober menunjukkan, Gunung Anak Krakatau mengeluarkan letusan sebanyak  117 kali. Letusan ini tidak menimbulkan korban, namun di Jawa Tengah dan  Yogyakarta, letusan Merapi menewaskan 38 orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakar geofisika dari Islandia, Pall Einarsson, kepada kantor berita  "Associated Press" mengatakan kenaikan aktivitas sepertinya menunjukkan  bahwa kegiatan di satu gunung berapi mempengaruhi gunung-gunung di  sekitarnya. "Gejala ini adalah sesuatu yang baru bagi para ahli gunung  berapi," kata Einarsson, yang sehari-hari mengajar di Universitas  Islandia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam dua  bulan terakhir menaikkan status 20 gunung berapi. Brent McInnes, ahli  geologi dari Universitas Curtin di Australia mengatakan ia belum melihat  data kasar aktivitas gunung-gunung ini, namun ia mengatakan kenaikan  tiba-tiba 20 gunung memiliki makna penting. "Jika memang benar ada lebih  dari 20 gunung yang menunjukkan peningkatan aktivitas, maka itu adalah  sesuatu yang harus diperhatikan," kata McInnes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut McInnes peningkatan aktivitas bisa dibaca sebagai indikasi  sedang berlangsungnya restrukturisasi patahan di kawasan. Namun para  pakar gempa memperingatkan bila pola erupsi bisa dipelajari, letusan  gunung dan gempa bumi tidak bisa diramalkan dengan akurat. "Bagi ini  saya ini adalah fluktuasi kegiatan gunung berapi yang acak dan normal,"  kata John Ebel, guru besar geofisika di Universitas Boston, yang dikutip  "BBC".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum Merapi Meletus, sekitar 24 jam sebelumnya terjadi gempa hebat  berkekuatan 7,7 pada skala Richter di Kepulauan Mentawai yang memicu  tsunami. Pusat gempa berada di garis patahan yang sama dengan gempa yang  menyebabkan tsunami dahsyat yang memporak-porandakan Aceh dan  menewaskan 230.000 orang di beberapa negara. (A-147)***&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>