<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095</id><updated>2024-11-06T10:00:02.493+07:00</updated><category term="Pesantren Link"/><category term="Pendahuluan"/><category term="Tajwid dan Al Qur&#39;an"/><category term="Tehnik Ngeblog"/><category term="Ulama dan Maktabah"/><title type='text'>Pesantrengaul</title><subtitle type='html'>Santri Nyeleneh</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-6773647128716159690</id><published>2013-09-29T02:08:00.000+07:00</published><updated>2013-09-29T02:10:37.883+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tajwid dan Al Qur&#39;an"/><title type='text'>Arti dan Kandungan Surah Al Fatihah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9AvLh4EuZrrdUTTdVDXE_C4_AktEBc7FEFO0nzXRuGYlXWKxV3b7yymGhrTHwh8Tg2SK0HHa3mgq3ATCt8UuE45tPI34_RPJOyV2T3c9HsfD74JIYF5jrJfOeR1tUwBdI3j6bqSHQJI/s1600/aq.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Contoh Mushaf Al Qur&#39;an&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9AvLh4EuZrrdUTTdVDXE_C4_AktEBc7FEFO0nzXRuGYlXWKxV3b7yymGhrTHwh8Tg2SK0HHa3mgq3ATCt8UuE45tPI34_RPJOyV2T3c9HsfD74JIYF5jrJfOeR1tUwBdI3j6bqSHQJI/s1600/aq.jpg&quot; title=&quot;Contoh Mushaf Al Qur&#39;an&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Al Fatihah merupakan surah yang di buat rujukan untuh mengetahui sebatas mana orang itu mahir dalam membaca Al Qur&#39;an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 1. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha 
Penyayang.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. 
Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, 
seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat 
yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak 
membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha 
Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan 
karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi 
pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu 
melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;
Ayat 2. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Segala puji bagi Allah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Alhamdu (segala puji). 
memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan 
kemauan sendiri. Maka memuji Allah berarti: menyanjung-Nya karena perbuatannya 
yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang 
terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah 
ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji. 
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tuhan semesta alam, &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang 
ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai 
selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan 
rumah). &#39;Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari 
berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam 
tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam 
itu. &lt;br /&gt;
Ayat 3. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Maha Pemurah lagi Maha Penyayang&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Ar Rahmaan 
(Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah 
melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) 
memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia 
selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.&lt;br /&gt;
Ayat 4. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Yang menguasai&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Maalik (yang menguasai) dengan 
memanjangkan mim, berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan 
memendekkan mim), artinya: Raja . Hari Pembalasan, 
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Yaumiddin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu 
masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. 
Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa&#39; dan 
sebagainya.&lt;br /&gt;
Ayat 5. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Hanya Engkaulah yang Kami sembah&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Na&#39;budu 
diambil dari kata &#39;ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh 
perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena 
berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya. 
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, 
Nasta&#39;iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti&#39;aanah: mengharapkan 
bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan 
dengan tenaga sendiri.&lt;br /&gt;
Ayat 6. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tunjukilah kami&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, Ihdina (tunjukilah kami), dari 
kata hidayaat: memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar. yang dimaksud dengan 
ayat ini bukan sekedar memberi hidayah saja, tetapi juga memberi taufik. 
&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jalan yang lurus.&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 7. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada 
mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang 
sesat&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Yang dimaksud dengan mereka yang dimurkai dan mereka yang 
sesat ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/6773647128716159690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/arti-dan-kandungan-surah-al-fatihah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/6773647128716159690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/6773647128716159690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/arti-dan-kandungan-surah-al-fatihah.html' title='Arti dan Kandungan Surah Al Fatihah'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgL9AvLh4EuZrrdUTTdVDXE_C4_AktEBc7FEFO0nzXRuGYlXWKxV3b7yymGhrTHwh8Tg2SK0HHa3mgq3ATCt8UuE45tPI34_RPJOyV2T3c9HsfD74JIYF5jrJfOeR1tUwBdI3j6bqSHQJI/s72-c/aq.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-2690430910771096430</id><published>2013-09-26T02:25:00.001+07:00</published><updated>2013-09-26T02:25:30.541+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulama dan Maktabah"/><title type='text'>Perjalanan Hidup Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3Ik3iuHDnA2oR5NcB-JjZE1nVK586t6BiLBo-5Mx-O_DnlPB6U59IbSn7qNwsBTmrgCHyvF1TKqR_DEceezJKRdXdJBaBsvllOZBV08iPSLA21MnCGlz_XHQls5K39ZpwpuEEUDJ-KOg/s1600/hbb1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3Ik3iuHDnA2oR5NcB-JjZE1nVK586t6BiLBo-5Mx-O_DnlPB6U59IbSn7qNwsBTmrgCHyvF1TKqR_DEceezJKRdXdJBaBsvllOZBV08iPSLA21MnCGlz_XHQls5K39ZpwpuEEUDJ-KOg/s1600/hbb1.jpg&quot; title=&quot;Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa atau lebih dikenal dengan Munzir bin Fuad bin Abdurrahman Almusawa (lahir di&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Cipanas,_Cianjur&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;Cipanas, Cianjur&quot;&gt;Cipanas, Cianjur&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Barat&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;Jawa Barat&quot;&gt;Jawa Barat&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/23_Februari&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;23 Februari&quot;&gt;23 Februari&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/1973&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;1973&quot;&gt;1973&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&amp;nbsp;adalah pimpinan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Rasulullah&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;Majelis Rasulullah&quot;&gt;Majelis Rasulullah&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Beliau merupakan anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Fuad bin Abdurrahman Al-Musawa dan Rahmah binti Hasyim Al-Musawa. Ayahnya bernama Fuad yang lahir di Palembang dan dibesarkan di Mekkah. Setelah lulus pendidikan jurnalistik di New York University, Amerika Serikat, ayahnya kemudian bekerja sebagai seorang wartawan di harian &#39;Berita Yudha&#39; yang lalu menjadi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Berita buana&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;. Masa kecilnya dihabiskan di daerah Cipanas, Jawa barat bersama-sama saudara-saudaranya, Ramzi,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nabiel_Al-Musawa&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;Nabiel Al-Musawa (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Nabiel Al-Musawa&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;, serta Lulu Musawa. Ayahnya meninggal dunia tahun 1996 dan dimakamkan di Cipanas, Jawa Barat.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Setelah ia menyelesaikan sekolah menengah atas, ia mulai mendalami Ilmu Syariah Islam di Ma’had Assaqafah Al Habib Abdurrahman Assegaf di Bukit Duri Jakarta Selatan, lalu mengambil kursus bahasa arab di LPBA Assalafy Jakarta timur. Ia memperdalam lagi Ilmu Syari’ah Islamiyah di Ma’had Al Khairat, Bekasi Timur,yang di pimpin oleh habib naqib bin muhammad bin syehk abu bakar bin salim,beliau banyak menimba ilmu di ma&#39;had al khairat dan di sinilah beliau kenal dengan habib umar bin hafidz yang kemudian diteruskan ke&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;background-color: white; border: 0px; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;&quot;&gt;Ma’had Darul Musthafa&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&amp;nbsp;di pesantren Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syech abubakar bin Salim di Tarim Hadhramaut Yaman pada tahun 1994 untuk mendalami bidang syari&#39;ah selama empat tahun. Di sana ia mendalami ilmu fiqh, ilmu tafsir Al Qur&#39;an, ilmu hadits, ilmu sejarah, ilmu tauhid, ilmu tasawwuf, mahabbaturrasul, ilmu dakwah, dan ilmu ilmu syariah lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Awal-Mula Habib Munzir Berdakwah&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Habib Munzir Al-Musawa kembali ke Indonesia pada tahun 1998, dan mulai berdakwah dengan mengunjungi rumah-rumah, duduk dan bercengkerama dg mereka, memberi mereka jalan keluar dalam segala permasalahan, lalu atas permintaan mereka maka mulailah Habib Munzir membuka majlis, jumlah hadirin sekitar enam orang, ia terus berdakwah dengan meyebarkan kelembutan Allah swt, yang membuat hati pendengar sejuk, ia tidak mencampuri urusan politik, dan selalu mengajarkan tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah swt, bukan berarti harus duduk berdzikir sehari penuh tanpa bekerja dll, tapi justru mewarnai semua gerak gerik kita dengan kehidupan yang Nabawiy, kalau dia ahli politik, maka ia ahli politik yang Nabawiy, kalau konglomerat, maka dia konglomerat yang Nabawiy, pejabat yang Nabawiy, pedagang yang Nabawiy, petani yang Nabawiy, betapa indahnya keadaan ummat apabila seluruh lapisan masyarakat adalah terwarnai dengan kenabawian, sehingga antara golongan miskin, golongan kaya, partai politik, pejabat pemerintahan terjalin persatuan dalam kenabawiyan, inilah Dakwah Nabi Muhammad saw yang hakiki, masing masing dg kesibukannya tapi hati mereka bergabung dg satu kemuliaan, inilah tujuan Nabi saw diutus, untuk membawa rahmat bagi sekalian alam.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Maksud Majelis Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Rasulullah&quot; style=&quot;-webkit-transition: color 0.2s; background-color: white; border: 0px; color: black; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-decoration: none; transition: color 0.2s; vertical-align: baseline;&quot; title=&quot;Majelis Rasulullah&quot;&gt;Majelis Rasulullah&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai. Sebab ia berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup. Habib Munzir juga rutin melakukan takbir akbar di Istiqlal atau Senayan yang sering dihadiri para pimpinan tertinggi negara Indonesia. Majelisnya mengalami pasang surut, awal berdakwah ia memakai kendaraan umum turun naik bus, menggunakan jubah dan surban, serta membawa kitab-kitab. Tak jarang ia mendapat cemoohan dari orang-orang sekitar. Ia bahkan pernah tidur di emperan toko ketika mencari murid dan berdakwah. Kini majlis taklim yang diasuhnya setiap malam selasa di Masjid Al-Munawar Pancoran Jakarta Selatan, yang dulu hanya dihadiri tiga sampai enam orang, sudah berjumlah sekitar 30.000 hadirin setiap malam selasa, Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, ia juga membuka majelis di rumahnya setiap malam jum’at bertempat di jalan Kemiri Cidodol Kebayoran.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Habib Munzir sudah membuka puluhan majlis taklim di seputar Jakarta dan sekitarnya, beliau juga sudah membuka majelis di seputar pulau jawa, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Jawa barat : Ujungkulon Banten, Cianjur, Bandung, Majalengka, Subang.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Jawa tengah : Slawi, Tegal, Purwokerto, Wonosobo, Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, Jepara, Semarang,&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Jawa timur : Mojokerto, Malang,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sukorejo, Tretes, Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Bali : Denpasar, Klungkung, Negara, Karangasem.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;NTB Mataram, Ampenan&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Luar Negeri : Singapura, Johor, Kualalumpur.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Buku-buku yang sering menjadi rujukan beliau di majelisnya antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Kitab As-syifa (Imam Fadliyat), Samailul Muhammadiyah (Imam Tirmidzi), Mukasyifatul Qulub (Imam Ghazali), Tambili Mukhdarim (Imam Sya’rani), Al-Jami’ Ash-Shahih/Shahih Bukhari (Imam Bukhari), Fathul Bari’ fi Syarah Al-Bukhari (Imam Al-Astqalani), serta kitab karangan Imam Al-Haddad dan kitab serta pelajaran yang didapat dari guru beliau Habib Umar bin Hafidh. Nama Rasulullah SAW sengaja digunakan untuk nama Majelisnya yaitu “Majelis Rasulullah SAW”, agar apa-apa yang dicita-citakan oleh majelis taklim ini tercapai.Sebab beliau berharap, semua jamaahnya bisa meniru dan mencontoh Rasulullah SAW dan menjadikannya sebagai panutan hidup.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Adapun guru-guru beliau antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Habib Umar bin Hud Al-Athas (cipayung), Habib Aqil bin Ahmad Alaydarus, Habib Umar bin Abdurahman Assegaf, Habib Hud Bagir Al-Athas, di pesantren Al-Khairat beliau belajar kepada Ustadz Al-Habib Nagib bin Syeikh Abu Bakar, dan di Hadramaut beliau belajar kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim (Rubath Darul Mustafa), juga sering hadir di majelisnya Al-Allamah Al-Arifbillah Al-Habib Salim Asy-Syatiri (Rubath Tarim).&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Dan yang paling berpengaruh didalam membentuk kepribadian beliau adalah Guru mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sanad Guru beliau&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Al-Habib Munzir bin fuad Al-Musawa berguru kepada Guru Mulia Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Musnid Al-Arifbillah Sayyidi Syarif Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidh bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdulqadir bin Ahmad Assegaf, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdullah Assyatiri, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (simtuddurar), Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Abdurrahman Al-Masyhur (shohibulfatawa), Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Husen bin Thohir, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Umar bin Seggaf Assegaf, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Hamid bin Umar Ba’alawiy, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Habib Al-Hafizh Ahmad bin Zein Al-Habsyi, Dan beliau berguru kepada Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad (shohiburratib), Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Husein bin Abubakar bin Salim, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Al-Allamah Al-Habib Abubakar bin Salim (fakhrulwujud), Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Syahabuddin, Dan beliau berguru kepada Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman bin Ali (Ainulmukasyifiin), Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Abubakar (assakran), Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abubakar bin Abdurrahman Assegaf, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Habib Abdurrahman Assegaf, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Muhammad Mauladdawilah, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Musnid Al-Habib Ali bin Alwi Al-ghayur, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Hafizh Al-Imam faqihilmuqaddam Muhammad bin Ali Ba’alawiy, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali bin Muhammad Shahib Marbath, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Shahib Marbath bin Ali, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Khali’ Qasam bin Alwi, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Muhammad, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Alwi, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Alwi bin Ubaidillah, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Isa Arrumiy, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqib, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Annaqib bin Ali Al-Uraidhiy, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Al-Uraidhiy bin Ja’far Asshadiq, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ja’far Asshadiq bin Muhammad Al-Baqir, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Allamah Al-Imam Ali Zainal Abidin Assajjad, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Husein ra, Dan beliau berguru kepada ayahnya Al-Imam Ali bin Abi Thalib ra, Dan beliau berguru kepada Semulia-mulia Guru, Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW, maka sebaik-baik bimbingan guru adalah bimbingan Rasulullah SAW.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Sanad guru beliau sampai kepada Rasulullah SAW, begitu pula nasabnya.&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;والله اعلم بالصواب&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Di ambil dari berbagai sumber dan edit oleh publisher&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #555555; font-family: &#39;Open Sans&#39;, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;Lihat Ke Sumbernya &amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://budayabacabaca.blogspot.com/2013/09/profil-dan-perjalanan-al-habib-munzir.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Profile Al Habib&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/2690430910771096430/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/perjalanan-hidup-al-habib-munzir-bin.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/2690430910771096430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/2690430910771096430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/perjalanan-hidup-al-habib-munzir-bin.html' title='Perjalanan Hidup Al-Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3Ik3iuHDnA2oR5NcB-JjZE1nVK586t6BiLBo-5Mx-O_DnlPB6U59IbSn7qNwsBTmrgCHyvF1TKqR_DEceezJKRdXdJBaBsvllOZBV08iPSLA21MnCGlz_XHQls5K39ZpwpuEEUDJ-KOg/s72-c/hbb1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-201191792714846693</id><published>2013-09-23T00:24:00.000+07:00</published><updated>2013-09-23T00:24:48.882+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tehnik Ngeblog"/><title type='text'>Cara menghilangkan tulisan Diberdayakan oleh blogger pada blogspot dengan mudah </title><content type='html'>Langsung aja caranya deh ya, lagi males merangkai kata :p&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caranya cukup gampang, temen-temen tinggal mengikuti langkah-langkah dibawah ini:&lt;br /&gt;
1. Temen-temen harus &lt;b&gt;Login&lt;/b&gt; dululah :D&lt;br /&gt;
2. Trus ke &lt;b&gt;Template&lt;/b&gt; -&amp;gt; Klik &lt;b&gt;Edit HTML&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
3. Setelah itu centang &quot;&lt;b&gt;Expand Template Widget&lt;/b&gt;&quot;&lt;br /&gt;
4. Cari kode&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;]]&amp;gt;&amp;lt;/b:skin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;, atau tekan Ctrl+f untuk memudahkan pencarian&lt;br /&gt;
5. Copy kode dibawah ini dan letakkan tepat diatas kode&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: red;&quot;&gt;]]&amp;gt;&amp;lt;/b:skin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
#Attribution1 {&lt;br /&gt;
height:0px;&lt;br /&gt;
visibility:hidden;&lt;br /&gt;
display:none&lt;br /&gt;
}&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
6. Klik &lt;b&gt;Simpan Template&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
Tadaaa..... Tulisan &quot;Diberdayakan oleh blogger&quot; pada blog temen-temen sudah hilang begitu saja :p&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://priawadi.blogspot.com/2012/01/cara-menghilangkan-tulisan-diberdayakan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;http://priawadi.blogspot.com/2012/01/cara-menghilangkan-tulisan-diberdayakan.html&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/201191792714846693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2012/09/cara-menghilangkan-tulisan-diberdayakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/201191792714846693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/201191792714846693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2012/09/cara-menghilangkan-tulisan-diberdayakan.html' title='Cara menghilangkan tulisan Diberdayakan oleh blogger pada blogspot dengan mudah '/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-6836760568146698979</id><published>2013-09-07T14:29:00.000+07:00</published><updated>2013-09-07T14:29:15.172+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pesantren Link"/><title type='text'>Penggolongan Pesantren Menurut Zaman Berkembanganya </title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s1600/pt2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;asalmula pesantren&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s1600/pt2.jpg&quot; title=&quot;asalmula pesantren&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Jenis_pesantren&quot;&gt;Penggolongan Pesantren Menurut Zaman Berkembanganya &lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
Sebelum anda membaca penggolongan pesantren dan ingin lebih tahu dengan pesantren, bisa anda lihat dalam artikel sebelumnya&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/hal-hal-yang-berhubungan-dengan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;artikel yang berhubungan dengan pesantren&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;
Seiring perkembangan zaman, serta tuntutan masyarakat atas kebutuhan pendidikan Umum, kini banyak &lt;strong class=&quot;selflink&quot;&gt;pesantren&lt;/strong&gt; yang menyediakan menu pendidikan umum dalam pesantren. kemudian muncul istilah &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren_Salaf&quot; title=&quot;Pesantren Salaf&quot;&gt;pesantren Salaf&lt;/a&gt; dan &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pesantren_Modern&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Pesantren Modern (halaman belum tersedia)&quot;&gt;pesantren Modern&lt;/a&gt;, pesantren Salaf adalah pesantren yang murni mengajarkan &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pendidikan_Agama&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Pendidikan Agama (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Pendidikan Agama&lt;/a&gt; sedangkan &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pesantren_Modern&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Pesantren Modern (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Pesantren Modern&lt;/a&gt; menggunakan sistem pengajaran pendidikan umum atau &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum&quot; title=&quot;Kurikulum&quot;&gt;Kurikulum&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pesantren_salaf&quot;&gt;Pesantren salaf&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama Islam saja umumnya disebut &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren_Salaf&quot; title=&quot;Pesantren Salaf&quot;&gt;pesantren salaf&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Pola tradisional yang diterapkan dalam pesantren salafi adalah para santri bekerja untuk kyai mereka - bisa dengan mencangkul &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Sawah&quot; title=&quot;Sawah&quot;&gt;sawah&lt;/a&gt;,
 mengurusi empang (kolam ikan), dan lain sebagainya - dan sebagai 
balasannya mereka diajari ilmu agama oleh kyai mereka tersebut.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Sebagian besar pesantren salafi menyediakan asrama sebagai tempat 
tinggal para santrinya dengan membebankan biaya yang rendah atau bahkan 
tanpa biaya sama sekali.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Para santri, pada umumnya menghabiskan hingga 20 jam waktu sehari dengan penuh dengan kegiatan, dimulai dari &lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Salat&quot; title=&quot;Salat&quot;&gt;salat shubuh&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; di waktu pagi hingga mereka tidur kembali di waktu malam.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Pada waktu siang, para santri pergi ke sekolah umum untuk belajar ilmu 
formal, pada waktu sore mereka menghadiri pengajian dengan kyai atau 
ustaz mereka untuk memperdalam pelajaran agama dan al-Qur&#39;an.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pesantren_modern&quot;&gt;Pesantren modern&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Ada pula pesantren yang mengajarkan pendidikan umum, di mana 
persentase ajarannya lebih banyak ilmu-ilmu pendidikan agama Islam 
daripada ilmu umum (matematika, fisika, dan lainnya).&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Ini sering disebut dengan istilah &lt;i&gt;pondok pesantren modern&lt;/i&gt;, dan umumnya tetap menekankan nilai-nilai dari kesederhanaan, keikhlasan, kemandirian, dan pengendalian diri.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Pada pesantren dengan materi ajar campuran antara pendidikan ilmu 
formal dan ilmu agama Islam, para santri belajar seperti di sekolah umum
 atau madrasah.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Pesantren campuran untuk tingkat &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/SMP&quot; title=&quot;SMP&quot;&gt;SMP&lt;/a&gt; kadang-kadang juga dikenal dengan nama &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah_Tsanawiyah&quot; title=&quot;Madrasah Tsanawiyah&quot;&gt;Madrasah Tsanawiyah&lt;/a&gt;, sedangkan untuk tingkat &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/SMA&quot; title=&quot;SMA&quot;&gt;SMA&lt;/a&gt; dengan nama &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah_Aliyah&quot; title=&quot;Madrasah Aliyah&quot;&gt;Madrasah Aliyah&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Namun, perbedaan pesantren dan &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah&quot; title=&quot;Madrasah&quot;&gt;madrasah&lt;/a&gt; terletak pada sistemnya. Pesantren memasukkan santrinya ke dalam asrama, sementara dalam madrasah tidak.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Ada juga jenis pesantren semimodern yang masih mempertahankan 
kesalafannya dan memasukkan kurikulum modern di pesantren tersebut.&lt;br /&gt;

&lt;h2&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Modernisasi_pesantren&quot;&gt;Modernisasi pesantren&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
Sebab-sebab terjadinya modernisasi Pesantren di antaranya: Pertama, munculnya wancana penolakan taqlid dengan “kembali kepada &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Qur%E2%80%99an&quot; title=&quot;Al-Qur’an&quot;&gt;Al-Qur’an&lt;/a&gt; dan sunah” sebagai isu sentral yang mulai ditadaruskan sejak tahun 1900.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Maka sejak saat itu perdebatan antara kaum tua dengan kaum muda, atau 
kalangan reformis dengan kalangan ortodoks/konservatif, mulai mengemuka 
sebagai wancana public.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Kedua: kian mengemukanya wacana perlawanan nasional atas kolonialisme belanda.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Ketiga, terbitnya kesadaran kalangan Muslim untuk memperbaharui 
organisasi keislaman mereka yang berkonsentrasi dalam aspek sosial 
ekonomi.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Keempat, dorongan kaum Muslim untuk memperbaharui sistem pendidikan Islam.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Salah satu dari keempat faktor tersebut dalam pandangan &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Karel_A._Steenbrink&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Karel A. Steenbrink (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Karel A. Steenbrink&lt;/a&gt;, yang sejatinya selalu menjadi sumber inspirasi para pembaharu Islam untuk melakukan perubahan Islam di Indonesia.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-18&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-18&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h2&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Tokoh_nasional&quot;&gt;Tokoh nasional&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
Beberapa alumnus pesantren juga telah berkiprah di pentas nasional, yang terkenal antara lain:&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hasyim_Asy%27ari&quot; title=&quot;Hasyim Asy&#39;ari&quot;&gt;KH. Hasyim Asy&#39;ari&lt;/a&gt; (Pendiri Jam&#39;iyah Nahdlatul Ulama), &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-19&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-19&quot;&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hasyim_Muzadi&quot; title=&quot;Hasyim Muzadi&quot;&gt;KH. Hasyim Muzadi&lt;/a&gt; (Ketua PB &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama&quot; title=&quot;Nahdlatul Ulama&quot;&gt;Nahdlatul Ulama&lt;/a&gt;),&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nurcholish_Madjid&quot; title=&quot;Nurcholish Madjid&quot;&gt;Prof. Nurkholish Madjid&lt;/a&gt; mantan (&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Rektor&quot; title=&quot;Rektor&quot;&gt;Rektor&lt;/a&gt; &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Paramadina&quot; title=&quot;Universitas Paramadina&quot;&gt;Universitas Paramadina&lt;/a&gt;),&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Din_Syamsuddin&quot; title=&quot;Din Syamsuddin&quot;&gt;Dr. Din Syamsuddin&lt;/a&gt; (Sekretaris Umum &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Majelis_Ulama_Indonesia&quot; title=&quot;Majelis Ulama Indonesia&quot;&gt;Majelis Ulama Indonesia&lt;/a&gt; (MUI).&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Abdurrahman_Wahid&quot; title=&quot;Abdurrahman Wahid&quot;&gt;KH. Abdurrahman Wahid&lt;/a&gt;, salah seorang kyai yang terkenal, adalah mantan &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Presiden_Republik_Indonesia&quot; title=&quot;Presiden Republik Indonesia&quot;&gt;Presiden Republik Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Ia adalah putra &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wahid_Hasyim&quot; title=&quot;Wahid Hasyim&quot;&gt;KH. Wahid Hasyim&lt;/a&gt;, seorang kyai yang juga tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia dan pernah dua kali menjabat Menteri Agama di Indonesia.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Sementara kakeknya adalah &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hasyim_Asy%27ari&quot; title=&quot;Hasyim Asy&#39;ari&quot;&gt;KH. Hasyim Asy&#39;ari&lt;/a&gt;, seorang pahlawan nasional Indonesia dan pendiri &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama&quot; title=&quot;Nahdlatul Ulama&quot;&gt;Nahdlatul Ulama&lt;/a&gt;, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hidayat_Nur_Wahid&quot; title=&quot;Hidayat Nur Wahid&quot;&gt;Dr. Hidayat Nur Wahid&lt;/a&gt; (Ketua MPR 2004-2009)&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Rujukan &lt;br /&gt;
&lt;ol class=&quot;references&quot;&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-18&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-18&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;&lt;i&gt;Majalah Tajdid&lt;/i&gt; (ciamis:Lembaga Penelitian dan Pengembangan, 2009), hal. 358&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-19&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-19&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;&lt;a class=&quot;external free&quot; href=&quot;http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1301-ulama-pembaharu-pesantren&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/1301-ulama-pembaharu-pesantren&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Masih banyak lagi para Tokoh dan pemaparan tentang pesantren yang belum bisa kami tulis, Insya Alloh dengan do&#39;a saudara kami bisa menyampaikan artikel selanjutnya yang lebih lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/6836760568146698979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/penggolongan-pesantren-menurut-zaman.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/6836760568146698979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/6836760568146698979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/penggolongan-pesantren-menurut-zaman.html' title='Penggolongan Pesantren Menurut Zaman Berkembanganya '/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s72-c/pt2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-4202129244005020824</id><published>2013-09-07T14:16:00.001+07:00</published><updated>2013-09-07T14:16:08.046+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pesantren Link"/><title type='text'>Hal-hal Yang Berhubungan Dengan Pesantren</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbmdeNtZhc-ZGX6uldNH9Ze_Wk7mos-plHsVdNbagxIH9JN1tH4Fu7H54p2M9N4zyb23_rLMuvJTalWinhSS4v1CyaTXELgx_CzYKo-ThOSeOrQW0XDJLzJqwJCKhAhQXRpIllzp3A8bU/s1600/pt1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;santri&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbmdeNtZhc-ZGX6uldNH9Ze_Wk7mos-plHsVdNbagxIH9JN1tH4Fu7H54p2M9N4zyb23_rLMuvJTalWinhSS4v1CyaTXELgx_CzYKo-ThOSeOrQW0XDJLzJqwJCKhAhQXRpIllzp3A8bU/s1600/pt1.jpg&quot; title=&quot;santri&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pondok&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pondok&quot;&gt;Sebelum anda membaca tentang apa yang terdapat di dalam pesantren, alangkah baiknya anda mengetahuai asal muasal dan perkembangan pesantren. Topik tersebut bisa anda lihat di artikel sebelumnya &lt;a href=&quot;http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/pesantren-dari-dulu-sampai-kini.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;baca lebih lanjut tentang asal-mula pesantren&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pondok&quot;&gt;Pondok&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
Sebuah pondok pada dasarnya merupakan sebuah asrama pendidikan Islam 
tradisional di mana para siswanya (santri) tinggal bersama di bawah 
bimbingan seorang atau lebih guru yang lebih dikenal dengan Kyai &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-7&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-7&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;
 Dengan istilah pondok pesantren dimaksudkan sebagai suatu bentuk 
pendidikan keislaman yang melembaga di Indonesia. Pondok atau asrama 
merupakan tempat yang sudah disediakan untuk kegiatan bagi para santri. 
Adanya pondok ini banyak menunjang segala kegiatan yang ada. Hal ini 
didasarkan jarak pondok dengan sarana pondok yang lain biasanya 
berdekatan sehingga memudahkan untuk komunikasi antara Kyai dan santri, 
dan antara satu santri dengan santri yang lain.&lt;br /&gt;

Dengan demikian akan tercipta situasi yang komunikatif di samping 
adanya hubungan timbal balik antara Kyai dan santri, dan antara santri 
dengan santri. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Zamakhsari Dhofir, 
bahwa adanya sikap timbal balik antara Kyai dan santri di mana para 
santri menganggap Kyai seolah-olah menjadi bapaknya sendiri, sedangkan 
santri dianggap Kyai sebagai titipan Tuhan yang harus senantiasa 
dilindungi &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-8&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-8&quot;&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Sikap timbal balik tersebut menimbulkan rasa kekeluargaan dan saling 
menyayangi satu sama lain, sehingga mudah bagi Kyai dan ustaz untuk 
membimbing dan mengawasi anak didiknya atau santri. Segala sesuatu yang 
dihadapi oleh santri dapat dimonitor langsung oleh Kyai dan ustaz, 
sehingga dapat membantu memberikan pemecahan ataupun pengarahan yang 
cepat terhadap santri, mengurai masalah yang dihadapi para santri.&lt;br /&gt;

Keadaan pondok pada masa kolonial sangat berbeda dengan keberadaan 
pondok sekarang. Hurgronje menggambarkan keadaan pondok pada masa 
kolonial (dalam bukunya Imron Arifin, Kepemimpinan Kyai) yaitu: “Pondok 
terdiri dari sebuah gedung berbentuk persegi, biasanya dibangun dari 
bambu, tetapi di desa-desa yang agak makmur tiangnya terdiri dari kayu 
dan batangnya juga terbuat dari kayu. Tangga pondok dihubungkan ke sumur
 oleh sederet batu-batu titian, sehingga santri yang kebanyakan tidak 
bersepatu itu dapat mencuci kakinya sebelum naik ke pondoknya.&lt;br /&gt;

Pondok yang sederhana hanya terdiri dari ruangan yang besar yang 
didiami bersama. Terdapat juga pondok yang agaknya sempurna di mana 
didapati sebuah gang (lorong) yang dihubungkan oleh pintu-pintu. Di 
sebelah kiri kanan gang terdapat kamar kecil-kecil dengan pintunya yang 
sempit, sehingga sewaktu memasuki kamar itu orang-orang terpaksa harus 
membungkuk, jendelanya kecil-kecil dan memakai terali. Perabot di 
dalamnya sangat sederhana. Di depan jendela yang kecil itu terdapat 
tikar pandan atau rotan dan sebuah meja pendek dari bambu atau dari 
kayu, di atasnya terletak beberapa buah kitab”&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-9&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-9&quot;&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Dewasa ini keberadaan pondok pesantren sudah mengalami perkembangan 
sedemikian rupa sehingga komponen-komponen yang dimaksudkan makin lama 
makin bertambah dan dilengkapi sarana dan prasarananya.&lt;br /&gt;

Dalam sejarah pertumbuhannya, pondok pesantren telah mengalami 
beberapa fase perkembangan, termasuk dibukanya pondok khusus perempuan. 
Dengan perkembangan tersebut, terdapat pondok perempuan dan pondok 
laki-laki. Sehingga pesantren yang tergolong besar dapat menerima santri
 laki-laki dan santri perempuan, dengan memilahkan pondok-pondok 
berdasarkan jenis kelamin dengan peraturan yang ketat.&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Masjid&quot;&gt;Masjid&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
Masjid merupakan elemen yang tak dapat dipisahkan dengan pesantren 
dan dianggap sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para 
santri, terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan salat 
Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Sebagaimana pula 
Zamakhsyari Dhofir berpendapat bahwa: “Kedudukan masjid sebagai sebagai 
pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan manifestasi 
universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Dengan kata lain
 kesinambungan sistem pendidikan Islam yang berpusat di masjid sejak 
masjid Quba’ didirikan di dekat Madinah pada masa Nabi Muhammad SAW 
tetap terpancar dalam sistem pesantren. Sejak zaman Nabi, masjid telah 
menjadi pusat pendidikan Islam” &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-10&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-10&quot;&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Lembaga-lembaga pesantren di Jawa memelihara terus tradisi tersebut, 
bahkan pada zaman sekarang di daerah umat Islam begitu terpengaruh oleh 
kehidupan Barat, masih ditemui beberapa ulama dengan penuh pengabdian 
mengajar kepada para santri di masjid-masjid serta memberi wejangan dan 
anjuran kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;

Di Jawa biasanya seorang Kyai yang mengembangkan sebuah pesantren 
pertama-tama dengan mendirikan masjid di dekat rumahnya. Langkah ini pun
 biasanya diambil atas perintah Kyainya yang telah menilai bahwa ia 
sanggup memimpin sebuah pesantren. Selanjutnya Kyai tersebut akan 
mengajar murid-muridnya (para santri) di masjid, sehingga masjid 
merupakan elemen yang sangat penting dari pesantren.&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Pengajaran_Kitab-kitab_Klasik&quot;&gt;Pengajaran Kitab-kitab Klasik&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
Sejak tumbuhnya pesantren, pengajaran kitab-kitab klasik diberikan 
sebagai upaya untuk meneruskan tujuan utama pesantren yaitu mendidik 
calon-calon ulama yang setia terhadap paham Islam tradisional. Karena 
itu kitab-kitab Islam klasik merupakan bagian integral dari nilai dan 
paham pesantren yang tidak dapat dipisah-pisahkan.&lt;br /&gt;

Penyebutan kitab-kitab Islam klasik di dunia pesantren lebih populer 
dengan sebutan “kitab kuning”, tetapi asal-usul istilah ini belum 
diketahui secara pasti. Mungkin penyebutan istilah tersebut guna 
membatasi dengan tahun karangan atau disebabkan warna kertas dari kitab 
tersebut berwarna kuning, tetapi argumentasi ini kurang tepat sebab pada
 saat ini kitab-kitab Islam klasik sudah banyak dicetak dengan kertas 
putih.&lt;br /&gt;

Pengajaran kitab-kitab Islam klasik oleh pengasuh pondok (Kyai) atau 
ustaz biasanya dengan menggunakan sistem sorogan, wetonan, dan 
bandongan. Adapun kitab-kitab Islam klasik yang diajarkan di pesantren 
menurut Zamakhsyari Dhofir dapat digolongkan ke dalam 8 kelompok, yaitu:
 (1) Nahwu (syntax) dan Sharaf (morfologi), (2) Fiqih (hukum), (3) Ushul
 Fiqh (yurispundensi), (4) Hadits, (5) Tafsir, (6) Tauhid (theologi), 
(7) Tasawuf dan Etika, (8) Cabang-cabang lain seperti Tarikh (sejarah) 
dan Balaghah” &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-11&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-11&quot;&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Kitab-kitab Islam klasik adalah kepustakaan dan pegangan para Kyai di
 pesantren. Keberadaannya tidaklah dapat dipisahkan dengan Kyai di 
pesantren. Kitab-kitab Islam klasik merupakan modifikasi nilai-nilai 
ajaran Islam, sedangkan Kyai merupakan personifikasi dari nilai-nilai 
itu. Di sisi lain keharusan Kyai di samping tumbuh disebabkan 
kekuatan-kekuatan mistik yang juga karena kemampuannya menguasai 
kitab-kitab Islam klasik.&lt;br /&gt;

Sehubungan dengan hal ini, Moh. Hasyim Munif mengatakan bahwa: 
“Ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab kuning tetap merupakan 
pedoman hidup dan kehidupan yang sah dan relevan. Sah artinya ajaran itu
 diyakini bersumber pada kitab Allah Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah 
(Al-Hadits), dan relevan artinya ajaran-ajaran itu masih tetap cocok dan
 berguna kini atau nanti” &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-12&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-12&quot;&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Dengan demikian, pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan hal 
utama di pesantren guna mencetak alumnus yang menguasai pengetahuan 
tentang Islam bahkan diharapkan di antaranya dapat menjadi Kyai.&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Santri&quot;&gt;Santri&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama
 di pesantren. Biasanya para santri ini tinggal di pondok atau asrama 
pesantren yang telah disediakan, namun ada pula santri yang tidak 
tinggal di tempat yang telah disediakan tersebut yang biasa disebut 
dengan santri kalong sebagaimana yang telah penulis kemukakan pada 
pembahasan di depan.&lt;br /&gt;

Menurut Zamakhsyari Dhofir berpendapat bahwa: “Santri yaitu 
murid-murid yang tinggal di dalam pesantren untuk mengikuti pelajaran 
kitab-kitab kuning atau kitab-kitab Islam klasik yang pada umumnya 
terdiri dari dua kelompok santri yaitu: - Santri Mukim yaitu santri atau
 murid-murid yang berasal dari jauh yang tinggal atau menetap di 
lingkungan pesantren. - Santri Kalong yaitu santri yang berasal dari 
desa-desa sekitar pesantren yang mereka tidak menetap di lingkungan 
kompleks peantren tetapi setelah mengikuti pelajaran mereka pulang &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-13&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-13&quot;&gt;[7]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Dalam menjalani kehidupan di pesantren, pada umumnya mereka mengurus 
sendiri keperluan sehari-hari dan mereka mendapat fasilitas yang sama 
antara santri yang satu dengan lainnya. Santri diwajibkan menaati 
peraturan yang ditetapkan di dalam pesantren tersebut dan apabila ada 
pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang 
dilakukan.&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Kyai&quot;&gt;Kyai&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;
Istilah Kyai bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Jawa &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-14&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-14&quot;&gt;[8]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;
 Kata Kyai mempunyai makna yang agung, keramat, dan dituahkan. Selain 
gelar Kyai diberikan kepada seorang laki-laki yang lanjut usia, arif, 
dan dihormati di Jawa. Gelar Kyai juga diberikan untuk benda-benda yang 
keramat dan dituahkan, seperti keris dan tombak. Namun demikian 
pengertian paling luas di Indonesia, sebutan Kyai dimaksudkan untuk para
 pendiri dan pemimpin pesantren, yang sebagai muslim terhormat telah 
membaktikan hidupnya untuk Allah SWT serta menyebarluaskan dan 
memperdalam ajaran-ajaran serta pandangan Islam melalui pendidikan.&lt;br /&gt;

Kyai berkedudukan sebagai tokoh sentral dalam tata kehidupan 
pesantren, sekaligus sebagai pemimpin pesantren. Dalam kedudukan ini 
nilai kepesantrenannya banyak tergantung pada kepribadian Kyai sebagai 
suri teladan dan sekaligus pemegang kebijaksanaan mutlak dalam tata 
nilai pesantren. Dalam hal ini M. Habib Chirzin mengatakan bahwa peran 
kyai sangat besar sekali dalam bidang penanganan iman, bimbingan 
amaliyah, penyebaran dan pewarisan ilmu, pembinaan akhlak, pendidikan 
beramal, dan memimpin serta menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh 
santri dan masyarakat. Dan dalam hal pemikiran kyai lebih banyak berupa 
terbentuknya pola berpikir, sikap, jiwa, serta orientasi tertentu untuk 
memimpin sesuai dengan latar belakang kepribadian kyai &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-15&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-15&quot;&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Dari pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa peran Kyai 
sangat menentukan keberhasilan pesantren yang diasuhnya. Demikianlah 
beberapa uraian tentang elemen-elemen umum pesantren, yang pada dasarnya
 merupakan syarat dan gambaran kelengkapan elemen sebuah pondok 
pesantren yang terklasifikasi asli meskipun tidak menutup kemungkinan 
berkembang atau bertambah seiring dengan perkembangan zaman dan 
kebutuhan masyarakat.&lt;br /&gt;

&lt;h3&gt;
&lt;span class=&quot;mw-headline&quot; id=&quot;Peranan&quot;&gt;Peranan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Islam&quot; title=&quot;Islam&quot;&gt;Islam&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah 
garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertikal 
(dengan penjejalan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas 
horisontal (kesadaran sosial).&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (&lt;i&gt;regional-based curriculum&lt;/i&gt;) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (&lt;i&gt;society-based curriculum&lt;/i&gt;).&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai 
lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial
 yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di 
sekitarnya.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-16&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-16&quot;&gt;[10]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini 
dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama
 berkembang sebelum kedatangan Islam.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, 
pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap 
perjalanan sejarah bangsa.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-17&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-17&quot;&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;

Banyak pesantren di Indonesia hanya membebankan para santrinya dengan
 biaya yang rendah, meskipun beberapa pesantren modern membebani dengan 
biaya yang lebih tinggi.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Meski begitu, jika dibandingkan dengan beberapa institusi pendidikan lainnya yang sejenis, pesantren modern jauh lebih murah.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Organisasi massa (ormas) Islam yang paling banyak memiliki pesantren adalah &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama&quot; title=&quot;Nahdlatul Ulama&quot;&gt;Nahdlatul Ulama&lt;/a&gt; (NU).&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Ormas Islam lainnya yang juga memiliki banyak pesantren adalah &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Al-Washliyah&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Al-Washliyah (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Al-Washliyah&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hidayatullah&quot; title=&quot;Hidayatullah&quot;&gt;Hidayatullah&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;&amp;nbsp;Rujukan&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol class=&quot;references&quot;&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-7&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-7&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsyari Dhofir, 1982: 49&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-8&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-8&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsyari Dhofir, 1982: 49&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-9&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-9&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Imron Arifin, 1993: 6&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-10&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-10&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsari Dhofir, 1982: 49&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-11&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-11&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsyari Dhofir, 1982: 50&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-12&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-12&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Moh. Hasyim Munif, 1989: 25&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-13&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-13&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsari Dhofir, 1982: 51&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-14&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-14&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Manfred Ziemek, 1986 130&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-15&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-15&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;M. Habib Chirzin, 1983: 94&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-16&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-16&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;HS, Mastuki, El-sha, M. Ishom. &lt;i&gt;Intelektualisme Pesantren&lt;/i&gt;, (Jakarta: Diva Pustaka, 2006), hal.1&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-17&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-17&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Haedari, H.Amin. &lt;i&gt;Transformasi Pesantren&lt;/i&gt;, (Jakarta: Media Nusantara, 2007), hal.3&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/4202129244005020824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/hal-hal-yang-berhubungan-dengan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/4202129244005020824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/4202129244005020824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/hal-hal-yang-berhubungan-dengan.html' title='Hal-hal Yang Berhubungan Dengan Pesantren'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgbmdeNtZhc-ZGX6uldNH9Ze_Wk7mos-plHsVdNbagxIH9JN1tH4Fu7H54p2M9N4zyb23_rLMuvJTalWinhSS4v1CyaTXELgx_CzYKo-ThOSeOrQW0XDJLzJqwJCKhAhQXRpIllzp3A8bU/s72-c/pt1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-7518741126506833060</id><published>2013-09-07T13:47:00.000+07:00</published><updated>2013-09-07T14:19:16.617+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pesantren Link"/><title type='text'>Pesantren Dari Dulu Sampai Kini</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s1600/pt2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;asal usul pesantren&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s1600/pt2.jpg&quot; title=&quot;asal usul pesantren&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Pesantren&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;pondok pesantren&lt;/b&gt;, atau sering disingkat &lt;b&gt;pondok&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;ponpes&lt;/b&gt;,
 adalah sebuah asrama pendidikan tradisional, di mana para siswanya 
semua tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih 
dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap 
santri. Santri tersebut berada dalam kompleks yang juga menyediakan 
masjid untuk beribadah, ruang untuk belajar, dan kegiatan keagamaan 
lainnya. Kompleks ini biasanya dikelilingi oleh tembok untuk dapat 
mengawasi keluar masuknya para santri sesuai dengan peraturan yang 
berlaku.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-1&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-1&quot;&gt;[1]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;.
 Pondok Pesantren merupakan dua istilah yang menunjukkan satu 
pengertian. Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar 
para santri, sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal 
sederhana terbuat dari bambu. Di samping itu, kata pondok mungkin 
berasal dari Bahasa Arab Funduq yang berarti asrama atau hotel. Di Jawa 
termasuk Sunda dan Madura umumnya digunakan istilah pondok dan 
pesantren, sedang di Aceh dikenal dengan Istilah dayah atau rangkang 
atau menuasa, sedangkan di Minangkabau disebut surau.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-2&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-2&quot;&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;
 Pesantren juga dapat dipahami sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran
 agama, umumnya dengan cara nonklasikal, di mana seorang kiai 
mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan 
kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh Ulama Abad pertengahan, 
dan para santrinya biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren 
tersebut. &lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-3&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-3&quot;&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-3&quot;&gt;&amp;nbsp;Asal-Mula Inisiatif Tentang Pesantren&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kiai&quot; title=&quot;Kiai&quot;&gt;kyai&lt;/a&gt; di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah 
inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Pada zaman dahulu kyai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya
 itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama 
supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Kyai saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang 
didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Mereka menempati sebuah gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kyai.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubug yang didirikan.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Para santri selanjutnya memopulerkan keberadaan pondok pesantren 
tersebut, sehingga menjadi terkenal ke mana-mana, contohnya seperti pada
 pondok-pondok yang timbul pada zaman &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo&quot; title=&quot;Walisongo&quot;&gt;Walisongo&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-4&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-4&quot;&gt;[4]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
Pondok Pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar, baik 
bagi kemajuan Islam itu sendiri maupun bagi bangsa Indonesia secara 
keseluruhan. Berdasarkan catatan yang ada, kegiatan pendidikan agama di &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Nusantara&quot; title=&quot;Nusantara&quot;&gt;Nusantara&lt;/a&gt; telah dimulai sejak tahun 1596. Kegiatan agama inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pondok Pesantren. Bahkan dalam catatan &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Howard_M._Federspiel&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;Howard M. Federspiel (halaman belum tersedia)&quot;&gt;Howard M. Federspiel&lt;/a&gt;- salah seorang pengkaji keislaman di Indonesia, menjelang abad ke-12 pusat-pusat studi di Aceh (pesantren disebut dengan nama &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Dayah&quot; title=&quot;Dayah&quot;&gt;Dayah&lt;/a&gt; di Aceh) dan Palembang (Sumatera), di Jawa Timur dan di &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Gowa&quot; title=&quot;Gowa&quot;&gt;Gowa&lt;/a&gt; (Sulawesi) telah menghasilkan tulisan-tulisan penting dan telah menarik santri untuk belajar.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-5&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-5&quot;&gt;[5]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-5&quot;&gt;&amp;nbsp;Istilah Yang Terkandung Dalam Pesantren&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
Istilah &lt;i&gt;pesantren&lt;/i&gt; berasal dari kata pe-&lt;i&gt;santri&lt;/i&gt;-an, di mana kata &quot;santri&quot; berarti murid dalam &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa&quot; title=&quot;Bahasa Jawa&quot;&gt;Bahasa Jawa&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Istilah &lt;i&gt;pondok&lt;/i&gt; berasal dari &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Arab&quot; title=&quot;Bahasa Arab&quot;&gt;Bahasa Arab&lt;/a&gt; &lt;i&gt;funduuq&lt;/i&gt; (&lt;b&gt;فندوق&lt;/b&gt;) yang berarti penginapan.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Khusus di &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh&quot; title=&quot;Aceh&quot;&gt;Aceh&lt;/a&gt;, pesantren disebut juga dengan nama &lt;i&gt;dayah&lt;/i&gt;. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai&quot; title=&quot;Kyai&quot;&gt;Kyai&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri
 senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut &lt;i&gt;lurah pondok&lt;/i&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah
 agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan 
hubungan dengan kyai dan juga &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan&quot; title=&quot;Tuhan&quot;&gt;Tuhan&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;
 Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin 
Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian 
dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut
 Pawiyatan.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa &lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Tamil&quot; title=&quot;Tamil&quot;&gt;Tamil&lt;/a&gt;, yang berarti guru mengaji, sedang &lt;a class=&quot;new&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=C._C_Berg&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1&quot; title=&quot;C. C Berg (halaman belum tersedia)&quot;&gt;C. C Berg&lt;/a&gt;
 berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang 
dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu 
atau seorang sarjana ahli kitab suci agama &lt;a class=&quot;mw-redirect&quot; href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu&quot; title=&quot;Hindu&quot;&gt;Hindu&lt;/a&gt;.&lt;sup class=&quot;noprint Inline-Template&quot;&gt;&lt;span style=&quot;white-space: nowrap;&quot; title=&quot;Kalimat yang diikuti tag ini membutuhkan rujukan.&quot;&gt;[&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Kutip_sumber_tulisan&quot; title=&quot;Wikipedia:Kutip sumber tulisan&quot;&gt;rujukan?&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt; Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata &lt;i&gt;saint&lt;/i&gt; (manusia baik) dengan suku kata &lt;i&gt;tra&lt;/i&gt; (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-6&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_note-6&quot;&gt;[6]&lt;/a&gt;&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membaca artikel kelanjutanya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pesantren bisa anda lihat di sini &lt;a href=&quot;http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/hal-hal-yang-berhubungan-dengan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;silahkan di baca&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-6&quot;&gt;&amp;nbsp;Rujukan.&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol class=&quot;references&quot;&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-1&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-1&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, Jakarta, 1983, hlm.18.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-2&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-2&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal.5&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-3&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-3&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Sudjono Prasodjo, Profil Pesantren, (Jakarta: LP3S, 1982), hlm. 6.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-4&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-4&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Wahab, Rochidin. &lt;i&gt;Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia&lt;/i&gt; (Bandung: Alfabeta,CV, 2004) hal.153,154&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-5&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-5&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Hielmy, Irfan. &lt;i&gt;Wancana Islam&lt;/i&gt; (ciamis:Pusat Informasi Pesantren,2000), hal. 120&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li id=&quot;cite_note-6&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/Pesantren#cite_ref-6&quot;&gt;^&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; &lt;span class=&quot;reference-text&quot;&gt;Fatah, H Rohadi Abdul, Taufik, M Tata, Bisri, Abdul Mukti. &lt;i&gt;Rekontruksi Pesantren Masa Depan&lt;/i&gt;, (Jakarta Utara: PT. Listafariska Putra, 2005), hal.11&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;sup class=&quot;reference&quot; id=&quot;cite_ref-5&quot;&gt;&amp;nbsp;Masih banyak lagi ulasan tentang sejarah dan munculnya pesantren, untuk sementara, mungkin artikel ini bisa mengobati sedikit pengetahuan bagi yang belum tahu.&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/7518741126506833060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/pesantren-dari-dulu-sampai-kini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/7518741126506833060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/7518741126506833060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/pesantren-dari-dulu-sampai-kini.html' title='Pesantren Dari Dulu Sampai Kini'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWNUqgMScrJnHvcOHWY42nMBMWzgHsEFO6xz5lvwJhg9whP_YV_I0_CTjUVH5jSYRNZ1DiV9Tuxk20FM875cMNzx4t2DKCEaa63WD54Ccn-TCusjMUkQYbYuTXVUp2kwKu0cU3Z02uAv0/s72-c/pt2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-7513689616226788988</id><published>2013-09-07T13:32:00.001+07:00</published><updated>2013-09-07T13:32:21.530+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pesantren Link"/><title type='text'>Pesantren Berakar Pada Tradisi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHeYmmvWOz08PvSH48MX31A-2Azzobu23qIweCbKdK-_B46NFDW43n1Qf3i3wY1NnG7rK9Sjk7f1qaJdtaup5-ayvY01-mQgj8ewKXunBEDbzS8SwWimhxpa__pTG9k1QQdHq9VPXsv1Q/s1600/pt1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;santri dan pesantren&quot; border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHeYmmvWOz08PvSH48MX31A-2Azzobu23qIweCbKdK-_B46NFDW43n1Qf3i3wY1NnG7rK9Sjk7f1qaJdtaup5-ayvY01-mQgj8ewKXunBEDbzS8SwWimhxpa__pTG9k1QQdHq9VPXsv1Q/s1600/pt1.jpg&quot; title=&quot;santri dan pesantren&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Terdapat banyak pendapat tentang asal mula lahirnya pesantren.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
Di sini kami akan memberikan beberapa pendapat tentang bagaimana pesantren itu lahir dan latar belakang yang membuat pesantren berkembang di Indonesia&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;pendapat yang menyebutkan bahwa 
pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi “tarekat”. 
Pesantren mempunyai kaitan yang erat dengan tempat pendidikan yang khas 
bagi kaum sufi. Sebab Rasulullah sebelum melakukan dakwah secara 
terang-terangan, beliau membentuk suatu kelompok pelopor yang melakukan 
pertemuan-pertemuan di kediaman Al-Arqam Ibn Abi al-Arqam. Barangkali 
tempat pertemuan pertama untuk bermusyawarah mengenai masalah-masalah 
agama dalam Islam adalah kediaman al-Arqam ini yang kemudian menjadi 
sumber inspirasi bagi pembentukan ribath dan halaqah-halaqah yang 
selanjutnya melembaga dalam tradisi tasawuf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pendapat pertama ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di 
Indonesia pada awalnya lebih banyak dikenal dalam bentuk kegiatan 
tarekat yang melaksanakan amalan amalan zikir dan wirid-wirid tertentu. 
Pemimpin tarekat ini disebut kiyai yang mewajibkan pengikut-pengikutnya 
untuk melaksanakan suluk selama empat puluh hari dalam satu tahun dengan
 cara tinggal bersama sesama anggota tarekat dalam sebuah masjid untuk 
melakukan ibadah-ibadah di bawah bimbingan kiyai. Untuk keperluan suluk 
ini kiyai menyediakan ruangan-ruangan khusus untuk penginapan dan tempat
 memasak yang terletak di sekitar masjid.&lt;br /&gt;

Di samping mengajarkan amalan-amalan tarekat, para pengikut itu juga 
diajarkan kitab-kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengretahuan 
agama Islam. Aktifitas yang dilakukan oleh para pengikut tarekat ini 
kemudian dinamakan pengajian. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga 
pengajian ini tumbuh dan berkembang menjadi lembaga pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;2. Pesantren yang dikenal 
sekarang ini pada mulanya merupakan pengambil alihan dari sistem 
pesantren yang diadakan oleh orang-orang Hindu di Nusantara. Hal ini 
didasarkan pada fakta bahwa sebelum datangnya Islam ke Indonesia lembaga
 pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pesantren pada masa itu 
dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran agama Hindu dan 
tempat membina kader-kader penyebar Hindu. Tradisi penghormatan murid 
kepada guru yang pola hubungan antar keduanya tidak didasarkan kepada 
hal-hal yang sifatnya materi juga bersumber dari tradisi Hindu. Fakta 
lain yang menunjukkan bahwa pesantren bukan berakar dari tradisi Islam 
adalah tidak ditemukannya lembaga pesantren di Negara-negara Islam 
lainnya. Sementara lembaga yang serupa dengan pesantren banyak ditemukan
 di dalam masyarakat Hindu dan Budha seperti di India, Myanmar dan 
Thailand. Islamisasi di Indonesia dalam abad-abad pertama tidak bisa 
dipisahkan dari hubungannya dengan India, bahkan beberapa sejarawan 
berpandangan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui Gujarat, walaupun 
pandangan ini dianggap memiliki banyak kelemahan. Terlepas dari 
perdebatan asal mula masuknya Islam ke Nusantara, pengaruh tarekat – 
tarekat seperti Syatariyah dan juga tarekat “Wahdat wujudnya Ibn ‘Arabi 
menunjukkan besarnya pengaruh India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Salah seorang ulama asal India, Shibghat Allah yang merupakan syaikh 
terkemuka Tarekat Syatariyah, ia aktif mengajar di Masjid An-Nabawi di 
mana halaqahnya banyak dihadiri oleh murid-muridnya yang berasal dari 
berbagai kawasan Islam termasuk para jamaah haji dari Kesultannan Aceh. 
Walaupun pengaruh-pengaruh India ini ke Nusantara pada dasarnya melalui 
kota-kota suci di Hijaz, tempat berbagai ulama besar India dan para 
pengikutnya yang non India mengajar. Melalui Haramayn (Mekkah dan 
Madinah) sebagai pusat peleburan dalam tradisi intelektual dan juga 
menciptakan hubungan-hubungan yang menyambungkan tradisi keilmuan satu 
sama lainnya. Seorang Arab kelahiran India, Nuruddin al-Raniri merupakan
 salah satu dari beberapa tokoh yang menunjukkan hubungan langsung 
antara India dan Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya 
setelah abad ke -16. Karya-karya Jawa klasik seperti Serat Cebolek dan 
Serat Centini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke- 16 di 
Indonesia telah banyak dijumpai pesantren yang besar yang mengajarkan 
berbagai kitab Islam klasik dalam bidang Fikih, teologi, dan tasawuf, 
dan menjadi pusat-pusat penyiaran Islam. Berdasarkan data Departemen 
Agama tahun 1985/1985, jumlah pesantren di Indonesia pada abad ke-16 
sebanyak 613 buah, tetapi tidak diketahui tahun berapa 
pesantren-pesantren itu didirikan. Demikian pula berdasarkan laporan 
pemerintah Hindia Belanda tahun 1831 di Indonesia ada sejumlah 1.853 
buah lembaga pendidikan Islam tradisisonal dengan jumlah murid 16.556 
orang, namun laporan tersebut belum memisahkan antara lembaga pengajian 
dan lembaga pesantren. Baru setelah ada laporan penelitian Van den Berg 
pada tahun 1885 diketahui bahwa dari sejumlah 14.929 buah lembaga 
pendidikan Islam yang ada di Indonesia, 300 di antaranya lembaga 
pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan tentang asal muasal 
pesantren, Wali Songo dipandang sebagai pemrakarsa berdirinya pesantren 
di Indonesia, dalam menyebarkan Islam dan mendirikan Ribath dan 
Halaqah-halaqah sebagai sarana pendidikan untuk mengajarkan agama Islam.
 Dalam sejarah Indonesia, Wali Songo adalah pelopor dan pemimpin dakwah 
Islam yang berhasil merekrut murid untuk kemudian menjalankan dakwah di 
setiap penjuru negeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin masih banyak pendapat lain yang mengemukakan tentang asal mula pesantren di Indonesia. </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/7513689616226788988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/pesantren-berakar-pada-tradisi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/7513689616226788988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/7513689616226788988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/pesantren-berakar-pada-tradisi.html' title='Pesantren Berakar Pada Tradisi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHeYmmvWOz08PvSH48MX31A-2Azzobu23qIweCbKdK-_B46NFDW43n1Qf3i3wY1NnG7rK9Sjk7f1qaJdtaup5-ayvY01-mQgj8ewKXunBEDbzS8SwWimhxpa__pTG9k1QQdHq9VPXsv1Q/s72-c/pt1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324108220796222095.post-591068451510877113</id><published>2013-09-06T20:57:00.000+07:00</published><updated>2013-09-06T20:57:04.739+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pendahuluan"/><title type='text'>Selamat Datang di Pesantren Gaul</title><content type='html'>Informasi tentang Pesantrengaul, website ini akan menyajikan berbagai informasi tentang kepesantrenan, model dan system pembelajaran.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/feeds/591068451510877113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/selamat-datang-di-pesantren-gaul.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/591068451510877113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324108220796222095/posts/default/591068451510877113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pesantrenlink.blogspot.com/2013/09/selamat-datang-di-pesantren-gaul.html' title='Selamat Datang di Pesantren Gaul'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17892007616328161372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>