<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Pitutur 3.0</title>
	
	<link>http://www.pitutur.net</link>
	<description>teman, teman dari teman, musuh dari musuh</description>
	<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 13:20:30 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/Pitutur" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>Pitutur</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Apa atawa Bagaimana?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/LUbSIMs-lWM/apa-atawa-bagaimana.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 13:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan nJepangi banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut nJepangi karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk&#8230;
Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan <i>nJepangi</i> banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut <i>nJepangi</i> karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk&#8230;</p>
<p>Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya ikan laut, jangankan mentah, yang sudah mateng saja kadang amisnya masih nempel di tenggorokan. Maka simbah berusaha mendalami, bagaimana orang-orang Jepun itu bisa menyantap daging ikan yang amis itu dengan penuh kenikmatan.</p>
<p>Lain sushi lain lagi dengan jengkol. Makanan tradisional yang aromanya berpotensi memancing keusuhan ini termasuk makanan yang masih susah simbah mengerti mengapa disebut lezat oleh penggemarnya. Bahkan bibi simbah sendiri dan sebagian anggota keluarga simbah menjadikan jengkol ini sebagai cemilan wal snack di saat senggang. Tapi simbah yakin, jika mau belajar menikmati pasti akan ketemu juga titik kelezatannya.</p>
<p>Sebagaimana saat simbah masih kecil dulu, tersebutlah makanan berbahan organik yang <i>kluget-kluget</i> di dasar akar pohon Turi berjuluk <b>&#8220;Gendhon&#8221;. </b>Gendhon adalah makhluk <i>ra mbejaji</i> berwujud seperti ulat gemuk, penuh lemak dan protein, serta konon menurut Kadi bisu -seorang konco angon simbah- merupakan sumber gizi yang <i>ngedhab-edhabi</i>. Sehingga kalo nemu makhluk berjuluk Gendhon ini, tiba-tiba konco-konco dolan simbah langsung menggelar acara kuliner ekstrim berbahan baku ulet berprotein tinggi itu. Maap aja, walaupun agak mlarat simbah tetep gak doyan makan Gendhon goreng itu. Meskipun konco-konco simbah ngiming-imingi dengan penuh demonstratip makan <i>temblang-tembleng</i> di depan simbah. </p>
<p>Kedoyanan dan ketidakdoyanan pada makanan-makanan tersebut oleh orang banyak disebut selera. Agak susah dimengerti memang dengan kata yang namanya &#8220;selera&#8221;. Karena secara anatomis, yang namanya lidah manusia itu sama saja. Letak syaraf-syaraf pengecapnya tak berbeda. Letak titik gurih, asem, manis, asin, pahit, cemplang, dan lain-lain, semuanya sama. Namun tiba-tiba satu makanan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda pada individu yang berbeda.</p>
<p>Lantas jika ada yang muntah di tempat gara-gara bau duren, apakah pasti karena durennya? Padahal ada juga yang sledap-sledup dengan mantab menyedot aroma duren ini dengan sentausa dan malah ketagihan. Malahan kalo habis nyantap duren sebiji, kulitnya ditaruh dibawah amben tempat tidur karena ingin kamarnya beraroma duren.</p>
<p>Kesimpulannya: kenikmatan segala sesuatu terletak bukan pada <b><i>&#8220;apa&#8221;</i></b>nya yang dinikmati, tapi justru kenikmatan itu tergantung pada yang menikmati. Karena tergantung pada yang menikmati, maka kenikmatan itu terletak pada <b><i>&#8220;bagaimana&#8221;</i></b> menikmatinya. Pada subyek dan bukan pada obyek.</p>
<p>Pertanyaannya, bisakah kita belajar menikmati? Jawabannya : karena kenikmatan itu tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; cara menikmatinya, maka tentu saja bisa dipelajari. Tergantung kita mau apa tidak. Kalau mau, pasti ada jalan.</p>
<p>Dari sini seharusnya kita bisa <i>menggladrahkan</i> pikiran kita ke apa saja yang bisa dinikmati. Misalnya kekayaan. Kalau tak tahu bagaimana menikmatinya, maka kekayaan akan mendatangkan musibah. Kekayaan bisa terasa nikmat manakala orang paham bagaimana menikmatinya. Namun yang terjadi adalah banyak orang menyangka kekayaan itu nikmat bukan pada &#8220;bagaimana&#8221; nya. Banyak orang yakin kekayaan itu nikmat karena terletak pada &#8220;apa&#8221;nya. Sehingga yang tertanam pada diri kebanyakan orang, kekayaan itu nikmat karena kayanya itu.</p>
<p>Dari sini juga muncul pemahaman bahwa kemiskinan tak bisa dinikmati. Kalau kenikmatan itu tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; cara menikmatinya, maka pada semua kejadian seharusnya bisa dinikmati, termasuk kemiskinan. Tapi kita sudah lama dicekoki bahwa kenikmatan terletak pada &#8220;apa&#8221; yang dinikmati. Pada obyeknya. Jika jidat sampeyan konsekwen dengan pemahaman ini, maka seharusnya duren dan jengkol itu pasti nikmat bagi seluruh lidah spesies yang bernama manusia karena secara anatomis sama. Nyatanya tidak. Lalu muncullah kosa kata &#8220;selera&#8221; yang sebenarnya mendukung fakta bahwa sampeyan meyakini kenikmatan itu terletak pada &#8220;bagaimana&#8221;, pada subyek dan bukan pada &#8220;apa&#8221; yang dinikmati.</p>
<p>Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, <i>&#8220;Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman. Seluruh keadaannya, baginya semuanya baik. Jika menerima kenikmatan lalu bersyukur, maka baik baginya. Jika menerima musibah lalu sabar, maka baik baginya. Dan tidak akan begini, kecuali mereka yang beriman saja.&#8221;</i></p>
<p>Maka kebaikan tidak terletak pada &#8220;apa&#8221;, tapi terletak pada &#8220;bagaimana&#8221; menyikapi. Karena sifat hipokrit kita, maka kita meletakkan kebaikan, kenikmatan, dan kebahagiaan pada &#8220;apa&#8221;, dan bukan pada &#8220;bagaimana&#8221;. Maka muncullah anggapan bahwa bahagia itu kekayaan, sukses itu pangkat, kenikmatan itu rumah mewah, keberhasilan itu karir mantabh, cemerlang itu gaji sembilan digit, dlsb.</p>
<p>Orang tak bisa memahami bahwa pada kemiskinan ada kebaikan, pada kekurangan ada kebaikan, pada musibah ada kenikmatan, pada bencana ada keberhasilan. Padahal semua tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; nya, dan tak bergantung pada &#8220;apa&#8221;nya. Namun kita menganggap tak ada kosa kata selera disini. Seakan semuanya absolut. Ketahuilah, sampeyan diglembuki sama setan kalo begitu.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/LUbSIMs-lWM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/JxESF4He7DA/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 04:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.
Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :
3. Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.</p>
<p>Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :</p>
<p>3. <b><i>Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, jangan melaporkan testimoni yang ternyata pemakaiannya dikombinasi dengan obat kimia sintetis.</i></b></p>
<p>Satu contoh kasus: simbah pernah kedatangan pasien mengeluhkan penyakit jantung. Dia berobat ke ahli jantung. Diberi obat lalu dikonsumsi dengan teratur. Setelah minum secara rutin selama 3 hari, dia bilang ke simbah belum ada perubahan apa-apa. Lalu dia pergi ke pengobatan alternatip. Dia diberi ramuan jamu herbal yang katanya ampuh buat ngreparasi jantung. Baru sehari minum katanya sudah baikan.</p>
<p>Simbah nanya, &#8220;Selama minum jamu itu obat dari dokter jantung masih diminum apa nggak?&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Masih mbah.&#8221;</p>
<p>Kasus seperti di atas tak bisa digunakan untuk memvonis bahwa obat dari dokter tak manjur babar blas, sedangkan herbalnya jos gandos khasiatnya. Karena seringkali satu terapi obat, membutuhkan waktu untuk mencapai hasil khasiat yang diinginkan. Sebagaimana kasus penyakit typus, pasien seringkali mengalami turun panas pada hari ketiga setelah diterapi. Jadi tidak langsung sim salabim panasnya turun, bahkan makan waktu sampai 3 hari. Ada pasien simbah yang katanya kena typus sudah 3 hari dirawat di RS belum turun panasnya. Setelah diberi jamu yang bahannya dari cacing, langsung turun. Sampeyan tak bisa mengatakan bahwa obat bahan cacingnya itu yang menurunkan panasnya. Karena memang terapi typus baru memberikan hasil setelah 3 hari.</p>
<p>Kalau ingin mengatakan bahan herbal dari pengobatan alternatip itu yang lebih berkhasiat, seharusnya obat dari dokter dihentikan. Lalu ambil jeda beberapa hari, barulah dikonsumsi herbalnya dan ditunggu khasiatnya. Hal ini akan menghasilkan testimoni yang baik dan bisa dipakai untuk modal penelitian lebih lanjut dari bahan herbal yang bersangkutan.</p>
<p><b><i>4. Kesembuhan harus terukur secara obyektif juga.</i></b></p>
<p>Jika penegakan diagnosa harus terukur, demikian juga manakala mengaku sudah sembuh. Kesembuhan haruslah terukur secara obyektif, bukan kesembuhan subyektif. Jika dengan konsumsi satu bahan herbal seseorang mengaku kankernya sembuh, kesembuhan dari kanker itu bukanlah dilihat secara subyektif saja. Haruslah ada satu tindakan biopsi ataupun scan ataupun pemeriksaan obyektif yang menyatakan bahwa kankernya sudah tak berbahaya lagi.</p>
<p>Seringkali pemakai herbal hanya menyatakan kesembuhan dirinya hanya dengan menggunakan kata-kata &#8220;sudah sembuh&#8221;. Sedangkan ukuran sembuhnya tak ada. Pernyataan sembuh yang baik harusnya melampirkan data-data pemeriksaan laboratorium pasca terapi yang bisa dibandingkan dengan hasil lab sebelum terapi.</p>
<p>Namun hal ini masih memiliki kendala. Penggunaan laboratorium masih dimonopoli oleh ahli pengobatan medis. Sedangkan kaum herbalis tak punya akses untuk memberikan pengantar bagi penilaian obyektif kesembuhan pasiennya. Untuk itu harus ada kerjasama antara dokter medis dan juga herbalis. Agar satu penyakit tegak diagnosanya dengan pemeriksaan obyektif, sekaligus kesembuhanya pun dinyatakan dengan pemeriksaan obyektif.&nbsp; </p>
<p>Kalo testimoni pengguna herbal sudah makin cerdas, ini akan memberikan modal yang bagus bagi ahli farmasi dan farmakologi untuk meneliti satu bahan herbal. Tentu saja akan dilakukan riset dan penelitian untuk mencari bahan aktif dan sekaligus mencari cara agar bahan herbal tersebut bisa dimasyarakatkan.</p>
<p>Sayangnya masih banyak ahli herbal yang seringkali justru bersikap memonopoli keahliannya. Yakni dengan cara menyembunyikan bahan apa yang ada di dalam ramuannya. Dia berprinsip :</p>
<p>&#8220;Sudahlah, jangan banyak cingcong, unthal saja jamu saya. Yang penting sampeyan bagas waras. Lha kalo isinya apa jamu saya, itu rahasia saya tho.&#8221;</p>
<p>Herannya sang pasien justru malah suka pada ahli herbal yang buka praktek dengan menanamkan prinsip demikian. Semakin akut bermain-main dengan yang rahasia-rahasia, semakin asyik mengkonsumsi jamunya. Apalagi kalo diumuki sama dukun herbalnya, <i>&#8220;Ini herbal yang tahu cuma 2 orang di dunia. Satu saya sendiri. Yang kedua adalah guru saya yang sekarang praktek di Tibet sana.&#8221; </i></p>
<p>Lhaladalah, opo ra mangtabh..Mbuh dia dikasih ati celeng, apa uyuh kirik atau bahan hewani lainnya yang diklaim herbal gak masalah. Yang penting mak greng!!</p>
<p>Saran simbah, kalau ada ramuan kok ditutup-tutupi dan berkesan eksklusif dan rahasia harusnya kita makin curiga. Sayangnya kita hanya bersikap begitu pada obat-obat kimia sintetis saja. Padahal justru obat kimia sintetis sedang tertib-tertibnya menuliskan kandungan senyawa aktip di kemasannya. Sedangkan kalau bahan herbal kita permisif. Nggak ditulis apa isinya gak masalah. Akhirnya ada saja bajingan tengik yang memanfaatkan sisi gelap kebodohan konsumen herbal ini yang lantas mencampur bahan obat kimia sintetis ke dalam bahan herbal atau jamu. Ini karena saking permisifnya konsumen dengan apa yang namanya bahan alami sehingga gak mau tau bahan apa yang dikopyok di dalamnya.</p>
<p>Semoga tulisan berantai dari simbah bermanfaat.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/JxESF4He7DA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/DnC_QiWOXmo/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 10:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<category><![CDATA[Mertombo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.
3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.
Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.</p>
<p><b>3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.</b></p>
<p>Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak gegap gempita :</p>
<p><u><b>MENGHADIRKAN HERBAL TERBAIK KELAS DUNIA !!!</b><br /></u><br />Setelah menyebutkan kata &#8220;Herbal Terbaik Kelas Dunia&#8221; ini disebutkanlah bahan yang dimaksud, yakni : <b>Gamat&#8230;..</b>!?!?<br />Sang pembuat iklan bukannya tak tahu Gamat itu apa. Disitu disebutkan Gamat adalah: Binatang invertebrata pemakan makan organik yang hidup di dasar laut. <br />Tak beda jauh dengan satu iklan di satu website, bahkan di sebagian website terkenal (kalau pingin tahu, tanya mbah google dengan keyword Gamat Bahan Herbal), disebutkan bahwa Gamat nama lainnya adalah Teripang atau Mentimun laut, dan dimasukkan ke dalam golongan herbal.</p>
<p>Simbah bukan ahli zoologi atau palaentologi. Tapi karena disebutkan disitu dengan jelas bahwa gamat adalah binatang invertebrata, seharusnya bahan ini bukan dimasukkan ke dalam bahan herbal. Mungkin karena nama lainnya Mentimun laut, maka ada yang memasukkannya ke dalam bahan herbal. Padahal kata herbal sendiri maknanya tumbuhan, bukannya binatang.</p>
<p>Kerancuan bahan herbal ini juga dialami oleh Susu Kambing, yang bahkan produsennya merupakan satu perusahaan yang memakai kata herbal. Demikian juga dengan propolis, yang merupakan produk lebah. Sedangkan madu, memang ahli herbal memasukkan ke dalam bahan herbal dengan alasan yang kuat. Yakni madu terbentuk di sarang lebah, bukan di tubuh lebah. Lebah hanya berperan membawa dan menaruh di sarangnya, lalu menambahinya dengan enzim yang lantas membuat bahan nektar berubah menjadi madu.</p>
<p>Nuwun sewu kalo simbah rada-rada menggunakan bahasa agak serius. Lha kalo pakek bahasa mbambung ntar dikira guyonan. Jadi khusus episode ini simbah menuliskan naskahnya sambil mengelus kening. Walaupun sebetulnya letak otak bukan pas di kening. Lha daripada mengelus dengkul, simbah masih lebih dari sekedar mending.&nbsp; Jadi sampeyan jangan membaca sambil mengelus pantat&#8230; wah itu lebih parah.</p>
<p>Poin ini simbah sampaikan agar produsen bahan herbal berhati-hati dalam menyebutkan golongan produknya. Karena sebagiannya diawali dengan menyebut hadits shahih. Bahkan pakai tulisan arabnya. Kebetulan konsumennya juga gak paham apa itu herbal, jadi ya laris-laris saja produk itu. </p>
<p><b>4. Jika sudah memakai herbal, tak perlu obat kimia.</b></p>
<p>Pernyataan ini harus dilihat per kasus. Jika memang herbalnya memang berfungsi terapi dan itulah herbal of choice untuk kasus penyakitnya, ya silakan saja.</p>
<p>Namun jika fungsi herbal disitu adalah sebagai suplemen atau terapi pendukung, maka penggunaan obat sintetis kimia masih merupakan drug of choice yang harus tetap dipakai. Sehingga terapi herbal dan medis kimia seyogyanya ditempatkan sebagai komplemen yang saling melengkapi, dan bukannya substistusi dimana yang satu &#8220;harus&#8221; menggantikan yang lain.</p>
<p><b>5. Testimoni yang tidak cerdas.</b></p>
<p>Hampir semua penggunaan herbal mengandalkan ujung tombak testimoni sebagai pendukung utama promosinya. Namun seyogyanya sebuah testimoni yang mengungkapkan keberhasilan terapi herbal haruslah dengan bahasa yang cerdas. Syarat testimoni yang cerdas di antaranya sebagai berikut :</p>
<p><b><i>1. Diagnosa penyakit yang disebutkan haruslah tegak dengan penegakkan diagnosa yang benar dan obyektif</i>.</b> Misalnya : didukung dengan pemeriksaan yang menyebutkan angka-angka yang terukur dari pemeriksaan laboratorium, atau jika itu diagnosa kelainan organ dalam haruslah didukung alat pemeriksaan dalam. Semisal : ronsen, endoskopi atau USG dsb.</p>
<p>Di poin ini, seringkali testimoni satu penyakit hanya berdasar pengakuan tanpa data lab. Misal mengaku sakit liver. Trus minum herbal lalu mengaku sembuh. Lha tahu kalo livernya sakit darimana? Trus livernya sakit bagian apanya juga gak jelas. Padahal penyakit yang bisa menyerang liver jumlahnya rong ikrak tumplak. Ini testimoni membodohi, dan bukan hal yang cerdas. Jika mau cerdas, pengakuan sakit livernya haruslah disertakan data obyektif, misal USG, lalu data kimia darah, misal SGOT, SGPT, Bilirubin baik direct maupun indirect&#8230;dlsb. Jadi pengakuan sakit livernya obyektif, dan bukan pengakuan subyektif semata. Apalagi ternyata sakit livernya itu merupakan hasil diagnosa (semi tebakan) dari mbah Dukun Sembur&#8230; halah&#8230;Maka demikian halnya jika testimoni mengaku sakit ginjal, jantung, paru-paru dan penyakit dalam lainnya, harus disertai data obyektif.</p>
<p><b><i>2. Pengakuan diagnosa berdasar perkataan, &#8220;Menurut dokter, sakit saya adalah&#8230;&#8221; tidaklah mencukupi.</i></b> Mengapa tidak mencukupi? Karena dalam mendiagnosa satu penyakit, pernyataan dokter akan satu diagnosa diawali dengan satu diagnosa yang derajatnya masih merupakan &#8220;kemungkinan&#8221;. Kemungkinan itulah yang nantinya dibuktikan dengan pemeriksaan pendukung dari lab maupun alat bukti pendukung lainnya. dan bahasa yang dipakai dokter pun jelas.</p>
<p>Jadi bahasa testimoni yang seringkali menggunakan kata, &#8220;Dokter sudah memvonis ini dan itu&#8230;&#8221; haruslah diperjelas alasan vonisnya. Karena untuk kepentingan bagusnya testimoni, seringkali diagnosa yang masih taraf &#8220;kemungkinan&#8221; sudah dianggap vonis oleh pasien.</p>
<p>Sebelum kening sampeyan panas karena kelamaan dielus-elus, simbah sudahi dulu poin testimoni ini. Insya Allah akan simbah sambung ke bagian ketiga tulisan ini mengenai bagaimana satu testimoni dianggap cerdas.</p>
<p></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/DnC_QiWOXmo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/tQ65dpYelMk/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 03:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi.
Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi.</p>
<p>Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole dan 110 diastole. Simbah agak kaget, karena pada dua kali kontrol sebelumnya, sang pasien menunjukkan angka tekanan darah yang cenderung normal. Ha kok absen sekian lama, dumadakan tensinya menjadi njeblug ke ubun-ubun. Maka simbah pun menginterogasi:</p>
<p>&#8220;Obatnya apa nggak diminum tho pak?&#8221; tanya simbah.</p>
<p>&#8220;Begini dok,&#8221; katanya mulai menjelaskan. &#8220;Sudah lebih dari 2 minggu ini saya tidak lagi meminum obat yang biasa mbah dokter kasih. Saya sekarang beralih ke pengobatan herbal ala Nabi mbah, karena sekarang saya sedang menjalani terapi ke salah seorang ustadz.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo, begitu. Lantas yang memutuskan berhenti minum obat dari dokter bapak sendiri atau atas anjuran sang ustadz?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semuanya atas anjuran ustadznya mbah. Bahkan saya sudah diruqyah, dan katanya memang pada diri saya ada 2 jin yang mengganggu sehingga tekanan darah saya nggak pernah normal. Ha wong diganggu jin terus.&#8221;</p>
<p>Hwarakadah&#8230; jin cap apa ini yang ngoprek-oprek tekanan darah. Jin cap Tempe Duduk apa ya? Sebelumnya perlu diketahui, bahwa pasien simbah ini juga menderita Diabetes Melitus dengan kontrol yang baik. Gulanya tak pernah melebihi 200 mg/dl. Dan atas pengakuan sang pasien, sang ustadz memberikan terapi Habbatussauda dan madu, serta menyarankan agar semua obat dari dokter yang dibahasakan dengan kata <i>&#8220;obat kimia&#8221;</i> harus dihentikan. Diganti dengan obat herbal yang <i>&#8220;pasti tanpa efek samping&#8221;</i>.</p>
<p>Sampai di sini simbah merasa sedih dan sekaligus prihatin. Pendapat seperti yang disampaikan sang pasien dan juga ustadznya yang mengobatinya di atas sangat banyak penganutnya. Bahkan dengan segala embel-embel istilah yang dipegang teguh oleh penganutnya. Padahal definisinya amburadul dan seringkali tak dipahami. </p>
<p>Simbah bukan hendak merendahkan dan meremehkan pengobatan herbal. Simbah sendiri adalah pelaku pengobatan herbal dan menjadi konsultan pengobatan herbal di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang herbal. Namun tak bisa dipungkiri bahwa praktisi herbal yang ada di lapangan seringkali tak memiliki latar belakang medis apapun. Apalagi kalau sudah menyangkut keyakinan, seperti Thibbun Nabawi, seringkali praktisinya hanya mendasarkan sabda Nabi saw bahwa dengan bahan obatnya (entah benar dosis dan cara pakainya atau tidak) pasti sembuh. Tak peduli etiologi penyakitnya bagaimana, pokoknya obatnya yang itu. Sampai-sampai penyakit turun berok yang sudah gondhal-gandhul sebesar kepala bayi hanya diberi madu dan habbatussauda, dengan keyakinan turun beroknya bisa naik berok sendiri. </p>
<p>Beberapa kesalahan pemahaman dalam pengobatan herbal di antaranya adalah :</p>
<p><b>1. Obat medis adalah obat kimia, sedangkan herbal bukan kimia.</b><br />Memang istilah ini hanyalah sekadar istilah untuk memudahkan penyebutan dan pengelompokan. Tapi sebenarnya baik obat medis maupun herbal semuanya adalah bahan kimia. Karena semua zat yang ada di alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur kimia. Bahkan air ludah yang ada di mulut kita dan kita &#8216;emut&#8217; layaknya permen sehari-hari itupun merupakan bahan kimia. Mungkin kalau mau menggunakan istilah yang lebih mendekati benar (tidak seratus persen benar) adalah: obat medis merupakan kimia sintetis, sedangkan herbal adalah kimia alami. Namun semuanya merupakan bahan kimia.</p>
<p><b>2. Obat medis selalu memiliki efek samping dan tidak aman, sedangkan herbal tumbuhan alami bebas efek samping dan aman.</b><br />Istilah ini memberi kesan bahwa obat medis berbahaya dan tidaka aman dikonsumsi karena selalu memberikan efek samping yang merusak, sedangkan herbal aman dan tidak bahaya karena tanpa efek samping. Istilah ini dipakai tanpa dasar dan mengabaikan banyak fakta. Herbal walaupun alami, bukannya tanpa efek samping. Bahkan tidak selalu aman. </p>
<p>Kita semua tahu bahwa bayam, kangkung, asparagus adalah sayuran - sudah pasti bahan herbal- yang memiliki zat yang bermanfaat bagi tubuh. Bayam dan kangkung bagus untuk nutrisi karena kandungan zat besinya yang tinggi. Tapi apakah selalu aman dikonsumsi? Ternyata tidak. Penderita asam urat hampir selalu diingatkan dokter ketika berobat, untuk menghindari konsumsi kedua bahan herbal ini.</p>
<p>Bahan tumbuhan pun ada juga yang berbahaya bahkan beracun. Semua tahu bahwa makanan binatang Koala adalah daun eucaliptus yang jika dimakan manusia hampir bisa dipastikan wasalam. Dan satu lagi bahan herbal tumbuhan alami untuk sedikit ngobok-obok pemahaman rancu ini adalah daun ganja, dan daun koka. Bagi yang rajin nyimeng pasti kenal dengan daun ganja. tentu saja ini bukan bahan kimia, namun herbala alami. Namun sekali nyedhot sak sledupan, bisa mbikin melayang-layang. Sedangkan daun koka adalah bahan pembuat kokain yang bahayanya sudah disepakati baik tabib herbal maupun ahli medis, bahkan oleh Kang Panjul yang awam sekalipun.</p>
<p>Jadi tingkat bahaya dan keamanan tidak bergantung pada bahan alami atau kimia sintetis. Namun banyak faktor berperan dalam keamanan pemakaian satu bahan terapi. Diantaranya adalah dosis, cara pemakaian, lamanya pemakaian dan interaksi pemakaian dengan bahan lain. Keunggulan bahan alami dalam hal keamanan adalah pemakaian jangka lama. Bahan alami cenderung lebih aman jika dipakai dalam jangka lama. Dan memang hampir semua bahan alami ditujukan untuk terapi jangka panjang, bukan untuk terapi akut jangka pendek. Dalam hal serangaan akut jangka pendek, terapi kimia medis lebih unggul. Itulah mengapa simbah menyayangkan sang ustadz yang menghentikan terapi simbah pada penderita tekanan darah tinggi yang sebenarnya sudah simbah program untuk mengurangi obat kimia medis dan perlahan bergeser ke pengobatan herbal. Peralihan ini butuh waktu panjang, bahkan tahunan. Tidak bisa langsung seseorang menghentikan terapi dokter, lalu diganti dengan terapi yang efeknya baru terasa setelah jangka lama, sementara serangannya akut.</p>
<p>Seperti biasa, jika tulisan simbah sudah agak kedawan wal pating klewer begini, simbah lebih suka memecahnya menjadi beberapa bagian. Masih ada beberapa poin penting yang mau simbah sampaiken. Namun untuk menghindari pembaca nyekrol mouse sampai ndlosor, simbah sudahi dulu bagian pertama bab ini. Semoga sampeyan tetep sabar mengikuti tulisan berikutnya, karena memang simbah seringkali terlalu lama memberi jeda. Semoga yang ini tidak&#8230;. <img src='http://www.pitutur.net/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/tQ65dpYelMk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-pertama.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Warga Baru</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/ajhShbdlyp8/warga-baru.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 00:31:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[Kamis lalu, tepat pukul 04.20 pagi simbah dipaksa nangis lagi dengan hadirnya satu warga baru yang sudah 9 bulan ini menghuni alam rahim yang Allah titipkan di perut istri simbah. Bayi perempuan berbobot 3,7 kg ini pecah tangisnya di tanggal 23 April 2009, tepat sebagaimana HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang simbah hitung dari HPMT simboknya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis lalu, tepat pukul 04.20 pagi simbah dipaksa nangis lagi dengan hadirnya satu warga baru yang sudah 9 bulan ini menghuni alam rahim yang Allah titipkan di perut istri simbah. Bayi perempuan berbobot 3,7 kg ini pecah tangisnya di tanggal 23 April 2009, tepat sebagaimana HPL (Hari Perkiraan Lahir) yang simbah hitung dari HPMT simboknya. Tak terlalu cepat ataupun terlalu lambat barang seharipun. Mudah-mudahan ini pertanda bahwa sang jabang bayi nantinya menjadi orang yang disiplin dan tepat waktu.</p>
<p>Dan sebagaimana doa-doa simbah terdahulu terhadap anak simbah, semua simbah harapkan akan menjadi manusia yang menjadi sebab diturunkannya hidayah dan rahmat bagi seluruh alam. Harapan simbah tak berlebihan. Karena anak adalah &#8220;Kemungkinan Tak Terbatas&#8221;. Tak ada yang menyangka jabang bayi yang lemah dan mewekan itu setelah dewasa ternyata ada yang tumbuh dan berkembang menjadi pribadi semacam Hitler atau Fir&#8217;aun. Dan juga tak ada yang menyangka, jabang bayi yatim di tanah Mekkah beberapa abad yang lalu ternyata setelah dewasa menjadi orang yang namanya paling banyak disebut di dunia, yakni Baginda Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Simbah gak tahu anak-anak simbah nantinya menjadi bagaimana. Tapi simbah sangat berpegang pada hukum Allah yang mendasari keputusan takdir, yakni hukum sebab akibat. Maka simbah usahakan simbah membuat sebab-sebab yang baik pada diri anak-anak simbah. Semoga dengan memulai sebab-sebab yang baik secara maksimal, Allah turunkan akibat yang baik pada anak-anak simbah. </p>
<p>Memiliki 5 anak memang bukan hal yang ringan. Beberapa teman sejawat simbah bahkan ketar-ketir melihat simbah. Ha wong dia beranak satu saja sudah ngetung-ngetung berapa jumlah duit yang dia butuhkan buat mewujudkan anaknya menjadi orang yang sukses. Dia sebut angka sampai sekian &#8220;M&#8221;. Lha kalo lima anak wah&#8230; lima kali sekian &#8220;M&#8221;. Busyet dah, kata dia.</p>
<p>Anak tidak mengurangi rejeki orang tua dan juga tidak menambahnya. Anak membawa rejekinya sendiri. Kalaupun orang tua seperti ketambahan rejeki, itu hanya &#8217;seperti&#8217; saja. Hakikatnya, itu adalah rejeki anak yang memang Allah titipkan lewat orang tuanya.</p>
<p>Mohon doanya agar warga baru ini menambah jumlah populasi orang solehah sedunia. Amin</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/ajhShbdlyp8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/warga-baru.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Level Kenikmatan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/n7Ik-aollbQ/level-kenikmatan.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/level-kenikmatan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 03:49:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/level-kenikmatan.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari terakhir ini simbah lihat buah belimbing di depan rumah simbah tampak gede-gede dan menguning. Hampir tiap hari anak-anak memetik dan merasakan nikmatnya belimbing itu. Tadinya buah belimbing merupakan buah paporit simbah. Baru mendengar namanya saja sudah kemecer. Apalagi jika melihat orang rujakan sembari sesekali ndulit sambel rujaknya, wah makin kotos-kotos saja&#8230;
Namun setelah memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari terakhir ini simbah lihat buah belimbing di depan rumah simbah tampak gede-gede dan menguning. Hampir tiap hari anak-anak memetik dan merasakan nikmatnya belimbing itu. Tadinya buah belimbing merupakan buah paporit simbah. Baru mendengar namanya saja sudah kemecer. Apalagi jika melihat orang rujakan sembari sesekali ndulit sambel rujaknya, wah makin <i>kotos-kotos</i> saja&#8230;</p>
<p>Namun setelah memiliki pohon sendiri, simbah mulai merasakan yang namanya belimbing itu biasa-biasa saja. Malahan simbah terhitung jarang makan buah belimbing walaupun hampir setiap hari di kulkas selalu tersedia. Malahan justru para tetangga yang seringkali menikmati buah belimbing simbah.</p>
<p>Sebenarnya tidak hanya simbah yang merasakan hal serupa. Hampir semua pemilik pohon buah-buahan ataupun hal yang lain pasti akan merasakan hal serupa. Yu Ginem yang memiliki kebun duren di belakang rumahnya, akan menganggap makan duren bukanlah hal yang luar biasa. Mungkin justru Yu Ginem akan lebih tertarik pada buah ciplukan yang tumbuh liar di kebon Kang Jemprit dimana kang Jemprit sendiri tiap hari sibuk nebasi pohon Ciplukan itu karena dianggap mengganggu.</p>
<p>Orang menamai penomena ini dengan kata &#8220;bosan&#8221;. Pokoknya kalau sudah punya sendiri malah jadi bosen. Beda keadaannya manakala masih berada di harapan atau angan-angan atau cita-cita. Si Badu yang lama memimpikan punya PS sendiri itu merasakan keasyikan yang sangat manakala belum punya PS sendiri dan hanya nebeng di rumah tetangganya. Justru keasyikan itu menjadi menghilang di saat dia bisa mengangkangi sendiri PSnya yang dibelikan oleh simboknya setelah menjual wedhus kesayangannya. Walaupun di minggu-minggu awal dia masih merasakan keasyikan yang sama seperti di rumah tetangganya.</p>
<p>Begitulah kehidupan. Justru kenikmatan segala sesuatu dalam hidup ini bisa lebih terasa manakala segalanya masih dalam harapan dan cita-cita. Manakala harapan dan cita-cita itu tercapai, seseorang mengalami proses pendataran dan selanjutnya penurunan di dalam hal level kenikmatannya.</p>
<p>Cobalah sampeyan temui kaum gembel wal kere, lalu berikanlah pada mereka selembar uang dua puluh rebuan. Maka sampeyan akan dapati ekspresi wajah kegembiraan yang tiada tara yang tak sampeyan dapati di wajah seorang Pengusaha Konglomerat sekaligus merangkap <i>Taleg (Anggota Legislatip)</i> jika diberi nominal uang yang sama. Sang Konglomerat Taleg tadi baru akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama jika yang diberikan adalah sekoper penuh uang gambar Soekarno Hatta. Level kenikmatan uang duapuluh ribuan ripis sudah lewat.</p>
<p>Sampeyan temtu ingat grup-grup musik dunia semacam The Beatles atau Rolling Stones, dimana pada saat segalanya sudah bisa mereka nikmati yang terjadi adalah ketiadaan harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita adalah satu hal yang baru bisa diwujudkan <b>NANTI</b> saat dia mampu mencapainya. Di lepel keadaan dimana segalanya bisa diwujudkan <b>SEKARANG</b> justru membuat seseorang tak bisa bercita-cita dan berharapan. Segala sesuatu yang bisa dinikmati bisa diwujudkan saat itu juga, apapun itu. Ujung-ujungnya adalah seseorang menjadi pribadi yang tak mudah lagi dipuaskan. Karena lepel kenikmatan yang tadinya bisa memuaskan dia sudah dilewati semua.</p>
<p>Di keadaan seperti itu, sebagaimana sudah sampeyan tahu, orang-orang yang sudah memuncaki lepel kenikmatan dunia itu mencoba mencari kenikmatan di jalan lain. Ada yang mencoba kenikmatan di alam narkotika, morpin dan narkoba lainnya. Yang lebih ekstrim adalah seperti pasangan suami istri kaya, yang merasa sudah menikmati apapun yang ada di dunia ini. Hanya saja ada satu yang belum pernah dia rasakan dan penasaran dengan rasanya, yakni merasakan Mati alias Dut van Modiyar. Pasangan gendheng tapi kaya ini bunuh diri bareng-bareng karena penasaran dengan yang namanya mati. <i>Opo gak koplo&#8230;</i></p>
<p>Meski begitu ada juga perkecualiannya. Simbah teringat satu acara di TV AXN yang saat itu menampilkan Dylan Wilk, yakni seorang yang bisa menjadi orang terkaya nomer 9 di Inggris di usia 25 tahun. Jian, hebat tenan, siapapun pasti pingin begitu. Di awal masa <i>sugeh</i>nya, kang Dylan menghabiskan duitnya untuk koleksi mobil sport mewah yang memang digilainya. Yang namanya Ferrari dan sedulurnya menjadi target langganannya. Tak luput juga BMW, Mercy dan lainnya. Namun menurut pengakuannya, semua itu tak menjadikan dirinya menemukan arti hidup. Kesenangan memiliki mobil-mobil mewah itu hanya bertahan paling lama 6 minggu. Lalu semuanya jadi <b>BIASA</b> lagi.</p>
<p>Hidupnya jadi agak lebih hidup di saat dia dimintai bantuan mbangun rumah gelandangan sebanyak dua biji, yang biaya pembangunannya sebesar harga tiket pesawatnya.. Glodaak.. Dia tersadar. Kenikmatan hidup&nbsp; tidak hanya dengan cara memuaskan diri. Maka melihat wajah kepuasan orang yang dibangunkan rumah olehnya menjadikan hidupnya lebih berarti. Ketika dia pulang, dia melihat mobilnya dengan pandangan berubah. Dia memandang deretan mobilnya dengan pandangan jijik. Satu mobilnya yakni BMW seri M3 dijualnya dan diwujudkan menjadi 60 rumah bagi gelandangan di Filipina sekaligus dia namai komplek rumah itu dengan nama kampung M3 sesuai nama seri mobil BMW yang dia jual itu.</p>
<p>Melihat beberapa kenyataan di atas, apabila sampeyan memiliki sekian banyak harapan dan cita-cita yang belum terwujud, bersyukurlah dan kejar cita-cita itu. karena itulah yanag membuat sampeyan merasakan hidup. Gusti Allah melarang orang berputus asa atawa berputus harapan. Orang yang putus harapan selalu dikaitkan dengan orang yang tak punya harapan. Dan penyebab orang tak punya harapan ternyata ada 2, orang yang merasa <i>tak bisa mewujudkan harapan</i> dan <i>orang yang segala harapannya sudah terwujudkan hingga bingung harapan mana lagi yang akan diwujudkan.</p>
<p></i>Maka agar orang bisa terus punya harapan, carilah harapan yang tidak bisa diwujudkan di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bisa memiliki harapan seperti itu. Karena mereka tidak menanamkan harapan sepenuhnya pada dunia. Taapi di alam yang hanya diyakini oleh orang yang dipanggil oleh Allah sebagai <i>&#8220;Wahai orang-orang yang beriman&#8230;..!&#8221;</i></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/n7Ik-aollbQ" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/level-kenikmatan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/level-kenikmatan.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kabar Duka</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/ihrqzNYEH6c/kabar-duka.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/kabar-duka.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 07:25:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/kabar-duka.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar pukul 11.15 siang ini simbah menerima SMS dari sohib yang turut mengarsiteki tampilan blog simbah ini, yakni Kang Nurudin Jauhari. Bunyinya sebagai berikut :
Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji&#8217;un. Ibunda telah wafat, semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.
Memang sejak beberapa minggu terakhir, kang Nurudin sangat rajin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar pukul 11.15 siang ini simbah menerima SMS dari sohib yang turut mengarsiteki tampilan blog simbah ini, yakni Kang Nurudin Jauhari. Bunyinya sebagai berikut :</p>
<p><i>Inna lillaahi wa inna ilaihi rooji&#8217;un. Ibunda telah wafat, semoga amal dan ibadah beliau diterima di sisi-Nya dan yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin.</i></p>
<p>Memang sejak beberapa minggu terakhir, kang Nurudin sangat rajin berkonsultasi via HP dengan simbah perihal kesehatan ibundanya. Bahkan tampak di mata simbah, kang Nurudin adalah sosok sahabat yang sangat perhatian pada ibundanya, sehingga rela berhari-hari menunggui di RS Dr. Sarjito Jogja.</p>
<p>Namun ikhtiar adalah jalan wajib yang harus ditempuh, sementara keputusan tetap berada di tangan-Nya. Untuk itu, simbah melalui blog ini mengucapkan :</p>
<p><i>Turut berduka cita atas meninggalnya ibunda dari Nurudin Jauhari, semoga segala kebaikannya mendapatkan pahala yang lebih baik. Dan keluarga yanag ditinggalkan mendapatkan pahala yang besar atas kesabarannya.</i></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/ihrqzNYEH6c" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/kabar-duka.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/kabar-duka.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sobrot.. eh Sroboot !!</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/3Z8xRTeBHMg/sobrot-eh-sroboot.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/sobrot-eh-sroboot.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 05:24:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/sobrot-eh-sroboot.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, sepulang sholat Jum&#8217;at simbah pulang rame-rame bersama jamaah sholat yang keluar dari masjid dengan wajah seperti orang bangun dari tidur panjang. Lha pigimanah tidak, ha wong khotibnya berkhotbah dengan cara mbaca dengan nada deklamasi anak TK tanpa menengok ke jamaah. Padahal jamaahnya banyak yang sudah pada semaput, sang khotib masih asyik menyelesaikan deklamasinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti biasa, sepulang sholat Jum&#8217;at simbah pulang rame-rame bersama jamaah sholat yang keluar dari masjid dengan wajah seperti orang bangun dari tidur panjang. Lha pigimanah tidak, ha wong khotibnya berkhotbah dengan cara mbaca dengan nada <i>deklamasi </i>anak TK tanpa menengok ke jamaah. Padahal jamaahnya banyak yang sudah pada semaput, sang khotib masih asyik menyelesaikan deklamasinya yang kudu rampung itu. Karena gak sabaran, serombongan jamaah di pojokan masjid berteriak amin setiap sang khotib sampai pada tanda titik di kalimat khotbahnya. Jadi macam doa yang diamini saja.</p>
<p>Untungnya sang khotib paham. Ucapan amin oleh serombongan jamaah di pojokan masjid diterima dengan baik sinyalnya oleh sang khotib. Meskipun hanya ucapan <b>&#8220;Amin&#8221;</b>, namun sebenarnya pesan lengkapnya sebagai berikut : <i>&#8220;Pak khotib, sampeyan sudah keterlaluan lamanya khotbah. Sudahlah, segera selesaikan. Sudah banyak yang semaput tuh..!!&#8221;</i></p>
<p>Di luar masjid cukup panas. Lha kebetulan ada yang jualan es cendol gilar-gilar asal Jepara. Dan sang penjual belum kedatangan satu pembelipun. Maka simbah segera memesan dua bungkus es cendol itu. setelah memberikan uang limaribu ripis, simbah meminta si thole Hanif, anak sulung simbah, buat <i>nunggoni</i> sang penjual mbikin es. Simbah sendiri pergi ngambil motor yang diparkir di klinik.</p>
<p>Simbah kembali lagi ke penjual es cendol untuk menjemput thole Hanif dan es cendholnya dengan mengendarai belalang tempur simbah. Ternyata disitu sudah ada pembeli lain yang herannya malah sudah menggenggam es cendhol 2 bungkus, sementara thole Hanif babar blas belum terlayani. Sang penjual cendhol malah senyam-senyum cengengesan menyapa simbah : <i>&#8220;Maaf mbah, diselani sebentar&#8230;!&#8221;</i></p>
<p>Ah, apa pulak ini maksudnya.. &#8220;Diselani sebentar.&#8221; Kata-kata yang keluar dengan enteng tapi saat itu terasa gak mutu babar blas. Ternyata pesanan es cendhol 2 bungkus simbah diserahkan oleh penjual itu ke pembeli yang belakangan datang. Pembeli itu seorang pemuda tegap, berpakaian rapi, berkacamata yang mengesankan seorang eksekutip muda yang otaknya cukup mewarisi kepintaran <i>sang raja kumlot</i>. Dengan 2 bungkus es cendhol di tangannya simbah memandangnya dengan pandangan yang mengandung pesan. <i>&#8220;Ente goblog amat sih bung. Mentang-mentang pembelinya anak kecil ente srobot ajah. Pigimanah ente punya hati nurani? Begini ya warga negara Genthonesia yang berotak raja kumlot?&#8221;</i></p>
<p>Dengan pandangan semacam itu, rupa-rupanya si pembeli tukang srobot itu agak gerah juga. Entah mengapa tiba-tiba dia serahkan es cendol itu kepada thole Hanif yang segera disambutnya dengan senang hati. Tanpa ucapan apapun simbah langsung pergi meninggalkan pembeli dan penjual es cendhol itu dengan tarikan gas motor yang agak simbah kencengin, dimana mengandung pesan : <i>&#8220;Lain kali jangan begitu lagi ya Broer..!&#8221;</i></p>
<p>Simbah heran, ha wong hanya antrian beranggota 2 potong saja kok nekat nyrobot. Lha gimana kalo antriannya sepanjang sepur?? Kejahatan srobot ini juga diperparah oleh si pelayan atau penjual atau petugas yang mau melayani orang yang nyobrot eh.. nyrobot. Seharusnya yang melayani itu justru menegur dan menasehati, <i>&#8220;Kang, sampeyan jangan nyrobot. Ayo urut yang bener.&#8221;</i> Bukan malah melayani dan bersama-sama mendholimi hak orang yang dilangkahi antreannya.</p>
<p>Lha kalo antreannya cuma antrean es cendhol sih efeknya paling cuma ngempet dahaga. Tapi apabila antreannya antrean yang vital, macem antre urutan operasi, antrean nebus obat di apotik yang bersifat darurat segera ditebus, antrean mertombo sakit gigi yang sudah sedhut senut, wah bisa berabe. Lha kalo yang dilangkahi antreannya gak terima bisa dibacok gundhul sampeyan. Gimana tidak, melangkahi antrean alias main srobot yang membahayakan jiwa dan membuat penderitaan orang lain tentu saja akan menuai reaksi orang yang ingin selamat jiwanya dan beres urusannya.</p>
<p>Dan urusan antre ini bukan urusan kaya atau miskin, bukan pula masalah elite atau kere. Simbah pernah menghadiri acara nikahan dimana acara makannya adalah prasmanan yang dihadiri tamu-tamu undangan esklusip kelas eksekutip. Di satu sudut, simbah mencoba antrean kambing guling. Baru berapa langkah antrean berjalan, tiba-tiba ada 3 ibu-ibu bergiwang mencorong, berlipstick ala nyi Blorong, dan berbaju ala sundel bolong menyrobot tepat di depan simbah. Simbah langsung ilang napsu makan dan pergi dari antrean itu. Ha wong sugeh-sugeh kok kelakuannya idiot gitu.</p>
<p>Belum lagi di satu sudut yang lain, ada antrian es krim yang cukup kacau antriannya. Simbah saksikan sendiri nyonya-nyonya besar dan nona-nona kecil berdesakan dengan baju kondangannya yang necis, tapi desak-desakannya tak ada bedanya dengan kaum pakir miskin yang ngantri daging korban. Bahkan stand es krimnya mau roboh kalau petugasnya tidak segera membentak tamu undangan yang kesurupan hendak meraih es krim itu.</p>
<p>Lha kaum sugehnya saja begitu, maka pantas saja jikalau ada yang namanya pembagian sedekah, zakat, daging korban, angpau atau apapun namanya, selalu berbuah kerusuhan. Ngantrilah yang bener, maka hak sampeyan gak akan ada yang mendholimi.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/3Z8xRTeBHMg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/sobrot-eh-sroboot.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/sobrot-eh-sroboot.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>“Haram” yang Haramnya tidak sama dengan Haram</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/uZOLVRw9pZ0/haram-yang-haramnya-tidak-sama-dengan-haram.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/haram-yang-haramnya-tidak-sama-dengan-haram.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 04:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<category><![CDATA[Pengaosan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/haram-yang-haramnya-tidak-sama-dengan-haram.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tentunya sampeyan sudah pada tahu, bahwa para Kyai MUI sudah mengharamkan 2 hal yang selama ini menjadi polemik. Yakni rokok dan Golput. Untuk rokok, salah seorang kyai MUI menerangkan bahwa keharamannya tidak sebagaimana babi. Jadi memiliki perbedaan. Rincian perbedaannya diterangkan dengan sangat njlimet sampai simbah gak mudeng babar blas. Tetapi keharamannya dilandasi bahwa kemadharatannya lebih besar dari manfaatnya.</p>
<p>Kyai NU dan beberapa ormas Islam lainnya gak sependapat kata <i>&#8220;Haram&#8221; </i>digunakan untuk memfatwai rokok. Haram yang bukan sebagaimana haramnya babi itu sudah ada kriteria tersendiri, yakni <i>&#8220;makruh&#8221;</i>. Jadi tak perlu menggunakan kata &#8220;Haram&#8221; jikalau ada kata lain yang lebih bisa mengakomodasi pengertian tidak diperbolehkannya merokok itu.</p>
<p>Alasan yang memakruhkan ini juga masuk akal, walaupun kang Jupri salah seorang teman simbah yang gak suka dengan kyai NU ini nyeletuk, <i>&#8220;Halah, itu kan karena banyak kyai NU yang sudah nggathok ngudud kayak lokomotip sepur. Bilang aja gak mau ninggal klangenan.&#8221;<br /></i><br />Bang Kamid yang lebih moderat menanggapi, <i>&#8220;Bukan begitu kang Jupri. Mengharamkan sesuatu harus hati-hati. Karena mengharamkan yang halal itu hukumnya sama dengan menghalalkan yang haram. Lha kalau rokok diharamkan, akan timbul pertanyaan susulan. Misalnya, perokok pasip itu mau dihukumi pigimanah? Padahal perokok pasip itu lebih bahaya daripada perokok aktip. Trus bertani cengkeh dan tembakau itu hukumnya apa? Bekerja di pabrik rokok itu hukumnya haram apa tidak? Lalu jualan rokok itu duitnya haram apa tidak? Lantas event-event yang disponsori pabrikan rokok itu haram apa tidak untuk diikuti?&#8221;</i></p>
<p>Kang Jupri mulai mengerutkan kening. Rentetan pertanyaan susulan itu belum ada fatwa resminya. Namun tentu saja fatwa haram rokok mengandung konsekwensi bagi terjawabnya pertanyaan Bang Kamid di atas.</p>
<p><i>&#8220;Pengharaman rokok atas dasar madharat yang lebih besar dari manfaat juga mengandung konsekwensi lain kang. Misalnya, haram tidak pakai AC berfreon? Bukankah sudah diketahui bahwa barang itu bisa mbikin ozon tambah amoh. Lha kalo ozonnya tambah mbedah, milyaran manusia harus nanggung madharatnya. Padahal manfaatnya cuma sekedar ngilangi sumuk.&nbsp; Tapi milyaran manusia lain yang juga sumuk karena gak gableg AC harus menanggung derita akibat ozonnya dibrakoti AC sampeyan. Pigimanah itu ya?&#8221;</i> tanya bang Kamid.</p>
<p><i>&#8220;Wah&#8230; yo mbuh lah bang. Lama-lama kok tambah nggladrah.&#8221;</i></p>
<p>Hal kedua yang difatwai haram adalah Golput. Hal ini memang juga kontroversial. Seingat simbah ketika terjadi pertentangan antara dua kubu dalam tubuh mukminin, yakni Khalifah Ali r.a dan Muawiyah r.a, ada salah seorang sahabat yang sama sekali tak memilih dan berpihak pada salah satu dari 2 kubu itu. Kalau tidak salah beliau adalah Abdullah bin Umar r.a yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Umar r.a. </p>
<p>Salah satu alasan beliau tidak ikut di antara 2 kubu yang ada adalah karena tidak ingin pedangnya menumpahkan darah muslimin. Maka beliau memilih memisahi dari 2 kubu itu. Simbah gak tahu apakah langkah ini bisa disebut sebagai golput atau tidak. <b>Namun dengan alasan yang syar&#8217;i beliau memilih untuk tidak memilih.<br /></b><br />Coba sekarang kita tarik ke Abad Plu Manuk ini. Adakah alasan syar&#8217;i yang bisa membolehkan seseorang untuk Golput?</p>
<p><i>&#8220;Kalau miturut saya gak ada alasan syar&#8217;i yang mewajibkan saya buat nyoblos bang,&#8221;</i> kata Kang Jupri. <i>&#8220;Ditambah lagi calegnya rata-rata sudah kita ketahui motipnya mengapa mereka nyaleg. Genah motip blodot wal cocakrowo tho? Kalau miturut saya itu cukup bahan buat memfatwai bahwa nyoblos itu haram.&#8221;</i></p>
<p><i>&#8220;Lho jangan terburu napsu kang, jangan su&#8217;udzhon&#8221;,</i> kata Bang Kamid. <i>&#8220;Lha kalo sampeyan dan juga jutaan muslimin lainnya gak milih, lalu justru yang kepilih orang-orang yang gak punya iman, sampeyan nanggung dosanya juga lho.&#8221;</i></p>
<p><i>&#8220;Gak usah kawatir bang, dulu orang beriman pernah dijajah sama Pir&#8217;on, itu lho orang kapir yang juga O&#8217;on. Tapi nyatanya ketika orang berimannya sabar menjalani perintah demi perintah Allah, sang Pir&#8217;on akirnya keok juga. Yang kita perluken hanya mengikuti risalah kenabian dengan cara nurut sama syareat.&nbsp; Lha sampeyan sekarang kawatir diplekoto sama Pir&#8217;on modern. Harusnya kita kawatir bahwa justru kita akan dikangkangi Pir&#8217;on-Pir&#8217;on modern ini manakala kita ikut-ikutan jejak mereka.&#8221;</i> kata kang Jupri berapi-api.</p>
<p>Kang Jupri nambahi, <i>&#8220;Kita ini kan sudah punya <b>waham</b>, bahwa muslimin gak bisa jaya kalo gak ikut pemilu. Sudah tertanam pada diri sampeyan semua, bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai kejayaan adalah dengan ikut pemilu, gak ada alternatip lain. The only way, the one and only. Makanya ada patwa haram golput itu. Lha buat saya, alternatip buat mencapai kejayaan umat itu banyak, bahkan pemilu bukan salah satunya.&#8221;<br /></i><br />Bang Kamid dengan tetep kalem (Kayak Lembu) menjawab pidato kang Jupri, <i>&#8220;Yo wis&#8230; gak usah sewot kang. Prinsipnya kita beda, gitu aja.&#8221;</i></p>
<p>Simbah hanya bisa plonga-plongo. Mau milih Kang Jupri atau Bang Kamid&#8230; atau Golput ajah??</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/uZOLVRw9pZ0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/haram-yang-haramnya-tidak-sama-dengan-haram.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/haram-yang-haramnya-tidak-sama-dengan-haram.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sayembara</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/08BkyTunshE/sayembara.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/sayembara.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 06:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/sayembara.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Boleh dibilang njanur gunung atawa numbeni, bahwa simbah pada kesempatan kali ini ingin memberikan sesuatu kepada pembaca setia blog ini. Sebagai penyambung lidah dari pihak yang menerbitkan buku simbah, kali ini simbah bekerjasama dengan pihak penerbit (atau sebenarnya lebih tepat penerbit bekerjasama dgn simbah&#8230; halah, kewolak walik yo ben lah) ingin memberikan kesempatan bagi pembaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Boleh dibilang njanur gunung atawa numbeni, bahwa simbah pada kesempatan kali ini ingin memberikan sesuatu kepada pembaca setia blog ini. Sebagai penyambung lidah dari pihak yang menerbitkan buku simbah, kali ini simbah bekerjasama dengan pihak penerbit (atau sebenarnya lebih tepat penerbit bekerjasama dgn simbah&#8230; halah, kewolak walik yo ben lah) ingin memberikan kesempatan bagi pembaca buku Republik Genthonesia untuk bersama-sama mengikuti lomba Resensi Buku.</p>
<p>Ngresensi itu gimana tho? Terus terang simbah juga belum pernah melakukannya. Hanya saja bagi sampeyan yang berminat disediakan hadiah sebagai berikut :</p>
<p>1.      Juara 1 : uang tunai senilai Rp 500.000,- dan satu paket buku senilai      Rp 700.000,00<br />2.      Juara 2 : uang tunai senilai Rp 400.000,- dan  satu paket buku senilai     Rp 600.000,00<br />
3.  Juara 3 : uang tunai senilai Rp 300.000,- dan  satu paket buku senilai     Rp 500.000,00</p>
<p>Caranya pigimanah?</p>
<p>Resensi aja buku simbah, yakni <b>Republik Genthonesia</b>. Lalu kirimkan lewat pos ke: </p>
<p><u><b>PRO-U Media</b></u><br />d.a. Jln. Jogokariyan 35, <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_3">Yogyakarta</span> 55143, dengan mencantumkan “LOMBA RESENSI” di pojok kiri atas amplop.</p>
<p>Resensi harus karya sendiri, bukan hasil nunggu wahyu turun, karena wahyu gak pernah turun lagi. Juga bukan hasil njiplak pake kertas karbon, apalagi hasil potokopian&#8230; gak kreatip blas.</p>
<p>Panjang resensi minimal 2 (dua) halaman A-4, 1,5 spasi, font Arial 12.</p>
<p>Resensi akan memiliki bobot penilaian lebih jika sudah pernah dimuat di media cetak, blog, atau media massa lainnya. Yang jelas jangan memakai media penampakan.. ndak medheni bocah. Bukti pemuatan adalah dengan mencantumkan potokopi atau link website yang dipakai untuk ngresensi.</p>
<p>Sayembara ini ditutup tanggal 15 Agustus 2009.</p>
<p>Selain buku Republik Genthonesia, sampeyan juga boleh ngresensi buku lainnya untuk kategori non fiksi yakni Ada Singa Dalam Dirimu, karya Asa Mulchias. Bagi yang suka Nopel bisa ngresensi buku fiksi :</p>
<p>1. Tembang Ilalang, karya MD. Aminudin<br />2. Kabar Bunga, karya Marsiraji Thahir</p>
<p>Semuanya terbitan Pro U Media. Untuk mendapatkan bukunya silakan hubungi alamat dan nomor berikut :</p>
<p>TB. <span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 0%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1237344039_5">Gunung Agung</span>, Gramedia, Toga Mas,<br />
Tisera atau di Jakarta <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_6">08128024672</span> / <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_7">02168991133</span>, <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_8">0213153928</span>,<br />
<span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_9">02193042604</span>, Depok <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_10">08129209922</span>, Bandung <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_11">08122118475</span> / <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_12">08122221475</span>,<br />
Surabaya <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_13">0813650643322</span>, Medan <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_14">0811647932</span>, Makasar <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_15">04115705302</span>,<br />
085299519800, <span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_16">Semarang</span> 081328784604</p>
<p>Atau bisa didapatkan melalui pemesanan ke kantor Pro-U Media, Jl. Jogokariyan 35, Yogyakarta. Telp. 0274-376301</p>
<p>Jika sampeyan meragukan kandungan judul postingan ini, silakan dikroscek ke alamat ini :</p>
<div id="yiv1860271046">
<style></style>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://proumedia.blogspot.com/2009/03/lomba-resensi-buku-pro-u-media.html"><span class="yshortcuts" id="lw_1237344039_0">http://proumedia.blogspot.com/2009/03/lomba-resensi-buku-pro-u-media.html</span></a></p>
<p>Agar tidak ragu bahwa apa yang simbah sampaikan ini benar adanya, bukan kabar manuk, gosip, kasak-kusuk, glenikan, atau omyangan tak bermakna. Selanjutnya &#8230;selamat mengikuti.</div>
<p></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/08BkyTunshE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/sayembara.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/sayembara.jsp</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
