<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Pitutur 3.0</title>
	
	<link>http://www.pitutur.net</link>
	<description>teman, teman dari teman, musuh dari musuh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 03:17:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Pitutur" /><feedburner:info uri="pitutur" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>Pitutur</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Sebab Kebahagiaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/rmRFNKkOVtY/sebab-kebahagiaan.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/sebab-kebahagiaan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 02:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/sebab-kebahagiaan.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Syahdan, tersebutlah kang Dulkamid yang hidupnya terkenal kesrakat secara dhohir. Adalah kekayaannya berupa rumah reyot hampir rubuh, sepeda onthel yang rantainya rajin lepas, baju berjumlah tujuh -nanti dulu&#8230;- maksudnya tujuh tambalannya, sebuah tempat tidur Spring Bed tanpa &#8220;S&#8221; (baca: Pring Bed) alias lincak dari bambu yang lebih terkenal dengan sebutan tempat tidur &#8216;kelas tinggi&#8217; karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syahdan, tersebutlah kang Dulkamid yang hidupnya terkenal kesrakat secara dhohir. Adalah kekayaannya berupa rumah reyot hampir rubuh, sepeda onthel yang rantainya rajin lepas, baju berjumlah tujuh -nanti dulu&#8230;- maksudnya tujuh tambalannya, sebuah tempat tidur <em>Spring Bed</em> tanpa &#8220;S&#8221; (baca: Pring Bed) alias <em>lincak</em> dari bambu yang lebih terkenal dengan sebutan tempat tidur <em>&#8216;kelas tinggi&#8217;</em> karena banyak <em>&#8220;tinggi&#8221;nya (tinggi=kutu busuk bin bangsat)</em> dan sejumlah lima juta ripis &#8211; nanti dulu&#8230;- maksudnya berupa utang. Tak seorangpun ibu dan tak juga sampeyan yang sedang menggendong anaknya menginginkan anaknya menjadi semisal si Dulkamid. Keunggulan satu-satunya yang dimiliki adalah kejujurannya. Tapi banyak orang mencibir, kejujuran tak membuat dia kaya.</p>
<p>Syahdan, <em>dumadakan</em> si Dulkamid didatangi seorang konglomerat yang menginginkan si Dulkamid menjadi asisten pribadinya. Tidak tanggung-tanggung, dia DIJANJIKAN gaji 30 juta ripis per bulan oleh si konglomerat. Konglomerat itu bilang, dia boleh langsung bekerja sebulan kemudian, dan langsung menerima gaji di muka 30 juta ripis.</p>
<p>Sampai di sini simbah mau bertanya, miturut sampeyan semua, kira-kira bagaimana keadaan hati si Dulkamid selama menunggu selama sebulan itu? Gembirakah atau sedihkah? Tentu saja dia gembira luar biasa.</p>
<p>Pertanyaan selanjutnya. Apakah dengan janji akan bekerja dan digaji di muka 30 juta ripis itu keadaan dhohirnya sudah berubah? Apakah dengan janji itu Pring Bed &#8220;kelas tinggi&#8221;nya itu menjadi sungguh-sungguh Spring Bed dengan &#8220;S&#8221;? Apakah dengan janji itu bajunya langsung rontok tambalannya seketika? Apakah dengan janji itu sepeda onthelnya tiba-tiba berubah menjadi Ducati 500 cc? Tidak!! Dengan janji itu kondisi dhohirnya tetep!! Tapi suasana hatinya berbeda. Si Dulkamid bisa tidur lebih nyenyak dengan mimpi indah. Tak masalah bajunya bertambal, utangnya masih tetep lima juta ripis dan masih miskin. Ada yang berubah pada dirinya yang tak terlihat secara dhohir.</p>
<p>Syahdan, di lain pihak tersebutlah si Dulkenyung, pengusaha sugeh mblegedhu berkantong tebal. Rumah real estate, mobilnya mewah, harta melimpah, orang memanggilnya bos eksekutif, tokoh papan atas &#8230; halah mirip lagu &#8216;Bento&#8217; pokoknya. Simpanannya banyak, baik berupa uang maupun istri.</p>
<p>Syahdan, baru saja datang surat dari KPK yang meminta dirinya datang bulan depan, untuk ditanyai perihal semua bisnisnya yang ternyata bermasalah. Hingga disinyalir bisnisnya tersebut merugikan negara trilyunan ripis, dan berpotensi menyebabkan dia masuk penjara seumur idup.</p>
<p>Miturut sampeyan semua, bagaimanakah si Dulkenyung menjalani hidupnya sebulan ke depan? Bahagiakah atau cemaskah? Apakah dengan surat panggilan dari KPK itu tiba-tiba dia jadi miskin, lalu hilang semua simpanannya, atau hancur semua mobilnya atau bangkrut semua bisnisnya? Tentu saja tidak!! Hartanya tetap utuh, tapi kondisi hatinya sudah tidak seutuh seperti semula. Ketakutan mulai membayangi dirinya. Dengan kondisi kekayaan yang sama, hidupnya berubah menjadi seperti neraka.</p>
<p>Syahdan, simbah lantas bertanya, apakah yang menjadi penyebab bagi ketentraman hati dan kebahagiaan pada seseorang jika melihat cerita si Dulkamid dan si Dulkenyung di atas? Kekayaankah? Atau sepeda onthel? Atau Pring Bed kelas tinggi? Atau kemewahan dan segala keglamoran semisal yang dimiliki si Dulkenyung? Mengapa Dulkenyung di tengah kekayannya tidak menikmati masa sebulan penantian dipanggil oleh KPK, sementara di tengah kemelaratannya si Dulkamid hatinya bergembira menjalani <em>sebulan penantian</em> dipanggil konglomerat?</p>
<p>Seorang motivator yang tak mau disebut namanya menjelaskan, bahwa letak kebahagiaan dan penyebab kebahagiaan seseorang tergantung pada HARAPAN nya. Si Dulkamid memang <em>mlarat kesrakat wal sekarat</em>. Tapi harapannya sebulan ke depan luar biasa bagus, yang menjadikan kemlaratannya tak terasa pahit. Ada harapan walau belum berwujud, tapi mampu menyingkirkan segala rasa pahit kemiskinan dan kemlaratan yang menderanya.</p>
<p>Beda dengan si Dulkenyung walau hartanya melimpah, harapan sebulan ke depannya serba rumit dan gelap. Mobil mewahnya tak cukup bisa menghiburnya, istri denok deblongnya tak cukup cantik untuk menenangkan kegelisahannya. Spring Bed mewahnya tak cukup empuk untuk membuatnya tidur nyenyak. Semua diawali dari harapan yang suram.</p>
<p>Ilustrasi di atas menggambarkan tentang adanya harapan baik dan harapan buruk dengan durasi &#8217;sebulan ke depan&#8217;. Harapan yang indah dalam sebulan ke depan, membuat bulan yang dilewati ikut menjadi indah. Harapan yang suram dalam sebulan ke depan, membuat durasi waktu sebulan yang dilewati ikut menjadi suram. Tidakkah sampeyan bisa mengambil satu kesimpulan dalam kalimat-kalimat di atas?</p>
<p>Hidup adalah satu waktu yang durasinya kita tidak tahu. Simbah tidak tahu, diberi durasi berapa tahun tinggal di planet bumi menghirup O2. Namun jika kita berpikir sederhana, sebab kebahagiaan pun juga sederhana. <span style="text-decoration: underline;"><strong><em>Sebab kebahagiaan terletak pada harapan yang hendak diraihnya.</em></strong></span></p>
<p>Bagi orang beriman diberikan janji harapan <strong><em>&#8220;Laa khoufun &#8216;alaihim wa laa hum yahzanuun&#8221;.</em></strong> Tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka bersedih. Mengapa? Karena berapapun durasi hidup yang harus dijalani, endingnya adalah kalimat dalam bahasa arab yang sudah diterjemahkan di atas.</p>
<p>Apa ruginya hidup miskin berdurasi seumur hidup, jika endingnya bahagia selama-lamanya? Apa sedihnya hidup serba terbatas, jika endingnya senang tak terbatas? Durasi sebulan menunggu janji yang dialami si Dulkamid hanyalah gambaran betapa seharusnya seorang beriman menjalani hidupnya penuh harapan baik sebagaimana Dulkamid menunggu janji si konglomerat. Bedanya hanya di sisi durasi, mau sebulan, setahun, seabad&#8230; tak masalah.</p>
<p>Tapi mengapa ada saja orang yang hidupnya susah dan penuh kesedihan, jika ternyata untuk bahagia sangat sederhana caranya?</p>
<p>Penyebabnya ada beberapa:</p>
<p>1. Tidak yakin dengan isi janji dan si pembuat janji.<br />
Jika si pembuat janji pada si Dulkamid adalah sesama kere yang <em>gak gableg</em> duit, maka isi janjinya pantas diragukan. Walaupun si Dulkamid dijanjkan gaji semilyar, tidurnya gak bakal jadi nyenyak. Masalahnya yang memberikan janji adalah si Dulkembung yang hanya bisa jual abab dan malah sering ngutang pada Dulkamid. Janji segede apapun tak akan menenangkan.<br />
Demikian, pula jika sampeyan tak percaya janji Tuhan sampeyan, hidup sampeyan sedih dan menyedihkan. Mungkin sampeyan nyembah Tuihan yang salah. Tuhan yang dalam sejarahnya selalu ingkar janji. Tuhan yang tak jelas juntrungnya. Tuhan imaginer bikinan ahli ketuhanan yang suka menipu untuk kepentingan dunia. Jika sampeyan benar memilih Tuhan, sampeyan bisa pegang janji-Nya, dan menjadi tenanglah hidup sampeyan berapapun durasi hidup sampeyan.</p>
<p>2. Harapan hidupnya buruk.<br />
Jika sampeyan berwatak ala Dulkenyung, si kaya berakhlak rajakaya (baca: hewan ternak), maka sudah terbayang ending hidup sampeyan pasti busuk. Maka berapapun durasi hidup yang diberikan pada sampeyan, mustahil sampeyan bisa bahagia. Hidup akan selalu dibayangi ketakutan, kekhawatiran dan ketidaktenangan. Kecuali sampeyan sudah terkontaminasi DNA nya si Iblis.</p>
<p>Iblis tahu ending hidupnya, yakni binasa. Namun buat dia oke-oke saja. Dia anggap sepadan. Toh hidupnya seumur dunia. Bisa hidup seenaknya, tak terikat aturan dlsb. Nah manusia yang sudah teracuni DNA Iblis akan menganggap kenikmatan dunia yang tanpa aturan itu sepadan jika harus mengalami ending busuk. Iblis dan kroninya lupa, bahwa bilangan berapapun jika dibagi bilangan tak terbatas, hasilnya NOL. Berapapun lamanya hidup di dunia, jika DIBANDINGKAN dengan waktu tak terbatas akherat, semuanya jadi tidak bernilai dan tak pantas diperjuangkan. Tak ada yang sepadan jika harus ditebus kesengsaraan tak terbatas.</p>
<p>Jadi jika sampeyan mau hidup bahagia, caranya sederhana. Perbaiki harapan hidup sampeyan. Ingat: <strong>harapan berbeda dengan khayalan.</strong> Jika petani menebar benih padi dan menunggu padi tumbuh, itu namanya harapan. Namun jika petani menebar kerikil dan menunggu kerikil itu tumbuh menjadi tanaman padi, itu namanya khayal.</p>
<div class="zemanta-pixie"><img class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/pixy.gif?x-id=9340b7da-1c49-8889-bff5-df7923c066ae" alt="" /></div>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/rmRFNKkOVtY" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/sebab-kebahagiaan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/sebab-kebahagiaan.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pagar Moral</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/1eG4cGDi9Kg/pagar-moral.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/pagar-moral.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 04:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/pagar-moral.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Kang Mondhol dan Kang Jebol (bukan nama sebenarnya), dua orang sohib simbah di masa co-ass yang cukup akrab pergaulannya dengan simbah. Pertama kali masuk co-ass, simbah belum begitu akrab dengan mereka. Hingga akhirnya dikarenakan sering satu rombongan dan jaga bersama nginep di RS, keakraban itu mulai terbentuk.
Pada suatu ketika, bersama sekian co-ass yang lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah <em>Kang Mondhol</em> dan <em>Kang Jebol</em> (bukan nama sebenarnya), dua orang sohib simbah di masa co-ass yang cukup akrab pergaulannya dengan simbah. Pertama kali masuk co-ass, simbah belum begitu akrab dengan mereka. Hingga akhirnya dikarenakan sering satu rombongan dan jaga bersama nginep di RS, keakraban itu mulai terbentuk.</p>
<p>Pada suatu ketika, bersama sekian co-ass yang lain simbah dan 2 sohib ini jaga di bagian Obsgyn. Pada saat jaga, simbah dan sohib-sohib ditempatkan di satu ruangan yang sebenarnya secara normal hanya muat 5 orang. Namun karena keterbatasan tempat, akhirnya dimuati sebanyak 9 orang. <em>Kasur kapuk</em>pun dijejer biar muat.</p>
<p>Awalnya masing-masing co-ass masih pada <em>jaim</em>. Namun disaat nginep bareng dan berjubel macem ikan teri semacam itu, kejaiman mulai luntur. Lha mau jaim pigimanah, ha wong siangnya berlagak rapi jali, dipanggil <strong><em>dakdok-dakdok</em></strong> padahal masih co-ass, begitu malem tiba jebul <em>ngileran, ngowohan, ngorokan</em> dan menjadi makhluk pengerat saat tidur.</p>
<p>Tadinya peristiwa ngowoh, ngorok, ngiler dan mengerat tak dibicarakan. Begitu satu co-ass ditegur kang Mondhol, &#8220;<em>Dul, mambengi sampeyan tidurnya kok kreat-kreot kayak ngunyah sekrup ki ngapain tho&#8230;?&#8221;</em></p>
<p>Pertanyaan ini meruntuhkan pager kewibawaan, kejaiman dan moral yang sebelumnya masih dijaga ketat. Si Dul yang sebelumnya ngempet gak bicara apa-apa akhirnya ngomyang juga :<em> &#8220;Halah, lha sampeyan aja genah tidur nyirami bantal terus gitu kok. Ntar lagi klenthengnya numbuh itu jadi pohon randhu.&#8221;</em></p>
<p>Kang Jebol yang tadinya diem saja jadi ketawa ngakak&#8230;. Kang mondhol jadi dongkol. <em>&#8220;Rasah ngguyu,&#8221;</em>katanya. <em>&#8220;Lha wong sampeyan ki kalo tidur suaranya kayak illegal logging gitu kok. Grakgrok-grakgrok ngorok macem suara graji mesin lagi nebang pohon.&#8221;</em></p>
<p>Mulai dari situ, semuanya tak ada yang malu-malu. Saling ejek dan ledek, namun dalam suasana canda yang cair. Jeroan masing-masing dikupas gak ada yang merasa malu. Karena pager jaim dan pager moralnya sudah dijebol bareng-bareng. Hingga akhirnya tiba-tiba terdengar suara <em><strong>&#8220;Broooott..!!&#8221;</strong></em></p>
<p>Suara itu tak asing, karena semua co-ass pernah mengeluarkannya. Semuanya terdiam saling pandang. Namun pandangan semuanya tertuju pada kang Jebol. Mungkin saat itu semua sepakat untuk berkata dalam benak masing-masing, <em>&#8220;Iki mesti klep anusnya Kang Jebol bener-bener jebol, lha kenthut kok sampai sedahsyat itu.&#8221;<br />
</em><br />
Hanya simbah yang berani nyeletuk, <em>&#8220;Sampeyan ki yen ngising jangan disini, galo mbesenya disana&#8230;Ambune kang-kang.&#8221;</em></p>
<p>Kang Jebol tiba-tiba ngakak. Aktifitas kenthut yang sakral dan dijaga dengan pager moral tebal itupun pagernya runtuh seketika. Dan sejak saat itu hampir setiap saat, salah satu dari suara berikut ini hampir selalu terdengar di kamar co-ass. Kalo nggak <em>&#8220;Duut, preet, bruut&#8221;</em> atau setidaknya <em>&#8220;besss&#8221;</em>&#8230;. yang terakhir ini tidak nyaring tapi aromanya  mematikan. Aktifitas kenthut yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi penuh was-was kalo konangan, tiba-tiba dengan leluasanya bisa dilepas dengan penuh kelegaan tanpa takut ditegur. Karena pager moral yang menjaganya sudah dirubuhkan bareng-bareng dengan meletupnya klep anus kang Jebol yang ternyata bukan diingatken, ditegur atau dimarahi tapi disambut dengan renyah.</p>
<p>Sebagaimana kenthut, perbuatan yang tidak pantas ataupun kemaksiatan lainnya sebenarnya memiliki pager moral yang sebelumnya sudah terbentuk secara alami dan fitrah. Pagar ini dibawa dan dibekalkan pada manusia sejak lahirnya. Sehingga perbuatan yang buruk pasti akan dirasakan memalukan jika dilakukan secara terbuka ataupun di muka umum. Walaupun sebenarnya secara pribadi ada sisi kenikmatan ketika seseorang melakukan hal yang kurang senonoh, maksiat ataupun dosa besar sekalipun.</p>
<p>Namun ketika pagar moral masing-masing amal maksiat dan tak senonoh itu ambruk, dan ambruknya ini sudah pasti ada yang memulai , maka yang muncul adalah aksi maksiat dilakukan tanpa malu, dan aksi tak senonoh menjadi tidak tabu lagi dipertontonkan.</p>
<p>Maka di masa dahulu, hal yang sungguh memalukan manakala seorang wanita tampak betisnya di muka umum. Pagar ini terjaga hingga akhirnya roboh ketika beberapa wanita yang bersedia menjadi pionir berani mempertontonkan tidak hanya betis, tapi juga paha dan selangkangan mereka. Awalnya banyak yang protes. Hingga akhirnya suara protes itu lama-lama tenggelam dan dianggap kuno. Sementara suara lantang yang mendukung aksi keterbukaan auroth itulah yang makin kenceng dan dianggap modern. Bahkan justru datang dari kalangan wanita sendiri, yang katanya tak ingin didikte caranya berpakaian (tapi mau didikte oleh arus fashion). Yang modern adalah yang makin tinggi roknya, makin tipis bahan kainnya dan makin menampakan sisi kefeminiman.</p>
<p>Di masa lampau, hamil di luar nikah adalah hal tabu memalukan. Semua bangsa dan suku pernah mengalami masa dengan pagar moral semacam ini. Tiba-tiba pagar moral ini diterjang oleh aksi <em>zina demonstratip</em> dengan banyak sebutan, diantaranya &#8220;kumpul kebo&#8221;, dan tiba-tiba masyarakat jadi permisif dengan kelakukan ini. Dan jika kita mau perhatikan, pagar moral yang fitrah dan alami sudah mulai hilang. Roboh satu-persatu oleh pionir kemaksiatan yang tak pernah dicegah, ditegur ataupun dihukum dengan pantas.</p>
<p>Padahal satu bangsa atau umat manakala pagar moralnya runtuh, semuanya jadi pantas namun bejat. Akan tampak di depan mata umum perbuatan maksiat dilakukan tanpa malu. Pejabat minta sogok tidak malu. Guru minta amplop agar anak didik naik ranking pun tak malu. Korupsi triliunan terbongkar tidak malu. Mahasiswa tawuran tidak tahu malu. Pelajar mbunuh pelajar malah bangga dan tidak malu. Wanita jual kehormatan tidak malu, malah dikonteskan.</p>
<p>Penjebol dan perubuh pagar moral ini makin banyak berkeliaran. Ada yang berwujud artis, pejabat, LSM, profesional, kere, kyai, dlsb. Dengan robohnya pagar moral, roboh juga rasa malu. Jika sudah tidak punya malu, segalanya jadi pantas. Tak heran, malu adalah salah satu cabang iman. Tak punya malu berarti tercabut satu cabang keimanan.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/1eG4cGDi9Kg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/pagar-moral.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/pagar-moral.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tabib Dukunoid</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/LT9hkBDU8Jk/tabib-dukunoid.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 02:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Adalah Kang Cidromoto, seorang penyandang katarak akibat diabetes yang disandangnya, sudah bertahun-tahun mertombo ke segala penjuru dokter ahli mata. Sudah mengalami kembola-kembali dioperasi dengan hasil cukup mengecewakan. Mata blawur bin kabur hasil kerja kataraknya tak kunjung cerah. Yang namanya keblegong wal kejlungup comberan, menjadi kekhawatiran utamanya. Karena jikalau tak hati-hati, selokan deket masjid yang menganga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah <i>Kang Cidromoto</i>, seorang penyandang katarak akibat diabetes yang disandangnya, sudah bertahun-tahun mertombo ke segala penjuru dokter ahli mata. Sudah mengalami kembola-kembali dioperasi dengan hasil cukup mengecewakan. Mata <i>blawur bin kabur</i> hasil kerja kataraknya tak kunjung cerah. Yang namanya keblegong wal kejlungup comberan, menjadi kekhawatiran utamanya. Karena jikalau tak hati-hati, selokan deket masjid yang menganga cukup lebar, hampir pasti menjadi area <i>accidental crash landing</i> yang cukup bikin kedandaban wal babak bundhas.</p>
<p>Lain lagi dengan <i>Kang Paroloyo</i>, penderita stroke yang sekarang lumpuh separo itu masih penasaran menanti turunnya sang penyembuh yang mampu memulihkan kelumpuhan akibat strokenya. Segala macem omongan baik yang berupa katanya-katanya tetangga maupun advis medis ngeciwis dilakoninya demi kepulihan anggota badannya yang lumpuh. Dari <i>ngemplok jamu deplok</i> hingga <i>tablet kaplet berderet</i> terpaksa dia kepret hingga kadang sampai mencret. Namun kesembuhan yang ditunggunya tak kunjung menjemputnya.</p>
<p>Baik Kang Cidromoto maupun Kang Paroloyo tak pernah menyerah. Dengan aktifnya, dicarilah segala macam sarana penyembuh. Dan saat ini kebetulan di kantor RW di komplek simbah sedang kedatangan seorang yang konon tabib top markotop yang mampu mengusir segala macam penyakit. Baik penyakit akibat makhluk kasar maupun makhluk halus. Konon ini adalah tabib yang sakti, hingga ibarat <i>setan ora doyan, demit ora ndulit, iblis ora nggubris, vampir ora mampir, tapi duit ora nolak. <br /></i><br />Lapaknya digelar dengan gegap gempita. Disampaikan juga bahwa arena penyembuhan tersebut tidak memungut biaya tertentu. Hanya infaq seiklashnya saja, agar sang tabib dan para cantriknya bisa menyambung napas. Tak disebut infaqnya berapa, bahkan katanya seribu ripis pun tak masalah asalkan ikhlas dan punyanya hanya itu. Kesan pertama sungguh menggoda. Kesan hebat, jumawa, jauh dari cinta dunia, dan semua kesan yang dibutuhkan bagi seorang penyembuh yang turun dari kayangan ada semua. Beda dengan kesan saat masuk ruang dokter spesialis yang kempling, sejuk dingin, berhalaman luas dengan minuman gratis disediakan di pojok ruangan, dimana sudah terbayang tarif konsultasinya pasti sudah mengakomodasi segala kegratisan yang dinikmati saat ngantri.</p>
<p>Hingga pada satu malam, datanglah kang Cidromoto ke tempat sang tabib. Setelah dilihat dan diperiksa sebentar, diberilah sejumlah air yang katanya sudah dihewes-hewesi oleh sang tabib. Kang Cidromoto dipeseni agar matanya ditetesi dengan air hewes-hewes itu tiap hari. Dan walhasil, sampai air hewes-hewes itu habis nggusis, sang mata tetep burem. Hingga kang Cidormoto datang lagi ke tempat sang tabib. Rupanya karena pasien mangkin membludak, pasien dilayani sesuai panggilan sang tabib. Kalau tak dipanggil ya mlongo saja hingga pengobatan tutup. Sementara yang ketiban sampur dipanggil sang tabib, dilayani hingga tuntas. Mulai dari amandel yang diambil tanpa operasi secara demonstratip hingga batu ginjal yang diambil pakai gelas dan silet tanpa rasa sakit. Tentu saja demonstrasi pengobatan ala abrakadabra dan alakazam ini menjadi tontonan spektakular warga komplek simbah.</p>
<p>Setelah mlongo beberapa hari, Kang Cidromoto akhirnya tak sabar untuk bertanya pada para cantrik mengapa dirinya tak kunjung dipanggil dan segera didumuk agar seger waras matanya. Maka para cantrikpun menyampaikan aspirasi kang Cidromoto ke sang tabib. Hingga akhirnya dijawablah pertanyaan kang Cidormoto:</p>
<p><i>&#8220;Begini kang, mata sampeyan itu sudah terlanjur dioprek-oprek oleh para dokter. Maka sudah kebacut rusak dan memang agak susah. Jadi butuh sarana tersendiri yang tentu saja &#8216;ono rego, ono rupo&#8217;&#8230;.&#8221;</i> begitulah kira-kira isi pernyataan sang tabib.</p>
<p>Singkat cerita, maksud dari ono rego ono rupo itu adalah harus bayar duit setidaknya 3,6 juta ripis. Harga yang cukup murah buat sarana yang namanya penglihatan. Yang menjadi pertanyaan adalah uang 3,6 juta ripis itu nantinya buat mbayar apa belum jelas. Kalau itu operasi di RS, sudah jelas duit itu rinciannya buat cost apa saja. Buat obat, bea operasi, bea dokter, bea perawatan dlsb. Lha ini 3,6 juta ripis masih gelap buat apa. Mekanisme sembuhnya gimana juga tak dijelaskan. Walhasil kang Cidromoto pilih tak melanjutkan terapi. Dan musnah sudah gambaran tabib yang bak dewa penyembuh turun dari kayangan itu. Yang ada adalah pemburu rupiah dengan segala polesan modus operandinya.</p>
<p>Lain lagi dengan kang Paroloyo, beliaunya memang hanya mencari terapi yang mangsuk akal. Maka didatanginyalah tabib penyembuh yang informasinya didapat di satu acara terapi alternatip. Sesuai dengan klaim sang tabib, bahwa dia hanya menggunakan bahan herbal alami, maka tabib ini menjadi pilihan kang Paroloyo. </p>
<p>Taripnya lumayan mahal untuk ukuran seorang tabib. Namun bagi kang Paroloyo harga tak menjadi masalah asalkan sembuh. Untuk konsultasi doang setidaknya duit bergambar Soekarno-Hatta harus pindah kantong. Sedangkan untuk dua kali terapi, setidaknya enam lembar uang bergambar Soekarno Hatta harus ikhlas pindah kantong. Lumayanlah, soalnya duit itu tak seperti Naruto yang bisa dikloning dengan jurus<i> kage bunshin no jutsu</i> nya. Jika dua kali terapi belum sembuh bisa ikut paket selanjutnya.</p>
<p>Lantas dapat apa dari dua kali terapi itu? Kang Paroloyo mendapatkan terapi dipijit dan <i>diborehi</i> dengan ramuan tumbukan wal deplokan herbal. Mulai dari kencur, bawang merah, dan segala rempah-rempah diracik, ditumbuk dan dipoles ke tubuh yang sakit. Dan itulah yang dibawa pulang. Disangoni dan disuruh bawa brambang bawang macem <i>bumbu pawon</i> untuk ditumbuk dan diboreh sendiri di rumah.</p>
<p>Setelah dua kali terapi, kang Paroloyo baru ngeh. Ternyata enam lembar soekarno Hattanya hanya mendapat bumbu pawon itu. Hingga akhirnya dia ngomong di akhir sesi terapinya :</p>
<p><i>&#8220;Pak Tabib, terimakasih sudah mau menterapi saya. Namun maaf saya belum mendapat manfaat berarti dari dua kali terapi ini. Dan saya nilai terapi pak tabib ini terlalu mahal untuk hanya sekedar mborehi bumbon ke tubuh saya. Jadi saya mungkin tak bisa melanjutkan terapi lagi,&#8221;</i> katanya.</p>
<p>Sang tabib akhirnya buka bicara, <i>&#8220;Maaf Kang, sebenarnya saya ini bekerja tidak sendiri. Saya ini hanya buruh, di bawah satu manajemen bersama.&#8221; </i>kata sang tabib mulai menerangkan. Dan akhirnya terungkap bahwa dia hanya alat, yang diperalat satu pemodal memanfaatkan jaringan televisi swasta. Dimunculkan secara karbitan, tampil wawancara di tipi dalam satu acara terapi alternatip. Sasaran tembak konsumennya adalah pasien yang penasaran yang belum pernah mencoba cara terapinya. Bukan hendak sungguh-sungguh membantu terapi, tapi hanya mengorek duit pasien yang masih terus mencari jalan kesembuhan. </p>
<p>Duit yang dikeluarkan pasien adalah <b><i>&#8220;tarip rasa penasaran&#8221;</i></b> sang pasien, seperti apa sih model terapinya? Kalo seratus orang saja yang penasaran ingin mengetahui terapinya, itu berarti 60 juta ripis. Sedang bea untuk bisa tampil di tipi, cukup dengan pengeluaran sekitar 6 jutaan ripis setor ke stasiun tipinya. Hasilnya sepuluh kali lipat. Masalah nantinya pasien gak kembali lagi itu no problem. Tinggal bikin lagi dengan tabib yang lain yang serupa modusnya. Lalu duplikasi ke kota lain. Masih ratusan kota di seluruh Indonesia dengan stasiun swasta di daerah masing-masing. Dan masyarakat hanya tahu, kalo sudah bisa masup tipi pasti valid. Padahal tipi itu bisa dimasupin siapa saja asalkan taripnya sesuai buat menyambung napas tayang tipinya.</p>
<p>Pesan simbah, buat yang masih sakit kronis dan berusaha sembuh jangan putus asa. Hanya saja berhati-hatilah memilih terapi. Contoh kang Cidromoto adalah kasus riil dimana dia hampir cilaka karena mendatangi tabib dukunoid. Tabib tapi sebenarnya dukun materilistis manipulatif yang bisa mengancam amalan akheratnya dan menguras kantongnya. Sedangkan kang Paroloyo adalah contoh kasus yang juga riil, betapa terapi alternatip dijadikan ajang mencari duit dengan memanfaatkan rasa penasaran sang pasien seperti apa bentuk terapi yang ditawarkan. Bukan sungguh-sungguh berpraktek hendak menyembuhkan. Intinya adalah berhati-hatilah terhadap <b><i>tabib dukunoid manipulospekuloopportunismaterialisadistis</i></b>. Satu julukan bikinan mbah Dipo yang boleh dikoreksi ejaannya dan gak bakalan masup di search engine sehingga memang kurang menjual dari segi SEO.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/LT9hkBDU8Jk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/tabib-dukunoid.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Husnuzhon</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/jzPWCep8jF4/husnuzhon.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/husnuzhon.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 03:53:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/husnuzhon.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa kali simbah ikut Jum&#8217;atan akhir-akhir ini, sang khatib hampir selalu membahas yang namanya bencana alam yang sedang menimpa beberapa daerah di tanah air. Gaya dan karakter materinya hampir sama, yakni memvonis korban. Hampir semua penceramah, tidak hanya di khutbah, membahas bencana yang terjadi sebagai adzab yang dikirim Allah. Yang sekaligus tersirat makna bahwa korban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa kali simbah ikut Jum&#8217;atan akhir-akhir ini, sang khatib hampir selalu membahas yang namanya bencana alam yang sedang menimpa beberapa daerah di tanah air. Gaya dan karakter materinya hampir sama, yakni memvonis korban. Hampir semua penceramah, tidak hanya di khutbah, membahas bencana yang terjadi sebagai adzab yang dikirim Allah. Yang sekaligus tersirat makna bahwa korban bencana alam adalah pihak yang pantas dihukum. Apalagi ada kyai mengaitkan jam terjadinya yakni pukul 17.16 dengan nomer surat dan ayat dalam Al Qur&#8217;an, yakni surat 17 (Al Isra) ayat 16. Wah.. ini mah gaya gathuk enthuk. Setali tiga duit sama dukun klenik.</p>
<p>Simbah kadang mencoba memposisikan diri seandainya simbah korbannya, pasti sangat sakit jika di saat kehilangan harta benda, sanak family, lalu tiba-tiba divonis dengan perkataan, <i>&#8220;Emang pantes diadzab elo pade.&#8221;</i> Dan ngomongnya di depan mimbar, didengar ratusan bahkan ribuan orang.</p>
<p>Satu contoh kasus saja, sewaktu di jalan raya mendadak ada pemuda sok jagoan bergaya bromocorah, naik motor dengan ugal-ugalan bak orang buta warna, karena lampu merah diterjang seenak udel. Dasar lagi apes atau memang hukum sebab akibat berlaku, tiba-tiba ban depannya nggiles muntahan orang gila dan keplesetlah si jagoan bromocorah tadi dengan mantabhnya. Sudah wajahnya nyungsep di parit, motornya babak bundhas lagi. Dalam kondisi seperti itu saja yang paling bijaksana adalah memberikan pertolongan dengan segera. Karena kalo tidak, sang korban bisa-bisa mati ngenggon (di tempat). Masalah akhirnya si pemuda itu nantinya dinasehati, itu entar ajalah. Tapi tentu saja nasehat diperlukan, biar nantinya tidak ugal-ugalan.</p>
<p>Padahal sebenarnya bencana yang menimpa ini merupakan ujian <u><b>BAGI SEMUA.</b></u> Bagi yang kena musibah Allah ingin menguji seberapa sabar hamba-Nya menanggung ketentuan yang Dia tetapkan. Mengeluh apa tidak dengan jatah yang diberikan-Nya, kufur apa tidak dengan adanya nikmat yang masih Allah berikan di tengah bencana tersebut, dan sederet pertanyaan ujian yang ingin dilihat Allah jawabannya dari orang yang diuji-Nya. </p>
<p>Sedangkan bagi kita yang tidak kena musibah, kita diuji bagaimana respon kita kalau saudaranya kena musibah, mau mbantu apa kagak, mau menenangkan apa menyalahkan, mau meringankan apa malah memberatkan? Ujian Allah itu ditunggu jawabannya dari kita yang masih terhindar dari bencana. Kalau gagal ujian, tidak menutup kemungkinan justru berikutnya kita tidak diuji dengan <i>&#8220;selamat dari bencana&#8221;</i>, bahkan mungkin kitalah yang akan diuji dengan<i> &#8220;ditimpa bencana&#8221;</i>.</p>
<p>Cobalah berhusnuzhon dengan berbaik sangka pada saudara kita yang terkena bencana. Caranya bisa bermacam-macam, asal jangan langsung memvonis kalo bencana yang menimpa merupakan kiriman adzab. Ini menyebabkan yang mau nyumbang jadi males. Lah gimana mau simpati mau mbantu kalo korbannya dicap sebagai orang yang pantas dihukum?</p>
<p>Saat ini simbah hanya bisa berhusnuzhon bahwa ini adalah jalan yang diberikan Allah untuk memberikan derajat syahid bagi saudara-saudara muslim yang kematiannya menurut hadits shahih bisa masuk kategori syahid, yakni mati tertimpa. Tentu saja yang mati lagi nyabu di diskotek trus ketimpa sound system sampai duut van modiyar nggak termasuk kriteria ini. Yang jelas mari kita bantu saudara kita yang tertimpa bencana sebagai <b>jawaban ujian Allah bagi kita</b>. Biar saudara kita yang tertimpa bencana bisa <b>menjawab ujian Allah dengan kesabaran</b> mereka dengan support bantuan dari kita.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/jzPWCep8jF4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/husnuzhon.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/husnuzhon.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Atas Nama Kemiskinan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/MG0H1ah1tvI/atas-nama-kemiskinan.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/atas-nama-kemiskinan.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 03:54:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>
		<category><![CDATA[Selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/atas-nama-kemiskinan.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Karena aku miskin dan merasa miskinMaka angkotku tak perlu taat rambuKejar setoran lebih perluMaka ku ngetem seenak brutuKalian yang sekilo meter di belakangku jangan menggerutuIni juga demi anak isteriku
Karena aku miskin dan merasa miskinMaka ku tak mampu beli mobilHanya motor itupun mencicilJalan mobil ku srobot dan kuambilPecicilan di jalanan macam si kancilKupikir tak apa karna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Maka angkotku tak perlu taat rambu<br />Kejar setoran lebih perlu<br />Maka ku ngetem seenak brutu<br />Kalian yang sekilo meter di belakangku jangan menggerutu<br />Ini juga demi anak isteriku</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Maka ku tak mampu beli mobil<br />Hanya motor itupun mencicil<br />Jalan mobil ku srobot dan kuambil<br />Pecicilan di jalanan macam si kancil<br />Kupikir tak apa karna ku miskin dan ekonomi labil</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Maka aku ke kota modal nekat<br />Tanah kosong kukangkangi dan kusikat<br />Kubangun kerajaanku tanpa sertipikat<br />Kudirikan mesjid buat pengaman dan pemikat<br />Karena kupikir orang kaya juga tak kalah bejat</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Kupikir pantas jika mengemis<br />Kujual wajah sendu isak dan tangis<br />Bayi kusewa agar hati kalian makin miris<br />Kupoles badan dengan bau busuk dan amis<br />Agar kalian mau memberi demi janji sorga kalian yang manis</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Kubangun supermarket di trotoar<br />Berkaki lima dagangan dan jasa kugelar<br />Ke bahu jalanan supermarketku melebar<br />Jalanan macet bukanlah masalah besar<br />Karena ku harus bersaing dengan mall dan super bazaar</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Maka ku bisa berbuat onar dan menyakiti<br />Demi ketenangan kutarik uang keamanan dan upeti<br />Kugalang massa kubentuk kelompok orang sakti<br />Kebal tusukan dan kebal aturan yang membatasi<br />Karena penyewa dan pelindungku pejabat yang sedang sakit hati</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Maka ku berhak ambil paksa dari orang kaya<br />Ngamen tak diberi kugores cat mobilnya<br />Kuminta tak dikasih kurampok rumahnya<br />Sukur-sukur ada kerusuhan, kujarah kekayaannya<br />Karna kupikir begitulah seharusnya</p>
<p>Karena aku miskin dan merasa miskin<br />Aku hanyalah sekedar pekerja buruh<br />Kumerasa hidupku hanya untuk disuruh-suruh<br />Maka jika diajak mbangkang kusambut dengan riuh<br />Tanpa kutahu tujuan yang hendak ditempuh<br />Yang penting hari itu ku bisa mbolos dan tak perlu kerja berpeluh</p>
<p>Itulah diri dan hidupku<br />Kuharap kalian tak perlu meniru<br />Hidup penuh pembenaran dari kelakuan palsu<br />Inti sebenarnya hanyalah hawa napsu<br />Dibungkus tuntutan keadilan sebagai bahan isu<br />Padahal hakikatnya kemalasan penuh lesu</p>
<p>Mbah Dipo, 6 Oktober 2009<br />Seorang yang sudah mambu lemah<br />Siap mujur ngalor mlumah<br />Menuju alam barzah<br />Hidup harus pantang menyerah<br />Jangan sedih dan susah<br />Kerja keras tanpa lelah</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/MG0H1ah1tvI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/atas-nama-kemiskinan.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/atas-nama-kemiskinan.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kiamat</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/11bdWjhcY_M/kiamat.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 04:15:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/kiamat.jsp</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Kapan Kiamat datang?&#8221; tanya Kang Harjo Linthing.
&#8220;Yo embuh,&#8221; jawab Lik Giman Mbako. &#8220;Gak ada yang tahu itu, kecuali Gusti Allah.&#8221;
&#8220;Halah, sebentar lagi kiamat juga dateng, biasanya datengnya bareng nyi amat,&#8221; sahut Kadi Semprul sambil nglekar. &#8220;Kalo nggak percaya silakan ditunggu deket lincak situ..hehehe..&#8221;
Glodakk..!! Kadi Semprul bablas njlungup didhupak Kang Harjo Linthing.
&#8220;Dapurmu kuwi, ditanya serius malah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Kapan Kiamat datang?&#8221; tanya Kang Harjo Linthing.</p>
<p>&#8220;Yo embuh,&#8221; jawab Lik Giman Mbako. &#8220;Gak ada yang tahu itu, kecuali Gusti Allah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Halah, sebentar lagi kiamat juga dateng, biasanya datengnya bareng nyi amat,&#8221; sahut Kadi Semprul sambil nglekar. &#8220;Kalo nggak percaya silakan ditunggu deket lincak situ..hehehe..&#8221;</p>
<p>Glodakk..!! Kadi Semprul bablas njlungup didhupak Kang Harjo Linthing.</p>
<p>&#8220;Dapurmu kuwi, ditanya serius malah njawabnya ngomyang,&#8221; bentak Kang Harjo Linthing.</p>
<p>Kejadian di atas adalah fiktif. Nama dan tokohnya juga fiktif. Tapi percakapan model di atas pernah terjadi. Kalo di dunia pilem, biar mengangkat temanya jadi lebih riil, di posternya diembel-embeli &#8220;Diinspirasi oleh Kisah Nyata.&#8221;</p>
<p>Melihat bertubi-tubinya bencana datang silih berganti, beberapa orang yang mengaku memiliki daya linuwih mulai mengeluarkan statement yang nganeh-nganehi. Topik bahasannya adalah tentang Kiamat, bukan Ki Amat suaminya Nyi Amat. Entah demi mengatrol namanya di dunia perparanormalan, atau demi embuh ra weruh, tiba-tiba muncullah ramalan-ramalan yang memprediksi datangnya saat kiamat.</p>
<p>Saat Ramadhan kemarin anak simbah yang mbarep bertanya, &#8220;Pak kata bu guru, kiamat itu terjadi nanti tahun 2020. Apa bener itu pak?&#8221;</p>
<p><i>&#8220;Wah, gurumu salah le. Dapet info darimana itu? Wong molekat Jibril dan Kanjeng Nabi saja nggak tahu. Yang tahu hanya Allah le,&#8221;</i> jawab simbah.</p>
<p>Tak kalah ramenya, topik kiamat ini juga diangkat oleh dalang-dalang pilem Holiwud spesialis pilem disaster macem dalang pilem The Day After Tommorow. Judulnya 2012, yang menggambarkan datengnya kiamat ala Holiwud. Apa dasarnya menetapkan angka 2012 gak jelas, tapi ada dalang pilem lain yang mbikin pilem dijuduli Doomsday 2012. Kayaknya ada sesuatu di angka 2012 ini.</p>
<p>Padahal di tahun 1999 kemarin, tukang otak atik angka juga sempat bikin heboh dengan ramalan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 9 bulan 9 tahun 99. Dan ternyata saat tanggal itu lewat, <i>&#8220;Dunia Belum Kiamat&#8221;</i>. Untung saja gak ada penjahat segila David Quraisy ..eh. David Koresh yang ngajak bunuh diri rame-rame di hari yang diramalkan kiamat itu.</p>
<p>Tema kiamat memang tema yang menarik. Banyak orang yang berusaha mengambil untung dengan tema ini. Korbannya adalah orang yang tak paham perihal kiamat. Ataupun kalo ngaku paham, ternyata salah paham. Banyak isu bisa diusung dari tema kiamat, yang dapat diambil keuntungan duniawinya.</p>
<p>Isu Imam Mahdi menjelang kiamat, dipakai segolongan orang buat melegitimasi ketokohan dirinya dilambari hadits gathuk enthuk buat menguntungkan diri. Mulai dari isu satrio piningit, Lia Eden, dan tokoh-tokoh mitos bikinan dalang maupun empu yang sebenarnya penyalahgunaan hadits Imam Mahdi demi kepentingan golongan dan kelompoknya.</p>
<p>Tak kurang munculnya Dajjal dengan segala versi tafsir beserta turunnya Nabi Isa as, menjadi komoditi buat mengeruk keuntungan dan seringkali dipakai buat memukul golongan lain yang tak sepaham. Jika kebetulan gak cocok sama Sekubidu, maka dianggaplah Sekubidu itu Dajjal. Kalo cocok sama Minimos, maka disanjunglah Minimos habis-habisan dan diangkat menjadi nabi Isa sekaligus Imam mahdi walaupun Minimos itu jelas-jelas wedhok. Bahkan fenomena alam yang sebenarnya alami, karena tak paham, ditapsir macem-macem. Mulai dari tapsir markas jin sampai markasnya dajjal diwedar dan diluncurkan. Hal beginian merupakan menu lezat pecinta hal yang berbau sensasi. Makin sensasional makin nyamleng. Hingga akhirnya yang kurang sensasional nggak laku. Ujung dan kesensasionalannya adalah menyebut angka pasti tahun terjadinya kiamat.</p>
<p>Bagi yang berilmu, sebutan yang paling tepat bagi hal beginian cuma satu : <i>&#8220;Kurang Gaweyan.&#8221;</i> Bagi yang berilmu, yang penting bukan kapan terjadinya kiamat, namun yang terpenting adalah kesiapan bekal. Bagi yang sibuk menyiapkan bekal, tak ada waktu buat mikir kapan datangnya kiamat. Karena kesibukan menyiapkan bekal buat kiamat tak memberi waktu baginya buat aktifitas yang berjudul &#8220;Kurang Gaweyan&#8221; ini. </p>
<p>Bagi orang yang luang waktu dan tak merasa perlu untuk sibuk menyiapkan bekal buat kiamat, waktu kapan terjadinya kiamat dirasa lebih penting buat dibahas daripada menyiapkan bekalnya. </p>
<p>Saran simbah, di tengah banjir bencana yang ada. Tetaplah fokus nyari bekal buat akherat. Galang dana buat yang membutuhkan adalah salah satunya. Dan tak perlu meributkan kapan kiamat datang. Jika sampeyan tak peduli nyari bekal buat kiamat, maka saat itulah kiamat sampeyan sudah datang.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/11bdWjhcY_M" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/kiamat.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Plu Celeng</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/sRo-bxcPn34/plu-celeng.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/plu-celeng.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 08:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>
		<category><![CDATA[Pengaosan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/plu-celeng.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Salah seorang kawan simbah yang biasa blayangan ke njaban rangkah seringkali membandingkan kondisi sanitasi lingkungan di Indonesia, khususnya di Daerah Khusus Ibukota mBetawi dengan negeri-negeri yang konon maju macem Singapura, Hong Kong, mBeijing dll.
Tak bisa dipungkiri, kekemprohan warga mBetawi Raya ini memang sangatlah mblondrok sekali. Dengan anggunnya kekemprohan itu diperagakan melalui aliran sungai yang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah seorang kawan simbah yang biasa <em>blayangan</em> ke <em>njaban rangkah </em>seringkali membandingkan kondisi sanitasi lingkungan di Indonesia, khususnya di Daerah Khusus Ibukota mBetawi dengan negeri-negeri yang konon maju macem Singapura, Hong Kong, mBeijing dll.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, <em>kekemprohan</em> warga mBetawi Raya ini memang sangatlah <em>mblondrok</em> sekali. Dengan anggunnya kekemprohan itu diperagakan melalui aliran sungai yang lebih tepat disebut <em>The Giant Comberan.</em> Atau melalui gunungan sampah yang dirubung laler dan belatung beraroma jumbleng. Atau kelakuan warga yang seenaknya ngidu wal meludah sak karepe jidat, atau mbuang ingus yang mungkin berpirus, atau mbuang hajat seenak pantat.</p>
<p>Selalu dan selalu sang kawan berkomentar, dengan beragam komentar melihat perilaku kemproh dan tidak disiplin warga mBetawi yang barusan ulang tahun ini. Misalnya :</p>
<p><em>&#8220;Wah, kalo di Singapur, ngidu kayak preman itu sudah didenda sekian dollar tuh.&#8221;</em> katanya saat melihat preman ngidu nggilani yang didahului bunyi <em>khoak-khoek</em> yang meneror sistem antimuntah kita.</p>
<p><em>&#8220;Lhadalah, lha kali kok nggilaninya ngudubilah setan. Kayak gitu kok buat ciblon adus plus umbah-umbah. Opo gak gudigen orang-orang itu. Lhah, itu malah kumur-kumur buat gosok gigi&#8230; jian kumuh temen..&#8221;</em> katanya saat melihat asiknya komunitas pengguna air Ciliwung yang sedang memanfaatkan hitamnya air Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari mereka.</p>
<p>Simbah sendiri juga lumayan <em>gumun</em>. Rumah simbah sendiri deket dengan perkampungan sampah. Dimana lahan sampah berhektar-hektar dihuni oleh ratusan rumah yang mengelilinginya, dan mereka mendapat penghidupan dari sampah. Jika lewat area situ, lobang hidung orang sehat tak akan betah terbuka lama-lama. Pasti langsung ditutup. Karena jikalau tidak, aroma <em>badeg</em> berkekuatan <em>3 megaton enthut mberut</em> akan segera menghantam hidung sampeyan jika lewat situ. Namun herannya warga situ malah tinggal dengan nyaman dan sentausa. Seringkali simbah lihat orang-orang pada ngopi di areal yang badegnya bikin tobat nasuha itu dengan nyaman dan tentram.</p>
<p>Lebih mengherankan lagi, penyakit yang menghebohkan dunia justru tidak datang dari lingkungan mereka. <em>Plu Genjik </em>alias <em>Plu Celeng</em> atau plu apalah itu namanyah, justru berkembang biak dari negeri bersih kempling yang dipuji-puji karena kedisiplinan kebersihannya. Plu menghebohkan itu tumbuh subur di negeri yang jika meludah sembarangan saja didenda. Justru tidak datang dari negeri yang warganya jika mbenjret di pojokan terminal, bukannya ditegur, tapi malah ditambahi gunungan mbenjretannya.</p>
<p>Salah seorang tokoh yang diklaim sebagai ahli hikmah mengatakan, bahwa  kekemprohan batiniah efeknya lebih menakutkan dan mematikan daripada kekemprohan lahiriah. Kekemprohan lahiriah menimbulkan penyakit lahiriah saja. Sedangkan kekemprohan batiniah, selain menggerogoti kesehatan batiniah, akan menggerogoti kesehatan lahiriah secara akut. Buktinya ya peristiwa plu celeng ini.</p>
<p>Sebersih apapun kotanya, karena k<em>elangenan</em>nya ngemplok celeng yang diharamkan Yang Mencipta Celeng, maka didatangkanlah musibah beruntun yang berasal dari celeng. Bukan hanya plu yang bisa <em>dicangking</em> sang celeng. Sejarah mencatat sekian parasit, bakteri dan virus bercokol dengan mantabh di binatang kelangenannya penikmat kuliner haram itu.</p>
<p><em>&#8220;Lho mbah, kalau begitu sampeyan hendak membela kekemprohan jasmani warga kumuh yang kebanyakan muslimin itu? Jadi apakah miturut simbah lebih baik kemproh mambu tapi sehat daripada bersih kempling tapi sumber penyakit maut?&#8221;</em> mungkin itu yang menjadi pertanyaan sampeyan saat membaca tulisan simbah.</p>
<p>Lhadalah, bukannya kita sudah diajarkan bahwa kita harus menjaga kebersihan jasmani dan rohani. Kalau masih kemproh, berarti Islamnya belum kaffah. Kalo masih mbenjret sembarangan, berarti ada unsur kapirnya disitu, dalam artian kapir terhadap nikmat Allah. Bukan kapir yang mengeluarkan dari islam, tapi kapir yang menghina keindahan ajaran Islam yang mengajarkan kebersihan jasmani.</p>
<p>Hanya saja simbah ingin menunjukkan, kerusakan akibat kekemprohan ruhani itu memang lebih merusak dari kekemprohan jasmani. HIV AIDS, plu celeng, bahkan plu burung yang akhir-akhir ini ditakuti, lahir dari permisivitas terhadap larangan Sang pencipta. Walaupun derivatnya tidak selalu begitu. Derivat penderitanya lahir karena mendiamkan kenyataan bahwa yang haram dibiarkan diterjang tanpa ada tindakan mencegah dan menasehati. Semuanya karena kebebasan. Bebas mau ngemplok yang haram atau halal. Toh tidak ngganggu hak orang lain, itu kata mereka.</p>
<p>Tidak!! Semua perbuatan haram, walaupun dilakukan ditengah hutan sendirian, atau di Kutub selatan sendirian, pasti akan berdampak pada orang lain. Tak ada maksiat yang tak berdampak pada orang lain. Lantas kalo begitu, kita mau diam saja membiarkan yang haram dinikmati setiap hari dengan alasan tak mengganggu hak orang lain? Genjik bin Babi, aurot binti syahwat dan setumpuk barang haram digelar didepan sampeyan. Tak usah bertaruh apakah musibah akan datang lagi dari kemaksiatan. Karena selamanya orang yang &#8216;pinter-pinter&#8217; itu tak akan menemukan korelasi antara maksiat dan adzab. Kalo ketemu korelasinya, mereka sudah tobat dari dulu&#8230;.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/sRo-bxcPn34" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/plu-celeng.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/plu-celeng.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Apa atawa Bagaimana?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/LUbSIMs-lWM/apa-atawa-bagaimana.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 13:05:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mampir Ngombe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan nJepangi banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut nJepangi karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk&#8230;
Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belum lama ini simbah menyaksiken satu acara di tipi tentang seni menyantap sushi. Makanan ala Jepang dan <i>nJepangi</i> banget ini ditayangkan dengan penuh seni. Simbah sebut <i>nJepangi</i> karena sesuai dengan karakter orang Jepang yang serba kemrungsung, sampai-sampai yang namanya makan gak nunggu dimasak. Pokoke langsung santlap. Mak nyuk&#8230;</p>
<p>Yang makan pun keliatan mantabh. Padahal yang namanya ikan laut, jangankan mentah, yang sudah mateng saja kadang amisnya masih nempel di tenggorokan. Maka simbah berusaha mendalami, bagaimana orang-orang Jepun itu bisa menyantap daging ikan yang amis itu dengan penuh kenikmatan.</p>
<p>Lain sushi lain lagi dengan jengkol. Makanan tradisional yang aromanya berpotensi memancing keusuhan ini termasuk makanan yang masih susah simbah mengerti mengapa disebut lezat oleh penggemarnya. Bahkan bibi simbah sendiri dan sebagian anggota keluarga simbah menjadikan jengkol ini sebagai cemilan wal snack di saat senggang. Tapi simbah yakin, jika mau belajar menikmati pasti akan ketemu juga titik kelezatannya.</p>
<p>Sebagaimana saat simbah masih kecil dulu, tersebutlah makanan berbahan organik yang <i>kluget-kluget</i> di dasar akar pohon Turi berjuluk <b>&#8220;Gendhon&#8221;. </b>Gendhon adalah makhluk <i>ra mbejaji</i> berwujud seperti ulat gemuk, penuh lemak dan protein, serta konon menurut Kadi bisu -seorang konco angon simbah- merupakan sumber gizi yang <i>ngedhab-edhabi</i>. Sehingga kalo nemu makhluk berjuluk Gendhon ini, tiba-tiba konco-konco dolan simbah langsung menggelar acara kuliner ekstrim berbahan baku ulet berprotein tinggi itu. Maap aja, walaupun agak mlarat simbah tetep gak doyan makan Gendhon goreng itu. Meskipun konco-konco simbah ngiming-imingi dengan penuh demonstratip makan <i>temblang-tembleng</i> di depan simbah. </p>
<p>Kedoyanan dan ketidakdoyanan pada makanan-makanan tersebut oleh orang banyak disebut selera. Agak susah dimengerti memang dengan kata yang namanya &#8220;selera&#8221;. Karena secara anatomis, yang namanya lidah manusia itu sama saja. Letak syaraf-syaraf pengecapnya tak berbeda. Letak titik gurih, asem, manis, asin, pahit, cemplang, dan lain-lain, semuanya sama. Namun tiba-tiba satu makanan yang sama menghasilkan rasa yang berbeda pada individu yang berbeda.</p>
<p>Lantas jika ada yang muntah di tempat gara-gara bau duren, apakah pasti karena durennya? Padahal ada juga yang sledap-sledup dengan mantab menyedot aroma duren ini dengan sentausa dan malah ketagihan. Malahan kalo habis nyantap duren sebiji, kulitnya ditaruh dibawah amben tempat tidur karena ingin kamarnya beraroma duren.</p>
<p>Kesimpulannya: kenikmatan segala sesuatu terletak bukan pada <b><i>&#8220;apa&#8221;</i></b>nya yang dinikmati, tapi justru kenikmatan itu tergantung pada yang menikmati. Karena tergantung pada yang menikmati, maka kenikmatan itu terletak pada <b><i>&#8220;bagaimana&#8221;</i></b> menikmatinya. Pada subyek dan bukan pada obyek.</p>
<p>Pertanyaannya, bisakah kita belajar menikmati? Jawabannya : karena kenikmatan itu tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; cara menikmatinya, maka tentu saja bisa dipelajari. Tergantung kita mau apa tidak. Kalau mau, pasti ada jalan.</p>
<p>Dari sini seharusnya kita bisa <i>menggladrahkan</i> pikiran kita ke apa saja yang bisa dinikmati. Misalnya kekayaan. Kalau tak tahu bagaimana menikmatinya, maka kekayaan akan mendatangkan musibah. Kekayaan bisa terasa nikmat manakala orang paham bagaimana menikmatinya. Namun yang terjadi adalah banyak orang menyangka kekayaan itu nikmat bukan pada &#8220;bagaimana&#8221; nya. Banyak orang yakin kekayaan itu nikmat karena terletak pada &#8220;apa&#8221;nya. Sehingga yang tertanam pada diri kebanyakan orang, kekayaan itu nikmat karena kayanya itu.</p>
<p>Dari sini juga muncul pemahaman bahwa kemiskinan tak bisa dinikmati. Kalau kenikmatan itu tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; cara menikmatinya, maka pada semua kejadian seharusnya bisa dinikmati, termasuk kemiskinan. Tapi kita sudah lama dicekoki bahwa kenikmatan terletak pada &#8220;apa&#8221; yang dinikmati. Pada obyeknya. Jika jidat sampeyan konsekwen dengan pemahaman ini, maka seharusnya duren dan jengkol itu pasti nikmat bagi seluruh lidah spesies yang bernama manusia karena secara anatomis sama. Nyatanya tidak. Lalu muncullah kosa kata &#8220;selera&#8221; yang sebenarnya mendukung fakta bahwa sampeyan meyakini kenikmatan itu terletak pada &#8220;bagaimana&#8221;, pada subyek dan bukan pada &#8220;apa&#8221; yang dinikmati.</p>
<p>Kanjeng Nabi saw pernah bersabda, <i>&#8220;Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman. Seluruh keadaannya, baginya semuanya baik. Jika menerima kenikmatan lalu bersyukur, maka baik baginya. Jika menerima musibah lalu sabar, maka baik baginya. Dan tidak akan begini, kecuali mereka yang beriman saja.&#8221;</i></p>
<p>Maka kebaikan tidak terletak pada &#8220;apa&#8221;, tapi terletak pada &#8220;bagaimana&#8221; menyikapi. Karena sifat hipokrit kita, maka kita meletakkan kebaikan, kenikmatan, dan kebahagiaan pada &#8220;apa&#8221;, dan bukan pada &#8220;bagaimana&#8221;. Maka muncullah anggapan bahwa bahagia itu kekayaan, sukses itu pangkat, kenikmatan itu rumah mewah, keberhasilan itu karir mantabh, cemerlang itu gaji sembilan digit, dlsb.</p>
<p>Orang tak bisa memahami bahwa pada kemiskinan ada kebaikan, pada kekurangan ada kebaikan, pada musibah ada kenikmatan, pada bencana ada keberhasilan. Padahal semua tergantung pada &#8220;bagaimana&#8221; nya, dan tak bergantung pada &#8220;apa&#8221;nya. Namun kita menganggap tak ada kosa kata selera disini. Seakan semuanya absolut. Ketahuilah, sampeyan diglembuki sama setan kalo begitu.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/LUbSIMs-lWM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/apa-atawa-bagaimana.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian ketiga)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/JxESF4He7DA/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 04:08:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.
Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :
3. Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.</p>
<p>Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :</p>
<p>3. <b><i>Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, jangan melaporkan testimoni yang ternyata pemakaiannya dikombinasi dengan obat kimia sintetis.</i></b></p>
<p>Satu contoh kasus: simbah pernah kedatangan pasien mengeluhkan penyakit jantung. Dia berobat ke ahli jantung. Diberi obat lalu dikonsumsi dengan teratur. Setelah minum secara rutin selama 3 hari, dia bilang ke simbah belum ada perubahan apa-apa. Lalu dia pergi ke pengobatan alternatip. Dia diberi ramuan jamu herbal yang katanya ampuh buat ngreparasi jantung. Baru sehari minum katanya sudah baikan.</p>
<p>Simbah nanya, &#8220;Selama minum jamu itu obat dari dokter jantung masih diminum apa nggak?&#8221;</p>
<p>Dia jawab, &#8220;Masih mbah.&#8221;</p>
<p>Kasus seperti di atas tak bisa digunakan untuk memvonis bahwa obat dari dokter tak manjur babar blas, sedangkan herbalnya jos gandos khasiatnya. Karena seringkali satu terapi obat, membutuhkan waktu untuk mencapai hasil khasiat yang diinginkan. Sebagaimana kasus penyakit typus, pasien seringkali mengalami turun panas pada hari ketiga setelah diterapi. Jadi tidak langsung sim salabim panasnya turun, bahkan makan waktu sampai 3 hari. Ada pasien simbah yang katanya kena typus sudah 3 hari dirawat di RS belum turun panasnya. Setelah diberi jamu yang bahannya dari cacing, langsung turun. Sampeyan tak bisa mengatakan bahwa obat bahan cacingnya itu yang menurunkan panasnya. Karena memang terapi typus baru memberikan hasil setelah 3 hari.</p>
<p>Kalau ingin mengatakan bahan herbal dari pengobatan alternatip itu yang lebih berkhasiat, seharusnya obat dari dokter dihentikan. Lalu ambil jeda beberapa hari, barulah dikonsumsi herbalnya dan ditunggu khasiatnya. Hal ini akan menghasilkan testimoni yang baik dan bisa dipakai untuk modal penelitian lebih lanjut dari bahan herbal yang bersangkutan.</p>
<p><b><i>4. Kesembuhan harus terukur secara obyektif juga.</i></b></p>
<p>Jika penegakan diagnosa harus terukur, demikian juga manakala mengaku sudah sembuh. Kesembuhan haruslah terukur secara obyektif, bukan kesembuhan subyektif. Jika dengan konsumsi satu bahan herbal seseorang mengaku kankernya sembuh, kesembuhan dari kanker itu bukanlah dilihat secara subyektif saja. Haruslah ada satu tindakan biopsi ataupun scan ataupun pemeriksaan obyektif yang menyatakan bahwa kankernya sudah tak berbahaya lagi.</p>
<p>Seringkali pemakai herbal hanya menyatakan kesembuhan dirinya hanya dengan menggunakan kata-kata &#8220;sudah sembuh&#8221;. Sedangkan ukuran sembuhnya tak ada. Pernyataan sembuh yang baik harusnya melampirkan data-data pemeriksaan laboratorium pasca terapi yang bisa dibandingkan dengan hasil lab sebelum terapi.</p>
<p>Namun hal ini masih memiliki kendala. Penggunaan laboratorium masih dimonopoli oleh ahli pengobatan medis. Sedangkan kaum herbalis tak punya akses untuk memberikan pengantar bagi penilaian obyektif kesembuhan pasiennya. Untuk itu harus ada kerjasama antara dokter medis dan juga herbalis. Agar satu penyakit tegak diagnosanya dengan pemeriksaan obyektif, sekaligus kesembuhanya pun dinyatakan dengan pemeriksaan obyektif.&nbsp; </p>
<p>Kalo testimoni pengguna herbal sudah makin cerdas, ini akan memberikan modal yang bagus bagi ahli farmasi dan farmakologi untuk meneliti satu bahan herbal. Tentu saja akan dilakukan riset dan penelitian untuk mencari bahan aktif dan sekaligus mencari cara agar bahan herbal tersebut bisa dimasyarakatkan.</p>
<p>Sayangnya masih banyak ahli herbal yang seringkali justru bersikap memonopoli keahliannya. Yakni dengan cara menyembunyikan bahan apa yang ada di dalam ramuannya. Dia berprinsip :</p>
<p>&#8220;Sudahlah, jangan banyak cingcong, unthal saja jamu saya. Yang penting sampeyan bagas waras. Lha kalo isinya apa jamu saya, itu rahasia saya tho.&#8221;</p>
<p>Herannya sang pasien justru malah suka pada ahli herbal yang buka praktek dengan menanamkan prinsip demikian. Semakin akut bermain-main dengan yang rahasia-rahasia, semakin asyik mengkonsumsi jamunya. Apalagi kalo diumuki sama dukun herbalnya, <i>&#8220;Ini herbal yang tahu cuma 2 orang di dunia. Satu saya sendiri. Yang kedua adalah guru saya yang sekarang praktek di Tibet sana.&#8221; </i></p>
<p>Lhaladalah, opo ra mangtabh..Mbuh dia dikasih ati celeng, apa uyuh kirik atau bahan hewani lainnya yang diklaim herbal gak masalah. Yang penting mak greng!!</p>
<p>Saran simbah, kalau ada ramuan kok ditutup-tutupi dan berkesan eksklusif dan rahasia harusnya kita makin curiga. Sayangnya kita hanya bersikap begitu pada obat-obat kimia sintetis saja. Padahal justru obat kimia sintetis sedang tertib-tertibnya menuliskan kandungan senyawa aktip di kemasannya. Sedangkan kalau bahan herbal kita permisif. Nggak ditulis apa isinya gak masalah. Akhirnya ada saja bajingan tengik yang memanfaatkan sisi gelap kebodohan konsumen herbal ini yang lantas mencampur bahan obat kimia sintetis ke dalam bahan herbal atau jamu. Ini karena saking permisifnya konsumen dengan apa yang namanya bahan alami sehingga gak mau tau bahan apa yang dikopyok di dalamnya.</p>
<p>Semoga tulisan berantai dari simbah bermanfaat.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/JxESF4He7DA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-ketiga.jsp</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Pitutur/~3/DnC_QiWOXmo/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</link>
		<comments>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 10:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mbah Dipo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Urip]]></category>
		<category><![CDATA[Mertombo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</guid>
		<description><![CDATA[Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.
3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.
Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.</p>
<p><b>3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.</b></p>
<p>Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak gegap gempita :</p>
<p><u><b>MENGHADIRKAN HERBAL TERBAIK KELAS DUNIA !!!</b><br /></u><br />Setelah menyebutkan kata &#8220;Herbal Terbaik Kelas Dunia&#8221; ini disebutkanlah bahan yang dimaksud, yakni : <b>Gamat&#8230;..</b>!?!?<br />Sang pembuat iklan bukannya tak tahu Gamat itu apa. Disitu disebutkan Gamat adalah: Binatang invertebrata pemakan makan organik yang hidup di dasar laut. <br />Tak beda jauh dengan satu iklan di satu website, bahkan di sebagian website terkenal (kalau pingin tahu, tanya mbah google dengan keyword Gamat Bahan Herbal), disebutkan bahwa Gamat nama lainnya adalah Teripang atau Mentimun laut, dan dimasukkan ke dalam golongan herbal.</p>
<p>Simbah bukan ahli zoologi atau palaentologi. Tapi karena disebutkan disitu dengan jelas bahwa gamat adalah binatang invertebrata, seharusnya bahan ini bukan dimasukkan ke dalam bahan herbal. Mungkin karena nama lainnya Mentimun laut, maka ada yang memasukkannya ke dalam bahan herbal. Padahal kata herbal sendiri maknanya tumbuhan, bukannya binatang.</p>
<p>Kerancuan bahan herbal ini juga dialami oleh Susu Kambing, yang bahkan produsennya merupakan satu perusahaan yang memakai kata herbal. Demikian juga dengan propolis, yang merupakan produk lebah. Sedangkan madu, memang ahli herbal memasukkan ke dalam bahan herbal dengan alasan yang kuat. Yakni madu terbentuk di sarang lebah, bukan di tubuh lebah. Lebah hanya berperan membawa dan menaruh di sarangnya, lalu menambahinya dengan enzim yang lantas membuat bahan nektar berubah menjadi madu.</p>
<p>Nuwun sewu kalo simbah rada-rada menggunakan bahasa agak serius. Lha kalo pakek bahasa mbambung ntar dikira guyonan. Jadi khusus episode ini simbah menuliskan naskahnya sambil mengelus kening. Walaupun sebetulnya letak otak bukan pas di kening. Lha daripada mengelus dengkul, simbah masih lebih dari sekedar mending.&nbsp; Jadi sampeyan jangan membaca sambil mengelus pantat&#8230; wah itu lebih parah.</p>
<p>Poin ini simbah sampaikan agar produsen bahan herbal berhati-hati dalam menyebutkan golongan produknya. Karena sebagiannya diawali dengan menyebut hadits shahih. Bahkan pakai tulisan arabnya. Kebetulan konsumennya juga gak paham apa itu herbal, jadi ya laris-laris saja produk itu. </p>
<p><b>4. Jika sudah memakai herbal, tak perlu obat kimia.</b></p>
<p>Pernyataan ini harus dilihat per kasus. Jika memang herbalnya memang berfungsi terapi dan itulah herbal of choice untuk kasus penyakitnya, ya silakan saja.</p>
<p>Namun jika fungsi herbal disitu adalah sebagai suplemen atau terapi pendukung, maka penggunaan obat sintetis kimia masih merupakan drug of choice yang harus tetap dipakai. Sehingga terapi herbal dan medis kimia seyogyanya ditempatkan sebagai komplemen yang saling melengkapi, dan bukannya substistusi dimana yang satu &#8220;harus&#8221; menggantikan yang lain.</p>
<p><b>5. Testimoni yang tidak cerdas.</b></p>
<p>Hampir semua penggunaan herbal mengandalkan ujung tombak testimoni sebagai pendukung utama promosinya. Namun seyogyanya sebuah testimoni yang mengungkapkan keberhasilan terapi herbal haruslah dengan bahasa yang cerdas. Syarat testimoni yang cerdas di antaranya sebagai berikut :</p>
<p><b><i>1. Diagnosa penyakit yang disebutkan haruslah tegak dengan penegakkan diagnosa yang benar dan obyektif</i>.</b> Misalnya : didukung dengan pemeriksaan yang menyebutkan angka-angka yang terukur dari pemeriksaan laboratorium, atau jika itu diagnosa kelainan organ dalam haruslah didukung alat pemeriksaan dalam. Semisal : ronsen, endoskopi atau USG dsb.</p>
<p>Di poin ini, seringkali testimoni satu penyakit hanya berdasar pengakuan tanpa data lab. Misal mengaku sakit liver. Trus minum herbal lalu mengaku sembuh. Lha tahu kalo livernya sakit darimana? Trus livernya sakit bagian apanya juga gak jelas. Padahal penyakit yang bisa menyerang liver jumlahnya rong ikrak tumplak. Ini testimoni membodohi, dan bukan hal yang cerdas. Jika mau cerdas, pengakuan sakit livernya haruslah disertakan data obyektif, misal USG, lalu data kimia darah, misal SGOT, SGPT, Bilirubin baik direct maupun indirect&#8230;dlsb. Jadi pengakuan sakit livernya obyektif, dan bukan pengakuan subyektif semata. Apalagi ternyata sakit livernya itu merupakan hasil diagnosa (semi tebakan) dari mbah Dukun Sembur&#8230; halah&#8230;Maka demikian halnya jika testimoni mengaku sakit ginjal, jantung, paru-paru dan penyakit dalam lainnya, harus disertai data obyektif.</p>
<p><b><i>2. Pengakuan diagnosa berdasar perkataan, &#8220;Menurut dokter, sakit saya adalah&#8230;&#8221; tidaklah mencukupi.</i></b> Mengapa tidak mencukupi? Karena dalam mendiagnosa satu penyakit, pernyataan dokter akan satu diagnosa diawali dengan satu diagnosa yang derajatnya masih merupakan &#8220;kemungkinan&#8221;. Kemungkinan itulah yang nantinya dibuktikan dengan pemeriksaan pendukung dari lab maupun alat bukti pendukung lainnya. dan bahasa yang dipakai dokter pun jelas.</p>
<p>Jadi bahasa testimoni yang seringkali menggunakan kata, &#8220;Dokter sudah memvonis ini dan itu&#8230;&#8221; haruslah diperjelas alasan vonisnya. Karena untuk kepentingan bagusnya testimoni, seringkali diagnosa yang masih taraf &#8220;kemungkinan&#8221; sudah dianggap vonis oleh pasien.</p>
<p>Sebelum kening sampeyan panas karena kelamaan dielus-elus, simbah sudahi dulu poin testimoni ini. Insya Allah akan simbah sambung ke bagian ketiga tulisan ini mengenai bagaimana satu testimoni dianggap cerdas.</p>
<p></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Pitutur/~4/DnC_QiWOXmo" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://www.pitutur.net/salah-kaprah-terapi-herbal-bagian-kedua.jsp</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
