<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Planet Bangaip</title>
	
	<link>http://bangaip.org/planet</link>
	<description>Update Harian Bangaip</description>
	<lastBuildDate>Thu, 23 Feb 2012 16:15:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/PlanetBangaip" /><feedburner:info uri="planetbangaip" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/2.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/2.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><feedburner:emailServiceId>PlanetBangaip</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Cerita Kecil Tentang Hal Sederhana: Maut</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/HRc8S-O7_tU/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/6tnTTgU4mk8/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Feb 2012 16:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1546</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama saya tidak menulis. Ternyata tidak menulis itu enak juga. Hahaha. Yang tidak enak itu ketika suatu hari diperkenalkan oleh seseorang ke publik, &#8220;Kenalin nih bangaip, blogger&#8221;. Saya bengong dan memaki dalam hati. Edan, saya sudah lama tidak nulis &#8230; <a href="http://bangaip.org/2012/02/cerita-kecil-tentang-hal-sederhana-maut/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama saya tidak menulis. Ternyata tidak menulis itu enak juga. Hahaha. Yang tidak enak itu ketika suatu hari diperkenalkan oleh seseorang ke publik, &#8220;Kenalin nih bangaip, blogger&#8221;. Saya bengong dan memaki dalam hati. Edan, saya sudah lama tidak nulis di blog kok yaa masih saja di-sok-akui sebagai blogger.</p>
<p>Dalam beberapa bulan terakhir ini, saya dapat banyak surat dari teman-teman saya. Bertanya kenapa saya tidak menulis dan ada apa dengan saya. Sumpah mati saya jadi jadi terharu. Serius, terharu. Bukan becanda. Biasanya mah saya terharu, tapi becanda. Nah kali ini, saya serius, terharu.</p>
<p>Bagaimana tidak terharu, dari antara teman-teman saya ada beberapa orang yang benar-benar belum pernah bertemu sebelumnya. Dan mereka bertanya mengapa saya tidak menulis dan apakah saya cukup sehat untuk menulis.</p>
<p>Sumpah mati saya kaget, ternyata ada yang menunggu tulisan saya. Ada rasa belagu (iya lah, saya juga manusia) karena dirindu. Ada rasa bersalah karena menumpuk cerita dalam otak. Ada banyak rasa yang yang sebenarnya bisa dituang dalam tulisan.</p>
<p>Ya sudah, ini saya cerita deh. Kenapa saya beli bumbu pada tulisan terakhir sampai berbulan-bulan.</p>
<p>Jadi begini, suatu hari seorang ibu-ibu berkata, &#8220;Wah kalo kayak kamu mah paling lama sekitar pertengahan musim panas ini&#8221; ujarnya merujuk pada siklus hidup saya.</p>
<p>Saya jelas bete. Masa sih cuma gara-gara komplikasi radang pada jantung dan bonus benda kecil di otak yang namanya kanker, umur saya tidak akan bertahan lama melampaui Agustus 2012? Dan sumpah pocong, saya jarang percaya omongan orang. Jangankan pada manusia, pohon beringin saja yang lebih sakti dari manusia, saya jelas-jelas tidak percaya. Tapi karena si Ibu-ibu ini punya banyak gelar dari depan hingga ujung belakang namanya, diantaranya ahli medik spesialis. Terpaksa lah saya harus percaya.</p>
<p>Di saat yang sama, saya dapat kabar yang luar biasa sekali. Sahabat baik saya kehilangan rumah dan jadi gelandangan. Menginap dari satu rumah teman ke teman yang lain. Satu teman lagi, lebih parah, kehilangan pekerjaan dan sama sekali tidak mampu menyewa kamar paling murah sekalipun hingga kesulitan makan. Dua manusia itu, sering dan boleh dibilang hampir tiap hari menumpang di rumah saya. Luar biasa? Ahh belum. Itu belum seberapa. Yang bikin luar biasa adalah akibat krisis melanda, gaji saya dipotong dan saya juga terancam kehilangan tempat tinggal. Jadi selain terancam kehilangan nyawa, saya juga terancam kehilangan tempat berteduh ketika sedang menunggu ajal dijemput. Dan kalau kehilangan rumah, saya bisa kehilangan hak asuh anak, satu-satunya cinta yang tersisa di muka bumi ini.</p>
<p>Kehilangan teman, kehilangan rumah, kehilangan cinta dan kehilangan nyawa. Hehe, itu baru luar biasa.</p>
<p>Saya tidak begitu cerdas, tapi yaa jelas tidak bloon-bloon amat. Dalam taksiran hitung sementara, kunci yang bisa diputar untuk membuka masalah kehilangan diatas ini hanya satu, yaitu tempat tinggal. Jika saya masih punya tempat tinggal, maka saya masih bisa membantu teman, berteduh, main sama anak, dan melenggang menuju sakaratul maut dalam ruangan yang hangat.</p>
<p>Ok, kalau begitu rumah harus saya pertahankan. Tapi bagimana caranya? Jaman lagi susah begini, bagaimana mau bayar kontrakan?</p>
<p>Akhirnya saya hutang.</p>
<p>Gila memang. Mau mati kok hutang? Masa mau mewarisi hutang? Manusia macam apa saya ini?</p>
<p>Tapi setelah dihitung-hitung, kelihatannya saya bisa bayar hutang rumah jika saya selama dua bulan bekerja gila-gilaan. Pada waktu ini, saya terus berpikir-pikir, kok yaa saya mau mati harus kerja mati-matian. Apa gunanya hidup saya? Harusnya kan saya senang-senang saja sebelum ajal menjemput. Kok mau mati saja repot amat?</p>
<p>Lantas saya berfikir. Panjaaaang sekali.</p>
<p>Setelah beberapa hari dalam gundah gulana, untunglah saya dapat jawabannya. Ternyata jawabannya sederhana. Yaitu apa arti maut buat saya.</p>
<p>Setelah saya pikir-pikir apa arti maut, ternyata saya benci jadi tua. Sebab menjadi tua itu dekat dengan usia yang hampir habis masa batasnya. Dan itu masa yang saya benci. Masa ketika saya harus meninggalkan dunia fana.</p>
<p>Tapi kenapa saya harus benci? Setiap orang akan jadi tua. Lalu mati setelahnya. Kenapa harus takut mati? Bukankah ia alami? Hidup sekali. Hidup berani. Sebab hanya pengecut yang mati berkali-kali. Setiap orang pasti akan merasakan maut mengecup. Yang jadi pembeda hanya cara menerima bibirnya, dengan malu terhina atau bangga mulia?</p>
<p>Atas dasar itu saya menerima bantuan hutang sahabat yang baik sekali. Lalu bekerja mati-matian berbulan-bulan setelahnya untuk bayar cicilan. Demi sebuah tempat yang bernama ruang berteduh. Dimana saya, anak dan teman-teman bisa berteduh sementara. Sementara? Ya iyalah, memang mau hidup selamanya? Hehe&#8230;</p>
<p>Jadi akhirnya saya dan teman-teman yang <em>homeless</em> ini syukurlah bisa punya tempat bernaung. Dan itu jelas syukur, di ambang batas waktu yang makin menipis, masih diberi kesempatan bantu-bantu teman sambil cengar-cengir bersama mereka. Nikmat.</p>
<p>Di saat yang sama, saya tambah bersyukur masih dapat kesempatan bertemu dengan cinta saya. Seorang bocah perempuan berusia tiga tahun. Setiap hari bertemu beliau, selalu saya jadikan &#8216;hari terakhir&#8217;. Yaitu hari yang saya akan kenang sebagai hari terbaik dalam hidup saya. Main dan tertawa bersama putri tercinta. Hari bersama dia, kami lalui dengan luar biasa. Sepenuh hati, saya beri semua perhatian terhadapnya di hari itu. Seakan saya sudah di tunggu maut dari balik tirai jendela. Jadi semua cinta, semua kasih sayang, semua apa yang seharusnya putri saya terima sebagai haknya menjadi seorang anak, ia terima lunas semuanya di hari-hari itu.</p>
<p>Dan &#8216;hari-hari terakhir&#8217; itu, adalah hari yang benar-benar membahagiakan buat saya.</p>
<p>Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.</p>
<p>Suhu di luar sudah mendekati minus 14 celcius. Buat kulit orang Cilincing macam saya ini, itu artinya hanya satu kata; dingin. Tapi dalam rumah, tempat saya berteduh, selalu hangat. Sebab disana ada hati yang dicintai dan mencintai.</p>
<p>Tapi kadang saya jalani hari-hari ini dengan penuh tanda tanya. Diantaranya adalah, kalau saya memang iya mau mati, kok yaa saya senang-senang saja? Di sisi lain, masih banyak pertanyaan seperti, wah kalau maut menjemput tapi hutang belum lunas gimana yaaa? Nanti anak saya siapa yang jaga kalau saya pergi?</p>
<p>Ternyata saya baru sadar, orang kalau mau mati, kebanyakan tanya-tanya. Hahaha&#8230;</p>
<p>Karena tidak dapat jawaban atas semua pertanyaan, maka saya putuskan untuk kembali ke <em>khittah</em>. Yaitu saya harus makan-makanan enak sebelum maut menjemput. Istilah saya, &#8216;jamuan terakhir&#8217;. Dan karena ini jamuan terakhir, yaitu makanan yang akan saya ingat-ingat sebelum maut datang. Maka ia harus sempurna dan luar biasa.</p>
<p>Tentu saja sempurna dan luar biasa itu beda buat setiap definisi manusia. Buat saya, makanan luar biasa sempurna adalah nasi, potongan ketimun, rendang dan kerupuk. Plus sambal dan teh manis hangat, tentu saja.</p>
<p>Jadi suatu malam, setalah seharian penuh main-main dengan putri saya tercinta dan bahagia luar biasa, saya undang teman-teman untuk makan malam. Tentu saja makan rendang. Plus sambal dan kerupuk tepatnya. Saya tidak cerita apa-apa pada mereka. Saya tidak mau cerita apa yang tengah saya alami dan apa perasaan saya saat itu. Sebagaimana saya tidak cerita pada putri semata wayang kalau papanya akan pergi sebentar lagi.</p>
<p>Saya tidak mau cerita susahnya hidup. Saya tidak mau melihat raut muka mereka khawatir. Tidak enak melihat wajah orang lain khawatir karena cerita saya. Yang saya mau lihat, mata mereka bahagia melihat rendang dan ketimun. Sebagaimana mata saya yang berbinar-binar ceria ketika bisa makan seenak jidatnya.</p>
<p>Malam itu, ketika semua orang pulang dan hanya tinggal teman-teman yang sehari-hari ada di rumah, saya masuk tidur ke kamar. Sebelum mata tertutup pulas, saya cengar-cengir senang sekali menatap dinding langit-langit yang ditutup cat putih dan lampu kertas murahan.</p>
<p>Ahh kelihatannya saya bahagia. Tidak perlu uang banyak rupanya untuk bahagia.</p>
<p>Nah, besoknya. Pagi. Sekitar jam sepuluh. Saya dikagetkan suara telpon yang membuyarkan mimpi. Ternyata itu suara Ibu-ibu ahli medis spesialis. Kata beliau, &#8220;Mohon maaf ada kesalahan di alat kami. Kamu ternyata tidak apa-apa&#8221;</p>
<p>Saya bengong. Ini jangan-jangan saya masih mimpi. Maka itu saya tanya, &#8220;Maaf yaa, ini benar telpon untuk saya?&#8221;</p>
<p>Suara ibu-ibu itu bilang, &#8220;Ya benar. Kamu bisa datang ke rumah sakit untuk mengeceknya&#8221;</p>
<p>Setelah terdiam cukup lama, lirih saya tanya, &#8220;Jadi&#8230; Jadi saya nggak jadi mati, Bu?&#8221;</p>
<p>Dia diam lama, tapi lalu menjawab, &#8220;Eh, kamu tidak di diagnosa seperti sebelumnya. Soal mati, errr.. Saya tidak bisa jawab. Pada intinya, kamu sehat&#8221;</p>
<p>Saya bengong. Lama. Ya iya lah, benar memang maut mah tidak bisa dikira. Tapi lumayan lah kalau setidaknya saya bisa menikmati musim panas ini sampai tuntas.</p>
<p>Kelihatannya, saya masih bisa main-main terus sama putri tercinta.</p>
<p>Oh ya, satu lagi; Kalau saya nggak jadi mati, saya masih bisa makan enak dong. Kan kalau mati, susah makan.</p>
<p>Namanya orang hidup, pasti banyak maunya. Apalagi dikasih kesempatan untuk hidup lagi. Saya pernah bertanya-tanya, kalau saya mati dan lalu dihidupkan lagi, apa yang akan saya lakukan.</p>
<p>Jawabannya ternyata mudah; saya mau jalan-jalan naik sepeda ke kebun binatang bersama putri saya dan makan ikan bakar bersama teman-teman saya sambil main gitar menyanyi ceria.</p>
<p>Hidup yang sederhana ini ternyata indah rupanya.</p>
<p>Tapi kan itu hidup saya. Hidup Anda? Errr.., <img src='http://bangaip.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3_5_8_9WnMLHSsTZ6GbEQYnLPM8/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3_5_8_9WnMLHSsTZ6GbEQYnLPM8/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3_5_8_9WnMLHSsTZ6GbEQYnLPM8/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/3_5_8_9WnMLHSsTZ6GbEQYnLPM8/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=6tnTTgU4mk8:K8rTWIQWHfQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=6tnTTgU4mk8:K8rTWIQWHfQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=6tnTTgU4mk8:K8rTWIQWHfQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=6tnTTgU4mk8:K8rTWIQWHfQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/6tnTTgU4mk8" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/HRc8S-O7_tU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/6tnTTgU4mk8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/6tnTTgU4mk8/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Apabila Pemerintah RI Yang Tidak Ganteng Itu Memblokir Atau Malah Membunuh Internet: Bagian Pertama (1)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/WCb-DUfyMa4/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/TnQdSm_F-Go/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 16:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bumi_pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[ham]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1529</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya. Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/11/apabila-pemerintah-ri-yang-tidak-ganteng-itu-memblokir-atau-malah-membunuh-internet-bagian-pertama-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya ini pertanyaan yang cukup lama ada di benak saya. Tapi sejak kebangkitan revolusi di beberapa negara di Timur Tengah, pertanyaan ini makin santer saja mengiang di kepala saya.</p>
<p>Saya pikir daripada saya stress sendirian bertanya-tanya. Ada baiknya saya bagi pertanyaan ini kepada publik. Siapa tahu ada yang iseng ikutan jawab. Atau, siapa tahu ada yang ikutan stress. Hehe&#8230;</p>
<p>Begini; daripada susah-susah. Lebih baik semua pertanyaannya saya klasifikasi menjadi beberapa bagian.</p>
<p><strong>Bagian Pertama: Pertanyaan Dasar Komunikasi. &#8220;Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?&#8221;</strong></p>
<p>Komunikasi apa maksudnya?</p>
<p>Tentu saja komunikasi elektronik. Misalnya: telepon, email, radio dan semua yang ada hubungannya dengan jalur eletronik. Tapi mengapa pemerintah menutup jalur komunikasi elektronik?</p>
<p>Bisa saja suatu hari pemerintah &#8216;agak iseng&#8217; (dan mereka memang sudah terkenal keisengannya) lalu mengeluarkan sebuah kondisi darurat bahaya untuk semua manusia RI dan sialnya selain mengeluarkan jam malam dan status operasi militer mereka juga mengeluarkan larangan berkomunikasi para WNI kepada dunia luar (<em>local or worldwide</em>). Apa yang harus kita lakukan?</p>
<p>Menurut? Sambil bertanya-tanya dalam hati: <em>kenapa mbok yaa ndak menurut saja pada pemerintah, kalau sudah dilarang berkomunikasi mengapa masih mau melanggar?</em></p>
<p>Kalau Anda mau begitu, yaa silahkan. Kalau menurut saya, jangan! Jangan menurut kalau hak Anda dicabut.</p>
<p>Jawaban satu pertanyaan di atas sekaligus pertanyaan baru: Perkembangan masa membawa perubahan baru. Yaitu bahwa hak dasar manusia bukan hanya sandang pangan papan saja. Melainkan juga komunikasi. Tahun 1969 Jean D&#8217;Arcy dari Perancis membawa konsep ini dan lalu dilegalisasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir tahun 80-an. Konsepnya sederhana, yaitu bahwa komunikasi berhak dinikmati oleh siapa saja. Maka jika pemerintah, penguasa atau rezim atas nama apapun melarang atau memberangus saluran komunikasi, maka bisa dipastikan bahwa mereka ikut pula menghancurkan hak dasar manusia. Jika sebuah rezim tengah menjalankan politik penghancuran hak dasar warganya, bukankah artinya pemerintahan tersebut sedang lebih dari sekedar &#8216;agak iseng&#8217;?</p>
<p>Jadi jawaban apa yang tepat jika pertanyaannya adalah &#8220;Apa yang harus kita lakukan jika pemerintah RI memblokir atau menutup semua jalur komunikasi?&#8221; yaa gampang: Lawan!</p>
<p><strong>Bagian Kedua: Saluran Dasar Komunikasi Elektronik Dan Efeknya Pada Pemerintahan</strong></p>
<p>Saluran dasar komunikasi elektronik dalam kategori transmisi terbagi menjadi beberapa macam. Umumnya yang dikenal publik luas adalah kabel, nirkabel dan internet. Itupun dibagi-bagi lagi menjadi semakin luas seperti; telepon, email, sms, fax, radio, unduh, live streaming, dan lain sebagainya. Kalau mau spesifik, kita akan mengenal proses signal seperti enkripsi (penyandian), digitalisasi, multipleksi dan lain-lain. Dan masih banyak lagi pembagiannya. Tapi ini kan bukan wacana kuliah yang perlu spesifik. Saya hanya akan menelaah sedikit dalam kekuatan komunikasi elektronik dan pengaruhnya pada pemerintahan atau rezim yang tengah berkuasa.</p>
<p>Ini contoh-contohnya:</p>
<p><strong>Telepon</strong>: Kekuatan penggalangan massa (<em>people power</em>) dalam menuntut pengunduran Presiden Philipine Joseph Estrada tahun 2001 adalah ketika para pemrotes mengirimkan SMS satu sama lain sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Pakai hitam-hitam untuk melayat demokrasi yang telah mati</li>
<li>Siap-siap jika ada kerusuhan</li>
<li>Militer perlu melihat 1 juta manusia yang mau menurunkan Erap besok. Ayo bergabung!</li>
</ol>
<p>Hebatnya, SMS ini sukses besar. Setelah lima hari demonstrasi secara kontinyu oleh warga, Erap (panggilan untuk Joseph Estarada) pun akhirnya turun dari singgasananya.</p>
<p>Ahh dia tidak begitu dicintai warga rupanya.</p>
<p>Sisi lain yang cukup negatif. Selain alat penggalangan massa, telepon (terutama telepon genggam) di beberapa negara juga bisa dipakai sebagai sebagai anjing pengendus penguasa. Seseorang dapat dengan amat mudah diketahui posisinya hingga isi &#8216;daleman&#8217; telepon mereka oleh pihak penyedia telekomunikasi. Setahu saya, saat ini di RI beberapa provider telepon secara diam-diam bahkan diketahui menyuplai data konsumen mereka untuk pemerintah maupun pihak ketiga (misalnya korporasi besar penawar tertinggi) walaupun baru sekedar nama dan nomor. Alasannya beragam, aneh-aneh dan macam-macam mulai dari <em>war on terror</em> hingga kampanye marketing <em>ringtone</em>. Yang pasti semuanya secara pasti telah melanggar wilayah pribadi si pemegang telepon.</p>
<p><strong>Email</strong>: Kekuatan email dibanding pos surat kertas dan amplop umumnya terletak pada sisi kecepatan, reliabilitas dan praktis. Sisi lemahnya, tanpa jaringan elektronik maka kekuatan email memang tidak ada apa-apanya.</p>
<p>Pada Januari 2011, Menteri Komunikasi Mesir Tareq Qamal menutup jaringan internet. Sebagai langkah pencegahan munculnya gerakan penentang pemerintah Presiden Mubarrak. Yang menarik, bahkan ketika para penentang Mubarrak bisa memperoleh jaringan internet melalui dial-up modem (yaitu modem jaman dulu yang masih memakai saluran telepon kabel sebagai penghubung dan kata Sahroni teman saya, &#8220;bunyinya kayak burung merpati disembelih&#8221;) ternyata mereka tidak bisa mengakses <em>web based email service</em> seperti GMail, YahooMail, Hotmail dan lainnya. Ternyata, pemerintah Mesir memblok semua website-website email dan layanan mereka.</p>
<p>Internet mati yaa email juga ikut mati.</p>
<p>Sebelum internet dibunuh pada musim dingin Kairo, setahun sebelumnya, lebih tepatnya Juni 2010, senator Amerika Serikat Joe Lieberman (yang sialnya juga ketua Homeland Security) mengusulkan undang-undang tombol merah untuk internet. <em>You know</em>, semacam tombol yang kalau Presiden Obama (atau penerusnya) pencet maka internet seluruh US akan modar seketika. Yang berarti, layanan macam Twitter, Facebook, Google, iCloud dan bla-bla-bla lainnya yang berbasis di US dan saat ini kita pikir ada di genggaman (ponsel) kita, juga akan mampus seketika tombol itu dipencet.</p>
<p><strong>Sosial Media</strong>: Kalau tidak salah, semua layanan sosial media memang berbasis internet. Logika sederhananya; kalau internet mati, yaa sosial media juga mati. Di Korea Selatan dan RRC sudah ada sosial media yang berbasis web intranet (*ini mah basi, pabrik aye juga punya bang*) dan/atau <em>mobile</em> berbasis AR (<em>augmented reality,</em> canggih banget nih <em>service</em>. Sayang masih rahasia pengembangan). Jadi jika internet almarhum, para aktifis sosial media masih bisa berbagi info melalui jaringan telepon.</p>
<p>Banyak bukti yang sudah jelas menunjukkan bahwa Facebook atau Twitter memang bukan pemicu atau sponsor utama pergerakan di dunia Arab (Arab Spring 2011). Jadi, sebenarnya ada tidaknya sosial media di Libya, rakyat sana memang sudah sebal dengan (alm) bos mereka yang bernama Muammar Muhammad Abu Minyar Gaddafi aka Muammar Qaddafi. Revolusi itu tidak bisa hanya berdiri diatas sosial media di dunia maya, ia juga harus didukung oleh pergerakan sosial (atau biasanya malah, massal) di dunia offline. Bukti sudah jelas menunjukkan bahwa untuk menumbangkan Qaddafi memang butuh amunisi, bukan hanya kelincahan jempol mengetik di atas layar sentuh telepon genggam.</p>
<p>Tapi, juga tidak bisa dimungkiri, bahwa kekuatan sosial media internet mempengaruhi jalannya pergerakan sosial fisik yang tengah terjadi.</p>
<p>Suatu malam setelah lelah bertempur seharian, seorang pemuda pejuang dari al-majlis al-wattanī al-intiqālī (NTC, pemerintah transisi pengguling rezim Qaddafi) ditanya oleh stasiun televisi Al-Jazeera, &#8220;Apa yang kamu lakukan pada malam begini?&#8221;</p>
<p>Ia menjawab santai, &#8220;Update status fesbuk, liat share komik lucu dari twitter dan baca-baca wikipedia&#8221;.</p>
<p>Sampai sini, dari jawaban si pemuda itu sebenarnya kita sudah bisa menyimpulkan sejauh mana sosial media berperan dalam penggulingan Qaddafi.</p>
<p><strong>Ngomong itu gampang: Lawan! Tapi bagaimana melawannya?!</strong></p>
<p>Di Indonesia, internet belum jadi hak asasi WNI untuk bebas dinikmati. Percaya atau tidak, dalam sebuah dokumen undang-undang RI yang berisi usulan anti terorisme, pemerintah berhak mengintervensi atau bahkan mencabut internet. Bahkan jika itu bukan soal terorisme, malah hanya ketika &#8216;merongrong keutuhan NKRI&#8217; (yang-entah-apa-maksudnya-oh-betapa-LEMHANAS-bahasanya-RUU-gombal-itu), pemerintah berhak mencabut atau menguasai internet. Di sisi ini, pemerintah negara kita tercinta jauh-jauh lebih inferior ketimbang <a href="http://www.csmonitor.com/CSM-Photo-Galleries/Lists/Top-10-countries-that-say-Internet-access-is-a-basic-right" > Nigeria yang sudah memberikan hak penuh warganya untuk menguasai internet</a>.</p>
<p>Secara simpelnya, jika suatu hari presiden kita saat ini SBY dimaki-maki publik lewat internet karena suaranya sudah tidak aduhai lagi ketika mengamen, dan sialnya, presiden yang terkenal ajaib ini mengamuk lalu mencabut internet&#8230; Ya sudah deh. Menurut UU anti terorisme dan keutuhan NKRI itu, kita semua yang tinggal di RI tinggal gigit jari manyun harus mengikhlaskan wafatnya internet.</p>
<p>Jadi, apa yang harus kami lakukan?</p>
<p>(*Sabar&#8230; Sabar&#8230; panduannya banyak di internet. Bisa diterjemahkan oleh saya secara ugal-ugalan. Tapi karena sore ini saya harus beli bumbu dapur buat masak nanti malam, jadi saya belanja dulu dan tunggu saja tulisan selanjutnya. Hehe*)</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kCXcLxFCXP17TXz0ZEYtfhc_CtY/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kCXcLxFCXP17TXz0ZEYtfhc_CtY/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kCXcLxFCXP17TXz0ZEYtfhc_CtY/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kCXcLxFCXP17TXz0ZEYtfhc_CtY/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=TnQdSm_F-Go:czS5BNqHXws:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=TnQdSm_F-Go:czS5BNqHXws:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=TnQdSm_F-Go:czS5BNqHXws:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=TnQdSm_F-Go:czS5BNqHXws:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/TnQdSm_F-Go" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/WCb-DUfyMa4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/TnQdSm_F-Go/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/TnQdSm_F-Go/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Galau Permanen</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/z30dtoY0xLg/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/17lWGeyyK7s/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 16:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[temennya bangaiptop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1516</guid>
		<description><![CDATA[Saya dapat banyak surat. Isinya hampir sama semua, mempertanyakan mengapa saya sudah sebulan lebih ini tidak membuat tulisan baru. Semuanya bertanya, apa kabar? Saya baru saja bikin lagu baru. Single. Entah bahasa Indonesianya apa, yang pasti artinya bukan bujang. Melainkan &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/11/galau-permanen/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dapat banyak surat. Isinya hampir sama semua, mempertanyakan mengapa saya sudah sebulan lebih ini tidak membuat tulisan baru. Semuanya bertanya, apa kabar?</p>
<p>Saya baru saja bikin lagu baru. Single. Entah bahasa Indonesianya apa, yang pasti artinya bukan bujang. Melainkan hanya satu lagu saja. Judulnya, “apakabar?”. Belum dirilis, masih dalam proses <em>mixing</em>. Isinya yaa soal apakabar itu lah, mau apa lagi coba? Masak sih lagu apakabar isinya apakabur? Kan agak aneh. Tapi itu lagu memang buat konsumsi pribadi, bukan buat publik. Hehe.</p>
<p>Apakabar saya?</p>
<p>Jawabannya: letih. Di luar kesibukan sebagai manusia biasa lainnya seperti makan, main, sekolah, kerja, ngurus anak, menerima tamu, mencoba jadi teman yang baik dan bla-bla-bla lainnya, saya ternyata letih.</p>
<p>Saya punya banyak kabar. Saking banyaknya sampai bingung mau cerita yang mana.</p>
<p>Karena bingung, lebih baik saya cerita yang lain saja. Bukan soal kabar saya. Tapi kabar teman saya.</p>
<p>Begini ceritanya:</p>
<p>Suatu malam saya ditanya seorang teman, si Yunus. Ia bertanya, “Bang, kalo dokter bilang umur lo tinggal dua tahun lagi, lo jawab apaan?”</p>
<p>Saya membelalakkan mata. “Gila dua taon! Lama tuh! Gua mah bakalan senang-senang aja”</p>
<p>Yunus bengong, “Yang bener dong Bang, gua serius nih?”</p>
<p>“Yaelah masa gua becanda sih? Dua tahun itu cukup tau buat senang-senang?”</p>
<p>Dia terdiam. Lama. Sambil manggut-manggut dan melihat langit. Dan akhirnya setelah diam cukup lama, ia buka suara lagi, “Senang-senang maksud lu gimana bang?”</p>
<p>“Yaa senang-senang lah. Makan nasi padang, maen sepeda ama anak gua, cengar-cengir tiap malem ama temen-temen gua, bikin teka-teki silang buat warisan, ama nerusin hobi gua ngeriset arsitektur penyebaran kota”</p>
<p>“Nasi padang? Kenapa nasi padang?”</p>
<p>“Lah lu ga tau nasi padang itu enak? Wah kasian banget idup lu!”</p>
<p>Dia ketawa terbahak-bahak. “Yaah gua bisa ngerti bang, maen sepeda ama anak itu nyenengin. Tapi buset dah, masa sih ninggalin warisan teka-teki silang?”</p>
<p>“Yaelah, gua pan betawi mungkar. Dimana-mana orang betawi punya tanah, gua mah boro-boro. Udah tanah kaga punya. Rumah juga ngontrak. Duit ada palingan cukup buat idup aja. Mao ninggalin apa gua buat warisan? Yaa teka-teki silang aja dah&#8230; Masih untung gua ninggalin TTS. Coba kalo gua ninggalin utang ama polusi. Pan sial banget tuh anak cucu gua nanti”</p>
<p>Dia cengar-cengir. “Tapi bang, ngapain juga ngeriset trus nerusin penelitian. Lu kan udah sebentar lagi mao mampus. Kok masih mikirin penelitian?”</p>
<p>Saya mendelik, “Yee kampret lu ah. Siapa nyang bilang gua mao modar? Lagian riset itu pan hobi. Mao ada beasiswa apa kaga kek, mao dunia tebelah tujuh kek, mao riset gua diketawain orang kek, bodo amat. Itu pan hobi gua. Urusan amat ama nyang laen? Emang gua pikirin&#8230;”</p>
<p>Dia masih saja cengar-cengir. “Bang, lu mah aneh yaah?”</p>
<p>Saya garuk-garuk kepala menjawabnya, “Kok gua yang aneh, ada juga lo yang aneh. Kaga ada ujag-ujug trus nanyain gua kalo idup gua tinggal dua taon lagi. Emang lo mao mati dua taon lagi, Nus?”</p>
<p>“Nggak Bang, kemaren lusa katanya dokter si Imron abang saya kena kanker. Umurnya nggak lama lagi. Palingan juga sekitaran dua tahun lagi gitu deh”</p>
<p>“Wah sori yaa, Nus. Tapi serius gua tadi kaga becanda. Besok kita bikinin nasi padang yuuk. Kita kirimin ke Imron”</p>
<p>“Gimana bikinnya bang?”</p>
<p>“Resepnya pan banyak di internet”</p>
<p>“Trus yang bikin siapa?”</p>
<p>Lagi-lagi saya mendelik, “Yaa kita bedua lah. Masa gua sendirian. Kampret luh!”. Dan Yunus tertawa terbahak-bahak mendengarnya.</p>
<p>Besoknya sepulang mengantar nasi padang dari rumah Imron, saya dan Yunus naik sepeda berdua. Selepas taman rumput menjelang rumah, saya bilang sama Yunus, “Nus, tadi gua dapet SMS. Temen gua udah capek ama idup ini. Letih katanya. Mao mati aja”</p>
<p>Yunus menengok dari sepedanya ke arah saya, “Trus lo bilang apa bang?”</p>
<p>“Yaa gua nggak bilang apa-apa”</p>
<p>“Masa sih bang lo nggak bilang jangan?”</p>
<p>“Nggak tuh&#8230; Gua kepengen tau dulu aja dia kepengen mati kenapa? Kalo dia masih berguna buat orang laen, yaa jangan. Tapi kalo emang gara-gara dia idup nyusahin semua makhluk di muka bumi, yaa lebih mati aja kali yaah”</p>
<p>“Waah lu sadis banget bang?”</p>
<p>“Yee.. jangan salah men. Lu tau ga, kalo Jos Bus sebelom ngebom negara-negara laen nelpon gua dulu trus dia bilang dia galau permanen trus abis itu bilang mao bunuh diri, yaa gua dukung. Gua pasti bakalan bilang, Jos, yaa udah lu mati aja deh daripada lu idup malah nyusahin banyak orang”</p>
<p>“Waah lu parah banget bang. Trus kalo dia nggak mao mati gimana?”</p>
<p>“Gua bilang, Jos, mendingan lu jadi budak gua aja dah. Bersiin wese, mandiin sepeda gua dan laen-laen. Kan bagus itu, masih bisa produktif. Nah kabar baiknya, kalo jadi budak gua, ntar gua kasih makan nasi padang”</p>
<p>“Tai luh, Bang. Maksud gua temen lu, bukannya Jos Bus”</p>
<p>Saya bengong sementara dan sambil mengayuh sepeda saya jawab,  “Yaa kalo dia nggak mao mati, ngapain juga bunuh diri?”</p>
<p>“Gua bingung bang, Si Imron mati-matian minum obat tiap hari banyak banget. Idupnya juga nggak keren-keren amat sih. Dia kan cuma satpam. Dia utang kiri-kanan biar bisa nebus obat. Emak gua sampe jual mas kawin buat nalangin beli obatnya. Istrinya susah ampe dengkul tiap hari dagang di pasar, biar bisa nyambungin nyawa suaminya. Dunia ini aneh yaa bang, ada yang kepengen mati dan ada juga yang kepengen idup. Kok nggak bisa nerima aja ikhlas sambil terus ngejalanin apa yang emang harus dijalanin?”</p>
<p>Wah kali ini saya shock. Tumben-tumbenan Yunus pikirannya sedalam ini. Dia ini kan tipikal temen saya yang pokoknya apapun yang terjadi, cengar-cengir saja lah. Jangan-jangan gara-gara lewat taman yang banyak pohon besarnya dia kemasukan jin rumput.</p>
<p>“Nus, mana gua tau jawabnya! Gila luh, kok jadi sok bijak kayak gitu?”</p>
<p>Yunus diam tidak menjawab apa-apa. Sementara, rumah kontrakan saya semakin dekat saja.</p>
<p>Dan kali ini. Hari ini. Di hati ini. Ketika banyak yang bertanya saya apakabarnya dan ingin sekali menjawab dengan mengeluh dan bilang betapa letihnya hidup. Saya pikir saya harus menahan diri sambil mengingat omongan Yunus.</p>
<p>Jalani saja apa yang harus dijalani.</p>
<p>Dan jika semua jalan harus ada konsekuensinya, yaa jalani saja. Pakai sepatu saya sendiri, tidak perlu pakai alas kaki orang lain. Ini sepatu memang buruk, rombeng, bau, kadang bikin lecet dan jamuran, tapi toh ini kaki saya sendiri. Dan ia akan menemani saya menjalani apa yang harus dijalani.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NUa-x_SNKKj8wIfYZCUIZhXIgNM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NUa-x_SNKKj8wIfYZCUIZhXIgNM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NUa-x_SNKKj8wIfYZCUIZhXIgNM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/NUa-x_SNKKj8wIfYZCUIZhXIgNM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=17lWGeyyK7s:55iTL6onjgU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=17lWGeyyK7s:55iTL6onjgU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=17lWGeyyK7s:55iTL6onjgU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=17lWGeyyK7s:55iTL6onjgU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/17lWGeyyK7s" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/z30dtoY0xLg" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/17lWGeyyK7s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/17lWGeyyK7s/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bon Voyage, Hajj</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/qP3EmTK9Mk0/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L1g3OVYXfZA/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 01:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[di jalan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1503</guid>
		<description><![CDATA[Anehnya, sore itu tidak cukup panas sebagaimana sore-sore hari di Cilincing. Saya dan adik, Gugun, duduk berdua di serambi rumah Ibu sambil merokok kretek bersama. Gugun menuang anggur putih dingin ke gelasnya, “Lu mao?” Saya menggeleng, “Kagak ahh. Lu gila &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/10/bon-vovage-hajj/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1506" class="wp-caption alignleft" style="width: 810px"><img class="size-full wp-image-1506" title="occupy_edinburgh" src="http://bangaip.org/wp-content/uploads/2011/10/occupy_edinburgh.jpg" alt="occupy edinburgh" width="800" height="436" /><p class="wp-caption-text">occupy edinburgh october 2011</p></div>
<p>Anehnya, sore itu tidak cukup panas sebagaimana sore-sore hari di Cilincing. Saya dan adik, Gugun, duduk berdua di serambi rumah Ibu sambil merokok kretek bersama. Gugun menuang anggur putih dingin ke gelasnya, “Lu mao?”</p>
<p>Saya menggeleng, “Kagak ahh. Lu gila kali. Sore-sore gini udah nge-wine”</p>
<p>Dia mendehem, “lo mah enak, di deket rumah lu wine murah. Disini mahal men. Mumpung ada nih. Nggak sering kan lu balik ke Cilincing bawa wine”</p>
<p>Minuman wine yang sedang ditenggak Gugun itu dari anggur berjenis Riesling. Wine putih agak manis produksi Jerman. Aslinya dari daerah yang bernama Rhine. Riesling ini termasuk kategori anggur putih yang cukup punya rasa khas seperti Chardonnay atau Sauvignon Blanc. Varietas Riesling amat ditentukan dari tanah tempat ia ditanam. Jadi, tidak semua Riesling yang tumbuh di tepi sungai Rhine berasa sama (akibat panjang sungainya 1233 Kilometer melewati beberapa jenis lokasi geografis). Tapi entah kenapa, Gugun suka sekali wine tersebut. Setiap saya pulang ke Cilincing pasti saya bawa sebotol untuk oleh-olehnya. Dia kadang agak gila. Wine itu dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik kecil, dibekukan di dalam lemari pendingin, lalu setelah beku, plastik dibuka lalu disedot-sedot bagaikan makan es krim. Sore itu dia masih cukup ‘berbudaya’. Wine itu masih di dalam botol dan diminum selayaknya manusia meminum cairan dari gelas.</p>
<p>Kami berdua sedang sedih. Baru dapat kabar terbaru bahwa ada lagi WNI yang diperlakukan buruk di sebuah negara di timur tengah. Gugun protes, “Lu tau ga men? Banyak orang ngomong TKW kita itu penyumbang devisa. Tapi coba lu pikir, emang orang-orang kita juga bukan penyumbang devisa terbesar buat Saudi? Tiap tahun&#8230; Bayangin tiap tahun, ribuan manusia kita diimpor ke sono buat naek haji dan ngabisin rupiah?”</p>
<p>Saya cengar-cengir. “Rupiah? Bukannya pake dollar amerika buat naek haji?”</p>
<p>“Yaa tetep aja kurs awalnya kan rupiah dulu. Abis itu baru diganti ke dollar. Lu gimana sih men? Ironis kan, ngomongnya benci Amrika kapitalis dan zionis. Tapi tetep aja pake dollar dalam transaksi?”</p>
<p>Saya tertawa terbahak-bahak, “Ad hominem lu ahh&#8230; Jaka sembung bawa gitar listrik. Nggak nyambung, jreengg&#8230;.”</p>
<p>Tapi rupanya dia serius. “Coba lu bayangin, tiap tahun pemerintah kita kedodoran buat handle dollar buat jamaah haji WNI. Tiap tahun pemerintah kita mati-matian cari muka ama Saudi. Sampe pake bikin nama pahlawan penyumbang devisa segala buat TKI. Kok yaa warga kita diperlakukan kayak taik kucing di sono. Ngehe banget ga sih?”</p>
<p>Sambil garuk-garuk kepala saya tanya balik, “Lah terus solusi lu apa men?”</p>
<p>Dia menjawab tegas setelah menenggak wine terakhir di gelasnya, “Pindahin kabah ke Cilincing”</p>
<p>Kali ini saya tertawa <em>ngakak</em> habis-habisan.</p>
<p>Ibu keluar. Mendengar kami berdua ribut sekali. Kelihatannya beliau baru selesai solat ashar. Masih pakai mukena, terus mengomel ke Gugun. “Kamu ini ngapain sih sore-sore minum anggur?”</p>
<p>Gugun menjawab polos, “Yang ngasih pan dia, Bu. Omelin aja dia tuh”</p>
<p>Saya bersungut, “Kampret luh. Gua lagi.. Gua lagi”</p>
<p>Gugun sukses. Mata Ibu beralih perhatian ke saya. “Kamu ini gimana sih? Udah bangon siang. Solat kagak. Ngaji kagak. Mandi kagak. Makan sembarangan. Gimana kamu mao ngedoain bapak?”</p>
<p>Seperti biasa, saya punya sejuta lebih trik menghindar. “Bu kagak ada hubungannya semua itu. Doain bapak pan aya bisa dimana aja. Sambil naek angkot juga bisa ngedoain bapak. Nyang namanye owloh, Bu, pan kagak budeg. Owloh itu, Bu. Maha mendengar! Nih biar kata si Gugun minum wine, tapi kalo hatinya deket ama owloh mah, owloh juga bakal dengerin dia. Jangankan si Gugun, Bu. Ibu pan tau Jalaludin Rumi. Sufi tuh orang, Bu. Die aje bilang, ‘jika ku mati nanti, pabila datang ke makamku bergembiralah bahkan dengan anggur yang terbaik‘. Nah kalo orang suci itu aja ngomong begitu, apalagi aye, Bu”</p>
<p>Alis mata Ibu mengerenyit, “Cerewet kamu! Udah sono makan, mandi, ganti baju trus solat asar! Buset dah, susah amat dengerin kata orang tua? Doain Ibu biar taon depan bisa naek haji”</p>
<p>Saya dan Gugun bengong sesaat. Lalu saya buka suara, “Ibu serius mao naek haji?”</p>
<p>“Ya iyalah. naek haji. Ke Mekah. Ke sono. Naek kapal terbang”</p>
<p>Gugun menyahut malas, “Yaa naek kapal lah, Bu. Masak sih mao berenang? Ampe Arab bisa gempor kali”</p>
<p>Ibu cuek mendengarnya</p>
<p>Saya masih penasaran, “Bu, naek haji pan mahal. Duit dari mana?”</p>
<p>“Ada tabungan dari sekolahan. Gaji Ibu dipotong tiap bulan buat naek haji”</p>
<p>Saya cengar-cengir, “Bu, kalo tetangga kita masih lapar, emang hajinya mabrur?”</p>
<p>Ibu saya santai saja menjawab, “Lah kalo presiden kita tau warganya masih banyak yang laper, seumur idup kagak bakalan kali dia nginjekin kaki di Mekah. Kalo dia aja cuek naek haji, nyuekin warganya yang udah jelas-jelas kelaperan. Masak sih Ibu kagak?”</p>
<p>Saya ketawa terkekeh-kekeh. Ibu ini orang Cilincing. Dan sebagaimana orang Cilincing lainnya, yaa pragmatis. Haha&#8230;</p>
<p>Gugun matanya menatap kebun. Ia tidak puas dengan jawaban Ibu. Buatnya, haji itu bukan sesuatu yang luar biasa jika pemeluk agama teguh menjalankan salah satu rukun imannya, menyepelekan kehidupan sosial yang ada di depan mata.</p>
<p>Oke, itu cerita sebuah sore di Cilincing. Singkat saja, saya mau ceritakan bahwa pada akhirnya Ibu gagal naik haji di tahun berikutnya. Gugun, masih tetap tidak mampu beli wine dan menolak alkohol (akibat mahal). Saya? Ahh, saya jelas masih sama. Masih tak beraturan makan dan mandi, masih tidak pernah solat ashar dan masih keras kepala mendengar nasihat orang tua. Hahaha&#8230;</p>
<p>Setelah sekian lama, cerita ini akhirnya pun terlupakan.</p>
<p>Namun muncul lagi beberapa bulan lalu. Ketika seorang sahabat bernama Yayak datang ke kampung tempat saya tinggal. Di sebuah sore di dapur Mbok Dini (yang kebetulan rumahnya hanya sekitar 15 menit jalan kaki dari rumah kontrakan saya), Yayak bertanya kabar Ibu di Cilincing.</p>
<p>Saya jawab, “Ibuku mau naik haji tahun ini, Yak. setelah sekian lama, kayaknya tabungannya cukup. Ibu pergi tahun ini, Yak”</p>
<p>Sambil melinting rokok ia bertanya, “Lu nggak ikut?”</p>
<p>“Waduh, gua sibuk banget Yak., Ibu gua minta gua pulang ke Cilincing. Gua nggak bisa berangkat. Susah nggak bisa ninggalin anak dan kerjaan yang numpuk”</p>
<p>Yayak membelalakkan matanya dan tiba-tiba punya ide ajaib, “Lu nggak usah pulang. Ngapain lo pulang ke Cilincing? Lu langsung aja ke Mekkah. Lu gendong tuh emak lo sampe rumah Tuhan. Gua tau lo udah nggak percaya siapa-siapa. Itu mah ga penting. Yang penting, lo bikin emak lo seneng. Lo pijitin kaki dia kalo pulang acara haji tiap sore. Lo gendong emak lo kalo capek. Nih denger gua, Rip. Lo percaya apa nggak, itu nggak penting! Yang penting, lo bahagian itu Ibumu&#8230;”</p>
<p>Saya bengong. Edan, kok yaa tiba-tiba saya percaya kalau omongan Yayak benar adanya. Tiba-tiba, semuanya jadi logis di mata saya. Tentang agama dan ritual yang pudar di mata bahkan sejak saya lepas bangku SMA, kini tiba-tiba jadi logis dan benar-benar terang.</p>
<p>Mungkin saya memang sudah kehilangan agama. Sudah kehilangan kepercayaan. Sudah kehilangan ‘pegangan’ bahwa hidup ini melulu untuk surgawi. Tapi, saya masih punya Ibu. Dan saya amat mencintai beliau sepenuh hati. Dan mengakui, bahkan jika ada lautan api yang secara literal akan saya terjuni demi cinta, maka hanya akan saya lakukan atas nama putri dan Ibu saya.</p>
<p>Hanya demi cinta dua wanita itu, bahkan langit pun akan saya tantang untuk membuktikannya.</p>
<p>Yayak benar. Saya mungkin sudah tidak punya agama lagi. Tapi saya masih punya Ibu, dan demi beliau, saya akan melakukan apa yang bahkan mungkin tidak pernah terlintas di otak saya.</p>
<p>Iya, saya akan berangkat haji.</p>
<p>Gila, tidak pernah terlintas di otak, saya kan melakukan tindakan segila dan senekat ini. Tapi saya akan naik haji. Hanya untuk menjaga, menggendong dan memijit kaki Ibu ketika beliau letih. Sumpah, sama sekali saya tidak peduli bahwa saya akan berembel-embel haji, atau malah jadi masalah buat Saudi. Itu sama sekali tidak penting. Saya hanya akan menjaga dan bersama Ibunda tercinta.</p>
<p><em>That’s all.</em></p>
<p>Lalu saya pun mulai riset. Belajar bahasa Arab. Cari teman yang sudah naik haji dan bertanya pengalaman mereka dan cari yang informasi. Dan setelah berkali-kali menghubungi biro perjalanan, hasilnya semua sama. Naik haji itu ternyata tidak murah. Setidaknya, bukan untuk kantong buruh kecil macam saya ini. Saya coba alternatif lain. Saya coba untuk naik haji a&#8217;la <em>backpacker</em>. Cari yang murah meriah.</p>
<p>Namun tetap sama. Saya, secara finansial, benar-benar tidak mampu naik haji.</p>
<p>Iya, di satu titik saya akhirnya sadar dan bicara melalui saluran langsung internasional dengan Ibu, “Maaf Bu, saya tidak bisa pulang ke Cilincing anter Ibu ke bandara dan juga tidak bisa jaga Ibu di Mekkah”.</p>
<p>Ibu mengerti. Anaknya yang nun jauh di belahan dunia sana punya dunia sendiri. Beliau hanya bicara singkat dalam lirih, “Doain aja Ibu selamet yaa&#8230;”</p>
<p>Saya mengangguk dalam percakapan itu. Hati saya masygul. Bahkan setelah menutup telpon, saya masih diam seribu basa.</p>
<p>Putri saya, Novi Kirana datang menghampiri setelah telepon usai. Bocah berusia tiga tahun itu bertanya, “Papa, kamu okay?”</p>
<p>Saya senyum menatapnya, “Nak, papa nggak bisa ketemu Oma Ibu. Oma Ibu mau pergi jauh. Naik pesawat. Menyebrang laut. Papa nggak bisa jaga Oma Ibu”</p>
<p>Dia mengusap rambut saya. Ia bilang, “Tapi kamu selalu bisa jaga aku, Papa. Kamu jangan khawatir, Oma Ibu pasti ada yang jaga&#8230;”</p>
<p>Saya bengong menatapnya. Iya, saya kaget. jelas amat kaget. Saya tidak bisa membandingkan Ibu saya dengan saya. Saya sudah tidak punya tuhan. Tapi Ibu saya masih. Dan saya yakin cinta dan kepercayaan akan Tuhannya lah yang akan menjaga beliau.</p>
<p>Entah kenapa, tiba-tiba semua jelas dan terang. Semua yang dulu abu-abu dan seakan gelap, tiba-tiba jadi jelas.</p>
<p>Malam ini, saya menulis dalam dingin di sebuah titik di Edinburgh. Pada sebuah monument di Saint Andrew Square. Di tengah tenda-tenda para penghuni #occupyEdinburgh. Tadi pagi dapat kabar buruk, seorang wanita aktifis diperkosa ketika mengikuti acara pendudukan di Glasgow. Dan berita itu menyengat hati saya dan membuat saya kecewa. Bahwa aksi damai di Skotlandia masih dicorengi oleh hal-hal yang membuat miris.</p>
<p>Ibu berangkat ke Mekkah sana. Ke negeri yang lebih panas daripada Cilincing. Saya ada semakin jauh ke utara bumi. Semakin tenggelam ke belahan negara-negara dingin. Kami berbeda. Dan akan selalu berbeda. Sebagaimana saya dan kita selalu berbeda dengan siapa saja. Namun entah kenapa, naifnya saya percaya, bahwa cinta dan kepercayaan akan melindungi mereka.</p>
<p>Saya sudah kehilangan banyak kepercayaan di muka bumi ini. Dan semakin jauh saya berjalan, semakin banyak kepercayaan yang semakin hilang. Namun semakin jauh saya berjalan, ternyata saya menemukan hal yang semakin lama semakin terang, bahwa cinta dan kepercayaan akan tetap melindungi manusia dan isi bumi.</p>
<p>Ahh malam ini mungkin makin semakin dingin. Mungkin malah membuat otak saya semakin beku dan menulis hal-hal aneh macam begini.</p>
<p>Tapi persetanlah semua itu. Yang saya tahu hanya satu, yaitu betapa saya amat mencintai orang-orang yang saya cintai.</p>
<p>Dan harapan akan cinta mereka, yang membuat saya masih hidup hingga saat ini.</p>
<p>Dan dalam kepercayaan itu, walaupun dalam letih, membuat langkah semakin jauh menapak&#8230;</p>
<p><em>(*Ibu, sampai jumpa kembali. Suatu saat, kita pasti akan bertemu*)</em></p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Rh70rb0qbjLQMToyOV_GtYsiJHo/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Rh70rb0qbjLQMToyOV_GtYsiJHo/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Rh70rb0qbjLQMToyOV_GtYsiJHo/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Rh70rb0qbjLQMToyOV_GtYsiJHo/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L1g3OVYXfZA:7n7t45_e6SY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L1g3OVYXfZA:7n7t45_e6SY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=L1g3OVYXfZA:7n7t45_e6SY:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L1g3OVYXfZA:7n7t45_e6SY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/L1g3OVYXfZA" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/qP3EmTK9Mk0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L1g3OVYXfZA/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L1g3OVYXfZA/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Ditelan Kelam Malam</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/FvZkPk0noiE/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/nwiJ8Xlsiyo/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 21:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[temennya bangaiptop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1493</guid>
		<description><![CDATA[Kalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, &#8220;Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?&#8221;. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, &#8220;Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?&#8221; Bingung? Iya lah, saya &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/10/ditelan-kelam-malam/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Robinson Crusoe book cover image" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/3d/Robinson_Cruose_1719_1st_edition.jpg" alt="Robinson Crusoe book cover image" width="341" height="294" />Kalau tidak ada orang di rumah, biasanya saya suka kesepian. Dalam hati berpikir, &#8220;Kemana yaa orang-orang? Kok sepi amat?&#8221;. Tapi giliran banyak orang di rumah, saya juga sering bertanya-tanya, &#8220;Kok banyak amat orang-orang? Ini kapan bubarnya?&#8221;</p>
<p>Bingung? Iya lah, saya saja yang menjalaninya kadang suka bingung sendiri.</p>
<p>Malam ini saya sendiri. Hebatnya, kalau saya sedang sendiri begini, tiba-tiba kok yaa keinginan untuk menulis dahsyat sekali. Mungkin dengan menulis, bisa membunuh sepi. Tapi kenapa pula saya hendak membunuh sepi? Bukankah bulan sepenggal di langit cerah sana kelihatannya menemani malam ini? Kenapa pula sepi harus dibunuh, apakah ia sebegitu menakutkannya? Entahlah. Yang penting biarkan saja saya tetap menulis.</p>
<p>Dalam karyanya yang terinspirasi dari perjalanan Ibnu Tufail, Daniel Dafoe menulis The Life and Strange Surprizing Adventures of Robinson Crusoe, sebuah fiksi autobiografi perjalanan seorang pria yang bernama Robinson Crusoe terperangkap di pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Dalam novel fiksi itu, Crusoe menulis catatan hariannya. Selain mendokumentasikan hidup, juga untuk menjaga &#8216;kewarasannya&#8217;.</p>
<p>Saya bukan Robinson Crusoe. Tidak pula terdampar dalam pulau tak berpenghuni selama 28 tahun. Saya hanya kesepian malam ini. Dan menemani diri sendiri dengan kalimat demi kalimat mantra jampi.</p>
<p>Sudah sebulan lebih saya kedatangan tamu. Tidak tanggung-tanggung, di luar tamu tetap yaitu gerombolan teman-teman dan anjingnya, saya kedatangan tamu baru hampir sekitar 30 orang lebih. Setiap hari selalu muncul orang baru, muka baru dan cerita baru. Tapi saya senang. Walaupun juga ternyata saya letih. Selama sebulan ini kedatangan banyak tamu, senang, letih dan rasa lain sebagainya jadi satu campur aduk tak terkira. Lalu saya jadi enggan menulis. Sebab di ujung hari sudah terlalu berat mengangkat tangan untuk menulis.</p>
<p>Malam ini, tidak ada orang. Saya pikir, walaupun masih letih selama sebulan memforsir diri dengan tamu dan kegiatan pekerjaan yang penuh deadline, ini saat yang tepat untuk menulis. Saya memang bukan Tuan Crusoe, tapi saya harus menjaga kewarasan jiwa.</p>
<p>Yaa sudah. Maka itu, ijinkanlah saya bercerita malam ini. Mungkin sebuah cerita drama sederhana buat banyak orang. Tapi tidak buat saya. Dan daripada saya jadi gila, lebih baik dituliskan sajalah di dunia maya.</p>
<p>Cerita ini dimulai ketika saya kedatangan tamu. Tamu yang datang ke rumah saya silih berganti. Kadang menginap selama dua hari atau lebih. Semuanya menarik. Semuanya ajaib. Semuanya punya khas masing-masing. Namun diantara mereka semua itu, ada sepasang anak muda berusia 22 tahun yang berasal dari Swedia. Yang laki-laki bernama Eric dan yang wanita, pacarnya, bernama Rara. Diantara semua tamu saya, mereka inilah yang paling luar biasa.</p>
<p>Saya kenal Rara lebih dahulu, dari sebuah website dimana para pejalan di muka bumi berbagi keramah-tamahan ketika saling berkunjung. Suatu hari ia mengirim email bertanya apakah ia dan pacarnya boleh bertamu ke rumah saya. Yang serta merta saya jawab saja tanpa banyak cing-cong dengan &#8216;Iya&#8217;. Sebelum ke rumah saya, belum pernah sekalipun saya mampir ke rumah Rara, apalagi ke rumah Eric. Tapi tidak apalah, toh bukankah dalam menjalin pertemanan harus ada yang memulai duluan?</p>
<p>Suatu malam, ketika Eric sudah tidur. Teman-teman saya sudah tidur. Bahkan seekor anjing yang kebetulan bertamu di balkon saya pun sudah tidur. Saya duduk di dapur. Sambil senyum-senyum menatap foto putri saya, Novi Kirana. Malam itu, sebagaimana malam lainnya, saya rindu sekali kepada bocah perempuan berusia tiga tahun itu. Rara datang, mengambil kursi duduk di depan saya sambil berkata, &#8220;Cantik sekali putri kamu&#8221;</p>
<p>Saya jawab dengan senyum mengangguk, &#8220;Terimakasih&#8221;</p>
<p>Ia batuk-batuk sebentar. Katanya, sudah seminggu ini radang tenggorokan. Kurang nyaman. Saya berdiri sebentar, mengambil jeruk sitrun di kulkas, menyeduhnya dengan air panas dan lalu mencampur dengan madu dalam sebuah gelas berukuran sedang. &#8220;Silahkan diminum Rara. Kami orang Cilincing percaya bahwa sitrun mampu meredakan sedikit batuk. Semoga kamu bisa tidur nyaman malam ini&#8221;</p>
<p>Dia menatap saya heran, &#8220;Kamu baik sekali?&#8221;</p>
<p>Saya terkejut sambil tertawa, &#8220;Baik? Aneh, saya tidak punya maksud apa-apa selain berpikir jika suatu hari anak saya seusia kamu dan ia bepergian ke negeri jauh dan lalu batuk-batuk, ada orang yang memberinya sitrun hangat&#8221;</p>
<p>Ia menatap saya lekat, &#8220;Kamu bapak yang baik&#8230;&#8221;</p>
<p>Kali ini saya merasa agak kurang nyaman. Entah kenapa saya tidak begitu suka dinilai oleh orang lain cara ketika saya melakukan interaksi antara bapak dengan anak. Baik atau buruk, yang saya tahu saya memberikan semua kasih sayang saya sebagai bapak kepada putri semata wayang. Sebut saya egois. Sebut saya narsistis. Atau bahkan gila sekalipun. Tapi saya tidak peduli sebab saya merasa tidak ada orang lain yang perlu memberitahu betapa cintanya saya kepada putri saya.</p>
<p>Jadi saya jawab dengan agak enggan, &#8220;Baik? Perspektif siapa? Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang ayah&#8221;</p>
<p>&#8220;Buat saya kamu baik. Kamu beda dengan ayah saya&#8221;</p>
<p>Alis saya mengerenyit, &#8220;Bukankah semua ayah itu baik?&#8221;</p>
<p>Ia tersenyum getir ketika menjawab, &#8220;Ayah menyuruh saya les piano sejak saya berusia enam tahun. Ia selalu berharap anaknya adalah seorang jenius musik. Tapi saya bukan. Saya fals. Ketika saya umur delapan tahun lalu menekan tuts yang salah, dan ia benci mendengarnya, ia mengajak saya keluar rumah. Di halaman depan, ia mengambil Vidi, kelinci saya. Menyembelihnya di hadapan mata saya. Esok hari ketika saya menekan tuts yang salah lagi, ia mengambil Momo, kelinci peliharaan saya satu-satunya yang tersisa. Tangan kiri memegang kedua kuping Momo dan tangan kanan menyembelihnya. Di depan mata saya. Pesannya sederhana, jangan main tuts salah lagi&#8221;</p>
<p>Saya berhenti mengunyah permen karet. Menatapnya kaget dan tidak bisa bicara apa-apa. Ketika akhirnya kami diam selama beberapa menit, saya beranikan diri buka suara, &#8220;Tidak pernah terpikir di otak saya ada manusia&#8230; Apalagi seorang ayah, melakukan begitu kepada anaknya&#8230;&#8221;</p>
<p>Rara menunduk, membetulkan syal di lehernya. Kedua tangannya memegang bibir meja makan. &#8220;Bukan cuma itu. Waktu umur saya tiga belas tahun, ia pulang mabuk di akhir minggu. Sebagaimana hari-hari lainnya, ia suka pukul mama dan adik-adik saya. Malam itu ia mabuk sekali. Lalu datang ke kamar saya. Ia melakukan hal buruk sekali kepada saya&#8221;</p>
<p>Seluruh bulu kuduk di tangan saya merinding. Sedih, kecewa sekaligus marah jadi satu.</p>
<p>Rara sudah tersengguk-sengguk ketika meneruskan ceritanya. Setelah ia menyeruput sitrun hangat dari gelasnya. Emosinya mereda. Ia menjadi tenang kembali.</p>
<p>Tapi saya tidak. Entah kenapa, saya gelisah sekali. Sulit buat otak saya membayangkan seorang laki-laki yang menjadi pemabuk di akhir pekan lalu memukuli keluarganya hingga bahkan memerkosa anak perempuannya selama setahun lebih dan ketika anaknya depresi malah mengirim si anak ke rumah sakit jiwa. Dan semua itu, dilakukan oleh laki-laki yang berpendidikan cukup tinggi hingga mampu menjadi seorang dokter bedah. Astaga!</p>
<p>&#8220;Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri. Apa saya yang berpakaian buruk dan membuat ayah terangsang? Atau saya berperilaku tidak baik yang membuat ayah jadi memerkosa saya? Saya selalu menyalahkan diri saya sendiri sejak pertama kali ayah memerkosa saya&#8221;</p>
<p>Saya raih tangannya. Menggenggam erat sambil berkata, &#8220;Rara, kamu tidak salah. Yang salah bajingan itu. Tidak semestinya ia masih hidup. Rara, kamu jangan khawatir. Dia tidak akan bisa mengganggu kamu lagi&#8221;</p>
<p>Matanya berlinang air dengan deras, &#8220;Dua minggu lalu, saya baru saja lulus ujian. Setelah susah payah akhirnya saya bisa menyelesaikan sekolah, saya lulus juga. Ia datang, menyelamati. Saya kira saya sudah bisa berdamai dengannya ketika akhirnya mama menceraikannya. Tapi di malam kelulusan itu, ketika ada pesta, ia coba untuk memperkosa saya lagi. Kali ini, saya sudah kuat. Saya dorong dia dan saya lari. Sejak dua minggu lalu, saya pergi dari rumah. Saya tinggalkan semuanya. Saya tinggalkan rumah. Saya tinggalkan pekerjaan. Saya tinggal semuanya! Saya benci Swedia!&#8221;</p>
<p>Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya bisa memeluknya. Membiarkannya ia menangis di bahu saya. Membiarkan kaus saya basah terkena airmatanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa memberikannya perhatian melalui sepasang telinga untuk mendengar cerita-cerita perjalanan hidupnya.</p>
<p>Ketika akhirnya ia bisa tenang, saya tanya, &#8220;Eric tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya baru pacaran dengan Eric sejak enam bulan lalu. Kamu orang pertama selain mama dan Nina kakak saya, yang tahu kejadian ini&#8221;</p>
<p>Saya genggam kedua tangannya, &#8220;Rara, terimakasih. Saya tahu ini cerita yang sungguh luar biasa buat saya dan sangat sedih untuk kamu. Tapi saya merasa tersanjung kamu percaya pada saya&#8221;</p>
<p>Ia senyum, walaupun sambil tetap menyeka air mata, &#8220;Iya, saya belum pernah cerita ini kepada orang lain. Hubungan saya buruk dengan laki-laki yang mau memacari saya. Entah kenapa saya bisa cerita pada kamu?&#8221;</p>
<p>Saya senyum menjawabnya, &#8220;Walaupun rambut saya jelek, tapi gini-gini saya seorang lelaki yang memiliki putri. Dan saya bukan ancaman buat kamu. Sebab kamu tahu saya cinta sekali dengan putri saya&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya selalu kecewa, mengapa hidup ini tidak adil? Kenapa saya tidak bisa dapat ayah yang normal sebagaimana ayah teman-teman saya lainnya?&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi saya tidak bisa jawab. Apa yang bisa saya jawab? Kalau bapaknya sakit dan berbahaya? Itu sih sudah jelas. Yang lebih tidak bisa saya jawab adalah, bagaimana masyarakat bisa membiarkan kejahatan terhadap anak-anak dan perempuan hanya karena dominasi kultur pria?</p>
<p>Ketika pria tergoda, apa mereka bisa berbuat apa saja? Merenggut kehormatan bahkan hingga secara brutal paksa, apa apologinya?</p>
<p>Rara pergi dua hari kemudian setelah malam itu. Bersama Eric. Kata mereka, tujuannya adalah selatan. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada pasangan muda yang sudah beranggapan bahwa dunia sudah sedemikian tidak adilnya selain selimut dan kasur angin. Hari sudah sedemikian dingin, musim gugur hampir tiba. Mereka tidak punya banyak uang. Mungkin hanya bisa menumpang pada supir truk mengharap belas kasih tranportasi atau malah menginap di taman kota.</p>
<p>Saya kira, drama asal Swedia usai sudah.</p>
<p>Tapi ahh&#8230; Tentu saja selalu ada tapi. Dan sebagaimana cerita-cerita hidup lainnya, saya jelas salah.</p>
<p>Hari selanjutnya, Mamanya, Dora dan Nina, datang ke rumah saya. Setelah menjebol akun email Rara (dibantu oleh kepolisian lokal), mereka menemukan bukti bahwa Rara dan Eric menginap di rumah saya. (*Entah kenapa, tiba-tiba nama saya jadi sedemikian terkenalnya di sebuah kota kecil di sudut Swedia sana*)</p>
<p>Jelas saya kaget ketika suatu hari satu orang ibu-ibu dan dua orang anak perempuannya berkendara selama 17 jam non-stop memencet bel rumah. Wajah mereka letih dan pucat ketika saya buka pintu pertama kali melihatnya. Mereka khawatir nasib Rara.</p>
<p>Saya ajak mereka makan malam. Sebab saat itu sudah jamnya. Mereka pasti lapar. Lalu setelah itu ke bar yang pernah dikunjungi Rara dan Eric, mencari kedua sejoli itu. Mamanya Rara terlihat paling stress. Ia sedih sekali. Ini pertama kali ia kehilangan kontak dengan anaknya. Saya tidak bisa bilang apa-apa selain bilang bahwa saya juga orang-tua dan amat mengerti perasaannya.</p>
<p>Malam itu di bar, saya traktir mereka bir. Ada gitar. Saya ambil dan mainkan lagu-lagu raggae dan dangdut ala Cilincing untuk menghibur mereka. Walaupun jelas bukan hanya mereka yang terhibur, tapi ternyata juga tamu-tamu lainnya. Sepasang gadis Spanyol yang duduk di sudut tergoda dan akhirnya ikut bermain gitar menyanyikan balada gembira Flamenco.</p>
<p>Malam itu, sebelum pergi, Mamanya Rara memeluk saya. Beliau bilang, &#8220;Kami tidak mampu menemukan Rara, tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa senyum lagi setelah dua minggu letih tak terkira&#8221;</p>
<p>Saya pulang ke rumah dini hari. Jalan kaki. Setelah sampai rumah, rencananya mau mandi. Lalu tidur karena besoknya harus presentasi.</p>
<p>Di tengah jalan dapat SMS dari teman. Katanya ia dalam kesusahan dan butuh bantuan. Sudah cari kiri kanan namun belum juga ada yang membantunya.</p>
<p>Saya bingung mau jawab apa. Makin lama, seret langkah makin jauh ditelan kelam malam.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Bf6Y_O8zUpwX5tdwFPOiHqU3gzA/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Bf6Y_O8zUpwX5tdwFPOiHqU3gzA/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Bf6Y_O8zUpwX5tdwFPOiHqU3gzA/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Bf6Y_O8zUpwX5tdwFPOiHqU3gzA/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=nwiJ8Xlsiyo:ad0sPP7vIUU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=nwiJ8Xlsiyo:ad0sPP7vIUU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=nwiJ8Xlsiyo:ad0sPP7vIUU:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=nwiJ8Xlsiyo:ad0sPP7vIUU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/nwiJ8Xlsiyo" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/FvZkPk0noiE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/nwiJ8Xlsiyo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/nwiJ8Xlsiyo/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Boombox Tanpa Bass</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/QIz32Ml1nDE/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L4wjfHGHi2M/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 15:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bumi_pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[cilincing]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1482</guid>
		<description><![CDATA[Pernah ikut solat idul korban? Saya mah pernah. Dulu, sering banget malah. Bagi yang tidak tahu apa itu solat idul korban, ada baiknya saya terangkan sedikit. Solat idul korban adalah penamaan terhadap ritual reliji yang dilakukan secara bersama-sama orang kampung &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/08/boombox-tanpa-bass/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Ini adalah boombox" src="http://bangaip.org/gambar_tidak_jorok/boombox_kcl.jpg" alt="boombox image" width="174" height="134" />Pernah ikut solat idul korban? Saya mah pernah. Dulu, sering banget malah.</p>
<p>Bagi yang tidak tahu apa itu solat idul korban, ada baiknya saya terangkan sedikit. Solat idul korban adalah penamaan terhadap ritual reliji yang dilakukan secara bersama-sama orang kampung saya pada hari tertentu dimana kami setelah itu makan sate kambing dan sambal kacang sampai puas.</p>
<p>Sebagai anak-anak saya tidak perlu tahu apakah kambingnya masuk surga karena mengenyangkan perut kami atau siapa yang beli kambing dan darimana duitnya. Sebagai anak-anak saya tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu. Yang penting setelah itu selain makan gulai kambing dan lontong kecap, musolah kampung kami punya bedug baru. Itu artinya saya dan teman-teman bisa memuaskan bakat gila terpendam memukul drum laksana Phil Collins yang terlihat di kaset milik paman. Pada intinya hanya satu, solat idul korban itu menyenangkan. Setidaknya buat saya dan tetangga-tetangga di Cilincing yang merasa beli dan makan daging adalah sebuah kemewahan.</p>
<p>Walaupun menyenangkan, solat idul korban itu ada anehnya juga. Bayangkan, sejak saya kecil sampai ABG, itu ritual kok yaa tidak berbeda sedikitpun juga. Sambil duduk nongkrong di lapangan SMP dekat rumah, semua orang diminta mendengar ceramah tentang seorang bapak yang akan menyembelih anaknya tapi karena suatu dan lain hal, maka anaknya diganti jadi kambing (*eh apa onta yaah? Lupa gitu saya*). Pokoknya kira-kira intinya begitu deh. Jika mau tahu lebih detil, jangan tanya saya, datang saja ke lapangan dekat rumah Ibu saya di Cilincing sebuah desa pesisir pantai Jakarta sana pada pagi hari Idul Korban (yang selalu terik).</p>
<p>Tapi sumpah mati, sampai detik ini saya kok yaa tidak pernah berpikir jika si anak diganti kambing, maka si kambing seharusnya diganti apa? Ahh tapi lupakanlah pertanyaan bodoh itu. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh orang-orang kampung saya sih, &#8220;Kok kambing? Pan mahal. Kenape kagak ikan aje. Pan gampang tinggal mancing&#8221;<br />
(*Setelah cukup besar, saya akhirnya baru tahu kalau di Jazirah Arab sana ternyata jarang ada pancingan*)</p>
<p>Eh melantur. Balik lagi deh ke solat idul korban. Kenapa yaa tiap tahun si Ustad ceramahnya sama? Si Gugun adik saya, sampai hapal tuh luar kepala apa yang si Ustad omongin tiap tahun. Kata Gugun, &#8220;Pak Ustad punya memori hebat. Udah kayak kaset. Kalo jumat dia puter kaset buat hari jumat. Nah kalo hari ini, dia puter soal kambing lah. Lu tau ga boombox? Nah Pak Ustad tuh udah kayak gitu. Bedanya, doi nggak ngebass aje&#8221;</p>
<p>Dan omongan si Gugun lah yang menempel erat di otak saya ketika tadi pagi teman saya Tanti bertanya, &#8220;Eh ip, sekarang tujuhbelasan men. Kita kerek bendera yuuk&#8230;&#8221; dan lalu terjawab dengan, &#8220;Gua adanya sarung, Tan. Kita hormatin aja sarung gua aja yuuk&#8230;&#8221;, yang membuat kami berdua terbahak-bahak.</p>
<p>Di <em>timeline social media</em> hingga ranah blog, semuanya ramai membahas kemerdekaan. Mulai dari selebriti sampai tetangga saya di Cilincing, semuanya ramai-ramai merdeka. Hehe, saya sih bahagia-bahagia saja. Apa salahnya mengaku merdeka?</p>
<p>Walaupun tahun ini untunglah saya tidak sirik sebagaimana biasanya tidak bisa ikutan makan krupuk dan lomba-lomba ajaib lainnya, sebab tidak seperti tahun sebelumnya para pesertanya kali ini kebanyakan lemes akibat puasa.</p>
<p>Omongan Gugun menempel erat. Hari ini di hari kemerdekaan RI. Setiap tanggal 17 bulan Agustus, semua orang bicara kemerdekaan. Bicara lepas dari penjajahan (atau malah belum). Bicara peristiwa berdarah ini dan berdarah itu. Bicara bambu runcing ini bambu runcing itu. Bicara kemerdekaan koruptor yang bebas melenggang. Bicara Upah Minimum Regional yang masih tidak manusiawi apalagi merdeka. Semua orang, tiba-tiba merasa menjadi nasionalis sejati (*entah apa maksudnya yang pasti hati-hati lah pakai jargon. NAZI yang <em>ngeselin</em> itu arti singkatan dari sosialis nasionalis loh*). Semua orang merasa memiliki bumi pertiwi ini. Semua orang tiba-tiba merasa paling Indonesia ketimbang lainnya.</p>
<p>Semua orang, mau-tidak-mau-termasuk-saya-dong, udah mirip Pak Ustad pas solat Idul Korban. Puter kaset yang sama setiap tahun. Mirip <em>boombox</em> tanpa bass. Nyaring&#8230; Tapi ahh entah kenapa, akibat terlalu monoton terlihat lepas dari makna dan terdengar, garing.</p>
<p>Saya mau cerita tentang operasi penyelamatan nelayan Indonesia di luar RI. Entah kenapa, malas menuliskannya. Bukan karena malas berbagi cerita, bukan juga gara-gara kejadian heroik ini tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus, bukan pula akibat operasi penyelamatan dramatis itu justru dilakukan oleh orang-orang yang terusir dari RI. Bukan. Sama sekali bukan.</p>
<p>Saya hanya khawatir saya akan berubah jadi Pak Ustadz kampung kami. Masih untung kalau memang jago nge-DJ seperti menghapal dan mixing banyak ayat, surat dan lalu menggunakannya dalam membantu umat. Bagaimana kalau cuma sekedar jadi radio rusak, ulang lagu lama setiap saat? Jadi <em>boombox</em> yang nyaring tapi garing?</p>
<p>Sumpah deh saya tidak mau jadi <em>boombox</em> yang nyaring tapi garing. Kalau memang saya harus hidup sebagai <em>boombox</em>, maka saya mau jadi boombox yang mengiringi para bboy/bgirl menari dalam gerak dinamis <em>breakdance</em>. Kalau memang saya boombox, saya mau jadi boombox yang memproduksi semua suara menjembatani para rapper menuju nirwana mereka.</p>
<p>Anehnya semakin bertambah tahun saya malah semakin terlihat seperti radio rusak. Makin nyinyir. Makin apatis. Makin tidak spontan. Makin-makin lainnya lah yang tidak begitu enak.</p>
<p>Ahh, kelihatannya saya harus memerdekakan diri sendiri dulu nih?</p>
<p>(*<em>By the way</em>, soal penggantian kurban dari kambing ke ikan, sempat menimbulkan polemik di kampung kami. Akhirnya setelah para tetua kampung bermusyawarah dan bermufakat secara marathon berbulan-bulan lamanya, kami memutuskan untuk akan memakai kambing saja ketimbang ikan. Alasannya; kulit ikan susah dijadikan bedug*)</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbFI5B4nWwghpgrWQpn_oc53ueU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbFI5B4nWwghpgrWQpn_oc53ueU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbFI5B4nWwghpgrWQpn_oc53ueU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbFI5B4nWwghpgrWQpn_oc53ueU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L4wjfHGHi2M:-PdwTQMGnFE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L4wjfHGHi2M:-PdwTQMGnFE:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=L4wjfHGHi2M:-PdwTQMGnFE:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=L4wjfHGHi2M:-PdwTQMGnFE:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/L4wjfHGHi2M" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/QIz32Ml1nDE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L4wjfHGHi2M/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/L4wjfHGHi2M/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Istirahat Dan Kecantikan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/RtjxuNZRxOA/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/PxdEnoxguGg/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2011 15:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[temennya bangaiptop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1470</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/08/istirahat-dan-kecantikan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede Oetomo" src="http://bangaip.org/gambar_tidak_jorok/memberisuarapadayangbisu.jpg" alt="Memberi Suara Pada Yang Bisu - Dr Dede Oetomo" width="146" height="200" />Hari ini saya tidak punya banyak kegiatan. Sebab prioritas utama saya memang hanya sekedar istirahat. Idealnya, duduk, menikmati matahari dan lalu baca buku karya pak Dede Oetomo yang berjudul Memberi Suara Pada Yang Bisu, sebuah catatan cukup penting bagi pergerakan homoseksual Indonesia di luar negeri maupun dalam negeri. Tapi itu idealnya. Maksud saya, yang ideal memang begitu. Sebab kenyataan toh bilang lain.</p>
<p>Hari ini, saya ambil cuti. Mau istirahat. Sudah dua minggu penuh beraktifitas hingga nyaris setiap siang atau malam dihabiskan dengan hal-hal yang menyenangkan, namun juga menguras tenaga. Siapa yang bisa bilang jika pergi ke kebun binatang bersama putri tercinta adalah hal yang tidak menyenangkan? Siapa yang bisa bilang jika menghadiri pesta ulang tahun makan dan minum enak sambil menyanyi bersama teman-teman bukanlah hal yang menyenangkan? Siapa bilang pergi ke tempat jauh hingga harus bawa paspor segala hanya untuk memotret tidak menyenangkan? Semuanya menyenangkan. Tapi tetap saja toh menguras tenaga.</p>
<p>Saya mau istirahat. Maka jadilah saya mencoba istirahat hari ini. Tapi, ahh lagi-lagi ada tapinya. Itu jemuran sudah berhari-hari kering minta diangkat dan dilipat lalu dimasukkan dalam lemari. Ada pakaian bekas ompol anak saya membuat pesing sekamar mandi minta dicuci dan dijemur secepatnya. Ada makanan yang meminta dimasak agar memenuhi isi perut saya dan tamu-tamu. Ada lantai yang berdebu kusam minta disapu dan dibersihkan segera. Ada foto-foto hasil perjalanan yang minta diedit dan dikirimkan pada mereka yang semestinya mendapatkannya. Ada&#8230; Ada&#8230; Ada-ada saja lainnya yang membuat akhirnya saya baru bisa beristirahat mulai pukul tiga sore. Dan saya yakin tidak bisa bertahan lama. Sebentar lagi, tiga jam lagi, tamu-tamu saya juga sudah akan datang.</p>
<p>Akhirnya pukul tiga sore ini saya bisa beristirahat. Saya duduk di depan monitor. Lalu mulai menulis. Aneh? Bukankah menulis juga butuh tenaga? Ya jelas iya. Bukan hanya tenaga, tapi juga pikiran. Tapi kenapa masih menulis? Jawabnya sederhana; itu istirahat. Setidaknya buat saya. Dalam tiga jam ini saya akan istirahat. Saya akan menulis.</p>
<p>Sore ini, ketika akhirnya saya bisa sendiri, saya pun menulis. Seperti biasa, catatan-catatan saya hanya sekedar remah kehidupan sehari-hari. Tidak begitu penting buat siapa-siapa. Tapi ijinkanlah saya menulis dan berbagi cerita, sebab hanya dengan begini saya bisa istirahat. Hehe. Egois <em>banget</em> saya. Tapi cuek<em> aja lah</em>. Hehehe&#8230;</p>
<p>Jadi begini ceritanya;</p>
<p>Teman saya, panggil saja Mas Don, seorang putra Jawa aseli, baru saja putus cinta. Kejadiannya belum lama, kira-kira baru dua bulan lalu. Itu cinta, sebegitu putusnya, membuat beliau uring-uringan (&#8220;<em>Pernah jatuh cinta yang sedemikian jatuhnya sehingga enggan untuk bangkit lagi?</em>&#8220;). Bagaimana tidak uring-uringan, sebab dia bilang semua orang baik dari keluarga pasangan hingga ke keluarganya sendiri, menyalahkan Mas Don. Seakan putusnya pertunangan mereka, salahnya Mas Don.</p>
<p>“Coba Bang, masak sih aku yang disalahin? Padahal kan dia yang menerima ajakan kencan dari cowok lain. Masak dia kalo dapet SMS dari cowok lain terus diajak makan abis itu ngasih tau aku? Siapa yang nggak panas coba?”</p>
<p>Saya diam saja. Cengar-cengir seperti biasa. Sambil bertanya, “Trus?”</p>
<p>“Yaa iyalah, masak aku dituduh psikopat. Gara-gara putus pertunangan kita, aku dituduh psikopat. Aku dituduh main gila. Main gila apa aku, Bang? Aku kerja banting tulang mati-matian di sini mengumpulkan uang supaya tahun depan bisa pulang ke Indonesia biar bisa kawin sama dia. Kok dia begitu? Kencan sana kencan sini. Dia yang minta putus eeh malah status fesbuknya bilang kalo aku yang mutusin&#8230; Siapa yang nggak panas coba?”</p>
<p>“Yaa udah lah. Kamu tenang aja, Mas Don. Masih banyak gadis-gadis di muka bumi ini yang mau sama kamu”</p>
<p>“Tapi aku kan jelek, Bang&#8230; Gigiku maju begini. Banyak orang yang bilang aku mirip Dono”</p>
<p>Saya terperanjat, “Siapa yang bilang kamu jelek. Mas Don, semua manusia itu sama. Soal cantik atau tidak, itu masalah selera. Omong-omong soal Dono, almarhum itu senior saya loh. Dan dibalik karirnya sebagai komedian, pejuang dia itu. Ganteng. Punya kepercayaan diri”</p>
<p>Dia sambil cengar-cengir bilang, “Yang bilang aku jelek sudah banyak, Bang. Kalau aku kondangan terus bawa mantan cewekku, orang-orang pada tanya, apa rahasianya cowok macam aku bisa dapat secantik begitu”</p>
<p>Saya melamun. Sedih. Saya bilang, “Mas Don, kalo ada yang bilang kamu jelek kamu inget-inget aja lagu Christina Aguilera liriknya yang bilang ’kamu cantik, walau apapun yang mereka bilang. Tidak ada kalimat yang mampu menjatuhkanmu’. Biar sukses, nih saya kasih amalan”</p>
<p>“Amalan apa Bang, sejak kapan situ jadi dukun?”</p>
<p>“Udah jangan berisik. Nih amalannya. Tiap bangun pagi kamu usahakan liat kaca. Kamu senyum. Senyum sama diri kamu sendiri. Trus kamu bilang, ‘Eh kamu manis banget sih’ pada diri kamu sendiri. Ini amalan mujarab. Kalo dipraktekkan tiap hari kamu bisa jadi ganteng”</p>
<p>“Buktinya mana?”</p>
<p>“Saya dong! Loh kamu nggak ngeliat betapa saya manis banget nih!”</p>
<p>Kami berdua tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya. Mas Don menganggap jawaban canda saya dengan hati senang.</p>
<p>Saya tidak tahu apakah Mas Don mengikuti nasihat ajaib saya itu. Tapi saya pribadi <em>mah</em> (eh jangan bilang-bilang, ini rahasia kita bedua saja yaah) setiap bangun tidur lihat kaca lalu senyum dan berkata pada diri sendiri, “Bangaip, kamu cute banget sih” atau “Bangaip, kamu topdeh” atau “Bangaip ketika kamu jalan-jalan, dunia jadi ceria”.</p>
<p>Agak gila memang, tapi saya tidak peduli. Meskipun di luar hujan deras dan saya harus genjot sepeda <em>termehek-mehek</em> melawan angin pergi ke stasiun berangkat kerja ke pabrik, saya sudah sarapan dengan senyum. Kalau tidak bisa senyum, saya pakai dua jari tarik ujung bibir ke atas. Supaya kelihatan senyum. Yang ada malah kelihatan aneh. Dan saya lalu ketawa-ketiwi sendirian di kamar mandi pagi-pagi.</p>
<p><em>Gokil</em>? Hahaha, biarlah. Yang penting senang! Haha&#8230;</p>
<p>Beberapa hari lalu saya ketemu Mas Don lagi. Ia bilang, “Bang tadi aku ketemu cewek Brazil di bis. Aku dikasih nomor telpon ama fesbuknya. Waduh senang aku, Bang. Kita sudah kontak-kontakan, mau ketemuan”</p>
<p>Saya lihat fesbuk perempuan yang ia bilang. Ya benar, Mas Don tidak salah. Cantik itu wajah sang wanita. Dengan penampakan lain pirang, tinggi dan seksi. Saya bilang, “Mas Don, mungkin ini jalan kamu. Tiap orang kan ada jalannya masing-masing. Moga-moga aja ini perempuan baik hatinya. Kamu ini orang baik, sepantasnya dapat perempuan baik. Kalau dia hatinya baik dia juga sangat pantas dapat kamu”</p>
<p>Mas Don cengar-cengir malu, “Ahh bisa aja kamu, Bang”</p>
<p>“Hehe, ngomong-ngomong kamu praktekin ga amalan dari saya”</p>
<p>Ia senyum membalas pertanyaan saya. Saya tidak peduli sebenarnya apakah ia benar-benar mengikuti anjuran saya. Tapi saya sudah bahagia melihat ia akhirnya senang dan punya secercah harapan dalam melalui hari-harinya yang penuh kerja keras dan patah hati selama ini.</p>
<p>Oke, itu cerita Mas Don. Cerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta.</p>
<p>Sekarang saya coba ceritakan sebuah cerita lainnya. Ini cerita tentang wanita berusia 57 tahun. Namanya Jeanette. Perempuan aseli Brussel, Belgia.</p>
<p>Hari jumat lalu saya diundang makan malam di rumah Jeanette. Disana juga ada Gaby, wanita Jerman paruh baya eksekutif sebuah perusahan pengembang perangkat lunak yang super sibuk dan Rayes, perempuan Kanada yang menghabiskan separuh hidupnya untuk berkelana di muka bumi dan kali ini sedang bangkrut, patah hati, mencoba hidup menetap dan mencari kerja.</p>
<p>Kami makan malam bersama. Empat orang asing yang belum banyak kenal satu sama lain duduk dalam satu meja. Oh ya, jelas saya lelaki satu-satunya di ruangan itu. Jangan tanya saya bagaimana bisa kenal mereka, yang pasti ketika makan malam usai obrolan pun lalu menjadi lebih intim. Kami bicara tentang hidup kami.</p>
<p>Gaby bicara tentang kesibukan yang semakin hari semakin menyiksanya. Karir semakin tinggi, ia sibuk di tempat kerja. Untuk mengimbangi, ia ikut fitnes dua kali seminggu. Agar badan tetap sehat, bugar dan kencang. Di sisi lain, pacarnya yang lumpuh di Munchen sana juga ikut menyita waktu dan tenaga. Ia bicara tentang kesibukannya.</p>
<p>Rayes cerita tentang lelaki-lelaki yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Ia cerita kalau ia separuh menyesal bertemu dengan para pria yang ia pikir akan jadi pelabuhan terakhir dan akhirnya mengecewakan. Dan kini, ia harus memulai kembali dari awal atas segalanya. Ia cerita tentang masa lalu dan penyesalannya.</p>
<p>Lalu jelas giliran saya. Saya cerita apa? Ahh saya jelas cerita tentang anak saya. Seorang perempuan berusia tiga tahun yang selalu membuat saya jatuh cinta. Tentang bagaimana saya mengajarinya naik sepeda dan obrolan-obrolan kami dalam multi bahasa yang selalu membuat saya tertawa. Saya cerita tentang cinta.</p>
<p>Jeanette, yang dari tadi hanya diam dan senyum menanggapi akhirnya mulai bercerita.</p>
<p>“Suatu hari ketika saya ada di India untuk berkelana, bangun tidur di pagi hari mendapatkan bahwa setengah tubuh saya tidak bisa bergerak. Dokter yang datang satu jam kemudian hampir pasti berkata bahwa saya kena stroke. Kejadian ini dua tahun lalu. Sejak saat itu saya lumpuh”</p>
<p>Saya dan mata-mata lainnya dalam ruangan memandang dengan tercekat ke arah Jeanette. Iya kami tahu Jeanette agak pincang ketika berjalan. Tapi kami tidak tahu kalau ia pernah lumpuh total.</p>
<p>“Bukan hanya stroke, saya juga kena <a title="penjelasan Afasia dalam bahasa Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afasia" >Afasia</a> yang membuat saya kesulitan dalam berkomunikasi. Apa yang mau saya bilang di otak keluarnya lain di mulut”</p>
<p>Saya benar-benar terperanjat. Saya tanya, “Kamu&#8230; Apakah kamu merasa frustasi dengan kondisi tersebut?”</p>
<p>Jeanette memandang saya, ada airmata di sana. “Iya, saya frustasi. Apalagi saat itu saya di India, saya tidak bisa menghubungi keluarga di Brussel. Akhirnya untung ada kedutaan yang membantu memulangkan saya. Setahun saya merasa gagal. Saya benci diri sendiri. Berjuta pertanyaan muncul. Kenapa ketika saya di India? Atau malah, kenapa harus saya? Saya merasa hidup saya sudah tidak ada gunanya lagi sebagai manusia”</p>
<p>Saya sadar betul. Sebagai orang yang selalu jalan-jalan dalam bekerja, lumpuh memang amat menyulitkan. Apalagi ditambah kelainan fungsi di otak.</p>
<p>Gaby dan Rayes bertanya hampir bersamaan, “Lalu kok kamu sekarang bisa jalan lagi?”</p>
<p>Jeanette tersenyum. Dia bilang, “Kalau saya menyesali hidup, pasti tidak ada gunanya. Saya pasti suatu saat akan mati. Tidak perlu lah saya percepat. Maka itu saya lawan saja. Saya pergi ke pusat rehabilitasi untuk orang cacat. Saya berjuang setiap hari berkata pada diri sendiri bahwa saya pasti akan bisa menggerakkan telunjuk saya”</p>
<p>Diai berhenti sejenak, ambil teh dan lalu menyeruputnya. “Dan kamu tahu&#8230; Suatu hari telunjuk saya bergerak. Setelah enam bulan saya melatih diri di depan kaca berkata pada diri sendiri bahwa saya bisa menggerakkan jari jemari, tiba-tiba ia bergerak”</p>
<p>Saya kaget, “Eh masa sih segampang itu?”</p>
<p>Dia ketawa, “Yaa tidak. Tidak semudah itu. Besoknya setelah jari saya kedut-kedut tiba-tiba, tidak ada perubahan lain. Saya sempat frustasi lagi. Tapi saya lawan. Saya bilang pada diri saya sendiri kalau saya bisa. Hari demi hari ada kemajuan. Tidak serta merta saya bisa bergerak seperti ini, tapi saya mulai bisa menggerakkan jari jemari tangan saya. Dan itu sebuah anugrah. Buat saya. Buat orang-orang bisa jalan atau bisa tepuk tangan itu biasa. Buat saya waktu itu, luar biasa. Dan kini betapa saya sangat menghargai hidup dan tubuh walaupun hanya jalan ke WC atau membuka lembaran buku”</p>
<p>Saya benar-benar terharu mendengarnya. Hampir menangis. Semua bulu kuduk saya merinding ketika Jeanette cerita mengenai perjuangannya untuk sembuh dari stroke dan afasia. Lebih terharu ketika ia bilang bahwa ia merasa tetap cantik walau semua urat wajahnya menjadi amat kendur hingga amat susah dibedakan dengan Jeanette yang dulu sebelum terserang penyakit-penyakit itu.</p>
<p>“Waktu diputuskan oleh pacar ia bilang, saya sudah tua. Saya singel, cacat dan muka saya rusak. Tapi saya tidak peduli. Saya lawan saja semua prasangak buruk dengan senyum. Ia boleh bilang apa saja, tapi saya tetap merasa wanita dan saya cantik dan bahagia”</p>
<p>Saya lagi-lagi terharu dan senyum mendengarnya. Saya bilang, “Jeanette, kamu perempuan cantik dan tetap akan selalu cantik. Saya bangga bisa kenal dengan kamu. Saya bangga pada perjuangan kamu dan saya bangga pada kamu”</p>
<p>Satu persatu, saya, Gaby dan Rayes memeluk Jeanette. Ia menitikkan air mata. Ahh iya, saya juga. Saya menitikkan airmata. Jadi lelaki yang cukup cengeng malam itu. Tapi biar saja. Ini airmata respek pada perjuangan hidup anak manusia.</p>
<p>Kita semua dilahirkan cantik dan akan selalu cantik hingga akhir hayat nanti. Maka jika suatu hari hidup sudah sedemikian berat himpitannya. Lihat saja ke cermin di pagi hari. Senyum dan berkatalah pada orang di seberang sana bahwa Anda mencintainya.</p>
<p>Selamat sore, selamat senyum dan selamat menjadi cantik (atau ganteng, atau apalah sebutannya, hehe) buat teman-teman pembaca semua.</p>
<p>*Terimakasih sudah membantu saya istirahat <img src='http://bangaip.org/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> *</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FzCf745y9ZSru7NdQ_vfLWstuxM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FzCf745y9ZSru7NdQ_vfLWstuxM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FzCf745y9ZSru7NdQ_vfLWstuxM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/FzCf745y9ZSru7NdQ_vfLWstuxM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=PxdEnoxguGg:pF5UGRT014M:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=PxdEnoxguGg:pF5UGRT014M:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=PxdEnoxguGg:pF5UGRT014M:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=PxdEnoxguGg:pF5UGRT014M:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/PxdEnoxguGg" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/RtjxuNZRxOA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/PxdEnoxguGg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/PxdEnoxguGg/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tentang Makna Ruang, Waktu Dan Jatuh Cinta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/HOVXTAaNWlA/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/RKuwYHcKh7c/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Aug 2011 00:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1463</guid>
		<description><![CDATA[Biasanya ketika bertemu orang yang baru saling mengenal, kita bertanya macam-macam. Pertanyaan standar, “Siapa namanya?” atau “Tinggal dimana?”. Kalau ditanya orang-orang yang baru kenal, saya sering juga ditanya, “Kerjanya apa?” Kalau ditanya orang baru mengenai apa pekerjaan yang saya geluti &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/08/tentang-makna-ruang-waktu-dan-jatuh-cinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Biasanya ketika bertemu orang yang baru saling mengenal, kita bertanya macam-macam. Pertanyaan standar, “Siapa namanya?” atau “Tinggal dimana?”. Kalau ditanya orang-orang yang baru kenal, saya sering juga ditanya, “Kerjanya apa?”</p>
<p>Kalau ditanya orang baru mengenai apa pekerjaan yang saya geluti sehari-hari, maka dengan mantap saya jawab “Pekerjaan saya adalah menjadi ayah hebat dari seorang putri tercinta berusia tiga tahun dan sekaligus bekerja sebagai lelaki yang ceria dan menyenangkan”.</p>
<p>Kalau si penanya bengong dengan jawaban tersebut, maka saya tambahkan dengan, “Ini adalah pekerjaan yang paling hebat di dunia ini. Saya bangga bisa bekerja sebagai lelaki sekaligus jadi ayah”</p>
<p>Biasanya yang mendengar senyam-senyum. Saya agak bingung, padahal saya kan tidak lucu. Tapi saya <em>mah</em> positif saja, saya anggap ia senyum mungkin karena saya memang <em>cool</em>. Hehe&#8230;</p>
<p>Orang-orang tertentu biasanya cukup puas dengan jawaban tersebut. Namun orang-orang lainnya bertanya dengan awal kalimat, “Serius, kamu ngapain sih dengan hidup kamu?” atau “Bagaimana kamu bisa hidup?”</p>
<p>Aneh, padahal kan sudah saya jawab pertanyaan dia. Kok malah tanya yang lebih aneh lagi.</p>
<p>Bagaimana saya bisa hidup? Itu kan pertanyaan ajaib. Saya bisa hidup karena saya dilahirkan, bernafas, makan, buang air, berinteraksi dan bahagia (*Iya jelas saya senang dan bahagia dengan hidup. Kalo nggak, pasti saya sudah tidak hidup lagi*). Saya bisa hidup kan jawabannya sama dengan manusia lainnya. Saya bisa hidup, setidaknya-hingga-saat-ini-sebagai-manusia, karena melakukan hal yang sama sebagaimana manusia lainnya. Itu kan manusiawi? Toh?</p>
<p>Ujung-ujungnya sih penanya bertanya bagaimana saya dapat uang untuk bertahan hidup. <em>Yaelah</em>, tanya kok ujung-ujungnya ke fulus. Emangnya saya cowok mata duitan kali? Haha.</p>
<p>Kalo sudah ditanya soal darimana uang saya berasal saya jawab, “Saya punya hobi, trus saya kerjain aja deh hobi saya. Ajaibnya, tiap akhir bulan saya masa sih dikasih duit gara-gara ngerjain hobi itu? Yaa udah, dari situ uang saya datang”</p>
<p>Habis itu si penanya tidak habis-habis bertanya. Misalnya seperti apa hobi saya, bagaimana saya mengerjakan hobi saya dan berapa saya dibayar atas hobi-hobi yang saya lakukan hingga pertanyaan-pertanyaan lainnya.</p>
<p>Biasanya, saya mah ketawa saja sih mendengarnya. Ujung-ujungnya karena ia yang lebih banyak bertanya, saya malah lupa bertanya balik. Hihi&#8230;</p>
<p>Tapi beberapa minggu lalu saya dapat pertanyaan yang sama tapi dalam versi yang lebih berat.</p>
<p><strong>Tentang Makna Ruang</strong></p>
<p>Di bis, putri saya Novi Kirana bertanya, “Papa, kamu kalau sudah besar mau jadi apa? Tapi kalau sudah menjawab kamu harus tanya juga yaa ke aku kalau sudah besar aku mau jadi apa?”</p>
<p>Saya tertawa, “Oke Novi. Oke. Kalau gitu papa duluan deh yang nanya. Kamu kalau sudah besar mau jadi apa?”</p>
<p>“Aku mau jadi dokter papa. Dokter untuk manusia”</p>
<p>“Bukan dokter untuk binatang atau tumbuhan?”</p>
<p>“Nggak papa. Aku mau jadi dokter atau perawat saja. Papa mau jadi apa?”</p>
<p>Saya memeluknya dan menjawab, “Papa hanya ingin jadi papa yang baik untuk kamu, sayang. Jadi lelaki yang selalu kamu cintai dan mencintai kamu”</p>
<p>Ia menatap saya dengan tatapan yang sukar diungkapkan lewat kata-kata, “Papa, kenapa kamu nggak tinggal sama aku dan mama lagi?”</p>
<p>Ini pertanyaan yang sukar. Sudah hampir setahun saya tidak tinggal bersamanya lagi. Kami hanya bisa bertemu beberapa jam saja dalam seminggu. Saya hampir menangis dalam bis. Saya belai rambutnya yang coklat penuh kasih sayang, “Nak, papa kan tidak tinggal jauh dari kamu dan mama. Hanya setengah jam saja. Jadi kalau ada apa-apa papa pasti bisa datang. Lagipula kamu kan punya dua kamar sekarang. Punya dua rumah. Punya mainan dua kali lipat lebih banyak. Kamu nggak senang?”</p>
<p>“Aku lebih senang kalu papa tinggal sama aku dan mama”</p>
<p>Dug! Jantung saya berdegup jauh lebih cepat daripada biasanya. Saya harus menjawab pertanyaan ini dengan baik sesuai umurnya. Sebab ia kelihatan lebih memahami hidup lebih banyak daripada usianya. Airmata saya hampir meleleh dalam bis. “Cintaku, papa sudah tinggal sama mama. Tapi papa jadi sedih. Mama juga jadi sedih. Jadi lebih baik supaya kami tidak sedih, papa tinggal di tempat lain. Tapi kami tetap sangat cinta kamu. Kamu yang membuat kami bahagia. Kamu pasti selalu bisa main sama papa dan mama bersama”</p>
<p>“Kalau begitu kita besok ke kebun binatang sama mama yaah, Papa?”</p>
<p>Saya senyum, “Pasti sayang. Kita selalu bisa ke kebun binatang. Nanti papa tanya mama dulu yaa kalau mama ada waktu untuk kita”</p>
<p>Ia mengangguk. Saya kembali tersenyum. Saya begitu bahagia bisa bersamanya walaupun kesempatan datang hanya beberapa jam saja.</p>
<p><strong>Tentang Waktu</strong></p>
<p>“Papa, kamu benar besok selasa kita bisa ke kebun binatang”</p>
<p>“Papa pikir sih bisa, sayang. Papa bisa ambil hari libur khusus untuk kamu. Kenapa?”</p>
<p>“Kata mama papa harus sering pergi untuk cari uang?”</p>
<p>Lagi-lagi jantung saya berdebar cepat. Saya harus memberi jawaban yang jujur dan tidak membuatnya sedih, “Iya nak. Mama benar. Papa sering bepergian dan biasanya dapat uang setelahnya. Tapi papa cari uang jadi bisa bantu mama membesarkan kamu. Jadi yaa papa cari uang sebenarnya untuk kamu”</p>
<p>“Kalau kamu punya uang kita beli sepeda yaa papa?”</p>
<p>Saya ketawa. Halah ujung-ujungnya ternyata sepeda. “Iya cinta. Kita beli sepeda nanti kalau papa sudah punya uang. Kamu mau sepeda apa sayang?”</p>
<p>“Aku mau sepeda warna biru dengan helm warna merah!”</p>
<p>Wah saya bengong mendengarnya. <em>Buset dah</em>, memangnya dia sudah bisa naik sepeda apa. Kok tahu pasti apa yang dimaui. Ia menukas dengan cepat seperti membaca pikiran saya, “Papa, nanti kamu ajari aku naik sepeda yaa?”</p>
<p>Senyum saya semakin melebar, “Iya Nak, pasti sayang. Pasti!”</p>
<p>“Kamu ada waktu papa? Kata orang-orang kamu nggak punya waktu”</p>
<p>Alis saya mengerenyit, “Orang-orang itu siapa sayang?”</p>
<p>Dengan cuek ia menjawab, “Orang-orang yaa orang-orang lah”</p>
<p>Saya menatapnya kagum. Sepertinya ia mendengar banyak informasi di telinganya dan kini coba mengkonfirmasikan semua berita yang telah ia dengar. Saya jawab pelan, “Ada cintaku. Pekerjaan papa kan jadi papa kamu. Maka papa pasti ada untuk kamu” sambil mengecup keningnya.</p>
<p>Ia menatap ke depan. Tangan kanannya menggenggam erat jari-jari saya seakan enggan dilepaskan.</p>
<p>Saya menatapnya lekat dan semakin jatuh cinta kepadanya.</p>
<p><strong>Tentang Jatuh Cinta</strong></p>
<p>Sebentar lagi bis akan sampai di rumah mamanya. Sesuai kesepakatan, pada pagi tertentu mamanya mengantar sampai ke rumah saya dan saya yang akan membawa bocah manis berusia tiga tahun ini kembali ke rumah mamanya di sore hari. Saya sudah berjuang habis-habisan agar mendapatkan kesempatan bisa memasak dan makan malam bersama putri saya walaupun akhirnya hanya dapat dua kali perminggu. Sore itu, saya akan memasak untuk putri saya sebelum mamanya pulang.</p>
<p>Makanan favoritnya bersama saya biasanya masih nasi hangat campur mentega dan irisan ketimun. Namun untuk menyeimbangkan dengan gizi dan vitamin, biasanya saya beri juga ikan atau sosis kesukaannya. Ditambah kiwi dan strawberry. Ia suka sekali makan nasi campur strawberry.</p>
<p>Di meja makan, sore itu saya bilang kepadanya, “Novi, papa jatuh cinta pada kamu”</p>
<p>Sambil mengunyah irisan ketimun yang dipotong panjang ia bertanya, “Jatuh cinta itu apa, Papa?”</p>
<p>Saya berhenti menyendok nasi ke mulut. Hampir tersedak. Ini pertanyaan sederhana. Sangat sederhana. Tapi bagaimana menjelaskan ‘hal sederhana ini’ pada anak sekecilnya?</p>
<p>Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda. walaupun ia mengerti Bahasa Indonesia ia lebih fasih bicara dalam bahasa Belanda, sebab itu bahasa interaksinya sehari-hari dan bahasa ibunya. Dalam bahasa Belanda, ada rancu dalam penjelasan teman. <em>Vriend</em> artinya teman, mengacu pada fisiologis pria ia berarti teman yang berjenis laki-laki. Tapi <em>vriend</em> juga bisa berarti pacar laki-laki. Sementara <em>vriendin</em> artinya teman, bisa teman perempuan bisa juga pacar perempuan. Saya coba menjelaskannya dalam bahasa Belanda sederhana kepadanya.</p>
<p>“Novi sayang, jatuh cinta itu kalau kamu punya perasaan sayang kepada orang yang kamu suka. Misalnya kepada <em>vriend</em> atau kepada <em>vriendin</em> kamu”</p>
<p>Dia menatap saya lagi, “Jatuh cinta itu apa, Papa”. Saya ketawa. Itu tandanya ia belum mengerti dan masih butuh penjelasan lanjutan.</p>
<p>“Begini sayang, kalau kamu punya <em>vriend</em> atau <em>vriendin</em> yang baik lalu kamu mau bersama dia terus, kamu selalu mau main-main sama dia dan kamu sedih kalau dia pergi itu tandanya kamu cinta kepadanya”</p>
<p>Dia mengangguk-angguk, “Mama punya <em>vrienden</em>. Segini&#8230;” katanya sambil membentangkan seluruh jari tangan kanannya. Saya ketawa terbahak-bahak mendengarnya. <em>Vrienden</em> itu artinya teman laki-laki secara hitungan jamak.</p>
<p>“Papa senang, Nak kalau mama punya teman banyak. Jadi mama tidak sedih lagi. Ada yang menghibur. Teman mama kan banyak laki-laki dan banyak perempuan juga”</p>
<p>“Bukan papa. Aku nggak suka teman laki-laki mama yang rumahnya dekat kebun binatang. Mama sering kesana ajak aku, tapi aku nggak suka dia. Aku mau ke kebun binatang sama papa saja tidak sama dia. Aku juga nggak mau pindah ke Spanyol karena disana juga ada teman laki-laki mama”</p>
<p>Saya diam melihatnya sedih. Wajahnya agak tertekan. Ia lalu bilang lagi, “Papa jangan bilang mama yaah kalau aku bilang begini ke papa”</p>
<p>Saya ikut sedih. Saya bilang, “Nak, kamu jangan khawatir. Papa akan selalu menjaga kamu. Papa minta maaf sebab papa tidak ikut campur urusan mama lagi, tapi papa pasti akan menjaga kamu. Kamu jangan takut cinta. Kamu tidak perlu ketemu orang yang tidak kamu suka dan kamu juga tidak akan pindah ke Spanyol kalau kamu tidak mau”</p>
<p>“Papa janji?”</p>
<p>“Iya Nak, papa janji”</p>
<p>Mukanya kembali cerah. Saya senang bisa membuatnya kembali bahagia walaupun saya tahu akan terlibat omongan yang cukup serius dengan mamanya soal itu. Sesuatu yang biasanya saya hindari sejak saya tidak lagi tinggal bersama Novi untuk meminimalisir efek bencana setelahnya. Namun demi kepentingan putri semata wayang, jelas apapun akan saya lakukan. Ahh saya hanya manusia biasa dan sama sekali tidak ingin melihat putri saya menderita.</p>
<p>Sambil mengunyah strawberry terakhir ia bertanya, “Papa punya teman perempuan?”</p>
<p>“Yaa banyak Nak. Teman papa laki-laki dan perempuan. Banyak. Setiap hari papa mengerjakan hobi bersama mereka”</p>
<p>“Rumahnya dekat kebun binatang juga?”</p>
<p>O-oh, saya baru mahfum arah pertanyaannya. “Kalau yang kamu maksud pacar. Papa tidak punya sayang. Papa kan sudah punya kamu, teman perempuan terbaik yang papa punya. Papa urus Novi saja”</p>
<p>Ia melihat saya lalu tersenyum.</p>
<p>Sore itu ketika saya harus pergi saya memeluknya erat. Saya bilang bahwa bangga sekali saya menjadi ayahnya. Sambil berjongkok dihadapannya saya katakan, “Papa cinta Novi”</p>
<p>Ia mengecup kening dan mengusap rambut saya sambil berkata, “Novi jatuh cinta ke Papa”</p>
<p><em>(*Mohon maaf, pada postingan kali ini pertanyaan yang saya pikir personal sebaiknya saya tidak jawab. Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Terimakasih atas semua dukungan dan doa pembaca, teman-teman dan keluarga yang akhirnya membuat saya berani menulis kembali. Saya cinta kalian. Terimakasih banyak yaa&#8230;*)</em></p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wGbkglu7QPpJQyNGXdjmhjKYl9M/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wGbkglu7QPpJQyNGXdjmhjKYl9M/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wGbkglu7QPpJQyNGXdjmhjKYl9M/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/wGbkglu7QPpJQyNGXdjmhjKYl9M/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=RKuwYHcKh7c:9ihiHegnPL8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=RKuwYHcKh7c:9ihiHegnPL8:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=RKuwYHcKh7c:9ihiHegnPL8:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=RKuwYHcKh7c:9ihiHegnPL8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/RKuwYHcKh7c" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/HOVXTAaNWlA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/RKuwYHcKh7c/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/RKuwYHcKh7c/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Hidup Eksak</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/PL6NImD3Or4/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/cHl7nfzwr3Q/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jul 2011 09:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[bangaip]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1459</guid>
		<description><![CDATA[Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah. Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/07/hidup-eksak/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berkarya itu tidak mudah. Baru tahu? Tidak juga sih. Sudah lama saya tahu kalau berkarya itu tidak mudah.</p>
<p>Kemarin saya memotret, hasilnya buruk. Banyak kotoran terlihat di foto. Entah bisa jadi itu kotoran adalah kotor akibat lensanya kotor, bisa jadi karena memang saya yang tidak ahli. Kelihatannya sih kombinasi dua-duanya. Saya memotret wajah Reno yang duduk di sebelah Untung, kok yaa bisa-bisanya foto muka si reno coreng-moreng? Padahal sumpah mati dia sedang tidak pakai kosmetik dan saya juga tidak memodifikasi foto. Memotret itu tidak mudah. Setidaknya buat saya.</p>
<p>Karena memotret sudah tidak begitu pandai jadi saya coba saja lah untuk menulis. Kebetulan saya sedang dapat tugas menulis laporan. Dua tiga paragraf masih oke, sisanya berantakan. Mulai dari yang saya sudah tidak konsentrasi (maunya tidur saja) hingga music gypsy punk Gogol Bordello yang menghentak-hentak membuat ingin berdansa. Pada intinya, tugas menulis laporan itu akhirnya berantakan. Setelah empat paragraf, saya putuskan untuk berhenti menulis dan mengalihkan perhatian ke dapur untuk memasak.</p>
<p>Lalu saya putuskan untuk memasak sesuatu yang istimewa malam itu. Sesuatu yang dahsyat. Bukankah urusan lidah dan perut berupa makanan adalah juga karya seni? Iya, saya putuskan untuk tidak menyerah jadi seniman malam itu. Oke memang kalau saya tidak bisa memotret, tidak bisa menulis, tapi minimal kan saya harus bisa memasak. Ini karya seni saya. Makanan!</p>
<p>Saya mulai dengan sesuatu yang sederhana. Bukankah semua maestro memulai masterpiecenya dari sesuatu yang sederhana? Sesuatu yang sederhana yang terlintas di otak saya tentu saja tidak jauh dari sambal. Apa sih yang susah dari sambal? Ambil cabe, bawang putih, bawang merah, tomat dan garam lalu gerus bersama-sama. Mau yang lebih rumit? Tentu saja bisa dicampur terasi, atau digoreng, atau dicampur apalah hingga menghasilkan sesuatu rasa baru.</p>
<p>Terambillah cabe, bawang, tomat, dan kacang. Saya ulek semuanya dengan kadar gerak tangan yang mirip kesadisan pada film horror. Tentu saja sama sekali tidak menakutkan, malah cenderung romantis. Airmata saya berlinang ketika mengulek sambal. Kelihatannya uap bawang Bombay menari di pelupuk mata membuat saya menangis. Romantis kan? Hehe…</p>
<p>Tidak lama kemudian sambal kacang hangat jadi pula tersaji di atas meja. Saya ambil ketimun, diiris sedang hingga sepiring penuh. Pelan-pelan saya santap sajian malam ketimun sambal kacang dengan nikmat.</p>
<p>Yang saya pelajari malam itu ada dua. Pertama adalah; satu peristiwa adalah pemicu dari peristiwa yang lain.<br />
Sementara yang kedua yaitu; satu kejadian adalah hasil dari kejadian yang lain.</p>
<p>Terlalu filosofis? Entahlah… Sebab saya tiba-tiba berfikir, “Coba kalo si Reno mukanya nggak belepotan di layar monitor, apa iya gua makan sambel kacang malem ini?”</p>
<p>Bisa jadi tidak.</p>
<p><strong>Mari kita lanjut ke cerita lainnya</strong></p>
<p>Beberapa minggu lalu saya bertemu dengan seseorang dengan pekerjaan dan jabatan yang buat saya aneh sekali. Namanya, ahh panggil saja dia Anton. Nah si Anton ini ketika berjabat tangan dengan saya mengenalkan diri sebagai, “Anton, <em>personal trainer</em>”.</p>
<p>Saya bengong. Jelas iya saya bengong. Berdasarkan kamus otak saya yang cupet ini, personal trainer terjemahan dalam bahasa Indonesianya adalah ‘pelatih kebugaran’. Menilik dari rupa si Anton yang tingginya hamper dua meter dan kurus ini, kelihatannya ia sama sekali bukan ahli kebugaran. Mana saya percaya ia adalah pelatih kebugaran badan?</p>
<p>Setelah ngobrol panjang lebar hampar dua jam dengan si Anton dan pacarnya yang orang Texas itu, saya baru sadar bahwa yang ia maksud adalah bahwa ia seorang pelatih kehidupan.</p>
<p>Wooow… Saya tambah melongo. Pelatih kehidupan. Saya pikir selama ini, jika Anda adalah seekor anjing yang memiliki tuan seorang manusia yang hidup dalam tatanan masyarakat dimana anjing harus sekolah, maka hidup Anda harus dilatih. Ternyata saya salah. Ternyata manusia juga harus dilatih untuk hidup.</p>
<p>Dari Anton, saya dapat informasi. Bahwa di dunia ini ada manusia yang hanya bisa hidup jika punya masalah. Jadi, kalau tidak ada masalah, hidupnya hampa. Buset dah. Di sisi lain, ada manusia yang sama sekali tidak bisa hidup dengan masalah. Inginnya selalu lari dari masalah. Entah sembunyi, entah menghindari. Yang penting lari. Tugas Anton, menyeimbangkan hidup orang-orang seperti itu. Kata dia, nama kerennya ‘<em>coaching</em>’.</p>
<p>“Begini Ip, kamu tahu ga konsep kebahagiaan?”</p>
<p>Saya menggeleng. Mana saya tahu konsep kebahagiaan.</p>
<p>“Kamu bahagia ga?”</p>
<p>Yaelah pertanyaanya aneh sekali. Tapi daripada saya tambah bingung, saya jawab saja “Ton, kalo saya makan enak, terus kenyang terus abis itu bisa duduk selonjoran, saya bahagia. Atau maen sama anak saya atau temen-temen saya sambil ketawa-tawa. Saya mah udah senang. Idup saya segitu mah udah cukup”</p>
<p>Dia bengong. “Kamu nggak butuh mobil eksotis, rumah?”</p>
<p>Saya mengerenyitkan alis, “Yaelah Anton, saya kaga bisa nyetir. Mao dikasih mobil satu pabrik juga percuma. Saya lagian udah tinggal di rumah kontrakan. Apa yang kurang?”</p>
<p>Dia bengong lama. Abis itu dia bilang begini, “Oke sori… Kita balik lagi ke topik kebahagiaan. Kamu tahu ga kalau definisi kebahagiaan itu adalah sederhana. Jika kamu dikelilingi oleh orang yang bahagia, maka kamu akan bahagia. Begitu pula dengan kerjaan saya. Saya coba membuat orang-orang yang mulai mempertanyakan hidup mereka untuk menggali kebahagiaan mereka sendiri”</p>
<p>Saya bengong. <em>Njelimet</em> sekali ini penjelasan si Anton. Maksudnya gimana sih?</p>
<p>“Maksudnya, kamu akan bahagia jika dikelilingi oleh orang yang juga satu pemahaman dengan kamu”</p>
<p>“Jadi kalo nggak sepaham nggak bahagia, Ton&#8230;?”</p>
<p>“Bisa, tapi susah. Harus saling memahami agar mudah”</p>
<p>“Trus gimana caranya agar bisa saling memahami?”</p>
<p>“Nah itu lah gunanya pekerjaan saya. Ini bisnis booming looh. Orang-orang sekarang sedang hobi mencari pemahaman atas dirinya sendiri”</p>
<p>“Ooh kamu psikiater dong?”</p>
<p>“Buuuukaaaan&#8230; Kamu gimana sih? Dari tadi nggak ngerti-ngerti juga”</p>
<p>Sumpah saya tidak mengerti. bahkan ketika Anton bilang bahwa manusia berjenis kelamin pria itu mengambil keputusan satu kali per setiap tujuh detik dalam waktu sadarnya dan wanita tiga kali kelipatannya agar mereka bahagia, saya masih tetap tidak mengerti.</p>
<p>Saya bloon?</p>
<p>Bisa jadi.</p>
<p>Tapi dari dua cerita di atas, saya malah belajar satu hal yang baru. Dua-duanya berbuntut pertanyaan dengan jawaban yang memiliki kemungkinan. Jawabannya bisa benar, bisa juga salah. Tapi itu sama sekali bukan baru toh. Yang baru adalah, bahwa peristiwa runtutan hidup dan kebahagiaan (atau apapun definisinya) itu sama sekali tidak eksak. Bahwa kadang-kadang ada saja dalam kejadian sehari-hari yang terjadi di luar nalar dan logika.</p>
<p>Baru? Mungkin buat Anda tidak. Tapi buat orang-orang yang terbiasa (karena terpaksa) punya rencana B, C dan seterusnya jika rencana A gagal ini macam saya, tentu saja ini hal yang baru.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdKyr4v_mmyqm3lRh1kQJ2Ms0yk/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdKyr4v_mmyqm3lRh1kQJ2Ms0yk/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdKyr4v_mmyqm3lRh1kQJ2Ms0yk/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EdKyr4v_mmyqm3lRh1kQJ2Ms0yk/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=cHl7nfzwr3Q:aB-GXq7IUEo:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=cHl7nfzwr3Q:aB-GXq7IUEo:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=cHl7nfzwr3Q:aB-GXq7IUEo:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=cHl7nfzwr3Q:aB-GXq7IUEo:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/cHl7nfzwr3Q" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/PL6NImD3Or4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/cHl7nfzwr3Q/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/cHl7nfzwr3Q/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bahasa Yang Tidak Sederhana</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PlanetBangaip/~3/Z3M03Bv6I2w/</link>
		<comments>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/-CehMhmZlK0/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 14:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bangaip</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orang Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Republik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[bumi_pertiwi]]></category>
		<category><![CDATA[ham]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangaip.org/?p=1446</guid>
		<description><![CDATA[Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4. Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan &#8230; <a href="http://bangaip.org/2011/07/bahasa-yang-tidak-sederhana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Begini. Jelasnya ia bilang begini, “bahasa hukum itu tidak bisa sederhana. Ia harus jelas, detil dan pasti” ketika saya bertanya mengapa putusan sebuah kasus di pengadilan dapat mencapai berlembar-lembar kertas A4.</p>
<p>Saya percaya. Lah habis mau bilang apa lagi. Bukan hanya latar belakang teman satu ini yang ahli hukum, melainkan ia juga menerangkan dengan sangat gamblang melalui contoh:<br />
“Jika A berhutang pada B, lalu A mangkir bayar. B membawanya ke pengadilan. Pengadilan memutuskan bahwa A harus bayar hutang pada B. Apa iya putusannya begitu saja? Kan harus dijelaskan kapan A bayar, dimana membayarnya atau berapa jumlah bayarannya atau hal-hal lain yang berurusan dengan piutang tersebut. Dan semua itu tidak simpel kan?”</p>
<p>Saya manggut-manggut. Logikanya jelas. Bahasa administrasi hukum memang harus jelas. Sampai poin ini, saya mengerti.</p>
<p>Dan poin itu pula lah yang selalu saya bawa kemana-mana ketika bicara soal hukum. Memang sih saya bukan ahli hukum, tapi biasanya tertib membaca aturan main yang berhubungan dengan hukum.</p>
<p>Saya dianggap orang aneh oleh beberapa teman, karena menurut mereka (jelas subjektif toh?) saya satu-satunya orang yang mereka kenal selalu membaca dengan amat teliti perjanjian lisensi (<em>end-user licence agreement</em>) sebelum melakukan instalasi perangkat lunak pada komputer. Walaupun dianggap aneh, saya tidak peduli. Sebab perjanjian-perjanjian itu sempat beberapa kali menyelamatkan isi kantong saya secara signifikan. Jadi, administrasi hukum yang jelas, dan kadang bertele-tele dan rumit itu, kadang ada gunanya.</p>
<p>Saya sadar. Sepenuhnya sadar kok. Bahwa hukum itu berbeda dengan keadilan.</p>
<p>Hukum adalah produk. Jika negara kita analogikan sebagai pabrik dan masyarakat adalah konsumen, maka hukum itu produknya. Dan jika memakai analogi yang sama, maka akan ada dua hasil dari produk yang dihasilkan oleh sang pabrik.</p>
<p>Pertama, produk yang diinginkan oleh konsumen. Namanya, hukum berorientasi publik. Kedua, produk yang akan menguntungkan buat pabrik. Namanya? Ahh yang ini pada jaman modern kini tidak ada namanya. Karena ketika monarki-monarki di dunia ini hancur, hancur pula produk yang hanya menguntungkan negara.</p>
<p>Pada produk pertama, yaitu produk yang diinginkan konsumen, maka pabrik akan mengikuti selera pasar. Apapun yang diminta oleh warga sebagai konsumennya, maka pabrik harus setuju. Pada negara-negara yang ada saat ini (2011), aturan main model begini acapkali dipakai. Hukum dibuat demi kepentingan masyarakat.</p>
<p>Sisi baiknya, produk hukum sebuah negara yang berupa Undang-Undang, Instruksi Presiden, Peraturan Daerah atau bla-bla-bla lainnya akan sebaik-baiknya dibuat demi kemaslahatan umat. Sisi kurang baiknya, <em>well</em> kita semua tahu bahwa warga negara itu bukan kumpulan orang satu RT saja. Warga negara itu banyak. Mengakomodasi semua tuntutan, adalah hal yang mustahil. Maka dipilihlah suara terbanyak dalam mengakomodasi tuntutan warga. Dalam implementasinya, yang tidak setuju biasanya tidak terlalu dirugikan. Tapi sialnya kadang-kadang pada ujung-ujungnya, ada minoritas yang terkoyak.</p>
<p><img class="alignleft" title="Henry VIII picture" src="http://bangaip.org/gambar_tidak_jorok/henry_viii.jpg" alt="Henry VIII picture" width="110" height="200" />Pada produk kedua, dimana hukum dihasilkan negara demi kepentingan negara. Ehmmh, ini kejadiannya sudah lama. Contohnya di Inggris, ketika raja Henry VIII meminta gereja untuk menikahkan ia dengan selirnya. Tentu saja Paus menolak. Sebab poligami tidak ada dalam kitab suci yang dipercayainya. Henry VIII tidak peduli. Ia tetap menikahi selirnya bahkan hingga enam perempuan dikabarkan sah jadi permaisurinya. Undang-undang pernikahan saat itu di Inggris jadi berbeda (walaupun akhirnya UU poligami Inggris berakhir ketika Henry VIII meninggal tahun 1547 akibat kegemukan, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pirai" >pirai</a> dan sipilis). Namun disini terlihat jelas, bahwa penguasa (Raja) mengeluarkan instruksi yang mampu membuatnya setingkat atau lebih dari hukum gereja reformasi yang menjadi standar baku saat itu.</p>
<p>Walaupun kelihatan tidak ada bagus-bagusnya hukum ini, sebab hanya akan mengukuhkan negara sebagai penindas saja, tetap ada sisi positifnya pada sisi tertentu. <a href="http://www.japan-101.com/government/rice_trade_policy.htm" >Kebijakan Dagang Beras Jepang</a> sejak tahun 1961 hingga saat ini (2011) misalnya. Hukum ini ternyata melindungi Jepang sehingga bisa swasembada beras dan memakmurkan petani beras. Contah lainnya lagi, ketika dunia dilanda krisis global sejak 2008, banyak sekali pemerintah negara-negara di dunia yang mengambil alih tata cara perdagangan aset milik rakyat (Contoh: Swedia dan Denmark di tahun 2009 yang memperketat peraturan agar warganya tidak menjual properti pada masa krisis).</p>
<p>Di Republik Indonesia, kita memilih yang pertama. Kita? Entahlah&#8230; Mungkin tidak sepenuhnya tepat kalau disebut kita. Sebab toh para pendiri bangsa memilihkan hukum itu untuk kita. Para manusia Indonesia yang masih hidup saat ini.</p>
<p>Yang pasti, saat ini kita percaya bahwa hukum di Indonesia dibuat demi kepentingan Warga Negara Indonesia. Mulai dari presiden hingga jelata, tua muda, pria wanita, kalau masih bisa disebut WNI, maka hukum ini memang spesial untuk mereka.</p>
<p>Namun ajaibnya, meski digadang-gadang kalau Undang-Undang Dasar negara yang sebenarnya diterjemahkan dalam kitab hukum pidana maupun perdata, kelihatannya bahwa isi hukum di Indonesia terdiri dari gado-gado hukum kontingental Eropa (warisan penjajah Belanda), hukum agama (akibat mayoritas reliji warga negara), dan hukum adat (karena banyaknya suku-suku di nusantara).</p>
<p>Jadi pada intinya, yang bikin hukum jaman dulu itu (entah jaman kini juga) kelihatannya asik sekali main comot sana-sini. Ambil yang baik, buang buruknya, tentu saja ini yang jadi motivasi.</p>
<p>Tapi apa benar kita telah mengambil yang baik dan membuang buruknya?</p>
<p>Apa benar, mengambil yang baik dan membuang yang buruk menjadi salah satu motivasi para pengambil keputusan para manusia setengah dewa itu yang produk bernama hukumnya akan menentukan nasib makhluk hidup bumi pertiwi? Apa benar hukum masih berpihak pada warga, bukan pada oligarki para pemilik modal besar saja?</p>
<p>Jika benar, bukankah hukum seharusnya dibuat atau diambil untuk melindungi makhluk hidup dan bumi ini, bukan malah mengancam atau merusaknya?</p>
<p>Beberapa waktu lalu, saya membaca kembali kasus Rumah Sakit Omni vs Ibu Prita.</p>
<p>Saya kira kasus ini telah selesai. Prita menang! Koin terkumpul di Langsat sampai karungan. Bahkan para rocker ikut teriak menyanyi demi kebebasan dalam konser bernama Free Prita. Oh yeah!</p>
<p>Iya Prita menang. Suara konsumen menang. Suara <em>wong cilik</em> menang!</p>
<p>Saya kira ia menang. Anda kira ia menang?</p>
<p>Kelihatannya saya salah. Kelihatannya Anda salah.</p>
<p>Pagi ini membaca bahwa Mahkamah Agung mengeluarkan kasasi keputusannya dalam kasus Prita vs RS OMNI. Dalam putusan kasasi tersebut, Prita nantinya akan dihukum penjara kembali seperti yang dialaminya dahulu saat menghuni penjara wanita Tangerang. (<em>sumber</em> <a href="http://www.antaranews.com/berita/1310121076/kasasi-dikabulkan-prita-langsung-temui-oc-kaligis" >AntaraNews</a>)</p>
<p>Iya, kita kaget membacanya. Bukankah negara telah dengan paksa merenggut ibu-ibu korban malpraktik RS OMNI ini dari anaknya dengan memasukkannya ke penjara dulu? Loh kok sekarang akan dimasukkan penjara lagi? Jika memang haknya sebagai konsumen dan ibu telah diinjak-injak dan keadilan tidak berpihak kepadanya, kemana itu produk hukum gado-gado warisan nenek moyang yang seharusnya dan katanya melindungi warga?</p>
<p>Saya pikir para manusia yang ada Mahkamah Agung jelas bukan orang tolol. Juga jelas bukan para anak sundal yang berhobi <em>fetish</em> menjilat pantat. Seharusnya saya pikir mereka jauh&#8230; Jauuuuh lebih pintar daripada saya dan orang sekampung Cilincing yang awam ini melihat korelasi antara hukum dan keadilan.</p>
<p>Jika Prita sudah diperlakukan tidak adil oleh negara dan hukum juga tidak berpihak kepadanya. Kepada siapa lagi kita akan berharap?</p>
<p>Hukum dan keadilan itu memang beda. Hukum itu produk. Jika produk itu sudah busuk, bukankah kewajiban kita menggantinya dengan yang lebih baik?</p>
<p>Apa yang terjadi dengan Prita itu sudah sedemikian busuk.</p>
<p>Jika hukum itu produk&#8230;. Jika produk itu dibuat dan disetujui kita sebagai warga negara&#8230; Apa artinya kita juga ikut busuk? Jangan-jangan hukum yang busuk adalah cerminan kita yang sudah benar-benar membusuk?</p>
<p>Padahal dalam bahasa yang sederhana atau bukan&#8230; Jika hanya dengan diam, kita pula akan membusuk pelan-pelan.</p>

<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1ByQ3Siw_F0-gYh2avI6NO0xnTM/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1ByQ3Siw_F0-gYh2avI6NO0xnTM/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1ByQ3Siw_F0-gYh2avI6NO0xnTM/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1ByQ3Siw_F0-gYh2avI6NO0xnTM/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=-CehMhmZlK0:E_0zp3AwmMI:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=-CehMhmZlK0:E_0zp3AwmMI:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?i=-CehMhmZlK0:E_0zp3AwmMI:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?a=-CehMhmZlK0:E_0zp3AwmMI:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BangaipDotOrg?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BangaipDotOrg/~4/-CehMhmZlK0" height="1" width="1"/><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/PlanetBangaip/~4/Z3M03Bv6I2w" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/-CehMhmZlK0/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://feedproxy.google.com/~r/BangaipDotOrg/~3/-CehMhmZlK0/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>

