<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962</atom:id><lastBuildDate>Fri, 25 Oct 2024 08:51:08 +0000</lastBuildDate><category>1987</category><category>1973</category><category>1972</category><category>1974</category><category>1975</category><category>1981</category><category>1985</category><category>1986</category><category>1988</category><category>1979</category><category>1982</category><category>1983</category><category>1995</category><title>Pojok Mahbub Djunaidi</title><description>Koleksi esai-esai H. Mahbub Djunaidi di pelbagai media massa</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-7745138691751392699</guid><pubDate>Wed, 14 Nov 2012 09:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-11-14T01:09:44.861-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1982</category><title>Pergeseran Tata Nilai dalam NU</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;

&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Buku Pramudya Ananta Toer yang ditulisnya di Pulau Buru memang dilarang. Tapi ada kalimat di situ yang menarik perhatian saya. Bunyi kalimat Itu: bersikap adillah sejak dalam pikiran. Siapa bisa bantah kebenaran anjuran itu ? Jelas saya, tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Oleh sebab itu saya berusaha bersikap adil menilai kasus DR. KH. Idham Chalid. Sikap adil bukan saja mulai dalam pikiran, tapi juga ketika menuangkannya dalam tulisan ini. Sikap adil apa yang saya maksud? Begini. Dari sejak awal tahun 60-an saya mengidap sikap ganda terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Di satu pihak saya menyukainya, dan pada saat yang berbarengan saya menolaknya. Pergantian sikap yang satu ke sikap yang lain begitu seringnya sehingga sulit dihitung jari. &amp;nbsp;Dan karena seringnya itu pula, maka segala sesuatu berjalan seperti tidak ada apa-apa. Bila laki-bini tiap menit bertengkar, para tetangga menganggapnya angin lalu. Tak seorang pun menyimak, kecuali meludah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apanya yang saya suka? Pertama karena dia kurus. Saya suka orang yang kurus. Kedua humornya tinggi. Saya suka humor, saya benci cemberut. Bukankah cuma binatang yang tidak suka tertawa? Ada memang saya dengar binatang kuda bisa tertawa, tapi saya kira itu bohong besar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan apanya yang saya tolak? Sifat pelupanya yang tinggi. Ini memang manusiawi. Tapi jika kelewatan, masalahnya bisa jadi lain. Akibat sifat ini, sering dia bilang A pada saya dan bilang B pada lain orang. Padahal perkaranya itu-itu juga. Ini membuat saya tersandung-sandung. Padahal saya kurang suka tersandung-sandung itu. Kemudian saya juga kurang sepakat dengan kebiasaannya mengambang pada saat keputusan yang diperlukan. Bukankah tugas seorang pemimpin sebetulnya gampang saja: mengambil keputusan? Bilamana seorang pemimpin tidak suka mengambil keputusan tegas yang jadi pegangan (tak peduli keputusan itu benar atau meleset), maka segala sesuatu akan jalan mengambang. Seperti layang-layang putus talinya, dan akan jadi rebutan anak-anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Atas dasar itu saya sering melancarkan kritik terbuka, kadang kala keras. Akibatnya sering membawa akibat fatal buat diri saya, tapi saya tidak peduli. Misalnya kasus yang menimpa harian “Duta Masyarakat”. Sebagai pemimpin redaksi koran partai NU, saya tidak begitu saja tunduk kepada jalan pikirannya. Berulang kali saya ditegur, tapi saya nekad. Saya percaya sayalah yang benar karena jurnalistik memang bidang saya. Apa akibatnya? Akibatnya tentunya pada suatu saat turun suatu keputusan yang isinya cukup jelas: Harian “Duta Masyarakat” dipecat selaku organ resmi partai NU! Kendati akhirnya rujuk lagi, tapi yang jelas harian resmi partai NU itu pernah jadi anak gelandangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah sikap penolakan terbuka saya ini diterima baik oleh alam seputar? Tentu saja tidak. Sikap saya seperti itu dianggap “bukan kultur NU”. Dianggap menyimpang dari tata nilai NU. Orang NU yang baik adalah orang NU yang menyimpan kritik di dalam saku belakangnya. Mengkritik pemimpin adalah bertentangan dengan keharusan hormat kepada orang tua. Bertentangan dengan akhlak “tawadhu”. Maka harga saya segera merosot menjadi harga seekor serigala yang mesti dijauhi. Mesti diceburkan kecomberan!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Orang yang paling rajin menasihati saya supaya merubah akhlak saya itu adalah KH. Saifuddin Zuhri. Merasa menjadi orang yang paling paham “kultur dan tata nilai NU”, dengan sendirinya saya senantiasa dapat dampratan, paling sedikit cegahan. Jangan begini dan jangan begitu. Bukan cara NU begitu. Mengkritik model begitu sudah berada di luar garis peradaban NU. Dan seterusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Maka akibatnya sudah bisa dibayangkan: saya bingung bukan alang kepalang. Apakah saya mesti berdiam diri seperti sebatang lilin? Apa mesti saya telan saja apapun yang datang ke mulut tanpa periksa sedikitpun? Apa mesti saya iyakan apa yang mestinya saya tidakkan? Apa saya mesti meningkahi irama gendang yang ditabuh seorang pemimpin? Apa mesti saya tersenyum-senyum dan manggut-manggut meskipun saya tidak yakin kebenarannya? Apa kritik itu termasuk barang yang haram? Bagaimana mestinya yang bersikap “tawadhu” sedangkan saya berpendapat yang berbeda? Bagaimana mestinya saya mengatakan “Nol!” itu? Apa cuma boleh dalam mimpi?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitulah saya mendapat ceramah tentang “kultur dan tata nilai NU” sehingga saya bisa lulus cum laude bilamana diadakan satu ujian. Simpanlah kritik kamu itu, atau lemparkan ke tengah samudra hingga lenyap selama-lamanya. Unjukkan sikap “tawadhu” kepada pemimpin, tak peduli apapun yang dilakukan pemimpin itu. Itulah cara yang terbaik dan itulah cara yang paling selamat. Bikinlah kalbu pemimpin itu senantiasa girang gembira, itulah jalan terbaik yang tersedia bagimu. Sekarang saya menjadi bingung. Amat bingung! Orang yang justru jadi penasihat saya, orang yang senantiasa mencegah saya melakukan kritik terbuka, justru sekarang menjadi pengkritik yang paling keras terhadap diri DR. KH. Idham Chalid. Dan orang itu tak lain dan tak bukan dari KH. Saifuddin Zuhri sendiri! Bahkan bobot kritiknya jauh lebih keras dari yang biasa saya lakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Rupanya dunia sudah terbalik sungsang, pikirku. Rupanya malam sudah menjadi siang dan siang menjadi malam. Sang wasit agung sudah turun sendiri ke lapangan dan menggiring bola hingga ke tiang gawang. Apalagi jadinya kalau bukan membikin saya terlongo-longo? Apa sesungguhnya sudah terjadi? Apa sekedar fatamorgana atau nyata senyata-nyatanya? Pening kepala saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang membikin saya lebih terlongo-longo adalah peristiwa belakangan ini. Bukan cuma KH. Saifuddin Zuhri yang turun langsung lancarkan dia punya misil kritik terhadap diri DR. KH. Idham Chalid, melainkan juga para ulama besar NU, saya ulang: para ulama besar NU! Bilamana NU itu dimisalkan sebagai perseroan terbatas, maka para ulama itu merupakan para pemegang saham istimewa yang kedudukannya tinggi di atas awan. Nah, apa komentar saya terhadap kejadian ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kritik terbuka tampaknya sudah mulai membudaya. Kultur dan tata nilai yang selama ini dianggap amat mapan, dianggap tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, sekarang sudah berubah bentuk. Sekarang sudah bergeser. Sudah bergerak mencari bentuk barunya. Apakah ini berkat perubahan tata nilai masyarakat itu sendiri? Apakah ini menjadi kemauannya sang evolusi sosial itu sendiri?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apalagi kritik para alim ulama NU terhadap kepemimpinan DR. KH. Idham Chalid bukanlah kritik sembarang kritik, melainkan kritik yang berbobot berton-ton. Kritik itu sudah menggunakan “fiqh” sebagai barometer. Artinya, DR. KH. Idham Chalid oleh para alim ulama besar NU termasuk Rois Aam NU, dianggap sudah berbuat di luar pagar kaidah “fiqh”. Apa artinya jika seorang Ketua Umum Tanfidziyah NU sudah dianggap para alim ulama tidak lagi berpijak pada kaidah “fiqh”? Tak mampu saya bayangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap ini sudah dikemukakan secara blak-blakan oleh para alim ulama termasuk Rois Aam di depan Menteri Agama Alamsyah malam Jum‘at tanggal 4 Juni 1982 di Jakarta. Malam itu Menteri Agama mengundang para alim ulama yang terdiri dari KH. As‘ad Syamsul Arifin dari Situbondo, KH. Machrus Ali dari Kediri, KH. Ali Maksum dari Krapyak. Sesudah makan malam, mereka berbincang selama 1 jam 20 menit. Satu perbincangan yang lama dan intensif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak mudah menyimpulkan segala macam apa yang sedang terjadi di dalam tubuh NU ini. Tapi secara gampang-gampangan saja, bisalah saya katakan bahwa sedang terjadi pergeseran kultur dan tata nilai NU secara amat mendasar. Apa sebab secara mendasar? Karena baru kali ini terjadi seorang Ketua Umum Tanfidziyah berbeda pendapat dengan para alim ulama NU. Baru kali ini para alim ulama NU menganggap Ketua Umum Tanfidziyah (DR. KH. Idham Chalid) sudah tidak sejalan dengan kaidah “fiqh”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa ujung cerita ini? Mana saya tahu! Yang jelas, ini bukanlah sekedar masalah rutin. Ini masalah amat mendasar yang menyangkut nilai-nilai dasar NU sendiri. Eksistensi rohaniah NU berada dalam taruhan. Bila organisasi yang namanya “Nahdlatul Ulama”, para ulamanya sudah bilang A dan Ketua Umum Tanfidziyah bilang B, hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana menyelesaikan kemelut esensiil ini. Betul lho, saya tidak tahu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Merdeka&lt;/i&gt;, 12 Juni 1982.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;/script&gt;
&lt;!-- AddThis Button END --&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/11/pergeseran-tata-nilai-dalam-nu_14.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>12</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-646903622583423973</guid><pubDate>Sat, 11 Aug 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-11T10:00:05.476-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1975</category><title>Bukan Ini Bukan Itu</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Sosialisme
ala Indonesia, kata Bung Karno, bukanlah seperti Uni Soviet atau RRT atau
Yugoslavia atau Mesir, pokoknya bukan seperti siap-siapa. Kalau masalahnya
sekadar bukan ni bukan itu, jangan-jangan bukan sosialisme sama sekali, tukas
Njoto yang PKI.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Itu
tentang sosialisme, sekarang tentang Pancasila. Negara berdasar Pancasila bukan
negara agama, tapi juga bukan negara sekuler, kata Prof. Dr. N. Drijarkara
tahun 1959. Bagaimana memahaminya? Bukan sekuler, karena negara mengakui dan
memberi tempat buat religi. Bukan negara agama, karena tidak mendasarkan diri
atas suatu agama tertentu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Demokrasi
ekonomi adalah yang bukan &lt;i&gt;free fight
liberalisme&lt;/i&gt;, tapi bukan pula &lt;i&gt;etatism,
&lt;/i&gt;dan bukan pula &lt;i&gt;monopoli&lt;/i&gt; merugikan
masyarakat, kata GBHN. Baiklah, tapi yang bagaimana? yang sosialistis,
religius, petunjuk presiden Soeharto tatkala Dies Natalis UI ke-25. Begitu
halnya Demokrasi Pancasila, bukannya liberal, bukannya terpimpin, dan bukan
pula diktatur, yang dalam hal menyelesaikan masalah nasional lewat masyarawah
mencapai mufakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Baku
hantam agama tidak betul. Yang betul kerukunan hidup antar agama. tapi,
bukannya sinkretisme, kata menteri agama Mukti Ali. Sebab, sinkretisme mau
coba-coba campur aduk segala rupa agama menjadi satu. Karena menganggap semua
agama itu satu punya latar belakang sejarahnya sendiri-sendiri. Terikat
hukumnya sendiri-sendiri. Jalan sintesa? Itu kan cuma kerja comot sana comot
sini. Apa guna!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Belakangan
timbul “bukan” yang lain. Modernisasi bukan westernisasi ujar Prof. Dr.
Kuntjaraningat. ”Bukan” ini perlu diberitahukan karena banyak orang yang tidak
tahu. Dikira pakai topi malam-malam sudah tergolong modernisasi. Atau angkat
kaki di pinggir meja. Atau minum bir. Atau tidak lagi mandi tiga hari tiga
malam. Atau kalau bicara yas yes yos. Atau kentut di depan umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Padahal,
modernisasi masalah mengubah mental, usaha sadar menyelematkan diri dengan
keadaan sekarang, supaya jangan sampai orang jalan ke depan, kita jalan miring.
Meminjam konsep C. Kluckhohn, tanda-tanda orang modern ada 5 : punya sikap
positif terhadap hidup - punya orientasi karya yang tinggi - punya orientasi ke
depan - punya hasrat menguasai alam - individualistis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Kalau
resep yang banyakan juga ada, ambil punya Alex Inkeles, modernisator edisi
Harvard, 9 macam tanda: punya sikap terbuka terhadap perubahan - punya opini
terhadap masalah yang timbul di sekitarnya - orientasi ke masa depan - hidup
berjalan lewat rencana dan organisasi - dunia ini bisa diperhitungkan bukan
pasrah nasib-nasiban - menghargai nilai diri dan orang lain - yakin akan faedah
ilmu dan teknologi - percaya pada tiap hasil yang diperoleh semata-mata berkata
jasa yang diberikan, bukan sebab-sebab lain, &lt;i&gt;distributive-justive.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Bukan
semua mesti ditelan. Nilai agama dan keluarga tak usah digeser-geser. Tapi
nilai orientasi karya, disiplin murni. Orientasi ke masa depan, hemat,
mengelola alam, menilai tinggi inisiatif individu. Harus dikembangkan.
Bagaimana akan hal gotong royong? Kalau itu berarti ide bahwa orang hidup di
dunia ini cuma unsur kecil belaka yang ikut beredar dalam kosmos besar, okey.
Tapi kalau maksudnya menghayo-hayo rakyat seraya memberi upah murah, tidak.
Apalai sambil menendang pantatnya, sekali-kali tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Ini
suara antropolog Indonesia. Astrolog sih orang banyak tahu, tapi Antropolog?
Bisa dimaklum, tulis Clyde Kluckhom (&lt;i&gt;Mirror
of Man, &lt;/i&gt;1961) yang konsepnya diikuti Koentjaraningat. Dianggap sekadar
tukang ukur tengkorak, pengumpul pot tembikar yang tukang loak pun tak sudi
menyentuh, penggali kuburan yang menggelikan, gemar berkencan dengan tukang
penggal kepala, tak henti-hentinya cari &lt;i&gt;missing
link&lt;/i&gt; sampai kaki semutan, merenung-renung apa sebab orang China tak doyan
susu, selidik sampai mata lamur di Amerika jadi Amerika. Pendek kata,
antropolog itu dianggap satu-satunya makhluk yang sampai hati memandang
tempayan Indian sama kreasi budayanya dengan sonata Bethoven.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Padahal,
urusan antropolog tidak seganjil itu benar. Dia mencoba meletakkan dasar ilmiah
buat masalah dunia yang pelik, apa sebab manusia yang berbeda-beda usul,
tingkat pengetahuan dan cara hidup, bisa akur bergaul tidak cekcok, tidak
saling cekik dan tikam sesamanya. Buktinya, Prof. Dr. Kuntjaraningrat telah
menyuguhkan problem, lepas dari soal setuju atau tidak setuju, yang tidak kalah
penting dengan APBN. Dan buktinya, pengarang &lt;i&gt;The Proper Study of Mankind, &lt;/i&gt;Stuart Chase, berkomentar tentang
karya Clyde Kluckhon : Coba kalau negarawan dunia merenungkan betul-betul
apakah yang tersurat dalam &lt;i&gt;Mirror of Man&lt;/i&gt;,
niscaya semua orang bisa tidur nyenyaklah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;, 15 Maret 1975&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/08/bukan-ini-bukan-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-5488375324492354724</guid><pubDate>Mon, 06 Aug 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-06T10:00:00.565-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1979</category><title>Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify;&quot;&gt;Anak-anak,
kasih unjuk lapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang
hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal tidak banyak. Ini merupakan pentung
ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. sekarang kamu boleh pulang,
sampai ketemu habis lebaran,” kata menir van Daalen seraya mengusap batang
hidupnya, suatu kebiasaan sebagian besar bangsa Belanda yang hidup di bawah
permukaan laut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Beresoknya,
beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur, anak-anak senewen itu masuk keluar
kampung menabuh kaleng rombeng, kemudian duduk berjuntai di batang belimbing
hingga lohor, sesudah itu tidur telungkup menekan perut keras-keras ke ubin
langgar hingga hampir maghrib. Jika saat berbuka puasa tiba, mereka nyaris
menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih
shubuh, yang mereka lakukan sambil sekali dua menyikut rusuk temannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam
hubungan ini C. Snouk Hurgronje benar : pokoknya jangan sentuh agama Islam,
bisa berabe. Toh kultur Jawa masih kuat, mampu memproduksi penduduk paling taat
kepada atasannya seluruh dunia. jangan main paksa - seperti disaksikan Van der
Plas di Madura tahun 1919 - murid sekolah bolos disuruh bersila di pendapa
asisten Wedana seraya dicoreti punggungnya dengan tulisan “Je Maintiendrai”.
Kapan pun juga main paksa tidak bisa menyelesaikan soal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dan
dalam hubungan sentuh agama Islam ini, kolonialisme Belanda pada umumnya cukup
bijak. Buat apa bikin perkara dengan mereka kalau maksud sedalam-dalamnya
adalah soal rezeki, urusan perdagangan, &lt;i&gt;een
mercantile betrekking? &lt;/i&gt;Seyogianya menghormati pesantren-pesantren di Jawa
pada umumnya terletak di tengah lautan kebuh tebu agar supaya santri Buntet di
Cirebon atau Tebuireng di Jombang tidak mengobrak-abrik pabrik sambil
menggulung kain sarung hingga lutut. Gula, yang merupakan gabus tempat kerajaan
Belanda mengapung, tidak boleh terancam. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Zaman
berganti, dan kini giliran Kawasaki-san berdiri di depan kelas. “Anak-anak,
kasih unjuk rapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang
hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal jangan banyak-banyak. Ini merupakan
pentung ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. Sekarang kamu boleh
pulang, sampai ketemu habis lebaran.” Sesudah menyanyikan lagu kebangsaan &lt;i&gt;Kimigayo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Seikerei &lt;/i&gt;itu berhamburan ke luar kelas bagai kelereng tumpah dari
dosnya. Seperti biasa, esok hari beduk puasa berdentam-dentam, dan seperti
biasa mereka bergolek-golek di lantai langgar. Satu dua juga yang diam-diam
menggigit mangga muda di belakang kakus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam
hubungan ini, H.J. Benda dalam ‘&lt;i&gt;The Cresent
and The Rising Sun&lt;/i&gt;’ benar: biarpun Bupati Bandung Wiranatakusumah menyimpan
motif tersendiri menggalakkan Baitul Mal di beberapa keresidenan Jawa Barat,
pemerintah Dai Nippon mendiamkan saja demi mencegah &lt;i&gt;kortsluiting &lt;/i&gt;dengan Islam. Dan biarpun pemuka Islam menyimpan
keinginan sendiri menghadapi latihan Hizbullah di Lemahabang, Jepara pura-pura
bersungguh hati demi “Asia Timur Raya”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Di
alam merdeka tentu keadaan berbeda. Anak-anak sekolah tambah jangkung, lebar dada
dan tebal pantatnya. Ini berkat gizi cukup dan kemakmuran yang makin merata,
terutama berkat kegesitan orang tua masing-masing. Jangan dibilang lagi tingkat
kecerdasan mereka yang semakin meninggi, sebagian disebabkan karena orang
sekarang mempunyai cara mengukurnya, dengan bantuan mesin yang tidak bisa
dibantah. Akibat mereka yang ingin sekolah jauh lebih banyak jumlahnya dari
bangku yang tersedia, maka yang berhasil duduk dengan sendirinya merupakan
makhluk pilihan, bagai ayam Bangkok di antara ayam kampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Betapa
istimewanya, mereka punya guru guru baik lelaki maupun perempuan. Menjelang
hari puasa, pendidik itu tegak berdiri di depan kelas.”Anak-anak, sesuai
panggilan zaman, kamu dpersiapkan untuk berjalan-jalan dari planet ke planet,
atau menyuruk jauh ke dalam perut bumi. Karena itu, kamu musti belajar keras,
tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima
tahun.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;&quot;&gt;,
26 Mei 1979&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;right&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: right;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/08/bulan-puasa-anak-anak-sekolah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-2732839804310597292</guid><pubDate>Wed, 01 Aug 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-08-01T10:00:04.294-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1972</category><title>Dinamisasi via Binatang</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Mulanya
saya kira cuma Hippy, Beatnik, The New Left saja yang dijuluki orang
“subkultur”. Belakangan saya diberitahu lewat tulisan Abdurrahman Wahid Hasyim
(&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;, 11 Maret 72) bahwa pesantren
juga suatu profil subkultur. Terserah bagaimana baiknya sajalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Subkultur
yang namanya pesantren ini sekarang sedang jadi bulan-bulanan Menteri Agama
Profesor Doktor Mukti Ali. Segera sesudah Menteri Agama membabat
eksponen-eksponen penting di departemennya dan menggantinya dengan orang-orang
yang diduga lebih cocok, kerlingan mata bergeser ke pesantren. Apakah gerangan
salah pesantren?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Salah
sih tidak, cuma “kurang”. Sebagai muslim modernisator, apalagi sekaligus
kedudukan Menteri Agama, Mukti Ali tentu tidak ingin modern sendirian, karena
toh tidak akan banyak faedahnya. Menjadi modern bukan tugan avonturir. Maka,
dengan mekanisme Departemen yang ada padanya, pilihan jatuh pada pesantren. Pesantren
harus modern, dinamik, supaya tidak tercecer meningkapi kiprahnya pembangunan.
Lebih dari itu: Pesantren jangan jadi penghambat, jangan jadi seteru
pembangunan yang naik darah, jangan malas, lamban atau pun kikuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Bagaimana
caranya? Modernisasi adalah urusa yang hampir-hampir tak ada ujungnya. Sebab,
apa saja sebetulnya terbuka untuk dimodernisasi. Mulai dari struktur politik,
hukum, penagihan pajak, menakut-nakuti maling atau cara merekat prangko. Begitu
pula halnya tentu dengan pesantren. Asal ongkos cukup, pintu perubahan menganga
lebar. Mau pasang diesel, pakai kursi puter, sirene, apa saja bisa. Kurikulum
pun bisa diatur. Berani bertaruh, tak seorang pun akan menyongsong gagasan
modernisasi itu sambil mengacungkan golok. Asal paham lubang-lubangnya, tak ada
yang perlu dikhawatirkan. Kiai-kiai yang seangker apa pun adalah manusia
seperti kita-kita, tak kecuali redaktur majalah berita ini. Jangan dibilang
lagi santri-santrinya. Sifat manusiawinya fleksibel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Naga-naganya,
pintu masuk yang dipilih Mukti Ali dalam rangka menjelmakan cita-citanya yang
agung adalah peternakan. Untuk tingkat permulaan, tentu digunakan binatang
piaraan yang sudah popular, semisal ayam negeri, entah jenis Leghorn, Minorca,
Barnevelder, Orpington, atau Sussex, pokoknya ayam. Di beberapa pesantren,
berdasarkan situasi-kondisi (disingkat sikon) mungkin para ayam piaraan itu
ditemani keluarga unggas lainnya, seperti bebek. Bukan mustahil, pada tahap
berikutnya terjadi peningkatan kualitatif dengan peternakan binatang berkaki
empat, atau yang tak berkaki sama sekali, misalnya ikan. Asal
prinsip-prinsipnya sudah diletakkan, variasinya soal gampang. Bahkan, jenis
binatang yang kepalang tanggung, ayam bukan burung pun bukan, seperti puyuh,
bisa juga dijadikan ancer-ancer jangka agak panjangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Apa
sebab para santri itu diperkenalkan dengan pergaulan binatang ternak? Mereka
tentu sudah pernah melihat ayam, atau memegangnya, bahkan memakannya sekali.
Bahkan juga mungkin pernah memeliharanya satu dua ekor. Soalnya bukan itu.
Soalnya adalah menggiring mereka untuk berproduksi. Selama ini, rata-rata
orang, khususnya Menteri Agama, memandang pesantren itu ibarat gugusan besar
para konsumen. Pemakan protein hewani maupun nabati, sonder ikut menghasilkan.
Status begini tidak dikehendaki. Bukan cuma mulut yang mesti bekerja, tapi juga
tangan. Kerja mesti dikuduskan. Mereka akan disulap dari konsumen menjadi
produsen. Tanpa harus mengubah sifat pesantren sebagai balai rohani, binatang
piaraan dimasukkan ke sana sebagai sarana dinamisasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Kalau
mau lebih tenang sedikit, sebenarnya patut ditanyakan, kenapa para siswa santri
saja yang dicap sebagai konsumen murni, sedangkan siswa-siswa perguruan umum,
termasuk mahasiswa, tidak. Belum pernah terdengar, mereka itu disindir sebagai
pihak yang kerjanya cuma tidur-bangun-makan-berak. Kalau asal
konsumen-konsumenan, apalah bedanya. Mereka adalah peludes yang cekatan dari
hasil mata pencarian bapaknya. Mereka bukan produsen dalam arti yang
sebenar-benarnya. Namun, tak pernah Menteri Mashuri berkesimpulan sebaiknya dikirim
anak-anak ayam atau kambing ke pekarangan sekolah, untuk memperoleh perawatan
dan pengembangbiakan, yang hasilnya bisa dilego ke pasar oleh dewan guru di
bawah pengawasan orang tua murid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Umpama
saja Mukti Ali seorang ekonom berkualitas penuh, di samping keahliannya yang
langka di bidang urusan banding-membanding agama di dunia ini, pastilah dia
telah melihat kehidupan kita ini secara terbalik sungsang dengan John Kenneth
Galbraith, orang Harvard yang pernah ditunjuk Presiden Kennedy jadi dubes AS di
India, penulis buku-laris &lt;i&gt;The Affluent Society&lt;/i&gt;. Kalau Galbraith
merangssang kalangan ekonomi makmur untuk mencampurkan kegiatan-kegiatannya
dengan aspirasi sosial, moral dan aspek-aspek aestetika, Mukti Ali sedang
merangsang kalangan rohaniah untuk mencemplungkan juga sebelah kakinya ke
urusan ekonomi-produksi. Kalau John Kenneth Galbraith menuding ekonom Inggris
John Maynard Keynes karena yang belakangan ini terlalu gila-pajak dan
gila-moneter, Mukti Ali lebih aman karena tidak seorang pun yang merasa
ditentangnya. Biarpun boleh jadi ada satu dua orang yang tersenyum-senyum
mendengar usulnya menerjunkan binatang piaraan ke pekarangan pesantren, namun
tidak ada orang yang mengritiknya terang-terangan. Soalnya memang tidak ada
urgensinya. Sepanjang menyangkut pesantren, orang harus banyak memahami.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sebenarnya,
mengajak pesantren untuk tercebur ke dalam soal-soal duniawi tidaklah sesusah
yang diduga orang. Mereka itu sebetulnya orang-orang praktis belaka pada
dasarnya, lebih-lebih pengasuhnya. Di mana saja, kapan saja, pesantren perlu
ongkos hidup, tak bedanya dengan balai pertemuan atau rumah sakit. Bukan saja
perlu, tapi kalau bisa jumlahnya terus meningkat. Itu sebabnya, tak pernah
kedengaran ada pesantren yang menolak pemberian Presiden Soeharto. Yang
kedengaran malahan sebaliknya: yang kelupaan berusaha tidak kelupaan lagi pada
fase berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Satu-satunya kesulitan yang mungkin dihadapi Mukti Ali adalah: menderasnya
permintaan-permintaan akan bibit ayam, atau anak bebek, atau mesin penetas,
atau Sulphamezathine untuk memberantas penyakit Coccidiosis pada ayam, atau
ongkos-ongkos operasi produksi. Cara mengatasinya sudah tentu dengan
memperbanyak dana, sebab modernisasi pun perlu ongkos. Jadi, bukannya kesulitan
menghadapi mereka yang menolak pembangunan atau menghardik modernisasi, atau
tukang-tukang pukul tradisi yang kepala batu, yang tidak mau menerima perubahan
apa pun. Insya Allah mereka itu tidak akan muncul. Sebab, memang tak akan
pernah ada semuanya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;, 26 Maret 1972&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/08/dinamisasi-via-binatang.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-1503325586478302730</guid><pubDate>Fri, 22 Jun 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-22T10:00:01.191-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1972</category><title>Demokrasi: Martabat dan Ongkosnya</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pertama-tama,
DPR perlu dihargai. Kedua, perlu ongkos. Sebab, baik sistem diktatorial maupun
demokrasi, kesemuanya butuh anggaran. Itu sebabnya mengapa dalam tempo reses
ini, dari 460 anggota, 23 diantaranya tetap tinggal di Jakarta. Sisanya pulang
ke rumah masing-masing, atau ke mana saja yang mereka kehendaki, pokoknya
istirahat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;UU
No. 16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR/DPR/DPRD punya peluang yang
tidak boleh disia-siakan. Pasal 35-nya mempersilakan lembaga yang bersangkutan
untuk mengatur kedudukan protokoler mereka masing-masing. Aturan-aturan itu
tentu saja harus dibikin bersama-sama pemerintah. Pasal 36-nya memungkinkan
mereka menyusun anggarannya sendiri, supaya sifat dan martabatnya mantap. Jadi,
di dalam Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara bisa terpampang mata anggaran
khusus untuk lembaga-lembaga itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Supaya
peluang yang tersedia itu tidak percuma, dibentuklah Panitia Khusus yang 23
anggota DPR-nya berapat nonstop sampai tanggal 16 Agustus 72. Menyusun
aturan-aturan protokoler dan anggaran keuangan. Kali ini bukan untuk
kemaslahatan para pencoblos, atau siapa pun, melainkan buat diri mereka
sendiri. Kali ini harap publik memaklumi. Sebab, kalau bukan mereka sendiri,
siapa pula yang sempat memikirkan martabat dan nafkah mereka? Pemerintah tentu
kurang tempo, repot dengan urusannya. Apalagi rakyat. Tanpa Panitia Khusus
semacam itu, bisa kapiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Kira-kira
yang dimaui Panitia Khusus itu begini. Demi martabat, aturan protokol untuk
anggota DPR berikut pimpinannya harus jelas. Tak peduli yang dipilih atau
diangkat, pukul rata semua wakil rakyat. Kalau terhadap rakyat kebanyakan saja
tidak boleh sembarangan, apalagi wakilnya. Dalam resepsi, harus tegas kursinya.
Di mana presiden, di mana menteri, di mana gubernur, di mana beliau-beliau
anggota itu. Jangan sampai dibiarkan jongkok. Bukannya jongkok membahayakan
jiwa, tapi hanya gelandangan dan yang berminat hajat besar saja yang biasa
dalam posisi itu. Atau, umpama atas tarikan takdir ada seorang anggota DPR dan
seorang menteri, padahal kursi cuma satu: siapa gerangan yang mustahak
mendudukinya? Pilihan harus cepat dan tegas, karena mustahil mempersilahkan
keduanya duduk bertumpuk seperti keong. Inilah bidang protokol, tata-budaya
meletakkan seorang manusia pada proporsinya, supaya martabatnya tidak terombang
ambing tapi persis terpaut pada skala pangkat dan gaji yang diperolehnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Kemudian
soal anggaran khusus. Martabat akan bisa lebih tegak berdiri kalau ditunjang
oleh ongkos-ongkos yang cukup. Untuk tahun 1972-1973, tersedia anggaran DPR Rp
987.038.900,00. Ini buat segala-galanya, buat secretariat maupun anggota. Tampaknya
belum memadai. Katanya, umpama 2,6 milyar bolehlah. Dengan anggaran seperti
sekarang, urusan jadi agak seret. Mau cicill Volkswagen Rp 50.000,00 sebulan
hampir mustahil, karena honorarium akan habis ditelan mobil. Juga tak cukup
bikin poliklinik khusus anggota yang lumayan. Yang ada sekarang terlampau
sederhana, khusus persediaan obat-obatnya. Untuk sakit pusing kepala dan mules
yang enteng bolehlah. Sakit gigi tidak bisa. Padahal, melihat umur rata-rata
anggota DPR gigi mereka perlu perawatan intensif. Sebab, secara profesi, mereka
perlu bicara banyak-banyak. Peranan gigi sangatlah menentukan. Juga tak perlu
lagi menggendong karung beras dan gula pasir dalam kantong plastik tiap bulan
seperti tempo hari. Ini bisa bertautan dengan martabat. Sukar dibayangkan
apabila seorang senator seperti McGovern menggendong 2 kg gula pasir jatah
bulanannya ke rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Jadi,
Panitia Khusus akan membikin rancangan aturan supaya secara protokoler pimpiman
DPR sama martabat dengan presiden, dan anggota DPR sama dengan menteri, begitu
pula gaji untuk nafkah rumah tangganya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Soal
gaji sama mustahil, kata anggota DPR Amin Iskandar, yang juga jadi angota
panitia. Presiden AS gajinya $ 100.000. wakilnya $ 30.000. Ketua Kongres AS $
30.000. Menteri $ 22.000.&amp;nbsp; Senator atau
anggota Kongres $ 12.000. Jadi, mana bisa disamakan, katanya. Bahkan kalau
perkara pension, di sini lebih lumayan daripada AS. Menurut Civil Act 1930,
senator AS sukarela memilih mau dapat pensiun atau tidak. Kalau mau, dipotong
6%. Pensiunnya baru bisa diterima kalau umur sang senator sudah 62 tahun. Di
sini, begitu sudah tidak jadi anggota DPR tak peduli tua bangka atau muda
belia, otomatis menerima pensiun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Timbul
soal, apa sih sulitnya buat DPR menyodorkan anggaran untuk diri sendiri
seberapa dia perlu, bukankah Pasal 23 UUD 1945 menjamin baginya Hak Bujet yang
bertuah itu? Kalau DPR bisa “memberi” anggaran untuk pemerintah ratusan milyar,
kenapa dia tidak bisa menyisihkan untuk diri sendiri di dalam jumlah yang cukup
di daftar APBN?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Di
atas kertas memang jelas tuahnya. Pemerintah toh tidak bisa berbuat apa-apa
kalau DPR menolak anggaran tahunan. Tapi, berhubung DPR tidak pernah menolak,
bahkan mengurangi angka sepeser pun tidak, tuah Hak Bujet itu kurang bergigi.
Makanya, anggaran pemerintah gampang diakuri DPR, tapi belum tentu anggaran DPR
gampang diakuri pemerintah. Ini berabenya bagi Panitia Khusus. Entahlah kalau
pemerintah menjadi sedikit royal menjelang sidang MPR bulan Maret 1973 nanti.
Royal atau tidak royal, coba sajalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;, 29 Juli 1972&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/06/demokrasi-martabat-dan-ongkosnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-3680943211891510705</guid><pubDate>Sun, 17 Jun 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-17T10:00:03.819-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1974</category><title>Mengunyah-ngunyah Strategi</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Bikin
Proyek Senen itu susah. Tapi, merusaknya dengan sekali sabet, jauh lebih susah.
Pertama, perlu ada ribuan orang. Kedua, ribuan orang yang nekad. Apalagi, nekad
itu termasuk barang larangan, yang pelanggarannya memerlukan situasi rohani
tertentu. Begitu istimewa soal rusak-merusak ini, sehingga seorang dewa perlu
dijelmakan dan dipuja: Sang Siwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Begitu
pula hal bangun-membangun pada umumnya. Membangun itu sulit. Tapi, membangun
untuk kesenangan selapis kecil orang di tengah-tengah tetangganya yang hidupnya
bukan main ruwet, jadi lebih sulit. Pertama, perlu cerdik. Kedua, perlu
serakah. Jelas, urusan ini mustahil bisa dipegang orang awam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Agar
supaya yang sudah sulit itu tidak jadi percuma, tidak dirusak atau tidak jatuh
ke tangan serakah semata, perlu ada yang namanya “strategi”. Strategi
pembangunan, begitulah. Rupa-rupa resep dan petuah sudah diperjual-belikan
orang, yang satu merasa lebih manjur dari yang lain, tak ubahnya bagaikan aneka
jenis obat batuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sosialisme
Indonesia, ke situ kita menuju, kata Bung Karno. Awas, bukan Sosialisme ala
Rus, bukan RRC, bukan Mesir, bukan Yugo, bukan mana-mana. Mendengar ini, Nyoto
menyindir: Kalau soalnya bukan sosialisme ala ini atau ala itu, jangan-jangan
memang bukan sosialisme sama sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Membangun
ekonomi yang bukan Etatisme dan bukan pula Liberal, kata GBHN. Untuk kesekian
kalinya, ekonomi “bukan ini dan bukan itu” tampil lagi dalam urusan strategi.
Dan di samping rumusan resmi, tak terhitung pula banyaknya rumusan sumbangan.
Mengingat soal bangun-membangun ini bukan beban ekonomi semata. Dr. Mukti Ali
mengkhotbahkan perlunya “strategi pembangunan yang pluralistik”. Apa itu?
begini: Negara itu harus boleh memilih cara membangun sendiri, yang selaras
dengan masyarakat. Jadi bukan harus berarti “westernisasi”. Biarpun pendapat
inikeluar di ceramah Goethe Institut beberapa hari sebelum dinobatkan jadi
Menteri Agama, tidaklah mengurangi arti pentingnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Bah,
nonsens semuanya itu, kata Mahbub ul Haq, penasihat senior Bank Dunia. seperti
halnya berpaling ke negeri-negeri maju cari bantuan sistem ekonomi campuran
Cuma mendatangkan bencana saja. Mendingan berpaling ke dalam, seperti ulah
Peking itu, cari pola konsumsi yang lebih sesuai dengan kemiskinannya, lewat
panci atau belanga atau sepeda. Tak meniru-niru negeri maju, membuang-buang
tenaga. Lantas, bagaimana pula itu strategi kesohor “kemiskinan sirna lewat
laju pertumbuhan yang tinggi”? Ini pun nonsens, kata Pakistani itu. Jurang si
kaya dan si miskin malahan jadi melebar, bukannya menciut. Satu-satunya
strategi yang paling jitu adalah: tanggulangi kemiskinan secara langsung, habis
perkara. Tak guna itu sistem ekonomi campuran, sistem “bukan ini dan bukan
itu”. Dan tak guna GNP-isme segala macam. Dan berhentilah jadi budak ekonomi
“permintaan pasar”, berhubung konsep ini terlalu mencemoohkan orang miskin yang
daya belinya lemah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Nah,
apa yang harus dilakukan? Adakah sesuatu yang keliru pada
“strategi-pembangunan”? Apa perlu “etos baru” yang diusulkan Goenawan Mohamad,
yang kira-kira seperti gaya Ghandi, walau tidak usah persis betul? Yang
sederhana, lugu, tak muluk?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Walau
jam malam sudah tiada, orang sama bebasnya seperti kalong, dan toko Astra sudah
didandani lagi, soal pokok belumlah terpecahkan: bagaimana lebih mengurus orang
miskin. Bagaimanapun, ini harus ada yang mengurus. Kalau tidak, bisa jadi
urusan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Tak
punya kekuasaan sama bahayanya dengan kebanyakan kekuasaan. Karena itu,
pembagian kekuasaan sebenarnya mengurangi risiko yang tidak perlu. Juga
pembagian rezeki yang lebih merata, berhubung orang susah gampang naik darah.
Ini merepotkan negeri, percayalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sembari
melangkah ke sana, patut berbijak-bijak dengan kaum muda. Tak usah
berbelit-belit, karena mereka sudah paham. Coba saja dengan kata penyair Rus,
Yevgeny Alexandrovich Yevtushenko ini: “&lt;i&gt;Mendustai
anak muda itu salah. Soalnya karena anak muda itu sudah mafhum. Soalnya anak
muda itu rakyat&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;, 2 Februari
1974.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/06/mengunyah-ngunyah-strategi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4794812225821093306</guid><pubDate>Tue, 12 Jun 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-12T10:00:06.599-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1985</category><title>Afrika</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Hakikatnya sih perbuatan
mesum. Tapi karena orang Inggris bukan orang sembarangan, melainkan g&lt;i&gt;entleman&lt;/i&gt;,
maka dia lebih suka menyebutnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;white’s man burden&lt;/i&gt;. Orang Prancis
yang lebih puitis menyebutnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;mission civilatrice&lt;/i&gt;, dan orang Jerman
penyebaran&amp;nbsp;&lt;i&gt;kultur&lt;/i&gt;. Sedangkan orang Italia, yang biasanya suka
hingar-bingar, kali ini tak menyuguhkan istilah apa-apa; Cuma mengumbar
altruisme agresinya dengan jalan merampas Somalia, menggaet Tripoli,
menginjak-injak Ethiopia dan Eritrea, serta melahap apa saja yang tampak di
atas buminya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Buat orang Afrika
sendiri macam-macam sebutan itu tak banyak beda satu sama lain. Toh maksudnya
serupa: Membagi-bagi kampung halaman mereka seperti memotong kue talam,
mengangkut kekayaan benua raksasa itu ke Eropa, memecut punggung penduduk
hingga tak kuasa menjerit. Pokoknya kolonialisme dalam makna yang paling tulen.
Sivilisasi ataupun kultur yang ditawarkan Barat kepada Afrika tak lain dari
perbudakan sistematis, lewat dukungan bank dan lembaga-lembaga penyelidikan
ilmiah. Misalnya, tak lain dari sejarawan Honataux yang menampilkan rumus ajaib
bahwa Madagaskar secara historis menjadi bagian dari Prancis, sehingga Ratu
Hova tiba-tiba menjumpai negerinya yang 1.000 mil lebih luas dari negeri
Prancis sendiri menjadi daerah lindungan pemerintah Paris.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Belenggu yang melilit
leher ini mesti dipatahkan, cepat atau lambat. Hutan belantara supaya bisa
menyanyi lagi lewat gesekan daun dan dahan. “Masalah utama abad XX adalah
bagaimana corak hubungan kulit berwarna dengan kulit putih, baik di Asia,
Afrika, maupun di pulau-pulau sekitarnya,” kata William du Bois di kongres
pertama gerakan Pan Afrika tahun 1900 di London. Kepalan tinju segera
diacungkan oleh anak-anak jajahan yang bertubuh gempal dan bergigi seputih bulu
belibis: Kwame Nkrumah, Nnandi Azikiwe, Isaka Seme, Jomo Kenyatta, Tom Mboya,
Yulius Nyerere, Modeiba Keita, Sekou Toure. Campur aduk antara rasa kesadaran
ras&amp;nbsp;&lt;i&gt;blackism&lt;/i&gt;, paham nasionalisme modern, semboyan “Afrika untuk
bangsa Afrika”, bermuarakan ke suatu tekad jua adanya: kemerdekaan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Penyair Aime Cesaire,
yang merasa kikuk dengan politik, dan memilih Paris sebagai markas besar
perjuangan kulturalnya melawan kolonialisme, segera berkencan dengan Petar
Guberina dari Yugoslavia dan mengajaknya berleha-leha di panta Dalmatian. Dan
lewat kumpulan syairnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Cahier d’Un Retour Au Pays Natale&lt;/i&gt;, yang tak
lebih dari 70 halaman, bermulalah suatu gerakan sastra baru yang bernafaskan
perlawanan aliran&amp;nbsp;&lt;i&gt;negritude&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang penuh ratapan derita dan
sumpah serapahh. Akibat berikutnya sudah bisa diduga: Peradaban Eropa yang
katanya menjulang tinggi itu di mata mereka amatlah nista, tak lebih dari
seonggok jerami.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Mula-mula mereka
membunuh bapakku, tulis Penyair Diop, semata-mata karena bapakku punya harga
diri. Setelah itu mereka perkosa bundaku semata-mata karena bundaku cantik
jelita. Kemudian orang kulit putih yang penuh bulu itu nmenjemur abangku hingga
kering kerontang di bawah terik mentari khatulistiwa, semata-mata karena
abangku gagah perkasa, tangannya merah oleh aliran darah yang hitam. Dan
sesudah beres semua itu, menjeritlah mereka persis ke lubang kupingku: Hai
bocah gudik, ambil kursi dan serbet serta segelas bir kemari!&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Dengus napas Politikus
Kwame Nkrumah dari Ghana ataupun tulisan penuh geram Penyair Leopold Senghor
dari Senegal, semua mendapat tanggapan semestinya di Konferensi Asia-Afrika,
Bandung, 1955. Kolonialisme mesti didorong naik ke tiang gantungan hari itu
juga. Di Priangan tambur ditabuh oleh tangan-tangan yang dengan sengaja
ditugasi membawa misi sejarah. Satu demi satu negeri-negeri Afrika peroleh
kemerdekaan, bukan karena belas kasihan, melainkan berkat terjangan tak kenal
ampun. Mulai dari pantai utara yang terbasuh riak Laut Tengah, padang pasir
Nubia yang terpanggang sepanjang tahun, padang rumput yang membentang mulai
Cape Verde hingga tepi-tepi Sungai Nil, daerah curahan hujan khatulistiwa yang
berhutan lebat sorga para binatang, hingga belahan selatan tempat dataran
tinggi gandeng-bergandeng dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;prairie&lt;/i&gt;&amp;nbsp;– bendera-bendera
nasional berkibar di tiang-tiangnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Hanya tiga tahun sesudah
itu berlangsung Konferensi Negara-negara Afrika Merdeka di Accra tahun 1958, di
Addis Ababa tahun 1960. Para hadirin menjunjung sepuluh jari Piagam PBB,
Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia, dan Deklarasi Bandung. Penyair Leopold Senghor
sendiri sudah jadi presiden Senegal. Ia masih memuja Afrika seperti sediakala.
“Gadismu nan hitam menusuk hati, bagai sang petir menusuk rajawali.” Dan tak
lama lagi bulan April tiba. Sudah 30 tahun umur Konferensi Asia-Afrika. Banyak
mereka yang sudah tiada, tapi semangat Bandung terasa sepanjang masa, seperti
udara.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;, 23 Maret 1985&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/06/afrika.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4909484198541509650</guid><pubDate>Fri, 08 Jun 2012 05:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-07T22:00:10.122-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1985</category><title>Mengapa Tidak</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Sarimin
dan Khou Kek Beng berasal dari Jepara. Ketika masih sama-sama kere, mereka akur
bagai sepasang kaztak dari satu liang. Hari demi hari, terasa keganjilan.
Sarimin hidupnya terengah-engah, Khou Kek Beng sebaliknya. Sarimin masih bergulat
di kaki lima, Khou Kek Beng sudah punya toserba. Sarimin gagal peroleh kredit
KIK walau sudah menyembah-nyembah hingga jidatnya terantuk tanah, Khou Kek Beng
peroleh kredit besar hanya dengan kerdipan mata. Hidup Khou seperti bertengger
di awan, hidup Sarimin tetap dalam lubang yang dulu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Mulanya
Sarimin menganggap ini semata-mata suratan nasib, karena itu tidak perlu jadi
pikiran besar. Tapi karena jarak keduanya makin melebar, Sarimin merasa ada
yang tidak beres. Ini pasti ada manipulasi garis-garis yang sudah ditentukan
dari langit. Sedikitnya, ada penyimpangan sistem. Makanya ia mulai membenci
Khou, kalau bisa malah kepingin menyiramnya dengan air comberan. Keakuran massa
Jepara berubah menjadi kebencian etis. Sarimin suka berdiri di muka kaca, memerikasa
warna kulit, meneliti lebar mata, membanding-banding letak geraham, bahkan
menghitung-hitung jumlah bulu. Ya, memang ada beda dia dengan Khou, memang ada
beda kaki lima dengan toserba.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Khou
Kek Beng merasakan betul perubahan itu. Baiklah Sarimin, katanya pada suatu
hari. Mulai nanti sore namaku kuganti menjadi Paijo; aku mau kawin sama Inem,
gadis centil teman naik kebo tempo hari, asal saja kamu stop perbuatan berdiri
di muka cermin, stop menganggapku keturunan tuyul, stop membenciku seakan aku
ini seekor biawak. Hanya saja, mengharap agar aku kembali jadi kere rasanya
sulit. Kamu kira pekerjaan gampang buat seorang pengusaha toserba berubah jadi
kere dalam semalam? Ini memerlukan seminar berbulan-bulan. Sarimin tidak ambil
pusing, dia tetap mengumpat hingga timbangan badannya turun dan gusinya
bengkak. Dia ingin gantung diri, tapi tidak punya keberanian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Kisah
dua hamba Allah ini sampai ke kuping Yayasan Prasetya Mulya yang gedungnya baru
saja diresmikan di Jakarta, dan pada waktu yang hampir berbarangan sampai pula
ke telinga Dr. Mubyarto di Universitas Gadjah Mada sana. Keduanya merenung
semalam suntuk, dan keduanya sampai pada kesimpulan: masalahnya bukan terletak
pada beda etnis; masalahnya terletak pada kesenjangan sosial ekonomis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Tak
ada itu benci rasial; yang ada kecemburuan akibat tingkat hidup berbeda.
Percuma saja Sarimin berdiri di muka kaca periksa beda lebar mata dan warna
kulit dan jumlah bulu – karena selain tidak memecahkan soal, juga kedengarannya
primitif. Percuma saja Khou Kek Beng ganti nama dan persunting Inem baik
penumpak kebo ataupun macan. Khou Kek Beng atau Paijo, Inem atau non Inem, sama
saja dilihat dari arah bintang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Jadi
bagaimana? Yayasan Prasetya Mulya pimpinan Sudono Salim anggap perlu tingkatan
kualitas manusia lewat didikan manajemen, karena jangan-jangan kesenjangan
sosial ekonomi itu disebabkan oleh mutu keterampilan tak merata – hingga
seorang Sarimin tetap melata di bumi sedangkan Khou Kek Beng sanggup
uncang-uncang kaki di awan. Beda kualitas memisahkan keduanya. Dan Dr. Mubyarto
anggap kesenjangan itu disebabkan oleh sistem yang tidak kena, karena itu jalan
ekonomi mesti diluruskan di atas rel Pancasila.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Memang
betul Psikolog Arief Budiman anggap gagasan Mubyarto tak lain impian yang bakal
kempes di tengah jalan; dan memang betul Ekonom Kwik Kian Gie tidak paham apa
sebetulnya yang dimaksudkan Mubyarto. Bagaimana kalau Yayasan Prasetya Mulya
Sudono Salim ambil prakarsa mendiskusikan &lt;i&gt;Ekonomi
Pancasila­&lt;/i&gt;-nya Mubyarto dalam satu forum nasional? Siapa tahu Sarimin dan
Khou Kek Beng bisa kembali akrab seperti dulu kala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;, 5 Januari 1985&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/06/mengapa-tidak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-8865382293132257858</guid><pubDate>Sat, 02 Jun 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-06-02T10:00:02.035-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1973</category><title>Jepang Modern dari Sudut yang Lain</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify;&quot;&gt;Kaum Samurai, si tukang perang
itu, banyak jadi pengusaha, menunjang modernisasi di zaman Meiji (1868) dan
seterusnya. Mereka punya rasa tanggung jawab yang kuat terhadap golongan tani,
perajin tangan, dan saudagar. Tata nilai yang berpengaruh di kalangan kaum Samurai
itu berasal dari jenis Jepang ajaran Konfusianisme. Ciri-cirinya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; text-align: justify;&quot;&gt; : pragmatis,
setia, satria. Ini merupakan sumbangan kepada
promosi studi ilmu pengetahuan Barat. Orientasi kepada teknologi sangat tinggi.
Itulah antara lain isi kertas kerja Dr. Sinichi Ichimura dari Universitas Kyoto
kepada Seminar Jepang-Indonesia tentang Pembangunan Bangsa (26-28 Maret ’73 di
Jakarta) yang dikemukakan oleh H. Rosihan Anwar dalam tulisan &lt;i&gt;Pengusaha yang
Tidak Hanya Cari Uang Kerjanya&lt;/i&gt; (TEMPO, 26 Mei). Biarpun tak berterang-terang,
tidaklah syak lagi H. Rosihan Anwar berhasrat supaya akhlak kaum Samurai itu
jadi proyek percontohan, baik oleh tentara maupun awan seanteronya di negeri
ini. Sampai berapa jauh hasrat itu terkabul baiklah kita tunggu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Serentak membaca tulisan itu, saya kepingin bandingkan dengan
buku “&lt;i&gt;The New Religions of Japan&lt;/i&gt;”
oleh Harry Thomsen (1963). Thomsen tidak mempersoalkan Restorasi Meiji, atau
peranan kaum Samurai, atau pengaruh “jenis Jepang ajaran Konfusianisme”,
melainkan keadaan rohaniah Jepang sesudah PD II. Bagaimana peranan agama di
dalam proses modernisasi yang sudah lanjut, bagaimana menunjang teknologi
dengan keyakinan-keyakinan religi, dan dalam bentuk apa saling perlu antara
agama dan teknologi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Mungkin saja benar “jenis Jepang ajaran Konfusianisme”
ataupun ajaran Zen pada permulaan Restorasi Meiji menyemburkan nafas hangat
kepada modernisasi, tetapi sesudah PD II terjadi gambaran lain dalam ajaran
alam rohani Jepang. Shinto hilang di pasar, akibat merosotnya keuasaan kaisar
yang jadi kepala Shinto. Mc Arthur menyeretnya dari derajat di atas sana,
menjadi oknum yang terbatas langkah-langkahnya di gelanggang demokrasi
parlementer. Buddha turun pengaruh. Sikapnya yang pesimis dan menolak dunia
tentu canggung di depan teknologi. Dan Nasrani? Inilah susahnya: orang Jepang
menganggapnya agama asing. Bahkan Zen Buddhism sekalipun kurang maju. Jepang
modern yang repot kewalahan mengamalkan “pengembangan intuisi” seperti ajaran
Dr. Teitaro Suzuki (Christmas Humpreys: Zen Buddhism, 1949) yang tata-tertibnya
seperti ini: ketawalah terbahak-bahak, lantas coba jadi serius, kemudian
telanjang bulat, lalu biasakan menyelaraskan pikiran-pikiran yang kontradiktif,
juga belajar objektif, sesudah itu meditasi, lantas coba berkalem-kalem jangan
grusa-grusu. Ini ritual ruwet buat orang-orang mutakhir. Kalau begitu, lantas
bagaimana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Maka bermunculanlah “&lt;i&gt;shinko shukyo&lt;/i&gt;”, agama-agama baru.
Persisnya: bukan agama tulen dan bukan pula baru. Di samping memang ada yang
betul-betul baru, ada pula sekedar hasil permakan. Sebagian mencangkok dari
sana sini. Ada 171 agama baru terdaftar di Departemen Pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;“&lt;i&gt;Perfect Liberty Kyodan&lt;/i&gt;” menganggap dirinya “agama
seni”. Kenapa pakai istilah asing? Sang ketua, Miki Tokuchika, tampil dengan alasan
praktis: berhubung kita kepingin modernisasi, maka kita pilih istilah AS. Lazim
pula dijuluki “agama golf” lantaran salah satu “ibadah”nya memang
mendorong-dorong bola kecil itu. Ada pula aliran “&lt;i&gt;Tensho Kotai Yingu Kyo&lt;/i&gt;”,
yang lazim pula disebut “agama tari-menari”. Pendirinya seorang janda, Kitamura
Sayo, yang di tanggal 12 Agustus 1945 mengaku diperistri seorang dewa bi-sex
bergelar Tensho Kotai Yingu. Konon, dewa ganjil ini tak lupa mengajar Kitamura
perihal teknik modern masak-memasak dan penatu kimia, bahkan juga rupa-rupa
vitamin dan ramalan cuaca. Mulanya, Kitamura enggan, maka dihardiklah ia oleh
sang suami si dewa bi-sex itu dengan kata-kata “Kalau adinda membangkang,
kusepak perutmu hingga mencret, kukemplang kepalamu hingga gegar otak. Teriakkanlah
ajaran-ajaranku senyaring-nyaringnya, sampai tenggorokanmu lecet.” Mungkin nada
ini rada terlalu keras buat seorang dewa, tapi begitulah ceritanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Lalu yang ini: &lt;i&gt;Rissho Kosei Kai&lt;/i&gt;, agama “pembina
kebenaran dan hidup akur”. Pemeluknya banyak dari kalangan buruh. Tokoh
pendirinya dua serangkai: Niwakano Shikazo, lahir tahun 1906, pekerjaan tukang
susu, Naganuma Myoko, perempuan, lahir tahun 1899, buruh pabrik yang bersuami
tukang es. Berhubung suatu saat sakit hebat, dan harus minum susu terus menerus,
berkenalanlah ia dengan Niwamoko.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Ada pula &lt;i&gt;Dotoku Kagaku&lt;/i&gt;, yang maknanya &lt;i&gt;moral science&lt;/i&gt;
atau moralogy. Ini semacam agama gado-gado. Ajarannya campuran antara: 1.
Amaterasu-O.Mikami, dewa nenek moyang kekaisaran Jepang yang ada di atas sana.
2. Konfusius dari negeri Tiongkok. 3. Sakyamuni dari anak benua India. 4. Yesus
Kristus dari Yudea. 5. Socrates yang keracunan dari Yunani (Chibusa Hiroike: &lt;i&gt;An
Introduction to Moral Science).&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Itulah sedikit gambaran “agama-agama baru” menurut pengamatan
Harry Thomsen. Tampaknya, di tengah era teknologi, Jepang memerlukan pegangan
rohani. Bukan ajaran yang ruwet, melainkan yang gampang dipahami, sehat dan
rekreatif. Agama-agama lama dianggap tidak praktis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Walhasil: mungkin benar “jenis Jepang ajaran Konfusianisme”
bersifat penunjang di zaman restorasi Meiji, khusus di kalangan Samurai
sehingga berakhlak modern, satria dan idealis dan tak doyan duit seperti
diungkapkan Dr. Sinichi Ichimura yang dituturkan kembali oleh H. Rosihan Anwar
vai Tempo 26 Mei, tapi Jepang sesudah Perang Dunia II mempermak agama-agama
lama atau membikin yang sama sekali baru. Tentu mereka tetap pragmatis dan
realis selaku pemeluk-pemeluk “agama-agama baru” itu, yang banyaknya seperlima
dari seluruh penduduk. Pemeluk-pemeluk yang “saleh” menurut ukuran sana. Itu
pasti. Namun perkara doyan duitnya, masya Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;, 23 Juni 1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/06/jepang-modern-dari-sudut-yang-lain.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4866229710200767447</guid><pubDate>Mon, 28 May 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-28T10:00:07.293-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1973</category><title>Kepemimpinan Baru, Nah!</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Di tahun 1966 orang nyaris bersepakat tak perlu lagilah itu
tipe kepemimpinan &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;solidarity-maker&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;, yang melompat dari podium ke podium,
bagaikan awan tergantung di atas lautan massa. Sudah bukan zaman. Dia mungkin
obyektif benar untuk masanya, tapi tidak untuk seluruh masa. Yang diperlukan
tipe “administrator”, seperti Kennedy atau si tua Adenauer itu. Maka muncullah
tipe kepemimpinan edisi baru, model mutakhir, produk cemerlang sanjungan
demonstran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Sekarang, yang tadinya baru itu sudah dianggap tidak baru
lagi. Perlu yang lebih baru. Segala berkembang secara dialektis. Administrator
itu baik, tapi urusan manusia sudah terlanjur ruwet, mustahil bisa dipahami
hanya dengan memperlakukan mereka bagaikan bundel-bundel dan angka-angka.
Teknokrat, si dewa-dewa modern, itu baik, tetapi membangun pabrik tidak sesulit
melakukan komunikasi sosial. Heterogin menuntut rasa cermat. Maklum, bukan
sekedar isi kepala yang berbeda, mmelainkan juga warna rambut dan
panjang-pendeknya yang tumbuk di kulit kepala.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Sekali waktu gertakan itu memadai, tapi lama kelamaan bikin
orang terheran-heran, apa tidak ada yang lebih penting daripada
gertak-menggertak. Apalagi jika gertak itu sudah menjadi rutin, orang akan
mengalami kesulitan menjadi takut. Dan orang pun menjadi lelah lantaran was-was
atau curiga yang tak berujung pangkal, yang pada akhirnya menganggapnya beban
batin yang sama sekali tidak perlu. Apa manfaat memandang dunia lewat kacamata
hitam, padahal sang surya selalu siap dengan anugerahnya yang percuma? Apa
bagusnya melihat keadaan orang lebih mudah diajak merasa takut daripada diajak
hormat? Demi selamat dan demi asap dapur, setiap orang siap menobatkan diri
jadi penyanjung dan si manis mulut, tersenyum-senyum tanpa sebab musabab yang
jelas, jadi hipokrit dan kompromis, menyembunyikan sikap pribadi jauh di
pantai, khawatir diketahui orang kecuali dirinya sendiri. Ibarat terkait
balon-balon gas, pemimpin melambung jauh ke atas sana, sukar disentuh tangan
maupun hati, dan sukar pula diturunkan. Publik yang jelata di bawah, atau
mendongak sambil mulut ternganga, atau menundukkan kepala lunglai ke bumi,
persis di ujung jari-jemari kakinya, mencari jalannya sendiri dengan sisa-sisa
harapan, andaikata memang ada bersisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Kadangkala ada anjuran ambil jalan ringkas, bengis namun
terus-terang: pilihlah kepemimpinan tipe nasihat Niccolo Machiavelli kepada
pangeran Lorenzo yang perkasa. Pangeran itu kalau mau awet berkuasa harus
pandai-pandai meniru binatang singa dan binatang rubah. Jangan tiru singa saja,
karena singa tak mampu mengendus perangkap. Jangan tiru rubah saja, karena
rubah mudah diterkam serigala. Pangeran harus bisa jadi rubah supaya bisa
menjauhi perangkap, dan jadi singa supaya ditakuti serigala. Pendek kata, perlu
pemimpin itu memperlihatkan sikapnya yang penuh kasih sayang, setia, jujur
maupun, tetapi begitu keadaan menghendaki, persetan semuanya itu. Tetapi,
berhubung zaman sekarang para pangeran itu sudah terguncang-guncang mahligainya
oleh rupa-rupa revolusi, dan kekuasaannya pun sudah tipis benar, ajaran
Machiavelli itu kehilangan pendengar. (Pangeran Phillip kakanda Ratu Ellizabeth
dan Pangeran Bernhard kakanda Ratu Yuliana kedua-duanya menjabat Ketua
Penyayang Binatang, tingkat nasional dan internasional, semacam fungsi yang
ganjil tapi cukup menarik surat kabar. Mereka bukan saja meniru tabiat binatang
melainkan sudah sampai ke batas memandang binatang bagaikan kaum kerabat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Lewat dia punya rentetan &lt;i&gt;Parkinson’s Law &lt;/i&gt;yang sarat
kelakar tapi memikat, C. Northcote Parkinson mencoba-coba pula mengajukan
syarat kepemimpinan agak tahan lama, sambil lebih dulu mengkonstatir “krisis
kekuasaan” sebetulnya bermula dari “Revolusi Kaum Wanita”, tatkala rok berganti
celana, mereka memasuki perguruan tinggi dan membanjiri kotak suara pemilu,
menyebabkan pria berhenti jadi &lt;i&gt;gentleman &lt;/i&gt;dan wanita terangkat ke atas sebagai
&lt;i&gt;lady&lt;/i&gt;, anak-anak tak tahu siapa penguasa rumah, sekolah tak mampu
menggantikan otoritas sang bapak yang menurun, menjadilah mereka tak kenal
disiplin, yang jadi sebab kantor pemerintah dan bisnis penuh sesak oleh
berandalan yang tak tahu apa itu aturan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Pemimpin perlu imaginasi, kata Parkinson, lantas menyusul
pengetahuan, punya kepastian bertindak, kesanggupan, keras hati campur sedikit
bengis, dan daya tarik. Pimpinan yang dungu, entah setan mana yang mengangkat
dia di sana, gemar mencari kesalahan, menghardik dan bergunjing, perutnya
sering mulas dan terlibat cekcok dengan istri. Keras hati campur sedikit bengis
itu perlu, untuk menghukum yang salah dan ngacau. Malapetaka yang menimpa dunia
sekarang lantaran kita suka mengulur-ngulur kenikmatan memberi instruksi,
mengharap peningkatan kualifikasi teknis yang tak berkesudahan sampai
orang-orang ini sudah lewat setengah umur, dan 20 tahun mendatang
segala-galanya jadi berantakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Yang sudah pasti, suara perihal perlu “kepemimpinan baru” itu
datangnya dari mulut pemimpin-pemimpin itu. Dan yang belum pasti, apakah
bermakna pergantian fisik, atau sekadar reparasi akhlak, lebih beramah-tamah
dengan penduduk, lebih sabar dengarkan keluhan, mengganti roman garang menjadi
roman jernih, setidak-tidaknya roman netral bagaikan umumnya pemeluk Konfusius
yang tulen. Bukan berarti penggantian “pimpinan nasional”, kata penjelasan
susulan. Tapi, apa saja yang termasuk “pimpinan nasional” itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, yang perlu perombakan sistem itu sendiri. Dari dulu &lt;i&gt;two-way-traffic&lt;/i&gt;
jadi mainan mulut. Kalau tak percaya, tanya Dr. Roeslan Abdulgani. Soalnya, cegatan
lalu lintas terlalu banyak. Demokratisasi segenap sektor satu-satunya gerbang
menuju komunikasi terbuka. Demokrasi politik dan demokrasi ekonomi, sekaligus.
Pembangunan ekonomi bisa jalan tanpa demokrasi, mengapa tidak. Tapi, itu untuk
siapa pembangunan itu, ini soal lain. Betul-betul soal lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;, 8 Desember 1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/kepemimpinan-baru-nah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-5281392474559500124</guid><pubDate>Wed, 23 May 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-23T10:00:07.547-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1973</category><title>Nostalgia Bulan November</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ada pahlawan
dongengan, ada&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt; pahlawan sungguhan. Gatotkaca di pewayangan, Punchinello
buat orang Italia, Punch buat orang Inggris, Karapet buat orang Turki,
Petrushka buat orang Rusia, itu tokoh-tokoh jago yang tak bisa mati, tak pernah
ada di dunia ini. Tetapi, arek-arek Surabaya, Muhammad Toha dari Bandung Selatan,
Walter Monginsidi dari Ujung Pandang, betul-betul ada, betul-betul pahlawan,
dan betul-betul sudah mati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Apabila Charles de Coster mempersonifikasikan tokoh Thyl
Ulenspiegel bagai lambang nasional Fleming, atau Romain Rolland lewat tokoh
Colas Breugnon yang tipikal Burgundy, novelis kita Idrus berolok-olok tentang
orang-orang muda yang berani. Tetapi Idrus kekecualian yang menyakitkan.
Peristiwa kepahlawanan 10 November di Surabaya suatu hal yang serius, dan
sekali-kali bukan gurauan. Coba saja pikir, berkelahi lawan bala tentara
Inggris dan Jepang – walau kalah tapi cukup Jepang – betul-betul bukan
pekerjaan rutin. Di sini, akal sehat tidak perlu. Yang perlu, nafsu mau merdeka
dan keberanian, itu saja. Anak-anak Surabaya, bagaikan Gargantua-nya Rabealis
edisi baru, lahir menggenggam senapan, mengacaukan batas beda antara hidup dan
mati. Mendongakkan kepala ke langit, rambut gondrong lagi patriotik, menginjak
fenomena zaman baru, manusiawi yang keras tapi indah, bagaikan lukisan Adam-nya
Michael Angelo di loteng gereja Sistine, tanda bebuka Zaman Renaissance.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Lewat definisi yang amat dipersingkat, tindak kepahlawanan
itu artinya bisa membunuh dan siap terbunuh. Itu sebabnya, bidang ini tertutup
bagi mereka yang suka usia panjang. Itu sebabnya, jumlah pahlawan senantiasa
lebih sedikit daripada penduduk kebanyakan. Itu sebabnya, pahlawan bagaikan
zamrud di tengah-tengah batu kali. Maka dari itu, orang-orang yang tidak
memadai bakatnya jadi pahlawan, lagi pula tak berkesempatan memalsu diri,
setidak-tidaknya harus menaruh hormat kepada mereka, setidak-tidaknya sekali
setahun, di upacara yang spesial disediakan untuk itu, 10 November.
Setidak-tidaknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Tak ada pahlawan umum, yang ada cuma pahlawan khusus. Simbol
kualitatif yang amat subyektif bagi tiap-tiap bangsa. Bisa pahlawan di sana,
bangsat di sini. Lord Milner pembangun empirium Inggris yang piawai tak lebih
dari penindas hina di mata penduduk Afrika Selatan. Si gondrong Bung Tomo tak
lebih dari perusuh di mata bala tentara Sekutu. Di dalam buku setengah gila “&lt;i&gt;Challenge
To Terror&lt;/i&gt;” (London, 1952) Kapten “Turki” Westerling boleh merasa kagum akan
dirinya sendiri, meraih 8 medali pertempuran dan 4 penghargaan tinggi militer
di umur 31 sambil merasa dijuluki “Ratu Adil” yang ditunggu-tunggu orang,
padahal sesungguhnya dia tak lebih dari tukang jagal biasa. Jose Rizal yang
patriot dijungkirbalikkan faktanya seolah dia pernah minta ampun kepada Spanyol
dan Gereja Katolik karena “keliru membela tanah airnya”, sehingga kepada
Gregorio Aglipay Rizal menulis “Sudah lazimnya, semua reformis yang jujur di
muka bumi ini akan terpentang di tiang salib”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Sekarang, tatkala peranan kepala lebih dominan daripada
peranan hati, orang lebih berhati-hati lagi terhadap maut. Meninggal dunia
dengan demikian menjadi barang luks yang tidak boleh diboros-boroskan.
Akibatnya, timbul keperluan menyederhanakan batasan pahlawan, terlebih lagi
peperangan sudah langka benar, artinya agak sulit menemui pahlawan gugur dalam
makna yang tulen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Perhatian mulai terpaling ke arah orang-orang yang masih
hidup. Mereka pun, apabila ada konsensus, bisa dinobatkan sebagai pahlawan,
dalam keadaan yang mulus dan segar bugar. Ini terang suatu penemuan ide yang
punya nilai praktis. Publik bisa memperoleh pahlawan-pahlawannya tanpa harus
berduka cita lebih dulu. Bisa berhadapan muka, bersalaman, bepergian di atas
bus yang sama, bahkan boleh pula bersenda-gurau, andaikata ada alasan yang
cukup kuat untuk itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Lahir pahlawan-pahalawan di pabrik, di hutan belukar, di
tengah ladang, di lubang tambang dan di langit. Kerja telah menjadi sesuatu
yang kudus. Ilya Ehrenburg menyanjung pembangun Siberia bagaikan malaikat.
“Mereka bekerja seperti bukan manusia. Binatang-binatang buas mundur semua”.
Selanjutnya, anugerah simbolik: murah tapi jitu, bintang-bintang juga
disematkan di dada, dan manusia yang lekas terharu oleh perhatian dan
penghargaan, memandangnya ibarat mimpi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Lewat maut atau tidak, menjadi pahlawan bukanlah pekerjaan
mudah. Sebab, syarat pertama dan penghabisan adalah berbuat bukan untuk
kepentingan diri sendiri. Anak muda yang tersungkur putus nyawa di jalan&amp;nbsp; Tunjungan Surabaya bulan November 1945 itu,
seperti halnya anak Palestina atau anak Vietnam di parit berlumpur Dien Bien
Phu, adalah anak sejarah, kekasih tanah airnya, biji mata bangsanya, bunga
segar tak terikat aturan musim, musik dari 1000 biola yang tak putus-putusnya.
Dan orang-orang yang masih hidup zaman sekarang, baik yang beruntung maupun
yang tidak, yang longgar dan yang sempit, menundukkan kepala tanda hormat di
antara bunyi terompet, selama tak lebih dari 2 menit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Sesudah itu, tersedia pilihan yang menegangkan: coba-coba
jadi pahlawan atau coba-coba jadi penipu. Masing-masing memerlukan teknik yang
berlainan. Yang satu menyebar keuntungan, yang lain merampok keuntungan. Yang
satu bekerja untuk orang, yang lain menggiring orang bekerja untuknya. Yang
satu dicintai, yang lain ditakuti. Pahlawan berpegang pada tali kalbunya, bagai
tabiat orang Badui. Penipu menyimpan cakar-cakar rahasianya yang sukar diduga,
tapi terasa bagai bisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;, 17 November 1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-no-proof: yes;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/nostalgia-bulan-november.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4139569959456859880</guid><pubDate>Sat, 19 May 2012 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-20T09:15:01.093-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1973</category><title>Ibarat Hewan Apakah Kita Ini?</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Orang Jerman
itu bak serigala. Beraninya main keroyok. Kalau sendirian, nyalinya kecil. Dan
seperti halnya seekor anjng yang pasrah di depan cambuk juragannya sambil
mengharap faedah fisik dari sikapnya, begitu pulalah prajurit Jerman terhadap
opsirnya. Ini perumpamaan W. Trotter: &lt;i&gt;Instincts of The Herd in Peace and War&lt;/i&gt;,
1916. Betul atau tidak, ini penilaian seorang Inggris. Sedangkan buat dirinya
sendiri, orang Inggris melantik singa sebagai simbol nasionalnya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt; Singa itu, kata banyak orang, lebih perkasa daripada monyet, kambing,
ular, bahkan harimau sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Namun, penulis non-Inggris G.J. Renier: &lt;i&gt;The English, Are
They Human?&lt;/i&gt; (1931) punya penglihatan lain. Mungkin benar orang Inggris itu
garang di negeri-negeri jajahan, tapi tidak di kampung halaman. Di sini, mereka
cenderung menganggap makhluk hewan itu seperti sanak saudara, bahkan memiliki
hak yang lebih spesial ketimbang awak sendiri. Negeri itu punya rupa-rupa ormas
yang menghambakan dirinya bagi kemaslahatan binatang. Ada &lt;i&gt;The Royal Society
for the Prevention of Cruelty to Animals&lt;/i&gt;, ada &lt;i&gt;Our Dumb Friends League&lt;/i&gt;,
ada &lt;i&gt;The Nation Equine Defence League&lt;/i&gt;, malahan ada pula &lt;i&gt;The Council of
Justice to Animal&lt;/i&gt;, semacam LBH spesial buat kepentingan makhluk-makhluk
dungu itu. Dan buat kehidupan anjing, ada perhatian ekstra. Kumpulan-kumpulan
seperti &lt;i&gt;The Select Society of Ye Yolly Old Dogs, The Pit Ponies Protection
Society, The Performing and Captive Animals Defense League&lt;/i&gt;, dan masih
banyak lagi tersedia serupa itu. Pendek kata, para anjing baik yang masih
remaja maupun yang sudah jompo tak boleh disia-sia, tak boleh tuna-urus.
Dilihat dari sudut ini, dilihat dari betapa gembrotnya kucing-kucing dan
burung-burung dan anjing-anjing di kawasan itu, jelaslah bangsa Inggris ibarat
singa yang sudah terbina. Britania surga bagi binatang. Kucing-kucing Italia
yang habis badan bisa gila melihat kucing Inggris yang penuh rawatan. Juga kuda
Spanyol yang sempoyongan, jika dibanding kuda Inggris yang lebih kokoh daripada
tuannya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Cina dimisalkan naga. Entah di mana bisa berjumpa hewan ini.
Sungguh perlambang yang menakutkan, sampai-sampai buku “The Dragon Seed”
melanjutkan rasa cemas itu ke alamat &lt;i&gt;Hoakiaw&lt;/i&gt; yang bertebaran di
pulau-pulau belahan selatan. Tetapi, lambang naga ini rupanya bisa ditawar.
Sebab, ada pula yang menyebutnya “&lt;i&gt;the
blue ants&lt;/i&gt;” : 800 juta menyemut dengan seragam periode Yenan berwarna biru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Nah, bagaimana pula dengan bangsa kita, bangsa Indonesia ini?
Seumpama hewan apakah dia? Dari sudut beranak pinak, lazim diumpamakan marmut,
walau sebenarnya babi lebih gawat angka kelahirannya. Dari sudut kepatuhannya
yang serampangan, dia diibaratkan bebek walau tidak selamanya bebek itu
mengandung perlambang buruk. Kalimat Ki dalang “bebek pulang sore ke kandang
sendiri” bukanlah pertanda tolol, melainkan isyarat masyarakat makmur adanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;UUD tak menyinggung-nyinggung nama hewan sepatah pun. Tidak
garuda, dan tidak pula banteng. Oleh ketentuan sesudahnya, simbol hewan itu
memiliki sifat resmi. Garuda, kata Yamin almarhum “sebenarnya lambang pembangun
dan pemelihara”. Katanya pula, kitab Morawangsa dari kerajaan Kedah dan
kerajaan Merina di Madagaskar memandang hewan ini lambang pemelihara. Lantas
bagaimana dengan hewan banteng? Secara resmi, dia bukan perlambang bangsa
seperti singa Inggris atau naga Cina, melainkan lambang demokrasi, atau
persisnya “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan”. Sedangkan lambang kenasionalan, atau persisnya
Persatuan Indonesia, bukannya hewan, melainkan sejenis pohonan : beringin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kemudian, ada tafsiran yang kurang begitu resmi, namun pernah
amat berpengaruh : banteng lambang semangat bangsa. Sabar, tak banyak cingcong,
tapi bila diganggu bisa jadi berang dan pengamuk. Versi tafsiran ini sudah
semakin tak kedengaran. Akibat perubahan struktur politik di masyarakat
manusia, arti penting hewan banteng selaku lambang semangat menjadi berantakan.
Konsekuensinya pun tera di lain sektor : empat patung banteng dalam posisi siap
nyeruduk yang mulanya berdiri di tiap sudut Monumen Nasional pada suatu hari digotong
orang tanpa bilang ba atau bu. Hotel Banteng yang belum kunjung selesai diganti
nama Hotel Borobudur, juga yang belum jadi. Hanya kondektur bus kota Jakarta
yang masih kerap meneriakkan nama itu, bukan lantaran gejolak rasa
kebangsaan&amp;nbsp; atau semacam itu, melainkan
semata-mata karena nama terminalnya begitu. Selebihnya tak ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Memang rada kikuk di zaman harus realis dan pragmatis ini
kita masih menyama-nyamakan diri dengan tabiat hewan. Tak peduli chimpanse
sekalipun, rata-rata binatang sukar diharap realis dan pragmatis. Makin lama &lt;i&gt;“ethology”&lt;/i&gt;
tidak bicara apa-apa. Yang perlu sekarang tampaknya jadi innovator, atau kalau
nasib baik jadi entrepreneur, bukannya menjunjung derajat hewan di atas kepala.
Toh orang Jepang yang maju itu tidak punya hewan simbol sama sekali, malahan
dia sendiri dijuluki orang “binatang-ekonomi” : selalu siap mengendus, mengais,
dan mematuk.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Berhenti menobatkan hewan sebagai simbol bukan berarti
manusia sekarang bersikap konfrontatif dengannya. Malah kebalikannya. Di tengah
hiruk-pikuk teknologi, para konservis, para naturalis, para antipolusi, seperti
setengah gila meneriakkan perlunya perlindungan bagi maslahat kehidupan hewan.
Dan supaya tidak kelaparan, manusia bersepakat sesamanya untuk menyetop
kalahiran, tapi tak seorang pun berhasrat menerapkan Keluarga Berencana di
dunia binatang, Kondomisasi tak berlaku buat mereka. Leluasa beranak cucu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Apabila lapisan atas dewasa ini senang kuda, pastilah tak
punya latar belakang rohaninya sama sekali. Atau karena hobby, atau mata
pencaharian, atau &lt;i&gt;(kalau memang kuda jempolan)&lt;/i&gt; semacam standar sosial.
Begitu pula halnya ayam negeri; hewan petelur ini sama sekali tak ada sangkut
paut dengan simbol semangat bangsa atau perorangan, melainkan punya daya tarik
ekonomi buat orang-orang bebas tugas yang sedikit bingung, atau guna
menumbuhkan produsen baru di kalangan pesantren, seperti yang dilakukan Menteri
Agama Mukti Ali. Walaupun banyak hewan-hewan piaraan itu kena sembelih bulan
Maulud yang lalu, rasanya gairah produktif akan terus timbul, andaikata ada
dropping &lt;i&gt;“starte”&lt;/i&gt; lagi. Kalau &lt;i&gt;“starte”&lt;/i&gt; berabe, &lt;i&gt;“grower”&lt;/i&gt;
pun jadilah. Malah mendingan, tidak terlampau bikin repot para santri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;, 9 Juni 1973&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/ibarat-hewan-apakah-kita-ini.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-1991921803901015280</guid><pubDate>Fri, 18 May 2012 20:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-18T13:32:55.574-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1972</category><title>Per-“kapling”-an Parpol</title><description>&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Ibarat
daerah yang tertimpa planologi sehingga perumahan di atasnya perlu dipindah ke
perkaplingan baru, begitulah layaknya keadaan Parpol akhir-akhir ini. Supaya
tidak salah paham, rencana pengaplingan Parpol-parpol itu bukan baru muncul
sekarang, lagi pula bukan rencana yang disembunyikan. Terhitung sejak Bung
Karno berhasrat membubarkan Parpol-parpol, sejak saat itu Parpol kehilangan
masa nyamannya, untuk mulai menjalani hidup yang kaget-kaget. Akibatnya, jadi
gugup, latah atau maniak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Di
mana pun juga, Parpol itu bukan kumpulan orang tolol semua. Semisal perusahaan
cari kekuasaan, atas nama ideologi atau yang sebangsa dengan itu, Parpol
diayomi direktur-direktur yang kuat syaraf dan punya bakat memimpin seolah
dibawa sejak rahim ibu, lagi&amp;nbsp; pula tajam
penciuman. Organisasinya dibagi atas provinsi, sama saja dengan tentara,
kecuali tak punya asrama. Mereka kadang bergaul rapat dengan pemerintah, malah
menjadi bagian daripadanya, kadang di luar sama sekali, menjadi kumpulan
orang-orang pemarah dan was-was. Semuanya ini tergantung dari keperluan. Tak
usah diingkari, beberapa dari pimpinannya menjelma jadi genius di dalam hal
menstimulir naluri-naluri primitif publik, sehingga bisa menjadi kesetanan
layaknya, dan ujung-ujungnya mampu melahirkan keajaiban kekuasaan politik,
entah di gedung pemerintah atau Dewan Perwakilan. Itulah sport nasional mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sebaliknya,
eksekutif pun lebih-lebih lagi tidak bodoh. Mereka umumnya arif betul apa arti
kekuasaan, dan cara bagaimana supaya tahan lama. Seperti halnya makanan kaleng
lebih awet daripada makanan bungkus, segala usaha pengawetan ditinjau dan
dicoba. Orang-orang eksekutif ini tahu, seperti rumusan Clinton Rossiter, bahwa
Parpol punya dalih untuk mengontrol dan mengarahkan percaturan cari kekuasaan.
Maka orang-orang eksekutif menyimpan pula kegemaran sport untuk jaga kondisi
badan, dengan cara bergegas menyempitkan ruang langkah Parpol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Supaya
tidak ngelantur, baiklah diingat saja dulu Tap no. XXII/MPRS/1996, sebuah Tap
yang pasti paling pendek di dunia, karena terdiri cuma satu pasal, yang
bunyinya: Pemerintah bersama-sama DPRGR segera membuat undang-undang yang mengatur
Kepartaian, Keormasan dan Kekaryaan, yang menuju pada penyederhanaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Apa
itu “penyederhanaan”? Bisa rupa-rupa tafsiran. Yang tangannya sudah gatal,
mungkin berpikiran bubarkan saja habis perkara. Yang alon-alon asal kelakon,
fusi saja. Yang separo mau separo tidak, federasi sajalah. Sepanjang ingatan
saya, satu-satunya Parpol yang belum apa-apa sudah mau bubarkan diri adalah
Katolik. Dengan catatan, kalau Parpol-parpol lain berbarengan berbuat serupa.
Hal ini mengingatkan saya akan cerita orang yang rela gantung diri, asal saja
semua tetangganya begitu juga. Mana bisa didapat tetangga semacam itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Dari
kepala siapa mula-mula keluar rencana “penyederhanaan” itu tidak jelas lagi.
Dan itu tidak penting. Yang dipersoalkan, dalam bentuk bagaimana “penyederhanaan”
itu harus dijelmakan. Dapat dipahami, eksekutif tak pernah ayal dalam urusan
ini. Jauh-jauh hari Presiden Soeharto sudah membayangkan bahwa kelak kemudian
hari, tatkala penduduk dewasa menyelinap di gubuk kotak suara pada pemilu
berikut, maka cuma 3 tanda gambar yang bisa dicoblos. Tidak empat atau berapa
saja. Artinya, Parpol yang 9 sekarang ini mesti diringkas jadi dua gabungan.
Difusikan, begitulah kata Mendagri Amirmachmud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sebutan
“fusi” ini sedikit menimbulkan keributan, karena ada yang berpandangan bahwa
itu bukannya penjelasan resmi dari Tap MPRS. Mungkin benar itu kemauan
Presiden, tapi itu Presiden. Dan Presiden bukan undang-undang. Sedangkan,
undang-undangnya belum lagi disahkan DPR. Kalau sudah, baru jelas bagaimana
cara “penyederhanaan” itu berjalan. Apa melalui penurunan kualitatif: disunat,
dikebiri, didevaluir. Yang kelihatannya ingin tetap utuh, artinya tidak akan
menjadi sederhana sama sekali, cuma Golkar. Keinginan ini tidak sulit dicapai,
cukup kalau semua telunjuk kelompok Karya Pembangunan di DPR diacungkan ke
langit. Undang-undang yang bagaimana saja bisa jadi. Karena itu, tak usah
taajub kalau Mendagri Amirmachmud menjamin segala sesuatunya akan
konstitusional, tidak main paksa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sebenarnya,
kalangan DPR sudah menyederhanakan dirinya sendiri tanpa menunggu
undang-undang, dengan cara melenyapkan arti formal Fraksi sambil membentuk
kelompok-kelompok. Katakanlah ini sekedar alasan praktis saja, tapi kalau
dipikir-pikir, mengingatkan saya akan bait nyanyian Ambon “belum ditanya sudah mau”.
Mereka sudah mengatur letak dirinya begitu rupa rapinya, sejauh sebelum
Undang-undang Kepartaian, Keormasan dan Kekaryaan dibicarakan, apalagi
disahkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Di
luar gedung DPR, Parpol-parpol Islam membentuk federasi. Entah ini federasi
yang keberapa, tapi yang satu ini tampaknya akan digunakan sebagai proyek
percontohan, etalase benda-benda politik, beginilah sebaiknya wujud
“penyederhanaan” itu. Dianggap lebih baik daripada Parpol-parpol Islam itu
dikeluarkan dari botolnya masing-masing dan dituang ke dalam ember besar:
strukturnya bisa sederhana, tapi buntutnya bisa tidak karu-karuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Apa
pun jadinya, mesin politik baru sedang digerakkan. Kalau di AS “politik baru”
lazim dimaksud tergesernya peranan aparat partai dalam kampanye oleh peranan
radio dan televise (dimulai dari Roosevelt dan mencapai puncaknya pada Nixon
yang menghabiskan biaya advertensi televisi $12.129.082, hampir mendekati biaya
advertensi pabrik bir), di negeri ini akan dijelmakan dalam bentuk pengaplingan
Parpol-parpol. Dalam rangka pengaplingan ini sudah dipikirkan juga batas-batas
pekarangannya, yang cukup sempit dan terbatas, atau sonder pekarangan sama
sekali. Lazimnya dikenal dengan istilah &lt;i&gt;“floating-mass”&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Sesudahnya
pengaplingan, apa yang terjadi? Hanya Tuhan yang tahu. Mungkin dilakukan
pembagian kekuatan untuk mereka, mungkin tidak. Konstitusi tak bicara apa-apa,
dan gelagatnya Konstitusi sekarang ini jalan terus. Jadikan mereka ibarat “&lt;i&gt;Permissive
Society&lt;/i&gt;”-nya John Selwyn Gummer, bagian masyarakat yang ada dalam daftar
tapi tak ikut bergiat apa-apa, kecuali terlibat perihal tetek-bengek aborsi,
rajasinga, murtad dan kekerasan? Mana pula saya tahu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;&quot;&gt;Akhirnya
timbul pertanyaan detail: bagaimana kaum pedagang, birokrat, seniman, jurnalis,
tentara, cerdik-pandai, dan rupa-rupa kalangan lain yang nonpolitik,
nonideologik, non-segala macam? Kenakah mereka bongkaran “jalur hijau” dari
planologi yang menggetarkan itu? Sebagian mungkin tidak, karena atas petunjuk
nasib kebetulan sudah mapan di jalan-jalan protokol. Selebihnya saya kurang
tahu, karena bagi mereka belum ada aturannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;Tempo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;&quot;&gt;, 22 April 1972&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/per-kapling-parpol.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-3633115211726605151</guid><pubDate>Sun, 06 May 2012 19:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-23T15:49:32.362-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1981</category><title>“Buku Petunjuk” Pendidikan Politik Sejak Dini</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke Kebun Binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkin pertanyaan ini akan membuatnya heran dan bertanya-tanya. Tak jadi apa. Memang begitulah cikal-bakal pertumbuhan pengetahuan, filsafat dan pribadi, diawali dengan pelbagai rupa rasa keheranan dan ingin tahu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Agar supaya memudahkan, paling utama berhentilah barang setengah jam di depan kandang monyet. Monyet jenis apa saja pun, jadilah. “Kamu lihat monyet yang paling besar dan paling beringas itu? Dialah kepala, pemimpin monyet-monyet lain di kandang itu. Dia menjadi kepala dan menjadi pemimpin itu, bisa disebabkan beberapa faktor. Bisa karena dia paling tua, bisa juga karena paling pintar. Tetapi yang jelas karena dia paling besar, paling kuat, paling perkasa, paling mampu membanting monyet-monyet lainnya yang tidak menurut. Alasan takutlah yang membuatnya bisa menjadi pemimpin. Monyet tidak pernah mengenal sistem pemilihan seperti halnya bangsa manusia. Ini kedunguan warisan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari situ mampirlah ke kantor pajak. Suruh anak itu berdiri tegak bagaikan batang kerambil, pejamkan mata dan pusatkan perhatian. Bisikkan perlahan tapi pasti, ke lubang kupingnya, “Inilah kantor yang meminta-minta ongkos dari hasil keringatmu. Bahkan kamu buang air besar pun ada tarifnya. Dari uang setoranmu yang terkumpul itulah, yang bisa membikin pemerintah dengan segala peralatannya bernafas, melangkah, bahkan mengaturmu. Jika misalnya uang yang terkumpul itu kurang membuatnya leluasa, selebihnya diambil dari jual batu-batuan dan cairan yang berasal dari dalam bumimu, tidak kecuali dari lautmu. Jadi kamu itu penting dan menentukan. Jangan merasa jadi kecoak! Kamu tidak mau setor? Pemerintah akan menjadi gembel dan duduk bersimpuh di perempatan jalan. Akibatnya bisa panjang juga. Ada memang orang bule di negeri nun jauh di sana, namanya Henry David Thoreau. Entah karena jengkel atau sebab lainnya, orang bule ini berseru supaya orang-orang jangan bayar pajak. &quot;Apa sih, Pemerintah itu?&quot; katanya. Kalau ada orang yang setahun sekali muncul di ambang pintu rumahmu dan minta duit pajak, itulah yang namanya Pemerintah. Dia berseru supaya dilakukan &lt;i&gt;civil disobedience&lt;/i&gt;, pembangkangan sosial. Ini hanya contoh lho, jangan kamu tiru. Yang penting, kamu mesti tahu bahwa penduduk suatu negeri itu punya harga, bukan seperti kecoak, karena dia memberi nafkah kepada Pemerintah, supaya Pemerintah bisa berdiri di atas dengkulnya, tidak terkulai. Paham kamu?”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sesudah itu tuntunlah si anak melihat-lihat Kantor Pemerintah Daerah. Boleh pilih: Walikota bisa, Bupati bisa, Gubernur pun bisa. Beritahu dia, jadi pejabat Kepala Daerah itu tidak bisa semau-maunya. Ada batas waktu sekian tahun. Lagi pula buat apa lama-lama? Penduduk bisa bosan. Mereka itu tidak bisa jatuh begitu saja dari langit, melainkan lewat pencalonan yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat tingkat Daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Asal kamu tahu saja, yang namanya Menteri Dalam Negeri memang bisa saja mengangkat orang yang kalah dalam pencalonan bahkan di luar calon sama sekali. Tak usah kamu banyak tahu dulu, karena memang begitu aturannya. Lalu, yang banyak kursinya seperti gedung bioskop itu apa? Oh, itulah yang namanya Dewan Perwakilan Rakyat, tempat para anggotanya bersidang. Mereka itu mewakili kamu, kalau kamu nanti sudah cukup umur untuk ikut Pemilihan Umum. Itu hakmu dan bukan kewajiban. Teori membedakan mana hak dan mana kewajiban ini penting, sebab banyak orang yang sudah tua bangka suka keblinger.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika si anak itu bertanya, apa semuanya itu dipilih, cukup bilang “tidak”. Dan jika dia terheran-heran, jawab saja, “Nanti kamu akan tahu sendiri.” Bisa juga terjadi, dia bertanya sebab apa antara Pemerintah dengan Dewan berada dalam satu atap, katakan, “Itu cuma soal teknis, supaya pemerintah tidak capek mondar-mandir. Lagi pula Dewan Perwakilan itu menurut undang-undang yang berlaku, merupakan perangkat Pemerintah Daerah.” Cukup penjelasan sampai di situ, kalau panjang-panjang bisa bikin bingung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak ada salahnya bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang menyangkut soal Pemilihan Umum atau siapa saja pesertanya. Berilah jawaban yang sesederhana mungkin, yang mudah mereka tangkap. Bilang saja bahwa Pemilihan Umum itu boleh memilih tanda gambar peserta yang mana saja. Ketentuan ini berlaku juga buat pegawai negeri. Anak yang cerdik mungkin akan mengajukan pertanyaan mendadak, “Mengapa peserta organisasi peserta cuma tiga, bukankah konstitusi sebagai induk seluruh undang-undang, membolehkan kemerdekaan berserikat dan berorganisasi?” Menghindarlah dari jawaban, sebijak mungkin, asal jangan kentara menggelapkan sesuatu. Anak-anak sekarang berkat gizi dan akibat pengamatan lingkungan dengan mata-kepala sendiri, jangan sekali-kali dikecoh. Dia akan segera menertawakan kita, seakan kita ini seorang pelawak sirkus yang sudah diapkir dan hilang dari peredaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Serentak hari sudah panas dan matahari sudah menggantung di atas ubun-ubun, ajaklah dia pulang dulu untuk beristirahat. Tetapi jangan dipaksa-paksa. Antara “mendidik” dan “memaksa” terbentang jarak yang amat lebarnya, ingat itu baik-baik. Kalau –ini kalau, lho– kebetulan lewat Kantor Kelurahan, boleh juga sambil lalu diterangkan ala kadarnya ihwal apa itu Lurah. Bilang kepadanya, bahwa dalam garis besarnya ada dua macam Lurah atau Kepala Desa. “Ada yang ditunjuk begitu saja seperti kita menunjuk jenis permen apa yang berkenan, dan ada yang lewat pemilihan oleh penduduk. Yang disebut belakangan ini biasanya terjadi di desa. Tetapi Lurah model pilihan ini pun memiliki ciri yang berbeda-beda. Ada yang lewat pemilihan murni dan ada pula yang lewat pilihan yang ‘dipersiapkan’.” Jika nyinyirnya sudah tidak tertahankan, jawab saja bahwa penjelasannya lain kali, berhubung perut sudah lapar. Perut yang lapar membuat pikiran jadi buntu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Taruhlah ada waktu luang dan cuaca sesuai benar dengan ramalan Direktorat Metereologi dan Geofisika –persis tidak meleset walaupun cuma setetes air– maka tuntunlah anak itu ke gedung museum, andaikata di kota domisili ada museum dalam makna lumayan. Sekali lagi, itu andaikata! Sebab, pada zaman sekarang ini, pikiran orang sudah mulai terkuras habis untuk membangun hotel, rumah bola sodok, lapangan golf, tempat mandi uap dan panti pijit serta diskotik, sehingga nyaris tak ada sisa buat membangun museum. Karena itu, jika di kota domisili ada gedung museum, tidak ada aibnya bertepuk tangan sambil melompat-lompat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu kaki menginjak gerbang, katakanlah kepadanya bahwa dia bukanlah makhluk yang membrojol begitu saja dari lubang batu, melainkan merupakan mata rantai dari rentetan sejarah panjang ke belakang dan jauh terentang ke depan entah dimana batasnya. Setolol-tolol orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah, dan sehina-hinanya orang ialah mereka yang memalsukan sejarah, mengerikitnya seperti tabiat busuk makhluk tikus. Perbuatan macam itu selain akan jadi bahan tertawaan, juga sia-sia saja. Sang sejarah sendiri yang perkasa, akan me-niban-kan batu besar ke kepala hingga luluh lantak jadi bubur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Kamu punya buku pelajaran sejarah wajib di sekolah, bukan? Ketahulilah olehmu, setiap yang namanya ilmu – tidak kecuali sejarah – harus siap dan rela diuji serta dipertanyakan benar atau tidaknya. Jangan kamu telan begitu saja sepeti sebutir kacang. Ragu-ragu itu suatu langkah yang mesti ditempuh, jika kita mau sampai ke keyakinan yang tak tergoncangkan. Barangkali gurumu akan tampak gusar jika kau kelewat sering mengajukan pertanyanaan yang kurang biasa, tapi –percayalah– gusarnya itu cuma gusar formal belaka, sebagaimana pantasnya dipertunjukkan oleh seorang pegawai negeri. Belum tentu sampai di hati. Bisa jadi dengan diam-diam dia membenarkanmu, mudah-mudahan. Hati bercabang, rohani retak, sikap ganda; sedang menjadi musim, seperti halnya musim rambutan. Pendapat hati dan pendapat perut punya gardu masing-masing.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekali tancap dari museum langsung mampir ke rumai gadai. Berbeda dengan museum, rumah gadai terdapat di tiap kota, bahkan satu kota sering punya lebih dari sebuah rumah gadai. Mengapa tidak memperlihatkan bank? Rumah gadai lebih mudai dijangkau, bisa dilihat dengan mata telanjang, tidak terlalu banyak menyimpan rahasia yang sukar ditembus. Tapi yang penting, rumah gadai itulah pencerminan sejati lapisan terbesar penduduk kita, yaitu rakyat kecil, yang pada suatu pagi –begitu bangun tidur- tahulah dia bahwa tak ada uang sepeser pun di kantong.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pergi ke bank? Peraturan bank yang begitu ruwet akan menambah pening kepalanya dua kali lipat. Maka pergilah dia ke rumah gadai membawa barang jaminan yang melekat di badan. Bisa berupa kain batik, atau leontin peninggalan nenek-moyangnya. Berjuta penduduk setia berhubungan dengan rumah gadai, dan bukan bank, karena itu arahkanlah pandangannya ke bawah, bukan ke langit. Jangan ke mobil sedan, melainkan ke bis metro mini yang para penumpangnya senantiasa berdesak-desakkan sambil ber-’olahraga leher’, terbungkuk-bungkuk karena terpaksa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Bapakmu punya mobil yang dibeli dari hasil gaji dan keringatnya sendiri? Betul? Tapi yang seperti bapakmu itu bisa dihitung dengan jari kaki. Mengertikah kamu apa yang disebut ‘sistem’? Mungkin masih samar-samar, tak apa. Nah, jika sistem ekonomi salah, maka bunutnya bisa panjang. Misalnya, yang mestinya bukan pedagang malah berdagang. Yang mestinya pedagang malah tidak bisa berdagang. Yang mestinya sekolah malahan main di comberan. Semua itu akibat sistem yang salah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pernah mendengar tentang hak asasi? Tentu pernah, walau mungkin hanya samar-samar. Itu penting kamu ingat-ingat mulai sekarang, karena hak asasi itu merupakan harta bendamu yang paling berharga. Jauh lebih berharga daripada rumahmu, sepedamu, sepatu roda dan bola tendangmu, digabung jadi satu. Sekarang barangkali belum begitu terasa arti pentingnya, tapi kalau kamu sudah dewasa kelak, dia akan merupakan suatu taruhan. Bisa membuatmu jadi manusia yang punya harga diri, tapi bisa juga membuatmu seperti seekor cacing.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Supaya lebih jelas, dengarkan baik-baik. Kamu punya hak asasi untuk mengeluarkan pendapat, punya hak asasi berkumpul dengan sesama orang yang sepaham, punya hak asasi apakah kamu mau berjongkok atau menungging, sepanjang tidak membawa malapetaka bagi tetangga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mulai sekarang harus kautanamkan ke kepalamu bahwa hak asasi itu sama pentingnya dengan sepiring nasi. Bisakah kamu enak tidur tanpa melahap nasi sepiring pun? Tak seorang pun, sekali lagi tak seorang pun, yang diperbolehkan merampas hak itu darimu. Begitu hakmu itu terampas, kamu bukan lagi manusia biasa, melainkan semacam segumpal asap.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“Besar kemungkinan, bapakmu di rumah suka menyebut-nyebut istilah yang namanya ‘warisan’. Jika yang dimaksud ‘warisan’, itu berupa benda, entah rumah, entah truk, entah kebun kelapa sawit, atau mungkin berupa utang yang mestinya dibayar oleh bapakmu, itu bukan urusanmu. Itu memang ada hubungannya dengan hakmu, ibumu, hak kakak serta adikmu. Tidak ada orang yang perlu mencampuri, karena aturan-aturannya sudah tersedia. Tapi kalau bapakmu –siapa tahu– menyebut-nyebut tentang ‘nilai-nilai’, maka ini soalnya sedikit lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti halnya uang logam ratusan, nilai itu punya dua sisi yang berbeda satu sama lain. Ada nilai yang bagus, tapi ada juga nilai yang jelek. Sejak sekarang kamu mesti melatih diri untuk memisahkan, mana nilai baik dan mana nilai yang busuk, culas, serakah, srigala, ular kobra, ataupun kucing garong. Bilang kepada dirimu sendiri serta juga kepada bapakmu, bahwa kamu cuma punya bakat mewarisi nilai-nilai baik dan alergi terhadap nilai-nilai kaleng rombeng. Jika bapakmu itu pikirannya waras, dia akan bersenang hati serta merasa bangga, dan langsung mencium jidatmu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bapakmu berlangganan koran? Aneka macam koran? Itu bagus. Masa bodohlah apa koran itu dibelinya atas pilihan sendiri atau langganan wajib lewat kantornya, pokoknya koran. Biasakan banyak membaca, termasuk baca surat kabar ini. kamu harus berusaha agar kesenanganmu membaca koran sama dengan kesenanganmu makan rujak. Tapi, membaca surat kabar pun jangan asal membaca. Langkah apapun yang serampangan, tidak bagus. Pakailah daya menimbangmu semaksimal mungkin. Jangan asal suap dan asal telan, nanti ketulangan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 10 Maret 1981&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/buku-petunjuk-pendidikan-politik-sejak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4448117552154287313</guid><pubDate>Sun, 06 May 2012 15:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-18T13:23:20.830-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1974</category><title>Parlemen Pakai Karcis</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu waktu, penyair Pablo Neruda mengambil keputusan sederhana: bahasa sajak itu tak usah muluk, tapi lumrah saja. Orang bisa paham, itu yang penting. Begitulah sang penyair yang pipinya tembem itu menulis kumpulan sajak &lt;i&gt;Nyanyi Puja untuk Kaos Kakiku&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Nyanyi Puja Buat Bawang&lt;/i&gt;. Dan berhubung Neruda juga merasa berkewajiban poleksosbud (politik, ekonomi, sosial, budaya), kumpulan sajaknya, &lt;i&gt;Canto Genereal&lt;/i&gt; pun sunggguh-sungguh menyentuh persoalan sejarah dan politik Amerika Latin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Neruda basah politik, begitulah. Presiden Allende memaklumkan hari besar Chili tatkala Neruda memperoleh hadiah Nobel di tahun 1971. Tatkala presiden Allende mati akibat kup militer, penyair Neruda teramat sedih kalbunya, dan kemudian ikut mati. Jarang ada politikus dan penyair seakrab begini. Mungkin karena kedua-duanya marxis. Kedua-duanya berpanglima “politik”. Ganjil tidak ganjil, nyatanya Pablo Neruda tidak jalan sendirian. Di belakangnya susul-menyusul pengarang yang kena pukau pikiran-pikirannya: Cortazar–Garcia Marquez, Vergas Llosa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di negeri Indonesia kita ini, hubungan kedua profesional itu rusak. Entah siapa yang mulai main cemooh. Pokoknya &amp;nbsp;rusak. Di mata seniman, politikus itu jorok, culas, tak patut dijadikan tetangga. Di mata politikus, seniman itu tak bisa dipahami, bahasanya bukan main ruwet. Apalagi jalan pikirannya, kalau yang disebut terakhir ini memang ada. Seniman itu bagaikan dari gugus etnografis lain yang kurang dikenal. Pendek kata, keduanya penghuni kebun binatang yang kandangnya berbeda, baik luas maupun bentuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi, pada saat tertentu, terjadi pergeseran ganjil di antara mereka. Di satu pihak, parlemen yang merupakan TIM-nya politikus disindir “bersandiwara”, di lain pihak, muncul grup-grup teater yang mengubah panggung bagaikan parlemen, komplit dengan protes-protes sospolnya, lewat retorika atau slogan-slogan mulus. Di satu pihak, keluhan sospol orang parlemen semakin halus dan sopan-santun, bagaikan tuntutan sang menantu kepada mertua. Di lain pihak, seniman-seniman menghardik kerusakan sospol lewat kalimat-kalimat langsung dan nyaring. Hatta seorang tuli pun bisa mendengar. Suatu keajaiban sedang terjadi: parlemen jadi sandiwara, dan sandiwara jadi parlemen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di tahun 50-an, Asrul Sani sudah berkeinginan, “teater jadi alat demokrasi yang lain”. Di sana, orang bisa mendengar gerutu, atau protes, atau apa saja yang jadi problem publik, seperti layaknya sebuah parlemen yang normal. Teater merupakan parlemen tanpa fraksi, tanpa komisi, dan tanpa wakil pemerintah, kecuali yang datang menonton. Beda satu-satunya yang paling penting antara keduanya: yang satu pakai karcis, yang lain tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada 111 grup teater yang ikut Festival Drama Remaja se-DKI, bulan September tahun lalu (Tempo 5 Januari, 1973). Belum dihitung grup yang non-remaja. Ini sudah bukan main. Gairah Pemerintah Daerah yang memberi bantuan pun termasuk bukan main. Bagaikan Sultan Harun Al-Rasyid yang memberi pundi-pundi dinar kepada para penyair. Termasuk kepada mereka yang secara tepat, namun indah mengeritik kebijaksanaan Sang Sultan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Absurd. Apabila tidak absurd, teater semakin membeberkan problem sosial lewat penyamaran sesedikit mungkin, lengkap dengan konflik-konfliknya, atau kejahatan-kejahatannya. Disebut atau tidak disebut, problem politik yang mungkin disamarkan di forum parlemen resmi, telah muncul di panggung dengan lebih tegas, lewat kalimat yang kurang formal namun lebih jujur. Taruhlah bukannya menobatkan “politik sebagai panglima”, atau bukannya semacam pengembangan prinsip-prinsip estetika, panggung dari khasanah filsafat dan faham politik tertentu, namun teater hampir sempurna jadi forum buat publik menyaksikan persoalan-persoalan sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau begitu halnya, parlemen “partikulir” ini jadi banyak juga: pers, teater (bisa juga lenong), dan film. Kecuali kena musibah cabut SIT, pers tak kenal sensor. Parlemen jalanan menurut aturannya dilarang. Film nasibnya paling berabe, karena tangan sensor yang lebar, resmi seratus persen, sewaktu-waktu siap membekuk batang lehernya, sebelum publik sadar apa yang terjadi. Teaterlah yang paling beruntung, bagai margasatwa yang tidak terjamah. Tiada sensor baginya, setidak-tidaknya sensor resmi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nyaris lupa: wayang purwa, yang sarat dialog, kelakar dan nyanyi. Kalau bioskop banyaknya cuma 500 di seluruh Indonesaia, tulis Pandam Guritno, di majalah The Indonesian Quarterly terbitan Oktober 1973, dalang dari rupa-rupa kaliber, banyaknya 20 ribu. Kalau mass media modern tak mampu menjembatani masyarakt kota dan desa, para dalang ini sanggup. Namanya saja purwa, namun bisa diisi dengan tingkat kemajuan yang berkembang. Itu barangkali sebabnya, begitu lepas jadi Menteri Penerangan, begitu Haji Boediardjo, terjun memimpin para dalang. Selain harus tahan kantuk, wayang tak kena sensor. Dalang yang ngelantur ganjarannya kesurupan, katanya. Ngacau, mendelik, berbusa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Tempo&lt;/i&gt;, Januari 1974 &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2012/05/parlemen-pakai-karcis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-7894548777202962936</guid><pubDate>Sun, 16 Oct 2011 02:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-18T13:26:26.124-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1987</category><title>Dialog</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;ARISAN para ibu tidaklah memerlukan
perizinan apa pun. Baik dari instansi bahkan oleh suami masing-masing. Ini sungguh
melegakan. Itu sebabnya bisa berlangsung kapan saja, baik saat hujan maupun
saat panas. Forum itu amatlah menyenangkan, harum semerbak, seakan-akan ada
botol parfum tumpah ke lantai. Begitu pula gaun yang melekat di badan, langsung
direnggut dari balik kaca etalase. Kemudahan tanpa izin itu disebabkan
karena anggapan arisan itu seratus persen nonpolitik. Apa betul? Mari
kita saksikan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ny. Wati yang berkebaya ungu
berbunga bakung berkata kepada rekan-rekannya betapa ia masygul belakangan ini.
Masalahnya karena ia dijuluki “ekstrem kiri” oleh suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ekstrem kiri? Apa pula itu
maksudnya?” tanya Nyonya Lisa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Entahlah. Boleh jadi karena aku
senantiasa mengendus kemejanya setiap pulang kantor atau rapat, atau periksa
jangan-jangan ada bercak-bercak bekas gincu atau apa. Kewaspadaan perlu, bukan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tentu perlu, bahkan wajib. Lelaki itu
mesti diteliti terus-terusan sebelum terlambat. Julukan “ekstrem kiri” itu
kelewatan, bukan?&quot; kata Ny. Wati seraya menjambret kue bolu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa kamu pernah pergoki sesuatu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tentu saja belum. Tapi itu bukan
berarti segala sesuatu sudah sip. Soalnya lelaki itu orang cerdik. Inilah yang
membuatku selalu senewen. Serba salah, punya laki bego membosankan, punya laki
cerdik bisa celaka”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “Itu sudah resiko. Kawin itu seperti
berbelanja di toko juga, kita mesti teliti sebelum membeli”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;“Ah omong kosong. Mana sempat
teliti-teliti segala? Kejadian berlangsung seperti gempa, tak seorang pun
sempat begini atau begitu. Kalau nasihati kira-kira dong,” kata Ny. Wati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “Benar juga kamu itu. Aku sendiri
waktu pacaran seperti orang kena sihir, tak ingat apa yang terjadi, eh
tahu-tahu sudah punya mertua,” kata Ny. Lisa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;“Dia sih tidak aneh-aneh. Lakiku itu
itu tak habis-habisnya mengikuti seminar ini seminar itu, lokakarya ini
lokakarya itu,. Ia amat serius. Barangkali model begitulah yang disebut
pemikir. Kecuali...?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “Kecuali apa?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;“Kecuali sering menyindirku dengan
rupa-rupa sebutan. Kadang-kadang menyebutku “agen modernisasi”, kadang “motivator”,
bahkan dengan sebutan yang tak kupahami sama sekali. Lucu bukan?” kata Ny.
Lisa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kenapa begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;“Soalnya kecil saja. Kapan saja di
mana saja ia senantiasa kutelepon. Mendengar suaranya saja sudah cukup. Ini yang
namanya komunikasi timbal-balik.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Atau mencek!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ya, atau mencek. Mencek dari waktu
ke waktu itu penting, lho”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa lakimu tidak jengkel?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Mula-mula ia kelihatan senang. Tapi
lama-lama memang dia jengkel dan sering diejek kawan-kawannya. Tapi, apa
peduli? Mumpung zaman menyediakan telepon, kenapa tidak dipakai? Kita hidup
dalam masa “revolusi komunikasi”, jangan sampai ketinggalan dong. Lagipula,
kalau suami sekali sudah kehilangan jejak, tunggu saja malapetakan yang bakal
menyusul”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Betul juga kamu itu”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;MATAHARI sudah tinggi, arisan
berjalan sempurna, artinya tanpa arah dan pimpinan sama sekali. Juadah dan
goreng-gorengan terus beredar tak putus-putusnya. Pembicaraan pun dari satu
perkara ke perkara lain. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Sesekali ada
pula yang coba-coba mengedepankan masalah ruang angkasa, karena bahan
omongannya kelihatan kurang, segera lenyap begitu saja. Sedangkan yang tampak
kurang selera hanyalah Ny. Rita. Dia yang paling langsing dari seantero
hadirat, berkat diet sepuluh tahun terus menerus.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa ceritamu, Rita? Ngomong dong”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Aku serupa, tapi tak sama”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa itu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kalau Ny. Wati itu dipanggil
ekstrem kiri, aku masih mendingan. Suamiku pernah juga menyebutku ‘ekstrem
kanan,” kata Ny. Rita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ada-ada saja kau ini,” seru hadirin
serentak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Duduk perkaranya sebetulnya
sederhana saja. Setiap aku ambil barang, bonnya kusuruh tagih sama suami.
Normal, bukan?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa selalu dia lunasi?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tentu saja”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa dia tidak ngomel?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Tentu saja ngomel, kalau kebanyakan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Apa hubungannya dengan ‘ekstrem kanan’?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Kamu ini bagaimana sih, itu sebabnya
barangkali ia menyebutku ‘ekstrem kanan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Oh”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Arisan pun selesai dengan mulus, mereka
akan bertemu lagi bulan depan di tempat berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;; &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 29 November 1987&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/dialog.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-1337704262639111778</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 23:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-18T14:03:30.445-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1995</category><title>Miskin</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;CORAZON Aquino memang tuan tanah
besar. Tanahnya yang ditanam tebu melimpah di Provinsi Tarlac. Tapi dia maklum,
penduduk yang tak memiliki tanah merupakan bom waktu yang tiap saat bisa
meletus dan menumbangkan negeri. Corry tahu persis, kekayaan yang terlalu besar
menumpuk pada diri di tengah kemiskinan bukanlah kesenangan, melainkan beban
berat yang mendatangkan kikuk dan waswas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Saya pernah bertamu ke rumah senator
Salpada Padatun. Rumahnya kemilau berlantai marmer, dijaga oleh belasan pasukan
swasta bersenjata lengkap beserta beberapa anjing herder. Seorang kawan
redaktur senior majalah &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;The Phillipines
Free Press&lt;/i&gt; berkata bahwa tak kurang dari 315 tukang pukul bersenjata yang
setiap saat bisa disewa. Tak kurang dari 80 politikus, 6 di antaranya para
senator dan 37 anggota parlemen memelihara tentara swasta ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Di Filipina cuma dua persen
penduduknya dipegang oleh tuan-tuan tanah dan 89 persennya dalam keadaan papa
dan miskin tak punya kuasa apa-apa. Kekuasaan ekonomi dan politik dipegang oleh
tak lebih dari keluarga tuan tanah. Menurut pengamatan ekonom Gunnar Myrdal
yang terbaca dalam &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;An Inquiry into the
Poverty of Nations&lt;/i&gt;, demokrasi yang sehat tidak jalan di Filipina. Kelicikan
dan tipu muslihat merupakan permainan politik yang diterima umum sebagai
keadaan normal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Di negeri ini tahun 1981 dan tahun
1988 terjadi di Jenggawah, Jember dan Badega kegemparan yang menyangkut ratusan
ribu petani miskin. Mereka yang tadinya susah menjadi tergencet oleh ulah mereka
yang ingin merebut tanahnya. Bulan Mei 1995 soal tanah itu muncul kembali lewat
hubungan PT Perkebunan PTP XXVII. Petani-petani itu merasa terancam akan
digusur dari tanah yang dicintainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Teringatlah karya Dostoevsky &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Si Dungu&lt;/i&gt; di mana tokohnya Myskin pernah
berkata, “barangsiapa tidak memiliki tanah sendiri berarti dia pun tidak
memiliki Tuhan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kemudian berkata pula tokoh Zossmina
kepada Aloysha agar membiasakan meletakkan dahi menyentuh tanah. “Ciumlah ia
sehabis-habis cium, cintailah tanah itu sehabis-habis cinta karena tanah itu
adalah segala-galanya”. Sedangkan tokoh Maria Lebyandhina berkata dengan bibir
gemetar bahwa buat orang Rusia tanah itu adalah bagaikan “ibunda yang
dipersembahkan kepada kita dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang mesti dipeluk
sambil sembahyang menghadapNya”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Dostevsky pastilah tak pernah ke
Jember, bahkan letak Jenggawah itu pun tak tahu. Tapi sebagai pembela rakyat
kecil tak punya tanah yang berulangkali diamankan oleh penguasa dan dibuang ke
Siberia oleh Tsar Nicolas II, ia tahu pasti betapa lemahnya kaum tani tak bertanah
itu dan betapa empuknya mereka jadi bahan perasaan kaum yang kuat dan berpunya.
Dostoevsky tahu pula bahwa di samping lemahnya kaum tani tak bertanah itu, ia
pun maklum pula betapa kuatnya semangat dan tekad mereka untuk melakukan
perubahan dan perbaikan nasib, sekuat mata bajak membongkar tanah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;ORANG-orang yang tinggal di Desa
Cipangramatan, Tanjung Jaya, Bojong, Jaya Bakti, Cikajang dan Banjarwangi
sebelah selatan Garut mengeluarkan pernyataan keprihatinan bukan dengan
kalimat-kalimat Dostoevsky, melainkan dengan bait-bait sajak Rendra dari
cuplikan sajak-sajak orang miskinnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Jangan kamu bilang negara ini kaya,
karena orang-orang miskin berkembang di kota dan di desa.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt;&quot;&gt;; &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 18 Juni 1995)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/miskin.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4860877331363448036</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 22:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T15:30:24.057-07:00</atom:updated><title>Tentang Mahbub</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true}; 
&lt;/script&gt;&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;b&gt;H. MAHBUB DJUNAIDI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia ingin menulis, dan akan terus menulis. Sampai kapan? &#39;&#39;Hingga tak lagi mampu menulis,&#39;&#39; ujarnya. Mungkin karena itu, &#39;&#39;Ketimbang disebut politikus, saya lebih senang disebut sastrawan.&#39;&#39; Lelaki ini mengawali kegiatan menulis dan berorganisasi sebagai redaktur majalah sekolah, Pemuda Masyarakat, sambil mengetuai Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ranting SMP II di Jakarta, 1952.&lt;a href=&quot;http://www.pdat.co.id/ads/html/H/ads,20030617-36,H.html&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; selengkapnya di PDAT Tempo&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mahbub Djunaidi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Author profile&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;born&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : July 27, 1933 in Jakarta, Indonesia&lt;br /&gt;died&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : January 01, 1995&lt;br /&gt;genre&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : Literature &amp;amp; Fiction, Humor, Politics&lt;br /&gt;influences&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Art Buchwald, Idrus, Anton Chekov&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;About this author&lt;a href=&quot;http://www.goodreads.com/author/show/2730918.Mahbub_Djunaidi&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; selengkapnya di Good Reads&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mahbub Djunaidi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sastrawan Betawi yang lahir di Jakarta, 27 Juli 1933 dan meninggal di Bandung 1 Oktober 1995. Ia mulai terjun di dunia sastra tahun 1955 lewat cerpennya &quot;Kalau Sore-sore&quot; yang dimuat Merdeka. Ia juga seorang wartawan dan kolumnis; 1958 terjun ke dunia jurnalistik, membantu harian Duta Masyarakat, kemudian menjadi pemimpin redaksinya (1960-1970). Tahun 1965-1970, menjadi Ketua Umum PWI Pusat, kemudian menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI sampai 1978.&lt;a href=&quot;http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/1755&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; selengkapnya di Ensiklopedi Jakarta&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kata-kata Haji Mahbub&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Oktober 1995, H Mahbub Djunaidi menghembuskan nafas terakhir. Enam belas tahun Mahbub meninggalkan kita, batang hidungnya tak akan pernah muncul kembali. Tapi kata-katanya masih hidup. Siapa yang hendak belajar bahasa? Mahbub salah satu rujukannya.&lt;a href=&quot;http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/13/34151/Tokoh/Kata_kata_Haji_Mahbub.html&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; selengkapnya di NU Online&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Pendekar Pena dari Betawi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ia mengkritik dengan humor dan membicarakan suksesi Soeharto sejak dini.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMA Zahid bin Mahmud sebagai &lt;i&gt;tukang cerite&lt;/i&gt;, sebutan bagi pendongeng di Betawi, demikian tersohor di Jakarta pada era 1960-1970-an. Saking populernya lelaki Tanah Abang itu sampai-sampai muncul istilah ngejaid untuk menyebut kegiatan mendongeng. Dongeng Zahid sangat digemari lantaran ia berkisah dengan menyenangkan dan kerap membumbuinya dengan humor.&lt;a href=&quot;http://www.majalah-historia.com/berita-483-pendekar-pena-dari-betawi.html&quot;&gt;&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt; selengkapnya di Majalah Historia Online&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/tentang-mahbub.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>10</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-585379698057868238</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 22:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T15:14:16.679-07:00</atom:updated><title>Buku Tamu</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true}; 
&lt;/script&gt;&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;Ini adalah halaman buku tamu. Tuliskan kesan dan pesan anda setelah mengunjungi blog ini, atau berbagai komentar yang tidak berhubungan langsung dengan isi blog. Terima kasih.&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/buku-tamu.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>12</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-5102661942604426933</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 20:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T19:23:27.965-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1987</category><title>Elly</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; MEMBACA koran itu bukan seperti
makan lemper yang sudah pasti enaknya. Misalnya, seringkali orang melewatkan
halaman depan yang memuat ucapan-ucapan aneh dan klise. Misalnya, pembaca tidak
tertarik lagi dengan istilah “penyesuaian”, karena kata itu sudah pasti berarti
kenaikan harga, dan bukan sebaliknya. Seorang murid SD malahan punya usul yang
amat progresif, bagaimana kalau lawan kata “turun” diganti saja dengan “sesuai”,
dan bukannya naik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bahkan, pembaca pun sering melewatkan
kolom induk karangan karena dirasa terlampau canggih bahasanya sehingga sulit
ditelan dan senantiasa nyangkut di tenggorokan. Lebih-lebih, masalah yang
ditulis di situ seperti tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang banyak
diperbincangkan khalayak baik di pasar maupun di bus-bus. Tidak sedikit orang
beli koran dan langsung membaca iklan-iklan kematian, mencari tahu umur
berapakah orang yang meninggal itu, sekadar membanding-bandingkan dengan
umurnya sendiri sambil bertanya-tanya apakah dia sanggup bertahan hidup sampai
seumur itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan yang paling mengharukan pembaca
adalah ketika ia membaca anjuran agar hidup sederhana. Hal ini sama sekali
tidak bermaksud meremehkan atau menentang, melainkan ia sekadar tidak tahu
bagaimana lagi cara menyederhanakan hidup yang sudah berabe ini. Ia beranggapan,
andaikata hidupnya yang sudah begini mesti disederhanakan lagi, berarti
tamatlah riwayatnya selaku manusia dan langsung masuk ke liang kubur, setidak-tidaknya
merosot jadi gembel tulen. Soalnya bukan apa. Ia pengangguran, masuk keluar
kantor hingga sepatu habis tiga pasang, dan tak satu pun bagian pegawai yang
mau ambil pusing terhadap ijazah perguruan tinggi yang dikempit di ketiaknya. Dalam
keadaan hidup yang sudah begitu berantakan dan tanpa harapan, dia betul-betul
pening memikirkan bagaimana tekniknya hidup itu lebih disederhanakan lagi. Ingin
rasanya ia menulis surat kepada redaksi surat kabar, minta sekadar juklaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; AKAN halnya berita yang paling
menarik perhatian adalah menyangkut Pengadilan Negeri Bandung yang menghadapkan
12 pelacur kelas “teri” seperti diberitakan oleh koran &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Berita itu
lebih memikat dibanding berita tentang tanggapan-tanggapan terhadap calon DPRD
atau tentang skandal baru terungkap di Amerika Serikat sekitar penjualan
helikopter perang kepada Korea Utara sejumlah $ 40 juta. Apa anehnya ada
pengusaha jual kepada Korea Utara jika presidennya sendiri menggulingkan pemerintahan
Nikaragua yang sah? Apa anehnya murid kencing berlari jika guru kencing berdiri?
Apa anehnya bawahan mencuri jika panutannya menggondol barang kantor dan
ditumpuk di belakang kebunnya? Apa anehnya kawula jadi ngelantur jika pimpinannya
sendiri ngomong &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;ngalor&lt;/i&gt; dan perbuatan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;ngidul&lt;/i&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bahwa pembaca terpikat hatinya
membaca berita pengadilan pelacur Alun-alun Bandung itu, bisa dilihat dari
dialog antara hakim dengan terdakwa Elly umur 24 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Di mana kamu tinggal,” tanya hakim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya tidak punya tempat tinggal,”
jawab Elly.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lho, kenapa bisa begitu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya tinggal di mana saja. Di kolong
jembatan okey, di emper toko okey, sekali-kali juga di hotel.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa agamamu?” tanya hakim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Saya tidak punya agama,’ jawab Elly
tegas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lho, tinggal di Indonesia kok tidak
punya agama?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Ya, saya sengaja tidak menyebut punya
agama. Sebab, jika saya mengaku punya salah satu agama, selain Tuhan akan
mengutuk, umatnya pun akan mencela.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kalau begitu kamu lebih pantas
dibuang ke Moskow, ya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidak apa-apa, tidak apa-apa,”
jawab Elly berulang-ulang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Nama orangtuamu siapa?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidak tahu,” jawab Elly.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Masa nama orangtua sendiri tidak
tahu?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Habis, orangtua saya meninggal saat
saya masih bayi.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Lantas selama ini apa kerjamu?”
tanya hakim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Minum-minum, jalan-jalan, terus molor.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Buat apa minum-minum?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Menghilangkan derita, Pak Hakim,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Kamu WTS, ya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Siapa bilang saya WTS! Saya minta
saksi siapa saja di Bandung sini yang pernah pakai saya...”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Wah, mana ada lelaki yang mengaku?!”
kata Hakim.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Persis saat itu masuk dua saksi dari
kepolisian, menerangkan bahwa Elly ditangkap di Alun-alun Bandung ketika mabuk
sempoyongan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Apa kamu mau insaf?” tanya hakim lembut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “Tidak, saya tidak pernah mau insaf,
karena tidak pernah ada orang yang menginsafkan saya,” jawab Elly.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sesudah dialog itu, majelis hakim
memutuskan terdakwa Elly dijatuhi denda Rp 3000 subsider tiga hari kurungan. Dengan
gaya mantap dan penuh keyakinan diri, Elly merogoh saku, melempar gulungan uang
ribuan ke atas meja hijau. Elly yang bercelana panjang cokelat dan berbaju
merak itu kemudian meninggalkan ruang sambil melambai-lambaikan tangan seraya
berkata nyaring, “Hidup WTS!” Hadirin tertawa senang melihat pemandangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;; &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 1 Maret 1987)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/elly.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-1783974158429213729</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 19:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-16T07:56:17.549-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1988</category><title>Kolumnis</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; TIAP KTP punya baris “pekerjaan”
yang mesti diisi. Seorang Dirjen akan dengan mantap mengisinya karena yakin
betul tiap orang mafhum belaka makhluk apakah dirjen itu. Seorang makelar pun
sekarang ini tidak usah kikuk mencantumkan profesinya, karena dunia makelar pun
sudah sah jadi penunjang pembangunan seperti halnya juga komisioner. Sekarang,
apa yang harus diisi seorang penganggur yang banyak sekali jumlahnya di negeri
ini? Demi harga diri dan demi supaya tak dicurigai, mustahil seorang penganggur
mengisi apa adanya dalam KTP. Karena jenis pekerjaan mesti jelas tercantum,
maka apa yang mesti ditulis oleh penganggur yang tidak punya pekerjaan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biasanya mereka isi dengan perkataan
“swasta” atau “wiraswasta”. Saya berani bertaruh, tidak ada penganggur yang
berterus terang menulis apa adanya. Selain demi harga diri dan demi jangan dicurigai,
juga mereka menghindar dari mengaku penganggur itu karena merasa kurang enak
kepada pihak pemerintah, takut dianggap menyindir. Mengapa menyindir? Karena bunyi
pasal 27 UUD berbunyi “ Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan”. Jika seorang penganggur mengaku terus terang
keadaannya, apa itu bukannya bisa dianggap menyindir, seakan-akan pemerintah
sudah tidak mampu menyediakan pekerjaan yang layak?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal serupa juga dialami oleh
pengemis. Jika pemerintah berpegang teguh secara murni dan konsekwen pada bunyi
pasal 34 UUD yang berbunyi “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara
oleh negara” maka tidak mungkin bergelombang-gelombang pengemis masuk kota. Anehnya,
ada kotamadya yang mengancam akan merazia dan menangkap pengemis. Apakah memang
pantas dipersoalkan kenapa sampai melalaikan pasal 34 UUD itu hingga berdasar
Pancasila ini bila orang diperbolehkan sekaya-kayanya, tapi para fakir miskin
malahan diuber-uber?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PEKERJAAN Dirjen orang tahu. Begitu juga
makelar atau komisioner. Bahkan profesi dukun pun orang paham. Tapi profesi “kolumnis”
masih asing dan belum banyak yang maklum. Jika saya mencantumkan perkataan “kolumnis”
sebagai jenis pekerjaan, banyak orang bertanya-tanya binatang apa sih kolumnis
itu? Kolumnis itu bagian  pekerjaan malam apa siang? Bahkan ada yang bertanya,
apa beda antara kolumnis dengan komunis? Tentu beda. Komunis itu sudah musnah
sedangkan kolumnis itu masih ada, setidaknya sampai hari ini. Perkara besok
akan lenyap juga, nantilah kita lihat saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apa yang ditulis kolumnis itu memang
fakta? Bisa fakta dan bisa juga bukan fakta. Sebab, jika semua semua fakta
mesti ditulis secara terbuka dan apa adanya, dalam tempo tiga hari dunia ini
akan terbolak-balik. Bahwa koran mesti menyiarkan yang faktual, itu benar. Tapi
tidak semua fakta layak disiarkan. Sebab, apa jadinya jika semua fakta
disiarkan oleh koran? Apa jadinya jika korupsi mulai teri hingga kakap
dibeberkan apa adanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya punya contoh, bagaimana seorang
kolumnis menulis bukan atas dasar fakta, melainkan imajinasinya yang diharapkan
bisa ditarik manfaatnya oleh pembaca. Misalnya kolumnis Ajip Rosidi yang sudah
bertahun-tahun bermukim di Jepang. Dalam &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt; terbitan 6 Juni 1986, ia menurunkan
tulisan berjudul &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Sendok, garpu dan lain-lain&lt;/i&gt;.
Tulisan itu menyebut ikhwal makanan, cara makannya, apa pakai sendok apa pakai
sumpit, apakah itu makanan Jepang atau Barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagai seorang yang kenal baik Ajip
Rosidi, saya tahu persis ia sama sekali bukan gastronom, bukan pakar makan-memakan,
bahkan mirip pun tidak. Ia bukan tukang makan, melainkan tukang telan apa saja
yang lewat di depan hidung. Bagaimana mungkin seorang awam makanan seperti Ajip
berani menulis artikel ihwal makanan, kalau bukan semata-mata atas dorongan
imajinasinya? Bagaimana mungkin seorang yang tak bisa membedakan mana kroket
dan mana combro mampu menulis soal makanan? Ini sama saja anehnya dengan orang
asal Indihiang yang berdiam di kaki Gunung Galunggung bicara soal taman laut
dan rahasia samudera.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya punya kisah pribadi yang
mendukung pendapat saya. Pada tahun 1982 saya mampir di Kyoto naik kereta api,
Ajip Rosidi persis menunggu di pintu gerbong. Sesudah bersalam-salaman
sebagaimana layaknya, sesudah tanya ihwal masing-masing dan bertanya ihwal Tanah
Air yang saat itu menjelang saat pemilu, Ajip pun berbaik hati menawarkan apa saya
mau makan siang, dan makanan apa yang saya sukai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya bilang, memang saya belum
makan, dan makan apa pun jadilah. &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Sukiyaki&lt;/i&gt;
boleh, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;steak&lt;/i&gt; Kobe pun jadi, pokoknya
asal cepat. Maka Ajip pun mengajak berjalan kaki masuk keluar lorong, ada
barangkali satu jam sehingga bukan saja perut makin lapar, tapi kaki pun sudah
kaku. Di dalam hati saya berpikir, kok kota semacam Kyoto yang cukup besar itu,
susah betul cari restoran?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sesudah kaki tidak kuat lagi
melangkah, tahulah saya bahwa Ajip sebetulnya tidak tahu persis, di mana letak
restoran yang menjual makanan yang saya sebut itu, bahkan Ajip malahan tidak
bisa baca huruf Kanji, tentu saja ia tidak bisa membedakan mana restoran mana
toko potret.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sesudah tidak sanggup lagi
meneruskan perjalanan, saya pun pasrah dan mengusulkan supaya makan makanan apa
saja yang tampak oleh mata. Maka, kami pun menghampiri depot penjual &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;hamburger&lt;/i&gt;, makanan yang bisa ditemui
siapa saja dengan mudah, baik oleh nenek-nenek maupun orang buta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;; &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 17 Juli 1988)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/kolumnis.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-4607817511527988862</guid><pubDate>Sat, 15 Oct 2011 06:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T16:37:23.730-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1987</category><title>“Status Quo”</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;SEORANG nyonya beratnya 58 kg 6 ons. Ia ingin
tetap seberat itu kalau bisa hingga meninggal dunia. Tiap menghadapi meja makan
ia teliti dengan matanya yang bundar, piring demi piring, agar jangan ikut
tersuap makanan yang bisa bikin gemuk, persis seperti arkeolog memeriksa
tengkorak. Tiap pagi dan sore nyonya berjingkrak-jingkrak, menggelepar-gelepar,
rebah dan bangun serta berguling-guling, menjaga kondisi badan. Ini artinya nyonya
menjaga &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; pada berat 58 kg 6
ons, tidak lebih dan tidak kurang. Dan karena kondisi badan bukan cuma ditentukan
oleh makanan melainkan pikiran, nyonya tidak sudi diganggu dengan beban pikiran
yang tidak perlu. Itu sebabnya ia mengambil sikap liberal dalam keluarga,
artinya tidak ambil pusing berapa kali suaminya seminat atau rapat kerja dalam
seminggu, walau di hatinya bertanya-tanya, buat apa sebetulnya rapat sesering
itu. Maka dari itu, nyonya sehat bagaikan seekor ikan bandeng.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Seorang lurah juga menginginkan adanya &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; di daerahnya agar senantiasa
tenteram dan tenang, tiada riak apalagi gelombang, seperti halnya sebuah
akuarium. Satu-satunya cara untuk menghasilkan suasana &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; seperti itu adalah berusaha agar semua orang punya
pendapat seragam dengan pendapatnya, semua langkah dan sepak terjang mesti pas
dengan ukuran yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Sekecil apa pun perbedaan
pendapat yang timbul, dianggapnya seperti ada gempa yang bisa mengganggu
kampung. Lurah menjaga kondisi &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo
&lt;/i&gt;begitu cermatnya seperti orang menjunjung botol di atas kepala. Begitu sempurnanya
keadaan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; itu tercipta,
sehingga suasana kampung amat tenteram sehingga dari jarak satu kilometer
kampung itu kelihatannya seperti sedang tertidur baik malam ataupun siang. Menurut
lurah, lebih bagus penduduk kelihatan tertidur daripada berisik. Berhubung penduduk
tidak punya pilihan lain daripada kehidupan yang amat rutin, maka lurah
senantiasa tampak anggun bagaikan seorang dewa format kampung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;SETIAP jenasah mau berangkat dari rumah
duka, wakil keluarga berdiri di ambang pintu beri sambutan. Berterima kasih
kepada para pelayat, minta dimaafkan andaikata yang meninggal ada kesalahan
baik disengaja atau tidak, dan kalau ada baik utang atau piutang dari almarhum,
harap berhubungan dengna ahli waris untuk diselesaikan sebagaimana mestinya. Sesudah
itu jenasah diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir diiringi sedu
sedan dan deraian air mata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ke tempat peristirahatan terakhir? Itu dulu.
Sekarang bisa saja peristirahatan itu bukanlah yang terakhir. Kuburan tidak
bisa lagi dianggap &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; tanpa
batas. Sebab, ada kuburan yang harus dibongkar dan dipindahkan karena tempatnya
buat rumah susun, seperti terjadi di Karet, Jakarta. Tulang-tulang mayat yang
sudah berdiam di sana puluhan tahun dibungkus rapi dan dibawa pindah ke wilayah
pekuburan lain, misalnya di Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Apakah ini juga
tempat peristirahatan terakhir? Belum tentu. Sebab, ada makam famili saya
pindahan dari kuburan Karet, mesti pindah lagi ke tempat lain karena akan
dijadikan jalan intern. Ini berarti, hukum kedinamisan dan mobilitas juga masih
berlaku buat orang yang sudah meninggal dunia. Kondisi &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; bagi si jenasah masih bisa ditinjau sewaktu-waktu. Mengapa
bisa begitu? Hanya gubernur atau wali kota dan dinas pemakaman saja yang mampu
menafsirkan bagaimana mestinya “tempat peristirahatan terakhir” itu, tanpa
harus pindah kian-kemari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;BERBEDA dengan manusia (walau sudah jadi
jenasah) yang masih terbuka untuk penggusuran, tidak demikian halnya dengan
binatang. Keadaan lebih mapan dan terjamin. Misalnya, menteri Emil Salim
menginginkan agar kita bangsa manusia menaruh kasih dan sayang kepada binatang,
karena itu kebun binatang harus diperlihara &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status
quo&lt;/i&gt;-nya, jangan dihalau untuk keperluan lain. Dekat jauhnya kalbu manusia
dengan binatang merupakan tolok ukur tinggi rendahnya kebudayaan. Makin bagus
perikebinatangan seseorang, makin tinggi perikemanusiaannya. Bila seseorang
menggebuki orang hingga terampun-ampun, boleh jadi tidak jadi pembicaraan umum.
Tapi bila ia menghajar seekor anjing hingga terkaing-kaing, maka orang
menganggapnya biadab. Menggebuki orang bisa disandarkan rupa-rupa dalih, hal
yang tak bisa dilakukan terhadap seekor anjing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Semua koruptor adalah bangsat sosial,
tapi koruptor yang memelihara enam ekor kucing ras dan sepuluh ekor kuda masih
lebih bagus ketimbang koruptor yang tidak memelihara apa-apa kecuali memperkuda
penduduk sekampung. Seorang manusia bisa saja keluyuran tanpa tempat berteduh
dan orang lain pun, tapi hal demikian tak bisa terjadi pada seekor gajah atau
monyet. Memang, keharusan melindungi gajah atau monyet tidak tercantum di dalam
konstitusi, berbeda misalnya dengna fakir miskin, tapi dalam praktek justru
binatang itu lebih mendapat perhatian yang memadai. Manusia tanpa rumah
dianggap biasa-biasa, tapi gajah tanpa hutan dianggap luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pandangan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;status quo&lt;/i&gt; atas kebun binatang ini membuat Indonesia sedikit lebih
maju, mendekati Inggris yang (walau buruk selaku kolonial) menaruh rasa sayang
yang tinggi kepada binatang, sehingga kucing Itali atau angsa Perancis yang dianggap
tolol itu layak merasa iri dengan teman sebangsanya di Inggris. Bukankah orang
Inggris tidak merasa kikuk dan rendah diri makan semeja dan tidur sebantal dengan
binatang kesayangannya, seakan-akan binatang itu saudara sepupunya sendiri? Berbeda
jika perbuatan itu dilakukan terhadap manusia yang berbeda kulit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tapi, biarpun orang Inggris amat kasih
kepada binatang, bukan berarti binatang tidak menaruh dendam kepada mereka. Binatang-binatang
itu menganggap, di balik sayang terselip maksud perbudakan. Karena itu, atas
hasutan binatang babi, para binatang pada suatu saat bisa tergugah lewat
semboyan “Seluruh binatang Inggris, bersatulah!”, dan menumbangkan kekuasaan
manusia serta mendirikan “Republik Binatang”. Akan tetapi, sesudah penumbangan
kekuasaan manusia itu, binatang babi malah angsur-berangsur menjadi otoriter
dan memerintah sesama binatang lebih keras dan tidak demokratis dibanding manusia
sendiri. Begitulah menurut cerita fiktif &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Binatangisme&lt;/i&gt;
atau &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Animal Farm&lt;/i&gt; karya George Orwell,
seorang wartawan dan satiris, yang juga menulis buku &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;1984&lt;/i&gt; yang terkenal di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;; &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 16 Agustus 1987)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/status-quo.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-8664510864875280861</guid><pubDate>Fri, 14 Oct 2011 05:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T16:37:06.607-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1988</category><title>Wajah</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;



&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;JABATAN seseorang tidak ada sangkut
pautnya dengan wajah dan postur. Kennedy dengan sisiran rambut yang
mengingatkan orang pada pemain band juga bisa jadi presiden AS. Nikita
Khruschev yang tambun dan berkepala bundar, sepintas lalu kelihatan seperti
petani gandum Ukraina, juga bisa jadi perdana menteri Uni Sovyet yang brilian
dan masyhur. Humornya tinggi, humor petani Rus. Bung Karno yang pancaran
pandang juga bisa jadi binar sehingga sulit orang mengadu pandang, juga bisa
menjadi presiden. Sebaliknya, Ho Chi Minh yang bermata sayu dan mirip seorang
pensiunan kepala sekolah dasar, ternyata sanggup membabat habis pasukan
Perancis di Dien Bien Phu dan pasukan AS, juga bisa jadi kepala negara Vietnam.
Mao Zedong yang tinggi besar dan berwajah dingin bagaikan patung lilin, toh
mampu menggerakkan revolusi besar dan menghalau pasukan Chiang Kei Shek hingga
hengkang ke Taiwan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Jawaharlal Nehru memang ganteng semampai
serta senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya, tapi penggantinya
Lal Bahadur Shastri berperawakan kecil dan mirip seorang kasir toko kelontong,
toh bisa juga jadi perdana menteri. Jamal Abdul Nasser yang raksasa, jari
jemarinya saja sebesar pisang ambon, toh akhirnya digantikan oleh seorang Anwar
Sadat yang agak keling diukur dari warna orang Mesir, seorang yang kalah jauh
dibanding postur Jamal yang perkasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Atau Sihanouk. Orang yang pendek
bersuara nyaring seperti lazimnya seorang makelar itu toh bisa jadi orang
menentukan di Kamboja. Orang pernah tanya, kenapa sih Sihanouk ngomongnya
senantiasa nyaring dan nyerocos seperti ada yang loncer? Istrinya Monica
menjawab: “Kamboja itu lengang, penduduknya cuma enam juta. Karenanya Sihanouk,
mesti nyaring suaranya, kalau tidak negeri akan sunyi senyap.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Chou En Lai tergolong perdana menteri
dan menteri luar negeri yang ganteng, beralis tebal dan berair muka merah
jambu. Memancarkan intelegensi tinggi. Tapi, penggantinya Menteri Luar Negeri
Chen Yi, orang kebalikannya, bermuka Cina kebanyakan, bahkan sepintas lalu
tampak seperti seorang jagal babi karena suka angkat kaki di kursi dan hanya
memakai singlet.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;AMBILLAH contoh di negeri awak. Idham
Chalid itu, siapa tidak kenal dia? Perawakannya tipis, tak ubahnya dengan
umumnya pedagang batu permata dari Banjar. Tapi, dialah orang yang pegang rekor
paling lama menduduki kursi kekuasaan politik negeri ini sejak tahun 1956, dan
paling lama pula menjabat pimpinan NU. Dari wajah dan posturnya, Abdurrahman
Wahid merupakan kebalikan yang mencolok. Orang yang disebut belakangan ini
bertubuh gempal, ibarat jambu kelutuk yang ranum, berkaca mata tebal, bisa
tidur dimana saja, toh bisa sama-sama jadi ketua NU. Idham Chalid memiliki
kelincahan logika yang tinggi, dan Abdurrahman Wahid punya kebolehan humor yang
mengejutkan, seakan-akan dia jambret begitu saja dari laci.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ambillah contoh John Naro. Pria perlente
yang partainya digembosi orang hingga separuh, yang tidak segan-segan tarik
suara di restoran karena suaranya memang tenor, yang mencium tangan nyonya Mien
Sugandhi di muka umum sebagaimana layaknya pria Perancis, toh punya keberanian
luar biasa untuk mencalonkan diri jadi wakil presiden Republik yang besar ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ambillah contoh Ajip Rosidi yang kini
sudah menginjak umur 50 tahun. Dilihat dari potongan luarnya, lelaki asal
Jatiwangi yang tak kenal sisir seumur hidupnya dan selalu membiarkan kemeja
menjurai ke luar, dan kemana-mana bersandal itu, ternyata seorang yang alim dan
produktif dan seorang kakek yang telaten. Jika anak muda bertemu dengannya di
jalan, pasti dianggapnya seorang petani yang lagi coba-coba urbanisasi ke kota.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Atau, ambillah seniman lain Totok
Sudharto Bachtiar yang sajak-sajaknya biasa dikaji anak-anak-anak sekolah
menengah. Orang ini jadi hitam legam, habis terbakar mentari karena jadi
pelatih tenis, tidak ada urusan dengan sajak lagi, akibat dunia sekarang tidak
memerlukan penyair melainkan pemborong, sehingga para penyair jadi terlempar ke
alam dongeng. Penyair yang biasa dikesankan seorang kerempeng yang kurang tidur
dan kurang makan, sekarang tampil sebagai seorang kekar dan pontang-panting
mengejar bola, dan peroleh bayaran darinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;DI dunia tentara pun terjadi hal yang
menarik. Jika Pangab Benny Murdani punya sosok tubuh yang seram dan kebanyakan
merengut, sebaliknya Pangab Try Sutrisno yang berair muka seorang ustad dan
seakan dia itu kelihatan senantiasa seperti orang baru keluar dari salon.
Murdani menunjukkan seorang tentara yang keras, Try tampak bagai seorang pria
yang sejuk dipandang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pada saat majalah &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Tempo&lt;/i&gt; berulang tahun di Hotel Sahid tahun lampau, diadakanlah
diskusi yang menampilkan Benny Murdani sebagai pembicara utama dengan moderator
Fikri Djufri. Macam-macamlah persoalan yang diajukan wartawan, menyangkut
kebebasan pers, masalah tanggung jawabnya terhadap kestabilan, dan hal-hal
semacam itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Tapi, ada pertanyaan aneh yang
menyimpang. Pertanyaan ini datangnya dari wartawan, Aristides Kattoppo. Dengan
enak dia bertanya sesudah terlebih dulu minta maaf: “Kenapa sih Benny jarang
ketawa dan senantiasa cemberut?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Benny yang menjawab dengan contoh:
“Menurut kepercayaan Cina, saya ini dilahirkan dalam “tahun monyet”.
Saudara-saudara tahu kan monyet itu, antara ketawa dan merengut tidak ada
bedanya.” Para hadirin tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban yang jitu dan
bagus itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;(&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Asal Usul&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt; Kompas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;, 20 Maret 1988)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/wajah.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-2518198930445820321</guid><pubDate>Wed, 12 Oct 2011 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T16:36:39.681-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1983</category><title>Mengapa Tidak</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
SAM WOLINSKY sudah berusia 17 tahun. Ia
sudah mulai bercukur. Dan jatuh cinta. Ia kepingin melakukan sesuatu, tak
kecuali kekerasan. Sam merasa paling jago di dunia. mati baginya soal sepele.
Ketika ia jalan-jalan di Ventura Avenue, semua yang ada di bawah telapak
kakinya kecil belaka, sebab ia merasa kelewat besar. Sam kepingin jadi keras,
kejam, kalau perlu penghancur. Ia mengejek sifat kelembutan manusia. Tak ada
yang suci di atas bumi ini. Gobloklah orang yang nafsunya lemah. Tolollah orang
yang punya rasa malu. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Sam jatuh cinta, tapi sang gadis tidak
ada. Maka ia jadi sedikit gila, meninju dinding hingga tangannya bengkak dan
berdarah. Tapi ia tidak malu. Ia kelewat besar. Ia kelewat istimewa. Yang
ditinjunya itu barangkali manusia, dan barangkali kehidupan. Sam terus
melangkah menertawakan rasa sakitnya. Dan ia berkelahi dengan anak-anak
lainnya, tak peduli betapapun besar badannya. Bukankah kekuatannya mesti
berfungsi? Dua kali hidungnya remuk, tapi ia tak peduli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Minggu
malam bulan September, ia tetap jatuh cinta dan tetap tidak ada gadis. Sam
menuju rumah di pojok jalan F. Rumah itu penuh asap. Ada pot bunga mawar di
tingkat duanya. Seperti seekor anjing ia berputar-putar dan naik ke sana. Ia
melirik ke sekitar. Tak ada kehebatan. Tak ada kekuatan. Semuanya biasa-biasa
saja. Tangganya biasa. Pintunya biasa. Tak tampak kebejatan yang dahsyat. Tak
ada kebengisan yang patut ditundukkan. Ia ingin punya lawan, tapi tak ada lawan
setimpal. Yang tampak cuma dekil, kelemahan, harga murah. Tak diperlukan tinju
sama sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Sam Wolinsky baru memutar badan mau pergi
ketika seorang wanita umur 50 tahun menegurnya. Aku perlu, kata Sam. Mari ikut
aku, manis, kata wanita itu. Akan kuberikan seorang gadis, kata wanita itu. Dan
sejam kemudian, Sam tidak lagi jadi remaja istimewa. kekuatannya sirna. ia tak
bisa lagi menertawakan apa pun. Ia menjadi teramat buruk. Sam berjalan pulang
bagaikan selembar kertas. Ia duduk di kamarnya tanpa bisa berpikir apa-apa.
Harganya jatuh dan tinjunya tidak ada. Ia menangis. Sang ibu bergegas menemui
suaminya. &quot;Tengok, papa. Sammy lagi menangis. Ia menangis seperti bayi,
papa.&quot; Begitulah yang dapat terbaca dalam cerpennya William Saroyan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Kemudian, Robert F. Kennedy tewas. Sang
adik Edward M. Kennedy mengucapkan pidato eulogy di makam. Edward mengungkapkan
bunyi surat Robert kepada ayahnya. Apa yang kita perlukan adalah cinta kasih
sayang. Bukannya cinta seperti kata majalah-majalah, melainkan cinta yang tak
mementingkan diri sendiri, yang berkaitan dengan memberi dan pengorbanan. Cinta
yang mendorong semangat dan mengandung dorongan untuk maju.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Kemudian kata Robert dalam surat kepada
ayahnya di atas semua itu amatlah penting punya kesadaran sosial. Kelewat
banyak mereka yang bersalah yang memerlukan perhatian. Kelewat banyak mereka
yang miskin yang membutuhkan bantuan. Inilah tanggung jawab kita kepada mereka
dan kepada tanah air. Sesudah mengungkapkan bunyi surat itu, sang adik Edward
menutup pidato eulogynya: &quot;Nilailah abang saya apa adanya. Ia sekadar
orang baik dan berbudaya. Ia hanya melihat kesalahan-kesalahan dan mencoba
meluruskannya. Ia melihat penderitaan dan mencoba menyetopnya. Itu saja.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Yang paling bagus memang bila semua orang
berbuat benar tanpa cacat. Tapi itu sulit. Sifat lupa, sifat khilaf, sifat keliru,
sudah menjadi pakaian. Ini gendangnya lagu hidup. memahami kesalahan langkah
meluruskannya, lebih penting daripada melihat kesalahan itu barang mustahil.
Kesalahan bukan mustahil, seperti halnya kebenaran mutlak manusia barang
mustahil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
(&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;Majalah Tempo&lt;/i&gt;,
12 Februari 1983)&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0cm;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan
artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/mengapa-tidak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1057767989562345962.post-2304346282289565642</guid><pubDate>Wed, 12 Oct 2011 02:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-10-15T16:36:26.439-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">1981</category><title>Dijual, Patung Negarawan</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_facebook_like&quot; fb:like:layout=&quot;button_count&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_tweet&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_pill_style&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=1057767989562345962&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
var addthis_config = {&quot;data_track_clickback&quot;:true};
&lt;/script&gt;
&lt;script src=&quot;http://s7.addthis.com/js/250/addthis_widget.js#username=ahmdmakki&quot; type=&quot;text/javascript&quot;&gt;
&lt;/script&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;&quot;&gt;
Sebuah toserba bertingkat 13 merupakan
toserba terlengkap di dunia, membuat orang tercengang seperti menatap menara
Pisa. Apa saja yang diperlukan bisa dibeli dengan kontan dan dengan uang pas.
Konsumen buta disediakan penuntun. Konsumen tuli disediakan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;electronic hearing aid&lt;/i&gt;. Konsumen lumpuh
disediakan kursi roda. Konsumen maniak disediakan psikiater supaya jangan
ngamuk dan bikin keresahan. Konsumen putus sekolah atau pun yang tak lulus
ujian diantar hansip.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
1 menjajakan barang-barang kuno, magis, sakti, ajaib dan berpamor. Rupa-rupa
pot keramik serta kendi tanah liat yang saking tuanya hingga tak jelas kapan tahun
asalnya. Rupa-rupa keris mulai yang tanpa lekuk menyerupai batang pensil,
hingga yang berlekuk sepuluh. Bongkahan batu dari pelbagai ukuran yang bagi
orang dungu dikiranya penimbun lubang jalanan. Perlbagai tongkat kayu, ada yang
gemuk ada yang ramping, yang salah satu di antaranya konon pernah digenggam
tangan Gubernur Jenderal kolonial Belanda, Dirk Fock, yang dihantamkan ke batok
kepala seorang petani tebu sehingga yang terakhir ini pulang ke alam baka. Ada
pelbagai macam jimat yang maaf tak bisa dipaparkan di sini karena bisa
tersambar petir.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
2 hingga 4 menjajakan jualan yang bersangkutan dengan peralatan kecantikan. Ada
gaun yang dari kejauhan tampak seperti karung terigu. Ada untaian kalung yang
terdiri dari siput berasal dari tiga samudera. Adea topi yang biasa dipakai
oleh gelandangan. Pelbagai macam gincu yang pemakaiannya terarah sesuai target,
dan harus mengindahkan ramalan cuaca serta kelestarian lingkungan. Perabot
khusus urusan mata yang sanggup memancarkan macam-macam kesan: sungguh-sungguh,
“ogah-ogahan”, berkobar-kobar, tidak sabaran, fundamentalis, tertindih utang
atau mampu memenangkan tender apa saja. Kesemuanya ini hanya tergantung dari
warna yang dipilih dan cara memoles.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
5 hingga 8 khusus perabot dari keperluan dapur hingga kamar mandi. Ada kompor
gas yang bisa dimatihidupkan dari jarak jauh, misalnya sang Nyonya sedng repot
di kakus. Ada panci yang mampu merekam pembnicaraan sang Suami di mana pun dia
berada. Ada penyimpanan beras model mutakhir yang mampu memisahkan mana beras
lokal, beras impor, beras &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;dropping&lt;/i&gt;
dan sekaligus informasi komputer bagaimana beras itu bisa masuk rumah. Akan
halnya perangkat kamar mandi, tersedia video anti air, kakus yang bisa disetel
naik atau turun, atau berputar seperti kursi direktur. Demi pemerataan, akkus
pun mesti kebagian peningkatan. Dan demi penghematan energi yang semakin
merosot, pemanasan air cukup dilakukan sambil membuka genteng dan hanya dengan
cara menekan tombol. Orang akan merasa seperti mandi di kubangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
9 dan 10 khusus permadani, karpet, tirai, taplak, serbet dan lampu-lampu.
Permadani dari seluruh penjuru dunia tersedia belaka, kecuali yang terbaik dari
Persia yang untuk waktu yang belum ditentukan distop dulu perajutannya
berhubung penduduknya disibukkan dengan perlbagai rupa petunjuk Khomeini yang
musykil-musykil. Karpet dan lampu paling memikat pembeli sebab kedua barang itu
merupakan ukuran martabat seseorang, makin lebar karpetnya makin tinggi
derajatnya, seperti jumlah ragam buku di rak orang pada abad ke 19. Begitu pula
gordin yang mesti sepadan dengan warna kebaya, begitu pula jumlah susunan
kristal pada lampu. Cukup dengan melihat lampu, tahulah orang dari eselon
berapa si empunya berasal, dan sejauh mana relasinya dengan pejabat terjalin.
Dunia semakin matematis dan praktis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
11 dan 12 berjejalan rupa-rupa makanan kalengan, juga pembunuh semua jenis
serangga. Kemudian makanan bayi. Makanan masa pertumbuhan. Makanan orang
dewasa. Makanan penderita jantung koroner. Makanan &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;non&lt;/i&gt;-lemak, &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;non&lt;/i&gt;-gula.
Makanan mengandung garam yodium. Makanan untuk kakek-kakek dan nenek-nenek.
Makanan anjing ras. Makanan kucing impor. Makanan burung kenari. Makanan bagi
mereka yang dihinggapi rasa was-was, resah, frustrasi dan ketakutan dalam
segala bentuknya. Buat orang gila sungguhan tidak ada aturan tertentu, kecuali
anjuran agar sejauh mungkin jangan samapai makan dengan kaleng-kalengnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tingkat
13 menjual patung-patung lilin orang masyhur. Ada patung jenderal yang
memenangkan serentetan pertempuran atau yang tak pernah bertempur sama sekali.
Ada geolog. Ada ahli hukum. Ada konsultan. Ada teknokrat. Ada pengusaha kecil
akhirnya besar. Ada pengusaha besar akhirnya jadi kecil. Ada diplomat ulung
yang senantiasa dalam keadaan senyum. Ada teladan KB karena tak henti-hentinya
menelan pil. Ada gubernur yang peroleh laba dari kredit Bimasnya. Ada masinis
percontohan yang bisa masukkan kereta api di stasiun tujuan sebelum waktunya.
Ada politisi jempol yang mampu pusatkan seluruh perhatian bagaimana cara
mendapatkan kursi di pemilu berikutnya, tak ada pikiran lain dari itu. Ada
negarawan yang senantiasa merenung bagaimana nasib bangsa seratus tahun yang
akan datang. Patung terakhir ini paling laris. &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;&quot;&gt;
(&lt;i&gt;Majalah Tempo&lt;/i&gt;,
4 Juli 1981)&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;margin: 0cm 0cm 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http://feedburner.google.com/fb/a/mailverify?uri=PojokMahbubDjunaidi&amp;amp;loc=en_US&quot;&gt;Melanggan artikel lewat email&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://pojokmahbubdjunaidi.blogspot.com/2011/10/dijual-patung-negarawan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>