<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527</id><updated>2024-10-04T19:06:51.069-07:00</updated><category term="lebaran"/><category term="idul fitri"/><category term="Alkohol dalam Obat dan Parfum alkohol"/><category term="Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah"/><category term="Fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali"/><category term="HUKUM SHALAT IED"/><category term="Portal berita Muslim"/><category term="hari raya"/><category term="mudik"/><category term="parfume"/><category term="sunnah"/><title type='text'>Portal Berita muslim</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-3366638836741222508</id><published>2011-08-30T05:24:00.000-07:00</published><updated>2011-08-30T05:47:26.279-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="idul fitri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="lebaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="mudik"/><title type='text'>&#39;Mudik Lebaran&#39; dan Tradisi Yang Keliru</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;b&gt;&#39;Mudik Lebaran&#39; dan Tradisi Yang Keliru&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;color: #cc3300; text-align: center;&quot;&gt;(Oleh: Abu Ahmad Zaenal Abidin bin Syamsuddin)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Wahai, manusia. Hiasilah hubungan dengan kerabatmu untuk mencari ridha Allâh Ta&#39;ala. Dengan bersilaturahmi, keberkahan umur dan rizki akan di raih dan derajat mulia akan tercapai di sisi Allâh Ta&#39;ala. Ketahuilah, silaturahmi dengan sanak kerabat dan famili merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allâh Ta&#39;ala.&lt;/div&gt;Dari Anas bin Malik radhiyallâhu&#39;anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;88&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-1.gif&quot; width=&quot;402&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, &lt;br /&gt;
maka hendaklah melakukan silaturrahmi. [1]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Silaturrahmi yang hakiki bukanlah menyambung hubungan baik terhadap orang-orang yang telah berbuat baik terhadap kita. Namun, silaturrahmi yang sebenarnya ialah menyambung hubungan dengan orang-orang yang telah memutuskan tali silaturahmi dengan kita.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Dari Abdullah bin Amr &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anhu,&lt;/i&gt; Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;91&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-2.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Sesungguhnya bukanlah orang yang menyambung silaturahmi &lt;br /&gt;
adalah orang yang membalas kebaikan, &lt;br /&gt;
namun orang yang menyambung silaturahmi adalah &lt;br /&gt;
orang yang menyambung hubungan &lt;br /&gt;
dengan orang yang telah memutuskan silaturahmi.[2]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;TRADISI &#39;MUDIK LEBARAN&#39; DALAM TINJUAN ISLAM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Sebagian besar kaum Muslimin di negeri kita mengira, bahwa mudik lebaran ada kaitannya dengan ajaran Islam, karena terkait dengan ibadah bulan Ramadhan. Sehingga banyak yang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahala puasa dan &lt;i&gt;lailatul qadr&lt;/i&gt;. Dengan berbagai macam persiapan, baik tenaga, finansial, kendaraan, pakaian dan oleh-oleh perkotaan. Ditambah lagi dengan gengsi bercampur pamer, mewarnai gaya mudik. Kadang dengan terpaksa harus menguras kocek secara berlebihan, bahkan sampai harus berhutang.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Menjelang Hari Raya &#39;Iedul Fitri, kantor pegadaian menjadi sebuah tempat yang paling ramai dipadati pengunjung yang ingin berhutang. Padahal yang benar, mudik tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam karena tidak ada satu perintahpun baik dari Al-Qur’an maupun As Sunnah yang menyatakan bahwa, setelah menjalankan ibadah Ramadhan harus melakukan acara silaturahmi untuk kangen-kangenan dan maaf-maafan, karena silaturahmi bisa dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan dan kondisi.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Apabila yang dimaksud mudik lebaran sebagai bentuk kegiatan untuk memanfaatkan momentum dan kesempatan untuk menjernihkan suasana keruh dan hubungan yang retak, sementara tidak ada kesempatan yang baik kecuali hanya waktu lebaran, maka demikian itu boleh-boleh saja. Namun, bila sudah menjadi suatu yang lazim dan dipaksakan, serta diyakini sebagai bentuk kebiasaan yang memiliki kaitan dengan ajaran Islam, atau disebut dengan istilah tradisi Islami, maka demikian itu bisa menjadi bid’ah dan menciptakan tradisi yang batil dalam ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Sebab seluruh macam tradisi dan kebiasaan yang tidak bersandar pada petunjuk syariat merupakan perkara bid’ah dan tertolak, sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;238&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-3.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allâh, &lt;br /&gt;
patuh dan taat walaupun dipimpin budak habasyi. &lt;br /&gt;
Karena siapa yang masih hidup dari kalian, akan melihat perselisihan yang banyak. &lt;br /&gt;
Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku &lt;br /&gt;
dan sunnah para khulafaur rasyidin yang memberi petunjuk. &lt;br /&gt;
Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. &lt;br /&gt;
Waspadalah terhadap perkara-perkara baru (bid’ah), &lt;br /&gt;
karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;(Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;SILATURAHMI YANG SESUAI DENGAN SUNNAH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Makna silaturahmi, secara bahasa adalah dari lafadz &lt;i&gt;rahmah&lt;/i&gt;, yang berarti lembut dan kasih sayang.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Abu Ishaq &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;“Dikatakan paling dekat rahimnya adalah orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kekerabatannya”.[3]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Imam Al-Allamah Ar-Raghib Al-Asfahani &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; berkata, bahwa ar-rahim berasal dari rahmah, yang berarti lembut yang memberi konsekuensi berbuat baik kepada orang yang disayangi. [4]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Oleh sebab itu, silaturrahmi merupakan bentuk hubungan dekat antara bapak dan anaknya, atau seseorang dengan kerabatnya dengan kasih sayang yang dekat, sebagaimana firman Allâh Ta&#39;ala:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&quot;Dan bertakwalah kepada Allâh, &lt;br /&gt;
yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain &lt;br /&gt;
dan peliharalah hubungan silaturahim.&quot;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
(QS An Nisa‘:1)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Silaturahmi dan berbuat baik kepada orang tua dan sanak kerabat merupakan urusan yang sangat penting, kewajiban yang sangat agung, dan amal salih yang memiliki kedudukan mulia dalam agama Islam, serta merupakan aktifitas ibadah yang sangat mulia dan berpahala besar. Banyak nash, baik dari Al-Qur‘an dan Sunnah yang memberi motivasi untuk silaturahmi dan mengancam siapa saja yang memutuskannya dengan ancaman berat.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Allâh Ta&#39;ala berfirman, yang artinya :&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&quot;(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allâh sesudah perjanjian itu teguh &lt;br /&gt;
dan memutuskan apa yang diperintahkan Allâh (kepada mereka) untuk menyambungnya &lt;br /&gt;
dan membuat kerusakan di muka bumi. &lt;br /&gt;
Mereka itulah orang-orang yang rugi.&quot; &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;(QS Al Baqarah : 27)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Pada ayat di atas terdapat anjuran agar setiap muslim melakukan silaturrahmi dengan kerabat dan sanak famili.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;“Pada ayat di atas, Allâh menganjurkan agar menyambung hubungan dengan sanak kerabat dan orang yang mempunyai hubungan rahim dan tidak memutuskannya”.[5]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim melakukan silaturrahmi dengan sanak kerabat, baik dengan saudara laki-laki dan saudara perempuan, baik sekandung maupun hanya saudara sebapak atau seibu, atau sepersusuan. Semua hendaklah saling menyayangi, menghormati dan menyambung hubungan kekerabatan, baik pada saat berdekatan maupun berjauhan.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Dari Aisyah &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anha&lt;/i&gt;, Nabi &lt;i&gt;Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam &lt;/i&gt;bersabda:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;padding-left: 30px; text-align: center;&quot;&gt;&quot;Rahim adalah &lt;i&gt;syajnah&lt;/i&gt; (bagian limpahan rahmat)[6] dari Allâh. &lt;br /&gt;
Barangsiapa yang menyambungnya, maka Allâh akan menyambungnya. &lt;br /&gt;
Dan barangsiapa yang memutuskannya, niscaya Allâh akan memutuskannya.&quot; [7]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Hubungan persaudaraan, khususnya antara saudara laki-laki dan saudara perempuan memiliki sentuhan yang sangat unik. Yaitu sentuhan batin yang sangat lembut serta kesetiaan yang sangat dalam. Semakin hari semakin subur, walaupun berjauhan jarak tempatnya.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Dari Abu Hurairah &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anhu&lt;/i&gt;, ia berkata, bahwa &lt;i&gt;Rasûlullâh Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;168&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-4.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Sesungguhnya Allâh menciptakan makhluk. &lt;br /&gt;
Dan setelah usai darinya, maka rahim berdiri lalu berkata: &lt;br /&gt;
“Ini adalah tempat orang berlindung dari pemutusan silaturrahmi”. &lt;br /&gt;
Maka Allâh berfirman: &lt;br /&gt;
“Ya. Bukankah kamu merasa senang Aku akan menyambung hubungan &lt;br /&gt;
dengan orang yang menyambungmu, &lt;br /&gt;
dan memutuskan hubungan dengan orang memutuskan denganmu?” &lt;br /&gt;
Ia menjawab: “Ya”. &lt;br /&gt;
Allâh berfirman: “Demikian itu menjadi hakmu”. [8]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Barangsiapa yang memutuskan hubungan silaturrahmi tanpa alasan syar’i, maka berhak mendapatkan sanksi berat dan kutukan dari Allâh Ta&#39;ala, serta diancam tidak masuk surga.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Allâh Ta&#39;ala berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&quot;Orang-orang yang merusak janji Allâh setelah diikrarkan dengan teguh &lt;br /&gt;
dan memutuskan apa-apa yang Allâh perintahkan supaya dihubungkan &lt;br /&gt;
dan mengadakan kerusakan di bumi. &lt;br /&gt;
Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan &lt;br /&gt;
dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).&quot;&lt;b&gt; &lt;br /&gt;
(QS Ar Ra’d : 25)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dari Jubair bin Muth’im radhiyallâhu&#39;anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;40&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-5.gif&quot; width=&quot;198&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.[9]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;KESALAHAN-KESALAHAN PADA SAAT HARI RAYA &#39;IEDUL FITRI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Hari Raya &#39;Iedul Fitri merupakan salah satu syiar kemuliaan kaum Muslimin. Pada hari itu, kaum Muslimin berkumpul. Jiwa-jiwa menjadi bersih dan persatuan terbentuk, Pengaruh kejelekan dan kesengsaraan hilang. Yang nampak pada hari itu hanyalah kebahagiaan. Namun yang pantas disesali, pada hari itu sering terjadi kekeliruan-kekeliruan dalam merayakannya. Di antaranya:&lt;/div&gt;&lt;table border=&quot;0&quot; style=&quot;width: 600px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;1.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meniru orang kafir dalam berpakaian. Fenomena ini merupakan hal aneh. Padahal seorang muslim dan muslimah seharusnya memiliki semangat untuk menjaga agama, kehormatan dan fitrahnya. Jangan tergoda dengan ikutikutan meniru kebiasaan orang-orang yang tidak menjaga kehormatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;2.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian orang menjadikan hari raya sebagai syiar melaksanakan kemaksiatan, sehingga secara terang-terangan ia melakukan perbuatan yang diharamkan. Misalnya dengan mendengarkan musik dan nyanyian dan memakan makanan yang diharamkan Allâh Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;3.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam berziarah (kunjungan) tidak memperhatikan etika Islami. Contohnya : bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, saling berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;4.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berlebih-lebihan dalam membuat makanan dan minuman yang tidak berfaedah, sehingga banyak yang terbuang, padahal banyak kaum Muslimin yang membutuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;5.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hari Raya merupakan kesempatan yang sangat baik untuk menyatukan hati kaum Muslimin, baik yang ada hubungan kerabat ataupun tidak. Juga kesempatan untuk mensucikan jiwa dan menyatukan hati. Namun pada kenyataannya, penyakit hati masih tetap saja bercokol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;6.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menganggap bahwa silaturahmi hanya dikerjakan pada saat hari raya saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;7.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menganggap bahwa pada hari raya sebagai saat yang tepat untuk ziarah kubur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;8.&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saling berkunjung untuk saling maaf-memaafkan di antara para kerabat dan sanak famili dengan keyakinan saat itulah yang paling afdhal.[10]&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;SILATURAHMI YANG PALING UTAMA ADALAH BIRRUL WALIDAIN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Allâh Ta&#39;ala mewajibkan seorang anak untuk taat, berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuannya. Bahkan Allâh Ta&#39;ala menghubungkan perintah beribadah kepadaNya dengan berbuat baik kepada kedua orang tua, sebagaimana firman Allâh Ta&#39;ala:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;(QS Al Isra`/17 : 23)&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;126&quot; src=&quot;/images/naskah/Qs017-23.gif&quot; width=&quot;406&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, &lt;br /&gt;
dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;
Jika salah seorang di antara keduanya &lt;br /&gt;
atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu,&lt;br /&gt;
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, &lt;br /&gt;
dan janganlah kamu membentak mereka. &lt;br /&gt;
Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;(QS Al Isra` : 23)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, baik berupa bantuan materi, doa, kunjungan, perhatian, kasih sayang, dan menjaga nama baik pada saat hidup atau setelah wafat. Orang tua merupakan kerabat terdekat, yang banyak mempunyai jasa dan kasih sayang yang besar sepanjang masa, sehingga tidak aneh kalau hak-haknya juga besar.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Allâh Ta&#39;ala berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;(QS Luqman/31: 14 )&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;84&quot; src=&quot;/images/naskah/Qs031-014.gif&quot; width=&quot;404&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya;&lt;br /&gt;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah &lt;br /&gt;
dan menyapihnya dalam dua tahun. &lt;br /&gt;
Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, &lt;br /&gt;
hanya kepadaKu-lah kembalimu. &lt;b&gt;&lt;br /&gt;
(QS Luqman : 14)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;KEUTAMAAN BIRUL WALIDAIN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Di dalam Al-Qur‘an dan Sunnah Rasûlullâh Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam banyak disebutkan secara berulang-ulang, agar seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Kebaikan dan pengorbanan orang tua tidak terhitung jumlahnya, baik berupa jiwa raga dan kekuatan, tidak berkeluh kesah dan tidak meminta balasan dari anaknya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Adapun anak, ia harus selalu diberi wasiat dan diingatkan agar senantiasa mengingat terhadap jasa orang tua, yang selama ini telah mencurahkan jiwa dan raga serta seluruh hidupnya untuk membesarkan dan mendidiknya.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Seorang ibu, selama mengandung mengalami banyak beban berat. Allâh Ta&#39;ala menyebutkan, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Ibu lebih banyak menderita dalam membesarkan dan mengasuh anaknya. Penderitaan ketika hamil, tidak ada yang bisa merasakan payahnya, kecuali kaum ibu.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Imam Bukhari &lt;i&gt;rahimahullâh&lt;/i&gt; di dalam Adabul Mufrad, dari Abu Burdah &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anhu&lt;/i&gt;, bahwa ia menyaksikan Ibnu Umar &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anhu&lt;/i&gt; dan seorang laki-laki dari Yaman sedang melakukan thawaf -sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya-.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Laki-laki tersebut berkata:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;‘Sesungguhnya saya menjadi tunggangannya yang tunduk, jikalau tunggangan lain terkadang susah dikendalikan, aku tidaklah demikian’.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Lalu ia bertanya kepada Ibnu ‘Umar:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;‘Wahai Ibnu Umar, apakah dengan ini saya sudah membayar jasanya?.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Beliau menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot; style=&quot;padding-left: 30px;&quot;&gt;”Sama sekali belum, walaupun satu kali sengalan nafasnya (saat melahirkanmu)”[11]&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib &lt;i&gt;radhiyallâhu&#39;anhu&lt;/i&gt;, bahwasanya Rasûlullâh Shallallâhu &#39;Alaihi Wasallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;hadist&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;88&quot; src=&quot;/images/naskah/hadist-ix-07-08-6.gif&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;Sesungguhnya Allâh berwasiat agar kalian berbuat baik kepada ibu-ibumu, &lt;br /&gt;
lalu Allâh berwasiat agar berbuat baik kepada ibu-ibumu, &lt;br /&gt;
kemudian Allâh berwasiat kepada bapak-bapakmu, &lt;br /&gt;
dan kemudian Allâh berwasiat kepada kalian agar berbuat baik kepada sanak kerabatmu. [12]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Begitulah, anak adalah bagian hidup dan belahan hati orang tua. Kasih sayangnya mengalir di dalam darah daging keduanya. Seorang anak selalu merepotkan dan menyita perhatian kedua orang tuanya. Tatkala kedua orang tua tetap berbahagia dengan keadaan putra-putrinya, akan tetapi betapa cepatnya seorang anak melalaikan semua jasa orang tuanya, dan hanya sibuk mengurus isteri dan anak-anaknya. Padahal berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan keputusan mutlak dari Allâh Ta&#39;ala, dan merupakan ibadah yang menempati urutan ke dua setelah ibadah kepada Allâh Ta&#39;ala.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Mari kita segera mulai dengan berbuat baik, menghormati dan memuliakan mereka berdua. Karena birrul walidain memiliki keutamaan.&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;2&quot; src=&quot;/images/naskah/garis.gif&quot; width=&quot;160&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border=&quot;0&quot; style=&quot;width: 580px;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;satu&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihat Shahih Abu Dawud (1486), Shahih Adabul Mufrad (56) Shahih Muslim, Bab Al Birri Washshilah, hadits ke-20.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;  &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;dua&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihat ShahihAdabil Mufrad (68), Bab Laisal Wasil Bil Mukafi’.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;tiga&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihat Lisanul Arab, 5/174, Bab Dzal Wa Ra’.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;empat&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;  &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Lihat Mufradatul Qur‘an, hlm. 346.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;lima&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihat Tafsir Ath Thabari, Juz 1/144 dan Tafsir Ibnu Katsir, Juz 1/83.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;enam&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;1013&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Lihat Syarah Adabul Mufrad, karya Husain Ibnu Uwadah Al Awayisyah, Juz 1/72.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;tujuh&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihat Silsilah Hadits Shahihah, no. 925; Adabul Mufrad, no. 55, dan Shahih Muslim, Bab Al Birri wa Ash Shilah, hadits ke-17.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;delapan&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;HR. Imam Bukhari dalam Shahih-nya dalam Kitabut Tafsir, 4830 dan Imam Muslim dalam Kitabul Birri, 6465.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;sembilan&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;HR. Imam Bukhari dalam Shahih-nya, Kitabul ‘Adad, Bab Itsmil Qath’i, 5984; Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Birri, Bab Silaturrahim, 6467 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya, 1696.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;sepuluh&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Lihat Ahkamul ‘Idain wa ‘Asyr Dzulhijjah, karya Dr. ‘Abdullah bin Muhammad Ath Thayyar.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;sebelas&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adabul Mufrad, hadits no. 11, Bab Jazaul Walidain. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt; &lt;td align=&quot;right&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=2305401494385036527&amp;amp;postID=3366638836741222508&amp;amp;from=pencil&quot; name=&quot;duabelas&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 6pt; vertical-align: super;&quot;&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt; &lt;td style=&quot;text-align: justify;&quot; valign=&quot;top&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Shahih Adabul Mufrad, 60; Sunan Ibnu Majah, 23, Kitabul Adab dan Shilisilah Hadits Shahihah, 1666.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;b&gt;(Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (07-08)/Tahun IX)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/3366638836741222508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/mudik-lebaran-dan-tradisi-yang-keliru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/3366638836741222508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/3366638836741222508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/mudik-lebaran-dan-tradisi-yang-keliru.html' title='&#39;Mudik Lebaran&#39; dan Tradisi Yang Keliru'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-2607125757004987459</id><published>2011-08-30T05:21:00.000-07:00</published><updated>2011-08-30T05:21:16.657-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="HUKUM SHALAT IED"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="idul fitri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="lebaran"/><title type='text'>HUKUM SHALAT IED</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;HUKUM SHALAT IED&lt;br /&gt;
Oleh&lt;br /&gt;
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari&lt;br /&gt;
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah :&lt;br /&gt;
“Kami menguatkan pendapat bahwa shalat Ied hukumnya wajib bagi setiap  individu (fardlu ‘ain), sebagaimana ucapan Abu Hanifah dan selainnya.  Hal ini juga merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan  salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.&lt;br /&gt;
Adapun pendapat orang yang menyatakan bahwa shalat Ied tidak wajib,  ini sangat jauh dari kebenaran. Karena shalat Ied termasuk syi’ar Islam  yang sangat agung. Manusia berkumpul pada saat itu lebih banyak dari  pada berkumpulnya mereka untuk shalat Jum’at, serta disyari’atkan pula  takbir di dalamnya.&lt;br /&gt;
Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa shalat Ied hukumnya fardhu  kifayah adalah pendapat yang tidak jelas. [Majmu Fatawa 23/161]&lt;br /&gt;
Berkata Al-Allamah Asy Syaukani dalam “Sailul Jarar” (1/315).&lt;br /&gt;
“Ketahuilah bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus  menerus mengerjakan dua shalat Id ini dan tidak pernah meninggalkan satu  kalipun. Dan beliau memerintahkan manusia untuk keluar mengerjakannya,  hingga menyuruh wanita-wanita yang merdeka, gadis-gadis pingitan dan  wanita haid.&lt;br /&gt;
Beliau menyuruh wanita-wanita yang haid agar menjauhi shalat dan  menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh  wanita yang tidak memiliki jilbab agar dipinjamkan oleh saudaranya.&lt;br /&gt;
Semua ini menunjukkan bahwa shalat Ied hukumnya wajib dengan  kewajiban yang ditekankan atas setiap individu bukan fardhu kifayah.  Perintah untuk keluar (pada saat Id) mengharuskan perintah untuk shalat  bagi orang yang tidak memiliki uzur. Inilah sebenarnya inti dari ucapan  Rasul, karena keluar ke tanah lapang merupakan perantara terlaksananya  shalat. Maka wajibnya perantara mengharuskan wajibnya tujuan dan dalam  hal ini kaum pria tentunya lebih diutamakan daripada wanita”.&lt;br /&gt;
Kemudian beliau Rahimahullah berkata :&lt;br /&gt;
“Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Ied adalah : Shalat  Ied dapat menggugurkan kewajiban shalat Jum’at apabila bertetapan  waktunya (yakni hari Ied jatuh pada hari Jum’at -pen). Sesuatu yang  tidak wajib tidak mungkin dapat menggugurkan sesuatu yang wajib. Dan  sungguh telah jelas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus  menerus melaksanakannya secara berjama’ah sejak disyari’atkannya sampai  beliau meninggal. Dan beliau menggandengkan kelaziman ini dengan  perintah beliau kepada manusia agar mereka keluar ke tanah lapang untuk  melaksanakan shalat Ied”&lt;br /&gt;
Berkata Syaikh kami Al-Albani dalam “Tamamul Minnah” (hal 344) setelah menyebutkan hadits Ummu Athiyah :&lt;br /&gt;
“Maka perintah yang disebutkan menunjukkan wajib. Jika diwajibkan  keluar (ke tanah lapang) berarti diwajibkan shalat lebih utama  sebagaimana hal ini jelas, tidak tersembunyi. Maka yang benar hukumnya  wajib tidak sekedar sunnah ……”&lt;br /&gt;
[Disalin dari buku Ahkaamu Al&#39;Iidaini Fii As Sunnah Al-Muthahharah,  edisi Indonesia Hari Raya Bersama Rasulullah oleh Syaikh Ali bin Hasan  bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari, terbitan Pustaka Al-Haura&#39;,  penerjemah Ummu Ishaq Zulfa Husein]&lt;br /&gt;
sumber: &lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/content/53/slash/0&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;http://almanhaj.or.id/content/53/slash/0&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
**&lt;br /&gt;
Tentang silang pendapat ulama dalam masalah ini, silakan baca artikel “HUKUM SHALAT ‘IED WAJIB ATAU SUNNAH” lainnya&lt;a href=&quot;http://almanhaj.or.id/content/327/slash/0&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/2607125757004987459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/hukum-shalat-ied.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/2607125757004987459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/2607125757004987459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/hukum-shalat-ied.html' title='HUKUM SHALAT IED'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-569787120603806153</id><published>2011-08-30T05:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-30T05:16:35.700-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="lebaran"/><title type='text'>Bolehkah Mengkhususkan Momen Lebaran Untuk Mengunjungi Kerabat?</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Berikut ini kami tuliskan beberapa jawaban para ulama mengenai permasalahan ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
السائل : هنا عدة أسئلة عن زيارة الأقارب أحياء أو أمواتا يوم العيد&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: Syaikh, ada beberapa pertanyaan yang datang terkait tentang hukum berkunjung ke rumah para kerabat, baik yang masih hidup atau pun sudah meninggal ketika hari Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr hafizhahullah menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الشيخ : أما زيارة القبور في يوم العيد أو في يوم الجمعة أو تخصيص يوم معين فلا يجوز ذلك ، وأما زيارة الأقارب يوم العيد والذهاب إليهم و .. يعني الدعاء لهم فإن ذلك لا بأس به . أما تخصيص المقابر بالزيارة يوم العيد أو يوم الجمعة أو يوما معينا من الأيام بالذات ليس للإنسان أن يفعل ذلك&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ziarah kubur ketika hari ‘Id atau hari Jum’at atau mengkhususkan hari tertentu tidaklah diperbolehkan. Sedangkan mengunjungi para kerabat di hari ‘Id atau menempuh perjalanan untuk mengunjungi mereka atau.. mendoakan mereka, ini semua tidak mengapa. Adapun mengkhususkan kunjungan ke pemakaman-pemakaman di hari Ied atau hari Jum’at atau hari tertentu, tidak ada ulama yang melakukan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Transkrip dari rekaman suara yang bisa di-unduh di http://www.islamup.com/download.php?id=55581]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fatwa Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
السؤال:وهذا من الجزائر يقول: ماحكم تخصيص زيارة الأقارب والأصدقاء في يوم العيد؟&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: Ada pertanyaan dari Aljazair, penanya berkata: Apakah hukum mengkhususkan hari Ied untuk mengunjungi para kerabat dan teman-teman baik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الجواب:هذا عمل طيب؛والأقارب أولى من يجب وصلهم لأنهم ذوي قرابة فهم أولى من غيرهم تبدأ بهم ثم بعد ذلك بغيرهم وهذا هو المطلوب أن يبدأ الإنسان بذوي قرابته لأنهم آكدوا حقا عليه من غيرهم فحينئذ يبرهم ثم بعد ذلك إن وجد وقتا زار إخوانه وإن حصل ذلك فرحنا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini perbuatan yang baik. Para kerabat adalah orang-orang yang paling wajib untuk dijalin tali silaturahimnya. Karena mereka adalah orang-orang yang memiliki qurabah (hubungan keluarga), sehingga mereka lebih layak dari yang lain untuk dijalin erat silaturahminya. Mulailah dari mereka, baru yang lain, inilah yang semestinya. Sebab lain, mereka juga memiliki hak yang lebih besar dari diri anda, dibandingkan yang lain. Maka, berbuat-baiklah kepada mereka, lalu jika ada waktu, kunjungilah mereka. Kalau memang bisa demikian, itu akan membuat kita gembira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ولو لم وإن لم يحصل فليس هو بالسنة في ذلك وإنما يكتفي الناس ولله الحمد بالتقائهم في المصلى وبالتقائهم أيضا في المساجد في الصلوات الخمس هذا يحصل ولله الحمد كافي لا يشترط أن تذهب إلى البيت&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andaikan tidak bisa, tidak mengapa, perbuatan ini bukanlah hal yang disunnahkan. Cukup bagi anda menemui orang-orang ketika di lapangan tempat shalat ‘Id, wa lillahil hamd. Atau menemui mereka di masjid-masjid ketika shalat lima waktu, ini sudah cukup, wa lillahil hamd. Tidak disyaratkan harus mengunjungi rumah mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لكن أصبح من العادات وهنا العادات ليست منافية للشرع ولم يزعموا أنها عبادة وذلك لأنه يوم فرح وسرور فلا بأس بذلك كله والله أعلم وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابه وأتباعه بإحسان&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbuatan ini memang sudah menjadi tradisi, namun ini adalah tradisi yang tidak dinafikan oleh syari’at dan orang-orang yang melakukannya pun tidak menganggap ini sebagai ibadah. Perbuatan ini sebatas karena hari ‘Id adalah hari bergembira dan bersenang-senang. Maka perbuatan-perbuatan demikian itu semua tidak mengapa, wallahu’alam. Wa shallallahu wa sallama wa baarik ‘ala ‘abdihi wa rasulihi nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa ash-habihi wa atba’ihi bi ihsaanin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Transkrip dari rekaman suara yang bisa di dengarkan di http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=122458]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
هل من السنة زيارة الأقارب والأصدقاء وذلك لغرض المعايدة، وهل يعتبر ذلك تخصيصاً، لأننا سمعنا أن أحد العلماء يقول زيارة الأحياء في العيد كزيارة الأموات؟&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan: Apakah mengunjungi saudara dan teman-teman baik dalam rangka merayakan hari ‘Id termasuk perbuatan yang disunnahkan? Apakah ini termasuk pengkhususan hari tertentu yang terlarang? Karena kami dengar ada salah seorang ulama yang mengatakan bahwa mengunjungi orang yang masih hidup sama hukumnya sebagai mana mengunjungi orang mati (ziarah kubur).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh Abdullah Al Faqih  hafizhahullah menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:&lt;br /&gt;
فزيارة الأقارب والأصدقاء والجيران في العيد مشروعة، جاء في الموسوعة الفقهية الكويتية:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhamdulillah Was Shalatu Was Salamu ‘ala Rasulillah Wa ‘ala Alihi Wa Shahbihi, Amma ba’du:&lt;br /&gt;
Saling berkunjung antar kerabat, tetangga dan teman dekat pada hari ‘Id adalah perbuatan yang masyru’ (memiliki landasan dalil dalam syari’at). Sebagaimana tertulis dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
التزاور مشروع في الإسلام، وقد ورد ما يدل على مشروعية الزيارة في العيد، فقد روي عن عائشة رضي الله عنها قالت: دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم وعندي جاريتان تغنيان بغناء بعاث، فاضطجع على الفراش وحول وجهه ودخل أبو بكر….. إلى آخر الحديث.، وموضع الشاهد فيه، وزاد في رواية هشام: يا أبا بكر إن لكل قوم عيداً وهذا عيدناً.، قال في الفتح: قوله وجاء أبو بكر: وفي رواية هشام بن عروة “دخل علي أبو بكر” وكأنه جاء زائراً لها بعد أن دخل النبي صلى الله عليه وسلم بيته.^^ انتهى.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saling berkunjung (antar kerabat, tetangga dan teman dekat pada hari ‘Id) adalah perbuatan yang masyru’ dalam Islam. Terdapat riwayat yang menunjukkan masyru’-nya hal tersebut, yaitu hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, beliau berkata: ‘Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk ke rumah, ketika itu aku sedang bersama dua anak wanita yang bernyanyi dengan senandung bu’ats. Lalu beliau bersandar di tempat tidur dan wajahnya menoleh (pada dua anak wanita yang bernyanyi tadi). Kemudian datanglah Abu Bakar…‘ sampai akhir hadits. Sisi pendalilan dari hadits ini, terdapat tambahan riwayat dari Hisyam, bahwa Nabi bersabda: ‘Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum memiliki Id sendiri, dan hari ini adalah Id kita‘. Dalam Fathul Baari di jelaskan mengenai tambahan riwayat yang berbunyi ‘Kemudian datanglah Abu Bakar‘: ‘Seolah-olah Abu Bakar datang untuk berkunjung kepada ‘Aisyah (anaknya), beberapa saat setelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam masuk’”. [sampai di sini nukilan dari Mausu&#39;ah Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ولا شك أن التزاور في العيد مما يقوي الصلة، ويزيل الشحناء ويقطع التدابر، ولذلك فهو عمل مسنون كان عليه السلف من الصحابة ومن بعدهم، وهو عمل المسلمين إلى يومنا هذا، ولا نعلم أن أحداً من العلماء شبه زيارة الأحياء بزيارة الأموات، ولم نفهم المراد من قولك (وهل يعتبر ذلك خصيصاً) وفي ما مضى كفاية.&lt;br /&gt;
والله أعلم.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ragu lagi bahwa saling berkunjung di hari Id, yang menyebabkan terjalinnya silaturahmi, berakhirnya sengketa, berakhirnya saling benci, maka ini adalah perkara yang dianjurkan dan dilakukan oleh para salaf dari kalangan sahabat dan yang setelah mereka. Ini pun merupakan kebiasaan kaum muslimin sampai hari ini. Saya tidak mengetahui ada seorang ulama yang menyamakan perbuatan ini dengan mengunjungi orang mati (ziarah kubur). Dan saya tidak paham maksud perkataan anda ‘Apakah ini termasuk pengkhususan hari tertentu yang terlarang‘. Namun saya kira, penjelasan tadi sudah mencukupi. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: http://www.islamweb.net/ahajj/index.php?page=ShowFatwa&amp;amp;lang=A&amp;amp;Id=43305&amp;amp;Option=FatwaId&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir kata, saling berkunjung ke rumah kerabat di hari Idul Fitri adalah hal yang dibolehkan, dengan alasan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan tersebut adalah kegiatan non-ibadah. Sedangkan kegiatan non-ibadah hukum asalnya adalah mubah.&lt;br /&gt;
Salah satu makna عِيد (‘Id) secara bahasa adalah hari yang biasanya orang-orang saling berkumpul dan saling bertemu.والعِيدُ كلُّ يوم فيه جَمْعٌ، واشتقاقه من عاد يَعُود كأَنهم عادوا إِليه؛ وقيل: اشتقاقه من العادة لأَنهم اعتادوه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
” ‘Id juga berarti hari yang biasanya orang-orang saling berkumpul. ‘Id berasal dari kata عاد يَعُود (mengulang) karena mereka secara rutin melakukannya (kumpul-kumpul). Sebagian ahli bahasa berpendapat, asal katanya dari العادة (kebiasaan) karena mereka biasa melakukan hal tersebut” (Lisaanul ‘Arab)&lt;br /&gt;
Syariat menetapkan bahwa ‘Idul Fitri dan Idul Adha adalah hari bergembira ria. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu’anhu:قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri’ ” (HR. Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud, 1134)&lt;br /&gt;
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
للصائم فرحتان : فرحة عند فطره ، وفرحة عند لقاء ربه&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan. Kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Rabb-Nya kelak” (Muttafaqun ‘alaih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan cara bergembira di hari itu tidak ditentukan oleh syariat sehingga kembali kepada ‘urf (kebiasaan) setempat. Mengunjungi kerabat adalah bentuk bersenang-senang dan bergembira karena tentunya bertemu dengan keluarga dan kerabat menimbulkan rasa sayang dan kegembiraan.&lt;br /&gt;
Perbuatan ini memiliki dasar dari syari’at dan diamalkan oleh salaf, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah&lt;br /&gt;
Memang sebagian ulama menganggap hal ini termasuk bid’ah, sebagaimana pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah (silakan baca di: http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=20509). Menurut beliau, mengkhususkan hari untuk saling berkunjung kepada sesama orang yang hidup hukumnya sama seperti mengkhususkan hari untuk berkunjung ke orang mati (ziarah kubur). Sedangkan mengkhususkan hari untuk ziarah kubur adalah bid’ah. Namun pendapat ini nampaknya kurang tepat jika kita menimbang alasan-alasan di atas. Yang jelas, permasalahan ini termasuk ranah ijtihadiyyah yang semestinya kita bisa toleran terhadap pendapat yang ada dari para ulama. Wallahu’alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyusun: Yulian Purnama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel www.muslim.or.id&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/569787120603806153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/bolehkah-mengkhususkan-momen-lebaran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/569787120603806153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/569787120603806153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/bolehkah-mengkhususkan-momen-lebaran.html' title='Bolehkah Mengkhususkan Momen Lebaran Untuk Mengunjungi Kerabat?'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-4957365474380917219</id><published>2011-08-30T05:10:00.000-07:00</published><updated>2011-08-30T05:14:24.598-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="hari raya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="lebaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sunnah"/><title type='text'>Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;h1&gt;Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;
Penulis: Ummu ‘Athiyah&lt;br /&gt;
Tiap tanggal 1 Syawal kita berhari raya ‘Iedul Fitri. Wahai  Saudariku, ketahuilah bahwa hari raya ini merupakan rahmat Allah yang  diberikan kepada umat Muhammad &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt;.  Disebut ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam  kebaikan yang kepada kita sebagai hambaNya. Diantara kebaikan itu  adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan  suci Romadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat  fitrah.&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;more-27&quot;&gt;&lt;/span&gt; Para ulama telah menjelaskan tentang sunah-sunah Rasulullah yang berkaitan dengan hari raya, diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Mandi pada hari raya.&lt;br /&gt;
Sa’id bin Al Musayyib berkata: &lt;i&gt;“Sunah hari raya ‘idul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan, makan sebelum keluar dan mandi.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
2. Berhias sebelum berangkat sholat ‘Iedul Fitri.&lt;br /&gt;
Disunahkan bagi laki-laki untuk membersihkan diri dan memakai  pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak.  Sedangkan bagi wanita tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan  baju yang mewah dan menggunakan minyak wangi.&lt;br /&gt;
3. Makan sebelum sholat ‘Idul Fitri.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Dari Anas RodhiyAllahu’anhu, ia berkata: Nabi sholAllahu  ‘alaihi wa sallam tidak keluar rumah pada hari raya ‘Iedul fitri hingga  makan beberapa kurma.”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari). Menurut Ibnu Muhallab  berkata bahwa hikmah makan sebelum sholat adalah agar jangan ada yang  mengira bahwa harus tetap puasa hingga sholat ‘Ied.&lt;br /&gt;
4. Mengambil jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang dari sholat ‘Ied.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sebagaimana yang dilakukan Rasulullah, beliau mengambil  jalan yang berbeda saat pulang dan perginya (HR. Bukhari), diantara  hikmahnya adalah agar orang-orang yang lewat di jalan itu bisa  memberikan salam kepada orang-orang yang tinggal disekitar jalan yang  dilalui tersebut, dan memperlihatkan syi’ar islam.&lt;br /&gt;
5. Bertakbir.&lt;br /&gt;
Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; biasa berangkat  menunaikan sholat pada hari raya ‘ied, lalu beliau bertakbir sampai  tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan.  Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara  lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak  disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama.  Untuk waktu bertakbir saat Idul Fitri menurut pendapat yang paling kuat  adalah setelah meninggalkan rumah pada pagi harinya.&lt;br /&gt;
6. Sholat ‘Ied.&lt;br /&gt;
Hukum sholat ‘ied adalah &lt;i&gt;fardhu ‘ain&lt;/i&gt;, bagi setiap orang, karena Rosulululloh &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; senantiasa mengerjakan sholat ‘Ied. Sholat ‘Ied menggugurkan sholat  jum’at, jika ‘Ied jatuh pada hari jum’at. Sesuatu yang wajib hanya bisa  digugurkan oleh kewajiban yang lain (&lt;i&gt;At Ta’liqat Ar Radhiyah&lt;/i&gt;,  syaikh Al Albani, 1/380). Nabi menyuruh manusia untuk menghadirinya  hingga para wanita yang haidh pun disuruh untuk datang ke tempat  sholat, tetapi disyaratkan tidak mendekati tempat sholat. Selain itu  Nabi juga menyuruh wanita yang tidak punya jilbab untuk dipinjami  jilbab sehingga dia bisa mendatangi tempat sholat tersebut, hal ini  menunjukkan bahwa hukum sholat ‘Ied adalah &lt;i&gt;fardhu ‘ain&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu Sholat ‘Ied adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak  hingga tergelincirnya matahari (waktu Dhuha). Disunahkan untuk  mengakhirkan sholat ‘Iedul Fitri, agar kaum muslimin memperoleh  kesempatan untuk menunaikan zakat fitrah.&lt;br /&gt;
Disunahkan untuk mengerjakan di tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali ada &lt;i&gt;udzur&lt;/i&gt; (misalnya hujan, angin kencang) maka boleh dikerjakan di masjid.&lt;br /&gt;
Dari Jabir bin Samurah berkata: &lt;i&gt;“Aku sering sholat dua hari raya bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa adzan dan iqamat.”&lt;/i&gt; (HR. Muslim) dan tidak disunahkan sholat sunah sebelum dan sesudah  sholat ‘ied, hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas bahwa Nabi &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; sholat hari raya dua raka’at. Tidak ada sholat sebelumnya dan setelahnya (HR. Bukhari: 9890)&lt;br /&gt;
Untuk Khutbah sholat ‘ied, maka tidak wajib untuk mendengarkannya,  dibolehkan untuk meningggalkan tanah lapang seusai sholat. Khutbah  Rasulullah &lt;i&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/i&gt; tidak dibuka dengan  takbir, tapi dengan hamdalah, dan juga tanpa diselingi dengan  takbir-takbir. Beliau berkutbah di tempat yang agak tinggi dan tidak  menggunakan mimbar. Rasulullah berkutbah dua kali, satu untuk pria dan  satu untuk wanita, ketika beliau mengira wanita tidak mendengar  khutbahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Ucapan selamat Hari Raya.&lt;br /&gt;
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang mengucapkan  selamat pada hari raya dan beliau menjawab: “Adapun ucapan selamat pada  hari raya ‘ied, sebagaimana ucapan sebagian mereka terhadap sebagian  lainnya jika bertemu setelah sholat ‘ied yaitu: &lt;i&gt;Taqabbalallahu minna wa minkum&lt;/i&gt; (semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau &lt;i&gt;ahaalAllahu ‘alaika&lt;/i&gt; (Mudah-mudahan Allah memberi balasan kebaikan kepadamu) dan  semisalnya.” Telah diriwayatkan dari sejumlah sahabat Nabi bahwa mereka  biasa melakukan hal tersebut. Imam Ahmad dan lainnya juga membolehkan  hal ini. Imam Ahmad berkata, “Saya tidak akan memulai seseorang dengan  ucapan selamat ‘ied, Namun jika seseorang itu memulai maka saya akan  menjawabnya.” Yang demikian itu karena menjawab salam adalah sesuatu  yang wajib dan memberikan ucapan bukan termasuk sunah yang  diperintahkan dan juga tidak ada larangannya. Barangsiapa yang  melakukannya maka ada contohnya dan bagi yang tidak mengerjakannya juga  ada contohnya (&lt;i&gt;Majmu’ al-Fatawaa&lt;/i&gt;, 24/253). Ucapan hari raya ini diucapkan hanya pada tanggal 1 Syawal.&lt;br /&gt;
8. Kemungkaran-kemungkaran yang terjadi pada hari raya.&lt;br /&gt;
Saat hari raya, kadang kita terlena dan tanpa kita sadari kita telah melakukan kemungkaran-kemungkaran diantaranya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Berhias dengan mencukur jenggot (untuk laki-laki).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menyerupai atau tasyabuh terhadap orang-orang kafir dalam hal pakaian dan mendengarkan musik serta berbagai kemungkaran lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Masuk rumah menemui wanita yang bukan mahrom.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wanita &lt;i&gt;bertabarruj&lt;/i&gt; atau memamerkan kecantikannya kepada orang lain dan wanita keluar ke pasar dan tempat-tempat lain.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya ‘ied saja, serta  membagi-bagikan permen, dan makanan-makanan lainnya, duduk di kuburan,  bercampur baur antara laki-laki dan perempuan, melakukan sufur  (wanitanya tidak berhijab), serta meratapi orang-orang yang sudah  meninggal dunia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berlebih-lebihan dan berfoya-foya dalam hal yang tidak bermanfaat dan tidak mengandung mashlahat dan faedah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Banyak orang yang meninggalkan sholat di masjid tanpa adanya alasan  yang dibenarkan syari’at agama, dan sebagian orang hanya mencukupkan  sholat ‘ied saja dan tidak pada sholat lainnya. Demi Allah ini adalah  bencana yang besar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menghidupkan malam hari raya ‘ied, mereka beralasan dengan hadits dari Rasulullah: &lt;i&gt;“Barangsiapa  menghidupkan malam hari raya ‘iedul fitri dan ‘iedul adha, maka hatinya  tidak akan mati di hari banyak hati yang mati.”&lt;/i&gt; (Hadits ini &lt;i&gt;maudhu’&lt;/i&gt;/palsu sehingga tidak dapat dijadikan dalil).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;Maroji’:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Ahkamul ‘Aidain&lt;/i&gt; oleh Syaikh ‘Ali Hasan bin ‘Ali al-Halabi al-Atsari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Meneladani Rasulullah dalam Berhari Raya&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;***&lt;br /&gt;
Artikel www.muslimah.or.id&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='Google' href='http://www.google.co.id/search?sclient=psy&amp;hl=id&amp;site=&amp;source=hp&amp;q=adab+lebaran+sunnah' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/4957365474380917219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/berhari-raya-sesuai-tuntunan-rasulullah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/4957365474380917219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/4957365474380917219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/berhari-raya-sesuai-tuntunan-rasulullah.html' title='Berhari Raya Sesuai Tuntunan Rasulullah'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-5365097273389807175</id><published>2011-08-28T22:12:00.000-07:00</published><updated>2011-08-28T22:24:19.159-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Alkohol dalam Obat dan Parfum alkohol"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="parfume"/><title type='text'>Bagaimana Hukumnya Alkohol dalam Obat dan Parfum</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Verdana; font-size: 12px; line-height: 19px;&quot;&gt;Banyak pertanyaan seputar alkohol yang masuk ke meja redaksi, kaitannya dengan obat, kosmetika, atau pun lainnya. Berikut ini penjelasan Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al-Makassari.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Alhamdulillah, para ulama besar abad ini telah berbicara tentang permasalahan alkohol1, maka di sini kita nukilkan fatwa-fatwa mereka sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Terdapat perbedaan ijtihad di antara mereka dalam memandang permasalahan ini. Asy-Syaikh Ibnu Baz t berpendapat bahwa sesuatu yang telah bercampur dengan alkohol tidak boleh dimanfaatkan, meskipun kadar alkoholnya rendah, dalam arti tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang memabukkan. Karena hal ini tetap masuk dalam hadits&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”2&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Ketika beliau ditanya tentang obat-obatan yang sebagiannya mengandung bahan pembius dan sebagian lainnya mengandung alkohol, dengan perbandingan kadar campuran yang beraneka ragam, maka beliau menjawab: “Obat-obatan yang memberi rasa lega dan mengurangi rasa sakit penderita, tidak mengapa digunakan sebelum dan sesudah operasi. Kecuali jika diketahui bahwa obat-obatan tersebut dari “Sesuatu yang banyaknya memabukkan” maka tidak boleh digunakan berdasarkan sabda Nabi r :&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Adapun jika obat-obatan itu tidak memabukkan dan banyaknya pun tidak memabukkan, hanya saja berefek membius (menghilangkan rasa) untuk mengurangi beban rasa sakit penderita maka yang seperti ini tidak mengapa.”(Majmu’ Fatawa, 6/18)&amp;nbsp;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Juga ketika beliau ditanya tentang parfum yang disebut (cologne), beliau berkata: “Parfum (cologne) yang mengandung alkohol tidak boleh (haram) untuk digunakan. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan keterangan para dokter yang ahli di bidang ini bahwa parfum jenis tersebut memabukkan karena mengandung “spiritus” yang dikenal. Oleh sebab itu, haram bagi kaum lelaki dan wanita untuk menggunakan parfum jenis tersebut...&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Kalau ada parfum jenis cologne yang tidak memabukkan maka tidak haram menggunakannya. Karena hukum itu berputar sesuai dengan ‘illah-nya3, ada atau tidaknya ‘illah tersebut (kalau ‘illah itu ada pada suatu perkara maka perkara itu memiliki hukum tersebut, kalau tidak ada maka hukum itu tidak berlaku padanya).” (Majmu’ Fatawa , 6/396 dan 10/38-39)&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Dan yang lebih jelas lagi adalah jawaban beliau pada Majmu’ Fatawa (5/382, dan 10/41) beliau berkata: ”Pada asalnya segala jenis parfum dan minyak wangi yang beredar di khalayak manusia hukumnya halal. Kecuali yang diketahui mengandung sesuatu yang merupakan penghalang untuk mengguna-kannya, karena ‘sesuatu’ itu memabukkan atau banyaknya memabukkan atau karena ‘sesuatu’ itu adalah najis, dan yang sema-camnya...&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Jadi, jika seseorang mengetahui ada parfum yang mengandung ‘sesuatu’ berupa bahan memabukkan atau benda najis yang menjadi peng-halang untuk menggunakannya, maka diapun meninggalkannya (tidak menggu-nakanya) seperti cologne. Karena telah tetap (jelas) di sisi kami berdasarkan persaksian para dokter (yang ahli di bidang ini) bahwa parfum ini tidak terbebas dari bahan memabukkan karena mengandung ‘spiritus’ berkadar tinggi, yang merupakan bahan memabukkan, sehingga wajib untuk ditinggalkan (tidak digunakan). Kecuali jika ditemukan ada parfum jenis ini yang terbebas dari bahan memabukkan (maka tentunya tidak mengapa untuk digunakan). Dan jenis-jenis parfum yang lain sebagai gantinya, sekian banyak yang dihalalkan oleh Allah I, walhamdulillah.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Demikian pula halnya, segala macam minuman dan makanan yang mengandung bahan memabukkan, wajib untuk diting-galkan. Kaidahnya adalah: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram”, sebagaimana sabda Rasulullah n:&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnyapun haram.”&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Dan hanya Allah I lah yang memberi taufik.”&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Demikian pula yang terpahami dari fatwa guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t (dalam Ijabatus Sa`il hal. 697) bahwa pendapat beliau sama dengan pendapat gurunya yaitu Asy-Syaikh Ibnu Baz t ketika ditanya tentang cologne. Beliau menjawab (tanpa rincian) bahwa tidak boleh meng-gunakannya dan tidak boleh mem-perjualbelikannya, berdasarkan hadits Anas bin Malik z:&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Rasulullah n melaknat 10 jenis orang karena khamr: yang memprosesnya (membuatnya), yang minta dibuatkan, yang meminumnya, yang membawanya, yang dibawakan untuknya, yang menghidang-kannya, yang menjualnya, yang makan (menikmati) harga penjualannya, yang membelinya dan yang dibelikan untuknya.”4&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Sementara itu, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t berpendapat bahwa pada permasa-lahan ini ada rincian, sebagaimana yang akan kita simak dengan jelas dari fatwa keduanya.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (6/178) cetakan Darul Atsar, berkata: “Bagaimana menurut kalian tentang sebagian obat-obatan yang ada pada masa ini yang mengandung alkohol, terkadang digunakan pada kondisi darurat?&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Kami nyatakan: Menurut kami, obat-obatan ini tidak memabukkan seperti mabuk yang diakibatkan oleh khamr, melainkan hanya berefek mengurangi kesadaran penderita dan mengurangi rasa sakitnya. Jadi ini mirip dengan obat bius yang berefek menghilangkan rasa sakit (sehingga penderita tidak merasakan sakit sama sekali) tanpa disertai rasa nikmat dan terbuai.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Telah diketahui bahwa hukum yang bergantung pada suatu ‘illah5, jika ‘illah tersebut tidak ada maka hukumnya pun tidak ada. Nah, selama ‘illah suatu perkara dihukumi khamr adalah “memabukkan”, sedangkan obat-obatan ini tidak mema-bukkan, berarti tidak termasuk kategori khamr yang haram. Wallahu a’lam. Wajib bagi kita untuk mengetahui perbedaan antara pernyataan: “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram” dengan pernyataan: “Sesuatu yang mema-bukkan dan dicampur dengan bahan yang lain maka haram.” Karena pernyataan yang pertama artinya minuman itu sendiri (adalah merupakan khamr), apabila anda minum banyak tentu anda mabuk, dan apabila anda minum sedikit maka anda tidak mabuk, namun Rasulullah n mengatakan “Sedikitnyapun haram.” (Kenapa demikian padahal yang sedikit tersebut tidak memabukkan?) Karena itu merupakan dzari’ah (artinya bahwa yang sedikit itu merupakan wasilah/ perantara yang akan menyeret pelakunya sampai akhirnya dia minum banyak, sehingga diharamkan). Adapun mencampur dengan bahan lain dengan perbandingan kadar alkoholnya sedikit sehingga tidak menjadikan bahan tersebut memabukkan maka yang seperti ini tidak mengubah bahan tersebut menjadi khamr (yang haram). Jadi ibaratnya seperti benda najis yang jatuh ke dalam air (tapi kadar najisnya sedikit) dan tidak menajisi (merusak kesucian) air tersebut (karena warna, bau, ataupun rasanya tidak berubah) maka air tersebut tidak menjadi najis karenanya (tetap suci dan mensucikan).”&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Asy-Syaikh Al-Albani t ketika ditanya tentang berbagai parfum atau minyak wangi yang mengandung alkohol, maka beliau menjawab: “Apabila kadar alkohol yang terkandung di dalamnya menjadikan parfum-parfum yang harum itu sebagai cairan yang memabukkan, dalam arti kalau diminum oleh seorang pecandu khamr dan ternyata memberi pengaruh seperti pengaruh khamr (yaitu mengakibatkan dia mabuk, maka parfum-parfum tersebut hukumnya tidak boleh (haram untuk digunakan). Adapun jika kadar alkoholnya sedikit (dalam arti tidak mengubah parfum-parfum tersebut menjadi memabukkan) maka hukumnya boleh. (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Kemudian kita akhiri pembahasan ini dengan fatwa Asy-Syaikh Al-Albani t yang sangat rinci. Beliau t berkata: “Untuk memahami makna hadits:&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.”&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Mari kita mendatangkan contoh: Kalau ada 1 liter air yang mengandung 50 gram bahan memabukkan yang kita namakan alkohol, maka cairan ini –yang tersusun dari air dan alkohol– berubah menjadi mema-bukkan. Namun jika seseorang minum sedikit maka dia tidak akan mabuk. Lain halnya jika dia minum dengan kadar yang lazim diminum oleh seseorang maka dia akan mabuk, dengan demikian menjadilah yang sedikit tadi haram. Sebaliknya, kalau ada 1 liter air mengandung 5 gram alkohol (misalnya). Jika seseorang minum 1 liter air tersebut sampai habis dia tidak mabuk, maka yang seperti ini halal untuk diminum.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Selanjutnya, apakah boleh bagi seorang muslim mengambil 1 liter air kemudian menumpahkan 5 gram alkohol ke dalamnya dengan alasan bahwa 5 gram alkohol tersebut tidak mengubah 1 liter air yang ada menjadi memabukkan?&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Jawabannya: Tidak boleh. Kenapa tidak boleh? Karena tidak boleh bagimu untuk memiliki bahan yang memabukkan yang merupakan inti dari khamr, yaitu alkohol. Jadi kegiatan mencampur alkohol dengan bahan lain tidak boleh dalam syariat Islam…&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Telah kami nyatakan bahwa obat-obatan yang ada di apotek-apotek pada masa ini –bahkan boleh jadi kebanyakannya– mengandung alkohol, atau tertera padanya tulisan perbandingan kadar alkoholnya: 5 gram, 10 gram… Apakah kita mengatakan bahwa obat-obatan ini jika diminum seorang sehat ataupun sakit dengan kadar yang banyak dan ternyata dia mabuk, berarti tidak boleh digunakan karena memabukkan, meskipun dia hanya menelan 1 sendok saja? Inilah yang dimaksudkan dengan hadits “Sesuatu yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram.” Adapun jika perbandingan alkoholnya sedikit –dalam arti berapapun yang dia minum tidak menjadikannya mabuk– maka boleh menggunakannya, meskipun dia minum banyak.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Namun perkara lain (yang penting untuk diingat) sama dengan apa yang telah saya sebutkan sebelumnya, bahwa obat-obatan yang mengandung alkohol dengan perbandingan yang tidak melanggar syariat sesuai dengan rincian yang disebutkan, tidak boleh bagi seorang apoteker muslim untuk meracik obat yang seperti itu. Karena tidak boleh ada alkohol di rumah seorang muslim ataupun di tempat kerjanya. Haram baginya untuk membelinya atau membuatnya sendiri. Dan ini perkara yang jelas karena Rasulullah n bersabda:&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;“Allah melaknat 10 jenis orang karena khamr…”7&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Seorang apoteker yang hendak meracik obat dan mencampurnya dengan alkohol yang memabukkan itu, baik dengan cara membuat alkohol sendiri (dengan proses pembuatan tertentu) atau membeli alkohol yang sudah jadi, termasuk dalam salah satu dari 10 jenis orang yang dilaknat dalam hadits tersebut.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Lain halnya apabila seseorang membeli obat yang sudah jadi, dengan kadar alkohol yang rendah yang tidak menjadikan banyaknya obat tersebut memabukkan, maka ini boleh.” (Kaset Silsilatul Huda wan Nur)&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Dan kami memandang bahwa pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsamin t dan Asy-Syaikh Al-Albani t, lebih dekat kepada kebenaran.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;1 Perlu diketahui bahwa alkohol (alkanol) ada beberapa golongan. Di antaranya etanol (inilah yang dijadikan sebagai zat pelarut, bahan bakar, atau zat asal untuk preparat-preparat farmasi, dan sebagian besar digunakan untuk minuman keras), spiritus, dsb., sebagaimana diterangkan dalam buku-buku kimia dan farmasi.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;2 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dari Jabir bin Abdillah c. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i dalam Ash-Shahihul Musnad (1/160-161). Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani, dan beliau menshahihkannya dengan syawahidnya dari beberapa shahabat yang lain (Al-Irwa‘, 8/42-43).&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;3 ‘Illah suatu hukum adalah sebab penentu suatu perkara memiliki hukum tersebut.&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;4 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1318) dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil t dalam kitabnya Ash-Shahihul Musnad (1/57) dan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadits yang semakna dengan hadits ini juga diriwayatkan dengan lafadz (Allah melaknat…) dari Ibnu ‘Umar c, oleh Ath-Thahawi, Al-Hakim, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dengan keseluruhan jalan-jalannya dalam Al-Irwa` (5/365-367).&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;5 Lihat catatan kaki no. 3&lt;br style=&quot;clear: both;&quot; /&gt;6 Lihat haditsnya secara lengkap pada fatwa Asy-Syaikh Muqbil di halaman sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/5365097273389807175/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/alkohol-dalam-obat-dan-parfum.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/5365097273389807175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/5365097273389807175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/alkohol-dalam-obat-dan-parfum.html' title='Bagaimana Hukumnya Alkohol dalam Obat dan Parfum'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2305401494385036527.post-3278204339510670792</id><published>2011-08-28T02:12:00.001-07:00</published><updated>2011-08-28T02:12:10.423-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Portal berita Muslim"/><title type='text'>Portal Berita Muslim</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Portal berita Muslim&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/feeds/3278204339510670792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/portal-berita-muslim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/3278204339510670792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2305401494385036527/posts/default/3278204339510670792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://portalberitamuslim.blogspot.com/2011/08/portal-berita-muslim.html' title='Portal Berita Muslim'/><author><name>Webmaster</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16914100318149736984</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>