<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757</atom:id><lastBuildDate>Fri, 05 Sep 2025 20:36:56 +0000</lastBuildDate><category>peninggalan sejarah</category><category>tokoh</category><category>peristiwa sejarah</category><category>Cerita Rakyat</category><category>sejarah</category><category>Pendidikan</category><category>makam</category><category>Kesenian</category><category>Pahlawan</category><category>Tempat wisata</category><category>agama dan kepercayaan</category><category>busana adat</category><category>wisata</category><title>Purworejo Tempoe Doloe</title><description>Purworejo Tempoe Doloe merupakan blog yang berisi tentang peristiwa sejarah, peninggalan sejarah,kebudayaan, pendidikan, legenda, cerita rakyat dan segala aspek yang berkaitan dengan Purworejo dari masa Bagelen hingga berubah nama menjadi Purworejo.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Vita Ery)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Purworejo Tempoe Doloe merupakan blog yang berisi tentang peristiwa sejarah, peninggalan sejarah,kebudayaan, pendidikan, legenda, cerita rakyat dan segala aspek yang berkaitan dengan Purworejo dari masa Bagelen hingga berubah nama menjadi Purworejo.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-4418392049673519374</guid><pubDate>Sun, 20 Jun 2010 05:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-19T23:01:28.534-06:00</atom:updated><title>Purworejo tercinta</title><description>Sudah lama blog ini tidak mengalami perkembangan dikarenakan banyak faktor, namun saya akan mencoba menulis lagi beberapa hal mengenai sejarah terutama Purworejo. Sepekan yang lalu saya punya kesempatan untuk mencari berbagai bahan bagi kepentingan study, kebetulan tempat yang saya pilih adalah Perpusnas dan ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Sebenarnya bukan kali pertama saya menginjakkan kaki di kedua gedung tersebut, namun yang sangat luar biasa sekali saya mempunyai banyak waktu untuk mencari bahan di kedua tempat tersebut. Dalam perjalanan itu telah kuniatkan untuk mencari ilmu baru dan senantiasa berdoa semoga mendapatkan hasil yang maksimal, bahkan berkat doa orang-orang terkasih hasil yang kudapatkan sungguh luar biasa tak terduga, insyaallah suatu saat akan saya publikasikan jika sudah waktunya. Sebenarnya saya juga seorang yang baru mulai belajar untuk memahami sejarah, terutama sejarah Purworejo dan sangat senang sekali jika ada kawan yang mau berbagi ilmu tentang hal ini. Supaya sejarah mengenai Purworejo akan semakin lengkap dan memudahkan anak cucu kita kelak untuk mengetahui sejarah dan warisan budaya yang ada di Purworejo.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/06/purworejo-tercinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-6314378623862575941</guid><pubDate>Sat, 13 Feb 2010 10:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-13T03:30:51.948-07:00</atom:updated><title>Bagelen dan Bagawanta</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengenai nama Bagelen dan Bagawanta menurut seorang sejarawan yang menghubungkan keduanya dengan nama “Bharga” dan “Bhaga”. Nama Bhaga yang sekeluarga dan seisi dengan nama kedua kata tadi, dipakai misalnya dengan nama julukan untuk savitri ( pembangunan kehidupan), dewa langit yang menjelmakan gaya menghidupkan matahari. Nama ini diberikan kepada salah satu dari para Aditya, dewa kesejahteraan dan cinta kasih, pendiri perkawinan. Diberikan pula kepada binatang bulan Phalguni. Kata ini berarti kemurahan hati, keuntungan, kesuburan, kesejahteraan, kehormatan, kecantikan, cinta kasih dan kasmaran. Lalu setiap dewa atau manusia yang secara aktif maupun pasif bersifat “ber- bhaga” disebut “bhagavat” juga pernah digabungkan dengan dewa siva dan bhagavati dengan durga, secara primer pengertian ini sesuai dengan apa yang disifatkan oleh visnu-krisna dan laksmi-sri. Menurut sejarawan tersebut, sesuai dengan tradisi jawa tentang nenek moyang bangsa jawa, maka menurut pendapat Ratu Sanjaya memindahkan kratonnya. Kraton tersebut dihias dengan nama “bharga”, kraton yang dulu terletak di wilayah sekitar pegunungan Dieng, menurut sejarawan tersebut mungkin dipojok utara wilayah itu, yang pernah bernama “ Bagelen”, suatu nama yang berhubungan dengan “Bhaga”. Dikatakan pula nama kraton kuno yang oleh berita-berita Tionghoa diberi bentuk “Ho-ling” seharusnya berbentuk “Bagelen”. Nama Bagelen ini tidak berasal dari kata “Bhagalina”, melainkan dari “Bhaga-halin” yang berarti warisan (bagian, untung), bagi si pembajak ini dikaitkan dengan Babad Tanah Jawi, putra sulung dan kandi awan (wisnu) panuhun namanya diangkat menjadi raja para petani, yang bertempat tinggal di Bagelen. Diungkapkan pulan nama (gelar) Bhagawanta didapat dari “Prasasti Mangullhi” (Dieng) dari tahun 864, juga dalam “Prasasti Randusari II”, Baghawanta Puncoha. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Radix Penadi&lt;/div&gt;</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/bagelen-dan-bagawanta_13.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-7930127663694218029</guid><pubDate>Fri, 12 Feb 2010 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-11T20:41:03.696-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Bagelen dan Bagawanta</title><description>Mengenai nama Bagelen dan Bagawanta menurut seorang sejarawan yang menghubungkan keduanya dengan nama “Bharga” dan  “Bhaga”. Nama Bhaga yang sekeluarga dan seisi dengan nama kedua kata tadi, dipakai misalnya dengan nama julukan untuk savitri ( pembangunan kehidupan), dewa langit yang menjelmakan gaya menghidupkan matahari. Nama ini diberikan kepada salah satu dari para Aditya, dewa kesejahteraan dan cinta kasih, pendiri perkawinan. Diberikan pula kepada binatang bulan Phalguni. Kata ini berarti kemurahan hati, keuntungan, kesuburan, kesejahteraan, kehormatan, kecantikan, cinta kasih dan kasmaran. Lalu setiap dewa atau manusia yang secara aktif maupun pasif bersifat “ber- bhaga” disebut “bhagavat” juga pernah digabungkan dengan dewa siva dan bhagavati dengan durga, secara primer pengertian ini sesuai dengan apa yang disifatkan oleh visnu-krisna dan laksmi-sri. Menurut sejarawan tersebut, sesuai dengan tradisi jawa tentang nenek moyang bangsa jawa, maka menurut pendapat Ratu Sanjaya memindahkan kratonnya. Kraton tersebut dihias dengan nama “bharga”, kraton yang dulu terletak di wilayah sekitar pegunungan Dieng, menurut sejarawan tersebut mungkin dipojok utara wilayah itu, yang pernah bernama “ Bagelen”, suatu nama yang berhubungan dengan “Bhaga”. Dikatakan pula nama kraton kuno yang oleh berita-berita Tionghoa diberi bentuk “Ho-ling” seharusnya berbentuk “Bagelen”. Nama Bagelen ini tidak berasal dari kata “Bhagalina”, melainkan dari “Bhaga-halin” yang berarti warisan (bagian, untung), bagi si pembajak ini dikaitkan dengan Babad Tanah Jawi, putra sulung dan kandi awan (wisnu) panuhun namanya diangkat menjadi raja para petani, yang bertempat tinggal di Bagelen. Diungkapkan pulan nama (gelar) Bhagawanta didapat dari “Prasasti Mangullhi” (Dieng) dari tahun 864, juga dalam “Prasasti Randusari II”, Baghawanta Puncoha. &lt;br /&gt;
Oleh: Radix Penadi</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/bagelen-dan-bagawanta.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-8818647647466851829</guid><pubDate>Thu, 11 Feb 2010 04:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-10T21:52:26.945-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peristiwa sejarah</category><title>Perdagangan Opium di Tanah Bagelen</title><description>Pelaksanaan sistem tanam paksa sebagai wujud politik ekonomi kolonial mendapat perlawanan sengit didaerah Bagelen. Sementara di sisi lain sebagai kawasan baru yang masuk dalam kekuasaan Belanda, kemudian muncul perdagangan opium. Opium merupakan komoditi monopoli Pemerintah Kolonial Belanda, yang sudah ada sejak abad ke-17 pada zaman VOC. Pada saat itu opium sudah menjadi komoditi penting  di tanah Jawa  sebab ada di bawah berbagai perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan para penguasa pribumi. Perdagangan opium Belanda di Jawa ada sesudah perjanjian 1677, menurut perhitungan J.C Baud yang dikutip James R Rush dari tahun 1619-1799 setiap tahun  resminya, VOC membawa rata-rata 56.000 kg opium mentah  ke pulau Jawa, namun jumlah opium ilegal yang diselundupkan diduga jauh lebih besar.&lt;br /&gt;
Menurut Peter Carey tahun 1820 di sekitar Yogyakarta terdapat 372 tempat terpisah yang mempunyai lisensi untuk menjual opium. Sedangkan untuk memperoleh dana yang besar Belanda bekerjasama dengan kelompok elite tertentu memberi hak monopoli untuk memproduksi dan memperdagangkan opium pada tempat-tempat tertentu. Para bandar opium telah memanfaatkan adanya perkembangan penduduk pedesaan yang menyebar di perkotaan dan tinggal di dekat obyek ekonomi seperti pabrik, jalan kereta api dan perkebunan. Mereka datang sebagai kaum urban akibat dari transformasi ekonomi kolonial di Bagelen, Banyumas, Madiun dan Kediri sebagai daerah baru yang dikuasai sepenuhnya oleh Belanda. &lt;br /&gt;
Penjualan opium ilegal yang marak dinilai sebagai bagian dari kebijakanan konvensional pegawai kolonial Belanda. Residen Bagelen Christian Castens yang bertugas 1863-1864 ketika melakukan inspeksi mendadak pada gudang lokal bandar opium di tanah Bagelen, ternyata menemukan jumlah opium tiga kali lipat. Pejabat setempat menyatakan bahwa opium tersebut legal, namun tidak dapat menunjukkan barang bukti. Sedangkan komisi penyelidik yang ditugaskan, menurut Castens telah disuap oleh bandar opium sebesar 10.000 gulden. Sehingga kelebihan opium tersebut dapat diselundupkan ke Banyumas.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/perdagangan-opium-di-tanah-bagelen.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-1255072763757359517</guid><pubDate>Thu, 11 Feb 2010 04:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-10T21:51:42.721-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peristiwa sejarah</category><title>Kraman di Purworejo</title><description>Tahun 1830 Perang Jawa atau yang juga dikenal dengan nama Perang Diponegoro telah usai sebab Pangeran Diponegoro telah ditangkap di Magelang 25 Maret 1830 dan di asingkan ke Manado yang kemudian di pindahkan ke Makasar, namun para pengikutnya masih melakukan perlawanan, dengan dukungan para petani yang merasa tertindas dengan diberlakukannya sistem tanam paksa. Salah satu daerah yang paling gigih melakukan perlawanan terhadap Belanda adalah daerah selatan tanah Bagelen.&lt;br /&gt;
Sementara di Kutoarjo tahun 1847 muncul pemberontakan yang disusul tahun-tahun berikutnya akibat pemaksaan tanaman indigo (nila). Perlawanan terhadap kolonialisme dan sistem ekonomi liberal tersebut dilakukan secara gerilya yang dinamakan “kraman”, Kraman adalah suatu perang gerilya dengan melakukan penyerangan terhadap kereta gerobak yang melintasi jalan dan kemudian setelah berhasil para penyerang menghilang. Selanjutnya perlawanan tersebut oleh Belanda di sebut “brandal atau “gerombiolan kecu”. Perlawanan tersebut berlanjut kadang-kadang dilakukan secara perseorangan sehingga kemudian sikap perlawanan tersebut merupakan salah satu tolak ukur keberanian laki-laki.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/kraman-di-purworejo.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-8153308126067434213</guid><pubDate>Mon, 08 Feb 2010 02:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T19:27:03.993-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><title>Pembangunan Jalan di Purworejo Masa Belanda</title><description>Pasca Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang tanggal 25 Maret 1830 dan di asingkan ke Manado yang kemudian di pindahkan ke Makasar, banyak gangguan yang terjadi diwilayah sekitar kawasan wilayah Purworejo, terutama di perbatasan Magelang. Peristiwa ini dianggap membahayakan pemulihan ekonomi maupun keamanan Pemerintahan Hindia Belanda, maka akhirnya dibangun jalan yang hingga kini masih bisa digunakan. Hal ini dilakukan untuk menghindari wilayah yang menjadi basis pengikut Pangeran Diponegoro yang masih setia bergerilya. Pembangunan sarana transportasi berupa jalan dimulai dari tahun 1836. Pada saat itu dibangun jembatan konstruksi batu bata pada sungai Bengkal di distrik Loano, diperkuat dengan konstruksi kayu jati dan glugu. Tahun 1838 dibuat pula jembatan pada sungai Bagawanta sepanjang 200 kaki, lebar 24 kaki dan tinggi 9 kaki. Pembangunan sarana jalan baru menurut seorang sejarah adalah akibat pelaksanaan sistem tanam paksa. Jalur ke arah utara ini dengan rute di luar daerah pengaruh Pangeran Diponegoro dari Loano melintasi bukit Cacaban, Bener, Kalijambe, Margoyoso, Salaman terus ke Magelang. Jalan baru alteratif ini dilaksanakan dengan wajib kerja umum oleh petani tanpa imbalan upah. Alasannya karena, jalan tersebut untuk kepentingan rakyat sendiri yang sudah sejak dahulu dipergunakan oleh para kuli angkut barang dari daerah Bagelen ke Semarang atau sebaliknya.asi untuk meningkatkan produksi pertanian maupun perkebunan. &lt;br /&gt;
Berdasarkan prasasti tugu peringatan pembangunan jalan di kecamatan Bener, dinyatakan bahwa jalur jalan baru yang diperingati dengan tugu tersebut dibangun atas perintah penguasa Karesidenan Bagelen Jonkh J.G o.s von Schmidt Auf altenstadh dan R.de Fillietas Bousqet dibantu oleh Raden Adipati Cokronagoro, Regent (Bupati) Purworejo tahun 1845-1850. Pembangunan jalan raya baru disisi lain dilaksanakan selama 3 tahun, dari tahun 1848-1850 dengan mengerahkan petani pada waktu luang dan dibiayai sebesar f 4.000 untuk pembelian peralatan dan dana untuk kenduri atau selamatan. Dengan adanya jalan baru ini, maka lalu lintas jalan raya dan angkutan barang dialihkan, yang semula lewat jalan tradisional dilewatkan jalan baru yang dianggap lebih aman dari gangguan kraman (pemberontak). Sedangkan jalan tradisional yang ada sengaja dibiarkan terbengkalai dan tersisihkan.&lt;br /&gt;
Selain itu untuk wilayah barat Purworejo dibangun jalan tepatnya melalui Kedungkebo hingga Gombong dan diteruskan ke Cilacap. Jalan baru tersebut sangat penting bagi mobilitas militer dalam mengamankan politik pemerintah dan memperlancar angkutan komoditi ekspor yang akan diangkut kapal melalui pelabuhan Cilacap, pelabuhan Semarang untuk di ekspor ke pasar Eropa.&lt;br /&gt;
oleh; Radix Penadi dengan perubahan</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/pembangunan-jalan-di-purworejo-masa.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-7167664663710701241</guid><pubDate>Mon, 08 Feb 2010 02:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T19:24:43.280-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peristiwa sejarah</category><title>Sistem Tanam Paksa di Karesidenan Bagelen</title><description>Untuk menutup keuangan akibat perang di Eropa maupun Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang menyebabkan devisit anggaran sebesar 20 juta gulden, kemudian dilaksanakan suatu kebijakan yang disebut “cultuure stelsel” atau “politik tanam paksa” yang disertai pajak tanah “landrent”. Sebagai daerah yang subur tanah Bagelen dijadikan sebagai salah satu basis perkebunan pelaksanaan sistem tanam paksa. Berbagai tanaman komoditi yang laku di pasaran Eropa di haruskan ditanam oleh para petani di tanah Bagelen, jenis tanaman yang diharuskan antara lain; kopi, teh, tembakau, indigo (nila/tom), dan kayu manis serta tebu. Hasil tanaman tersebut harus diserahkan kepada pemerintah dengan harga yang sudah ditetapkan dan petani masih dikenalkan pajak penjualan 2/3 dari hasil panen kopi. &lt;br /&gt;
Sistem tanam paksa yang diajukan oleh Van den Bosch diharapkan akan memberikan keuntungan besar dari daerah-daerah jajahan di seluruh pulau Jawa. Untuk itu Van den Bosch mengeluarkan perintah yang berlaku untuk seluruh penduduk pribumi.Semenjak diterapkan tanam paksa di wilayah Bagelen, daerah subur yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu daerah kantong padi dengan cepat berubah menjadi daerah pusat komoditi tanaman ekspor. Penanaman nila di Bagelen sangat memberatkan penduduk, sebab para petani harus meninggalkan desa dan keluarganya untuk bekerja. Di tahun 1849/1850 seperti yang dikutip oleh Bram Peper dari Geschiedenis van het Cultuursteldsel mengungkapkan bahwa di Bagelen kehilangan 95.000 jiwa. Tahun 1889 Resien Bagelen menyebutkan adanya imigrasi “kuli jawa” ke pantai timur Sumatera, yang berasal dari afdeling Purworejo dan Kutoarjo.&lt;br /&gt;
Tanah Bagelen sebagai salah satu kawasan perkebunan penghasil komoditi eksport antara lain; kopi, teh, kayu manis dan nila (indigo). Kayumanis pada tahun 1842 di Bagelen sebanyak 2.821,5 pon. Pelaksanaan penanaman kayu manis terhadap penduduk yang tidak memiliki lahan mereka mendapat upah sekitar f 4,20 sampai f 5/ bulan, sedangkan mandor mendapat upah sebesar f 8,40. Pada tahun 1855 di Ambal dan Purworejo terdapat 284 KK penggarap pada 16 perkebunan  dengan 787.788 batang tanaman dengan hasil lebih dari 29.000 pon. Bagelen merupakan daerah penghasil indigo terbaik di pulau jawa. Tahun 1857 areal perkebunannya seluas 8,435,625 bau dengan hasil 305.934 per bau 36,26 pon Amsterdam. Harga per pon Amsterdam f 1,89 total f 458,901. Indigo dari Bagelen di eksport ke Belanda, Perancis, Inggris, Amerika, Denmark dan Swedia. Tanaman teh terdapat di distrik Wonosobo, menurut data 1856 dari Kultur Verslag Residen Bagelen tanaman ini terdapat di daerah Reco, Kledung, Purwosari, Tegalsari, Kadu Pareng, Bedakah dan Jero. Di distrik Kalialam di lokasi Menjer, Tamparan, Kreo, Serang, Gembaga, Telogo dan Tambi. Untuk distrik Sapuran terdapat di desa Tanjungsari, Semilir, Sunter dan Sundi. Jumlah tanaman tersebut di tiga distrik 4.885.000 batang seluas 740 bau. Penanaman kopi secara besar-besaran dimulai tahun 1834 di Purworejo dan Ledok. Hasil kopi selama 5 tahun 1854-1858 meliputi 258.233,24 pikul atau setiap tahun sedikitnya menghasilkan kopi 29.924,56 pikul paling rendah dan tertinggi 63.843,47 pikul dengan melibatkan 153.894 keluarga sebagai tenaga kerja. Menurut James R Rush, hingga tahun 1861 sistem tanam paksa di Pulau Jawa sudah menghasilkan kekayaan yang mampu untuk membayar hutang perang Belanda bahkan lebih sehingga digunakan untuk membiayai pembangunan rel-rel kereta api.&lt;br /&gt;
oleh;Radix Penadi dengan perubahan</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/sistem-tanam-paksa-di-karesidenan.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-3952848396896076484</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 07:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T19:27:58.465-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">makam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><title>Makam Bulus Hadi Purwo</title><description>Makam Bulus terletak di dukuh Bulus Krajan, desa Bulus, kecamatan Gebang, kabupaten Purworejo. Di makam itu telah disemayamkan keluarga ulama Purworejo Trah Berjan An Nawawi dan juga makam Trah Wakil Residen Bagelen Raden Tumenggung Suronagoro. Makam tersebut terdapat di daerah perbukitan. Maka makam keluarga Cokronagoro I terletak di atas Bukit Bulus dan berbentuk teras berundak. Bagian paling depan merupakan halaman parkir dan menuju teras utama dihubungkan dengan undak-undakan  untuk masuk ke bangunan transit. Pada bangunan utama, adalah makam KRT Prawironagoro bekas wedono Jenar, adik bungsu RAA Cokronagoro I yang telah dimakamkan dalam satu liang lahat. KRT Prawironagoro telah meninggal dunia terlebih dahulu, sedangkan RAA Cokronagoro I wafat 23 September 1862 pada usia 83 tahun. Disekitar makam utama terdapat sejumlah makam para istrinya. Pada teras pertama terdapat bangunan joglo yang ditopang oleh 4 soko guru dan 12 soko rowo yang dijadikan tempat transit. Tetapi masih dalam teras pertama itu, adalah makam RAA Cokronagoro III beserta istri. Kemudian agak ke selatan adalah makam RT Suronagoro bersama krandhahnya. Pada teras kedua adalah Krandhah Berjan An Nawawi. Teras paling belakang atau paling atas, itulah makam RAA Cokronagoro I dengan bentuk bangunan limasan. Komplek makam empat persegi panjang dengan bentuk arah ke selatan. Di atas pintu gapura arah utara terdapat tulisan dengan angka tahun 1835 dan di sebelah dalam tertulis 2002. Komplek makam dibatasi dengan pagar tembok keliling. Pintu gerbang dinaungi atap bentuk limasan, ditopang dua kolom persegi dengan daun pintu kupu tarung panil kayu. Pada halaman makam terdapat makam RAA Cokronagoro IV yang dulu dimakamkan di Lempuyangan, Yogyakarta. Tetapi kemudian dipindah tahun 2003. Terdapat juga makam Jayeng Kuwuh abdi setia RAA Cokronagoro I yang dahulu diangkat sebagai glondhng Sucen seumur hidup. Khusus makam RAA Cokronagoro I dinaungi cungkup bentuk limasan atap seng, dinding kawat rem, pintu kupu tarung panil ram. Bangunan cungkup dilapisi kain putih tipis terawang. Nisan bentuk lingga warna hitam kuning dengan motif tumpal dan diameter 18-52 cm, jirat persegi warna hitam dan diatasnya terdapat tulisan warna kuning. Jirat nisan itu terbuat dari batu. Di atas jirat terdapat tulisan dengan huruf jawa “ Kanjeng Rahaden Hadipati Cokronagoro” dan tahun dengan angka Jawa 17 -73, juga terdapat tulisan dengan huruf pegon. “Laillahaillawah Muhammadar Rosullulah” yang terdapat diantara dua nisan. Sejajar dengan nisan juga terdapat huruf pegon yang berbunyi “Hijrah Dzulhijah Awal”. Disebelah kiri terdapat makam garwa padmi Cokronagoro I Bendara Raden Ayu Tumenggung Cokronagoro I, Ibu Cokronagoro I dan garwa selir. Khusus untuk garwa selir dinaungi cungkup bentuk kerucut, dinding ram kawat dan pintu panil ram kawat. Di sebelah kanan terdapat makam Raden Tumenggung Suronagoro dan garwo selir dari Kaligesing. Selain makam itu masih terdapat makam kerabat Cokronagoro I.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/makam-bulus-hadi-purwo.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-3824619590782271056</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 07:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T00:03:56.194-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">makam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><title>Makam Kayu Lawang</title><description>Makam ini terletak di bukit Kayu Lawang, desa Mudal, kecamatan Purworejo, kabupaten Purworejo. Luas bangunan 54 m2. Bagian depan makam merupakan halaman parkir, untuk menuju ke makam RAA Cokronagoro II dihubungkan dengan jalan setapak di paving. Bagian paling depan sebelah barat jalan setapak menuju makam Cokronagoro II terdapat komplek makam kepatihan. Lokasi dibatasi dengan pagar tembok setengah dinding dengan pintu gerbang yang ada di bagian selatan. Bagian belakang komplek terdapat satu unit bangunan. Di dalam komplek makam tersebut terdapat sejumlah makam dengan nisan dari batu dengan bentuk nisan yang beraneka ragam. Di sebelah tenggara dari makam RAA Cokronagoro II terdapat cungkup makam Penghulu Landrat Baedowi yang merupakan salah satu pendiri Masjid Darul Muttaqin. Di sebelah timur makam Cokronagoro II terdapat makam para selir dan di lingkungan makam Cokronagoro II merupakan makam Krandhah Cokronagoro. Cokronagoro II merupakan putera kedua  Cokronagoro I, namun makamnya terpisah. Tidak diketahui pasti sebabnya, sebab makam tersebut dibangun 1898 ketika Cokronagoro II belum meninggal dunia.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/makam-kayu-lawang.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-3482556930529493316</guid><pubDate>Tue, 02 Feb 2010 10:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-02T03:21:40.946-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>Sarwo Edhie Wibowo</title><description>Dia mempunyai peran yang paling gemilang dalam mengatasi peristiwa G-30-S/PKI. Pada waktu itu Sarwo sebagai Komandan RPKAD yang sekarang dikenal sebagai Kopassus. Sarwo Edhie Wibowo langsung turun ke lapangan menaklukkan pemberontak dan menenangkan massa. Setelah itu berbagai jabatan militer dan sipil ia jalani, namun tidak sampai menjabat menteri. Jenderal yang brilyan dan jujur ini terakhir berpangkat Letnan Jenderal dan hanya menjabat Kepala BP7 (1984 1990). Sebelumnya ia menjabat Irjen Deplu (1978-1983) dan Dubes RI di Korea Selatan. Jabatan militer tertinggi dipegangnya adalah Gubernur Akabri (1970-1973), setelah sebelumnya menjabat Panglima Kodam XVII Cenderawasih (1968-1970) dan Panglima Kodam II Bukit Barisan (1967-1968). Ketika menjabat Pangdam XVII/Cenderawasih sejak tanggal 25 Juni 1968 sampai 1970, dengan pangkat Brigjen, Sarwo Edhi Wibowo mengubah kebijakan operasi tempur menjadi pendekatan persuasive di Irian Jaya. Kala itu, berbagai laporan menyebutkan, antara tahun 1964-1968 puluhan ribu penduduk tersungkur dihantam timah panas di daerah itu akibat sejumlah penduduk setempat menuntut kemerdekaan. Keadaan memilukan itu tampaknya menjadi perhatian serius Brigjen Sarwo Edhi Wibowo. Ia segera mengambil langkah tegas untuk memulihkan nama dan wibawa TNI yang sudah tercoreng di mata penduduk Irian Jaya. Di bawah nama sandi Operasi Wibawa, ia menindak tegas aparat yang sewenang-wenang terhadap rakyat, serta di lain pihak mengimbau pemberontak keluar dari hutan dan kembali ke desa. Ia menjamin mereka yang kembali tidak akan diproses secara hukum. Namun, seperti saat bertugas sebagai Pangdam II/Bukit Barisan di Medan, belum dua tahun bertugas sebagai Pangdam Cenderawasih, Sarwo Edhi digantikan Kolonel Acub Zainal pada 26 Januari 1970. Sejak itu pula operasi tempur dan intelijen dijadikan lagi sebagai ujung tombak. Ribuan personel pasukan didatangkan dari Jawa untuk memadamkan apa yang disebut aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka yang diketahui ada indikasi OPM digiring ke kamp-kamp tahanan. Sebagian dari mereka tidak pernah kembali lagi. &lt;br /&gt;
Tampaknya Presiden Soeharto cukup memperhitungkan potensi citra, kredibilitas dan kepemimpinan Sarwo Edhie bisa menjadi presiden. Sehingga jabatannya dibatasi. Namun Sarwo Edhie tak pernah memberontak. Ia mempertahankan kejujuran dan nilai-nilai kejuangan dan pengabdiannya kepada nusa dan bangsanya.Sejak kecil, bapak mertua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menikahi putrinya Hj Ani Kristiani Herawati, ini sudah bercita-cita berpenghasilan tetap dan mengabdi pada negara. Ayahnya, kepala rumah gadai di zaman Belanda adalah gambaran ideal baginya, model seorang sebagai pegawai negeri. Ternyata, Sarwo lebih berbakat sebagai komandan, daripada pegawai. Sebagaimana ditulis dalam Pusat Data dan Analis Tempo, Sarwo adalah gambaran seorang prajurit ideal. Masa kecilnya diwarnai dengan kenakalan anak-anak: berkelahi dan adu berani di arus deras sungai. Tetapi setelah belajar silat, ia malah tidak pernah berkelahi. ''Baru saya membuka jurus saja, lawan sudah kabur,'' ucapnya, tertawa. Dari membaca koran-koran bekas, Sarwo mengagumi Jepang dengan kemenangan demi kemenangannya menghadapi sekutu. Maka, ketika Jepang mengumumkan hendak mencari heiho, pembantu tentara, ia mendaftarkan diri di Surabaya. Namun, kemudian ia kecewa, dan berniat melarikan diri. Di asrama, kerjanya hanya memotong rumput, membersihkan WC, dan mengatur tempat tidur tentara Jepang. ''Kalaupun diajar perang, hanya memakai senjata kayu,'' katanya.&lt;br /&gt;
Keinginannya menjadi prajurit tersalur setelah ia dan seorang kawannya ikut bergabung dengan Peta. Ia lalu membentuk batalyon, tetapi kemudian bubar. Kemudian menghadapi masa tidak menentu. Baru setelah Achmad Yani mengajaknya kembali membentuk batalyon di Magelang, ia kembali sebagai prajurit. Sarwo juga senang bela diri, ia adalah Ketua Taekwondo Indonesia. Letnan jenderal purnawirawan ini juga menyukai film sejarah dan kolosal, seperti halnya Benhur, dan memilih Jenderal Mc. Arthur serta Jenderal Rommel sebagai tokoh yang dikaguminya. Namun ia tetap suka wayang dan keris. Ia pun mewariskan tujuh keris kepada ketujuh putra-putrinya, buah pernikahannya dengan Sunarti Sri Hadiyah. Anaknya yang tertua, mengikuti jejaknya, sebagai militer. Dua menantunya juga jenderal, salah satunya Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono yang tepilih menjadi Presiden yang oleh redaksi Tokoh Indonesia diamati sebagai awal dinasti Sarwo Edhie dalam puncak kepemimpinanIndonesia.&lt;br /&gt;
Sarwo Edhie meninggal di Jakarta 9 November 1989 dan dimakamkan di daerah kelahirannya Ngupasan, Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
Oleh: Hari Sudarmono&lt;br /&gt;
Sumber: tokohindonesia.com</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/02/sarwo-edhie-wibowo.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-9095815750513336587</guid><pubDate>Wed, 27 Jan 2010 04:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T21:58:24.759-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Rakyat</category><title>Awal Mula Nama Bagelen</title><description>Nama Bagelen, muncul dalam sejarah nasional sejak adanya Perjanjian Giyanti  13 Februari 1775, yang membagi kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Perjanjian Giyanti tersebut terjadi akibat dari perang saudara antara Susuhunan Paku Buwono III dengan Pangeran Mangkubumi atau Pangeran Sambernyowo yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I. Baik oleh Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta afdeling (wilayah) Bagelen tidak masuk dalam “wilayah negara”. Oleh sebab itu, afdeling tersebut dinamakan Mancanegara Kilen (sebab letaknya disebelah barat negara). Dalam perjanjian giyanti juga disebutkan Bagelen yang sebelumnya menjadi wilayah “negara agung” kerajaan Mataram juga dibagi menjadi dua bagian. Sebagian masuk wilayah Kasunanan Surakarta dan sebagian masuk wilayah Kasultanan Yogyakarta. Arti negara agung adalah sebuah wilayah yang banyak berisi tanah jabatan atau tanah lungguh atau tanah bengkok milik para pejabat kerajaan dan pangeran. &lt;br /&gt;
Seorang Belanda bernama A. Van Poel mengatakan nama Bagelen berasal dari istilah kethol Bagelen, yaitu priyayi atau bangsawan setempat yang ada di tanah Bagelen. Menurutnya Bagelen berasal dari nama orang. Pendapat tersebut berdasarkan cerita dan data yang dikumpulkan dari para kethol Bagelen. Dari cerita para kethol Bagelen dahulu ada wanita bernama Roro Rengganis yang mempunyai keahlian menenun. Setelah dewasa Roro Rengganis yang masih merupakan ketirunan raja dipersunting oleh Joko Awu-awu Langit yang berasal dari Gunung kelir. Dan setelah menikah kemudian menjadi Adipati dan bergelar Cokropermono. &lt;br /&gt;
Sementara ada dua versi yang menyebutkan asal-usul Joko Awu-awu Langit yang pertama disebutkan berasal dari Gunung Kelir dan dari Ambar Ketawang. Gunung Kelir merupakan kawasan pegunungan yang sangat tinggi menjulang seperti mau merapat ke langit. Versi kedua berasal dari daerah pantai yang ujung daerah tersebut mirip merapat ke langit. Sehingga disimpulkan oleh versi kedua kalau Joko Awu-awu Langit berasal dari Ambar Ketawang. Karena Awu-awu Langit artinya memang sama dengan Ambar Ketawang. Namun A. Van Poel berkeyakinan Jko Awu-awu Lngit berasal dari Gunung Kelir. Dari hasil perkawinan antara keduanya dikarunia tiga orang anak, yaitu; Roro Taker, Roro Pitrah dan Bagus Gentho.&lt;br /&gt;
Pada hari selasa wage kebetulan Joko Awu-awu Langit sibuk menumpuk padi di lumbung. Sedangkan istrinya sebuk menenun, datanglah seekor anak sapi dari arah belakang yang dikiranya anaknya Bagus Gentho yang minta minum. Kemudian Roro Rengganis menyusuinya dengan cara menyampirkan payudranya ke belakang, sebab kopek. Melihat hal tersebut Joko Awu-awu Langit menegur istrinya sambil tertawa. Mendapat teguran itu Roro Rengganis merasa terhina dan marah terhadap suaminya. Akhirnya keduanya bertengkar, apalagi ketika mencari kedua anaknya yaitu Roro Taker dan Roro Pitrah. Disemua tempat tak juga diketemukan, dan akhirnya mereka diketemukan berada di bawah tumpukan jerami yang ditumpuk oleh ayahnya sendiri. Atas kejadian tersebut Roro Rengganis makin marah dan kemudian mengusir suaminya. Joko Awu-awu Langit kemudian pergi dari rumah dan membawa anaknya yang masih hidup yakni Bagus Gentho. Sepeninggal suaminya kemudian  Roro Rengganis mengalami duka yang dalam, hatinya sangat pegal (jawa-pegel). Dalam keadaan duka itu kemudian beliau pergi bertapa ke arah barat dan tidak pernah kembali. Menurut para kethol Bagelen Roro Rengganis kemudian melakukan tapa brata, dan karena kesungguhan dalan bertapa kemudian beliau bisa muksa (hilang) bersama raganya. Dengan terjadinya peristiwa dalam keluarga Adipati Cokropermono pada hari selasa wage hingga kini dianggap sebagai hari naas bagi orang Bagelen. Sedang desa tempat tinggal Roro Rengganis karena hatinya pegal sejak mengalami kehancuran keluaganya akhirnya diberi nama “Kapegelan” yang berasal dari kata “Pegel”. Dari nama kapegelan tersebut akhirnya berubah menjadi Bagelen. Demikian juga Roro Rengganis yang sering disebut Roro Wetan disebut juga Nyai Kapegelan atau Nyai Bagelen. &lt;br /&gt;
oleh; Radix Penadi</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/awal-mula-nama-bagelen.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-2208097967548063448</guid><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 03:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T21:59:09.549-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peristiwa sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>Awal Mula Nama Purworejo</title><description>Mungkin banyak yang belum tau bahwa sebenarnya kota Purworejo dalam sejarahnya mengalami perjalanan yang sangat panjang sekali. Dahulu juga belum dikenal nama Purworejo dan nama Purworejo baru ada sejak tahun 1830. Nama Purworejo diusulkan oleh Raden Adipati Cokrojoyo, yang baru diangkat sebagai  Adipati Brengkelan dan nama tersebut langsung disetujui oleh para pembesar negeri dan Komisaris Van Lawick Van Pabst. Pada saat itu Adipati Cokrojoyo kurang berkenan dengan nama Kadipaten Brengkelan. Sebab Brengkele mempunyai arti suka membantah dan tidak mau mengalah. Setelah memohon petunjuk kepada Allah SWT, kemudian terbersitlah sebuah nama yang bagus dan mempunyai arti yang baik serta mempunyai harapan atas masa depan yang gemilang. Nama yang beliau usulkan adalah Purworejo yang mempunyai arti awal dari kemakmuran yang akan dinikmati oleh para penduduknya. Pelantikan ini dilaksanakan pada hari Rabu Wage tanggal 17 Besar tahun Jimawal 1757 Jawa atau 1245 H yang bertepatan dengan tanggal 9 juni 1830. Cokrojoyo atau yang masa mudanya bernama Reso Diwiryo diberi gelar Raden Adipati Cokrojoyo. Pelantikan ini di lakukan di tanah Bagelen oleh komisaris Belanda untuk tanah-tanah Mancanegara bagian barat, yaitu Van Sevenhoven dan diambil sumpahnya oleh Kyai Haji Akhmad Badaruddin (bekas penasehat Pangeran Diponegoro) yang turut dalam perundingan di Magelang, dan kemudian diangkat sebagai penghulu landraad untuk Kadipaten Bagelen.&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan sejarah kabupaten Purworejo tidak dapat lepas dari peranan Adipati Cokrojoyo atau yang setelah menjabat bupati bergelar RAA Cokronagoro I. Beliau merupakan bupati Purworejo I yang telah banyak berjasa dalam perkembangan pembangunan di kabupaten Purworejo.  Banyak sekali hasil pembangunan fisik yang masih dapat dinikmati oleh warga Purworejo hingga saat ini, bahkan kemudian juga menjadi aset wisata terutama wisata religius. Diantaranya adalah Bedhug Pendhowo yang merupakan bedhug terbesar di dunia dengan bonggol kayu jati utuh dan Masjid Darul Mutaqqin. Selain itu juga dibangun Pendhopo kabupaten Purworejo, selokan kedhung puteri, alun-alun Purworejo dan yang juga tak kalah spektakuler adalah pembangunan Jalan Purworejo-Magelang. Maka sudah sepantasnya kita sebagai warga Purworejo bangga terhadap beliau yang telah banyak berjasa bagi kabupaten tercinta ini.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/awal-mula-nama-purworejo.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-931452655154737050</guid><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 03:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-24T20:29:54.054-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>RAA Cokronagoro II</title><description>Untuk mengenal sejarah Purworejo lebih jauh, terutama mengenai tokoh-tokoh yang berperan didalamnya akan penulis ketengahkan berbagai hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Salah satunya adalah bupati Purworejo II yang bergelar RAA Cokronagoro II. Beliau memerintah dari tahun 1856 hingga 1896. RAA Cokronagoro II merupakan putera kedua dari RAA Cokronagoro I. Ibu kandungnya bernama Nyai Adipati Sepuh, puteri Kyai Kerto Menggolo dari Pengasih, Yogyakarta. Sedangkan kakak kandung RAA Cokronagoro II bernama Raden Bei Cokrosoro yang menjabat sebagai mantri gladag di keraton Surakarta menggantikan ayahnya sebelum sang ayah Reso Diwiryo menjabat sebagai Adipati Brengkelan yang kemudian hari berubah nama menjadi Purworejo. RAA Cokronagoro II sangat tekun menangani pertanian di daerahnya, saluran irigasi kedhung puteri yang pada zaman ayahnya memerintah hanya dibangun sampai wilayah kota Purworejo dilanjutkan hingga ke Banyuurip. Setelah itu pembangunan irigasi dilanjutkan hingga kawedanan Jenar. Dalam pembangunannya beliau minta bantuan Raden Mas Turkijo, seorang putera bupati Kutoarjo. Alasannya karena Raden Mas Turkijo dikenal sebagai ahli bangunan air dan pernah memperdalam ilmu bangunan air di Kalkuta, India. Disana Raden Mas Turkijo belajar mengenai pembangunan bendungan di sungai Gangga. Akhirnya dibangun Bendung Boro yang terletak di desa Boro. Bendung Boro ini jauh lebih besar dibanding irigasi kedhung puteri. Bendung Boro mampu mengaliri sawah seluas 5000 hektar. Pada masa pemerintahannya Purworejo dikenal sebagai daerah pertanian dijadikan basis tanam paksa. Pada masa pemerintahannnya beliau juga memugar pendhopo kabupaten yang sudah berumur 50 tahun. Pemugaran pendhopo kabupaten dilakukan sekitar lima tahun dan lama pemugaran satu tahun. Awal pemugaran dilakukan dengan tetenger “wiku wiworo saliro tunggal” tahun 1891, dan pemugaran selesai dengan tetenger candra sengkala “nembah trus murti ningrat” tahun 1892. Setelah meninggal beliau dimakamkan di makam “kayu lawang’, kelurahan Mudal Purworejo. &lt;br /&gt;
Sumber; dari buku karangan Atas Danusubroto dengan beberapa perubahan.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/raa-cokronagoro-ii.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-7666205496949245563</guid><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 03:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-24T20:28:15.892-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>RAA Cokronagoro IV Pelopor Pendidikan di Purworejo</title><description>RAA Cokronagoro IV memerintah tahun 1907 hingga 1919. Raden Adipati Aryo Sugeng Cokronagoro IV merupakan putera RAA Cokronagoro III yang berasal dari isteri yang berasal dari keraton Yogyakarta. Beliau diangkat sebagai bupati kebetulan karena kedua kakaknya perempuan. Dan resmi memerintah tahun 1907 -1919, beliau telah aktif bergelut dipemerintahan sejak muda. Sebelumnya beliau juga sering mewakili ayahnya untuk menghadiri acara resmi atau dalam hal mengatur pemerintahan. Sebab saat itu ayahnya sering sakit. Sejak belum resmi menjadi bupati sudah banyak kegiatan yang dilakukannya, diantaranya beberapa saluran irigasi dan bendungan mulai dibangun sejak kedudukannya mewakili ayahnya. Bendungan yang menjadi karya RAA Cokronagoro IV antara lain ;&lt;br /&gt;
1) Bendung Penungkulan dengan selokannya&lt;br /&gt;
2) Bendung Guntur dengan selokannya&lt;br /&gt;
3) Bendung Kalisemo&lt;br /&gt;
4) Bendung Kedhung Pucang di desa Trirejo&lt;br /&gt;
RAA Cokronagoro IV mempunyai inisiatif untuk mendirikan sekolah desa yang lamanya hanya tiga tahun. Sekolah–sekolah itu didirikan di desa – desa yang padat penduduknya. Pada tahun 1911, di kabupaten Purworejo mulai didirikan sekolah “ongko loro” selama 5 tahun. Sekolah tersebut didirikan di ibukota asisten wedono (kecamatan) yang padat penduduknya, bagi murid sekolah ongko loro yang sudah tamat eksamen (ujian) bisa mengikuti kursus tambahan selama enam bulan. Mereka yang sudah tamat kursus bisa menjadi guru dan mengajar di sekolah “ongko loro”. RAA Cokronagoro IV sangat getol dalam mengingkatkan mutu pendidikan bagi rakyatnya, sejak tahun kelima sekolah ongko loro didirikan mulai banyak calon guru yang selesai mengikuti kursus, sehingga mulai tahun 1915 terdapat sejumlah sekolahan yang dibangun. Sekolah ongko loro yang didirikan antara lain;&lt;br /&gt;
1) Banyuasin untuk pendidikan anak- anak di wilayah asisten wedono Loano.&lt;br /&gt;
2) Pangen Gudhang untuk anak – anak di wilayah asisten wedono Purworejo&lt;br /&gt;
3) Banyuurip untuk anak – anak di wilayah asisten wedono Banyuurip&lt;br /&gt;
4) Bayan untuk anak – anak di wilayah asisten wedono Bayan&lt;br /&gt;
5) Kemanukan untuk anak – anak di wilayah asisten wedono Soko. (sebagai catatan dahulu di Purworejo ada asisten wedono Soko yang letaknya disebelah timur sungai Bagawanta. Tetapi kemudian kecamatan Soko dihapus dan kini masuk dalam wilayah Kecamatan Bagelen)&lt;br /&gt;
6) Kuwojo untuk anak – anak di wilayah asisten wedono Bagelen&lt;br /&gt;
Pada masa itu juga didirikan sekolah khusus anak perempuan yang bernama “Meisjeskopschool” di Purwodadi dan Purworejo. Karesidenan Bagelen pada masa pemerintahan RAA Cokronagoro IV sudah tidak ada sebab telah dihapus dan masuk dalam wilayah karesidenan Kedu. Sejak tanah Bagelen dan Banyumas diminta oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1930, dijadikan status Gewest atau Residentie (karesidenan), dengan ibukotanya Purworejo. Sehingga kota Purworejo sebagai kota administrative berakhir tanggal 1 Agustus 1901. Pada masa pemerintahan RAA Cokronagoro IV diadakan pemugaran benteng (tangsi) Kedhung Kebo. Tangsi yang dahulu hanya dengan pagar kawat berduri dan bambu oleh Pemerintah Hindia Belanda dibangun pagar tembok. Ini merupakan langkah Pemerintah Kolonial Belanda dalam rangka mengawasi gerak-gerik RAA Cokronagoro IV yang akrab dengan keluarga taman siswa dari Yogyakarta. Dalam masa pemerintahannya juga dibangun rumah sakit umum pada tahun 1915 yang dilakukan oleh zending dan kemudian berubah nama menjadi RSUD saras Husada. Sementara Pemerintah Hindia Belanda melakukan pembangunan rumah sakit militer. RAA Cokronagoro berjiwa keras, selama masa pemerintahannya beliau selalu ditekan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Hak-haknya dibatasi, sehingga membuatnya berani menentang Pemerintah Hindia Belanda. Sikap ini tidak disenangi oleh Belanda, dan ketika beliau menikahi wanita Eropa Johanna Giezenberg dianggap sebagai perkawinan yang keliru. Sebab dimata penjajah pribumi merupakan warga negara kedua. Warga negara nomor satu adalah Belanda dan Eropa dan dilarang keras pribumi meskipun bupati menikah dengan orang Eropa. RAA Cokronagoro IV diturunkan dari jabatannya dengan tidak hormat tahun 1919, dan kemudian pindah ke Yogyakarta. Setelah dua tahun menetap di Yogyakarta, beliau dipanggil oelh Pemerintah Hindia Belanda yang kemudian melantik dirinya kembali sebagai bupati, namun pada hari yang bersamaan turun surat keputusan pensiun. Sesudah menerima surat keputusan pensiun beliau kembali ke Yogyakarta dan 15 tahun kemudian 29 Januari 1936 meninggal dunia dan dimakamkan di makam Lempuyangan yang semula menjadi makam khusus KRT Cokrojoyo.&lt;br /&gt;
Sumber; buku Atas Danusubroto dengan beberapa perubahan.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/raa-cokronagoro-iv-pelopor-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-2157333245102462420</guid><pubDate>Sun, 17 Jan 2010 05:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-16T22:01:22.244-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wisata</category><title>Sejarah Pasar Baledono</title><description>Pasar Baledono sebagai salah satu urat nadi perekonomian di Purworejo, saat ini kondisinya megah sebagaimana layaknya pasar modern. Namun tampaknya tidak banyak yang tahu, sejarah awal berdirinya pasar yang luasnya 13.600 m2, sebagaimana saat ini. Bahkan kini banyak yang tahu bahwa pasar tersebut adalah milik pemerintah kabupaten Purworejo, meskipun nama yang tetap dikenal tetap saja pasar Baledono. Pasar Baledono pada awalnya dibangun sekitar tahun 1850 an pada saat kepala desa Baledono dipegang oleh Soma Taruna. Pendirian pasar ini dimaksudkan sebagai bentuk usaha yang sah dari pemerintah desa, dimana dana yang masuk dipergunakan untuk penyelenggaraan operasional desa termasuk gaji bagi perangkat desa. Sebab pada saat itu pemerintahan desa Baledono belum mempunyai tanah bengkok untuk para perangkatnya. Akhirnya berdasarkan rembug desa setempat disepakati untuk membeli tanah dipinggir jalan yang sekarang menjadi JL. A Yani untuk didirikan pasar. Sedangkan biaya untuk pembelian tanah tersebut dilakukan dengan cara urunan beberapa perangkat desa. Mantan Bekel Baledono, mbah Sarijan Prawirodiharjo sebagaimana dikutip oleh Pers tanggal 30 Juli 1986 mengatakan dari sebidang tanah yang berhasil dibeli untuk pasar, lambat laun meluas kekanan, kekiri, dan kebelakang. Sehingga pasar Baledono akhirnya menjadi semakin luas. Bahkan dari dana bea yang berhasil ditarik oleh pemerintahan desa lambat laun juga bisa membeli tanah untuk bengkok perangkat desa.&lt;br /&gt;
Pasar Baledono di Minta Pemerintah&lt;br /&gt;
Melihat perkembangan pasar Baledono yang semakin besar, PEMDA kabupaten Purworejo sekitar tahun 1915-1920 mulai meliriknya. Pihak Regent Schap (pemerintah kabupaten) berkehendak mengambil alih pengelolaan pasar Baledono. Maksud pengambilalihan tersebut seperti yang dikatakan oleh mbah Saridjan agar pemerintah desa tidak kerepotan didalam melaksanakan tugasnaya melayani masyarakat. Pasar akan dikelola oleh pemerintah kabupaten Purworejo, sedangkan para pamong memikirkan tugas- tugas pemerintah desa. Niat pemerintah kabupaten untuk mengambil alih pengelolaan pasar ini nampaknya mendapat tantangan cukup keras, tidak saja dari pamong melainkan juga dari warga setempat. Hal ini dikarenakan pendirian pasar adalah murni dari masyarakat Baledono secara swadaya. Namun akhirnya niat pemerintah untuk mengambil alih pengelolaan pasar Baledono kesampaian juga setelah sebelumnya melalui berbagai pertemuan dan musyawarah yang alot, serta melibatkan semua pihak baik masyarakat Baledono, pemerintahan kabupaten dan tokoh- tokoh masyarakat. Dalam kesepakatan tersebut antara lain disebutkan bahwa pihak desa akan melepaskan pengelolaan pasar tersebut kepada pemerintahan kabupaten dengan catatan pihak desa mendapat bagi hasil yang besarnya 30 %. Maksudnya sebagaimana yang diungkapkan oleh mbah Saridjan, desa mendapatkan 30 % dari penarikan bea (retribusi) pasar maupun pendapatan lain. Sedangkan 70 % menjadi hak pemerintah kabupaten. Namun demikian dalam kenyataannya perjanjian tersebut tidak sebagaimana yang diharapkan, karena pencarian 30 % tersebut baru bisa diterima 3 bulan sekali. Dalam kesepakatan tersebut juga disepakati, bahwa pihak pemerintah kabupaten bertanggung jawab atas perbaikan pasar dengan dana dari pemerintah kabupaten. Dan permintaan yang paling prinsip adalah sampai kapanpun pasar tersebut namanya tetap “Pasar Baledono” tidak bisa diganti dengan nama apapun.&lt;br /&gt;
Prosentase penerimaan bagi hasil pasar Baledono ini lancar sampai pemerintahan KADES Iskak yang menggantikan kakaknya Tamziz pada tahun 1920-1943. Hanya pada waktu itu pemerintahan Jepang, pembagian hasil itu menjadi tersendat bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi itu terus berlanjut hingga tahun 1950 pemerintah kabupaten Purworejo menegaskan bahwa tidak ada lagi menerima bagian 30 % dari hasil penerimaan pasar tersebut ditiadakan dengan alasan rugi. Mbah Saridjan yang pada waktu itu mendapat mandat sebagai kepala desa karena kades Iskak meninggal dunia, melakukan protes keras. Sehingga pada saat itu dengan diantar camat purworejo waktu itu menghadap bupati untuk memperjuangkan hak penerimaan pasar. Meskipun prosentase pembagiannya tidak seperti dulu lagi besarnya. &lt;br /&gt;
Dalam pembahasan di DPRD, akhirnya diputuskan bahwa pasar Baledono akan mendapatkan bagian kas pasar besarnya 3%. Dengan rincian 2 % untuk pamong desa dan 1 % untuk kas desa. Waktu itu pamong bisa menerima putusan tersebut, sebab desa Baledono sudah memiliki tanah bengkok desa yang dibeli dari uang kas desa. Namun sejalan dengan tata pemerintahan dimana pasar Baledono berubah statusnya menjadi kelurahan pada tahun 1980, maka semua tanah bengkok milik desa Baledono diambil alih oleh PEMDA. Sedangkan para perangkatnya diangkat menjadi PNS. Bengkok yang diambil alih itu kemudian dikontrakkan dan sebagian besar juga jatuh ke perangkatnya. Mbah Saridjan sendiri yang mulai mengabdi sebagai perangkat desa sejak 1942 berbekal ijazah Schakel School (5 tahun) dan ditambah Ambacht School (sekolah teknik) selam 2 tahun, berhak juga menikmati beslit dari PEMDA sebagai PN, meski beliau harus pensiun setelah 3 bulan memegang SK tersebut.&lt;br /&gt;
Rudy Prasetyo dari berbagai sumber</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/sejarah-pasar-baledono.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-6174870908014738092</guid><pubDate>Sun, 17 Jan 2010 04:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-16T21:57:37.504-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">agama dan kepercayaan</category><title>POTRET SEBUAH AKULTURASI ISLAM-JAWA Hasil Kerja Walisongo di Kawasan Purworejo</title><description>Akhir abad ke-15, melalui Walisongo, Islam semakin menyebar luas di Jawa. Namun, ada satu wilayah yang saat itu masih hutan belantara, mayoritas penduduknya masih belum beragama Islam. Daerah itu bernama Bagelen, yang pada saat itu meliputi wilayah Purworejo, Kebumen, sebagian Wonosobo, dan Kutoarjo. Datanglah Sunan Kalijaga ke wilayah itu. Saat masuk ke Bagelen, ia konon bertemu tukang nderes atau pencari nira kelapa yang bernama Cakrajaya. Kagum dengan tingginya ilmu Sunan Kalijaga, Cakrajaya bermaksud berguru. Sunan Kalijaga menyuruh Cakrajaya bersamadi di dekat Sungai Bagawanta, lalu meninggalkannya sendiri. Setahun kemudian, ia bersama muridnya datang ke dekat sungai tempat Cakrajaya bertapa. Namun, di tempat itu tak terlihat apa-apa, kecuali rerumputan liar. Sunan Kalijaga menyuruh muridnya membakar rerumputan liar itu. Ternyata, Cakrajaya yang tak lain keturunan Nyai Ratu Bagelen masih bertapa di tempatnya semula. Namun karena tempatnya dibakar, punggung Cakrajaya gosong. Sejak saat itulah, Cakrajaya yang dikenal memiliki ilmu agama yang teguh disebut dengan Sunan Geseng (dari kata gosong). Melalui Sunan Geseng inilah dakwah agama Islam di Kadipaten Bagelen berkembang. Sebagai murid Sunan Kalijaga, gaya dakwah Sunan Geseng pun tak berbeda dengan metode gurunya, yakni mengakomodasi ajaran Syiwa-Buddha dalam Islam. Terjadilah akulturasi. Akulturasi ini menghasilkan komunitas Islam-Kejawen yang kuat di Bagelen. Komunitas ini masih bertahan hingga kini. “Di Bagelen, yang termasuk sekarang di Purworejo, banyak penganut Kejawen. Tetapi, mereka beragama Islam. Adat dan tata cara Jawa, seperti menjamas pusaka, menghormati pepunden, dan kepercayaan akan sengkala Jawa masih dipertahankan, meski mereka itu shalat,” ujar Oteng Suherman, pakar Sejarah Purworejo yang lama mendalami Komunitas Bagelen. Perpaduan Islam-Jawa ini menjadikan masyarakat Bagelen memiliki karakter khas. Sejak dulu warga Bagelen dikenal pemberani, jujur, setia, dan berjiwa besar. Tak ayal bila Panembahan Senopati (Raja Mataram Islam pertama), banyak merekrut orang Bagelen untuk perang melawan adipati di Jawa Timur yang menolak tunduk. Pada zaman kolonial Belanda, Bagelen adalah medan tempur Pangeran Diponegoro. Banyak prajurit Diponegoro dari Bagelen. Bahkan, di sini pulalah tentara Belanda banyak yang terbunuh. &lt;br /&gt;
Syiwa-Buddha &lt;br /&gt;
Menurut Oteng, dakwah Sunan Geseng di Bagelen dengan mengakomodasi kepercayaan Syiwa-Buddha bukan tanpa alasan. Sejak zaman kerajaan Galuh-Tarumanegara, Bagelen dikenal sebagai pusat perkembangan agama Syiwa-Buddha di Jawa Tengah. Bahkan, pendiri Bagelen adalah putri Raja Syailendra atau yang disebut warga setempat sebagai Raja Suwela Cala. Di Bagelen juga banyak ditemukan yoni dan lingga peninggalan Wangsa Sanjaya dan Rakai Panangkaran yang beragama Hindu-Syiwa. Bagelen yang dulu juga meliputi sebagian Wonosobo dikenal sebagai tempat pelarian pangeran dan kesatria Majapahit. Salah satunya adalah Pangeran Jayakusuma. Demikian pula dengan Raden Caranggasing dari Jenggala. Di Bagelen bagian selatan banyak pendeta Bhairawa Tantra, yang sakti. Maka, banyak prajurit tangguh dari wilayah ini. &lt;br /&gt;
Urat nadi wilayah Bagelen, yaitu Sungai Bagawanta, konon merupakan tempat begawan dan biksu tinggal dan bertapa. Karena itu, sungai itu dinamakan Bagawanta (dari kata begawan). Sebelumnya, berdasarkan prasasti peninggalan Wangsa Sanjaya, sungai ini bernama Ciwatukora. Dengan latar belakang semacam itu, tak ada pilihan lain bagi Sunan Kalijaga maupun Sunan Geseng untuk tidak mengakomodasi nilai Syiwa-Buddha. Apalagi dalam beberapa hal ajaran Islam dan Syiwa- Buddha juga memiliki kesamaan. Memang, karakter khas warga Bagelen kini tak sekental dimasa lalu. Bahkan, secara geografis pun wilayah Bagelen mengerdil. Bila dulu pada masa sebelum tahun 1830 wilayahnya meliputi Berangkal (kini Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Ngaran (Kebumen), dan Karangduwur (Wonosobo bagian selatan), tetapi setelah tahun 1830 Bagelen tinggal wilayah seluas empat kecamatan disebelah timur Purworejo. Pengerdilan wilayah Bagelen ini tak terlepas dari upaya Belanda menghentikan perlawanan sisa pengikut Pangeran Diponegoro di wilayah ini. Namun demikian, tradisi Islam-Jawa dalam banyak hal masih tampak. Legimin (66), sesepuh Desa Bagelen, Sabtu (28/1), mengatakan, setiap Jumat Kliwon, Selasa Kliwon, dan Kamis Wage, warga Bagelen mengadakan ritual sesaji kepada leluhur. Biasanya mereka mengunjungi petilasan Nyai Ageng Bagelen di Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. “Mereka yang ke petilasan itu tidak hanya yang Kejawen, tetapi juga yang beragama Islam, bahkan Nasrani. Mereka menghormati Nyai Ageng Bagelen sebagai leluhur. Dan, meminta kepada Allah supaya Bagelen selamat dan sejahtera,” tuturnya. Pada bulan Sura ini, warga Bagelen, baik yang beragama Islam atau penganut Kejawen, melakukan jamasan pusaka. Mereka juga mengunjungi petilasan pepunden, seperti petilasan Nyai Ageng Bagelen, Banyu Urip, petilasan Sunan Geseng dan pepunden yang lain. Memang, tradisi Islam-Kejawen di Bagelen kini kian tergerus modernitas yang memasuki relung kehidupan di wilayah ini.&lt;br /&gt;
Oleh M Burhanudin &lt;br /&gt;
Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/30/jateng/30793.htm</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2010/01/potret-sebuah-akulturasi-islam-jawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-7300087997680698358</guid><pubDate>Thu, 31 Dec 2009 03:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-30T20:21:52.610-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><title>Peninggalan Sejarah Pada Masa Hindu - Budha</title><description>Setelah agama hindu berkembang di tanah Bagelen, daerah sepanjang aliran sungai besar yang sekarang dikenal dengan Bagawanta merupakan bagian penting dari Kerajaan Mataram Hindu. Sungai besar yang mengalir sejak kaki gunung Sumbing terus melingkar, bagaikan ular raksasa dan bermuara di samudera Hindia, dahulu kala dikenal sebagai sungai Watukura. Seorang pengembara dari Jawa Barat bernama Pujangga Manik dalam naskah kuno bahasa Sunda yang ditulisnya, secara jelas dan rinci menyebutkan nama-nama tempat sepanjang pulau jawa dan menyatakan bahwa sungai besar tersebut bernama Watukura. Daerah sepanjang aliran sungai itu merupakan daerah pelungguhan raja Mataram Kuno terbesar yaitu Dyah Balitung, seorang raja yang kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali bahkan hubungan internasionalnya hingga mencapai Madagaskar – Afrika. &lt;br /&gt;
Di sepanjang kedua tepi aliran sungai tersebut dahulu kala banyak terdapat bangunan- bangunan suci berupa kuil dan candi. Bekas- bekas bangunan tersebut terdapat antara lain di dusun Jetak (Maron), Mudalrejo (Loano), Baledono (Purworejo), Tambak, Boro, Bagelen dan dekat muara sungai tersebut sampai sekarang masih terdapat daerah bernama Watukura, yang disebut- sebut sebagai tempat mekdis penjenazahan leluhur raja Dyah Balitung. Bangunan- bangunan suci dikedua tepi aliran sungai tersebut terbuat dari batu dan bata merah dan diduga dilengkapi pula dengan bagian- bagian lain yang terbuat dari bahan bangunan non permanen. Merupakan bangunan suci agama hindu (siwa) dan budha. Oleh karena banyak pendeta yang berada di tepi sungai Watukura maka sungai itupun dinamakan sungai Bagawanta, yang artinya sungai tempat para bagawan (pendeta) berada. Atau bisa diartikan sebagai tempat para pendeta kerajaan berada, sebab sampai sekarang di pulau Bali masih terdapat para pendeta kerajaan yang di sebut bagawanta.&lt;br /&gt;
Dari sisa –sisa bangunan yang masih ada di Bagelen dan dukuh Keposong desa Kalirejo, kecamatan Bagelen terdapat bekas candi budha. Di dua tempat tersebut sekarang masih bisa dilihat fragmen monumen berupa stupa. Ada dugaan di dua tempat tersebut dahulu merupakan situs candi yang cukup besar. Bekas- bekas bangunan suci siwais yang masih ada sisanya antara lain terdapat di Kalongan (Loano), Baledono, Goa Seplawan (desa donorejo kecamatan Kaligesing), rangakaian goa- goa antara lain goa Gong, goa Lawang dan goa Silumbu di kecamatan Pituruh dan Kemiri. Bekas candi batu merah di kecamatan Ngombol, bekas tempat pemujaan di bukit Kaliwatubhumi desa Lugu kecamatan Butuh, bekas peninggalan kuno di Banyuurip, Purwodadi, Semagung (Bagelen). Di daerah –daerah yang dahulu masuk dalam wilayah Bagelen terdapat bekas bangunan monumen yang berupa siwais, tempat-tempat tersebut antara lain: Kutowinangun, Ambal, Somolangu (Kebumen) dan Logending (Ayah).</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/peninggalan-sejarah-pada-masa-hindu.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-8445724025299112787</guid><pubDate>Thu, 31 Dec 2009 03:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T22:00:33.348-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani</title><description>Jenderal TNI Anumerta Achmad Yani lahir di Purworejo, 19 Juni 1922. Pendidikan formal diawalinya di HIS (setingkat Sekolah Dasar) di Bogor yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (setingkat Sekolah Menegah Pertama) kelas B Afd. Di Bogor, dari sana ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) bagian B Afd. Di Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas dua, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Achmad Yani kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan secara lebih intensif di Bogor. Dari sana ia mengawali karir militernya dengan pangkat Sersan. Kemudian setelah tahun 1942 yakni setelah pendudukan Jepang di Indonesia, ia juga mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan. Achmad Yani berhasil menyita senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia diangkat menjadi Komandan TKR Purwokerto. ketika Agresi Militer Pertama Belanda terjadi, pasukan Achmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan Belanda di daerah tersebut. Maka saat Agresi Militer Kedua Belanda terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk melawan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang membuat kekacauan di daerah Jawa Tengah. Ketika itu dibentuk pasukan Banteng Raiders yang diberi latihan khusus hingga pasukan DI/TII pun berhasil dikalahkan. Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia kembali ke Staf Angkatan Darat.&lt;br /&gt;
Pada tahun 1955, Achmad Yani disekolahkan pada Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA selama sembilan bulan. Pada tahun 1956, ia juga mengikuti pendidikan selama dua bulan pada Spesial Warfare Course di Inggris. Tahun 1958 saat pemberontakan PRRI terjadi di Sumatera Barat, Achmad Yani yang masih berpangkat Kolonel diangkat menjadi Komandan Komando Operasi 17 Agustus untuk memimpin penumpasan pemberontakan PRRI dan berhasil menumpasnya. Hingga pada tahun 1962, ia diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Achmad Yani selalu berbeda paham dengan PKI (Partai Komunis Indonesia). Ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai. Oleh karena itu, ia menjadi salah satu target PKI yang diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI Angkatan Darat melalui Pemberontakan G30S/PKI (Gerakan Tiga Puluh September/PKI). Achmad Yani ditembak di depan kamar tidurnya pada tanggal 1 Oktober 1965 (dinihari). Jenazahnya kemudian ditemukan di Lubang Buaya, Jakarta Timur dan dimakamkan secara layak di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Achmad Yani gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkat sebelumnya sebagai Letnan Jenderal dinaikkan satu tingkat (sebagai penghargaan) menjadi Jenderal&lt;br /&gt;
Pendidikan Formal :&lt;br /&gt;
HIS (setingkat SD) Bogor, tamat tahun 1935&lt;br /&gt;
MULO (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun 1938&lt;br /&gt;
AMS (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun 1940&lt;br /&gt;
Pendidikan Militer :&lt;br /&gt;
Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang&lt;br /&gt;
Pendidikan Heiho di Magelang&lt;br /&gt;
Tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor&lt;br /&gt;
Command and General Staf College di Fort Leaven Worth, Kansas, USA, tahun 1955&lt;br /&gt;
Spesial Warfare Course di Inggris, tahun 1956&lt;br /&gt;
Jabatan terakhir : Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) sejak tahun 1962&lt;br /&gt;
Bintang Kehormatan :&lt;br /&gt;
Bintang RI Kelas II&lt;br /&gt;
Bintang Sakti&lt;br /&gt;
Bintang Gerilya&lt;br /&gt;
Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II&lt;br /&gt;
Satyalancana Kesetyaan VII, XVI&lt;br /&gt;
Satyalancana G:O.M. I dan VI&lt;br /&gt;
SUMBER: www.ghabo.com dari Hari Sudarmono dengan beberapa perubahan.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/jenderal-tni-anumerta-achmad-yani.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-6342822389373025770</guid><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 01:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-13T18:38:08.990-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tempat wisata</category><title>Goa Silembu dan Goa Silawang Yang Bersejarah</title><description>Goa –goa Bersejarah&lt;br /&gt;
Desa Kaliglagah yang terletak di kecamatan Kemiri, kabupaten Purworejo, dengan luas 270 hektar berada di pegunungan dengan ketinggian 50 M dpl. Jarak tempuh dari ibukota kabupaten mencapai 29 KM, sedangkan dari ibukota kecamatan kemiri hanya 11 KM. Hal yang tersimpan di desa itu antara lain potensi wisata Goa Silembu dan Goa Silawang yang sampai sekarang belum diketahui sejarah pastinya. Potensi wisata Goa Silembu sebenarnya sangat menarik untuk dikaji, bahkan sampai sekarang belum ada yang berhasil menguak sejarah sejarah goa Silembu secara pasti. Goa Silembu yang dibuat pada abad ke 8 pada masa kerajaan Hindu merupakan aset arkeologi kabupaten Purworejo. Adanya lingga dan yoni didalam goa sebagi tempat pemujaan, bahkan goa terbagi menjadi dua bagian menandakan bahwa goa Silembu menyimpan sejarah kehidupan pada zaman itu.&lt;br /&gt;
 Goa Silawang yang tidak jauh lokasinya mempunyai keterkaitan pula dengan goa Silembu. Di dalam goa Silawang lingga dan yoni terdapat tempat pemujaan yang masih nampak utuh, dan dari 3 pintu goa yang masih tersisa hanya 2 pintu goa yang dapat dimasuki oleh pengunjung. Bahkan diperkirakan oleh peneliti arkeologi UGM kalau di desa Kaliglagah masih ada goa sejenis yang belum dapat ditemukan keberadaannya yang tidak jauh dari goa Silembu.&lt;br /&gt;
Adanya makam- makam desa Kaliglagah juga menyimpan misteri sejarah desa seperti makam Mbah Sapujangga, Trangguli, Suji, Jangkung dan Mbah Prajurit yang kesemuanya makamnya mengitari desa dan menandakan desa Kaliglagah mempunyai misteri yang belum terungkap. Dan yang menarik diperkirakan masih ada sekelompok kawanan kera abu- abu yang berada di pegunungan atau bukit- bukit desa Kaliglagah.&lt;br /&gt;
Mitos Kera desa Kaliglagah&lt;br /&gt;
Menurut salah seorang tetua desa Kaliglagah Mbah Kromorejo, dulu ratusan kera masih sering berkeliaran di sekitar desa. Namun sekarang sudah tak pernah terlihat lagi, meskipun demikian sampai sekarang penduduk masih meyakini kalau kawanan kera itu masih ada sekalipun jumlahnya tinggal puluhan. Menurut mbah Kromorejo, kawanan kera itu mempunyi tabiat aneh layaknya manusia.Sebab suatu ketika ada seorang perempuan yang masuk hutan sendirian dan diperkosa oleh kera namun tidak dibunuh.  Kejadian itu tidak hanya sekali terjadi di hutan Kaliglagah. Sehingga sampai kini masih diyakini ada di hutan Ngigir, sehingga perempuan yang masuk hutan harus berhati- hati. Sebenarnya untuk memasuki kawasan pegunungan di perbukitan Kaliglagah bisa menjadi kegiatan wisata lokal yang cukup menyenangkan. Kawasan hutan pinus, lereng- lereng bukit yang cukup terjal, menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Apalagi di sebelah timur bukit pada waktu musim hujan dapat dilihat air terjun yang cukup indah, namun air terjun tersebut masuk wilayah desa Sukogelap. Berbagai potensi yang dimiliki oleh desa Kaliglagah cukup banyak diantaranya tanaman kapulogo, gadung dan batu split. Kapulogo banyak tumbuh di sela- sela hutan pinus dan lahan lainnya, bahkan kapulogo mempunyai prospek cerah. Tanaman gadung banyak dijumpai di Kaliglagah. Kalau musim kemarau masyarakat Kaliglagah banyak yang berusaha membuat kerupuk gadung. Batu split yang juga merupakan potensi wilayah yang banyak melimpah di sepanjang sungai telah banyak memberi kesejahteraan bagi masyarakat.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/goa-silembu-dan-goa-silawang-yang.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-7378459951766583249</guid><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 00:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-13T17:50:09.443-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Sejarah Pendidikan di Tanah Bagelen</title><description>Seorang penulis Perancis Guilot C, cukup mengenal kondisi dan latar belakang sejarah tanah Bagelen akhir abad XIX. Karena pada tahun 1981 di kota Paris ia telah menulis dan menerbitkan sebuah buku kajian berjudul “L ‘Affair Sadrach Essai de Christianisation a Java ou XIXe  siecle”. Buku ini pada tahun 1985 sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kyai Sadrach, Riwayat Kristenisasi di Jawa”. Buku ini meriwayatkan bagaimana perkembangan agama kristen kerasulan yang berpusat di desa Karangjoso, kecamatan Butuh kabupaten Purworejo berkembang dan berpengaruh di sejumlah tempat di pulau jawa pada abad XIX. &lt;br /&gt;
Pada waktu Guilot C ditugaskan sebagai dosen yang diperbantukan UGM, ia menyempatkan datang ke Purworejo. Guilot mengungkapkan bahwa kedatangannya di Purworejo dalam rangka mencari letak pesantren- pesantren kuno yang banyak tersebar di tanah Bagelen dalam rangka penelitian untuk mencari dimana pusat pembuatan kertas “ delancang” berada. Delancang adalah sejenis kertas berkualitas prima dengan ketebalan kira-kira 180 gram terbuat dari kulit kayu, yang pada abad ke XIX dan mungkin juga sebelumnya banyak digunakan untuk pembuatan dokumen dan surat menyurat, karena pada waktu itu masih ditulis dengan “pentutul”, atau pena yang dicelupkan pada botol atau tempat tinta. Dari pengungkapan Guilot dapat diketahui bahwa tanah Bagelen di luar sudah sangat terkenal dengan pesantrennya. Bahkan yang cukup ekstrem menurt K.H N Arifin Husein,MBA, seorang Kyai Muda di Semarang yang tenar sebagai panglima laskar berani matinya Gus Dur, bahwa ada semacam kepercayaan dibeberapa tempat, untuk bisa menjadi besar dan tenar sebelum menjadi seorang Kyai, seseorang perlu lebih dahulu mondok dan menimba ilmu di pesantren-pesantern tanah Bagelen. Kebenaran dan kepercayaan tersebut bukan mustahil antara lain disebabkan oleh tuanya usia pendidikan islam berbentuk pondok pesantren di wilayah Bagelen. Dari telah sejarah perkembangan agama islam di pulau jawa setelah Demak, adalah tanah Bagelen sebelah timur sungai Lukulo yang merupakan wilayah kedua yang mengalami islamisasi. Mubaligh yang terkenal dalam pengembangan agama islam tersebut adalah sunan Geseng.&lt;br /&gt;
Maka tidak heran jika di desa Watubelah atau daerah lain di wilayah Loano yang semula bernama Watutihang atau sekarang Salatiang terdapat pesantren tua di tanah Bagelen. Pada perkembangan selanjutnya berkembanglah pesantren-pesantren di daerah Bruno, Somolangu, Ngemplak, Sidomulyo, Mlaran, Maron,Berjan, dan Bulus .&lt;br /&gt;
Sejarah pendidikan yag lebih tua terselengara pada zaman klasik hindu sekalipun belum ada bukti tertulis tentang hal tersebut, namun dari situs peninggalan masa klasik hindu seperti yang ada di daerah kecamatan Kemiri dan Pituruh, jelas menunjukkan adanya bekas semacam asrama dalam bentuk serangkaian goa buatan manusia terletak tidak jauh dari aliran sungai.  Goa -goa tersebut dilengkapi dengan sarana ritual terbuat dari batu monolith yang ada di daerah India Selatan. Sistem asrama seperti yang bekasnya masih ada di kecamatan Kemiri tersebut bukan mustahil adalah cikal bakal dari padepokan, suatu sitem pendidikan budi luhur spiritual kejawen yang menurut suatu penelitian banyak berpusat di tanah Bagelen.&lt;br /&gt;
Sejarah pendidikan secara barat, terjadi pada paska perang jawa (1925-1930). Karena perang telah usai, daerah Kedungkebo, komplek militer yang didirikan sebagai basis garnisun pasukan Belanda di tanah Bagelen dikembangkan menjadi sebuah kota modern. Sekolah dasar pertama yang didirikan adalah sekolah dasar pendidikan militer untuk anak- anak eropa “Europesche Soldateen School”. Sekolah dasar untuk anak- anak pribumi “Inlandsche School” atau dikenal sebagai “Provinciale School” yang dibangun di belakang gereja kristen di kampung Plaosan di timur alun- alun Purworejo. Pada awal abad ke XX, tercatat peristiwa penting di bidang pendidikan ala barat, yaitu didirikannya sekolah pendidikan guru “Holand Kuik School”. Komplek bangunan ini didirikan di bekas tanah lapangan atau alun- alun selatan setelah Kedungkebo digabung dengan Brengkelan yang waktu itu masih masuk wilayah kabupaten Tanggung (Ketanggung) menjadi kota baru purworejo. Komplek bangunan sekolah HKS ini cukup luas, selesai dibangun tahun 1905 dilengkapi dengan asrama dan perumahan guru,. Dihalamannya dahulu banyak ditanam pohon-pohon langka. HKS adalah lembaga pendidikan langka, karena diseluruh pulau jawa, pada waktu itu hanya tercatat 2 atau 3 lembaga serupa. Kemegahan bagunan dan singkatan HKS tersebut malah ada yang menafsirkan sebagai “Holand Koningen School”,  atau sekolah raja atau kerajaan. Dengan adanya HKS tersebut, ternyata banyak melahirkan kaum intelek di kalangan pribumi, yang kemudian mempunyai kesadaran nasioanal sehingga terlibat dalam aktivitas yang dikemudian hari dikenal sebagai kebangkitan nasional. Oleh sebab itu tidak mengherankan kalau di tanah Bagelen lahir dan muncul tokoh- tokoh nasional dari berbagai aliran politik, ada yang nasionalis, agamis sosialis sampai komunis. Oleh karena itu bangunan HKS yang sekarang digunakan sebagai gedung SMA 7 Purworejo termasuk bangunan cagar budaya, bukan saja karena latar belakang sejarahnya namun karena juga mempunyai bentuk arsitektur khas, yang harus dijaga kebersihan dan keutuhannya. Karena bisa disebut sebagai monumen pendidikan. Sayang sejumlah buku koleksi perpustakaan tersenut pada masa orde baru karena dianggap sebagi buku terlarang telah dimusnahkan. Menurut catatan Purworejo paska perang kemerdekaan merupakan kabupaten atau ibukota kabupaten pertama yang diberi sekolah menengah atas negeri. Berkat perjuangan para bekas tentara pelajar yang didelegasikan lewat Pamuji tokoh masyarakat Purworejo yang berangkat mengahadap Menteri pendidikan dan kebudayaan di Jakarta. SMA negeri itu terkenal juga sebagai “Monumen Hidup TP Kedu Selatan” dimana sebagian dari mereka kemudian juga menjadi tenaga pengajar di sekolah tersebut. Selain itu kabupaten Purworejo pernah ditunjuk pula sebagai kabupaten pertama yang melakukan “wajib belajar” pada sekitar tahun 1956. Hal ini dikenang dengan tugu belajar yang didirikan di 3 wilayah. Antara lain; di dekat jembatan perbatasan Kebumen - Purworejo. Di depan kantor kecamatan Bener dan di depan kantor Dinas Pendidikan kabupaten Purworejo. Namun tugu peringatan itu sekarang seolah hanya tonggak yang tidak mempunyai makna dan fungsi apapun karena tulisan (prasasti) yang tertulis sudah dihilangkan oleh cat dan kerusakan lain. &lt;br /&gt;
Oleh : Radix Penadi</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/sejarah-pendidikan-di-tanah-bagelen.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-987212924595288050</guid><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 00:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T22:01:25.109-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>WR. Supratman dan Kontroversi Kelahirannya</title><description>Wage Rudolf Supratman adalah “sang maestro” lagu kebangsaan “Indonesia raya”. Namun dalam perjalanan sejarah terdapat kontroversi mengenai dirinya diantaranya mengenai hari kelahiran dan tempat kelahirannya.&lt;br /&gt;
Mengenai kelahirannya ada 2 versi yaitu:&lt;br /&gt;
1. Senin wage 9 Maret 1903 versi ini tercantum dalam amar putusan Pengadilan Negeri Surabaya ketika kakak-kakaknya mengajukan penetapan ahli waris, karena ada seorang wanita dari Rembang yang mengaku sebagai istri WR Supratman. Tanggal 9 Maret akhirnya oleh pemerintah dijadikan hari musik Nasional saat Presiden RI dijabat oleh Megawati Soekarnoputri.&lt;br /&gt;
2. Kamis wage 19 Maret 1903 versi ini muncul dari sejumlah saksi ketika diperiksa dalam Pengadilan Negeri Purworejo, diungkapkan bahwa Ibu Siti Senen, ibu kandung WR Supratman dalam keadaan mengandung tua pulang ke desa asalnya yaitu Somongari pada hari kamis wage dan kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki. &lt;br /&gt;
Namun dalam sejarah yang banyak ditulis mengakui bahwa WR Supratman lahir tanggal 9 Maret 1903.&lt;br /&gt;
Versi tempat kelahiran WR. Supratman :&lt;br /&gt;
1. Di “Maester Cornelis” atau sekarang Jatinegara, Jakarta 9 Maret 1903 versi ini dikutip dari penulis Matu Mona dan penulis Abdullah Puar. Versi ini bersumber dari jawaban surat yang diterima Matu Mona dari Ny. Rukiyem Supratinah (kakak WR.Supratman) yang ditulis oleh Urip Supardjo (adik WR. Supratman).&lt;br /&gt;
2. Di dukuh Trembelang, desa Somongari, kecamatan Kaligesing, kabupaten Purworejo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua pendapat mengenai tempat kelahiran WR Supratman  telah berupaya dijernihkan oleh PEMDA kabupaten Purworejo, melalui berbagai penelitian dan diskusi yang melibatkan pihak- pihak terkait sejak beberapa puluh tahun lalu. Sampai akhirnya diyakini bahwa WR Supratman memang lahir di desa Somongari. Untuk itu kemudian PEMDA Purworejo mendirikan monumen WR. Supratman, GOR WR Supratman serta jalan WR. Supratman sebagai bentuk penghargaan dan kebanggaan terhadap salah satu putera terbaiknya. &lt;br /&gt;
Sejarah versi Purworejo&lt;br /&gt;
Melalui serangkaian penelitian dan diskusi tentang asal usul kelahiran WR. Supratman, PEMDA Purworejo merasa yakin bahwa pencipta lagu Indonesia Raya itu lahir di Purworejo. Dia lahir dari seorang wanita bernama Mbok Senen, dari hasil perkawinannya dengan Partodikromo, seorang pribumi yang menjadi serdadu Belanda berpangkat kopral. Mbok Senen merupakan perempuan kelahiran Somongari, namun kemudian tinggal di Cimahi, Bandung untuk mengikuti tugas suaminya. Di Cimahi itu pula lahir ketiga anak perempuan yang merupakan kakak- kakak WR Supratman yaitu Soepratijah, Soepratinah dan Soepratijem. Namun kemudian mengandung anak keempat, mbok Senen purik (Pergi) dari suaminya dan kembali ke Somongari. Di tempat kelahirannya tepatnya dirumah kakeknya bernama Soprono, mbok Senen melahirkan seorang anak lelaki pada suatu hari pasaran wage di tahun 1903. Karena itulah anak lelaki itu kemudian diberi nama Wage sesuai hari pasarannya. Namun Wage kecil dan ibunya tidak lama di Somongari, karena Soepartijah anak tertua mbok Senen membawanya ke Jatinegara beserta mbok Senen. Pada saat itulah Soepartijah telah menikah dengan seorang Belanda bernama Rudolf Eldiek. Setelah berkumpul dengan keluarga barunya nama Wage ditambahi menjadi Rudolf Supratman dan dibuatkan keterangan lahir atau “ Geeborte Akte” di Jatinegara yang pada waktu itu bernama Maester Cornelis. &lt;br /&gt;
Dari sinilah nampaknya permasalahan itu muncul, apalagi kemudian ada sumber tertulis yaitu dari Pengadilan negeri Surabaya yang mengabulkan permohonan untuk ahli waris WR Supratman pada tahun 1958. Dalam surat tersebut dinyatakan bahwa WR Supratman lahir di Jatinegara tahun 1903, padahal biasanya sejarah ditulis berdasarkan sumber- sumber tertulis yang dianggap lebih faktual dibanding keterangan saksi- saksi hidup. Sehingga dalam perkembangannya sejarah menulis WR Supratman lahir di Jatinegara (Jakarta) bukan Purworejo. Namun demikian nampaknya akan lebih bijaksana apabila keterangan saksi hidup juga menjadi pertimbangan. Mengingat sumber-sumber tertulis (apalagi hanya satu dua) bisa saja dalam proses pembuatannya dipengaruhi oleh faktor- faktor tertentu. Seperti apa yang diungkapkan oleh Separdjo (adik tiri WR Supratman) bahwa pernyataan WR Supratman lahir di Jatinegara bukan di Somongari dimaksudkan untuk menjaga gengsi saja.&lt;br /&gt;
Kisah hidupnya&lt;br /&gt;
Setelah menjadi anak angkat keluarga Rudolf Eldik, WR Supratman disekolahkan di sekolah Belanda. Menurut beberapa sumber nama Rudolf diberikan untuk mempermudah memasukkan ke sekolah Belanda. Sementara sumber lain menyebutkan nama Rudolf itu muncul karena pada saat memainkan sandiwara untuk kepentingan amal, ia memerankan tokoh bernama Rudolf. Kepandaiannya bermain musik, membuat dirinya menjadi seorang komponis yang berhasil menciptakan sebuah mahakarya yakni “Indonesia Raya”. Meski dibesarkan dilingkungan yang sebagian besar orang Belanda, namun jiwa patriotisme WR Supratman tetap kental. Sekitar tahun 1926-1930 WR Supratman telah mengunjungi Somongari dua kali, banyak saksi hidup yang sempat dimintai keterangan yang melihat kedatanganWR Supratman. Karena kondisi ekonomi yang pas- pasan WR Supratman sering sakit- sakitan. Oleh saudara- saudaranya ia disarankan untuk istirahat di tempat kakaknya di Pemalang dan kemudian ke Surabaya. Pada tanggal 17 Agustus 1938 WR Supratman menghembuskan nafas terakhir di Surabaya. Beliau meninggal sebagai salah satu pahlawan yang jasanya tak akan pernah dilupakan oleh segenap rakyat.&lt;br /&gt;
Sumber: Kiprah Edisi agustus 2001 hlm.,5-6. &amp; Wikepedia dengan beberapa perubahan.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/wr-supratman-dan-kontroversi.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-4196582539538661611</guid><pubDate>Mon, 14 Dec 2009 00:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-13T17:43:26.142-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pahlawan</category><title>WR Supratman Putera Daerah Purworejo</title><description>Kelahiran dan Masa di Makassar&lt;br /&gt;
Wage Rudolf Supratman adalah salah satu putera terbaik Purworejo, namanya selalu dikenang sepanjang masa oleh Bangsa Indonesia. Dengan mahakaryanya yang luar biasa yang selalu berkumandang di bumi Indonesia berupa lagu kebangsaan Indonesia Raya. WR merupakan singkatan dari Wage Rudolf, wage merupakan hari kelahiran dalam pasaran orang jawa sedangkan Rudolf adalah nama panggilannya karena saat itu WR Supratman dapat memerankan tokoh Rudolf dengan baik dalam sebuah drama di kota Makassar ketika ikut kakak iparnya. Ayahnya bernama Senen, seorang sersan Batalyon VIII. Saudara WR Supratman berjumlah enam satu laki- laki dan lainnya perempuan. Salah satu kakaknya bernama Roekijem. &lt;br /&gt;
Pada tahun 1914 wage ikut Roekijem ke Makassar, disana ia disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem bernama Willem van Eldik seorang indo kelahiran Jawa Timur. Wage lalu belajar bahasa Belanda disekolah malam selama 3 tahun, kemudian melanjutkan ke Normaalschool di Makassar hingga selesai. Ketika berumur 20 tahun, lalu dijadikan guru di sekolah angka 2, dan dua tahun selanjutnya mendapat ijazah Klien Ambtenaar. Roekijem sangat gemar sandiwara dan bermain musik, banyak karangannya yang dipertunjukkan di mes militer. Selain itu Roekijem juga senang bermain biola, karena kegemaram kakaknya inilah yang membuat wage juga senang bermain musik dan membaca- baca buku musik. Selama di Makassar inilah Wage mendapat pelajaran musik dari kakak iparnya Willem van Eldik, sehingga pandai bermain biola dan kemudian bisa menggubah lagu. Sehingga ketika tinggal di Jakarta suatu kali ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul. Penulis karangan itu menantang ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Wage tertantang, kemudian mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924 lahirlah lagu Indonesia Raya.&lt;br /&gt;
WR Supratman Sebagai Wartawan&lt;br /&gt;
Beberapa waktu lamanya wage bekerja pada sebuah perusahaan dagang. Dari Ujung Pandang, ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan. Pekerjaan itu tetap dilakukan pada waktu ia pindah ke Jakarta. Wage ketika itu baru berusia 25 tahun bekerja sebagai wartawan surat kabar Sin Po, sebuah surat kabar yang diterbitkan kalangan Tionghoa di Jakarta dan menaruh simpati terhadap kaum pergerakan. Di surat kabar ini wage bekerja sebagai wartawan lepas yang dibayar berdasarkan jumlah berita atau tulisan yang dimuat. Hal ini dilakukan karena sejak beberapa tahun di kota Bandung, wage setelah susah payah mencari pekerjaan mengalami kegagalan. Dengan gaji yang pas- pasan akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan di Sin Po. Dalam kedudukannya sebagai wartawan itulah wage bisa berkenalan dengan tokoh- tokoh pergerakan, mewawancarai, berdiskusi dan menganalisis situasi pergerakan. Kongres pemuda yang diselenggarakan baik pertama maupun kedua tidak lepas dari perhatian dan liputannya. Ketika itu pemerintah hindia Belanda semakin ketat melakukan pengawasan dan penindasan terhadap gerak- gerik kaum pergerakan. Apalagi pada tahun 1926 dan 1927 baru saja meletus pemberontakan dan kerusuhan di berbagai tempat. Sekalipun dalam kondisi yang pas- pasan, namun wage yang dekat dengan kaum pergerakan tidak tinggal diam melihat ulah pihak Belanda yang melakukan penindasan. Untuk itu wage tidak segan- segan melakukan kecaman terhadap tindakan polisi penguasa, bahkan terhadap polisi Belanda yang melakukan penamparan pada seorang sais dokar, wage dengan tajam menurunkan berita kontrol dan mengkritik habis- habisan. Wage melalui tulisannya minta agar polisi Belanda tersebut ditindak oleh atasannya. Rasa tidak senang terhadap penjajahan Belanda mulai tumbuh dan akhirnya dituangkan dalam buku “Perawan Desa”. Namun kemudian buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda. Supratman kemudian dipindahkan ke kota Singkang. Disitu tidak lama lalu minta berhenti dan pulang ke Makassar lagi.&lt;br /&gt;
Dari Lagu ke Lagu&lt;br /&gt;
“Indonesia Raya”&lt;br /&gt;
Lagu “Indonesia” diciptakan wage untuk memenuhi tantangan zaman, karena ditengah maraknya kebangkitan nasionalisme sangat diperlukan adanya lagu perjuangan yang mampu membangkitkan semangat rakyat. Bahkan Soekarno tokoh PNI pada waktu itu, dalam pidatonya menyebutkan perlunya lagu kebangsaan. Kalimat yang berbunyi  “Airnya yang kau minum, nasinya yang kau makan, hawanya yang kau hirup. Karena itu, kita semua harus mengabdi kepadanya, kepada ibu pertiwi. Kepada ibu Indonesia!”. Kalimat- kalimat itulah yang sangat mempengaruhi wage. Bahkan menurut suatu sumber, Bung Karno secara pribadi pernah menghubunginya dan menyatakan perlunya suatu lagu kebangsaan untuk pergerakan nasional. Atas dorongan itulah akhirnya wage seorang jurnalis yang serba kekurangan di bilik yang sempit di gang Kenari, Jakarta yang disewanya, hanya dengan penerangan lampu minyak, mencurahkan daya ciptaannya melahirkan sebuah lagu ditengah malam sepi, yang akhirnya diberi judul “Indonesia”. &lt;br /&gt;
Dalam kongres II wage meminta izin untuk memperdengarkan lagu ciptaanya berjudul “Indonesia”. Karena dalam kongres tersebut telah terjadi dua kali insiden dan polisi Belanda mengancam akan mengambil tindakan, gara- gara ada peserta yang menggunakan kata- kata “kemerdekaan”. Maka Sugondo sebagai pimpinan sidang hanya mengizinkan wage memperdengarkan lagunya saja, dan tidak dinyanyikan syairnya, karena Sugondo dalam teks banyak melihat syair yang menyebutkan nama Indonesia, padahal kongres berjalan dengan pengawasan ketat dan dihadiri seorang komisaris polisi Belanda. Suasana hening ketika Sugondo minta perhatian sidang, untuk mendengarkan lagu yang dimainkan dengan biola oleh wage. Itulah lagu “Indonesia” yang kemudian hari dikenal sebagai “Indonesia Raya”. Kongres II itulah  yang kemudian melahirkan sumpah imemperdengarkan lagu tersebut untuk pertama kalinya dengan biolanya, hadirin peserta kongres pemuda tertegun dan tepuk tanganpun terdengar disertai seruan- seruan: Bis!, Bis!, Bis!, yang artinya hadirin minta lagu tersebut untuk diulangi. Diluar acara kongres, Sugondo Joyopupito ketua persidangan memberi tahu, bahwa seorang gadis kecil berusia 15 tahun, Dolly anak perempuan Agus Salim yang pada waktu itu menjadi anggota Nationale Islamitische Padvinderej (Natipy) akan menyanyikan lagu ciptaan wage tersebut. Dengan berpakaian pandu (pramuka), gadis kecil itupun ke mimbar dan naik diatas kursi agar dapat terlihat dari belakang, setelah mengambil suara di luar kepala dengan suara lantang tanpa iringan musik menyanyikan lagu “Indonesia”. Hadirin menjadi sangat terpesona dan tergugah rasa kebangsaannya tatkala Doly sampai pada syair yang berbunyi “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka? Tanahku negeriku yang kucinta Indones, Indones, Merdeka, Merdeka, Hiduplah Indonesia Raya. Sejak saat itulah lagu “Indonesia” menjadi terkenal dan dihafalkan dan dinyanyikan oleh kaum pergerakan serta murid – murid sekolah di luar sekolah Gubernemen.&lt;br /&gt;
 Sementara ini harian Sin Po tempat wage bekerja, melihat antusias para pemuda dan kaum pergerakan terhadap lagu tersebut telah mempublikasikannya dalam penerbitan sehingga itupun menjadi tersiar lebih luas. Bahkan karena besarnya perhatian masyarakat, sin Po memperbanyak jumlah cetakannya. &lt;br /&gt;
“Dari Barat Sampai Timur”&lt;br /&gt;
Sebagai seorang jurnalis nasionalis yang berbakat musik, menyambut pergerakan keras yang meletus tahun 1926, diciptakan sebuah lagu mars berjudul “dari barat sampai timur”. Inilah lagu pertama ciptaan wage yang kemudian hari sangat populer dan banyak dinyanyikan pasukan kita tatkala maju ke medan perang. Lagu ini menurut beberapa orang mirip dengan lagu kebangsaan Perancis “La Marseillaise”.&lt;br /&gt;
“Matahari Terbit” &lt;br /&gt;
Dalam keadaan melarat serba kekurangan dan tidak mempunyai pekerjaan tetap, wage menjadi sosok yang diawasi ketat oleh PID, karena pada waktu itu pemerintahan Belanda berusaha keras memadamkan api perjuangan yang sudah dikobarkan di kalangan bangsa Indonesia. Oleh karena itu kaum pergerakan diawasi dan dikejar – kejar dan ditekan. Wage ditangkap dan dibawa ke “Hopbiro” atau kantor polisi, diangkut dengan naik sepeda motor bersayap, karena lagunya dicurigai berkaitan dengan jepang, satu kekuatan negara asia menentang kejayaan barat waktu itu. Karena lambang Dai Nippon adalah matahari terbit, sedangkan lagu matahari terbit adalah judul ciptaan seorang seniman yang isinya menggugah segenap bangsa Indonesia untuk segera bangun dari tidurnya, bangkit untuk melihat kemulyaan tanah air. &lt;br /&gt;
“matahari sudah terbit putera ibu lekas bangun!Lihat cahaya yang mulia, lekas bangun, lekas bangun.&lt;br /&gt;
Hai puteraku yang berbudi, putera ibu yang sejati, mari lihat cahaya mulya Indonesia tanah airku”.&lt;br /&gt;
Di dalam sebuah bilik kecil di sebuah rumah gang mangga di kawasan Tambaksari, Surabaya sesosok tubuh laki- laki kerempeng tergolek dalam keadaan sakit parah. Melihat wajahnya yang pucat itu, laki- laki tersebut tergolong masih muda, ia baru saja keluar dari tahanan PID (Polisi Pengawas Keamanan) pemerintah Belanda gara- gara sebuah lagu ciptaanya “matahari Sudah Terbit” yang disiarkan lewat sebuah stasiun radio swasta dalam acara “padvinderstuur” atau jam pramuka. &lt;br /&gt;
WR Supratman &lt;br /&gt;
Akibat menciptakan lagu Indonesia Raya, ia selalu diburu oleh polisi Hindia Belanda hingga jatuh sakit di Surabaya.karena lagu ciptaannya yang terakhir “Matahari Terbit” pada awal Agustus 1938, ia ditangkap ketika menyiarkan lagu tersebut bersama pandu- pandu di NIROM jalan Embong Malang- Surabaya dan ditahan di penjara Kalisosok- Surabaya. Ia meninggal 17 Agustus 1938 pada umur 35 Tahun. &lt;br /&gt;
Sumber Wikepedia dengan perubahan.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/12/wr-supratman-putera-daerah-purworejo.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-5799752654469801985</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T22:02:10.744-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tokoh</category><title>“Dyah Balitung Watukura”  Raja Agung dari Tanah Bagelen</title><description>Kerajaan Medang i Bhumi Mataram ketika diperintah oleh Raja Dyah Balitung Rakai Watukura kekuasaannya mencakup wilayah yang sangat luas. Meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur hingga ke pulau Bali. Dan kerajaan tersebut dikenal juga dengan nama “Galuh”. Kehidupan kerajaan Mataram pada masa itu belum banyak terungkap. Namun dari beberapa relief yang ditemukan di candi- candi di  Jawa Tengah banyak yang mencerminkan kebesaran kerajaan tersebut seperti: Borobudur dan Prambanan. Dalam sejarah Mataram Kuno, telah ada hubungan diplomatik dengan luar negeri seperti yang terungkap dalam kronik dan catatan Tiongkok. &lt;br /&gt;
Dalam sejarah Rajakula Tang (Hsin tang Shu) tahun 618-906 M, dan sejarah Rajakula Sung tahun 906-1279 M diperoleh keterangan tentang keadaan di Jawa Tengah pada waktu itu. Di dalam Hsin Tsing shu disebutkan bahwa raja tinggal di Cho’Po tetapi moyangnya yang bernama “ki- yen” berpindah ke timur ke Pu- Lu- Kia –Seu. Di sekitarnya ada 28 kerajaan kecil yang tunduk. Ada 32 pejabat tinggi yang salah satunya Ta Tso Kanhiung. Dalam catatan dinasti Sung disebutkan tiga putera raja menjadi pembantu- pembantu raja. Mereka bersama- sama mengurus soal pemerintahan bersama empat pejabat kerajaan yang bergelar Rakyan. Mereka mempunyai penghasilan tetap, dan sesekali mereka juga memperoleh hasil bumi. Disamping itu juga ada 300 pejabat sipil yang dianggap sejajar dengan “siu- tsai” di Tiongkok. Mereka bertugas mencatat penghasilan kerajaan, mereka juga mempunyai kira- kira 1000 pegawai rendahan yang bertugas mengurus benteng dan parit kota, dan lumbung- lumbung kerajaan. Para prajurit, panglima perang masing-masing mendapat 10 tail emas tiap setengah tahun. Dan ada 30.000 prajurit yang dibayar setengah tahun sekali sesuai dengan pangkat masing- masing.&lt;br /&gt;
Dyah Balitung Rakai Watukura berkuasa antara 899-910 masehi. Menurut profesor Purbacaraka Dyah Balitung adalah seorang pangeran yang berasal dari Kedu selatan (Bagelen), sebab nama Watukura dijadikan gelar pelungguhannya dan tempat tersebut merupakan nama sungai yang ada di tanah Bagelen. Bahkan sampai sekarang ada desa yang bernama Watukura yang terdapat di kecamatan Purwodadi. Dari 38 prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Dyah Balitung diketahui bahwa beliau mempunyai 4 gelar yaitu :&lt;br /&gt;
1. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu&lt;br /&gt;
2. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawasamarattungga&lt;br /&gt;
3. Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Iswarakesawotsawatungga&lt;br /&gt;
4. Janardanottungga Dyah Balitung&lt;br /&gt;
Dalam prasasti “ Watu Kuro” disebutkan adanya tempat mekdis penjenazahan di Watukura. Dyah Balitung naik tahta karena perkawinan, hal ini bisa dilhat dari gelar rakai yang dipakai seperti yang dikatakan dalam prasasti Mantyasih, sebab pada waktu menikah ia masih bergelar “haji” atau raja bawahan. Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan oleh raja Dyah Balitung, sistem perekonomian telah tertata baik. Bahkan dalam prasasti Ayam Teas yang menyebutkan Dyah Balitung sebagai Sri Maharaja dan bertiti masa 822 saka atau tahun 900 M, disebutkan desa Ayam Teas yang dijadikan sebagai tanah perdikan sebagai tempat pedagang. Tempat tersebut tidak diperbolehkan dilewati oleh para petugas pajak. Dan hanya 3 pejabat dari setiap daerah bebas yang diperbolehkan membawa secara bebas 20 ekor kerbau, 40 ekor sapi, 80 ekor kambing dan telur satu kandang dalam kendaraan. Dengan demikian jelaslah bahwa pada masa kekuasaan Dyah Balitung selain pertanian dengan sistem irigasi, tata niaga, peternakan, kerajinan dan perpajakan juga sudah berjalan secara teratur. &lt;br /&gt;
Dalam prasasti Panunggalan (818 saka) disebutkan haji Rakai Watuhumahang memberi anugerah kepada Dapunta di Kabikuan Panunggalan atas hak perdikan tanah daerah mereka. Jika benar Dyah Balitung itu anak Watuhumahang, maka kesimpulannya dia merupakan anak seorang haji bukan anak Sri Maharaja. Menurut Purbacaraka kata “dharma” (dharmmadaya mahasambhu) ditafsirkan merupakan gelar dengan kata tersebut adalah raja yang naik tahta karena perkawinan. Dalam prasasti Kubu-kubu (827 saka) tentang peresmian kubu-kubu menjadi sima, diuraikan pimpinan upacara wedhati dan makudur antara lain membanting telur dan memanggal leher ayam. Penutupannya memberi keterangan tentang Raja Dyah Balitung yang kembali ke keraton. Dalam tahun 899 Dyah balitung sudah memakai Abhiseka Sri Dharmmodaya Mahasambhu, sedangkan perkawinannya disebutkan pada prasasti 907, maka tidak mungkin perkawinan itulah yang menyebabkan dirinya menggunakan gelar. Gelar tersebut menagndung arti “ yang kebajikannya selalu meningkat dan yang maha pemurah” sehingga mungkin gelar itu dipakai karena Dyah Balitung yang berhasil membawa keluarga raja yang dipimpinnya ke puncak kekuasaan. Dyah Balitung semakin meluaskan kekuasaan sehingga kemudian bergelar Sri Iswarakesawotsawatungga atau Sri Iswarakesawasamarattungga yang artinya yang terkemuka dalam peperangan yaitu siwa dan wisnu. Pada akhir kekuasaannya dia bergelar “Garuda Muka” seperti yang disebutkan dalam prasasti Tulanan (832 saka). Mungkin saja gelar itu berkaitan dengan wisnu yang dianggap sebagai tokoh pembebas. Dalam masa kekuaasaan Dyah Balitung selain dewa-dewi siwais, menurut prasasti kedu (907 M) disebut tentang penghormatan terhadap dewa. Disebutkan bahwa dewa yang berakhiran dengan kara “ swara” seperti Pouteswara, Malangkuseswara dan Silabheseswara. Sedangkan tanah palungguhannya tempat yang bercampur dengan monumen megalitikh.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/11/dyah-balitung-watukura-raja-agung-dari.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-6917005832292575637</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T22:02:45.976-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><title>Prasasti Canggal</title><description>Berdasarkan prasasti canggal yang ditemukan di daerah Sleman disebutkan bahwa nama sebuah pulau “Yawadwipa” kaya akan padi-padian dan jewawut serta tambang emas. Mula- mula diperintah oleh seorang raja bernama Sanna, namun setelah baginda mangkat  kedudukannya digantikan oleh keponakannya bernama Sri Sanjaya, putera Sannaha saudara perempuan raja Sanna. Menurut penulis sejarah Ratu Sanjaya menakhlukkan atau mendirikan kerajaan di wilayah Bagelen. Satu abad kemudian keratonnya dipindahkan ke wilayah Wonosobo, yaitu suatu wilayah yang sangat subur dan strategis. Sanjaya adalah keturunan dari raka- raka yang bergelar syailendra. Arti syailendra adalah Syaila: batu, gunung dan indra : raja. Jadi syailendra adalah raja gunung atau tuan yang datang dari gunung. Mungkin juga tuan yang turun dari khayangan, karena menurut kepercayaan gunung merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang dan para dewata. Raja Sanjaya adalah seorang ahli kitab suci dan keprajuritan dan selama masa kekuasaannya berhasil menakhlukkan kerajaan- kerajaan di sekitarnya. Bahkan dalam “kitab Parahiyangan” yang berasal dari Jawa Barat disebutkan daerah kekuasaannya hingga Bali, Kerajaan Melayu, Kemir (kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, sedangkan negeri Tiongkok diperanginya.&lt;br /&gt;
Raja Sri Sanjaya dinilai sebagai raja besar yang sangat dihormati, karena terkenal kesohorannya di India. Bahkan hubungan kenegaraannya hingga sampai ke Afrika - Iran – Tiongkok, karena angkatan lautnya maupun angkatan daratnya kuat dan besar. Menurut kitab sejarah dinasti Tang Kuno (618-906), di pulau jawa terkenal sebuah kerajaan bernama “Ho-Ling” yang terletak di sebuah pulau di laut selatan. Kotanya dikelilingi pagar kayu, rajanya berdiam di istana tingkat, beratap daun-daun palma. Raja duduk diatas singgasana dari gading. Penduduknya pandai menulis dan mengenal ilmu falak. Kalau makan duduk dan menggunankan tangan tanpa alat apapun, minuman kerasnya tuak. Di pegunungan ada daerah bernama “ Lang- pi –ya” tempat raja selalu pergi untuk melihat laut. Diungkapkan pula bahwa tahun 640 M kerajaan jawa mengirimkan utusan ke Tiongkok, demikian juga pada tahun 6576 M. Dalam menafsir berita yang ditulis dari dinasti Tang tentang kerajaan “Ho-Ling” disebutkan raja hidup dalam kota Cho- p’o yang dikelilingi 28 kerajaan-kerajaan kecil yang semuanya mengakui kewibawaannya. Menurut kronik tersebut raja dibantu 32 orang pegawai tinggi. Wilayah kerajaan Sanjaya tersebut berbentuk segitiga tempat yang sekarang dikenal dengan nama “Ledok” merupakan pojok paling utara dari Bagelen. Bassisnya pantai selatan, puncaknya gunung Prahu (dieng) dan sungai utamanya Bagawanta.&lt;br /&gt;
Gagasan Van der Meulen SJ tentang Bagelen yang disamakan dengan Holing dalam kronik Tiongkok secara historical geography dipandang cukup logis oleh N. Daljoeni. Holing menurut Van der Meulen sebenarnya Halin singkatan dari “Bhagahalin” (Bagelen), yaitu kerajaan yang berlokasi di lembah sungai Bagawanta. Bagelen tersebut sama dengan Pagelen yang disebut dalam babad tanah jawi, kerajaan yang semula diperintah oleh raja Kanuhun. Menurut Dr. N Daljoeni apa yang dilakukan WJ Van der Meulen dengan menggali isi kitab ceritera Parahiyangan dan babad Tanah Jawi, merupakan sumbangan yang telah membuka sejarah yang gelap abad 5 sampai 7 di jawa tengah.  Sedangkan dari hasil penelitian arkkeologi dikabupaten Pekalongan, Batang dan Kendal memberi suatu gambaran baru tentang kemungkinan daerah - daerah penting dan perkiraan pusat Kerajaan Mataram Kuno di tiga daerah kabupaten tersebut, kearah selatan semakin banyak ditemukan data arkeologi baru termasuk prasasti Sojomerto sampai disebelah utara yakni temuan- temuan di pegunungan dieng.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/11/prasasti-canggal.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1707403559181930757.post-2650313805552020921</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 03:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-26T22:03:25.291-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerita Rakyat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">peninggalan sejarah</category><title>Legenda Masjid Loano</title><description>Menurut historiografi lokal disebutkan dalam pengembangan agama islam, sunan Kalijaga sampai di tanah Bagelen dan berhasil mendirikan pondok pesantren di dukuh Watu Belah yang sekarang masuk wilayah Trirejo kecamatan Loano. Di wilayah tersebut sunan Kalijaga mengajarkan agama islam sebagai agama baru. Demikian juga di desa Dlangu, yang sekarang masuk dalam wilayah kecamatan Butuh. Di Dlangu sunan Kalijaga membuat tempat ibadah dan memberi nama desa tersebut senada dengan tempat kediamannya yakni Kadilangu. Yang jelas kehadiran sunan Kalijaga di tanah Bagelen mampu memulai islam yang diawali oleh muridnya sunan Geseng. Di kecamatan Loano kabupaten Purworejo, terdapat pula masjid yang konon dibangun pula oleh sunan Geseng. Masjid Loano ini dibangun dengan 16 umpak kayu dan di lengkapi dengan lempengan baja yang dibuat lengkung sedemikian rupa guna menahan guncangan apabila terjadi gempa bumi. Masjid ini sudah direnovasi menurut ketentuan arkheologi dengan cara mengembalikan ke wujud semula. Kamuncak dari bangunan utamanya semula dipindahkan ke masjid Banjaran Kulon, terbuat dari “terakota” telah dikembalikan sedangkan tiang- tiang kayunya sudah rapuh telah dilakukan upaya penyuntikan oleh dinas purbakala. Arti dari 16 tiang masjid hingga sekarang belum diketahui maknanya. Masjid arsitektur jawa ini telah terdiri dari dua bagian di depannya merupakan bangunan baru yang didirikan sekitar tahun 1825. Bagian utamanya menurut ceritera dibangun oleh sunan Geseng dan sekitar 100 meter dari lokasi masjid juga diceritakan merupakan lokasi tempat kediaman sunan Geseng. &lt;br /&gt;
Menurut sumber lain penyebaran agama islam di Jawa Tengah bagian selatan dan di sebelah timur sungai Lakulo dilakukan oleh sunan Geseng. Sedangkan dibagian barat dilakukan oleh Syekh Baribin seorang ulama dari Pucang Kembar, sedangkan pengislaman disebelah barat Banyumas dilakukan oleh bupati Banyak Belanak dan Syekh Makduwali atas perintah Sultan Demak.  Namun pada masa kerajaan Demak masih pada awal perkembangannya tanah Bagelen sudah menjadi bagiannya. Menurut penduduk Bagelen tempat Ki Cakrajaya menunging, menelungkup di atas tanah dengan berpegang teguh pada carang bambu masih terdapat bekas-bekasnya. Sedangkan sebuah masjid di Kauman Begelen konon dibangun oleh sunan Geseng, oleh karena itu masjid tersebut dinamakan masjid sunan Geseng. Selain masjid di Kauman Bagelen sudah direnovasi tanpa mempedulikan nilai-nilai kearkheologian . Sedangkan desa Kadilagu yang terletak di sebelah timur muara sungai Bagawanta mungkin erat kaitannya dengan sunan Kalijaga. Belum jelas apakah pengislaman di tanah Bagelen hanya dua orang tersebut atau ada tokoh lain, sebab di Kaligesing diketahui tempat petilasan di kaki gunung Wangi yang konon ada hubungannya dengan Syekh Magribi.</description><link>http://purworejotempoedoloe.blogspot.com/2009/11/legenda-masjid-loano.html</link><author>noreply@blogger.com (Vita Ery)</author><thr:total>2</thr:total></item></channel></rss>