<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Pustaka Hindu - Vedic Dharma</title>
	
	<link>http://www.pustakahindu.info</link>
	<description>bersama memajukan Sanatana Dharma</description>
	<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 02:35:18 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/PustakaHindu" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>PustakaHindu</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Yadnya dan Piodalan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/fs2btH-d_i8/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/07/09/yadnya-dan-piodalan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 02:35:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<category><![CDATA[odalan]]></category>

		<category><![CDATA[yajna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[


oleh:
Ir. Made Astana, MBA
I Gst Gede Budiarsa
Pendahuluan
Piodalan merupakan bagian dari pelaksanaan Yadnya, khususnya lebih menekankan pada Dewa Yadnya. Setiap Yadnya secara langsung maupun tak langsung akan mencakup kelima Yadnya (Panca Yadnya). Sumber sastra pelaksanaan Yadnya dapat dirunut pada Weda seperti: Satapatha Brahmana (XI.5.6.1) yang merupakan bagian Brahmana dari Rg Veda Tattrya Aranyaka (II.10), Manava Dharmasastra [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh:<br />
Ir. Made Astana, MBA<br />
I Gst Gede Budiarsa</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Piodalan merupakan bagian dari pelaksanaan Yadnya, khususnya lebih menekankan pada Dewa Yadnya. Setiap Yadnya secara langsung maupun tak langsung akan mencakup kelima Yadnya (Panca Yadnya). Sumber sastra pelaksanaan Yadnya dapat dirunut pada Weda seperti: Satapatha Brahmana (XI.5.6.1) yang merupakan bagian Brahmana dari Rg Veda Tattrya Aranyaka (II.10), Manava Dharmasastra (III.70, 74, III.81), Korawasrama dan Agastya parwa serta berbagai lontar yang ada di Bali. Sebagai fondasi awal, berikut adalah pengertian dari Panca Yadnya berdasarkan kitab-kitab sastra tersebut di atas.</p>
<p><strong>Dewa Yadnya</strong><br />
Merupakan persembahan atau pemujaan Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manifestasi-Nya atau para Dewa, meliputi:<br />
a.	Persembahan upacara berupa agni hotra atau homa yadnya, dengan mengucapkan kata “swaha” pada setiap akhir pengucapan mantra. Upacara ini juga dikenal dengan havan. Agni hotra adalah upacara paling mulia baik menurut Weda dan Mahabharata maupun susastra Nusantara seperti kekawin Ramayana dan Nitisastra<br />
b.	Persembahan sesajen dengan mengucapkan sruti dan stave pada waktu hari-hari suci misalnya bulan purnama<br />
c.	Mengucapkan mantra Weda atau doa-doa suci, yang disebut Ahuta<br />
d.	Pemujaan kepada Tuhan atau Dewa dengan menggunakan sarana arca atau pratima, baik yang berwujud manusia maupun linga.</p>
<p><span id="more-832"></span><br />
<strong>Rsi Yadnya</strong><br />
Merupakan penghormatan dan pemujaan kepada para guru, pendeta, yogi dan orang suci lainnya, seperti:<br />
a.	Mempelajari kitab suci, merapalkan mantra<br />
b.	Mengajarkan ajaran suci<br />
c.	Mengabdi kepada guru suci, mempersembahkan makanan dan barang lain yang tidak mudah rusak<br />
d.	Menghormati para guru suci</p>
<p><strong>Pitra Yadnya</strong><br />
Merupakan pemujaan kepada para leluhur, termasuk:<br />
a.	Mempersembahkan svadha atau upacara sraddha, yaitu pemberian makanan kepada para leluhur<br />
b.	Menghaturkan tarpana dan air suci kepada leluhur<br />
c.	Mempersembahkan puja dan bhakti kepada leluhur<br />
d.	Melakukan upacara kematian agar atma mencapai alam tempat atau loka yang lebih tinggi</p>
<p><strong>Manusia Yadnya</strong><br />
a.	Persembahan makanan kepada sesame manusia/masyarakat<br />
b.	Menghormati tamu</p>
<p><strong>Bhuta Yadnya</strong><br />
Persembahan kepada para mahluk baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan<br />
a.	Persembahan rutin kepada para bhuta<br />
b.	Mempersembahkan upacara Bali, yaitu makanan yang dipulung-pulung kepada mahluk hidup. Persembahan ini diletakkan di tanah kepada para Bhuta. Mungkin nama pulai Bali diambil dari nama persembahan kepada Bhuta ini. Khusus menurut kitab Korawasrama, Bhuta Yadnya berarti mempersembahkan puja dan caru kepada para mahluk. Jadi jelaslah bahwa pemahaman upacara Bhuta Yadnya yang paling pokok adalah persembahan Bali, yaitu berupa makanan kepada para mahluk hidup, bukan sekedar melakukan caru, yaitu persembahan binatang kepada para Bhuta. Hanya kitab Korawasrama yang kedudukannya lebih rendah saja yang menafsirkan Bhuta Yadnya sebagai persembahan caru</p>
<p><strong>Apa itu Piodalan?</strong><br />
Piodalan adalah bagian dari Dewa Yadnya. Pada setiap pelaksanaan upacara secara langsung ataupun tidak langsung sudah mencakup kelima yadnya tersebut (Panca Yadnya). Secara lebih detail berbagai kitab, seperti: Kitab Taittiriya Aranyaka (11.10) juga Apastarnba Dharmasuitra (1.4.12.13-1), Baudhayana Dharmasutra (V8-9) menguraikan bahwa yang dimaksud dengan upacara Dewa Yadnya adalah persembahan upacara berupa Agni hotra, yang ketika mempersembahkan upakara kepada Dewata yang dimohon hadir, diakhiri dengan ucapan kata “svaha”. Maharsi Manu (Manavadharmasastra III.70) juga menyatakan hal yang sama, yakni persembahan berupa Agni hotra atau Homa Yadnya. </p>
<p>Dalam perkembangan selanjutnya setiap upacara (kecuali Manusia Yadnya dalam arti member makanan kepada tamu/masyarakat) selalu menggunakan upacara Agni hotra. Selanjutnya dalam kitab-kitab yang disusun belakangan memuji Agni hotra sebagai inti dan permata dari semua upacara Yadnya. Dalam bentuknya yang sederhana dilakukan oleh setiap keluarga sehari-hari berupa persembahan susu ke dalam api rumah tangga (garhapatya) atau ahavaniya (api persembahan, oleh karenanya Agni hotra juga disebut Havan), yang dilakukan pagi dan sore bersama anggota keluarga. Kitab Mahabharata menyatakan: “seperti seorang raja di antara umat manusia, seperti Gayatri dalam semua mantra, demikianlah sangat utamanya Agni hotra di antara semua upacara Yadnya dalam kitab suci Weda” (Benyamin Walker, 1983:13).</p>
<p>Selain upacara Dewa Yadnya berupa Agni hotra, dalam perkembangan selanjutnya muncullah bentuk pemujaan kepada para Dewata dengan menggunakan sarana arca atau linga (khususnya untuk Sang Hyang Siva). Arca bagi umat Hindu, bukanlah sesuatu benda mati, tetapi ketika telah dilaksanakan upacara penyucian terhadap sebuah arca, maka arca tersebut merupakan perwujudan para Dewata yang telah hidup dan arca dimasuki spirit Dewata yang dipuja, oleh karenanya dipandang sebagai yang sangat dihormati. Upacara yang penting setelah prayascitta, adalah Abhiseka dan mempersembahkan tarpana baik berupa makanan (Naivedya) maupun air suci (lata) dan tidak kalah pentingnya adalah Tambula, yang di Indonesia dikenal dengan sirih. Persembahan ini sangat mirip dengan apa yang kita warisi kini di Bali (Indonesia), paling tidak adalah persembahan berupa canang dan kata canang sesungguhnya mengandung arti sirih atau tambula. Hal yang penting pula diungkapkan bahwa Dewata yang pada umumnya popular dipuja adalah: Siwa, Durga atau Dewi, Wisnu, Ganesha dan Surya disebut Pancayatanapuja dan dikatakan dipopulerkan oleh Jagatguru Sri Sankara Acarya.</p>
<p>Selanjutnya kini marilah kita membahas tata cara pelaksanaan Dewa puja yang disebut upacara (sama seperti di Indonesia) yang mengandung makna menjalankan atau melaksanakan pelayanan. Di dalam Pujaprakasa (hal 97-149) dan di dalam ringkasan kitab-kitab Dewapuja pada umumnya menunjukkan adanya 16 tata urutan pelaksanaan upacara yadnya (P.V Kane, II.2, 1974: 729), yakni:<br />
a.	<em>Avahana</em> (memanggil), di Bali disebut Ngambe, Ngulapin, Mendak, Nuntun atau Nedunang Ida Betara dalam rangka dipersembahkan upacara Piodalan atau Melasti<br />
b.	<em>Asana</em> (mempersembahkan tempat bersthana), di Bali disebut Ngaturang Penyeneng, Melinggih atau Masanekan ring gedong atau pesamuhan agung.<br />
c.	<em>Padya</em> (mempersembahkan air pencuci  kaki), di Bali disebut Ngaturang Penyucian atau Wangsuh Pada<br />
d.	<em>Arghya</em> (mempersembahkan air untuk berkumur), di Bali disebut Ngaturang Penyucian.<br />
e.	<em>Acamaniya</em> (mempersembahkan air dan perlengkapannya untuk berkeramas), di Bali disebut Ngaturang Penyucian (Kerik Keramas).<br />
f.	<em>Snana</em> (memandikan arca atau linga dengan pancamrta, yang terdiri dari: susu, dadih, mentega cair, madu dan gula), di Bali disebut nyuciang arca, pratima atau pralingga dan tidak menggunakan pancamrta, cukup dengan air yang dipandang suci di mata air atau di tepi pantai, kadang-kadang dilakukan di halaman dalam jeroan pura). Air yang dipakai menyucikan arca dipandang sangat suci dan dipakai oleh para penyembah untuk diminum dan dipercikkan di kepala (wangsuhan).<br />
g.	<em>Vastra</em> (mempersembahkan kain/pakaian), di Bali disebut Ngaturang Rantasan atau Tigasana.<br />
h.	<em>Yajnopavita</em> (mempersembahkan benang suci),  di Bali dengan mantram penyucian oleh pandita dengan mengucapkan mantram Sivasutram<br />
i.	<em>Anulepana</em> atau <em>Gandha</em> (mempersembahkan bedak harum/kumkum pada umumnya berwarna merah dari tepung bunga mawar) di Bali disebut Ngaturang Penyucian.<br />
j.	<em>Pusp</em>a (mempersembahkan bunga), di Bali disebut Ngaturang Canang (Canang Sari) atau Mendet, Ngaturang Tari Rejang.<br />
k.	<em>Dhupa</em> (mempersembahkan dupa harum, yang diutamakan asapnya), di Bali juga disebut Ngaturang Dupa.<br />
l.	<em>Dipa</em> (mempersembahkan api yang menyala/nyala api dan dipakai pula dalam upacara arati/dengan membakar kamper), di Bali disebut Ngaturang Padamaran (dari linting ataupun padamaran pandita).<br />
m.	<em>Naivedya</em> atau <em>Upahara</em> (mempersembahkan makanan, yang utama adalah Madhuparka), di Bali disebut Ngaturang Rayunan atau Ngaturang Piodalan/Ngayab).<br />
n.	<em>Namaskara</em> (mempersembahkan puja bhakti/sembahyang) di Bali disebut Ngaturang Bhakti/Ngaturang Sembah.<br />
o.	<em>Pradaksina</em> (mengelilingkan arca tiga kali di halaman seputar tempat suci atau umat sendiri yang mengelilingi arca atau bangunan suci), di Bali disebut Mapradaksina atau Mabiasa.<br />
p.	<em>Visarjana</em> atau <em>Udvasana</em> (mengembalikan Dewata yang dihadirkan), di Bali disebut Ngantukang, Ngaluhurang atau Nyineb.</p>
<p>Dalam beberapa hal terdapat perbedaan, misalnya Bhuana (mempersembahkan perhiasan) setelah Yajnopavita dan Tambula (persembahan sirih atau Mukhavasa) setelah Pradaksina atau Naivedya, oleh karena itu ada menyebutkan 18 macam upacara Dewapuja. Beberapa teks menghilangkan Avahana dan menambahkannya dengan Svagata (selamat dating) setelah Asana, Madhuparka setelah Acamaniya dan mempersembahkan beberapa Stotra (stuti atau stave) dan Pranama (Namaskara). </p>
<p>Beberapa teks menggabungkan kedua yang terakhir ini dari menempatkan Pradaksina sebagai bagian dari Visarjana. Apabila seseorang tidak mampu untuk mempersembahkan Vastra (kain/pakaian) dan Alamkara atau Bhusana (perhiasan), ia cukup mempersembahkan 10 dari 16 macam upacara tersebut, misalnya Padya sampai Naivedya. Bila seseorang mampu mempersembahkan 10 jenis upacara tersebut, ia cukup mempersembahkan 5 macam (pafieopaearapuja), yakni dari Gandha, Puspa, Dhupa, Dipa dan Naivedya. Namun apabila sama sekali tidak mampu mempersembahkan 16 upacara tersebut, cukup hanya dengan mempersembahkan bunga saja.</p>
<p>Bilamana di tempat suci terdapat arca yang tidak mungkin dipindahkan (karena besar atau sudah permanen disthanakan di tempat itu), maka tidak perlu ada upacara Avahana dan Visarjana, dengan demikian cukup 14 upacara saja dipersembahkan atau seseorang cukup mempersembahkan segenggam bunga dan merapalkan mantra. Mereka yang mampu merapalkan Purusa Sukta (Rg Veda X.90) hendaknya merapalkannya setiap bait mantram sebelum persembahan masing-masing dari 16 upacara Dewapuja dilaksanakan (seperti diamanatkan dalam Narasimha Purana). Dan bagi mereka yang tidak mampu merapalkan/mengucapkan mantra Weda tersebut, cukup dengan mengucapkan Om Sivaya Namah (Untuk Sang Hyang Siwa) dan Om Visnu Namah (untuk Sang Hyang Wisnu).</p>
<p>Demikian antara lain pelaksanaan upacara Dewa Yadnya di India yang dapat dipertemukan persamaannya dengan di Bali. Hal yang membedakan di Bali dengan India kini adalah, di Bali tidak lagi atau jarang melaksanakan penyucian arca yang disthanakan secara permanen, tetapi yang berfungsi sebagai pratima masih dilaksanakan, walaupun tata caranya jauh lebih sederhana. Hal ini disebabkan karena tradisi pemujaan dengan menggunakan sarana arca sebagian telah digantikan dengan Daksina Palinggih.</p>
<p>Selain itu, di India kini tidak mengenal istilah Piodalan Pura seperti di Bali, upacara Piodalan (Janmasthami) ditujukan kepada Sri Krishna, Sri Rama (Ramanavami), Dattatreya (Dattatreya Jayanti), Gita (Bhagavad Gita Jayanti), Hanuman (Hanuman Jayanti), Sankara (Sankara Jayanti), Skanda (Skanda Sati) dan Ganesha Chaturthi.</p>
<p>Pada hari-hari raya Hindu di India, 16 jenis upacara Dewapuja pada umumnya selalu dilaksanakan. Untuk dimaklumi hari-hari raya Hindu dapat dibedakan menjadi tiga kelompok (Sri Swami Sivananda, 1991), yaitu:<br />
a.	Festival seperti Citra Purnima (Purnama Caitra ditujukan kepada Dewa Citra Gupta dan Dewa Yama), Dipavali (upacara persembahan lampu, menyambut kedatangan Sri Rama dari Alengka, pada Prewani Tilem Kartika / Oktober-November, dikaitkan pula dengan penghormatan pada tanam-tanaman (Dubois, 1981:571) yang di Bali menjadi Tumpuk Bubuh/Uduh). Durga Puja atau Navaratri (Vijaya Dasami) atau Dussera merupakan hari kemenangan dewi Durga melawan raksasa Raktavijaya yang masuk ke dalam tubuh seekor mahisa (di Bali disebut Hari Raya Galungan), pada sepuluh hari mulai pada terang (suklapaka) selama 10 hari pada bulan September-Oktober dan lain-lain termasuk pula Ayudhapuja (penghormatan kepada senjata dan tentara (Oubois, 1981:570) yang rupanya di Bali menjadi Tumpek Landep.<br />
b.	Jayanti (hari Piodalan) seperti telah kami sebutkan di atas. Di Bali tidak kita kenal perayaan atas kelahiran Sri Krishna dan Sri Rama dan lain-lain, hal ini dimungkinkan karena sifat keagamaan umat Hindu di Bali bercorak Sivaistis.<br />
c.	Vrata (hari untuk berpuasa) seperti Sivaratri, Satya Narayana Vrata, Vara Laksmi Vrata dan lain-lain.<br />
Seperti halnya di Bali, di beberapa daerah di India dikenal upacara yang sangat spesifik dilakukan di daerah tertentu, demikian pula di India, misalnya upacara Baliyatra (memperingati misionaris Hindu ke Bali) yang hingga kini masih dirayakan di India Timur (Kalingga) pada setiap Purnama Kartika (Oktober) dengan membuat persembahan yang ditempatkan pada sarana (dari daun pisang) berbentuk perahu yang dilayarkan ke Bali. Rathayatra seperti prosesi Melasti di Bali, dengan kereta yang sangat besar ditarik oleh ratusan orang dan dipegunungan, Yatra atau melasti dalam rangka penyucian arca menggunakan jempana seperti di Bali, menuju tepi sungai yang dipandang suci (ghat), termasuk pula pada pertemuan dua atau tiga sungai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/07/09/yadnya-dan-piodalan/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/07/09/yadnya-dan-piodalan/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mandala Pertama - Bab IV - Sukta 61</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/GLRJPkxQj60/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-61/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bebas]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=830</guid>
		<description><![CDATA[1
Hanya kepada Tuhan maha cemerlang sajalah kami mempersembahkan pemujaan dengan penuh penghormatan, karena Dia adalah paling perkasa dari yang perkasa cepat, tak terkalahkan, bajik, penghadiah pemujaan dan pendorong. Semoga kidungan devosional kami yang memuji kelimpahan-Nya, dicintai dengan bergairah sepertinya makanan.
2
Hanya kepada-Nya lah kami persembahkan penghormatan, yang dapat diterima sebagai makanan dan kami mengidungkan kemuliaan-Nya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Hanya kepada Tuhan maha cemerlang sajalah kami mempersembahkan pemujaan dengan penuh penghormatan, karena Dia adalah paling perkasa dari yang perkasa cepat, tak terkalahkan, bajik, penghadiah pemujaan dan pendorong. Semoga kidungan devosional kami yang memuji kelimpahan-Nya, dicintai dengan bergairah sepertinya makanan.</p>
<p>2<br />
Hanya kepada-Nya lah kami persembahkan penghormatan, yang dapat diterima sebagai makanan dan kami mengidungkan kemuliaan-Nya dengan bahasa yang pantas demi untuk keberhasilan dalam membingungkan (musuh-musuh kami). Para pengidung memanjatkan doa pujian untuk memuliakan Tuhan maha cemerlang, penguasa abadi, dengan hati, pikiran dan semangatnya.</p>
<p>3<br />
Dengan kata-kata kami sendiri yang bernada keras namun murni dan kuat, kami persembahkan penghormatan untuk memuji-Nya, yang kebesaran-Nya unik dan kebijaksanaan dan keagungan-Nya tak tertandingi</p>
<p><span id="more-830"></span><br />
4<br />
Untuk mendapat kekayaan dan kebijaksanaan, kami menggubah sloka penuh doa, seperti tukang kayu membuat sebuah kereta. Semoga kami persembahkan puji-pujian pada-Nya yang dengan senang mendengar-Nya dan kidung emosional kami pada Tuhan maha bijak dan maha mulia.</p>
<p>5<br />
Kami menggabungkan irama dengan kata-kata pujian, seperti orang memasang kuda pada kereta, untuk merayakan keberanian, kedermawanan dan pemberi makanan murah hati dari Tuhan maha cemerlang, yang dengan mudah memusnahkan pertahanan orang-orang murtad.</p>
<p>6<br />
Sesungguhnya, bagi-Nya para arsitek alam mempertajam senjata halilintar yang efektif terlatih baik dan pasti membantu, dengan mana penakluk perkasa akhirnya menyingkirkan awan-awan kejahatan dan memusnahkannya.</p>
<p>7<br />
Tuhan maha cemerlang dengan cepat melahap seluruh persembahan yang dihaturkan pada-Nya tiga kali sehari pada pemujaan sakral. Dia meliputi segenap alam semesta dan merupakan penakluk para musuh dan menghukumnya dengan adil. Selanjutnya Dia memulihkan kekayaan dari kaum tak beriman dan emngusir awan-awan kejahatan dalam perjumpaannya.</p>
<p>8<br />
Pada Tuhan maha cemerlang, segala kekuatan lembut ibu alam mempersembahkan penghormatan tulusnya atas pemusnahan kegelapan panjang berkelok-kelok. Dia mengatasi keluasan surga dan bumi. Keduanya ini tak mampu melampaui keluasan Tuhan maha cemerlang.</p>
<p>9<br />
Sesungguhnya, kelimpahan-Nya melampaui kelimpahan surga, bumi dan antariksa. Tuhan maha cemerlang, yang mewujudkan kekuatan-Nya pada seluruh wilayah, sama bagi setiap orang yang memanfaatkannya. Dia menyibukkan diri-Nya dalam perjuangan terhadap segala musuh yang sukar diatasi dan mengajaknya untuk berperang dengan ketrampilan</p>
<p>10<br />
Tuhan maha cemerlang dengan kekuatan-Nya menyingkirkan kekuatan jahat dan melepaskan arus kebijaksanaan yang tertahan oleh kekuatan jahat, seperti sapi-sapi yang tertahan dan menemukan kembali dari para pencuri dan konsisten dengan keinginan pemberi persembahan untuk memberinya makanan.</p>
<p>11<br />
Melalui kekuasaan-Nya, hanya pemikiran luhur sajalah yang mengalir dalam tempat tertentu, karena Dia membuka jalan dengan keperkasaan-Nya, memantapkan keunggulan-Nya dan memberi imbalan pada pemberi persembahan. Dia yang bergerak cepat memberi tempat kediaman yang aman bagi para bijak pemberani.</p>
<p>12<br />
Tuhan maha cemerlang, yang senantiasa waspada dan memiliki kekuatan tak terbatas, memberikan hukum yang adil pada kejahatan gelap dan memutuskan hubungannya sehingga energi dan pemikiran dapat keluar dan mengalir secara bebas di dunia ini</p>
<p>13<br />
Nyanyikanlah puji-pujian baru yang mengagunkan berkah dan pencapaian dari Tuhan maha cemerlang yang bergerak cepat, yang memberikan hukuman yang adil dalam perlawanan dan pemusnahan kekuatan jahat</p>
<p>14<br />
Karena takutnya, gunung yang dipatok mantap dan segenap alam surga dan bumi gemetaran kepada-Nya. Semoga para pemuja tulus, yang berulang-ulang memanjatkan doa membohon kekuatan pemeliharaan Tuhan maha pengasih, dengan cepat memberkatinya dengan keberanian</p>
<p>15<br />
Bagi-Nya yang merupakan pengatur segenap alam semesta luas satu-satunya, doa pujian ini dipersembahkan. Tuhan maha cemerlang, berkenan menerimanya dari para bhakta-Nya yang sejati dan tulus. Tuhan datang lebih cepat daripada matahari (sinar) untuk membela para penuja-Nya</p>
<p>16<br />
Keturunan para bahkta cerdas mempersembahkan doa pujiannya untuk menyenangkan-Mu, wahai Tuhan maha cemerlang sebagai pendorong pancaran spiritual. Semoga Engkau memberinya segala jenis kekayaan. Semoga mereka yang mencari kemakmuran dengan kegiatan baik cepa-cepat datang kemari pada saat terbitanya matahari</p>
<p style="text-align: center;"><script type="text/javascript"><!--
google_ad_client = "pub-7702192928184589";
/*google_alternate_ad_url = "http://www.alternate-ad-url.com/alternate"; */
/* 468x60, created 9/3/08 */
google_ad_slot = "3922660366";
google_language = "en";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//-->
</script>
<script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js">
</script></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-61/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-61/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mandala Pertama - Bab IV - Sukta 60</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/DRW_7dbgH9E/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-60/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:23:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=828</guid>
		<description><![CDATA[1
Semoga Tuhan sebagai pencerah pelaksanaan upacara suci, perwujudan pengetahuan, duta yang bergerak cepat dari kekuatan ilahi, yang membawa pancaran dua wilayah dan dipersamakan dengan nafas vital kosmis, berlaku ramah pada orang-orang bijak.
2
Orang yang menyukai kemajuan dan tulus, keduanya berada di bawah bimbingan Tuhan. Raja penciptaan yang maha mulia, sebagai pembagi keuntungan yang diinginkan senantiasa hadir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Semoga Tuhan sebagai pencerah pelaksanaan upacara suci, perwujudan pengetahuan, duta yang bergerak cepat dari kekuatan ilahi, yang membawa pancaran dua wilayah dan dipersamakan dengan nafas vital kosmis, berlaku ramah pada orang-orang bijak.</p>
<p>2<br />
Orang yang menyukai kemajuan dan tulus, keduanya berada di bawah bimbingan Tuhan. Raja penciptaan yang maha mulia, sebagai pembagi keuntungan yang diinginkan senantiasa hadir dalam hati para bhakta sebelum datangnya fajar</p>
<p>3<br />
Semoga penghormatan tulus kami yang senantiasa segar, yang dipersembahkan dengan cinta kasih dan penghormatan yang tulus itu mencapai Tuhan yang maha mulia, yang berbahasa lembut dan bersemayam laksana obor dalam hati kami. Pada saat tertekan, orang-orang bijak, berpengalaman, tercerahi dan kaya hanya akan menyeru-Nya saja.</p>
<p><span id="more-828"></span><br />
4<br />
Penguasa kekayaan dan kebijaksanaan, pemberi sinar ilahi, yang memurnikan dan sangat dicintai itu dinobatkan dalam hati manusia yang sangat dalam. Semoga Dia sebagai pelindung, tak terkalahkan memperkaya hati semua orang dengan kekayaan ilahi-Nya.</p>
<p>5<br />
Wahai Tuhan maha mulia, penguasa kebijaksanaan dan kekayaan, kami yang sangat cerdas memuliakan-Mu dengan puji-pujian indah. Semoga Engkau menganugerahkan kekuatan pada kami serta meluhurkan pemikiran kami. Semoga Engkau senantiasa bersama kami setiap pagi hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-60/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-60/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mandala Pertama - Bab IV - Sukta 59</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/uz-CA-usCdY/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-59/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Apr 2009 03:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=826</guid>
		<description><![CDATA[


1
Wahai Tuhan yang layak dipuja, semua kekuatan ilahi lain yang bersinar mendapat sinar dari-Mu. Wahai pemimpin alam semesta, semua yang lainnya mendapat kebahagiaan hanya dari-Mu saja. Sebagai penentu nasib segalanya, Engkau merupakan pusar dari mahluk hidup yang menopang setiap orang laksana pohon yang berakar tunjang dalam.
2
Tuhan Yang Esa adalah penguasa surga dan pusar bumi sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Wahai Tuhan yang layak dipuja, semua kekuatan ilahi lain yang bersinar mendapat sinar dari-Mu. Wahai pemimpin alam semesta, semua yang lainnya mendapat kebahagiaan hanya dari-Mu saja. Sebagai penentu nasib segalanya, Engkau merupakan pusar dari mahluk hidup yang menopang setiap orang laksana pohon yang berakar tunjang dalam.</p>
<p>2<br />
Tuhan Yang Esa adalah penguasa surga dan pusar bumi sehingga menjadi penguasa keduanya. Segala kekuatan kosmis mewujudkan kekuasaan-Nya. Wahai penentu nasib segalanya, Engkau mengilhami sinar ilahi dalam hati orang-orang yang mencintai Tuhan</p>
<p>3<br />
Laksana berkas sinar yang secara permanen terdapat pada matahari, wahai penguasa alam semesta, segala harta benda berpusatkan pada-Mu. Engkau adalah penguasa harta benda yang ada dalam gunung, pada tanam-tanaman, dalam air atau di antara manusia.</p>
<p><span id="more-826"></span><br />
4<br />
Surga dan bumi mengembang seakan-akan bagi putranya. Bhakta yang tulus menyanyikan berbagai puji-pujian sakral berulang-ulang pada-Mu, wahai penguasa alam semesta, maha mulia, maha perkasa, pemandu sejati yang terbaik.</p>
<p>5<br />
Wahai Tuhan dengan kebijakan universal, Engkau melampaui luasnya alam semesta; Engkau penguasa mutlak dari semua budaya. Engkau melindungi para bhakta saleh selama menghadapi kesulitan dan mencurahkan berkah pada para pemuja tercerahi dan membuatnya dapat menemukan kembali kekayaannya yang hilang.</p>
<p>6<br />
Kami memuji keagungan Tuhan maha perkasa, yang semuanya memuja untuk mencurahkan hujan dan merubah awan mendung. Tuhan yang layak dipuja, sebagai penentu nasib, melepaskan air dari awan dan menurunkannya ke bumi</p>
<p>7<br />
Dengan kedermawanannya, Tuhan maha pemurah merangkul semuanya sehingga menyatukan seluruhnya; Dia dipuja sebagai penyebar limpahan sinar dalam mempersembahkan bahan makanan pilihan bergizi. Tuhan maha mulia memuji pelaksana persembahan ratusan kurban dan pelaksana kegiatan mulia tanpa pamrih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-59/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/04/03/mandala-pertama-bab-iv-sukta-59/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 58</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/mfZE2PQrGms/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-58/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 04:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=824</guid>
		<description><![CDATA[1
Api spiritual batin sesungguhnya adalah kekuatan yang dibangkitkan; ia juga abadi dan keluar dengan cepat; ia adalah duta dari Tuhan yang cemerlang sendiri. Dengan jalan yang sesuai, ia maju dan menyinari batin kami dan ikut serta dalam upacara kurban spiritual dengan persembahan
2
(Seperti api batin) demikianlah api fisik abadi, yang menggabungkan makanannya dengan nyalanya dan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Api spiritual batin sesungguhnya adalah kekuatan yang dibangkitkan; ia juga abadi dan keluar dengan cepat; ia adalah duta dari Tuhan yang cemerlang sendiri. Dengan jalan yang sesuai, ia maju dan menyinari batin kami dan ikut serta dalam upacara kurban spiritual dengan persembahan</p>
<p>2<br />
(Seperti api batin) demikianlah api fisik abadi, yang menggabungkan makanannya dengan nyalanya dan dengan cepat melahap kayu bakar dan membubung dengna kobaran nyalanya; menyebar laksana seekor kuda yang serba bisa dan bangkit menuju wilayah atas dengan ribut, seperti ributnya awan di ketinggian sana.</p>
<p>3<br />
Tuhan maha cemerlang dan abadi, pendukung persembahan dimuliakan oleh kekuatan vital kosmis dan pemberi kekayaan, dan pemimpin segala kegiatan sakral dan membagikan kekayaan. Dipuja oleh para pemuja dan dimuliakan di antara umat manusia, Dia menerima pengabdian yang dipersembahkan berturut-turut.</p>
<p><span id="more-824"></span><br />
4<br />
Dia laksana kobaran api, yang dihembus angin mampu dengan mudah meresapi kayu bakar dengan nyala-Nya. Bila nyala api yang menakutkan ini membakar hutan, jalan-Nya diselimuti kegelapan asap-Nya</p>
<p>5<br />
Dia laksana api hutan, yang bersenjatakan nyala dan digairahkan hembusan angin, memusnahkan segala yang basah (dari pepohonan) dengan panasnya. Dengan nyalanya yang besar, dengan riang Ia buru-buru dalam kekuatan penuh menundukkan segala unsur yang tak diinginkan, apakah itu bergerak ataupun diam, dan semuanya takut kepada-Nya bila Ia beterbangan.</p>
<p>6<br />
Wahai Tuhan yang layak dipuja, untuk-Mu lah orang-orang melaksanakann upacara kurban; Engkau adalah penyeru (dari kekuatan alam); hanya Engkau lah satu-satunya tamu utama pada upacara kurban dan dihargai sebagai kawan yang paling dikasihi. Orang bijaksana yang bersemangat senantiasa mencintai-Mu bagaikan harta benda tak ternilai demi kelahiran ilahi.</p>
<p>7<br />
Kami memuja dengan persembahan, bahwa Tuhan maha mulia, yang diundang oleh tujuh pendeta penyeru (lima organ indra, pikiran dan kecerdasan) sebagai yang dipanggil dalam upacara kurban. Tuhan yang layak dipuja, sangat pantas untuk dipuja dan Dia merupakan pemberi kekayaan; kami memohon kekayaan-Nya itu.</p>
<p>8<br />
Wahai Tuhan, sumber segala vitalitas yang selalu dipuja, semoga Engkau menganugerahkan kebahagiaan sempurna pada para bhakta yang memuja-Mu terus menerus. Semoga Engkau menerima doa-doanya dan menjaganya dari dosa dan perbuatan jahat dengan kekuatan besi maha perkasa-Mu</p>
<p>9<br />
Wahai Tuhan maha cemerlang, semoga Engkau melindungi dan menjaga para bhakta-Mu dari kesialan. Wahai sumber segala kebijaksanaan, semoga Engkau memberikan kebahagiaan leluasa pada bhakta bijak-Mu. Datanglah untuk menyelamatkannya dan curahkan berkah-Mu padanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-58/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-58/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 57</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/oWDr9u_W22U/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-57/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 04:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[1
Kami memuliakan sang diri yang benar-benar perkasa dan luar biasa, sangat dermawan, yang ketergesa-gesaan tak tertahankan itu laksana arus deras air dari tebing curam, dan olehnya kekayaan spiritual terpusat secara luas dibuka untuk menunjang kegiatan agung kami.
2
Wahai roh, seakan-akan sedang beristirahat pada sebuah gunung, Engkau memusnahkan kekuatan jahat dengan pengetahuan-Mu yang bersinar tajam dan menembus; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Kami memuliakan sang diri yang benar-benar perkasa dan luar biasa, sangat dermawan, yang ketergesa-gesaan tak tertahankan itu laksana arus deras air dari tebing curam, dan olehnya kekayaan spiritual terpusat secara luas dibuka untuk menunjang kegiatan agung kami.</p>
<p>2<br />
Wahai roh, seakan-akan sedang beristirahat pada sebuah gunung, Engkau memusnahkan kekuatan jahat dengan pengetahuan-Mu yang bersinar tajam dan menembus; semuanya mengelu-elukan-Mu sebagai pelindung dan buru-buru menghaturkan penghormatan pada-Mu dan mengidungkan doa-doa devosional. Aliran kegembiraan spiritual sesegera aliran air menuju kedalaman</p>
<p>3<br />
Fajar sebagai perwujudan sinar ilahi, mempersembahkan penghormatan pada sang diri nan jaya dan sukar ditaklukkan di mana pancaran karakteristik dan kenamaan yang menunjang kehidupan, telah mendorongnya pada segala sisi untuk mencari kebijaksanaan, seperti berkas sinar yang cepat menyebar pada segala arah.</p>
<p>4<br />
Roh yang sangat makmur dan sangat dipuja, kami sebagai organ indra adalah milik-Mu; kami hanya memuliakan-Mu saja. Terimalah persembahan kami. Tak ada selain Engkau yang berhak menerima pengabdian kami. Semoga Engkau mencintai dan menyayangi doa kami seperti ibu bumi menyayangi mahluk-mahluknya.</p>
<p>5<br />
Wahai roh, kekuatan-Mu luar biasa; kami semua adalah milik-Mu dan untuk itu, semoga Engkau memenuhi aspirasi dari para penyembah-Mu. Surga yang luas tunduk atas keperkasaan-Mu. Bumi ini tunduk atas kemurahan hati-Mu</p>
<p>6<br />
Wahai roh, dengan keputusan-Mu yang tegas, Engkau telah menyingkirkan awan-awan kebodohan menjadi kepingan-kepingan dan mencurahkan air yang terkurung di dalamnya untuk dapat mengalir. Sesungguhnya, hanya Engkau sajalah yang memiliki segala kekuasaan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-57/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-57/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 56</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/ymwhkbZrNI4/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-56/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 04:05:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[shruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[1
Bila organ indra sebagai pelaksana upacara kurban memandang persembahan kenikmatan indra dengannya seakan-akan dalam sendok besar, sang diri (roh) dengan buru-buru akan menyongsongnya seperti seekor kuda mengejar betinanya. Karena itu, sang diri tinggal dalam kereta badan yang keemasan, dengan organ indra sebagai kuda-kuda dan berbagi kenikmatan dengannya.
2
Pengagumnya (yaitu sang diri lebih rendah), organ indra, menanggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Bila organ indra sebagai pelaksana upacara kurban memandang persembahan kenikmatan indra dengannya seakan-akan dalam sendok besar, sang diri (roh) dengan buru-buru akan menyongsongnya seperti seekor kuda mengejar betinanya. Karena itu, sang diri tinggal dalam kereta badan yang keemasan, dengan organ indra sebagai kuda-kuda dan berbagi kenikmatan dengannya.</p>
<p>2<br />
Pengagumnya (yaitu sang diri lebih rendah), organ indra, menanggung kenikmatan indra, mengelilinginya beramai-ramai seperti sungai-sungai mengelilingi lautan. (Wahai organ indra), bangkitlah segera dengan kidung pujian pada sang diri, pelindung tempat upacara, seperti halnya para wanita mendaki pegunungan (guna memetik bunga)</p>
<p>3<br />
Sang diri itu sangat perkasa dan cepat dalam kegiatannya; ia dilindungi oleh kehendak yang teguh. Kemuliaannya bersinar laksana puncak pegunungan dengan kekuatan tak terkalahkan. Dihibur oleh kegembiraan spiritual, ia tertahan dan terkurung serta terbelenggu dengan tali pemikiran remeh</p>
<p><span id="more-820"></span><br />
4<br />
Bila kekuasaan sang roh (sang diri lebih rendah) ditambah oleh kegiatan kerja mulia dan disiplin organ indra, dengan sinar ilahi dan keberaniannya yang mantap, ia dapat memberikan sekedar hembusan pada kekuatan jahat seperti matahari terhadap fajar, yang menyebabkan banyak kegembiraan dan gangguan emosional dalam pikiran manusia.</p>
<p>5<br />
Wahai roh, sebagai pemusnah kekuatan jahat, bila Engkau membuka gerbang pemikiran ilahi dan membagikan penunjang kehidupan tersebar pada kemampuan pikiran yang berbeda-beda dan juga badan, maka dimuliakan oleh kemuliaan spiritual yang diasimilasikan, Engkau sepenuhnya dapat memusnahkan kejahatan dan membuat jalan mengalirnya pemikiran ilahi secara terus menerus.</p>
<p>6<br />
Wahai roh perkasa, Engkau menyebarkan pancaran spiritual pada semua pusat-pusat vital dari sistem badan manusia. Dimuliakan oleh kegembiraan spiritual, dengan kekuatan-Mu yang tak terkalahkan, Engkau membuka kekuatan gelap dari kebodohan dan dengan keputusan yang kompak menghancurkan kejahatan selamanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-56/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/03/29/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-56/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 55</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/SDbD1uo7EdM/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-55/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 15:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[1.
Dalam badan kita sendiri ada antariksa (wilayah nafas vital dan pikiran) dan juga bumi (badan fisik yang tampak). Luasnya sang roh lebih luas ketimbang antariksa, dan bumi ini dimensinya tak berarti bila dibandingkan dengan jangkauan pengaruh sang roh. Roh sukar diatasi dan sangat perkasa, sehingga ia telah menjadi penghalang bagi musuh-musuh dari mereka yang memuliakannya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1.<br />
Dalam badan kita sendiri ada antariksa (wilayah nafas vital dan pikiran) dan juga bumi (badan fisik yang tampak). Luasnya sang roh lebih luas ketimbang antariksa, dan bumi ini dimensinya tak berarti bila dibandingkan dengan jangkauan pengaruh sang roh. Roh sukar diatasi dan sangat perkasa, sehingga ia telah menjadi penghalang bagi musuh-musuh dari mereka yang memuliakannya. Sang diri ini memusnahkan kejahatan dengan ketajamannya dan menembus di kedalaman yang vital.</p>
<p>2<br />
Sang roh, dengan kemampuannya yang luas, menyelamatkan pemikiran seperti halnya lautan menerima sungai-sungai. Secara bersemangat ia mendorong untuk mencicipi sari kebahagiaan spiritual. Ia adalah ksatria dan harus dipuja atas kekuatannya.</p>
<p>3<br />
Wahai sang roh, Engkau melumpuhkan kekuatan kegelapan, bukan untuk kesenangan-Mu sendiri; Engkau bahkan mendominasi mereka yang mengunggulimu dalam kemilikan. Keilahian-Mu mengatasi segala kekuatan lain. Roh dengan kebanggaan yang sepantasnya mengungguli organ-organ indra karena kekuatan dan kecakapan bawaan.</p>
<p><span id="more-818"></span><br />
4<br />
Sesungguhnya, sang diri batin luar biasa itu, dimuliakan oleh para bijak spiritual dan bajik, yang tinggal dalam hutan-hutan. Bila ia dikasihi dalam mendengarkan perbuatan mulianya, ia mendorong mereka yang ingin memujanya dan memberi perlindungan pada mereka yang memanjatkan doa pujiannya.</p>
<p>5<br />
Sang roh sebagai satria, menyibukkan dirinya dalam banyak pertentangan demi kebaikan umat manusia, dengan kemampuannya yang melimpah: orang memiliki keyakinan mantap pada kekuatan roh yang luar biasa.</p>
<p>6<br />
Ia sangat berhasrat untuk mendapatkan ketenaran, sehingga ia menyingkirkan kekuatan jahat yang mengganggu penampilan dirinya. Dia bersemayam di wilayah bersinar yang jauh di luar pencapaian fisik. Dia dapat meruntuhkan dinding yang menghalangi aliran spiritual.</p>
<p>7<br />
Wahai roh, sebagai peminum sari kegembiraan spiritual, semoga Engkau memenuhi aspirasi alim kami. Semoga Engkau dengan cepat datang bersama kami dalam pelaksanaan kegiatan mulia kami; atas berkah-Mu, semoga sais kereta, yaitu pikiran mampu mengendalikan kuda-kuda, berupa indra-indra, sehingga kekuatan jahat kegelapan tak dapat membujuk kebajikan kami</p>
<p>8<br />
Engkau memikul kekuatan yang tak tertahan dalam badan-Mu dan memiliki harta benda kebijaksanaan abadi. Wahai roh, luar biasa, harta benda-Mu senantiasa terwariskan pada-Mu, bagaikan sumur yang dikelilingi orang yang ingin mendapatkan air.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-55/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-55/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 54</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/CZ1lc8EL35s/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-54/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 14:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[1
Wahai Tuhan maha cemerlang, janganlah mendesak kami untuk melakukan pertentangan yang menyakitkan. Kekuatan-Mu tak tertandingi, ENgkau telah menjadikan lautan dan sungai mengalir deras. Bagaimana mungkin bahwa seluruh wilayah alam semesta tak akan gemetar akan kengerian terhadap-Mu?
2
Persembahkanlah penghormatan pada Tuhan maha perkasa yang memurnikan pikiran dan badan. Kidungkan kemuliaan-Nya, karena Dia senang mendengar puji-pujian suci. Dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Wahai Tuhan maha cemerlang, janganlah mendesak kami untuk melakukan pertentangan yang menyakitkan. Kekuatan-Mu tak tertandingi, ENgkau telah menjadikan lautan dan sungai mengalir deras. Bagaimana mungkin bahwa seluruh wilayah alam semesta tak akan gemetar akan kengerian terhadap-Mu?</p>
<p>2<br />
Persembahkanlah penghormatan pada Tuhan maha perkasa yang memurnikan pikiran dan badan. Kidungkan kemuliaan-Nya, karena Dia senang mendengar puji-pujian suci. Dengan keperkasaan yang tak dapat ditahan, Dia menciptakan alam semesta. Dengan kedermawanan-Nya lah Dia menyenangkan aspirasi kita.</p>
<p>3<br />
Persembahkanlah puji-pujian pada Tuhan maha agung dan maha mulia, dari mana dengan tak gentar kehendak ilahi dipusatkan pada kamantapannya sendiri. Kemasyhuran-Nya sangat universal. Dia menganugerahkan kehidupan. Dengan bantuan-Nya, kita mampu untuk mengusir kejahatan indra-indra kita; Dia dipatuhi oleh kekuatan vital dan Dia merupakan pencurah anugerah. Penguasa seperti inilah yang mempercepat ke sini.</p>
<p><span id="more-816"></span><br />
4<br />
Wahai roh terberkati, Engkau penguasa utama terhadap indra-indra yang tertipu dan menundukkan ketidaksopanannya dengan kekuatan pamungkas-Mu. Dengan keputusan yang teguh dan senjata keadilan penghukum, Engkau mengatasi semua kecenderungaan jahat yang menumpuk dan menyesatkan serta memusnahkannya dengan kekuatan bawaan-Mu</p>
<p>5<br />
Karena Engkau telah menenangkan dan mengendalikan kekuatan pikiran, kecerdasan dan badan yang saling bertentangan, dengan kekuatan-Mu yang tak tertandingi, siapakah yang dapat mencegah-Mu dari keteguhan dan keputusan pamungkas-Mu, karena Engkau selamanya dilengkapi dengan pikiran pamungkas?</p>
<p>6<br />
Engkau telah melindungi orang-orang jenius, mulia, tekun dan gigih, dan pemusnah kejahatan, yang semuanya milik satu kelompok. Engkau telah melindungi kendaraannya dalam segala operasi yang mutlak dilakukan dan dalam menghadapi kesulitan; selanjutnya Engkau telah melumpuhkan 99 kubu pertahanan dari yang tidak sopan.</p>
<p>7<br />
Orang-orang terkenal, yang menyenangi orang-orang saleh, meningkatkan kemakmurannya sendiri, yang sementara menghaturkan persembahan pada Tuhan maha cemerlang, juga memanjatkan doa dan puji-pujian sakral dengan bersemangat. Pada mereka Tuhan yang maha cemerlang dan maha pemurah, mencurahkan berkahnya seperti hujan dari awan-awan.</p>
<p>8<br />
Wahai Tuhan maha cemerlang, keperkasaan dan kebijaksanaan-Mu tak tertandingi. Semoga mereka yang telah mencicipi intisari kebahagiaan spiritual memuliakan kesucian-Mu dan keunggulan selanjutnya, sehingga dengan melaksanakan kegiatan bajik, menjadi layak sebagai kawan-Mu.</p>
<p>9<br />
Intisari melimpah dari kebahagiaan spiritual yang diperas dengan bantuan batu penebusan dosa dan pengabdian ini, dipersembahkan kepada-Mu melalui sendok besar hati kami. Intisari ini dimaksudkan untuk sang diri (roh), yang akan memuaskan selera spiritualnya dengan mereka. Dengan demikian, semoga Engkau memusatkan pikiranmu terhadap yang memberikan kekayaan.</p>
<p>10<br />
Kegelapan dari kebodohan mengganggu arus air pengetahuan. Dalam perut awan terkumpul kegelapan dari kebimbangan; bila kegelapan itu ditundukkan maka airnya akan tercurah oleh sang diri Pengetahuan yang terucapkan seperti itu, melewati rongga gua hati nurani dan aliran pemikiran bijak akan menerus.</p>
<p>11<br />
Semoga kekuatan spiritual-Mu, wahai roh terberkati, dapat menundukkan semua musuh; dan semoga dengan bantuan-Mu, kami memperoleh ketenaran dan kekuatan. Semoga yang bijak dikasihi dan menjadi kaya. Semoga Engkau memberkati kami dengan kekayaan, kemajuan luar biasa dan makanan melimpah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-54/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/03/01/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-54/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Rg Veda - Mandala Pertama - Bab III - Sukta 53</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/PustakaHindu/~3/GjmamxPJHgU/</link>
		<comments>http://www.pustakahindu.info/2009/02/04/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-53/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 15:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Rg Veda]]></category>

		<category><![CDATA[sruti]]></category>

		<category><![CDATA[weda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pustakahindu.info/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[1
Kami, para bhakta yang berkumpul dalam dewan memuja Tuhan maha cemerlang dan perkasa, dengan puji-pujian sakral sehingga Dia siap memberikan kekayaan dan kebijaksanaan pada kami, dan semoga kami dapat menerimanaya secepat mimpi. Semoga pujian kami tulus dan bajik, karena pujian yang diungkapkan dengan buruk tak mendapatkan imbalan dari Tuhan maha pemurah
2
Kami mempersembahkan puji-pujian ini pada-Mu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1<br />
Kami, para bhakta yang berkumpul dalam dewan memuja Tuhan maha cemerlang dan perkasa, dengan puji-pujian sakral sehingga Dia siap memberikan kekayaan dan kebijaksanaan pada kami, dan semoga kami dapat menerimanaya secepat mimpi. Semoga pujian kami tulus dan bajik, karena pujian yang diungkapkan dengan buruk tak mendapatkan imbalan dari Tuhan maha pemurah</p>
<p>2<br />
Kami mempersembahkan puji-pujian ini pada-Mu, ya Tuhan maha cemerlang; Engkau adalah pemelihara, penganugerah badan yang kuat, yang terdiri dari indra-indra tajam dan pikiran cepat; Engkau adalah penguasa kekayaan, guru umat manusia, sangat murah hati dan tak pernah mengecewakan para pemuja-Mu. Engkau adalah kawan sejati bagi teman kami dan pada mereka yang mendekati-Mu sebagai seorang teman.</p>
<p>3<br />
Wahai Tuhan maha cemerlang, maha kuasa, maha bijak, kami mengetahui bahwa segala harta benda kekayaan dan kebijaksanaan yang bersinar ini adalah milik-Mu. Datanglah, wahai penakluk, dengan segala kebijaksanaan dan kekuatan-Mu, dan semoga Engkau tidak mengecewakan para pemuja yang menaruh keyakinannya penuh harapan pada-Mu.</p>
<p><span id="more-814"></span><br />
4<br />
Dimuliakan oleh pengabdian tulus kami dan ditenangkan oleh persembahan kami, wahai sang diri cemerlang, semoga Engkau bersama kami untuk merubah kemiskinan dengan kemakmuran dan kegelapan dengan kebijaksanaan ilahi. Semoga semua orang dari kami dengan bantuan-Mu mendapat kekuatan untuk menaklukkan musuh-musuh kami dan menikmati kelimpahan dalam kehidupan.</p>
<p>5<br />
Semoga kami memperoleh kebijaksanaan dan makanan serta dianugerahi kekuatan yang cemerlang dan sangat berkenan. Semoga kami semua diberkahi kecerdasan tajam, kekuatan dahsyat dan kemampuan spiritual</p>
<p>6<br />
Wahai pelindung orang-orang dermawan, bila Engkau berkenan dengan kegiatan, persembahan dan doa pengabdian kami, curahkanlah berkah-Mu pada kami dan bantulah dalam mengatasi puluhan ribu (tak terhitung) rintangan yang menghadang, sementara kami berjuang melawan kejahatan.</p>
<p>7<br />
Wahai sang diri batin, sebagai pemusnah kejahatan, engkau mulai dari pertempuran menuju pertempuran untuk memerangi kejahatan. Engkau melenyapkan kota demi kota kekuatan jahat dengan keputusan-Mu yang maha kuasa dan mengalahkan kejahatan yang selalu melekat, karena mengganggu manusia dari kebenaran.</p>
<p>8<br />
Wahai roh ilahi terberkati, tanpa bantuan dan sendirian, engkau mengatasi kekejaman dan pemikiran yang menyesatkan dengan kecerdasan tajam-Mu dan membuat jalan bagi yang hormat. Dengan kekuatan halus-Mu, Engkau mendisiplinkan ratusan pegangan kuat dari naluri yang mudah berubah sementara dikelilingi oleh pemikiran-pemikiran tulus dan sederhana.</p>
<p>9<br />
Wahai Tuhan maha cemerlang, Engkau dengan bantuan roda kereta yang tidak disusulkan, menumbangkan 20 raja yang dibantu 60.099 pengikut, sehingga menyelamatkan yang secara luas dianggap sebagai para bijak dari kekacauannya,</p>
<p>10<br />
Wahai roh abadi, yang bersemayam dalam kereta tak terkalahkan dari badan manusia, Engkau menyelamatkan yang secara luas dianggap para pemimpin dan dengan bantuan-Mu, para pemberani. Engkau telah  menjadikan para dermawan, terhormat dan sesepuh usia lanjut tunduk pada pemimpin muda perkasa yang memiliki nama baik.</p>
<p>11<br />
Wahai Tuhan maha kuasa, dengan perlindungan kekuatan ilahi-Mu, semoga kami terus menjadi kawan-Mu yang paling mujur dan dengan anugerah-Mu mendapat anak-anak yang baik dan kehidupan panjang yang penuh kebajikan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pustakahindu.info/2009/02/04/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-53/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://www.pustakahindu.info/2009/02/04/rg-veda-mandala-pertama-bab-iii-sukta-53/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss><!-- Dynamic Page Served (once) in 0.441 seconds -->
