• Kumpulan artikel belajar budidaya dan manajemen pertanian, berkebun, pembibitan dan lain sebagainya tentang pertanian.
  • Ingin tau apa saja ha-hak seorang konsumen? Apa saja hukum yang bisa melindungi konsumen saat mengkonsumsi suatu barang atau jasa, simak kumpulan artikel hukum konsumen berikut.
  • Kumpulan tips, cara dan manajemen dalam bertenak serta nilai-nilai ekonomis dalam sebuah peternakan.

9/17/2019

Candi dan Arca dengan Bercorak Budha Hasil Peninggalan Masa Kerajaan Sriwijaya

Beberapa candi serta arca peninggalan Sriwijaya banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Sumatera. Selain itu ada juga candi Sriwijaya yang ditemukan di daerah Kamboja dan Thailand. Dari kronik Tiongkok juga pernah disebutkan bahwa di tahun 1079, Sriwijaya sebagai kerajaan di Indonesia pernah membantu pembangunan candi di dekat kanton dimana saat itu kerajaan Sriwijaya dianggap telah menjadi bagian dari dinasti Chola.

Reruntuhan candi Kaew (wat kaew) bercorak budhisme di Chaiya Thailand dan merupakan candi jejak Sriwijaya
Reruntuhan candi Kaew (wat kaew) bercorak budhisme di Chaiya Thailand dan merupakan candi jejak Sriwijaya


Sriwijaya pada masa kepemimpinan kerajaan oleh wangsa Syailendra di Jawa Tengah pernah membangun monumen candi berukuran besar yang hingga hari ini masih berdiri dengan kokoh. Candi tersebut diantaranya candi Borobudur yang menjadi daya tarik wisatawan luar, candi Sewu dan candi Kalasan. Kesemua candi ini bercorak ajaran Budha.

Sriwijaya: Borobudur, candi bercorak yang mampu menarik wisatawan berlokasi di Jawa Tengah
Sriwijaya: Borobudur, candi bercorak yang mampu menarik wisatawan berlokasi di Jawa Tengah


Sementara peninggalan jaman Sriwijaya di Sumatera terdapat candi bercorak aliran Budha seperti candi Biaro Bahal, candi Muara Takus dan ada juga candi Muaro Jambi.

Kerajaan saat itu membangun candi Sumatera dengan susunan bata merah, berbeda jauh dengan candi masa periode Jawa Tengah yang terbuat dari batu andesit.

Candi bercorak Budha yaitu Candi Gumpung berlokasi di area Muaro Jambi dimana dulunya adalah kekuasaan kerajaan Melayu yang ditaklukan Sriwijaya
Candi bercorak Budha yaitu Candi Gumpung berlokasi di area Muaro Jambi dimana dulunya adalah kekuasaan kerajaan Melayu yang ditaklukan Sriwijaya


Borobudur sebagai salah satu candi yang merupakan icon wisata candi Indonesia dibangun kerajaan masa Sriwijaya di tangan pemerintahan Samaratungga. Seperti yang telah plengdut sebutkan diatas, bahwa berdasarkan hasil observasi pernah ditemukan reruntuhan candi periode Sriwijaya di daerah Thailand dan Kamboja. Hal ini menandakan bahwa kerajaan pemerintahan Sriwijaya pada saat itu telah melakukan perluasan kekuasaan hingga Kamboja juga Thailand.

Sumatera Selatan terdapat Arca Maitreya yang merupakan Arca Sriwijaya
Sumatera Selatan terdapat Arca Maitreya yang merupakan Arca Sriwijaya


Selain candi, Sriwijaya juga meninggalkan arca arca bercorak Budhisme atau arca dengan bercorak budha seperti yang telah ditemukan di daerah bukit Segantung kota Palembang. Arca bodhisatwa yang berasal dari daerah Jambi, Arca Bidoe, arca Perak, serta arca Chaiya. Ada juga arca Maitreya serta arca komering di Sumatera Selatan. Dari kesemua arca arca ini menampilkan langgam dan keanggunan yang sama dan disebut dengan istilah Seni Sriwijaya atau Langgam Sriwijaya (Gaya Sriwijaya) yang sedikit memperlihatkan kemiripin arca oleh langgam Amarawati India serta langgam Syailendra Jawa.

BPUPKI Dibentuk Pada Tanggal?

Alasan & Tanggal Awal Dibentuk

Pada tanggal 01 Maret 1945 dibentuk BPUPKI yang diumumkan langsung oleh komandan pasukan Jepang untuk daerah Jawa yaitu Jendral Kumakichi Harada. BPUPKI merupakan singkatan kata dari "Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia" atau dalam bahasa jepang dienal dengan "Dokuritsu Junbi Cosakai".

BPUPKI dibentuk oleh pemerintahan Jepang pada tanggal itu dengan mempertimbangkan beberapa alasan penting. Salah satunya yaitu faktor kekalahan tentara Jepang terhadap sekutu yang terjadi dimana-mana pada era Perang Dunia II di akhir 1944. Daerah maupun wilayah dudukan Jepang pada saat itu banyak yang jatuh direbut pasukan sekutu.

Karena Jepang merasakan bahwa pasukan tempurnya sudah tidak mampu mengimbangi gempuran tentara sekutu, akhirnya Jepang memberikan janji berupa kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dengan syarat tidak akan melawan balik kepada pasukan Jepang dan ikut serta membantu Jepang melawan sekutu. Dari berbagai macam usaha yang dilakukan Jepang untuk Indonesia agar mau percaya dengan perjanjian ini, akhirnya dibentuk BPUPKI.

Awal dibentuk atau pembentukan BPUPKI
Awal dibentuk atau pembentukan BPUPKI


Tanggal Peresmian Anggota

Berlokasi di Pejambon tepatnya pada gedung Cuo Sangi In (saat ini menjadi gedung kantor Departemen Luar Negeri) diresmikan dan dibentuk acara pengangkatan dari anggota BPUPKI pada tanggal 28 bulan April 1945.

dr. Radjiman Wedyodiningrat (menjabat sebagai BPUPKI Ketua pada saat awal dibentuk)
dr. Radjiman Wedyodiningrat (menjabat sebagai BPUPKI Ketua pada saat awal dibentuk) 


Di tanggal ini Jepang menunjuk pemimpin ketua BPUPKI yaitu dr. Radjiman Wedyodiningrat dan wakil BPUPKI yaitu Icibangase dari pihak Jepang, dan sekretaris BPUPKI yaitu R.P. Soeroso. Saat itu jumlah anggota dari BPUPKI sebanyak 63 orang dengan perwakilan dari masing-masing wilayah bagian daerah di Indonesia dan penambahan 7 orang anggota tanpa adanya hak suara.

Hukum Termodinamika Dalam Proses Biologi

Selanjutnya akan dibahas sedikit beberapa teori termodinamika yang menyangkut pertukaran energi yang berlangsung antara makhluk hidup dengan sekitarnya. Termodinamika adalah studi tentang hubungan kuantitatif antara panas dengan energi bentuk lain. Dalam termodinamika terkandung pengertian teori dasar tentang hukum pengubahan energi dan proses pengangkutannya, termasuk difusi, osmosis, mengalirnya suatu cairan melalui saluran, pembentukan potensial listrik pada membran, pertukaran panas, arah dan laju reaksi kimia, dan berbagai proses lain yang berada dalam fisiologi hewan.

Berbagai bentuk energi yang sering berada di sekitar kita, telah disebutkan di atas seperti: kinetis, potensial, gaya tarik bumi (gravitasi), listrik, kimia, panas dan energi cahaya.
Berbagai bentuk energi yang sering berada di sekitar kita, telah disebutkan di atas seperti: kinetis, potensial, gaya tarik bumi (gravitasi), listrik, kimia, panas dan energi cahaya. 


Energi harus dijaga agar tidak hilang; energi tidak dapat diciptakan atau dirusak tetapi dapat berubah dari bentuk satu menjadi bentuk lainnya.

Hubungan antara energi kinetis dengan energi potensial dinyatakan dalam hukum termodinamika. Terdapat dua cabang yang menyangkut pengertian termodinamika :
  1. Termodinamika yang “reversibel” (termodinamika klasik atau termodinamika seimbang), terjadi pada sistem yang terisolasi dan tertutup hingga dapat mencapai keseimbangan.
  2. Termodinamika yang “irreversibel” (termodinamika tidak seimbang), terjadi pada sistem terbuka yang mampu mencapai keadaan “steady state” (mapan yang dinamis), bukan keadaan seimbang.
  • Sistem Terisolasi, Tertutup dan Terbuka

Pengertian sistem disini diterapkan pada bahan dan energi secara bersama-sama yang merupakan subjek termodinamika. Terdapat tiga tipe sistem:
  1. Sistem terisolasi, berarti subjek termodinamika terisolasi dari sekelilingnya. Dalam suatu sistem yang benar-benar terisolasi, tidak terjadi penambahan atau penyusutan bahan dan energi, karena tidak terjadi proses pertukaran dengan sistem lain di sekelilingnya. Bagaimanapun juga di dalam sistem tersebut, suatu bahan dapat diubah menjadi energi dan energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Misalnya, energi potensial listrik dapat diubah menjadi panas, cahaya atau suara. Energi kinetis dapat diubah menjadi energi potensial. Misalnya bila sebuah beban diangkat dari tanah ke tempat yang lebih tinggi dan diletakkan pada sebuah penyangga. Pada kejadian tersebut terjadi proses pengubahan energi kinetis (yang digunakan untuk mengangkat beban) menjadi energi potensial yang dimiliki beban pada posisi yang baru.
  2. Sistem “tertutup”, dapat membentuk sendiri bahan yang diperlukan dan energi yang diperlukan dapat diperoleh dari sekelilingnya. Sistem tertutup dengan lingkungannya merupakan bagian dari suatu sistem terisolasi yang besar.
  3. Sistem terbuka, dapat terjadi pertukaran bahan dan energi dengan sekelilingnya, secara bebas. Organisme hidup benar-benar merupakan sistem terbuka, memperoleh nutrisi (bahan dan energi) dari sekelilingnya dan dapat pula mengeluarkan bahan buangan dan bahan lain ke sekelilingnya. Selama hidupnya organisme tidak pernah mengalami keseimbangan termodinamika, melainkan dapat mencapai proses keadaan mapan yang dinamis atau suatu keseimbangan fisiologis yang dinamis.

Hukum Termodinamika

Organisme hidup merupakan suatu sistem terbuka berlaku suatu keadaan yang irreversibel (tidak seimbang) keadaan yang sangat kompleks meskipun pada organisme yang sangat sederhana sekalipun.

Para ahli biologi mempelajari proses metabolisme yang berlangsung dalam suatu organisme sebagai suatu sistem yang tertutup. Meskipun dengan berbagai keterbatasan namun banyak informasi yang dapat diperoleh melalui pendekatan ini.

Hukum I Termodinamika (hukum kekekalan energi): menyatakan bahwa total energi di dalam sistem yang terisolasi (jagat raya) akan konstan. Energi tidak dapat diciptakan maupun dihilangkan, tetapi dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Di dalam suatu sistem tertutup (suatu ruang tanpa adanya pertukaran energi melalui pembatas ruang tersebut) berisi sejumlah energi (E). Kandungan energi di dalam ruang ini tetap.

ΔE = 0 (persamaan energi termodinamika di dalam sistem tertutup)

Pada sistem terbuka, dapat terjadi pertukaran energi, yang diserap sebagai panas (Q) atau dalam bentuk kerja (W).

Δ E = Q – W (persamaan energi termodinamika di dalam sistem terbuka)

Setiap perubahan energi pada sistem terbuka (hewan) harus diikuti dengan perubahan energi dalam jumlah yang sama di lingkungannya, tetapi dengan arah yang berlawanan. Hukum termodinamika pertama menunjukkan hubungan kuantitatif antara perubahan energi (E), kerja yang dilakukan (W) dan panas yang diserap (Q), tetapi tidak menunjukkan arah perubahan energi antara kerja dengan panas.

Hukum II Termodinamika, menyatakan bahwa terjadinya degradasi energi (energi yang dapat dimanfaatkan untuk kerja), tidak dapat dihindar-kan, energi berubah menjadi panas. Energi panas dapat diubah menjadi energi bentuk lain yang dapat menghasilkan kerja, namun dengan efisiensi kurang dari 100 %. Bagaimanapun juga energi dalam bentuk tertentu dapat diubah menjadi panas dengan efisiensi kurang dari 100 %. Hukum termo dinamika kedua menunjukkan terjadinya peningkatan panas dalam sistem manapun. Termodinamika II: Energi “berkualitas lebih tinggi” akan mengalami penyusutan menjadi energi panas (“berkualitas rendah”).

Dari satu molekul glukosa yang dioksidasi di dalam sebuah kalorimeter akan terbentuk CO2 dan H2O, dan tidak ada kerja yang dihasilkan. Energi potensial bahan kimia (glukosa) diubah menjadi 673 kcal panas, pada suhu dan tekanan baku.
  • Organisme Hidup dan Sistem Terbuka

Organisme hidup biologi bagaimanapun juga merupakan sistem terbuka (merupakan bagian dari sistem terisolasi jagat raya dilihat dari sisi termodinamika) yang harus mengikuti hukum termodinamika. Organisme hidup menyerap berbagai molekul kompleks yang memiliki energi bebas berkualitas tinggi, hingga dapat menjaga dirinya dalam keadaan mantap yang dinamis (steady state) dan menghindarkan penghamburan energi. Dalam hidupnya organisme ini perlu melaksanakan tahapan pertumbuhan dan perbanyakan (reproduksi), suatu proses termodinamika yang sangat terkoordinasi dalam menggunakan energi yang berasal dari makanan.

Organisme hidup dapat bertahan dengan memanfaatkan sisa energi di alam. Bila hubungan dengan sumber energi terputus, organisme akan segera mengalami peluruhan hingga terjadi kematian. Secara mutlak, semua proses biologi bergantung pada penyerapan energi cahaya dari matahari dan energi radiasi panas dari bumi ke angkasa luar.

a. Katabolisme

Protoplasma selalu menunjukkan aktivitas. Aktivitas ini bukan saja mengakibatkan perubahan dari bentuk asal, tetapi juga dalam bentuk produksi panas dan potensial listrik dan juga dalam perubahan secara kimia. Aktivitas tersebut bukan menciptakan energi tetapi merupakan mekanisme termodinamika perubahan energi di dalam protoplasma. Karenanya untuk dapat aktif, kebutuhan akan energi harus dicukupi.

Sumbernya diambil dari energi potensial kimia yang terdapat pada karbohidrat, lipid, dan protein. Senyawa-senyawa ini bukan saja dijumpai dalam makanan, tetapi juga merupakan bagian protoplasma. Agar dapat digunakan dalam proses penting (misal untuk kontraksi otot), maka energi potensial kimia di dalam makanan atau protoplasma harus dilepaskan. Pelepasan energi potensial dikenal sebagai katabolisme.

Pengeluaran energi. Bila molekul organik yang besar dipecah menjadi dua atau lebih molekul lebih kecil, molekul yang terbentuk memiliki energi potensial lebih kecil daripada energi yang terkandung di dalam molekul asalnya. Sejumlah energi telah terlepas. Sebagai contoh pada fermentasi glukosa oleh ragi; glukosa diurai menjadi dua molekul karbondioksida (CO2) dan dua molekul etil alkohol (C2H5OH). Proses ini diikuti oleh produksi panas, sebagian dari energi potensial yang terkandung dalam glukosa telah dilepaskan. Hal yang sama terjadi pula di dalam tubuh hewan, bila molekul glukosa dipecah menjadi dua molekul asam laktat (C3 H6O3). Tetapi bila glukosa mengalami oksidasi sempurna, seluruh energi yang terkandung di dalamnya berubah menjadi energi kinetis.

C5H12O6 + 6 O2 ↔ 6 CO2 + 6 H2O + energi

1) Penggunaan energi yang terlepas

Energi yang dikeluarkan selama katabolisme dapat digunakan oleh protoplasma untuk berbagai keperluan. Dalam protoplasma otot, sejumlah energi yang terlepas, muncul sebagai energi mekanis. Energi mekanis dapat digunakan untuk menggerakkan sebagian atau seluruh tubuh, atau untuk mengalirkan berbagai bahan (darah, makanan) dari satu tempat ke tempat lain dalam tubuh. Di dalam suatu kelenjar, pengeluaran energi digunakan untuk pembuatan bahan (sekret). Di dalam tubuh Mamalia sebagian besar energi yang terlepas (sampai 80%) berada dalam bentuk panas yang dapat digunakan untuk mempertahankan suhu tubuhnya yang sesuai.

Katabolisme terjadi di dalam setiap sel tanpa kecuali, tetapi jumlah katabolisme bervariasi dari satu jenis jaringan atau organ ke jenis lain dan bergantung pada kebutuhannya akan energi. Otot dan beberapa organ lain (seperti: hati) merupakan bagian di dalam tubuh yang paling aktif. Di dalam jaringan ikat, seperti contohnya pada tulang, katabolisme berlangsung kurang aktif.

2) Proses permintaan (kebutuhan) dan pengaturan

Energi yang dilepas akan bermanfaat bila dapat ditangkap dengan baik dan dapat diatur penggunaannya. Misalnya saja terjadi perbedaan manfaat pada pembakaran bensin yang dilakukan secara asal membakar dibandingkan dengan cara pembakaran yang diatur, dalam sistem pembakaran kendaraan bermotor (di dalam karburator kendaraan bermotor terjadi pencampuran antara bensin dengan oksigen; proses selanjutnya adalah pembakaran; gas yang timbul sebagai hasil pembakaran akan mendorong pompa silinder; akibatnya terjadi putaran mesin atau gerakan kendaraan).

Disini dapat dimengerti bahwa sebagian energi kinetis yang terbentuk dapat diubah menjadi energi mekanis yang dapat dipakai dalam menjalankan mesin atau menggerakkan kendaraan bermotor. Dalam hal yang sama tetapi tidak identik, energi kinetis di dalam tubuh juga diperlukan, disebarkan, dikendalikan dan dirangkaikan hingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas tubuh makhluk hidup.

Dalam oksidasi biologis, sebagian besar energi potensial termodinamika di berbagai senyawa yang dipecah (katabolis) juga diubah menjadi panas. Panas ini digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh dan melaksanakan berbagai fungsi metabolisme. Jumlah panas yang terlepas dan tidak dapat digunakan untuk kerja merupakan ukuran dari keadaan yang tidak efisien pada organisme tertentu. Sebagai akibatnya, energi dari luar harus terus dimasukkan, agar tubuh berada dalam keadaan mantap atau “steady”. Keadaan ini menggambarkan “keseimbangan” antara energi dari dalam yang terlepas dengan energi dari luar tubuh yang harus dimasukkan; pertukaran ini harus terus berlangsung selama makhluk itu hidup.

b. Anabolisme

Untuk berbagai aktivitas biologi, organisme hidup memerlukan pula energi yang berasal dari penguraian makanan (katabolisme). Selanjutnya dalam mempertahankan eksistensi dan kelangsungan fungsinya maka dalam setiap perombakan (katabolisme) harus diikuti mekanisme perbaikan (penyusunan) yang dikatakan sebagai anabolisme.

1) “Menelan”

Langkah awal anabolisme adalah memasukkan berbagai bahan ke dalam tubuh untuk mengganti bagian-bagian yang rusak atau yang telah digunakan. Misalnya biologi seekor Amoeba “menelan” bahan makanannya dengan bantuan pseudopoda. Protoplasma sel (tanpa dinding) mengelilingi bahan yang akan ditelan; dan ini disebut fagositosis, organismenya disebut fagosit. Beberapa jenis sel darah putih (limfosit, monosit) berlaku sebagai fagosit, yaitu dapat menelan bakteri. Pada hewan multisel, menelan makanan berarti memasukkan makanannya ke dalam saluran makanan atau saluran pencernaan.

2) Pencernaan

Molekul-molekul karbohidrat, lemak, dan protein yang berada dalam makanan yang tertelan masih terlalu besar untuk dapat langsung dimanfaatkan dalam pembentukan protoplasma. Tambahan lagi, makanan yang masuk umumnya tidak larut; karbohidrat, lemak dan protein tidak larut dalam air. Pada biologi hewan multisel, sel-sel yang membangun tubuhnya sebagian besar tidak mempunyai kemampuan sebagai fagosit terhadap bahan dalam makanan. Hal ini disebabkan sel-selnya telah terdiferensiasi dan terspesialisasi hingga mempunyai fungsi khusus. Jadi harus melakukan persiapan terlebih dahulu agar bahan makanan ini dapat dimanfaatkan oleh setiap sel yang membangun tubuhnya.

Bila kita perhatikan seekor Amoeba yang menelan makanannya, ternyata makanan tadi dihancurkan hingga larut. Proses ini dapat terjadi dengan bantuan senyawa kimia yang dikenal sebagai enzim, yang dapat mempercepat proses penguraian molekul makanan besar menjadi molekul lebih kecil. Molekul-molekul yang dihasilkannya dapat lebih mudah larut sehingga dapat dimanfaatkan oleh protoplasma. Proses tersebut tergolong ke dalam pencernaan.

3) Penyerapan

Di dalam tubuh manusia penyerapan dilakukan di saluran pencernaan, suatu saluran panjang dan sempit. Hasil pencernaan akan “mengalir” (menembus atau melewati) dinding saluran pencernaan hingga mencapai pembuluh kapiler dan akhirnya masuk ke peredaran darah. Peristiwa ini dinamakan penyerapan (absorpsi). Selanjutnya zat makanan akan diedarkan ke seluruh jaringan dan masuk ke setiap sel yang memerlukan, setelah berada dalam cairan jaringan. Perpindahan zat makanan dari satu tempat ke bagian lain hingga berada dalam sel dilakukan melalui transpor aktif. Organisme satu sel tidak memiliki saluran pencernaan seperti yang dimiliki hewan multisel. Jadi bahan makanan langsung “diserap” melewati membran selnya. Mekanisme yang berlangsung dapat terjadi melalui transport pasif maupun aktif. Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian “transportasi bahan melalui membran”.

c. Ekskresi

Oksidasi makanan menghasilkan dua hal:
  1. pengubahan energi kimia menjadi energi kinetis,
  2. Pengubahan materi makanan menjadi senyawa lebih sederhana, termasuk bahan-bahan sisa yang harus dibuang.
Ekskresi merupakan usaha sel atau organisme untuk membuang senyawa hasil metabolisme yang tidak dapat dimanfaatkan. Diantaranya adalah air, karbondioksida, urea, dan asam urat. Sebagian akan dibuang melalui proses ekskresi. Tubuh manusia memiliki organ khusus untuk melaksanakan proses ini. Bersama senyawa lain, air, urea, dan asam urat dikeluarkan melalui ginjal dan selanjutnya dikeluarkan dari tubuh sebagai urine (air kemih). Sedangkan karbondioksida dan air dikeluarkan lewat paru-paru dan selanjutnya dikeluarkan sebagai uap air di saat mengeluarkan nafas. Sejumlah bahan lain lagi dikeluarkan bersama sisa makanan yang tidak tercerna lewat saluran pencernaan. Organisme sederhana yang terdiri dari satu sel tidak memiliki sistem ekskretori seperti pada hewan yang kompleks. Namun proses ekskresi tetap berlangsung (lihat bagian “transportasi bahan melalui membran”).

d. Respirasi atau Pernapasan

Karena bagian terbesar energi potensial kimia dalam makanan dapat dimanfaatkan melalui proses oksidasi, maka masukan oksigen harus terus menerus dilakukan. Dari oksidasi akan dihasilkan gas karbondioksida, yang harus dikeluarkan. Karenanya diperlukan mekanisme pertukaran gas dari dan ke dalam suatu organisme, proses ini dinamakan respirasi atau pernapasan. Pada beberapa hewan, proses ini berlangsung di paru-paru, yang mempunyai dua fungsi, yaitu:
  1. Pemasukkan oksigen dari udara ke darah, dan
  2. Pengeluaran karbondioksida (dan sejumlah kecil air) dari darah ke udara.
Pada organisme satu sel proses pertukaran oksigen dengan karbondioksida berlangsung dengan difusi. Proses terjadi karena terdapat perbedaan konsentrasi antara satu bagian di dalam sel dengan bagian di luar sel.

Binturong: Hewan Imut Berbau Khas Jagung Berondong (Popcorn)

Ada yang pernah tahu atau bahkan pernah melihat hewan binturong? Berukuran imut, hewan ini sering disebut juga “bearcat” dikarenakan wajahnya menyerupai beruang namun berukuran kecil seperti kucing. Di Indonesia juga dikenal dengan sebutan “binturung” atau secara global memiliki nama “Arctictis binturong”. Si imut ini memiliki ciri khas terutama pada aroma tubuhnya yang berbau menyerupai bau margarin popcorn (berondong jagung) yang gurih. Mengapa bisa binturong memiliki bau jagung popcorn atau berondong jagung? Yuk disimak ulasan plengdut edisi pengetahuan kali ini.

Berwajah mirip beruang dan bertubuh serta berekor mirip kucing merupakan alasan binturung disebut sebagai bearcat
Berwajah mirip beruang dan bertubuh serta berekor mirip kucing merupakan alasan binturung disebut sebagai bearcat


Anatomi Binturong

Binturong sebenarnya masih berkeluarga dekat dengan luwak, hanya saja jika luwak terkenal pemakan dan penghasil kopi dengan harga jual selangit maka binturong terkenal dengan aroma pop corn dari sekujur tubuhnya. Selain itu dalam keluarga Viverridae, binturung (binturong) merupakan salah satu spesies dengan ukuran terbesar dalam klasifikasi tersebut dibandingkan saudaranya yaitu luwak.

Persebaran hewan binturong ini banyak ditemukan pada daerah selatan dan tenggara Asia terutama di daerah-daerah Bangladesh, Bhutan, provinsi Yunan China, Myanmar, Indonesia, India, Malaysia, Laos, Nepal, Filipina, Vietnam dan juga Thailand. Tercatat ada sekitar 1928 spesies dari Guangxi China, Calauit Island Filipina dan juga dari kamboja.

Variasi imut warna bulu putih binturung
Variasi imut warna bulu putih binturung


Berat tubuh rata-rata binturong sekitar 9 hingga 20kg dengan panjang tubuh binturung mencapai 24 hingga 38 inchi atau sekitar 60 sampai 96 cm. Sedangkan ukuran binturong betina umumnya melebihi besar ukuran binturong jantan. Warna bulu bintorang bervariasi mulai dari hitam, binturung putih, cokelat, hingga bulu berwarna perak.


Karnivora dan Nocturnal

Dalam klasifikasinya, binturong masuk dalam jenis karnivora, akan tetapi hewan ini juga memakan beberapa jenis buah-buahan dan juga sayuran. Sebagai karnivora, binturung menyukai makanan berupa hewan mamalia kecil, burung, serta ikan.

Imut: binturung merupakan hewan nokturnal yang menghabiskan siang hari dengan tidur serta bermalas-malasan di batang pohon
Imut: binturung merupakan hewan nokturnal yang menghabiskan siang hari dengan tidur serta bermalas-malasan di batang pohon


Saat siang hari biasanya binturong akan menghabiskan waktunya untuk tidur di hutan maupun di dahan pohon. Sedangkan waktu berburu binturong akan aktif dimalam hari. Dari sifat binturung ini, maka binturong dapat dimasukan dalam golongan hewan nokturnal (nocturnal) yang lebih banyak beraktifitas di kegelapan malam serta beristirahat saat siang tiba.


Jagung Popcorn & Binturong

Tiap orang yang pernah bertemu dengan hewan imut serta menggemaskan ini akan mencium aroma bau (berbau) mentega popcorn yang gurih. Binturung berbau pop corn inilah yang beberapa waktu lalu diteliti oleh tim ilmuwan yang diketuai oleh Prof. Christine Drea dari Duke University untuk mengetahui senyawa kimia terutama dari sampel urine binturung yang berbau aroma jagung ini.

Penelitian ini mengambil urine sebagai sampel yang diteliti dikarenakan para tim ilmuwan yakin bahwa aroma senyawa kimia binturung yang lezat tersebut sebenarnya terkandung dalam urine yang dimiliki binturung. Dari 33 contoh urine yang diambil dan diteliti ternyata memang benar bahwa terkandung senyawa 2AP (2-Acetyl-1-pyrroline) yang merupakan senyawa berbau lezat seperti yang terdapat dalam popcorn.

Bau ini kemudian akan menempel pada bagian badan binturung dikarenakan percikan urine saat dikeluarkan akan ikut menempel pada bulu-bulu kaki binturung. Ditambah lagi dengan ekor imut binturung yang lebat mirip kucing anggora menyebabkan sisa urine beraroma khas tadi akan terus menempel pada tubuhnya. Bagaimana, unik bukan hewan binturung yang imut ini?

Penelitian mengenai bau khas binturung ini bisa kalian baca lebih lengkap dari sumber jurnal "Science of Nature 103:37; doi: 10.1007/s00114-016-1361-4, Lydia K. Greene et al, 2016" dengan judul "Reproductive endocrine patterns and volatile urinary compounds of arctictis binturong: discovering why bearcats smell like popcorn"