<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578</id><updated>2024-11-01T03:36:20.790-07:00</updated><category term="General Articles"/><category term="My Poem"/><category term="Miscellanous"/><title type='text'>QoNiEtA SyAviRa bLog</title><subtitle type='html'>A Simple Reflection About The Real Nita</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-6202223448188554856</id><published>2008-10-20T17:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T17:55:08.342-07:00</updated><title type='text'>4 Kunci Rumah Tangga Harmonis</title><content type='html'>Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bisa cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bisa menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik, akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di situlah letak keharmonisan. Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumah tangga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga.keempatnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;1. Jangan melihat ke belakang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah mengungkit-ungkit alasan saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau nerima aja, ya? Kenapa nggak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongkok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;2. Berpikir objektif&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kadang, konflik bisa menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosional. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami. Jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balik pun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bisa disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, isteri pun ikut mencari penghasilan, bahkan bisa sekaligus melatih kemandirian anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantung pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami isteri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;4. Sertakan sakralitas berumah tangga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melelahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah swt. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah pendekatan ubudiyah. Jangan bosan dengan doa. Bisa jadi, dengan taqarrub pada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan. Dan secara otomatis, solusi akan terlihat di depan mata. Insya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken From &lt;a href=&quot;http://www.dakwatuna.com/2007/4-kunci-rumah-tangga-harmonis/&quot;&gt;The Source&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/6202223448188554856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/10/4-kunci-rumah-tangga-harmonis.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/6202223448188554856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/6202223448188554856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/10/4-kunci-rumah-tangga-harmonis.html' title='4 Kunci Rumah Tangga Harmonis'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-7463962602707314383</id><published>2008-10-20T17:42:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T17:48:40.554-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan</title><content type='html'>Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertama, Tidak Punya Visi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedua, Kasar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketiga, Sombong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keempat, Tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kelima, Plinplan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keenam, Pembohong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketujuh, Cengeng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kedelapan, Pengecut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesembilan, Pemalas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesepuluh, Cuek Pada Anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kesebelas, Menang Sendiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keduabelas, Jarang Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ambil Dari &lt;a href=&quot;http://www.dakwatuna.com/2008/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai-perempuan/&quot;&gt;Sumber&lt;/a&gt; Dan &lt;a href=&quot;http://jammaah.ning.com/forum/topic/show?id=1714251%3ATopic%3A244162&quot;&gt;Sumber2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/7463962602707314383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/10/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7463962602707314383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7463962602707314383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/10/13-sifat-laki-laki-yang-tidak-disukai.html' title='13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-7247652545209556266</id><published>2008-09-11T22:44:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T21:35:55.003-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>Menerima Apa Adanya</title><content type='html'>Sepasang pria dan wanita menikah, dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai...&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. “Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…..”. Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. “Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir….. “Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya. “Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia, “Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”. Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…. ” Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini, banyak sekali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/7247652545209556266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/09/menerima-apa-adanya.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7247652545209556266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7247652545209556266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/09/menerima-apa-adanya.html' title='Menerima Apa Adanya'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-3232970942489018594</id><published>2008-09-11T22:41:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T22:43:42.666-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>Rumah Tangga Yang Menyenangkan</title><content type='html'>Banyak orang yang menyangka bahwa pernikahan itu indah. Padahal sebetulnya? Indah …sekali. Tak sedikit yang menyesal, kenapa tak dari dulu menikah...&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sahabat, itu adalah secuplik ungkapan yang lazim terdengar tentang pernikahan. Namun jelas, tak segampang yang dibayangkan untuk membina sebuah keluarga. Membangun sebuah keluarga sakinah adalah suatu proses. Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan untuk manajemen konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu pencegahan terjadinya konflik, menghadapai tatkala konflik terlanjur berlangsung, dan apa yang harus dilakukan setelah konflik reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan pertama, insya Allah kta akan mengurai tentang bagaimana meminimalkan terjadinya konflik di dalam rumah tangga kia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Siap dengan hal yang tidak kita duga&lt;br /&gt;Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Mudah bagi kita bila yang terjadi cocok dengan harapan kita. Namun, bagaimanapun, setiap orang itu berbeda-beda. Tidak semuanya harus sama ‘gelombangnya’ dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita teryata tidak seideal yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat ternyata dia tidak rapi, tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan., misalnya. Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, tidak ada pada dirinya. Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita memiliki sikap tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memperbanyak pesan Aku&lt;br /&gt;Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan yang ada, adalah memeperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain menegetahui kita, makin siap dia menghadapi kita. Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur. Maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan ‘Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,…. jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita: ‘Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah akaibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya. Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ini akan membuat peluang konflik tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita. Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu. Maka katakan saja: ‘Pak… saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak…kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak…’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing di antara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ada sebuah keluarga. Sering sekali terjadi pertengkaran. Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara ‘Pak, maaf ya, keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu suaminya membalas ‘Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan jarang sekali ada pertempuran…’&lt;br /&gt;Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan. Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali. Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri. Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita. Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tentang aturan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus…sosialisasikan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya isteri kita jarang mematikan kran setelah mengguanakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa.. pancuran toh tak pernah ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/3232970942489018594/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/09/rumah-tangga-yang-menyenangkan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/3232970942489018594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/3232970942489018594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/09/rumah-tangga-yang-menyenangkan.html' title='Rumah Tangga Yang Menyenangkan'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-45495551915894697</id><published>2008-08-28T10:07:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T11:35:26.362-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>Bila Bosan Melanda Rumah Tangga</title><content type='html'>Rasa bosan pasti pernah singgah dalam kehidupan rumah tangga Anda. Bahkan mungkin suatu waktu akan datang kembali. Perasaan bosan itu ibarat gelapnya malam yang memang harus Anda lalui untuk kemudian Anda menikmati indahnya pagi dan hangatnya mentari...&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bosan dalam kehidupan berumah tangga adalah wajar, mengingat memang tidak ada yang sempurna dalam kehidupan di dunia ini. Maka, setinggi apapun prestasi, kebaikan, atau keistimewaan, selama masih ada di dunia, pasti memiliki kelemahan dan kekurangan. Artinya, seistimewa apapun pasangan hidup Anda, pasti punya kekurangan. Akibatnya, kebosanan-kebosanan menyergap kehidupan rumah tangga Anda. Tiba-tiba Anda merasa bosan pada keadaan rumah, bosan terhadap penampilan pasangan, bosan terhadap keadaan anak-anak, atau bosan menghadapi segala permasalahan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah tangga yang sudah disergap kebosanan biasanya diwarnai dengan sikap yang serba tidak maksimal. Suami tidak maksimal mengelola ke-qawaman-nya dalam rumah tangga sehingga berimbas kepada sikap istri yang juga tidak maksimal dalam melayani suami, juga dalam menjaga amanah rumah dan anak-anak. Bisa jadi, suami-istri pun tidak maksimal mengekspresikan rasa cinta kasihnya. Akibatnya, muncul ketegangan atau bahkan sikap apatis, suami-istri berjalan sendiri-sendiri mengikuti idealisme masing-masing. Rasulullah SAW mewanti-wanti agar jika muncul rasa bosan atau jenuh, pelampiasan yang dipilih hendaknya tidak keluar dari kebenaran sebagaimana sabda beliau ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barangsiapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunnahku, maka sesungguhnya ia telah memperoleh petunjuk dan barangsiapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunnahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat.” (HR al-Bazaar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Munculnya Rasa Bosan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bosan dalam kehidupan rumah tangga berkaitan dengan faktor internal dan eksternal. Secara internal, rasa bosan seorang suami ataiu istri berkaitan dengan apresiasi dirinya terhadap kondisi rumah tangganya. Mungkin seorang suami melihat keadaan rumah yang tidak rapi setiap pulang kerja. Atau istri mendapati suami pulang kerja dengan setumpuk permasalahan kantor yang kemudian menjadi pekerjaan rumah. Tidak ada waktu untuk bercengkerama atau sekedar ngobrol sehingga rumah tangga rasanya berjalan seperti angina lalu, tanpa ruh. Atau suami menginginkan istri siap jika dia memerlukan teman diskusi pekerjaan kantor. Di sisi lain suami tidak peduli pada pekerjaan rumah tangga istri yang tidak henti-hentinya. Artinya, di satu sisi suami atau mengharapkan pasangannya memahami keadaannya namun di pihak lain tidak ada itikad yang memudahkan harapan itu bisa terealisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara eksternal, sebab-sebab munculnya rasa bosan berasal dari hal-hal di luar diri. Mungkin memang sudah saatnya Anda mengubah posisi tempat tidur atau mengganti gorden kamar Anda. Mungkin saatnya juga Anda mengganti warna cat rumah dengan warna yang lebih segar. Anda juga mungkin sudah saatnya mencoba menu makanan baru atau mengganti penampilan di depan suami Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal yang diindikasikan menjadi penyebab munculnya rasa bosan untuk Anda kenali:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Anda melakukan kesalahan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi istri memasak terlalu asin dan itu terjadi berulang kali untuk masakan kesukaan sang suami. Istri kembali memakai baju warna gelap yang tidak disukai suami. Atau suami selalu menyimpan baju-baju kotor di belakang pintu sehingga istri harus sering razia baju kotor. Dengan demikian, Anda berdua sudah terperosok dua kali pada lubang yang sama. Akibatnya, Anda berdua merasa bosan dengan keadaan yang terus berulang, sementara Anda berdua tidak menghendaki keadaan seperti itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Beban Anda memang berat dan tidak pernah henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin istri beraktivitas kegiatan sosial atau bahkan juga bekerja sehingga ketika sampai di rumah ingin suasana yang sedikit santai untuk mengendorkan urat saraf, sementara suami datang dengan segudang permasalahan kantor dan tuntutan pelayanan dari istri. Atau mungkin kondisi ekonomi rumah tangga kurang mencukupi sehingga suami atau istri harus bekerja keras. Kendati begitu ternyata gaji ternyata gaji berdua tidak cukup untuk membayar rekening-rekening tagihan. Fisik lelah dan pikiran jenuh, akhirnya tidak ada waktu lagi untuk sekedar bermanis-manis dengan pasangan. Yang ada adalah ketegangan demi ketegangan yang lama kelamaan menimbulkan kebosanan-kebosanan dalam menghadapi permasalahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Idealisme Anda terlalu tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang tidak seimbang akan berakhir pada kebosanan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap pasangan akan menimbulkan kekecewaan jika ternyata pasangan tidak mampu memenuhi harapan Anda. Misalnya saja, Anda menginginkan suami selalu bersemangat dalam menyelesaikan setiap permasalahan karena bagi Anda suami ideal adalah suami yang selalu tegar menghadapi masalah rumah tangga. Namun, kenyataannya, suami Anda malah down. Atau Anda mengharapkan istri Anda bisa berbisnis seperti istri-istri lain yang bisa menambah income bulanan dengan berbisnis busana muslim. Kenyataannya istri tidak berbakat dagang sehingga tidak balik modal. Akhirnya, Anda patah arang, lalu malah tidak semangat lagi mengejar harapan tersebut. Akhirnya Andapun bosan mengejar sesuatu yang memang tidak bisa Anda paksakan kepada pasangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebosanan yang Melahirkan Kekuatan Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang yang menjadikan kebosanan sebagai antiklimaks yang mengawali sikap atau perilaku buruk. Mereka berdalih mencari kompensasi rasa bosannya itu dengan mengerjakan hal-hal negative dengan dalih untuk mencari suasana baru. Padahal jika disikapi denga baik, kebosanan akan memunculkan kreativitas yang melahirkan kekuatan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut tips-tips yang bisa Anda simak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perbarui niat. Setelah sekian lama berumah tangga, ada saatnya Anda berdua menekan tombol pause untuk merenung. Mungkin karena kesibukan urusan kantor atau rumah, Anda berdua tidak sempat saling mengingatkan pada niat semula menjalani rumah tangga sebagai ibadah. Anda berdua perlu mengukur kembali keikhlasan Anda dalam menghadapi berbagai problematika rumah tangga. Keihklasan adalah sumber kekuatan jiwa dan fisik sehingga Anda akan kuat menjalani kondisi apapun dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Susunlah perencanaan dan manajemen rumah tangga Anda. Kebosanan banyak datang karena tidak adanya perencanaan dan manajemen yang baik dalam menata aktivitas rumah tangga. Akibatnya, tenaga, pikiran, waktu, dan dana tidak terpakai maksimal untuk hal-hal yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pahami keutamaan-keutamaan amal. Allah akan memberikan ganjaran untuk pekerjaan yang dilakukan dengan dasar ikhlas dan benar. Lelahnya suami mencari nafkah dihitung sebagai fi sabilillah. Peluh, kelelahan, dan kesulitan dalam mencari nafkah akan memperoleh pahala besar. Pekerjaan istri mengurus rumah tangga dengan benar dan ikhlas akan mengantarkannya pada surga. Jadi, hadirkan dalam diri kita kenikmatan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang beramal saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ajaklah pasangan Anda melakukan ibadah sunnah berdzikir, beribadah, dan mendekatkan diri kepada Allah ketika kita diterpa kegelisahan dan rasa bosan adalah di antara kebiasaan yang dilakukan salafussaleh. Allah akan menyertai orang-orang yang menjalankan amalan-amalan sunnah setelah menjalankan amalan-amalan wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Bercerminlah pada orang lain. Anda berdua bisa bertanya kepada orang-orang tua atau yang lebih berpengalaman tentang kiat-kiat mereka mengatasi kelelahan atau kebosanan dalam menjalani cobaan-cobaan hidup. Uraian mereka akan memacu semangat Anda dalam mengatasi kebosanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tips-tips di atas memang bukan hal yang mudah untuk direalisasikan. Semuanya membutuhkan kesungguhan, keseriusan, dan kerja keras. Namun, jika dikerjakan akan menjadi solusi bagi rasa antara Anda dan pasangan Anda. InsyaAllah&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/45495551915894697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/08/bila-bosan-melanda-rumah-tangga.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/45495551915894697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/45495551915894697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/08/bila-bosan-melanda-rumah-tangga.html' title='Bila Bosan Melanda Rumah Tangga'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-7765421749510796567</id><published>2008-08-04T01:34:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T11:39:56.143-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Poem"/><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>Cinta hanya mengajarkan&lt;br /&gt;untuk melindungimu, bahkan&lt;br /&gt;dari dirimu sendiri...&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah cinta yang bebas dari api,&lt;br /&gt;yang menahanku dari mengikutimu&lt;br /&gt;pergi ke tempat yang jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta membunuh hasratku sehingga&lt;br /&gt;engkau bisa hidup bebas dan benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang terbatas&lt;br /&gt;mencari kepemilikan dari orang yang di cintai...&lt;br /&gt;Namun cinta yang tak terbatas,&lt;br /&gt;Hanya mencari dirinya...&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/7765421749510796567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/08/cinta.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7765421749510796567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/7765421749510796567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/08/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-2448772847795107673</id><published>2008-06-08T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T00:37:54.116-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Miscellanous"/><title type='text'>SPEEDY TINGKATKAN 1 Mbps</title><content type='html'>&lt;marquee direction=&quot;right&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://telkomspeedy.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;speedy banner&quot; src=&quot;http://i208.photobucket.com/albums/bb215/virashakira/logo_speedy2.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=&quot;left&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:courier new;color:#3333ff;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#cc33cc;&quot;&gt;Dalam rangka memperingati 100 tahun hari Kebangkitan Nasional, Telkom mempersembahkan&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;color:#cc33cc;&quot;&gt;kecepatan akses layanan Speedy hingga 1 Mbps downstream dan 128 kbps upstream untuk bangsa Indonesia.&lt;div class=&#39;fullpost&#39;&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan kecepatan ini telah dilakukan di sebagian lokasi di 59 kota dan akan terus diperluas hingga ke seluruh area cakupan layanan Speedy di lebih dari 220 kota di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;Pelanggan Speedy dapat menikmati peningkatan kecepatan ini tanpa dikenai tambahan biaya apa pun.&lt;br /&gt;Untuk dapat melihat daftar lokasi yang sudah dapat menikmati kecepatan Speedy up to 1 Mbps&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://http://portal.telkomspeedy.com/upload/Daftar%Kota%1Mbps&amp;#3;0608.pdf&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:courier new;font-size:100%;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;em&gt;Klik di sini&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:courier new;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Untuk melihat daftar lokasi yang sudah dapat menikmati kecepatan Speedy up to 1 Mbps di Divre I (sumatera),&lt;em&gt; &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;http://portal.telkomspeedy.com/upload/Daftar_Lokasi_Speedy_Revitalisas.pdf&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:courier new;font-size:100%;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;em&gt;klik disini&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#000066;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:courier new;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Untuk detail informasi lokasi hubungi 147&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Courier New;font-size:100%;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#000066;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Courier New;font-size:100%;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align=&quot;left&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#000066;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Courier New;font-size:100%;color:#cc33cc;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee onmouseover=&quot;this.stop()&quot; onmouseout=&quot;this.start()&quot; scrollamount=&quot;2&quot; direction=&quot;up&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;100&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://speedycompetition.wordpress.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; alt=&quot;Photobucket&quot; src=&quot;http://i208.photobucket.com/albums/bb215/virashakira/banner2.jpg&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/2448772847795107673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/06/speedy-tingkatkan-1-mbps.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/2448772847795107673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/2448772847795107673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2008/06/speedy-tingkatkan-1-mbps.html' title='&lt;marquee direction=left&gt;SPEEDY TINGKATKAN 1 Mbps&lt;/marquee&gt;'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-8793964542340267652</id><published>2007-11-18T20:28:00.000-08:00</published><updated>2008-09-04T11:46:34.608-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Poem"/><title type='text'>Suara Sebuah Hati</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family:comic sans ms;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;Jiwaku adalah kawanku..&lt;br /&gt;Yang senantiasa menghibur aku&lt;br /&gt;Dalam kesengsaraan serta kesulitan hidup...&lt;span id=&#39;fullpost&#39;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang tidak bersahabat dengan jiwanya,&lt;br /&gt;Adalah musuh kemanusiaan...&lt;br /&gt;Dan dia yang tidak menemukan petunjuk manusiawi&lt;br /&gt;Didalam dirinya sendiri, akan binasa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang untuk mengucapkan satu patah kata&lt;br /&gt;Dan aku harus mengucapkannya sekarang...&lt;br /&gt;Tetapi jika kematian mengahalangiku untuk mengucapkannya,&lt;br /&gt;Maka hari esoklah yang akan mengucapkan.&lt;br /&gt;Karena hari esok tak pernah meninggalkan rahasia&lt;br /&gt;Dalam buku keabadian....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang untuk hidup dalam kemuliaan cinta&lt;br /&gt;Dan cahaya keindahan....&lt;br /&gt;Aku hidup di sini...&lt;br /&gt;Dan orang-orang  tidak akan mampu mengasingkan aku&lt;br /&gt;Dari berbagai bidang kehidupan...&lt;br /&gt;Karena mereka tahu bahwa&lt;br /&gt;Aku akan tetap hidup dalam kematian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku datang kesini untuk semua,&lt;br /&gt;Dan bersama semua orang, dan&lt;br /&gt;Apapun yang kulakukan hari ini,&lt;br /&gt;Dalam kesunyian...&lt;br /&gt;Akan dikumandangkan oleh hari esok&lt;br /&gt;Kepada semua orang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun hari ini yang kukatakan kepada satu hati....&lt;br /&gt;Besok akan di katakan oleh banyak hati....&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/8793964542340267652/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/11/suara-sebuah-hati.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/8793964542340267652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/8793964542340267652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/11/suara-sebuah-hati.html' title='Suara Sebuah Hati'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-2268659379123407727</id><published>2007-04-25T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-09-04T11:53:28.006-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>JANGAN SEPELEKAN PEKERJAAN IRT</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:black;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Dalam suatu survey, saya bertanya tentang pekerjaan seorang Ibu. Dengan malu-malu ibu itu menjawab: “Pekerjaan apa pak, Kami ini hanya ibu rumah tangga, tidak bekerja. Bekerjanya ya bersih-bersih rumah, melayani suami, merawat anak, lainlah sama mereka yang bekerja di kantor.” Ini jawaban yang sering ditemui ketika kita menanyakan pekerjaan seorang ibu rumah tangga (IRT). Bagi mereka yang tidak bekerja (menghasilkan uang), jawabannya adalah IRT, tidak bekerja atau dirumah saja. Seolah-olah yang mereka kerjakan setiap hari itu tidak ada harganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span id=&#39;fullpost&#39;&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;       Pernahkah kita membuat kalkulasi berapa duit yang didapat seorang IRT yang melakukan pekerjaan rrumah , melayani suami dan mengurus anak? Tentu tidak, bahkan oleh IRT itu sendiri. Kenapa? Karena, budaya kita memang seperti itu. Segala pekerjaan rumah tangga (RT) adalah urusan istri, kecuali beberapa kasus seperti, membetulkan genteng bocor. Makanya, ketikas seorang suami pulang dari kerja belum ada makanan di atas meja atau anaknya belum mandi, si suami akan berteriak marah-marah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Ketika bayi lahir, pekerjaan seorang ibu tidak berhenti sampai di situ. Pekerjaan memandikan, menyuapi bahkan mengganti popok dimalam hari ketika sang suami tidur mendengkur, menjadi pekerjaan rutin setelah fase melahirkan anak. Ia sadar, sang suami capek setelah bekerja seharian tanpa menyadari bahwa ia sendiri juga capek setelah bekerja seharian mengurus rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Memasak, mencuci, membersihkan rumah menjadi rutinitas sehari-hari yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan ketika sedang tidur harus dibangunkan oleh suami untuk memberi ‘pelayanan biologis’, kewajiban katanya. Tetapi kalau kewajiban itu dilakukan ketika sedang capek dan dengan sangat terpaksa, bagaimana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Pernahkah suami membayangkan, ketika ia capek bekerja istri yang notabene IRT di rumah juga kecapekan? Menyapu, mengepel lantai, belepotan kotoran bayi atau bahkan mengejar-ngejar&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;penjual sayur hanya karena ingin memasak makanan kesukaan suami. Sekali lagi, pernahkah suami membayangkannya?&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;        Tidak kita pungkiri, sekarang banyak perempuan bekerja mencari uang tetapi ketika mereka pulang ke rumah statusnya tetap sebagi IRT. Ia juga yang membuatkan teh untuk suaminya, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengatur keuangan Rumah Tangga, menjadi pekerjaan yang berat bagi seorang ibu. Tidak jarang Rumah Tangga menjadi hancur karena persoalan keuangan. Dalihnya, istri tidak pandai mengatur uang. Sadarkah kita, IRT itu bukan akuntan atau ekonom. Banyak dari mereka yang cuma berpendidikan sekolah lanjutan. Terlepas dari itu, banyak juga yang pandai mengatur keuangan rumah tangga.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Implikasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;  Bagi perempuan yang berstatus sebagai IRT dan tidak bekerja, akan bergantung pada suami untuk mengambil keputusan. Pada tingkat pemenuhan kebutuhan rumah tangga, terkadang kebutuhan anak dan ia sendiri di pinggirkan. Dikalahkan oleh kebutuhan suami, misalnya untuk merokok, karena suami yang mencari uang. Umumnya perempuan akan berpikir dua kali untuk melarang suaminya agar tidak merokok. Bukankah akan lebih baik daripada rokok yang tidak ada gunanya, uangnya dibelikan untuk kebutuhan anak. Di sini terkadang egoisme suami muncul, bukankah suami yang mencari uang, kenapa giliran mau memakai tidak boleh?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada kasus lain, banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga tidak mau melapor kepada pihak berwajib atau pembela hak asasi perempuan. Apalagi sampai membuat keputusan untuk berpisah dengan suaminya. Mereka tidak berani karena secara ekonomi tergantung pada suami. Mereka berpikir kalau berpisah bagaimana harus mencari makan, bagaimana anak-anak dan alasan lainnya. Jarang sekali status mereka sebagai IRT sekaligus chef, binatu, orang yang pintar mengatur uang menjadi ‘senjata’ bagi perempuan untuk memperkuat posisi mereka.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;            Sudah saatnya suami juga mengerti beban kerja isteri (IRT) yang tidak bergaji. Sekali-sekali membantu mencuci, membuat susu anak, memasak, mengepel lantai atau membuatkan teh untuk isteri. Tidak ada salahnya, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:Arial;color:blue;&quot;   lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 153, 153);font-family:Arial;&quot;  lang=&quot;IN&quot;&gt;Source : Taken From Banjarmasin Post, April, 24 2007&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(153, 153, 153);font-family:Arial;font-size:11;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/2268659379123407727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/04/jangan-sepelekan-pekerjaan-irt.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/2268659379123407727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/2268659379123407727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/04/jangan-sepelekan-pekerjaan-irt.html' title='JANGAN SEPELEKAN PEKERJAAN IRT'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3087934843238221578.post-9161189286457253122</id><published>2007-02-05T03:01:00.000-08:00</published><updated>2008-09-04T11:55:13.819-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="General Articles"/><title type='text'>Cinta Laki Laki Biasa</title><content type='html'>Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki&lt;br /&gt;Biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan&lt;br /&gt;alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru&lt;br /&gt;setelah menengok ke belakang,&lt;br /&gt;hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,&lt;br /&gt;keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,&lt;br /&gt;melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,&lt;br /&gt;kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka&lt;br /&gt;ternyata sama herannya....&lt;span id=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin&lt;br /&gt;menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu.&lt;br /&gt;Suasana sore di kampus sepi.&lt;br /&gt;Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya&lt;br /&gt;berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya&lt;br /&gt;sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan&lt;br /&gt;di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka.&lt;br /&gt;Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari&lt;br /&gt;sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan?&lt;br /&gt;menyadari, dia tak punya kata-kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak&lt;br /&gt;jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia&lt;br /&gt;menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di&lt;br /&gt;kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara&lt;br /&gt;mendadak gagap.&lt;br /&gt;Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania&lt;br /&gt;menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan&lt;br /&gt;keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena&lt;br /&gt;semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab&lt;br /&gt;kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta&lt;br /&gt;buntut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu pasti bercanda!&quot;&lt;br /&gt;Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di&lt;br /&gt;wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak&lt;br /&gt;nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama&lt;br /&gt;membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika&lt;br /&gt;mengira Nania bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan&lt;br /&gt;keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan&lt;br /&gt;gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!&lt;br /&gt;&quot;Nania serius!&quot; tegasnya sambil menebak-nebak, apa&lt;br /&gt;lucunya jika Rafli memang melamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tidak ada yang lucu,&quot; suara Papa tegas, &quot;Papa hanya&lt;br /&gt;tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang&lt;br /&gt;paling cantik!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa&lt;br /&gt;barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak&lt;br /&gt;sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang&lt;br /&gt;mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh&lt;br /&gt;seleidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang&lt;br /&gt;duduk layaknya pesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?&quot; Mama&lt;br /&gt;mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan&lt;br /&gt;nada penuh wibawa, &quot;maksud Mama siapa&lt;br /&gt;saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya&lt;br /&gt;tidak harus iya, toh?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania terkesima.&lt;br /&gt;&quot;Kenapa?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.&lt;br /&gt;Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai&lt;br /&gt;dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga&lt;br /&gt;juara debat bahasa Inggris, juara baca&lt;br /&gt;puisi seprovinsi. Suaramu bagus!&lt;br /&gt;Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih&lt;br /&gt;gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.&lt;br /&gt;Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki&lt;br /&gt;manapun yang kamu mau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia&lt;br /&gt;kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub&lt;br /&gt;dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata&lt;br /&gt;&#39;kenapa&#39; yang barusan Nania lontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Nania Cuma mau Rafli,&quot; sahutnya pendek dengan airmata&lt;br /&gt;mengambang di kelopak.&lt;br /&gt;Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak&lt;br /&gt;suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.&lt;br /&gt;Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tapi kenapa?&quot;&lt;br /&gt;Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,&lt;br /&gt;dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan&lt;br /&gt;pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka&lt;br /&gt;matanya. &quot;Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya&lt;br /&gt;ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan&lt;br /&gt;seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana&lt;br /&gt;tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan&lt;br /&gt;seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan&lt;br /&gt;membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak&lt;br /&gt;tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak&lt;br /&gt;punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli&lt;br /&gt;tampak &#39;luar biasa&#39;.&lt;br /&gt;Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang&lt;br /&gt;telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur&lt;br /&gt;duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli.&lt;br /&gt;Di sampingnya Nania bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih&lt;br /&gt;sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa&lt;br /&gt;sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,&lt;br /&gt;Nania masih belum mampu juga menjelaskan&lt;br /&gt;kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,&lt;br /&gt;begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari&lt;br /&gt;sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara&lt;br /&gt;dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat&lt;br /&gt;perempuan itu sangat bahagia.&lt;br /&gt;&quot;Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta&lt;br /&gt;Rafli pada Nania.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.&lt;br /&gt;Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata&lt;br /&gt;mereka terlihat tak percaya.&lt;br /&gt;&quot;Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga&lt;br /&gt;pintar!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya&lt;br /&gt;kehidupan sukses!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.&lt;br /&gt;Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak&lt;br /&gt;boleh meremehkan Rafli.&lt;br /&gt;Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu&lt;br /&gt;argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!&lt;br /&gt;Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?&lt;br /&gt;Rafli juga pintar!&lt;br /&gt;Tidak sepintarmu, Nania.&lt;br /&gt;Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.&lt;br /&gt;Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan&lt;br /&gt;kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung&lt;br /&gt;mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.&lt;br /&gt;&quot;Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,&lt;br /&gt;mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk&lt;br /&gt;menghidupimu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.&lt;br /&gt;Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi&lt;br /&gt;punya anak.&lt;br /&gt;Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak&lt;br /&gt;juga berhenti.&lt;br /&gt;Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak,&lt;br /&gt;satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan.&lt;br /&gt;Rafli bekerja lebih rajin setelah&lt;br /&gt;mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu&lt;br /&gt;sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Tak apa,&quot; kata lelaki itu, ketika Nania memintanya&lt;br /&gt;untuk tidak terlalu memforsir diri.&lt;br /&gt;&quot;Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan&lt;br /&gt;dengan gaji Abang.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi&lt;br /&gt;dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa&lt;br /&gt;besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.&lt;br /&gt;&quot;Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan&lt;br /&gt;lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik&lt;br /&gt;menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari&lt;br /&gt;keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan&lt;br /&gt;biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang&lt;br /&gt;amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.&lt;br /&gt;Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak&lt;br /&gt;penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di&lt;br /&gt;kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,&lt;br /&gt;rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan&lt;br /&gt;Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan&lt;br /&gt;itu berada di puncak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli&lt;br /&gt;melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di&lt;br /&gt;kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik&lt;br /&gt;saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.&lt;br /&gt;Cantik ya? dan kaya!&lt;br /&gt;Tak imbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang&lt;br /&gt;pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek&lt;br /&gt;tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan&lt;br /&gt;bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum&lt;br /&gt;bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania&lt;br /&gt;mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu&lt;br /&gt;itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau&lt;br /&gt;membuat Nania menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah&lt;br /&gt;lewat dua minggu dari waktunya.&lt;br /&gt;&quot;Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,&lt;br /&gt;Nania. Harus segera dikeluarkan!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan&lt;br /&gt;sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan&lt;br /&gt;menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan&lt;br /&gt;itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya&lt;br /&gt;normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera&lt;br /&gt;melihat si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di&lt;br /&gt;rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu&lt;br /&gt;meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan&lt;br /&gt;menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara&lt;br /&gt;kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang&lt;br /&gt;datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan&lt;br /&gt;jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan&lt;br /&gt;tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan&lt;br /&gt;melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu&lt;br /&gt;tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Baru pembukaan satu.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Belum ada perubahan, Bu.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Sudah bertambah sedikit,&quot; kata seorang suster empat&lt;br /&gt;jam kemudian menyemaikan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sekarang pembukaan satu lebih sedikit.&quot;&lt;br /&gt;Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster&lt;br /&gt;terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang&lt;br /&gt;tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.&lt;br /&gt;Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,&lt;br /&gt;mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu&lt;br /&gt;kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah.&lt;br /&gt;Perkiraan mereka meleset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Masih pembukaan dua, Pak!&quot;&lt;br /&gt;Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur&lt;br /&gt;karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi&lt;br /&gt;ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin&lt;br /&gt;payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bang?&quot;&lt;br /&gt;Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri&lt;br /&gt;memperjuangkan dua kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Dokter?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali&lt;br /&gt;pusar.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin?&lt;br /&gt;Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi&lt;br /&gt;kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?&lt;br /&gt;Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir&lt;br /&gt;kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan&lt;br /&gt;genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi.&lt;br /&gt;Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba&lt;br /&gt;putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia&lt;br /&gt;tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu.&lt;br /&gt;Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam&lt;br /&gt;perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.&lt;br /&gt;Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan&lt;br /&gt;itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya,&lt;br /&gt;dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum&lt;br /&gt;kemudian dia tak sadarkan&lt;br /&gt;diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa&lt;br /&gt;menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan&lt;br /&gt;zikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania&lt;br /&gt;mendekat.&lt;br /&gt;&quot;Pendarahan hebat.&quot;&lt;br /&gt;Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,&lt;br /&gt;berwarna merah.&lt;br /&gt;Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan&lt;br /&gt;entah bagaimana pecah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.&lt;br /&gt;Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu&lt;br /&gt;lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,&lt;br /&gt;sambil menenangkan orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.&lt;br /&gt;Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas&lt;br /&gt;yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya&lt;br /&gt;dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat&lt;br /&gt;seperti kanker.&lt;br /&gt;Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli&lt;br /&gt;bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus&lt;br /&gt;membagi perhatian bagi Nania dan juga&lt;br /&gt;anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si&lt;br /&gt;kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat&lt;br /&gt;kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai&lt;br /&gt;empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut&lt;br /&gt;menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke&lt;br /&gt;rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak&lt;br /&gt;banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga&lt;br /&gt;Nania dengan Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah&lt;br /&gt;meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat&lt;br /&gt;anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat&lt;br /&gt;Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh,&lt;br /&gt;dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.&lt;br /&gt;Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat&lt;br /&gt;telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.&lt;br /&gt;Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan&lt;br /&gt;menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan&lt;br /&gt;penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan&lt;br /&gt;bercanda mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa&lt;br /&gt;merasakan kehadirannya.&lt;br /&gt;&quot;Nania, bangun, Cinta?&quot;&lt;br /&gt;Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil&lt;br /&gt;mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai&lt;br /&gt;pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih&lt;br /&gt;berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji&lt;br /&gt;dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra.&lt;br /&gt;Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania&lt;br /&gt;ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.&lt;br /&gt;Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil&lt;br /&gt;tak bosan-bosannya berbisik,&lt;br /&gt;&quot;Nania, bangun, Cinta?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan&lt;br /&gt;permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi&lt;br /&gt;soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya&lt;br /&gt;di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang&lt;br /&gt;menjadi sumber semangat bagi orang-orang di&lt;br /&gt;sekitarnya, bagi Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak&lt;br /&gt;merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan&lt;br /&gt;yang lain, tidak wajahnya yang lama&lt;br /&gt;tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat&lt;br /&gt;sering lupa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias&lt;br /&gt;perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening,&lt;br /&gt;serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya&lt;br /&gt;yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania&lt;br /&gt;sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama&lt;br /&gt;ditangkap matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam&lt;br /&gt;tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya,&lt;br /&gt;mengucapkan syukur berulang-ulang dengan&lt;br /&gt;airmata yang meleleh.&lt;br /&gt;Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus&lt;br /&gt;kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah&lt;br /&gt;merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.&lt;br /&gt;Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar&lt;br /&gt;anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore&lt;br /&gt;setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju&lt;br /&gt;rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja&lt;br /&gt;datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan&lt;br /&gt;tahun yang sedang jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik&lt;br /&gt;sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan&lt;br /&gt;cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin&lt;br /&gt;Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania&lt;br /&gt;mengatakan itu tak perlu.&lt;br /&gt;Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak&lt;br /&gt;kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya&lt;br /&gt;pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling&lt;br /&gt;cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata&lt;br /&gt;Rafli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga&lt;br /&gt;jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu&lt;br /&gt;menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,&lt;br /&gt;nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut.&lt;br /&gt;Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang&lt;br /&gt;sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan&lt;br /&gt;pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang&lt;br /&gt;menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli&lt;br /&gt;yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana&lt;br /&gt;kemari. Masih dengan senyum&lt;br /&gt;hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang&lt;br /&gt;yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,&lt;br /&gt;sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi&lt;br /&gt;pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh,&lt;br /&gt;semua berbisik-bisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Baik banget suaminya!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Nania beruntung!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat&lt;br /&gt;bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun&lt;br /&gt;tak pernah bermuka masam!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga&lt;br /&gt;orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa dengungan&lt;br /&gt;dan sempat membuat Nania makin&lt;br /&gt;frustrasi, merasa tak berani, merasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu&lt;br /&gt;kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap&lt;br /&gt;berbisik-bisik, barangkali selamanya akan&lt;br /&gt;selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu&lt;br /&gt;kini berbeda bunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain&lt;br /&gt;basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut&lt;br /&gt;tergelak melihat kocak permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania&lt;br /&gt;menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak&lt;br /&gt;dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan&lt;br /&gt;yang lebih&lt;br /&gt;dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak&lt;br /&gt;berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama&lt;br /&gt;karena usia, meski karir telah direbut takdir dari&lt;br /&gt;tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa&lt;br /&gt;dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk&lt;br /&gt;Nania &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qonieta.blogspot.com/feeds/9161189286457253122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/02/cinta-laki-laki-biasa.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/9161189286457253122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3087934843238221578/posts/default/9161189286457253122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qonieta.blogspot.com/2007/02/cinta-laki-laki-biasa.html' title='Cinta Laki Laki Biasa'/><author><name>Qonieta Syavira</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04942254460564137612</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>