<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;Ak8ARX0zeip7ImA9WhRVEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693</id><updated>2012-01-09T17:27:24.382-08:00</updated><category term="Adsense" /><category term="Menuju RI 1" /><category term="Menjadi Penulis Bayaran" /><category term="International" /><category term="Unic" /><category term="Seni Dan Budaya" /><category term="Politik" /><category term="Olahraga" /><category term="Opini" /><category term="Teknologi" /><category term="Tips And Trik Blog" /><category term="Piture" /><category term="Ulasan" /><category term="Pendidikan" /><category term="Motivasi" /><category term="Tokoh" /><category term="Bisnis Makassar" /><category term="Keuangan" /><category term="Perjalanan" /><category term="Movie" /><category term="Blog" /><category term="News" /><title>Persoalan Bagi Mereka Yang Berfikir</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>277</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/RahmatHardiansya" /><feedburner:info uri="rahmathardiansya" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>RahmatHardiansya</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;CUIHRHc4fCp7ImA9WhRWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-486650184460087270</id><published>2012-01-04T19:18:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T19:18:55.934-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-04T19:18:55.934-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Movie" /><title>Strategi Pasar Mission Imposible Ghost Protocol</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Keluarlah dari rumah Anda untuk mencari kehidupan yang lebih baik”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NmhGUH3y_js/TwUWXA5T64I/AAAAAAAAANQ/4C843OXFOyY/s1600/mi.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-NmhGUH3y_js/TwUWXA5T64I/AAAAAAAAANQ/4C843OXFOyY/s1600/mi.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;Ada benarnya kata-kata diatas, tidak akan ada yang kita peroleh jika terus menerus berdiam diri dalam rumah. Di daerah asalku, orang-orangnya dikenal sebagai perantau. Merantau jauh ke daerah bahkan ke negara lain di dunia untuk mencari hal-hal yang lebih baik untuk kehidupan dan perubahan nasib. Mungkin sebagian dari Anda kenal dengan keuletan perantau dan pedagang suku Bugis, yang hampir saja di setiap daerah ada dan terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu inti pembahasannya kini. Seperti judul di atas “Strategi Pasar Ghost Protocol”, itulah inti permasalahannya. Mungkin banyak yang bertanya, apa itu Ghost Protocol, semacam strategi baru dalam dunia bisnis kah? atau nama ilmu lain dalam keilmuan marketing. Ghost Protocol adalah judul seri film Mission Imposible ke-4 yang kini telah bisa disaksikan di bioskop Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Secara keseluruhan saya katakan inilah film action terbaik sepanjang 2011 ini yang dikeluarkan Hollywod. Misi mustahil yang diperangkan oleh tim IMF (Impossible Missions Force) yang digawani Tom Cruise (Ethan Hunt) Simon Pegg (Benji Dunn) Paula Patton ( Jane Carter) dan Jeremy Rener (William Brandt) adalah sebuah cerita yang mustahil terjadi tapi tetap berasa realistis yang manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah tingginya tensi perfilman Hollywod yang selalu menghadirkan action panas, Mission Imposible 4 yang disutradarai Brad Bird, sang pengarah film animasi terkenal dunia, sebut saja hasil karyanya The Iron Giant, The Incredibles, dan Rattatoulie hadir dengan strategi baru. Setidaknya ada dua strategi pasar yang digunakan produser JJ Abrams untuk mendongkrak penjualan film seharga Rp1,2 triliun lebih ini. Yakni :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Menjual Asia&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini sineas Hollywod banyak yang melirik potensi Asia. Sebenarnya sudah sejak dulu hal ini dilakukan orang-orang Hollywod dalam membuat film. Namun baru kali ini saya melihat ada misi yang lebih jauh dibawa oleh sineas Hollywod dalam mengambil lokasi gambar sebuah film. Dalam Mission Imposible 4 Ghost Protocol ini, ada dua negara Asia yang dijadikan tempat syutingnya, Uni Emiral Arab Dubai dan Mumbai India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil lokasi di dua tempat tersebut secara otomatis akan membuat film ini minimal akan laris terjual. Bahkan negara-negara disekitar kedua negara inipun akan kebanjiran order pemutaran film. Pilihan untuk membuat film di India dan menggunakan salah seorang actor kawakan India Anil Kapoor adalah strategi yang jitu. Disatu sisi, apa yang dilakukan JJ Abrams ini untuk menekan laju film Bollywod yang kini menjadi ancaman Hollywod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penduduk India yang banyak menjadi salah satu faktor. Padahal jika ditelaah lebih jauh lagi, Indonesia jauh lebih bisa dijadikan tempat syuting film ini. Namun ternyata tidak demikian pertimbangan untuk mengambil lokasi syuting. India dan Indonesia hampir-hampir sama dalam hal kebudayaan, bahkan film India di Indonesia sudah menjadi sarapan pagi dan mendapat tempat dihati penonton. Sementara sebaliknya, tidak demikian. Dan banyak pertimbangan lain yang digunakan JJ Abrams sehingga mengambil lokasi di India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Dubai menjadi daya tarik sendiri. The New City di Asia ini selalu menjadi daya tarik siapa saja. Berdirinya gedung tertinggi di dunia di sana adalah daya jual yang tinggi. Dan Brad Bird melihat itu sebagai jualan yang mahal. Mengambil lokasi syuting di Burj Khalifa, aksi nekat Tom Cruise yang memanjat gedung ini menggunakan alat seadanya adalah adegan yang menegangkan, ibarat Spiderman tanpa jaring laba-laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji untuk melihat lebih dalam gedung setinggi 1 kilometer ini juga dijual dalam film ini. Dan benar, dengan dijadikannya Burj Khalifa sebagai syuting Mission Imposible, rasa penasaran akan isi gedung termahal di dunia ini pun bisa terobati walau hanya secuil. Setidaknya inilah yang saya rasakan dengan menyaksikan film ini. Mission Imposible berhasil menarik rasa penasaran ketinggian Burj Khalifa kepada masyarakat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan Hollywod untuk ‘keluar rumah’ (tidak melulu membuat film di Amerika dan sekitarnya) adalah satu langkah maju. Mereka sadar, para penikmat film di Amerika banyak yang penasaran akan daerah lain di dunia dan sedikit bosan dengan film yang Amerika melulu. Ini adalah strategi jitu yang digunakan Brad Bird untuk mengobati rasa penasaran pecinta film di benuanya bahkan di benua lain yang selama ini jarang ditempati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Penggunaan teknologi IMAX&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;Seperti film-film sebelumnya, Mission Imposible selalu menjual kemajuan teknologi dalam setiap aksinya. Jika anda penikmat aksi-aksi itu, mungkin akan sedikit kecewa karena di film ini hampir tidak digunakan peralatan super canggih tersebut. Walau sama sekali tidak meninggalkan itu namun penggunaanya lebih diminimkan. Plot cerita dalam film ini sedikit lebih fleksibel dengan mengedepankan kerjasama tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi diluar aksi minimnya penggunaan teknologi, film ini adalah film pertama di dunia yang menggunakan teknologi IMAX. Penggunaan kamera IMAX untuk mengambil gambar, terutama aksi yang dilakukan Tom Cruise di Burj Khalifa memberikan sensasi baru bagi pencinta film. Mungkin bagi anda teknologi 3D saat ini sudah biasa, IMAX adalah solusi lain untuk mendapatkan sensasi dalam menonton film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, penggunaan teknologi IMAX dalam Mission Imposible ini belum sepenuhnya bisa dinikmati di Indonesia. Karena pemasangan alat IMAX di jajaran Cinemax 21 baru akan direalisasikan di Mei 2012 mendatang. Sehingga penggunaan teknologi IMAX dalam film ini hanya dirasa sedikit berbeda dengan film-film lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit penjelasan akan penggunaan kamera IMAX ini. Gambar yang dihasilkan jauh lebih besar, sehingga memungkinkan penonton menyaksikan sensasi berbeda. Untuk penerapannya pun harus disesuaikan dengan pemasangan layar yang besar. Gambar yang dihasilkan nantinya akan terasa dekat dengan mata penonton walau sebenarnya tidak menggunakan kacamata tiga dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah strategi pasar yang digunakan Bad Robot Production untuk melariskan film action penutup tahun ini. Tentu semua yang dilakukan awak film telah didasari oleh penelitian dan perencanaan yang matang. Tidak heran, sepakan sejak diresmikan di Amerika, film ini langsung merajadi Box Ofice. Dan film ini pun menjadi inti sari dari sekuel Mission Imposible sepanjang karirnya mewarnai perfilman Hollywod.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya merindukan perfilman Indonesia bisa melakukan terobosan yang jauh lebih baik. Walau sedikit prihatin melihat aksi film-film Indonesia belakangan ini sedikit merosot dalam jumlah penonton. Terobosan dan gebrakan serta srategi pasar dalam menjual film harus lebih kreatif dilakukan sineas Indonesia. Saya selalu menaruh harapan akan kebangkitan tahap kedua perfilman Indonesia, semoga saja jauh lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-486650184460087270?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gai_CFZKlHgN6LtsP3bHvPiiz9I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gai_CFZKlHgN6LtsP3bHvPiiz9I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gai_CFZKlHgN6LtsP3bHvPiiz9I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gai_CFZKlHgN6LtsP3bHvPiiz9I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/23DvxLNAeHI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/486650184460087270/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/strategi-pasar-mission-imposible-ghost.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/486650184460087270?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/486650184460087270?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/23DvxLNAeHI/strategi-pasar-mission-imposible-ghost.html" title="Strategi Pasar Mission Imposible Ghost Protocol" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-NmhGUH3y_js/TwUWXA5T64I/AAAAAAAAANQ/4C843OXFOyY/s72-c/mi.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/strategi-pasar-mission-imposible-ghost.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUYDQ3g9eCp7ImA9WhRWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-1924025740099616623</id><published>2012-01-04T19:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T19:12:52.660-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-04T19:12:52.660-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini" /><title>Ceritalah Malaysia</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-BjAD33LbY2A/TwUU9wDo92I/AAAAAAAAANE/_m-ZVmaCIYc/s1600/cerita.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="148" src="http://1.bp.blogspot.com/-BjAD33LbY2A/TwUU9wDo92I/AAAAAAAAANE/_m-ZVmaCIYc/s320/cerita.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Maskot&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Selalu jika menyebut kata Malaysia kita gusam dan beram. Seakan yang kita sebut itu adalah setan atau musuh bebuyutan yang telah sangat menggerogoti isi tubuh kita. Atau lebih parah lagi, kata Malaysia selalu dikonotasikan sebagai negara perampas hak milik orang lain, khususnya milik bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri juga sering merasa demikian. Masih hangat dalam ingatan kita, kala Indonesia dan Malaysia harus bertemu di partai final sepak bola di pesta olahraga dua tahunan negara-negara asia tenggara, Sea Games ke 26 di Jakarta dan Palembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tingginya semangat masyarakat Indonesia ingin menyaksikan perhelatan itu, bukan karena tim nasional umur 23 tahun berlaga brilian sepanjang babak penyisihan, tapi karena lawannya adalah Malaysia. Begitu bersemangatnya warga negara ini, hingga nyawa dua orang harus melayang hanya untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lebih hangat lagi dan masih jadi perbincangan saat ini, adalah ungkapan ‘gadai’ bandar udara Indonesia untuk Malaysia. Sikap skeptis kembali muncul dibenak masyarakat. Memaki kesana kemari, menilai Malaysia tidak berpegang teguh pada perjanjian dan hanya menguntungkan pihak Malaysia saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bandar udara terpadat di Indonesia menjadi kerjasama dengan tiga bandar udara di Malaysia. Indonesia memasukkan bandar udara sukorno hatta Jakarta, ngurah rai Bali dan sultan hasanuddin Makassar. Sementara Malaysia menyertakan dua bandar udara yang dinilai tak cukup ramai. Bahkan ungkapan hanya hantu blao saja yang ada disana sempat terlontar, yakni bandar udara kucing dan penang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia berang lagi akan ulah Malaysia ini. Apalagi masalah yang ternyata belum final ini sudah lebih dulu diributkan di televisi. Berbagai pakar dan bidang keilmuan tertentu dihadirkan untuk koar-koar sehingga menarik kesimpulan Malaysia memang salah, pokoknya salah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup banyak memang, masalah yang dihadapi Malaysia dan Indonesia sejak dulu kala. Mulai tapal perbatasan hingga ke masalah budaya, dari tari-tarian hingga lagu daerah. Bangsa Indonesia terus mengklaim pemilik asli dan Malaysia pembajak, yang intinya pembajak saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari kita bahkan telah mempatri dalam dirinya bahwa Malaysia ini adalah bangsa yang selalu ingin mengganggu ketentraman warga Indonesia. Mereka harus dimusnahkan dan dibantai hingga lenyap dipermukaan bumi, disapu rata dengan air bahk laiknya tsunami di aceh 2006 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sangat sedikit dari kita yang ingin menarik pelajaran dan mengakui jika Malaysia memang hebat. Bangsa asia tenggara yang memiliki peran besar, kebudayaan dan kemajuan yang pesat. Sumber daya dan indeks pertumbuhan manusianya jauh dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya sibuk menghakimi dan menghujat, sementara yang dihujat tak peduli, bahkan terus berkarya akan kemajuan bangsanya. Saya hanya ingin menarik ingatan kita semua, dari sederetan ketegangan Indonesia dan Malaysia selama ini, apakah informasi yang kita dapatkan sudah seimbang atau berat sebelah. Hanya karena ini bangsa kita, bangsa lain itu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan ingin membela Malaysia, bukan juga menyalahkan Indonesia. Tapi kita belajar, dari diri pribadi saya sendiri, bahwa ada yang tak biasa dari kebiasaan kita. Kita baru bersorai ketika ada yang dianggap Malaysia miliknya. Padahal ketika itu tidak dibicarakan, apakah kita peduli?. Atau, apakah sekarang kita peduli dengan apa yang kita miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa lepas begitu saja, dan menyepelekan kebertautan budaya kita dengan Malaysia. Indonesia dan Malaysia adalah rumpung melayu. Tak heran jika banyak yang sama dengan Malaysia, baik dari budaya hingga ke bahasa, kita hampir sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma karena ada tensi besar akan ketertinggalan kita dengan Malaysia, apa-apa saja Malaysia salah. Tidak ingin mengetahui lebih jauh, benar tidaknya mereka salah. Sudah menjadi rahasia umum jika keterbukaan Malaysia itu terbatas, tapi pasti ada penjelasan akan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pada sibuk menghakimi bangsa lain, alangkah baiknya kalau kita bangun bangsa ini dengan kerja pintar dan berpikir pintar. Menghilangkan kepentingan sesaat atau pribadi dan berusaha membangun dari hal yang kecil, meningkatkan kepedulian sesama dan tidak mudah terpengaruh dengan pertikaian yang hanya membuat kita stagnan dalam berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada saatnya jika memang dibutuhkan, Indonesia akan memberi efek jera pada Malaysia jika hal itu benar-benar telah salah. Tapi sebagai warga negara biasa, kita tidak usah terpaku akan itu. Kita berperan saja dalam pembanguan sumber daya manusia yang baik. Membangun Indonesia dalam kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam olahraga saja kita bisa, dalam segala lini kehidupan kita juga pasti bisa…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-1924025740099616623?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y91JSLg13dFqO-2s1h-sELzsBaA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y91JSLg13dFqO-2s1h-sELzsBaA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y91JSLg13dFqO-2s1h-sELzsBaA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y91JSLg13dFqO-2s1h-sELzsBaA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/dSK7zRiLB-s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/1924025740099616623/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/ceritalah-malaysia.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1924025740099616623?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1924025740099616623?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/dSK7zRiLB-s/ceritalah-malaysia.html" title="Ceritalah Malaysia" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-BjAD33LbY2A/TwUU9wDo92I/AAAAAAAAANE/_m-ZVmaCIYc/s72-c/cerita.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/ceritalah-malaysia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE4HQXw_cCp7ImA9WhRWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-4813178685517005662</id><published>2012-01-04T19:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T19:08:50.248-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-04T19:08:50.248-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Movie" /><title>Film Israel yang Kontroversial</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-pIbxJR2ANV4/TwUUAaZua1I/AAAAAAAAAM4/E2kSdPOoDyo/s1600/lebanon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-pIbxJR2ANV4/TwUUAaZua1I/AAAAAAAAAM4/E2kSdPOoDyo/s1600/lebanon.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lebanon&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Film ini sebenarnya sudah dirilis sejak 2009 silam. Namun baru sempat saya tonton kemarin, sepulang dari kegiatan diluar rumah. Judul filmnya Lebanon. Sama seperti kota yang menjadi ujung pertikaian antara Israel dan Palestina hingga kini bahkan dimana alur cerita film ini dikisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film besutan Samuel Maoz ini adalah film pertama dari Israel yang masuk ke kanca perfilman internasional dan menyambet penghargaan Leone d’Oro pada Festival Film Internasional Venesia ke-66. Cerita yang ditonjolkan pun tidak menitip beratkan pada perang yang berkecamuk.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Melainkan pertikaian empat orang dalam sebuah tank khusus yang dimintai mengawal pembukaan jalur bagi tentara Israel di kota Lebanon. Dari empat orang yang ada dalam tank, hanya Asi (Itay Tiran) yang senior, selebihnya adalah tentara baru yang terjebak dalam perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan film ini jangan berharap akan menemukan adegan-adengan saling tembak-tembakan ditempat terbuka. Sebaliknya, penonton diajak untuk menyaksikan kehidupan orang-orang di dalam tank dalam sebuah peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama mereka mengikuti perang sungguhan membuat ketegangan dan ketakutan untuk memusnahkan musuh. Film ini menjadi kontroversi lantaran tidak jelas membela siapa. Isi cerita peperangannya pun kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ketika ditengah jalan membuka jalur, mereka harus bertemu dengan tentara Suria yang sempat membuat tank-nya rusak terkena roket. Sang penembak malah dimasukkan dalam tank dan menjadi tawanan perang yang sungguh tidak bisa ditebak akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini mendapat rating cukup tinggi di Internet Movie Database (IMDb.com), namun di negara asalnya, film ini tidak diputar luas lantaran kontroversi yang ditimbulkan itu. Perlu digaris bawahi, perang antar agama yang terjadi disana bahkan dinapikkan dalam film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Yigal (Michael Moshonov) yang cukup mengesankan ketika didepannya benar-benar sebuah jalan buntu. Mengingat sang ibu dirumah Yigal berujar kepada temannya sambil emosi. “Saya tidak peduli Muslim, kristen dan agama lainnya, yang penting saya bisa kembali kerumah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini juga menjadi kontroversi lantaran mempertontonkan adegan-adengan penaklukkan musuh dengan cara mengorbankan siappun termasuk anak kecil tak berdosa. Yang jelas film ini tidak akan mengecewakan untuk disaksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Sinema…&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-4813178685517005662?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LDAcddwaQc70d6RkbwCEK5I9jEU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LDAcddwaQc70d6RkbwCEK5I9jEU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LDAcddwaQc70d6RkbwCEK5I9jEU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LDAcddwaQc70d6RkbwCEK5I9jEU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/Qxfbj4Cc8s0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/4813178685517005662/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/film-israel-yang-kontroversial.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4813178685517005662?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4813178685517005662?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/Qxfbj4Cc8s0/film-israel-yang-kontroversial.html" title="Film Israel yang Kontroversial" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-pIbxJR2ANV4/TwUUAaZua1I/AAAAAAAAAM4/E2kSdPOoDyo/s72-c/lebanon.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/film-israel-yang-kontroversial.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEAAQ3wzeip7ImA9WhRWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-1960647604690914846</id><published>2012-01-04T19:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-04T19:05:42.282-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-04T19:05:42.282-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini" /><title>Perempuan Nasionalis</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0XWySWKziCA/TwUTMtJENvI/AAAAAAAAAMs/kf6OvJeJyQo/s1600/perempuan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-0XWySWKziCA/TwUTMtJENvI/AAAAAAAAAMs/kf6OvJeJyQo/s320/perempuan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Perempuan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Perempuan itu keindahan. Ciptahan Tuhan paling sempurna, terutama bagi laki-laki yang mencari pasangan. Entah bagaimana dunia ini tanpa adanya sesosok perempuan. Bisa dibayangkan jika yang ada hanya laki-laki, lalu lalang setiap hari di lingkungan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seking indahnya mahluk bernama perempuan, sampai-sampai teman ku memberinya predikat mahluk paling nasionalis di dunia ini. Sedikit tersenyum saya ketika mendengar ungkapan ini. Bagaimana tidak, saat itu yang kami bicarakan adalah sosok perempuan penghibur.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Predikat nasionalis tidak tanggung-tanggung diberikan oleh teman saya. Setidaknya dia serius dengan raut wajah tanpa canda. Dan kami pun mengiyakan. Dan jadilah bagi kami ini –saat itu saya berlima dengan teman kampus di suatu sore di Makassar– membenarkan predikat perempuan itu adalah mahluk paling nasionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya singkat padat dan jelas. Perempuan itu menjaga keberlangsungan hidup kaum lelaki –belum berbicara tataran hubungan rumah tangga untuk mencari keturunan–. Perlu digaris bawahi, pembahasan pertama kami adalah khusus perempuan penghibur atau bahasa sopannya wanita tuna susila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut teman saya ini, tidak ada mahluk yang paling pengertian selain perempuan-perempuan itu. “Sekarang ini banyak perempuan munafik, pura-pura tak mau, tapi lebih besar kemauannya dari malunya” kata teman saya itu dengan konotasi jengkel. Beda katanya dengan perempuan nasionalis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya dengan sedikit goyangan jari, mereka langsung mengerti, tidak sama dengan anggota dewan dan pemerintah serta unsur yang lain yang katanya paling nasionalis tapi butuh sentilan lebih keras baru mengerti. Kalau perempuan ini, Rp200 sudah bisa jalan, kalau yang mengaku nasionalis, harus tanda tangan proposal miliaran rupiah dulu,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin tak tahan saya mendengar penjelasannya yang makin kacau tapi tetap rasional, setidaknya bagi kami-kami ini. Walau dia mendewakan perempuan nasionlis tersebut, tetap saja ujung-ujungnya istri yang kelak akan ia persunting menjadi perempuan paling nasionali sekaligus demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut dia, walau gampang mendapatkan perempuan nasionalis, tapi membangun negara dalam satu rumah masih butuh sesosok perempuan pemberani. “Jatuh cinta itu gampang, apalagi sama perempuan nasionalis itu, tapi membangun cinta tetap harus bersama dengan perempuan nasionalis, demokratis dan patriot, itu pun butuh waktu lama, tidak seperti jatuh cinta, cukup lewat mata lalu kehati dan ke kamar,” wkwkwkw…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mencintai Perempuan-perempuan mu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-1960647604690914846?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HH6kxog9oqiGFH0qRa7rEZ6fSu8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HH6kxog9oqiGFH0qRa7rEZ6fSu8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HH6kxog9oqiGFH0qRa7rEZ6fSu8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HH6kxog9oqiGFH0qRa7rEZ6fSu8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/JvLRwCspkCY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/1960647604690914846/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/perempuan-nasionalis.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1960647604690914846?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1960647604690914846?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/JvLRwCspkCY/perempuan-nasionalis.html" title="Perempuan Nasionalis" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-0XWySWKziCA/TwUTMtJENvI/AAAAAAAAAMs/kf6OvJeJyQo/s72-c/perempuan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2012/01/perempuan-nasionalis.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UDSX44fCp7ImA9WhdbE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-4242462524797066290</id><published>2011-10-11T10:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-11T10:47:58.034-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-10-11T10:47:58.034-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bisnis Makassar" /><title>Bisnis Menjual Mimpi Makin Mengakar</title><content type="html">&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-pl7YrPb49ck/TpSA9K7-pNI/AAAAAAAAAMg/altpdsvenJc/s1600/mlm-internet-marketing.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-pl7YrPb49ck/TpSA9K7-pNI/AAAAAAAAAMg/altpdsvenJc/s1600/mlm-internet-marketing.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi by google&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tiba-tiba teringat petikan dialog dalam film fenomenal Indonesia 2009 silam, Laskar Pelangi diseri keduanya Sang Pemimpi. “Bermimpilah, karena hanya dengan mimpi kita diakui dan tetap ada” kurang lebih seperti itu. Dan ketika menuliskan judul di atas, saya pun menelaah kembali petikan dialog tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejenak ada benarnya juga, apalagi orang seperti saya ini, yang hidup penuh dengan kekurangan dimana-mana. Sehingga mimpi adalah obat termanjur untuk mengakui keberadaan saya di tataran sosial. Mimpi itu indah dan gratis, apatalagi tidak ada hukuman bagi siapa saja yang bermimpi, mau mimpinya jadi super hero sekalipun. :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dalam hidup ini, saya berani taruhan tidak akan lagi menjul mimpi-mimpiku kepada siapa pun. Loh, kok mimpi sampai dijual. Mungkin selorohnya begitu. :). Yah, saya sempat sekali menjual mimpiku kepada seseorang yang selalu mendongenkan hal-hal indah dalam hidup.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi akan kaya mendadak, dan akhirnya bisa bergaya serta bergaul dengan kaum berstrata. Uh, betapa indah mimpi itu. Itulah kenyataan saat ini. Saking majunya teknologi, sampai mimpi dijadikan bahan dagangan, bahkan bisa mendatangkan omset lebih besar dari bisnis riil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya, apasih yang saya bicarakan ini. :) Sedikit ilustrasi, mungkin anda pernah didatangi oleh seseorang teman dan menawarkan bisnis mudah dengan keuntungan besar serta dalam waktu relatif singkat. “Hanya butuh dua tahu,” biasa begitu gaya bahasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah itu yang saya maksud, Multi Level Marketing (MLM), bisnis online dan apalah lagi yang sejenis dengan itu. Ini istilah bagi saya sendiri, berdagang mimpi. Karena dengan membuat orang bermimpi setinggi langit untuk merubah nasibnya, produk ini laku dan berjalan sesuai rencana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diluar sana entah sudah berapa jumlahnya bisnis semacam ini, seabrek dengan sistem berbeda dan mimpi yang berbeda pula. Bukan saya menyalahkan sistem ini hingga menganggapnya pembodohan, buktinya memang sudah banyak yang berhasil dengan menjalankan bisnis ini. Saya mengakui itu dengan sadar se sadar-sadarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi itu hanya secuil, jika dibandingkan dengan yang gagal. Itu termasuk saya salah satunya. :) Bahkan secara pribadi sistem ini membuat saya malas dan selalu mengangap segala sesuatu itu mudah dan tanpa tantangan. Padahal bertahan hidup itu tidak mudah dan murah, harus berdarah-darah dan berkeringat setiap saat. Terlalu…:)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menulis tulisan ini, karena ditempat saya duduk saat ini sekolompok manusia telah dibuai dengan mimpi-mimpi menjadi kaya mendadak. Sekitar 20-an orang lah. Dengan memperlihatkan satu cuplikan orang-orang sukses yang telah menjalankan bisnis tersebut. Tak saya sebut apa nama bisnisnya untuk menghargai perusahaan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara mereka saya melihat didominasi kaum muda bahkan ada yang berseragam sekolah dan karyawan salah satu tempat belanja di Makassar. Terlihat asik mereka. Saya pun cengir-cengir, karena bisnis yang sama inilah yang telah menyandra mimpi saya 2005 silam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang pilihan untuk merubah nasib berasal dari kegiatan apa saja. Saya pun mendoakan mereka agar sukses di bisnis ini. Namun saya bersyukur karena telah keluar dari sandra mimpi menjadi kaya mendadak dengan kerja segitu-gitunya. Bersyukur karena tanpa menjual mimpi ku pun, saya masih bisa bertahan di dunia ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi saya katakan, bisnis mereka bukan pembodohan dan salah. Hanya saja ini tidak sejalan dengan prinsip hidup saya. Sistem MLM itu sebuah terobosan besar dalam dunia ekonomi. Walau terkadang sang penyedia jasa itu melambungkan lebih awal mimpi calon uplowdernya ketimbang porsfek bisnisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya khawatir (sok berpikir) jika nantinya seluruh rakyat Indonesia kaya dengan menjalankan bisnis semacam ini, tidak akan ada lagi yang bekerja sebagai karyawan karena telah menadi kaya. Orang kaya kan, hanya kerja sedikit tapi berpenghasilan besar. Saya juga mau kalau itu, tapi tidak dengan membalik telapak tangan saja. Saya harus kerja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini bukan untuk mempengaruhi siapa saja agar berhenti bermimpi, dan yang menjalankan bisnisnya untuk berhenti dari rutinitasnya. Tapi ajakan untuk terus bermimpi dengan kesanggupan sendiri. Jangan sampai terlalu berlebihan yang pada akhirnya rumah sakit jiwa jadi labuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bermimpi karena saya yakin saya bisa, bukan bermimpi karena ada durian runtuh. Stop jadi pemalas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-4242462524797066290?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BC-TohBy9XWVwb6IYW6HoDOU5C4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BC-TohBy9XWVwb6IYW6HoDOU5C4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BC-TohBy9XWVwb6IYW6HoDOU5C4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BC-TohBy9XWVwb6IYW6HoDOU5C4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/C9uZQe_PMEA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/4242462524797066290/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/10/bisnis-menjual-mimpi-makin-mengakar.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4242462524797066290?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4242462524797066290?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/C9uZQe_PMEA/bisnis-menjual-mimpi-makin-mengakar.html" title="Bisnis Menjual Mimpi Makin Mengakar" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-pl7YrPb49ck/TpSA9K7-pNI/AAAAAAAAAMg/altpdsvenJc/s72-c/mlm-internet-marketing.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/10/bisnis-menjual-mimpi-makin-mengakar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IDQHg9eSp7ImA9WhdVFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-2378806883929495159</id><published>2011-09-21T02:59:00.000-07:00</published><updated>2011-09-21T03:39:31.661-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-21T03:39:31.661-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Piture" /><title>Buruh Cuci Dituntut Ganti Rugi Rp800 Juta</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sial benar nasib Rahmatia,30. Niat baik nyari kerja sebagai buruh cuci rumah tangga, malah berakhir di penjara sebagai tersangka.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ADdo-KP4Lu8/Tnm1O1AL_cI/AAAAAAAAAMQ/u0cGvXCEEYc/s1600/narkobaaaa.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="229" src="http://1.bp.blogspot.com/-ADdo-KP4Lu8/Tnm1O1AL_cI/AAAAAAAAAMQ/u0cGvXCEEYc/s320/narkobaaaa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi from Google&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan bagi siapa saja yang terhimpit persoalan ekonomi keluarga, jangan mudah percaya dan diberdaya dengan iming-iming harta. Bisa saja itu jebakan atau tumbal dari kejahatan apa saja. Seperti Rahmatia, warga Jalan Kandea Makassar yang jadi tak berdaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu dua anak tersebut, kemarin harus mencucurkan air mata di Pengadilan Negeri (PN) Makassar sebagai tersangka atas kepemilikan narkoba jenis metanfitamin atau sabu-sabu sebesar 4,6 gram yang ditemukan Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar dirumahnya Juni lalu. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Andi Mujahidah dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar, Rahmatia dituntut 4 tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti telah menyimpan sabu-sabu dalam lipatan baju dirumahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal sabu-sabu tersebut bukanlah milik Rahmatia, melainkan milik Uci yang saat ini ditetapkan sebagai buron. Uci yang memang terdaftar sebagai langganan polisi dalam kasus kepemilikan narkoba sempat didatangi Rahmatia yang butuh kerjaan sebagai buruh cuci pakaian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun saat itu Uci mengaku tidak sedang membutuhkan buruh cuci, tetapi Rahmatia diberi uang Rp300.000 sebagai pegangan asal ia mau menyimpan sabu-sabu seberat 4,6 gram tersebut dirumahnya dan nantinya akan dipekerjakan sebagai buruh cuci pakaian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari resiko yang akan diterima, Rahmatia pun mengiyakan karena telah terdesak kebutuhan ekonomi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil, ia malah terserat kerana hukum setelah salah seorang tetangganya melaporkan kedatangan Uci di rumah Rahmatia. Polisi datang dan menemukan sabu-sabu tersebut, tetapi Uci kembali lolos dari jeratan hukum dan hingga kini masih bebas berkeliaran diluar sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau hasil tes urine Rahmatia negatif mengandung zat metanfitamin, Jaksa tetap menuntutnya dengan pasal yang memberatkan yakni Pasal 112 Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika yang berbunyi barang siapa yang menyimpan dan memiliki narkoba akan dituntut minimal 4 tahun penjara dan maksimal 15 tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar pembacaan tuntutan kepada dirinya, air mata Rahmatia tak terbedung. Keruding putih yang ia kenakan pun sampai harus ditarik-tarik ujungnya guna menutupi wajahnya. Dihadapan majelis hakim ia memohon agar tuntutannya diringankan saat putusan pekan depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Saya mengaku khilaf dan tidak akan mengulang perbuatan yang sama lagi,” ujarnya kepada majelis hakim yang menanyakan alasan apa hingga hukumannya harus diringankan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai persidangan, Rahmatia yang tak mampu membayar pengacara untuk membela dirinya kembali menumpahkan air mata dalam pelukan kedua anak gadisnya yang masih duduk dibangku SLTP. Satu keluarga sederhana itupun, bersimbah air mata hingga membuat beberapa orang tak sanggup melihatnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andi Mujahidah yang menuntut Rahmatia juga mengaku tidak tega Rahmatia. Namun karena tuntutan hukum, dan kesalahan yang dilakukan Rahmatia, Andi Mujahidan tetap menuntutnya dengan hukuman minimal. ”Dia sendiri mengaku salah telah menyimpan sabu-sabu tersebut,” ujarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ini haru menjadi pelajaran bagi siapa saja,” tandas Mujahidah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
---------------------------------------&amp;gt;&amp;gt;&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti Keikutan Lomba&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8z_UYvhpaQs/Tnm90V56cRI/AAAAAAAAAMU/ziemgdy_0LA/s1600/Screenshot.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="171" src="http://4.bp.blogspot.com/-8z_UYvhpaQs/Tnm90V56cRI/AAAAAAAAAMU/ziemgdy_0LA/s320/Screenshot.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-2oFnamtyruM/Tnm-itrBt6I/AAAAAAAAAMc/-KRC3pkkRKA/s1600/Screenshot-1.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="86" src="http://2.bp.blogspot.com/-2oFnamtyruM/Tnm-itrBt6I/AAAAAAAAAMc/-KRC3pkkRKA/s320/Screenshot-1.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-2378806883929495159?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t_UPD8BhviOFRsN-fJe1c04sVIo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t_UPD8BhviOFRsN-fJe1c04sVIo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t_UPD8BhviOFRsN-fJe1c04sVIo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/t_UPD8BhviOFRsN-fJe1c04sVIo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/7DlwGERwO_s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/2378806883929495159/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/09/buruh-cuci-dituntut-ganti-rugi-rp800.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2378806883929495159?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2378806883929495159?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/7DlwGERwO_s/buruh-cuci-dituntut-ganti-rugi-rp800.html" title="Buruh Cuci Dituntut Ganti Rugi Rp800 Juta" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-ADdo-KP4Lu8/Tnm1O1AL_cI/AAAAAAAAAMQ/u0cGvXCEEYc/s72-c/narkobaaaa.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/09/buruh-cuci-dituntut-ganti-rugi-rp800.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQDSHk8fyp7ImA9WhdVEEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-6199857481888877999</id><published>2011-09-15T06:41:00.000-07:00</published><updated>2011-09-15T06:46:19.777-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-15T06:46:19.777-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ulasan" /><title>Skandal Hilangnya Barang Bukti di Kejari Makassar</title><content type="html">&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PG7NcHF5OZ4/TnH__SeaHiI/AAAAAAAAAMM/vdxU7-smSSs/s1600/peristiwa-sabu-sabu-02.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="http://3.bp.blogspot.com/-PG7NcHF5OZ4/TnH__SeaHiI/AAAAAAAAAMM/vdxU7-smSSs/s320/peristiwa-sabu-sabu-02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi 3 paket sabu-sabu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Sebelumnya, tidak ada yang begitu peduli dengan kasus Ramli Daeng Naba, warga Jalan Veteran Makassar yang menjadi orang tersakiti di meja pesakitan yang tersandung kasus kepemilikan narkoba jenis metanfetamin atau lebih lasim disebut dengan sabu-sabu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Seperti kebanyakan terdakwa yang terseret kasus serupa, Ramli tidaklah punya bargening besar untuk menyedot perhatian masyarakat luas. Dia ditangkap dalam prosedur biasa oleh Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar dibawah pimpinan AKBP Hasbi Hasan di Perumahan Bukit Baruga Antang Makassar.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Namun kasus Ramli kemudian bisa menarik perhatian setelah di persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, barang bukti sabu-sabu yang menyeret dirinya tidak utuh seperti yang tertera di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepolisian. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Di BAP Ramli terbukti memiliki sabu-sabu seberat 81 gram, namun dipersidangan dengan agenda pemeriksaan terdakwa, barang bukti yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arifuddin Sakka dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar hanya seberat 21,6 gram. 59,4 gram sabu dipertanyakan keberadaanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Dipersidangan selanjutnya, JPU secara yakin membawa barang bukti baru. Seharusnya, sabu-sabu milik Ramli berada dalam tiga wadah plastik putih, dan JPU membawa ketiga plastik sabu-sabu itu. Namun naas, timbangannya kali ini melebihi dari seharusnya, ditambah saksi polisi yang melakukan penangkapan dan terdakwa mengaku barang bukti itu bukan miliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Kejari Makassar kemudian dituding telah menghilangkan barang bukti sabu-sabu seberat 59,4 gram. Bagaimana tidak, sabu-sabu itu setelah diserahkan oleh pihak kepolisian tersimpan rapih di brangkas penyimpanan barang bukti Kejari Makassar, hingga barang bukti itu dihadirkan dalam persidangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Tentu saja Kejari menolak tudingan telah menghilangkan barang bukti itu, dan balik mempertanyakan kredibilitas kepolisian yang pertama kali menyerahkan barang bukti itu kepadanya. Saling tuding pun tak dielakkan, masing-masing mempertanyakan keberadaan 59,4 gram sabu-sabu itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Pertanyaannya kemudian, dimana sebenarnya sabu-sabu itu menghilang atau dihilangkan?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Penyidik Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar AKP Muhammad Untung sangat yakin, jika sabu-sabu itu hilang di Kejari Makassar. Menurut dia, setelah penyerahan tahap pertama oleh Forensik selanjutnya dilakukan penyerahan kedua ke Kejari, barang bukti itu tidak pernah terbuka segelnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Dan ini dibenarkan JPU Arifuddin Sakka yang menerima paket barang bukti itu. Kotak penyimpanan sabu-sabu itu segelnya belum terbuka sama sekali. Namun kemudian, Arifuddin mengaku tidak sempat memeriksa paket tersebut hingga hadir dipersidangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Naasnya, majelis hakim yang dipimpin Wakil Ketua PN Makassar Siswandriyono mengatakan paket itu telah terbuka segelnya saat pertama kali dihadirkan di persidangan. Itu memang tidak menyalahi aturan, karena selain harus dibuka dipersidangan JPU punya hak untuk membuka barang bukti tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Dari keterangan itu, bisa ditarik kesimpulan jika bukan JPU yang membuka segel ada orang lain yang jahil masuk kedalam penyimpanan barang bukti untuk membuka dan kemudian melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Namun itu sekali lagi tidak bisa dibuktikan, karena memang tidak ada yang mengaku.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Makin tersudutkan, Kejari Makassar kemudian memilih mendiamkan kasus ini. Kepala Kejari Makassar Haruna dengan tegas mengatakan barang bukti tidak hilang, tetap ada seperti sedia kala, namun menolak melakukan pembuktian dan menyerahkan sepenuhnya ke Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Makassar Andi Muldhani Fajrin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Satu-satunya klarifikasi yang dilakukan Kejari Makassar adalah menghadirkan barang bukti yang sebelumnya dinyarakan hilang. Saat itu, Andi Muldhani Fajrin mengaku satu paket sabu-sabu menyembul keluar melalui celah di kotak penyimpanan yang terbungkus dalam plastik besar berwarna kuning dan tertinggal di brangkas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Namun setelah dinyatakan melebihi dari seharusnya, Kejari tidak pernah lagi melakukan klarifikasi tetapi terus meyakinkan jika barang bukti itu ada dan memilih mengikuti jalannya persidangan saja. Nyatanya, dipersidangan, barang bukti itu terus menjadi perhatian baik terdakwa, majelis hakim dan mayarakat yang mengikuti jalannya persidangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba JPU Arifuddin Sakka yang menangani kasus ini digantikan oleh Adnan Hamzah. Dan Arifuddin hanya sesekali membantu jalannya persidangan. Kasus barang bukti yang sempat heboh seakan lenyap. Bahkan Penasihat Hukum Ramli, Frengky Asirie yang sebelumnya getol meminta Kejari menghadirkan barang bukti itu, tidak lagi begitu berambisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
JPU kemudian menuntut Ramli hukuman penjara 7 tahun lamanya dan denda uang sebesar Rp800 juta subsider 2 bulan kurungan. Ramli dijerat pasal 112 undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Majelis hakim sisa mengumumkan vonis kepada Ramli pada persidangan Rabu (7/9) mendatang. Siswandriyono menolak mengomentari keputusan yang akan diambil saat sidang selanjutnya. Menurut dia, terkait barang bukti dan vonis yang akan diambil, baru akan diketahui saat sidang vonis mendatang. “Biarkan hasilnya yang menentukan,” tuturnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Keputusan sepenuhnya memang ada ditangan majelis hakim, apakah memilih meringankan vonis Ramli dari tuntutan jaksa atau malah sebaliknya. Namun, pertanyaan besar masih tersisa, bagaimana kelanjutan keberadaan barang bukti sabu-sabu yang dinyatakan hilang itu, apakah juga akan ikut terlupakan seiring vonis yang menjadi penutup persidangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Ketua Gerakan Anti Narkoba (Granat) Sulsel Tajuddin Rahman menilai kasus ini tidak harus begitu saja dilupakan. Institusi penegak hukum itu harus mendapat perhatian penuh dari masyarakat, bahkan kalau perlu menurut dia, baik Kepolisian dan Kejaksaan harus diperiksa oleh pemeriksa internal untuk meluruskan duduk permasalahannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Memang harus ada penjelasan terkait barang bukti itu. Benarkah sabu-sabu seberat 59,4 gram itu hilang atau tidak, dan tudingan jika satu paket yang timbangannya lebih adalah batu tawas juga harus dibuktikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Sulsel Kombes Pol Richard Nenggolan mengharapkan hal tersebut. Menurut dia, pihaknya tidak bisa mengambil keputusan jika belum dilakukan pembuktian secara pasti. Namun dia menilai dua institusi itu, kepolisian dan Kejaksaan telah lalai dalam menjalankan amanat undang-undang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Seharusnya Undang- Undang No 35/2009 Pasal 75 huruf K dan Pasal 91 tentang Narkotika dijalankan dimana barang bukti yang sudah dinyatakan positif mengandung zat berbahaya dimusnahkan 1x24 jam guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kejadian hilangnya sabu-sabu tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
Pada akhinya, petusan majelis hakimlah sebagai jawaban semua itu. Apakah majelis hakim akan mempermasalahkan barang bukti yang hilang itu atau tidak. Kita hanya bisa menunggu kelanjutan kasus ini. (*)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-6199857481888877999?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HhPSZlqsIuENtPX06ZUV0YSXfIE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HhPSZlqsIuENtPX06ZUV0YSXfIE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HhPSZlqsIuENtPX06ZUV0YSXfIE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/HhPSZlqsIuENtPX06ZUV0YSXfIE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/I7fPyIDGGxU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/6199857481888877999/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/09/skandal-hilangnya-barang-bukti-di.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6199857481888877999?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6199857481888877999?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/I7fPyIDGGxU/skandal-hilangnya-barang-bukti-di.html" title="Skandal Hilangnya Barang Bukti di Kejari Makassar" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-PG7NcHF5OZ4/TnH__SeaHiI/AAAAAAAAAMM/vdxU7-smSSs/s72-c/peristiwa-sabu-sabu-02.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Makassar, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-5.143662 119.426339</georss:point><georss:box>-5.1594765 119.406598 -5.1278475 119.44608</georss:box><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/09/skandal-hilangnya-barang-bukti-di.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkABQHo6fCp7ImA9WhdRGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-7816829417211938478</id><published>2011-08-09T05:59:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T05:59:11.414-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-09T05:59:11.414-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Movie" /><title>Sisi Gelap Transformers 3 : Dark of the Moon</title><content type="html">&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZLTiM4YFMuo/TkEu7qeKz9I/AAAAAAAAAMI/itAo1hEtIBk/s1600/transformers.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZLTiM4YFMuo/TkEu7qeKz9I/AAAAAAAAAMI/itAo1hEtIBk/s320/transformers.jpg" width="245" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Masyarakat dunia telah paham jika Amerika Serikat adalah negara pertama yang berhasil mengirimkan manusia ke bulan. Kita semua pasti ingat juga, jika Neil Armstrong dan Edwin ‘Buzz’ Aldrin adalah orang pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada 1969.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan mala petaka di Chernobyl, Ukraina pada 1986, masyarakat dunia telah legowo jika kejadian dahsyat itu karena ledakan nuklir. Hingga kejadian di tsunami di Fukushima Daiichi Jepang baru-baru ini seperti mengulang sejarah Chernobyl.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tidak dengan alur cerita dalam “Transformers 3 : Dark of the Moon”. Kenyataan yang telah terpatri dalam ingatan masyarakat dunia diatas dikaburkan. Neil Armstrong dan Edwin ‘Buzz’ Aldrin tidak hanya datang ke bulan kala itu untuk loncat-loncat pada grafitasi hampa.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Begitu pula dengan Chernobyl, bukan hanya nuklir yang menjadi pemicu terjadinya ledakan itu. Sesuatu yang telah disembunyikan berada dibalik semua kejadian besar. Di Chernobyl telah terjadi penguraian benda asing yang diambil dari bulan setelah Rusia kala itu mengirim astronotnya mengikuti jejak Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benda asing yang kemudian memicu Decepticon ras makhluk mekanik dari Planet Cybertron yang akhirnya sampai ke Bumi untuk menguasainya. Yang pada akhirnya memicu terjadinya perang hebat, bukan hanya melibatkan manusia tetapi robot dari ras Autorobot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kurang lebih inti cerita yang disuguhkan pada seri Transformers yang baru tayang di Indonesia berselang sebulan sejak rilis di Amerika. Sejarah yang kita pahami selama ini akan diputar balik kearah tergelap, seperti Dark of the Moon yang menjadi plot cerita serial robot karya Michael Bay ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari awal film berdurasi dua jam lebih ini, kita akan disuguhi tontonan apik. Efek dan karakter pemain serta robotnya kuat, kecuali Rosie Huntington-Whiteley sebagai Carly, kekasih baru Sam yang justru lebih lemah karakternya ketimbang Megan Fox yang tak lagi dilibatkan dalam saga “Transformers” ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun patut disayangkan, karakter manusia dalam saga ketiga ini dikesampingkan oleh Michael Bay. Selain Carly yang cukup lemah, pemain manusia yang menjadi pendukung pun karakternya sangat mudah ditebak. Tidak seperti pada dua serial sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sam Witwicky yang diperankan Shia LaBeouf pun pada serial ketiga ini lebih banyak manggap-mangap, teriak tak karuan. Nampaknya Michael Bay memang ingin menonjolkan karakter Autorobot lebih kuat. Terbukti sejak film di mulai, perasaan akan lebih rindu kepada persahabatan Autorobot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peter Cullen yang memerankan Optimus Prime, robot yang diplot sebagai pimpinan Autorobot yang tersisa, lebih terlihat memiliki jiwa. Begitu pula dengan karakter Sentinel Prime yang diperankan Leonard Nimoy, walau hidup kembali menjadi penghianat bagi Autorobot dan memilih &amp;nbsp;bergabung bersama Megatron, mampu membuat yang menyaksikan berdecap kagum dengan karakternya yang kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita persahabatan Autorobot semakin manusiawi ketika salah satu autorobot mati. Mimik wajah Bumblebee pun begitu terasa pilu. Film ini juga makin hidup dengan cerita Wheelie dan Brain, dua Autobot mini yang selalu membawa candaan segar namun solid pada sahabat-sahabatnya. Walau mereka kecil tak berdaya, tetapi beberapa ulah kedua autorobot mini ini mampu menyelamatkan beberapa tokoh dalam film ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan dilupakan pula Jazz yang santai tapi gahar dan Bumblebee yang pandai berkelahi tapi tetap terkesan imut, serta beberapa karakter robot lain. Semua akan menjadi suguhan yang menarik, menegangkan dan kadang pula menggelikan dengan candaan-candaan nakal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya satu yang menjadi koreksi saya kepada Michael Bay. Dalam film ini dia lebih terlihat nakal dengan masukkan unsur yang tidak selayaknya ada pada film bergendre remaja. Tapi itulah Michael Bay, mungkin dia ingin memberikan standar pada film-film action remaja masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengulang pengaburan sejarah yang ada atas. Pada film ini pula, muncul karakter asli Edwin ‘Buzz’ Aldrin, orang kedua yang menginjakkan kaki di bulan bersama Neil Armstrong. Walau hanya sepintas dengan narasi kurang lebih 2 menit, kemunculan Buzz makin mengaburkan sejarah yang telah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alhasil Transformers : Dark of the Moon ini telah mensejajarkan dirinya dengan 10 film terlaris sepanjang masa dengan penghasilan telah menembus angka USD1 miliar lebih. Bahkan film Harry Potter yang tayang lebih cepat hanya berselisih dua posisi dengan Transformers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau mau dibandingkan kedua film ini, saya lebih memilih Transformer 3 ketimbang Harry Potter 7 Part 2. Selain banyak menyuguhkan adegang menarik dan mendebarkan, plot cerita yang tak pernah terlalu lama juga menjadi daya tarik, bahkan jika kita lengah dalam film ini satu sisi cerita akan terlewatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan mengenyampingkan adanya beberapa cerita yang berlubang di Transformers 3 serta karakter manusianya yang lebih cepat terlupakan ketimbang Autorobotnya, film ini telah sukses memanjakan mata di bulan ramadan. Apalagi ketika kita menyaksikannya dalam visual 3D, sungguh satu film yang recomendet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagi penutup saya berikan 10 film dengan penghasilan terbanyak sepanjang zaman, dan salam Autorobot…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&amp;nbsp;Avatar Fox $2,782.3&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Titanic Par. $1,843.2&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;The Lord of the Rings: The Return of the King NL $1,119.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest BV $1,066.2&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Toy Story 3 BV $1,063.2&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 WB $1,038.3&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides BV $1,033.0&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Alice in Wonderland (2010) BV $1,024.3&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Transformers: Dark of the Moon P/DW $1,003.9&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;The Dark Knight WB $1,001.9&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-7816829417211938478?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZD3rNLR6ljAV9hjR-sADX_EZQ78/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZD3rNLR6ljAV9hjR-sADX_EZQ78/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZD3rNLR6ljAV9hjR-sADX_EZQ78/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZD3rNLR6ljAV9hjR-sADX_EZQ78/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/k0nMGQPR98Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/7816829417211938478/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/08/sisi-gelap-transformers-3-dark-of-moon.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7816829417211938478?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7816829417211938478?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/k0nMGQPR98Y/sisi-gelap-transformers-3-dark-of-moon.html" title="Sisi Gelap Transformers 3 : Dark of the Moon" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-ZLTiM4YFMuo/TkEu7qeKz9I/AAAAAAAAAMI/itAo1hEtIBk/s72-c/transformers.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/08/sisi-gelap-transformers-3-dark-of-moon.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQEQH0ycSp7ImA9WhdRGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-2522015905784151124</id><published>2011-08-09T05:51:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T05:51:41.399-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-09T05:51:41.399-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News" /><title>Dampak Petasan Dalam Beragama</title><content type="html">&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dx93r3R0xzg/TkEtPHFWePI/AAAAAAAAAME/cRcc33a_XNA/s1600/petasan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="http://4.bp.blogspot.com/-dx93r3R0xzg/TkEtPHFWePI/AAAAAAAAAME/cRcc33a_XNA/s320/petasan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ramadan harusnya menjadi bulan yang indah, damai dan penuh rasa saling menghargai. Itu hakikatnya, tapi beda kenyataanya. Malah ramadan menjadi kegelisahan dan ketakutan. Setidaknya inilah yang menimpa saya dan mungkin juga sebagian orang diluar sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau ada petuah bijak mengatakan, kegelisahan dan cobaan dalam bulan ramadan adalah ujian bagi seorang muslim. Apakah sanggup menjalankan ibadah menahan segala hal selama sebulan penuh. Kelihatannya memang mudah dan gampang saja, tapi tidak untuk sebagian orang, termasuk saya dan mungkin juga anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Bukan cobaan akan ketulusan menjalankan ibadah yang menjadi ketakutan saya ketika ramadan datang. Sebaliknya, cobaan yang sudah menjadi hal lumrah ketika bulan suci ini tiba. Terkadang apa yang saya bicarakan ini menjadi kesenangan untuk sebagian orang, tapi tidak untuk saya, ini menjadi ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petasan dan kembang api. Itulah yang saya maksudkan. Saya takut, kalau hal ini membawa mala petaka di masyarakat. Saya takut kalau ini membuat orang terluka bahkan harus merenggut nyawa. Bukan tidak mungkin itu terjadi, dan sudah menjadi kenyataan dibeberapa wilayah, petasan dan kembang api ini telah merenggut nyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana saya duduk saat ini, hal itu terjadi. Walau belum menelan korban jiwa, setidaknya telah membuat orang terluka dan mengalami kerugian. Seorang wanita pahanya berdarah, dan seorang lelaki komputer jinjingnya rusak akibat petasan yang diledakkan sekolompok pemuda tanpa rasa tanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya suasana tenang, hanya sekali-kali suara ledakan terdengar dari luar. Menggelegar, menggetarkan dada, dan memompa jantung bagi yang jantungan. Itulah sekelumit rasa yang bisa saya gambarkan disini. Semua walau merasa terganggu, tetap tenang-tenang di tempat duduknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga muncul satu petasan yang meleset masuk ke kerumunan pengunjung di salah satu cafe di Makassar. Maklum cafe yang buka 24 jam diluar ramadan ini, tidak memiliki dinding sebagai penghalang. Hanya besi-besi yang dibentuk selang seling sebagai penyanga dan pembatas dunia luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petasan yang dinyalakan dari luar tiba-tiba terbang kedalam dan membuat seorang pria ketakutan karena petasan itu tepat dikakinya. Komputer jinjing yang ia pegang lantas dijatuhkan begitu saja untuk menendang petasan yang hampir saja meledak, tapi naas, petasan itu keburu kesetanan dan boom, meledak. Untung bagi lelaki itu, naas bagi perempuan di depannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petasan itu meledak tepat di pahanya dan berdarah. Alhasil suasana yang tadinya adem ayem, berubah menjadi ketakutan dan riuh. Mencari dari mana asal petasan itu. Dasar tidak tahu malu, sekolompok pemuda yang sedari tadi berada di sudut jalan dimana cafe ini terletak, menghilang bagai jin yang ketakutan. Blusssss….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak ingin menyalahkan pemuda-pemuda itu. Walau telah membuat kegaduhan dan kegelisahan, saya sadar mereka butuh sentuhan dan pemahaman khusus dari orang tua dan lingkungannya. Mereka hanyalah korban, korban dari penjual petasan dan korban akan ketidak mampuan polisi memberantas penjualan petasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah sengaja atau tidak. Atau malah terlampau tolol. Polisi selalu kecolongan aksi penjual belian petasan ini. Padahal sudah sejak namanya petasan ini ada, hingga kini, setiap bulan ramadan itu diperjual belikan, tapi tak satupun yang mampu diamankan polisi, setidaknya dimana saya berdomisili saat ini, Makassar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau mungkin, polisi menunggu jatuhnya korban jiwa baru melakukan tindakan. Tak ayal polisi kita seperti polisi India dalam film-film yang selalu datang belakangan kalau begitu. Mungkin kata tolol terlalu kejam untuk menggabarkan kejadian ini, tapi hanya kata itu yang bisa saya sandangkan saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yah… akhir kata, mari kita memberi pemahaman kepada mereka yang tidak peduli dengan lingkungan dimana dia berada. Lingkungan dimana tidak semua orang senang dengan suara gaduh dan ledakan yang menggelegar. Lingkungan yang mungkin saja ada orang-orang yang lemah jantung disekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-2522015905784151124?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g8apB8IG_MBVdX8Ak6ev0WMVFQE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g8apB8IG_MBVdX8Ak6ev0WMVFQE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g8apB8IG_MBVdX8Ak6ev0WMVFQE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/g8apB8IG_MBVdX8Ak6ev0WMVFQE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/LcgU4Tytd_c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/2522015905784151124/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/08/dampak-petasan-dalam-beragama.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2522015905784151124?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2522015905784151124?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/LcgU4Tytd_c/dampak-petasan-dalam-beragama.html" title="Dampak Petasan Dalam Beragama" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-dx93r3R0xzg/TkEtPHFWePI/AAAAAAAAAME/cRcc33a_XNA/s72-c/petasan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/08/dampak-petasan-dalam-beragama.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU8FRXoyeyp7ImA9WhdREE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-955468345608614689</id><published>2011-07-29T22:27:00.000-07:00</published><updated>2011-07-29T22:30:14.493-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-29T22:30:14.493-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Seni Dan Budaya" /><title>Sejarah Yang Terpinggirkan di Societeit de Harmonie</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8mHeheOGMEU/TjOWB5ta96I/AAAAAAAAAMA/n0p5xIU3RbE/s1600/terbengkalai.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-8mHeheOGMEU/TjOWB5ta96I/AAAAAAAAAMA/n0p5xIU3RbE/s320/terbengkalai.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Salah Satu Bagian Gedung&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Beberapa tubuh terbujur lemas, sesekali suara mengerang menahan dingin malam yang menggigit terdengar. Sehelai kain yang tak panjang terlihat ditarik ketas dan kebawah. Nyayian nyamuk ditelinga tak luput dari kibasan tangan tanpa sadar yang sesekali melayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mirip rumah penampungan” selorohku dalam hati. Tapi bukan, ini adalah gedung peninggalan Belanda yang memiliki nilai budaya cukup tinggi. Kini terabaikan dan malah menjadi tempat tidur singgah beberapa orang tanpa rumah. Malam itu sekitar Pukul 02.00 wita, kurasakan cibiran orang-orang yang hidup di tahun 1896 silam dihadapanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimalam hari, gedung ini bak rumah hantu. Hanya ada penerangan dari luar, dan nyaris tanpa aktifitas berarti. Kalau bukan sejumlah orang yang sehari-hari tidur disana, mungkin gedung berarsitektur neo klasik dan berciri Eropa abad ke-XIX ini tak pernah ditengok saat melintas disisi Jalan Riburane Makassar, dimana gedung ini terselip.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Namanya Societeit de Harmonie, Gedung Kesenian tertua di Sulawesi Selatan yang kini mangap-mangap, tak terurus, mungkin karena tua dan sudah usang. Gedung ini terakhir digunakan 2009 silam, “We Sangiang I Mangkawani” karya AM Mochtar yang menghiasi auditorium atau teater tertutup ditengah bangunan dipentaskan kala itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selebihnya, setiap kegiatan mengambil lahan parkir. Itupun kegiatan seni yang menyindir pemerintah karena mengabaikan renovasi rumah para seniman ini. Dua kali sudah Kala Teater melayangkan protes melalui puisi, tari dan teater, di dua tahun sejak pemerintah berencana lakukan renovasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat manusia, gedung kesenian Makassar terkena serangan jantung. Dari luar terkesan tidak ada apa-apa yang terjadi, tapi coba masuk kedalam, jangtungnya bukan lagi kronis, tapi sudah hilang. Kegiatan tak ada lagi yang menghiasi hari-hari disana, hanya terlihat ramai saja pada malam minggu, selain dijadikan tempat nongkrong pelaku seni, deretan motor juga menghiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak 2009, gadung ini telah menghabiskan anggaran Rp2 miliar dari APBD Sulsel, padahal rencana awalnya hanya Rp900 juta. Alasannya, kesalahan renovasi. Jelas salah, hingga kini tak ada struktur resmi yang menjadi rujukan akan seperti apa rupa gedung kesenian satu dari tiga gedung serupa di Indonesia ini kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah dari awal. Terlalu banyak kepentingan dan sederetan lagi alasan kesalahan renovasi itu. Banyak pihak hanya berkoar-koar agar itu diselesaikan secepatnya, dengan tidak merubah konstruksi awalnya. Pernah juga terdengar kabar anggaran APBN akan masuk untuk menalangi renovasi yang terhenti tanpa bentuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi entah kejelasannya kini. Semua makin buram, pengerjaan terhenti, kreasi seni juga terhenti karena biaya acara makin mahal. Ada kabar, jika separuh anggaran renovasi benteng Rotterdam akan dialihkan ke situ, tapi itu nampaknya angin lalu saja, semuanya tetap seperti renovasi awal 2009 silam, terbongkar tanpa tindak lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti orang-orang yang setiap hari terbaring disana, begitulah nasib Societeit de Harmonie, terpinggirkan bersama dengan sejarah panjangnya. Padahal gedung ini pernah menjadi balai kota masyarakat Makassar pada 1942-1945, dimana saat itu jaman penjajahan Jepang sedang berlangsung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-955468345608614689?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x_s8HRnNWOikBkHN-jBPQkDQTDo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x_s8HRnNWOikBkHN-jBPQkDQTDo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x_s8HRnNWOikBkHN-jBPQkDQTDo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/x_s8HRnNWOikBkHN-jBPQkDQTDo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/L_g0eiw5iD4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/955468345608614689/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/sejarah-yang-terpinggirkan-di-societeit.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/955468345608614689?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/955468345608614689?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/L_g0eiw5iD4/sejarah-yang-terpinggirkan-di-societeit.html" title="Sejarah Yang Terpinggirkan di Societeit de Harmonie" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-8mHeheOGMEU/TjOWB5ta96I/AAAAAAAAAMA/n0p5xIU3RbE/s72-c/terbengkalai.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/sejarah-yang-terpinggirkan-di-societeit.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcCRn4_eip7ImA9WhdSFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-1170514375068617568</id><published>2011-07-26T06:14:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T06:14:27.042-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-26T06:14:27.042-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News" /><title>Mahasiswa Bersenjata Api di Makassar</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-X1RZ-YEQxF4/Ti69kwoRrQI/AAAAAAAAALY/8xOs8chqhNI/s1600/bentrokan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-X1RZ-YEQxF4/Ti69kwoRrQI/AAAAAAAAALY/8xOs8chqhNI/s320/bentrokan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebenarnya ada rasa berat dalam hati untuk menulis tentang ini. Terlebih saya dari Makassar, besar dan kehidupan saya ada disini. tetapi disatu sisi, ini harus menjadi pelajaran berharga bagi semua masyarakat Indonesia. Karena bisa saja, bukan cuma di Makassar hal ini terjadi, namun mungkin lebih awal saja diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurang lebih sebulan terakhir ini mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar riuh lagi. Jika dulu, aksi mahasiswa hanya dibekali dengan parang dan panah, kali ini berbeda, mereka telah mengantongi senjata api rakitan lengkap dengan pelurunya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Entah dari mana sebenarnya mereka dapatkan itu semua. Pengakuan sementara mereka senjata api rakitan ini dibuat sendiri dengan bahan seadanya dan pengetahuan senjata apa adanya. Entah itu benar atau tidak? sementara peluru mereka mengaku mendapatkannya dari Kalimantan melalui pasar gelap penjualan senjata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang itu benar, sungguh nyata negara kita diambang perpecahan karena mahasiswa saja sudah dengan leluasa menggunakan senjata api rakitan. Sebagai gambaran kondisi di Makassar. Awal Mei ini sekitar 12 mahasiswa dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar diamankan, 7 diantaranya ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata tajam dan api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasus di UMI ini telah terjadi sejak akhir Februari lalu. Hampir tiap minggu ada perpecahan disana, hingga puncaknya terjadi penembakan misterius kepada salah seorang aktifis Mahasiswa Pencinta Alama (Mapala) UMI atas nama Muhammad Nur Husain. Siapa penembaknya belum diketahui hingga kini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir bersamaan, seorang warga sipil juga menjadi sasaran penembakan misterius di Makassar. Dia bahkan meninggal dunia dengan peluru bersarang dalam tubuhnya. Polisi juga belum bisa mengungkap siapa penembak misterius dalam beberapa kejadian di Makassar ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak ingin mengklaim jika senjara api yang didapat ditangan mahasiswa UMI tersebut digunakan dalam penembakan selama ini. Karena itu tidak punya bukti nyata. Walau yang bertikai selama ini di kampus UMI diduga adalah mahasiswa Fakultas Teknik dengan Mapala, dimana yang tertangkap tangan membawa senjata adalah mahasiswa Teknik dan yang tertembak adalah anak mapala. Masalah pengusutannya, biar polisi yang bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senin 16 Mei ini terjadi lagi insiden yang diperbuat oleh mahasiswa. Kali ini gabungan, ada mahasiwa dari Universitas Hasanuddin (Unhas) ada dari Universitas Negeri Makassar (UNM), dari Universitas Muhammadiyah (Unisemuh) dan ada dari STIMIK Dipanegara Makassar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka menyerang warga Jalan Hertasniang Timur secara tiba-tiba. Saat dirazia polisi, ditangan mereka juga ditemukan senjata api rakitan dengan empat butir peluru. Dari pengakuaanya, senjata itu dibaut di dalam kampus UNM dan pelurunya datang dari peredaran di dalam kampus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, pengakuan ini butuh bukti. Namun jika ini benar, ini adalah ancaman bagi pendidikan kita. Ternyata mereka kuliah bukan sekedar mencari ilmu dan mendapatkan ijazah. Pertanyaan besar kemudian muncul, akan mereka apakan senjata itu, apakah untuk kepentingan tertentu atau hanya untuk menakut-nakuti saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini harusnya menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar bagi instansi kepolisian. Namun nyatanya hingga kini, kesemua mahasiswa yang tertangkap tangan itu masih didiamkan dalam sel tahanan. Polisi masih enggan melakukan penyelidikan lebih jauh, mereka lebih banyak menunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kedepan akan kita kembangkan kasus ini, apakah kejadian di Makassar selama ini ada kaitannya dengan sejumlah mahasiswa bersenjata ini atau tidak,” ujar AKP Herman Kapolsek Rappocini Makassar yang menangani kasus ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dari pantauan penulis, polisi terlihat lamban menangani kasus ini karena terjadi riak dari berbagai pihak termasuk mahasiswa dan pihak rektorat universitas yang bersangkutan. Entah mereka takut akan tekanan, atau polisi takut akan ancaman mahasiswa yang mau buat gerakan besar jika teman-teman mereka tak lekas dilepaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua semakin kompleks. Disamping itu, pelaku kejahatan di Makassar dengan menggunakan senjata api meningkat. Kemarin seorang mahasiswa melapor di Polrestabes Makassar telah menjadi korban kekerasan dengan diancam akan ditembak oleh pelaku. hufff… semoga semua lekas berakhir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=8b2a8c30-a2b7-4463-a55b-8cc4a56c1566" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-1170514375068617568?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uPjxrPJyU0gaw24Xey7O1xUHzn0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uPjxrPJyU0gaw24Xey7O1xUHzn0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uPjxrPJyU0gaw24Xey7O1xUHzn0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/uPjxrPJyU0gaw24Xey7O1xUHzn0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/e2s3UQKTKaw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/1170514375068617568/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/mahasiswa-bersenjata-api-di-makassar.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1170514375068617568?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1170514375068617568?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/e2s3UQKTKaw/mahasiswa-bersenjata-api-di-makassar.html" title="Mahasiswa Bersenjata Api di Makassar" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-X1RZ-YEQxF4/Ti69kwoRrQI/AAAAAAAAALY/8xOs8chqhNI/s72-c/bentrokan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/mahasiswa-bersenjata-api-di-makassar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ICRno4eip7ImA9WhdSFkU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-2554848300208623777</id><published>2011-07-26T06:06:00.000-07:00</published><updated>2011-07-26T06:06:07.432-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-26T06:06:07.432-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini" /><title>Ngerinya Indonesia</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sZayv13dZpw/Ti67qEXyH-I/AAAAAAAAALQ/bVnBmZwbJZw/s1600/logo-hukum.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-sZayv13dZpw/Ti67qEXyH-I/AAAAAAAAALQ/bVnBmZwbJZw/s1600/logo-hukum.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;O.C Kaligis, siapa lagi yang tidak mengenalnya. Pengacara kondang yang arang melintang dalam dunia perpolitikan hukum di negeri ini sudah ketahuan bagaimana kapasitasnya. Jika dia saja mengatakan ngeri untuk kasus Nazaruddin jika benar dia membuka rahasia ditangganya, bagaimana lah kita ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaligis berkata jika Nazaruddin dijadikan tersangka dalam kasus suap Sekertaris Menteri Pemuda dan Olahraga dan dianggap sampah, maka Udin akan membongkar banyak kasus yang akan menyerat banyak nama di negri ini. Dan itu hal paling mengerikan yang ingin saya tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saya malah menantang Nazaruddin untuk buka-bukaan, agar kengerian di negri ini makin menjadi-jadi. Jangan sampai Udin -sapaan saya buat Nazaruddin- hanya di nunung-kan di jadikan sampah, karena tak mampu dibawa kembali ke negri ini.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Ah.. negri yang ngeri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tak ingin menambah beban lagi buat Partai Demokrat dengan mengutak-atik Nazaruddin lebih jauh. Sudah cukuplah keterpurukan PD dengan segala rahasia yang ada di tangan Nazaruddin yang enggan untuk bernazar jika kembali, akan menjadikan negri ini lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya malah ingin mencari tahu dimana keberadaan sekolompok orang yang tergabung dalam Komite Bangkit Indonesia, yang 2009 lalu getol menjegal Susilo Bambang Yudiono saat melangkah untuk kedua kalinya dalam bursa calon predisen di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah orang-orangnya sudah mati semua. Atau gaung harimaunya saat itu, sudah pupus sehingga kini menjadi macan tanpa taring? entahlah….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Komite Bangkit Indonesia dirasa sudah basi. Lalu dimana saat ini Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan yang sudah membentuk Rumah Pengaduan Kebohongan Publik. Apakah rumahnya sudah penuh dengan berkarung-karung kebohongan, saya ingin dengarkan keheboan yang mengerikan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi jika dibandingkan dengan Komite Bangkit Indonesia, Badan Pekerja Gerakan Tokoh Lintas Agama Melawan Kebohongan sedikit lebih baiklah. Setelah beberapa saat redup, entah karena lelah dibohongi atau apa, beberapa pekan lalu, tokoh-tokoh dalam forum tersebut kembali melongoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kini dia membawa angin kencang yang makin membuat saya ngeri melihat negri ini. Katanya Indonesia bukan lagi diambang kebangkrutan, tetapi sudah bangkrut total. Waduh, makin parah saja semua ini. Makin takut dan ngeri melihat Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarik napas dulu… biar meredamkan rasa ngeri melihat negri ini carut marut, bukan karena kepentingan nasionalisme yang kata BJ Habibie sudah bukan zamannya lagi diperdebatkan. Tapi marut-marut dan makin marut karena hanya kepentingan politik yang tak abadi dipermasalahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua sibuk berapologi, mengeluarkan opini untuk membela kepentingan masing-masing. Tidak ada yang mau berpikir bagaimana Indonesia ini kedepan. Kalaupun ada, akan cepat ditepis oleh masalah dan masalah yang makin mencengankan jika di ikuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah… makin ngeri negri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Indonesia sudah bangkrut, lalu bagaimana selanjutnya? Apakah kita harus melihat Indonesia hingga hancur? saya tidak ingin deklarasi-deklarasi yang banyak terjadi di luar sana hanya menjadi arsip semata. Woi Bung… Kita Tidak Butuh Arsip dengan aksimu. Kita Perlu Indonesia ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari merenungkan Negri ini… Bagi yang suka demo-demo, jangan asal orasi dan deklarasi. Buat perubahan yang lebih berarti, jangan sampai aksi bayaranmu makin membuyarkan ketulusanmu –jika benar kau tulus–&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam dari anak negri…&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-2554848300208623777?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H01qQItoCKqHEaQQK4_DGHveqc0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H01qQItoCKqHEaQQK4_DGHveqc0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H01qQItoCKqHEaQQK4_DGHveqc0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/H01qQItoCKqHEaQQK4_DGHveqc0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/P38Q4xWYZ-g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/2554848300208623777/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/ngerinya-indonesia.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2554848300208623777?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2554848300208623777?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/P38Q4xWYZ-g/ngerinya-indonesia.html" title="Ngerinya Indonesia" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-sZayv13dZpw/Ti67qEXyH-I/AAAAAAAAALQ/bVnBmZwbJZw/s72-c/logo-hukum.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/ngerinya-indonesia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4BR3s5eCp7ImA9WhdSFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-3686866730220594357</id><published>2011-07-24T04:25:00.000-07:00</published><updated>2011-07-24T04:29:16.520-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-24T04:29:16.520-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Piture" /><title>Cerita Dibalik Foto Pemenang PFI 2011</title><content type="html">&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Selalu ada cerita yang tersembunyi dari setiap kejadian”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0mf9BSNLE3c/TiwABq7g9JI/AAAAAAAAALI/izbTZVB_QpI/s1600/Maman-Sukirman-Berlindung-Dari-Bentrokan_094707.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-0mf9BSNLE3c/TiwABq7g9JI/AAAAAAAAALI/izbTZVB_QpI/s320/Maman-Sukirman-Berlindung-Dari-Bentrokan_094707.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Berlindung Dari Bentrokan --Maman Sukirman--&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kata itulah yang selalu saya yakini dalam kehidupan, tidak ada satu kejadian pun yang tak memiliki cerita. Terkadang satu momen dianggap angin lalu saja, tapi disisi lain sebuah cerita besar tersembunyi, dimana jikalau diri sempatkan waktu untuk melihat, akan membuat kita banyak sadar jika itu bukan cerita biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang diyakini orang-orang hebat, orang-orang yang peka akan sekitar. Orang yang tidak hanya berlalu bagai angin ribut ketika dihadapkan pada satu kenyataan. Mengutip kata Kang Pepih Nugraha –Saya selalu tertarik pada setiap kecelakaan, kadang kala orang berlalu saja tanpa peduli, saya peduli. Bisa saja orang itu keluarga atau tetangga saya–&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kurang lebih kata-kata Kang Pepih itu keluar lantaran dia peka, naluri jurnalistik yang keingin tahuannya lebih besar dari kepentingan pribadinya. Siapa sangka, jika terjadi kecelakaan dan berakhir dengan lembaran koran atau pelepah daun pisang di jalanan adalah betul keluarga atau kerabat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah pula yang diyakini para pemenang anugrah Pewarta Foto Indonesia (PFI) 2010 yang baru saja berlangsung di Jakarta 21 Juli 2011 ini. Setiap foto memiliki cerita tersendiri, cerita yang kuat, yang kadang jika memposisikan diri berada disana tidak akan mampu kita melihat momen satu, dua atau tiga scane lembaran kejadiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu yang menarik perhatian saya dari deretan 10 foto terbaik di 2010 lalu. Pemenang foto kategori manusia dalam berita. Dimana kategori ini merupakan idola setiap pewarta foto di Indonesia. Saking bergensinya, setiap tahun foto pemenang kategori ini yang akan dijadikan sampul undangan atau baliho. Dan lagi, foto karya inilah yang dinobatkan sebagai pemenang utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ucHXhCJe4GA/TiwARu-0XoI/AAAAAAAAALM/-GdpkyLzMnw/s1600/maman.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-ucHXhCJe4GA/TiwARu-0XoI/AAAAAAAAALM/-GdpkyLzMnw/s320/maman.jpg" width="171" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Maman Sukirman&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dia adalah Maman Sukirman, Fotografer Harian Seputar Indonesia Biro Sulsel-Sulbar dengan judul foto ‘Berlindung dari Bentrokan’ yang jadi pemenang. Tidak diragukan lagi, cepretan foto pemenang ini cukup kuat, mampu mengiris hati jika melihat, membayangkan jikalau orang tua kita yang menjadi objek dalam foto tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Foto yang menjadikan bulu kuduk merinding, bagaimana tidak urat wajah Daeng Naba,72 tahun yang menjadi objek foto itu cukup memelas. Memelas atas kekacauan bangsa, menjinjing sendal jepit diatas lumpur dibawah cangkang eskapotor penindas benda-benda keras, mewakili orang-orang bersendal jepit lainnya di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak ingin terlalu membesar-besarkan pemenang –Maman Sukirman–, bukan karena saya berteman baik dengan dia, tetapi memang foto yang ia hasilkan memang pantas diajungi jempol. Dimana saat kejadian itu, 9 Desember 2010, puluhan fotografer dari berbagai media ada disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, disaat barisan Polisi tengah berhadap-hadapan dengan ribuan mahasiswa yang sedang memperingati hari Anti Korupsi. Dia, mampu melihat celah, seorang kakek yang terjebak diantara dua kelompok manusia yang bertikai tanpa alasan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti Kang Pepih, hasil jepretan Maman juga punya cerita. Daeng Naba yang menjadi objek fotonya adalah lekaki tua yang sehari-hari berlalu lalang di depan kampus hijau itu. Setiap hari, dia berjalan tanpa kenal lelah mencari nafkah, terkadang memungut sampah plastik untuk kemudian dijual kembali atau mendapat uang pesangon dari mahasiswa yang melihatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu dia juga berjalan seperti biasa, tanpa merasa terganggu karena memang itu rutenya. Namun naas, hari itu ternyata jalurnya berubah menjadi perang. Karena terlanjur genjatan senjat pecah, &amp;nbsp;–mahasiswa melempari polisi, polisi membalas dengan gas air mata dan semprotan air– mau tak mau kakek tua ini harus berlindung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut kesaksian Maman, saat itu, Daeng Naba berjalan biasa saja, seketika mendengar letusan senjata, kakek tua ini sontar kaget. Berjalan diatas lumpur –pelebaran jalan– dia lalu melepas sendal jepitnya, mungkin karena matanya perih, dia lalu merangkak mengendur-endus diatas lumpur mencari perlindungan hingga ia temukan cangkang eskapator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berselang beberapa detik saja, kakek tua ini berlindung, perang sesunggunya terjadi. Maman yang saat itu berada disudut tidak luput pula imbas dari kejadian itu. Dia terkena semprotan air dan gas air mata. Kameranya penuh dengan lumpur. Maman pun mengakui sempat terjatuh saat bentrokan itu pecah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek tua yang sempat ia abadikan dalam beberapa scane, saat kejadian itu tak bisa lagi ia lindungi. Setelah beberapa saat kemudian ia mendapat posisi aman, dia kembali menengok kakek tua itu, tapi ternyata sudah diselamatkan oleh warga agar menepi dari bentokan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kakek tua itu terlihat trauma, mungkin dia beranggapan kembali ke perang saat kemerdekaan lagi, padahal beda. Perang yang baru saja ia lalui adalah perang tanpa ujung pangkal. Entah esensinya apa, dan dia harus bertindak seperti apa. Seperti masyarakat kebanyakan yang bingung, harus memihak siapa, polisi yang menengakkan keamanan atau mahasiswa yang berjuang atas nama masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah Maman, berkat fotonya, kembali menyadarkan kita bahwa banyak pihak diluar sana yang akan terkena imbas langsung dari keegoisan kita –kita semua yang berjuang atas nama kelompok, baik pemerintah, mahasiswa, partai atau organisasi lain– meraka tidak tahu masalah yang dijadikan peperangan, orang-orang seperti Daeng Naba cuma ingin tahu, hari ini harus makan apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, setiap pemenang dalam PFI 2010 saya ucapkan selamat. Bagi yang belum sempat menang, semoga tetap berkarya dijalan yang benar, dan yang menang agar meningkatkan lagi ke yang lebih baik. Jangan bangga dengan apa yang telah diraih, tapi banggalah karena masih sempat berkarya. Untuk melihat 10 foto terbaik PFI 2010, lihat &lt;a href="http://id.berita.yahoo.com/foto/foto-terbaik-anugerah-pewarta-foto-indonesia-2011-1311329829-slideshow/#mwpphu-container"&gt;disini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Seni fotografi bukan sekedar merupakan rekaman apa adanya dari dunia nyata, tapi menjadi karya seni yang kompleks dan media gambar yang juga memberi makna dan pesan. Foto selalu menarik untuk diamati, sebuah foto mempunyai nilai dokumentasi yang tinggi karena mampu merekam sesuatu yang tidak mungkin terulang kembali, apakah itu tentang cerita ataupun cinta…&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Maman Sukirman&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-3686866730220594357?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C50lscGK6RWm1nZaydKmUQRGiAo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C50lscGK6RWm1nZaydKmUQRGiAo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C50lscGK6RWm1nZaydKmUQRGiAo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/C50lscGK6RWm1nZaydKmUQRGiAo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/tN-_YqTtHFs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/3686866730220594357/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/cerita-dibalik-foto-pemenang-pfi-2011.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/3686866730220594357?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/3686866730220594357?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/tN-_YqTtHFs/cerita-dibalik-foto-pemenang-pfi-2011.html" title="Cerita Dibalik Foto Pemenang PFI 2011" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-0mf9BSNLE3c/TiwABq7g9JI/AAAAAAAAALI/izbTZVB_QpI/s72-c/Maman-Sukirman-Berlindung-Dari-Bentrokan_094707.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/cerita-dibalik-foto-pemenang-pfi-2011.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIFQX4zcSp7ImA9WhdSFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-1938082599780977182</id><published>2011-07-23T15:33:00.000-07:00</published><updated>2011-07-23T15:35:10.089-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-07-23T15:35:10.089-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh" /><title>Kapolrestabes Makassar Meninggal Dunia</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;“Tak ada yang abadi, semua akan kembali ke Penciptanya lagi”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Sg7fI8fK_kc/TitMCY03mUI/AAAAAAAAALE/0fOUrBnUmKc/s1600/803nur+samsul.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Sg7fI8fK_kc/TitMCY03mUI/AAAAAAAAALE/0fOUrBnUmKc/s1600/803nur+samsul.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ungkapan diatas benar adanya, bahkan tak mampu diragukan lagi jika itu mutlak, tak bisa ditawar-tawar sebulan, sehari bahkan sedetik, jika ia ingin datang bertamu pada kehidupan, dia akan datang dengan membawa apa yang ia minta. Iya, dialah kematian yang pasti akan menghampiri kita pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat Pukul 03.45 wita dini hari waktu Makassar, sebuah pesan singkat masuk. Berhubung Minggu hari libur, jam segitu memang belum membuatku tertidur. Pesan yang membuat ku terkejut tak kala melihat sang pengirim yang tertera, Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Makassar AKBP Muhammad Hidayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
–Apa yang membuat pak Dayat, sapa ku kepada beliau mengirim pesan singkat dipagi buta, awalnya saya pikir ada tangkapan pembalap liar lagi, tapi langsung kutepis karena sudah ada wadah khusus bagi pembalap liar atau sebutan pihak kepolisian, para pehobi balap untuk berekspresi dibelakang Trans Studio Makassar tepatnya di Sirkuit Mini-nya–&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak ingin salah tebak, kantuk yang menghampiri berbarengan dengan kuasa cairan kenikmatan sesaat kuacukan. Langsung saja pesan itu ku buka dan membacanya dengan runut. Sedikit terkejut, tak habis pikir dan beranggapan jika Pak Dayat sedang bergurau lagi di pagi buta, seperti kebiasaannya yang khas –bercanda kepada kami-kami–&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Dayat memberi kabar jika atasannya, Kepala Kepolisian Resort Kota Besar (Kapolrestabes) Makassar Kombes Pol Muhammad Nur Syamsul telah meninggal dunia beberapa menit saat pesan singkat tersebut ia kirim kebanyak orang. Mobil yang kukendarai berhenti, membaca ulang pesan singkat tersebut, berharap saya sedang salah baca, tapi ternyata ketiga kalinya pesan itu kupelototi, huruf dan bunyinya tetap sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isinya singkat –Innalillahi Wainnailaihi Rajiun, Bapak Kapolrestabes Makassar meninggal dunia, tolong bantuan tenaga kita semua berjaga di rumah duka– tulis Pak Dayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar kematian memang selalu mengejutkan. Tapi kematian Bapak Kapolrestabes Makassar ini lebih mengejutkan lagi. Bagaimana tidak, baru saja seorang teman bercerita kepada saya jika dia dan pak Kapolrestabes cekcok diujung telepon sekitar Pukul 07.00 wita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman saya ini kerjaannya memang mengekori aktifitas kepolisian. Jika terjadi satu hal di masyarakat, dia yang akan berang dan terus menghangtui polisi dengan sejuta pertanyaan menyudutkan. Dia baru saja mempertanyakan pengusutan kasus kepemilikan senjata api yang lagi marak di kalangan mahasiswa dan masyarakat biasa di Makassar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Kapolrestabes, karena mungkin sudah kecapaian diteror dengan pertanyaan itu-itu saja –bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan kasus-kasus senjata api di Makassar, belum satupun tangkapan pihak kepolisian yang diketahui masyarakat terkait siapa, dimana dan seperti apa rupa pelaku penjualan senpi (senjata api) yang katanya diperjual belikan di Facebook itu–&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapolrestabes balik menuding teman saya itu sengaja mencari kelemahan dirinya dan institusinya. Kata dia kepada teman saya, dari kesaksian teman saya itu –Kau memang sengaja ya cari kesalahan saya– singkat cerita, terjadi kles kecil-kecilan yang pada akhirnya kapolres melunak lagi dengan menjawab pertanyaan teman saya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar kesaksian teman saya ini, saya pula datang mengerocoki. –Hmm, memang dia itu, terlalu lamban dalam bertindak, tapi tenang saja, sebentar lagi dia akan diganti, mungki tidak akan sampai lebaran lagi– kata saya berselang 4 jam sebelum pesan singkat Pak Dayat mendarat di ponsel saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang membuat saya begitu terkejut dengan kabar berpulangnya beliau. Kabar berpulangnya orang yang disetiap ada aksi berskala besar di Makassar selalu nampak dibagian belakang barisan polisi dengan tongkat kebesarannya, mengawasi, mengontrol dan membimbing adik-adik mahasiswa untuk tetap tertib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kabar kematian Pak Syamsul –sapaan beliau– tiba-tiba mengingatkan saya terhadap beliau, dengan senyum khasnya setiap kali saya berkunjung ke tempatnya. Senyum yang selalu ada diujung pintu ruangannya, saat melihat kami –saya dan beberapa teman saya yang hampir tiap hari berada disana– datang menghampiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak kusangka, dia yang menjabat hampir setahun ini –Sejak ramadhan tahun lalu– menghembuskan nafas terakhir begitu mendadak. Pagi kemarin dia masih terlihat ada diruangannya, beraktifitas seperti biasa, berseragam seperti biasa dengan dua bunga berwarna emas dipundaknya, seperti biasa tetap ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini, beliau harus kembali. Kembali tanpa pakaian, kembali tanpa aktifitas dan tanpa pangkat yang ia peroleh sejak menjadi manusia. Mantan Penyidik Bareskrim Polri ini, harus pergi dengan sejuta kenangan dan tumpukan kasus. Tapi inilah ketetapan sang ilahi, tak bisa ditawar dan tak bisa dielakkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya seunggah kata maaf dan iringan doa menyertai beliau yang hingga kini belum ku ketahui penyebab kematiannya. Selamat jalan Komandan, semoga amal ibadahmu menjadi rujukan atas maaf dan ridho Tuhan di alam akhir mu. Kau tetap akan hidup dari nama dan jasa mu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-1938082599780977182?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BpHWlKuLzLqMOfDVgyp7vrCQ1iI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BpHWlKuLzLqMOfDVgyp7vrCQ1iI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BpHWlKuLzLqMOfDVgyp7vrCQ1iI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BpHWlKuLzLqMOfDVgyp7vrCQ1iI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/UARMmvmLaUU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/1938082599780977182/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/kapolrestabes-makassar-meninggal-dunia.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1938082599780977182?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1938082599780977182?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/UARMmvmLaUU/kapolrestabes-makassar-meninggal-dunia.html" title="Kapolrestabes Makassar Meninggal Dunia" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-Sg7fI8fK_kc/TitMCY03mUI/AAAAAAAAALE/0fOUrBnUmKc/s72-c/803nur+samsul.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/07/kapolrestabes-makassar-meninggal-dunia.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUIMQ3s_fip7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-5469263163978409584</id><published>2011-04-23T20:59:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:59:42.546-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:59:42.546-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini" /><title>Kartini dan Pelacur</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Kartini_bersaudara.jpg" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Kartini bersaudara" height="218" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/e/e3/Kartini_bersaudara.jpg/300px-Kartini_bersaudara.jpg" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 300px;"&gt;Image via &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Kartini_bersaudara.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dua hari yang lalu tepatnya 21 April di saentero negeri, orang-orang merayakan hari lahirnya Kartini. Tokoh perempuan yang telah mengangkat derajat wanita lebih tinggi dan bisa sejajar dengan kaum lelaki. Gagasannya yang paling melekat adalah emansipasi wanita, yang saat ini dimana-mana menjadi acuan kaum wanita dalam menjamur di kehidupan pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri tidak terlalu berlebihan dalam melihat hari ini. Bagi saya tidak ada yang begitu istimewah dengan 21 April ini. Tak lebih hari ini hanyalah hari lahirnya Kartina, seorang pelacur yang saya kenal beberapa waktu lalu. Mungkin akan lebih terasa 21 April jika merayakan dengan dia.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ingin bersikap terlalu skeptis dengan Kartini yang telah menjadi Ibu dan pahlawan negeri ini. Seperti yang telah ditetapkan Presiden Soekarno dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang mengakui Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan dan menetapkan 21 April sebagai hari untuk mengenangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya dia memang berjasa, tetapi tidak lantas harus diperingati secara berlebihan. Hari ini di Makassar, jajaran Polisi Daerah (Polda) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memperingati hari Kartini dengan menggelar upacara di Lapangan Rumah Sakit Bhayangkara. Penghormatan dilakukan dilanjutkan dengan acara makan-makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istri-istri pejabat berdatangan, ditambah dengan menghadirkan dharma wanita polri dibawah asuhan Istri Kapolda Sulselbar. Simbol-simbol perjuangan Kartini di pamerkan. Kebaya kebesaran yang selalu ia kenakan, kembali menjadi trend saat ini, mungkin hanya akan bertahan seminggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koran, majalah, radio hingga televisi tidak luput dari bahasan topik ini. Memperingati Hari Lahirnya Ibu Kita Kartini. Saya tak habis pikir ketika hari lahirnya Cut Nyak Din dan beberapa pejuang lainnya tidak semeriah dengan pembahasan tentang Kartini. Bahkan untuk membahasakan terlalu jauh Kartini, di munculkan Kartini-Kartini masa kini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak pelak, ibu-ibu menteri, gubernur wanita dan pejabat-pejabat wanita lainnya menjadi incaran wawancara perihal memaknai hari ini sebagai hari lahirnya Kartini. Dengan lugas, bercambur sedikit rasa bangga karena disandangkan predikat Kartini masa kini, mereka-mereka berbicara tentang wanita. Tidak salah, itu wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang tak wajar menurut pandangan saya, adalah keterlupaan kita tentang sosok Kartina. Pelacur yang selama ini dianggap sampah masyarakat. Dia juga pahlawan negeri ini. Jika Kartini dengan gagasannya, Kartina mengabdi kepada negara dengan tubuhnya, perbuatannya dan segenap kemampuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menyumbang banyak devisa kepada negara. Pajak-pajak dari pengusaha yang selama ini malas bayar pajak, Kartina pungut dipinggir jalan. Begitu juga dengan hasil korupsi pejabat negara, Kartina tampung lalu kembali disumbangkan kenegara sebagai imbalan penjualan tubuhnya. Pajak Kartina sekali pakai cukup tinggi, sehingga wajar dia juga dimaknai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya bukan Kartini, saya Kartina, hanya mata lelaki yang melirik ku, saya bukan acuan wanita-wanita, tapi jangan buang aku dijurang tak bercahaya, karena aku wanita Indonesia juga,” kata dia suatu waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlalu naif memang jika harus meberikan posisi terhormat kepada Kartina. Dan tentu tidak akan bisa disejajarkan dengan Kartini. Tetapi tidak salah juga, jika kita memandang mereka sebagai Kartini-Kartini masa kini yang juga punya andil dalam membangun bangsa, walau dengan cara kurang wajar. Waktu dan kesempatan kata orang-orang bijak yang membedakan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Hari Kartini dan Selamat Ulang Tahun Buat Kartina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=7a11fd31-ebb7-4a0b-a73a-51240bce5afd" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-5469263163978409584?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xWHdvTtCwkMa9ijKwmvkcQyebLQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xWHdvTtCwkMa9ijKwmvkcQyebLQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xWHdvTtCwkMa9ijKwmvkcQyebLQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xWHdvTtCwkMa9ijKwmvkcQyebLQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/nPEGqzOixWI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/5469263163978409584/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/kartini-dan-pelacur.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/5469263163978409584?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/5469263163978409584?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/nPEGqzOixWI/kartini-dan-pelacur.html" title="Kartini dan Pelacur" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/kartini-dan-pelacur.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUMSXo-cSp7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-2171899505276881687</id><published>2011-04-23T20:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:54:48.459-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:54:48.459-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Seni Dan Budaya" /><title>I La Galigo dan Sindiran Kepada SBY</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://commons.wikipedia.org/wiki/File:Galigo.jpg" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="A XIX-century manuscript of the La Galigo epic" height="196" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/8/83/Galigo.jpg/300px-Galigo.jpg" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 300px;"&gt;Image via &lt;a href="http://commons.wikipedia.org/wiki/File:Galigo.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam tulisan tentang &lt;a href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/epos-terpanjang-di-dunia-i-lagaligo.html"&gt;Kepulangan I La Galigo&lt;/a&gt; sebelumnya, seseorang sempat bertanya adakah buku lengkap yang menceritakan kisah I La Galigo. Saya jawab ada, walau tidak yakin siapa penerbitnya dan juga penulisnya, saya mendengar dari beberapa orang jika buku itu memang ada. Kemarin, saya menyempatkan diri melihat persiapan pementasan I La Galigo di Benteng Rotterdam Makassar yang akan action 22 hingga 24 April mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak disangka, seseorang menyedorkan sebuah buku berjudul Tiga dari Galigo karya almarhum Drs H Muhammad Salim yang berpulang ketika buku tersebut naik cetak. Pria berbadan besar yang hampir separuh wajahnya ditumbuhi bulu mengaku buku yang ia berikan itu edisi terbatas. “Hanya 2.500 yang dicetak khusus untuk pementasan ini,” katanya sambil menunjuk sebuah panggung besar di tengah taman dalam benteng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahagia rasanya bisa memegang buku dalam jumlah terbatas itu. Tak ingin membuang waktu, setelah bicara panjang lebar dengan pria bercambang itu, saya lantas mencari tempat untuk membacanya. Nampaknya enak kalau sore hari duduk-duduk di cafe sambil meneguk secangkir kopi dan gorengan hangat ditemani sebuah buku baru berisi 107 halaman yang cover depannya dibumbui tulisan lontara kuno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari tiga pembahasan yang diambil dalam Sureq Galigo yang termaktub dalam buku yang dibuka oleh selembar kata sambutan dari Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin itu, pembahasan kedua menurut saya wajib di baca oleh pemerintah saat ini, khususnya buat Presiden kita tercinta Susilo Bambang Yudiono yang menjadi raja di istana kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembahasan perjudul Nilai-nilai Pengembaraan Sawerigading yang Termaktub Dalam Sureq Galigo tersebut menggambarkan bagaimana Sawerigading, anak Batara &amp;nbsp;Lettu dan Datu Sengngeng yang menjadi penguasa Kerajaan Bumi waktu itu dan bersaudara kembar emas dengan We Ternriabeng, bisa menjalankan pemerintahan dengan bijak dan disukai masyarakatnya bahkan selalu didoakan agar tetap menjadi penguasa bumi karena kederwamanannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad Salim yang telah berhasil menerjemahkan naskah I La Galigo tiga jilid dari 6.000 jilid naskah yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai salah satu Memory Of the World (MOW) atau warisan budaya dunia dan merupakan epos terpanjang di dunia bisa ‘menyindir’ pemerintah saat ini dengan kehidupan dan cara kerja Sawerigading dalam memimpin rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada halaman 66 dan 67, Salim menerjemahkan unsur kepemimpinan Sawerigading dalam memimpin perang. Kala itu perang Posi Tana terjadi dan pasukan Sawerigading terdesak mundur. Singkat cerita, Sawerigading yang saat itu dalam tanduh memilih turun untuk memimpin langsung perang karena melihat pasukannya yang banyak tewas oleh serangan musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kutipan kata-kata Saweigading kepada sepupu dan pasukannya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Kasihanilah aku dahulu, engkau saja yang gantikanku dinaungi payung emas manurung ku. Aku sajalah yang berdiri mengayungkan perisai, memimpin anak raja menyerang, dan engkau melihatku bertarung dengan manurunnge itu. Apakah aku yang gugur di medan perang ataukah kelak bertambah rombongan di gelanggang yang ramai di Aleluwuk, di Tompo Tikka”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Suatu ketika pula, Sawerigading ingin mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan &amp;nbsp;kakaknya dan rakyatnya yang tercebur kedalam laut luas. Namun dicegah oleh pasukannya karena akan menjadi kematian besar bagi pengikutnya yang lain yang juga akan mengikuti jejaknya menceburkan diri ke laut mencari kakak-nya dan rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menggambarkan jika Sawerigading adalah sosok pemimpin teladan yang banyak orang rela mati untuk menjadi pengikutnya. Walau tentu saat ini kita tidak bisa mencontoh dan mengikutinya lagi seperti dulu. Cukup mengambil sebahagian hikmah dari kisah yang ia torehkan dalam Sureq Galigo atau naskah I La Galigo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak bisa memaksakan kehendak untuk pemimpin negeri ini menjadi seperti Sawerigading, tetapi setidaknya bisa mengambil hikmah dari kisah hidupnya. Harapan cukup besar pula bagi 10 menteri yang di jadwalkan akan hadir menyaksikan pementasan ini di Makassar beserta Wakil Presiden RI, Budiono dan 16 duta besar untuk Indonesia lainnya yang menjadi tamu VVIP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tertarik dengan ungkapan Tohoh Adat Luwu sekaligus Budayawan Sulsel, Andi Anton Pangeran yang meminta pementasan ini tidak hanya melihat unsur lekukan tubuh dan ritme suara semata. Tetapi bisa mengambil hikmah dan pelajaran mendalam dari epos yang ia sebut adalah pusat Austranesia atau rumpun bahasa yang penyebarannya sangat luas bahkan meliputi Pulau Fermosa, kepulauan nusantara termasuk Filipina, mikronesia, Malanesia, Polinesia dan pulau Madagaskar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai penutup, harapan yang sama yang diucapkan oleh Andi Anton Pangeran bisa membekali setiap tamu yang undangannya seharga Rp250.000 itu. Dan satu syair dalam Sureq Galigo yang telah di terjemahkan semoga bisa menjadi renungan buat kita semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Dengarlah wahai anak Raja, syair ku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dewalah yang menciptakan kehendak manusia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dewa yang menciptakan cinta kasih&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Dewa juga yang menciptakan saling mencinta dalam perasaan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dibawakan : Jammuricina (naskah 188. VI. 172)&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=4cca6337-7238-4a32-8f17-52a60dd9d75c" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-2171899505276881687?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dc3dd4PPSKdnDwnR8V1npbLJ1w0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dc3dd4PPSKdnDwnR8V1npbLJ1w0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dc3dd4PPSKdnDwnR8V1npbLJ1w0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/dc3dd4PPSKdnDwnR8V1npbLJ1w0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/TuvKyh8JQaM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/2171899505276881687/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/i-la-galigo-dan-sindiran-kepada-sby.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2171899505276881687?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/2171899505276881687?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/TuvKyh8JQaM/i-la-galigo-dan-sindiran-kepada-sby.html" title="I La Galigo dan Sindiran Kepada SBY" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/i-la-galigo-dan-sindiran-kepada-sby.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8HSXc4fCp7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-1483799030000681277</id><published>2011-04-23T20:47:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:47:18.934-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:47:18.934-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Seni Dan Budaya" /><title>Epos Terpanjang di Dunia, I Lagaligo Akhinya Kembali!</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/15366687@N00/5642365102" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="I La Galigo" height="240" src="http://farm6.static.flickr.com/5101/5642365102_fb453a5db0_m.jpg" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 240px;"&gt;Image by &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/15366687@N00/5642365102"&gt;shintabastian&lt;/a&gt; via Flickr&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dia sibuk mondar mandir. Tangannya sekali-kali diangkat diiringi suara ‘ya..iya.. good’. Sesekali pula tangannya disandarkan dipinggang sambil mulut menyong-menyong. Jadwal kepulangan membuat pria paruh baya asal Amerika Serikat ini tanpak serius dalam mengarahkan sejumlah orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia adalah Robert ‘Bob’ Wilson, Sutradara yang akan mengiring pementasan drama epos terpanjang di dunia, I Lagaligo. Setelah melang-lang buana dibeberapa negara seperti Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, New York, dan di Jakarta pada 2005 lalu. Kini naskah I Lagaligo akan dipentaskan di kampung kelahirannya, Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika banyak diantara kita yang belum tahu apa itu I Lagaligo. Mungkin anda akan lebih tahu jika menyebut kisah Mahabarata dari India. Sama dengan itu, I Lagaligo adalah kisah perjalanan satu sejarah kebudayaan yang dituangkan dalam sebuah karya besar, epos dengan lembaran cerita mencapai 6.000 halaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pementasan teaterikal I Lagaligo di Makassar akan berlangsung 23 dan 24 April. Tidak kurang dari 100 pelakon akan dilibatkan. Tetapi dengan kegesitan Robert yang telah mendampingi pementasan besar ini di beberapa negara, kendala itu bisa dikurangi. Bahkan meninggalnya penari Coppong Daeng Rannu tahun lalu yang merupakah pembuat roh hidup dalam teaterikal ini bisa diatasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pementasan akan berbeda kali ini,” kata Restu Iman Kusumaningrum, Creative Director Bali Purnati Centre yang memproduseri pementasan I Lagaligo dengan yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah I Lagaligo adalah roh nyata yang tetap hidup dihati masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya wilayah Luwu yang menjadi pusat lahirnya epos ini. Kisahnya terdiri dari 24 jilid, dan baru 2 jilid kisahnya yang telah dibukukan. Penerjemah asli epos ini, Muhammad Salim 28 Maret 2011 lalu telah wafat dengan cita-cita yang belum terwujud, membukukan semua hasil terjemahannya, dari naskah asli yang diambil dari Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit gambaran kisah I Lagaligo yang mungkin belum mengetahui. Diceritakan Sawerigading putra mahkota dari raja Luwu ketika lahir, dalam keadaan kembar emas yakni laki-laki dan perempuan. Dikhawatirkan akan jatuh cinta pada saat dewasa mereka dipisahkan dan tidak diperkenankan bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua kekhawatiran yang ditakutkan tiba-tiba menjadi kenyataan dalam sebuah pesta besar di istina Luwu ketika merekan telah dewasa. Tanpa sengaja Sawerigading melihat saudara kembarnya We Tenriabeng. Sejak saat itu perasaan dan pikiran Sawerigading tidak pernah tentram, yang terbayang hanyalah kecantikan We Tenriabeng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya perasaan itu ditumpahkannya dengan memberitahukan Batara Luwu (Raja Luwu). Batara Luwu, lalu mengadakan rapat dewan adat untuk membicarakan masalah ini. Disimpulkan hal itu melanggar adat dan sangat memalukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sawerigading diutus ke negeri China untuk menikahi &amp;nbsp;I We Cudai, Putri Raja China yang kecantikan dan kelembutannya tidak kalah dengan We Tenriabeng. Tetapi keinginan tidak selalu mujur. Setiba di China, Sawerigading ditolak oleh Raja China dan terjadilan peperangan besar, namun dimenangkan Sawerigading dan mereka menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disatu sisi, We Tenriabeng juga menikah dengan Remmang Ri Langiq yang tidak dihadiri oleh keluarganya. Kedua bersaudara ini menjalani kisah yang berbeda dan digambarkan dalam epos I Lagaligo tetap memiliki keterikatan. Anak Sawerigading hasil pernikahannya dengan I We Cudai-lah yang bernama Lagaligo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pondasi cerita diataslah ribuan kisah I Lagaligo berlanjut. Karena belum semua naskah asli I Lagaligo diterjemahkan, yang sering dipentaskan dalam drama masih berkisar percintaan saudara kembar tersebut. Tetapi, pihak yang bergabung dalam pementasan besar yang akan dihelat di Benteng Rotherdam Makassar akan memberikan satu kisah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menggambarkan, jika Indonesia memiliki jutaan karya seni yang apik dan tak ternilai harganya. Epos terpanjang di dunia ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah yang harusnya kita lestarikan dan cintai. Mari sama-sama mendukung pelestarian karya seni Indonesia, dengan terus menceritakan kisah dahulu kepada generasi mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tambahan, sedikit sajak dari Batara Lattuq (Ayah Sawerigading) kepada istrinya We Datu Senggeng :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kuruq sumangeq anriq ponratu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Le muaseng gi belo jajareng maroeqe&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Palaguna le goarie&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tekkuturusi rajung-rajummu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pesewalimmu mutia simpeng masagalae&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ala rini le upatudang mulu jajareng ri laimmu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tenna io mi anriq ponratu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mulu jajareng ri sao denra manurungnge&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sining anukku, anummu maneng anri&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mugiling paleppangiaq rupa mabboja&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tetap semangat adinda ku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tahukah engkau duhai hiasan balairungku yang ramai&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bulan purnama penghias bilikku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kupenuhi seluruh keinginannmu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Tak ada lain yang duduk di balairungku selain engkau&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Engkaulah satu-satunya andinda ku&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Permaisuriku di istana agung manurung&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Segala milikku milikmu jua adinda&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berpalinglah memandangku dengan tatapan cinta&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=f66a6a81-a7b5-4bab-b2eb-94661ea5488a" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-1483799030000681277?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JFz-ZWiR6uKmkfxQ7qklwTLtGP0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JFz-ZWiR6uKmkfxQ7qklwTLtGP0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JFz-ZWiR6uKmkfxQ7qklwTLtGP0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/JFz-ZWiR6uKmkfxQ7qklwTLtGP0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/50hz_6EipCs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/1483799030000681277/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/epos-terpanjang-di-dunia-i-lagaligo.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1483799030000681277?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/1483799030000681277?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/50hz_6EipCs/epos-terpanjang-di-dunia-i-lagaligo.html" title="Epos Terpanjang di Dunia, I Lagaligo Akhinya Kembali!" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://farm6.static.flickr.com/5101/5642365102_fb453a5db0_t.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/epos-terpanjang-di-dunia-i-lagaligo.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIBQnkzfip7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-8099586806785591005</id><published>2011-04-23T20:42:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:42:33.786-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:42:33.786-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Motivasi" /><title>Mencari Kehidupan Dibalik Lembaran Buku</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Soe_Hok_Gie.jpg" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Soe Hok Gie" height="172" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/7/74/Soe_Hok_Gie.jpg" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 250px;"&gt;Image via &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Soe_Hok_Gie.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Saya pernah dirawat hampir sebulan di rumah sakit. Penyakitnya, penyakit orang pinggiran, maag. Menderita maag akut membuat saya merasa tak punya lagi kekuatan untuk menatap masa depan. Karena saat yang bersamaan juga didera krisis percaya diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak hal yang menjadi keluhan saya di dunia ini. Dari masalah keluarga, beban yang begitu menumpuk dan beberapa masalah lainnya sehingga saya melihat wajah yang begitu suram dimasa depan. Intinya, saat itu persaan saya drop yang berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan kata-kata Soe Hok Gie tentang keberuntungan bagi jiwa muda yang meninggal dunia, terus terbayang dalam benak. Saya iklas saat itu, tapi disatu sisi saya juga galau dengan kondisi itu. Saya lahir sebagai anak tunggal, yang tentu ketika saya tiada dan putus asa dengan keadaan akan menjadi cambuk mematikan bagi kedua orang tua ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga suatu hari, setelah lepas dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan. Saya berusaha untuk mengembalikan kepercayaan diri saya. Tidak mudah memang, tetapi akhirnya saya bisa. Berkat sebuah buku penuh dengan pencerahan berjudul &amp;nbsp;Soe Hok Gie Sekali Lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku yang ditulis tiga penulis sekaligus ini menceritakan tentang Gie yang mempertegas kematiannya di Gunung Semeru. Sekilas, bagi orang yang tidak diposisi saya, buku ini tidaklah punya arti menguatkan dan memberi motivasi, tapi lain dengan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sosok Gie yang sudah terpatri dalam benak saya dalam bukunya Catatan Sang Demonstran, memberikan saya satu harapan dalam buku keduanya ini. Saya yang dilanda sinisnisme perasaan bisa kembali merapat masa depan, dengan tidak akan mati sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gie yang masih muda, mati bersama dengan rekan sependakinya setelah menghirup gas belerang. Tetapi dia dikenang, dia diceritakan banyak orang. Buku-buku biografi tentang dirinya muncul dikemudian hari, termasuk buku terakhir yang saya miliki Soe Hok Gie Sekali Lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba muncul dalam hati agar saya tak putus asa. Walau kenikmatan mati muda seperti yang dibahasakan Gie terus terbayang tetapi saya juga ingin dikenang. Saya tak ingin melepas semua masa muda ku dengan berlama-lama dalam kesedihan dan diambang keputus asaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saya hidup untuk dikenang, seperti Soe Hok Gie yang diceritakan banyak orang, menjadi tokoh demonstrasi yang menjadi gambaran. Saya tak akan mati sebelum orang lain mengenal ku, dan tak akan putus asa sebelum orang lain melihat kreatifitasku untuk bangsa dan untuk keluarga ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau bukan saya yang membuat buku, saya harap ada orang lain yang menceritakan ku suatu saat nanti, olehnya itu saat ini ku membaca dan menulis untuk bisa hidup…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=42aebea8-6b6b-4b0b-8416-6f263f1826e7" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-8099586806785591005?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-BOP-0pv9QAa3hB1YnmO6xUx5qs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-BOP-0pv9QAa3hB1YnmO6xUx5qs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-BOP-0pv9QAa3hB1YnmO6xUx5qs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/-BOP-0pv9QAa3hB1YnmO6xUx5qs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/ISw2HuL7E3I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/8099586806785591005/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/mencari-kehidupan-dibalik-lembaran-buku.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/8099586806785591005?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/8099586806785591005?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/ISw2HuL7E3I/mencari-kehidupan-dibalik-lembaran-buku.html" title="Mencari Kehidupan Dibalik Lembaran Buku" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/mencari-kehidupan-dibalik-lembaran-buku.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEQHQnc7cCp7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-446464430061960493</id><published>2011-04-23T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:38:53.908-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:38:53.908-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Motivasi" /><title>Merubah Diri Dengan Membaca Buku</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/10571250@N07/3454162243" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Sama-sama Baca Buku" height="240" src="http://farm4.static.flickr.com/3589/3454162243_5e1410f08b_m.jpg" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="161" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 161px;"&gt;Image by &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/10571250@N07/3454162243"&gt;xiangxi&lt;/a&gt; via Flickr&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sekitar lima tahun yang lalu, saya bukan seorang pembaca apalagi gemar menulis. Jiwa muda yang menggebu, hanya ingin mengajak kehal-hal yang berbau kesenangan. Tidak ingin munafik, waktu itu saya hampir sudah melakukan semua perbuatan jelek yang merusak akidah ke Islaman saya. (bukan berbau kriminal, seperti rampok dan antet-antetnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam benak saya, bagaimana bisa menyenangkan hati dan perasaan hari ini, itu saja sudah cukup. Boro-boro mau pikirkan masa depan yang lebih baik. “Mumpung masih ada orang tua, masa muda nikmati saja,” itulah prinsip ku yang mungkin juga banyak orang diluar sana berpikiran sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewaktu masa sekolah, seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara, karna kebetulan saya lahir tak diresekikan lebih dari satu, selalu menyindir walau sedikit sinis tapi saya sadar niatnya baik. Dia anak seorang ulama di daerah asalnya, di sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata yang selalu ia lontarkan cukup mengena sering kali. “Saya penasaran dengan kamu 10 atau 20 tahun yang akan datang,” selorohnya. Tak salah, karna saat itu saya bukanlah apa-apa, hanya anak muda yang mencari bentuk, jadi baik atau akan tetap sama bahkan bisa lebih buruk dari saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu, kami lulus. Dia yang rajin membaca, terutama buku tentang agama, penguatan aqidah dan segala macamnya sudah dia lahap. Sedangkan saya, satu judul buku saja tak pernah ada yang tamatkan, boro-boro baca buku, megang buku saja bisa dihitung jari apalagi yang namanya beli buku, jangan dipikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yang gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri, menjatuhkan pilihan pada universitas swasta di Makassar. Mungkin semua sudah tak asing lagi dengan ungkapan kampus hijau, Universitas Muslim Indonesia (UMI) saya yakin semua sudah kenal dengan kampus ini, tak usah saya bahasakan lagi, bagaimana dan seperti apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan saya waktu itu tidak jauh berbeda, bahkan setelah keluar dari pesantren sebagai bentuk penyambutan mahasiswa baru, tidak ada yang jauh berbeda dengan saya. Semua masih sama, belum ada penggerak untuk berpikir lebih baik, apalagi beribadah lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga satu hari, ketika toko buku Gramedia di salah satu mall di Makassar buka cabang kedua, saya tertarik untuk berkunjung. Beberapa saat keliling ruang pustaka yang cukup luas dengan hamparan buku-buku, saya berniat untuk kembali, karena tak satupun jenis buku yang bisa menggaet hati saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu saya berdiri di deretan buku-buku tentang agama, yang menurut saya cukup demokratis pengelola toko buku tempatkan karena posisi buku agama apapun ditempatkan sama tanpa ada sekat dia minoritas, dia mayoritas apalagi dia sesat dan dia yang benar, buku-buku itu menempati rak yang sama walau dipisahkan jenis agamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika akan meninggalkan Gramedia, tak sengaja tangan saya menyentuh tumpukan buku hingga satu diantaranya terjatuh kelantai. Sungguh, saat itu tidak ada niat dan buku itupun tidak pernah saya lihat ketika berada dideretan itu untuk menyentuhnya. Semua terjadi begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah saya ambil, buku itu berjudul ‘Keajaiban Sholat Subuh’ karangan Imad Ali Abdus Sami’ Husain seorang doktor bidang dakwah tsaqofah islamiyah di universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sepintas buku ini tidak ada apa-apanya, cover depannya yang didominasi warna hitam dan secercah warna mentari pagi ditambah gambar sebuah masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun setelah membaca sinopsis buku ini, hati saya bergetar. Sungguh, tiada satupun niat saya melebih-lebihkan. Sekiranya saat itu, tak banyak orang disana, air mata kelaki-lakian ku akan jatuh. Gambaran tentang diri dan penyelamatan agama Allah di muka bumi tiba-tiba terbayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dimana kamu wahai laki-laki muda disetiap subuh datang, masjid ini dibuat untuk semua usia, bukan hanya untuk orang tua yang jumlahnya saja lebih banyak wanita daripadanya,” setidaknya inilah kata-kata yang buat saya berpikir. Ditambah lagi dengan penegasan hadis dari HR Ahmad yang ditempel sebagai pembuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Sholat terberat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isyak dan Subuh. Padahal seandainya mereka mengetahui pahala pada kedua sholat tersebut, tentu mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Saya tak habis pikir, kata-kata pada cover belakang buku ini membuat saya menjatuhkan pilihan untuk membawanya pulang. Dan dari buku inilah, jendela-jendela ilmu yang tertutup rapat dalam lembaran kertas mulai saya buka, judul demi judul. Awalnya tentang buku keagamaan, hingga kehidupan saya sedikit mengalami perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak saat itu, setiap bulan saya menyempatkan diri berkunjung mencari buku baru yang bisa membuat saya lebih baik. Setelah merasa ilmu tentang agama sudah meningkat dari sebelumnya. Saya tergoda untuk membaca buku tentang motivasi, karena kebiasaan saya bermalas-malasan nampaknya belum juga berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku ‘Fight Like a Tiger Win Like a Champion’ karangan Darmadi Darmawangsa saya beli satu paket dengan ‘Champoin’ setelah membaca beberapa lembar halaman dalamnya. &amp;nbsp;Sungguh membuat saya bisa membuka diri dengan segala potensi yang saya miliki yang ternayata selama ini tak pernah saya hiraukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan ini terus berlanjut, sudah ratusan buku saya tamanti, mulai dari jenis cerita novel hingga ensiklopedia. Teman saya yang dulunya rajin membaca, ketika bertemu malah sering kali harus meminjam buku-buku milik saya karena ada beberapa diantaranya belum dia miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan membaca inilah yang mengalir hingga membuat saya rajin menulis, kehidupan dan pemahaman tentang hiduppun sudah lebih baik dari lima tahun lalu. Walau saat ini, masih terus belajar dari buku-buku baru yang hadir, saya juga punya satu hayalan suatu saat bisa memiliki buku tulisan saya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegemaran ini saya tuankan dalam sebuah blog pribadi atas nama saya, dan menulis di Kompasiana selain harus menjadi seorang penulis dari salah satu media di Indonesia. Keharusan memiliki wawasan luas membuat saya mewajibkan diri untuk baca buku, buku apa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun hingga hari ini saya masih terus belajar. Dan jika harus mengucapkan terima kasih kepada seseorang, saya akan mengucapkan terima kasih kepada Imad Ali Abdus Sami’ Husain yang telah membuat saya sadar jika ilmu itu ada dibalik lembaran kertas-kertas berisi kata-kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Makassar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=09548343-a2a7-472d-a709-e5f1d660f374" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-446464430061960493?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8o57trdBgTvXxGL95eFUhI6sWJM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8o57trdBgTvXxGL95eFUhI6sWJM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8o57trdBgTvXxGL95eFUhI6sWJM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/8o57trdBgTvXxGL95eFUhI6sWJM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/6nYLV3YKSMk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/446464430061960493/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/merubah-diri-dengan-membaca-buku.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/446464430061960493?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/446464430061960493?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/6nYLV3YKSMk/merubah-diri-dengan-membaca-buku.html" title="Merubah Diri Dengan Membaca Buku" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://farm4.static.flickr.com/3589/3454162243_5e1410f08b_t.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/merubah-diri-dengan-membaca-buku.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcDR307eSp7ImA9WhZQFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-6970787146008533794</id><published>2011-04-23T20:34:00.000-07:00</published><updated>2011-04-23T20:34:36.301-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-04-23T20:34:36.301-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik" /><title>Siapkah TNI Jalani Pidana Umum?</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator"&gt;&lt;a href="http://commons.wikipedia.org/wiki/File:Polri_Logo.svg" style="clear: left; display: block; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Logo of Indonesian National Police" height="284" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/08/Polri_Logo.svg/300px-Polri_Logo.svg.png" style="border-bottom-style: none; border-color: initial; border-left-style: none; border-right-style: none; border-top-style: none; border-width: initial; font-size: 0.8em;" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: left; float: left; margin-left: 1em; margin-right: 1em; width: 300px;"&gt;Image via &lt;a href="http://commons.wikipedia.org/wiki/File:Polri_Logo.svg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Istilah military offences mungkin sudah sangat lasim ditelinga kita. Ya, penegakan hukum kepada satuan militer yang ada di Indonesia yang terbukti melakukan pelanggaran dalam menjalanka tugas dan fungsinya sebagai abdi negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga dengan istilah civil offences yang tentu sudah sangat akrab dikehidupan kita sebagai orang awam. Jika ada orang selain anggota militer yang melakukan pelanggaran maka langkah hukum yang ditempuh pastilah pidana umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun belakangan militer yang telah terbagi menjadi Polri dan TNI terpisah pula dalam menghadapi tuntutan hukum. Polisi telah legowo menerima &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;tuntutan dalam pidana umum yang disamakan derajatnya dengan orang awam jika terbukti melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara TNI hingga saat ini belum. TNI masih dilindungi military offences tadi sehingga muncullah satu kesenjangan dalam hal ini antara Polisi dan TNI. Tak usahlah kita pikirkan kesenjangan dibandingkan dengan orang awam, pastinya sudah kita pahami bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang tadi saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang petinggi Polisi di Sulsel. Sebut saja namanya Basri (nama samaran). Dia mengatakan, pihaknya tentu saja merasa cemburu dengan perlakuan seperti itu. “Kita sama-sama abdi negara kok, kenapa hanya Polisi yang menjalani pidana umum,” keluhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlakukan seperti ini lah yang diakui Basri, sangat susah menindak oknum TNI yang melakukan pelanggaran. Misalnya terang dia, seorang anggota TNI melanggar lalu lintas, trus ditindak oleh Polisi Lalu Lintas, biasanya oknum TNI tersebut malah menggertak duluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kalu seperti itu kan, kita tak bisa apa-apa, bisa kita hanya diam saja karena mereka memiliki tuntutan militer, tidak bisa diproses di pidana umum,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Basri hanya berharap, kedepan perlakuan TNI dan Polisi bisa sama, dikenakan tuntutan Pidana umum. Dengan bengitu saling menghargai antar sesama bisa terjadi. Hingga perseteruan yang terus terjadi antara TNI dan Polisi bisa dihilangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dengan perbedaan status hukum seperti inilah, awal mula perseturuan tiada akhir antara kedua pihak ini terus terjadi. Pertanyaanya kemudain, Siapkah TNI menjalani proses pidana hukum? Jawabannya tentu hanya ada dipihak TNI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam… seseorang yang bukan ahli hukum… :D&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=afc0dfa9-453e-4d0a-9ae3-d3b588a9cb00" style="border: none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-6970787146008533794?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I_hdoAb9taOLzmKELIv_DG_oLY4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I_hdoAb9taOLzmKELIv_DG_oLY4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I_hdoAb9taOLzmKELIv_DG_oLY4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/I_hdoAb9taOLzmKELIv_DG_oLY4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/7zvuxf4Qk3w" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/6970787146008533794/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/siapkah-tni-jalani-pidana-umum.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6970787146008533794?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6970787146008533794?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/7zvuxf4Qk3w/siapkah-tni-jalani-pidana-umum.html" title="Siapkah TNI Jalani Pidana Umum?" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/04/siapkah-tni-jalani-pidana-umum.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUDSXg9fyp7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-4485685353456400233</id><published>2011-03-25T08:51:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T08:51:18.667-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T08:51:18.667-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik" /><title>Perang Si Biru, Merah dan Kuning</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-W2X5RIHGJYM/TYy5x9e0BQI/AAAAAAAAAK8/ZA6HGtj0T9M/s1600/images+%25284%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh4.googleusercontent.com/-W2X5RIHGJYM/TYy5x9e0BQI/AAAAAAAAAK8/ZA6HGtj0T9M/s1600/images+%25284%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Entah ada hubungannya atau tidak, tapi warnah ini punya keterkaitan yang menurut saya sarat dengan politik. Siapa yang tidak kenal dengan warnah biru milik Pak Beye, merah milik Bu Mega dan Kuning bekas miliknya Pak Kalla yang sekarang ada ditangan Pak Ical.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa pula yang tidak kenal dengan beberapa operator telepon Indonesia yang mewakili warnah-warnah ini. Ada Biru-nya X dan L itu, merahnya Tel dan Kom sama Sel itu, serta Kuningnya Matahari. Hmmm… hmmmm. Saya kok jadi kepikiran, persaingan politik di negara ini untuk menjadikan negara satu warnah, berimbas kepada persaingan operator yang juga ingin menjadikan negara ini satu warnah.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau malah persaingan operator ini yang diberimbas kepada persaingan politik partai-partai. Entahlah, yang jelas baik politik dan operator saat ini mewakili masing-masing warnah yang entah ada hubungan ato tidak warnah-warnah ini saling bantu membantu untuk menjadikan negara ini satu warnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si Kuning dulu sempat berkuasa, karena lawannya hanya si merah, kini si biru mengambil alih pasar. Dimana-mana selalu saja ada bentangan biru. Niat untuk membirukan negara ini sungguh penuh dengan ambisius, bahkan tidak jarang mereka buka-bukaan di depan umum untuk menonjolkan warnah masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini si kuning harus puas dengan kekalahan dominasi biru yang ternyata masih baru masuk ke Indonesia, si biru pula saat ini bukan lagi murni punya Indonesia, walau si kuning juga demikian. Satu-satunya warnah yang mewakili Indonesia hanya merah. Tapi lagi-lagi merah saat ini terancam kerana, ada sesuatu yang disembunyikan didalam warnahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu si merah sempat didera isu penyelewengan dana, bahkan harus mengurangi dominasi warnahnya. Kini si merah pun kembali diperhadapkan pada hal serupa, tapi kali ini wujudnya lain. Momen si merah kali ini cukup baik untuk membuktikan kepada rakyat jika dia benar Indonesia, bukan ikut-ikutan menjadi milik asing sepenuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah ujian berat bagi si merah. Si Biru yang sedang naik daun dan mengakui telah menguasai hampir 60% Indonesia, tentu melihat momen ini pula sebagai kunci utama menguasai dominasi warnah. Menjatuhkan si merah akan memudahkan si biru untuk berkuasa, sementara si kuning menjadi penonton sesaat saja, takut untuk berimprofisasi. hehehe… :D warnah yang lucu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untunglah saya tidak mewakili salah satu warnah tersebut, untuk lebih adilnya saya memakai tiga warnah tersebut. hehehe…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam warnah warni deh… :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-4485685353456400233?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFjaIJ9bLlPKIdhOGpTOZj-LCu4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFjaIJ9bLlPKIdhOGpTOZj-LCu4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFjaIJ9bLlPKIdhOGpTOZj-LCu4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bFjaIJ9bLlPKIdhOGpTOZj-LCu4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/xpVaKuW0ldI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/4485685353456400233/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/perang-si-biru-merah-dan-kuning.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4485685353456400233?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/4485685353456400233?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/xpVaKuW0ldI/perang-si-biru-merah-dan-kuning.html" title="Perang Si Biru, Merah dan Kuning" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh4.googleusercontent.com/-W2X5RIHGJYM/TYy5x9e0BQI/AAAAAAAAAK8/ZA6HGtj0T9M/s72-c/images+%25284%2529.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/perang-si-biru-merah-dan-kuning.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4NRn47eip7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-7803566532727515123</id><published>2011-03-25T08:46:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T08:46:37.002-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T08:46:37.002-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Unic" /><title>Negosiasi Warung Kopi</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-tuEwYWrQRJo/TYy4jpH5mdI/AAAAAAAAAK4/t9kblOzHTC8/s1600/images+%25283%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh4.googleusercontent.com/-tuEwYWrQRJo/TYy4jpH5mdI/AAAAAAAAAK4/t9kblOzHTC8/s1600/images+%25283%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sore-sore disudut warung kopi di daerah Bulukumba Sulawesi Selatan, wilayah dengan jarak 180 kilometer dari Kota Makassar yang terkenal dengan sebutan Butta Panrita Lopi (Tanah Pembuat Kapal). Hujan juga turun membasahi bumi sore ini, sehingga suasana begitu tenang dan dingin. Serasa ingin pulang dan tidur nyeyak dirumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore ini banyak orang berpakaian hijau tai kuda lengkap duduk di warkop dengan fasilitas wifi walau dengan tenaga sersendak-sendak tapi tetap ramai dikunjungi. Selain orang-orang berpakaian hijau rapi itu, juga ada beberapa orang menggenakan PIN Emas Garuda yang tersemak di bajunya sedang duduk dengan bongkahan kertas diatas meja yang dibolak balik.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya duduk paling sudut, dijejerang saya duduk masih ada dua meja dengan empat kursi yang juga ditempati orang. Pas disebelah saya, dua orang wanita muda berkerudung yang dibalut dengan pakaian berwarnah hijau rapi, disebelahnya itu empat orang bapak-bapak sedang duduk dengan dua orang diantaranya menggenakan PIN Garuda Emas dan dua berpakaian biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesekali terdengar pembicaraan mereka terkait uang miliaran dan proyek. Saya tak paham betul pembahasan mereka. Satu kalimat yang sempat mendarat pasti ditelinga saya hanyalah “Orang Dinas Kesehatan sudah tiba, saya ditunggu untuk tanda-tangan ndak enak kalau terlambat karna kita yang diberi,” terang lelaki ber Pin Emas tersebut sebelum berlalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi saya pembicaraan ini sudah biasa selama saya bertugas dua minggu di daerah ini. Tiada hari ketika saya duduk di sore hari pembicaraan seperti ini terdengar. Bahkan ada yang biasa melakukan hal lebih ekstrim dengan membawa amplop berwarnah coklat kepada pria yang biasa berpakaian hijau.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hari ini lain, selain pembicaraan tanda tangan tersebut satu pria ber PIN emas masih tinggal dan setelah beberapa saat menghampiri dua wanita yang duduk dari tadi disebelah meja saya. Setelah basa basi sana sini, tibalah satu skane pembicaraan yang membuat saya kaget.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki PIN : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Sudah berapa lama kau honor?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Berpakaian Hijau : &lt;b&gt;&lt;i&gt;“5 tahun puang“&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki PIN : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Sudah terdaftar di Data base?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Berpakaian Hijau : &lt;i&gt;&lt;b&gt;” Ye, belum puang“&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki PIN : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Kalau begitu besok datang ke BKD, saya akan telpon kesana, kau tinggal bawa diri dan surat, gampang mi itu masalah terangkat mu, jangan mi susah”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Berpakaian Hijau : &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Terima kasih banyak puang”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (sambil jabat tangan dan cium tangan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya sih saya tidak terlalu kaget dengan pembicaraan tersebut. Karena hal ini sudah hal yang lumrah dalam kehidupan, tetapi satu kenyataan yang selama ini hanya saya dapatkan di film-film terbukti di hadapan saya. Diakhir pembicaraan kedua orang ini, si lelaki ber PIN Emas yang tampak sudah berumur meminta nomor handphone gadis tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sih tidak tahu pasti apa maksudnya, tapi saya pikir hanya untuk memudahkan kontak dikemudian hari. Hingga saya, kaget dengan kata perpisahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Kamu bisa sebentar malam kan?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; tanya lelaki PIN Emas tersebut sambil menatap dalam wanita tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kata-kata ini, sungguh saya tidak bisa menyimpulkan. Entah sebelumnya mereka sudah punya kesepakatan atau bagaimana. Semoga saja dugaan ku salah. hmmmm&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya semua orang tinggalkan tempat itu, tinggal ku sendiri menyelesaikan ketikan ini untuk ku kabarkan kepada semua orang di Dunia. Hujan pun masih tetap turun walau tinggal rintik-rintikan saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Dari Bulukumba, Sulsel Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-7803566532727515123?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Sz554hdMCejaKMfGKDFp7KIlFmE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Sz554hdMCejaKMfGKDFp7KIlFmE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Sz554hdMCejaKMfGKDFp7KIlFmE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Sz554hdMCejaKMfGKDFp7KIlFmE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/UNuedFj6_Ws" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/7803566532727515123/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/negosiasi-warung-kopi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7803566532727515123?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7803566532727515123?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/UNuedFj6_Ws/negosiasi-warung-kopi.html" title="Negosiasi Warung Kopi" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh4.googleusercontent.com/-tuEwYWrQRJo/TYy4jpH5mdI/AAAAAAAAAK4/t9kblOzHTC8/s72-c/images+%25283%2529.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/negosiasi-warung-kopi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMFR3Y7eip7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-6748847379775717608</id><published>2011-03-25T08:36:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T08:36:56.802-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T08:36:56.802-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh" /><title>Hubungan Obama, Osama dan Qaddafi</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh4.googleusercontent.com/-mni6llwW0Zo/TYy2aZBy7CI/AAAAAAAAAK0/uqHn5u9Cdyk/s1600/images+%25282%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh4.googleusercontent.com/-mni6llwW0Zo/TYy2aZBy7CI/AAAAAAAAAK0/uqHn5u9Cdyk/s1600/images+%25282%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Babak baru perang Timur Tengah telah dimulai. Setelah Irak jatuh karena Amerika melakukan invasi besar-besaran untuk menjatuhkan Saddang Husain, kini giliran Libya menjadi sasaran dimana Muammar al-Qaddafi telah menjabat selama 30 tahun lebih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah apa kini alasan Amerika melakukan invasi untuk urusan internal Libya. Namun dibenak saya tiba-tiba muncul satu pertanyaan besar setelah melihat deretan letak Libya di peta. Dimana Afganistan, Irak dan Libya berada pada satu jalur lurus yang kaya akan minyak mentah, dimana ketiga negara ini telah dicampur tangani oleh Amerika.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disatu sisi saya tertarik dengan kata-kata Qaddafi yang telah berkirim surat ke Barack Omaba sebelum invasi Amerika digencarkan. Qaddafi dalam surat kenegaraan tersebut menyebut nama Osama Bin Laden &amp;nbsp;yang berada dalam jaringan Al-Qaedah sebagai otak perlawanan opisisi kepadanya yang tidak diketahui oleh Obama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Al-Qaeda adalah organisasi bersenjata yang melintasi melalui Aljazair, Mauritania, dan Mali. Apa yang Anda lakukan jika Anda tahu mereka mengendalikan kota-kota di Amerika dengan kekuatan senjata? Apa yang akan Anda lakukan, sehingga saya dapat mengikuti contoh Anda.”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah tulisan surat Qaddafi kepada Obama yang hingga saat ini belum mendapatkan balasan. Entah apa yang dipikirkan Obama saat ini, atau dia sebenarnya sudah dari dulu mengetahui tentang keterlibatan Osama dalam kisruh Libya. Namun yang menggelitik saya dalam surat Qaddafi tersebut, dia menyebut Obama sebagai anak yang harusnya tidak melakukan peperangan dengan bapaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Untuk anakku, yang mulia, Mr Barack Hussein Obama. Saya telah mengatakan kepada Anda sebelumnya, bahkan jika Libia dan Amerika Serikat memasuki satu peperangan, kendati Tuhan melarangnya, Anda akan selalu tetap seorang anak. Foto Anda tidak akan berubah.”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ternyata perang itu telah berkecamuk walau di negaranya sendiri, Obama mendapat kecaman cukup besar. Bahkan 50% penduduk Amerika menolak melakukan invasi ke Libya yang tetap digelakkan Obama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Langkah sepihak Presiden Obama menggunakan kekuatan militer Amerika di Libya adalah penghinaan terhadap konstitusi kita,” ujar anggota Kongres dari Partai Republik di Komisi Militer, Roscoe Bartlett. &amp;nbsp;–Koran Tempo 23/3–&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membuktikan, ada satu hal yang dikejar Obama yang masih belum kita ketuhui bersama. Walau secara menerka-nerka sudah terbentuk dalam benak kita tentang apa yang diinginkan Obama di Libya. Sebagai negara Super Power, Amerika memiliki kendali penuh di PBB, sehingga ancaman Qaddafi nampaknya hanya menjadi isapan jempol.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tertarik dengan kata-kata Qaddafi ke Obama yang menggambarkan satu kedewasaan bertindak, sekaligus ke sombongan kepada rakyatnya. Qaddafi berkata :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;b&gt;&lt;i&gt;Libia bukan milik Anda. Libia untuk semua orang Libia,”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-6748847379775717608?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Klbnc3lyASQ8Iu8xyZTPxHlcYc4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Klbnc3lyASQ8Iu8xyZTPxHlcYc4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Klbnc3lyASQ8Iu8xyZTPxHlcYc4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Klbnc3lyASQ8Iu8xyZTPxHlcYc4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/j-rdi0n0Y4s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/6748847379775717608/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/hubungan-obama-osama-dan-qaddafi.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6748847379775717608?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6748847379775717608?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/j-rdi0n0Y4s/hubungan-obama-osama-dan-qaddafi.html" title="Hubungan Obama, Osama dan Qaddafi" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh4.googleusercontent.com/-mni6llwW0Zo/TYy2aZBy7CI/AAAAAAAAAK0/uqHn5u9Cdyk/s72-c/images+%25282%2529.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/hubungan-obama-osama-dan-qaddafi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcMQnsyfSp7ImA9WhZSEEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-7819909175674980328</id><published>2011-03-25T08:31:00.000-07:00</published><updated>2011-03-25T08:31:23.595-07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-03-25T08:31:23.595-07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tokoh" /><title>Mengenang Norman Edwin Sang Sahabat Alam</title><content type="html">&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;“Sopan tapi berantakan, dan mirip-mirip gayanya bertegur sapa penuh seloroh khas anak muda kampus yang gue-elo-yeah wow-wow, sambil tak ketinggal senyum jahilnya”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh3.googleusercontent.com/-4vWUI2VyBc0/TYy1JGzeAoI/AAAAAAAAAKw/x1dL9-FS0XU/s1600/images+%25281%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://lh3.googleusercontent.com/-4vWUI2VyBc0/TYy1JGzeAoI/AAAAAAAAAKw/x1dL9-FS0XU/s1600/images+%25281%2529.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Itulah sekilas gambaran tentang Norman Edwin. Penulis, pencinta alam dan jurnalis handal khusus liputan petualangan yang menantang nyali yang pernah dimiliki Indonesia yang terkahir mengabdi di Harian Kompas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lulusan Universitas Indonesia tersebut lahir 16 Januari 1955 di Sungai Gerong, Palembang dan harus menghembuskan nafas terakhir di Puncak Aconcagua, perbatasan Chile – Argentina pada ketinggian 6.969 meter diatas permukaan laut tepat 21 Maret 1992.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah hidup Norman Edwin telah dijadikan acuan bagi para pencinta alam di Indonesia bahkan dunia. Terbukti saat sepeninggalnya bersama Didiek Samsu Wahyu yang juga teman se profesinya sebagai jurnalis di Jakarta, &amp;nbsp;media nasional bahkan internasional terus menerus memberitakan kejadian tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Norman adalah salah satu orang yang mencetuskan nama Mapala UI (Mahasiswa Pencinta Alam) yang terus mengalami perkembangan dan masuk ke hampir semua universitas di Indonesia. Di kalangan teman-teman dan keluarganya dia dikenal sebagai orang yang baik dan sering menolong bahkan walau dia dalam kesusahan, tetap mengusahakan memberi pertolongan kepada orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bukanlah orang yang dekat dengan Norman Edwin, tetapi dari buku-buku yang banyak menceritakan tentang dia, kedekatan saya walau berbeda dunia dengan dia tersambung dari satu kesenangan yang sama. Melalui tulisan-tulisannya yang sempat tayang di Harian Kompas, membawa saya mengenal lebih jauh sosok Norman yang penuh gelora dan ambisi petualangan muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memang telah tiada sejak lama, tetapi akan tetap hidup dalam karya-karyanya. Para petualang alam akan tetap mengingat pencetus pertama kalinya petualangan 7 summit di Indonesia yang harus merenggut nyawanya. Predikat Sang Sahabat Alam disematkan padanya karena bukan hanya gunung yang mampu ia taklukkan, bahkan lautan sekalipun telah menjadi wilayah petualangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya masih ingat betul tulisan Norman saat ikut bersama dalam ekspedisi Kapal Phinisi Amanna Gappa ke Madagaskar. Dimana, perahu pesanan Michael Carr yang dibuat dengan tangan tersebut hampir saja terjerabat dan tenggelam kedasar samudra yang ganas, dia juga bisa menggambarkan secara utuh pedebatan Michael dengan Muhammad Yunus pembuat sekaligus nahkoda kapal tentang beberapa bagian kapal yang dinilai pemborosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Norman hadir menyajikan betapa Indonesia dengan kearifan lokalnya mampu membuktikan kebiasaan dan pandangan mata tanpa mampu dijelaskan dengan ilmiah mampu bertahan dengan baik di lautan lepas. Banyak lagi, kisah-kisah tentang dia yang bisa kita dapatkan dalam buku-buku petualangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sebagai generasi sekarang, hanya mampu berterima kasih tentang semua pelajaran yang telah diberikan Norman selama di hidup. Perjuangan dan pembuktian jika orang Indonesia adalah orang besar inilah yang dibuktikan Normal yang rela berjibaku dengan alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhir kata, saya hanya mampu mengucapkan Selamat Jalan Kembali Norman Edwin Sang Sahabat Alam… jasamu dalam membangun petualangan dan semangatmu untuk menaklukkan alam tak kan pernah di lupakan….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-7819909175674980328?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yS9RtzF41xTt6GwV_Vk7_BqNUNM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yS9RtzF41xTt6GwV_Vk7_BqNUNM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yS9RtzF41xTt6GwV_Vk7_BqNUNM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/yS9RtzF41xTt6GwV_Vk7_BqNUNM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/0sFYkMcwE9c" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/7819909175674980328/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/mengenang-norman-edwin-sang-sahabat.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7819909175674980328?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/7819909175674980328?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/0sFYkMcwE9c/mengenang-norman-edwin-sang-sahabat.html" title="Mengenang Norman Edwin Sang Sahabat Alam" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh3.googleusercontent.com/-4vWUI2VyBc0/TYy1JGzeAoI/AAAAAAAAAKw/x1dL9-FS0XU/s72-c/images+%25281%2529.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/03/mengenang-norman-edwin-sang-sahabat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8FQXg-eip7ImA9Wx9bF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5743771784999576693.post-6715803681160150050</id><published>2011-02-25T22:46:00.000-08:00</published><updated>2011-02-25T22:46:50.652-08:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-02-25T22:46:50.652-08:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Teknologi" /><title>Saatnya Menggunakan Sistem Operasi Asli</title><content type="html">&lt;div class="zemanta-img separator" style="clear: right;"&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/37357703@N08/5232954037" style="clear: right; display: block; float: right; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Ubuntu-10.10-cd label-Screenshot" src="http://farm6.static.flickr.com/5201/5232954037_955ae1d1e5_m.jpg" style="border: medium none; font-size: 0.8em;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="zemanta-img-attribution" style="clear: both; float: right; margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;Image by &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/37357703@N08/5232954037"&gt;Jeffpro57&lt;/a&gt; via Flickr&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: separate; color: black; font-family: 'Times New Roman'; font-size: small; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; letter-spacing: normal; line-height: normal; orphans: 2; text-indent: 0px; text-transform: none; white-space: normal; widows: 2; word-spacing: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;Tak bisa dipungkiri lagi, saat ini &lt;a class="zem_slink" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.175,106.828333333&amp;amp;spn=10.0,10.0&amp;amp;q=-6.175,106.828333333%20%28Indonesia%29&amp;amp;t=h" rel="geolocation" title="Indonesia"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; adalah mayoritas pengguna Sistem Operasi ‘Jendela’. Selain karena alasan gampang dan merakyat. OS ‘Jendela’ juga disenangi karena kebiasaan dan hal pertama yang diberikan saat pengenalan kepada teknologi komputer adalah OS tersebut. Tidak bisa disalahkan memang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi seiring berkembangnya waktu, OS ‘Jendela’ terus melakukan inovasi dan harganya pun semakin mahal. Hal ini membuat masyarakat yang telah termakan oleh kebiasaan, melakukan banyak cara agar tetap menggunakan OS ‘Jendela’ padahal melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan lisensinya adalah perbuatan melawan hukum, bisa terjerat UU HAKI.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pun termasuk salah satu yang telah melawan hukum, waktu itu. Hingga akhirnya saya sadar, tidak ada untungnya menggunakan OS palsu. Toh, ternyata diluar sana masih banyak yang asli dan tidak harus membuat kita was-was jika-jika suatu saat ada pemeriksaan keaslian OS yang kita gunakan di komputer, laptop maupun netbook.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan OS berbayar yang ujung-ujungnya di cloning sehingga menjadikan Indonesia sangat-sangat terkenal diwajah dunia sebagai negara terbesar peng-cloning software asli, tentu tidak baik untuk generasi masa depan bangsa. Generasi selanjutnya pasti akan mengikuti jejak pendahulunya, hampir sama dengan korupsi, pasti akan ada pengikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya juga sadar, kas orang Indonesia kebanyakan masih kurang mampu untuk membeli OS asli beserta aplikasi ikutannya sehingga memilih menggunakan yang palsu saja. Toh, hasilnya juga sama, dari pada keluarin duit gede-gede mending beli bajakannya, di pasar loak sekalipun masih didapat dengan hanya bermodal pembeli CD kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, akan begini teruskah teknologi kita. Saya merasa sudah saatnya kita menggunakan yang asli. Dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah menggunakan OS asli. Karena pengguna komputer di Indonesia sudah semakin besar. Saya tak memiliki datanya, tetapi gambarannya, khusus Makassar saja, hampir disetiap sudut jalan selalu ada Warung Kopi Wifi yang dipenuhi pengunjung dengan laptop dan netbook pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua juga pasti sudah tahu seberapa besar pengguna komputer saat ini di Indonesia. Dan rata-rata diantaranya masih menggunakan OS ‘Jendela’ hasil cloningan. Saya sejak setahun yang lalu, tepatnya 23 Januari 2010 telah membulatkan tekad untuk hijrah menggunakan OS asli. Dan yang saya gunakan adalah Linux Ubuntu, karena ingin menggunakan ‘Jendela’ asli bajet saya tak cukup, maklum orang pinggiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya saya juga was-was, jangan-jangan saya tidak bisa menggunakan Ubuntu. Tapi ternyata, faktor membiasakan diri –bukan kebiasaan– telah menjadikan saya cukup bisa menggunakannya. Dan hingga saat ini telah terus mengalami peningkatan, dari awal saya gunakan baru versi 7.04 kini telah berada di versi 10.10 –sudah ada versi 11.04, terbaru–&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan OS gratis atau open source yang terbuka secara bebas ada kelegaan tersendiri. Tidak harus berpikir, dan dibayangi kata-kata palsu. Dan menggunakan Ubuntu menurut saya, jauh lebih mendidik anak bangsa, karena memaksa kita untuk belajar dan mendalami teknologi, bukan hanya sebagai pengguna pasif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diluar sana, banyak versi Linux yang bebas dipilih dan digunakan. Tingkat kesusahan juga berfariasi, tergantung kegunaan. Dalam tulisan ini saya mengajak semua anak bangsa untuk saatnya menggunakan OS asli. Hal ini sebenarnya telah dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Telekomunikasi dan Informasi, namun gerakan untuk membangun bangsa yang asli dengan penggunaan OS asli harus dilakukan secara merakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahap awal pengenalan ini saya sudahi dulu. Di sesi berikutnya, akan saya beri gambaran seberapa gampangnya menggunakan Ubuntu. Akhir kata, saya mengajak semuanya untuk saatnya menggunakan OS asli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Asli&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="zemanta-pixie" style="height: 15px; margin-top: 10px;"&gt;&lt;a class="zemanta-pixie-a" href="http://www.zemanta.com/" title="Enhanced by Zemanta"&gt;&lt;img alt="Enhanced by Zemanta" class="zemanta-pixie-img" src="http://img.zemanta.com/zemified_a.png?x-id=e46785b9-46de-4963-a074-99bf9e6d47b1" style="border: medium none; float: right;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5743771784999576693-6715803681160150050?l=rahmathardiansya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gYnwHk5QevPw-b7r7-e6SfDP1iQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gYnwHk5QevPw-b7r7-e6SfDP1iQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gYnwHk5QevPw-b7r7-e6SfDP1iQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/gYnwHk5QevPw-b7r7-e6SfDP1iQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/RahmatHardiansya/~4/TzHfij3Fbpo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/feeds/6715803681160150050/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/02/saatnya-menggunakan-sistem-operasi-asli.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6715803681160150050?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5743771784999576693/posts/default/6715803681160150050?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/RahmatHardiansya/~3/TzHfij3Fbpo/saatnya-menggunakan-sistem-operasi-asli.html" title="Saatnya Menggunakan Sistem Operasi Asli" /><author><name>Rahmat Hardiansya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16115181544474020926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="32" height="32" src="http://4.bp.blogspot.com/-Eui9JL3ppnk/TjOVZsmA6oI/AAAAAAAAALk/BeIsJhb-ki4/s220/photo.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://farm6.static.flickr.com/5201/5232954037_955ae1d1e5_t.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://rahmathardiansya.blogspot.com/2011/02/saatnya-menggunakan-sistem-operasi-asli.html</feedburner:origLink></entry></feed>

