<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>renungan harian online</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/RenunganHarianOnline" /><description>renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (webmaster)</managingEditor><lastBuildDate>Fri, 25 May 2012 08:00:04 PDT</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1602</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="renunganharianonline" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan</itunes:subtitle><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">RenunganHarianOnline</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><title>Rajawali Terbang Tinggi</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/rajawali-terbang-tinggi.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 25 May 2012 08:00:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6989003941265500313</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yesaya 40:31&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="rajawali terbang tinggi" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/rajawali-terbang.jpg" /&gt;Kemarin kita sudah melihat bagaimana seekor induk rajawali mengajar anak-anaknya untuk menjadi dewasa. Anak-anak rajawali tentu akan terus berharap mereka bisa tinggal nyaman di dalam sarang, berleha-leha sementara induknya yang pergi kesana kemari mencari makan buat mereka. Pada suatu saat ketika anak-anak ini dirasa sudah cukup umur, sang induk akan melatih mereka untuk mandiri. Sarang dibongkar dan digoncang sehingga anak-anak ini tidak lagi punya pilihan lain kecuali belajar terbang. Otot-otot mereka yang lemah mulai terlatih untuk mampu mengepak sayap agar bisa terbang tinggi. Induk mereka akan dengan telaten mengajar mereka. Jika mereka meluncur jatuh ke bawah, sang induk akan segera menangkap dan membawa mereka naik lagi ke atas. Demikian seterusnya hingga otot-otot sayapnya terlatih untuk bisa terbang sendiri tanpa rasa takut lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini mari kita lanjutkan belajar dari burung rajawali. Burung rajawali akan terlihat sangat indah melayang dengan kedua sayap terbentang jauh di atas langit. Burung rajawali ini biasanya berukuran cukup besar. Jika kedua sayapnya direntangkan bisa mencapai dua meter panjangnya. Mereka biasanya tinggal di ketinggian di atas gunung. Untuk bisa mencapai tempat tinggi itu tentu tidak mudah. Burung rajawali harus berjuang melawan angin terlebih dahulu. Otot-otot sayapnya harus cukup kuat untuk membawa tubuh mereka yang besar itu naik ke tempat tinggi. Jika ada badai, maka burung rajawali pun harus berani menghadapi dan menentang badai untuk bisa melewatinya. Tapi usaha keras burung rajawali untuk menentang angin dan badai tidaklah sia-sia. Ketika mereka berada di atas badai dan angin kencang, mereka bisa melayang-layang bebas dengan indahnya. T&lt;b&gt;empat tinggi adalah tempat dimana burung rajawali ini bisa mengatasi angin kencang dan badai, tidak lagi terpengaruh dengan kondisi cuaca buruk yang mengguncang dibawahnya. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerohanian kita hal yang sama pun berlaku. Dimana posisi kita hari ini? Jika terus berada di tempat rendah, kita akan merasakan berbagai masalah yang terus menerpa kita bak angin kencang dan badai. Kita akan mudah goyah diterpa angin kencang dan badai kehidupan. Untuk bisa mengatasinya adalah dengan berani mengambil langkah untuk &lt;b&gt;naik lebih tinggi,&lt;/b&gt; sehingga kita bisa berada di atas segala permasalahan duniawi. Dengan berada di atas, kita tidak akan mudah terpengaruh berbagai masalah dalam hidup, malah mungkin kita tidak lagi merasakannya. Dunia boleh ditimpa krisis, dunia boleh goncang, namun hanya ketika kita berada di ataslah kita akan selamat, tidak kurang suatu apapun. Kita bisa bagai burung rajawali yang melayang-layang dengan penuh sukacita tanpa tergantung situasi atau kondisi yang terjadi di bawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya agar kita bisa terbang ke tempat yang tinggi? Perhatikan ayat berikut ini.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yesaya 40:31). Dari ayat ini kita bisa melihat pentingnya untuk terus menanti-nantikan Tuhan jika mau naik lebih tinggi. Terus berpegang teguh dalam iman kepada Tuhan tanpa putus pengharapan. Ingatlah bahwa pengharapan akan Tuhan tidaklah pernah mengecewakan seperti yang dikatakan dalam kitab Roma. &lt;i&gt;"Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."&lt;/i&gt; (Roma 5:5). Itu janji Tuhan, dan kita tahu janji Tuhan itu adalah &lt;i&gt;"ya dan amin"&lt;/i&gt;. (2 Korintus 1:20). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin waktunya tidaklah sama dengan keinginan kita, mungkin prosesnya tidak mudah. Tapi kita tahu bahwa apa yang dirancang Tuhan bagi kita adalah semua yang terbaik, yang bahkan lebih baik dari apa yang kita anggap terbaik. Semua Dia sediakan untuk kita miliki. Karena itulah pengharapan dalam menanti-nanti Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Bagi kita semua yang terus bertekun dan patuh, kita akan dibawa seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, tidak akan lesu dan tidak akan lelah, meskipun harus menempuh angin dan badai sekalipun. "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya." (Yesaya 40:29). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti burung rajawali yang harus mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga berulang-ulang agar dapat menembus angin untuk naik ke atas, demikian pula ketika kita hendak melatih otot-otot rohani kita untuk terus menapak naik. Kita harus mematahkan kebiasaan-kebiasaan buruk, mengatakan tidak atas tawaran-tawaran yang mungkin terlihat sangat nikmat buat kita apabila itu mengarahkan kita ke dalam dosa. Kita harus rela keluar dari zona kenyamanan kita yang sering membuat kita terlena. Untuk bisa "terbang" di atas masalah, kita harus berani menghadapi masa-masa sukar dan tidak menghindar darinya. Percayalah, jika kita adalah orang percaya yang setia menanti-nantikan Tuhan, maka dalam proses untuk naik terbang tersebut kita akan ditopang langsung oleh Allah, sehingga kita tidak menjadi lesu dan lelah. Pada suatu saat nanti, anda akan berada di atas segala badai kehidupan, tidak lagi terpengaruh oleh berbagai goncangan-goncangan hidup lainnya. Ada janji Tuhan yang sangat besar menanti di atas. Karena itu teruslah bertekun untuk terbang naik bak rajawali bersama Tuhan yang akan terus menguatkan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Naiklah ke tempat yang lebih tinggi dimana badai tidak lagi mampu mengguncang kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6989003941265500313?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Induk Rajawali dan Anak-Anaknya</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/induk-rajawali-dan-anak-anaknya.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 24 May 2012 08:00:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4008247365083657499</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Ulangan 32:11&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="induk rajawali" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/rajawali-melatih-terbang.jpg" /&gt;Tepat di depan rumah saya ada seorang bapak sedang mengajari anaknya naik sepeda roda dua. Ia dengan sabar dan telaten menuntun anaknya perlahan. Sesekali ia mencoba melepas pegangan dan membiarkan anaknya mengayuh, dan begitu si anak kelihatan oleng ia dengan cekatan menopang anaknya. Saya menyaksikan sang ayah yang sedang mengajar anaknya naik sepeda tersebut ketika saya hendak menuliskan renungan, dan saya pun tersenyum. Tidaklah mudah untuk belajar naik sepeda roda dua, terutama ketika masih kecil dimana kaki belum cukup panjang untuk menjejak ketika sepedanya oleng. Itu butuh keseimbangan dan memerlukan proses dalam latihan. Jatuh ketika belajar seimbang biasa terjadi, dan itu bisa jadi sakit rasanya. Tapi saya membayangkan sebentar lagi anak ini akan senang karena ia bisa bermain lebih jauh bersama teman-temannya karena sudah bisa naik sepeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara sang ayah melatih anaknya ini mengingatkan saya kepada cara Tuhan melatih kita, anak-anakNya. Lihatlah ayat berikut ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Ulangan 32:11). Ayat ini berbicara mengenai cara Tuhan mendidik umatNya bagaikan induk rajawali yang ingin melatih anak-anaknya agar bisa terbang. Burung rajawali mengasuh anaknya dengan cara yang unik. Hingga usia tertentu induk akan terus keluar mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Anak-anaknya bisa dengan nyaman tinggal di sarang tanpa perlu bersusah payah. Tapi pada saatnya ketika mereka dirasa sudah cukup dewasa, sang induk akan segera mengajar anak-anaknya untuk belajar terbang dan mencari makan sendiri. Tidak jarang sang induk harus mengguncang sarang agar anak-anaknya mulai bergerak keluar. Sarang dibongkar hingga yang tinggal hanyalah lapisan kasar penuh duri, lalu si anak akan diterjunkan ke bawah. Mau tidak mau anak-anak rajawali inipun akan mulai mengembangkan sayap dan melatih otot-otot mereka agar dapat terbang. Pada mulanya tentu sulit. Anak-anaknya mungkin takut, dan ketika dilepas mereka bisa meluncur cepat menghujam ke bawah. Disaat seperti itu sang induk akan segera menyambar dan membawa anaknya naik kembali. Begitu seterusnya berulang-ulang sampai anak-anaknya bisa terbang sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti rajawali melatih anak-anaknya terbang, seperti itulah Tuhan melatih anak-anakNya. Akan tiba saatnya dimana Tuhan merasa perlu untuk membongkar segala "sarang" yang membuat kita terlena dalam kenyamanan. Mengapa harus dibongkar? Karena kenyamanan bisa membuat kita menjadi orang-orang yang malas dan semakin jauh dari Tuhan. Kita lupa berdoa, kita mulai terfokus pada harta, kita menjadi manja, malas ke gereja, atau juga malas melayani Tuhan. Buat apa? Toh semua baik-baik saja.. itu mungkin pikir kita. Di saat seperti itulah, karena kasihNya kepada kita begitu besar, &lt;b&gt;Tuhan harus membongkar semua sarang&lt;/b&gt; dimana kita biasanya berlindung dan melatih kita untuk terbang tinggi seperti burung rajawali. Prosesnya tidak mudah, dan itu tidaklah nyaman. Kita harus rela keluar dari zona kenyamanan kita dan merelakan diri kita pula untuk dilatih. Tapi itu semua adalah untuk kebaikan kita sendiri juga. Itu bisa menghindarkan kita dari terbuai dalam kenyamanan di balik "sarang" yang bisa berujung pada kematian rohani. Abraham pernah mengalaminya, Musa pun demikian. Abraham harus keluar menuju sebuah tempat yang belum pernah ia ketahui sebelumnya, melepaskan semua kenyamanan yang sudah ia peroleh selama hidupnya, dan Musa harus rela meninggalkan kehidupan di istana yang mewah untuk kemudian menuntun bangsa Israel yang bandelnya minta ampun dengan menempuh jalan di padang gurun selama 40 tahun. Tapi itulah sebuah proses, yang pada suatu ketika akan berujung pada sesuatu yang indah yang disediakan Tuhan bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti induk rajawali yang memaksa anak-anaknya untuk keluar dari sarang dan melatih agar anak-anaknya memiliki otot yang kuat untuk terbang tanpa rasa takut, seperti itulah Tuhan kepada kita. Jika perlu, Dia akan mengguncang kenyamanan kita dan melatih agar otot-otot rohani kita lebih kuat dari sebelumnya. Kita bisa merasa seperti terjun bebas hendak menghujam tanah, tapi pada saatnya Tuhan akan segera menyelamatkan kita sebelum kita membentur tanah keras itu. Itulah hal yang juga dikatakan Paulus kepada jemaat Korintus. &lt;i&gt;"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."&lt;/i&gt; (1 Korintus 10:13). Ada rencana yang indah yang telah Dia sediakan kepada kita, lengkap dengan sebentuk hari depan yang penuh harapan, tapi sebelum kita sampai kesana, kita harus terlebih dahulu rela diguncang dan dilatih apabila perlu. Ini adalah &lt;b&gt;sebuah proses yang tidak enak untuk dilakukan, tetapi akan membawa manfaat besar dalam perjalanan hidup kita&lt;/b&gt;, baik ketika masih di dunia maupun kelak untuk sebuah keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah. Si anak kecil yang berlatih sepeda suatu saat akan sangat berterimakasih kepada ayahnya, anak-anak burung rajawali akan berterimakasih punya induk yang tahu apa yang terbaik bagi mereka. Proses yang tengah kita alami mungkin tidak nyaman, tetapi pada suatu saat nanti kita akan bersyukur punya Allah yang begitu peduli kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersyukurlah ketika sarang kenyamanan kita diguncang dan otot-otot rohani kita dilatih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4008247365083657499?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jangan Lupakan Tuhan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/jangan-lupakan-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 23 May 2012 08:00:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4972953389535399003</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Ayub 38:4&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="jangan lupakan Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/jangan-lupakan-tuhan.jpg" /&gt;Tidak ada seorang pun manusia yang ingin hidupnya dipenuhi problem. Tidak ada yang mau berada dalam tumpukan persoalan. Tapi namanya hidup, tentu ada saat-saat dimana kita tidak bisa mengelak dari hal tersebut. Benar, itu tidak nyaman, bisa menyakitkan,&amp;nbsp; apalagi kalau datangnya tidak satu-satu melainkan sekaligus, beruntun dan bertumpuk. Titik terang penyelesaiannya pun tidak terlihat, seolah kita tiba-tiba berada di sebuah lorong gelap tanpa ada cahaya apapun. Dalam situasi seperti ini ada saat-saat kita menjadi lemah akibat tertekan beban berat, dan pada saat seperti itu jika tidak hati-hati kita bisa lupa kepada tuhan. Kita tidak lagi ingat bahwa kuasa dan kemampuan Tuhan tidak terbatas, juga lupa kepada kebaikan, kasih setiaNya dan janji-janjiNya. Himpitan masalah penuh penderitaan berkepanjangan akan mulai mengaburkan pandangan kita tentang kebaikan Tuhan, dan mulai menganggap bahwa Tuhan mungkin sudah tidak lagi peduli dengan hidup kita, atau bahkan mulai mempertanyakan keberadaanNya. Di saat-saat seperti itu kita perlu diingatkan kembali akan keajaiban kuasa Tuhan yang tidak terbatas, seperti Tuhan mengingatkan Ayub di saat penderitaan yang ia alami berada pada titik puncak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayub mengalami serangkaian pengalaman tragis dalam hidupnya yang terjadi dalam waktu sangat singkat. Membaca kisah Ayub berarti membaca bagaimana kehidupan seseorang bisa jungkir balik dalam sekejap, bagaikan roda yang berguling cepat, sedetik sebelumnya di atas lalu sedetik kemudian berada pada bagian terbawah. Pada awal kitab Ayub kita bisa mengetahui siapa Ayub sebelumnya. Ayub dikenal saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. (Ayub 1:1). Ia disebut sebagai orang yang terkaya di sebelah timur (ay 3). Hidupnya sangatlah nyaman dan sempurna. Tetapi tiba-tiba semuanya jungkir balik. Ribuan ternaknya musnah (ay 16-17), anak-anaknya tewas (ay 19), hartanya habis ludes dan jika itu belum cukup, penyakit kulit mengerikan menimpa sekujur tubuhnya. (2:7). Selesaikah? Ternyata tidak. Istrinya sendiri mengutuki dia, dan teman-temannya mengolok-olok apa yang terjadi atas dirinya. Lengkap sudah penderitaannya. Kita mungkin akan shock jika tiba-tiba mengalami itu semua tanpa disangka-sangka, Ayub pun demikian. Awalnya ia masih bisa menerima dengan pasrah, tetapi kemudian ia terperangkap dalam pikirannya sendiri bahwa Tuhan telah bertindak tidak adil. Ayub yang sedang sengsara dalam kesakitan luar biasa baik secara fisik maupun mental lupa siapa Tuhan itu sebenarnya dan seperti apa besarnya kuasa Tuhan. Dan yang terjadi kemudian, &lt;b&gt;Tuhan kembali mengingatkan Ayub mengenai kuasanya&lt;/b&gt;. Mari kita lihat beberapa diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tuhan yang meletakkan dasar bumi. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!"&lt;/i&gt; (38:4)&lt;br /&gt;2. Tuhan yang menetapkan batas samudera. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Siapa telah membendung laut dengan pintu, ketika membual ke luar dari dalam rahim?"&lt;/i&gt; (ay 8)&lt;br /&gt;3. Tuhan menerbitkan matahari pagi. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pernahkah dalam hidupmu engkau menyuruh datang dinihari atau fajar kautunjukkan tempatnya"&lt;/i&gt; (ay 12).&lt;br /&gt;4. Tuhan berkuasa atas hidup dan mati. &lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Apakah pintu gerbang maut tersingkap bagimu, atau pernahkah engkau melihat pintu gerbang kelam pekat?"&lt;/i&gt; (ay 17)&lt;br /&gt;5. Tuhan mendatangkan salju (ay 22), hujan (26), bahkan membekukan air (30).&lt;br /&gt;6. Tuhan membuat rumput-rumput bertunas lewat hujan (26-27)&lt;br /&gt;7. Tuhan memberi hikmat dan kebijaksanaan (ay 36)&lt;br /&gt;8. Tuhan menetapkan masa mengandung dan melahirkan bagi hewan (39:4)&lt;br /&gt;dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini diingatkan Tuhan kepada Ayub, agar Ayub &lt;b&gt;tidak lupa kepada kuasa Tuhan&lt;/b&gt; meski ia tengah berada pada titik terendah dalam kehidupannya di dunia. Tuhan bagaikan berkata: "Hai Ayub, lupakah engkau terhadapku? Apakah engkau tidak lagi menyadari siapa Aku sebenarnya, dan sebesar apa kuasaKu?" Kita tahu apa akhir dari cerita ini. Hidup Ayub dipulihkan sepenuhnya, bahkan ia kemudian memperoleh lebih dari apa yang ia peroleh sebelum ia mengalami situasi menyakitkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kepada Ayub, pesan ini pun berlaku kepada kita semua. Benar bahwa dosa-dosa yang kita lakukan bisa membawa kita masuk kepada penderitaan, tetapi ada juga saat dimana Tuhan mengijinkan hidup kita dimasuki berbagai masalah dan kesulitan untuk alasan tertentu. Namun itu bukan berarti bahwa Dia sedang mengabaikan atau bersikap kejam menyiksa kita. Ada tujuan-tujuan tertentu dibalik semua itu, dan pada akhirnya kita akan menyadari bahwa semua itu membawa kebaikan bagi kita. Dikala lemah, segala yang diingatkan Tuhan ini menjadi pesan penting agar kita tidak melupakan kebaikan Tuhan dan berhenti untuk mengucap syukur kepadaNya. Dalam Mazmur kita bisa melihat bahwa tidak peduli dalam keadaan apapun, baik atau buruk, Tuhan tetap ada bersama kita, dan kuasaNya selalu turut serta di dalamnya&lt;i&gt;. "Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku. Jika aku berkata: "Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam," maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang."&lt;/i&gt; (Mazmur 139:8-12). Lihatlah bahwa sesungguhnya dalam keadaan seperti apapun, seberat dan sepahit apapun yang terjadi dalam hidup kita pada saat-saat tertentu, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian. Dia tetap ada bersama anak-anakNya yang begitu Dia kasihi. Mungkin hari ini ada diantara teman-teman yang tengah berada di bawah serangkaian pergumulan berat, jangan putus asa dan kehilangan pegangan, sebaliknya peganglah baik-baik pesan Tuhan hari ini. Jangan pernah lupa kepadaNya, jangan pernah ragu akan kuasaNya yang mampu membuat segala sesuatu yang mustahil menjadi mungkin, jauh melampaui kemampuan daya pikir dan akal budi kita. Tuhan tidak akan meninggalkan anak-anakNya yang selalu taat kepadaNya, dan Tuhan sudah menjanjikan bahwa &lt;b&gt;tidak akan pernah berkekurangan orang-orang yang takut akan Dia.&lt;/b&gt; (Mazmur 34:10). Dalam kondisi yang paling tidak kondusif sekalipun, tetaplah bersyukur dan pegang teguh iman yang percaya kepada Tuhan sepenuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan lupakan dahsyatnya kuasa Tuhan mengatasi segalanya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4972953389535399003?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pola Pikir Seorang Pemenang</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/pola-pikir-seorang-pemenang.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 22 May 2012 08:00:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8967187793976050990</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Roma 8:37&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi dalam semuanya itu kita &lt;b&gt;lebih dari pada orang-orang yang menang&lt;/b&gt;, oleh Dia yang telah mengasihi kita."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pola pikir pemenang" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pola-pikir-pemenang.jpg" /&gt;Kapan seseorang merasa layak untuk berpikir sebagai seorang juara? Ada banyak kriteria yang mungkin akan berbeda bagi setiap orang. Bisa dari ukuran tingginya pendidikan, bisa dari pengalaman di lapangan, bisa dari kemampuan finansial, relasi dan lain-lain, dan tidak jarang pula gabungan dari beberapa diantaranya. Ada banyak orang juga yang begitu tidak percaya diri dan selalu ragu, sehingga tidak peduli potensi apapun yang mereka miliki, mereka tetap berpikir bahwa semua itu tidak akan cukup untuk membuat mereka berhasil. Masalahnya, seringkali orang terhambat untuk sukses bukan karena ketidakmampuan mereka atau ada tidaknya kriteria-kriteria di atas, tapi justru berasal dari paradigma berpikir yang dipasang terlalu rendah. Bukan karena orang lain atau faktor-faktor teknis, tapi justru faktor non teknis dari diri sendiri. Setiap saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang sukses dalam bisnis, pekerjaan maupun hidupnya, pelajaran yang mereka berikan selalu mengarah pada satu kesimpulan bahwa kita harus mulai dari men-set pikiran kita sebagai seorang juara. &lt;i&gt;Think like a champion, then you'll become a champion. Think like a loser, you'll be one.&lt;/i&gt; Itu kata salah seorang dari mereka yang saya ingat sampai sekarang.Jika belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana caranya kita bisa menang? Atlit atau tim olahraga manapun tidak akan bisa menang kalau mereka sejak awal sudah tidak yakin mampu menjadi juara. Bagaimana mungkin kita berharap menang jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Keraguan seperti itu akan menghalangi kita untuk mulai melakukan sesuatu, sehingga beberapa tahun kemudian kita masih saja berjalan di tempat, atau malah mundur. Padahal jika sudah dimulai sejak awal bisa jadi kita sudah memetik buah dari apa yang dibangun tersebut. Singkatnya, untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini masih banyak orang yang bertanya, bagaimana mereka bisa berpikir seperti seorang pemenang atau juara jika mereka tidak ada apa-apanya? Jika sarjana atau yang lebih tinggi saja masih banyak yang menganggur, apalagi saya yang hanya lulusan sekolah menengah? Ada banyak orang yang terjebak pada pola pemikiran seperti ini. Mereka terlalu sibuk berfokus kepada kekurangan mereka dan melupakan bahwa Tuhan sebenarnya telah menciptakan kita masing-masing dengan talenta dan keistimewaan tersendiri. Mereka hanya memperhatikan apa yang tidak ada lalu melupakan apa yang ada pada mereka. Sudahkah kita sadar bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mulai melakukan sesuatu dan menuai sukses seperti yang direncanakan Allah sejak semula? Mungkin kita hanya tamat SMA, tetapi bukankah kita memiliki anggota tubuh yang berfungsi baik? Misalnya, jika ada anggota tubuh kita yang ternyata cacat atau kurang sempurna, bukankah masih ada anggota-anggota tubuh lainnya yang kondisinya baik? Sudah terlalu banyak orang yang gagal mencapai impian mereka justru karena mereka &lt;b&gt;memandang diri mereka sendiri terlalu rendah&lt;/b&gt;, sementara Tuhan saja memandang manusia manapun sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa jauh kita menyadari apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan bagi kita? Tuhan sama sekali tidak menginginkan kita untuk menjadi pecundang, orang-orang yang gagal. Tuhan tidak pernah merencanakan kita untuk memiliki mental yang mudah menyerah dan hidup tanpa semangat. Apa yang direncanakan Tuhan justru sebaliknya. Alkitab menyebutkan begini&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Roma 8:37). Perhatikanlah bahwa kita seharusnya sadar bahwa kita bukan cuma direncanakan sebagai sekedar pemenang saja, tetapi malah dikatakan lebih dari pemenang! Dalam bahasa Inggrisnya lebih dari pemenang disebutkan dengan&lt;b&gt;&lt;i&gt; "More than conquerors and gain surpassing victory"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, Menang melebihi para penguasa, memperoleh kemenangan melewati batas yang kita harapkan. Dari mana itu kita peroleh? Alkitab menyebutkan jawabannya dengan sangat jelas, lewat Kristus yang telah mengasihi kita. &lt;i&gt;Through Him who loved us&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya mari kita lihat janji Tuhan lainnya. &lt;i&gt;"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,"&lt;/i&gt; (Ulangan 28:13) itulah dikehendaki Tuhan. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap mengalami peningkatan dan bukan penurunan. Lihatlah kata yang dipakai adalah &lt;b&gt;"TUHAN AKAN"&lt;/b&gt;,&lt;i&gt; "the Lord shall"&lt;/i&gt;, dan bukan "Tuhan mungkin berkenan" atau "mudah-mudahan Tuhan mau".&amp;nbsp; Kata AKAN mengandung kepastian bahwa Dia menginginkan itu untuk terjadi pada anak-anakNya, termasuk buat anda dan saya. Bagaimana caranya? sambungan ayat di atas memberitahukan cara untuk memperolehnya.&lt;i&gt; ".. apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."&lt;/i&gt; (ay 13-14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. &lt;i&gt;"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."&lt;/i&gt; (Matius 28:20b). Bersama Tuhan kita tidak perlu takut atau bimbang. Camkan pula ayat ini: &lt;i&gt;"Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."&lt;/i&gt; (Ulangan 31:8). Lihatlah bahwa untuk mencapai sebuah tingkatan "lebih dari pemenang",&lt;i&gt; "to gain a surpassing victory more than conquerors"&lt;/i&gt;, kita bukannya dibiarkan berjuang sendirian, tetapi Tuhan sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Jangan lupa pula bahwa Roh Kudus telah dianugerahkan kepada orang-orang percaya. Kehadiran Roh Kudus akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan, melebihi apa yang kita anggap sebagai batas kesanggupan kita. Bagaimana jika kita masih juga takut? Bagaimana jika tetap menganggap bahwa kita tidak ada apa-apanya? Lihatlah apa jawaban Tuhan akan hal ini. &lt;i&gt;"Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu:&lt;/i&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau"; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.&lt;/i&gt;"&lt;/b&gt; (Yesaya 41:8-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak boleh takut, karena Tuhan sudah menyatakan akan selalu menyertai kita. Kita tidak boleh ragu, alias setengah yakin menang sedang setengah lagi yakin kalah. Mengapa? Karena kita punya Allah yang memiliki kuasa di atas segalanya. Kita tidak pula perlu khawatir, karena Tuhan berjanji pula untuk meneguhkan dan menolong kita. Dia memegang kita dengan tangan kananNya dan hal itu akan mampu membawa kita masuk ke dalam sebuah kemenangan yang lebih dari apa yang kita pikir sanggup untuk kita peroleh. Dengan merenungkan semua ini, masih pantaskah kita menilai diri kita sendiri rendah? Masihkah kita harus terus hidup dengan pemikiran dan mental seperti orang yang gagal atau kalah? Berhati-hatilah agar kita jangan sampai menilai diri kita sendiri rendah dan tidak ada apa-apanya, karena Firman Tuhan mengingatkan kita&amp;nbsp; &lt;i&gt;"Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."&lt;/i&gt; (dalam versi King James dikatakan&lt;i&gt;"For as he thinketh in his heart, so is he."&lt;/i&gt; (Amsal 23:7). Atau dalam bahasa sederhana diartikan sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;"we are what we think."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;).&amp;nbsp; Dan dalam kitab Ayub kita bisa memperoleh sebuah ayat lainnya: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ayub 3:25).&lt;i&gt; If we think like a loser, we will be a loser. But if we think like a champion, we'll become a champion!&lt;/i&gt; Apa yang perlu kita lakukan adalah terus berdoa sehingga kita bisa mendengar apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita masing-masing, dan lakukanlah tepat seperti kehendakNya. Sesungguhnya apa yang diberikan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk kita olah dan pakai hingga mencapai sebuah kesuksesan besar. Kita harus mulai mengubah pola pikir kita terhadap diri sendiri dan berhenti membiarkan paradigma berpikir yang keliru terus menerus menghambat laju kesuksesan kita. Mulailah berpikir sebagai pemenang atau juara, karena itulah yang diinginkan Tuhan sejak awal bagi kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Think like a real champion that will gain surpassing victory, just like what God wants us to be&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8967187793976050990?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pemurnian Perak dan Emas (2)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/pemurnian-perak-dan-emas-2.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 21 May 2012 08:00:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7969985662792386802</guid><description>(bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pemurnian perak dan emas kemarin menggambarkan proses keimanan kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses "pembakaran" seperti ini, dan itu tujuannya tidak pernah untuk menyiksa kita, namun sebaliknya untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian lewat penderitaan-penderitaan yang mungkin rasanya sangat menyakitkan seperti dibakar. Seperti halnya perak atau emas yang dimasukkan ke dalam api hingga menjadi murni, demikian pula iman kita. Reaksi dan tindakan dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup bisa menunjukkan tingkat keimanan seseorang. Bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan memiliki iman besar jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, takut, khawatir atau bahkan menyerah? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupan kita. Dan untuk memperoleh iman seperti itu ada kalanya kita harus diproses terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu tahu bahwa pada jaman Petrus tampaknya menjadi orang Kristen bukanlah sesuatu yang ringan. Ada banyak tekanan, ancaman bahkan siksaan sampai mati yang menjadi konsekuensinya. Maka Petrus pun mengingatkan akan manfaat dari pencobaan, agar orang-orang percaya mampu tegar menghadapi itu semua. Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup yang sejati dalam Kristus. &lt;i&gt;"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu."&lt;/i&gt; (1 Petrus 1:3-4). Petrus menggambarkan sebuah hidup baru yang penuh dengan pengharapan, yang dipersiapkan untuk menerima bagian dalam kerajaan Surga yang disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus kemudian mengingatkan agar jemaat tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya bergembira. &lt;i&gt;"Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan."&lt;/i&gt; (ay 6). Bagaimana bisa bergembira ditengah-tengah permasalahan hidup? Petrus mengambil contoh pemurnian emas untuk menjelaskannya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 7). Perhatikan bagaimana Petrus membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Kalau emas saja butuh dimurnikan dengan mengalami proses hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga, apalagi iman kita yang jauh lebih berharga dari emas. Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9). Jelaslah bahwa iman kita jauh lebih berharga dari emas. Jika emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi iman kita yang bisa membawa kita kepada kehidupan yang penuh sukacita yang kekal sifatnya. Ayub pun pernah mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan. Itu berat, tapi pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ayub 23:10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Petrus yang menguatkan jemaat di masa itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan tetap relevan bagi kita, demikian pula dengan apa yang kita baca dalam Maleakhi 3:3 tentang pemurnian perak. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan akan menjadi ukuran seteguh apa iman kita percaya pada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan akan membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Apakah hari ini ada diantara teman-teman yang merasa seperti berada di tengah api yang panas? Jangan putus asa, dan bersyukurlah dalam melewatinya. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian, karena di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti kita. Percayalah Tuhan saat ini tengah menanti anda untuk menjadi murni, dimana Dia akan dapat melihat cerminan wajahNya di dalam diri anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Proses pemurnian bisa menyakitkan, tapi hasilnya akan sangat bermanfaat bagi kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7969985662792386802?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pemurnian Perak dan Emas (1)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/pemurnian-perak-dan-emas-1.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 20 May 2012 08:00:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4584236943531435703</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Maleakhi 3:3&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="perak dan emas dimurnikan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/perak.jpg" /&gt;Seperti apa proses pemurnian perak? Seorang pengrajin perak pernah menerangkan caranya. Perak dipanaskan di atas api, dan harus dijaga agar perak itu tetap berada di tengah-tengah, dimana suhunya paling panas. Itu harus dilakukan agar perak dapat dimurnikan dari kotoran-kotoran yang menempel seperti debu, serpihan batu, pasir dan sebagainya. Satu hal lagi, karena perak itu harus dijaga, maka si pengrajin harus duduk sepanjang waktu memperhatikan peraknya hingga mencapai kemurnian yang diharapkan. Waktunya pun harus tepat. Telat sedikit saja, perak akan menjadi rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pemurnian perak ini pernah dipakai untuk menunjukkan bagaimana Tuhan ingin mensucikan atau memurnikan anak-anakNya seperti yang tertulis dalam Maleakhi.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Maleakhi 3:3). Bayangkan berada di tengah panas seperti perak yang tengah dimurnikan. Jika perak itu bisa bicara, tentu perak itu akan berteriak kesakitan terbakar api. Tapi lihatlah bagaimana perak itu kemudian bersinar menjadi perak yang akan berharga tinggi karena kemurniannya. Seperti itu pula halnya bagi kita.Proses itu sangat dibutuhkan agar kita bisa menjadi orang-orang benar yang mempersembahkan korban yang benar pula kepada Tuhan. Ayat ini memang sekilas terlihat ditujukan kepada orang Lewi, yang notabene adalah para imam di jaman itu. Tapi mengacu kepada ayat dalam 1 Petrus 2:9 mengenai status kita sebagai &lt;b&gt;bangsa yang terpilih &lt;/b&gt;atau disebut dengan&lt;b&gt; imamat yang rajani&lt;/b&gt;, maka ayat ini tak pelak juga berlaku bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pemurnian tidak pernah nyaman. Kita bisa merasa kesakitan, menderita bagai perak yang terbakar dalam bara api. Namun pada akhirnya kita akan menyadari bahwa proses seperti itu sangatlah bermanfaat bagi kita. Saya pernah mengalami langsung proses itu yang berlangsung cukup lama, sekitar 5 tahun. Semua ego, arogansi, emosi dan lain-lain dihancurkan secara perlahan, dan pada masa itu rasanya sangatlah menyakitkan. Ada saat dimana saya menangis karena tidak kuat lagi, tetapi Tuhan berulang kali meneguhkan sehingga saya bisa menjalani proses itu sampai selesai. Hari ini saya bersyukur pernah mengalami masa-masa seperti itu selama 5 tahun, karena tanpa itu saya tidak akan pernah menjadi diri saya hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perak, firman Tuhan pun pernah mengacu kepada proses &lt;b&gt;pemurnian emas&lt;/b&gt; untuk menggambarkan kemurnian iman kita seperti yang tertulis dalam 1 Petrus 1:7. Emas murni bukanlah emas yang kita kenal dalam bentuk-bentuk seperti kalung, cincin atau perhiasan lainnya. Perhiasan-perhiasan yang terbuat dari emas biasanya sudah dicampur dengan logam lain sehingga menjadi keras. Emas yang murni sebenarnya adalah logam yang lembut, berwarna kuning berkilat dan mudah ditempa karena punya sifat lentur. Seperti halnya perak, proses pemurnian emas juga dilakukan lewat proses pembakaran. Caranya adalah dengan membakar emas hingga mencair. Disaat emas sudah cair, berbagai kotoran yang melekat padanya seperti debu, karat dan unsur-unsur logam lain akan naik ke permukaan, sehingga semua kotoran ini bisa diambil. Kemudian panas api dinaikkan dan kotoran-kotoran yang masih tertinggal pun akan naik ke permukaan untuk dibuang. Demikianlah proses ini dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan campuran logam lain. Dari proses pembakaran itu akan jelas terlihat mana emas yang murni, mana yang masih dipenuhi oleh kotoran-kotoran yang mengurangi kadar kemurnian emas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4584236943531435703?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Janji Tuhan Murni dan Teruji (2)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/janji-tuhan-murni-dan-teruji-2.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 19 May 2012 08:00:09 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1643968385722782390</guid><description>(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca dan merenungkan firman Tuhan akan membuat kita tahu apa yang menjadi janji Tuhan buat kita. Selain itu kita bisa mengatahui mana yang benar dan mana yang salah, mana jalan yang menuju keselamatan dan mana yang menuju kebinasaan. Mengenal firman Tuhan membuat kita mengenal suaraNya, dan mengenal pribadiNya. Betapa banyaknya penyesatan baik yang secara langsung maupun terselubung di sekitar kita hari-hari ini. Berbagai ajaran yang berorientasi kepada kemakmuran, berpusat kepada kekuatan diri sendiri, seringkali tampak seolah-olah benar, padahal sebenarnya sangatlah bertentangan dengan firman Tuhan. Kita bisa tertipu apabila tidak benar-benar mengetahui segala perkataan Tuhan yang dimuat sepanjang Alkitab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bermula dari kerinduan kita untuk mengetahui dan mempelajari janji-janji Tuhan. Kita bagaikan domba yang lemah, yang gampang tersesat dan tidak memiliki perlindungan cukup untuk menghadapi hari-hari yang semakin lama semakin jahat. Oleh karena itulah firman Tuhan kita perlukan agar langkah-langkah kita terjaga senantiasa dari segala penyimpangan yang ada di sekeliling kita, menuntun kita untuk tetap berjalan dalam terang meski sekeliling kita dipenuhi kegelapan. Pemazmur berkata:&lt;b&gt; "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."&lt;/b&gt; (Mazmur 119:105). Apapun yang sempurna di dunia sesungguhnya ada batasnya. Tidak ada satupun yang kekal, dan tidak ada satupun yang bisa bertahan selamanya. Tapi tidak demikian dengan firman Tuhan yang telah teruji ribuan tahun, hingga hari ini bahkan ke depannya nanti. Pemazmur melihat hal ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 96). Begitu banyak yang bisa dipelajari dan dijadikan pedoman untuk melangkah hidup sehingga Pemazmur dan kita yang terus haus akan firman Tuhan bisa berkata &lt;i&gt;"Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari."&lt;/i&gt; (ay 97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Tuhan bisa membuat kita kuat dan awas akan tipuan-tipuan yang tersembunyi dibalik polesan indah, firman Tuhan pun penuh dengan petunjuk yang akan membuat kita bisa tetap tegar ditengah badai, tidak gampang goyah atau hancur, bahkan mampu membawa kita memasuki keberhasilan demi keberhasilan, terbang bagai rajawali jauh mengatasi badai permasalahan. Bacalah ayat pembuka Mazmur untuk lebih jelasnya. &lt;i&gt;"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."&lt;/i&gt; (Mazmur 1:2-3). Bukankah janji Tuhan ini begitu indah? Semua ini akan kita lewatkan apabila kita tidak melatih diri kita untuk bertekun dalam merenungkan firman Tuhan setiap saat. Penuh janji, penuh tuntunan, dan penuh kepastian. Tidak heran jika firman Allah digambarkan sebagai &lt;b&gt;"pedang Roh"&lt;/b&gt; (Efesus 5:17) yang "hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Kita tidak akan gampang disesatkan oleh berbagai ajaran yang terkadang dikemas begitu rapi sehingga terlihat seolah-olah sesuai dengan firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenungkan firman Tuhan akan membawa kita kepada pemahaman atau pengertian tentang apa saja yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang menjadi suaraNya sehingga kita terhindar dari binasa. Kita bisa melihat dengan jelas apa yang harus kita lakukan dan sebaliknya apa yang harus kita hindari atau tinggalkan.&lt;i&gt; "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."&lt;/i&gt; (Mazmur 12:7). Karena itulah kita bisa yakin akan firman Tuhan, dan itu sungguh mengandung kepastian yang mutlak bisa kita percaya. Berdoalah terlebih dahulu dan mintalah Roh Kudus untuk menyingkap berbagai kebenaran yang terkandung dalam firman Tuhan. Jika itu terjadi, anda akan melihat begitu banyak janji Tuhan yang sungguh indah berlaku bagi anda, dan anda akan mulai mengalami satu persatu janji Tuhan itu terjadi dalam hidup anda. Jangan tunda lagi, perkayalah rohani anda hari ini juga dengan kemurnian firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Janji Tuhan adalah janji yang murni dan teruji, yang bisa kita percaya sepenuhnya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1643968385722782390?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Janji Tuhan Murni dan Teruji (1)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/janji-tuhan-murni-dan-teruji-1.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 18 May 2012 08:00:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5408983885100859186</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mazmur 12:7&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="janji Tuhan itu murni dan teruji" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/janji-Tuhan-murni.jpg" /&gt;Ada seorang teman yang suka menebar janji tapi jarang menepati. Ia begitu mudah mengatakan kata-kata seperti "ya saya pasti datang", "ok, nanti kita ketemu", atau bahkan berani mengatakan jam dan tempatnya, namun ketika ditunggu ia tidak datang. Di awal-awal saya kecewa melihat sikapnya ini. Saya pun sempat mengingatkan, dan ia hanya meminta maaf, tetapi terus saja ingkar janji. Sepertinya itu sudah menjadi gaya hidupnya sehingga sulit untuk diubah. Saya tetap berteman namun saya tidak mau memandang serius lagi janjinya agar tidak kecewa. Ketika ia mengatakan ya, atau berjanji sesuatu, saya hanya akan tersenyum tanpa berharap bahwa itu benar. Ada banyak orang-orang yang gemar ingkar janji seperti ini, minimal jam karet alias datang melebihi waktu yang dijanjikan. Berhadapan dengan orang seperti ini bisa sangat mengecewakan dan membuat kita kehilangan kepercayaan atas mereka. Jika mau tetap berteman, setidaknya anda harus siap dengan sifat buruk mereka ini agar tidak menjadi kecewa atau bahkan sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah Tuhan bukan tipe seperti itu. Lihatlah apa yang dikatakan dalam Mazmur berikut ini:&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 12:7). Satu kali pemurnian saja sudah memberi hasil yang sangat baik, apalagi jika sampai tujuh kali. Seperti itulah digambarkan kemurnian janji Tuhan, sehingga sampai kapanpun kita bisa percaya bahwa janji-janji Tuhan itu teguh dan selalu dapat diandalkan. Tidak ada kata-kataNya yang sia-sia, tidak ada yang diisi kebohongan, atau hanya sebatas mungkin dan mudah-mudahan saja. Semua mengandung kebenaran yang mutlak. Saya sudah membuktikannya dalam banyak kesempatan, anda pun mungkin sudah memiliki kesaksian tersendiri akan hal itu. Sejak jaman Daud pun hal ini sudah terbukti, sehingga kita bisa melihat sebuah ayat yang dengan tegas berseru: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 46:2). Berbagai hal yang mungkin sulit kita terima secara logika dijanjikan Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagiNya, dan dengan demikian tidak ada yang mustahil pula bagi kita orang percaya. Semua itu nyata dan menggambarkan bagaimana Tuhan masih terus bekerja secara luar biasa jauh mengatasi kemustahilan dalam hidup kita semua hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, saya merasakan langsung betapa besar perbedaan yang saya rasakan sebelum dan sesudah saya rutin membaca firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Setelah rajin membaca Alkitab saya mendapati begitu banyak tuntunan yang sangat bermanfaat dalam hidup. Ada banyak rahasia-rahasia yang kemudian menjadi terang benderang lewat tuntunan Roh Kudus, dimana semua itu sangat aplikatif untuk diterapkan ke dalam kehidupan. Apapun yang kita butuhkan, baik jawaban, tuntunan, peneguhan, teguran dan sebagainya itu ada lengkap disana. Firman Tuhan memang hidup dan punya kuasa. Perubahan pola pikir, cara pandang, kesabaran, kasih dan sebagainya, itu semua akan tumbuh seiring bertambahnya firman Tuhan yang masuk dengan lembut ke dalam hati. Saya mengalami sendiri bagaimana orang bisa diubahkan secara luar biasa dalam waktu yang relatif singkat, yang jika dilihat dari nalar manusia tentu sulit atau bahkan hampir tidak mungkin untuk terjadi. Begitu banyak mukjizat dan pemulihan yang saya saksikan, termasuk pula yang dialami sendiri. Hari ini saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa tidak ada satupun janji-janji Tuhan yang tidak terjadi. Waktunya memang bervariasi, bisa cepat, bisa lambat, tapi pada waktunya semua itu pasti terjadi. In the end, I can say this out loud: &lt;i&gt;His words never failed!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5408983885100859186?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menghargai Jasa</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/menghargai-jasa.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 17 May 2012 08:00:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6381409616034219320</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 2 Timotius 3:14&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="jasa" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/jasa.jpg" /&gt;Ada banyak orang yang cepat meminta tolong namun kemudian melupakan orang yang sudah berjasa bagi mereka. Pelajaran sejarah bukanlah merupakan pelajaran yang populer di sekolah. Itu menunjukkan ketidakinginan para siswa untuk mengenal pahlawan-pahlawan yang sudah berkorban jiwa sehingga mereka bisa menikmati apa yang ada hari ini. Dalam dunia musik pun sama. Berapa banyak orang yang masih mengenal nama-nama seperti Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Ibu Sud dan sebagainya? Padahal mereka inipun merupakan pahlawan di dunia musik yang seharusnya kita kenang, hormati dan hargai. Jika itu masih terlalu tinggi, bagaimana dengan orang tua kita sendiri? Kita masih suka melawan orang tua padahal kita lahir, dibesarkan, disekolahkan oleh mereka, dan tidak jarang mereka harus bekerja mati-matian demi membesarkan kita. Bayangkan betapa hancur perasaan orang tua apabila anaknya bersikap demikian. Di salah sebuah channel tv kabel yang saya tonton, ada seorang anak yang bahkan melempar ayahnya dengan benda-benda berat termasuk benda tajam seperti pisau hanya karena ditegur pulang larut malam. Bukankah ini keterlaluan? Realita seperti ini sudah menjadi hal yang terlihat biasa di tengah masyarakat. Orang tidak lagi menganggap penting untuk mengingat jasa para pahlawan baik bagi bangsa dan negara maupun bagi mereka secara pribadi. Hal seperti ini bukanlah merupakan ciri orang-orang percaya, karena Tuhan sudah mengingatkan kita untuk menghargai mereka yang berjasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa memungkiri bahwa akan selalu ada banyak orang yang berjasa dalam hidup kita. Apakah itu dalam hal membantu, menasihati, membimbing atau bahkan berkorban untuk kita, memberikan sesuatu bagi kita sehingga kita bisa menjadi siapa diri kita hari ini. Sama halnya dalam kehidupan rohani. Ada orang-orang yang mengingatkan kita bahkan meluangkan waktunya untuk membimbing kita dalam prosesnya sehingga kita bisa menjadi pengikut Kristus yang setia hari ini. Bagi saya pribadi pun demikian. Diawal pertobatan saya masih bingung dengan segala sesuatu. Untunglah ada teman-teman yang begitu berjasa menemani saya ke gereja dan membimbing saya dengan sabar, bahkan menemani saya ketika dibaptis dan membantu saya mengenal Kristus lebih jauh. Pertanyaannya, setelah kita mencapai sukses masih maukah kita ingat kepada mereka? Apakah kita masih menghargai jasa mereka dan mendoakan mereka atau kita malah melupakan bahkan tidak lagi peduli atas diri mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak pernah ingin anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, bagai kacang lupa kulit. Tuhan tidak mau anak-anakNya melupakan jasa orang lain. Kita bisa melihat isi surat Paulus kepada Timotius yang menyinggung hal ini. Saat itu dalam tulisannya Paulus tengah menubuatkan datangnya sebuah masa yang sukar. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Timotius 3:2-4). Seperti apa masa&amp;nbsp; yang sukar itu? Apakah sukar secara finansial, sulit mencari kerja, bencana alam, bencana kelaparan atau kondisi keamanan yang tidak stabil? Ternyata bukanbukanitu yang disebut Paulus sebagai masa sukar, melainkan &lt;b&gt;sifat manusia yang akan terus semakin jahat, semakin jauh dari kehendak Tuhan.&lt;/b&gt; Perhatikanlah rangkaian ayat di atas, bukankah itu yang sedang terjadi hari ini? Dan lihatlah bahwa "tidak tahu berterima kasih" termasuk didalamnya. Manusia cenderung untuk menjadi kacang yang lupa kulit, tidak mengingat apalagi menghargai jasa orang-orang yang telah memberi kontribusi hingga kita menjadi siapa diri kita saat ini. Maka Paulus pun mengingatkan Timotius agar tidak berlaku demikian. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (2 Timotius 3:14). Tetaplah setia berpegang pada kebenaran yang telah diterima, dan jangan lupa untuk mengingat orang yang telah berjasa kepadanya. Itu pesan Paulus kepada Timotius yang masih muda, dan pesan ini pun sangatlah baik untuk kita pegang baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain penulis Ibrani juga menyampaikan pesan yang sama. &lt;i&gt;"Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka."&lt;/i&gt; (Ibrani 13:7). Jangan lupakan orang-orang yang sudah mengorbankan jiwa mereka demi menyampaikan firman Tuhan. Hargai mereka, berterima kasihlah dan contohlah iman mereka yang taat sampai mati. Jangan sia-siakan semua itu. Ingatlah akan jasa mereka, berterima kasihlah dan bertekadlah untuk hidup dengan benar. Itulah yang seharusnya kita lakukan sebagai tanda bahwa kita tidak melupakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap manusia saja kita tidak boleh melupakan jasa atau budi baik mereka, apalagi terhadap Tuhan. Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada kita sejak dahulu hingga sekarang? Sudahkah kita bersyukur untuk itu atau kita masih terus menyakiti hatiNya dan melupakan segala kebaikanNya kepada kita? Daud sudah menggugah kita agar jangan pernah melupakan segala kebaikan Tuhan. &lt;i&gt;"Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"&lt;/i&gt; (Mazmur 103:2). Musa juga menyampaikan pesan yang sama. &lt;i&gt;"Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu.."&lt;/i&gt; (Ulangan 8:11-14). Bacalah selengkapnya kitab Ulangan 8 yang mengingatkan kita sepenuhnya untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan bisa menjadi orang yang berhasil hari ini tanpa bantuan atau jasa orang lain yang dahulu memberikan sumbangsihnya kepada kita. Orang tua, guru, teman yang peduli, pembimbing rohani dan sebagainya, mereka tentu punya kontribusi atas kesuksesan kita hari ini. Untuk itu kita harus berterimakasih dan tetap mengingat segala yang telah mereka berikan di waktu lalu hingga kita bisa menjadi diri kita hari ini. Selanjutnya jangan pernah lupakan pula kebaikan Tuhan. &lt;b&gt;Jangan lupakan pengorbanan Kristus menanggung bantahan, siksaan hingga disalibkan untuk keselamatan kita&lt;/b&gt;. (Ibrani 12:3). Jadilah orang-orang yang selalu menghargai jasa orang lain maupun segala kebaikan Tuhan. Coba ingat-ingat lagi, siapa saja orang yang telah berjasa atas diri anda? Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda sangat bersyukur atas jasa mereka dengan ucapan atau penghargaan tulus secara pribadi. Dan di atas segalanya, tetaplah bersyukur kepada Tuhan yang telah mengasihi kita dengan setia secara luar biasa. Jadilah orang-orang yang tahu berterima kasih dan tidak melupakan segala kebaikan dari orang lain maupun Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jadilah orang yang tahu berterimakasih dan menghargai orang-orang yang berjasa dalam hidup kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6381409616034219320?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rubah dan Kelinci</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/rubah-dan-kelinci.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 16 May 2012 08:00:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7046312904801730792</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan&lt;/b&gt;: Kidung Agung 2:15&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="rubah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/rubah-kelinci.jpg" /&gt;Ada sebuah dongeng bahasa Inggris berjudul Kelinci dan Rubah. Ada seekor kelinci yang sangat pintar, tetapi sangat gesit dan sulit ditangkap. Pada suatu hari, seekor serigala bersekongkol dengan rubah untuk menangkap dan memangsa kelinci itu. Serigala berkata kepada sang rubah: "Aku punya ide agar kita bisa menangkap kelinci itu. Kamu pulang dan naik ke tempat tidur dan pura-pura mati. Aku akan bilang kepada kelinci bahwa rubah sudah mati. Begitu ia datang melihat, terkam dan tangkap dia." Rubah pun setuju dan melakukan persis seperti itu. Lalu serigala pun menjumpai kelinci untuk menjalankan rencananya. Kelinci itu pun datang ke rumah rubah dan mengintip dari jendela. Ternyata kelinci cukup cerdik. Ia memakai akalnya untuk menguji terlebih dahulu kebenaran dari apa yang dikatakan serigala. "Hai serigala, anda berkata bahwa rubah itu sudah mati, tapi dari apa yang aku lihat ia tidak tampak seperti rubah mati. Seekor rubah yang mati mulutnya selalu terbuka." Sang rubah mendengar perkataan kelinci dan berpikir, "wah...begitu ya, kalau begitu aku harus buka mulut supaya ia benar-benar mengira bahwa aku sudah mati." Begitu rubah itu membuka mulut, kelinci pun tahu bahwa semua itu hanyalah jebakan saja. Ia pun kemudian lari sekencang-kencangnya menjauh dari rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kisah yang singkat ini menggambarkan kecerdikan kelinci dalam menghindari jebakan rubah dan serigala. Rubah ukurannya tidaklah sebesar hewan buas di hutan seperti singa, harimau atau beruang misalnya. Tetapi meski kecil, rubah tergolong hewan yang cerdik dan cekatan. Rubah sanggup hidup dimana-mana dan gemar merusak apa saja yang ia lewati. Tidak jarang rubah memangsa bukan karena lapar, tetapi hanya karena ingin mempermainkan mangsanya sampai mati. Dalam Kidung Agung ada sebuah ayat unik yang tiba-tiba menyeruak ditengah rangkaian ayat-ayat yang indah menggambarkan kemesraan dan kebahagiaan sebuah hubungan. Ayat-ayat itu sambung menyambung dengan manis, tapi tiba-tiba ada ayat yang berbunyi: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Kidung Agung 2:15).&amp;nbsp; Apa yang digambarkan ayat ini jelas. Ketika kita tengah membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, kita tidak boleh mengabaikan hal-hal kecil yang bisa muncul setiap saat. Apa yang kecil di mata kita ini mampu merusak semua yang telah kita bangun dengan susah payah. &lt;i&gt;Karena nila setitik rusak susu sebelanga&lt;/i&gt;, begitu kata pepatah. Dan lewat perumpamaan rubah dalam kitab Kidung Agung ini kita diingatkan untuk waspada terhadap dosa-dosa yang sepertinya sepele atau kita anggap kecil. Kita sudah sekian lama melatih diri kita untuk taat dan setia, kita mampu menghindari dosa-dosa yang kita anggap besar, tetapi kita menganggap remeh dosa-dosa kecil dan memberi toleransi akan hal tersebut. Kita tidak membunuh, tidak merampok bank, tapi sekali-kali bohong itu biasa, menipu orang tua untuk mendapat uang itu tidak apa-apa kalau cuma sesekali, itu contoh dari pembenaran yang kerap kita lakukan untuk membiarkan dosa-dosa kecil menjebak kita. Kita tidak membunuh siapa-siapa, tapi lewat gosip-gosip yang kita sampaikan kita tanpa sadar tengah merusak atau bahkan membunuh karakter seseorang. Kita lengah menghadapi masuknya jebakan dosa yang kita anggap sepele. Seperti rubah-rubah kecil, dosa-dosa kecil itu sanggup memporak-porandakan apa yang sudah kita bina selama ini. Kelinci dalam dongeng tadi cukup cerdik untuk menghindar dari jebakan rubah. Apakah kita sudah secerdik kelinci atau masih mudah termakan jebakan rubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani kehidupan di dunia ini kita seringkali tidak menyadari adanya "duri-duri kecil" ini. Mungkin mudah bagi kita untuk tidak melakukan dosa-dosa yang kita anggap besar, tapi seringkali sulit bagi kita untuk menghindar dari hal-hal yang kita anggap sepele padahal itu sama seriusnya di mata Tuhan? Kita berkompromi karena menganggap itu hanyalah dosa kecil yang tidak beresiko apa-apa sama sekali. Tidak membunuh, tetapi kita mengolok-olok teman, bergosip, berkata kotor, menghujat dan sebagainya, atau ketika kita tidak tahan menolak ajakan dan turut serta melakukan hal yang buruk dalam lingkungan pergaulan yang tidak baik. Ah, hanya sekali-kali, itu kata kita. Tetapi Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa kita sekali-kali boleh melanggar firman Tuhan. Atau bagaimana ketika kita membiarkan rasa benci, dendam, iri hati dan sejenisnya menguasai kita? Atau menipu orang lain dengan berbagai alasan? Inipun bisa menjadi masalah besar pada suatu saat. Dosa-dosa kecil yang kita anggap sepele dan kita beri toleransi seringkali menjadi awal untuk masuknya berbagai dosa yang akan meningkat intensitasnya, dan pada suatu ketika kita sudah terjerat sedemikian rupa sehingga ketika kita sadar, sudah sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pepatah mengatakan &lt;i&gt;"karena nila setitik rusak susu sebelanga"&lt;/i&gt;, itu pun ada dalam firman Tuhan. &lt;i&gt;"Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan."&lt;/i&gt; (Galatia 5:9). Perhatikan pula ayat berikut ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Yakobus 1:14-15). Lihatlah bahwa dengan berkompromi terhadap hal-hal kecil, ketika kita membiarkan diri kita terpikat oleh keinginan-keinginan daging yang mungkin terlihat tidaklah seberat dosa seperti menghilangkan nyawa orang lain misalnya, itu bisa meningkat eskalasinya hingga melahirkan dosa dan berujung maut. Sedikit kesalahan kecil bisa menjadi pintu masuk iblis buat merusak tatanan kehidupan dalam Tuhan yang sudah kita bangun selama ini dengan susah payah. Karena itulah apabila kita selama ini awas dalam memperhatikan dosa-dosa besar, kini saatnya kita juga harus memperhatikan pelanggaran-pelanggaran yang mungkin kita anggap kecil. Semua dosa itu sama seriusnya di hadapan Tuhan, no matter how big or small. Semua harus kita pertanggungjawabkan nanti dan akan menentukan kemana kita selanjutnya. Apalagi dengan keberadaan kita sebagai anak-anak terang, kita harus pula menjaga diri kita baik-baik agar bisa sampai ke garis akhir dengan selamat dan tidak terjerembab jatuh ke dalam kegelapan. &lt;i&gt;"Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan."&lt;/i&gt; (Matius 12:35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubah-rubah kecil siap menutup pintu surga dan membuat kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keselamatan. Berbagai duri-duri yang kecil yang tampaknya sepele bisa sangat menyakitkan dan menghambat langkah kita. Dongeng di atas hendaknya mengingatkan kita semua akan bahayanya jebakan rubah-rubah atau dosa-dosa kecil ini. Dosa sekecil apapun itu, bereskanlah segera. Mintalah pengampunan secepatnya kepada Tuhan dan selanjutnya berjaga-jagalah dengan waspada. Jangan beri toleransi apapun terhadap penyimpangan-penyimpangan dari firman Tuhan walau sekecil apapun itu. Berdoalah dan teruslah berjalan dalam tuntunan Roh Kudus agar tidak ada satupun yang bisa merusak semua yang telah kita bangun selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bersikaplah cerdik seperti kelinci agar terhindar dari jebakan rubah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7046312904801730792?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Penginapan Bagi si Jahat</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/penginapan-bagi-si-jahat.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 15 May 2012 08:00:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4634503151026935059</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Efesus 4:27&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Leave no (such) room or foothold for the devil" (English AMP)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="ruang bagi si jahat" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/ruang-bagi-iblis.jpg" /&gt;Agar nyaman berlibur ke sebuah tempat biasanya kita akan memastikan dulu bisa mendapatkan penginapan yang paling nyaman sesuai dengan budget kita. Kita akan memesan jauh hari untuk menghindari kemungkinan hotel yang kita inginkan sudah terlanjur penuh. Hampir di semua kota kita bisa mendapatkan tempat menginap dengan kelas beragam, mulai dari penginapan murah (&lt;i&gt;budget hotel&lt;/i&gt;), &lt;i&gt;homestay&lt;/i&gt;, motel, sampai hotel bintang 1 hingga 5. Cara pemesanan sekarang sudah jauh lebih mudah. Selain bisa lewat &lt;i&gt;travel agency&lt;/i&gt;, kita pun bisa memesan lewat gerai-gerai online yang memberi harga diskon lumayan besar. Dalam bepergian kita memang harus menyiapkan tempat menginap terlebih dahulu agar kita bisa berlibur atau berkunjung dengan tenang. Selama kita belum menemukannya, tentu seperti pengalaman saya di atas kita akan terus mencari sebuah tempat, kalau bisa senyaman mungkin dengan budget yang terjangkau oleh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi di atas saya berikan sebagai contoh untuk menggambarkan hal yang digemari iblis. Apa yang dilakukan iblis kurang lebih sama. Iblis suka&lt;i&gt; "travelling"&lt;/i&gt; dari hati seorang ke hati yang lain. Dia akan selalu berusaha mencari tempat yang paling nyaman dalam hati kita untuk kemudian "bertamu", menginap bahkan menetap di dalamnya. Petrus mengatakan hal tersebut seperti ini: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Petrus 5;8). Ini menggambarkan hobi iblis dalam melakukan &lt;i&gt;travelling&lt;/i&gt;. Sebelum ia memperoleh tempat menginap itu, iblis akan terus berkeliling mencari celah agar bisa menempati sebuah ruang di dalam hati kita. Begitu ketemu celah, ia akan masuk dan berdiam disana, dan ketika kita membiarkan itu terjadi, maka tinggal masalah waktu saja bagi kita untuk terjebak dalam berbagai bentuk dosa dan kesesatan, dan disana kehancuran menanti kita. Dengan mentolerir bentuk-bentuk penyimpangan atau dosa, dengan membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan menganggapnya hal yang biasa, jangan-jangan kita sudah memberikan sebuah tempat tumpangan yang sangat nyaman dan mewah ala bintang 5 kepada si jahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkitab sudah mewanti-wanti agar kita jangan pernah memberikan ruang kepada iblis. Dalam Alkitab tertulis &lt;b&gt;&lt;i&gt;"dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Efesus 4:27). Dalam versi KJV disebutkan dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Neither give place to the devil.“&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Atau dalam versi English Amplified dikatakan&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Leave no (such) room or foothold for the devil"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Jangan berikan ruang atau tempat berpijak kepada iblis. Iblis bisa dengan nyaman tinggal di dalam diri kita dan mengobrak-abrik iman kita hingga berimbas kepada perilaku-perilaku yang tidak terpuji dan sama sekali bertentangan dengan gambaran yang seharusnya kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Dan iblis sangat senang melakukan itu. Tapi perhatikanlah kembali ayat dalam 1 Petrus 5:8 di atas. Meski iblis selalu dan akan selalu mencari celah untuk menetap dalam diri kita, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi tempat buat dia. Iblis hanya bisa berkeliling, mengaum-aum mencari siapa yang bisa ditelannya. Ia hanya bisa berkeliling di luar pagar, tidak akan bisa menembus kita sama sekali apabila kita tidak membiarkannya masuk. Ketika kita membiarkan sifat emosional kita, kepahitan, menuruti hawa nafsu, mendendam kepada orang lain, mudah membenci orang, selalu hidup khawatir dalam segala hal, cepat merasa takut dan hal-hal jelek lainnya, itu sama saja dengan memasang sebuah iklan yang akan sangat menarik buat iblis. Ketika kita membiarkan kelemahan-kelemahan kita terbuka tanpa kita pedulikan, itu akan menjadi sebuah celah yang sangat lebar bagi iblis untuk menancapkan kukunya dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita. &lt;i&gt;"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."&lt;/i&gt; (Amsal 4:23). &lt;i&gt;Guard your heart seriously&lt;/i&gt;. Dari hatilah kehidupan itu sesungguhnya terpancar, dan apa yang ada di dalam hati kita akan tercermin dalam cara hidup kita. Jika Firman Tuhan yang mengisi ruang-ruang dalam hati kita, maka itu akan dengan jelas terlihat dari sikap dan perilaku kita. Sebaliknya jika iblis yang berdiam di dalamnya, maka itu pun akan nyata dari cara hidup kita. Yang jelas kita harus benar-benar menjaga dengan serius agar jangan sampai ada ruang kosong di dalam hati kita yang bisa menjadi tempat tinggal bagi iblis, apalagi secara langsung menyediakannya dengan memupuk segala bentuk kenegatifan kita atau menyimpan dosa. Kita harus terus mengisi hati kita dengan firman Tuhan. Lihat pesan Tuhan kepada Yosua: &lt;i&gt;"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."&lt;/i&gt; (Yosua 1:8). Jika ruang-ruang dalam hati kita diisi dengan firman Tuhan, itu akan memampukan kita untuk bertindak hati-hati. Disana iblis tidak akan bisa masuk, bahkan lebih dari itu dikatakan kita akan berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana jika iblis sudah terlanjur masuk? Lawanlah segera. Alkitab berkata &lt;b&gt;&lt;i&gt;"..lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Yakobus 4:7). Cara melawannya sudah diberikan dalam Efesus 6:10-20. &lt;i&gt;"Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis... ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu."&lt;/i&gt; (Efesus 6:11,13). Mungkin yang jadi masalah bukan menyimpan dosa, tetapi hidup dipenuhi kecemasan pun bisa menjadi celah buat iblis untuk masuk. Untuk hal ini Tuhan sudah berpesan &lt;i&gt;"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."&lt;/i&gt; (1 Petrus 5:7). Atau mungkin pula sikap kita membiarkan kelemahan kita tak teratasi yang menjadi awal masalah, dan untuk itu pun firman Tuhan sudah berpesan: &lt;i&gt;"Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh."&lt;/i&gt; (Ibrani 12:12-13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan beri ruang sama sekali bagi iblis untuk berdiam dalam diri kita. Apakah kita mau membiarkan atau mengusirnya, semua tergantung kita. Kita harus memastikan tidak ada dosa, kejahatan, kebencian, kepahitan dan sebagainya agar tidak ada satupun celah yang bisa dimanfaatkan iblis untuk berpijak. Isilah terus dengan firman Tuhan, agar iblis hanya bisa dengan kesal mengaum-aum berkeliling diluar tanpa bisa mendekat sedikitpun pada kita. Sesungguhnya kita adalah bait Allah, dan jika demikian tidak ada tempat bagi iblis sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jangan berikan ruang atau tempat berpijak bagi iblis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4634503151026935059?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengetahui Rencana Tuhan (2)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/mengetahui-rencana-tuhan-2.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 13 May 2012 08:00:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7482033725152498739</guid><description>(sambungan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bahwa segenap pengalaman hidup Daud membuatnya sampai pada sebuah kesimpulan di hari tuanya bahwa &lt;b&gt;&lt;i&gt;"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 37:23). Ini adalah sebuah kesimpulan yang timbul ketika Daud merenungkan ulang perjalanannya sejak kecil sampai pada usia senjanya. Daud mengatakan itu bukan karena hidupnya mulus tanpa masalah. Kita tahu Daud mengalami begitu banyak situasi sulit yang pada saat-saat tertentu pasti membuatnya menderita. Sama seperti kita, Daud pun pernah mengalami masa-masa pergumulan. Tapi pada akhirnya ia bisa sampai pada suatu kesimpulan penting seperti itu, dan untunglah itu tercatat dalam Alkitab sehingga kita bisa belajar langsung dari Daud akan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus tahu pula bahwa meski Tuhan sudah menjanjikan kita sebuah kehidupan yang penuh damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan, itu bukan berarti bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan apapun dalam perjalanan kita. Seperti halnya Daud, ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindar untuk bertemu dengan masalah dalam langkah-langkah kita. Tetapi pasti akan sangat berbeda ketika kita menghadapinya dalam keadaan sendirian atau bersama Tuhan. Dan ini kabar baiknya. Tuhan tetap ada bersama kita dan siap memegang tangan kita dalam menghadapi masalah-masalah tersebut! Itu bisa kita baca dalam ayat berikutnya: &lt;i&gt;"apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."&lt;/i&gt; (ay 24). Masalah boleh ada dan sewaktu-waktu akan tetap ada, tetapi kita tidak perlu kuatir apabila menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan yang punya kuasa jauh di atas masalah seberat apapun. Ada saat dimana kita harus mengalami sesuatu yang sulit, dan itupun ada tujuannya. Lewat keadaan-keadaan sulit atau pergumulan kita bisa belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih kuat, lebih tegar. Itu bisa juga menjadi saat bagi kita untuk belajar mengandalkan Tuhan lebih dari apapun, dan itu pun menjadi kesempatan emas bagi kita untuk melihat langsung kuasa mukjizat Tuhan. Artinya bukan masalahnya yang harus kita kuatirkan, tetapi &lt;b&gt;apakah kita berjalan bersama Tuhan atau sendirian&lt;/b&gt;, itulah yang harus menjadi perhatian kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat selanjutnya menunjukkan kesaksian Daud sepanjang masa hidupnya tentang bagaimana Tuhan menggenapi janji penyertaanNya ini. &lt;i&gt;"Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;&amp;nbsp; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat."&lt;/i&gt; (ay 25-26). Sejak masih muda hingga usia lanjut, Daud bersaksi bahwa ia tidak pernan melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat. &lt;br /&gt;Tuhan siap memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan bekal untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya, itulah kunci yang akan membuat kita mendapatkan uluran tangan Allah sendiri untuk menuntun kita mencapai kemenangan demi kemenangan. Kesuksesan dan keberhasilan, itu merupakan janji yang telah disediakan Tuhan untuk kita. Jalannya memang tidak sama bagi setiap orang, tetapi semua yang sesuai dengan rencanaya adalah sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera dan menuju kepada hari depan yang cerah, seperti Firman Tuhan dalam kitab Yeremia: &lt;i&gt;"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." &lt;/i&gt;(Yeremia 29:11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita bertanya kepada Tuhan lewat doa-doa dan waktu-waktu khusus persekutuan kita denganNya? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendengar apa kata Tuhan dan tidak terlalu sibuk mengisi doa kita dengan keluh kesah tanpa henti secara sepihak saja? Firman Tuhan berkata:&lt;i&gt; "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati."&lt;/i&gt; (Yeremia 29:12-13). Tuhan bukanlah Sosok yang tertutup. Dia terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membuka rencanaNya atas kita masing-masing. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita, karena di atas segalanya, Tuhanlah yang paling mengenal siapa diri kita lebih dari orang lain, bahkan lebih dari diri kita sendiri. Daud tahu itu, oleh sebab itu ia berkata: &lt;i&gt;"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang."&lt;/i&gt; (Mazmur 37:5-6). Berjalan sesuai rencanaNya dan bersama dengan penyertaanNya secara langsung, itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya dan akan mampu membuat kita merasakan betapa indah dan bahagianya hidup itu sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Tuhan bukanlah Pribadi yang suka menutup-nutupi, Dia akan dengan senang hati membuka segala rencanaNya kepada orang yang berkenan kepadaNya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7482033725152498739?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengetahui Rencana Tuhan (1)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/mengetahui-rencana-tuhan-1.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 12 May 2012 08:00:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4141740475523491735</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Mazmur 37:23&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengetahui rencana Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/rencana-Tuhan.jpg" /&gt;Gamangkah anda menatap masa depan? Bersyukurlah jika tidak, karena ada banyak orang yang takut menanti apa jadi apa kelak di masa depan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk sukses. Sepertinya tidak ada bakat yang istimewa, kepandaian biasa-biasa saja, tidak punya kolusi di mana-mana, tidak punya modal, dan banyak lagi alasan yang bisa membuat orang ragu atau bahkan takut dalam menatap masa depannya. Apakah anda saat ini tengah merasakan hal itu? Ada beberapa orang yang saya kenal tengah mengalaminya. Salah satunya berkata "Seandainya saya tahu apa yang menjadi panggilan saya..." katanya sambil menghela nafas. Ada yang terus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lainnya, dan ditengah-tengahnya ia lebih banyak menganggur daripada bekerja. Alasannya? Karena ia terus merasa tidak cocok dimanapun ia bekerja. Semenakutkan itukah hari depan? Apakah benar kita tidak akan pernah mengetahui apa yang menjadi panggilan kita? Apakah benar Tuhan tidak memberi cukup talenta kepada sebagian orang, dan sialnya itu tepat mengena pada kita? Tidak. Tidak seperti itu. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa &lt;b&gt;rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan&lt;/b&gt;, seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar Tuhan menyembunyikan dalam-dalam rencanaNya atas kita sehingga sulit atau hampir-hampir tidak mungkin untuk kita ketahui? Banyak orang mengira demikian, tapi sesungguhnya itu keliru. Tuhan bukanlah Pribadi yang tertutup dan suka membuat kita hidup dalam kebimbangan atau bahkan ketakutan. Dia bukan Pribadi yang selalu terlalu sibuk untuk kita sehingga gemar membuat kita menunggu tanpa jawaban pasti. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih yang sangat mencintai anak-anakNya. Apa yang Dia sediakan adalah segala sesuatu yang terbaik bagi kita, termasuk pula segala kebaikan dalam kelimpahan menuju masa depan yang penuh harapan. Masalahnya justru ada pada diri kita. Apakah kita sudah bertanya lewat doa-doa kita, atau kita malah masih malas untuk meluangkan waktu sedikitpun untuk bersekutu denganNya? Mungkin kita sudah berdoa, tapi apakah kita memberi waktu kepada Tuhan untuk berbicara dan kita mendengar, atau kita masih terlalu sibuk berbicara satu arah menyampaikan wishlist atau keluh kesah kita dan tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi Tuhan untuk menyampaikan sesuatu? Atau kita sudah teratur meluangkan waktu tetapi seberapa jauh kita percaya dan seberapa besar iman kita untuk bisa percaya? Atau mungkin juga kita masih terus melakukan banyak hal yang tidak berkenan di mata Tuhan sehingga kita berada di luar radar kasihNya. Semua ini bisa membuat kita tidak mengetahui apapun mengenai rencana Tuhan dalam hidup kita, sehingga masa depan pun terlihat gelap, suram dan penuh ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Mazmur kita bisa membaca tulisan Daud ketika usianya sudah tua. Pada saat itu kematangan dan pengalaman jatuh bangunnya sejak kecil hingga masa tuanya tentu sudah membuatnya menjadi lebih bijaksana dengan segudang pengalaman yang akan sangat berharga untuk dibagikan kepada generasi-generasi setelahnya termasuk bagi kita semua yang hidup pada hari ini. Daud berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 37:23). Ini merupakan jawaban atas topik renungan kita hari ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;The steps of a [good] man are directed and established by the Lord when He delights in his way [and He busies Himself with his every step].&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Seperti itulah janji Tuhan. Tetapi lihat ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu, yaitu memastikan apakah diri kita sudah berkenan kepadaNya atau belum. apakah kita sudah termasuk good man di mataNya, orang yang berkenan atau tidak. Itu menjadi kunci penting apabila kita ingin Tuhan membimbing kita langkah demi langkah untuk mengetahui dan menghidupi rencanaNya. Dia akan dengan senang hati membuka semuanya ketika kita berkenan bagiNya. Bukan hanya sekedar melakukan, tetapi bahkan dikatakan: &lt;i&gt;"He busies Himself with his every step."&lt;/i&gt; Bahasa Indonesianya: Tuhan akan dengan senang hati menyibukkan diriNya untuk membimbing orang-orang yang berkenan kepadaNya selangkah demi selangkah. Bayangkan betapa bahagianya ketika Tuhan tidak hanya memberitahukan rencanaNya bagi kita tetapi juga menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya. Seperti itulah janji Tuhan, itulah kerinduanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4141740475523491735?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Saling Bantu</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/saling-bantu.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 11 May 2012 08:00:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6204474984870755321</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Pengkotbah 4:12&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="saling bantu" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/saling-bantu.jpg" /&gt;Sudah tahu kita lemah, tapi malah membiarkannya dan terus saja menjalaninya sendirian. Ada banyak orang yang memilih sikap seperti ini. Semakin mereka lemah, semakin pula mereka menutup rapat diri mereka. Mereka mengira dengan lari dari kenyataan mereka bisa semakin baik. Itu tidak pernah terjadi. Yang justru terjadi adalah kita akan semakin kehilangan arah dan itu tidak akan membuat apapun menjadi lebih baik. Lari jauh dari realita kehidupan bukanlah jawaban, karena biar bagaimanapun semuanya tetap harus kita hadapi. Kelemahan memang merupakan bagian hidup semua orang, siapapun punya kelemahannya masing-masing, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus menyerah atas kelemahan itu. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan pun telah mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi kelemahan,&lt;i&gt; "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh"&lt;/i&gt; (Ibrani 12:12-13), dan lewat Daud kita tahu bahwa kita selalu bisa bertumpu pada Tuhan agar tidak gampang goyah. &lt;i&gt;"Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah."&lt;/i&gt; (Mazmur 16:8). Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk membangun hubungan yang saling dukung, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri. Manusia sejatinya adalah mahluk sosial, seperti itulah kita diciptakan Tuhan. Kita adalah bagian dari masyarakat, alangkah baiknya apabila kita menyadari bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tetap berjalan dengan baik dan benar atau bahkan semakin baik lagi dari hari ke hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan berulang kali mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri. Kita tidak pernah dirancang untuk menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian. Firman Tuhan berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya...Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Pengkotbah 4:9-10,12). Dalam berbagai aspek kehidupan itu berlaku, dalam hal kerohanian pun demikian. Kita butuh membangun&lt;i&gt; network&lt;/i&gt; yang kokoh, bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak pernah sanggup berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Dunia yang kita hidupi ini tidaklah mudah. Cepat atau lambat kita kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Atau berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh iblis atau orang-orang yang berhati jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat, atau apabila sudah terlanjur jatuh bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah &lt;i&gt;network&lt;/i&gt; yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Indah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas.&lt;i&gt; "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."&lt;/i&gt; (Ibrani 10:24) Inilah kuncinya. &lt;b&gt;Saling memperhatikan, saling mendorong.&lt;/b&gt; Dalam apa? Ayat ini menyebutkan: &lt;b&gt;dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.&lt;/b&gt; Untuk itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: &lt;i&gt;"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."&lt;/i&gt; (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 bisa kita jadikan cerminan akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian saja. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika disinergikan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. &lt;i&gt;"Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.."&lt;/i&gt; (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa&lt;b&gt; kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala&lt;/b&gt; (Efesus 4:15), &lt;i&gt;"Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih."&lt;/i&gt; (ay 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu mengisi hari-hari kita dengan merenungkan firman Tuhan, membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan lewat pertemuan, telepon, email, sms dan sebagainya agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Jangan biarkan kelemahan terus terbuka sehingga gampang untuk diserang. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada. Selain agar kita bisa bertumbuh bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dimana Tuhan bisa kita permuliakan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Never let your weakness overcome you&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6204474984870755321?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengatasi Kelemahan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/mengatasi-kelemahan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 10 May 2012 08:00:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-862657101796407723</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Ibrani 12:12-13&lt;br /&gt;========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengatasi kelemahan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kelemahan-2.jpg" /&gt;&lt;i&gt;Everybody has a weakness.&lt;/i&gt; Semua orang punya kelemahan. Tidak peduli sehebat, setangguh, sekuat atau sepintar apapun kita, kita punya kelemahan masing-masing. Seorang teman saya berkata, "saya paling tidak bisa mengatakan tidak...akhirnya saya terus dimanfaatkan teman-teman saya." Uangnya dipinjam tapi tidak dikembalikan, temannya terus memperalatnya untuk mengerjakan tugas-tugas dan ia pun akhirnya seringkali rugi dan repot karena kelemahannya adalah sulit menolak. Dalam kasus yang lebih berat, ada banyak orang yang lemah ketika dihadapkan pada 3 Ta, harTA, tahTA dan waniTA. Tiga hal ini memang merupakan lahan bermain yang paling menyenangkan bagi iblis. Popularitas bisa membuat orang lupa diri. Kemilau harta dan kecantikan wanita pun bisa menjadi titik lemah yang jika tidak diwaspadai bisa membuat orang hancur dalam waktu singkat. Setiap orang memiliki kelemahannya sendiri, tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh pasrah begitu saja terhadap kelemahan-kelemahan itu. Kita tidak boleh berkata, "ya apa boleh buat, memang saya lemah dalam soal itu, jadi biarkan saja.." Tidak. Itu bukan solusi yang baik. Seringkali apa yang sudah kita bangun mati-matian bisa runtuh dalam sekejap bukan karena salah siapa-siapa tapi karena kelemahan kita sendiri. Ada seorang teman yang luar biasa pintar tapi memiliki kelemahan dalam memegang tanggung jawab. Ia takut dalam berkomitmen dan mudah merasa stres ketika diberi tanggungjawab dan akibatnya ia pun tidak kunjung maju dalam hidupnya. Sangat disayangkan semua talenta yang ia miliki belum juga maksimal ia pergunakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan memang merupakan bagian dari hidup kita, tapi itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita perbaiki. Ada kalanya kita harus melalui proses terlebih dahulu agar bisa menjadi lebih kuat dan lebih dewasa, termasuk dalam hal keimanan kita. Penulis Ibrani mengatakan demikian: &lt;i&gt;"Sebab mereka (orang tua kita) mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya."&lt;/i&gt; (Ibrani 12:10). Pendisiplinan tentu tidak nyaman rasanya. Namun semua itu bisa mematangkan kita.&lt;i&gt; "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya."&lt;/i&gt; (ay 11). Perhatikan bagaimana Penulis Ibrani kemudian mengaitkannya dengan memperkuat diri. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 12-13). Kita tidak boleh membiarkan diri kita untuk menjadi lemah dan goyah. Membiarkan itu semua bercokol dalam diri kita akan membuat kita tidak akan pernah bisa berjalan lurus dalam kondisi baik dan tidak pincang.&amp;nbsp; Ingatlah bahwa iblis akan terus mencari kesempatan untuk merusak hati dan pikiran kita, dan iblis akan berpesta pora melihat celah masuk lewat kelemahan yang kita biarkan ada dalam diri kita. Bukan saja iblis, tapi orang-orang yang jahat pun siap memanipulasi kita, memanfaatkan diri kita demi keuntungan mereka apabila kita lemah. Karena itu adalah penting bagi kita untuk mengatasi kelemahan dan memperkuat diri, seperti yang sudah disampaikan lewat firman Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya lihatlah firman Tuhan berkata bahwa orang yang menyerah kalah dan memilih untuk terus terperangkap dalam keadaan lemah dan pincang tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Ibrani 10:38) Penulis Ibrani mengingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya kita ada dalam posisi yang penuh ketekunan dan ketaatan sebagai orang-orang percaya sehingga beroleh keselamatan. (ay 39). Titik-titik lemah kita bisa menjadi awal kehancuran yang akan menjauhkan kita dari keselamatan. Oleh karena itu kita harus terus melawan kelemahan-kelemahan dalam diri kita sehingga segala sesuatu yang sudah direncanakan Tuhan dan Dia janjikan tidak sampai gagal kita peroleh. Kita harus terus memenuhi diri kita dengan firman Tuhan secara terus menerus. Rajin-rajinlah mendengar dan membaca firman Tuhan, rajinlah berdoa, dekatkan diri kepada Tuhan, teruslah mengucap syukur dan fokuskan pandangan senantiasa kepadaNya. Find out all His promises to us and stick with it. Itu akan membuat kita tidak gampang jatuh menjadi lemah dan mudah goyah. Secara singkat Daud menyebutkan seperti ini: &lt;i&gt;"Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah."&lt;/i&gt; (Mazmur 16:8). Selain itu ingatlah bahwa kita bukan didesain Tuhan untuk sendirian. Kita butuh sahabat-sahabat yang bisa saling mengingatkan dan menguatkan terlebih disaat kita lemah. Kembali firman Tuhan sudah mengingatkan hal itu. &lt;i&gt;"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."&lt;/i&gt;"(Ibrani 10:24-25). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya satu atau dua bagian tubuh yang mengalami masalah bisa menimbulkan kesulitan besar bagi kita, begitu pula ketika tubuh, jiwa atau roh kita menjadi lemah. Iblis akan terus mengincar titik-titik lemah kita sebagai pintu masuk untuk menghancurkan kita. Begitu pula orang-orang yang punya niat buruk. Karenanya, tetaplah jaga tubuh, jiwa dan roh kita agar tetap kuat. Jangan beri kesempatan kepada si jahat untuk memporakporandakan apa yang sudah kita bangun dengan baik sejak semula. Tetaplah berdiri tegar, jangan lemah dan jangan pernah lelah agar kita bisa terus melangkah dengan benar hingga akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membiarkan diri dalam kondisi lemah berlarut-larut akan semakin menjauhkan kita sukacita dan keselamatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-862657101796407723?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pelita yang Tetap Menyala</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/pelita-yang-tetap-menyala.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 09 May 2012 08:00:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4248700101257805595</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 12:35&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pelita menyala" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pelita-menyala.jpg" /&gt;Sedang asyik-asyiknya mengetik, tahu-tahu lampu di rumah mendadak padam. Untung saya sedang memakai netbook dengan baterai sehingga pekerjaan saya tidak sampai hilang. Saya melanjutkan mengetik walau gelap, tapi saya hanya tahan beberapa saat saja karena mata saya tidak kuat melihat nyala pada layar monitor dalam ruangan yang gelap. Di siang hari kita tidak terlalu memerlukan lampu kecuali jika berada pada ruang yang tertutup total tanpa ventilasi. Tapi di malam hari tentu kita butuh lampu jika masih harus beraktivitas melakukan sesuatu. Betapa pentingnya pelita jika anda berada dalam kegelapan. Bayangkan sulitnya mencari jalan di tempat gelap tanpa bantuan cahaya. Jalanan sepi pun akan rawan dari orang jahat seperti perampok atau gang berandalan apabila tidak dilengkapi dengan penerangan jalan yang memadai. Ada lagi kisah menarik yang saya peroleh dari sepupu saya pada suatu kali. Ia bercerita bahwa ia pernah ke satu kota di sebuah negara di Eropa Utara sana dimana pada saat musim dingin mereka bisa berhari-hari tanpa cahaya matahari. Statistik menunjukkan tingkat depresi di kota itu sangatlah tinggi, yang menyebabkan angka bunuh diri pun meningkat tajam disaat mereka tengah melewati hari-hari yang gelap. Semua ini menunjukkan pentingnya cahaya bagi kita dalam banyak hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu saya sudah menyampaikan nasihat untuk berjaga-jaga hingga kedatangan Yesus yang kedua kali yang secara simbolis mempergunakan ikat pinggang. Selain ikat pinggang, ada hal lain yang juga penting kita persiapkan seperti yang bisa kita lihat pada ayat hari bacaan hari ini, yaitu pelita. Ayat bacaan hari ini diambil dari Injil Lukas yang berbunyi: &lt;i&gt;"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." &lt;/i&gt;(Lukas 12:35)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;Ayat ini menyatakan bahwa selain ikat pinggang, kita juga harus memastikan &lt;b&gt;pelita kita tetap menyala.&lt;/b&gt; Apa yang dimaksud dengan pelita pada ayat ini? Kita bisa menemukan jawabannya dalam kitab Amsal.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 20:27) Ayat ini secara jelas menjelaskan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang mampu menerangi/menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Tuhan ternyata telah memberi kita semua dengan pelita atau lampu yang dapat selalu menuntun kita, menerangi kita, menjauhkan kita dari kegelapan. Tapi ingatlah bahwa pelita ini hanya bisa berfungsi apabila berada dalam keadaan menyala. Anda tidak akan mendapatkan fungsi apapun dari lampu jika dalam keadaan mati bukan? Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang tidak ada pada mahluk lainnya. Roh manusia dilengkapi sebentuk hati nurani, yang selalu bereaksi mengingatkan kita setiap kali kita ingin berbuat dosa. Roh yang menyala seperti pelita merupakan wakil Tuhan untuk menerangi diri kita hingga bagian terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pentingnya pelita untuk menjauhkan kita dari kegelapan. Dunia yang kita tempati sekarang berisi banyak hal yang berpotensi yang dapat menggiring kita semua menuju kegelapan rohani. Tidak heran jika Paulus mengingatkan jemaat di Roma untuk memastikan roh mereka tetap menyala-nyala. &lt;i&gt;"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."&lt;/i&gt; (Roma 12:11). Roh yang tetap menyala, bagaikan pelita yang terus bercahaya adalah sebuah&lt;b&gt; tanda kesiapan kita menantikan kedatangan Kristus.&lt;/b&gt; Roh yang tetap menyala akan membuat kita &lt;b&gt;tetap bersemangat untuk melayani Tuhan&lt;/b&gt;. Roh yang menyala akan membuat kita &lt;b&gt;terhindar dari kegelapan&lt;/b&gt;. Bukan itu saja, cahaya itu pun seharusnya bisa memancar untuk &lt;b&gt;menerangi saudara-saudara kita &lt;/b&gt;yang belum mengenal Tuhan. Alangkah indahnya apabila Kristus mendapati kita tengah melayani Tuhan dengan pelita yang menyala terang ketika Dia datang untuk kali kedua. Sebaliknya, apa yang terjadi jika pelita kita padam? Kita bisa mendapatkan jawabannya dalam kitab Ayub.&lt;i&gt; "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!"&lt;/i&gt; (Ayub 21:17). Pelita yang padam akan membawa kita pada kebinasaan, dan kesakitan dalam murkaNya. Ini adalah sesuatu yang mengerikan. Tidak seorang pun yang tahu kapan Yesus datang kembali. Hendaklah kita semua tetap berjaga-jaga, melengkapi diri kita setiap saat dengan ikat pinggang dan pelita yang menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pastikan pelita anda tetap menyala agar terhindar dari berbagai hal yang berpotensi menggiring anda masuk dalam kegelapan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4248700101257805595?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mewaspadai Ragi Farisi</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/mewaspadai-ragi-farisi.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 08 May 2012 08:00:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2039034938017231565</guid><description>&amp;nbsp;&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 23:13-14&lt;br /&gt;=========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk...Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="ragi orang Farisi" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/ragi-farisi-1.jpg" /&gt;Gereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa bertumbuh bersama dalam iman, mengalami jamahan Tuhan, pemulihan, dan merasakan hadiratNya. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama dalam menjalani hari-hari yang berat, juga untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas lalu menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya melihat sendiri beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat oknum-oknum hamba Tuhan yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Bayangkan, ada gereja yang terang-terangan mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Saya pun terkejut ketika mendengar adanya "makelar-makelar rohani" yang menjanjikan pengkotbah menjadi populer dalam waktu singkat. Mereka merampas hak Tuhan untuk popularitas diri sendiri. Dan sayangnya ada banyak pula pengkotbah atau pendeta yang setuju untuk memakai jasa makelar ini. Orang-orang ini menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Saya membayangkan betapa sakitnya hati Tuhan, betapa kecewanya Dia melihat orang-orang menyimpang seperti ini. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat ini bukanlah hal baru karena sudah ada setidaknya di jaman Yesus turun ke bumi. Yesus sudah pernah menyinggung mengenai perihal kemunafikan dari orang-orang yang seharusnya menjadi teladan bagi jemaat. Kemunafikan ini disebutkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. &lt;i&gt;"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar,&lt;b&gt; pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;(Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam hukum-hukum Taurat dan hafal luar kepala, selalu berkata tentang kebenaran, tetapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi. Inilah ragi Farisi yang sangat dikecam Tuhan. Dan lihatlah kepada siapa pesan ini ditujukan Yesus seperti yang saya tulis tebal di atas,yaitu kepada murid-murid Yesus, termasuk kita di dalamnya terutama yang melayani. Perhatikan apa kata Yesus. &lt;i&gt;"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu &lt;b&gt;pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.&lt;/b&gt;)"&lt;/i&gt; (Matius 23:13-14). Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini, dan itu tidaklah mengherankan. Mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukuman yang lebih berat menanti orang-orang yang munafik. Orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat cara hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya dikatakan akan menerima konsekuensinya, dan itu akan jauh lebih berat dari orang-orang biasa. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah.&lt;i&gt; "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat."&lt;/i&gt; (Yakobus 3:1). Sangatlah disayangkan jika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, tapi kita malah menunjukkan sikap memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Kenyataannya ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Begitu pulang, kehidupan duniawi dengan segala kesesatan pun kembali mewarnai hidup. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan. Dalam hal menjadi hamba Tuhan, perhatikan pula kepada siapa kemuliaan itu ditujukan, apakah kepada Tuhan sepenuhnya atau malah dipelintir untuk popularitas pribadi. Jika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah keterlaluan apabila kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat sikap ragi Farisi ini? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita ketika kita merasa diri kita paling benar. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan dan kemunafikan. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Roma 14:13). Betapa pesan ini baik untuk selalu kita ingat. Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. &lt;i&gt;"Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun”&lt;/i&gt; (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Setiap renungan yang saya tulis pun bagaikan pedang bermata dua yang bukan saja saya tujukan untuk membagi berkat kepada teman-teman, tapi juga berlaku sebagai peringatan bagi saya sendiri. Hukuman yang lebih berat akan hadir kepada orang-orang yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi Farisi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hindari ragi Farisi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2039034938017231565?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Etika, Tata Krama dan Kesopanan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/etika-tata-krama-dan-kesopanan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 07 May 2012 08:00:05 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3353190183250269044</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Korintus 13:4-5&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="etika, sopan santun" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/sopan.jpg" /&gt;"Makin lama anak-anak muda semakin tidak tahu sopan santun." cetus seorang ibu yang kesal ketika ada seorang remaja yang memotong antrian tepat didepannya disaat menanti giliran membayar di kasir. Saya berada di belakang si ibu sehingga mendengar ucapannya. Si pemuda yang memotong antrian tentu mendengar. Bukannya malu, ia malah memandang dengan tatapan melecehkan. Apakah anda pernah atau sering menjumpai orang-orang yang tidak punya sopan santun seperti ini? Anak-anak muda yang ribut berteriak tertawa-tawa di sebelah rumah tengah malam, suara motor yang digas kencang pada jam-jam orang beristirahat, Orang yang menyalip di jalan raya, berkata kasar kepada orang yang lebih tua bisa menjadi contoh bagaimana etika dan sopan santun semakin lama semakin lenyap dalam pergaulan manusia. Soal kurangnya tingkatan pendidikan? Tidak juga, karena ada banyak orang yang lebih secara finansial bersikap sangat sombong karena merasa memiliki dunia dengan kekayaannya. Tingginya jabatan atau status pun bisa membuat orang sombong dan kemudian merasa tidak perlu sopan atau punya etika lagi. Lihatlah sebagian wakil rakyat yang seenaknya mempergunakan uang rakyat untuk bepergian ke luar negeri, atau lihat pula bagaimana perilaku sebagian dari mereka yang tidak terpuji di tengah masyarakat. Marah ketika disuruh menunggu atau mengantri, mempergunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, itu menunjukkan bahwa masalah sopan santun dan etika sudah begitu mendarah daging dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bagaimana kita bisa berharap melihat anak-anak muda yang tau etika dan sopan jika yang lebih senior saja sikapnya buruk? Lantas pertanyaan berikutnya, bagaimana kita bisa berharap etika dan kesopanan bisa kembali muncul di bangsa ini apabila kita sebagai anak-anak Tuhan pun masih belum sepenuhnya bisa menjadi contoh akan hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup siapapun. Apalagi kita hidup din negara yang katanya memiliki budaya ketimuran yang menjunjung tinggi etika dan kesopanan. Konon pada suatu masa budaya ketimuran dikenal dengan keramah-tamahan, murah senyum, baik budi pekerti, sopan santun, namun perkembangan jaman tampaknya diikuti pula oleh erosi etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai lapisan. Jika budaya ketimuran saja sudah berbicara tentang menjaga sikap dan tingkah laku, etika dan sopan santun, apalagi bagi kita yang menyandang predikat pengikut Kristus. Sayangnya di antara anak-anak Tuhan pun masih juga ada yang tidak siap menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat. Bagaimana kita bisa berharap orang bisa mengenal Yesus jika orang sudah terlebih dahulu anti pati melihat sikap kita? Kita harus bisa menjadi contoh teladan. Itu jelas merupakan sebuah tanggung jawab kita sebagai orang percaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari kekristenan adalah &lt;b&gt;kasih&lt;/b&gt;, dan itulah yang harus menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali. Lantas apa hubungannya kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Tentu saja ada. Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Korintus 13:4-5). Di dalam kasih itu ada sabar dan murah hati. Kasih tidak mengenal kecemburuan, memegahkan diri atau sombong, tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong melainkan tahu etika dan tahu sopan santun. Perhatikan pula ayat berikut ini:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1 Tesalonika 4:11-12). Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita. Kesombongan dikatakan sebagai sebuah &lt;b&gt;kekejian di hadapan Allah &lt;/b&gt;(Amsal 16:5) dan merupakan&lt;b&gt; awal dari kehancuran&lt;/b&gt; (16:18). Bentuk-bentuk kesombongan akan membuat orang memegahkan diri secara berlebihan sehingga kehidupan orang sombong akan jauh dari etika, perilaku terpuji dan sopan santun. Tidak itu saja, kesombongan pun akan menjadi pintu masuk dari dosa-dosa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Iman tanpa perbuatan adalah mati&lt;/i&gt; (Yakobus 2:26). Apabila kita tidak menjaga perilaku dan perkataan kita, maka&lt;i&gt; ibadah kita pun menjadi sia-sia.&lt;/i&gt; (Yakobus 1:26). Karena itu, marilah kita menyatakan kasih kepada orang lain, mari kita menjadi pelaku firman. Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia disekitar kita tengah dilanda degradasi moral, krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, namun jadilah orang yang berbeda dengan dunia, penuh sopan santun dan beretika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita dimanapun kita berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebagai pengikut Kristus, jadilah contoh teladan mengenai etika dan sopan santun&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3353190183250269044?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Buah  Manis dari Ketaatan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/buah-manis-dari-ketaatan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 06 May 2012 08:00:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1593788489588917298</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 13:13&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="buah ketaatan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/buah-taat.jpg" /&gt;"Wah, kalau harus jujur-jujur banget bisa rugi dong.. ini perusahaan saya, jadi kamu jangan ikut campur!" Demikian ucap atasan dari teman saya ketika teman saya berusaha mengingatkannya agar jangan terus menipu dalam berbisnis. Ia suka melakukan cara-cara curang terhadap pembeli atau bahkan agen-agennya sendiri. Karena tidak mau ikut terlibat dan tidak nyaman bekerja di tempat seperti itu, teman saya pun kemudian memutuskan untuk berhenti saja. Lagi-lagi ia harus rela dikatakan bodoh oleh teman-temannya. "Di jaman sulit seperti sekarang ini, hanya orang bodoh yang berhenti bekerja karena sok jujur." Begitulah ceritanya kepada saya. Tidak lama setelah itu, mantan atasannya yang suka curang itu ternyata tersandung masalah. Penipuannya diketahui oleh salah seorang agen dan ia pun diproses oleh pihak berwajib. Usahanya pun kemudian harus tutup. Akan halnya teman saya tadi, dalam waktu yang tidak terlalu lama ia mendapat pekerjaan di tempat baru yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Disana ia tidak harus bekerja dengan pergumulan iman. "Tidak pernah sia-sia memang untuk taat, meski awalnya saya harus melewati saat-saat sulit.." katanya sambil tersenyum. Apa yang ia alami pernah pula dialami oleh orang lain, termasuk saya meski tidak persis sama. Ada kalanya kita harus merugi, baik rugi materi maupun waktu kalau mau terus berjalan dalam ketaatan. Mengurus KTP, paspor, SIM, Kartu Keluarga atau urusan-urusan dokumen lain misalnya, kita akan menjadi sulit jika mau berlaku jujur. Tidak jarang kita malah dipersulit oleh oknum-oknum disana jika tidak memilih calo. Petugas resmi bekerjasama dengan calo dan mendapat bagian dari setiap kecurangan, itu sudah menjadi hal yang wajar saat ini di instansi manapun. Jadi jika kita memilih untuk jujur, kita malah repot. Waktu terbuang berhari-hari, ongkos yang keluar untuk bolak balik bisa besar. Tapi itulah harga yang harus kita bayar kalau mau taat. Satu hal yang saya alami sendiri, taat kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin awalnya terlihat rugi, tetapi pada saatnya Tuhan melimpahkan berkatNya berlipat ganda. Berulang kali saya mengalaminya, sehingga saya sampai pada satu kesimpulan: &lt;b&gt;Ketaatan akan selalu menghasilkan buah yang manis, dan berjalan bersama Tuhan itu rasanya sungguh luar biasa.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam Amsal ada tertulis &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan."&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;Dalam bahasa inggrisnya dikatakan:&lt;i&gt; "Whoever despises the word and counsel [of God] brings destruction upon himself, but he who [reverently] fears and respects the commandment [of God] is rewarded."&lt;/i&gt; (Amsal 13:13). Lihatlah bagaimana janji Tuhan kepada orang-orang yang taat pada perintah Tuhan, bagaimana manisnya buah yang kita hasilkan dari ketaatan. Tuhan menjanjikan dalam banyak kesempatan bahwa Dia sanggup melimpahkan berkatNya ketika kita mau taat kepada firmanNya. Tuhan selalu menepati janjiNya. Teman saya mengalaminya secara tepat benar, saya pun berulang kali membuktikannya. Apabila kita taat, maka ada reward atau hadiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Dia akan memberkati bahkan ditambahkan berlipat-lipat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian ayat mengenai berkat dalam Ulangan 28, dimana salah satunya berbunyi:&lt;i&gt; "Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu."&lt;/i&gt; (ay 8) merupakan serangkaian janji Tuhan dalam melimpahkan berkatNya buat kita. Namun itu semua haruslah dimulai dengan keputusan-keputusan kita dalam hidup untuk taat kepada perintahNya. Awal dari perikop berkat adalah sebagai berikut:&lt;i&gt;"Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi."&lt;/i&gt; (ay 1). Semua berkat Dia sediakan bagi kita, jika kita mendengarkan baik-baik suara Tuhan kemudian melanjutkannya dengan melakukan Firman secara nyata dengan setia. Inilah bentuk ketaatan yang diinginkan Tuhan untuk kita terapkan dalam hidup kita. Jika ini kita lakukan, maka Tuhan akan melimpahkan berkatNya secara luar biasa. Lewat kesaksian teman saya hari ini kita bisa melihat betapa Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan setia menggenapi semua janjiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah benar bahwa dalam mempertahankan ketaatan kita bisa jadi harus siap berhadapan dengan berbagai kesulitan atau harus mengalami kerugian. Tapi percayalah bahwa Tuhan memperhitungkan segala yang kita perbuat dan putuskan. Ingatlah bahwa setiap perbuatan curang, sekecil apapun, merupakan kekejian bagi Tuhan.&lt;i&gt; "..setiap orang yang berbuat curang, adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu"&lt;/i&gt; (Ulangan 25:16), Dan dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat bahwa akan ada ganjaran bagi mereka yang memilih untuk mengabaikan firman Tuhan. Dalam Ayub kita membaca: &lt;i&gt;"Jikalau mereka mendengar dan takluk, maka mereka hidup mujur sampai akhir hari-hari mereka dan senang sampai akhir tahun-tahun mereka. Tetapi, jikalau mereka tidak mendengar, maka mereka akan mati oleh lembing, dan binasa dalam kebebalan."&lt;/i&gt; (Ayub 36:11-12). Dalam surat Paulus kepada Titus pun ia mengingatkan demikian: &lt;i&gt;"Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuannya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah, jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita."&lt;/i&gt; (Titus 2:9-10). Terkadang tidak mudah untuk taat, terlebih ketika kita harus menderita atau mengalami kerugian terlebih dahulu. Teman saya harus terlebih dahulu menganggur daripada ikut-ikutan atau berdiam diri melihat ketidak adilan. Ia harus hidup sulit untuk beberapa saat dengan mengandalkan tabungannya dan dikatai bodoh oleh teman-temannya, tetapi lihatlah bagaimana manisnya buah yang ia petik kemudian sebagai hasil dari keputusannya untuk taat. Jika memang harus mengalami kesulitan untuk sementara waktu, mengapa tidak? Bukankah Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa &lt;i&gt;"setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku"&lt;/i&gt; (Matius 16:24)? Belajarlah untuk senantiasa berlaku taat dan jujur, dalam hal sekecil apapun. Ketika anda memilih untuk taat dan melakukan sesuai Firman, Tuhan sanggup memberkati anda berlipat kali ganda. &lt;i&gt;Do our part and let God do His.&lt;/i&gt; Tuhan akan selalu menepati janjiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketaatan yang ditanam dan dipupuk akan menghasilkan buah berlipat ganda&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1593788489588917298?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mempertahankan Mahkota</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/mempertahankan-mahkota.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 05 May 2012 08:00:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2362125251773999708</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Wahyu 3:11&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mahkota" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mahkota-1.jpg" /&gt;Banyak orang menganggap alangkah sulitnya untuk memulai sesuatu. Tapi bagi yang sudah memulai akan segera merasakan bahwa mempertahankan adalah lebih sulit dari memulai, apalagi untuk terus mengalami peningkatan. Jika anda meraih gelar juara misalnya, tantangan ke depannya adalah untuk menjaga agar mahkota itu tidak berpindah tangan. Seorang pelatih sepak bola akan segera berpikir strategi apa yang akan ia lakukan ke depan agar timnya bisa tetap menjadi juara. Mengapa lebih sulit? Ia berkata bahwa pada saat itu orang akan mulai membaca strateginya dan jika ia tidak melakukan sesuatu maka lawan akan mudah menjatuhkan timnya. Oleh karena itu walaupun seseorang sudah menjadi pemenang, itu tidak pernah bisa dijadikan alasan untuk berpuas diri dan kemudian berpangku tangan. Mahkota tetap bisa berpindah tangan, dan itu sangat tergantung dari seberapa besar komitmen kita untuk terus mempertahankan mahkota itu agar tetap berada dalam genggaman kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan hidup kita pun harus mempertahankan mahkota keselamatan hingga sampai ke garis akhir. Jemaat Filadelfia mendapatkan pesan seperti itu. Mereka dinasihatkan agar tetap hidup dalam ketaatan, jangan berubah, selalu berusaha serius untuk mempertahankan apa yang telah mereka peroleh agar mahkota kehidupan yang dijanjikan tetap berlaku bagi mereka. Pesan itu berbunyi seperti ini:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Wahyu 3:11). Tidak saja untuk jemaat Filadelfia pada masa itu, pesan penting ini juga tentu berlaku bagi kita semua. Hari-hari yang kita hadapi sungguh sulit. Ada begitu banyak godaan, rintangan dan halangan selama kita hidup baik yang nyata-nyata maupun yang terselubung. Jika tidak hati-hati, setiap saat kita bisa terpeleset dan terjerumus jatuh ke dalam jebakan iblis. Dan akibatnya mahkota kehidupan pun akan lepas dari kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Ibrani kita sudah diingatkan agar tetap dengan teliti melihat segala sesuatu agar jangan sampai hanyut terbawa arus. &lt;i&gt;"Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."&lt;/i&gt; (Ibrani 2:1).&amp;nbsp; Ibrani 2:1-4 memberikan pesan bagi kita agar kita jeli melihat jalan kita ke depan. Sepanjang Alkitab kita melihat bagaimana firman-firman Tuhan disampaikan baik lewat perantaraan malaikat, para nabi dan langsung oleh Kristus sendiri. Bahkan Tuhan sendiri telah menguatkan kesaksian-kesaksian yang telah tertulis itu lewat berbagai tanda dan mukjizat. Dalam begitu banyak kesempatan Tuhan telah menyatakan kuasaNya, juga membagi-bagikan berbagai pemberian termasuk tentunya keselamatan kekal dari Roh Allah sesuai kehendak Tuhan sendiri. Karena itulah jika semua itu sudah diberikan kepada kita, dan menjadi peringatan bagi kita,&lt;i&gt; "bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai"&lt;/i&gt; (ay 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi adalah sebuah langkah awal yang besar. Tapi kita tidak boleh berhenti sampai pada titik ini saja. Apa yang selanjutnya penting adalah mempertahankan apa yang telah kita awali agar kita mampu melewati ujian, cobaan atau godaan hingga sampai ke garis akhir Ada firman-firman Tuhan yang telah diberikan kepada kita untuk menguatkan kita dalam melalui perjalanan hidup kita. Semua itu jelas akan memperkuat kita agar tetap tegar dalam menghadapi ujian demi ujian yang akan terus datang. Lulus atau tidak, itu semua tergantung dari komitmen kita, karena Tuhan telah memberikan kekuatan lewat firman-firmanNya yang meneguhkan, bahkan telah menganugerahkan kita dengan &lt;b&gt;Roh Kudus&lt;/b&gt; sebagai Penolong yang akan selalu menyertai kita untuk selama-lamanya (Yohanes 14:16), dan akan selalu siap membimbing kita dalam setiap langkah. Betapa ironis apabila apa yang telah kita mulai dengan baik akhirnya harus sia-sia akibat keteledoran kita sendiri. Oleh karena itu, tetaplah bertahan dalam berbagai ujian. &lt;i&gt;"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."&lt;/i&gt; (Yakobus 1:12). Marilah tetap bertekun dalam doa dan tetaplah isi diri kita dengan firman-firman Tuhan. Jangan keraskan hati ketika menerima suaraNya, agar kita senantiasa memiliki kekuatan yang cukup untuk mempertahankan keselamatan yang telah kita peroleh lewat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Penulis Ibrani mengingatkan demikian: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus:&lt;i&gt; "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku,sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku."&lt;/i&gt; (Ibrani 3:7-11). Mari kita tetap serius dalam menjaga diri kita, agar jangan sampai murka Allah jatuh kepada kita dan mahkota kehidupan berlalu dari kita. &lt;i&gt;"Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula."&lt;/i&gt; (ay 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memulai dengan benar itu baik, selanjutnya adalah mempertahankan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2362125251773999708?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sukses bersama Roh Tuhan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/sukses-bersama-roh-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 04 May 2012 08:00:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3245462325699446711</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Hakim Hakim 14:6&lt;br /&gt;========================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing--tanpa apa-apa di tangannya..."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="sukses bersama Roh Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/Roh-Tuhan-ajaib.jpg" /&gt;Apa yang anda anggap sebagai hal yang paling menentukan untuk mencapai kesuksesan? Jawaban akan pertanyaan ini mungkin bisa beragam. Ada yang menjawab tingginya tingkat pendidikan, tempat belajar, kekuatan finansial, relasi, semangat, mental dan lain-lain. Tidak jarang pula orang menempatkan faktor keberuntungan sebagai jalan utama menuju sukses. Semua aspek di atas bisa berpengaruh terhadap keberhasilan. Tapi sesungguhnya semua itu bukanlah yang terutama. Kekeliruan dalam memandang faktor terpenting akan kesuksesan membuat orang menjadi gampang menyerah ketika tidak memiliki salah satu dari elemen-elemen ini, apalagi jika apa yang tidak ada atau kurang itu dianggap sebagai hal yang terpenting. Sebagai akibatnya, ada banyak orang yang kemudian berhenti berusaha atau malah tidak mulai sama sekali sebelum mencoba. Mereka yang merasa tidak mampu untuk akan menghindar dengan berbagai macam alasan. Lucunya, banyak diantara mereka malah terus menyalahkan kondisi mereka tanpa mau melakukan apapun. Tidak jarang pula sebagian lagi berani menyalahkan Tuhan dengan menuduhNya tidak adil, berat sebelah atau pilih kasih. Alkitab sudah menyatakan dengan jelas bahwa cara berpikir seperti itu sebenarnya keliru. Apa yang menjadi hal terpenting bukanlah faktor-faktor di atas, walau sedikit banyak mungkin bisa berpengaruh, melainkan&lt;b&gt; apakah kita berjalan disertai Tuhan&lt;/b&gt; atau tidak, &lt;b&gt;apakah Roh Tuhan berkuasa atas kita&lt;/b&gt; atau kita terus mengandalkan diri sendiri, manusia lain atau juga berbagai hal duniawi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak diantara kita yang lupa bahwa tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Memiliki keahlian tentu saja bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk bekerja. Jika anda beruntung memiliki modal tentu saja bisa sangat membantu untuk memulai sebuah usaha. Namun di atas itu semua, jangan lupa bahwa &lt;b&gt;kita butuh Roh Tuhan &lt;/b&gt;dalam hidup kita. Roh Tuhan akan membimbing kita, memampukan kita untuk bekerja&lt;b&gt; bahkan lebih dari apa yang kita pikirkan.&lt;/b&gt; Anda akan kaget melihat sejauh mana anda bisa melangkah apabila kuasa Roh Kudus bekerja. Saya sudah membuktikannya, banyak tokoh Alkitab pun dahulu mengalaminya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat salah satunya, yaitu &lt;b&gt;Simson&lt;/b&gt;. Simson adalah manusia biasa seperti halnya kita, bukan superhero sekelas Superman atau Batman, apalagi orang dari planet lain. Tapi lihatlah apa yang dicatat dalam Alkitab mengenai kekuatan dan keberaniannya. &lt;i&gt;"Pada waktu itu &lt;b&gt;berkuasalah Roh TUHAN atas dia,&lt;/b&gt; sehingga &lt;b&gt;singa itu dicabiknya&lt;/b&gt; seperti orang mencabik anak kambing--&lt;b&gt;tanpa apa-apa di tangannya..&lt;/b&gt;."&lt;/i&gt; (Hakim Hakim 14:6). Jelas dikatakan bahwa Simson itu mampu mencabik-cabik seekor singa, dan perhatikan lanjutannya: &lt;b&gt;tanpa apa-apa ditangannya.&lt;/b&gt; Simson tidak dikatakan memiliki golok, atau senjata lainnya untuk melawan singa. Dia tidak dibilang sebagai manusia berotot kawat dan bertulang baja, yang diciptakan dengan kekuatan istimewa sekelas Superman. Simson melakukan hal yang secara logika tidak mungkin terjadi justru hanya dengan tangan kosong.&amp;nbsp; Bagaimana Simson mampu melakukan itu? Alkitab menyebutkan alasannya. Itu terjadi karena &lt;b&gt;Roh TUHAN berkuasa atas dia&lt;/b&gt;. Tanpa Roh Tuhan, mungkin Simson akan berusaha lari terbirit-birit menyelamatkan diri, atau mungkin pasrah dikoyak-koyak dagingnya sampai mati oleh singa. Tapi yang terjadi bukanlah seperti itu. Ia manusia biasa, akan tetapi ketika Roh Tuhan berkuasa atas hidupnya, dia mampu melakukan pekerjaan yang begitu mustahil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah lainnya, kita melihat betapa Mikha menyadari bahwa kemampuannya untuk menyampaikan pesan Tuhan bukanlah semata-mata karena kehebatannya, namun itu semua bisa terjadi karena Roh Tuhan. &lt;i&gt;"Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, &lt;b&gt;dengan Roh TUHAN&lt;/b&gt;, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya."&lt;/i&gt; (Mikha 3:8). Lihat pula bagaimana Yusuf bisa terus dikatakan berhasil bahkan ketika tengah berada dalam situasi yang tidak kondusif dimana ia diperlakukan tidak adil atau terancam nyawanya. Kehadiran Roh Allah dalam diri Yusuf bahkan bisa dirasakan langsung oleh Firaun yang waktu itu menjabat raja Mesir. Lihat apa kata Firaun berikut ini. &lt;i&gt;"Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, &lt;b&gt;seorang yang penuh dengan Roh Allah&lt;/b&gt;?"&lt;/i&gt; (Kejadian 41:38). Dari semua gambaran ini, jelaslah bahwa ada kuasa luar biasa dalam Roh Kudus yang sanggup memampukan kita melakukan perkara-perkara yang besar. Kita harus mau mengakui bahwa dalam hidup ini kita butuh kehadiran Roh Kudus lebih dari kebutuhan lainnya seperti modal (finansial), tingginya pendidikan, gelar, keahlian, keberuntungan dan lain-lain.&amp;nbsp; Itu sebabnya ada tertulis bahwa kita harus hidup dan dipimpin oleh Roh. &lt;i&gt;"Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh."&lt;/i&gt; (Galatia 5:25). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari kisah Simson berhadapan dengan singa diatas dan melihat bagaimana kita yang biasa mampu melakukan hal-hal luar biasa&amp;nbsp; ketika Roh Allah berkuasa atas kita. Hidup yang dipimpin oleh Roh Allah akan menjadikan kita sebagai anak Allah. &lt;i&gt;"Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"&lt;/i&gt; (Roma 12:14-15). Roh Allah bukanlah roh perbudakan yang membuat kita senantiasa takut, bimbang dan ragu, terperangkap dalam segala kelemahan dan kekurangan kita, tapi Roh Allah adalah Roh yang memerdekakan. &lt;i&gt;"Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan."&lt;/i&gt; (2 Korintus 3:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang hidup dengan dipimpin oleh Roh adalah orang yang sanggup mematikan segala perbuatan kedagingan dalam hidupnya.&lt;i&gt; "hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.&amp;nbsp; Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki."&lt;/i&gt; (Galatia 5:16-17). Agar kita bisa hidup dipimpin oleh Roh Kudus, hendaknya kita mampu &lt;i&gt;mematikan berbagai perbuatan kedagingan seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora&lt;/i&gt; dan sebagainya seperti yang tertulis dalam Galatia 5:19-21. Selanjutnya ingat pula apa yang dipesankan oleh Tuhan Yesus berikut: &lt;i&gt;"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.&lt;/i&gt;" (Matius 6:33). Tuhan menyuruh kita untuk memberi prioritas utama bagi Allah, mencari KerajaanNya dengan segala kebenaran yang terkandung di dalamnya, dan dari sana Tuhan akan menambahkan bukan sebagian kecil atau sedikit, melainkan dikatakan &lt;b&gt;"semuanya"&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini kita pun sewaktu-waktu bisa berhadapan dengan "singa-singa ganas" seperti masalah, kesulitan, pergumulan, masalah keuangan, sakit penyakit dan berbagai penderitaan lainnya, yang setiap saat bisa merobek-robek kita. Tapi dengan kuasa Roh Allah yang memerdekakan, kita sanggup merdeka dari segala beban masalah yang menghimpit kita. Tanpa Roh Kudus mungkin orang bisa berhasil, tapi seberapa lama hal itu bisa bertahan, dan yang lebih penting lagi, apakah itu sesuai dengan rencana Tuhan bagi kita atau tidak? Hari ini mari kita sama-sama membuka hati kita kepada Roh Kudus. Hiduplah penuh dalam pimpinanNya. Betapapun kecilnya kita, dalam Roh Tuhan kita dapat melakukan perkara-perkara besar dengan penuh keberhasilan, termasuk perkara-perkara yang bertentangan dengan logika, ajaib dan tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manusia yang "biasa" sanggup melakukan perkara luar biasa apabila kuasa Roh Kudus meliputi kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3245462325699446711?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berhasil</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/berhasil.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 03 May 2012 08:00:10 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4966036835168081181</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mazmur 20:5&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="berhasil" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/berhasil-1.jpg" /&gt;Terus mengalami peningkatan dalam karir, berhasil dalam bekerja, sekolah atau membangun rumah tangga tentu menjadi dambaan setiap orang. Siapa yang tidak ingin sukses? Hanya saja ada saat- saat dimana apa yang terjadi tidak berjalan sesuai rencana. Mungkin kita belum cukup serius dalam menjalaninya, mungkin ada banyak kendala, atau mungkin juga kita terlalu memaksakan kehendak, sementara apa yang kita rencanakan itu tidak sesuai dengan rencana Tuhan, bukan rencana yang baik atau mungkin juga di luar batas kemampuan kita, atau belum saatnya. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan kenyataan tidak berjalan sesuai dengan rencana. Kalau kita mengacu kepada Alkitab yang berisi firman Tuhan, sesungguhnya Tuhan menjanjikan dalam banyak kesempatan akan keberhasilan. Tidak satupun dari kita yang direncanakan atau sengaja dirancang untuk gagal. Tuhan bahkan menjanjikan peningkatan-peningkatan dalam segala hal yang baik sampai kita tiba pada puncaknya yaitu keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal kitab Mazmur memberikan janji yang sangat indah bagi orang-orang benar.&amp;nbsp; Kitab Mazmur diawali dengan kata &lt;b&gt;"Berbahagialah"&lt;/b&gt;. Siapa yang dikatakan berbahagia? Bukan orang yang berjalan mengikuti orang jahat, orang yang ikut-ikutan berdosa, orang yang senang bergaul dengan orang-orang yang menghina Allah. Tetapi kata berbahagia ini ditujukan kepada &lt;i&gt;"yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam."&lt;/i&gt; (Mazmur 1:2). Lalu bagaimana bentuk bahagia ini? Ayat berikutnya menjelaskan hal itu. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 3). Bayangkan sebatang pohon yang tumbuh di tepi aliran air, yang tidak akan pernah kekeringan dalam kondisi apapun. Dalam keadaan seperti itu pohon itu akan tumbuh sangat subur dan terus berbuah sepanjang musim. Lalu lihatlah kalimat berikutnya: apa saja yang diperbuatnya berhasil. Apa saja? Ya, janji Tuhan berbunyi apa saja. Pernahkah anda membayangkan sebuah kehidupan yang terus membawa keberhasilan? Bukankah itu terdengar sangat indah dan akan membawa kebahagiaan dalam hidup anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan bukanlah secara sempit hanya dipandang dari sudut materi, keuangan yang berlimpah, atau sebuah hidup yang sepenuhnya tanpa masalah. Adalah keliru jika kita beranggapan seperti itu. Keberhasilan pun bisa merujuk kepada keadaan dimana meskipun masalah tengah mendatangi kita, kita sama sekali tidak goyah. Bukankah kita berhasil apabila kita tidak terpengaruh oleh situasi dan tetap tegar lewat iman kita? Bukankah jika kita berhasil untuk tidak terpengaruh oleh kesesatan-kesesatan itu pun juga merupakan keberhasilan? Kita mungkin harus keluar dari zona nyaman dan mengalami sesuatu yang sulit, tapi disana Tuhan tetap membimbing dan membawa kita masuk ke dalam sebuah pengalaman baru, yang akan tetap membawa berkat, bahkan sangat mungkin jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebuah kehidupan yang membawa pencapaian-pencapaian baru yang mungkin berawal kecil tetapi terus bertumbuh menjadi besar, bahkan lebih besar dari apa yang pernah kita pikirkan. Sebuah kesempatan dimana kita bisa melakukan yang terbaik dari diri kita, lalu mencapai hasil yang bisa jadi mencengangkan kita. Berbagai keberhasilan-keberhasilan kecil di tengah pergumulan yang akan mengarah pada sebuah keberhasilan besar kelak. Kita terus mengalami peningkatan dan bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor, seperti apa yang dijanjikan Tuhan dalam Ulangan 28:13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, keberhasilan yang disebutkan ini bukanlah berarti hidup tanpa masalah dan semua berjalan gampang. Ada waktunya kita harus jatuh bangun, mengalami sesuatu yang tidak nyaman atau bahkan membuat kita menderita. Kita bisa belajar dari kisah hidup Yusuf di Perjanjian Lama akan hal ini. Beberapa kali kita melihat ia mengalami ketidakadilan, tetapi berulang kali pula Alkitab menyebutkan bahwa ada &lt;b&gt;penyertaan Tuhan&lt;/b&gt; dalam setiap langkah Yusuf, dan Roh Tuhan yang hidup di dalamnya itu membuatnya tetap berhasil ditengah penderitaan sampai pada akhirnya ia memperoleh kemenangan. Dari kisah ini kita bisa melihat bagaimana Tuhan mampu memutarbalikkan setiap tragedi menjadi keberhasilan-keberhasilan kecil yang kemudian berujung kepada keberhasilan final yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan juga berjanji: &lt;i&gt;"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."&lt;/i&gt; (1 Korintus 2:9). Untuk orang-orang yang mengasihi Tuhan, ada banyak kejutan yang luar biasa Dia sediakan. Sesuatu yang tidak pernah dilihat, didengar atau dipikirkan, itu semua akan Dia berikan untuk kita. Seperti pohon yang tumbuh di tepi aliran air, pohon itu akan terus menghasilkan buah dan tidak akan layu daunnya sama sekali dalam situasi atau musim apapun. Di dalam Tuhan ada kemenangan dan keberhasilan jauh melebihi apa yang kita pikir sebagai batas kemampuan kita. Di dalam Tuhan kita bisa mencapai keberhasilan diluar batas kemampuan kita seperti yang kita kira. Situasi saat ini mungkin masih belum kondusif, tetapi perhatikan bahwa dalam situasi yang tersulit sekalipun kita bisa berhasil jika Roh Tuhan bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 20:5). Ini menjadi pegangan Daud dalam menjalani hidupnya yang sama sekali jauh dari gampang. Daud bisa mengamini itu karena ia paham betul akan satu hal, bahwa &lt;i&gt;"Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN memberi kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya dan menjawabnya dari sorga-Nya yang kudus dengan kemenangan yang gilang-gemilang oleh tangan kanan-Nya."&lt;/i&gt; (ay 7). &lt;b&gt;Kemenangan akan ada dalam orang-orang yang bermegah dalam nama Tuhan&lt;/b&gt;, mengandalkan Tuhan lebih dari apapun. (ay 8). Kemenangan diberikan kepada raja, demikian kata Daud dalam ayat 10, dan mengingat status kita sebagai &lt;i&gt;"imamat yang rajani"&lt;/i&gt; (1 Petrus 2:9), artinya janji itu pun tentu berlaku bagi kita. Bayangkanlah sebuah hidup yang terus dipenuhi keberhasilan dalam berbagai hal, bahkan ketika situasi sedang sangat buruk, bahkan ketika anda berpikir bahwa kesempatan anda sudah habis. Itu semua dijanjikan Tuhan kepada kita, dan bersyukurlah untuk itu. Tetaplah berjalan bersamanya, teruslah hidup dalam FirmanNya, renungkan dan kemudian lakukan, maka janji-janji Tuhan akan menjadi milik kita. Anda siap untuk berbahagia dalam kesuksesan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berhasil melebihi batas kemampuan pikiran kita, itu mungkin bagi orang-orang yang mengasihiNya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4966036835168081181?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Firman Tuhan dalam Lagu</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/firman-tuhan-dalam-lagu.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 02 May 2012 08:00:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5029894062768014717</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Kolose 3:16&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="firman dalam lagu" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/firman-lagu.jpg" /&gt;Di salah satu radio hari ini saya mendengar penyiarnya berkata bahwa ia baru saja dijamah Tuhan lewat salah satu lagu rohani yang ia putar. Saya pernah mengalaminya, dan saya yakin teman-teman pun demikian. Ada kalanya lagu pujian atau penyembahan membawa kesan mendalam dan pada saat-saat tertentu bisa sangat mengena, memberi jawaban terhadap pergumulan yang tengah kita hadapi, menegur atau juga bisa jadi meneguhkan kita yang tengah goyah dalam menghadapi sesuatu yang sulit. Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin itu bisa terjadi, saya akan menjawab mengapa tidak? Lagu-lagu yang biasanya disebut dengan lagu rohani ini bisa berisi firman Tuhan atau setidaknya terinspirasi dari firman di dalam Alkitab. Firman Tuhan itu hidup dan punya kuasa yang luar biasa besarnya, dan jika itu tampil dalam bentuk alunan lagu, maka itu pun bisa berdampak besar pada kita, sama seperti ketika kita membaca atau mendengarkan firman Tuhan lewat kotbah, kaset dan sebagainya. Satu hal yang pasti, Tuhan bisa memakai berbagai media untuk menjadi corongNya untuk berbicara kepada kita, dan lagu merupakan salah satu di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu rohani termasuk lagu pujian dan penyembahan tentu tidak asing lagi bagi kita. Ditengah-tengah menjamurnya lagu-lagu yang mengajarkan banyak hal yang buruk seperti perselingkuhan, obat-obatan, pemutusan hubungan yang dibuat seolah wajar atau dibubuhi alasan-alasan sebagai pembenaran, putus asa dan hal-hal jelek lainnya, lagu-lagu rohani bisa membawa berkat bagi kita. Lagu-lagu rohani tidak jarang sanggup memberi kekuatan, penghiburan atau menggantikan kegelisahan dan kesedihan dengan perasaan damai dan sukacita. Lagu rohani bisa menegur ketika kita salah jalan, juga mampu menebalkan iman kita. Ada banyak pula lagu-lagu rohani dalam bahasa Indonesia yang langsung mengambil firman Tuhan dari alkitab, seperti misalnya &lt;i&gt;"Seperti Rusa"&lt;/i&gt; (Mazmur 42:1), &lt;i&gt;"Ujilah Aku Tuhan" &lt;/i&gt;(Mazmur 139:23),&lt;i&gt; "Tuhan adalah Gembalaku" &lt;/i&gt;(Mazmur 23),&lt;i&gt; "Sejauh Timur dari Barat"&lt;/i&gt; (Mazmur 103:12) dan lain-lain. Hari ini saya ingin menyampaikan sebuah pesan penting mengenai peran dari kehadiran lagu-lagu rohani yang akan sangat berguna bagi kita untuk menghadapi hidup yang terus semakin sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebagian dari kita memiliki kesulitan untuk mengingat atau menghafal firman Tuhan, ada sesuatu di dalam otak kita yang ternyata sanggup membuat kita lebih mudah untuk menghafal lirik dari sebuah lagu. Seringkali sulit rasanya bagi kita untuk menghafal pelajaran, tetapi kita akan dengan mudah menghafal lirik lagu yang panjang atau bahkan dalam bahasa lain sekalipun. Dan lagu-lagu yang langsung mengambil ayat-ayat alkitab ini akan sangat membantu kita untuk menerima firman Tuhan. Jadi lagu-lagu seperti ini akan memiliki keuntungan ganda. Di satu sisi firman Tuhan akan masuk ke dalam ingatan kita dan tentu saja tertanam dalam hati kita, di sisi lain kita akan memuliakan Tuhan langsung lewat bibir dan lidah kita dengan menyanyikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pentingnya bagi kita untuk terus mengisi diri kita dengan firman Tuhan dalam menghadapi hari-hari mendekati akhir zaman. Dalam surat Paulus kepada Timotius dua ribu tahun yang lalu ia sudah mengingatkan akan datangnya masa sukar pada hari-hari terakhir ini. (2 Timotius 3:1). Paulus berkata bahwa ini adalah masa dimana &lt;i&gt;"manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah."&lt;/i&gt; (ay 2-4). Ini adalah masa dimana &lt;i&gt;orang secara lahiriah akan terlihat seperti menjalankan ibadah, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya&lt;/i&gt;. (ay 5). Di akhir zaman seperti ini akan ada banyak orang berdosa &lt;i&gt;"yang walaupun selalu ingin diajar,tetapi tidak pernah dapat mengenal kebenaran"&lt;/i&gt; (ay 7). Alangkah riskannya untuk berada dalam keadaan seperti ini apabila kita dalam keadaan kering dan lemah. Karena itulah kita perlu membekali diri kita terus menerus dengan kebenaran firman Tuhan agar kita tidak ikut-ikutan terseret ke dalam berbagai bentuk penyesatan yang akan membinasakan kita.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat dunia modern dibombardir oleh berbagai ajaran menyesatkan yang dikemas dalam berbagai bentuk yang terlihat sangat menyenangkan atau indah, seperti menyusup lewat syair lagu misalnya, sungguh penting bagi kita untuk menguatkan diri kita agar tidak terseret ke dalamnya. Menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan selain akan menyenangkan hati Tuhan, tentu berperan sangat penting pula dalam hal tersebut. Ingatlah bahwa Tuhan bersemayam (atau dalam bahasa Inggrisnya dikatakan dwell) di atas puji-pujian kita seperti yang tertulis di dalam Mazmur 22:4. Dan Paulus berkata &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Kolose 3:16). Kekayaan Kristus hendaknya meresap ke dalam hati kita, salah satunya lewat bermazmur, menyanyikan puji-pujian dan lagu-lagu rohani yang jumlahnya ada begitu banyak.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda termasuk orang yang sulit menghafal dan suka bernyanyi, mengapa tidak mencobanya? Tidak peduli bagaimana suara anda, selama dinyanyikan dengan sungguh hati semua itu akan terdengar bagai alunan melodi indah di telinga Tuhan. Dan firman-firmanNya akan tertanam dalam hati kita, yang mampu menguatkan, meneguhkan, menghibur dan membawa berkat bagi kita, sekaligus menjadi kesempatan buat kita untuk memperkatakan firman. Ingatlah Tuhan berkata &lt;i&gt;"demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."&lt;/i&gt; (Yesaya 55:11). Tidak salah untuk mendengar lagu-lagu sekuler sepanjang isinya tidak mengajak kita untuk membangkang dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, tapi jangan abaikan pula kuasa firman Tuhan yang hadir lewat lagu-lagu ini. Selain enak untuk dinikmati dan bisa dinyanyikan, lagu-lagu ini pun akan memberi banyak hal yang bermanfaat bagi keselamatan kita. &lt;i&gt;So, what are you waiting for? Let's sing God's verses today!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Lagu-lagu rohani, pujian dan penyembahan bisa mengantarkan kita memasuki hadirat Tuhan dan menjadi corong Tuhan untuk menyampaikan pesanNya pada kita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5029894062768014717?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kicau Burung Memuji Tuhan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/05/kicau-burung-memuji-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 01 May 2012 08:00:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5551963277155950796</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan: &lt;/b&gt;Mazmur 104:12&lt;br /&gt;=================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Di dekatnya burung-burung membuat sarang; mereka berkicau di antara daun-daunan."&lt;/i&gt; (BIS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kicau burung memuji Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kicau-burung-memuji-Tuhan.jpg" /&gt;Apakah anda mengenal lagu &lt;i&gt;Close to You&lt;/i&gt; yang merupakan satu dari sekian karya emas milik the Carpenters? Lagu ini dimulai dengan kalimat: &lt;i&gt;"Why do birds suddenly appear, everytime you are near?"&lt;/i&gt; Lagu romantis mengenai cinta sepasang kekasih ini menggambarkan sesuatu yang indah dengan kehadiran burung. Itu tidaklah mengherankan, karena selain menghias langit biru atau pepohonan, burung juga bisa membuat suasana menjadi ceria terutama dengan suara kicauannya. Bak penyanyi berpengalaman, burung terus bernyanyi menyambut datangnya pagi. Pagi ini kembali saya bangun pagi sekali dan langsung melihat terbitnya matahari yang diiringi oleh nyanyian merdu dari burung-burung tepat di depan kamar tidur saya. Saya sempat berpikir sejenak, kira-kira apa yang dinyanyikan oleh burung-burung ini? Apakah tentang cinta, tentang kegembiraan, tentang ucapan syukur atau bahkan memuliakan Tuhan yang sudah menyatakan bahwa mereka ada di dalam lindunganNya, seperti yang tertulis dalam Matius 10:29? Apapun itu, satu hal yang pasti pagi terasa jauh lebih indah dengan hadirnya kicauan burung. Ada banyak artis yang saya kenal pernah bercerita bahwa mereka sering terinspirasi oleh suara burung di pagi hari. Sebegitu indahnya suara nyanyian burung sehingga bisa menginspirasi orang dalam berkarya. Saya yang tadinya masih mengantuk bisa tersenyum dan merasakan kebahagiaan pagi ini. Lewat kicauan merdu burung-burung ini saya merasakan betul senyuman Tuhan menyapa anak-anakNya yang baru bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya artis masa kini, tapi Pemazmur pun banyak terinspirasi oleh kicauan merdu burung. Lihatlah bagaimana Pemazmur memuji Tuhan atas segala keindahan bumi dan langit hasil ciptaanNya dalam Mazmur 104. Dan burung pun merupakan salah satu penginspirasi Pemazmur dalam menuliskan bagian ini. &lt;i&gt;"di dekatnya diam burung-burung di udara, bersiul dari antara daun-daunan."&lt;/i&gt; (ay 12). Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan demikian: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Di dekatnya burung-burung membuat sarang; mereka berkicau di antara daun-daunan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Puitis, indah, inspiratif dan menggugah. &lt;i&gt;The birds fly in the sky above, perch in branches and sing songs of heartfelt joy.&lt;/i&gt; Kita tidak akan pernah tahu apa persisnya yang dinyanyikan burung, tapi jika itu membawa rasa damai dan bahagia di hati kita dan juga bisa memberi inspirasi, jelas Tuhan berkarya di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan alam yang dilihat, dirasakan dan didengar oleh si Pemazmur meresap jauh dalam hatinya, dan itu membuatnya tidak tahan lagi untuk tidak memuji Tuhan, termasuk di dalamnya suara kicauan burung-burung ini. Seringkali kita begitu terburu-buru ketika bangun pagi sehingga kita melewatkan momen-momen indah seperti ini. Kita lupa berdoa sejenak menyapa Tuhan, dan kita pun melupakan janji Tuhan untuk memberi berkat-berkat yang baru setiap pagi. Setiap pagi? Ya, setiap pagi. Janji Tuhan itu tertulis dalam kitab Ratapan. &lt;i&gt;"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, &lt;b&gt;selalu baru tiap pagi&lt;/b&gt;; besar kesetiaan-Mu!"&lt;/i&gt; (Ratapan 3:22-23). Tidak saja rahmatNya terus diberikan baru dan segar setiap pagi, tapi Tuhan pun akan terus mempertajam kepekaan kita akan suaraNya.&lt;i&gt; "&lt;b&gt;Setiap pagi&lt;/b&gt; Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid."&lt;/i&gt; (Yesaya 50:4b). Benar, kita bisa memuji Tuhan setiap waktu, kapanpun dan dimanapun, tapi pagi hari merupakan salah satu waktu yang paling ideal untuk melakukan itu. Pada pagi hari kita masih segar, dan kesejukan atau kesegaran udara pagi pun bisa membawa kita untuk merasakan hadirat Tuhan secara lebih dalam. Apalagi suara kicauan burung yang indah. Bayangkan jika anda menyanyikan satu atau dua lagu pujian untuk Tuhan, dan burung-burung itu menjadi penyanyi latar anda, bukankah itu terdengar sangat indah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keindahan alam sungguh menyuarakan kebesaran Tuhan secara nyata. Pemazmur berkata: &lt;i&gt;"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya."&lt;/i&gt; (Mazmur 19:1). &lt;i&gt;The heavens declare the glory of God, and the firmament shows his handiwork.&lt;/i&gt; Keindahan alam yang mampu menjadi stimulus kita untuk memuji Tuhan tidaklah terbatas hanya pada pandangan secara visual semata, tetapi juga bisa kita rasakan lewat suara-suara alam. Desir angin, gemercik air, daun-daun yang bergoyang, juga suara kicauan burung yang melukis langit dengan indah serta memenuhi dahan-dahan pohon. Sebelum kita mulai melakukan rutinitas kegiatan kita sehari-hari, ada baiknya kita mengambil waktu sejenak, menyelaraskan hati kita dengan melodi-melodi indah yang sudah Tuhan tempatkan dalam alam ciptaanNya. Kepada kita pun Tuhan sudah menyatakan akan selalu memberi nyanyian baru untuk dipakai kembali memuji Dia. (Mazmur 40:3). Jika demikian, tidakkah keterlaluan apabila kita hanya mempergunakan mulut kita dengan sungut-sungut, keluh kesah dan hal negatif lainnya lalu malah lupa mempergunakannya untuk memuji Tuhan? Pemazmur berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 150:6). Segala yang bernafas, itu termasuk burung. Dan jika burung memuji Tuhan lewat nyanyian merdunya, mengapa kita tidak? Ambillah waktu khusus besok pagi sebelum anda mulai beraktivitas. Nikmati kedamaian dan ketenangan bersama Tuhan agar anda bisa melewati sehari penuh dengan penyertaanNya. Besok pagi burung-burung akan kembali bernyanyi, maukah anda turut serta didalamnya dan memuliakan Tuhan lewat itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Suara kicauan burung bagai simfoni indah berpadu dengan suara alam, semua itu menyatakan kebesaran Tuhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5551963277155950796?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nyanyian Burung Menyambut Pagi</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2012/04/nyanyian-burung-menyambut-pagi.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 30 Apr 2012 08:00:20 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7893022799786022212</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mazmur 40:3&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="nyanyian burung" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/burung.jpg" /&gt;Satu hal yang saya suka ketika bangun pagi adalah kicauan burung. Burung-burung berkicau riang bagai penyanyi yang bersukacita menyambut datangnya hari yang baru. Pagi terasa sangat indah dengan hadirnya suara burung-burung ini. Begitu merdu, hingga sukacita mereka mampu membawa perasaan bahagia dan damai dalam hati. Pagi ini saya bangun cepat karena saya punya jadwal mengajar pagi, dan saya mengambil waktu sejenak untuk menikmati udara pagi yang segar, menatap cerahnya hari baru diiringi suara kicauan burung-burung dan mengucap syukur kepada Tuhan atas keindahan hari di pagi ini. Jika kita tanyakan mengapa dan untuk apa sebenarnya burung bernyanyi kepada ahli biologi maka mereka akan menjawab: karena mereka bisa dan harus. Secara naluri burung bernyanyi guna menarik perhatian pasangannya dan untuk mempertahankan teritori mereka. Tapi lebih dari fungsi burung bernyanyi ini, apa yang kita dengar adalah lebih dari itu. Bagi saya pribadi ini mengingatkan saya betapa alam ini diciptakan Tuhan secara luar biasa indahnya dan penuh dengan nyanyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organ yang membuat burung bernyanyi itu bernama &lt;i&gt;syrinx&lt;/i&gt;, dan bukan &lt;i&gt;larynx&lt;/i&gt; seperti yang dimiliki manusia. Syrinx terletak lebih dalam di dalam tubuh burung jika dibandingkan larynx pada manusia. Syrinx menurut para ahli biologi adalah kotak suara burung yang menimbulkan suara kicauan merdu seperti nyanyian ini. Meski secara ilmiah demikian, masih banyak hal yang tidak bisa kita ketahui dengan pasti mengapa suara yang keluar bisa sedemikian merdu. Sebagai orang awam, apabila pertanyaan mengapa burung bernyanyi ditanyakan pada saya, saya akan menjawab bahwa itu adalah anugrah Tuhan yang sangat indah. Tuhan menaruh lagu dalam hati mereka, membuat mereka berkicau riang atau bernyanyi lagu yang terdengar indah di telinga kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuhan menaruh lagu di dalam hati burung, hal yang sama sebenarnya juga diberikan Tuhan pada kita dan itu bisa kita baca dalam kitab Mazmur. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 40:3). Lihatlah dengan jelas Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberi inspirasi pada kita, meletakkan nyanyian baru dalam mulut kita untuk kembali dipakai memujiNya. Sama seperti kita yang menyukai lagu, Tuhan pun demikian. &lt;i&gt;God loves music&lt;/i&gt;. Bagi saya musik adalah salah satu anugerahNya yang terindah, karena saya tidak bisa membayangkan bagaimana suram dan keringnya hidup jika tidak ada musik atau lagu di dalamnya. Dan lihat pula bahwa lewat lagu kita bisa membawa orang untuk mengenalNya, bertobat dan percaya kepadaNya. Sampai hari ini hal tersebut masih kerap terjadi. Begitu banyaknya orang yang dijamah Tuhan lewat lagu-lagu pujian atau penyembahan, bahkan lagu-lagu biasa yang inspiratif. Semua itu berasal dari Tuhan, dan hendaknya itu kita pakai kembali untuk memuliakan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak ciptaan Tuhan yang kita nikmati setiap saat, begitu banyak karyaNya yang sangat indah, sehingga sudah selayaknya kita memberikan pujian kepada Tuhan, dan salah satunya adalah lewat nyanyian penuh sukacita. Kitab Mazmur berbicara banyak tentang keindahan ciptaan Tuhan dan semua berkatNya, perlindunganNya dan kasihNya bagi kita, dan berkali-kali pula dalam kitab Mazmur kita mendapatkan ajakan untuk bernyanyi memanjatkan syukur bagi Tuhan. &lt;i&gt;"Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup, aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada."&lt;/i&gt; (Mazmur 104:33) Ajakan untuk memuji segala perbuatan ajaib Tuhan lewat nyanyian baru pun berkumandang di banyak ayat pada Mazmur. &lt;i&gt;"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus."&lt;/i&gt; (Mazmur 98:1). Lalu Pemazmur pun berseru:&lt;i&gt; "Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!&lt;/i&gt;" Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan:&lt;i&gt; "Make a joyful noise to the Lord, all the earth; break forth and sing for joy, yes, sing praises!" &lt;/i&gt;(Mazmur 98:4)&lt;i&gt;. Sing praises,&lt;/i&gt; nyanyikan puji-pujian bagiNya. Itu jauh lebih baik ketimbang kita hanya mengisi mulut kita dengan keluh kesah, umpatan atau hal-hal negatif lainnya. Selain itu bisa meneguhkan semangat kita dan membuat kita penuh sukacita, itupun akan besar artinya bagi Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kicauan merdu burung yang saya dengar hari ini menjadi peringatan bagi saya bahwa sebenarnya kita pun telah dianugrahkan oleh Tuhan suara dengan nyanyian-nyanyian yang bisa kita pakai untuk memuliakan Tuhan.Kita bisa&amp;nbsp; berterimakasih atas semua berkatNya dalam hidup kita lewat puji-pujian yang indah. Allah kita adalah Allah yang luar biasa dan sangat mengasihi kita. Dia layak untuk itu! &lt;i&gt;"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan"&lt;/i&gt; (Wahyu 4:11). Mendengar burung-burung yang bernyanyi riang di pagi hari, mari kita pun melakukan hal yang sama. Beri persembahkan pujian-pujian yang terbaik lewat nyanyian yang penuh sukacita. Teruslah bernyanyi dan muliakan Tuhan lewat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Let's sing for joy at the work of His hands&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Follow us on twitter: &lt;a href="http://twitter.com/dailyrho"&gt;http://twitter.com/dailyrho&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7893022799786022212?l=renungan-harian-online.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

