<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>renungan harian online</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/</link><description>renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (webmaster)</managingEditor><lastBuildDate>Tue, 10 Nov 2009 02:36:09 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">672</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>renungan harian online bagi yang haus akan Tuhan</itunes:subtitle><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/RenunganHarianOnline" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">RenunganHarianOnline</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item><title>Aku Bisa!</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/aku-bisa.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 08:00:01 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6840218887244944255</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Samuel 17:26&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="tidak ada yang mustahil, aku bisa" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/carlson.jpg" /&gt;&lt;b&gt;Chester Floyd Carlson&lt;/b&gt; pada mulanya adalah seorang pengacara hak paten. Bermula dari kesulitan-kesulitannya dalam bekerja, dimana ia harus menyalin dan mengetik ulang semua hak paten yang didaftarkan kepadanya, ia mulai berpikir untuk mencari alternatif yang lebih baik, yang mampu membuatnya bekerja dengan lebih cepat, lebih efektif dan efisien. Mengetik ulang semuanya tentunya menyita waktu, memakai kopi karbon atau dikenal juga dengan &lt;i&gt;"wet copy"&lt;/i&gt; pada saat itu pun rasanya masih membuang banyak waktu. Carlson berpikir seperti ini: &lt;i&gt;"I thought the possibility of making an invention might kill two birds with one stone; it would be a chance to do the world some good and also a chance to do myself some good."&lt;/i&gt; Carlson berpikir jauh lebih luas daripada kepentingannya sendiri. Di satu sisi ia berpikir untuk meringankan dan mempercepat kerjanya, di sisi lain dia ingin membuat sesuatu yang berguna bagi dunia. Dengan serangkaian percobaan dan usaha, ia pun kemudian berhasil membuat sebuah mesin fotokopi pada tahun 1937. Bertahun-tahun ia gagal dalam memasarkan produknya. Beberapa perusahaan besar saat itu seperti IBM atau US Army Signal Corps pun ternyata tidak berminat, karena menurut mereka penemuan Carlson itu tidak bakal laku di pasaran. Tapi Carlson tidak putus asa. Akhirnya pada tahun ke delapan dari usahanya, sebuah perusahaan bernama Haloid Company tertarik, dan itulah yang menjadi awal dari terbentuknya &lt;b&gt;Xerox&lt;/b&gt;, mesin fotokopi yang hingga hari ini masih menjadi jaminan mutu. Bagaimana jika Carlson punya pribadi yang gampang menyerah? mungkin hari ini kita masih harus menyalin segala sesuatunya dengan manual atau masih mempergunakan cetak karbon yang basah dan gampang luntur. Karena semangatnya tidak gampang patah, kita pun bisa menikmati fasilitas yang begitu banyak meringankan kita dan menghemat waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beribu-ribu tahun sebelumnya kisah yang kurang lebih sama pernah terjadi. Pada saat itu ada seorang raksasa bernama Goliat, yang tingginya saja sudah menyeramkan, kira-kira tiga meter. Dia adalah tentara jagoan dari kelompok Falistin, yang dilengkapi pula dengan baju perang dari tembaga dan senjata berupa lembing. Mata tombaknya saja seberat 7 kilogram, plus sebuah perisai. Tidaklah mengherankan jika ia memandang rendah bangsa Israel yang kecil-kecil dengan peralatan perang yang tidak selengkap dirinya. &lt;i&gt;"Ia berdiri dan berseru kepada barisan Israel, katanya kepada mereka: "Mengapa kamu keluar untuk mengatur barisan perangmu? Bukankah aku seorang Filistin dan kamu adalah hamba Saul? Pilihlah bagimu seorang, dan biarlah ia turun mendapatkan daku."&lt;/i&gt; (1 Samuel 17:8). Mendengar itu, ketakutanlah Saul dan prajuritnya. (ay 11). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu terdapatlah Daud, seorang bocah yang kerjanya sehari-hari hanya menggembalakan domba ayahnya. Berbeda dengan reaksi prajurit-prajurit dewasa, ternyata Daud tidak gentar, dan merasa terbakar mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan Goliat. Sontak ia berkata &lt;i&gt;"Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? &lt;b&gt;Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 26). Prajurit perang saja takut, berani-beraninya anak kecil ini bicara begitu? Tidak ada yang percaya, termasuk Saul. &lt;i&gt;"Tetapi Saul berkata kepada Daud: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit."&lt;/i&gt; (ay 33). Tidak hanya dari pihak Israel, tapi dari pihak Goliat dan Filistin pun mengejeknya.&lt;i&gt; "Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud."&lt;/i&gt; (ay 43). Apakah Daud omong besar dan menyombongkan diri? Sama sekali bukan. Kita lihat Daud menjawab Saul sebagai berikut &lt;i&gt;"Pula kata Daud: "&lt;b&gt;TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 37). Dan kepada Goliat, Daud berkata&lt;i&gt; "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi &lt;b&gt;aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam&lt;/b&gt;, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."&lt;/i&gt; (ay 45). Daud yakin karena ia percaya bahwa Tuhan ada besertanya. Jika Tuhan telah berkali-kali menyatakan kuasaNya untuk melepaskan Daud dari hewan-hewan liar dan buas yang ingin memangsa ternaknya, maka untuk menghadapi Goliat pun Tuhan pasti bisa. Ini iman Daud kecil. Kita tahu apa yang terjadi sesudahnya. Daud dengan gemilang mengalahkan Goliat hanya berbekal satu batu dan ketapel. (Ay 50). &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Overcoming the odds&lt;/i&gt;, mengatasi kemustahilan, ini bukanlah omong kosong dan bisa terjadi kepada siapapun, termasuk kita, apabila kita melibatkan Tuhan di dalamnya. "Aku tidak bisa?" Mungkin ya, tapi bersama Tuhan kalimat itu seharusnya diganti dengan&lt;b&gt; "Aku Bisa!"&lt;/b&gt;. Sepanjang sejarah kekristenan bahkan hingga hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana mukjizat Tuhan sanggup bekerja melewati batas nalar atau kemampuan logika manusia. &lt;i&gt;"Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil"&lt;/i&gt; (Lukas 1:37), dan dengan demikian &lt;i&gt;"Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"&lt;/i&gt; (Markus 9:23). Ini berlaku bagi siapapun yang percaya, termasuk anda dan saya. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah dalam menghadapi masalah, terus tenggelam dalam kegagalan dan sulit untuk maju, terikat dalam berbagai trauma yang membuat kita tidak berani mencoba untuk bangkit. Kita boleh saja gagal, orang boleh saja mencemooh kita, namun itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita tidak boleh menyerah dan kehilangan pengharapan. Penulis Amsal berkata&lt;i&gt; "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana."&lt;/i&gt; (Amsal 24:16) Agar tidak gampang patah ketika menghadapi proses, lakukanlah itu semua dengan &lt;b&gt;mata yang tertuju pada Yesus &lt;/b&gt;(Ibrani 12:2) dan &lt;i&gt;"&lt;b&gt;Ingatlah selalu akan Dia&lt;/b&gt;, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, &lt;b&gt;supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 3). Apapun yang tantangan atau hambatan yang kita hadapi saat ini, hadapilah dengan semangat tinggi dan iman yang kuat. Bersama Tuhan, apa yang tidak bisa bagi pandangan dunia akan menjadi nyata. Saat ini mungkin semuanya terlihat tidak mungkin, saat ini mungkin kita sudah lelah disepelekan, tapi percayalah bahwa Tuhan mampu membuat perkara-perkara besar dalam hidup anda. Karena bagiNya, tidak ada yang mustahil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Overcoming the odds is possible when God dwells within you &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6840218887244944255?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anak Raja Berhati Hamba</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/anak-raja-berhati-hamba.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 08 Nov 2009 08:00:00 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2418195686640023318</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 20:26&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="anak raja berhati hamba" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/anak-Raja-hati-hamba.jpg" /&gt;Setiap membaca lowongan kerja di koran saya sering tersenyum sendiri. Betapa&lt;i&gt; job requirement&lt;/i&gt; yang ada di Indonesia ini begitu mementingkan gelar ketimbang kemampuan. Untuk menjadi counter sales saja sudah banyak yang membutuhkan S1. Lalu kemana D3 atau mungkin lulusan SMA yang punya kemampuan yang karena satu dan lain hal tidak/belum bisa melanjutkan hingga meraih gelar sarjana? Dalam sebuah iklan lowongan pekerjaan saya pernah merasa bingung melihat permintaan mereka. Sarjana, usia maksimal 25 tahun, pengalaman minimal 3 tahun. Artinya yang mereka butuhkan adalah orang yang lulus kuliah di usia 22 tahun dan langsung bekerja. Serius atau tidak sih? Tapi memang seperti itulah gambaran lowongan pekerjaan yang ada sekarang. Kesimpulannya, apa yang dibutuhkan oleh perusahaan biasanya adalah orang yang berpendidikan cukup, punya pengalaman dan memiliki kemampuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya Yesus menulis iklan di koran, apa kira-kira yang akan Dia tulis? Sepertinya bukan gelar, tingkat pendidikan atu bukan juga pengalaman. Apa yang Dia akan minta adalah&lt;b&gt; hati yang mau melayani, hati seorang hamba yang mau merendahkan diri sedemikian rupa untuk melayani orang lain, bahkan yang paling hina sekalipun.&lt;/b&gt; Mari kita lihat Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan &lt;i&gt;Boanerges&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;anak-anak guruh&lt;/i&gt;. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu adalah demi memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini permintaan wajar dari seorang ibu yang sayang anak-anaknya. &lt;i&gt;"Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."&lt;/i&gt; (Matius 20:21). Yesus lalu menjawab, kata-Nya:&lt;i&gt; "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" &lt;/i&gt;(ay 22a). Yesus berbicara mengenai kesanggupan mereka untuk mengikuti Kristus dan untuk memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk&lt;i&gt; menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. &lt;/i&gt;(Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, &lt;i&gt;"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku."&lt;/i&gt; (Matius 10:38). Yohanes dan Yakobus pun menjawab bahwa mereka sanggup. Lalu Yesus menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Tapi jika ingin menjadi besar dan terkemuka, Yesus memberikan petunjuk penting. Yesus berkata, ketika pemerintah-pemerintah yang tidak mengenal Allah akan memerintah dengan tangan besi, menekan rakyatnya dengan keras karena mereka berkuasa, sebagai pengikut-pengikut Kristus tidaklah boleh demikian.&lt;i&gt; "Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi &lt;b&gt;pelayan&lt;/b&gt;mu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi &lt;b&gt;hamba&lt;/b&gt;mu" &lt;/i&gt;(ay 26-27). Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah&lt;b&gt; rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba.&lt;/b&gt; Sebab, &lt;i&gt;"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."&lt;/i&gt; (ay 28).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, &lt;i&gt;"Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya"&lt;/i&gt; (1 Petrus 5:6). &lt;b&gt;&lt;i&gt;The only way up is down.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Ini prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba. Maka saya senang menggambarkan diri kita sebagai anak Raja berhati hamba. Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: &lt;i&gt;"Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"&lt;/i&gt; (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? &lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."&lt;/i&gt; (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan. &lt;b&gt;&lt;i&gt;It's not about how high we rise, but it's about how low we go down.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Hanya orang dengan sikap seperti inilah yang akan mampu memuaskan Tuhan, Raja diatas segala raja. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelayan yang baik akan mementingkan kehendak tuannya bukan dirinya sendiri&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2418195686640023318?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hanya Satu Fokus Utama</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/hanya-satu-fokus-utama.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:00:02 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6722766925037441375</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 6:24&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="fokus utama, prioritas, Tuhan, mamon" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/hanya-satu-tuan.jpg" /&gt;Ada beberapa orang yang sanggup melakukan beberapa hal sekaligus dalam satu waktu yang sama. Misalnya &lt;i&gt;browsing &lt;/i&gt;di internet sambil &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt;, sambil menonton televisi, ada yang memanfaatkan waktu makan sambil membaca, dan sebagainya. Biasanya orang menyebut ini dengan &lt;i&gt;multitasking&lt;/i&gt;. Tapi meskipun kita sanggup melakukan beberapa hal sekaligus, tetap saja untuk hasil terbaik kita sebenarnya harus fokus berkonsentrasi pada satu &lt;i&gt;"task"&lt;/i&gt; saja dalam satu waktu. Jika tidak semuanya akan mendapat hasil yang tidak maksimal, atau mungkin akan memakan waktu yang justru lebih lama daripada menyelesaikannya satu persatu. Ketika santai mungkin saya bisa melakukan beberapa hal sekaligus, dalam artian yang saya kerjakan mungkin hanyalah hal-hal yang santai saja, namun ketika saya harus serius, seperti menulis renungan misalnya, saya harus fokus hanya pada menulis agar pikiran saya bisa terfokus, tidak bercabang-cabang dan hasil tulisannya bisa maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita pun demikian. Kita memang anak Raja, tapi kita tidak boleh bersikap sombong karenanya. Saya lebih suka menggambarkan posisi kita sebagai &lt;b&gt;anak Raja yang berhati hamba.&lt;/b&gt; Seorang hamba seharusnya mengabdi hanya pada satu tuan saja, tidak boleh lebih. Mengabdi berarti menjadikan sesuatu sebagai fokus utama. Mungkin bisa muncul beberapa tujuan yang ingin diraih, tapi dari sisi derajat atau tingkat kepentingan, tentu ada urutan yang paling atas yang kemudian disusul oleh urutan kedua, ketiga dan sebagainya. Apa yang saat ini tampil pada posisi teratas dalam daftar urut kita? Yesus mengingatkan hal ini dengan jelas lewat ayat bacaan hari ini. &lt;i&gt;"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. &lt;b&gt;Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Matius 6:24). Sesungguhnya manusia memang tidaklah seperti Tuhan yang mampu hadir dimana-mana dan mampu melakukan begitu banyak pekerjaan dalam waktu yang sama dengan hasil yang sempurna. Sebagai manusia kita ini terbatas. Tuhan Yesus menyatakan bahwa kita hanya bisa memilih untuk mengabdi kepada salah satu, kepada Allah atau kepada mamon, alias dewa uang. Mamon disini berarti lebih luas dari uang. Bisa diartikan juga sebagai harta kekayaan atau segala sesuatu keduniawian yang kita anggap penting. Jadi mana yang lebih kita dahulukan, apakah Allah atau mamon? Mungkin menjawab hal ini mudah, tapi dalam pelaksanaan seringkali kita menomorsatukan uang/harta ketimbang melayani atau mencari Tuhan. Kita tidak berdoa karena terlalu lelah bekerja, kita memilih untuk beristirahat di hari Minggu ketimbang bersama-sama saudara seiman menyembah Tuhan di gereja, dan sebagainya. "Daripada melayani lebih baik kita bekerja, jika tidak keluarga kita harus makan apa, emang bisa makan pelayanan?" kata seorang teman pada suatu hari. Ini semua menggambarkan bahwa Tuhan berada pada posisi kedua atau bahkan dibawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditegaskan Yesus adalah jelas, bahwa &lt;b&gt;pengabdian kita kepada Allah, Sang Pencipta yang begitu mengasihi kita sungguh harus total.&lt;/b&gt; Tidak boleh terbagi-bagi, tidak boleh berbarengan dengan keduniawian, tidak boleh terpecah, bercabang-cabang dan tidak boleh pula diletakkan pada urutan kedua. Kita memang harus bekerja, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga dan diri kita sendiri. Namun itu bukanlah hal yang paling utama, karena cepat atau lambat jika kita fokus kepada harta, kita akan menjadi budak harta pada suatu ketika. Apabila kita khawatir akan kondisi keuangan kita, kita tidak harus menjadi panik lalu bekerja serabutan tanpa memikirkan waktu. Apa yang harus kita lakukan justru sebaliknya, yaitu terlebih dahulu mencari Tuhan, karena Dialah sebenarnya yang menyediakan segala sesuatunya. Demikian firman Tuhan: &lt;i&gt;"Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu."&lt;/i&gt; (Matius 6:31-32). Tuhan tahu persis apa yang menjadi kebutuhan kita. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tuhan Yesus berkata:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 33). Kita justru harus mendahulukan atau memprioritaskan untuk mencari Kerajaan Allah. Ini berarti menomorsatukan Tuhan dalam kondisi atau situasi apapun. Bukan meninggalkan pekerjaan, meninggalkan keluarga, sahabat dan sebagainya, tapi apa yang dimaksud adalah meletakkan dan mengabdi kepada Tuhan pada prioritas di urutan pertama. Karenanya kita tidak perlu khawatir akan hari esok, seperti apa yang kemudian dilanjutkan Kristus: &lt;i&gt;"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."&lt;/i&gt; (ay 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang hari ini menjadi tuan dalam diri kita? Siapa yang menjadi fokus utama dalam kehidupan kita? Apakah Tuhan, atau hal lainnya seperti harta, karir, kedudukan, hobi, dan sebagainya? Apakah kita sudah menempatkan Tuhan pada posisi selayaknya di urutan pertama, atau kita masih mencoba untuk meletakkan Tuhan pada urutan yang sama dengan hal-hal lainnya, menempatkan Tuhan pada satu dari sekian posisi multitasking kita? &lt;b&gt;Apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, itulah sebenarnya yang menjadi tuan kita.&lt;/b&gt; Tuhan begitu mengasihi kita. Kita jauh lebih berharga dibanding segala ciptaannya yang lain. Lihatlah apa kata Daud berikut ini &lt;i&gt;"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"&lt;/i&gt; (Mazmur 8:4-5). Sampai-sampai Tuhan merelakan anakNya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dari kematian akibat dosa-dosa. Maka sudah selayaknyalah jika Tuhan kita prioritaskan pada posisi pertama. Mari kita perhatikan diri kita hari ini, apa yang menjadi prioritas di posisi teratas, dan pastikanlah bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang menjadi fokus utama pengabdian kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hamba tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, manakah yang kita pilih?&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6722766925037441375?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Secangkir Air Sejuk</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/secangkir-air-sejuk.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 06 Nov 2009 08:00:07 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4729774190178411535</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 10:42&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="secangkir air sejuk, melayani, pelayanan, orang kecil" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/secangkir-air-sejuk.jpg" /&gt;Beribadah ke gereja setiap hari Minggu? Pasti. Tapi melayani? Tunggu dulu. Saya kan banyak pekerjaan, masa hari Minggu pun saya harus bekerja? Pikiran seperti ini banyak menghinggapi anak-anak Tuhan. Betapa sulitnya untuk melayani, seolah-olah itu adalah beban berat yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Tidak terpanggil, tidak berminat, tidak punya kemampuan, tidak berbakat, sudah terlalu sibuk, itu sering juga menjadi alasan untuk menolak. Itu masih melayani di gereja, yang mungkin letaknya pun di tengah kota atau berdekatan dengan rumah. Di saat kita berhitung untung rugi dari terpakainya waktu, tenaga dan mungkin uang, lihatlah orang-orang yang mengikuti panggilan Tuhan kepada diri mereka untuk melayani di tempat-tempat yang jauh dari kenyamanan. Seorang teman melayani sebuah suku di pedalaman, suku Anak Dalam. Bayangkan ia harus mengikuti kelompok-kelompok dalam suku ini yang punya kebiasaan berpindah-pindah alias nomaden. Terkena malaria itu biasa, katanya. Setidaknya enam bulan sekali ada saja yang terjangkit penyakit ini. Belum lagi penyakit-penyakit lainnya. Jauh dari keramaian, jauh dari kenikmatan dunia, jauh dari mudah, tapi itulah panggilannya, dan itu yang ia jalani. Atau lihatlah sekelompok anak muda yang menerima panggilan untuk melayani anak-anak jalanan. Mudah? Tentu tidak. Mereka harus berhadapan dengan penolakan, atau ketidakdisplinan, kecurigaan dan berbagai hambatan-hambatan lain. Apakah itu menghentikan mereka? Tidak. Mereka jalan terus dalam keterbatasan dan kesulitan yang mereka alami. Ada juga yang ternyata mendapat panggilan untuk mengurus gelandangan dan orang kurang waras, bahkan waria. Bisakah anda bayangkan bagaimana berat tantangannya? Ini medan yang sungguh sulit. Tapi ada orang-orang yang rela mengambil jalan itu dengan sukacita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua gambaran nyata mengenai pelayanan yang dilakukan oleh orang-orang yang mendapat panggilan untuk masuk ke dalam komunitas-komunitas yang sulit itu. Ini adalah komunitas-komunitas yang mungkin tertolak dan tidak dipedulikan oleh dunia. Anak jalanan, gelandangan, orang kurang waras, waria, wanita malam, semua kelompok ini kita temui sehari-hari di jalan. Pedulikah kita dengan mereka? Mereka ini adalah manusia juga, sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama berhak untuk beroleh keselamatan seperti halnya kita. Ini contoh ekstrim yang benar-benar ada yang menjalankan, dan saya tahu tidak semua orang mendapat panggilan seperti ini. Tapi saya tahu pula bahwa Tuhan memberikan panggilan kepada setiap orang. Tatanan melayani pun sesungguhnya sudah diberikan Tuhan. Untuk memenuhi Amanat Agung, sebenarnya kita tidak harus langsung membuat sesuatu yang spektakuler atau benar-benar ekstrim. Jika ingin melayani Tuhan, kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana. Lihatlah ayat bacaan hari ini yang berasal dari perkataan Kristus sendiri. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Matius 10:42). Sekedar memberikan &lt;b&gt;"secangkir air sejuk"&lt;/b&gt; bagi orang-orang yang dipinggirkan, tertolak atau juga yang kekurangan. Hal sederhana dan kecil seperti ini saja merupakan pelayanan yang berharga di mata Tuhan, begitu berharga sehingga upah pun disediakan bagi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dijanjikan Tuhan Yesus kepada kita orang percaya sesungguhnya besar. &lt;i&gt;"Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."&lt;/i&gt; (Markus 16:17-18). Ini disediakan kepada orang-orang percaya. Namun sekedar memberikan secangkir kesejukan pun sudah berharga di matanya. Alangkah ironisnya jika tanda-tanda sebesar itu yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita sama sekali tidak kita manfaatkan, bahkan tidak kita pakai secangkir kecil sekalipun. Tuhan Yesus mengingatkan juga dalam kesempatan lain seperti ini:&lt;i&gt; "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku."&lt;/i&gt; (Matius 25:40). Segala sesuatu, besar atau kecil, sulit atau mudah, rumit atau sederhana, apapun itu, artinya kita telah melakukannya bagi Kristus. Sebaliknya apa yang terjadi jika kita tidak melakukan apa-apa? &lt;i&gt;"Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."&lt;/i&gt; (ay 45-46). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadi panggilan anda? Melayani tidaklah harus selalu dilakukan secara ekstrim, harus berupa sesuatu yang fenomenal, ajaib atau spektakuler. Melayani tidaklah harus selalu berupa hal-hal yang rumit. Dan &lt;b&gt;jangan pula dilakukan hanya terbatas dalam gedung gereja saja.&lt;/b&gt; Memberi secangkir air sejuk kepada orang yang terbuang atau terhilang, itupun merupakan pelayanan yang berharga. Sesungguhnya pelayanan janganlah terbatas oleh tembok gereja. Tidak salah untuk melayani di gereja, itu sungguh baik. Tapi jika kita mengingat Amanat Agung yang diberikan Kristus sendiri,&lt;i&gt; "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu"&lt;/i&gt; (28:20), sudah seharusnya kita juga &lt;b&gt;mempedulikan mereka-mereka yang berada di luar tembok gereja.&lt;/b&gt; Terutama unuk melayani kaum, kelompok atau komunitas yang "kecil" ini. Mereka tertolak, terhina, tidak dipedulikan. Mereka butuh sentuhan kasih dan kepedulian dari sesamanya. Secangkir air sejuk mungkin tidak berarti banyak bagi kita, namun bisa sangat berarti bagi mereka. Maukah kita memberikan sedikit waktu dan perhatian kita, sedikit keluar dari zona kenyamanan kita untuk membagi berkat kepada mereka? Kristus mengasihi mereka sama seperti Dia mengasihi kita, oleh karenanya jadilah saluran berkat agar merekapun bisa merasakan betapa besar kasih Kristus kepada mereka semua lewat kita murid-muridNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Secangkir air sejuk akan sangat besar nilainya&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4729774190178411535?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Orang Tua Bijak</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/orang-tua-bijak.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 05 Nov 2009 08:00:01 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2239475552320233706</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 29:17&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="orang tua bijak, investasi masa depan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/orangtua-bijak.jpg" /&gt;Ada begitu banyak musisi besar yang terbentuk sejak kecil. Sebagian mewarisi DNA orang tuanya yang juga pemusik, sebagian lagi menemukan bakatnya ketika orang tua mereka membelikan mereka alat musik. Pada suatu kali seorang anak mendapati piano dipindahkan ke dalam kamarnya. Disana sang ibu sering bermain piano dan mengajarkannya bermain. Berawal dari sana, si anak ternyata menemukan bakatnya. Disamping piano, ia pun sering bermain-main dengan gitar ayahnya. Berbagai pengalaman terus membentuknya seiring sang anak menjadi dewasa. Ia pun kemudian menjelma menjadi salah satu musisi yang sangat terkenal hari ini. Dia adalah David Benoit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tanggung jawab untuk menyekolahkan dan memberi makan anak-anak kita, pentingnya mendidik dan mendewasakan mereka, menyiapkan mental mereka sejak kecil pun menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Ada banyak orang tua melupakan aspek ini karena mereka terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara materil saja. Banyak orang tua terutama ayah yang jarang di rumah karena terlalu sibuk bekerja, dan ketika mereka di rumah mereka tidak lagi punya waktu untuk bermain atau mendidik anak-anaknya karena sudah terlalu lelah bekerja. Kelelahan pun seringkali membuat mereka gampang emosi. Sedikit saja ada yang tidak beres, amarah pun meledak sehingga anak-anak menjadi takut melihat mereka. Ketika anak mereka terjerumus ke dalam berbagai perilaku buruk, mereka pun menjadi heran. "Bukankah aku sudah mati-matian mencukupi semua kebutuhanmu? Lalu apalagi yang kurang?" Ini keluhan banyak orang tua ketika mereka mendapati anaknya terjatuh dalam kehidupan yang salah. Mereka lupa bahwa mempersiapkan anak sejak kecil agar bertumbuh di tanah yang baik merupakan investasi yang sangat menguntungkan ke depannya. Karena itulah penulis Amsal berkata: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 29:17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Timotius bisa menjadi seorang pemimpin gereja pada usia mudanya? Dalam usia yang masih sangat muda, Timotius sudah dikenal sebagai anak rohani Paulus yang kemudian menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Alkitab mencatat semua itu berawal dari nenek Timotius yaitu Lois. Iman sang nenek, Lois kemudian turun kepada ibunya, Eunike, dan kemudian diwariskan pula kepada Timotius sang anak. Alkitab mencatat demikian &lt;i&gt;"Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu"&lt;/i&gt; (2 Timotius 1:5). Kita bisa melihat bahwa peran nenek dan ibu Timotius sungguh besar dalam memberi keteladanan kepadanya, membekali dirinya dengan firman Tuhan sehingga ia pun bertumbuh benar sejak kecil dan kemudian dipakai Tuhan dengan luar biasa sejak masa mudanya. Timotius menjadi orang benar bukan karena kotbah penginjil, tapi justru lewat peran nenek dan ibunya yang membimbing Timotius, mengenalkannya dengan firman Tuhan semenjak kecil. Paulus mengingatkan kepada Timotius bahwa tugasnya sesungguhnya tidaklah mudah.&lt;i&gt; "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan."&lt;/i&gt; (3:12-13) Agar bisa tetap kuat dan teguh dalam pelayanan, Paulus pun menasehati Timotius untuk terus berpegang kepada kebenaran seperti yang telah diajarkan oleh ibu dan neneknya sejak kecil. &lt;i&gt;"Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus."&lt;/i&gt; (ay 14-15). Lihatlah bagaimana besarnya keuntungan dari investasi iman yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak-anak mereka menuju kedewasaan.&lt;/b&gt; Mungkin banyak orang tua yang mengajar anak-anaknya sejak kecil lewat firman Tuhan, namun apa yang mereka contohkan dalam perilaku sehari-hari justru menggambarkan sebaliknya. Hal itu tidak akan memberi keteladanan yang baik kepada si anak. Ada banyak pula orang tua yang bersikap otoriter, memaksakan kehendak mereka dan tidak jarang menimbulkan kepahitan dalam jiwa anak-anaknya. Paulus pun mengingatkan akan hal ini: &lt;i&gt;"Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." &lt;/i&gt;(Kolose 3:21) dan dalam kesempatan lain ia berkata: &lt;i&gt;"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan."&lt;/i&gt;  (Efesus 6:4). Jika kita ada di posisi anak, jangan pula kita menolak ajaran yang diberikan orang tua kita. &lt;i&gt;"Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu".&lt;/i&gt; (Amsal 1:8). &lt;b&gt;Ingatlah bahwa membekali anak dengan firman Tuhan akan sangat menentukan bagi masa depan anak-anak kita.&lt;/b&gt; Mungkin tidak gampang untuk bisa menunjukkan keteladanan di tengah pergolakan hidup yang begitu sulit. Saya menyadari sulitnya mengemban begitu banyak tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua, namun jika hal itu bisa memberikan investasi yang sangat menguntungkan bagi masa depan anak-anak kita, mengapa tidak? Jika kita mendidik anak kita dengan benar sejak dini sesuai dengan jalan Tuhan, dan memberikan mereka keteladanan bagaimana cara hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, pada satu saat nanti kita sebagai orang tua akan mendapatkan ketentraman dan sukacita melihat pola hidup mereka. Ingatlah bahwa anak-anak kita akan selalu memperhatikan cara hidup kita tanpa disadari, dan memberi contoh hidup yang baik, kudus dan benar akan membuat mereka menjadi anak-anak yang mengenal Tuhan sejak usia mudanya. Jadilah orang tua bijak. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan akan firman Tuhan yang ditanamkan sejak kecil merupakan investasi yang menguntungkan bagi masa depan anak&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2239475552320233706?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anak Allah</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/anak-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 04 Nov 2009 08:00:01 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5952893606037753500</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Roma 8:17&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="anak Allah, anak Raja" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/anak-Allah.jpg" /&gt;Ingat lagu rohani yang kerap diajarkan di sekolah minggu berjudul &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Aku Anak Raja"? &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Lagu ini begitu sederhana sehingga mudah sekali diingat oleh anak-anak. tetapi apa yang diingatkan di dalam lagu ini sesungguhnya begitu penting, bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk orang dewasa, untuk anda dan saya. Banyak orang yang lupa statusnya, berpikir bahwa mereka bukanlah siapa-siapa. Berbuat salah pun menjadi hal yang biasa, tidak peduli bahwa perbuatan itu bisa mempermalukan Bapanya. Status yang kita sandang tidaklah main-main. Anak Raja. Layaknya pangeran di sebuah istana, jika pangeran itu berbudi dan mengasihi, maka harum pula nama ayahnya, sang raja. Sebaliknya, meskipun raja baik tapi pangeran punya perilaku buruk, maka nama ayahnya pun akan turut tercoreng. Di kehidupan sehari-hari sikap anak pun bisa mempengaruhi penilaian orang akan orang tuanya. Lihatlah komentar orang jika melihat ada anak yang bandel. "aduh bandelnya... anak siapa sih ini?" Komentar seperti ini sungguh sering kita dengar. Apa yang diperbuat seorang anak sedikit banyak akan selalu berdampak pada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Tuhan sesungguhnya besar.&lt;b&gt; Status kita sebagai anak berarti pula bahwa kita adalah ahli waris, yang artinya kita dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang telah disediakan Allah sebagai Bapa. &lt;/b&gt;&lt;i&gt;"Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."&lt;/i&gt; (Roma 8:17). Ini sebuah status terhormat yang seharusnya kita hargai lebih dari apapun. Jika kita bisa bangga menjadi anak dari orang tua kita, apalagi menjadi anak Allah. Tapi sayangnya banyak orang yang tidak memperhitungkan anugerah Tuhan yang begitu luar biasa besarnya ini. Untuk itulah hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan sudah sejauh mana kita berlaku selayaknya anak Raja, alias anak Allah. Apakah apa yang kita lakukan sudah memuliakan Tuhan, sehingga orang mengenal Kristus yang sebenarnya, atau malah kita terus menjadi batu sandungan sehingga Kristus pun menjadi tercoreng karena sikap kita yang tidak baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai anak Allah, siapa sebenarnya yang disebut sebagai anak Allah itu? alkitab mencatat beberapa ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Dipimpin Roh Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah....Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah." (Roma 8:14,16). &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Allah adalah orang yang dipimpin langsung oleh Roh Allah. Roh yang dijanjikan Tuhan Yesus sebagai Penolong untuk menyertai kita selama-lamanya. (Yohanes 14:16). Kehidupan &lt;br /&gt;anak-anak Allah adalah kehidupan yang selalu disertai oleh Roh Kudus dalam setiap perbuatan dan perilaku sehari-hari. Roh Kudus diberikan kepada siapapun yang menjadi anak Allah yang sejati. &lt;i&gt;"Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!"&lt;/i&gt; (Galatia 4:6). &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Dibaptis dalam nama Yesus Kristus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus."&lt;/i&gt; (Galatia 3:26-27). Memberi diri dibaptis adalah sebuah langkah ketaatan dalam iman akan Kristus. Mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dan merupakan lambang menenggelamkan (meninggalkan) hidup kita yang lama untuk kemudian lahir baru, menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Predikat anak Allah diberikan Tuhan kepada kita ketika kita memberi diri dibaptis dalam Kristus dan mengijinkan Kristus bertahta dan berkuasa dalam hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Mengasihi Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah." (1 Korintus 8:3)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak Allah adalah orang-orang yang hidup dalam kasih. Apapun yang ia perbuat adalah karena Tuhan, bukan karena ingin populer, ingin terlihat hebat, atau jenis-jenis motivasi lainnya selain untuk Tuhan. Sibuk melakukan pekerjaan Tuhan belum tentu menjamin seseorang dikenal Tuhan apabila semua itu dilakukan bukan karena mengasihi Allah. (Matius 7:21-23). Anak-anak Allah juga dikatakan sebagai orang yang &lt;i&gt;mengasihi Allah serta melakukan perintahNya sebagai wujud kasih itu.&lt;/i&gt; (1 Yohanes 5:2-3). Dan tentunya jika kita mengasihi Allah, kita pun akan &lt;i&gt;menuruti segala perintahNya. &lt;/i&gt;(Yohanes 14:15). Ini berhubungan dengan ciri berikutnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Taat kepada Allah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih."&lt;/i&gt; (Efesus 5:1-8)&lt;br /&gt;Ketaatan tidak bisa dimulai jika kita tidak mengenal pribadi Allah. Oleh karena itu kita perlu mengenal siapa Allah itu sesungguhnya, bagaimana besarnya Dia mengasihi kita dan betapa kita berharga di mataNya. Untuk mengenalnya kita perlu membaca, merenungkan firman-firman Tuhan dalam alkitab, juga dengan serius mendengarkan kotbah, membekali diri dengan bacaan-bacaan rohani lainnya, secara teratur berdoa, mencari Tuhan dengan segenap hati dan sebagainya. Tapi jangan berhenti di situ, karena setelahnya kita harus pula menjadi pelaku-pelaku firman yang mengaplikasikan segala yang telah kita pelajari ke dalam kehidupan nyata. &lt;i&gt;"Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."&lt;/i&gt;(Yakobus 1:25) Dalam 1 Yohanes 5:2-3 di atas kita melihat juga bahwa anak-anak Allah itu adalah orang yang dengan &lt;i&gt;taat melakukan firmanNya sebagai pernyataan kasih kita kepadaNya. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Hidup dalam terang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,"&lt;/i&gt; (Efesus 5:8). Sebelum bertobat kita hidup dalam kegelapan. Tapi setelah kita meninggalkan manusia lama kita dan lahir kembali sebagai ciptaan baru, kitapun beroleh terang dalam Tuhan. Oleh karena itulah kita dituntut untuk hidup sebagai anak-anak terang, dan inilah salah satu ciri yang dimiliki anak Allah. &lt;i&gt;Menjadi anak terang berarti menjadi orang yang berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam hidupnya.&lt;/i&gt; (ay 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpindah dari gelap ke dalam terang, dari bukan siapa-siapa menjadi anak Raja, itu anugerah Tuhan yang sangat besar yang Dia berikan kepada kita. Dan dengan demikian kita pun menjadi ahli waris Allah.&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Galatia 4:7). Apakah kita sudah memiliki ciri sebagai anak Allah di atas? Marilah kita sama-sama bersyukur dan menjaga anugerah begitu besar yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Hiduplah sebagai anak-anak Allah yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;aku anak Raja, engkau anak Raja, kita semua anak Raja&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5952893606037753500?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengenal Allah</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/mengenal-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 03 Nov 2009 08:00:01 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1688173328136676061</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Hosea 4:6a&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengenal Allah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mengenal-Allah.jpg" /&gt;Dalam ujian pembuatan SIM, apabila kita melakukannya dengan benar, tidak melewati calo, maka kita akan dihadapkan pada sebuah ujian mengenai pengenalan akan rambu-rambu lalu lintas. Ujian ini sesungguhnya sangat penting. Bayangkan apabila kita tidak mengetahui rambu, maka akan sangat riskan bagi kita untuk mengemudi di jalan raya. Selain membahayakan diri sendiri, kita pun bisa membayahakan nyawa orang lain. Belajar mengemudi memang penting, tapi tidak cukup hanya bisa mengoperasikan kendaraan saja. Pengetahuan umum mengenai rambu dan tata cara berkendara lainnya pun wajib kita ketahui jika kita mau selamat di jalan. Pengenalan yang benar akan menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal kerohanian pun demikian. Alangkah bahayanya jika kita tidak mengenal Allah. Mungkin kita berkata, kita sudah ke gereja, kita sudah berdoa, tapi ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan dan tradisi dan alasan lainnya. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal Allah, dan akibatnya bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hosea kita bisa melihat mengapa Israel jadi binasa. Kelakuan mereka akhirnya mendatangkan murka Tuhan. Alasannya jelas dikemukakan Tuhan. &lt;i&gt;"&lt;b&gt;Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Hosea pasal 4 berjudul &lt;i&gt;"Menentang imam dan bangsa yang tidak setia".&lt;/i&gt; Pasal ini dimulai dengan: &lt;i&gt;"Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini."&lt;/i&gt; (ay 1). Tiga alasan penting yang membuat Tuhan marah diberikan Tuhan disini: &lt;b&gt;Tidak setia, tidak ada kasih dan tidak mengenal Allah.&lt;/b&gt; Apa yang dilakukan orang Israel pada masa itu sungguh keterlaluan,&lt;i&gt; "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah."&lt;/i&gt; (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai semua anak-anak Tuhan. &lt;i&gt;"dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, &lt;b&gt;menjadi imam-imam bagi Allah&lt;/b&gt;, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin."&lt;/i&gt; (Wahyu 1:5-6). Semua ini membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel yang tegar tengkuk, kita bisa melihat bahwa menolak pengenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Ada banyak orang yang hanya mengandalkan pendeta atau pelayan Tuhan saja tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih jauh dalam hidupnya. Ada banyak yang menunda-nunda karena masih mau "menikmati" hidup, ada yang menganggap bahwa urusan kerohanian hanya urusan orang yang tua saja. Padahal Tuhan telah memperlihatkan bahwa tanpa keinginan untuk mengenal Dia akan membuat kita menuai bencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah belumlah mencerminkan usaha kita yang benar untuk mengenal Allah. Yesus menyinggung hal ini dengan keras. &lt;i&gt;"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga."&lt;/i&gt; (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup itu artinya tidak mengenal Tuhan.&lt;i&gt; "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?"&lt;/i&gt; (ay 22). Bahkan jika kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka kita pun akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan.&lt;i&gt; "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"&lt;/i&gt; (ay 23). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati dengan mengenal diriNya melalui firman-firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah buku usang yang ketinggalan jaman dan membosankan. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. &lt;i&gt;"Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."&lt;/i&gt;(Yakobus 1:25) Kemudian ingatlah bahwa kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. &lt;i&gt;"&lt;b&gt;Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.&lt;/b&gt; Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." &lt;/i&gt;(Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: &lt;i&gt;"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."&lt;/i&gt; (ay 6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita serius untuk lebih mengenal Allah? Teruslah kenali pribadiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Jangan berhenti disana, tapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengenal Allah akan menghindarkan kita dari kebinasaan&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1688173328136676061?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lewat Pertolongan Orang Lain</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/lewat-pertolongan-orang-lain.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 02 Nov 2009 08:00:01 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2804278737819496778</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Nehemia 2:7-8&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku." &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="lewat pertolongan orang lain" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pertolongan-orang-lain.jpg" /&gt;Beberapa waktu yang lalu saya sempat menyinggung mengenai orang yang membesar-besarkan kelebihannya untuk menutupi kelemahannya. Biasanya orang seperti ini tidak akan mau minta tolong kalau tidak benar-benar terdesak atau bahasa santainya, kepepet. Banyak sekali orang yang merasa malu untuk meminta tolong kepada orang lain. Mungkin karena gengsi, tapi tidak sedikit pula yang disebabkan rasa sungkan yang berlebihan. Ada seorang yang saya kenal hidup dengan rasa segan yang berlebihan, akibatnya ia tidak kunjung maju sampai sekarang. Minta tolong kepada orang lain itu adalah hal yang lumrah, jika kita lakukan dalam porsi wajar, bukan memanfaatkan kebaikan orang lain, bukan karena kita malas. Ada saat dimana kita butuh uluran tangan atau bantuan dari orang lain, dan tidak ada salahnya kita utarakan. Bahkan berkat Tuhan pun mungkin bisa tersalurkan lewat orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat cuplikan awal kisah Nehemia. Nehemia termasuk satu dari sekelompok orang Yehuda yang kembali dari pembuangan di Babel seperti yang tercatat pada kitab Ezra 2:2. Nehemia hidup ketika Yehuda menjadi bagian dari Persia. Pada saat itu Nehemia termasuk beruntung karena memiliki posisi yang cukup baik, yaitu sebagai juru minuman raja. Jabatan ini tentu menjadikannya memiliki hubungan yang relatif cukup dekat dengan sang raja Persia waktu itu, raja Artahsasta. Pada suatu hari ia mendengar berita mengenai keadaan orang-orang sebangsanya yang telah kembali dari pembuangan. Apa yang ia dengar adalah mengenaskan. Sementara ia cukup beruntung, ternyata saudara-saudara sebangsanya justru menderita dalam kesengsaraan berat. &lt;i&gt;"Kata mereka kepadaku: "Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar."&lt;/i&gt; (Nehemia 1:3). Mendengar itu, Nehemia pun menangis dan berkabung berhari-hari. Nehemia bisa saja cuek, karena dia sebenarnya sudah "selamat" dan hidup berkecukupan. Tapi tidak, Nehemia merasakan kepedihan yang dirasakan bangsanya. Apa langkah-langkah yang ia lakukan? Pertama, &lt;b&gt;Nehemia berpuasa dan berdoa.&lt;/b&gt; Itulah yang pertama ia lakukan. Doanya tidak saja memohon ampun bagi bangsanya, tapi juga pembersihan atau pertobatan dari dosa-dosanya sendiri. Ia tahu bahwa doanya tidak akan punya pengaruh apabila ia sendiri belum bersih dari dosa. &lt;i&gt;"berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu,&lt;b&gt; dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 6). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dalam Nehemia pasal 2 kita lihat kisah selanjutnya. Pada suatu hari, empat bulan kemudian, ketika Nehemia tengah menghidangkan anggur bagi raja Artahsasta, sang raja melihat wajah Nehemia yang murung. Ia pun bertanya kepada Nehemia, apa gerangan yang terjadi. (ay 1-2). Nehemia pun menceritakan rasa sedihnya melihat kehancuran bangsanya. (ay 3). Raja Artahsasta lalu menawarkan bantuan. Ia bertanya apa kiranya yang dapat ia bantu? &lt;b&gt;Nehemia kembali berdoa dalam hatinya.&lt;/b&gt; (ay 4). Dan setelah berdoa, ia pun &lt;b&gt;menyampaikan dengan jujur bahwa ia butuh pertolongan dari raja.&lt;/b&gt; Nehemia tidak berpangku tangan, dia tidak pula merasa mampu segalanya. Dia tahu bahwa dia butuh pertolongan raja untuk bisa membangun kembali Yerusalem. &lt;i&gt;"Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku."&lt;/i&gt; (ay 7-8). Raja pun mengabulkan hal itu. Tidaklah sulit bagi raja untuk membuat surat-surat itu, sementara Nehemia tidak dalam kapasitas untuk melakukannya. Berawal dari situlah kita tahu kemudian bagaimana Nehemia membangun kembali Yerusalem yang sudah hancur lebur dengan luar biasa. Apakah itu semua semata-mata karena keberuntungan? Tidak. Nehemia tahu pasti bahwa itu semua adalah&lt;b&gt; berkat tangan Allah yang murah melindunginya.&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Tuhan menyalurkan berkatNya kepada Nehemia lewat perantaraan raja Artahsasta.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari Nehemia mengenai dua hal. Pertama, ketika kita masuk ke dalam "lembah Baka" (air mata), hal terpenting adalah &lt;b&gt;mencari Tuhan terlebih dahulu.&lt;/b&gt; Berdoalah, dan kuduskanlah diri terlebih dahulu dengan mengakui segala dosa-dosa yang masih mengotori diri kita. Lalu setelah itu,&lt;b&gt; jangan malu untuk memohon bantuan orang lain&lt;/b&gt; yang punya kapasitas lebih dari kita. Kita lihat bahwa Tuhan bisa menyalurkan berkatNya bagi pekerjaan Nehemia lewat sosok orang lain, dalam hal ini lewat raja Artahsasta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya kita Tuhan memampukan kita untuk melakukan sesuatu dengan sendirian, tapi dalam banyak kesempatan Tuhan pun menyalurkan berkatNya lewat tangan orang lain. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa sebagai manusia kita ini terbatas kemampuannya. Tuhan sendiri sejak awal telah menetapkan kita untuk tidak hidup sendirian. Kita adalah mahluk sosial yang selalu butuh berinteraksi dan saling dukung, saling bantu, untuk bisa mencapai sukses. Hidup dengan gengsi, keangkuhan, kesombongan, atau di sisi lain hidup dengan rasa sungkan dan segan yang berlebihan cepat atau lambat akan membuat kita jalan di tempat, kalau bukan semakin mundur. Lihatlah apa kata firman Tuhan berikut ini: &lt;i&gt;"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."&lt;/i&gt; (Galatia 6:2). Hukum Kristus terpenuhi jika kita saling bertolong-tolongan dalam memikul beban bersama-sama. Bagaimana mungkin orang bisa menolong jika kita sendiri hanya diam saja dan tidak mau mengakui bahwa kita butuh bantuan? Oleh karena itu hindarilah sikap tinggi hati, sombong atau sebaliknya rasa sungkan yang terlalu berlebihan. Tidak ada salahnya untuk memohon bantuan apabila perlu, tapi sebelumnya berdoalah, tanyakan kepada Tuhan apa yang harus kita lakukan, mendengar dan mengikuti apa yang diinstruksikan Tuhan. Kepada jemaat Galatia kemudian dikatakan demikian:&lt;i&gt; "Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri."&lt;/i&gt; (ay 3). Jika kita merasa mampu segalanya, padahal sebenarnya kita tengah butuh bantuan, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari Nehemia, kita bisa melihat bagaimana pentingnya berdoa di saat kita tengah mengalami permasalahan. Tidak peduli sederas apa curahan hujan air mata kita hari ini, Tuhan mampu mengubah itu semua menjadi hujan berkat. &lt;i&gt;"Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat."&lt;/i&gt; (Mazmur 84:7). Dan ini berlaku bagi orang yang &lt;i&gt;menggantungkan segenap kekuatan serta hidupnya ke dalam tangan Tuhan.&lt;/i&gt; (ay 6). Nehemia tidak merasa sungkan untuk memohon pertolongan dari orang lain ketika Tuhan menghendaki demikian, ia tidak malu mengakui bahwa ia membutuhkan pertolongan, demikian pula kita sebaiknya bersikap agar hukum Kristus dapat terjadi. Sekali lagi, Tuhan mampu memberkati anda secara luar biasa baik secara langsung maupun lewat orang lain. &lt;i&gt;We are all only human afterall.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tuhan bisa menurunkan berkatNya secara langsung, tapi terkadang memilih untuk menyalurkannya lewat orang lain&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2804278737819496778?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kuat Dalam Tuhan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/11/kuat-dalam-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 08:01:03 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5156698784502563454</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mazmur 84:8&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="semakin kuat dalam Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kuat-dalam-Tuhan.jpg" /&gt;Hari ini saya melihat anak salah seorang pegawai di kampus yang masih balita bermain dengan bola karet. Bola itu ia gulirkan kesana kemari, bergulir dari satu sisi ke sisi lain. Apa yang terjadi pada bola itu pada akhirnya? Jelas, bola akan menjadi semakin perlahan dan akhirnya berhenti. Tidak peduli secepat apa bola itu digulirkan di atas bidang datar, dengan sendirinya bola akan melambat, dan tidak akan pernah bertambah cepat. Semakin bola bergulir, semakin pelanlah bola itu hingga akhirnya berhenti. Melambat, merosot, memudar, itu sudah menjadi hukum alam. Demikian pula kita. Seiring perjalanan waktu, kekuatan, daya tahan tubuh akan merosot. Daya ingat akan berkurang, kemampuan dan kekuatan kita pun akan berkurang. Menarik jika kita melihat ayat bacaan hari ini. Dikatakan: &lt;i&gt;"Mereka berjalan &lt;b&gt;makin lama makin kuat&lt;/b&gt;, hendak menghadap Allah di Sion."&lt;/i&gt; (Mazmur 84:8). Ayat ini berlaku bagi &lt;b&gt;orang yang kekuatannya di dalam Tuhan.&lt;/b&gt; (ay 6). Artinya, apa yang tertulis pada Mazmur 84:8 ini bertolak belakang dengan hukum alam. Jika demikian, hal ini tentu merupakan sebuah mukjizat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa melihat sosok &lt;b&gt;Kaleb&lt;/b&gt;. Kaleb adalah satu dari 12 pengintai yang dikirim oleh Musa untuk mengintai situasi Kanaan seperti yang tercantum dalam Bilangan 13. Diantara 12 orang itu, 10 orang pesimis, hanya Kaleb dan Yosua-lah yang optimis dan percaya pada Tuhan. Kaleb tahu bahwa kekuatan Tuhan ada di atas kekuatan siapapun mahluk di bumi ini. Jika ia meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan, dan apa yang ia hadapi sesuai janji Tuhan, maka tidak ada kata untuk gagal. Itu yang Kaleb percaya. Mari kita melompat ke depan untuk melihat Kaleb 45 tahun kemudian. Saat itu Kaleb sudah tua, tepatnya berusia 85 tahun, dan pada saat itulah ia menerima janji Tuhan bahwa ia merupakan satu-satunya dari angkatan 45 tahun yang lalu yang berhasil masuk ke tanah Kanaan seperti yang tertulis pada Ulangan 1:34-36. Mari kita lihat penggalan kata-kata Kaleb berikut:&lt;i&gt; "&lt;b&gt;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.&lt;/b&gt;" &lt;/i&gt;(Yosua 14:11). Aku masih sekuat 45 tahun yang lalu, aku masih siap berperang dengan tenaga yang sama seperti dahulu. Demikian kira-kira kata Kaleb. Ini orang berumur 85 tahun yang berbicara. Bagaimana mungkin? Pada Kaleb, ternyata hukum alam tidak terjadi. Pada diri Kaleb ada mukjizat Tuhan. Ini berlaku kepadanya, karena dia merupakan &lt;b&gt;orang yang selalu meletakkan kekuatannya dan dirinya secara keseluruhan di dalam Tuhan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukjizat adalah keajaiban yang terjadi dari kuasa Tuhan yang mampu melampaui hukum alam. Ketika hukum alam membuat segala sesuatu melambat, merosot, memudar dan berkurang dalam perjalanan waktu, mukjizat Tuhan mampu melakukan sebaliknya! Dan lewat Kaleb kita menyaksikan hal itu. Lihat apa yang tertulis di antara dua ayat Mazmur di atas.&lt;i&gt; "Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat."&lt;/i&gt; (Mazmur 84:7). Mukjizat Tuhan ternyata tidak hanya berbicara mengenai kekuatan yang tidak merosot dimakan usia, tapi juga berbicara mengenai mukjizat Tuhan untuk mengubah lembah Baka (artinya lembah air mata) menjadi lembah penuh berkat, menjadi lembah yang penuh sukacita. Ini pun janji Tuhan kepada orang yang meletakkan kekuatannya di dalam Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada jemaat Efesus, Paulus mengingatkan mereka pula akan hal ini. Paulus tahu bahwa manusia akan melemah, iman dan kasih pada Tuhan bisa merosot dari waktu ke waktu. Karena itulah Paulus berpesan agar jemaat Efesus tetap kuat dengan meletakkan kekuatan mereka di dalam Tuhan.&lt;i&gt; "Akhirnya, hendaklah kamu &lt;b&gt;kuat di dalam Tuhan&lt;/b&gt;, di dalam &lt;b&gt;kekuatan kuasa-Nya&lt;/b&gt;."&lt;/i&gt; (Efesus 6:10). Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula agar tidak menjadi lemah karena tugas yang diemban Timotius di usia mudanya sesungguhnya tidaklah mudah. Kata Paulus:&lt;i&gt; "Sebab itu, hai anakku,&lt;b&gt; jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (2 Timotius 2:1). Jika mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri, itu artinya kita menyerahkan diri kita kepada hukum alam, dimana kita akan terus merosot dan akhirnya berhenti. Agar itu tidak terjadi, sekali lagi kita harus meletakkan kekuatan kita ke dalam Tuhan. Jadilah kuat bukan karena kehebatan kita, tapi oleh kasih karunia dalam Yesus Kristus. Inilah yang akan mendatangkan mukjizat melampaui hukum alam sehingga kita bisa mengalami sesuatu yang luar biasa seperti apa yang dialami Kaleb. Iman kita bisa merosot, tenaga kita bisa menurun, kekuatan kita bisa berkurang, daya ingat bisa melemah, kasih mula-mula bisa menghilang, jika kita tidak menyerahkan diri kita ke dalam tangan Tuhan dan bergantung pada kekuatan kita sendiri. Tapi ketika kita menyerahkan hidup ke dalam tangan Tuhan, percaya dan bergantung sepenuhnya kepadaNya, mengikuti rencanaNya meski mungkin pada mulanya terasa berat, Tuhan akan selalu memberi kekuatan. Karenanya, tetaplah berjalan bersama Tuhan, dan andalkanlah Tuhan dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan. Dan hiduplah dengan benar dan kudus. Jika ini kita lakukan maka kita tidak akan hidup dengan dibatasi oleh lingkungan, situasi dan kondisi sekitar, melainkan &lt;b&gt;hidup penuh dengan terobosan-terobosan dan mukjizat Ilahi. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alami terobosan dan mukjizat yang berlawanan dengan hukum alam dengan meletakkan kekuatan di dalam Tuhan&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5156698784502563454?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Secangkir Teh buat Tuhan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/secangkir-teh-buat-tuhan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 08:00:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7828036315172889793</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Hosea 6:6&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="menyenangkan hati Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/menyenangkan-tuhan.jpg" /&gt;Seorang teman bercerita bahwa salah satu yang paling membuatnya bahagia adalah ketika anaknya berlari menyambutnya sepulang kerja. Seorang ayah tentu akan merasa sangat bahagia ketika anak-anak mereka menyambut kepulangan mereka dengan tersenyum, memeluk, atau malah membuatkan secangkir teh hangat dan memijati pundak sang ayah sambil bercerita tentang hari-harinya di sekolah. Tentu hal itu sangat menyenangkan bukan? Saya yakin tidak ada satupun ayah yang tidak merasa bahagia ketika anak-anak menunjukkan kasih sayang mereka dengan penuh sukacita. Apa yang dialami oleh teman saya itu pernah saya alami juga, tapi dalam posisi yang berbeda, di posisi sebagai seorang anak ketika saya masih kecil. Mungkin sebagian dari kita pun pernah bereaksi seperti si anak ketika kita kecil. Saya ingat pada saat saya kecil, saya sering disebut anak papa, karena kedekatan saya dengan ayah saya. Selalu ada raut bahagia di wajahnya meski ia sedang lelah ketika saya menyambutnya. Ia akan segera menggendong saya dan langsung bermain. "Anak itu benar-benar obat lelah.." kata teman saya sambil tertawa. Ya, begitu mereka dengan riangnya menyambut kita, seketika itu pula rasa lelah dan beban masalah di pekerjaan menguap. Anak bahagia, ayah bahagia. Betapa indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menyenangkan hati ayah biologis kita saja sudah begitu rasanya, apalagi hati Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tentu kita pun sebagai anak-anak Tuhan ingin bisa menyenangkan hatiNya. Masalahnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya. Bagaimana membuatkan secangkir teh hangat buat Tuhan? Atau memijat pundakNya? memelukNya? Bukankah itu tidak bisa kita lakukan karena Tuhan tidak berada secara fisik di dekat kita seperti halnya ayah kita di dunia? Lalu bagaimana caranya? Alkitab menyebutkan apa yang bisa menyenangkan hati Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Hosea dikatakan bahwa &lt;i&gt;"..&lt;b&gt;Aku menyukai kasih setia&lt;/b&gt;, dan bukan korban sembelihan, dan &lt;b&gt;menyukai pengenalan akan Allah&lt;/b&gt;, lebih dari pada korban-korban bakaran."&lt;/i&gt; (Hosea 6:6). Kasih setia kita yang tidak lekang dimakan jaman, tidak gampang pudar karena godaan duniawi, dan kerinduan kita tanpa henti untuk semakin mengenal pribadi Bapa, itulah yang menyenangkan Tuhan, lebih dari segala perbuatan baik kita atau amal kita. Hal yang sejalan pula disampaikan oleh Pemazmur. Dalam Mazmur dikatakan &lt;i&gt;"&lt;b&gt;TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Mazmur 147:11). Menyenangkan hati Tuhan bisa kita lakukan dengan hidup takut akan Tuhan dan terus percaya penuh kepadaNya tanpa putus harapan. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Lewat pengenalan akan Tuhan, mengasihiNya dengan setia, menyadari dan percaya sepenuhnya kasih setia Tuhan dalam kondisi apapun yang kita alami, dan terus menjalani hidup dengan rasa takut akan Tuhan, itulah yang bisa kita perbuat untuk mengetuk pintu hati Tuhan dan menyenangkanNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan puji-pujian, bermazmur bagiNya, itu pun menyenangkan Tuhan jika kita lakukan dengan hati yang tulus. Sebelum Pemazmur menuliskan hal yang membuat Tuhan senang di atas, kita dapati ayat yang berbunyi &lt;i&gt;"Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!"&lt;/i&gt; (ay 7). Tuhan tentu akan senang apabila kita memiliki gaya hidup yang senantiasa memuji dan menyembahNya, bermazmur bagiNya baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah, dan melakukan itu semua dengan hati yang tulus sepenuhnya karena mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waspadalah dalam hidup ini, karena ada begitu banyak keinginan daging yang akan selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Seringkali kita terjebak dan memberi toleransi kepada keinginan-keinginan kedagingan, dan mengira bahwa itu tidaklah apa-apa. Padahal &lt;b&gt;Tuhan sama sekali tidak berkenan kepada orang-orang yang memilih untuk hidup dalam daging dan menomor duakan keinginan Roh!&lt;/b&gt; &lt;i&gt;"Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah."&lt;/i&gt; (Roma 8:8). Kemudian, apakah kita sudah berkenan meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain, untuk pemerintah, bangsa dan negara kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur buat orang lain, buat pemimpin-pemimpin kita? Hal ini pun penting untuk kita cermati, karena firman Tuhan berkata &lt;i&gt;"Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita"&lt;/i&gt; (1 Timotius 2:3). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu membuat secangkir teh hangat buat Tuhan, kita tidak perlu memijiti Tuhan. Lebih dari korban bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia kita dan usaha kita untuk semakin jauh mengenal pribadiNya. Tuhan rindu untuk dapat bergaul karib dengan kita. Kepada kita yang menyenangkan hatiNya, yang berkenan di hadapanNya, Tuhan tidak akan menahan-nahan berkatNya untuk tercurah. &lt;i&gt;"Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela."&lt;/i&gt; (Mazmur 84:11). Ini janji Tuhan kepada setiap anakNya yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya semata-mata karena mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan akan sangat senang jika kita menjadikan diriNya prioritas utama dalam hidup kita. Dia akan sangat bangga jika kita mempersembahkan ibadah sejati kita dengan &lt;b&gt;mempersembahkan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya.&lt;/b&gt; (Roma 12:1). Tetap percaya dan berpegang kepadaNya dalam kondisi dan situasi apapun, selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, tetap bersukacita dan bersyukur meski dalam kesesakan sekalipun, dan tentunya tidak sekali-kali menomorduakan apalagi meninggalkan Tuhan demi kepentingan sesaat. Hari ini mari kita sambut Dia dengan penuh sukacita, mari kita sama-sama belajar untuk menyenangkan hati Bapa lebih lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sekarang saatnya bagi kita untuk menyenangkan Bapa&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7828036315172889793?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Malu akan Kelemahan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/malu-akan-kelemahan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:00:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-7704574587181789689</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Korintus 2:3&lt;br /&gt;======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kelemahan, mengakui kekurangan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/kelemahan-1.jpg" /&gt;Haruskah kita malu kepada kelemahan kita? Dalam banyak hal kita selalu berusaha menyembunyikan kelemahan kita dan berlindung dibalik kelebihan kita. Kita cenderung untuk memamerkan kelebihan dan menutup rapat kelemahan kita agar kita tidak terlihat lemah di mata orang lain. Kita memang harus memaksimalkan talenta kita, harus terus meningkatkan kapasitas kita sesuai dengan apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Itu betul. Tapi terkadang kita lupa bahwa itu berasal dari Tuhan lantas kita bermegah berlebihan dan bersikap melebihi batas dengan apa yang kita miliki. Kita menjadi terlena dengan kehebatan kita, dan pada suatu ketika di saat kita dihadapkan pada kelemahan maka kita pun akan hancur berantakan. Fokus kepada apa yang bisa kita lakukan, pada spesialisasi kita masing-masing, itu bagus. Tapi di sisi lain kita pun harus mengakui dengan jujur bahwa kita bukanlah mahluk yang 100% sempurna. Di satu sisi kita kuat, di sisi lain kita lemah. Itu sangat wajar. Semua manusia pasti punya kelemahan sendiri-sendiri, baik secara fisik, emosi, kemampuan, intelegensia bahkan juga rohani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakui kelemahan bukan berarti kita harus minder. Tidak sama sekali. Tapi mengakui kelemahan disini bertujuan untuk menjaga diri kita agar tetap berpijak di atas bumi, tetap&lt;i&gt; low profile&lt;/i&gt;. &lt;b&gt;Mengakui kelemahan bukan mengarah kepada perasaan rendah diri, tapi lebih kepada rendah hati.&lt;/b&gt; Kita harus sadar bahwa tanpa Tuhan, sehebat apapun kita, semua itu tidak ada apa-apanya. Karena itu tidak ada yang perlu dimalukan ketika kita mengetahui kelemahan kita. Siapakah Paulus? Kita semua tahu bagaimana luar biasanya Paulus menjalankan penginjilannya kemana-mana. Ia dipakai Tuhan secara luar biasa dan menyerahkan segenap jiwa, raga dan tenaganya untuk memberitakan Kristus ke segala penjuru bumi. Sebegitu hebatnya Paulus, dia ternyata tidak merasa malu untuk mengakui bahwa ada masa-masa dimana ia merasa lemah, takut dan gentar. Lihatlah apa katanya kepada jemaat Korintus.&lt;i&gt; "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar."&lt;/i&gt; (1 Korintus 2:3). Paulus sama sekali tidak malu untuk menyatakan itu, dan ia tidak merasa khawatir disepelekan orang jika ia mengakui kelemahannya. Dan kita tahu, bahwa meski ia mengakui itu, ia sama sekali tidak goyah dalam menghadapi siksaan dan tekanan dalam misi pelayanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai kepada perkataannya di atas, Paulus menekankan bahwa pelayanannya bukanlah digunakan sebagai sarana untuk memamerkan kebolehannya. Sama sekali tidak.&lt;i&gt; "Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan."&lt;/i&gt; (ay 1-2). Paulus menyadari bahwa jika ia melakukan tugasnya, itu bukan karena kuat kuasanya, tapi semata-mata karena Tuhan yang memampukan. Tidak ada niat lain, selain memberitakan tentang keselamatan di dalam Kristus. Paulus jelas sangat mengasihi Kristus. Ia tahu bahwa anugerah terbesar bagi dirinya datang ketika ia diselamatkan dari kematian kekal. Masa lalu Paulus sama sekali tidak membanggakan. Dengan segala perbuatannya di masa lalu, ia jelas mengarah kepada kebinasaan. Namun ternyata ia diselamatkan bahkan dipilih Tuhan untuk dipakai secara luar biasa. Paulus pasti sangat bersyukur karenanya, Dia berterimakasih kepada Yesus yang telah mati bagi dosa-dosanya, juga bagi dosa-dosa semua jemaat yang ia layani, termasuk pula bagi dosa-dosa kita hari ini. Dengan kata lain, Paulus sadar betul bahwa tanpa Kristus dia bukanlah siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kita malu dan menutup-nutupi kelemahan kita? Haruskah kita pura-pura tegar padahal kita tengah dicekam kegelisahan? Paulus menyatakan seperti ini: &lt;i&gt;"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab &lt;b&gt;justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.&lt;/b&gt;" Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."&lt;/i&gt; (2 Korintus 12:9). Ia melanjutkan: &lt;i&gt;"Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. &lt;b&gt;Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 10). Kenyataannya adalah seperti itu. Seringkali dalam kelemahan dan keterbatasanlah kita justru merasakan betapa besar kuasa Tuhan. Hal itu tidak akan bisa kita rasakan ketika kita berada dalam situasi yang super nyaman tanpa masalah. Selain itu Tuhan pun bisa memakai segala kelemahan kita untuk pekerjaan besar. Jika melihat dari banyak tokoh Alkitab, kita akan segera tahu bahwa Tuhan tidak memakai orang-orang yang pintar pidato, ahli cendekiawan, cerdik pandai, raja, orang besar dan sebagainya, tapi seringkali Tuhan justru memakai orang yang bagi dunia tidak ada apa-apanya. Di tangan Tuhan, orang-orang biasa yang penuh kelemahan ini diubahkan menjadi sosok luar biasa yang pengaruhnya masih kita rasakan hingga hari ini. Bagaimana bisa demikian? Alkitab berkata demikian: &lt;i&gt;"Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." &lt;/i&gt;(1 Korintus 1:25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun kita yang punya banyak kelemahan dan keterbatasan ini, Tuhan bisa memakai itu semua&lt;i&gt;. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti"&lt;/i&gt; (ay 27-28). Tuhan suka memakai orang-orang yang bodoh dan lemah bagi dunia, karena disanalah kuasa Allah akan sangat nyata. Karenanya kita tidak perlu malu terhadap kelemahan kita, sebaliknya kita tidak boleh pula bermegah dengan kelebihan kita. &lt;i&gt;It's a reminder&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;"supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah."&lt;/i&gt; (ay 29).  Ingatlah bahwa kita memang terbatas dalam segala hal. Lebih dari segalanya, kita harus menyadari bahwa Tuhanlah yang memampukan segalanya, bukan karena kuat dan hebatnya diri kita. &lt;i&gt;"Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan." &lt;/i&gt;(1 Korintus 1:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita untuk merasakan kelemahan kita, bukan bertujuan untuk menyakiti kita, tapi justru agar kuasaNya nyata pada diri kita. Mungkin kelemahan pada diri kita terdapat pada masalah fisik, seperti cacat, tidak kuat dan sebagainya, mungkin kita punya keterbatasan dalam hal kecerdasan atau kepintaran, mungkin kita punya masalah dengan psikis kita seperti trauma, kekecewaan, kepahitan dan sebagainya. Semua kelemahan ini seringkali menjadi faktor penghambat utama untuk maju. Janganlah terus membiarkan diri anda tenggelam di dalamnya, dan jangan pula malu untuk mengakui itu di hadapan Tuhan. Akuilah dan rasakan bagaimana kuasa Tuhan mampu bersinar di atas kelemahan-kelemahan kita. Tidak perlu pula untuk menutupi kelemahan kita dan bersembunyi dibalik kelebihan kita agar terlihat hebat di mata orang. Jadilah diri sendiri, dan tunjukkan bahwa Tuhan bisa pakai kelemahan-kelemahan kita untuk hal-hal besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Justru dalam kelemahan kitalah kuasa Tuhan semakin sempurna dinyatakan&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-7704574587181789689?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Air Muka</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/air-muka.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:00:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-4091658943684857804</guid><description>Ayat bacaan:Amsal 15:13&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="air muka" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/air-muka.jpg" /&gt;"Capek melihat mukanya, cemberut terus.." demikian kata seorang teman mengenai teman lainnya. Tanpa kita sadari, seringkali air muka kita bisa mempengaruhi suasana di tengah-tengah lingkungan di mana kita berada. Bagaimana air muka kita di hadapan orang lain? Apakah ketika kita hadir suasana menjadi ceria, atau justru sebaliknya, kehadiran kita seolah membawa awan kelabu dan langsung membuat suasana menjadi kelam? Apakah orang lain menjadi bersemangat dan gembira lewat kehadiran kita, atau malah langsung membuat orang menjadi malas serta kehilangan gairah? Sadar atau tidak, air muka yang kita tunjukkan kepada lingkungan sekitar kita akan sangat berpengaruh terhadap suasana. Ramahkah, bersahabatkah, mudah tersenyum kah, atau angkuh, kaku dan tidak menunjukkan sikap bersahabat, semua itu bisa tergambar dari raut muka kita. Apakah bibir kita melengkung ke atas&amp;nbsp; atau melengkung ke bawah, apa yang terlihat itu bisa menentukan situasi di sekitar kita. Ada banyak anak yang ketakutan melihat ayahnya karena setiap ayahnya pulang raut mukanya tidak pernah senyum. Mendengar suara mobil saja anak-anak sudah lintang pukang berlari ke kamarnya masing-masing. Di kantor pun demikian. Apa yang anda rasa jika pimpinan anda memiliki wajah yang ketus dan dingin? Bandingkan dengan pimpinan yang ramah, suka tersenyum dan mau menyapa bawahannya. Ini gambaran sederhana mengenai pengaruh air muka terhadap lingkungan sekitar. Sesuatu yang sepele, kita alami sehari-hari, tapi seringkali tidak kita sadari dampaknya kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan penting, apakah Tuhan peduli dengan air muka yang kita tampilkan setiap hari? Jawabannya ya. Tuhan juga sangat peduli. Dalam salah satu amsal Salomo kita baca&lt;i&gt; "&lt;b&gt;Hati yang gembira membuat muka berseri-seri&lt;/b&gt;, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."&lt;/i&gt; (Amsal 15:13). Adalah penting bagi kita untuk memiliki muka yang berseri-seri, dan itu semua berasal dari hati yang gembira. Dari hatilah sebenarnya kehidupan kita terpancar, salah satunya lewat air muka kita. Karenanya kita diminta untuk senantiasa mengawal hati dengan serius.&lt;i&gt; "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." &lt;/i&gt;(Amsal 4:23). Bagaimana korelasi antara hati dan air muka? Kita bisa melihat apa yang terjadi pada Kain ketika persembahannya tidak diindahkan Tuhan. &lt;i&gt;"Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram."&lt;/i&gt; (Kejadian 4:5b). Ketika hati Kain panas, air mukanya pun berubah. Kita melihat selanjutnya Tuhan menyatakan ketidaksukaanNya kepada raut muka seperti ini. &lt;i&gt;"Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? &lt;b&gt;Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik?&lt;/b&gt; Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."&lt;/i&gt; (ay 6-7). Tuhan mengingatkan satu hal. Raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Jadi ada hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati, juga pikiran kita seperti yang telah kita bahas kemarin, dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan, caranya tidak lain adalah dengan terus &lt;b&gt;mengisi hati kita dengan sukacita. &lt;/b&gt;Hati yang dipenuhi sukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan orang lain dan diri sendiri. Tidak heran bahwa Tuhan sendiri pun memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam keadaan apapun.&lt;i&gt; "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"&lt;/i&gt; (Filipi 4:4). Sukacita sungguh membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, hati yang gembira penuh sukacita juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan bahkan menyehatkan kita. Sebaliknya Ketakutan, kebencian, kegelisahan, emosi dan perasaan-perasaan negatif justru mampu menjadi pembunuh mematikan jika terus kita simpan di dalam hati kita. Kehilangan sistem kekebalan tubuh, darah tinggi, serangan jantung, bahkan kanker seringkali berawal dari hal-hal negatif yang kita simpan di dalam diri kita. Sejak jauh hari Tuhan pun sudah mengingatkan akan hal ini. &lt;i&gt;"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."&lt;/i&gt; (Amsal 17:22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram. Lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan? Apakah baik jika kita terus menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat setiap saat? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut&amp;nbsp; muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, yang seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia.&amp;nbsp; &lt;b&gt;Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat.&lt;/b&gt; Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Untuk itu, selalu jaga hati kita supaya tetap bersukacita. &lt;i&gt;Are you ready? Let's smile! Cheese!&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Senyum ramah bersahabat terpancar dari hati yang dipenuhi sukacita&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-4091658943684857804?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Menanam Benih Dalam Pikiran</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/menanam-benih-dalam-pikiran.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:00:18 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-475660732904482473</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Matius 13:24&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="menabur benih, pikiran" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/menanam-dalam-pikiran.jpg" /&gt;Ingat lagu lawas karya Koes Plus yang berjudul "Kolam Susu"? Lagu ini bercerita tentang kesuburan Bumi Pertiwi yang tersohor. Jika ada tempat-tempat di berbagai belahan dunia yang sulit untuk ditumbuhi, tanah di Indonesia yang beriklim  tropis ini tergolong sangat subur dan ideal untuk ditanami berbagai jenis tanaman atau tumbuhan. "Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman." Itu petikan lirik dari lagu Kolam Susu, menggambarkan betapa mudahnya tanaman untuk tumbuh subur di atas tanah di negara kita. Jangankan repot-repot menanam, cukup dengan melempar biji saja maka pohon bisa tumbuh. Jika kita menanam bibit mangga, tentu yang tumbuh adalah pohon mangga dan tidak akan pernah pohon jambu atau pohon lainnya.  Bila kita menabur lalang, maka yang tumbuh adalah lalang dan tidak akan pernah rumput spesies lain. Semua tergantung dari kita, apa yang mau kita tanam. Apakah tanaman yang bermanfaat atau tanaman pengganggu seperti lalang dan sebagainya. Apa yang kita tabur ke atas tanah, maka itulah yang akan tumbuh. &lt;b&gt;Tanah tidak bisa dan tidak akan pernah memilih. Tanah akan menumbuhkan apapun yang kita tabur ke atasnya, tanpa kecuali.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit kilasan mengenai benih dan tanah ini pernah dipakai Yesus sebagai ilustrasi dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum. (Matius 13:24-30). &lt;i&gt;"Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya."&lt;/i&gt; (Matius 13:24). Rasanya orang akan selalu menaburkan benih yang baik di ladangnya, dan tidak akan pernah mau menabur benih yang bisa merusak lahan taninya bukan? Tapi kemudian, musuh bisa menaburkan benih yang tidak baik di sana. &lt;i&gt;"Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi."&lt;/i&gt; (ay 25). Perhatikan, &lt;b&gt;tanahnya sama, tapi benih yang baik dan yang tidak baik keduanya bisa sama-sama tumbuh dengan subur&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya tanah, demikian pula yang terjadi dengan pikiran kita. Pikiran kita ibarat tanah. Selalu menerima, memberi respon, menumbuhkan apapun yang ditabur masuk di dalamnya. Apakah itu baik atau buruk, apakah itu bermanfaat atau merusak, apakah itu positif atau negatif, &lt;b&gt;semuanya akan ditumbuhkan oleh pikiran kita tanpa terkecuali!&lt;/b&gt; Baik atau buruk, keduanya bisa tumbuh subur di pikiran kita. Itulah sebabnya kita harus mampu menguasai pikiran kita sebelum pikiran kita balik menguasai diri kita. Jika kita menanam hal-hal yang tidak baik, seperti pikiran negatif, berprasangka buruk, menduga-duga, atau malah menghakimi orang lain dalam pikiran kita, maka itulah yang akan tumbuh subur dan merajai hidup kita. Jika kita menabur hal-hal seperti mengasihani diri berlebihan, menganggap diri rendah, kebencian, dendam, atau bahkan kutuk, maka itulah yang akan direspon pikiran kita, ditumbuhkan dan akan berbuah tindakan-tindakan yang negatif pula. Alkitab berkata: &lt;i&gt;"Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."&lt;/i&gt; (Amsal 23:7) (&lt;i&gt;"For as he thinketh in his heart, so is he."&lt;/i&gt; - KJV). Kita bisa menjadi pribadi yang baik, kudus dan berkenan, atau sebaliknya menjadi pribadi yang buruk, penuh kebencian dan kepahitan, semua tergantung dari apa yang kita tabur ke dalam pikiran kita untuk ditumbuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita diingatkan untuk selalu menanam hal-hal yang positif dalam pikiran kita. &lt;i&gt;"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."&lt;/i&gt; (Filipi 4:8). Lihatlah bahwa kita dianjurkan untuk selalu mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik. Memandang dari sisi negatif akan membuat kita menjadi negatif pula, karena itulah yang akan ditumbuhkan oleh pikiran kita dan kemudian berbuah subur dalam hidup kita. Jika kita mengikuti pesan yang tertulis dalam Filipi 4:8 di atas, maka kita pun akan menuai persis seperti apa yang kita tanam, yaitu hal-hal yang benar, adil, mulia, suci, manis dan baik. Adalah sangat penting bagi kita untuk terus menabur firman Tuhan dalam pikiran kita secara teratur, sehingga tidak ada celah lagi bagi benih-benih negatif untuk bertumbuh di dalam pikiran kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah adalah sumber kasih, bahkan merupakan kasih itu sendiri. Firman-firmanNya yang kita tabur tentu akan menumbuhkan kasih pula. Jika kasih yang tumbuh, maka di dalam kita akan berbuah banyak kebajikan. &lt;i&gt;"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."&lt;/i&gt; (1 Korintus 13:4-7). Ini semua akan membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang berkenan di mata Tuhan. Tidak ada tempat bagi hal-hal negatif di dalam kasih. Jika kita berbuah kasih, maka pikiran kita bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif yang siap menenggelamkan diri kita. Selain itu, janganlah kita memenuhi pikiran kita dengan berbagai ketakutan atau kekhawatiran yang seringkali tidak beralasan dan belum tentu terjadi seperti yang kita takutkan.&lt;i&gt; "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."&lt;/i&gt; (Filipi 4:6). Jika ini kita lakukan maka hidup kita pun menjadi lebih indah sebab damai sejahtera Allah akan selalu hadir di dalam diri kita.&lt;i&gt; "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan &lt;b&gt;memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Filipi 4:7). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelayanannya, Paulus dan teman-teman berkomitmen untuk menaklukkan pikiran mereka kepada Kristus. &lt;i&gt;"Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus"&lt;/i&gt; (2 Korintus 10:5b). &lt;i&gt;Don't let your mind control you.&lt;/i&gt; Kita harus mampu mengendalikan pikiran kita, menabur hal-hal yang positif, yang baik dan yang benar sesuai firman Tuhan, serta menaklukkannya kepada Kristus. Marilah kita mengendalikan dan memperhatikan pikiran kita, sebab apapun benih yang kita tanam di dalamnya akan sangat menentukan seperti apa diri kita dan arah perjalanan hidup kita ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;As the man thinketh, so is he&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-475660732904482473?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Seperti Apa Nama Kita Akan Dikenang?</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/seperti-apa-nama-kita-akan-dikenang.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 27 Oct 2009 08:00:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3077218941720525675</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 22:1&lt;br /&gt;==================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="nama baik, dikenang" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/nama-baik.jpg" /&gt;Bagi orang yang berkecimpung di dunia jazz seperti saya, tentu nama &lt;i&gt;Duke Ellington&lt;/i&gt; bukanlah nama yang asing. Duke (1899-1974) adalah komposer, pianis dan band leader/konduktor/dirijen asal Amerika Serikat yang hingga kini diakui dunia sebagai salah satu tokoh penting musik jazz. Meski Duke sudah tiada sejak 35 tahun yang lalu, karya-karyanya banyak yang abadi, masih berulang kali dibawakan para penyanyi/musisi dari masa ke masa. Ambil contoh, lagu &lt;i&gt;"Take the 'A' Train"&lt;/i&gt;, yang aslinya bukan merupakan karangannya, tapi versinya adalah versi yang menjadi standar acuan para musisi di seluruh dunia. Lagu-lagu lain dari Duke yang menjadi klasik antara lain &lt;i&gt;"In a Sentimental Mood", "Caravan", "It Don't Mean a Thing If I Ain't Got That Swing", "Sophisticated Lady", "Do Nothing Till You Hear From Me"&lt;/i&gt; dan banyak lagi. Menjelang kepergiannya tahun 1974, Duke sempat mengatakan demikian:&lt;i&gt; "Music is how I live, why I live and how I will be remembered."&lt;/i&gt; Ia ingin dikenang selamanya sebagai sosok pemusik besar, seperti apa yang telah ia lakukan sepanjang hidupnya. Ia mendapatkannya. Hingga hari ini namanya tetap harum dan besar bagi musik dunia, terutama jazz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Seperti apa kita akan diingat ketika kita sudah tidak lagi ada di dunia ini? &lt;/b&gt;Ketika mendengar nama kita, apa yang akan dikenang orang? Kebaikan atau kejahatan? Sosok dengan kontribusi penting atau &lt;i&gt;trouble maker&lt;/i&gt;? Orang yang mengasihi atau penuh kebencian? Orang yang bersih atau koruptor? Orang yang jujur atau penipu? Diingat atau dilupakan? Nama kita akan dikenang orang sesuai dengan bagaimana kita selama hidup. Jangan lupa bahwa nama ini akan kita wariskan pula ke anak cucu kita. Betapa kasihannya jika anak kita akan dikenal sebagai anak koruptor, penipu, penjahat dan sebagainya. Sesuatu yang bukan kesalahan mereka, namun mereka harus menanggungnya sepanjang hidup mereka. Karena itu, nama baik adalah hal yang sangat penting untuk selalu kita jaga. Karena itulah salah satu Amsal Salomo berkata &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Amsal 22:1). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat beberapa tokoh Alkitab. Paulus tadinya adalah seorang pembunuh/pembantai, namun kemudian ia menjadi pewarta Injil yang radikal hingga akhir hayatnya. Matius tadinya dikenal sebagai pemungut cukai, yang mendapat cap orang berdosa, tapi kemudian ia dikenal sebagai murid Kristus yang luar biasa, bahkan sebagai salah satu dari 4 penulis Injil dalam Alkitab. Dari sosok wanita? Lihat latar belakang Rut. Rut terlahir sebagai perempuan bangsa Moab. Bangsa Moab dikenal sebagai bangsa yang menyembah dewa-dewa atau allah-allah lain seperti Kamos (Bilangan 21:29) dan Baal Peor (Bilangan 25:1-3). Tapi kemudian Rut dikenang sebagai sosok sangat penting karena keteguhan dan kesetiaan imannya. Rut adalah nenek buyut Daud, dan dari garis keturunannyalah Yesus lahir ke dunia. Ada begitu banyak lagi contoh bagaimana tokoh-tokoh Alkitab bisa mengalami transformasi dari kegelapan menjadi terang, sehingga nama baik mereka dikenang sepanjang masa. Mereka bisa saja menolak karunia Tuhan dan akhirnya memiliki akhir yang berbeda. Tapi mereka memilih taat dan setia, sehingga nama mereka pun menjadi nama yang harum hingga hari ini. Bandingkan dengan nama-nama seperti Saul, Firaun, Pilatus, dan sebagainya. &lt;b&gt;Tuhan memberikan kesempatan yang sama bagi siapapun, namun pilihan kita sungguh menentukan untuk membuat bagaimana dan sebagai apa nama kita dikenal.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menerima Kristus, kita pun menjadi ciptaan baru. &lt;i&gt;"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."&lt;/i&gt; (2 Korintus 5:17). Ada transformasi, ada pemulihan disana, dari lama menjadi baru. Sosok masa lalu kita yang kotor dan penuh noda dosa ditransformasikan menjadi sosok ciptaan baru yang bersih. Itu idealnya. Tapi manusia bisa kembali mengotori hidupnya dengan berbagai bentuk dosa, kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu, atau godaan-godaan kedagingan. Akibatnya ciptaan baru ini pun bisa kembali rusak seperti halnya yang lama, bahkan mungkin lebih parah. Alangkah ironisnya ketika image diri kita dipulihkan Tuhan menjadi ciptaan baru yang bersih tidak kita syukuri dan pakai sebagai awal baru untuk melangkah dalam ketaatan iman. Tidak peduli siapa dan apa masa lalu kita, Tuhan menjanjikan awal baru bagi siapapun yang menerima Kristus secara pribadi. Sungguh disayangkan apabila kita masih juga berakhir dengan nama buruk setelahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa nama kita akan diingat orang? Seperti apa kita akan dikenang orang? Semua itu adalah pilihan, dan pilihan itu tergantung kita sendiri. Menjadi sosok dengan nama harum, yang dikenal orang dari masa ke masa, yang akan dengan bangga disandang anak cucu kita, atau sosok dengan nama buruk yang akan menjadi bagaikan kutuk untuk disandang kepada keturunan kita? Satu hal yang penting untuk diingat, lewat kita pun nama Tuhan bisa dikenal orang. Bagaimana sosok Kristus yang tercermin dalam diri kita anak-anakNya? Apakah Kristus sebagai Tuhan yang penuh kasih, atau Kristus sebagai Tuhannya orang-orang munafik? Lewat diri kita nama Tuhan bisa dimuliakan, bisa dikenal orang dan sejalan dengan itu bisa menjangkau jiwa-jiwa untuk diselamatkan, tapi sebaliknya lewat perilaku kita yang jelek nama Tuhan pun bisa dipermalukan. Sedianya nama Tuhan itu indah. Pemazmur mengatakan: &lt;i&gt;"Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!" &lt;/i&gt;(Mazmur 135:3). Apakah kita bisa menjaga keindahan nama Tuhan lewat perilaku kita, atau malah mencemari nama Tuhan, itu semua tergantung bagaimana kita hidup. Menjaga nama baik Tuhan, juga menjaga nama baik kita, itu sungguh penting. Hidup dengan benar dalam ketaatan dan iman teguh akan membuat kita pergi dengan terhormat ketika saatnya tiba. Tidak heran jika Pengkotbah mengatakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Pengkotbah 7:1). Seperti apa nama kita akan diingat, sebagai apa kita akan dikenang, seperti apa reputasi kita, itu tergantung diri kita sendiri. Tidak ada kata terlambat untuk berubah selama kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan. Karena itu, marilah kita menjaga nama baik kita agar tetap harum sampai kepada keturunan-keturunan kita, dan muliakanlah nama Allah di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nama baik yang harum merupakan salah satu warisan berharga kepada anak cucu kita&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3077218941720525675?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dicari Cowok Setia!</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/dicari-cowok-setia.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 26 Oct 2009 08:27:55 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1954496004397511716</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 20:6&lt;br /&gt;===================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="kesetiaan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/dicari-cowok-setia.jpg" /&gt;&lt;i&gt;"Dicari, cowok setia"&lt;/i&gt;. Demikian status salah seorang teman di sebuah situs jejaring. Sebegitu sulitnyakah mencari cowok setia? Dari komentar-komentar yang ada ternyata ia baru saja putus karena pasangannya ketahuan selingkuh. Jika kita melihat perkembangan di jaman modern ini masalah kesetiaan memang menjadi barang yang semakin langka. Ketidaksetiaan semakin lama semakin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lewat berbagai lagu, film dan kejadian sehari-hari kita terus menemukan berbagai bentuk ketidaksetiaan sebagai sesuatu yang manusiawi dan lumrah. Tidak heran maka semakin lama semakin sulit saja menemukan sosok manusia yang bisa setia, baik dalam hubungan, pekerjaan dan sebagainya, termasuk tentunya pada Tuhan. Ada banyak alasan yang bisa dijadikan dasar untuk melegalkan ketidaksetiaan itu. Membesar-besarkan kekurangan pasangan, mencari-cari kejelekan misalnya, sampai kepada menyalahkan pihak ketiga. "Bukan saya yang mulai, tapi dia yang menggoda duluan.." itu contoh alasan klasik yang menyalahkan pihak ketiga, padahal setiap manusia punya pilihan apakah mau untuk tetap setia atau menyambut godaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mencari orang baik mungkin mudah, tapi mencari orang yang setia sama sulitnya dengan mencari jarum ditumpukan jerami.&lt;/b&gt; Jika ini kita alami hari-hari ini, hal yang sama sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Salomo menuliskan hal ini dalam salah satu Amsalnya. &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(Amsal 20:6). Mengaku teman itu mudah, namun menjadi sahabat yang setia baik dalam suka maupun duka susahnya minta ampun. Dari masa ke masa kita akan terus berhadapan dengan masalah ini, bahkan diantara kita sendiri pun mungkin sulit untuk setia. Padahal masalah kesetiaan ini merupakan salah satu kualitas utama yang diharapkan ada dalam diri orang percaya. Lihatlah apa pesan Paulus kepada Timotius. &lt;i&gt;"...kejarlah keadilan, ibadah, &lt;b&gt;kesetiaan&lt;/b&gt;, kasih, kesabaran dan kelembutan."&lt;/i&gt; (1 Timotius 6:11). Sementara Salomo mengingatkan &lt;i&gt;"Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong."&lt;/i&gt; (Amsal 19:22). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Tuhan pun manusia seringkali sulit untuk setia. Sementara Tuhan memberikan kasih setiaNya yang begitu besar, untuk setia sedikit saja kita susah. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari merasa permintaan tidak didengarkan Tuhan, tidak kunjung lepas dari kesulitan, uang, jabatan bahkan jodoh. Tidak jarang kita melihat orang yang rela menyangkal imannya demi kekasih. Tuhan begitu mengasihi kita. Bahkan anakNya yang tunggal pun Dia berikan agar kita semua selamat. Kurang apa lagi? Kehadiran Yesus di dunia ini untuk menggenapkan kehendak Bapa pun sudah menunjukkan sesuatu yang seharusnya bisa kita teladani. &lt;b&gt;Yesus membuktikan kesetiaanNya menanggung segala beban dosa kita sampai mati.&lt;/b&gt; Tanpa itu semua mustahil kita bisa menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat janji keselamatan setelah episode kehidupan di dunia ini. Kita mengaku sebagai anak Tuhan, tapi kita tidak kunjung bisa meneladaniNya. Disamping itu sering pula kita terus meminta perkara besar dalam doa-doa kita, sementara perkara kecil saja kita tidak bisa menunjukkan kesetiaan dan tanggung jawab. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada orang setia sesungguhnya jauh lebih besar daripada berkat dalam kehidupan dunia yang sementara ini.&lt;i&gt; "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." &lt;/i&gt;(Wahyu 2:10c). Ada mahkota kehidupan yang siap dikaruniakan kepada semua orang yang mau taat dan setia sampai mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perumpamaan tentang talenta kita sudah melihat bagaimana Tuhan memandang kesetiaan. Ketika kita diberi perkara kecil, kita harus sanggup mempertanggungjawabkan itu dan melakukannya dengan baik. Lihat apa kata Tuhan kepada hamba yang mampu setia kepada perkara kecil yang dipercayakan Tuhan. &lt;i&gt;"Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan &lt;b&gt;setia&lt;/b&gt;; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."&lt;/i&gt; (Matius 25:21,23). Bagaimana reaksi Tuhan kepada orang yang tidak setia? Haruskah Tuhan mempercayakan sesuatu yang lebih besar kepada orang yang tidak sanggup bertanggungjawab dalam perkara kecil? Tentu tidak. &lt;i&gt;"campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."&lt;/i&gt;(ay 30). Itu menjadi bagian dari orang yang tidak setia. Maka benarlah nasihat yang diberikan Lukas. &lt;i&gt;"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." &lt;/i&gt;(Lukas 16:10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah setia dari perkara-perkara kecil. Ketika ada sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan benar dan dengan setia. Bersyukurlah senantiasa, meski apa yang ada saat ini mungkin kecil dibandingkan jerih payah kita, tapi ingatlah bahwa Tuhan pasti menghargai kesungguhan, kejujuran dan kesetiaan anda. Pada saatnya nanti, Dia akan mempercayakan sesuatu yang lebih besar. &lt;b&gt;Menjadi baik saja tidak cukup, kita harus mampu pula meningkatkan kapasitas diri kita untuk menjadi pribadi yang setia&lt;/b&gt;, yang bisa dipercaya. Untuk menerima janji dan berkat Tuhan dibutuhkan usaha serius dan perjuangan kita untuk terus setia. Dan semua itu berawal dari hal yang kecil. Tuhan akan melihat sejauh mana kita bisa dipercaya untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Tidaklah sulit bagi Tuhan untuk memberkati kita, tapi kita dituntut untuk membuktikan dulu sejauh mana kita mampu setia kepadaNya. Disamping itu, saya pun percaya bahwa lewat hal-hal yang kecilpun Tuhan mampu memberkati kita secara luar biasa. Apapun yang ada pada kita saat ini, bersyukurlah untuk itu, dan lakukan sebaik-baiknya dengan kesetiaan dan kejujuran. Tuhan mampu memberkati itu menjadi luar biasa, dan mempercayakan kita untuk hal-hal yang lebih besar lagi pada waktunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Setia dalam perkara kecil adalah awal dari hadirnya perkara besar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1954496004397511716?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mencari Hikmat</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/mencari-hikmat.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 25 Oct 2009 08:00:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-2784518569275134647</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Amsal 3:13-14&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mencari hikmat" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/hikmat.jpg" /&gt;Bagi sebagian orang, emas merupakan bukti kesuksesan dan kebahagiaan. Ada sebuah suku yang percaya akan hal itu. Jika mereka memiliki sejumlah uang, mereka lebih tertarik untuk menyimpannya dalam bentuk emas ketimbang menabung di bank. Salah seorang teman dari suku itu pernah menjelaskan alasannya. Selain tidak terkena potongan bulanan seperti di bank, kebiasaan menabung dalam bentuk emas itu pun sudah menjadi kebiasaan yang membudaya bagi suku tersebut jauh sebelum ada bank di negara ini. Karena itulah katanya emas menjadi penunjuk status seseorang. Semakin banyak emas yang menghiasi tubuh, itu artinya status orang itu pun semakin tinggi. Sebenarnya ini pun menjadi kepercayaan orang-orang duniawi. Dalam persepsi dunia, kekayaan harta menjamin kebahagiaan dan kemakmuran. Emas dan perak tentu termasuk di dalamnya, bersama-sama dengan berbagai bentuk lainnya seperti uang dan lain-lain. Tidak heran jika ada banyak orang yang tidak ada habisnya mati-matian menumpuk harta dengan berbagai cara, baik lewat bekerja nonstop dan menomorduakan keluarga hingga bentuk-bentuk kecurangan seperti korupsi dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia boleh saja mengagungkan harta, tapi penulis Amsal justru mengajarkan hal yang berbeda. Dikatakan, &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Amsal 3:13-14).Bukan harta, bukan emas dan perak, tapi hikmat. Hikmat ini dikatakan jauh lebih bernilai dibandingkan harta, karenanya inilah yang harus kita prioritaskan lebih dari sekedar menimbun harta duniawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita harus mementingkan hikmat? Bukankah tanpa harta kekayaan kita akan sulit hidup layak? Mencari nafkah hidup tentu penting. Tuhan sendiri tidak pernah menyuruh kita untuk berleha-leha, bermalas-malasan, tetapi kita memang diharuskan untuk bekerja.&lt;i&gt; "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."&lt;/i&gt; (2 Tesalonika 3:10). Namun itu bukanlah segalanya. Kita tidak boleh menomorduakan Tuhan, karena selain semuanya pada akhirnya akan sia-sia, kita pun akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh hikmat. Salomo menguraikan &lt;b&gt;manfaat-manfaat &lt;/b&gt;yang bisa kita peroleh dari&amp;nbsp; hikmat dalam Amsal 2, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;kita akan memperoleh pengertian yang benar tentang takut akan Tuhan (ay 5)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kita bisa lebih mengenal Allah (ay 5)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hikmat menjadikan kita orang jujur, tidak bercela, adil dan setia (ay 7-8), sehingga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dengan demikian kita mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan Tuhan. (ay 7-8)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memampukan kita untuk mengerti tentang apa yang adil, jujur, baik dan benar(ay 9)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hikmat mendatangkan kebijaksanaan dan pengetahuan (ay 11)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (ay 12)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;menguatkan kita agar tidak gampang terjebak nafsu kedagingan (ay 16)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh lewat hikmat, yang jelas berguna bagi kita sebagai bekal untuk menjalani hidup sampai akhir dan memperoleh mahkota kehidupan sebagai pemenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa memperoleh hikmat? Lihat apa yang dikatakan Salomo sebelumnya.&lt;i&gt; "jikalau engkau &lt;b&gt;mencarinya&lt;/b&gt; seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena &lt;b&gt;Tuhanlah yang memberikan hikmat&lt;/b&gt;, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian."&lt;/i&gt; (ay 4-6). Lihatlah bahwa hikmat bukanlah seperti durian runtuh yang jatuh dari langit begitu saja, bukan pula pembawaan lahir, namun semua itu berasal dari Tuhan dan untuk mendapatkannya dibutuhkan usaha sungguh-sungguh serta keseriusan kita. Lihatlah bahwa ada hubungan antara anugerah dari Tuhan dan upaya dari kita sendiri untuk memperoleh hikmat. Jika kita lihat dalam Perjanjian Baru, disana kembali ditegaskan bahwa hikmat ini adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan. &lt;i&gt;"sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan"&lt;/i&gt; (Kolose 2:3) Tapi untuk memperolehnya dibutuhkan upaya kita yang serius. Yakobus mengatakannya demikian: &lt;i&gt;"Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia &lt;b&gt;memintakannya kepada Allah&lt;/b&gt;, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya."&lt;/i&gt; (Yakobus 1:5). Lalu Yakobus pun memberikan tips lebih lanjut untuk bisa memperoleh hikmat, yaitu dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;memintanya dalam iman dan percaya.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (ay 6). Ini artinya, tanpa iman dan keyakinan teguh, niscaya hikmat tidak akan bisa kita peroleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan siap menganugerahkan hikmat kepada anak-anakNya. Dia sangat rindu untuk melengkapi anak-anakNya dengan bekal yang cukup untuk melewati hari-hari yang sulit, sehingga semua anakNya akan mampu mencapai garis akhir dengan baik, menjadi pemenang dengan gemilang dan memperoleh mahkota kehidupan seperti yang Dia janjikan. Tanpa hikmat kita akan kesulitan untuk hidup lurus dan bisa menyerah di tengah jalan. Akibatnya kita pun kehilangan hak kesulungan kita dan berakhir di ujung yang salah. Betapa pentingnya hikmat bagi kehidupan kita. Oleh karena itu kejarlah hikmat dan terimalah semua berkat dan janji Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tuhan memberkati dan melindungi setiap orang yang memiliki hikmat&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-2784518569275134647?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Keep Running!</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/keep-running.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 24 Oct 2009 08:00:05 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-3859350485165762060</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 1 Korintus 9:24&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="lomba lari, perlombaan, mahkota kehidupan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/pelari.jpg" /&gt;Jumlah pelari boleh banyak, namun pemenangnya hanya satu. Itu yang biasanya kita lihat dalam setiap perlombaan di berbagai gelanggang kejuaraan. Hitungan sampai kepada mili detik diberlakukan sehingga meski secara kasat mata kita mungkin melihat ada dua atau lebih pelari yang masuk finish secara bersamaan, tetap saja ada satu orang yang pasti berada paling depan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis, hingga nol koma nol sekian detik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai olahragawan, termasuk pelari, mengukir prestasi tentu menjadi sebuah tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada satupun olahragawan yang tidak ingin menjuarai perlombaan yang ia ikuti. Tidak saja olahragawan, tapi semua orang di bidang-bidang lainpun pasti ingin berprestasi. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan "gelanggang-gelanggang" yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk berhasil. Tanpa itu maka jangan harap prestasi mampu diraih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulus beberapa kali mengibaratkan bentuk kehidupan kita sebagai orang kristen seperti perjuangan atlit dalam mengukir prestasi dan mencapai kemenangan. &lt;i&gt;Life is like a race&lt;/i&gt;, hidup adalah perlombaan, dan tidak semua orang mampu untuk mencapai garis finish dan menjadi pemenang. Itu kira-kira gambaran dari apa yang sering diibaratkan Paulus mengenai kehidupan iman kita. Kepada jemaat Korintus, Paulus menyatakan&lt;i&gt; "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!"&lt;/i&gt; (1 Korintus 9:24). &lt;i&gt;There can be only one winner in every running race, there can be only one receives the first prize.&lt;/i&gt; Itu bentuk dari sebuah perlombaan, karena itu, berlarilah dengan begitu rupa agar kita bisa menjadi pemenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlari begitu rupa? Ini berbicara mengenai segala sesuatu yang kita persiapkan sebelumnya. Baik pola latihan, ketekunan, keseriusan, disiplin, pengorbanan, kegigihan dan sebagainya. Ketika berlomba pun kita harus bisa berjuang dengan sekuat tenaga, seserius mungkin agar kita bisa mencapai hasil yang terbaik. Seperti halnya atlit di gelanggang olahraga, demikian pula kehidupan iman kita. Kita harus terus melatih diri kita beribadah, terus berusaha lebih dalam lagi dan lebih dekat lagi dengan Tuhan, rajin mencariNya, mampu menguasai diri kita dari berbagai godaan duniawi, tekun mempelajari firman-firmanNya dan melakukanNya. Seperti halnya dalam perlombaan, akan ada banyak rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Namun hal itu bukanlah penghalang untuk sukses apabila kita mau sungguh-sungguh bertekun dengan benar dalam menjalaninya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi perlombaan dalam kehidupan kerohanian kita, apa yang menjadi hadiah? Paulus melanjutkan ayat diatas dengan &lt;i&gt;"Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu &lt;b&gt;mahkota yang abadi.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 25). Ya, ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana, melinkan sebuah mahkota yang abadi. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai finish dengan gemilang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. &lt;i&gt;"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima &lt;b&gt;mahkota kehidupan&lt;/b&gt; yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."&lt;/i&gt; (Yakobus 1:12). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sesungguhnya telah dibekali segala sesuatu untuk menjadi pemenang. Bahkan Alkitab berkata kita lebih dari pemenang. &lt;i&gt;"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."&lt;/i&gt; (Roma 8:37). Karena itu selain usaha-usaha kita di atas, kita perlu pula memiliki mental juara. Kita harus tahu seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: &lt;i&gt;"Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul."&lt;/i&gt; (1 Korintus 9:26). Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang tidak berguna, hal yang sia-sia bahkan yang merupakan kejahatan di mata Tuhan. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasinya, tetaplah fokus dan teruslah berjuang,&lt;i&gt; keep running on track and do it the best you can.&lt;/i&gt; Jangan terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita untuk mencapai garis finish, bahkan mungkin bisa menjadikan kita gagal. &lt;i&gt;"aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus."&lt;/i&gt; (Filipi 3:13-14). Anda siap? Selamat berlomba dan jadilah pemenang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berlarilah begitu rupa sehingga kita mampu meraih mahkota kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-3859350485165762060?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mengatasi Masalah Tanpa Masalah</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/mengatasi-masalah-tanpa-masalah.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 23 Oct 2009 08:00:01 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5127724796445729605</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; 2 Samuel 11:27b&lt;br /&gt;=======================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="mengatasi masalah tanpa masalah" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/mengatasi-masalah.jpg" /&gt;Semboyan Pegadaian sungguh menarik perhatian.&lt;i&gt; "Mengatasi masalah tanpa masalah"&lt;/i&gt;, begitu bunyinya. Apa yang mereka tawarkan adalah proses yang lebih simpel bagi orang yang membutuhkan dana cepat. Dengan jaminan apa yang kita miliki, kita akan mendapatkan pinjaman dalam tempo singkat. Saya bukan hendak membahas mengenai benar tidaknya semboyan itu. Saya hanya ingin merefleksikan bentuk dari semboyan itu yang berdasar &lt;b&gt;adanya kecenderungan manusia untuk semakin menambah masalah dalam menyelesaikan masalahnya.&lt;/b&gt; Ada banyak orang yang jatuh ke dalam obat-obatan atau mabuk-mabukan karena mengalami masalah dengan hidupnya. Ada yang merasa sulit bergaul lalu merasa perlu untuk ikut berpesta pora agar bisa diterima kelompok tertentu. Masalah dalam rumah tangga antara suami dan istri bukannya diselesaikan baik-baik namun perceraian dianggap menjadi solusi terbaik. Bahkan tidak jarang yang balik menyalahkan Tuhan dengan berkata bahwa itu sudah suratan takdir. Jika mendapat masalah keuangan? Atasi dengan korupsi atau bentuk-bentuk penipuan lainnya. Bagaimana jika sedang sakit atau mungkin sulit mendapat jodoh? Dukun pun jadi jawaban. Jika rasanya tidak tahan lagi menghadapi beban? Bunuh diri menjadi solusinya. Ini semua bentuk kecenderungan manusia yang seringkali justru menambah masalah ketika mereka mencoba mengatasi masalah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti ini pernah dialami oleh Daud. Daud adalah orang yang sebelumnya begitu dekat dengan Tuhan. Berbagai Mazmurnya dan rangkaian pengalamannya bersama Tuhan menggambarkan sebuah hubungan yang kuat. Tidak jarang kita melihat bahwa Daud tetap teguh imannya ketika berada dalam kesesakan. Namun lihatlah apa yang terjadi ketika Daud jatuh dalam dosa perzinahan. Semua diawali ketika Daud memilih untuk tinggal di istana sementara anak buahnya diutus untuk berperang. Padahal sebagai pemimpin, seharusnya ia turut maju memimpin anak buahnya. Ini masalah pertama yang mengawali kejatuhan Daud. Ketika itulah ia melihat istri anak buahnya sendiri, Batsyeba sedang mandi. &lt;i&gt;"Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya."&lt;/i&gt; (2 Samuel 11:2). Sudah selesai sampai disitu? Tidak. Itu menjadi awal masuknya masalah berikutnya. Daud tidak tahan melihat itu, dan kemudian tidur dengannya.&lt;i&gt; "Sesudah itu Daud menyuruh orang mengambil dia. Perempuan itu datang kepadanya, lalu Daud tidur dengan dia. Perempuan itu baru selesai membersihkan diri dari kenajisannya. Kemudian pulanglah perempuan itu ke rumahnya."&lt;/i&gt; (ay 4). Lihatlah serangkaian masalah yang seharusnya sejak awal bisa dicegah Daud sebagai orang yang taat pada Tuhan. Sampai di titik ini, ternyata Daud belum juga benar dalam mengatasi masalah, malah semakin parah. Masalah ini bisa menjadi sangat besar jika ketahuan. Bisa jadi nama besarnya musnah dalam sekejap, dan hukuman berat akan menimpanya. Itu belum termasuk dendam dari suami Batsyeba yang bisa mengancam hidupnya. Daud pun kemudian semakin jauh tersesat dalam memilih penyelesaian. Ia berusaha memperdaya Uria, tapi usaha itu gagal. (ay 8-13). Akhirnya Daud berhasil merancang strategi untuk menghabisi nyawa Uria, suami Batsyeba. Caranya adalah dengan mengirim Uria ke barisan terdepan dalam pertempuran yang paling sengit, kemudian melarang Yoab dan pasukannya untuk membantu Uria. Uria pun tewas. Lihatlah eskalasi masalah yang semakin meningkat ketika Daud mencoba menyelesaikan masalahnya. Apa kata Tuhan mengenai hal ini?&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN." &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(ay 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita mengatasi masalah kita? Sudahkah kita mengandalkan Tuhan sendiri sebagai sumber jawaban dan solusi? Atau kita malah terus menambah masalah dengan memilih jalan penyelesaian yang dianggap jahat di mata Tuhan? Tidak ada yang mau berlama-lama berada dalam masalah, tetapi memilih jalan singkat yang tidak berkenan bagi Tuhan akan menambah masalah semakin parah dan tidak akan membawa kebaikan apapun. Adalah jauh lebih baik bagi kita untuk bersabar dan terus menggantungkan semua itu kepada Tuhan. Penyelesaian melalui Tuhan mungkin bisa lebih lama dari apa yang kita harapkan, namun itu tentu adalah yang terbaik dan tidak akan beresiko buruk dibandingkan penyelesaian-penyelesaian yang instan tetapi penuh dengan pelanggaran. Kita melihat selanjutnya ada konsekuensi berat yang harus ditanggung Daud akibat pelanggaran demi pelanggaran yang ia lakukan dalam menyelesaikan masalahnya. Karenanya janganlah bermain-main dengan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya hal ini sudah terlanjur terjadi pada diri anda, &lt;b&gt;bertobatlah&lt;/b&gt; segera. Firman Tuhan berkata:&lt;i&gt; "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus."&lt;/i&gt; (Kisah Para Rasul 3:19-20). Seandainya kita belum sempat berbuat cara-cara yang salah, tapi niat itu sudah melintas di pikiran kita? Alkitab punya jawaban seperti ini: &lt;i&gt;"Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan."&lt;/i&gt; (8:22-23). Solusi-solusi menyesatkan tersedia dimana-mana. Semua itu biasanya menjanjikan penyelesaian instan, seolah tanpa masalah, tapi dibalik itu semua tersimpan berbagai hal yang merupakan kejahatan di mata Tuhan. Hindarilah semua itu sejak semula sebelum kita terjerumus ke dalam kejatuhan yang sama seperti Daud. Seandainya anda belum sampai kepada hal-hal seperti itu, teruslah berdoa, mintalah kekuatan dan hikmat dari Tuhan agar masalah anda dapat teratasi dengan cara-cara yang benar. &lt;b&gt;Ingatlah bahwa dalam Kristus selalu ada solusi yang terbaik.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengatasi masalah dengan penyelesaian yang salah hanya akan menambah masalah baru&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5127724796445729605?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Jawab Yesus</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/jawab-yesus.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Thu, 22 Oct 2009 08:00:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8324330714552718002</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Mazmur 55:23&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="yesus sumber jawaban" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/jawab-yesus.jpg" /&gt;Takut menghadapi kesulitan hidup, itu dialami oleh banyak orang. Tidak ada satupun dari kita yang tidak pernah menghadapi masalah. Baik orang percaya atau tidak, kadangkala masalah menghampiri kita, dan seperti itulah jalannya kehidupan. Seringkali di balik permasalahan itu tersimpan berbagai masalah lainnya yang saling berkaitan bagai benang kusut yang tampaknya sulit sekali untuk diurai. Ada kalanya kita bak berjalan di terowongan gelap dan tidak kunjung melihat titik terang diujung sana. Ada yang goyah, ada yang lelah, ada yang kehilangan harapan, ada yang menjadi bimbang dan ragu akan keberadaan Tuhan, ada yang kemudian menyerah dan mencari alternatif-alternatif yang sebenarnya dianggap kejahatan di mata Tuhan, tetapi ada pula yang tahu pasti bahwa itu semua adalah bagian dari pendewasaan diri dan iman, sebab Tuhan sesungguhnya tidak pernah, dan tidak akan pernah meninggalkan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita orang percaya, &lt;b&gt;Yesus adalah sumber jawaban kita.&lt;/b&gt; Alangkah sia-sianya jika kita mengaku percaya, tapi sedikit saja digoncang badai kita sudah menjadi limbung dan diliputi ketidakpastian. Seperti apa permasalahan kita di dunia ini, Yesus tahu pasti tentang itu semua! &lt;b&gt;Dia peduli, dia mengerti, dia tanggap atas segala persoalan yang kita alami.&lt;/b&gt; Yesus menjawab berbagai masalah yang kita hadapi dan akan memberikan kita jalan keluar. Lulus atau tidaknya pada akhirnya bukan didasari oleh kehebatan diri kita sendiri, tapi tergantung dari bagaimana penyerahan diri kita kepadaNya. Bagaimana Yesus menjawab permasalahan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat kita berkata: "Itu tidak mungkin aku lakukan, terlalu sulit bagiku.."&lt;br /&gt;Yesus menjawab: kamu bisa.&lt;i&gt; "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."&lt;/i&gt; (Lukas 1:37)&lt;br /&gt;Waktu kita berkata: "Dapatkah atau bersediakah Tuhan menolongku mengatasi masalah ini?"&lt;br /&gt;Yesus menjawab: &lt;i&gt;"Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!"&lt;/i&gt; (Markus 9:23) &lt;br /&gt;Ketika kita berkata: "Aku sudah terlalu lelah menghadapi masalah hidup."&lt;br /&gt;Yesus menjawab: &lt;i&gt;"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."&lt;/i&gt; (Matius 11:28)&lt;br /&gt;Kala kita berkata: "Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahanku"&lt;br /&gt;Yesus menjawab: Aku memaafkanmu dan menyucikanmu jika kamu bertobat. &lt;i&gt;"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."&lt;/i&gt; (1 Yohanes 1:9)&lt;br /&gt;Jika kita berkata: "Aku sendirian dan kesepian menghadapi ini semua"&lt;br /&gt;Yesus menjawab: &lt;i&gt;"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."&lt;/i&gt; (Matius 28:20)&lt;br /&gt;Saat kita berkata: "Aku takut menghadapi masa depanku"&lt;br /&gt;Yesus menjawab: &lt;i&gt;"Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"&lt;/i&gt; (Matius 14:27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada saat-saat dimana kita harus menghadapi goncangan dalam kehidupan. Ada saatnya kita merasa lelah bahkan mencapai titik nadir, mulai kehilangan semangat hidup. Ada saat dimana kita menghadapi badai kehidupan. Itu semua telah, masih dan akan tetap kita alami pada waktu-waktu tertentu. Namun lihatlah bahwa Yesus telah menjawab segalanya. &lt;b&gt;Dalam Yesus ada jawaban, dalam Yesus ada solusi.&lt;/b&gt; Karenanya, kita tidak boleh membiarkan beban perasaan kita menguasai kita berlarut-larut. Jangan mau dikuasai ketakutan, kecemasan, keraguan dan ketidakpastian. Ambillah waktu untuk tenang, dan tetaplah bersyukur, bermazmurlah bagiNya, dan lihatlah jawaban-jawaban Yesus di atas akan selalu menjadi bagian hidup anda. Sebab sejak semula Tuhan telah menjanjikan penyertaanNya.&lt;i&gt; &lt;b&gt;"Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (Ulangan 31:8). Jika demikian, mengapa kita harus takut? Tetaplah berjalan dalam iman, dan percayalah bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan kita terus terpuruk. Pada saatnya Dia sendiri yang akan mengangkat kita dan memberikan jalan keluar yang indah. Ketika anda diliputi kecemasan, ketakutan, keraguan akan hari depan, serahkanlah semuanya kepada Tuhan. Maka inilah yang akan anda terima sebagai jawaban dari Tuhan:&lt;b&gt;&lt;i&gt; "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mazmur 55:23). Berjalanlah dalam iman yang teguh, karena Yesus sudah mengingatkan kita: &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Jangan takut, percaya saja!"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Markus 5:36). Mari hari ini kita belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam setiap sisi kehidupan kita. Ulurkan tangan kepada Tuhan, serahkan semua beban hidup kepadaNya, maka Tuhan pun akan selalu siap mengulurkan tanganNya dan menuntun kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dalam Yesus selalu ada jawaban&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8324330714552718002?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anak Kecil Pemilik Roti dan Ikan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/anak-kecil-pemilik-roti-dan-ikan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Wed, 21 Oct 2009 08:00:04 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-8095054338769302254</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yohanes 6:9&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="anak kecil pemilik roti dan ikan, belajar dari anak kecil" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/anak-kecil-pemilik-roti.jpg" /&gt;Kepolosan dan keluguan anak kecil memang luar biasa. Ketika mereka berkata mereka punya cita-cita tinggi, menjadi dokter, pilot dan sebagainya, mereka tidak pernah dipengaruhi oleh logika-logika yang biasanya dimiliki orang dewasa mengenai mungkin dan tidaknya hal itu terjadi. Wajar ketika seorang teman pada suatu ketika tertawa melihat reaksi anak kecil seperti ini dan berkata bahwa mereka belum tahu bagaimana pahitnya hidup sehingga bisa semudah itu bercita-cita. Tapi justru keluguan anak-anak ini yang diminta Yesus sendiri untuk kita teladani. Kita bisa belajar dari mereka yang belum terkontaminasi berbagai logika dan pikiran manusiawi yang seringkali justru menghambat kita dalam mencapai keberhasilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin kita sudah melihat bagaimana Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu pria belum termasuk wanita dan anak-anak bahkan menyisakan dua belas bakul penuh roti dan ikan. Kita melihat bagaimana Tuhan bisa memakai sesuatu yang mungkin tidak berarti besar bagi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Dari mana roti dan ikan itu berasal? Dalam Injil Markus memang tidak disebutkan dari mana asalnya. Namun Injil Yohanes menuliskan dari mana ikan itu berasal, yaitu dari seorang anak kecil. &lt;i&gt;"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan."&lt;/i&gt; (Yohanes 6:9). Mari kita lihat kronologi peristiwa itu yang tercatat dari versi pengamatan Yohanes. Pada saat itu menurut Injil Yohanes, dikatakan bahwa Yesus menanyakan kepada Filipus bagaimana untuk memberi makanan untuk seluruh orang yang berkumpul mendengar pengajaran Yesus. &lt;i&gt;"Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja."&lt;/i&gt; (ay 7). Filipus satu dari murid Yesus yang hadir disana melihat kemustahilan untuk bisa memberi makan demikian banyak orang dengan uang yang mereka miliki sesuai dengan logika manusianya. Lalu diantara murid-murid itu, seorang murid lain bernama Andreas, saudara simon Petrus ternyata bergerak melihat sekelilingnya, dan ia mendapatkan seorang anak yang memiliki bekal lima roti dan dua ikan. Maka ia pun berkata &lt;i&gt;"Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"&lt;/i&gt;. (ay 9).  Andreas mencari dan melihat bahwa ada lima roti dan dua ikan yang dimiliki oleh seorang anak kecil. Tapi mana mungkin itu cukup? Andreas pesimis dengan apa yang ia dapatkan. Bagaimana reaksi anak kecil itu sendiri? Dari apa yang kita baca selanjutnya, kita tidak mendapati penolakan dari si anak. Tampaknya anak kecil itu dengan sukarela memberikan apa yang ia miliki. Lalu Yesus pun mengucap syukur atas roti dan ikan, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang. Luar biasa, jumlah bekal yang kecil itu cukup untuk mengenyangkan semua orang disana bahkan berlebih. Anak kecil itu tidak pernah kita ketahui namanya. Kita tidak tahu siapa dia. Tapi meski demikian, ia tercatat dalam Alkitab yang masih bisa kita baca sampai hari ini. Semua berawal dari iman dan kerelaannya untuk memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa belajar dari reaksi si anak. Jelas bahwa apa yang ia miliki secara kemampuan daya pikir kita tidak akan cukup untuk memberi makan 5000 orang lebih. Tapi ia tidak menolak sama sekali. Meski ketika Andreas menyatakan keraguannya akan jumlah yang sedikit itu. Si anak kecil tidak menjadi pesimis waktu apa yang ia miliki disepelekan Andreas. Ia bisa saja berkata "ya sudah, kalau memang tidak cukup, saya makan sendiri saja.. biar bagaimana ini kan punya saya.." Anak kecil itu bisa menolak, apalagi ketika apa yang ia miliki tidak dihargai sepenuhnya oleh Andreas. Tapi tidak, ia tidak melakukan hal itu. Si anak juga bisa saja berkata, "Yesus, jika Engkau memang benar Tuhan, kenapa tidak turunkan saja makanan dari langit? Kenapa harus mengambil bekalku?" Tapi itu pun tidak ia lakukan. Apa yang ia lakukan adalah dengan sukarela, tanpa banyak tanya, tanpa protes sedikitpun, memberikan seluruh bekalnya kepada Yesus. Inilah bentuk iman yang luar biasa, lebih daripada apa yang dimiliki para murid Yesus sendiri. &lt;b&gt;Apa yang ia miliki, meski hanya sedikit, ditambah kerelaannya untuk menyerahkan itu semua kepada Tuhan akhirnya bisa memberkati banyak orang secara luar biasa. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus selalu meminta kita untuk belajar dari anak kecil. Jangan pernah sepelekan mereka, tapi belajarlah dari iman mereka yang polos dan tulus, tanpa pretensi apa-apa, tanpa mengharapkan imbalan dan lainnya. Demikian firman Tuhan: &lt;i&gt;"Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." &lt;/i&gt;(Matius 18:10). Sikap iman seperti anak-anak kecil inilah yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus juga berkata &lt;i&gt;"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."&lt;/i&gt; (Markus 10:15). Ini berbicara mengenai kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil yang tidak dipengaruhi oleh keraguan, kecurigaan, ketidakpercayaan atau bentuk-bentuk pikiran lainnya. Disamping itu, kita pun melihat bahwa anak kecil itu tidak meminta penghargaan apapun atas pemberiannya. Ia bisa saja sombong bahwa semua mukjizat itu sebenarnya berawal dari miliknya, tapi ia pun tidak melakukan itu. Dia tidak berpikir untuk bermegah dan mencuri kemuliaan yang menjadi milik Tuhan. Maka mengenai sikap seperti ini kelak Yesus mengatakan &lt;i&gt;"Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."&lt;/i&gt; (Matius 18:4). Seperti itu pula hendaknya kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Kita harus &lt;b&gt;menyelidiki dan memeriksa apa talenta kita&lt;/b&gt; yang telah dianugerahkan Tuhan, &lt;b&gt;mengucap syukurlah&lt;/b&gt; atas itu dan serahkan ke dalam tangan Tuhan dengan &lt;b&gt;kepercayaan penuh&lt;/b&gt;. Maka Tuhan pun mampu memakai itu semua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu malu untuk belajar dari anak kecil. Ketika kita orang dewasa sudah terkontaminasi oleh berbagai hal yang bisa melemahkan iman kita, mari berkaca kepada kepolosan anak-anak kecil yang belum terpengaruh oleh itu semua. Iman yang polos dan murni, iman yang tidak terguncang oleh apapun, iman yang percaya sepenuhnya tanpa keraguan dan pertanyaan, itulah yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki anak-anakNya. Jangan sedikitpun meragukan kemampuan Tuhan, jangan sedikitpun merasa bahwa kita tidak cukup banyak dibekali Tuhan untuk sukses. Jangan belum apa-apa sudah merasa rendah diri bahwa apa yang kita miliki tidak berharga, tidak akan bermanfaat dan tidak akan cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Ingatlah bahwa &lt;b&gt;Tuhan bisa memakai apapun yang ada pada kita, meski bagi kita terlihat kecil sekalipun, untuk melakukan karyaNya yang besar jika kita menyerahkan itu semua ke dalam tanganNya.&lt;/b&gt; Bagaimana iman kita, bagaimana kerelaan kita, bagaimana sikap kita dalam mempersembahkan milik kita, itulah yang menyenangkan hati Tuhan dan akan dipakaiNya secara luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belajarlah dari kepolosan dan keluguan anak kecil&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-8095054338769302254?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tongkat, Lima Roti dan Dua Ikan</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/tongkat-lima-roti-dan-dua-ikan.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Tue, 20 Oct 2009 08:00:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6138770872927262484</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Keluaran 4:2&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="tongkat Musa, lima roti, dua ikan, mencari potensi diri" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/tongkat-roti-ikan.jpg" /&gt;Salah satu film seri TV yang dulu selalu saya ikuti adalah &lt;b&gt;MacGyver&lt;/b&gt;. Seri yang cukup populer pada masanya dan sampai sekarang masih diingat banyak orang mengisahkan seorang agen rahasia yang lebih mengutamakan penyelesaian tanpa kekerasan dan selalu menolak untuk membawa pistol sebagai senjatanya. Yang selalu ia pakai adalah &lt;i&gt;"swiss army knife"&lt;/i&gt;, sebuah pisau lipat yang dilengkapi dengan pembuka botol, obeng kecil, gunting dan peralatan-peralatan lainnya dalam bentuk mini. Alat inilah yang dalam banyak kesempatan menolong MacGyver dalam menumpas penjahat, disamping dalam beberapa kesempatan kita melihat pula kepiawaian MacGyver dalam menggunakan berbagai benda yang bagi kita mungkin tidak berguna apa-apa namun di tangannya benda itu bisa sangat bermanfaat. Dalam tiap episode kita disuguhi kepintaran MacGyver dalam menggunakan benda-benda sederhana itu, mengkombinasikannya dan sebagainya, sehingga bisa menjadi peralatan pendukung untuk mengalahkan penjahat. Inilah yang selalu saya sukai karena begitu banyak ide yang muncul lewat benda-benda yang bagi kita hanyalah benda biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup kita seringkali kita lebih sibuk memikirkan apa yang tidak kita miliki ketimbang apa yang ada pada kita. Ada teman yang mengeluh karena orangtuanya tidak mampu membiayai sekolah ke luar negeri, sehingga ia merasa masa depannya pasti suram karenanya. Ada yang mengeluh karena tidak sepintar temannya, tidak punya bakat seperti saudaranya dan sebagainya. Apa yang kita lihat hanyalah sesuatu yang tidak kita punyai, dan lupa bahwa kita sebenarnya telah diperlengkapi Tuhan pula dengan sesuatu yang bisa kita pakai untuk sukses. Dalam Alkitab hal ini dikatakan jelas. &lt;i&gt;"Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik."&lt;/i&gt; (2 Timotius 3:17). Masing-masing orang sungguh telah diperlengkapi dengan talenta-talenta tersendiri oleh Tuhan. Apapun yang ada pada kita saat ini dapat kita gunakan untuk berjuang hidup, dan tentu saja untuk segala perbuatan baik yang memuliakan Tuhan. Hal ini akan luput dari pengamatan kita jika kita terlalu sibuk untuk melihat apa yang dimiliki orang lain sementara kita tidak memilikinya. Mungkin kita berasal dari keluarga yang kurang mampu, tapi bukankah kita masih diberikan sepasang tangan yang kuat untuk bekerja? Jika tidak ada tangan, masih ada kaki. Ada pelukis yang sukses luar biasa menggunakan kakinya untuk melukis karena ia cacat tanpa tangan. Jika kaki pun tidak ada,  setidaknya kita masih bernafas hari ini, bukankah itupun merupakan berkat? Seorang pemusik di gereja saya tidak memiliki tangan dan kaki utuh, tapi ia bisa menjadi gitaris memberkati jemaat di depan. Jika ia bisa, kita pun bisa. Masalahnya berada hanya pada fokus pandangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal kisah Musa kita melihat bagaimana Musa berbantah-bantah dengan Tuhan. (Keluaran 3-4). Ia merasa tidak mampu  untuk mengawal bangsa Israel yang begitu banyak untuk keluar dari tanah perbudakan di Mesir. Ia hanya fokus pada keraguannya dan apa yang kurang dari dirinya, lupa bahwa Tuhan pasti memperlengkapinya dan akan selalu bersama dirinya dalam mengemban tugas yang berat itu. Mari kita lihat satu bagian dari dialog Musa dengan Tuhan mengenai penugasannya. Di awal Keluaran 4 kita membaca sebuah pertanyaan Musa. &lt;i&gt;"Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?"&lt;/i&gt; (ay 1). Lalu &lt;i&gt;"TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "&lt;b&gt;Tongkat.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 2). Bagi Musa apa yang ia pegang hanyalah sebuah tongkat kayu yang hanya dipakai untuk menyangga tubuh dalam berjalan. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada yang istimewa dari sebuah tongkat kayu bukan? Tapi benarkah demikian? Kita lihat apa yang terjadi selanjutnya.&lt;i&gt; "Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya. Tetapi firman TUHAN kepada Musa: "Ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya" --Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya."&lt;/i&gt; (ay 3-4). Ya, di tangan Tuhan, tongkat yang "tidak ada istimewanya" itu bisa menjadi sesuatu yang ajaib. Tongkat itu menjadi alat bantu yang begitu luar biasa bagi Musa untuk menjalankan tugasnya. Tongkat inilah yang kelak dipakai Musa untuk membelah Laut Teberau (Laut Merah) sehingga bangsa Israel bisa berjalan melewatinya!&lt;i&gt; "Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering."&lt;/i&gt; (14:16). Mari kita lihat fakta dari kisah ini. Faktanya adalah bahwa &lt;b&gt;Tuhan bisa menggunakan apapun yang ada di dalam diri kita, yang telah Dia perlengkapi sendiri sejak semula, yang bagi kita mungkin tidaklah berguna, untuk melakukan hal-hal besar. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu contoh dari Perjanjian Lama. Bagaimana di Perjanjian Baru? Mari kita lihat kisah Yesus menggandakan &lt;b&gt;lima roti&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;dua ikan&lt;/b&gt; untuk memberi makan lima ribu orang (belum termasuk wanita dan anak-anak) dalam Markus 6:30-44. Pada saat itu murid-murid Yesus kelimpungan ketika mendapat perintah untuk memberi makan orang-orang yang mendengarkan ajaranNya. &lt;i&gt;"Tetapi jawab-Nya: "Kamu harus memberi mereka makan!" Kata mereka kepada-Nya: "Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?"&lt;/i&gt; (Markus 6:37). Apa jawab Yesus? &lt;i&gt;"Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? &lt;b&gt;Cobalah periksa!&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (ay 38a). Mereka ternyata memiliki &lt;b&gt;&lt;i&gt;"lima roti dan dua ikan"&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Inilah yang digunakan Yesus selanjutnya untuk memberi makan begitu banyak orang sampai kenyang, bahkan bersisa dua belas bakul penuh ditambah sisa-sisa ikan. (ay 41-43). Mari kita lihat lagi apa kata Yesus. Yesus berkata, "Cobalah Periksa!" Ini teguran yang juga berlaku pada kita saat ini, yang cenderung lebih fokus kepada apa yang tidak kita miliki ketimbang memeriksa apa potensi dan kemampuan yang sebenarnya ada pada diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, &lt;b&gt;Tuhan bisa memakai apa yang ada pada kita, yang bagi kita kurang penting, atau tidak berguna, untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.&lt;/b&gt; Dari dua kisah di atas, kita bisa belajar bahwa apa yang harus kita lakukan adalah iman kita untuk percaya dan kerendahan hati untuk bisa melihat potensi atau kemampuan apa yang telah Tuhan sediakan bagi kita, dan kemudian selanjutnya meletakkan itu semua dalam tangan Tuhan. Di tangan Tuhan, semua itu bisa menjadi sangat potensial untuk menghasilkan pekerjaan-pekerjaan besar yang bisa memberkati banyak orang dan tentunya memuliakan Tuhan. Firman Tuhan berkata &lt;i&gt;"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." &lt;/i&gt;(Ibrani 11:6). Tanpa iman kita tidak akan bisa menyenangkan hati Allah. Kita harus percaya bahwa Dia ada dan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan besar yang ajaib, yang mungkin mustahil bagi kita, dan Dia akan selalu memberikan itu semua kepada siapapun yang bersungguh-sungguh mencariNya, menyerahkan seluruh hidup ke dalam tanganNya. Tuhan mampu membuat tongkat yang tidak ada apa-apanya menjadi alat yang luar biasa bagi Musa. Tuhan bisa membuat mukjizat lewat lima roti dan dua ikan untuk mengenyangkan ribuan orang. Tongkat, lima roti dan dua ikan mungkin sepele bagi kita, tapi di tangan Tuhan itu bisa menjadi alat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Hari ini, adakah kita masih berkeluh kesah bahwa kita tidak cukup lengkap diberkati Tuhan? Adakah kita masih sibuk melihat apa yang dimiliki orang lain? Jika ya, &lt;b&gt;cobalah periksa kembali diri kita masing-masing, dan temukanlah bahwa Tuhan sesungguhnya telah memperlengkapi kita semua dengan kemampuan untuk melakukan hal-hal besar!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa yang tidak berguna bagi manusia bisa menjadi alat untuk melakukan hal besar di tangan Tuhan&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6138770872927262484?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pohon Badam</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/pohon-badam.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Mon, 19 Oct 2009 08:00:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-5219409529196534137</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yeremia 1:11&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="pohon badam, visi Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/dahan-pohon-badam.jpg" /&gt;Pentingkah bagi kita untuk berjaga-jaga? Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk itu. Ada yang menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang-senang sepuasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua yang secara umum punya waktu yang lebih singkat dibandingkan anak-anak muda. Tapi sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Bisa 50 tahun lagi, bisa setahun lagi, bisa pula sedetik lagi. Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Saya terharu melihat anak-anak muda di gereja tempat saya bertumbuh. Mereka sungguh berapi-api bahkan aktif dalam berbagai kegiatan, memakai segala kreativitas mereka untuk memuji Tuhan bahkan sejak usia belia. Sementara saya di usia mereka masih berkubang dosa, sungguh indah melihat mereka yang giat dan bersemangat berkumpul memuji Tuhan sementara mereka tinggal di kota besar yang berisi penuh godaan dan ancaman dari berbagai arah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hendak melanjutkan renungan kemarin dan secara khusus membahas penglihatan Yeremia, yaitu sebatang dahan pohon badam. Gambar yang anda lihat di sebelah kiri atas adalah gambar dari sebatang dahan pohon badam yang sedang berbunga. Kira-kira seperti itu mungkin penglihatan Yeremia.&lt;i&gt; "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: &lt;b&gt;"Aku melihat sebatang dahan pohon badam."&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;(Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya, dan ia menangkapnya dengan benar, sebab kemudian Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Pohon Badam merupakan pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan di musim salju, ketika pohon-pohon lainnya meranggas, pohon badam mampu berbunga dengan indahnya. Bunganya yang putih berpadu dengan keindahan salju, memberi kesan kesucian yang sungguh indah dipandang mata. Pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih "tidur" ketika musim salju tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Ibrani, Badam diterjemahkan menjadi &lt;i&gt;"yang berjaga"&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;"yang bangun"&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;"yang menonton"&lt;/i&gt;. Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu berbunga di musim apapun. Dalam kitab Bilangan kita mendapati kisah ketika &lt;i&gt;tongkat Harun bertunas dan mengeluarkan bunga bahkan buah badam. &lt;/i&gt;(Bilangan 17:8). Hal ini berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang "mati" secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati, tapi kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam.  Disamping itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,&amp;nbsp; mengalami banyak "kematian" dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gambaran di atas menjelaskan mengapa Yeremia melihat dahan pohon badam. Pada masa itu kejahatan dari umat Tuhan telah nyata. Sesuai visi kedua dari Yeremia adalah&lt;i&gt; periuk mendidih yang datang dari utara&lt;/i&gt; (ay 13), yang menggambarkan akan adanya malapetaka menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda. &lt;i&gt;"Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri."&lt;/i&gt; (ay 16). Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih, namun di sisi lain, dahan pohon badam tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap berjaga-jaga. Tuhan mengatakan kepada Yeremia: &lt;i&gt;"Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!"&lt;/i&gt; (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah menjanjikan segala yang indah bagi mereka. Jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka, sebaliknya hendaknya pohon badam lah yang akan menjadi bagian atas mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Yeremia di satu sisi berbicara banyak tentang penghukuman. Tapi di sisi lain kita mendapatkan banyak pula janji Tuhan akan pengampunan bahkan ikatan janji baru dengan Tuhan yang sungguh indah di masa depan. (31:31-34). Sesungguhnya akan selalu ada hukuman bagi siapapun yang berbuat kejahatan bagi Tuhan, namun sebaliknya ada kehidupan baru, pengampunan penuh bagi siapapun yang berbalik dari segala jalan yang sesat untuk kembali kepadaNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Umat Tuhan yang benar seharusnya hidup seperti pohon badam.&lt;/b&gt; Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun &lt;b&gt;tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah.&lt;/b&gt; Ini menggambarkan keharusan kita untuk tetap berjaga-jaga, tidak boleh lalai atau lengah dalam kondisi apapun. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjatuhkan kita. Jatuh bangun itu manusiawi. Tapi janganlah kita lalai dan terus terlena dalam dosa, melainkan lekaslah bertobat, berbalik dari jalan yang salah dan segera kembali mencari Tuhan, masuk ke hadiratNya membawa diri kita yang dipenuhi pertobatan sebagai persembahan yang harum bagiNya. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus &lt;b&gt;senantiasa berjaga-jaga.&lt;/b&gt; Yesus mengingatkan kita berkali-kali akan hal ini. &lt;i&gt;"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang."&lt;/i&gt; (Matius 24:42), &lt;i&gt;"Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."&lt;/i&gt; (25:13). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim, termasuk pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua sebagai ahli waris Tuhan. Kita harus mampu bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun, tetap tekun berjaga-jaga setiap waktu agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak berlalu dari hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hiduplah laksana pohon badam agar periuk mendidih tidak jatuh atas kita&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-5219409529196534137?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apa Yang Kau Lihat?</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/apa-yang-kau-lihat.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 08:00:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6355926256466099999</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yeremia 1:11&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="apa yang kau lihat, visi yang jelas, visi Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/apa-yang-kau-lihat.jpg" /&gt;Sebagai manusia kita sering diliputi kebimbangan dalam hidup. Kita terbiasa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dan mengandalkan logika kita yang padahal terbatas ini untuk menilai segala sesuatu. Tidak heran ketika kita mendapatkan pesan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu, yang mungkin secara logika kita terlihat diluar kemampuan kita, kitapun serta merta merasa ragu untuk melakukannya. Kita ragu karena yang kita pakai sebagai pertimbangan utama adalah logika dan kemampuan kita sendiri yang terbatas. Kita lupa bahwa Tuhan mampu melakukan segalanya, dan jika Tuhan berkehendak, Dia sendiri pula yang akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan kita yang ditugaskan. Lalu kemudian kita pun akan terlalu sibuk tenggelam dalam keraguan kita dan lupa bertanya kepada Tuhan. Padahal kita tahu pasti bahwa rencana atau rancangan Tuhan itu selalu yang terbaik. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terbaik kalau kita tidak bertanya kepadaNya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeremia pernah mengalami hal yang sama. Pada awal kisah Yeremia, datanglah firman Tuhan kepadaNya. Yeremia sejak semula telah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, dan kini waktunya tiba. (Yeremia 1:4-5). Kagetlah Yeremia mendengarnya. Dia langsung menjawab:&lt;i&gt; "Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."&lt;/i&gt; (ay 6). Tuhan pun kemudian mengingatkan Yeremia: &lt;i&gt;"Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."&lt;/i&gt; (ay 7-8). Lalu muncullah pertanyaan Tuhan yang hendak saya angkat dalam renungan hari ini.&lt;i&gt; "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:&lt;b&gt; "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?"&lt;/b&gt; Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."&lt;/i&gt; (ay 11). &lt;b&gt;&lt;i&gt;What's your vision, what do you see?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Ini pertanyaan Tuhan kepada Yeremia, dan ia menjawab bahwa ia melihat sebatang dahan pohon badam.  Hari ini kita akan fokus kepada bentuk pertanyaan terlebih dahulu, di lain waktu kita akan melihat makna dari dahan pohon badam ini. Apa yang Tuhan tanyakan kepada Yeremia adalah apa yang ia lihat. Tuhan sering mempertanyakan hal yang sama pula kepada kita. Apa yang kita lihat? Sudahkah kita mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Apa panggilan kita yang diberikan Tuhan? Ini pertanyaan penting, yang tidak akan mampu kita jawab jika kita tidak rajin bertanya langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak-anak Tuhan kita wajib mengetahui apa yang menjadi garis rencana Tuhan dalam hidup kita. Mengetahui apa panggilanNya, apa yang telah Dia rencanakan sejak awal kepada diri kita. Mengapa demikian? Karena apa yang telah Dia rencanakan jelas merupakan yang terbaik bagi diri kita. &lt;i&gt;"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."&lt;/i&gt; (29:11). Kita bisa saja berusaha mengandalkan pikiran, logika dan kekuatan kita sendiri, namun semua itu bukanlah yang terbaik jika tidak sejalan dengan apa yang telah Dia gariskan sejak semula. Mencari dan menemukan panggilanNya adalah yang terbaik, karena dengan berjalan seturut rencanaNya kita pun akan mengalami penyertaan Tuhan dan menerima semua yang telah Dia persiapkan bagi kita untuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan ini penting bagi setiap anak Tuhan, terlebih kepada para pemimpin, termasuk gembala. Sebagai pemimpin tentunya harus tahu apa yang menjadi visi dalam menggembalakan jemaat seperti yang Tuhan mau. Visi yang jelas yang berasal dari Tuhan harus dimiliki para pemimpin  agar pelayanannya sejalan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Tanpa itu, semua akan jalan di tempat bahkan bisa mengarah pada kegagalan. Memang kita semua telah dibekali kreativitas dan kemampuan daya pikir, tenaga, kepandaian dan berbagai talenta lainnya, namun semua itu hanya akan maksimal jika dipakai untuk melakukan apa yang sesuai dengan visi Tuhan. Dalam kitab Yeremia Tuhan pun mengingatkan kriteria gembala yang baik.&lt;i&gt; "Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang &lt;b&gt;sesuai dengan hati-Ku&lt;/b&gt;; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian."&lt;/i&gt; (3:15). Gembala yang akan berhasil adalah gembala yang : (1). &lt;b&gt;Sesuai dengan hati Tuhan&lt;/b&gt;, (2). &lt;b&gt;Memiliki Pengetahuan&lt;/b&gt;, dan (3). &lt;b&gt;Memiliki pengertian/hikmat&lt;/b&gt;. Ini 3 kriteria utama untuk menjadi pemimpin yang baik. Lihatlah poin pertama, bahwa pemimpin harus merupakan orang yang sesuai dengan hati Tuhan. Artinya, pemimpin-pemimpin ini akan selalu mencari tahu isi hati Tuhan dan memimpin dengan visi yang jelas yang berasal dari Tuhan. Sebaliknya Tuhan pun mengingatkan mengenai para pemimpin yang akan gagal. &lt;i&gt;"Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, &lt;b&gt;mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN&lt;/b&gt;. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai."&lt;/i&gt; (10:21). Gembala akan gagal, dikatakan menjadi bodoh, jika mereka tidak mendasari segala perencanaan atau konsep penggembalaannya seperti apa kata Tuhan. Pemimpin yang gagal adalah pemimpin yang tidak menanyakan petunjuk Tuhan, sedang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengetahui visi jelas sesuai hati Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda merupakan pemimpin, baik dalam persekutuan, youth, &lt;i&gt;worship &lt;/i&gt;atau gembala dan sebagainya, ingatlah bahwa anda ditempatkan Tuhan sebagai wakilnya untuk menggembalakan jemaat sesuai atau seturut visi Tuhan. Karenanya dasarkanlah segala keputusan dan konsep-konsep menurut apa yang digambarkan Tuhan. Untuk mengetahui itu, tidak ada jalan lain selain rajin berdoa dan bertanya kepada Tuhan. Para pemimpin wajib tahu apa yang Tuhan mau dalam hidup dan panggilan pelayanannya, dan dari situlah para pemimpin bisa membuat misi, rencana dan strategi untuk diikuti jemaatnya. Secara umum pun hal yang sama berlaku, karena kita hanya akan berhasil dengan gemilang jika kita menjalankan apa yang telah Tuhan rencanakan bagi setiap kita sejak awal. Ketika Tuhan bertanya kepada kita, &lt;i&gt;"apa yang kau lihat..?"&lt;/i&gt;, sudahkah kita bisa menjawabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Miliki visi yang jelas dari Tuhan agar apa yang kita perbuat mencapai hasil gemilang&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6355926256466099999?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lipsync</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/lipsync.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Sat, 17 Oct 2009 08:00:03 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-1905964779143874512</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Yakobus 2:9&lt;br /&gt;====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="milli vanilli, lin miaoke, yang peiyi, penampilan luar, lipsync" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/lipsync.jpg" /&gt;Masih ingat kehebohan yang terjadi ketika kedok duo terkenal &lt;b&gt;Milli Vanilli&lt;/b&gt; terbongkar? Saat itu menjelang akhir 80'an dan memasuki awal tahun 1990 grup ini begitu merajai trend musik dunia. Siapa yang tidak kenal mereka pada waktu itu. Dimana-mana kita mendengar lagu mereka yang menjadi hits dimana-mana. Hal itu pula yang mengantar mereka memperoleh Grammy Award di tahun 1990. Beberapa tahun setelahnya kedok mereka pun terbongkar. Ternyata mereka bukanlah penyanyi yang sebenarnya. Ada orang lain yang menyanyi, sementara mereka yang dari penampilan luar terlihat menarik tampil di depan mengecoh seluruh fans dan penggemar musik secara luas. Istilah &lt;i&gt;lipsync&lt;/i&gt; pun menjadi populer, menggambarkan sebuah usaha mensinkronisasikan gerak bibir mengikuti lagu yang diputar dibelakangnya. Artinya, penyanyi yang melakukan lipsync ini tidaklah benar-benar menyanyi secara langsung melainkan hanya komat-kamit saja mengikuti lagu yang diputar. Gara-gara kasus Milli Vanilli ini dunia musik pun gempar. Mereka pun mendapat hukuman publik, ketenaran hilang seketika. Penyanyi aslinya mencoba tampil, namun penggemarnya sudah tidak lagi peduli . Begitu pula ketika duo Morvan dan Pilatus mencoba tampil dan menyanyi sendiri, usaha itu pun gagal total. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kelihatannya dunia tidak kapok. Penampilan fisik ternyata masih diagung-agungkan sebagai sesuatu yang jauh lebih penting dari inside beauty atau keindahan dari dalam diri manusia. Kembali tahun 2008 berita yang sama terjadi. Kali ini dari &lt;b&gt;Olimpiade Beijing 2008&lt;/b&gt;. Pada saat itu dunia terpesona melihat seorang anak yang lucu bernama &lt;b&gt;Lin Miaoke&lt;/b&gt; tampil menyanyikan &lt;i&gt;"Ode to the Motherland"&lt;/i&gt; secara live pada acara pembukaan. Tapi kemudian seperti halnya Milli Vanilli, penipuan ini pun terbongkar. Penyanyinya ternyata bernama &lt;b&gt;Yang Peiyi&lt;/b&gt;, yang penampilan luarnya jauh dari kecantikan Lin Miaoke. Lagi-lagi kasus lipsync, lagi-lagi penipuan yang didasarkan dari penampilan luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan manusia bisa belajar menghargai talenta atau bakat yang diberikan Tuhan? Apakah berkat hanyalah jika orang mendapat penampilan luar yang menarik, sementara bakat-bakat atau potensi dalam diri manusia tidak dianggap sama sekali? Dunia yang kita hidupi saat ini adalah dunia yang cenderung menilai segala sesuatu dari penampilan luar. Kita seringkali lebih tertarik pada penyanyi yang cantik dan menarik, meski suaranya pas-pasan atau bahkan tidak seharusnya dipakai untuk menyanyi. Sebaliknya penyanyi yang benar-benar bersuara emas jika tidak disertai dengan kecantikan luar seringkali dipandang sebelah mata. Saya bukan anti kepada orang yang penampilannya menarik, karena itu pun berkat dari Tuhan. Namun saya ingin mengingatkan bahwa alangkah sempitnya jika kita hanya menilai semata-mata dari sudut yang terlalu sempit saja. Siapapun manusia, semuanya dilahirkan dengan tujuannya masing-masing. Ada rencana Tuhan yang indah yang telah Dia anugerahkan kepada siapapun kita. Tuhan tidak pernah memandang penampilan luar orang. Apa yang dilihat Tuhan adalah hati. &lt;i&gt;"Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; &lt;b&gt;manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (1 Samuel 16:7). Hati kita lah sebenarnya yang dilihat Tuhan, dan itulah &lt;i&gt;"inside beauty"&lt;/i&gt; yang sesungguhnya yang bernilai di mata Tuhan. Dalam banyak kesempatan kita melihat bagaimana Tuhan memakai pribadi-pribadi yang mungkin tidak akan menjadi pilihan utama bagi dunia untuk bekerja bagiNya, dan kita melihat pula bagaimana orang-orang ini dipakai Tuhan secara luar biasa dan harum namanya hingga kini. Musa yang mengaku gagap, Daud yang hanya bekerja sebagai gembala kambing dan domba yang bahkan tidak dianggap oleh ayahnya sendiri, Nuh yang saat itu sudah tua, begitu pula Abraham, Paulus yang tadinya penyiksa anak-anak Tuhan, Matius pemungut cukai, dan banyak lagi contoh lain, semua itu menunjukkan bahwa Tuhan mementingkan hati seseorang lebih daripada penampilan luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tuhan saja menilai seperti itu, siapakah kita yang berani untuk lebih mementingkan penampilan fisik luar semata? Sekali lagi, usaha membuat diri kita agar terlihat lebih menarik tidaklah salah. Dalam menjual produk, membuat kemasan agar terlihat lebih menarik pun tidak salah. &lt;b&gt;Tapi apa yang salah, atau dalam Alkitab dikatakan berdosa adalah jika kita mendasarkan penampilan luar secara lahiriah ini untuk menyanjung atau merendahkan orang lain.&lt;/b&gt; &lt;i&gt;"Tetapi, &lt;b&gt;jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa&lt;/b&gt;, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu &lt;b&gt;melakukan pelanggaran.&lt;/b&gt;"&lt;/i&gt; (Yakobus 2:9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai agen-agen Tuhan di dunia ini, sudahkah kita memperlakukan semua orang sama pentingnya dalam pelayanan kita? Atau kita masih sering terjebak untuk memandang dan membeda-bedakan sesama kita berdasarkan penampilan luar mereka? Secara khusus Yakobus sudah mengingatkan para pelayan Tuhan agar tidak memandang muka. Dalam awal pasal 2 dikatakan &lt;i&gt;"Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka." &lt;/i&gt;(ay 1). Apa maksud Yakobus? Dia menjelaskannya seperti berikut. &lt;i&gt;"Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!"&lt;/i&gt;. (ay 2-3). Ketika kita melakukan hal ini, &lt;i&gt;"bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?"&lt;/i&gt; (ay 4). Yakobus kemudian mengingatkan bahwa Tuhan bisa memilih orang-orang yang secara pandangan duniawi ini tidak dianggap, untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris KerajaanNya. (ay 5). Sementara orang-orang kaya ini pun bisa jahat dan menghujat Tuhan. (ay 6-7). Ketika Tuhan tidak membeda-bedakan orang lewat penampilan luarnya, alangkah keterlaluannya jika kita berlaku seperti itu. Apa yang harus kita dasari dalam pelayanan kita adalah &lt;i&gt;"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"&lt;/i&gt;, karena dengan mendasarkan pada hal itulah kita dikatakan &lt;i&gt;berbuat baik&lt;/i&gt;. (ay 8). Sebaliknya ketika kita &lt;i&gt;memandang muka&lt;/i&gt;, kita pun &lt;i&gt;berbuat dosa dan melakukan pelanggaran.&lt;/i&gt; (ay 9). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian seseorang untuk diistimewakan atau dipinggirkan berdasarkan hal-hal lahiriah, berdasarkan penampilan luarnya harus kita hindari. Ini merupakan penyakit yang sudah terjadi bahkan sejak jaman para rasul. Kita harus menyudahinya. Kenakanlah kasih sebagai dasar pelayanan kita, baik kasih kepada Tuhan maupun kasih kepada sesama. Kasih tidak membeda-bedakan orang. Kaya atau miskin, tua atau muda, cantik atau tidak, semuanya adalah sesama kita yang patut kita kasihi. Tidak ada satu hak pun yang diberikan kepada kita untuk menentukan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Itu semua merupakan hak mutlak dari Tuhan. &lt;i&gt;"TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga."&lt;/i&gt; (1 Samuel 2:7). Apapun itu, yang pasti Tuhan punya rencana besar dibalik tujuan penciptaanNya. Disamping itu, bukankah Tuhan kita adalah Allah yang sama bagi semua orang? &lt;i&gt;"Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya."&lt;/i&gt; (Roma 10:12). Di sisi lain, jika anda merasa kurang menarik dari segi penampilan, tidak perlu berkecil hati, sebab jika anda memiliki hati yang indah, anda akan sangat menarik di mata Tuhan. Disamping itu, bukankah Tuhan telah memberkati anda dengan begitu banyak kelebihan, bakat-bakat atau talenta yang berlimpah? Jika dunia menganggap&lt;i&gt; lipsync &lt;/i&gt;merupakan hal yang penting, jika dunia menganggap penampilan luar lebih penting dari segalanya, tidak demikian seharusnya bagi anak-anak Tuhan.  Perlakukanlah semuanya secara adil, dan bersyukurlah atas segala sesuatu yang kita miliki hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pakailah kaca mata kasih agar kita bisa melihat dan memperlakukan orang secara adil&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-1905964779143874512?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Makin Kecil (2)</title><link>http://renungan-harian-online.blogspot.com/2009/10/makin-kecil-2.html</link><author>noreply@blogger.com (webmaster)</author><pubDate>Fri, 16 Oct 2009 08:00:00 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8864475912893424950.post-6227862942928882747</guid><description>&lt;b&gt;Ayat bacaan:&lt;/b&gt; Lukas 9:48b&lt;br /&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img align="left" alt="makin kecil, persaingan antara gereja dan anak Tuhan" src="http://i276.photobucket.com/albums/kk28/renunganharianonline/makinkecil2.jpg" /&gt;Kecenderungan merasa diri paling benar merupakan salah satu penyakit yang tersimpan dalam diri manusia. Ada banyak orang yang sulit sekali menerima pendapat orang lain, bahkan ketika dalam hati mereka sebenarnya mereka tahu bahwa itu benar. Rasa tidak mau kalah, egois atau gengsi menghinggapi siapapun, tidak terkecuali di kalangan anak-anak Tuhan sekalipun. Antar gereja saja bisa terjadi persaingan, apalagi di antara jemaat. "Lebih baik ikut gereja saya saja, lebih asyik loh.." kata seorang teman pada suatu ketika. Tidak heran bentuk fanatisme dan rivalitas ini menjadi lahan subur bagi iblis untuk memporak-porandakan sesama anak Tuhan. Itu antar gereja. Di kalangan pelayan-pelayan dan hamba Tuhan dalam satu gereja pun hal seperti ini bisa terjadi. Jika tidak hati-hati, pada suatu ketika kesombongan bisa datang, dan melayani Tuhan pun seakan memiliki tingkatan kepentingan. Ada yang lebih penting, ada yang cukup penting, ada pula yang kurang penting. Tapi apakah benar seperti itu pandangan Tuhan? Saya percaya tidak. Seorang penerima tamu tidak kurang penting dibandingkan pengkotbah. Seorang tim multimedia tidak kalah perannya dibanding worship leader. Semua ini haruslah merupakan kesatuan yang bersinergi dan harmonis jika ingin menghasilkan pelayanan yang baik. Tidak boleh ada satupun yang memandang rendah satu sama lain, karena &lt;b&gt;apapun bentuknya, sekecil apapun itu, semua pelayanan yang dilakukan karena mengasihi Tuhan dengan segenap hati akan dihargai sangat besar oleh Tuhan.&lt;/b&gt; Sebaliknya sepenting apapun jabatan dalam pelayanan, apabila hanya untuk memegahkan diri dan ingin terlihat hebat, maka itu tidak akan bernilai apa-apa di mata Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi murid-murid Yesus yang senantiasa mengikuti setiap langkah kakiNya pastilah istimewa. Bayangkan dari sekian banyak manusia, hanya ada 12 yang dipilih. Karenanya, pada suatu ketika mulailah mereka meninggikan diri. Mereka saling berdebat,bertengkar siapa diantara mereka yang menjadi murid terbesar. &lt;i&gt;"Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka."&lt;/i&gt; (Lukas 9:46). Mereka lupa bahwa anugerah luar biasa yang mereka terima seharusnya menjadikan mereka bersyukur dan lebih giat lagi bekerja sama melakukan pekerjaan-pekerjaan Ilahi bersama Kristus. Tapi yang terjadi, mereka mulai diliputi rasa tinggi hati, merasa satu lebih istimewa dari yang lain. Maka mereka pun bertengkar. Yesus mengetahui hal itu dan menegur mereka lewat seorang anak kecil. &lt;i&gt;"Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya" &lt;/i&gt;(Lukas 9:47). Lalu Yesus pun berkata kepada para murid: &lt;i&gt;"Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku."&lt;/i&gt; (ay 48a). Anak kecil seringkali tidak dianggap banyak orang, apalagi ketika rasa tinggi hati menguasai diri. Maka Yesus pun mengingatkan mereka untuk menyambut siapapun, anak kecil, dewasa, orang tua, kaya dan miskin, siapapun itu, hendaklah disambut dengan kasih dalam nama Yesus. Para murid diingatkan untuk meninggalkan perdebatan mereka yang berasal dari rasa tinggi hatinya, dan segera kembali kepada tugas-tugas mereka, kepada tujuan semula kenapa mereka dipanggil. Dan Yesus menutup kalimatnya dengan &lt;b&gt;"Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."&lt;/b&gt; (ay 48b). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan ini berlaku pula bagi kita semua. Jika kita tidak menjaga diri kita dengan baik, kita pun bisa terjebak pada arogansi dan gengsi untuk merasa diri kita jauh lebih baik dari orang lain. Rasa seperti ini bisa membuat kita lupa apa tujuan kita dalam melayani, apa isi Amanat Agung Kristus bagi kita semua, lalu kemudian sibuk meninggikan diri, bermegah dan merasa bahwa kita adalah yang terbesar sehingga porsi kita pun harus besar pula dalam pelayanan. Jika tidak, maka melayani pun tidak lagi sepenuh hati, bahkan mungkin pindah ke gereja lain menjadi alternatif berikut. Ini sudah tidak lagi sejalan dengan apa yang difirmankan Tuhan. Semakin kita meningkat, seharusnya kita semakin rendah hati. Semakin banyak kita dipakai Tuhan, maka kita pun seharusnya semakin kecil, sementara Tuhan harus semakin besar. Itulah konsep yang sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Ketika kita memegang sebuah jabatan, baik dalam pekerjaan ataupun pelayanan, itu bukan berarti bahwa kita menjadi penguasa dunia yang bisa bertindak semena-mena dan harus selalu dilayani. Kata Yesus &lt;i&gt;"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya."&lt;/i&gt; (Markus 10:44). Yesus tidak sekedar bicara saja, tapi lewat kehadiranNya di muka bumi ini pun Dia telah menunjukkan keteladanan mengenai hal itu. Dan itu pula yang kemudian diingatkan Yesus. &lt;i&gt;"Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."&lt;/i&gt; (ay 45). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebagai bagian dari anggota tubuh Kristus, sudah saatnya kita bersinergi dengan harmonis, saling dukung, saling bantu dan selalu saling memberikan yang terbaik buat Tuhan dalam pelayanan kita.&lt;/b&gt; Kita harus mengenakan kasih dalam apapun yang kita lakukan. Jangan beri tempat bagi egoisme, arogansi dan gengsi untuk menguasai diri kita. Apapun status anda dalam pelayanan saat ini sesungguhnya sangat berharga di mata Tuhan jika semua dilakukan demi kemuliaan Tuhan, sekecil apapun itu. Jadilah pribadi-pribadi yang rendah hati, yang akan selalu semakin kecil ketika Tuhan memakai kita lebih dan lebih lagi, dimana di saat yang sama Tuhan akan semakin ditinggikan. Jangan mencontoh sikap para murid ketika itu yang mulai tergoda untuk kemegahan diri dan merasa lebih hebat dari yang lain, karena sesungguhnya jika kita bisa melakukan sesuatu hari ini, semua itu semata-mata berasal dari Tuhan dan bukan karena kehebatan kita saja. Yohanes pembaptis tahu itu, dan ia tahu bagaimana harus memposisikan diri menurut firman Tuhan. &lt;i&gt;"Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." &lt;/i&gt;(Yohanes 3:30). Lalu seperti yang kita lihat kemarin, Paulus pun tahu bahwa jika ia sudah diselamatkan dari kesesatannya membantai orang-orang Kristen, maka semua itu selayaknya ia syukuri, dan membuatnya semakin giat lagi bekerja untuk Tuhan apapun resikonya. Tidak ada alasan apapun baginya untuk meninggikan diri meski pelayanan Paulus pada saat itu sungguh luar biasa. (baca 1 Korintus 15:9, Efesus 3:18 dan 1 Timotius 1:15). Seperti inilah kita seharusnya berlaku. Jangan mencuri kemuliaan Tuhan lewat kesombongan dan ketinggian hati. Ketika kita semakin dipakai Tuhan, bersyukurlah untuk itu dan jadilah semakin kecil, semakin rendah hati sementara tinggikan Tuhan lebih lagi lewat semua yang kita kerjakan.  Karenanya jangan hanya ingin mendapatkan posisi-posisi yang tinggi dalam pelayanan, dan menganggap rendah posisi dibawahnya, karena sesungguhnya apapun yang kita kerjakan dengan segenap hati karena kita mengasihi Tuhan, meski sekecil apapun itu, semua itu sama berharganya di mata Tuhan.  Jadilah orang yang semakin hari semakin rendah hati, teruslah melayani dengan segenap hati disertai niat yang benar, dan pakailah semua itu untuk memuliakan Tuhan lebih lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Siapa yang paling kecil, dialah yang terbesar&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8864475912893424950-6227862942928882747?l=renungan-harian-online.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>
