<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Risalah07</title>
	<atom:link href="https://risalah07.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://risalah07.wordpress.com</link>
	<description>Belajar dan Beramal sesuai sunnah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Jun 2012 15:42:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11486089</site><cloud domain='risalah07.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://s2.wp.com/i/webclip.png</url>
		<title>Risalah07</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://risalah07.wordpress.com/osd.xml" title="Risalah07" />
	<atom:link rel='hub' href='https://risalah07.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Soal-Soal di Alam Kubur</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2012/06/29/soal-soal-di-alam-kubur/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2012/06/29/soal-soal-di-alam-kubur/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2012 15:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jawabannya]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran yang bisa dipetik]]></category>
		<category><![CDATA[soal alam kubur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=267</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم إن الحمد لله ، نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ، ومن سيِّئات أعمالنا ، من يهده الله ؛ فلا مُضِلَّ له ، ومن يضلل ؛ فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL">
<p dir="RTL"><strong>إن الحمد لله ، نحمده ، ونستعينه ، ونستغفره ، ونعوذ بالله من شرور</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>أنفسنا ، ومن سيِّئات أعمالنا ، من يهده الله ؛ فلا مُضِلَّ له ، ومن يضلل ؛ فلا</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمداً عبده</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>ورسوله .</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إلَّا وَأَنتُم مُسْلِمُونَ }</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>[آل عمران : 102] .</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إنَّ</strong><strong> </strong><strong>اللَّهَ كَانَ عَلَيْكَمْ رَقِيبًا } [النساء : 11] .</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيماً } [الأحزاب : 70 &#8211; 71]</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>أما بعد، فان أصدق الحديث كتاب الله، وأحسن الهدي هدي محمد، وشر الامور </strong></p>
<p dir="RTL"><strong>محدثاتها، وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار</strong></p>
<p dir="RTL"><strong> </strong></p>
<p>يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ [١٤:٢٧]</p>
<p>27. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu<a title="" href="/Documents/pelajaran%20tauhid%20dari%20fitnah%20kubur.doc#_ftn1">[1]</a> dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jama’ah sidang jum’at اعزني الله و اياكم جميعا</p>
<p>Sesungguhnya suatu yang merupakan kesepakatan semua kaum muslimin bahkan menjadi kesepakatan semua manusia dari berbagai agamanya adalah bahwa kita semua ini pasti akan merasakan yang namanya mati,Alloh ta’ala berfirman :</p>
<p align="right">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ [٢٩:٥٧]</p>
<p>57. tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hanya ada sesuatu yang membedakan seorang yang beriman kepada Alloh ta’ala dengan orang-orang kafir dalam permasalahan ini,yaitu seorang yang beriman dia meyakini bahwa ada kehidupan nanti,kehidupan yang abadi  yang hanya ada 2 kemungkinanya boleh jadi manusia itu akan berada di surganya Alloh ta’ala yang penuh dengan kenikmatan atau boleh jadi dia berada dineraka yang penuh dengan azab yang sangat mengerikan yang tidak pernah terbayangkan oleh pikiran manusia.bahkan kita sebagai seorang muslim meyakini akan adanya azab kubur dialam barzah yang merupakan alam awal perpindahan manusia dari kehidupan ini menuju akhirat Alloh ta’ala yang kekal nan abadi.inilah para jama’ah yang dirohmati Alloh ta’ala batas merah yang membedakan seorang yang beriman dengan orang-orang kafir.Rasululloh n pernah bersabda dalam hadist yang shohih diriwayatkan imam bukhori dikitab shohihnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib a beliau bersabda :</p>
<p align="right"><strong>&#8211;</strong><strong> حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ </strong><strong>الْمُسْلِمُ إِذَا سُئِلَ فِي الْقَبْر</strong><strong>ِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ فَذَلِكَ قَوْلُهُ [يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ]</strong><strong></strong></p>
<p>Seorang muslim apabilah dia ditanya di dalam kuburnya dia akan bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar kecuali Alloh q dan bahwasanya nabi Muhammad n adalah Rasul Alloh q yang demikian itu sesuai dengan firman Alloh q Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.disini Alloh ta’ala melalui lisan nabi-NYA bahwa apabila orang telah dikubur dia akan ditanya oleh malaikat yang diutus Alloh ta’ala.menjadi pertanyaan kita apakah pertanyaan yang nanti akan ditanyakan malaikat Alloh ta’ala kepada kita semua ? semua ini adalah perkara ghoib yang hanya Alloh ta’ala yang mengetahuinya kemudian Rasul-NYA melalui wahyu yang wahyukan kepadanya Alloh ta’ala berfirman :</p>
<p dir="RTL">عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا [٧٢:٢٦]إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا [٧٢:٢٧]</p>
<p>26. (dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.</p>
<p>27. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu kok kalau ada yang mengetahui perkara ghoib,ketahuilah bahwasanya dia telah berdusta walaupun terkadang ada 1 dari seribu yang mereka sampaikan benar.dan walhamdulillah kita sebagai seorang muslim yang beriman kepada apa2 yang dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad n,beliau pernah bersabda yang menceritakan perihal soal2 yang nanti akan ditanyakan oleh malaikat kepada kita semua,Rasululloh n pernah bersabda yang diriwayatkan oleh imam ahmad didalam musnadnya dari sahabat yang mulia bara’ ibni azib dalam hadist yang pajang tetang perjalanan manusia nanti setelah dia kuburkan diantara hadits tersebut Rasululloh n pernah bersabda :</p>
<p dir="RTL"><strong>قَالَ: &#8221; فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، </strong><strong>فَيَأْتِيهِ مَلَكَان</strong><strong>ِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ ؟</strong><strong>   </strong><strong>فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ، فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي (1) السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ &#8220;</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Didalam hadits ini dijelaskan bahwa soal-soal yang nanti akan ditanyakan oleh kedua malaikat kepada kita adalah tentang siapakah tuhanmu ? apakah agamu ? siapakah Rasul yang diutus kepadamu ? apakah pengetahuan yang kamu ketahui?</p>
<p dir="RTL" align="right">Jadi sudah sepatutnyalah kita mengetahui semua itu sebagai bekal kita nanti <span id="more-267"></span>agar kita selamat dan bisa menjawab pertanyaan malaikat kepada kita.para ulama kita mengatakan soal-soal ini adalah pondasi agama yang pertama yang wajib kita ketahui dan inilah yang disebut tauhid.maka sungguh heran dan miris hati kita kepada orang-orang yang merasa pobi atau bahkan membeci kalau kita katakan dakwah tauhidlah yang pertama wajib kita ajarkan,bisa jadi mereka dengan enaknya mengatakan kita inikan sudah beriman sudah masuk islam atau dengan enaknya orang yang malas belajar agama ini dia akan mengataka kalau begitu ya hadits ini aja kita hapal nanti kitakan bisa selamat dan mudah bisa menjawabnya,dan banyak lagi alasan-alasan mereka yang enggan mempelajari agama ini.kita katakan kepada mereka tidak semudah itu yang akan anda dapatkan bukankah juga Rasululloh n bersabda yang merupakan sambungan dari hadits diatas dimana Rasululloh n bersabda :</p>
<p dir="RTL"><strong>فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ، وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ، فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ، فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا، وَسَمُومِهَا، وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Kalau ada yang mengatakan itu semuakan kabar tentang keadaan orang-orang kafir yang mereka tidak beriman,kita katakan sesungguhnya ini juga berlaku bagi orang-orang islam yang mereka jauh dari agama Alloh ta’ala dan inilah yang akan kita bahas nanti pada khutbah ke-2 insyaAlloh.</p>
<p dir="RTL">اقول لهذا استغفرالله لي و لكم و للمسمين وللمؤمنين من كل ذنب انه هو الغفورالرحيم .</p>
<p dir="RTL">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p dir="RTL" align="right">Khutbah ke-2</p>
<p dir="RTL">الحمد الله و الصلا ة و السلام على رسول الله ومن اتبع الهدى اما بعد&#8230;..</p>
<p dir="RTL" align="right">Subhat ataupun alasan-alasan orang yang egan serta menolak jika kita katakan kepada mereka dakwah yang pertama didakwahkan seharusnya tauhid ini dapat kita jawab yang dengannya kita mengharap agar mereka mulai sadar dan mulai mau mempelajari agama yang mulia ini dengan benar sesuai dengan sunnah nabi kita Muhammad n .adapun subhat mereka bahwasanya hadits ini berhubungan dengan orang kafir yang mereka tidak bisa menjawab pertanyaan malaikat karena mereka memang orang  kafir adapun kebanyakan kaum muslim mereka adalah orang islam yang mempercayai Alloh q ataupun alasan orang yang mengatakan ya kalau begitu kita cukup hapal hadits ini aja kan cukup untuk kita bisa menjawab pertanyaan malaikat nanti,kita jawab apakah kalian hendak menipu ALLOH,</p>
<p dir="RTL"> يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ [٢:٩]</p>
<p dir="RTL"> 9. mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sekali-kali tidak sesungguhnya kalian hanya menipu diri kalian sendiri,bahkan dalam satu riwayat dikatakan juga ada orang-orang yang mengaku islam dia mengalami seperti apa yang dialami orang-orang kafir yang mereka tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat nanti dialam kubur,dikarenakan mereka hanya ikut-ikutan saja atau karena hari-hari yang mereka alami selama masah hidup mereka sangat jauh dari agama ALLOH ta’ala,mereka jauh dari majlis ilmu dari kajian-kajian agama yang membahas syariat-syariat ALLOH ta’ala dan sunnah nabi-NYA yang sesuai dengan apa yang dipahami para sahabat.sesungguhnya seseorang itu akan dimatikan sesuai dengan kebiasan sehari-hari yang mereka lakukan dan juga hanya orang yang senantiasa belajar memahami dan mengamalkan agama islam yang mulia ini ajalah yang akan mudah ALLOH untuk dapat menjawab semua pertanyaan itu dikarekan pada saat itu manusia tidak bisa lagi berbohong.nabi n pernah bersabda :</p>
<p align="right"><strong>أَمَّا الْكَافِرُ أَوْ الْمُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي كُنْتُ أَقُولُ كَمَا يَقُولُ النَّاسُ فَيُقَالُ لَهُ لَا دَرَيْتَ وَلَا تَلَيْتَ ثُمَّ يُضْرَبُ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="right">
<p>Juga nabi n kita pernah bersabda :</p>
<p align="right">وحدثنا قتيبة بن سعيد وعثمان بن أبي شيبة قالا حدثنا جرير عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر قال</p>
<p align="right">سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول يبعث كل عبد على ما مات عليه رواه مسلم 4/ 2206</p>
<p>Sahabat yang mulia jabir a berkata orang mukmin mati dalam keimananya dan orang kafir mati dalam kekafiranya.dan sebagian ulama mengatakan seperti imam nawawi dalam syarahnya terhadap kitab shohih muslim mengatakan seseorang itu akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan yang dia lakukan saat dia mati.banyak sekali kisah-kisah baik orang terdahulu ataupun terjadi zaman kita sekarang ini&#8230;yang mana diceritakan orang yang kebiasaan sehari-harinya hanya bermain catur takkala sakratul maut menjemputnya dan orang-orang disekitarnya hendak mentalkinkan kalimat tauhid kepadanya tapi apa yang keluar dari lidahnya dan menjadi akhir dari ucapanya adalah skak mat&#8230;nauzu billah&#8230;dikisahkan pada saat kematian kholifah Al-Ma’muun yang mana dia bangga dengan kekuasaan dan pasukannya dimana jika dia melihat pasukanya dia akan berucap يا من لايموت ارحم من يموت “wahai dzat yang tidak mati sayangilah hambamu yang mati”</p>
<p>apa akhir dari ucapanya saat orang-orang terdekatnya hendak mentalkinkanya dengan kalimat tauhid tapi yang keluar adalah ucapanya</p>
<p align="right">يا من لايموت ارحم من يموت “wahai dzat yang tidak mati sayangilah hambamu yang mati”</p>
<p>Oleh karena itu marilah kita kembali keagama Alloh ta’ala dan mempelajarinya dan serta mengamalkanya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh para sahabat semua.akhirnya marilah kita berdo’a agar diberi ucapan yang sabit lagi kokoh sehingga kita mampu menjawab pertanyaan malaikat nanti.amin ya rabbal alamin.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="/Documents/pelajaran%20tauhid%20dari%20fitnah%20kubur.doc#_ftnref1">[1]</a> . Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimatun thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas.yaitu firman Alloh ta’ala</p>
<p dir="RTL">أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ [١٤:٢٤]</p>
<p> oleh : abu ahmad</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2012/06/29/soal-soal-di-alam-kubur/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">267</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar Kunci Kebahagian</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/sabar-kunci-kebahagian/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/sabar-kunci-kebahagian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 08:07:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab dan Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah dibalik Sabar]]></category>
		<category><![CDATA[Kunci Kebahagian]]></category>
		<category><![CDATA[Pengertian Sabar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=262</guid>

					<description><![CDATA[Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95) Pengertian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sabar</strong> adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (<em>Al Fawa’id</em>, hal. 95)</p>
<p><strong>Pengertian Sabar</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (<em>Syarh Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 24)</p>
<p><strong>Macam-Macam Sabar</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:</p>
<ol start="1">
<li>Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah</li>
<li>Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah</li>
<li>Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (<em>Syarh Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 24)</li>
</ol>
<p><strong>Sebab Meraih Kemuliaan</strong></p>
<p>Di dalam <em>Taisir Lathifil Mannaan</em> Syaikh As Sa’di <em>rahimahullah</em> menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah <strong>iman</strong> dan <strong>amal shalih</strong>.</p>
<p>Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah <em>ta’ala</em>, <em>“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”</em> (QS. Al Baqarah [2]: 45).</p>
<p>Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah <em>ta’ala</em> berfirman kepada penduduk surga, <em>“Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.”</em> (QS. Ar Ra’d [13] : 24).</p>
<p>Allah juga berfirman, <em>“Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.”</em> (QS. Al Furqaan [25] : 75).</p>
<p>Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah <em>ta’ala</em>, <em>“Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.”</em> (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat <em>Taisir Lathifil Mannaan</em>, hal. 375)</p>
<p><strong>Sabar Dalam Menuntut Ilmu</strong></p>
<p>Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.</p>
<p>Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (<em>Taisirul wushul</em>, hal. 12-13)</p>
<p><strong>Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu</strong></p>
<p>Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.</p>
<p>Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (<em>Taisirul wushul</em>, hal. 13)</p>
<p><strong>Sabar Dalam Berdakwah</strong></p>
<p>Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”</p>
<p>Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.</p>
<p>Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (<em>Taisirul wushul</em>, hal. 13-14)</p>
<p><strong>Sabar dan Kemenangan</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin <em>rahimahullah</em> berkata, “Allah <em>ta’ala</em> berfirman kepada Nabi-Nya, <em>“Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.”</em> (QS. Al An’aam [6]: 34).</p>
<p>Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.</p>
<p>Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul <em>shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim</em>. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, <em>“Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.”</em> (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah <em>‘azza wa jalla</em> berfirman, <em>“Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.”</em> (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (<em>Syarh Tsalatsatul Ushul</em>, hal. 24)</p>
<p><strong><span id="more-262"></span>Sabar di atas Islam</strong></p>
<p>Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat <em>Tegar di Jalan Kebenaran</em>, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat <em>Tegar di Jalan Kebenaran</em>, hal. 122-123)</p>
<p>Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya<strong> </strong>bersumpah<strong> </strong>mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat <em>Tegar di Jalan Kebenaran</em>, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.</p>
<p>Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.</p>
<p>Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.</p>
<p>Ingatlah firman Allah <em>ta’ala</em> yang artinya, <em>“Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.”</em> (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).</p>
<p>Ingatlah juga janji Allah yang artinya, <em>“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.”</em> (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).</p>
<p>Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.”</em> (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat <em>Durrah Salafiyah</em>, hal. 148) dan Al Haakim dalam <em>Mustadrak ‘ala Shahihain</em>, III/624). (<em>Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin</em>, hal. 200)</p>
<p><strong>Sabar Menjauhi Maksiat</strong></p>
<p>Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah <em>‘azza wa jalla</em> di dalam muhkam al-Qur’an.</p>
<p>Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”<strong> </strong></p>
<p>Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat,<strong> </strong><em>“Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”</em> (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).</p>
<p>“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah <em>tabaaraka wa ta’ala</em>. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.</p>
<p>Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah <em>‘azza wa jalla</em>, <em>“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.”</em> (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.”</em> (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam <em>Misykatul Mashaabih</em> 5043)…” (<em>Thariqul wushul</em>, hal. 15-17)</p>
<p><strong>Sabar Menerima Takdir</strong></p>
<p>Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (<em>Thariqul wushul</em>, hal. 15-17)</p>
<p><strong>Sabar dan Tauhid </strong></p>
<p>Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab <em>rahimahullahu</em> <em>ta’ala</em> membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, <strong>“Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah”</strong> (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)</p>
<p>Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh <em>hafizhahullahu</em> <em>ta’ala</em> mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.</p>
<p>Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.</p>
<p>Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah <em>jalla wa ‘ala</em> untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.</p>
<p>Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah <em>jalla wa ‘ala</em> kepada Nabi-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda <em>“Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.” </em></p>
<p>Maka hakikat pengutusan Nabi <em>‘alaihish shalaatu was salaam</em> adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.</p>
<p>Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”</p>
<p>Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya <strong>sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid</strong>. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.</p>
<p>Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.</p>
<p>Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.</p>
<p>Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.</p>
<p><strong>Imam Ahmad</strong> <em>rahimahullah</em> berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”</p>
<p>Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.</p>
<p>Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa <em>niyaahah</em> (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (<em>At Tamhiid</em>, hal.389-391)</p>
<p><strong>Hukum Merasa Ridha Terhadap Musibah</strong></p>
<p>Syaikh Shalih Alusy Syaikh <em>hafizhahullahu</em> <em>ta’ala</em> menjelaskan, “Hukum merasa ridha dengan adanya musibah adalah mustahab (sunnah), bukan wajib. Oleh karenanya banyak orang yang kesulitan membedakan antara ridha dengan sabar. Sedangkan kesimpulan yang pas untuk itu adalah sebagai berikut. Bersabar menghadapi musibah hukumnya wajib, dia adalah salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Hal itu dikarenakan di dalam sabar terkandung meninggalkan sikap marah dan tidak terima terhadap ketetapan dan takdir Allah.</p>
<p>Adapun ridha memiliki dua sudut pandang yang berlainan:</p>
<p><strong>Sudut pandang pertama</strong>: terarah kepada perbuatan Allah <em>jalla wa ‘ala</em>. Seorang hamba merasa ridha terhadap perbuatan Allah yang menetapkan terjadinya segala sesuatu. Dia merasa ridha dan puas dengan perbuatan Allah. Dia merasa puas dengan hikmah dan kebijaksanaan Allah. Dia merasa ridha terhadap pembagian jatah yang didapatkannya dari Allah <em>jalla wa ‘ala</em>. Rasa ridha terhadap perbuatan Allah ini termasuk salah satu kewajiban yang harus ditunaikan. Meninggalkan perasaan itu hukumnya haram dan menafikan kesempurnaan tauhid (yang harus ada).</p>
<p><strong>Sudut pandang kedua</strong>: terarah kepada kejadian yang diputuskan, yaitu terhadap musibah itu sendiri. Maka hukum merasa ridha terhadapnya adalah mustahab. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sakit yang dideritanya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan anaknya. Bukan kewajiban atas hamba untuk merasa ridha dengan sebab kehilangan hartanya. Namun hal ini hukumnya <em>mustahab</em> (disunnahkan).</p>
<p>Oleh sebab itu dalam konteks tersebut (ridha yang hukumnya wajib) Alqamah mengatakan, “Ayat ini berbicara tentang seorang lelaki yang tertimpa musibah dan dia menyadari bahwa musibah itu berasal dari sisi Allah maka diapun merasa ridha” yakni merasa puas terhadap ketetapan Allah “dan ia bersikap pasrah”. Karena ia mengetahui musibah itu datangnya dari sisi (perbuatan) Allah <em>jalla jalaaluhu</em>. Inilah salah satu ciri keimanan.” (<em>At Tamhiid</em>, hal. 392-393)</p>
<p><strong>Sabar dan Syukur</strong></p>
<p>Dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinaan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, beliau mengatakan, “Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda, <em>“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, semua urusannya adalah baik. Tidaklah hal itu didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia tertimpa kesenangan maka bersyukur. Maka itu baik baginya. Dan apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar. Maka itu pun baik baginya.”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa manusia dalam menghadapi takdir Allah yang berupa kesenangan dan kesulitan terbagi menjadi dua, yaitu kaum beriman dan kaum yang tidak beriman.</p>
<p>Adapun orang yang beriman bagaimanapun kondisinya selalu baik baginya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia bersabar dan tabah menunggu datangnya jalan keluar dari Allah serta mengharapkan pahala dengan kesabarannya itu. Dengan demikian dia memperoleh pahala orang-orang yang sabar. Maka ini baik baginya.</p>
<p>Sedangkan apabila seorang mukmin menerima nikmat diniyah maupun duniawiyah maka dia bersyukur yaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah. Karena syukur bukan saja mencakup ucapan syukur di mulut saja, akan tetapi harus dilengkapi dengan melaksanakan berbagai ketaatan kepada Allah. Sehingga orang yang beriman memiliki dua nikmat ketika mengalami kesenangan yaitu nikmat dunia dengan merasa senang dan nikmat diniyah dengan bersyukur. Sehingga inipun baik bagi dirinya.</p>
<p>Adapun orang kafir, mereka berada dalam keadaan yang buruk sekali, <em>wal ‘iyaadzu billaah</em>. Apabila tertimpa kesulitan mereka tidak mau bersabar, bahkan tidak mau terima, memprotes takdir, mendoakan kebinasaan, mencela masa dan caci maki lainnya.</p>
<p>Sedangkan apabila mendapatkan kesenangan dia tidak bersyukur kepada Allah. Maka kesenangan yang dialami oleh orang-orang kafir di dunia ini kelak di akhirat akan berubah menjadi siksaan. Karena orang kafir itu tidaklah menyantap makanan atau menikmati minuman kecuali dia pasti mendapatkan dosa karenanya. Meskipun hal itu bagi orang mukmin tidak dinilai dosa, akan tetapi lain halnya bagi orang kafir.</p>
<p>Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah <em>ta’ala</em> yang artinya, <em>“Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah dan rezeki yang baik-baik yang dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya. Katakanlah: itu semua adalah untuk orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia yang akan diperuntukkan untuk mereka saja pada hari kiamat.”</em> (QS.Al A’raaf [7]: 32).</p>
<p>Sehingga semua rezeki tersebut diperuntukkan bagi kaum beriman saja pada hari kiamat nanti. Adapun orang-orang yang tidak beriman maka nikmat itu bukan menjadi hak mereka. Mereka memakannya padahal itu haram bagi mereka dan pada hari kiamat nanti mereka akan disiksa karenanya. Sehingga bagi orang kafir kesenangan maupun kesulitan adalah sama-sama buruknya, <em>wal ‘iyaadzu billaah</em>. (Lihat <em>Syarh Riyadhush Shalihin</em>, I/107-108)</p>
<p><strong>Hikmah di Balik Musibah </strong></p>
<p>Dari Anas, beliau berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah segerakan hukuman atas dosanya di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya maka Allah tahan hukuman atas dosanya itu sampai dibayarkan di saat hari kiamat.”</em> (Hadits riwayat At Tirmidzi dengan nomor 2396 di dalam Az Zuhud. Bab tentang kesabaran menghadapi musibah. Beliau mengatakan: hadits ini hasan gharib. Ia juga diriwayatkan oleh Al Haakim dalam Al Mustadrak (1/349, 4/376 dan 377). Ia tercantum dalam <em>Ash Shahihah</em> karya Al Albani dengan nomor 1220)</p>
<p>Syaikhul Islam mengatakan, “Datangnya musibah-musibah itu adalah nikmat. Karena ia menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa. Ia juga menuntut kesabaran sehingga orang yang tertimpanya justru diberi pahala. Musibah itulah yang melahirkan sikap kembali taat dan merendahkan diri di hadapan Allah <em>ta’ala</em> serta memalingkan ketergantungan hatinya dari sesama makhluk, dan berbagai maslahat agung lainnya yang muncul karenanya. Musibah itu sendiri dijadikan oleh Allah sebagai sebab penghapus dosa dan kesalahan. Bahkan ini termasuk nikmat yang paling agung. Maka seluruh musibah pada hakikatnya merupakan rahmat dan nikmat bagi keseluruhan makhluk, kecuali apabila musibah itu menyebabkan orang yang tertimpa musibah menjadi terjerumus dalam kemaksiatan yang lebih besar daripada maksiat yang dilakukannya sebelum tertimpa. Apabila itu yang terjadi maka ia menjadi keburukan baginya, bila ditilik dari sudut pandang musibah yang menimpa agamanya.”</p>
<p>“Sesungguhnya ada di antara orang-orang yang apabila mendapat ujian dengan kemiskinan, sakit atau terluka justru menyebabkan munculnya sikap munafik dan protes dalam dirinya, atau bahkan penyakit hati, kekufuran yang jelas, meninggalkan sebagian kewajiban yang dibebankan padanya dan malah berkubang dengan berbagai hal yang diharamkan sehingga berakibat semakin membahayakan agamanya. Maka bagi orang semacam ini kesehatan lebih baik baginya. Hal ini bila ditilik dari sisi dampak yang timbul setelah dia mengalami musibah, bukan dari sisi musibahnya itu sendiri. Sebagaimana halnya orang yang dengan musibahnya bisa melahirkan sikap sabar dan tunduk melaksanakan ketaatan, maka musibah yang menimpa orang semacam ini sebenarnya adalah nikmat diniyah. Musibah itu sendiri terjadi dengan perbuatan Rabb <em>‘azza wa jalla</em> sekaligus sebagai rahmat untuk manusia, dan Allah <em>ta’ala</em> maha terpuji karena perbuatan-Nya tersebut. Barang siapa yang diuji dengan suatu musibah lantas diberikan karunia kesabaran oleh Allah maka sabar itulah nikmat bagi agamanya. Setelah dosanya terhapus karenanya maka muncullah sesudahnya rahmat (kasih sayang dari Allah).</p>
<p>Dan apabila dia memuji Rabbnya atas musibah yang menimpanya niscaya dia juga akan memperoleh pujian-Nya. <em>“Mereka itulah orang-orang yang diberikan pujian (shalawat) dari Rabb mereka dan memperoleh curahan rahmat.”</em> (QS. Al Baqarah [2]: 156) Ampunan dari Allah atas dosa-dosanya juga akan didapatkan, begitu pula derajatnya pun akan terangkat. Barang siapa yang merealisasikan sabar yang hukumnya wajib ini niscaya dia akan memperoleh balasan-balasan tersebut” Selesai perkataan Syaikhul Islam, dengan ringkas. (Lihat <em>Fathul Majiid</em>, hal. 353-354)</p>
<p><strong>Doa Apabila Tertimpa Musibah</strong></p>
<p><em>Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Allahumma’jurnii fii mushiibatii wa ahklif lii khairan minhaa</em></p>
<p>Artinya: <em>“Sesungguhnya kita adalah milik Allah. Dan kita pasti akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berikanlah ganjaran pahala atas musibah hamba. Dan gantikanlah ia dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”</em> (HR. Muslim, 2/632. lihat <em>Hishnul Muslim</em>, hal. 96-97)</p>
<p><strong>Pertanyaan</strong>: Apabila ada seseorang yang terkena suatu penyakit atau tertimpa suatu bencana yang berakibat buruk bagi diri atau hartanya, lalu bagaimanakah cara untuk mengetahui bahwa bencana itu merupakan ujian ataukah kemurkaan dari sisi Allah ?</p>
<p>Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz <em>rahimahullah</em> menjawab, “Allah <em>‘azza wa jalla</em> menguji hamba-hamba-Nya dengan bentuk kesenangan dan kesulitan, dengan kesempitan dan kelapangan. Terkadang dengan hal itu Allah menguji mereka supaya bisa menaikkan derajat mereka serta meninggikan sebutan mereka dan juga demi melipatgandakan kebaikan-kebaikan mereka. Yang demikian itu sebagaimana yang dialami oleh para Nabi dan Rasul <em>‘alaihimush shalatu was salaam</em>, dan juga para hamba Allah yang shalih. Sebagaimana sudah disabdakan oleh Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Orang yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian diikuti oleh orang-orang lain yang berada di bawah tingkatan mereka.”</em></p>
<p>Dan terkadang Allah juga menimpakan hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan maksiat dan dosa-dosa (yang mereka lakukan). Sehingga dengan demikian maka bencana itu merupakan hukuman yang di segerakan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah Yang Mahasuci yang artinya, <em>“Dan musibah apapun yang menimpa kalian maka itu terjadi karena ulah perbuatan tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak kesalahan orang.”</em> (QS. Asy Syura [42]: 30).</p>
<p>Adapun kondisi sebagian besar umat manusia yang ada ialah fenomena <em>taqshir</em>/meremehkan dan tidak menunaikan kewajiban yang telah dibebankan. Oleh karena itu musibah yang menimpa dirinya maka itu sesungguhnya timbul dikarenakan dosa-dosa yang diperbuatnya serta kekurangannya sendiri dalam menjalankan perintah Allah.</p>
<p>Sedangkan apabila yang mengalami musibah adalah termasuk golongan hamba Allah yang shalih, entah berupa penyakit tertentu ataupun musibah yang lainnya, maka sesungguhnya hal ini termasuk kategori ujian yang diberikan kepada kalangan para Nabi dan Rasul dalam rangka mengangkat derajat serta membesarkan balasan pahalanya. Dan juga dia bisa menjadi contoh untuk orang lain dalam hal kesabaran dan keyakinannya untuk berharap pahala. Sehingga hasil yang ingin diraih dengan sebab terjadinya musibah ialah terangkatnya derajat, peningkatan pahala, sebagaimana halnya musibah yang ditetapkan oleh Allah menimpa para Nabi dan sebagian orang yang baik/shalih.</p>
<p>Dan bisa juga hal itu terjadi demi menghapuskan dosa kesalahan-kesalahan, sebagaimana tercantum dalam firman Allah <em>ta’ala</em> yang artinya, <em>“Barang siapa yang melakukan kejelekan pasti akan dibalas.”</em> (QS. An Nisaa’ [4] : 123).</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tidaklah ada sebuah kesusahan, kekalutan, keletihan, penyakit, kesedihan maupun gangguan yang menimpa seorang mukmin melainkan Allah pasti menghapuskan sebagian dosa kesalahan-kesalahannnya, bahkan sampai duri yang menusuk bagian tubuhnya.”</em> Dan sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>“Barang siapa yang diinginkan baik oleh Allah maka pasti Dia timpakan musibah kepadanya.”</em></p>
<p>Namun terkadang bisa juga hal itu merupakan hukuman yang di segerakan disebabkan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilakukan dan kelambatan diri dalam bertaubat. Hal itu sebagaimana diceritakan di dalam sebuah hadits dari beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Nabi bersabda, <em>“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukuman baginya di alam dunia. Sedangkan apabila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya maka Allah menahan hukuman atas dosa itu hingga terbayarkan kelak pada hari kiamat.”</em> (HR. Tirmidzi, dinilainya hasan). (<em>Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah</em> juz 4, diterjemahkan dari website beliau)</p>
<p><strong>Marah Saat Tertimpa Musibah ?</strong></p>
<p>Pertanyaan: Apa hukumnya orang yang marah tatkala tertimpa musibah ?</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> menjawab, “Orang ketika menghadapi musibah terbagi dalam empat tingkatan :</p>
<p><strong>Tingkatan Pertama</strong>: <strong>Marah </strong></p>
<p>Tingkatan ini meliputi beberapa macam keadaan:</p>
<p><strong>Kondisi pertama</strong>; ia menyimpan perasaan marah di dalam hati kepada Allah. Sehingga dia pun menjadi marah terhadap apa yang sudah diputuskan Allah. Hal ini adalah haram. Bahkan terkadang bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam kekafiran. Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, <em>“Di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di pinggiran. Apabila dia tertimpa kebaikan dia pun merasa tenang. Dan apabila dia tertimpa ujian maka dia pun berbalik ke belakang, hingga rugilah dia dunia dan akhirat.”</em> (QS. Al Hajj [22]: 11).</p>
<p><strong>Kondisi kedua</strong>; kemarahannya diekspresikan dengan ucapan. Seperti dengan mendoakan kecelakaan dan kebinasaan atau ucapan semacamnya, ini juga haram.</p>
<p><strong>Kondisi ketiga</strong>; kemarahannya sampai meluap sehingga terekspresikan dengan tindakan anggota badan. Seperti dengan menampar-nampar pipi, merobek-robek kain pakaian, mencabuti rambut dan perbuatan semacamnya. Perbuatan ini semua haram hukumnya dan meniadakan sifat sabar yang wajib ada.</p>
<p><strong>Tingkatan Kedua</strong>: <strong>Bersabar</strong></p>
<p>Hal ini sebagaimana digambarkan oleh seorang penyair dalam syairnya,</p>
<p><em>Sabar itu memang seperti namanya</em></p>
<p><em>Pahit kalau baru dirasa</em></p>
<p><em>Tapi buahnya yang ditunggu-tunggu </em></p>
<p><em>Jauh lebih manis daripada madu</em></p>
<p>Dia melihat bahwa musibah ini adalah sesuatu yang sangat berat akan tetapi dia tetap bisa tabah dalam menanggungnya. Dia merasa tidak senang atas kejadiannya. Namun imannya masih bisa menjaganya untuk tidak marah. Sehingga terjadi atau tidaknya musibah itu masih terasa berbeda baginya. Dan hal ini adalah tingkatan yang wajib. Sebab Allah <em>ta’ala</em> telah memerintahkan untuk bersabar. Allah berfirman yang artinya, <em>“Bersabarlah kalian. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”</em> (QS. Al Alnfaal [8]: 46).</p>
<p><strong>Tingkatan Ketiga</strong>: <strong>Merasa Ridha</strong></p>
<p>Yaitu seseorang bisa merasa ridha dengan musibah yang menimpanya. Sehingga ada dan tidaknya musibah adalah sama saja baginya. Dia tidak merasakannya sebagai sebuah beban yang sangat berat. Ini adalah tingkatan yang sangat dianjurkan/<em>mustahab</em>, dan bukan hal yang wajib menurut pendapat yang kuat. Perbedaan antara tingkatan ini dengan tingkatan sebelumnya cukup jelas. Yaitu karena dalam tingkatan ini ada tidaknya musibah itu terasa sama saja dalam hal keridhaan terhadapnya. Adapun dalam tingkatan sebelumnya terjadinya musibah itu masih dirasakan sebagai sesuatu yang sukar baginya, namun dia masih tetap bersabar.</p>
<p><strong>Tingkatan Keempat</strong>: <strong>Bersyukur</strong></p>
<p>Inilah tingkatan yang tertinggi. Yaitu dengan justru bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia sadar bahwa pada hakikatnya musibah adalah faktor penyebab terhapusnya dosa-dosanya, bahkan terkadang bisa menjadi sumber penambahan amal kebaikannya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>“Tiada sebuah musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali pasti Allah hapuskan (dosanya) dengan sebab musibah itu, bahkan sekalipun duri yang menusuknya.”</em> (HR. Bukhari (5640) dan Muslim (2572)). (Diterjemahkan dengan penyesuaian redaksional dari <em>Fatawa Arkanil Islam</em>, hal. 126-127)</p>
<p><strong>Balasan Bagi Orang yang Sabar</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, <em>“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya”. Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan shalawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah.”</em> (QS. Al Baqarah [2]: 155-157).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata di dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak bersabar maka dia berhak menerima lawan darinya, berupa celaan dari Allah, siksaan, kesesatan serta kerugian. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar…” (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 76)</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> juga berfirman yang artinya, <em>“Sesungguhnya balasan pahala bagi orang-orang yang sabar adalah tidak terbatas.”</em> (QS. Az Zumar [39]: 10).</p>
<p>Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di <em>rahimahullah</em> berkata di dalam kitab tafsirnya,”Ayat ini berlaku umum untuk semua jenis kesabaran. Sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan, yaitu hamba tidak merasa marah karenanya. Sabar dari kemaksiatan kepada-Nya, yaitu dengan cara tidak berkubang di dalamnya. Bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya, sehingga dia pun merasa lapang dalam melakukannya.</p>
<p>Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah, dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan.” (<em>Taisir Karimir Rahman</em>, hal. 721)</p>
<p><strong>Surga Bagi Orang yang Sabar</strong></p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman yang artinya, <em>“(yaitu) Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum” (Keselamatan atas kalian sebagai balasan atas kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”</em> (QS. Ar Ra’d: 23-24).</p>
<p><em>Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam</em>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/sabar-kunci-kebahagian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">262</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Mempersatukan Umat Tergampang</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/cara-mempersatukan-umat-tergampang/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/cara-mempersatukan-umat-tergampang/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 08:01:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[bantahan bagi yang menginkari wajib meluruskan shof]]></category>
		<category><![CDATA[Persatuan umat]]></category>
		<category><![CDATA[umat islam]]></category>
		<category><![CDATA[Wajibnya meluruskan Shof]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=257</guid>

					<description><![CDATA[AWALI PERSATUAN UMAT ISLAM DENGAN MELURUSKAN SHAF![[1]] Perintah untuk memperbagus lurusnya shaf (barisan) Dari Abû Hurairoh Radhiyallâhu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda : أَحْسِنُوْا إِقَامَةَ الصُّفُوْفِ فِيْ الصَّلاَةِ “Perbaguslah lurusnya shaf (barisan) ketika sholat” (HR Ahmad di dalam Musnad-nya dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albânî di dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>AWALI PERSATUAN UMAT ISLAM DENGAN MELURUSKAN SHAF!<a href="http://abusalma.wordpress.com/2009/06/13/awali-persatuan-umat-islam-dengan-meluruskan-shaf/#_ftn1">[<strong><span style="text-decoration:underline;">[1]</span></strong>]</a></strong></p>
<p><strong>Perintah untuk memperbagus lurusnya shaf (barisan)</strong></p>
<p>Dari <strong>Abû Hurairoh</strong> <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau berkata : Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda :</p>
<p dir="RTL">أَحْسِنُوْا إِقَامَةَ الصُّفُوْفِ فِيْ الصَّلاَةِ</p>
<p>“Perbaguslah lurusnya shaf (barisan) ketika sholat” (HR <strong>A<span style="text-decoration:underline;">h</span>mad</strong> di dalam <em>Musnad</em>-nya dan di<em>sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span></em>kan oleh Syaikh <strong>al-Albânî</strong> di dalam <em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>î<span style="text-decoration:underline;">h</span> at-Targhîb wat Tarhîb</em> : 499)</p>
<p>Bagaimana cara memperbagus lurusnya shaf?</p>
<p>Hadits <strong>Jâbir bin Samuroh</strong> <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> menjelaskan hal ini. Beliau berkata : “Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> keluar menemui kami dan berkata :</p>
<p dir="RTL">مَالِيْ أَرَاكُمْ رَافِعِي أَيْدِيْكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابَ خَيْلِ شُمُسٍ, أُسْكُنُوا فِيْ الصَّلاَةِ</p>
<p>“Aku tidak pernah melihat kalian mengangkat-angkat tangan kalian, seakan-akan seperti ekor kuda liar saja. Tenanglah kalian di dalam sholat (jangan bergerak).”</p>
<p><strong>Jâbir</strong> berkata kembali : kemudian beliau <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> keluar menemui kami (pada lain waktu) dan melihat kami sedang bergerombol, lantas beliau bersabda :</p>
<p dir="RTL">مَالِيْ أَرَاكُمْ عَزِيْنَ</p>
<p>“Aku tidak pernah melihat kalian bergerombol?!”</p>
<p><strong>Jâbir</strong> melanjutkan : kemudian beliau <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> keluar menemui kami sembari mengatakan :</p>
<p dir="RTL">أَلاَ تَصُفُّوْنَ كَمَا تَصُفُّ المَلاَئِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا</p>
<p>“Kenapa kalian tidak berbaris sebagaimana para malaikat berbaris di hadapan Rabb mereka?”</p>
<p>Kami berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya Malaikat di hadapan Rabb mereka?”</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> menjawab :</p>
<p dir="RTL">يَتُمُّوْنَ الصُّفُوْفَ الأَوَّلِ وَيَتَرَاصَّوْنَ فِيْ الصَّفِّ</p>
<p>“Mereka menyempurnakan shaf/barisan yang paling awal sembari merapatkan barisannya.” (HR <strong>Muslim</strong> : 430)</p>
<p>Jadi, memperbagus shaf itu tidak akan terwujud melainkan dengan menyempurnakan dan merapatkan barisannya.</p>
<p>Mari kita amati realita yang ada di hadapan kita, yaitu kebesaran para tentara angkatan darat beserta pasukan dan kekuatannya dari aspek militer, begitu bagus dan teraturnya pola barisan mereka. Anda tidak dapati adanya kebengkokan maupun cela padanya. Jarak satu dengan lainnya teratur rapi, sungguh pemandangan yang sungguh indah.  Coba Anda perhatikan, orang yang mengamatinya, mereka sangat interes dan terkagum-kagum dibuatnya.</p>
<p>Adapun di sekolahan, jangan Anda tanyakan bagaimana perhatian mereka yang begitu besar di dalam masalah meluruskan, merapikan dan mengatur barisan. Bukankah para pemakmur Masjid itu seharusnya adalah orang yang lebih utama di dalam memberikan perhatian di dalam mengatur shaf dan merapatkan barisan, sebagaimana malaikat berbaris di hadapan Rab mereka <em>Sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu wa Ta’âlâ</em>?!</p>
<p><strong>Kita tidak akan masuk surga sampai kita meluruskan shaf</strong></p>
<p>Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah bersumpah, bahwa kita tidaklah dikatakan beriman, dan kita tidak akan bisa masuk surga sampai kita saling mencintai di jalan Alloh <em>Ta’âlâ</em>. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh <strong>Abû Hurairoh</strong> <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda :</p>
<p>“Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah dikatakan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang apabila kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai?! Sebarkanlah salam di tengah-tengah kalian.” (HR <strong>Muslim</strong> : 54)</p>
<p>Kecintaan ini tidak akan mudah jika tanpa merapatkan dan meluruskan shaf. Sebab Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> menjelaskan bahwa ketidaklurusan shaf di dalam sholat itu, memicu perselisihan hati.</p>
<p>Kesimpulannya adalah, bahwasanya keimanan, surga, kecintaan dan persatuan, kesemuanya ini tidak akan mudah diraih melainkan dengan meluruskan dan merapatkan shaf.</p>
<p><strong><span id="more-257"></span>Perhatian kita terhadap segala sesuatu yang bersifat lahiriah tidak lain adalah bentuk ketaatan, apalagi masalah meluruskan shaf</strong></p>
<p>Sungguh aneh kita ini, bagaimana kita bisa menaruh perhatian terhadap lahiriah perkara duniawi sedangkan kita tidak mau memperhatikan lahiriah urusan agama kita?! Saya tidak melihatnya melainkan hal ini berasal dari syaithan.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang akan mereka perbuat. Sekiranya ada nash-nash (dalil) yang mengharamkan untuk merapatkan dan meluruskan shaf, niscaya syaithan-syaithan dari golongan jin dan manusia akan berbondong-bondong untuk merapatkan shaf. Rapat dan lurusnya tidak akan pernah Anda lihat ada satupun yang menyamainya! Demikianlah keadaan mereka ini, <em>Wallôhu a’lam</em>. Jika tidak, lantas dimanakah segala sesuatu yang Alloh <em>Ta’âlâ</em> haramkan di dalam Kitab-Nya dan as-Sunnah, tidak Anda dapati di tengah-tengah manusia sebagai sesuatu yang lumrah dan dicintai?!</p>
<p>Lihatlah diri kita sendiri, bagaimana kita begitu mencintai lahiriah duniawi. Sungguh, kita akan lebih mencintai orang yang kaya walaupun ia seorang yang bodoh ketimbang kita mencintai orang yang fakir padahal ia berilmu! Kita lebih memilih berteman dengan orang yang kuat dan kita tinggalkan orang yang lemah!</p>
<p>Adakalanya, seorang manusia mau menginfakkan hartanya dalam jumlah besar hanya untuk suatu hal yang  remeh supaya dikatakan : “Fulan telah berbuat ini dan itu”! Terkadang, orang yang bodoh dapat menyebabkan kita tertawa oleh sebab pakaiannya yang bagus, seorang penipu dapat mengelabui kita dengan tutur katanya yang manis dan seorang munafik dapat memikat kita dengan kepandaiannya bersilat lidah.</p>
<p>Adapula bentuk formalitas bagi para tamu dan pengunjung yang tidak boleh tidak, harus ada.  Bagi yang menyelisihinya akan dicela dan dianggap aneh. Jika ada suatu kaum berada di majelis dan ada seseorang yang tidak berdiri (untuk menyambut dan menghormati mereka), mereka memprotes dan menghukumnya, sebab ia dianggap tidak menghormati dan menghargai mereka, dan mereka menganggapnya sebagai orang yang tidak faham etika bermasyarakat.</p>
<p>Jika dikatakan kepada mereka, “berjabat tangan dengan wanita asing dan wanita yang halal dinikahi (non mahram) adalah haram hukumnya.” Mereka menjawab, “hati-hati kami ini terjaga, bersih dan suci. Yang jadi patokan bukanlah masalah lahiriah seperti itu!” Namun, apabila ada seorang pemuda fakir yang bagus agama dan akhlaknya, bermaksud menikahi anak-anak puteri mereka, maka masalah lahiriyah menjadi patokan dengan begitu saja. Mereka tidak lagi butuh kepada bathin, harga diri dan kesucian hati pemuda itu. Yang penting, ia haruslah orang yang memiliki harta, jabatan dan kedudukan.</p>
<p>Apabila mereka diminta untuk merapatkan dan meluruskan shaf, mereka mengatakan, “yang menjadi ukuran adalah bathin, bukanlah dari faktor fisik.” Akan tetapi, keimanan mereka terhadap faktor fisik muncul ketika ada seseorang yang bermaksud meminang puteri mereka. Mereka akan menetapkan beberapa hal, mereka akan memasang tarif mahal untuk mahar, memperketat persyaratan, pakaian harus begini dan begitu, perabotan haruslah dengan harga yang selangit, pestanya haruslah meriah dan menarik sehingga mendapatkan pujian orang-orang dan tidak dicemooh!</p>
<p>Maka, dimanakah kebajikan bathin terhadap Tuhanmu dan keimananmu kepada-Nya tatkala Anda diseru untuk merapatkan shaf?! Dan dimanakah kekufuran mereka terhadap perkara-perkara fisik untuk meluruskan dan mengatur shaf? Ataukah ini merupakan hawa nafsu?! Semoga Alloh membinasakan hawa nafsu.</p>
<p dir="RTL">سُبْحَانَ رَبِّكَ كَيْفَ يَغْلَبُكَ الهَوَى             سُبْحَانَهُ إِنَّ الهَوَى لَغَلُوْبُ<strong></strong></p>
<p><em>Maha Suci Rabb-mu bagaimana kamu sampai dikalahkan oleh nawa nafsumu</em></p>
<p><em>Maha Suci Diri-Nya sesungguhnya hawa nafsu itulah yang pasti akan terkalahkan</em></p>
<p>Apa seperti ini sikapmu wahai kaum? Perkara lahiriah yang Alloh kehendaki, cintai dan perintahkan, serta ia ancam orang yang meninggalkannya dengan malapetak dan bencana, namun Anda menjadikannya sebagai bahan senda gurau dan main-main?! Dan perkara-perkara lahiriah yang Alloh <em>Sub<span style="text-decoration:underline;">h</span>ânahu</em> tidak izinkan, Anda malah menjadikannya sebagai syariat dan agama? Kejahatan apakah gerangan yang telah Anda lakukan, dan kesalahan apakah gerangan yang Anda perbuat?</p>
<p>Sungguh kami telah mengimani masalah meluruskan shaf ini dengan penuh keimanan. Hanya saja keimanan ini ada di luar masjid, bukan di dalamnya. Tidakkah anda melihat bersamaku bagaimana lurusnya barisan tentara dan di sekolah?!</p>
<p>Di sini ada yang mengatakan, “sesungguhnya, keteraturan barisan (di ketentaraan dan sekolahan) merupakan bentuk simbol kekuatan, ketertiban, ketaatan dan kemajuan! Namun keteraturan barisan di masjid hanyalah sebuah bentuk lahiriah belaka, masalah kulit yang remeh, yang tidak berguna dan tidak berfaidah!”</p>
<p>Untuk menyelesaikan urusan muamalah kita di kantor dan yayasan secara cepat, dan supaya terhindar dari problematika dan perselisihan, memang harus ada suatu peraturan dan keseragaman. Adapun perlunya kita mengimplementasikan hal ini di dalam Masjid, adalah untuk menghindarkan kita dari perpecahan dan perselisihan, yang mana hal ini sudah tidak perlu lagi ditanyakan, baik kepada orang yang lupa atau orang yang masa bodoh. Karena Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah menjanjikan hal ini.</p>
<p><strong>Tidak meluruskan shaf akan menyebabkan perselisihan hati</strong></p>
<p>Dari <strong>Abû Mas’ûd</strong> <em>Radhiyallâhu ‘anhu</em> beliau berkata : Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda :</p>
<p dir="RTL">اسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُوْا قُلُوْبَكُمْ</p>
<p>“Luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan hati kalian akan berselisih.” (HR <strong>Muslim</strong> : 432)</p>
<p>Kalimat pertama dalam hadits, yaitu “luruskanlah”, merupakan bentuk kalimat imperatif (perintah), dan kalimat imperatif itu menunjukkan kewajiban sampai ada <em>qorînah</em> (indikasi) lain yang memalingkan kewajibannya. Sedangkan indikasi yang menunjukkan kewajibannya ada banyak, diantaranya adalah hadits sebelumnya yang berbunyi : “Perbaguslah lurusnya shaf (barisan) ketika sholat.”</p>
<p>Diantaranya juga adalah penggalan hadits yang Anda lihat di atas, yaitu hadits yang melarang perselisihan, sebagaimana dalam sabda beliau <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> : “dan janganlah kalian berselisih”. Kalimat negasi/larangan menunjukkan keharamannya sampai ada indikasi yang memalingkannya. Dalam hadits ini, terhimpun kalimat perintah dan larangan sekaligus, yang mana satu dengan lainnya merupakan indikasi yang saling menguatkan antara satu dengan lainnya.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> memerintahkan untuk meluruskan shaf dan memperingatkan dari tidak mematuhi perintahnya. Karena hal ini akan memicu perselisihan, sebagaimana di dalam hadits :</p>
<p dir="RTL">أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ فَوَاللهِ لَتُقِيْمَنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ</p>
<p>“Luruskan shaf-shaf kalian. Dan demi Alloh, luruskanlah shaf-shaf kalian, atau jika tidak niscaya Alloh akan menjadikan hati kalian saling berseteru.” (<em>Sha<span style="text-decoration:underline;">h</span>îh Sunan</em> <strong>Abu Dâwud</strong> : 616)</p>
<p>Di dalam riwayat hadits yang lain :</p>
<p dir="RTL">أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ</p>
<p>“atau Alloh akan menjadikan wajah-wajah kalian saling bertikai.”</p>
<p>Huruf <em>fa’</em> (فَ) pada hadits kata <em>takhtalifu</em> (تَخْتَلِفُ) disebut dengan <em>Fa` as-Sababiyah</em> (yang menunjukkan sebab), sehingga makna hadits menjadi : perselisihan lurusnya shaf (tidak lurusnya shaf) di dalam sholat merupakan sebab berselisihnya hati.</p>
<p>Lantas, betapa lancangnya seseorang yang berkata bahwa meluruskan shaf dan hadits yang membicarakan tentangnya akan memecah belah umat! Apakah mereka berada di dalam keraguan tentang hal ini?! Padahal Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah bersumpah kepada mereka dan beliau adalah orang yang jujur lagi dibenarkan, adakah kamu melihat mereka membenarkannya?</p>
<p>Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah menegaskan hal ini dengan banyak penekanan di dalam nash hadits di atas dan selainnya, diantaranya adalah adanya <em>Lâm </em>dan <em>Nûn Taukîd ats-Tsaqîlah</em> (huruf lam dan nun yang berfungsi superlatif) di dalam dua kata : <em>tuqîm</em> (luruskanlah) dan <em>yukholif</em> (memalingkan), kemudian meng-<em>‘athaf</em>-kan (mengikutkan) <em>taukîd</em> (penegasan) dengan <em>taukîd</em> (penegasan), akan tetapi mereka pergi berlalu dengan mengabaikannya begitu saja. Bagaimana bisa mereka berijtihad padahal <em>nash</em> (dalil)-nya ada?!</p>
<p>Perkaranya tidak berhenti sampai di sini saja, bahkan ijtihad mereka sampai merubah pemahaman yang benar lagi jelas. Padahal sesungguhnya, orang yang paling rendah pengetahuannya tentang fikih dan Bahasa Arab saja, sekiranya dia membaca hadits-hadits yang membicarakan masalah meluruskan shaf, niscaya dia akan dapat memahami bahwa tidak merapatkan dan meluruskan shaf, akan memicu perselisihan dan perpecahan hati.</p>
<p>Dari manakah mereka mendatangkan ijtihad seperti ini, yaitu mereka melarang dan mencegah, serta memerintahkan orang-orang untuk meninggalkan hadits yang berbicara tentang masalah meluruskan shaf supaya dapat mempersatukan hati?</p>
<p>Perselisihan ini tidaklah terlewatkan begitu saja dari perhatian Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> dan hal ini tidak layak bagi beliau, bahkan beliau <em>‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm</em> adalah orang yang lebih mendahului kita di dalam memahami dan mengetahui hal ini, sebab “<em>ucapan beliau tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya</em>.” (QS an-Najm : 4)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> telah menyebutkan perselisihan ummatnya di dalam banyak <em>nash</em>/teks hadits dengan lafazh yang bervariasi. Diantaranya sabda beliau : “<em>niscaya hati kalian akan berselisih</em>”, “<em>atau Alloh akan menjadikan hati-hati kalian saling berselisih</em>”, “<em>atau Alloh akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih</em>.”<a href="http://abusalma.wordpress.com/2009/06/13/awali-persatuan-umat-islam-dengan-meluruskan-shaf/#_ftn2">[<span style="text-decoration:underline;">[2]</span>]</a></p>
<p>Kendati Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> mengetahui masalah perselisihan dan faktor penyebabnya serta beliau membencinya, beliau tidak mau berpaling dari perkara meluruskan shaf, agar kaum muslimin terbebas dari perdebatan dan perselisihan di dalamnya, kemudian agar mereka dapat menjaga diri dari perpecahan hati yang merupakan akibat dari perselisihan!</p>
<p>Kesemua hal ini, tidak beliau puji dan beliau tolak sedikitpun. Nabi <em>‘alaihi ash-Sholâtu was Salâm</em> adalah orang yang lebih mengetahui tentang kemaslahatan umat daripada kita, beliau lebih faham tentang mana yang urgen dan lebih diprioritaskan. Namun beliau tidak pernah alpa memperingatkan dari perselisihan yang timbul dari tidak lurusnya shaf. Yang ditetapkan, bahwa beliau tidak pernah meninggalkan masalah meluruskan shaf, tidak pernah ketinggalan untuk melakukannya dan tidak pernah berhenti memperbincangkannya.</p>
<p>Adapun orang yang berpandangan bahwa solusi yang benar adalah tidak meributkan masalah meluruskan shaf atau pembahasan yang semisal dengannya, namun yang utama adalah membincangkan masalah perjuangan memerangi musuh dan memerangi kejahatan dan kebiadaban mereka dengan  berbagai bentuknya –dan kami tidaklah bermaksud meremehkan masalah ini-, maka keadaan orang ini adalah seperti orang yang beranggapan bahwa sholat itu lebih urgen ketimbang puasa dan selainnya, lantas ia mengingkari orang yang memperbincangkan masalah urgensi puasa, haramnya berinteraksi dengan riba, atau semisalnya, dengan alasan bahwa manusia saat ini banyak yang menyia-nyiakan dan melalaikan sholat.</p>
<p>Ini merupakan kesalahan yang besar, karena kewajiban itu ada banyak, bermacam-macam dan beraneka ragam. Seorang muslim dituntut untuk memenuhi kewajiban-kewajiban ini dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Tidak boleh bagi kita mengabaikan sebagiannya dan mengamalkan sebagiannya. Membenahi aqidah itu wajib, jihad di jalan Alloh juga wajib. Berdakwah itu wajib dan mewaspadai sepak terjang musuh juga wajib.  Memerangi ghibah dan namimah adalah wajib, berbakti kepada orang tua dan meluruskan shaf juga merupakan perkara yang wajib.</p>
<p>Lantas, bagaimana mungkin kita bisa berjihad, menjaga dan membela agama sedangkan kita dalam keadaan berpecah belah dan bertikai satu sama lainnya?!</p>
<p>Mari kita perhatikan perselisihan dan pertikaian yang telah menjangkiti umat, sampai-sampai saudara kita para mujahidin –kendati sedikit dan jarang-, mereka juga saling berpecah belah dan berselisih.</p>
<p>Jangan kamu lupakan pula, bahwa syaithan yang menggerakkan penganut madzhab yang membinasakan, adalah syaithan atau sejenisnya yang tinggal di sela-sela barisan dan berdiri diantara celah barisan/shaf kaum muslimin. Mereka membuat hati menjadi saling berselisih dan jauh antara satu dengan lainnya agar senantiasa tidak dapat bersatu, agar kaum muslimin tidak mampu memberantas madzhab-madzhab yang menyimpang dan keyakinan-keyakinan yang menyeleweng. Hal ini disebabkan syaithan itu tahu bahwa meluruskan shaf dapat mempersatukan hati dan wajah. Apabila kaum muslimin telah bersatu dan saling mencintai, maka syaithan dari bangsa jin dan manusia sudah tidak memiliki kemampuan lagi (untuk memporakporandakan kaum muslimin), dan inilah yang diperkirakan dan ditakuti syaithan bakal terjadi.</p>
<p><strong>Tidak meluruskan shaf akan menyebabkan kehancuran umat</strong></p>
<p>Telah jelas bagi kita dari paparan hadits Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> sebelumnya yang tidak meninggalkan keraguan sedikitpun, bahwa ketidaklurusan shaf akan menyebabkan perselisihan yang nantinya dapat memicu kelemahan, kehancuran dan hilangnya kekuatan dan potensi umat. Tentang hal ini, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu saling berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.</em>” (QS al-Anfâl : 46)</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda : “Janganlah kalian berselisih. Karena umat sebelum kalian, mereka berselisih dan menjadi hancur.” (HR Bukhârî : 2410)</p>
<p>Dari perpaduan kedua <em>nash</em> di atas, maknanya menjadi : Luruskan shaf kalian dan jangan berselisih, yang nantinya akan menyebabkan kalian menjadi hancur, lemah dan hilang kekuatan kalian.</p>
<p>Adakah kita menginginkan kehancuran yang lebih besar daripada ini? Ataukah menanti kelemahan yang lebih dahsyat? Kita saat ini sedang dikerumuni oleh umat-umat selain Islam, sebagaimana mereka mengerumuni makanan di atas wadahnya. Inilah keadaan negeri kita yang dijajah, musuh-musuh Islam dengan tamaknya mengeksploitasi negeri kita tanpa sisa, kita hanya bisa termenung tanpa memiliki kemampuan dan kekuatan di antara umat yang ada. Tidak satupun yang kita dengar melainkan hanya keluhan dan rintihan untuk mendapatkan keadilan dan perlindungan dari serangan musuh. Kita sendiri telah menjadi bergolong-golongan dan berkelompok-kelompok. “<em>dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka</em>.” (QS al-Mu`minûn : 53)</p>
<p>Hati pun telah tercerai berai dan jihad telah ditinggalkan. Seakan-akan tidaklah tersisa bagi kita melainkan hanya sekedar perbincangan tentangnya belaka. Sampai kapan gerangan kita selalu berada di dalam perpecahan, perselisihan dan kehampaan seperti ini?! Adapun sekarang, tiba saatnya hati kita senantiasa khusyu’ di dalam mengingat Alloh dan mempelajari agama kita! Adapun sekarang, wahai manusia pilihan dan terbaik, tiba saatnya kalian saling bersatu dan mencintai! Marilah kita terima masalah meluruskan shaf ini. Sebagai permulaan untuk mempersatukan hati kita dengan izin Alloh.</p>
<p>Aduhai, betapa bahayanya bersatu dengan syaithan, baik dari bangsa jin maupun manusia!</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disarikan dari risalah <em>Taswiyatu ash-Shufûf wa Atsaruhâ fî <span style="text-decoration:underline;">H</span>ayâtil Ummah</em> karya Syaikh <span style="text-decoration:underline;">H</span>usain bin ‘Audah al-‘Awâyisyah (Dâr Ibnu <span style="text-decoration:underline;">H</span>azm, cet 1, 1423)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Di dalam <em>an-Nihâyah</em>, dikatakan : “maksudnya adalah setiap orang yang memalingkan wajahnya dari orang lain, akan menyebabkan terjadinya sikap saling membenci. Karena menghadapkan wajah dengan wajah itu berdampak terhadap rasa kasih sayang dan persatuan.”</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2012/03/06/cara-mempersatukan-umat-tergampang/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">257</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Terorisme ala Kafir Barat</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/07/06/terorisme-ala-kafir-barat/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/07/06/terorisme-ala-kafir-barat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Jul 2011 02:31:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=252</guid>

					<description><![CDATA[GLASGOW (Berita SuaraMedia) – Seorang pria kulit putih rasis pengusung semboyan supremasi kulit putih dijatuhi hukuman karena telah melontarkan ancaman keji akan meledakkan masjid utama Skotlandia dan juga ancaman untuk memenggal kepala umat Muslim. Neil MacGregor, yang mengakui kepada polisi bahwa dirinya adalah seorang rasis, pada persidangan awal memebenarkan bahwa dirinya mengancam untuk meledakkan masjid utama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg"><img data-attachment-id="254" data-permalink="https://risalah07.wordpress.com/2011/07/06/terorisme-ala-kafir-barat/bom/" data-orig-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg" data-orig-size="161,161" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="bom" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg?w=161" class="aligncenter size-full wp-image-254" title="bom" src="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg?w=535" alt=""   srcset="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg 161w, https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg?w=150&amp;h=150 150w" sizes="(max-width: 161px) 100vw, 161px" /></a></p>
<p>GLASGOW (Berita SuaraMedia) – Seorang pria kulit putih rasis pengusung semboyan supremasi kulit putih dijatuhi hukuman karena telah melontarkan ancaman keji akan meledakkan masjid utama Skotlandia dan juga ancaman untuk memenggal kepala umat Muslim.</p>
<p>Neil MacGregor, yang mengakui kepada polisi bahwa dirinya adalah seorang rasis, pada persidangan awal memebenarkan bahwa dirinya mengancam untuk meledakkan masjid utama Glasgow dan membunuh satu orang Muslim setiap minggunya hingga seluruh masjid di Skotlandia ditutup.</p>
<p>Yang membuat terkejut dan marah umat Muslim, plot teror yang direncanakan MacGregor hanya mendapat porsi pemberitaan yang sedikit sekali dari pers Skotlandia. Bahkan tidak ada sama seklai di media-media Inggris Raya.</p>
<p>Ada pula tuduhan mengenai standar ganda yang dilakukan oleh polisi dan pejabat berwenang karena MacGregor, 36, hanya dijatuhi tuduhan mengganggu kedamaian, bukannya tuduhan tindakan terorisme yang lebih serius.</p>
<p>&#8220;Coba bayangkan jika ada seorang Muslim Skotlandia yang mengancam untuk meledakkan katedral utama Glasgow dan memenggal kepala satu orang Kristen setiap minggunya hingga seluruh tentara Inggris ditarik keluar dari Irak dan Afghanistan,&#8221; kata Osama Saeed, direktur ekssekutif yayasan Islam Skotlandia dan seorang anggota senior partai nasional Skotlandia.</p>
<p>&#8220;Pasti hal tersebut akan langsung mendapatkan reaksi keras, disebut tindakan biadab, lalu dijadikan tajuk utama seluruh surat kabar di negara ini. Berita tersebut akan menjadi berita yang paling ramai dibahas.&#8221;</p>
<p>Namun dalam kasus tersebut, media baru meliput (dalam jumlah yang amat sangat minim) mengenai terorisme terhadap umat Islam Skotlandia tersebut setelah Saeed menelepon sejumlah kantor berita terkemuka dan setelah sebuah mosi dimasukkan ke parlemen Skotlandia.</p>
<p>Dalam mosi parlemen tersebut, Frank McAveety, seorang anggota partai buruh Parlemen dari Glasgow menyesalkan bahwa ancaman peledakan masjid pusat Glasgow dan ancaman pemenggalan kepala satu orang Muslim setiap minggunya tidak mendapatkan perhatian media, dia menyerukan kepada media untuk memastikan bahwa tindak terorisme semacam itu untuk tetap diliput, meski pelakunya adalah Kristen kulit putih.&#8221;</p>
<p>MacGregor menyebarkan ancamannya dalam sebuah email dan sebuah panggilan telepon kepada polisi kawasan Strathclyde tahun lalu.</p>
<p>Dalam emailnya, MacGrefor menuliskan: &#8220;Saya adalah seorang rasis yang bangga dengan pandangan saya, saya juga merupakan anggota front nasional&#8221; (sebuah organisasi ekstrimis sayap-kanan).</p>
<p>&#8220;Sebagai organisasi, kami telah memutuskan untuk menghadapi &#8220;ancaman&#8221; dari orang-orang Muslim dengan cara-cara kami sendiri, seperti halnya para leluhur kami.&#8221;</p>
<p>Seperti halnya penjahat, penculik, dan sampah masyarakat lainnya, setelah melontarkan kata-kata pembuka, dia menyampaikan tuntutan:</p>
<p>&#8220;Yang kami inginkan bukanlah hal besar. Tutup seluruh masjid di Skotlandia! Jika tuntutan kami tidak segera dipenuhi, paling lambat hari Jumat depan, maka kami akan menculik satu orang Muslim, lalu mengeksekusinya (memenggal kepalanya) dan rekaman video pemenggalan itu akan kami tayangkan di internet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap minggunya, kami akan menculik dan memenggal kepala satu orang Muslim jika tuntutan kami tidak dipenuhi.&#8221;</p>
<p>MacGregor kemudian menelepon polisi dan mengatakan bahwa dia telah menanamkan bom di masjid utama Glasgow. Mendengar hal tersebut, para polisi langsung bergegas menuju bangunan masjid tersebut, namun tidak menemukan apa-apa.</p>
<p>Bashir Maan, ketua masjid tersebut berkata: &#8220;Para polisi datang pada waktu senja dan mengevakuasi sekitar 100 orang jamaah. Mereka kemudian menggeledah seluruh bagian bangunan masjid. Komunitas Muslim Skotlandia merasa sangat resah pada waktu itu.&#8221;</p>
<p>Maan mengakui bahwa dirinya merasa terkejut ketika MacGregor hanya dijatuhi tuntutan mengganggu ketenteraman umum, bukannya tuntutan hukum yang jauh lebih berat.</p>
<p>&#8220;Hal tersebut jelas merupakan cerminan standar ganda dalam penggunaan hukum anti-teror,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Yayasan Islam Skotlandia melayangkan surat protes kepada Crown Office (sebuah departemen di bawah Jaksa Agung yang menangani masalah pelanggaran hukum di wilayah Skotlandia), menuntut jawaban mengapa MacGregor hanya dijatuhi tuduhan ringan.</p>
<p>&#8220;Kami sangat yakin jika yang melakukan hal tersebut adalah seorang Muslim, maka dia akan diperlakukan dengan berbeda oleh polisi dan pihak berwenang lainnya,&#8221; kata Saeed.</p>
<p>&#8220;MacGregor bisa dibilang beruntung karena persidangan tersebut dilakukan di pengadilan Sheriff, dan bukan pengadilan tinggi, dimana kasus-kasus terorisme biasanya diproses, tentunya dengan hukuman yang lebih berat, ketidakadilan ini harus dijelaskan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aparat hukum terlalu gampang melepaskan MacGregor, orang yang tidak waras yang memiliki khayalan berbahaya.&#8221;</p>
<p>Dalam sebuah pernyataan, Crown Office mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk menjatuhkan tuntutan gangguan ketertiban umum, yang dipicu oleh kebencian rasialis. &#8220;Keputusan tersebut diberikan setelah dengan seksama mempertimbangkan seluruh bukti dan situasi lapangan.&#8221;</p>
<p>Seorang juru bicara menambahkan: &#8220;Fakta-fakta mengenai kasus tersebut semakin memperjelas bahwa semuanya hanyalah ancaman bom omong kososng belaka, sama sekali tidak ada bukti motif atau tujuan terorisme.&#8221;</p>
<p>Umat Muslim membandingkan kasus MacGregor dengan Mohammed Atif Siddique, 22, yang dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun di Glasgow pada bulan September 2007, atas tuduhan &#8220;mengumpulkan informasi tentang terorisme dan menyebarkan hasutan teror&#8221; melalui internet.</p>
<p>Aamer Anwar, pengacara Siddique, mengecam: &#8220;Kenapa disaat seorang pria kulit putih terlibat dalam perencanaan tindak terorisme yang amat nyata, pihak berwajib tidak siap untuk menerapkan undang-undang anti-teror, tapi mereka tampak sangat siap jika Muslim yang dianggap bersalah?&#8221; (dn/tn) <a href="http://www.suaramedia.com/" target="_blank">www.suaramedia.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/07/06/terorisme-ala-kafir-barat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">252</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/07/bom.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bom</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Ajal Menjemputmu !!!</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/15/ketika-ajal-menjemputmu/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/15/ketika-ajal-menjemputmu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Jun 2011 06:16:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[Kematian Kholifah Abdul Malik bin Marwan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah kematian Imam Ahmad bin Hambal]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah seorang ahli ibadah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=247</guid>

					<description><![CDATA[Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!! Nabi shallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ &#8220;Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya&#8221; (HR Muslim no 2878) Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ &#8220;Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><span style="color:#ff0000;"><strong>Sebagaimana Engkau Menjalani Hidupmu Demikianlah Kondisimu Tatkala Ajal Menjemputmu…..!!!</strong></span></h4>
<p>Nabi shallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :</p>
<p>يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ</p>
<p><em>&#8220;Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya&#8221;</em> (HR Muslim no 2878)</p>
<p>Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ <em>&#8220;Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu&#8221;</em> (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami&#8217; As-Shogiir 2/859)</p>
<p>Para pembaca yang budiman… kita semua tahu bahwasanya kematian datang tiba-tiba…tidak peduli dengan kondisi seorang hamba apakah dalam keadaan ketaatan kepada Allah atau dalam keadaan sedang bermaksiat…, apakah dalam keadaan sakit ataupun dalam keadaan sehat… semuanya terjadi tiba-tiba…</p>
<p>Seorang penyair berkata :</p>
<p align="center">تَزَوَّدْ مِنَ التَّقْوَى فَإِنَّكَ لاَ تَدْرِي***  إِذَا جَنَّ لَيْلٌ هَلْ تَعِيْشُ إِلَى الْفَجْرِ</p>
<p align="center"><em>Berbekallah ketakwaan karena sesungguhnya engkau tidak tahu…</em></p>
<p align="center"><em>Jika malam telah tiba apakah engkau masih bisa hidup hingga pagi hari</em></p>
<p align="center">وَكَمْ مِنْ صَحِيْحٍ مَاتَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ *** وَكَمْ مِنْ عَلِيْلٍ عَاشَ حِيْناً مِنَ الدَّهْرِ</p>
<p align="center"><em>Betapa banyak orang yang sehat kemudian meninggal tanpa didahului sakit…</em></p>
<p align="center"><em>Dan betapa banyak orang yang sakit yang masih bisa hidup beberapa lama</em></p>
<p align="center">فَكَمْ مِنْ فَتًى أَمْسَى وَأَصْبَحَ ضَاحِكًا *** وَقَدْ نُسِجَتْ أَكْفَانُهُ وَهُوَ لاَ يَدْرِِي</p>
<p align="center"><em>Betapa banyak pemuda yang tertawa di pagi dan petang hari</em></p>
<p align="center"><em>Padahal kafan mereka sedang ditenun dalam keadaan mereka tidak sadar</em></p>
<p align="center">وَكَمْ مِنْ صِغَارٍ يُرْتَجَى طُوْلُ عُمْرِهِمْ *** وَقَدْ أُدْخِلَتْ أَجْسَامُهُمْ ظُلْمَةَ الْقَبْرِ</p>
<p align="center"><em>Betapa banyak anak-anak yang diharapkan panjang umur…</em></p>
<p align="center"><em>Padahal tubuh mereka telah dimasukkan dalam kegelapan kuburan</em></p>
<p align="center">وَكَمْ مِنْ عَرُوْسٍ زَيَّنُوْهَا لِزَوْجِهَا *** وَقَدْ قُبِضَتْ أَرْوَاحُهُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ</p>
<p align="center"><em>Betapa banyak mempelai wanita yang dirias untuk dipersembahkan kepada mempelai lelaki…</em></p>
<p align="center"><em>Padahal ruh mereka telah dicabut tatkala di malam lailatul qodar</em></p>
<p>Tentunya setiap kita berharap dianugrahi husnul khotimah… ajal menjemput tatkala kita sedang beribadah kepada Allah… tatkala bertaubat kepada Allah…sedang ingat kepada Allah… , akan tetapi betapa banyak orang yang berharap meninggal dalam kondisi husnul khotimah akan tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya…. Suul khootimah… maut menjemputnya tatkala ia sedang bermaksiat kepada Penciptanya dan Pencipta alam semesta ini…</p>
<p>Bagaimana mungkin seseorang meninggal dalam kondisi husnul Khotimah sementara hari-harinya ia penuhi dengan bermaksiat kepada Allah… hari-harinya ia penuhi tanpa menjaga pendengarannya… pandangannya ia umbar… hatinya dipenuhi dengan beragam penyakit hati… lisannya jauh dari berdzikir dan mengingat Allah…</p>
<p>Ingatlah para pembaca yang budiman… sesungguhnya seseorang akan dicabut nyawanya berdasarkan kehidupan yang biasa ia jalankan…</p>
<p>Berikut ini adalah kisah-kisah yang mencoba menggugah hati kita untuk membiasakan diri beramal sholeh sehingga tatkala maut menjemput kitapun dalam keadaan beramal sholeh :</p>
<p><strong>Kisah Pertama: kisah seorang ahli ibadah Abdullah bin Idriis (190-192 H)</strong></p>
<p>عَنْ حُسَيْن الْعَنْقَزِي قَالَ: لَمَّا نَزَلَ بِابْنِ إِدْرِيْسَ الْمَوْتُ بَكَتْ ابْنَتُهُ فَقَالَ: لاَ تَبْكِي يَا بُنَيَّة، فَقَدْ خَتَمْتُ الْقُرْآنَ فِي هَذَا الْبَيْتِ أَرْبَعَةَ آلاَف خَتْمَة</p>
<p>Dari Husain Al-&#8216;Anqozi, ia bertutur :</p>
<p>Ketika kematian mendatangi Abdullah bin Idris, maka putrinya pun menangis, maka Dia pun berkata: &#8220;Wahai putriku, jangan menangis! Sungguh, Aku telah mengkhatamkan al Quran dirumah ini 4000 kali&#8221; (Lihat Taariikh Al-Islaam karya Ad-Dzahabi 13/250, Ats-Tsabaat &#8216;inda Al-Mamaat karya Ibnil Jauzi hal 154)</p>
<p><strong>Kisah kedua : Kisah Abu Bakr bin &#8216;Ayyaasy (193 H)</strong></p>
<p>لما حضرت أبا بكر بن عَيَّاش الوفاةُ بَكَتْ أُخْتُهُ فقال : لاَ تَبْكِ اُنْظُرِي إِلىَ تِلْكَ الزَّاوِيَةِ الَّتِي فِي الْبَيْتِ قَدْ خَتَمَ أَخُوْكَ فِي هَذِهِ الزَّاوِيَةِ ثَمَانِيَةَ عَشَرَ أَلَف خَتْمَة</p>
<p>Tatkala kematian mendatangi Abu Bakr bin &#8216;Ayaasy maka saudara perempuannya pun menangis. Maka Abu Bakrpun berkata kepadanya, &#8220;Janganlah menangis, lihatlah di pojok rumah ini, sesungguhnya saudara laki-lakimu ini telah mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an di situ sebanyak 18 ribu kali&#8221; (Lihat Hilyatul Auliyaa&#8217; karya Abu Nu&#8217;aim 8/304 dan Taariikh Baghdaad 14/383)</p>
<p>Demikianlah para pembaca yang budiman…Ahli ibadah ini Abdullah bin Idris telah mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an sebanyak 4000 kali… Abu Bakr bin &#8216;Ayyaasy telah mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an sebanyak 18 ribu kali…..semuanya demi menghadapi waktu yang sangat kritis ini… waktu untuk meninggalkan dunia ke alam akhirat yang abadi….</p>
<p><strong>Kisah Ketiga : Kisah Aamir bin Abdillah Az-Zubair</strong></p>
<p>Mush&#8217;ab bin Abdillah bercerita tentang &#8216;Aamir bin Abdillah bin Zubair yang dalam keadaan sakit parah :</p>
<p>سمع عامر المؤذن وهو يجود بنفسه فقال: خذوا بيدي إلى المسجد، فقيل: إنك عليل فقال: أسمع داعي الله فلا أجيبه فأخذوا بيده فدخل مع الإمام في صلاة المغرب فركع مع الإمام ركعة ثم مات</p>
<p>&#8216;Aaamir bin Abdillah mendengar muadzin mengumandangkan adzan untuk shalat maghrib, padahal ia dalam kondisi sakaratul maut pada nafas-nafas terakhir, maka iapun berkata, “Pegang tanganku ke mesjid…!!” merekapun berkata, &#8220;Engkau dalam kondisi sakit !&#8221; , Diapun berkata,”Aku mendengar muadzin mengumandangkan adzan sedangkan aku tidak menjawab (panggilan)nya? Pegang tanganku…! Maka merekapun memapahnya lalu iapun sholat maghrib bersama Imam berjama&#8217;ah, diapun shalat satu rakaat kemudian meninggal dunia. (Lihat Taariikh Al-Islaam 8/142)</p>
<p>Inilah kondisi seorang alim yang senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin… bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa sholat berjama&#8217;ah…. Bandingkanlah dengan kondisi sebagian kita… yang tatkala dikumadangkan adzan maka hatinya berbisik : &#8220;Iqomat masih lama…., entar lagi aja baru ke mesjid…, biasanya juga imamnya telat ko&#8217;…, selesaikan dulu pekerjaanmu.. tanggung…&#8221;, dan bisikan-bisikan yang lain yang merupakan tiupan yang dihembuskan oleh Iblis dalam hatinya.</p>
<p><strong>Kisah Di masa Sekarang:</strong></p>
<p><strong>Pertama : Kisah Penumpang Kapal Mesir “Salim Express”</strong></p>
<p>Laki-laki ini telah Allah selamatkan dari tenggelam pada kecelakaan kapal, “Salim Express” menceritakan kisah istrinya yang tenggelam dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah haji. Orang-orang berteriak-teriak “kapal akan tenggelam” maka aku pun berteriak kepada istriku …“ayo cepat keluar!”</p>
<p>Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar sampai aku memakai hijabku dengan sempurna.”</p>
<p>Suaminya pun berkata,” inikah waktu utk memakai hijab??? Cepat keluar! Kita akan mati”.</p>
<p>Dia pun berkata, “Demi Allah aku tidak akan keluar kecuali jika telah kukenakan hijabku dengan sempurna, seandainya aku mati aku pun akan bertemu Allah dalam keadaan mentaati-Nya”. Maka dia pun memakai hijabnya dan keluar bersama suaminya, maka ketika semuanya hampir tenggelam, dia memegang suaminya dan berkata, “Aku minta engkau bersumpah dengan nama Allah, apakah engkau ridho terhadapku?” Suaminya pun menangis. Sang istripun berkata, ”Aku ingin mendengarnya.” Maka Suaminya Menjawab, “Demi Allah aku ridho terhadapmu.” Maka wanita tersebut pun menangis dan berucap ”Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” senantiasa dia ulangi syahadat tersebut sampai tenggelam.</p>
<p>Suaminya pun menangis dan berkata, “Aku berharap kepada Allah agar mengumpulkan aku dan dia di surga”</p>
<p><strong><span id="more-247"></span>Kedua : Kisah seorang tukang adzan (Muadzdzin)</strong></p>
<p>Dia adalah seorang yang selama 40 tahun telah mengumandangkan adzan, tanpa mengharap imbalan selain wajah Allah. Sebelum meninggal ia sakit parah, maka dia pun didudukkan di atas tepat tidur. Dia tak dapat berbicara lagi dan juga untuk pergi kemasjid. Ketika sakit semakin parah diapun menangis, orang-orang disekitarnya melihat adanya tanda-tanda kesempitan di wajahnya. Seakan-akan dia berucap ya Allah aku telah beradzan selama 40 tahun, engkau pun tahu aku tidak mengharap imbalan kecuali dari Engkau kemudian akan terhalangi dari adzan di akhir hidupku?. Kemudian berubahlah tanda-tanda diwajahnya menjadi kegembiraan dan kesenangan. Anak-anaknya bersumpah bahwasanya  ketika tiba waktu adzan ayah mereka pun berdiri di atas tempat tidurnya dan menghadap kiblat kemudian mengumandangkan adzan di kamarnya, ketika sampai pada kalimat adzan yang terkahir &#8220;laa ilaaha illallah” dia pun jatuh di atas tempat tidurnya. Anak-anaknya pun segera menghampirinya, mereka pun mendapati ruhnya telah menuju Allah.</p>
<p>Para pembaca yang budiman…jika kematian telah tiba maka seluruh harta dan kekuasaan yang telah kita usahakan dan perjuangakan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan peras keringat akan sirna…</p>
<p><strong>Kisah Khalifah Al-Ma&#8217;muun,</strong></p>
<p>Ketika sakaratul maut mendatanginya diapun memanggil para tabib di sekelilingnya berharap agar bisa menyembuhkan penyakitanya. Tatkala ia merasa berat (parah sakitnya) maka ia berkata, &#8220;Keluarkanlah aku agar aku melihat para pasukan perangku dan aku melihat anak buahku serta aku menyaksikan kekuasaanku&#8221;, takala itu di malam hari. Maka Khalifah Al-Makmuun pun dikeluarkan lalu ia melihat kemah-kemah serta pasukan perangnya yang sangat banyak jumlahnya bertebaran di hadapannya, dan dinyalakan api. (Tatkala melihat itu semua) iapun berkata, يَا مَنْ لاَ يَزُوْلُ مُلْكُهُ اِرْحَمْ مَنْ قَدْ زَالَ مُلْكُهُ “Wahai Dzat yang tidak akan pernah musnah kerajaannya… Sayangilah orang yang telah hilang kerajaannya…&#8221;. Lalu iapun pingsan.</p>
<p>Kemudian datanglah seseorang disampingnya hendak mentalqinnya kalimat syahadah, lalu Khalafah Al-Makmuun membuka kedua matanya tatkala itu dalam keadaan wajahnya yang merah dan berat, ia berusaha untuk berbicara akan tetapi ia tidak mampu. Lalu iapun memandang ke arah langit dan kedua matanya dipenuhi dengan tangisan maka lisannya pun berucap tatkala itu, يَا مَنْ لاَ يَمُوْتُ اِرْحَمْ مَنْ يَمُوْتُ &#8220;Wahai Dzat Yang tidak akan mati sayangilah hambaMu yang mati&#8221;, lalu iapun meninggal dunia. (Lihat Muruuj Adz-Dzahab wa Ma&#8217;aadin Al-Jauhar karya Al-Mas&#8217;uudi 2/56 dan Taariik Al-Islaam karya Adz-Dzahabi 15/239)</p>
<p><strong>Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwaan:</strong></p>
<p>Tatkala ajal menjemput Khalifah Abdul Malik bin Marwaan maka iapun memerintahkan untuk dibukakan pintu istana, tiba-tiba ada seorang penjaga istana yang sedang mengeringkan bajunya di atas batu, maka iapun berkata, &#8220;Siapa ini?&#8221;, maka mereka menjawab, &#8220;Seorang penjaga istana&#8221;. Maka iapun berkata, &#8220;Seandainya aku adalah seorang penjaga istana…&#8221;. Ia juga berkata, &#8220;Seandainya aku adalah budak miliki seorang yang tinggal di pegunungan Tihaamah, lantas akupun menggembalakan kambing di pegunungan tersebut&#8221;.</p>
<p>Diantara perkataan terakhir yang diucapkannya adalah,</p>
<p>اللَّهُمَّ إِنْ تَغْفِرْ تَغْفِرْ جَمًّا، لَيْتَنِي كُنْتُ غَسَّالاً أَعِيْشُ بِمَا أَكْتَسِبُ يَوْماً بِيَوْمٍ</p>
<p>&#8220;Yaa Allah, jika engkau mengampuniku maka berilah pengampunanMu yang luas, seandainya aku hanyalah seorang tukang cuci, aku hidup dari hasil penghasilanku sehari untuk kehidupan sehari&#8221;</p>
<p>Dan diriwayatkan bahwsanya tatkala Khalifah Abdul Malik bin Marwan sakit parah maka iapun berkata, &#8220;Keluarkanlah aku di beranda istana…&#8221;, kemudian ia melihat megahnya kekuasaannya lalu iapun berkata, يَا دُنْيَا مَا أَطْيَبَكِ أَنَّ طَوِيْلَكِ لَقَصِيْرٌ وَأَنَّ كَبِيْرَكِ لَحَقِيْرٌ وَأَنْ كُنَّا مِنْكِ لَفِي غُرُوْرٍ &#8220;Wahai dunia sungguh indah engkau…, ternyata lamanya waktumu sangatlah singkat, kebesaranmu sungguh merupakan kehinaan, dan kami ternyata telah terpedaya olehmu&#8221;. Lalu iapun mengucapkan dua bait berikut ini ;</p>
<p>إِنْ تُنَاقِشْ يَكُنْ نِقَاشُكَ يَارَبَّ  عَذَابًا لاَ طَوْقَ لِي بِالْعَذَابِ</p>
<p>Jika engkau menyidangku wahai Robku maka persidanganMu itu merupakan sebuah adzab yang tidak mampu aku hadapi</p>
<p>أَوْ تَجَاوَزْتَ فَأَنْتَ رَبٌّ صَفُوْحٌ  عَنْ مُسِيْءٍ ذُنُوْبَهُ كَالتُّرَابِ</p>
<p>Atau jika engkau memaafkan aku maka engkau adalah Tuhan Yang Maha memaafkan dosa-dosa seorang hamba yang bersalah&#8221;</p>
<p>(Lihat Mukhtashor Taariikh Dimasyq 5/88-89 dan Al-Kaamil fi At-Taariikh 4/238-239)</p>
<p>Para pembaca yang budiman…. Janganlah terpedaya dengan gemerlapnya dunia ini…</p>
<p>Rasulullah bersabda,</p>
<p>أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ</p>
<p><em>&#8220;Perbanyaklah kalian mengingat penghancur keledzatan&#8221;</em>, yaitu kematian (Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam irwaa al-goliil 3/145)</p>
<p>Imam Al-Qurthubi berkata: &#8220;Ketahuilah sesungguhnya mengingat kematian menyebabkan kegelisahan dalam kehidupan dunia yang akan sirna ini, dan menyebabkan kita untuk senantiasa mengarah ke kehidupan akhirat yang abadi.</p>
<p>Seseorang tidak akan terlepas dari dua kondisi, kondisi lapang dan sulit, kondisi di atas kenikmatan atau di atas ujian. Jika ia berada pada kondisi sempit dan di atas ujian maka dengan mengingat mati akan terasa ringanlah sebagian ujian dan kesempitan hidupnya, karena ujian tersebut tidak akan langgeng dan kematian lebih berat dari ujian tersebut. Atau jika ia berada dalam kondisi penuh kenikmatan maka mengingat mati akan menghalanginya agar tidak terpedaya dengan kenikmatan tersebut&#8221;  (At-Tadzkiroh 1/123-124)</p>
<p>Imam Al-Qurthubi juga berkata:</p>
<p>و كان يزيد الرقاشي يقول لنفسه : و يحك يا يزيد من ذا يصلي عنك بعد الموت ؟ من ذا يصوم عنك بعد الموت؟ من ذا يترضى عنك ربَّك بعد الموت؟ ثم يقول : أيها الناس ألا تبكون وتنوحون على أنفسكم باقي حياتكم؟ من الموت طالبه والقبر بيته والثرى فراشه والدود أنيسه وهو مع هذا ينتظر الفزع الأكبر يكون حاله؟ ثم يبكي حتى يسقط مغشيا عليه</p>
<p>Yazzid Ar-Ruqoosyi berkata kepada dirinya : &#8220;Celaka engkau wahai Yaziid, siapakah yang akan sholat mewakilimu jika engkau telah meninggal?, siapakah yang akan mewakilimu berpuasa setelah kematianmu?, siapakah yang mendoakan engkau agar Robmu meridhoimu setelah matimu?&#8221;. Lalu ia berkata, &#8220;Wahai manusia, janganlah kalian menangisi diri kalian sepanjang hidup kalian, barangsiapa yang kematian mencarinya, kuburan merupakan rumahnya, tanah merupakan tempat tidurnya, dan ulat-ulat menemaninya, serta ia dalam kondisi demikian menantikan tibanya hari kiamat yang sangat dahysat maka bagaimanakah kondisinya?&#8221;. Lalu iapun menangis dan menangis hingga jatuh pingsan. (Lihat At-Tadzikorh 1/124)</p>
<p><strong>Kisah penutup :</strong></p>
<p>Dari Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata:</p>
<p>لَمَّا حَضَرَتْ أَبِي الْوَفَاةُ جَلَسْتُ عِنده وَبِيَدِي الْخِرْقَةُ لأَشُدَّ بِهَا لِحْيَيْهِ فَجَعَلَ يَعْرَقُ ثُمَّ يُفِيْقُ ثُمَّ يفتح عينيه ويقول بيده هكذا : &#8220;لاَ بَعْدُ&#8221; ففعل هذا مرةً وثانيةً، فلما كان في الثالثة قلت له : يَا أَبَةِ أَيُّ شَيْءٍ هَذَا قَدْ لَهَجْتَ بِهِ فِي هَذَا الْوَقْتِ تَعْرَقُ حَتَّى نَقُوْلُ قَدْ قُبِضْتَ ثُمَّ تَعُوْدُ فَتَقُوْلَ : لاَ، لاَ بَعْدُ. فقال لي : يا بُنَيَّ مَا تَدْرِي؟ قلتُ :لاَ، قال : إبليس لعنه الله قائم حذائي عَاضٍّ على أَنَامِلِهِ يقول لي : يا أحمدُ فُتَّنِي فَأَقُوْلُ لَهَ : لاَ بَعْدُ حَتَّى أَمُوْتَ</p>
<p>Tatkala kematian mendatangi ayahku maka akupun duduk disampingnya, dan di tanganku ada sepotong kain untuk mengikat dagu beliau (yang dalam keadaan tidak sadarkan diri). Maka beliaupun mencucurkan keringat lalu beliau tersadar dan membuka kedua mata beliau dan beliau berkata, &#8220;Tidak, belum…!&#8221; seraya menggerakkan tangan beliau (memberi isyarat penolakan). Lalu beliau melakukan hal yang sama untuk sekali lagi, kedua kali lagi. Dan tatkala beliau mengulangi hal ini (mengucapkan : &#8220;Tidak, belum..!, seraya menebaskan tangan beliau) untuk ketiga kalinya maka akupun berkata, &#8220;Wahai ayahanda, ada apa gerangan?, engkau mengucapkan perkataan ini dalam kondisi seperti ini?&#8221;. Engkau mencucurkan keringat hingga kami menyangka bahwa engkau telah meninggal dunia, akan tetapi kembali engkau berkata, &#8220;Tidak, tidak…, belum…!&#8221;. Lalu ia berkata, &#8220;Wahai putraku, engkau tidak tahu?&#8221;, aku berkata, &#8220;Tidak&#8221;. Ia berkata, &#8220;Iblis –semoga Allah melaknatnya- telah berdiri dihadapanku seraya menggigit jari-jarinya, dan berkata, &#8220;Wahai Ahmad engkau telah lolos dariku&#8221;, maka aku berkata kepadanya, &#8220;Tidak, belum, aku belum lolos dan menang darimu hingga aku meninggal&#8221; (lihat Sifat As-Sofwah 2/357)</p>
<p>Kisah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya pertempuran melawan Iblis dan para pengikutnya tidak pernah berhenti hingga maut menjemput kita. kita tidak boleh pernah lalai dan merasa telah mengalahkan Iblis, karena Iblis dan para pengikutnya akan senantiasa mengintai dan mencari celah-celah untuk menjeremuskan kita sehingga bisa menemaninya di neraka Jahannam yang sangat panas….!!!!, Maka wasapadalah selalu… melawan musuh yang melihatmu padahal engkau tidak melihatnya… musuh yang senantiasa mendatangimu dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri sementara engkau dalam keadaan lalai…. Musuh yang sudah sangat berpengalaman dalam menjerumuskan anak keturunan Adam dengan berbagai metode dan jerat…. Hanya kepada Allahlah kita mohon keselamatan dari musuh yang seperti ini modelnya… walaa haulaa wa laa quwwata illaa billaaah</p>
<p>Saudaraku yang mulia…!!</p>
<p>Allah Yang Maha Mulia telah memberlakukan sunnatullahNya bahwasanya: “Orang yang hidup di atas sesuatu pola/model kehidupan maka ia pun akan mati di atas model tersebut, dan kelak ia akan dibangkitkan di atas model tersebut”</p>
<p>Siapkanlah dirimu menyambut tamu yang akan mendatangimu secara tiba-tiba…yaitu kematian, jangan sampai tamu tersebut menemuimu dalam kondisi engkau sedang bermaksiat kepada Robmu.</p>
<p>Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengamalkan ilmunya.</p>
<p>Madinah, 28 06 1432H / 31 05 2011M</p>
<p>Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja</p>
<p><a href="http://www.firanda.com" rel="nofollow">http://www.firanda.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/15/ketika-ajal-menjemputmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">247</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerjasama Dengan Cara Mudhorobah</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/04/kerjasama-dengan-cara-mudhorobah/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/04/kerjasama-dengan-cara-mudhorobah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 06:51:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[arti mudhorobah]]></category>
		<category><![CDATA[jenis mudhorobah]]></category>
		<category><![CDATA[mamfaat mudhorobah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=235</guid>

					<description><![CDATA[Arti Mudorobah : Seseorang yang memberikan hartanya kepada seseorang untuk diperdagangkan.dan hasil dari keuntungannya dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.[1] adapun jika terjadi kerugian pada perdagangan maka ditanggung oleh pemilik harta saja bukan pada seseorang yang diberi harta tsb.Sedangkan Pengarang kitab al Kanju  Mudorobah sebagai berikut yaitu Kerjasama ada harta pada satu sisi dan ada orang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg"><img data-attachment-id="238" data-permalink="https://risalah07.wordpress.com/2011/06/04/kerjasama-dengan-cara-mudhorobah/kerjasama/" data-orig-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg" data-orig-size="240,168" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="kerjasama" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg?w=240" class="aligncenter size-full wp-image-238" title="kerjasama" src="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg?w=535" alt=""   srcset="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg 240w, https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg?w=150&amp;h=105 150w" sizes="(max-width: 240px) 100vw, 240px" /></a></p>
<p><strong>Arti Mudorobah </strong>: Seseorang yang memberikan hartanya kepada seseorang untuk diperdagangkan.dan hasil dari keuntungannya dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> adapun jika terjadi kerugian pada perdagangan maka ditanggung oleh pemilik harta saja bukan pada seseorang yang diberi harta tsb.Sedangkan Pengarang kitab al Kanju  Mudorobah sebagai berikut yaitu Kerjasama ada harta pada satu sisi dan ada orang yang berkerja dalam satu sisi yang lain.</p>
<p>Dalil Disyariatkannya kerjasama Mudorobah ini adalah :</p>
<p>Kesepakatan Imam-Imam Mazhab  atas bolehnya akad mudorobah ini yang berdasarkan dari Al Qur&#8217;an,Sunnah,Ijma&#8217; dan Qiyas,Jikalau tidak ada padanya <strong>Goror</strong> (penipuan) dan perdagangan yang tidak jelas kondisinya (<strong>Jahalah</strong>).</p>
<p><strong>Dalil dari Al Qur&#8217;an Alloh Ta&#8217;ala berfirman :</strong></p>
<p dir="RTL">{وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله } [المزمل:20/73]</p>
<p>Artinya : Dan sebagian yang lain berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Alloh.</p>
<p>Al Mudhorib adalah Orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian kerunia Allah. dan juga  Alloh Ta&#8217;ala berfirman :</p>
<p dir="RTL">{فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله } [الجمعة:10/62]</p>
<p>Artinya : Dan Apabilah telah ditunaikan sholat maka bertebaranlah dimuka bumi dan carilah sebagian dari karunia Alloh.</p>
<p><strong>Dalil dari Sunnah :</strong></p>
<p dir="RTL">روى ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال: «كان سيدنا العباس بن عبد المطلب إذا دفع المال مضاربة اشترط على صاحبه أن لا يسلك به بحراً، ولا ينزل به وادياً، ولايشتري به دابة ذات كبد رطبة، فإن فعل ذلك ضمن، فبلغ شرطه رسول الله صلّى الله عليه وسلم ، فأجازه»</p>
<p>Diriwayatkan dari Ibnu Abbas (semoga Alloh meridhoinya) bahwasanya dia berkata: Abbas bin abdul mutholib jika memberikan harta kepada seseorang untuk diperdagangkan dia mensyaratkan agar jangan dibawah melalui laut dan juga lembah,dan jangan dibelikan hewan yang berpenyakit,jika semua hal tsb dilakukan maka harus membayar ganti rugi kemudian syarat tersebut diketahui oleh Rosululloh sholallohu &#8216;alaihissalam dan beliau membolehkanya.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p dir="RTL">وروى ابن ماجه عن صهيب رضي الله عنه أن النبي صلّى الله عليه وسلم قال: «ثلاث فيهن البركة: البيع إلى أجل، والمقارضة، وخلط البر بالشعير للبيت لا للبيع»</p>
<p>Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahabat Suhaib semoga Alloh meridhoinya bahwasany Nabi sholallohu &#8216;alaihissalam bersabda : 3 perkara yang ada padanya keberkahan : Jual beli dgn tunda,Mudhorobah,Mencampur Gandum bagus dgn yang Jelek untuk konsumsi sendiri bukan untuk diperjual belikan.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong>Adapun Ijma&#8217;</strong> adalah sebagaimana diriwayatkan dari sebagian besar para sahabat bahwasanya mereka menjadikan harta anak yatim untuk diperdagangkan (sebagai harta Mudhorobah)<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> dan tidak ada satupun penginkaran dari kalangan sahabat maka jadilah perkara ini sebagai Ijma.dan al Imam ibnu Taimiyah menetapkan disyariatkannya Mudhorobah ini dgn Ijma yang bersesuaian dengan dalil.begitu juga imam Malik meriwatkan dikitabnya al Muwatho&#8217; dan juga imam Syafi&#8217;i dikitab musnadnya dari Zaid bin Aslam bahwasanya Umar bin Khotob menetapkan mudhorobah kepada kedua anaknya yaitu Ubaidillah dan Abdulloh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HIKMAH DISYARIATKANNYA MUDHOROBAH</strong></p>
<p>Memungkinkan seseorang untuk mengembangkan hartanya dan mudhorobah adalah cara untuk mewujudkan saling tolong menolong diantara sesama,dan menggabungkan kepandaian dan kemahiran/pengalaman untuk menghasilkan suatu hasil yang baik.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>RUKUN MUDHOROBAH ,LAFADZ DAN JENISNYA</strong></p>
<p>Menurut <strong>Mazhab hanafi</strong> adalah Izab dan Qobul dengan lafadz yang menunjukan pada aqad tersebut.</p>
<p><strong>Lafadz Izab</strong> seperti seseorang mengatakan ambilah harta ini dan perdagangkanlah hasil keuntungan dari rezeki yang diberikan Alloh adalah untuk kita berdua dengan pembagian setengah,seperempat,sepertiga dan seterusnya.</p>
<p><strong>Lafadz Qobul</strong> seperti aku terima,aku setuju dan semisalnya.</p>
<p>Dan jika telah sempurna izab dan qobul ini maka berlakulah hukum mudhorobah ini.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Menurut <strong>Jumhur ulama</strong> adalah ada 2 orang yang saling bersepakat (pemilik harta dan pekerjanya) serta ada sesuatu yang menjadi akadnya ( harta,amal,dan keuntungan) dan Izab Qobul.</p>
<p>Sedangkan menurut <strong>Syafiiyah</strong> ada 5 : Harta,Amal,Keuntungan,Izab Qobul serta 2 orang yang bersepakat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><span id="more-235"></span>JENIS MUDHOROBAH</strong></p>
<p><strong> 1.MUDOROBAH MUTLAK</strong></p>
<p><strong>2.MUDOROBAH MUQOYAD</strong></p>
<p>Mudhorobah Mutlak adalah seseorang yang memberikan hartanya kepada orang lain seraya mengatakan ambilah hartaku ini kemudian perdagangkan,keuntungannya untuk kita berdua pembagiannya sesuai dengan kesepakatan.</p>
<p>Mudhorobah Muqoyad adalah semisal seseorang memberikan uangnya kepada seseorang untuk diperdagangkan didaerah tertentu atau pada jenis perdagangan tertentu,pada waktu tertentu atau tidak membeli kecuali dari orang yang sudah ditentukan.akan tetapi penentuan waktu dan hanya khusus orang tertentu terjadi perselisihan dikalangan ulama.menurut imam abu hanifah dan imam ahmad boleh sedangkan menurut imam malik dan syafi&#8217;i tidak boleh.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SIFAT AKAD MUDHOROBAH</strong></p>
<p>Para ulama bersepakat jika akad mudhorobah belum dimulai maka kedua belah pihak masih boleh membatalkan akad yang ada (tidak lazim/wajib).hanya saja para ulama berbeda pendapat apabila akadnya sudah dimulai.menurut imam malik akad mudhorobah adalah akad yang lazim dan boleh diwarisi oleh anaknya dan jika tidak mempunyai anak didatangkan orang yang dapat dipercaya.sedangkan menurut abu hanifah,syafi&#8217;i dan imam ahmad akad mudhorobah bukanlah akad yang lazim dan tidak dapat diwarisi,kedua belah pihak boleh membatalkan perjanjianya.sebab perselisihan ini adalah menurut imam malik apabilah akad perjanjian sudah dimulai dan kedua belah pihak membatalkannya maka akan ada yang dirugikan dan oleh sebab ini juga maka akad ini boleh diwarisi.sedangkan alasan pendapat yang kedua (abu hanifah,syafi&#8217;i dan ahmad) mereka menyamakan akad itu sudah dimulai atau belum dimulai karena akad mudhorobah adalah menggunakan harta orang lain dengan seizin pemiliknya,oleh karena itu kedua belah pihak mempunyai hak untuk membatalkanya seperti dalam wakalah dan wadi&#8217;ah (perwakilan dan penitipan).<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> akan tetapi imam abu hanifah mensyaratkan bolehnya membatalkan akad ini harus sepengetahuan dari kedua belah pihak dan hartanya harus berupa uang dan selain uang maka tidak sah untuk membatalkan akadanya.sedangkan menurut hanabilah dan syafiiyah boleh dalam bentuk selain uang takkala akan membatalkan perjanjian akad jika kedua belah pihak saling bersepakat untuk menjualnya agar diketahui keuntunganya atau langsung membaginya.karena akad ini adalah hak mereka berdua.apabila pekerja meminta agar barang yang ada dijual dan pemilik harta tidak mau maka pekerja tersebut boleh memaksaknya untuk menjual karena haknya tidak ada pada keuntungan yang dihasilkan dan hanya dapat diketahui jika sudah dijual dan menjadi berbentuk uang.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>APABILAH ORANG YANG BERSEPAKAT LEBIH DARI 2 ORANG.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Berkata ulama Malikiyah jika orang yang bersepakat banyak maka keuntungan dibagi untuk mereka bersama sesuai dengan besar<strong> </strong>kecilnya tanggung jawab dari pekerjaanya seperti yang berlaku pada perjanjian kerjasama yang bersifat badaniyah.maka jikalau pekerjaannya sama maka pembagianya juga sama begitu juga jikalau berbeda maka pembagianya juga berbeda.</p>
<p>Dialih bahasakan dari kitab Fiqih Islamiy wa Adilatuhu dengan sedikit perubahan dan tambahan</p>
<p>Oleh : Abu Ahmad al Atsary</p>
<div>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>    Mugni Muhtaj 2/309,Takmilatul fathul Qodir 7/57 dan seterusnya,alMabsuth 22/18,Tabyinul Haqoiq lilzaila&#8217;i 5/52,Rod Muhtar &#8216;ala Daril Mukhtar 4/504,Majma Dhomanat Hal.303.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>    Diriwayatkan Thobaroni di al Ausath dari Ibnu Abbas berkata al Haitsami pada sanadnya ada Abu Jarud al&#8217;ama dia adalah seorang yang Matruk dan Pendusta lihat Majma&#8217; Jawaid 4/161.akan tetapi disana ada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Hakim bin Hizam semisal hadits diatas dan haditsnya Shohihul isnad sebagaimana disebutkan di Irwa 5/293,Daruqutni 2/36/242,Baihaqi 6/111.lihat Al wajiz fi Fiqhi sunatil aziz oleh Dr.abdul adzim badawi (pent).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>    Sanad haditsnya Dhoif lihat Subulus Salam 3/76 dan yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hazm dalam kitabnya Marotibul Ijma Semua bab-bab fiqh memiliki dasar pendalian dari alqur&#8217;an dan sunnah kecuali Mudhorobah,aku tidak mendapati pada keduanya,akan Ijma pada perkara ini adalah shohih yang kami pastikan bahwa perkara ini ada pada zaman nabi beliau mengetahuinya dan menetapkannya,kalaulah bukan karena ini maka tidaklah boleh.(lihat Talhis Habir hal.155)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a>    Lihat Nasiburroyah 4/113</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a>    Bada&#8217;i 6/79 dan yang setelahnya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>    Lihat bidayatul mujtahid 2/237,albada&#8217;i 6/109,almuhazab 1/388,mugni muhtaj 2/319,almugni 5/58</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/06/04/kerjasama-dengan-cara-mudhorobah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/06/kerjasama.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kerjasama</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Amal terhadap Ilmu</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/30/kedudukan-amal-terhadap-ilmu/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/30/kedudukan-amal-terhadap-ilmu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 07:43:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[beramal setelah berilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan amal]]></category>
		<category><![CDATA[kedudukan ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[penting amal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=229</guid>

					<description><![CDATA[وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ)   مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء &#8211; تحقيق أنور الباز ) &#8211; (22 / (306 “Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL"><a href="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg"><img data-attachment-id="245" data-permalink="https://risalah07.wordpress.com/2011/05/30/kedudukan-amal-terhadap-ilmu/neraca/" data-orig-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg" data-orig-size="200,201" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="neraca" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg?w=200" class="aligncenter size-full wp-image-245" title="neraca" src="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg?w=535" alt=""   srcset="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg 200w, https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg?w=150&amp;h=150 150w" sizes="(max-width: 200px) 100vw, 200px" /></a></p>
<p dir="RTL">وَإِذَا أَصَرَّ عَلَى تَرْكِ مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ السُّنَّةِ وَفِعْلِ مَا نُهِيَ عَنْهُ فَقَدْ يُعَاقَبُ بِسَلْبِ فِعْلِ الْوَاجِبَاتِ حَتَّى قَدْ يَصِيرُ فَاسِقًا أَوْ دَاعِيًا إلَى بِدْعَةٍ)   مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء &#8211; تحقيق أنور الباز ) &#8211; (22 / (306</p>
<ul>
<li>“Seseorang jika terus meninggalkan sunah yang diperintahkan dan melakukan perkara yang terlarang maka bisa jadi dia dihukum (oleh Allah) dengan meninggalkan hal-hal yang wajib, hingga akhirnya bisa jadi ia menjadi orang fasik atau orang yang menyeru kepada bid’ah.” (Majmu’ Al-Fatawa 22/306)</li>
</ul>
<p dir="RTL">العلم الذي هو العلم المعتبر شرعا أعني الذي مدح الله ورسوله أهله على الإطلاق هو العلم الباعث على العمل الذي لا يخلي صاحبه جاريا مع هواه كيفما كان بل هو المقيد لصاحبه بمقتضاه الحامل له على قوانينه طوعا أو كره)  الموافقات. ط المعرفة &#8211; دراز &#8211; (1 / 69)</p>
<ul>
<li>Ilmu yang pemiliknya dipuji oleh Alloh dan Rasul-NYA secara mutlak adalah ilmu yang mengantarkan pelakunya kepada amal (yang membuahkan amal) yang tidak menjadikan pelakunya beramal berdasarkan hawa nafsunya bagaimanapun keadaanya akan tetapi ilmu tersebut adalah penjaga bagi pemiliknya yang dia beramal sesuai dengan aturan-atuaran Alloh pada perkara yang dia senangi ataupun perkara yang dia benci/tidak sukainya.(Al-Muwaafaqaat-imam syatibi 1/69)</li>
</ul>
<ul>
<li>Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).</li>
</ul>
<p align="right">وعن علي يا حملة العلم اعملوا به فإن العالم من علم ثم عمل ووافق علمه عمله وسيكون أقوام يحملون العلم لا يجاوز تراقيهم تخالف سريرتهم علانيتهم ويخالف علمهم عملهم يقعدون حلقا يباهي بعضهم بعضا حتى إن الرجل ليغضب على جليسه أن يجلس إلى غيره ويدعه أولئك لا تصعد أعمالهم تلك إلى الله عز و جل</p>
<p dir="RTL">الموافقات. ط المعرفة &#8211; دراز &#8211; (1 / 75)</p>
<ul>
<li>Diriwayatkan dari Ali bin Abi tholib dia berkata “wahai pembawa ilmu beramallah dengan ilmu itu sesungguhnya seorang yang alim adalah orang yang mengetauhi kemudian dia beramal,ilmunya bersesuaian dengan amalnya sesungguhnya akan ada suatu kaum yang mereka memiliki ilmu tapi tidak melewati tenggorokan mereka,apa yang mereka sembunyikan berbeda dengan yang mereka tampakan dan ilmu mereka itu tidaklah sesuai dengan amal mereka,mereka duduk-duduk disuatu halqoh saling berbangga-bangga satu sama lainya hingga seorang laki-laki sangat marah kepada teman duduknya jika  dia bermajlis dengan orang lain dan dia meninggalkanya,mereka adalah orang-orang yang amalnya tidak diterima oleh ALLOH Ta&#8217;ala.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/30/kedudukan-amal-terhadap-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">229</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/neraca.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">neraca</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Penemu Benua Amerika?</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/08/misteri-penemu-benua-amerika/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/08/misteri-penemu-benua-amerika/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 May 2011 07:42:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sejarah Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Sejarah Islam Yang Sampai kebenua Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[Kepala Suku indian yang Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Penemu Benua Amerika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=222</guid>

					<description><![CDATA[Penjelajah Muslim Lebih Dulu Injak Amerika Daripada Colombus (Berita SuaraMedia) &#8211; Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai &#8216;The New World&#8217; ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah &#8216;Dunia Baru&#8217;. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center">
<p align="center"><strong><a href="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="225" data-permalink="https://risalah07.wordpress.com/2011/05/08/misteri-penemu-benua-amerika/benua-amerika/" data-orig-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg" data-orig-size="225,225" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="benua amerika" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg?w=225" class="aligncenter size-full wp-image-225" title="benua amerika" src="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg?w=535" alt=""   srcset="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg 225w, https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg?w=150&amp;h=150 150w" sizes="(max-width: 225px) 100vw, 225px" /></a><a href="http://www.suaramedia.com/sejarah/sejarah-dunia/41091-penjelajah-muslim-lebih-dulu-injak-amerika-daripada-colombus.html">Penjelajah Muslim Lebih Dulu Injak Amerika Daripada Colombus </a></strong></p>
<p>(Berita SuaraMedia) &#8211; Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai &#8216;The New World&#8217; ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492.</p>
<p>Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah &#8216;Dunia Baru&#8217;. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.</p>
<p>Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus.</p>
<p>Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.</p>
<p>&#8221;Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,&#8221; tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.</p>
<p>Jika Anda mengunjungi Washington DC, datanglah ke Perpustakaan Kongres (Library of Congress). Lantas, mintalah arsip perjanjian pemerintah Amerika Serikat dengan suku Cherokee, salah satu suku Indian, tahun 1787. Di sana akan ditemukan tanda tangan Kepala Suku Cherokee saat itu, bernama AbdeKhak dan Muhammad Ibnu Abdullah.</p>
<p>Isi perjanjian itu antara lain adalah hak suku Cherokee untuk melangsungkan keberadaannya dalam perdagangan, perkapalan, dan bentuk pemerintahan suku cherokee yang saat itu berdasarkan hukum Islam.</p>
<p>Lebih lanjut, akan ditemukan kebiasaan berpakaian suku Cherokee yang menutup aurat sedangkan kaum laki-lakinya memakai turban (surban) dan terusan hingga sebatas lutut.</p>
<p>Cara berpakaian ini dapat ditemukan dalam foto atau lukisan suku cherokee yang diambil gambarnya sebelum tahun 1832. Kepala suku terakhir Cherokee sebelum akhirnya benar-benar punah dari daratan Amerika adalah seorang Muslim bernama Ramadan Ibnu Wati.</p>
<p>Berbicara tentang suku Cherokee, tidak bisa lepas dari Sequoyah. Ia adalah orang asli suku cherokee yang berpendidikan dan menghidupkan kembali Syllabary suku mereka pada 1821. Syllabary adalah semacam aksara. Jika kita sekarang mengenal abjad A sampai Z, maka suku Cherokee memiliki aksara sendiri.</p>
<p>Yang membuatnya sangat luar biasa adalah aksara yang dihidupkan kembali oleh Sequoyah ini mirip sekali dengan aksara Arab. Bahkan, beberapa tulisan masyarakat cherokee abad ke-7 yang ditemukan terpahat pada bebatuan di Nevada sangat mirip dengan kata ”Muhammad” dalam bahasa Arab.</p>
<p>Nama-nama suku Indian dan kepala sukunya yang berasal dari bahasa Arab tidak hanya ditemukan pada suku Cherokee (Shar-kee), tapi juga Anasazi, Apache, Arawak, Arikana, Chavin Cree, Makkah, Hohokam, Hupa, Hopi, Mahigan, Mohawk, Nazca, Zulu, dan Zuni.</p>
<p>Bahkan, beberapa kepala suku Indian juga mengenakan tutp kepala khas orang Islam. Mereka adalah Kepala Suku Chippewa, Creek, Iowa, Kansas, Miami, Potawatomi, Sauk, Fox, Seminole, Shawnee, Sioux, Winnebago, dan Yuchi. Hal ini ditunjukkan pada foto-foto tahun 1835 dan 1870.</p>
<p>Secara umum, suku-suku Indian di Amerika juga percaya adanya Tuhan yang menguasai alam semesta. Tuhan itu tidak teraba oleh panca indera. Mereka juga meyakini, tugas utama manusia yang diciptakan Tuhan adalah untuk memuja dan menyembah-Nya.</p>
<p>Seperti penuturan seorang Kepala Suku Ohiyesa : ”In the life of the Indian, there was only inevitable duty-the duty of prayer-the daily recognition of the Unseen and the Eternal”. Bukankah Al-Qur’an juga memberitakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin semata-mata untuk beribadah pada Allah</p>
<p>Bagaimana bisa Kepala suku Indian Cheeroke itu muslim?</p>
<p>Sejarahnya panjang, Semangat orang-orang Islam dan Cina saat itu untuk mengenal lebih jauh planet (tentunya saat itu nama planet belum terdengar) tempat tinggalnya selain untuk melebarkan pengaruh, mencari jalur perdagangan baru dan tentu saja memperluas dakwah Islam mendorong beberapa pemberani di antara mereka untuk melintasi area yang masih dianggap gelap dalam peta-peta mereka saat itu.</p>
<p>Beberapa nama tetap begitu kesohor sampai saat ini bahkan hampir semua orang pernah mendengarnya sebut saja Tjeng Ho dan Ibnu Batutta, namun beberapa lagi hampir-hampir tidak terdengar dan hanya tercatat pada buku-buku akademis.</p>
<p>Para ahli geografi dan intelektual dari kalangan muslim yang mencatat perjalanan ke benua Amerika itu adalah Abul-Hassan Ali Ibn Al Hussain Al Masudi (meninggal tahun 957), Al Idrisi (meninggal tahun 1166), Chihab Addin Abul Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) dan Ibn Battuta (meninggal tahun 1369).</p>
<p>Menurut catatan ahli sejarah dan ahli geografi muslim Al Masudi (871 – 957), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad seorang navigator muslim dari Cordoba di Andalusia, telah sampai ke benua Amerika pada tahun 889 Masehi.</p>
<p>Dalam bukunya, ‘Muruj Adh-dhahab wa Maadin al-Jawhar’ (The Meadows of Gold and Quarries of Jewels), Al Masudi melaporkan bahwa semasa pemerintahan Khalifah Spanyol Abdullah Ibn Muhammad (888 – 912), Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad berlayar dari Delba (Palos) pada tahun 889, menyeberangi Lautan Atlantik, hingga mencapai wilayah yang belum dikenal yang disebutnya Ard Majhoola, dan kemudian kembali dengan membawa berbagai harta yang menakjubkan.</p>
<p>Sesudah itu banyak pelayaran yang dilakukan mengunjungi daratan di seberang Lautan Atlantik, yang gelap dan berkabut itu. Al Masudi juga menulis buku ‘Akhbar Az Zaman’ yang memuat bahan-bahan sejarah dari pengembaraan para pedagang ke Afrika dan Asia.</p>
<p><span id="more-222"></span>Dr. Youssef Mroueh juga menulis bahwa selama pemerintahan Khalifah Abdul Rahman III (tahun 929-961) dari dinasti Umayah, tercatat adanya orang-orang Islam dari Afrika yang berlayar juga dari pelabuhan Delba (Palos) di Spanyol ke barat menuju ke lautan lepas yang gelap dan berkabut, Lautan Atlantik. Mereka berhasil kembali dengan membawa barang-barang bernilai yang diperolehnya dari tanah yang asing.</p>
<p>Beliau juga menuliskan menurut catatan ahli sejarah Abu Bakr Ibn Umar Al-Gutiyya bahwa pada masa pemerintahan Khalifah Spanyol, Hisham II (976-1009) seorang navigator dari Granada bernama Ibn Farrukh tercatat meninggalkan pelabuhan Kadesh pada bulan Februari tahun 999 melintasi Lautan Atlantik dan mendarat di Gando (Kepulaun Canary).</p>
<p>Ibn Farrukh berkunjung kepada Raja Guanariga dan kemudian melanjutkan ke barat hingga melihat dua pulau dan menamakannya Capraria dan Pluitana. Ibn Farrukh kembali ke Spanyol pada bulan Mei 999.</p>
<p>Perlayaran melintasi Lautan Atlantik dari Maroko dicatat juga oleh penjelajah laut Shaikh Zayn-eddin Ali bin Fadhel Al-Mazandarani. Kapalnya berlepas dari Tarfay di Maroko pada zaman Sultan Abu-Yacoub Sidi Youssef (1286 – 1307) raja keenam dalam dinasti Marinid.</p>
<p>Kapalnya mendarat di pulau Green di Laut Karibia pada tahun 1291. Menurut Dr. Morueh, catatan perjalanan ini banyak dijadikan referensi oleh ilmuwan Islam.</p>
<p>Sultan-sultan dari kerajaan Mali di Afrika barat yang beribukota di Timbuktu, ternyata juga melakukan perjalanan sendiri hingga ke benua Amerika. Sejarawan Chihab Addin Abul-Abbas Ahmad bin Fadhl Al Umari (1300 – 1384) memerinci eksplorasi geografi ini dengan seksama.</p>
<p>Timbuktu yang kini dilupakan orang, dahulunya merupakan pusat peradaban, perpustakaan dan keilmuan yang maju di Afrika. Ekpedisi perjalanan darat dan laut banyak dilakukan orang menuju Timbuktu atau berawal dari Timbuktu.</p>
<p>Sultan yang tercatat melanglang buana hingga ke benua baru saat itu adalah Sultan Abu Bakari I (1285 – 1312), saudara dari Sultan Mansa Kankan Musa (1312 – 1337), yang telah melakukan dua kali ekspedisi melintas Lautan Atlantik hingga ke Amerika dan bahkan menyusuri sungai Mississippi.</p>
<p>Sultan Abu Bakari I melakukan eksplorasi di Amerika tengah dan utara dengan menyusuri sungai Mississippi antara tahun 1309-1312. Para eksplorer ini berbahasa Arab.</p>
<p>Dua abad kemudian, penemuan benua Amerika diabadikan dalam peta berwarna Piri Re’isi yang dibuat tahun 1513, dan dipersembahkan kepada raja Ottoman Sultan Selim I tahun 1517. Peta ini menunjukkan belahan bumi bagian barat, Amerika selatan dan bahkan benua Antartika, dengan penggambaran pesisiran Brasil secara cukup akurat.</p>
<p>Pengaruh Islam di Benua Amerika</p>
<p>Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.  Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.</p>
<p>Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?</p>
<p>Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.</p>
<p>Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.</p>
<p>Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba &#8211; masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).</p>
<p>Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.</p>
<p>Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika.</p>
<p>Fakta Eksistensi Islam di Amerika</p>
<p>Tahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.</p>
<p>Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.</p>
<p>Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona &#8211; kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.</p>
<p>Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.</p>
<p>Sequoyah, also known as George Gist Bukti lainnya adalah, Columbus sendiri mengetahui bahwa orang-orang Carib (Karibia) adalah pengikut Nabi Muhammad. Dia faham bahwa orang-orang Islam telah berada di sana terutama orang-orang dari Pantai Barat Afrika.</p>
<p>Mereka mendiami Karibia, Amerika Utara dan Selatan. Namun tidak seperti Columbus yang ingin menguasai dan memperbudak rakyat Amerika. Orang-Orang Islam datang untuk berdagang dan bahkan beberapa menikahi orang-orang pribumi.</p>
<p>Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.</p>
<p>Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. &#8220;Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara,&#8221; papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.</p>
<p>Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.</p>
<p>Lebih lanjut Columbus mengakui pada 21 Oktober 1492 dalam pelayarannya antara Gibara dan Pantai Kuba melihat sebuah masjid (berdiri di atas bukit dengan indahnya menurut sumber tulisan lain). Sampai saat ini sisa-sisa reruntuhan masjid telah ditemukan di Kuba, Mexico, Texas dan Nevada.</p>
<p>Dan tahukah anda? 2 orang nahkoda kapal yang dipimpin oleh Columbus kapten kapal Pinta dan Nina adalah orang-orang muslim yaitu dua bersaudara Martin Alonso Pinzon dan Vicente Yanex Pinzon yang masih keluarga dari Sultan Maroko Abuzayan Muhammad III (1362). [THACHER,JOHN BOYD: Christopher Columbus, New York 1950]<br />
. (ar/rpk/amf) <a href="http://www.suaramedia.com/">www.suaramedia.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/05/08/misteri-penemu-benua-amerika/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">222</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://risalah07.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/benua-amerika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">benua amerika</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyebab Kerusakan di Bumi</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/26/penyebab-kerusakan-di-bumi/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/26/penyebab-kerusakan-di-bumi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 07:46:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tazkiyatun Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qoyim al Jauziyah]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat yang Jahat]]></category>
		<category><![CDATA[Penyebab Kerusakan dibumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=219</guid>

					<description><![CDATA[Berkata imam ibnul Qoyyim pada kitab Zadul Maad(4/329) Barang siapa yang memiliki pengetahuan tentang keadaan alam ini dan juga awal kejadiannya, maka dia akan mengetahui apa yang telah menyebabkan seluruh kerusakan yang terjadi di udara, di darat, di laut dan juga kerusakan yang terjadi pada penghuninya. Dan senantiasa perbuatan anak adam, juga penyalisihan mereka terhadap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Berkata imam ibnul Qoyyim pada kitab Zadul Maad(4/329)</strong></p>
<p>Barang siapa yang memiliki pengetahuan tentang keadaan alam ini dan juga awal kejadiannya, maka dia akan mengetahui apa yang telah menyebabkan seluruh kerusakan yang terjadi di udara, di darat, di laut dan juga kerusakan yang terjadi pada penghuninya. Dan senantiasa perbuatan anak adam, juga penyalisihan mereka terhadap perintah perintah para utusan telah menyebabkan berbagai kerusalan secara khusus maupun secara umum, yang hal itu akan mendatangkan berbagai jenis penyakit, paceklik, kekeringan dan juga dicabutnya keberkahan hasil bumi yang musibah musibah tersebut datang silih berganti.</p>
<p align="center">Apabila engkau tidak puas dangan pemaparan ini, maka cukuplah bagimu firman Alloh:</p>
<p dir="RTL">ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [٣٠:٤١]</p>
<p>Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).</p>
<p>Sesungguhnya ayat ini menerangkan tentang perubahan pada alam semesta. Maka samakanlah antara yang terjadi di alam ini dengan ayat tersebut. Setiap kali manusia berbuat dzolim, Alloh taala akan menimpakan berbagai ketimpangan. Entah itu terjadi pada buah buahan, lingkungan hidup, kesehatan mereka juga pada akhlak mereka.</p>
<p>Sungguh dahulu biji biji gandum dan selainnya lebih besar dan lebih bagus dari yang ada sekarang. Demikian juga keberkahannya lebih besar. Imam Ahmad telah meriwayatkan dengan sanadnya, bahwasanya dia mendapati sebuah kantong di gudang penyimpanan hasil bumi milik Bani Umayyah yang didalamnya ada biji gandum sebesar isi kurma.Tertulis pada kantong tersebut “<em>ini adalah yang tumbuh di zaman yang penuh keadilan</em>”.</p>
<p>Dan kebanyakan berbagai macam penyakit dan kerusakan yang menyeluruh adalah sisa sisa dari adzab yang telah Alloh timpakan kepada umat umat terdahulu. Kemudian sisa adzab tersebut akan selalu mengintai dan akan menimpa orang orang yang berbuat seperti perbuatan umat umat terdahulu sebagai balasan yang setimpal dan putusan yang adil.</p>
<p>Dalam hal ini Rosululloh alaihissalam telah mengisyaratkan dengan sabda –Nya pada masalah Tho’un</p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>إنّهُ بَقِيّةُ رِجْزٍ أَوْ عَذَابٍ أُرْسِلَ عَلَى بَنِي إسْرَائِيلَ</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL" align="right">Demikian juga Alloh juga telah menimpakan angin kepada suatu kaum tujuh malam delapan hari. Kemudian Alloh menyisakannya, dan pada yang semisalnya terdapat nasehat dan pelajaran.</p>
<p>            <span id="more-219"></span>Sungguh Alloh taala telah menjadikan tiap tiap perbuatan baik dan buruk  sebuah akibat dan pengaruh pada alam ini sebagai kensekuensi yang pasti terjadi. Maka Alloh menjadikan penahanan zakat dan sodaqoh menjadi sebab tertahannya hujan, kekeringan dan paceklik. Menjadikan perbuatan dzolim kepada orang miskin, pengurangan timbangan dan juga penindasan terhadap orang orang lemah sebagai sebab berkuasanya para pemimpin yang dzolim yang mereka tidak menaruh sedikitpun belas kasihan terhadap orang orang lemah.<strong> <span style="text-decoration:underline;">Ini sesungguhnya adalah wujud kedzoliman rakyat  yang  Alloh tampakkan pada diri para pemimpin mereka</span></strong>. Kerena sesungguhnya Alloh dangan hikmahnya membalas setiap perbuatan dengan balasan yang semisalnya. Kadang kadang berupa kekeringan, ada kalanya diserang olah musuh yang mereka tidak sanggup melawannya, juga kadang dikuasakan atas mereka  penguasa yang dzolim. Kadang juga dikuasakan syetan atas mereka yang membisikkan kepada perbuatan perbuatan yang mendatangkan adzab. Sebagai sebab terelisasinya takdir mereka, sehingga meka barjalan sesuai dengan apa yang Alloh takdirkan atas mereka. Maka orang yang berakal akan bisa memikirkan kejadian kejadian alam ini, sehingga dia mengetahui akan keadilan Alloh <em>subhanahu wataala</em>. Sehingga tatkala itu akan jelas baginya bahwasanya hanya Para Utusan dan pengikut mereka sajalah yang berada diatas jalan selamat. Sementara orang orang selain mereka berjalan menuju kebinasaan. <em>Sasungguhnya Alloh telah menjelaskan perkaranya,maka tidak ada yang bisa menghindar dari,Wabillahit taufiq</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Penyusun : Ustad Abu Khotob </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/26/penyebab-kerusakan-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">219</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mencuri Hak Cipta</title>
		<link>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/25/hukum-mencuri-hak-cipta/</link>
					<comments>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/25/hukum-mencuri-hak-cipta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[risalah07]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Apr 2011 07:54:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Cipta]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Cipta Menurut Syariat]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Mencuri Hak Cipta]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis-Jenis Hak Cipta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://risalah07.wordpress.com/?p=213</guid>

					<description><![CDATA[Hak Hak Ma’nawiyyah (Hak Cipta)[1] Pembahasan ini adalah suatu permasalahan yang baru dalam Fiqh Islamy yang sedang dibahas olah “Majami’ Fiqh iyyah” dan juga beberapa ulama’, sampai sampai menjadi tema karya tulis di perguruan tinggi islam. Pembahasan ini menerangkan tentang hukum kepemilikian hak cipta dan pemanfaatannya. Seperti penjualan merek dagang, hak temuan dan pemikiran atau [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Hak Hak Ma’nawiyyah (Hak Cipta)<a title="" href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></strong></p>
<p>Pembahasan ini adalah suatu permasalahan yang baru dalam <em>Fiqh Islamy</em> yang sedang dibahas olah “<em>Majami’ Fiqh iyyah</em>” dan juga beberapa ulama’, sampai sampai menjadi tema karya tulis di perguruan tinggi islam. Pembahasan ini menerangkan tentang hukum kepemilikian hak cipta dan pemanfaatannya. Seperti penjualan merek dagang, hak temuan dan pemikiran atau ide, hak tulis dan pencetakan<a title="" href="#_ftn2">[2]</a>, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan karya ilmiyyah lainnya.</p>
<p>Hak cipta adalah hak eksklusif Penciptaan atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuanga gagasan atau atau informasi tertentu.</p>
<p>Pada dasarnya, hak cipta merupakan “hak untuk menyalin suatu ciptaan”. Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan dan tidak sabatas suatu ciptaan. Pada umumnya pula hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HAK HAK MAKNAWIYYAH YANG MENDAPAT PERLINDUNGAN DALAM ISLAM </strong></p>
<p>1.       Hasil pemikiran yang ada sisi penemuannya. Dari sini, maka suatu pemikiran yang mendapatkan perlindungan tidak disyaratkan murni dari suatu penemuan, akan tetapi cukuplah pemikiran tersebut memiliki sisi pembaharuan dan bukan pengulangan dari karya ilmiyyah yang lain.</p>
<p>2.       Pada karya ilmiyyah yang bermanfaat. Karena Islam telah mewajibkan kepada pemeluknya untuk menuntut ilmu, diwaktu yang sama juga menetapkan jenis ilmu yang wajib untuk dicari dan dihasilkan, dan hal itu disyaratkan harus pada ilmu ilmu yang bermanfat. Dan termasuk dari doanya Rosululloh:<a title="" href="#_ftn4">[4]</a> <strong>(</strong><strong>اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا</strong>)dan Beliau juga memohon perlindungan dari ilmu yang bermanfaat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh bahwasanya Rosululloh bersabda:<strong> <a title="" href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a>(</strong><strong>اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع</strong><strong>)</strong></p>
<p>Atas dasar ini maka tidak ada tanggung jawab dalam melanggar atau menghilangkan karya tulis ataupun penemuan yang hukumnya haram dan menyelisihi syareat. Imam Syaukani telah menukil dari para ulama’ hukum kitab yang berisi keyakinan yang sesat, dan salinannya yang berada pada manusia semisal kitab ( <em>Fususul Hikam</em> ) dan ( <em>Al Futuhat</em> ) oleh Ibn ‘Arobi, dan kitab  ( <em>Khol’u Na’lain</em> ) oleh Ibn Qisi dan juga syairnya Ibnul Faridh dan yang lainnya. Maka hukum kitab kitab semacam ini adalah hendaknya dimusnahkan dengan cara dibakar dan ditenggelamkan kedalm air.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Untuk itu berkata Ibn Qoyyim : “Begitu juga tidak ada denda dari sebab membakar dan memusnahkan kitab kitab yang menyesatkan. Berkata Al Marudzi: ‘Aku berkata kepada Ahmad: “Saya telah meminjam sebuah kitab yang didalamnya berisi sesuatu yang menyimpang, bagaimana pendapatmu? Apa saya harus membakarnya?. Imam Ahmad menjawab: “Ya, sungguh Nabi melihat sebuah kutipan dari Taurot yang dibawa oleh Umar, karena keheranan Beliau(Umar) kutipan tersebut sesuai dengan Al Quran (pada beberapa permasalahan). Tiba tiba berubahlah wajah Nabi karena marah sehingga pergilah Umar ke sebuah tungku (perapian) dan melemparkan kutipan tersebut kedalamnya.”</p>
<p>Maka semua buku semacam ini tidak bisa ditolerir, bahkan diizinkan oleh syareat untuk dimusnahkan, dan alngkah bahayanya atas umat ini. Sesungguhnya Para Sahabat telah membakar seluruh mushaf yang menyelisihi mushaf Ustman tatkala mereka hawatir akan terjadi perselisihan dalam tubuh umat ini, maka bagaimana jika mereka melihat kitab kitab semacam ini yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan pada umat ini. Maka kesimpulannya kitab kitab yang mengandung kedustaan, kebid’ahan, kesesatan, wajib untuk dimusnahkan, dari pada alat alat musik dan bejana bejana khomer. Karena bahayanya labih besar dari pada bahaya yang ada pada mushaf yang menyelisihi mushafnya Utsman.</p>
<p><strong><span id="more-213"></span>PANDANGAN FUQOHA’ TENTANG PERLINDUNGA HAK CIPTA</strong></p>
<p>Banyak dari para ahli fiqih yang berpendapat atas bolehnya menjaga hak hak maknawiyyah, karena barang siapa yang lebih dahulu memiliki gagasan, penemuan, maupun tulisan, maka hal itu adalah hak eksklusif baginya. Dalam hadits Rosululloh bersabda:</p>
<p align="center"><strong>&#8221; من سبق إلى ما لم يسبق إليه مسلم فهو أحق به &#8220;<a title="" href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a> </strong></p>
<p>            Karya tulis dan penemuan merupakan buah karya dari pelakunya. Dan Rosululloh mengatakan:</p>
<p dir="RTL" align="center"><strong>&#8221; أطيب الكسب عمل الرجل بيده ، و كل بيع مبرور &#8221; .<a title="" href="#_ftn8"><strong>[8]</strong></a></strong></p>
<p>            Dan apa yang telah yang dilakukan olah para ulama’ tedahulu merupakan bukti bahwa apa yang telah mereka tulis (karya mereka) adalah murni milik mereka. Kalaulah buka milik mereka, tentunya mereka tidak mengambil imbalan dari karya mereka. Inilah Abu Nuaim Al Asbahani beliau menjual kitabnya “Al Hilyah”di Naisabur seharga 400 dinar.Dan bukanlah ini harga kertas dan biaya penyalinan. Dan ini dia Al Hafidz Ibn Hajar, salah satu raja meminta salinan kitabnya dengan perentaraan ulama’nya  untuk dikirimkan kepadanya, maka beliau menjual seharga 300 dinar.</p>
<p>Bahkan senantiasa manusia sejak adanya penulisan sampai hari ini mereka memanfaatkan karya tulis dengan berbagai mecam pemanfaatan dari menjual, meminjamkan, mewakafkan, menghadiahkan, dan yang lainnya tanpa ada pengingkaran.</p>
<p>Penemuan dan hasil pemikiran dalam pandangan fiqh islami mirip dengan ‘hasil yang terpisah dari asalnya’ dan itu merupakan manfaat dari sebuah ilmu yang bermanfaat. Sebab itu Rosululloh berdoa :<strong> </strong><strong>اللهم إني أسألك علما نافعا</strong><strong> </strong>,dan Rosululloh juga bersabda :</p>
<p align="center"><a title="" href="#_ftn9">[9]</a><strong>&#8221; إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : صدقة جارية أو <span style="text-decoration:underline;">علم ينتفع به</span> أو ولد صالح يدعو له &#8220;</strong><strong></strong></p>
<p> Maka ilmu merupakan sumber manfaat, dan menfaat memiliki nilai dan harga, bahkan manfaat merupakan penentu suatu harga dan kadarnya.</p>
<p>Dan layak bagi kami untuk menyebutkan ketetapan ‘ <em>Majma’ fiqh Islami</em>’yang berhubungan dengan hak hak maknawiyyah, yaitu sebagai berikut:</p>
<p dir="RTL"><strong>          </strong><strong>إن مجلس مجمع الفقه الإسلامي المنعقد في دورة مؤتمره الخامس بالكويت من 1-6 جمادى الأول 1409هـ الموافق10-15 كانون الأول (ديسمبر)1988م،</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>بعد اطلاعه على البحوث المقدمة من الأعضاء والخبراء في موضوع الحقوق المعنوية ، واستماعه للمناقشات التي دارت حوله ،</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>قرر ما يلي :</strong><strong></strong></p>
<p dir="RTL"><strong>     </strong><strong><span style="text-decoration:underline;">أولاً</span></strong><strong> : الاسم التجاري ، والعنوان التجاري ، والعلامة التجارية ، والتأليف والاختراع أو الابتكار ، هي حقوق خاصة لأصحابها، أصبح لها في العُرف المعاصر قيمة مالية معتبرة لتموّل الناس لها . وهذه الحقوق يعتد بها شرعاً ، فلا يجوز الاعتداء عليها .</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>    </strong><strong>ثانياً</strong><strong> : يجوز التصرف في الاسم التجاري أو العنوان التجاري أو العلامة التجارية ونقل أي منها بِعِوَض مالي ، إذا انتقى الغرر والتدليس والغش ، باعتبار أن ذلك أصبح حقاً مالياً .</strong></p>
<p dir="RTL"><strong>    </strong><strong>ثالثا</strong><strong>ً : حقوق التأليف والاختراع أو الابتكار مصونة شرعاً ، ولأصحابها حق التصرف فيها ، ولا يجوز الاعتداء عليها . والله أعلم<a title="" href="#_ftn10"><strong>[10]</strong></a></strong></p>
<p>            Majma’ Fiqh Islami pada muktamarnya yang ke-5 yang diadakan di Kuwait pada tanggal 1-6 Jumadal Ula 1409 H yang bertepatan dengan tanggal 10-15 Desember 1988 M.</p>
<p>Setelah pihak lajnah meneliti pembahasan yang diajukan oleh anggota sidang dan orang orang yang kompeten di bidangnya pada permasalahan ‘hak hak maknawiyyah’ serta mendengarkan <em>munaqosah</em> (diskusi) yang berhubungan dengan masalah tersebut, maka pihak lajnah memutuskan sebagai berikut:</p>
<p>1.      Bahwa merek, trade mark, simbol dagang, karya tulis, penemuan adalah merupakan hak khusus pemiliknya, yang memiliki nilai dan menjadi sebuah harta bagi manusia. Dan hak ini dilindungi oleh syareat maka tidak boleh untuk dilanggar.</p>
<p>2.      Diperbolehkan memenfaatkan merek dagang ataupun simbolnya dangan mendapatkan ganti(dijual)kepada siapapun apabila telepas dari penipuan, karena hak maknawi tersebut sudah menjadi sebuah harta.</p>
<p><em>3.      </em>Hak penulis, penggandaan, penemuan adalah dilindungi secara syareat. Dan bagi pemiliknya memiliki hak untuk memenfaatkan dan tidak boleh bagi orang lain untuk melanggarnya. <em>Wallohu a’lam </em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penyusun :Ust.Muhammad Kurnaen Abu Khotob<em>  </em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p align="right">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Pembahasan ini dinukil dari kitab <em>Masail Fiqhiyyah Muashiroh</em></p>
<p>oleh Abdur Rohman bin Abdulloh Assanad, dengan perubahan seperlunya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Masail muasiroh</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Wikipedia Bahasa Indonesia</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Shohih <em>Jami’ Shohih Al Adzkar oleh Albany</em> 5/6</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Shohih <em>Ta’liqot hisan ala shohih ibn Hibban</em> 1/302</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> Ini merupakan wewenang panagak hukum.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Dho’if  <em>Mukhtasor Irwa’ Gholil</em> 1/307.akan tetapi para ulama’ usul telah membuat satu qoidah</p>
<p>&#8221;  من سبق إلى مباحات فهو أحق بها &#8221; liahat <em>Qowaid wal usul jamiah</em> oleh Syaikh Sa’di</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> Shohih <em>Silsilah Shohihah</em> 2/106</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Shohih <em>Irwa’ Gholil</em> 6/28</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Ketetapan <em>Majma’ Fiqh Islamy</em> 1/48</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://risalah07.wordpress.com/2011/04/25/hukum-mencuri-hak-cipta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">213</post-id>
		<media:content url="https://1.gravatar.com/avatar/d1833b1ef33192c501cdc0037abe5c5be42d4eab6a7bfcde2bcc21bee5dd6180?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">risalah07</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
