<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 09:29:20 +0000</lastBuildDate><category>sejumput rintih</category><category>selembar puisi</category><category>ratapan sejarah</category><category>geography</category><category>Tokoh [good and badguys]</category><category>TIPS MENULIS</category><category>dakwah politik</category><category>Dunia Islam</category><category>Macam-macam Tips</category><category>tutorial</category><category>kisah-kisah pencerahan</category><category>About Me [Completed]</category><category>Blog Tutorial</category><category>Buku</category><category>perpajakan</category><category>BATRE V</category><category>apa arti dedaunan?</category><title>riza almanfaluthi dedaunan di ranting cemara</title><description>Blog Riza Almanfaluthi, dedaunan di ranting cemara, sebuah pengharapan akan kebahagiaan selalu bisa dinikmati kapan saja, di mana saja. inilah tempat dimana kreasi tentang pengharapan yang lebih baik akan tercipta dengan kata-kata, di detik-detiknya, di setiap waktu yang selalu berputar.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>272</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Blog Riza Almanfaluthi, dedaunan di ranting cemara, sebuah pengharapan akan kebahagiaan selalu bisa dinikmati kapan saja, di mana saja. inilah tempat dimana kreasi tentang pengharapan yang lebih baik akan tercipta dengan kata-kata, di detik-detiknya, di s</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-9054449558744889752</guid><pubDate>Thu, 03 Jan 2008 09:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-03T16:39:43.266+07:00</atom:updated><title>PINDAH BLOG</title><description>SEHUBUNGAN SELAMA HAMPIR SETENGAH TAHUN SAYA TIDAK BISA MENGAKSES BLOG SAYA, DIKARENAKAN BLOG SAYA TERBLOKIR OLEH ADMIN BLOGSPOT KARENA DIANGGAP SEBAGAI PENYEBAR SPAM, MAKA DENGAN INI TANPA ADA RASA BERDOSA SAYA PUTUSKAN UNTUK BERALIH KE WEBLOG YANG MENDUKUNG SEPENUHNYA KEPADA PEMBERIAN KENYAMANAN BAGI PENGGUNANYA YAITU WORDPRESS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI SAYA BLOGSPOT JEMPOL KE BAWAH. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPUTUSAN INI BERLAKU SAMPAI JANGKA WAKTU YANG TIDAK BISA DITENTUKAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI ALAMAT SAYA YANG BARU: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://dirantingcemara.wordpress.com"&gt;http://dirantingcemara.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ranah peradaban Islam nan jaya] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga bisa bersilaturahim di sana dengan nyaman.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2008/01/pindah-blog.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>8</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-123483817490041297</guid><pubDate>Tue, 17 Jul 2007 01:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-17T08:37:31.012+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">TIPS MENULIS</category><title>BUKAN KUCING GARONG</title><description>&lt;strong&gt;BUKAN TENTANG KUCING GARONG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tips agar tulisan yang kita buat dapat menarik pembaca untuk membacanya sampai akhir adalah pemilihan judul yang bagus. Helvy Tiana Rosa, Ahad 15 Juli kemarin, memberikan tips-tipsnya kepada para peserta diskusi cerita pendek (cerpen) Forum Lingkar Pena se-Jabodetabek.  &lt;br /&gt;Diskusi dua mingguan yang diselenggarakan FLP Depok ini memang dikhususkan untuk membedah cerpen-cerpen yang layak untuk dibedah. Setelah mengundang Ratno Fadillah pada pertemuan pertama dengan format baru, maka pekan kemarin mengundang Helvy Tiana Rosa untuk membedah tuntas 19 cerpen yang masuk.  &lt;br /&gt;Format baru pembedahan cerpen ini adalah dengan membuat kumpulan cerpen itu dalam sebuah buku. Waktu bedah pertama judul yang diambil sebagai judul kaver adalah Bulan Redup (Bojo Loro)—ada gambar ilustrasinya lagi, di bagian belakangnya ada puisi yang berjudul Rajah Cinta (Ananda di Palembang pasti ingat sekali puisi ini ).  Untuk kali yang kedua judul yang diambil sebagai kaver adalah judul cerpennya Ratno Fadillah “Menanti Paman Izrail”. Menurut saya ciamik sekali cerpen ini memainkan emosi pembaca. &lt;br /&gt;Pantas kalau Helvy memasukkan cerpen ini sebagai cerpen yang mempunyai judul yang menarik. Lebih menarik daripada judul cerpen yang dinobatkan menjadi jawara pada pekan itu yang berjudul:  Terbasuh Megatruh karya dari Indarpati. (Untuk mengetahui lebih dalam tentang dirinya coba search di Paman Google, maaf soalnya saya lupa nama blognya). Tidak hanya itu cerpen Ratno juga termasuk dua cerpen terpilih oleh Helvy yang mempunyai pembukaan menarik selain cerpennya Denni Prabowo yang dimuat di Jawa Pos berjudul: Mayra.&lt;br /&gt;Kembali kepada masalah judul cerpen—ini menurut Helvy, tapi bagi saya tidak hanya untuk cerpen, semua karya tulis pun senantiasa harus memiliki judul yang bagus—maka untuk bisa membuat judul yang menarik ia harus punya kriteria-kriteria seperti di bawah ini. (Kriteria dari Helvy, Penjelasan singkat dari saya).&lt;br /&gt;1. Judul menggambarkan cerita&lt;br /&gt;Terkadang penulis terjebak untuk menggadaikan isi cerita demi judul. Contohnya sebuah tulisan yang berjudul Kucing Garong misalnya. Judulnya memang menarik. Tapi ternyata isi tulisan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan Kucing Garong baik secara tersurat ataupun tersirat. Ini hanya gara-gara lagu dangdut cerbonan itu lagi ngetrend diputar di sembarang tempat. Di bis AKAP, warung remang-remang sepanjang pantura, televisi, radio, kafe dangdut, pasar malam, dan lain sebagainya. Yeah…!&lt;br /&gt;Menanti Paman Izrail, adalah judul cerpen yang menggambarkan isi cerita. Diinspirasi peristiwa bunuh diri  ibu dengan tiga orang anaknya, cerpen ini dimulai dengan bujukan seorang ibu kepada anak-anaknya untuk menanti pamannya yang akan datang esok hari. Dan untuk menemui paman yang baik hati itu tentunya sang Ibu harus membunuh tiga anaknya itu. Karena Paman Izrail itu sebenarnya adalah malaikat maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Enak diucapkan&lt;br /&gt;Salah satu kritik yang dilontarkan Helvy pada cerpennya Indarpati yaitu pada judulnya, yang walaupun ber-rima karena berakhiran uh di setiap katanya, tapi bagi Helvy judul ini tidak menarik. “Kenapa tidak Megatruh saja?” tanya Helvy. “Apa karena takut meniru judul cerpennya Danarto yang berjudul sama?” cecar Helvy.  Boleh-boleh saja kok kita punya cerpen dengan judul sama,“ kata Helvy tegas. Indarpati cuma berkomentar ”Mbak Helvy tidak merasakan ruh Jawa dari cerpen saya ini”. Maklum cerpen Indarpati ini budaya lokalnya kental banget. Njawani, beda dengan kultur dari Mbak Helvy yang orang Medan- Aceh.&lt;br /&gt;Lalu judul yang enak diucapkan itu seperti apa? Ini masalah subyektifitas. Dan setiap orang punya nilai subyektifitas yang berbeda. Enak diucapkan bagi saya yah seperti ini: Kucing Garong, Bojo Loro, Mayra, dan lain-lain. Minimal tidak membuat lidah kepleset karena sulit untuk diucapkan, contohnya Entrepreneur yang Keblinger,  Jamahiriah Trap. (Untuk Pak Ekonov, maafkan saya karena telah berani-beraninya  mengkritik judul topik Anda di forum diskusi kita) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Boleh puitis tapi tak berlebihan&lt;br /&gt;Bulan Redup, Malam Selalu Gelap bisa jadi adalah cerpen-cerpen yang judulnya puitis tapi berlebihan. Sudah tahu malam itu gelap dan bulan itu selalu redup tak seterang mentari di siang bolong, lalu mengapa tetap dipaksakan untuk ditulis? Semua orang tahu kok. Tapi untuk judul sebuah puisi, sah-sah saja. Tapi ini prosa bo…bukan puisi. &lt;br /&gt;Juga yang termasuk berlebihan adalah seperti ini “Meraup Rembulan Menakar Malam Mencumbu Derita”. Terlalu panjang dan seperti nama jurus di cerita silat Kho Ping Hoo. Sekalian saja ditambahkan “Menggedor  Bumi, mencengkram Naga.” Persis bukan?&lt;br /&gt;Yang puitis tapi tidak berlebihan seperti apa? Banyak sekali. Contohnya judul tulisan yang dibuat oleh Rifki (Key-key), Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Atau dari Bayu Gawtama, Cinta yang takkan Mampu Terbayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pakai Kalimat Negasi&lt;br /&gt;Maksudnya adalah judul hendaknya memakai kata atau kalimat penyangkalan, pembatalan, peniadaan, berlawanan dengan kodrat alam. Misalnya Bukan di Negeri Dongeng, Perempuan yang Membelai Luka, Perempuan yang Mencabik Luka, Menari di atas Luka, Tak Harus Menjadi Miss Universe.&lt;br /&gt;Tapi sayangnya banyak juga penulis terjebak di sini. Alih-alih ingin membuat judul yang bernegasi tapi ia membuat judul yang membuat kontroversi dan melanggar aturan masyarakat atau agama yang suci. Karena bagi yang berkecimpung di dunia kepenulisan, syahwat seperti ini begitu rawan untuk meledak.  Seperti judul yang memanusiakan Tuhan, yang menuhankan Rasulullah (saya sampai tak enak untuk menuliskannya, Nau’dzubillah), atau alat kelamin wanita.&lt;br /&gt;Menurut saya alangkah lebih baik saat penulis menggunakan kalimat yang bernegasi ia menghindari segala sesuatu kontroversial atau tabu di masyarakat. Soalnya kita tidak bisa berlindung dibalik kebebasan berkreasi seperti yang didengung-dengungkan penulis barat. Tetap syariat yang menjadi utama agar tulisan itu tidak kehilangan sesuatu yang mencerahkan buat yang lain. &lt;br /&gt;Nah itulah tips-tips membuat judul yang bagus yang diberikan oleh Helvy. Judul yang bagus harus berkaitan erat dengan isi. Isi yang menarik dengan judul yang bagus seperti sayur dengan garam. Tidak bisa terpisahkan. Tapi tips-tips ini mungkin tidak berlaku untuk dan pada semua orang, karena seorang penulis sekaliber Putu Wijaya terbiasa untuk menggunakan judul yang di luar pakem seperti di atas, judul yang aneh, dan tidak menarik sama sekali. Tapi masalahnya apakah kita sekaliber Putu Wijaya?&lt;br /&gt;Itu saja. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;11:48 16 Juli 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/07/bukan-kucing-garong.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5687907011900178990</guid><pubDate>Tue, 17 Jul 2007 01:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-07-17T08:35:59.606+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>MUKA BANDIT</title><description>MUKA BANDIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi pukul 10.00 tepat saya meninggalkan halaman masjid tempat pertemuan pekanan dilakukan untuk menuju bandara Soekarno Hatta menjemput paman saya yang akan tiba dari Arab Saudi. Menurut SMS yang saya terima dari rombongan keluarga paman saya yang sudah terlebih dahulu sampai di bandara, rencananya pesawat yang membawa paman saya itu akan mendarat pukul 13.00 WIB. &lt;br /&gt; Perjalanan yang biasa saya tempuh  ke sana adalah dengan naik KRL di stasiun Citayam lalu turun di Stasiun Pasar Minggu. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan Bus Damri yang biasa mangkal di Terminal Pasar Minggu. Sampai di bandara, di terminal  2, jam satu siang kurang sedikit. Ternyata berdasarkan jadwal yang terpampang di layar pengumuman pendaratan, pesawat Saudi Airlines itu baru tiba di Indonesia pukul 13.54 WIB.&lt;br /&gt; Dan baru pada jam setengah empat sore, saya benar-benar dapat melihat paman saya keluar dari pintu kedatangan. Setelah berbasa-basi sebentar dia bilang, “Besok kita ke PRJ, antar yah…” &lt;br /&gt;Siap…!&lt;br /&gt;Pekan Raya Jakarta&lt;br /&gt;Perjalanan kemarin amat melelahkan menurut saya. Selain karena  harus mampir di rumah teman paman saya di daerah Ciledug, kapasitas angkut yang berlebih sehingga kami harus berdesakan, juga perjalanan pulang ke tempat saya yang memakan waktu lama. Kini esoknya, di hari ahad ini, saya pun harus menemani paman saya yang ingin berjalan-jalan di Pekan Raya Jakarta (PRJ).  Rencananya pula sehabis dari PRJ kami akan mengunjungi Masjid Kubah Emas. “Mumpung di Jakarta, ” kata bibi saya. &lt;br /&gt;Oke deh…walaupun lelah dari kemarin belum juga kunjung hilang, saya menyanggupi untuk mengantar mereka. Dalam hati saya berkata “kepada keluarga siapa lagi saya akan berbakti setelah ibu saya meninggal?” &lt;br /&gt;Perjalanan di mulai dari pintu tol Cieutereup lalu keluar di pintu tol Ancol-Mangga Dua. Tidak berapa lama kami pun sampai di arena PRJ. Setelah memarkirkan mobil, kami bergegas untuk memasuki tempat pameran. Tiket masuk per kepala sebesar Rp20.000,00 di hari libu. Anak umur 3 tahun ke atas diharuskan memiliki tiket pula. &lt;br /&gt;Terus terang saja, saya termasuk orang yang tidak menyukai keramaian pasar atau mal. Selain karena bisa menaikkan syahwat belanja juga bisa meliarkan hasrat hedonisme manusia—dan untuk mengatasi ini saya cuma membawa uang tunai seratus ribu saja agar saya menyadari saat “ingin” sesuatu, uang saya hanya segitunya saja.&lt;br /&gt;Semakin siang semakin banyak pula pengunjung yang datang. Dan tidak terasa saat saya berkunjung di stand daerah dan UKM, saya telah berpisah dari rombongan utama. Saya raba saku saya, hp saya masih ada ditempatnya. Tapi ada yang aneh, kok selama ini tidak ada aktivitas getar dari hp itu. Alamak, ternyata hp saya sudah mati. Lalu bagaimana saya harus mencari mereka di antara puluhan ribu orang yang berada di tempat itu.&lt;br /&gt;Saya lakoni cara manual, berkeliling ke berbagai tempat utama pameran. Dari hall ke hall, dari stand ke stand, dari counter ke counter. Tidak ketemu…! Kaki saya sampai pegal-pegal. Istirahat deh di salah satu sudut counter penjual makanan ringan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kali aja ada yang bisa meminjamkan charger atau hp—ingat loh saya tidak meminta pulsa kepada mereka.&lt;br /&gt;“Pak, bapak punya charger enggak Pak? Saya mau menghubungi saudara saya di sini, tapi hp saya mati”   tanya saya pada sekelompok orang penjaga stand yang saat itu lagi sepi. &lt;br /&gt;“Chargernya ketinggalan di rumah,” jawab salah satu dari mereka. Saya pun meninggalkan tempat itu.&lt;br /&gt;Saya kembali melihat seorang bapak tua yang sedang duduk-duduk dengan hp berada di pinggangnya. &lt;br /&gt;“Pak bisa bantu saya enggak Pak? Saya mau kontak saudara saya di sini. Tapi baterai saya habis. Jadi saya mau pinjam hpnya bapak, nanti saya telponnya pakai kartu saya Pak,” pinta saya setengah memelas.&lt;br /&gt;“Masnya pinjam saja charger di counter hp di sana, ” tunjuk dia pada sebuah stand  merek hp ternama. &lt;br /&gt;“Terimakasih Pak.” Dua kali saya di tolak. Kali ini episode acara televisi TOLONG benar-benar terjadi pada diri saya. &lt;br /&gt;Saya pergi ke tempat yang ditunjuk oleh Bapak itu. Tapi saya lihat stand  itu dipenuhi banyak orang, semua pelayannya sibuk, dan jelas saya tidak banyak berharap meminta pertolongan dari mereka.&lt;br /&gt;Lalu saya kembali mencari orang yang dari gayanya bisa membantu saya keluar dari kesulitan. Dua orang yang sedang berbincang-bincang di depan toilet yang saya tanyai, menjawab dengan jawaban singkat, “saya tidak punya hp.”  Dan orang terakhir—penjaga stand minuman—pun tidak bisa menolong saya.&lt;br /&gt;Saat itulah saya merasakan menjadi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Saat itulah saya merasa menjadi tokoh utama dari program variety show televisi. Saat itulah saya merasa menjadi orang yang kesendirian. Mengapa mereka tidak mau memberikan pertolongan yah? Apa karena muka saya muka bandit hingga menjadi parameter tersendiri layak atau tidaknya seseorang untuk ditolong? Saya merasakan sekali nada kecurigaan dari tatapan bapak yang menyuruh saya meminjam charger di counter hp dan juga dari dua pemuda yang  sedang ngobrol di depan toilet. Wajarlah mereka curiga, ini Jakarta Bung! Di mana banyak kepalsuan dijajakan dan diobral ke mana-mana. Di saat kejujuran menjadi barang paling langka pada saat ini. Dan pada akhirnya saat itulah saya bertekad kalau saya dimintakan pertolongan dalam masalah ini Insya Allah akan saya bantu sekuat tenaga. &lt;br /&gt;Tekad saya itu ternyata diberikan jalan oleh Allah untuk direalisasikan pembuktiannya. Senin pagi ini, ada kecelakaan di jalan antara Tanjung Barat dan Pasar Minggu. Pengendara sepeda motor menabrak motor yang berada di depannya. Yang menabrak jatuh dan ditabrak dari belakang oleh motor lain. Yang ditabrak malah tidak apa-apa bahkan langsung melanjutkan perjalanan lagi. Sedangkan dua orang ini luka-luka lecet di kaki, tangan, dan juga di dagu. &lt;br /&gt;Saya sempatkan untuk menuntun salah satu motor mereka. “Bagaimana, ada yang luka parah enggak? tanya saya pada penabrak kedua yang tidak bisa menghindari penabrak pertama . “Dagu dan kaki ini masih keluar darah,” jawabnya. Benar, cairan berwarna merah membasahi tangannya yang mengusap-usap dagunya.&lt;br /&gt;Si penabrak pertama menghampiri saya sambil berjalan tertatih-tatih dan wajah meringis kesakitan dan berkata: “Bapak punya pulsa banyak enggak?  Saya mau menghubungi orang Jepang atasan saya, pulsa saya mau habis nih” pintanya. Jelas saya langsung memberikan hp saya padanya. Peristiwa hari Ahad kemarin benar-benar membekas pada sanubari saya. Berikan pertolongan…apalagi sekadar pulsa ini. Ada banyak yang dihubunginya,  saya pun menunggu lama. Berkali-kali ia meminta izin untuk menghubungi yang lain. “Silakan pakai saja.”&lt;br /&gt;Barulah setelah saya memastikan mereka tidak membutuhkan hp ini, saya pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali, absen pagi sudah terasa memanggil-manggil di telinga. Selalu saja ada hikmah yang tersembunyi, kata teman satu seksi saya saat saya menceritakan hal ini padanya. Tentang sebuah pelajaran dan pembuktian realita atas  sebuah tekad agar tidak menjadi omong kosong belaka. &lt;br /&gt;Syukurnya Allah memberikan pelajaran atau tes ini segera, agar saya merasakan hikmah di balik semua itu. Agar saya selalu belajar untuk menjadikan tangan ini selalu di atas. Agar saya tidak menggunakan parameter layak tidaknya seseorang itu perlu ditolong hanya di lihat dari mukanya, muka bandit atau muka Kyai. Enggak enaklah dinilai seperti itu. Bisa jadi muka saya muka bandit tapi hati ini boo, hati Ebiet (halah…). Kawan, hari ini dan kemarin saya mendapat banyak pelajaran loh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;16:16 02 Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan&lt;br /&gt;http://dirantingcemara/blogspot.com&lt;br /&gt;almanfaluthi@gmail.com &lt;br /&gt;riza.almanfaluthi@pajak.go.id</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/07/muka-bandit.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-4233411932980378285</guid><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 07:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-06-26T14:06:25.493+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buku</category><title>BIOLA TAK BERDAWAI</title><description>Biola Tak Berdawai&lt;br /&gt;:Sebuah Roman&lt;br /&gt;Seno Gumira Ajidarma &amp; Sekar Ayu Asmara&lt;br /&gt;Penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akur)&lt;br /&gt;Cet. II Maret  2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya—tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai. (Prolog, hal 1)&lt;br /&gt;Buku ini ditulis berdasarkan skenario dan film karya Sekar Ayu Asmara. Dengan cara pandang seorang anak tunadaksa (dengan banyak cacat yang diderita) bernama Dewa.  Autistik, bisu, tubuh kecil yang tidak bisa berkembang, mata terbuka tapi tidak melihat, telinga yang bisa menangkap bunyi tapi tidak mendengar, jaringan otak yang rusak, leher yang selalu miring, kepala yang selalu tertunduk, wajah bagaikan anak genderuwo adalah gambaran dari anak itu.  &lt;br /&gt;Sebagai salah satu bayi yang tumbuh besar sampai umur delapan tahun—yang di luar perkiraan kebanyakan orang di panti asuhan tersebut, ia adalah belahan jiwa dari salah seorang pengasuhnya, Renjani. Renjani bersama Mbak Wid adalah pengurus panti asuhan yang bernama Rumah Asuh Ibu Sejati, terletak di daerah para pengrajin perak bernama Kotagede di pinggiran kota Yogyakarta. Tempat di mana mereka menampung bayi-bayi yang tidak dikehendaki, karena cacat ataupun karena hasil dari hubungan gelap. &lt;br /&gt;Renjani bersama Dewa mengarungi pergiliran waktu dengan menyaksikan kedatangan para bayi tunadaksa yang cepat pula meninggalkan mereka karena kematian, meninggalkan mereka menuju ke pekuburan bayi. Begitu pula dengan Mbak Wid, seorang dokter kepala, yang di siang harinya mengenakan pakaian putih-putih, tapi di saat malam tiba, ia berubah menjadi perempuan berbaju hitam-hitam yang begitu percaya ramalan kartu Tarot dan menyepi di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan seratus lilin. Selalu, Renjani menemani Mbak Wid dalam permainan kartu itu, tentu dengan Dewa yang tetap terdiam membisu, dengan leher yang selalu miring, dan kepala yang selalu tertunduk.&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika saat Dewa mendengar alunan biola dari sebuah CD, sebuah kekuatan mampu membuat kepalanya terangkat—hanya sepersekian detik, dan Renjani—ibunya yang mantan penari balet—melihat itu! Renjani menghambur memeluknya. “ Dewa, Dewa—Dewa suka ibu menari ya? Ah, Ibu sayang sekali sama kamu Dewa!”&lt;br /&gt; Sepersekian detik itulah yang kemudian membawa Renjani dan Dewa melihat Ballet Ramayana yang dimainkan setiap bulan purnama di Candi Prambanan. Lalu berkenalan dengan pemuda yang lebih muda usia daripadanya. Bhisma, salah seorang pemain biola dari pertunjukan itu selalu memperhatikan Renjani saat pertunjukan berlangsung. Singkat cerita, Bhisma semakin akrab dengan Renjani, pun dengan Dewa yang ia sebut sebut sebagai biola  tak berdawai.&lt;br /&gt;Tapi keakraban dan benih cinta yang mulai tumbuh itu rusak saat Bhisma memaksa Renjani menerima dirinya karena itu berarti mengusik masa lalu Renjani yang gelap, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia pindah dari Jakarta ke tempat sepi ini. Ia belum sanggup berdamai dengan masa lalunya. Masa lalu yang merusak kehormatannya sebagai seorang perempuan. Ia diperkosa oleh guru baletnya. &lt;br /&gt;Jejak-jejak gelap itu menjelma menjadi segumpal daging yang Renjani secara ceroboh menggugurkannya. Lalu menjadi kanker yang membuatnya koma selama seminggu dan akhirnya berkumpul bersama bayi-bayi tunadaksa yang tidak sanggup bertahan hidup di dunia. Bhisma menyesal atas pemaksaannya itu. &lt;br /&gt;Penyesalan yang hanya bisa membuatnya melakukan sebuah konser tunggal. Di kuburan Renjani. Di kuburan para tunadaksa itu. Memainkan resital gubahannya yang baru terselesaikan dan tak sempat tertunaikan untuk dimainkan di hadapan Renjani. &lt;br /&gt;Tapi walaupun terlambat konser itu bagi Dewa adalah konser dari seribu biola, seribu harpa, seribu seruling, seribu piano, seribu timpani, seribu cello, seribu bas betot, seribu harmonica, seribu gitar listrik, dan  seribu anggota paduan suara malaikat dari sorga. Membuat langit ini penuh dengan cahaya dan lapisan-lapisan emas berkilauan. Dan yang mampu membuat Bhisma tertegun, mampu membuat biola itu berhenti sejenak, mampu membuat Dewa berkata: “D..de….f….faa…shaa…shaa…aang…iii…buuu.” &lt;br /&gt;Dewa sayang kamu Renjani.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan roman ini bercerita dengan sederhana sekali. Sekali lagi, sederhana sekali. Ada yang membuatnya beda dan menjadikan novel ini berciri khas unik yaitu penyelipan kisah-kisah pewayangan, kakawin  Bharata-Yuddha beserta para tokoh-tokohnya, Drupadi, Pandawa, Kurawa, Bhisma, Sengkuni, Dorna,  dan yang lainnya. Kisah-kisah yang terlupakan oleh saya.  Namun sempat membangkitkan memori bahwa saya sempat membaca komiknya waktu masih SD dulu. &lt;br /&gt;Filmnya meraih berbagai penghargaan internasional namun roman adaptasi dengan judul sama ini bagi saya biasa-biasa saja. Belum menggugah rasa kebahasaan saya walaupun ditulis oleh seorang yang bernama Seno Gumira Ajidarma. Penulis serba bisa Indonesia yang paling produktif—sebagaimana ditulis dalam kata pengantar buku itu—yang piawai sekali memainkan kata-kata dan sekali lagi menurut penulis kata pengantar tersebut mampu menangkap echo cinta dari film itu. Bagi saya Seno tidak sepiawai saat memainkan kata dan cinta tentunya dalam “Sepotong senja untuk Pacarku.” Karena ia terkungkung dalam sebuah skenario? Entah. Buku ini cukup dibaca saat waktu senggang saja.&lt;br /&gt;Namun kavernya bagi saya mampu untuk “menutupi” kekurangan ini. Indah. Biola tak berdawai, kupu-kupu jingga, warna hitam yang dominan adalah sebuah citra tepat dari sebuah sampul yang menggambarkan isi buku ini. Sebuah asa akan asmara, yang hilang terampas oleh duka dan waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara &lt;br /&gt;06.08 23 Juni 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/06/biola-tak-berdawai.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-7535115225194547128</guid><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-06-26T14:08:12.660+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">selembar puisi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">TIPS MENULIS</category><title>PETAKA ASMARA</title><description>Sampai saat ini tugas yang diberikan kepadaku untuk menulis sebuah cerita pendek belum juga selesai. Entah kenapa, istilah cerpen menjadi momok menakutkan bagi saya. Ketakutan-ketakutan yang tidak pernah saya jumpai saat menulis nonfiksi terasa sekali menghantui. Entah ketidakdalaman cerita, entah ketidakkuatan karakter, entah kesalahan setting, entah takut dianggap jelek, entah dianggap tidak piawai dan entah-entah lainnya yang membuatku tidak bisa menulis cerpen.&lt;br /&gt;        Tapi ternyata saya kudu diterapi juga, bahwa saya sudah tidak menulis entah fiksi dan nonfiksi sudah hampir setengah bulan lamanya. Waktu yang membuatku khawatir saya tidak bisa menulis lagi. Benar-benar tidak ada gejolak dari dalam untuk bisa menggerakkan jari saya menuliskan sesuatu. Maka untuk menepis kekhawatiran itu saya menuliskan apa saja di blog ini. &lt;br /&gt;        Tentang saya yang penuh dengan kecemasan tidak bisa menulis lagi. Tentang saya yang takut saya kembali mutung di tengah jalan dan berhenti dari belajar menulis di FLP karena banyak tugas-tugas yang belum saya kerjakan. Tentang saya yang lagi sakit. Sakit hati. Maksudnya adalah hati saya yang lagi penuh dengan penyakit hati saat ini. Tentang saya yang lagi merindukan suasana. Tentang saya yang mengenang jalan-jalan kota Bogor yang sempat saya susuri kemarin dari Gadog Puncak. Hingga tentang saya yang mencoba mencari jati diri agar tidak kehilangan orientasi. Hidup ini mau dibawa kemana?&lt;br /&gt;        Sabtu dan Minggu kemarin memang benar-benar penuh dengan pertarungan antara kehidupan dunia dan akhirat. Antara orientasi mengejar dunia atau mengejar akhirat. Dan pada akhirnya saya memang kalah. Orientasi dunia begitu mendominasi. Hingga lupa ada kehidupan akhirat. Kelelahan mengatur waktu atau kemalasan yang timbul dari banyaknya waktu luang membuat saya berpikir, "oh enaknya kalau hidup tidak memikirkan umat". &lt;br /&gt;        Enak bisa mancing, bisa jalan-jalan, bisa piknik, bisa santai, bisa main game seharian, bisa tidur siang, bisa berkumpul dengan keluarga, dan bisa menikmati kesenangan duniawi lainnya. Pada akhirnya dari kenikmatan berangan-angan "seandainya aku" itu malah membuatku lupa akan banyak amanah. Walhasil saya benar-benar terlena. Saya banyak melanggar amanah yang saya pegang. So, saya beri nilai sabtu dan ahadku kemarin dengan nilai D, tidak lulus.&lt;br /&gt;        Biasanya kesadaran tentang penilaian jelek dari hari-hariku adalah bila pagi telah jelang. Saya merasa ada energi kebaruan yang membuatku bertekad untuk memperbaiki hari ini menjadi lebih baik dari kemarin. Saat shubuh tiba, bergegas ke masjid, sholat berjama'ah, berzikir, dan berdoa, membuat saya merasakan ada semangat baru. Semangat yang menghilangkan keburukan  hari-hari kemarin. Semangat agar hari ini lebih baik. Semangat untuk membantu sesama. Semangat untuk menghapus keburukan-keburukan dengan kebaikan-kebaikan. Semangat agar saya tetap hidup. Hidup dengan membawa makna: "bermanfaat buat yang lain". Walaupun terkadang itu cuma bertahan sampai dhuhur menjelang. Tapi tak mengapa yang penting ada suatu upaya menuju perbaikan tersebut. &lt;br /&gt;        Alhamdulillah, sampai saya menulis paragraf ini, saya merasakan sebuah kepuasan tersendiri. ada energi positif mengalir dalam jiwa saya. Ini berarti terapi menulisku lumayan berhasil melawan kehampaan jiwa. Saya berharap energi itu tidak menjadi kecil lalu meredup tapi semakin membesar untuk menjadi bola salju yang membawa manfaat buat orang lain. Saya bisa menjadikan menulis adalah terapi terbaik bagi saya. &lt;br /&gt;        Dan saya yakin terapi ini pun baik bagi Anda. Tulislah apa yang Anda ingin tulis. Jangan takut untuk memulai. Walalupun ketakutan saya dalam menulis cerpen belumlah  terobati tetapi dengan menulis apa saja bisa mengusir ketakutan-ketakutan yang lain. Jadikan menulis sebagai obat buat diri Anda. ceritakan semuanya. ceritakan semuanya. Jangan malu. Jangan takut. Sekarang juga. Tulis apa adanya. Biarkan jiwamu menilai tulisanmu sendiri. Bukan orang lain. Maka akan kau rasakan terapi menulis ini berguna untuk dirimu.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Petaka Asmara&lt;br /&gt;Jika jiwa tersesat pada labirin kenangan&lt;br /&gt;maka terkadang asmara-asmara masa lalu &lt;br /&gt;timbul tenggelam dengan tangan yang menggapai-gapai&lt;br /&gt;tolong aku tolong aku&lt;br /&gt;jangan biarkan aku terjebak dalam waktu&lt;br /&gt;mengenangmu selalu&lt;br /&gt;bahkan mendengar namaku saja engkau tak sudi &lt;br /&gt;karena itu adalah masa lalumu&lt;br /&gt;tolong aku tolong aku&lt;br /&gt;sampai kapan aku akan berteriak demikian&lt;br /&gt;jika sekadar berita tentang aku &lt;br /&gt;pun membuatmu mual&lt;br /&gt;mual pada segalanya&lt;br /&gt;mabuk pada kerontang jiwa&lt;br /&gt;ah andai waktu tak pernah menemukan diriku&lt;br /&gt;aku tak akan mungkin berteriak:&lt;br /&gt;tolong aku tolong aku &lt;br /&gt;sampai kapan????!!!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;13.00 18 Juni 2007.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/06/petaka-asmara.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-2147257757375003254</guid><pubDate>Wed, 06 Jun 2007 03:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-06-06T10:45:40.837+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>KAMAR</title><description>Matamu adalah telaga, dan aku tenggelam di dalamnya. Kalimat indah itu keluar dari mulut Ketua FLP Depok ketika bertugas sebagai tutor menggantikan tutor utama kami--Mas Denny yang sedang rihlah ke Padang. &lt;br /&gt;Kalimat itu adalah deskripsi tentang keindahan sebuah mata. Dalam sastra sebuah deskripsi terkadang tidak perlu dengan menunjuk sesuatu dengan gamblang. Misalnya dengan kalimat "matamu cantik" tapi lebih indah pula bila dengan penggambaran metaforis. &lt;br /&gt;Ya, Sabtu itu kami belajar untuk mendeskripsikan sesuatu. Pada makalah yang dibagikan itu Denny mengutip ismail Marahimin menulis bahwa deskripsi bisa dibedakan menjadi dua macam. Pertama, deskripsi ekspositoris yang merupakan deskripsi yang sangat logis, yang isinya merupakan daftar rincian, semuanya, atau yang menurut penulisnya hal yang penting-penting saja, yang disusun menurut sistem dan urutan-urutan logis dari obyek yang diamati.&lt;br /&gt;Sedangkan deskripsi impresionistis adalah penggambaran yang didasarkan kuat lemahnya sebuah kesan penulis terhadap bagian obyek-obyek yang ingin digambarkannya. Kata kucinya ada pada kesan terkuat yang tertangkap.&lt;br /&gt;Pada akhir pertemuan tanpa berpanjang kata, kami ditugaskan untuk mendeskripsikan kamar masing-masing. Dan inilah deskripsi kamar saya. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAMAR &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih saja terdiam di sudut. Di atas ranjang memandang sekeliling kamar yang sudah sekian tahun tidak berubah. Aksesorisnya belaka yang berubah seiring dengan mandala waktu. &lt;br /&gt;Kalau engkau bayangkan sebuah kamar yang luas, dengan keharmonisan warna cat menyiratkan sebuah keseimbangan alam, ranjang yang besar, lemari-lemari tinggi, meja rias dengan kekokohan pohon jati, cermin yang bening, keramik Italia kualitas terbaik yang mempercantik lantai, tirai lebar berbordir penghalang sinaran mentari pagi dan hembusan angin yang masuk dari jendela,  kamar mandi yang tak kalah indah, dan luasnya setengah darinya, maka bayangan itu cuma ada di sinetron-sinetron Indonesia. Jangan engkau bayangkan itu.&lt;br /&gt;Kamar si pemilik rumah ini hanya cukup untuk memuat dua meja pingpong. Bercat hijau muda. Dengan satu jendela berkaca nako—tanpa tirai—yang mengemis-ngemis cahaya. Maklum saja kamar ini berada di bagian belakang, bersebelahan dengan dapur. Suara berisik pun dominan sekali di setiap pagi. &lt;br /&gt;Karena tiada kecukupan dengan cahaya, maka lampu hemat energi 25 watt menjadi sumber penerangan yang ampuh untuk mengusir kegelapan selamanya, terkecuali kalau ia sudah kehilangan daya. Tapi cukup lama biasanya, berkisar dua warsa. &lt;br /&gt;Lantainya hanya ditutup dengan keramik kelas dua. Hijau muda juga. Baru terlihat mengilat dan harumnya memenuhi ruangan jika dipel dengan cairan khusus pembersih lantai. &lt;br /&gt;Pintu kamarnya cukup kokoh. Terbuat dari kayu yang dipelitur seadanya. Maunya sih nyeni, tapi apa lacur tukang bangunan yang memasangnya bukan tukang kayu ahli, jadinya masih terlihat kasar. Dan pintu ini pun harus didorong dengan kuat agar bisa menutup rapat. &lt;br /&gt;Lemarinya cukup tinggi juga. Nah, ini baru bikinan tukang kayu asli. Kayunya dibuat halus dan dipelitur mengilat sekali. Sayang ada yang merusak keindahannya. Ada selot terpasang di bagian luar. Tentunya untuk menutup pintu lemari yang tidak bisa terkunci dari dalam. &lt;br /&gt;Isinya? Ah, engkau pasti tahu apa yang ada di dalamnya. Sekadar tumpukan penutup aurat sebagai pembeda keberadaban manusia zaman batu dengan masa kini. Dan sekadar lembaran-lembaran kertas penanda keberadaan seseorang di dunia ini. &lt;br /&gt;Ho...ho...ho...ada pula lembaran-lembaran lain yang lebih kecil ukurannya, bergambar, dan bernomor seri tertumpuk rapi. Biasanya setiap pagi si pemilik rumah ini membagi-bagikan itu kepada para penghuni rumah yang lain. Yang biasa kudengar mengiringi pembagian itu adalah celotehan dari si kecil: ”Mi, kok cuma seribu?”&lt;br /&gt;Di sebelah lemari itu ada meja kecil setinggi lutut orang dewasa. Cukup untuk menaruh sebuah tape recorder. Lebih tepatnya lagi meja ini berguna untuk menaruh apa saja. Kaset-kaset yang bertumpuk tidak teratur, kunci sepeda motor, sobekan-sobekan kertas, brosur-brosur penawaran kredit bank, buku diary, majalah, makalah, pulpen,  dan banyak lagi lainnya. Sepertinya meja ini tak layak muat untuk menerima segalanya. Yang pasti: berantakan sekali.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Di sisi lain dari lemari ada juga rak kecil berwarna biru laut terbuat dari plastik. Niatnya mungkin untuk menaruh peralatan sembahyang, tapi itu cuma di bagian atasnya.Lagi-lagi yang tampak adalah tumpukan kertas, buku dan majalah. Namun terlihat pula tiga buah tas kerja di sana. &lt;br /&gt;Di sudut kamar yang lain teronggok meja rias dengan begitu banyak kosmetik di atasnya. Ada cermin besar di sana. Cukup untuk melihat setengah tubuh manusia. Tentu hanya fisik yang terlihat. Tidak ada isi hati yang tampak. Tapi memang jujur sekali sang cermin ini memantulkan bayangan. &lt;br /&gt;Kulit yang menghitam, rambut yang memutih, kulit yang mengeriput, mata yang menyayu tanpa cahaya, tubuh yang membongkok karena tulang yang merapuh, senyum yang enggan bangkit dari sudut bibir, gigi yang tinggal satu dua ditampilkan apa adanya pula. Tidak dilebihkan atau dikurangkan sedikitpun. Jujur, jujur sekali. Terkecuali sumber bayangan itu memakai topeng. Pun saat ia benar-benar memakai topeng pada galibnya  itu adalah sebuah bentuk kejujuran pula.   Sebuah pantulan, sebuah penegasan:  Ia memakai topeng! &lt;br /&gt;Lalu persis di antara rak plastik dan meja rias itu ada sebuah pintu lagi. Pintu kamar mandi. Yup, kamar ini mempunyai kamar mandi di dalamnya. Kecil dan tidak luas. Sekilas aku melihat di sana ada kran, ember, gayung dan tentunya...ah, aku geli menceritakannya kepada engkau. Lain kali aku membisikkan segalanya padamu, tidak saat ini,  dan hanya untuk kamu saja, tidak untuk yang lain.&lt;br /&gt;Kini, saatnya membicarakan tempat di mana aku sedang memandang sekeliling kamar ini. Ranjang ini. Aku berdiri di tempat di mana biasanya sepasang pemilik rumah ini membaringkan kepalanya di ranjang ini. Terlihat sekali bayanganku ada di cermin meja rias di seberang sana. &lt;br /&gt;Ranjang ini empuk sekali. Saking empuknya ketika seseorang menggeser tubuhnya terasa sekali goyangannya. Ini berarti, ranjang itu cuma spring bed murahan. Kalau yang benar-benar mewah, asli, dan mahal maka jalinan kawat spiral yang menyusunnya tidak konvensional tetapi dirancang khusus dengan per sejajar yang terpisah, tidak saling terkait, terbungkus kantong kain satu per satu dan tidak dikaitkan dengan kawat helical yang dapat mengurangi gunjangan. Ini jelas akan menambah kenyamanan bertidur. Saat orang bisa nyaman tidur maka sehatlah ia. &lt;br /&gt;Engkau pasti bertanya, kenapa aku bisa tahu sejauh itu? Ah, aku ini bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Aku ini bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Aku ini bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya. Bahkan aku bisa kejam membunuh. Faktanya di setiap lenganku ada bercak-bercak—tidak cukup setetes atau sepercik—darah dari musuh-musuh mereka yang bergerilya di setiap malam.&lt;br /&gt;Ohya, ada selimut di atas ranjang itu. Selimut yang biasa tak terpakai oleh mereka berdua—karena kamar tak berpendingin ini sudah cukup membuat mereka kepanasan-- Hanya pada saat-saat tertentu saja selimut itu berfungsi. Tak perlu kuceritakan pula kepada engkau tentang semua yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan. Karena ini bukan cerita stensilan.  &lt;br /&gt;“Brak….!” suara pintu terbuka memecahkan perenunganku pada deskripsi kamar ini. Aku melirik. Sosok perempuan terlihat memasuki kamar. Memandang sebentar ke sekeliling kamar. Melangkah ke ranjang. Membereskan bantal dan selimut. Lalu memungutku. &lt;br /&gt;Aku sadar kini waktunya untuk bertugas. Aku kencangkan otot-ototku. Energi kusalurkan pada setiap lenganku yang panjang, ramping, dan lurus.  Persis saat ia menjerembabkan aku di permukaan kasur. Membersihkan segala macam debu dan tungau yang tidak bisa terlihat oleh mata biasa. Berkali-kali aku dipukulkan ke kasur dan menyapu bersih segala macam benda-benda kecil di atasnya. Aku sudah terbiasa. Paling cuma belasan kali. &lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ. Ada tugas lain. Kini aku melayang-layang di seantero kamar. Mencari makhluk-makhluk kecil bersayap dan penghisap darah. Kamar yang lembab ini memangnya menjadi habitat terbaik untuk tumbuh kembang mereka. Perempuan itu melihat seekor terbang menghindari terjanganku yang digerakkan oleh tangan perempuan ini. ”Wusss...!” Masih menerpa angin. Dan aku masih waspada dengan tetap menyalurkan tenaga ke sekujur lenganku. &lt;br /&gt;”Tap...” Aku merasakan momentum luar biasa. Saat lenganku menangkap dan menggencetnya. Ada cairan merah keluar dari tubuh nyamuk itu. Mungkin ia sempat menggigit penghuni rumah ini. Tidak lama aku dibiarkan menggeletak di atas meja rias. Kudengar perempuan itu berkata kepada lelaki yang baru saja memasuki kamar, ”Nanti belikan satu lagi sapu lidi untuk di kamar depan. Yang ini biar di sini saja.” Tiba-tiba kamar itu gelap.&lt;br /&gt;Tapi jangan dikira aku ini buta karena aku bisa melihat apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa melihat. Jangan dikira aku ini tuli karena aku bisa mendengar apa saja walaupun mereka menyangka aku tidak bisa mendengar. Jangan dikira aku ini bisu karena aku bisa berbicara apa saja walaupun mereka menyangka aku diam membisu di setiap waktu. Jangan dikira pula aku ini tidak perasa karena aku ini bisa merasakan apa saja walaupun mereka tidak pernah menyangka aku dapat merasakan segalanya. &lt;br /&gt;Kegelapan ini tidak akan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;16:14 05 Juni 2006</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/06/kamar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5287398015083564137</guid><pubDate>Mon, 28 May 2007 07:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-05-28T14:41:48.749+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>MENGAPA MEREKA MEMBENCI SAYA?</title><description>Seseorang telah mengirimkan sebuah surat melalui Private Message saya di sebuah forum diskusi. Seorang sahabat saya. Sebuah surat yang panjang. Bercerita tentang alasan sosok-sosok salafy membenci saya. Harapannya saya mengerti tentang mereka. It's Oke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seizinnya saya bisa mempublikasikan surat menyurat kami tentang hal ini. Berikut di bawah: yang pertama adalah surat sahabat saya tersebut. Lalu setelahnya adalah balasan dari saya. Selamat Membaca korespondensi indah ini.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ohya &lt;/em&gt;, namanya yang saya tuliskan adalah bukan nama yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;-- Previous Private Message --&lt;br /&gt;Sent by : UmmuRonggo&lt;br /&gt;Sent : 25 May 2007 at 09:02&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia itu berbeda. Setiap manusia mempunyai FOR (Frame of References), yang membingkai setiap dasar pemikiran maupun bertindaknya. Dosen Tehnik Komunikasiku mengistilahkan dengan kaca mata kuda. Artinya cara seseorang memandang , berfikir, menanggapi ataupun merasakan suatu hal/permasalahan adalah sangat bergantung pada kaca matanya. Kaca mata ini dilatarbelakangi oleh kejadian –kejadian di masa lalu, bagaimana lingkungan , pola didik keluarga, pendidikan maupun pengalaman pengalaman yang dirasakan. Nah, karena itu dua orang kembarpun akan mempunyai FOR yang berbeda.&lt;br /&gt;Semalam tarawihku yang tak kusukai , menurutku. Dari semenjak sholat Isya, dan kutau Bapak tua itu yang menjadi imamnya, aku sudah tak bergairah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan imam favoritku yang kemarin. Kemarin aku begitu khusu’ menikmati tarawihku. Dibawah langit yang cerah, dan lantunan ayat-ayat hapalanku yang hampir hilang , kunikmati dan berusaha kukumpulkan kembali hapalanku yang hampir hilang. Iya, surat surat An Nabaa, Al Insiqooq, dan surat2  awal di juz 30 , membuatku menikmati sholatku ini. Walau menurut jamaah lain, Imamku ini yang terlama tarawihnya karena pilihan ayat2nya yang tak biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi imam tarawihku semalam.Aku sudah hapal .Dia (beliau, maksudku, bagaimanapun aku harus tetap menghormatinya) akan memulai setiap Takbiratul ihramnya , dengan membacakan; Ussoli sunnatan tarawih…  ,sebelum witir, dengan doa ; nawaitu shaumagoddin…,  witir 3 rakaat dengan dua salam , dan di rakaat terakhir ditambah qunut. Terpikir olehku sejak solat Isyaku, untuk pulang dan tarawih di rumah. Tapi kuurungkan, karena kunci rumah dipegang suamiku yang sholat di jamaah laki laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak sekali perbedaan perbedaan di sekitar kita. Walau mungkin perbedaan perbedaan itu belumlah menjauhkan diriku dari mesjid.Biar bagaimanapun aku (-beserta suami juga keturunanku) ingin termasuk dalam golongan pemuda yang termasuk dalam tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah disaat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (gol.pemuda yang hatinya tertambat di mesjid). Walau terkadang ada aktifitas2 di mesjid yang bertentangan dengan prinsip ku seperti imam diatas (salaman setelah sholat, peringatan hari hari besar islam, seperti Nuzulul Qur’an, Isro Mi’raj dll )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca AL IKHWAN=AHLUL BID’AH=OSAMA? dan Siapa Teroris? Siapa Khawarij? (ini bukan resensi) dari mas dedaunan ; membuatku sedikit memahami latarbelakang atau FOR dari penulis. Ataupula membaca tema kontroversial di forum diskusi DSH , membuat saya mengerti dan maklum atas debat yang tidak berkesudahan. Dan menjadikan diriku untuk tidak turut dalam ajang tersebut. Biar bagaimanapun masing2 pihak punya prinsip2 keislaman yang berbeda yang melatarbelakangi pendapat2 mereka. &lt;br /&gt;Aku jebolan –he he kaya kuliah aja—suatu jamaah yang keras –yang terlempar keluar karena memilih prinsip untuk menikah dengan orang diluar jamaah,... aku tidak menyesalinya, ini kuanggap salah satu jalan untuk mencari firqotun najiyahnya (gol yang selamat). Walau terkadang teman temanku di jamaah berusaha membujukku kembali,...    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati PKS dan gerak dakwahnya, terus terang aku respek terhadap orang orangnya dibanding partai partai lain... kuanggap lebih bersih dan bisa dipercaya,...&lt;br /&gt;tapi untuk terjun dan aktif  di sana , aku tak melihat jalan partai sebagai jalan yang ditunjukkan Sang Teladan –walau kusadari ada perbedaan mengenai sarana dakwah itu harus sesuai tuntunan/sunnah atau boleh mengikuti perkembangan jaman-- , dan sedikit risih melihat sedikit toleransi2 agama yang dilakukan petinggi 2 partai. &lt;br /&gt;Melihat ulah oknum yang mengganggu mas dedaunan dengan kata2 (kotor/kejamnya,...?)&lt;br /&gt;Aku memang tidak respek terhadap oknum ini,...&lt;br /&gt;Tapi menurut pendapatku,...sebagaimana pengantar diatas ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada segolongan manusia yang sedang mencari jamaah,  ada yang sudah berada di suatu jamaah atau ada pula yang tidak memilih satu pun (seperti aku, yang berusaha mencari kebaikan dari semua jamaah) ...&lt;br /&gt;Terkadang tidak suka /risih melihat kefanatikan yang ditunjukkan seseorang terhadap jamaahnya di suatu forum,..&lt;br /&gt;Melihat tulisan tulisan mas dedaunan, aku sedikit menarik kesimpulan bahwa oknum itu tidak suka melihat tulisan tulisan atau kefanatikan yang ditunjukkan oleh tulisan tulisan mas ..&lt;br /&gt;Aku tidak berusaha memberi nasihat : jangan pakai simbol simbol ataupun kefanatikan  terhadap partai atau golongan di forum umum...  (atau aku salah, DSh forumnya PKS yaa)..&lt;br /&gt;Karena aku sadar , itu adalah sebagian dakwah mereka, karena itu juga curahan atas kesenangan/semangat hidup mereka. &lt;br /&gt;Cobalah sedikit memahami ataupun toleran terhadap perasaan orang lain,.. sebagaimana mungkin sebagian kita kurang respek kalau seseorang terlalu bersemangat menunjukan kesalafyannya...&lt;br /&gt;Maaf kalau pendapat saya salah...&lt;br /&gt;Allohua’lam bishshowab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Inilah balasan surat saya:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;Ba’da tahmid dan salam.&lt;br /&gt;Semoga Allah meridhoi kita semua dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Sudah lama kita tidak bersilaturahim.&lt;br /&gt;Terimakasih pula atas nasehat yang telah diberikan. Semoga Allah memberikan keberkahan terhadap Ummu Faiz.&lt;br /&gt;Membaca tulisan Anda Ummu Faiz membuat saya berfikir, bahwa masalah-masalah yang Anda sebutkan di awal surat tersebut yaitu tentang perbedaan di pelaksanaan sholat tarawih lagi-lagi berujung pada perbedaan furu yang tidak seharusnya menyebabkan orang menjadi berpecah belah. Saya setuju dengan Anda.&lt;br /&gt;Dan saya menganggap bahwa semua yang dilakukan oleh imam tersebut dan tentunya berbeda dengan yang dipahami oleh Ummu Faiz adalah bagi saya sesuatu yang biasa-biasa saja. Lagi-lagi ini ditentukan oleh FOR seperti yang Ummu Faiz sebutkan di paragraf pertama. Juga untuk masalah salaman setelah sholat dan PHBI, bagi saya yang pertama adalah masalah furu yang sudah sejak lama menjadi perbedaan bila kita merujuk lebih jauh kebelakang, ternyata para ulama terdahulu pun punya komentar tentang salaman setelah shalat. &lt;br /&gt;Sedangkan untuk PHBI jika kita berpendapat bahwa itu tidak suatu keharusan maka bukanlah sebuah kebid’ahan (tolong untuk tidak dibahas lagi), dan hanya merupakan sebuah acara seremonial sebagai metode pengembangan dakwah dan ajang taushiyah agar masyarakat bisa menerima kebenaran.&lt;br /&gt; Tetapi saya sangat menghargai sebuah prinsip yang Anda pegang wahai Ummu Faiz, untuk tidak turut dalam ajang tersebut. Sungguh, sebuah rumah akan dibangun di surga bagi orang yang bisa menghindari jidal baik ia benar ataupun salah.&lt;br /&gt;Juga pada respek Anda pada gerak dakwah sebuah jama’ah yang bernama PKS. Semoga ini menjadi titik awal bagi kita untuk senantiasa merenda nilai-nilai ukhuwah itu. Dan tak perlu risih dengan semua aktivitas para petinggi partai itu karena semuanya telah melalui jalan syura. Lagi-lagi perbedaan pandangan dan tentunya FOR melandasi semua itu. Yang penting bagi kami selama itu tidak keluar dari koridor Alqur’an dan Assunnah maka hukumnya mubah. &lt;br /&gt;Yang saya tidak di mengerti adalah kefanatikan yang seperti apa yang saya tulis? Bagi orang lain yang tidak mengikuti pergerakan (jama’ah) tulisan-tulisan saya adalah tulisan-tulisan yang biasa- biasa saja. Bahkan bagi orang yang mengikuti pergerakan (jama’ah) sekalipun seperti dari HTI, MMI, Jama’ah Tabligh, NU, dan Muhammadiyah pun memandang hal yang sama. Yaitu tulisan saya biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;Dan saya cuma berkesimpulan—dan ini menurut pandangan saya—yang menganggap saya fanatik adalah mereka-mereka yang sangat membenci jalan dakwah yang mulia ini. Maka yang keluar dari—maaf—mulut-mulutnya adalah celaan serta makian saja. Itu biasa saja bagi saya. Maka dari itu saya tidak menanggapinya. Apalagi di sana di DSHNet adalah habitat alami saya bahkan banyak ikhwah yang lainnya. (Sekaligus menyatakan memang betul bahwa DSHNet itu bukan forum umum, DSHNet pun adalah sama seperti situs-situs pembawa misi dakwah lainnya yang dibuat oleh saudara-saudara salafy lainnya di intranet seperti Al-Ilmu, Al-Atsary, dan sebagainya.)&lt;br /&gt;Bagi saya tidak masalah saat menampilkan sebuah kefanatikan—memakai istilah yang Anda sebut tadi—asal tidak ada sebuah upaya ketersinggungan dari pihak lain. Dan itu yang saya jaga. Bahkan saya respek terhadap mereka yang menonjolkan ke-HTI-annya, ke-JT-annya, pun kepada sauadara-saudara salafy yang menonjolkan kesalafiannya, asalkan tetap pada koridor yang dibenarkan. &lt;br /&gt;Tetapi hal lain pada banyak kasus faktanya adalah bila kefanatikan dari seseorang yang menunjukkan kesalafiannya. Lagi-lagi itu tidak masalah bagi saya bila menonjolkannya di situsnya sendiri dan tetap menjaga etika seorang muslim. Namun yang terjadi pada tataran realitanya adalah sebuah upaya pembenaran diri sendiri dan penyalahan pada diri orang lain serta tidak menjaga adab berbeda pendapat. Itu masalahnya saudaraku.&lt;br /&gt;Dan tentang upaya memahami mereka, bersikap toleran terhadap mereka sudah sering dilakukan oleh begitu banyak ikhwah di DSH ini. Sejak DSH berdiri di tahun 2003 hingga pada medio Oktober 2006. Sudah lama celaan, makian, hinaan diterima dengan lapang dada. Begitu banyak mudharat yang timbul di sana. Di forum dakwah itu. Dari adanya ketersinggungan kecil hingga retaknya ukhuwah. Maka dengan sebuah kesadaran bahwa menjaga ukhuwah itu hukumnya wajib, maka ba’da lebaran 2006 kemarin berdasarkan hasil syura terbentuklah sebuah forum moderasi untuk meng-cut semua postingan yang berbau busuk, sangit dan anyir yang bisa menodai sebuah kain indah pada agama yang hak ini yang bernama ukhuwah.&lt;br /&gt;Dan alhamdulillah, Allah telah memberikan jalannya. Ukhuwah itu senantiasa terjaga erat di forum keluarga. Di forum dakwah pun demikian Insya Allah. Inilah miliu keberkahan yang Allah berikan kepada para pengunjung DSH agar senantiasa mendapatkan ilmu sekaligus ukhuwah. Semoga kami senantiasa ber-iltizam pada upaya kami ini.&lt;br /&gt;Demikianlah saudaraku apa yang bisa saya sampaikan pada Anda Ummu Faiz. Terimakasih telah menganggap saya sebagai saudara Anda—karena bagi saya bila seseorang telah menasehati saya dengan penuh hikmah itulah sebenar-benarnya saudara. Yang senantiasa menasehati saudaranya dalam kesabaran dan kebenaran. Semoga Allah senantiasa memberikan kemuliaan pada diri Anda dan keluarga Anda di dunia dan akhirat.  Semoga senantiasa diberikan rizki yang banyak, halal, dan berkah. Semoga Anda pun diberikan pahala kebaikan yang amat banyak dan luas seluas bumi dan langit-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga-Nya. Kabulkanlah ya Allah.&lt;br /&gt;Maafkan bila ada yang salah-salah kata. Tentu karena: ”siapalah saya ini?” Cuma manusia biasa. Kebenaran datangnya dari Allah. Billahittaufik wal hidayah.&lt;br /&gt;Wassalaamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;10:24 25 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;1. Bolehkah saya menampilkan surat Anda dan balasan saya ini di blog saya. Tentunya dengan menyamarkan nama Anda. Karena saya berpikir ini sebuah pendokumentasian yang amat berharga. Sebagaimana surat-menyurat antara Soekarno (Tokoh Nasionalis) dan A Hassan (Tokoh Persis) yang terekam sejarah dengan baik.&lt;br /&gt;2. Kayaknya setting pengantar(pembukaan surat) Anda sudah lama sekali: di era ramadhan dulu. Atau karena sudah lama ditulis dan uneg-uneg ini baru dikirim saya sekarang?  BTW, terimakasih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/05/mengapa-mereka-membenci-saya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-1481818190722487640</guid><pubDate>Wed, 16 May 2007 01:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-05-16T08:11:45.651+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>BELAJAR ILMU KEBAL</title><description>BELAJAR ILMU KEBAL&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada syarat-syarat tertentu yang harus dilakukan untuk bisa memiliki ilmu-ilmu kebal. Ilmu yang membuat badan atau tubuh kita utuh tanpa kurang suatu apapun saat ditusuk, diiris, dibacok senjata tajam. Atau saat dibakar, berjalan di atas pecahan beling dan bara api. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya antara lain bertapa di tempat sunyi dan angker, membawa menyan dan sesaji, melakukan wirid-wirid tertentu ataupun mantra-mantra nenek moyang. Puasa mutih selama empat puluh hari empat puluh malam. Atau sama sekali tidak makan ataupun minum. Bahkan yang paling ekstrim adalah dengan melakukan hal-hal yang aneh yaitu makan daging mayat ataupun menyetubuhinya sampai mencapai bilangan tertentu. Biasanya kalau sudah 99  banyaknya, untuk mencari yang ke-100 susah banget, alih-alih berhasil malah gagal. (sinetron misteri kalee...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian ini hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak syarat-syarat yang diminta oleh setan. Ujung-ujungnya adalah penghambaan manusia pada dirinya. Tidak kurang bahkan ingin lebih. Tumbal akidah itu sudah pasti menjadi taruhannya. Menjual dengan murah kehidupan akhirat dengan kefanaan dunia. Murah, murah sekali. &lt;br /&gt;Tapi banyak sekali loh yang mau. Iklan-iklan yang mengajak orang pada jalan pintas ini banyak bertebaran di koran-koran. Mulai dari yang benar-benar mengaku sebagai dukun dengan wajah angker, rambut terurai panjang sebahu, dan kumis serta jenggot yang menjuntai sampai pada tampilan yang bagaikan sosok-sosok walisongo dan bergelar kyai ataupun ustadz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi diiming-imingi keberhasilan 100% dan jaminan uang kembali. Dan satu lagi yang membedakannya dengan dukun-dukun kampung berbangklon, bergelang bahar, berkalung tengkorak tergantung di leher, untuk mereka yang mau ilmu kebal ini, tidak perlu melakoni syarat-syarat di atas. Gampang. Tinggal menyerahkan mahar dengan angka tertentu yang telah disepakati maka ilmu pun bisa langsung ditransfer saat itu. Real Time  Systems bo...Murah, murah sekali. Laris manis tanjung kimpul. Duh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi yang berpikiran rasional, tidak ada ilmu kebal yang demikian. Yang ada adalah bagaimana menciptakan alat untuk bisa melindungi tubuh dari terjangan pedang, panah, bahkan peluru tajam. Nabi Daud AS sudah memulai sejak dulu kala dengan menciptakan baju baja. Dan di abad pertengahan perlindungan itu menutupi seluruh tubuh mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karena tidak efektif dan efisien, kini baju itu cuma tinggal jadi barang rongsokan ataupun jadi barang tontonan di museum-museum orang barat sono. Paling hebat cuma jadi figuran film kartun di kastil-kastil tua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang karena sudah dikuasai ilmunya, banyak sekali ragam baju kebal seperti ini. Kesatuan pemadam kebakaran yang paling moderen dan para astronot sudah memakai baju antiapi dan antipanas ini. Bahkan para ilusionis dan penyuka rasa sakit sudah memakainya dalam setiap pertunjukannya. Tidak hanya untuk menahan api, tapi untuk menahan sambaran setrum jutaan volt juga halilintar. Gundala Putera Petir—superhero made in Indonesia rekaan masa lalu—mungkin kalah aksi dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalagi rompi antipeluru yang merupakan baju berupa rompi terbuat dari kain dilengkapi bahan penahan kejut (kevlar) di dalamnya dan berfungsi sebagai penahan bacokan benda tajam, pecahan granat, tekanan/kejut dari pistol dan senjata laras panjang [1]. Rompi ini tidak hanya dipakai oleh prajurit Amerika Serikat untuk menjajah dunia, tapi juga oleh kesatuan-kesatuan tempur di setiap negara. Juga  para penjual jasa keamanan swasta sekelas Blackwater Security Consulting, Vinnel, Dyncorp hingga yang cuma sekelas pengamanan uang Anjungan Tunai Mandiri (ATM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dari kevlar, dengan teknologi yang semakin canggih, kini sudah dilakukan penelitian  untuk mengganti kevlar dengan benang sutra laba-laba. Karena benang ini merupakan suatu jaringan serat yang sangat ringan dan kekuatan serta kelenturannya jauh melebihi Kevlar—serat sintesis terkuat yang ada saat ini buatan perusahaan DuPont. Kekuatan benang sutra ini bahkan mampu menahan peluru yang ditembakkan tanpa menyakiti orang yang memakainya sebagai baju anti peluru [2]. Tapi jelas ini mahal. Mahal, mahal sekali, duh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah usaha manusia untuk melindungi dirinya agar senantiasa selamat. Yang pertama dengan upaya yang murah tapi haram dengan menggadaikan hartanya yang paling mahal, yaitu aqidah, hingga menempuh cara yang rasional tapi berbiaya tinggi. Karena saking mahalnya, satu paket proyek pertahanan keamanan bisa untuk membangun dan merehabilitasi ribuan sekolah. Otomatis kalau yang ini jadi target utama, amanah Undang-undang Sisdiknas tentang biaya untuk pendidikan sebesar 20% dari APBN tidak akan mungkin tercapai dengan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, semua di atas adalah untuk perlindungan fisik semata. Tidak menyentuh psikis manusia yang sebetulnya perlu bahkan wajib untuk dilindungi. Karena bila psikis manusia tidak dilindungi dari pengalaman buruk seperti penghinaan, perlakuan buruk, cemoohan, ketersinggungan, kegagalan dan teman-temannya itu, maka pengalaman buruk itu akan menjadi sampah yang mengotori pikiran. Semakin sering kita menyimpan memori buruk di otak, semakin negatif sikap dan perilaku kita [3]. Pikiran kotor hasilnya stres, setelah stres datanglah stroke. Setelah stroke? You know-lah...&lt;br /&gt;Bagaimana cara menyingkirkannya? Kita kudu membuat armor. Dan ini berarti kita harus belajar ilmu kebal yang satu ini. Tapi tunggu dulu. Latar belakangnya bagaimana nih kok bisa pembahasannya sampai ke sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup, beberapa hari yang lalu, dalam sebuah email pribadi saya, muncul sebutan-sebutan seperti ini: eh p*c*n murahan....dasar cemen..... sok hebad...l*mp d*ck...banci im yawr worst nite mare ever..... i see u melt in hell. (Tanpa saya kurangi sedikitpun bahkan titik-titiknya, saya cuma mengganti huruf vokal pada kata-kata tertentu dengan karakter star)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waow, saya cuma mengerti 7 kata di awal. Tapi itu pun setelah saya bertanya apa arti p*c*n pada seorang teman. Kalimat yang memakai bahasa Inggris itu pun saya raba-raba artinya. Mungkin artinya: belok kiri jalan terus atau semacam: sesama kere dilarang saling mendahului (halah...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seorang teman bahkan sampai berkata: ”kalau saya yang dihina seperti itu, saya paling nangis darah.” Saya? Saya pantang untuk menangis darah sampai kapan pun, tapi nangis mewek bisa jadi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana supaya kita bisa kebal dari serangan ”mematikan” seperti ini. Ayuk kita sama-sama belajar. Jangan pernah berbaik sangka dulu pada saya bahwa saya paling ahli ngadepin kayak ginian. Yang asyiknya dari ilmu kebal ini dan yang paling membedakannya dari ilmu-ilmu kebal di atas adalah, semakin kita serang balik semakin kalahlah kita. Rontok terperdaya. Lemah letih lesu lunglai. Bahkan para prajurit setan jadi ber-standing ovation persis para tamu istimewa nonton penganugerahan  piala Citra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ilmu ini ada tiga jurus.  Setiap jurus harus diresapi maknanya agar bersenyawa dengan diri. Ketika sudah menyatu maka akan terbentuklah unsur kebaikan. Tinggal menunggu reaksi kimiawinya saja. Berupa pahala yang akan memberatkan amal timbangan kita kelak. Catettttt....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus pertama:&lt;br /&gt;Selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti kita, carilah seribu satu alasan agar kita tidak benci. Ingatlah selalu kebaikannya. Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.&lt;br /&gt;Sudah dicatat, dibaca, direnungkan? Mari melangkah ke jurus selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus kedua:&lt;br /&gt;Segera lupakan semua perlakuan buruk orang lain. Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yg lain. Demikian pula saat orang berlaku buruk pada kita, menghina misalnya, alangkah bijak bila kita segera menghapusnya, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang.&lt;br /&gt;Semoga upaya belajar saya ini bukan untuk menunjukkan kepada orang lain tentang kemarahan seseorang. Oke, kita lanjutkan. Tunggu dulu, sepertinya kuda-kuda Anda kurang kokoh. Perlu kekokohan kuda-kuda agar jurus ini ampuh dan punya kekuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus ketiga:&lt;br /&gt;Mohonlah kepada Allah SWT agar diberi hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ada doa dalam Alquran yang bisa kita panjatkan,"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan lidahku; agar mereka mengerti perkataanku." (QS Thaahaa [20]:25-28). &lt;br /&gt;Selesai sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;”Cucuku, sepertinya ilmu kebal yang kakek miliki selama ini, sudah kakek turunkan semuanya kepadamu. Kini saatnya untuk mengabdikan seluruh ilmumu bagi kawulo alit. Memberantas kejahatan. Menegakkan keadilan agar masyarakat sejahtera. Satu pesan kakek pergilah ke negeri Madangkara, temuilah Prabu Brama Kumbara, sesungguhnya ia adalah ayahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya pesan sang kakek seperti dalam sandiwara radio atau film silat Indonesia jadul ini sama dengan pesan saya untuk mengakhiri semuanya. Kiranya harapan saya dan Anda tentunya adalah sama dengan harapan seorang blogger (chi) yang  membaca dan mempelajari ilmu kebal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hmm, benar juga ya. Kalau habis membaca tulisan ini hati langsung adem. Inginnya jadi putih, hatinya jadi bersih. Yang paling susah itu memang istiqomahnya. Senang banget bacanya, makanya saya taruh di sini, biar tidak hilang dan bisa dibaca berulang-ulang, terus siapa tahu bisa bermanfaat buat yg lain kalau dibaca. Buat aku sih tulisan itu bisa menjadi penyejuk hati kalau lagi emosi, kalau lagi tidak PeDe, kalau masih dendaman, kalau masih susah melupakan ketika memaafkan...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji':&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Analisa Kebijakan Penggunaan Rompi Tahan Peluru Taktis Di Lapangan&lt;br /&gt;    &lt;a href="http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=12&amp;mnorutisi=2"&gt;http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=12&amp;mnorutisi=2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. Benang Laba-laba dari Susu Kambing&lt;br /&gt;    &lt;a href="http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&amp;ext=17"&gt;http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&amp;ext=17&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;3. Membersihkan 'Sampah' dari Pikiran   &lt;br /&gt;    &lt;a href="http://jerryronancy.blogs.friendster.com/chi/"&gt;http://jerryronancy.blogs.friendster.com/chi/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara &lt;br /&gt;10:15 11 Mei 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/05/belajar-ilmu-kebal.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-2040329432904274002</guid><pubDate>Mon, 07 May 2007 01:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-05-07T08:52:35.676+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">BATRE V</category><title>DEAL GROUP I BATRE V</title><description>Yth. Kawan-kawan peserta Batre V &lt;br /&gt;Kelompok I yang tidak hadir pada pertemuan tanggal 05 Mei 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalaamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;Ba’da tahmid dan salam&lt;br /&gt;Sabtu kemarin dari 11 anggota kelompok I yang hadir hanya 5 orang peserta, yaitu saya sendiri, Anindita Gayatri, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah, dan Amalia Hassan.&lt;br /&gt;Pertemuan kemarin adalah pertemuan untuk menyepakati siapa yang menjadi ketua kelompok, sekretaris, dan bendahara. Juga untuk menentukan pertemuan lanjutan, serta kewajiban-kewajiban para peserta. Berikut hasil kesepakatan dari pertemuan tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karena saya satu-satunya laki-laki di kelompok I yang hadir pada pertemuan itu, maka saya langsung didaulat untuk menjadi ketua kelompok. Selagi mampu saya terima saja amanah itu;&lt;br /&gt;2. Sekretaris adalah Anindita Gayatri sedangkan Bendahara adalah Siti Azizah;&lt;br /&gt;3. Iuran peserta sebesar Rp30.000,00 per bulan. Yang dikumpulkan di pertemuan terakhir dalam bulan tersebut. Biasanya di minggu keempat.  Langsung disetorkan  ke Bendahara.&lt;br /&gt;4. Setiap anggota kelompok I wajib hadir untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan sekali dalam dua minggu. Apabila tidak bisa hadir maka diwajibkan untuk menemui Tutor pada hari esoknya atau pada hari yang telah disepakati. Apabila ternyata tidak bisa juga, maka ia harus berkewajiban untuk membuat sebuah tulisan dalam bentuk apa saja atau resensi sebuah buku. Di pertemuan selanjutnya akan ditagih atau apabila sudah dibuat maka tulisan tersebut dikumpulkan kepada Sekretaris.&lt;br /&gt;5. Untuk pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan perdana dari pelatihan BATRE V untuk kelompok 1 ini maka akan diadakan pada hari Sabtu, tanggal 12 Mei 2007 pukul 09.00 pagi WIB. &lt;br /&gt;6. Telah dibagikan Daftar Peserta BATRE V Kelompok I, Silabus Pertemuan, dan Materi Pertemuan I dengan judul: Menulis Cerpen oleh Denny Prabowo serta Dongeng Kancil oleh Sapardi Djoko Damono. Bagi yang belum mendapatkan materi tersebut bisa langsung kontak kepada &lt;br /&gt;- Tutor kita yaitu Denny Prabowo di nomor 08881425XXX/081802901XXX&lt;br /&gt;- Asisten Tutor yaitu Nurhadiansyah di nomor: 08881750XXX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ada tugas yang harus dikumpulkan pada hari Sabtu tanggal 12 Mei 2007 besok, yaitu mengumpulkan 3 dongeng (lokal ataupun internasional) terkenal dan dibuatkan sinopsisnya. Kita akan berusaha untuk merekonstruksi dongeng tersebut pada pertemuan I nanti;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian hasil dari pertemuan kelompok I ini. Bila ada yang kurang jelas sila untuk menghubungi saya via telepon di nomor yang telah saya kirimkan via sms Sabtu kemarin. Kurang lebihnya mohon maaf. Billahittaufik wal hidayah.&lt;br /&gt;Wassalaamu’alaikum wr.wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;http://dirantingcemara.blogspot.com</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/05/deal-group-i-batre-v.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-6484900183277012595</guid><pubDate>Thu, 03 May 2007 02:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T16:37:45.722+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog Tutorial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tutorial</category><title>ADD FAVICON</title><description>ADD FAVICON [MENAMBAH FAVICON DI BLOGSPOT]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Blog saya kedatangan seorang pengunjung dari Malaysia. Namanya Irfan Jani. Sebagai balasan atas kunjungannya tersebut saya pun berusaha mengintip jeroan dari blognya: &lt;a href="http://irfanreka.wordpress.com/"&gt;Irfanreka&lt;/a&gt;. Dan saya mendapatkan pelajaran bagus dari blog itu. Yaitu membuat Favicon.  Apa itu Favicon? Yang saya kotakkan dengan warna hitam pada gambar dibawah ini adalah Favicon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyGkXEzKSQd9ysZeE-OOnYVN4lM3x_WHoWcrq9wtCNMdO1sFR-nLxbojOIrTQvfbaU9keDlPnsC6_XfT_iqlcWGLZdUdGe0jS_Bzyp48wJt1gVbx3NaXdOiPWlAYsVUrYyGFvTfBdy6AJa/s1600-h/favicon.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyGkXEzKSQd9ysZeE-OOnYVN4lM3x_WHoWcrq9wtCNMdO1sFR-nLxbojOIrTQvfbaU9keDlPnsC6_XfT_iqlcWGLZdUdGe0jS_Bzyp48wJt1gVbx3NaXdOiPWlAYsVUrYyGFvTfBdy6AJa/s200/favicon.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060155951029812610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip dari blog Irfan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang anda lihat di atas adalah dinamakan sebagai “Favicon”. Apakah fungsinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat secara kasar, ia hanyalah hiasan ikon pada alamat web sahaja. Realitinya, ia sebenarnya adalah simbol/logo yang akan memudahkan sesiapa sahaja untuk mengingat jenama anda apabila menanda (bookmarking) halaman milik anda. (hanya drag ikon itu dan bawa ke bahagian Tab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi Favicon hanya terdapat pada Pelayar Musang (Firefox..hehe) dan Internet Explorer 5+ dan ke atas Sahaja. Tapi, siapa tahu akan datang semua pelayar akan turut serta, kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Saya memakai Opera sebagai perambah (browser) dan untuk saya pasang di blog saya di Blogspot.  Ternyata bisa memasang fungsi Favicon terebut. Dan tak perlu muluk-muluk Anda harus mempunyai Adobe Photoshop untuk mengolah gambar menjadi berformat ico. Saya memakai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;paint&lt;/span&gt; bawaan Windows juga bisa (sebagaimana saran dari Irfan juga). Oke tanpa berpanjang lebar saya akan memberikan ilmu dan pengalaman saya yang memang sedikit ini kepada Anda semua. Tapi sebelumnya alangkah lebih baiknya Anda membaca dulu blognya Irfan tersebut.  Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertama Anda buka Program Paint di Accessories.&lt;br /&gt;2. Open file pilihan Anda. Saya memilih gambar daun.&lt;br /&gt;3. Buat ukuran file tersebut menjadi 16 x 16. Caranya buka: &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Image – Stretch/Skew.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. Isi di pilihan Stretch, untuk horizontal dan vertikalnya dengan angka 16. Tekan OK.&lt;br /&gt;5. Lalu Save As, pilih Save as Type: PNG agar tidak ada ketajaman warna yang berkurang. Lalu beri nama apa saja dengan membubuhkan titik dan huruf ico dibelakang nama file tersebut. File saya diberi nama daun.ico. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEUBjk1EkacQB4CFSiyxpqW3DSu-5hu8TUVqj6JinwnYKF-wKyBaep4jLxhX3oTASQ2t_y9i1mpfAC1zGXYg1wB-ZBGlePQE_NIQEpUzE78UbE0ktlZqgqe_MaxaEKh2t7DFaDAboF1Epp/s1600-h/Simpan.PNG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEUBjk1EkacQB4CFSiyxpqW3DSu-5hu8TUVqj6JinwnYKF-wKyBaep4jLxhX3oTASQ2t_y9i1mpfAC1zGXYg1wB-ZBGlePQE_NIQEpUzE78UbE0ktlZqgqe_MaxaEKh2t7DFaDAboF1Epp/s200/Simpan.PNG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060157376958954898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Save.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saatnya untuk menampilkannya diblog kita.&lt;br /&gt;1. Upload file tersebut di blog kita. Bisa di sidebar atau di dalam postingan blog kita. Saya memilih untuk menampilkannya di postingan blog saya. &lt;br /&gt;2. Kemudian catat alamat favicon itu dengan mengklik kanan lalu pilih properties. Alamat file saya ada di: &lt;br /&gt; &lt;p&gt;&lt;font color="#0000FF"&gt;&lt;span style="background-color: #C0C0C0"&gt;&lt;br /&gt;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGji65boOLfO4eyfWt14MgQowJ_gIOTn1KlNRyAGq-3bQQPRPpmQZL7NoOmWHAOUnfBLEEXdsQZQWLO6vJPMRwqAYufjSt6liir7erFvYV-eduwRK71_ft1VL7W5dil0zUlqL1hQm7ZL9c/s200/Daun.ico&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Edit HTML blog Anda dengan memasukkan kode ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;font color="#0000FF"&gt;&lt;span style="background-color: #C0C0C0"&gt;&amp;lt;link &lt;br /&gt;rel=&amp;quot;shortcut icon&amp;quot; href=&amp;quot;[alamat ico]&amp;quot; mce_href=&amp;quot;[alamat ico]&amp;quot; &lt;br /&gt;type=&amp;quot;image/x-icon&amp;quot; /&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ganti [alamat ico] dengan alamat favicon pada poin dua di atas.&lt;br /&gt;5. Menaruh kode tersebut di bawah &lt;p&gt;&lt;span style="background-color: #C0C0C0"&gt;&lt;font color="#0000FF"&gt;&amp;lt;HEAD&amp;gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lalu save/simpan hasil edit HTML Anda.&lt;br /&gt;7. Silakan lihat blog Anda sekarang. Favicon tersebut sudah muncul di Tab atau jendela browser Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wait the minutes...I’ll try to look my blog with other browser. Yes, Opera. It’s work.&lt;br /&gt;And Mozilla, It’s work too. But, in IE, nothing happen. I do not know. &lt;br /&gt;Tapi tidaklah mengapa. Yang penting ini berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih kepada Irfan atas ilmunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;Kalibata masih sunyi&lt;br /&gt;09:23 03 Mei 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/05/add-favicon.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyGkXEzKSQd9ysZeE-OOnYVN4lM3x_WHoWcrq9wtCNMdO1sFR-nLxbojOIrTQvfbaU9keDlPnsC6_XfT_iqlcWGLZdUdGe0jS_Bzyp48wJt1gVbx3NaXdOiPWlAYsVUrYyGFvTfBdy6AJa/s72-c/favicon.JPG" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5980159337142692733</guid><pubDate>Mon, 30 Apr 2007 06:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T16:37:45.906+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh [good and badguys]</category><title>AISHWARYA RAY</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGji65boOLfO4eyfWt14MgQowJ_gIOTn1KlNRyAGq-3bQQPRPpmQZL7NoOmWHAOUnfBLEEXdsQZQWLO6vJPMRwqAYufjSt6liir7erFvYV-eduwRK71_ft1VL7W5dil0zUlqL1hQm7ZL9c/s1600-h/Daun.ico"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGji65boOLfO4eyfWt14MgQowJ_gIOTn1KlNRyAGq-3bQQPRPpmQZL7NoOmWHAOUnfBLEEXdsQZQWLO6vJPMRwqAYufjSt6liir7erFvYV-eduwRK71_ft1VL7W5dil0zUlqL1hQm7ZL9c/s200/Daun.ico" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5060138964434156914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AISHWARYA RAY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai tua itu duduk-duduk di depan teras masjid sambil memandang ke ufuk timur yang penuh semburat mentari pagi. Posisi masjid yang lebih tinggi dan berada di atas tebing membuatnya leluasa untuk memandang pesona alam. Halimun masih saja menyelimuti atap-atap rumah penduduk desa di bawah sana. Kicau burung membahana diiringi gemericik air pancuran yang berada di samping masjid itu. Ada geliat para petani menuju sawah dengan cangkul yang tergantung di pundak masing-masing.&lt;br /&gt;Benar-benar deskripsi klasik dari sebuah pemandangan pedesaan bumi pasundan semuanya terukir jelas di pagi itu. Pagi yang seperti biasa ia lalui bertahun-tahun ini dengan zikir-zikir Almatsurat usai subuh yang terlontar dari mulutnya dan mulut para  santrinya. Setelahnya ia akan sendiri duduk-duduk di teras masjid dengan mushaf berada di pangkuannya. Membiarkan ia dimandikan cahaya. Menghangatkan tubuhnya yang mulai merenta hingga dhuha jelang. Sedangkan para santrinya sekarang mulai mengisi kekosongan pagi itu dengan aktivitas rutinnya.&lt;br /&gt;Tapi ada salah satu santrinya tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Beberapa saat kemudian bahkan ia mendekat pada ajengan yang sangat dihormatinya di pesantren itu. Sang Kyai menoleh pada salah satu santri ”khususnya” ini. Dan selanjutnya cuma dialog ini yang terekam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Assalaamu’alaikum Ki&lt;br /&gt;Kyai : Wa’alaikum salam. Loh kok masih di sini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Iya, Ki. Mau curhat lagi.&lt;br /&gt;Kyai : Masalah yang kemarin sudah selesai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Alhamdulillah sudah Ki. Sekarang saya sudah bisa membiayai kuliah saya sendiri. Bulan depan orang tua saya tidak akan lagi kirim uang. Upah jadi asisten dosen lumayan cukup Ki, apalagi ditambah ngerjain proyek kecil-kecilan.&lt;br /&gt;Kyai : Syukurlah. Sekarang apa lagi? Masalah cewek?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Kyai kok tahu?&lt;br /&gt;Kyai : Halah, orang tua kok dilawan. Kamu itu kalau tidak masalah uang ya masalah itu tadi. Kuno tapi eksis, masalah sedari Nabi Adam diturunkan ke bumi sampai hari kiamat yang tidak pernah selesai dengan sendirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Tapi Ki, untuk yang satu ini memang kuno, tapi...&lt;br /&gt;Kyai : Tapi apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Kuno dan moderen. Kuno karena yang dibahas adalah wanita, moderen karena ia lagi heboh di jagat dunia hiburan. Dan karena ia telah meluluhlantakkan kekosongan hati saya Ki...&lt;br /&gt;Kyai : Wah..wah...kamu ini pura-pura gak tahu atau sengaja nyeleneh. Pondasi sebuah pesantren sangat jauh dari sebuah hedonisme. Bahkan ianya layaknya bumi dan langit. Tak usah kamu bawa-bawa ke sini. Saya juga heran dapat dari mana info-info seperti itu. Di sini kan tidak ada televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri: Koran Ki. Koran. Itupun cuma dari sobekan kertas pembungkus nasi uduk yang biasa saya beli di kantin kampus. &lt;br /&gt;Kyai : Tunggu...tunggu dulu. Memangnya apa sih yang akan kamu ceritakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Begini Ki, saya kok ngimpi. Ngimpi kawin sama bintang film India.&lt;br /&gt;Kyai:  : Kawin apa nikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Nikah Ki...nikah. Bukan ”kawin” seperti itu ah...&lt;br /&gt;Kyai : Lalu apa tidak enaknya buat kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Ya, itu Ki. Saya jadinya nelangsa. Bintang film itu kawin sama bintang film lainnya. Kenapa ya Ki, dia tidak kawin sama saya saja gitu loh...&lt;br /&gt;Kyai : Busyet...emangnya siapa kamu jang...? Selebritis? Orang terkaya di dunia?  Pembalap F1? Atau pesepakbola tersohor? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Yah Kyai…dengerin saya dulu dong Ki. Kyai, mau dengerin curhat saya enggak sih?&lt;br /&gt;Kyai : He…he…he…Iya, saya dengerin. Siapa bintang film itu?&lt;br /&gt;Santri : Aishwarya Ray. Ratu kecantikan dunia. Cantik sekali, Ki. Matanya, duh…matanya itu lo Ki.  Seindah zamrud merah. Hidungnya, rambutnya …ram…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Stop…! Stop…! Pikiranmu sudah mulai ngeres, sudah pisikelli. Santri kayak kamu kok bisa mikirin awewe?&lt;br /&gt;Santri : Saya manusia Ki, bukan malaikat. Saya baru menemukan manusia secantik dia. Tapi kenapa dia tidak nikah sama saya saja gitu… Nikahnya kok sama anaknya Amitabh Bachan. Kyai pasti tau deh Amitabh Bachan. Seumuran Kyai mungkin. Dia kan bintang film terkenal dulunya Kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Saya tidak kenal dia dan saya tidak pernah nonton film india. Lanjut!&lt;br /&gt;Santri : Ya itu tadi Kyai. Kenapa dia kawin sama yang lain. Kenapa tidak sama saya? Coba kalau Allah menakdirkan dia kawin sama saya. Saya akan memberikan cinta saya untuknya. Saya akan memberikan rindu ini hanya untuknya. Sepenuh hati. Saya tidak akan pernah menyakiti dia.  Baik dengan ucapan atau tindakan saya. Duh, saya nelangsa Kyai...Ray itu bidadari buat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Hei, memangnya Ray itu kenal sama kamu?&lt;br /&gt;Santri : Tidak Kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Lalu kenapa optimis sekali kalau Ray  itu mau dikawin sama kamu?&lt;br /&gt;Santri : Yah, makanya itu kan kalau  Allah menakdirkan demikian. Tahu-tahu dia sudah ada dihadapan saya dan mau dilamar oleh saya. Tinggal Allah tunjukkan jalan saja padanya, Beres sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Kalaupun Ray itu kenal sama kamu, malah mau dikawin sama kamu. Emang boleh kamu ngawinin dia?&lt;br /&gt;Santri : Lah siapa yang melarang? Boleh kan  saya muslim kawin sama dia. Kalau ada yang melarang, berarti melanggar hak asasi saya dong kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai : Halah, jang...jang sudah berapa lama sih kamu nyantri di sini? Baca kitab-kitab di sini? Segitu aja kok gak tau? Kumaha eta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Memangnya kenapa Kyai?&lt;br /&gt;Kyai : Kamu ini pura-pura lupa atau tidak tahu sama sekali?&lt;br /&gt;Santri : Sepengetahuan saya, boleh dong Kyai, seorang muslim kawin sama wanita musyrik.&lt;br /&gt;Kyai : Salah besar. Yang melarang kamu untuk ngawinin Ray itu si pemilik hak Asasi paling mutlak di semesta ini. Tuhannya aku dan kamu. Allah. Baca lagi AlBaqarah ayat 221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musrik, sebelum mereka beriman. Saya pastikan si Ray itu hindu bukan? Perempuan penyembah berhala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Betul sih, dia hindu. Kawinnya dia sama abishek pake adat hindu.  Jadi haram ya Kyai, ngawinin wanita hindu. Saya mengira yang tidak boleh itu kalau ada wanita muslimah nikah sama pria musyrik. Ternyata laki-laki muslim tidak boleh juga. Mengapa sih kyai...? Kan dia perempuan, setidaknya secara psikologis perempuan mudah untuk diajak kemana arah dari suami. Tinggal bagaimana saya sebagai seorang pria benar-benar berkomitmen memegang ajaran ini. Jadi tak mungkin untuk bisa keluar dari agama saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai: Siapa menjamin? Perintahnya pun sudah tegas begitu. Berbeda jikalau kamu menikahi perempuan-perempuan ahli kitab. Tapi itupun dengan syarat tiadanya kekhawatiran perempuan-perempuan itu akan memberikan pengaruh kepada anak-anak kamu termasuk pendidikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Kyai belum menjawab di balik semua itu. Mengapa kami tidak boleh bersatu?&lt;br /&gt;Kyai : Bagaimana sesuatu yang berbeda sangat jauh bisa didekatkan? disatukan? Di satu pihak mengajak ke surga sedang di lain pihak mengajak ke neraka. Di satu pihak beriman kepada Allah dan para Nabi serta hari kiamat, sedang di lain pihak menyekutukan Allah dan ingkar kepada nabi serta hari kiamat. Tujuan perkawinan ialah untuk mencapai ketenteraman dan kasih-sayang. Sekarang bagaimana mungkin dua segi yang kontradiksi ini akan bertemu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Sayang, Ray bukanlah seorang nasrani?&lt;br /&gt;Kyai : Halah, semuanya tidak lebih baik dari seorang muslimah. Rasul sendiri pernah bersabda: pilihlah perempuan yang beragama, sebab kalau tidak celakalah dirimu. Walaupun boleh, tetap saja seorang muslimah betapapun keadaannya adalah lebih baik bagi seorang muslim, daripada perempuan ahli kitab. Lalu kamu akan berandai-andai lagi, sayang dia bukanlah seorang muslimah. Terlalu banyak berandai-andai itu tidak baik.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Ah, Kyai. Entahlah hati saya masih nelangsa seperti ini. &lt;br /&gt;Kyai : Kamu ini kurang wirid. Ditambah lagi sudah saatnya kamu kudu kawin. Ngomong-ngomong, tadi siapa cewek India tadi? Ai..ai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Aishwarya Rai, Kyai.&lt;br /&gt;Kyai : Yah..yah..si Aishwa...Aishwai...ray. Aduh pokoknya si dia. Tapi kamu tahu tidak jang. Ada si Ai yang  mau sama kamu? Ai Anjarwati. Pembantunya Nyai di rumah. Mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santri : Cantik, Kyai?&lt;br /&gt;Kyai : Hah, dia bahkan lebih mulia daripada si Ai-nya kamu itu. Sudah, saya mau dhuha dulu. Kamu istikharah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sang Kyai melenggang menuju ruang utama masjid. Tubuhnya sudah mulai menghangat. Sedangkan santri itu kini wajahnya oranye. Terpapar matahari dhuha. Memandang ufuk timur. Dengan pemikiran baru tentang Ai. Ai yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maraji:’ Halal dan Haram, Yusuf Al-Qaradhawy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;Dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;Kalibata masih siang&lt;br /&gt;12:29 30 Maret 2007&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dirantingcemara.blogspot.com"&gt;http://dirantingcemara.blogspot.com&lt;/a&gt;</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/aiswarya-ray.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGji65boOLfO4eyfWt14MgQowJ_gIOTn1KlNRyAGq-3bQQPRPpmQZL7NoOmWHAOUnfBLEEXdsQZQWLO6vJPMRwqAYufjSt6liir7erFvYV-eduwRK71_ft1VL7W5dil0zUlqL1hQm7ZL9c/s72-c/Daun.ico" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-2938958199583936103</guid><pubDate>Sat, 28 Apr 2007 07:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-28T17:04:17.463+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog Tutorial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tutorial</category><title>Add Recent Reader</title><description>&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Add Recent Reader &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;[Memanjang dari Kiri ke Kanan}&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya punya &lt;i&gt;recent reader&lt;/i&gt; dari mybloglog. Awalnya letaknya &lt;br /&gt;ada di sidebar sebelah kiri, satu kolom menurun dari atas ke bawah. Otomatis &lt;br /&gt;dengan layout seperti ini, sidebar yang letaknya di bagian bawah postingan, &lt;br /&gt;semakin turun ke bawah dan makan tempat. Pengunjung harus memainkan &lt;i&gt;scrollbar&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;untuk melihatnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dan saya melihat &lt;i&gt;recent reader&lt;/i&gt; yang dimiliki oleh Kang &lt;br /&gt;Agus ini apik dilihat dengan tata letak yang memanjang dari kiri ke kanan dan &lt;br /&gt;tentunya tidak memakan tempat. Apalagi &lt;i&gt;username&lt;/i&gt; yang terbaca oleh &lt;br /&gt;mybloglog tidak tampak. Cukup avatarnya yang terlihat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Saya berusaha melihat script yang diberikan mybloglog kepada &lt;br /&gt;saya saat pertama kali mendaftar dan menampilkannya di sidebar. &lt;/span&gt;Berikut &lt;br /&gt;scriptnya:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background: silver"&gt;&amp;lt;script &lt;br /&gt;src=&amp;quot;http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2007041603253038&amp;amp;amp;c_width=180&amp;amp;amp;c_sn_opt=y&amp;amp;amp;c_rows=10&amp;amp;amp;c_img_size=f&amp;amp;amp;c_heading_text=Recent+Readers&amp;amp;amp;c_color_heading_bg=005A94&amp;amp;amp;c_color_heading=ffffff&amp;amp;amp;c_color_link_bg=E3E3E3&amp;amp;amp;c_color_link=005A94&amp;amp;amp;c_color_bottom_bg=005A94&amp;quot; &lt;br /&gt;type=&amp;quot;text/javascript&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;Dan saya &lt;br /&gt;bandingkan script yang dimiliki oleh Kang Agus:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background: silver"&gt;&amp;lt;script type=&amp;quot;text/javascript&amp;quot; &lt;br /&gt;src=&amp;quot;http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2006032804592852&amp;amp;c_width=800&amp;amp;c_sn_opt=n&amp;amp;c_rows=2&amp;amp;c_img_size=f&amp;amp;c_heading_text=&amp;amp;c_color_heading_bg=005A94&amp;amp;c_color_heading=ffffff&amp;amp;c_color_link_bg=E3E3E3&amp;amp;c_color_link=005A94&amp;amp;c_color_bottom_bg=005A94&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;Pada &lt;br /&gt;pandangan pertama saya melihat letak bedanya ada di &lt;i&gt;width&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;row.&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;Saya menyamakan kedua perbedaan tersebut. Saya isi &lt;i&gt;width&lt;/i&gt;-nya dengan angka &lt;br /&gt;800 dan &lt;i&gt;row&lt;/i&gt;-nya 2. Saya simpan perubahan tersebut dan saya taruh &lt;br /&gt;sidebarnya di bagian bawah blog. Dan ternyata: Amburadul….oh…oh…Amburadul.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Yang terlihat: sama dengan format awal. Cuma bedanya, sekarang &lt;br /&gt;hanya ada dua avatar pengunjung yang terlihat dan ada kolom yang memanjang &lt;br /&gt;kekanan. Jelek sekale...Utak-atik lagi. Simpan dan ubah lagi. Sampai saya putus &lt;br /&gt;asa. Pada akhirnya pada titik-titik terakhir keputusasaan, saya menemukan &lt;br /&gt;sesuatu mengapa tidak sama tampilannya dengan yang dipunyai Kang Agus. Saya &lt;br /&gt;belum menghapus &lt;span style="background: silver"&gt;amp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Setelah saya hapus &lt;span style="background: silver"&gt;amp;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;dan tulisan &lt;span style="background: silver"&gt;Recent+Readers&lt;/span&gt; di script &lt;br /&gt;saya dengan berusaha menyamakan script (contohnya meletakkan&lt;br /&gt;&lt;span style="background: silver"&gt;type=&amp;quot;text/javascript”&lt;/span&gt; di depan, punya &lt;br /&gt;saya ditulis di bagian belakang script)—tapi ada yang wajib tidak disamakan &lt;br /&gt;yaitu nomor ID yang kita miliki. Karena bila IDnya disamakan maka yang tampak &lt;br /&gt;adalah &lt;i&gt;recent reader&lt;/i&gt;-nya kang Agus. Pula ia adalah nomor identik dan unik &lt;br /&gt;yang diberikan mybloglog kepada kita—maka saya dapat hasil yang memuaskan. &lt;br /&gt;Recent Reader saya sama dengan penampakan yang ada di Kang Agus. Nah begini &lt;br /&gt;ceritanya: (halah...)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background: silver"&gt;&amp;lt;script type=&amp;quot;text/javascript&amp;quot; &lt;br /&gt;src=&amp;quot;http://pub.mybloglog.com/comm2.php?mblID=2007041603253038&amp;amp;c_width=600&amp;amp;c_sn_opt=n&amp;amp;c_rows=2&amp;amp;c_img_size=f&amp;amp;c_heading_text=&amp;amp;c_color_heading_bg=005A94&amp;amp;c_color_heading=ffffff&amp;amp;c_color_link_bg=E3E3E3&amp;amp;c_color_link=005A94&amp;amp;c_color_bottom_bg=005A94&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;/script&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;Saya &lt;br /&gt;sesuaikan ukuran width dengan ukuran width blog saya. &lt;span lang="ES"&gt;Yaitu 600 &lt;br /&gt;dan nilai row adalah 2. Hasilnya adalah seperti sekarang pembaca lihat. Enak &lt;br /&gt;dilihat bukan…?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Apa yang saya rasakan? &lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"&gt;Tentunya puas, &lt;br /&gt;senang, dan bahagia. Saya yang pemula kayak begini dapat mengedit. Dan meminjam &lt;br /&gt;istilah dari Kang Agus, mengedit itu ternyata mengenyangkan. Mengenyangkan batin &lt;br /&gt;kita tentunya… :-p.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Silakan tiru &lt;i&gt;script&lt;/i&gt; saya ini, jikalau memang berguna. Dan &lt;br /&gt;saya penasaran untuk meniru dan mengetahui hakekat dibalik script.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Wassalaamu’alaikum wr.wb.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Riza almanfaluthi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dedaunan di ranting cemara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;14:38 28 April 2007&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36.0pt"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/add-recent-reader.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5090239980671349038</guid><pubDate>Fri, 27 Apr 2007 06:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-27T13:27:45.152+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog Tutorial</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tutorial</category><title>Add Email Icon Generator,  Membuat Ikon Pribadi</title><description>Add Email Icon Generator&lt;br /&gt;Membuat Ikon Pribadi [Khusus Blogger Pemula]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Awalnya saya tertarik tentang bagaimana caranya membuat banner pribadi. Soalnya saya melihat betapa para blogger kayaknya punya banner kecil sebagai identitas pribadinya. Seperti bannernya edittag, fatih syuhud, dan para blogger terkenal lainnya. Caranya bagaimana? Pertanyaan itu yang mengemuka.&lt;br /&gt; Ohya, tiba-tiba saya teringat untuk mencarinya di Google.  Saya memasukkan kata kunci: membuat banner pribadi Dan ketemu!!! Ada sebuah situs yang telah membahas ini dengan mudahnya. Yaitu di alamat ini &lt;a href="http://sugoistanley.wordpress.com/2007/04/07/bikin-icon-bwat-pribadi/"&gt;sugoistanley&lt;/a&gt; . Alih-alih mencari cara membuat banner pribadi, eh, ternyata saya menemukan sesuatu yang menarik yaitu Membuat Ikon buat Pribadi. &lt;br /&gt; Arti dari ikon pribadi itu adalah ikon yang menampilkan informasi pribadi ataupun sekadar ajang narsisme di blog ataupun di forum. Itu yang saya dapatkan dari penjelasan di situs tersebut. Ini disediakan melalui aplikasi yang bernama Online Generator. Ini adalah sebuah aplikasi online berbasis web yang dapat menghasilkan (generate) sesuatu, seperti banner, avatar, id-card, CSS, dsb. Di Internet banyak terdapat beberapa online generator yang dapat digunakan secara cuma-cuma (cuma modal akses internet saja). Itu yang saya dapatkan dari penjelasan di situs tersebut.&lt;br /&gt; Salah satu aplikasi dari online generator ini adalah: Email Icon Generator. Kalau Anda melihat di sidebar kanan blog saya ini ada sebuah gambar dengan identitas email saya di gmail.com maka itulah yang disebut email icon generator. Berguna untuk menghasilkan sebuah icon/gambar email untuk beberapa penyedia email populer seperti Yahoo dan Gmail—dan masih banyak lagi penyedia layanan email lainnya.&lt;br /&gt;Email Icon Generator ini sangat bermanfaat untuk menghindari spam, karena yang ditampilkan berupa gambar. Karena kalau kita menulis alamat email disini, biasanya terlacak oleh spam. Makanya seringkali kita menemui para blogger yang menuliskan alamat emailnya dengan langsung menulis hurufnya seperti misalnya karakter @ ditulis at, karakter . ditulis dot. Ini semata-mata untuk menghindari spam. &lt;br /&gt;Kembali kepada topik awal kita. Lalu bagaimanakah cara membuat dan menampilkannya di blog kita. Ikuti cara sederhana ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kunjungi situs ini: &lt;a href="http://services.nexodyne.com/email/index.php"&gt;services.nexodyne.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2. masukkan nama email Anda dan pilih situs penyedia layanan email Anda.&lt;br /&gt;3. Tekan tombol &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Generate&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;4. Lalu muncul ikonnya;&lt;br /&gt;5. Untuk menampilkan ikon tersebut di blog Anda maka copy url berwarna merah yang tampil di bawah gambar tersebut. &lt;br /&gt;6. Lalu pasang di blog Anda. Kalau untuk para Blogger di Blogspot maka bisa saya uraikan disini bagaimana cara pemasangannya. Yaitu di menu template Anda, klik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Add a Page Element&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;7. Pilih menu Picture dengan menekan tombol &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Add to Blog&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;8. Lalu paste alamat url tersebut di Image from the Web;&lt;br /&gt;9. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Save Changes&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;10. Selesai sudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah demikian ceritanya. Semoga berhasil yah…Ini sekadar buat pemula seperti saya. Mungkin berguna juga buat blogger pemula yang lainnya. Kurang lebihnya mohon maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;13:19 27 April 2007.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/add-email-icon-generator-membuat-ikon.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5023254339508031365</guid><pubDate>Thu, 26 Apr 2007 04:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-26T15:06:02.999+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN</title><description>ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul: Elang Retak&lt;br /&gt;Penulis: Gus Ballon&lt;br /&gt;619 Hal. Cetakan I, Juli 2005&lt;br /&gt;Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)&lt;br /&gt;Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat  saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.&lt;br /&gt; Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi &lt;a href="http://www.ajangkita.com/forum/viewtopic.php?t=11683&amp;view=previous&amp;sid=a787661311e71fa206bc038012c4de63"&gt;ajangkita&lt;/a&gt;, dan oleh Perca di &lt;a href="http://72.14.235.104/search?q=cache:9fYKhwPVx4AJ:perca.blogdrive.com/archive/cm-03_cy-2006_m-03_d-12_y-2006_o-0.html+%22gus+ballon%22&amp;hl=id&amp;ct=clnk&amp;cd=15&amp;client=opera"&gt;blognya&lt;/a&gt;. Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.&lt;br /&gt; Pertama adalah masalah si penulisnya.  Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.&lt;br /&gt; Baru pertama kali ini pula ada novel—yang seperti Alif katakan—sebuah novel thriller militer berlatar belakang operasi militer ABRI. Membacanya membuat saya berempati terhadap keadaan para prajurit yang hidup dengan keprihatinan tetapi penuh semangat perjuangan, polos dan dengan kepolosan tersebut mereka hanya menjadi pion dari sebuah ambisi politik dari para jenderal yang berkhianat dan tega untuk mengorbankan mereka.&lt;br /&gt; Novel ini pun membuat saya tidak bisa beranjak dan melepaskannya dari tangan ini. Semakin bertambah banyak halaman yang terbaca semakin bernafsu untuk segera menuntaskannya. Karena seru, tegang, dan lucu. Ya, kelucuan dari seorang Jajang Nurjaman, prajurit urakan, ahli tempur, yang  tidak mengenal medan (antara hidup dan mati) untuk selalu mengeluarkan gurauan. &lt;br /&gt; Jajang hanyalah satu dari empat belas prajurit yang dikirim ke Pulau Kabilat di Pasifik untuk sebuah misi khusus. Misi untuk menghancurkan batangan emas yang dimiliki oleh pemberontak yang akan ditukarkan dengan senjata dan amunisi yang dikirim oleh Jenderal Korea Utara yang korup.&lt;br /&gt; Keempatbelas orang tersebut adalah prajurit-prajurit amburadul, urakan, cara berpakaian seenaknya, terkesan tidak dispilin, yang dibuang dan tidak disenangi oleh kesatuan lain, tapi ganas dan tidak takut mati. Dan yang ada di markas hanya mereka pada saat itu untuk dikirim segera. Maka mereka adalah: &lt;br /&gt;Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi”Trisula”, ”Seroja”. Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabatan terakhir, instruktur kepala. Brevet: terjun bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indispliner dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar perkawinan. Istrinya dua. Karena tidak tega untuk menceraikan salah satu istrinya maka ia menceraikan dua-duanya.&lt;br /&gt;Sersan Mayor Fajar Sidik, mahir berbagai senjata, empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaan pangkat.&lt;br /&gt;Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.&lt;br /&gt;Prajurit Satu Baringin Sinaga, lahir di Brastagi. Ahli senapan mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang kapten dari kesatuan lain.&lt;br /&gt; Prajurit Satu Eko Cahyono. Ahli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.&lt;br /&gt;Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.&lt;br /&gt;Prajurit Dua Mansur Karim. Lahir di Solo dari ayah Arab dan ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.&lt;br /&gt;Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat beturut-turut, karena melanggar perintah.&lt;br /&gt;Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Grsik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.&lt;br /&gt;Prajurit Satu Ahmad Basso, asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.&lt;br /&gt;Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali Fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkat—dua tingkat sekaligus—karena meledakkan lima truk pengangkut pasir milik pemborong yang mengganggu ketentraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.&lt;br /&gt;Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali penindaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua Surowati—gua pertapaan Sunan Kalijaga—dan 21 hari bertapa di Batu Ageng—tempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.&lt;br /&gt;Sersan Mayor Albertus, lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua kali operasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: terjun bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.&lt;br /&gt;Dan Harun Bayonet, tokoh utama dalam novel ini, si Bajingan, sipil, yang direkrut oleh militer karena mengenal seluk beluk Pulau Kabilat. Mahasiswa yang menjadi buronan karena telah membunuh bandar judi dan melukai seorang polisi Medan saat dirinya dikeroyok. Ia bilang ia cuma dalam rangka membela diri. Veteran perang vietnam yang direkrut oleh SEAL sebagai sukarelawan melawan vietcong. Saat Saigon jatuh ia melarikan diri dan bergabung dengan penyelundup senjata dari Filipina yang bermarkas di Pulau Kabilat. Mahir M16,  pisau,  dan perkelahian satu lawan satu.&lt;br /&gt;Mereka dipimpin secara hirarki oleh Letnan Risman Zahiri, seorang sederhana, ramah, rendah hati, prajurit tempur berpengalaman, dan disegani oleh anak buahnya. Sosoknya mirip seorang ajengan dan ia mempunyai julukan Kyai Guntur.  &lt;br /&gt;Dan dalam misi khusus yang bersandi Konta ini mereka dipimpin oleh Mayor Santoso, prajurit dan komandan tempur berpengalaman, tegas, tidak mudah tersenyum, dan punya satu prinsip: semua tugas harus dituntaskan sebagai Prajurit Komando. &lt;br /&gt;Saat membaca novel yang bersetting akhir tahun 70-an dan pertengahan 80-an—walapun tidak dinyatakan secara tegas, saya tidak menyangka ada sebuah deskripsi seperti ini. Biasanya cuma ada di film-film holywood. Tidak menyangka bahwa kita pun sebenarnya punya kesatuan tempur yang tangguh secara professional. Gambaran ini perlu agar menyadarkan pembaca bahwa pasukan ABRI (sekarang TNI) walaupun dengan keterbatasan yang ada tidak bisa dipandang sebelah mata.&lt;br /&gt; Maka dengan berbagai keahlian tempur yang dimiliki, berangkatlah mereka untuk melaksanakan misi yang tanpa disadari pula bahwa ada yang telah membocorkan pendaratan mereka. Maka berbagai masalah pun mulai bermunculan. Diakhir cerita Jajang selamat dalam misi tapi tetap saja dihukum untuk menghormat bendera di tengah lapangan karena memukul pejabat dan membuat mobil sang pejabat penyok. &lt;br /&gt;Dengan Santoso yang menyadari bahwa dirinya cuma pion dari ambisi segelintir orang untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tetap mendapatkan pelajaran penting dari seorang manusia yang bernama Harun: sebagai apa, untuk apa, dan bagaimana ia hidup, itulah yang utama. Ia hanyalah manusia dengan kelebihan dan juga keterbatasannya.&lt;br /&gt; Secara umum alurnya menarik, penuh ketegangan. Apalagi penuh perenungan diri dari sang tokoh. Terantuk pada sebuah kalimat: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan. Mulai mengenal Tuhan, saat jelang maut. Tipisnya batas antara hidup dan mati. Saya memberi nilai tiga bintang untuk novel ini. Bagus tapi belum sedramatis JRR Tolkien yang mampu mengundang pembaca untuk membaca bukunya berulang kali. Tapi cukuplah sebagai alternatif bacaan sebagaimana penerbitnya tegaskan dalam pengantarnya. &lt;br /&gt; Allohua’lam bishshowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;11:07 26 April 2007&lt;br /&gt;Gelas itu masih bening&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan&lt;br /&gt;http://dirantingcemara/blogspot.com</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/elang-retak-mati-bukan-masalah-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-2713385554814537479</guid><pubDate>Wed, 25 Apr 2007 00:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-25T08:07:32.019+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>6 BULAN UJIAN SEBENARNYA</title><description>Bismillaahirrahmaanirrahiim&lt;br /&gt;Ba'da tahmid dan salam.&lt;br /&gt;      Setelah diawali dengan sebuah pesimisme tentang bisakah saya lulus untuk mengikuti Basic Training for Beginner V (BATRE V) yang diselenggarakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Depok, akhirnya 20 April 2007 kemarin, sang Ketua FLP Depok, Koko Nata, memberikan sebuah woro-woro hasil seleksi tersebut dalam sebuah essaynya yang disebarkan melalui milis dan dimuat di blog komunitas penulis akhirat itu, &lt;a href="http://flpdepok.multiply.com/"&gt;http://flpdepok.multiply.com/&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ternyata saya lulus, dan dikelompokkan dengan calon peserta BATRE V yang lainnya, yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Berikut nama-nama peserta Batre V didasarkan keleompoknya--saya tidak tahu atas dasar apa pengelompokkan tersebut.&lt;br /&gt;Kelompok I: Anindita Gayatri, Bhayu Mahendra H, Dunianti Hinda Maharani, Hermanu, Ihsan Maskuri, Riza Almanfaluthi, Ronald P. Putra, Syafaatus Syarifah, Siti Azizah, Yulia Hasanah.&lt;br /&gt;Kelompok II: Arya Fernandes, Danni Azzam, Diah Ayu Sekararum, Nadia Nurhaliati,&lt;br /&gt;Neneng Tsani, Qurratuain, Riani Anggraeni, Ririk, Shahibah Yuliani, Tijih Andri&lt;br /&gt;Kelompok III: Diah Ayu Sekararum, Fadila, Indriani Putri, Isti, Muhammad Erfan, Nurul M, Nur Hasanah, Sari Harum Melaty, Sidiq, Siti Mundasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah itu ujian sebenarnya akan datang. Selama 6 bulan itu seluruh peserta akan diberikan pelatihan menulis. Loh kok ujian lagi. Yup, ujian atas sebuah ketekunan dalam kehadiran, ujian atas sebuah konsistensi, ujian atas sebuah pelurusan niat. Karena, sebagaimana Koko Nata telah tegaskan bahwa FLP Depok tak punya tongkat ajaib yang bisa menyulap seseorang menjadi penulis hebat.FLP Depok tak bisa memberikan apapun materi, anggotalah yang harus senantiasa memberi karena sesungguhnya ketika memberi maka kita akan menerima. Wow...berat juga yah. Enam bulan loh, Dua belas pertemuan. Dua jam dalam sekali pertemuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu kendala bagi saya adalah lemahnya semangat. Mungkin di awal, semangat saya begitu menggebu-gebu untuk mengikuti pelatihan ini. Tapi biasanya di pertengahan, kebosanan sudah mulai merambati diri. Terbukti kegagalan saya dalam menekuni pelatihan bahasa Inggris di LIA, yang tidak pernah saya tuntaskan padahal sudah bayar mahal. Kiranya saya senantiasa butuh penyemangat agar tercapai target jangka pendek saya yaitu: selalu hadir dalam setiap pertemuan.  Itu saja bagi saya adalah sebuah kesuksesan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harap saya tidak lemah semangat.&lt;br /&gt;Saya harap saya tidak malas.&lt;br /&gt;Saya harap saya senantiasa tekun.&lt;br /&gt;Saya harap saya dapat mengikutinya tanpa jeda.&lt;br /&gt;Saya harap Allah menguatkan saya.&lt;br /&gt;Itu saja harap saya.&lt;br /&gt;Doakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riza almanfaluthi&lt;br /&gt;dEDAUNAN di ranting cemara&lt;br /&gt;08:06 25 April 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/6-bulan-ujian-sebenarnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5790483913038071951</guid><pubDate>Tue, 24 Apr 2007 01:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-24T08:45:39.760+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">About Me [Completed]</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sejumput rintih</category><title>LULUSKAH SAYA DI BATRE V?</title><description>LULUSKAH SAYA DI BATRE V?&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Saya mendaftarkan diri untuk mengikuti Batre (Basic Writing &lt;br /&gt;                  Training for Beginner) ke-5 yang diadakan oleh komunitas &lt;br /&gt;                  penulis Forum Lingkar Pena Cabang Depok. Syaratnya selain &lt;br /&gt;                  harus menyetorkan uang sebesar Rp39.000,00 untuk biaya &lt;br /&gt;                  pendaftaran juga harus menyerahkan sebuah tulisan dalam bentuk &lt;br /&gt;                  dan jenis apapun untuk dilihat oleh panitia. Saya menyerahkan &lt;br /&gt;                  sebuah essay yang berjudul Martabak Buat Bapak Polisi. Sebuah &lt;br /&gt;                  tulisan yang belum lama dibuat. Dan saya harus mengikuti &lt;br /&gt;                  writing test-- gunanya untuk menyeleksi seberapa jauh &lt;br /&gt;                  kemampuan menulis para peserta—pada hari Ahad kemarin (15/4) &lt;br /&gt;                  di Rumah Cahaya markas FLP Depok. &lt;br /&gt;                  Tetapi karena adanya musibah, yaitu dengan meninggalnya ibunda &lt;br /&gt;                  tercinta saya pada hari Kamis yang lalu dan saya harus pulang, &lt;br /&gt;                  maka saya tidak bisa mengikuti ujian tertulis tersebut. Sempat &lt;br /&gt;                  ada kekhawatiran bahwa saya tidak diperkenakan untuk bergabung &lt;br /&gt;                  dengan FLP Depok pada periode ini tetapi setelah saya sms &lt;br /&gt;                  Ketua FLP Depok, Koko Nata, tentang ketidakhadiran saya &lt;br /&gt;                  tersebut, ia memberikan kesempatan kepada saya untuk tetap &lt;br /&gt;                  mengikuti ujian tersebut. Dan saya mendapatkan email seperti &lt;br /&gt;                  ini:&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  ***&lt;br /&gt;                  Assalamualaikum Wr Wb&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Karena Mas dan Mbak berdua tidak bisa hadir pada acara perdana &lt;br /&gt;                  BATRE&lt;br /&gt;                  kemarin, silahkan buat tugas di bawah ini&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  1. Coba deskripsikan diri Mas/Mbak sendiri. Bisa secara fisik,&lt;br /&gt;                  psikologi dll. Bentuknya bebas. terserah deh mau nulis apa&lt;br /&gt;                  2. Tuliskan impian, harapan dan cita-cita setelah bergabung &lt;br /&gt;                  dentgan FLP&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Peserta kemarin, harus menyelesaikan tugas tersebut selama 30 &lt;br /&gt;                  menit.&lt;br /&gt;                  Di rumah/kantor Mbak dan Mas bisa melakukukan hal yang sama. &lt;br /&gt;                  Kirim&lt;br /&gt;                  tulisan tersebut ke e-mail ini. Saya tunggu paling lambat hari &lt;br /&gt;                  Kamis.&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Selamat menunaikan tugas ^_^&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Wassalam&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  ***&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                              Saya bersemangat sekali saat mendapatkan email &lt;br /&gt;                  tersebut. Saya mengerjakan tugas itu di rumah pada pukul &lt;br /&gt;                  17.27, sesaat setelah menerima email dari Panitia BATRE. Dan &lt;br /&gt;                  saya berkomitmen bahwa saya harus mengerjakannya dalam waktu &lt;br /&gt;                  yang telah ditentukan, walaupun tidak ada Panitia yang &lt;br /&gt;                  melihat. Sekali lagi, karena ini adalah sebuah penghargaan &lt;br /&gt;                  terhadap kesempatan yang diberikan kepada saya. Dan tentunya &lt;br /&gt;                  harapan saya adalah saya dapat lulus dari ujian ini. &lt;br /&gt;                  Ohya, pengumuman kelulusannya Insya Allah akan diumumkan pada &lt;br /&gt;                  tanggal 21 April esok. Kalau saya lulus, saya bersyukur. Tidak &lt;br /&gt;                  lulus? Yah, tetap berusaha di periode mendatang di bulan &lt;br /&gt;                  September nanti.&lt;br /&gt;                              Dan Alhamdulillah, pada menit ke-30 saya sudah &lt;br /&gt;                  berusaha menghentikan ketukan jari pada tuts keyboard ini. &lt;br /&gt;                  Lumayan satu seperempat halaman terselesaikan. Sebuah &lt;br /&gt;                  deskripsi tentang saya. Fisik dan psikologi. Berikut hasilnya:&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Inilah Saya&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Riza Almanfaluthi adalah nama saya. Cuma orang biasa yang &lt;br /&gt;                  berusaha menjadi lebih baik lagi di setiap harinya. Lahir di &lt;br /&gt;                  Jatibarang, sebuah kota kecil di Kabupaten Indramayu tepatnya &lt;br /&gt;                  tanggal 24 Juli 1976. Sekarang sedang menapaki usia kepala &lt;br /&gt;                  tiga, sebuah usia yang membuat saya terkejut karena saya sudah &lt;br /&gt;                  tidak muda lagi. Tapi, show must go on, mau tidak mau hidup &lt;br /&gt;                  harus dijalani, tinggal memilih kehidupan yang lebih baik atau &lt;br /&gt;                  buruk di akhir. Tentu sebagai manusia yang bertuhan saya pasti &lt;br /&gt;                  akan memilih yang pertama. Khusnul khotimah, penghabisan yang &lt;br /&gt;                  terbaik.&lt;br /&gt;                              Tinggal bersama orang tua selama menempuh &lt;br /&gt;                  pendidikan di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama, lalu &lt;br /&gt;                  berpisah saat menempuh pendidikan menengah atas karena sekolah &lt;br /&gt;                  di Cirebon, membuat saya bisa hidup mandiri. Artinya saya &lt;br /&gt;                  terbiasa jauh dari orang tua. Ditambah lagi saat Allah &lt;br /&gt;                  mengizinkan saya untuk menempuh kuliah di Jakarta yaitu di &lt;br /&gt;                  Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Spesialisasi Perpajakan di &lt;br /&gt;                  tahun 1994 membuat saya kembali hidup jauh dari orang tua.&lt;br /&gt;                              Kemandirian sejak kecil itulah yang senantiasa &lt;br /&gt;                  membuat saya berusaha untuk sukses dengan kaki sendiri—tentu &lt;br /&gt;                  kehendak Allah bermain sepenuhnya dalam kehidupan saya. Selama &lt;br /&gt;                  saya masih bisa untuk melakukan suatu pekerjaan itu sendiri &lt;br /&gt;                  mengapa saya harus meminta bantuan orang lain. Selain karena &lt;br /&gt;                  merendahkan diri sendiri juga karena selalu ingat kata-kata &lt;br /&gt;                  bijak dari Sang Nabi Terakhir bahwa  tangan yang di atas &lt;br /&gt;                  selalu lebih baik daripada tangan dibawah. Inilah yang saya &lt;br /&gt;                  pegang.  &lt;br /&gt;                              Secara fisik, saya sama dengan orang kebanyakan di &lt;br /&gt;                  republik ini. Kata orang sih, dan ini saya akui sendiri, warna &lt;br /&gt;                  kulit saya hitam. Tapi tentunya tidak selegam orang India dan &lt;br /&gt;                  Afrika sana. Rambut saya lurus dan tentunya—lagi-lagi—hitam. &lt;br /&gt;                  Tinggi biasa-biasa saja. Kurang lebih 165 cm. &lt;br /&gt;                  Ganteng? Relatif, dan saya berpikir tentu saya yang paling &lt;br /&gt;                  ganteng. Karena pada dasarnya manusia diciptakan dalam &lt;br /&gt;                  sebaik-baik bentuk. Hatta, menurut saya, seseorang dilahirkan &lt;br /&gt;                  dalam keadaan cacat, ia adalah manusia dengan sebaik-baiknya &lt;br /&gt;                  bentuk. Nah, ada satu kekurangan saya, kalau memang ini bisa &lt;br /&gt;                  disebut sebuah kekurangan, saya tidak bisa mengucapkan huruf &lt;br /&gt;                  R. Kata orang sih namanya cadel, atau pelo kata orang jawanya. &lt;br /&gt;                  Bagi saya kekurangan ini bukanlah variabel yang menentukan &lt;br /&gt;                  kesuksesan seseorang di akhirat sana. Betul bukan?&lt;br /&gt;                  Nah, sekarang saya perlu menceritakan motivasi, impian, &lt;br /&gt;                  harapan dan cita-cita saya kenapa ingin bergabung dengan &lt;br /&gt;                  komunitas penulis di Forum Lingkar Pena ini. Dulu, setahun &lt;br /&gt;                  yang lalu, ada motivasi duniawi yang mengiringi saya. Saya &lt;br /&gt;                  ingin jadi penulis terkenal, membuat banyak buku, dan &lt;br /&gt;                  lain-lain.  Saya perlu wadah, sebuah batu loncatan dan saya &lt;br /&gt;                  pikir FLP adalah sarana yang tepat, segalanya. &lt;br /&gt;                  Sebuah motivasi yang membuat saya lupa bahwa niatan itulah &lt;br /&gt;                  yang akan membuat saya tersungkur dengan wajah yang tertekuk &lt;br /&gt;                  diseret para malaikat dan diceburkan pada sebuah wahana &lt;br /&gt;                  kepedihan dan kesengsaraan, karena semata-mata hanya mengharap &lt;br /&gt;                  pujian dari manusia belaka. Dan saya pikir semua penulis rawan &lt;br /&gt;                  atas bahaya dari sebuah nikmat duniawi berupa pujian melangit. &lt;br /&gt;                  Saya berlindung kepada Allah atas semua itu.&lt;br /&gt;                  Pada akhirnya, pada sebuah kontemplasi, saya pikir semua itu &lt;br /&gt;                  sudah terlalu jauh. Kini, saya senantiasa berusaha keras untuk &lt;br /&gt;                  bisa meneguhkan hati agar bisa meluruskan niat.  Dan motivasi &lt;br /&gt;                  teranyar dan terupgrade pada diri saya adalah saya ingin &lt;br /&gt;                  senantiasa belajar dan terus belajar menulis. Tidak kurang dan &lt;br /&gt;                  tidak lebih. Bagi saya, saat ini, menulis adalah sebuah &lt;br /&gt;                  kebutuhan. Dan harus selalu terasah. Maka sebuah harapan indah &lt;br /&gt;                  di FLP adalah saya bisa mengasah kemampuan menulis saya. &lt;br /&gt;                  Menulis untuk sebuah pencerahan, untuk diri saya, dan tentunya &lt;br /&gt;                  untuk orang lain.&lt;br /&gt;                  Cita-cita? Tidak muluk-muluk,  menjadi seseorang yang berguna &lt;br /&gt;                  bagi diri saya sendiri, FLP, dan tentunya orang lain pula. Itu &lt;br /&gt;                  saja. Semoga tulisan ini bisa menggambarkan apa adanya saya. &lt;br /&gt;                  Semoga Allah pun meridhai upaya saya ini. &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;                  http://dirantingcemara.blogspot.com &lt;br /&gt;                  tepat di menit ke-30&lt;br /&gt;                  mulai 17.27 s.d. 17.56 &lt;br /&gt;                  (tambah beberapa detik untuk sedikit editing)</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/luluskah-saya-di-batre-v.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-1586532621906350335</guid><pubDate>Tue, 24 Apr 2007 01:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-24T08:39:19.186+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">About Me [Completed]</category><title>Curriculum Vitae</title><description>Curriculum Vitae&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama   : Riza Almanfaluthi, S.Sos.&lt;br /&gt;Tempat/tanggal lahir : Jatibarang,  24 Juli 1976&lt;br /&gt;Pekerjaan  : Pegawai Negeri Sipil&lt;br /&gt;NIP   : 060089098&lt;br /&gt;Pangkat/Gol. Ruang : Penata Muda/IIIa&lt;br /&gt;Jabatan   : Account Representative&lt;br /&gt;Alamat Kantor  : Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat &lt;br /&gt;                          Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan   &lt;br /&gt;                          12750&lt;br /&gt;Alamat email  : &lt;a href="riza.almanfaluthi@pajak.go.id"&gt;riza.almanfaluthi@pajak.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     &lt;a href="almanfaluthi@gmail.com"&gt;almanfaluthi@gmail.com&lt;/a&gt;  &lt;br /&gt;URL   : &lt;a href="http://dirantingcemara.blogspot.com"&gt;http://dirantingcemara.blogspot.com &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pendidikan:&lt;br /&gt;- Sekolah Dasar Negeri Pendowo V (lulus tahun 1988);&lt;br /&gt;- Sekolah Menengah Pertama Negeri I Jatibarang (lulus tahun 1991);&lt;br /&gt;- Sekolah Menengah Atas Negeri Palimanan (lulus tahun 1994);&lt;br /&gt;- Program Diploma Keuangan Spesialisasi Perpajakan, Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan, Departemen Keuangan (lulus tahun 1997);&lt;br /&gt;- Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi - Lembaga Adminsitrasi Negara Republik Indonesia (STIA LAN RI) Jurusan Administrasi Bisnis (lulus tahun 2002);&lt;br /&gt;- Program Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (lulus tahun 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pekerjaan:&lt;br /&gt;- Pelaksana pada Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 21 Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga (1997 s.d. 2001);&lt;br /&gt;- Pelaksana  pada Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga (sejak 2001 s.d. 2003);&lt;br /&gt;- Juru Sita Pajak Negara Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga (sejak 2003 s.d. Nopember 2004);&lt;br /&gt;- Account Representative pada Seksi Pengawasan dan Konsultasi III Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Tiga (sejak Nopember 2004 s.d. Juni 2006);&lt;br /&gt;- Account Representative pada Seksi Pengawasan dan Konsultasi II Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat (sejak Juli 2006 s.d. sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat Pengalaman Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tenaga Pengajar Pajak di Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perpajakan Ko-FIN, Depok, Jawa Barat, 2004;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tenaga Pengajar pada Sosialisasi e-Filling Wajib Pajak Kantor Pelayanan Pajak   Penanaman Modal Asing Tiga, 2005;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tenaga Pengajar Program Ekstrakurikuler Pembinaan Mental Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al-Iman, Pabuaran, Bojonggede, Bogor, sejak Juli 2006 s.d. sekarang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tenaga Pengajar pada Lembaga Swadaya Masyarakat Kepemudaan, Kelompok Studi Pelajar Muslim (KSPM), Bojonggede, Jawa Barat, sejak Oktober 2006 s.d. sekarang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tenaga Pengajar pada Pembekalan Pemuda se-Pabuaran yang diselenggarakan oleh Dewan Keluarga Masjid Al-Ikhwan , Bojonggede,  Bogor, Maret  2007.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/curriculum-vitae.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-3547624269668176524</guid><pubDate>Tue, 24 Apr 2007 01:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-24T08:18:59.746+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">TIPS MENULIS</category><title>KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI</title><description>KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT &lt;br /&gt;                  MURAHAN]&lt;br /&gt;                  Setelah &lt;br /&gt;                  menimbang-nimbang apa yang terjadi pada diri saya sampai &lt;br /&gt;                  menemukan suatu kebuntuan untuk berpikir dan juga &lt;br /&gt;                  menuangkannya dalam sebuah tulisan adalah karena saya salah &lt;br /&gt;                  pergaulan. Salahnya di mana? Dulu saya sampai sanggup untuk &lt;br /&gt;                  menulis dengan mudahnya apa yang saya rasakan saat ini. Cerita &lt;br /&gt;                  apa saja. Cerita tentang kesedihan dan kegembiraan. Dan cuek &lt;br /&gt;                  bebeknya saya tentang hasil apa yang didapat dari tulisan &lt;br /&gt;                  tersebut. Bagus buruk tidak dipedulikan lagi. Yang penting &lt;br /&gt;                  menulis. Kini ada suatu keengganan kalau saya belum menemukan &lt;br /&gt;                  mood di hati dan tema yang pantas untuk diungkap maka saya &lt;br /&gt;                  berhenti menulis. Maka apa yang terjadi. Saya gagap untuk &lt;br /&gt;                  menulis.    &lt;br /&gt;                          Bahkan untuk menulis inipun hampir-hampir tidak jadi &lt;br /&gt;                  karena saya pikir ini sebuah curhatan murahan yang gak pantas &lt;br /&gt;                  untuk ditaruh di blog saya. Tapi saya tepis semua itu. Saya &lt;br /&gt;                  berusaha mengingat motivasi awal dulu untuk menulis di blog &lt;br /&gt;                  ini. Belajar menulis. Yup, betul. Senantiasa untuk belajar &lt;br /&gt;                  menulis. Dengan itu kepekaan kita akan terasah. Dengan itu &lt;br /&gt;                  akan mudah kembali mencari mood yang sempat hilang. Dengan itu &lt;br /&gt;                  saya akan mudah menyusun paragraf demi paragraf pada kehidupan &lt;br /&gt;                  kita yang paling remeh temeh sekalipun.&lt;br /&gt;                          Kembali kepada salah pergaulan itu adalah saya sering &lt;br /&gt;                  dan gemar memelototi setiap perdebatan dalam suatu diskusi. &lt;br /&gt;                  Alhasil sebagian waktu digunakan untuk mencari mencari &lt;br /&gt;                  argumen-argumen yang tepat untuk membalas argumen-argumen ayng &lt;br /&gt;                  diajukan oleh lawan diskusi. Otomatis tiada upgrade diri. &lt;br /&gt;                  Sampai-sampai saya merasa kelelahan sendiri. Puncaknya adalah &lt;br /&gt;                  sebuah kesimpulan: Saya salah bergaul.&lt;br /&gt;                          Dulu sewaktu saya masih memantau dengan teliti &lt;br /&gt;                  tulisan-tulisan Azimah Rahayu, Bayu Gawtama, tulisan-tulisan &lt;br /&gt;                  di Eramuslim, tulisan-tulisan penuh perenungan maka saya bisa &lt;br /&gt;                  merasakan getaran hati yang tidak kasat. Saya mudah menulis &lt;br /&gt;                  sebuah kontemplasi diri. Menulis sebuah cerita sederhana dari &lt;br /&gt;                  seorang kawan, penuh hikmah dan penuh teladan. Menulis sebuah &lt;br /&gt;                  pencerahan. Menulis dengan hati. &lt;br /&gt;                          Dan saya terkejut, apa yang saya tulis dengan &lt;br /&gt;                  benar-benar dari hati--yah menurut saya sih demikian--adalah &lt;br /&gt;                  JANGAN SEPERTI NIRINA. Di awal Januari 2007 yang lalu. Bahkan &lt;br /&gt;                  yang sebelumnya adalah di tulisan AKU BUKAN JUFAT DAN GHULLAT &lt;br /&gt;                  SAYYID QUTHB sekitar Bulan Mei 2006 lalu. masya Allah sungguh &lt;br /&gt;                  lama sekali. Hampir satu tahun yang lalu.&lt;br /&gt;                          Cuma satu penyebabnya. Muroqobatullah yang semakin &lt;br /&gt;                  terkikis dari diri saya. Astaghfirullahal'adzim. Ya, bagaimana &lt;br /&gt;                  bisa saya akan bisa memberikan sebuah pencerahan sedangkan &lt;br /&gt;                  diri saya sendiri bukan lagi sebagai sumber dari sebuah cahaya &lt;br /&gt;                  pencerahan. Gelap. Hitam. &lt;br /&gt;                          Sungguh, betapa banyak saya mengemis pada-Nya agar &lt;br /&gt;                  sudi aku menggigit selandang kebesaran dan rahmat-Nya. Tapi &lt;br /&gt;                  senantiasa itu pula saya tak mampu menahannya lebih lama. &lt;br /&gt;                  Tergelincir lagi ke lubang yang sama. Duh, dosaku...Atau &lt;br /&gt;                  karena rintihan saya yang jarang terdengar di tengah malam. &lt;br /&gt;                  Untuk menghiba-hiba ampunannya. Karena Ia mengerti rintihan &lt;br /&gt;                  saya cuma rintihan palsu, tiada bermakna maka Ia biarkan saya &lt;br /&gt;                  menemukan jalan-Nya. Agar saya tersadar segera. Ah, kini saya &lt;br /&gt;                  berusaha mencari kembali jalan itu.&lt;br /&gt;                          Maka upaya kecil untuk memulainya adalah dengan tidak &lt;br /&gt;                  salah bergaul mungkin adalah langkah tepat. Tidak mudah &lt;br /&gt;                  terpancing untuk berdebat karena itu akan mengeraskan hati. &lt;br /&gt;                  Tidak mudah mengeluarkan argumentasi-argumentasi yang cuma &lt;br /&gt;                  kesannya saja ilmiah tapi jauh dari sentuhan hati. Karena niat &lt;br /&gt;                  yang sudah salah bukan karena-Nya.&lt;br /&gt;                          Lagi, kembali saya akan membaca banyak tulisan penuh &lt;br /&gt;                  perenungan diri, tulisan-tulisan yang jauh dari kontroversi &lt;br /&gt;                  dan perdebatan tiada henti. Kemudian sedikit demi sedikit &lt;br /&gt;                  merubah gaya blogku sebagai suatu catatan harian bukan semata &lt;br /&gt;                  tulisan yang ingin dianggap ilmiah atau sebagai cetak biru &lt;br /&gt;                  dari sebuah buku. Karena dua hal inilah yang senantiasa &lt;br /&gt;                  menghalangi saya menulis apa saja di blog ini. Apa saja &lt;br /&gt;                  tentang kehidupan yang saya temui setiap saatnya. Bahkan pada &lt;br /&gt;                  detik ini saat menulis huruf ini. &lt;br /&gt;                          Ditambah meluangkan waktu untuk memberikan komentar &lt;br /&gt;                  pada postingan blogger di Cicadas ini mungkin bisa merampas &lt;br /&gt;                  waktuku agar tetap punya empati, peduli pada sesama. karena &lt;br /&gt;                  kalau diingat-ingat sebelum saya menemukan kembali DSH saya &lt;br /&gt;                  yang sempat hilang. Produktivitas menulis saya sangat tinggi. &lt;br /&gt;                  Tapi kalau dingat-ingat pula penurunan produktivitas itu &lt;br /&gt;                  dimulai sejak saya menjadi moderator di DSH. Memantau begitu &lt;br /&gt;                  banyak postingan agar sesuai dengan visi dan misi DSH. Ah, &lt;br /&gt;                  bagaimanapun jangan mencari kambing hitam untuk semua &lt;br /&gt;                  kelemahan saya ini. &lt;br /&gt;                          So, saat ini saya punya komitmen untuk mengupayakan &lt;br /&gt;                  langkah-langkah kecil seperti di atas tadi agar terwujud, agar &lt;br /&gt;                  saya menemukan tulisan saya keluar dari hati, agar saya &lt;br /&gt;                  menemukan kembali jalan-Nya. Insya Allah. Terimakasih ya &lt;br /&gt;                  Allah.&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  ps: Alhamdulillah, saya bisa menulis ini. Setelah sempat &lt;br /&gt;                  ragu-ragu apakah saya bisa menulis dan berniat menghapusnya &lt;br /&gt;                  saat satu paragraf pertama tertulis.&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;                  Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;                  11:42 03 April 2007&lt;br /&gt;                  riza.almanfaluthi@pajak.go.id</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/kontemplasi-menulis-dengan-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-4127534659991332521</guid><pubDate>Tue, 24 Apr 2007 00:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-24T07:59:40.841+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">selembar puisi</category><title>sekuntum mawar</title><description>Melihat signaturenya salah &lt;br /&gt;                  seorang moderator di DSHnet, saya langsung terinspirasi untuk &lt;br /&gt;                  membuat  beberapa kata ini:&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  sekuntum mawar &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  sekuntum mawar menulis pada hari-hari yang lampau &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  tegas! &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  menanyakan kepingan hati yang terpaut &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  kini entah berada di mana &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  cuma hasrat sukma menyucikan diri &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  dalam rintih sepi &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  membakar amukku pada renjana &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  renjana cinta bertubi-tubi &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  ah, sentuhan rindu tak mampu menidurkanku &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  lelap! &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  cuma ayat-ayat cinta bertabur pesona &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  di dalamnya kutemukan sekuntum mawar &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  menulis hari-harinya penuh kata &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  :have a nice day &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                                                  &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Sekilas Saja &lt;br /&gt;                   &lt;br /&gt;                  Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;                  dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;                  15:05 03 04 2007.</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/sekuntum-mawar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5651150864682598690</guid><pubDate>Mon, 23 Apr 2007 02:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T16:37:46.346+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">geography</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ratapan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh [good and badguys]</category><title>AL-IKHWAN WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]</title><description>AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [TERAKHIR]&lt;br /&gt;[tulisan keempat]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada tulisan terdahulu diuraikan tentang benih-benih timbulnya ketidaksukaan para pemimpin Al-Ikhwan kepada Abdul Aziz maka pada bagian terakhir ini diterangkan tentang upaya Al-Ikhwan melancarkan bughot melawan amirnya, Abdul Aziz bin Abdurrahman. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan: "Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertempuran Sabillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6iuIIsRtPpPD-GiwVFBvq9Gq2YdX1RrrjNh7elppkjMPeAUALByZPbsxOt23RROdTXpuM7p5NqsxnOjiWBsEO8TxLcpztqB1MSbk3EZOfMH0LIzPgRcdmv0q8_TgB3CfaJyQhABVT_R6p/s1600-h/abdulaaziz.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6iuIIsRtPpPD-GiwVFBvq9Gq2YdX1RrrjNh7elppkjMPeAUALByZPbsxOt23RROdTXpuM7p5NqsxnOjiWBsEO8TxLcpztqB1MSbk3EZOfMH0LIzPgRcdmv0q8_TgB3CfaJyQhABVT_R6p/s200/abdulaaziz.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5056443969260593218" /&gt;&lt;/a&gt;Al-Ikhwan tidak bisa sesabar Abdul Aziz menunggu dua bulan. Mereka tidak bisa berpikiran tenang dan berpertimbangan matang. Justru kefanatikan yang tidak masuk akallah yang membuat mereka bertentangan dengan Abdul Aziz. Beberapa minggu setelah pertemuan Riyadh, mereka melancarkan serangan bertubi-tubi yang membuat perdamaian takkan mungkin dicapai lagi dan menghilangkan simpati yang selama ini mereka peroleh.&lt;br /&gt;Di bulan Desember 1928 mereka menyerang rombongan pedagang unta Nejd di Jumaymah, dekat perbatasan Irak. Semua dibunuh dan hewan dagangan mereka dirampas. Sekelompok orang Badui di sebelah utara dibantai pula oleh sepasukan Al-Ikhwan. Nyata-nyata bahwa Al-Saud dan Nejd tidak lagi menghadapi suatu perselisihan agama melainkan penghancurkan negara baru Abdul Aziz. &lt;br /&gt;Mereka menolak kewajiban suatu masyarakat, peraturan yang ada, tak mau menetap dan membentuk pemukiman Ikhwan yang tetap. Mereka ingin kembali menjadi bangsa Badui yang bisa mengembara kemana saja. Faisal Al-Dawisy menulis surat kepada Saud Bin Abdul Aziz, ”...Kau telah menjauhkan kami dari agama kami, kau telah menjauhkan kami dari kesenangan duniawi kami.”&lt;br /&gt; Pasukan kendaraan bermotor dikirim Abdul Aziz di bulan Maret 1929 dipimpin oleh Abdullah Suleiman al-Hamdan, juru tulis kepercayaan Abdul Aziz yang berhasil mengorganisir pengadaan bahan bakar, suku cadang, dan mesiu. Iringan pasukan itu menuju Anayzah dan Buraydah untuk mengumpulkan bantuan. Abdul Aziz menggunakan uang dan pegnaruhnya pada suku-suku Badui yang ada. Ia memberi 6 pound emas kepada kepala suku yang berhasil membawa sukunya untuk bergabung. Tiga pound untuk orang biasa dan kota yang ikut berperang dan dengan janji tambahan  lainnya bila tugas selesai.&lt;br /&gt; Di akhir Maret 1929, pasukan Abdul Aziz berhadapan dengan pasukan Faisal al-Dawisy dan Ibnu Bijad di padang Sabillah dekat Artawiya. Tiga berbanding satu. Pasukan pemberontak kalah jauh diukur dari kuantitas pasukan.&lt;br /&gt;Al-Dawiys dan Ibnu Bijad pemimpin penyerangan yang paling ulung. Mereka tak biasa berhadapan dengan lawan yang begitu besar. Tapi mereka mengira bahwa Abdul Aziz tak bisa bertempur lagi, karena Abdul Aziz secara pribadi terakhir ikut pertempuran 12 tahun yang lalu. Mereka yakin Abdul Aziz hanya pandai bicara saja. Dan mereka yakin kemenangan ada di tangan mereka karena sejak 1919 merekalah yang berperang untuk Abdul Aziz. Ketakberanian Abdul Aziz menghadapi Inggris secara langsung, menurut mereka, menajdi tanda kelemahan yang tampak dari Abdul Aziz.&lt;br /&gt;Tapi Abdul Aziz masih cukup galak. Berulang kali utusan pencari kedamaian antara kedua belah pihak saling berunding, mencoba merumuskan gencatan senjata. Tapi gagal. Abdul Aziz marah besar saat utusan Ibnu Bijad tidak mau menjawab salam sebagaimana kebiasaan mereka yang tidak mau menjawab salam kepada mereka yang dianggap ”Bukan Muslim Sejati”. &lt;br /&gt;Bahkan saat Faisal Al-Dawisy datang sendiri ke Abdul Aziz, Abdul Aziz sudah tak punya selera lagi berdamai dan menyarankan kepada mereka untuk menyerah. Saat Al-Dawisy pulang kembali ke perkemahannya, ia mengabarkan bahwa orang-orang Saud itu cuma sekumpulan orang-orang lemah lemas yang hanya bisa tidur di atas kasur. ”Mereka tak berguna sama sekali, bagaikan pelana unta tanpa pegangan,” kata Faisal kepada Ibnu Bijad.&lt;br /&gt; Keesokan paginya Abdul Aziz berkuda mengepalai pasukannya. Ia turun sesaat untuk mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah musuh. Segera pertempuran dimulai. Al-Ikhwan berada diketinggian dan telah membangun suatu tumpukan batu sebagai tempat perlindungan. Di balik itu mereka bisa menembak dengan aman. Saat mereka melihat pasukan Saudi mundur—yang sebenarnya hanya untuk mengambil kesempatan makan pagi yang sudah begitu terlambat—Al-Ikhwan menganggap ini adalah gerakan mundur besar-besaran.&lt;br /&gt; Dengan gembira pasukan Al-Ikhwan menyerbu meninggalkan kubu mereka, mengejar. Tapi mereka langsung dibabat oleh dua belas senapan mesin yang sengaja disembunyikan dan tempat kedudukannya sangat dirahasiakan. Singkatnya ratusan orang roboh, yang selamat cerai berai melarikan diri. Abdul Aziz menyuruh pasukannya mengejar. Pertempuran Sabillah hanya berlangsung setengah jam saja. Inilah kekalahan Al-Ikhwan yang pertama. &lt;br /&gt;Para perempuan Al-Dawisy memohon untuk menyerah. Faisal Al-Dawisy tertembak di punggungnya tapi masih hidup. Abdul Aziz memberikan mereka ampun, tapi tak membiarkan pemukiman Ibnu Bijad utuh, ia menghancurkannya dan menahan Ibnu Bijad. Lalu Abdul Aziz memberi hadiah pada pasukannya yang setia, memberi ganti rugi kepada yang telah berkorban, menyuruh mereka pulang, dan ia sendiri berangkat hají ke Mekah. Ia pikir, Al-Ikhwan telah tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berontak Kembali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuka Al-Ikhwan yang satu lagi, Dhaidhan bin Hithlain, sedang berada di daerah Timur saat pertempuran Sabillah berlangsung. Kekalahan dua sekutunya mendorongnya untuk segera berdamai. Maka di bulan Mei 1929, ia merundingkan perdamaian dengan Fahad bin Abdullah  bin Jaluwi.&lt;br /&gt;Ia diundang ke tenda Fahad. Setelah berunding pada malam harinya Ibnu Hithlain pamit untuk pulang kemahnya. Namun Fahad memintanya untuk menginap. Ditolak oleh Ibnu Hithlain karena ia harus memenuhi janjinya kepada sukunya—Ajman—untuk segera kembali setelah perundingan. Bila tidak memenuhi janji itu maka suku Ajman akan meluruk mereka, ke tempat itu.&lt;br /&gt;Fahad merasa bahwa ini merupakan ancaman terselubung, maka ia memerintahkan pengawalnya untuk menahan Ibnu Hithlain dan kesebelas pengiringnya. Dan meminta mereka dibunuh jika orang-orang Ajman itu datang. Dan benar ketika suku Ajman datang, mereka dibunuh. Padahal di saku Ibnu Hithlain ada surat jaminan keselamatan dirinya yang ditandatangani oleh Abdul Aziz, Abdullah bin Jaluwi, dan Fahad sendiri. Orang Ajman membunuh Fahad sebagai balasan, ditembak tepat di antara kedua matanya.&lt;br /&gt;Al-Ikhwan marah besar, bahkan suku-suku Nejd lainnya karena mereka menganggap bahwa undangan Fahad itu tipu daya semata agar ia bisa membunuh Ibnu Hithlain, dan ini sebuah kepengecutan. Faisal al-Dawisy mengobarkan gerakan angkat senjata dan kini dengan kekuatan yang lebih besar lagi. Ini berbahaya bagi Abdul Aziz karena ia masih berada di Mekah, jauh dari Riyadh dan jika ia ingin kembali ke sana maka ia harus bertempur di sepanjang perjalanannya. &lt;br /&gt;Kali ini pergaulannya dengan Inggris—kaum kafir—berbuah besar. Inggris yang menginginkan kestabilan di semenanjung Arab memaksa merubah politik devide et-impera-nya. Di musim panas di tahun 1929, dukungan terhadap Abdul Aziz dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Britania datang bertubi-tubi. Inggris melarang penguasa di Irak dan Kuwait untuk mengambil keuntungan dari kekisruhan di Nejd. Senjata mengalir dari India. Dengan dukungan tersebut Abdul Aziz menyeberangi Arabia dengan iring-iringan kendaraan bermotornya dan dikawal dengan enam senjata mesin.&lt;br /&gt;Abdul Aziz bergerak ke timur laut. Kekuatan Inggris dikerahkan untuk mencegah Al-Ikhwan tidak lari ke arah yang sama. Agen-agen Inggris mengirimkan telegram ke Riyadh tentang pergerakan Al-Ikhwan. Abdul Aziz sendiri mengatur gerak pasukannya dengan jaringan radionya.&lt;br /&gt;Azaiyiz anak Faisal ad-Dawisy memimpin 600 prajuritnya diikuti pula oleh kaum Ajman dan beberapa pejuang tua Mutair melancarkan serangan ke bagian utara Arabia. Di bulan Agustus 1929 pasukan itu merobek-robek Arabia utara, mengumpulkan kawan dan menghancurkan kawan. Serangan mereka sampai jauh di utara Hail dan berhasil merampas ratusan ekor unta dari kaum Syammar dan Amarat, merampas sebuah kafilah yang berisi uang 10.000 real hasil tarikan pajak Saudi yang akan diantarkan kepada Gubernur Hail. &lt;br /&gt;Namun bawaan besar itu membuat perjalanan Azaiyiz semakin berat apalagi mereka sudah kekurangan air. Sumber-sumer air yang berusaha diduduki Faisal telah dikepung rapat oleh pasukan Gubernur Hail. Semangat mereka semakin mengendur. Di oase Umm Urdhumah mereka sekarang berhadapan. Di satu sisi Abdul Aziz bersama pasukannya yang segar-segar karena menguasai sumber air dengan di sisi lain pihak Al-Ikhwan yang kehausan karena kantung air yang sudah kosong. Apalagi onta-onta mereka yang sudah empat hari tidak minum.&lt;br /&gt;”Allah bersama kita, Al-Ikhwan pilihan-Nya,” teriak Azaiyiz menyemangati. ”Kita harus terus maju dan memenangkan sumber air itu. Allah akan memberkati pengikut-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran terjadi di siang hari yang panas, tak karuan, dan kejam, tak berampun, satu lawan satu, di mana tak ada yang memberi dan meminta ampun. Kaum Al-Ikhwan sia-sia memekikkan teriakan kemenangan karena Abdul Aziz terus menambah bala bantuannya. Sore harinya walaupun Al-Ikhwan sudah membabat ratusan lawan, tapi tak sanggup menguasai oase. Azaiyiz tak bertenaga lagi karena lelah, lapar, dan haus diseret oleh lima orang budaknya dan bersembunyi di perbukitan pasir. Dua bulan kemudian mayat mereka ditemukan di tengah padang pasir, kering kerontang, agaknya sedang berjalan pulang. &lt;br /&gt;Sebanyak 250 prajurit Al-Ikhwan tertawan dan dipenggal semuanya. Dan Ibnu Musa’id yang memimpin pertempuran tersebut saat mendengar bahwa di balik bukit masih terdapat 40 orang yang bersembunyi, memerintahkan pasukannya untuk menembaki orang-orang itu tanpa ampun. Kekalahan yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mati di Penjara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa Al-Ikhwan masih menjarah rayah sampai musim dingin tahun 1929. Tapi Faisal al-Dawisy yang sudah kehilangan anaknya telah kehilangan pula semangatnya. Ia mulai menasehati yang lain agar menyerahkan diri saja, mungkin Abdul Aziz mau mengampuni mereka. Sedangkan Faisal sudah memastikan bahwa dirinya tak akan mendapat ampun.&lt;br /&gt;Pemberantasan terhadap sisa-sisa Al-Ikhwan dilakukan. Faisal—dalam rangka melindungi wanita, anak-anak, dan ternaknya—meminta perlindungan kepada Inggris melalui Kapten Dickson untuk bisa masuk Kuwait. Pemerintah Inggris menolak. Pasukan Abdul Aziz semakin menjepitnya. Di akhir Desember 1929 sekelompok orang Mutair berusaha meloloskan diri dari kepungan tapi ketahuan dan tak dibiarkan satupun hidup.&lt;br /&gt;Beberapa puluh kilometer dari tempat itu Faisal Al-Dawisy ditemukan dengan kelompok kecilnya oleh pasukan Inggris. Padahal ia baru saja diserang oleh suku Badui lainnya yang masih setia pada Abdul Aziz.  Kini ia cuma punya tiga pilihan: menyerah pada Abdul Aziz, pada Inggris di Irak, atau pada Inggris di Kuwait. &lt;br /&gt;Ia memilih yang terakhir. Ia meminta Inggris berjanji bahwa ia tidak akan diserahkan kepada Abdul Aziz jika Abdul Aziz tidak berjanji untuk tidak membunuhnya. &lt;br /&gt;Pada tanggal 28 Januari 1930, Angkatan Udara Inggris membawa Faisal Al-Dawisy dan dua orang bawahannya ke pangkalan Abdul Aziz dekat perbatasan Kuwait. Abdul Aziz telah menyiapkan suatu majelis berlebih-lebihan untuk menyambutnya. Abdul Aziz menangis tersedu-sedu saat memeluk Faisal Al-Dawisy dan mengajaknya berciuman di hidung sebagai kebiasaan orang Badui. &lt;br /&gt;Abdul Aziz memegang janjinya kepada Inggris. Faisal tak dihukum mati. Ia memenjarakannya seumur hidup. Lalu 18 bulan kemudian Faisal Al-Dawisy meninggal di penjara karena daging tumbuh di tenggorokannya yang terus menerus mengucurkan darah. Al-Ikhwan musnah sudah.&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, September 1932, Abdul Aziz menyatakan seluruh daerah Arabia, Nejd dan Hijaz adalah milik Al-Saud dan menyatakan daulah barunya sebagai Kerajaan Arab Saudi. Dengan lambang berupa dua pedang yang bersilang dan menyempurnakan lambangnya dengan gambar pohon kurma di atasnya sebagai lambang para penghuni daerah oase, para penghuni kota yang telah mapan. Tidak dengan lambang unta di atas dua pedang tersebut, suatu lambang bagi kaum Badui yang pasukan sucinya  telah sangat membantu menegakkan kerajaan dan pula yang hampir saja membuat kerajaannya hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Demikian sejarah singkat dari keberadaan Al-Ikhwan, yang pada awalnya bahu-membahu dan seide dalam pemahaman keberagamaan dengan pemimpinnya, Abdul Aziz, namun pada akhirnya dengan pemahamannya tersebut serta kesederhanaan alami mereka yang menyebabkan mereka melakukan pemberontakan terhadap pemimpinnya sendiri.&lt;br /&gt;Maka pantas saja—seperti disebutkan di bagian pertama tulisan ini—sang Amir harus bersikeras dengan panitia masjid untuk mengubah nama masjid dalam proposal itu dengan nama yang lain asal tidak dengan nama Al-Ikhwan, karena Al-Ikhwan identik dengan Osama bin Laden. Dua-duanya—menurut mereka—adalah pemberontak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhaqqu min rabbika.&lt;br /&gt;Allohu’alamu bishshowab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;&lt;br /&gt;2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;&lt;br /&gt;3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;12:54 26 Maret 2007&lt;br /&gt;Kalibata Masih Membiru</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/al-ikhwan-wahabi-pemberontak-terakhir.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6iuIIsRtPpPD-GiwVFBvq9Gq2YdX1RrrjNh7elppkjMPeAUALByZPbsxOt23RROdTXpuM7p5NqsxnOjiWBsEO8TxLcpztqB1MSbk3EZOfMH0LIzPgRcdmv0q8_TgB3CfaJyQhABVT_R6p/s72-c/abdulaaziz.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-2100493022679895069</guid><pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T16:37:46.525+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">geography</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ratapan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh [good and badguys]</category><title>AL-IKHWAN WAHABI PEMBERONTAK [3]</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [3]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[tulisan ketiga]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah dalam dua tulisan sebelumnya diuraikan latar belakang berdirinya Al-Ikhwan dan mesranya hubungan mereka dengan pemimpinnya Abdul Aziz maka pada tulisan yang ketiga ini akan diuraikan bagaimana benih-benih perpecahan yang sudah mulai tumbuh kian membesar. Sampai diperlukan bai’at kembali kepada Abdul Aziz.&lt;br /&gt;Tapi sebelumnya perlu diperhatikan hal ini:&lt;br /&gt;"Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;”Mereka adalah anak-anakku”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbOEp7KCeHVFBV_r-ivIiC-9PVopDt4vr_tkwbP7Lch7_SonZCo1jNVZlbF4LoWK1McECi5ixBkwSO1t6-Q1fXo8CsnGmyM9KOJS9leZfRlFbaibbIdJjk2-nWQnvNj6ZIkiszimaf-VN_/s1600-h/kurma.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbOEp7KCeHVFBV_r-ivIiC-9PVopDt4vr_tkwbP7Lch7_SonZCo1jNVZlbF4LoWK1McECi5ixBkwSO1t6-Q1fXo8CsnGmyM9KOJS9leZfRlFbaibbIdJjk2-nWQnvNj6ZIkiszimaf-VN_/s200/kurma.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5056436380053381170" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika kaum Ikhwan di tahun 1925 memasuki Jeddah, mereka langsung memutuskan kabel-kabel telepon, temasuk saluran yang menuju rumah Abdul Aziz. Menurut mereka telepon adalah penemuan baru—seperti mobil dan radio—yang tak bisa dimengerti cara kerjanya.  &lt;br /&gt;Dalam suatu kesempatan pertemuan dengan Abdul Aziz mereka memberikan peringatan, ”Dengan direbutnya tanah Suci, Muslim yang baik haruslah menjaga diri jangan sampai terbujuh oleh pengaruh asing,” kata Faisal al-Dawisy. Semua harus waspada, jangan sampai ke luar dari jalur murni ajaran Islam. Mereka harus siap untuk menghukum siapapun yang melakukan hal itu.&lt;br /&gt;Adik Abdul Aziz, Abdullah bin Abdul Rahman yang telah ditunjuk sebagai panglima pasukan Saudi di Hijaz merasakan bahwa sikap Al-Ikhwan ini begitu menantang. Tiap hari ia harus berhadapan dengan sikap menyakitkan hati dari kaum Ikhwan di bawahnya. Ia harus selalu menghibur mereka, membujuk mereka agar mau mengikuti perintah. Dan ia merasa bahwa sikap menantang ini kalau dibiarkan terus akan berbahaya. Mereka harus ditindak tegas sebelum tak bisa dikendalikan lagi.&lt;br /&gt;Tetapi  Abdul Aziz hanya menertawakan kekhawatiran adiknya itu. ”Kaum Ikhwan adalah anak-anakku,” katanya. Maka jika salah satu Ikhwan itu mengatakan bahwa kumisnya terlalu panjang, Abdul Aziz segera memanggil tukang cukur untuk memotongnya di depan umum dan menganggapnya sebagai suatu gurauan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmal&lt;br /&gt; Keangkuhan Al-Ikhwan menjadi-jadi di musim pertama haji di tahun 1926 setelah Jeddah jatuh. Masalahnya dimulai dari kain hitam berhias emas yang menutupi Ka’bah. Secara tradisional kain ini dijahit oleh ahli-ahli Mesir dan sebagai hadiah tahunan Mesir kepada Hijaz. Setiap tahun pemberangkatannya dari Emsir dilakukan dengan upacara besar-besaran, dinaikkan ke sebuah tandu kehormatan yang diberi Mahmal. &lt;br /&gt; Setiap tahun mereka membuat barisan panjang, ribuan banyaknya, diatur dan dilindungi oleh sepasukan kecil pengawal yang bersenjata. Dan ini merupakan tantangan bagi Al-Ikhwan. Bagi mereka, tandu yang berhias indah, penghormatan yang begitu berlebihan kepada Mahmal, setara penyembahan tehadap berhala. Apalagi pasukan pengawal bersenjatanya yang sepertinya melukai rasa kebanggaan mereka. Ditambah suara terompet mereka yang mencemari kesucian Mekah. Ini tak berampun lagi. Al-Ikhwan melempari mereka dengan batu. Orang Mesir bertahan. Terjadilah pertempuran sengit. Abdul Aziz muncul dan menyerukan agar Al-Ikhwan mundur. Sektiar 40 orang jama’ah tewas dan sejak saat itu mahmal tidak lagi diarak megah di jalan-jalan Mekah.&lt;br /&gt; Kaum Ikhwan menganggap ini sebagai kemenangan kecil. Sebab menurut ukuran mereka, penakhlukan Hijaz ternyata jauh di bawah harapan mereka. Hanya beberapa jam setelah membantai mereka yang sesat di Taif, setelah itu Abdul Aziz mengekang harapan mereka melakukan ’penyucian’ terhadap Hijaz, tak boleh merampas, bahkan tak ada kebanggaan jika menang. Abdul Aziz telah bersekongkol dengan penduduk Madinah untuk mencegah Al-Ikhwan merusak kuil-kuil mereka, ia bahkan melarang Al-Ikhwan menyerang Badui-badui Hijaz. Ini mengecewakan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Insiden Perbatasan&lt;br /&gt;Al-Ikhwan gagal di segala bidang. Abdul Aziz telah berdamai dengan para pemuka Hijaz serta ingin memberikan gambaran yang baik tentang dirinya pada para perwakilan negara asing sehingga ia bertindak seolah-olah pasukannya sendirilah musuhnya. Karenanya setelah luntang lantung di Hijaz selama setahun, Al-Ikhwan pulang ke Nejd dengan membawa sedikit sekali rampasan, kemegahan kemenangan, cuma rasa kecewa yang besar dan kekhawatiran tak akan ada lagi tugas untuk mereka.&lt;br /&gt; Jantung persoalannya adalah dengan Al-Ikhwan Abdul Aziz bisa menguasai Nejd dan Hijaz. Dan jika Abdul Aziz ingin mengembangkan lagi wilayahnya di luar dua daerah itu maka ia harus berhadapan dengan Inggris, sama sekali tak mungkin. Inggris tak mau kehilangan lagi sekutu Hasyimiyahnya jatuh.&lt;br /&gt; Karena kecewa dan haus akan kemegahan menjadi pemenang serta kenikmatan merampas yang tak mereka peroleh di Hijaz, Al-Ikhwan mengarahkan pandangan ke arah Timur Laut, daerah yang secara tradisional menjadi sasaran kemarahan Wahabi, daerah perbatasan kaum Syiah yang mereka anggap menduakan Allah. Maka awal 1927, serangan ke daerah perbatasan Irak semakin menjadi dan hebat. &lt;br /&gt; Korban mereka, kelompok pengembara biri-biri dan pekerja di Pos Polisi di Busaiya. Faisal al-Dawisy secara pribadi meimpin beberapa penyerangan untuk menunjukkan hak kaumnya untuk pergi ke mana pun mereka suka. Pesawat Inggris membalas dengan mengebom para penyerang dan kemudian mengejar mereka sampai masuk ke wilayah Nejd. &lt;br /&gt;Inggris pun mengajukan protes. Mulanya Abdul Aziz membela rakyatnya karena pembangunan pos-pos polisi itu memang melanggar adat kebiasaan suku-suku Badui. Abdul Aziz menghadapi persoalan rumit untuk menjelaskan terhadap Al-Ikhwan tentang adab-adab dunia Internasional pada saat itu. Mereka tak mengerti dan tak peduli bagaimana pemimpin mereka harus menyesuaikan diri dengan batasan-batasan dunia yang lebih luas dari mereka. Mereka bahkan siap untuk menggulingkan sang pemimpin bila ia tidak mau memimpin mereka menghancurkan pos-pos kaum kafir itu. &lt;br /&gt;Abdul Aziz berusaha menerangkan kepada delegasi Inggris di Perundingan Jeddah Mei 1928 bahwa perbuatan mereka di luar sepengetahuannya. Tapi Inggris tak mudah percaya karena ia sepertinya menarik keuntungan dari gerakan Al-Ikhwan itu. Dan tetap saja di tahun tersebut penyerangan dan pertumpahan darah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaharuan Ba’iat&lt;br /&gt; Perundingan Jeddah gagal. Abdul Aziz harus kembali ke Nejd dan menerangkan kegagalannya kepada Al-Ikhwan tentang tak mampunya ia membongkar pos polisi di Busaiya. Mungkin mendengar ini mereka akan melakukan perang suci dengannya atau tanpanya. &lt;br /&gt; Ia yang telah menanamkan dan mengembangkan kefanatikan di orang-orang berpikiran sederhana itu. Ia yang telah membuat mereka menganggap semua yang bukan Wahabi sebagai penjelmaan Iblis. Ia yang mendapatkan keuntungan dari kefanatikan mereka itu penakhlukan Rasyid, menjatuhkan Hijaz, mendamaikan dunia luas dan kini menghadapi kekeraskepalaan Al-Ikhwan. Pun kini ia harus menerangkan dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tak mungkin melawan Inggris, karena sia-sia saja. &lt;br /&gt;Dengan penuh persoalan pelik dihadapannya ditambah kepergian sang Ayah, Abdurrahman, di bulan Juni 1928, ia merasa putus asa. Kalau saja ayahnya tidak meninggal, mungkin kehadirannya bisa membantu untuk menghadapi pertentangan yang semakin tajam antara Al-Ikhwan dan dirinya. Maka ia mengambil suatu tindakan drastis yang mungkin akan dapat membantunya mengatasi semuanya.&lt;br /&gt;Ia mengundang seluruh tokoh dan ulama Nejd di Riyadh di Nopember 1928 untuk merundingkan sistem perbentengan Irak serta keluhan lain dari Kaum Ikhwan. Sekitar 800 orang yang hadir kecuali tiga tokoh utama Al-Ikhwan: Faisal Al-Dawisy, Suktan bin Bijad, dan Dhadhan bin Hithlain. &lt;br /&gt;Tapi ada satu hal lagi yang perlu diungkap kepada mereka. Abdul Aziz berdiri tegak di hadapan musyawarah tersebut dan menawarkan secara resmi untuk turun tahta, dan berkata, ”pilihlah salah seorang anggota keluargaku.”&lt;br /&gt; Semua terpaku dan tercengang. Seketika semua berteriak ramai menolak usulnya. ”Kami hanya menginginmu sebagai pemimpin kami!” para delegasi itu berteriak. Seluruhnya berdiri di belakangnya. Memperbaharui ba’iatnya. Abdul Aziz tahu sepeninggal ayahnya tak ada satu tokoh di keluarganya yang bisa menampung kesetiaan dari seluruh golongan—kecuali dirinya. Dan ia menawarkan untuk mengundurkan diri karena yakin bahwa hal itu akan ditolak oleh semua orang. Tapi setidaknya dengan ini memberikan pandangan kepada dunia bahwa pada dirinya puncak keabsahan kekuasaan Saudi terletak.&lt;br /&gt; Setelah menutup persidangan itu, ia minta kepada para ulama memberi pesan tentang telepon dan radio, dan mereka menyatakan bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits tidak ada keterangan bahwa kedua benda itu diharamkan. Para wakil Al-Ikhwan kecuali tiga orang di atas telah memperbaharui janji setianya pula dan akan memihak  kepada Abdul Aziz bila terjadi pertentangan dengan tiga tokoh Al-Ikhwan itu asal dengan syarat Abdul Aziz dapat menghancurkan pos polisi tersebut dalam jangka waktu dua bulan. Abdul Aziz menyanggupi sesuatu yang rasanya takkan mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;&lt;br /&gt;2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;&lt;br /&gt;3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;12:54 26 Maret 2007&lt;br /&gt;Kalibata Masih Membiru</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/al-ikhwan-wahabi-pemberontak-3.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbOEp7KCeHVFBV_r-ivIiC-9PVopDt4vr_tkwbP7Lch7_SonZCo1jNVZlbF4LoWK1McECi5ixBkwSO1t6-Q1fXo8CsnGmyM9KOJS9leZfRlFbaibbIdJjk2-nWQnvNj6ZIkiszimaf-VN_/s72-c/kurma.jpeg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-5566986195642022612</guid><pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-23T08:31:06.049+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">geography</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ratapan sejarah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tokoh [good and badguys]</category><title>AL-IKHWAN WAHABI PEMBERONTAK [2]</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [2]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[tulisan kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan Penting Tulisan Pertama:&lt;br /&gt;Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Gelar Khalifah dan Taif&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/unta06.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px;" src="http://www.harunyahya.com/indo/artikel/images_artikel/unta06.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;Di tahun 1924 salah satu keturunan dari Bani Hasyim yakni Syarif Husain bin Ali masih sebagai Penguasa Hijaz. Anaknya Abdullah adalah penguasa Amman. Anaknya yang lain Faisal menjadi penguasa Irak. Rival dari keluarga mereka penerus keluarga Saud yakni Abdul Aziz,  penguasa Nejd. &lt;br /&gt;Di antara dua keluarga itu saling timbul kebencian apalagi bila Inggris memberikan Pounds yang lebih besar kepada salah satu dari mereka. Tentu uang-uang itu salah satunya dipergunakan membeli kesetiaan Suku Badui untuk mempertahankan kekuasaan mereka dan merebut kekeuasaan saingan mereka. &lt;br /&gt;Dan bagi Syarif Husain uang itu tak cukup. Ia mencoba mengumpulkan uang dengan jalan memasang pajak untuk apa saja, termasuk pajak dari jama’ah haji. Ini menyebabkan ia tak populer, apalagi ditambah sikapnya yang kian hari tidak bersikap layaknya sikap seorang raja. &lt;br /&gt;Terakhir adalah sikapnya pada tanggal 5 Maret 1924 yang memproklamirkan dirinya sebagai Khalifah, Keturunan dan Pangganti Nabi, Wali Islam, Pemimpin Kaum Muslimin Dunia—gelar sanjungan yang diperkirakan akan membuat kagum warganya di Hijaz. Ia berani karena dua hari sebelumnya tanggal 3 Maret 1924, Kamal  Ataturk resmi membuang gelar Khalifah, berarti menurutnya ini adalah sebuah kekosongan kepemimpinan umat Islam yang selama 400 tahun dipegang oleh Daulah Utsmani.&lt;br /&gt;Ini tak mendapat sambutan. Seorang pemuda Suriah yang mengakhiri pidatonya dengan seruan ”Hidup Khalifah Husain” disambut dengan diam, tanpa suara sama sekali oleh hadirin. Di dunia Islam, berita itu mendapat sambutan dingin. Kaum muslimin di Jawa meramalkan bahwa Syarif Husain akan menerima kutukan Allah karena kelancangannya. Di India kaum Nasionalis Islam merasa bahwa Inggris ada di belakang dari keberaniannya ini walaupun dibantah oleh Inggris. Di Nejd yang muncul adalah kutukan dan kemarahan yang tak bisa dipadamkan.&lt;br /&gt;Tanggal 5 Juni 1924 diadakan persidangan tokoh-tokoh Riyadh. Lima tahun sebelumnya Abdul Aziz mengadakan persidangan yang sama tapi yang dibahas adalah tentang sikap Al-Ikhwan yang menyebarkan paham mereka secara kekerasan dan ia ingin agar ulama mendisiplinkan persaudaraan tersebut. Kini yang dibahas adalah sikap terhadap Syarif Husain tersebut. &lt;br /&gt;Dan ini ditanggapi oleh para pemimpin Al-Ikhwan yang membeberkan segala dosa Syarif tua tersebut, yakni pelarangannya terhadap warga Nejd—terutama kaum Ikhwan untuk melakukan ibadah haji. Abdul Aziz berpikir inilah saatnya untuk bisa menguasai Hijaz apalagi ia merasa dunia Islam saat itu gerah dengan tindakan Syarif yang sembrono. &lt;br /&gt;Saatnya untuk melakukan tindakan yang tertunda lima tahun sebelumnya, karena pada saat itu ia membawa Al-Ikhwan, dan bila membawa pasukan tersebut ia seperti mengingat kenangan yang tak menyenangkan saat kaum Wahabi memasuki Mekah dan Medinah, seratus tahun lalu. &lt;br /&gt;Salah satu dukungan kepadanya adalah datang dari Komite Khilafah India. Karena komite selalu menganggap bahwa tindakan Syarif adalah siasat Inggris yang cerdik, siasat Inggris yang selalu ingin campur terhadap kepentingan Arabia dan umat Islam. &lt;br /&gt;Di bulan Agustus 1924 Abdul Aziz memerintahkan Khalid bin Lu’ay untuk memimpin 3000 pasukan Al-Ikhwan menuju Taif yang pada saat itu dijaga oleh Ali bin Syarif Husain. Tetapi melihat kekuatan Al-Ikhwan, pada tanggal 04 September 1924 dalam kegelapan Ali beserta pasukannya meninggalkan Taif dan penduduknya.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian adalah pembantaian yang terjadi sungguh tanpa ampun. Qady dan para syaikh kota mencoba berlindung di masjid. Tetapi mereka diseret ke luar dan dicincang. Rumah-rumah dihancurkan. Toko dan pasar diserbu. Mayat-mayat dilemparkan ke sumur-sumur terbuka. Dan dalam beberapa jam saja sekitar 300 orang tewas. Hijaz panik. Husain minta bantuan Inggris. Inggris diam saja melihat perkembangan yang terjadi. Mereka menganggap bahwa Syarif Husain lemah dan Abdul Aziz kuat serta memang pantas untuk memimpin seluruh Nejd dan Hijaz. Abdul Aziz tahu pada saat itu bahwa Inggris telah meninggalkan sekutunya.&lt;br /&gt;Para penghuni Jeddah terutama para saudagarnya yang kaya raya mengirimkan salah seorang utusannya untuk meminta Ali agar ayahnya turun tahta saja. 3 Oktober 1924, di ruang utamanya yang gelap dan sunyi, Syarif Husain menandatangani persetujuan untuk turun tahta. Sungguh tanpa pertarungan sedikitpun. Pada tanggal 16 Oktober 1924 Syarif Husain berangkat menuju Aqaba dan langsung ke Siprus untuk mengasingkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekkah, Madinah, dan Jeddah&lt;br /&gt;Di bulan Oktober 1924, Mekah jatuh. Dan Abdul Aziz melarang pasukan Al-Ikhwan untuk masuk ke kota. Tetapi ada beberapa yang lolos dan menghancurkan beberapa rumah minum, membakar semua rokok, dan pipa yang mereka temui. Beberapa kuburan berkubah juga dihancurkan atau dirusak. Tetapi tak ada korban satu pun seperti di Taif, Ibnu Lu’ay benar-benar menjaga keamanan di kota tersebut.&lt;br /&gt;Tiga bulan kemudian, Abdul Aziz datang ke Mekah. Ia bergerak sangat hati-hati. Ia tak pernah melupakan bagaimana dahulu keluarganya runtuh setelah mencoba mengasai Mekah—kekuatan asing (Turki) langsung ikut campur tangan dan menjatuhkan Dar’iyyah. Dan pembantaian di Taif adalah awal yang buruk di pandangan dunia. Oleh karena itu ia tidak menampilkan citra seorang penakluk.&lt;br /&gt;Dan ia benar-benar menjaga Mekah dengan sebaik-baiknya. Hingga ia berhasil mengatur perjalanan haji di musim panas 1925. Keberhasilannya disebarkan dari mulut ke mulut para jama’ah haji. Sehingga menegaskan bahwa generasi baru wahabi tidak seganas yang dikira oleh dunia Islam. &lt;br /&gt;Robert Lacey menulis pada tanggal 05 Desember 1925 Madinah menyerah. Kota tersebut hanya bisa mempertahankan diri pada minggu-minggu terakhir dari kepuangan kaum Ikhwan karena Abdul Aziz sendiri menyelundupkan makanan untuk para penghuni kota tersebut. Yang mengepung kota itu adalah kaum Ikhwan di bawah pimpinan Faisal al Dawis. Abdul Aziz tidak mau Kota Suci kedua ini jatuh di tangan Al-Ikhwan.&lt;br /&gt;Madinah adalah tempat makam nabi dan tempat-tempat peringatan bagi para pahlawan Islam lainnya. Al-Ikhwan sudah lama mencurigai kota ini. Madinah merupakan pangkalan khusus kaum muslimin Syiah yang mereka anggap suka memuja berhala. Harta benda mereka juga pastilah akan merupakan daya tarik bagi keliaran Al-Ikhwan. Maka secara rahasia Abdul Aziz mengatur agar bahan makanan diselundupkan ke dalam kota agar kota itu masih bisa bertahan. &lt;br /&gt;Dan  ia segera memerintahkan anaknya Muhammad untuk segera memimpin pasukannya ke kota tersebut. Pada tanggal 6 Desember 1925, ia memasuki kota Madinah dan kemudian berjalan ke masjid nabi yang berkubah hijau untuk sembahyang. Al-Saud kini telah menguasai semua kota suci.&lt;br /&gt;Berita itu membuat Jeddah kacau. Kota itu masih dikuasai keturunan Hasyimiah, yaitu Syarif Ali bin Husain.Pasukannya tak mau bertempur karena selama gaji setahun belum dibayarkan. Ia turun tahta dan meninggalkan Jedadh pada hari Minggu tanggal 20 Desember 1925 naik kapal Inggris, HMS Cornflower. Sejak saat itu Abdul Aziz memperoleh gelar baru: Raja Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;&lt;br /&gt;2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;&lt;br /&gt;3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;12:54 26 Maret 2007&lt;br /&gt;Kalibata Masih Membiru&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/al-ikhwan-wahabi-pemberontak-2.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-7829082608046871956</guid><pubDate>Sun, 22 Apr 2007 00:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-22T07:18:26.656+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia Islam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">geography</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ratapan sejarah</category><title>AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]</title><description>AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]&lt;br /&gt;[tulisan kesatu]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum rampung. &lt;br /&gt;Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama masjid kami Masjid Al-Ikhwan. &lt;br /&gt;Saat ditanya mengapa demikian? “Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang. &lt;br /&gt;Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama. &lt;br /&gt;Setelah pertemuan tersebut saya sempat menyimpulkan bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ikhwan &lt;br /&gt;Tetapi saya barulah mengerti banyak mengapa nama Al-Ikhwan menjadi momok di Arab Saudi. Dan kaitan terdekat dari semua itu adalah masalah politik bukan pemikiran agama. Buku yang menjadi rujukan saya adalah buku lawas [1981] yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul The Kingdom yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia.&lt;br /&gt; Sebanyak 102 halaman di bagian kedua buku tersebut dengan judul Al-Ikhwan diungkap manis pahitnya hubungan antara Abdul Aziz bin Saud dengan Al-Ikhwan sebagai kesatuan tempur yang tekstualis dalam tafsir agama, penerus gerakan wahabi,  militan, tangguh, dan ganas.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Kelompok ini di tahun 1912 datang dan menempati daerah penggembalaan yang disebut Al-Artawiyah. Di sana terdapat beberapa sumur tempat kafilah-kafilah dari Nejd dan Qasim bertemu. Kalau sekarang Al-Artawiyah ini berada di jalur perjalanan antara Riyadh dengan Kuwait.&lt;br /&gt; Gerakan Al-Ikhwan ini sesungguhnya adalah pembaharuan dari gerakan kemurnian beragama yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdulwahhab. Seperti diketahui bersama di tahun 1744 terbentuklah persekutuan antara Muhammad bin Abdulwahab dengan Muhammad bin Saud sebagai penerus dinasti Saud penguasa Dar’iyah.&lt;br /&gt; Kelompok Al-Ikhwan selalu berpegang teguh akan arti harfiah yang tersurat di Qur’an, sementara Hadits mereka anggap sebagai buku petunjuk dan perintah yang harus mereka laksanakan setepat-tepatnya. Mereka tak mau memakai aghal—tali ikat kepala, hitam, karena menurut mereka nabi tak pernah memakainya. Mereka juga memotong jubah mereka setinggi lutut. Mencukur kumis dan memanjangkan jenggot. &lt;br /&gt;Lacey menulis bahwa  penampilan mereka selalu menunjukkan betapa mereka menjauhi keduniawian, menolak tembakau, dan pula menolak radio dan telepon, karena Nabi tak pernah memakainya. Tapi anehnya tidak menolak kehadiran senapan dan penggunaannya. Di Al-Artawiyah menyanyi, menari, dan bahkan permainan anak-anak dilarang. Mereka menganggap bahwa mereka prajurit Allah yang tugas utamanya adalah membersihkan dan memurnikan agama.&lt;br /&gt;Ada satu perbedaan penting antara gerakan Al-Ikhwan di awal abad dua puluh dengan kaum Wahabi. Bahwa Muhammad bin Abdulwahhab adalah seorang yang tinggal di kota dan pesan yang disampaikan khusus diperuntukkan bagi penghuni kota sedangkan kelompok ini adalah dari kaum Badui dan tugas merekalah untuk menyebarkan pemahaman mereka di tengah masyarakat badui yang pada saat itu masih saja percaya dengan takhayul. Cuma itu saja. Dan pada saat itu mereka belum menjadi kekuatan tempur. Karena Abdul Aziz belum datang kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Tempur&lt;br /&gt;Yang jelas gerakan ini tak akan mungkin berkembang tanpa campur tangan Abdul Aziz. Ia memberi mereka tanah, mengirimkan penyuluh ke padang pasir untuk mengumpulkan  lebih banyak anggota baru untuk pemukiman mereka. &lt;br /&gt;Di tahun 1912 ia menempatkan dirinya secara kukuh di pucuk pimpinan gerakan ini. Dengan memberikan sebuah bentuk keterikatan  kepada kelompok ini dengan menghancurkan benda kesayangannya di depan umum berupa gramopon putar tangan yang dibawanya dari Kuwait dan sering dimainkannya di dalam tendanya. Kaum Ikhwan mengangguk setuju dengan perbuatannya. &lt;br /&gt;Di tahun 1917 dengan biaya pribadinya memesan dari India sejumlah besar buku cetakan karangan Ibnu Abdulwahab, pendidikan dasar tentang iman, agar pemikirannya bisa tersebar luas di tengah padang pasir.   &lt;br /&gt; Bagi Abdul Aziz pengorbanan benda kesayangannya ini tak seberapa dengan hasil yang ia dapatkan dengan menggenggam kekuasaan kelompok ini. Dengan kekuatan tempur dari  gerakan ini—perlu diketahui bahwa sebelumnya Abdul Aziz mempunyai kekuatan tempur lain dari suku-suku Badui liar yang hanya bisa dibeli dengan emas untuk bertempur dengan Kaum Rasyid, tetapi tidak untuk loyalitas kepadanya—sebanyak 60.000 sejak tahun 1912 ia dapat menjinakkan suku-suku Badui liar dan menunjukkan kekuatannya pada rival utamanya yaitu Penguasa Hijaz Syarif Husain bin Ali. &lt;br /&gt;Di tahun 1916 mereka dapat menguasai Khurmah—suatu daerah yang disepakati oleh Abdul Aziz dengan Inggris sebagai daerah perbatasan daerahnya Nejd dengan daerah Syarif yaitu Hijaz. Bahkan mereka sanggup menguasai  Turabah suatu daerah yang jaraknya ’hanya’ 150 km dari Mekah. Walaupun sempat dikuasai kembali oleh Syarif dengan pasukan dibawah kepemimpinan Abdullah bin Husain, namun tanggal 26 Mei 1919 Turabah direbut kembali. &lt;br /&gt;Penuturan salah seorang yang lolos dari sergapan Al-Ikhwan ini adalah ”aku melihat darah mengalir di Turabah bagaikan anak sungai di antara batang-batang kurma. Aku melihat mayat-mayat ditumpuk di benteng sebelum aku melompat ke jendela.” &lt;br /&gt;Taif geger mendengar berita tersebut. Dengan hancurnya pasukan Abdullah maka Hijaz sama sekali tak punya kekuatan lagi. Dengan mudahnya kaum Ikhwan bisa maju dan meruntuhkan Mekah. Tapi Abdul Aziz merasa belum saatnya untuk menakhlukkan Mekah karena ia ingin agar kota tersebut tidak direbut dengan kekerasan, cara itu takkan menjamin ia berkuasa lama di sana.  &lt;br /&gt;Terlalu dini bagi Saudi untuk bisa merebut Hijaz tanpa mendapat tentangan dari Inggris atau dunia Islam lainnya. Maka ia berusaha membujuk Al-Ikhwan untuk kembali ke pangkalan dengan alasan ia memerlukan mereka untuk menghadapi tantangan kaum Rasyid. Ini benih perpecahan Abdul Aziz dengan Al-Ikhwan. Mengapa hanya berhenti sampai di sini? Menurut kelompok ini, inilah saatnya membersihkan Mekah, Madinah, dan semua daerah di pantai Laut Merah dari segala macam khurafat. &lt;br /&gt;Dan benar kekuatan mereka digunakan oleh Abdul Aziz untuk mengalahkan saingan utamanya di Nejd yaitu kaum Rasyid. Setelah menakhlukkan Jabal Syammar di musim panas 1920, di awal Nopember 1921, Hail, sebagai pusat kekuasaan kaum Rasyid ditakhlukkan. Para saudagar Hail agaknya sudah bosan dengan keluarga Bani Rasyid yang memerintah mereka dan tak mau mengundang kemarahan kaum ikhwan  hingga para saudagar tersebut memutuskan untuk membukakan pintu gerbang Hail. Kini Abdul Aziz adalah penguasa Nejd sejati dengan mengganti gelar untuknya semula adalah Amir Riyadh menjadi Sultan Nejd.&lt;br /&gt;Di tahun 1922, tanpa sepengetahuan Abdul Aziz sekitar 1500 prajurit Al-Ikhwan memasuki Transyordania (kini Yordania) yang saat itu dikuasai oleh Keluarga Hasyim dan sampai berada 15 km dari Amman. Setelah hampir banyak menguasai perkampungan di sekitar daerah tersebut mereka terhalang oleh patroli pesawat terbang Inggris, mereka mundur. Apalagi ditambah dengan dukungan pasukan kendaraan berlapis baja Inggris yang memang tak dapat dibandingkan dengan kuda-kuda mereka.&lt;br /&gt;Abdul Aziz mendengar berita itu langsung menjebloskan pimpinan tentara Al-Ikhwan yang tersisa. Dan ia minta maaf kepada para penguasa Inggris. Tetapi sesungguhnya Abdul Aziz memaklumi keinginan dari Kaum Al-Ikhwan untuk pergi ke mana pun mereka inginkan, menjarah rayah daerah manapun yang mereka kehendaki. Ke daerah-daerah  kosong yang ditinggalkan oleh Turki sejak Perang Dunia Pertama selesai. &lt;br /&gt;Maka energi mereka disalurkan untuk merebut daerah Asir, sudut barat daya Arabia, daerah subur yang terjepit antara Hijaz dan Yaman. Daerah seluas 4000 mil itu pun dapat dikuasai oleh Abdul Aziz. Setelah itu mereka berniat untuk menguasai Kuwait, sekutu Abdul Aziz awalnya saat Kuwait diperintah oleh Mubarak dari keluarga Sabah. Namun saat Mubarak meninggal dan digantikan oleh anaknya, Salim, Abdul Aziz memutuskan untuk merebut daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa yang tak kunjung padam. Menjadi sengketa karena bagi masyarakat Badui batas daerah pada saat itu cuma ada di hati manusia.&lt;br /&gt;Tapi Inggris tak mau ini terjadi. Menurut  Inggris, Asir bolehlah direbut, tapi Kuwait dan Irak lain ceritanya. Maka di tahun 1921 beberapa kapal perang dikirim untuk melindungi Kuwait. Pasukan Al-Ikhwan yang dipimpin oleh Faisal al-Dawisy pun harus berhadapan dengan polisi padang pasir plus dukungan Angkatan udara Inggris saat merambah Irak. Kali itu, Al-Ikhwan bertindak rasional memutuskan untuk mundur, dan ini lebih menguntungkan daripada keberanian semata. Sekarang, batas hati yang ada di manusia kadang harus mengalah pada penentuan dari Pemerintah Kerajaan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;&lt;br /&gt;2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;&lt;br /&gt;3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;12:54 26 Maret 2007&lt;br /&gt;Kalibata Masih Membiru&lt;br /&gt;http://10.9.4.215/blog/dedaunan</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/al-ikhwan-wahabi-pemberontak-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-7526302398298016386</guid><pubDate>Sat, 21 Apr 2007 10:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-10T16:37:46.882+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">selembar puisi</category><title>Aduh, rinduku</title><description>Aduh Rinduku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: riza almanfaluthi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9RRdjwflkuZ03M7LQ5Z5udPVXO3gOSyiVz6yAtpX6AkVx57DFnKmQryWF63F6umOODuQdCEkLVg3MBXY5spFpGxc1XwcOvoVQrOvKa5u_tuevkO_nLYNKnLGz8mCTId5fjSZAfd2CtGv2/s1600-h/to+much.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9RRdjwflkuZ03M7LQ5Z5udPVXO3gOSyiVz6yAtpX6AkVx57DFnKmQryWF63F6umOODuQdCEkLVg3MBXY5spFpGxc1XwcOvoVQrOvKa5u_tuevkO_nLYNKnLGz8mCTId5fjSZAfd2CtGv2/s200/to+much.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055827830432178210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aduh... rinduku padamu &lt;br /&gt;tak mudah usai sepanjang hari &lt;br /&gt;perlahan dan pasti masih menghangat &lt;br /&gt;bahkan menghampakan jiwa &lt;br /&gt;aduh... rinduku padamu &lt;br /&gt;membuat janjiku tak mudah terhapus segera &lt;br /&gt;mengikat segalanya dalam setiap ucap &lt;br /&gt;bahkan menyenandungkan nelangsa &lt;br /&gt;aduh... rinduku padamu &lt;br /&gt;membuat hati ini penuh warna &lt;br /&gt;tak mudah untuk memutih dan menghitam &lt;br /&gt;bahkan melanggengkan indahnya pelangi &lt;br /&gt;duh...rinduku padamu &lt;br /&gt;tak segan-segan menusuk desah nafasku &lt;br /&gt;tak mudah terucapkan karena ini cukup sudah menjadi rahasia &lt;br /&gt;bahkan abadi membisunya &lt;br /&gt;aduh...rinduku padamu&lt;br /&gt;biar masa saja yang bilang&lt;br /&gt;selalu aku merinduimu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;riza almanfaluthi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang masih tetap merindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.21 22 Maret 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/aduh-rinduku.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9RRdjwflkuZ03M7LQ5Z5udPVXO3gOSyiVz6yAtpX6AkVx57DFnKmQryWF63F6umOODuQdCEkLVg3MBXY5spFpGxc1XwcOvoVQrOvKa5u_tuevkO_nLYNKnLGz8mCTId5fjSZAfd2CtGv2/s72-c/to+much.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6226727881771113755.post-146803917030089286</guid><pubDate>Fri, 20 Apr 2007 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-04-20T12:56:28.342+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Macam-macam Tips</category><title>Dua Tips Menjadi Murabbi Sukses</title><description>Dua Tips Menjadi  Murabbi Sukses &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari 114 tips menjadi murabbi sukses yang ditulis oleh Satria Hadi Lubis adalah “jangan lupa untuk mempersiapkan materi”. Berikut kutipan lengkap dari tips kedua tersebut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Da’i harus memiliki argumen yang kuat untuk mendukung makna yang diutarakan dan harus memperhatikan kesesuaian argumen dengan makna tersebut. Ia memiliki keluasan dalam memilih argumen, sebab ayat-ayat Al Qur’an, hadits-hadits Rasul, sirah Nabawiyah yang harum, dan sejarah Islam adalah argumen yang kuat yang dapat digunakan untuk memperkuat pembicaraan” (Musthafa Masyhur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kebiasaan buruk murobbi yang sering dijumpai adalah tidak mempersiapkan materi. Mereka tampil spontan. Mungkin merasa mad’u sudah tsiqoh (percaya) dengan mereka, sehingga tidak bakalan hengkang. Padahal Shakespeare pernah mengingatkan, “Barangsiapa naik panggung tanpa persiapan, ia akan turun panggung dengan kehinaan”. Hasilnya, mad’u mungkin tidak hengkang. Tapi penyajian materi terasa hambar, monoton dan tidak aktual, karena tidak dipersiapkan sebelumnya. Akhirnya, mad’u lama kelamaan merasa bosan dan merasa tidak bertambah wawasannya. Mad’u jadi suka absen, atau paling tidak hadir tanpa antusias yang tinggi. &lt;br /&gt;Karena itu, persiapkanlah materi yang akan Anda sampaikan di halaqah. Persiapkan walau hanya sebentar (10-15 menit). Idealnya, persiapan yang perlu Anda lakukan minimal 60 menit, agar Anda dapat mempersiapkan materi lebih komprehensif. Siapkan dalil naqli (dalil dari Al Qur’an dan Hadits) dan aqli (dalil secara rasional), data dan fakta terbaru, ilustrasi dan perumpamaan, contoh-contoh kasus, bahan humor, pertanyaan yang mungkin diajukan, bahasa non verbal yang perlu dilakukan, metode belajar yang cocok dan media belajar yang diperlukan. &lt;br /&gt;Dengan persiapan prima, niscaya Anda akan tampil di halaqah bagaikan aktor kawakan yang mampu menyedot perhatian penonton (mad’u).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tips di atas saya lakukan benar-benar. Caranya adalah dengan membuat materi tersebut dalam file berbentuk powerpoint. Maklum saya bukanlah seperti orang lain yang dengan mudahnya berbicara tanpa teks, tanpa slide, tanpa handsout. Jadi agar pembicaraan tetap terarah dari awal sampai akhir, pun agar yang diterangkan kepada pendengar adalah sesuai dengan maksud yang diharapkan dari tujuan materi tersebut maka saya melakukan upaya itu.&lt;br /&gt; Pertama, saya akan membaca materi yang akan disampaikan tersebut—tentunya materi yang sesuai dengan kurikulum mentoring. Lalu sambil melakukan kegiatan itu saya pun sekaligus membuat file berekstensi ppt. Di situlah saya merasakan membaca sambil membuat, menjadikan saya—setidaknya—dapat memahami dengan mudah alur berpikir dari tema pokok materi. &lt;br /&gt; Alhasil, setelah saya melakukan persiapan tersebut dengan matang, saya merasakan manfaat yang sangat besar—tentunya dengan pertolongan Allah pula—saya menjadi tidak grogi dan presentasi pun berjalan dengan lancar. &lt;br /&gt; Sewaktu acara daurah pemuda se-Pabuaran, saya diberikan amanah oleh ketua panitia untuk menyampaikan materi bertema ghazwulfikr, dengan persiapan  yang sungguh-sungguh maka Allah memudahkan saya memberikan materi tersebut. Begitu pula dengan Ahad kemarin untuk pertemuan pekanan yang ketiga ini saya memberikan materi tentang keseimbangan, dan lagi-lagi Allah memudahkan saya.&lt;br /&gt; Saya sampai berkesimpulan, mungkin inilah jalan yang Allah tunjukkan kepada saya bahwa salah satu cara untuk menghindari kebingungan yang biasa saya derita dalam memberikan materi adalah dengan cara yang demikian. Buat softcopy dari materi tersebut.&lt;br /&gt; Ya, salah satu kelemahan saya dalam mengisi mentoring adalah saya tak bisa tampil spontan dan kebingungan tentang materi apa yang harus saya berikan. Padahal referensi materi begitu seabrek dalam lemari buku. Sekali, dua kali, bahkan berkali-kali saya baca materi tersebut sebagai bentuk persiapan masih saja susah untuk dicerna oleh akal pendek saya. &lt;br /&gt;Tetapi dengan tips di atas Insya Allah saya sudah bisa mengatasi kebingungan tersebut. Intinya adalah buat catatan atau presenter bilang buat poin-poinnya. Ini sesuai dengan tips selanjutnya dari Satria Hadi Lubis berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Catat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah ia rapi dalam segala urusannya” (Musthafa Masyhur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mempersiapkan materi, hal yang perlu Anda persiapkan sebelum mengisi halaqah adalah mencatat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u. Misalnya, mencatat apa saja yang akan dievaluasi, apa saja informasi dan instruksi yang akan disampaikan, atau siapa yang akan Anda ajak bicara tentang sesuatu hal. &lt;br /&gt;Dengan mencacat, Anda akan ingat apa yang akan Anda bicarakan dengan mad’u. Tapi jika mengandalkan ingatan, Anda akan lupa karena saking banyaknya hal yang perlu Anda sampaikan kepada mad’u. Kelupaan tersebut dapat berakibat fatal, jika yang akan Anda bicarakan adalah hal yang penting dan mendesak. Anda mungkin terpaksa membicarakannya di luar halaqah via telpon. Hasilnya, tentu tidak seefektif jika Anda sampaikan secara tatap muda di depan halaqah. Nah.. agar tidak lupa, catat apa yang akan Anda sampaikan kepada mad’u di buku atau di kertas Anda sebelum Anda mengisi halaqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk orang lain, membuat poin-poin pembicaraan itu pun mudah semudah membalikkan tangan. Dengan cukup mengambil secarik kertas kosong lalu menuliskan poin-poin tersebut. Tetapi bagi saya itu belumlah cukup, saya kudu membuatnya dengan tampilan bagus terlebih dahulu dalam sebuah software khusus baru saya bisa lebih paham. Kegunaan lainnya adalah bisa langsung dicetak dan dibagikan kepada peserta mentoring.&lt;br /&gt;Cuma satu kekhawatiran saya yakni upaya ini cuma semangat di awal saja lalu lama-kelamaan hilang ditelan bumi seiring dengan bangkitnya kemalasan saya. Tapi saya pikir, yang terjadi nanti biarlah terjadi nanti. Sekarang yang perlu saya lakukan adalah tetap memupuk semangat ini. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap bekerja maksimal dalam jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-Ankabuut, 29: 69]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ayat di atas setidaknya menjadi pelipur kelelahan bagi saya. Semoga menjadi pelipur sampai akhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Kiat: &lt;br /&gt;1. Buat softcopy dari materi;&lt;br /&gt;2. Catat apa yang akan disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’: &lt;br /&gt;- Alqur’anul Kariim&lt;br /&gt;- Menjadi Murabbi Sukses, Satria Hadi Lubis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Almanfaluthi&lt;br /&gt;dedaunan di ranting cemara&lt;br /&gt;kalibata mendung&lt;br /&gt;12:28 20 Maret 2007</description><link>http://dirantingcemara.blogspot.com/2007/04/dua-tips-menjadi-murabbi-sukses.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>3</thr:total></item></channel></rss>