<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Romeogadungan.com</title>
	<atom:link href="http://romeogadungan.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://romeogadungan.com</link>
	<description>Not a regular personal blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 Apr 2026 00:40:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">11866792</site>	<item>
		<title>Tiga Puluh Delapan</title>
		<link>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-delapan/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-delapan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 01:00:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=1056</guid>

					<description><![CDATA[Holy shit! Nggak nyangka gue akan nyampe di angka ini. Seperti biasa, setahun sekali, tradisi yang gue mulai belasan tahun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Holy shit!</em></p>
<p>Nggak nyangka gue akan nyampe di angka ini.</p>
<p>Seperti biasa, setahun sekali, tradisi yang gue mulai belasan tahun yang lalu ini memaksa gue untuk kembali mengingat password blog hanya untuk sekadar menuliskan postingan ulang tahun.</p>
<p><em>Some people are waiting for this. Not much, but some. </em></p>
<p><em>But unfortunately I have a bad news.</em></p>
<p>Mungkin ini adalah terakhir kalinya gue menulis postingan di blog <em>(for now)</em>. <em>Life got so serious I stopped writing for fun.</em></p>
<p>Gak tau kenapa, <em>I feel like I have outgrown this phase of my life. The writing phase.</em></p>
<p>Minat untuk hidup lebih <em>private</em> entah kenapa terlihat makin menggiurkan untuk gue sekarang.</p>
<p>Buat yang follow gue di Twitter juga pasti udah tau, kalau akhirnya gue memutuskan untuk <em>deactivated</em> akun Twitter gue yang umurnya udah 16 tahun. Empat puluh ribu followers lebih gue biarkan menggantung di sana.</p>
<p><em>I don&#8217;t know,</em> gue ngerasa dengan semakin seringnya gue <em>shooting</em> podcast Unfiltered di Youtube BigAlpha, semakin bertambah juga <em>exposure</em> gue ke dunia digital. <em>And I don&#8217;t really like that.</em></p>
<p>Gue gak tau di masa depan akan ada kejadian apa, di mana orang akan menggali-gali jejak digital gue (termasuk salah satunya di blog ini). Siapa tau nanti gue maju politik dan orang ngubek-ngubek blog ini untuk <em>black campaign</em> ke gue. <em>I am learning from your mistakes, RK.</em></p>
<p><em>So yeah, maybe this is a closure for this phase of my life (or maybe not).</em></p>
<p>Lagian, agak cringe aja gak sih kalau om-om ini masih menulis kegalauan-kegalauan akibat percintaan di blog ini? Mungkin nanti gue akan menulis lagi ketika <em>struggle</em> yang gue hadapi sudah berubah menjadi <em>struggle</em>-nya seorang suami atau seorang ayah.</p>
<p><em>I am sure I will have funny and bizarre experiences when the time comes.</em></p>
<p>Oke, <em>rewind</em> sedikit&#8230;</p>
<p>Setahun kemarin, hidup gue gak banyak berubah dari sejak gue menulis postingan ulang tahun terakhir. Gue cuma fokus mengembangkan BigAlpha.</p>
<p><em>I had some dates. It didn&#8217;t work.</em></p>
<p><em>It just made me realized that I have less tolerance to bullshit nowadays. </em>Gak tau ya,<em> dating market sucks.</em></p>
<p>Capek banget rasanya ngedengerin <em>trauma dumping</em> cewek-cewek jaman sekarang. <em>Over analyzing patterns, codes, or silences.</em> Gue udah gak punya waktu dan tenaganya.</p>
<p>Atau memang udah bukan umurnya lagi aja ya buat gue untuk ngerasain <em>emotional roller coaster </em>akibat urusan-urusan percintaan. Fase &#8216;mengejar&#8217; yang dulu suka banget gue lakukan bahkan sekarang terasa melelahkan.</p>
<p>Cewek-cewek yang bertingkah dikit langsung gue tinggal<em>. I am just tired.</em></p>
<p><em>I don&#8217;t want to date people. I want to date my wife. But the problem is, to meet my wife I have to date people.</em></p>
<p>Jadi kalau di Microsoft Excel, ini udah jadi<em> circular reference</em>. Muter di situ-situ aja.</p>
<p>Sayangnya, gak ada jalan pintas untuk menemukan solusi ini. Mau gak mau, ya gue masih harus menjalani lagi fase ini.</p>
<p><em>So yeah, that&#8217;s the update.</em></p>
<p><em>Another year, another (love) struggle.</em></p>
<p>Gue mulai merasa &#8216;romeogadungan&#8217; menjadi kutukan buat gue.</p>
<p><em>But anyhoo, I see you later!</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-delapan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1056</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Hidup Itu Adjustable</title>
		<link>https://romeogadungan.com/hidup-itu-adjustable/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/hidup-itu-adjustable/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2025 13:50:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=1035</guid>

					<description><![CDATA[Gue baru ganti mobil. Nggak, ini bukan postingan seperti itu di mana gue akan bragging mobil baru gue. This is [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gue baru ganti mobil.</p>
<p>Nggak, ini bukan postingan seperti itu di mana gue akan <em>bragging</em> mobil baru gue.</p>
<p><em>This is about something else.</em></p>
<p>Mobil gue mobil tua. Setelah lama menimbang-nimbang (dan menabung), memang sudah saatnya mobil itu berganti. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mobil gue sebelumnya. Mobilnya masih enak, kaki-kakinya masih empuk, AC-nya masih dingin.</p>
<p>Tapi mobil itu nggak bisa lagi memenuhi kebutuhan gue.</p>
<p>Mobil gue yang lama adalah CRV tahun 2009, umurnya udah 16 tahun. <em>The very first big purchase I did with my paycheck after getting my master degree.</em></p>
<p><em>For those who know me, I take care of things. </em>Makanya barang-barang yang gue punya itu awet. Begitu juga dengan mobil ini. Kondisinya masih prima banget.</p>
<p>Yang menjadi masalah terbesar buat gue dengan mobil ini adalah letak <em>parking brake</em> nya yang ada di kaki kiri. Seinget gue beberapa mobil Honda memang fiturnya seperti ini, kayak Honda Freed dan Honda &#8211; CRV generasi lama.</p>
<p>Waktu gue beli dulu, tentu fitur ini bukan menjadi isu buat gue. Lha, gue masih sehat walafiat.</p>
<p>Tapi belakangan, dengan kaki kiri yang relatif masih lebih lemah dari kaki kanan, fitur ini menyusahkan gue sekarang. Gue gak bisa nyetir sendiri.</p>
<p>Jadi dengan alasan itu, gue harus ganti mobil.</p>
<p>Gue butuh mobil yang lebih modern dengan fitur safety yang lebih lengkap yang bisa mengakomodir kondisi gue saat ini. Gue nggak bisa menunggu kondisi gue balik 100% seperti dulu, baru nyetir lagi karena waktu itu nggak tau kapan datangnya.</p>
<p><em>So, I need to adjust things. I need to adjust my life.</em></p>
<p>Dan saat waktu mobil itu tiba, gue langsung masuk dan duduk di kursi pengemudi. Jauh banget emang perkembangan teknologi dari sebuah mobil buatan 2009 jika dibandingkan dengan keluaran 2025.</p>
<p>Gap teknologi selama enam belas tahun langsung terasa.</p>
<p>Semua tombol yang sudah elektrik, layanan digital melalui <em>head unit</em> yang lengkap, hingga belasan <em>safety features</em> yang sudah siap untuk membantu gue kembali mengemudi.</p>
<p>Kaki kiri gue sekarang cukup diam di sana tanpa tugas. Kaki kanan pun tidak perlu bekerja keras karena dibantu fitur-fitur keselamatan tadi.</p>
<p>Dan setelah hampir 10 tahun setelah GBS, sekarang gue bisa kembali mengemudi di Jakarta. <em>I gained almost 100% of my independence like before GBS.</em></p>
<p><em>And it made me realized something.</em></p>
<p><em>Life is very adjustable.</em></p>
<p>Mobil ini ternyata bukan hal pertama yang gue sesuaikan dalam hidup gue, mengikuti kondisi gue saat ini.</p>
<p>Kursi plastik di kamar mandi, <em>to adjust my showering process.</em></p>
<p><em>Standing desk</em> di kantor, <em>to adjust my working condition, following my needs to regularly exercise.</em></p>
<p><em>Even my team know and understand my physical needs and limitations.</em> Ketika mereka <em>setup</em> <em>meeting</em> atau bikin <em>event</em>, mereka pasti sudah memperhatikan akses masuk buat gue tanpa harus diminta.</p>
<p>Semua hal yang sekarang yang berputar dalam hidup gue ternyata sudah gue atur sedemikian rupa untuk mengikuti kebutuhan gue.</p>
<p>Jadi inti dari cerita gue kali ini adalah, <strong><em>adjust your life. </em></strong></p>
<p>Ada banyak hal-hal yang bisa kita ubah mengikuti kebutuhan kita saat ini. Ada banyak hal-hal yang memang harus kita tinggalkan karena memang sudah tidak sesuai. Baik itu orang, pekerjaan, barang atau bahkan hubungan.</p>
<p>Kita kadang memang suka khawatir berlebihan. Ngerasa kalut dan takut kalau kita kehilangan sesuatu dalam hidup. Rasa &#8220;kehilangan&#8221; yang terpantik itu seolah memicu naluri-naluri primitif di dalam otak yang seolah sudah siap untuk langsung membuat skenario-skenario paling buruk.</p>
<p>Padahal sering kali, kenyataannya tidak seperti itu. Bahkan gue pernah baca bahwa sekitar 85% hal yang kita khawatirkan dalam hidup itu sebenarnya tidak akan pernah terjadi.</p>
<p>Lima belas persen sisanya, akan terjadi <em>anyway</em>. Lantas, kenapa harus khawatir?</p>
<p>Pun terjadi, ingat aja cerita gue dengan kaki gue saat ini.</p>
<p>Kita akan terus bisa hidup meskipun kita kehilangan pekerjaan itu. Kita akan terus bisa makan meskipun ditinggalkan orang-orang tertentu yang memutuskan untuk pergi atau dipaksa pergi. Sama seperti gue yang bisa nyetir kembali dengan beberapa perubahan, kalian juga harusnya bisa &#8220;menyetir&#8221; lagi hidup kalian sesuai keinginan dan kebutuhan kalian.</p>
<p>Nggak perlu takut, karena memang ya.. hidup itu <em>adjustable</em>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/hidup-itu-adjustable/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1035</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Lifter Gadungan</title>
		<link>https://romeogadungan.com/lifter-gadungan/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/lifter-gadungan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2025 11:25:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=1016</guid>

					<description><![CDATA[Buat yang ngikutin gue di Instagram, mungkin udah tau kalau 1 tahun belakangan ini gue rutin ngegym. Sesekali gue upload [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Buat yang ngikutin gue di Instagram, mungkin udah tau kalau 1 tahun belakangan ini gue rutin ngegym. Sesekali gue upload aktivitas atau progress gue latihan di sana.</p>
<p>Bahkan gue udah jelasin alasan kenapa gue mulai latihan di <a href="https://romeogadungan.com/ngegym-di-kursi-roda/">tulisan ini.</a></p>
<p>Beberapa minggu lalu, trainer gue si Gaida bilang kalau gym gue bikin kompetisi power lifting. Dan dia nawarin gue untuk ikutan.</p>
<p>“Ayo bang, ikutan. Biar seru. Biar jadi inspirasi buat yang lain biar gak males latian.”</p>
<p>Berulang kali gue menepis ide itu. Ngapain woi? Nyari apa?</p>
<p>Tapi berulang kali, Gaida menawarkan. Manager gym gue bahkan ampe ikutan nanya memastikan “Mas Tirta ikutan kompetisi nanti?”</p>
<p><em>I can sense there’s a PR side of it if I joined the event.</em> Jadi, yauda lah.</p>
<p>Gue bantuin Gaida untuk sekalian “jualan”. Karena gimana pun, <em>progress</em> gue adalah portfolio Gaida. Semakin banyak yang melihat hasil kerjanya, akan semakin bagus buat karirnya. Gue ngerti.</p>
<p>Jadi ketika Gaida nawarin lagi, gue langsung iyakan.</p>
<p><em>So be it.</em></p>
<p>Gue jelasin sedikit kompetisinya buat kalian pembaca blog ini.</p>
<p>Sebenarnya kompetisi ini ada tiga jenis, deadlift, squat dan bench press. Setiap peserta harus mengikuti ketiganya dan dari setiap jenis itu, ada tiga kali angkatan.</p>
<p>Jadi setiap orang bisa meningkatkan beban yang mereka angkat di setiap kali angkatan secara berjenjang.</p>
<p>Karena gue bukan peserta reguler dan gak bisa ikutan deadlift dan squat, gue ikut yang bench press aja. Gerakan tiduran di bangku sambil mengangkat beban. Tau kan yang gimana gerakannya?</p>
<p>Yauda, gue ikut yang itu.</p>
<p>Di hari H, datanglah gue ke gym dengan niat menjadi peserta eksebisi. Dan sesampainya di gym, gue menemukan sebuah kenyataan yang berbeda.</p>
<p><em>People take this competition seriously!</em></p>
<p>Gue kirain hanya lomba lucu-lucuan antara sesama <em>member</em> gym ini. Tetapi ternyata nggak. Mayoritas peserta bahkan bukan <em>member</em> di sini dan rela membayar untuk ikut sebuah event di akhir pekan.</p>
<p>Langsung ciut lah mental gue.</p>
<p>Keseriusan itu sebenarnya sudah bisa kita lihat dari pakaian mereka.</p>
<p>Masing-masing memakai pakaian <em>pressbody</em> ala weightlifter yang sering kita lihat di Olimpiade. Katanya untuk mengunci otot agar tidak mudah bergeser sehingga bisa bekerja lebih keras.</p>
<p>Tidak lupa pula melingkar belt besar dari kulit dipinggang yang gue duga biar nggak turun bero waktu ngangkat?</p>
<p><em>I don&#8217;t know.</em></p>
<p>Di satu pojok, beberapa lifter yang pemanasan sambil minum <em>protein shake</em> dan menepuk-nepukkan kapur di telapak tangannya. Di satu sisi ada yang pemanasan disuapin pisang ama pasangannya. Di ujung sana ada yang sudah mulai melakukan peregangan agar tidak cidera.</p>
<p><em>It&#8217;s a serious event. I didn&#8217;t expect this.</em></p>
<p>&#8216;Yang itu dari Bandung, Bang. Mereka lumayan terkenal untuk level nasional.&#8221; bisik Gaida ke gue.</p>
<p>Sementara di sini, ada gue yang baru latihan ngegym setahun yang lalu. Duduk kursi roda karena masih kekenyangan akibat sarapan bubur tadi pagi.</p>
<p>Sekarang masih sesi deadlift, sesi bench press ada di bagian paling akhir jadwal hari ini.</p>
<p>Dari pengeras suara, panitia berulang kali memanggil nama peserta dan jumlah angkatan yang mereka lakukan.</p>
<p>170 kg! 195kg! 200kg!</p>
<p>Buset deh! Ini orang-orang kerjanya apa? Kuli beras apa gimana? Jumlah angkatannya jauh banget dari gue.</p>
<p>Oke, gue jelasin dulu seberapa berat beban yang gue bisa angkat beban.</p>
<p>Latihan bench press sebenarnya belum lama gue lakukan, mungkin baru 7-8 bulan terakhir. Latihan-latihan pertama yang gue lakukan bersama Gaida adalah rotasi dan penguatan core karena kondisi gue yang udah kelamaan di kursi roda.</p>
<p>Waktu pertama kali ngangkat beban, bahkan gue cuma dikasi ngangkat batangnya aja.</p>
<p><em>Only the bar! </em></p>
<p>Beratnya 20kg tanpa beban apapun di kiri kanan. Berat standar batang yang digunakan untuk angkat beban.</p>
<p>Itu pun udah cape buat gue. Pelan-pelan, berat itu ditambah ama Gaida setiap kali gue latihan.</p>
<p><em>Every time I went to gym, the weight changed.</em> Dari awalnya 20kg, 30kg, 35kg, 40kg, 50kg, &#8230;..</p>
<p><em>Day by day..</em></p>
<p>Dan dua hari sebelum event, gue bisa mengangkat 67,5 kg. Itu <em>personal best (PB)</em> gue.</p>
<p>Gue nggak pernah mengangkat lebih berat dari itu.</p>
<p>Dan menurut hitungan Gaida, gue bisa naik dari 65kg, 68kg hingga ke 70kg di event kali ini. Gaida punya rumus gimana dia bisa dapetin angka itu. Gue nggak tau pasti caranya gimana, gue percayakan itu ke Gaida.</p>
<p>Dengan rencana ini, toh kalau gue gagal di angkatan ketiga, gue udah berhasil di dua sebelumnya. Gak jelek-jelek amat untuk seorang peserta ekshibisi.</p>
<p>Tapi saat mendaftar ulang, panitia membawa kabar buruk buat gue.</p>
<p>Karena gue adalah peserta ekshibisi, gue cuma dikasi 1x angkatan.</p>
<p>Jadi bukan 3x seperti peserta lain. Mungkin biar gak terlalu lama memakan waktu yang lain. Lagi-lagi, gue ngerti.</p>
<p>Yauda, <em>this is it. One attempt only. Make it or break it!</em></p>
<p>Gue gak punya opsi untuk mengukur kekuatan angkatan kali ini. Gak bisa <em>trial</em> dulu dari 65kg lalu naik ke 70kg seperti rencana gue di awal.</p>
<p>Gue harus menentukan beban yang mau gue angkat di awal.</p>
<p>&#8220;Langsung 70kg aja ya bang?&#8221; saran Gaida.</p>
<p>&#8220;Bisa gue, Gai?&#8221; gue gak yakin.</p>
<p>&#8220;Bisaaaa..&#8221; kata Gaida mantap.</p>
<p>Gue langsung diajak pemanasan ama Gaida, mulai dari <em>stretching</em> hingga repetisi benchpress mulai dari 40kg naik hingga 65 kg.</p>
<p>Di angkatan yang 65kg, gue gagal. Udah gak keangkat lagi. Gue udah kecapean.</p>
<p>&#8220;Apa kayaknya 68kg aja ya Bang? Yang terakhir udah nggak keangkat tuh..&#8221; tanya Gaida.</p>
<p>&#8220;Nggak tau, gue ngikut aja..&#8221;</p>
<p>Giliran gue makin mendekat. Sesi deadlift dan squat sudah selesai.</p>
<p>Area &#8216;panggung&#8217; utama mulai dibersihkan dan dijadikan arena untuk bench press. Di kiri kanan bangku bench press tersebut ada dua referee, satu lagi di bagian kepala peserta. Masing-masing dari mereka memegang bendera putih dan merah.</p>
<p>Kata Gaida, kalau bendera putih artinya angkatannya oke. Kalau merah artinya gagal, mungkin karena postur atau tekniknya yang salah.</p>
<p>Jika dua dari <em>referee</em> tersebut mengibarkan bendera merah, artinya angkatan itu gagal. Jika dua atau tiga-tiganya mengibarkan bendera putih, artinya angkatan itu berhasil.</p>
<p>Dan gue perhatikan, MC dan penonton biasanya akan berteriak &#8220;good lift!&#8221; ketika angkatan peserta berhasil, terlepas dari siapa yang mengangkat. Harus gue akui, <em>crowd weight lifting</em> ini asik dan suportif sekali.</p>
<p>Dan giliran gue pun akhirnya tiba.</p>
<p>&#8220;Jadi bang, pastikan <em>unrack</em> dulu, naikin di atas ampe sikunya ngunci. Trus turunin pelan ampe ke dada. Ketika panitia teriak &#8216;press&#8217; baru diangkat ya!&#8221; Gaida memberikan wejangan terakhir buat gue.</p>
<p>Gue udah nggak fokus.</p>
<p>Suara Gaida udah terdengar samar-samar. Pandangan gue udah cuma terpaku ke bangku itu. Gue cuma pengen mendengar &#8220;Good Lift!&#8221; kali ini.</p>
<p><em>No more, no less. </em></p>
<p>Penonton juga kayaknya udah berharap ama gue. Sayang aja rasanya udah kesini dan menunggu berjam-jam terus angkatan gue gagal.</p>
<p>Kayak lo udah ngantri, beli tiket konser Raisa, trus pas Raisanya, nyanyi suaranya fals.</p>
<p>Kan gak enak.</p>
<p><em>So I need to give my best.</em> Gue cuma punya satu kesempatan.</p>
<p>Aku adalah Raisa. Aku adalah Raisa.</p>
<p>Teriakan penonton udah mulai bergemuruh (anjay).</p>
<p>Ketika nama gue dipanggil, gue mendekat ke bangku. Berjalan pelan-pelan dengan walker gue. Gue adalah satu-satunya peserta dengan disabilitas di sini. Beberapa tepuk tangan sedikit menghilangkan rasa gugup yang gue alami.</p>
<p>Gue mulai mengambil posisi tiduran. Tangan gue erat menggenggam besi itu. Ini adalah bar yang dipake khusus untuk kompetisi.</p>
<blockquote><p><em>Sedikit lebih kasar dari biasanya.</em></p></blockquote>
<p>&#8220;Bar is loaded.&#8221; kata MC di pengeras suara.</p>
<p>&#8220;Up!&#8221;</p>
<p>Gue pindahkan beban itu terangkat dari penyangganya. Berat.</p>
<blockquote><p><em>Berapa nih? 68kg? kok lebih berat dari biasanya?</em></p></blockquote>
<p>Siku gue sudah mengunci sempurna.</p>
<p>Gue turunin beban itu hingga menyentuh dada.<em> It&#8217;s now or never.</em></p>
<p>Entah kenapa, waktu seperti berjalan lebih lambat dari biasanya.</p>
<p>&#8220;Press!&#8221; teriak panitia.</p>
<p>Gue langsung hentakkan sekuat tenaga. Otot-otot lengan langsung berkontraksi, seperti berteriak untuk mengeluarkan asam laktat.</p>
<blockquote><p>Arrrgggghhhh&#8230;</p></blockquote>
<p>Sayup-sayup terdengar teriakan penonton memberikan dukungan terakhir melihat lengan gue yang mulai bergetar.</p>
<blockquote><p>Mmmmmppphhhhhh&#8230; Beraaaattttttt&#8230;</p></blockquote>
<p>Gue paksakan sisa-sisa tenaga hari ini untuk keluar.</p>
<p><em>I can&#8217;t let the crowd down. I can&#8217;t let my coach down. And the most important thing, I can&#8217;t let myself down.</em></p>
<blockquote><p>Arrggghhhh&#8230; Aku adalah Raisaaaaaa&#8230;..</p></blockquote>
<p><em>And boom</em>, gue bisa meluruskan lengan dengan sempurna.</p>
<p>Gue dorong beban itu ke belakang hingga tersandar di rak penyangganya.</p>
<p>Dengan sudut mata, gue melihat referee di samping gue mengangkat bendera putih di tangannya.</p>
<p>&#8220;Good lift!&#8221; teriak MC dari pengeras suara.</p>
<p>Dan yah&#8230;.</p>
<p>Rasa lega itu langsung menyeruak dalam hati.</p>
<p>Gaida langsung membantu gue untuk duduk kembali.</p>
<p>&#8220;Berapa tadi tuh, Gai?&#8221; tanya gue.</p>
<p>&#8220;70kg, Bang!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah? PB gue, dong?&#8221; gue memastikan karena tidak percaya.</p>
<p>&#8220;Iya, makanya. Mantap!&#8221;</p>
<p><em>And that&#8217;s it.</em></p>
<p>Sesi gue jadi lifter gadungan berakhir sudah. Gue pindah ke samping memberikan kesempatan untuk lifter berikutnya tampil. Tentu dengan beban yang lebih berat.</p>
<p><em>But they are not my competitors. I am against myself in this journey.</em></p>
<p>Personal best 70kg kali ini sudah jauh lebih hebat dari 20kg berat batangnya saja saat pertama kali gue latihan.</p>
<p>Dan sekarang, saatnya Raisa latihan lagi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/lifter-gadungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1016</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Tiga Puluh Tujuh</title>
		<link>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-tujuh/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-tujuh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2025 01:10:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=985</guid>

					<description><![CDATA[Let me tell you something. Gue bisa bilang kalau salah satu hal paling aneh di hidup gue adalah mengetahui adanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Let me tell you something.</em></p>
<p>Gue bisa bilang kalau salah satu hal paling aneh di hidup gue adalah mengetahui adanya segelintir orang yang rutin balik setahun sekali ke blog ini hanya untuk membaca sebuah postingan ulang tahun.</p>
<p>Orang-orang yang gue bahkan nggak kenal dengan mereka. Aneh ya?</p>
<p>Tapi yang jelas, di tanggal 15 April setiap tahunnya, mereka selalu ingat untuk kembali ke sini dan membaca sebuah tulisan refleksi gue.</p>
<p><em>And you know what</em>, ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun!</p>
<p>Jadi<em>, shoutout</em> buat kalian yang masih rajin menunggu tulisan ulang tahun gue.</p>
<p>Mari kita mulai tulisan tahun ini.</p>
<p>Tiga puluh tujuh.</p>
<p><em>Well</em>, kayaknya entah udah berapa kali gue menulis tulisan tahunan ini.</p>
<p>Tapi untuk pertama kalinya, kali ini gue benar-benar merasa sudah tua.</p>
<p>Mungkin di beberapa tulisan ke belakang gue selalu bercanda mengenai hal ini, tapi kayaknya baru kali ini gue benar-benar merasakannya.</p>
<p><em>Not only I feel old, I am old.</em></p>
<p>Masih ingat rasanya pertama kali ketika gue memulai menulis tulisan seperti ini beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Gue bahkan sudah lupa di umur berapa gue pertama kali memulai kebiasaan ini, tapi yang jelas kayaknya masih di awal umur dua puluhan.</p>
<p>Sejak saat itu, tulisan ulang tahun selalu ada dan selalu gue usahakan.</p>
<p>Selain karena ada segelintir orang tadi yang biasanya akan ‘menagih’ tulisannya di Twitter, tulisan-tulisan ini seolah menjadi manifestasi kehidupan gue ke depan.</p>
<p>Semua hal yang gue tulis, <em>somehow</em> bisa terjadi aja gitu.</p>
<p><em>Maybe not immediately, but eventually.</em></p>
<p>Jika di awal umur dua puluhan, target pertama gue waktu itu adalah berhasil menerbitkan tulisan-tulisan gue sebagai buku…</p>
<p><em>I achieved that. I published three books since then.</em></p>
<p>Lalu berlanjut ke niat gue untuk sekolah lagi dengan berusaha mendapatkan beasiswa S2 ke luar negeri&#8230;</p>
<p><em>I got that. I went to Aberdeen and came back with a master degree.</em></p>
<p>Lalu berganti dengan angan-angan untuk punya usaha sendiri, <em>I built that.</em></p>
<p>Bahkan, sekarang sudah menginjak tahun kelima gue menjalani <em>entrepreneurship journey</em> gue.</p>
<p>Jadi sepertinya, menulis <em>wishlist</em> gue di blog ini seolah menjadi cara cepat bagi semesta untuk bekerja. <em>A shortcut to achievable things in my life.</em></p>
<p>Mempertimbangkan hal itu, di umur tiga puluh tujuh ini, gue jadi benar-benar berpikir.</p>
<p>Apa lagi ya hal yang gue pengen raih sekarang?</p>
<p>Jika ditanya hal apa yang ada di urutan paling atas: <span style="text-decoration: underline;">kemampuan untuk berjalan lagi</span> mungkin adalah jawabannya.</p>
<p>Tapi melihat <em>progress</em> kekuatan kaki gue sejak mulai ngegym, gue rasa itu hanya masalah waktu saja hingga nanti gue bisa benar-benar 100% lepas dari kursi roda.</p>
<p>Lalu, hal apa yang ada di urutan berikutnya?</p>
<p>Dan untuk pertama kalinya sejak gue menulis tulisan serupa belasan tahun yang lalu, entah kenapa muncul satu hal yang selama ini seolah tidak pernah menjadi target gue: menikah.</p>
<p>Hehe.. agak malu ya?</p>
<p>Jujur nulisnya agak geli aja gitu. Om-om umur tiga puluh tujuh kayak kebelet kawin. <em>But hey, I am being honest here.</em></p>
<p>Gue rasanya udah nggak perlu cerita bagaimana tuntutan untuk gue menikah sudah muncul dari keluarga. Hal itu udah terjadi dari belasan tahun yang lalu dari saat gue pertama kali kerja.</p>
<p>Mulai dari pertanyaan sederhana &#8216;kapan nikah?&#8217; hingga ide untuk menjodohkan gue dengan salah satu santriwati pesantren udah pernah muncul di keluarga gue.</p>
<p>Bokap gue bahkan udah membeli 2 ekor anakan lembu untuk resepsi pernikahan gue nanti. <em>(Suatu sikap luar biasa optimis mengingat calonnya aja belum jelas siapa).</em></p>
<p>Setiap kali ke Jakarta, selalu ada aja selentingan dari dia..</p>
<p>&#8220;Jadi kapan kita resepsi? Itu lembu udah gede!&#8221;</p>
<p>Pertanyaan itu membuat gue bertanya-tanya tentang prioritas bokap, apakah itu kebahagiaan gue atau semata memikirkan nasib ternak lembunya.</p>
<p>Tapi terlepas dari urusan lembu, <em>getting married does not seem like a bad idea now.</em></p>
<p>Dulu gue pernah bertanya ke si Roy tentang alasan dia untuk akhirnya memutuskan menikah. Dan dia memberikan analogi yang cukup menggelitik.</p>
<p>&#8220;Hidup itu kayak main <em>game</em>, Ta.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada beberapa <em>stage</em> atau <em>level</em> yang harus kita jalani. Setiap <em>level</em>, ada bosnya masing-masing yang harus kita kalahkan. Dan buat gue, <em>level</em> yang gue mainin sekarang udah tamat. Saatnya naik ke <em>level</em> selanjutnya dan mengalahkan bos yang ada di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau gue gak lanjut, ya gue akan disini-sini aja mengalahkan bos yang udah pernah gue kalahin.&#8221; kata si Roy beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Dan di umur tiga puluh tujuh ini, <em>I can finally relate to that.</em></p>
<p>Gue mencoba untuk introspeksi dan bertanya ke diri sendiri.</p>
<p>Apa lagi ya? Semuanya kayaknya udah.</p>
<p><em>Life has more to offer than this, right? I don&#8217;t know why, but now I feel like I need to fight other bosses in life. And I think I am ready for it.</em></p>
<p>Gue pernah baca bahwa ada perbedaan jelas antara <span style="text-decoration: underline;">seseorang yang cuma pengen punya istri dan anak</span> dengan <span style="text-decoration: underline;">seseorang yang mau untuk jadi seorang suami dan seorang ayah.</span></p>
<p>Banyak orang jatuh di kategori yang pertama dan akhirnya pernikahannya nggak bahagia.</p>
<p><em>But the more I think about it, the more I categorize myself into the second category. </em></p>
<p>Dan seperti sebuah <em>game</em>, gue sepertinya sudah menyelesaikan banyak <em>side quests, </em>ngumpulin senjata dan <em>armor</em> untuk bisa <em>leveling up </em>untuk menghadapi bos berikutnya.</p>
<p>Dari sisi finansial, kayaknya gue udah bisa menanggung satu (atau mungkin dua) orang lagi di dalam hidup gue.</p>
<p>Dari sisi kematangan emosional, kayaknya gue udah bisa mengesampingkan ego pribadi demi mencapai sebuah tujuan bersama yang lebih besar dan lebih mulia.</p>
<p>Dari sisi spiritual, kayaknya gue udah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. <em>To lead by example.</em></p>
<p>Jadi, meskipun gue sebenarnya rada malu untuk mengakui dan menulis hal ini. <em>I think I am ready to start (and lead) a small family.</em></p>
<p>Di umur tiga puluh tujuh ini, meskipun sebenarnya sudah jauh dari standar umur lelaki Indonesia untuk menikah, om-om satu ini kayaknya udah siap.</p>
<p>Lagipula, ada dua lembu yang sudah menunggu gue.</p>
<p><em>So, maybe?</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>*Mooooooooo..* sayup-sayup terdengar suara lembu dari kejauhan.</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/tiga-puluh-tujuh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>7</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">985</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Boh Boh Droe</title>
		<link>https://romeogadungan.com/boh-boh-droe/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/boh-boh-droe/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Dec 2024 12:51:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=957</guid>

					<description><![CDATA[Ada sebuah frasa dalam bahasa Aceh yang cukup menarik buat gue. Selama ini, frasa ini tanpa disadari menjadi salah satu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah frasa dalam bahasa Aceh yang cukup menarik buat gue. Selama ini, frasa ini tanpa disadari menjadi salah satu prinsip gue dalam menjalani hidup.</p>
<p>Entah bagaimana, prinsip ini muncul tanpa disengaja di kepala gue beberapa hari yang lalu.</p>
<p>Dan seperti sebuah kerikil kecil yang masuk ke dalam sepatu, ide ini terngiang-ngiang terus-terusan dan membuat gue berpikir sepertinya hal ini menjadi sebuah ide yang bisa gue bagikan ke kalian semua.</p>
<p>Frasa itu adalah<em> Boh Boh Droe.</em></p>
<p>Secara harfiah, dalam bahasa Indonesia, <em>boh boh droe</em> berarti &#8216;membuang diri sendiri&#8217;.</p>
<p>Tapi jika digali lebih dalam, <em>boh boh droe</em> gue rasa lebih tepat dimaknai sebagai &#8216;menyia-nyiakan diri sendiri&#8217;.</p>
<p>Frasa ini cukup unik menurut gue. Karena gue nggak pernah mendapatkan nasihat mengenai prinsip seperti <em>boh boh droe</em> dalam bahasa atau budaya lain.</p>
<p>Mungkin ada, tapi gue-nya aja yang belum terpapar secara lebih jauh.</p>
<p>Tapi buat orang Aceh, <em>boh boh droe</em> sering kali terucap sebagai bentuk pengejawantahan sebuah bentuk untuk mencintai diri sendiri.</p>
<p><em>Love yourself,</em> kalau dalam bahasa Inggris.</p>
<p>Tanpa disadari, orang Aceh sudah mengenal prinsip <em>self-love</em> ini jauh sebelum hal ini menjadi ide yang populer seperti sekarang ini.</p>
<p>Prinsip <em>boh boh droe</em> nggak pernah diajarkan secara formal. Tidak ada bentuk pengajaran ide ini di bangku sekolah.</p>
<p>Tidak pernah ada juga sesi khusus antara orang tua dan anak, yang duduk bersama kemudian membahas prinsip ini.</p>
<p>Biasanya, <em>boh boh droe</em> keluar dari mulut orang tua ketika melihat anaknya duduk termangu.</p>
<p>Atau ketika si anak sayu karena patah hati.</p>
<p>Atau bisa juga ketika sedang tidak semangat menjalani hidup karena kerjaan yang tidak sesuai dengan <em>passion</em>.</p>
<p>Contoh: &#8220;Bek ka boh boh droe keu agam lagee nyan..&#8221; (Jangan buang-buang diri hanya untuk laki-laki kayak gitu..)</p>
<p>Dan buat gue pribadi, 2024 adalah waktu di mana <em>boh boh droe</em> menjadi sebuah tema hidup yang muncul kembali.</p>
<p>Gue kembali diingatkan bahwa hidup lebih berharga dari pada tinggal di sebuah tempat yang salah. Lebih dinamis dari pada terpaksa diam di dalam sebuah hubungan yang statis. Dan lebih berwarna daripada tetap berada dalam sebuah hubungan yang sudah terasa abu-abu.</p>
<p>2024 mengajarkan gue untuk tau di mana menempatkan diri gue.</p>
<p><em>2024 taught me to never negotiate your value.</em></p>
<p>2024 mengajarkan gue untuk nggak pernah &#8216;boh boh droe&#8217;</p>
<p>Mungkin prinsip ini juga bisa kalian gunakan.</p>
<p>Jika di tahun 2024 kalian merasa <em>stuck</em> di sebuah tempat, di sebuah pekerjaan, atau di sebuah hubungan dan kalian merasa sudah tidak nyaman diam di sana..</p>
<p>Tanyakan hal ini kepada diri kalian sendiri..</p>
<blockquote><p>&#8220;Do I deserve to be treated like this?&#8221;</p>
<p>&#8220;Is this something that I truly want?&#8221;</p></blockquote>
<p>Dan jika jawabannya &#8216;tidak&#8217;, <em>be brave enough to walk away. </em></p>
<p><em>Be brave enough to know your worth even though it&#8217;s scary to cut the ties.</em></p>
<p><em>Even though you will be alone for some time. And I am not gonna lie, it is frightening!</em></p>
<p>Karena di dalam otak primitif kita ini, masih terpatri insting bertahan hidup dari seekor kera. Di mana perasaan ditolak, masih diasosiasikan dengan perasaan dikucilkan. Perasaan dibuang dan tidak diinginkan.</p>
<p><em>Being outcasted is really against our instinct as a species. Because back in hunter and gatherer era, being outcasted meant you need to do it all alone. And it will affect your survivability. </em></p>
<p>Bayangin aja gimana susahnya hidup sendiri di jaman purba. Nyari makan sendiri. Belum ada go-food. Keluar goa selalu was-was diterkam singa.</p>
<p>Hidup akan jauh terasa susah dibandingkan hidup secara komunal dan berkelompok.</p>
<p>Sayangnya di jaman modern ini, otak kita masih terlalu primitif untuk menerjemahkan impuls-impuls serupa.</p>
<p>Kita masih mengasosiasikan perasaan ditolak dan hidup sendirian sebagai hal yang mengerikan. Merasa kalau tidak ada yang mau ama kita. Merasa kalau diri ini akan selalu kurang. Merasa bahwa diri ini tidak layak untuk menerima cinta.</p>
<p>Merasa bahwa hidup akan terasa jauh lebih sulit ke depannya.</p>
<p><em>It feels like shit, I know. But that&#8217;s just your primitive instinct kicked in. </em></p>
<p><em>After a while, I promise you will be okay.</em></p>
<p>Seperti sebuah puzzle yang dikerjakan secara perlahan, percayalah kalau setiap potongan (hidup) akan menemukan tempatnya masing-masing.</p>
<p><em>Before it&#8217;s getting too far from the first premise of the writing..</em></p>
<p><em>All I want to say is..</em></p>
<p><em>Be courageous enough to sit with the discomfort of being alone. </em></p>
<p><em>Because if you master the ability to sit and eat alone, you&#8217;ll be very selective on deciding who deserves a seat at your table.</em></p>
<p>Jadi di 2025, jangan <em>boh boh droe</em> untuk sesuatu hal yang tidak layak untuk lo!</p>
<p><em>Happy New Year, guys!</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/boh-boh-droe/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">957</post-id>	</item>
		<item>
		<title>How It Feels</title>
		<link>https://romeogadungan.com/how-it-feels/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/how-it-feels/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Nov 2024 10:44:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=934</guid>

					<description><![CDATA[I stumbled something on TikTok that really describes how it feels to be a disabled person. I can&#8217;t find better [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>I stumbled something on TikTok that really describes how it feels to be a disabled person.</p>
<p>I can&#8217;t find better words to express it, so I will copy paste everything here..</p>
<hr />
<p>If you asked me what being paralyzed is like..</p>
<p>I would tell you that it&#8217;s hard.</p>
<p>But if you were to ask me on a deeper level..</p>
<p>I would describe it as living life from the sidelines.</p>
<p>As someone who was an athlete my whole life, being forced to sit still broke me.</p>
<p>I can no longer move freely or do whatever I want. Imagine if you could only go where there&#8217;s concrete.</p>
<p>Every time I go to a new restaurant, I have to plan ahead and call to make sure it&#8217;s accessible.</p>
<p>Being a quadriplegic is difficult in ways people do not always understand.</p>
<p>It&#8217;s not just about losing movement.</p>
<p>It&#8217;s losing spontaneity, the sense of independence, and the freedom just to get up and go.</p>
<p>Deep down, it feels like part of me was taken, and no amount of adjusting can fill that void.</p>
<p>Some days, the frustration and isolation are overwhelming, even when I try to stay positive..</p>
<p><img data-recalc-dims="1" fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-935 size-large" src="https://i0.wp.com/romeogadungan.com/wp-content/uploads/2024/11/Screenshot-2024-11-15-at-17.43.02.png?resize=578%2C1024&#038;ssl=1" alt="" width="578" height="1024" srcset="https://i0.wp.com/romeogadungan.com/wp-content/uploads/2024/11/Screenshot-2024-11-15-at-17.43.02.png?resize=578%2C1024&amp;ssl=1 578w, https://i0.wp.com/romeogadungan.com/wp-content/uploads/2024/11/Screenshot-2024-11-15-at-17.43.02.png?resize=169%2C300&amp;ssl=1 169w, https://i0.wp.com/romeogadungan.com/wp-content/uploads/2024/11/Screenshot-2024-11-15-at-17.43.02.png?w=693&amp;ssl=1 693w" sizes="(max-width: 578px) 100vw, 578px" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/how-it-feels/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">934</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ngegym di Kursi Roda</title>
		<link>https://romeogadungan.com/ngegym-di-kursi-roda/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/ngegym-di-kursi-roda/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Sep 2024 07:00:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=909</guid>

					<description><![CDATA[Gue nggak suka ngegym. Mungkin nggak banyak yang tau, tapi kalau dilihat dari olahraga yang gue geluti sebelum GBS, ngegym [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gue nggak suka ngegym.</p>
<p>Mungkin nggak banyak yang tau, tapi kalau dilihat dari olahraga yang gue geluti sebelum GBS, ngegym emang nggak pernah jadi bagian dari aktivitas itu.</p>
<p>Gue bisa jelasin logika berpikirnya. <em>And mind you, this is my rationalization.</em></p>
<p>Hal ini mungkin sedikit banyak disebabkan oleh sifat kompetitif yang gue miliki, hampir dalam semua aspek kehidupan. Sebuah karakter yang emang nggak terlalu baik, IMO.</p>
<p>Begitu juga dengan pemilihan jenis olahraga. Dari dulu, gue selalu memilih olahraga yang kompetitif di mana gue bisa “mengalahkan” orang lain atau bahkan tim lain.</p>
<p>Itu lah kenapa olahraga yang dulu gue geluti adalah sepakbola, futsal, badminton, hingga muaythai.</p>
<p>Harus ada pihak yang harus jadi ‘lawan’ gue dan berusaha gue kalahkan dalam berolahraga. Keringat yang mengucur adalah sebuah efek samping.</p>
<p>Tapi sejak GBS, tentu kondisinya tidak bisa seperti itu lagi.</p>
<p>Saat ini, ngegym adalah satu-satunya olahraga yang bisa gue tekuni. Itu pun setelah berani mencoba lagi sejak delapan tahun di kursi roda.</p>
<p>Mundur sedikit, biar enak ceritanya.</p>
<p>Belakangan, gue menyadari bahwa gue semakin lemah. <em>And I hate being weak.</em></p>
<p>Gue pernah baca kalau menginjak umur 40, laki-laki akan terbelah menjadi dua golongan.</p>
<p>Di umur segitu, akan terlihat jelas mana laki-laki yang rutin berolahraga dan mana yang mulai sakit-sakitan semakin lemah tergerus umur.</p>
<p><em>And fuck that,</em> empat tahun lagi gue akan menyentuh 40 dan gue nggak mau menjadi golongan yang kedua.</p>
<p>Kayaknya udah cukup selama delapan tahun terakhir, gue menggantungkan harapan bahwa suatu saat kekuatan kaki gue akan kembali dan gue akan bisa berjalan lagi.</p>
<p>Sudah cukup banyak waktu yang gue habiskan untuk menunggu, bahwa suatu saat sebuah keajaiban akan muncul dan mengembalikan kemampuan gue berjalan.</p>
<p>Gue sempat berpikir, seperti halnya waktu sakit dulu, harusnya sembuhnya juga akan datang seperti sakitnya, terjadi secara tiba-tiba. Tapi ternyata tidak demikian.</p>
<p>Jadi setelah delapan tahun menunggu “one day”, gue memutuskan untuk memulai “day one”.</p>
<p>Dan ngegym adalah pilihan yang gue ambil.</p>
<p>Ini pun terjadi setelah gue menemukan <em>trainer</em> yang tepat.</p>
<p>Gue sudah pernah mencari dan berkonsultasi dengan beberapa <em>personal trainer</em> lain tentang kondisi gue. Mereka semua tampak ragu dan meminta gue untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu sebelum memulai latihan.</p>
<p>Mungkin bukan sepenuhnya salah mereka, kondisi penyakit gue yang langka mungkin membuat mereka takut untuk mengambil risiko.</p>
<p>Tapi bersama <em>trainer</em> gue yang ini (<em>shoutout to Wilman!</em>), di sesi pertama konsultasi gue, setelah gue menjelaskan apa yang terjadi ama gue, terlihat jelas wajah keyakinan di dirinya.</p>
<p>”Bisa mas! Ayo, gue bantu!”</p>
<p><em>He’s willing to take that risk and that’s the type of trainer that I want. Even though it comes with a price.</em></p>
<p>Jadi gimana rasanya ngegym di kursi roda?</p>
<p>Cape. Banget.</p>
<p>Ada beberapa gerakan yang membuat gue berpikir “Ini harusnya nggak sesusah ini, kan?”</p>
<p>Karena, anjing lah. Kaki gue lemah banget!</p>
<p>Gue dipaksa untuk melakukan repetisi-repetisi gerakan yang bikin otot-otot di kaki gue kembali berkontraksi setelah diam beberapa tahun.</p>
<p>Latihan ini kembali mengingatkan kenapa gue nggak suka ngegym. Karena di gym, ‘lawan’ yang gue harus kalahkan adalah diri gue sendiri. Dan itu lebih susah.</p>
<p>Gue ‘dipaksa’ terus menarik besi-besi itu meski tau otot-otot gue sudah nyeri karena penuh dengan asam laktat yang bikin sakit.</p>
<p>DOMS (<em>Delayed Onset Muscle Soreness</em>) menjadi makanan rutin gue setelah latihan.</p>
<p>Efeknya apa?</p>
<p>Badan gue berasa digebukin setiap kali abis latihan. Dan tentu saja, tidur menjadi lebih cepat dan lebih nyenyak.</p>
<p>Di sisi lain, ngegym di kursi roda tampaknya masih menjadi hal yang aneh buat orang Indonesia. Sejak pertama kali latihan, sudah beberapa orang yang tersenyum dan mengacungkan jempol ketika melihat gue latihan.</p>
<p>Termasuk <em>owner</em> dari gym yang gue ikuti ini. Beberapa kali dia tersenyum dan mengajak gue ngobrol setiap kali gue memasuki gym dengan kursi roda gue.</p>
<p>Determinasi gue untuk tetap kuat dan menolak untuk jadi lemah sepertinya insipiratif untuk orang lain.</p>
<p>Gue nggak ada maksud begitu sebenarnya, gue hanya merasa kondisi gue saat ini nggak bikin gue bahagia. Dan harus ada yang berubah.</p>
<p>Di sisi lain, ada level independensi yang lebih tinggi yang pengen gue raih.</p>
<p>Gue pengen gue nggak terlalu tergantung lagi terhadap kursi roda ataupun bantuan orang lain.</p>
<p><em>That’s it. No more, no less.</em></p>
<p>Menjadi lebih kuat menjadi salah satu fitur penting dalam <a href="https://romeogadungan.com/project-tirta/">Project Tirta</a> yang lagi gue jalanin.</p>
<p>Dan seberapa pun bencinya gue untuk bangun pagi demi sarapan besi, sepertinya ngegym akan terus gue lakukan untuk beberapa saat ke depan.</p>
<p>Karena dunia nggak akan berhenti demi menunggu gue bisa berdiri lagi.</p>
<p>Jadi, sepertinya selama beberapa bulan ke depan, gue akan terus menjalani ngegym ini meskipun dengan “Ya Allah Ya Allah” setiap harinya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/ngegym-di-kursi-roda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">909</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Project Tirta</title>
		<link>https://romeogadungan.com/project-tirta/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/project-tirta/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Sep 2024 13:03:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=886</guid>

					<description><![CDATA[Gue dulu pernah ditanya: “Lo takut ama apa, Ta? Gue diem lama, nggak tau jawab apa. Karena emang, nggak tau [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight: 400;">Gue dulu pernah ditanya: “Lo takut ama apa, Ta?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue diem lama, nggak tau jawab apa. Karena emang, nggak tau gimana jawabnya tanpa terdengar seperti orang yang sengak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertanyaan ini lama nggak menemukan jawabannya hingga beberapa hari yang lalu, gue lagi scroll tiktok dan tiba-tiba nyadar aja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oke, kita mundur dikit biar enak ceritanya.</span></p>
<p>Tanpa berusaha terdengar seperti abang-abangan <em>alpha male</em>, b<span style="font-weight: 400;">elakangan gue emang lagi candu sekali dengan konten-konten </span><i><span style="font-weight: 400;">self-help</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang isinya gimana untuk terus meningkatkan kualitas diri. Baik dari sisi fisik, mental, pola pikir, wawasan investasi, <em>entrepreneurship</em>, ampe cara berpakaian dan <em>manners (Serius, topik how to dress ini seru banget untuk dikulik).</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue rutin melahap konten-konten tersebut, dari mulai buku-buku di Kindle, <em>short videos</em> di tiktok, dan video podcast dengan durasi yang lebih panjang di Youtube.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan khusus untuk Tiktok, algoritmanya sangat membantu gue. Sekali kita berinteraksi dengan video tersebut, algoritma Tiktok akan mendorong konten-konten serupa ke laman FYP-mu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan ya, gue akhirnya menemukan jawaban mengenai ketakutan tadi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal yang paling gue takuti di dunia ini adalah: <strong>stagnasi.</strong> Gue takut aja gue nggak berkembang dan berada di situ-situ aja.</span></p>
<p>Dan ternyata habit ini sebenarnya udah ada dari dulu. Gue selalu ber-<em>progress</em>.</p>
<p>Dari Aceh merantau ke Bandung. Dari Bandung hijrah bekerja di Jakarta. Ketika gue ngerasa bosan bekerja, gue akhirnya memutuskan untuk S2 ke Aberdeen.</p>
<p>Tapi belakangan, kok nggak kayak gitu lagi?</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue sadari fenomena itu gue alami dalam beberapa tahun ke belakang karena GBS.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue seperti ‘menunggu’ sesuatu. Menunggu bahwa suatu hari nanti, kemampuan berjalan gue akan kembali dengan sendirinya. Dan dunia yang dulu sempat hilang, akan kembali lagi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue banyak menunda keputusan-keputusan penting dengan <em>mindset</em> “Ah, nanti aja lah pas udah bisa jalan..”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Entah sampai kapan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tiba-tiba udah delapan tahun aja sejak pertama kali divonis GBS.</span></p>
<p><em>I put my life on pause. For eight years.</em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tapi untungnya, sekarang gue udah sadar sih. </span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">I finally realize that life waits for nobody. </span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dia nggak akan berhenti berputar nungguin gue untuk bisa kembali lagi ke kondisi gue kayak dulu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kehidupan akan terus berjalan meskipun gue nggak ngapa-ngapain. Dunia akan tetap berputar meskipun gue gini-gini aja. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan gue takut gue akan gini-gini aja. </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">People come and go. Things trade places. Life happens fast.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan pola pikir ini juga akhirnya merembet kemana-mana. Puncaknya, beberapa tahun yang lalu, ketika gue lagi ngobrol bareng Miranda di sela-sela sesi ngopi kami.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seperti biasa, topik yang awalnya berputar di sekitaran pekerjaan akhirnya merembet ke urusan asmara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Waktu itu gue abis putus dan seperti manusia biasa, masih sakit hati. Gue berusaha pengen<em> move on</em> secepatnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Out of nowhere,</em> tiba-tiba Miranda ngomong sebuah kalimat yang sampai saat ini masih nempel di kepala gue.</span></p>
<blockquote><p><span style="font-weight: 400;">”Ta, instead of focusing on someone, maybe it’s time for you to focus on something..”</span></p></blockquote>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Dang!</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Iya juga ya? Kenapa gue belakangan sangat fokus sekali kepada orang lain, seolah <em>self-worth</em> gue ditentukan oleh penilaian orang lain terhadap gue.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">I don’t need anyone’s approval.</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi dengan itu, gue inisiasi sebuah hal yang gue namakan <strong>Project Tirta</strong>. Selama beberapa bulan terakhir (dan beberapa saat ke depan), fokus gue cuma ke <em>project</em> ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>Project</em> yang menjadikan <em><strong>GUE</strong></em> sebagai bahan untuk <em>self-improvement</em>. Berusaha fokus tanpa distraksi. Gue nggak suka dengan kondisi gue sekarang, dan harus ada yang berubah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> <em>Nothing changes if nothing changes.</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Contohnya apa, Ta? <em>Well</em>, beberapa hal udah berusaha gue ubah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue berusaha kembali bangun pagi. Jadi bisa lebih produktif kalau ke kantor. Dan dengan bangun lebih pagi, gue kayak punya beberapa jam ekstra dalam satu hari. Cobain deh!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue berusaha memperbaiki hubungan gue dengan Tuhan (<a href="https://romeogadungan.com/umroh/">umroh</a>, <em>remember</em>?)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue berusaha mempertajam otak dan mental gue (tiap malam, gue usahain rutin baca Kindle dan dengerin podcast apapun topiknya). <em>Because I realized I am getting dumber. And I need to keep up!</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue baru daftar gym, meskipun badan sekarang linu-linu setiap abis latihan. Tapi efek positifnya, gue bisa tidur lebih cepat.</span></p>
<p>Gue juga mengurangi konsumsi gula tambahan. Biar lebih sehat karena nyokap gue diabetes.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gue fokus mengembangkan bisnis gue di BigAlpha, dengan berusaha mencari-cari <em>revenue stream</em> baru. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Belakangan, gue juga lagi berusaha &#8216;<em>spreading out my wings&#8217;</em> di lini-lini bisnis yang sama sekali gak berhubungan dengan BigAlpha. Sebagai bentuk ekspansi jiwa entrepreneurship ini menjadi sedikit lebih lebar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan yang paling penting, gue lagi </span><i><span style="font-weight: 400;">girl detox. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><em>I know, it sounds stupid.</em> Tapi buat seseorang dengan username <em><strong>romeogadungan</strong></em>, <em>girl detox</em> ini baru buat gue.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Temen-temen gue aja ketawa waktu gue ceritain gue mau <em>girl detox.</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena mereka tau, kayaknya gue nggak pernah lama bisa sendirian. Beberapa tahun terakhir, gue selalu berhasil loncat dari satu <em>relationship</em> ke <em>relationship</em> (atau bahkan <em>situationship</em>) lainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sekarang, terasa cape aja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ampe kapan <em>girl detox</em> ini berlanjut? Gue nggak tau.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mungkin sampe nanti Project Tirta udah bisa berjalan secara <em>autopilot</em> dan menjadi sebuah <em>habit</em>. Atau mungkin ketika nanti datang seseorang yang bisa menghentikan fase <em>girl detox</em> dengan sendirinya tanpa dipaksa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang jelas, gue sekarang pengen menjadikan kata-kata Miranda menjadi kenyataan.</span></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">It’s time for me to focus on something instead of someone.</span></em></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">And that something is me.</span></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/project-tirta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">886</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Umroh, Sebuah Perjalanan (Agak) Spiritual</title>
		<link>https://romeogadungan.com/umroh/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/umroh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 01 Sep 2024 01:56:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=875</guid>

					<description><![CDATA[Gue adalah orang yang nggak religius. Mari kita mulai dengan statement itu. Gue nggak mau pembaca tulisan ini nanti menyangka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gue adalah orang yang nggak religius.</p>
<p>Mari kita mulai dengan <em>statement</em> itu. Gue nggak mau pembaca tulisan ini nanti menyangka kalau gue adalah orang baik yang nggak pernah bolong sholat lima waktu.</p>
<p>Meskipun berbekal pendidikan agama yang baik (gue adalah santriwan terbaik di tempat gue ngaji waktu SMP, <em>mind you</em>), gue semakin jauh dari agama sejak dewasa.</p>
<p>Bukan sebuah hal yang bisa dibanggakan sebenarnya, <em>but let’s keep reading for the sake of the story.</em></p>
<p>Dan puncaknya adalah ketika gue sakit GBS. Gue ngambek ama Allah.</p>
<p>Gue ngerasa ketika hidup gue harusnya udah bisa lebih mudah (dengan segala perjuangan yang sudah gue lewati dari kecil – <em>financially, emotionally, you name it!</em>)<em>,</em> gue malah dikasi cobaan terbesar dalam hidup.</p>
<p>Titik di mana gue sudah menyelesaikan S2, hidup yang harusnya mulai bisa dilalui dengan <em>easy mode</em>, kerjaan yang sudah stabil, gue malah lumpuh nggak bisa jalan.</p>
<p>Gue ngambek. Dan sebagai bentuk protes, gue berhenti sholat.</p>
<p>Keluarga gue udah tau. Datang dari keluarga Aceh yang terkenal dengan prinsip menjunjung tinggi agama, mereka juga sepertinya udah lelah buat ngasih tau gue.</p>
<p>Bokap gue kadang cuma menghela napas ketika ngeliat malah gue goler-goleran di saat waktu sholat tiba.</p>
<p>“Sholat lah, Nak!” kata dia kadang dengan pesimisme yang tersisa.</p>
<p>“Ya yah” kata gue tanpa berusaha membantah.</p>
<p>Jadi ketika Ayah mengajak gue umroh, gue bisa menolaknya dengan mudah sekali.</p>
<p>Tapi belakangan, gue mulai berubah pikiran. <em>Mimi talked me through it.</em></p>
<blockquote><p>“Pergi lah sana, Bang. Minta kesembuhan di sana. Siapa tau diberikan kesembuhan..”</p>
<p>“Kalau kau umroh, kau jadi anak pertama yang umroh sama Ayahmu. Ayahmu udah tua. Kapan lagi diberikan kesempatan..”</p>
<p>“Kan mumpung perginya ama anak-anak Pramuka, jadi nanti banyak yang bisa bantuin. Bisa kok kita nanti minta tolong ama mereka..”</p>
<p>“Toh Mimi juga berangkat, kan. Nanti Mimi juga bantuin..”</p>
<p>“Duitmu kan ada. Siapa tau nanti makin dilimpahkan rejekinya..”</p></blockquote>
<p><em>Gotta admit it, Mimi is a smooth talker.</em> Dengan level <em>reasoning</em> sedalam itu, gue jadi nggak punya alasan jelas untuk nggak pergi.</p>
<p><em>So, yeah. I decided to go. </em></p>
<p>Nggak tau gimana nanti fasilitas di sana, gue percayakan kepada travel umrohnya. Gue yakin, gue bukannya satu-satunya jemaah kursi roda yang pernah pergi ke sana, kan?</p>
<p>Toh ini kan cuma seperti wisata pergi ke sebuah negara. <em>I need a long-overdue vacation anyway.</em></p>
<p>Meskipun begitu, bokap gue malah marah-marah ketika gue bilang ini wisata.</p>
<blockquote><p>“Kita ke sana mau ibadah. Kok malah wisata, sih?!”</p></blockquote>
<p><em>But in my argument,</em> berbeda dengan haji yang punya urutan atau rukun yang harus dijalankan, umroh lebih mirip sebuah perjalanan wisata religi, di mana kita bebas menentukan kita mau ke mana.</p>
<p>Kalau capek, ya tinggal balik ke kamar hotel.</p>
<p>Wisata, kan?</p>
<p><em>Another reason why I think I need to go, is to release the anger in me.</em></p>
<p>Gue ngerasa rasa marah itu sudah terlalu lama berdiam di dalam hati. Terlebih dengan kejadian yang menyangkut <em>relationship</em> gue terakhir.</p>
<p><em>I need to let go (some of) the anger.</em> Rasa marah yang lama-lama bikin gue jadi <em>bitter</em> banget dalam ngeliat dunia.</p>
<p>Gue berharap dengan gue pergi ke sana, setidaknya gue bisa minta biar rasa marah ini sedikit berkurang. Atau setidaknya, gue diberikan rasa ikhlas dan kesabaran yang lebih dalam.</p>
<p><em>That’s it. No more, no less.</em></p>
<p><em> </em>Tapi tampaknya hal itu tidak akan berjalan dengan mudah.</p>
<p>Malam pertama ketika gue menginjakkan kaki di bandara Madinah, kursi roda gue patah.</p>
<p>Iya, sasisnya patah.</p>
<p>Besi kokoh horizontal yang menyangga berat badan ketika kita duduk di atas kursi roda itu, patah di bagian kiri kanan. Kursi roda yang sama yang selama delapan tahun terakhir gue gunakan secara baik-baik saja di Indonesia, harus menyerah dengan <em>airport handling</em> orang Arab di malam pertama gue tiba di Madinah.</p>
<p>Gue udah berhenti mempertanyakan ‘kok bisa?’ dan pasrah menerima kondisi itu.</p>
<p>Gue pun harus tergopoh-gopoh keluar dari bandara tanpa kursi roda. Berjalan pelan ke bus (iya, bus) yang sudah disiapkan. Dan FYI, bus di sana adalah tipe bus <em>double decker</em> yang mana bagian tempat duduk penumpang ada di bagian atas.</p>
<p>Gue menggunakan semua kekuatan <em>upper body</em> gue untuk mengangkat badan gue memasuki bus di sana. Setelah dua menit meletakkan pantat di kursi bus, dengan keringat yang masih mengucur dari dahi dan punggung, petugas travelnya masuk dan berteriak..</p>
<blockquote><p>&#8220;Bapak-bapak…Ibu-ibu, mohon maaf. Bus kita bukan yang ini. Silakan pindah ke bus yang di sebelah..”</p></blockquote>
<p>Fffffuuuuuuuckckkckk!!!</p>
<p>Gue nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Dengan pasrah, gue pelan-pelan turun dan kembali memanjat bus di sebelah.</p>
<p>“Kita lagi ibadah..” <em>somehow</em> kata-kata bokap gue terus tertanam di dalam hati.</p>
<p>Mimi yang melihat gue kesusahan dan kepanasan terus memberikan sugesti positif.</p>
<blockquote><p>‘Sabar ya, Bang. Sabar ya…”</p></blockquote>
<p>Di logika gue, situasi apa yang bisa gue lakukan di kondisi kayak gini selain sabar dan berusaha?</p>
<p>Dan bayangin aja, jika gue bisa <em>cranky</em> di Indonesia, bayangkan gimana level <em>cranky</em> yang bisa gue alami di Arab dengan suhu yang berkisar antara 38 sampai 42 derajat celcius.</p>
<p>Dengan cuaca sepanas itu, hembusan angin terasa seperti apa, ya? Oia, terasa seperti semburan asap knalpot di muka!</p>
<p>Serius, simulasi pergi ke Arab Saudi bisa lo lakukan dengan naro muka lo di depan knalpot mobil terus nyalakan mesinnya.</p>
<p>Nah, gitu rasanya.</p>
<p>Tapi entah kenapa, gue ngerasa…biasa aja.</p>
<p>Entah karena sugesti ‘lagi ibadah’ yang mulai tertanam di kepala, atau ada campur tangan <em>divine power</em> yang pelan-pelan mulai melunakkan hati.</p>
<p>Gue nggak tau.</p>
<p>Hari-hari di Madinah selanjutnya berjalan tanpa ada kejutan yang berarti.</p>
<p>Seperti dugaaan gue, umroh adalah sebuah perjalanan wisata religi di mana kita mengisi kegiatan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, tempat belanja dan melakukan sholat di Mesjid Nabawi di sela-sela kegiatan tersebut.</p>
<p>Setiap waktu sholat lima waktu tiba, gue berusaha untuk menyeret pantat pemalas ini keluar dari dinginnya kamar hotel dan pergi ke Nabawi.</p>
<p>Dengan kursi roda pinjaman dari hotel (yang bannya sudah godek-godek susah untuk didorong), gue berusaha beranjak ke Nabawi.</p>
<p>Menembus jalanan Madinah berdua bersama bokap dengan muka yang secara konsisten terpapar angin hembusan asap knalpot tadi.</p>
<p>Bergerak secara perlahan dengan dorongan kekuatan lengan, berusaha mengusir rasa marah di dalam hati.</p>
<p>Dan bagian terbaik di Madinah adalah mengunjungi Raudhah. Bagian yang mungkin dianggap paling sakral, bagian kecil di antara makam dan mimbar yang digunakan Nabi Muhammad dulu, yang berada di dalam Masjid Nabawi.</p>
<p>Di Raudhah, yang katanya adalah bagian dari taman surga, di mana doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah. Itu adalah tempat paling banyak diidamkan oleh jemaah umroh dari seluruh dunia untuk berdoa dan meminta sesuatu.</p>
<p>Mengetahui hal itu, setelah giliran untuk travel kami mengunjungi Raudhah, gue lumayan <em>excited</em> untuk masuk ke tempat ini.</p>
<p>Gimana ya deskripsi yang tepat untuk menjelaskan Raudhah?</p>
<p>Sebenarnya ini cuma bagian dalam sebuah masjid aja.</p>
<p>Dengan karpet berwarna hijau untuk membedakannya dengan bagian masjid yang lain. Di satu sisi, ada makam Nabi Muhammad dan di sisi lain ada sebuah mimbar yang berdiri seperti sebuah balkon di dalam masjid.</p>
<p>Kondisinya disekat-sekat dan berpagar untuk mengatur jemaah yang jumlahnya ribuan itu agar tidak menerobos masuk.</p>
<p>Dan satu hal yang langsung gue sadari ketika masuk, Raudhah itu wangi sekali.</p>
<p>Bukan, bukan wangi stella jeruk. Tapi lebih <em>soft</em> dan sopan menyapa hidung ketika tercium.</p>
<p>Gue nggak bisa jelasin. Tapi jelas tercium wangi yang menenangkan ketika memasuki Raudhah.</p>
<p>Ketika kursi roda gue bergulir melewati karpet tebal itu, seorang petugas yang berjaga di sana langsung bicara “Sembuh, tabarakallah” sambil tersenyum ke arah gue.</p>
<p>Untuk yang nggak tau, kalimat Tabarakallah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah &#8216;Semoga Allah memberkatimu atau memberkahimu.”</p>
<p>Dan dengan <em>gesture</em> sesederhana dari orang asing itu, maka melunaklah hati gue. Raudhah menjadi bagian favorit gue di Madinah.</p>
<p>Bagian untuk pengguna kursi roda sedikit terpisah dengan jemaah yang lain. Dan kali ini, gue ditempatkan tepat berada di bawah bagian mimbar (balkon tadi) di mana Rasulullah dulu berdakwah di masjid ini.</p>
<p>Dan selama 10 menit gue berada di Raudhah, maka itu menjadi salah satu waktu yang paling privat yang pernah gue alami.</p>
<p>Berusaha meluruhkan semua ego, dengan rasa sungguh-sungguh dan kerendahan hati, gue meminta beberapa hal dan menyebutkan beberapa nama kepada Nya.</p>
<p>Dan dengan itu, Raudhah menjadi penutup cerita Madinah gue.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>Di minggu kedua, di sini lah inti sebuah perjalanan umroh dilakukan.</p>
<p>Kami beranjak memasuki Mekkah, berniat melakukan sebuah perjalan umroh, lengkap dengan pakaian ihram dan tidak lagi melakukan hal-hal yang dilarang selama umroh (memotong kuku, menyukur rambut, berpikiran ngeres, dll).</p>
<p>Dengan keluar dari Madinah sekitar pukul 2 siang, kira-kira perjalanan umroh akan berakhir dini hari di dalam Masjidil Haram, Mekkah.</p>
<p>Dan di sini lah pengetahuan terbatas gue tentang umroh diuji.</p>
<p>Gue baru tau, untuk pria, ternyata saat menggunakan pakaian ihram (dua lembar kain putih yang dililitkan ke badan) kita tidak diperbolehkan menggunakan apa-apa lagi.</p>
<p>Gue kirain untuk kolor masih boleh lah, <em>but we must go commando while wearing ihram.</em></p>
<p><em>So during that time, my balls are hanging free!</em></p>
<p>Dan sebuah rukun umroh yang wajib dilakukan adalah tawaf. Mengelilingi Ka’bah di dalam Masjidil Haram selama 7 kali.</p>
<p>Dari hotel di Mekkah, setelah selesai makan malam dan berwudhu, gue langsung bergegas ke Masjidil Haram untuk memulai rangkaian umroh gue.</p>
<p>Hotel gue agak jauh dari Masjidil Haram dan sangat tidak <em>wheelchair friendly.</em> Untuk turun saja payah, dan dikombinasikan dengan padatnya jemaah yang juga akan pergi ke masjid, gue harus menyelinap sedemikian rupa di trotoar yang dipenuhi manusia.</p>
<p>Area Masjidil Haram itu ramainya kayak bubaran konser di GBK, yang terjadi 5 kali dalam sehari. Ramainya segitunya.</p>
<p>Udah kebayang, kan?</p>
<p>Kondisi ini diperparah dengan pedagang-pedagang yang membuka lapak mereka secara sembarangan di trotoar. Berantakan aja gitu barang dagangan ditebar di jalan.</p>
<p>Mulai dari souvenir, baju gamis, peci, hingga kurma dijajakan di sana.</p>
<p>“Murah.. murah… Jokowi… Jokowi… lima puluh ribu…lima puluh ribu!” teriak para pedagang itu menyasar jemaah Indonesia.</p>
<p>Di kursi roda, gue bermanuver kiri kanan menghindari kaki jemaah, lapak kurma dan baju gamis dengan kondisi biji gundal gandul mengayun bebas.</p>
<p>Gue udah set ekspektasi gue untuk momen di mana gue akan pertama kali melihat Ka’bah. Kotak berwarna hitam yang selama ini menjadi penunjuk arah bagi satu miliar lebih umat muslim di dunia ketika sholat.</p>
<p>Beberapa orang udah mewanti-wanti gue.. “nanti pasti nangis lo pas liat Ka’bah”</p>
<p>Gue enggak tau, mungkin iya. Gue bisa <em>summit</em> ke puncak Rinjani aja mewek, gimana kalau liat Ka’bah?</p>
<p>Tapi pikiran-pikiran itu berusaha gue hilangkan. Gue hanya ingin segera menyelesaikan prosesi umroh ini, balik ke hotel dan tidur.</p>
<p>Prosesi ini sudah berlangsung lebih dari setengah hari dan gue lelah sekali.</p>
<p>Khusus di Masjidil Haram, karena jumlah pengunjungnya yang jauh lebih banyak dari Nabawi, setiap pengguna kursi roda harus didampingi pemandu dalam melakukan tawaf.</p>
<p>Lokasinya pun terpisah di lantai dua. Berbeda dengan jemaah lainnya yang bisa langsung mengelilingi Ka’bah lebih dekat tanpa sekat.</p>
<p>Dari pelataran masjid, gue masih belum bisa melihat Ka’bah, yang ada hanyalah sebuah masjid luar biasa megah dengan puluhan ribu jamaah yang ingin beribadah.</p>
<p>Padahal, kondisinya sudah hampir mendekati tengah malam.</p>
<p>Gue didorong oleh pemandu gue menuju lantai dua. Di sini pun Ka’bah masih belum juga terlihat, masih tertutupi oleh sekat-sekat pengerjaan konstruksi di dalam area masjid.</p>
<p>Masjidil Haram memang akan terus mengalami proyek-proyek konstruksi perluasan area masjid demi bisa menampung lebih banyak jemaah lagi. Entah sampai kapan.</p>
<p>Gue melempar pandangan ke sekitar dan masih belum bisa menemukan Ka’bah. Sementara itu, pendamping gue mulai memberikan instruksi apa-apa saja yang harus gue lakukan selama proses tawaf ini.</p>
<p>Karena penasaran, akhirnya gue bertanya…</p>
<blockquote><p>“Emang Ka’bah nya mana?”</p>
<p>“Oh, abang belum keliatan ya? Di sini emang ketutup, bang, coba liat dari sini..”</p></blockquote>
<p>Dia lalu menggeser kursi roda gue ke arah yang lebih terbuka. Dan di area balkon lantai dua Masjidil Haram ini, gue sekarang bisa melihatnya dengan jelas.</p>
<p><em>It’s bigger than I thought. </em></p>
<p>Kotak hitam itu ada di sana. Lebih besar dari yang gue bayangkan.</p>
<p>Dikelilingi oleh menara-menara dan gedung-gedung tinggi. Di satu sisi, terlihat Makkah Royal Clock Tower, bangunan tertinggi di area ini, berdiri dengan gagah. Lengkap dengan jam raksasa berwarna hijaunya.</p>
<p>Sekarang hampir tengah malam, tapi puluhan ribu jemaah masih mengelilingi Ka’bah, bergerak berlawanan dengan arah jarum jam. Suara dengungan halus terdengar dari puluhan ribu mulut yang sedang memanjatkan doa-doa.</p>
<p>Langit Mekkah yang hitam legam tampak kontras dengan terangnya pencahayaan di area masjid. Sesekali, gue bisa melihat segerombolan burung terbang rendah mendekati Ka’bah, lalu kembali terbang tinggi mengangkasa entah kemana.</p>
<p>Dan harus diakui, Ka’bah memang terasa magis. Memandangi tempat ini, seperti ada sentuhan dari sebuah kekuatan yang lebih tinggi yang menyentuh hati.</p>
<p><em> </em><em>You can definitely feel the divine power in this place.</em></p>
<p>Dan anehnya, sekarang gue merasa kecil sekali. <em>I feel powerless.</em></p>
<blockquote><p>“Ayo bang, kita mulai tawafnya ya?” kata pemandu gue.</p>
<p>“Nah mulai dari sini, abang baca doa ini ya…” katanya sambil melafalkan doa-doa yang ada di buku panduan umroh kami. Dia aja nggak hapal, apalagi gue.</p></blockquote>
<p>Pikiran gue nggak seratus persen bisa mengikuti. Sebagian melafalkan doa-doa tersebut. Sebagian lagi <em>flashback</em> ke hal-hal yang terjadi dalam hidup gue.</p>
<p><em>All the struggles, achievements, the disease, GBS, the pain, the betrayals, the recovery, the letting go,</em> semua tercampur aduk di dalam perut.</p>
<p>Semuanya bercampur baur dan terkulminasi dalam sebuah pengalaman perjalanan spiritual kali ini.</p>
<p>Pemandu gue terus mendorong kursi roda ini. Mulai dari putaran pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.</p>
<p>Doa-doa yang dibacakan relatif sama dan berulang.</p>
<p>Di sekeliling, gue bisa melihat jemaah lain yang sedang melakukan ritual yang sama. Masing-masing didorong oleh pemandu tawaf seperti yang menemani gue. Satu hal yang membedakan, gue adalah pengguna kursi roda paling muda malam ini.</p>
<p>Lainnya sudah sepuh dan dalam kondisi yang lebih ringkih daripada gue.</p>
<p>Selesai melafalkan doa-doa yang disunnahkan ketika tawaf, gue sempatkan untuk menyelipkan beberapa permintaan pribadi. Gue selipkan juga beberapa nama di sana.</p>
<p>Dan sisa tawaf, gue jalani sambil melihat ke arah kiri, Ka’bah yang berdiri kokoh di luar sana.</p>
<blockquote><p>“Udah bang, prosesi tawaf kita udah selesai.“</p>
<p>“Abang mau air zam-zam?” tanyanya.</p></blockquote>
<p>Gue hanya menganggukkan kepala tanda sebuah persetujuan. Pemandu gue langsung bergegas mengambilkan segelas air zam-zam dari sekian banyak tempat minum yang tersedia di area masjid ini.</p>
<p>Dengan tangan kanan, gue ambil gelas itu lalu meneguknya tanpa jeda.</p>
<p>Segar sekali.</p>
<blockquote><p>“Udah bang? Kita lanjut sa’i, ya?” katanya sambil meraih gelas kosong di tangan gue.</p>
<p>“Yuk!” kata gue.</p></blockquote>
<p>Dia lalu menarik kursi roda gue menjauh dari area tawaf ini. Kami siap beranjak untuk melakukan sa’i, yakni proses berjalan bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah.</p>
<p>Ketika mendekati pintu keluar, gue sekali lagi berbalik dan menoleh ke belakang.</p>
<p>Di dalam hati, beberapa kalimat terakhir gue ucapkan dalam diam.</p>
<blockquote><p>“Kusebutkan beberapa permintaanku di sini. Di rumah-Mu, kucurahkan semua kegelisahanku dan ketakutanku. Dan aku berharap, cukupkan lah amarahku sampai di sini..”</p></blockquote>
<p>Dan tiba-tiba, seperti aliran air zam-zam yang mulai mengaliri dan membasahi kerongkongan yang tadi sempat kering. Sebuah perasaan dingin mulai menyelinap ke dalam hati.</p>
<p>Di Masjidil Haram mendekati dini hari, kini aku sudah tidak marah lagi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/umroh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">875</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Cinta Sukarela</title>
		<link>https://romeogadungan.com/cinta-sukarela/</link>
					<comments>https://romeogadungan.com/cinta-sukarela/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Romeogadungan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Feb 2024 07:32:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://romeogadungan.com/?p=68</guid>

					<description><![CDATA[Gue lagi sendirian di ruang meeting hari ini. Biasanya, gue kerja di ruang tengah kantor, to make myself visible for [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gue lagi sendirian di ruang meeting hari ini.</p>
<p>Biasanya, gue kerja di ruang tengah kantor, to make myself visible for the others. Jadi ketika mereka punya pertanyaan atau hal-hal lain yang pengen didiskusikan, gue lebih mudah ditemui.</p>
<p>Tapi tidak hari ini. <em>I decided to work alone in the meeting room.</em></p>
<p>Dari kursi gue duduk, gue bisa melihat dengan jelas ke luar, jendela ruangan ini tepat di hadapan gue. Di luar hujan deras sekali.</p>
<p><em>It’s raining cats and dogs they say.</em> Ditambah dengan hembusan AC yang tepat ke arah kepala, ruangan ini semakin dingin jadinya.</p>
<p>Musik di ipad gue dimainkan secara acak. Suaranya keluar dari headphone yang gue sedang pakai. Dan algoritma Youtube Music kali ini membawa gue ke lagunya Adele, Make You Feel My Love, tapi dicover oleh Teddy Swims.</p>
<p>Cobain dengerin, deh.</p>
<p><em>Adele’s song, but this time with a raspy voice.</em></p>
<p><em>A simple song, only with piano.</em></p>
<p><em>And if you ask me, it adds the depth of the pain to the song.</em></p>
<blockquote><p>When the rain is blowing in your face<br />
And the whole world is on your case<br />
I could offer you a warm embrace<br />
To make you feel my love</p></blockquote>
<p>Lagu ini membawa gue ke percakapan beberapa minggu lalu.</p>
<blockquote><p>“Let’s end this. I don’t want to be with someone who is unsure with the relationship. Unless it’s an absolute yes, it’s a no.”</p></blockquote>
<p><em>To be honest, gue gak tau apa penyebabnya. I cannot pinpoint a single moment when we drifted away. Some say it’s the distance. The others speculated “ada pihak ketiga”</em></p>
<p>Tapi ini alasan yang gue pake ketika ada yang nanya “ya, nggak jodoh aja.. nggak usah dipaksa.”</p>
<p>Tapi apapun kejadiannya, <em>I am glad it’s over.</em></p>
<p>Bagaimanapun sayangnya kita kepada seseorang, tentu kita akan mengharapkan hal yang sama, kan? Rasa sayang dan afeksi yang (seharusnya) berjalan dua arah.</p>
<p>Tapi ketika keadaannya nggak demikian, someone should have the guts to end it. <em>And I am glad that person is me.</em></p>
<p>Daripada harus tergantung tanpa kejelasan. Apakah perasaannya berbalas? Apakah harus bertahan di sebuah hubungan yang kita sama-sama tau gak akan mudah ke depannya? Atau kah berusaha mencoba lagi simply karena nggak ada yang lain?</p>
<p><em>Not gonna lie, at first it was hard to end the relationship. It offers some kind of deceiving comfort, and we tend to hold into it. Because it’s familiar. Because we are getting used to its routine. But we both know it’s not good for us.</em></p>
<p><em>And I know it’s not good for me.</em></p>
<p><em>Looking back, I am glad I took the call.</em></p>
<p><em>It was nice until it’s over.</em> Sebuah hubungan yang gue perjuangkan dari awal dengan harapan keduanya akan berjuang bersama-sama.</p>
<p><em>No regrets whatsoever.</em></p>
<p><em>I went all in. And it turned out it wasn’t enough. So I have nothing more to offer.</em></p>
<p>Sekarang saatnya untuk berani melangkah maju, dan terus berharap suatu saat nanti gue pun akan menemukan seseorang yang lebih baik.</p>
<p>Bukan berarti lebih baik dari dia, tapi yang pasti.. lebih baik buat gue.</p>
<p>Toh, itu harapan kita semua, kan? Bahwa kita akan dicintai secara brutal.</p>
<p>Tanpa harus ada yang dipaksa, karena harusnya cinta itu datang dengan sukarela.</p>
<blockquote><p>I could make you happy, make your dreams come true<br />
Nothing that I wouldn’t do<br />
Go to the ends of the Earth for you<br />
To make you feel my love<br />
To make you feel my love</p></blockquote>
<p>Lirik lagu tadi mengakhiri melankolia yang sekarang gue rasakan. Lagu itu membawa perasaan baru buat gue. Seakan menjadi tambahan keberanian. Berani mengakhiri rasa tidak nyaman yang gue rasakan beberapa waktu ke belakang.</p>
<p>Gue melemparkan pandangan ke luar jendela, karena terlalu asyik mendengarkan lagu tadi, gue baru menyadari satu hal.</p>
<p>Hujannya berhenti tiba-tiba. <em>The rain has stopped.</em></p>
<p><em>And so does the feeling.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://romeogadungan.com/cinta-sukarela/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">68</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
