<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Ruang Sore</title><description>ketika sore menjelang, menyediakan ruang untuk bercerita</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Sat, 31 Oct 2026 12:27:46 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://ruangsore.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>ketika sore menjelang, menyediakan ruang untuk bercerita</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Berkah di Bawah Naungan Pohon Bambu</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/12/pasar-papringan-ngadiprono-temanggung.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Pasar Papringan</category><category>Temanggung</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 19 Sep 2025 05:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7289800999441039151</guid><description>&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgd4hmj5p5Z4F8BI1M_I0EYhih3dzBfscHkyT-bU_xzlcbwQy9eG6BmAXsntQwHnQ3Y-PxPW_CfWdh-okNiSMKeRtqJwaE2eXhVZNQpI87dZ0hJHF5ekYm-2pwR6S4PqjU6UamyPsZzpBoX5xqEyzWUnaxLGkGFLie3MAZCQjwCUdEXy1pVXRyTzXfSVBk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgd4hmj5p5Z4F8BI1M_I0EYhih3dzBfscHkyT-bU_xzlcbwQy9eG6BmAXsntQwHnQ3Y-PxPW_CfWdh-okNiSMKeRtqJwaE2eXhVZNQpI87dZ0hJHF5ekYm-2pwR6S4PqjU6UamyPsZzpBoX5xqEyzWUnaxLGkGFLie3MAZCQjwCUdEXy1pVXRyTzXfSVBk=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pagi hari di musim kemarau selalu datang dengan menyenangkan. Ia tak pernah gagal memberi semangat baru untuk menyambut hari, seperti sinar matahari yang akan berlimpah sepanjang hari. Pada waktu-waktu tertentu, suhu di pagi hari juga akan terasa lebih dingin dari biasanya. Musim dingin yang sedang berlangsung di benua di belahan bumi bagian selatan sana, ikut menghembuskan udara dingin yang akan menyeberang lautan, hingga pulau-pulau di selatan khatulistiwa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menjelang pukul 6 pagi, kami sudah tiba di Temanggung. Tinggal beberapa kilometer lagi untuk menuju Ngadiprono. Setelah berbelok di lampu merah terakhir, saya mematikan pendingin udara dan membuka jendela, membiarkan udara segar masuk. Kawan saya yang duduk di sebelah, yang sejak tadi membantu bernavigasi, dan juga menyusun daftar lagu, hanya mengangguk tanda setuju. Lalu ia menghirupnya dalam-dalam. Katanya, udara sebersih ini langka sekali di kota besar yang sesak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sisa-sisa kabut pagi juga masih terlihat, mengambang tipis seperti kapas terbang di sela-sela dedaunan, di sawah, kebun atau ladang-ladang di kanan kiri jalan masuk desa. Di kejauhan sana, juga tampak puncak gunung yang sedikit mengintip malu-malu di balik gerumbulan awan. Sedangkan matahari sudah bangun lebih awal, menyapa penduduk bumi di bulan September yang hangat. Saya selalu merindukan pemandangan seperti itu, ketika berkunjung ke Pasar Papringan Ngadiprono. Ini sudah terhitung yang ketiga kalinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh9zzOm6ZI3jg-guBZiIV9nyiki36JREPYiiSvg6z98SxtivWcPkRLc8stPNckX1_wOMe4xZp2EocvJU9pkm12IlGYwNV2uY_fLXAFFlRNUWjW8UaEZtNz8f12LmOWk6QP2onVq2XRZQJxlcjp2gILYuuDyhIBltG9rxGHoinVKkXawb7NIacWV09BlDKk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh9zzOm6ZI3jg-guBZiIV9nyiki36JREPYiiSvg6z98SxtivWcPkRLc8stPNckX1_wOMe4xZp2EocvJU9pkm12IlGYwNV2uY_fLXAFFlRNUWjW8UaEZtNz8f12LmOWk6QP2onVq2XRZQJxlcjp2gILYuuDyhIBltG9rxGHoinVKkXawb7NIacWV09BlDKk=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pagi sudah dimulai lebih awal di Ngadiprono, meskipun itu hari minggu. Para pemuda dan bapak-bapak berjaga di pintu-pintu masuk desa, bersiap mengatur arus kendaraan yang mulai berdatangan. Juga mengarahkan ke tempat-tempat parkir dadakan, seperti pekarangan rumah warga, halaman masjid hingga lapangan desa. Sementara sebagian besar kaum perempuannya sudah lebih dulu disibukkan dengan hal lain. Sejak subuh atau bahkan malam harinya, mereka mulai menyiapkan berbagai jenis dagangan yang akan dijajakan kepada para pengunjung pasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah menghentikan kendaraan di pekarangan warga, kami berjalan melewati rumah-rumah bertembok bata yang mengepulkan asap berbau sangit dari dapurnya. Kami berjalan dengan menyimpan sedikit kebingungan di benak, bagaimana nanti cara kendaraan kami keluar dari jalan sempit itu. Lalu kami teringat pada bapak penarik karcis retribusi kendaraan di pintu masuk desa tadi. Ia dengan ramah mengingatkan, akan ada bapak-bapak lain atau juga para pemuda desa yang selalu siap membantu mengarahkan kendaraan tanpa meminta tambahan imbalan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sudah bertahun silam sejak awal keberadaan Pasar Papringan, telah memberi berkah dan dampak positif dari segi ekonomi bagi masyarakat setempat. Namun bukan juga yang semacam eksploitatif, karena bagaimanapun mereka yang terlibat di sini dalam kesehariannya masih mengandalkan pertanian sebagai pencaharian utama. Maka dari itu penyelenggaraannya dibuat terbatas agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan desa. Pasar digelar hanya dua kali setiap &lt;i&gt;selapan &lt;/i&gt;dalam kalender Jawa atau 35 hari, yaitu pada hari Minggu Wage dan Pon, buka dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Selepas hari pasaran mereka akan kembali sibuk di sawah dan ladang masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgmW0tQwCXeSZ49IC4Ya6irUxCdkH_JVmzLKeb7orlbhABdu5cewjhRDfwqpyaUrEMcsg2hhSV8ieleSWXwyqtSeIf6TCxWjiCeXqH2sDVfsQ5jtlvCahhdQ9-3ULBNMnjsTop-Jkq7QTaS-uYFgMEbB7NV772Jy57bD4qVMS-WaUq2qjfttaNhKlR4nFk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgmW0tQwCXeSZ49IC4Ya6irUxCdkH_JVmzLKeb7orlbhABdu5cewjhRDfwqpyaUrEMcsg2hhSV8ieleSWXwyqtSeIf6TCxWjiCeXqH2sDVfsQ5jtlvCahhdQ9-3ULBNMnjsTop-Jkq7QTaS-uYFgMEbB7NV772Jy57bD4qVMS-WaUq2qjfttaNhKlR4nFk=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiUX-ftz43G3HydZDz7a8W70dZFfauZiOkokni9ydCpHyd0a3s3ksVjHaMp2mBnm4_OnhjYMbiBRCCgxmPNTThR2eSEGEtgWe6BHpIA4NDY9zKLgygqnAeFhjSTYeJOQXP8uYR4XSXdQf_X77YiLc7Yuwao-7Kr2Fkw9P7zwthKluHvnXWUN7EKvpIAW-8" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiUX-ftz43G3HydZDz7a8W70dZFfauZiOkokni9ydCpHyd0a3s3ksVjHaMp2mBnm4_OnhjYMbiBRCCgxmPNTThR2eSEGEtgWe6BHpIA4NDY9zKLgygqnAeFhjSTYeJOQXP8uYR4XSXdQf_X77YiLc7Yuwao-7Kr2Fkw9P7zwthKluHvnXWUN7EKvpIAW-8=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Komoditi setempat yang ditanam seperti jagung, singkong hingga umbi-umbian lain, merupakan bahan dasar dari berbagai kuliner khas pedesaan yang ditawarkan di Pasar Papringan. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah tanpa pengawet, pewarna atau pemanis buatan. Selain itu, alat makan dan kemasan yang dipakai juga bebas dari penggunaan plastik. Bahan-bahan seperti bambu, daun pisang, anyaman rotan hingga batok kelapa menjadi penggantinya. Ini tentu sesuai dengan prinsip hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan yang memanfaatkan sumber daya lokal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya dan kawan saya datang dengan perut lapar, karena harus berkendara pagi-pagi buta demi mengejar setidaknya jam 6 pagi untuk sampai di Ngadiprono. Di waktu-waktu tertentu, seperti ketika bertepatan dengan hari libur panjang, semakin banyak lagi pengunjung yang memadati Pasar Papringan. Antrean kendaraan akan sedikit mengular, bahkan ada yang sengaja datang sebelum jam buka pasar. Maka dari itu sangat disarankan untuk datang sebelum pukul 7 pagi, ketika belum terlalu padat pengunjung dan makanan-makanan yang dijajakan masih cukup lengkap. Terkadang pasar akan ditutup lebih awal jika sudah terlampau ramai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya setuju bahwa siapapun yang ingin datang harus mengosongkan perut dulu. Bagaimana tidak, berbagai macam kuliner dan jajanan sungguh menggugah selera siapapun yang melihatnya. Seseorang mungkin akan langsung kalap, dan pulang dengan perut begah kekenyangan. Seorang ibu berpakaian seperti hendak senam minggu pagi, tampak melahap satu dua makanan dengan wajah bahagia. Juga sedikit bernostalgia bagaimana makanan-makanan itu lekat dalam kenangan masa kecilnya dulu. Ia datang bersama kawan-kawannya, yang sama-sama mulai muncul uban di kepala, sedang bersenang-senang menikmati masa pensiun mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiRP6LWtM8aE9mlBlyMJtF1OgVdYNxX2PpjARxm_O-zpf472KyhTzV2w9tnbppjpRUzjPM_Y-0Yxev1MfMhb90oFrR9dWavY81awhnquOENq7ULM_pAEsoK01eUV-w42QN17RCwj7CMCmow32Y43EoWm3Ha1htGCmybPrnUCmxvGPxgG76TDE_hC-qsj10" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiRP6LWtM8aE9mlBlyMJtF1OgVdYNxX2PpjARxm_O-zpf472KyhTzV2w9tnbppjpRUzjPM_Y-0Yxev1MfMhb90oFrR9dWavY81awhnquOENq7ULM_pAEsoK01eUV-w42QN17RCwj7CMCmow32Y43EoWm3Ha1htGCmybPrnUCmxvGPxgG76TDE_hC-qsj10=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhtNp6LzCoc8KeMNDNpcEva1-PFhIG9c0RikL1Ika5bkCYZGbUkksGhDzi76f5eYgLF5X7Fx3Rv0t4sQcVeQFh-bR4Mf68Tsjwa6e4UwZH81aKkaZtoI6HbE8DKe6FpIvhu1YJr65XSwhXCRolil_w-E6zhcJrE3uTtz5LqQ2xJq7TsOmFnKZecVZkHELs" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhtNp6LzCoc8KeMNDNpcEva1-PFhIG9c0RikL1Ika5bkCYZGbUkksGhDzi76f5eYgLF5X7Fx3Rv0t4sQcVeQFh-bR4Mf68Tsjwa6e4UwZH81aKkaZtoI6HbE8DKe6FpIvhu1YJr65XSwhXCRolil_w-E6zhcJrE3uTtz5LqQ2xJq7TsOmFnKZecVZkHELs=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjL6nUmDD5-x4tDYhG4lvD_7Sn7X700HSPfEIMM6Krkts1IdB9BF_Xr3rD2IC3Uh7s4a-Lh_a_fAdulWh72WcaVtQhdZtE4lscrQqT-dIwVCiVTx_xgjQ-vSOKkK39HALnrSSn3wi2ayoMNl-D_6rAUW4uLngVciB9FYu6tQh1HEF0qQ31EhODUFpCd0Kk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjL6nUmDD5-x4tDYhG4lvD_7Sn7X700HSPfEIMM6Krkts1IdB9BF_Xr3rD2IC3Uh7s4a-Lh_a_fAdulWh72WcaVtQhdZtE4lscrQqT-dIwVCiVTx_xgjQ-vSOKkK39HALnrSSn3wi2ayoMNl-D_6rAUW4uLngVciB9FYu6tQh1HEF0qQ31EhODUFpCd0Kk=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya memulai dengan seteguk wedang jeruk. Udara masih terasa dingin, sedangkan matahari mengintip dari sela-sela pohon bambu, membentuk seperti lampu-lampu sorot yang menimpa tanah. Saya bingung menentukan pilihan. Soto ayam kampung, lesah ayam, nasi jagung, nasi merah, nasi kuning, bubur kampung, lontong mangut, sangat cocok untuk sarapan pagi. Sedangkan jajanan tradisional juga tak kalah menggoda. Lento, tiwul, jenang, gemblong, srowol, ndas borok, bajingan, kue putu dan masih banyak lainnya. Jajanan dihargai mulai dari 1 pring, sedangkan makanan berat dipatok mulai dari 4 pring. Pring adalah mata uang yang berlaku di sini, setiap pengunjung pasar wajib menukarkan uang tunainya ke dalam bentuk kepingan bambu senilai 2 ribu rupiah tiap kepingnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pengunjung dari berbagai kalangan dan usia berdatangan seiring waktu. Mereka datang tak hanya dari sekitaran penjuru Temanggung saja. Seperti kami, banyak di antaranya yang secara khusus menyempatkan datang dari luar kota. Sesekali ditemui juga satu dua wisatawan asing yang sengaja singgah saat sedang menjelajah Borobudur atau Magelang yang tidak begitu jauh dari Temanggung. Bahkan pada kunjungan edisi sebelumnya, saya sempat mengenali seorang pakar kuliner kenamaan sedang menyicip makanan, sambil berbincang tentang ini itu dengan pedagang pasar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain aktivitas ekonomi, keberadaan Pasar Papringan juga mempertemukan masyarakat perkotaan dengan masyarakat desa, memungkinkan terjadinya pertukaran ide dan informasi tentang sosial dan budaya. Hal tersebut bisa mendorong tumbuhnya kembali semangat pelestarian terhadap nilai dan kearifan lokal yang selama ini telah banyak ditinggalkan. Tak hanya soal makanan, namun juga mengenai pertanian, kerajinan dan kesenian. Maka tak heran sering pula dijumpai pelajar atau mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang datang, makan dan juga sambil belajar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhBJD7pEug-2f0ui6wv74ZiE400XHVqANe74x4xDT6zt1n_qYughkfH-DySbMj2oipAjcIdvu7jtuxEdg5bvmLcFfAXTN8ZjOOPk5H4HCQe_6FyHyDngFhAf2xlipGqq971e1oDv4uvm76-JKttXa7U_d8wKQqbMCciL7_fWegaejUE6uIc-Dc-723X4Cw" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhBJD7pEug-2f0ui6wv74ZiE400XHVqANe74x4xDT6zt1n_qYughkfH-DySbMj2oipAjcIdvu7jtuxEdg5bvmLcFfAXTN8ZjOOPk5H4HCQe_6FyHyDngFhAf2xlipGqq971e1oDv4uvm76-JKttXa7U_d8wKQqbMCciL7_fWegaejUE6uIc-Dc-723X4Cw=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh1J0w6TncIDN1GmMoNPmZ7iYd02XKe8hhSDIQLTAU5Vz5tk1hoodt8GTdMTc9AXoYdn73lm3Eq4s6HUkEXy95plEZ_2fynyIxMOEBFx9G1x7uPvNUJJxa9cfq_A59-uitSgT8cIdvP6V3CsjVEQaV8agZyccbY1YhYAPki4JZ5zGjZrDMhoWlJ5g8RF-g" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh1J0w6TncIDN1GmMoNPmZ7iYd02XKe8hhSDIQLTAU5Vz5tk1hoodt8GTdMTc9AXoYdn73lm3Eq4s6HUkEXy95plEZ_2fynyIxMOEBFx9G1x7uPvNUJJxa9cfq_A59-uitSgT8cIdvP6V3CsjVEQaV8agZyccbY1YhYAPki4JZ5zGjZrDMhoWlJ5g8RF-g=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Semua berawal dari inisiasi komunitas lokal beserta warga desa yang berkolaborasi untuk melestarikan kearifan lokal. Papringan atau rumpun bambu, kerap ditemui di sekitar belakang pemukiman pedesaan, menjadi batas antara rumah-rumah dengan sawah, sungai atau hutan. Namun selama ini dirasa kumuh karena sering menjadi tempat pembuangan sampah, atau sarang nyamuk yang menjadi sumber penularan penyakit, atau bahkan dianggap angker. Padahal tanaman bambu sendiri menyimpan sejuta potensi yang sangat bermanfaat di segala lini kehidupan manusia. Mulai dari material konstruksi, peralatan pertanian, perabotan rumah dan banyak lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lahan bambu yang semula terbengkalai itu kemudian disulap menjadi pasar semi permanen yang asri dan bersih dengan memberdayakan masyarakat setempat. Mereka telah dilibatkan sejak perencanaan, pembangunan, pengelolaan hingga pelaksanaan di setiap gelaran Pasar Papringan. Hampir sebagian besar warga Dusun Ngadiprono ambil bagian di sini, juga tetangga dusun yang ditugaskan sebagai juru parkir, keamanan hingga pembuat kerajinan. Selain makanan dan minuman seperti kopi, wedang pring, jamu hingga dawet, berbagai kerajinan tangan yang terbuat dari bambu juga dijajakan di pasar bersama hasil tani seperti sayur mayur, cabai dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgb79_jtSne7njwU41v-4Bnyg8ykG2YFVvwd0PAJ-q4xHpTURAX46UU-9Y5fR9UxOWDMlixjJNcCgRrTRLTEMKSndeUHHijt4ShxgaAZv0FhvIi6Zfl6AdzgrGi58hZrYrxw3i-FhXoMSAJpeRVZQ16X6GC1yjnxa8wfcWygDQp9Oirwp69Bx4PXpcL69M" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgb79_jtSne7njwU41v-4Bnyg8ykG2YFVvwd0PAJ-q4xHpTURAX46UU-9Y5fR9UxOWDMlixjJNcCgRrTRLTEMKSndeUHHijt4ShxgaAZv0FhvIi6Zfl6AdzgrGi58hZrYrxw3i-FhXoMSAJpeRVZQ16X6GC1yjnxa8wfcWygDQp9Oirwp69Bx4PXpcL69M=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjBLqCARrwg7zYTR5vJUtJPENN-dojsuth3MkzV0701dPaLrkrvHka-1milMF-6Go0mX_FEmrvXflrHdpPAyJCL9cS-jvIT-OtBWMNGl0qx56nrDBhc4b8yIb_gIWiQciVzBS3hzSVojkSoPWesAngC_-iXCp9F9Gp5VnY-JzYwZvzRaD6ndbN0YjuoTVU" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjBLqCARrwg7zYTR5vJUtJPENN-dojsuth3MkzV0701dPaLrkrvHka-1milMF-6Go0mX_FEmrvXflrHdpPAyJCL9cS-jvIT-OtBWMNGl0qx56nrDBhc4b8yIb_gIWiQciVzBS3hzSVojkSoPWesAngC_-iXCp9F9Gp5VnY-JzYwZvzRaD6ndbN0YjuoTVU=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Daun dan pohon bambu yang saling sengkarut, malang melintang, seakan membentuk kanopi alami yang menghalangi panas matahari. Di antara lapak-lapak pedagang yang terbuat dari bambu pula, batu-batu ditata rapi untuk kenyamanan pengunjung, supaya tidak berlumpur ketika musim hujan, atau berdebu saat kering. Di sudut-sudut pasar juga disediakan fasilitas lain yang masih memanfaatkan batang-batang bambu, di antaranya perpustakaan, area merokok, dan bilik menyusui. Juga taman bermain anak-anak yang dilengkapi dengan alat-alat permainan tradisional. Sedangkan toilet memanfaatkan kamar mandi di dalam rumah warga yang rata-rata membelakangi lahan bambu tersebut. Pada kesempatan tertentu akan dimainkan kesenian tradisional seperti tari-tarian yang diiringi oleh alunan gamelan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pasar Papringan juga membawa semangat revitalisasi desa. Desa selama ini selalu dianggap tertinggal dari masyarakat perkotaan, padahal segala sesuatu yang ada di kota sebagian besar juga berasal dari pedesaan yang memiliki sumber daya lokal melimpah. Ditambah pula banyaknya generasi muda dari desa yang telah menempuh pendidikan tinggi, lebih memilih untuk menetap dan mencari penghidupan di kota-kota besar. Hal itu membuat desa kehilangan potensi sumber daya manusianya, untuk mengangkat kemandirian desa dalam mengelola sumber daya lokal. Dengan adanya Pasar Papringan, anak-anak muda diharapkan bisa tertarik dan mau kembali untuk menuangkan ide dan dan menerapkan disiplin ilmunya demi kemajuan desa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEht-4ZiG-NERNWrZYNPJ8IdHv7FrU8IlJ6DM0G32BX_NtIRXff409R2fk43HohSN2hwbpDuChnSsZNnn93UPluEzUlrANTZyKlevYKElRrWU_wJ0iqugq1Hr9b6BZRXioj1iCRlfsODpX4UBEH6xT3LerH9mMM0aq7ftFMifJVNazfwvBL-GaunhjWnAMs" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEht-4ZiG-NERNWrZYNPJ8IdHv7FrU8IlJ6DM0G32BX_NtIRXff409R2fk43HohSN2hwbpDuChnSsZNnn93UPluEzUlrANTZyKlevYKElRrWU_wJ0iqugq1Hr9b6BZRXioj1iCRlfsODpX4UBEH6xT3LerH9mMM0aq7ftFMifJVNazfwvBL-GaunhjWnAMs=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj6hWM7BlWggCOrS_ukUWtMQA8zqjOk8lTK-RJ942F0pil-kM1cPsMuNqAxJDuITpyNgUtz3IjAXJ_omhL9O15sf62XQKyqldsY01qv4rg_Lwd7gs37hHig19AhLzNvlhXCg1N2WrcUpPzRPoSRjRpnphe6md0Qt4Sty6ETXkjf5tb9itL1_a2_W-Syos4" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj6hWM7BlWggCOrS_ukUWtMQA8zqjOk8lTK-RJ942F0pil-kM1cPsMuNqAxJDuITpyNgUtz3IjAXJ_omhL9O15sf62XQKyqldsY01qv4rg_Lwd7gs37hHig19AhLzNvlhXCg1N2WrcUpPzRPoSRjRpnphe6md0Qt4Sty6ETXkjf5tb9itL1_a2_W-Syos4=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt; &lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberhasilan Pasar Papringan menciptakan ruang yang memberi dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi masyarakat desa, sempat menginspirasi dan ditiru oleh daerah-daerah lain untuk membuat hal serupa bertahun silam. Bahkan mendapat dukungan langsung dari lembaga pemerintah yang mengurus bidang pariwisata, karena dianggap bisa menciptakan destinasi alternatif yang menarik wisatawan. Sekilas tak ada yang salah, karena hal baik memang seharusnya ditularkan. Namun saat ini hanya segelintir yang bisa bertahan, karena hanya mengejar kepopuleran di media sosial semata. Tak ada nilai-nilai dan semangat pelestarian kearifan lokal yang dibawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melihat berbagai makanan yang disuguhkan sebanyak itu di Pasar Papringan, membuat perut sudah terasa kenyang sendiri. Saya hanya sanggup mencicip 2 jenis makanan dan satu jajanan. Sementara kawan saya masih sanggup menandaskan lagi 1 porsi nasi merah. Kami masih belum ingin beranjak, lalu duduk-duduk saja di salah satu sudut pasar menikmati suasana teduh, mendengarkan alunan gamelan, melihat wajah-wajah bahagia pengunjung. Para orang dewasa juga sibuk bernostalgia dengan permainan tradisional egrang. Beberapa masih menunjukkan kemahirannya, sementara lainnya sudah menyerah dalam tiga kali percobaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjJw9uv44xsh4x5i6Q8OC32JZLo0Wxt7jPtFnYToL7oHlCBULjJUJqLJZCUe2JeyRovethbXi_lw-YGZ9Ypbky_1FpmcWeRHQt5IolqVJLbM3okAebt7bLfvKYDhB4VhpYR0D2fezuKvlwoBd1I9Ajiuu-kB9yLb5WjqBsMWh07mjzhmTF1WW0C5Bd8ROk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjJw9uv44xsh4x5i6Q8OC32JZLo0Wxt7jPtFnYToL7oHlCBULjJUJqLJZCUe2JeyRovethbXi_lw-YGZ9Ypbky_1FpmcWeRHQt5IolqVJLbM3okAebt7bLfvKYDhB4VhpYR0D2fezuKvlwoBd1I9Ajiuu-kB9yLb5WjqBsMWh07mjzhmTF1WW0C5Bd8ROk=w640-h427" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgd4hmj5p5Z4F8BI1M_I0EYhih3dzBfscHkyT-bU_xzlcbwQy9eG6BmAXsntQwHnQ3Y-PxPW_CfWdh-okNiSMKeRtqJwaE2eXhVZNQpI87dZ0hJHF5ekYm-2pwR6S4PqjU6UamyPsZzpBoX5xqEyzWUnaxLGkGFLie3MAZCQjwCUdEXy1pVXRyTzXfSVBk=s72-w640-h427-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Serayu Merayu</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/11/merayu-kereta-api-serayu.html</link><category>Bandung</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Kereta Api</category><category>Serayu</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 17 Mar 2025 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-4179889953092731907</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya terbangun ketika sadar kereta yang saya tumpangi sedang berhenti di stasiun Cikarang. Sambil mengucek mata dan mengumpulkan nyawa, saya melirik jam di gawai. Bahkan belum genap satu jam kereta berangkat tapi saya sudah tertidur pulas. Ini tentu akibat dari semalam yang tiada bertemu nyenyak selama di kereta Brantas menuju Jakarta. Tiketnya memang saya dapatkan cukup dadakan, dan yang tersisa hanya nomor-nomor tempat duduk yang kurang ideal. Ditambah pula setibanya di Pasar Senen pagi-pagi buta, berjam-jam setelahnya hanya saya habiskan dengan luntang-lantung tak jelas untuk menunggu kereta berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedangkan tiket kereta api Serayu seharga 67 ribu rupiah, sudah saya tebus terlebih dahulu. Pagi itu kereta akan membawa saya dari Jakarta menuju Purwokerto. Saya sengaja melakukan perjalanan menggunakan kereta api kelas ekonomi secara estafet. Ide ini tercetus begitu saja ketika saya merasa sedang butuh pelarian dari rutinitas pekerjaan. Mungkin ini terdengar agak kurang waras untuk sebagian orang, namun percayalah hal-hal seperti ini terkadang memang perlu dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgNMtNFSNoz35ESuJaoCdDXOly_UBdcj9aZy3J21-YkvVwaLdyKVPRl6Y8xJSuYG7KM051Dbt0lQxcWoQi76kB_OcPIF-biR349R1nnGS3zlo2D-dO_Kbldvcom2KgSiYmrQy2O_ECU3p0Q0fR-4PU-sufNLmrd0pEc-vW1Kq40w3wpEi0vcj-28QhQmRA=w640-h427" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kereta kembali melaju, suasana di dalam kereta ekonomi 6 cukup riuh oleh berbagai celoteh keceriaan anak-anak. Hari Senin depan tahun ajaran baru akan dimulai, banyak anak-anak yang kembali dari liburan sekolah mereka menggunakan transportasi kereta api. Di depan saya duduk sepasang bapak dan anak perempuannya, kami sebelumnya sempat terlibat sedikit kesalahpahaman mengenai nomor tempat duduk. Dengan sedikit penjelasan, akhirnya si bapak bisa mengerti tanpa perdebatan yang panjang. Mereka nantinya akan turun di Tasikmalaya. Si bapak rupanya sedang mengantar pulang anak perempuannya kembali usai liburan sekolah yang dihabiskannya di Jakarta, kota di mana sang bapak mengadu nasib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sesekali petugas akan berkeliling dengan perannya masing-masing. Kondektur diikuti oleh petugas keamanan, petugas kebersihan yang selalu memastikan setiap sudut kereta tetap terjaga,&amp;nbsp; hingga prama dan prami menawarkan makanan ataupun minuman dari kereta restorasi kepada para penumpang. Di lorong-lorong kereta, mereka berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Kanan-kiri-maju-mundur, kereta bergoyang mengikuti permukaan rel yang tak rata, bahkan terkadang mengentak tiba-tiba ketika roda-roda besi melindas wesel percabangan atau sambungan rel. Bagi para penumpang yang hanya duduk diam, laju kereta juga seakan meninabobokan manusia-manusia dewasa yang jam tidurnya berantakan. Tak terkecuali saya. Selepas melewati stasiun Cikampek, saya kembali terlelap ke alam mimpi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjmUIwhPLfQ8r_RKEwf6rIn5zbbOMWadylBWxNiPSpt_YCPIhKeiwiMmx1jaRAaujkWyLzw8Xnk13WRhy4Vpv8FqpXyoDxZDjTIpmHM76N96gLBdwPZa5jeQywJNBMHBsYYAHpLK4y4_ZxCjBZrdE66xCA2nTWfkQG8k9TjT5o_kLHliTH1se5SAM1RQVQ=w640-h426" width="640" /&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj_Ae9XaLb92yZO7fU_NAYskgAyAqi01Av0e9Stbd5K6-Qr07Q3w9pvDUkKFeGKGmpdU2RxMbdGScA9dzfnlxoy7iFxUpREsFjOBB73fis_rBwcX2FsQxFyWhovDRIV4Sl8e68bEUd02B2_nkAwEDtCsw1xizoM2soklADgjDnWcCtX3ZK3dh0-n9owcxE=w640-h427" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Stasiun Purwakarta menjadi pemberhentian berikutnya. Di sini kereta api Serayu berhenti normal untuk naik turun penumpang selama beberapa menit. Sejumlah orang memanfaatkannya sejenak turun dari kereta untuk meluruskan kaki, sebagian lainnya sibuk menyesap asupan nikotin. Sementara saya yang terbangun lagi dari tidur, bersiap untuk sesuatu yang dinanti-nanti. Setelah ini pertunjukan utama yang sesungguhnya akan segera dimulai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam perjalanannya menuju Purwokerto, Serayu akan melintasi jalur pegunungan di tanah Pasundan. Mulai dari Purwakarta, Bandung Raya, Garut hingga Banjar di ujung timur Jawa Barat. Dari Stasiun Purwakarta yang berada +84 meter di atas permukaan laut, kereta akan banyak meliuk-liuk melewati jalur rel menanjak dan berkelok-kelok. Lokomotif menderu, terus mendaki, membelah dan mengitari punggungan bukit demi bukit lainnya, hingga menuju titik tertinggi di lintas ini yaitu Stasiun Nagreg di ketinggian +848 mdpl. Selain itu kereta seakan membawa kita terbang di awang-awang ketika melewati beberapa jembatan bentang panjang, dengan lembah-lembah dan jurang yang cukup dalam di bawahnya. Dua di antaranya adalah Jembatan Cisomang yang membentang di atas lembah sedalam 100 meter, dan Jembatan Cikubang dengan panjang kurang lebih 300 meter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgSHZQWj72__cZwe-MmgoVeh25PnqXciboL-l6Hz6qLFNf3aymaH3tIsE9U0rflkTaS-n10YIiIO7qnExZ9rHijFeOajRJ2m2J1yaewxFMLkOOhet8-X-_RNNhU7WRIuBHpARrUGPp-txRmgyA0UtbcqZfGU-DL7AY3xcQ4Yr7uL3uAemTdViSwxyAXGwk=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgSHZQWj72__cZwe-MmgoVeh25PnqXciboL-l6Hz6qLFNf3aymaH3tIsE9U0rflkTaS-n10YIiIO7qnExZ9rHijFeOajRJ2m2J1yaewxFMLkOOhet8-X-_RNNhU7WRIuBHpARrUGPp-txRmgyA0UtbcqZfGU-DL7AY3xcQ4Yr7uL3uAemTdViSwxyAXGwk"&gt;
    &lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;
  &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhP14roO01gKgJWh-6dC7AzTUuR1DbQPyCj9j-0jgpDoTQmM0BB2_3G7a_nG1dEoAdOd-i0Vu4WX5hIkb_DcbldhauFyUjAynfb_CQJDCPFRtlyE9z1WuXDvzhxsJgUm0_R-eoMHY8p2jqMGGJE0ke7k24UEHaIPkqvKm2zuRyjUqN5lyrzkg4aXZtbEEE=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhP14roO01gKgJWh-6dC7AzTUuR1DbQPyCj9j-0jgpDoTQmM0BB2_3G7a_nG1dEoAdOd-i0Vu4WX5hIkb_DcbldhauFyUjAynfb_CQJDCPFRtlyE9z1WuXDvzhxsJgUm0_R-eoMHY8p2jqMGGJE0ke7k24UEHaIPkqvKm2zuRyjUqN5lyrzkg4aXZtbEEE"&gt;
    
  &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pemandangan memanjakan mata di lintas inilah yang membawa saya menjajal kereta Serayu Pagi, khususnya dari arah Jakarta meskipun harus bersusah payah dahulu. Dari balik jendelanya yang sedikit buram, saya dapat menyaksikan bagaimana rupa lansekap tanah Priangan. Sawah-sawah mulai menguning, tanah ladang yang mengering hingga rumah-rumah pedesaan Jawa Barat nan asri. Anak yang duduk di depan sayapun akhirnya ikut jepret sana-sini meminjam gawai si bapak, ketika melihat saya sibuk memotret pemandangan. Di kejauhan sana, di bawah langit yang sedang biru, terkadang menggambarkan pula betapa jahatnya tangan manusia merusak alam. Bukit-bukit hijau mulai bopeng, dan tebing-tebing dikepras demi kepentingan sesaat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sungguh mengagumkan sekali bagaimana bentang alam yang cukup ekstrim ini bisa dilalui oleh kereta api. Tak terbayangkan dahulu betapa beratnya pembangunan jalur rel kereta api sepanjang lintas Cikampek, Purwakarta hingga Padalarang ini. Menembus medan perbukitan yang&amp;nbsp; juga rawan longsor karena tanahnya cukup labil. Lintas ini sebetulnya hadir belakangan, Jakarta Bandung sudah lebih dahulu terhubung dengan kereta api pada 1884 melewati Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Demi memangkas waktu perjalanan, akhirnya &lt;i&gt;Staatsspoorwegen&lt;/i&gt; (SS) membangun jalur rel via Cikampek Purwakarta yang rampung pada tahun 1906.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjU0S6IewL7oFM7OOK0ILCk99on08Jsyh3RVqmgX7LPLemQD1eskBEIDK3qxYipMq4rAnOcEpEtqUm8KUHQ2TrM3yuEETfvs9wpjkbP52Pm5Q1XvF_C8j-YJygYwZTUyxc_pqHUmFeU8NHsyfbZN_6208oQFTsVwQVIYB5g9u6YyPl_OGdh2iPhUxAP9k0=w480-h640" width="480" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhi6ihQ9PrteQDU7KkidLM0ZWm2HnSItkRtYfcjrOWUUDP9mvBbGE46i5jj6F5KCmsbx0bcIbOoDB_XKmsf1Wrdv4zITpmdJ7S80Pp8pRd0qd_qAM84LDrbiA0KKNchvOpMnHoaS5CUHUCMP248F-2SZiG2yT7FG3DBZvhQd3I4z6mNofWJmCPbWKQlEWI=w640-h427" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhi6ihQ9PrteQDU7KkidLM0ZWm2HnSItkRtYfcjrOWUUDP9mvBbGE46i5jj6F5KCmsbx0bcIbOoDB_XKmsf1Wrdv4zITpmdJ7S80Pp8pRd0qd_qAM84LDrbiA0KKNchvOpMnHoaS5CUHUCMP248F-2SZiG2yT7FG3DBZvhQd3I4z6mNofWJmCPbWKQlEWI"&gt;
    
  &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kereta Serayu mulai melambatkan lajunya setelah melintasi terowongan Sasaksaat, salah satu terowongan kereta api terpanjang. Tak lama setelahnya berhenti di Stasiun Sasaksaat untuk bersilang dengan kereta api dari arah berlawanan. Di zaman yang segala sesuatunya dituntut serba cepat, momen menunggu bersilang seperti ini mungkin cukup menyebalkan. Namun kita tidak bisa menuntut banyak ketika naik kereta api kelas ekonomi macam Serayu ini, ditambah juga rute yang dilaluinya sebagian masih berupa &lt;i&gt;single track&lt;/i&gt;. Justru ketika kereta berhenti di stasiun-stasiun kecil seperti inilah kita bisa merasakan kembali romantisme kereta api, yang lebih dari seabad telah hadir menghubungkan berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lewat tengah hari kereta merapat di Bandung, lebih tepatnya Stasiun Kiaracondong. Di sini terjadi pergantian penumpang, di mana cukup banyak penumpang yang turun maupun naik. Saya mengingat kembali bagaimana dulu mengakrabi Bandung lewat stasiun ini. Meski cuma beberapa kali kunjungan singkat dalam satu atau dua hari, menjelajahi sudut-sudut kotanya hanya dengan angkot yang trayeknya membingungkan itu, membuat saya jatuh hati dengan Kota Kembang ini. Masih lekat dalam ingatan pula bagaimana dulu saya hampir terserempet angkot di sudut Pasar Baru, atau tersasar jauh hingga Cicaheum sana karena salah naik angkot.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgNgN5iNNVmt0ALBFqfNV5I8hAbU87EJUTEice_Jn7WMP3l9EihevTsHAI0o7tz4jswcwqvPdWVvqH2_ePo4MoWMFalsGovud9WVOai1ykiTG2kBmB3vvwLbKioYDMrq6nlGNMhu6uDjEtaCd3IWzFJTyiv9laW15D-j2w4N0kP26qZDEV0vplVgg1iH6c=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seorang kawan pernah berkata, perjalanan kereta api selalu menyenangkannya. Ia menikmati sekali waktu diam tanpa melakukan apapun di bangku kereta. Pikiran akan mengembara kemana-mana, sedangkan raganya hanya duduk di dalam sebuah kereta tua. Ingatan-ingatan macam itu tadi juga akan terkadang muncul saling bertumpuk di kepala. Hal-hal kecil yang terlihat sepele, keresahan juga ketakutan, dan beberapa lainnya yang barangkali penting akan diingat kembali dalam beberapa waktu ke depan. Atau berandai-andai mengenai sebuah rencana besar, yang nantinya akan mengubah dunia, meskipun sadar pikiran itu akan segera lenyap setelah turun dari kereta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kereta terus melanjutkan perjalanan ke arah timur. Ketika melewati persawahan di daerah Rancaekek, terlihat barisan perbukitan yang mengepung di segala penjuru, menegaskan bahwa Bandung memang berada di cekungan besar yang dulunya merupakan danau purba. Selepas Cicalengka, jalur kereta kembali menanjak menuju Nagreg, terus naik turun perbukitan hingga Cibatu. Lalu di Stasiun Cipeundeuy segala jenis kereta akan diwajibkan berhenti. Selain untuk naik turun penumpang, pengecekan rangkaian juga dilakukan di stasiun ini demi mengutamakan keselamatan perjalanan kereta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhR9bBe2Qb-Q4R0bjY0R6t5ttRcWIex2_PNnOMBqUeqgtngRGT32Vy5dh95_BWpP3upgkVxMnylGuScw_5_dLZ4g7cxp7O41LtzAeh2RpEiIInxjO2OybpRnQ9txdhhR28LY1mvmxfMeFVDqTM0bYoOxUviB7epKfxS5W-kqWmruPjQY2cU4uBx6UPMSBs=w480-h640" width="480" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEiaZo_SVWujFt1xVEiOXnmLgCNl31BeNSS6U2LEPSNQccyFuHlPSoAOkimKgWmqH6zSqG6xYmlDJSaSp5hsxFuLYcSxoD0pE5uV2Nfvn9ijaGW0VkE23-Rlpj29mcmifedC-Xn54Nkoiwcw-cuX6OrCOho4xEHy2bTY_LdH8hncixhDE0HjlC1UmC2S404=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selama perjalanan, stasiun-stasiun kecil di jalur selatan Jawa Barat ini cukup menarik perhatian saya. Nama-nama yang asing namun unik ketika dilafalkan. Seperti Maswati, Lebak Jero, atau Warungbandrek. Hampir jam 4 sore ketika Serayu berhenti di Stasiun Cirahayu. Stasiun kecil yang hanya digunakan untuk persilangan kereta ini sepertinya berada di daerah yang cukup terpencil. Tak nampak pemukiman atau jalan raya di dekat sini, hanya di kelilingi ladang dan kebun warga. Di peron stasiun, sambil menunggu kereta dari arah berlawanan melintas, petugas PPKA dan kondektur sedang asyik berbincang dengan warga sekitar yang baru pulang dari ladang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ketika tiba di Stasiun Tasikmalaya tepat waktu, banyak penumpang yang turun, termasuk bapak anak yang duduk di depan saya. Meskipun melelahkan, tampak raut wajah anaknya yang gembira setelah menghabiskan waktu libur bersama sang bapak. Saya sempat mencuri dengar bahwa si bapak tidak bisa pulang sampai akhir tahun nanti dan akan diganti lain waktu. Terasa menyedihkan memang, ketika seorang kepala keluarga harus mengadu nasib di tempat yang jauh dan meninggalkan anak istrinya. Saya rasa ini juga tentang ketimpangan yang semakin nyata setiap harinya, di mana kesempatan kerja di daerah macam Tasikmalaya jelas tak sebanyak di metropolitan Jakarta. Beberapa hal harus direlakan demi penghidupan yang lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhLkKkcGb1b7OxPWroEn6K_w8IcjX5Lq57YzqmjtLOWJrTN4Qw8uYsqNbbZbubC9DAtGtlmQbF25huRnuPSXBKsNiR10oKEJ1WuCQrHzA3NZMZaeg3AtX97S9Hlx_nFYJiEcPP2TpfcKmkfD5T6TR_W7nv4JR20AED1YvjSJ5292jU3U0wYiZjhidYLilI=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Serayu sangat menjadi penolong untuk kasus seperti ini. Tarifnya cukup murah karena menjadi salah satu kereta yang memperoleh subsidi atau PSO (&lt;i&gt;Public Service Obligation&lt;/i&gt;) dari pemerintah. Sayangnya saat ini kereta api yang mendapatkan bantuan subsidi sudah jauh berkurang dari waktu ke waktu. Saya tak habis pikir ketika melihat kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada pemberian insentif untuk kepemilikan kendaraan pribadi berbasis listrik, daripada transportasi publik yang lebih bermanfaat bagi khalayak. Tentu kita semua paham hal itu dilakukan bukan karena alasan lingkungan, melainkan demi kepentingan bisnis segelintir pihak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Oke, saya rasa cukup sampai di sini &lt;strike&gt;mengkritik pemerintah&lt;/strike&gt; meracaunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melihat kebersamaan bapak anak tadi, saya jadi teringat bagaimana dahulu bapak saya juga yang pertama kali mengenalkan transportasi kereta api. Saya masih ingat betul ketika diajak naik kereta ke Jakarta untuk menghadiri acara keluarga. Pada saat itu saya harus bolos sekolah beberapa hari. Dalam perjalanan malam hari di kereta ekonomi, bapak merelakan kursinya sehingga saya bisa tidur dengan nyaman. Sedangkan beliau lebih memilih tidur di lorong kereta. Atau di lain waktu ketika kami kehabisan tiket tempat duduk, tubuh saya yang kecil harus pasrah diselipkan di antara penumpang lain yang mendapat tempat duduk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selepas Tasikmalaya, Ciamis lalu Banjar, suasana di dalam kereta berangsur lengang. Kebanyakan penumpang Serayu dari arah Jakarta turun di daerah-daerah tersebut, jarang sekali dijumpai yang naik hingga pemberhentian akhirnya. Di kereta ekonomi 6 menyisakan beberapa saja yang masih bertahan. Dengan wajah kelelahan, sebagian melanjutkan tidur mereka, sementara lainnya hanya diam terpekur dengan gawainya masing-masing. Atau melamun saja memandangi langit yang mulai meredup di balik jendela kereta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sejatinya Jakarta-Purwokerto maupun sebaliknya bisa ditempuh lebih cepat lewat jalur utara dengan banyak ragam pilihan kereta, mulai dari yang termurah hingga kelas tertinggi. Bisa jadi ada beberapa jenis penumpang Serayu yang turun di Purwokerto, yang harus tabah selama lebih dari 9 jam perjalanan duduk di kereta ekonomi. Pertama adalah orang yang awam sama sekali perihal kereta, tak paham bahwa Serayu yang ditumpanginya harus memutar via Bandung, Tasik hingga Kroya. Penumpang jenis ini mungkin akan kapok setibanya di tujuan akhir. Yang kedua ialah yang berkantong cekak, dan kehabisan tiket kereta termurah menuju Purwokerto lewat jalur utara. Sementara segelintir lainnya mungkin orang-orang kurang kerjaan macam saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tempo hari ramai di media sosial perihal kritik tentang kereta ekonomi tipe 106 tempat duduk seperti yang digunakan Serayu ini. Kursi tegak berhadapan dengan ruang kaki terbatas dikatakan sudah tak manusiawi lagi, karena dirasa kurang nyaman untuk perjalanan jauh di zaman sekarang. Keluhan tersebut diamini pula oleh banyak warganet lainnya yang juga pengguna jasa layanan kereta api. PT KAI tentu tak tinggal diam, secara bertahap mulai melakukan pembaruan pada sarana-sarananya. Namun kabar baik itu tentu juga mengakibatkan penyesuaian harga tiket, dan bisa jadi nantinya cukup memberatkan bagi perantau macam bapak yang duduk di depan saya tadi, atau penglaju lainnya yang harus bolak balik menggunakan layanan kereta api.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="426" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgluta-562Vmbe7KGfzCG05AR2zz0ghyZFDmYalbi461wnbW7yqbnCLx5qBkZ-gNzRjdWDwLv2YMQrPeuCa-Pcp8-aborhwvtSScdt8KHp9HVHDwGRW1CwZmGGEh4BYcD_0oW2hG77aaxZeSA95G_M41pnvpkYVfAPDUb08Z-atY3UgBh2GD__iCjF2QeE=w640-h426" width="640" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgIDTCSI9kPXMxfSwY32OpQfaBlRretX9986ZpGqQ5rtSkg36SU9FHvlIx3SQq8oZE-51XHOBM-0HRh1-e75KhSxFODT4KTuFeCrspusFvx2SpeUv3pcupadYChAit10_XQRomMbGj4w2Anih6u9WfzzY2Ezf_zHqYqXGm5aEIbRbLUO_KLEf3CtQw3VuQ=w640-h427" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Senja di belakang laju kereta yang mengarah ke timur telah selesai ketika memasuki Jawa Tengah, menyusuri Sidareja, Maos hingga Kroya yang juga dilakukan pergantian posisi lokomotif, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto yang sudah tak jauh lagi. Langit sudah benar-benar gelap ketika saya melangkahkan kaki di lantai Stasiun Purwokerto yang mengkilap. Esoknya pagi-pagi sekali, saya tak sempat mandi saat melompat ke dalam gerbong kereta sekali lagi untuk kembali ke kota saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari perjalanan ini saya mungkin tak akan mendapat apa-apa. Karena memang saya tak sedang mencari sesuatu. Badan pegal-pegal karena terlalu lama duduk mungkin iya. Harusnya saya ingat umur sendiri untuk lebih rutin lagi berolahraga agar tubuh selalu bugar. Berbagai pertanyaan lalu muncul di benak. Kenapa orang harus berpergian? Kenapa manusia tidak bisa diam di satu tempat? Kenapa juga bapak dan anak perempuannya tadi tak bisa selalu berkumpul dalam satu rumah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgj7v7kx-8FWDTptOjOPCjCrLJnK_flO5T2TdeKMmSUy5mvztQpWd77XgLk_y9eOYogsT2VF-wg5lFi9y4LJSjubWHEwuKa61Gbp6t2f8phYWpXsSwFGZRAnKkicRxMjqRNpbiIMbfT5u_OpVjqsnYsuVUbrP2k5sWUExTy_vTJLXO-J23il1N_MMVRUfo" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="427" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgj7v7kx-8FWDTptOjOPCjCrLJnK_flO5T2TdeKMmSUy5mvztQpWd77XgLk_y9eOYogsT2VF-wg5lFi9y4LJSjubWHEwuKa61Gbp6t2f8phYWpXsSwFGZRAnKkicRxMjqRNpbiIMbfT5u_OpVjqsnYsuVUbrP2k5sWUExTy_vTJLXO-J23il1N_MMVRUfo=w640-h427" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj0zpxWcUHgIHIGWuf2S9Ac2Fl5rLZerngFBcmnK27zLZnW4C3pL11FY5i1eR4lazZG25ShtRcITusYrhBM5fCAHpujqbfDoG7wNUj_EkKbCHt1HH9bdRYvPk3q1X_YEG7xeoVzgtnsqNlMLtm8nXZGBl7PMiSTa6o0zBFOcxlMTp26h-pEuV1kNxuvyDk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj0zpxWcUHgIHIGWuf2S9Ac2Fl5rLZerngFBcmnK27zLZnW4C3pL11FY5i1eR4lazZG25ShtRcITusYrhBM5fCAHpujqbfDoG7wNUj_EkKbCHt1HH9bdRYvPk3q1X_YEG7xeoVzgtnsqNlMLtm8nXZGBl7PMiSTa6o0zBFOcxlMTp26h-pEuV1kNxuvyDk=w480-h640" width="480" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgNMtNFSNoz35ESuJaoCdDXOly_UBdcj9aZy3J21-YkvVwaLdyKVPRl6Y8xJSuYG7KM051Dbt0lQxcWoQi76kB_OcPIF-biR349R1nnGS3zlo2D-dO_Kbldvcom2KgSiYmrQy2O_ECU3p0Q0fR-4PU-sufNLmrd0pEc-vW1Kq40w3wpEi0vcj-28QhQmRA=s72-w640-h427-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ketika Januari Bersenandung Bagian Kedua: Banda Neira</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2025/01/panggung-intim-banda-neira-semarang2025.html</link><category>Banda Neira</category><category>Musik</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 30 Jan 2025 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-2996109675349432323</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah mengejutkan publik dengan kemunculannya kembali setelah hiatus selama hampir 8 tahun lamanya, Banda Neira seakan belum puas memberi kejutan-kejutan lain kepada pendengarnya. Lagu tunggal &lt;i&gt;&lt;b&gt;Tak Apa Akui Lelah &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;resmi meluncur sesaat setelah mengaktifkan kembali media sosialnya. Lalu diikuti dengan album penuh ketiga &lt;i&gt;&lt;b&gt;Tumbuh dan Menjadi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang berisi 9 lagu yang sudah tersedia di kanal layanan musik digital pada 1 November silam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Rupanya tak hanya itu, selang beberapa saat kemudian mereka mengumumkan akan menggelar pertunjukan spesial di Solo pada 21 Desember, yang kemudian langsung habis diserbu para pendengar yang ingin menyaksikannya langsung. Kabar baiknya, konser yang sama akan diadakan pula di kota-kota lain dalam serangkaian tur meliputi Jawa dan Bali. Tak perlu berpikir lama, tiketnya saya dapatkan dengan cukup mudah. Kesempatan ini mungkin saja tak datang dua kali, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
 &lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
Tibalah di hari pertunjukan, yang hanya berjarak beberapa hari seusai menyaksikan Adhitia Sofyan bernyanyi dengan gitarnya di tengah-tengah hujan. Saya melajukan motor menuju gedung pertunjukan setelah mengikuti misa sabtu sore. Jalanan sedikit padat, mungkin beberapa orang juga merayakan malam minggu mereka yang kebetulan sedang berbaik hati tidak menumpahkan air dari langit. Beberapa pasangan tampak berboncengan, beberapa lainnya menyelipkan bocah cilik yang dijepit di tengah-tengah. Lalu gerombolan sepeda motor dengan suara bising menyalip dengan agak seruntulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;SMI Building termpat berlangsungnya acara, tampak masih cukup baru. Kursi-kursi yang telah ditata rapi, terisi lebih dari setengahnya ketika saya datang. Kesan pertama yang saya dapat adalah wewangian yang mampir di indera penciuman. Saya tak tahu apakah di Semarang ini Banda Neira masih bekerja sama dengan Rumah Atsiri atau tidak, sepert halnya di dua kota sebelumnya yaitu Surabaya dan Yogyakarta. Saya duduk di barisan agak ke tengah, penonton yang duduk di kanan kiri saya masih memberi jarak satu kursi kosong, sehingga membuat saya duduk leluasa tanpa takut mengganggu dengan suara sumbang saya ketika ikut bersenandung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Panggung musik seperti inilah yang mungkin paling pas untuk saya pribadi. Bisa duduk tenang-tenang menikmati musik yang dimainkan, sesekali menggoyangkan kepala, atau kaki. Atau mengetuk-ngetukkan jari mengikuti irama yang mengalun. Tanpa hingar bingar &lt;i&gt;crowdsurf, &lt;/i&gt;tanpa takut bersenggolan dengan penonton lain. Tetapi untungnya musik yang dimainkan Banda Neira memang bukan jenis yang membikin penonton melakukan hal-hal seperti itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pertunjukan dimulai, Nanda dan Sasha naik ke atas panggung dengan gitar, biola, &lt;i&gt;keyboard, &lt;/i&gt;kalimba dan alat musik tiup &lt;i&gt;kazoo &lt;/i&gt;yang sudah menunggu di sana. Mereka mengenakan baju dengan warna yang senada yaitu biru. Tanpa berlama-lama, petikan gitar terdengar diikuti dengan gesekan pelan biola, memainkan &lt;i&gt;intro &lt;/i&gt;lagu yang berjudul sama dengan warna baju yang mereka pakai malam itu. &lt;i&gt;//Biru tuk sgala yang jauh/Biru tuk semua yang luruh//Bayang resah tak kan lesap/Segala pekat kan niscaya// &lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tenggelam &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;menyusul, lagu ini pernah dibawakan di konser Kita Sama-sama Suka Hujan berkolaborasi dengan Gardika Gigih dan Layur pada 2015 silam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gesekan biola yang menyayat hati terdengar kembali untuk mengawali &lt;i&gt;&lt;b&gt;Langit dan Laut. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Beberapa penonton, termasuk saya ikut merinding, ditambah dengan dinginnya suhu di dalam gedung pertunjukan. //&lt;i&gt;Dan dengarkan ombak yang datang menerjang kuatmu//Langit dan laut dan hal-hal yang tak kita bicarakan/Biar jadi rahasia menyumblim ke udara//&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhTj-_B8rgap5spQKZU_y6E8_FTsnvuiGGs2q0E_eCqEcZU6dhTPSQ5_NcAENmQa3cuhggtrcg4_iR4slM4LOuUmohNoKml95NgNgQ5xILMFqQGTqlrI3-KURHPYBvAWjMw3ttQhR54dcbCtRJE7SgV-9v6abTx3l178SFA6M-htQ_6E2SIEojnOFNG3EM" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhTj-_B8rgap5spQKZU_y6E8_FTsnvuiGGs2q0E_eCqEcZU6dhTPSQ5_NcAENmQa3cuhggtrcg4_iR4slM4LOuUmohNoKml95NgNgQ5xILMFqQGTqlrI3-KURHPYBvAWjMw3ttQhR54dcbCtRJE7SgV-9v6abTx3l178SFA6M-htQ_6E2SIEojnOFNG3EM=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lagu-lagu dari album terbarunya juga turut diperkenalkan, kali ini langsung di atas panggung. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Kan Terus Ku Tulis Sampai Napas Ini Habis,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;b&gt;Tak Apa Akui Lelah, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Tumbuh dan Menjadi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;berhasil dibawakan dengan apik di sesi pertama yang berlangsung selama 45 menit. Entah kenapa lagu-lagu itu terasa cukup akrab di telinga sejak pertama kali diluncurkan. Ini agak di luar kebiasaan saya ketika mendengarkan lagu baru, yang butuh tiga hingga empat kali dengar untuk &lt;i&gt;nyantol &lt;/i&gt;di kepala saya. Mungkin karena sebelum resmi meluncur, saya sempat mengikuti sesi dengar langsung bersama album terbarunya melalui siaran langsung di kanal Youtube mereka. Sesi itu terasa dekat dan hangat karena setelah sekian lama, mereka dapat menyapa langsung pendengarnya, meski dipisahkan layar gawai yang terhubung dengan internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebagai pengingat bagaimana awal perjalanan musik mereka, lagu-lagu di album &lt;i&gt;&lt;b&gt;Berjalan Lebih Jauh &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;(2013) tak luput dibawakan. Seperti &lt;i&gt;&lt;b&gt;Hujan di Mimpi, Di Atas Kapal Kertas,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Esok Pasti Jumpa &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang berhasil dibuat pada masa-masa awal mereka terbentuk. Bait-bait liriknya pernah saya salin mentah-mentah untuk menulis takarir pada unggahan foto di Instagram. Ini akan menjadi semacam pengakuan dosa saya di sini. Saya juga mengingat dulu sekali musik Banda Neira menjadi salah satu topik yang saya bahas ketika awal-awal belajar menulis di blog pribadi saya ini, itu pun banyak menyadur artikel-artikel lain di internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sesi kedua dimulai setelah jeda sekitar 10 menit. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Mimpilah Seliar-liarnya &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;menjadi yang pertama dinyanyikan, lalu disusul &lt;i&gt;&lt;b&gt;Ajariku Jadi Berani &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang mungkin merupakan satu dari deretan lagu bertema politis Banda Neira selain &lt;i&gt;&lt;b&gt;Tini dan Yanti, Rindu &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;atau pun &lt;i&gt;&lt;b&gt;Mawar. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Ananda Badudu yang pernah berprofesi sebagai jurnalis, membuatnya cukup aktif dan berani bersuara tentang kebenaran. Bahkan, ia pernah terkena tindakan represif dari aparat ketika demonstrasi besar-besaran yang meletus beberapa waktu silam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Perpisahan seakan mengajarkan kita untuk tetap bertindak secara dewasa dalam menghadapinya dalam lagu &lt;i&gt;&lt;b&gt;Teman Kau Hendak Pergi Ke Mana. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Dilanjutkan dengan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Seorang Pemula &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang mengingatkan kita untuk terus belajar, meski sebagai seorang dewasa. Dalam lagu &lt;i&gt;&lt;b&gt;Peganglah Tanganku, Coba Lagi Sekarang &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;penonton diajak ikut bernyanyi menuju bagian akhir lagu. Ada dua bait lirik berbeda yang harus dinyanyikan secara bersamaan, dan itu cukup berhasil menghangatkan hati dan suasana, meski pendingin udara bekerja tanpa memberi ampun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Senja di Jakarta &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dinyanyikan dengan sedikit mengubah liriknya. Sasha juga kembali memainkan kalimba yang menambah suasana lagu menjadi riang, meski liriknya cukup nelangsa karena terjebak macet belum lagi polusinya. Lalu &lt;i&gt;&lt;b&gt;Di Beranda &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;membuat suasana langsung berubah pilu. Seorang penonton diundang ke atas panggung karena membawa kedua orangtuanya ke konser pada malam itu. Ia juga mengaku berhasil meracuni orangtuanya dengan lagu-lagu Banda Neira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgE9pU4Q4uSVd1_9Ly2kamn4SsGlia3OtaS45O-2TgGUp2m360GlI2eQ_ns2c6liLDUztGSw2iU64uTj5HvuMxmDyFphcBmEwjSSS_VPLDBR2fbv_w2Rfl02UGIUBRmyfq5I5kUCZl91NV5bLiATpASpcryOjQMMHnvO173YOPiFvzGVWB3tfdQMQqd-yg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgE9pU4Q4uSVd1_9Ly2kamn4SsGlia3OtaS45O-2TgGUp2m360GlI2eQ_ns2c6liLDUztGSw2iU64uTj5HvuMxmDyFphcBmEwjSSS_VPLDBR2fbv_w2Rfl02UGIUBRmyfq5I5kUCZl91NV5bLiATpASpcryOjQMMHnvO173YOPiFvzGVWB3tfdQMQqd-yg=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di sela-sela jeda antar lagu, Nanda sempat bertanya kepada penonton apakah ada yang pernah menonton Banda Neira sebelumnya. Tetapi tak ada satu pun yang menjawab pernah, sebelum disusul oleh celetukan seorang penonton lain: "Keburu bubar..!" Dan betul, setelah memutuskan bubar tak lama setelah merilis album keduanya, banyak pendengar yang mengaku belum sempat menyaksikan pertunjukannya secara langsung. Sangat disayangkan, tetapi itu tak membuat para pendengarnya marah. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, tagar #terimakasihbandaneira menggema di media sosial sebagai bentuk ucapan terimakasih pada waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selama masa bubar itu, lagu-lagu Banda Neira juga sempat hilang dari daftar putar yang saya dengarkan. Sesekali terputar pada jam-jam lewat tengah malam, ketika sedang butuh asupan pendengaran untuk mengundang rasa kantuk. Tetapi itu bukan berarti musik Banda Neira membosankan sehingga membikin kantuk. Saya juga luput dengan kabar bahwa festival musik di Jakarta sana, Banda Neira yang dibawakan oleh Ananda Badudu dibantu oleh beberapa musisi lain, disambut positif oleh pendengar. Rupanya hal itu yang membuat Nanda berniat menghidupkan kembali Banda Neira. Ia diliputi rasa bersalah karena tak bisa mempertanggungjawabkan karyanya setelah memutuskan bubar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ananda Badudu beralih menuju &lt;i&gt;keyboard&lt;/i&gt; untuk memainkan &lt;i&gt;intro &lt;/i&gt;piano panjang &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sampai Jadi Debu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, yang terinspirasi dari perjalanan hidup dan kisah cinta kakek neneknya. Bagi sebagian orang, lagu itu terasa cukup sentimentil, termasuk saya. //&lt;i&gt;Selamanya/Sampai kita tua/Sampai jadi debu//Ku di liang yang satu/Ku di sebelahmu//&amp;nbsp; &lt;/i&gt;Bait tersebut seakan juga merekam cerita dalam hidup saya. Ibuk yang menyusul bapak mangkat beberapa tahun setelahnya, akhirnya berdampingan lagi di liang kubur. Seakan menegaskan apa itu cinta sehidup semati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lagu dengan bunyi piano dalam versi aslinya dimainkan oleh Gardika Gigih ini, ternyata sudah cukup populer di kalangan pendengarnya. Tak terhitung banyaknya kamera ponsel yang melayang-layang yang seakan berlomba mengabadikannya dari sudut terbaik. Hal ini sebetulnya tidak mengejutkan, jika melihat laman Banda Neira pada kanal layanan musik digital. Lagu tersebut telah diputar sebanyak ratusan juta kali, diikuti oleh &lt;i&gt;&lt;b&gt;Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;yang juga telah menyentuh puluhan juta kali terputar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Berjalan Lebih Jauh &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dimainkan sebagai penutup pertunjukan malam itu. Sekaligus mengajak pendengarnya merayakan kembalinya Banda Neira yang berjalan lebih jauh setelah memutuskan kembali dari masa hiatus mereka. Penonton serempak bertepuk tangan, mengikuti ketukan lagu, membuat lagu penutup tersebut semakin meriah. Saya juga mengingat lagu itu pada masanya, sempat menginspirasi saya untuk melakukan perjalanan-perjalanan akbar. Meski nyatanya, saya tak pernah berpergian lebih dari 1000 kilometer jauhnya dari rumah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selepas acara, saya tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan penonton lain, saat menuruni tangga. Ia mengungkapkan sedikit kekecewaannya karena beberapa lagu yang dibawakan, agak berbeda dengan versi asli rekamannya yang begitu megah, dengan iringan &lt;i&gt;string, &lt;/i&gt;piano, atau bahkan gebukan drum seperti pada beberapa lagu terbarunya. Padahal sesuai dengan tajuknya,&amp;nbsp; &lt;i&gt;&lt;b&gt;Panggung Intim: Berjalan lebih Jauh&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ini akan dibawakan tanpa melibatkan musisi lain. Hanya ada Nanda dan Sasha di panggung, ditemani beberapa alat musik yang bisa mereka mainkan sendiri. Hal ini sengaja dilakukan untuk membawa pendengar lebih dekat dengan karya-karya Banda Neira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Format ini tak hanya menjadi tantangan bagi mereka berdua, tetapi juga menjadi cara bagaimana memperlihatkan sisi asli dari Banda Neira, yang sederhana dan apa adanya. Lagu-lagu mereka sangat cocok dimainkan dengan gitar di teras rumah, di taman kota, maupun di tempat-tempat lain yang apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sasha bernama asli Saron Sakina yang berperangai ceria, terasa sangat pas tampil bersama Ananda yang sering menunjukkan gestur kaku di atas panggung, karena ia sendiri mengaku &lt;i&gt;introvert&lt;/i&gt; akut. Penampilan Sasha juga seakan membuktikan bawa dirinya tak perlu dibanding-bandingkan dengan personil sebelumnya. Ia akan melanjutkan estafet untuk membawa Banda Neira berjalan lebih jauh lagi menuju babak-babak yang baru. Banda Neira saat ini adalah Ananda Badudu dan Sasha, dan juga kita semua yang menghidupi karya-karyanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melalui panggung ini, dan juga album terbarunya, Banda Neira mengajak saya, dan juga kita semua yang mungkin saja pernah menyerah akan sesuatu, untuk melanjutkan perjalanan apa pun itu yang sedang kita tempuh, sampai napas ini habis. Saya pulang dengan hati yang hangat, beberapa lagunya masih terngiang-ngiang di telinga, dan mulut ikut menggumamkan lirik-liriknya di atas motor. Sampai-sampai hampir saja saya menerobos lampu merah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sampai jumpa di pertemuan-pertemuan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tabik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEizsZyIvWY_mERZl65YVKUIQUUW2YTRaEyYmlpR_rSCigteVGQSVGT8YAuVrsJoe8ED60LX-5HSwcPaISXFyoARvZaxIpiGwJX1fn8GmxOOJ2QAzwZqFTuQoYwsviX6L0CsU29lRyfWlZHWhPKj8MY8wsacLsF1qVQkkO8qZOqXG_XPEZAlFj1CVjSuyP8" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEizsZyIvWY_mERZl65YVKUIQUUW2YTRaEyYmlpR_rSCigteVGQSVGT8YAuVrsJoe8ED60LX-5HSwcPaISXFyoARvZaxIpiGwJX1fn8GmxOOJ2QAzwZqFTuQoYwsviX6L0CsU29lRyfWlZHWhPKj8MY8wsacLsF1qVQkkO8qZOqXG_XPEZAlFj1CVjSuyP8=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhTj-_B8rgap5spQKZU_y6E8_FTsnvuiGGs2q0E_eCqEcZU6dhTPSQ5_NcAENmQa3cuhggtrcg4_iR4slM4LOuUmohNoKml95NgNgQ5xILMFqQGTqlrI3-KURHPYBvAWjMw3ttQhR54dcbCtRJE7SgV-9v6abTx3l178SFA6M-htQ_6E2SIEojnOFNG3EM=s72-w640-h480-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Ketika Januari Bersenandung Bagian Pertama: Adhitia Sofyan</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2025/01/adhitia-sofyan-solo-tur-2025-semarang.html</link><category>Adhitia Sofyan</category><category>Musik</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 29 Jan 2025 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-5256383109880970056</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hampir pukul 7 malam saya tiba di sebuah kedai kopi di sudut Jalan Rinjani, dengan suasana lampu-lampu kuning yang memberi kesan hangat. Beberapa orang sudah berkerumun, satu dua meja terisi, dikelilingi sekelompok teman dekat atau mungkin juga keluarga terkasih. Sambil berbincang, menghadap layar laptop yang menyala, ditemani gelas-gelas plastik es kopi susu yang meninggalkan jejak basah di meja. Tetapi saya datang ke sini tak benar-benar hendak minum kopi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beruntung langit sedang berbaik hati malam itu, mengingat dua hingga tiga hari ke belakang, hujan seakan tak ada hentinya sedari sore hingga tengah malam. Sebelum tiba, saya sudah menyiapkan mental, setidaknya sejak beberapa minggu terakhir. Sebagai seorang introvert akut, saya perlu berpikir seribu kali untuk menghadapi keramaian. Tetapi saya sudah kadung janji dengan seorang kawan, bahwa saya bertekad menjalani tahun yang baru ini dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, meski kabar berita seolah tiada habisnya datang membuatmu kecewa. Salah satu caranya, mungkin adalah menyaksikan pertunjukan musik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pertunjukan dimulai tepat waktu, tanpa banyak basa basi, setelah menyapa penonton dengan sedikit jenaka, Adhitia Sofyan dengan rambut klimisnya, mulai melantunkan lagu pertama. &lt;i&gt;//Memilihmu perlu persiapan dan mental/Bagai memilih masuk ke sekolah unggulan&lt;/i&gt;// Saya tersenyum, mengingat bahwa lagu inilah saya yang membawa berkenalan dengan musik Adhitia Sofyan ketika dulu sekali saya begitu tergila-gila mendengarkan radio. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Memilihmu&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sendiri masuk dalam daftar kompilasi yang dikeluarkan oleh sebuah jaringan radio ternama pada medio 2008 silam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;In To You &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;menyusul, lalu dilanjutkan dengan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Number One &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;sebelum akhirnya Mas Adhit benar-benar mengucapkan selamat datang di pesta kebun pribadinya yang disulap dari area terbuka sebuah kedai kopi. Dalam rangkaian tur solonya awal tahun 2025 yang digelar di 10 kota ini, Semarang sebagai titik ketiga agaknya sengaja dibuat berbeda. Di Bogor dan Bandung, pertunjukan mengambil tempat di dalam ruangan dengan suasana yang dekat dan hangat, karena ia sendiri ingin mengajak mereka yang datang seperti layaknya bertamu ke rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Rangkaian tur ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang sudah diraih dan dilaluinya selama bermusik. Selain bernyanyi, ia juga akan lebih banyak bercerita tentang lagu-lagunya. Hal yang tak bisa dilakukannya ketika berada di panggung atau festival besar. Maka tempat-tempat yang tidak begitu besar macam kedai kopi atau kafe, sengaja dipilih untuk menciptakan suasana dekat dan akrab yang memberikan pengalaman personal bagi yang mendengarkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gemericik air mancur di sudut taman terdengar ketika &lt;i&gt;&lt;b&gt;Forget Jakarta &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dinyanyikan. Beberapa penonton juga ikut bersenandung kecil-kecilan, sambil menggoyangkan kepala dengan riang. Beberapa pendengar mengenal Adhitia Sofyan sebagai musisi spesialis yang menulis &lt;u&gt;lagu&lt;/u&gt; tentang kota-kota dan kenangan di dalamnya. Selain Jakarta, malam itu ia juga melantunkan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sesuatu di Jogja &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Adelaide Sky &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;menjelang penghujung acara. Dua lagu tadi sudah seperti menu wajib di konsernya. Sayang, Bandung dan Tokyo luput disebut malam itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langit malam yang sesekali terlihat kilatan petir di kejauhan tak menghalangi &lt;i&gt;&lt;b&gt;Blue Sky Collapse &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;untuk dibawakan. //&lt;i&gt;Still everyday i think about you/ I know for a fact that's not your problem//If you change your mind you'll find me hanging on to the place/Where the big blue sky collapse//.&lt;/i&gt; Mungkin memang betul, sebentar lagi langit benar-benar ikut runtuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;8 Tahun &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;menyusul, dilanjutkan dengan &lt;i&gt;&lt;b&gt;9 Tahun. &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Dua lagu tersebut sengaja ditulis sebagai catatan pengingat perjalanan karir bermusiknya. Adhitia Sofyan dikenal sebagai &lt;i&gt;bedroom musician,&lt;/i&gt; karena memang semuanya ia kerjakan dari kamar tidur pribadinya. Mulai dari menulis lagu, merekam kemudian mempublikasikannya dari kamar tidur.&amp;nbsp; Ia hanya mengandalkan vokal dan gitar akustik yang diakuinya terdengar lebih spontan, jujur dan apa adanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ia percaya diri melanjutkan karir sebagai musisi setelah mendapat respon positif melalui 2 lagunya yang dimuat dalam kompilasi sebuah jaringan radio ternama. Padahal, ia sempat mengubur cita-citanya itu karena pernah gagal menjadi mahasiswa di sebuah sekolah musik. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Quite Down, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;menjadi album pertamanya yang berhasil dibuat dari &lt;i&gt;bedroom recordings.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meski dikenal lewat lagu-lagunya yang banyak berbahasa Inggris, dan beberapa lainnya menggunakan bahasa Indonesia, ia sebetulnya cukup fasih berbahasa Jawa karena sempat tumbuh dan besar di Solo. Malam itu dengan sedikit jenaka, ia sesekali melempar celetukan-celetukan bahasa Jawa dengan aksen medhoknya yang mungkin dibuat-buat, lalu disambut dengan gelak tawa penonton. Kemudian &lt;i&gt;&lt;b&gt;Dan Ternyata &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dilantunkan. Beberapa penonton ikut menyanyi dengan riang. Padahal liriknya, ..sungguh pedih. //&lt;i&gt;Dan ternyata kowe ijek nomer siji/Padahal aku wegah ngitung nganti loro//Sing penting ojo jali/Nek kowe bali kabari//&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Angin sedikit berhembus, menerbangkan daun-daun kecil yang berguguran seperti layaknya &lt;i&gt;confetti &lt;/i&gt;di konser-konser besar. Gerimis mulai turun ketika &lt;i&gt;&lt;b&gt;Pesan di Balik Awan &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dinyanyikan, seperti sedang betul-betul menyampaikan pesan di balik awan. Lalu jas hujan mulai dibagikan panitia. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Dunia Paralel, Seniman, &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;Gaze &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;berturut-turut dinyanyikan seiring hujan yang agaknya sudah tak bisa ditahan lagi. Penonton masih terus ikut bernyanyi riang, sehingga membuat suasana tetap hangat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selepas tur solonya ini selesai, album baru akan segera meluncur. Mas Adhit berkata bahwa album yang sepenuhnya berbahasa Indonesia ini, akan menjadi penutup dari lagu-lagu tentang kisah cinta yang sebetulnya masih memiliki satu benang merah. Setelahnya ia akan lebih banyak bercerita tentang kehidupan. Lagu berjudul &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sumbang,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; dari album mendatang itu turut ia nyanyikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;After The Rain &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dibawakan sebagai penutup pertunjukan malam itu. //&lt;i&gt;If only I could find my way to the ocean/I'm already there with you//If somewhere down the line we will never get to meet/I always for you after the rain// &lt;/i&gt;Lagu selesai, tetapi hujan tampaknya belum akan berakhir. Penonton membubarkan diri, padahal saya masih ingin mendengar &lt;i&gt;&lt;b&gt;Midnight &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;September &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dinyanyikan secara langsung malam itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh1nf6zLj3Q-OzwNBmxs1UI6GmnFca_-fn4g7AJogbh5cJBIG39Hqz_kuBI2jy9PhtBaj7IRuAKbWGYvuONmETTMJ-lUK1nPjeRKpLSQ6dSA8ENbl3qefk5HSTtmx89b2nX7w62nz0Ei4FG70QLSrpeASlJIu6W8XI4HvCcDQ93Fyf1C54r9cykUWf_AxU" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh1nf6zLj3Q-OzwNBmxs1UI6GmnFca_-fn4g7AJogbh5cJBIG39Hqz_kuBI2jy9PhtBaj7IRuAKbWGYvuONmETTMJ-lUK1nPjeRKpLSQ6dSA8ENbl3qefk5HSTtmx89b2nX7w62nz0Ei4FG70QLSrpeASlJIu6W8XI4HvCcDQ93Fyf1C54r9cykUWf_AxU=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEh1nf6zLj3Q-OzwNBmxs1UI6GmnFca_-fn4g7AJogbh5cJBIG39Hqz_kuBI2jy9PhtBaj7IRuAKbWGYvuONmETTMJ-lUK1nPjeRKpLSQ6dSA8ENbl3qefk5HSTtmx89b2nX7w62nz0Ei4FG70QLSrpeASlJIu6W8XI4HvCcDQ93Fyf1C54r9cykUWf_AxU=s72-w640-h480-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Banda Neira yang Kembali Berlayar Lebih Jauh</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/11/album-baru-banda-neira-tumbuh-dan-menjadi.html</link><category>Banda Neira</category><category>Musik</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 4 Nov 2024 11:11:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-8621947949882092728</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menjelang penghujung Oktober lalu, kembali aktifnya media sosial X &lt;a href="https://x.com/dibandaneira"&gt;Banda Neira&lt;/a&gt; mengejutkan linimasa. Para pendengarnya pun bertanya-tanya, apakah ini pertanda mereka akan melakukan reuni, atau ada sesuatu yang lain? Seperti yang kita tahu, band yang awalnya digawangi duo Ananda Badudu dan Rara Sekar ini, dinyatakan bubar di tahun yang sama ketika album kedua &lt;b&gt;Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti&lt;/b&gt; (2016) dirilis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selama hampir 8 tahun semenjak itu, dalam rentang waktu yang lebih panjang daripada masa aktif mereka sebagai sebuah band, lagu-lagu Banda Neira terus dihidupi dan menemui para pendengarnya lebih banyak lagi, serta menemani mereka saat melewati masa-masa sulitnya. Selama itu pula pendengarnya menanti-nanti kapan mereka akan kembali bermusik bersama membawa nama Banda Neira. Rara Sekar sendiri telah memulai proyek musik bernama &lt;a href="https://www.instagram.com/musikhara?igsh=MWNqZGlmYXIzNXk1Yw=="&gt;hara&lt;/a&gt;, sementara Ananda Badudu juga sempat menjalankan proyek solo.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kini Banda Neira akhirnya resmi kembali berlayar, menjawab semua kerinduan pendengar dan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tak ada yang tahu, meski tak semuanya pula bisa terpenuhi. Melalui &lt;i&gt;single&lt;/i&gt; Tak Apa Akui Lelah, Banda Neira juga memperkenalkan &lt;a href="https://www.instagram.com/sashaiguana?igsh=MXFvZnExMDkyYjlyeg=="&gt;Sasha&lt;/a&gt; sebagai formasi baru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"Cukup delapan tahun saya menanggung perasaaan bersalah tidak bisa mempertanggungjawabkan karya di hadapan pendengar. Kali ini saya masih ingin merayakan Banda Neira bersama pendengar. Selagi saya masih hidup. Selagi masih bisa," tulis Ananda Badudu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;center&gt;
&lt;blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned="" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DB0vjPuTreV/?utm_source=ig_embed&amp;amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style="background: rgb(255, 255, 255); border-radius: 3px; border: 0px; box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.5) 0px 0px 1px 0px, rgba(0, 0, 0, 0.15) 0px 1px 10px 0px; margin: 1px; max-width: 540px; min-width: 326px; padding: 0px; width: calc(100% - 2px);"&gt;&lt;div style="padding: 16px;"&gt; &lt;a href="https://www.instagram.com/p/DB0vjPuTreV/?utm_source=ig_embed&amp;amp;utm_campaign=loading" style="background: rgb(255, 255, 255); line-height: 0; padding: 0px; text-align: center; text-decoration: none; width: 100%;" target="_blank"&gt; &lt;div style="align-items: center; display: flex; flex-direction: row;"&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 19% 0px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="display: block; height: 50px; margin: 0px auto 12px; width: 50px;"&gt;&lt;svg height="50px" version="1.1" viewbox="0 0 60 60" width="50px" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg"&gt;&lt;g fill-rule="evenodd" fill="none" stroke-width="1" stroke="none"&gt;&lt;g fill="#000000" transform="translate(-511.000000, -20.000000)"&gt;&lt;g&gt;&lt;path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"&gt;&lt;/path&gt;&lt;/g&gt;&lt;/g&gt;&lt;/g&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-top: 8px;"&gt; &lt;div style="color: #3897f0; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: 550; line-height: 18px;"&gt;View this post on Instagram&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 12.5% 0px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="align-items: center; display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px;"&gt;&lt;div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px); width: 12.5px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12.5px; margin-left: 2px; margin-right: 14px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px); width: 12.5px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: 8px;"&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="border-bottom: 2px solid transparent; border-left: 6px solid rgb(244, 244, 244); border-top: 2px solid transparent; height: 0px; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg); width: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-left: auto;"&gt; &lt;div style="border-right: 8px solid transparent; border-top: 8px solid rgb(244, 244, 244); transform: translateY(16px); width: 0px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12px; transform: translateY(-4px); width: 16px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="border-left: 8px solid transparent; border-top: 8px solid rgb(244, 244, 244); height: 0px; transform: translateY(-4px) translateX(8px); width: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="color: #c9c8cd; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin-bottom: 0px; margin-top: 8px; overflow: hidden; padding: 8px 0px 7px; text-align: center; text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap;"&gt;&lt;a href="https://www.instagram.com/p/DB0vjPuTreV/?utm_source=ig_embed&amp;amp;utm_campaign=loading" style="color: #c9c8cd; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 17px; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;A post shared by Banda Neira (@_berjalanlebihjauh)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;script async="" src="//www.instagram.com/embed.js"&gt;&lt;/script&gt;
&lt;/center&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seakan tak diberi jeda, Banda Neira juga sekaligus mengumumkan album baru mereka yang akan dirilis tanggal 1 November, melalui kanal layanan musik digital. Album penuh ketiga berjudul &lt;b&gt;Tumbuh dan Menjadi&lt;/b&gt;, akan menandai babak baru perjalanan musik mereka sebagai sebuah band.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah tampil di Pestapora pada September 2023 yang disambut antusias, Nanda mulai berpikir untuk menghidupkan kembali Banda Neira. Akhir tahun itu pula ia mulai mengumpulkan materi untuk langsung menggarap sebuah album baru, karena tak ingin kembalinya Banda Neira hanya sebatas proyek nostalgia saja. Namun pada saat itu Nanda masih bimbang, apakah akan melanjutkannya sendiri atau mengajak serta orang lain untuk terlibat. Ia sebetulnya juga tidak ingin meninggalkan ciri khas musikal Banda Neira yang kerap diisi vokal yang berlapis. Sementara itu, sudah ada satu dua lagu yang diproyeksikan akan dinyanyikan sendiri olehnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam perjalanannya, pada sepertiga penggarapan album, Nanda kemudian mengajak Sasha yang sudah tak asing lagi bagi dirinya, pada Juni tahun ini. Sasha telah banyak membantu sebagai vokal latar di panggung-panggung proyek solo Nanda ataupun ketika membawa nama Banda Neira. Namun Sasha tak langsung setuju begitu saja untuk bergabung, ada hal yang menjadi pertimbangannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"Tampil bersama di panggung dan berkarya bersama adalah dua hal yang sangat berbeda. Ada dua kepala dengan ego dan ide masing-masing yang harus diselaraskan ketika membuat karya musik bersama. Sedangkan tampil di atas panggung hanya berkutat dengan hal teknis," tutur Sasha dalam sesi bincang bersama media lewat Spaces di akun X Banda Neira.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sasha juga menegaskan bahwa bergabungnya dia bersama Banda Neira adalah untuk melanjutkan apa yang telah dikerjakan Rara Sekar, bukan menggantikan. Ia akan melanjutkan dengan lagu-lagu baru di babak yang baru untuk Banda Neira. Rara Sekar sendiri dalam postingan Instagram pribadinya mengucapkan selamat dan turut merayakan kembali berlayarnya Banda Neira. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"Meski tak semua yang kita tanam kita tuai bersama, benih tetap tumbuh -menjadi tunas, menjadi pohon, menjadi bunga yang mewangi dan menghidupkan hari-hari kita, meski tak lagi bersama," tulis Rara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tumbuh dan Menjadi berisi 9 nomor yang direkam dalam periode yang cukup singkat, yaitu dari Mei hingga diselesaikan pada September. Di lagu pembuka Kan Terus Kutulis Hingga Nafas Ini Habis, seakan menyiratkan alasan-alasan mengapa Banda Neira harus dilanjutkan. "&lt;i&gt;Kuceritakan tentang macam-macam. Dari Bentang alam, hingga perjuangan. Tentang yang terbuang, dan yang terpinggirkan. Kan kutambah baris, kan terus kutulis. Hingga nafas ini habis, tak akan ku berhenti."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nyawa Banda Neira masih sangat terasa di sini, dengan gebukan drum yang terdengar cukup kental. Ini menjadi hal baru yang membawa musikalitas Banda Neira menuju tahap selanjutnya, ungkap Sasha. Selain itu Sasha menambahkan, bahwa dari segi penulisan lirik, aransemen dan proses penciptaan lagu juga telah lebih berkembang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;center&gt;
&lt;iframe allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" allowfullscreen="" frameborder="0" height="152" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/1iIEfFBj0EbKakft7H6G4M?utm_source=generator" style="border-radius: 12px;" width="80%"&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/center&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam penggarapan album ini, Banda Neira juga melibatkan sederet musisi lainnya. Elemen &lt;i&gt;string section &lt;/i&gt;terdengar lagi di beberapa lagu seperti pada album sebelumnya, dimainkan oleh Ruang String Quartet asal Yogyakarta. Gardika Gigih juga kembali mengisi piano di lagu pertama dan &lt;i&gt;track &lt;/i&gt;nomor 7 berjudul Seorang Pemula. Pada lagu yang cukup eksperimental bagi Banda Neira berjudul Kan Semakin Menggema, Memerdekakan, denting piano dilantunkan oleh Mery Kasiman. Dentuman drum dimainkan oleh Putu Deny Surya dari Dialog Dini hari yang seakan membakar semangat pendengar pada lagu pertama, &lt;i&gt;single &lt;/i&gt;Tak Apa Akui Lelah dan di &lt;i&gt;track &lt;/i&gt;penutup yang juga menjadi judul album Tumbuh dan Menjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Reruntuh yang bernama asli Eky Rizkani, mengisi gitar pada lagu ketiga berjudul Ajariku Jadi Berani. Lagu yang sebetulnya telah direkam paling awal sekitar dua tahun silam ini, secara khusus dipersembahkan kepada orang-orang yang tak lelah berjuang di jalan kebenaran. Di dalam baris liriknya, Nanda menyebut nama-nama seperti Marsinah, Wiji Thukul, Theys Eluay, Munir, dan Bu Sumarsih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Secara keseluruhan, narasi pada lagu-lagu di album ini seperti membawa semangat baru tentang kembalinya Banda Neira. Juga menggambarkan optimisme di tengah rasa cemas dan takut yang melanda selama beberapa tahun ke belakang. Kita terlalu banyak dijejali dengan kabar buruk di mana-mana. Perang yang tak berkesudahan, bencana alam akibat krisis iklim, penyakit misterius, hingga ketamakan penguasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seperti pada baris lirik "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Aku, kita, dan juta lainnya. Kan lampaui apa pun yang di depan mata. Tumbuh dan menjadi,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;" kita diajak untuk terus bertumbuh dan menjadi manusia-manusia yang menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, apa pun yang terjadi di luar sana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selamat berlayar kembali, Banda Neira. Dan selamat mendengarkan Tumbuh dan Menjadi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total></item><item><title>Mendengarkan Kembali: Roekmana's Repertoire (2013)</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/09/roekmanas-repertoire.html</link><category>Musik</category><category>Tigapagi</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 30 Sep 2024 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-6328013690551301474</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pada pertengahan Juli lalu, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; secara resmi mulai tersedia di kanal layanan musik digital. Perlu waktu lebih dari sepuluh tahun bagi album yang dirilis pada 2013 silam ini akhirnya dapat dinikmati para pendengarnya melalui gawai masing-masing. Zaman terus berubah, begitu pula cara kita untuk mendengarkan musik. Tigapagi boleh dibilang sedikit terlambat untuk menghadirkan kembali album yang awalnya lahir dalam format fisik ini ke dalam bentuk digital.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Idealisme mungkin menjadi salah satu alasan mereka, hal yang pernah dilakukan musisi-musisi lainnya untuk menjaga karyanya agar tetap eksklusif. Di mana format rilisan fisik entah itu kaset, CD ataupun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;vinyl&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; masih diutamakan untuk menyebarluaskan karya. Atau mungkin saja beberapa urusan memang perlu waktu untuk dibereskan, karena konon royalti yang didapat dari kanal musik digital bisa dibilang tak seberapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tahun lalu sebetulnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;digipack&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; CD &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; edisi khusus dirilis ulang dalam jumlah terbatas melalui Demajors, sekaligus menjadi tanda tiket masuk konser yang akan diselenggarakan Tigapagi di Bandung. Konser yang bertajuk perayaan 10 tahun &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;itu juga menjadi penanda kembalinya Tigapagi dari hiatus selama beberapa tahun. Kini formasinya menggemuk menjadi lima sekawan, Sigit Agung Pramudita (vokal, gitar), Prima Dian Febrianto (gitar), Achmad Kurnia (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;cello&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;), Aisyah Sekaranggi Andjani (vokal, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;synth&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;), dan Indra Kusharnandar (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;keyboard&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;synth&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, piano).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhIehrIK7UCQ-Fni2ZEqc6F9HWT0QDxDjp7x8705Lj2FLv4kQYwoeYGXnimJZvmo51ddtk_yoJboOxb5P6VxqSRoeABkT7Ir3R1tF8wChL7Itkh2brOhO96SzA7Sf3xkPV6G305SjCmF5Gf0AVKTJYKp2FS9aG3rc1fy9VCztmrVK0aKDZlqCuaQpMXJnk" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhIehrIK7UCQ-Fni2ZEqc6F9HWT0QDxDjp7x8705Lj2FLv4kQYwoeYGXnimJZvmo51ddtk_yoJboOxb5P6VxqSRoeABkT7Ir3R1tF8wChL7Itkh2brOhO96SzA7Sf3xkPV6G305SjCmF5Gf0AVKTJYKp2FS9aG3rc1fy9VCztmrVK0aKDZlqCuaQpMXJnk" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pada awal dekade 2010-an adalah masa di mana musik-musik pop akustik dan sejenisnya sedang marak bermunculan di Indonesia. Musik yang memainkan beberapa instrumen akustik itu sedang banyak digandrungi. Sebagian melabelinya dengan sebutan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;folk&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, sementara yang lain menamainya musik &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;indie&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;. Nama-nama seperti Banda Neira dan Payung Teduh adalah sedikit di antaranya yang cukup sukses merebut hati pendengar musik kala itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tipapagi melalui &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; muncul sebagai salah satu pembeda. Pasalnya, unit ansambel musik asal Bandung ini memasukkan unsur bunyi-bunyian bernuansa tradisi Sunda ke dalam musiknya. Perpaduan tersebut menawarkan pendekatan artistik yang berbeda, meski bagi beberapa orang masih terasa asing di telinga. Seperti pada petikan-petikan gitar yang seolah disulap menjadi bunyi kecapi, begitu lembut tetapi bisa menghantarkan suasana dari riang menjadi tenang, lalu berpindah menuju suasana yang kelam. Formula ini rupanya disambut baik pula oleh para awak media, salah satunya adalah Vice Indonesia yang pernah menempatkannya dalam jajaran &lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="https://www.vice.com/id/article/album-terbaik-indonesia-satu-dekade-terakhir-the-sigit-jason-ranti-payung-teduh/"&gt;Album Terbaik dekade &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="https://www.vice.com/id/article/album-terbaik-indonesia-satu-dekade-terakhir-the-sigit-jason-ranti-payung-teduh/"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2009-2019&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Roekmana sendiri diambil dari penokohan ulang seorang mentor bagi Sigit Pramudita dkk, yaitu Agus Roekmana yang mendedikasikan hidupnya pada musik tradisional Sunda. Roekmana dalam album ini menjelma sebagai seorang figur perempuan yang pada usia senjanya, sedang gelisah mencari tentang makna-makna kehidupan dengan latar suasana tragedi 65. Meski unsur bunyi-bunyian &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;string section&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; di hampir keseluruhan album terasa megah dan kolosal, namun tetap membuat suasana menjadi kelam, kelabu, suram, atau apapun itu yang mengingatkan kita dengan apa yang terjadi pada bangsa ini di masa-masa gelap itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; sejatinya berisi 14 lagu yang tersambung tanpa jeda dalam satu &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;track&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; utuh berdurasi 65 menit. Konsep yang mungkin bagi sebagian orang masih dianggap baru, meski beberapa musisi pernah memakainya. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Outro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; dari satu lagu bisa saja diinterpretasikan oleh pendengar sebagai &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;intro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; pada lagu berikutnya, dan begitu seterusnya hingga akhir. Kita seolah akan dipaksa mendengar lagu-lagunya secara utuh dan runut, kemudian menyelami cerita-cerita dibaliknya yang berputar seperti sebuah siklus kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di zaman yang serba acak dan informasi-informasi yang kita terima berdasarkan algoritma internet ini, sepertinya memang perlu meluangkan sedikit waktu untuk mendengarkan album musik secara utuh dari awal hingga akhir, seperti halnya menonton sebuah film atau membaca lembaran buku. Meskipun tak bisa dipungkiri tangan akan terasa sedikit gatal untuk memencet tombol &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;skip&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; pada satu atau dua lagu yang dirasa kurang familiar di telinga. Mungkin hal ini pula yang membuat &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; sedikit sulit untuk dihadirkan pada layanan musik digital pada awalnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;center&gt;
&lt;iframe allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" allowfullscreen="" frameborder="0" height="152" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/115rswXhVTkKcQ9DFFfgii?utm_source=generator" style="border-radius: 12px;" width="80%"&gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/center&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"Alang-alang" diplot menjadi pembuka &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, diawali dengan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;intro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; petikan gitar dan lengkingan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;flute&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; yang mendayu, lalu suara vokal (alm) Ade Paloh, pentolan dari &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;band&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; SORE menyusul kemudian. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;"Hanya terpaku, suarakupun berseru. Cuma pilu, Cuma pilu. Anakku hilang tak kembali, Anakku yang hilang tak kembali"&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; Lagu yang terdengar cenderung riang di telinga awam ini sengaja ditempatkan oleh Sigit untuk menjebak pendengar agar menyimak keseluruhan album secara utuh. Meskipun begitu, suasana muram tetap terasa, terutama pada baris-baris liriknya yang menggambarkan rasa kehilangan yang menjadi awal kisah kelam dari Roekmana.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Vokal Ida Ayu Made Paramita Saraswati dari Nadafiksi langsung merasuk tanpa ampun melalui nomor berjudul "Erika". Suaranya yang begitu khas membuat unsur &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;folk&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; semakin terasa, dipadu dengan ritme pentatonik yang cukup menghanyutkan. Pada bagian baris lirik "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;You are just too good for me, But you are not so good for yourself&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;" lumayan membuat bergidik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"S(m)unda" menyusul tak lama kemudian, melalui lantunan dari Sigit sang vokalis, berkisah tentang kegelisahan Roekmana yang kehilangan sesuatu di tanah kelahirannya. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Satu per satu hilang dari hidupku, seiring waktu. Satu per satu tiada lagi, beranjak pasti, menghantuiku&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Roekmana seakan ingin membawa kita merasa tersesat pada "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Yes We Were Lost in Our Hometown&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;" sebagai nomor keempat. Lengkingan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;flute&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; yang pilu kembali terdengar menuju bagian akhir, membuat siapapun yang mendengarnya seperti menghayati kesedihan macam apa yang dihadapi oleh Roekmana. Kemudian rangkaian akapela akan menyudahi lagu sekaligus menghantarkan kita menemui "Batu Tua", ganjalan yang harus dilalui Roekmana di antara kemelut yang memuncak di dalam hatinya saat hari beranjak menuju sore. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Tetap menjadi tua, Tetap menjadi jingga meski lelah kau mencoba&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Sorrow Haunts&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;" yang bertempo lambat memberi kesempatan untuk&amp;nbsp; menghela napas sejenak, sekaligus membawa kita menuju perenungan yang dalam. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Everything just shades apart, yet there's nothing changes in me. Why I sing this song for you, Because death will do us apart&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;". Diikuti oleh "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Heufken&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;", satu dari dua lagu instrumental di album ini,&amp;nbsp; membuat semacam&amp;nbsp; jeda dengan iringan denting piano yang cukup kental.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;intro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; "Tangan Hampa Kaki Telanjang" mungkin akan membuat pendengar agak sedikit terperanjat. Nomor kedelapan pada album ini menggambarkan penyesalan pada hal yang pernah dilakukan oleh Roekmana, atau hal-hal lain yang tidak sempat dilakukannya di masa silam. Merelakan bisa jadi satu-satunya cara untuk terus hidup. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Selama hayat ini, ku hanya mengikuti dan ikuti. Mungkin suatu nanti, saat semua mati, kita mati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baris-baris lirik puitis yang diramu oleh Sigit terasa semakin magis ketika dilantunkan oleh Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca pada lagu berjudul "Pasir". Pada tahap ini Roekmana mungkin sudah lelah, mungkin juga sudah pasrah dengan kisahnya sendiri, karena segala sesuatunya yang terjadi di luar kuasanya sebagai manusia. Meski begitu, kesedihan masih saja menghantuinya pada lagu "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Vertebrate Song (The Maslow)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hampir tengah malam, segala sesuatunya berubah menjadi hitam putih. "&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Birthday&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;" sebagai nomor kesebelas muncul dengan semacam perasaan dingin yang menyergap, sebagai pengingat akan kematian yang akan dihadapi oleh siapapun. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Happy birthday and happy anniversary to you. But don't be too happy, cause you will see your face of death&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;". Lalu Roekmana kembali pada perenungannya, kali ini tentang upayanya yang telah berhasil menemukan jalan untuk mengisi beberapa lini kehidupan lewat lagu "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;The Way&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Track&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; instrumental kedua dalam album ini, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;De Rode Slaapkamer&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; mengalun menuju penghujung kisah dari Roekmana. Setelahnya terdengar potongan-potongan pidato Soeharto yang pernah disiarkan RRI ketika huru-hara 65 terjadi, disusun ulang menjadi bait-bait baru.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebagai penutup, "Tertidur" pendek saja dinyanyikan oleh Ajie Gergaji dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;The Milo&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;. Rangkaian bunyi &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;organ &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;yang panjang cukup menggetarkan hati. Suasana kelam seketika sirna, berubah menjadi perasaan damai dan tenang yang menyergap, seperti menghantarkan Roekmana menuju tidur abadinya. Dentingan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;glockenspiel&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; menghiasi &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;outro&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;nya yang begitu panjang, memunculkan perasaan lega. Tirai-tirai mulai ditutup menandakan pertunjukan yang telah usai. Begitu pelan, perlahan, menjauh, lalu sayup-sayup terdengar anak-anak kecil tertawa riang. Bagian akhir ini seakan-akan terhubung kembali pada lagu pertama, berputar macam sebuah siklus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Mendengarkan kembali &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; di 2024 membuat saya sedikit merefleksikan tentang september yang juga merupakan bulan kelahiran saya sendiri. Saya atau juga mungkin sebagian orang akan menyambutnya dengan sukacita pada setiap tahunnya, karena September Ceria-nya Vina Panduwinata memang sudah kadung mengakar di kepala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebagai orang yang lahir pada dekade 90an, saya tentu termakan mentah-mentah dengan pelajaran sejarah di bangku sekolah tentang peristiwa 65. Meski sebetulnya saya sedikit beruntung, karena belum terpapar dengan film propaganda penuh adegan kekerasan yang beberapa tahun silam sempat dilakukan pemutaran kembali demi kepentingan politis tertentu itu. Saya mengira huru-hara hanya terjadi di Jakarta dengan terbunuhnya 6 jenderal dan seorang perwira Angkatan Darat secara keji pada malam 30 September 1965. Lalu di setiap tahunnya akan dilakukan peringatan dengan pengibaran bendera setengah tiang di instansi-instansi, gedung perkantoran, hingga di depan rumah-rumah warga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di era keterbukaan informasi seperti sekarang, narasi-narasi alternatif tentang tragedi itu terus berkembang di masyarakat melalui berbagai macam media. Melalui buku, novel, film, dokumenter, artikel berita hingga video liputan-liputan beberapa media akhirnya sedikit memberi perspektif baru, khususnya bagi saya sendiri. Narasi yang mungkin akan sedikit sulit diterima oleh beberapa pihak itu, mengungkapkan sekelumit fakta bahwa mereka yang tertuduh atau diduga terlibat komunis juga merupakan korban dari pergolakan politik berdarah pada rentang waktu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;1965-1966&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah peristiwa pada malam 30 September, kekerasan demi kekerasan yang didukung militer terus meluas hingga penjuru negeri, dengan dalih pemberantasan terhadap anggota, simpatisan atau organisasi-organisasi yang bersinggungan dengan komunis. Sejumlah laporan dari para ahli sejarah dan peneliti menyebut angka ratusan ribu hingga jutaan orang terbunuh. Sementara puluhan ribu lainnya dipenjara dan diasingkan tanpa proses peradilan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bahkan dampaknya juga dirasakan hingga ke belahan bumi yang lain, yaitu para mahasiswa ikatan dinas yang dikirim oleh pemerintahan Soekarno untuk menjalani studi di luar negeri. Sebagian lainnya merupakan delegasi yang sedang melaksanakan tugas diplomatik. Mereka dianggap terafiliasi dengan komunis karena tidak mau mengakui pemerintah orde baru yang terbentuk di bawah Soeharto. Tiba-tiba saja paspornya dicabut, seketika itu pula mereka tidak memiliki kewarganegaraan atau &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;stateless&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, dan tidak bisa kembali ke tanah air.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Stigma negatif terus melekat pada mereka yang dituduh atau diduga komunis, bahkan setelah rezim orde baru tumbang sekalipun. Termasuk anak dan keluarga mereka yang tidak tahu menahu apa itu komunisme, juga turut mengalami diskriminasi dalam beberapa hal. Propaganda anti-komunis begitu kuat mengakar di masyarakat kita selama puluhan tahun, salah satunya melalui buku sejarah yang diajarkan di bangku sekolah-sekolah. Isu kebangkitan komunis juga terus digaungkan kembali tiap menjelang tahun politik demi kepentingan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Upaya rekonsiliasi terhadap korban atau penyintas nampaknya masih menjadi angan-angan. Namun setidaknya, pemerintah telah mengakui bahwa &lt;a href="https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160518_indonesia_hasil_rekomendasi_simposium65"&gt;negara terlibat dalam konflik horizontal pada tragedi 65&lt;/a&gt;. Pernyataan ini dibacakan oleh Sidarto Danusubroto yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden, menjadi salah satu kesimpulan akhir dalam acara Simposium Nasional mengenai tragedi 65 yang diselenggarakan pada April 2016 silam. Untuk pertama kalinya, pemerintah melalui sejumlah kementerian dan lembaga negara, bersama akademisi, peneliti dan beberapa organisasi yang menaungi korban dan penyintas, akhirnya bisa duduk bersama membahas apa yang terjadi pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;1965-1966&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; melalui pendekatan kesejarahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedikit kabar baik berhembus pada awal tahun 2023 lalu. Presiden Joko Widodo melalui siaran pers mengeluarkan pernyataan bahwa sebagai kepala negara, &lt;a href="https://www.bbc.com/indonesia/articles/cmmzl03vd3mo"&gt;mengakui dan menyesalkan adanya pelanggaran HAM&lt;/a&gt; berat pada sejumlah peristiwa yang terjadi di beberapa daerah di Tanah Air, termasuk di dalamnya tragedi 65. Hal ini dinilai cukup penting oleh beberapa kalangan, sebagai langkah awal untuk memulihkan hak-hak mereka yang menjadi korban secara adil dan bijaksana. Namun dari pihak para korban, pernyataan tersebut dianggap masih jauh dari harapan untuk mengupayakan keadilan melalui penyelesaian yudisial. Mereka juga menuntut komitmen yang sungguh-sungguh dari negara agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa-masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tahun demi tahun terus berganti, berbagai macam peristiwa juga datang dan pergi. Tepat hari ini &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; genap berusia sebelas tahun. Tanggal 'merah' yang oleh sebagian orang dianggap tabu untuk dibicarakan, atau mungkin membangkitkan kebencian terhadap kelompok tertentu. Memang sengaja dipilih Tigapagi sebagai hari perilisan repertoar Roekmana pada sebelas tahun silam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Segelintir orang mungkin akan menganggapnya sudah usang, termasuk pula pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Sedangkan sebagian lain tetap merayakan kehadirannya di kanal digital, lalu menyematkannya di unggahan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;instastories&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; mereka. Atau mengetwitkan pengalamannya di &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;twitter&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, bagaimana dahulu &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; begitu lekat menemani di masa-masa sulit mereka. Tigapagi melalui &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; juga seolah mengajak kita semua untuk tidak melupakan sejarah yang membentuk kita hari ini. Sejarah yang tak harus hitam dan putihnya saja. Siapa yang benar, siapa yang salah. Atau siapa yang menang, siapa yang kalah. Karena terkadang sejarah juga bisa menjadi abu-abu, atau merah atau bisa juga kuning.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagi Sigit Pramudita sendiri melalui esainya di situs &lt;a href=" https://pophariini.com/babak-roekmana-sudah-usai-oleh-s-pramudita/"&gt;Pophariini&lt;/a&gt; mengatakan babak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Roekmana's Repertoire&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; telah selesai, ditandai dengan diluncurkannya di kanal digital pada Juli lalu. Babak baru Tigapagi dimulai dengan terbentuknya formasi baru yang diharapkan akan memberi ide-ide baru. Orang-orang baru akan memberi semangat baru pula untuk keberlangsungan Tigapagi dalam bermusik, meninggalkan repertoar Roekmana menuju karya-karya selanjutnya di masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgT9RyBU2J5yOI20GcDqYu6YsQQSLF_izvMJrgtslGkYMbrOR-6FSbt1kjlE2XoHI0s3Pfk1H8yuKpnEcmuVf0-RG6weq2J0CKjphkdqKiMbvvSfZ8jW8E7CvoHllXgx7Km2S9hIUe3YpPlZPtgtFjWmd8CzZtPBSEwr4M5xZDlVpug4uMtyNByDJDKl3E=w451-h640" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="451" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Babak baru Tigapagi.&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgT9RyBU2J5yOI20GcDqYu6YsQQSLF_izvMJrgtslGkYMbrOR-6FSbt1kjlE2XoHI0s3Pfk1H8yuKpnEcmuVf0-RG6weq2J0CKjphkdqKiMbvvSfZ8jW8E7CvoHllXgx7Km2S9hIUe3YpPlZPtgtFjWmd8CzZtPBSEwr4M5xZDlVpug4uMtyNByDJDKl3E" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhIehrIK7UCQ-Fni2ZEqc6F9HWT0QDxDjp7x8705Lj2FLv4kQYwoeYGXnimJZvmo51ddtk_yoJboOxb5P6VxqSRoeABkT7Ir3R1tF8wChL7Itkh2brOhO96SzA7Sf3xkPV6G305SjCmF5Gf0AVKTJYKp2FS9aG3rc1fy9VCztmrVK0aKDZlqCuaQpMXJnk=s72-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tiga Puluh Tiga, Seperti Hari-hari yang Lain</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/09/tiga-puluh-tiga-seperti-hari-hari-yang.html</link><category>#AfternoonTalk</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 23 Sep 2024 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7717190818784438276</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tepat hari ini saya resmi berusia tiga puluh tiga. Seperti hari-hari yang lain, tampaknya saya akan menghabiskan hari ini dengan biasa saja, tidak ada sesuatu yang istimewa. Tidak ada perayaan atau semacamnya, seperti tahun-tahun yang lalu. Beberapa waktu yang lalu saya sempat akan merencanakan sesuatu pada hari ini. Mengambil jatah cuti kerja barang satu atau dua hari, sekadar bersantai di rumah atau berpergian ke suatu tempat yang dekat-dekat saja, lalu berkeliling sebentar atau mencari makanan khas yang ingin saya cicipi. Namun rencana hanyalah rencana, beberapa pekerjaan perlu dibereskan, dan kali ini memang sedang tidak bisa ditunda-tunda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di hari bertambahnya umur ini, sebetulnya dua tahun ke belakang saya mempunyai perayaan kecil, itu juga kalau pantas disebut perayaan. Saya mengajak serta seorang kawan lama, yang kebetulan memiliki hari lahir hanya berselisih satu hari. Kami berpergian bersama, ketika keadaan telah pulih seperti sedia kala, setelah kita semua melalui &lt;a href="https://ruangsore.blogspot.com/2024/06/pada-hari-hari-yang-berbeda.html"&gt;hari-hari yang berbeda&lt;/a&gt; dan berpergian bisa dilakukan kembali dengan aman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Mengingat kedua kota tempat kami tinggal berjarak ratusan kilometer, kami sepakat untuk bertemu di tengah-tengah saja, yang sekiranya bisa dijangkau dengan perjalanan kereta api. Dalam satu hari penuh, kami merencanakan untuk berkunjung ke tempat ini itu, lalu mampir satu atau dua kedai makan yang ketika membayangkannya saja kami tahu pasti lezat betul. Sepertinya hari ulang tahun kami akan menyenangkan sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nyatanya rencana kami meleset karena suatu hal, hari yang kami tunggu-tunggu itu sedikit berbeda dari yang diharapkan. Hari itu kami lalui hanya dengan duduk-duduk di bangku taman pinggir jalan sampai matahari mulai meninggi. Berbincang sambil memandangi sepeda motor dengan suara knalpot yang bising sedang beradu kencang dengan sepeda motor lain. Atau bapak-bapak pengemudi ojek daring dengan jaket usangnya kebingungan mencari alamat. Atau seorang ibu-ibu penyapu jalan sedang menjelma menjadi ninja untuk menahan panas terik yang menyengat, menyisakan kedua matanya saja yang telanjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di sore yang teduh, kami beranjak. Berjalan di trotoarnya yang lebar untuk mencari santap siang yang sedikit terlambat. Setelahnya, kami bergeser sedikit ke utara untuk menunggu matahari tenggelam yang berhias meg&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;-mega berwarna jingga. Di bawahnya, kapal-kapal berukuran raksasa sedang bersandar malas di dermaga pelabuhan. Kami jadi ingat dahulu sekali, kami sempat berangan-angan ingin melakukan petualangan bersama naik kapal laut menuju pulau-pulau kecil nan indah di ujung sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setahun setelahnya, ketika waktu begitu cepat berlalu dan umur sudah bertambah lagi, kami berjumpa kembali. Kali ini kami akan menyewa kendaraan, saya diberi tugas untuk mengemudi sekaligus menentukan rute dan titik pemberhentian, tempat-tempat yang sekiranya menarik untuk dihampiri. Sementara kawan saya dengan lagak seenaknya bilang, hanya akan menyusun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;playlist&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; lagu-lagu kesukaan yang akan diputar sepanjang perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seharusnya kami bisa saja saling mencurahkan keresahan dan ketakutan masing-masing di umur kami yang sekarang. Di mana kami sama-sama jauh tertinggal dari manusia-manusia lain seusia kami, usia yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Namun hal itu tak terjadi. Dia bilang kami harus bersenang-senang, setidaknya untuk satu hari itu. Soal bagaimana hari esok akan seperti apa, tak usah terlalu dipusingkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Que sera sera&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, apa yang akan terjadi, maka terjadilah. Setiap orang juga punya peran dan perjuangannya masing-masing, tambahnya. Tidak bisa disamaratakan atau dibanding-bandingkan satu sama lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya hanya bisa mengamininya dalam diam. Sekaligus bangga padanya bahwa sampai hari ini, setelah hal-hal buruk yang menimpanya, dia masih bisa tersenyum dan menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala. Saya juga bersyukur kami bisa bersua kembali, berjabat tangan dan saling memberi ucapan selamat datang di umur yang baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgoQl0Bv-k7BZ_1A8A_YlHHGg4rACylWlDiehJJfPBC1Xm9O7iId5cG091qhEXdF0TdVVWZifC0Bg1r1msNuk20zM2kzFXypnlTkdazYv-vffgJC1nPfQrdb25Q_fNmUvyuFh5ihVV4lRnAnuQxQcULs4Bt_3fXY2F4QO09dGGR74U48heYoXniRxV3Eqg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgoQl0Bv-k7BZ_1A8A_YlHHGg4rACylWlDiehJJfPBC1Xm9O7iId5cG091qhEXdF0TdVVWZifC0Bg1r1msNuk20zM2kzFXypnlTkdazYv-vffgJC1nPfQrdb25Q_fNmUvyuFh5ihVV4lRnAnuQxQcULs4Bt_3fXY2F4QO09dGGR74U48heYoXniRxV3Eqg=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langit sedang biru, menampakkan puncak-puncak gunung yang sungguh agung di kejauhan, mengiringi perjalanan. Kami larut dalam obrolan remeh tak penting, atau menertawakan tingkah laku pengendara lain yang kami temui di jalan, atau menggumamkan sebaris lirik lagu yang cukup akrab di telinga sedang terputar, lagu-lagu yang dahulu menemani masa-masa muda yang menyenangkan itu. Di sebuah tempat pemberhentian yang direncanakan, kami hanya duduk melamun di pinggir telaga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebuah sampan melaju di atas air, pelan-pelan saja karena tidak sedang mengejar apa-apa. Riak-riak kecil mengekor belakangnya, menggoyahkan sampah-sampah plastik yang tadinya terapung tenang-tenang di tepian telaga. Jika menengok ke belakang, bertahun-tahun lalu hingga sampai di umur yang sekarang, rasa-rasanya hidup saya mirip sampan di telaga yang airnya tenang itu. Datar-datar saja, nyaris tanpa gelombang yang cukup berarti menerpa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hari-hari di hidup saya berlalu seperti biasa, seperti hari-hari yang lain, berkutat dengan rutinitas yang itu-itu saja, hampir tak ada yang berbeda dari hari-hari yang lain. Mungkin sebagian orang akan bilang itu sungguh membosankan, namun hal tersebut sebetulnya juga patut untuk disyukuri, seperti kata seorang teman lainnya. Hidup begini-begini saja itu juga merupakan sebuah pencapaian bagi seseorang. Coba lihatlah di sekitar, di mana ada beberapa orang yang terus dihampiri hal-hal buruk berturut-turut dalam hidupnya. Setelah selamat dari terjangan gelombang besar, badai lainnya siap menyusul lagi seakan tanpa ampun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgD1KKmgjlEpneCE6wdqiQT2caVC0FYN16AVf8eKSPCSwXPKkSmCTsYyrandUvgQztc5EOi7l_dn4PT3Nm-ONc_6DC63pkWcMDhHEc3AMeciEiti6HkY4hR_zQ3eauWIJ55DyrO1uAIJUxBo-wWFnutaIEbfNu0rP-EvmjSVwaQJBcweUDDse2DMpdgWJs" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgD1KKmgjlEpneCE6wdqiQT2caVC0FYN16AVf8eKSPCSwXPKkSmCTsYyrandUvgQztc5EOi7l_dn4PT3Nm-ONc_6DC63pkWcMDhHEc3AMeciEiti6HkY4hR_zQ3eauWIJ55DyrO1uAIJUxBo-wWFnutaIEbfNu0rP-EvmjSVwaQJBcweUDDse2DMpdgWJs=w480-h640" width="480" /&gt;
  &lt;/a&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hingga saat ini, saya masih di tahap berusaha menyadari bahwa ada kehilangan-kehilangan yang sudah sewajarnya harus dilalui, di tengah hal-hal rumit yang ada. Saya masih tak tahu hidup saya akan seperti apa kedepannya. Yang pasti, setelah menapaki umur tiga puluh tiga ini, saya berharap masih bisa menjalani hari-hari seperti biasa, seperti hari-hari yang lain, sambil terus merapalkan doa-doa yang baik. Karena sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang dijalani, di tengah dunia yang terus berputar semakin cepat. Di antara rasa sedih, sepi, kecewa, sesal, syukur, senang yang selalu akan datang silih berganti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sampai
 di titik ini saya juga masih akan terus mempertanggungjawabkan 
keputusan penting yang saya ambil bertahun silam. Keputusan yang dibuat 
bukan karena menyerah atau ketakutan pada suatu hal. Melainkan secara 
sadar dan penuh pertimbangan dipilih bahwa peran inilah yang memang 
sewajarnya dijalani. Satu dan lain hal yang menjadi alasannya, rasanya 
tak wajib saya jelaskan panjang lebar di sini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebetulnya
 keputusan besar ini sudah saya ketuk palu dalam hati pada awal umur dua
 puluhan dulu. Entah apa yang merasuki saya pada waktu itu, dengan 
jumawa saya bilang di depan sana akan menempuh langkah yang mungkin 
tidak akan bisa diterima oleh semua orang, dengan alasan yang bisa saja terlalu 
muluk dan bertele-tele. Namun setelah melalui berbagai macam hal dalam 
hidup yang terkadang mengecewakanmu atau di lain waktu bisa membuatmu 
berbesar hati, rasanya semakin ke sini semakin masuk akal untuk dijalani
 dan diyakini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seiring dengan bertambahnya umur, saya juga masih ingin hidup lebih lama lagi. Saya masih ingin menjalin pertemanan-pertemanan dekat yang belakangan hilang, atau melakukan kembali hal-hal yang bertahun-tahun lalu menjadi kesenangan pribadi. Atau sekadar menghabiskan akhir pekan dan libur tanggal merah dengan bermalas-malasan saja. Masih banyak makanan enak yang patut dicicipi, musik yang menggugah perasaan untuk didengarkan, dan film yang menginspirasi untuk ditonton.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebetulnya hal ini berbanding terbalik sama sekali dengan saya pada awal-awal umur dua puluhan silam, ketika saya ingin sekali mati muda saja. Seperti kata Soe Hok Gie yang mengutip seorang filsuf Yunani: Berbahagialah mereka yang mati muda. Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Sementara yang tersial adalah berumur tua. Berhubung saya bukan seorang pesohor ataupun musisi macam Jim Morrison atau Kurt Cobain yang meninggal pada usia 27 tahun ketika berada di puncak karirnya, maka dari itu saya masih ingin berumur panjang. Nyatanya hari ini saya resmi menapaki usia tiga puluh tiga, dan semoga di depan masih ada tiga puluh empat, tiga puluh lima, empat puluh satu dan seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya masih ingin hidup lebih lama lagi, meski negara seolah tak bosan membuatmu patah hati setiap hari. Atau di tengah-tengah dunia dengan ancaman krisis iklim yang semakin nyata, senjata-senjata canggih yang terus diciptakan, entah digunakan untuk berperang melawan siapa lagi. Atau sebuah penyakit misterius berikutnya mungkin saja akan muncul lebih cepat di masa yang akan datang, meski pandemi baru saja berlalu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun semua kembali lagi, pada akhirnya bukan kehendak saya, melainkan kehendakNya-lah yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tabik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/p&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgoQl0Bv-k7BZ_1A8A_YlHHGg4rACylWlDiehJJfPBC1Xm9O7iId5cG091qhEXdF0TdVVWZifC0Bg1r1msNuk20zM2kzFXypnlTkdazYv-vffgJC1nPfQrdb25Q_fNmUvyuFh5ihVV4lRnAnuQxQcULs4Bt_3fXY2F4QO09dGGR74U48heYoXniRxV3Eqg=s72-w640-h480-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Pada Hari-hari yang Berbeda</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2024/06/pada-hari-hari-yang-berbeda.html</link><category>#AfternoonTalk</category><category>Musik</category><category>Stars and Rabbit</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 2 Jun 2024 04:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7341606242373013554</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dua ribu dua puluh empat tak terasa sudah tiba di bulan Juni, bulan keenam dalam kalender Masehi. Seketika saja separuh tahun hampir terlewati lagi. Hari demi hari, tahun demi tahun berlalu. Blog ini seakan mati suri, tak berpenghuni tanpa suatu postingan apapun. Terhitung sudah lima tahun silam sejak tulisan panjang terakhir saya terbitkan. Itupun juga tulisan lama yang mengendap di &lt;i&gt;draft&lt;/i&gt;, yang akhirnya saya selesaikan juga bertahun setelahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Masih adakah yang setia membaca blog di tahun 2024? Di era sekarang ini, di mana segala sesuatunya bergerak dengan cepat, dan segala macam rupa informasi datang silih berganti tanpa ampun, rasa-rasanya blog adalah sesuatu yang usang dan sudah ditinggalkan. Hadirnya media sosial yang terus berkembang tentu menjadi salah satu sebab. Berbagai informasi berbasis foto, gambar, ataupun video berdurasi singkat lebih disukai banyak orang karena bisa selesai dalam sekali menggulung layar gawai. Berbeda sekali dengan blog yang harus duduk tenang-tenang untuk membaca kalimat demi kalimat, hingga beberapa paragraf untuk dapat memahami suatu informasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jika dipikirkan kembali, lima tahun itu juga bukan masa yang dibilang singkat. Dan 5 tahun itu sudah menyentuh setengah dekade. Tetapi rasa-rasanya waktu seakan cepat sekali bergulir, hari berganti hari, tahun berganti tahun berlalu begitu saja. Entah hanya saya saja atau orang lain mengalaminya juga, waktu berjalan begitu cepat setelah tahun 2020. Tentu saja kita semua paham apa yang terjadi pada tahun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebuah wabah penyakit misterius merebak, dan seketika saja menjadi pandemi yang menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru bumi. Pandemi yang akhirnya mengubah segala bentuk dan sisi kehidupan manusia. Kita manusia yang tadinya bergerak bebas kemanapun, harus dipaksa berdiam di dalam rumah masing-masing untuk menekan penyebaran penyakit yang begitu cepat. Di era modern ini manusia bisa berpergian menempuh jarak setengah lingkar bumi dalam waktu kurang dari 20 jam, dan secepat itu pula virusnya menyebar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhuHl0jbP1QaVVr4LFEtqzlJPApE8lPLZZ6nZPh-t3dZAfYwHLBlkOHQytUG_VTlweQol-n2MFFYP5p3ttSCqHF0Rn6ZPowXR3nvkSJ4Xe7yfROPUfrvH42KIh8b7KEfqmnVlrTU5OSWOgfi0kYk_UQ8Xa4o8wZIy9f978FgvT557mvHhCfV27YQlFmmFE=w640-h480" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalan kosong bak kota mati.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lebih dari setahun setelahnya, pada masa-masa di mana kita sebagai manusia dalam kesendirian harus merasakan kecemasan, bosan, hingga di tahap putus asa, bertanya-tanya kapan semuanya ini akan berujung. Sekaligus marah dan kecewa kepada penyelenggara negara dan orang-orang berwenang, yang seakan meremehkan penyakit mematikan ini. Keadaan tak kunjung membaik, malah yang terjadi adalah sebaliknya. Kabar sedih silih berganti, berita kematian setiap hari dikumandangkan, disusul kabar kematian lain menggema di langit. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa orang lebih beruntung, menyaksikan semuanya itu dari dalam rumah, mendengar dari layar gawai ataupun menyimak dari layar televisi. Sementara yang lain, jauh lebih banyak jumlahnya yang merasakannya langsung di antara bangsal-bangsal IGD dan ICU rumah sakit, di antara panjangnya antrian tabung oksigen dan jenazah-jenazah yang akan dikuburkan di pemakaman khusus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya adalah termasuk salah satu yang beruntung, tidak ada keluarga, kerabat maupun orang terdekat lainnya terpapar virus tersebut yang berujung pada kematian. Meski pada akhirnya, selang beberapa waktu kemudian, keluarga, kerabat, teman hingga orang-orang yang saya temui hampir semuanya mengaku merasakan gejala yang sama, mengalami sakit yang sama. Entah yang ringan hingga yang terberat, mengabaikan gejala hingga yang cuma mendapatkan pengobatan seadanya. Mengingat betapa nyaris ambruknya sistem layanan kesehatan kita menangani pagebluk pada bulan-bulan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr align="center"&gt;&lt;td&gt;&lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgTK4Z8eTtA1lLTJ2rrplhNlr_1TpCFCLt_7pjZqXNV4qBHVz6_7ueCQuKfpaE7MGZORdlvSJ-pXCtgioZtK-lnPzTfv9zDo9Torn0o472vKQfkjTUM_Far3golArD6FrgSLqXybfBS1fpk00BzuLTcH2GiJPSut-bJbc1ao1yFPa-O5aOrYtmW6mgg4X4=w640-h480" width="640" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr align="center"&gt;&lt;td&gt;&lt;i&gt;Bersepeda, salah satu hobi yang mewabah di kala pandemi.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bertahun setelahnya, segalanya sesuatunya telah membaik, satu per satu hal yang tadinya direnggut oleh wabah sudah pulih kembali. Pandemi berlalu dan dinyatakan berakhir pada pertengahan 2023. Sebagian orang akan mengganggap masa-masa kelam itu sebagai mimpi buruk, kenangan pahit mendalam yang harusnya dilupakan. Sementara beberapa lainnya masih merawat ingatan tentangnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tempo hari, ketika sedang menggulung layar gawai, di linimasa media sosial twitter atau X, atau terserah orang menyebutnya apa sekarang. Mata saya tertuju pada satu cuitan yang membagikan beberapa foto Jalan Sudirman-Thamrin Jakarta yang begitu lengang seperti kota mati. Bukan hanya lengang, tetapi kosong melompong, hampir tak ada aktivitas manusia terlihat di sana. Pemandangan yang hampir tak pernah terlihat sebelumnya, mengingat jalan tersebut adalah salah satu ruas jalan tersibuk di Jakarta. Pemandangan yang kita harap tidak pernah terulang kembali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Foto-foto tersebut tertanggal Juli 2021, bulan-bulan ketika PPKM darurat sedang diberlakukan oleh pemerintah di Jawa dan Bali. Hal tersebut terpaksa ditempuh karena pandemi kian mengganas, Covid varian delta rupanya begitu masif menyebar, hingga menyebabkan layanan rumah sakit kelebihan kapasitas dan hampir tumbang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Cuitan tadi mendapatkan tanggapan dari beberapa akun twitter lainnya. Rupanya masih ada juga yang menyimpan foto-foto kenangan pada bulan-bulan itu, seperti kosongnya pusat perbelanjaan yang biasanya ramai, aktivitas dan hobi baru ketika harus menjalani isolasi mandiri di rumah, hingga betapa pilunya pemandangan di ruang isolasi di suatu rumah sakit. Beberapa lainnya membagikan pengalaman traumatis mereka ketika mendengar suara sirine ambulans yang hilir mudik mengangkut pasien ataupun jenazah. Atau speaker masjid dekat rumah mengabarkan nama warga yang meninggal, dan itu bisa terjadi berkali-kali dalam sehari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pengalaman kelam tersebut meninggalkan bekas yang begitu mendalam bagi semua orang. Kita sebagai manusia pada umumnya, yang memiliki ingatan panjang, kita tidak bisa tidak mengingat memori-memori kelam itu. Memori yang harusnya bisa dijadikan pelajaran, bahwa hal buruk tersebut tidak boleh berulang kembali di masa yang akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi5zYlgyB7B76knQMFJvlqbHW2MhZRrNuIaxuiEqZPDlv44YH68Wvpbz4IqaptkpLraIk24xu9qEyrbgnlvnxC0RIEQW3zto1d2eD9oyBxI5RNkO6mACr_x2cuX5VrGU9OqAz96bk0pw0TxXTMDcqRnq_LpgKjCW_uehpTZ00dZiTMbLbpZb2PpQw9WX5s"&gt;
    &lt;img border="0" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEi5zYlgyB7B76knQMFJvlqbHW2MhZRrNuIaxuiEqZPDlv44YH68Wvpbz4IqaptkpLraIk24xu9qEyrbgnlvnxC0RIEQW3zto1d2eD9oyBxI5RNkO6mACr_x2cuX5VrGU9OqAz96bk0pw0TxXTMDcqRnq_LpgKjCW_uehpTZ00dZiTMbLbpZb2PpQw9WX5s=w640-h480" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa waktu sebelumnya, masih di media sosial twitter, sebuah akun festival musik yang cukup ternama membagikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;playlist&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; yang tersusun dari beberapa nama penyanyi, band ataupun musisi lainnya yang akan tampil panggung festival tersebut. Kemudian saya membukanya di aplikasi layanan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;steraming&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; musik Spotify. Ada beberapa nama yang memang&amp;nbsp; sedang saya dengarkan kembali belakangan ini. Ada juga penyanyi atau band baru yang sebetulnya sudah saya ketahui, namun belum ada satu atau dua lagunya yang &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;nyantol&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; di telinga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebagai orang yang sudah menyentuh kepala tiga, saya sudah jarang sekali mengeksplorasi musik atau nama baru yang sama sekali asing di telinga. Konon selera musik sebagian orang memang akan terhenti pada umur tersebut, dan lebih sering memutar lagu-lagu yang akrab di telinga, musik yang kerap didengarkan pada tahun-tahun yang lalu, ketika usia remaja hingga beranjak dewasa. Pun sebetulnya perbendaharaan musik saya memang tak banyak. Ada kalanya menyetel sebuah lagu yang sama berulang kali dalam suatu waktu. Di lain hari ketika bosan bisa tidak mendengarkan musik sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari daftar putar di Spotify tadi, ada satu hal yang menarik perhatian saya. Icon kecil bergambar sebuah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;cover&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;artwork&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; album berwarna biru dengan aksen kehijauan, dengan nama artis Stars and Rabbit. Saya mengernyit, sejak kapan Stars and Rabbit punya lagu baru? Sejak kemunculannya pada 2015 silam dengan album perdana bertajuk &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Constellation&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; yang cukup meledak pada masanya itu, saya sudah tak mendengar lagi kabarnya. Pun sebetulnya hanya dua tiga lagu di album tersebut yang akhirnya berhasil masuk telinga saya. Setelahnya, hilang begitu saja dari daftar putar lagu-lagu yang sering didengarkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
&lt;/div&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Library of My Mind&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; menjadi yang pertama terputar, dan seperti biasa butuh pengulangan dua atau tiga kali supaya bisa benar-benar masuk di telinga saya. Kesan pertama yang saya dapatkan di lagu ini adalah menggambarkan suasana yang tenang di pedesaan yang asri. Padang ilalang dan tumbuh-tumbuhan liar lainnya sedang berbunga warna-warni, dan burung-burung berkicauan di tepi sungai yang beriak kecil, atau di tepian telaga atau danau yang tak begitu luas. Agaknya, Stars and Rabbit menghadirkan musik yang sedikit berbeda dari sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lagu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Library of My Mind&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; tersebut merupakan bagian dari &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;On Different Days&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, album penuh ketiga dari Stars and Rabbit yang dirilis pada Juni 2021 silam. Masa-masa yang mengingatkan kita pada episode-episode yang sulit bagi semua orang. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;On Different Days, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;pada hari-hari yang berbeda bagi banyak orang itu, segala sisi dan bentuk kehidupan manusia berubah sama sekali. Pandemi begitu hebat menghantam kemanusiaan, berbagai macam profesi dan pekerjaan manusia juga terdampak. Tak terkecuali Stars and Rabbit sebagai musisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgXDIdv9j6jCxyZbjRSpVAG9_qgRxmjHZrsOEybc-0R_JFqSV-etmsPl1uBnJxdofkIHHbvUuoEZYIajnBzygkXvPx733A5B_4znIUHzS37SxqnCH7LcESXg9Lau6lADxRqurqc9xKhFPnJ6SBi5Qyy_7vULxue0Loqoc6FWFKeXrpUdRgnQSMUCyif-V4"&gt;
    &lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgXDIdv9j6jCxyZbjRSpVAG9_qgRxmjHZrsOEybc-0R_JFqSV-etmsPl1uBnJxdofkIHHbvUuoEZYIajnBzygkXvPx733A5B_4znIUHzS37SxqnCH7LcESXg9Lau6lADxRqurqc9xKhFPnJ6SBi5Qyy_7vULxue0Loqoc6FWFKeXrpUdRgnQSMUCyif-V4=w400-h400" width="400" /&gt;
  &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Album yang berisi delapan nomor ini hadir sebagai bentuk respon dan dokumentasi situasi selama setahun ke belakang dan dampaknya yang sama-sama dirasakan oleh semua orang. Masa-masa yang sulit, masa-masa yang terasa lambat, penuh dengan kecemasan, kesedihan dan ketidakpastian. Alih-alih meratapi dan mengutuk keadaan, di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;On Different Days &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;kita akan diajak berdamai dan melepaskan sesuatu dengan segala pasang surutnya. Sepertinya mereka sengaja menghadirkan komposisi musik yang lebih menenangkan, untuk menumbuhkan optimisme dan harapan untuk melewatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keseluruhan album &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;On Different Days&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; sedikit tergambarkan pada sampul &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;artwork&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;nya sendiri yang cukup sederhana. Dominasi warna biru dan aksen kehijauan yang menyiratkan sebuah padang rumput membentang di bawah langit biru dengan sungai kecil di tengah-tengahnya, memberi kesan damai dan menenangkan. Dibuka dengan manis lewat &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Merry Alone, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; yang akan menuntun kita mengatasi kesendirian pada masa-masa isolasi dengan melakukan hal-hal yang positif. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;We're in the middle of di&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;sease, unexpected mother crisis. Would you be merry alone with me."&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Elda Suryani, masih dengan suara akrobatisnya yang khas itu, akan membawa kita menyelami dan merefleksikan diri kita sendiri terhadap keadaan pada masa itu. Berhasil dipadu dengan harmonis oleh permainan dan petikan gitar yang sekarang dipegang oleh Didit Saad, yang juga merangkap sebagai produser. Silakan disimak permainan solo gitar pada pertengahan lagu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Moon Lone City &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;dan juga &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Library of My Mind,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; berhasil membuat jari-jari saya bergerak mengikuti melodi-melodinya yang berbeda dari album-album sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lirik-lirik berbahasa inggris yang sepenuhnya ditulis oleh Elda, juga selalu menarik untuk disimak. Seperti pada lagu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;One Foot,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; akan membantu kita menemukan pelipur lara di tengah situasi yang tidak menentu "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Leave the phone on the table&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Fold the chair let alone. Allow your mind to wander, Place one foot to the other now."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt; Satu lagu lainnya yang menarik adalah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Pretty Anticipated&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;, melodinya yang amat ceria akan membawa kita mempersiapkan diri untuk menerima semua yang datang dan pergi. Suatu hal yang biasa terjadi dalam kehidupan ini. "&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;Ooh change can be scary, but darling universe is so friendly. If you choose it to be."&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  &lt;center&gt;
  &lt;iframe style="border-radius:12px" src="https://open.spotify.com/embed/album/16j6PwSgSQUrfpDU3fe2LD?utm_source=generator" width="80%" height="352" frameBorder="0" allowfullscreen="" allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy"&gt;&lt;/iframe&gt;
  &lt;/center&gt;
&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hari-hari yang berbeda itu kini telah berlalu.&amp;nbsp; Kita akhirnya berhasil melewatinya bersama-sama, meski ada sesuatu yang hilang dari masa-masa sulit itu. Entah yang terkecil hingga yang paling berharga dalam hidup kita. Kita bisa saja melupakannya begitu saja, atau bisa juga mengingatnya bahwa demi rasa kemanusiaan, kita mampu menumbuhkan kembali kepedulian terhadap sesama di tengah masa-masa yang sulit itu. Meski cuma sekadar "Jaga kesehatan, ya!"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tabik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhuHl0jbP1QaVVr4LFEtqzlJPApE8lPLZZ6nZPh-t3dZAfYwHLBlkOHQytUG_VTlweQol-n2MFFYP5p3ttSCqHF0Rn6ZPowXR3nvkSJ4Xe7yfROPUfrvH42KIh8b7KEfqmnVlrTU5OSWOgfi0kYk_UQ8Xa4o8wZIy9f978FgvT557mvHhCfV27YQlFmmFE=s72-w640-h480-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lasem di Penghujung Tahun</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2019/03/lasem-di-penghujung-tahun.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Heritage</category><category>Klentheng</category><category>Lasem</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 20 Mar 2019 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7337889996228603618</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami bersyukur, Lasem sedang
diberkahi langit yang cerah pagi itu. Sebuah pagi di penghujung Desember yang
selalu berkawan dengan langit kelabu, genangan di sisi jalan, atau ujung celanamu
yang basah. Beberapa saat sebelumnya, saya dan Ary tiba di Lasem, setelah
menempuh lebih dari tiga jam perjalanan darat dari Semarang. Bergerak ke arah
timur, menyusuri jalur pantura Kudus, Pati hingga Rembang yang cukup lengang.
Meski begitu, truk-truk besar yang berjalan merayap, serta bus-bus yang melaju
kesetanan masih saja menjadi kawan perjalanan yang paling setia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Semua bermula pada sebuah pagi di
taman yang sejuk. &lt;a href="http://www.jalancerita.com/"&gt;Aryanto&lt;/a&gt;, seorang kawan yang saya kenal melalui tulisan-tulisan
di blognya, sedang transit sebentar di Semarang sebelum melanjutkan perjalanannya.
Kami menyempatkan untuk bertemu meski sebentar. Berbincang tentang banyak hal,
berbagi pengalaman dan cerita, sambil berjalan kaki berkeliling di sekitar
kawasan &lt;a href="https://ruangsore.blogspot.com/2017/03/bersepeda-di-kota-lama-semarang.html"&gt;Kota Lama&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSSaf0gBR-cOY_Bdpcb6-4SGiZtKTh0UNkCkc1Og4cf9BEL9lDIrROjcd5kypgPIKo37veIq835R3hq3CKPOaXUZdiNu25j183-yMMxIjJzPTNz5TuNhytB_3wKder_SohAMLM39F5y80/s1600/museum-nyah-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Nyah Lasem" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSSaf0gBR-cOY_Bdpcb6-4SGiZtKTh0UNkCkc1Og4cf9BEL9lDIrROjcd5kypgPIKo37veIq835R3hq3CKPOaXUZdiNu25j183-yMMxIjJzPTNz5TuNhytB_3wKder_SohAMLM39F5y80/s640/museum-nyah-lasem.JPG" title="Museum Nyah Lasem" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Lasem yang sedang diberkahi langit cerah.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari perbincangan itu, kami juga
berencana melakukan petualangan bersama. Singkat cerita, Lasem adalah tempat
yang kami sepakati. Ary sungguh penasaran dengan kota kecil di pantura Jawa
Tengah itu, setelah membaca tulisan saya tempo hari. Dia yang belakangan ini
menjejali kepalanya dengan kisah-kisah masa lalu yang penuh sejarah, tentu saja
antusias sekali mengunjungi Lasem yang masih menyimpan memori-memori kejayaan
pada masanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Lasem dan Rembang beberapa kali
disebut dalam karya Pram,” Katanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baca Juga: &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="https://ruangsore.blogspot.com/2016/12/lasem-dalam-lini-masa.html"&gt;Lasem dalam Lini Masa&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedangkan bagi saya sendiri, ini
adalah kesempatan kedua menyambangi kota yang sering disebut-sebut sebagai
Tiongkok Kecil tersebut. Ingin rasanya melunasi daftar panjang tempat-tempat
yang belum sempat saya datangi. Namun karena kali ini tidak sendirian,
sepertinya saya harus sedikit meredam ego untuk menjadi orang yang telah menamatkan
Lasem di setiap jengkalnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya teringat seorang kawan yang pernah berkata,
bahwa menikmati Lasem itu harus secara perlahan. Memandang takjub rumah-rumah
tua yang berusia ratusan tahun, duduk melamun di terasnya, atau berbincang
sambil menyesap kopi lelet pada malam-malam yang ditemani gerimis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSeeKnuLu_mQWdfFlWTyG9_ZFOOlXyO0MjXc3nGwbss2zJdd5wTst9RNMGE7Q9wOcir218VJCeI-qZ1Jvss97_6PvaVniPBjbpEVN36woHubee-6eNXXMkv6GXGSlIr4_btMtGyEciuU/s1600/karangturi-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Karangturi Gang 4" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimSeeKnuLu_mQWdfFlWTyG9_ZFOOlXyO0MjXc3nGwbss2zJdd5wTst9RNMGE7Q9wOcir218VJCeI-qZ1Jvss97_6PvaVniPBjbpEVN36woHubee-6eNXXMkv6GXGSlIr4_btMtGyEciuU/s640/karangturi-lasem.JPG" title="Karangturi Gang 4" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Karangturi Gang 4&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1j75hYZ3Gf-4ySIbdj-w8OsDHyPQKFcdMcyacMK4hpkcNpd_UweJmzN2ADq9anAxoQwErRVHKfCrhj5hms0K-61_2PIv4bqoXv_aZGwKTxmdLtqaXCg0YE_tYDl1r6H3qOOhZFYbzv94/s1600/karangturi-lasem-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Karangturi Gang 4" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1j75hYZ3Gf-4ySIbdj-w8OsDHyPQKFcdMcyacMK4hpkcNpd_UweJmzN2ADq9anAxoQwErRVHKfCrhj5hms0K-61_2PIv4bqoXv_aZGwKTxmdLtqaXCg0YE_tYDl1r6H3qOOhZFYbzv94/s640/karangturi-lasem-1.JPG" title="Karangturi Gang 4" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gerbang kenangan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami bertemu Mas Pop di Museum
Nyah Lasem yang berada di Karangturi Gang V. Tampaknya pria dengan rambut
gondrong yang selalu dibiarkan tergerai itu sedang sibuk menemani rombongan
tamu lain. Maka dari itu kami dipersilakan beristirahat sejenak di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;guest house&lt;/i&gt;, untuk kemudian menyusul Mas
Pop.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Nanti malam kita nginep di
sini?” Saya hanya mengangguk pelan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya bisa melihat raut wajah Ary yang
seketika berubah. Sebelumnya saya sudah memberitahunya, bahwa tempat kami akan
menginap akan sedikit berbeda. Bagaimana tidak, jendela kaca berdebu, pintu
yang berderit ketika dibuka, hingga kipas angin rusak yang berputar menimbulkan
suara aneh, tentu saja sudah cocok menjadi latar bagi sebuah film horor. Namun
berkaca pada pengalaman saya setahun sebelumnya, saya bisa sedikit meyakinkan
Ary bahwa semua akan baik-baik saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah menuntaskan makan siang,
kami mulai berkeliling tanpa ditemani Mas Pop yang masih sibuk. Kami
mengawalinya dari Desa Karangturi, salah satu pemukiman Tionghoa atau pecinan
yang masih bertahan di Lasem. Tembok-tembok tebal nan tinggi menjadi ciri khas.
Di baliknya, rumah-rumah tua yang konon telah berusia ratusan tahun bersemayam
dalam keheningan. Ada yang masih setia menjadi tempat bernaung bagi para
penghuninya. Sebagian lainnya dibiarkan kosong begitu saja. Menanti nasib baik
berpihak atau malah sebaliknya, roboh dimakan waktu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun ada pula yang masih bisa
diselamatkan dengan cukup baik. Rumah Merah adalah salah satu contoh bagaimana
semangat pelestarian mulai digalakkan oleh masyarakat Lasem. Sesuai dengan
namanya, tembok berwarna merah menyala terlihat mencolok sekali di Karangturi
Gang IV&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdRlfs8IFaQOfvmwxOSVbUKOqjE-8Lo4Pbe0ncqavXcLMdQeQlq_WNLBjq_DmVRJyrtKxbAU720PVHk2amBclu85OcX6XqHx8Q0IGo1h1gK3hZ8ZRI4Y0I9w2O4qsvd7hVWA0HFmk_2qk/s1600/karangturi-lasem-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Juragan Kerupuk" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdRlfs8IFaQOfvmwxOSVbUKOqjE-8Lo4Pbe0ncqavXcLMdQeQlq_WNLBjq_DmVRJyrtKxbAU720PVHk2amBclu85OcX6XqHx8Q0IGo1h1gK3hZ8ZRI4Y0I9w2O4qsvd7hVWA0HFmk_2qk/s640/karangturi-lasem-2.JPG" title="Rumah Juragan Kerupuk" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sepeda masih diandalkan untuk pergi ke rumah majikan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Masih di gang yang sama, kami
berdua menyelinap masuk ke sebuah rumah bagai sekawanan pencuri. Tentu saja tak
ada adegan memanjat pagar ataupun mencongkel paksa pintu rumah seperti yang ada
di film-film penjahat itu. Jika bertamu ke rumah orang biasanya diawali dengan
mengetuk pintu atau memencet bel, yang harus kami lakukan sedikit unik. Sebuah
tali yang ditambatkan pada pintu gerbang harus ditarik. Lonceng kecil
berdenting dan seseorang akan membukakan pintu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Oleh seorang perempuan paruh
baya, kami berdua diarahkan langsung menuju beranda belakang. Menemui pemilik
rumah yang dipenuhi berbagai tumpukan kardus dan kemasan kerupuk mentah di
sudut-sudutnya itu. Di balik etalase kaca berukuran sedang, beliau terlihat
sibuk sekali dengan kalkulator dan sebuah buku lusuh entah berisi catatan apa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Kalau mau lihat-lihat, masuk
saja sana gapapa..” Katanya tiba-tiba, sambil menunjuk sebuah pintu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gerak-gerik kami tentu dengan
mudah terbaca oleh ibu pemilik rumah, sekalipun kami sudah berdalih ingin
membeli kerupuk. Namun kabar baiknya, kami dipersilakan masuk untuk
melihat-lihat bagaimana rupa tempat tinggalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami sempat mengintip sebentar
apa yang ada di balik pintu tersebut. Pekarangan yang cukup luas, bahkan
terlampau luas untuk ukuran sebuah pekarangan rumah. Pot-pot tanaman hias
berbagai ukuran tampak berjajar rapi. Saya pikir, mungkin merawat tanaman-tanaman
itu adalah salah satu cara sang juragan kerupuk untuk mengusir rasa sepi dan
bosan. Dari perbincangan dengan salah satu pekerjanya, kami ketahui bahwa
beliau tinggal di rumah sebesar itu seorang diri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Bapak sudah lama menin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;ggal.
Sedangkan ketiga anaknya merantau ke luar kota,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCOSxJY9djcRAlsplCeImUmGG9enwCXyg7mrbQ_bRTdhZ3WGDlxbQ4JKzJEUDN4Pxqu-aigHlSDDX5PpmOdqsNumudSuNt8MqMy6_FfwPIl9nWhPM8eK4zfDFEMZLUIT5PPS-ktUt8YaQ/s1600/rumah-opa-oma-karangturi-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Opa Gwan" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCOSxJY9djcRAlsplCeImUmGG9enwCXyg7mrbQ_bRTdhZ3WGDlxbQ4JKzJEUDN4Pxqu-aigHlSDDX5PpmOdqsNumudSuNt8MqMy6_FfwPIl9nWhPM8eK4zfDFEMZLUIT5PPS-ktUt8YaQ/s640/rumah-opa-oma-karangturi-lasem.JPG" title="Rumah Opa Gwan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Beranda rumah yang sunyi&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Siang terus beranjak, ketika
langit Desember begitu cepat berubah dan rintik hujan mulai turun ke bumi, kami
menemui Opa Gwan dan Mbak Minuk di rumahnya, tak jauh dari kediamaan juragan
kerupuk. Seperti biasa, Opa Gwan memang selalu senang kedatangan tamu, meski
orang asing seperti kami sekalipun. Dengan senyum sumringahnya, kami berdua
dipersilakan duduk di kursi rotan tua yang mengelilingi meja kayu di beranda
rumah. Pun dengan Mbak Minuk yang tampak berusaha keras mengingat-ingat,
setelah saya berkata pernah singgah di sini sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun kami tak betah duduk
berlama-lama tanpa melakukan apapun. Perbincangan pun tercipta di sela-sela
gonggongan dua ekor anjing yang tak berhenti untuk beberapa saat. Sekadar saling
menanyakan kabar, dari daerah mana kami berasal, cuaca Desember yang dingin,
atau apapun yang bisa dibicarakan. Kemudian Opa dengan penuh semangat menemani
Ary berkeliling untuk melihat-lihat isi rumah, saat saya lebih memilih untuk
duduk melamun di tangga teras, hingga sedikit usil mengusik Roto dan kawannya
yang tampak ingin melanjutkan tidur siangnya&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOAp7P82YFUt8BTYYO4T7KADJF4w4Euw359FMbzBZuySEuqvk-vpaiyxJFIR-bU5fqMaR3SSeI70-FGhPKjxKq4hLjXM_wJddJgdXChix216ExT06dpwEMwODAF9tUroy_pEzeN0jPMZM/s1600/opa-gwan-karangturi-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Opa Gwan" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOAp7P82YFUt8BTYYO4T7KADJF4w4Euw359FMbzBZuySEuqvk-vpaiyxJFIR-bU5fqMaR3SSeI70-FGhPKjxKq4hLjXM_wJddJgdXChix216ExT06dpwEMwODAF9tUroy_pEzeN0jPMZM/s640/opa-gwan-karangturi-lasem.JPG" title="Opa Gwan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Melamun di beranda.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setahun berselang sejak
kedatangan saya ke rumah Opa Gwan, tak ada perubahan berarti di rumah yang
begitu tua ini. Semua masih tampak sama, perabotan lawas berdebu, meja altar
yang menghadap pintu utama, hingga lantai kayu yang berderit ketika harus
menahan beban tubuh saya. Satu yang berbeda adalah tidak ada lagi Oma Lim yang
terbaring lemah di salah satu kamar. Ya, Oma Lim, saudara sepupu Opa Gwan yang
tinggal bersamanya selama puluhan tahun, telah berpulang beberapa waktu yang
lalu. Menyisakan Opa Gwan dan Mbak Minuk yang masih setia tinggal di rumah ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebelum hujan benar-benar
menderas, kami masih sempat melanjutkan penjelajahan hari itu. Berkeliling Desa
Karangturi sambil memotret pintu-pintu khas Pecinan Lasem beragam warna yang
terkadang terkunci rapat. Lalu mengintip sejenak magisnya Klenteng Cu An Kiong
mekipun hanya dari luar pagar, hingga menikmati sepi di Tambatan Perahu Dasun
ditemani semilir sejuk angin pesisir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Esok harinya, pagi-pagi sekali
saat matahari kembali menampakkan diri, kami melanjutkan penjelajahan lebih
awal. Mas Pop mengajak kami menyusuri jalan raya Jatirogo yang mulai ramai&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;oleh aktivitas warga Lasem di Minggu pagi.
Ibu-ibu bercaping penjual sayur, pria bercelana pendek dengan telinga tersumpal
&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;earphone,&lt;/i&gt; hingga anak-anak yang
tampak riang sekali bersepeda kesana-kemari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7CQgbuGqK7rhwIvdW_nJvyDUTUpIKevh8ZtHpTt3ihZC_wguKeRkKWU0ugGsDKkR0tPaJxT4N3iPzrqvgZCVOJI22mhQAQmGIibMcFTuAAotZVjn0opj2LOq0R3XeSrsk6Vf9EaPvkig/s1600/pecel-mak-mok-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Oma Widia" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7CQgbuGqK7rhwIvdW_nJvyDUTUpIKevh8ZtHpTt3ihZC_wguKeRkKWU0ugGsDKkR0tPaJxT4N3iPzrqvgZCVOJI22mhQAQmGIibMcFTuAAotZVjn0opj2LOq0R3XeSrsk6Vf9EaPvkig/s640/pecel-mak-mok-lasem.JPG" title="Rumah Oma Widia" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Duduk tenang-tenang sambil minum teh.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQLzOLdgIZE9yhFbnc6PccgdII9NJ4DlGT8Hs-aOYSS0waH1CXmJDMa6G9Ab-ZqMyMVSTBQLnaxuaUA6yV-4W9RSNRMi1ez-AF4StegZ9yT3jRWne-ZUOvrJbzrV-KMKn-v8xwmx0kHk4/s1600/pecel-mak-mok-lasem-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Oma Widia" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQLzOLdgIZE9yhFbnc6PccgdII9NJ4DlGT8Hs-aOYSS0waH1CXmJDMa6G9Ab-ZqMyMVSTBQLnaxuaUA6yV-4W9RSNRMi1ez-AF4StegZ9yT3jRWne-ZUOvrJbzrV-KMKn-v8xwmx0kHk4/s640/pecel-mak-mok-lasem-1.JPG" title="Rumah Oma Widia" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tak kuasa melawan waktu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami mengawalinya dengan
bersantap pagi di sebuah warung pecel langganan Mas Pop, tak jauh dari Desa
Karangturi. Sebagai bonusnya, kami diperbolehkan melihat-lihat bagaimana bentuk
rumah Oma Widia, pemilik rumah sekaligus warung pecel tersebut. Kondisinya sedikit
memprihatinkan, di mana dinding kayunya, mulai keropos di sana-sini, tak
sedikit pula lantai tegelnya yang pecah, hingga tiang peyangga atapnya yang
seakan sudah tak mampu lagi menopang beban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedangkan Ary sendiri sudah larut
dalam perbincangan akrab yang tampak menyenangkan sekali dengan Oma Widia. Bahkan,
beliau juga sempat meminta untuk berfoto bersama, sebelum kami dihadiahi dengan
gorengan satu wadah penuh yang terpaksa kami tolak dengan sopan. Sepertinya,
Ary sudah menemukan ‘rumah’nya di Lasem.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baca Juga: &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="https://ruangsore.blogspot.com/2017/01/kisah-di-balik-tembok-tembok-tinggi.html"&gt;Kisah di Balik Tembok-tembok Tinggi Lasem&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain bangunan-bangunannya,
sejarah panjang Lasem juga terekam dalam kain batik. Karenanya, mengunjungi
rumah pembuatan batik tentu tak boleh kami lewatkan begitu saja, meski tak ada
niatan untuk membeli selembar kain yang juga menjadi salah satu bukti
alkulturasi budaya Tionghoa dan Jawa tersebut. Kembali ke Karangturi, Mas Pop
mengajak kami singgah di Rumah Batik Nyah Kiok. Dari halaman depan, memang tak
nampak aktivitas ataupun peralatan yang digunakan untuk membatik. Karena biasanya,
seluruh kegiatan membatik dilakukan di bagian belakang yang dapat dijangkau
melalui lorong sempit di samping rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGE_0_D8jjAXhjeA5LqswPQ7rPBKGWmiFtekJWuNhLUQ8vXuT2S8hAE_ci2SOsVYSFNu3dcKrUrPQw7t5wZCIukW-0iX-FSsdQSpPOYncy4-j6KDVtcAyvCKGX636Ma6L4byl9-5mGHYQ/s1600/batik-nyah-kiok-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Batik Nyah Kiok" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGE_0_D8jjAXhjeA5LqswPQ7rPBKGWmiFtekJWuNhLUQ8vXuT2S8hAE_ci2SOsVYSFNu3dcKrUrPQw7t5wZCIukW-0iX-FSsdQSpPOYncy4-j6KDVtcAyvCKGX636Ma6L4byl9-5mGHYQ/s640/batik-nyah-kiok-lasem.JPG" title="Batik Nyah Kiok" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Menggores lilin, menorehkan takdir.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Puluhan tahun mungkin bukan waktu
yang sebentar bagi rumah batik Nyah Kiok yang tetap mempertahankan motif Gunung
Ringgit Pring-nya. Para pembatiknya pun seluruhnya perempuan yang sudah tidak
muda lagi. Namun tangan-tangan keriputnya,
masih telaten menggenggam canting hingga menggoreskan lilin pada lembar kain. Tak
ada tenaga laki-laki di sini, tenaga yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam
proses &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nglorot &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nyelup&lt;/i&gt;. Semua dikerjakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mbah-mbah &lt;/i&gt;yang tangguh tadi, maka dari
itu proses pembuatan selembar kain batik membutuhkan waktu berbulan-bulan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kisah pengabdian lainnya datang
dari seorang Oma Windi, yang selama puluhan tahun begitu setia merawat rumah tua
milik majikannya, meski sudah lama meninggal. Tersembunyi di tengah-tengah
pemukiman Desa Soditan, rumah yang kemudian diserahkan kepemilikannya kepada
sebuah yayasan itu difungsikan sebagai tempat ibadah yang dikenal dengan nama
Vihara Karunia Dharma. Dulunya memang banyak umat Budha yang datang untuk
meditasi, sebelum ditinggalkan dan hanya menyisakan Oma Windi dan keluarganya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sayangnya, kami tak sempat
mendengarkan kisah pengabdian luar biasa tersebut. Menjelang tengah hari,
sebelum kami benar-benar sempat menyambangi The Abandoned Vihara, tiba-tiba
saja kabar mengejutkan datang. Oma Windi dikabarkan meninggal dunia karena
terjatuh di kamar mandi, tutur Mas Pop. Mas Pop lalu berkisah, bahwa sebelum
memulai Lasem Heritage Trail-nya, Oma Windi yang menjadi kawan bicaranya ketika
duduk melamun sambil memandangi eksotisnya rumah tua berusia ratusan tahun,
hingga menyusun remah-remah kisah masa lalu Lasem untuk diceritakan pada
orang-orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnaLKaNRI7hPE1L3tZAyb0Kb3l_3uEMxkQCR1oDrNFRVTrxKET54lTp8nPFzhjHBJs29pgKWdUpNwsCe5DOxP6PKLq2R5PCcEsUYEXT14VoGzz_WXAlLh2M0zrczsUILUAywtjTOoNbMw/s1600/foto-leluhur-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Garis Leluhur" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnaLKaNRI7hPE1L3tZAyb0Kb3l_3uEMxkQCR1oDrNFRVTrxKET54lTp8nPFzhjHBJs29pgKWdUpNwsCe5DOxP6PKLq2R5PCcEsUYEXT14VoGzz_WXAlLh2M0zrczsUILUAywtjTOoNbMw/s640/foto-leluhur-lasem.JPG" title="Garis Leluhur" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Yang selalu akan dikenang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Penjelajahan hari terakhir di
Lasem kami lanjutkan dengan mengunjungi Pabrik Tegel Lie Thiam Kwie hingga
Pasar Sumbergirang. Juga sebuah rumah tua yang tak jauh dari pasar, bertemu
seorang Opa dan cucunya yang tampak menggemaskan sekali. Dari rumah itu rupanya
Ary bisa menggali lebih dalam bagaimana secuil kisah hidup Opa tersebut melalui
perbincangan yang intim. Mulai dari anak-anaknya yang tumbuh dewasa dan
menemukan jalan hidup masing-masing, hingga sekelumit fakta bahwa Opa pernah
menjadi salah satu pengurus di Klenteng Cu An Kiong, sebelum memeluk agama
Kristen.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lasem hari ini adalah kota tua
yang renta dan sunyi, namun bukan sunyi yang menyeramkan seperti layaknya kota
mati. Lasem sehari-harinya masih berdetak seperti daerah-daerah pesisir pantai
lainnya di Jawa. Hiruk pikuk pasar masih meramaikan salah satu sudutnya,
klakson kendaraan sesekali menyalak galak karena memang jalur Pantura melintas
di sini, di mana kendaraan-kendaraan besar ramai lalu lalang. Kedai-kedai makan
baru juga mulai dibuka, memanfaatkan ruang di rumah-rumah tua menawan yang sebelumnya
hanya tertutup rapat. Demi menyambut orang-orang yang dalam beberapa tahun ke
belakang banyak berdatangan ke Lasem ataupun hanya sekadar singgah sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAsKWj5cqz7Pqrl8Exow6lerfc3TbUw8j8A7Ve8iy7TK1l1jfhJuBh2mPDY2kyNMgEofsN1U7HncTCDms3nQ5ckrd2BCDgWv38782ZaaCVAp__vSutC6mT_VGAU61OqmeMgp7-Cv-QJuw/s1600/rumah-opa-oma-karangturi-lasem-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Meja Altar" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAsKWj5cqz7Pqrl8Exow6lerfc3TbUw8j8A7Ve8iy7TK1l1jfhJuBh2mPDY2kyNMgEofsN1U7HncTCDms3nQ5ckrd2BCDgWv38782ZaaCVAp__vSutC6mT_VGAU61OqmeMgp7-Cv-QJuw/s640/rumah-opa-oma-karangturi-lasem-2.JPG" title="Meja Altar" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Ruang-ruang rahasia&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrg_O9L5wn7kZ2HRFP5CUDeG3q3P0cymCmvI8AdVD2AtpkBnzzYOQb2ANYLyLw5VULCtqH3LwvszGpmISVcDo1WTK4VbJ8aKAnHRi_Lg6H1CZ67EqnN0btxkftnJj7Nt_pE87ut1nhe7M/s1600/rumah-opa-oma-karangturi-lasem-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Opa Gwan dan Leluhur" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgrg_O9L5wn7kZ2HRFP5CUDeG3q3P0cymCmvI8AdVD2AtpkBnzzYOQb2ANYLyLw5VULCtqH3LwvszGpmISVcDo1WTK4VbJ8aKAnHRi_Lg6H1CZ67EqnN0btxkftnJj7Nt_pE87ut1nhe7M/s640/rumah-opa-oma-karangturi-lasem-1.JPG" title="Opa Gwan dan Leluhur" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Opa Gwan dan leluhur.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melalui penuturan-penuturan yang
saya dengar langsung dari opa-opa dan oma-oma di Lasem maupun lewat perantara
seperti Mas Pop. Ketika memandangi rumah-rumah tua menawannya, hingga menapaki
setiap jengkal lantai tegelnya. Dari bingkai-bingkai foto usang pada
dinding-dindin kayunya yang mulai melapuk, hingga perabotan-perabotan lawas
berdebu yang teronggok di sudut ruangan. Saya seakan bisa memahami ikatan macam
apa yang membuat mereka begitu tabah menua di antara kesunyian, di dalam
rumah-rumah lawasnya. Namun seketika itu pula, saya tak bisa menerjemahkannya,
bahkan bagi saya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Entahlah, mungkin ada benarnya apa
yang pernah dikatakan oleh seorang kawan jauh, bahwa saya adalah pria masa
lalu, yang memandang segala sesuatu di dunia ini berjalan dengn tempo pelan dan
serba hitam putih. Serta musik-musik lawas yang menyayat hati sebagai
pengiringnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Malam harinya, kami sedikit
bersenang-senang dengan menyantap gulai kambing yang lezat sekali di Pamotan,
sekitar sepuluh kilometer di selatan Lasem, meski harus sedikit bersusah payah
menembus gelap dan gerimis yang tak kunjung mereda sepanjang sore hingga malam
menjelang. Lalu dilanjutkan dengan menyesap kopi lelet dan wedang ronde untuk
sekadar menghangatkan badan, sambil berbincang ke sana kemari di Roemah Oei. Sebelum
akhirnya saya dan Ary menyerah terlebih dulu karena tak kuasa menahan kantuk,
sementara Mas Pop masih bertahan untuk mengikuti sebuah acara yang digelar di
Roemah Oei menjelang tengah malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDDr8mDtEFTqC90jEj4Kwng34Y5hGwbVdTxMJxInzuGujN29X2SXbio4CvRocYfxWRhN4-7jUum2sGXfIb-lun8ZKEa1y2qu1tolZuYjem8HmmKEJMMGUxdNk7DPyGRL2VT4A9n_EMz3U/s1600/kopi-lelet-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kopi Lelet khas Lasem" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDDr8mDtEFTqC90jEj4Kwng34Y5hGwbVdTxMJxInzuGujN29X2SXbio4CvRocYfxWRhN4-7jUum2sGXfIb-lun8ZKEa1y2qu1tolZuYjem8HmmKEJMMGUxdNk7DPyGRL2VT4A9n_EMz3U/s640/kopi-lelet-lasem.JPG" title="Kopi Lelet khas Lasem" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mendengarkan cerita, menyesap kisah.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Malam itu adalah malam
penghabisan di tahun 2017 yang panjang namun terasa singkat tersebut. Sepertinya,
kami akan melewatkannya hanya dengan tidur di &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;guest house&lt;/i&gt; Nyah Lasem dalam keheningan, tanpa hingar bingar
kembang api maupun semarak terompet. Lagipula, kami juga harus menyiapkan
tenaga untuk esok hari, karena kami harus meniti jalan panjang kembali ke
Semarang, sedangkan Ary sendiri masih harus berjuang lebih lama lagi kembali ke
Ibukota dengan kereta ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebelum benar-benar terlelap,
dalam diam saya merapalkan sedikit doa dan harapan di antara rumitnya
kemungkinan-kemungkinan di tahun yang akan datang. Tentang secuplik mimpi yang
belum terlaksana, tentang sederet pertanyaan yang tak kunjung terjawab, juga
tentang rencana-rencana yang tak sesuai dengan harapan. Malam terus bergulir,
namun lampu kamar masih berpendar terang. Mungkin, begitu pula tahun-tahun yang
akan datang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEiH9QFq5VczgYLastiKqM_JBngzvsGhCz3j4Y4hijwmInXdiek2YiH9Vt4Ya3qAAbYt5RdoE9jh56YYJ7j0UIY8uNR6xtSSCv4e3cmXc4DEaZDfAgCejFrvmFTXfhoS23pXyl23BgwOM/s1600/pohon-trembesi-lasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pohon Trembesi" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEiH9QFq5VczgYLastiKqM_JBngzvsGhCz3j4Y4hijwmInXdiek2YiH9Vt4Ya3qAAbYt5RdoE9jh56YYJ7j0UIY8uNR6xtSSCv4e3cmXc4DEaZDfAgCejFrvmFTXfhoS23pXyl23BgwOM/s640/pohon-trembesi-lasem.JPG" title="Pohon Trembesi" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Melampaui masa.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiA_6JtJrfl1B6av9tgantzCFZ_SCTXHrDdY3j1F8cR_lNHq18SxxmF2mOwdJRax1vxG5DqVBP0PVmT6wN-DR94m7y5qkZVX8IzeS9tASdYir1dGpBO46EvvKmqohe8JqcEEDfDnj0kVNY/s1600/pohon-trembesi-lasem-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Persawahan di Selatan Lasem" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiA_6JtJrfl1B6av9tgantzCFZ_SCTXHrDdY3j1F8cR_lNHq18SxxmF2mOwdJRax1vxG5DqVBP0PVmT6wN-DR94m7y5qkZVX8IzeS9tASdYir1dGpBO46EvvKmqohe8JqcEEDfDnj0kVNY/s640/pohon-trembesi-lasem-1.JPG" title="Persawahan di Selatan Lasem" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Persawahan hijau di selatan Lasem.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSSaf0gBR-cOY_Bdpcb6-4SGiZtKTh0UNkCkc1Og4cf9BEL9lDIrROjcd5kypgPIKo37veIq835R3hq3CKPOaXUZdiNu25j183-yMMxIjJzPTNz5TuNhytB_3wKder_SohAMLM39F5y80/s72-c/museum-nyah-lasem.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">45</thr:total></item><item><title>Semarang dalam 12 Jam</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2018/11/wisata-semarang-dalam-sehari.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Sam Poo Kong</category><category>Sejarah</category><category>Semarang</category><category>Walking Tour</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 24 Nov 2018 18:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-4954544521284500276</guid><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8FOpTemVPg_moYOtKf-UCrmu6TsqGUC0iykAlb9a9dnhdhpQUFqDrTg8XTjaVvQm2tQadWJ27fN7QoKf1xXyN11FGGuMH4Pq-MAw8LHjVqN1LHRH3QgeHntA7B0ETpeouXng6aY4yfmU/s1600/lawang-sewu-semarang.jpeg" imageanchor="1"&gt;&lt;img alt="Lawang Sewu" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8FOpTemVPg_moYOtKf-UCrmu6TsqGUC0iykAlb9a9dnhdhpQUFqDrTg8XTjaVvQm2tQadWJ27fN7QoKf1xXyN11FGGuMH4Pq-MAw8LHjVqN1LHRH3QgeHntA7B0ETpeouXng6aY4yfmU/s640/lawang-sewu-semarang.jpeg" title="Lawang Sewu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa terasa November tinggal
menyisakan hitungan hari, sebelum bulan di penghujung tahun ini menyapa. Bagi sebagian
orang, Desember juga sangat dinantikan dengan penuh gegap gempita. Ya, itu
berarti liburan panjang sudah menanti di depan mata. Mereka bahkan rela
menyiapkan segala halnya jauh-jauh hari, demi liburan yang menyenangkan,
melepas penat setelah sepanjang tahun berkutat dengan pekerjaan masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagi sebagian orang lainnya, hal
itu terkadang tidak berlaku. Kawan dekat Desember, yaitu musim penghujan telah
resmi tiba sebulan belakangan, rintik hujan sepertinya akan lebih setia
mengiringi hari-hari menuju kalender baru. Orang-orang tentu cenderung malas
untuk berpergian ke luar rumah. mereka lebih senang menghabiskan waktu di dalam
ruangan, misalnya menonton acara atau film favorit, hingga menamatkan beberapa
buku yang telah lama terbeli.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tak terkecuali saya, yang
beberapa tahun ke belakang memang lebih sering menghindari liburan akhir tahun
untuk berpergian ke suatu kota atau daerah. Pun sebenarnya saya juga tidak
terlalu sering berpergian dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun justru di
tahun ini saya lebih banyak mendampingi beberapa kawan dari luar kota yang
berkunjung ke Semarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim-o289A54cctESTxiOkP1Xk9_zcRaiudX-ZKdlcXv-MJ0ssW9vEMkg3FNd7VpKpWKmCtC50GTjwJP-gDSB0S2XmeY5O_hbfXvutMxNIT_i-qlVcbp1XIG4cwAzCEl9iiVGv7XhvoWh1k/s1600/pecinan-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pecinan Semarang" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEim-o289A54cctESTxiOkP1Xk9_zcRaiudX-ZKdlcXv-MJ0ssW9vEMkg3FNd7VpKpWKmCtC50GTjwJP-gDSB0S2XmeY5O_hbfXvutMxNIT_i-qlVcbp1XIG4cwAzCEl9iiVGv7XhvoWh1k/s640/pecinan-semarang.JPG" title="Pecinan Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pecinan Semarang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Desember nanti saya kembali kedatangan
seorang kawan yang belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di kota Lunpia
ini. Sayangnya waktunya tidak terlalu banyak, rupanya Ia memang hanya transit
di Semarang sebelum menuju &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/08/sepucuk-cinta-dari-sudut-gang.html"&gt;Jogja&lt;/a&gt;, kota yang mungkin selalu pada daftar teratas
destinasi liburan bagi kebanyakan orang. Ia tak kebagian tiket kereta yang
langsug menuju Jogja, maka diputuskanlah transit di Semarang karena kebetulan
tiket masih tersedia cukup banyak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8oWySNmEHRU-w2tZPEVZ3kSmF8F3fRrB2VE1npC21p8YbaH70VBMw0NcJotGqzSCF32O8Mo2pj2puJ_XgYa283qZwPhXCqDYpXNkWsQvB_VU-JyicPtcTdOGK-RSOBiCQi4Lro1JfWNU/s1600/Screenshot+%25281%2529.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="449" data-original-width="997" height="284" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8oWySNmEHRU-w2tZPEVZ3kSmF8F3fRrB2VE1npC21p8YbaH70VBMw0NcJotGqzSCF32O8Mo2pj2puJ_XgYa283qZwPhXCqDYpXNkWsQvB_VU-JyicPtcTdOGK-RSOBiCQi4Lro1JfWNU/s640/Screenshot+%25281%2529.png" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pesan tiket kereta di Traveloka mudah dan cepat.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Padahal di era modern seperti
sekarang, pemesanan tiket kereta sudah bisa dilakukan jauh-jauh hari. Salah satunya
untuk mengantisipasi membludaknya peminat seperti pada musim liburan panjang. Dengan
sistem pemesanan &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;, tak perlu lagi mengantri berjam-jam di loket stasiun
demi selembar tiket. Salah satunya yaitu melalui Traveloka, situs agen
perjalanan online. Pemesanannya mudah dan tidak ribet, &lt;i&gt;channel &lt;/i&gt;pembayarannya
pun banyak pilihan. Mulai dari transfer melalui ATM hingga jaringan minimarket
yang tersedia di banyak tempat. Terkadang pada waktu-waktu tertentu juga
terdapat penawaran menarik seperti misalnya promo diskon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Karena waktunya yang terbatas,
saya mencoba menawarkan kawan saya itu beberapa aktivitas seru untuk menikmati
beberapa spot &lt;a href="https://www.traveloka.com/activities/indonesia/city/semarang-106587"&gt;wisata di Semarang&lt;/a&gt;. Tak banyak memang, mungkin karena hal itu
Semarang kurang dilirik sebagai tujuan utama untuk menghabiskan liburan akhir
tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Menanti Sunrise di Pantai Baruna&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Mendengar nama &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/09/pantai-baruna-dan-monumen-ketenangan-jiwa-semarang.html"&gt;Pantai Baruna&lt;/a&gt; ini
jangan bayangkan dulu pantai dengan hamparan pasir yang luas, landai dan ombak
yang mendarat dengan lesu. Karena di tepiannya, hanya terdapat bekas dermaga
yang rusak serta beton-beton pemecah ombak serta padang ilalang yang membentang.
Berada di pesisir pantai seharusnya Semarang memiliki wisata pantai yang bisa
diandalkan, namun kenyataannya memang kota ini tak memilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX3DIj216PW2zSUJF-rySQ3Gh0LM5xp3pbWAw2OvzGHaihfUAG9KPNfOLOUqbPWHleF-nPdUOlbE4apA9uf9iw3sB-umhBwAl0vjpb8JcO4vk_kQL6Sf7JpCi8d5rrNmGce3R46UlJX5k/s1600/sunrise-pantai-baruna.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Baruna Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX3DIj216PW2zSUJF-rySQ3Gh0LM5xp3pbWAw2OvzGHaihfUAG9KPNfOLOUqbPWHleF-nPdUOlbE4apA9uf9iw3sB-umhBwAl0vjpb8JcO4vk_kQL6Sf7JpCi8d5rrNmGce3R46UlJX5k/s640/sunrise-pantai-baruna.JPG" title="Pantai Baruna Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Menyapa pagi di tepian pantai.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Datanglah pagi-pagi sekali,
ketika fajar menyingsing, bersama para penghobi memancing yang biasanya telah
datang lebih dulu. Pantai ini memang terkenal di kalangan penghobi memancing
daripada tempat wisata. Suasana tenang berpadu dengan angin yang menghembuskan
hawa dingin pagi tentu saja tak boleh dilewatkan begitu saja bagi para pencari
ketenangan pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di sisi lain pantai ini juga
terdapat monumen yang mungkin membuat orang bertanya-tanya tentang keberadaan
sebuah bongkahan batu di tempat antah berantah seperti itu. Namun siapa sangka
monumen tersebut masih berkaitan erat dengan sejarah kelam kota Semarang, yaitu
Pertempuran Lima Hari. Monumen Ketenangan jiwa tertulis pada salah satu sisinya,
diresmikan oleh Walikota Semarang Soetrisno Soeharso untuk menghormati tentara
Jepang yang gugur pada peristiwa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mengenali Semarang dengan
Berjalan Kaki&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berjalan kaki tentu semua orang
biasa melakukannya, tapi bagaimana jika berjalan kaki sambil menyusuri tempat-tempat
bersejarah sambil diceritakan sejarah atau cerita di baliknya? Ikutlah Bersukaria
&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/05/semarang-dari-kampung-ke-kampung.html"&gt;Walking Tour&lt;/a&gt; yang diadakan setiap akhir pekan, terkadang pada sore hari ketika
matahari sudah tidak terlalu terik, namun tak jarang pula diadakan pada pagi
hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4nn7eqQUyYkLjruKt6jYjsv_RJ67CNnlrDrSFhVjyoEVo1D8l1nLLa89yR_wdjoUhgyxZxIe1B7rmAzTgjBB-dwy5Y3J4eUKlB5c_zwGTNGsmeAa_ckeRckEu-5qwcaDv9peXMB9cpjA/s1600/bersukaria-walking-tour.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Landhuis Tuan Klein" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4nn7eqQUyYkLjruKt6jYjsv_RJ67CNnlrDrSFhVjyoEVo1D8l1nLLa89yR_wdjoUhgyxZxIe1B7rmAzTgjBB-dwy5Y3J4eUKlB5c_zwGTNGsmeAa_ckeRckEu-5qwcaDv9peXMB9cpjA/s640/bersukaria-walking-tour.JPG" title="Landhuis Tuan Klein" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Bersama teman-teman baru ketika walking tour.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Semarang, kota yang penuh sejarah
tentu saja tersusun dari berbagai peristiwa maupun cerita-cerita yang membuat
kota ini menjadi seperti sekarang. Terkadang memang sudah tertulis pada
buku-buku sejarah yang kita pelajari ketika bangku sekolah dulu, namun tak
sedikit yang tak tertuangkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Rasanya menyenangkan sekali bisa
menyusuri kota ditemani oleh seorang &lt;i&gt;story teller&lt;/i&gt; yang akan menuturkan cerita.
Melangkahkan kaki di atas trotoarnya, masuk ke gang-gang sempit perkampungan
penduduk, hingga melihat lebih dekat apa yang selama ini terlewat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mengintip Keberagaman Semarang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kota dengan jumlah penduduk
hampir dua setengah juta jiwa ini tersusun dari berbagai etnis yang hidup
berdampingan sejak lama. Tempat ibadah berbagai agama tersebar di penjuru kota,
yang bisa dikunjungi satu per satu oleh siapa saja yang ingin melihat
keberagaman di kota Lunpia ini. Sebut saja Klenteng &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/10/ceritanya-ngadem-di-sam-poo-kong.html"&gt;Sam Poo Kong&lt;/a&gt; yang sudah
menjadi semacam ikon tersendiri. Atau Gereja Blenduk yang merupakan bangunan
tertua di kawasan Kota lama Semarang. Masjid Agung Jawa Tengah yang megah. Hingga
Vihara Buddhagaya atau yang dikenal dengan nama Vihara Watugong, mengambil nama
daerah tempat vihara tersebut berdiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfh2aCQ6xxsVaQflMdsJn48mw-txdZdJLWHJeC-lNu8kUIHqStx9bhlWvAz5Dkxx2tADt1hH-2uI1x1zq4Ay1CES-izO4Aswr9ahUvlBCB8oXVmx1-OfCFwaWh60ar_qrnoekxoggq4ZU/s1600/vihara-watugong.jpeg" imageanchor="1"&gt;&lt;img alt="Vihara Buddhagaya" border="0" data-original-height="600" data-original-width="450" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfh2aCQ6xxsVaQflMdsJn48mw-txdZdJLWHJeC-lNu8kUIHqStx9bhlWvAz5Dkxx2tADt1hH-2uI1x1zq4Ay1CES-izO4Aswr9ahUvlBCB8oXVmx1-OfCFwaWh60ar_qrnoekxoggq4ZU/s320/vihara-watugong.jpeg" title="Vihara Buddhagaya" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pagoda Avaloikitesvara.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Watugong sendiri bukan tanpa
alasan, di halaman depan kompleks vihara, terdapat sebuah batu yang bentuknya menyerupai
sebuah gong tanpa rekasaya tangan manusia. Daya tarik utama di kompleks vihara
ini adalah sebuah pagoda yang menjulang setinggi 45 meter. Dinamakan Pagoda
Avalokitesvara, terdapat patung Dewi Kwam Im di dalamnya setinggi 5 meter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun yang menjadi perhatian
adalah tempat-tempat tersebut merupakan tempat ibadah yang masih aktif. Sekiranya
ingin mengambil gambar usahakan jangan mengganggu umat yang sedang ibadah, ya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jadi
kapan kamu ke Semarang :D&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8FOpTemVPg_moYOtKf-UCrmu6TsqGUC0iykAlb9a9dnhdhpQUFqDrTg8XTjaVvQm2tQadWJ27fN7QoKf1xXyN11FGGuMH4Pq-MAw8LHjVqN1LHRH3QgeHntA7B0ETpeouXng6aY4yfmU/s72-c/lawang-sewu-semarang.jpeg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">56</thr:total></item><item><title>Surga Pantai di Krabi Thailand Yang Sayang Untuk Dilewatkan</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2018/04/surga-pantai-di-krabi-thailand.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Pantai</category><category>Thailand</category><category>Wisata Air</category><category>Wisata Bahari</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 29 Apr 2018 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-8480171558578728500</guid><description>&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Thailand memang surganya pantai-pantai berpasir putih nan
lembut yang tersebar di sepanjang negerinya. Hampir semua tempat di Negara ini
memiliki kelebihan masing-masing. Salah satunya adalah kecantikan Pulau Krabi
yang amat memesona.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Pulau Krabi mungkin belum familiar untuk para wisatawan
dari luar Thailand. Namun jika mendengar nama Pantai Phra Nang, mungkin sudah
bukan nama yang asing lagi. Selain Phra Nang, Pulau Krabi di Thailand juga
memiliki beberapa &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/12/menikmati-sepi-di-pantai-batu-putih.html"&gt;&lt;span style="color: #1155cc;"&gt;pantai cantik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; lain yang nggak boleh kamu
lewatkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pantai Phra Nang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJtAkrY0a02Jsp0eMZhPhclDm0Qww3hSFYyozdfmO4pN6qZFJwDRLRBu780UgzS0huCxzGkERRfgl5PrQRspjLEKGPy5BkxWAt3b06zBb2tS-5a2DbZ8I1D8WleNaGc9WVCns13bA9GLg/s1600/image001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Phra Nang" border="0" data-original-height="768" data-original-width="1024" height="474" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJtAkrY0a02Jsp0eMZhPhclDm0Qww3hSFYyozdfmO4pN6qZFJwDRLRBu780UgzS0huCxzGkERRfgl5PrQRspjLEKGPy5BkxWAt3b06zBb2tS-5a2DbZ8I1D8WleNaGc9WVCns13bA9GLg/s640/image001.jpg" title="Pantai Phra Nang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;via: homeaway&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tujuan utama ke Pulau Krabi sudah pasti ke pantai ini. Nama
Phra Nang sudah terkenal di seantero dunia. Pantai ini memiliki air laut
berwarna kehijauan yang sangat jernih, dengan pasir putih luas membentang di
sepanjang garis pantainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di tepian Phra Nang, terdapat perahu-perahu tradisional yang
bisa disewa untuk keliling kawasan pantai ini. Selain bisa melihat indahnya
pantai dan menikmati pasirnya yang halus, kamu juga bisa melakukan snorkeling
atau diving di Phra Nang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pantai Railay&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFIeg6uOPXOXrBkPF1nvQvOOQMhrXOpRPfLA58V6MqltA5jFxylai-VPBrwO67j13CdV4a_PdTXr2HywwNRdpjw8AXqIStdBnJkxlYN2ptBOCqKO2yn4NgyB8KnN6TWfELb0oEvsLBgT8/s1600/image003.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Railay" border="0" data-original-height="1200" data-original-width="1600" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFIeg6uOPXOXrBkPF1nvQvOOQMhrXOpRPfLA58V6MqltA5jFxylai-VPBrwO67j13CdV4a_PdTXr2HywwNRdpjw8AXqIStdBnJkxlYN2ptBOCqKO2yn4NgyB8KnN6TWfELb0oEvsLBgT8/s640/image003.jpg" title="Pantai Railay" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;via: samuitimes&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pemandangan utama di Pantai Railay tidak hanya pasirnya yang
berwarna coklat susu nan bersih. Tapi juga bebatuan tinggi menjulang yang ada
di sekitar kawasan pantai, yang membuat tempat ini mirip dengan Phi Phi Island
yang sudah terkenal itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Air di Pantai Railay berwarna kehijauan, kontras dengan warna
pasirnya yang jadi lebih coklat ketika terpapar air laut. Dengan ombak yang tenang
dan pantai yang landai, Railay adalah tempat sempurna untuk bersantai menikmati
semilir angin di bawah pohon nyiur yang meneduhkan kawasan pantai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebelum lanjut lagi, kamu pasti terbayang berapa lama
perjalanan yang kita tempuh dari Bangkok menuju pantai-pantai cantik di Krabi.
Tenang saja, kamu tak perlu terbang ke Bangkok, karena ada Bandara di Krabi
yang juga melayani penerbangan Internasional. Harga tiketnya juga tidak jauh
berbeda kok, maskapai yang melayani penerbangan Jakarta-Krabi ada Scoot, Air
Asia, Garuda Indonesia, Bangkok Airways dan lainnya. Penerbangan yang menarik
adalah dengan maskapai &lt;a href="https://www.traveloka.com/scoot"&gt;&lt;span style="color: #1155cc;"&gt;Scoot&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang transitnya di Singapura, jadi kamu
bisa jalan-jalan dulu sebentar di Singapura, atau melihat-lihat keindahan
Bandara Changi yang sudah mendunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pantai Ao Nang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCSVxvtUvZXAVcxbIVasy9-BULFpxeuXwamzI53OV_j7WVxz1uz9iE78H-FL_q5U30L83ilj8xczjuxjZHjSiAeHGM1rAZSivxQo-u745CJVDv5CKuVqaCMZIrACRkfeOQzKldPa7I9BM/s1600/image005.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Ao Nang" border="0" data-original-height="740" data-original-width="1600" height="289" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCSVxvtUvZXAVcxbIVasy9-BULFpxeuXwamzI53OV_j7WVxz1uz9iE78H-FL_q5U30L83ilj8xczjuxjZHjSiAeHGM1rAZSivxQo-u745CJVDv5CKuVqaCMZIrACRkfeOQzKldPa7I9BM/s640/image005.jpg" title="Pantai Ao Nang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;via: wikipedia&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hamparan pasir putih yang membentang amat luas adalah
pemandangan utama yang kamu temui di Pantai Ao Nang. Air lautnya jernih dengan
warna kebiruan yang menggoda untuk terjun dan berenang di airnya. Dengan ombak
yang cenderung tenang dan hamparan pasir putih yang amat luas, Pantai Ao Nang
adalah tempat sempurna untuk berjemur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain itu kamu juga bisa keliling kawasan pantai ini dengan
menggunakan perahu tradisional yang banyak disewakan oleh penduduk setempat.
Snorkeling di Ao Nang, bisa banget! Keindahan alam bawah laut kawasan pantai
ini akan jadi pemandangan yang nggak akan kamu lupakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pantai Khlong Muang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3aGgZUK34-mFTvS9B_XV4n7MxEozc-Zpg4S7Esa8fmqUIFMkRmz9hN4jhc8CbmlddlO3j6K8cdO54JuCNHXyms-055lYiAnh9gIFMHAO-MXommd4-ec_7VaCRDWFqecEs7jaDN_ilCd0/s1600/image007.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Khlong Muang" border="0" data-original-height="720" data-original-width="1280" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3aGgZUK34-mFTvS9B_XV4n7MxEozc-Zpg4S7Esa8fmqUIFMkRmz9hN4jhc8CbmlddlO3j6K8cdO54JuCNHXyms-055lYiAnh9gIFMHAO-MXommd4-ec_7VaCRDWFqecEs7jaDN_ilCd0/s640/image007.jpg" title="Pantai Khlong Muang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;via: youtube&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/10/sumurup-sisi-lain-rawa-pening.html"&gt;&lt;span style="color: #1155cc;"&gt;Mendamba liburan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; di pantai berpasir putih
bersih yang sangat landai dengan air laut biru jernih, Khlong Muang adalah
jawabannya. Pantai ini memiliki garis yang cukup panjang, dengan pasir lembut
yang membentang dari ujung ke ujungnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain bermain di pasir yang lembut, kamu juga bisa menikmati
Pantai Khlong Muang di resort-resort cantik yang ada di sekitar pantainya.
Keindahan tempat ini nggak kalah dari Bali!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Maya Bay&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhL_jBOv8C52RcV9t2leENtIGPP3VzNdiYFG1_3EsqHf-qbzL7wWpAFT6yQ0qhmpopku82YLyX0Kl8U4CTAT6F6vuxarhCOYUnSMPvlyW55-Koq9iwT0T5z3ztGV0iiSPwgvAVFxMD9-s4/s1600/image009.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Maya Bay" border="0" data-original-height="900" data-original-width="1600" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhL_jBOv8C52RcV9t2leENtIGPP3VzNdiYFG1_3EsqHf-qbzL7wWpAFT6yQ0qhmpopku82YLyX0Kl8U4CTAT6F6vuxarhCOYUnSMPvlyW55-Koq9iwT0T5z3ztGV0iiSPwgvAVFxMD9-s4/s640/image009.jpg" title="Maya Bay" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;via: phiphi.phuket&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tidak jauh dari Pulau Krabi, kamu bisa mampir ke Maya Bay.
Teluk cantik ini sangat memikat, dengan pasir lembut dan ombak yang super
tenang. Namun pemerintah Thailand sedang menutup sementara tempat ini dari
kunjungan wisata, karena adanya kerusakan ekosistem yang cukup parah. Populer
sejak muncul dalam film &lt;a href="http://kabar24.bisnis.com/read/20180214/19/738801/terumbu-karang-rusak-lokasi-syuting-film-the-beach-bakal-ditutup"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: #1155cc;"&gt;The Beach&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;-&lt;/i&gt;nya Mas Leonardo Di Caprio, tercatat
ribuan wisatawan datang ke teluk ini setiap harinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="normal"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ternyata banyak tempat seru kan di Pulau Krabi. Rencanakan
liburan kamu sekarang ke Thailand dan jangan lupa tiket pesawatnya. Banyak
maskapai yang melayani rute menuju Thailand dan Pulau Krabi, pilihan yang
terbaik adalah dengan maskapai Scoot ya!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJtAkrY0a02Jsp0eMZhPhclDm0Qww3hSFYyozdfmO4pN6qZFJwDRLRBu780UgzS0huCxzGkERRfgl5PrQRspjLEKGPy5BkxWAt3b06zBb2tS-5a2DbZ8I1D8WleNaGc9WVCns13bA9GLg/s72-c/image001.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">44</thr:total></item><item><title>Manfaatkan Jatah Cutimu dengan Backpacking ke Vietnam</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2018/03/backpacking-ke-vietnam.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Pantai</category><category>Sejarah</category><category>Wisata Bahari</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 26 Mar 2018 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-3952727541790041621</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVULlH34Uf7VGC2xERch1yRCVCIDZ3mtHQksEKPkNfm0eyhhUWAq4krGOFz4LtN-S7IKLOfNrvxShQISscuKd330N8fxamYg48urRau1s82CPWOiSzKhLdddRHcETAkQoe6LCGmt5QEAg/s1600/backpacking.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Backpacking" border="0" data-original-height="417" data-original-width="626" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVULlH34Uf7VGC2xERch1yRCVCIDZ3mtHQksEKPkNfm0eyhhUWAq4krGOFz4LtN-S7IKLOfNrvxShQISscuKd330N8fxamYg48urRau1s82CPWOiSzKhLdddRHcETAkQoe6LCGmt5QEAg/s640/backpacking.jpg" title="Backpacking" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: freepik.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa tahun belakangan, Vietnam menjadi salah satu destinasi favorit para &lt;i&gt;backpacker&lt;/i&gt; dari seluruh dunia. Termasuk para &lt;i&gt;backpacker&lt;/i&gt; dari Indonesia yang tertarik liburan ke sana karena harganya cukup terjangkau bila dibandingkan dengan Negara lain di sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Liburan ke Negara ini juga tidak memerlukan waktu yang sangat panjang, hanya sekitar 7 jam penerbangan dengan Vietnam Airlines ke Hanoi. Kalau kamu sudah punya rencana buat cuti di momen hari kejepit nasional yang banyak tersebar di sepanjang 2018, Vietnam adalah salah satu destinasi yang nggak bakal bikin kamu kecewa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nah, sebelum berangkat, ada baiknya kamu perhatikan beberapa hal buat &lt;i&gt;backpacking&lt;/i&gt; di Vietnam berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Beberapa destinasi pilihan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Hanoi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6iLxVmCVy-DwgsPIg_WZA1nEAqTBd8MUsJk4YcSoXd-V1zkXmKUWkIpbNerVKbI6PLbEzBF5Fq36A-QOrJt0ElutunDCiGJQgIpwXc_F2MoIx0ISUf2kep3wrLs6K3dKo_lsIlkpzTTU/s1600/hanoi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Hanoi" border="0" data-original-height="416" data-original-width="624" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6iLxVmCVy-DwgsPIg_WZA1nEAqTBd8MUsJk4YcSoXd-V1zkXmKUWkIpbNerVKbI6PLbEzBF5Fq36A-QOrJt0ElutunDCiGJQgIpwXc_F2MoIx0ISUf2kep3wrLs6K3dKo_lsIlkpzTTU/s640/hanoi.jpg" title="Hanoi" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: pixabay.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ada banyak tempat yang bisa kamu kunjungi di Vietnam. Yang paling wajib adalah Hanoi, Ibukota Negara yang pastinya menjadi tujuan perjalanan pertama setelah mendarat dengan menumpang &lt;a href="http://www.traveloka.com/vietnam-airlines"&gt;Vietnam Airlines&lt;/a&gt;. Kota ini cantik, dengan beberapa pantai menarik yang pasti bikin betah. Kehidupan masyarakat di Hanoi pun menarik untuk disimak, karena bakal membuatmu merasa tak jauh beda dengan Jakarta dan kota besar lainnya di Indonesia. Penuh hiruk pikuk yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Halong Bay&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifBbETbzaXoZbiQU3tpJphxQuvyvo4Ej2aRuWJPOBKcR3e5GXQI1QZqDa7WyUVyLeTvhpADZol2-JXZevcx1QSzmwjcr90LTRy9UpAUsruiUrxe9rTOQT6B5ohlPfEw3QBpYn78tI7k7c/s1600/halong-bay.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Halong Bay" border="0" data-original-height="416" data-original-width="624" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifBbETbzaXoZbiQU3tpJphxQuvyvo4Ej2aRuWJPOBKcR3e5GXQI1QZqDa7WyUVyLeTvhpADZol2-JXZevcx1QSzmwjcr90LTRy9UpAUsruiUrxe9rTOQT6B5ohlPfEw3QBpYn78tI7k7c/s640/halong-bay.jpg" title="Halong Bay" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: pixabay.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tujuan berikutnya yang juga wajib kamu kunjungi adalah Halong Bay. Bisa dibilang, ini adalah pantai terbaik di Vietnam dan selalu jadi jujugan para wisatawan. Meski demikian, Halong Bay juga sangat &lt;i&gt;welcome&lt;/i&gt; pada para &lt;i&gt;backpacker&lt;/i&gt;, jadi tak perlu merogoh kocek terlalu dalam buat menikmati indahnya kawasan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Mui Ne&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixATMbksagJA5Xjz1i78_45ptSh5JA9Xm7Sl1a_yoJl1Wvw6UyDEFo8jZOVZckhFL2o0YQ50vpOZQViOZaoMjetSgVLNrh4upKxvfTBFqCnooGoqoUiYJ016QGL_lD-AcNouegTfI4_oM/s1600/mui-ne.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Mui Ne" border="0" data-original-height="401" data-original-width="624" height="410" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixATMbksagJA5Xjz1i78_45ptSh5JA9Xm7Sl1a_yoJl1Wvw6UyDEFo8jZOVZckhFL2o0YQ50vpOZQViOZaoMjetSgVLNrh4upKxvfTBFqCnooGoqoUiYJ016QGL_lD-AcNouegTfI4_oM/s640/mui-ne.jpg" title="Mui Ne" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: pixabay.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Cantiknya gurun pasir yang berhadapan dengan pantai yang ombaknya tenang menjadi pemandangan utama di Mui Ne. Kontrasnya pemandangan dua fenomena alam ini dijamin bikin jatuh cinta pada pandangan pertama. Silahkan &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/12/menikmati-sepi-di-pantai-batu-putih.html"&gt;nikmati keindahan pantai&lt;/a&gt; yang ada disini sepuasmu!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Kota Kuno Hue&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiruzpW3taRIeqUpjjJ_n-olhFma1VRt9-6Uq6DVCddCKsq64oTn6A49MrIt0jQtexcy3LsOUNXtO5rVVTE5vmbUwoIaZa-PnZmwRQbfH0g_i9xKVvflWuIK2F829nZrmN3jcuLogY6ocM/s1600/hue.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Hue" border="0" data-original-height="401" data-original-width="624" height="410" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiruzpW3taRIeqUpjjJ_n-olhFma1VRt9-6Uq6DVCddCKsq64oTn6A49MrIt0jQtexcy3LsOUNXtO5rVVTE5vmbUwoIaZa-PnZmwRQbfH0g_i9xKVvflWuIK2F829nZrmN3jcuLogY6ocM/s640/hue.jpg" title="Hue" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sumber: pixabay.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hue adalah salah satu kota kuno dengan &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/03/bersepeda-di-kota-lama-semarang.html"&gt;bangunan-bangunan bersejarah&lt;/a&gt; yang masih terjaga sampai sekarang. Jalanan yang ramai dengan penduduk lokal nan ramah, serta pemandangan di sekitar kota, seakan melemparkanmu ke masa lalu Vietnam yang penuh sejarah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Tips dan Trik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ada beberapa hal yang perlu kamu catat untuk perjalanan ke Vietnam, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;-&amp;nbsp; &amp;nbsp; Jangan pernah lupa bertanya harga apapun. Makanan, minuman, penginapan, transportasi. Tanyakan dulu berapa harganya di awal, agar kamu tidak tertipu dengan harga yang terlalu mahal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;-&amp;nbsp; &amp;nbsp;Bus menjadi alat transportasi andalan di Vietnam, dan ada beberapa pilihan buat membeli tiket terusan. Namun biasanya tiket ini justru bikin ribet. Jadi sebaiknya beli tiket bus satuan saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;-&amp;nbsp; &amp;nbsp;Untuk perjalanan dalam kota atau tempat yang tak terlalu jauh, sebaiknya sewa motor harian. Selain lebih murah, &lt;a href="https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-3703391/pengalaman-tak-terduga-saat-naik-motor-di-vietnam"&gt;naik motor&lt;/a&gt; ke banyak tempat menarik yang tak terjangkau bus akan menjadi pengalman tersendiri, kan? Namun jika perjalanan kamu panjang, sebaiknya pilih kereta api yang harga tiketnya sangat murah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;-&amp;nbsp; &amp;nbsp;Selalu berhati-hati pilih agen perjalanan lokal. Karena tak jarang agen yang menaikkan harga penginapan dan transportasi jauh lebih mahal daripada yang seharusnya karena wisatawan tak mengerti soal bahasa. Tips terbaiknya adalah dengan memesan tiket Vietnam Air kamu sekaligus hotelnya langsung dari Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
-&amp;nbsp; &lt;span style="font-size: large;"&gt;Jangan segan mencicip makanan di pinggir jalan. Selain harganya lebih murah, jajanan di pinggir jalan juga memiliki rasa yang lebih lezat dibandingkan dengan resto di sana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Prinsip jangan malu bertanya agar tidak sesat di jalan sangat berlaku di Vietnam. Semakin kamu rajin bertanya kepada penduduk sekitar dan mencari informasi tambahan via internet, perjalanan kamu di sana selama liburan kejepit pun makin lancar dan aman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pesan tiket Vietnam Airlines sekarang yuk, biar nggak kehabisan buat perjalanan ke Vietnam nanti!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVULlH34Uf7VGC2xERch1yRCVCIDZ3mtHQksEKPkNfm0eyhhUWAq4krGOFz4LtN-S7IKLOfNrvxShQISscuKd330N8fxamYg48urRau1s82CPWOiSzKhLdddRHcETAkQoe6LCGmt5QEAg/s72-c/backpacking.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">28</thr:total></item><item><title>Gondang Winangoen, Sekelumit Riwayat Gula di Tanah Jawa</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2018/01/museum-gula-gondang-winangoen-jawa-tengah.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Heritage</category><category>Klaten</category><category>museum</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 8 Jan 2018 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7179475991475388857</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs-tofb6sQHU2Z9c_Ky-IXRchkDbYn4GvV7RhRR5Hh0lLwugsogHYYjj8SjbAd3Lz8UDeWZ9LDP582wk-07D1XSWe-xJwDsVNqZVlfsVJ04QcU80xeL_mumEzR1bnbEPmRnoAwp5lHIEU/s1600/museum-gula-jawa-tengah.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs-tofb6sQHU2Z9c_Ky-IXRchkDbYn4GvV7RhRR5Hh0lLwugsogHYYjj8SjbAd3Lz8UDeWZ9LDP582wk-07D1XSWe-xJwDsVNqZVlfsVJ04QcU80xeL_mumEzR1bnbEPmRnoAwp5lHIEU/s640/museum-gula-jawa-tengah.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berada persis di tepi jalan raya yang menghubungkan kota Jogja dan Solo, membuat Museum Gula Jawa Tengah mudah ditemukan oleh siapa pun. Namun sayangnya, lokasinya yang strategis tak selalu menjamin akan ramai dikunjungi oleh wisatawan. Seperti pada suatu pagi menjelang siang itu, sepi adalah kesan pertama yang saya dapatkan. Sebelumnya, saya terlebih dahulu menukar lima ribu rupiah dengan selembar tiket sebagai tanda masuk museum yang terletak di Desa Plawikan, Jogonalan, Kabupaten Klaten tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Perhatian saya langsung tertuju pada beberapa koleksi lokomotif uap yang dipajang di halaman museum. Salah satunya diberi nama ‘&lt;b&gt;simbah&lt;/b&gt;’, karena beroperasi sejak awal masa kejayaan &lt;b&gt;PG Gondang Winangoen&lt;/b&gt; yang kini telah berganti nama menjadi &lt;b&gt;PG Gondang Baru&lt;/b&gt;. Terdapat pula pedati atau gerobak sapi, yang dulunya digunakan untuk mengangkut tebu, sebelum tergantikan oleh tenaga mesin. Beberapa peralatan berukuran besar lainnya turut menemani di halaman museum yang tampak begitu kesepian itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwn7ZthaTA1Fc8epEFb4uT9d0Wxoo0vpyMglcVAvYsqCsOy01Lu7NX02ZyjiVOyMdbiYoD-4714frCdhwBqB9lOA0HT2AJ3atSzLbevg12YeszO7rGx2UyX4NntRz9t7d486-0JFaY-Bw/s1600/museum-gula-jawa-tengah-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwn7ZthaTA1Fc8epEFb4uT9d0Wxoo0vpyMglcVAvYsqCsOy01Lu7NX02ZyjiVOyMdbiYoD-4714frCdhwBqB9lOA0HT2AJ3atSzLbevg12YeszO7rGx2UyX4NntRz9t7d486-0JFaY-Bw/s640/museum-gula-jawa-tengah-1.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tampak depan Museum Gula Jawa Tengah.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFraomWVsp-OCY7-FAo7R8fTirN3PvsxKM52J6MdtzwRK50vLe_iu4ohXiTLkNNviX6tpmNwgGQuMKdMCxpGijG9SdwwevAd6qEbpQBuvWD99H2lzmyW-ipWOPRWzy7mSFSs5bjtnZnOU/s1600/museum-gula-jawa-tengah-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFraomWVsp-OCY7-FAo7R8fTirN3PvsxKM52J6MdtzwRK50vLe_iu4ohXiTLkNNviX6tpmNwgGQuMKdMCxpGijG9SdwwevAd6qEbpQBuvWD99H2lzmyW-ipWOPRWzy7mSFSs5bjtnZnOU/s640/museum-gula-jawa-tengah-3.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Berjumpa 'Simbah'.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWP-LT1p37Eu_jGmDQtEwgH3xKvAJzuIXJgBOZh7X0ZlEc4E0cc0NcuUROOa8C9x77KexsCgh8bbE4UEOeJScVYgLpBqzAQ1cXoJhs5v7VyokAEWdQo_sIlLiAZUWmpcGrdadbrJTLc_w/s1600/museum-gula-jawa-tengah-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWP-LT1p37Eu_jGmDQtEwgH3xKvAJzuIXJgBOZh7X0ZlEc4E0cc0NcuUROOa8C9x77KexsCgh8bbE4UEOeJScVYgLpBqzAQ1cXoJhs5v7VyokAEWdQo_sIlLiAZUWmpcGrdadbrJTLc_w/s640/museum-gula-jawa-tengah-2.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Salah satu bagian dari mesin pabrik gula.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selanjutnya, saya melangkahkan kaki menuju bangunan utama museum yang berlanggam &lt;i&gt;indische&lt;/i&gt; itu. Dulunya, bangunan tersebut merupakan rumah hunian bagi seorang pejabat pabrik gula. Selain saya, tampaknya tak ada tanda-tanda kehadiran pengunjung museum lainnya. Suatu hal yang sudah biasa ditemui di banyak museum di negeri ini. Dimana museum seakan dianggap kurang menarik bagi sebagian orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melewati pintu utama, saya langsung disambut oleh peta provinsi Jawa Tengah yang berukuran cukup besar. Lampu-lampu kecil yang urung menyala menandakan keberadaan puluhan pabrik gula yang tersebar di penjuru Jawa Tengah. Total ada 51 &lt;i&gt;suikerfabriek &lt;/i&gt;atau pabrik gula pernah berdiri hingga awal abad ke 20. Namun kini menyisakan tiga belas pabrik, dimana hanya delapan di antaranya yang masih beroperasi termasuk PG Gondang Baru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3G55q605h2PNCs9wMs_2GuC_bRSqyzI5Y8Vc17dXLO4WfW_g3IOCQARgeACo-_xTlchPcdhPhtImFgT7ukU0ttYvBAG8I3PqH4y4VH2vO8Yz-8O6N3_eVCMnAVxRjkJ2dZyHgH8gqFlU/s1600/museum-gula-jawa-tengah-4.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3G55q605h2PNCs9wMs_2GuC_bRSqyzI5Y8Vc17dXLO4WfW_g3IOCQARgeACo-_xTlchPcdhPhtImFgT7ukU0ttYvBAG8I3PqH4y4VH2vO8Yz-8O6N3_eVCMnAVxRjkJ2dZyHgH8gqFlU/s640/museum-gula-jawa-tengah-4.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Koleksi museum di ruangan utama.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7wOnPAnDKHs-yNcU_dlEI2I5-1R_rsUNuCZlWgbMtLV2EfLXqVwOrFwI5SYj59Io00wDTAlJM6F5t3W1D2-JJZeu7dN2GwOGSHmjpRFBURISHKMnFKXdy84OVh9yTwgm2OLlseL8trFY/s1600/museum-gula-jawa-tengah-5.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7wOnPAnDKHs-yNcU_dlEI2I5-1R_rsUNuCZlWgbMtLV2EfLXqVwOrFwI5SYj59Io00wDTAlJM6F5t3W1D2-JJZeu7dN2GwOGSHmjpRFBURISHKMnFKXdy84OVh9yTwgm2OLlseL8trFY/s640/museum-gula-jawa-tengah-5.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Beberapa sampel jenis gula.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sejarah bermula ketika pemerintah kolonial menggencarkan &lt;i&gt;cultuurstelsel &lt;/i&gt;atau sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Di pulau Jawa sendiri perkebunan tebu kemudian tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Dari situlah industri pengolahan tebu mulai bermunculan. Dari yang awalnya menggunakan peralatan tradisional, hingga mendatangkan mesin-mesin impor yang belum pernah digunakan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melimpahnya produksi gula pada saat itu bahkan mengantar Hindia Belanda sebagai salah satu eksportir gula terbesar di dunia. Perlahan, gula menjadi komoditas paling menguntungkan bagi pemerintah kolonial. Sayangnya pamor gula meredup seiring dengan ekonomi dunia yang memburuk setelah Perang Dunia II. Industri gula di Jawa pun terkena imbasnya, sehingga satu per satu pabrik gula harus ditutup. Setelah Indonesia merdeka, buruknya pengelolaan juga menyebabkan mandeknya perkembangan industri pengolahan tebu di tanah air.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beranjak menuju ruang utama, sambil berjalan pelan pandangan saya menyapu lemari kaca yang berjejer rapi. Di dalamnya tersimpan alat-alat perkebunan, berbagai varian atau jenis tebu, hingga hama dan penyakit yang menyerang tanaman tebu. Sementara itu, replika sistem pembukaan lahan &lt;i&gt;reynoso &lt;/i&gt;diletakkan di sudut lain ruangan. Minimnya pencahayaan membuat kamera &lt;i&gt;pocket &lt;/i&gt;yang saya gunakan pun tak bisa menangkap gambar secara maksimal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhse3CH7MKLDwickvaHCXgWd4rDJIdFuz51zBCDNIv2U9EdN3MQn5rYgCMo_hYRAOpQuJzk9gFh4A196j1JnnC8lcmgJLtkgPPmWBHHoiuFDzoIawZzn3wU2flO21E8brvCrUbAGVANLT8/s1600/museum-gula-jawa-tengah-6.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhse3CH7MKLDwickvaHCXgWd4rDJIdFuz51zBCDNIv2U9EdN3MQn5rYgCMo_hYRAOpQuJzk9gFh4A196j1JnnC8lcmgJLtkgPPmWBHHoiuFDzoIawZzn3wU2flO21E8brvCrUbAGVANLT8/s640/museum-gula-jawa-tengah-6.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Timbangan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOVr75yQhA6TimXhatNPyKDMemGXYM6zsQyg2W17rInwLoT3tx7BJiKXZoF5Tg2e1cheD8tFVAlpVJ1S2OGEOC-SSaTaghOatXE3ovguBC6BHuNb6Rq6isk7R9Dvv5DC_7vOdQxdFOOrc/s1600/museum-gula-jawa-tengah-7.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiOVr75yQhA6TimXhatNPyKDMemGXYM6zsQyg2W17rInwLoT3tx7BJiKXZoF5Tg2e1cheD8tFVAlpVJ1S2OGEOC-SSaTaghOatXE3ovguBC6BHuNb6Rq6isk7R9Dvv5DC_7vOdQxdFOOrc/s640/museum-gula-jawa-tengah-7.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Miniatur PG Tasikmadu di Karanganyar, Jawa Tengah.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Entah mata saya yang kurang jeli atau bagaimana, saya tak dapat menemukan informasi yang bisa menerangkan secara lengkap koleksi-koleksi yang terpajang di sana. Begitu pula di ruangan berikutnya, yang menyimpan sebuah mesin jahit usang yang digunakan untuk menjahit karung goni sebagai kemasan gula. Terdapat pula timbangan besar hingga alat-alat laboratorium gula. Hanya saja penerangan di ruangan ini sedikit lebih baik, dan didukung dengan temboknya yang dicat dengan warna cerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langkah demi langkah membawa saya memasuki ruangan berikutnya, melewati miniatur Pabrik Gula Tasikmadoe, Karanganyar yang tersimpan dalam kotak kaca. Tak ketinggalan, bingkai-bingkai foto lawas yang terpajang pada dindingnya juga menarik perhatian saya. Beberapa di antaranya berkisah tentang tradisi &lt;i&gt;cembengan &lt;/i&gt;atau sering disebut kawin tebu. Sebuah ritual yang dilaksanakan sebelum proses penggilingan tebu ini masih dipertahankan oleh beberapa pabrik gula yang masih beroperasi di Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdlNVhxEdfSTixpdR9Wm0I2nH18mwItaKmIodO-Dpui6ofr0Nl05aRj73nrCsYUV5QhAbR6JjOAunaovD9zAUPc5H8wOyOfgb8bgLHri7f0BT9nZ1UxMCMPj9lZZttKHCCnHySCnJJ8hU/s1600/museum-gula-jawa-tengah-8.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdlNVhxEdfSTixpdR9Wm0I2nH18mwItaKmIodO-Dpui6ofr0Nl05aRj73nrCsYUV5QhAbR6JjOAunaovD9zAUPc5H8wOyOfgb8bgLHri7f0BT9nZ1UxMCMPj9lZZttKHCCnHySCnJJ8hU/s640/museum-gula-jawa-tengah-8.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Beberapa koleksi mesin hitung.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selanjutnya, saya menjumpai tiruan visualisasi sebuah ruang administrasi lama. Lengkap dengan perangkat kerja seperti mesin ketik dan mesin hitung yang terlihat antik. Tak hanya satu, mesin hitung dari beberapa generasi ditata rapi dalam sebuah lemari kayu. Ada juga topi dan tongkat yang dulunya dikenakan oleh pejabat pabrik, sedikit mengingatkan kita pada film-film berlatar zaman kolonial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sementara itu, saya mendapati ruangan terakhir yang berada di sisi barat museum kosong melompong. Seharusnya di sini tersimpan maket atau miniatur pabrik gula, yang kebetulan pada saat itu sengaja diletakkan di teras depan untuk dibersihkan. Berdampingan dengan &lt;i&gt;draisine &lt;/i&gt;atau alat pengangkut manusia semacam becak namun dengan media rel, yang digunakan untuk memeriksa ladang tebu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAse1Ib2jRBeynZDdimwYEoX5pr9IRibwzcSbM3bbl8CkHqEtJ5e85GqpdTVo2MiggXcf7SYjriAp5gE0bSAs6NuokGnwAySIcdYQ5UtmZPVDkf1ODSl5iX6XjwGOruR2FKbYhaCS8eaE/s1600/museum-gula-jawa-tengah-9.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAse1Ib2jRBeynZDdimwYEoX5pr9IRibwzcSbM3bbl8CkHqEtJ5e85GqpdTVo2MiggXcf7SYjriAp5gE0bSAs6NuokGnwAySIcdYQ5UtmZPVDkf1ODSl5iX6XjwGOruR2FKbYhaCS8eaE/s640/museum-gula-jawa-tengah-9.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sepi di teras depan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya hanya menjumpai beberapa bingkai foto dan sebuah grafik rumit yang menerangkan alur proses penggilingan tebu. Batang-batang tebu tersebut ternyata harus melalui banyak sekali tahapan sebelum menjadi butiran-butiran gula, serta sejumlah hasil samping yang masih bisa dimanfaatkan kembali. Seperti misalnya ampas tebu yang digunakan untuk bahan bakar ketel uap. Atau tetes tebu yang dipakai sebagai bahan baku vetsin (&lt;i&gt;sodium glutamat&lt;/i&gt;), alhokol hingga spiritus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Museum ini diresmikan pada 11 September 1982 oleh &lt;b&gt;Soeparjo Roestam&lt;/b&gt;, Gubernur Jawa Tengah pada masa itu. Pada ruang-ruang sepinya, secara garis besar berkisah tentang teknologi yang digunakan pada awal masa kejayaan industri pengolahan tebu khususnya di pulau Jawa. Berada di lingkungan PG Gondang Baru, seharusnya museum ini juga menerangkan sejarah pabrik gula yang didirikan pada 1860 tersebut secara lengkap. Namun entah mengapa, hanya sedikit yang bisa saya temukan. Di antaranya sejumlah bingkai foto yang menampilkan potret pimpinan pejabat pabrik dari masa ke masa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBAjzwCjovhhfLwRo_E04XTmqmDNyTvfWIYyTh7MvzBpluxNIYl04ZOHjuKwgqNkXCyNLPs5NBl91fFkHi9NrJcj4X4s6O_F7Hia4knyRLkVXxsOnQtyYH_DOaHh9LZpv3SdI2YZjva0o/s1600/museum-gula-jawa-tengah-10.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBAjzwCjovhhfLwRo_E04XTmqmDNyTvfWIYyTh7MvzBpluxNIYl04ZOHjuKwgqNkXCyNLPs5NBl91fFkHi9NrJcj4X4s6O_F7Hia4knyRLkVXxsOnQtyYH_DOaHh9LZpv3SdI2YZjva0o/s640/museum-gula-jawa-tengah-10.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah-rumah lawas.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpnko8bsAFRazxAIeA1ZDu-NgaJPjldGXZSRlOHFsJPMlMb9AAo5-kI2cy2I3zU-yk_uZcbCEGmFpBViWd-O8fagbAaMBT7PQinoB3xG5XE2i5fhmif2loft_y8-9nyD8SGYszNdbetEk/s1600/museum-gula-jawa-tengah-11.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpnko8bsAFRazxAIeA1ZDu-NgaJPjldGXZSRlOHFsJPMlMb9AAo5-kI2cy2I3zU-yk_uZcbCEGmFpBViWd-O8fagbAaMBT7PQinoB3xG5XE2i5fhmif2loft_y8-9nyD8SGYszNdbetEk/s640/museum-gula-jawa-tengah-11.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Emplasemen lori di belakang kompleks museum.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Merasa sedikit kurang puas, saya mencoba mengintip rumah-rumah dinas pejabat gula yang berada di belakang bangunan museum. Masih bercirikan bangunan lawas, sebagian besar tampaknya sudah tidak terurus lagi. Rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi menghiasi halaman depan rumah-rumah tersebut. Menandakan sudah cukup lama tak dijamah oleh manusia. Cat tembok yang mengelupas, kaca-kaca jendela yang dibiarkan pecah menjadi pemandangan lainnya, yang sedikit mengingatkan kita pada latar film-film bertema horor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selanjutnya, langkah demi langkah membawa saya bertemu dengan emplasemen lori yang terdiri dari beberapa jalur. Berbatasan dengan ladang tebu yang membentang luas di belakang kompleks PG Gondang Baru. Dulunya kereta lori menjadi andalan utama untuk mengangkut batang-batang tebu yang telah dipanen menuju pabrik untuk diolah. Namun seiring waktu, dengan alasan efisiensi lori-lori tersebut akhirnya tergantikan oleh truk-truk yang lebih modern.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM4WwvSHV377UGjQS0rU-GNi97a680EU7IHkfx4WNSoW-sBr2rhma2G5hYI_sdiYGK1BNDHkw47PFwU-DUwOCQIGDM5qjt0IjHJQFwNb65TspfMKTn7B6Uo_2qGm4kITshivhkvFFjFR4/s1600/museum-gula-jawa-tengah-12.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM4WwvSHV377UGjQS0rU-GNi97a680EU7IHkfx4WNSoW-sBr2rhma2G5hYI_sdiYGK1BNDHkw47PFwU-DUwOCQIGDM5qjt0IjHJQFwNb65TspfMKTn7B6Uo_2qGm4kITshivhkvFFjFR4/s640/museum-gula-jawa-tengah-12.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kompleks PG Gondang Baru.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebetulnya tak ada niatan khusus untuk mengunjungi museum yang disebut-sebut sebagai museum gula satu-satunya di Indonesia, bahkan tak jarang yang mengatakan satu-satunya di Asia Tenggara ini. Kebetulan pada saat itu saya sedang dalam perjalanan menuju Jogja dari Semarang via Jatinom. Keberadaan cerobong asap yang menjulang tinggi di sisi jalan raya Solo-Jogja menimbulkan rasa penasaran di benak saya. Seketika itu pula saya teringat cerita seorang teman yang beberapa waktu lalu berkunjung ke sebuah museum tak jauh dari itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Siapa sangka, berawal dari rasa penasaran tersebut, membawa saya menemukan sekelumit riwayat gula di tanah Jawa. Riwayat yang tak selalu berjalan dengan manis, meski gula sendiri merupakan bahan pemanis. Era kejayaan industri gula pun telah berlalu, dan museum gula menjadi salah satu saksi bisunya. Berkurangnya lahan perkebunan tebu turut memperburuk situasi tersebut. Ditambah dengan kebijakan pemerintah yang lebih banyak mengimpor komoditas gula, membuat industri gula di tanah air seakan hidup segan matipun tak mau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWtgp5o20FWD_OpBbSqq605XvQhVJb4jULMloYSfvPFceNCgkv2EFBIQ14-rW53dYrJ_-RQhZjb2ruVxQT_v7mslXZ4koPNHcYpTijCv6lv1IW4RM2jkYe5L8rRRN08xEBlHXnGB70UIo/s1600/museum-gula-jawa-tengah-13.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Museum Gula Jawa Tengah" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjWtgp5o20FWD_OpBbSqq605XvQhVJb4jULMloYSfvPFceNCgkv2EFBIQ14-rW53dYrJ_-RQhZjb2ruVxQT_v7mslXZ4koPNHcYpTijCv6lv1IW4RM2jkYe5L8rRRN08xEBlHXnGB70UIo/s640/museum-gula-jawa-tengah-13.JPG" title="Museum Gula Jawa Tengah" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhs-tofb6sQHU2Z9c_Ky-IXRchkDbYn4GvV7RhRR5Hh0lLwugsogHYYjj8SjbAd3Lz8UDeWZ9LDP582wk-07D1XSWe-xJwDsVNqZVlfsVJ04QcU80xeL_mumEzR1bnbEPmRnoAwp5lHIEU/s72-c/museum-gula-jawa-tengah.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">100</thr:total></item><item><title>Jelajah Kampung Kauman Semarang</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/09/kampung-kauman-semarang.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Heritage</category><category>Sejarah</category><category>Semarang</category><category>Thomas Karsten</category><category>Walking Tour</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 25 Sep 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-680442194265293560</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Akhir-akhir ini saya kembali menikmati menjadi seorang pejalan kaki. Menyenangkan sekali bisa menyusuri kota, melangkahkan kaki di atas trotoarnya, hingga masuk ke gang-gang sempit. Melihat lebih dekat apa yang selama ini terlewat. Seringkali kita melewatkan suatu hal atau tempat ketika berkendara, namun akan berbeda cerita jika sedang berjalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beruntung saya menemukan &lt;a href="https://www.instagram.com/bersukariawalk/"&gt;Bersukaria&lt;/a&gt; yang cukup sering mengadakan &lt;i&gt;walking tour&lt;/i&gt; di kota Semarang. Tak hanya berjalan kaki, namun kita akan diajak menelusuri tempat-tempat bersejarah dan juga cerita menarik lainnya. Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/search/label/Walking%20Tour"&gt;tur jalan kaki&lt;/a&gt; yang diadakan setiap akhir pekan ini. Terkadang pada saat sore ketika matahari sudah tidak terlalu terik, namun tak jarang pula diadakan pada pagi hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7JToT-WcnqyTvU6pds_xrdJPVdC7yCkY_DMO4bcYNnkwNDerFe0l5IFn9u0_n2Y87WBn7hlP4CPoXcitevfVN_r0smHRBcvdsnCuZnYlyo_im3JXKumcHvPlQGA6J4TebigLFv2AfEuw/s1600/hotel-dibya-puri.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Hotel Dibya Puri" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7JToT-WcnqyTvU6pds_xrdJPVdC7yCkY_DMO4bcYNnkwNDerFe0l5IFn9u0_n2Y87WBn7hlP4CPoXcitevfVN_r0smHRBcvdsnCuZnYlyo_im3JXKumcHvPlQGA6J4TebigLFv2AfEuw/s640/hotel-dibya-puri.JPG" title="Hotel Dibya Puri" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Terbengkalai.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seperti pada Minggu pagi itu, saya dan beberapa teman lain sudah berkumpul di depan Hotel Dibya Puri yang terbengkalai. Kali ini kami akan diajak menjelajah kampung Kauman dan sekitarnya. Saya sangat antusias sekali, karena ini merupakan rute baru yang diadakan oleh Bersukaria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/05/semarang-dari-kampung-ke-kampung.html"&gt;Semarang dari Kampung ke Kampung&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebagai titik kumpul, hotel Dibya Puri menjadi topik bahasan pertama. Mas Dimas Mas Fauzan saling bergantian memberi penjelasan tentang bangunan yang dulunya bernama &lt;b&gt;Hotel Du Pavilion ini&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Awalnya hotel ini di bangun pada tahun 1847. Sempat mengalami renovasi besar-besaran untuk menyambut perhelatan &lt;b&gt;Koloniale Tentoonstelling&lt;/b&gt; yang digelar pada tahun 1914,” Tutur Mas Dimas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hotel yang terbilang mewah pada masanya ini terletak pada posisi yang sangat strategis. Berada di tepi Jalan Raya pos (sekarang Jl Pemuda) tak jauh dari Kota Lama yang merupakan pusat bisnis dan perkantoran. Juga dekat dengan kantor pos sebagai sarana komunikasi utama yang cukup penting.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgj-FjWinrAweghH1vO6gy2SxutsNXuhqsYDmomeF2-MzDHW4vdWrxEkG0MiKUK2qo_IEQVU2PSs6NO5NwOog7g3KjzcrT6X4pwV4k9-K1lrwjq8Z4Sb6F2zYzDqYWgHQ2kLMyI7vPl1J0/s1600/bersukaria-kauman.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bersukaria Kampung Kauman" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgj-FjWinrAweghH1vO6gy2SxutsNXuhqsYDmomeF2-MzDHW4vdWrxEkG0MiKUK2qo_IEQVU2PSs6NO5NwOog7g3KjzcrT6X4pwV4k9-K1lrwjq8Z4Sb6F2zYzDqYWgHQ2kLMyI7vPl1J0/s640/bersukaria-kauman.JPG" title="Bersukaria Kampung Kauman" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mari bersukaria!&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sempat pula menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah Pertempuran Lima Hari di Semarang pada masa kemerdekaan. Meski statusnya sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya yang wajib dikonservasi, tak menjamin hotel Dibya Puri bernasib baik seperti cagar budaya lainnya di Semarang. Kerusakan muncul di sana-sini karena konstruksi bangunan yang dimakan usia. Bahkan di beberapa bagian sudah hampir roboh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beranjak meninggalkan hotel Dibya Puri yang sedang menanti ajal, kami menuju Masjid Kauman yang berada tak jauh darinya. Berdiri kokoh di antara hiruk-pikuk pasar Yaik, lapak pedagang kaki lima, hingga pangkalan angkot. Dikenal juga dengan sebutan Masjid Agung Semarang. Namun tak sedikit yang salah mengira bahwa Masjid Agung Semarang adalah Masjid Agung jawa Tengah yang baru selesai dibangun pada 2006 silam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6artmpsHudPliksaMOdme-wsIpJioDUKR4AEzmOa-TdBlmyrbzi17GR6rYlDjto5cLHLou0lfWfDeoJGEoobP83BRzFsX85A1zm_L-XIvRNzPc3yYCsc58UgFw1wO-k-ZZQf4OXhVWME/s1600/gapura-masjid-kauman-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Masjid Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6artmpsHudPliksaMOdme-wsIpJioDUKR4AEzmOa-TdBlmyrbzi17GR6rYlDjto5cLHLou0lfWfDeoJGEoobP83BRzFsX85A1zm_L-XIvRNzPc3yYCsc58UgFw1wO-k-ZZQf4OXhVWME/s640/gapura-masjid-kauman-semarang.JPG" title="Masjid Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gapura Masjid.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeCfE5ylPxP4REz-V0AX67pD_WE_5jpzFq9opPzPuwGUBSr1Mw87MC1NG_zM0sPYyZyOynHc4G6ut4utA_UCQtX0Wu-XZj0yhik20fMjKqvxjC1BSVgmS3yHzndKfDUNTlPoq1LDKcvf8/s1600/masjid-kauman-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Masjid Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeCfE5ylPxP4REz-V0AX67pD_WE_5jpzFq9opPzPuwGUBSr1Mw87MC1NG_zM0sPYyZyOynHc4G6ut4utA_UCQtX0Wu-XZj0yhik20fMjKqvxjC1BSVgmS3yHzndKfDUNTlPoq1LDKcvf8/s640/masjid-kauman-semarang.JPG" title="Masjid Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Masjid Besar Kauman.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Masjid Kauman ini juga seperti masjid-masjid kuno lainnya, khususnya di pulau Jawa. Dimana masjid berada di pusat kota, dekat dengan alun-alun dan pusat pemerintahan. Jadi seperti itulah ciri khas tata ruang kota pada jaman dahulu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun sayangnya alun-alun kota Semarang yang tadinya berada di depan masjid, telah lenyap sejak lama. Salah satunya dikarenakan beralih fungsi menjadi kawasan komersil. Di antaranya Pasar Yaik, Hotel Metro dan gedung BPD, yang kemudian dikenal sebagai Kawasan perdagangan Johar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/04/jejak-oei-tiong-ham-raja-gula-semarang.html"&gt;Menyusuri Jejak Oei Tiong Ham&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Masjid Kauman ternyata juga menyimpan sejarah yang menarik. Tepatnya ketika kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, yang bertepatan dengan hari Jumat. Sesaat sebelum sholat Jumat dilaksanakan, kemerdekaan Indonesia diumumkan secara terbuka melalui mimbar masjid. Konon, masjid Kauman menjadi satu-satunya masjid di Indonesia yang melakukan hal tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Adalah seorang dokter muda yang juga jamaah aktif di masjid tersebut. Dengan keberaniannya mengumumkan terjadinya proklamasi kemerdekaan. Namun sayangnya setelah peristiwa tersebut beliau menjadi buronan tentara Jepang. Dan harus melarikan diri hingga Jakarta sebelum akhirnya tewas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwqwPZJQtQwAehSAbq4djp5lkEo-A8YQV-kE4ZEe1x54UkVFFwdtGliN2x0-eHiLXLmt_fOkzrj3Tv9pYhwSOG5WUrnciP1D9-s1DwCUO39reods_fmpTThOQbKA1bcUCGt_AWurZURKI/s1600/prasasti-masjid-kauman-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Prasasti Masjid Besar Kauman" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwqwPZJQtQwAehSAbq4djp5lkEo-A8YQV-kE4ZEe1x54UkVFFwdtGliN2x0-eHiLXLmt_fOkzrj3Tv9pYhwSOG5WUrnciP1D9-s1DwCUO39reods_fmpTThOQbKA1bcUCGt_AWurZURKI/s640/prasasti-masjid-kauman-semarang.JPG" title="Prasasti Masjid Besar Kauman" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Salah satu prasasti, berbahasa Melayu. Pada masa itu bahasa Indonesia belum diresmikan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Masjid Kauman pernah dilanda kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh bangunan karena sambaran petir,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Peristiwa yang terjadi pada 1885 tersebut tercatat pada salah satu prasasti yang terdapat pada gapura masjid. Uniknya, ada empat prasasti yang ditulis dalam empat bahasa berbeda, yaitu bahasa Jawa, Melayu, Arab dan Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kampung Kauman dapat ditemui di hampir seluruh kota-kota besar di pulau Jawa. Tak terkecuali di Semarang, yang memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama Islam. Kampung Kauman sendiri biasanya berada di sekitar masjid besar. Menariknya, secara administratif Masjid Kauman Semarang tidak berada lagi dalam wilayah Kelurahan (Kampung) Kauman, melainkan Kelurahan Bangunharjo, Semarang Tengah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBYCJSWXP1NmLdHRxl8HoFO_u8UP2V5cGCvWboC5IPIsukhQGTsTNGhSDt07wfC-lwqrmszA2mqeQYK2rZ1W_oaiyAKgzYxHvQUCS6IQB3JL7LDG5PGq49571BaXnJ_8SstM521BkFbmk/s1600/rumah-kauman-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Tradisional Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgBYCJSWXP1NmLdHRxl8HoFO_u8UP2V5cGCvWboC5IPIsukhQGTsTNGhSDt07wfC-lwqrmszA2mqeQYK2rZ1W_oaiyAKgzYxHvQUCS6IQB3JL7LDG5PGq49571BaXnJ_8SstM521BkFbmk/s640/rumah-kauman-semarang.JPG" title="Rumah Tradisional Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah tradisional.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVrB-nyc51hGCRggBcNlovp7bWMb5bxvjWcgZWfmL3WDMrmcjvKkQdJv6F1CZ7G2aG-jcrMf6CjFj1sTnPs93_G4dxh1bIoujUwfjE96VC-uW5kmxAhBUtDRNco6m6f1-XClSOzXLpAIY/s1600/kauman-semarang-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Tradisional Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVrB-nyc51hGCRggBcNlovp7bWMb5bxvjWcgZWfmL3WDMrmcjvKkQdJv6F1CZ7G2aG-jcrMf6CjFj1sTnPs93_G4dxh1bIoujUwfjE96VC-uW5kmxAhBUtDRNco6m6f1-XClSOzXLpAIY/s640/kauman-semarang-1.JPG" title="Rumah Tradisional Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kayu masih menjadi bahan utama.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL3_ibMdf7qq2XSR1s9kEAHh7aGIl59rKgqfvL9yzx9uKK4cJPdgN6GaIAWV0t2nQdhHDvz213p2kelKKKFk0SWAYkmvURCncqW8OA7RdUvT9Hnq0Ven1b-HJm1REq4iOLAdMWsDDSChw/s1600/kauman-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kampung Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjL3_ibMdf7qq2XSR1s9kEAHh7aGIl59rKgqfvL9yzx9uKK4cJPdgN6GaIAWV0t2nQdhHDvz213p2kelKKKFk0SWAYkmvURCncqW8OA7RdUvT9Hnq0Ven1b-HJm1REq4iOLAdMWsDDSChw/s640/kauman-semarang.JPG" title="Kampung Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Bersandar.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami diajak menyusuri gang demi gang, mengitari kampung Kauman. Berbelok dari satu gang ke gang lain yang lebih sempit. Beberapa rumah tradisional yang sebagian besar terbuat dari kayu sebagai bahan utama menarik perhatian kami. Ukurannya yang cukup mungil seakan menegaskan terbatasnya lahan untuk pemukiman di perkotaan seperti Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Kauman sendiri ada yang mengatakan berasal dari &lt;i&gt;nggone wong kaum &lt;/i&gt;(tempatnya para kaum). Namun tak sedikit pula yang berpendapat bahwa Kauman diambil dari kata &lt;i&gt;qo’um maddin &lt;/i&gt;yang berarti pemuka agama Islam. Jadi bisa disimpulkan Kauman merupakan tempat tinggal para pemuka agama yang melakukan aktivitas keagamaan di Masjid Besar Kauman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kampung Kauman terdiri dari beberapa kampung kecil. Nama-nama kampung tersebut dapat menunjukkan keadaan setempat, atau jenis aktivitas masyarakatnya. Seperti misalnya kampung Butulan, yang berasal dari kata butul (tembus), dikarenakan di kampung tersebut terdapat jalan tembus. Kampung Kepatehan dikenal karena beberapa warganya yang memproduksi teh. Atau kampung Krendo yang diambil dari kata krendo (keranda), menunjukkan bahwa dulunya kampung tersebut adalah tempat untuk meyimpan keranda jenazah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2FYTmX7IFF76OS3GKV_XNtWeHFGv3iczTEof9rOFAkBo_YS3p2aBeeFJklSv0z0VgK3s30HmKDpE6AlYBtukZUgIHyWDhQ-gBAAeGU3H48Bw9T8h7Rb3FMU5V4hHMT22cSk93l3VfoFI/s1600/kauman-semarang-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kampung Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2FYTmX7IFF76OS3GKV_XNtWeHFGv3iczTEof9rOFAkBo_YS3p2aBeeFJklSv0z0VgK3s30HmKDpE6AlYBtukZUgIHyWDhQ-gBAAeGU3H48Bw9T8h7Rb3FMU5V4hHMT22cSk93l3VfoFI/s640/kauman-semarang-3.JPG" title="Kampung Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tertutup.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzbsSR_D-BX_CIA3aYKpfdkN0sxuRomNFUu9M5aM0un-VRVnHWIBeB8Jw7ZjxrjL1go-whEJOxMWSDulUhhcx0RGdDJS9P0iEkZqkm2dpdTgq3LDkYSbnG5EQu9okCdfgiH6ftEx1Ucc0/s1600/butulan-kauman.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kampung Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzbsSR_D-BX_CIA3aYKpfdkN0sxuRomNFUu9M5aM0un-VRVnHWIBeB8Jw7ZjxrjL1go-whEJOxMWSDulUhhcx0RGdDJS9P0iEkZqkm2dpdTgq3LDkYSbnG5EQu9okCdfgiH6ftEx1Ucc0/s640/butulan-kauman.JPG" title="Kampung Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Butulan, berarti jalan tembus.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_FzoRKNYsVPw_36xflgY8l7kNr3Gzqy5SMBlV-xZyR4NVFCZIRDolK59WUlLO1pODg6EnvrLV35E5BhYc51Ow3j0bjHvm1TaUxQDMFwCELWlpn4sMXcC-AhO7va3Nl7Q_cLQ1R2VdrVs/s1600/kauman-semarang-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kampung Kauman Semarang" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_FzoRKNYsVPw_36xflgY8l7kNr3Gzqy5SMBlV-xZyR4NVFCZIRDolK59WUlLO1pODg6EnvrLV35E5BhYc51Ow3j0bjHvm1TaUxQDMFwCELWlpn4sMXcC-AhO7va3Nl7Q_cLQ1R2VdrVs/s640/kauman-semarang-2.JPG" title="Kampung Kauman Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gang sempit.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pada awalnya sebagian besar penduduk kampung Kauman adalah warga pribumi. Akan tetapi dalam perkembangannya kampung ini dihuni dari beragam etnis seperti misalnya Tionghoa, Arab hingga Melayu. Aktivitas masyarakatnya pun tk hanya seputar keagamaan saja, melainkan juga bisnis. Mengingat letaknya yang dekat dengan pusat perdagangan seperti pasar Johar, sebagian warganya juga menggantungkan hidup dengan berjualan di pasar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Cuaca yang cukup terik tak sedikit pun menyurutkan semangat kami untuk terus berjalan kaki. Pemberhentian selanjutnya adalah bekas bangunan pasar Johar yang kini mengenaskan. Sejak dilanda musibah kebakaran dua tahun yang lalu, belum ada tanda-tanda bangunan pasar ini akan direnovasi kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/09/pantai-baruna-dan-monumen-ketenangan-jiwa-semarang.html"&gt;Mencari Ketenangan di Tepian Laut Utara&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebenarnya tidak disarankan untuk memasuki bangunan ini secara bebas. Bukan apa-apa, hanya mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat di beberapa bagian sudah terlihat keretakan yang cukup lebar, ditakutkan bisa roboh sewaktu-waktu. Pengalaman yang tidak menyenangkan kami dapatkan disini. Seseorang yang mengaku menjaga kawasan ini meminta sejumlah uang sebagai ‘retribusi’, dengan pandangan yang kurang bersahabat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivGe8gLjkEq1OxBP_Yb1_SsfhLO4dvlXgFwZdVgIRGmx0JMAGHzF4iAol-gHGzBJwO8KzCP4vp6pRaIFWRjwvBc4XK9voDu4IRyBL8slGixj8FIbo5G8cOOBFyk4shLx8rZURZzIVGDLw/s1600/pasar-johar-terbakar-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pasar Johar Terbakar" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivGe8gLjkEq1OxBP_Yb1_SsfhLO4dvlXgFwZdVgIRGmx0JMAGHzF4iAol-gHGzBJwO8KzCP4vp6pRaIFWRjwvBc4XK9voDu4IRyBL8slGixj8FIbo5G8cOOBFyk4shLx8rZURZzIVGDLw/s640/pasar-johar-terbakar-2.JPG" title="Pasar Johar Terbakar" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tiang-tiang telanjang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc1jq0bzjQdhVFeYxhCjpmNZyroEKPiLLsF-Hu7fiEn11c1aKbZvASdaY5B5VBLcFln0BlzavKfAhbz9qBqX6VaJOnevENT0cOgjFMmy_0Ckqh2agMuccH91ABSGJKZUB2-GxT-wWtshU/s1600/pasar-johar-terbakar-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pasar Johar Terbakar" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc1jq0bzjQdhVFeYxhCjpmNZyroEKPiLLsF-Hu7fiEn11c1aKbZvASdaY5B5VBLcFln0BlzavKfAhbz9qBqX6VaJOnevENT0cOgjFMmy_0Ckqh2agMuccH91ABSGJKZUB2-GxT-wWtshU/s640/pasar-johar-terbakar-1.JPG" title="Pasar Johar Terbakar" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Ruang kosong, tak ada lagi pertemuan penjual dan pembeli.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya tercekat, melihat kondisi terkini pasar Johar yang berakhir mengenaskan seperti itu. Akan tetapi kemegahan bangunannya masih sangat terasa, meski hanya menyisakan ruang-ruang kosong tanpa satu pun pedagang selayaknya sebuah pasar. Hingga kini pasar Johar memang masih bediri, namun ia tak lagi utuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sejarah pasar Johar berawal ketika banyak orang yang berdagang di depan penjara, di sebelah timur alun-alun Semarang. Para pedagang tersebut melayani para keluarga tahanan yang akan membesuk. Untuk mencegah kawasan tersebut berubah menjadi kumuh, ditanamilah dengan bibit pohon Johar pemberian &lt;i&gt;Ki Ageng Pandanaran&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lalu pada 1930an, pemerintah kotapraja Semarang berencana membangun pasar sentral yang lebih besar. Dengan menggabungkan beberapa pasar yang sudah ada seperti pasar Johar, Pedamaran, Beteng dan Jurnatan. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek humanis berdarah Belanda ditugaskan untuk merancang bangunan pasar tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiao_QKUkfHQ1Z1m1ePA_vlJd2za6ENfodXesdxv884-XmJh4fQyPDIg-evfEXTVfqgA3lud4iPh1A6sThq6ntAosHKPdheaMjDsec3U9EifRQSP_bkOUpvOrMN9NYPhnXbzA80QjI0zho/s1600/pasar-johar-terbakar.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pasar Johar Terbakar" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiao_QKUkfHQ1Z1m1ePA_vlJd2za6ENfodXesdxv884-XmJh4fQyPDIg-evfEXTVfqgA3lud4iPh1A6sThq6ntAosHKPdheaMjDsec3U9EifRQSP_bkOUpvOrMN9NYPhnXbzA80QjI0zho/s640/pasar-johar-terbakar.JPG" title="Pasar Johar Terbakar" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Djohar nasibmu kini.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kondisi iklim tropis serta perilaku masyarakat Semarang menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan. Hasil rancangan tersebut memungkinkan cahaya matahari bisa masuk ke seluruh penjuru bangunan pasar. Namun tetap memperhatikan sirkulasi udara agar hawa panas bisa berkurang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hasilnya adalah sebuah bangunan pasar dengan arsitektur yang luar biasa. Bahkan konon disebut-sebut sebagai pasar terbesar dan terindah di Asia Tenggara pada masa itu. Pilar-pilar berbentuk cendawannya juga menjadi ciri khas tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa terasa kami sudah tiba di penghujung &lt;i&gt;walking tour &lt;/i&gt;pagi itu. Kami diajak menyusuri hiruk pikuk pasar ikan Jurnatan menjelang siang. Kami diperlihatkan tulisan: &lt;b&gt;Faberik Hygeia &lt;/b&gt;pada sebuah dinding yang kusam, di atas terpal lapak-lapak pedagang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hanya tulisan tersebut yang tersisa dari sebuah pabrik air minum kemasan pertama di Hindia belanda dengan merk Hygeia itu. Pabrik yang didirikan oleh &lt;i&gt;Hendrik Freerk Tillema&lt;/i&gt; ini juga memproduksi minuman bersoda. Produk Hygeia cukup fenomenal pada masa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCvCL-uFnAr9UVlD8Uhn7K31ahbeO2MK82Alhv0E25rSSLEixO6OmBNkoQDb8kqAj3qKiCt7HzuDOLBH5iB_93vwNVSPqVaA_FUHYN839ALr7fnbu6OBYc6uTQsBToA34KFTizi-GJfww/s1600/pabrik-hygeia.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Faberik Hygeia" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCvCL-uFnAr9UVlD8Uhn7K31ahbeO2MK82Alhv0E25rSSLEixO6OmBNkoQDb8kqAj3qKiCt7HzuDOLBH5iB_93vwNVSPqVaA_FUHYN839ALr7fnbu6OBYc6uTQsBToA34KFTizi-GJfww/s640/pabrik-hygeia.JPG" title="Faberik Hygeia" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Hygeia.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Hygeia diambil dari mitologi Yunani, yang merupakan anak dari Asklepios, dewa pelindung kesehatan. Produknya yang dikenal luas tak lepas dari promosi masif yang dilakukan oleh Tillema. Mulai dari reklame yang terpampang di bermacam tempat, hingga selebaran yang disebar melalui balon udara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berjalan kaki bisa menjadi aktivitas menyenangkan dan tentu saja murah meriah. Tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga membuka mata kita terhadap sekitar dan wawasan baru. Terbukti dari tempat-tempat yang kami singgahi tadi sebenarnya cukup sering saya lewati. Namun hanya sedikit yang saya ketahui tentangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jadi mari berjalan kaki, mari bersukaria!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7JToT-WcnqyTvU6pds_xrdJPVdC7yCkY_DMO4bcYNnkwNDerFe0l5IFn9u0_n2Y87WBn7hlP4CPoXcitevfVN_r0smHRBcvdsnCuZnYlyo_im3JXKumcHvPlQGA6J4TebigLFv2AfEuw/s72-c/hotel-dibya-puri.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">101</thr:total></item><item><title>Mencari Ketenangan di Tepian Laut Utara</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/09/pantai-baruna-dan-monumen-ketenangan-jiwa-semarang.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Pantai</category><category>Sejarah</category><category>Semarang</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 12 Sep 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-1041383582438170284</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuQiKrDItukrLbdDCdvrzN2JJ6yvaU1VDD3sXYYevAstXLcNvt0rWAaBq2X8nhbLnA2Jh_Oxu8UhnNlhpM5vlw7-kJMb4jfWqgg8scpiZBI1OpAs_ALFROCHIIU-fBqtfPIS7BiJzBMfs/s1600/sunrise-pantai-baruna-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Mencari Ketenangan di Tepian Laut Utara" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuQiKrDItukrLbdDCdvrzN2JJ6yvaU1VDD3sXYYevAstXLcNvt0rWAaBq2X8nhbLnA2Jh_Oxu8UhnNlhpM5vlw7-kJMb4jfWqgg8scpiZBI1OpAs_ALFROCHIIU-fBqtfPIS7BiJzBMfs/s640/sunrise-pantai-baruna-2.JPG" title="Mencari Ketenangan di Tepian Laut Utara" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Semarang pada Agustus yang sudah memasuki hitungan akhir. Angin masih setia berhembus mesra, mengibarkan merah putih dan umbul-umbul beraneka warna lainnya di sudut-sudut kota. Memeriahkan bulan yang selalu disambut dengan penuh suka cita di penjuru negeri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pagi belum benar-benar merekah. Saya terbangun ketika hawa dingin terasa semakin menusuk. Tampaknya musim kemarau tahun ini telah tiba pada masa puncaknya. Dimana siang hari terasa begitu terik, sedangkan suhu pada malam hingga dini hari selalu membuat kita seolah tak ingin lepas dari selimut tebal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/03/bersepeda-di-kota-lama-semarang.html"&gt;Romantisme Kota Lama dalam Hitam Putih&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ingin rasanya untuk kembali melanjutkan tidur. Terlebih ini adalah hari Minggu. Hari dimana kebanyakan orang bebas untuk bangun lebih siang dari biasanya. Sayangnya, mata sedang tak mau diajak berkompromi. Karena pada dasarnya&amp;nbsp; saya memang sudah terbiasa bangun pagi, bahkan sebelum &lt;i&gt;alarm&lt;/i&gt; berdering.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJMCgtuHanoLWKStfd5DFSok9iIW3M01-OTUFgynqVb1tLRzSdf09X2v54ibqMcEeEUcvWRaNvep9kVpqRz_lBhA97c2fkgjZ5rKPjg31MC7Apu0F9ZpJPBisCz9sOlJD6ugNvKCjryIg/s1600/jalur-ke-pantai-baruna-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Jalan Setapak Menuju Pantai baruna" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJMCgtuHanoLWKStfd5DFSok9iIW3M01-OTUFgynqVb1tLRzSdf09X2v54ibqMcEeEUcvWRaNvep9kVpqRz_lBhA97c2fkgjZ5rKPjg31MC7Apu0F9ZpJPBisCz9sOlJD6ugNvKCjryIg/s640/jalur-ke-pantai-baruna-1.JPG" title="Jalan Setapak Menuju Pantai baruna" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalan setapak di antara ilalang yang menari riang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa saat kemudian, saya sudah mengendarai sepeda kesayangan. Mengayuh pedal di jalanan yang masih lengang, di bawah pendar lampu-lampu jalan yang belum sepenuhnya padam. Berhubung sedang tak ada agenda kemana-mana untuk menghabiskan akhir pekan ini. Sepertinya menyenangkan sekali, bersepeda sambil menghirup segarnya udara pagi yang masih terbebas dari polusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya awali dengan menyusuri Jalan Arteri Yos Sudarso atau lebih dikenal dengan sebutan arteri pelabuhan. Sekitar 2 kilometer ke arah barat, berkawan truk-truk besar yang berjalan merayap karena kelebihan muatan. Sementara itu, angin pagi yang tak henti-hentinya berhembus membuat kayuhan pedal semakin berat saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hanya saya, desau angin, dan ilalang kering yang seakan menari riang menyambut kemarau. Benar-benar sunyi yang saya temukan, setelah berbelok ke utara dari jalan raya beraspal. Memasuki kawasan dulunya merupakan bekas proyek wisata pantai Tanjung Mas yang gagal sekitar tahun 1980an. Lalu melewati jalan beton yang sudah rusak disana-sini, hingga pada akhirnya dihadapkan jalan setapak berliku di antara rumput-rumput liar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ-9l_qhf8DXroBbPUQp0txJYdhaG9myW8qe7Oba7zewWFtAJlSU-s7FSk9dD33ZMLGqaKugmmWYMBWPVonZpmSypk0peULfDRydwSU3XjWpsuoMK9EjO8KDWFpW4zQ0hkARlyde7J-H8/s1600/bersepeda-ke-pantai-baruna.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Sunrise di pantai Baruna" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJ-9l_qhf8DXroBbPUQp0txJYdhaG9myW8qe7Oba7zewWFtAJlSU-s7FSk9dD33ZMLGqaKugmmWYMBWPVonZpmSypk0peULfDRydwSU3XjWpsuoMK9EjO8KDWFpW4zQ0hkARlyde7J-H8/s640/bersepeda-ke-pantai-baruna.JPG" title="Sunrise di pantai Baruna" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mengejar semburat jingga.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedikit ragu, namun jejak-jejak ban sepeda motor yang tercetak pada tanah gersang meyakinkan saya. Sepertinya saya memang datang pada waktu yang tepat. Tak terbayangkan jika sedang musim penghujan, pastinya jalan setapak tanah gersang tersebut berubah menjadi lumpur yang cukup susah untuk dilalui.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya terus mengayuh pedal, berkejaran dengan matahari yang mulai muncul di ufuk timur. Tak disangka, jalan setapak tersebut membawa saya ke sebuah tempat di tepian laut Jawa. Tampak beberapa orang sudah mendahului saya tiba disana. Di antaranya sudah sibuk dengan joran pancing dan mata kail.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/04/jejak-oei-tiong-ham-raja-gula-semarang.html"&gt;Menyusuri Jejak Oei Tiong Ham&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sedangkan di sudut lainnya telah ramai oleh beberapa muda-mudi. Sekedar duduk menikmati matahari pagi, ataupun berburu foto dengan kamera yang terkalung di leher. Sepertinya selain di kenal sebagai spot favorit untuk memancing, tempat ini juga terkenal di kalangan penghobi fotografi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoWjyJArSUPCqehpAl2kmzNwr0mC4ZTancC6HspFfo-ciCLkngpG8v-NnVap7T7HrM8it0C4xIIoVvnH2I0Gns_l-SdTVIMKXDEUTDE9m_slqKpFKGKkfaU63a2XKk9m244DkJoE9Tu50/s1600/sunrise-pantai-baruna.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Sunrise di pantai Baruna" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoWjyJArSUPCqehpAl2kmzNwr0mC4ZTancC6HspFfo-ciCLkngpG8v-NnVap7T7HrM8it0C4xIIoVvnH2I0Gns_l-SdTVIMKXDEUTDE9m_slqKpFKGKkfaU63a2XKk9m244DkJoE9Tu50/s640/sunrise-pantai-baruna.JPG" title="Sunrise di pantai Baruna" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mengejar jingga di tepian laut.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF_6uhIIB8EqL5-_Tc8hSjnLMXQauBejzr7tilgr6LNyMc_MfHreNnUQFKlBkx3X240lYcLd9SU4fjlcdHNLCyMFkRwyp26PExPPIH6yINZKDNw61tBwpeYsYINDVTcjC9UxobCaB4ZpY/s1600/pantai-baruna-laut-jawa.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Sunrise di pantai Baruna" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF_6uhIIB8EqL5-_Tc8hSjnLMXQauBejzr7tilgr6LNyMc_MfHreNnUQFKlBkx3X240lYcLd9SU4fjlcdHNLCyMFkRwyp26PExPPIH6yINZKDNw61tBwpeYsYINDVTcjC9UxobCaB4ZpY/s640/pantai-baruna-laut-jawa.JPG" title="Sunrise di pantai Baruna" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Selamat pagi lautan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tempat ini dikenal dengan nama Pantai Baruna, yang sebenarnya sudah tak asing lagi di telinga warga kota Semarang. Namun jangan bayangkan pantai dengan hamparan pasir ataupun ombaknya yang tenang. Karena di tepiannya hanya terdapat bekas dermaga yang rusak serta beton-beton pemecah ombak. Di sisi daratannya, padang ilalang yang cukup tinggi menghampar luas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Aksesnya pun tergolong sulit, sehingga tak banyak dilirik oleh wisatawan atau bahkan warga Semarang sendiri. Meski begitu, pemandangan yang ditawarkan oleh pantai ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Terlebih pada saat matahari baru menampakkan diri. Suasana tenang berpadu dengan angin yang menghembuskan hawa dingin khas pagi pada musim kemarau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebelum matahari benar-benar meninggi, saya segera beranjak dari tepian pantai. Masih menyusuri jalan setapak yang berkerikil, memberi tantangan tersendiri bagi saya. Kali ini dengan arah yang sedikit berbeda, kayuhan demi kayuhan membawa saya bertemu dengan muara sungai Banjir Kanal Barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt8xQ-FBq_RigGu5LkBjRYV-WIiDWPY5Iud3SBKnzle8xPIJdT7Q5laHIUsLPtcqCjwlZ3MJ5hyhOtZvTQvz1p3c8uAHD5AAK1V02qc5yonsFenRJ_ZzC0G2gBPASjHQccfYLQnruQg2c/s1600/jalur-ke-pantai-baruna-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Jalan Menuju Pantai Baruna" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt8xQ-FBq_RigGu5LkBjRYV-WIiDWPY5Iud3SBKnzle8xPIJdT7Q5laHIUsLPtcqCjwlZ3MJ5hyhOtZvTQvz1p3c8uAHD5AAK1V02qc5yonsFenRJ_ZzC0G2gBPASjHQccfYLQnruQg2c/s640/jalur-ke-pantai-baruna-2.JPG" title="Jalan Menuju Pantai Baruna" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalur berbatu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebuah tumpukan batu menarik perhatian saya. Berdiri tegak di antara tepi sungai dan jalan setapak. Sekilas memang tampak tidak biasa, terlebih dengan adanya pahatan yang tertulis dalam huruf Kanji di permukaan batunya. Seakan terabaikan begitu saja di tengah-tengah rimbun rumput liar yang mengering dan tanah gersang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Monumen Ketenangan Jiwa&lt;/b&gt;, tertulis jelas di salah satu sisinya. Sementara itu di bagian bawahnya tertulis huruf kanji yang lebih kecil namun sangat rapi. Ada pula tulisan berbahasa Indonesia yang saya asumsikan sebagai terjemahan dari tulisan huruf Kanji di sebelahnya. Sedikit memberi penjelasan mengenai monumen tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpTHhdNG4NUt_oAQXFjjq18KLUR3djSr3vFfAqgXfz609bstgZgqCE6DuOIQVwjfYVasYBFjJWqAieMFjKTQViDABWKPv5jZnWYPXVuFc4z3sY745lzZO150_1y7Lb7E0LlHaY1pfnPSU/s1600/monumen-ketenangan-jiwa-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Monumen Ketenangan Jiwa" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjpTHhdNG4NUt_oAQXFjjq18KLUR3djSr3vFfAqgXfz609bstgZgqCE6DuOIQVwjfYVasYBFjJWqAieMFjKTQViDABWKPv5jZnWYPXVuFc4z3sY745lzZO150_1y7Lb7E0LlHaY1pfnPSU/s640/monumen-ketenangan-jiwa-1.JPG" title="Monumen Ketenangan Jiwa" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Monumen di rerimbunan rumput liar.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgowL6On02NgeFH5_FwJT8j7qHHvvWFky-J7cs7ofUIvphwTzg_waSF7bG1eGCGSfS6u73n0Bys56x6Mlqcpir4W0t4hGZ9YI8e-BGr5LwmViDPQbaGYOh4pBmJH8282OUig-qQ4exLzVw/s1600/muara-sungai-banjir-kanal-barat.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Monumen Ketenangan Jiwa" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgowL6On02NgeFH5_FwJT8j7qHHvvWFky-J7cs7ofUIvphwTzg_waSF7bG1eGCGSfS6u73n0Bys56x6Mlqcpir4W0t4hGZ9YI8e-BGr5LwmViDPQbaGYOh4pBmJH8282OUig-qQ4exLzVw/s1600/muara-sungai-banjir-kanal-barat.JPG" title="Monumen Ketenangan Jiwa" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Muara sungai Banjir Kanal barat&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberadaan monumen ini masih erat kaitannya dengan peristiwa bersejarah yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang. Diresmikan oleh Walikota Semarang Soetrisno Soeharto pada tahun 1998 untuk menghormati tentara Jepang yang tewas pada peristiwa tersebut. Namun tak sedikit pula warga sipil yang turut menjadi korban, seperti yang tertulis pada monumen: &lt;b&gt;orang-orang yang tidak berdosa dan rindu kampung halaman.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berdirinya Monumen Ketenangan Jiwa di lokasi ini bukannya tanpa alasan. Sebab di muara sungai ini dulunya banyak ditemukan jasad tentara Jepang yang dibuang ke sungai. Setelah tewas secara mengenaskan karena ditawan di penjara Bulu. Konon jika ditarik garis lurus, monumen yang sengaja dibangun menghadap utara ini akan mengarah ke Tokyo, Jepang. Dengan harapan agar arwah para tentara yang gugur bisa kembali ke kampung halamannya dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari sedikit penjelasan yang terpahat di monumen tersebut, saya mendapat wawasan baru tentang peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang. Saya mengganggapnya sebagai sudut pandang dari pihak Jepang, yang sedikit berbeda dengan apa yang selama ini tertulis di buku pelajaran sejarah. Tentunya tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pejuang kita yang turut gugur di pertempuran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikto_Zt4dd8WylaOCDyDI7hyXGVKKFIklWkAof3yJYYXT7X7Hna8TS1xayIEeHjVS5YzGL6kcgdy1h8hVj3p8eLG861nZ0rROs-Qe1p76el7otDwu-RAVhptl3fRQdY-_TrNolue11PPU/s1600/monumen-ketenangan-jiwa-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Monumen Ketenangan Jiwa" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikto_Zt4dd8WylaOCDyDI7hyXGVKKFIklWkAof3yJYYXT7X7Hna8TS1xayIEeHjVS5YzGL6kcgdy1h8hVj3p8eLG861nZ0rROs-Qe1p76el7otDwu-RAVhptl3fRQdY-_TrNolue11PPU/s1600/monumen-ketenangan-jiwa-3.JPG" title="Monumen Ketenangan Jiwa" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Terabaikan di tepi sungai.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDwgdrqDRss7JAnh3Ds97DA-wqhOLcMYNZp-UTHuqEIEZpUG1iMubQrrcFBsVg5NODsmPu06YS16jO-FUhnl5EZoZDeummJlnLO8eVliIvfRvcmP98Ioafl5vSkOJcSBAVNkO_rsKr2Ug/s1600/monumen-ketenangan-jiwa-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Monumen Ketenangan Jiwa" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDwgdrqDRss7JAnh3Ds97DA-wqhOLcMYNZp-UTHuqEIEZpUG1iMubQrrcFBsVg5NODsmPu06YS16jO-FUhnl5EZoZDeummJlnLO8eVliIvfRvcmP98Ioafl5vSkOJcSBAVNkO_rsKr2Ug/s640/monumen-ketenangan-jiwa-2.JPG" title="Monumen Ketenangan Jiwa" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Huruf-huruf Kanji yang terpahat.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pasca kekalahan pada Perang Dunia II, Jepang menolak menyerahkan persenjataan kepada pihak Indonesia. Dimana persenjataan tersebut sangat diperlukan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya perang pun tak dapat terhindarkan, meletuslah pertempuran selama lima hari berturut-turut di Semarang dan sekitarnya. Pihak Jepang pun sebenarnya tidak ingin peperangan terjadi di antara dua kubu. Pada monumen tertulis bahwa &lt;b&gt;mereka menyesal sedalam-dalamnya, serta hanya menuntut dipulangkan ke kampung halaman.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Baca Juga:&lt;/b&gt; &lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/07/walking-tour-pecinan-semarang.html"&gt;Pecinan Semarang dalam Rekaman langkah&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sekitar 150 tawanan Jepang akhirnya tewas mengenaskan di penjara Bulu. Tak dipungkiri juga terdapat warga sipil Jepang yang turut menjadi korban. Konon mereka adalah para pegawai yang bekerja di pabrik milik Jepang di wilayah Weleri, Kendal. Mereka ditangkap ketika dalam perjalanan mencari perlindungan menuju Jatingaleh yang merupakan basis tentara Jepang pada masa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sesuai dengan namanya, lokasi berdirinya monumen menyuguhkan ketenangan. Sepi dan sunyi. Sesekali angin berhembus dan sayup-sayup suara deburan ombak di kejauhan. Meski sebenarnya tak begitu jauh dari jalan raya, namun cukup terpecil. Terlebih dengan akses yang cukup menyulitkan untuk menuju lokasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Gunung Ungaran" border="0" data-original-height="400" data-original-width="600" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9ynUoW3r1oplb7wJIZ_tcQwMV4FSNvwIL68jnfr-7hmoUbSBsg93RI_DBziChDpxfMSEh8zzbQX9MVzCDh4xUzZc0-g9O9KvjoLIkd_NPaw-8eQbJwXlpATzMOx26AMlWOm-V63xynho/s640/sungai-banjir-kanal-barat.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Gunung Ungaran" width="640" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gunung Ungaran yang mengintip.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9ynUoW3r1oplb7wJIZ_tcQwMV4FSNvwIL68jnfr-7hmoUbSBsg93RI_DBziChDpxfMSEh8zzbQX9MVzCDh4xUzZc0-g9O9KvjoLIkd_NPaw-8eQbJwXlpATzMOx26AMlWOm-V63xynho/s1600/sungai-banjir-kanal-barat.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Walaupun bukan tempat wisata, monumen ini terbuka bagi siapapun untuk berkunjung. Tak hanya warga Jepang yang biasanya datang untuk memberi penghormatan bagi para pendahulunya. Berkunjung ke Monumen Ketenangan Jiwa juga sebagai pengingat, bahwa peperangan hanya akan menimbulkan penderitaan, baik dari pihak yang menang ataupun kalah. Maka dari itu sudah sepantasnya perdamaian harus terus terjaga di antara seluruh umat manusia di penjuru bumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjuQiKrDItukrLbdDCdvrzN2JJ6yvaU1VDD3sXYYevAstXLcNvt0rWAaBq2X8nhbLnA2Jh_Oxu8UhnNlhpM5vlw7-kJMb4jfWqgg8scpiZBI1OpAs_ALFROCHIIU-fBqtfPIS7BiJzBMfs/s72-c/sunrise-pantai-baruna-2.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">75</thr:total></item><item><title>Jogja dan Semangkuk Bakmi yang Menumbuhkan Rindu</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/08/jogja-dan-semangkuk-bakmi.html</link><category>Bakmi Jawa</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Jogjakarta</category><category>Kuliner</category><category>Malioboro</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 28 Aug 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-4556697118601396159</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeLqwWvv0C1o1Qyh8czVLmiWXRV3fkqJKoKSFQNvg5X0REr83jctbjYfDPpqwFvk8itEVNFt5Yw0Wt4Z0q6PESzvDa7nC41UpuHe_IoqpZj0akvXsNdDFcoOZxq9f_wNg00Bh5TFGmjQc/s1600/malioboro.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Malioboro" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeLqwWvv0C1o1Qyh8czVLmiWXRV3fkqJKoKSFQNvg5X0REr83jctbjYfDPpqwFvk8itEVNFt5Yw0Wt4Z0q6PESzvDa7nC41UpuHe_IoqpZj0akvXsNdDFcoOZxq9f_wNg00Bh5TFGmjQc/s640/malioboro.jpg" title="Malioboro" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Malioboro, semacam rindu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jogja
selalu berhasil membuat banyak orang memiliki kenangan di dalamnya. Entah itu
bagi yang pernah menetap disini, atau mereka yang sekedar singgah satu dua hari
untuk plesir. Bagi mereka, selalu ada alasan untuk kembali menyapa keramahan
kota gudeg ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain
keramahannya, Jogja juga memiliki Malioboro. Seruas jalan yang sebenarnya tidak
terlalu lebar ini, seakan menjadi menu wajib jika berkunjung ke Jogja. Tak
lengkap rasanya ke Jogja jika belum singgah di Malioboro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagi
kebanyakan orang, Malioboro sengaja diletakkan pada daftar paling akhir untuk
dikunjungi dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah untuk berbelanja
oleh-oleh. Selama ini Malioboro memang dikenal sebagai surga belanja oleh-oleh
khas Jogja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berbagai macam barang bisa ditemukan disini. Baik yang dijajakan
oleh pedagang di emperan toko, maupun di gerai-gerai ternama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Baca juga:&lt;/b&gt; &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/06/di-jogjakarta-kami-bertemu.html"&gt;Di Jogjakarta, Kami Bertemu&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun
hal itu tak berlaku bagi saya, yang sesekali menyambangi kota masih kental akan
budaya Jawa ini. Seperti pagi itu, saya tiba di Jogja untuk kesekian kalinya.
Dan seperti biasa, Malioboro selalu menjadi tujuan pertama saya. Tentunya bukan
untuk berbelanja oleh-oleh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijeU_fRoZLL-OjX-3TjoOox12ua1tA5YJRgSUb7IRTkvQyeCJOmQyLZklvI4x5gpUV-EdyvhB8n8JIzKJqeXRDaTGgq_mSADpS2sYUR7cL7g8q74B-74NMVEjUv7cieVwe1DiAd0dEEFM/s1600/halte-transjogja.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Halte Trans Jogja" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijeU_fRoZLL-OjX-3TjoOox12ua1tA5YJRgSUb7IRTkvQyeCJOmQyLZklvI4x5gpUV-EdyvhB8n8JIzKJqeXRDaTGgq_mSADpS2sYUR7cL7g8q74B-74NMVEjUv7cieVwe1DiAd0dEEFM/s640/halte-transjogja.jpg" title="Halte Trans Jogja" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Menantikan pertemuan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keluar
dari halte Trans Jogja, saya melangkahkan kaki di pedestrian Malioboro yang sejak
akhir tahun lalu selesai berbenah. Sebelumnya, jangan harap bisa melenggang
santai di sepanjang trotoar sisi timur Jalan Malioboro yang lebih pantas disebut
tempat parkir itu. Baru berjalan beberapa langkah saja, bersiaplah dikagetkan
oleh klakson sepeda motor yang hendak parkir ataupun sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun
kini pemandangan tersebut sudah menjadi angin lalu. Upaya untuk mengembalikan
fungsi pedestrian Malioboro sebagaimana mestinya telah membuahkan hasil. Dan sambutlah
wajah Malioboro yang baru!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hal
pertama yang sangat terasa perbedaannya adalah jalur pedestriannya yang semakin
luas. Dilengkapi pula dengan jalur khusus bagi penyandang disabilitas.
Penghalang sengaja dipasang di beberapa titik untuk menjamin hak pejalan kaki
tidak terampas oleh kendaraan lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZYL6e7lov2vfIQFqAXo4lscUuvqgYeoE2IKBQsygknTVZfdkzG7QYYfr5vcDZE8TlWMuAZEb8i1xtcUxcutC2DGtOqDExyeHECFLfz9OYuklpNPRlZ8sim_TcEqTpGl9JJ6n02ukn9Zw/s1600/pedestrian-malioboro.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pedestrian Malioboro" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZYL6e7lov2vfIQFqAXo4lscUuvqgYeoE2IKBQsygknTVZfdkzG7QYYfr5vcDZE8TlWMuAZEb8i1xtcUxcutC2DGtOqDExyeHECFLfz9OYuklpNPRlZ8sim_TcEqTpGl9JJ6n02ukn9Zw/s640/pedestrian-malioboro.jpg" title="Pedestrian Malioboro" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Keramaian pedestrian Malioboro.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberadaan
bangku-bangku taman juga memberi kenyamanan tersendiri. Entah itu pagi, sore
hingga malam hari banyak pengunjung yang memanfaatkannya untuk sekedar duduk
santai menikmati suasana. Atau jika lelah berjalan kaki, bisa untuk rehat
sejenak sambil berbincang dengan kawan serta orang terkasih lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suasana
akan bertambah semarak lagi pada malam harinya. Lampu-lampu hias akan menyala satu
per satu seiring dengan langit Jogja yang semakin pekat. Tak peduli sedang
bersama pasangan atau tidak, romantisme Malioboro akan semakin terasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya
masih melangkah pelan, sambil mengedarkan pandangan. Tampaknya pedestrian ini
telah menjadi primadona baru di Malioboro. Terbukti dari ramainya pengunjung
yang berjalan-jalan ataupun duduk santai menikmati suasana, meski pagi belum
menyentuh pukul 10.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJt9NHMrBg6EL5htuYmP95rCArFi7TkGN4AQ-d5K2YnVQ5LS4IVyvN2_gwQg-HBodLkh6h69nNLFcXcMzALQYvH4GJjChz7TNdNGnO5-9ThHbzbIJhb4GrmoJmm5i7MqB3AAmw1JicfSw/s1600/plang-sosrokusuman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Plang Sosrokusuman" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJt9NHMrBg6EL5htuYmP95rCArFi7TkGN4AQ-d5K2YnVQ5LS4IVyvN2_gwQg-HBodLkh6h69nNLFcXcMzALQYvH4GJjChz7TNdNGnO5-9ThHbzbIJhb4GrmoJmm5i7MqB3AAmw1JicfSw/s640/plang-sosrokusuman.jpg" title="Plang Sosrokusuman" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mencari sudut sepi.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tepat
setelah melewati area depan Mall Malioboro, saya berbelok masuk ke gang
Sosrokusuman. Sebuah gang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Ya, di sudut
gang inilah saya biasa menginap, begitu pula malam nanti. Di sebuah penginapan
sederhana yang sudah seperti rumah sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Baca Juga&lt;/b&gt;: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/08/sepucuk-cinta-dari-sudut-gang.html"&gt;Sepucuk Cinta dari Sudut Gang Sosrokusuman&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gang
Sosrokusuman tampak masih sama seperti beberapa waktu lalu. Masih ramai oleh
sepeda motor yang berlalu lalang. Di salah satu sudutnya, pagar seng dipasang
sebagai pembatas proyek perluasan hotel dan pusat perbelanjaan. Sebuah &lt;i&gt;tower crane&lt;/i&gt; menjulang tinggi, dan
kesibukan para pekerjanya terdengar jelas dari balik pagar tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkbbuq0ZI6H__5rEVFOnKvsw0FOSTAAou68GtoHEXtB6741fv3uvI3ttGZmlKoqhju5g3qCmj1F_9trByWewTQ1kFSp-WaThokyh42-8TNtB5_e4uEzuO0bOvidCVleL7hhTp6Fcly_sQ/s1600/tower-crane.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Tower Crane" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkbbuq0ZI6H__5rEVFOnKvsw0FOSTAAou68GtoHEXtB6741fv3uvI3ttGZmlKoqhju5g3qCmj1F_9trByWewTQ1kFSp-WaThokyh42-8TNtB5_e4uEzuO0bOvidCVleL7hhTp6Fcly_sQ/s640/tower-crane.jpg" title="Tower Crane" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tinggi menjulang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh08LkNUeU9uVuDEaI24W3KVpC7Ye-16FhtLb57IJA_1WCBWndqW1HWArICfcRbOwMczNgHC6Xh4SDtKHNrK_5UaYVLyPZDFMF6miNL6ieMzC6PW8wl76LBPsgpSBHzTCY0PHnaEtDq7_4/s1600/gang-sosrokusuman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Gang Sosrokusuman" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh08LkNUeU9uVuDEaI24W3KVpC7Ye-16FhtLb57IJA_1WCBWndqW1HWArICfcRbOwMczNgHC6Xh4SDtKHNrK_5UaYVLyPZDFMF6miNL6ieMzC6PW8wl76LBPsgpSBHzTCY0PHnaEtDq7_4/s640/gang-sosrokusuman.jpg" title="Gang Sosrokusuman" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gang Sosrokusuman.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menurut
penuturan Bu Fatimah, kampung Sosrokusuman kini hanya tinggal separuhnya karena
terkena proyek tersebut. Ruang publik bagi warga untuk melakukan kegiatan
bersama pun sudah lenyap. Sehingga warga kampung terpaksa harus meminjam tempat
lain untuk menggelar acara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hanya
tinggal menunggu waktu sebuah gang nan sempit ini nantinya akan diperlebar.
Dengan dalih mengurangi kemacetan yang sering terjadi mengular hingga Jalan
Mataram. Beberapa rumah jelas akan terkena imbasnya, dan entah berapa tahun
lagi kampung Sosrokusuman akan lenyap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menjelang
sore hingga malam hari, keramaian di Malioboro akan semakin terasa. Apalagi
jika bertepatan dengan akhir pekan atau hari libur. Masing-masing memiliki cara
sendiri untuk menikmati Malioboro. Entah itu belanja, atau hanya sekedar berjalan-jalan
menghabiskan waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Untuk
urusan perut, tak perlu khawatir. Karena selain surga belanja, Malioboro juga
dikenal sebagai pusat kuliner. Mulai dari kedai modern atau makanan cepat saji,
hingga warung-warung kaki lima sederhana ataupun lesehan. Apalagi sambil
menikmati alunan musik dari pengamen jalanan, persis seperti dalam lirik di
lagu Yogyakarta milik Kla Project.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDtkwddeiYz6JulaYYp3StIL57m24YOl8fgiLcUjTGyTz-EzeQ8xpelUz5fcL_YsvzfN1aN2GDxsd_tsZ2vpzu-qDotZvCynCvS3dMAysI5d3O1CEPg_RMnmozkKGTRDoztrg4fAwNu_w/s1600/bakmi-jalan-mataram.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bakmi Jawa Bu Jiko" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDtkwddeiYz6JulaYYp3StIL57m24YOl8fgiLcUjTGyTz-EzeQ8xpelUz5fcL_YsvzfN1aN2GDxsd_tsZ2vpzu-qDotZvCynCvS3dMAysI5d3O1CEPg_RMnmozkKGTRDoztrg4fAwNu_w/s640/bakmi-jalan-mataram.jpg" title="Bakmi Jawa Bu Jiko" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sudut Jalan Mataram.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun
bagi saya tak terlalu suka dengan keramaian, tentu hal tersebut menjadi sedikit
masalah. Maka dari itu saya memilih untuk&amp;nbsp;
beralih ke sekitaran Jalan Mataram yang cenderung lebih lengang. Padahal
jaraknya hanya selemparan batu dari Malioboro.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di
mulut gang Sosrokusuman, yang bersebelahan dengan pintu belakang kompleks
Kepatihan, terdapat sebuah angkringan sederhana. Biasanya akan ada satu atau
dua bapak tukang becak yang sudah duduk manis. Menyesap segelas teh hangat
ataupun menghisap sebatang rokok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sore
itu, angkringan terlihat cukup ramai. Tak ada bangku yang tersisa untuk satu
orang pun. Beruntung, tak jauh dari situ terdapat sebuah warung tenda
sederhana. Bakmi Jowo Bu Jiko, demikian yang tertulis di spanduknya yang
sekaligus berfungsi sebagai pelindung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa
pikir panjang, saya melangkahkan kaki ke warung yang terlihat masih sepi
tersebut. Benar saja, hanya ada sepasang suami istri beserta buah hatinya yang
masih balita. Mereka sedang kusyuk&amp;nbsp;
menikmati hidangan di hadapan masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSuUAP5fz_jfrvCJvV4bk9hr2Ackshlpv5MG0KE6nREGIv_4PW267dlGueiPiWRJ9JwcXMPGPRrzDq7bw8JimuwHQCC0w0pbR3t8iY1jR4aKPmw9-dE9O59vuZJzMN9RNoW21NGrkigNE/s1600/bakmi-bu-jiko.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bakmi Jawa Bu Jiko" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSuUAP5fz_jfrvCJvV4bk9hr2Ackshlpv5MG0KE6nREGIv_4PW267dlGueiPiWRJ9JwcXMPGPRrzDq7bw8JimuwHQCC0w0pbR3t8iY1jR4aKPmw9-dE9O59vuZJzMN9RNoW21NGrkigNE/s640/bakmi-bu-jiko.jpg" title="Bakmi Jawa Bu Jiko" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Meracik rindu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sambil
menunggu pesanan saja selesai diracik, sesekali jari-jari tangan memainkan
layar ponsel. Mengecek notifikasi, barangkali ada satu dua pesan yang masuk.
Namun kenyataannya nihil, ponsel saya sepi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selang
beberapa saat, akhirnya pesanan saya tersaji di hadapan. Semangkuk bakmi &lt;i&gt;godhog &lt;/i&gt;yang masih mengepul panas. Sengaja
memesan bakmi &lt;i&gt;godhog, &lt;/i&gt;agar malam
nanti perut tidak meronta lagi. Karena saya masih percaya dengan sugesti bahwa makanan
yang berkuah itu lebih mengenyangkan daripada yang tidak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqnb6aXb-azNDTYm7X3R0Wok4Yl6V688GCPm9IBKSpGp-vYkTsDrlL_dhGpYnQez3qdOaEnbengM9LsT3wyGCQfGrZ978AgOYhyphenhyphenG1ucRtr5d1SHc4LmnJ5ONnyXYsAc-aVbsBIWDgRi14/s1600/bakmi-bu-jiko-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bakmi Jawa Bu Jiko" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqnb6aXb-azNDTYm7X3R0Wok4Yl6V688GCPm9IBKSpGp-vYkTsDrlL_dhGpYnQez3qdOaEnbengM9LsT3wyGCQfGrZ978AgOYhyphenhyphenG1ucRtr5d1SHc4LmnJ5ONnyXYsAc-aVbsBIWDgRi14/s640/bakmi-bu-jiko-2.jpg" title="Bakmi Jawa Bu Jiko" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Semangkuk rindu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Aromanya
yang menusuk hidung sungguh menggoda siapapun untuk segera mencicipinya. Tak
perlu berlama-lama untuk menyendok kuahnya yang terlihat kental itu terlebih
dahulu. Meniupnya satu dua kali, sebelum menyuapkannya ke mulut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hangat
dan rasa gurih yang berasal dari telur bebek terasa sangat pas di lidah saya.
Rasa pedas belum begitu kentara, karena saya sengaja belum mengaduknya.
Berlanjut ke sendokan kedua, saya mengambil sedikit suwiran ayam, potongan cabe
dan bawang goreng yang mengambang di atas kuahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya
tambahkan sedikit acar sebelum mengaduknya perlahan. Lalu menit ke menit
berikutnya, saya sibuk menyantap bakmi di dalam mangkuk. Maklum, saya benar-benar
kelaparan karena sepanjang siang tadi belum makan apapun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebelum
bakmi di dalam mangkuk saya tandas, beberapa pembeli datang silih berganti.
Memesan bakmi, nasi goreng ataupun nasi ruwet yang biasanya juga tersedia di warung bakmi. Ponsel saya bergetar, pertanda sebuah pesan &lt;i&gt;WhatsApp&lt;/i&gt; masuk.
Membacanya cukup membuat saya tersenyum simpul.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizXU7_Ma9WbWOpfSJONwb-K4jXXQ5USuJLDV_7aB0AMozuwwZAnjecKJ2-Ev-YtM72OnVuC8l1PwGDZreRRZpUMhqHKSoMpzItvloubVAGe7jJsQ1A-hePiNQ3rdUN16Q9kkhy8OpTILI/s1600/bakmi-bu-jiko-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bakmi Jawa Bu Jiko" border="0" data-original-height="600" data-original-width="900" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizXU7_Ma9WbWOpfSJONwb-K4jXXQ5USuJLDV_7aB0AMozuwwZAnjecKJ2-Ev-YtM72OnVuC8l1PwGDZreRRZpUMhqHKSoMpzItvloubVAGe7jJsQ1A-hePiNQ3rdUN16Q9kkhy8OpTILI/s640/bakmi-bu-jiko-1.jpg" title="Bakmi Jawa Bu Jiko" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mengobati rindu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Mungkin
benar apa yang pernah dikatakan oleh penyair Joko Pinurbo, bahwa Jogja itu
terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.&amp;nbsp;
Yang membuat siapapun selalu ingin kembali menyapa keramahannya. Seperti
seorang kawan yang mengirim pesan tadi. Rindu makan di angkringan Jogja, katanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sudah
menjadi tugas saya untuk menemaninya berkeliling Jogja, mengobati rindu. Namun
saya tidak akan mengajaknya makan di angkringan. Melainkan menyincipi semangkuk
bakmi Jawa. Bakmi yang menumbuhkan rindu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeLqwWvv0C1o1Qyh8czVLmiWXRV3fkqJKoKSFQNvg5X0REr83jctbjYfDPpqwFvk8itEVNFt5Yw0Wt4Z0q6PESzvDa7nC41UpuHe_IoqpZj0akvXsNdDFcoOZxq9f_wNg00Bh5TFGmjQc/s72-c/malioboro.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">117</thr:total></item><item><title>Tak Ada Pulang yang Benar-benar Jauh</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/08/tak-ada-pulang-yang-benar-benar-jauh.html</link><category>#AfternoonTalk</category><category>Banyuwangi</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Kereta Api</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 7 Aug 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-3595363385587045339</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG7JNmKVUTx8KoHgMfsdnExxTq1wTNbl1_dOSUhjmKu8jBjBCOP1JtECmAcVgBKfNn7uq1EZ_UREFMnh0XGrPj5D2MCt2pxPNnXx9XQaO7k0-6XPpFOosm25GVwIlsQ0f8K0JGdF8AQ7M/s1600/senja-jalan-ronggowarsito-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Tak Ada Pulang yang Benar-benar Jsuh" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG7JNmKVUTx8KoHgMfsdnExxTq1wTNbl1_dOSUhjmKu8jBjBCOP1JtECmAcVgBKfNn7uq1EZ_UREFMnh0XGrPj5D2MCt2pxPNnXx9XQaO7k0-6XPpFOosm25GVwIlsQ0f8K0JGdF8AQ7M/s640/senja-jalan-ronggowarsito-semarang.JPG" title="Tak Ada Pulang yang Benar-benar Jsuh" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Stasiun Purwosari, pukul tujuh pagi. Adalah sepi di beberapa sudutnya. Pada musim mudik seperti ini, stasiun-stasiun kereta biasanya akan disesaki oleh calon penumpang yang akan kembali ke kampung halamannya masing-masing. Setidaknya itu yang saya bayangkan. Namun hal itu tidak saya temukan di Stasiun Purwosari, pukul tujuh pagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa calon penumpang tampak kebingungan di depan &lt;i&gt;chek in counter&lt;/i&gt;. Sementara yang lain terlihat kerepotan membawa barang bawaan mereka yang menggunung. Sedangkan saya yang baru saja tiba, memilih untuk langsung menghadap meja pemeriksaan tiket.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hanya segelintir calon penumpang yang telah berada di ruang tunggu, selebihnya hanya bangku-bangku kosong tak berpenghuni. Sepertinya memang tak banyak jadwal keberangkatan kereta. Atau mungkin saja tak banyak orang yang melakukan perjalanan mudik pagi itu. Terlebih pada jam yang masih berdekatan dengan pelaksanaan sholat ied.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxlDmCxUPNzQZ6Tz6hRLtXXrh4-a7SC1lGWdrr_2aQBnkwzxTVfiHnPUOexqlpBkYqOyJNgFod6IyOEpYGa_fzJdk6_Y7Ry0Jeux9VbnidKyP72TO4y5zFGAnuj5ovXw621GsgpjmrB-s/s1600/stasiun-purwosari.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Stasiun Purwosari" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhxlDmCxUPNzQZ6Tz6hRLtXXrh4-a7SC1lGWdrr_2aQBnkwzxTVfiHnPUOexqlpBkYqOyJNgFod6IyOEpYGa_fzJdk6_Y7Ry0Jeux9VbnidKyP72TO4y5zFGAnuj5ovXw621GsgpjmrB-s/s640/stasiun-purwosari.JPG" title="Stasiun Purwosari" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Stasiun Purwosari, pukul tujuh psgi.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVnkYOLezoBs3y2In9q3ezlEHTz_GxSIhcxI5qEIxsDiMCPxHYQLkZBW5NnUx0AT9lrg4DfaLf4JCbds3e0IoSlw-ipXAGm9KSlE8UwADHuWtHg-75sNNSEFoarq8LZ9HVGiRJk4bDd28/s1600/stasiun-purwosari-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Stasiun Purwosari" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVnkYOLezoBs3y2In9q3ezlEHTz_GxSIhcxI5qEIxsDiMCPxHYQLkZBW5NnUx0AT9lrg4DfaLf4JCbds3e0IoSlw-ipXAGm9KSlE8UwADHuWtHg-75sNNSEFoarq8LZ9HVGiRJk4bDd28/s640/stasiun-purwosari-1.JPG" title="Stasiun Purwosari" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Bangku-bangku tak berpenghuni.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selang beberapa saat, kereta api Sri Tanjung yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba, memasuki jalur dua Stasiun Purwosari. Berhenti sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ujung timur pulau Jawa. Saya dan para penumpang lainnya beringsut memasuki gerbong masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kereta api Sri Tanjung adalah kereta kelas ekonomi yang melayani rute Lempuyangan-Banyuwangi dan sebaliknya. Diambil dari nama tokoh dalam cerita rakyat Banyuwangi, total jarak yang ditempuh adalah sekitar 614 km selama lebih dari 13 jam perjalanan. Melewati hampir 30 stasiun pemberhentian di dua provinsi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Peluit ditiup, semboyan 35 dibunyikan, kereta pun mulai bergerak perlahan. Saya sudah duduk manis di gerbong nomor 6. Sementara itu saya mendapati gerbong lengang, bangku di depan saya pun masih kosong melompong. Tapi jangan senang dulu. Karena dalam perjalanannya, kereta Sri Tanjung masih akan berhenti di banyak stasiun untuk menaikturunkan penumpang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTrQ0MLf_W4vsFqNk60r0qavZcSHlncTABRIJXuR-xbJjLvNNq6De9eQxEn4BeLzbpuhWzL49oc_kPjy0bW9G2DIVUQiaGE1HMnoiHZYv4tsVFe2-Jtv7uSb-hmkw9X6gBWQdem_HGjrk/s1600/pemandangan-jendela-sri-tanjung.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Jendela Kereta" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTrQ0MLf_W4vsFqNk60r0qavZcSHlncTABRIJXuR-xbJjLvNNq6De9eQxEn4BeLzbpuhWzL49oc_kPjy0bW9G2DIVUQiaGE1HMnoiHZYv4tsVFe2-Jtv7uSb-hmkw9X6gBWQdem_HGjrk/s640/pemandangan-jendela-sri-tanjung.JPG" title="Jendela Kereta" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Perjalanan masih panjang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya sebenarnya membawa sebuah buku untuk dibaca, sekedar membunuh bosan. Tapi saya memilih melongkokkan pandangan keluar. Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dari balik jendela adalah romantisme tersendiri bagi saya. Seakan menyaksikan sebuah rol film yang diputar oleh proyektor imajiner bernama kereta api.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di kejauhan, persawahan yang membentang luas tampak mulai menguning. Perbukitan yang hijau, sungai, hutan hingga pemukiman silih berganti sepanjang perjalanan. Sementara itu di sisi lainnya, deretan alat berat membuka lahan untuk proyek rel jalur ganda lintas selatan Jawa. Jika proyek ini selesai, diharapkan perjalanan kereta lintas selatan Jawa menjadi semakin lancar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sri Tanjung memasuki pemberhentian berikutnya, yaitu Stasiun Sragen. Beberapa penumpang naik, bangku di depan saya pun akhirnya ditempati oleh sepasang suami istri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JcyLzmGcQrHimt-eZjuT6g28DPT9YDtfkrka5UMF0T9-b__KO42Jj15wRwRRyzi5k4xGo8qUkOnHskHmJQRVF4gdiYbcgmXvdeVFHR6ouEROHl3atqy_EIYjmGNE37socA6hhliQGyk/s1600/pemandangan-kereta-sri-tanjung.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rel Ganda" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3JcyLzmGcQrHimt-eZjuT6g28DPT9YDtfkrka5UMF0T9-b__KO42Jj15wRwRRyzi5k4xGo8qUkOnHskHmJQRVF4gdiYbcgmXvdeVFHR6ouEROHl3atqy_EIYjmGNE37socA6hhliQGyk/s640/pemandangan-kereta-sri-tanjung.JPG" title="Rel Ganda" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rel ganda.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari pertanyaan basa-basi “Turun dimana?”, obrolan pun mengalir di antara kami. Atau lebih tepatnya, mereka yang lebih banyak bercerita. Sedangkan saya, lebih suka mendengarkan dan sesekali menimpali. Sekedar mengusir rasa bosan, karena perjalanan masih cukup panjang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Rochim sang suami, sehari-hari bekerja sebagai guru honorer di sebuah SMP swasta di Sragen. Ia berasal dari daerah Genteng, Banyuwangi, telah lama mengakrabi kereta Sri Tanjung. Tepatnya sejak memutuskan untuk berkuliah di &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/06/di-jogjakarta-kami-bertemu.html"&gt;Yogyakarta&lt;/a&gt;. Sedangkan bagi istrinya, ini adalah pengalaman pertamanya naik kereta untuk mudik ke kampung halaman sang suami, setelah hampir lima tahun menikah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKCvqh4mYPnKW7Myw1HfWd0qDldJYglQJSi0-91OkicUiWjup8j3jIlQRcoEx1xP9gG-9WupITR28DO3k7FwDfOB9qQNRVF-qoJDOLklFbdhjzcR_KP-KBy5gcXWf_s3yI2yGDfDoPIg4/s1600/gunung-kereta-sri-tanjung.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pemandangan Sepanjang Perjalanan" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKCvqh4mYPnKW7Myw1HfWd0qDldJYglQJSi0-91OkicUiWjup8j3jIlQRcoEx1xP9gG-9WupITR28DO3k7FwDfOB9qQNRVF-qoJDOLklFbdhjzcR_KP-KBy5gcXWf_s3yI2yGDfDoPIg4/s640/gunung-kereta-sri-tanjung.JPG" title="Pemandangan Sepanjang Perjalanan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mengintip gunung.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Jauhnya itu lho, Mas,” Ria sang istri berkilah, ketika saya bertanya mengapa selama ini enggan untuk diajak mudik, terutama naik kereta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain itu, di benak Ria kereta ekonomi adalah transportasi yang jauh dari kata nyaman. Panas, berbau, sesak hingga lorong, bordes bahkan atapnya. Tapi sebenarnya gambaran itu sudah tidak berlaku lagi di era sekarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Baca Juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/01/ayo-naik-kereta-api.html"&gt;Ayo Naik Kereta Api&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam satu dekade terakhir, angkutan perkeretaapian mengalami kemajuan yang cukup pesat. Fasilitas dan layanan kereta api terus diperbaiki. Tak ada lagi penumpang yang berdesak-desakan di dalam gerbong, karena di setiap tiket sudah tertera nomor bangku masing-masing. Di setiap gerbong pun kini telah dilengkapi pendingin udara, agar penumpang tidak kegerahan selama dalam perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hal ini diamini oleh Rochim, yang selama belasan tahun selalu menggunakan kereta api setiap kali mudik. Harganya yang murah menjadi pertimbangan utamanya. Sekarang ia merasakan betul bagaimana kereta api menjelma sebagai transportasi yang manusiawi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Tapi ya &lt;i&gt;ndak&lt;/i&gt; bisa &lt;i&gt;ngambing&lt;/i&gt; lagi, Mas..” Kenang lelaki 31 tahun tersebut, seraya terkekeh pelan. Demi mudik, ia pernah menjadi penumpang gelap di kabin lokomotif. Tentu saja dengan menyogok beberapa lembar rupiah kepada petugas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bagi Rochim sendiri mudik bukanlah suatu pilihan, melainkan sebuah keharusan. Meski harus berjuang belasan jam dan jarak ratusan kilometer. Hidup di perantauan selama belasan tahun, tidak lantas membuatnya lupa akan kampung halaman. Justru sebaliknya, karena niat awal merantau adalah mencari penghidupan yang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;lebih baik. Maka pulang adalah salah satu caranya untuk bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Roda-roda baja terus berputar menyusuri rel. Sesekali berhenti kembali di beberapa stasiun, baik untuk menaikturunkan penumpang maupun bersilang dengan kereta lain yang berlawanan arah. Ya, beginilah nasib kereta api kelas ekonomi macam Sri Tanjung, yang harus mengalah dengan kereta-kereta yang kelasnya lebih tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK2ztziuTNd_XvfxnttbqVWGORspeGsbGp6E-LyOjgBEauAZ7QGa073qsV39NVl7ygsJi1v5gxOJh-JoUR7wzpSZbjy-MdPiJcLMy1OZnFJPN6WN8S14EMa2BVLSp_hv3ina36bS_edQI/s1600/keretea-krakatau-stasiun-madiun.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kereta Krakatau di Stasiun Madiun" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK2ztziuTNd_XvfxnttbqVWGORspeGsbGp6E-LyOjgBEauAZ7QGa073qsV39NVl7ygsJi1v5gxOJh-JoUR7wzpSZbjy-MdPiJcLMy1OZnFJPN6WN8S14EMa2BVLSp_hv3ina36bS_edQI/s640/keretea-krakatau-stasiun-madiun.JPG" title="Kereta Krakatau di Stasiun Madiun" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kereta Krakatau yang sedang menunggu silang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selepas Stasiun Madiun, Sri Tanjung terus bergerak ke arah timur. Melewati kota-kota kecil di poros tengah Jawa Timur seperti Nganjuk, Kertosono hingga Jombang. Gerbong yang semula lengang pun menjadi semakin semarak, seiring dengan bertambahnya penumpang yang naik. Terlebih lagi dengan banyaknya penumpang yang membawa serta anak mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tangisan, celoteh hingga tingkah lucu mereka terdengar di hampir seluruh penjuru gerbong. Para orangtua pun tak kalah sibuk. Menyeduh susu dengan air panas yang telah disiapkan dari rumah, memberikan mainan terbaik mereka, hingga berjalan sempoyongan di lorong gerbong sambil menggendong sang anak untuk menenangkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lewat tengah hari, kereta merapat di Stasiun Surabaya Gubeng. Itu berarti separuh perjalanan telah terlewati. Disini Sri Tanjung herhenti cukup lama, sekitar 30 menit. Di antaranya karena melakukan perpindahan posisi lokomotif serta pengisian ulang air untuk kebutuhan toilet di masing-masing gerbong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Baca Juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/09/bandung-tahun-lalu.html"&gt;Bandung Tahun Lalu&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya dan beberapa penumpang lain memanfaatkannya untuk turun sejenak, sekedar meluruskan kaki yang mulai pegal. Ternyata cukup banyak penumpang yang naik maupun turun di salah satu stasiun tersibuk di Jawa ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYFDzNb_PQbGYVBKpQfjVIFwht9ycbO5giFhlWMbGf3YbWOOcp4OPDNKqaEZHQ12uwnZW2WwPZ7jdLydyXuD_65jBLUovjXp3AMnohneYiT8GUzi5N3-_f5huTq8h7-fIM4w2RRsdhDjU/s1600/kereta-jayabaya-stasiun-gubeng.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Stasiun Surabaya Gubeng" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYFDzNb_PQbGYVBKpQfjVIFwht9ycbO5giFhlWMbGf3YbWOOcp4OPDNKqaEZHQ12uwnZW2WwPZ7jdLydyXuD_65jBLUovjXp3AMnohneYiT8GUzi5N3-_f5huTq8h7-fIM4w2RRsdhDjU/s640/kereta-jayabaya-stasiun-gubeng.JPG" title="Stasiun Surabaya Gubeng" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Berhenti di Surabaya Gubeng.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kereta kembali melaju, kali ini mengarah ke selatan. Melewati daerah Sidoarjo hingga Kabupaten memasuki Kabupaten Pasuruan. Lalu berbelok ke arah timur kembali selepas Stasiun Bangil, yang merupakan percabangan dua jalur. Menuju Banyuwangi dan Malang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya memilih untuk memejamkan mata sejenak. Sementara aroma makanan menguap di penjuru gerbong. Para penumpang yang mulai kelaparan, membuka bekal makanan yang sengaja mereka bawa untuk disantap di perjalanan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Mari makan, Mas..” Sapa seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelah saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sejak diberlakukannya peraturan baru, tak ada lagi pedagang asongan yang bisa berkeliaran bebas di stasiun. Sedangkan bagi penumpang kereta kelas bawah, harga makanan di gerbong restorasi dirasa terlampau mahal. Mereka pun terpaksa memutar otak, mengandalkan bekal makanan yang sengaja dibeli di luar stasiun atau bahkan disiapkan dari rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di luar jendela, malam semakin pekat ketika kereta memasuki wilayah Tapal Kuda. Tak ada lagi yang bisa dilihat selain gelap. Gerbong sunyi. Beberapa penumpang terlelap dalam tidurnya, sementara yang lain masih terpekur pada layar gawainya dengan wajah layu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya salut melihat ketabahan mereka melakoni ritus tahunan bernama mudik atau pulang kampung ini. Setahun sekali, mereka akan menyesaki stasiun kereta hingga bandar udara. Membanjiri terminal bus hingga pelabuhan laut. Demi sebuah kepulangan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9a8QItlMAQBVuMx5IKNbFtC7EcQhkSLg4pdjzJJEGTr3s3YR1b_2_wTfpdYMqHHjd3WFqvovDAnW9Y0qhNy-UFvdZ2z2YDDrX5kao9W6aEAAJgHuwrISU2U7oJdRuoQsxn5Op-cVgQsY/s1600/stasiun-karangasem.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Stasiun Karangasem" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9a8QItlMAQBVuMx5IKNbFtC7EcQhkSLg4pdjzJJEGTr3s3YR1b_2_wTfpdYMqHHjd3WFqvovDAnW9Y0qhNy-UFvdZ2z2YDDrX5kao9W6aEAAJgHuwrISU2U7oJdRuoQsxn5Op-cVgQsY/s640/stasiun-karangasem.JPG" title="Stasiun Karangasem" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gelap di sudut Stasiun.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Melipat jarak ratusan kilometer. Menantang belasan bahkan puluhan jam. Demi sebuah tempat untuk sekedar meletakkan lelah sejenak. Saya kira memang tak ada seorang pun yang rela melewatkan momen hari raya bersama keluarga dan sanak saudara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Baca Juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/10/sikunir-ramai-merayakan-september_13.html"&gt;Merayakan September, Merayakan Hidup&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sementara itu, jalan pulang yang harus saya tempuh tak sesulit para pemudik itu. Karena saya memang belum pernah merasakan hidup di perantauan yang jauh dari rumah. Sedangkan pada hari raya tahun ini, saya malah berakhir seorang diri di dalam gerbong tua yang sedang melaju menuju ujung timur Pulau Jawa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pulang sesungguhnya bukan hanya tentang jarak semata, melainkan kembali pada diri kita masing-masing. Pulang adalah masalah hati. Karena sebenarnya, tak ada pulang yang benar-benar jauh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih8UDkX_u7Ntyuhb2zliW1114XOrCx7JL5Os2b2Sy50IChNlfMepTYR-LvHlRNUJk33A161eF2xuN5gPbrVwLf5TRpviXqZZ7ppPka-ODgPJ9-9fg8peFQRnXI5puhXl4dgCdBVX_ygZs/s1600/pantai-boom-banyuwangi.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pantai Boom Banyuwangi" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEih8UDkX_u7Ntyuhb2zliW1114XOrCx7JL5Os2b2Sy50IChNlfMepTYR-LvHlRNUJk33A161eF2xuN5gPbrVwLf5TRpviXqZZ7ppPka-ODgPJ9-9fg8peFQRnXI5puhXl4dgCdBVX_ygZs/s640/pantai-boom-banyuwangi.JPG" title="Pantai Boom Banyuwangi" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Menyapa pulau seberang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjG7JNmKVUTx8KoHgMfsdnExxTq1wTNbl1_dOSUhjmKu8jBjBCOP1JtECmAcVgBKfNn7uq1EZ_UREFMnh0XGrPj5D2MCt2pxPNnXx9XQaO7k0-6XPpFOosm25GVwIlsQ0f8K0JGdF8AQ7M/s72-c/senja-jalan-ronggowarsito-semarang.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">104</thr:total></item><item><title>Pecinan Semarang dalam Rekaman Langkah</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/07/walking-tour-pecinan-semarang.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Dunia Sekitar</category><category>Klentheng</category><category>Pecinan</category><category>Semarang</category><category>Walking Tour</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 10 Jul 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-6730258549781203565</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfuMZ3pyCjKL2HI5MFX-qwDza0Ed5Nj_5gpaVh7_ctvY1VaHQcNnx8OcQxlDGPHFCQuRyaXyqHQlOux6a4tsZVcoFwwjhFuSbarb2ZMMrinTXz9PkfjFLytcdWMwmEO9qIuRmo_kaLhdU/s1600/pecinan-semarang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Gapura Pecinan Semarang" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfuMZ3pyCjKL2HI5MFX-qwDza0Ed5Nj_5gpaVh7_ctvY1VaHQcNnx8OcQxlDGPHFCQuRyaXyqHQlOux6a4tsZVcoFwwjhFuSbarb2ZMMrinTXz9PkfjFLytcdWMwmEO9qIuRmo_kaLhdU/s640/pecinan-semarang.JPG" title="Gapura Pecinan Semarang" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberadaan kawasan Pecinan di Semarang sejak lama menjadi semacam tetenger atau penanda kota. Sama halnya dengan &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/05/semarang-dari-kampung-ke-kampung.html"&gt;kampung-kampung&lt;/a&gt; lainnya seperti Pekojan, Kauman ataupun Kampung Melayu. Sebagai kota yang hidup dari dengusan mesin-mesin kapal sejak jaman klasik, Semarang telah meleburkan berbagai macam kebudayaan. Sebut saja Tionghoa, Arab, Melayu adalah beberapa dari sekian banyak kebudayaan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bicara tentang Pecinan Semarang, satu yang tak bisa lepas adalah Pasar Semawis atau sering disebut juga Warung Semawis. Pasar malam yang menyajikan banyak sajian kuliner ini digelar sepanjang Gang Warung setiap akhir pekan. Semawis juga telah menjadi salah satu tujuan utama wisatawan jika berkunjung ke Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun sesungguhnya Pecinan Semarang lebih dari itu. Pecinan tak hanya soal Semawis semata.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/search/label/Walking%20Tour"&gt;Walking tour&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; sore itu diawali dari pelataran Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng ini awalnya tidak berdiri di lokasi yang sekarang, melainkan terletak di sekitar Gang Gambiran. Karena lokasinya yang dirasa kurang cocok, pada tahun 1771 klenteng dipindahkan ke lokasi sekarang yang dulunya merupakan sebuah lahan kebun cabe atau lombok. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNgcPJ0f__ZMYkP-eKy6tA_KnzD4yXVYNQHWhNSGGceWr4Cisp7g9v9bPp0Bnl5heXdBL1KJZZzGOMkhZreu010AH7-go-A1b7VWyCug2QmT799tbAiNEcKc-fDbVZh6iFP9osd4JS9Pc/s1600/klenteng-tay-kak-sie.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Tay Kak SIe" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNgcPJ0f__ZMYkP-eKy6tA_KnzD4yXVYNQHWhNSGGceWr4Cisp7g9v9bPp0Bnl5heXdBL1KJZZzGOMkhZreu010AH7-go-A1b7VWyCug2QmT799tbAiNEcKc-fDbVZh6iFP9osd4JS9Pc/s640/klenteng-tay-kak-sie.JPG" title="Klenteng Tay Kak SIe" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Tay Kak Sie dan patung sang laksamana Cheng Ho.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberadaan sebuah kedai lunpia persis di sebelah klenteng, menjadi daya tarik tersendiri. Karena hampir setiap orang yang selesai bersembahyang, akan singgah sejenak untuk sekedar mencicipi kuliner legendaris itu. Terlebih bagi mereka yang sengaja datang dari luar kota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebutan “istana para dewa” disematkan pada klenteng ini, karena memiliki dewa paling lengkap dibanding klenteng-klenteng lainnya. Selain bangunan maupun detil ornamennya yang sangat indah, hal menarik lainnya adalah pertunjukan wayang potehi yang digelar di pelatarannya ketika salah satu dewa berulang tahun. Bahkan jika tidak ada satu orang pun yang menonton, pertunjukan akan tetap dimainkan karena memang&amp;nbsp; diperuntukkan bagi para dewa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4V_WmFEIpD8d1LD48hnH5FEHWfJtkN_MhhRGTaQXfQyIGXHIer9QAkW3IvGjXmMjOjxMdtqLE9SMCPaMLGPBCIu0nZIl5fC3qgkxtyENqBpHrP1wN9JmBvh44UKnvQs5bDvu1t-tr5yI/s1600/gang-pinggir.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Gang Pinggir" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4V_WmFEIpD8d1LD48hnH5FEHWfJtkN_MhhRGTaQXfQyIGXHIer9QAkW3IvGjXmMjOjxMdtqLE9SMCPaMLGPBCIu0nZIl5fC3qgkxtyENqBpHrP1wN9JmBvh44UKnvQs5bDvu1t-tr5yI/s640/gang-pinggir.JPG" title="Gang Pinggir" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Suasana sore di Gang Pinggir.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari Klenteng Tay Kak Sie, Mas Fauzan mengajak saya serta Mas Rivai menyusuri Gang Pinggir yang merupakan ruas jalan utama di kawasan Pecinan. Kesibukan dari toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan tersebut, masih terlihat meski hari sudah beranjak sore. Seperti yang kita ketahui, Pecinan memang telah sejak lama menjelma sebagai salah satu kawasan ekonomi yang cukup penting di Semarang. Terlebih keberadaan bank-bank nasional maupun daerah yang membuka cabangnya disini cukup membuktikan hal itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kawasan Pecinan Semarang sendiri memiliki sejarah yang tak kalah panjang dengan Kota Lama. Diawali dengan peristiwa Geger Pecinan pada tahun 1740 di Batavia, Belanda kemudian menerapkan sistem pemisahan bagi para etnis Tionghoa dengan orang pribumi. Tujuannya agar pergerakan orang-orang Tionghoa mudah diawasi. Di Semarang sendiri, dari yang semula banyak bermukim di daerah Gedong Batu dipindahkan ke sebuah lahan kosong yang tak jauh dari Kota Lama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyGekETnzFbDb8Do3X83WgHZZm0OXp6spnrFwZaCMhwjYKejtJXNAjUG34SW1Bi7UNktjIhpJQUtex8Dr9YkQEYKc6bPWr1Z1ZEFahbWtRUuEBoNKFc40JnKz_X5Q7zZFP5PUvAm7QjrA/s1600/fasad-bangunan-pecinan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Fasad Bangunan Rumah Tionghoa" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyGekETnzFbDb8Do3X83WgHZZm0OXp6spnrFwZaCMhwjYKejtJXNAjUG34SW1Bi7UNktjIhpJQUtex8Dr9YkQEYKc6bPWr1Z1ZEFahbWtRUuEBoNKFc40JnKz_X5Q7zZFP5PUvAm7QjrA/s1600/fasad-bangunan-pecinan.JPG" title="Fasad Bangunan Rumah Tionghoa" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Atap pelana yang merupakan ciri khas rumah Tionghoa.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sejarah kelam Pecinan tak hanya sampai situ saja. Ketika rezim Orde Baru berkuasa, para etnis Tionghoa mengalami diskriminasi. Segala kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan budaya Tionghoa tidak boleh dilakukan secara terang-terangan. Termasuk juga ciri khas &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/12/lasem-dalam-lini-masa.html"&gt;rumah Tionghoa&lt;/a&gt; sebagai tempat tinggal mereka harus dirubah. Ciri khas tersebut diantaranya adalah bumbungan atap yang berbentuk pelana kuda serta melengkung pada kedua ujungnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meski jumlahnya sudah jauh berkurang, beberapa bangunan yang tetap mempertahankan ciri khas tersebut masih dapat kita lihat. Banyak diantaranya terjepit di antara bangunan-bangunan modern lainnya yang kebanyakan memang difungsikan sebagai ruko 2-3 lantai. Lantai bawah mayoritas digunakan untuk membuka toko atau usaha lainnya, sedangkan tempat tinggal mereka berada di lantai atasnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain berbagai pertokoan yang berjejer di sepanjang Gang Pinggir, terdapat pula beberapa klenteng yang digunakan untuk beribadah. Letaknya pun cukup berdekatan, dengan warna merah yang mendominasi, lilin-lilin yang menyala serta huruf Mandarin yang tertulis di beberapa sudutnya. Meski begitu, hanya satu yang dikenal dengan nama Klenteng Gang Pinggir yaitu Klenteng Tong Pek Bio.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYOCtRGGxjExUOgCTp-gVkeDjnddAEBiyl60pdg9q4BFY5tRiTGnZET4yNaKFbs_aVXoM6Sne5a6YY-bIeesgjXDxaH7VbgP3L2hVkm5EmS1Smnga0QWrDvRPyW6VvsWQvWUccniq0PPE/s1600/klenteng-tong-pek-bio.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Tong Pek Bio" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYOCtRGGxjExUOgCTp-gVkeDjnddAEBiyl60pdg9q4BFY5tRiTGnZET4yNaKFbs_aVXoM6Sne5a6YY-bIeesgjXDxaH7VbgP3L2hVkm5EmS1Smnga0QWrDvRPyW6VvsWQvWUccniq0PPE/s640/klenteng-tong-pek-bio.JPG" title="Klenteng Tong Pek Bio" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Tong Pek Bio atau dikenal sebagai Klenteng Gang Pinggir.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiiR7i32k4JzNDeElHTGaWP3J9n5dRWlR1q152bqz7jDuVDLQpyODfcycEp_AIFauoCyv8ivJ1Gb9hBoTs1_x0vKeCcRuydzS8eFVw4TGBm7fPYzDaQgNr9WmYtAfVz23g4HjzdMP8IAM/s1600/klenteng-ling-hok-bio.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Ling Hok Bio" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgiiR7i32k4JzNDeElHTGaWP3J9n5dRWlR1q152bqz7jDuVDLQpyODfcycEp_AIFauoCyv8ivJ1Gb9hBoTs1_x0vKeCcRuydzS8eFVw4TGBm7fPYzDaQgNr9WmYtAfVz23g4HjzdMP8IAM/s640/klenteng-ling-hok-bio.JPG" title="Klenteng Ling Hok Bio" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Ling Hok Bio.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Klenteng-klenteng tersebut sekilas memang tampak sama dari segi bangunan atau arsitekturnya. Namun jika dilihat dari detil ornamennya seperti ukiran, patung ataupun pernak-pernik lainnya, masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Hal tersebut pula yang membuat setiap klenteng memiliki makna dan filosofis yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meski saya sendiri tertarik dan dibuat penasaran dengan makna simbolis dari detil ornamen tersebut, saya hanya bisa menerka-nerkanya. Hanya sedikit yang bisa saya pahami, sisanya memang dibutuhkan pengetahuan yang lebih dalam. Saking rumitnya pula, perlu waktu yang tidak bisa dibilang sebentar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_Ewq1HjW1Lb-oDuLF-6tgGvt7ZcYfU2EJsHrzW7IFod8_eP1z8SMco5kMIpwsIlmqILblnYlRMrqUgbRv-OWPbqpOdShcakbqX-fZIPP4YFWtgnhJd6gk2rM9dGFNSpLsdLTv7RoxrhE/s1600/klenteng-tek-hay-bio-sinar-samudera.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Tek Hay Bio" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_Ewq1HjW1Lb-oDuLF-6tgGvt7ZcYfU2EJsHrzW7IFod8_eP1z8SMco5kMIpwsIlmqILblnYlRMrqUgbRv-OWPbqpOdShcakbqX-fZIPP4YFWtgnhJd6gk2rM9dGFNSpLsdLTv7RoxrhE/s640/klenteng-tek-hay-bio-sinar-samudera.JPG" title="Klenteng Tek Hay Bio" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Tek Hay Bio atau Sinar Samudera.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di antara beberapa klenteng yang berada di Gang Pinggir, ada satu yang paling menarik perhatian saya. Adalah Klenteng Tek Hay Bio atau sering disebut juga dengan Klenteng Sinar Samudera, yang terletak persis menghadap ke Jalan Sebandaran. Aroma hio yang cukup pekat menyambut kami bertiga, begitu menginjakkan kaki di pelataran klenteng tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menurut penuturan Mas Fauzan, klenteng ini memuja Tek Hay Cin Jin yang dihormati sebagai pelindung para nelayan. Yang menarik adalah nama Tek Hay Cin Jin hanya dikenal di Indonesia, terutama di pantai utara Pulau Jawa. Nama tersebut merupakan gelar yang diberikan kepada Kwee Lak Kwa. Seorang pedagang Tionghoa yang juga turut dalam pemberontakan terhadap VOC pada tahun 1740. Tersiar kabar bahwa beliau menghilang, setelah tertangkap oleh serdadu VOC.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah menghilang, Kwee Lak Kwa sering menampakkan diri serta memberi pertolongan pada para nelayan ketika mengalami kesusahan di laut. Terutama nelayan-nelayan di sekitar perairan Tegal. Sejak saat itu Kwee Lak Kwa dianggap bukan manusia biasa dan kemudian didewakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari Gang Pinggir yang ramai, kami diajak Mas Fauzan berbelok ke Jalan Sebandaran 1 yang cenderung lengang. Siapa sangka di jalan kecil ini justru terdapat dua klenteng yang cukup besar dibandingkan klenteng-klenteng sebelumnya. Pelatarannya pun cukup luas sehingga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk memakirkan kendaraan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWpGUb8tQ26eHL7tJoNfFaT4g1XkGAiKG4bza3WwPxmj-6fkc3EFsXFrWQeAoQL6_MCod7LTh9fRG0-SztLrIYk-MCKfb4_Pq5xQsam1Rb4ykoEbg2Fspo0ipDUcwIinSYrDRj8gkNJlE/s1600/klenteng-hwie-wie-kiong.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Hwie Wie Kiong" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhWpGUb8tQ26eHL7tJoNfFaT4g1XkGAiKG4bza3WwPxmj-6fkc3EFsXFrWQeAoQL6_MCod7LTh9fRG0-SztLrIYk-MCKfb4_Pq5xQsam1Rb4ykoEbg2Fspo0ipDUcwIinSYrDRj8gkNJlE/s640/klenteng-hwie-wie-kiong.JPG" title="Klenteng Hwie Wie Kiong" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Hwie Wie Kiong.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgChj7KxEUFukd7eAvzzZxHN7MqnHKi8KD6ZaWn1RzGaNLYYemGiU14sNl0sKLf9wHSrd7-w2m2dNwEZ2FA-Db1cFmDTzK9rQwPdDs6bR_f6NKEScQ2O_23C8g2xaTPhKDww9zUQJ3u_TQ/s1600/klenteng-see-hoo-kiong.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng See Hoo Kiong" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgChj7KxEUFukd7eAvzzZxHN7MqnHKi8KD6ZaWn1RzGaNLYYemGiU14sNl0sKLf9wHSrd7-w2m2dNwEZ2FA-Db1cFmDTzK9rQwPdDs6bR_f6NKEScQ2O_23C8g2xaTPhKDww9zUQJ3u_TQ/s640/klenteng-see-hoo-kiong.JPG" title="Klenteng See Hoo Kiong" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng See Hoo Kiong.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Klenteng See Hoo Kiong adalah klenteng kedua di Sebandaran yang kami singgahi. Kesan kusam kami dapatkan begitu menginjakkan kaki di pelatarannya. Berbeda sekali dengan klenteng pada umumnya yang didominasi dengan warna merah menyalanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jika dilihat sekilas, klenteng tersebut memang nampak tidak terawat dan dibiarkan apa adanya. Padahal jika dihitung dari tahun berdirinya, klenteng See Hoo Kiong termasuk paling muda di kawasan Pecinan Semarang. Sejak pertama kali dibangun pada 1881, klenteng ini belum tersentuh perbaikan atau pemugaran. Konon hal tersebut dikarenakan memang dilarang oleh sang dewa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMY1rXcEbdTaeXwc68hLw_fvwfujaExSRLyKtrlYAKMtKoPJa2adWJ9-82mX4ev41ei3Sz0JDqmkBuD8HtXAVQPOqpEYRNNEoGyMSAj1ZgO0rMoDGPSrR2TUD3aGy45iRImYH8SBuxSnY/s1600/tegel-klenteng-see-hoo-kiong.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Tegel See Hoo Kiong" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhMY1rXcEbdTaeXwc68hLw_fvwfujaExSRLyKtrlYAKMtKoPJa2adWJ9-82mX4ev41ei3Sz0JDqmkBuD8HtXAVQPOqpEYRNNEoGyMSAj1ZgO0rMoDGPSrR2TUD3aGy45iRImYH8SBuxSnY/s640/tegel-klenteng-see-hoo-kiong.JPG" title="Tegel See Hoo Kiong" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tegel sebagai lantai yang masih asli.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5UK4cakMEnm1U5nk8R1s3ieAh0wqtY5CIoON6YmnDQcfkoXUPREf_iTNq4DEj7jjow-KjU4akWqN3_5mJIPNqEpj6p2BQiSiyTveJ7W1mmOSvje9CqMIdl-5Td1KhB1JNveJKDK6M6jI/s1600/patung-klenteng-see-hoo-kiong.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Patung See Hoo Kiong" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj5UK4cakMEnm1U5nk8R1s3ieAh0wqtY5CIoON6YmnDQcfkoXUPREf_iTNq4DEj7jjow-KjU4akWqN3_5mJIPNqEpj6p2BQiSiyTveJ7W1mmOSvje9CqMIdl-5Td1KhB1JNveJKDK6M6jI/s640/patung-klenteng-see-hoo-kiong.JPG" title="Patung See Hoo Kiong" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Patung di teras klenteng See Hoo Kiong.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Sebandaran itu sendiri berasal dari kata syahbandar, konon di daerah ini pernah tinggal seorang syahbandar. Hal ini bisa dibuktikan bahwa kedua klenteng di Jalan Sebandaran ini memuja Dewi Laut, yang dipercaya memberikan perlindungan bagi para pelaut yang akan melakukan perjalanan dengan kapal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa Sebandaran adalah titik penting bagi kegiatan pelayaran pada masa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langkah kami masih berlanjut meski matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Kali ini kami menyusuri Jalan Wotgandul Timur yang masih terusan dari Gang Pinggir. Deretan pertokoan masih mendominasi di sepanjang jalan ini. Becak, sepeda motor maupun mobil melintas silih berganti. Pertanda bahwa denyut perdagangan memang tak kenal malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihTKxtAgdfj_Fb79vS2jI04wxSvEpQ1LdcOc8R_WdTKZbD4lktLfAhzuO4dxLegG0RG6PC2-AJlwnbNJZ5espdaLqHhKBTE07f5TnbbdXrKHUhdt3FMaPkI_GUe2n5NJ2qgR1TwA78fR0/s1600/klenteng-siu-hok-bio.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Siu Hok Bio" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihTKxtAgdfj_Fb79vS2jI04wxSvEpQ1LdcOc8R_WdTKZbD4lktLfAhzuO4dxLegG0RG6PC2-AJlwnbNJZ5espdaLqHhKBTE07f5TnbbdXrKHUhdt3FMaPkI_GUe2n5NJ2qgR1TwA78fR0/s640/klenteng-siu-hok-bio.JPG" title="Klenteng Siu Hok Bio" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Siu Hok Bio.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebuah klenteng mungil menarik perhatian saya, terjepit di antara bangunan pertokoan modern. Adalah Siu Hok Bio, sebuah klenteng yang berukuran paling kecil dibanding klenteng lainnya. Namun jangan remehkan ukurannya, karena klenteng yang memuja Dewa Bumi ini merupakan klenteng tertua yang berdiri di Pecinan Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dibangun pada tahun 1753, Siu Hok Bio memiliki arti makmur dan panjang umur. Uniknya, klenteng ini sengaja didirikan dalam posisi ‘tusuk sate’ atau lebih tepatnya menghadap Gang Baru. Hal ini diyakini bahwa keberadaan Klenteng Siu Hok Bio ini dapat menangkal aura negatif di kawasan Pecinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bicara Pecinan memang tak hanya soal klentengnya saja. Mas Fauzan juga mengajak kami menyusuri gang-gang sempit, salah satunya adalah Gang Baru. Sebuah lorong sempit, sepi dan sedikit menyeramkan pada malam hari. Namun situasinya akan jauh berbeda pada pagi hingga siang hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Hoo Hok Bio" border="0" data-original-height="750" data-original-width="500" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiILdDyesnM_NYbPn7PpjNd4hUI_KaOVTpX56AgQEHuxvdbz8IC5hZomN6YwgJr0o6CgrAO3AdKIibOEbsbLSbO2X2Djb7hEhuXr4OGtgNSqzOA1rAk6VJF81IV5I9MKKNglO-Or-02z0/s640/klenteng-hoo-hok-bio.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Klenteng Hoo Hok Bio" width="424" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Hoo Hok Bio yang berda di Gang Cilik tak jauh dari pasar Gang Baru.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiILdDyesnM_NYbPn7PpjNd4hUI_KaOVTpX56AgQEHuxvdbz8IC5hZomN6YwgJr0o6CgrAO3AdKIibOEbsbLSbO2X2Djb7hEhuXr4OGtgNSqzOA1rAk6VJF81IV5I9MKKNglO-Or-02z0/s1600/klenteng-hoo-hok-bio.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Wajah Gang Baru di pagi hari adalah sebuah keramaian pasar tradisional, yang namanya cukup legendaris sejak puluhan tahun. Namun jangan bandingkan pasar ini dengan pasar lainnya yang bercirikan bangunan, misalnya &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/12/pesan-terakhir-sang-arsitek.html"&gt;Pasar Johar&lt;/a&gt; dengan pilar cendawannya. Pasalnya, pasar tradisional di Gang Baru hanya menempati sebuah lorong sempit di kawasan Pecinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Para pedagang biasanya akan mulai membuka lapak sekitar pukul empat pagi. Tak hanya didominasi oleh etnis Tionghoa saja, melainkan juga banyak dari etnis Jawa dan Melayu. Barang dagangannya pun cukup beragam, mulai dari bahan makanan, obat-obatan tradisional, pakaian, hingga pernak-pernik khas Tionghoa. Menjelang siang, biasanya pasar sudah mulai lengang karena beberapa pedagang telah merapikan lapaknya. Dan gang sempit tersebut bisa kembali dilewati kendaraan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEhUTbN-p8cFWwOawgARAcZnd7OF4BMQoVpCAD9ymM3VCVtvGaV4JaAhvZCy1Wg1O-FhUjqMoB0GjAGP6jecI8vN0x8L5uArZ3VhENiYxhbrB2MHef5RIlKz-mzFwNojcXug4E8KKqSKQ/s1600/rumah-khas-pecinan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Jendela Khas Rumah Tionghoa" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEhUTbN-p8cFWwOawgARAcZnd7OF4BMQoVpCAD9ymM3VCVtvGaV4JaAhvZCy1Wg1O-FhUjqMoB0GjAGP6jecI8vN0x8L5uArZ3VhENiYxhbrB2MHef5RIlKz-mzFwNojcXug4E8KKqSKQ/s640/rumah-khas-pecinan.JPG" title="Jendela Khas Rumah Tionghoa" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jendela yang sekaligus berfungsi sebagai meja berjualan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa terasa, kami sudah hampir tiba di penghujung &lt;i&gt;walking tour&lt;/i&gt; sore itu. Berbelok masuk ke gang satu ke gang lainnya. Sesekali berhenti untuk melihat lebih dekat ciri khas lain dari &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/01/kisah-di-balik-tembok-tembok-tinggi.html"&gt;rumah Tionghoa&lt;/a&gt;, yaitu jendelanya yang sekaligus berfungsi sebagai meja untuk berjualan. Lalu melewati Gang Warung dengan deretan lapak-lapak yang bersiap untuk menyambut pengunjung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gang Warung di siang hari adalah deretan pertokoan tekstil hingga obat-obatan tradisional Tionghoa. Jika akhir pekan tiba, khususnya sore hingga malam hari, seruas jalan ini akan di tutup total dari ujung ke ujung. Kemudian deretan lapak berbagai macam kuliner akan digelar disini, untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pasar Semawis atau Warung Semawis lahir bersamaan dengan peringatan 600 tahun pendaratan Laksamana Cheng Ho di &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/10/ceritanya-ngadem-di-sam-poo-kong.html"&gt;Sam Poo Kong&lt;/a&gt; pada tahun 2004. Awalnya hanya digelar tiga hari menjelang tahun baru Imlek. Beberapa tahun berselang, pasar kuliner ini rutin digelar setiap akhir pekan, yaitu hari Jumat hingga Minggu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj75sgwfNaPlCqdm-Ii60fLdKc8vQk2Dqj3X-OiTRkJtN83ehkYHFME2saHJNLGu2xbJLswjyfPJvjo7e_52VYNpinDoToZ1BEv_b9sizF3HVwjhO6kTNuadOHsZmHUSgRzmkX4dSgEU1E/s1600/klenteng-tay-kak-sie-malam.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenteng Tay Kak SIe di Malam Hari" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj75sgwfNaPlCqdm-Ii60fLdKc8vQk2Dqj3X-OiTRkJtN83ehkYHFME2saHJNLGu2xbJLswjyfPJvjo7e_52VYNpinDoToZ1BEv_b9sizF3HVwjhO6kTNuadOHsZmHUSgRzmkX4dSgEU1E/s640/klenteng-tay-kak-sie-malam.JPG" title="Klenteng Tay Kak SIe di Malam Hari" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenteng Tay Kak Sie yang bercahaya di malam hari.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menyusuri kawasan pecinan membuat saya seakan melewati lorong panjang sebuah cerita sejarah dan kekayaan budaya. Dari aroma hio yang selalu tercium ketika memasuki pelataran klenteng, hingga setiap lilin yang menyala di meja altar. Dari hiruk pikuk pasar tradisional di pagi hari, hingga lorong sepi nan gelap di malam hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pecinan adalah salah satu penanda, bahwa kota Semarang sejak lama dibangun dari keberagaman. Keberagaman yang sudah sepatutnya membuat hidup di negeri ini menjadi semakin indah. Bahwa beragam bukan berarti membeda-bedakan. Saya adalah anda. Kita adalah Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGTTv9En15zlpH6GJawE8vYosojWr_NSX_eOBIdGHP_uRyvYVDuQz0y96XF-zRIf3q8MzzDFm2RGZqEPQrLdJ7gejHUbbGrfoHvRkQ4c5tgO3Ij0G1IhwCdDBBsf5tur47TPEuKafItK8/s1600/bersukaria-pecinan.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Bersukaria Walking Tour" border="0" data-original-height="500" data-original-width="750" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGTTv9En15zlpH6GJawE8vYosojWr_NSX_eOBIdGHP_uRyvYVDuQz0y96XF-zRIf3q8MzzDFm2RGZqEPQrLdJ7gejHUbbGrfoHvRkQ4c5tgO3Ij0G1IhwCdDBBsf5tur47TPEuKafItK8/s640/bersukaria-pecinan.JPG" title="Bersukaria Walking Tour" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mari bersukaria!&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfuMZ3pyCjKL2HI5MFX-qwDza0Ed5Nj_5gpaVh7_ctvY1VaHQcNnx8OcQxlDGPHFCQuRyaXyqHQlOux6a4tsZVcoFwwjhFuSbarb2ZMMrinTXz9PkfjFLytcdWMwmEO9qIuRmo_kaLhdU/s72-c/pecinan-semarang.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">112</thr:total></item><item><title>5 Tempat Wisata Alam Paling Memikat di Tangerang</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/06/5-tempat-wisata-alam-paling-memikat-di.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Pantai</category><category>Tangerang</category><category>Wisata Air</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 22 Jun 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-7408993639742463843</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tangerang dikenal sebagai salah satu k&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;ota metro&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;pol&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;itan yang turut menyangga kesibukan ibukota Jakarta. Aktivitas bisnis dan perda&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;gangann di kawasan ini terbilang cukup tinggi. Fasilitas penunjangnya pun selalu diperba&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;rui setiap tahun. Tangerang akhirnya semakin berk&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;embang seb&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;agai kota modern dan &lt;span style="font-family: inherit;"&gt;memiliki daya tarik tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Mesk&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;ipun tampilan tata kotanya semakin modern, &lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tang&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;erang tidak kekurangan daya pikat wis&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;ata alamnya. Berikut ini 5 pilihan tempa&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;t wisata alam yang bisa anda pilih selama mengisi libur lebaran di Tangerang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;1. SITU CIPONDOH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEfpJWazqS0-m3z2GBFY5Fyh3YHlrlWJ_l3rJWhxriEWmNb7BsYLPVsVgAxDrFzCwqu4gMHtUgNN6kIszaGvAolV-9Ip-qDpg-2EQmAFyGVwemGvt5wmm68yndgREvR1ba9qj7d3O9BwQ/s1600/image001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Situ Cipondoh" border="0" data-original-height="390" data-original-width="780" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEfpJWazqS0-m3z2GBFY5Fyh3YHlrlWJ_l3rJWhxriEWmNb7BsYLPVsVgAxDrFzCwqu4gMHtUgNN6kIszaGvAolV-9Ip-qDpg-2EQmAFyGVwemGvt5wmm68yndgREvR1ba9qj7d3O9BwQ/s640/image001.jpg" title="Situ Cipondoh" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(foto: megapolitan.kompas.com)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Situ Cipondoh merupakan sebuah danau indah dengan panorama yang menyejukkan. Berlokasi di&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; Jalan Kyai Haji Hasyim Asyari, Tangerang, sangat cocok menjad&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;i tujuan wisata bersama k&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;eluarga dan anak-anak. B&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;anyak sekali aki&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;vitas yang bisa dilakukan&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;, di&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; antaranya bermain sepeda air, naik perahu berkeliling danau, berma&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;in &lt;span style="font-family: inherit;"&gt;miniatur kereta, bebek-bebekan, &lt;i&gt;flyin&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;i&gt;g fox&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; hingga memancing.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;2. TELAGA BIRU CIGARU&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwkTFQqrv9BNqakuxGEJLg1wNnoVkFwVH5EyrxNxoHXL3V0NDksQ-7c6iJPSSE1w6EEyK5AYWo3KKsXKCSGtx3VB4Ps938rp-xcLvfffxqk58co89A31EciBlSVRfl-w0MibEKGQ8HU9c/s1600/cigaru2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Telaga Biru Cigaru" border="0" data-original-height="241" data-original-width="400" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiwkTFQqrv9BNqakuxGEJLg1wNnoVkFwVH5EyrxNxoHXL3V0NDksQ-7c6iJPSSE1w6EEyK5AYWo3KKsXKCSGtx3VB4Ps938rp-xcLvfffxqk58co89A31EciBlSVRfl-w0MibEKGQ8HU9c/s400/cigaru2.jpg" title="Telaga Biru Cigaru" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(foto: dianprimavera.blogspot.co.id)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Telaga B&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;iru Cigaru merupakan tela&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;ga yang be&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;rproses dari bekas galian pasir. Genang&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;an air di atas galian tersebut memiliki kedalaman hingga 50 meter, dengan warna air yang diyakini bisa berubah-ubah. berlokasi di dae&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;rah Cisoka, &lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tangerang, Telaga ini masih butuh proses pengembangan d&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;an penyempurnaan agar keam&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;anan dan &lt;span style="font-family: inherit;"&gt;kenyamanan pengunjung terjamin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;3. PANTAI TANJUNG PASIR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3H-mNA52VFv87iBXktVlAbPxg21AVPsHu11C-DIwn8qV1bAPaXF6j8oYqV6qvtgW6Wc0c7s6pcd7XBzQjWepjaQ3ZQF7CNwGzTmhJcDpHgxT1hXrABsZaKOUjOV6aFSXV_8LaaUuIGu4/s1600/54-tanjung-pasir.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="600" data-original-width="800" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3H-mNA52VFv87iBXktVlAbPxg21AVPsHu11C-DIwn8qV1bAPaXF6j8oYqV6qvtgW6Wc0c7s6pcd7XBzQjWepjaQ3ZQF7CNwGzTmhJcDpHgxT1hXrABsZaKOUjOV6aFSXV_8LaaUuIGu4/s400/54-tanjung-pasir.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(foto: jakarta.panduanwisata.id)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pantai-pantai di utara Tangerang menawarkan spot berlibur yang menyenangkan. Disana anda bisa menyewa perahu untuk berkeliling pantai atau menyeberang ke Kepulauan Seribu. Misalnya spot favorit di Pantai Tanjung Pasir. Terletak di Kecamatan Teluk Naga, pantai ini berjarak 25 kilometer dari pusat Kota Tangerang. Ombak yang landai memungkinkan wisatawan puas bermain air tanpa khawatir terseret arus.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;4. TANJUNG BURUNG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR0fEjkGw2bFRW2CFbrq6pJKPOhObV48ZiJxYenOoRD5vjds7JXNQ6yHEsEXf1JbEnHfWYLSbLFQ2NZOqCafx_a_WE2r4fBGoc3ZRAVB5qgmHZYEK-r4zRuVa2gI2wZkxtwSarBoBct18/s1600/tanjung-burung-tangerang.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="283" data-original-width="425" height="266" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR0fEjkGw2bFRW2CFbrq6pJKPOhObV48ZiJxYenOoRD5vjds7JXNQ6yHEsEXf1JbEnHfWYLSbLFQ2NZOqCafx_a_WE2r4fBGoc3ZRAVB5qgmHZYEK-r4zRuVa2gI2wZkxtwSarBoBct18/s400/tanjung-burung-tangerang.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(foto: beritadaerah.co.id)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanjung Burung adalah nama sebuah desa di Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Desa ini berada di pesisir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt; pantai utara Jawa sehingga di dalamnya terdapat sebuah kawasan pantai dengan nama yang sama dengan nama desa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kawasan Tanjung Burung dikenal sebagai tempat galangan kapal &lt;i&gt;fiberglass &lt;/i&gt;dan juga peternakan sapi terbesar di Tangerang. Di desa ini juga terdapat gentong raksasa, yang telah tercatat Museum Rekor Indonesia sebagai gentong terbesar di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;5. PULAU CANGKIR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgycMtjI502QotSE1sl-Qz7O5h7xLznZCYP8fZN0YiXlQcxK3U4vGiRPxZ-E8RVMPBO-CgtOghGv8Xogf7AhwpwHcChTcpSTV-zrGwMuKQxNsr7AcnbbM9TX3bRdTR5SnvEtE3gLhBbU-A/s1600/Keindahan-Pulau-Cangkir.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pulau Cangkir" border="0" data-original-height="393" data-original-width="591" height="265" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgycMtjI502QotSE1sl-Qz7O5h7xLznZCYP8fZN0YiXlQcxK3U4vGiRPxZ-E8RVMPBO-CgtOghGv8Xogf7AhwpwHcChTcpSTV-zrGwMuKQxNsr7AcnbbM9TX3bRdTR5SnvEtE3gLhBbU-A/s400/Keindahan-Pulau-Cangkir.jpg" title="Pulau Cangkir" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;(foto: tempatwisataindonesia.id)&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Secara administratif, Pulau Cangkir berada di Kecamatan Tronjo, Tangerang. Luas pulau ini sekitar 2,5 hektare dengan panorama yang masih hijau, asri dan berhawa sejuk. Tidak hanya menikmati keindahan alamnya, para pengunjung yang datang ke Pulau Cangkir ini juga bisa melakukan ziarah ke makam Pangeran Jaga Lautan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Itulah 5 pilihan tempat wisata alam yang bisa mengisi libur lebaran anda di Tangerang. Apabila anda merencanakan perjalanan panjang dan membutuhkan tempat menginap, segeralah pesan kamar hotel di jaringan Airy Rooms.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain mudah ditemukan, karena jaringan Airy Rooms memiliki jumlah properti terbanyak di Indonesia, harga hotel Airy Rooms juga murah. Sangat cocok untuk menyempurnakan rencana anda mencari &lt;a href="https://www.airyrooms.com/booking-hotel-di-tangerang"&gt;hotel di Tangerang&lt;/a&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHG6-49IpBujVIJe3Waa0qCS_cWHP-nJQOAavF8k5haqC5-WqiKVG2xXgWCbYcY3_aSZmyDKIU6iK0US_3tlz_yLZlwPeAemCl4YhuvR9f55zp2PzX37toi63HGvIS-9P_seu9FSWN3b8/s1600/image003.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="441" data-original-width="705" height="250" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHG6-49IpBujVIJe3Waa0qCS_cWHP-nJQOAavF8k5haqC5-WqiKVG2xXgWCbYcY3_aSZmyDKIU6iK0US_3tlz_yLZlwPeAemCl4YhuvR9f55zp2PzX37toi63HGvIS-9P_seu9FSWN3b8/s400/image003.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dengan mengakses website serta Android ataupun iOS apps, anda akan ditawarkan pilihan kamar yang nyaman dan memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Nikmatilah kamar terjangkau dengan fasilitas AC, televisi layar datar, perlengkapan mansi, shower air hangat, serta Wi-Fi gratis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jangan lupa selesaikan proses pemesanan dengan melakukan pembayaran. Pemesanan kamar &lt;a href="https://www.airyrooms.com/"&gt;hotel Airy Rooms&lt;/a&gt; dapat diselesaikan dengan tiga pilihan cara bayar. Pilihlah salah satu dari transfer antar bank, kartu kredit, atau fasilitas pembayaran di gerai Indomaret.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selamat menyambut liburan! &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEfpJWazqS0-m3z2GBFY5Fyh3YHlrlWJ_l3rJWhxriEWmNb7BsYLPVsVgAxDrFzCwqu4gMHtUgNN6kIszaGvAolV-9Ip-qDpg-2EQmAFyGVwemGvt5wmm68yndgREvR1ba9qj7d3O9BwQ/s72-c/image001.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">60</thr:total></item><item><title>Ada Pelangi di Air Terjun Putuk Truno</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/06/air-terjun-putuk-truno-pasuruan.html</link><category>Air Terjun</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Curug</category><category>Pasuruan</category><category>Wisata Air</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 20 Jun 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-8768127112575929842</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEmZp68GZ7FCqjU39UbnCETfaRlpTw8FjkdiYJJwI6M6YCSLpBZ6rnFB43cAviyI4Snf0L8gvrOvGPZejfBTFzIOnoewy7sy_EIrDbXxXnoEMX8Ve3el0Srfozo6nBlWqvf9-ZK5-XbpQ/s1600/air-terjun-putuk-truno-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEmZp68GZ7FCqjU39UbnCETfaRlpTw8FjkdiYJJwI6M6YCSLpBZ6rnFB43cAviyI4Snf0L8gvrOvGPZejfBTFzIOnoewy7sy_EIrDbXxXnoEMX8Ve3el0Srfozo6nBlWqvf9-ZK5-XbpQ/s640/air-terjun-putuk-truno-1.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pelangi di air terjun.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Alkisah hiduplah seorang pemuda bernama Joko Taruno, yang menaruh rasa cinta kepada Sri Gading Lestari yang merupakan putri dari adipati Madura, Raden Arya Wiraraja. Namun kisah cinta mereka tak mendapat restu dari sang adipati, karena Joko Taruno bukan merupakan keturunan kerajaan murni, melainkan hanya anak dari seorang selir raja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meski begitu, tak ada seorang pun yang bisa menghalangi rasa cinta Joko Taruno terhadap Sri Gading Lestari, bahkan oleh sang adipati sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXkRmmoxco0Vc_NYOGspfD7bFt88DZAir8a8BaYHM1c7ijCmCY888DHIocJNmm_PcFjx9zczKN5_Pr-kjuDUxM6_UpuDwkJ9aFDZDTsEefaY9VsbW9X4C_K8jdqi5jf6PQqrqWqiJfG1I/s1600/air-terjun-putuk-truno-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXkRmmoxco0Vc_NYOGspfD7bFt88DZAir8a8BaYHM1c7ijCmCY888DHIocJNmm_PcFjx9zczKN5_Pr-kjuDUxM6_UpuDwkJ9aFDZDTsEefaY9VsbW9X4C_K8jdqi5jf6PQqrqWqiJfG1I/s640/air-terjun-putuk-truno-2.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Untuk memisahkan keduanya, berbagai cara dilakukan oleh sang adipati. Hingga akhirnya mengambil jalan untuk mengisolasi putrinya ke sebuah tempat yang terdapat air terjun di kawasan Purwodadi, Pasuruan yang kini dinamakan Coban Baung. Tak hanya itu, sang adipati pun memagari tempat itu dengan kekuatan gaib agar Joko Taruno tidak dapat menemui putrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Baca juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/03/double-visit-curug-lawe-dan-benowo-yang.html"&gt;Curug Lawe dan Curug Benowo&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Putri Sri Gading Lestari kemudian dijuluki dengan Putri Baung. Di kemudian hari, tempat dimana sang putri diasingkan tersebut dikenal orang dengan sebutan Coban Baung. Konon pada saat-saat tertentu akan terdengar lolongan serigala di lokasi air terjun tersebut. Lalu lolongan tersebut dianggap sebagai ungkapan cinta sang putri Sri Gading.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Joko Taruno yang tak mudah menyerah begitu saja, melakukan tapa brata alias semedi menghadap Sang Hyang Dewa, demi cinta. Pun demikian sang putri, melakukan hal yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmg66S3uc5jNWPwP-0GQA0rS9Ry7AO_kCQY3QW9D0nwKj4DeyltnGs1-L0uvtlW3O7Xgsve3qM6GMT6YHNqnCfOJftfimz2H67HBLdk23mCJiN9uisFgibbrvYK7yPTccnfBFfWJY1Xns/s1600/air-terjun-putuk-truno-3.jpg" imageanchor="1"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmg66S3uc5jNWPwP-0GQA0rS9Ry7AO_kCQY3QW9D0nwKj4DeyltnGs1-L0uvtlW3O7Xgsve3qM6GMT6YHNqnCfOJftfimz2H67HBLdk23mCJiN9uisFgibbrvYK7yPTccnfBFfWJY1Xns/s640/air-terjun-putuk-truno-3.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Akhinya jerih payah dan ketulusan cinta mereka membuahkan hasil. Pagar gaib yang selama ini melindungi sang putri akhinya bisa ditaklukannya. Kemudian Joko Taruno membawa sang putri Sri Gading meloloskan diri menuju sebuah air terjun yang sebelumya digunakan Joko Taruno untuk bertapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Air terjun tersebut yang kini dinamakan Air Terjun Putuk Truno. Di tempat itulah cinta mereka kembali bersatu dan bersemi kembali hingga kekal abadi. Maka dari itu air terjun tersebut juga disebut dengan Air Terjun Keabadian. Putuk dalam bahasa Jawa berarti perbukitan, sedangkan Truno merupakan sebutan untuk Joko Taruno itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Itulah sedikit kisah legenda tentang Air Terjun Putuk Truno yang terletak di kawasan Prigen, Pasuruan. Mitos atau legenda tentang air terjun ini, tentu saja menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan yang akan berkunjung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2tJTG-MeGWmp48bHx8wAcDMkkBbgMBqXCeX9JbEWUGC8LyKu2dwe4X_Q3WvQqffXghuRV4reW5PTVwr9s7o1P9UJTLhcUMwkMWwRBQRkNwzDKr8su0dmOU3yB8bTf65xnMcuuacYcE9A/s1600/air-terjun-putuk-truno-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2tJTG-MeGWmp48bHx8wAcDMkkBbgMBqXCeX9JbEWUGC8LyKu2dwe4X_Q3WvQqffXghuRV4reW5PTVwr9s7o1P9UJTLhcUMwkMWwRBQRkNwzDKr8su0dmOU3yB8bTf65xnMcuuacYcE9A/s640/air-terjun-putuk-truno-4.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Aksesnya pun cukup mudah, karena letaknya yang masih terhitung dekat dengan jalan raya. Serta berdekatan dengan Taman Safari Prigen yang cukup terkenal itu. Atau bisa menjadi alternatif sesudah berkunjung ke taman safari, singgah lah sejenak untuk menikmati pesona air terjun yang berada di kaki gunung Arjuno Welirang ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Air terjun setinggi kurang lebih 45 meter ini, memiliki mitos di kalangan masyarakat setempat. Sebagian orang meyakini bahwa barang siapa yang mandi atau berendam di bawah deburan air terjun tersebut, kisah cintanya dengan pasangannya akan abadi. Seperti kisah cinta antara Joko Taruno dan Sri Gading Lestari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjzSw6pDSrsx68CiZ9tEitAnwDZmid0T6sjV6fCRVKYmnhs41H6KBqfkzSt-yheZC7AVU6885sO1DFk6wFyE5UQIK8hlGa5guQpANRNr4GYIZih1YSrr-YKQrbrsYl4KK0SMvKMxr0nuo/s1600/air-terjun-putuk-truno-5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjzSw6pDSrsx68CiZ9tEitAnwDZmid0T6sjV6fCRVKYmnhs41H6KBqfkzSt-yheZC7AVU6885sO1DFk6wFyE5UQIK8hlGa5guQpANRNr4GYIZih1YSrr-YKQrbrsYl4KK0SMvKMxr0nuo/s640/air-terjun-putuk-truno-5.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kebanyakan gaya -__-&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berkunjunglah ketika hari masih pagi, sekitar jam 9-10 pagi. Karena sesekali posisi matahari yang pas, akan menyinari deburan air terjun, kemudian muncullah pelangi yang menambah keindahan air terjun Putuk Truno.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7DWbvItwPZo_Kf89bK2oNAUuIO6tmjDVRqv3oBNGFqOcxTLOXihU6T38btqhtEu0nfUUdA043LkJ9UFjvZZSA4bD6gCjWGYlJdiAdxvv1NnLypXGOZfdVs1_OttIaF6iMClajAS4eY90/s1600/air-terjun-putuk-truno-6.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Air Terjun Putuk Truno" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7DWbvItwPZo_Kf89bK2oNAUuIO6tmjDVRqv3oBNGFqOcxTLOXihU6T38btqhtEu0nfUUdA043LkJ9UFjvZZSA4bD6gCjWGYlJdiAdxvv1NnLypXGOZfdVs1_OttIaF6iMClajAS4eY90/s640/air-terjun-putuk-truno-6.jpg" title="Air Terjun Putuk Truno" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Lemes amat mas :(&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEmZp68GZ7FCqjU39UbnCETfaRlpTw8FjkdiYJJwI6M6YCSLpBZ6rnFB43cAviyI4Snf0L8gvrOvGPZejfBTFzIOnoewy7sy_EIrDbXxXnoEMX8Ve3el0Srfozo6nBlWqvf9-ZK5-XbpQ/s72-c/air-terjun-putuk-truno-1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">57</thr:total></item><item><title>[GUEST POST] Mari Berkawan, Bandung!</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/06/guest-post-mari-berkawan-bandung.html</link><category>Bandung</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Guest Post</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 7 Jun 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-6502795240539239634</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhyf7X8Yr6kAVkDNiFmz3o2EqNUGXWwMhoK4n3mZ3VFxZrTFCM0ZT4dxllCgEubg3FTz4cHgxk1hAS_1Ziur3F54edvdHZI35FOf_1_K57IBGclIS9-1etUp1AXI2jncb5BiyO1kf1gyY/s1600/IMG01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="900" data-original-width="900" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhyf7X8Yr6kAVkDNiFmz3o2EqNUGXWwMhoK4n3mZ3VFxZrTFCM0ZT4dxllCgEubg3FTz4cHgxk1hAS_1Ziur3F54edvdHZI35FOf_1_K57IBGclIS9-1etUp1AXI2jncb5BiyO1kf1gyY/s640/IMG01.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah beberapa tahun tinggal di Bandung, saya mulai menyukai setiap hal dari kota kembang ini. Mulai dari udaranya yang rasa-rasanya semakin panas saja, lalu lintasnya yang padat, ataupun hujan turun di sore hari yang menyisakan genangan di sisi jalan. Kota yang semula asing di benak saya, perlahan menjadi sosok bersahabat ketika pikiran terus merindu rumah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;September tahun ke empat, ketika musim hujan kembali datang terlambat. Tiba-tiba seorang kawan dari luar kota mengabarkan bahwa ingin sekali berkunjung ke Bandung. Lalu meminta saya untuk menemaninya jalan-jalan, sekedar menikmati ramahnya &lt;i&gt;Paris van Java&lt;/i&gt; ketika hari libur. Saya pun hanya mengiyakan, tanpa memberitahunya bahwa betapa juga sesaknya Bandung kala akhir pekan ataupun hari libur lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9TchGb9swwIXhTfzxsPW0qurzyz9YridnGqUGbCUCMgc03OM8SR3TQaxXphHqjFAvRxG8DvtPg7lBjbTRMy6lzeABuGCgYnHeI6TkbZ4ClZrzeWv92PIaY56t31K6yekdSCufNh4QZs/s1600/IMG02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgn9TchGb9swwIXhTfzxsPW0qurzyz9YridnGqUGbCUCMgc03OM8SR3TQaxXphHqjFAvRxG8DvtPg7lBjbTRMy6lzeABuGCgYnHeI6TkbZ4ClZrzeWv92PIaY56t31K6yekdSCufNh4QZs/s640/IMG02.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Minggu kedua di bulan September yang berangin, kawan saya akhirnya benar-benar datang memenuhi janjinya. Kami bertemu di tengah hiruk pikuknya Stasiun Bandung ketika hari beranjak siang. Langit nampaknya sedang berbaik hati pada saya. Meski sedikit mendung, namun tak ada tanda-tanda bahwa hujan akan turun dalam waktu dekat. Jadi setidaknya episode siang ini tak akan berakhir dengan berbasah-basahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langkah kaki kami arahkan menuju Pasar Baru karena memang jaraknya hanya selemparan batu dari stasiun. Tempat tersebut bukanlah hal asing bagi saya, karena memang cukup sering berkunjung. Entah itu untuk membeli sesuatu ataupun hanya sekedar berkeliling melihat-lihat, sembari mengusir jenuh menghabiskan hari libur. Dari situ pula saya menjadi seorang pengamat dan pembelajar, lalu sedikit bisa mengerti kosa kata yang diucapkan dalam bahasa sunda.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain Pasar Baru, saya juga telah berkawan cukup baik dengan beberapa sudut Bandung. Seperti misalnya Balai Kota dengan tamannya yang asri, sekedar mengusir jenuh sambil membaca atau menikmati sekitar. Atau Braga yang seakan seperti lorong waktu, dengan bangunan-bangunan klasiknya, lukisan jalanan ataupun trotoar yang nyaman untuk berjalan kaki.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnFYjwBmxDR5_kRMfmXq7CvB8H-KYESeH5cYhHwxU1GDgJ5tBN_P0f2cq_qRVX93HgSy53rp8SRMN_1U5pstfnH6v83IbJeZbEblGPNQ0j1o2lOAnxE0yFz8NBO0R810b5eUgKYt_K2gQ/s1600/IMG03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="810" data-original-width="1080" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnFYjwBmxDR5_kRMfmXq7CvB8H-KYESeH5cYhHwxU1GDgJ5tBN_P0f2cq_qRVX93HgSy53rp8SRMN_1U5pstfnH6v83IbJeZbEblGPNQ0j1o2lOAnxE0yFz8NBO0R810b5eUgKYt_K2gQ/s640/IMG03.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami melangkah pelan, seperti sedang menghitung langkah. Melewati tempat-tempat tersebut sekaligus mengenalkan Bandung kepada kawan saya itu. Meski harus diselingi dengan obrolan yang sedikit kaku. Maklum, kami memang sudah cukup lama tidak bersua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menjadi seorang perantauan ternyata tidak seburuk yang saya duga sebelumnya. Meski harus menerima kenyataan bahwa jauh dari rumah itu memang tidak pernah mudah. Namun saya mencoba berdamai, lalu mencoba mengenal Bandung sebagai seorang kawan yang datang secara tidak terduga. Karena bagaimana pun, disinilah saya akan menghabiskan beberapa tahun dari umur saya yang sudah dewasa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa terasa, langkah kaki telah mengayun sampai ke sekitaran Alun-Alun kota Bandung. Terus saja kami berjalan, menuju kawasan Asia Afrika.&amp;nbsp; Yap, Museum Konferensi Asia Afrika, sudah didepan mata. Dan kebetulan masih buka, sehingga kami pun tertarik untuk masuk. Tak perlu merogoh kocek, cukup mengisi nama, pesan kesan, serta tanda tangan saja dibuku daftar pengunjung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTRQZKtxSfDLLZbM4nFG6k3QWFTGoJYidzGDl4RRrzBph_HLAA4MGhFTGwtHnvQCQXLaTmheCrTZ8Hg4FE0AoQWy0vQDK3GV_8F4O3BqjifNu-7GApDOPLsL2yzY6CmNhqlkxiT7YwWeU/s1600/IMG04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1080" data-original-width="810" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTRQZKtxSfDLLZbM4nFG6k3QWFTGoJYidzGDl4RRrzBph_HLAA4MGhFTGwtHnvQCQXLaTmheCrTZ8Hg4FE0AoQWy0vQDK3GV_8F4O3BqjifNu-7GApDOPLsL2yzY6CmNhqlkxiT7YwWeU/s400/IMG04.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha1yKreZSNuEzFgPj7Q5bZC1xRrBa-Agzt1B7dvACgmV8k1GjtIa4AT1iqn1L_lEK_4MPS3ii9gLyDuf4q97qPzE864SWRXdTV45AkaZX1t3Y-S7asfIl14SKSWGh-q352FVvWdEeBTYw/s1600/IMG05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEha1yKreZSNuEzFgPj7Q5bZC1xRrBa-Agzt1B7dvACgmV8k1GjtIa4AT1iqn1L_lEK_4MPS3ii9gLyDuf4q97qPzE864SWRXdTV45AkaZX1t3Y-S7asfIl14SKSWGh-q352FVvWdEeBTYw/s400/IMG05.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Seperti yang telah diketahui, Bandung adalah kota pertama diadakanya Konferensi Asia Afrika pada tanggal 19 April 1955. Konferensi yang dihadiri oleh 29 negara ini bertujuan untuk menciptakan perdamaian serta ketentraman hidup bangsa-bangsa di kawasan Asia Afrika. Hasil dari konferensi itu sendiri tertuang dalam Dasasila Bandung. Dasasila Bandung berisi tentang, pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerjasama dunia, juga memasukan prinsip-prinsip dalam piagam PBB dan prinsip-prinsip Jawaharlal Nehru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Museum ini didirikan pada 24 April 1980. Selain sebagai memorabilia KAA, museum ini sangat erat kaitanya dengan Gedung Merdeka. Gedung tersebut memiliki dua bangunan utama. Yang pertama, Gedung Merdeka sebagai tempat sidang utama dan yang kedua, yang berada disamping Gedung Merdeka adalah Museum KAA, tempat kami berada sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqi-8AJEBmFwZnOdX_zd5K-_bR88ik4yQyAvOlPS7auvqstNil-kxpV-Pjq_i9jpBaI0jcZ36-E7q_2bj8xrgR_ispNiMDU4CgQIlBQ5Mz7A_y_ul_bMHEcNPF-Uxri4BoxvQIfqMPFoQ/s1600/IMG06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="640" data-original-width="480" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqi-8AJEBmFwZnOdX_zd5K-_bR88ik4yQyAvOlPS7auvqstNil-kxpV-Pjq_i9jpBaI0jcZ36-E7q_2bj8xrgR_ispNiMDU4CgQIlBQ5Mz7A_y_ul_bMHEcNPF-Uxri4BoxvQIfqMPFoQ/s640/IMG06.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Didalam museum, kita dapat menikmati sejumlah koleksi berupa benda-benda tiga dimensi serta foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor dan Konferensi Asia Afrika tahun 1955. Tak hanya itu, kita pun dapat melihat foto-foto mengenai peristiwa yang melatar belakangi lahirnya KAA, dampak dari KAA bagi dunia internasional serta Gedung Merdeka masa ke masa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Profil dari negara-negara peserta yang berpartisipasi dalam KAA juga dimuat dalam multimedia. Terdapat Diorama pembukaan KAA 1955 yang menggambarkan situasi pembukaan konferensi itu sendiri. Selain itu dilengkapi pula sebuah perpustakaan yang memiliki sejumlah buku mengenai sejarah, sosial, politik dan budaya, yang berasal dari sumbangan dan pembelian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM093U3wt9h3GUI_0t2XdmuRCbCdwC-5e9_Ue9dd74bkNBiNY28VG9rK3-kWt0RpYBybnTjdv3ya4zYob026sgTgHkaPQNeJIrw-Q4Kmn8q24bx0Cv_Os2VlVXn3eqFEac3ingNWS1E7A/s1600/IMG07.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="898" data-original-width="898" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgM093U3wt9h3GUI_0t2XdmuRCbCdwC-5e9_Ue9dd74bkNBiNY28VG9rK3-kWt0RpYBybnTjdv3ya4zYob026sgTgHkaPQNeJIrw-Q4Kmn8q24bx0Cv_Os2VlVXn3eqFEac3ingNWS1E7A/s400/IMG07.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya cukup antusias menikmati peninggalan peristiwa bersejarah yang dulu saya pelajari di bangku sekolah tersebut. Namun tanpa terasa sudah beberapa waktu terlewati. Meski belum puas, kami harus meninggalkan Museum, karena sudah waktunya Museum ditutup.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Langit Bandung yang mulai meredup, seakan menandakan bahwa saya juga harus mengakhiri perjalanan pada hari ini. Sama halnya dengan kawan saya, yang tanpa terasa sudah seharian ini menghabiskan waktu bersama. Kini, waktunya dia juga harus segera pulang, supaya tidak kemalaman dan takut kehabisan bis untuk menuju kotanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7rSWc35jf0C0Cw4yZK2BQzqzM83_8YI9BhQmjajZt1JqZtUYTbveDUuZ7ibEW_LQUrdtPZq5sNc5Bz1MOpFhn37ZKwf8Qn59XfKIinGnIPn02ahrrFLgmO3tM8uVRiBnrg4uolexmSgI/s1600/IMG08.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="480" data-original-width="640" height="300" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7rSWc35jf0C0Cw4yZK2BQzqzM83_8YI9BhQmjajZt1JqZtUYTbveDUuZ7ibEW_LQUrdtPZq5sNc5Bz1MOpFhn37ZKwf8Qn59XfKIinGnIPn02ahrrFLgmO3tM8uVRiBnrg4uolexmSgI/s400/IMG08.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Angkot berwarna biru membawa saya pulang, menembus lalu lintas Bandung yang lumayan padat ketika malam segera menjelang. Diiringi dengan obrolan dua penumpang lain di samping saya dalam bahasa sunda. Saya hanya bisa tersenyum simpul ketika mendengar apa yang dibicarakan oleh sepasang remaja tersebut. Rupanya, mereka sedang kasmaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Bandung, mari berkawan!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Teks: &lt;a href="https://www.facebook.com/rinnabudhi.artie"&gt;Rina Budiarti&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Foto: &lt;a href="https://www.facebook.com/rinnabudhi.artie"&gt;Rina Budiarti&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhyf7X8Yr6kAVkDNiFmz3o2EqNUGXWwMhoK4n3mZ3VFxZrTFCM0ZT4dxllCgEubg3FTz4cHgxk1hAS_1Ziur3F54edvdHZI35FOf_1_K57IBGclIS9-1etUp1AXI2jncb5BiyO1kf1gyY/s72-c/IMG01.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">46</thr:total></item><item><title>Semarang dari Kampung ke Kampung</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/05/semarang-dari-kampung-ke-kampung.html</link><category>Dunia Sekitar</category><category>Heritage</category><category>Sejarah</category><category>Semarang</category><category>Walking Tour</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 22 May 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-3372420926613669430</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO-o-5X9mJSW7O8My9X1V1FQ8FZZg3cxkht2O-vvesVWitAHyDNty6KA9l0lJRBxDFSTFbg6Y4Yaw4Fx8lxEkRyR8eTo_xb8HwyEy4RZfMGhJaacpGSWRVy8hETdEvs5MCvYvB6TTNZKg/s1600/kampung-kota-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Semarang dari Kampung ke Kampung" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO-o-5X9mJSW7O8My9X1V1FQ8FZZg3cxkht2O-vvesVWitAHyDNty6KA9l0lJRBxDFSTFbg6Y4Yaw4Fx8lxEkRyR8eTo_xb8HwyEy4RZfMGhJaacpGSWRVy8hETdEvs5MCvYvB6TTNZKg/s640/kampung-kota-1.JPG" title="Semarang dari Kampung ke Kampung" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Semarang kini berkembang semakin modern dan tentunya semakin menarik banyak peminat untuk datang ke kota ini. Hal tersebut dikarenakan berbagai faktor. Selain perannya sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan Jawa Tengah, Semarang juga didukung dengan wilayahnya yang strategis sebagai kota pelabuhan yang mengalirkan arus perdagangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baca juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/04/jejak-oei-tiong-ham-raja-gula-semarang.html"&gt;Menyusuri Jejak Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Perekonomian pun tumbuh seiring dengan arus perdagangan yang terus bertambah. Berbagai gedung bertingkat terus dibangun di setiap sudut &amp;nbsp;Kota Lunpia ini, demi mendukung kegiatan perekonomian. Entah itu perkantoran, pertokoan, hotel maupun pusat-pusat perbelanjaan semakin menjamur pada dewasa ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun pernahkah anda perhatikan, di sela-sela gedung-gedung tersebut hampir selalu terdapat gapura atau gang kecil yang seakan terjepit di antara hutan beton? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan kembali untuk mengikuti &lt;i&gt;walking tour&lt;/i&gt; yang diadakan oleh &lt;b&gt;Bersukaria&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Walking tour&lt;/i&gt; kali ini bertajuk Kampung Kota, diawali dari salah satu sudut di Jalan Pemuda yang dulunya bernama &lt;i&gt;Bodjongweg&lt;/i&gt;. Kami tetap bersemangat mengikuti &lt;i&gt;walking tour&lt;/i&gt; pagi itu, meski hanya terkumpul lima orang peserta. Termasuk di antaranya seorang WN Jepang yang telah lama menetap di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6b_fwoZtiE93Du_w538PQGOMRZylU8BHNxFN4yQOw_J2BUHGKkhVmZppSCXUreq8llfUAGByxXNtrDwQO_a1Ah6vPFkqk9TobIFk9u_dfOFiRP6CvXU3YMYUP-KRoTwea3QwJ_3nh5rI/s1600/kampung-kota-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Masjid Sekayu" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6b_fwoZtiE93Du_w538PQGOMRZylU8BHNxFN4yQOw_J2BUHGKkhVmZppSCXUreq8llfUAGByxXNtrDwQO_a1Ah6vPFkqk9TobIFk9u_dfOFiRP6CvXU3YMYUP-KRoTwea3QwJ_3nh5rI/s640/kampung-kota-2.JPG" title="Masjid Sekayu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Masjid Sekayu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari depan Paragon Mall, kami memasuki jalan kecil yang tepat berada di samping salah satu mall terbesar di Semarang itu. Sambil tetap waspada terhadap kendaraan yang lewat, kami mulai mendengarkan penjelasan dari Mas Dimas, &lt;i&gt;guide&lt;/i&gt; kami pagi itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Jadi, kali ini kita akan memasuki Kampung Sekayu. Kampung ini merupakan salah satu kampung tertua di Kota Semarang. Mungkin ada yang pernah denger?” Jelas Mas Dimas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixB1p57s7HuqD1JAiQHDv9IKjvDia3dFFU3e5dv928EGpiGadfI-jHG2F7VumshKvisRRXANo0w365BxTzq-VJAl_5UuqHnABwqTjbM9L0JYeuhCgPG79rIXPY27bM7Skh8M7GiMZzGgU/s1600/kampung-kota-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Soko Guru Masjid Sekayu" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEixB1p57s7HuqD1JAiQHDv9IKjvDia3dFFU3e5dv928EGpiGadfI-jHG2F7VumshKvisRRXANo0w365BxTzq-VJAl_5UuqHnABwqTjbM9L0JYeuhCgPG79rIXPY27bM7Skh8M7GiMZzGgU/s640/kampung-kota-3.JPG" title="Soko Guru Masjid Sekayu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Soko guru yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pemberhentian pertama kami adalah sebuah masjid yang berada di tengah-tengah perkampungan yang padat. Sekilas memang tak ada yang istimewa dari masjid ini, seperti bangunan-bangunan masjid modern pada umumnya yang berlantaikan keramik. Namun siapa sangka masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Semarang, yang juga masih memiliki keterkaitan dengan pembangunan Masjid Agung Demak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Masjid At Taqwa atau sering disebut dengan Masjid Sekayu ini, konon dibangun tujuh tahun sebelum berdirinya Masjid Agung Demak,”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7TDygoKs5B4hyphenhyphen1UGumqgC1JBtIAtJUPjyTF6tFoe8grAfwEpi-YqhKlDZ0sRWxawIA0WuJagmlQqZhoSIy7S4OnP-3MvJ1CpYwMU0WUqOMXW7qbh5DF7q6OMIUwCshgF4eP8UG9cPsNg/s1600/kampung-kota-4.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Telepon Umum" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi7TDygoKs5B4hyphenhyphen1UGumqgC1JBtIAtJUPjyTF6tFoe8grAfwEpi-YqhKlDZ0sRWxawIA0WuJagmlQqZhoSIy7S4OnP-3MvJ1CpYwMU0WUqOMXW7qbh5DF7q6OMIUwCshgF4eP8UG9cPsNg/s640/kampung-kota-4.JPG" title="Telepon Umum" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Siapa yang mempunyai kenangan dengan benda ini?&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Meski sudah mengalami banyak perubahan karena direnovasi, di beberapa bagian bangunan masjid ini masih tetap dipertahankan keasliannya. Seperti 4 pilar utama atau soko guru yang merupakan ciri khas arsitektur Jawa. Kemudian atapnya berbentuk &amp;nbsp;limasan bertumpang, yang juga merupakan alkulturasi dari arsitektur Hindu-Islam. Berbeda dengan masjid-masjid di era modern sekarang yang cenderung mengarah ke gaya Timur Tengah, yaitu berbentuk kubah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Nama Sekayu sendiri dikarenakan&amp;nbsp; sekitar masjid ini dulunya adalah lokasi penimbunan kayu yang&amp;nbsp; juga dijadikan bahan baku pembangunan Masjid Agung Demak. Kayu tersebut didatangkan oleh seorang ulama asal Cirebon bernama Kyai Kamal yang juga pendiri Masjid Sekayu, dari hutan-hutan di sektitar Surakarta dan Ungaran melalui perjalanan darat. Dari Sekayu, kayu-kayu tersebut lantas dikirim ke Demak&amp;nbsp; melalui Kali Semarang yang berada tak jauh dari masjid.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB-wn08FAgzKhIvcaTqI6TFFMKFJnfzD2oapLLT_BkcUAUl4_hXtylTpujGjCEvt8LadB1bPpHKKRfAnsQUoXbbtBbIg4cxJb6RjvUUXhVr3KRvrYyaiuUY8MNgv892SyjRe7-2d1BGtM/s1600/kampung-kota-6.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Khas Sekayu" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjB-wn08FAgzKhIvcaTqI6TFFMKFJnfzD2oapLLT_BkcUAUl4_hXtylTpujGjCEvt8LadB1bPpHKKRfAnsQUoXbbtBbIg4cxJb6RjvUUXhVr3KRvrYyaiuUY8MNgv892SyjRe7-2d1BGtM/s640/kampung-kota-6.JPG" title="Rumah Khas Sekayu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Salah satu rumah tradisional di Sekayu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Seiring perkembangan waktu, di sekitar masjid berkembang menjadi pemukiman yang sekarang dinamakan Kampung Sekayu ini,” Lanjut Mas Dimas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun sejarah Sekayu tak berhenti sampai disitu saja. Sekayu tercatat pernah menjadi pusat pemerintahan (nDalem Kanjengan) dari Semarang yang pada masa itu masih berbentuk Kadipaten. Sebelum akhirnya pindah ke Kanjengan, depan alun-alun Masjid Besar Kauman. Pada masa itu pusat pemerintahan memang memungkinkan untuk berpindah-pindah, mengikuti tempat asal sang pemimpinnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEht2eBuDbp2e5wDh7cZwNRI0nK0XoZBNT0OKrUgzRhyphenhyphenQ7GMQjVAqYMz6_yxjBLrNb4GCIEKxMO90pbc2oOdxB4Q_RzQ2xMZzGFFMJEE1_XGFp2dvcauO4-LOM_dCKPHYhfQQf4ZLYejD3E/s1600/kampung-kota-8.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Khas Sekayu" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEht2eBuDbp2e5wDh7cZwNRI0nK0XoZBNT0OKrUgzRhyphenhyphenQ7GMQjVAqYMz6_yxjBLrNb4GCIEKxMO90pbc2oOdxB4Q_RzQ2xMZzGFFMJEE1_XGFp2dvcauO4-LOM_dCKPHYhfQQf4ZLYejD3E/s640/kampung-kota-8.JPG" title="Rumah Khas Sekayu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jendela di samping rumah.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Beranjak dari Masjid Sekayu, kami melanjutkan langkah. Menelusuri gang-gang sempit berkelok-kelok bagai labirin yang lebarnya hanya sekitar 1,5 hingga 2 meter. Itupun kami harus sesekali mengalah pada sepeda motor yang kebetulan melintas. Gang-gang tersebut bermuara pada jalan-jalan besar seperti Jalan Pemuda. Terjepit di antara bangunan beringkat semacam pertokoan atau perkantoran, membuatnya luput dari perhatian siapa pun yang lewat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baca juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/03/bersepeda-di-kota-lama-semarang.html"&gt;Romantisme Kota Lama dalam Hitam Putih&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya cukup takjub melihat keberadaan rumah-rumah tradisional Jawa yang masih tegak berdiri di Sekayu ini. Rumah-rumah beratap limas atau joglo masih banyak ditemui disini, meski jumlahnya sudah kalah dengan rumah modern. Ciri khas lain yang dapat dilihat adalah bahan dasar kayu sebagai dindingnya. Juga lubang angin berbentuk cakra di atas pintu yang sangat khas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menurut Mas Dimas, pembangunan mall Paragon pada tahun 2008 sendiri turut andil dalam berkurangnya jumlah rumah khas Sekayu tersebut. Tercatat satu wilayah Rukun Tetangga (RT) yang meliputi 20an rumah lenyap, karena tergusur untuk pembangunan mall tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg0tofRxupDDpeoFIlbxNvzUqOYOT74uNR1tGColQqZqDC8gFNZd84uWdegNjs8Ac48hG0os6dQS2VetP2nlPJ19D26l_li2nLH5oXcSvVFD9SdSJvurLP-x6G-tSeqgYJFG-CIsLeE5U/s1600/kampung-kota-5.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah NH Dini" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg0tofRxupDDpeoFIlbxNvzUqOYOT74uNR1tGColQqZqDC8gFNZd84uWdegNjs8Ac48hG0os6dQS2VetP2nlPJ19D26l_li2nLH5oXcSvVFD9SdSJvurLP-x6G-tSeqgYJFG-CIsLeE5U/s640/kampung-kota-5.JPG" title="Rumah NH Dini" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah yang dulunya dihuni NH Dini.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami sempat berhenti sejenak di depan pagar sebuah rumah yang dulunya pernah dihuni oleh NH Dini, novelis yang juga dikenal sebagai seorang feminis yang sangat vokal. Rumah dengan pekarangan yang cukup luas tersebut juga menjadi saksi bisu salah satu karyanya. Yang bisa saya ingat dari nama NH Dini hanya penggalan dari novel Pada Sebuah Kapal (1972) yang sering saya baca di buku pelajaran ketika SD dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Matahari yang semakin terik tak sedikitpun menyurutkan langkah kami. Dari Kampung Sekayu, kami beralih menuju daerah Pekunden. Dimana terdapat sebuah kompleks rumah susun yang merupakan rusun pertama yang ada di Semarang. Dibangun sekitar tahun 1980an, rusun ini seakan menjawab kebutuhan hunian yang semakin mendesak seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk Kota Semarang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-HxoXHIzCPZk-nQS_A1I-x5rUg551CmCR4kWdXLue78HS8vBl21LJ3Woqb0cXf9J37gQ_6-8I29cTzIxhTBCFn1IyesTfNXKiSFW7Gc0o2cQZxJ7iFBeMtwZSOl2x4hZqog0O-lXAekU/s1600/kampung-kota-11.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Susun Pekunden" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi-HxoXHIzCPZk-nQS_A1I-x5rUg551CmCR4kWdXLue78HS8vBl21LJ3Woqb0cXf9J37gQ_6-8I29cTzIxhTBCFn1IyesTfNXKiSFW7Gc0o2cQZxJ7iFBeMtwZSOl2x4hZqog0O-lXAekU/s640/kampung-kota-11.JPG" title="Rumah Susun Pekunden" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah susun Pekunden.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berada di tengah-tengah kawasan Segitiga Emas yang merupakan pusat ekonomi dan bisnis Kota Semarang, membuat Kampung Sekayu dan beberapa kampung lainnya bernilai inventasi yang cukup tinggi. Bisa dilihat dari harga tanah disini bisa mencapai 30an juta per meternya. Hal ini pula yang mengancam keberadaan kampung-kampung tradisional tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJu3CBBa9lbdn3NzYs0_-Uh3U_tZFQqGkgmg0GUz3RBrod-5PIgB73gvk60YoBx5Kqg9jWpyVpKVzJWq2Ts3x5deCvf9S_vo3HtUmvjFN_n6spk3iZzAg1sB9FZdte83nRnvUVnRmHcTk/s1600/kampung-kota-7.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Sekayu" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJu3CBBa9lbdn3NzYs0_-Uh3U_tZFQqGkgmg0GUz3RBrod-5PIgB73gvk60YoBx5Kqg9jWpyVpKVzJWq2Ts3x5deCvf9S_vo3HtUmvjFN_n6spk3iZzAg1sB9FZdte83nRnvUVnRmHcTk/s640/kampung-kota-7.JPG" title="Rumah Sekayu" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah dengan atap yang unik.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4FKEqDaV9hJcwkqX_IP9ztAPc5amSIVv0kBzsN0yOLpviUaqMBXKoHtvlQRtz8U8XTUomNiFAGjRh-q49vss4QQ1EGlw-QvIsUsg18Oopb2tojlYo2k6tiFiCxfX3rOqhzqUJ_lMqdHc/s1600/kampung-kota-9.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Sangkar Burung" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj4FKEqDaV9hJcwkqX_IP9ztAPc5amSIVv0kBzsN0yOLpviUaqMBXKoHtvlQRtz8U8XTUomNiFAGjRh-q49vss4QQ1EGlw-QvIsUsg18Oopb2tojlYo2k6tiFiCxfX3rOqhzqUJ_lMqdHc/s640/kampung-kota-9.JPG" title="Sangkar Burung" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sangkar burung di pinggir gang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ketika kekuatan modal berbicara, sejarah hanyalah titik kecil yang akan tergilas kepentingan yang mengatasnamakan investasi. Satu demi satu, kampung-kampung tersebut perlahan akan tergusur oleh pembangunan yang memang sulit untuk diajak berpihak pada sejarah. Kampung asli yang seharusnya menjadi tetenger atau penanda kota pun pada akhirnya hanya tinggal nama saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dari kawasan Pekunden, kami terus melanjutkan perjalanan. Melewati beberapa kampung lainnya, seperti Batan Miroto, lalu menyeberang Jalan MH Thamrin. Kemudian masuk daerah Seteran, hingga tembus ke Jalan Gajahmada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Kali Semarang" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_-19ra91O7-BdG0GpQmNBCno9MB5J7OkbHBUL9z5pNdsVKOooyDDe_hx6HZ6MPZpM5yhqUCv9i91rOWfDNoVafVtvpMs3JZLL9jXqwtF1za92HsDTXOeIU4Cxx0LswyKmEMw9TQwoMwg/s640/kampung-kota-10.JPG" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Kali Semarang" width="640" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kali Semarang, yang sejak dulu memiliki peranan penting dalam perkembangan Kota Semarang.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jalan Gajahmada ini pula merupakan salah satu kawasan dengan nilai potensi cukup tinggi di bidang properti, karena wilayahnya yang strategis. Beberapa kampung akhirnya juga tak luput terkena imbas perkembangan properti di wilayah ini. Sebut saja Kampung Jayenggaten yang kini sudah berdiri sebuah hotel yang menjulang tinggi. Lalu sebagian Kampung Petempen pun sudah beralih fungsi menjadi mall dan hotel mewah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Baca juga: &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/08/sepucuk-cinta-dari-sudut-gang.html"&gt;Sepucuk Cinta dari Sudut Gang Sosrokusuman&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kami diajak Mas Dimas berbelok masuk ke jalan kecil yang berada di tepi Kali Semarang, yang juga menjadi jalan masuk ke sebuah hotel dan mall mewah. Berjarak tak kurang dari 100 meter setelahnya, kami seakan memasuki dunia berbeda, dimana sebuah perkampungan dan segala hiruk pikuknya berada. Jalanan yang becek, ayam peliharaan yang berkeliaran kesana kemari, dan juga anak-anak kecil sibuk bermain di jalan yang juga menjadi halaman rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJH6tp7q99KbuRMdi46Qm7eoYEz93VHgFO4tEbyvjP-Ddi6J2bePdYscq10pOzSo-tSdYAl0fWVFFGv_hB7wos8DtkQxKlxY-22MjIplBv9L7YC0q5m_eQkVy7gXBfmd0bVIXTWYzSZy8/s1600/kampung-kota-12.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Rumah Jengki" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJH6tp7q99KbuRMdi46Qm7eoYEz93VHgFO4tEbyvjP-Ddi6J2bePdYscq10pOzSo-tSdYAl0fWVFFGv_hB7wos8DtkQxKlxY-22MjIplBv9L7YC0q5m_eQkVy7gXBfmd0bVIXTWYzSZy8/s640/kampung-kota-12.JPG" title="Rumah Jengki" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Rumah jengki.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;“Oke, kita hampir sampai di &lt;i&gt;highlight&lt;/i&gt; utama &lt;i&gt;walking tour&lt;/i&gt; kita pagi ini. Ada yang bisa menebak, yang mana?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ketika berbelok dari sebuah gang sempit, saya sedikit terkejut melihat sebuah bangunan yang ada di depan mata saya. Sebuah Landhuis yang berada di Kampung Kelengan ini, seakan menembus lorong waktu, yang masih selamat dari perkembangan zaman. Menurut penjelasan Mas Dimas, rumah yang tak berpenghuni tersebut dulunya milik seorang tuan tanah bernama Tuan Klein.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaKiveY44_s29R2iB8k4CI5bXq2bCiQ1Xss9FkqisAC8U3yIPl2P5RHDwDRxyNkOo-wfvyEau-lgz3-wLp9hXhP1uLqj9iE5_sf4WecKsckf8uu81ZqzSadK-CUWyGsQZse18g_itTyyo/s1600/kampung-kota-15.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Landhuis Tuan Klein" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiaKiveY44_s29R2iB8k4CI5bXq2bCiQ1Xss9FkqisAC8U3yIPl2P5RHDwDRxyNkOo-wfvyEau-lgz3-wLp9hXhP1uLqj9iE5_sf4WecKsckf8uu81ZqzSadK-CUWyGsQZse18g_itTyyo/s640/kampung-kota-15.JPG" title="Landhuis Tuan Klein" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Landhuis di Kelengan Besar.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg56abiCznkENUNMaScclx6crnIIo1sN-sR7W9_k3Voq0qumSiYFhaC3ilj__dguGb3BLn93bD90gaL7AdLKIjkmIV6Xk64w6OGltDHSU52d5xKfYnu8_CKjNP6ZGXaK36VqMu8Ii_f2Vc/s1600/kampung-kota-13.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kotak Surat Kelengan Besar" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg56abiCznkENUNMaScclx6crnIIo1sN-sR7W9_k3Voq0qumSiYFhaC3ilj__dguGb3BLn93bD90gaL7AdLKIjkmIV6Xk64w6OGltDHSU52d5xKfYnu8_CKjNP6ZGXaK36VqMu8Ii_f2Vc/s640/kampung-kota-13.JPG" title="Kotak Surat Kelengan Besar" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kotak surat.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebuah kolam kecil yang ada di depannya seolah menegaskan strata sosial dari keluarga yang menghuni rumah tersebut. Hal ini bisa dilihat dari luas tanah yang dulunya dimiliki Tuan Klein ini, meliputi hampir seluruh kawasan yang kini disebut dengan Kampung Kelengan ini, dan dibatasi oleh sebuah gapura di ujung gang yang bermuara di Jalan Depok. Nama Kelengan sendiri pun rupanya serapan dari nama Klein.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Membela keberadaan kampung-kampung tradisional seperti Sekayu, ibarat merenda romantisme masa lalu yang mengawang di ruang kosong, lalu dalam sekejap hilang tertiup angin. Sama halnya dengan tragisnya Jayenggaten yang hanya tinggal nama, atau Petempen yang hanya tersisa secuil. Toh kebanyakan orang akan tetap dibuat takjub melihat kegagahan Mall Paragon, betapa tingginya bangunan raksasa Hotel Gumaya, atau mewahnya MG Setos yang berada tak jauh dari situ.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwNZlwUCo6rrmjecb6s9ot2lVI7A-reQVwP8Z6ZUjk08pKXAvFO4RPY3oxI043DubfGZa-iNYLnXOTQqk_9Y73Nt4CeGEbaRCp8HaEAM0Da2sEpqcCtwSo7D8V18_Hdwf7bhjP3XRhV8Y/s1600/kampung-kota-14.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Gapura Kampung Kelengan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhwNZlwUCo6rrmjecb6s9ot2lVI7A-reQVwP8Z6ZUjk08pKXAvFO4RPY3oxI043DubfGZa-iNYLnXOTQqk_9Y73Nt4CeGEbaRCp8HaEAM0Da2sEpqcCtwSo7D8V18_Hdwf7bhjP3XRhV8Y/s640/kampung-kota-14.JPG" title="Gapura Kampung Kelengan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Gapura Kampung Kelengan di Jalan Depok.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCZiODRZKnCeorBlgl5Yt5pFsfJSQNgsrCDBsmVqH84qbfOkxhbI-rzG9egkIJTccYs8x1OYrouBiEyzQEEiu3YhyksojzjDXIQhjS3ey75an27Dd6zk3Eazm-hOAVVSKRzZyMwrgZlhc/s1600/kampung-kota-16.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Landhuis Tuan Klein" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCZiODRZKnCeorBlgl5Yt5pFsfJSQNgsrCDBsmVqH84qbfOkxhbI-rzG9egkIJTccYs8x1OYrouBiEyzQEEiu3YhyksojzjDXIQhjS3ey75an27Dd6zk3Eazm-hOAVVSKRzZyMwrgZlhc/s640/kampung-kota-16.JPG" title="Landhuis Tuan Klein" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mari Bersukaria!&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgO-o-5X9mJSW7O8My9X1V1FQ8FZZg3cxkht2O-vvesVWitAHyDNty6KA9l0lJRBxDFSTFbg6Y4Yaw4Fx8lxEkRyR8eTo_xb8HwyEy4RZfMGhJaacpGSWRVy8hETdEvs5MCvYvB6TTNZKg/s72-c/kampung-kota-1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">75</thr:total></item><item><title>Candi Belahan, Petirtaan Raja di Lereng Penanggungan</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/05/candi-petirtaan-belahan-sumber-tetek-pasuruan.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Candi</category><category>Heritage</category><category>Pasuruan</category><category>Sejarah</category><category>Situs</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 8 May 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-1042776847316397515</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Air adalah peyangga hidup utama bagi makhluk hidup. Bagi manusia sendiri, air memiliki gerak kehidupan. Bumi ini menyediakan air melalui sumber mata air yang kemudian mengalir membentuk sungai-sungai bagai urat nadi manusia. Di sepanjang aliran sungai itulah terjadi gerak kehidupan, gerak peradaban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXQw3NTK6-VnHr0nRlTAMfCPZrbSZTNYBb7nJ1sTyMxZdqjxn10MqwP0u1f-WSgK-YRu7Gdz4lB0CHPvKr60mh7dJOrbw8TixS8zirRzqLIx8Ibuoncbpg1MHS-HO7hfiprxPkJe45isA/s1600/candi-belahan-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Candi Belahan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXQw3NTK6-VnHr0nRlTAMfCPZrbSZTNYBb7nJ1sTyMxZdqjxn10MqwP0u1f-WSgK-YRu7Gdz4lB0CHPvKr60mh7dJOrbw8TixS8zirRzqLIx8Ibuoncbpg1MHS-HO7hfiprxPkJe45isA/s640/candi-belahan-1.JPG" title="Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Candi di balik pagar.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Peradaban besar di berbagai belahan bumi dibangun di tepian aliran sungai-sungai besar. Demikian pula di nusantara ini, sungai dan sumber air telah mewariskan peradaban yang panjang. Warisan peradaban masa lampau berupa situs dan benda bersejarah yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pemaknaan air membuktikan hal ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suara gemericik air dari balik pagar seakan mengundang siapapun untuk mendekat. Plang putih yang berukuran cukup besar bertuliskan Candi Belahan berada tepat di atas pagar, membuat siapapun yang melintas di jalan tersebut bisa membacanya. Plang tersebut pula yang akhirnya bisa meyakinkan saya, bahwa kami telah sampai di tempat yang benar meski sebelumnya sempat tersesat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdyfe6iLzUUKZQlSceUxYSDoD7SvccJ2tZXbj8URQ1RM_VUl5mrend9qIQ8ho0g9Bw95gFjWvrjB9-GYix-_TrvGeB57ojCcOwr1slNwRh4wokSDBt6wngrCWVesuAi4yj6EMtYXyif_g/s1600/candi-belahan-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Candi Belahan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdyfe6iLzUUKZQlSceUxYSDoD7SvccJ2tZXbj8URQ1RM_VUl5mrend9qIQ8ho0g9Bw95gFjWvrjB9-GYix-_TrvGeB57ojCcOwr1slNwRh4wokSDBt6wngrCWVesuAi4yj6EMtYXyif_g/s640/candi-belahan-2.JPG" title="Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Silakan mengisi buku tamu dan rupiah seikhlasnya.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan, saya dan seorang kawan melangkahkan kaki masuk ke area candi. Namun tepat di sebelah pintu gerbang, sebuah bilik kecil yang tak berpenghuni menahan langkah kami. Sekedar mengisi buku tamu dan memasukkan beberapa lembar rupiah lusuh ke dalam sebuah kotak sederhana dari kardus bekas yang disediakan. Meski tak ada tanda-tanda kehidupan, irama lagu campursarinan mengalun dari sebuah radio tua yang berada di dalam bilik tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suara gemericik air yang kami dengar dari luar pagar tadi, ternyata berasal dari pancuran air yang jatuh ke dalam kolam persegi empat berukuran sekitar 5x5 meter. Kolam? Bukankah tadi plangnya tertulis candi? Memang benar. Meski bernama candi bukan berarti anda akan menemukan sebuah struktur bangunan candi pada umumnya disini. Entah itu terbuat dari batuan andesit, ataupun dari batu bata merah yang banyak ditemukan pada &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2017/03/candi-pari-dan-sumur-di-sidoarjo.html"&gt;candi-candi di daerah Jawa Timur&lt;/a&gt;, khususnya yang berada di &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2016/03/hanya-sebentar-di-trowulan.html"&gt;Trowulan&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-_xHxCABx3VuJlWQxtU8VxAFcsX4QpabD3T7n0KCMzUZmoLIUQl15nMu_MYKGj7N8iB9TJ8WIqhIYhyttEBuR6YOoQPaXwy-ujngNFCL5XnmB_P_Sfeg6HG2or566Ny5Ka_HUXpxlHBE/s1600/candi-belahan-4.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-_xHxCABx3VuJlWQxtU8VxAFcsX4QpabD3T7n0KCMzUZmoLIUQl15nMu_MYKGj7N8iB9TJ8WIqhIYhyttEBuR6YOoQPaXwy-ujngNFCL5XnmB_P_Sfeg6HG2or566Ny5Ka_HUXpxlHBE/s640/candi-belahan-4.JPG" title="Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Candi Belahan atau lebih dikenal dengan nama Petirtaan Sumber Tetek, terletak di sisi timur lereng gunung Penanggungan. Tepatnya di Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosonyo, Gempol, Pasuruan. Adalah sebuah pemandian atau petirtaan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang diperkirakan dibangun pada abad ke 11. Dari beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa petirtaan ini selain merupakan tempat untuk bertapa sang raja, juga difungsikan sebagai pemandian para selir Airlangga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRxEawG8Skg-48k8QW2atsDZ2uc5LegErOgV6H0wBjFNq5sOT9Vxr8RCw1bOVyYphmWhTyc4q3M4iv1uudj6x8lOTIs1zJ95QWQoFPnpHfliJuvWbPwgfy7yKUxVPQANraDObNu4Tj8S8/s1600/candi-belahan-6.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Arca Dewi Laksmi" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRxEawG8Skg-48k8QW2atsDZ2uc5LegErOgV6H0wBjFNq5sOT9Vxr8RCw1bOVyYphmWhTyc4q3M4iv1uudj6x8lOTIs1zJ95QWQoFPnpHfliJuvWbPwgfy7yKUxVPQANraDObNu4Tj8S8/s640/candi-belahan-6.JPG" title="Arca Dewi Laksmi" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Arca Dewi Laksmi yang mengucurkan air.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Angin berhembus pelan di sela-sela pepohonan yang menaungi pelataran candi siang itu. Menambah teduhnya hari setelah menembus padat dan panasnya jalan raya Surabaya-Malang. Untuk menuju candi Belahan ini, mudah saja sebenarnya. Jika memasuki kawasan yang bernama Apollo dari arah Surabaya, pelankan laju kendaraan anda. Lalu carilah rambu penunjuk jalan di dekat pom bensin. Jalan masuk menuju Candi Belahan ada di sisi pom bensin tersebut. Tinggal ikuti jalan tadi, atau kalau kurang yakin bertanyalah pada warga setempat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Irama lagu dangdut mengalun dari sebuah warung yang terletak di salah satu sudut area candi Belahan. Diiringi oleh gelak tawa beberapa orang yang membahana di udara. Sementara itu di kolam, keceriaan anak-anak yang asyik bermain air menambah semarak suasana di sekitar petirtaan tersebut. Pengunjung pun datang silih berganti, kebanyakan memang membawa serta anak-anak mereka. Lengkap dengan kotak bekal makan siang dan baju ganti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYDMhulg47ylFVNX-RxByS9W5zgElBZEvw-0ufUHSc-7fhqOdtNTKwC3rtpCwGVYdx4m3PEIl6YMciOUimngbc7IOhRCeBZ5H0dBOMQ3Pde9BseGlR3NKXlE-mhXkZXVZx33q4FEgjRKg/s1600/candi-belahan-7.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Arca Dewi Laksmi" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYDMhulg47ylFVNX-RxByS9W5zgElBZEvw-0ufUHSc-7fhqOdtNTKwC3rtpCwGVYdx4m3PEIl6YMciOUimngbc7IOhRCeBZ5H0dBOMQ3Pde9BseGlR3NKXlE-mhXkZXVZx33q4FEgjRKg/s640/candi-belahan-7.JPG" title="Arca Dewi Laksmi" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Anak-anak yang bermain dengan riangnya.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Saya dan kawan saya hanya bisa duduk-duduk di pondokan atau gazebo kecil, itupun harus berdesak-desakan dengan pengunjung lainnya. Sebuah poster kusam dan sedikit robek menerangkan tentang penjelasan singkat tentang pemandian ini. Seperti lokasi, mitos dan sejarah singkat diulas disana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Keberadaan dua buah arca dari batuan andesit yang berdiri tegak di sisi kolam menarik perhatian saya. Menurut informasi yang tertera, keduanya adalah arca Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Masing-masing merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Nah yang agak unik disini adalah, dari payudara arca Dewi Laksmi mengucurkan air yang tertampung ke kolam yang sama. Oleh karena itu, masyarakat setempat juga mengenal petirtaan ini dengan sebutan candi Sumber Tetek (Tetek: Payudara, Jawa). Sayangnya tak ada informasi lebih lanjut apakah dulunya hal yang sama juga pernah terjadi pada arca lainnya atau tidak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifeVL4LnFLGeOcU7dy4-lbp5_0UwyvPlwrhm6HBj4bn27gceAaA2n5ELoYB1TF4d6Odz6VMmzfPU_IHFjRZQ5A9EXrwGlvKSULx3k1LPoDY1Yfr8OME6lhGKP9YK1kPPoHOQa15ryDQmg/s1600/candi-belahan-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Candi Belahan" border="0" height="422" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifeVL4LnFLGeOcU7dy4-lbp5_0UwyvPlwrhm6HBj4bn27gceAaA2n5ELoYB1TF4d6Odz6VMmzfPU_IHFjRZQ5A9EXrwGlvKSULx3k1LPoDY1Yfr8OME6lhGKP9YK1kPPoHOQa15ryDQmg/s640/candi-belahan-3.JPG" title="Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Kolam Candi atau Petirtaan Belahan.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Arca-arca tersebut menempel pada dinding yang tersusun dari batu bata. Sementara itu, pada sisi kirinya juga terdapat dinding batu bata, yang melekat pada lereng bukit. Pada dinding tersebut terdapat pipa-pipa yang mengalirkan air ke dalam kolam. Konon air disini tak pernah berhenti mengalir, meski musim kemarau sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berada di ketinggian 700 mdpl di sisi timur lereng gunung Penanggungan, membuat sumber air disini memang cukup melimpah. Mungkin hal inilah yang membuat Petirtaan Belahan ini sengaja dibangun di bawah kaki bukit yang terdapat sumber air. Warga desa sekitar juga turut memanfaatkan air yang mengalir dari pipa-pipa tersebut, untuk keperluan rumah tangga sehari-hari mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1QQ1qEn4HEyDqCqMALkZT3qIOfWfx-t9yzi2xY3ZCOeKtth9aSAf-KN8dzfcFPmeTREgB21OchQk-YY8lH70AzKM1IYzpS-5SdJHzF_iDNuuDoUFAY6L1cURnmVB1rPe1QSo1N23GzEU/s1600/candi-belahan-8.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Arca Dewi Sri" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1QQ1qEn4HEyDqCqMALkZT3qIOfWfx-t9yzi2xY3ZCOeKtth9aSAf-KN8dzfcFPmeTREgB21OchQk-YY8lH70AzKM1IYzpS-5SdJHzF_iDNuuDoUFAY6L1cURnmVB1rPe1QSo1N23GzEU/s640/candi-belahan-8.JPG" title="Arca Dewi Sri" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Arca Dewi Sri.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain anak-anak, beberapa pengunjung dewasa pun tak mau kalah untuk terjun ke kolam. Untuk sekedar cuci muka ataupun membasahi kaki-kaki mereka. Ada pula yang membawa serta botol-botol air mineral yang sudah kosong, untuk diisi dengan air dari pancuran langsung. Hal itu tak lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa air yang mengucur dari arca tersebut diyakini bisa membuat awet muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; mso-pagination: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dulunya di petirtaan Belahan ini sebenarnya juga terdapat arca Wisnu yang sedang menunggang garuda. Sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa arca tersebut sebagai perwujudan dari Raja Airlangga yang semasa hidupnya memang setia menganut Dewa Wisnu. Namun karena berbagai alasan, kini arca Wisnu tersebut disimpan di Museum Purbakala Trowulan, Mojokerto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="border-bottom: dotted windowtext 3.0pt; border: none; mso-element: para-border-div; padding: 0in 0in 0in 0in;"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: none; mso-border-bottom-alt: dotted windowtext 3.0pt; mso-layout-grid-align: none; mso-padding-alt: 0in 0in 0in 0in; mso-pagination: none; padding: 0in; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkY4rMrtItJmpFSOc_7VtKYLj8kS6i_QVYs8DWtp1WzlAQZdSdZ3G71RYsqeEuwuXQcSRum978HUP6C6L0SwezNB76n0OojtLpnaX8FHJSyL93eEZhm-wApr3VEUQwuWdfuoKbZjL3HlE/s1600/candi-belahan-5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Arca Candi Belahan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhkY4rMrtItJmpFSOc_7VtKYLj8kS6i_QVYs8DWtp1WzlAQZdSdZ3G71RYsqeEuwuXQcSRum978HUP6C6L0SwezNB76n0OojtLpnaX8FHJSyL93eEZhm-wApr3VEUQwuWdfuoKbZjL3HlE/s640/candi-belahan-5.jpg" title="Arca Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Sebongkar arca dan batu tegak atau Menhir.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di pelataran petirtaan ini, terdapat pula sebongkah arca yang nampak sudah pecah atau retak dengan ukiran relief yang cukup unik. Arca tersebut berdekatan dengan sebuah batu tegak atau menhir setinggi sekitar 80 centimeter. Sisa-sisa lidi hio terlihat menancap di dekat batu tegak tersebut. Situs purbakala peninggalan leluhur seperti ini memang biasanya tidak pernah luput dari para pencari berkah dengan melakukan ritual tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: none; mso-border-bottom-alt: dotted windowtext 3.0pt; mso-layout-grid-align: none; mso-padding-alt: 0in 0in 0in 0in; mso-pagination: none; padding: 0in; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="border: none; mso-border-bottom-alt: dotted windowtext 3.0pt; mso-layout-grid-align: none; mso-padding-alt: 0in 0in 0in 0in; mso-pagination: none; padding: 0in; text-align: justify; text-autospace: none; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span lang="EN"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Di berbagai daerah lain di Nusantara ini, sebenarnya banyak situ-situs purbakala yang serupa dengan Candi atau Petirtaan Belahan ini. Hal ini membuktikan bahwa sejak dari jaman leluhur kita dulu, air memiliki arti penting dalam sejarah peradaban manusia. Karena air adalah sumber kehidupan. Bukan cuma manusia, tetapi seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi. Jadi sudah sepatutnya kita sebagai warga bumi turut menjaga ketersediaan dan kelestarian sumber daya air.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCZOPzLBAAWkW-xWnETK8syMkrszOUGtlk4VQxZ3cAiWaREEKruXryAV-ck9jTnrtw1aM96nDuI2nFb4s7xF1j3g3rzsw0Gx5xq8SlbCYrFibYVtRPqdsosEd22iSosOEB911vlCTbcDw/s1600/candi-belahan-9.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Candi Belahan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCZOPzLBAAWkW-xWnETK8syMkrszOUGtlk4VQxZ3cAiWaREEKruXryAV-ck9jTnrtw1aM96nDuI2nFb4s7xF1j3g3rzsw0Gx5xq8SlbCYrFibYVtRPqdsosEd22iSosOEB911vlCTbcDw/s640/candi-belahan-9.JPG" title="Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mari bermain air.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNeCsieUupm61HqwMoksaNaEKG2XmrlvhQ6KvExshnauS-LKtXoEBZaedh_r_FJYJcH5IeEPljMXxHefr79fxCI7kULSFbqZVbLFNK98VL-VQl2sAT0SuB4GNbtkJcV_IShneqR24I0EM/s1600/candi-belahan-10.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Candi Belahan" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNeCsieUupm61HqwMoksaNaEKG2XmrlvhQ6KvExshnauS-LKtXoEBZaedh_r_FJYJcH5IeEPljMXxHefr79fxCI7kULSFbqZVbLFNK98VL-VQl2sAT0SuB4GNbtkJcV_IShneqR24I0EM/s640/candi-belahan-10.JPG" title="Candi Belahan" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Dilarang memakai sabun atau shampo.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXQw3NTK6-VnHr0nRlTAMfCPZrbSZTNYBb7nJ1sTyMxZdqjxn10MqwP0u1f-WSgK-YRu7Gdz4lB0CHPvKr60mh7dJOrbw8TixS8zirRzqLIx8Ibuoncbpg1MHS-HO7hfiprxPkJe45isA/s72-c/candi-belahan-1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">88</thr:total></item><item><title>Serunya Menginap ala Raja Jawa di Mesastila Hotel and Resort Magelang</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/04/serunya-menginap-ala-raja-jawa-di.html</link><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Hotel</category><category>Magelang</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Mon, 24 Apr 2017 16:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-3070507604112805698</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi stres akibat rutinitas sehari-hari yang menjemukan. Saat akhir pekan atau liburan panjang, tentu tidak ada salahnya jika Anda menjauhkan diri sejenak dari hiruk pikuk perkotaan untuk berlibur ke tempat yang lebih menenangkan. Di daerah &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/06/tentang-negeri-di-atas-awan.html"&gt;pegunungan&lt;/a&gt;, misalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jika Anda sedang merencanakan liburan ke Jawa Tengah, tepatnya di &lt;b&gt;Kota Magelang&lt;/b&gt;, ada satu penginapan yang sangat cocok untuk menyegarkan diri dan pikiran, yaitu &lt;b&gt;Mesastila Hotel and Resort&lt;/b&gt;. Dengan suasana hotel yang damai dan alam sekitarnya yang mengagumkan, dijamin segala kepenatan yang Anda rasakan perlahan-lahan akan hilang, berganti dengan perasaan tenang dan tenteram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penginapan Eksklusif dengan Pemandangan yang Memukau&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZf_8n4HUyXVBHe2ULGenmi36eGQaSQ0on57zpwDvCHVfBK4R7lBRjefhpVivndbcFO2nBzNWraiUGuOUZOP10jVV5uuXnFJQ2I2pO6w6IKYIlD3WzPifpyxENlCiwhSJaT23dphch7Q/s1600/image001.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Mesastila Hotel and Resort." border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZf_8n4HUyXVBHe2ULGenmi36eGQaSQ0on57zpwDvCHVfBK4R7lBRjefhpVivndbcFO2nBzNWraiUGuOUZOP10jVV5uuXnFJQ2I2pO6w6IKYIlD3WzPifpyxENlCiwhSJaT23dphch7Q/s640/image001.png" title="Mesastila Hotel and Resort." width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Mesastila Hotel and Resort.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;i&gt;Mesastila Hotel and Resort&lt;/i&gt; merupakan penginapan mewah yang berlokasi di Desa Losari, Grabag, Magelang. Dulunya, hotel bertaraf internasional ini bernama &lt;i&gt;Losari Spa Retreat Coffee &amp;amp; Plantation&lt;/i&gt;. Namun, setelah kepemilikannya berganti dari Gabriella Teggia ke PT Recapital Advisors pada tahun 2008, namanya berubah menjadi Mesastila Hotel &amp;amp; Resort.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tersembunyi di tengah area perkebunan kopi seluas 22 hektare, penginapan ini menghadirkan suasana menginap yang sangat istimewa. Dari lokasi hotel, Anda bisa memanjakan mata dengan deretan pegunungan yang ada di Jawa Tengah. Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah barat,&amp;nbsp;Ungaran di sebelah utara, Telomoyo di sebelah timur, serta Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah tenggara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;
&lt;/span&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain itu, area perkebunan kopi yang terhampar di sekitar hotel juga menciptakan kesan tersendiri yang membuat pikiran dan hati menjadi tenang. Sangat cocok bagi Anda yang ingin melarikan diri sejenak dari keriuhan dan hiruk pikuk perkotaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Konsep Klasik dan Tradisional Ala Tempat Peristirahatan Raja Jawa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFAJMFOQ3vzibbXlwcBgyn4M5wLJARSryYzt73mji-GhQ4fqZyYg8FjiFb1JaLGxFsG_axq5RIbwnBJtJJBtdbI72Y3yfD2XI3dI-kpxcwedQJeqvlYb-LQreosABnzXz81lKZRpoYWSA/s1600/image003.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Mesastila Hotel and Resort." border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFAJMFOQ3vzibbXlwcBgyn4M5wLJARSryYzt73mji-GhQ4fqZyYg8FjiFb1JaLGxFsG_axq5RIbwnBJtJJBtdbI72Y3yfD2XI3dI-kpxcwedQJeqvlYb-LQreosABnzXz81lKZRpoYWSA/s640/image003.png" title="Mesastila Hotel and Resort." width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i style="font-size: 12.8px;"&gt;Mesastila Hotel and Resort.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div&gt;
Saat memasuki lokasi Mesastila, Anda akan disuguhkan dengan nuansa kolonial dan tradisional Jawa yang begitu kental. Tiap-tiap kamarnya dihadirkan dalam konsep vila berbentuk rumah joglo yang didatangkan langsung dari tempat asalnya di Jepara.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-style: italic;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Dengan total vila sebanyak 23 unit, &lt;i&gt;Mesastila Hotel and Resort&lt;/i&gt; membagi vila-vila tersebut dalam beberapa pilihan kelas. Di antaranya ada &lt;i&gt;Plantation Villa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Arum Villa&lt;/i&gt; dengan satu kamar tidur, &lt;i&gt;Ambar Villa&lt;/i&gt; dengan dua kamar tidur, serta &lt;i&gt;The Bella Vista&lt;/i&gt;, vila berkapasitas hingga 10 orang yang dilengkapi dengan kolam renang pribadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-style: italic;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Di bagian dalam vila, Anda akan melihat kesan antik yang begitu terasa dari perabotan-perabotan kayu, aneka dekorasi ukiran, ornamen, hingga ubin tegel khas Jawa. Sementara, tempat pembaringannya sendiri dikonsep sedemikian rupa sehingga Anda akan merasakan sensasi seru layaknya menginap di tempat peristirahatan raja Jawa. Sungguh mewah!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Untuk menambah kenyamanan Anda selama bermalam, fasilitas hotel bintang 5 pun juga turut dihadirkan. Suasana masa lampau dan masa kini dipadukan secara sempurna di dalam setiap vilanya yang dilengkapi dengan TV kabel, pendingin ruangan, brankas pribadi, akses Wi-Fi, serta berbagai fasilitas unggulan lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Dengan segala kemewahan yang dihadirkan, tentu Anda harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk menginap di Mesastila. Harga yang ditawarkan untuk satu kamarnya sudah termasuk sarapan pagi, mulai dari Rp2.600.000,00 sampai Rp4.700.000,00 per malam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jika berminat, Anda bisa memesan kamar di &lt;i&gt;Mesastila Hotel and Resort&lt;/i&gt; dengan mengunjungi &lt;a href="https://www.traveloka.com/hotel/indonesia/mesastila-hotel--resort-71925" rel="nofollow"&gt;link berikut&lt;/a&gt;. Melalui situs &lt;i&gt;instant booking&lt;/i&gt;-nya, Traveloka memberi kemudahan bagi Anda untuk menemukan dan memesan kamar hotel yang Anda butuhkan. Jika ingin mendapatkan penawaran harga terbaik, Traveloka juga menawarkan berbagai promo dan diskon menarik setiap harinya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Mulai dari diskon hotel eksklusif tiap Jumat sampai Minggu, promo hotel untuk pengalaman menginap terbaik bersama keluarga tiap Senin sampai Minggu, hingga penawaran spesial untuk hotel-hotel mewah di Indonesia setiap hari Rabu dan Kamis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Berbagai Aktivitas Seru untuk Memanjakan Diri dan Menenangkan Pikiran&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhU05ttMCWdTbKNlmRzK-piNpojiCTA7iAPVivADcP1_dWvVKh4dOSAOq0nLV1IkwIlznxSxRgrUJWWLwxFrVl1kFZivzYhyphenhyphenk_DYMl2q3c3Ichdu9TXhBgAq4xRidTtFoKGU_T_98ag4Rk/s1600/image005.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Mesastila Hotel and Resort." border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhU05ttMCWdTbKNlmRzK-piNpojiCTA7iAPVivADcP1_dWvVKh4dOSAOq0nLV1IkwIlznxSxRgrUJWWLwxFrVl1kFZivzYhyphenhyphenk_DYMl2q3c3Ichdu9TXhBgAq4xRidTtFoKGU_T_98ag4Rk/s640/image005.png" title="Mesastila Hotel and Resort." width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i style="font-size: 12.8px;"&gt;Mesastila Hotel and Resort.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div&gt;
Sebagai &lt;i&gt;resort&lt;/i&gt; yang berkonsep &lt;i&gt;retreat&lt;/i&gt;, Mesastila menawarkan berbagai fasilitas menarik yang siap memanjakan Anda seutuhnya. Anda bisa berenang di kolam renang yang menghadap langsung ke lembah dan pegunungan, menikmati udara Kota Magelang yang sejuk dengan berkuda atau bersepeda, menyusuri jalur refleksiologi, memulihkan tenaga di Jungle Gym, atau sekadar minum teh di pelataran Mesastila.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tersedia juga spa berkonsep pemandian ala Turki yang diklaim menjadi satu-satunya di Asia selain di negeri asalnya, yaitu &lt;i&gt;Hammam Spa&lt;/i&gt;. Jika ingin melakukan aktivitas yang lebih menantang, Anda juga bisa mencoba &lt;i&gt;Mesastila Challenge &amp;amp; Ultra&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kegiatan tersebut merupakan kompetisi tahunan berupa lari lintas alam yang dimulai dari Ambarawa hingga Hotel Mesastila. Ada beberapa kategori yang ditawarkan sesuai jarak tempuh dan usia peserta. Rutenya melalui &lt;a href="http://ruangsore.blogspot.com/2015/10/menengok-masa-lalu-di-museum-kereta-api.html"&gt;Stasiun Ambarawa&lt;/a&gt;, lalu mengikuti jalur kereta api hingga menuju Bendono. Untuk kategori lain, ada juga rute yang lebih panjang dan melewati area pegunungan di dekat Hotel Mesastila.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Menjelajahi Perkebunan Kopi dalam Coffee Plantation Tour Mesastila&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEWrOSiBH64WSDDJP64U9PK6DFB4zqc3wchT5GTfMtRKJzaWggAw5ATVteUodNuW831VEvXqmZ3c26DTbBJ6eObaZtrCiKmkI238Q7Jx4gnGdSDEsUX4vR1eDeSwq9sXHQ1rdma59SvVw/s1600/image007.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Mesastila Hotel and Resort." border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEWrOSiBH64WSDDJP64U9PK6DFB4zqc3wchT5GTfMtRKJzaWggAw5ATVteUodNuW831VEvXqmZ3c26DTbBJ6eObaZtrCiKmkI238Q7Jx4gnGdSDEsUX4vR1eDeSwq9sXHQ1rdma59SvVw/s640/image007.png" title="Mesastila Hotel and Resort." width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i style="font-size: 12.8px;"&gt;Mesastila Hotel and Resort.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div&gt;
Berada di dalam area perkebunan kopi, Mesastila juga menyediakan paket &lt;i&gt;Coffee Plantation Tour&lt;/i&gt; yang menjadi andalan mereka. Melalui tur ini, Anda akan diajak menjelajahi area perkebunan kopi dan melihat jenis-jenis kopi yang ditanam di sana. Di antaranya ada Arabica, Robusta, Andong Sari atau Jawa, serta Excelsa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-style: italic;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Puas menyusuri area perkebunan, Anda akan diajak mengunjungi warung kopi untuk melihat langsung proses penggilingan biji kopi menggunakan alat tradisional. Tergoda dengan aroma harum kopi saat diproses? Tak perlu khawatir, Anda juga akan disuguhi secangkir kopi khas perkebunan Mesastila yang nikmat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Perjalanan &lt;i&gt;Coffee Plantation Tour&lt;/i&gt; mengelilingi kebun kopi seluas 11 hektare ini biasanya berlangsung selama 1,5 jam. Bagi para tamu yang menginap di Mesastila, tur ini tidak akan dikenakan biaya sama sekali. Sementara, bagi pengunjung dari luar yang tidak menginap, biaya tur ini sebesar Rp450.000,00 per orang, sudah termasuk makan siang dan oleh-oleh kopi asli yang dipanen dari Mesastila.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Demikianlah sedikit ulasan mengenai keunikan serta berbagai aktivitas seru yang bisa Anda lakukan di &lt;i&gt;Mesastila Hotel and Resort&lt;/i&gt;. Bagaimana? Tertarik untuk menginap di hotel eksklusif yang satu ini?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZf_8n4HUyXVBHe2ULGenmi36eGQaSQ0on57zpwDvCHVfBK4R7lBRjefhpVivndbcFO2nBzNWraiUGuOUZOP10jVV5uuXnFJQ2I2pO6w6IKYIlD3WzPifpyxENlCiwhSJaT23dphch7Q/s72-c/image001.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">57</thr:total></item><item><title>Grojogan Klenthing Kuning, Pesona Air Terjun di Balik Sebuah Legenda</title><link>http://ruangsore.blogspot.com/2017/04/legenda-grojogan-klenthing-kuning-sumowono.html</link><category>Air Terjun</category><category>Berjalan Lebih Jauh</category><category>Curug</category><category>Legenda</category><category>Semarang</category><category>Sumowono</category><category>Wisata Air</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 18 Apr 2017 05:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1951745390675649256.post-3059242209721841654</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLbp7YgjXHB5a7bP91Z2Xk8KiygdXG8fmwwHY1jDDKp6j0gRCH_ywO8gjvDKlqLg60ECfMinlQuooHSMK3k0OaMIuuxnp2cX7wp4NVo1E8Yqm3oQHo2j5N2f7bS1U1_NBO3kxk_etdD2k/s1600/klenting-kuning-1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLbp7YgjXHB5a7bP91Z2Xk8KiygdXG8fmwwHY1jDDKp6j0gRCH_ywO8gjvDKlqLg60ECfMinlQuooHSMK3k0OaMIuuxnp2cX7wp4NVo1E8Yqm3oQHo2j5N2f7bS1U1_NBO3kxk_etdD2k/s640/klenting-kuning-1.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ada berbagai macam alasan ketika seseorang memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat wisata yang sudah pernah didatangi sebelumnya. Entah kedua kalinya, ketiga dan seterusnya. Salah satunya adalah mungkin saja pada kunjungan sebelumnya terasa sangat berkesan, sehingga ingin mencoba mengunjunginya kembali di lain waktu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Namun pagi itu, tak ada alasan khusus ketika saya bersama seorang kawan berkunjung ke &lt;b&gt;Grojogan Klenthing Kuning&lt;/b&gt; untuk kedua kalinya. Tak terasa empat tahun sudah berlalu sejak pertama kali kami dan beberapa teman lainnya datang ke air terjun yang berada di &lt;b&gt;Desa Kemawi, Sumowono, Kabupaten Semarang&lt;/b&gt; ini, untuk sekedar menghabiskan hari libur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Suara dedaunan yang saling bergesekan ketika diterpa angin menemani langkah kami, ketika menyusuri jalan setapak yang membelah rimbunnya pepohonan dari area parkir kendaraan menuju air terjun. Hanya beberapa puluh meter setelahnya, suara deburan air sayup-sayup terdengar dari bawah jurang di kiri kami. Terlihat sebuah grojogan kecil yang letaknya agak tersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Namun bukan itu yang kami tuju.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgw0Az3j80S-uWh39Wc0QOWsCKImITCkPS9vWLD-eisNAGLUAQUxBBX8lIx0mZ7xvLVhZvclmgwbnI0d-687P1lgLiyzvXS5yvVwQRxtLVN0OGdCvUJd8eMojE61eGmkDXrH21VoHe8Ls/s1600/klenting-kuning-2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgw0Az3j80S-uWh39Wc0QOWsCKImITCkPS9vWLD-eisNAGLUAQUxBBX8lIx0mZ7xvLVhZvclmgwbnI0d-687P1lgLiyzvXS5yvVwQRxtLVN0OGdCvUJd8eMojE61eGmkDXrH21VoHe8Ls/s640/klenting-kuning-2.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalan masuk ke air terjun.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV3KCaxYlxpHepbygh4CJrIqUlHI7nVNO4L9ENmfC6bEs1leqU48bAsp6BCuDmqSo0v6484vchtNUwmMD-h5bpKtR44XWPFqWotUr7GxsEpM-QvSTuGHAeO6U5b9wjGuGqF-jKpGG4l-Y/s1600/klenting-kuning-3.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjV3KCaxYlxpHepbygh4CJrIqUlHI7nVNO4L9ENmfC6bEs1leqU48bAsp6BCuDmqSo0v6484vchtNUwmMD-h5bpKtR44XWPFqWotUr7GxsEpM-QvSTuGHAeO6U5b9wjGuGqF-jKpGG4l-Y/s640/klenting-kuning-3.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Selanjutnya akan terlihat pemandangan seperti ini.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tak lama berselang sebuah grojogan atau air terjun yang lebih besar daripada yang tadi, terlihat setelah langkah kami menyeberang sebuah jembatan kayu. Deburan air yang debitnya cukup deras seakan memecah keheningan di antara pepohonan di sekelilingnya. Dan inilah Grojogan atau air terjun yang dinamakan Klenthing Kuning.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Hanya terlihat beberapa orang pengunjung yang tiba sebelum kami, mungkin karena masih terlalu pagi untuk berkunjung ke sebuah air terjun. Ada yang sudah menceburkan diri ke dalam dinginnya air kolam yang memang sengaja dibuat di bawah grojogan untuk bermain air ataupun berenang. Sedangkan yang lainnya hanya sibuk berfoto dengan latar air terjun setinggi sekitar 5 meter ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzh8O8RC-2mRHdfmDuax58lI2WrI5ddJkOp9lwvzxEBfQ2xTZGPJG_ks6LLD0gb52iWrDup0nYunqVcqtVFRJC8AsOFITi0sc5latbynyH1cC_3z4sJi3qZO8xvN3I6UTbLbaeo8j8RY0/s1600/klenting-kuning-4.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzh8O8RC-2mRHdfmDuax58lI2WrI5ddJkOp9lwvzxEBfQ2xTZGPJG_ks6LLD0gb52iWrDup0nYunqVcqtVFRJC8AsOFITi0sc5latbynyH1cC_3z4sJi3qZO8xvN3I6UTbLbaeo8j8RY0/s640/klenting-kuning-4.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jalan setapak dimulai dari sini.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Penamaan air terjun Klenthing Kuning ini sendiri tak lepas dari legenda atau cerita rakyat yang berasal dari Jawa, yaitu &lt;b&gt;Ande-ande Lumut&lt;/b&gt;. Saya sedikit terkejut ketika seorang penjaga loket karcis yang kami temui di area parkir tadi, menuturkan hal ini kepada kami. Bahkan, saya sendiripun sudah tak ingat lagi jika cerita tentang Ande-ande Lumut ini berasal dari Jawa! Ah sungguh memalukan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
****&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Menurut legenda tersebut, konon di tempat inilah seorang putri bernama &lt;b&gt;Dewi Galuh Condro Kirono&lt;/b&gt; bertapa sebelum bertemu dengan &lt;b&gt;Ande-ande Lumut&lt;/b&gt;. Di air terjun ini sang putri kemudian mendapat wangsit dari sang penguasa gunung setempat untuk menyamar sebagai rakyat jelata dan mengganti namanya menjadi Klenthing Kuning. Selanjutnya Klenthing Kuning ditemukan dan diangkat sebagai anak bungsu oleh seorang janda yang sudah memiliki tiga orang putri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMSRZLSnORsMzevV2k3e7vTUJeuS7cHI9_1oqFSFGpU3o5FAm-F0VAtmJsSirQslpG8_SwOVGa2PWiiWzJdf9DoEovG0ccdwks3GjorEt7BZWuFotzLGV-oMN8SoqWfASEAD3s-79PozQ/s1600/klenting-kuning-5.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMSRZLSnORsMzevV2k3e7vTUJeuS7cHI9_1oqFSFGpU3o5FAm-F0VAtmJsSirQslpG8_SwOVGa2PWiiWzJdf9DoEovG0ccdwks3GjorEt7BZWuFotzLGV-oMN8SoqWfASEAD3s-79PozQ/s640/klenting-kuning-5.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jembatan kayu.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ceritapun berlanjut ketika seorang pemuda bernama Ande-ande lumut yang ketampanannya tersohor ke berbagai penjuru, mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang bisa dipinang sebagai istrinya. Kabar tersebut sampailah ke telinga seorang janda tadi yang mengangkat Klenthing Kuning sebagai anak bungsunya. Lalu mengutus keempat anaknya untuk mengikuti sayembara tersebut. Mereka masing-masing bernama &lt;b&gt;Klenthing Abang, Klenthing Ijo, Klenthing Biru, &lt;/b&gt;dan&lt;b&gt; Klenthing Kuning&lt;/b&gt; yang merupakan anak angkatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dalam perjalanannya, mereka berempat terhalang oleh sungai besar. Kemudian muncullah mahkluk bernama &lt;b&gt;Yuyu Kangkang&lt;/b&gt; di tengah kebingungan mereka bagaimana cara untuk menyeberang sungai tersebut. Yuyu Kangkang menawarkan bantuan untuk mengantarkan mereka ke seberang sungai dengan satu syarat, yaitu bersedia untuk dicium oleh Yuyu Kangkang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEichypEGXFiBjQkQGhoRGMhP5FuasVCotc1cFM2ZxDM5KEknxV6ecLrpdr2zyfdQQXHiV5uT8tseK-eY-XqHuk9rFKK_DwF_nKiE3D5T2lQTFpPRfMhu8CiA7AYUqnk8iohY6m19ERnjzQ/s1600/klenting-kuning-6.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEichypEGXFiBjQkQGhoRGMhP5FuasVCotc1cFM2ZxDM5KEknxV6ecLrpdr2zyfdQQXHiV5uT8tseK-eY-XqHuk9rFKK_DwF_nKiE3D5T2lQTFpPRfMhu8CiA7AYUqnk8iohY6m19ERnjzQ/s640/klenting-kuning-6.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="424" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenthing Kuning yang tak lagi kuning.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tanpa pikir panjang, mereka setuju dengan bujuk rayu Yuyu Kangkang tersebut, kecuali satu orang yaitu Klenthing Kuning. Yuyu Kangkang pun sebenarnya tidak mau menyeberangkan atau mencium Klenthing Kuning, karena tubuhnya yang berbau kurang sedap. Usut punya usut, sang ibu ternyata mendandaninya dengan kotoran hewan karena merasa takut ketiga anak kandungnya tersaingi oleh kecantikan Klenthing Kuning.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Alhasil terjadilah perkelahian antara mereka berdua, karena Yuyu Kangkang tetap menolak untuk menyeberangkan Klenthing Kuning. Merasa tak mampu menghadapi kehebatan Klenthing Kuning, Yuyu Kangkang pun memilih untuk melarikan diri dengan menyelam ke dalam sungai. Klenthing kuning tak tinggal diam begitu saja, lalu &amp;nbsp;mengeluarkan pusaka andalannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7ImTtDT2HkiM2NyXVcUnz42D3eHjoq0jXkTRj_26aHgw7eE7hoovglE3kJ4xfWOL7Y2lE8Noo87w9afVjEuVuOXyQccxwUPwQyw5IzwlHY_hEmRF2GGzLfCPEtxO8ThF5ZsKP2fV4sOI/s1600/klenting-kuning-7.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Biru" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg7ImTtDT2HkiM2NyXVcUnz42D3eHjoq0jXkTRj_26aHgw7eE7hoovglE3kJ4xfWOL7Y2lE8Noo87w9afVjEuVuOXyQccxwUPwQyw5IzwlHY_hEmRF2GGzLfCPEtxO8ThF5ZsKP2fV4sOI/s640/klenting-kuning-7.JPG" title="Grojogan Klenthing Biru" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenthing Biru.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pusakanya tersebut dipukulkan ke permukaan sungai, seketika itu juga air sungai meluap dan menjadi panas. Yuyu Kangkang yang tak kuat menahan panas, akhirnya menyerah dan bersedia mengantarkan Klenthing Kuning ke seberang sungai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGQ3v-OCmPlkFc9Y2oPIPgtQwwrOOoqZFnoKeRTwP1eu3_jplPYdHtw1Cb5oChGj68NCeCEyqZobTaRhd5ZvffH7ITuOB-qesOt_Ym4uAebE876bSICrXJebB_uXe1ODcCHuGSsSCiogE/s1600/klenting-kuning-8.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGQ3v-OCmPlkFc9Y2oPIPgtQwwrOOoqZFnoKeRTwP1eu3_jplPYdHtw1Cb5oChGj68NCeCEyqZobTaRhd5ZvffH7ITuOB-qesOt_Ym4uAebE876bSICrXJebB_uXe1ODcCHuGSsSCiogE/s640/klenting-kuning-8.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Grojogan kecil.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOOnwokOyaA8UKg7Bj2hjziNukJ3C1NnDXwgyFiqZ26L9b73TKhiuzg9fip3mKN8uWD6Jbj2-U_uw6ZWbdRhLo-xfmwwwlETVpaGIAcRitxhOZ2PCBO8UrO7m5JiOlEE7_wO05VP3UVGs/s1600/klenting-kuning-9.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Klenthing Ijo" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOOnwokOyaA8UKg7Bj2hjziNukJ3C1NnDXwgyFiqZ26L9b73TKhiuzg9fip3mKN8uWD6Jbj2-U_uw6ZWbdRhLo-xfmwwwlETVpaGIAcRitxhOZ2PCBO8UrO7m5JiOlEE7_wO05VP3UVGs/s640/klenting-kuning-9.JPG" title="Klenthing Ijo" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Klenthing Ijo, perlu perjuangan menembus semak belukar untuk kesini.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Singkat cerita, akhirnya Ande-ande Lumut memilih Klenthing Kuning untuk dipinang sebagai istrinya, meski penampilannya kurang menarik dan tubuhnya berbau kurang sedap. Sementara ketiga kakak angkat Klenthing Kuning, ditolaknya mentah-mentah karena mengetahui bahwa ketiganya sudah dijamah oleh Yuyu Kangkang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jati diri keduanya pun akhirnya terungkap. Ande-ande Lumut sebenarnya bernama asli &lt;b&gt;Pangeran Panji Asmara Bangun&lt;/b&gt;, seorang putra dari &lt;b&gt;Raja Kediri&lt;/b&gt; yang menyamar menjadi rakyat jelata dan mengembara karena perintah dari sang guru dalam usahanya mencari seorang istri. Sedangkan Klenthing Kuning juga merupakan seorang putri dari &lt;b&gt;Kerajaan Jenggala&lt;/b&gt; yang bernama asli &lt;b&gt;Dewi Galuh Condro Kirono&lt;/b&gt;. Yang menyamar sebagai rakyat jelata setelah bertapa di sebuah air terjun, yang kini dikenal masyarakat sebagai Grojogan Klenthing Kuning itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
****&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Dibanding empat tahun silam, Grojogan Klenthing Kuning sebagai lokasi wisata sudah banyak berbenah demi menyambut para wisatawan. Misal akses dari jalan raya yang sudah jauh lebih baik daripada pertama kali saya berkunjung ke air terjun ini. Beberapa pondokan sederhana bisa digunakan pengunjung untuk beristirahat. Serta penambahan area bermain anak, demi kenyamanan pengunjung yang membawa serta anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9NP0V3k-NtEePnZ9jhjfbUuIQ-P8WIgY_DadkSmM78NdB1aBkjwzVnULkycubLq7iKStgM3XwSjQYpSdgiHeD3BnN4J7EfJF_Ifjxk0Rr8E_SyjPAfQW_1bQPrcXyNEqWm0b7bW9wlE4/s1600/klenting-kuning-10.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9NP0V3k-NtEePnZ9jhjfbUuIQ-P8WIgY_DadkSmM78NdB1aBkjwzVnULkycubLq7iKStgM3XwSjQYpSdgiHeD3BnN4J7EfJF_Ifjxk0Rr8E_SyjPAfQW_1bQPrcXyNEqWm0b7bW9wlE4/s640/klenting-kuning-10.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Hutan pinus.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAgdhBqoY_hr2r11i9SCd6nqZBqvOBbCj6Xgqan9iVBBgsJ8nmvVRgzsO6YQKG_iukUlDAlSNkoTddTytpcyu-gIL2RHaj6F0njNhjTd3dLr-Wta41ZkXRGpX7Veft-J3X_N_bIZSf8os/s1600/klenting-kuning-11.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAgdhBqoY_hr2r11i9SCd6nqZBqvOBbCj6Xgqan9iVBBgsJ8nmvVRgzsO6YQKG_iukUlDAlSNkoTddTytpcyu-gIL2RHaj6F0njNhjTd3dLr-Wta41ZkXRGpX7Veft-J3X_N_bIZSf8os/s640/klenting-kuning-11.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pondokan sederhana.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Sebenarnya di area ini terdapat beberapa grojogan lainnya yang berukuran lebih kecil. Penamaannya pun masih menyesuaikan legenda Ande-ande Lumut tadi. Seperti misalnya Klenthing Biru, terletak tak jauh dari Klenthing Kuning yang merupakan air terjun utama dari lokasi wisata ini. Lalu ada Klenthing Hijau berada di bawah jurang tadi, tersembunyi di balik semak belukar. Karena letaknya yang agak sulit, sehingga masih luput dari perhatian pengunjung. Sedangkan Klenthing Abang sendiri, belum bisa dijangkau sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Selain dari legenda tadi, penamaan Klenthing Kuning juga tak lepas dari tebing air terjunnya yang berwarna kuning keemasan. Asumsi saya, warna kuning tersebut berasal dari endapan mineral-mineral yang terkandung di dalam air yang bersumber dari gunung Ungaran. Namun kondisi tersebut sudah jauh berbeda dengan empat tahun silam. Warna kuning dari tebing tersebut perlahan berganti dengan hijaunya lumut yang tumbuh subur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Berbagai jenis tanaman ditata sedemikian rupa di sekitar air terjun, hingga menyerupai sebuah taman yang asri. Apalagi pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang di atas bukit, menambah kesan alami dari lokasi wisata air terjun Klenthing Kuning ini. Beberapa lahan yang cukup lapang juga telah dibuka, yang bisa dimanfaatkan para pengunjung untuk berkemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKoezx6ioVsRQ_bdjJQ21gQ5sf0N0UNoik5rLRngAiTUyzO_jMdKuwjxbYNBlZWYR6FAunoFDHn-OnRyccnoc9w9BrMTZl5bVNx39z9wagiw_56nB8bIiRVurlkbf-eMYQQuVsVIR_g2I/s1600/klenting-kuning-12.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKoezx6ioVsRQ_bdjJQ21gQ5sf0N0UNoik5rLRngAiTUyzO_jMdKuwjxbYNBlZWYR6FAunoFDHn-OnRyccnoc9w9BrMTZl5bVNx39z9wagiw_56nB8bIiRVurlkbf-eMYQQuVsVIR_g2I/s640/klenting-kuning-12.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Area bermain anak.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQcYbaPs3dn3CiZh8a9irmOWhvpPTYlgLhfo3Q3I-trLxmtd95Ip2lmaYOny7WN3bGT9-MRM1jL11QGrjzKE6wASeKka5tjJQ25RCQvgc-yZexKTVvwzKdF83042b_z2l95OKvCVpAx58/s1600/klenting-kuning-13.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Grojogan Klenthing Kuning" border="0" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQcYbaPs3dn3CiZh8a9irmOWhvpPTYlgLhfo3Q3I-trLxmtd95Ip2lmaYOny7WN3bGT9-MRM1jL11QGrjzKE6wASeKka5tjJQ25RCQvgc-yZexKTVvwzKdF83042b_z2l95OKvCVpAx58/s640/klenting-kuning-13.JPG" title="Grojogan Klenthing Kuning" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Tanaman berwarna-warni.&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Legenda atau mitos dari suatu tempat wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun untuk datang mengunjunginya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia telah hidup dengan banyak cerita legenda yang dituturkan dari mulut ke mulut sejak dahulu. Cerita-cerita yang sarat akan makna filosofis mengenai kehidupan adat istiadat maupun keagamaan tersebut, telah menjadi ciri khas dari suatu daerah di Nusantara ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLbp7YgjXHB5a7bP91Z2Xk8KiygdXG8fmwwHY1jDDKp6j0gRCH_ywO8gjvDKlqLg60ECfMinlQuooHSMK3k0OaMIuuxnp2cX7wp4NVo1E8Yqm3oQHo2j5N2f7bS1U1_NBO3kxk_etdD2k/s72-c/klenting-kuning-1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">63</thr:total></item></channel></rss>