<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193</atom:id><lastBuildDate>Tue, 22 Oct 2024 21:34:09 +0000</lastBuildDate><category>Esai</category><category>Merekam</category><category>Opini</category><category>Bisnis</category><category>Cerbung</category><category>Potret</category><category>Desain</category><category>Surat</category><title>Rusdiyan Yazid</title><description>kawan yang sendirian, lawan yang kesepian</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>45</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>kawan yang sendirian, lawan yang kesepian</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-7032282730034107353</guid><pubDate>Sun, 25 Feb 2024 10:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2024-02-25T02:12:02.584-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Ternyata Ada Hal Yang Jauh Lebih Penting Sebelum Berpikir Tapi Sering Diabaikan </title><description>&lt;blockquote style="border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Sebelum Berfikir, Apalagi Bicara Dan Bertindak. Ternyata Ada
Satu Hal Yang Penting.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;Dan, ini baru saya renungkan setelah berusia 30 tahun lebih.
Apa itu?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Manusia itu seperti binatang yang memiliki insting, namun
faktanya seringkali saya mengabaikannya. Terutama saat bermasalah dengan
manusia lain, atau dengan diri sendiri. Hal ini lah yang seringkali membuat saya
melakukan kesalahan-kesalahan bahkan sebelum berfikir. Karena yang membedakan
manusia dengan makhluk lain di dunia ini adalah karunia akalnya. Bahkan untuk
menjadi manusia yang unggul bergantung pada bagaimana kemampuan kita mengelola
insting yang dekat dengan nafsu dan emosi. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Fatalnya, seringkali saya masih mengabaikan faktor insting
ini, menganggap bahwa semua insan mampu mendaya gunakan akalnya, tidak
terkecuali orang terdekat bahkan diri sendiri. Sehingga, banyak hal-hal yang
kacau bersumber pada ketidaktepatan mengurai asal muasal masalahnya. Banyak hal
saya pikir sumber masalahnya ada pada orang lain, namun ternyata saya keliru.
Manusia dengan insting tak bisa disalahkan karena itu adalah kodrat,
sunnatullah. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Manusia insting tentu tidak
bisa dianggap cacat logika, atau tidak masuk akal, dan sesat pikir lainnya
karena memang tidak menggunakan akalnya. Dan itu tentu saja manusiawi. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Saya ini termasuk orang yang barangkali jumawa atau sombong,
karena tidak pernah melihat insting sebagai asal muasal dari berbagai macam
peristiwa besar maupun kecil dalam sehari-hari. Padahal, barangkali hampir dari
kehidupan kita setiap hari didominasi atau disetir oleh insting, belum sampai
pada pendayagunaan akal. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Atau malah sebaliknya, saya terlalu disetir oleh insting
yang disebut Freud sebagai Id, sehingga hasrat merasa benarlah yang dominan,
sedangkan orang lain yang sama-sama menggunakan insting saya sebut salah. Dan
sialnya saya merasa berlogika benar, sedang yang lain berlogika salah. Padahal
ini adalah perihal insting (id), belum sampai pada penggunaan akal. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Bisa jadi malah keduanya saya lakukan. Saya menghilangkan
faktor insting karena disetir insting yang menjadikan saya membuat perangkap
untuk saya sendiri yaitu; belenggu logika palsu. Seolah-olah pandai berfikir
tapi ternyata masih bodoh. Yakin telah mendayagunakan akal ternyata hanyalah
hasrat semata.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Heu Heu heu .. Dari kesadaran kecil ini, saya kemudian
berkeinginan untuk kembali belajar tentang insting. Karena bagaimana saya bisa
mengelolanya kalau saya sendiri tidak mengenalnya, tidak memahaminya, bahkan
menganggapnya mudah atau sepele. Karena fitrah kita yang mendasar adalah
insting, dan akal sebagai pembeda. Maka sudah semestinya sebelum memperluas
akal, ada insting yang telah terbentang luas untuk kita kenali dan pahami. &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;Jadi hal yang mendasar sebelum akal pikiran adalah insting
kita. Kembali ke insting akan jauh membuat akal bekerja lebih mudah. Karena
kita tau pasti, akal kita sedang bekerja mengelola insting kita. Dan kita akan
mudah mengetahui bahwa orang lain sedang menggunakan akalnya atau tidak.
Sehingga kita mampu memahami atau memanusiakan manusia sebagaimana manusia. “Jadi
ini insting atau akal?” sepertinya akan jadi kalimat yang akan sering saya
gunakan. Heu&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;

</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2024/02/ternyata-ada-hal-yang-jauh-lebih.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-3290950214901163787</guid><pubDate>Wed, 15 Mar 2023 15:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2023-05-21T18:37:03.218-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Menikah Adalah Perihal Saling Menghargai</title><description>Menikah Adalah Perihal Saling Menghargai,&amp;nbsp;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah itu kemudian saling mendukung ..&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berat memang kalau salah satu merasa paling mendukung, karena otomatis hilang rasa menghargai pasangan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;••••&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini biarlah aku catat sebagai masa-masa pilu, di satu sisi aku merasa beruntung karena bisa melewati semuanya hingga titik ini. Namun, di satu sisi lain aku merasa berada di titik paling melelahkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entahlah, namun berpindah-pindah kota dengan pekerjaan yang kapan saja bisa hilang, tanpa relasi, tanpa kawan, membuatku harus lebih ekstra berfikir dan bersiasat. Sialnya, berarti harus memulai dari awal lagi terus menerus.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu hal yang sangat melelahkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu hal lain adalah perihal kepercayaan. Menaruh percaya pada kawan bahkan karib pun ternyata sangat menguras energi. Terlebih jika sudah berhubungan dengan uang. Satu bermasalah, menjadi masalah di kawan yang lain. Selesai sudah. Menyelesaikan akibat dari masalah ini juga seperti tak selesai-selesai. Capek!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cobaan lain, seperti HP rusak dan kehilangan semua kontak teman-temanmu. Perfect! Mampus kau dikoyak-koyak kesendirian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Begitulah hidup, barangkali jika bukan karena semestanya sang Maha Pencipta. Tidak mungkin aku bisa bertahan sejauh ini. Meskipun ya. Menjadi tidak bisa dipahami oleh orang lain. Menjadi orang yang asing dan sulit dimengerti oleh orang lain adalah satu konsekuensi yang menambah kelelahan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagaimana tidak? Kalau tidak mengalami sendiri apa yang aku alami, mana mungkin orang bisa paham dan mengerti? Sedangkan mereka memiliki semesta yang berbeda lintasannya dengan lintasan semesta yang ku miliki.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekali lagi, pelajarannya adalah cari orang yang pertama-tama bisa menghargaimu. Tak peduli seberapa berbeda dia. Seberapa lugu dia. Seberapa pandai dia. Tidak penting.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bahkan bisa mendukung pun tanpa bisa menghargai akan sangat melelahkan. Atau bisa berkomunikasi tapi tak bisa menghargai, tentu saja hanya membuatmu merasa sepi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi juga satu hal, jika tidak ada satu pun orang yang menghargaimu. Tetaplah menjadi seseorang yang menghargai orang-orang yang sudah baik kepadamu. Karena jujur saja, barangkali karena itulah aku bisa bertahan sejauh ini. Orang-orang baik yang sebisa mungkin aku hargai mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semoga semua lancar untukmu. Berkah, berkah, berkah. Selamet, selamet, selamet.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2023/03/menikah-adalah-perihal-saling-menghargai.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1716235395162869056</guid><pubDate>Wed, 30 Nov 2022 05:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-11-29T21:39:13.327-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Hidup Setelah 30 Tahun</title><description>&lt;p&gt;Manusia penuh kesalahan dan dosa, dan Manusia itu adalah Saya. Satu hal yang ingin saya sampaikan kepada siapa pun yang mengenal saya. Saya mau minta maaf dan mengucapkan terima kasih. Tulus dari lubuk hati saya yang terdalam.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlalu banyak yang saya simpan, sembunyikan, atau tutupi. Terutama keburukan-keburukan, kesalahan-kesalahan, khilaf-khilaf, dan dosa-dosa tentu saja. Jangan hanya karena dirimu tak tahu apa yang saya sembunyikan dari dirimu. Atau apa yang masih tertutup dari pengetahuanmu lantas dirimu tak mau menerima permintaan maafku, permintaan pengampunanku. Terima saja, maafkan dan ampuni saya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena setelah ini, mungkin akan ada lebih banyak keburukan-keburukan yang menyakitkan atau mengecewakan. Namun tentu saja semoga bukan yang saya sengaja. Karena saya juga manusia biasa, yang ingin bertobat. Kapok! Tak ingin menyimpan kebusukan diri sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hidup adalah perihal menciptakan karma, karma baik ataupun karma buruk. Kehidupan adalah perihal menerima karma, karma baik maupun karma buruk.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ku rapal doa-doa agar segala akibat pikiran-lakuku tak berdampak buruk bagi kehidupanku dan kehidupanmu. Karma buruk biarlah saya yang miliki selagi saya mampu, karma baik biarlah menjadi bagianmu. Karena karma baikmu, juga karma baik bagiku. Setidaknya, saya tak jadi sumber masalah bagimu.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usia setelah 30 tahun memang sedang cemas-cemasnya, semoga setelah tulisan ini rilis, hidup semakin lega dan melegakan. Tak punya banyak keinginan, hanya setiap hari dilimpahi kebahagiaan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kawan, atau siapapun dirimu. Disisa hidup ini, saya ingin engkau tahu bahwa jika engkau sudah lebih 30 tahun tapi masih banyak keinginan. Cobalah ingat-ingat kembali, barangkali engkau lupa pernah memiliki yang berharga namun engkau sia-siakan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ambisi boleh, punya tujuan tentu saja bagus. Namun, tidak menghargai apa yang berharga dalam hidupmu tentu saja hal yang sangat bodoh. Nasibmu, karirmu boleh bagus, namun ingat. Setelah usia 30 tahun tentu saja bukan hanya tentang dirimu sendiri. Bukan hanya tentang nasibmu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apalagi kalau sampai mengidentifikasi apa yang berharga dalam hidupmu saja tak bisa. Celaka!&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya semoga saya tak seperti itu. Pun dirimu juga.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2022/11/hidup-setelah-30-tahun.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-8010496669350707383</guid><pubDate>Tue, 01 Dec 2020 02:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-11-30T18:20:52.825-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Hidup sebelum 30 tahun</title><description>&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Menurunkan kualitas diri jika dilakukan pada waktu yang tepat, pada kondisi yang semestinya. Maka yang terjadi bukanlah kita sedang menurunkan mutu diri kita, namun justru kita sedang menaikkan sisi lain dari diri kita yang barangkali selama ini belum terasah. Yaitu; kemampuan memahami.&lt;/span&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Orang pintar tentu saja tak lantas jadi bodoh hanya karena mampu menjelaskan hal-hal rumit dengan bahasa yang sederhana pada mereka yang tak pintar. Orang yang ahli tentu saja tak lantas jadi amatir hanya karena ia mempersilahkan orang lain untuk mencoba hal-hal baru, atau bahkan ikut membantu mengerjakannya. Orang yang kuat tak lantas jadi lemah, hanya karena tak menunjukan kekuatannya pada yang lemah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Justru sebaliknya, orang pintar tersebut tak hanya pintar namun juga pandai dalam mengajar. Orang ahli tersebut akan mengasah keahliannya semakin tajam, atau bahkan memiliki keahlian baru. Orang yang kuat pun sama, akan memiliki kebijaksanaan yang lebih lembut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Kehidupan ini memang awalnya harus kita lawan, kemudian kita hadapi, setelah itu nikmati, dan sampailah kita pada fase mencintai kehidupan. Ini barangkali tak berlaku pada semua orang, mungkin hanya kita, orang-orang sepertiku. Yang setelah kita mampu pahami, maka kita akan semakin mengerti. Hidup selalu tentang situasi dan kondisi. Begitu cair dan luwes. Kepintaran dan kebodohan jika beku maka sama saja, keduanya mudah hancur. Maka dari itulah, kita mesti belajar. Belajarlah yang menyelamatkan dari kehancuran, tak pandang bodoh atau pintar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Sisi-sisi kemungkinan harus kita telusuri. Sudut-sudut keinginan harus kita alami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Bahkan buih-buih pemikiran mesti kita jelajahi. Kelak semua akan berguna, entah esok atau nanti. Semua akan melengkapi pribadimu, seperti gudang senjata yang isinya siap kau gunakan kapan saja sesuai kebutuhanmu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Sungguh tak lagi penting apakah kita harus sama, atau kita harus berhadap-hadapan saling berlawanan. Aku hanya ingin satu; ketenangan dalam menjalani hidupku sendiri. Dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Berbahagialah seluruh makhluk di bumi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2020/11/hidup-sebelum-30-tahun.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-3451431603274010380</guid><pubDate>Tue, 06 Oct 2020 02:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-12T20:06:27.559-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Mengendarai Hidup</title><description>&lt;p&gt;Untuk mengendarai hidup, kita mesti mengerti kapan harus ngerem kapan harus tancap gas. Untuk melakukan perjalanan hidup, kita mesti mengerti kapan harus berhenti, kapan harus mulai lagi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terdengar sepele, namun untuk mampu mengerti road map hidup kita sendiri perlu waktu yang tak sebentar. Road map ibarat takdir peran kita di dunia ini. Dan tujuannya, tentu masing-masing dari kita punya tujuan sendiri-sendiri. Ada yang sebentar atau jangka pendek, ada yang lama atau jangka panjang. Begitulah beraneka ragam kehidupan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, seringkali kita ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk melakukan banyak hal. Untuk mendorong terus produktifitas. Mengumpulkan pencapaian-pencapaian. Hingga lupa untuk sekedar mengambil jeda, diam, merenung, bahkan lupa mengapresiasi kesunyian diri. Karena kenyataannya memang banyak dari kita mengukur seseorang dari apa yang dikerjakannya, hampir tidak ada orang mengapresiasi jeda, atau diamnya seseorang. Bahkan saat-saat kondisi berada dalam ketidakpastian. Akan aneh jika orang mengambil jeda, atau berhenti sejenak. Meskipun sekarang banyak orang mulai banyak yang melakukan kontemplasi, meditasi, atau kegiatan semacamnya. Tapi, prestasi adalah tentang pekerjaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal kita akan selalu butuh rem, butuh jeda, butuh diam dalam hidup. Yang membedakan hanyalah kapan kita mesti ngerem, hingga diam. Setiap orang memiliki tikungannya sendiri, memiliki turunannya sendiri, memiliki kemampuan jarak tempuh yang berbeda-beda. Jika kita tak mampu memahaminya, coba kita cari dulu road mapnya, kita lihat dulu medannya, sampai bagaimana bisa selamat sampai tujuan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tujuan tentu saja harus diketahui atau ditentukan. Tujuan tentu tidak sama dengan pekerjaan, perjalanan bukan tujuan. Perjalanan adalah proses, gas dan rem adalah ritme. Tidak tahu tujuan, tak akan pernah menemukan arah perjalanan. Hidup mestinya mantab, jika masih gamang, cobalah untuk mengambil jeda, diam sejenak.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita semua pasti mengalami fase hidup dalam ketidak pastian, ada banyak orang yang tetap melangkah, ada yang berhenti. Kedua-duanya boleh jadi baik, dan perlu diapresiasi. Seperti halnya mengambil keputusan untuk menerabas belantara, memilih diam dalam kehidupan juga butuh keberanian.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Persoalan hasilnya bagaimana, tentu semoga sesuai dengan harapan dan tujuan. Yang paling penting adalah kita menyadari bahwa hidup ini tak hanya persoalan ngegas, atau terus berlari. Jadi, jangan lupa mengapresiasi jeda. Semoga kita semua selamat dalam perjalanan kehidupan kita masing-masing. Bahagialah!&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;br&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2020/10/mengendarai-hidup.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-8818284743927322248</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2020 05:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-12T20:07:08.321-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Menjelang usia 30 tahun</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimv5xSzskMyL7fbZ3wW9SpAG4_zaLy212O7aKfMLrIBNYcbPVPAiMeM1em4FzS_gDiUNmyO7lNhL391KD_l1xOHV41Sbo758SyhwtR2RjzN9x-rV2uZZ55kOjQeN5sRiln6veWD0Bypksu/s750/CD86FAB8-6571-4CBD-AD76-7CA4151FCEA0.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="747" data-original-width="750" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimv5xSzskMyL7fbZ3wW9SpAG4_zaLy212O7aKfMLrIBNYcbPVPAiMeM1em4FzS_gDiUNmyO7lNhL391KD_l1xOHV41Sbo758SyhwtR2RjzN9x-rV2uZZ55kOjQeN5sRiln6veWD0Bypksu/s320/CD86FAB8-6571-4CBD-AD76-7CA4151FCEA0.jpeg" width="320"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Memilih keluar dari pekerjaan, jadi pengangguran, hanya karena bayaran kecil? Iya, saya putuskan ini saat pandemi covid-19, karena melihat kondisi perusahaan juga yang sepi dan bertepatan dengan bulan dimana saya bertunangan. Padahal ada rencana pernikahan beberapa bulan lagi, ada biaya kontrakan yang harus dibayar, dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Praktis, kesibukan atau rutinitas saya hanyalah jualan tembakau bersama dua teman saya. Usaha ini pun masih belum menghasilkan karena masih harus melunasi biaya renovasi kios baru, dan biaya sewa kios. Tapi alhamdulillah, saya bisa membantu calon istri saya jualan, bikin kemasan, dan sekarang membantu satu teman saya di tambakoe yang merintis usaha susu. Ya, meskipun dua hal tersebut juga belum tentu hasilnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Namun, ada beberapa kali project yang saya terima bisa membuahkan hasil. Satu bisnis jalan, dua usaha rintisan yang saya ikut membantu, dan beberapa project rasanya belum cukup untuk menabung. Seiring dengan itu usaha mencari pekerjaan pun saya lakukan. Meskipun, kali ini saya mencari pekerjaan yang gajinya yang lebih tinggi dari gaji di pekerjaan yang kemarin. Tapi, sampai sekarang belum ketemu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Sampai suatu saat satu teman saya di tambakoe bertanya; Kenapa gak cari kerja yang ada saja? Yang penting gaji pasti, meskipun kecil. Kata teman saya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Saya diam sejenak, kemudian saya menjawab; Saya lebih baik gak kerja, daripada kembali bekerja tapi dapat gaji sedikit. Kemudian teman saya diam, saya juga terdiam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Dalam hati saya mencoba merenungkan apa yang barusan saya omongkan. Saya teringat saat mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan. Menurut saya saat pandemi inilah saat yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru; bisnis, usaha, atau mungkin pekerjaan. Karena kondisi sedang tak baik-baik saja. Akibat pandemi corona ini banyak orang di PHK, banyak usaha sepi sampai gulung tikar. Orang harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru. Jadi kondisi-kondisi ini yang membuat orang lebih banyak maklum.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Sebelum saya memutuskan keluar dari pekerjaan, saya sudah pikirkan matang-matang. Melihat kondisi perusahaan yang juga serba sulit. Bahkan beberapa karyawan sempat di rumahkan beberapa bulan. Kondisi dan keadaan seperti ini yang membuat saya semakin bulat untuk resign dari perusahaan. Namun, ternyata semua juga tak mudah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Saya sadar, saya hanya lulusan SMA. Saya juga berada di perantauan, hampir setahun. Termasuk orang baru sebagai pendatang. Jadi memiliki pengalaman kerja sebanyak apapun rasanya tak terlalu berimbas. Di saat inilah rasanya saya benar-benar bergantung dengan relasi. Terutama kepada satu lingkaran pertemanan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Saya termasuk orang yang jika sudah bekerja, minimal tiga bulan saya tak boleh resign. Dan jika sudah bekerja di satu perusahaan, bekerja 8 jam. Saya tak bisa multitasking, mencari peluang misalnya, atau mencari kerja, apalagi memulai usaha. Saya tipikal orang yang selesaikan dulu di satu perusaah / resign baru mencari lowongan pekerjaan yang lain.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Begitulah, ada perasaan khawatir jika sudah bekerja di perusahaan dengan gaji yang pas-pasan. Maka saya tak lagi bisa mengusahakan pekerjaan yang lain. Kenapa? Karena tenaga dan waktu saya lebih banyak untuk bekerja, dan istirahat. Maka dari itu, saya lebih nyaman menganggur, menyediakan waktu untuk diri sendiri. Meskipun tak ada pendapatan yang pasti namun rasanya tanggung jawab saya hanya kepada diri saya sendiri. Bukan bertanggung jawab untuk perusahaan orang lain. Membuat saya jauh lebih luwes, tak ada lagi perasaan bergantung dengan perusahaan, berharap pada perusahaan, jiwa rasanya lebih merdeka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Barangkali saya ini memang aneh atau bodoh. Seperti yang dilontarkan teman saya ketika saya memutuskan resign. “Saat pandemi kayak gini, menurutku lebih baik jangan resign.” Kata temenku. “Orang yang di PHK saja banyak yang pengen pekerjaan kok.” Lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Jadi biarlah saya aneh dan bodoh. Dan semoga di masa yang akan datang saya bisa terus belajar dan berbenah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2020/10/menjelang-usua-30-tahun.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimv5xSzskMyL7fbZ3wW9SpAG4_zaLy212O7aKfMLrIBNYcbPVPAiMeM1em4FzS_gDiUNmyO7lNhL391KD_l1xOHV41Sbo758SyhwtR2RjzN9x-rV2uZZ55kOjQeN5sRiln6veWD0Bypksu/s72-c/CD86FAB8-6571-4CBD-AD76-7CA4151FCEA0.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-713468960723020044</guid><pubDate>Thu, 01 Oct 2020 08:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-10-12T21:19:12.965-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Bagaimana Mengenal Takdir Diri Sendiri</title><description>&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 22.66666603088379px;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgH3km9-25l4jlB3tEiaZ7_8ww0hKuuj07dliC-_MXDfjQoKoEOQaNwiQmvV-8cP1GtAlGGXxlz0lzvs1nZomKzyCM4amr9-1Vtxya-zWYotG5ZCbV4kw3kSQWX1r3A1L-ZOYHtJF6-Bz-v/s2447/E350E700-C590-4F54-B2F8-8D7B168AAEAB.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2447" data-original-width="2447" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgH3km9-25l4jlB3tEiaZ7_8ww0hKuuj07dliC-_MXDfjQoKoEOQaNwiQmvV-8cP1GtAlGGXxlz0lzvs1nZomKzyCM4amr9-1Vtxya-zWYotG5ZCbV4kw3kSQWX1r3A1L-ZOYHtJF6-Bz-v/s320/E350E700-C590-4F54-B2F8-8D7B168AAEAB.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jalan Belokan Kiri Wonosalam-Jombang / Foto : Rusdiyan Yazid&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 22.66666603088379px;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Perhatikan pikiranmu, karena berdampak pada tindakanmu. Perhatikan tindakanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu. Perhatikan kebiasaanmu, karena akan membentuk karaktermu. Perhatikan karaktermu, karena akan menjadi takdirmu.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Kutipan diatas adalah hasil buah pikir dari Lao Tzu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Saat membaca kutipan diatas, rasanya sebuah pertanyaan terjawab. Bagaimana takdir menghampiri saya? Atau apa takdir saya sesungguhnya? Pertanyaan ini yang membawa saya pada ingatan apa-apa saja yang sudah saya putuskan, sudah saya lakukan, sudah terjadi dan sudah saya hadapi. Rasa-rasanya apa yang melekat pada saya hari ini adalah benar akumulasi seperti dari perkataan Lao Tzu tersebut. Takdir ku adalah bagamana diriku berpikir, bertindak, dan baru ku sadari menjadi kebiasaan hingga karakter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Tentu saja takdir juga lengkap dengan konsekuensi-konsekuensinya karena takdir berasal dari pilihan-pilihan hidup. Dan, konsekuensi inilah yang seringkali luput dari pemahaman sebab-akibat, akhirnya yang terjadi adalah penolakan, setres, depresi dan rasa gamang pada hidup ku sendiri. Karena semula takdir seperti sesuatu yang berasal dari luar diri, bersifat rahasia, dan bukan kuasa diri. Pikiran seperti ini yang membuat diri rasanya mudah menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, saat segala sesuatunya tak seperti harapan, bahkan terasa sekali hidup tak pernah adil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Padahal hidup memang tak pernah adil jika kita semakin mencari keadilan hidup. Hidup bukan untuk mencari keadilan, tapi hidup untuk memberikan rasa adil. Seperti burung yang tak menuntut keadilan pada ikan yang hidup di air, atau sebaliknya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Tapi bagaimana jika apa yang saya lakukan tak seperti apa yang aku katakan, apa yang ku katakan tak seperti apa yang ku pikirkan? Ya mungkin takdir akan lebih lunak, hidup lebih enak. Kamu bisa membohongi diri sendiri, kamu bisa membuat orang tertarik dengan kemasan atau tampilanmu. Tapi dengan begitu, itu adalah dirimu, itu adalah karaktermu. Kamu akan sibuk melakukan manipulasi-manipulasi timbang memperbaiki diri; melaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Agar apa? Agar terlihat memiliki takdir yang baik. Tapi sesungguhnya bagaimana? Ada yang menderita, tapi banyak yang terlena.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 20.3px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; color: #454545; font-family: &amp;quot;.SF UI Text&amp;quot;; font-size: 17px; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: &amp;quot;.SFUIText&amp;quot;; font-size: 17pt;"&gt;Yang bisa saya lakukan tentulah hanya berusaha menyelaraskan isi kepala, mulut, dan kata hati. Persoalan takdir, saya hanya bisa bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Sambil terus belajar tentang kehidupan, tentang bagaimana menjadi diri sendiri tentu dengan segala keterbatasan dan kekurangan saya. Karena barangkali lebih bijak jika saya memacu dan menuntut keselarasan diri daripada menuntut takdir saya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2020/10/bagaimana-mengenal-takdir-diri-sendiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgH3km9-25l4jlB3tEiaZ7_8ww0hKuuj07dliC-_MXDfjQoKoEOQaNwiQmvV-8cP1GtAlGGXxlz0lzvs1nZomKzyCM4amr9-1Vtxya-zWYotG5ZCbV4kw3kSQWX1r3A1L-ZOYHtJF6-Bz-v/s72-c/E350E700-C590-4F54-B2F8-8D7B168AAEAB.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-5192762236557321132</guid><pubDate>Tue, 19 Nov 2019 03:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-11-18T19:16:56.582-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Bagaimana Seni Jepara? </title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnAc11rhd9TWS7G__9I3HWU4SFOsPMoEwrFHJRQuenhCVODdXQq58QUixfyZr9FlUxNm_rbsX_cNkCQxlQnvtmHNR-SM_aTk4s-CHusvHl5dRnpEei09UQeUBF66HKhPjUu0NBkd4r8ONR/s1600/9B9B8B12-0A5B-4A1A-8E2D-7A449E1F6C09.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1200" data-original-width="1600" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnAc11rhd9TWS7G__9I3HWU4SFOsPMoEwrFHJRQuenhCVODdXQq58QUixfyZr9FlUxNm_rbsX_cNkCQxlQnvtmHNR-SM_aTk4s-CHusvHl5dRnpEei09UQeUBF66HKhPjUu0NBkd4r8ONR/s320/9B9B8B12-0A5B-4A1A-8E2D-7A449E1F6C09.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Seni Jepara / foto: Rusdiyan Yazid&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Seni Jepara apakah bermula dari yang berwujud / materialisme atau bermula dari gagasan / idealisme (?) yang sering juga kita sebut sebagai kegelisahan, keresahan, atau bentuk ekspresi yang sifatnya tentu saja abstrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa-rasanya jika dilihat dari seni ukir (produk seni masyarakat Jepara yang dominan) maka seni Jepara seperti uang koin yang memiliki dua sisi; sisi materialisme dan sisi idealisme. Jadi bisa dikatakan, seni Jepara bermula dari dua unsur, yaitu materialisme dan idealisme yang kemudian dimanifestasikan menjadi sebuah karya seni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa seni Jepara? Bukan hanya seni ukir Jepara saja? Karena menurut saya, proses kesenian / penciptaan masyarakat Jepara banyak dipengaruhi atau dibentuk oleh sosial masyarakat Jepara itu sendiri. Jadi, seni ukir Jepara sangat mungkin menjadi representatif bagi seni Jepara lainnya dalam kaitannya dengan kebudayaan masyarakat Jepara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, kita coba fokus ke seni ukir Jepara. Jika dilihat dari sisi pelaku teknis (dari mulai desainer, pengrajin, sampai finishing) hampir semua berangkat dari materialisme (hal-hal yang wujud). Sedangkan dari sisi non-teknis (produsen, pemesan) mereka berangkat dari gagasan-gagasan. Secara tekhnis baik pelaku maupun produsen tidak tentu siapa atau mana yang lebih dulu. Karena itu saya istilahkan seperti sebuah koin, karena sisi idealisme dan sisi materialisme ada disetiap permulaan (fundamental) dalam proses penciptaan karya seni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja sebagai produk seni, seni ukir Jepara memiliki unsur estetika yang mudah diidentifikasi. Di sinilah, seni ditambahkan pada nilai fungsi atau fungsi ditambahkan pada nilai seni. Namun, dalam prosesnya. Seni di Jepara tidak serta merta mulus, karena seni Jepara seperti koin tadi, maka idealisme dan materialisme seringkali bertolak belakang meskipun dalam satu kesatuan. Misal, seorang seniman yang memiliki kedalaman idealisme dalam karyanya, tidak lantas mudah terhindar dari kritik secara teknis. Tapi dikasus lain lagi, yang sudah bagus dalam materialisme tidak juga bisa terhindar dari plagiat atau penjiplakan karya baik secara keseluruhan, maupun hanya sebagian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika seni seringkali mudah diterjemahkan, seni adalah penciptaan. Barangkali, jika ada yang bertanya bagaimana Seni Jepara? Saya akan menjawab, Seni Jepara seperti uang koin.</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/11/bagaimana-seni-jepara.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnAc11rhd9TWS7G__9I3HWU4SFOsPMoEwrFHJRQuenhCVODdXQq58QUixfyZr9FlUxNm_rbsX_cNkCQxlQnvtmHNR-SM_aTk4s-CHusvHl5dRnpEei09UQeUBF66HKhPjUu0NBkd4r8ONR/s72-c/9B9B8B12-0A5B-4A1A-8E2D-7A449E1F6C09.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-493138441789945096</guid><pubDate>Sun, 02 Jun 2019 15:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-06-02T08:00:21.999-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Surat</category><title>#1 Surat Kepada Tuan</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Kau tahu tuan,&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dalam setahun hari apa yang paling menyeramkan bagi hamba? Dialah hari dimana orang-orang merayakan kembalinya kesucian, hari yang fitri, berlebaran setelah setahun berceceran kesalahan dan dosa.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Iya tuan, mestinya aku bahagia karena hari tersebut adalah hari kemenangan. Namun, apa yang mesti hamba menangkan tuan? Sedangkan hamba tak pernah mampu bersaing, tak pernah ingin bertarung. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kalau menang dari sifat-sifat buruk, mengalahkan sifat malas, kebodohan, dan lain-lain. Hamba masih jauh dari kemenangan tuan, masih amat sangat jauh. Sedangkan orang-orang gegap gempita merayakan kemenangannya. Hamba ini tak sanggup mengimbangi mereka tuan. Hamba justru selalu merasa paling kalah, tak punya apa-apa, dan tak mampu berbuat apa-apa.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hamba tak suci, dan barangkali akan selamanya ditempat ini, tempatnya salah. Sulit rasanya bagi hamba untuk berfikir telah sampai pada hari kemenangan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tuan, apakah memang peran saya begini. Biar orang-orang bisa mengasihani hamba, biar orang bisa merasa lebih baik kehidupannya, lebih baik keluarganya, dan lain sebagainya. Jika memang begitu, tak mengapa tuan. Biarlah seperti itu. Aku lega jika memang seperti itu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tapi bolehkah hamba meminta satu permohonan tuan, maafkan hamba jika lancang tak menganggap spesial hari besarmu. Bukan maksudku merasa jumawa tuan, bukan. Hamba hanya tak tahu cara yang tepat memaknainya. Maafkan hamba tuan, ampuni hamba untuk hari idul fitri yang lalu dan yang akan datang nanti, karena aku tak mampu merayakannya seperti orang-orang.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mohon maaf tuan atas apa yang lahir dan apa yang batin dari hamba. Untuk yang kemarin, hari ini, dan nanti. &lt;br&gt;
&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/06/1-surat-kepada-tuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-286872679625664686</guid><pubDate>Mon, 20 May 2019 03:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-05-19T21:30:39.836-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerbung</category><title>Tentang Perempuan</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Mate, Mengapa pria selalu merasa superior atas perempuan? Hampir semua laki-laki merasa lebih berhak memimpin perempuan, dan jika perempuan ada yang lebih baik dan mampu, kemudian muncul pertanyaan &amp;#8216;Apakah tidak ada laki-laki yang lebih baik?&amp;#8217; &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sek, sek.. Coba ceritakan apa yang terjadi.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Haha. Sak sek, sak sek. Udah lama aku gak dengar logat jawamu. Begini Mate, aku sumpek dengan pola-pola lama birokrasi pemerintahan. Kau tahu kan, hari ini banyak perempuan jadi menteri. Secara angka memang lebih banyak dari kabinet sebelumnya. Tapi, itu belum cukup. Peranan perempuan dalam kinerja masih sering dibenturkan dengan norma di kehidupan pribadi. Ya, aku tahu aku gagal dalam rumah tangga. Yang aku pikir, aku berusaha profesional dalam kerja. Eh.. kok ada saja yang tak bisa membedakan kerja dengan kehidupan pribadi. Awalnya ku anggap angin lalu, tapi lama kelamaan gerah juga. Aku hampir saja bertengkar dengan salah satu atasanku, setelah perdebatan panjang, dia menyerangku. Bilang tukang mabok lah, punya tato lah, merokok lah, puncaknya dia bilang mana mungkin bisa kerja di masyarakat.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hmm.. Ya gimana ta. Orang memang lebih mudah menilai dari materi. Barangkali, atasanmu itu hanya berusaha bertahan karena tak ingin kalah argumen darimu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ya, itukan berarti merasa superior.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Iya, tapi enggak serta merta semua laki-laki merasa superior ta. Ada sebabnya yang mendorong atasanmu bicara seperti itu. Eh, tapi bagaimana dia bisa tahu tatomu?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Lewat story ku mungkin, waktu aku bikin. Dan, mungkin kalau bukan karena Ibu Susi jadi menteri, aku tak akan pernah mewujudkan tato di tubuhku. Meskipun, aku merasa lebih merdeka atas pribadi dan tubuhku sejak pemerintahan ini. Tapi, masih saja ada orang-orang birokrasi yang masih berpikir atasan adalah pemilik kuasa.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ta. Kau ini cobalah sedikit tenang. Aku percaya kamu bisa bisa membawa dirimu, dan bertanggung jawab atas apa pilihanmu. Tapi, kau juga perlu tenang dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Baiklah, kau sepertinya benar Mate. Aku harus tenang dan tidak ikut dalam gaduh yang mereka buat.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ta, memangnya bagaimana sebenarnya kau memandang perempuan? Maksudku, tentang kemerdekaan yang kamu maksud. Apa kau tak ingin membangun kembali &lt;u&gt;hubungan&lt;/u&gt; dengan laki-laki?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hahaha.. Kau pikir aku merasa nggak merdeka kalau aku punya pacar atau suami, begitu? Enggak Lah Mate. Aku lebih menempatkan diri sebagai perempuan yang biasa saja. Sama seperti laki-laki. Sama sama manusianya. Yang berbeda hanya kodratinya kan? Perempuan yang melahirkan, perempuan yang menyusui, dan kodrat perempuan lainnya itu. Selain itu, ku pikir sama saja.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bukankah, jika seperti itu berarti perempuan lebih punya banyak peranan ketimbang laki-laki. Aku tidak membayangkan jika laki-laki tidak diberi peran sebagai pemimpin, menafkahi, dan lain-lain. Jika semua peran perempuan, lantas laki-laki ngapain?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Emm. Untuk itulah Mate, laki-laki mestinya tidak merasa superior atas perempuan. Perempuan dan laki-laki mestinya mampu berbagi peran. Meskipun aku mampu menafkahi diriku, meskipun aku mampu memimpin misalnya. Aku akan tetap menghormati peran laki-laki, tentu saja laki-laki yang juga bisa menghargai peran perempuan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ta, aku jadi berpikir ulang. Sesungguhnya yang tangguh adalah perempuan. Barangkali karena itu, laki-laki perlu superioritasnya. Tapi, justru laki-laki yang tangguh adalah laki-laki yang menyadari peran perempuan. Bukan yang menganggap perempuan lebih lemah, dan lain-lain.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ya Mate, bisa saja begitu. Laki-laki butuh superioritasnya. Tapi, tidak hanya laki-laki yang perlu menyadari peranannya dan peran perempuan. Perempuan juga perlu menyadari bahwa mereka tidak lemah. Dan, tentu saja kesadaran berbagi peran dengan laki-laki, tidak hanya sekedar untuk menyandarkan diri.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ah, kau ini memang perempuan tangguh. Semoga tuhan menyisakan satu saja untukku seorang perempuan tangguh.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Yakin Mate? Ntar kau ndak berani deketin lagi? Hahaha&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Apalah aku ini, Cinta. Hanya lelaki lemah ~&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/05/tentang-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-382760106229848352</guid><pubDate>Sun, 19 May 2019 16:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-05-19T09:08:44.242-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cerbung</category><title>Sebuah Perkenalan Cinta</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Cinta, apa makna namamu sesungguhnya? Tak usah kau jawab dengan normatif, jawab menurutmu saja. Kau sudah dewasa, sekolah dan universitas pun tamat. Sekarang kau bekerja pada negara, kau bahkan punya suara di kementerian dalam usiamu yang terbilang cukup muda. Apa? Apa Cinta bagimu?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah? Apa penting semua tentangku itu pada jawabanku? Mate, kau bertanya tentang makna namaku? Atau tentang cinta? &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kalau kau tanya makna namaku, aku ragu mampu menjawabnya. Kau mestinya bertanya pada ayahku. Orang tua yang memberi namaku. Seperti namamu juga kan? Mate, nama pemberian. Atau, kau sudah ubah namamu itu barangkali dari Mamat jadi Mate? Agar kau bisa berbaur dengan orang-orang barat, dimana kau habiskan kuliahmu di sana. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hahaha.. Sial kau ta.. Aku bertanya tentang Cinta yang kebetulan juga namamu. Dan, kau kan tahu namaku Mate Sebastian. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Haha, cinta bagiku berbeda dengan namaku. Jujur saja, jika boleh memilih, aku ingin dinamai nama yang selain cinta, apapun yang penting bukan cinta. Tapi, cukuplah berbicara nama. Apalah arti nama, selain doa dan harapan si pemberi nama. Tetap saja, identitas dirimu yang utama adalah bagaimana perilakumu. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Lalu, menurutmu cinta itu? &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bagiku mate, Cinta itu seperti oksigen. Dia barangkali punya nama untuk disebut, dia barangkali punya deskripsi. Tapi, yang utama bukan nama atau sebutan itu. Tapi, bagaimana dia bekerja dalam arus utama kehidupanmu. Kita tahu kan, tanpa oksigen kita tak bisa bernafas. Tapi, berapa kali kau menyebutnya? Seperti kau umbar kata cintamu? Dan, dengan gampangnya kau hari ini cinta, besok tidak. Kau pikir cinta itu seperti shift kerja?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tak salah aku bertanya padamu Cinta. Aku juga merasa cinta sekarang dianggap dagangan. Jika meminjam analogi-mu. Barangkali, udara kita memang sudah sangat tercemar, hingga hidung kita sudah terbiasa menghirup racun dan tanpa disadari lambat laun mencekik leher. Karena itu, oksigen diperdagangkan pun tak laku. Atau orang sudah tak mengenali lagi oksigen. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ya, itulah kenapa kau bertanya apa itu cinta. Kau sudah tak mengenalnya?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Haha. Aduh Cinta, kau ini sudah cantik, baik, juga selalu punya jawaban yang melegakan. Seandainya kau perempuan sederhana, tentu sudah dari dulu aku berani mendekatimu. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Eits, memang aku gak sederhana? Cukuplah kau menilaiku dari penampilan. Atau dari apa kata orang-orang yang tak mengenalku. Kau ini kupikir sudah mengenalku.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Eh, sebentar.. Aku hanya bergurau saja, atau barangkali aku terlambat untuk berani. Tak mendekatimu sejak dulu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hahaha.. Kesempatan yang sama tidak datang terus menerus, tapi mungkin bisa kau menjumpai kesempatan yang lebih baik nanti. Yang artinya tidak ada yang terlambat. Tak ada kata terlambat bagi orang-orang yang senang belajar, barangkali termasuk orang sepertimu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Terima kasih Cinta.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hah, traktirlah aku untuk terima kasihmu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ah, siaplah itu. Apa yang tidak untuk teman diskusi dan sahabat sepertimu Cinta.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/05/sebuah-perkenalan-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1598779406406619360</guid><pubDate>Fri, 26 Apr 2019 05:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-04-26T04:31:12.711-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Sudah pasti aku hanya omong kosong</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah pasti aku keliru, karena kebenaran yang ku temukan tak mungkin kekal. Karena kebenaran ku temukan dari fakta-fakta. Sedangkan fakta sendiri menempati ruang dan waktu yang dinamis. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah pasti juga aku tidak akan baik, karena kebaikanku berasal dari hasil buah pikir. Sedangkan buah pikiranku berasal dari mengolah pengalaman, ide, dan hasratku sendiri. Kemudian, dari sanalah aku bertindak. Padahal buah pikiranku selalu berubah. Bahkan ketika aku tak ingin mengubahnya. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dari pikiran tersebut maka sudah pasti aku plin plan, karena aku tak punya kuasa penuh atas pertemuan, atas piranti otak dan &lt;u&gt;sistem&lt;/u&gt; semesta. Aku hanya bisa mengelola, mengolah, dan memahaminya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah pasti aku tak punya pegangan dunia, karena dunia ini dinamis. Mengendalikan diri sendiri saja prosesnya hingga akhir hayat. Dimana raga dan jiwaku bisa mendulang kebutuhannya, disanalah duniaku berada. Untuk itu ku biarkan dunia bebas, tanpa perlu ku jadikan pegangan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kebutuhanku juga pasti tak statis. Hasrat ku naik dan turun, semangat juga demikian, apalagi kesempatan kadang datang terlalu cepat, kadang dinanti tak kunjung datang. Bahkan tak bisa ku bayangkan jika aku mesti hidup dengan kebutuhan yang ajeg. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Karena itu semua, sudah pasti aku tak mampu menyampaikan semua hal, ini dan itu. Sudah pasti aku hanya mengatakan alasan-alasan yang aku sendiri tak mantap. Sudah pasti aku ragu, karena tak ada sedikitpun yang kuucapkan kuyakini bisa kupegang sepanjang waktu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah pasti aku hanya omong kosong.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/04/sudah-pasti-aku-hanya-omong-kosong.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-562710653476885093</guid><pubDate>Sat, 23 Mar 2019 06:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-03-22T23:18:02.941-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Tuhan, aku ingin </title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;&lt;u&gt;Tuhan&lt;/u&gt;,&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku ingin selesai saja, boleh?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku rasa aku tak sanggup kau uji dalam dunia yang serba membingungkan ini. Karena kehidupan setelah mati; orang baik ke syurga, orang jahat di neraka, yang sudah pasti begitu saja, aku tak sanggup membayangkan. Tuhan, untuk apa aku kau sesatkan, jika aku pada akhirnya kau hukum karena ketersesatanku, bukankah aku sesat sudah bentuk hukuman sebagai manusia. Di dunia ini, mana yang baik, mana yang buruk saja tak ada yang absolut. Kau ciptakan begitu banyak kebaikan2, dan keburukan2 melalui pikiran2 dan hati manusia-makhlukMu. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dunia sudah tidak menarik lagi, Tuhan. Baik buruk, pahala dan dosa, benar dan salah, sudah terlalu sering ditelanjangi, tidak hanya oleh orang lain, tapi juga mereka menelanjangi diri mereka sendiri. Semua orang juga mudah saja, menjadi hakim mana yang sah, mana yang batal. Menakar nilai orang lain, dan mempublikasikannya. Sungguh, tak ada lagi yang menarik di dunia ini tuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bolehkan aku usai saja?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Entah bagaimana, justru aku yang aneh dan dianggap salah, karena aku tak bisa mengikuti dunia ini. Bahkan, dianggapnya aku ramai seperti yg dilakukan dunia ini. Justru karena aku mencintainya, aku peduli. Namun, justru aku tersesat dalam cintaku pada dunia yg aku sayangkan. Tuhan, &lt;u&gt;aku&lt;/u&gt; berserah padaMu. Aku benar2 sudah merasa mati dikeramaian. Bolehkan aku usai saja?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tuhan, perlahan aku sekarang merasa benar-benar hanyut dalam dunia ini, segalanya terombang-ambing, terbolak-balik. Aku tak tahu lagi siapa diriku yg sejati, siapa yang jadi teman, siapa yang mesti dilawan. Nafsukah? Akalkah? Perasaankah? Entahlah, dunia ini menggerus segalanya, menegaskan tapi mengaburkan, semua benar tapi kemudian yg salah jadi samar, semua membangun kepentinganya hingga tidak jelas identitasnya, semua berlomba menonjol sampai dari luar hanya tampak abu-abu. Aku kelelahan mengikuti hidup bersosial di dunia ini, barangkali akan lebih nyaman dunia yg cukup untuk diriku saja.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dunia yang cukup dengan cinta, yang tak kujumpai pada manusia2 dunia ini. Justru mereka mempertanyakan, Mau makan cinta? Padahal, mereka sadar atau tidak, bisa hidup, bernafas, makan, dll adalah karunia dari cintaMu. Aku cukup dengan cinta saja, gak apa-apa. Mereka lupa dan merasa kurang hanya dari cinta juga gak apa-apa. Yang penting jangan kau lenakan aku, dan membuatku larut dalam dunia ini tuhan. Atau bolehkah aku sudahi saja tuhan?&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Atau jika belum bisa selesai sekarang, sisakanlah dunia yg cukup untuk ku dan cintaku. Aku berdoa padamu Tuhan Semesta Alam.&lt;br&gt;
&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/03/tuhan-aku-ingin.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1391388283068518115</guid><pubDate>Mon, 25 Feb 2019 07:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-02-24T23:11:22.352-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Mereka Baik, Bukan Bodoh</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Berhentilah berfikir bahwa orang lain yang kaya maka bisa kita pinjam uangnya, orang lain baik, maka kita bisa seenaknya minta bantuan kepadanya. Orang lain tersebut juga punya urusan, punya kebutuhan, punya tanggung jawab. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jika mereka hari ini lebih mudah rizkinya dari kamu, berarti mereka juga lebih sabarnya, lebih usahanya. Bukan berarti mereka tak punya keinginan senang-senang, liburan, dll tapi mereka merasa masih banyak hal yang mesti diprioritaskan. Bukan berarti mereka tak bisa hidup mewah, tapi mereka berusaha lebih berhemat, bagaimana urusan dengan orang lain atau tanggungjawab lebih diutamakan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah terlalu banyak pertemanan, persaudaraan rusak karena hutang, yang biasanya bukan karena nominalnya. Tapi karena sikap kita yang menyepelekan hutang, yang berhutang / dibantu lebih galak atau lebih cuek daripada yang memberi hutang. Bukan menyindir, tapi seringkali dari sini lah, sebab hubungan jadi tidak baik.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bahkan ada istilah, jika kamu ingin tahu karakter seseorang yang sesungguhnya, cobalah berurusan uang dengannya. Karena memang, uang bisa membuat orang lupa diri. Sehingga muncul karakter aslinya. Yang baik, akan berusaha membalas kebaikan orang lain. Yang tidak baik, malah bertindak arogan, dan menganggap dirinya benar. Hingga yang pernah membantunya pun malas berurusan lagi. Akhirnya, rusaklah hubungan persaudaraan dan pertemanan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jika kita masih dalam kondisi yang kekurangan, sulit, dan lemah. Mestinya kita belajar pada mereka yang lebih. Belajar bagaimana lebih keras berusaha, lebih bersabar, lebih kuat menghadapi segala sesuatu, berusaha lebih bertanggung jawab, dan utamakan kebutuhan daripada keinginan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Belajarlah dari orang lain, bukan malah mencederai kebaikan orang lain. Mungkin kamu, bisa bertemu seribu orang baik baru dan berganti-ganti yang bisa kamu manfaatkan. Tapi kamu tidak akan pernah pernah mendapatkan satu pun manfaat yang sejati dari siapapun. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang baik kepadamu itu karena mereka baik, bukan bodoh. &lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/02/mereka-baik-bukan-bodoh.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-4097971387554007272</guid><pubDate>Wed, 20 Feb 2019 13:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-02-28T01:17:30.784-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Aku yang bodoh</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Tdk semestinya aku marah pada siapapun, bahkan kepada dia yang aku berhak marah. Tak semestinya aku membalas seseorang yang membuatku sakit hati. Meskipun sungguh berat, untuk tidak marah, untuk tidak kecewa, untuk tidak bersedih atas kepedihan yang diberikan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Apa yang sudah ku beri, mestinya tak pantas ku ambil lagi. Bagaimanapun, entah bermanfaat atau tidak. Entah digunakan untuk hal-hal yang tak semestinya dilakukan. Bahkan digunakan untuk mengecewakan orang lain. Pun aku tak semestinya memintanya kembali.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Seberat apapun, sesakit apapun, bahkan seburuk apapun. Mestinya cukup di aku saja.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Lebih baik ikhlas, daripada berpikir tentang perilaku buruk orang lain, meskipun aku berhak, meskipun aku peduli. Tapi, lebih baik ikhlaskan dan segera sudahi kesedihan, ubah menjadi kebahagiaan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Seberat apapun, sesedih apapun. Luapkan kemudian ikhlaskan. Tak perlu ku pinta orang lain memahamiku. Dan berhenti memikirkan orang yang tak pernah benar2 ingin denganku, dan menghargaiku.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bukan hal yang mudah bagiku. Setegar apapun, nyatanya kesedihan menyulitkan diri ini untuk bangkit kembali. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku yang gagal dan kalah lagi. Yang terlalu bodoh dalam menaruh hati. Aku yang tolol. &lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/02/aku-yang-bodoh.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1720781239499479842</guid><pubDate>Wed, 20 Feb 2019 06:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-04-17T02:19:14.571-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Kepedulian telah mati</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Kepedulian telah mati. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Baru ku rasakan bagaimana orang yang peduli justru salah, keliru, dan tak pantas. Menyedihkan. Justru yang baik adalah masa bodoh dan cuek, walaupun di hadapannya adalah masalah yang nyata. Meskipun persoalanya tentang moril ataupun perkara hati. Namun, begitu mengganjal. Mempengaruhi kehidupan, terutama psikis.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Melihat kesalahan pun tak bisa melakukan apa-apa. Masuk dalam kesalahan pun sudah tak sanggup. Tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya mendoakan agar minimal tak terpengaruh. Kepedulian pun tak &lt;u&gt;lagi&lt;/u&gt; menemukan peraduannya. Mereka banyak tersimpan dalam batin orang-orang baik yang memilih menyingkir dan pergi. Berhenti peduli.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang-orang yang peduli, kemudian berhenti. Bukanlah suatu perkara yang mudah. Ada banyak hal yang diolah dan dibenturkan dalam pikiran. Pikiran dan hati saling berjibaku, mengolah banyak hal yang betul2 menguras energi. Terus hingga mentok pada ujung; berhenti peduli.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kepedulian bagi sebagian orang adalah bentuk penghargaan yg tertinggi. Bentuk cinta dari kasih sayang yang tulus. Kepedulian adalah kemesraan. Tak bisa dibandingkan dengan apapun. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Namun, kepedulian hari ini menjadi hal yang justru rumit. Orang-orang merasa baik, peduli, tanpa kepentingan, ternyata peduli hanya saat-saat tertentu. Saat dibutuhkan justru tak peduli. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang-orang yang hanya peduli ketika ada kepentingan, justru dipopulerkan, mewajarkannya, bahkan semakin hari semakin banyak orang yang seperti ini.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang yang betul2 peduli, justru seringkali terasingkan. Karena kepeduliannya hadir setiap saat, kapanpun. Hingga &amp;#160;tak dirasakan orang lain kepedulian itu. Seperti bernafas, kita tak merasakan udara yang kita hirup. Baik dibutuhkan atau tidak. Kepedulian senantiasa mengalir.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang yang benar2 peduli seringkali terlempar. Karena kepeduliannya tidak terbatas kepentingan. Sehingga terlihat pun tidak. Tak dikenal, tak penting. Ketulusannya membuatnya lebih peka pada kondisi dan keadaan. Seringkali malah dianggap masalah karena kepekaan dan ketulusan tersebut. Yang mau tidak mau mesti pergi dan membawa kepeduliannya. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Orang seringkali lupa menghargai udara yang setiap detik kita hirup, begitu juga kepedulian orang lain yang tulus. Seringkali kita tidak bersyukur, dengan menjaga dan juga memberikan timbal balik yang minimal sepadan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Semakin hari kepedulian semakin tak dipedulikan. &lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/02/kepedulian-telah-mati.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-2268198406340857348</guid><pubDate>Tue, 19 Feb 2019 13:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-02-22T19:09:17.688-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Sebelum kamu merasa benar</title><description>&lt;div dir="ltr"&gt;
Kurang cerdas bisa diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap bisa dihilangkan dengan pengalaman. Namun, tidak jujur itu sulit diperbaiki. ~ Moh. Hatta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Sepakat dengan pernyataan dari Bpk Moh. Hatta. Terlebih hari ini banyak orang justru maklum, bahkan merasa benar berperilaku / bersikap tidak jujur. Orang yang jujur, biasanya cenderung lebih sering tertipu, karena orang jujur biasanya juga berpikir orang lain juga jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Orang-orang yang terjebak dalam pola pikir tidak jujur biasanya sulit sekali berubah karena mengaku salah saja sulit, apalagi untuk mau belajar, hingga berusaha mengubah prilaku, atau keluar dari lingkungannya yang juga terbiasa curang dan tidak jujur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Akan sangat disayangkan seseorang yang mulanya baik, tapi karena kebaikannya justru terjebak dalam lingkungan setan, yang penuh kepura-puraan. Seperti halnya orang-orang bersih yang terseret pada politik kotor. Sekali terjebak, akan sulit untuk keluar, atau bahkan lambat laun malah menikmati ketidakjujurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Pada akhirnya kuasa jadi membutakan hati, tidak bertanggung jawab, dan arogan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="ltr"&gt;
Prilaku curang dan ketidakjujuran yang terus diulang-ulang akan diyakini benar. Semoga kita bisa senantiasa jujur pada diri dan orang lain. Sehingga tidak akan merugikan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun jujur bisa sangat menyakitkan dan dikucilkan.&lt;/div&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/02/sebelum-kamu-merasa-benar.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-4417872698114609135</guid><pubDate>Tue, 12 Feb 2019 13:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-02-12T05:28:15.253-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Entah mesti bagaimana, dan kemana aku ini</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Entah mesti bagaimana, dan kemana lagi aku ini. Seperti sudah tak punya &lt;u&gt;daya&lt;/u&gt; untuk berjuang dalam belantara rimba kehidupan manusia yang kebanyakan mencari harta, kekayaan, kekuasaan, kekuatan, atau kepintaran. Tapi nir kebaikan, surplus kepentingan dan arogansi.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hanya mampu hidup seadanya, bertahan semampunya. Di jaman kebaikan dan perjuangan tak dihargai. Cinta dan kasih dianggap usang. Ketulusan tak laku, dan perhatiaan juga kepedulian dianggap kerugian.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Buah kehidupan adalah harta, harta, dan harta. Usia menjadi jaminannya. Seolah kebahagiaan harus hari ini, seketika, sekarang juga. Bagaimana pun caranya. Tak peduli esok mati meninggalkan beban bagi orang lain. Kok esok, sekarang pun tidak berfikir tentang orang lain. Rasa tali kasih tlah mati, habis terlalap api keegoisan diri sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Semakin ditinggalkan orang, semakin besar kepalanya. Semua dianggapnya tak berguna, dianggapnya iri, dianggapnya tak memiliki semangat realistis seperti dirinya dan orang kebanyakan. Entah bagaimana orang-orang berlomba membutakan hatinya. Yang tersingkir, semakin tersingkir. Yang terkalahkan, semakin kalah. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Punya mata, tapi buta. Punya telinga, tapi tuli. Punya mulut, tapi bungkam. Orang-orang yg melihat, yg mendengar, yg bicara tak ubahnya sampah yg tak perlu dihiraukan. Hati nurani pun mati. Justru yang dianggap sampah, adalah yang selama ini memberikan hidupnya, keberkahannya, kasihnya pada semesta, melalui tindakannya, budinya, dan hatinya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Entah, mesti bagaimana lagi. Baru mencoba jadi orang baik pun sulitnya bukan main. Entah mesti kemana lagi. Menyalakan suluh pun tak mampu. Kemarin, ada satu harapan. Tentang tujuan, tentang peraduan, tentang penerimaan. Tapi nyatanya, semuanya pun kandas.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Entah mesti bagaimana, dan kemana aku ini.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2019/02/entah-mesti-bagaimana-dan-kemana-aku-ini.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-3212030758792439461</guid><pubDate>Mon, 31 Dec 2018 04:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-12-30T20:00:54.107-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Belajar dan bekerja adalah pernafasan</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Dear, orang-orang terkasih yang menghawatirkan pekerjaanku.&lt;br&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku bekerja selayaknya bernafas. Jika dalam bernafas ada menarik dan mengeluarkan. Seyogyanya bekerja adalah sama seperti mengeluarkan nafas. Dan bagiku menarik nafas adalah bagian pembelajaranku. Belajar dan bekerja adalah proses bernafas. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jika sekarang yang kau permasalahkan adalah penghasilanku berupa uang. Bagiku uang adalah alat, penghasilan adalah konsekuensi. Untuk mendapatkan alat berupa uang diperlukan bekerja, saya sepakat. Tapi jika yang kau permasalahkan uang tersebut kenapa tidak ku gunakan untuk beli motor, dll yg menurutmu bisa melegakan hatimu. Saya memilih menggunakan alat untuk membantuku melegakan hatiku, bukan hatimu. Pun jika uangmu kau gunakan untuk melegakan hatimu, aku tak akan mengganggu.&lt;br&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Karena bekerja adalah nafas bagiku, maka setidaknya nafas ini tak pernah mampet. Jika aku menghirup oksigen, aku mengeluarkan karbondioksida. Jika aku belajar, maka aku bekerja. Jadi uang bukan alasan untuk bekerja. Tapi, jika dalam aku belajar dan bekerja, ada hasil berupa uang, artinya aku mendapatkan alat. Alat untuk apa? Untuk berbagi kebahagiaan.&lt;br&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dari belajar dan bekerja, aku bisa mendapat pengalaman, kenyamanan, kebahagiaan, ruang tumbuh, teman, hasil karya dan hal-hal baik lainnya. Jadi selain uang, masih banyak hal yang akhirnya memperlancar tubuh untuk hidup dan berkembang lebih baik selayaknya jika udara yang kita hirup belum terkontaminasi polusi, segar menyegarkan. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jadi, terima kasih telah menghawatirkanku. Dan ku pikir, aku belum menemukan konsep bekerja senyaman ini sejauh ini. Mungkin kita hanya berbeda cara, tapi bukan berarti kekhawatiran berubah menjadi ketidakpedulian. Hiduplah dengan caramu, aku hidup dengan caraku. Dan kita masih bisa saling berbagi kebahagiaan dan keindaahan. &lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/12/belajar-dan-bekerja-adalah-pernafasan.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1915717102503692849</guid><pubDate>Sun, 25 Nov 2018 09:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-11-25T01:53:04.732-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Ketika Aku Hampir Gila </title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Ketika akal pikiranmu tak lagi mampu memberikan jalan keluar, cobalah dengan rasa-kalbu. Karena tidak semua bisa diselesaikan dengan akal pikiran. Ada hal-hal yang sebelumnya tak kau jumpai pada pikiran, akan kau temui dalam rasa. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Olah pikir &amp;amp; olah rasa sebaiknya terus diasah. Karena dengan keduanya lah kita memahami semesta. Jika tidak begitu, rentan kita pada penyakit psikis. Baik hanya mengasah akal pikiran saja, atau hanya menggunakan perasaan saja, membuatmu tak mampu memahami semesta secara bijak.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sumber kegilaan-setress seringkali karena tak seimbangnya pikir &amp;amp; rasa. Salah satu cenderung dominan, atau salah satu diabaikan. Berfikir terlalu keras tidak baik, mudah terbawa perasaan juga tidak baik. Jika terus berfikir, maka kepala mudah sakit. Jika terus terbawa perasaan maka akan mudah terjerembab pada keterpurukan. Adakalanya mengurangi pikiran berat, dengan merelaksasi diri; istirahat/tidur, rekreasi, nonton, belanja, mengunjungi teman/saudara, dll. Begitu jg adakalanya kita tdk hanya terbawa perasaan tapi juga menggunakan nalar dengan menimbang, membaca buku, curhat kepada orang lain, berbagi kepada yg membutuhkan, dll upaya untuk lebih kaya dalam melihat permasalahan/sudut pandang/perspektif.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bukan hal yang mudah untuk mampu menyeimbangkan rasa &amp;amp; pikir. Untuk itu kita perlu terus melakukan olah rasa &amp;amp; olah pikir sebagai latihan. Pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Seringkali kita perlu untuk sedikit berubah. Yg tadinya senang menyendiri, perlu untuk mulai berbaur. Yg tadinya lebih banyak berbuat untuk orang lain, cobalah untuk berbuat sesuatu untuk diri sendiri, dan begitu jg sebaliknya. Tidak perlu takut dianggap arogan, egois, atau anggapan orang lain. Karena kau sendiri yg tahu dirimu, apa yang terjadi, apa yang kamu pikirkan, dan apa yang kamu rasakan. Orang lain hanya bisa menilaimu, itu saja. Maka, mereka tidak berhak membuatmu menjadi lebih terpuruk ketika kau berusaha untuk kembali berbahagia / bangkit. Terus saja lakukan apa saja yg mampu membuatmu kembali tersenyum. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;I dont care what are you talking about, cause whos care about me?!&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Make myself great again!&lt;br&gt;
&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/11/ketika-aku-hampir-gila.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-3426333352484318823</guid><pubDate>Tue, 13 Nov 2018 03:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-11-21T00:22:53.866-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Omong Kosong </title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Omong kosong itu berbunyi citra. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Saya tak peduli seberapa populer seseorang, ketika memang karena karyanya sendiri. Bisa sungguh bertanggung jawab atas apa-apa yg dicitrakannya. &amp;#160;Bukan cuma seperti motivator yang terlalu banyak bicara tapi kosong dalam perbuatan. Atau seperti para teoritis yang tak mampu menyelesaikan masalahnya dalam kenyataan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bagaimana mungkin bisa bertanggung jawab pada orang lain, jika pada diri sendiri seenaknya saja. Bagaimana bisa mengapresiasi segala yang membantu dan membersamai, jika pikiran jujur saja tdk punya. Yg terjadi justru kebohongan, kepura-puraan, kekacauan dan palsu pencitraan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jauh cita-cita menginspirasi bisa terwujud. Karena inspirasi datang dari hati yg sejati. Yang hadir melalui wujud prilaku sehari-hari. Barangkali, hari ini citra omong kosong bisa membuat orang terpaku, terpana, kemudian orang tergerak untuk berbuat yang serupa. Tapi, semua itu tak akan sampai ke hati yg sejati. Kita bisa bicara, bergerak, dan menginspirasi orang lain. Tapi, tdk semua org menaruh hatinya disana, pada orang-orangnya, pada gerak dan sikapnya, dan pada hubungan-hubungan baik yg menyertainnya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Yang paling menyedihkan adalah bagaimana hilangnya rasa malu, tak peduli, dan merasa semua seolah keadaan yg &lt;u&gt;disalahkan&lt;/u&gt;. Bisanya mengabaikan tanggung jawab, tapi terus saja memupuk citra perjuangan. Sungguh penuh dengan kepalsuan. Sampai hilang kejujuran pada diri sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Citra adalah penilaian. Tak ada nilai baik, tanpa menyelesaikan persoalan dgn tuntas. Pencitraan adalah cara agar orang lain menilai sesuai bagaimana apa yg ingin dicitrakan. Pencitraan tak perlu menyelesaikan persoalan, berpura-pura dan seolah-olah saja sudah cukup. Tinggal brp banyak pengulangannya. Semakin sering berpura-pura, semakin besar peluang keberhasilannya. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Citra akan abadi &amp;amp; dikenang. Pencitraan hanya akan terus menambah pekerjaan rumah. Dua-duanya sama beratnya, sama berjuangnya, sama usahanya. Citra adalah laku, Pencitraan adalah omong kosong yang laku.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sayangnya banyak orang yg lbh menyukai pencitraan, karena tak perlu kerja tuntas. Dan yg berusaha membangun citra justru sering kehabisan nafas, bahkan mesti berhenti laku, dan banyak yg dikenang saat sudah mati.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tak ada yg lebih mendasar dr mengasah kejujuran diri sendiri. Banyak org pintar, seniman, aktifis, borjuis, tp tak banyak org yg jujur. Jujurlah pada diri sendiri, dan cobalah menyelesaikan tugas2 dgn tuntas, sedikit demi sedikit.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Tuhan selalu bersama mereka yg menempuh jalan yg sunyi; kejujuran.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/11/omong-kosong.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-4281430461347689070</guid><pubDate>Sun, 11 Nov 2018 10:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-11-11T02:58:18.714-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Agar Aku tak Lupa </title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Terima kasih&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sudah sebulan ini saya bertahan dari rasa kecewa dan depresi yang luar biasa berat bagi saya. Silahkan, jika dianggap berlebihan. Tapi, mengalami kegagalan dan disorientasi secara berturut-turut adalah kondisi atau tahap terburuk bagi siapapun yg pernah mengalami. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Terlebih tdk ada lagi orang yg percaya kpdmu, karena kegagalan dan kesalahanmu yg lampau. Atau karena kau belum pernah mencapai kesuksesan. Kau akan terabaikan sekali lagi!&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Dan yang paling berat bukanlah perasaan sendiri, tapi bgmn kau tak lg memiliki teman yg kau anggap teman. Kau menaruh harapan dan prasangka yang baik pada seseorang, namun akhirnya kau tetap saja dianggap berlebihan atau menyebalkan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Aku tulis ini agar nanti aku tak lupa, bahwa semua itu pernah ak lalui berkali-kali, meskipun berat. Karena mulai hari ini, ak bersyukur dan percaya. Mereka yg baik bagiku, akan tetap bersamaku. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Sedikit tenang rasanya, menulis seperti ini. Disaat tak ada lagi seseorang yang bs diajak bicara. Karena siapa jg yang kuat mendengar hal-hal yang tdk penting yg bukan dari dirinya sendiri. Akhirnya, malah membuat merasa dijadikan tempat sampah dan pelampiasan saja. Berat!&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Barangkali, sy tidak menyadari bahwa saya lemah dan sok ingin membantu orang lain. Atau saya terlalu ingin semua berjalan semestinya. Entahlah, sy tidak mengerti. Bagaimana sy mengingatkan ttg hal-hal yang mestinya diperbaiki, dan mana2 yg tak semestinya dilakukan. Tapi malah seperti sy yang justru memiliki masalah.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Kalau sudah begini, saya mesti diam. Diam bersama diri sendiri. Entah bagaimana nanti, dan apa yang akan terjadi. Saat ini sy hanya ingin memiliki diriku sendiri. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Maafkan ak dan diriku jika sy terus saja gagal, belum sukses atau akulah yg bermasalah bagimu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Terima kasih.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/11/agar-aku-tak-lupa.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-2954926673796493158</guid><pubDate>Mon, 22 Oct 2018 10:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-10-22T04:05:22.668-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Proses Bukan Buang Waktu</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Yang terbaik dalam hidup ternyata bukan tentang cita-cita yang tinggi, tapi &amp;#160;bagaimana usaha kita dalam mencapainya. &amp;#160;Bukan tentang keinginan-keinginan kita, tapi bagaimana kita mensyukuri apa yang telah terjadi dan kita miliki. &amp;#160;Terlalu naif jika kita tidak butuh materiil , tapi juga terlalu pragmatis jika kita terlalu mendewakan materiil. &amp;#160;Seringkali kita mesti ingat, bahwa sebagai manusia kita adalah khalifah, yang minimal mampu mengelola diri sendiri .&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hidup dalam kehidupan selalu paradoks, selalu ada ruang dilematis yang menuntut kita untuk berfikir dan bertindak, &amp;#160;baik secara rasional maupun irasional. &amp;#160;Kita diberi akal pikiran yang rumit, ditambah lagi perasaan yang tak kalah rumitnya. Manusia bisa saja tidak peduli pada &amp;#160;salah satunya, atau bahkan keduanya. Bisa saja Kita abai pada kebodohan kita. Bisa juga Kita abai pada kata hati Kita. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Menggali pikiran, atau mendangkalkan pikiran. Menajamkan rasa, atau menumpulkan rasa. Semua &lt;u&gt;itu&lt;/u&gt; adalah pilihan. Pilihan-pilihan yang akhirnya menuntun kita pada jalan hidup. &amp;#160;Sering kali keduanya pada titik yang setara, tidak ada yang lebih baik, atau lebih buruk. Begitulah barangkali semesta bekerja dalam keseimbangan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Apa yang terjadi, apa yang telah kita capai semua masih dalam putaran semesta. Ada cita-cita Kita di Sana, Ada keinginan Kita, Ada imajinasi, Ada usaha, Dan Ada faktor semesta lainnya seperti keberuntungan dan anugerah. Semua tak lantas terjadi begitu saja. Tidak ada kebetulan yang benar-benar kebetulan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Daya rasa, karsa, dan cipta adalah usaha terbaik yang bisa Kita lakukan. Tentu saja tanpa mengabaikan doa, rasa syukur, dan sifat-sifat darma yang bijaksana. &amp;#160;&amp;#160;Setelahnya, Kita akan terus menikmati setiap momentum kehidupan. &amp;#160;Bahagia-sedih, ramai-sepi, naik-turun, dan &amp;#160;kehidupan adalah perjalanan itu sendiri. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bicara perjalanan adalah bicara tentang proses mencapai tujuan. &amp;#160;Dalam perjalanan dibutuhkan keseimbangan. Semua baiknya mesti proporsional. &amp;#160;Ada jarak tempuh yang mesti dilalui. Ada medan tempuh yang mesti dilewati. Ada hal-hal yang mesti dipersiapkan. Seperti tidak mungkin hanya ingin cepat sampai, tanpa melangkah. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Jika semua berimbang, kita akan bertemu pada langkah-langkah kecil, &amp;#160;masalah-masalah kecil, kemudian beranjak pada step-step yang terus meningkat. Inilah proses, proses yang bagaimana pun hasilnya lebih baik daripada keinginan atau angan-angan saja, bahkan ketika gagal sekalipun.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Yang terpenting jika gagal, Tetaplah berusaha. Gunakan cara-cara baru, tempuh melalui jalan-jalan baru. &amp;#160;Karena &amp;#160;berproses kemudian gagal bukanlah hal buruk. Yang buruk adalah mereka yang tidak punya proses kehidupan, untuk mereka hargai.&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/10/proses-bukan-buang-waktu.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-1294104370950873228</guid><pubDate>Sat, 05 May 2018 12:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-05-06T06:34:05.713-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Cara Bekerja dengan Tenang dan Bahagia</title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Bekerja karena Tuhan dan untuk Tuhan &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Seringkali hidup terdiri dari konsep-konsep sedehana yang sudah diwariskan oleh nenek moyang kita. Bagaimana untuk menjadi manusia, yang tentu saja bahagia menjalani hidupnya. Salah satunya adalah tentang ketuhanan. Pada zaman Mana pun, perabadaban bisa saja tidak memiliki pasar, sekolah, dan lain sebagainya. Tapi setiap zaman manusia pasti memiliki tempat pemujaan. Termasuk zaman pra sejarah.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Konsep kehidupan yang sederhana tapi tidak sederhana ini salah satunya adalah bekerja karena Tuhan, dan untuk Tuhan. Dari kita, pastilah ada atau mungkin banyak yang bekerja sekedarnya, bekerja ketika ada boss, merasa memiliki pekerjaan karena kemampuan diri, dan lainnya. Dari Kita, jarang dijumpai mereka yang bekerja dengan bersungguh-sungguh, mencintai pekerjaanya, bekerja dengan keihlasan, bersyukur dengan pekerjaanya, dan lain-lain.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bekerja karena Tuhan adalah ketika Kita bisa merasa bahwa kita mendapatkan pekerjaan ini berkat Tuhan. Kemampuan yang Kita miliki karena Tuhan, &amp;#160;kesempatan yang Kita miliki karena Tuhan, orang-orang &amp;#160;baik yang memberi rekomendasi dan pekerjaan tidak lepas dari peran Tuhan. Semua usaha dan jerih payah kita berhasil karena tuhan. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bekerja untuk tuhan adalah ketika Kita bisa ikhlas dan mensyukuri setiap pekerjaan yang Kita miliki, kemudian mengerjakan ya dengan bersungguh-sungguh. &amp;#160;Ketika bekerja untuk tuhan, secara otomatis kita bekerja dalam kebaikan. Boss, rekan kerja, relasi, kolega, dan lain-lain &amp;#160;adalah &amp;#160;tim untuk mencapai hasil yang ingin didapat bersama-sama. &amp;#160;Bekerjalah untuk tuhan, maka Tuhan akan berperan dalam pekerjaanmu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Bekerja karena Tuhan dan untuk Tuhan tidak hanya untuk pekerjaan-pekerjaan pada umumnya. Termasuk juga pekerjaan-pekerjaan dibidang Sosial masyarakat. Meskipun menjadi pekerja sosial adalah pekerjaan yang mulia, namun jika tidak dibarengi dengan asal dan tujuannya &amp;#160;tdk karena Tuhan, maka apapun pekerjaannya akan sulit untuk menemukan &amp;#160;kecintaan, kesungguhan, dan ketenangan dalam bekerja.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Pun sebenarnya tidak hanya dalam Hal bekerja. Dari dan untuk Tuhan bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya; dalam belajar, bermasyarakat, dan lain sebagainya. Nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan yang sudah dilakukan moyang kita bertahun-tahun lalu. Rasanya sedikit demi sedikit tidak lagi menjadi hal yang sederhana.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Hari ini kita sering lupa, merasa bisa &amp;#160;dan memiliki hak karena usaha / kemampuan yang Kita miliki. Terlebih, sifat manusia yang cenderung ingin menguasai. Bekerja tidak lagi karena Tuhan, tapi karena merasa bisa, karena orang lain, dan karena nafsu kekuasaan. Nilai nilai kebaikan, kesungguhan, dan cinta terhadap pekerjaan pun makin lama makin luntur. Apalagi untuk ikhlas dan bersyukur. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Waktu kita orang dewasa banyak kita habiskan untuk bekerja, maka pantaslah jika pekerjaan bisa lebih mendekatkan manusia dengan tuhannya. &amp;#160;Begitu juga aspek-aspek lain dalam fase kehidupan; anak, remaja, hingga dewasa. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Mengubah mindset, kebiasaan, dan perilaku memang bukan pekerjaan sederhana. Namun, ini adalah salah satu konsep sederhana kehidupan. Jadi, patut dicoba!&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;----&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Terima kasih buat &amp;#160;seorang teman perjalanan; mbak Luci. Terima kasih telah menginspirasi dengan obrolan-obrolannya.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Catatan untuk diri sendiri&lt;br&gt;
Rusdiyan Yazid&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/05/cara-bekerja-dengan-tenang-dan-bahagia.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7738384783690923193.post-4870068796019043871</guid><pubDate>Wed, 21 Feb 2018 17:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-02-21T18:34:57.985-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Esai</category><title>Memelihara Nyala atau Kobaran? </title><description>&lt;p dir="ltr"&gt;Kita tidak benar-benar sedang dalam masalah, atau lebih tepatnya kamu atau aku saja yang sebenarnya bermasalah. Bukan kita. Masalah yang dianggap masalah publik, ternyata seringkali adalah masalah individu.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Barangkali, semakin hari manusia semakin individualis. Tapi, kemudian menjadi yang pertama lantang bicara tentang permasalahan-permasalahan sosial (seolah menjadi masalah bagi banyak orang). Padahal, komunitas juga enjoy-enjoy saja.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Malah, seringkali individu bicara seolah terjadi masalah di komunitas atau masyarakat. Tapi, kenyataannya individu tersebut tidak mampu memberikan perubahan yang berarti seperti perbaikan yang dikehendaki. Ada juga yang mengkomunikasikannya saja tidak mampu. Bahkan, ada individu yang ingin komunitas / masyarakat berubah, tapi dirinya sendiri tak mau berubah.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Persaingan semakin ketat, kebutuhan semakin meningkat, sedangkan lahan yang digarap semakin terbatas. Banyak orang akhirnya merasa frustasi, pesimis, kemudian mencari teman yang juga seperti dirinya, dan mereka akan semakin banyak. Bukannya, mengubah pola pikir agar tetap optimis dan bekerja lebih giat, tapi cenderung malah menyalahkan keadaan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Satu dua orang ini, lantas menganggapnya masalah sosial. Tapi, ketika diajak untuk menyelesaikan masalah tersebut, kebanyakan memilih mundur. Bahkan, belum sampai proses penyelesaiam masalah. Untuk memberikan solusi yang kongkrit saja gak mampu. Mereka lebih suka berkelit, bahwa solusinya ada pada orang lain (pejabat, yg berwenang, dll) atau mengatakan terlalu berat untuk mengubahnya. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Terus, apa yang harus dilakukan? Hanya mengeluh tentang masalah-masalah tp juga tak pernah berusaha memperbaikinya. Sudah tahu ada masalah, bukan mencari solusi malah mencari teman yang juga merasa kalah. Akhirnya masalah tidak pernah diurai, tapi justru ditambah ruwet. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ada juga yang merasa cukup dengan memberikan isyarat untuk waspada, agar tidak masuk dalam masalah, atau terlibat masalah yang lebih buruk. Tapi ketika individu tidak peduli pada mereka, mereka merasa sendirian, dengan masalahnya. Ya, bagaimana individu bisa tertarik dengan gelap atau tertarik untuk mengubahnya jadi terang, jika mereka saja selalu memberikan isyarat waspada. Individu akan semakin jauh atau mencari hal-hal lain yang kisahnya lebih menarik dan menjanjikan.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Ada kalimat bijak, lebih baik menyalakan sebuah lilin, daripada menghardik gelap. Mengatasi gelap bisa dimulai cukup dari satu nyala lilin. Ketika satu lilin menyala, terus jaga. Sampai akan ada yang tertarik, melihat, dan mendatangi, kemudian menyalakan lilinnya sendiri. Jika terus begitu, gelap akan bisa berubah jadi terang. &lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Nyala lilin ada batasnya, untuk terus menjaga nyalanya butuh lilin-lilin lainnya. Tak perlu jadi api yang membakar segalanya. Cukup jadilah lilin-lilin yang bermanfaat. Hidup yang menyala, atau urip sing urup.&lt;/p&gt;
&lt;p dir="ltr"&gt;Membuat api yang besar itu mudah, yang susah adalah membuat lilin-lilin yang terus bermanfaat menerangi kehidupan.&lt;br&gt;
Semoga kita bagian dari lilin-lilin tersebut, bukan kobaran api besar tapi membakar apa saja hingga ludes. Semoga. &lt;br&gt;&lt;/p&gt;
</description><link>http://rusdiyan.blogspot.com/2018/02/memelihara-nyala-atau-kobaran.html</link><author>noreply@blogger.com (Rusdiyan Yazid)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>