<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013</atom:id><lastBuildDate>Mon, 23 Feb 2026 01:21:11 +0000</lastBuildDate><category>my life my stories</category><category>pagi di bumi</category><category>a journey</category><category>saya dan pak ery</category><category>opini sendiri</category><category>teman baik</category><category>ibu bekerja</category><category>hamil dan menyusui</category><category>luar negeri</category><category>benang jarum</category><category>self reminder</category><category>sosial</category><category>aksarapagi</category><category>rumah</category><category>sekolah</category><category>ITB</category><category>semipalar</category><category>Alam Terbuka</category><category>Ayo Main</category><category>halopagi</category><category>parenting</category><category>perkembangan anak</category><category>Berkemah</category><category>Buku</category><category>Lari</category><category>Perempuan</category><title>ajengsekar</title><description>The universe is not made of atoms.
It's made of tiny stories</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>450</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:summary>The universe is not made of atoms. It's made of tiny stories</itunes:summary><itunes:subtitle>The universe is not made of atoms. It's made of tiny stories</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-9186559240342421584</guid><pubDate>Tue, 21 May 2024 10:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2024-05-21T17:33:44.283+07:00</atom:updated><title>Premeditatio Malorum</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu lalu saya menyadari kalau saya (sepertinya) perlu membatasi interaksi lewat sosial media. Penyebabnya unggahan seorang teman yang menceritakan soal bagaimana krisis iklim sudah berada pada level yang teramat-sangat menyedihkan. Diantara semua isu yang hilir mudik di sosial media, entah kenapa krisis iklim adalah topik yang paling mudah memancing rasa cemas saya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Meski menyadari krisis iklim termasuk sesuatu yang berada di luar kendali saya, tetap saja pertanyaan nanti seperti apa? anak-anak di masa yang akan datang bagaimana? apakah mereka masih punya kesempatan untuk hidup di bumi dengan kondisi yang layak? terus menerus berulang di kepala, tanpa saya tau jawabannya, dan itu memancing rasa tidak nyaman yang berlebihan. Sehingga saya memutuskan untuk sementara berjeda dari sosial media.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya mengalihkan energi yang tadinya digunakan untuk berpindah dari satu sosmed ke sosmed yang lain dengan mengurus ayam-ayam di kebun, dan membaca buku. Salah satu buku yang saya baca adalah Menua Dengan Gembira yang ditulis oleh Andina Dwifatma. FYI, bukunya bagus! buku yang bisa selesai dalam satu kali duduk, ceritanya erat dengan keseharian, ringan tapi cukup untuk membuat kita merenung.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Premeditatio Malorum&lt;/i&gt; adalah satu judul cerita dalam buku Andina yang berhasil membuat saya merenung. Menurut penjelasan singkat Andina, &lt;i&gt;premeditatio malorum&lt;/i&gt; adalah mempersiapkan mental kita bahwa hal-hal yang buruk bisa terjadi, mungkin terjadi dan jikapun sungguh-sungguh terjadi, kita akan tetap baik-baik saja. Kita tetap ada dan hidup tetap akan berjalan terus.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;Jika hal buruk terjadi&lt;br /&gt;Jikapun sungguh-sungguh terjadi&lt;br /&gt;Kita tetap akan baik-baik saja, dan..&lt;br /&gt;Hidup tetap akan berjalan terus.&amp;nbsp;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya mengulang kalimat-kalimat tadi, dan berkata dalam hati. Iya, benar.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Menyadari bahwa di dunia ini segala sesuatu (yang terburuk sekalipun) bisa saja terjadi. Kesadaran akan hal ini bukan bertujuan membuat kita cemas sepanjang hari, tapi justru membantu kita memiliki kesadaran yang penuh; jikapun terjadi, hidup kita tetap akan terus berjalan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya berusaha menerapkan teori ini pada ketakutan saya akan krisis iklim. Tidak langsung membaik, tapi cukup meredakan. Tugas saya sebagai manusia adalah menjalani hidup dengan versi terbaik. Fokus saja pada usaha-usaha yang baik, ibadah yang baik, dan hal-hal baik lainnya, karena hidup akan berjalan terus, meski hal yang tidak baik menghampiri kita.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Premeditatio Malorum.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2024/05/premeditatio-malorum.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-1511427943860248785</guid><pubDate>Fri, 04 Aug 2023 08:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2023-08-04T23:22:45.100+07:00</atom:updated><title>Rumah Utara</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kami membangun Rumah Utara di tahun 2017. Karena menggunakan rangka baja, waktu pengerjaannya menjadi jauh lebih cepat. Di bulan ke-4 seluruh bangunan sudah lengkap berdiri dan bisa ditinggali. Sejak saat itu kami menjadikan Rumah Utara sebagai rumah yang tumbuh bersama kebutuhan kami; Saat belum merasa perlu punya lemari, kami mengakalinya dengan membeli beberapa kontainer untuk menyimpan barang. Saat belum merasa perlu menambah rak buku, kami menyimpan buku-buku di tiap sudut rumah yang memungkinkan. Sampai saat ini meskipun setiap hari memasak untuk lima anggota keluarga, saya juga masih merasa cukup dengan kompor satu tungku.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kebanyakan isi Rumah Utara bukan barang baru, meja utama di ruang depan kami dapat dari rumah alm. kakek, ada jam dinding yang usianya lebih tua dari saya. Tempat tidur di kedua kamar berasal dari rumah ibu yang sudah diungsikan ke gudang saat itu. Di ruang atas ada lampit rotan yang dulu dibeli ibu saat saya duduk di sekolah dasar. Bantalan tangga berasal dari kayu peti, Kursi tamu kami beli bekas dari salah satu teman baik, dan interior dapur yang sebagian besar hasil “&lt;i&gt;refurbished&lt;/i&gt;” dari meja dan kursi warung kopi, dikerjakan oleh teman baik kami yang kebetulan memiliki bengkel kayu.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ruang utama di Rumah Utara sebenarnya hanya ada dua, ruang depan dan dapur. Kedua ruangan ini berfungsi maksimal di keseharian kami. Ruang depan untuk menerima tamu, anggota keluarga beraktifitas seperti belajar, mengerjakan pekerjaan rumah atau membuat karya. Satu lagi dapur, yang jadi ruangan paling sibuk di Rumah Utara, kami banyak menghabiskan waktu di sini. Masak, mencuci, menonton tv, membaca buku, sampai makan bersama kami lakukan di dapur. Sebenarnya masih ada ruang atas yang jadi tempat anak-anak bermain, dan dua kamar tidur yang minimalis, tanpa televisi, tanpa interior khusus, karena benar-benar kami fungsikan sebagai tempat beristirahat.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jika kami diminta mendefinisikan Rumah Utara, maka Rumah Utara adalah rumah yang apa adanya, pot bunga yang tidak seragam, &lt;i&gt;gordyn &lt;/i&gt;dengan pola cakar kucing, banyak barang kami simpan/taruh di tempat yang terbuka, seperti beberapa totebag yang kami biarkan bergantung di tembok dapur, juga buku-buku yang ada di hampir setiap sudut rumah. Tujuan utamanya agar terlihat, dan agar kami ingat. Ingat harus selalu membawa &lt;i&gt;reusable bag&lt;/i&gt; jika berbelanja untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, ingat juga ada buku-buku yang sudah dibeli tapi belum dibaca hahahaha.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang pernah saya ceritakan, saat merencanakan Rumah Utara yang pertama kami sepakati adalah jendela besar dan menghadap matahari. Saat itu kami tidak paham teknisnya, tapi pokoknya mau jendela yang besar. Sampai kemudian terwujudlah dua jendela besar di sisi timur rumah, dengan empat bukaan. Saking besarnya perlu kekuatan tambahan pada tembok untuk menyangga rangka jendelanya. Hasil ngotot itu membuat Rumah Utara panen sinar matahari setiap hari. Biasanya setiap pagi kami silih berganti duduk di tangga sisi jendela, kadang fungsinya berubah menjadi meja untuk anak-anak, untuk menggambar, ngemil, moyan (berjemur dalam bahasa sunda), melihat bulan saat malam, baca buku, atau sekedar bengong-bengong mengumpulkan keinginan &#128513;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun ini adalah tahun ke-lima kami di Rumah Utara. Sudah mulai terlihat beberapa bagian yang perlu dibenahi, wajar, standar perawatan lima tahunanlah. Tapi semoga selamanya Rumah Utara akan seperti ini, rumah yang selalu jadi tempat pulang, rumah yang tidak rapi tapi hangat, tidak seragam tapi selalu menyenangkan.&amp;nbsp;Hari ini juga kami "merayakan" lima tahun tumbuh bersama Rumah Utara dengan muncul di Intagram feed &lt;a href="https://www.instagram.com/livinglovingnet/" target="_blank"&gt;Living Loving&lt;/a&gt; sebagai #LLHomeInspo. Saat awal dikirimi pesan untuk diajak kolaborasi, perasaan saya campur aduk, senang banget, sekaligus minder banget hahaha. Tapi tentu, terima kasih Living Loving atas kesempatan kolaborasinya. Semoga Rumah Utara bisa menginspirasi teman-teman yang sedang berjuang mewujudkan mimpinya membangun dan mempunyai rumah idaman.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2023/08/rumah-utara.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-8297723827076263204</guid><pubDate>Mon, 05 Jun 2023 05:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2023-06-07T15:00:35.014+07:00</atom:updated><title>Berjeda</title><description>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sepertinya saya perlu mengambil jeda. Mulai kesulitan menyaring energi negatif dari berita-berita yang hilir mudik. Jadi malam ini saya memutuskan "keluar" dari dua sosial media yang (biasanya) jadi andalan saya untuk kepo berdalih nyari info. Ga yakin juga bisa berapa lama istirahatnya. Dicoba dulu ga ada salahnya ya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;How's life? Up and down as always &#128516;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kabar buruknya, saya baru menyelesaikan empat buku tahun ini. Gimana nih rencana baca dua puluh empat buku dalam satu tahun yang dicatat di &lt;i&gt;goodreads&lt;/i&gt;? ga tauuu! hahaha, tapi boleh mengemukakan pembelaan kan ya? ini semata-mata terjadi karena saya bertekad menyelesaikan satu buku fisik dan satu buku di kindle sebelum membaca buku baru lain. Masalahnya dua buku yang sedang saya selesaikan ini bahasannya cukup berat untuk dipahami (dan diamalkan). Tapi&amp;nbsp;&lt;i style="font-family: inherit;"&gt;s&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;i&gt;urprisingly&lt;/i&gt; saya masih rajin olahraga loh! baru masuk bulan ke-enam sih, kilometernya baru menyentuh angka 300 lebih sedikit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&amp;nbsp;Sebuah pencapaian buat saya yang dulunya sama sekali gak menjadikan lari sebagai cabang olahraga. Sekarang tiap habis lari tuh senangnya bukan main.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Memasuki bulan ke-enam dua ribu dua tiga, ada satu hal yang akhirnya saya sadari. Saya perlu pengelolaan keuangan yang baik. Sudah waktunya &lt;i&gt;mindfullness&lt;/i&gt; menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk sadar apa yang dihasilkan dan apa yang dikeluarkan. Jadi beberapa bulan belakangan saya rajin mencatat sekecil apapun pengeluaran. Beneran jadi tau apa yang tadinya bolak-balik jadi pertanyaan dalam diri "saya gak boros, tapi uang kok habis terus ya?" pas udah dicatat, ketemu penyebabnya dan tidak bisa mengelak lagi lalu diikuti perkataan dalam hati "engga Ajeng.. kamu tuh memang dasarnya boros" hahahaha.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Dari sekian banyak hari yang sudah dilewati di tahun ini, 2023 memang rencananya ini akan kuhabiskan dengan hidup biasa-biasa saja. Tetap mengikuti arus tapi jangan sampai tenggelam. Ga punya banyak target, ga buru-buru, merelakan segala sesuatu yang sudah diusahakan tapi tidak tercapai atau terlaksana, tetap ada di jalur yang kita rasa kita mampu melewatinya, belajar terus, banyak bersyukur,&amp;nbsp;&lt;i&gt;midfullness &lt;/i&gt;dan&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;lebih sering melihat ke dalam. Masih ada setengah lagi untuk sampai di penghujung 2023. Masih bisa banget buat memperbaiki apa-apa yang kemarin luput kita perhatikan. Yuk bisa yuk!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2023/06/berjeda.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-7865327885558591156</guid><pubDate>Sat, 08 Apr 2023 13:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2023-04-09T03:52:16.204+07:00</atom:updated><title>Sekolah</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sedang hangat berita tentang larangan test baca tulis untuk masuk ke sekolah dasar, membuat saya ingin ikut bercerita tentang sekolah yang jadi tempat Pagi dan Ara menghabiskan jenjang pendidikan dasarnya selama (insyaallah) enam tahun. &lt;a href="https://www.detik.com/edu/sekolah/d-6660088/intip-tes-masuk-sd-prof-moestopo-sekolah-tanpa-seleksi-tes-calistung" target="_blank"&gt;Salah satu sekolah dasar swasta tertua di Bandung&lt;/a&gt;, yang dalam pembelajarannya mengikuti kurikulum pemerintah, termasuk jumlah hari dalam kegiatan sekolahnya. &amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2019 kami mengalami proses pencarian sekolah dasar untuk Pagi. Kebetulan di jenjang sebelumnya Pagi sudah lancar membaca, jadi meskipun sekolah yang kami pilih tidak mensyaratkan baca-tulis sebagai tes masuk, kami tidak mengalami proses mendampingi anak belajar membaca. Berbeda cerita di pertengahan tahun 2022 saat Ara masuk sekolah, Ara belum bisa membaca, apalagi menulis. Satu dari sedikit rangkaian huruf yang lancar ia baca dan bisa ia tulis adalah namanya sendiri, ARA, dengan huruf R yang menghadap ke kiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Apakah kami khawatir? alhamdulillah enggak. Karena selain tau sekolah yang akan jadi tujuan kami tidak menerapkan kewajiban membaca sebagai syarat masuknya, saya juga yakin bahwa kebisaan membaca itu cuma soal waktu, suatu saat pasti bisa.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kasihan nanti jadi gak bisa mengikuti pelajaran karena yang lain bisa baca, anak saya belum.."&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mmm, rasanya tidak perlu kasihan ya, saya percaya anak-anak adalah pembelajar ulung. Mereka akan menyesuaikan diri dan belajar dengan cepat. Saya juga percaya guru dengan pengalaman dan keilmuannya pasti cakap mendampingi anak-anak yang sedang dalam masa "transisi". Benar saja, dua bulan berlalu sejak pertama kali masuk sekolah, Ara lancar membaca. Apakah kemudian dia ketinggalan pelajaran di kelasnya? tidak sama sekali.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dipegang oleh Mas Menteri, di tahun yang sama dengan Ara masuk sekolah, kurikulum berganti konsep dan nama, dari Kurikulum Tiga Belas menjadi Kurikulum Merdeka. Pertama saya dibuat kagum oleh buku paket sekolahnya, ilustrasi bukunya bagus! Konsep belajarnya juga ringan, dan menyenangkan. Fokusnya pengembangan &lt;i&gt;soft skill&lt;/i&gt; dan karakter, penilaian asesmennya berbasis&amp;nbsp;&lt;i&gt;project&lt;/i&gt;. Tentu jangan membayangkan &lt;i&gt;project&lt;/i&gt; yang dikerjakan anak-anak sekolah dasar akan sangat nyeni dan wah. Tapi saya percaya, yang lebih penting dari itu semua ada konsep baik yang tertanam di balik prosesnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di luar keramaian soal baca tulis ini, intinya salah satu kewajiban kita sebagai orangtua adalah mengusahakan lingkungan termasuk sekolah yang baik untuk anak-anak. Meskipun seperti yang sering saya dan pak Ery utarakan saat bercerita tentang sekolah, tidak ada sekolah yang 100% cocok dengan kita, tapi kita bisa cari sekolah yang paling mendekati nilai-nilai yang diterapkan dalam keluarga. Di keluarga kami misalnya, selain jarak tempuh, Sekolah yang tidak besar dan tidak paralel, jadi salah satu penentu pilihan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Keteraturan juga jadi fokus utama kami, teratur bukan berarti kaku. Keteraturan adalah awal mula anak-anak mengenal konsep waktu, dan disiplin. Disiplin artinya tanggung jawab, yang kemudian akan luas sekali sudut pandang dan maknanya. Pembiasaan belajar juga perlu jadi perhatian, bagaimana sekolah bisa menciptakan suasana menyenangkan saat belajar. Sekolah yang baik akan menjadikan proses belajar sebagai keseharian yang seru untuk dilakukan, sehingga kebiasaan belajar terbentuk dengan sendirinya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Suatu hari saat pertemuan pertama orangtua di tahun 2019, saya membawa pulang satu kalimat sederhana yang menarik “belajar sesuai jenjang usianya”, prinsip sederhana yang seringnya kurang saya resapi. Ini seperti jadi rem saat secara tidak sadar saya mulai punya banyak “daftar tuntutan” yang ditujukan untuk mereka. Benar gak sih harapan saya sesuai usia mereka? Jadi penting sekali untuk menyadari apapun yang kita ajarkan ke anak-anak, perlu diperhatikan kesesuaian dengan jenjang usia mereka.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terakhir, mungkin pendapat yang tidak populer, tapi kami &amp;nbsp;meyakini bahwa anak-anak perlu dikenalkan dengan kalimat "dunia tidak berjalan seperti yang kamu inginkan". Bahwa kamu harus berusaha, dan punya tanggung jawab, bahwa kamu perlu menaati aturan, di dalam hari-hari yang kamu lewati mungkin ada hal yang mengecewakan, ada sesuatu yang menyebalkan, bahwa kamu perlu belajar mencari solusi, mengenali, mengurai dan mengatasi perasaan tidak nyaman. Dalam porsi yang cukup, kami melihatnya sebagai sesuatu yang sehat untuk membentuk karakter mereka, dan menurut kami sekolah punya peran dalam hal ini.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Memilih sekolah untuk anak-anak pertimbangannya pasti berbeda di tiap keluarga. Sekolah Dasar adalah jenjang terlama di fase yang penentuannya dibantu oleh kita sebagai orangtua. Sebelum nanti mungkin mereka akan menentukan jurusan kuliahnya sendiri, dimana, dan dilanjut sampai berapa kali ditentukan sendiri juga. Jadi memang perlu banyak-banyak diskusi internal (keluarga) dan melihat ke dalam. Seperti apa yang diharapkan, seperti apa yang dibayangkan dan diyakini. Perlu diingat juga bahwa sebaik apapun sekolah yang kita pilih untuk anak-anak, yang terpenting adalah kita sebagai orangtua hadir dan mendampingi setiap prosesnya &#128578;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2023/04/sekolah.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-3455614992965577384</guid><pubDate>Tue, 31 Jan 2023 13:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2023-02-02T11:49:12.917+07:00</atom:updated><title>Kapasitas</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; text-size-adjust: auto;"&gt;Beberapa hari belakangan entah kenapa topik obrolan saya di rumah maupun di kantor temanya seputar kapasitas, spesifik kapasitas seseorang. Dalam cerita ini saya mendefinisikan kata kapasitas dengan sederhana; yaitu kemampuan (maksimal) yang dimiliki seseorang dalam bidang tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span style="-webkit-text-size-adjust: auto; text-size-adjust: auto;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;Bahan diskusi beberapa hari belakangan sebenarnya berawal dari pertanyaan kenapa tidak mudah untuk sebagian orang menyadari kapasitas dalam dirinya. Paham kapasitas diri bukan berarti tidak percaya diri ya, justru karena dia percaya jika tetap berbicara/melakukan hal di luar kapasitasnya maka akan berujung merepotkan banyak orang di sekitarnya *yhaa curhat* &#128514;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;“Saya ga punya kapasitas di sini, jadi sepertinya ga pas kalau saya yang diminta menjelaskan/memutuskan”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;atau sebaliknya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;“Ini kapasitas saya, jadi saya bertanggung jawab atas proses yang terjadi selanjutnya”&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;Di obrolan saya kemarin yang ga punya kapasitas, merasa punya kapasitas. Yang punya kapasitas, merasa yaudahlah kalau kamu bisa, ya kamu aja. Kusut kan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;Tapi saya bahas yang pertama dulu deh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;Seorang dokter misalnya, pasti melakukan diagnosis pasien sesuai kapasitasnya. Dilakukan setelah sekolah bertahun-tahun, ujian berkali-kali, bertemu pasien beratus-ratus, membaca jurnal/penelitian terkini tentang penyakit serta teknologi yang menyembuhkannya, semuanya adalah cara seorang dokter menjaga dan memperbesar kapasitas ilmunya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span class="s1" style="font-family: inherit;"&gt;Apakah seorang yang bukan dokter bisa melakukan diagnosis penyakit tertentu? Ya bisa aja. Tapi kebayang ga kenapa dokter, pekerjaan lain seperti akuntan, konsultan pajak sampai ada sekolah profesinya? Karena memang ada ilmu yang harus dipelajari, didalami. Supaya setelah selesai sekolahnya, sesorang jadi punya kapasitas bicara sesuai dengan kemampuannya di bidang kesehatan, keuangan, perekonomian dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p2" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; min-height: 21px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;Seseorang bisa saja lebih berpengaruh, lebih dipercaya daripada orang yang sebenarnya punya kapasitas. Gak salah juga, mungkin kesempatannya ada, keberuntungannya jalan terus juga.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="p1" style="-webkit-text-size-adjust: auto; font-stretch: normal; line-height: normal; margin: 0px; text-align: justify; text-size-adjust: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span class="s1"&gt;Pokoknya selagi apa yang dibicarakan, atau diputuskan memang bukan kapasitasnya, pasti ada sesuatu yang jadi ga beres&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="s2"&gt;&#128524;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2023/01/kapasitas.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-3418075986567382624</guid><pubDate>Sun, 04 Dec 2022 10:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-12-05T14:07:39.831+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Lari</category><title>Lari</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mulanya pertengahan tahun lalu, sama seperti kebanyakan orang; coba-coba siapa tau cocok, karena sudah menyadari dengan sepenuh hati kalau tubuh saya perlu olahraga. Dengan status ibu bekerja dengan tiga anak, tidak punya asisten rumah tangga yang menginap, tentu kegiatan aktif bergerak ini perlu memperhitungkan efisiensi waktu, yang&amp;nbsp;&lt;i&gt;effortless;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;persiapannya cepat, bisa dikerjakan dengan cepat juga.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya suka bersepeda sebenarnya, tapi bersepeda dari rumah ke kantor perlu persiapan lebih. Berangkat harus lebih pagi, pulangnya dengan elevasi jalan yang lumayan, pasti perlu waktu tempuh yang lebih lama juga. Olahraga permainan juga sebenarnya seru, bulutangkis misalnya. Tapi perlu menyesuaikan jadwal dengan ketersediaan lapangan, lalu perlu mengikuti aturan durasi permainan, sudah pasti tidak cukup satu jam, belum cocok dengan situasi dan kewajiban saya di rumah. Jadi, pilihan satu-satunya untuk saat ini cuma lari.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya yang duluan suka lari itu pak Ery, saat pandemi, saya sering mengikuti kelas Yoga, nah sambil menunggu saya Yoga, pak Ery berlari. Didukung kepemilikan waktu yang lebih luwes ketimbang saya si pekerja administrasi yang durasi kerjanya &lt;i&gt;office hour.&lt;/i&gt; Lama-lama pak Ery rutin berlari, meski awalnya pemicu semangat lari adalah untuk cari sarapan &#128512; tapi karena konsisten, pelan-pelan mulai dari 4 km sampai akhirnya minggu lalu bisa tembus trail run 10 km di posisi ke-6. Wih, bangga!&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tentu saya juga tidak langsung jatuh hati sama lari. Awalnya coba berlari di lintasan. Wah, repot banget urusan nafas, kalau bahasa sundanya; ripuh hahahaha. Jadinya gak enjoy, mungkin namanya adaptasi. Belum sampai rutin, Bandung dilanda musim hujan. Hampir setiap sore hujan, saya jadi punya alasan untuk tidak meneruskan. Pindah jadwal lari jadi pagi hari, kok kayaknya repot banget. Sudah harus atraksi sejak subuh, menyiapkan amunisi dan perbekalan seisi rumah, musti berangkat lebih pagi juga. Duh, engga dulu deh.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lama-kelamaan karena memperhatikan pak Ery yang rutin dan konsisten berlari, ada perasaan masa sih saya gak bisa ngambil sedikit saja waktu dalam satu minggu. Harusnya bisa. Jadi bulan lalu, saya pasang target minimum.. seminggu sekali saja, gak perlu jauh, gak perlu cepat, yang penting terlaksana. Mulai mengatur jadwal, kalau senin-kamis sore Bandung hujan, maka Jumat pagi harus jadi, kalau tidak bisa juga akhir pekan harus disempatkan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bulan lalu sudah berhasil seminggu satu kali, bulan ini inginnya jadi seminggu dua kali, karena ternyata ada perasaan senang tiap mencatat hasil berlari saya di jurnal. Olahraga itu memang seperti ibadah, perlu dipaksa untuk terus menerus sampai kemudian jadi terbiasa, dan semakin baik dari hari ke hari. Karena baru dimulai, saya belum suka lari, tapi yang jelas sudah ada di fase menyadari bahwa untuk tetap sehat, saya perlu aktif bergerak. Jadi mari diusahakan &#128513;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/12/lari.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-9027571450106480448</guid><pubDate>Wed, 19 Oct 2022 12:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-20T10:08:02.616+07:00</atom:updated><title>Pekerja Administrasi</title><description>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151;"&gt;Saya adalah pekerja administrasi. Pekerjaan yang katanya tidak perlu keahlian khusus karena nyaris semua bidang keilmuan dapat lakukan. Pekerjaan yang sering dianggap tidak istimewa karena rutin, berulang, membosankan, gak jarang juga merepotkan. Termasuk salah satu pekerjaan yang akan cepat digantikan oleh sistem dan teknologi informasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151;"&gt;Pekerjaan administrasi juga sering dianggap sebagai pekerjaan yang sifatnya general dan tidak spesifik, tapi sekaligus pekerjaan yang tidak bisa lepas dari proses bisnis apapun, apalagi di negara yang masih menjadikan kopi dokumen dengan cap legalisir sebagai syarat suatu urusan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Jika seorang yang baru saya kenal bertanya di mana saya bekerja, kemudian saya menyebutkan institusi tempat saya mengabdi selama hampir 12 tahun, sebagian besar akan mengajukan pertanyaan balikan “dosen ya?” biasanya saya tanggapi dengan nada gurau saja “bukan, saya ngurusin dosen”. Sebenarnya tidak sepenuhnya gurau, karena pekerjaan saya memang memproses administrasi tenaga pendidik. Tapi tebakan pekerjaan saya sebagai staf administrasi nyaris tidak pernah terlontar. Entah karena wajah saya cukup meyakinkan untuk berdiri di depan kelas (berdiri doang hahaha) atau karena yang bertanya memahami bahwa&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;core&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bisnis perguruan tinggi “hanya” punya dua elemen penting, mahasiswa dan dosen. di luar itu, ga masuk hitungan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kata sebagian orang, administrasi itu pekerjaan yang tidak akan berkembang; Kamu mengerjakan pekerjaan rutin berulang setiap hari, selama bertahun-tahun. Tidak ada ilmu baru yang didapat, tidak banyak inovasi yang bisa kamu buat. Bagi saya yang tidak ambisius dalam karir, tidak terganggu dengan status pekerja biasa, pekerja rata-rata atau pekerja pada umumnya, ya ga&amp;nbsp;masalah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sederhananya bekerja menurut saya adalah tentang mengambil bagian, bagian yang kita mampu kerjakan, bagian yang dipercaya untuk kita kerjakan. Saya percaya di dunia ini, tidak ada orang yang hebat dalam segala hal. Maka di dalam organisasi, penting untuk melihat pekerjaan orang lain sebagai bagian yang mendukung lancarnya pekerjaan kita, apapun jenis pekerjaannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Atasan saya dulu pernah mengatakan bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dari pekerjaan lain, masing-masing dari kita punya peran untuk membuat organisasi dan segala sesuatunya terus berjalan, dan tidak ada peran yang sia-sia selama dilakukan dengan baik. Prinsip yang selalu saya ingat jika pekerjaan di depan mata mulai terlihat kusut, dan semoga juga jadi prinsip yang bisa terus saya bawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/10/pekerja-administrasi.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-8744624438787741855</guid><pubDate>Wed, 17 Aug 2022 08:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-19T20:01:56.629+07:00</atom:updated><title>Barang Bekas</title><description>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="background-color: white; color: #345151; font-size: 15px;"&gt;Sejak kecil saya memperhatikan Bapak dan hobinya akan mesin kendaraan. Bapak lulus dari Sekolah Teknik Menengah mesin, menempuh jenjang pendidikan tinggi di rumpun yang sama, mengabdikan keahliannya selama berpuluh tahun di Depo Kereta Api untuk merawat mesin-mesin Kereta. Kesukaan dan pengetahuan mendalam soal mesin ini juga, yang mungkin menjadi salah satu faktor pendukung Bapak hobi membeli mobil bekas, tepatnya&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="background-color: white; color: #345151; font-size: 15px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; font-style: inherit; font-weight: 700; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;selalu&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="background-color: white; color: #345151; font-size: 15px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="background-color: white; color: #345151; font-size: 15px;"&gt;membeli mobil bekas untuk dijadikan kendaraan kami sehari-hari.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sepanjang ingatan saya, kami pernah punya Suzuki Charade, Carry, Katana yang saat banjir airnya akan masuk sampai ke lantai mobil, Daihatsu Espass yang pada iklannya dulu diibaratkan seperti mengendarai sedan mewah, Daihatsu Rocky pada masa itu belum musim banget mobil-mobil tipe begini, dan dijual Bapak dengan harga murah sekali, VW Kodok, Nissan Serena, Kijang Krista yang kami bawa mudik Lampung-Surabaya beberapa kali, dan terakhir Toyota Rush yang semuanya didapat dari orang lain, alias bekas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Hobi melirik barang bekas ini sepertinya menular ke saya. Untungnya saya berjodoh dengan pak Ery yang ternyata punya prinsip sama dalam memandang barang. Untuk beberapa benda, kami tidak terlalu memikirkan status kebaruannya. Selama fungsinya bisa berjalan dengan baik, sesuai anggaran dan kebutuhan, kenapa engga?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Di rumah kami, hampir semua benda utama didapatkan atau kami beli dengan status bekas, istilah kekiniannya&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;preloved&lt;/em&gt;. Kursi di ruang utama, meja belajar, televisi beserta mejanya, juga tempat tidur. Sebagian yang bekas lainnya kami “renovasi” sesuai fungsi dan kegunaannya seperti meja makan, dan meja kerja. Minggir sedikit ke alat transportasi yang kami gunakan untuk mobilitas sehari-hari, juga bekas. Laptop yang saya gunakan untuk mengetik tulisan ini juga saya adopsi dari teman baik saya, bekas? tentu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-family: inherit; font-style: inherit; font-weight: 700; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ada prinsip tidak tertulis yang perlu dianut oleh pemburu barang bekas seperti kami; hati-hati, sabar. Tapi kalau sudah ketemu, dan feeling bilang oke, sikat!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Seiring berjalannya waktu, kemampuan ini jadi terasah dengan baik. Perlu hati-hati karena barang bekas biasanya sudah melewati masa garansi, yang bisa digunakan jika sewaktu-waktu barang yang kita beli mengalami kerusakan. Paling aman sebenarnya kalau kita memberi barang bekas dari teman atau orang yang kita kenal baik; kita tau riwayat barangnya, dan dijual dengan sebenar-benarnya kondisi terakhir pemakaian. Perlu sabar karena beberapa barang bekas membutuhkan waktu lama untuk riset mendalam (ini kami sih), dan urusan riset ini pak Ery jagonya. Mencari mobil tipe A, bisa ditelusuri mulai dari generasi pertama, kelebihan kekurangannya, resiko yang paling mungkin dihadapi dalam waktu dekat, perkiraan biaya ini dan itu, berapa biaya yang perlu kami cadangkan untuk menghadapi itu semua, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="background-color: white; border: 0px; box-sizing: border-box; color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Mencari barang bekas untuk diperbaiki kemudian digunakan kembali, buat sebagian orang bahkan jadi suatu hobi, bahkan profesi. Pasarnya selalu ada karena didukung hukum permintaan dan penawaran. Soal&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;thrift shopping&lt;/em&gt;,&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;reuse&lt;/em&gt;&amp;nbsp;atau&amp;nbsp;&lt;em style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-weight: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;upcycling&lt;/em&gt;&amp;nbsp;barang sehari-hari seperti pakaian juga sudah lama digadang-gadang manfaat dan efek baiknya untuk lingkungan, karena bisa mengurangi jejak karbon, dan polusi dalam bentuk limbah. Saya dan kita semua mungkin masih jauh dari itu, tapi sebagai konsumen, mengubah cara pandang tentang barang bekas tentu ada baiknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/08/barang-bekas.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-103839106115489499</guid><pubDate>Fri, 12 Aug 2022 12:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-19T19:57:36.721+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Buku</category><title>Membaca Dengan Kindle</title><description>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;Baru beberapa bulan saya menggunakan&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://kindleindonesia.com/" rel="noreferrer noopener" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #488c91; font-size: 15px; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; transition: all 0.3s ease-in-out 0s; vertical-align: baseline;" target="_blank"&gt;Kindle&lt;/a&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;, tapi karena sudah ada yang minta reviewnya (halo&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="https://www.instagram.com/aiksyalalaa/" rel="noreferrer noopener" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #488c91; font-size: 15px; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; transition: all 0.3s ease-in-out 0s; vertical-align: baseline;" target="_blank"&gt;Aik&lt;/a&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;span face="&amp;quot;Open Sans&amp;quot;, sans-serif" style="-webkit-text-size-adjust: 100%; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px;"&gt;) Jadi, mari dibahas sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Dulu yang bikin ragu punya Kindle sebenarnya karena khawatir tidak bisa membedakan memang butuh, atau sekedar ingin. Buat tipe orang yang kalau beli barang untuk seumur hidup seperti saya, ritual mempertimbangkan ini dan itu sebelum membeli barang bisa memakan waktu berbulan-bulan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;tapi akhirnya saya memutuskan untuk membeli dengan pertimbangan:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; margin: 0px 0px 1.5em 3em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Saya suka baca buku&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;self improvement&lt;/span&gt;yang kebanyakan diterbitkan dalam bahasa inggris.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Buku&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;self improvement&lt;/span&gt;&amp;nbsp;adalah jenis buku yang perlu saya baca berulang, sekaligus tidak perlu waktu khusus. Membaca dengan kindle membuat kegiatan tersebut jadi lebih praktis.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Membeli buku-buku impor berbentuk fisik, menurut perhitungan saya mahal. Satu buku impor bisa untuk membeli dua sampai tiga novel Indonesia. Di Kindle banyak buku yang dibanderol separuh harga buku fisik.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Saya ga jago bahasa inggris, tapi merasa perlu terbiasa membaca tulisan dalam bahasa inggris.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Motivasinya kurang menjual ya hahaha. Tapi saya akan kasih alasan kenapa perlu mempertimbangkan menggunakan kindle:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; list-style-image: initial; list-style-position: initial; margin: 0px 0px 1.5em 3em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Membawa banyak buku dalam satu perangkat digital seukuran komik ternyata seru.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Fitur&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;highlight&lt;/span&gt;&amp;nbsp;di Kindle itu jenius sih. Begitu buku selesai dibaca, kita bisa lihat “rangkuman” tulisan yang menarik perhatian kita selama membaca bukunya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Takut salah beli buku? Tenang kita bisa unduh sample bukunya, jadi bisa dibaca dulu, enak ga bahasanya, susah ga, cocok ga isi bukunya sama apa yang kita cari, dari situ bisa buat pertimbangan dibeli atau engga bukunya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;“Gak ada yang bisa menyaingi wangi kertas di buku yang kita baca”. Iya, bener kok. Tapi membaca tanpa mencium wangi, dan merasakan tekstur kertas juga ternyata gapapa.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: inherit; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Daya baterai Kindle bisa bertahan lama banget, selama dua bulan ada di tangan, saya baru tiga kali isi daya. Jadi tenang, kita ga bakal direpotkan dengan urusan ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kalau pernah baca tulisan saya beberapa waktu lalu, pasti tau, saya hampir gak pernah khilaf membeli buku. Buku-buku yang saya beli bisanya memang buku yang ingin saya baca. Biasanya jikapun tidak, saya selalu berkomitmen untuk menyelesaikan membacanya. Berlaku juga untuk Kindle. Saya hanya membeli 1 buku setiap bulan di Amazon, dan saya ga bakal beli lagi sebelum saya menyelesaikan membacanya. Jadi soal&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;budget&lt;/span&gt;&amp;nbsp;beli buku setelah punya Kindle, sejauh ini aman sih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="-webkit-text-size-adjust: 100%; border: 0px; box-sizing: border-box; caret-color: rgb(52, 81, 81); color: #345151; font-size: 15px; margin: 0px 0px 1.5em; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kalau mau beli kindle baiknya yang mana? Hmm, jelas sesuaikan saja sama&amp;nbsp;&lt;span style="border: 0px; box-sizing: border-box; font-style: italic; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;budget&lt;/span&gt;. Kalau mau langsung beli Kindle Oasis pasti jauh lebih bagus, tapi karena saya bukan agen Kindle, beli perangkat baca selain Kindle juga kayaknya sama serunya. Ada beberapa pilihan seperti Onyx Boox, dan Mi Reader. Tentu saja tulisan ini akan ditutup dengan kalimat pembulat tekad pada umumnya, pikir-pikir aja dulu, tapi kalau memang bisa memotivasi kita buat terus baca, kenapa engga?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/08/membaca-dengan-kindle.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-6809181006902146700</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2022 15:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-19T20:58:43.848+07:00</atom:updated><title>Buku-Buku Yang Saya Baca (Bagian 2)</title><description>&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx8ol6axcjd7OowxCxXxvXA5s2qbx5tedRQa0-2YiKgQuISm749Fw5-Wv6kNlQ79Iu2v-r_Ll2OSTvJmqgHKuIXB1GrSlTLRj30L1kX5gKrxTUeBgMNjKqATRaehLvKs2KhkYXMmvL9wlccJlxw5MCx3Cop4ENajhMHcEvJjf2q-KNFKKqFXq9S3IWVw/s1532/Screen%20Shot%202022-08-06%20at%2020.21.11.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="988" data-original-width="1532" height="412" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx8ol6axcjd7OowxCxXxvXA5s2qbx5tedRQa0-2YiKgQuISm749Fw5-Wv6kNlQ79Iu2v-r_Ll2OSTvJmqgHKuIXB1GrSlTLRj30L1kX5gKrxTUeBgMNjKqATRaehLvKs2KhkYXMmvL9wlccJlxw5MCx3Cop4ENajhMHcEvJjf2q-KNFKKqFXq9S3IWVw/w640-h412/Screen%20Shot%202022-08-06%20at%2020.21.11.png" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tahun 2022 sudah lewat lebih dari separuhnya, dan yang masih bisa saya banggakan dari tahun ini, saya masih rutin membaca, yay! Jadi.. tiba saatnya saya merekomendasikan buku-buku yang menurut saya asik buat dibaca. Tulisan tentang &lt;a href="https://ajengsekar.blogspot.com/2022/04/buku-buku-yang-saya-baca.html" target="_blank"&gt;Buku-buku yang pernah saya baca bagian pertama&lt;/a&gt; pernah saya post &lt;a href="https://ajengsekar.blogspot.com/2022/04/buku-buku-yang-saya-baca.html" target="_blank"&gt;di sini.&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Di putaran kedua kali ini, saya mau merekomendasikan lima buku. Lima buku yang ditulis oleh penulis Indonesia, dan saya nobatkan sebagai buku yang wajib dibaca sekali seumur hidup, karena memang sebagus itu &#128513;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;1. Kambing dan Hujan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span&gt;Saya suka banget buku dengan genre roman, tapi bukan berarti semua buku dengan genre ini saya libas habis. Kebanyakan roman yang saya baca, berujung tragedi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Susah nemu roman yang ceritanya pas, dekat dengan keseharian, sekaligus hangat. Kambing dan Hujan bukan buku baru, sudah terbit dari 2015. Saya tertarik baca karena pernah diriviu sama akun panutan saya &lt;a href="https://www.bandungdiary.id"&gt;Bandung Diary&lt;/a&gt;,&amp;nbsp;karena cover bukunya menarik, dan tentu karena buku yang ditulis Mahfud Ikhwan ini masuk kedalam kriteria roman yang pas menurut saya, alias roman yang tanpa tragedi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Ceritanya menggambarkan Islam di Indonesia dalam miniatur sebuah desa. Banyak bedanya, ada konfliknya, gak lepas dari rasa paling benar, prasangka dan kepentingan lain yang sebenarnya gak ada hubungannya sama islam itu sendiri. Rasanya senang membayangkan perkembangan dua tokoh Is dan Moek dari anak penggembala kambing, menjadi pemuda yang cerdas, ceroboh, penuh persaingan, terus tumbuh melewati usia matang dan menjadi dua tokoh yang dituakan, yang dijadikan guru, tapi gengsian hahahaha.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;2. 9 dari Nadira&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Sebenarnya, saya gak anti banget sama buku yang isinya tragedi, saya masih bisa dan mau kok membaca buku-buku yang bercerita tentang tragedi, oleh karenanya Leila S. Chudori jadi salah satu penulis favorit saya, karena selalu bisa mengemas tragedi dalam bahasa yang “biasa”, tidak dibuat dramatis, dan tidak dilebih-lebihkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;9 dari Nadira menyinggung konflik keluarga terpelajar yang di luar terkesan baik-baik saja, tapi ternyata menyimpan cerita-cerita rapuh setiap tokohnya. Isu dan konflik psikologis diangkat jelas sekali di buku ini; kemarahan kakak sulung, kebebasan si anak tengah, dan kesendirian si anak bungsu. Ayah yang taat, ibu yang cerdas dan baik juga tidak lepas dari beban psikologisnya masing-masing.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Buku ini menggiring kita menyadari pentingnya memahami dan mengenali apa yang sedang kita rasakan; tidak harus selalu merasa baik-baik saja, boleh bicara, boleh menangis, boleh merangkul kesedihan dan boleh meminta bantuan orang lain. Nadira, dan tokoh-tokoh utama lain dalam buku ini, tidak melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;3. The Million Face&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Ada jenis buku yang bisa kamu bawa kemana saja untuk dibaca berulang, saat sedang dalam antrian loket perpanjangan SIM, menemani orangtua kontrol ke dokter, &amp;nbsp;menanti jadwal boarding pesawat, atau aktifitas menunggu lainnya. Nah, The Million Face adalah jenis buku yang itu tadi. Bukunya menghibur, menambah wawasan, sekaligus bikin kita sibuk.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Menghibur karena punya sudut pandang baru tentang pelayanan dan melayani, ternyata bertemu dengan jutaan orang sepanjang karir, bisa dirangkum jadi cerita yang asik banget! Bakalan bikin sibuk juga karena sambil baca, sambil googling nama-nama destinasi yang disebutkan sama penulisnya; Lusaka, Conacary, Abuja, Ouagadougou, dan kota dengan kode penerbangan HAH alias Moroni, yang ada di Comoros, dan masih banyak lagi nama negara/kota yang bikin saya bergumam "oh.. ternyata ada ya", dari buku The Million Face.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;dan sejujurnya selain rasa kagum sama &lt;a href="https://instagram.com/themillion.faces?igshid=YmMyMTA2M2Y=" target="_blank"&gt;Ziwa Raisa&lt;/a&gt;, penulis bukunya, saya juga menyimpan sedikit rasa iri, berprofesi sebagai PSA sehingga punya manfaat "tiket tanpa batas". Bisa-bisanya pergi dari Dubai ke Tokyo satu hari, hanya untuk makan ramen, terus balik lagi. Hahaha, seru banget!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;4. Semasa&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Beberapa penulis saya kagumi karena tutur dan bahasa yang digunakan dalam bercerita. Bisa becerita &amp;nbsp;dengan indah sekaligus dengan bahasa yang tidak sulit dimengerti adalah kombinasi yang gak semua penulis bisa lakukan, tapi Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang bisa melakukannya di Semasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Membaca Semasa, ini seperti membaca kehidupan orang-orang di sekitar kita, bahkan mungkin kehidupan kita sendiri. Tentang hubungan keluarga yang baik, namun berjarak. Tentang hal-hal seru dari masa lalu yang kemudian harus diurai dalam bentuk kenangan yang tidak bisa dikembalikan. Tentang janji-janji kita sebagai manusia dewasa yang belum atau akhirnya tidak bisa kita tepati. Perasaan kecewa yang berkali-kali kita rasakan, kemudian kita terima sebagai suatu hal yang sudah seharusnya terjadi, dan pada akhirnya tentang melepaskan. Satu kutipan dalam bukunya yang paling saya ingat..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: large;"&gt;"Tapi hidup memang seperti itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit; font-size: large;"&gt;Kamu melepas sesuatu, lalu memulai sesuatu"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;5. Anak Asli Asal Mappi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Saya sadar sejak kecil saya hidup dalam privilege yang cukup tinggi. Meski tinggal di kota kecil, saya sekolah di salah satu sekolah swasta terbaik, terus berlanjut sampai sekolah menengah atas. Saat masuk ke jenjang pendidikan tinggi, saya punya, dan diberi kebebasan untuk memilih. Tapi saya juga sadar betul tidak semua anak Indonesia bisa punya kesempatan pendidikan seperti saya. Maka saya senang mengarungi cerita dan kehidupan (anak-anak) lain, dari luar pulau Jawa, senang membayangkan dan mengagumi penulis yang mengabdikan diri untuk mengajar di tempat paling ujung, terpencil, terkecil, dan mungkin terluar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Cerita-cerita dalam buku Anak Asli Asal Mappi sederhana sekaligus hangat sekali. Membayangkan Wani dan Nabo dalam cerita, anak-anak sekolah dasar dengan segala perilakunya, dan Mappi yang tanpa aliran listrik, berjarak 60km dari ibukota kabupaten. Cerita paling menyentuh adalah saat panen rambutan tiba. Berapa dua karung rambutan dihargai, bagaimana keuntungannya dibagi, dan indomie yang dianggap sebagai lauk yang bisa dimakan bersama sagu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Ah, cukup sampai disini dulu rekomendasi bukunya, beberapa ulasan buku-buku ini pernah saya tuliskan juga dalam riviu&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.goodreads.com/user/show/1956000-ajeng" target="_blank"&gt;goodreads&lt;/a&gt;. Sebenarnya masih ada beberapa buku yang rasanya perlu saya bahas dalam tulisan tersendiri, tapi tentu saja nanti.. jika bertemu lagi dengan kombinasi ideal seperti hari ini; siang cukup istirahat, malam anak-anak tidur cepat, dan besoknya masih ketemu sama hari Minggu &#128516;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/08/buku-buku-yang-saya-baca-bagian-2.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhx8ol6axcjd7OowxCxXxvXA5s2qbx5tedRQa0-2YiKgQuISm749Fw5-Wv6kNlQ79Iu2v-r_Ll2OSTvJmqgHKuIXB1GrSlTLRj30L1kX5gKrxTUeBgMNjKqATRaehLvKs2KhkYXMmvL9wlccJlxw5MCx3Cop4ENajhMHcEvJjf2q-KNFKKqFXq9S3IWVw/s72-w640-h412-c/Screen%20Shot%202022-08-06%20at%2020.21.11.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5444643228881155677</guid><pubDate>Wed, 03 Aug 2022 12:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-08-03T20:37:32.592+07:00</atom:updated><title>Kendaraan Umum</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Siang tadi saat makan siang di sela-sela kegiatan kantor, saya mendengar cerita seoran teman. Tentang anak pertamanya yang baru masuk sekolah menengah pertama, cerita tentang naik angkot.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Alkisah rekan saya bertempat tinggal di kawasan Sarijadi, dan anaknya bersekolah di sekitar Dago. Kita semua tau, Bandung bukan kota yang dimudahkan oleh kendaraan umum, dibanding Jakarta yang hampir setiap kawasannya bisa dijelajahi dengan kendaraan umum yang terintegrasi, sebagai kota besar, Bandung kalah jauh, masih kusut sama kebijakan angkot. Dulu sempat ada bus sekolah, warnanya kuning.. gambarnya badak bercula satu, bagus! saya suka sekali lihatnya. Tapi setiap saya lihat saat berpapasan, busnya hampir gak pernah punya penumpang. Akhirnya saya gak pernah lihat lagi bus sekolah itu sekarang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dulu saya mulai naik angkot saat kelas 4 SD, satu kali naik angkot untuk pergi, dan pulang sekolah. Ongkosnya 150 rupiah. Kalau pulang saya bisa jalan kaki bersama teman-teman, ongkos naik angkotnya saya belikan jus semangka, seharga 100 rupiah untuk diminum sepanjang jalan pulang. Masih sisa 50 rupiah untuk bekal jajan mengaji di sore hari &#128513;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hal seperti ini berlangsung sampai jenjang sekolah selanjutnya, sekolah SMP saya lebih jauh jaraknya sehingga perlu dua kali naik angkot,&amp;nbsp; kalau perlu uang jajan lebih, saya berjalan kaki untuk menghemat ongkos angkot satu kali. Kalau dipikir sekarang, dulu saya ngapain ya? jalan kaki panas-panas, melewati rel kereta, dan jauh banget. Tapi dulu yang ada di pikiran cuma yang penting sama teman-teman. &lt;i&gt;Oh, miss the good old day&lt;/i&gt;. Saat urusan kehidupan di dunia ini cuma seputar hafalan matematika dan gimana caranya bisa makan di kelas tanpa ketahuan guru.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi sejujurnya topik makan siang tadi menarik perhatian saya, karena sudah jarang orangtua yang "merelakan" anaknya menggunakan kendaraan umum untuk berangkat dan pulang dari sekolah. Di tengah maraknya penggunaan ojeg &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;yang tinggal klak-klik, nunggu, dan duduk manis. Buat anak sekolah jaman sekarang, bisa naik kendaraan umum bisa dibilang suatu keterampilan mengarungi hidup ga sih? &#128516;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Mungkin akan jadi &lt;i&gt;basic skill &lt;/i&gt;yang akan saya ajarkan ke anak-anak juga. Naik kendaraan umum, berjalan kaki ke persimpangan atau halte, menunggu beberapa saat untuk dapat kendaraan yang sesuai dengan jurusan, itu hal yang biasa, dan memang bagian dari hidup, jadi yaa.. nikmati saja.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/08/keterampilan-naik-kendaraan-umum.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-6384825666558558279</guid><pubDate>Sat, 18 Jun 2022 02:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-06-18T13:23:36.776+07:00</atom:updated><title>Tentang Pindah Sekolah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJo-JDqh1E3IH-qqFgnI4IDSDdabFF-bIyt0FNSxNQmlKg_9px0pi1-PQ-sezcmPdI9lhj22AU6K0Ka_cI3kZTPafXgtVbZks02lrCrxfVjGSZtvRKSDUs4SGq27kuwDCOeRJ1XXQ6Gdp7Rm26a1AN0oCMd5Krg7Xl-f2FemADUdj7l9PYDadsSvPDig/s800/1.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="529" data-original-width="800" height="424" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJo-JDqh1E3IH-qqFgnI4IDSDdabFF-bIyt0FNSxNQmlKg_9px0pi1-PQ-sezcmPdI9lhj22AU6K0Ka_cI3kZTPafXgtVbZks02lrCrxfVjGSZtvRKSDUs4SGq27kuwDCOeRJ1XXQ6Gdp7Rm26a1AN0oCMd5Krg7Xl-f2FemADUdj7l9PYDadsSvPDig/w640-h424/1.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt; &amp;nbsp;Gambar diambil dari &lt;a href="https://sekolah.data.kemdikbud.go.id/index.php/chome/profil/30d7636e-080e-e211-96ea-319eb6eeb037" target="_blank"&gt;sini&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kami dua kali mengalami momen pindah sekolah. Buat sebagian orang, baru dua kali. Tapi buat saya yang tipenya sangat menghargai setiap kecil momen dan proses, dan pak Ery yang tipenya mikir panjang banget sebelum memutuskan sesuatu. Urusan pindah-pindah sekolah ini jadi salah satu yang buat kami perlu dibahas panjang. Dalam cerita ini sebenarnya kami punya pilihan untuk tetap ada di sekolah yang sama, namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan pindah.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Semua sekolah yang pernah disinggahi Pagi maupun Aksara adalah sekolah-sekolah terbaik yang pernah kami tau. Saat Pagi dulu pindah setelah 3 tahun PG dan TK di sekolah lamanya, saya bahkan menangis di pertemuan akhir kelas. Sedih karena saya tau lingkungan yang akan kami tinggalkan adalah lingkungan yang sangat baik, dan Pagi sangat nyaman berproses di sana, tapi kami memilih selesai dengan mempertimbangkan runutan prioritas dalam keluarga.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jumat kemarin, giliran Aksara yang mengalami fase akhir sekolah Taman Kanak-kanaknya. Kalau yang mengikuti &lt;i&gt;storygram &lt;/i&gt;sejak Aksara pertama kali sekolah, di kelas kecil yang disulap dari sebuah gudang, sampai sekarang sekolahnya punya bangunan dan lingkungan sekitar yang sangat ideal, pasti paham kenapa kami pantas bersedih. Sedih, tapi suasana hari terakhir sekolah kemarin bergembira sekali. Ada Syarikat Idola Remaja yang menyanyikan lagu-lagu syahdu, ada kegiatan mengenal rempah, bikin sate maranggi bersama, anak-anak yang berlarian kesana kemari, dan Aksara yang mungkin tau kemarin adalah hari terakhirnya berkegiatan di sekolah.. Maksimal banget beraktifitas fisik sama teman-temannya. Hari terakhir sekolah kemarin, jadi hari yang hangat sekali.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bercerita tentang sekolah anak. Banyak yang bertanya memangnya dulu Pagi (dan sekarang Aksara) sekolah dimana? Selanjutnya pindah kemana? dan tidak sedikit yang bertanya kenapa kami memutuskan untuk memindahkan anak-anak padahal kami punya pilihan untuk melanjutkan, sementara mereka juga nyaman berproses di sekolah sebelumnya? Kalau dibahas bisa panjang banget sih, dan enaknya sambil ngopi sore &#128515;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tapi yang jelas saat ini, sekolah anak-anak yang sekarang, adalah yang paling mendekati &lt;i&gt;value &lt;/i&gt;keluarga kami, yang kami bayangkan cara dan tujuan pembelajarannya paling bisa kami terima dan sesuaikan. Buat kami (tentu saja di luar hal-hal yang berkaitan dengan agama yang jelas jadi prioritas utama); disiplin, bertanggung jawab, dan sederhana, jadi sebagian karakter yang harus ada dan diberi ruang untuk tumbuh dengan baik. Sekolah dengan jarak yang tidak jauh, kelas tidak paralel, jumlah murid yang tidak lebih dari 20 orang, tidak berkegiatan sehari penuh, dan juga heterogen, jadi syarat pendamping lainnya. Buat keluarga lain, mungkin berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya banyak sekali sekolah yang cukup bisa memenuhi &lt;i&gt;value &lt;/i&gt;keluarga, tapi percayalah tidak ada sekolah yang 100% cocok untuk anak dan juga untuk kita sebagai orangtua. Maka di usia mereka yang sekarang, (menurut kami) mendampingi, memastikan anak-anak berkembang, mengikuti ritme kehidupan sebagai manusia mandiri, melihat dunia dengan lebih luas lagi, sekaligus tetap menjaga agar tidak terlalu jauh dari “lingkaran” yang menjadi batasan, amat diperlukan. Hal-hal tersebut yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Sejauh ini saya belum sepakat jika ada yang bilang sekolah di manapun, sama saja, karena kenyataannya jelas berbeda. Tapi rasanya kita semua sepakat bahwa sekolah di mana saja, kita sebagai orangtua tetap perlu "hadir" dan mendampingi prosesnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saat ngobrol malam bersama pak Ery, saya, yang tentu saja sebelumnya sering gundah soal urusan pindah-memindahkan sekolah ini meyakinkan diri, ibarat sama-sama ke Surabaya, yang satu memilih jalan lewat jalur utara agar lebih efisien secara waktu, yang satu memilih jalan lewat jalur selatan agar bisa mampir-mampir menikmati setiap kota yang dilewati. Tujuannya akhirnya sama, hanya proses mencapai tujuannya yang berbeda, dan itu yang perlu disesuaikan dengan nilai-nilai dalam keluarga ❤&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/06/tentang-pindah-sekolah.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhJo-JDqh1E3IH-qqFgnI4IDSDdabFF-bIyt0FNSxNQmlKg_9px0pi1-PQ-sezcmPdI9lhj22AU6K0Ka_cI3kZTPafXgtVbZks02lrCrxfVjGSZtvRKSDUs4SGq27kuwDCOeRJ1XXQ6Gdp7Rm26a1AN0oCMd5Krg7Xl-f2FemADUdj7l9PYDadsSvPDig/s72-w640-h424-c/1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-8911272086790072225</guid><pubDate>Tue, 10 May 2022 04:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-05-10T13:31:00.675+07:00</atom:updated><title>Kehilangan</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ramadannya sudah selesai. Alhamdulillah Ramadan tahun ini banyak yang bisa disyukuri, salah satunya Aksara ikut puasa penuh! Sempat mengeluh lapar di hari pertama dan kedua, kemudian berakhir dengan buka puasa sebelum waktunya. Eh ternyata hari ke-tiga dan seterusnya lancar banget. Mungkin karena kami gak punya ekspektasi, jadi soal puasa penuh Aksara ini terasanya spesial sekali. Saya merasakan juga pasang surut semangat puasa, masih menyusui Riam, tapi bertekad ingin puasa sebanyak mungkin, karena Riam sudah cukup besar. Alhamdulillah (lagi) rasanya tidak seberat tahun lalu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ramadan kali ini kami juga "disapa" lewat ujian. Kamis malam, di minggu ke-dua bulan Ramadan, rumah kami didatangi (mungkin beberapa)-orang tidak dikenal, beberapa barang elektronik di bawa. Bersyukur kami semua tidur, mungkin tidur adalah bentuk perlindungan Allah untuk kami. Sampai beberapa hari setelah kejadian, satu hal yang paling kami syukuri dari peristiwa ini adalah malam itu kami semua terlelap. Tentang barang-barang yang dibawa pergi, anehnya saya tidak berlarut dalam kehilangan, selain menyesali dokumentasi/foto sejak Riam kecil yang saya simpan dalam laptop. Selebihnya saya menganggap memang sudah habis "masa pinjamnya", percaya bahwa apa-apa yang hilang dari saya memang bukan milik saya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Soal kehilangan ini, kami menerima banyak saran soal keamanan dan perlindungan rumah. Beberapa kami pertimbangkan untuk diterapkan, tapi dengan tidak mengurangi rasa terima kasih atas kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dari sekitar kami, pertimbangan yang akhirnya kami ambil mungkin tidak bisa langsung menenangkan orang-orang terdekat. Tapi kehilangan kemarin jelas mengajarkan kami tentang kewaspadaan. Pagi dan Aksara kami ceritakan tentang peristiwa yang terjadi saat semua tertidur, kami bercerita dengan tenang dan hati-hati, berharap tidak menimbulkan "bekas" yang berlebihan, selain hal-hal baik yang perlu diambil kesimpulannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/05/kehilangan.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-3051131141776508305</guid><pubDate>Tue, 12 Apr 2022 05:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-12T14:08:03.623+07:00</atom:updated><title>Membaca Perlahan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjX7N8SFXry0tdEFtc_iylQRSb3zAQfO3D6Md9wkilsOUy_2QharKX4nC2JOfLFIc8KLhdoRQ9xmYluggjbMuKcfyZB82cmcMVVpymb60UzeVNqqHCa3LfU7mgyEoQUgskflQhwV0TJduNuVSq96u9-nGKPVx58bgmNOsOWZ7lbhShYE-xT14IMV11SSA/s1261/book.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1261" data-original-width="895" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjX7N8SFXry0tdEFtc_iylQRSb3zAQfO3D6Md9wkilsOUy_2QharKX4nC2JOfLFIc8KLhdoRQ9xmYluggjbMuKcfyZB82cmcMVVpymb60UzeVNqqHCa3LfU7mgyEoQUgskflQhwV0TJduNuVSq96u9-nGKPVx58bgmNOsOWZ7lbhShYE-xT14IMV11SSA/w454-h640/book.jpg" width="454" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru-baru ini saya mengenal kata &lt;i&gt;slow reading&lt;/i&gt;, atau kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti membaca (dengan durasi) perlahan. Saya yang dulunya selalu ambisius soal durasi membaca buku, awalnya asing dengan istilah ini. Sampai akhirnya saat memutuskan untuk rutin menyelipkan buku-buku bergenre &lt;i&gt;self improvement&lt;/i&gt; dalam daftar buku bacaan saya di awal tahun lalu, pandangan saya soal membaca buku berubah.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku &lt;i&gt;self improvement&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(setidaknya buat saya) tidak bisa dibaca dalam dua tiga kali duduk. Tidak seperti buku fiksi yang memancing imajinasi serta rasa penasaran, sehingga memacu untuk cepat menyelesaikannya sampai&amp;nbsp; habis, membaca buku &lt;i&gt;self improvement&lt;/i&gt; cenderung perlu kesadaran dan perenungan. Seringnya juga punya istilah-istilah yang perlu dipahami secara mendalam, atau setidaknya kita perlu memberi &lt;i&gt;sticky notes&lt;/i&gt;&amp;nbsp;untuk membantu mempermudah jika suatu hari kita dapat &lt;i&gt;Aha! moment&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau nemu permasalahan yang solusinya "kayaknya pernah baca di buku ini..", sehingga perlu mencari ulang poinnya dengan cepat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejauh ini membaca satu buku dalam durasi yang lama tidak se-membosankan seperti yang saya kira. Saya sedang membaca salah satu buku M. Quraish Shihab yang baru mulai saya baca di awal Ramadan lalu, dengan &lt;i&gt;progress &lt;/i&gt;berkisar 5 sampai 10 halaman saja setiap harinya. Sebelumnya saya menyelesaikan&amp;nbsp;Atomic Habits yang ditulis oleh James Clear dalam dua bulan, tapi justru merasakan efek baiknya untuk diri sendiri setelah pelan-pelan menyelesaikan membaca bukunya. Mungkin karena sering melompat mundur ke halaman-halaman yang telah dibaca karena lupa dengan inti bahasan sebelumnya, atau untuk memastikan halaman berikutnya akan sesuai dengan pemahaman yang saya terima sebelumnya, jadi malah meninggalkan pengalaman membaca yang lebih mendalam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Diambil dari salah satu artikel di&amp;nbsp;&lt;a href="https://www.theguardian.com/books/2010/jul/15/slow-reading" target="_blank"&gt;https://www.theguardian.com/&lt;/a&gt;&amp;nbsp;tentang &lt;i&gt;The art of slow reading&lt;/i&gt; "If you want the deep experience of a book, if you want to internalise it, to mix an author's ideas with your own and make it a more personal experience, &lt;b&gt;you have to read it slowly&lt;/b&gt;"&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau berdasarkan artikel di atas &lt;i&gt;slow reading is an art &lt;/i&gt;maka menurut saya&amp;nbsp;&lt;i&gt;fast reading is a skill, &lt;/i&gt;yang untuk mengasahnya kita perlu punya privilese. Tentu saja ada banyak orang-orang yang memang punya kemampuan membaca cepat, dengan tetap dapat makna mendalam dari buku yang ia baca, tapi privilese juga menentukan kemampuan membaca cepat. Membaca cepat perlu konsentrasi tinggi, untuk membuat kita bisa berkonsentrasi maka privilese ikut berperan. Tidak semua orang punya keleluasaan mereduksi gangguan eksternal (untuk berkonsentrasi) saat membaca. Tiba-tiba ingat hutang pekerjaan belum beres, ingat besok harus pakai baju seragam yang belum dicuci, atau tiba-tiba ada mas-mas paket nganter barang.. dan momen "ahhh euy.." lainnya &#128514;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya membaca dengan cepat ataupun dengan perlahan cuma soal cara. Dua-duanya punya kelebihan dan kekurangan, yang lebih penting dari dua hal itu adalah minat untuk membaca. Pada buku Yang Hilang Dari Kita: Akhlak, dalam bahasan tentang kewajiban seorang muslim untuk menuntut ilmu yang salah satu caranya bisa diperoleh dengan membaca. Tentu saja ditafsir dari kata "Bacalah!" yang ada pada surat pertama yang diturunkan di bumi, Al-Alaq. Bahkan kata Iqra diulang kembali di ayat ke-3. Hal ini bisa diartikan secara sederhana sebagai perintah untuk kita sebagai muslim untuk membaca (dalam arti yang sangat luas).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/04/slow-reading-vs-fast-reading.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjX7N8SFXry0tdEFtc_iylQRSb3zAQfO3D6Md9wkilsOUy_2QharKX4nC2JOfLFIc8KLhdoRQ9xmYluggjbMuKcfyZB82cmcMVVpymb60UzeVNqqHCa3LfU7mgyEoQUgskflQhwV0TJduNuVSq96u9-nGKPVx58bgmNOsOWZ7lbhShYE-xT14IMV11SSA/s72-w454-h640-c/book.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5295707681583568976</guid><pubDate>Fri, 01 Apr 2022 07:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-02T17:56:56.173+07:00</atom:updated><title>Buku-Buku Yang Saya Baca</title><description>&lt;div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhEk1jJpbgsFlDGKL3pzBo4-_8Uxwsvpx5u2IYiyZPmFKjnH0z0skzywxmU4rGGWYVQklttpPKM-ONnSu-VeHZdZHh2H7Q2OWd4ucCCXw5YefQs7L02I7e95tjDGHg3FfFbDnZPxB-IYu6olD9Ws3HDX3yhRdfqz5DfYNcaX23Km_EofV5hL0ZYRvjSdQ" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" data-original-height="336" data-original-width="736" height="293" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhEk1jJpbgsFlDGKL3pzBo4-_8Uxwsvpx5u2IYiyZPmFKjnH0z0skzywxmU4rGGWYVQklttpPKM-ONnSu-VeHZdZHh2H7Q2OWd4ucCCXw5YefQs7L02I7e95tjDGHg3FfFbDnZPxB-IYu6olD9Ws3HDX3yhRdfqz5DfYNcaX23Km_EofV5hL0ZYRvjSdQ=w640-h293" width="640"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu resolusi menyambut awal tahun 2022 kemarin adalah kembali rutin membaca buku. Mengaktifkan lagi https://www.goodreads.com/ untuk mempermudah mencatat buku-buku yang sudah, sedang, dan ingin saya baca. Ternyata seru banget, beberapa diantaranya saya tulis di sini sebagai buku yang saya rekomendasikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;1. Na Willa&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Na Willa seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah rumah di salah satu gang di kota Surabaya, kisahnya diceritakan dalam dua buku, satu buku berwarna merah, dan satu buku bersampul hijau dengan judul Na Willa dan rumah dalam gang. Cerita Na Willa sebenarnya sederhana, hanya seputar keluarga, teman-teman, tentang sekolah dan bermain. Yang membuat bukunya istimewa karena semua kisah tadi dilihat dari kacamata Na Willa, seorang anak usia TK yang cerdas sekaligus polos, dengan tutur bahasa yang apik sekali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;2. Pulang&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar pertengahan 2021 saya menonton film garapan Angga Sasongko, judulnya Surat dari Praha, sebenarnya film ini sudah ada dari tahun 2016. Buat saya yang gak terlalu suka menonton, film yang dibintangi Tio Pakusadewo ini indah. Indah karena pengambilan gambarnya berlokasi di kota Praha yang lazim dengan bangunan-bangunan &lt;i&gt;heritage&lt;/i&gt;, jembatan megah, sungai yang membelah kota, dan suasana khas kota tua lain yang menyenangkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Membaca Pulang yang di tulis oleh Leila S. Chudori, membuat saya membayangkan &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; kota Paris dalam buku itu seperti Praha dalam film, dan Dimas Suryo (tokoh dalam bukunya) adalah Tio Pakusadewo jika diwujudkan dalam bentuk manusia nyata. Sama seperti Surat dari Praha, pulang juga bercerita tentang rangkaian peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia, cerita dan tutur bahasa dalam novelnya sangat visual, nilai sejarah yang ada dalam buku ini membuatnya semakin menarik untuk dibaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;3. Atomic Habits&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu saya menghindari membaca buku-buku bergenre&amp;nbsp;&lt;i&gt;self improvement,&lt;/i&gt; menghindari karena buku-buku sejenis ini selalu berhasil membuat saya merasa digurui, kesannya selama ini saya salah mengambil langkah. Tapi seiring bertambahnya usia, dan semakin ruwetnya permasalahan hidup, buku &lt;i&gt;self&lt;/i&gt; &lt;i&gt;improvement&lt;/i&gt; kok jadi menarik ya hahaha.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena genre buku seperti ini adalah buku yang gak bisa selesai dalam sekali duduk, dan harus dibaca saat hening, dan saat mau, jadi saya baru bisa menyelesaikan buku ini dalam dua bulan. Itupun dengan tekad mencari jawaban kenapa selama ini saya banyak alasan banget kalau soal olahraga. Ketemu jawabannya? ketemu, trus jadi rajin olahraganya? belum &#128518;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya gak ulas isi bukunya, karena banyak banget inti isinya, kalau meminjam kalimat pembawa acara webinar "ini materinya daging semua". Ya karena memang banyak banget hal baik yang bisa disimpulkan dari buku ini. Mungkin lebih seru lagi kalau baca versi buku &lt;i&gt;import &lt;/i&gt;yang bukan terjemahan ya, beberapa istilah memang sulit dipadankan dengan kata dalam bahasa Indonesia. Tapi karena buku &lt;i&gt;import &lt;/i&gt;harganya bisa dibuat beli tiga buku terjemahan atau buku penulis dalam negeri, dan saya juga ga jago-jago banget baca buku bahasa inggris, jadi saya berusaha untuk gak masalah hahaha.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang teman bertanya, apakah saya punya buku yang dibeli namun tidak pernah dibaca? sejauh ini gak ada. Semua buku saya (setidaknya) sudah lepas dari plastik yang membungkusnya. Setidaknya sudah pernah saya baca, meski ada buku-buku yang saya putuskan untuk tidak menyelesaika membacanya. Seperti baru saja bulan kemarin, saya membeli Cantik Itu Luka yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Saya membeli karena tergoda melihat teman baik saya memberi rating 5 pada buku tersebut. Tapi saya tidak bisa menyelesaikannya karena menurut saya bahasa dan ceritanya terlalu kasar, terlalu vulgar, dan saya memang tidak suka membaca buku-buku dengan suasana kelam. Dan demi menghindari perasaan berdosa karena tidak menyelesaikan membacanya, akhirnya buku itu berpindah tangan. Lagi-lagi membaca buku adalah soal selera, ya? &#128522;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/04/buku-buku-yang-saya-baca.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhEk1jJpbgsFlDGKL3pzBo4-_8Uxwsvpx5u2IYiyZPmFKjnH0z0skzywxmU4rGGWYVQklttpPKM-ONnSu-VeHZdZHh2H7Q2OWd4ucCCXw5YefQs7L02I7e95tjDGHg3FfFbDnZPxB-IYu6olD9Ws3HDX3yhRdfqz5DfYNcaX23Km_EofV5hL0ZYRvjSdQ=s72-w640-h293-c" width="72"/><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5489493080507390982</guid><pubDate>Sun, 27 Mar 2022 12:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-04T20:37:56.033+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ayo Main</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Berkemah</category><title>Berkemah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpQC5V85x--7KUGh4hf9T0bznxVCJpFn4keOA1lTd9_ltEbFFNPG6uMedigFldTjZc58vRKXpZWSVDafPoN4-UkuXAASi_DRyMp2rB3uDA8OGgG1EfW7ysT9ojv75nWGshHnPgR005ZtpX42y8AKftogLVc38FZYRUE90bfUn4jZoFNkUylSZjY4d12Q/s1299/WhatsApp%20Image%202022-03-27%20at%2018.56.40.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1077" data-original-width="1299" height="530" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpQC5V85x--7KUGh4hf9T0bznxVCJpFn4keOA1lTd9_ltEbFFNPG6uMedigFldTjZc58vRKXpZWSVDafPoN4-UkuXAASi_DRyMp2rB3uDA8OGgG1EfW7ysT9ojv75nWGshHnPgR005ZtpX42y8AKftogLVc38FZYRUE90bfUn4jZoFNkUylSZjY4d12Q/w640-h530/WhatsApp%20Image%202022-03-27%20at%2018.56.40.jpeg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Seperti tahun-tahun sebelumnya, Februari adalah bulan wajib berkemah bagi kami. Kali ini Curug Bentang Padjajaran jadi lokasi pilihan kami. Barangkali ada yang belum tau, curug berarti air terjun dalam bahasa Sunda. Berjarak kurang lebih 60 km dari kota Bandung, lokasi berkemah ini bisa ditempuh dalam durasi kurang lebih 2 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Bentang Padjajaran memiliki pintu masuk yang sama dengan Punceling &lt;i&gt;camping ground&lt;/i&gt;, bedanya kalau Punceling bisa langsung berkemah, atau menggelar tenda di sekitar kendaraan, untuk Bentang Padjajaran lokasi berkemahnya perlu ditempuh dengan hiking terlebih dahulu. Hikingnya tentu saja dengan jalan menanjak khas pegunungan, tapi jaraknya tidak terlampau jauh kok, kurang lebih 1 kilometer dari area parkir mobil.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kemarin kami pergi bersama tiga keluarga dengan total tujuh anak, karena perlengkapan berkemah kami yang aduhay, kami dibantu warga lokal, kang Budi namanya. Kang Budi bersama beberapa temannya, membantu kami mengangkut barang-barang dengan menggunakan kendaraan roda dua untuk sampai ke lokasi. sehingga kami hanya membawa ransel dan barang pribadi saja. Sebagai bayangan hiking, anak-anak sanggup menempuh jarak dengan riang. Jadi seharusnya medannya juga tidak terlalu berat untuk orang dewasa. Biaya yang dikeluarkan untuk berkemah di Bentang Padjajaran adalah 25.000 untuk setiap orang, sudah termasuk tiket masuk dan bantuan membawa barang-barang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Diantara kawasan berkemah yang sering kami kunjungi seperti Rancacangkuang, Curug Mandala, dan Gunung Puntang, Bentang Padjajaran ini menduduki peringkat teratas rekomendasi kami.. kawasannya bersih, buat main air juga tidak telalu jauh, dan yang lebih seru, lokasinya masih sepi pengunjung. Mungkin karena untuk menuju ke sini perlu berjalan kaki, jadi kebanyakan lebih memilih berkemah di Punceling untuk kemudian pagi harinya berjalan menuju ke sini. Satu-satunya yang jadi pertimbangan, kawasan berkemah ini ada di kawasan lembah, sehingga angin seolah bertiup-berputar di sekitar kami sepanjang malam tanpa henti. Padahal biasanya puncak berkemah adalah obrolan malam hari saat anak-anak sudah tidur. Tapi karena kemarin angin cukup kencang, kami menyerah masuk ke tenda masing-masing pukul sepuluh malam.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sekitar Bentang Padjajaran ada warung sederhana milik sepasang suami istri. Di warung ini juga ada toilet yang layak untuk ukuran bumi perkemahan (jumlahnya banyak, airnya lancar) meskipun tidak ada cahaya penerangannya. Kalau niat berkemah di sini, tidak perlu membawa banyak perbekalan, karena di pagi hari pemilik warung menyediakan gorengan hangat, lengkap dengan sambal cabai hijau yang nikmat banget. Kami menukar satu nampan gorengan dengan tiga lembar uang sepuluh ribu; gehu, bala-bala dan tempe secara ajaib tersedia di depan mata. Saat berkemah, memakan sesuatu yang hangat selain mie instan adalah kemewahan &#128513;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Abah dan Ibu pemilik warung juga memiliki kebun stroberi, kemarin kami ditawari petik sendiri, satu kilo stroberi dihargai empat puluh ribu rupiah. Percayalah itu harga yang murah untuk ukuran buah yang besar, dan rasa yang manis. Kemarin saya membeli satu kilo stroberi dan langsung habis keesokan harinya tanpa perlu melewati proses pengolahan macam-macam.&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, ini adalah kali pertama kami berkemah dengan keluarga dari sekolah Aksara, serunya karena punya teman sebaya, semua anak-anak mendadak gak kenal sama kata bosan. Sepanjang hari main bersama, saling mengunjungi tenda, berkejaran ke sana kemari, mencari daun dengan bentuk yang unik, mengumpulkan ranting untuk di bawa ke sekolah (kemudian tertinggal di parkiran), main air lalu kedinginan, makan-ngemil, main api, begitu terus diulang sampai pulang.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Esok harinya rombongan kami berpisah sekitar pukul sebelas siang, setiap habis berkemah rasanya enggan menempuh perjalanan pulang. Selain karena energinya sudah menipis, mengarungi macet kota Bandung juga tantangan banget hahaha. Dalam perjalanan pulang kami mampir makan bakso di sekitar Jln. Soreang-Ciwidey, lokasinya persis di seberang Victory Waterpark. Cukup banget buat memulihkan energi yang menipis. Berkemah memang selalu melelahkan, tapi sejauh ini selalu berhasil bikin ketagihan&#128517;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/03/berkemah-di-curug-bentang-padjajaran.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpQC5V85x--7KUGh4hf9T0bznxVCJpFn4keOA1lTd9_ltEbFFNPG6uMedigFldTjZc58vRKXpZWSVDafPoN4-UkuXAASi_DRyMp2rB3uDA8OGgG1EfW7ysT9ojv75nWGshHnPgR005ZtpX42y8AKftogLVc38FZYRUE90bfUn4jZoFNkUylSZjY4d12Q/s72-w640-h530-c/WhatsApp%20Image%202022-03-27%20at%2018.56.40.jpeg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5153407131619638490</guid><pubDate>Wed, 23 Mar 2022 15:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-25T09:52:27.718+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ibu bekerja</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Perempuan</category><title>Perempuan (yang) Percaya Diri</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrrN4X1IihG9E7ApSMBWnQOgKLRP6K795o-kGB3jbIdCWgrJLzHAow-cQ6MBofRw6op-TDBHebxQUAiL86HqDkbSmGJggi56bijaHspxV9rJwsIpOjfFH72HmRUh8MwdfK9y9BgV1cqpboyUjHE5quAmIt-cWm_6uxK32d6zTh2cMrqm6Ol-DWrJK3vQ/s1073/439a98b4-2a89-44ca-80d5-e749ad3eb903.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1073" data-original-width="900" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrrN4X1IihG9E7ApSMBWnQOgKLRP6K795o-kGB3jbIdCWgrJLzHAow-cQ6MBofRw6op-TDBHebxQUAiL86HqDkbSmGJggi56bijaHspxV9rJwsIpOjfFH72HmRUh8MwdfK9y9BgV1cqpboyUjHE5quAmIt-cWm_6uxK32d6zTh2cMrqm6Ol-DWrJK3vQ/w536-h640/439a98b4-2a89-44ca-80d5-e749ad3eb903.jpg" width="536" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa bulan belakangan, saya senang membaca buku tentang perempuan, Muslimah Yang Diperdebatkan buku pertama yang saya baca, ditulis oleh salah satu penulis favorit saya, Kalis Mardiasih. Buku yang baru saya selesaikan malam tadi juga tentang perempuan; &lt;i&gt;Empowered Me - Mother Empowers&lt;/i&gt; yang ditulis sama Puty Puar. Bukunya ringan sekaligus penuh, seperti rangkuman pelajaran untuk perempuan. Bisa dibaca dalam sekali duduk, tapi punya efek samping pikiran yang panjang, dalam arti positif tentu saja.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Beberapa pertanyaan yang sering mengusik saya, dibahas juga dalam buku yang ditulis Puty. Salah satunya kenapa kebanyakan dari kita senang membandingkan diri sendiri dengan orang lain, meski sebenarnya gak &lt;i&gt;apple to apple&lt;/i&gt;? Membandingkan yang bekerja dengan yang memilih menjadi ibu rumah tangga misalnya&lt;i&gt;, &lt;/i&gt;padahal saat seorang ibu mengambil keputusan untuk bekerja, atau menjadi ibu rumah tangga pasti ada faktor lain yang mempengaruhi, ada &lt;i&gt;values&lt;/i&gt; dalam dirinya atau dalam keluarganya yang diprioritaskan, dan itu pasti berbeda setiap orang. Gak bisa dilihat hanya dari satu sisi saja, kemudian dikritik bahkan dihakimi beramai-ramai.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ini berlaku juga untuk banyak keputusan yang diambil oleh seorang ibu/istri, seperti memilih sekolah biasa atau &lt;i&gt;home schooling&lt;/i&gt;, memilih masak sendiri atau berlangganan katering, &lt;i&gt;baby sitter&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;daycare,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan keputusan lain yang diambil oleh seorang ibu/istri karena ia paham&amp;nbsp;&lt;i&gt;values&amp;nbsp;&lt;/i&gt;yang mempengaruhinya dalam pengambilan keputusan itu, dan tentu saja karena ia mengenali dirinya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pernah dulu sekali, waktu saya masih tidak cukup mengenali dan percaya sama diri saya sendiri.. ada seorang teman yang &lt;i&gt;resign &lt;/i&gt;karena memilih jadi enterpreneur sekaligus ibu rumah tangga, kemudian selalu menggambarkan bahwa jadi enterpreneur jauh lebih baik daripada jadi pegawai. Dulu, saya sedih banget setiap ada yang bilang bahwa istri/ibu idealnya bekerja dari rumah, dengan waktu yang lebih fleksibel.. sehingga bisa seimbang dengan kewajiban mengurus keluarga, karena bisa leluasa mengatur sendiri pekerjaannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Wah, rasa bersalah saya jadi berlipat. Sudah merasa bersalah karena meninggalkan anak setiap hari, ditambah merasa pekerjaan saya gak oke karena gak fleksibel, sudah setiap hari pergi pagi pulang sore tapi buat berlibur saja masih harus nabung yang panjang dan lama hahahaha. Efeknya gak bagus, saya gak bersyukur karena terus menerus merasa pekerjaan saya gak jauh lebih baik dari pada enterpreneur.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Padahal kenyataannya gak semua orang bisa mengambil pilihan yang sama, gak semua orang perlu ada di &lt;i&gt;timeline &lt;/i&gt;yang sama, dan yang paling penting gak semua orang cocok atau harus jadi enterpreneur. Seiring berjalannya waktu, saya juga sadar bahwa meski tujuan akhirnya sama, kita ga harus mengambil jalan yang sama. Gak perlu juga tergesa-gesa untuk terus menyamakan langkah kaki kita dengan orang lain. Beneran, gak ada yang perlu dibandingkan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ibu/istri yang jadi pegawai-pun banyak banget yang bahagia, yang anak-anaknya tumbuh dengan baik, yang &lt;i&gt;support system-&lt;/i&gt;nya baik, yang suaminya bisa mengerti dan mau berbagi peran. Ibu/istri yang punya kesempatan bekerja dari rumah juga keren, bisa memanfaatkan kesempatan dengan baik, bisa konsisten dan teratur membagi waktu, sambil tetap berperan, membantu ekonomi keluarga. Ibu/istri yang memilih fokus menjadi ibu rumah tangga juga sama hebatnya, buat saya yang menjadikan kantor sebagai salah satu cara untuk punya waktu sendiri alias&amp;nbsp;&lt;i&gt;me-time&lt;/i&gt;, melihat ibu rumah tangga bisa mengelola emosi, mengelola pekerjaan rumah tangga dan tetap penuh rasa sayang meski 1x24 jam bersama anak-anak itu &lt;i&gt;magic&lt;/i&gt;! karena saya gak bisa gitu &#128514;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya, dalam bukunya Puty membahas banyak hal lain yang &lt;i&gt;familiar &lt;/i&gt;sama kehidupan kita sebagai perempuan. Saran saya mendingan dibaca bukunya biar energi postifnya ikut nular. Tapi intinya percaya deh, hidup kita baik-baik saja, diulang biar yakin.. hidup kita baik-baik saja, tanpa perlu membandingkan pilihan dengan orang lain, dan yang bisa kita lakukan saling mendukung agar semua perempuan berdaya, dan percaya diri dengan apapun keputusan yang diambilnya. &lt;i&gt;When women support each other, magical things happen! &lt;/i&gt;&#128149;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/03/perempuan-yang-percaya-diri.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhrrN4X1IihG9E7ApSMBWnQOgKLRP6K795o-kGB3jbIdCWgrJLzHAow-cQ6MBofRw6op-TDBHebxQUAiL86HqDkbSmGJggi56bijaHspxV9rJwsIpOjfFH72HmRUh8MwdfK9y9BgV1cqpboyUjHE5quAmIt-cWm_6uxK32d6zTh2cMrqm6Ol-DWrJK3vQ/s72-w536-h640-c/439a98b4-2a89-44ca-80d5-e749ad3eb903.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-1009117497217356968</guid><pubDate>Tue, 08 Mar 2022 14:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-27T19:20:33.509+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ibu bekerja</category><title>Generalis</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgn_2kWSyZnGWMj_gA7CS-8RfAOYAs4sDG-f33WIEwGlDgyAzlIrGljMJI1_D0z5W8-DD3CXRpgkE-K1NTD8BCLwbmzJgPBRBUDacN3ZpBnfEnWuxDCRjcKK2QvmEdkFbAAVBlCOefK6t11u5fZWBtanGlVhHsBvZLsmsOHfQ_P0Jpg7D-79KzwjL8RnA=s1280" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1280" data-original-width="1005" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgn_2kWSyZnGWMj_gA7CS-8RfAOYAs4sDG-f33WIEwGlDgyAzlIrGljMJI1_D0z5W8-DD3CXRpgkE-K1NTD8BCLwbmzJgPBRBUDacN3ZpBnfEnWuxDCRjcKK2QvmEdkFbAAVBlCOefK6t11u5fZWBtanGlVhHsBvZLsmsOHfQ_P0Jpg7D-79KzwjL8RnA=w502-h640" width="502" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah 10 tahun bekerja saya akhirnya mengakui kalau selama ini saya adalah seorang generalis. Disarikan dari berbagai artikel yang saya baca sebelum menulis blog ini, generalis adalah tipe orang yang mengerti banyak hal, tetapi tidak secara spesifik. Biasanya memahami konsep secara umum dan melihat permasalahan dari berbagai segi, tetapi tidak mendalami suatu konsep hingga memiliki spesifikasi di bidang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya ini sudah tercermin pada apa yang menjadi hobi saya sejak lama, saya bisa menjahit, menyulam, merajut, menggambar, membuat banyak kerajinan tangan, tapi tidak ada satupun yang saya tekuni sampai jadi ahli.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau saya sendiri sebenarnya merasakan &lt;i&gt;plus-minus &lt;/i&gt;dengan menjadi generalis dalam lingkup pekerjaan yang selama ini saya jalani. Positifnya saya mudah beradaptasi, saya bisa memahami dengan cepat pekerjaan yang sebelumnya belum pernah saya kerjakan.&amp;nbsp; Mudah memahami alur dan proses suatu pekerjaan, karena sebagai generalis, sejak dulu saya adalah pegawai yang gampangan hahahaha. Mau aja kalau diajak rapat ini-itu kesana-kemari, atau mengerjakan segala macam yang gak-tau-mau-dikerjakan-sama-siapa-lagi-jadi-sama-mbak-ajeng-aja-deh&#128517;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kelemahannya saya sering kelelahan, dan mudah terdistraksi karena mengerjakan banyak sekali hal berbeda dalam satu waktu. Jenis pekerjaan yang beragam, dan cenderung serabutan membuat pikiran harus sering melompat dari satu jenis pekerjaan, ke pekerjaan lain yang sangat berbeda penanganannya. Dalam satu hari saya bisa mempelajari aturan pembinaan pegawai, lalu dilanjutkan dengan menyusun kebutuhan sistem, mengolah data untuk audit, dan menyusun draf surat keputusan. Kombinasi maut generalis dan sedikit karakter&amp;nbsp;&lt;i&gt;people pleaser, &lt;/i&gt;katanya&amp;nbsp;melelahkan tapi diselesaikan juga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa kali ingin mencoba jadi teman-teman yang sejak awal bekerja sudah "ditentukan" tugasnya, sebagai developer misalnya. Mereka seringnya punya kesempatan lebih besar untuk mengembangkan potensi pada bidang pekerjaan yang digelutinya. Setiap hari mengerjakan (lingkup) pekerjaan yang sama, fokus mengikuti hal baru di bidang pekerjaannya, sampai jadi ahli. Dan biasanya orang-orang spesialis punya "gelar pekerjaan" yang identik dengan namanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"oh, &lt;i&gt;trouble &lt;/i&gt;jaringan ke pak ini saja.."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"kalau sistem akademik dipegang mas itu kan ya?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara orang-orang yang bertanya ke saya biasanya adalah mereka yang sudah &lt;i&gt;hopeless&lt;/i&gt; mau cari informasi kemana lagi, atau memang gak punya referensi lain. Pertanyaannya-pun beragam, kadang sampai hal yang saya sendiri &lt;i&gt;wondering&lt;/i&gt; kenapa harus ditanyakan ke saya, tapi selalu ditutup dengan kalimat pamungkas "biasanya mbak ajeng tau.." &#128517;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu lalu saya sempat membaca cuitan yang melintas di &lt;i&gt;timeline&lt;/i&gt; twitter, katanya sejak duduk di sekolah dasar kurikulum pendidikan kita memang bertujuan mencetak anak-anak generalis. Kegiatan cerdas cermat sekolah dasar antar kecamatan contohnya, selalu melombakan beberapa mata pelajaran sekaligus; matematika, bahasa, pengetahuan umum dan pengetahuan alam. Padahal ke-empatnya merupakan rumpun ilmu yang jauh berbeda.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, masuk akal dan bisa dijadikan pembenaran. Artinya saya dulu menyerap kurikulum pendidikan negara ini dengan baik ya, hahahaha.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi intinya menjadi generalis maupun spesialis punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan tentunya semuanya akan baik dan punya potensi yang maksimal jika berada di lingkungan yang tepat &#128521;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2022/03/generalis.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgn_2kWSyZnGWMj_gA7CS-8RfAOYAs4sDG-f33WIEwGlDgyAzlIrGljMJI1_D0z5W8-DD3CXRpgkE-K1NTD8BCLwbmzJgPBRBUDacN3ZpBnfEnWuxDCRjcKK2QvmEdkFbAAVBlCOefK6t11u5fZWBtanGlVhHsBvZLsmsOHfQ_P0Jpg7D-79KzwjL8RnA=s72-w502-h640-c" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5116873074835336364</guid><pubDate>Sat, 05 Jun 2021 12:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-27T19:20:54.287+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sekolah</category><title>Sekolah Aksara</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiK8Lw9NSA2agKDs-ZWcHWcRA0CLHYoys07rLOhZ5jY4w9fLlLl2JnZ6Ss39WKPzJvqJMIZFobWxHJ4EYs-GyHelwsev5G7fBUIFZ16bpEU_VRX3H5Vs2I6sgCfXrgVDaEBGc01OtGSL4oh/s2048/xx.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2048" data-original-width="1380" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiK8Lw9NSA2agKDs-ZWcHWcRA0CLHYoys07rLOhZ5jY4w9fLlLl2JnZ6Ss39WKPzJvqJMIZFobWxHJ4EYs-GyHelwsev5G7fBUIFZ16bpEU_VRX3H5Vs2I6sgCfXrgVDaEBGc01OtGSL4oh/w431-h640/xx.jpg" width="431" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekitar awal tahun 2020 lalu, saya dan pak Ery disibukkan dengan kegiatan mencari sekolah untuk Aksara. Saat itu kami benar-benar &lt;i&gt;clueless&lt;/i&gt;, terlebih pertimbangan utamanya adalah efisiensi waktu dan rute pengantaran. Gimana caranya dua anak (Pagi dan Aksara) bisa diantar sekolah sekaligus, bersamaan dengan ibu berangkat ke kantor. Kebayang kan? Dengan dua pertimbangan itu, artinya kami memang tidak leluasa memilih lokasi sekolah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mengumpulan info sana sini, kami akhirnya sepakat membayar uang muka untuk pendaftaran taman kanak-kanak di salah satu yayasan pendidikan yang sudah berdiri cukup lama di Bandung. Saat itu kami Bismillah saja,&amp;nbsp; meskipun belum sepenuhnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;sreg&lt;/i&gt;, toh di manapun sekolahnya, pendampingan utamanya tetap ada di rumah kan? Jadi oke, sementara aman. Beberapa minggu berselang, pemerintah mengumumkan semua sekolah diliburkan, kami santai saja, cuma dua minggu toh? Eh akhirnya diperpanjang, diperpanjang lagi, kemudian diperpanjang terus dan terus, sampai waktu ajaran baru. Waktu dimana seharusnya Aksara mulai TK.A di sekolah barunya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua pihak tidak bisa memastikan sampai kapan pembelajaran dari rumah akan berlangsung, tapi karena berkaitan dengan pembayaran penuh yang harus segera kami lakukan, kami harus mengambil keputusan. Akhirnya; Aksara tidak sekolah, adalah salah satu keputusan besar yang kami ambil di awal tahun lalu. Sampai kapan? Saat itu kami sendiri gak tau mau sampai kapan. Sebenarnya sekolah menawarkan pembelajaran daring, tapi kombinasi anak TK dan pembelajaran daring? Sejujurnya kami tidak sanggup hahahaha. Sudah pasrah saja, tidak perlu sekolah dulu, tidak melalui jenjang taman kanak-kanakpun (mungkin) tidak apa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar memang setiap anak akan membawa rizkinya sendiri, Aksara "membuktikannya" lewat sekolah. Setelah sebelumnya sudah berniat akan menghadapi pandemi di rumah saja. Di awal bulan Juli tahun 2020, kami bertemu Rumah Belajar Ummasa, sekolah alternatif yang digagas oleh beberapa teman baik saya dan pak Ery. Lokasinya berjarak dua bukit dari Rumah Utara, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 25 menit dengan kendaraan roda dua. Cerita tentang pertemuan kami dengan Ummasa rasanya perlu dibahas dalam satu cerita tersendiri, karena akan panjang sekali &#128513;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Singkatnya, kami senang bisa punya kesempatan berkegiatan belajar bersama kelompok kecil di Rumah Belajar Ummasa, didampingi dua kakak fasilitator yang sudah kami kenal lama, di sekolah yang jauh dari keramaian. Sesekali mereka hiking ke kebun-kebun di sekitar sekolah, kadang bercerita tentang nabi-nabi, kadang berkebun, kadang memasak sendiri, kadang bermain teka-teki, kadang bernyanyi bersama, kadang ada pelajaran tidur siang juga malah hahahaha.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak terasa sudah hampir satu tahun Aksara tumbuh bersama Rumah Belajar Ummasa, kami percaya tidak ada sekolah yang 100% cocok untuk setiap anak. Tapi kami juga yakin orangtua punya peran besar untuk membantu anak-anak tumbuh di lingkungan yang mendekati nilai-nilai baik yang diterapkan di rumah, dengan cara memfasilitasi ruang belajar mereka. Nilai yang tentu saja akan berbeda untuk setiap keluarga. Kalau mau informasi lebih jelas tentang Rumah Belajar Ummasa, sila langsung berkunjung ke laman resminya di kamiummasa.com ya &#128522;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2021/06/sekolah-aksara.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiK8Lw9NSA2agKDs-ZWcHWcRA0CLHYoys07rLOhZ5jY4w9fLlLl2JnZ6Ss39WKPzJvqJMIZFobWxHJ4EYs-GyHelwsev5G7fBUIFZ16bpEU_VRX3H5Vs2I6sgCfXrgVDaEBGc01OtGSL4oh/s72-w431-h640-c/xx.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-417929820864947708</guid><pubDate>Wed, 02 Jun 2021 11:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-27T19:21:28.752+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Ayo Main</category><title>Paket Komplit</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbb99kcdEN-oRD3-swGga4g4KoUV9NDtorkcDr5jRf92BZfQPvhyphenhyphendlEuvsdlXlKt1X0ODrdVwWs3KEnNKsjus2oo_PRWi1yco01Rmt8lCBnzzXXEbgYUnUZApCsfhBDjCX8re6OR6ZPvN9/s1600/1622635358564262-0.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0"   src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbb99kcdEN-oRD3-swGga4g4KoUV9NDtorkcDr5jRf92BZfQPvhyphenhyphendlEuvsdlXlKt1X0ODrdVwWs3KEnNKsjus2oo_PRWi1yco01Rmt8lCBnzzXXEbgYUnUZApCsfhBDjCX8re6OR6ZPvN9/s1600/1622635358564262-0.png" width="400"&gt;
  &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat memutuskan untuk memiliki anak hampir sembilan tahun silam, saya dan pak Ery sadar betul akan ada perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan kami berdua. Kami bukan lagi sekedar dua orang dewasa yang "bebas", tapi akan ada jiwa lain yang sepenuh hidupnya akan sangat bergantung pada kami berdua, pada keputusan yang kami ambil, pada pilihan yang kami siapkan. Sehingga salah satu kesepakatan pertama kami adalah; akan berusaha melibatkan anak-anak dalam setiap keputusan, pilihan termasuk kegiatan yang kami lakukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untungnya saya bukan termasuk yang harus punya &lt;i&gt;me time&lt;/i&gt; sering-sering. Karena kami tidak punya asisten rumah tangga yang menginap, setelah jam kerja usai, saya dan pak Ery sepenuhnya "milik" anak-anak. Gak ada kamus keluar rumah selepas &lt;i&gt;work hour&lt;/i&gt; berdua saja. Bisa nonton bioskop berdua? Duh, rasanya masih jauh dari kata mungkin. Meski kadang ingin, untuk saat ini kami berdua lebih memilih menikmati momen, sekaligus percaya kalimat "anak-anak itu, kecilnya gak lama.."&amp;nbsp; Nanti akan tiba saatnya mereka gak mau ikut kalau diajak kemana-mana. Akan tiba saatnya mereka punya acara sendiri, punya kepentingan sendiri. Jadi selagi bisa, kami hampir selalu berkegiatan dengan paket komplit alias personil lengkap. Repot? Hahahahahaha, masih perlu dijawab nih?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dulu saat Pagi belum punya adik, setiap akan pergi (apalagi jika berkemah) saya repotnya bukan main. Saya tidak terbiasa dengan perubahan rencana, atau apapun yang sifatnya mendadak, jadi saya perlu persiapan jauh hari sebelumnya. Saya juga perlu memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain bagaimana kalau hujan, bagaimana kalau baju gak cukup, bagaimana kalau anaknya ga mau makan, pokoknya sekecil apapun kemungkinan pasti saya pikirkan. Akhirnya belum juga berangkat, saya keburu lelah duluan &#128514;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi pada akhirnya pengalaman dan jam terbang mempengaruhi banyak hal. Sekarang setelah ada Aksara dan Riam, urusan bepergian malah jadi lebih enteng. Standar mulai&amp;nbsp; turun, lebih bisa memilah mana yang hukumnya wajib/harus disediakan, mana yang kalau ketinggalan atau gak ada, &lt;i&gt;show &lt;/i&gt;tetap bisa jalan. Sekarang diajak berkemah, persiapannya cukup 3 jam sebelum, sudah termasuk &lt;i&gt;food prep &lt;/i&gt;selama berkemah. Pergi ke tempat jauh dan seharian penuh di luar rumah, bisa siap dalam 2 jam. Ada rencana mendadak, asal kostum sesuai dengan nilai kepantasan, jadilah.&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi bisa disimpulkan, punya tiga anak, harus diakui memang lebih capek secara fisik, meskipun jadi lebih enteng secara pikiran. Lebih&amp;nbsp;repot, tapi sekaligus jadi lebih woles, hahahaha. Tinggal berdoa saja, semoga saat Pagi, Aksara dan Riam sudah tidak perlu banyak bergantung pada kehadiran Bapak dan Ibu, kami masih dalam keadaan prima untuk bisa &lt;i&gt;road-trip&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;bike-tour &lt;/i&gt;antar kota antar provinsi. Aamiiin, dong!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2021/06/paket-komplit.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjbb99kcdEN-oRD3-swGga4g4KoUV9NDtorkcDr5jRf92BZfQPvhyphenhyphendlEuvsdlXlKt1X0ODrdVwWs3KEnNKsjus2oo_PRWi1yco01Rmt8lCBnzzXXEbgYUnUZApCsfhBDjCX8re6OR6ZPvN9/s72-c/1622635358564262-0.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-5344979993649389865</guid><pubDate>Mon, 31 May 2021 14:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-05-31T21:09:22.831+07:00</atom:updated><title>Mengalir</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikMIaLZFF_N8-sCj3jQ-w-T_mrtRNh-hxutiHU1dtMgSyHK0B6NR781AFp9gd4W5yH12wua1kKh5d5lKCieuY9tHpdhgY64VF9VRc7AhuKKUckXn-kEjxkjbkOM18gW8VatFtsFFVf3nVf/s1229/WhatsApp+Image+2021-05-31+at+21.00.56.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1229" data-original-width="899" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikMIaLZFF_N8-sCj3jQ-w-T_mrtRNh-hxutiHU1dtMgSyHK0B6NR781AFp9gd4W5yH12wua1kKh5d5lKCieuY9tHpdhgY64VF9VRc7AhuKKUckXn-kEjxkjbkOM18gW8VatFtsFFVf3nVf/w469-h640/WhatsApp+Image+2021-05-31+at+21.00.56.jpeg" width="469" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sudah lebih dari satu tahun pandemi, sudah berapa fase hidup yang dilalui? kalau saya sih mulai dari fase optimis, semua akan terlalui dengan baik. Fase mencoba berbagai hobi dan kegiatan positif dengan tujuan menjaga produktivitas dan pikiran agar tetap waras meskipun-akhirnya-gak-berjalan-mulus. Fase jengah sampai ketemu titik terendah kepercayaan diri, sampai fase akhirnya pelan-pelan bisa menerima dan punya kalimat pamungkas "ya-udah-sih.." &#128513;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2020 lalu, saya kira jadi tahun paling berat buat saya, ternyata 2021 gak berkurang signifikan beratnya. Pertanyaan "ini di mana sih ujungnya?" terus berulang, sekaligus tanpa jawaban. Sekitar bulan April lalu sempat merasa &lt;i&gt;overwhelmed&lt;/i&gt;. Tiap hari rusuh dan buru-buru, Riam belum makan, Pagi harus PJJ, Aksara belum selesai siap-siap berangkat sekolah. Urusan kantor juga gak usah ditanya. Tapi mau ngeluh terus juga gak pantes, gaji masih cukup, di kantor juga masih ketawa terus, bersyukur karena partnernya lawak semua. Tapi mungkin yaaa.. ini yang namanya kelelahan, manusiawi sebenarnya, sayanya aja yang &lt;i&gt;denial &lt;/i&gt;hahahaha.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya pelan-pelan mengurai benang kusut dari hal-hal sederhana. Mengembalikan lagi semua kebiasaan kecil yang mungkin belakangan saya tinggalkan karena merasa gak punya cukup waktu. Duduk sendirian, dengar radio, minum air hangat, baca buku, menulis. Berusaha sepenuhnya hadir pada setiap hal yang sedang saya lakukan, sekecil apapun.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang saya sepakati (setidaknya dengan diri sendiri), kurang-kurangi membebani diri dengan target ini dan itu. Kalau memang beneran bisa sih, gak ada salahnya.. keren banget, tapi kalau enggak, gak perlu minder. Serius. Dalam situasi pandemi yang tidak biasa seperti ini, yang paling diperlukan bukan pembuktian saya tetap bisa, saya masih bisa, melainkan kemampuan untuk mengatakan tidak apa-apa dan berbesar hati menerima. Tidak apa-apa kalau tidak bisa, tidak apa-apa kalau belum mau, tidak apa-apa lelah.&lt;i&gt; Be good to your self. &lt;/i&gt;Semuanya tetap akan mengalir kok, dan tetap akan sampai di tujuannya masing-masing, mungkin cuma waktunya aja yang gak bareng &#128522;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2021/05/mengalir.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikMIaLZFF_N8-sCj3jQ-w-T_mrtRNh-hxutiHU1dtMgSyHK0B6NR781AFp9gd4W5yH12wua1kKh5d5lKCieuY9tHpdhgY64VF9VRc7AhuKKUckXn-kEjxkjbkOM18gW8VatFtsFFVf3nVf/s72-w469-h640-c/WhatsApp+Image+2021-05-31+at+21.00.56.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-6322255230957529793</guid><pubDate>Fri, 06 Nov 2020 16:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-27T19:21:54.523+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">opini sendiri</category><title>Porsi Bahagia</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAOXfYFylWEwqAsHGFIBxAnBxDTH90az6whd8neLUNydbFnJiX0DyBNW1qjGVas6XqGSAStUVv87teKxWkptzHgaPOgB1aOkin9AEOEo5kV16cPRGsSmq5epo_YpS3cS9br6_dg0BPxP-A/s2048/20200929_131517.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="2048" data-original-width="1589" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAOXfYFylWEwqAsHGFIBxAnBxDTH90az6whd8neLUNydbFnJiX0DyBNW1qjGVas6XqGSAStUVv87teKxWkptzHgaPOgB1aOkin9AEOEo5kV16cPRGsSmq5epo_YpS3cS9br6_dg0BPxP-A/w496-h640/20200929_131517.jpg" width="496"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br&gt;Empat bulan lagi, kita akan sama-sama "merayakan" satu tahun sejak pertama diberlakukan anjuran untuk menjaga jarak sosial dengan tetap di rumah saja, aktivitas sekolah berhenti, disusul kemudian kantor-kantor yang ikut menerapkan pembatasan sosial. Terus berbulan-bulan sampai akhirnya sekarang secara perlahan, rutinitas berkantor orangtua sudah kembali seperti semula, &lt;b&gt;tapi &lt;/b&gt;anak-anak belum. Jadi sudah saatnya saya ikut bercerita tentang pengalaman mendampingi Pagi belajar dari rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oh iya, sampai saya menulis ini, kantor masih memberlakukan sistem &lt;i&gt;on-off; s&lt;/i&gt;ehari masuk, hari berikutnya bekerja dari rumah. Sejujurnya saya berdoa semoga kebijakan kantor akan terus begini sampai nanti waktunya anak-anak kembali ke sekolah, seperti biasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pagi sekolah di salah satu sekolah dasar swasta tertua di kota Bandung. SD Swasta yang menurut kami konvensional, kenapa kami bilang konvensional? Salah satunya karena hari Sabtu masih masuk sekolah. Rasanya, sekolah Pagi jadi satu-satunya sekolah dasar swasta yang masih punya kegiatan belajar mengajar di hari Sabtu. Beneran belajar ya, bukan cuma ekstrakurikuler. Kalau ditanya, berat gak nganter sekolah di Sabtu pagi? ya bagian dari resiko sebuah pilihan. Lagi pula dulu sambil nganter biasanya saya sambil ke pasar buat belanja kebutuhan dapur seminggu, atau sarapan bareng pak Ery dan Aksara, ya jadi dinikmati saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tapi yang patut disyukuri, selama masa pandemi ini tugas-tugas sekolah yang diberikan, tidak pernah sangat membebani. Ya ada kalanya Pagi butuh waktu lama untuk mengerjakan tugas-tugasnya, tapi gak jarang juga ada tugas sekolah yang bisa beres ia kerjakan dalam waktu kurang dari satu jam. Di awal waktu belajar dari rumah, sempat sih harus mengumpulkan video belajar dan pembiasaan baik seperti beribadah, literasi, membantu orangtua, dan berolahraga setiap hari. Tapi gak lama, setelah itu sekolah bikin kebijakan untuk mengirim foto/video secara bergiliran. Jadi setiap anak hanya kebagian satu minggu sekali untuk mengumpulkan bukti pembiasaan baik berupa foto/video. Wih, meringankan sekali!&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya dan pak Ery penganut paham yang santai soal sekolah anak. Dari dulu memang kami tidak menuntut Pagi, dan juga adik-adiknya nanti harus pintar secara akademis. Apalagi di jenjang usia dini, sudahlah, puas-puasin main aja, nak.. mumpung belum banyak syaratnya. Jadi ketika masa pandemi seperti ini makin "terfasilitasi"-lah kewolesan kami. Pagi gak pernah punya waktu khusus belajar. Dia punya waktu &lt;i&gt;screen-time&lt;/i&gt;, dia boleh sesekali menunda mandinya, dia boleh baca buku di meja makan, dia boleh menggambar, mengumpulkan ranting-daun dari kebun, atau berkarya sepuasnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah ada satu masa di mana Pagi sangat &lt;i&gt;fragile;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mudah menangis, mungkin karena sudah mencapai puncak kejenuhan. Bagaimanapun, berinteraksi dengan bertemu teman sebaya untuk bermain bersama adalah kebutuhan anak-anak. Bisa dibayangkan betapa "bingungnya" mereka ketika dihadapkan pada situasi pandemi yang tiba-tiba terjadi, sementara kita, orang dewasa dengan segala pengalaman saja, masih sering kesulitan mengatur &lt;i&gt;mood &lt;/i&gt;untuk tetap waras dan &lt;i&gt;on the track&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedikit sekali orang tua yang benar-benar siap dan terlatih menghadapi proses pembelajaran dari rumah, saya jelas bukan termasuk diantara orangtua yang siap dan terlatih itu. Setiap hari rasanya adaptasi, adaptasi, adaptasi, tanpa pernah tau di mana dan kapan bertemu akhirnya. Jadi pesan saya untuk diri sendiri; jangan terlalu tinggi menerap standar, menuntut Pagi tetap harus begini dan begitu lagi. Di masa pandemi ini yang paling penting adalah berjuang menjaga anak-anak agar tetap mendapat porsi bahagia yang seharusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2020/05/sudah-hampir-dua-bulan-penuh-sejak.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgAOXfYFylWEwqAsHGFIBxAnBxDTH90az6whd8neLUNydbFnJiX0DyBNW1qjGVas6XqGSAStUVv87teKxWkptzHgaPOgB1aOkin9AEOEo5kV16cPRGsSmq5epo_YpS3cS9br6_dg0BPxP-A/s72-w496-h640-c/20200929_131517.jpg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-7502225500705824127</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2020 06:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-03-27T19:22:01.858+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">opini sendiri</category><title>Memor(y)ies</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqG_HS4xOeOjorEXF2EOVsf_kPQ4-eQtq6zrQfDpIrRRJEtxDmyVuzXoBCjdOQXEbX9U94CFSykQceqzFsL16ra5GaZpcocW3KtIc1uhAxsWc3kzlyym1Q8_SpARohEivyRXevvXkk_p79/s564/2b0c2607127920a9d726d43fe5437f4f.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="564" data-original-width="564" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqG_HS4xOeOjorEXF2EOVsf_kPQ4-eQtq6zrQfDpIrRRJEtxDmyVuzXoBCjdOQXEbX9U94CFSykQceqzFsL16ra5GaZpcocW3KtIc1uhAxsWc3kzlyym1Q8_SpARohEivyRXevvXkk_p79/w640-h640/2b0c2607127920a9d726d43fe5437f4f.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau ngomongin &lt;i&gt;memories&lt;/i&gt;, gak bakal bisa dihitung banyaknya ya, banyak banget. Rasanya ingin semua ditulis, tapi entah kenapa kali ini saya ingin menulis kenangan yang saya punya selama delapan tahun terakhir, di kantor.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Enggak kok, saya gak dapat jodoh dari cinta lokasi di kantor, sampai merasa harus dikenang dalam satu tulisan hahahahaha. Tapi saya pernah mengalami masa di mana saya senang sekali datang ke kantor karena rekan kerja yang sudah seperti keluarga. Tidak peduli berapa penghasilan yang saya dapat, tidak masalah dengan &lt;i&gt;load &lt;/i&gt;pekerjaan yang banyak, tidak merasa berat mengurai permasalahan demi permasalahan yang seperti benang kusut, ikhlas saja punya status tugas belajar untuk mengejar gelar magister sambil tetap bekerja, karena pada akhirnya semua "dibayar" dengan banyak kebahagiaan. Saya punya atasan yang baik, saya belajar banyak hal dari atasan saya, saya punya rekan kerja yang satu frekuensi dalam banyak hal. Iya, saya memang pernah terlalu jumawa, merasa bahwa selamanya kantor tempat saya bekerja akan punya suasana yang sama. Lupa kalau selagi sifatnya duniawi, apapun bisa terjadi hahahaha.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama lebih dari delapan tahun di kantor, saya mengalami transformasi yang signifikan sekali. Setidaknya menurut saya, baik ecara personal, maupun karir. Dari belum menikah, sampai akhirnya punya anak. Dari sebelumnya gak tau, sampai jadi bisa dengan mudah memahami banyak hal. Saya seperti pegawai pada umumnya, mengalami juga yang namanya pasang surut semangat bekerja. Kadang bahagia sekali, kadang sampai nangis di mushola kantor karena merasa urusan pekerjaan ini tidak fair, hahahaha. Tapi pada akhirnya tetap saya bilang, saya bekerja dengan bahagia. Saya belajar banyak dari kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, dan yang paling penting, di tahun-tahun akhir kemarin saya belajar banyak hal baik tentang cara memperlakukan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang sudah tidak sama, dan mungkin tidak bisa sama lagi, itulah kenapa saya memasukkan delapan tahun ke belakang sebagai&amp;nbsp;&lt;i&gt;memory &lt;/i&gt;baik yang terjadi dalam hidup saya, &lt;i&gt;as an employee&lt;/i&gt;. Dulu seseorang pernah bilang, mungkin saja saya terlalu lama berada di zona nyaman, sehingga ketika mengalami perubahan yang sebenarnya biasa, saya mudah sekali drama. Saya sempat meresapi kalimat itu, mungkin saja. Mungkin saja saya hanya perlu adaptasi, mungkin saja yang seperti ini biasa terjadi di banyak tempat. Tapi setelah cukup lama menjalani, saya merasa ini bukan soal adaptasi, tapi soal satu sisi yang tadinya ada, kemudian hilang. Ada sisi yang hilang dan tidak tersentuh selama hampir satu tahun belakangan ini, sisi psikologis dalam suatu manajemen. Soal ini, rasanya saya juga masih perlu banyak belajar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: x-small; font-style: italic; text-align: center;"&gt;pic source :&amp;nbsp;&amp;nbsp;https://id.pinterest.com/pin/68187381845339689/?nic_v2=1a3n7LLnA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size: x-small; font-style: italic; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2020/10/memory.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgqG_HS4xOeOjorEXF2EOVsf_kPQ4-eQtq6zrQfDpIrRRJEtxDmyVuzXoBCjdOQXEbX9U94CFSykQceqzFsL16ra5GaZpcocW3KtIc1uhAxsWc3kzlyym1Q8_SpARohEivyRXevvXkk_p79/s72-w640-h640-c/2b0c2607127920a9d726d43fe5437f4f.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-9113759241767252636</guid><pubDate>Wed, 30 Sep 2020 12:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-06-05T20:35:51.573+07:00</atom:updated><title>Personality</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
  &lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9oy2n9Bq_VdEXXmzzLRMEI9IQs47O3GrJOFgOhkKYeERx0KLXSMw3F3fLwVsgVa5-0-KmwCQIPemob9fZmh-N1saYCYT5o2VK3JbsgS4hM_83Nei-l1jRz9PBHVIuJWCtS_fQOcOHIfFU/s1600/1601469165288614-0.png" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
    &lt;img border="0" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9oy2n9Bq_VdEXXmzzLRMEI9IQs47O3GrJOFgOhkKYeERx0KLXSMw3F3fLwVsgVa5-0-KmwCQIPemob9fZmh-N1saYCYT5o2VK3JbsgS4hM_83Nei-l1jRz9PBHVIuJWCtS_fQOcOHIfFU/w640-h360/1601469165288614-0.png" width="640" /&gt;
  &lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div&gt;Setelah lama banget gak menjadikan kegiatan menulis sebagai kebutuhan, bulan ini mau coba untuk mulai lagi karena kok tertarik yaaa lihat tantangan menulis yang sliweran di twitter. Sebelumnya sempat lihat beberapa teman melakukan #30dayswritingchallenge di instagram. Menggoda sih, tampak lebih mudah dan less effort hahaha, tapi masalahnya, saya ga yakin punya stok foto sebanyak itu buat diupload bareng #30dayswritingchallenge di instagram. Daripada malah nanti ga jadi karena kelamaan milihin foto, so here we go..&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dimulai dengan; How's life, Jeng? Awesome! Hahaha. Usia sudah kepala tiga, anak alhamdulillah sudah tiga juga. Sejujurnya yang bikin awesome adalah orang-orang yang mengelilingi saya, bikin hidup dan semua yang terjadi di dalamnya jadi makin menarik. Karena kalau saya sih sebenarnya gini-gini aja. Perubahan terjadi perlahan, ga jauh dari emosional yang (saya sendiri merasa) semakin matang, karena pengalaman dan usia kali ya? yang lainnya sih gak banyak berubah; masih pakai All Star ke mana-mana, masih sering pakai baju belang-belang dengan tiga warna dominan; hitam, abu dan biru kelasi. Masih gampang cengar-cengir, dan sesekali nangis kalau udah kesel banget :p&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Personality juga masih banyak samanya, beberapa kali ikut test personality gratisan di internet, hasilnya ga pernah berubah; a campaigner. Beberapa simpulan-kepribadian juru kampanye memang relevan sama penilaian saya terhadap diri sendiri, seperti; find difficult to focus. Ya ampun bener deh, saya kalau mau fokus ya harus bener-bener pilih waktu dan tempat yang tepat, harus sepi, harus ga punya "hutang" kerjaan lain. Kalau gak gitu, bye! bakalan jadi pemicu sifat buruk saya yang lain yaitu; stressed easily. Ow, pernah suatu hari pak Ery bilang soal saya yang mudah stres, sebagai istri dengan gengsi selangit, tentu saya ga terima. Sampai akhirnya pelan-pelan sadar ketika memutuskan kuliah sambil bekerja beberapa tahun kemarin. Ck, harus diakui saya memang gak mahir mengelola tekanan, yang seringnya berakibat sama fluktuasi emosi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apakah saya gak mengakui kelebihan saya sendiri? Oh tentu akan. Tau kapan harus berhenti adalah salah satu kelebihan saya. Gak perlu lebih kalau cukup sampai sini saja sudah bikin bahagia. Jadi kalau ngajak kompetisi saya demi mendapatkan hal-hal yang dianggap "wah".. maaf, mbak dan masnya salah orang. Saya paling enggan diajak "berlomba" untuk mendapatkan suatu predikat. Buat apa? Menjalani hidup yang biasa-biasa saja sudah amat tricky, rasanya gak perlu ditambahin sama hal-hal melelahkan lainnya. Sebenarnya personality saya yang ini juga bisa jadi kelemahan, tergantung dari sudut pandang mana dilihatnya. Tapi buat saya, di tengah hidup yang penuh "perlombaan" untuk memenuhi ekspektasi orang lain, standar ini dan itu (yang punya orang lain juga); menjadi seseorang yang mudah merasa cukup, tau kapan harus selesai dan berdamai dengan segala kondisi, itu mewah dan membahagiakan loh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa sifat yang ada dalam diri saya, saya sadari menurun ke anak-anak, lha ya iya, namanya juga anaknya hahahahah. Tapi yang sudah kelihatan tentu Pagi ya; si anak kecil yang selalu menghindari kompetisi. Memang dari dulu Pagi gak tertarik sama konsep menang kalah dalam sebuah perlombaan. Mungkin menurutnya, kalau bisa menang bareng kenapa harus ada yang kalah? Saya sepakat soal ini. Meski sejujurnya saya masih clue-less apakah sifat Pagi yang ini relevan untuk kehidupannya di masa depan? Tapi mengingat saya punya sifat yang sama dan baik-baik saja sampai detik ini, semoga dia juga bisa lebih dari baik-baik saja nantinya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_200930_144531_216.sdocx--&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2020/09/personality.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9oy2n9Bq_VdEXXmzzLRMEI9IQs47O3GrJOFgOhkKYeERx0KLXSMw3F3fLwVsgVa5-0-KmwCQIPemob9fZmh-N1saYCYT5o2VK3JbsgS4hM_83Nei-l1jRz9PBHVIuJWCtS_fQOcOHIfFU/s72-w640-h360-c/1601469165288614-0.png" width="72"/><thr:total>6</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-9165440069908877013.post-2039431761608912927</guid><pubDate>Thu, 17 Oct 2019 09:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-05-31T21:13:34.448+07:00</atom:updated><title>Belajar, Tumbuh, dan Berproses</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
"&lt;i&gt;You are the best, don't underestimate your skills.&lt;/i&gt; Semua harus lanjutkan studi sampai titik tertinggi, karena kita perlu kolaborasi dalam banyak hal"&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Begitu susunan kalimat pada layar ponsel yang saya baca pagi tadi. Pesan dari seseorang yang berjasa menjadi pemantik semangat saya, semangat untuk melanjutkan sekolah beberapa tahun lalu. Saya yang 10 tahun lalu tidak pernah memikirkan untuk lanjut studi magister. Buat apa? toh saya sudah berstatus sebagai pegawai negeri, usia juga sudah bukan belia lagi. Sudahlah, begini juga sudah lebih dari cukup. Sampai tiba-tiba dua tahun lalu, saya membulatkan tekat untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya mengambil keputusan nyaris di akhir musim penerimaan mahasiswa baru, dengan persiapan yang tidak terlalu matang, mengikuti sesi akhir seleksi, singkat cerita pada Agustus 2017 saya resmi jadi mahasiswa jenjang Magister di salah satu kampus di kota Bandung yang juga jadi institusi tempat saya mengabdi. Saya mendapat beasiswa penuh dari kementerian tempat saya bekerja. Sejak saat itu, hidup saya tidak lagi sama. Saya secara sadar mengeluarkan diri saya sendiri dari zona nyaman. Semester awal adalah masa saya beradaptasi, mengejar ketertinggalan, karena bisa dikatakan ketika saya memutuskan bekerja hampir delapan tahun lalu, saya seperti "selesai" dari kebutuhan mencari tau ilmu pengetahuan baru.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semester-semester berikutnya seperti pasang surut air laut. Ada masa saya merasa bisa mengatasi semuanya, ada masa saat saya merasa tidak yakin bisa bertanggung jawab, menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya melewati banyak akhir pekan, menghabiskan larut-larut malam dengan mengerjakan tugas, belajar, berusaha mengerti apa yang sebelumnya sama sekali asing di telinga. Saya juga pernah menangis karena merasa sangat lelah, lalu keesokan harinya seperti tidak pernah terjadi apa-apa karena sepenuhnya sadar; &lt;i&gt;the show must go on&lt;/i&gt;, ya memangnya ada pilihan lain? hahahahaha, yang jelas sama seperti mahasiswa lain semua penderitaan terbayar saat mendapati huruf A untuk hasil akhir mata kuliah di transkrip nilai saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa kali pula saya bercerita dengan orang-orang terdekat, bahwa menjadi mahasiswa, kuliah reguler, sambil tetap bekerja &lt;i&gt;seven to five,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tentu saja dengan usia yang tidak lagi muda sama sekali tidak ideal. Ketika teman-teman lain pulang kuliah belajar, atau membereskan tugas-tugasnya, saya pulang kuliah ke kantor, membereskan pekerjaan. Sampai di rumah berganti peran jadi ibu, ketika dua anak kecil ini tidur status saya berganti lagi jadi mahasiswa yang harus mengerjakan tugas. Benar-benar perlu perjuangan lebih untuk bisa menyamakan "langkah kaki" teman-teman yang lain.&amp;nbsp;Tapi kalau misal bisa mengubah jalan hidup.. saya tetap tidak mau menukar pengalaman sekolah ini dengan apapun. Banyak sekali hal baik yang saya dapat dari proses ini, pembelajaran, keilmuan, nilai-nilai baik dalam hidup, banyak sekali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah melewati berbagai proses selama rentang waktu yang panjang sampai akhirnya dinyatakan selesai menempuh pendidikan magister, pagi tadi saya diwawancara oleh salah satu reporter mahasiswa, pertanyaan kenapa saya merasa perlu sekolah jadi salah satu pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabannya. Walaupun sungguh saya tidak benar-benar yakin dengan jawaban "serius" yang saya berikan. Menurut saya belajar merupakan salah satu tanggung jawab individual kita sebagai manusia, meskipun belajar tidak melulu identik dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, tapi sejatinya tujuan belajar adalah agar (akal) kita terus tumbuh, terus berproses pada koridor dan arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akhirnya pada bulan-bulan yang sudah saya lalui sampai saya bisa ada di titik yang sekarang, saya semakin percaya bahwa Allah maha baik, saya banyak dikelilingi dan dipertemukan dengan orang baik, yang menyaksikan saya berproses, membantu, memberi semangat, dukungan dalam bentuk yang macam-macam. Terima kasih ya semuanya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoiGGBkk0j4MMtqMg0H1TfJWiGkN1x1bKWtwz5aLvOW0uGkTl6JC8_jkj9-UKSXXRGJM9dCcaREZjVMnXWA5MjR3hzrwub7Bw_1jdUGvrp5F15My5xDdHy4gHMLAiNrAtReE1PB-3ABoDH/s1600/WhatsApp+Image+2019-10-17+at+16.10.07.jpeg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="943" data-original-width="646" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoiGGBkk0j4MMtqMg0H1TfJWiGkN1x1bKWtwz5aLvOW0uGkTl6JC8_jkj9-UKSXXRGJM9dCcaREZjVMnXWA5MjR3hzrwub7Bw_1jdUGvrp5F15My5xDdHy4gHMLAiNrAtReE1PB-3ABoDH/s640/WhatsApp+Image+2019-10-17+at+16.10.07.jpeg" width="438" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://ajengsekar.blogspot.com/2019/10/belajar-tumbuh-dan-berproses.html</link><author>noreply@blogger.com (ajeng sekar tanjung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhoiGGBkk0j4MMtqMg0H1TfJWiGkN1x1bKWtwz5aLvOW0uGkTl6JC8_jkj9-UKSXXRGJM9dCcaREZjVMnXWA5MjR3hzrwub7Bw_1jdUGvrp5F15My5xDdHy4gHMLAiNrAtReE1PB-3ABoDH/s72-c/WhatsApp+Image+2019-10-17+at+16.10.07.jpeg" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item></channel></rss>