<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Sastraku</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (ihsan)</managingEditor><pubDate>Thu, 19 Dec 2024 10:19:14 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:category text="Arts"><itunes:category text="Literature"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title/><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2011/07/bersatulah-pelacur-pelacur-purwakata.html</link><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Sat, 16 Jul 2011 10:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-7260092790570878368</guid><description>bersatulah pelacur - pelacur purwakata, meminjam kata - kata Rendra. rasanya tepat dalam hal ini yang menggambarkan keadaan kami saat ini. rasanya kami jadi pengungsi di kota kami (Purwakarta). seolah kami yang bersalah dengan keyakinan kami dan akan diberi pengajaran baru oleh mereka pemimpin baru kami yang sesungguhnya adalah pengungsi di tempat ini. baiklah, ini bukan soal dada, paha dan airmata. ini soal keyakinan yang sudah kami jaga selama berabad - abad tapi dengan seenak udel kalian ingin merubahnya dalam hitungan cahaya. bangsat. rasanya kami ingin mengacungkan kutang - kutang kami di atas patung yang tuan buat. kami tidak permasalahkan soal patung, karena kami yakin tuan tidak akan menyembahnya dan menyuruh kami. tapi sekali lagi, keyakinan kami seolah ditelanjangi oleh kalian. sebenarnya apa maksud tuan?&lt;br /&gt;kami senang tuan menggairahkan pinggul kesenian tradisional kami, tapi pinggul - pinggul penari ini sama sekali tak kami kenal baunya, atau mungkin habis dihisap tengkuk mereka oleh tuanku. nyatanya, seniman tua yang kami kenal tetap miskin dan melarat, mungkin tuan tak bergairah dengan mereka.&lt;br /&gt;dalam hal moralitas tuan sangat cerdas. tuan angkat budaya tradisional ke dalam derajat yang sangat tinggi. begitu senang kami. tetapi selalu kami tidakl mengerti apa yang kalian kerjakan setiap akhir pentas, tuan memang sangat hobi mengurusi sebuah band musik. intinya, satu sisi tuan ingin mengangkat warisan tradisi, di sisi lain tuan ingin membunuh pemikiran tradisional, mana bisa, dasar tolol.&lt;br /&gt;maaf bila sedikit emosional, tapi kami bertahan dengan perut yang penuh dan jiwa yang tenang, bila gelisah rasanya ingin memperkosa istri - istri tuan yang cantik. sungguh, suatu siang di seberang istana tuan, bocah yang sudah tidak mandi lebih dari setahun memungut nasi sisa entah siapa, tidak jauh dari patung badak. sedang tuan sedang asik benyanyi dan berjoget di dalam istana, tentunya dengan istri tuan yang cantik.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>kemkbalikan agamaku</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/09/kemkbalikan-agamaku.html</link><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Mon, 6 Sep 2010 22:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-897711564101210489</guid><description>Kembalikan agamaku&lt;br /&gt;Agamaku adalah kedamaian, agamaku adalah keindahan, agamaku selalu penuh cinta. Dari dahulu dan sampai kapanpun, ia akan selalu elok. Ia selalu bisa menyatukan perbedaan warna, kasta dan bahkan harta. Bisik agamaku selalu mendamaikan jiwa yang penuh amarah, itulah yang kulihat dari sejarah agamaku.&lt;br /&gt;Namun, bagaimana keadaan agamaku di negeriku kini? Apakah ia akan menjadi abadi dengan catatan tinta emas sejarahnya? Rasannya tidak.&lt;br /&gt;Para kaum yang mengaku pencinta agamaku di negeriku memang sangat bersih dari dosa – dosa. Sampai –sampai mereka memberi cap kotor terhadap mereka yang tersesat. Sekarang kita sama – sama tahu, bila ada satu di sisi yang benar  dan yang lain di sudut terlarang, maka yang akan terjadi adalah pertentangan.&lt;br /&gt;Yang benar merasa berhak mengutuk dan menghina terhadap mereka yang sesat, hanya karena merasa lebih benar, lebih berilmu dan beriman. Malah, mereka tentukan siapa yang ke Surga siapa ke Neraka. Mereka yang di sisi kegelapan merasa terpojokkan atas ulah kaum suci. Sebenarnya mereka tahu bahwa mereka salah, karena setanpun demikian. Tetapi, perut yang lapar tidak bisa mengenal teori, retorika. Sekalipun kebenaran sebuah agamaku. Memang itu tidakbisa dijadikan alasan atas tindakan yang keliru, alasan untuk ingkar. Tapi, bukankah kita diajarkan untuk memberi makan terlebih dahulu bila ingin berdakwah di kalangan gembel dan pengemis. Tapi yang menjadi masalah besar, mereka tidak melihat kedamaian, keindahan dan juga rasa cinta atas agama di negeriku. Semua itu karena kaum suci telah mengambil alih hak Tuhan.&lt;br /&gt;Baiklah, bila kaum suci agama di negeriku ingin menjadi Tuhan. Tetapi, mereka tidak pemaaf seperti Tuhan, mereka tidak merangkul malah memukul dengan tongkat dan batu. Mereka merasa pantas melakukannya karena ada perintah tertulis yang dibuat Tuhan langsung khusus untuk mereka. Tapi kawan, apakah kalian tahu pelacur, pencopet dan penjahat kelas teri lainnya rindu akan kasih sayang, mereka ingin dipeluk oleh hangatnya cinta agama kita?&lt;br /&gt;Penjahat memang harus diganyang, diperang. Tetapi, mengapa hanya yang mencuri uang receh yang diperangi, bahkan dibakar hanya karena mencuri ayam? Coba lihat di atas sana, mereka yang bersafari, berdasi dan bertopeng, telah membuat kelaparan berjuta orang, ada yang berani mengusik? Apakah itu sikap agama kita, sikap agama yang penuh kedamaian, agama yang penuh kecintaan? Sudah saatnya kitakembalikan agama kita. Karena aku ingin agamaku dikembalikan ke tempatnya yang mulia. &lt;br /&gt;Terinspirasi dari syair indah K.H. Mustofa Bisri</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>sastra?</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/06/sastra.html</link><category>pengertian Sastra</category><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Tue, 1 Jun 2010 12:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-2695617277180821177</guid><description>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sastra bukanlah perawan suci dari pegunungan manapun, dia selalu menjadi bagian dari kehidupan dengan corak beragam. sederhana sastra tidak selalu berdiri sendiri selalu berkaitan dengan apapun. sastra bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif dengan manusia dan kehidupannya sebagai objek. dan bahasa sebagai medianya....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;inilah sedikit pengertan dangkal dari manusia yang belajar mencintai sastra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi untuk Bangsaku</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/05/puisi-untuk-bangsaku.html</link><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Tue, 25 May 2010 08:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-5991162087096835474</guid><description>bangsaku lahir prematur&lt;br /&gt;bangsaku sulit diatur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi dia bukan bangkai&lt;br /&gt;bukan pula sekumpulan keledai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia hanya tidur sejenak&lt;br /&gt;untuk bangun cinta beranjak</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>SEO : Jadi Anda Bagus Pada SEO Atau Merasa Pintar, Huhhhh?</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/05/seo-jadi-anda-bagus-pada-seo-atau.html</link><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Tue, 25 May 2010 01:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-7878263346867873843</guid><description>&lt;a href="http://www.yousaytoo.com/seo-jadi-anda-bagus-pada-seo-atau-merasa-pintar-huhhhh/282233"&gt;SEO : Jadi Anda Bagus Pada SEO Atau Merasa Pintar, Huhhhh?&lt;/a&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Format Baru Sejarah Sastra Indonesia</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/05/format-baru-sejarah-sastra-indonesia.html</link><category>Cerita Sastra</category><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Tue, 25 May 2010 00:37:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-4687984444287913189</guid><description>&lt;div dir="'ltr'"&gt;&lt;span style="font-size:'6';"&gt;&lt;b&gt;Format Baru Sejarah Sastra Indonesia&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;BERTOLAK pada kesepakatan ahli yang menyatakan sastra&lt;br /&gt;Indonesia berawal pada roman-roman terbitan Balai Pustaka tahun&lt;br /&gt;1920-an, sejarahnya hingga sekarang terhitung masih sangat muda,&lt;br /&gt;sekitar 80 tahun.  Karena itu, diperlukan buku-buku sejarah sastra yang bisa dirujuk pelajar, mahasiswa, peminat, dan ahli sastra.  Karena itu, wajarlah apabila perjalanan sejarah&lt;br /&gt;sastra Indonesia dibagi-bagi dengan mempertimbangkan momentum perubahan&lt;br /&gt;sosial dan politik, seperti tampak dalam buku Ajip Rosidi (1968).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian yang lebih rinci dengan angka tahun menjadi&lt;br /&gt;1900-1933, 1933-1942, 1942-1945, 1945-1953, 1953-1961, dan 1961-1967&lt;br /&gt;dengan warna masing-masing sebagaimana tampak pada sejumlah karya-karya&lt;br /&gt;sastra yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kemudian pada periode 1961-1967 tampak menonjol warna&lt;br /&gt;perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat, sedangkan sesudahnya&lt;br /&gt;tampak warna percobaan dan penggalian berbagai kemungkinan pengucapan&lt;br /&gt;sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format baru&lt;br /&gt;Kalau momentum sosial-politik masih dipergunakan sebagai ancangan&lt;br /&gt;periodisasi sejarah sastra Indonesia 1900-2000, mungkin saja tercatat&lt;br /&gt;format baru dengan menempatkan tiga momentum besar sebagai&lt;br /&gt;tonggak-tonggak pembatas perubahan sosial, politik, dan budaya, yaitu&lt;br /&gt;proklamasi kemerdekaan 17-8-1945, geger politik dan tragedi nasional 30&lt;br /&gt;September 1965, dan reformasi politik 21 Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Analisis struktural Umar Yunus tentang perkembangan&lt;br /&gt;puisi Indonesia dan Melayu modern (Bhratara, Jakarta, 1981) dan telaah&lt;br /&gt;struktural tentang novel Indonesia (Universiti Malay, Kuala Lumpur,&lt;br /&gt;1974) barangkali dapat dipergunakan sebagai rujukan untuk menjelaskan&lt;br /&gt;perubahan-perubahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempertimbangkan ketiga momentum tadi maka&lt;br /&gt;diperoleh empat masa perjalanan sejarah sastra Indonesia, yaitu masa&lt;br /&gt;pertama mencakup tahun 1900-1945, masa kedua mencakup tahun 1945-1965,&lt;br /&gt;masa ketiga mencakup tahun 1965-1998, dan masa keempat yang dimulai&lt;br /&gt;pada tahun 1998 hingga waktu yang belum dapat diperhitungkan.Dengan meminjam baju politik yang dianggap populer dan&lt;br /&gt;tetap mempertimbangkan nasionalisme maka penamaan keempat masa&lt;br /&gt;perjalanan sastra Indonesia itu bisa menghasilkan tawaran sebagai&lt;br /&gt;berikut:&lt;br /&gt;Masa Pertumbuhan atau Masa Kebangkitan dapat dipergunakan untuk&lt;br /&gt;mewadahi kehidupan sastra Indonesia tahun 1900-1945 dengan alasan bahwa&lt;br /&gt;pada masa itu telah tumbuh nasionalisme yang juga tampak dalam sejumlah&lt;br /&gt;karya sastra, seperti sajak-sajak Rustam Efendi, Muhamad Yamin, Asmara&lt;br /&gt;Hadi dan lain-lain.&lt;br /&gt;Yang jelas, pada masa itu bertumbuhan karya sastra yang sebagian sudah&lt;br /&gt;bersemangat Indonesia dan sekarang memang tercatat sebagai modal awal&lt;br /&gt;khazanah sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Pemapanan dapat dipergunakan untuk mewadahi kehidupan sastra&lt;br /&gt;Indonesia tahun 1965-1998 dengan alasan pada masa itu terjadi pemapanan&lt;br /&gt;berbagai sistem: sosial, politik, penerbitan, dan pendidikan yang&lt;br /&gt;dampaknya tampak juga di bidang sastra Indonesia. Mengingat besarnya muatan sejarah sastra Indonesia itu&lt;br /&gt;maka diperlukan pembagian sejarah pertumbuhan dan perkembangannya&lt;br /&gt;menjadi empat masa seperti tersebut tadi, yaitu (1) masa pertumbuhan&lt;br /&gt;atau masa kebangkitan dengan angka tahun 1900-1945, (2) masa pergolakan&lt;br /&gt;atau masa revolusi dengan angka tahun 1945-1965, (3) masa pemapanan&lt;br /&gt;dengan angka tahun 1965-1998, dan (4) masa pembebasan dengan angka&lt;br /&gt;tahun 1998-sekarang.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/05/format-baru-sejarah-sastra-indonesia.html"&gt;Format Baru Sejarah Sastra Indonesia&lt;/a&gt; Originally published in Shvoong: &lt;a href="http://id.shvoong.com/social-sciences/1682996-format-baru-sejarah-sastra-indonesia/" target="_blank"&gt;http://id.shvoong.com/social-sciences/1682996-format-baru-sejarah-sastra-indonesia/&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sastra : Menggagas Pembentukan Karakter Generasi Muda melalui Karya Sastra</title><link>http://ihsan-budayaindonesia.blogspot.com/2010/05/sastra-menggagas-pembentukan-karakter.html</link><category>Cerita Sastra</category><author>noreply@blogger.com (ihsan)</author><pubDate>Tue, 25 May 2010 00:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2711510984324457419.post-4437719353986574301</guid><description>TES BLOGGER AKUN : &lt;div&gt;&lt;p&gt;Sudah lama anak-anak merindukan dongeng kita. Bukan dongeng menjelang  tidur saja, tetapi dongeng yang membawa karakter generasi mendatang  kita. Begitu pun cerita-cerita semesta, atau karya sastra, baik lewat  teater maupun seni pertujukan lainnya. Juga seni yang mengutuhkan hidup  generasi berkepribadian yang matang. Generasi yang mempunyai jati diri  dan tidak mudah diejek oleh bangsa lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-1429"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut beberapa pandangan Pak Achjar Chalil yang saya kutip dari FB  untuk kita renungkan :&lt;br /&gt;Hingga hari ini, sastra klasik Angkatan Balai Pustaka, karya sastrawan  Indonesia jadi bacaan wajib siswa SMA di Malaysia. Dengan ini mereka  memelihara “karakter positip Melayu” nya. Ketika Malaysia berulah,  bangsa ini pun hanya bisa mencak-…mencak, dan “teriak sana teriak sini”.  Wahai para pemimpin..jangan keasikan memburu uang dan kekuasaan…tolong  perbaiki karakter bangsa ini….Salam… (Achjar Chalil)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Otomotive? belajar dari asing=perlu!, Elektronik? belajar dari  asing=perlu!, Teknologi Informasi? belajar dari asing=perlu. Pokoknya  untuk sains dan teknologi silahkan arahkan “kiblat” anda ke luar  Indonesia…. Untuk pembangunan karakter b…angsa….? Nah ini dia. Sebagai  bangsa yang pernah dijajah barat (belanda) bangsa ini (termasuk para  pemimpinnya) tetap juga melihat ke barat.. (Achjar Chalil)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para pakar pendidikan kita pergi ke barat, pulang bawa gelar DR, PHd,  pendidikan di kita pun dirancang ikuti pola Jerman, Inggris, Amerika,  atau Australia. Konsep pendidikan yang dirancang oleh Ki Hajar Dewantara  dan Engku M. Syafe’i (100% pribu…mi) diletakkan “di bawah meja” (untuk  konsep Ki Hajar cukup sekedar kata Tut Wuri Handayani pada logo  Depdiknas…&lt;br /&gt;(Achjar Chalil)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut beberapa wawasan terkait dengan kegiatan berkesenian di  Kabupaten Purworejo :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada banyak grup, sanggar, atau organisasi yang malang melintang di  dunia seni di Purworejo. Sedikit yang dikenal eksistensinya oleh  masyarakat Purworejo sendiri. Sebagian besar tidak tertampung atau tidak  memiliki tempat untuk mengungkapkan ekspresi seninya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perlu kiranya sekali waktu di Purworejo diadakan kegiatan pembinaan  bidang kesenian secara serius guna menghadapi tantangan globalisasi yang  lebih santer mengalir ke dinding kota dan pedesaan-pedesaan di  Purworejo.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai contoh perkembangan dunia sastra di kalangan remaja baru  merambah sebagian kecil generasi muda, karena minimnya pembinaan. Di  sekolah-sekolah pembelajaran seni sastra tidak konsen lagi lantaran  tuntutan kurikulum yang masih sulit diterapkan. Sementara secara  nasional pembelajaran sesni sastra belum “terupdate” dan baru  terintegrasi melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kerinduan generasi muda akan karya sastra, memang tidak mengglobal,  akan tetapi justeru hal inilah kelemahan dunia sastra kita. Ia semakin  dijauhi saja. Padahal karya sastra dapat membentuk karakter generasi  bangsa kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adalah besar harapan pembentukan karakter generasi bangsa, karakter  masyarakat khususnya di Purworejo dapat terjembatani melalui Dewan  Kesenian Purworejo, sehingga dapatlah terkondisikan pementasan karya  seni semisal karya sastra dan ekspresi seni yang lain, seperti seni  teater, seni pedalangan, seni tari, seni karawitan. sampai seni-seni  tradisional yang khas di Purworejo dapat tetap eksis dan terbina.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>