<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>SCIENCE for BETTER LIFE</title><link>http://sains4ever.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ScienceForBetterLife" /><description></description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Ade)</managingEditor><lastBuildDate>Sun, 27 Nov 2011 16:34:47 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">87</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="scienceforbetterlife" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><media:copyright>Copyright @Ade</media:copyright><media:category scheme="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd">Science &amp; Medicine/Natural Sciences</media:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email><itunes:name>Ade</itunes:name></itunes:owner><itunes:author>Ade</itunes:author><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle></itunes:subtitle><itunes:category text="Science &amp; Medicine"><itunes:category text="Natural Sciences" /></itunes:category><item><title>Keajaiban Rancangan pada Kemampuan Terbang Serangga</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/9aIaFSF0BxA/keajaiban-rancangan-pada-kemampuan.html</link><category>Natural</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Wed, 21 Jul 2010 07:09:38 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-431989481138023838</guid><description>&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/TEKrF2fsA5I/AAAAAAAAAYs/oEmqvsOd8_w/s1600/capung.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/TEKrF2fsA5I/AAAAAAAAAYs/oEmqvsOd8_w/s320/capung.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Jika masalah penerbangan direnungkan, burung segera terlintas dalam pikiran.  Namun, burung bukanlah satu-satunya makhluk yang dapat terbang. Beberapa jenis serangga juga dilengkapi dengan kemampuan terbang yang melebihi  kemampuan burung. Kupu-kupu Raja dapat terbang dari Amerika Utara hingga ke  pedalaman Benua Amerika. Lalat dan capung bahkan dapat tetap diam di udara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Para evolusionis menyatakan bahwa serangga mulai terbang sejak 300 juta tahun  yang lalu. Meski demikian, mereka tidak mampu memberikan jawaban tuntas  terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: bagaimana caranya serangga  pertama membentuk sayap-sayapnya, memulai terbang, dan bisa diam di udara?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Evolusionis hanya menyatakan bahwa beberapa lapis kulit tubuhnya mungkin telah  berubah menjadi sayap. Sadar akan tidak meyakinkannya pernyataan mereka, mereka  juga menyatakan bahwa contoh bentuk-bentuk fosil yang menguatkan penilaian  ini tidak tersedia lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Padahal, rancangan sempurna pada sayap serangga tidak meninggalkan ruang bagi  kejadian kebetulan. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dalam artikel berjudul  “The Mechanical Design of Insect Wings (Rancang Gerak Sayap Serangga),” Ahli biologi Inggris Robin Wootton  menulis: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alnt" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Makin baik kita memahami guna sayap-sayap serangga, makin canggih dan indah rancangannya terlihat… Bentuk-bentuknya umumnya dirancang dengan cacat sekecil  mungkin; cara kerjanya dirancang untuk menggerakkan bagian-bagian rancangannya dengan  cara yang terencana. Sayap-sayap serangga menggabungkan kedua hal ini menjadi  satu, dengan menggunakan bagian-bagian rancangan dari beragam bahan lentur,  yang terangkai secara sempurna untuk memungkinkan perubahan bentuk dalam  menanggapi kekuatan yang tepat dan untuk menghasilkan pemanfaatan udara sebaik  mungkin. Mereka malah sudah lebih dahulu mempunyainya, jika memang ada kesesuaiannya dengan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alnt" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-indent: 28.35pt;"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Di sisi lain, tak ada satu bukti fosil pun untuk khayalan evolusi serangga.  Inilah yang disebutkan oleh pakar ilmu hewan Prancis yang terkenal Pierre Paul  Grassé ketika beliau menyatakan, “Kita berada dalam kegelapan ketika membahas  asal mula serangga.” Sekarang mari kita teliti beberapa keistimewaan yang menarik dari makhluk-makhluk ini yang meninggalkan para evolusionis di dalam gelap gulita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;h2 style="color: black; text-indent: 28.35pt;"&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Yang Mengilhami Helikopter :  Capung &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sayap capung tidak dapat dilipat pada tubuhnya. Selain itu, cara otot terbang digunakan ketika sayap bergerak, berbeda dengan kebanyakan serangga  lainnya. Karena sifat ini, para evolusionis menyatakan bahwa capung adalah  “serangga terbelakang.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Padahal sebaliknya, sistem terbang makhluk yang disebut “serangga terbelakang”  ini tidak lain adalah keajaiban perancangan. Pembuat helikopter terbaik  dunia, Sikorsky, menuntaskan perancangan satu dari helikopter mereka dengan  menjadikan capung sebagai model. IBM, mitra Sikorsky dalam proyek ini memulai dengan menempatkan suatu model capung ke dalam komputer (IBM 3081). Dua  ribu jenis penggambaran khusus dilakukan di komputer dalam hal manuver  (gerakan jungkir balik) capung di udara. Jadi, model helikopter Sikorsky yang  ditujukan untuk pengangkutan tentara dan persenjataan telah dibuat berdasarkan  contoh yang berasal dari capung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Gilles Martin, seorang fotografer alam, telah melakukan pengamatan 2 tahun  untuk meneliti capung, dan dia juga menyimpulkan bahwa makhluk ini memiliki  cara terbang yang sangat rumit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tubuh capung menyerupai bentuk pilin yang terbungkus logam. Dua sayapnya saling silang pada badannya yang menampakkan bias  warna dari biru muda hingga merah marun. Karena bentuk begini, capung  dilengkapi dengan kemampuan manuver yang luar biasa. Tak peduli pada kecepatan atau  arah bagaimana pun ia telah bergerak, capung dapat mendadak berhenti dan  mulai terbang kembali dengan arah berlawanan. Atau, capung dapat tetap diam di  udara untuk berburu. Pada kedudukan seperti itu, ia dapat bergerak dengan  sangat cepat menuju mangsanya. Ia dapat mempercepat gerakannya hingga kecepatan  yang sangat mengejutkan untuk seekor serangga: 25 mil per jam (40  kilometer/jam), yang dapat disejajarkan dengan seorang atlet lari 100 meter di Olimpiade  dengan kecepatan 24,4 mil per jam (39 kilometer/jam).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Pada kecepatan ini, capung bertabrakan dengan mangsanya. Guncangan tabrakan  ini sangat kuat. Namun, ketahanan capung sangat lentur sekaligus tahan  terhadap benturan. Bentuk yang lentur dari tubuhnya meredam guncangan benturan. Sebaliknya, hal yang sama tidak akan terjadi pada mangsanya. Mangsa  capung akan kehilangan kesadaran atau bahkan mati karena benturan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Menyusul benturan ini, kaki belakang capung berperan sebagai senjatanya yang  paling mematikan. Kaki menjulur ke depan dan menangkap mangsa yang kaget,  kemudian dengan tangkas dicabik-cabik dan dimakan dengan rahangnya yang kuat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Penglihatan capung sama mengesankannya dengan kemampuannya menunjukkan manuver  mendadak pada kecepatan tinggi. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Mata capung  diakui sebagai contoh terbaik di antara semua serangga. Capung memiliki sepasang mata, tiap matanya memiliki sekitar 30 ribu lensa berbeda. Dua  mata nyaris bulat, masing-masing hampir separuh ukuran kepalanya, memberi serangga ini wilayah pandang yang sangat luas. Karena mata-mata ini, capung hampir selalu dapat mengetahui keadaan di  belakangnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Karena itu, capung merupakan gabungan sistem-sistem, yang masing-masingnya  memiliki bentuk tersendiri dan sempurna. Tidak berjalannya salah satu saja dari sistem-sistem ini akan merusak sistem yang lainnya juga. Walaupun  begitu, seluruh sistem ini diciptakan tanpa cacat, sehingga makhluk ini tetap  bertahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-indent: 28.35pt;"&gt;   &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt; &lt;b&gt;Sayap Capung&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Bagian tubuh yang paling penting dari  capung adalah sayapnya. Akan tetapi, tidaklah mungkin menggunakan model evolusi perkembangan untuk menjelaskan cara terbang yang memungkinkan penggunaan  sayap ini. Pertama, teori evolusi tidak punya penjelasan tentang masalah asal  mula sayap, karena sayap hanya dapat bekerja jika berkembang bersama  sekaligus agar dapat bekerja dengan benar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Mari kita menganggap, untuk sementara,  bahwa gen seekor serangga di tanah mengalami mutasi dan beberapa bagian dari  jaringan kulit pada tubuhnya menunjukkan perubahan yang tidak pasti. Sangat tidak  masuk akal bila menganggap bahwa mutasi lainnya di puncak perubahan ini bisa  “secara kebetulan” menjadi sayap. Lebih dari itu, mutasi pada tubuhnya pun tidak  akan menghasilkan sayap secara utuh bagi serangga ini atau pun menjadikannya  lebih sempurna, malah akan menurunkan daya geraknya. Akibatnya, serangga perlu membawa beban lebih berat, yang tidak memberikan tujuan apa pun yang  jelas. Ini akan membuat serangga ini berada pada keadaan yang tidak menguntungkan  di hadapan musuhnya. Bahkan, menurut dasar teori evolusi, seleksi alam akan menimpa serangga cacat tersebut dan keturunannya pun punah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Padahal, mutasi sangat jarang terjadi. Mutasi selalu merugikan makhluk hidup, mengakibatkan penyakit mematikan dalam banyak kejadian. Itulah mengapa  mustahil suatu mutasi kecil dapat menyebabkan beberapa pembentukan pada tubuh  capung untuk berevolusi menjadi suatu gerakan terbang. Setelah semua ini, mari  kita tanyakan pada diri sendiri: meskipun kita beranggapan, jika hal-hal lain  tak berpengaruh, bahwa jalan cerita yang ditawarkan para evolusionis mungkin saja  terjadi, mengapa fosil-fosil “capung terbelakang” yang mendukung jalan cerita ini  tidak ada?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tidak ada perbedaan antara fosil capung tertua dengan capung di masa sekarang.  Tidak ditemukan sisa-sisa “separuh capung” atau seekor “capung dengan sayap  yang baru muncul” yang mendahului fosil tertua tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Layaknya bentuk kehidupan lainnya, capung juga muncul sekaligus dan tidak  mengalami perubahan hingga saat ini. Dengan kata lain, capung memang diciptakan  oleh Allah dan tidak pernah “berevolusi.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Kerangka serangga terbentuk dari zat yang kokoh dan melindunginya, yang disebut  kitin. Zat ini diciptakan dengan kekuatan yang cukup untuk membentuk rangka  luar. Bahan ini juga cukup lentur untuk digerakkan oleh otot-otot yang  digunakan untuk terbang. Sayap-sayap tersebut dapat bergerak maju mundur atau pun  atas bawah. Gerak sayap ini didukung oleh suatu bentuk persendian yang rumit.  Capung memiliki dua pasang sayap, sepasang di bagian depan pasangan lainnya. Sayap-sayap tersebut bergerak secara berlawanan, yakni, ketika dua sayap  di depan terangkat, maka kedua sayap belakangnya bergerak turun. Dua  kelompok otot yang berlawanan menggerakkan sayap-sayap tersebut. Otot-otot tersebut  terikat pada tuas di dalam tubuh. Ketika satu kelompok otot menarik sepasang  sayap dengan mengerut, kelompok otot yang lain membuka sepasang sayap lainnya  dengan serta merta. Helikopter naik dan turun dengan cara yang serupa. Hal ini memungkinkan capung untuk diam di udara, bergerak mundur atau seketika  mengubah arah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-indent: 28.35pt;"&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Perubahan Bentuk  (Metamorfosis) Capung&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Capung betina tidak akan kawin lagi setelah pembuahan. Namun, hal ini bukanlah  masalah bagi jenis jantan &lt;i&gt;Calopteryx virgo&lt;/i&gt;. Dengan menggunakan kait pada ekornya, capung jantan menangkap betinanya di lehernya (1). Sang betina melilitkan kakinya di sekitar ekor capung jantan. Pejantan dengan  menggunakan sambungan khusus di ekornya (2), membersihkan mani yang mungkin  tertinggal dari pejantan lain. Kemudian, dia memasukkan maninya ke dalam rongga kelamin  sang betina. Karena peristiwa ini memakan waktu berjam-jam, mereka kadangkala terbang dalam posisi berhimpitan. Capung meninggalkan telur dewasa di kedangkalan danau atau kolam (3). Begitu kepompong menetas dari telur,  kepompong tinggal di dalam air selama tiga sampai empat tahun (4). Selama masa  tersebut, kepompong juga makan di dalam air (5). Karena itu, ia diciptakan dengan  tubuh yang mampu berenang cepat untuk dapat menangkap ikan dan menjepitnya  dengan cukup kuat untuk mencabik-cabik mangsanya. Dengan tumbuhnya kepompong,  kulit yang membungkus tubuhnya menguat. Ia melepaskan kulit tersebut dalam  empat masa yang berbeda. Ketika sampai pada perubahan terakhir, ia meninggalkan air  dan mulai mendaki tumbuhan tinggi atau batu (6). Ia mendaki hingga kakinya terpancang kokoh. Kemudian, ia melindungi dirinya sendiri dengan bantuan penjepit di ujung kaki-kakinya. Sekali terpeleset dan terjatuh berarti  kematian pada saat itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tahap terakhir berbeda dengan empat tahap sebelumnya, inilah masa ketika Allah membentuk capung menjadi makhluk yang dapat terbang melalui peralihan  yang mengagumkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Punggung kepompong pertama-tama terbelah (7). Belahan itu melebar dan menjadi  celah terbuka, tempat makhluk baru yang sangat berbeda dari bentuk sebelumnya, berjuang untuk keluar. Tubuh yang sangat rentan ini dilindungi dengan  ikatan yang ditarik dari makhluk sebelumnya (8) Ikatan ini diciptakan mempunyai kebeningan dan kelenturan yang sempurna. Jika tidak demikian ikatan akan  putus dan tidak bisa dibawa, yang bisa berarti bahwa ulat tersebut dapat  terjatuh ke dalam air dan mati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Di samping itu, terdapat serangkaian cara khusus yang membantu capung  memecahkan kulit kepompongnya. Tubuh capung menyusut dan mengeriput di dalam tubuh lamanya. Untuk “membuka” kepompong tersebut, suatu sistem pompa dan  cairan tubuh khusus diciptakan untuk digunakan pada proses ini. Bagian tubuh  yang mengeriput ini menggembung dengan memompakan cairan tubuhnya setelah  berhasil keluar dari celah kepompong (9). Sementara itu, larutan-larutan kimiawi  mulai memutus ikatan antara kaki baru dengan kaki lama tanpa merusaknya.  Proses ini sangat sempurna meskipun akan menimbulkan kerusakan seandainya satu kaki terjebak. Kaki-kaki tersebut dibiarkan mengering dan mengeras selama  sekitar dua puluh menit sebelum digunakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sayap-sayapnya sudah terbentuk sempurna namun masih dalam keadaan terlipat. Cairan  tubuh dipompakan dengan pengerutan tubuh yang kuat ke dalam jaringan sayap  (10). Sayap tersebut mengering setelah meregang (11).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Setelah capung meninggalkan tubuh lamanya dan mengering dengan sempurna, capung  mencoba seluruh kaki dan sayapnya. Kaki-kaki dilipat dan diregangkan satu demi  satu dan sayapnya dinaik-turunkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Akhirnya, serangga ini mencapai bentuk yang dirancang untuk terbang. Sangatlah  sulit bagi siapa pun untuk mempercayai bahwa makhluk yang terbang sempurna ini sama  dengan makhluk yang menyerupai ulat yang meninggalkan air (12). Capung  memompakan kelebihan cairan keluar, untuk menyeimbangkan sistemnya. Metamorfosis  selesai dan sang capung siap mengudara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Kita menyaksikan kemustahilan pernyataan teori evolusi kembali ketika kita  mencoba dengan menggunakan akal untuk menemukan asal mula peralihan yang  menakjubkan ini. Teori evolusi menyatakan bahwa semua makhluk muncul melalui  perubahan acak. Padahal, metamorfosis capung merupakan suatu proses yang sangat  rumit dan tidak memberi celah bahkan untuk satu kesalahan kecil pun pada tiap-tiap  tahap yang dilaluinya. Rintangan terkecil dalam setiap tahap ini akan  mengakibatkan metamorfosis tidak sempurna yang mengakibatkan luka atau kematian  capung. Metamorfosis benar-benar merupakan daur hidup dengan “kerumitan yang tak tersederhanakan” sehingga menjadi bukti perancangan yang nyata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Pendeknya, metamorfosis capung merupakan satu dari sekian banyak bukti nyata  mengenai betapa sempurnanya Allah menciptakan makhluk hidup. Seni mengagumkan  dari Allah terwujud dengan sendirinya bahkan dalam seekor serangga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Gerak Terbang&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sayap lalat bergetar menurut sinyal listrik yang dihantarkan oleh saraf.  Contohnya, pada belalang setiap satu sinyal saraf menghasilkan satu pengerutan otot  yang akibatnya menggerakkan sayap. Dua kelompok otot yang berlawanan, yang  dikenal sebagai “pengangkat” dan “peredam” menjadikan sayap bergerak naik dan  turun dengan menarik dalam arah yang berlawanan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Jangkrik mengepakkan sayapnya dua belas hingga lima belas kali per detik, namun  serangga yang lebih kecil perlu jumlah kepakan yang lebih tinggi agar dapat  terbang. Contohnya, jika lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayapnya 200  hingga 400 kali per detik, jumlah ini meningkat hingga 1000 kali pada ngengat dan  beberapa parasit sepanjang 1 milimeter.&amp;nbsp;Bukti lain yang jelas tentang penciptaan yang sempurna adalah bahwa makhluk terbang sepanjang 1  milimeter mampu mengepakkan sayapnya dengan jumlah yang luar biasa mencapai seribu  kali per detik tanpa membakar, mengoyak, atau pun melelahkan serangga itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Jika kita teliti makhluk terbang ini lebih dekat lagi, kekaguman kita akan rancangannya pun bertambah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Telah disebutkan bahwa sayap mereka digerakkan dengan perantaraan sinyal  listrik yang dikirimkan melalui saraf. Akan tetapi, suatu sel saraf hanya mampu menghantarkan sebanyak-banyaknya 200 sinyal per detik. Lalu, bagaimana  mungkin serangga terbang kecil ini mencapai 1000 kepakan sayap per detik?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Lalat yang mengepakkan sayapnya 200 kali per detik memiliki hubungan  saraf-otot yang berbeda dengan yang terdapat pada belalang. Terdapat satu sinyal yang  dialirkan untuk setiap 10 kepakan sayap. Di samping itu, otot yang dikenal sebagai  otot serat bekerja dengan pola yang berbeda dengan otot-otot belalang. Sinyal  saraf hanya memerintahkan otot bersiap untuk terbang dan, ketika otot mencapai tingkat tegangan tertentu, otot pun mengendur dengan sendirinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Terdapat suatu sistem pada lalat, lebah madu, dan tawon yang mengubah kepak sayap menjadi gerakan “otomatis.” Otot-otot yang memungkinkan penerbangan pada serangga-serangga ini tidak terikat langsung pada tulang-tulang tubuh. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Sayap menempel ke dada dengan  persendian yang berguna sebagai poros. Otot yang menggerakkan sayap dihubungkan  dengan permukaan bawah dan atas dada. Ketika otot-otot tersebut mengerut, dada bergerak dalam arah berlawanan, yang pada gilirannya menimbulkan tarikan  ke bawah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Mengendurkan sekelompok otot secara otomatis menghasilkan pengerutan kelompok yang berlawanan yang diikuti dengan pengenduran. Dengan kata lain, hal ini  merupakan suatu “sistem otomatis.” Dengan cara ini, gerakan otot berlanjut tanpa  henti hingga sinyal pemberitahuan berlawanan dikirimkan melalui saraf yang mengendalikan sistem tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Cara terbang seperti itu dapat dibandingkan dengan sebuah jam yang bekerja berdasarkan pegas melingkar. Bagian ini ditempatkan dengan tepat  sehingga satu gerakan tunggal saja dengan mudah menggerakkan sayap. Mustahil kita  tidak melihat rancangan yang sempurna pada contoh ini. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Ciptaan Allah yang sempurna pun  terbukti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sistem di Balik Gaya Dorong  &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Tidak cukup hanya mengepakkan sayap naik turun untuk menjaga kelancaran  terbang. Sayap harus mengubah sudut-sudut selama tiap kepakan untuk menghasilkan  gaya dorong serta mengangkat tubuhnya. Sayap memiliki kelenturan tertentu untuk  berputar tergantung pada jenis serangganya. Otot terbang utama, yang juga  menghasilkan tenaga yang diperlukan untuk terbang, mendukung kelenturan ini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sebagai contoh, untuk terbang lebih tinggi, otot-otot antara sambungan sayap  mengerut lebih jauh untuk meningkatkan sudut sayap. Pengamatan yang dilakukan  dengan menggunakan teknik film berkecepatan tinggi mengungkapkan bahwa sayap meninggalkan jejak bulat lonjong ketika terbang. Dengan kata lain, lalat  tidak hanya menggerakkan sayapnya naik dan turun, namun juga menggerakkannya  dalam gerak melingkar seperti mendayung perahu di air. Gerakan ini  dimungkinkan oleh otot-otot utama tadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Permasalahan terbesar yang dihadapi jenis serangga dengan tubuh kecil adalah  ketidakmampuan mencapai keadaan yang diperlukan ini. Udara bergerak seolah menghambat  sayap serangga-serangga kecil ini dan sangat mengurangi efisiensi sayap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Karena itulah, beberapa serangga yang ukuran sayapnya tidak lebih dari satu  milimeter, harus mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik untuk mengatasi ketidakmampuannya itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Para peneliti berpendapat bahwa bahkan kecepatan ini saja tidak cukup untuk mengangkat serangga, sehingga mereka menggunakan sistem lainnya juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sebagai contoh, beberapa jenis hewan pengganggu kecil, &lt;i&gt;Encarsia&lt;/i&gt;, menggunakan cara yang disebut “tepuk dan buka.” Dengan cara ini,  sayap-sayap tersebut ditepuk sekaligus di puncak tekanan dan kemudian dibuka lagi.  Sudut depan sayap, tempat pembuluh darah keras berada, mula-mula memisah, yang memungkinkan aliran udara menuju wilayah bertekanan udara di tengahnya.  Aliran ini menghasilkan pusaran yang membantu mendapatkan gaya angkat sayap  yang bertepuk.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Ada sistem khusus lain yang diciptakan bagi serangga untuk mempertahankan  posisi yang mantap di udara. Beberapa lalat hanya memiliki sepasang sayap dan  alat tubuh berbentuk melingkar di punggungnya yang disebut halter  (penyeimbang). Halter ini berdenyut seperti sayap pada umumnya selama terbang namun tidak menghasilkan daya angkat apa pun sebagaimana yang dihasilkan oleh sayap. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Halter bergerak ketika arah terbang berubah, dan  mencegah serangga kehilangan arah. Sistem ini menyerupai penggunaan giroskop yang  digunakan untuk memandu arah penerbangan saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="color: black; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;    &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Sistem Pernapasan Khusus  pada Serangga&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Lalat terbang pada kecepatan yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan  ukuran tubuhnya. Capung dapat mengembara dengan kecepatan 25 mil per jam (40 kilometer/jam). Bahkan serangga yang lebih kecil dapat mencapai  kecepatan hingga 31 mil per jam (50 kilometer/jam). Kecepatan ini sebanding dengan manusia yang melakukan perjalanan dengan kecepatan ribuan mil per jam.  Manusia hanya dapat mencapai kecepatan ini bila menggunakan pesawat jet.  Padahal, jika kita mengingat ukuran pesawat jet jika dibandingkan dengan manusia,  jelas bahwa lalat-lalat ini sebenarnya terbang lebih cepat daripada pesawat terbang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Pesawat jet menggunakan bahan bakar khusus untuk menggerakkan mesin berkecepatan tingginya. Daya terbang lalat, pun memerlukan tingkat tenaga yang  tinggi. Juga dibutuhkan sejumlah besar oksigen untuk membakar energi tersebut.  Kebutuhan oksigen dalam jumlah besar ini dipenuhi oleh sistem pernapasan yang luar  biasa yang terletak di dalam tubuh lalat dan serangga lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="DE"&gt;Sistem pernapasan ini bekerja sangat berbeda dengan sistem pernapasan kita.  Kita menghirup udara ke dalam paru-paru. Di sini, oksigen bercampur dengan  darah dan dibawa ke seluruh tubuh oleh darah. Kebutuhan lalat akan oksigen begitu  tinggi sehingga hampir tidak ada waktu untuk menunggu oksigen dikirim ke  sel-sel tubuh oleh darah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Untuk  mengatasi masalah ini, ada suatu sistem yang sangat khusus. Tabung udara di dalam  tubuh serangga mengangkut udara ke bagian-bagian berbeda dari tubuh lalat.  Seperti halnya sistem peredaran dalam tubuh, ada suatu jaringan tabung yang  canggih dan rumit (disebut sistem trakea) yang mengirim udara yang mengandung  oksigen ke tiap sel di dalam tubuh. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Berkat sistem ini, sel-sel yang mendukung otot-otot terbang dapat mengambil  oksigen secara langsung dari tabung-tabung tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sistem ini juga membantu mendinginkan otot setelah bekerja dengan tingkat tinggi yang setara 1000 putaran per detik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Jelaslah sudah bahwa sistem ini  merupakan contoh penciptaan. Tidak ada proses kebetulan yang mampu menjelaskan rancangan  yang rumit ini. Mustahil pula sistem ini berkembang dalam tahap-tahap yang dikemukakan oleh teori evolusi. Jika sistem trakea tidak bekerja secara  penuh, maka tidak akan ada tahap peralihan yang menguntungkan makhluk tersebut, sebaliknya malah akan membahayakannya karena membuat sistem  pernapasannya tidak bekerja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Seluruh sistem yang telah kita telaah  sejauh ini sama-sama memperlihatkan bahwa terdapat suatu rancangan yang luar biasa  bahkan hingga makhluk yang sering diabaikan seperti lalat. Setiap lalat  merupakan suatu keajaiban yang membuktikan rancangan sempurna pada ciptaan Allah.  Di sisi lain, “proses evolusi” yang dikemukakan oleh Darwinisme jauh dari  penjelasan bagaimana satu sistem pun dari seekor lalat berkembang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="RESBASLIK2" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Dalam Al Qur’an, Allah mengajak seluruh  manusia untuk merenungkan kenyataan ini:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="alnt" style="color: black; font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;div class="ayet" style="color: black; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;i&gt;Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu.  Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan  seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat  itu merampas sesuatu dari mereka, tidaklah mereka dapat merebutnya kembali  dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang di sembah.&lt;/i&gt; (&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Al Hajj :73)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ANAMETIN" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ANAMETIN" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Cara terbang lalat rumah merupakan suatu kejadian yang amat rumit. Pertama, lalat rumah  dengan seksama memeriksa alat-alat tubuh yang akan digunakan dalam penentuan  arah terbang. Kemudian, lalat mengambil posisi siap terbang dengan  menyesuaikan alat-alat penyeimbang di bagian depan. Terakhir, lalat memperhitungkan  sudut tinggal landas, yang tergantung pada arah dan kecepatan angin, dengan menggunakan indera antenanya. Kemudian, lalat pun terbang. Dan hebatnya,  semua ini terjadi dalam seperseratus detik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ANAMETIN" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;Oleh karena itu, kita bisa memberinya gelar “raja terbang akrobat.” Lalat dapat terbang  dengan gerak zig-zag yang luar biasa di udara. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Lalat bisa lepas landas secara tegak lurus dari tempatnya berdiri. Tak peduli betapa licin dan gelapnya permukaan, lalat  bisa berhasil mendarat di mana pun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ANAMETIN" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Ciri lain raja sihir terbang  ini adalah kemampuannya mendarat di loteng. Karena daya tarik bumi, lalat rumah tidak dapat berpegangan dan jatuh.  Akan tetapi, lalat telah diciptakan dengan suatu sistem untuk menjadikan yang mustahil itu menjadi mungkin. Di ujung kaki-kakinya, ada bantalan sedot  yang amat kecil. Di samping itu, bantalan ini menyebarkan cairan lengket  ketika bersentuhan dengan suatu permukaan. Cairan lengket ini memungkinkannya  tetap menempel ke loteng. Ketika mendekati loteng, lalat meregang kaki-kakinya  ke depan dan segera ketika lalat merasakan sentuhan loteng, lalat pun  terjun dan mencengkeram permukaan loteng. Lalat mempunyai dua buah sayap.  Sayap-sayap ini, yang menyatu dengan tubuhnya di bagian tengah dan terdiri atas selaput  yang amat tipis yang dipotong oleh pembuluh-pembuluh darah, bisa digerakkan  secara terpisah satu sama lain. Akan tetapi, ketika terbang sayap-sayap  tersebut bergerak maju mundur pada satu sumbu seperti halnya pesawat bersayap  tunggal. Otot-ototnya yang memungkinkan pergerakan sayap-sayap itu mengerut saat  lepas landas dan mengendur saat mendarat. Meskipun dikendalikan oleh  saraf-saraf di awal penerbangan, otot-otot dan gerakan sayap ini menjadi bergerak  sendiri tak lama setelahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ANAMETIN" style="color: black; line-height: 16pt; margin: 0in 8.5pt 0in 0in; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span lang="IT"&gt;Sensor-sensor di bawah sayap  dan di belakang kepalanya mengirimkan informasi tentang penerbangannya segera ke otaknya. Jika lalat rumah  menghadapi aliran udara baru selama terbang, sensor-sensor ini segera mengirimkan sinyal-sinyal yang diperlukan otak. Otot-ototnya pun mulai mengarahkan sayap-sayap menurut keadaan baru tersebut. Itulah mengapa seekor lalat  dapat menentukan serangga lain yang menciptakan aliran udara itu dan  seringkali selalu bisa lari mengamankan diri. Lalat rumah menggerakkan  sayap-sayapnya seratus kali dalam sedetik. Energi yang dikeluarkan selama terbang  kira-kira seratus kali dari yang digunakan saat istirahat. Dari sudut pandang ini,  kita bisa mengatakan bahwa lalat adalah makhluk yang sangat kuat karena  metabolisme tubuh manusia hanya bisa menggunakan sepuluh kali energinya dalam keadan  darurat jika dibandingkan keadaan hidup yang biasa. Di samping itu, manusia bisa mempertahankan pembebasan energi ini paling banyak hanya beberapa menit. Sebaliknya, lalat dapat mempertahankan irama itu hingga setengah jam dan  bisa terbang hingga satu mil dengan kecepatan yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span lang="DE" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br clear="all" style="page-break-before: always;" /&gt;&lt;b&gt;Sumber &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;: &lt;a href="http://becomemoslem.blogspot.com/2010/07/keajaiban-rancangan-pada-kemampuan.html"&gt;http://becomemoslem.blogspot.com/2010/07/keajaiban-rancangan-pada-kemampuan.html&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="color: black;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;Design in Nature (Harun Yahya)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-431989481138023838?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/9aIaFSF0BxA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2010-07-21T21:09:38.901+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/TEKrF2fsA5I/AAAAAAAAAYs/oEmqvsOd8_w/s72-c/capung.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2010/07/keajaiban-rancangan-pada-kemampuan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Patung Manusia Tertua Punya Payudara Menonjol</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/pLiSap3zKCA/patung-manusia-tertua-punya-payudara.html</link><category>Archeology</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 23 May 2009 08:13:07 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-1439226331095657078</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgSJkA4aQI/AAAAAAAAAYA/94-y1OfjwUg/s1600-h/ukiran.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgSJkA4aQI/AAAAAAAAAYA/94-y1OfjwUg/s320/ukiran.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339037313743218946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;BERLIN, KOMPAS.com - Sebuah ukiran gading berbentuk perempuan gendut yang ditemukan di Gua Hohle Fels, Jerman ini punya keunikan. Selain sosoknya yang mengundang perhatian, patung tersebut umurnya sudah sangat tua. Apalagi dibuat dari gading mammoth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini merupakan ukiran berbentuk sosok manusia yang paling tua di dunia," ujar Jill Cook, seorang kurator paleolitikum dan mesolitikum di British Museum, London. Berdasarkan pengukuran karbon, usianya diperkirakan 35.000 tahun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung-patung baru di Israel dan Afrika sebenarnya ada dua kali lebih tua daripada patung ukiran ini. Namun, bukan hasil pahatan melainkan kumpulan batu yang membentuk sosok manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditemukan, ukiran gading tersebut telah pecah dalam enam bagian. Hasil rekonstruksi menunjukkan sosok tubuh perempuan tanpa kepala, dengan perut berlemak, payudara menonjol, dan paha besar. Bagian lengannya kirinya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sangat berkaitan dengan hal berbau seksual," ujar Nicholas Conard, arkeolog dari Universitas Tuebingen. Menurutnya adanya ukiran berbentuk tubuh manusia ini menunjukkan bahwa manusia sejak lama sudah punya kemampuan menyimbolkan tubuhnya dalam bentuk benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patung ukiran gading ini hanya setinggi 6 centimeter. Conard menduga ukiran tersebut digantung di ujung tali. Namun, fungsinya buat apa tak diketahui pasti meski diperkirakan pembuatnya terobsesi dengan seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ukiran ini mirip patung-patung disebut para arkeolog sebagai figur Venus yang khas tanpa kepala dan kaki. Sekitar 150 figur Venus ditemukan antara Pegunungan Pyrenees hingga Russia bagian selatan dan berumur antara 25.000-29.000 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAH &lt;br /&gt;Sumber : AP&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-1439226331095657078?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/pLiSap3zKCA" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-23T22:13:07.409+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgSJkA4aQI/AAAAAAAAAYA/94-y1OfjwUg/s72-c/ukiran.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/patung-manusia-tertua-punya-payudara.html</feedburner:origLink></item><item><title>Are Selenium Levels Linked to Diabetes?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/GUeHJgQSLIY/are-selenium-levels-linked-to-diabetes.html</link><category>Health</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 23 May 2009 07:52:02 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-7874009330562145068</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgNDWQofwI/AAAAAAAAAX4/l66aj8ZS_uY/s1600-h/selenium-diabetes.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgNDWQofwI/AAAAAAAAAX4/l66aj8ZS_uY/s320/selenium-diabetes.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339031709413834498" /&gt;&lt;/a&gt;Americans with diabetes have high levels of selenium in their bodies, prompting some health experts to suspect that it could contribute to development of the disease. In response to their new findings, a research team has recommended that U.S. residents stop taking supplements that contain selenium. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Most Americans ingest large amounts of the mineral—substantially more than people elsewhere—because soil in much of the country contains high levels that are absorbed by crops. Selenium occurs naturally in soil and leaches onto farm fields from irrigation and streams.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The research team, led by Johns Hopkins University epidemiologists, examined the diabetes rate and selenium levels of 917 people over the age of 40 who participated in a national health study conducted by the U.S. Centers for Disease Control and Prevention in 2003 and 2004. They found that most had a lot of selenium in their blood, but those with diabetes had substantially more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The benefits and dangers of selenium have been debated in recent years because some studies show it might help protect people from cancer and heart disease. Selenium is an essential element and antioxidant, but medical experts say there is a fine line between the amount that the body needs and the amount that is harmful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Given the current diabetes epidemic, the high selenium intake from naturally occurring selenium in U.S. soil and the popularity of multivitamin/mineral supplements containing selenium in the U.S., these findings call for a thorough evaluation of the risk and benefits associated with high selenium status in the U.S.,” the researchers wrote in a study published online in Environmental Health Perspectives on May 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Furthermore,” they wrote, “our findings suggest that selenium supplements should not be used in the U.S. until there is a better understanding of their potential risks and benefits.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supplements containing selenium have gained popularity in the United States because of anti-cancer claims, and selenium levels in people have been rising. Nearly one-quarter of Americans over the age of 40 take selenium supplements or multivitamin supplements that include selenium.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Source :http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=selenium-linked-to-diabetes&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-7874009330562145068?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/GUeHJgQSLIY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-23T21:52:02.153+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgNDWQofwI/AAAAAAAAAX4/l66aj8ZS_uY/s72-c/selenium-diabetes.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/are-selenium-levels-linked-to-diabetes.html</feedburner:origLink></item><item><title>Material Kaca Berkarakter Ganda : Cermin dan Transparan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/E8V9e6rc6GE/material-kaca-berkarakter-ganda-cermin.html</link><category>Technology</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 23 May 2009 07:47:57 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-3778869125345067315</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgMVfpIWNI/AAAAAAAAAXw/VVpLPud-AkQ/s1600-h/kaca-trans.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 207px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgMVfpIWNI/AAAAAAAAAXw/VVpLPud-AkQ/s320/kaca-trans.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339030921658521810" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tahun 1996, sekelompok peneliti di Belanda menemukan sejenis material yang dapat di ubah-ubah dari keadaan transparan ke reflektif (cermin) dan atau sebaliknya dengan mengekspos material termaksud dalam gas hidrogen. Peneliti menemukan bahwa film tipis dari metal yang dinamakan yttrium dan lanthanum , dengan bantuan hidrogen, kemudian membentuk senyawa hidrida metalik yang bersifat mengkilap. Jika ditambah lebih banyak lagi hidrogen ia menjadi transparan. Transformasi dari transparan ke reflektif (cermin) dapat dilakukan dengan memompa hidrogen diatas film pada tekanan yang berbeda.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar perubahan dari kaca transparan ke cermin dapat dilakukan dengan baik maka peralatannya perlu dioperasikan secara elektris, dan komponen materialnya harus berbentuk benda padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rob Armitage dan rekan-rekannya dari the Lawrence Berkeley National Laboratory, di California, AS menjelaskan cara kerja alat yang dioperasikan dengan tombol . Cermin terdiri dari enam lapisan yang kompleks dan tersimpan pada gelas atau kaca. Lapisan tersebut merupakan logam campuran magnesium dan gadolinium, yang yang dapat bersifat reflektif apabila mengandung sedikit atau tanpa hidrogen tetapi akan menjadi transparan dengan kandungan hidrogen yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atom hidrogen yang mempengaruhi fase transisi atau fase pergantian dari transparan ke cermin tersebut diatas disimpan dalam lapisan tungsten trioxide yang memiliki muatan positif . Jika lapisan magnesium-gadolinium diberi muatan relatif negatif; terhadap film tungsten trioxide, hidrogen didorong kedalam logam campuran, dan akan menjadi terang. Pada waktu yang bersamaan tungsten trioxide , yang berwarna biru, pudar warnanya ketika hidrogen terbuang. Diantara dua lapisan terdapat ; film tipis palladium yang dapat ditembus oleh hidrogen dan dapat membantu mentransformasikan atom hidrogen bermuatan positif kedalam salah status yang netral , sehingga dapat dikombinasikan dengan logam campuran pada saat membentuk senyawa hidrida. Pada saat voltase atau tegangan berbalik, hidrogen kembali ke lapisan tungsten trioxide, dan logam campuran berubah menjadi cermin kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti mengatakan bahwa cermin benda padat yang diuraikan tersebut diatas dapat stabil dalam keadaan transparan untuk beberapa jam. Secara prinsip film logam campuran dapat berubah dari transparan ke cermin hanya dalam beberapa menit saja sehingga cukup prospektif untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin dengan tombol listrik serupa di atas mungkin akan berguna bagi teknologi komunikasi optik. Sebagai contoh, pancaran cahaya yang memuat informasi data tertulis dalam pulsa optikal mungkin dapat disalurkan atau dialirkan kembali dari satu serat optik ke serat yang lainnya dengan mentransformasikan kaca jendela transparan ke kaca jendela yang dapat bersifat reflektif serupa cermin.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi: chem-is-try.org&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-3778869125345067315?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/E8V9e6rc6GE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-23T21:47:57.802+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgMVfpIWNI/AAAAAAAAAXw/VVpLPud-AkQ/s72-c/kaca-trans.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/material-kaca-berkarakter-ganda-cermin.html</feedburner:origLink></item><item><title>Unlikely Suns Reveal Improbable Planets</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/vSA5FFEQY9c/unlikely-suns-reveal-improbable-planets.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 23 May 2009 07:42:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-6719098867513461109</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgLFIA3pRI/AAAAAAAAAXg/Ko41g40vSNI/s1600-h/improbable-planets_1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgLFIA3pRI/AAAAAAAAAXg/Ko41g40vSNI/s320/improbable-planets_1.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339029540926104850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Key Concepts&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Few if any astronomers expected the sheer diversity of planets beyond our solar system. The most extreme systems are those that orbit neutron stars, white dwarfs and brown dwarfs.&lt;br /&gt;Neutron stars are born in supernova explosions, and planets orbiting them probably congealed from the debris. The bodies orbiting white dwarfs are the hardy survivors of the demise of a sunlike star. And brown dwarfs, themselves barely more massive than planets, nonetheless appear to be sites of planet formation.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Among the most poignant sights in the heavens are white dwarfs. Although they have a mass comparable to our sun’s, they are among the dimmest of all stars and becoming ever dimmer; they do not follow the usual pattern relating stellar mass to brightness. Astronomers think white dwarfs must not be stars so much as the corpses of stars. Each white dwarf was once much like our sun and shone with the same brilliance. But then it began to run out of fuel and entered its stormy death throes, swelling to 100 times its previous size and brightening 10,000-fold, before shedding its outer layers and shriveling to a glowing cinder the size of Earth. For the rest of eternity, it will sit inertly, slowly fading to blackness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As if this story were not gloomy enough, it gets worse. We and our colleagues have found more than a dozen white dwarfs in our galaxy that are orbited by asteroids, comets and perhaps even planets—entire graveyards of worlds. While the stars were still alive, they rose every day in the skies of these worlds. They gently warmed the soil and stirred the wind. Living organisms may have soaked up their rays. But when the stars died, they vaporized or engulfed and incinerated their inner planets, leaving only the bodies that resided in the chilly outposts. Over time the dwarfs shredded and consumed many of the survivors as well. These decimated systems offer a grim look at the fate of our own solar system when the sun dies five billion years from now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astronomers have always suspected that planets might orbit stars other than our sun. We imagined, though, that we would find systems much like our own solar system, centered on a star much like the sun. Yet when a flood of discoveries began 15 years ago, it was apparent right away that extrasolar planetary systems can differ dramatically from our solar system. The first example was the sunlike star 51 Pegasi, found to have a planet more massive than Jupiter on an orbit smaller than that of Mercury. As instruments became more sensitive, they found ever stranger instances. The sunlike star HD 40307 hosts three planets with masses between four and 10 Earth masses, all on orbits less than half the size of Mercury’s. The sunlike star 55 Cancri A has no fewer than five planets, with masses ranging from 10 and 1,000 Earth masses and orbital radii ranging from one tenth that of Mercury to about that of Jupiter. Planetary systems imagined in science fiction scarcely compare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The white dwarf systems demonstrate that the stars do not even need to be sunlike. Planets and planetary building blocks can orbit bodies that are themselves no larger than planets. The variety of these systems equals that of systems around ordinary stars. Astronomers hardly expected the ubiquity of planetary systems, their hardiness and the apparent universality of the processes by which they form. Solar systems like our own might not be the most common sites for planets, or even life, in the universe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Phoenix from the Ashes&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;It is sometimes forgotten today, but the first confirmed discovery of any extrasolar planets was around a very unsunlike star: the neutron star PSR 1257+12, an even more extreme type of stellar corpse than a white dwarf. It packs a mass greater than the sun’s into the size of a small asteroid, some 20 kilometers across. The event that created this beast, the supernova explosion of a star 20 times the mass of the sun, was more violent than the demise of a sunlike star, and it is hard to imagine planets surviving it. Moreover, the star that exploded probably had a radius larger than 1 AU (astronomical unit, the Earth-sun distance), which is larger than the orbits of the planets we see today. For both reasons, those planets must have risen up out of the ashes of the explosion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although supernovae typically eject most of their debris into interstellar space, a small amount remains gravitationally bound and falls back to form a swirling disk around the stellar remnant. Disks are the birthing grounds of planets. Astronomers think our solar system took shape when an amorphous interstellar cloud of dust and gas collapsed under its own weight. The conservation of angular momentum, or spin, kept some of the material from simply falling all the way to the newborn sun; instead it settled into a pancake shape. Within this disk, dust and gas coagulated into planets [see “The Genesis of Planets,” by Douglas N. C. Lin; Scientific American, May 2008]. Much the same process could have occurred in the postsupernova fallback disk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Source:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=improbable-planets&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-6719098867513461109?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/vSA5FFEQY9c" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-23T21:42:45.387+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgLFIA3pRI/AAAAAAAAAXg/Ko41g40vSNI/s72-c/improbable-planets_1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/unlikely-suns-reveal-improbable-planets.html</feedburner:origLink></item><item><title>Molekul Baru di Angkasa</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/txALT0g_3Wk/molekul-baru-di-angkasa.html</link><category>Astronomy</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 23 May 2009 07:37:48 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-6369897372867711994</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgJQA3H0jI/AAAAAAAAAXY/MHatlmnDor0/s1600-h/glycine.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 304px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgJQA3H0jI/AAAAAAAAAXY/MHatlmnDor0/s320/glycine.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339027528961479218" /&gt;&lt;/a&gt;Penemuan dari dua campuran yang kompleks mengisyaratkan keaneka-ragaman bahan kimia yang  bersembunyi di angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu team riset internasional melakukan riset mendalam terhadap suatu awan yang berupa gas berada di pusat galaksi bima sakti dan mendeteksi adanya etil formate dan n-propyl sianida, dua di antara molekul organik paling kompleks yang pernah di amati di sistem luar matahari.&lt;span class="fullpost"&gt; Berdasarkan model komputer dan bukti spectroscopic bagaimana molekul dibentuk, ilmuwan percaya bahwa molekul dengan bahan kimia yang lebih kompleksitas lagi sedang menanti untuk ditemukan di angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari molekul itu adalah glycine, asam amino yang paling sederhana, yang terhindar dari pendeteksian sampai sekarang. Glycine adalah dua campuran yang memiliki ukuran dan  kompleksitas yang sama dan kehadiran nya akan membantu memperkuat  kecurigaan bahwa ilmu kimia prebiotik ada di sistem luar matahari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robin T.  Garrod salah seorang anggota riset adalah seorang ahli astrokimia di Cornell University, mengumumkan penemuan pada 21 April 2009 pada waktu European Week of Astronomy &amp;amp; Space Science di University of Hertfordshire, di Inggris. Penelitian ini  juga dilaporkan di jurnal Astronomi &amp;amp; Astrofisika (DOI: 10.1051/0004-6361/200811550).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan penemuan ahli Astrokimia Steven B.B. Charnley dari NASA’s Goddard Space Flight Center, di Greenbelt, Md., seperti yang dikatakan C&amp;amp;EN yang mendeteksi campuran ini membantu melepaskan cahaya baru dan bagaimana molekul yang kompleks dibentuk di angkasa dan ” dorongan untuk masa depan terhadap pencarian asam amino yang lebih tinggi, seperti halnya untuk nucleobases dan  tanda heterocyclic mereka .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti menggunakan spektroskopi millimeter gelombang panjang untuk mempelajari suatu awan tebal dari gas dan partikel debu yang dingin  di daerah formasi bintang Sagittarius B2. Tempat  ini di alam semesta telah menjadi suatu harta terpendam yang banyak terdapat  molekul organic kecil yang berbeda jenis ( C&amp;amp;En, Juni 16, 2008, halaman 58). Meskipun demikian, mendeteksi etil formate dan n-propyl sianida sulit untuk ilmuwan sebab 36 garis spektrum mereka untuk dua campuran overlap dengan 3700 garis spektrum dari molekul banyak dideteksi orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://pubs.acs.org/cen/news/87/i17/8717notw3.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-6369897372867711994?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/txALT0g_3Wk" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-23T21:37:48.278+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/ShgJQA3H0jI/AAAAAAAAAXY/MHatlmnDor0/s72-c/glycine.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/molekul-baru-di-angkasa.html</feedburner:origLink></item><item><title>Atraksi Fisika di Udara</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/h7zFrqc41Io/atraksi-fisika-di-udara_6730.html</link><category>Natural</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sun, 03 May 2009 03:47:09 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-3469140178503281531</guid><description>Sekumpulan burung Pelikan, Camar dan Angsa terbang indah di udara. Suatu atraksi udara yang sangat menakjubkan! Ada rasa iri yang dapat dimengerti saat manusia menyaksikan pertunjukan ini. Ternyata semua akal budidan kepandaian manusia belum dapat menyaingi kemampuan burung yang dapat terbang dengan mulus dan sempurna tanpa menggunakan alat bantu mesin‐mesin besar yang mengeluarkan suara bising yang memekakkan telingaseperti pesawat‐pesawat ciptaan manusia. Apa rahasianya? Bagaimana burung bisa terbang, mengalahkan semua keterbatasan akibat berat tubuh mereka dan gravitasi bumi? Mereka bahkan selalu terbang sebagai kawanan burung yang dengan kompak menjelajahi udara dengan gerak‐gerik yang indah. Kalah kompakkah manusia? Atraksi terbang burung‐burung di udara ini ternyata melibatkan ilmu fisika.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ada 4 jenis gaya yang terlibat dalam atraksi udara tertua ini.&lt;br /&gt;1. Drag Force,yaitu gaya hambat udara. Gaya ini berasal dari tumbukan molekul‐molekul udara dengan tubuh burung. Arah gaya ini selalu berlawanan dengan arah gerak burung. Sedangkan besar gaya ini sangattergantung pada luas permukaan burung dan kecepatan burung. Semakin luas permukaan burung semakin besar gaya hambatnya. Semakin cepat burung bergerak semakin besar pula gaya hambatnya ini. Suatu ilustrasi yang dapat menggambarkan drag‐force (hambatan) udara ini adalah hambatan yang dirasakan saat kita berjalan melawan arah angin yang kencang. Hambatan ini semakin terasa besar ketika kita membuka lengan kita lebar‐lebar (memperluas permukaan tubuh kita) atau ketika kita bergerak lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lift Force (gaya angkat) merupakan gaya yang mengangkat burung keatas. Ada 2 hal yang dapat menimbulkan gaya angkat ini: kepakan sayap dan aliran udara yang lewat sayap. Ketika burung mengepakkan sayap kebawah, burung menekan udara ke bawah, akibatnya udara akan menekan balik dan mendorong burung ke atas (hukum aksi‐reaksi). Semakin cepat kepakan sayap, semakin besar gaya keatasnya. Itu sebabnya burung merpati yang hendak terbang akan mengepakan sayapnya secara cepat.Burung yang berat seperti Kori Bustard dari Afrika tentu harus mempunyai otot dada yang kuat sehingga mampu mengepakan sayap lebih cepat untuk mengangkat tubuhnya yang gembrot itu (19 kg).(Karena ototnya keras, daging Kori Bustard keras.... kurang enak dimakan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 129px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sf11T1hu9EI/AAAAAAAAAXA/1-NXA1DhaE8/s320/16_Image6_Airflow.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331546517523067970" /&gt;Gb.1 aliran udara pada sayap burung.&lt;br /&gt;Pada Gb. 1digambarkan aliran udara ketika melewati sayap. Udara yang mengalir lewat bagian atas sayap akan bergerak lebih cepat karena udara ini harus menempuh lintasan yang lebih jauh. Akibatnya tekanan dibagian ini lebih kecil dibandingkan dengan tekanan udara dibawah sayap. Perbedaan tekanan ini memberikan gaya angkat pada burung. Semakin melengkung (semakin aerodinamis) sayap semakin besar gaya angkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Thrust (gaya dorong) yaitu gaya yang mendorong burung bergerak maju. Gaya ini dihasilkan melalui kepakan sayap yang bergerak seperti angka 8 rebah (dilihat dari samping). Kepakan sayap menghasilkan suatu pusaran udara (vorteks) yang dapat memberikan suatu dorongan bagi burung untuk bergerak maju di udara. Besar‐kecilnya gaya dorong ini sangat tergantung pada kekuatan otot terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Weight (gaya berat) yaitu gaya tarik gravitasi bumi. Besarnya sangat tergantung pada massa burung. Arahnya vertikal ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 251px; height: 205px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sf11a4DUScI/AAAAAAAAAXI/wQXgHOZsn-4/s320/16_Image7_Gaya-Pada-burung.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331546638459881922" /&gt;Gambar2 Gaya‐gaya pada burung yang sedang terbang Kombinasi ke 4 gaya ini dimanfaatkan burung untuk melakukan berbagai atraksi seperti parachutting (gerak parasut), gliding (meluncur), flight (terbang ke depan), dan soaring (membubung) (pintar yach burung‐burung ini....)&lt;br /&gt;Parachuting (gerak parasut)&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gerak parasut merupakan gerak jatuh di udara (bisa miring bisa pula vertikal). Sudut miringnya lebih besar dari 450 terhadap garis mendatar. Untuk melakukan gerak parasut, burung rajawali harus memperbesar gaya hambatnya (drag force) caranya adalah dengan memperbesar luas permukaannya (misalnya dengan melebarkan sayapnya).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Gliding (meluncur)&lt;br /&gt;Gliding (meluncur) yaitu gerak jatuh yang membentuk sudut lebih kecil dari 45°dengan garis mendatar. Fokus utama dalam gliding adalah meluncur semendatar mungkin. Ini dilakukan dengan memperkecil gaya hambat udara. Dalam melakukan gliding burung Fulmar dapat menempuh jarak mendatar 8,5 meter tetapi hanya turun 1 meter saja. Burung pemakan bangkai (Vultures) lebih bagus lagi, burung ini dapat menempuh jarak mendatar 22 jarak meter dengan turun hanya 1 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Flight (terbang)&lt;br /&gt;Gerakan flight (terbang) dilakukan dengan mengepakkan sayap. Kepakansayap digunakan untuk menghasilkan gaya dorong ke depan (thrust) dan gaya angkat (lift). Gaya dorong dan gaya angkat ini dapat diatur oleh burung untukmengendalikan arah, kecepatan, dan ketinggiannya (ternyata otak burung cukup cerdas untuk menghitung fisika he...he..he.....).Ketika burung hantu turun dengan kecepatan tinggi untuk menangkap tikus, burung hantu mengecilkan drag force dengan merampingkan tubuhnya atau menekuk sayapnya. Ketika sudah dekat dengan mangsanya (akan mendarat), burung hantu memperlambat gerakannya dengan memperbesar dragforce yaitu dengan mengembangkan sayapnya (wuiii ...hebat sekali ilmu fisika burung hantu ini...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soaring (gerak membubung)&lt;br /&gt;Gerak membubung merupakan gerak naik tanpa mengepakkan sayap. Gerakan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan arus udara. Akibat pemanasan matahari suhu udara yang dekat permukaan bumi menjadi lebih panas, udara panas ini akan naik ke atas dan menimbulkan arus udara ke atas. Arus udara inilah yang dimanfaatkan oleh burung rajawali untuk membubung tinggi tanpa perlu mengepakan sayapnya yang besar (hemat energi lho...). Burung camar atau burung albatros, lain lagi. Untuk membubung, burung camar memanfaatkan arus udara yang dipantulkan oleh permukaan air laut. Itu sebabnya burung camar selalu berada dekat‐dekat dengan permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parade Burung Terbang&lt;br /&gt;Pernah lihat angsa atau burung terbang bermigrasi (berpindah tempat)? Angsa ini umumnya terbang berkelompok membentuk suatu parade yang sangat indah, jarang ditemukan angsa terbang jauh sendirian. Selain untuk meningkatkan keamanan terhadap serangan predator, kebersamaan itu juga mengurangi resiko tersesat di jalan saat melakukan migrasi jarak jauh. Dalam melakukan migrasi dari satu tempat ke tempat lain angsa‐angsa ini memanfaatkan medan magnetik bumi sebagai penunjuk arah.&lt;br /&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 187px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sf11kvwpzpI/AAAAAAAAAXQ/1JlqE6Fd6Z4/s320/16_Image8_Formasi-Terbang.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331546808032808594" /&gt;Dalam melakukan parade, angsa‐angsa ini seringkali membentuk formasi seperti huruf V (gambar 3). Angsa yang paling depan (pemimpin) merupakan pembuka jalan yang harus bekerja keras “memecah” hambatan udara, sehingga angsa dibelakangnya dapat bergerak lebih mudah. Ketika pemimpin ini lelah, temannya segera menggantikan posisinya (wah ternyata angsa tidak egois ...nggak mau enak sendiri). Dalam formasi huruf V ini gerakan angsa‐angsa dalam kawanan ini sangat sinergi sehingga mereka tidak perlu keluar tenaga terlalu besar (pemakaian energi lebih efisien) untuk melakukan perjalanan yang jauh (wah tampaknya kita harus belajar dari angsa dalam bekerja sama...).&lt;br /&gt;Angsa‐angsa ini tampak kompak sekali, seakan‐akan tidak pernah ada yang salah arah. Sebenarnya berbagai kesalahan arah terbang tetap terjadi, hanya saja kesalahan itu dapat dengan cepat dileburkan sehingga tidak terlihat mempengaruhi arah terbang kawanan. Pada gambar 4, sekumpulan angsa sedang bergerak ke arah utara. Jika satu angsa menyimpang dari posisi (1) keposisi (2) lalu ke posisi (3) dan (4), maka angsa‐angsa lain akan berusaha menyesuaikan diri (dengan memperhatikan aliran udara dan kondisi udara di sekitarnya) sedemikian sehingga terjadi perubahan posisi tetapi arah gerak kawanan tetap tidak berubah yaitu tetap ke arah utara. Eh tahu nggak... konsep perubahan posisi ini dapat diterapkan dalam ilmu manajemen modern lho.&lt;br /&gt;Menurut konsep ini jika ada seorang mempunyai ide yang dapat menyimpangkan arah perusahaan tetapi menguntungkan perusahaan itu, orang ini tidak akan dikucilkan. Teman‐temannya yang akan menyesuaikan diri sedemikian sehingga misi dan visi perusahaan tetap tidak berubah, walaupun mungkin posisi teman‐temannya itu bisa berubah (wah keren... belajar dari angsa).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memang asyik mengamati gerakan‐gerakan burung. Ternyata dalam ilmufisika kita harus banyak belajar dari burung. Begitu indah dan mempesonanya atraksi fisika yang mereka pertontonkan di udara selama jutaan tahun sehingga rasanya kita ini tidak ada apa‐apanya.&lt;br /&gt;(Yohanes Surya).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-3469140178503281531?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/h7zFrqc41Io" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-03T17:47:09.225+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sf11T1hu9EI/AAAAAAAAAXA/1-NXA1DhaE8/s72-c/16_Image6_Airflow.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/atraksi-fisika-di-udara_6730.html</feedburner:origLink></item><item><title>Discovery of Earth-mass Planet Looms</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/WU1BnsKAqNE/discovery-of-earth-mass-planet-looms.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 10:19:08 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-7229112956381912323</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SfyAd5wXbLI/AAAAAAAAAWI/fjtPVHy_ynM/s1600-h/Bumi-Mass+Planet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 110px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SfyAd5wXbLI/AAAAAAAAAWI/fjtPVHy_ynM/s400/Bumi-Mass+Planet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331277310108069042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The discovery of the lightest exoplanet ever found, less than twice the mass of the Earth, has electrified a week-long meeting on astronomy and space science in Europe. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The stunning finding was made by a team headed by Michel Mayor of the Geneva Observatory. The icing on the cake is a related discovery that a previously discovered "super-Earth" orbiting the same star appears to reside in the habitable zone.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The finding portends the discovery of a true Earth-mass planet, which could come in about two years, Mayor said.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor made the very first discovery of an exoplanet, a Jupiter-sized world that orbits the star 51 Pegasi, in 1994.  Among his many planet discoveries since then at ESO's La Silla Observatory in Chile, Mayor has made a specialty of observing the star Gliese 581.  Located 20.5 light-years away in the constellation Libra ("the Scales"), Gliese 581 is a red dwarf star with only one-third of the mass of our sun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two years ago, Mayor discovered a planet the size of Neptune and two super-Earths orbiting this star.  The newly discovered planet, named Gliese 581 e, is now the fourth known planet in this solar system and the lightest, weighing in at only 1.94 Earth masses. It flies round the star at dizzying speed, taking just 3.15 days to complete an orbit. "The surprise for me was to discover a planet with by far the lowest mass seen to date," says Mayor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This new planet orbits so close to the star that its water would have boiled away long ago. It is therefore not in the habitable zone – the region of a solar system where water can stay liquid on the surface of a rocky planet, and, consequently, where scientists expect life can occur.  In our solar system, the habitable zone is roughly between the orbits of Venus and Mars (with Earth sitting not quite in the middle).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In finding the new planet, Mayor has been able to more accurately determine the orbit for the outermost planet, Gliese 581 d.  One of the super-Earths in the solar system, this planet is closer to the host star than was thought when it was discovered in 2007. And that provided the second great surprise.  "It is the only (Earth-like) exoplanet found inside the habitable water zone of the parent star," says Mayor.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gliese 581 d is 7 Earth-masses, and team member Stephane Udry says the planet is probably too massive to be made only of rocky material.  "We can speculate that it is an icy planet that has migrated closer to the star," he says. At the European meeting, Mayor added the latest news indicated, "No icebergs, but there may be an ocean at the surface, meaning this is a new class of ocean planet."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To detect exoplanets, Mayor's team studies a star's radial velocity, in which the tiny tugs exerted by orbiting exoplanets produce a complex wobble in the star. This wobble can be analyzed to learn about properties of the planets in the solar system.  The velocity of a star with multiple planets has to be followed for several years to discover the different properties of its orbiting planets, and this requires instrumentation that is extremely stable from year to year -- one of the big challenges in detecting exoplanets through the radial velocity technique.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The team's observing program began back in 2004 with a sample of 400 sun-like stars. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayor is now scooping up small exoplanets that have been missed by a rival search technique (called transit photometry) which involves measuring the tiny fall in a star's magnitude when an exoplanet passes between the star and the Earth. Both techniques, transit photometry and radial velocity, are strongly biased to catch giant planets with the mass of Jupiter or more, as well as smaller planets that orbit very close to their star. But to find small planets orbiting within a star's habitable zone, Mayor's approach now seems to have the edge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The team has found that one-third (30%) of exoplanet systems discovered to date include small bodies. "We have discovered a new category of small exoplanets," says Mayor. "Within a couple of years we will drive down our lower limit of detection to the mass of the Earth. The next challenge after that is to detect a twin of the Earth in the habitable zone of a solar-type star."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next stage for Mayor's team is to migrate the detection technology from the current 3.6-meter telescope to ESO's 8-meter Very Large Telescope in order to improve the precision of observations. After that, Mayor looks forward to using the European Extremely Large Telescope (E-ELT), a 42-meter eye-on-the-sky that is planned to be operating by 2018.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Currently in the later stages of design, this facility will be capable of directly imaging larger exoplanets, and possibly will be able to search their atmospheres for biosignatures. E-ELT will answer fundamental questions on the formation and evolution of exoplanets, bringing us one step closer to answering the question: are we alone?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Simon Mitton&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-7229112956381912323?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/WU1BnsKAqNE" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-03T00:19:08.393+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SfyAd5wXbLI/AAAAAAAAAWI/fjtPVHy_ynM/s72-c/Bumi-Mass+Planet.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/discovery-of-earth-mass-planet-looms.html</feedburner:origLink></item><item><title>What Is Dark Energy?</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/twRMhKyyuFs/what-is-dark-energy.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 10:16:14 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-8107611988995623142</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_1Z33rvI/AAAAAAAAAWA/3M1-9q7Sa88/s1600-h/Dark-energi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 110px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_1Z33rvI/AAAAAAAAAWA/3M1-9q7Sa88/s320/Dark-energi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331276614354841330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dark energy is the name given to an unexplained force that is drawing galaxies away from each other, against the pull of gravity, at an accelerated pace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark energy is a bit like anti-gravity. Where gravity pulls things together at the more local level, dark energy tugs them apart on the grander scale.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Its existence isn't proven, but dark energy is many scientists' best guess to explain the confusing observation that the universe's expansion is speeding up. Experts still don't know what's driving this force, but the quest to learn more about dark energy is one of cosmologists' top priorities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Confounding expectations&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The story of how dark energy was discovered is a classic case of science confounding expectations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the mid-1990s, astronomers set out to measure how fast the universe was expanding. Because gravity draws mass together, most experts expected to find that gravity had slowed down the universe's rate of ballooning, or perhaps that the rate was staying about the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instead, it appeared that the expansion was doing neither: It was speeding up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The data wasn't behaving as we thought it would. There was a lot of nervous laughter," said Brian Schmidt of the Australian National University in Canberra, who led a team along with Johns Hopkins University astrophysicist Adam Riess that helped discover dark energy in 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The evidence was based on measurements of bright exploding stars, called supernovae, that astronomers were using as lampposts to track distance. By looking farther away, scientists are able to peer back in time, since the light from distant objects has taken billions of years to reach us. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The scientists observed many supernovae at different distances to determine how fast they are speeding away from us. (They measured the objects' red-shift, or how much their light had been changed due to the Doppler effect, which is the compression or expansion of waves that occurs when an object is moving toward or away from you. An analogy is the siren of an ambulance that changes pitch as it moves toward you, then passes you and heads the other way — its waves are first compressed, then stretched.) These measurements gave astronomers a picture of how fast the universe was expanding at different points in its history.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shocking results&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The researchers also found that the universe is expanding faster today than at any time in the past.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"At first we were reluctant to believe our result," said Saul Perlmutter, an astrophysicist at the Lawrence Berkeley Laboratory of the University of California, Berkeley, who led a competing team that found the same results as Schmidt and Riess. "But the more we analyzed it, the more it wouldn't go away."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To explain these puzzling findings, some scientists have revived an old idea of Einstein's that had been discarded as false: that the vacuum of space has energy in it that acts repulsively and accelerates the expansion of the universe. Einstein called this idea the cosmological constant, and referred to it as his "biggest blunder."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now the cosmological constant is one of the leading theories of why the universe is blowing up like a balloon at ever-increasing speed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark matter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark energy is sometimes confused with the similarly mysterious dark matter, though the two are separate entities.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dark matter is a hypothesized form of matter that doesn't interact with light, so it is invisible. Astronomers deduced its presence by noting its gravitational pull on stars in galaxies. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken together, dark matter and dark energy seem to make up most of the mass of the universe (matter and energy are considered to be two forms of the same thing, thanks to Einstein's famous equation E=Mc^2). Dark energy is thought to account for 74 percent of the universe, while dark matter adds about 22 percent, and normal, visible matter contributes a puny 4 percent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As if the discovery of dark energy weren't bizarre enough, it has stirred up a whole host other issues. For example, dark energy adds fuel to the fire of believers in multiple universes, or the idea that our own existence is just one of countless worlds in which the constants and conditions are different. There might be other universes in which dark energy doesn't exist, and the universe does slow in its expansion, cosmologists say. Maybe that's why our universe is so peculiar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Clara Moskowitz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-8107611988995623142?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/twRMhKyyuFs" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-03T00:16:14.307+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_1Z33rvI/AAAAAAAAAWA/3M1-9q7Sa88/s72-c/Dark-energi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/what-is-dark-energy.html</feedburner:origLink></item><item><title>Newfound Spiral Galaxies Oddly Young</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/wBmoH_tiwug/newfound-spiral-galaxies-oddly-young.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 10:12:48 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-1445309440783479482</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_BbInX6I/AAAAAAAAAV4/T2GXcB1es0c/s1600-h/Spiral-galaksi.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 110px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_BbInX6I/AAAAAAAAAV4/T2GXcB1es0c/s320/Spiral-galaksi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331275721340313506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Astronomers have discovered an unexpected cache of spiral galaxies that appear to have formed recently, long after the period early in the history of the universe that most galaxies were thought to have been created.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These younger galaxies are big and bright, like our own Milky Way. The reigning hypothesis of galaxy formation holds that such well-established spirals would have formed about 13 billion years ago, shortly after the Big Bang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the new discovery of a group of 15 spirals that look to be much younger may upset that thinking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though they are just as luminous and large as normal spirals, these galaxies appear to have all the hallmarks of youth. They don't have nearly as many heavy elements, called metals, as would be expected for older galaxies. All elements heavier than helium are created through nuclear reactions inside stars, and elements heavier than iron are made when stars die in supernovae. Thus, the longer a galaxy has been alive and forming stars, the longer its stars have been churning out heavy metals, so the greater abundance you would expect.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the chemical abundances of the newly discovered galaxies would suggest they are only about 3 billion or 4 billion years old. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We're not saying there's a complete breakdown in the theory of galaxy evolution, but that these objects do run counter to the standard model," said Indiana University astronomer John Salzer, the lead author of a paper detailing the study in the April 10 issue of the Astrophysical Journal Letters. "These potentially could have formed much more recently. The significance is that they give us the opportunity to study galaxy formation and evolutionary processes which would otherwise be veiled at the vast distances involved in looking at things at these early stages of the universe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If this age estimate proves to be correct, these galaxies could present an unprecedented opportunity to study massive spirals at a younger point in their evolution, and at closer range, than is generally possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"These objects may represent a unique window on the process of galaxy formation, allowing us to study relatively nearby systems that are undergoing a phase in their evolution that is analogous to the types of events that, for most galaxies, typically occurred much earlier in the history of the universe," Salzer said. Another possible explanation for the unusual galaxies is that they are the product of collisions between two smaller galaxies. This could explain why they have low levels of metals, since dwarf galaxies tend to have few heavy elements to begin with. Also, the chaos of a collision can stimulate a burst of star formation, which might explain why the galaxies appear so bright. However, this scenario would require the galaxies' luminosity to multiply by about 30 times after merging — a boost much greater than is usually seen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"It's just hard for me to fathom, and hard for models to account for, an increase by a factor of 30," Salzer told SPACE.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salzer discovered the galaxies through the Kitt Peak National Observatory International Spectroscopic Survey (KISS), a multi-year project to observe more than 2,400 star-forming galaxies. He and his team have requested time on the Hubble Space Telescope to try to distinguish between the two possible explanations by hunting for evidence that the galaxies have undergone collisions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Clara Moskowitz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-1445309440783479482?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/wBmoH_tiwug" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-03T00:12:48.478+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx_BbInX6I/AAAAAAAAAV4/T2GXcB1es0c/s72-c/Spiral-galaksi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/newfound-spiral-galaxies-oddly-young.html</feedburner:origLink></item><item><title>Black Hole Creates Spectacular Light Show</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/xgeemSmNJ4g/black-hole-creates-spectacular-light.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 10:13:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-2476651313563845345</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx-Mno5LVI/AAAAAAAAAVw/ZZHirJiYq_M/s1600-h/blackhole-light.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 110px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx-Mno5LVI/AAAAAAAAAVw/ZZHirJiYq_M/s320/blackhole-light.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331274814163856722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;A jet of gas spewing from a huge black hole has mysteriously brightened, flaring to 90 times its normal glow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For seven years the Hubble Space Telescope has been watching the jet, which pours out of the supermassive black hole in the center of the M87 galaxy. It has photographed the strange phenomenon fading and then brightening, with a peak that even outshines M87's brilliant core.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scientists have dubbed the enigmatic bright blob HST-1, and are so far at a loss to explain its weird behavior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I did not expect the jet in M87 or any other jet powered by accretion onto a black hole to increase in brightness in the way that this jet does," said astronomer Juan Madrid of McMaster University in Hamilton, Ontario, who conducted the Hubble study. "It grew 90 times brighter than normal. But the question is, does this happen to every single jet or active nucleus, or are we seeing some odd behavior from M87?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many supermassive black holes have jets of material that spray out perpendicularly from the donut-shaped ring of matter falling onto the black hole. These beams of hot gas are thought to result from magnetic field lines that are twisted by the black hole's mass, and propel charged particles outward.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But most rays do not appear to blaze up with such extreme intensity as HST-1. Scientists aren't sure if it is an exceptional case, or if it represents a normal event for black hole jets, which are still not very well understood. In this case, the bright knot of HST-1 is about 214 light-years from the M87 galaxy's core&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To learn more about this bizarre light show, Madrid analyzed the seven years' worth of Hubble images of the jet in ultraviolet light to capture changes in HST-1's behavior over time. He also compared the Hubble data to photos of the jet taken in X-rays by the Chandra X-ray Observatory and in radio by other telescopes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madrid found that between 1999 and 2005, the blob continually brightened. By May 2005, HST-1 was 90 times brighter than it was in 1999. After that, it seemed to fade, and then intensified again in November 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"By watching the outburst over several years, I was able to follow the brightness and see the evolution of the flare over time," Madrid says. "We are lucky to have telescopes like Hubble and Chandra, because without them we would see the increase in brightness in the core of M87, but we would not know where it was coming from."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More data will be needed to solve the mystery of why HST-1 acts the way it does.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We hope the observations will yield some theories that will give us some good explanations as to the mechanism that is causing the flaring," Madrid says. "Astronomers would like to know if this is an intrinsic instability of the jet when it plows its way out of the galaxy, or if it is something else."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This strange case could provide a unique opportunity to learn more about black hole jets in distant galaxies, which are difficult to study because they are so far away. M87 is located 54 million light-years away in the Virgo Cluster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Clara Moskowitz&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-2476651313563845345?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/xgeemSmNJ4g" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-03T00:13:13.279+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sfx-Mno5LVI/AAAAAAAAAVw/ZZHirJiYq_M/s72-c/blackhole-light.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/05/black-hole-creates-spectacular-light.html</feedburner:origLink></item><item><title>Teknik Baru Mengungkap Rahasia Plasma</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/1KZWM1SV0jQ/breakthrough-technique-unlocks-secret.html</link><category>Technology</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 08:12:41 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-8526985841533635620</guid><description>Para peneliti Universitas British Columbia (UBC) mengembangkan sebuah teknik  yang dapat membawa ilmuwan satu langkah lebih maju dalam mengungkap rahasia dari  bentuk materi terbesar di alam ini (plasma − red). &lt;p&gt;Plasma − atau gas yang terionisasi − dapat ditemukan di bola lampu, ataupun  di ledakan nuklir. Bagian atas atmosfer bumi adalah plasma, sebagaimana petir  dan semua bintang yang menerangi langit di waktu malam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hampir seratus tahun, fisikawan bekerja untuk mengembangkan teori- teori  matematika berkaitan dengan keadaan plasma, tetapi pengetahuan terperinci  tentang plasma dan dinamika interaksinya sulit untuk dipahami.&lt;span class="fullpost"&gt; Plasma  convensional bersifat panas, komleks dan sulit untuk dikarakterisasi baik di  alam maupun di laboratorium.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baru-baru ini, sejumlah kecil laboratorium telah mulai mengembangkan plasma  kelas baru yang sangat sederhana sehingga menjanjikan untuk membawa pemahaman  kita ke tingkat yang baru. Disebut sebagai plasma lewat dingin, sistem ini  dimulai dengan atom yang terperangkap, didinginkan sampai beberapa derajat di  atas nol abosolut, untuk menciptakan awan ion dan elektron yang berada dalam  keadaan hampir diam. Dengan kontrol ini, peneliti dapat mempelajari  langkah-langkah dasar bagaimana plasma terlahir dan bertumbuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk pertama kalinya, para peneliti UBC telah menemukan cara untuk  menciptakan plasma lewat dingin dari molekul. Dimulai dengan sample gas yang  didinginkan dalam pemancar molekuler supersonic, sebuah kelompok yang dipimpin  Ed Grant, professor dan kepala Fakultas Kimia UBC, menciptakan sebuah plasma  nitric oxide dengan temperatur ion dan elektron sedingin plasma yang diciptakan  dari atom yang terperangkap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Plasma ini bertahan selama 30 mikrodetik atau lebih, tidak seperti atom,  ion-ion molekuler dapat terdisasosiasi secara cepat melalui rekombinasi dengan  electron."Adalah keajaiban bahwa plasma kami bisa terbentuk sama sekali," ujar  Grant."Kami pikir partikel bermuatan tinggi yang kami ciptakan ikut campur dalam  rekombinasi ion − elektron."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teknik mereka yang dijelaskan secara rinci dalam edisi terbaru jurnal  Physical Review Letters, tidak hanya memproduksi plasma dengan muatan 3 kali  lebih padat dari yang dibuat dengan atom yang terperangkap, tetapi juga terlihat  mencapai tingkat korelasi yang lebih tinggi, sebuah faktor yang mendeskripsikan  gerakan menyerupai cairan yang terjadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;"Molekul mewakili cawan suci dari sains lewat dingin," kata Grant."Kemampuan  untuk tidak menggunakan teknik atom terperangkap memberi kami kebebasan dan  dapat menuntun seluruh ilmu bidang fisika ke arah yang baru."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Grant menambahkan bahwa pemahaman lebih lanjut tentang plasma lewat dingin  pada tingkat molekuler dapat membuka pengetahuan baru tentang planet planet  gas(Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus di tata surya kita), bintang White  Darf, proses fusi termonuklir dan sinar X-.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-8526985841533635620?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/1KZWM1SV0jQ" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T22:12:41.347+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/04/breakthrough-technique-unlocks-secret.html</feedburner:origLink></item><item><title>Berpuasa dan Metabolisme Logam Berat, Arsenik</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/Y25N7zy6W7Q/ramadan-fasting-alters-arsenic.html</link><category>Health</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:39:58 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-4794507193736758692</guid><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jutaan orang di beberapa negara terbelakang di dunia ini terpapar terhadap kadar  arsenik yang tinggi melalui air minum yang terkontaminasi. Banyak dari mereka  yang terpapar juga berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, dimana  mereka tidak minum atau makan di siang hari. Tetapi efek berpuasa terhadap  metabolisme arsenik belum diketahui sampai sekarang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keterpaparan jangka panjang terhadap arsenik dalam air minum diketahui  menyebabkan kanker kulit, paru-paru, kandung kemih dan ginjal serta menyebabkan  perubahan-perubahan pada kulit seperti pigmentasi dan penebalan kulit.  Terjadinya kanker yang disebabkan oleh keterpaparan arsenik diyakini tergantung  pada faktor makanan dan gizi, yang bisa mempengaruhi metabolisme arsenik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Parvez Haris di Universitas De Montfor, Leichester, dan rekan-rekannya  meneliti efek berpuasa terhadap bagaimana arsenik diekskresikan dalam urin.  Mereka menggunakan sekelompok relawan di Inggris yang berpuasa selama bulan  Ramadhan. Para relawan ini dipaparkan terhadap air yang mengandung arsenik  tetapi tidak sampai mencapai level kontaminasi. Mereka memberikan sampel urin  yang pertama kali dikeluarkan di pagi hari, pada awal puasa di hari tersebut,  dan saat matahari terbenam ketika mereka telah berbuka puasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Haris dan rekan-rekannya menganalisis sampel-sampel urin tersebut dengan  menggunakan teknik spektrometri massa dan menemukan bahwa total kadar arsenik  pada awal dan akhir waktu berpuasa tidak berubah signifikan. Akan tetapi, salah  satu spesies arsenik yang sangat toksik, metilarsonat, ditemukan lebih sering  pada sampel yang diambil di sore hari dibanding yang diambil di pagi hari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Haris menyebutkan hasil ini menunjukkan bahwa berpuasa merubah bagaimana  tubuh memetabolisasi arsenik, sehingga mendukung penghilangan spesies arsenik  paling toksik yang ada dalam tubuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena dalam penelitian ini sampel air yang digunakan mengandung kadar  arsenik di bawah level kontaminasi, Haris akan meneliti bagaimana berpuasa  mempengaruhi metabolisme arsenik pada orang-orang yang terpapar terhadap kadar  arsenik yang tinggi di negara-negara seperti Bangladesh dan India.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-4794507193736758692?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/Y25N7zy6W7Q" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:39:58.832+07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/04/ramadan-fasting-alters-arsenic.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pendeteksian produk susu: memantau melamin dalam susu</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/Xph9533ExXo/dairy-detection-monitoring-melamine-in.html</link><category>Health</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:40:56 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-5962315239391947774</guid><description>&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 142px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw4TqYiiyI/AAAAAAAAATc/D-J_2h8TOBY/s320/baby.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313183570836228898" border="0" /&gt;Dua kelompok ahli spektroskopi massa terkemuka telah menerapkan keahlian mereka untuk memperbaiki pendeteksian melamin dalam susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka merespon terhadap tuntutan akan teknik pendeteksian melamin yang sederhana, cepat dan murah setelah bahan kimia industri ini ditemukan terdapat dalam produk susu di Cina pada bulan September 2008. Bubuk susu yang tercemar disalahkan atas kematian empat bayi, sebagai penyebab penyakit yang mengenai puluhan ribu bayi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Melamin, yang umum digunakan sebagai pencegah kebakaran material dan sebagai resin plastik, ditambahkan ke dalam susu selama pengolahan untuk meningkatkan kandungan proteinnya yang dinilai berdasarkan analisis kandungan nitrogen total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua teknik baru ini sama-sama memiliki kelebihan yakni sangat spesifik, akurat, sederhana dan cepat. Keduanya menggunakan ionisasi lingkungan − sampel-sampel diionisasi dalam lingkungan aslinya. Ini berarti teknik-teknik ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi alat pendeteksian yang mudah dibawa-bawa untuk digunakan dalam kontrol kualitas produk. Teknik kedua kelompok ini berbeda rincian ionisasi sampelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renato Zenobi, ETH Zurich, Switzerland, dan rekan-rekannya menggunakan ultrasound untuk merubah sampel susu cair yang dibubuhi melamin menjadi percikan halus (nebulise). Percikan ini kemudian diionisaisi dengan teknik EESI (ionisasi elektrospray ekstraktif) dan dianalisis dengan menggunakan spektrometri massa tandem. Metode ini memerlukan waktu 30 detik per sampel untuk pemrosesan sampel yang maksimal. Batas deteksi melamin terendah berada dalam rentang beberapa nanogram melamin per gram susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zenobi berkomentar tentang teknik ini dengan mengatakan "nebulisator untuk penyaluran sampel EESI sangat sederhana dan cepat, disamping mempertahankan sensitifitas yang tinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graham Cooks, Universitas Purdue, West Lafayette, US, dan rekan-rekannya menggunakan probe plasma suhu rendah untuk mengionisasi sampel dan, dengan menggunakan tipe spektrometri yang sama, mencapai kecepatan dan batas deteksi yang sebanding. Batas deteksi yang ditemukan oleh kedua kelompok ini berada di bawah batas minimum toksisitas melamin bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cook mengatakan bahwa teknik yang ada sekarang untuk penentuan melamin cukup kompleks, "media banyak membahas skandal penyembunyian melamin dan melaporkan metodologi spektrometri massa-kromatografi cair triple quadropole untuk pendeteksiannya. Kami tertantang untuk menggunakan instrumentasi yang lebih sederhana dan membuat sebuah metode yang lebih cepat berdasarkan pada ionisasi lingkungan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Muddiman, profesor spektrometri massa di North Carolina State University, Raleigh, US, menyebut teknik-teknik ini sebagai "contoh yang mengagumkan dari bagaimana metode-metode ionisasi analisis langsung yang inovatif, ketika dikombinasikan dengan spektrometri massa, memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah kontemporer yang dihadapi dunia. Teknik-teknik ini telah mengatasi semua kendala-kendala utama sehingga memungkinkan spektrometri massa tidak hanya dapat berkompetisi, tetapi menjadi metode utama dalam tipe-tipe analisis ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-5962315239391947774?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/Xph9533ExXo" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:40:56.205+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw4TqYiiyI/AAAAAAAAATc/D-J_2h8TOBY/s72-c/baby.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/03/dairy-detection-monitoring-melamine-in.html</feedburner:origLink></item><item><title>Kejutan fluoresensi dari buah pisang</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/sT1FSv3En3E/ripe-bananas-glow-bright-blue-kejutan.html</link><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 09:06:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-5307513717343708757</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw5k71UKNI/AAAAAAAAATs/CSPcc-HaTxU/s1600-h/banana1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 224px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw5k71UKNI/AAAAAAAAATs/CSPcc-HaTxU/s320/banana1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313184967089727698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Mungkinkah pisang-pisang masak akan menjadi glowstick yang baru untuk klub-klub malam? Buah yang berwarna kuning ini bersinar biru terang dibawah sinar UV, sebuah temuan yang mengejutkan pada peneliti di Austria. Intensitas pancaran sinar biru mencapai puncak pada saat buah ini dalam kematangan sempurna untuk dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bernhard Kräutler dan rekan-rekannya di Universitas Innsbruck menemukan fenomena ini pada saat sedang mencari bahan-bahan kimia yang menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit pisang. Mereka mencelupkan pisang-pisang segar ke dalam nitrogen cair untuk mengekstrak senyawa-senyawa tersebut dan kemudian menganalisisnya dengan HPLC. "Kami sangat terkejut karena beberapa diantaranya memancarkan sinar biru," kata Kräutler ke Chemistry World.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fluoresensi ini, yang tidak ditemukan pada tanaman atau buah lain manapun, tampaknya berasal dari produk-produk penguraian dari klorofil − yang mana dalam buah pisang memerlukan waktu lebih lama dari biasanya untuk dikonversi menjadi senyawa-senyawa yang tidak berwarna. Mereka kemudian menyelidiki kulit-kulit pisang yang masak alami dan masak buatan dibawah sinar ultraviolet dan menemukan pancara sinar biru terang. "Yang paling mengherankan kami adalah bahwa belum ada seorang pun yang melaporkan hal ini sebelumnya," tambah Kräutler.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 184px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw5Qu65jdI/AAAAAAAAATk/UPypXo3K14M/s320/banana2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313184620026105298" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Klorofil penyerap cahaya berada di balik kimia warna buah tersebut. Klorofil penting bagi pisang untuk tumbuh dan bertanggung jawab untuk warna hijau pada buah pisang yang belum masak. Tetapi jika sudah masak dan siap untuk dimakan, klorofil dengan cepat terurai − menyebabkan warna kuning dari karotenoid menjadi dominan dalam kulit pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan di alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya peranan yang dimiliki zat kimia ini dalam lingkungan, kemungkinan banyak peran-peran lain yang dimiliki. Kräutler berspekulasi bahwa dibawah sinar matahari langsung, fluoresensi biru kemungkinan berkontribusi bagi warna kuning terang yang khas dari pisang, dan memungkinkan untuk ditemukan lebih mudah oleh makhluk-makhluk yang memakannya. Philip Rea di Universitas Pennsylvania, US, juga terkejut dengan temuan ini, tetapi kurang yakin dengan peranan tersebut yang dimiliki oleh senyawa ini di alam. "Banyak hewan pemakan buah yang memakan pisang, misalnya kelelawar buah, yang beroperasi di malam hari." Yang lainnya bergantung pada penciuman, atau memerlukan jarak pandang yang sangat sempit untuk menemukan emisi biru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan lain adalah bahwa senyawa-senyawa fluoresens biru ini bisa memegang peranan biologis, misalnya mengkatalisis reaksi-reaksi tertentu atau mungkin hanya melindungi pisang dari sinar UV yang memungkinkan buah tetap segar dalam jangka waktu yang lebih lama. Tim Kräutler masih terus meneliti dan sekarang ini beralih ke buah-buah lain yang memiliki perilaku serupa dengan pisang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lewis Brindley&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enjoy this story? Spread the word using the 'tools' menu on the left.&lt;br /&gt;References&lt;br /&gt;S Moser et al, Angew. Chem. Int. Ed., 2008, DOI: 10.1002/anie.200803189&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Disadur dari: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-5307513717343708757?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/sT1FSv3En3E" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T23:06:49.950+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/Sbw5k71UKNI/AAAAAAAAATs/CSPcc-HaTxU/s72-c/banana1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/03/ripe-bananas-glow-bright-blue-kejutan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Unsur-unsur toksik dalam asap rokok</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/ACSZCw4O-T8/toxic-elements-in-cigarette-smoke-unsur.html</link><category>Health</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:47:29 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-525533286518642622</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeGFoinhgI/AAAAAAAAATU/ABKLtpR6jVM/s1600-h/rokok.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 150px; height: 226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeGFoinhgI/AAAAAAAAATU/ABKLtpR6jVM/s320/rokok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311861716846872066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Logam-logam berat seperti arsenik, kadmium, dan timbal telah dideteksi dalam asap rokok,dengan menunjukkan bahwa unsur-unsur toksik ini bisa merambat sampai jarak berbeda-beda alam aliran udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok yang sedang terbakar menghasilkan lebih dari 4000 zat kimia; banyak diantaranya yang bersifat toksik dan sekitar 40 menyebabkan kanker.&lt;span class="fullpost"&gt; Senyawa-senyawa ini tetap berada di udara sebagai asap tembakau lingkungan yang dihirup oleh orang lain di kawasan tersebut. Ada dua tipe asap rokok, yaitu: asap rokok utama yang keluar dari mulut perokok dan asap sampingan yang berasal dari ujung rokok yang terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meneliti logam-logam berat dalam asap rokok sampingan, para peneliti di perusahaan rokok Philip Morris, US, menemukan tumpukan arsenik dalam cerobong asap yang digunakan dalam tahap pertama pada peralatan mereka. Fenomena ini tidak ditemukan untuk kadmium atau timbal. Mereka menganggap bahwa yang menyebabkan ini terjadi adalah bahwa arsenik bisa menjadi uap cair sedangkan kadmium dan timbal adalah partikulat padat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Chang dan rekan-rekannya menggunakan sebuah alat yang disebut cerobong "ekor ikan" untuk menyalurkan asap dari sebatang rokok yang sedang terbakar menuju ke sebuah jet impactor yang mengumpulkan asap sebagai kondensat. Asap yang tersisa dilewatkan melalui sebuah saringan ester selulosa campuran untuk mencoba menangkap asap yang tersisa. Beberapa cara dicoba untuk mempersiapkan asap yang telah berkondensasi pada bagian-bagian yang berbeda dari alat. Metode yang terbaik adalah pengambilan sampel adukan, yang melibatkan penggunaan deterjen Triton X-100 dan asam nitrat untuk membuat adukan dengan kondensat asap. Spektroskopi massa berpasangan induktif digunakan untuk menganalisis adukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deposisi persentase total arsenik yang lebih besar (20 persen), dibanding kadmium atau timbal (kurang dari 5 persen) dalam cerobong tersebut menunjukkan bahwa unsur-unsur toksik dalam asap rokok bisa merambat secara berbeda dalam aliran udara dan bisa terdeposisi pada titik-titik berbeda. Para peneliti ini menduga perilaku ini disebabkan oleh perbedaan antara unsur fase padat (partikulat) dan cair (uap).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Wendy E M Crocker&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;References:&lt;br /&gt;M J Chang, K Walker, R L McDaniel and C T Connell, J. Environ. Monit., 2005, 7, 1349. (DOI: 10.1039/b509048b)&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Disadur dari: http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-525533286518642622?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/ACSZCw4O-T8" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:47:29.683+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeGFoinhgI/AAAAAAAAATU/ABKLtpR6jVM/s72-c/rokok.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/03/toxic-elements-in-cigarette-smoke-unsur.html</feedburner:origLink></item><item><title>Alat elektronik bertenaga gula</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/HCMrwa5OaWw/sugar-powered-electronics-alat.html</link><category>Technology</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 09:08:40 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-5772630821009709959</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeDj_-KsyI/AAAAAAAAATM/_umCE8k_7v8/s1600-h/face_biofuel1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 178px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeDj_-KsyI/AAAAAAAAATM/_umCE8k_7v8/s320/face_biofuel1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311858939997631266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ilmuwan di Jepang telah membuat sebuah sel bahan-bakar hayati (biofuel cell) yang menghasilkan energi yang cukup untuk menjalankan sebuah mp3 player atau mobil remot mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terinspirasi oleh proses pembangkitan energi pada makhluk-makhluk hidup, Tsuyonobu Hatazawa, dari Sony Corporation, Kanagawa, dan rekan-rekannya membuat sebuah bio-baterai yang menghasilkan listrik dari glukosa dengan menggunakan enzim sebagai katalis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sel biofule yang sederhana terdiri dari sebuah anoda dan sebuah katoda yang dipisahkan oleh sebuah membran penghantar foton. Sebuah bahan bakar terbaharukan, seperti gula, dioksidasi oleh mikroorganisme-mikroorganisme pada anoda, menghasilkan elektron dan proton. Proton berpindah melalui membran ke katoda sedangkan elektron ditransfer ke katoda melalui sebuah sirkuit eksternal. Elektron dan proton bergabung dengan oksigen pada katoda membentuk air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, output energi dari sel-sel biofuel masih terlalu rendah untuk pengaplikasian praktis. Transfer elektron pada sebuah sel biofuel bisa berlangsung lambat sehingga Hatazawa menggunakan sebuah turunan naftoquinon − yang dikenal sebagai mediator transfer elektron − untuk mengacak elektron-elektron antara elektroda dan enzim. Ini meningkatkan kepadatan arus − sebuah ukuran laju dari reaksi elektrokimia − dan meningkatkan luaran daya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeC24kox-I/AAAAAAAAATE/iXC5U4H723g/s400/biofuel1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311858164917389282" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih meningkatkan kepadatan arus, Hatazawa memadukan mediator tersebut dan enzim ke dalam sebuah anoda serat-karbon. Daerah permukaan yang luas dan porositas elektroda menghindari terjadinya gangguan transport glukosa dan mempertahankan aktivitas enzim. Mereka menggunakan rancangan yang serupa untuk mengoptimalkan katoda sehingga menyuplai oksigen yang cukup ke sel bahan bakar. Pada saat mereka menumpuk empat sel ini bersama-sama, mereka mencapai luaran daya sebesar 100 miliwatt − cukup untuk menjalankan sebuah mp3 player dengan speaker atau mobil remot yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam Heller, seorang ahli di bidang bioelektrokimia dari Universitas Texas di Austin, Amerika Serikat, mengatakan penelitian ini "akan menjadi cikal bakal lahirnya sel-sel biofuel yang bermanfaat, setelah bertahun-tahun dilakukan penelitian yang tak kunjung membuahkan hasil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadur dari: http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-5772630821009709959?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/HCMrwa5OaWw" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T23:08:40.321+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SbeDj_-KsyI/AAAAAAAAATM/_umCE8k_7v8/s72-c/face_biofuel1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/03/sugar-powered-electronics-alat.html</feedburner:origLink></item><item><title>Saklar Yang Mungkin Paling Kecil: Atom Emas Tunggal Membentuk Kontak</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/0pK-57wS75A/smallest-possible-switch-single-gold.html</link><category>Technology</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:49:22 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-8132357877256356753</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXnIlfdehnI/AAAAAAAAASs/LYeuU4BFkzc/s1600-h/Atom+Structure.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXnIlfdehnI/AAAAAAAAASs/LYeuU4BFkzc/s320/Atom+Structure.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294483383376578162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoPlainText"&gt;&lt;span style="';font-family:"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jan. 22, 2009&lt;/span&gt; —Saklar lebih mekanis sebuah saklar elektronik yang paling kecil dari suatu jenis yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Itulah ahli ilmu fisika Marius Trouwborst meringkas hasil-hasil dari riset PhD nya pada arus elektrik melalui atom-atom dan molekul-molekul. "Tujuan yang terakhir dari nanotechnology adalah untuk menggunakan molekul-molekul untuk elektronika," Ia berkata. "Bahwa tujuan sudah sekarang datang selangkah semakin dekat."&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span style="'line-height:"&gt;Kemajuan yang mahabesar di dalam teknologi informasi adalah sebagian besar dihubungkan dengan fakta bahwa bagian elektronik di dalam komputer-komputer menjadi lebih kecil dan lebih kecil. &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;an &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;ebih kecil secara otomatis berarti lebih murah dan lebih cepat. Di masa empat puluh tahun lalu, banyaknya transistor-transistor di suatu chip computer sudah menggandakan setiap dua tahun. Bagaimanapun, dalam sepuluh&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;tahun mulai sekarang, kita akan menjangkau suatu batas yang secara fisik, perkiraan-perkiraan Trouwborst. Pada batas ini, prinsip-prinsip transistor itu dasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak pekerjaan lebih panjang dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Jika kita ingin melanjutkan dengan membuat komputer-komputer lebih cepat, metoda-metoda baru harus ditemukan. Satu kemungkinan untuk menggunakan atom-atom dan molekul-molekul. &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;iset Trouwborst yang pokok di transpor elektron melalui atom-atom dan molekul-molekul yang individu berkait dengan pencarian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Selama riset, Trouwborst mengembangkan suatu metoda yang baru untuk mengorganisir atom-atom emas sedemikian sehingga suatu saklar sangat mekanis kecil bisa dibuat dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;itu&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;: hanya suatu atom emas membentuk kontak. Sebagai tambahan, Trouwborst membangun su&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;atu jenis yang baru dari saklar &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;elektronik dari ukuran benda paling kecil yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Mengunyah karet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Metoda bekerja dengan suatu yang disebut simpangan retakan. Pertama-ta&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;ma, suatu kawat emas ditempatkan&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; ke suatu potongan dari plastik yang fleksibel. Sekarang juga secara hati-hati membengkokkan potongan, emas memasang kawat pelan-pelan rentang ke luar, seperti halnya &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;mengunyah&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; karet. Tepat sebelum itu pecah, kawat mempunyai suatu garis tengah dari atom emas nya. Sangat hati-hati lenturan lebih lanjut ( di nanoscale) gerakkan akhir suatu jarak yang kecil jauh dari satu sama lain. Meski kawat-kawat itu kini diceraikan, retak itu adalah bukanlah pasti. Secepat itu adalah sangat, &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;sangat secara hati-hati bengkok&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;kan kembali ke sekring akhir posisi bersama-sama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Trouwborst mengulangi lenturan hal ini mondar-mandir &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;ber&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;kali&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;-kali&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;sangat &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;hati-hati. Setiap kali kawat pecah&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;, atom-atom di dalam keduanya tertata &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; cara yang berbeda. Trouwborst menemukan bahwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini reorganisasi secara berangsur-angsur menjadi lebih reguler. Akhirnya, pokok kelihatan secara hati-hati seperti&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;piramida-piramida berbadan tegap dari bola bilyar dengan suatu atom di puncak kulminasi. "Dengan menggerakkan kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;nya&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;bolak-balik&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; jarak 01 nanometer, saklar itu dapat &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;dinyalakan dan dimatikan&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;," katakan Trouwborst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Molekul &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;yang Di&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;itangkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Lebih dari itu, sistim itu dapat juga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;digunakan untuk ‘tangkapan' suatu molekul antara akhir. Yang bermanfaat karena mempelajari karakteristik-karakteristik elektronik molekul itu. Ketika satu voltase elektrik memberi &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;pet&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;unjuk sebagai akhir, semua transpor elektron mengalami molekul tunggal itu di dalam pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Trouwborst menggunak&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;an molekul hidrogen untuk riset&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;nya. Ketika meningkatkan voltase, molekul hidrogen mulai untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;menggetarkan antara akhir dari emas&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;. Trouwborst menemukan bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;itu resisnten&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; lalu tiba-tiba berubah, itu melompat ke bawah. "Anda hanya&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;dapat memutar sistim hidup atau mati dengan membuat molekul-molekul bergetar atau tidak," katakan Trouwborst. "Saklar jenis ini tidak pernah ditunjukkan sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Penyebab yang tak dikenal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Meski berhubungan dengan bergetar molekul-molekul, eksak penyebab perilaku alihan hal ini masih tidak dikenal. Trouwborst mencurigai &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;sesuatu&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; dengan suatu peralihan fase. Lebih banyak riset diperlukan sebelum saklar-saklar itu dapat digunakan&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;sebenarnya. Bagaimanapun, "apa &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;yang pasti&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;," katakan Trouwborst, "&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;hal &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;itu menyediakan pengertian yang mendalam baru di jalan untuk menggunakan molekul-molekul sebagai unsur-unsur bangunan fungsional di dalam elektronika dari masa depan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari &lt;/span&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;Universitas Groningen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="'line-height:"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-8132357877256356753?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/0pK-57wS75A" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:49:22.563+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXnIlfdehnI/AAAAAAAAASs/LYeuU4BFkzc/s72-c/Atom+Structure.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/01/smallest-possible-switch-single-gold.html</feedburner:origLink></item><item><title>Topan Raksasa di Kutub Utara Planet Saturnus Menguat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/0C_hXIGeKx0/giant-typhoon-in-north-pole-saturnus.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:46:06 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-1165006648629928463</guid><description>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbI60P-SvI/AAAAAAAAASk/0U3onIilG5w/s1600-h/Saturnus+Typhoon.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbI60P-SvI/AAAAAAAAASk/0U3onIilG5w/s320/Saturnus+Typhoon.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293639324804205298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;JAKARTA, SELASA — Untuk pertama kalinya, topan raksasa yang terbentuk di dekat kutub utara Planet Saturnus menguat hingga 10 kali lipat dari kondisi sebelumnya. Kekuatannya setara dengan topan raksasa yang terdeteksi di bagian selatan planet tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diameter topan diperkirakan sekitar 120 kilometer. Pusaran anginnya bergerak dengan kecepatan 530 kilometer per jam atau dua kali lipat kekuatan badai terkuat di Bumi.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;"Ini adalah topan raksasa, ratusan kali lebih kuat daripada badai raksasa terbesar di Bumi," ujar Kevin Baines, ilmuwan yang terlibat dalam misi Cassini di Laboratorium Propulsi Jet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemukannya sejumlah badai di kutub utara maupun kutub selatan planet tersebut menunjukkan dinamika atmosfer di atas permukaannya. Di dalam topan tersebut juga mungkin terdapat petir raksasa yang bisa jadi mesin pengatur cuaca di Saturnus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ilmuwan memperkirakan, topan tersebut terbentuk akibat aliran panas yang dilepaskan dari cairan permukaan yang menguap. Cara kerjanya kemungkinan mirip dengan badai yang terbentuk di Bumi dari titik-titik air yang terkumpul membentuk awan tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk topan raksasa di Saturnus memiliki keunikan karena sisi luarnya seperti bangun heksagonal atau segi enam. Penyebabnya masih menjadi misteri hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : SPACE.COM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-1165006648629928463?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/0C_hXIGeKx0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:46:06.866+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbI60P-SvI/AAAAAAAAASk/0U3onIilG5w/s72-c/Saturnus+Typhoon.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/01/giant-typhoon-in-north-pole-saturnus.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sedotan Kehidupan</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/joKKfpGsi2o/lifestraw-sedotan-kehidupan.html</link><category>Technology</category><category>Health</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:54:41 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-6709463741329722610</guid><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbEZLqrFKI/AAAAAAAAASc/dJQBfFuyEyI/s1600-h/face_lifestraw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbEZLqrFKI/AAAAAAAAASc/dJQBfFuyEyI/s320/face_lifestraw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293634348928144546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Soetrisno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang solusi yang paling inovatif ternyata adalah yang paling sederhana. LifeStraw merupakan salah satu diantara temuan yang paling inovatif tersebut. Alat yang berbentuk sedotan ini diciptakan oleh Vestergaard Frandsen sebagai hasil dari penelitian selama puluhan tahun oleh para peneliti air, untuk orang-orang yang hidup di negara-negara berkembang. Jika setiap orang yang kekurangan sumber air minum bersih mendapatkan LifeStraw sekarang ini, maka puluhan juta nyawa bisa langsung diselamatkan.&lt;span class="fullpost"&gt; Alat ini merupakan sebuah sedotan plastik sepanjang 31 cm dan berdiameter 30 mm dengan harga sekitar $3,00. Apabila air permukaan yang mengandung Salmonela, Shigella, Enterococcus dan Staphylococcus serta bakteri-bakteri dari air lainnya dihisap lewat sedotan ini, bakteri-bakteri berbahaya tersebut akan terjebak di dalam dan air bersih yang aman bisa langsung diteguk. Filter ini dapat digunakan selama satu tahun penuh untuk satu orang dan setelah itu harus diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air yang dihisap pertama-tama melewati sebuah filter dengan jarak jalinan 100-mikrometer, kemudian melalui sebuah saringan 15-mikrometer. Air selanjutnya melewati sebuah ruang yang berisi manik-manik berlapis iodin, yang membunuh bakteri yang tersisa. Kemudian air melewati sebuah ruang kosong, dan terakhir melewati karbon aktif, yang menghilangkan rasa iodida dan bakteri yang berukuran sedang. Semua proses ini dilakukan hanya dengan menghisap secara reguler, tidak beda jauh ketika menggunakan pipet minuman konvensional sehari-hari. Sedotan ini dapat menyaring hingga 700 liter air sebelum harus diganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat ini tidak memiliki bagian-bagian yang dapat dilepas, tidak menggunakan listrik dan tidak memerlukan perawatan. Ini menjadikannya sebagai sebuah cara menyaring air yang sederhana dan terjamin yang bisa digunakan siapapun di dunia ini. Satu-satunya persyaratan yang diperlukan adalah kemampuan untuk menghisap. Bahkan anak kecil dan bayi bisa diselamatkan dengan menggunakan LifeStraw. Penyakit seperti difteria, kolera dan diare yang disebabkan oleh bakteri umum akan dicegah dengan penggunaan LifeStraw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi-inovasi yang diberikan oleh LifeStraw sangat mengesankan sehingga disebut sebagai salah satu temuan terbesar di 2005 oleh Time Magazine dan memenangkan Index Award untuk inovasi di bidang desain yang akan secara signifikan memperbaiki hidup manusia. Biaya yang murah dan imbas langsung yang bisa dimiliki oleh LifeStraw ketika mencapai orang-orang yang membutuhkan akan menjadikan alat ini sebagai alat yang sempurna untuk para kelompok-kelompok amal di dunia. Dengan dikombinasikan dengan upaya-upaya baru untuk menyediakan sumur dan waduk-waduk bagi masyarakat, LifeStraw bisa memberikan kontribusi langsung yang signifikan bagi krisis air global yang kita hadapi dengan mewujudkan Tujuan Pembangunan Milenium yakni mengurangi setengah jumlah orang yang tidak memiliki akses berkelanjutan terhadap air minum yang aman pada tahun 2015. LifeStraw juga bisa menjadi cara yang jitu untuk mengatasi kebutuhan mendesak akan air oleh para korban bencana alam seperti angin badai, gempa bumi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disadur dari berbagai sumber. (www.chem-is-try.org)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-6709463741329722610?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/joKKfpGsi2o" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:54:41.902+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SXbEZLqrFKI/AAAAAAAAASc/dJQBfFuyEyI/s72-c/face_lifestraw.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2009/01/lifestraw-sedotan-kehidupan.html</feedburner:origLink></item><item><title>SAVE PALESTINA !!!</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/t40ccGkGG50/save-palestina.html</link><category>Special Edition</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:51:23 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-4013345260189475212</guid><description>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVxhv5Tdp9I/AAAAAAAAARU/moRXky4k32U/s1600-h/palestine_3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVxhv5Tdp9I/AAAAAAAAARU/moRXky4k32U/s320/palestine_3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286207538090321874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap orang berhak hidup,&lt;br /&gt;Setiap orang berhak tertawa bahagia,&lt;br /&gt;tapi mengapa hanya Palestina yang harus menderita karena ambisi Israel yang biadab ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Irak dikorbankan karena terorisme,&lt;br /&gt;saat Afghanistan dijadikan sasaran kemarahan Amerika Serikat karena terorisme pula,&lt;br /&gt;mengapa Israel yang membunuh ratusan nyawa manusia tidak dihancurkan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana teori HAM orang barat saat bangsa muslim dibantai,&lt;br /&gt;Di mana hukum saat bangsa muslim dibinasakan,&lt;br /&gt;kami juga seorang manusia,&lt;br /&gt;yang ingin bahagia ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari : derita anak Palestina&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-4013345260189475212?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/t40ccGkGG50" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:51:23.044+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVxhv5Tdp9I/AAAAAAAAARU/moRXky4k32U/s72-c/palestine_3.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2008/12/save-palestina.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tabung nano dari putih telur</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/fPx9fceHwK0/nano-tube-from-protein-tabung-nano-dari.html</link><category>Technology</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 09:11:44 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-6525135955964252294</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOFAGBX7cI/AAAAAAAAAQ8/lQPb7f2uVVo/s1600-h/face_putihtelur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOFAGBX7cI/AAAAAAAAAQ8/lQPb7f2uVVo/s320/face_putihtelur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283713024498593218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Putih telur telah ditemukan oleh para ilmuwan Cina memiliki kegunaan baru sebagai sebuah cetakan (template) untuk membuat tabung-nano anorganik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baoyou Geng dan rekan-rekannya di Universitas Anhui Normal, Wuhu, membuat tabung nano magnetit (Fe3O4) dalam sebuah larutan putih telur. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Protein putih telur yang memiliki afinitas tinggi untuk ion-ion logam, membentuk kompleks-kompleks organik-anorganik dengan Fe(III). Kompleks-kompleks ini selanjutnya berkumpul membentuk helaian-helaian nano, sebuah proses yang menghasilkan panas. Peningkatan suhu merusak ikatan hidrogen dan ikatan peptida-besi sehingga besi oksida terpisah dari template putih telur. Helaian-helaian besi oksida kemudian menggulung membentuk tabung-tabung nano berongga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan protein dari tulang dan cangkang sebagai template telah banyak dikenal, tetapi kebanyakan memerlukan metode yang rumit dan memakan banyak waktu untuk membuat template biologis. Geng menjelaskan bahwa metode baru mereka menggunakan template protein yang murah dan mudah didapat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 320px; height: 139px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOFH0NN0NI/AAAAAAAAARE/1fRIPtMzvD8/s320/putihtelur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283713157155377362" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;Tabung-nano memiliki banyak pengaplikasian mulai dari piranti penyaluran obat sampai konversi energi surya. Dan magnetit, salah satu mineral yang paling bersifat magnetic, khususnya sangat menarik untuk aplikasi-aplikasi yang terkait dengan magnetisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xitian Zhang, seorang ahli di bidang preparasi dan aplikasi tabung-nano dari Chinese University of Hong Kong, Shatin, mengatakan bahwa penelitian ini "memberikan sebuah metode yang sederhana, terbaru dan mudah dilakukan untuk preparasi tabung-tabung nano besi oksida kristalin-tunggal". "Pendekatan ini tidak hanya memperkaya kimia magnetit, tetapi juga menjadi sebuah strategi baru untuk mensintesis material-material serupa," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan selanjutnya adalah menyelidik "kondisi-kondisi reaksi pada struktur putih telur, yang bisa menghasilkan perubahan morfologi produk," kata Geng. Geng dan timnya juga akan mencoba mensintesis tabung-tabung nano lainnya untuk menyelidiki efek ion logam yang berbeda terhadap putih telur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Disadur dari: http://www.rsc.org/chemistryworld/&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-6525135955964252294?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/fPx9fceHwK0" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T23:11:44.369+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOFAGBX7cI/AAAAAAAAAQ8/lQPb7f2uVVo/s72-c/face_putihtelur.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2008/12/nano-tube-from-protein-tabung-nano-dari.html</feedburner:origLink></item><item><title>Pekuburan Dinosaurus Ditemukan di Utara Utah</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/PZBYgnBPnX4/cemetery-of-dinosaur-is-found-in-north.html</link><category>Archeology</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:53:42 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-4545324877707874698</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEW-LEBxI/AAAAAAAAAQ0/hgGCjwbreVs/s1600-h/Dino.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEW-LEBxI/AAAAAAAAAQ0/hgGCjwbreVs/s320/Dino.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283712318017111826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;LOS ANGELES, SABTU- Beberapa peneliti AS telah menemukan "kompleks kuburan dinosaurus" di bagian tenggara Utah. Di lokasi itu tersimpan bekas jejak dan fosil hewan dari era Jurassic dan Cretaceous itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Los Angeles Times, Jumat (17/10) kemarin menyebutkan, inti temuan baru tersebut adalah kerangka sauropod yang berusia 150 juta tahun dan terpelihara dengan baik pemakan tumbuhan berleher panjang itu.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para peneliti sejauh ini baru mengeluarkan fosil kerangka, yang mereka perkirakan berukuran panjang 50 kaki. "Itu besar dan perlu waktu lama," kata ahli paleontogi Luis Chiappe, Direktur Dinosaur Institute and the Natural History Museum of Los Angeles County.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka tersebut ditemukan di bekas palung sungai besar yang kini menjadi lapisan permukaan karang terpajan yang berwarna gelap. Di dekat bekas palung itu terdapat kerangka lain sauropod dan dinosaurus pemakan daging, termasuk tulang paha sepanjang lima kaki dari brachiosaurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di punggung bukit karang, tim menemukan sangat banyak jejak kaki yang terpelihara di bebatuan, dan satu jejak dari masa Jurassic, yang berakhir sekitar 145 juta tahun lalu, kata surat kabar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak sauropod juga ditemukan di dekat jalur theropod pemakan daging dan ornithopods dari masa awal Cretaceous, yang berakhir sekitar 65 juta tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chiappe mengatakan, yang paling mengejutkan ialah jejak tiga-jari stegosaurus Eropa, yang diberi nama Deltapodus. "Jejak Deltapodus tak pernah ditemukan di Amerika Utara," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chiappe dan stafnya menduga akan menghabiskan sedikitnya satu dasawarsa lagi untuk menggali tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : Ant&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-4545324877707874698?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/PZBYgnBPnX4" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:53:42.057+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEW-LEBxI/AAAAAAAAAQ0/hgGCjwbreVs/s72-c/Dino.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2008/12/cemetery-of-dinosaur-is-found-in-north.html</feedburner:origLink></item><item><title>Inilah Penampakan UFO di Amerika</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/evKI4wc5ytk/this-is-vision-of-ufo-in-america-inilah.html</link><category>Astronomy</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Fri, 01 May 2009 23:53:24 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-4946624691375874231</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEFip_d-I/AAAAAAAAAQs/YH-VdbVi7Ag/s1600-h/UFO.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 298px; height: 225px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEFip_d-I/AAAAAAAAAQs/YH-VdbVi7Ag/s320/UFO.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283712018572867554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PHOENIX, KAMIS — Terdapat tempat baru di mana Anda bisa mendapatkan kisah dan berita tentang UFO. Sebuah organisasi di Phoenix, MUFON, telah membangun sebuah situs untuk peliput UFO. Kelompok itu melacak dan menginvestigasi penampakan UFO.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan bahwa situs tersebut telah mendulang banyak laporan baru yang lebih banyak dari laporan MUFON karena Anda juga bisa melaporkannya tanpa mencantumkan nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara orang menertawakan laporan tentang UFO, seorang staf MUFON, Stacey Wright, mengatakan bahwa itu sudah tidak menjadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mencari pengakuan atas klaim UFO bukanlah hal yang mereka perjuangkan. Para pelacak UFO itu berkata, bisnis ini sedang booming, terutama di Arizona. Wright mengatakan, setahun yang lalu hanya ada dua pelacak MUFON di Arizona, saat ini sudah ada 20 orang.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ono/kompas tv)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-4946624691375874231?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/evKI4wc5ytk" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T13:53:24.552+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SVOEFip_d-I/AAAAAAAAAQs/YH-VdbVi7Ag/s72-c/UFO.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2008/12/this-is-vision-of-ufo-in-america-inilah.html</feedburner:origLink></item><item><title>Radiasi Nuklir Ternyata Lebih Ramah dibanding Radiasi Alam</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/ScienceForBetterLife/~3/z2lp0xD6aXY/nuclear-radiation-simply-friendlier-is.html</link><category>Health</category><category>Chemistry</category><author>noreply@blogger.com (Ade)</author><pubDate>Sat, 02 May 2009 00:01:36 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1000003625967457238.post-1371335690841157215</guid><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SSwRGzyTqWI/AAAAAAAAAQk/6X5dZDcmzqc/s1600-h/Reaktor+nuklir.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 132px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SSwRGzyTqWI/AAAAAAAAAQk/6X5dZDcmzqc/s320/Reaktor+nuklir.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272608072422107490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Sinly Evan Putra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berasumsi secara bebas dengan sebuah pertanyaan; jumlah korban mana yang paling banyak diantara jumlah orang yang meninggal karena radiasi nuklir dengan orang yang meninggal karena merokok?. Seandainya anda pakar kesehatan, tentu anda akan menjawab secara meyakinkan bahwa orang yang meninggal karena merokok, lebih banyak jumlahnya. Dan itu fakta. Tetapi dikarenakan media-media informasi seperti TV, surat kabar, ataupun internet, lebih banyak menyuguhkan negatifnya nuklir, sehingga sering mempengaruhi opini publik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bayangkan saja, jika anda disuguhkan suatu berita tentang peristiwa Hiroshima dan Nagasaki ataupun peristiwa Tragedi Chernobyl yang merengut nyawa ribuan orang sekaligus. Tentu anda akan menyatakan nuklir sangat berbahaya dan berasumsi jumlah korban nukilr lebih banyak karena korbannya secara massal. Hal ini jauh berbeda dengan korban merokok, tentu kita tidak pernah mendengar adanya korban massal akibat keracunan asap rokok. Yang ada korban akibat merokok berjatuhan disekitar kita, yang terkadang tidak kita sadari. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) diperkirakan 4,9 juta orang meninggal dunia tiap tahunnya. Umumnya vonis akhir secara kesehatan bagi korban merokok ini adalah karena mengidap penyakit kanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi diatas adalah salah satu contoh bahwa radiasi alam lebih berbahaya dari radiasi nuklir? kok bisa? Sebenarnya tanpa disadari oleh para perokok, bahwa selama mereka merokok, mereka telah terpapar radiasi salah satu gas radioaktif alam yaitu gas radon yang terdapat dalam daun tembakau. Radioaktif alam ini berasal dari pupuk fospat (P) yang dipupukkan pada daun tembakau sehingga gas radon terakumulasi di dalam tembakau. Sehingga perokok akan mudah terkena kanker paru-paru karena radiasi dari gas radon tersebut dapat masuk ke dalam paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum gas radon ini lebih banyak terserap oleh para penambang bahan galian, karena pekerja tambang secara langsung menghirup gas radon secara berlebihan. Menurut perkiraan resiko kematian akibat gas radon mencapai 0,005%. Di Amerika Serikat misalnya dari sekitar 200 juta penduduknya diperkirakan ada 10-20 ribu orang meninggal karena menghirup gas radon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sendiri diketahui beberapa bahan bangunan seperti asbes dan gypsum yang banyak digunakan sebagai atap, semen, dan lain sebagainya mengandung bahan radioaktif. Di Swedia yang beriklim dingin sehingga rumah-rumah dibuat dari tembok yang tebal dengan ventilasi yang sedikit. Karena itu penumpukkan gas radon dalam rumah menjadi berlebih sehingga ada beberapa rumah yang mengandung unsur radiokatif alam seperti U238, Th232, dan K40 di atas batas kewajaran. Kadar gas radon dalam rumah tersebut mencapai 260 Bq/m3 udara, padahal kadar wajar di udara adalah 10 Bq/m3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain radiasi gas radon, beberapa radiasi alam yang lain adalah radiasi kosmik dan sinar UV dari lampu neon. Bila dibandingkan dengan radiasi alam ini, bahaya radiasi nuklir jauh lebih kecil dari radiasi alam yang secara wajar kita terima. Hal ini dikarenakan intensitas kita terpapar oleh radiasi alam hampir setiap hari sedangkan radiasi nuklir hanya terjadi apabila terjadi kebocoran reaktor. Tetapi dengan kemajuan teknologi kemungkinan kebocoran itu sangat kecil karena telah dibuatnya keselamatan reaktor yang berlipat-lipat. Selain itu pula, radiasi nuklir buatan diuntungkan dengan waktu paruh dari sumber radiasi yang singkat, diantaranya Ce137, Co60, Xe, dan I131. Radiasi buatan ini mempunyai waktu paruh yang pendek dan zat radiokatif ini dapat dinyatakan habis jika telah 10 kali waktu paruhnya. Semisal waktu paruh dari I131 adalah 8 hari, jadi apabila terjadi kebocoran reaktor, maka reaksi yodium ini akan habis dalam waktu 80 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Radiasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek radiasi secara umum bagi tubuh manusia dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Efek Stokastik&lt;br /&gt;Efek stokastik yaitu efek radiasi yang kemunculannya pada individu tidak bisa dipastikan dengan faktor 10-5 (dari 100.000 orang diperkirakan yang terkena hanya 1 orang). Efek dari radiasi ini dikatakan stokastik jika radiasi yang terserap oleh tubuh dalam dosis rendah yaitu 0,25-1.000 mSv. Misalnya saja pada alat diagnosa gondok, penerimaan radiasi rendah ini diperbolehkan bukan hanya karena aman namun justru menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Efek Deterministik&lt;br /&gt;Efek deterministik yaitu efek radiasi yang pasti muncul bila jaringan tubuh terkena paparan radiasi pengionan. Efek determiristik dapat terjadi bila dosis radiasi yang diterima telah lebih dari ambang batas seharusnya yaitu dibawah 3.000 mSv. Bila radiasi yang diterima diantara 3.000-6.000 mSv maka akan menyebabkan kulit memerah atau kerontokan rambut. 6.000-12.000 mSv akan menyebabkan perasaan mual, nafsu makan berkurang, lesu, lemah, demam, keringat yang berlebihan hingga menyebabkan shock yang beberapa saat akan timbul keluhan yang lebih parah yaitu nyeri perut, rambut rontok, bahkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemungkinan efek deterministik ini sangat kecil mengenai kita, dikarenakan berdasarkan survei lembaga penelitian yang menangani nuklir, radiasi nuklir hanya sebesar 0.08 mSv.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pekerja di reaktor nuklir untuk menangani efek radiasi ini agar tidak sampai ke tubuh individu, terdapat tiga dasar proteksi radiasi (keselamatan radiasi). Yaitu pengaturan waktu kerja dengan radiasi, pengaturan jarak dengan sumber radiasi, dan penggunaan bahan pelindung radiasi. Semakin pendek waktu yang digunakan untuk berada di medan radiasi, semakin jauh dari radiasi dan semakin tebal bahan pelindung, akan memperkecil dosis radiasi yang diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, dapatlah kita ketahui bahwa nuklir bukanlah momok yang mengerikan bagi kita. Berbagai hal yang kita takutkan ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Bahkan dapat dikatakan bahwa teknologi nuklir adalah teknologi ramah lingkungan dan berbagai manfaat dapat kita peroleh dari nuklir ini. Di sini pemerintah dan masyarakat harus mencoba untuk memahami nuklir secara lebih lagi. Karena boleh jadi, perbedaan persepsi dan pertentangan opini tentang pengembangan nuklir di Indonesia, yang selama ini terjadi, boleh jadi dikarenakan karena kita tidak tahu dan terlalu trauma dengan tragedi nuklir masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1000003625967457238-1371335690841157215?l=sains4ever.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ScienceForBetterLife/~4/z2lp0xD6aXY" height="1" width="1"/&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-05-02T14:01:36.026+07:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_ckze_K-OiGg/SSwRGzyTqWI/AAAAAAAAAQk/6X5dZDcmzqc/s72-c/Reaktor+nuklir.bmp" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://sains4ever.blogspot.com/2008/11/nuclear-radiation-simply-friendlier-is.html</feedburner:origLink></item><copyright>Copyright @Ade</copyright><media:credit role="author">Ade</media:credit><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

