<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761</atom:id><lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 03:02:36 +0000</lastBuildDate><category>125 tenaga honorer yg akan diangkat</category><category>CARA MENGATASI BANYAKNYA HAFALAN PADA MATA PEMBELAJARAN IPS SD</category><category>Cara Belajar Yang Efektif dan Efisien</category><category>Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris</category><category>Cara Mendidik Anak Yang Baik dan Positif</category><category>Cara Mudah untuk Mengenali Bakat Tersembunyi Anda</category><category>Foto Siswa Kelas 1-6</category><category>Guru Honorer: Kami Sudah Cukup Sabar</category><category>Guru SD dan Kecerdasan Emosi</category><category>Identitas Admin</category><category>Identitas Guru SDN Kembangan Selatan 02 Pagi</category><category>Identitas Pesuruh Sekolah</category><category>Jadwal PPDB Online 2011 SD Negeri DKI Jakarta</category><category>Jam Kerja Guru DKI Jakarta Selama Bulan Suci Ramadhan</category><category>KEKURANGAN BERKAS USUL SK TUNJANGAN PROFESI 2010</category><category>KIAT MENJADI PELAJAR YANG SUKSES</category><category>MI</category><category>Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT</category><category>Mengatur Waktu Belajar</category><category>Menumbuhkan Kreatifitas Siswa</category><category>Metode Pendidikan Anak yang Efektif</category><category>PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR</category><category>POS UN SD</category><category>Pendataan Tenaga Honorer</category><category>Permendiknas No 2 Th 2011</category><category>Permendiknas No 46 2010</category><category>Prediksi Soal UN SD 2011</category><category>SDLB 2010-2011</category><category>Sore Ini Guru Honorer-Menpan Bahas RPP</category><category>Sosialisasi BNSP UN 2011</category><category>TENAGA HONORER DI TES SELEKSI</category><category>Tips Kreatif Menumbuhkan Semangat Belajar</category><category>Ujian Nasional</category><category>Video Kegiatan</category><category>ppdb sd dki</category><title>SDN KEMBANGAN SELATAN 02 PAGI</title><description>PPDB SD Negeri&#xa;Hasil Seleksi Final PPDB tahap 1&#xa;Daftar Sekolah Reguler di Kembangan Jakbar&#xa;SDN Kembangan Selatan 02 Pagi</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>63</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-3251510500232304413</guid><pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-04T10:48:20.600+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendataan Tenaga Honorer</category><title>Pendataan Tenaga Honorer</title><description>Berikut ini kami sampaikan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 03 Tahun 2012 tentang Data Tenaga Honorer Kategori I dan Daftar Nama Tenaga Honorer Kategori II.&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;     1. &lt;a href=&quot;http://bkddki.jakarta.go.id/unduh/surat_edaran/menpan/SE_MENPAN_No_3_2012.pdf&quot;&gt;SE Menpan Nomor 03 Tahun 2012.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. &lt;a href=&quot;http://bkddki.jakarta.go.id/unduh/tenaga_honorer/1930_FORM_K2_formulir_Tenaga_Honorer_Kategori_2_BKN.pdf&quot;&gt;Lampiran Form Kategori II.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
3. &lt;a href=&quot;http://bkddki.jakarta.go.id/unduh/tenaga_honorer/SURAT_PERNYATAAN_Lampiran_Formulir_Tenaga_Honorer_Kategori_2.doc&quot;&gt;Surat Pernyataan.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;http://bkddki.jakarta.go.id/index.php?option=com_content&amp;view=category&amp;layout=blog&amp;id=33&amp;Itemid=135&quot;&gt;http://bkddki.jakarta.go.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/04/pendataan-tenaga-honorer.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-2792892234887671084</guid><pubDate>Tue, 20 Mar 2012 01:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-20T08:58:31.224+07:00</atom:updated><title>Pemerintah Rekrut 139.878 Ribu CPNS</title><description>JAKARTA - Informasi soal penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) terus berubah. Yang terbaru, tahun ini pemerintah akan merekrut 139.878 CPNS baru. Kuota itu akan dipenuhi dari pegawai honorer kategori I (digaji APBN dan APBD), pegawai honorer kategori 2 (digaji non APBN dan non APBD), serta pendaftar umum. Mereka akan menggantikan PNS yang memasuki pensiun tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar catatan di Badan Kepegawaian Negara (BKN), tahun ini ada 23.152 PNS instansi pusat yang pensiun. Sedangkan untuk PNS di instansi daerah berjumlah 116.726 orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Bagian Humas BKN Tumpak Hutabarat mengatakan, pemerintah memang sudah berkomitmen untuk menutup kursi yang ditinggal pensiun pemiliknya itu dengan mengangkat PNS baru. Skenario awal adalah mengoptimalkan tenaga honorer Kategori 1 (K1) yang sudah diverifikasi. Jika masih kurang, akan ditambah dari honorer Kategori 2 (K2). Kemudian juga merekrut CPNS baru dari pendaftar umum.&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Berdasar catatan di Badan Kepegawaian Negara (BKN), tahun ini ada 23.152 PNS instansi pusat yang pensiun. Sedangkan untuk PNS di instansi daerah berjumlah 116.726 orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala Bagian Humas BKN Tumpak Hutabarat mengatakan, pemerintah memang sudah berkomitmen untuk menutup kursi yang ditinggal pensiun pemiliknya itu dengan mengangkat PNS baru. Skenario awal adalah mengoptimalkan tenaga honorer Kategori 1 (K1) yang sudah diverifikasi. Jika masih kurang, akan ditambah dari honorer Kategori 2 (K2). Kemudian juga merekrut CPNS baru dari pendaftar umum. &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/pemerintah-rekrut-139878-ribu-cpns.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-3816006845571644396</guid><pubDate>Tue, 20 Mar 2012 01:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-20T08:51:28.255+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">125 tenaga honorer yg akan diangkat</category><title>Pemerintah Akan Angkat 125 Ribu Tenaga Honorer</title><description>JAKARTA, (PRLM).- Pemerintah akan mengangkat 125 ribu honorer menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dari jumlah tersebut sekitar 70 ribu orang berasal dari honorer K1.&lt;br /&gt;
Pengangkatan tersebut, menurut Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, diwujudkan karena ada kekurangan PNS lebih dari 125 ribu yang telah habis masa jabatannya.&lt;br /&gt;
“Rinciannya, antara 60-70 ribu dari K1 atau honorer. Setengahnya lagi kita terima sebagai pegawai yang khusus-khusus,&quot; kata Azwar Abubakar di Jakarta, Jumat (16/3/12).&lt;br /&gt;
Dia juga menambahkan, penerimaan PNS ini nantinya akan merata di seluruh wilayah baik pusat maupun daerah berdasarkan peta jabatan dan kebutuhan.&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Selain PNS honorer, pemerintah juga akan menerima pegawai yang bersifat K2. “Pegawai K2 itu bagi mereka yang sudah bekerja di bawah tahun 2005. Kita perkirakan honorer di bawah tahun 2005 semua bisa diangkat, mereka umumnya bekerja di bawah instansi pemerintah tapi dibayar tidak melalui APBD ataupun APBN. Kita sudah sepakat dengan DPR akan menampung mereka,&quot; tuturnya.&lt;br /&gt;
Lebih jauh Azwar menambahkan, penerimaan PNS tersebut juga dilakukan dengan syarat penyeleksian PNS seperti biasa, hal ini untuk menjamin kualitas PNS ke depannya.&lt;br /&gt;
&quot;Dengan adanya syarat itu maka akan ada seleksi, harus ada passing grade. Seleksi kompetensi dasar maupun kompetensi bidang. Sekarang yang terjadi cuma jumlah pegawai honorer ratusan ribu. Tidak ada nama, dan tidak ada tempat. Saya sudah menanda tangani surat, supaya bupati, kepala daerah mendata kembali siapa pegawai honorer yang akan diusulkan untuk diangkat sebagai PNS,&quot; katanya.&lt;br /&gt;
Pemerintah juga akan membentuk tim pengawas yang bertugas mengecek validitas data dari pegawai honorer yang akan diangkat, diharapkan dengan cara ini KKN tidak terjadi pada proses pengangkatan.(kominfo/A-88)***&lt;br /&gt;
 &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/pemerintah-akan-angkat-125-ribu-tenaga.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-4787885947936320431</guid><pubDate>Tue, 20 Mar 2012 01:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-20T08:46:44.612+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">TENAGA HONORER DI TES SELEKSI</category><title>TERNYATA MASIH ADA TES SELEKSI UNTUK TENAGA HONORER MENJADI CPNS</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXXtqFGC_h6etIuX2s5GLnO9Npeq-2djlp3Z942HlQwrFPyGsDrdKAfV64niJvfsHWfjzy7EyiTRMOvP0qZl22bEfJ9S_-9Ws9G9uCZMygloTAypng8TKLXIT2gBtT4M5NQxe-y2BjMIzN/s1600/072319_708997_demo_guru_dwi_pambudo_rm_20_2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left:1em; margin-right:1em&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;195&quot; width=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXXtqFGC_h6etIuX2s5GLnO9Npeq-2djlp3Z942HlQwrFPyGsDrdKAfV64niJvfsHWfjzy7EyiTRMOvP0qZl22bEfJ9S_-9Ws9G9uCZMygloTAypng8TKLXIT2gBtT4M5NQxe-y2BjMIzN/s400/072319_708997_demo_guru_dwi_pambudo_rm_20_2.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
JAKARTA—Pemerintah akan menerapkan tes seleksi kepada seluruh tenaga honorer untuk bisa diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB), Azwar Abubakar mengatakan, tes seleksi mencakup materi akademik kompetensi minimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi harus dites dulu, terutama guru. Karena sebagian besar guru itu masuknya tidak melalui tes. Ada syarat kemampuan penguasaan materi guru dan pengetahuan umum. Ada kompetensi dasar dan ada kompetensi bidang,’ ungkap Azwar usai menemui Ketua PB PGRI dan perwakilan guru honorer di Gedung Kemenpan-RB, Jakarta, Selasa (21/2).&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dalam pelaksanaan tes seleksi ini,  pemerintah akan menggandeng sepuluh  perguruan tinggi negeri (PTN). Antara lain, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Hasanuddin (Unhas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azwar menjelaskan, proses tes seleksi ini akan dikoordinasi oleh sepuluh PTN tersebut. Sehingga, pelaksana tes ini tidak lagi Pemerintah Daerah (Pemda), melainkan ditangani oleh pemerintah pusat atau nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selain tes seleksi, tenaga honorer yang kita angkat ini juga harus bersedia untuk ditempatkan di tempat yang kosong. Banyak tenaga honorer saat ini tidak mau dipindah, dan hanya mau menempati tempat yang sudah penuh (di kota). Jujur saya katakan, guru ini hitungannya sudah lebih, kita sudah mengalahi Jepang, tapi mengajarnya masih delapan jam, ini belum efektif. Kita minta kesediaan dari guru yang diangkat mau ditempatkan sesuai dengan kebutuhan,” tukasnya. &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/ternyata-masih-ada-tes-seleksi-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXXtqFGC_h6etIuX2s5GLnO9Npeq-2djlp3Z942HlQwrFPyGsDrdKAfV64niJvfsHWfjzy7EyiTRMOvP0qZl22bEfJ9S_-9Ws9G9uCZMygloTAypng8TKLXIT2gBtT4M5NQxe-y2BjMIzN/s72-c/072319_708997_demo_guru_dwi_pambudo_rm_20_2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-4425388155367778056</guid><pubDate>Sat, 03 Mar 2012 07:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-09T13:12:17.991+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Guru Honorer: Kami Sudah Cukup Sabar</category><title>Guru Honorer: Kami Sudah Cukup Sabar</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqYkLtFprBV5kW4muSgx4N_V9tDj_xRNcGJEJoe32SXc62VcoF0opQc5xuL6pgH5rVfX3-hjJTHJV1i-QKlu8sPySBjiV8OW3qyWv0YuLY8TeoavG9RV0bnkd2N5x_7MnPFP5W4wcxkE_Y/s1600/guru+honor+demo.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left:1em; margin-right:1em&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; width=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqYkLtFprBV5kW4muSgx4N_V9tDj_xRNcGJEJoe32SXc62VcoF0opQc5xuL6pgH5rVfX3-hjJTHJV1i-QKlu8sPySBjiV8OW3qyWv0YuLY8TeoavG9RV0bnkd2N5x_7MnPFP5W4wcxkE_Y/s400/guru+honor+demo.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Para guru hononer berharap pemerintah harus lebih memperhatikan nasib guru, khususnya para guru honorer sebab secara matematis, tak mungkin seorang guru honorer mampu memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dengan mengandalkan upah yang sangat kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu dikatakan Saefulloh, Ketua Forum Aliansi Guru dan Karyawan Sukarelawan Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dikatakannya, sudah terlalu lama pemerintah tidak menjadikan permasalahan guru sebagai hal yang patut diprioritaskan.&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Saefulloh, yang telah 20 tahun menjadi guru honorer di SMPN 1 Karang Tengah, Garut, Jawa Barat, mengaku dipaksa bertahan hidup dengan upah yang jauh dari kata layak.. Umumnya, kata dia, upah yang diterima para guru honorer di Provinsi Garut hanya berkisar ratusan ribu rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Upah guru honorer antara seratus ribu, dan yang tertinggi hanya tiga ratus ribu sebulan. Tentu tidak cukup,&quot; kata Saefulloh saat ditemui Kompas.com di lokasi unjuk rasa guru honorer di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (20/2/2012). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diberitakan sebelumnya, ribuan guru honor berunjuk rasa untuk menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang Pengangkatan Guru Honorer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditambahkannya, ia bersama seluruh guru honorer lainnya bertekad akan terus bertahan di lokasi unjuk rasa sampai tuntutan mereka dipenuhi. Alasannya, kata Saefulloh, para guru honorer telah kehilangan banyak kesabaran dari saat pertama kali PP tersebut dicetuskan pada Januari 2011.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Kami sudah cukup sabar. Sejak setahun lalu dijanjikan PP akan ditandatangani pada Desember 2011, kemudian mundur ke Januri 2012. Tetapi sampai hari ini belum juga terealisasi. Kami optimistis. Kami akan tidur di sini sampai PP itu ditandatangani,&quot; ungkapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dijelaskan olehnya, PP tentang Pengangkatan Guru Honorer itu akan mengatur mekanisme pengangkatan guru honorer di seluruh Indonesia. Karena sampai saat ini, nasib guru honorer tidak pernah jelas soal kapan dan bagaimana mekanisme pengangkatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Nasib kami akan seperti apa, belum jelas. Apakah otomatis diangkat atau melewati tes. Itulah mengapa kami mendesak Presiden segera menandatangani PP tersebut,&quot; pungkasnya. &lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/20/1152350/Guru.Honorer.Kami.Sudah.Cukup.Sabar&quot;&gt;edukasi kompas.com&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/guru-honorer-kami-sudah-cukup-sabar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqYkLtFprBV5kW4muSgx4N_V9tDj_xRNcGJEJoe32SXc62VcoF0opQc5xuL6pgH5rVfX3-hjJTHJV1i-QKlu8sPySBjiV8OW3qyWv0YuLY8TeoavG9RV0bnkd2N5x_7MnPFP5W4wcxkE_Y/s72-c/guru+honor+demo.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-247704486249240264</guid><pubDate>Sat, 03 Mar 2012 07:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-09T13:13:45.119+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sore Ini Guru Honorer-Menpan Bahas RPP</category><title>Sore Ini Guru Honorer-Menpan Bahas RPP</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX2j8grQK61nT2BpaRbAVd5bk9-JtDrqKKyQYv2yo39SXVzn3sog5qSj4SQgVzs7mzH1RflqFbgaPfZT0asTgnR8x_5Y7ISuO0NsmqMalgQB7hD7DfyfV-xEQbM-V_hXuy-SDsDXg1Dkjl/s1600/Guru+Honor+Demo1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left:1em; margin-right:1em&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; width=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX2j8grQK61nT2BpaRbAVd5bk9-JtDrqKKyQYv2yo39SXVzn3sog5qSj4SQgVzs7mzH1RflqFbgaPfZT0asTgnR8x_5Y7ISuO0NsmqMalgQB7hD7DfyfV-xEQbM-V_hXuy-SDsDXg1Dkjl/s400/Guru+Honor+Demo1.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia bersama perwakilan guru honorer akan menggelar pertemuan dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar, Selasa (21/2/2012). Pertemuan dijadwalkan akan berlangsung pada sore nanti. Dalam pertemuan itu, rencananya kedua belah pihak akan membahas finalisasi rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang penyelesaian tenaga honorer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Seperti diberitakan kemarin, Ketua PB PGRI mendampingi tim guru honorer untuk melakukan negosiasi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pertemuan itu, Presiden diwakili oleh Menpan Azwar Abubakar dan Sekretaris Kabinet Dipo Alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dihubungi, Sulistiyo yakin RPP akan disahkan. Setelah itu, kata dia, Menpan juga akan mengangkat sekitar 160.000 guru honorer yang dibayar dengan dana APBN (kategori K-1) dan secara bertahap 600.000 guru honorer akan diangkat sekolah (kategori K-2, non APBN) pada 2013.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Sore ini, pukul 15.00, kami akan membahas finalisasi RPP tentang penyelesaian tenaga honorer di Kemenpan,&quot; kata Sulistiyo, Selasa (21/2/2012).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski tuntutan akan ditindaklanjuti, para guru honorer tetap kembali menggelar unjuk rasa menuntut Presiden segera mengesahkan RPP tersebut hari ini. Dihubungi terpisah, Ketua Umum Forum Tenaga Honorer Sekolah Negeri Indonesia (FTHSNI) Ani Agustina mengatakan, saat ini para guru honorer tengah bersiap menuju titik unjuk rasa di depan Istana Negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Semua peserta aksi bermalam di Masjid Istiqlal. Pukul 09.00 kami berencana kembali ke depan Istana,” kata Ani yang juga merupakan koordinator unjuk rasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pantauan Kompas.com, ratusan personel kepolisian dari Polres Gambir, Jakarta Pusat, tengah melakukan apel persiapan di kawasan Monumen Nasional (Monas), di depan Istana Negara.&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/21/09564648/Sore.Ini.Guru.Honorer-Menpan.Bahas.RPP&quot;&gt;edukasi.kompas.com&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/sore-ini-guru-honorer-menpan-bahas-rpp.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX2j8grQK61nT2BpaRbAVd5bk9-JtDrqKKyQYv2yo39SXVzn3sog5qSj4SQgVzs7mzH1RflqFbgaPfZT0asTgnR8x_5Y7ISuO0NsmqMalgQB7hD7DfyfV-xEQbM-V_hXuy-SDsDXg1Dkjl/s72-c/Guru+Honor+Demo1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-5444163286317377978</guid><pubDate>Sat, 03 Mar 2012 07:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-03T14:20:55.691+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Video Kegiatan</category><title>Video Kegiatan</title><description>DRAMA dan TARIAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DRAMA&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=ziyKrZA_bk4&amp;feature=youtu.be&quot;&gt;Gara-gara Berondong&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=7NGRmWSVKL8&amp;feature=youtu.be&quot;&gt;Nyesel deh....!!!&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TARIAN&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=ziyKrZA_bk4&amp;feature=youtu.be&quot;&gt;Dolanan (sim-sim)&lt;/a&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2012/03/video-kegiatan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-3236311937410610773</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T20:03:02.352+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Menumbuhkan Kreatifitas Siswa</category><title>Agar Siswa Kreatif, Beginilah Tipsnya!</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Semua guru menghendaki agar siswanya kreatif&lt;/b&gt; namun tidak semua guru mau menerapkan secara langsung di kelas. Kadang, guru berkomentar kalau siswanya tidak kreatif. Padahal, siswa tersebut dikondisikan untuk kreatif saja tidak. Inginnya, siswa kreatif dengan sendirinya, seperti hujan datang dari langit. Tentu, siswa tidak akan pernah dapat kreatif. Kreativitas tidak muncul begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila guru menginginkan&lt;b&gt; siswa menjadi kreatif&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;peran aktif guru&lt;/i&gt; sangat dibutuhkan. Melalui berbagai cara sederhana, siswa pun dapat tumbuh menjadi orang yang kreatif sesuai harapan. Ketahuilah bahwa &lt;b&gt;Kreativitas siswa dimulai sejak usia 2 tahun&lt;/b&gt;, karena pada usia tersebut kemampuan kognitif mereka sudah lebih berkembang dan alur berpikirnya sudah mulai jelas, sehingga berbagai kegiatan kreatif sudah mulai bisa dilakukan bersama mereka, apalagi di kelas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kreativitas itu sendiri berbentuk &lt;b&gt;kreativitas dalam berbagai bidang&lt;/b&gt;, mulai dari &lt;b&gt;bidang seni&lt;/b&gt; hingga kreatifitas dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu dapat dirangsang melalui berbagai kegiatan bermain. Dari situ, bukan tidak mungkin bakat siswa terlihat sehingga guru bisa membantunya mengembangkan bakat tersebut. Untuk itu, &lt;i&gt;&lt;b&gt;berikut ini Tips yang perlu diketahui guru dalam rangka mendidik siswa menjadi kreatif:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Ciptakan Suasana Yang Bebas dan Menyenangkan. &lt;/b&gt;Kreativitas akan muncul jika siswa melakukan kegiatannya tanpa ada tekanan dari guru, misalnya banyaknya aturan-aturan yang harus diikut, atau guru yang terlalu banyak berkomentar. Dengan demikian siswa akan bebas untuk mencoba melakukan berbagai hal yang ia inginkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Biasakan Memberi Pertanyaan Yang Membutuhkan Lebih Dari Satu Jawaban.&lt;/b&gt; Misalnya, saat mengajarkan siswa berhitung lebih baik pertanyaan: “Enam itu sama dengan angka berapa ditambah angka berapa?” daripada “Tiga tambah tiga sama dengan berapa?”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Tanggapi Pertanyaan Siswa Dengan Serius. &lt;/b&gt;Tanggapilah semua pertanyaan yang diajukan siswa, tentunya dengan bahasa yang mudah ia pahami. Bila perlu carilah jawabannya dari berbagai sumber.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Berikan Penekanan Pada Proses Bukan Hasil. &lt;/b&gt;Hasil tidak terlalu penting. Jadi jangan mengharuskan siswa membuat sesuatu yang luar biasa atau bagus. Gunakan standar untuk siswa seusianya, bukan standar guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Jangan Terlalu Banyak Membantu.&lt;/b&gt; Ini adalah karya siswa, bukan guru. Jadi biarkan ia melakukannya sendiri dengan hasil yang tidak sama dengan persepsi guru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://garduguru.blogspot.com/2009/06/agar-siswa-kreatif-beginilah-tips.html&lt;br /&gt;
Oleh : Dr. suyatno, M.Pd&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/agar-siswa-kreatif-beginilah-tipsnya.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-1873916538987795981</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T19:42:08.205+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cara Mudah untuk Mengenali Bakat Tersembunyi Anda</category><title>Cara Mudah untuk Mengenali Bakat Tersembunyi Anda</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Menurut kamus dan pendapat banyak ahli, bakat (talenta) adalah anugrah—berfungsi sebagai penyokong alami—bagi seseorang yang memilikinya. Semacam kemampuan alami yang kita miliki, mulai dari berbagai jenis kreatifitas hingga atletisitas. Kita semua memilikinya, hanya saja seringkali dan kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana cara mengetahui apa talenta kita. Sesekali mungkin sesungguhnya bakat itu muncul ke permukaan tetapi kita tidak menangkapnya.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menemukan bakat tersembunyi jauh lebih sederhana dari yang anda bayangkan. Menurut saya, setidaknya ada 5 cara mudah untuk menemukan bakat tersenyembunyi anda;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Dengarkan orang lain – &lt;/b&gt;“Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, kuman di seberang lautan kelihatan”. Ungkapan yang sama juga berlaku dalam melihat bakat tersembunyi. Dibandingkan diri sendiri, orang lain—seringkali—jauh lebih tahu dibandingkan anda. Besar kemungkinannya orang lain sudah pernah (bahkan berkali-kali) mengatakan bahwa anda sangat menguasai bidang tertentu. Hanya saja selama ini mungkin anda mengabaikannya—tidak menganggap serius. Sekarang saatnya mulai mendengarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;2. Temukan sesuatu yang sangat mudah dilakukan - &lt;/b&gt; Suatu saat mungkin anda melihat seseorang [dengan jenis kelamin dan usia yang sama] begitu kesulitan melakukan sesuatu, tetapi anda bisa melakukan aktifitas yang sama dengan super mudah. Lain waktu, anda menemukan orang lain perlu ambil kursus atau sekolah khusus untuk melakukan sesuatu tetapi anda bisa melakukan hal yang sama dengan sangat mudah tanpa kursus atau sekolah khusus. Berarti aktifitas tersebut adalah bakat tersembunyi anda. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Temukan sesuatu yang paling anda nikmati –&lt;/b&gt; Bakat tersembunyi sering kali menunjukan dirinya sendiri ke permukaan. Adakah majalah untuk topik [atau komunitas penghobi] tertentu yang tidak bisa anda lewatkan? Atau suatu aktifitas yang sangat ingin anda lakukan tetapi selama ini tidak karena keterbatasan tertentu [waktu/biaya/alat]. Besar kemungkinan aktifitas tersebut adalah bakat tersembunyi anda. Tidak ada jaminan pasti bahwa setiap yang anda sukai merupakan bakat tersembunyi anda, tetapi kerap ada diantaranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;4. Temukan sesuatu yang sering anda bicarakan – &lt;/b&gt;Adakah topic tertentu yang anda sadari atau tidak, selalu menjadi topik anda? Suatu ketika mungkin anda membicarakan topik lain, tetapi ujung-ujungnya lari ke topik yang biasa anda bicarakan lagi. Bisa jadi aktifitas yang ada dalam topik tersebut adalah bakat tersembunyi anda, atau setidaknya terkait.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5. Tanyakan pada orang lain –&lt;/b&gt; Dalam banyak hal, cara termudah dan tercepat untuk mengetahui sesuatu adalah dengan bertanya. Tanya pada siapapun yang anda pikir bisa dan bersedia memberikan penilaian yang obyektif. Tidak selalu orang terdekat [pacar/pasanga], bisa jadi mereka justru paling tidak obyektif. Minta mereka mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk anda, yang anda butuhkan hanya kelebihan anda [anda tidak sedang merenungi hidup, tetapi menggali bakat tersembunyi]. Sebisa mungkin usahakan dengan pertanyaan langsung “menurut kamu, apa bakat aku?”. Tanyai mereka secara terpisah, catat. Setelah semua jawaban terkumpul, perhatikan sesuatu yang paling sering disebutkan [oleh orang berbeda]. Jika jumlah orang yang anda tanya cukup banyak, saya yakin pasti ada sesuatu yang sering disebutkan. Anda boleh tersenyum, karena 90% itu adalah bakat tersembunyi anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“So what?”&lt;/b&gt; mungkin anda bertanya demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bakat tersembunyi anda dapat diperguakan untuk mendukung kreatifitas anda, mulai dari hal terkecil hingga urusan pekerjaan, bahkan wiraswasta. Bayangkan jika ternyata anda berbakat untuk bidang tertentu, tetapi selama ini anda lebih banyak berputar-putar dibidang lain. Itulah salah satu penyebab mengapa ada orang yang pada masa tertentu tiba-tiba saja menjalankan bisnis yang tidak pernah dilakukan sebelumnya, tetapi boom! Sukses. Karena mereka baru saja menemukan dan menggunakan bakat tersembunyinya. Bakat tersembunyi bisa anda manfaatkan untuk banyak hal, entah itu untuk membuat produk atau jasa yang ingin anda kembangkan, bahkan untuk menambah jaringan hubungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lebih dari itu, saat bakat tersembunyi anda sudah tergali dan termanfaatkan dengan maksimal, segala sesuatu yang anda lakukan akan berjalan dengan lebih efektif, usaha dan energi teralokasi benar-benar pada sesuatu yang benar-benar merupakan kelebihan anda. Saat bekerjapun anda tidak akan meresa bekerja, melainkan benar-benar merasa sedang menjalani hidup. Hidup yang ringan, seimbang dan menyenangkan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber :&lt;/b&gt; &lt;i&gt;http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/23/cara-mudah-untuk-mengenali-bakat-tersembunyi-anda/&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/cara-mudah-untuk-mengenali-bakat.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-8642448236834172523</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T19:15:04.206+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mengatur Waktu Belajar</category><title>Mengatur Waktu Belajar</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Masih bingung mengatur waktu buat belajar? Coba deh simak saran-saran di bawah ini, supaya prestasi akademik kita tambah oke, pikiran tidak ruwet.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Perhatikan kapan waktu luang yang kita miliki. Waktu luang di sini adalah waktu yang membebaskan kita dari segala aktifitas sekolah, les tambahan atau kursus keterampilan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Perhatikan juga kondisi yang menurut kita paling fit buat belajar. Misal di malam hari atau justru dini hari sebelum matahari terbit. Ingat lho, tidak semua waktu belajar tuh sama buat semua orang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Catat semua waktu-waktu tersebut. Kita mulai atur waktu luang yang ada untuk porsi belajar dan rekreasi atau istirahat. Buatlah jadwal untuk mengatur waktu belajar, dan jangan lupa untuk menyesuaikan dengan pelajaran yang ada. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
4. Sesi belajar ideal adalah 50 menit ditambah dengan waktu selingan untuk istirahat. Kalau sudah merasa bosan, buat variasi dalam belajar. Misal ganti lokasi belajar, atau ajak teman untuk belajar bareng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jaga motivasi belajar. Caranya bisa dengan membuat target atau mantapkan dalam mental kita kalau dengan belajar suatu materi baru berarti kemampuan kita akan bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Jangan lupa dengan kondisi badan. Kesehatan adalah segalanya. Kalau kita sakit, segala usaha yang sudah dikerjakan akan sia-sia. Maka dari itu, waktu untuk istirahat jangan lupa disertakan dalam agenda jadwal belajar. Sebagai pondasi, selalu makan makanan yang bergizi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Waktu belajar tidaklah selalu diisi dengan mengisi pekerjaan rumah. Buatlah waktu untuk membaca sebuah materi pelajaran dua kali. Pertama, sebelum diterangkan guru supaya kita punya gambaran. Kedua, sesudah diterangkan guru supaya materi dapat terpatri lama di ingatan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://junaidi.web44.net/012aturwaktubelajar.htm&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/mengatur-waktu-belajar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-3381456258454121224</guid><pubDate>Sat, 06 Aug 2011 12:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T19:05:02.274+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tips Kreatif Menumbuhkan Semangat Belajar</category><title>Tips Kreatif Menumbuhkan Semangat Belajar</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk mendapatkan ilmu hanya ada satu cara yaitu belajar... Belajar sendiri membutuhkan kreativitas agar kualitas dan semangat belajar semakin meningkat. Beberapa pikiran kreatif dibutuhkan untuk menciptakan suasana belajar bagi kita atau putra-putri kita misalnya :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Meja Belajar Lebih Rapi. Meja, adalah salah satu perangkat utama kegiatan belajar. Untuk itu wajib ada dan ditata sedemikian rupa agar Anak lebih betah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Jadwal Pelajaran Karya Sendiri. Persilahkan Anak membuat sendiri Jadwalnya sehingga dapat memicu kreatifitasnya&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. Musik Ringan Pemicu Semangat. Irama dan musik adalah spesifikasi bidang kerja otak kanan, yang jika diaktifkan akan mampu menghilangkan kejenuhan anak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
7. Bermain Kartu Matematika. Permainan kartu, biasanya sangat menarik perhatian anak. Bahkan hanya sekadar mengoleksi beragam gambarnya pun mereka sudah senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. TTS Sejarah. Cara menghafal dengan menggunakan hanya otak kiri, melelahkan dan tidak optimal. Sebaliknya dengan menciptakan sebuah permainan dan teka-teki tentang hafalan tersebut, akan mengaktifkan otak kanan dan membuat hafalan menjadi mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Spidol Warna-Warni. Sensasi warna akan mengaktifkan otak kanan anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Foto, Motto dan Hiasan di Dinding. Sifat dasar manusia adalah ia suka melihat dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
Kebanggaan itu, bisa dimanfaatkan untuk memacu semangat mereka dalam belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Membuat Rekaman Pelajaran. Beberapa anak memiliki gaya belajar audio, yang lebih suka belajar menggunakan telinga, membuat rekaman pelajaran akan membantunya menangkap maksud pelajaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.Perpustakaan Mini. Semakin banyak buku dan fasilitas belajar yang tersedia, akan semakin mudah membangkitkan semangat belajar anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Merangkum dengan Mind Mapping. Cara kerja otak ternyata tidak linear, tetapi ke segala arah. Itu sebabnya, cara mencatat dengan hanya searah, yaitu horizontal dari kiri ke kanan, justru membuat otak cepat lelah. Dengan membuatnya menyebar ke segala arah, lebih mudah untuk ditangkap otak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Lagu Khusus Untuk Hafalan Pelajaran. Ciptakan lirik khusus sesuai bahan pelajaran yang dipelajari, menggantikan lirik lagu favorit yang sudah dihafal anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Kartu Pos Rumus-Rumus. Semakin menarik anak membuat hiasan untuk daftar kumpulan rumusnya, maka semakin bersemangat mereka menghafalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Percobaan-Percobaan Kecil. Percobaan sederhana, selain menggembirakan, juga memudahkan mereka untuk memahami bahan pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Seluruh Rumah Adalah Tempat Belajar. Pintu kamar, televisi, rak buku, hingga dinding kamar mandi yang ditempelkan kartu rumus/hafalan bisa berfungsi sebagai tempat belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Membuat Pertanyaan Sendiri. Pada dasarnya, orang lebih suka membuat pertanyaan daripada jawaban. Mintalah anak membuat pertanyaan sebanyak-banyaknya, karena secara langsung mereka telah menemukan jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Jika anda seorang guru, anda dapat meminta para siswa di kelas untuk membagi ide-ide kreatifnya dalam belajar kepada teman-temannya, dengan demikian akan memacu siswa yang lain untuk memberikan ide kreatif yang tersimpan selama ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/theory-criticism/1957259-tips-kreatif-menumbuhkan-semangat-belajar/#ixzz1UFXa2Bt6&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/tips-kreatif-menumbuhkan-semangat.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-5543239441051223381</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 17:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T00:43:44.612+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris</category><title>Cara Cepat Belajar Bahasa Inggris</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bahasa Inggris merupakan bahasa asing utama yang sangat dibutuhkan saat ini. Di sekolah, di kantor dan dimanapun bahasa inggris merupakan bahasa yang diperlukan untuk memperlancar komunikasi dengan dunia luar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tapi untuk sebagian orang, bahasa inggris memanglah hal yang sulit. Tapi tentu masih ada jalan untuk bisa memahaminya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ada banyak cara yang bisa menjadi jembatan agar kita bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris: orang-orang di perjalanan, bisnis, pendidikan, hobbi, para teman atau keluarga.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tetapi, “Dapatkah aku benar-benar mengembangkan ketrampilan-ketrampilan komunikatif dengan menggunakan lidah baru?” Jawabnya: DAPAT. Syaratnya anda harus melaksanakan dan mempraktekkan tips cepat ini dalam hidup sehari-hari.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1.Mengambil kursus pendek:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejumlah kursus-kursus bahasa sekarang tersedia di mana-mana, di universitas atau perguruan tinggi lokal. Internet demikian juga banyak yang memberi layanan kursus bahasa asing. Silakan ketik kata kunci seperti: learning English, atau belajar bahasa Inggris online, kursus bahasa Inggris, dsb. Nah, ambillah kursus bahasa Inggris ini untuk memulai usaha anda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
2.Mimicking:&lt;br /&gt;
“Mom, he’s mocking me!” “Ibu, ia sedang mengejek aku!” Pernahkah anda mendengar keluhan ini bila setelah adikmu yang paling kecil menirukan dari orang lain? Seseorang menirukan kata, bunyi – dalam pidato, termasuk segala aksi panggung. Itu disebut mimicking dan cara itu sangat efektif bagi anda untuk belajar speaking.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosedur sangat sederhana, anda mengulangi persisnya, kata demi kata, segala yang dikatakan oleh model tersebut. Model itu penyiar berita, karakter di sebuah komedi, pembawa cerita atau narrator, suara yang berasal dari radio atau operator kaset. Jangan cemas jika hasilnya belum sempurna. Anda akan belajar dengan berbahasa Inggris dengan lidah. Anda akan memperoleh kecepatan dan menenangkan cara ini dengan praktek langsung. Anda akan melakukan lebih cepat dibanding yang anda kira.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.Membaca Dengan Suara Keras:&lt;br /&gt;
Salah satu terik belajar bahasa Inggris membaca dengan keras. Bacalah teks-teks bahasa Inggris dengan suara keras. Teknik tangguh ini tidak hanya mengembangkan ketrampilan-ketrampilan pengucapan kata-kata, berperan untuk meningkatan keterampilan mendengarkan, tatabahasa dan kosa kata juga. Pelajarilah bahasa Inggris dengan membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Menonton TV: Jika anda sudah berlangganan TV kabel, adakah sebuah stasiun menyiarkan di dalam bahasa Inggris yang anda adalah tertarik akan? Banyak stasiun TV yang menyiarkan acaranya dengan menggunakan bahasa Inggris. Nah Anda bisa belajar bahasa Inggris dari menonton TV itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.Mendengarkan Musik:&lt;br /&gt;
Mendengar musik merupakan tips dan trik belajar bahasa Inggris yang menyenangkan. Anda juga tidak asing dengan lagu-lagu bahasa Inggris, kan. Pilihlah lagu dengan syair yang mudah dan dinyanyikan dengan tempo yang lebih lambat. Anda juga bisa melakukan dengan karaoke bersama teman atau keluarga. Dengan bantuan internet, bahkan, anda dapat mencari lagu-lagu bahasa Inggris secara online. Di internet anda dapat mnemukan ratusan bahkan ribuan nyanyian online&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.Membaca:&lt;br /&gt;
Berhenti di perpustakaan untuk meminjam buku-buku tata bahasa dan materi belajar bahasa Inggris. Tatabahasa merupakan pemandu yang baik dalam belajar bahasa Inggris. Dan membaca secara umum merupakan modal awal belajar bahasa Inggris. Membacalah artikel bahasa Inggris sebanyak mungkin, dan anda akan menuai hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membaca juga bisa dipahami sebagai memahami orang lain. Pergilah ke tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh para penutur bahasa Inggris, seperti di restaurant, supermarket, tempat wisata, forum chatting, klub bahasa Inggris, atau ke mana saja, yang memungkinkan anda dapat berbicara dan mempraktekkan bahasa Inggris anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat Mencoba!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Source : http://islam-download.net/cara-mudah-cepat/cara-cepat-belajar-bahasa-inggris.html&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/cara-cepat-belajar-bahasa-inggris.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-5955225682168128004</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T00:12:23.004+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cara Belajar Yang Efektif dan Efisien</category><title>Cara Belajar Yang Efektif dan Efisien</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anda seorang pelajar tentunya tidak asing lagi mendengar kata “Ujian”.. Mungkin sebagian orang beranggapan bahwa ujian itu tidak mengasyikkan,,karena mereka harus menyisihkan waktu mereka untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar nilai nya tidak menjadi jelek.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nah iNi dia tips-tips buat cara belajar yang efektif….Ada beberapa tip dalam mengembangkan sistem belajar yang efektif dan efisien.yang terdiri dari&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Fresh&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pastikan pikiran dan tubuh kalian harus Fresh,,pikiran harus fokus dari pelajaran,jangan ada masalah atau sesuatu yang dipirkan,jika ada lebih baik jangan belajar dulu,,karena hanya akan menghabiskan waktu belajar kalian saja,belum tentu apa yang kalian pelajari masuk ke otak. Jika sudah lebih fresh pikirannya baru deh belajar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak hanya pikiran tapi tubuh juga harus fresh,jika kita lelah lebih baik kita beristirahat sejenak jangan dipaksakan untuk belajar ,karena terkadang tubuh yang lelah membuat kita susah untuk berpikir.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Mood – Suasana Hati:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu, lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadimu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Understand – Pemahaman:&lt;br /&gt;
Tandai informasi bahan pelajaran yang TIDAK kamu mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit tersebut atau menanyakan kepada teman di waktu sebelum kita memulai ujian atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Recall – Ulang:&lt;br /&gt;
Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan dari unit tersebut dengan kata-kata yang kamu buat SENDIRI, seperti membuat suatu singkatan yang mewakili suatu kata, atau hal-hal yang mudah kalian ingat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Energy – Stamina&lt;br /&gt;
Dalam proses belajar tentunya membutuhkan energy atau stamina yang cukup banyak, Oleh karena itu sebelum kita belajar pastikan dulu keadaan kita tidak lapar, jika lapar lebih baik kita makan terlebih dahulu, karena dengan makan membuat stamina kita kembali terisi lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Digest – Telaah:&lt;br /&gt;
Kembalilah pada unit yang tidak kamu mengerti dan PELAJARI KEMBALI keterangan yang ada. Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya, atau diskusikan dengan teman atau guru/dosen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Expand – Kembangkan:&lt;br /&gt;
Jangan membiasakan diri mengcopy semua kalimat atau penjelasan yang ada dibuku,karena hanya membutuhkan waktu yang lama dan terkadang ketika ujian membuat kita “blank”,,oleh karena itu lebih baik lagi jika kita hanya menghapal kata kunci atau yang menurut kalian kalimat yang penting, dari situ kalian bisa kembangkan lagi yang intinya sama dengan yang ada di buku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Review – Pelajari Kembali:&lt;br /&gt;
Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Ingatlah strategi yang telah membantu kamu mengerti dan/atau mengingat informasi. Jadi, terapkan strategi tersebut untuk cara belajarmu berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TeriMakasih sUdah Berkunjung Ke Blog Ini&lt;br /&gt;
Dikutip dari Blog &lt;a href=&quot;http://awan-eleven.blogspot.com/2010/01/cara-belajar-yang-efektif-dan-efisien.html&quot;&gt;Septiawan Nurhartanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/cara-belajar-yang-efektif-dan-efisien.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-6511915855370753434</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-06T00:00:31.051+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">KIAT MENJADI PELAJAR YANG SUKSES</category><title>KIAT MENJADI PELAJAR YANG SUKSES</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;MENJADI PELAJAR SUKSES&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keyakinan diri tak hanya diperlukan oleh orang dewasa, begitu juga anak-anak. Orangtua bisa membantu anak dalam mengembangkan keyakinan dirinya ini&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Self confidence is not only for adult but also for children. Parents can help their children to improve children’s confidence.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Soal keyakinan diri ini dinyatakan Adam Khoo (31), penulis buku I Am Gifted, So Are You! yang selama sekitar lima tahun terakhir memberikan pelatihan motivasi kepada sekitar 20.000 orang. Menurut dia, pembangkit motivasi yang paling dasar adalah keyakinan pada diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal itu tak hanya dibutuhkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Masalah pada anak-anak terutama, sering kali orang-orang di luar si anak, seperti orangtua dan guru, justru memberikan label negatif kepada mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kata-kata seperti “malas”, “tidak bisa”, “lemah dalam matematika” dan sebagainya, membuat sugesti negatif bagi anak tersebut. Padahal anak-anak masih memerlukan proses dalam mengembangkan keyakinan dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Anak-anak, terutama yang sudah bersekolah, umumnya menghadapi berbagai masalah serupa. Mulai dari mudah beralih perhatian, hanya mampu berkonsentrasi dalam rentang waktu singkat, cenderung ceroboh, menganggap guru-guru membosankan, sampai mudah menyerah, dan tidak tertarik pada pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deretan keadaan tersebut masih ditambah lagi dengan kecanduan permainan komputer, televisi, internet, dan perilaku orangtua yang mereka rasakan terlalu menekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ibu saya pernah bilang, saya mengikuti dia karena memang gennya lemah dalam matematika. Perkataannya itu membuat saya jadi percaya kalau saya memang lemah berhitung,” kata Adam mencontohkan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal rasa percaya diri itulah yang harusnya dibangun pertama kali sebagai modal dasar. Untuk itu, setiap orang harus membuat daftar yang isinya semacam pengetahuan tentang keterbatasannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan itu bisa diperoleh dari komentar teman, perasaan diri sendiri, pengalaman sebelumnya, dan komentar orangtua atau guru. Setelah itu, selidikilah segala sesuatu yang dipercaya sebagai keterbatasan diri Anda tersebut. Selanjutnya, bantahlah daftar itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses tersebut membuat kita berbicara dengan diri sendiri. Contohnya, Anda percaya kalau Anda sangat pelupa. Namun anehnya, meski pelupa tetapi Anda bisa mengingat lirik lagu dengan mudah. Nama-nama artis dan film-filmnya juga bisa Anda hafalkan di luar kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau begitu, dari mana datangnya pemikiran bahwa Anda adalah seorang pelupa? Mungkin karena Anda selalu lupa apa yang sudah Anda pelajari pada waktu ujian. Ini bisa terjadi bukan karena Anda pelupa, tetapi sebab teknik menghafal Anda yang tidak cocok, atau topiknya tidak menarik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menumbuhkan rasa keyakinan diri, langkah berikutnya adalah tuliskan hal-hal yang akan terjadi kalau kepercayaan yang membatasi ini tetap Anda pegang teguh. Bertanyalah pada diri sendiri, apa saya tidak pernah mendapat nilai baik dalam ujian? Apa saya jadi tidak bisa mendapat universitas yang bagus? Pekerjaan yang baik? Gaji tinggi dan kehidupan yang nyaman?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal terakhir adalah mencari pemikiran baru yang bisa melawan kepercayaan lama. Kepercayaan lama yang amat membatasi tersebut. Selain itu, sertakan juga bukti-bukti pendukungnya. Misalnya, saya berpikir kalau saya orang yang bermotivasi. Buktinya, saat akan ikut pertandingan bola basket, saya bisa berlatih selama empat jam sepulang sekolah. Padahal saya telah lelah belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode tersebut hanyalah cara awal untuk membangkitkan motivasi, dan melawan pikiran-pikiran negatif yang selama ini membatasi seorang siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudi atas hidupnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
· Ada lima hal yang dipercaya pelajar-pelajar yang sukses. Pertama, mereka bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, kalau nilai Anda jelek, itu bukan karena guru, tetapi diri Anda sendiri. Pemikiran ini membuat setiap siswa secara sadar mengambil kemudi atas hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, tidak ada yang namanya kegagalan. Di dunia ini yang ada hanyalah masukan. Setiap orang pasti pernah menjumpai kegagalan. Hanya saja, orang-orang yang sukses selalu menggunakan kegagalan itu sebagai umpan balik atas apa yang sedang dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, berpikir bahwa kalau orang lain bisa, Anda juga pasti bisa. Alasannya, ukuran otak semua orang sama besarnya. Mereka berhasil, hanya karena mereka bisa menggunakan otaknya dengan strategi yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat, anggaplah belajar itu sebagai bermain. Anak-anak yang berhasil di sekolah menyukai belajar sama seperti mereka senang bermain. Ini menjadi salah satu kunci keberhasilan. Anda harus mencintai apa yang Anda lakukan, kalau Anda ingin berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelima, janganlah Anda terpaku pada sesuatu hal, sebab banyak hal yang selalu berubah. Oleh karena itu, jangan kaku untuk menerapkan satu strategi tanpa mau berubah sama sekali. Mereka yang tidak bisa beradaptasi pada hal-hal yang baru, akan tertinggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah seorang anak bisa mendapati konsep positif yang dibangun dalam dirinya, selanjutnya adalah menguasai beberapa hal teknis dalam belajar. Setiap orang memiliki metode belajar masing-masing. Akan tetapi, ada beberapa kunci yang harus dipegang seperti kemampuan membaca cepat, kemampuan mengingat, dan memetakan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masing-masing memiliki metode untuk dipelajari,” kata Adam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap anak pada akhirnya harus bisa menemukan dirinya untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Pertama, tujuan harus jelas. Misalnya, ulangan Matematika saya harus bernilai 10. Saat itu, otak dengan sendirinya punya kesadaran, tak ada satu kesalahan pun yang bisa ditoleransi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, buatlah jadwal dan laksanakan dengan konsisten. Dengan teknis belajar yang tepat seperti cara belajar cepat dan menghafal efektif, setiap anak selanjutnya siap untuk mengaplikasikan pada berbagai tipe pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menguji diri sendiri, yakinlah bahwa Anda siap menghadapi ujian sesulit apa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Membaca Efektif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan membaca efektif membuat seseorang bisa menghemat waktu belajar. Konon, dari seluruh teks, hanya 20 persen yang benar-benar mengandung informasi yang diperlukan. Sekarang, bagaimana caranya menyaring seluruh teks menjadi 20 persen itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kenalilah berapa kecepatan membaca Anda. Untuk membaca dalam bahasa Inggris, 240-360 kata per menit adalah angka rata-rata. Usahakan kecepatan membaca hingga 600-840 kata per menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Jangan teruskan kebiasaan membaca yang memperlambat seperti bibir yang bergerak, dan suara di kepala yang mengulang apa yang Anda baca. Selain itu, jangan mengulang-ulang membaca kata atau kalimat yang sama karena kurang percaya diri. Ketidakmengertian karena kosa kata yang kurang harus diatasi lebih dahulu. Jangan pula membaca kata per kata, tetapi tangkap informasi secara umum saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Latihlah mata Anda, sehingga dalam satu penglihatan bisa langsung menyapu enam sampai sepuluh kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berlatih dengan menggunakan musik bertempo tinggi. Otomatis, Anda akan membaca secepat tempo musik yang didengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Coba juga untuk membaca sebuah bab dari belakang ke depan. Alasannya, bagian belakang biasanya berisi kesimpulan. Mengerti kesimpulan akan membantu Anda menangkap hal-hal berarti, ketika Anda membaca seluruh bab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Terus berlatih dan berusaha mencapai kecepatan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikutip dari : http://denias.wordpress.com/menjadi-pelajar-sukses/&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/kiat-menjadi-pelajar-yang-sukses_06.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-2555711262438001930</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 16:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-05T23:24:38.829+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Metode Pendidikan Anak yang Efektif</category><title>Metode Pendidikan Anak yang Efektif</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ada 5 metode pendidikan anak yang efektif, antara lain :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Pendidikan dengan Keteladanan&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kita memberikan keteladanan pada anak dengan menceritakan :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;a. Ibadah Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;b. Kepemurahan Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kalau mau sesuatu, banyaklah member, nanti akan diberi. Pada umur 2-3 tahun, ego anak sudah mulai muncul, so ajarkan kepemilikan dan murah hati&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;c. Kezuhudan Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;d. Sikap tawadhu’ Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;e. Sikap dan penyantun Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;f. Sikap kesehatan dan keberanian Rasul&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Keteladan di atas akan lebih terekam pada diri anak, kalau sudah dilakukannya..&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
2. Pendidikan dengan Pembiasaan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biasakan anak dengan sesuatu yang baik&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebiasaan itu dipengaruhi oleh kondisi lingkungan&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ex : bagi anak perempuan, biasakan pakai jilbab sedari kecil (Harus dipraktekkan dan dibiasakan nih!!!)&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangan lupa kita juga harus punya argumentasi dalam memberlakukan kebiasaan itu pada anak.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak ada yang sulit kalau kita MAU!! PASTI BISA!!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
3. Pendidikan dengan Memberikan Pelajaran&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR79y2AKQarv3iuHzyqHdjwy-g1sL5mWpzFjV2e5wlFULpDbigjbRQOLQsppEWMJkycmd8g4mDSgnZzHSJb6ZrCjt5tT6QNLLj2LDaKsvN4IByIrXGnY_8TnbdDbqPtJL5gRbnf9k2ZVLB/s1600/ank.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR79y2AKQarv3iuHzyqHdjwy-g1sL5mWpzFjV2e5wlFULpDbigjbRQOLQsppEWMJkycmd8g4mDSgnZzHSJb6ZrCjt5tT6QNLLj2LDaKsvN4IByIrXGnY_8TnbdDbqPtJL5gRbnf9k2ZVLB/s400/ank.jpg&quot; width=&quot;267&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  a. Ajakan-ajakan/seruan-seruan yang argumentatif, misal : nasihat Lukman untuk anaknya yang tertuang dalam Q.S. Lukman.&lt;br /&gt;
b. Al Uslubul Qoshoshi : cerita-cerita yang ada di dalam&amp;nbsp; Al Qur’an, misal : kisah Nabi Yusuf, Maryam, Ashabul Kahfi, Bani Israil, dll&lt;br /&gt;
c. Pesan-pesan langsung/perintah-perintah praktis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Cara Rasulullah SAW mengajari putra/putrinya adalah dengan :&lt;br /&gt;
a. Dialog&lt;br /&gt;
b. Perumpamaan&lt;br /&gt;
c. Ringkas, tidak membosankan, tepat&lt;br /&gt;
d. Memperhatikan moment dan kesempatan&lt;br /&gt;
e. Mendahulukan yang lebih penting (menjawab pertanyaan tidak harus sama)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
4. Pendidikan dengan Pengawasan dan Pengamatan&lt;br /&gt;
Hal yang diamati antara lain :&lt;br /&gt;
a. Dimensi Iman (hatinya)&lt;br /&gt;
b. Dimensi Akhlak (tingkah lakunya)&lt;br /&gt;
c. Dimensi Pengetahuan (akalnya)&lt;br /&gt;
d. Dimensi Fisik&lt;br /&gt;
e. Dimensi Psikis (emosinya)&lt;br /&gt;
f. Dimensi Tingkah laku sosial (sosialisasinya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
5. Pendidikan dengan Memberikan Sangsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Di kutip dari &lt;a href=&quot;http://www.aisyaavicenna.com/2009/06/metode-pendidikan-anak-yang-efektif.html&quot;&gt;Thicko_Zone&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/metode-pendidikan-anak-yang-efektif.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR79y2AKQarv3iuHzyqHdjwy-g1sL5mWpzFjV2e5wlFULpDbigjbRQOLQsppEWMJkycmd8g4mDSgnZzHSJb6ZrCjt5tT6QNLLj2LDaKsvN4IByIrXGnY_8TnbdDbqPtJL5gRbnf9k2ZVLB/s72-c/ank.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-7384055071791940781</guid><pubDate>Fri, 05 Aug 2011 16:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-05T23:06:12.341+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cara Mendidik Anak Yang Baik dan Positif</category><title>Cara Mendidik Anak Yang Baik dan Positif</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sungguh menakjubkan bagaimana orangtua yang bahagia dan positif akan menghasilkan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang mempesona.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berikut ini adalah cara mendidik anak yang baik dan positif :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Ajarilah anak untuk mencintai dan menyayangi dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Caranya : Perhatikan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Selalu sediakan waktu bagi diri Anda pribadi di tengah kesibukan harian Anda. Sediakan waktu bagi Anda untuk berolahraga, merawat diri, dan meluangkan waktu bagi pengembangan pribadi Anda. Sadarkah Anda bahwa orangtua yang tidak menghargai dirinya sendiri akan membesarkan anak dengan sifat serupa!&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
2. Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunjukkan betapa Anda sungguh bergembira atas kehadirannya. Jadilah ‘Ahli Gembira’ bagi putra-putri Anda. Ubahlah waktu mengerjakan tugas harian menjadi momen yang berharga dan istimewa. Bernyanyi, memeluk, berbagi tawa dan cerita dapat membuat saat-saat biasa menjadi tak terlupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jadilah pendengar yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Betapa sering orangtua menyela dan sibuk dengan nasehat-nasehat bahkan pada saat anak belum selesai berbicara? Simpanlah kekuatiran-kekuatiran Anda pada saat mendengarkan. Cobalah untuk mendengarkan anak Anda sepenuhnya tanpa menghakimi. Anda perlu menahan diri untuk tidak memikirkan atau memberikan pendapat Anda sendiri. Dengarkan mereka dengan hati yang terbuka dan penyayang. Lupakanlah diri Anda dan tempatkanlah diri Anda pada sudut pandang anak Anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ganti dari memberikan pendapat. Cara orangtua mendengarkan tanpa menghakimi akan membuat anak merasa diterima dan dimengerti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Seringlah tertawa, sebab kegembiraan itu menular!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggaplah pada saat ini diri Anda terpilih untuk melakukan tantangan ’30 hari tersenyum bersama keluarga’ ! Anda akan menyaksikan keajaiban dari kegembiraan dan kasih sayang yang Anda bawa kepada orang-orang di sekitar Anda. Buatlah momen sehari-hari menjadi luar biasa berkat kegembiraan dan semangat yang Anda bawa ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Berilah pengakuan dan penghargaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Latihlah mulai dari diri Anda sendiri untuk memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang telah Anda lakukan hari ini. Ajarlah diri Anda untuk memberikan penghargaan yang tulus atas tugas-tugas sederhana yang Anda berhasil Anda selesaikan. Penghargaan ini akan memberi semangat baru dalam hidup Anda untuk menjalankan tugas yang lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luangkanlah waktu 5 menit bagi diri Anda setiap harinya untuk memikirkan dan menuliskan kesuksesan-kesuksesan yang telah Anda raih hari ini. Rasakanlah bagaimana hidup Anda berubah, nikmatilah semangat baru yang mengisi setiap kegiatan Anda. Bagikanlah penghargaan ini juga kepada anak-anak Anda.  Berikanlah pujian, pengakuan dan penghargaan yang tulus kepada mereka. Ingat, penghargaan yang baik menekankan pada tindakan, bukan pada prestasi yang dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Disiplinkan anak dengan hormat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajarkanlah anak turut bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin dalam rumah tangga. Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan namun Anda harus terus-menerus konsisten. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab. Janganlah memarahi apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ajaklah mereka ke tempat sepi untuk berbicara hanya empat mata dengan Anda. Berikan pengertian sejelas-jelasnya mengapa tindakannya salah. Mintalah anak meminta maaf bila ia berbuat salah. Anda pun perlu meminta maaf kepada anak di saat-saat Anda bersalah atau melalaikan janji Anda kepada mereka. Disiplinkanlah anak tanpa menunjukkan kuasa dan kemarahan Anda, maka anak akan belajar tumbuh dengan pengendalian diri yang tinggi. Sampaikan pesan kepada mereka bahwa meskipun perilaku mereka masih perlu ditingkatkan, namun Anda sebagai orangtua tetap menyayangi dan menyukai mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Berilah ruang bagi putra-putri Anda untuk melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah, bahwa setiap orang, apalagi seorang anak, berhak untuk melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka anak Anda akan belajar untuk berani berjuang menghadapi tantangan dan resiko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Tanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan semangat saling membantu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunjukkanlah dalam keseharian Anda bagaimana Anda selalu konsisten dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga putra-putri Anda dalam kegiatan sosial yang secara rutin Anda lakukan. Putra-putri Anda pun akan tumbuh dengan karakter positif yang kuat dalam diri mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Fokuskanlah perhatian Anda pada hal-hal yang berjalan benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga Anda di saat-saat sulit. Anak-anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang optimis dan bersyukur setiap hari. Latihlah sikap positif dengan menemukan hal-hal positif dalam setiap hari Anda dan bersyukurlah atasnya selalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, dan ungkapkanlah besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh dengan lebih bergembira, percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/cara-mendidik-anak-yang-baik-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-4872092380874033270</guid><pubDate>Sun, 31 Jul 2011 17:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-08-01T00:37:07.098+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jam Kerja Guru DKI Jakarta Selama Bulan Suci Ramadhan</category><title>Jam Kerja Guru DKI Jakarta Selama Bulan Suci Ramadhan</title><description>&lt;a title=&quot;View Jam Kerja Guru Selama Bulan Suci Ramadhan 2011 on Scribd&quot; href=&quot;http://www.scribd.com/doc/61312198/Jam-Kerja-Guru-Selama-Bulan-Suci-Ramadhan-2011&quot; style=&quot;margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;&quot;&gt;Jam Kerja Guru Selama Bulan Suci Ramadhan 2011&lt;/a&gt;&lt;iframe class=&quot;scribd_iframe_embed&quot; src=&quot;http://www.scribd.com/embeds/61312198/content?start_page=1&amp;view_mode=list&amp;access_key=key-20gutw6bdrtxr0kqyqoj&quot; data-auto-height=&quot;true&quot; data-aspect-ratio=&quot;0.653846153846154&quot; scrolling=&quot;no&quot; id=&quot;doc_26627&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;600&quot; frameborder=&quot;0&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;(function() { var scribd = document.createElement(&quot;script&quot;); scribd.type = &quot;text/javascript&quot;; scribd.async = true; scribd.src = &quot;http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js&quot;; var s = document.getElementsByTagName(&quot;script&quot;)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/08/jam-kerja-guru-dki-jakarta-selama-bulan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-103173739171922519</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 17:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T00:39:36.941+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT</category><title>Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perubahan Ke Arah Positif&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perubahan kadang bisa merubah budaya yang ada, baik secara sadar maupun tidak sadar. Jika kita telaah biasanya perubahan ke arah yang positif seakan berat dirasakan apalagi untuk merubah kondisi yang ada sebelumnya, sebaliknya perubahan ke arah yang negatif kadang tak terasa dan dengan mudah cepat merubah kondisi yang ada menjadi lebih parah. Inilah yang kadang menjadi penyakit bagi kemajuan suatu bangsa, golongan dan bahkan individu tertentu. Jika ini dibiarkan maka akan tercipta suatu budaya yang memang demikian, sehingga bangsa ini dalam berbagai bidang pembangunan akan sulit untuk berhasil terlebih dalam bidang pendidikan yang terus dituntut untuk selalu mampu memberikan layanan bagi generasi bangsa ini secara inovatif. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Namun demikian kita yakin bahwa secara jujur kegagalan dan ketertinggalan yang sekarang kita alami diasumsikan karena adanya indikasi bahwa budaya kegagalan yang seharusnya hanya sebagai guyonan di atas justru masih kita menganutnya dan tumbuh secara mendarah daging pada diri kita. Untuk mengikisnya atau menggeser budaya tersebut memang akan memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun kita yakin dengan bergulirnya waktu tentunya semua pihak terus bergerak mencari solusi pemecahan agar budaya yang tumbuh adalah budaya yang justru kita inginkan bersama. Inilah yang selama ini telah dilakukan dalam proses pembangunan di bidang pendidikan. Dalam prakteknya ini merupakan tanggung jawab bersama baik secara kelompok bahkan institusi, mulai dari level atau jenjang paling bawah hingga level pengambil kebijakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana yang telah dicoba oleh Dirjen PMPTK (Penjamin Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan) yang telah bekerjasama dengan Seamolec sebagai fasilitator terbentuknya konsorsium pertama yang beranggotakan 10 universitas di Indonesia, termasuk di alamnya adalah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Hingga sekarang usia konsorsium pelaksana penyelenggaraan program sertifikasi dan peningkatan kualitas lulusan tenaga pendidik di level pendidikan dasar ini sudah berusia 2 tahun. Program layanan sertifikasi dan peningkatan kualifikasi tenaga pendidikan untuk level pendidikan dasar yang telah dilakukan oleh UPI yaitu dalam bentuk layanan perkuliahan melalui adopsi sistem dan teknologi pembelajaran jarak jauh yang dikenal dengan PJJ online. Karena yang menjadi saran adalah guru-guru SD di Kab/Kota yang belum S1 maka program ini biasa disebut dengan Program PJJ Online PGSD S1.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga sekarang jumlah mahasiswa program ini telah mencapai 300 orang yang terbagi ke dalam dua angkatan yaitu anggkatan 2006/07 dan 2007/08. Jumlah mahasiswa ini tersebar dalam 8 Kab/Kota yaitu: Kab Garut, Kab. Tasikmalaya, Kab. Ciamis, Kab. Sumedang, Kab. Bandung, Kota Bandung, Kab. Cianjur dan Kab. Sukabumi. Pada usia yang ke-2 tahun ini maka maka setidaknya sudah pantas untuk dievaluasi secara internal maupun eksternal. Tegasnya bahwa sebelum dievaluasi oleh orang lain maka sudah selayaknya kita terlebih dulu mengevaluasi diri sendiri. Sudahkan UPI sebagai anggota konsorsium yang memiliki tugas sebagai pelaksana atau penyelenggara sistem pembinaan dan perkuliahan bagi para pendidik di daerah telah berhasil mewujudkan budaya perubahan ke arah yang positif secara lebih cepat atau perubahan tersebut memang masih belum terwujud. Secara kelembagaan tentunya UPI yang didukung SDM dengan kompetensi yang memadai tidak ingin hal ini menjadi suatu kegagalan ditengah jalan. Namun untuk mewujudkan keberhasilan ini perlu dukungan kebersamaan dan kesadaran semua pihak khususnya individu guru-guru sekolah dasar itu sendiri yang menjadi mahasiswanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya ICT Guru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui proses perkuliahan yang dikembangkan sedemikian rupa, mulai dari pembekalan keterampilan dasar Ict yang sangat mendadak dan waktu yang sangat pendek memang menjadi tantangan bagi para pengelola demikian juga bagi mahasiswa yang mayoritas adalah guru sekolah dasar dari 8 Kab/Kota yang berusia rata-rata di atas 40 tahun dapat dikatakan sebagai suatu pemutarbalikan era teknologi informasi dan komunikasi di tahun 80-an. Pada rentang tahun itulah rata-rata guru yang harus menempuh perkuliahan dengan sistem PJJ Online sekarang ini memiliki masa-masa tingkat kecepatan dan ketajaman berpikir dan menangkap sesuatu yang baru dengan cepat, dan berbeda 180 derajat jika hal itu dirasakan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih masalah budaya dan sudah menjadi kebiasaan rutin setiap hari yang sangat sulit untuk dirubah dengan segera, dan ini ternyata menjadi tantangan khusus bagi para dosen dan pengelola program PJJ S1 PGSD Online ini. Boleh dikatakan budaya ICT dimungkinkan hanya sekitar 0,2% dari 300 guru yang menjadi mahasiswa ini bahkan sekitar 65% guru belum pernah mengetik dengan komputer sekalipun apalagi mengenal dunia internet. Namun melalui 2-3 kali pembekalan khusus keterampilan komputer pengolah kata, pengolah angka, dan keterampilan dasar internet, mulai dari pendaftaran e-mail address yang dilakukan tim dosen selama proses resindesial, akhirnya keterbukaan wawasan dan cakrawala guru terhadap dunia ICT sudah mulai terbuka. Satu persatu mereka mampu menunjukkan keterampilan yang diharapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penguasaan keterampilan internet ini merupakan harga mati dan ini boleh dikatakan sebuah suatu tantangan tersendiri bagi seluruh mahasiswa PJJ S1 PGSD Online UPI ini. Tantangan tersebut ternyata bisa dipecahkan melalui perubahan kebiasaan atau budaya sebelumnya, hari-demi hari dan minggu demi minggu bapak dan ibu guru dari daerah ini mulai terbiasa mengunjungi warnet-warnet dan ICT Center yang berada di Kab/Kota masing-masing untuk melayani mahasiswa agar bida melakukan akses internet demi jalannya proses perkuliahan secara online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga pada tahun kedua ini ternyata budaya akses internet hingga tingkat kepemilikan sebuah flash disk mulai tumbuh dengan pesat di kalangan mahasiswa PJJ ini. Dalam pertemuan atau Tutor kunjung yang sudah beberapa kali dilakukan oleh dosen dan para pengelola maka melalui analisa kompetensi mahasiswa dalam penguasaan bidang ICT ini boleh dikatakan sudah lebih baik, dan dapat dikatakan Budaya ICT sudah dimiliki oleh mahasiswa PJJ ini. Indikator mulai tumbuhnya budaya ICT dikalangan guru-guru pilihan ini misalnya dapat dipancing melalui obrolan ringan dan lugu di mana beberapa guru yang sudah berusia sekitar 50 tahunan menanyakan pengalamannya melakukan hosting dan Browshing, atau chatting, di mana istilah-istilah ini biasa kita dengar dikalangan mahasiswa reguler usia 16-27 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mengedengar kata-kata itu dari guruyang menjadi mahasiswa PJJ S1 PBSD Online tadi maka mendengarnya mungkin cukup unik tapi membanggakan. Ternyata diusia senja guru-guru Sekolah Dasar dari 8 Kab/Kota ini mampu bersaing dalam penguasaan ICT dengan komunitas lainnya yang barangkali lebih muda usia dan jam terbangnya. Setidaknya dari best Practice ini maka guru-guru tersebut akan mampu membangun suatu budaya baru dalam profesinya, bukan hanya untuk kepentingan perkuliahan saja, akan tetapi dalam menunaikan tugas-tugas kesehariannya sebagai guru di sekolah dasar diharapkan mampu menerapkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolahnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan-kebiasaan baru inilah dapat diyakini bahwa budaya baru yaitu &quot;Budaya ICT&quot; di kalangan guru sekolah dasar akan terbangun. Jika budaya sudah terbangun maka karakter individu gurupun akan terbentuk dengan sendirinya. Maka inilah yang diharapkan oleh semua pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih Unggul dari Provinsi Lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika boleh penulis bandingkan kecepatan dalam merubah dan membangun budaya ICT di kalangan mahasiswa PJJ S1 PGSD Online UPI yang 100% adalah guru-guru SD dengan usia lanjut ini ternyata lebih unggul daripada mahasiswa dari provinsi lain yang diselenggarakan oleh 9 Universitas pada keanggotaan konsorsium awal. Hal ini sebagaimana telah disampaikan dalam Acara Vicon (Video Conference) di Kampus Institut Teknologi Bandung (Jum&#39;at 26 April 2007) telah dilakukan bersama Dirjen PMPTK dan Pengelola PJJ S1 PGSD Online Tingkat Nasional yaitu perwakilan Seamolec untuk Indonesia dalam hal ini adalah Universitas Terbuka dan Pustekom.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika penulis simak dari diskusi selama Vicon tersebut berlangsung dapat ditarik kesimpulan bahwa di dunia, Indonesia dianggap sebagai negara yang terbesar dalam penggunaan Teknologi Informasi dalam bidang pendidikan, sebagaimana contohnya untuk meningkatkan kompetensi guru SD maka dalam jangka 10 tahun akan dicetak 2,3 juta guru yang harus menguasai ICT dengan baik. Dengan melalui sistem Tutorial Online maka layanan akses pembelajaran jarak jauh oleh total anggota konsorsium penyelenggaran PJJ PGSD S1 online yang sudah berjumlah 23 Universitas ini akan mampu mewujudkan target tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khusus untuk UPI maka untuk tahun kedua ini akan segera melakukan proses MoU dengan ICT Center di masing-masing Kab/Kota yang selama ini telah menjalin kerjasama proses perkuliahan untuk mahasiswa angkatan pertama (tahun pelajaran 2006/07) dan Angkatan ke-2 (tahun pelajaran 2007/08). Adapun ICT center tersebut diantaranya adalah Ict Center Kab. Garut beralamat di SMK 2 Tarogong yang sudah berstandar Internasional, ICT Center Sumedang beralamat di SMK PGRI, ICT Center Kota Bandung dan Kab. Bandung yang beralamat di SMK 4 Kota Bandung, ICT Center Kab. Sukabumi beralamat di Yayasan Tarbiyah Islamiah (YASTI), dan ICT Center Kab. Cianjur yang beralamat di SMK1 Cianjur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian UPI sebagai Universitas Pendidikan yang diberi tugas dalam membangun kualitas guru sekolah dasar melalui penyelengaraan PJJ PGSD S1 Online yang bekerjasama dengan ICT Center Kab/Kota ini akan mampu menuntaskannya dengan baik. Sehingga perwujudan Karakter Guru SD yang menguasai bidang ICT bisa tercapai pula dengan cepat. Pada Akhirnya budaya ICT akan tumbuh sebagai budaya baru para guru sekolah dasar yang mampu mempercepat perubahan-perubahan positif lainnya, khususnya di lingkungan sekolahnya masing-masing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Judul: Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bahan ini cocok untuk Sekolah Dasar bagian PENGEMBANGAN TIK.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nama &amp;amp; E-mail (Penulis): Dr. Deni Darmawan, S.Pd.,M.Si&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya Dosen di Universitas Pendidikan Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Topik: Budaya ICT&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Membangun Karakter Guru SD melalui Budaya ICT&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh: Deni Darmawan&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/membangun-karakter-guru-sd-melalui.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-7340882501726724488</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 17:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T00:35:19.418+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">CARA MENGATASI BANYAKNYA HAFALAN PADA MATA PEMBELAJARAN IPS SD</category><title>CARA MENGATASI BANYAKNYA HAFALAN PADA MATA PEMBELAJARAN IPS SD</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mata pelajaran yang wajib dibelajarkan pada setiap jenjang pendidikan. Konsentrasi tingkat kerumitan disesuaikan dengan jenjang pendidikan yang ada. Menurut kaedah pendidikan Ilmu Sosial, pola pembelajaran dapat dimulai dari&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Fakta &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dimana fakta dapat ditangkap oleh beberapa panca indra siswa yang bersentuhan langsung dengan kejadian, gejala, benda dan hal lain yang bersifat nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Konsep.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Proses membandingkan, mengurutan dan mengelompokan, berdasarkan sifat, bentuk nyata suatu obyek.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Generalisasi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah terjadi proses membandingkan, mengurutkan dan mengumpulkan maka siswa melalui tahapan menarik kesimpulan dari konsep siswa yang sudah terbentuk&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Keluhan guru pada jenjang pendidikan sekolah dasar terutama pada pembelajaran materi yang memiliki banyak hafalan. Seperti menghafal tahun suatu peristiwa bersejarah, menghafal nama tempat-tempat penting, menghafal nama tokoh-tokoh penting dan menghafal lokasi suatu tempat di peta. Apakah hal-hal tersebut untuk mengingatnya harus dengan cara menghafal ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat kaedah di atas, sesungguhnya guru dalam membelajarkan siswa dalam berbagai jenjang dapat menghindari hal yang bersifat menghafal. Guru sekolah dasar dalam kegiatan pembelajaran sedapat mungkin mengkemas pola pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran yang beragam dan kreatif. Media pembelajaran yang kreatif yang dilengkapi dengan sentuhan metode dan tehnik pembelajaran yang inovatif akan dapat membawa siswa keluar dari permasalahan banyaknya hafalan pada jenjang pendidikan sekolah dasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. MENGHAFAL DENGAN TIDAK MENGHAFAL&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa siswa mungkin akan senang dengan menghafal. Tetapi tidak demikian halnya dengan siswa yang lain. Kadang-kadang siswa akan mengucapkan istilah, nama, tempat, waktu dan peristiwa secara berulang-ualng supaya hafal. Akan tetapi menghafal adalah pembelajaran yang miskin pemaknaan. Dengan menghafal siswa akan ingat suatu hal akan tetapi tidak mengerti dengan hal tersebut. Menghafal dengan cara demikian akan mudah dilupakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran bermakna adalah solusi tepat mengatasi kebiasaan kita menyuruh siswa menghafal. Pembelajaran bermakna yang bernuansa CTL akan membawa siswa mengembara ke situasi nyata walaupun dengan teknik verbal sekalipun. Guru dapat mulai membelajarkan IPS dengan fakta, konsep dan generalisasi yang disajikan dengan utuh tidak sepotong potong. Sesudah mereka menyimak suatu uraian peristiwa atau deskripsi suatu benda secara lengkap selanjutnya kita mulai menyasar pada hal pokok yang kita ajarkan melalui kegitan alternatif berikut ;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Untuk menghafal nama tempat, waktu dan tokoh yang terdapat dalam suatu peristiwa dalam pembelajaran sejarah, kita harus menceritakan suatu kejadian secara lengkap tentang suatu peristiwa. Kemudia kita menugaskan siswa untuk mendengarkan, menyimak secara lengkap kemudian menuliskannya kembali sehingga menjadi suatu ringkasan. Di saat yang lain kita dapat bertanya jawab tentang peristiwa tersebut dengan pertanyaan yang menekankan pada peristiwa bukan pada waktu, tempat maupun tokoh. Demikian juga saat memberikan evaluasi hendaknya kita memperhatikan soal yang menekankan pada peristiwa bukan kepada waktu, tempat dan tokoh. Contoh pertanyaannya ,” Apakah yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta ? Raja Jaya Katwang adalah Raja Kediri yang berhasil mengusir utusan tentara Monggolia dengan cara....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Untuk menghafal nama tempat, tahun, tokoh dan peristiwanya dapat digabungkan membelajarkan siswa dengan peta buta. Dimana Siswa ditugaskan menuliskan pada fotokopi peta buta tentang nama tokoh, tempat, tahun dan peristiwa dengan sedikit tulisan. Yang selanjutnya disertai dengan tanya jawab yang mengetengahkan uraian pertanyaan yang menekankan pada peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Cara lain yang lebih populer adalah dengan membuat peta konsep, silsilah dan urutan waktu suatu peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Demikian juga siswa dapat ditugaskan menggambar peta pada buku gambar yang berisi nama kota dan daerah yang hendak dihafalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Apabila tersedia kita dapat memutarkan vidio dokumenter tentang suatu peristiwa sebagai media yang lengkap menyajikan suara narator dan gambar objyek bergerak yang bernuansa tematik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Mendemonstrasikan suatu peristiwa secara sederhana dimana siswa sendiri sebagai pemerannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa tehnik tersebut akan membawa dampak pembelajaran yang bermakna sehingga siswa akan terbawa secara emosional untuk larut dalam suasana peristiwa yang terjadi. Sehingga walaupun tidak disuruh mengingat siswa akan dengan sendirinya ingat. Dengan catatan faktor kecerdasan kelas yang dibelajarkan adalah berkatagori kurve normal. Artinya tidak terdapat siswa yang memiliki keterbelakangan ekstrim atau jauh di bawah rata-rata temannya yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. KESIMPULAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran IPS sering dipandang sulit bagi yang masih mengandalkan tehnik pembelajaran menghafal konvensional. Menghafal kadang kadang tidak disenangi oleh beberapa siswa. Sebenarnya dalam pembelajaran IPS siswa tidak perlu menghafal tempat, nama, waktu dan peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran dengan cara menghafal yang membosankan beberapa siswa dapat disiasati dengan tehnik pembelajaran bermakna. Dimana beberapa tehnik sesungguhnya telah banyak dilakukan oleh guru seperti penugasan menceritakan suatu peristiwa, menggambar peta suatu peristiwa, menulis urutan kejadian, menulis peta konsep , menonton dan mendemonstrasikan suatu peristiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tehnik demikian akan mengakibatkan keterlibatan siswa yang sangat besar dimana interaksi dengan media, suasana dan siswa lain. Daya ingat siswa yang terbatas akan semakin kecil dengan hanya dijejali dengan hafalan yang tidak bermakna. Akan tetapi memori mereka akan berkembang seiring berkembangnya daya imajinasi yang berakibat daya ingat yang kuat tentang sustu hal. Dengan demikian pembelajaran IPS terpadu bukan merupakan hal yang sulit akan tetapi sebaliknya adalah sesuatu yang menyenangkan. &lt;br /&gt;
Di copy dari &quot;http://baliteacher.blogspot.com/2010/05/cara-mengatasi-banyaknya-hafalan-pada.html&quot;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/cara-mengatasi-banyaknya-hafalan-pada.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-7541089560815918628</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 17:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T00:35:44.940+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR</category><title>PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR</title><description>Judul: PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR&lt;br /&gt;
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian IPS / SOCIAL SCIENCE.&lt;br /&gt;
Nama &amp;amp; E-mail (Penulis): Arief Achmad Mangkoesapoetra&lt;br /&gt;
Saya Guru di SMAN 21 Bandung&lt;br /&gt;
Topik: Model Pembelajaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyongsong Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi :&lt;br /&gt;
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN IPS DI TINGKAT SEKOLAH DASAR&lt;br /&gt;
Oleh :&lt;br /&gt;
Drs. ARIEF ACHMAD MSP., M.Pd.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendahuluan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) secara nasional akan diimplementasikan pada tahun pembelajaran 2004-2005, meskipun semenjak digulirkan (2001) sudah ada beberapa sekolah yang memberlakukannya, dalam bentuk uji coba atau menjadi pilot project dari Depdiknas. Gaung KBK kiranya sudah menggema ke seluruh pelosok persada tanah air tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di kalangan pendidikan. Demikian halnya harapan yang sama ditujukan bagi KBK pendidikan IPS di tingkat SD.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tulisan ini mencoba memberikan deskripsi tentang hal-hal apa saja yang perlu diketahui, dipahami, dan diimplementasikan dari KBK IPS di tingkat SD itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Pendidikan IPS untuk Sekolah Dasar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus memperhatikan kebutuhan anak yang berusia antara 6-12 tahun. Anak dalam kelompok usia 7-11 tahun menurut Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan kongkrit operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah sekarang (=kongkrit), dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami (=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner (1978) memberikan pemecahan berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambang, keterangan lanjut, atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya IPS SD bergerak dari yang kongkrit ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari yang dekat ke yang jauh, dan seterusnya : dunia-negara tetangga-negara-propinsi-kota/kabupaten-kecamatan-kelurahan/desa-RT/RW-tetangga-keluarga-Aku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Pola Pendekatan Lingkungan yang Semakin Meluas&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Pembelajaran IPS SD akan dimulai dengan pengenalan diri (self), kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kota/kabupaten, propinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia. Anak bukanlah sehelai kertas putih yang menunggu untuk ditulisi, atau replika orang dewasa dalam format kecil yang dapat dimanipulasi sebagai tenaga buruh yang murah, melainkan, anak adalah entitas yang unik, yang memiliki berbagai potensi yang masih latent dan memerlukan proses serta sentuhan-sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari egosentrisme dirinya kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS adalah salah satu upaya yang akan membawa kesadaran terhadap ruang, waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak (Farris and Cooper, 1994 : 46).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Pendidikan IPS dalam Struktur Program Kurikulum (KBK) SD&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Pendidikan IPS SD disajikan dalam bentuk synthetic science, karena basis dari disiplin ini terletak pada fenomena yang telah diobservasi di dunia nyata. Konsep, generalisasi, dan temuan-temuan penelitian dari synthetic science ditentukan setelah fakta terjadi atau diobservasi, dan tidak sebelumnya, walaupun diungkapkan secara filosofis. Para peneliti menggunakan logika, analisis, dan keterampilan (skills) lainnya untuk melakukan inkuiri terhadap fenomena secara sistematik. Agar diterima, hasil temuan dan prosedur inkuiri harus diakui secara publik (Welton and Mallan, 1988 : 66-67).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; IPS SD diprogramkan dalam bentuk pelajaran Sejarah bersama-sama Kewargaanegara (Citizenship) dengan alokasi waktu 3 jam pelajaran setiap minggu, dan Ilmu Sosial (Social Sciences) sebanyak 3 jam pelajaram setiap minggu sejak kelas III, IV, V, dan VI. Kemungkinan besar alasan pembagian seperti ini dilandasi oleh pertimbangan, bahwa tiga tradisi besar IPS (Social Studies) adalah good citizenship, social sciences, dan reflective inquiry.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Tema-tema IPS SD yang Perlu Mendapat Perhatian&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Secara gradual, di bawah ini akan diungkapkan beberapa tema IPS SD yang perlu mendapat perhatian kita bersama, antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (1) IPS SD sebagai Pendidikan Nilai (value education), yakni :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Mendidikkan nilai-nilai yang baik yang merupakan norma-norma keluarga dan masyarakat;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Memberikan klarifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Nilai-nilai inti/utama (core values) seperti menghormati hak-hak perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia (the dignity of man and work) sebagai upaya membangun kelas yang demokratis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (2) IPS SD sebagai Pendidikan Multikultural (multicultural eduacation), yakni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya bangsa;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; · Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
(3) IPS SD sebagai Pendidikan Global (global education), yakni :&lt;br /&gt;
· Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan peradaban di dunia;&lt;br /&gt;
· Menanamkan kesadaran ketergantungan antar bangsa;&lt;br /&gt;
· Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar bangsa di dunia;&lt;br /&gt;
· Mengurangi kemiskinan, kebodohan dan perusakan lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode Pembelajaran IPS SD&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Sesuai dengan karakteristik anak dan IPS SD, maka metode ekspositori akan menyebabkan siswa bersikap pasif, dan menurunkan derajat IPS menjadi pelajaran hafalan yang membosankan. Guru yang bersikap memonopoli peran sebagai sumber informasi, selayaknya meningkatkan kinerjanya dengan metode pembelajaran yang bervariasi, seperti menyajikan cooperative learning model, role playing, membaca sajak, buku (novel), atau surat kabar/majalah/jurnal agar siswa diikutsertakan dalam aktivitas akademik. Tentu saja guru harus menimba ilmunya dan melatih keterampilannya, agar ia mampu menyajikan pembelajaran IPS SD dengan menarik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
Penutup&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur program kurikulum KBK, yang menyangkut pembelajaran IPS berikut pembagiannya menjadi Kewarganegaraan (Citizenship) dan Sejarah serta Ilmu Sosial, masih belum jelas kerangka berfikir berikut landasannya. Landasan permasalahan yang menyangkut kondisi kemasyarakatan membebani IPS SD dengan tekanan-tekanan dalam bentuk tuntutan keinginan dan harapan yang tidak sesuai dengan tingkat kematangan fisik, mental, dan intelektual siswa SD, dan berada di luar jangkauan peraihannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Bagi guru, tekanan dan tuntutan melaksanakan program baru ini juga tidak kecil. Mereka harus dipersiapkan agar mampu menyajikan ilmu sosial untuk jenjang Sekolah Dasar dengan metode-metode pembelajaran yang beragam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bruner, J. (1978). The Process of Educational Technology. Cambridge : Harvard University.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Farris, P.J. and Cooper, S.M. (1994). Elementary Social Studies. Dubuque, USA : Brown Communications, Inc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Weton, D. A and Mallan, J.T. (1988). Children and Their World. Boston : Houghton Mifflin Coy.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/pembelajaran-pendidikan-ips-di-tingkat.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-6466838722206652526</guid><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 16:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-28T00:36:11.047+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Guru SD dan Kecerdasan Emosi</category><title>Guru SD dan Kecerdasan Emosi</title><description>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Judul: Guru SD dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.&lt;br /&gt;
Nama &amp;amp; E-mail (Penulis): Edi Hendri Mulyana&lt;br /&gt;
Saya Dosen di UPI Kampus Tasikmalaya&lt;br /&gt;
Topik: Guru SD dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KECERDASAN EMOSI BAGI GURU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. Pendahuluan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah kita mafhum bahwa banyak faktor yang turut menentukan kualitas pendidikan, seperti mutu masukan (siswa), sarana, manajemen, kurikulum, dan faktor-faktor instrumental serta eksternal lainnya. Tetapi mengingat peranan strategis guru dalam setiap upaya peningkatan kualitas, relevansi, inovasi, dan efisiensi pendidikan maka salah satu komponen yang sangat menentukan bagi keberhasilan upaya tersebut adalah guru, khususnya peningkatan profesionalisme guru . Di sisi lain, profesi guru sepanjang waktu selalu saja mendapat sorotan tajam. Dewasa ini tidak sedikit gambaran atau wacana yang diangkat untuk menunjukkan citra guru sedang dituding menurun bersamaan dengan pencitraan penghargaan masyarakat - dan juga pemerintah - yang mulai terkesan proporsional dan professional terhadap profesi guru dengan fungsinya yang strategis. Meskipun demikian sebagai suatu bangsa yang besar dan masih senantiasa menghargai profesi guru sebagai pembimbing dan pengembang sumber daya manusia menghadapi masa depan, suara dukungan dan upaya bagi pengembangan profesi guru akhir-akhir ini sangat menggembirakan. Salah satunya adalah transformasi IKIP sebagai lembaga pembinaan profesi guru menjadi universitas, serta ditingkatkannya kewenangan PGSD untuk menyelenggarakan program S1 bagi guru-guru SD yang sudah memiliki masa kerja tertentu. Transformasi ini bertujuan antara lain agar dalam format manajemen Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang baru, mampu dihasilkan calon-calon guru yang lebih professional. Calon guru professional ini harus mampu mengantisipasi, menjalani, dan memberikan solusi bagi tantangan masa kini dan masa depan yang makin global, transparan, kompleks, dan kompetitif. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Alih-alih menurun, sejak kini hingga masa depan tantangan profesi keguruan semakin meningkat. Dalam Mengangkat Citra dan Martabat Guru (Dedi Supriadi, 1999:73-74) mengangkat suatu tantangan yang harus siap dihadapi guru dan pada saat yang sama harus dicarikan solusinya oleh berbagai pihak terkait (birokrasi dan organisasi kependidikan). Salah satunya berkaitan dengan masalah ekologi profesi bagi guru, terutama guru SD. Pekerjaan guru (mendidik) yang mulia dan seharusnya menyenangkan, seringkali malah menjadi sumber ketegangan lantaran iklim dan kondisi kerja yang terlalu sarat dengan beban tugas-tugas birokrasi, beban sosial-ekonomi dan tantangan kemajuan karir yang terkait erat dengan jaminan hak-hak kesejahteraan guru. Dalam hal beban birokrasi, guru (SD) harus berhadapan dengan pekerjaan-pekerjaan rutin administrasi yang bukan tugas-tugas profesional. Beban sosial antara lain terkait dengan tuntutan masyarakat yang masih memandang bahwa guru (SD) adalah sosok manusia serba tahu dan serba bisa. Tidak sedikit orangtua yang memiliki tuntutan yang melampaui kemampuan guru (SD) agar anak mereka menjadi serba bisa sebagaimana yang diharapkan. Selain itu, kondisi objektif di lapangan sangat mungkin guru (SD) menghadapi pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan, informasi, dan teknologi -termasuk masalah kependidikan, yang menuntut dirinya harus lebih profesional dan bahkan siap &#39;bersaing&#39; dengan peserta didik dalam hal itu. Beban-beban yang sudah berat itu, makin menjadi kompleks manakala guru (SD) -terutama yang hidup dikota - juga harus berjuang meningkatkan kemampuan finansial dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang memang masih jauh dapat dipenuhi dengan gaji mereka. Kondisi semua ini, dapat diprediksi kuat akan sangat berpengaruh timbale balik terhadap profil psikologis guru.&lt;br /&gt;
Beranjak dari paparan di atas, tugas professi guru masa depan sangat berat. Ia bukan saja harus memiliki sejumlah kompetensi akademis semisal penguasaan materi pelajaran, kepiawaian dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi pembelajaran dengan berbagai metode mutakhir, serta terampil dalam menggunakan alat peraga dan media pembelajaran; melainkan juga ia harus memiliki kematangan dan ketegaran kepribadian. Aspek kepribadian sebagai unsur penting dalam kinerja guru profesional akhir-akhir ini mulai banyak diangkat kembali oleh para pakar setelah selama waktu yang cukup panjang tersisihkan oleh gencarnya pembahasan teknis metodologis mengajar dengan landasan gagasannya diangkat dari aliran-aliran Behavioristik: teori belajar, conditioning, hukum pengaruh, dan Kognivistik. (Dedi Supriadi, 1999:10; Mohamad Surya, 2003:43: H.A.R Tilaar, 1999:295). Salah satu aspek yang berkaitan dengan kematangan dan ketegaran kepribadian adalah kecerdasan emosi (Emotional Intelligence) atau Emotional Quotient (EQ). Kecerdasan ini berkaitan antara lain dengan kemampuan seseorang (guru) dalam mengelola emosi terhadap diri dan orang lain, menghadapi kesulitan dan kesuksesan hidup, kasih sayang, cinta kasih yang tulus, dan tanggung jawab. Sehubungan dengan tugas berat guru (SD) di masa depan, maka jelas tidak bijaksana kalau LPTK penghasil calon guru tidak mempersiapkan mereka dengan pembinaan yang menjadikannya sebagai calon guru yang memiliki kematangan kepribadian dengan kecerdasan emosi yang optimal. Pembinaan ini sangat erat kaitannya dengan tugas-tugas bimbingan dan konseling. Sehubungan dengan itu maka peran Bimbingan dan Konseling -yang selama ini &#39;guru yang dibina&#39; terkesan disiapkan dan diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan di pendidikan dasar dan menengah - harus secara organik dan resmi difungsikan di LPTK.&lt;br /&gt;
Makalah ini ditulis dengan tujuan menegaskan kembali perlunya para pengelola dan pembina LPTK khususnya PGSD -terutama para dosen mata kuliah dan petugas Bimbingan dan Konseling- untuk secara bersungguh-sungguh berorientasi kepada upaya aktualisasi karakteristik calon guru yang professional dalam berbagai penyelenggaraan perkuliahan. Selain itu, berdasarkan temuan-temuan inovatif serta tuntutan realistis maka harus ada program untuk mengakrabkan para mahasiswa calon guru terhadap konsep-konsep kecerdasan emosi, serta melakukan studi untuk mengetahui peta atau profil kecerdasan emosional (EQ) civitas akademika di lingkungan kerja LPTK (dosen, karyawan, atau aktivis kampus). Hasil studi ini selanjutnya dapat dijadikan sebagai titik tolak pembinaan mahasiswa calon guru terutama dalam hal memfasilitasi pengem-bangan kecerdasan emosi mereka. Hal itu didasarkan pada suatu asumsi dasar sebagaimana dikemukakan Gottman &amp;amp; DeClaire (1998:2) bahwa menjadi pengelola pendidikan (guru) yang baik membutuhkan lebih dari pada sekedar intelek, melainkan menyentuh dimensi kepribadian dan kematangan emosi. Permasalahannya adalah, bagaimanakah profil guru (SD) profesional itu? Serta bagimana pula profil kecerdasan emosi? yang sudah barang tentu kedua hal itu harus dimiliki guru (SD) dalam menjalankan profesinya serta mengantisipasi tuntutan kekinian dan masa depan yang akan dihadapi.&lt;br /&gt;
Sistimatika makalah sangat sederhana. Setelah pendahuluan di bagian pertama, pada bagian kedua akan disajikan kajian singkat teori berkenaan dengan karakteristik guru (SD) profesional dan konsep-konsep dasar kecerdasan emosi; setelah itu data/informasi pendukung dan hasil studi terdahulu beserta diskusi dan pembahasan akan disajikan pada bagian ketiga; dan akhirnya bagian akhir memuat kesimpulan dan saran.&lt;br /&gt;
II. Guru SD Masa Depan: Profesional Dan Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;
A. Profesionalisme Guru &lt;br /&gt;
1. Pengertian dan Ciri-ciri Profesi&lt;br /&gt;
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, guru memiliki posisi sentral dan strategis. Karena posisinya tersebut, baik dari kepentingan pendidikan nasional maupun tugas fungsional guru, semuanya menuntut agar pendidikan dilaksanakan secara profesional. Pembahasan tentang guru profesional terkait dengan beberapa istilah, yaitu profesi, profesional itu sendiri, profesionalisme, profesionalisasi, dan profesionalitas.&lt;br /&gt;
Profesi adalah pernyataan pengabdian pada suatu pekerjaan atau jabatan (Piet A Sahertian, 1994:26), dimana pekerjaan atau jabatan tersebut menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap profesi. Suatu profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Profesional menunjuk pada orang atau penampilan seseorang yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya. Profesionalisasi menggambarkan proses menjadikan seseorang sebagi profesional melalui pendidikan. Profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai suatu profesi yang menyangkut sikap, komitmen, dan kode etik; profesionalisme bisa tinggi, sedang, atau rendah. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan keprofesiaan biasa disebut profesionalitas (Dedi Supriadi, 1999:94-95).&lt;br /&gt;
Penting untuk dicermati bahwa profesi memiliki beberapa ciri pokok. Menurut Dedi Supriadi (1999:96) cirri-ciri tersebut ialah, pertama, pekerjaan tersebut mempunyai fungsi dan signifikansi sosial karena diperlukan mengabdi kepada masyarakat. Kedua, profesi menuntut keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang &#39;lama&#39; dan intensif serta dapat dipertanggungja-wabkan (accountable). Ketiga, profesi didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge). Keempat, ada kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggar kode etik. Kelima, sebagai konsekuensi dari layanan yang diberikan terhadap masyarakat, maka anggota profesi secara perorangan atau kelompok memperoleh imbalan finasial atau material.&lt;br /&gt;
2. Guru Profesional&lt;br /&gt;
Proses pendidikan di dalam masyarakat yang semakin maju, demokratis dan terbuka menuntut suatu interaksi antara pendidik dan peserta didik secara profesional. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh guru profesional, yaitu guru yang memiliki karakteristik profesionalisme. Guru profesional adalah guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Untuk itu ia harus telah memiliki kualifikasi kompetensi yang memadai: kompetensi intelektual, sosial, spiritual, pribadi dan moral (Mohamad Surya, 2003:28). Sedangkan H.A.R Tilaar (1999:205) menggagaskan profil guru profesional abad 21 sebagai berikut.&lt;br /&gt;
1) Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang (mature and developing personality) sebagaimana dirumuskan Maister &#39;professionaism is predominantly an attitude, not a set of competencies only. Ini berarti bahwa seorang guru profesional adalah pribadi-pribadi unggul terpilih;&lt;br /&gt;
2) Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat. Melalui dua hal ini seorang guru profesional akan menginspirasi anak didiknya dengan ilmu dan teknologi. Guru profesional semestinya ia adalah &#39;ilmuwan&#39; yang dibentuk menjadi pendidik.&lt;br /&gt;
3) Menguasai keterampilan untuk membangkitkan minat dan potensi peserta didik. Oleh karena itu seorang guru profesional harus lah menguasai keterampilan metodologis membelajarkan siswa. Karakteristik ini yang membedakan profesi guru dari profesi lainnya. Jika karakteristik ini tidak secara sungguh-sungguh dikuasai guru, maka siapa saja dapat menjadi &#39;guru&#39; seperti yang terjadi sekarang ini. Akibat lebih lanjut dari ini adalah profesi guru akan kehilangan &#39;bargaining position&#39;.&lt;br /&gt;
4) Pengembangan profesi yang berkesinambungan. Propesi guru adalah profesi mendidik. Seperti halnya ilmu mendidik yang senantiasa berkembang, maka profil guru profesional adalah guru yang terus menerus mengembangkan kompetensi dirinya. Pengembangan kompetensi ini dapat dilakukan secara institusional (LPTK), dalam praktik pendidikan, atau secara individual.&lt;br /&gt;
Sejalan dengan gagasan HAR Tilaar di atas, Dedi Supriadi (1999:98) mengutip Jurnal Education Leadership edisi Maret 1993 mengenai lima hal yang harus diraih guru agar menjadi profesional. Kelima hal tersebut adalah.&lt;br /&gt;
1) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya.&lt;br /&gt;
2) Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa.&lt;br /&gt;
3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar.&lt;br /&gt;
4) Guru mampu berpikir sistimatis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu bagi guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik buruk dampaknya pada proses belajar siswa.&lt;br /&gt;
5) Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.&lt;br /&gt;
Kelima hal di atas amat sederhana dan pragmatis. Justru karena keseder-hanaan itu akan membuat sesuatu mudah dicapai.&lt;br /&gt;
Untuk meneguhkan kesuksesan kinerja pendidik sebagai guru profesional dan merupakan jabatan strategis dalam membangun masyarakat, Mohamad Surya (2003:290-292) menekankan perlunya seorang guru memiliki kepribadian efektif. Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi dan kondisi. Kepribadain efektif seorang guru adalah kepribadian berkualitas yang mampu berinteraksi dengan lingkungan pendidikan yang sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif.&lt;br /&gt;
Kepribadian efektif memiliki sejumlah kompetensi yang bersumber pada komponen penguasaan subyek (materi pelajaran), kualitas profesional, penguasaan proses, kemampuan penyesuaian diri, serta kualitas kepribadiannya. Kepribadian efektif akan terwujud melalui berfungsinya keseluruhan potensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Menurut William D. Hitt (1993) potensi manusiawi itu antara lain adalah daya nalar yang bertumpu pada empat jenjang anak tangga berupa:&lt;br /&gt;
(1) Coping, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan dalam menghadapi dunia sehari-hari dengan baik;&lt;br /&gt;
(2) Knowing, yaitu kemampuan memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari;&lt;br /&gt;
(3) Believing, keyakinan yang melandasi berbagai tindakan, dan&lt;br /&gt;
(4) Being, yaitu perwujudan diri yang otentik dan bermakna.&lt;br /&gt;
Jika kita cermati karakteristik kepribadian efektif sebagaimana diuraikan di atas, nampak bahwa unsur-unsurnya erat berkaitan dengan faktor-faktor kompetensi dan potensi psikologis seseorang. Salah satu potensi psikologis manusia yang saat ini mendapat kajian intensif karena diyakini sebagai salah satu penentu dominant bagi efektif tidaknya kepribadian seseorang dalam berinteraksi dan mengatasi persoalan hidup sehari-hari adalah kecerdasan emosi (EQ, Emotional Quotient).&lt;br /&gt;
B. Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;
1. Pusat Kecerdasan Emosi dan Kecerdasan Rasional dalam Otak.&lt;br /&gt;
Otak manusia adalah massa protoplasma yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam semesta. Organ ini terdiri dari tiga bagian dasar, masing-masing dengan struktur saraf tugas-tugas tertentu, yang oleh Dr. Paul McLean (1990) disebut &quot;otak triune&quot;. Ketiga bagian tersebut adalah: batang atau otak reptil, sistem limbik atau otak mamalia, dan neokorteks (Bobbi DePorter &amp;amp; Mike Hernacki;1999).&lt;br /&gt;
Dalam buku Quantum Learning dijelaskan bahwa bagian manusia yang disebut otak mamalia (sistem limbik) bertanggung jawab atas fungsi-fungsi emosional dan kognitif serta pengaturan bioritme seseorang, seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, gairah seksual, dan metabolisme dalam tubuh. Dalam mekanisme yang terjadi pada sistem limbik inilah kecerdasan emotional (EI = Emotional Intelligence, nama lain dari EQ) seseorang ditentukan.&lt;br /&gt;
Joseph LeDoux (1992) seorang ahli saraf di Center for Neural Science di New York University mengungkapkan bahwa dalam saat-saat yang kritis kecerdasan emosi akan lebih cepat menentukan keputusan dari pada kecerdasan intelektual. Hal itu sejalan dengan kajian Dr. Jalaluddin Rakhmat (1999) yang menyimpulkan bahwa kecerdasan emosi sangat mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Bahkan tidak ada satu pun keputusan yang diambil manusia murni dari pemikiran rasional kerena seluruh keputusan manusia memiliki warna emosional.&lt;br /&gt;
2. Konsep Dasar Kecerdasan Emosi&lt;br /&gt;
Istilah &quot;Emotional Intelligence, kecerdasan emosional&quot; - selanjutnya disebut kecerdasan emosi - pertamakali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire. Kecerdasan ini berhubungan dengan kualitas-kualitas psikologis tertentu yang oleh Salovey dikelompokkan ke dalam lima karakter kemampuan:&lt;br /&gt;
(1) Mengenali emosi diri; wilayah ini merupakan dasar kecerdasan emosi. Penguasaan seseorang akan hal ini akan memiliki kepekaan atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.&lt;br /&gt;
(2) Mengelola emosi; kecerdasan emosi seseorang pada bagian ini ditunjukkan dengan kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, atau ketersinggungan sehingga dia dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejatuhan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;
(3) Memotivasi diri sendiri; kecerdasan ini berhubungan dengan kamampuan seseorang dalam membangkitkan hasrat, menguasai diri, menahan diri terhadap kepuasan dan kecemasan. Keberhasilan dalam wilayah ini akan menjadikan seseorang cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apa pun yang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;
(4) Mengenali emosi orang lain. Berkaitan erat dengan empati, salah satu kecerdasan emosi yang merupakan &quot;keterampilan bergaul&quot; dasar. Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.&lt;br /&gt;
(5) Membina hubungan. Seni membina hubungan, menuntut kecerdasan dan keterampilan seseorang dalam mengelola emosi orang lain. Sangat diperlukan untuk menunjang popularitas, kepemimpinan, dan keberhasilan antar pribadi.&lt;br /&gt;
3. Kecerdasan Emosi Eksekutif.&lt;br /&gt;
Kecerdasan Emosional Eksekutif (EQ-Executive) secara singkat dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dalam rangka menghadapi dan memberikan tindakan antisipasi maupun solusi terhadap prob-lematika yang dhadapi dalam menjalankan profesi dalam suatu intitusi. Berdasarkan gagasan Robert K Cooper &amp;amp; Ayman Sawaf (2001), EQ-Executive yang akan analisis dalam penelitian ini didasarkan kepada empat pilar utama:&lt;br /&gt;
(1) Kesadaran Emosional Literasi; bertujuan membangun tempat kedudukan bagi kepiawaian dan rasa percaya diri pribadi melalui kejujuran emosi, energi emosi, umpan balik emosi, intuisi, rasa tanggung jawab dan koneksi.&lt;br /&gt;
(2) Kebugaran emosi; bertujuan mempertegas kesejatian, sifat dapat dipercaya, dan keuletan, memperluas kepercayaan, dan kemampuan mendengarkan, mengelola konflik dan mengatasi kekecewaan dengan cara palinmg konstruktif.&lt;br /&gt;
(3) Kedalaman emosi (emotional deepth); mengeksplorasi cara-cara menye-laraskan hidup dan kerja dengan potensi serta bakat unik seseorang, mendukungnya dengan ketulusan, kesetiaan pada janji, rasa tanggung jawab yang pada gilirannya memperbesar pengaruh tanpa mengobral kemenangan.&lt;br /&gt;
(4) Al-kimia emosi (emotional alchemi); memperdalam naluri dan kemampuan kreatif untuk mengalir bersama masalah-masalah dan tekanan-tekanan dan bersaing demi masa depan dengan membangun ketarampilan untuk lebih peka akan adanya kemungkinan-kemungkinan solusi yang masih tersembunyi dan peluang yang masih terbuka.&lt;br /&gt;
Indikator-indikator yang menunjukkan seberapa jauh karakter-karakter dari masing-masing pilar di atas terdapat pada diri seseorang dalam penelitian ini akan diungkap dengan instrumen EQ_MAPTM. Instrumen ini merupakan hasil penelitian yang mendalam, andal secara statistik dan teruji secara baku terhadap tenaga kerja di USA dan Kanada. Instrumen ini berupaya mengungkap 21 skala profil kecerdasan eksekutif yaitu:&lt;br /&gt;
(1) Peristiwa dalam hidup (12) Belaskasihan&lt;br /&gt;
(2) Tekanan pekerjaan (13) Cara pandang&lt;br /&gt;
(3) Tekanan masalah pribadi (14) Intuisi&lt;br /&gt;
(4) Kesadaran diri emosi (15) Radius kepercayaan&lt;br /&gt;
(5) Ekspresi emosi (16) Daya pribadi&lt;br /&gt;
(6) Kesadaran emosi terhadap orang lain (17) Integritas&lt;br /&gt;
(7) Intensionalitas (18) Kesehatan umum&lt;br /&gt;
(8) Kreativitas (19) Kualitas hidup&lt;br /&gt;
(9) Ketangguhan (20) Relatioship Quotient&lt;br /&gt;
(10) Hubungan interpersonal (21) Kinerja Optimal&lt;br /&gt;
(11) Ketidakpuasan konstruktif&lt;br /&gt;
Dalam EQ-Map dua puluh satu skala profil EQ-eksekutif di atas selanjutnya dibagi ke dalam lima kategori. Kelima kategori tersebut adalah: Situasi saat ini, Keterampilan Emosi, Kecakapan Emosi, Nilai-nilai EQ dan Keyakian, dan Hasil-hasil EQ.&lt;br /&gt;
a. Situasi Saat Ini&lt;br /&gt;
Kategori ini menggambarkan profil seberapa besar kualitas emosi seorang pekerja dalam menghadapi berbagai peristiwa yang dialami baik di keluarga, masyarakat maupun tempat yang bersangkutan bekerja. Hal tersebut meliputi:&lt;br /&gt;
1) Peristiwa dalam Hidup&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan ketangguhan seseorang dalam menghadapi berbagai peristiwa keseharian yang secara umum bisa berfungsi sebagai sumber keter-tekanan (stress). Peristiwa tersebut misalnya: ancaman diberhentikan, keluar, atau pensiun; berhadapan dengan pekerjaan baru atau pimpinan baru; penciutan atau perubahan struktur kepegawaian di tempat kerja; kerugian finansial atau berkurangnya pendapatan; kematian seseorang teman dekat atau keluarga; ber-pindah, relokasi atau membeli rumah baru; kehadiran anggota baru dalam rumah tangga atau bertambahnya tanggungjawab dalam keluarga; menjadi kor-ban kejahatan atau berhadapan dengan masalah hokum; atau sakit atau cedera serius yang menimpa diri sendiri atau teman dekat/keluarga.&lt;br /&gt;
2) Tekanan Pekerjaan&lt;br /&gt;
Yang dimaksud adalah gambaran seberapa besar tekanan kondisi dan situasi pekerjaan terhadap kualitas emosi/diri seorang pekerja. Hal itu meliputi: hubungan dengan atasan langsung; keamanan pekerjaan; bergesernya prioritas pekerjaan; terlalu banyak pekerjaan atau membosankan; kontrol/pemantauan yang tidak luwes dari lembaga terhadap pekerjaan; kebijakan promosi dan penghargaan karir yang tidak adil dari pimpinan; tenggat waktu dalam menyelesaikan pekerjaan; hilangnya komitmen terhadap pekerjaan; merasa tidak berguna atau tidak mampu bekerja; fleksibilitas jam kerja; perjalanan yang jauh ke tempat kerja.&lt;br /&gt;
3) Tekanan Masalah Pribadi&lt;br /&gt;
Skala ini mengungkapkan seberapa besar masalah-masalah pribadi menjadi sumber ketertekanan dalam menjalani pekerjaan. Masalah-masalah ter-sebut antara lain: kesulitan keuangan; bertambahnya tanggungjawab keluarga; konflik dengan atau berpisah dari rekan/partner; menurunnya kesehatan pri-badi; bermasalah dengan keluarga; tidak cukup waktu luang untuk keluarga; lingkungan yang berbahaya atau tidak aman; konflik seksual; konflik antara keluarga dan pekerjaan.&lt;br /&gt;
b. Keterampilan Emosi&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kategori ini menggambarkan profil seberapa besar kualitas seseorang dalam mengenali emosi dirinya, meliputi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 1) Kesadaran-diri Emosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Berkaitan dengan kemampuan pikiran dan perasaan seseorang tentang diri sendiri antara lain dalam hal: menyebutkan perasaan; mendengarkan pera-saan sendiri; menyadari sepanjang waktu perasaan diri; menyatakan kemarahan dengan tepat; mengetahui alasan kesedihan; menyaring pola pikir orang lain dalam menilai diri sendiri; menikmati kehidupan emosi sendiri; takut terhadap emosi orang lain; keinginan menjadi orang lain; cermat memperhatikan peru-bahan fisik jika mengungkapkan emosi; menerima perasaan diri apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 2) Ekspresi Emosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Membiarkan orang lain tahu bila mereka bekerja dengan baik; mengungkapkan emosi negatif; membiarkan orang lain tahu tentang keinginan/kebutuhan; mengungkapkan penghargaan terhadap orang lain; membiarkan orang lain tahu bila ada perasaan tidak enak yang mengganggu pekerjaan; meminta tolong kepada orang lain saat memerlukan bantuan; dalam interaksi dengan orang lain dapat merasakan perasaan mereka; tidak berpura-pura melakukan apa saja agar tidak tampak tolol di depan orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 3) Kesadaran Emosi terhadap Oranglain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dapat mengenali emosi orang lain dengan memperhatikan mata mereka; mudah berbicara dengan orang yang tidak satu sudut pandang; memperhatikan orang-orang yang memiliki kualitas positif; terdorong untuk menghibur orang lain; berpikir tentang perasaan orang lain sebelum mengungkapkan pandangan; selalu menjadi pendengar yang baik; dapat merasakan suasana hati suatu kelompok; dapat membuat orang yang baru kenal berbicara tentang mereka sendiri; dapat &quot;membaca yang tersirat&quot; ketika seseorang berbicara; kemampuan mengetahui bagaimana perasaan orang lain; dapat mengetahui perasaan seseorang kendati ia tidak bicara; dapat mengubah ekspresi emosi tergantung dengan siapa berhadapan; dapat mengetahui bila orang lain sedang merasa kesal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; c. Kecakapan Emosi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kategori ini menggambarkan perilaku atau tujuan bertindak seseorang yang berkaitan dengan pengelolaan dorongan emosi. Hal itu antara lain:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 1) Intensionalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dapat dengan mudah mengabaikan gangguan-gangguan apabila perlu berkonsentrasi; mampu menyelesaikan hampir semua gagasan; tahu cara mengatakan &quot;tidak&quot; ketika harus demikian; tahu cara menghargai diri sendiri sesudah meraih suatu sasaran; dapat menyingkirkan dahulu imbalan-imbalan jangka pendek demi sasaran-sasaran jangka panjang; dapat memusatkan perhatian saya pada suatu tugas sampai selesai bila saya harus demikian; menerima tanggung jawab atas pengelolaan emosi; ketika berhadapan dengan suatu masalah, mengurusinya selekas mungkin; berpikir tentang yang saya inginkan sebelum bertindak; dapat menunda kepuasan pribadi demi sasaran yang lebih besar; dapat membicaraka permasalahan dengan diri sendiri; tidak marah apabila dikritik; mengetahui penyebab kemarahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 2) Kreativitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Memiliki gagasan proyek-proyek inovatif kepada lembaga; berpe-ran serta dalam berbagai informasi dan gagasan; meramal masa depan untuk memudahkan tujuan; memunculkan gagasan terbaik ketika sedang tidak memikirkannya; mempunyai gagasan-gagasan cemerlang baik yang berupa kilasan maupun yang tampak secara utuh; memiliki penginderaan yang baik mengenai kapan suatu gagasan akan berhasil atau gagal; tergerak oleh konsep-konsep yang baru dan tidak lazim; telah menerapkan proyek-proyek inovatif di lembaga; tergerak oleh gagasan-gagasan dan solusi-solusi baru; ahli dalam menggodok pemecahan masalah sampai menghasilkan sejumlah pilihan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 3) Ketangguhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dapat pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa; dapat mem-peroleh dibutuhkan jika tekad sudah bulat; halangan atau masalah dapat telah menghasilkan perubahan-perubahan tak terduga ke arah yang lebih baik; mudah menunggu dengan sabar bila harus demikian; selalu ada lebih dari satu jawaban yang benar; tahu cara memuaskan seluruh bagian dalam diri; tidak suka menangguhkan suatu pekerjaan; tidak takut mencoba lagi bila pernah gagal dalam pekerjaan yang sama; mampu memutuskan bahwa masalah-masalah tertentu tidak berharga untuk dicemaskan; mampu menyantaikan diri bila mulai tegang; dapat melihat sisi humor suatu situasi; dapat mengesampingkan dahulu suatu masalah untuk mendapatkan perspektif yang lebih baik; bila menghadapi suatu masalah perhatian terpusat pada aspek-aspek yang dapat diperbuat untuk memecahkannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 4) Hubungan Antar Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dapat sedih bila kehilangan sesuatu yang penting; merasa nyaman bila bersama seseorang yang terlalu dekat secara emosional; mempunyai teman-teman yang dapat diandalkan dalam masa-masa sulit; banyak menunjukkan rasa sayang kepada teman-teman; bila mempunyai masalah, tahu harus pergi ke mana dan harus berbuat apa untuk mnemecahkannya; keyakinan dan nilai-nilai yang dianut menuntun tindakan saya sehari-hari; keluarga selalu siap bila dibutuhkan; yakin bahwa teman-teman sungguh peduli sebagai pribadi; mudah mendapatkan teman; tidak kesulitan bila harus menangis atau merasa sedih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 5) Ketidakpuasan Konstruktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Sanggup berbeda pendapat dengan efektif untuk mengubah sesuatu; mengungkapkan perasaan meskiupun hal itu akan menimbulkan perbedaan pendapat; apabila suatu masalah datang merasa percaya diri sendiri untuk menyelesaikannya; tetap tenang bahkan dalam situasi yang membuat orang lain marah; tidak takut membuat masalah meskipun dapat menghindarinya; mudah mencapai kata sepakat dengan rekan-rekan kerja; mencari umpanbalik menge-nai kinerja diri; ahli dalam mengorganisasi dan memotivasi sebuah kelompok; senang menghadapi tantangan dan memecahkan masalah dalam pekerjaan; mendengarkan kritik dengan pikiran terbuka dan menerimanya bila dapat dibenarkan; membiarkan masalah mencapai titik kritis sebelum membicar-akannya; bila melontarkan komentar yang kritis perhatian terpusat pada perilaku bukan pada orangnya; tidak menghindari konfrontasi bila berhadapan dengan masalah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; d. Nilai-nilai EQ dan Keyakinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kategori ini menggambarkan perilaku atau tujuan bertindak seseorang yang berkaitan dengan pengelolaan dorongan emosi yang berhubungan dengan nilai-nilai keyakinan (belief). Termasuk ke dalam kategori ini adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 1) Belas Kasihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Mampu melihat rasa sakit pada orang lain meskipun mereka tidak membicarakannya; dapat membaca emosi orang lain dari bahasa tubuh mereka; bertindak menurut etika dalam berurusan dengan orang lain; tidak akan ragu meninggalkan kesibukan guna menolong orang yang kesulitan.; memperhitung-kan perasaan orang lain dalam interaksi dengan mereka; dapat menempatkan diri dalam kedudukan orang lain; tidak ada orang yang tidak pernah/sulit dimaafkan; mudah memaafkan karena diri tidak sempurna; membantu orang lain menjaga harga dirinya dalam situasi sulit; tidak begitu mencemaskan kekurangan-kekurangan diri; tidak iri kepada orang yang lebih mampu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 2) Sudut Pandang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Melihat sisi positif pada segala sesuatu; mencintai kehidupan; mengetahui dan dapat menemukan solusi atas masalah yang sulit; percaya bahwa segala sesuatu biasanya membaik dengan sendirinya; tidak merasa frustasi dalam hidup meskipun banyak orang yang ingkar janji; menyukai diri apa adanya; melihat tantangan sebagai peluang untuk belajar; meskipun di bawah tekanan, percaya akan mendapatkan sebuah pemecahan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 3) Intuisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Terkadang mendapat jawaban yang benar bagi suatu persoalan tanpa alasan yang jelas; firasat biasanya benar/terbukti; dapat menggambarkan sasaran-sasaran di masa datang; ketika merancang atau mengerjakan sesuatu sudah dapat melihat produk atau gambaran akhir meskipun saat ini belum selesai; percaya dengan impian sendiri meskipun orang lain tidak dapat me-lihat atau memahami semua itu.; ketika dihadapkan dengan pilihan yang sulit, dapat dengan mudah mengikuti kata hati; jarang mengubah tekad yang sudah bulat; diakui orang bahwa dapat meramal atau memiliki firasat yang tajam; tidak sulit menerima pandangan yang berbeda; mengandalkan dorongan hati ketika membuat keputusan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 4) Radius Kepercayaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Percaya bahwa orang tidak akan memanfaatkan dirinya begitu saja; menaruh kepercayaan tanpa terlalu terikat dengan alasan; siapa pun mudah untuk dipercaya; menghormati siapa pun; mungkin saja imbalan orang lain layak lebih baik; mempercayai rekan dekat dalam pekerjaan; merasa bisa berbuat banyak; dalam hidup ini banyak yang adil atau layak; mencoba mengatasi masalah dengan rencana alternatif; ketika bertemu dengan orang-orang baru, banyak informasi pribadi yang diungkapkan kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 5) Daya Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Merasa dapat membuat apa pun terjadi; memandang bahwa nasib tidak begitu berperan penting dalam hidup; demi perbaikan mampu menentang hierarki yang mapan di tempat bekerja; merasa bahwa keadaan masih dapat dikendalikan; tidak begitu membutuhkan pengakuan dari orang lain atas karya sendiri; mudah menyukai sesuatu; tidak sulit menerima pujian; merasa mempunyai kemampuan untuk mendapatkan yang diinginkan; merasa dapat mengendalikan hidup; tidak merasa takut dan lepas kendali apabila segala sesuatu berubah dengan cepat; senang bertanggung jawab atas sesuatu; tahu yang diinginkan kemudian setelah memperoleh yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 6) Integritas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Senantiasa bersedia mengakui kesalahan yang diperbuat; tidak merasa seperti seorang penipu, pengecoh atau pembohong; siap pindah kerja jika tidak bersemangat lagi dengan pekerjaan; memandang pekerjaan sebagai perpanjangan dari sistem nilai pribadi; berupaya keras untuk tidak pernah berbohong; tidak bisa menerima suatu situasi yang tidak mempercayai dirinya; tidak membesar-besarkan kemampuan karena ingin memperoleh kesempatan yang lebih baik; senantiasa berterus terang meskipun yang dihadapi sangat sulit; tidak bisa mengerjakan sesuatu pekerjaan yang bertentangan dengan keyakinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; d. Hasil-hasil EQ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kategori ini berkaitan dengan peristiwa-peristiwa kedirian seseorang yang diduga kuat sebagai konsekuensi dari kualitas EQ yang bersangkutan. Meliputi hal-hal sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 1) Kesehatan Secara Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; a) Gejala-Gejala Fisik yang Sering Dirasakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas kesehatan fisik secara umum; yaitu nyeri punggung bukan karena cedera; mengalami masalah berat badan (kelebihan atau kekurangan); sakit kepala karena tegang; sakit kepala karena migren; pilek atau gangguan pernafasan bukan karena perubahan cuaca/asma; mengalami masalah perut (kembung atau tidak normal buang air besar); nyeri dada bukan karena cedera; sakit dan nyeri pada bagian tubuh yang sulit dijelaskan; nyeri atau sakit kronis lain selain yang telah dijelaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; b) Gejala-Gejala Perilaku yang Sering Muncul:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas perilaku sehat secara umum; yaitu mengalami masalah yang berhubungan dengan makan (hilang selera, tidak teratur, terus menerus); merokok dalam kapasitas di luar kebiasaan selama ini; minum minuman beralkohol; minum obat penenang; minum aspirin atau obat penghilang rasa sakit (nyeri) lain; kebiasaan minum obat-obat lain; menarik diri dari hubungan dekat dengan pihak/orang lain; mengkritik, menyalahkan atau melecehkan orang lain; merasa menjadi korban atau dimanfaatkan oleh orang lain; kecanduan menonton TV (&amp;gt; 2 jam sehari); melakukan kegiatan rekreatif/bermain lebih dari 2 jam sehari; tidak menyukai campur tangan orang lain; kerap mengalami kecelakaan fisik/cedera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; c) Gejala-Gejala Emosi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Seberapa sering mengalami hal-hal berikut adalah ukuran kualitas kesehatan jiwa secara umum; yaitu sulit berkonsentrasi; merasa kelebihan beban pekerjaan; perhatian mudah teralihkan; tidak mudah melupakan sesuatu yang berkesan negatif/terus cemas; merasa depresi, kesal atau putus asa; merasa kesepian; pikiran terasa kosong; merasa letih atau kelebihan beban; sulit memantapkan hati atau membuat keputusan; sulit memulai suatu kegiatan/sulit menenangkan diri untuk memulai suatu kegiatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 2) Kualitas Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Merasa puas sekali dengan hidup yang dijalani saat ini; merasa kuat sehat dan bahagia; merasakan kedamaian dan kesejahteraan di dalam hati; tidak terlalu merasa perlu membuat banyak perubahan dalam hidup agar betul-betul bahagia; hidup dirasakan dapat memenuhi kebutuhan yang paling dalam; mendapatkan lebih banyak dari pada yang diharapkan dari hidup ini; menyukai diri sebagaimana adanya; bekerja terasa menyenangkan; merasa telah menemukan pekerjaan yang bermakna; merasa berada dalam jalur yang mengantarkan kepada kepuasan; merasa telah mengerahkan sebagian besar kemampuan diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 3) Relationship Quotient&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Terdapat sejumlah orang yang berhubungan (relation) pada tingkat lebih dalam; jujur kepada orang-orang yang akrab sebagaimana mereka pun jujur kepada dirinya; menyayangi seseorang secara mendalam; mudah mene-mukan orang-orang yang dapat diajak bergaul; dapat membuat komitmen jangka panjang dengan siapa saja untuk suatu hubungan; menyadari bahwa dirinya bermakna/ penting bagi banyak orang; merasa mudah mengatakan kepada orang-orang bahwa dirinya peduli kepada mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 4) Kinerja Optimal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Merasa puas dengan kinerja saat ini; rekan-rekan kerja memandang bahwa diri kita memudahkan komunikasi yang baik di antara anggota kelompok; tidak merasa terkucil dalam pekerjaan; mudah mengerahkan perhatian pada tugas yang harus dikerjakan; dalam tim kerja, dilibatkan dalam pembuatan keputusan; tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi komitmen atau menyelesaiakan tugas; terus berusaha meningkatkan kinerja diri agar dapat menghasilkan yang terbaik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; III. Diskusi, Temuan Terdahulu dan Pembahasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Pada bagian ini penulis memandang penting untuk terlebih dahulu menjelaskan istilah profesional pada kata Guru Profesional. Istilah profesional pada tulisan ini tidak merujuk kepada penggunaan istilah tersebut pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) -yang seringkali menimbulkan kerancuan dalam wacana dilapangan - yang menyatakan &quot;Pendidikan tinggi terdiri dari pendidikan akademik dan pendidikan profesional.&quot; Yang dimaksud dengan pendidikan akademik adalah pendidikan yang sebagian besar porsinya ditujukan untuk penguasaan dan pengembangan ilmu dengan bobot keterampilan yang lebih sedikit. Pendidikan akademik adalah program gelar (Sarjana/S-1, Magister/S-2, Doktor/S-3) yang diselenggarakan oleh sekolah tinggi, institut, dan universitas. Di pihak lain, pendidikan profesional adalah pendidikan yang bobot pembekalan keterampilannya lebih banyak dari pada penguasaan teori atau konsep karena memang peserta didik disiapkan untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan yang ada dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dalam istilah lain disebut juga pendidikan non-gelar. Pendidikan profesional diselenggarakan oleh akademi dan politeknik dalam bentuk program Diploma, juga oleh sekolah tinggi, institut, dan universitas. Pengertian ini mengundang tafsiran yang rancu sekan-akan pendidikan akademik tidak menyiapkan lulusannya siap kerja dan profesional. Oleh karenanya, guru profesional atau pendidikan profesional dalam makalah ini dimaksudkan sebagai lulusan pendidikan yang selain memiliki keterampilan khusus juga meliputi dimensi penguasasaan keilmuan, social, etik/moral, serta nilai-nilai kemanusiaan dari suatu pekerjaan. Tidak jadi soal apakah ia lulusan program diploma atau program strata (S1, S2 atau S3).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Jika kita cermati sejumlah karakteristik guru profesional sebagaimana dikemukakan pada halaman-halaman terdahulu, di samping berkaitan dengan hal-hal yang bersifat akademis dan keterampilan akan ditemukan beberapa pernyataan yang lebih kental nuansa moral-psikologisnya misalnya: tanggung jawab, memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, bermoral, spiritual, komitmen terhadap kepentingan siswa, mampu berpikir reflektif dan korektif, serta memiliki kepribadian yang efektif. Karakter guru profesional yang demikian itu jelas sangat diperlukan ada pada diri guru (SD) sebagai modal utama dalam menghadapi tantangan kekinian dan masa depan yang makin kompleks: kepesatan perkembangan iptek, persaingan hidup dan karir yang semakin garang dan tajam, serta tuntutan kualitas hidup dan pendidikan di tengah-tengah masyarakat yang makin tinggi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Oleh karenanya maka penyelenggaraan program pendidikan untuk calon guru -khususnya guru SD - oleh LPTK harus diarahkan pada upaya mempersiapkan guru yang cakap secara profesional serta memiliki kematangan pribadi dengan kecerdasan emosi yang memadai dan tangguh. Berdasarkan hal itu, dapat diasumsikan bahwa untuk menghasilkan pencapaian tersiapkannya calon guru (SD) yang professional yang mampu mengantisipasi tuntutan kompleks masa kini dan masa depan, maka harus dirancang sedemikian rupa suatu layanan managerial yang dapat berfungsi memfasilitasi perkembangan kecerdasan emosional para mahasiswa calon guru tersebut; terutama yang menyangkut kecerdasan dalam menghadapi dan mengatasi berbagai problema pencapaian kesuksesan karir atau prestasi belajar, yang dikenal dengan kecerdasan eksekutif (EQ-Executive).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Gagasan perlunya LPTK secara terprogram mematangkan kepribadian dan kecerdasan emosi para mahasiswa calon guru (SD) bukan sesuatu yang mengada-ada melainkan juga didasarkan pada hasil analisis berbagai literature. Berbagai informasi menunjukkan bahwa salah satu alasan umum yang dapat memicu timbulnya perilaku menyimpang dari seseorang - termasuk guru - dalam memberikan reaksi terhadap lingkungan, semisal pesismis dan konsep diri yang negatif, pada umumnya bukan karena rendahnya kualitas skill dan kemampuan akademis semata, melainkan karena mereka tidak memiliki kematangan kepribadian atau kecerdasan emosinya kurang; misalnya rendahnya kemampuan (skill) untuk mencapai apa yang diinginkan (need for achievement) atau rentannya kesiapan psikologis mereka dalam berhadapan dengan imbalan (reward) yang tertangguhkan; atau mereka itu memiliki internal locus of control (kemandirian) yang lebih rendah dibandingkan dengan kecenderungan external locus of control (ketergantungan kepada yang lain) dalam dirinya (Asmawi Zainul, 1999:13).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Goleman (1998) memperkuat bahwa perilaku-perilaku menyimpang yang disebabkan oleh rendahnya kecerdasan emosional (Emotional Intelligence) mereka berkaitan dengan ketidakmatangan kondisi psikologis yang bersangkutan dalam hal: memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa. Dengan kata lain, perilaku menyimpang baik dari para remaja (termasuk mahasiswa) maupun kaum profesional (guru) mengindikasikan betapa rendahnya Kecerdasan Emotional mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dari sejumlah penelitian yang telah dilakukannya Goleman berkesim-pulan bahwa kesuksesan karir seseorang 80% ditentukan oleh kecerdasan emosi (EQ)-nya. Berdasarkan sejumlah hasil penelitian tersebut, bahkan terbukti bahwa Kecerdasan Pikiran (IQ) atau Kecerdasan Akademis semata-mata praktis tidak menawarkan persiapan untuk menghadapi gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan-kesulitan hidup. Oleh karenanya, ia mengingatkan bahwa dalam institusi pendidikan (formal maupun informal) perlu dibangun suatu mekanisme yang cukup efektif dalam menciptakan kondisi emosional yang kondusif (Goleman,1998:47).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Robert K Cooper &amp;amp; Ayman Sawaf (2001) pada bagaian pendahuluan dari bukunya (Executive EQ) menegaskan bahwa jika pada abad 20 kesuksesan profesi seseorang diasumsikan sangat ditentukan oleh IQ, maka berdasarkan bukti-bukti yang banyak di penghujung abad 21, dapat ditegaskan bahwa kesuksesan seseorang dalam menghadapi tugas-tugas kehidupan adalah ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ). Lebih spesifik lagi keduanya mengenalkan &#39;Executive EQ&#39; sebagai variabel penting bagi kesuksesan profesi seseorang. Jika kita memandang tugas mendidik dari seorang guru merupakan suatu wujud tugas eksekutif dalam pengertian professional yang menuntut kompetensi dan kredibilitas tertentu maka pikiran Robert K Cooper &amp;amp; Ayman Sawaf sangat layak untuk dipertimbangkan oleh para pengelola LPTK yang mempersiapkan calon guru (SD).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Landasan empirik lainnya bagi hal ini adalah hasil penelitian serial selama tidak kurang dari dua puluh tahun dari John Gottman (1998), yang dilakukan terhadap tidak kurang dari 119 keluarga, yang menemukan bukti-bukti kuat bahwa mereka yang memiliki EQ yang relatif baik, mampu memperoleh nilai akademis yang lebih tinggi, mampu bergaul lebih baik, tidak banyak mengalami masalah tingkah laku, dan tidak mudah terpancing untuk melakukan tindak kekerasan bila dibanding-kan dengan anak-anak yang orangtuanya tidak mempraktekkan hal semacam itu. Teori dan bukti empiris Kecerdasan Emosional (EQ) memberikan harapan dan optimisme baru terhadap pengembangan kualitas profesi kependidikan, khususnya di lingkungan LPTK.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Persoalan selanjutnya adalah, dengan cara bagaimana pembinaan calon guru (SD) yang profesional dan memiliki kecerdasan emosi di lakukan di LPTK. Dengan mengadaptasi sebagian gagasan HAR Tilaar (1999:368-378), Dedi Supriadi (1999) berikut adalah hal-hal yang perlu dipertimbangan untuk menjawab persoalan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Pertama, perlu dipelihara dan ditingkatkan ekologi kampus yang kondusif bagi penyelenggaraan perkuliahan yang demokratis, menjunjung tinggi hak asasi manusia (mahasiswa), kemudahan mengakses informasi, mendorong perkembangan ilmu dan teknologi, serta menanamkan kegandrungan terhadap orientasi kualitas dalam berbagai segi kehidupan (kampus).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kedua, memelihara dan meningkatkan kondisi kampus yang memberda-yakan mahasiswa. Ada empat modal dasar yang berperan dalam proses pemberdayaan mahasiswa di dalam kampus yaitu dosen, mahasiswa, tenaga administratif, dan sarana pendukung. Keempat komponen ini saling kait-mengkait dalam memberdayakan mahasiswa dengan dukungan birokrasi kampus yang &#39;cair&#39; (tidak kaku); semangat inovatif dan eksploratif dosen yang tetap akrab, ramah, santun namun tetap tegas; mengembangkan dan mendukung penalaran kritis mahasiswa; menjunjung tinggi disiplin; beorientasi pada kualitas; dan penyediaan sarana yang memadai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Ketiga, adanya usaha intensif, terorganisir dan terus menerus untuk terjadinya kolaborasi antara para guru (calon guru) sehingga terjadi berbagi pengalaman dalam hal cara-cara menguasai dan mengimplementasikan prinsip-prinsip pedagogi secara umum maupun didaktik-metodik secara khusus yang berlaku pada setiap mata pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Keempat, Jika kita mensepakati bahwa unsure emosi yang paling asasi dalam mendidik adalah kasih sayang, maka sejak mereka (calon guru) memasuki dunia perkuliahan di LPTK, biasakan sejak dini mereka memasuki pembelajaran dengan Pedagogi Kasih Sayang. Pesan ini merujuk kepada falsafah belajar dalam Islam yang sejak awal menyuruh belajar (membaca) dengan atas nama Tuhan. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw berbunyi &quot;Bacalah! Dengan nama Tuhanmu. . .&quot; Sedangkan nama tuhan yang pertama dikenalkan kepada manusia dan terdapat dalam hampir seluruh surat al-Quran adalah &quot;Ar-rohman dan Ar-rohim, Yang Maha Kasih dan Maha Sayang&quot;. Benar apa yang dikatakan Federico Mayor, mantan Mentri Pendidikan Spanyol, &quot;. . . There is only one pedagogy . .the pedagogy of love&quot; (hanya ada satu pedagogi. yaitu pedagogi kasih sayang). Dasar pendidikan adalah kasih sayang, cinta kasih yang tulus. Kalau guru sudah kehilangan kasih sayang kepada muridnya, maka saat itulah pendidikan mulai kehilangan jati dirinya. Ironisnya, hampir selama tiga dasawarsa terakhi, para calon guru di LPTK sejak awal lebih sering bersentuhan - bahkan bergaul - dengan ilmu pendidikan &#39;modern&#39; yang mulai kehilangan sentuhan kasih sayang dan kepekaannya pada anak manusia. Pendekatan, model, metode, teknik dan bahkan instrumen pembelajaran yang diajarkan kepada mahasiswa calon guru (SD) sangat kental merujuk kepada aliran Behavioristik yang memandang manusia sebagai sebuah mesin (homo mechanicus) yang sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Kelima, kehidupan kampus (interaksi mahasiswa di dalamnya, termasuk perkuliahan) harus dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi miniatur kehidupan realistik tempat mereka mengelola, mengaktualisasikan, dan mema-tangkan perkembangan emosinya secara sehat. Adalah sangat penting adanya institusi dalam LPTK yang secara terencana dan periodik melakukan studi dan memantau profil serta perkembangan emosi mahasiswa calon guru (SD). Dari hasil studi ini kemudian dilakukan kegiatan, pembinaan atau pelatihan-pelatihan khusus untuk mematangkan perkembangan kecerdasan emsosi mereka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; IV. Kesimpulan dan Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; A. Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Guru (SD) masa kini dan masa depan tengah dan akan selalu berhadapan dengan tantangan perkembangan zaman yang kian berat dan kompleks. Untuk itu para guru harus memiliki dua kompetensi yaitu karakter guru profesional dan modal kecerdasan emosi yang memadai serta tangguh. Kedua kompetensi tersebut harus sejak dini dibekalkan oleh institusi penghasil calon guru (LPTK) melalui:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (1) penciptaan ekologi kampus yang demokratis, humanis-religius, ilmiah, dan berorientasi pada kualitas;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (2) penciptaan kampus yang memberdayakan mahasiswa;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (3) memfasilitasi terjadinya kolaborasi antara para guru (calon guru) sehingga terjadi berbagi pengalaman;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (4) melibatkan mahasiswa sejak dini dan secara intens ke dalam pedagogi kasih sayang dalam pengelolaan pembelajaran; dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; (5) mencipatakn lingkungan kampus serta melakukan studi dan layanan bagi upaya pengenalan dan pengembangan profil kecerdasan emosi mahasiswa calon guru (SD).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; B. Saran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dalam mengahiri makalah ini penulis mengajukan beberapa saran terkait dengan mempersiapkan calon guru (SD) yang profesional serta memiliki kecerdasan emosi yang memadai. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 1. Penyiapan guru profesional dengan kecerdasan emosi yang memadai harus dimulai sejak masa rekruitmen (penerimaan) calon mahasiswa guru SD. Materi, instrument, dan cara seleksi calon mahasiswa harus merujuk kepada karakteristik dan standar dari profil guru profesional dan kecerdasan emosi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 2. Para mahasiswa calon guru (SD) selama menjalani pendidikan selain menjalani pembinaan wawasan, karakter, dan profil calon guru profesional ia jua harus secara intensif dievaluasi secara periodik apakah selama menjalani pendidikan yang bersangkutan mampu menunjukkan sejumlah karakter guru profesional. Evaluasi untuk hal itu sudah barang tentu tidak cukup dengan &#39;paper-pencil test&#39; semata-mata. Sistim penilaian dengan instrumen asesmen yang dipadukan dengan program magang terstruktur di sekolah dasar yang variatif bagi calon guru SD akan lebih tepat dari pada pola Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang selama ini berjalan. Terkait dengan itu, sejak dini mahasiswa harus difasilitasi agar terlibat aktif dalam suatu wadah/organisasi profesi keguruan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 3. Perkuliahan yang berkaitan dengan ilmu mendidik atau metode pembelajaran semestinya diperkaya dengan kajian-kajian literature yang lebih dominan nuansa humanistis, spiritual, moral, dan kecerdasan emosi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; 4. Setiap LPTK penghasil calon guru (SD) hendaknya memiliki institusi yang bertugas khusus secara periodik melakukan studi/penelitian untuk mengungkap profil dan perkembangan kecerdasan emosi mahasiswa calon guru (SD). Hasil studi ini menjadi bahan masukan dan pembinaan lebih lanjut bagi mahasiswa yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Asmawi Zainul. (1998). Locus of Control, Self-Esteem, dan Tes Baku. Jurnal Pendidikan: Mimbar Pendidikan. No. 3. Tahun XVII. 1998. Halaman 12-18. Bandung: University Press IKIP Bandung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Bobbi DePorter &amp;amp; Mike Hernacki. (1999). Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. (Terj.). Bandung: Penerbit Kaifa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Dedi Supriadi. (1999). Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Robert K Cooper &amp;amp; Ayman Sawaf. (2001). Executive EQ: Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Goleman, D. (1998). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emotional, Mengapa EI lebih penting dari IQ. (Terj.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; H.A.R Tilaar. (1999). Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional:Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Penerbit Tera Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Jalaluddin Rakhmat. (1999). Sabar: Kunci Kecerdasan Emotional. Buletin Dakwah Al-Tanwir No. 140 Edisi 25 Mei 1999. Bandung: Muthahari Press.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; -----------------. (1993). Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Mohammad Surya. (2003). Percikap Perjuangan Guru. Semarang: CV Aneka Ilmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Moh. Zen. (1999). Faktor-faktor Determinatif Perilaku Menyimpang di Kalangan Remaja. Jurnal Pendidikan: Mimbar Pendidikan. No. 2. Tahun XVIII. 1999. Halaman 52-60. Bandung: University Press IKIP Bandung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Piet A. Sahartian. (1994). Profil Pendidik Profesional. Jogyakarta: Andi Offset.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Shapiro, L.E. (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. (Terj.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/guru-sd-dan-kecerdasan-emosi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-323842786130800966</guid><pubDate>Tue, 19 Jul 2011 15:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-19T22:32:52.318+07:00</atom:updated><title>Persyaratan Inpassing bagi Guru Non PNS</title><description>&lt;a title=&quot;View Persyaratan Inpassing Bagi Guru Non PNS on Scribd&quot; href=&quot;http://www.scribd.com/doc/60345790/Persyaratan-Inpassing-Bagi-Guru-Non-PNS&quot; style=&quot;margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;&quot;&gt;Persyaratan Inpassing Bagi Guru Non PNS&lt;/a&gt;&lt;iframe class=&quot;scribd_iframe_embed&quot; src=&quot;http://www.scribd.com/embeds/60345790/content?start_page=1&amp;view_mode=list&amp;access_key=key-2ma49brh45orov4p1br7&quot; data-auto-height=&quot;true&quot; data-aspect-ratio=&quot;0.772727272727273&quot; scrolling=&quot;no&quot; id=&quot;doc_41422&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;600&quot; frameborder=&quot;0&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;(function() { var scribd = document.createElement(&quot;script&quot;); scribd.type = &quot;text/javascript&quot;; scribd.async = true; scribd.src = &quot;http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js&quot;; var s = document.getElementsByTagName(&quot;script&quot;)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/persyaratan-inpassing-bagi-guru-non-pns_19.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-5086593094630902333</guid><pubDate>Tue, 19 Jul 2011 14:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-19T21:49:21.679+07:00</atom:updated><title>TUNJANGAN FUNGSIONAL 2011 BERMASALAH</title><description>BELUM BISA DICAIRKAN TUNJANGAN FUNGSIONAL KARENA STTS NUPTK TIDAK DIKENAL, DOBEL NOMOR REKENING &amp; PESERTA SERTIFIKASI MOHON SEGERA DI KLARIFIKASI KE TENDIK DIKDAS JAKBAR SECEPATNYA MENGINGAT TUNJANGAN FUNGSIONAL AKAN SEGERA DICAIRKAN &amp; BISA MELALUI SMS KE NOMOR 085691155555, 08567439401 &amp; 081384592508. UNTUK NOMOR REKENING DIKIRIM FOTO COPYNYA LANGSUNG KE SUDIN TENDIK.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DENGAN KETIK:&lt;br /&gt;
1. NAMA,&lt;br /&gt;
2. NOMOR NUPTK,&lt;br /&gt;
3. NOMOR NUPTK DARIMANA (STTS AWAL ATAU MUTASI) &amp;&lt;br /&gt;
DIKELUARKAN TAHUN BERAPA,&lt;br /&gt;
4. NAMA SEKOLAH,&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;
&lt;a title=&quot;View  Fungsional Yang Tidak Bisa Dicairkan Tf on Scribd&quot; href=&quot;http://www.scribd.com/doc/60341435/Fungsional-Yang-Tidak-Bisa-Dicairkan-Tf&quot; style=&quot;margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;&quot;&gt; Fungsional Yang Tidak Bisa Dicairkan Tf&lt;/a&gt;&lt;iframe class=&quot;scribd_iframe_embed&quot; src=&quot;http://www.scribd.com/embeds/60341435/content?start_page=1&amp;view_mode=list&amp;access_key=key-2fb441q7yfgxbpkrtavo&quot; data-auto-height=&quot;true&quot; data-aspect-ratio=&quot;1.64705882352941&quot; scrolling=&quot;no&quot; id=&quot;doc_88841&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;600&quot; frameborder=&quot;0&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;(function() { var scribd = document.createElement(&quot;script&quot;); scribd.type = &quot;text/javascript&quot;; scribd.async = true; scribd.src = &quot;http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js&quot;; var s = document.getElementsByTagName(&quot;script&quot;)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/tunjangan-fungsional-2011-bermasalah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-2618212841841785625</guid><pubDate>Mon, 04 Jul 2011 04:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-04T11:02:18.502+07:00</atom:updated><title></title><description>&lt;a title=&quot;View DAFTAR PESERTA SERTIKASI 2011 on Scribd&quot; href=&quot;http://www.scribd.com/doc/59264399/DAFTAR-PESERTA-SERTIKASI-2011&quot; style=&quot;margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;&quot;&gt;DAFTAR PESERTA SERTIKASI 2011&lt;/a&gt;&lt;iframe class=&quot;scribd_iframe_embed&quot; src=&quot;http://www.scribd.com/embeds/59264399/content?start_page=1&amp;view_mode=list&amp;access_key=key-3y0bomzh6nmk73f8rye&quot; data-auto-height=&quot;true&quot; data-aspect-ratio=&quot;&quot; scrolling=&quot;no&quot; id=&quot;doc_87357&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;600&quot; frameborder=&quot;0&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/07/daftar-peserta-sertikasi-2011.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6347927902356796761.post-8844912058454691910</guid><pubDate>Tue, 28 Jun 2011 18:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-29T01:34:35.139+07:00</atom:updated><title></title><description>&lt;a title=&quot;View PESERTA PLPG TAHAP 3 GRAHA INSAN CITA on Scribd&quot; href=&quot;http://www.scribd.com/doc/58914893/PESERTA-PLPG-TAHAP-3-GRAHA-INSAN-CITA&quot; style=&quot;margin: 12px auto 6px auto; font-family: Helvetica,Arial,Sans-serif; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 14px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none; display: block; text-decoration: underline;&quot;&gt;PESERTA PLPG TAHAP 3 GRAHA INSAN CITA&lt;/a&gt;&lt;iframe class=&quot;scribd_iframe_embed&quot; src=&quot;http://www.scribd.com/embeds/58914893/content?start_page=1&amp;view_mode=list&amp;access_key=key-17lbisc36oodwtne34s8&quot; data-auto-height=&quot;true&quot; data-aspect-ratio=&quot;0.707514450867052&quot; scrolling=&quot;no&quot; id=&quot;doc_44726&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;600&quot; frameborder=&quot;0&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;(function() { var scribd = document.createElement(&quot;script&quot;); scribd.type = &quot;text/javascript&quot;; scribd.async = true; scribd.src = &quot;http://www.scribd.com/javascripts/embed_code/inject.js&quot;; var s = document.getElementsByTagName(&quot;script&quot;)[0]; s.parentNode.insertBefore(scribd, s); })();&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  &lt;/span&gt;</description><link>http://sdnkembsel02pg.blogspot.com/2011/06/peserta-plpg-tahap-3-graha-insan-cita.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>