<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 01:56:54 +0000</lastBuildDate><category>puisi</category><category>cinta</category><category>cerita</category><category>Pantun</category><category>books</category><title>All about campus-love that did not dare to be revealed by me</title><description>Has been written two feelings pearls and the love more bererti to all kerana both of them equally noble to manusia,kedamaian maya and peacefulness only just considered you as well as you threw your sweet smile to me.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>75</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:keywords>kata,mutiara,cinta,tembang,cinta</itunes:keywords><itunes:subtitle>Has been written two feelings pearls and the love more bererti to all kerana both of them equally noble to manusia,kedamaian maya and peacefulness only just considered you as well as you threw your sweet smile to me.</itunes:subtitle><itunes:category text="Music"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-7933809608939732770</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 15:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-28T08:16:54.106-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Lebih Dari Permata</title><description>Papa saya punya suatu kebiasaan yang membuat kami &lt;a href="http://akukris.blogspot.com/"&gt;sekeluarga&lt;/a&gt; kurang nyaman.&lt;br /&gt;Setiap kali mama sakit papa bawaannya marah dan sangat sensitive.&lt;br /&gt;Hal-hal kecil saja bias membuatnya begitu emosional.&lt;br /&gt;Begitu pula kalau mama berpergian untuk beberapa hari.&lt;br /&gt;Papa akan menjadi sangat gelisa dan panic meski dirinya bias mengurus semua keperluan keluarga.&lt;br /&gt;Dan ternyata kebiasaan papa tersebut tidak hilang sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun yang lalu waktu saya pulang kampong dan menginap di rumah adik saya ada suatu peristiwa yang cukup menggelitik hati saya mungkin karena kangen dan tidak ingin menyia-yiakan kesempatan berkumpul dengan saya mama pun jadi ikut-ikutan nginap di rumah adik.&lt;br /&gt;Sore hari saat kami sedang memasak di dapur,tiba-tiba papa muncul seperti ada yang hilang jika tidak ada mama di sampingnya.&lt;br /&gt;Kami juga anak-anak memang sangat kagum sama mama dalam keadaan sukar ia selalu tegar dan sabar setiapkali papa emosi.&lt;br /&gt;ia tenang penuh perhatian dan selalumemberi yang terbaik buat kami anak-anaknya.Bagi kami mama adalah permata yang sangat berharga.&lt;br /&gt;Betapa &lt;a href="http://akukris.blogspot.com/"&gt;bahagia&lt;/a&gt; jika kita berhasil menjadi sosok yang berkualitas dalam keluarga.&lt;br /&gt;Ini suatu hal yang terindah dan sangat mahal harganya, melebihi permata sekali pun.&lt;br /&gt;Dalam FIrman Tuhan pun mencatat,seorang wanita harus bernilai dan menjadi kesayangan dalam keluarga.&lt;br /&gt;Dan hal tersebut hanya dapat menjadi kenyataan, bila kita berhasil menjalankan tanggung jawab kita sebagai wanita dalam keluarga.&lt;br /&gt;Seorang &lt;a href="http://akukris.blogspot.com/"&gt;wanita&lt;/a&gt; memiliki peran yang sangat besar dalam keluarga, tidak salah jika ada pepatah yang mengatakan bahwa di belakang pria sukses ada wanita yang hebat.&lt;br /&gt;Pastikan wanita hebat itu adalah anda.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/03/lebih-dari-permata.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2199908216301368279</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 15:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-28T08:08:12.032-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">books</category><title>Presiden Guyonan</title><description>Judul: Presiden Guyonan&lt;br /&gt;Penulis: Butet Kartaredjasa&lt;br /&gt;Tebal: xxiv + 285 halaman&lt;br /&gt;Penerbit: Kitab Sarimin, Yogyakarta,&lt;br /&gt;Terbit: November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah surat kabar memuat ratusan berita setiap harinya. Berbagai peristiwa dihadirkan ke hadapan pembaca.secara bertubui-tubi. Isu demi isu terus berganti setiap minggunya. Nyaris tidak ada isu yang dapat bertahan lama. Pembaca pun seperti mengalami amnesia isu.&lt;br /&gt;Ini adalah konsekuensi dari media massa yang selalu mengutamakan aktualitas. Aktualitas dan kecepatan menyiarkan sebuah berita menjadi menjadi sebuah keharusan. Padahal kedalaman sebuah berita juga diperlukan agar dimensi-dimensi dari sebuah berita dapat ditangkap oleh pembaca.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, harus ada sebuah cara agar isu-isu yang mengemuka di media masa tidak terlindas begitu saja oleh isu-isu lain yang terus menjejali ruang pikiran pembaca. Cara ini harus dapat mengajak pembaca untuk melihat dimensi-dimensi lain dari sebuah peristiwa, merenungkan, merefleksikan, dan bahkan menginterpretasikannya&lt;br /&gt;Untuk itulah sebuah kolom hadir di surat kabar. Kolom tidak hadir dengan perhitungan kecepatan dan aktualitas, meskipun persoalan yang dikemukakan dapat saja merupakan sesuatu yang aktual, tetapi selalu mengajak pembaca untuk sejenak melongok peristiwa tersebut dan memberikan diri untuk merenungkannya.&lt;br /&gt;Tentu saja, untuk mencapai hal ini kolom harus hadir dengan format dan caranya yang berbeda dan khas. Di sinilah kepiawaian seorang penulis kolom dibutuhkan, dan Butet Kartaredjasa telah memilih caranya sendiri untuk mengajak pembaca melihat secara reflektif realitas yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;Untuk mengajak pembaca merenungkan persoalan atau fenomena yang terjadi dalam masyarakat, Butet menghadirkan tulisan-tulisan yang dapat mengundang pembaca tersenyum atau bahkan tertawa. Kolom-kolomnya tidak hadir dengan cara yang memberat karena ia tahu, apabila persoalan yang disampaikannya saja sudah berat, maka tidak perlu lagi memberikan beban kepada pembaca dengan menghadirkan tulisan-tulisan yang sulit diicerna. Di sinilah letak salah satu kekuatan kolom-kolom ini.&lt;br /&gt;Kelebihan lain kolom-kolom Butet yang pernah dimuat di harian Suara Merdeka di Semarang ini adalah hadirnya tokoh Mas Celathu bersama anggota keluarganya, yakni Mbakyu Celathu, istrinya, serta anak-anaknya. Lewat tokoh-tokoh inilah Butet menyajikan isu-isu penting yang mungkin terlupakan dalam dinamika kerja sebuah media.&lt;br /&gt;Namun tokoh sentral Mas Celathu memang sangat dominan dalam kolom-kolom Butet ini. Lewat sosok inilah Butet menyampaikan buah pikirannya. Tokoh ini digambarkannya sering muncul dengan kegelisahan-kegelisahan, kegeraman-kegeraman, dan bahkan dengan kebingungan-kebingungannya sendiri, yang merupakan respon dari apa yang dilihat dan dicermati dari lingkungannya.&lt;br /&gt;Mas Celtahu juga bukan hanya sosok sederhana yang terkadang terkesan selalu bebas berbicara, tukang njeplak, dan tajam dalam mengritik, tapi juga sering muncul dengan gagasan yang melawan mainstream. Sebut saja ketika ia bicara soal gay dan lesbian dalam kolomnya yang berjudul Psikopat Anyar. Dalam tulisan ini dikisahkan bagaimana Mas Celathu mencoba meluruskan anggapan umum masyarakat mengenai para gay dan lesbian yang terlanjur diberi cap negatif. Mas Celathu digambarkan mengajak masyarakat untuk menghargai keberadaan kelompok ini. Gay dan lesbian tidak selalu identik dengan pembunuhan kejam, mutilasi atau berbagai kejahatan lain. Justru mereka yang berprofesi mulia, dijangkiti sindrom psikopat.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, Mas Celathu pun acap kali tergoda dan ”gatal” untuk memberikan komentar, tanggapan, pujian ataupun ejekan dari apa yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini sesuai dengan istilah celathu, yang dalam bahasa Jawa dapat berarti nyeletuk, menyahut, atau "menyambar" omongan orang lain. Alhasil, dengan cara yang jenaka, pentolan teater Gandrik ini, mengritik dan mengolok-olok berbagai kejadian atau keadaan yang menurutnya tidak tepat, melanggar aturan, ataupun keliru sama sekali.&lt;br /&gt;Tetapi Butet tidak selalu memoisisikan Mas Celathu sebagai pengritik yang selalu bersih sehingga seakan-akan punya otoritas menunjuk kesalahan orang lain alias menghakimi. Di sisi lain justru ia menghadirkan Mas Celathu sebagai sosok yang manusiawi, yang sering khilaf, berbuat kekliruan, yang terkadang justru terjebak dalam kondisi atau persoalan yang sebelumnya sering ia kritik.&lt;br /&gt;Simak saja di kolom berjudul Isteri Bernyali. Dalam kolom ini dikisahkan Mas Celathu tergoda untuk "berbisnis" di lokasi yang tertimpa bencana alam. Ia melihat di lokasi bencana alam inilah ia bisa meraup keuntungan dengan berdagang berbagai benda yang dibutuhkan oleh mereka yang tertimpa bencana alam. Namun ide tersebut dimentahkan begitu saja oleh sang istri. Sang istri menilai gagasan tersebut tidak etis karena mencari keuntungan di atas kesusahan orang lain. Diserang seperti itu, Mas Celathu pun mengkeret tak berkutik. Rupanya Mas Celathu yang doyan memarahi penguasa pun bisa tunduk terhadap istrinya.&lt;br /&gt;Salah satu kelebihan kolom-kolom dalam Presiden Guyonan ini adalah bagaimana Butet memakai istilah-istilah dalam bahasa Jawa. Ini wajar saja, sebab kolom ini memang hadir di tengah-tengah masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Tetapi toh persoalan yang disampaikan bukan persoalan primordial, tetapi persoalan yang lebih luas lagi spekttrumnya, persoalan. Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa justru membuat kolom ini lebih hidup, lebih "berbumbu" sehingga unsur humor yang dibangun di dalamnya lebih kental. Mereka yang tidak terlalu paham bahasa Jawa dapat melihat arti atau makna dari istilah-istilah tersebut di bagian akhir buku ini.&lt;br /&gt;Penggunaan istilah dalam bahasa Jawa yang dilakukan oleh Butet tersebut, mengingatkan kita kepada kolom-kolom almarhum Umar Kayam yang dimuat di harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Dalam kolom-kolom tersebut Umar Kayam juga menggunakan istilah-istilah Jawa yang begitu mengena. Dengan istilah-istilah itu justru sendirian, ejekan, ataupun kritik yang dilontarkan menjadi lebih "ciamik" untuk dinikmati.&lt;br /&gt;Catatan lain dari kolom-kolom Butet ini adalah, ia menggunakan "logika terbalik" untuk memaknai masalah-masalah yang ditulis. Hal yang dimaksudkan di sini adalah, apabila sebuah persoalan dipandang serius, seseorang cenderung merseponnya dengan serius pula. Bahkan, sejumlah teori Barat--baik teori politik, ekonomi atau sosial--digunakan untuk memaknai dan mencarikan jalan keluar dari persoalan yang ada.&lt;br /&gt;Namun tidak demikian dengan Butet. Dalam kolom-kolomnya ini, ia justru merseponnya dengan cara yang ringan, sederhana, bahkan cenderung melucu. Persoalan-persoalan yang ada selalu dihampirinya dengan cara yang membuat orang tergelitik. Inilah yang dimaksudkan "logika terbalik". Sesuatu yang tampak serius, ”angker” atau bahkan elit, di kolom-kolom justru diresponnya hanya dengan tertawa. Di sini Butet seperti ingin mengajak pembaca menghampiri setiap masalah dengan cara yang terbalik. Ia seperti ingin berkata, buat apa susah-susah merunyamkan pikiran hanya karena memikirkan persoalan yang sudah terlalu ruwet. Lebih baik hadapi saja dengan senyum. Buat apa mengerutkan dahi karena melihat kesedihan yang terlampau menyedihkan, lebih baik tertawa saja agar kesedihan itu lebih dapat dapat terobati.***</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/03/presiden-guyonan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-3028896883793428794</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 14:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-28T08:03:31.755-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>we love talking</title><description>we &lt;a href="http://serlysumbung.blogspot.com/"&gt;love&lt;/a&gt; &lt;a href="http://tentang-teori-komunikasi.blogspot.com/"&gt;talking&lt;/a&gt; with loud voice and words as if we swing is the sincere lover&lt;br /&gt;if I may ask how far can we &lt;a href="http://serlysumbung.blogspot.com/"&gt;love&lt;/a&gt;?&lt;br /&gt;if we can say we are liars love ..!!!!</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/03/we-love-talking.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1822029656163028425</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 14:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-28T07:55:00.608-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>I am only a human being</title><description>&lt;a href="http://loveserly.blogspot.com/"&gt;I am&lt;/a&gt; only a human being,&lt;br /&gt;but I was.&lt;br /&gt;I can not do everything,&lt;br /&gt;but I can do something,&lt;br /&gt;I will not refuse to do something that I can still do it for the truth in the case</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/03/i-am-only-human-being.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1503465224104090314</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:53:43.085-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Jangan lautan hendak diduga</title><description>Kalau mengail di lubuk dangkal&lt;br /&gt;Dapat ikan sepenuh raga&lt;br /&gt;Kalau kail panjang sejengkal&lt;br /&gt;Jangan lautan hendak diduga</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/jangan-lautan-hendak-diduga.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1902555836329228050</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:52:55.182-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Apa guna</title><description>Apa guna kepuk di ladang&lt;br /&gt;Kalau tidak berisi padi&lt;br /&gt;Apa guna keris di pinggang&lt;br /&gt;Kalau tidak berani mati</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/apa-guna.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2821378020860232947</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:52:24.369-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Pantang menyerah di tengah gelanggang</title><description>Sampan kotak mengapa dikayuh&lt;br /&gt;Hendak belayar ke tanah seberang&lt;br /&gt;Patah kepak bertongkatkan paruh&lt;br /&gt;Pantang menyerah di tengah gelanggang</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/pantang-menyerah-di-tengah-gelanggang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1573104807864805745</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:48:43.206-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Hujan di hulu belumlah teduh</title><description>Air dalam bertambah dalam&lt;br /&gt;Hujan di hulu belumlah teduh&lt;br /&gt;Hati dendam bertambah dendam&lt;br /&gt;Dendam dahulu belumlah sembuh</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/hujan-di-hulu-belumlah-teduh.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-5526109678894496017</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:48:11.135-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Rela kumati berputih tulang</title><description>Lemaknya nasi bergulai udang&lt;br /&gt;Lemak berbau santan kelapa&lt;br /&gt;Rela kumati berputih tulang&lt;br /&gt;Tidak kumahu berputih mata</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/rela-kumati-berputih-tulang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-4541192830652293475</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:31:25.275-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Perahu payang</title><description>Perahu payang layarnya merah&lt;br /&gt;Belayar menuju arah utara&lt;br /&gt;Keris dipegang bersintukkan darah&lt;br /&gt;Adat pahlawan membela negara</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/perahu-payang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2534583723045454217</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:29:04.534-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Sungguh cantik</title><description>Sungguh cantik bunga yang merah&lt;br /&gt;Malangnya lama tidak disirami&lt;br /&gt;Kalau jasadku rebah ke tanah&lt;br /&gt;Rela aku disemadikan di sini</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/sungguh-cantik.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-7251178862032029130</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:24:59.465-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Itik dari Semarang</title><description>Telur itik dari Semarang&lt;br /&gt;Pandan terletak dilangkahi&lt;br /&gt;Darahnya titik di Indonesia&lt;br /&gt;Badannya terhantar di Langkawi</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/itik-dari-semarang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2050285842804889398</guid><pubDate>Sat, 10 Jan 2009 05:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-09T21:19:53.877-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pantun</category><title>Anna Abadi</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC-cMfqPCY5zqKKjbsT5wzs7JxxK2oTZw9L906VSNfg80YQUOlk3etXfmT8DO7lq1oUlc66E4ABs5I5fXzshN8GVvna73LPOt69VRYtrylvnIbH8m2NNRPmkIFl7h8HVAH1_Duz8exykU/s1600-h/AbadiELMEMUEROPORSERREY.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 300px;" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC-cMfqPCY5zqKKjbsT5wzs7JxxK2oTZw9L906VSNfg80YQUOlk3etXfmT8DO7lq1oUlc66E4ABs5I5fXzshN8GVvna73LPOt69VRYtrylvnIbH8m2NNRPmkIFl7h8HVAH1_Duz8exykU/s320/AbadiELMEMUEROPORSERREY.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289530392076252610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anna Abadi pergi ke Lukut&lt;br /&gt;Bawa pulang kacang panjang&lt;br /&gt;Sedikit pun hamba tak takut&lt;br /&gt;Kalau berani turun gelanggang</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/anna-abadi.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC-cMfqPCY5zqKKjbsT5wzs7JxxK2oTZw9L906VSNfg80YQUOlk3etXfmT8DO7lq1oUlc66E4ABs5I5fXzshN8GVvna73LPOt69VRYtrylvnIbH8m2NNRPmkIFl7h8HVAH1_Duz8exykU/s72-c/AbadiELMEMUEROPORSERREY.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-6034016325909111947</guid><pubDate>Sat, 03 Jan 2009 12:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-03T04:55:06.114-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Selamat Tahun Baru</title><description>Detik jarum jam menunjukan tepat jam 12.00,terompet telah di tiup,&lt;br /&gt;maka hari,bulan,tahun telah berganti aku ucapin selamat tahun baru.&lt;br /&gt;semoga di tahun ini semua lebih baik dari tahun kemarin &lt;br /&gt;dan sagala cita,cinta,karir harus kita tingkatkan&lt;br /&gt;janganlah menjadi lebih malas or lebih buruk &lt;br /&gt;mari kita sambut hari baru ini dengan semangat dan tekat yang kuat&lt;br /&gt;serta keyakinan akan lebih baik dan lebih baik lagi kawan</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2009/01/selamat-tahun-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-5945653648999697080</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 09:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T01:37:23.508-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Selamat datang cinta</title><description>Hatiku terbalut dengan tirai buatan cintamu!&lt;br /&gt;Ketika terbang terikat bersma senyummu!&lt;br /&gt;Meski jauh, namun tetap yakin akan masa indahku!&lt;br /&gt;Perlhan kutarik bayangmu, berbisik lembut di telingamu,&lt;br /&gt;Semoga di penghjung Tahun Baru ini cintamu tetap ada,&lt;br /&gt;Selamat tinggal keluh kesah di Tahun yang lalu,&lt;br /&gt;mari kita berdua menyongsong cinta yang baru,&lt;br /&gt;Selamat datang Tahun Baru, selamat datang hari baru, selamat datang ooh selamat datang</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/selamat-datang-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-6594074103103479960</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T00:54:13.208-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Terima kasih</title><description>Telah lama ku intai bayangmu&lt;br /&gt;Namun tidak pernah kau tahu akan kehadiranku&lt;br /&gt;Dari hari ke hari&lt;br /&gt;CINTA ku mulai berputik buatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucuba usir rasa ini&lt;br /&gt;Namun&lt;br /&gt;Siapalah diriku ini untuk menolak&lt;br /&gt;Kehadiran CINTA di dalam hati ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa aku sedari&lt;br /&gt;Kau jua mengintai bayanganku&lt;br /&gt;Mengharap akan kehadiranku&lt;br /&gt;Tiap waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku luahkan padamu&lt;br /&gt;Rasa CINTAku&lt;br /&gt;Yang telah terpendam lama&lt;br /&gt;Jauh nun di sudut hatiku&lt;br /&gt;Apakah kau jua merasakannya??&lt;br /&gt;Ya!&lt;br /&gt;Terima kasih teman!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;Kerana sudi menyirami cintaku yang tandus&lt;br /&gt;Kerana sudi membajai p0hon kasih&lt;br /&gt;Kerana sudi mengisi kek0songan hatiku&lt;br /&gt;Kerana sudi berk0ngsi suka dan duka bersama ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terima kasih..&lt;br /&gt;Kerana sudi menCINTAiku…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ainaa Shahirah Mohd Munizam&lt;/span&gt;</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/terima-kasih.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1472632713465453266</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T00:35:52.700-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Ia</title><description>Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.&lt;br /&gt;Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia&lt;br /&gt;harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa&lt;br /&gt;lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati&lt;br /&gt;menjadi teman dan penenteram jiwa.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/ia.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1872736323311378250</guid><pubDate>Tue, 16 Dec 2008 08:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-16T00:28:30.212-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Hiduplah sesuka hatimu</title><description>Hiduplah sesuka hatimu,&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu pasti mati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintai siapa saja yang kamu senangi,&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukan apa saja yang kamu kehendaki,&lt;br /&gt;Sesungguhnya kamu akan memperoleh balasannya ….</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/hiduplah-sesuka-hatimu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2662485228647601776</guid><pubDate>Thu, 11 Dec 2008 09:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T01:52:48.382-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Kabaikan hati</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kabaikan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati kita akan merasa damai ketika kita bisa memaafkan,&lt;br /&gt;bukan menghakimi.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/kabaikan-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-3700034876855566404</guid><pubDate>Thu, 11 Dec 2008 09:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-11T01:52:12.229-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Sebuah nilai</title><description>Sebuah nilai  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita cenderung menilai kesuksesan dari jumlah penghasilan kita atau ukuran mobil-mobil kita,&lt;br /&gt;bukan dari kualitas layanan dan hubungan kita dengan sesama manusia,&lt;br /&gt;dan barang siapa menebar benih kebaikan akan menikmati panen abadi.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/sebuah-nilai.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-5322366072856825326</guid><pubDate>Wed, 10 Dec 2008 05:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-09T21:30:13.646-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cinta</category><title>Petunjuk jalan ke masadepan</title><description>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Petunjuk jalan ke masadepan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika hati aku ragu akan arti hidup dan masa depan yang terbentang luas, apa makna dari kehiduan itu tanyaku?&lt;br /&gt;Kehidupan itu ditandai dengan gerak.&lt;br /&gt;Setiap yang bergerak disebut hidup, entah dalam tingkat yang sederhana maupun canggih.&lt;br /&gt;Setiap gerakan hidup selalu memiliki tujuan masa depan.&lt;br /&gt;Akan tetapi sering pergerakan hidup itu tidak mencapai tujuannya.&lt;br /&gt;Kadang di tangah perjalanan, gerakan itu menyimpang dari arah yang dituju.&lt;br /&gt;Kadang pula ia menghadapi kendala dan tantangan yang menghaap lajunya gerakan hidup.&lt;br /&gt;Tidak mengherankan, ika gerakan itu lambat, malahan ia dapat mati; atau kadang perjalanan hidup itu menghadapi kegelapan, lalu tujuan hidup menjadi tak terlihat jelas.&lt;br /&gt;Inti persoalanya: adakah petunjuk jalan atau terang yang dapat menuntun gerakan hidup manusia ke tujuan akhirnya?&lt;br /&gt;semua orang pasti bilang so pasti ada jalan untuk itu semua, tetapi tidak seorangpun dapat menolong sesamanya, ketika mengalami gelombang hidup pasang surut.&lt;br /&gt;Badai kehidupan tidak dapat ditenangkan siapapun,malahan dalam badai itu bahterah hidup dapat saja karam, harapan akan kebahagian masa depan mungkin hilang, disebabkan patahnya semangat hidup.&lt;br /&gt;Namun setiap orang yang mengandalkan TUHAN tidak akan sia-sia Ia akan senantiasa memberikan pertolongan bagi yang membutuhkanNYA tanpa membedahkan siapa kita dalam menentukan perjalan masa depan kita semua.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/petunjuk-jalan-ke-masadepan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-4911360009453933407</guid><pubDate>Mon, 08 Dec 2008 12:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-08T04:28:17.732-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Ketuk Palu</title><description>Ketuk Palu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan yang panas dibalut keringat dan bau tak sedap&lt;br /&gt;mendadak menjadi dingin ketika dia memulai&lt;br /&gt;Tabungan ketenangan dan senyuman ramah&lt;br /&gt;seketika pecah berserak tak tentu arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mencaci, ada yang membela&lt;br /&gt;"Aku menuntut hak, tempatmu di neraka!"&lt;br /&gt;Tanpa sadar mereka melupakan kewajiban&lt;br /&gt;memaklumi kesalahan dengan memaafkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, lihat itu sang ksatria&lt;br /&gt;bukan penegakkan keadilan di mulutnya&lt;br /&gt;tapi penuhnya kantung culas dengan uang&lt;br /&gt;Dan yah, tentunya ada campuran kepentingan juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalagi mereka sang pekerja&lt;br /&gt;memutar kepala kemudian berteriak-teriak&lt;br /&gt;"Pemutus Keadilan!, kapan kami bisa hidup dengan&lt;br /&gt;tenang?"&lt;br /&gt;"Liat keadaan kami, kami juga punya anak isteri!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum pendek pun bergeser cepat&lt;br /&gt;Waktu diakhiri dengan tiga ketukan "Tok,Tok,Tok"&lt;br /&gt;seketika itu juga kami pulang&lt;br /&gt;dengan senyum kecut terpampang.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/ketuk-palu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-2874320900769720942</guid><pubDate>Mon, 08 Dec 2008 12:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-08T04:26:10.570-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puisi</category><title>Wajah Mu membayang</title><description>Tuhan ku&lt;br /&gt;wajah Mu membayang di kota terbakar&lt;br /&gt;dan firman Mu terguris di atas ribuan&lt;br /&gt;kuburan yang dangkal&lt;br /&gt;anak menangis kehilangan bapak&lt;br /&gt;tanah sepi kehilangan lelakinya&lt;br /&gt;bukannya benih yang disebar di bumi subur ini&lt;br /&gt;tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia&lt;br /&gt;apabila malam turun nanti&lt;br /&gt;sempurnalah sudah warna dosa&lt;br /&gt;dan mesiu kembali lagi bicara&lt;br /&gt;waktu itu, Tuhan ku&lt;br /&gt;perkenankan aku membunuh&lt;br /&gt;perkenankan aku memasukkan sangkurku&lt;br /&gt;malam dan wajahku adalah satu warna&lt;br /&gt;dosa dan nafasku adalah satu udara&lt;br /&gt;tak ada lagi pilihan&lt;br /&gt;kecuali menyadari biarpun bersama penyesalan&lt;br /&gt;apa yang bisa diucapkan oleh bibirku yang terjajah ?&lt;br /&gt;sementara kulihat kedua tangan Mu yang capai&lt;br /&gt;mendekap bumi yang mengkhianati Mu&lt;br /&gt;Tuhan ku&lt;br /&gt;erat-erat kugenggam senapanku&lt;br /&gt;perkenankan aku membunuh&lt;br /&gt;perkenankan aku menusukkan sangkurku</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/wajah-mu-membayang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-3638821559801808081</guid><pubDate>Thu, 04 Dec 2008 07:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-03T23:34:57.448-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita</category><title>Tabungan Orang Kecil</title><description>Sam menimang-nimang patung macan yang tengahnya kopong. Lelaki bertubuh jangkung itu sedang mencoba menaksir jumlah recehan yang ia cemplungkan setiap mendapatkannya dari warung saat belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau diapakan si macan, Mas? Katanya tidak mau membolonginya kalau belum penuh." Suara Marni mengejutkan sang suami yang masih asyik dengan binatang tanahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, tidak diapa-apakan. Aku cuma iseng kepingin menaksir jumlah isi perutnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni tersenyum tipis sekilas. Di dadanya mendadak ada rasa perih melintas. Suaminya berjuang keras setiap hari sebagai petugas kebersihan kota. Habis salat Subuh sudah mulai mengayunkan sapu lidi di jalan. Jika ada keramaian, pekerjaan Sam akan bertambah karena limpahan sampah akan membanjiri jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Sam meletakkan patung macan duduknya di atas bupet kepala tempat tidur kayu model lama. Ia mundur beberapa jengkal dan dengan hati-hati meletakkan pantatnya di pingir dipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Sam berpindah pada kalender yang menempel pada dinding kamar yang catnya sudah pudar. Gambar bunga sakura dengan latar langit biru  ditatapnya lekat-lekat. Namun yang ada di benak lelaki itu bukan Fujiyama, tapi hamparan hijau persawahan di desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ayah dan ibunya yang tua keriput dan bermata lelah di desa. Ibunya tiap hari mengangkut kayu bakar yang dikumpulkannya di hutan pinggir sawah. Punggung ayahnya pun sarat bawaan, rumput untuk makanan kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah! Seperti apa nasib orang tuaku sekarang? Tak ada yang mau mengirim kabar padaku. Mungkin saudara-saudaku juga sibuk atau mungkin marah dan benci padaku, karena lama tak menjenguk ayah dan ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam merasa telah menjadi pecundang di perantauan. Ia telah menikahi seorang perempuan dan hingga belasan tahun belum pernah perempuan itu kenal mertuanya. Marni, perempuan Jawa yang nrimo, telah melahirkan dua anak. Dan, kedua itu anaknya pun belum pernah bertemu nenek dan kakeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Mas? Sepertinya kau sangat bersedih!" Marni yang kembali muncul di kamar melihat Sam yang sedang mematung di depan kalender.&lt;br /&gt;"Tidak ada apa-apa, Marni," Kilah Sam pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi Mas memegangi si macan, sekarang memandingi kalender dan tampak sangat bersedih. Ada masalah? Atau sampeyan punya hutang yang harus dilunasi?" Marni terus mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku punya hutang!" Sam kembali duduk di tepi dipan disusul Marni duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hutang kepada siapa, Mas? Hutang untuk apa?" Marni cemas karena selama ini Sam tak pernah berhutang tanpa sepengetahuannya.&lt;br /&gt;"Kepada orang tuaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kapan berhutang kepada mereka, Mas? Mengapa selama ini tak pernah mengatakannya?" Marni berbalik dan berusaha memandangi wajah keruh suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak berhutang uang atau materi apa pun kepada mereka. Aku tak pernah bisa menjenguk mereka bahkan tak pernah berhasil mengenalkan kalian, anak dan istri yang telah kumiliki lebih dari sepuluh tahun. Maafkan aku, Marni!" Sam menggamit pundak Marni lalu memeluknya erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari ada tetesan air jatuh di pundak Marni. Merasakan tetesan hangat di pundaknya, Marni pun tak kuasa membendung air mata.&lt;br /&gt;"Mas, jika sampeyan mau pulang untuk menjenguk orang tua, pulanglah. Mumpung mereka masih hidup. Aku dan anak-anak tak usah diajak dulu. Insya Allah, suatu waktu Tuhan memberi rezeki jika menghendaki kami bertemu dengan kedua orang tuamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, Marni! Jika aku pulang harus membawa serta kalian. Kita sekeluarga, Marni."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, untuk sekarang tidak mungkin, Mas! Uang kita tidak mencukupi untuk membiayai perjalanan pergi dan pulang. Kalau Mas Sam saja, insya Allah cukup." Marni berusaha menenangkan Sam yang masih menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, Mas. Sampeyan terpengaruh orang-orang yang ingin mudik pada lebaran haji nanti. Orang-orang yang Lebaran lalu tak bisa mudik, ingin mudik pada Idul Adha besok untuk berkumpul dengan keluarga besarnya dan berkurban di kampung. Tapi, tidak semua orang dapat mewujudkan keinginannya itu, termasuk kita. Mas harus yakin juga bukan hanya kita yang tak punya kesempatan itu. Kita tak dapat berbuat banyak. Kita hanya orang kecil yang hanya mampu mencari sesuap nasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan Marni. Ia hanya segelintir orang yang tak punya daya untuk banyak berbuat. Dunianya hanya panas matahari dan cucuran keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meskipun aku harus pulang sendiri, tetap aku tak punya uang. Kalian di sini kan juga harus makan," kata Sam dengan suara tersekat di kerongkongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah, ada, Mas. Aku punya si macan yang lain."&lt;br /&gt;Marni berdiri dan melangkah menuju lemari pakaian. Tangan kanan perempuan bertubuh kerempeng itu merogoh belakang lemari. Kemudian ia mengangkat patung macan yang sama dengan macan yang ditimang Sam tadi. Senyum Marni mengembang. Ia berjalan dan kembali duduk. Ia menyodorkan benda itu kepada Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hasil penjualan kompos yang aku buat di belakang rumah, Mas. Insya Allah isinya dapat mencukupi biaya hidup kami selama ditinggal Mas pulang, dan dapat menambah ongkos mudik sampeyan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sam terharu. Sejurus ia menatap patung yang sudah diletakkan di atas kasur yang kempes. Ia pegang kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak marni. Ini hasil jerih payahmu. Kaulah yang harus menikmatinya. Pergunakan untuk membeli keperluanmu. Kalau ikhlas membantuku, belikanlah anak-anak pakaian yang layak. Buatlah mereka senang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, kita sudah terbiasa menikamati apa yang bisa kita dapatkan dan apa yang ada. Jenguklah orang tua. Belasan tahun Mas meninggalkan mereka, sudah selayaknya mereka ditengok. Aku yakin, bertemu denganmu adalah sebagian dari kebahagiaan mereka juga baktimu kepada mereka." Marni membujuk Sam dengan suara lirih. Sam diam membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak muncul tawaran dari sang istri untuk mudik sendiri, Sam tak henti berpikir. Berbagai pertimbangan bergelut dalam benaknya. Terkadang bulat tekadnya untuk pulang. Terkadang ia menolak mudik tanpa disertai istri dan kedua anaknya. Suara beduk di surau kecil di kampung seakan memanggil-manggilnya. Hari terus berlari melewati angka demi angka di kelender pada dinding kamar Sam. Sam tetap bimbang. Terkadang ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ia benar-benar merasa tolol untuk membuat suatu keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang lebaran haji anak-anak merengek pada Marni.&lt;br /&gt;"Mak, kapan membeli baju? Lebaran lalu kan belum beli baju baru. Baju dan seragam sekolah Andi sudah jelek semua. Malu sama teman-teman."&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau kalian membeli baju dengan uang tabungan kalian?"&lt;br /&gt;"Maksud Mak, kami memecah si jago dan si babon?" tanya Andi penuh selidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marni mengangguk pelan.&lt;br /&gt;"Kenapa, Mak? Celengan kami, kan belum penuh. Kami masih sayang untuk memecahnya." Santi protes.&lt;br /&gt;"Tolong, kalian mengerti. Bapak ingin pulang ke Jawa menengok Mbah. Jadi kita harus menghemat uang agar Bapak bisa menengok kakek dan nenek." Marni menjelaskan  dengan suara pelan setengah berbisik karena takut didengar Sam yang baru pulang kerja dan duduk di beranda.&lt;br /&gt;"Jadi kita mau mudik, Mak? Kita akan naik pesawat atau kapal seperti Jaka?" Tanya Santi polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan kita yang mudik, tapi Bapak!" Andi memotong.&lt;br /&gt;"Ya, Cuma Bapak. Enak Bapak, dong, naik kapal, naik bis besar atau kereta. Kita cuma di rumah saja." Santi kembali protes.&lt;br /&gt;Marni tak enak berdebat di ruang tamu yang berdekatan dengan tempat Sam duduk. Akhirnya ia mencari alasan untuk menjauh dari sana.&lt;br /&gt;"Kalian bisa membantu Mak, enggak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bantu apa, Mak?" tanya Andi.&lt;br /&gt;"Kita buat keripik pisang, yuk! Nanti kita bungkusi dengan plastik dan kita jual di pasar pagi atau sama tetangga juga bisa. Siapa tahu bisa untuk menambah uang buat beli baju seragam kalian."&lt;br /&gt;"Tapi, aku mau ikut ke Jawa sama Bapak!" Santi masih merengek.&lt;br /&gt;"Makanya harus rajin menabung agar kita bisa menjenguk nenek bareng-bareng lebaran tahun depan, ya!" bujuk Marni sambil menggamit kedua anaknya berjalan menuju dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan anak dan istrinya terdengar samar-samar oleh Sam. Batinnya menjerit. Ulu hatinya sesak seperti diganjal bongkahan batu gunung. Ia berdiri dan berjalan ke kamar. Di sana ia hanya mampu memandangi si macan kembar yang melambangkan tetesan keringat sepasang manusia yang hanya mampu bercita-cita.</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/tabungan-orang-kecil.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7063236144922745061.post-1450945372095343657</guid><pubDate>Thu, 04 Dec 2008 07:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-03T23:31:51.858-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">cerita</category><title>Belang</title><description>Pagi sudah pergi beberapa jam lampau. Panas meriap di atap rumah kami sembari menanti langkah Inah tergesa-gesa di tepi jalan aspal menuju rumah kami. Daster lusuhnya berkibar-kibar seperti hendak menyapu debu-debu di sekitarnya. Sementara di pojok halaman depan rumah kami, Ibu saya membersihkan tunas-tunas rumput liar yang mengotori sebuah pot kecil berisi kantung semar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti merasa ada sesuatu, Ibu menoleh ke jalan. Tak lama kemudian Inah muncul di depan pintu pagar. Tumben Inah baru datang jam segini, batin Ibu. Sendirian lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Ibu pura-pura tidak tahu. Beliau berpaling kembali ke pot kantung semarnya di antara puluhan pot berisi bunga-bunga kesayangannya. Inah masuk seperti biasa. Merogoh kaitan kunci, membuka pintu pagar, lalu mengaitkan kuncinya kembali. Ibu pura-pura kaget seraya menoleh ke pintu pagar. Beliau melihat sosok Inah sekilas. Rambut ikalnya yang dipermak mirip bonsai tampak tidak teratur. Bibirnya menarik garis melengkung ke bawah. Bola matanya merah. Kantung matanya bengkak. Kondisinya semakin jelas ketika ia mendekati ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tampangmu kenapa hancur begitu, Nah ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suntuk memikirkan Belang, Bu. Tadi malam sampai saya tidak bisa tidur. Mana sampai satu bulan ini Abu-abu juga sudah tidak ketahuan raib di mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pantesan kamu sendirian. Memangnya ke mana dia ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya tahu ke mana, ya tidak saya cari, Bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tersenyum saja. Beliau bisa memahami kondisi keseharian Inah yang telah kami kenal sejak setengah tahun menjadi tukang cuci dan setrika orangtua kami untuk paruh waktu, terutama ketika kucing-kucingnya mengalami masalah, semisal hilangnya Abu-abu. Sebenarnya Ibu tahu di mana Abu-abu berada. Menurut kasak-kusuk tetangga, Abu-abu dikarungi goni lalu dibuang oleh tetangga kami yang bekerja sebagai pedagang ikan segar dan ikan asin karena kucing itu kepergok mencuri sepotong ikan asin yang sedang dijemur untuk dijual. Memang, jika Inah lengah karena sibuk mencuci baju kotor sebanyak dua ember besar, Abu-abu sering menyelinap ke halaman belakang rumah tetangga kami itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang perlakuan penjual ikan itu, bukan cerita baru bagi keluarga kami. Jauh-jauh tahun sebelum Inah pindah ke kampung kami, kucing kami pernah mengalami siksaan yang cukup berat yakni kaki belakangnya dijerat tali hingga nyaris putus. Penyiksanya ya penjual ikan yang genit, yang beristri tiga tapi masih saja suka menggoda gadis-gadis dan ibu-ibu itu. Gara-garanya, ya, mungkin sama. Kami berani menuduh demikian setelah mencium bau anyir ikan di sekujur tubuh kucing kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu sengaja tidak memberi tahu Inah soal nasib Abu-abu dulu. Sebab, kalau beliau memberi tahu, bisa-bisa Inah memaki orang itu dengan sebutan "Anjing!" lantas ribut dengan tetangganya, dan ngambek beberapa hari, yang berarti pula banyak pakaian kotor Ibu bakal terbengkalai. Bukannya Ibu tidak mau mencuci sendiri karena toh ada mesin cuci di rumah kami, melainkan beliau tidak tega melihat Inah pusing memikirkan ekonomi keluarganya sejak ditinggal kawin lagi oleh suaminya hampir satu tahun ini. Kadangkala Inah membawa anak-anaknya menginap di rumah orangtua kami untuk menemani Ibu karena kami, anak-anaknya, sudah berumah tangga dan tinggal di rumah kami masing-masing yang rata-rata bisa ditempuh dengan dua kali naik angkutan umum. Sedangkan ayah lebih sering menginap di salah satu rumah kami, bergiliran, tergantung keinginan ayah bila kangen cucu-cucunya yang mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang cuma kucing-kucing kampung dan berbulu jelek. Sama sekali tidak bergengsi dibanding kucing impor semisal Angora. Tapi Inah sangat menyayangi mereka. Baru dua minggu ini Belang diajak Inah ke rumah kami. Di mana Inah berada, di situ pasti ada Belang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah, sekarang kamu nyuci sana. Biar tidak numpuk, bikin kamu repot sendiri. Tapi hati-hati nanti nyetrika baju dalamku, Nah. Besok malam mau kupakai untuk latihan dansa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inah tidak menyahut. Ia langsung ngeloyor ke belakang lewat jalan samping rumah kami menuju tempat cuci. Ibu saya melanjutkan kegiatannya merawat bunga-bunga. Namun Ibu jadi teringat kelakuan Belang dan Abu-abu dulu. Saking asiknya bersenda gurau dan berkejaran, kedua kucing itu menyenggol guci antik, oleh-oleh dari teman Ibu ketika pulang dari Hongkong. Guci Tiongkok itu sengaja ditaruh Ibu di ruang tamu sebagai pajangan di antara benda-benda bercitra seni dan harga tinggi milik Ibu yang, kata Ibu, diberi oleh beberapa teman fitnesnya sepulang dari luar negeri. Kalau bukan demi kemanusiaan, Inah sudah dipecat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbah, Belang kini sudah bandel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belang atau Abu-abu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belang, Mbah. Abu-abu entah di mana. Entah dibuang, dibunuh, diculik atau dimakan orang. Orang jahat, Mbah ! Tidak punya perasaan ! Anjing !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh, Belang, Belang, ada apa denganmu, Belang ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belang tidak seperti dulu, Mbah. Susah diatur sejak ditinggal kembarannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini seperti apa dia ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah besar, Mbah ! Emmm? sebesar apa ya ?" Inah menoleh ke samping kanan-kirinya. Matanya mengitari ruangan. Ia sedang mencari sesuatu sebesar kucingnya, Belang. Pria tua yang disebutnya "Mbah" itu pun ikut-ikutan mencari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emmm? Nah, segitu itu, Mbah," sambungnya seraya menunjuk botol yang berisi minyak tawon di rak obat. "Tolong ya, Mbah. Saya khawatir sekali pada nasibnya kelak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata orang tua itu langsung terpejam. Serta-merta kulit keriput keningnya berkerut-kerut. Mulutnya komat-kamit, melafalkan mantera-mantera. Inah diam. Ia paham apa yang sedang dilakukan orang tua itu. Tak sampai dua menit, mata orang tua itu terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belang masih berada di sekitar rumahmu. Dia sedang indehoy di rumah pujaan hatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar gatal ! Kecil-kecil mau kawin !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sabar. Dia pasti pulang dan akan patuh seperti Abu-abu atau kucingmu lainnya. Setelah satu setengah jam perjalanan pulang dari sini nanti, kamu bisa lihat Belang tidur nyenyak di kasurmu. Beri ramuan ini seperti untuk kucing-kucingmu dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, Mbah. Bermilyar terima kasih !" Wajah Inah cerah. Senyumnya menyeruak lepas. Dibayangkannya Belang seperti Kuning, Hitam, Telon dan kucing-kucing sebelum ada Belang dan Abu-abu; patuh dan manja sejak diberi ramuan dari tua bangka itu. Kemudian ia bermaksud mohon diri sesudah menyelipkan amplop kecil berisi uang di bawah taplak meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari belum jam delapan pagi, Nah. Mbah butuh kamu temani. Sebentar saja. Mumpung istri Mbah ke pasar, dan pulang agak siangan," jawab orang tua itu sembari beringsut mendekati duduk Inah di kursi beranyam rotan yang banyak bolongnya. "Kan Inah sudah lama tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih pagi. Ceracau sepasang burung gereja melintasi ruang makan rumah Inah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian, kan, bisa makan lauk tempe dan minum teh pahit saja ?!" bentak Inah sewaktu ia memergoki anak-anaknya yang sedang menikmati susu dan daging kornet untuk Belang yang telah pulang kemarin siang. "Siapa yang suruh menghabiskan tempe goreng tadi malam ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua anaknya yang bersiap untuk berangkat sekolah itu tidak berani menyahut. Keduanya menunduk seakan menyembunyikan wajah pucat mereka. Kecuali wajah si bungsu, yang baru berumur tiga tahun dan asik bermain mobil-mobilan kayu yang kemarin sore dibuatkan oleh si sulung. Kemarahan emak mereka serupa tahun lalu ketika mereka memakan ikan bandeng presto untuk makanan Kuning, Hitam, dan Telon. Mereka juga takut kalau-kalau emak mereka tidak memberi uang jajan selama satu minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau makan jangan seperti orang yang tidak pernah makan ! Tempe goreng yang biasanya bisa untuk dua hari, malah dihabiskan dalam sekejap malam ! Sarapan pakai lauk apa ?! Kan sudah Emak beri jatah sepotong tempe per orang ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meooong ! Meooong !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inah dikagetkan oleh lolongan kucingnya. Serta-merta ia menghentikan bilasan pakaian kotor Ibu. Bola matanya bergerak mencari tempat asal suara yang dikirimkan langsung dari telinganya. Waduh, Belang terkurung di mana ya ? Gawat ! Inah beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belang? Belang? kamu di mana ? Inah bergumam sambil berjingkat-jingkat ke ruang tengah melewati dapur dan ruang makan. Dalam hati ia juga cemas jika suara kucingnya membangunkan Ibu yang tadi, katanya, mau beristirahat sebentar sepulang dari aerobik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu bandel sih, Lang. Coba kamu tidur saja di dekat aku mencuci. Tapi kasihan juga kamu, Lang, jatah susu dan kornetmu dihabiskan anak-anakku tadi pagi, gumamnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meooong ! Meooooong !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucingnya terus melolong seperti sedang ketakutan lantaran diburu-buru sesuatu. Disusul suara benda-benda jatuh bahkan pecah. Inah terus mencari letak suara kucingnya hingga makin jelas berada di kamar tidur tamu yang biasanya dipakai jika ada saudara kami menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kamu tersesat di sana. Tunggu, ya, Nak, Mama akan menolongmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mendekati pintu kamar itu. Pendengarannya disiapkan lebih tajam agar ia bisa juga mendengar sewaktu-waktu Ibu membuka kamar tidur karena terganggu lolongan Belang. Mudah-mudahan ibu tidak dengar, gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meooong ! Meooooooooooooong !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi kunci pintunya kamu taruh di mana, Say ?" bisik seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangsat ! Rupanya kucing lonte ini habis nyolong ikan daganganku. Tuh lihat di kolong ranjang, tinggal kepala," sahut seorang pria dengan suara agak jelas. "Awas ya ! Mampus kau !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anjiiiiiiiing, jangan bunuh Belangku !!" teriak Inah sambil sekuat tenaga menggedor-gedor pintu kamar itu. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daan Mogot, 2006</description><link>http://campus-cinta.blogspot.com/2008/12/belang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>