<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861</atom:id><lastBuildDate>Fri, 29 Jul 2011 03:42:29 +0000</lastBuildDate><category>Pengalaman Spiritual</category><category>Pencerahan Suci</category><category>Cahaya Dari Bali</category><title>TANDAVA NRTYA</title><description>TANDAVANRTYA ESOTERIC DANCE  ADALAH  “KUNCI-RAHASIA” SEKALIGUS “JALAN-PINTAS” MENCAPAI KEBAHAGIAAN DAN KEBERHASILAN HIDUP.

TANDAVANRTYA hanya membantu siapapun agar mampu menumbuh-kembangkan KWALITAS dan ESENSI dirinya  sendiri  yang terdalam yang didalamnya tersimpan kekayaan diri yang luar biasa. Dan melalui esensi itulah setiap diri dapat mencapai    KEBENARAN UNIVERSAL,KEBAHAGIAAN MURNI,dan KEMERDEKAAN SEJATI.</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SeniSuciTarianEsoterik" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="senisucitarianesoterik" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>TANDAVANRTYA ESOTERIC DANCE ADALAH “KUNCI-RAHASIA” SEKALIGUS “JALAN-PINTAS” MENCAPAI KEBAHAGIAAN DAN KEBERHASILAN HIDUP. TANDAVANRTYA hanya membantu siapapun agar mampu menumbuh-kembangkan KWALITAS dan ESENSI dirinya sendiri yang terdalam yang didalamnya </itunes:subtitle><itunes:summary>TANDAVANRTYA ESOTERIC DANCE ADALAH “KUNCI-RAHASIA” SEKALIGUS “JALAN-PINTAS” MENCAPAI KEBAHAGIAAN DAN KEBERHASILAN HIDUP. TANDAVANRTYA hanya membantu siapapun agar mampu menumbuh-kembangkan KWALITAS dan ESENSI dirinya sendiri yang terdalam yang didalamnya tersimpan kekayaan diri yang luar biasa. Dan melalui esensi itulah setiap diri dapat mencapai KEBENARAN UNIVERSAL,KEBAHAGIAAN MURNI,dan KEMERDEKAAN SEJATI.</itunes:summary><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">SeniSuciTarianEsoterik</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-4896905577161942485</guid><pubDate>Thu, 14 Jan 2010 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T11:35:10.251-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>APA  ITU  SETAN?</title><description>&lt;b&gt;Setan&lt;/b&gt; dalam bahasa keseharian sering digambarkan sesosok makhluk yang berwujud mengerikan dan selalu mengganggu manusia. Setan itu &lt;b&gt;terkutuk&lt;/b&gt; yang harus dijauhi karena dapat mempengaruhi kita ke jalan yang sesat. Setan diciptakan dari api dan akan mengganggu manusia sampai akhir hayatnya &lt;br /&gt;
Selanjutnya apakah Setan itu sama dengan &lt;b&gt;Jin, Gendoruwo, Kuntilanak&lt;/b&gt;, atau Samar di Bali? Nah inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini. Setan yang terkutuk itu tiada lain adalah Nafsu kita yang membara yang bertedensi negatif, seperti contoh Amarah yang meledak ledak dan tidak mampu dikendalikan, makanya sering dikatakan kerasukan Setan.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setan dikatakan diciptakan dari api tiada lain adalah rasa panas membara yang memicu rasa amarah atau nafsu yang membara yang tidak mampu dikendalikan oleh kesadaran murni sehingga menguasai kesadaran murni itu. Kesadaran murni adalah tingkat kesadaran diri yang mengandung sifat-sifat kebaikan dan keluhuran budi atau sifat-sifat illahi, sedangkan sebaliknya adalah sifat-sifat keburukan atau kebinatangan atau keraksasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apakah Setan itu berwujud&lt;/b&gt;? Dari ulasan di atas jelas setan itu bukanlah substansi atau berwujud sehingga tidak perlu takut. Justru setan itu ada di dalam diri bukan di luar diri. Oleh sebab demikian waspadalah terhadap semua gejala yang akan membangkitkan rasa emosi yang akan memicu panas dan membangkitkan Setan di dalam diri. Dalam mengendalikan gejala-gejala inilah manusia mesti banyak belajar dan berbuat untuk mengenali dirinya untuk mengetahui &lt;b&gt;sifat-sifat buruk&lt;/b&gt; yang sering dilakukan dan sifat-sifat baik yang mesti dikembangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat-sifat buruk itu setelah diketahui, kemudian diwaspadai agar sebelum dikuasainya kita mesti mampu sejak awal sudah meminimalkannya yang pada akhirnya mampu dikendalikan. Ini memang sulit butuh tekad yang kuat untuk melakukannya, karena nafsu gerakannya sangat halus dan tanpa sadar telah mampu menguasai kesadaran murni kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak jalan yang dapat membantu dalam mengontrol sifat-sifat kesetanan itu, seperti berpuasa, pendekatan diri kepada Sang Pencipta, bersujud dan hormat kepada siapa saja untuk merendahkan hati namun bukan berarti merendahkan diri. Sujud bukanlah pemberhalaan atau memuja sesuatu atau menduakan Tuhan,  sujud kepada apapun itu semata mata dalam rangka merendahkan hati agar dalam posisi sujud hati akan ketemu hati untuk membangkitkan sifat-sifat diri murni atau sifat-sifat illahi.&lt;br /&gt;
Sifat-sifat Illahi yang tumbuh akan mempengaruhi fokus pikiran. Pikiran yang fokus akan sifat-sifat illahi akan mendasari ucapan yang keluar dari mulut yang sudah barang tentu akan menyenangkan atau mendamaikan hati yang akan mendengarnya. Siyal-sinyal ini akan terus dipancarkan oleh Sistem Syaraf Pusat dalam mengendalikan gerak dan langkah atau tingkah laku kita dalam keseharian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena demikian hati-hatilah mempokuskan pikiran karena kalau salah pokus dampaknya kita sendiri yang menanggung akibatnya dan baru sadar setelah dilakukan atau diperbuat. Sebelum mempokuskan diri terlebih dahulu isilah diri ada terhadap hal-hal yang positif atau dengan kata lain bangkitkan sifat-sifat illahi yang ada pada diri kita sehingga mempermudah mempokuskan pikiran terhadap apa yang menjadi kebiasaan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kebiasaan kita sehari-hari hanya sebagian besar membangkitkan sifat-sifat keduniawian atau nafsu kepemilikan maka fokus pikiran kita akan mudah sekali terseret akan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti aku paling aku, yang lainnya lebih rendah dari aku maka ego akan semakin menguasai kita. Begitu terasa lebih rendah maka rasa benci dan amarah akan seketika berubah menjadi Setan yang menguasai kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah awal mulanya bangkitnya Setan dalam diri dan sudah barang tentu kita yang diberkati kesadaran Illahi yang merupakan ciptaan dengan derajat paling tinggi diantara ciptaannya tidak kalah begitu saja. Oleh karena demikian berikut ini ada beberapa tip untuk meminimais munculnya setan dalam diri sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Terimalah kenyataan yang ada jangan membandingkan dengan yang lain. Sadarilah kita lahir telah membawa takdir masing-masing, ibarat sebuah sinetron kita melakukan peran masing-masing sesuai tuntutan skenario sang sutradara. Kalau memerankan seorang pembantu perankanlah dengan baik sehingga jalannya cerita enak ditonton. Kalau memerankan pembantu saja tidak becus jangan harap menjadi pemeran utama.&lt;br /&gt;
Kenyataan adalah kondisi yang ada pada saat ini, disini dan begini dan fokuslah pada saat ini, lupakan dan ikhlaskan masa lalu dan pasrahkan saat nanti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kurangi mengeluh dan menyalahkan orang lain, lihatlah ke dalam diri dan bangkitkan kesadaran murni atau sifat-sifat Illahi menurut keyakinan masing-masing.&lt;br /&gt;
3. Banyak-banyaklah memberi meskipun itu hanya sebuah senyuman dan selalulah berpikiran positif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Berpasrahdirilah artinya kerjakan apa yang mampu kita kerjakan dengan tidak pernah berharap akan hasilnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya yang disebut dengan Jin adalah berwujud yang merupakan ciptakan Tuhan yang ada pada dimensi lain dari alam manusia. Hanya orang-orang tertentu yang mampu melihatnya dengan kelebihan yang dimilikinya. Demikian pula Gendoruwo, Kuntilanak dan Samar adanya pada alam yang mempunyai dimensi yang berbeda dengan alam manusia. Sepanjang kita tidak mempunyai maksud-maksud tidak baik atau mengganggu eksistensi mereka, kita tidak perlu takut, kita mesti saling menghormati sesama ciptaan Tuhan. Kita mesti sadar sebagai ciptaan yang katanya merupakan ciptaan yang paling tinggi derajatnya sudah semestinya menjadi motor dalam menjaga keseimbangan dan keselarasan baik terhadap ciptaan yang tampak kasat mata maupun yang tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By:&lt;br /&gt;
Yang Shri Madava Wayan Suratnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-4896905577161942485?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2010/01/apa-itu-setan.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-7716998207186759924</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 12:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T11:33:55.189-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cahaya Dari Bali</category><title>MENGAPA ORANG HINDU BALI SEMBAHYANG  DENGAN PANCA SEMBAH</title><description>Pada umumnya dalam &lt;b&gt;persembahyangan&lt;/b&gt; bersama &lt;b&gt;umat Hindu di Bali&lt;/b&gt; selalu dicanangkan &lt;b&gt;Pangubaktian/Sembah&lt;/b&gt;. Pangubaktian/Sembah yang dilaksanakan pada umumnya juga dilakukan sebanyak lima (5) kali yang disebut dengan &lt;b&gt;Panca Sembah&lt;/b&gt; yang kurang lebih artinya lima (5) kali melakukan sembah terhadap &lt;b&gt;Ida Sanghyang Widhi Wasa&lt;/b&gt; maupun terhadap&lt;b&gt; Dewa, Dewi, Bhatara&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Bethari&lt;/b&gt; yang berstana di suatu &lt;b&gt;tempat suci&lt;/b&gt; dilakukannya persembahyangan. Rangkaian lima sembah itu merupakan satu kesatuan yang utuh yang dilakukan berurutan dan wajib dilakukan, baru persembahyangan itu dinyatakan selesai yang diakhiri dengan &lt;b&gt;nunas Wasuhpada (Air Suci)&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Bija&lt;/b&gt; sebagai simbul berkah Hyang Widhi yang dibagikan oleh para &lt;b&gt;Pemangku&lt;/b&gt; kepada seluruh peserta &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;persembahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum panca sembah dilaksanakan didahului dengan pengambilan sikap yaitu duduk dengan tenang yang disebut Asana, kemudian diikuti dengan pembersihan tangan yang disebut dengan Karasodhana, penyucian mulut yang disebut dengan Waktra Sodhaya dan Pranayama yaitu pengaturan nafas agar pikiran menjadi tenang dan mampu berkonsentrasi kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Baru kemudian mengikuti rangkaian Panca Sembah dengan urutan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong&lt;br /&gt;
2. Muspa/Sembah dengan Bunga, kehadapan Sanghyang Ciwa Raditya sebagai upesaksi&lt;br /&gt;
3. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi&lt;br /&gt;
4. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Samudaya untuk mohon waranugraha&lt;br /&gt;
5. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong kembali untuk menghaturkan terima kasih atas Anugrah yang telah dilimpahkanNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah persembahyangan yang diakhiri dengan nunas tirta dan bija, perasaan menjadi tenang apalagi ada berkat berupa lungsuran sesajen seperti aneka buah dan kue menambah keceriaan bila selesai sembahyang. Suasana ini begitu nikmat apalagi bersembahyang dilakukan bersama keluarga dan kerabat maupun berkelompok dengan teman-teman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya yang paling susah saat melakukan persembahyangan adalah saat mengheningkan pikiran dan konsentrasi saat proses persembahyangan dimulai. Pikiran sering kali kesana kemari membayangkan apa yang dialami atau lihat sebelum persembahyangan. Saat mengambil sikap hening kita sering terganggu dengan kondisi di sekitarnya yang kadang-kadang sangat ramai dan gaduh akibat dari banyaknya para pemedek yang rawuh tangkil dan kurang terkendali. Apalagi kondisi ini terjadi sebelum persembahyangan maka dalam mengikuti persembahyangan akan kurang mampu berkonsentrasi. Apapun yang disaksikan tadi atau dilihat dengan mata, itulah yang terbayang saat sembahyang. Begitu memejamkan mata untuk mulai berkonsentrasi munculah bayangan silih berganti terhadap apa yang telah disaksikan sebelumnya, sehingga sembahyangpun akan menjadi terganggu dan muncul perasaan yang galau dan merasa mangkel, yang pada akhirnya saat selesai mengikuti persembahyangan menjadi kurang nikmat dan kadang-kadang merasa berdosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaan seperti itu sering kali kita alami bila persembahyangan dilakukan di Pura-pura besar yang pemedeknya tumpah ruah atau situasi di dalam pura kurang terkendali atau kurang pengaturannya saat umat melakukan persembahyangan. Mungkin karena susah untuk konsentrasi meskipun telah diupayakan semaksimal mungkin juga jarang berhasil. Sering kali berkonsentrasi dengan membayangkan simbul-simbul apa saja yang berkaitan dengan manifestasi Tuhan apakah itu Pretima, Pelinggih itu sendiri maupun gambar Dewa dan Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun yang membuat diri sering mangkel, kalau yang terbayang saat sembahyang bukannya simbul-simbul manifestasi Tuhan, melainkan apa yang terjadi barusan sebelum sembahyang. Bila sempat melihat wanita cantik, maka yang terbayang adalah wanita cantik itu, atau orang-orang yang kita ajak sembahyangpun sering muncul dalam pikiran saat konsentrasi, apalagi mereka masih bercakap-cakap sehingga lewat percakapan mereka gambaran wajahnya terbayang saat konsentrasi itu. Demikian pula bila ada bau makanan yang menusuk hidung, maka konsentrasi akan beralih ke makanan itu. Dan lain sebagainya kejadian di sekitarnya baik sebelum maupun saat sembahyang. &lt;br /&gt;
Sampai suatu ketika saya berguru di Pedepokan Seni Suci Tarian Esoterik ” Tandava Nrtya”, suatu pusat pencerahan diri yang mengutamakan laku sesuai dengan petunjuk Guru. Setelah diri kita dicerahkan dan Atman dibangkitkan, maka kita melakukan Laku untuk secara terus menerus dan berkesinambungan baik di rumah maupun secara bersama-sama dengan teman seperguruan untuk menelusuri keheningan dalam diri, sehingga diri murni atau Ruh/Atman kita muncul menjadi kesadaran. Kesadaran ini disebut Kesadaran Ruh/Atman yang berbeda dengan kesadaran Jiwa maupun kesadaran pikiran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semenjak itulah secara perlahan sesuatu yang tabu untuk diketahui selama ini dapat disadari makna hakikinya meskipun hanya untuk pemahaman bagi diri sendiri. Lama kelamaan muncul hasrat agar pengalaman ini dapat disampaikan kepada teman-teman dan juga melalui tulisan ini. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi sesuai dengan apa yang saya alami. Selanjutnya bila ada pemahaman yang berbeda atau kurang bahkan tidak setuju, saya mohon maaf, karena saya sendiri masih dalam tataran pembelajaran dan pencerahan diri. Selanjutnya saya akan uraikan pengalaman saya dalam melakukan Panca Sembah yang saya rasakan paling membahagiakan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong&lt;br /&gt;
Pada tahapan ini Kesadaran yang utama adalah mengosongkan diri dan  tahapan ini memang sulit seperti pengalaman saya yang telah diuraikan di atas. Banyak gangguan seperti yang telah diuraikan. Setelah Pranayama, cara saya yang terasa paling mudah untuk melakukannya pada tahapan ini adalah dengan duduk hening, mata dipejamkan dan pikiran diarahkan ke diri sendiri seolah-olah kita secara terus menerus menatap diri sendiri. Dan bila muncul rasa sakit pada kaki atau kesemutan, perasaan kita jangan menolaknya demikian pula suara-suara yang kita dengar. Kita harus mampu menikmati baik rasa sakit maupun suara yang di dengar. Sekali lagi jangan ada perasaan menolak, nikmati saja sambil terus menerus menatap diri sendiri. Itu sebenarnya adalah pintu-pintu menuju kekosongan. Agar pikiran kita tidak liar maka perlu dikasi pekerjaan seperti memperhatikan nafas masuk dan ke luar dari hidung atau menyebut Aksara Suci ”OM” secara terus menerus pada titik dua jari di bawah pusar. Dengan terikatnya pikiran dengan pekerjaan tersebut maka kita terasa hening dan merasa diri kosong. Barulah kemudian Tangan diangkat di setinggi ubun-ubun sebagaimana persyaratan Sembah Puyung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya diri yang kosong mampu diisi dan beda dengan bila diri kita terasa berisi apalagi merasa penuh. Maka bila diisi kembali maka akan tumpah. Itulah makna Kosong maupun sembah Puyung&lt;br /&gt;
Memang ini tidak mudah dan perlu latihan yang berkesinambungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Muspa/Sembah dengan Bunga, kehadapan Sanghyang Ciwa Raditya&lt;br /&gt;
Sembah pada tahapan ini adalah sujud kita kepada Sanghyang Ciwa Raditya sebagai saksi agung di Bhuana Agung, bahwa kita sedang menyembah Ida Sahyang Widhi Wasa sekaligus nunas penerangan jalan menuju kepadaNya. &lt;br /&gt;
Bila pada tahapan Sembah Puyung kita mampu mempertahankan diri yang hening dan kosong, maka secercah cahaya akan muncul dalam diri yang kita lihat meskipun mata dalam posisi terpejam. Inilah Ida Sanghyang Ciwa Raditya di Bhuana Alit yang akan menerangi anda menuju kepadaNya.&lt;br /&gt;
Bila anda mampu mengalami hal ini maka anda tidak perlu mengikuti sembah dengan cara mengangkat tangan seperti biasanya pada tahapan ini, karena anda akan kembali tersadar dan kekosongan akan lenyap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi&lt;br /&gt;
Pada tahapan ini ditandai dengan sinar yang muncul itu semakin terang dan nampaklah sesuatu keindahan yang tak dapat diceritakan dengan kata-kata. Karena kata-kata tak cukup mampu untuk menjelaskannya kepada orang lain. Lebih baik  jangan diceritakan kepada orang lain, karena disamping kita dianggap mengada-ada atau yang lainnya juga orang lain tidak akan percaya. Itu wajar karena mereka tidak mengalaminya. Kalau mereka ingin bukti sebaiknya dituntun agar mereka juga mampu mengalaminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang anda lihat tergantung dari kwalitas diri anda, itulah kenyataan sebenarnya yang anda cari saat sembahyang. Bila kondisi ini tercapai biasanya dibarengi dengan tangisan, tangisan kebahagiaan yang luar biasa. Curahan kasih sayang yang sulit untuk diceritakan. &lt;br /&gt;
Sama halnya pada tahapan nomor 2 di atas, bila anda mampu mengalami hal ini maka anda tidak perlu mengikuti sembah dengan cara mengangkat tangan yang diisi kewangen/bunga seperti biasanya, karena anda akan kembali dikuasai kesadaran jiwa dan pikiran serta peristiwa niskala tadipun akan sirna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Samudaya untuk mohon waranugraha&lt;br /&gt;
Pada tahapan ini ditandai dengan kesaksian akan kenyataan dan kesadaran diri murnipun terjaga. Apapun yang anda saksikan dan anda tetap dalam kesadaran diri murni (Sejati/Ruh/Atman) akan terjadi suatu dialog. Dialog yang mesra dipenuhi kasih sayang yang sangat tulus, meskipun secara sekala mata dan mulut kita dalam keadaan tertutup. Namun kita dapat melihat dan berdialog. Dialog yang dipenuhi wejangan suci, itu semuanya adalah penugrahan Hyang Maha Agung melalui segala bentuk manifestasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong kembali untuk menghaturkan terima kasih atas Anugrah yang telah dilimpahkanNya.&lt;br /&gt;
Bila segala sesuatu yang terjadi semakin lenyap itu pertanda kita telah kembali ke alam kesadaran jiwa melintasi kekosongan sampai kita tersadar di dalam kesadaran pikiran. Ini berarti kita telah menginjak pada tahapan sembah Puyung untuk mengakhiri persembahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah mengapa persembahyangan umat Hindu di Bali yang pada umumnya melakukan Panca Sembah saat sembahyang sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Bila mampu mengalaminya akan memperoleh kebahagiaan yang lebih dari kebahagian duniawi. Sekali lagi memang ini sulit untuk dilakukan bila kondisi di sekitar kita saat sembahyang tidak mendukung untuk mencapai keheningan. Ini juga tergantung dari kwalitas diri kita masing-masing. Bila kondisi hening tak tercapai, maka ikuti saja tahapan persembahyangan sebagaimana biasanya sebagai media latihan yang lama kelamaan bila kita tekuni serta menjaga keheningan dan kesucian bathin kebahagian itu pasti anda dapat capai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya ada misteri dibalik ngayaban canang atau banten saat kita maturan. Canang atau banten yang belum diayab, secara umum belumlah dianggap maturan. Maka setiap kita ngaturan canang atau banten selalu diayab seolah-olah canang atau banten yang kita haturkan telah diterimaNya. Gerakan tangan saat ngayaban, seolah-olah kita mempersilahkan menikmati apa yang kita haturkan, atau suguhkan seperti kita menerima tamu. Dan bagi penganut keyakinan/agama lainnya kita sering menjadi barang tontonan karena mereka menganggap aneh namun nyata. Kita sering dicap pemborosan dengan membuat canang/banten setiap hari, kemudian ditaruh begitu saja dan selanjutnya menjadi sampah. Namun tak apalah karena memang mereka belum tahu maknanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun bagi kita penganut Hindu khususnya di Bali, membuat dan menghaturkan canang/ banten/sesajen sudah menjadi kewajiban dan kebiasaan keseharian. Karena memang canang/ banten/sesajen pada hakekatnya adalah simbul kata-kata yang kita tujukan kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Karena keterbatasan kita untuk berkomunikasi dengan Beliaulah kita menggunakan simbul-simbul yang kita buat dengan material dari alam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat seorang pecinta dengan yang dicintainya, maka sang pecinta akan memberikan sekumtum kembang/bunga yang segar, harum dan indah buat kekasihnya, maka sang kekasih akan memahami arti semua itu dengan sendirinya, meskipun tak sepatah katapun diucapkannya. Bagi sang pencinta dalam hatinya berkata : ”seindah dan seharum bunga inilah cintaku kepadamu”. Demikian pula yang dicinta atau kekasihnya akan berbisik dalam hatinya akan hal yang sama. Memang cinta tidak mesti diucapkan, cinta akan lebih indah dan selalu bersemi bila dilandasi ketulusan hati, dengan bahasa hati yang terdalam. Sama halnya dengan canang/banten/sesajen yang dihiasi dengan berbagai bunga/kembang yang harum, pada hakekatnya sama maknanya dengan bunga untuk menyatakan cinta kepada sang kekasih tadi. Meskipun tak diiringi dengan kata-kata Belaiu sudah paham maksud kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan ngayaban canang/banten/sesajen adalah gerakan kosmik atau gerakan atman/Ruh Kudus . Hanya atman/Ruh Kuduslah yang mampu berkomunikasi dengan Tuhan, karena Tuhan sendiri adalah sesuatu (sulit untuk diurai atau disebut dengan kata-kata manusia/bahasa bumi karena keterbatasannya) yang sifatnya gaib dan suci. Bila Atman/Ruh Kudus telah bangkit dalam diri seseorang maka munculah gerakan kosmik saat kita sedang mengosongkan diri atau sedang fokus kehadapan beliau saat kita maturan. Namun bagi orang kebanyakan yang Ruhnya belum mampu bangkit maka gerakan ngayab masih mengikuti gerakan pikiran seolah-olah kita mempersilahkan Beliau Anyukle Sari lan Amukti Sari. Pada hal kita tahu bahwa pikiran tidak akan mampu menjangkau Beliau, karena Tuhan sendiri tak terpikirkan . Hanya Ruh yang akan mampu berhubungan dengan Ruh Suci yaitu Tuhan itu sendiri. Namun demikian bila Ruh kita belum bangkit, ngayaban canang/banten seperti biasanya tidaklah salah, kembali kita harus yakin Beliau Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Sampai jumpa pada edisi berikutnya&lt;br /&gt;
Salam : Huuu............., semuanya hanya Dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalung Permai, awal Juli  2008&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Shri Madava Wayan Suratnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-7716998207186759924?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/mengapa-orang-hindu-bali-sembahyang.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-364351816709839584</guid><pubDate>Mon, 23 Nov 2009 11:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T11:23:56.280-07:00</atom:updated><title>Tanya di sini</title><description>Masih ada yang bingung setelah baca Artikel kami?&lt;br /&gt;
silahkan &lt;b&gt;bertanya&lt;/b&gt; kebingungan anda dengan cara komentar di kolom komentar di bawah ini,kami akan mencoba menjawab nya dengan artikel agar semua juga kebagian.&lt;br /&gt;
Artikel kami tidak akan habis2 seperti air yang mengalir karena Guru kami tidak henti2 nya memberikan pencerahan kepada seluruh manusia.&lt;br /&gt;
salam kami selamat mencerahkan diri anda.&lt;br /&gt;
ibarat anda batu yang masih gelap akan kami gosok hingga anda menjadi batu yang mengkilat dan memantulkan cahaya.&lt;br /&gt;
semua pertnyaan anda akan kami jawab sampai tuntas dengan kata lain sampai anda benar2 mengerti.&lt;br /&gt;
terimakasih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Salam Tandava Nrtya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Huuuu..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-364351816709839584?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/tanya-di-sini.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-3260529213104359679</guid><pubDate>Wed, 11 Nov 2009 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-19T04:17:06.306-08:00</atom:updated><title>PERMOHONAN BANTUAN TANDAVA</title><description>Mohon Bantuan&lt;br /&gt;
Untuk membangun Padepokan Tandava Nrtya kami memerlukan bantuan para pembaca baik secara fisik,non fisik,materil,maupun non materil. untuk membaca proposal kami silahkan Klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/proposal-pembangunan-padepokan-tandava.html"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.Anda bisa membantu kami dengan bergabung di bebaspikiran.com&lt;br /&gt;
cuma tranfer 100rb membantu anda jadi jutawan.&lt;br /&gt;
ingin bergabung klik &lt;a href="http://www.bebaspikiran.com/?id=adhenovan"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ato bergabung aja di komisigratis.com&lt;br /&gt;
gabung dan ajak 10 temen dapet 277jt mw?&lt;br /&gt;
daftar segera klik &lt;a href="http://www.komisigratis.com/?id=adhenovan"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.atau dengan cara menyumbang langsung ke rekening kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama:IR I Wayan Suratnya&lt;br /&gt;
No rekening:145-00-0433559-8&lt;br /&gt;
Bank:Mandiri cabang gajahmada-denpasar-bali&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.anda Bisa Membantu dengan mengajak teman anda membaca artikel kami&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
sekali lagi kami dari pengurus sangat berharap banyak kiranya Bapak/Ibu/Adik sekalian berkenan memberikan bantuan seikhlasnya. Atas partisipasinya, kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
semoga&lt;br /&gt;
Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan penugrahanNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian permohonan ini, atas perkenannya kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih.&lt;br /&gt;
Salam kami , Damai itu indah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-3260529213104359679?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/permohonan-bantuan-tandava.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-7283272675304387631</guid><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 12:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T11:44:28.657-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>MIMPI YANG TAK KUNJUNG BERAKHIR</title><description>&lt;b&gt;Mimpi,&lt;/b&gt; suatu keadaan tak sadar yang dialami oleh setiap orang di kala &lt;b&gt;tidur&lt;/b&gt;, kadang-kadang&lt;b&gt; mimpi indah,&lt;/b&gt; buruk maupun biasa-biasa saja. Namun yang jelas begitu terjaga, baru sadar bahwa berbagai kejadian yang dialami selama tidur hanyalah sebuah mimpi. Kalau mimpi indah ingin rasanya melanjutkan tidurnya seraya berharap mimpi tersebut berlanjut kembali, namun sebaliknya bersyukur terjaga karena mimpinya buruk dan mengerikan. Mimpi indah maupun buruk, begitu kita terjaga, pikiran kita secara spontan kembali mengingat-ingat bagaimana detail kejadian dalam mimpi itu. Sambil terbengong diselingi tersenyum atau mengerutkan dahi, kita berusaha kembali merasakan lakon yang terjadi dalam mim&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pi yang pada akhirnya sambil berguman, eh hanya sebuah mimpi, ya sudahlah, sekali lagi hanya sebuah mimpi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pendapat tentang mimpi, ada yang mengatakan bahwa mimpi hanyalah bunga-bunga tidur. Mimpi adalah gambaran kejadian atau firasat akan hal-hal tertentu yang akan terjadi dalam kehidupan nyata berikutnya. Dan lain sebagainya tentang tafsir mimpi. Mimpi membuat kita terbengong, terhanyut oleh pikiran kita dengan membawanya ke suatu hayalan yang tak jelas ujung pangkalnya. Menghayal sudah menjadi bagian hidup kita baik dilakukan secara sadar maupun tidak, suka maupun tidak kita hanyut dalam hayalan yang kadang-kadang muncul dalam mimpi. Kondisi yang demikian membuat kita sibuk pada hal-hal yang sudah maupun akan terjadi atau yang telah dan akan kita alami yang membuat kita resah, tak sabaran dan tidak fokus terhadap apa yang kita hadapi saat ini. Kita terombang-ambing oleh kondisi demikian, ibarat sebuah perahu di tengah samudra yang tak mampu dikendalikan yang pada akhirnya tenggelam entah kemana terbawa arus laut yang mengganas.&lt;br /&gt;
Mari kita simak wejangan suci dari Guru Welldo Wnopringgo, berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tutuplah kedua matamu dan kedua telingamu&lt;br /&gt;
karena kedua-duanya&lt;br /&gt;
hanya mampu memberikan pengetahuan dualitas &lt;br /&gt;
pengetahuan serba dua yang saling bertentangan &lt;br /&gt;
yang hanya membuatmu selalu kebingungan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita coba menutup kedua mata dan telinga dengan tangan, kemudian kita rasakan! Yang kita rasakan hanyalah keheningan, seolah-olah kita sedang menatap diri sendiri. Begitu kita buka mata dan telinga, apapun yang kita lihat dan dengar secara spontan pikiran kita memberinya sebuah nilai bahwa ini bagus, ini jelek, ini enak dan ini tidak enak, ini boleh dan ini tidak boleh dan lain sebagainya yang menggambarkan dualitas yang saling bertentangan dan konsep ini telah tertanam dalam pikiran kita sejak kita sadar akan nilai yang ditanamkan sejak kecil. &lt;br /&gt;
Mari kita ikuti lanjutan wejangan di atas :&lt;br /&gt;
Maka tutuplah kedua matamu dan kedua telingamu &lt;br /&gt;
karena kedua-duanya &lt;br /&gt;
hanya dapat membawamu untuk selalu melihat keluar &lt;br /&gt;
selalu melihat yang lain sebagai obyek dan tujuan &lt;br /&gt;
kedua matamu dan kedua telingamu hanya membuatmu sibuk &lt;br /&gt;
mencari kekurangan dan kesalahan orang lain &lt;br /&gt;
sehingga tak punya kesempatan &lt;br /&gt;
mencari kekurangan dan kesalahanmu sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tutuplah kedua matamu dan kedua telingamu&lt;br /&gt;
karena kedua-duanya selalu mengajakmu keluar &lt;br /&gt;
sehingga menemukan dirimu selalu di dalam keterpisahan &lt;br /&gt;
terpisah dari dirimu sendiri dan orang-orang lain &lt;br /&gt;
terpisah dari KENYATAAN dan TUHAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu mata dan telinga kita buka, pikiran akan spontan mengajak kita tertuju pada obyek di luar diri dan langsung memberikan penilaian. Kalau kita melihat orang, secara otomatis kita menilainya. Ooo, orang ini begini, atau begitu. Ia baik atau sebaliknya ia tidak baik dan berbagai penilaian lainnya. Kalau melihat makanan langsung berpikir, ini enak, ini aku suka, ini tidak suka atau kurang enak dan sebagainya. Demikian juga kalau telinga mendengar, pikiran kita langsung menilainya, ini suara si anu dan terbayang akan karakternya, atau itu suara anjing dan langsung terbayang bahwa anjing itu galak atau sebaliknya. Kita sibuk memberi penilaian terhadap apa yang kita lihat maupun dengar dan jarang sekali melihat diri sendiri apa yang menjadi kebutuhan diri, disamping makan dan minum dan seabrek kebutuhan untuk terpenuhinya keperluan bagi sang raga. &lt;br /&gt;
Kita terlalu sibuk memberikan penilaian bagi obyek di luar saja dan yang lebih parah lagi kita sendiri terseret jauh mencampuri obyek di luar, sampai-sampai kita tak dapat lagi berdiri guna menentukan identitas diri. Kita menjadi terpisah, tidak fokus pada diri dalam segala hal, ibarat perahu di tengah samudra seperti disebutkan di atas. Oleh karena demikian bagaimana caranya untuk selalu eling akan diri. &lt;br /&gt;
Mari kita lanjutkan wejangan di atas :&lt;br /&gt;
Maka tutuplah kedua matamu dan kedua telingamu &lt;br /&gt;
dan bukalah lebar-lebar Hatimu yang suci &lt;br /&gt;
yang dapat mendengar meskipun tak punya telinga &lt;br /&gt;
yang dapat melihat meskipun tak punya mata &lt;br /&gt;
yang dapat mencium meskipun tak punya hidung &lt;br /&gt;
yang dapat berbicara meskipun tak punya lidah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata hati kita mesti tak punya mata dan telinga, mampu untuk melihat dan mendengar dan bisa berfungsi sebagai hidung maupun lidah. Dengan hati kita dapat merasakan apapun kejadian di dalam diri maupun di luar diri sekaligus ikut merasakan apa yang dialami oleh orang lain maupun obyek di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka bukalah lebar-lebar Hatimu yang selalu menerima &lt;br /&gt;
karena Hatimu akan selalu membawamu melihat ke dalam &lt;br /&gt;
ke dalam BATHIN  dan Dirimu yang sebenarnya &lt;br /&gt;
dengan Hati akan membuatmu sibuk melihat ke dalam diri &lt;br /&gt;
mencari kekurangan dan kesalahanmu sendiri &lt;br /&gt;
sehingga lupa mencarinya pada pihak yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah ke DALAM  dirimu, &lt;br /&gt;
ke dalam BATHINmu yang TERDALAM, &lt;br /&gt;
tidaklah ada perbedaan &lt;br /&gt;
antara dirimu, DIRI-MURNI dan GURU, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hati, kita selalu dapat merasakan dan menerima apa adanya, ibarat perut akan selalu menerima apa yang kita makan dan dampaknya akan kita rasakan. Baik dan buruk apa yang kita makan akan kita rasakan dan sifatnya ke dalam sampai ke bathin, sehingga tahu akan kebutuhan diri mana yang baik dan mana yang buruk dan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh akan kebutuhan diri. &lt;br /&gt;
Bila hal ini terus kita lakukan maka mencari ke luar guna memberikan penilaian akan obyek di luar diri akan berkurang. Kemudian munculah kedamaian dalam hati dan keheningan. Identitas diri akan diketahui siapa diriku dan mau kemana aku, apa bedanya orang lain dengan aku. Apa orang lain berbeda dengan aku yang sama-sama punya hati dan mampu juga mencapai keheningan. Siapa keheningan itu? Dan ada apa dalam keheningan itu?. Apa beda keheningan itu dengan keheningan yang dimiliki oleh orang lain? Munculah pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang hanya mampu terjawab oleh kita sendiri. Munculah dialog seperti Guru dengan seorang Murid, yang lama kelamaan menemukan jawaban yang membuat hati kita jadi damai, pada hal doalog tersebut hanya berlangsung dalam diri. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Selanjutnya mari kita lanjutkan wejangan berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kamu sungguh-sungguh MERDEKA, &lt;br /&gt;
di dalam KEMERDEKAAN tidak ada guru &lt;br /&gt;
di dalam KEMERDEKAAN tidak ada murid &lt;br /&gt;
oleh karenanya di dalam KEMERDEKAAN tidak ada ajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarlah hanya CINTA dan KEDAMAIAN &lt;br /&gt;
yang ada diantara semua makhluk hidup dan kehidupan &lt;br /&gt;
menjadi perekat suci setiap hubungan dan dialog &lt;br /&gt;
di alam semesta raya yang maha indah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hati yang hening akan memunculkan kedamaian. Dari kedamaian maka segala yang nampak akan menjadi indah dan dari keindahan itu akan muncul rasa cinta, cinta yang universal dan tidak terikat akan hal-hal di luar, itulah diri yang Merdeka. Kemerdekaan yang dipenuhi dengan pancaran cinta yang akan nampak baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Bila kita pancarkan cinta, maka yang menerimapun akan membalasnya dengan cinta. Begitulah pancaran cinta itu akan menyejukan lingkungan dan alam sekitarnya, yang menjadi perekat yang saling mengasihi. &lt;br /&gt;
Baiklah kita ikuti kembali wejangan berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamulah KEHIDUPAN &lt;br /&gt;
yang lebih dulu ADA sebelum munculnya gagasan tentang kehidupan &lt;br /&gt;
watak dan kharaktermu yang paling mendasar adalah HENING &lt;br /&gt;
dan itu tidak akan dapat kamu capai &lt;br /&gt;
karena sudah senantiasa ADA &lt;br /&gt;
karena kamu adalah SUBSTANSI &lt;br /&gt;
karena kamu adalah sesuatu yang menyadari &lt;br /&gt;
setiap kesadaran tentang obyek, sasaran dan gagasan, &lt;br /&gt;
bahkan kamu lebih HENING dari kesadaran itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamulah KEMERDEKAAN &lt;br /&gt;
kamulah DIRI-MURNI yang MERDEKA &lt;br /&gt;
sesuatu yang tidak dapat kamu duga &lt;br /&gt;
darimana setiap pengalaman dan gagasan tentangnya bermunculan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah adanya bahwa kehidupan ini diciptakan dari dasar cinta yang universal. Dengan keheningan yang mendalam kita akan menyadari bahwa kita sebenarnya adalah diri murni yang merdeka asalkan kita mampu menjaga keheningan itu bagai air danau yang tak berombak, bening dan menampakkan segala isi dasarnya termasuk sang surya, walaupun matahari berada jauh nun di sana dan bukan berada di dasar danau tersebut. Hembusan anginlah yang menyebabkan air danau berombak dan mengaburkan pandangan ke dasar danau dan pantulan sinar matahari menjadi tak beraturan seolah-olah matahari itu jumlahnya lebih dari satu.&lt;br /&gt;
Suatu kondisi yang luar biasa bilamana kita mampu menyaksikan diri murni yang ada dalam diri, dimana kita baru sadar betapa indahnya dunia ini bila kita mampu menontonnya dari dalam, beda kalau kita saksikan dari luar yang selalu memberikan nilai yang serba dua, sebagai pertanda bahwa yang nampak oleh mata hanyalah illusi yang berkepanjangan. Di dalam diri murni yang nampak hanyalah kenyataan, kenyataan yang abadi, hening dan suci, bebas dari nilai, waktu maupun keterikatan. Hanya kedamaian, ketulusan dan keindahan serta cinta yang terpancar bagai sinar sang surya yang menerangi jagat raya yang tanpa pilih kasih memberikan sinarnya baik kepada yang bau busuk maupun enak, kotor atau bersih, jelek atau bagus, miskin atau kaya, bertitel atau tidak, pejabat atau rakyat semuanya disinari dengan kapasitas yang sama. Itulah keabadian dan substansi, sesuatu yang hening dimana semua skenario kehidupan bermunculan.&lt;br /&gt;
Perjumpaan dengan diri murni akan menyadarkan kita seperti baru bangun dari tidur bahwa apa yang kita alami di dunia selama ini hanyalah sebuah mimpi yang berkepanjangan. Kita begitu capek bergulat dengan kemauan untuk memenuhi tuntutan pikiran dan ego yang tak habis-habisnya ibarat pedati yang suatu saat di atas dan di saat yang lain berada di bawah. Suatu saat senang atau suka kita tertawa dan di saat yang lainnya sedih atau duka kita menangis. Kita tak pernah merasa puas ibarat minum air laut yang menyebabkan semakin haus. Kecintaan akan sesuatu yang menghasilkan keterikatan dan kesengsaraan serta keputusasaan yang semakin menjadi-jadi tat kala kemauan tak terpenuhi. &lt;br /&gt;
Kita hanya terikat pada bentuk atau rupa dan nama, ibarat gadis cantik yang kita cintai setengah gila, namun cinta itu luntur dan sirna seiring dengan waktu tat kala gadis iu keriput dan nampak tua. Tinggalah ketidakpuasan atau penderitaan bathin bila cinta kita dilandasi atas penilaian pikiran atau ego yang sifatnya tidak pernah puas akan bentuk atau rupa dan nama. Pikiran yang selalu meragu dan penuh tanda tanya dan jawabannya selalu diragukan seperti benar nggak, masak ya, apa betul ya, aah mungkin, aah tidak dan sebagainya yang menghasilkan keputusan yang selalu ragu.&lt;br /&gt;
Mari kita ikuti wejangan kembali :&lt;br /&gt;
Jika kamu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan atau diwujudkan, maka sebaiknya jangan kamu lakukan itu, dan apabila kamu melakukannya, itu karena kamu meragukannya, meragukan apapun juga termasuk meragukan dirimu.&lt;br /&gt;
Meragukan adalah aktifitas pikiran, oleh karena setiap pertanyaan lahir dari pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah pikiran, kadang-kadang kita bertanya pada hal kita tahu jawabannya, toh kita bertanya juga, dan setelah dijawab, kitapun masih ragu akan jawaban itu. Demikianlah pikiran itu yang pada akhirnya sama saja dengan meragukan diri sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu tidak bisa menerima jawaban yang bakal menyakitkan lebih baik jangan bertanya. Dan jika kamu sakit karena jawabannya, maka yang sakit bukanlah dirimu atau hatimu tetapi egomu atau pikiranmu karena yang mengharapkan jawaban adalah egomu, maka yang bisa merasakan akibatnya adalah egomu.&lt;br /&gt;
Dan jika kamu rasakan juga sakit itu ada di hatimu hal ini terjadi karena kamu menyangka bahwa yang berkata lewat pikiran adalah dirimu namun sebenarnya adalah egomu. Egomu telah mengambil alih kekuasaan terhadap dirimu dari dirimu dan mengaku diri sebagai DIRI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang butuh jawaban adalah pikiran kita, karena pertanyaan muncul dari pikiran. Kalau jawaban tidak sesuai dengan yang diharapkan maka sakitlah pikiran kita atau ego kita, namun rasa sakit itu sering dirasakan oleh kita sebagai diri atau aku, namun yang sebenarnya sakit itu diterima oleh pikiran atau ego, karena yang butuh jawaban adalah yang bertanya. Begitulah kalau kita dikuasai pikiran atau ego, seolah-olah hati kita yang sakit pada hal tidak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka seluruh dirimu dikuasai dan dikendalikan oleh egomu sedangkan kerja ego dan pikiran hanyalah terus menerus membuat pertanyaan dan meragukannya. Ketakpeduliannya terhadap jawaban yang benar telah membuat hatimu merasa sakit karena hati yang ada di bawah kuasa pikiran dan ego, hanya bisa menanggung akibat yang dilakukan ego tanpa kuasa membrontaknya.&lt;br /&gt;
Karena watak dari dasar HATI adalah sekedar menerima apapun yang hadir. Pikiran sama halnya dengan mulut dan HATI sama halnya dengan perut.&lt;br /&gt;
Mulut hanya berbuat untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan bahwa akibatnya yang menanggung adalah perut, inilah bentuk egoisme dari mulut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah sangat jelas sekali, bahwa hati selalu menerima dampak apa yang dilakukan oleh pikiran, sedangkan pikiran tidak pernah diam dan mencari kepuasan yang tak pernah berujung. Panca indria yang berfungsi sebagai sensor, menangkap sinyal dan diolah di hyphotalamus (otak). Karena merupakan olahan sudah barang tentu banyak mengandung nilai dan terbagi menjadi dua kutub besar yaitu nilai yang serba dua, yaitu baik buruk, benar salah, ya atau  tidak dan lain sebagainya yang menghasilkan keputusan yang selalu mendua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula pikiran yang kerjanya terus menerus membuat keinginan dan rencana-rencana pertama belum selesai sudah muncul rencana lainnya dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;
Namun akibat-akibat keinginan dan rencana itu HATILAH yang menanggung, rencana-rencana yang terbengkalai menimbulkan kegagalan.&lt;br /&gt;
Kegagalan demi kegagalan akan melahirkan kegelisahan dan ketakutan dan inilah yang ditanggung oleh HATI yang masih dikuasai oleh ego dan pikiran.&lt;br /&gt;
Maka hanya KESADARAN yang mampu membebaskan HATI dari kungkungan pikiran dan ego dengan menyadari bahwa ”Aku Bukan Badan” dan ”Aku juga Bukan Pikiran” dan ”Aku juga Bukan Perasaan” ”Aku adalah RUH atau ATMA Yang Abadi yang tidak terikat oleh apa yang dibutuhkan Badanku Pikiranku ataupun Perasaanku”&lt;br /&gt;
Kamulah KESADARAN itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk lebih memahami hal tersebut, selanjutnya mari kita bermain dengan kata-kata sebagai berikut :&lt;br /&gt;
Ini rumah saya&lt;br /&gt;
Ini mobil saya&lt;br /&gt;
Ini istri saya&lt;br /&gt;
Ini pacar saya&lt;br /&gt;
Ini kepala saya&lt;br /&gt;
Ini tangan saya &lt;br /&gt;
Ini perut saya &lt;br /&gt;
Ini ............. dan seterusnya........&lt;br /&gt;
Namun yang jelas bukan saya&lt;br /&gt;
Karena semuanya itu hanya merupakan pengakuan pikiran. Semuanya obyek di luar yang tak kekal adanya. Lalu siapa saya? Hanya dalam keheningan yang mampu menjawabnya seperti yang telah diuraikan sebelumnya. &lt;br /&gt;
Sekali lagi begitu kesadaran tercapai akan diri murni yang selalu merdeka, kita bagai baru bangun dari tidur panjang, namun seperti biasanya orang yang baru bangun tidur masih belum pulih benar kesadarannya apalagi masih kepupungan (setengah sadar). Kalu tidak disadarkan terus menerus biasanya kita ketiduran lagi. Kenapa ? Karena memang enak tidurnya dan dalam dunia nyata keterikatan kita akan kesenangan duniawi akan selalu menggiring kita untuk bergelut kembali, atau kembali tidur nyenyak dan mimpi indah akan duniawi. Salahkah?&lt;br /&gt;
Sebagai manusia biasa hal tersebut wajar dan manusiawi, karena memang kita hidup di alam ini masih mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab. Namun yang terpenting, begitu sadar akan keberadaan diri murni, akan senantiasa memandu kita untuk menjalankan kewajiban duniawi hanya sebatas pelayanan yang dilandasi rasa tulus dan ikhlas bagi sesama, alam dengan segala isinya dan Tuhan, tanpa pernah mengharap hasil atau buah karma yang kita lakukan. Karena pada hakekatnya pelayanan tersebut adalah pelayanan bagi diri sendiri. Hal ini terjawab bila kita telah mampu bangun dari tidur dengan mimpi-mimpi tersebut, yang selanjutnya menapak pada tingkatan sebagai seorang Perindu.&lt;br /&gt;
Perindu, bak seorang yang sedang jatuh cinta, hati selalu berbunga-bunga dan bila satu hari saja tak bertemu maka gunungpun akan ku daki, samudra dan badaipun akan ku arungi, banjir bandangpun akan ku seberangi, begitulah tekadnya bila kekasih kita tak ketemu. Sama halnya bila kita telah bangun dari tidur, ingin rasanya selalu bangun dan tak tertidur kembali meskipun kewajiban dan tanggung jawab di dunia maya ini masih menjadi tugas yang mesti dilakoni. Perjumpaan dengan diri murni begitu indahnya, bagai pucuk dicinta ulam tiba, begitu mesra bagai sepasang kekasih lagi dimabuk cinta. Bertemunya sang pecinta dengan yang dicinta, hanya cinta yang mengikat keduanya, cinta yang universal nan agung. Sirnanya berbagai prasangka maupun nilai, hanya ketulusan dan kedamaian yang terpancar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
By:&lt;br /&gt;
Yang Shri Madava Wayan Suratnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Salam Tandava Nrtya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Huuu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-7283272675304387631?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/mimpi-yang-tak-kunjung-berakhir.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-6172930723343021838</guid><pubDate>Mon, 09 Nov 2009 12:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-08T11:48:51.423-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Cahaya Dari Bali</category><title>BISIKAN HATI MENGAPA ORANG BALI MERAYAKAN HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN</title><description>1.PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
Setiap pelaksanaan &lt;b&gt;hari raya &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Galungan&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Kuningan&lt;/b&gt; yang kita saksikan hanyalah suatu rutinitas formal dan miskin pemaknaan. Pada umumnya setiap menjelang hari raya besar itu, telah terbayang sebelumnya akan kewajiban dan acara yang mesti dilakukan dan sepertinya telah terformat sedemikian rupa.&lt;br /&gt;
Sejak kecil hanya hal-hal itu saja yang dilakukan tanpa mampu mengungkap makna lebih jauh kenapa mesti kita harus merayakannya seperti itu. Sampai kita sudah dewasa misalnya sudah berumur 40 tahun, kemudian dibagi 210 hari (6 bulan Bali) maka kita telah melewati hari Raya Galungan dan Kuningan sebanyak kurang lebih 69 kali. Bila kita mencoba untuk mengevaluasi diri dengan menanyakan ke dalam diri apakah ada perubahan pemahaman atau pelaksanaan dan prilaku yang lebih baik. Jawabannya kita sendiri yang tahu. Kalau boleh kita akui secara jujur kebanyakan dari kita cuma memahami hari raya keagamaan secara gugon tuon, anak &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; mule keto, yang akhir-akhir ini dilaksanakan dengan semarak namun miskin akan makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari Raya Galungan dan Kuningan pada umumnya dirayakan oleh Umat Hindu di Bali setiap 210 hari (6 bulan) yang selalu diwarnai kemeriahan karena dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun di daerah lainnya di Indonesia meskipun beragama Hindu tidak dikenal adanya hari raya tersebut kecuali oleh umat Hindu yang berasal dari Bali. Di daerah asal agama Hindupun yaitu di negeri India hari raya ini dari sisi nama juga tidak dikenal meskipun makna hari raya tersebut ada pada hari-hari suci yang diperingati di India.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kenapa hari raya Galungan dan Kuningan hanya diperingati di Bali? Inilah yang mendorong saya untuk mencari makna apa yang tersimpan di hari raya tersebut. Dari berbagai perenungan yang mendalam akhirnya penulis menemukan jawaban meskipun jawaban ini hanya berupa bisikan hati yang sifatnya personal dan membuka peluang besar bagi para pembaca untuk mengkoreksinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya setelah apa yang saya dapat renungkan sampailah pada suatu kesimpulan bahwa para Leluhur kita begitu hebatnya dalam membumikan ajaran agama dengan harapan agar ajaran agama dapat dilaksanakan oleh umat manusia dalam berbagai tingkatan perkembangan kesadaran baik bagi para pemula yang baru mengenal agama sampai pada tingkat kesadaran yang paling tinggi. Hari raya Galungan dan Kuningan hanyalah berupa sistem pembelajaran yang secara rutin yaitu setiap 210 hari (6 bulan) akan selalu diulangi yang pada akhirnya diharapkan umat manusia menyadari dirinya untuk apa dilahirkan seirama dengan perpanjangan usianya sampai ajalnya dijemput.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelumnya penulis minta maaf kepara para bijak, Tokoh-tokoh Agama, para Sulinggih maupun mohon ampun kehadapan Ida Bathara-Bathari, Leluhur dan Bethara Kawitan, Dewa-Dewi  dan Hyang Widhi apabila apa yang penulis paparkan dibawah ini adalah pemahaman yang salah atau keliru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua uraian dibawah ini muncul dari bisikan hati dengan sendirinya setelah penulis sedikit menekuni sepiritual akan makna kehidupan. Suatu hari penulis menyampaikan pemahaman ini kepada teman-teman dan rupanya mereka tertarik dan mendesaknya untuk ditulis. Namun dengan segala kekurangan yang dimiliki akhirnya dengan niat yang tulus penulis memberanikan diri untuk mengungkapkannya dalam bentuk tulisan sebagaimana dipaparkan berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.TUMPEK WARIGA/UDUH/PENGATAG/PENGARAH&lt;br /&gt;
Pada Tumpek Wariga ini umat sedharma melakukan persembahyangan dengan menghaturkan sesajen yang ditujukan kehadapan Sang Hyang Sangkara sebagai manifestasi Tuhan dalam menciptakan tumbuh-tumbuhan dengan doa agar tumbuh-tumbuhan tumbuh subur dan mendatangkan hasil yang berlimpah. Disamping hasil yang berlimpah juga diharapkan mampu menghasilkan dampak positif bagi kehidupan dan kelangsungan kehidupan di bumi ini dengan segala isinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perayaan Galungan dan Kuningan pada dasarnya dimulai saat Tumpek Pengarah atau Tumpek Uduh yang diwarnai dengan pembuatan bubur putih yang diperuntukan bagi pohon-pohonan terutama yang buahnya bermanfaat bagi manusia dan berguna untuk keperluan sesajen seperti Pohon Pisang, Kelapa dan lain-lainnya. Pada saat menghaturkannya pada umumnya dilantunkan Sehe seperti mantram namun bukan mantram yaitu “ Kaki-kaki buin selai lemeng Galungane mangde mebuah  ngeed, ngeed ngeed “ Begitulah kurang lebih kumat-kamitnya saat menghaturkan sesajen berisi bubur di depan pohon-pohonan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tumpek Pengarah dimaknai sebagai Pemberitahuan. Pengarah asal katanya  arah mendapat awalan pe menjadikannya kata kerja yang maknanya memberikan arahan. Kata Uduh diperuntukan bagi kata pembuka bagi perintah -perintah yang sifatnya nasehat seperti kata “ Uduh Cening “ yang sering diucapkan oleh Tetua-tetua Bali kepada anak-anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang diarahin, siapa lagi kalau bukan diri kita sendiri. Secara gamblang yang dimaksudkan adalah memberi tahu diri sendiri untuk menyadari akan kehadiran kita di dunia fana ini. Untuk apa kita lahir dan kemana kita selanjutnya. Penyadaran diri dimulai dengan menerawang akan kehadiran kita yang dilambangkan sebagai bubur putih asupan bayi yang baru lahir untuk menyadari dengan siapa saja kita hadir di dunia fana ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebutan Kaki ( Kakiang/Kakek) sebagai simbul atau isyarat bahwa tumbuh-tumbuhan ( Eka Pramana) lebih tua dari kita yang berarti pula lebih dulu ada, oleh sebab itu kita wajib menghormati dan mengasihi sekaligus memberikan kasih sayang. Tanpa kehadiran mereka kita tidak mungkin bisa hidup oleh karena demikian kita juga berhutang budi padanya yang berarti pula kita harus bayar melalui yadnya dalam berbagai bentuk.&lt;br /&gt;
Dengan demikian pada tumpek Pengarah ini kita mesti menginstrofeksi diri agar tumbuh kesadaran diri akan makna hidup berdampingan dengan seisi alam semesta ini. Kita mesti menyadari dan mencari jawaban untuk apa Tuhan menciptakan semua ini kalau memang tiada maksudnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.SUGIHAN JAWA&lt;br /&gt;
Sugihan bermakna kekayaan dalam diri yang berarti kewidyatmikan. Kemampuan untuk memahami sekaligus merasakan sesuatu secara bijak dan murni apa adanya tanpa muatan ego atau keakuan. Jawa yang berari Jabe yaitu di Jabe atau di Luar, di luar diri. Jadi kemampuan untuk memperlakukan segala sesuatu yang ada di luar diri secara bijak dan murni yaitu tulus ikhlas dan penuh kasih sayang. Ini disebut dengan tindakan dharma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan dharma adalah semua tindakan tanpa dilandasi rasa pamrih atau mengharapkan imbalan. Tindakannya spontan semata-mata karena kewajiban atau kehendakNya. Tindakan yang dilandasi dengan pamrih/mengharapkan imbalan termasuk mengharapkan Pahala disebut dengan Karma, karena semua karma pada akhirnya berbuah (Phala). Karma baik akan berbuah kebaikan demikian pula sebaliknya. Sedangkan tindakan dharma akan menuntun kita kearah pencerahan diri, yang sebelumnya gelap lama kelamaan menjadi terang. Ibarat logam yang sebelumnya berkarat kalau digosok terus akan mengkilap dan memantulkan cahaya. Cahaya inilah akan membuat terang baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan dimanapun kita berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi pada saat Sugiah Jawa kita diharapkan mencapai tingkat kesadaran murni akan semua yang ada di luar diri. Dengan penghayatan bahwa Narayan ewedam sarwam yang secara harfiah berarti bahwa Beliau ada dimana-mana termasuk di dalam semua ciptaannya, maka kesadaran ini akan tumbuh. Hanya Nama dan Rupa atau Bentuk yang membedakannya namun esensinya tetap sama yaitu Beliau sendiri. Nama dan Rupa hanya konsumsi bagi pikiran yang sifat dasarnya selalu memberinya nilai. Kalau sudah menyangkut nilai maka hukum dualitas mulai berlaku yang mengaburkan nilai murninya, karena nilai adalah kesepakatan pikiran. Pikiran akan berkutat tetap di alam pikiran dan tidak akan mampu menjangkau Beliau karena Beliau sendiri Tak Terpikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara sekale pada hari Sugihan Jawa umumnya kita melakukan upacara penyucian Bhuana Agung dengan berbagai bentuk upacara yadnya, namun sebagai pribadi pada Sugihan Jawa kita mensyukuri apa yang ada di luar diri dengan menjaga, memelihara, menyayangi, menghormati sekaligus menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis dengan berbagai bentuk/rupa yang yang ada di luar diri. Bila kita memancarkan cahaya cinta maka semuanya akan membalasnya dengan cinta dan kasih sayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.SUGIHAN BALI&lt;br /&gt;
Sugihan Bali dimaknai sebagaimana juga pada hari Sugihan Jawa. Bali dimaknai sebagai Wali atau Mewali atau Kembali, kembali ke dalam diri. Pada Sugihan Jawa kita diharapkan mampu meningkatkan kesadaran akan hal-hal yang ada di luar diri, maka pada Sugihan Bali kita diharapkan juga dapat meningkatkan kesadaran diri akan Jati Diri. Siapa sebenarnya Aku ini, pertanyaan itulah yang kita upayakan untuk menemukan jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru kami Yang Shri Maha Swadava menjelaskan bahwa tubuh kita terdiri dari 3 (tiga) dimensi nama dan rupa yaitu Badan Raga yang dapat dilihat dengan kasat mata yang bisa merasakan lapar, sakit atau segar bugar. Badan Jiwa yang tidak kasat mata dengan mata biasa tempat bersemayamnya pikiran, ego, rasa dan buah karma. Badan ini dapat merasakan sakit yang disebut dengan sakit jiwa. Meskipun badan raganya sudah ditinggalkannya badan ini tetap memiliki kesadaran jiwa dan berproses mengikuti siklus reinkarnasi. Dan yang terakhir adalah Badan Atman/Ruh yang merupakan jati diri yang sebenarnya yang diliputi kesadaran yang murni yaitu Tuhan sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap badan mempunyai susunan cakra yang berbeda-beda. Bila kita sudah mampu mengatifkan cakra badan, kita belajar akan ilmu kekebalan yang membuat tubuh sehat dan seimbang secara lahir. Bila sudah mampu mengatifkan cakra jiwa kita akan belajar ilmu kebathinan untuk ketenangan yang sifatnya bathiniah, dan bila cakra Atman/Ruh yang diaktifkan maka kita akan belajar diri murni yang sejati yang menyangkut kebebasan akan keterikatan duniawi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekuatan cakra badan ibarat air. Bila kita mempunyai sebotol air dan kita berikan kepada orang lain maka kemungkinan air itu akan habis dan kita sendiri menjadi kelelahan dan mengumpulkan air kembali. Kekuatan cakra jiwa ibarat api. Bila besar api sebesar api lilin kita berikan kepada orang lain sebanyak berapapun maka api itu tidak akan pernah habis, namun besar api lilin tetap seperti semula sebelum diberikan kepada orang lain. Kekuatan cakra atman/ruh ibarat cahaya/sinar (Nur), bila cahaya ini diberikan kepada orang lain maka muncul pantulan/sumber cahaya di tempat lain dan membuat kegelapan semakin terang. Semakin banyak diberikan kepada orang lain maka sumber sinar akan semakin membesar dan membuat terang benderang. Itulah tingkatan berbagai kesadaran, dan pada hari Sugihan Bali kita diharapkan mampu mengevaluasi diri sejauh mana sudah menggapainya untuk selanjutnya mencoba membuat target kesadaran mana yang akan dituju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara sekale pada hari Sugihan Bali umumnya umat sedharma melakukan penyucian diri dengan berbagai ritual seperti mandi suci atau melukat, metirta yatra ataupun dengan berpuasa dengan berbagai tingkatan puasa maupun dengan cara-cara lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.PENYEKEBAN&lt;br /&gt;
Penyekeban yang asal katanya Sekeb berarti dieram, seperti nyekeb buah pisang agar menjadi matang. Pada hari ini diharapkan kita mampu nyekeb kesadaran murni sebagaimana diuraikan pada Sugihan Bali. Tat kala kesadaran murni mampu kita rasakan maka pada hari penyekeban agar selalu dijaga agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang membuat kesadaran murni tersebut sirna kembali. Pengaruh terbesar adalah menghadapi ulah pikiran yang memang sifatnya tidak pernah diam, dia selalu bergerak kesana-kemari ibarat seekor kera yang lompat sana-sini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu cara untuk mengendalikan pikiran adalah dengan secara terus menerus focus pada apa yang kita sedang lakukan. Jangan sampai kita sedang bekerja di tempat kerja namun pikiran kita berada di rumah. Itu artinya pikiran kita sedang jalan-jalan dan atman/ruh kitapun akan mengikutinya dengan setia kemanapun pikiran sedang pergi yang berarti pula badan raga kita ibarat rumah tanpa penghuni yang gampang dimasuki oleh hantu maupun kekuatan lainnya yang menjadikan tubuh kita mudah terserang penyakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.PENYAJAN&lt;br /&gt;
Penyajan yang sebagaimana dimaksud dalam Bahasa Bali artinya hari dimana masyarakat sedang membuat jajan sebagai kelengkapan dalam pembuatan sesajen atau upakara dalam menyambut hari raya Galungan. Jajan sebagaimana kita ketahui umumnya terbuat dari tepung baik bahan dasarnya beras, ketan maupun terigu atau bahan pangan lainnya. Setelah tepung diolah sedemikian rupa barulah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan kemudian baru dimatangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau demikian apa makna penyajan kalau kita hubungkan dengan diri sendiri? Pada hari Penyekeban kita diharapan mampu mengekang dan mengendalian keinginan dan ego yang tidak sesuai dengan sifat-sifat keilahian atau Sang Ruh Suci (Kudus) sehingga kesadaran murni tetap terjaga, maka usaha untuk mempertahankan inilah membuat kita menjadi lebih matang dan siap masak (ibarat buah-buahan) melalui penyekeban sebelumnya dan siap pula dijadikan apa saja selanjutnya sesuai dengan keperluan/jajan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi pada hari Penyajan Galungan ini kita dihapkan mampu mempertahankan kesadaran murni dari berbagai rayuan pikiran dan siap untuk melaju ke depan dalam menghadapi berbagai cobaan duniawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7.PENGEJUKAN&lt;br /&gt;
Pengejukan (Bahasa Bali) secara harfiah diartikan mengkondisikan binatang yang akan dijadikan upakara/Kurban (seperti Babi, Ayam, Itik, Kerbau dan lain-lainnya) misalnya dikandangkan atau diikat sehingga pada saatnya tinggal mengambil saja untuk selanjutnya dipotong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa makna pengejukan dalam kesadaran diri? Apanya yang diejuk? Yang dimaksudkan disini adalah bila kesadaran murni telah sampai pada tahapan sebagaimana diuraikan saat Penyajan, maka diharapkan mampu untuk mengikat berbagai bentuk produk dari pikiran seperti rasa keakuan/ego, nafsu birahi, amarah, kebencian, irihati, ketamakan dan berbagai bentuk keterikatan akan duniawi. Pada tahap ini diharapkan mampu membedakan mana aku yang sebenarnya (diri murni) dan mana pikiran. Ini memang sulit, namun yakinlah kita sedang dalam proses. Suatu saat bila kita latih dan lakoni secara terus menerus dibawah bimbingan orang bijak (Guru) yang tepat, maka pada tahapan ini Tuhan pasti memberi jalan bila kita bersungguh-sungguh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara membedakan mana pikiran dan mana tidak pada tahap dasar adalah dengan memahami dengan benar dan melakoninya mana itu kebutuhan dan mana keinginan. Contoh kecil kalau lapar butuh makan, apapun yang membuat kenyang perut dan tidak lapar itulah kebutuhan. Demikian sebaliknya kalau belum makan Gule dan Sate Kambing baru merasa kenyang itulah keinginan. Jadi yang lapar bukan perutnya melainkan lidah dan mulutnya. Tubuh butuh pakaian untuk melindungi tubuh dari kedinginan/kepanasan dan kemaluan, sepanjang itu bersih dan bentuknya sopan sebenarnya sudah cukup, lain halnya kalau belum menggunakan merk ternama rasanya belum berpakaian. Banyak lagi contoh untuk membedakan pikiran yang banyak maunya dengan diri murni yang hadir apa adanya. Mengikuti pikiran akan melahirkan keterikatan dan bila mengikuti diri murni akan melahirkan pembebasan akan keterikatan duniawi.&lt;br /&gt;
Musuh utama kalau sudah begini adalah pujian, semakin senang kita dipuji maka kita semakin dikuasai pikiran dan membuat kita akan sengsara. Mohon disadari apapun yang kasat mata yang kita saksikan di dunia ini semuanya belum pantas untuk dipuji, hanya satu yang pantas untuk dipuji yaitu Tuhan sendiri. Kalau kita senang dipuji berarti kita telah merampok hak Tuhan. Kalau kita dipuji ada baiknya kita sampaikan “ Suksme “ semoga Tuhan memberkatinya,  dan saudara kita yang muslim menyebut Alhamdullillah yang artinya hanya Allah yang mempunyai hak terpuji. Suka dipuji akan menyuburkan rasa keakuan dan kita akan dikendalikan oleh pikiran dan kesadaran murni akan semakin sirna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah tantangan pada Hari Pengejukan, yang pada hari itu kita diharapkan telah mampu mempertahankan kesadaran diri murni dan membedakan mana pikiran dengan berbagai produknya dan mana diri kita yang sebenarnya, ibarat akan maju perang maka kita terlebih dahulu harus mengenali dengan baik mana teman dan mana lawan/musuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.PENAMPAHAN GALUNGAN&lt;br /&gt;
Pada hari Penampahan Galungan umat sedharma secara umum memotong hewan Babi dan diolah ke dalam berbagai bentuk masakan, seperti Lawar, Komoh, Sate, Penyon, Tum, Remikan, Urutan dan lain-lainnya untuk di konsumsi bersama keluarga dan saling Ngejot dengan saudara maupun tetangga. Disamping itu pula juga dipakai pelengkap sesajen khususnya yang dihaturkan ke Teben (Banten Teben) agar tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan. Beberapa tempat juga dihaturkan kepada Leluhur, Bethara Hyang dan Bethara-Bethari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari itu dalam seharian perut kita dimanjakan dengan berbagai bentuk masakan yang pada umumnya berasal dari daging Babi. Ini sudah mentradisi bagi penulis semenjak ingatan terekam di memori otak memang sudah seperti itu sampai sekarang dan muncul pertanyaan kenapa bukan daging yang lainnya kenapa mesti daging Babi. Apa makna hewan babi dan apa makna penampahan galungan dan apa sekedar persiapan konsumsi untuk hari raya Galungan besok harinya ? Berbagai pertanyaan muncul bila menjelang hari Penampahan Galungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya setelah penulis belajar sedikit sepiritual dan menanyakan kepada Guru, beliau mengatakan bahwa Hewan Babi secara universal disepakati sebagai simbul “ Kebodohan “ sebagaimana sifat-sifat Babi kalau didorong disuruh maju malahan dia mundur, namun tat kala kita hadang dari depan malahan menggigit. Kalau kenyang dia tidur dan kalau lapar dia ribut minta makanan, maunya cuma makan dan tidur. Nah kalau sifat ini dimiliki manusia ia akan malas cuma mau enaknya saja, disuruh maju malahan dia mundur dan bila dituntun dari depan disuruh mengikuti malahan tidur, bila dimarahi dia akan mencelakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi penulis memaknai bahwa pemotongan hewan babi tat kala Penampahan Galungan adalah sebagai simbul kita melawan kebodohan. Kebodohan yang dimaksudkan adalah berbagai bentuk karya pikiran yang bertentangan dengan sifat-sifat Diri Murni/Atman/Ruh, sebagai mana diuraikan pada hari Penyajan. Secara umum dimaknai pertempuran Dharma melawan Adharma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sasaran utama yang diharapkan mampu kita capai pada hari Penampahan Galungan, dimana kesadaran murni telah mampu menguasai pikiran yang sebelumnya pikiran yang mengendalikan kita maka pada hari itu telah berbalik yaitu kitalah yang mesti menguasai pikiran sekaligus mengendalikannya.  Jadi kita ambil alih tongkat komando dan sebagai simbul kemenangan ini pada sore harinya kita pancangkan Penjor sebagai simbul kemenangan dan Natab banten Penampahan Galungan sebagai wujud bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9.GALUNGAN&lt;br /&gt;
Sehari setelah hari Penampahan Galungan yaitu pada Hari Rabu (Bude Keliwon, Wuku Dunggulan) umat sedharma merayakan Hari Raya Galungan, yang selama ini dipahami sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma. Sebelum matahari terbit para Ibu-ibu sibuk menghaturkan sesajen mulai dari tempat ibadah yang ada di rumah sampai kahyangan Desa, bahkan sampai di Pura Subak, Kantor maupun tempat-tempat lainnya dimana kita mencari rezeki. Semua anggota keluarga melakukan persembahyangan bersama khususnya di tempat pemujaan para leluhur baik di Pemerajan, Pura Dadia maupun Pura Kawitan lainnya sebagai wujud syukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan tersebut telah menjadi kebiasaan bila saatnya Hari Raya Galungan tiba, yang lama kelamaan dikhawatirkan pelaksanaannya secara ritual begitu semarak namun miskin akan makna. Ditambah lagi prilaku generasi kita belakangan ini lebih mementingkan seremonialnya dari pada upaya peningkatan kwalitas diri. Beberapa hari menjelang hari raya, sebagian besar generasi kita membuka Bazar berkedok penggalian dana. Namun apa yang sebagian besar makna yang didapat hanyalah merupakan acara hura-hura dengan mengadopsi budaya asing. Belakangan ini bukannya nyanyian rohari yang berkumandang saat hari raya, malahan musik-musik barat yang kadang-kadang telinga kita terasa budek mendengarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepertinya nilai-nilai luhur sepiritual yang penuh kedamaian semakin jauh diganti dengan nilai-nilai yang penuh dengan dinamika eksotik, hingar bingar diselimuti emosi dan sifat-sifat Rajas. Namun yang membuat kita semakin prihatin kita tidak mampu membendungnya akibat kemajuan teknologi informasi yang menggelobal. Kalau sudah demikian bagi yang menyadari hanya bisa berpasrah diri seraya memanjatkan doa semoga saja umat manusia ke depan akan segera menyadari betapa pentingnya menyelaraskan diri baik kepada Tuhan, antar sesama maupun dengan alam semesta dengan segala isinya agar manusia masa depan dapat hidup damai dan jagadhita. Bukan saling bermusuhan maupun berlomba-lomba unjuk ego dengan merusak isi alam semesta raya ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya kembali kepada pelaksanaan hari raya Galungan sebagaimana disinggung sebelumnya yang merupakan hari perayaan kemenangan dharma melawan adharma, maka puncak peperangan dan dinyatakan menang adalah pada saat hari Penampahan Galungan, dimana kita telah mampu menguasai diri dan mampu memerintah dan mengendalikan pikiran. Kemenangan pada saat itulah pada esok harinya dirayakan. Kenapa perayaan ini disebut Galungan? Penulis memaknai dari kata Galungan tersimak arti “Galang”, sedangkan galang (Bahasa Bali) berarti terang seperti cuaca terang atau cerah. Apanya yang terang atau cerah, tiada lain adalah suasana bathin kita yang terang setelah menang dalam pertempuran. Tat kala kita telah mampu menguasai, mengendalikan dan memerintah pikiran maka bathin kita menjadi hening, hening inilah menuntun kita kearah kehidupan yang serba terang dan dari luar secara kasat mata maka wajah kita selalu diselimuti kecerahan baik dikala duka apalagi suka akan selalu bercahaya membawa suasana kedamaian bagi siapapun berada didekatnya, bak cahaya ditengah kegelapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.UMANIS GALUNGAN&lt;br /&gt;
Pada umumnya pada hari Umanis Galungan yaitu H+1, umat sedharma saling kunjung mengunjungi antar saudara dan handai taolan untuk mempererat tali persaudaraan.Di beberapa tempat pada hari ini masih dilaksanakan persembahyangan bersama karena ada Upacara Piodalan di Pura, baik tingkat Tri Kahyangan, Dang Kahyangan maupun Sad Kahyangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian makna apa yang tersirat pada hari Umanis Galungan? Umanis merupakan hari pertama perhitungan Panca Wara, yang berarti pula hari pertama untuk melakoni makna apa yang dirayakan sebelumnya. Kesadaran diri murni harus tetap dipertahankan dan dijadikan sumber dalam memerintah pikiran, berucap dan berbuat. Hal ini memang sulit, namun suatu pijakan dapat ditanam dalam hati dalam-dalam yaitu semua pengalaman hidup sebelumnya kita harus ihklaskan jangan sampai meracuni atau menggelapkan kesadaran murni yang ada. Anggap saja kita sedang bermain sinetron bahwa semua itu hanyalah lakon yang mesti diperankan selama ini. Lascarye-lah karena semua itu sudah lewat. Anggap saja kita baru saja lahir dan hadir di muka bumi ini dan pikiran kita terus difokuskan pada saat ini, di sini dan sekarang, selalu sekarang dan di sini, lagi sedang apa kita sekarang. Fokuskan pada kegiatan jangan sampai pikiran diganggu yang mengakibatkan melamun yang membuat keterpisahan antara raga dengan pikiran. Bagi yang Atman/Ruhnya belum bangkit maka dengan mudah dibawa pikiran kesana kemari yang mengakibatkan badan raga kita kosong dan kesadaran murni akan lenyap. Jangan memikirkan yang nanti atau besok atau masa depan dengan berbagai hayalan karena semuanya itu penuh dengan ketidakpastian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cita-cita boleh saja ditetapkan namun jalan menuju cita-cita itu haruslah pokus sekarang yang terpenting jalan tersebut telah menuju ke sasaran cita-cita itu. Biarkan cita-cita itu hanya tujuan, tentang sampai atau tidak pada cita-cita itu biarlah Hyang Kuasa menentukannya. Ibarat kita menuju Kawasan Wisata Bedugul maka fokus pikiran sejak berangkat haruslah sekarang misalnya sedang naik motor atau mobil. Fokuslah pada kendali kendaraan kita biar tidak salah arah maupun menabrak kendaraan lain. Bila sebaliknya dalam sepanjang perjalanan pikiran kita sudah di Bedugul maka kemungkinan besar kendaraan dari depanpun tidak akan kita sadarari dan kemungkinan menemui kecelakaan sangatlah besar. Jadi untuk nanti, besok atau tahun depan haruslah berpasrah diri karena kalau kita pikirkan terus itu tidak lebih dari ilusi pikiran yang mebuat kita tidak percaya diri. Pastikan dalam diri bahwa cita-cita tercapai, namun kapan tercapainya pasrahkan kepadaNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kesadaran murni tetap terjaga sebagaimana dicapai saat kemenangan maka hidup ini akan menjadi indah dan damai serta alampun sepertinya menyapa dengan penuh kasih sayang. Kita mulai dapat menangkap energi kosmis yang menyeliputi diri kita. Sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui akan muncul jawaban dari dalam, bila kita peka menangkap sinyal-sinyal yang muncul dari keheningan yang tercipta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11.PEMARIDAN GURU&lt;br /&gt;
Pada hari Pemaridan Guru, umat sedharma mengahaturkan sesajen kehadapan Hyang Widhi dengan doa agar selalu mendapat perlindungan dalam melaksanakan dharma. Namun pada hari ini tidak nampak kemeriahan seperti pada hari Raya Galungan maupun pada hari Umanis Galungan. Pemaridan Guru merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya apa makna yang tersirat pada hari tersebut, bila dikaitkan dengan prosesi atau rangkaian Hari Raya Galungan? Tidak banyak literature yang ada untuk menjelaskannya kecuali pelaksanaan yadnya atau ucapan terimakasih kehadapan Hyang Widhi atau kehadapan para Leluhur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemaridan Guru menurut penulis secara harfiah kalau dilihat dari kata Pemaridan atau Memarid (kata kerja) berarti memohon dan mengambil berkah yang disimbulkan dengan mengambil kembali (Ngelungsur) banten/sesajen yang telah dihaturkan. Banten yang biasanya berisi buah dan kadang-kadang berisi daging ayam atau itik langsung bisa dimakan sebagai simbul berkah Hyang Maha Kuasa. Sedangkan Guru disini adalah Guru dari segala Guru yaitu Tuhan itu sendiri. Karena atas karunia Beliau sehingga kita telah mampu meningkatkan kwalitas diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi berkah apa yang kita dapat bila dikaitkan dengan diri pribadi? Tiada lain adalah berkah berupa kemampuan diri sendiri telah mampu merasuki jati diri yang sebenarnya yaitu baru sebatas mencapai kesadaran murni sebagai mana dijelaskan pada saat hari kemenangan. Namun satu hal yang harus kita lakukan adalah dalam menjalankan atau menjaga kesadaran murni ini haruslah kita mencari pembimbing atau Guru sekale, karena tanpa pembimbing maka kita bisa saja salah arah. Sedikit orang yang mampu berguru pada Guru niskale, kecuali memang mereka sejak lahir telah banyak menunjukkan kemuzizatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru sekale memegang peranan amat penting tat kala kita mulai mampu menjaga kesadaran murni. Atas bimbingan guru kita dapat dengan terarah menggali kesadaran murni tersebut dengan menelusuri keheningan melalui pengosongan diri. Apalagi Guru tersebut mampu membukakan cakra Ruh/Atman, maka cara cepat mengembalikan kesadaran murni segera dapat dilakukan.&lt;br /&gt;
Oleh karena demikian segala berkah dari Hyang Maha Kuasa dan bimbingan Guru Sekale, pada hari Pemaridan Guru ini wajib hukumnya untuk bersyukur dan sujud bhakti kepada Guru. Meskipun Guru sekale berupa manusia biasa bila kita telah sampai di kesadaran murni, kita bersujud dihadapannya bukanlah suatu pemberhalaan. Jangankan berbentuk manusia, batupun bila kita sujud didepannya bukanlah kita menyembah berhala. Karena pada saat sujud yang berpadu itu adalah hati dengan hati, tidak tergantung apapun yang ada di depan kita. Maka egopun akan sirna. Oleh karena demikian sudah wajib hukumnya kita sujud kepada Guru, Orang Tua dan yang lebih tua dari kita dan kalau kita mampu sujudlah kepada semua orang tanpa memandang Bentuk/Rupa, Nama maupun embel-embel sosial lainnya maupun terhadap se isi alam semesta ini. Karena pada dasarnya kita sujud terhadap siapa yang ada pada inti paling dalam dan hakiki yang ada di dalam bentuk maupun rupa tersebut (Narayand Ewedam Sharwam). Kalau hal ini mampu kita lakukan dengan ihklas dan spontanitas hanya semata-mata karena dharma, maka kita akan menjadi orang yang rendah hati namun bukan rendah diri. Egopun akan semakin menjauh dari diri kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kesempatan ini penulis perlu menyampaikan tentang Berhala, agar kita tidak tersesat dengan pemahaman Berhala yang secara umum dipahami oleh masyarakat selama ini, bahwa berhala itu berupa batu, patung maupun pretima yang sering digunakan sebagai media pada persembahyangan di kalangan umat Hindu. Yang sebenarnya disebut dengan Berhala adalah sesuatu bentuk bayangan yang muncul sebagai akibat dari persepsi pikiran saat kita mulai memejamkan mata di saat sembahyang. Bentuk bayangan itulah disebut Berhala, karena Tuhan sendiri tidak seperti bentuk yang kita bayangkan. Pikiran hanya sebagai alat Bantu saat mulai konsentrasi, selanjutnya hatilah yang berbicara. Janganlah berhubungan dengan Tuhan melalui pikiran, karena Tuhan sendiri tak terpikirkan seperti yang telah dijelaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.ULIHAN GALUNGAN&lt;br /&gt;
Pada saat hari Ulihan Galungan umat sedharma kembali menghaturkan sesajen kehadapan Bathara-Bathari dan Hyang Widhi guna memohon waranugrahanya baik kepada umatnya maupun kelestarian alam semesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulihan (Bahasa Bali) berarti kembalikan, Ulihan Galungan secara harfiah diartikan kembalikan Galungan. Yang dimaksudkan adalah kembalilah kepada kondisi Galang/terang atau hening seperti saat Hari Kemenangan. Setelah mendapatkan berkah dari Guru Agung dan petunjuk Guru Sekale agar kembali kepada kondisi bathin saat Hari kemenangan dan diupayakan terus dipertahankan dengan mengarahkan pikiran selalu kepada hal-hal yang positif dan menerima apa adanya setiap kondisi yang menimpa kita. Kalau lagi bahagia terimalah itu semata-mata karenaNya demikian sebaliknya tat kala lagi sedih terima juga apa adanya karena semua itu semata-mata sedang melaksanakan peran dari skenario agung dariNya. Kita harus menyadari bahwa Umat PilihanNya adalah insan-insan yang tangguh dalam menghadapi tantangan dan cobaan hidup. Tidak mudah menyerah maupun putus asa, sabar dan tidak mengeluh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mengeluh adalah tingkatan utama dalam pengendalian diri. Untuk mencapai tingkatan ini, kebanyakan ditempuh mulai dari puasa dengan tidak makan maupun minum, kemudian puasa pengendalian kemarahan maupun hawa nafsu. Tingkatan selanjutnya adalah tidak mudah untuk minta tolong maupun memohon termasuk memohon kepadaNya. Kita mesti banyak memberi, buka meminta maupun menerima. Meminta maupun memohon berari kita masih kekurangan. Orang yang kekurangan atau selalu merasa kurang sebenarnya orang miskin. Kalau termasuk orang miskin jangan harap dapat memberikan bantuan. Kaya dan miskin disini berarti dalam pengertian luas bukan hanya menyangkut material dunia. Mohon dapat dibedakan orang yang kaya hati dengan miskin hati atau orang kaya kasih sayang dengan miskin kasih sayang! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13.PEMACEKAN AGUNG&lt;br /&gt;
Pada saat Hari Pemacekan Agung umat sedharma kembali menghaturkan sesajen yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta di halaman rumah dan di Kahyangan agar umat tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna apa yang dapat kita petik dari Hari Pemacekan Agung serangkaian dengan hari-hari sebelumnya khususnya setelah Hari Ulihan Galungan? Kata Pemacekan asal katanya kuirang lebih dipasakan atau dipakukan. Pacek (Bahasa Bali) sama dengan pasak agar sesuatu menjadi kuat dan menyatu. Kemudian apanya dipasak? Tiada lain adalah kesadaran murni saat hari kemenangan agar selalu menguasai diri, bukan lagi didominasi oleh penguasaan pikiran. Sehari-hari identik dengan perkataan dan perbuatan yang bersumber dari hati nurani, namun yang dimaksudkan jauh lebih dalam dari sekedar hati nurani. Namun secara bertahap dan berproses tahapan itu pasti tercapai bila diupayakan secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini ditekankan untuk berkomitmen bahwa kemenangan yang telah dicapai mesti harus dipertahankan dan terus ditingkatkan kwalitasnya. Mulai dari Hari Pemacekan Agung kita berupaya untuk lebih berkotemplasi guna mendekatkan diri kepada Hyang Agung (Ruh Agung) atau yang kita kenal dengan sebutan Ida Sanghyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa. Kontemplasi saat berpikir, berkata dan berbuat didasari oleh kesadaran murni bahwa semuanya menyatu, bukan terpisah. Contoh kecil dapat disampaikan disini seperti saat berkerja. Pikiran, perkataan dan apa yang dikerjakan semuanya menyatu, jangan sampai ditempat kerja, pikiran kita kemana-mana tidak pokus pada apa yang dikerjakan. Ini berarti Ruh kita yang masih tertidur lelap akan dibawa oleh pikiran seperti yang dijelaskan sebelumnya. Melalui kesadaran murni inilah sebenarnya kita sedang membangunkan Ruh kita agar bangkit dan mengendalikan aktivitas kita. Ruh yang mulai sadar dan siuman dari tidur mesti harus dipertahankan jangan sampai tertidur kembali. Karena pada saat ini merupakan moment yang sangat sulit. Ibarat yang baru bangun tidur apalagi dalam tidurnya bermimpi indah akan kepingin pulas kembali menharap mimpi tadi berlanjut.&lt;br /&gt;
Oleh karena demikian kita mesti berjuang dengan selalu tegar agar tidak tertidur kembali dengan tetap mempertahankan kesadaran murni yang telah dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14.KUNINGAN&lt;br /&gt;
Hari Raya Kuningan yang jatuh pada hari Sabtu Keliwon Wuku Kuningan  adalah hari yang ditunggu-tunggu setelah merayakan Galungan. Jarak Galungan dengan Kuningan adalah sepuluh hari kalender. Umat sedharmapun kembali berbondong-bondong melakukan persembahyangan bersama. Sesajen yang umum dibuat pada Hari Raya tersebut adalah Nasi Kuning yang dihaturkan kehadapan Bathara-Bathari  dan Ida Sanghyang Widhi baik di rumah yaitu di Pemerajan maupun di kahyangan. Itu semuanya telah dilakukan sesuai dengan pakem yang telah ditentukan dan semua itu bermakna sebagai ucapan terima kasih kepada Hyang Maha Agung atas anugrah yang telah dilimpahkan. Akhir-akhir ini ada himbauan agar pelaksanaan persembahyangan/upacara agar dilakukan sebelum jam 12 siang. Entah apa maknanya ? dan apakah setelah jam 12, Tuhan itu tidak lagi menerima persembahan maupun doa umatnya? Hal ini perlu dijelaskan kepada kita semua oleh instansi/lembaga yang berwenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya mari kita maknai Kuningan itu lebih dalam. Bagaimana dengan Bhuana Alit yaitu bagi diri sendiri? Apa yang mesti digali pada hari raya tersebut?&lt;br /&gt;
Kuningan lebih dekat dengan kata “keuningan”(Bahasa Bali) yang asal katanya “uning” yang berarti tahu atau mengetahui. Pertanyaannya, tahu atau mengetahui tentang apa atau siapa? Kalau kita kembali pada hari Pemacekan Agung sebelumnya yang saat itu kita telah berupaya berkomitmen untuk menjaga tetap ajegnya kesadaran murni dalam diri kemudian kesadaran murni itu menguasai sebagian besar kendali atas diri, maka pada hari raya Kuningan Ruh atau Atman kita sendiri akan tahu dan nampak (ini tergantung dari kemajuan masing-masing diri pribadi). Ruh/Atman itu berwujud sama seperti wujud sekale diri pribadi. Yang membedakannya sang Ruh/Atman selalu memakai pakaian jati diri sesuai dengan kesenangan sang Ruh/Atman. Ada yang suka kuning, putih, oranye, ungu, hitam, jingga dan warna lainnya. Itulah jati diri kita, diri yang murni apa adanya.&lt;br /&gt;
Mengenai Ruh atau Atman kita teringat akan ayat Wedha yang mengatakan “ Brahman Atman Aikyam “ yang kurang lebih artinya Brahman (Tuhan) dan Atman/Ruh itu tunggal. Berangkat dari pengertian itu maka para Tetua kita sering mengatakan bahwa “ Widhine ade di Deweke ‘  yang artinya Tuhan itu ada di dalam diri. Juga sering dikatakan bahwa Tuhan yang berwujud itu adalah Ruh/Atman kita, sedangkan Tuhan Yang Universal tiada berwujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian-pengertian tersebut baru akan dipahami dengan betul bila kita telah mengalami bukan dari mendengar apa yang dikatakan orang. Kalau mendengar itu baru sampai pada tingkatan keyakinan yang memerlukan pembuktian. Sedangkan pembuktian haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Beda dengan yang sudah mengalami,  mereka tidak butuh lagi keyakinan, karena keyakinan masih menyisakan ketidakpastian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila saat Hari Kuningan ini kita telah mampu melihat dengan mata bathin akan keberadaan Ruh/Atman kita sendiri suatu pertanda pendakian sepiritual kita telah mengalami kemajuan pesat dan tidak sembarang orang mampu mencapai tingkatan ini. Bila hal ini kita mampu capai tentunya atas tuntunan Sang Guru, maka mulai saat itu diharapkan terus melakukan komunikasi bathin agar badan raga yang bermuatan karma ini sebagian besar dikendalikan oleh sang Ruh/Atman atau selalu dalam keadaan kotemplasi sampai hari Bude Keliwon Wuku Pahang (Bude Keliwon Pegatwakan) yang jaraknya 25 hari dari Hari Raya Kuningan atau 35 hari kalender (Satu Bulan Bali) dari Hari Perayaan Kemenangan yaitu saat Hari Raya Galungan. Dalam rentang waktu itu bagi kita yang dalam proses pendakian sepiritual atau belum mampu berjumpa dengan Ruh/Atman diri sendiri diupayakan dengan melakukan puasa seperti tingkatan puasa yang telah disinggung sebelumnya tergantung kondisi masing-masing. Berpuasa dalam berbagai tingkatan merupakan salah satu upaya penyelarasan menuju sifat-sifat Ruh/Atman yang memang hadir apa adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15.BUDE KELIWON PAHANG/PEGATWAKAN&lt;br /&gt;
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya saat perayaan hari kemenangan pada Hari Raya Galungan kemudian disusul dengan pendakian sepiritual seperti telah diuraikan maka pada Hari Bude Keliwon Wuku Pahang/Pegatwakan dengan meminjam istilah umat muslim pada hari tersebut disebut dengan Lebaran atau kita telah sampai kepada kondisi fitrah/fitri atau suci sebagaimana bayi baru lahir yang kedewan-dewan(Bahasa Bali)  yang artinya kita lebih didominasi oleh sifat-sifat keilahian. Pada saat itulah kita baru di “Wakan” seperti pada permainan sembunyi-sembunyian kalau temen kita tidak ketemu kemudian di wakan atau disudahi atau lebar. Pegatwakan terdiri dari dua kata “Pegat” yang artinya putus dan “wakan” yang artinya kurang lebih disudahi. Jadi Pegatwakan lebih dekat berarti putus/selesai sampai disini. Ibarat Pendidikan dan Latihan (Diklat) pada hari ini adalah Hari Penutupan yang ditandai dengan pemberian Sertifikat telah mengikuti Diklat atau Tanda Kelulusan. Untuk selanjutnya kita praktekan apa yang didapat selama Diklat dalam melakoni hidup selanjutnya. Secara sekale pada umumnya umat sedharma mencabut Penjor yang kita pasang saat hari kemenangan yang tersirat makna bahwa nilai-nilai kemenangan itu akan menjadi motivator dalam menjalani hidup selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita ingat kembali mulai kita sadar akan adanya hari raya keagamaan, maka selalu muncul pertanyaan, entah berapa kali hari raya sudah kita lewati namun perkembangan diri menuju hakikat hidup yang hakiki, mungkin kita masing-masing sudah tahu jawabannya. Tinggal sekarang tergantung komitmen diri apa yang menjadi ketetapan dalam hidup kali ini. Itu terserah kita memutuskan secara merdeka dengan menanyakannya ke dalam diri masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
by:&lt;br /&gt;
Yang Shri Madava Wayan Suratnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Salam Tandava Nrtya&lt;br /&gt;
Huuuuu&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-6172930723343021838?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/bisikan-hati-mengapa-orang-bali.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-2170429597173237760</guid><pubDate>Fri, 06 Nov 2009 17:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-08T05:34:06.984-08:00</atom:updated><title>Contact Us</title><description>Perancang Blog&lt;br /&gt;
Name:Adhe novan&lt;br /&gt;
E_mail:&lt;a href="mailto:Adhenovan@gmail.com"&gt;Adhenovan@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Phone:087860942934(Sms Only)&lt;br /&gt;
Alamat:dalung permai blok cc 35 denpasar bali&lt;br /&gt;
Facebook:klik &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1734623731&amp;amp;ref=mf"&gt;Di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendiri Tandava Nrtya dan Sumber Pencerahan tandava nrtya&lt;br /&gt;
Nama:Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
E_mail:&lt;a href="mailto:WelldoPainter@yahoo.com"&gt;WelldoPainter@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Facebook:Klik &lt;a href="http://www.facebook.com/welldo.wnophringgo?ref=ts#/welldo.wnophringgo?v=info&amp;amp;ref=ts"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Pencerahan Tandava dan penyebar Pencerahan&lt;br /&gt;
Nama:Winsu Annur&lt;br /&gt;
E_mail:&lt;a href="mailto:Dewa_wisnu3@yahoo.com"&gt;Dewa_wisnu3@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Facebook:Klik &lt;a href="http://www.facebook.com/wisnu.anantaputra?ref=mf"&gt;disini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-2170429597173237760?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/contact-us-perancang-blog-nameadhe.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-6377473513645790851</guid><pubDate>Wed, 04 Nov 2009 13:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:21:28.278-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>TARIAN KOSMIK</title><description>Alam semesta adalah salah satu dari penampakan Yang Maha Kuasa, yang mencurahkan kasih sayang kepada seluruh penghuninya. Ibarat kendaraan bila kita menjadi penumpangnya, maka ikutilah gerak dan goyangannya tat kala kendaraan itu bergerak, sehingga muncul keseimbangan baik bagi kendaraan itu sendiri maupun bagi kita yang menjadi penumpangnya. Beda halnya bila kita yang menjadi penumpang dengan melakukan perlawanan, disamping akan lempuyengan akibat pertentangan maksud pikiran dengan kenyataan yang tidak sejalan, juga berakibat pada laju kendaraan itu terseok seok bahkan mungkin penumpangnya akan terpental dan jatuh akibat dari laju kendaraan yang tidak semestinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah contoh kecil bila kita tidak seirama dengan gerak alam semesta yang akan selalu bertabrakan dengan energi kosmis alam dan berpengaruh buruk dengan diri kita sehari-hari. Hal ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang, namun bagi mereka yang telah tercerahkan menangkap energi kosmis ini tidaklah sulit. Oleh karena demikian jangalah sering-sering memaksakan kehendak yang pada akhirya dampak buruk yang akan terjadi, kita sendirilah yang akan &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; menerimanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam semesta adalah gaib dan maya, hal itu dapat kita buktikan dengan cara memejamkan mata. Begitu mata dibuka maka terwujudlah Dunia atau alam semesta raya dan bila kita tutup kembali semuanya akan sirna, gelap dan hanya muncul bayangan –bayangan yang terekam oleh pikiran. Begitu kita bebaskan diri dari pikiran maka hanya tinggal keheningan, kosong dan tidak ada apa-apa lagi. Karena tidak ada apa-apa dan sifatnya maya agar kita tidak terjerat olehnya, maka ikutilah gerakannya sehingga semuanya bergerak sesuai dengan jalurnya atau istilah planetnya bergerak pada orbitnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tarian alam adalah Tarian Beliau yang nampak, untuk pertama kalinya marilah kita belajar mengikuti tariannya yang lama kelamaan kita akan mampu menyatu dengan sang penarinya. Namun untuk belajar menarikan energi kosmik alam sungguh sulit dikerjakan dalam waktu singkat, butuh waktu sesuai dengan kesungguhan kita sendiri. Butuh penyadaran dan pencerahan diri terlebih dahulu, mulai dari penyadaran akan pikiran kemudian sampai mampu memerintah pikiran atau istilah umumnya pengendalian pikiran kemudian mampu mencapai tingkat pengosongan diri. Memang hal ini terdengar agak mistik karena berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya gaib, dan bagi sebagian orang masih merupakan hal yang menakutkan, takut terjerumus ke jalan yang sesat. Namun bagi yang telah mampu mencapai tingkat pencerahan diri, hal ini merupakan hal yang biasa-biasa saja dan masih merupakan tingkatan dasar dalam pendakian sepiritual. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencapai tingkat pengosongan diri, tentu diawali dengan mengurangi secara bertahap akan kelekatan dengan unsur-unsur duniawi. Memang butuh waktu lama, namun bila kesadaran akan dunia ini yang sifatnya hanya sementara dan maya, maka segala bentuk kekayaan dunia bukanlah merupakan kekayaan yang sebenarnya dan hanya merupakan titipan dan tidak abadi. Bila tingkatan ini tercapai maka pengosongan diri akan cepat dapat dilakukan. Berkaitan dengan kekayaan yang sebenarnya, marilah kita ikuti wejangan Guru Welldo berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kekayaan sejati,&lt;br /&gt;
yang begitu mulai mengalir dalam hidupmu,&lt;br /&gt;
ketika kekayaan duniawi menghilang.&lt;br /&gt;
Cahaya sejati akan datang apabila anda benar-benar ada di dalam kegelapan,&lt;br /&gt;
dan cahaya itu pasti datang, &lt;br /&gt;
jangan kamu meragukannya karena yang sesungguhnya ada hanyalah CAHAYA, selainnya tidak nyata, tidak eksis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegelapan itu tidak nyata, tidak ada, ia hanyalah kata-kata, &lt;br /&gt;
hanyalah sebuah gambaran, sebuah kosep, ketakutan, kegelisahan,&lt;br /&gt;
yang adanya hanya ada di dalam pikiranmu sendiri.&lt;br /&gt;
Maka jauhilah pikiranmu, buanglah ketakutan dari hidupmu,&lt;br /&gt;
dan yakinlah hanya ada cahaya. &lt;br /&gt;
CAHAYA pertama kali akan memancar dari HATImu, &lt;br /&gt;
karena HATImulah cahaya yang terus MEMANCAR.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kabut-kabut yang datang dari pikiranmu,&lt;br /&gt;
telah menghadang pancaran CAHAYA HATImu.&lt;br /&gt;
Namun biarkan kabut-kabut ketakutan dan kegelisahan itu lewat dihadapanmu&lt;br /&gt;
dan HATImu toh tidak selamanya kabut kelam itu berdiri di depanmu.&lt;br /&gt;
Sebagaimana ia datangnya maka segera ia akan berlalu.&lt;br /&gt;
Sampai suatu ketika HATImu,&lt;br /&gt;
semakin BENING dan HENING, &lt;br /&gt;
suatu pertanda HENINGnya pikiranmu,&lt;br /&gt;
yang tidak lagi melepaskan kabut-kabut ketakutan dan kegelisahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan dan kegelisahan adalah ciptaan pikiran,&lt;br /&gt;
yang terikat pada pengalaman masa lalunya,&lt;br /&gt;
yang karena harapan dan keinginannya,&lt;br /&gt;
maka setiap kenyataan yang dihadapi,&lt;br /&gt;
selalu diberi nilai gagal atau berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebut gagal karena yang terjadi,&lt;br /&gt;
jauh dan tidak sama dengan harapan dan keinginannya, &lt;br /&gt;
maka setiap kenyataan yang dihadapi,&lt;br /&gt;
selalu diberi nilai gagal atau berhasil. &lt;br /&gt;
Disebut gagal karena yang terjadi jauh dan tidak sama,&lt;br /&gt;
dengan harapannya dan keinginannya,&lt;br /&gt;
sebaliknya jika yang terjadi sesuai dengan apa yang diinginkannya,&lt;br /&gt;
dinilainya berhasil, namun apa yang sebenarnya terjadi di dalam kenyataan ini ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan terjadi di dalam kenyataan ini,&lt;br /&gt;
tejadi dan lepas dari harapan dan keinginanmu,&lt;br /&gt;
yang kamu ciptakan di dalam pikiranmu. &lt;br /&gt;
Apapun yang sedang kamu pikirkan,&lt;br /&gt;
bagaimanapun harapan dan keinginanmu, &lt;br /&gt;
sama sekali tidak merubah apapun pada kenyataan yang terjadi. &lt;br /&gt;
Kenyataan berjalan apa adanya keinginanmu sama sekali tidak merubah,&lt;br /&gt;
dan mempengaruhi apapun di dalam KENYATAAN kecuali pikiran dan jiwamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran dan keinginan tidak memiliki kekuatan,&lt;br /&gt;
yang dapat merubah kenyataan. &lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin keinginan dapat memiliki kekuatan dan kemampuan,&lt;br /&gt;
apabila ia sendiri berdiri di atas bangunan,&lt;br /&gt;
yang labil dan mudah goncang yaitu pikirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran yang selalu berubah tempat,&lt;br /&gt;
di mana keinginan lahir dan berdiri tidak memberi kekuatan. &lt;br /&gt;
Sementara apa yang ingin dicapai oleh nafsu adalah keberhasilan, &lt;br /&gt;
di lain pihak pikiran yang dijadikan landasan selalu berubah-ubah keyakinannya. &lt;br /&gt;
Jika melihat pada rencana ia menjadi yakin akan keberhasilannya, &lt;br /&gt;
namun tidak lama kemudian ketakutan akan gagal mulai menggelitik pikiran,&lt;br /&gt;
apabila ketika dalam kenyataan terbentuk pada apa yang terjadi, &lt;br /&gt;
sehingga yang terjadi kemudian adalah kegelisahan.&lt;br /&gt;
Keyakinan upayanya akan berhasil sangatlah sedikit,&lt;br /&gt;
dibanding dengan ketakutannya akan kegagalan.&lt;br /&gt;
Sehingga fokus yang sering terjadi bukan pada keberhasilannya, &lt;br /&gt;
namun pada ketakutan akan kegagalan.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu jangan heran jika suatu hari,&lt;br /&gt;
apa yang kita takuti apa yang kita tidak inginkan menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah adanya diri kita, yang belum apa-apa sudah meragu akibat ulah pikiran yang fokusnya selalu berubah-ubah yang mengantarkan kita bagai benda yang terapung-apung di tengah samudra, tanpa tentu arahnya. Cobalah kosongkan diri dan ikuti irama alam maka akan tercipta suatu nyanyian atau gending gamelan yang merdu dan enak dan nikmat untuk dinikmati. Tarian alam merupakan suatu langkah maju sehingga kita tetap berada dalam skenarioNya, tidak jauh dari sumbu alam semesta yang bergerak tanpa henti. Sekali lagi cobalah sering-sering mengosongkan diri untuk hening maka alam semestapun akan mengajak anda untuk ikut menari. Tarian kosmis yang suci, lemah lembut namun dasyat dari ukuran gerak energi. &lt;br /&gt;
“Om Narayanam Ewedam Sarwam” Semuanya ini hanyalah Narayana adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalung Permai, Awal Nopember 2008&lt;br /&gt;
I Wayan Suratnya&lt;br /&gt;
(Madava)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-6377473513645790851?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/tarian-kosmik.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-4201305005954725216</guid><pubDate>Wed, 04 Nov 2009 13:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:21:28.278-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>KENALI WARNA DIRIMU</title><description>Warna dalam realitasnya di masyarakat disamakan dengan Kasta yang memposisikan manusia ke dalam perbedaan golongan yang dikaitkan dengan status sosial, dimana golongan Brahmana menduduki status sosial yang derajatnya paling tinggi termasuk keturunannya. Hal ini sah-sah saja sesuasi dengan perkembangan sosial, budaya dan peradaban zaman yang bergerak dinamis. Seperti halnya yang ada di berbagai daerah dan masing-masing Suku maupun Ras memiliki perbedaan status sosial dengan sebutan yang berbeda-beda namun bila dikelompokan masih dalam koridor empat besar warna &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemahaman masyarakat terhadap Warna maupun Kasta tersebut selalu berproses dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu dan memang itu wajar adanya sesuai dengan tingkat kualitas sumber daya manusia pada zamannya. Secara umum, pemahaman yang kita lalukan sebagian besar menggunakan olah pikiran. Pemahaman dengan menggunakan pikiran akan memunculkan sebuah nilai dan nilai akan mengandung makna positif maupun negatif. Ada sisi positif dan ada pula sisi negatifnya (thesis dan antithesis). Sisi mana yang mendapat porsi yag lebih besar tergantung yang menilainya. Sekali lagi itu sah-sah saja karena kita dibekali dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sebuah nilai hanyalah sebuah Pernyataan dan bukan Kenyataan. Seperti adanya hujan, marilah kita terima apa adanya tanpa memberi nilai. Bila diberi nilai akan selalu mengandung dua makna. Hujan akan diberi nilai positif oleh para petani tatkala musim tanam berlangsung kekeringan, namun sebaliknya akan diberi nilai negatif oleh para pedagang es. Demikianlah adanya nilai itu, sekali lagi hanya sebuah pernyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warna dalam Catur Warna yang ada dalam Kitab-kitab Suci Hindu yang secara bebas dapat diartikan adalah empat warna klasifikasi manusia berdasarkan pekerjaan dan kewajibannya (swadharmanya) yang sebagian besar dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Empat warna tersebut antara lain : Sudra, Waisia, Ksatria dan Brahmana. Golongan yang termasuk Sudra adalah mereka yang pekerjaannya termasuk pekerja kasar seperti petani, buruh dan pekerja yang sejenis. Waisia adalah golongan yang bergerak di bidang pergerakan barang dan jasa seperti pengusaha, pedagang dan penjual jasa lainnya. Ksatria adalah golongan yang mempunyai kewenangan dan kekuasaan seperti dibidang Pemerintahan dan Pertahanan/Keamanan. Sedangkan Brahmana adalah golongan para Sulinggih/ Rohaniawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang muncul apakah Catur Warna hanyalah sebuah nilai yang diperuntukan bagi obyek di luar atau kulitnya saja? Tentulah tidak, hal inilah akan dicoba untuk dikaji apa kontek Warna terebut bila dikaitkan dengan diri sendiri/personal sehingga ke depan apa yang dimaksudkan dalam Kitab-kitab suci itu dapat kita pahami dan lakoni secara benar dan tidak hanya terbatas pada sebuah nilai yang hanya mengandung sebuah pernyataan yang lebih condong ingin mendapatkan pengakuan dari luar yang justru menyuburkan ego dan menjadi batu sandungan dalam pendakian spiritual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kontek personal atau diri, warna sebagaimana dimaksudkan dalam Catur Warna merupakan tingkatan dalam pendakian spiritual. Tingkatan yang paling rendah atau pemula tatkala kita masih diperbudak oleh Ego dan Diri Murni (Atma/Ruh) belum tercerahkan. Ibarat batu permata masih dibalut lumpur dan tidak menampakkan sinarnya. Pikiran begitu kuatnya dalam mengendalikan jiwa dan raga sehingga muncul Ego yang menyatakan dirinya Aku yang paling Aku, sedangkan Aku yang dimaksudkannya adalah Raga dan Jiwanya sendiri. Munculah keakuan yang kuat dan mudah menjadi sombong angkuh dan sok kuasa dan umumnya sewenang-wenang, ambisius, pemarah dan rakus. Itulah sepintas gambaran bila masih dikuasai ego sebagai pertanda warna diri kita berada dalam tingkatan Sudra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya bila pikiran kita mulai terarah dan jiwa telah menampakkan tindakan raga yang humanis dan peduli dengan sesama maupun lingkungan baik sosial maupun nabati, merupakan suatu pertanda kita mulai menapak pada tingkatan Waisia. Namun kepedulian disini masih mengandung pamrih yaitu mengharapkan hasil. Seperti kaum pedagang maupun pengusaha yang selalu mengharapkan untung dan bila dipandang merugikan mereka akan mengabaikannya. Untung yang dimaksud termasuk mengharapkan Pahala maupun kelak mendapatkan Sorga. Ciri utama pada tingkatan ini adalah selalu merasa kurang. Orang yang selalu merasa kurang sebenarnya orang miskin, sehingga benar adanya akan ungkapan ”Lebih baik memberi daripada menerima” dan ”lebih baik mengasihi dari pada dikasihani” termasuk permohonan dan mengharap dikasihani Tuhan, maka jiwa kita tetap tergolong miskin karena selalu berpengharapan. Berharap tentu sah-sah saja, namun bila harapan terus menerus menjadi budak pikiran akan menguras energi dan terganggunya pencerahan jiwa karena harapan hanyalah sebuah illusi yang belum tentu terwujud dan sifatnya nanti, yang penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada sesuatu hasil bila hanya diharapkan saja atau dipikirkan secara terus menerus. Lebih baik fokus pada saat ini yaitu tindakan yang mesti dilakukan bila target sudah ditentukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat kita pergi ke Kintamani yang merupakan tempat yang indah dan sejuk yang mampu menciptakan rasa damai. Bila kita hanya berharap dan memikirkannya saja maka kita tidak akan pernah sampai ke tempat tersebut. Atau meskipun kita sudah naik motor atau menyetir mobil dan berangkat ke arah Kintamani, namun dalam perjalanan pikiran kita terus tertuju dan terbayang akan tempat itu, maka kemungkinan besar kita akan nyasar atau nabrak sana-sini. Oleh karena itu maka lebih baik pikiran kita fokus pada saat naik motor sehingga arah motor tetap pada jalurnya dan selamat, sehingga hanya menunggu waktunya pasti sampai ke tempat tujuan. Sama halnya mengharap pahala, sorga maupun kasih Tuhan, apabila kita tidak fokus terhadap apa yang sedang kita lakoni apakah sesuai atau tidak dengan amanah Tuhan (Bahasa Balinya Ngelewe, antara tindakan, ucapan dan pikirannya tidak nyambung/Munafik), maka pengharapan hanya tinggal harapan yang kosong melompong atau illusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi sesama manusia berharap akan cintanya maka kita selamanya akan menjadi pengemis cinta. Lebih baik menjadi penyebar cinta daripada pengemis cinta, sehingga orang lain akan menampakkan cintanya. Cinta dimaksud di sini adalah cinta murni atau cinta universal dan bukan cinta nafsu, karena cinta yang terakhir tersebut di zaman ini bisa dibeli. Demikinlah sedikit gambaran bila jiwa kita masih dalam tingkatan Waisia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya mari kita coba untuk mengungkap tingkatan warna Ksatria. Secara umum ksatria lekat pada sifat yang mulia, tanpa memikirkan untung rugi. Ibarat seorang tentara yang akan maju perang, mereka tidak memikirkan untung dan ruginya bagi diri sendiri dan keluarganya. Ia akan maju terus dengan semangat dan keteguhan hatinya untuk melaksanakan swadharmanya. Namun realitasnya dimasyarakat sering dipahami yang termasuk kelompok masyarakat yang tergolong Ksatria adalah masyarakat yang bertitel bangsawan tertentu. Ini sah-sah saja sesuai dengan pemahaman mereka dan tradisi yang ada. Sekali lagi itu hanya sebuah nilai yang muncul dari pernyataan. Bagaimana halnya warna Ksatria bila dipakai mengukur warna diri ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ksatria ditandai dengan tindakan kita yang spontan tanpa didahului oleh pikiran untung-rugi. Kalau memang merupakan  kewajiban akan dilakukan dengan spontan dan lascarya (ikhlas). Seperti menolong orang lain, melaksanakan perintah atasan, melaksanakan perintah orang tua termasuk leluhur maupun Tuhan . Jadi hal ini jelas sekali dimuat dalam Kitab Suci Bhagawadgitha ketika Bhatara Khrisna memberi wejangan kepada Arjuna di medan Kurusetra tat kala Arjuna tidak percara diri dan penuh keraguan menghadapi musuh-musuhnya yang antara lain kerabat, kakek dan gurunya sendiri. Salah satu wejangan penting tersebut adalah ” Kerjakan kewajibanmu tanpa pernah memikirkan hasilnya ”. Jadi kalau sudah merupakan swadharma kita sebagai makhluk ciptaan yang memiliki derajat yang paling tinggi dihadapan Tuhan, maka lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan senang hati, tanpa pernah memikirkan hasilnya. Dengan demikian kita terbebas dari pengurangan energi hanya untuk memikirkan untung dan rugi yang memunculkan keterikatan/kelekatan yang menjadi sumber penderitaan. Hal ini sangat penting untuk dipahami untuk selanjutnya dilakoni. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pikiran merupakan anugerah Tuhan bagi manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Pikiran itu sangat sakti, gerakannya melebihi kecepatan apa pun yang nampak di dunia ini. Dia tidak bisa diam dan selalu bergerak dan super aktif. Namun sangat disayangkan bila kita dikuasai pikiran maka kita akan seperti apa yang diuraikan pada warna Sudra terdahulu. Maka tidak aneh orang bijak menganjurkan agar kita mampu untuk mengendalikan pikiran agar tetap fokus pada hal-hal yang positif, sehingga perjalanan kita dalam mengarungi badai kehidupan ini akan menjadi lebih baik dan selamat sampai di tempat tujuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang muncul sekarang, bagaimana cara untuk dapat mengendalikan pikiran, apalagi di tingkat Ksatria dalam tindakannya dituntut selalu spontan dan tanpa berpikir terlebih dahulu? Jawabannya sungguh sulit bila hanya dibicarakan saja, karena hal ini perlu ketekunan dan dilakoni setiap saat dan banyak buku-buku suci yang dapat dipakai tuntunan dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar pembaca tidak penasaran dalam hal pengendalian pikiran supaya pikiran itu tidak menguasai kita, namun sebaliknya kita sendiri yang mengendalikannya dan dapat diperintah sesuai kemauan mpunya, maka kita sendiri jangan sekali-kali menggodanya (atau mengganggunya ”istilah yang sering dipakai Guru kami : Welldo Wnopringgo ”)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud menggoda atau mengganggu pikiran adalah pikiran kita sering diarahkan ke hal-hal yang enak-enak saja atau memikirkan hal-hal yang sudah lewat atau ke masa depan atau nanti yang penuh dengan ketidakpastian seperti disinggung sebelumnya. Makanya tidak aneh bila kita sedang duduk atau bekerja pikiran kita sering tidak ada di situ, pikirannya melayang-layang entah kemana, tidak fokus pada pekerjaan yang sedang dilakukan. Jadi badannya saja ada di situ namun pikirannya berada di luar tubuhnya. Itulah yang dikatakan kita sering menggoda atau mengganggu pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi jangan menggodanya, karena pikiran cepat sekali merespon rayuan anda yang akan membawanya melayang kemana pun anda ingin pergi dan meninggalkan raga anda yang terbengong, kadang-kadang tersenyum maupun menangis seperti orang bego, dungu dan asyik sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kita selalu dapat fokus pada kenyataan, arahkanlah pikiran itu kepada aktivitas yang sedang dilakoni, beri pikiran itu pekerjaan sehingga tidak terbang kemana-mana. Seperti contoh bila kita berdiri di pinggir jalan, maka pikiran kita arahkan pada diri yang sedang berdiri dan rasakanlah secara terus menerus bahwa kita sedang berdiri dan sedang menunggu mobil tumpangan misalnya, sehingga mobil yang lalu-lalang  bagaimana pun ramainya tidak akan mempengaruhi kita. Beda halnya kalau kita tidak fokus maka pikiran kita akan terbawa oleh lalu-lalangnya kendaraan, sehingga kita akan pusing karena terbawa situasi oleh ramainya lalu lintas. Banyak contoh yang dapat diungkapkan di sini seperti mandi, maka rasakanlah kita sedang mandi maka air yang dipakai mandi pun akan ramah menyapanya (ingat! air itu mampu menangkap pesan), demikian pula kalau kita sedang duduk bermeditasi, maka rasakanlah secara terus menerus anda sedang duduk, maka anda akan menonton diri anda sendiri yang pada akhirnya hanya hati yang bicara yang menuntun anda menuju pintu kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah adanya bila kita selalu fokus pada kenyataan, maka Atman dengan Paraatman akan selalu menyatu, dengan kata lain Atman dengan Brahman akan selalu manunggal. Golongan manusia inilah disebut Brahmana. Tat kala Brahman sudah mengejawantah pada diri seseorang dimana pikiran, ucapan dan tindak-tanduknya mencerminkan sifat-sifat ketuhanan maka seseorang telah mencapai tingkatan Brahmana. Ciri utama golongan ini adalah selalu membawa kesejukan dan kedamaian hati bagi siapa saja yang ada di dekatnya. Tindak-tanduknya yang welas asih, penolong, jujur, penyabar dan penyayang. Berpenampilan apa adanya dan sederhana serta bisa menyesuaikan dan menempatkan diri sesuai situasi dan kondisi lingkungannya. Bicaranya bagai magnet dan mampu menerangi hati yang lara dan gelap. Tatapannya yang cerah dan sejuk memancarkan keramahan dan persaudaraan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu mari kita bersama-sama dan jangan putus asa untuk menemukan jati diri/diri murni (atman) karena atman adalah Tuhan yang berwujud (Personal) sedangkan Tuhan Universal, beliau tidak berwujud . Ingat ! ”Brahman Atman Aikyam” Brahman dan Atman itu satu, oleh sebab itu mari kita latih dan lakoni secara berkesinambungan, sehingga pintu diri terbuka dan permata yang ada di dalam diri menampakkan sinarnya untuk dijadikan pegangan dalam melakukan pengabdian dan pelayanan di mayapada ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga artikel ini bermanfaat.&lt;br /&gt;
Untuk mendpat pencerahan suci lainya silahkan lihat artikel yang ada di blog kami.&lt;br /&gt;
Terimakasih telah membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalung, Awal Nopember 2007&lt;br /&gt;
WAYAN SURATNYA&lt;br /&gt;
(SHRI DAVA)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selanjutnya klik&lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/tarian-kosmik.html"&gt; di sini &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-4201305005954725216?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/kenali-warna-dirimu.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-6659947430215697924</guid><pubDate>Tue, 03 Nov 2009 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:21:28.278-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>KAMU ADALAH KEMERDEKAAN</title><description>Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai setiap diri,&lt;br /&gt;
yang membutuhkan KEBEBASAN,&lt;br /&gt;
sesungguhnya kamu tidak butuh apapun,&lt;br /&gt;
untuk menjadi MERDEKA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kamu sendiri adalah KEMERDEKAAN,&lt;br /&gt;
maka mengalirlah sebagaimana air sungai,&lt;br /&gt;
tak perlu modal dan usaha,&lt;br /&gt;
akan mencapai SAMUDERA juga,&lt;br /&gt;
Samudera KEMERDEKAAN&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Mengalirlah menjadi dirimu sendiri,&lt;br /&gt;
untuk menjadi diri sendiri, kamu tidak butuh apapun,&lt;br /&gt;
tidak perlu latihan dan modal apa-apa,&lt;br /&gt;
maka bebaskan dirimu dari seluruh ketergantungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru yang Benar tidak mengikat kamu,&lt;br /&gt;
masing-masing kamu hanya terikat pada dirimu sendiri yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
Hatimu hanya hidup di dalam kebebasan,&lt;br /&gt;
tidak ada yang diinginkan kecuali Kebebasan,&lt;br /&gt;
tidak ada yang diterima kecuali Kedamaian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru yang Benar tidak mengikat Hatimu,&lt;br /&gt;
dia hadir hanya untuk mengikat pikiran dan menghancurkan ego-egomu.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu jika kamu meditasi,&lt;br /&gt;
mediatasilah hanya kepada Diri Sejati.&lt;br /&gt;
Meditasilah hanya ke dalam Hatimu &lt;br /&gt;
dan serahkanlah ego dan pikiranmu kepada Gurumu &lt;br /&gt;
lewat gambarnya atau lewat nama dan bentuknya&lt;br /&gt;
Guru ada untuk mengikat pikiranmu,&lt;br /&gt;
agar pikiranmu menjadi tunduk dan tidak liar dan mengganggu,&lt;br /&gt;
sehingga kamu dapat menjumpai KENYATAAN DIRIMU SENDIRI, ALAM SEMESTA dan TUHAN yang UNIVERSAL adalah SATU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru, Nama dan Rupanya, hadir dihadapanmu,&lt;br /&gt;
hanya untuk menundukkan dan menghentikan gerak dan keliaran pikiranmu,&lt;br /&gt;
sehingga tidak menciptakan keinginan-keinginan dan imajinasi-imajinasi,&lt;br /&gt;
yang menyesatkan yang tidak dapat kamu kendalikan,&lt;br /&gt;
sebagaimana kamu tidak dapat mengendalikan pikiran dan egomu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka serahkanlah ego dan pikiranmu kepada Gurumu untuk diikat.&lt;br /&gt;
Pandanglah wajah Guru dan ingatlah namanya,&lt;br /&gt;
maka nama dan rupanya akan membuat pikiranmu diam HENING.&lt;br /&gt;
Tidak bergerak sedikitpun dan dalam KEHENINGAN,&lt;br /&gt;
tidak ada yang kamu rasakan kecuali JATI DIRIMU&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-6659947430215697924?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/kamu-adalah-kemerdekaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-7441516023590811084</guid><pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-01T18:44:02.647-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>AFENITAS KETERIKATAN ONTOLOGIS</title><description>Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam kehidupan dunia ini segala sesuatu sudah ada pasangannya yang berkaitan satu sama lain. Pasangan-pasangan atau sejodo-sejodo seperti ini bukanlah dalam pengertian dualisme, seperti misalnya kaya dan miskin, tinggi dan rendah, terang dan gelap. Namun pasangan-pasangan ini harus diartikan sebagai satu bentuk kete rikatan yang membebaskan dan bukan keterikatan yang mengikat sehingga yang satu terikat pada yang lainnya, keterikatan ontologis semacam inilah sehingga mereka berhubungan, sebaliknya jika mereka masing-masing hanya terikat dengan dirinya masing-masing maka tidak ada keberhubungan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap pertanyaan butuh jawaban setiap jawaban milik pertanyaan setiap jawaban terikat pada pertanyaan, oleh karena itu jawaban yang benar adalah yang diinginkan oleh pertanyaan atau yang bertanya, maka jawaban yang terikat itulah yang dibutuhkan. Jika jawaban sama sekali tidak terikat dengan pertanyaan, inilah yang disebut salah sambung, tidak nyambung. &lt;br /&gt;
Di dalam pengertian ini berarti kebutuhan sesuatu yang lain yang terkait. Kebutuhan dari pertanyaan yang ada terletak di dalam jawabannya. Sehingga pertanyaan sangat terikat pada jawabannya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sebaliknya kehadiran jawaban tidaklah berguna jika tidak ada pertanyaannya. Masing-masing terikat pada yang lainnya, keterikatan macam ini bukanlah jenis yang disebut sebagai keterikatan duniawi. Inilah ikatan hakiki, ikatan surgawi ukhrowi, keterikatan AFFENITAS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap jawaban terikat pada pertanyaan, &lt;br /&gt;
setiap pertanyaan butuh jawaban, &lt;br /&gt;
Setiap kelaparan butuh makanan, &lt;br /&gt;
dan apa gunanya makanan jika tidak ada yang lapar atau kelaparan sehingga setiap makanan terikat pada lapar.&lt;br /&gt;
Setiap minuman terikat pada kehausan, &lt;br /&gt;
setiap kehausan butuh air minum.&lt;br /&gt;
Penjual butuh pembeli dan sebaliknya.&lt;br /&gt;
Setiap murid butuh seorang guru.&lt;br /&gt;
Setiap guru terikat pada murid.&lt;br /&gt;
Setiap istri terikat pada suami.&lt;br /&gt;
Setiap suami butuh istri.&lt;br /&gt;
Setiap umat terikat pada nabinya.&lt;br /&gt;
Setiap rosul butuh umat.&lt;br /&gt;
Bahkan Tuhanpun terikat pada makhluknya dan &lt;br /&gt;
makhluk membutuhkan Tuhan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterikatan ontologis semacam ini berbeda dengan keterikatan-keterikatan yang lainnya yang harus dijauhi di dalam ajaran Spiritual. Keterikatan semacam ini adalah keterikatan yang tidak mengikat justru sebaliknya keterikatan yang melepaskan atau membebaskan. Setiap orang yang lapar terikat pada makanan, namun kehadiran makanan tidak mengikat,  bahkan membebaskannya dari kelaparan. Seperti elektron dengan positron dan ketika makanan hadir maka kelaparan lenyap, Lihatlah disana tidak ada dualisme, karena ketika bertemu yang ada hanya satu keadaan, kenyang. Begitu pula kehadiran suami bagi istri dan sebaliknya, adalah satu kesatuan yang kompak sehingga ada sebutan Garwo ( yang artinya sigare nyowo ) atau belahan jiwa. Seorang suami terikat pada isrti, seorang istri terikat pada suami yang demikian ini mereka diikat oleh CINTA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ada seorang suami atau istri yang ingin mencelakakan pasangannya karena sudah tidak ada atau memang tidak ada keterikatan satu dengan yang lainnya, masing-masing atau salah satunya hanya terikat dirinya sendiri, terikat pada egonya sendiri, yang dipikirkan hanya keinginan dan kesenangan sendiri. Seorang suami yang tidak terikat pada istrinya sangat berbahaya, seorang istri yang tidak terikat pada suaminya juga berbahaya masing-masing berpegang pada ego dan kepentingan sendiri. Terikatnya istri pada seorang suami adalah untuk mengikat tubuh dan nafsunya sehingga pertemuan mereka membebaskan ruh dan kebebasannya. Terikatnya seorang murid pada guru akan mengikat keterbatasan-keterbatasan mereka agar membebaskan ruh dan kemulyaan mereka masing-masing. Begitu pula keterikatan makhluk kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;
Ikatan yang semacam inilah yang disebut CINTA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta adalah suatu yang agung.&lt;br /&gt;
Cinta adalah suatu kekuatan,&lt;br /&gt;
yang mampu menggerakkan dan membebaskan semua bentuk keterikatan duniawi.&lt;br /&gt;
Siapa yang bergerak dan berbuat karena CINTA adalah CINTA. &lt;br /&gt;
Yang mencari CINTA akan mendapat CINTA.&lt;br /&gt;
Carilah CINTA dengan CINTA&lt;br /&gt;
Hanya CINTA yang dapat mempertemukan PECINTA dengan yang DICINTAINYA.&lt;br /&gt;
Ketika PECINTA berjumpa dengan YANG DICINTAI maka yang ada hanya satu keadaan yaitu CINTA, KEBAHAGIAAN, KEBEBASAN, KEMULYAAN, KEHENINGAN, KEKEKALAN, KESUCIAN dan KESETIAAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CINTA, KEBAHAGIAAN, KEMULYAAN, KESUCIAN, KEKEKALAN,  KESETIAAN, KEBEBASAN, atau KEHENINGAN hakikatnya adalah SATU REALITY, SATU KENYATAAN yang bisa disebut dengan seribu nama dan setiap nama selalu menunjukkan bentuk. Maka janganlah terpaku dan terhenyak pada nama dan rupa. Kehadiran dan kepentingan nama dan rupa hanyalah sebagai pengingat atau penunjuk jalan. Hanya mampu membedakan antara nama dengan yang dinamakan rupa dengan yang dirupakan. Bedakan antara apel sebagai nama buah dengan apel sebagai buahnya sendiri.&lt;br /&gt;
Pisang sebagai nama hanyalah kata-kata Pisang, sebagai petunjuk untuk menunjukkan buahnya. Buah tidak terikat pada namanya sedang nama terikat pada yang memberi nama yaitu pikiran dan indrawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah ( pisang misalnya ) tidak terikat pada nama-nama apalagi satu nama.&lt;br /&gt;
Orang Jawa menyebutnya Gedang.&lt;br /&gt;
Orang Inggris menyebutnya Banana, dan masing-masing nama dan sebutan untuk menunjukkan satu kenyataan yang sama.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu janganlah kita terpaku dan berhenti pada nama dan rupa jika anda terpaku dan terikat pada nama dan rupa inilah sebuah keterikatan yang harus di jauhi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama dan rupa tetap memiliki Nilai dan harus dihargai sejauh ia mewakili subyek yang memiliki nama dan rupa itulah kita menghargai nama dan rupa. Seperti halnya nama Tuhan dengan Tuhan itu sendiri. Sebutan dan nama Tuhan bisa berbeda-beda, toh Tuhan sebagai subyek yang memiliki nama-nama tersebut adalah SATU bahkan SATU-SATUNYA KENYATAAN selain itu. Itu tidak ada apa-apa lagi. Maka ketika aku mengatakan salah satunya namanya jangan terpaku hanya pada satu pengertian atau konsep yang adanya di balik nama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CINTA adalah salah satu NamaNYA&lt;br /&gt;
CINTA adalah Nafas KEHIDUPAN&lt;br /&gt;
CINTA adalah yang membuat KEINDAHAN itu INDAH&lt;br /&gt;
CINTA-lah yang mampu melihat semua KENYATAAN sebagai KEBAHAGIAAN, CINTA tidak bisa melihat apa-apa kecuali KEBAHAGIAAN, KEINDAHAN sedang yang lainnya tidak ada, tidak nyata, tidak eksis, non eksisten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kamu melihat penderitaan, kerugian, kamu melihatnya lewat ego dan ego sendiri yang melihat ego dan pikiran selalu melihat kenyataan dalam bentuk dualisme yang dikhotomis.&lt;br /&gt;
Ada senang ada susah&lt;br /&gt;
Ada kaya ada miskin&lt;br /&gt;
Ada tinggi ada rendah&lt;br /&gt;
Ada baik ada buruk&lt;br /&gt;
Ada berhasil ada gagal&lt;br /&gt;
Apa yang dicapai oleh pikiran dan ego hanyalah sebuah pengertian atau konsep yang terdiri dari sekumpulan kata-kata &lt;br /&gt;
Itulah sebabnya, jika kamu mencari CINTA disebabkan CINTA lewat CINTA maka kamu akan mendapatkan CINTA.&lt;br /&gt;
Mencari CINTA karena CINTA&lt;br /&gt;
Mencari CINTA dengan CINTA&lt;br /&gt;
Maka CINTA yang kamu dapatkan di dalam CINTA &lt;br /&gt;
kamu sudah mendapatkan sebelum menjumpaiNYA.&lt;br /&gt;
Jangan mencoba mendapatkan CINTA dengan cara dan sebab atau tujuan yang lain, jika kamu lakukan ini maka penderitaan dan kegagalan dan kerugian yang akan kamu temui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CINTA tidak bisa ditukar dengan yang lainnya&lt;br /&gt;
CINTA tidak bisa dinegosiasi&lt;br /&gt;
CINTA tidak ada kompromi&lt;br /&gt;
CINTA tidak bisa ditukar dengan SEX atau UANG atau KESENANGAN dengan sex, dan karena sex, kamu tidak akan mendapatkan CINTA, hanyalah kekacauan. Dengan uang dan karena harta kamu tidak akan mendapat CINTA hanyalah penderitaan dan kegagalan yang kamu peroleh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dengan CINTA kamu akan mendapat CINTA&lt;br /&gt;
Hanya karena CINTA kamu akan bertemu CINTA,&lt;br /&gt;
Ketika kamu mencari CINTA kamu tidak akan menemukan apa-apa kecuali CINTA semata. &lt;br /&gt;
Dan kamu bisa menyebutkan dengan seribu sebutan untuk itu. &lt;br /&gt;
Jika kehadiran CINTA tidak dapat kau rasakan itu berarti mata keIKHLASANmu belumlah terbuka. Jika kamu tidak bisa menikmati nikmatnya CINTA itu berarti telinga PENERIMAAN dan SYUKURmu yang belum terbuka&lt;br /&gt;
Jika kamu kurang terlibat dengan CINTA itu berarti KIDUNG KEPASRAHANmu yang belum terbuka lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehadiran CINTA hanya dicapai dengan tiga langkah pasti yaitu :&lt;br /&gt;
IKHLAS, PASRAH, SYUKUR&lt;br /&gt;
Maka carilah CINTA, DIA tidak dimana-mana tak perlu kamu kemana-mana karena DIA adanya di dalam dirimu sendiri di dalam HATImu : &lt;br /&gt;
DISINI, KINI, BEGINI&lt;br /&gt;
Inilah Keabadian&lt;br /&gt;
Tanpa ruang tanpa waktu inilah KENYATAAN yang KEKAL &lt;br /&gt;
DISINI, KINI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kamu dengan CINTA maka tak ada kata-kata yang dapat kamu katakan. Karena kata-kata terlalu sempit dan kecil untuk mengungkapkan CINTA itu yang AGUNG dan SUCI. Oleh karena itu kata-kata yang terlontar hanya mendangkalkan dan menyempitkan arti CINTA itu sendiri sehingga yang muncul kemudian adalah keraguan dan kesengsaraan.&lt;br /&gt;
Jika kamu mulai meragukan CINTA, itu berarti bukan HATImu yang berbicara, &lt;br /&gt;
namun pikiran dan egomu yang menuntun adanya perwujudan dan pengucapan.&lt;br /&gt;
Hatimu sama sekali tidak menuntut apa-apa karena sudah merasakan KEBAHAGIAAN yang tak bisa dikatakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatimu sama sekali tidak ingin mendengarkan kata-kata apapun,&lt;br /&gt;
karena kata-kata hanya akan mengganggu HATI yang sedang penuh dengan CINTA&lt;br /&gt;
Hanya pikiran dan egolah yang banyak menuntut, &lt;br /&gt;
Perwujudan dan pengucapan karena hanya dengan perwujudan ( rupa) dan pengucapan ( kata-kata atau nama ) ego dan pikiranmu meminta dan menuntut CINTA.&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya mengapa mulut, mata dan telinga letaknya berdekatan dengan pikiran, bahkan satu wilayah yaitu kepala.&lt;br /&gt;
Oleh karena itu tidak ada perbedaan antara mulut atau perkataan dengan pikirannya.&lt;br /&gt;
Apa yang dilihat itulah yang di terima oleh pikiran.&lt;br /&gt;
Apa yang di dengar itulah yang selalu di jadikan pegangan oleh pikiran. &lt;br /&gt;
Oleh karena itu apa yang keluar dari mulut yang berupa kata atau konsepsi atau persepsi adalah apa yang dipikirkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran yang hanya memiliki mulut, telinga dan mata Cuma bisa menuntut perwujudan dan pengucapan, sebagai bukti-bukti namun sekalipun bukti-bukti itu diwujudkan dan diucapkan pikiran selalu tetap meragukan perwujudan dan pengucapan dan bukti itu.&lt;br /&gt;
Itulah watak dasar pikiran maka jangan mencoba membangun CINTA di atas dasar pengertian berarti kamu membangun RUMAH CINTA di atas daratan pikiran yang mudah goncang. Orang yang membangun CINTA di atas dasar pengertian dan pikiran maka keraguan, kegelisahan dan kepura-puraan yang ada, yang didapatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanyalah HATI merupakan dasar dan daratan yang dijadikan tempat berlabuhnya CINTA. Hanyalah HATI yang dapat menjadi daratan yang kokoh dan tetap untuk membangun RUMAH CINTA. Maka biarkan CINTA itu bersemayam di HATImu, DIA bagaikan RATU yang CANTIK mendiami MAHLIGAI CINTA yang INDAH dan AGUNG. Namun HATI tidak bisa dan tidak menyukai pembicaraan. Sudah menjadi watak dasar HATI adalah HENING dan NRIMO apa yang dekat dengan HATI adalah TANGAN dan KAKI maka yang dapat dilakukan oleh HATI adalah berbuat dan berkelakuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu hanya akan mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jika kamu terikat pada keinginanmu maka yang kamu dapatkan sangat terbatas dan sempit sebatas keinginan yang kamu ketahui dan kamu kenali lewat pikiran dan pengalamanmu. Sedangkan KENYATAAN ini lebih luas tak terkira dari apa yang kamu ketahui maupun yang kamu alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan pasti berjumpa dengan jawabannya.&lt;br /&gt;
Kelaparan pasti berjumpa makanan.&lt;br /&gt;
Minuman pasti berjumpa yang haus.&lt;br /&gt;
Murid pasti berjumpa dengan guru.&lt;br /&gt;
Istri pasti berjumpa dengan suami.&lt;br /&gt;
Pecinta pasti berjumpa yang di cintai&lt;br /&gt;
Makhluk pasti berjumpa dengan TUHANnya&lt;br /&gt;
Kepala bertemu dengan kepala&lt;br /&gt;
Mulut dengan mulut&lt;br /&gt;
Hati bersua hati&lt;br /&gt;
Tangan berpegangan tangan&lt;br /&gt;
Perut berjumpa perut&lt;br /&gt;
Sex berjumpa sex&lt;br /&gt;
Dan jangan salah pasang masing-masing sudah ada pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isinya kepala cuma pemikiran, keraguan.&lt;br /&gt;
Isinya mulut cuma perkataan, tuntutan.&lt;br /&gt;
Isinya HATI cuma CINTA, kedamaian.&lt;br /&gt;
Isinya perut cuma makanan, kebutuhan.&lt;br /&gt;
Isinya kemaluan cuma kesenangan, tuntutan.&lt;br /&gt;
Di dalam laku hidup ini masing-masing sudah dipenuhi kebutuhannya dengan pemenuhannya masing-masing dan jangan dicampuradukkan permasalahan yang satu dengan yang lain. Jangan dikaitkan antara HATI atau CINTA dengan SEX atau HARTA dan KEUNTUNGAN.&lt;br /&gt;
Namun orang yang egois akan mudah dibuat masalah dengan dirinya sendiri apalagi dengan orang lain, lebih-lebih dengan orang yang dicintainya.&lt;br /&gt;
Orang-orang egois bukan hanya bermasalah bagi orang lain namun terhadap dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dicari kepala adalah pengertian sudah dipenuhi,&lt;br /&gt;
apa yang dibutuhkan mulut dan telinga hanyalah kata-kata sudah dipenuhi.&lt;br /&gt;
Apa yang dibutuhkan HATI adalah CINTA sudah terpenuhi sebelum dipenuhi.&lt;br /&gt;
Apa yang diminta sex adalah kepuasan biologis sudah terpenuhi, tidak ada satupun yang dikorbankan untuk yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kamu melakukannya maka berarti kamu telah melakukan penipuan, dan tidak ada yang tertipu kecuali dirimu sendiri tertipu oleh pikiranmu sendiri yang mengira demikian sesuai keinginan dan egonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan ada perbuatan atau perkataan.&lt;br /&gt;
Aku melakukan hubungan sex karena CINTA.&lt;br /&gt;
Aku melakukan hubungan sex karena kebutuhan perut&lt;br /&gt;
Tidak bisa dicampur aduk salah pasang.&lt;br /&gt;
Sex tetap terbatas hanya sex&lt;br /&gt;
Perut tetap terbatas hanya makanan&lt;br /&gt;
Namun CINTA dan HATI tidak terbatas&lt;br /&gt;
Maka CINTA dan HATI tidak bisa ditukar atau diperjualbelikan, &lt;br /&gt;
tidak dapat dibeli dengan uang atau apapun.&lt;br /&gt;
Sesuatu pertanyaan atau yang bertanya membutuhkan jawaban, &lt;br /&gt;
maka setiap jawaban menjadi milik pertanyaan dan terikat padanya.&lt;br /&gt;
Setiap pertanyaan atau yang bertanya sudah tahu bahwa jawaban itu pasti ada&lt;br /&gt;
Maka sesungguhnya bertanyalah kamu bila sudah siap menerima jawabannya, sekalipun jawaban itu menyakitkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu tahu bahwa ada sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan atau diwujudkan, maka sebaiknya jangan kamu lakukan itu, dan apabila kamu melakukannya itu karena kamu meragukannya, meragukan apapun juga termasuk meragukan dirimu.&lt;br /&gt;
Meragukan adalah aktifitas pikiran, oleh karena setiap pertanyaan lahir dari pikiran.&lt;br /&gt;
Jika kamu tidak bisa menerima jawaban yang bakal menyakitkan lebih baik jangan bertanya. Dan jika kamu sakit karena jawabannya, maka yang sakit bukanlah dirimu atau hatimu tetapi egomu atau pikiranmu karena yang mengharapkan jawaban adalah egomu, maka yang bisa merasakan akibatnya adalah egomu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika kamu rasakan juga sakit itu ada di hatimu hal ini terjadi karena kamu menyangka bahwa yang berkata lewat pikiran adalah dirimu namun sebenarnya adalah egomu. Egomu telah mengambil alih kekuasaan terhadap dirimu dari dirimu dan mengaku diri sebagai DIRI.&lt;br /&gt;
Maka seluruh dirimu dikuasai dan dikendalikan oleh egomu sedangkan kerja ego dan pikiran hanyalah terus menerus membuat pertanyaan dan meragukannya. Ketakpeduliannya terhadap jawaban yang benar telah membuat hatimu merasa sakit karena hati yang ada di bawah kuasa pikiran dan ego, hanya bisa menanggung akibat yang dilakukan ego tanpa kuasa memberontaknya. Karena watak dari dasar HATI adalah sekedar menerima apapun yang hadir. Pikiran sama halnya dengan mulut dan HATI sama halnya dengan perut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulut bisa makan apa saja yang enak bagi mulut dalam ukuran yang berapapun namun sebab yang dilakukan oleh mulut berakibat pada perut yang hanya bisa menerima apa adanya yang datang lewat mulut sekalipun mungkin dapat menyakitkan perut.&lt;br /&gt;
Mulut hanya berbuat untuk dirinya sendiri tanpa memperdulikan bahwa akibatnya yang menanggung adalah perut, inilah bentuk egoisme dari mulut.&lt;br /&gt;
Begitu pula pikiran yang kerjanya terus menerus membuat keinginan dan rencana-rencana pertama belum selesai sudah muncul rencana lainnya dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;
Namun akibat-akibat keinginan dan rencana itu HATILAH yang menanggung, rencana-rencana yang terbengkalai menimbulkan kegagalan.&lt;br /&gt;
Kegagalan demi kegagalan akan melahirkan kegelisahan dan ketakutan dan inilah yang ditanggung oleh HATI yang masih dikuasai oleh ego dan pikiran.&lt;br /&gt;
Maka hanya KESADARAN yang mampu membebaskan HATI dari kungkungan pikiran dan ego dengan menyadari bahwa ”Aku Bukan Badan” dan ”Aku juga Bukan Pikiran” dan ”Aku juga Bukan Perasaan” ”Aku adalah RUH Yang Abadi Yang Tidak Terikat Oleh Apa Yang Dibutuhkan Badanku Pikiranku Ataupun Perasaanku”&lt;br /&gt;
Kamulah KESADARAN itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selanjutnya klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/kamu-adalah-kemerdekaan.html"&gt;di sini &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-7441516023590811084?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/setiap-pertanyaan-membutuhkan-jawaban.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-8371681367335419093</guid><pubDate>Tue, 03 Nov 2009 01:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-01T18:41:00.072-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>Ego - pikiran</title><description>Ego-Pikiran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kamu bangun dengan pikiranmu dan ketika kamu berjalan dengan pikiranmu maka kamu takkan pernah mengenal Aku karena Aku berjalan dengan Hatiku. Jika kamu berjalan dengan pikiranmu kamu tidak tahu  Aku, sedangkan Aku tahu kamu karena Aku berjalan dengan Hatiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu berjalan dengan Hati-mu&lt;br /&gt;
Dan Aku berjalan dengan Hati-ku&lt;br /&gt;
maka yang terjadi adalah Keheningan&lt;br /&gt;
karena Hati-mu dan Hati-ku tidak beda,&lt;br /&gt;
Mereka tak perlu Bicara&lt;br /&gt;
Meraka tak perlu Bukti&lt;br /&gt;
karena kehadiran Hati sudah membuktikan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Namun sekali-kali Hati takkan pernah bangun, jika pikiranmu masih aktif berkeliaran. Pikiran yang liar hanya membuat Hatimu menjadi korban, karena apapun yang kamu lakukan lewat pikiranmu, hatimulah yang menanggung akibatnya. Pada saat pikiranmu kuat maka hatimu adalah budaknya. Pada saat begitu hatimu sama sekali tak berdaya dan amat tergantung pada pikiranmu. Ketika anda berjalan dengan pikiranmu, maka anda sedang berjalan sebagai (“Aku”) mu, maka anda tidak dapat melihat yang lain kecuali pikiran (“ku”) mu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiramu adalah duniamu&lt;br /&gt;
Duniamu ada di dalam pikiranmu&lt;br /&gt;
Engkaulah yang menciptakannya&lt;br /&gt;
Bahkan engkaulah yang telah menciptkan dirimu yang bernama “Aku” yang “Aku” tahu semuanya adalah “Milikku” itulah Ego&lt;br /&gt;
Karena “Aku” hanya bisa MENDENGARKAN LEWAT TELINGA “Ku” tentang kata-kataku &lt;br /&gt;
“Aku” hanya bisa melihat dengan mata “Ku”&lt;br /&gt;
maka yang nampak hanya pandangan “Ku”&lt;br /&gt;
Aku hanya mencium bau “Ku” yang ada dalam pikiranmu cuma milikmu&lt;br /&gt;
dan apa yang kamu lakukan hanya peduli pada sebatas milik “Ku”mu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diri “ku”, Pikiran “ku”,  Pendapat “ku”, Makanan “ku”, Pendidikan “ku”, Perasaan “ku”, Orang Tua ”ku”, Saudara “ku”, Teman “ku”, Rumah “ku”, Mobil “ku”, dan semuanya mengarah pada Keuntungan”ku” apa untungnya bagi “ku”. aku merasa bangga dengan segala miliku namun hatiku tertekan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Aku melihat kamu yang selalu berdiri di atas pikiranmu &lt;br /&gt;
dan berjalan dengannya Aku melihatmu dengan Mata Hati, &lt;br /&gt;
Aku melihat senantiasa berlari-lari tak pernah henti, &lt;br /&gt;
kadang maju ke depan kadang mundur ke belakang, &lt;br /&gt;
sekali waktu belok ke kanan atau ke kiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tahu apa yang kamu cari, namun kamu tidak tahu.&lt;br /&gt;
Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu kejar, yang kamu cari&lt;br /&gt;
Kamu hanya tahu namanya, sebutannya, &lt;br /&gt;
sedangkan Kebenaran Adanya kamu tidak tahu.&lt;br /&gt;
Kamu bilang kamu mencari kebahagiaan,&lt;br /&gt;
tapi yang kamu tahu kebahagiaan hanya kata-kata kosong, &lt;br /&gt;
hanya sederetan konsepsi dan persepsi saja.&lt;br /&gt;
Sedangkan Hakikat adanya kamu sama sekali buta, &lt;br /&gt;
karena Hatimu masih belum terbuka, belum tergugah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka yang kamu lakukan kemudian hanyalah meraba-raba dan menduga-duga.&lt;br /&gt;
Kamu sibuk bekerja mencari harta sehingga tak perduli dirimu jadi budaknya &lt;br /&gt;
karena kamu menduga-duga bahwa kekayaan duniawilah yang dapat membahagiakanmu.&lt;br /&gt;
Namun celakanya ketika kekayaan itu menjadi milikmu, &lt;br /&gt;
kamu malah menjadi budaknya, setiap hari menjaganya&lt;br /&gt;
kamu tidak bisa menjadi majikan bagi harta benda milikmu.&lt;br /&gt;
Setiap hari kamu hanya ketakutan hartamu semakin sedikit, &lt;br /&gt;
takut dicuri, takut diminta, takut miskin.&lt;br /&gt;
Ketakutan menimbulkan kegelisahan, harapan dan janji &lt;br /&gt;
hanya sedikit hiburan, apakah demikian yang kamu cari…………..?&lt;br /&gt;
Apakah itu kebahagiaanku………….?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas terbukti kamu tidak tahu sesungguhnya Kebahagiaan itu kamu hanya tahu namanya, kata-katanya ataupun gagasan tentangnya. Namun kamu buta akan Hakikatnya.&lt;br /&gt;
Ketika kamu jatuh cinta pada seseorang, kamu katakan kamu ingin mencari Cinta Sejatinya, dimana kamu mencarinya…………..?&lt;br /&gt;
Dan kamu mencarinya ke luar dari satu pacar ke pacar yang lain, namun yang bisa kamu lakukan dan kamu dapatkan hanya menyakitkannya dan disakiti oleh yang lainnya. Di sana kamu hanya sekedar budak, bukan budak cinta, namun budak nafsumu sendiri, kamu sangat terikat pada apa yang ada di dalam pikiranmu, idealismu sendiri dan sering kali terjadi pada saat kamu mencari kebenaran Cinta hanya berakhir pada perangkap dan terjebak dalam pemenuhan kebutuhan biologis belaka.&lt;br /&gt;
Yang kamu cari bukanlah Cinta atau Kebahagiaan&lt;br /&gt;
Namun sekedar kesenangan belaka, keasyikan badani.&lt;br /&gt;
Begitu sibuknya kamu sampai-sampai tak bisa duduk Diam sesaat untuk bisa menikmati Diam-nya yang Disini Kini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu tergesa-gesanya hidupmu berkeliaran kemana-mana mencari kebahagiaan yang kamu tahu. Namun kamu tidak tahu. Jika kamu sudah tahu, pasti kamu tidak perlu kemana-mana, karena untuk mencari Kebahagiaan kamu tidak perlu ke luar. Di luar yang kamu dapatkan hanyalah petunjuk, yang terkadang menyakitkan yang menunjuk ke dalam ke Hati-mu sendiri, maka Kebahagiaan Cinta Kedamaian hanya ada dalam Hati mu dalam Diri mu.&lt;br /&gt;
Berbeda ketika mencarinya ke luar, kamu harus banyak bergerak dan berubah, namun yang kamu dapatkan hanya kekecewaan dan kepedihan.&lt;br /&gt;
Untuk memenuhi Kebahagiaan yang ada di dalam Bathin-mu yang harus kamu lakukan hanyalah Diam, Hening, tidak ada keterikatan apapun kecualu satu keterikatan yaitu terikat penuh pada Saat Ini, Disini dan Kini, Beginilah Kebahagiaan.&lt;br /&gt;
Cinta, Kebenaran, Kedamaian, Keheningan, Kesadaran, Kekekalan adanya hanya Disini, Kini yang abadi.&lt;br /&gt;
Maka fokuslah dan konsentrasilah hanya pada Disini, Kini, inilah Kenyataan sebenarnya. Maka tangkaplah Kenyataan Saat Ini dengan kedua tanganmu dan lepaskanlah saat-saat yang lain dan lupakan masa lalumu dan buang jauh masa depanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selanjutnya silahkan klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/kenali-warna-dirimu.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-8371681367335419093?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/berjalan-dengan-hati-maka-kamu-akan.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-2513285021331642937</guid><pubDate>Mon, 02 Nov 2009 15:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-02T07:16:09.812-08:00</atom:updated><title>TESTIMONI JADI PELAKON TANDAVA</title><description>Sebelum saya mengenal dunia sepiritual kehidupan saya sering dirundung ketakutan, takut akan hal-hal yang sifatnya gaib, takut akan masa depan yang tidak karuan, takut tersaingi atau sebaliknya, takut kehilangan terhadap orang-orang yang dicintai serta banyak takut lainnya. Upaya memang telah dilakukan saat itu dengan menekuni agama yang saya anut dan berusaha menjalankan perintah-perintahnya, namun belum pernah tercapai suatu hasil yang memuaskan karena agama masih mengajarkan keyakinan yang hasilnya nanti. Apapun yang ditanam itulah hasilnya nanti pada hal saya butuh sekarang bukan nanti karena nanti adalah masa yang akan datang yang penuh dengan ketidakpastian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Perkembangan rohani saya dirasakan sangatl monotun dan muncul rasa tidak puas. Terlalu banyak perintah yang tertuang dalam buku-buku agama yang memerlukan pembedahan akan makna apa yang terkandung di dalamnya, apalagi hal-hal yang berkaitan dengan ritual yang sekarang ini lebih banyak sifatnya euporia belaka dengan mementingkan ego dari pada pencerahan diri. Dampaknya di masyarakat lebih banyak mudaratnya dari pada tujuan yag semestinya. Kita jarang mulat sarire (introspeksi diri) bila serangkaian ritual keagamaan telah dilaksanakan. Apa yang mestinya harus dirubah sebagaimana makna sebuah ritual setelah dilakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita lebih banyak munafik dari pada jujur apa adanya. Kebanyakan kita kehilangan rasa welas asih, persaudaraan atau menyame braye, kita terlalu sibuk berebut kesempatan tanpa rasa peduli akan hari esok bagi sesama. Kita dipenuhi rasa ketakutan menghadapi hari esok. Tumbuh suburnya rasa saling curiga dan kehilangan jati diri. Kita terlalu cepat marah bila ada ketersinggungan dan lain sebagainya. Kemewahan duniawi telah membalikkan sistem sosial yang telah dibangun para leluhur kita.  Dengan kenyataan seperti itu, kemudian saya merenung, apa yang semestinya dapat diperbuat? Apa makna kehidupan ini sejatinya? Terasa membosankan kita jalani hidup seperti ini, yang setiap saat dirundung keluhan-keluhan akan derita hidup yang tak habis-habisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah hidup ini hanya untuk mengeluh baik kepada orang lain maupun kehadapan Tuhan sendiri? Pikiranku yang bergejolak yang diselingi perasaan yang kalut dan menggelisahkan. Pertanyaan-pertanyaan muncul silih berganti dan jawaban yang muncul selalu meragukan. Seperti contoh ” Dalam setiap doa selalu diiringi permohonan dan dalam setiap persembahyangan selalu nunas penganugrahan , namun disisi yang lainnya agama menyatakan kerjakan kewajibanmu tanpa pernah mengharapkan hasilnya ” Jadi termasuk mengerjakan sembahyangpun kita semestinya tidak berharap apa-apa apalagi merengek-rengek mohon ini dan itu dan bila tidak kesampaian kemudian menyalahkan Tuhan. Hal-hal seperti inilah yang saya cari jawabannya, kenapa dalam banyak hal bahasa agama mengadung misteri dan sulit dipahami apa makna sebenarnya yang diperintahkan Tuhan lewat Buku-buku Agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa setelah mendalami agama sesuai kemampuan perlu kemudian dilanjutkan dengan berguru kepada orang yang tepat untuk membimbingnya lebih lanjut sehingga sampai pada suatu tingkatan pencerahan diri yang ditindaklanjuti dengan laku yang kebanyakan orang menyebutnya dunia sepiritual.&lt;br /&gt;
Sampai suatu ketika saya berjumpa dengan seorang bijaksana, namun berbeda keyakinan (Agama). Lewat beliaulah saya belajar sepiritual. Pada awalnya beliau mengatakan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
” Jangan karena beda keyakinan kita tidak bersaudara. Semua umat manusia adalah bersaudara. Tuhan menurunkan agama ibarat mendirikan sekolahan. Ada sekolahan A, sekolah B atau sekolah C. Jangan karena berbeda sekolahan kamu tawuran atau menjelek-jelekkan sekolah teman yang lain. Yang penting kamu mampu nggak menyelesaikan sekolahmu atau Tamat dan Lulus. Nah kalau sudah lulus jarang ada orang yang menanyakan kamu tamatan mana. Yang penting kamu telah tamat dan mulai mencari pekerjaan dan bekerja. Demikian pula dalam hidup ini, berupayalah memahami, menghayati ajaran agama yang dipeluk semaksimal mungkin dengan berguru dan mencari Guru yang benar, kemudian apa yang kamu dapat itulah kamu lakukan dalam meniti  hidup selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang kebanyakan orang-orang saat ini jangankan disebut tamat, naik kelaspun tidak dan sudah berani mengaku diri paling suci, alim dan sebagainya serta memandang rendah orang maupun keyakinan yang lainnya. Kalau sudah demikian maka kedamaian akan semakin jauh. Kedamaian justru menjadi tujuan agama itu sendiri yaitu damai di hati, damai di bumi dan bila mati masuk Sorga. Bagaimana mungkin masuk sorga bila masih hidup saja dipenuhi rasa iri, dengki, rakus, suka marah, sombong dan lain-lainnya yang memicu gejolak dalam dirinya dan hanya menyalahkan orang lain tanpa mengintrospeksi dirinya. Kalau sudah demikian maka kedamaian akan jauh darinya maupun lingkungan sekitarnya ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit wejangan beliau itulah pada jumpa pertama mendapatkan kesan ada kecocokan karena pandangan-pandangannya yang universal, maka selanjutnya saya mohon kepada beliau berkenan menerima saya sebagai muridnya. Beliau bernama Welldo Wnopringgo, kelahiran Jakarta, asli  Surabaya dan beliau seorang pelukis dan tinggal di Kuta, Bali. &lt;br /&gt;
Perguruan beliau bernama ” Tandava Nrtya ” yang artinya Tarian Kosmik Alam . Inti ajaran beliau adalah Pengosongan diri, dengan cara pengosongan maka kita dapat diisi kembali dan beda bila kita merasa sudah terisi penuh, maka bila diisi kembali akan tumpah. Dengan pengosongan diri maka kita dapat berpasrah diri dalam meniti kekosongan, sehingga pada akhirnya tercapailah keheningan. Dalam keheningan kita menemukan Kenyataan.  Apa kenyataan itu? Hanya yang sudah mengalami mampu merasakan dan menyaksikannya. Ini bukan sebuah Aliran Kepercayaan atau Agama baru dan kalaupun dipaksakan sebagai aliran maka aliran ini lebih cocok disebut Aliran Kepastian. Jadi tidak hanya percaya, namun pasti bila dilakoni sesuai dengan petunjuk Guru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menjadi muridnya, terlebih dahulu saya harus puasa selama 3 hari, kemudian diberikan wejangan khusus selama 4 kali yaitu dalam 4 malam guna memahami tentang Manusia, Sorga dan Neraka, Setan/Iblis/Bhuta Kala dan Tuhan itu sendiri. Wejangn beliau ini telah memberikan pemahaman dan pencerahan menyangkut hal-hal tersebut yang masih terbungkus dalam bahasa agama yang saya pelajari selama ini. Setelah mengikuti wejangan, selang beberapa harinya saya mengikuti upacara pembangkitan Ruh melalui pengaktifan Cakra Ruh/Atma. Suatu saat yang menegangkan buat saya ketika tangan dan tubuh saya bergerak dengan sendirinya, namun saya tetap sadar tidak kesurupan seperti orang-orang pada umumnya yang sedang mengalami kesurupan. Itulah gerakan kosmik atau Ruh yang telah bangkit yang selama ini tertidur karena dikuasai oleh pikiran dan ego. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata beliau bila cakra raga yang dibangkitkan maka kita ibaratkan seperti air dan bila kita punya air 1 gelas dan dipakai mengobati seseorang maka air itu akan habis dan bisa jadi penyakit sang pasien masuk pada diri kita karena kehabisan air. Demikian pula bila cakra jiwa yang diaktifkan maka kita ibarat api, contohnya seperti api lilin. Bila diberikan kepada orang lain tidak akan habis-habisnya, namun nyala lilin tetap sebesar itu. Beda halnya dengan pembangkitan cakra Ruh/Atman, maka kita ibarat sinar. Semakin sering diberikan atau diminta orang lain maka akan semakin terang dan menerangi kegelapan. Dengan pengaktifan cakra Ruh/Atma maka cakra badan raga maupun pada badan jiwa akan aktif dengan sendirinya. Ruh/Atman adalah serpihan atau sinar  Beliau atau Tuhan itu sendiri yang berwujud, sedangkan Tuhan yang universal tidak ada wujudnya. ” Brahman Atman Aikyam ” Tuhan dan Atman itu satu adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah upacara pembangkitan ruh/atma maka saya dijuluki Pelakon, karena yang dipentingkan dalam perguruan ini adalah Laku atau Lakon yaitu mengerjakan apa yang menjadi kententuan dalam perguruan ini. Ini tidak berarti saya meninggalkan kewajiban agama yang saya peluk. Justru sebaliknya dengan menjadi pelakon saya lebih memahami dan menghayati apa-apa yang diperintahkan agama dan sering kali mendapat jawaban dengan sendirinya tentang hal-hal tabu atau masih terbungkus dengan kata-kata agama maupun makna sebuah ritual yang dilaksanakan. Maka tidaklah aneh para pelakon berasal dari berbagai pemeluk agama maupun keyakinan. Demikian pula asal muasalnya banyak dari manca negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah saya aktif mengikuti jadwal laku, maka setahap demi setahap saya mulai mengalami perubahan. Rasa gelisah mulai sirna, kepala jarang sakit dan rasa strespun menjauh. Rasa takut mulai berkurang meskipun di tempat-tempat yang dianggap keramat, justru di tempat-tempat itulah muncul keheningan yang luar biasa. Saya menjadi lebih percaya diri dan sering muncul jawaban secara otomatis dalam diri ketika suatu saat ada hal-hal yang saya belum tahu seperti ada apa dengan badan raga, badan jiwa, maupun dengan pikiran dan ego. Pelan dan pasti mulai bisa membedakannya dengan diri murni yang lugu dan polos. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu bercermin dari pengalaman yang saya alami selama ini dengan belajar dan melakoni disiplin spiritual ada perkembangan positif yang dirasakan, mulai dari kegelisahan dalam menghadap kondisi hidup saat ini yang serba sulit sampai suatu ketika tercapai suatu kondisi yang lebih baik yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Berbagai persoalan hidup yang rasional berubah menjadi irasional. Yang saya maksud adalah dari yang tidak mungkin menjadi kenyataan. Yang sebelumnya tidak tahu secara perlahan menjadi tahu dan menghayati khususnya terhadap hal-hal yang tabu diungkap dengan bahasa agama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak pengalaman sepiritual yang saya alami dan kejadian-kejadian menarik lainnya di luar akal dan pikiran namun nyata,untuk mengetahuinya maka baca artikel-artikel yang ada di sini,dan tunggu artikel-artikel selanjutnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-2513285021331642937?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/testimoni-jadi-pelakon-tandava.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-421018938999001557</guid><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 15:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-01T07:11:16.848-08:00</atom:updated><title>PROPOSAL PEMBANGUNAN PADEPOKAN TANDAVA DI BALI</title><description>Dalung Permai , 1 Agustus 2009&lt;br /&gt;
Nomor  : 01/08/TDV/2009&lt;br /&gt;
Lampiran : 1 (satu) Explr.&lt;br /&gt;
Prihal : Mohon Bantuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Bahagia&lt;br /&gt;
Dengan hati yang tulus kami dari Pengurus Pusat Pencerahan Diri Murni Tandava Nrtya Wilayah Bali yang berkedudukan di Banjar Campuan Asri Kangin Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara berharap banyak kepada handai taulan dan pihak-pihak lainnya yang berkomitmen untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya sesuai agama dan kepercayaan yang dianut dan berkepribadian Indonesia agar berkenan memberikan bantuan baik material maupun non material.&lt;br /&gt;
Menyangkut keberadaan Tandava Nrtya dan Program yang akan dilaksanakan selengkapnya diuraikan sebagaimana Proposal terlampir.&lt;br /&gt;
Oleh karena memerlukan pembiayaan yang cukup besar, sekali lagi kami dari pengurus sangat berharap banyak kiranya Bapak/Ibu berkenan memberikan bantuan seikhlasnya. Atas partisipasinya, kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan penugrahanNya.&lt;br /&gt;
Demikian permohonan ini, atas perkenannya kami menghaturkan banyak-banyak terima kasih.&lt;br /&gt;
Salam, Damai itu indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hormat kami : &lt;br /&gt;
PENGURUS &lt;br /&gt;
KETUA SEKRETARIS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TTD TTD&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IR. I WAYAN  SURATNYA, M.Si I NYOMAN MERTHA&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengetahui/Menyetujui&lt;br /&gt;
Pembina Padepokan Seni Suci Tarian Esoterik Tandava Nrtya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TTD&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
( WELLDO WNOPHRINGGO&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PROPOSAL&lt;br /&gt;
PERMOHONAN BANTUAN DANA UNTUK PENGEMBANGAN PUSAT PENCERAHAN DIRI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TANDAVA NRTYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEDEPOKAN SENI SUCI TARIAN ESOTERIK MELALUI PESTA PENCERAHAN MURNI UNTUK MERAYAKAN &lt;br /&gt;
KEMERDEKAAN DIRI MURNI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.1. LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;
Berdirinya Pusat Pencerahan Murni Tandava Nrtya berangkat dari kerisauan spiritual seorang Grand Master Destroyer Welldo Wnophringgo menyaksikan dan mendengar berbagai macam permasalahan dan keluhan yang muncul baik ditingkat individu yang sangat personal sampai dialur sosial kolektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan dan peranan agama-agama yang diharapkan mampu merampungkan permasalahan yang muncul dan bisa menjembatani kesenjangan sosial di berbagai jenjang lapisan masyarakat, nampaknya kewalahan dengan semakin merenggangnya kesenjangan keharmonisan baik intern, ekstern maupun intra umat beragama maupun penganut aliran kepercayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wacana, penerangan maupun penjelasan yang lahir kemudian hanyalah bersifat pembelaan terhadap kebenaran dan kesucian ajaran oleh masing-masing penganutnya tanpa memberikan solusi tuntas terhadap disharmoni dan ketidakseimbangan yang terjadi di dalam kehidupan manusia yang ada disekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dilakukan oleh para pembela agama hanya melakukan penyanjungan terhadap  ajaran yang memang sudah mulya dan suci, namun sama sekali keagungan agama tak menyentuh terlalu dalam kejiwa pemeluknya sehingga nampak kesenjangan yang mencolok antara prilaku dan ucapan kebenaran yang disampaikan, malahan jauh dari tuntunan kebenaran esensi murni ajaran agama, sehingga hanya memberikan permasalahan-permasalahan baru yang lebih rumit dan tak pernah tuntas. Perbedaan keyakinan, agama, faham dan pandangan menjadi penyulut terjadinya disharmoni sosial dan kegalauan personal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sebagai Pusat Pencerahan Murni kehadirannya diharapkan mampu memberikan sumbangsihnya untuk ikut melakukan penjernihan terhadap masalah yang muncul sehingga mampu melihat dengan jernih dan obyektif akar dan sumber asal semua permasalahan dan kericuhan yang muncul dan mencoba untuk menjawab setiap persoalan-persoalan yang tidak mampu dijawab oleh Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya berdiri tidak berdasarkan agama apapun dan bukan pusat pengembangan agama tertentu dan juga bukan sebuah aliran kepercayaan. Tandava Nrtya tidak berkepentingan terhadap salah satu agama atau semua agama, namun lebih banyak fokus kepada kepentingan-kepentingan manusia secara utuh dengan seluruh keinginan dan persoalan yang muncul di dalam perjalanan hidupnya mencapai kebahagiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya tidak ingin mengambil alih peranan dan tugas agama di dalam teknis dan aturannya yang berupaya mengajarkan pentinganya memiliki sebuah “Keyakinan” oleh setiap individu umat manusia. Bukan tugas dan kewajiban Tandava Nrtya dan para Pelakon untuk membangun pentingnya sebuah “ Keyakinan” pada setiap umat apalagi mengubahnya. Tandava Nrtya hanya memberikan kemudahan dan kejernihan bagi setiap individu sehingga dapat melakukan koreksi dan pembenahan diri terhadap bangunan keyakinannya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sama sekali tidak meragukan kebenaran dan kesucian semua agama ansich yang sudah tertulis selama berpuluh tahun dan bahkan berabad-abad di dalam Kitab Sucinya masing-masing. Tandava Nrtya hanya membantu memberikan perangkat lunak untuk dapat melihat kembali setiap hasil langkah pendekatan manusia terhadap Tuhan atau agama yang berupa Keyakinan maupun hasil pendekatan manusia terhadap alam maupun dirinya yang berupa Ilmu Pengetahuan dan Filsafat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sangat peduli terhadap kwalitas setiap keyakinan yang ada di dalam setiap individu personal maupun sosial kolektif, karena keyakinan adalah akar yang tumbuh di dalam pikiran manusia yang batangnya memasuki ruang hati manusia yang selanjutnya melahirkan sikap dan gaya hidup tertentu dan pada akhirnya akan mewujudkan  tingkah laku dan perbuatan nyata yang bersentuhan secara sosial dengan kepentingan dan kemerdekaan hidup yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu disadarai dan dicermati bahwa seluruh persoalan dan permasalahan yang muncul di dalam kehidupan individual maupun sosial, dimulai dari Krisis Identitas dan Keyakinan diri sampai kepada tindak kekerasan karena faktor tajamnya perbedaan kepentingan dan pandangan masing-masing pihak yang mana persoalannya tak pernah selesai secara tuntas, semuanya berakar dari keyakinan yang tertanam di dalam jiwa-jiwa yang sedang mencari arah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya hanya mencoba untuk membantu setiap individu untuk menemukan sendiri jawabannya terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan, filsafat atau agama apapun. Tandava Nrtya hanya membantu setiap individu yang membutuhkannya untuk mencapai Kejernihan Dirinya sebagaimana apa adanya sehingga mampu melihat seluruh persoalan di dalam kehidupan dengan mata dan hati yang jernih tanpa kepentingan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi dan lagi, Tandava Nrtya bukanlah Pusat Pengajaran apapun apalagi ajaran agama. Tandava Nrtya bukanlah sebuah ajaran melainkan sebuah laku dan gaya hidup yang sehat dan merdeka secara holistik. Sekalipun Tandava melakukan pengupasan terhadap ajaran atau istilah-istilah popular dari salah satu agama bukan dalam rangka untuk mengajarkan agama lebih dalam, namun lebih ditekankan pengupasan agama atau istilah itu untuk mendorong setiap individu untuk lebih memahami keberadaan Dirinya di atas Jagad Semesta Raya ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula memang sengaja Tandava Nrtya menggunakan istilah-istilah agama karena melihat ada pengertian yang lebih mendalam dan tepat dari pada pengertian-pengertian yang sedang marak berkembang di dalam masyarakat, sehingga perlu diperhatikan ada perbedaan pengertian secara terminologis istilah-istilah yang dipakai Tandava Nrtya dengan pengertian pengertian yang lain. Jadi jangan membuat perbandingan dengan terminologi lainnya, jika tidak akan menjadi bingung karenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tandava Nrtya mengambil istilah-istilah dari ajaran Hindu, Buddha, Kristen atau Islam bukan berarti ingin membuat perbandingan atau sinkretisasi, melainkan ingin memperlihatkan gambaran dan menarik perhatian anda pada suatu kenyataan bahwa pada hakikatnya Kebenaran bisa muncul dipelbagai macam dan bentuk ajaran agama dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tandava Nrtya mengutif kata-kata dari agama tertentu atau ajaran-ajaran lainnya bermaksud memberikan makna yang lebih dalam, dengan demikian dapat memberikan arus perubahan terutama untuk mereka para penganut ajaran agama yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya menganjurkan kepada anda sekalian, tidaklah perlu mencari ke tempat lainnya untuk memperoleh Kebenaran. Tandava Nrtya akan memperlihatkan kepada anda bagaimana memasuki lebih dalam lagi ke dalam ajaran agama yang sudah anda miliki.&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya melalui teknik laku dan methodologinya dapat dipandang sebagai sebuah uraian dan jalan dengan cara yang pintas dan unik. Cara yang baru sekaligus lama, cara yang seksama dan istimewa dengan keunggulan dan kelebihannya dengan yang lainnya di zaman ini tentang Kebenaran Hakiki, yaitu sebuah Hakikat yang ditunjuk dan menjadi arah oleh semua agama dan ajaran leluhur, yang tidak muncul dan ada dari Sumber external di luar, namun dari Satu Sumber Internal yang terang tanpa diterangi yang sudah ada di dalam dirimu sendiri (inner source). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Wejangan Murni Pencerahan Tandava Nrtya tidak berisi uraian-uraian yang spekulatif sebagaimana teori-teori ilmiah dan filsafat ( yang hanya merupakan hasil pendekatan human secara rasional terhadap Kenyataan yang diletakkan hanya sebagai obyek yang terpisah dari Subyek pengamat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya mengantarkan setiap individu untuk mendekati Kenyataan di dalam pengalaman murni apa adanya. Pendalaman secara Supra Subyektif Meta Ilmiah adalah pendekatan Tandava Nrtya yang berbeda kwalitas kebenarannya dengan hasil pengamatan dan pendekatan rasional yang obyektif ilmiah maupun yang subyektif partial individual. Pendalaman Supra Subyektif Meta Ilmiah adalah sebuah pendekatan dimana tidak ada keterpisahan antara Subyek dengan Obyek bahkan tidak ada dualitas subyek-obyek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya adalah sebuah Laku Pencerahan dan Pencerahan Laku, atau lebih tepatnya  sebuah Gaya Hidup (Style of Life) yang Sehat, Bahagia dan Merdeka secara total holistik. Merupakan Teknologi dan Methodelogi Pencerahan Murni yang menakjubkan untuk menciptakan Keselarasan dan Penyempurnaan Diri di seluruh Sistem Kehidupan, Organikal, Khemikal, Phisikal, Mental, Intelektual, Emosional dan ditingkat Spiritual yang dapat mengembangkan kemampuan dan kecerdasan dasar seseorang sehingga dapat melakukan pengendalian diri terhadap potensi-potensi kreatif Rahmani dan energi-energi produktif Rahimi :baik yang ada di dalam diri individu yang mikrokosmik maupun yang terbentang di alam semesta secara makrokosmik, secara Skala dan Niskala, sehingga tercapai keselarasan kosmik dengan dirinya sendiri secara individual atau dengan lingkungan masyarakatnya secara sosial maupun dengan lingkungan alamnya secara natural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laku Pencerahan Murni Tandava Nrtya mengingatkan kita bahwa Kesehatan, Kebahagiaan  dan Kemerdekaan adalah sebuah pilihan yang lebih disukai oleh sistem tubuh, jiwa dan Ruh. Laku Pencerahan Murni adalah suatu gerak kosmik esoterik yang paling dalam yang merupakan luapan ekspresi Cinta-Diri Murni yang mengejawantah dalam bentuk ragam gerakan yang indah Tarian Kosmik Esoterik yang mempesona dan elastik penuh kharisma Ruhany adalah manifestasi kehadiran Ruh Murni atau Atma Sejati di dalam keselarasan Raga-Jiwa-Ruh Diri individu dengan Ruh Diri Universal Supreme Being.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui Tarian Murni ini sehingga tercapai Keselarasan Kosmik, menyatunya Tarian dengan Sang Penari yang Agung menghasilkan getaran energi kosmik yang penuh dengan kenikmatan Bathin dan kelezatan Ragawi.&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya adalah “ Kunci Rahasia “ sekaligus  “ Jalan Pintas “ untuk sebuah Kebangkitan Ruh  ( Awakening dan Awareness) untuk menempati posisi dan kondisi Fitrah, sebuah Kesadaran Murni Diri yang Merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena demikian sudah jelas dan pasti niat baik maksud dan tujuan mulia tidak akan mudah dan mengalami kemajuan yang pesat tanpa adanya dukungan oleh pihak-pihak lain yang terkait, yang merasa terlibat dan bertanggungjawab atas kedamaian, kenyamanan, kemerdekaan di dalam kehidupan bersama secara sosial politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;
Dukungan Moral dan Spiritual maupun phisik material dari berbagai pihak dan instansi maupun lembaga baik formal maupun non formal sangat diharapkan demi terlaksana dan terwujudnya cita-cita mulya dan luhur demi kebaikan, kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan individu umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN&lt;br /&gt;
Adapun maksud dan tujuan pengajuan proposal ini adalah :&lt;br /&gt;
a. Pengajuan proposal ini dengan maksud memperoleh bantuan Dana dan Dukungan Moral dan Spiritual maupun phisik material dari berbagai pihak dan instansi maupun lembaga baik formal maupun non formal dalam rangka Pengembangan Pedepokan Seni Suci Tarian Esoterik sebagai Pusat Pencerahan Diri Murni Tandava Nrtya.&lt;br /&gt;
b. Sedangkan tujuannya adalah agar pelaksanaan Pengembangan Pedepokan Seni Suci Tarian Esoterik sebagai Pusat Pencerahan Diri Murni Tandava Nrtya dimaksud dapat berjalan sesuai harapan dan cita-cita luhur yang ditetapkan sehingga mampu menjadi motor penggerak dalam menciptakan perdamaian dan keharmonisan di tengah-tengah masyarakat di zaman Milenium ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.3. PROGRAM DAN RENCANA KERJA &lt;br /&gt;
a. PEMBANGUNAN PEDEPOKAN&lt;br /&gt;
Agar aktivitas Tandava Nrtya dapat berkesinambungan maka diperlukan tempat yang representatif. Oleh sebab itulah pembangunan Padepokan sangatlah mendesak dan segera akan dimulai. Menyangkut tempat/tanah telah dipersiapkan untuk selanjutnya dibangunan beberapa bangunan yang meliputi Bangunan Tempat Tinggal Guru, areal latihan dan bangunan tempat Meditasi Khusus. Bangunan-bangunan tersebut didesign khusus agar menyatu dengan alam. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan tersebut kurang lebih Rp. 100.000.000,- ( Seratus juta rupiah); &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. ACARA LAKU&lt;br /&gt;
Acara Laku Tandava Nrtya ada yang Reguler dan ada yang insidental. Acara Laku Reguler dilaksanakan setiap Malam Jumat ( Kemis malam). Jenis kegiatan yang dilaksanakan tergantung Malam Jumat menurut Primbon Panca Wara (selengkapnya terlampir).&lt;br /&gt;
Sedangkan Acara Laku Insidental tergantung dari Petunjuk Guru atau Isaroh (Petunjuk Niskala); &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. PENGABDIAN MASYARAKAT&lt;br /&gt;
Kegiatan yang dirancang adalah berupa bantuan sosial kemasyarakatan seperti Pengobatan Non Medis gratis, Pencerahan Sepiritual, pemberian bantuan material kepada para Duafa dan Fakir miskin lainnya. Kegiatan yang menonjol selama ini adalah penyelamatan saudara-saudara kita yang telah salah langkah seperti para pemakai Narkoba, Wanita Tuna Susila (WTS), Gepeng dan berbagai Penyakit Masyarakat lainnya serta pengabdian kepada alam lingkungan seperti gerakan kebersihan, penghijauan dan penebaran bibit ikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.4. PEMBIAYAAN&lt;br /&gt;
Seluruh Biaya yang dikeluarkan untuk mendanai kegiatan Tandava Nrtya bersumber dari urunan para Pelakon dan para Donatur/Dermawan serta dimohonkan dari pihak-pihak lainnya yang diberikan secara ikhlas dan tidak mengikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.5. JADWAL PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PADEPOKAN&lt;br /&gt;
Khusus menyangkut jadwal pelaksanaan pembangunan Padepokan di luar Acara Laku Tandava Nrtya adalah seperti tabel berikut ini .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TABEL : JADWAL PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PADEPOKAN TANDAVA NRTYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Jenis Kegiatan Bulan dan Tahun 2009-2010 Ket.&lt;br /&gt;
8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1 Pesiapan xx                      &lt;br /&gt;
2 Pematangan Rencana    xx                      &lt;br /&gt;
3 Penggalian Dana   xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx  &lt;br /&gt;
4 Pematangan Site/Lahan       xxxx                   &lt;br /&gt;
5 Penghijauan Lahan      xxxx xxxx xxxx xxxx              &lt;br /&gt;
6 Pemb. Rumah Utama       xxxx   xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx       &lt;br /&gt;
7 Pemb. Bangunan Pelengkap                xxxx xxxx     &lt;br /&gt;
8 Pengisian Ruangan                   xxxx      &lt;br /&gt;
9 Operasional           xxxx xxxx xxxx &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan : Jadwal dapat bergeser sesuai situasi dan kondisi        &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.6. PANITIA PELAKSANA&lt;br /&gt;
Dalam operasinal maupun pembangunan fisik Padepokan tidak dibentuk Panitia semuanya dilakukan dengan mengoptimalkan Pengurus Tandava Nrtya yang selengkapnya terlampir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.7. P E N U T U P. &lt;br /&gt;
Demikian Proposal Pengembangan Pusat Pencerahan Diri Tandava Nrtya ini disusun dan diajukan dengan harapan bahwa proposal ini mendapat perhatian dan tanggapan dari berbagai pihak yang terkait, yang merasa terlibat dan bertanggungjawab atas kedamaian, kenyamanan, kemerdekaan di dalam kehidupan bersama secara sosial politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dukungan Moral dan Spiritual maupun phisik material dari berbagai pihak dan instansi maupun lembaga baik formal maupun non formal sangat diharapkan demi terlaksana dan terwujudnya cita-cita mulia dan luhur demi kebaikan, kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan individu umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENGURUS &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KETUA SEKRETARIS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IR. I WAYAN  SURATNYA, M.Si IR. I NYOMAN MERTHA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ACARA LAKU TANDAVA NRTYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. MALAM JUM’AT PERTAMA&lt;br /&gt;
( Malam Jum at Pahing / Sukra pahing )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Latihan Nataraga&lt;br /&gt;
1. Sujud Mentari&lt;br /&gt;
2. Bangau Sembah &lt;br /&gt;
3. Kursi Kayangan &lt;br /&gt;
4. Panah Arjuna&lt;br /&gt;
5. Sawung Lenggah&lt;br /&gt;
6. Duduk Teratai&lt;br /&gt;
7. Sangga Buana&lt;br /&gt;
8. Kala Sungsang &lt;br /&gt;
9. Duyung Santai Goyang Ekor&lt;br /&gt;
10. Weluku Sunsang&lt;br /&gt;
11. Sunggi Bumi&lt;br /&gt;
12. Jembatan&lt;br /&gt;
13. Kayang&lt;br /&gt;
14. Terkapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Laku Tarian Suci Esoteric Tandava&lt;br /&gt;
1. Tarian Esoterik Metodik&lt;br /&gt;
2. Tarian Esoterik Metodik Sambung Rasa&lt;br /&gt;
3. Tarian Esotorik Kondisional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D Bersyukur&lt;br /&gt;
E Meditasi Assyifa Sebagai Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
II. MALAM JUM’AT KEDUA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Wage / Sukra Wage )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Latihan Nataraga bersamaan dengan Nataambekan&lt;br /&gt;
1. Sujud Mentari, dengan Pernafasan Zigzag.&lt;br /&gt;
2. Duduk Buddha, dengan Pernafasan Udara.&lt;br /&gt;
3. Duduk Teratai, dengan Pernafasan Matahari.&lt;br /&gt;
4. Duduk Tahiyat Awal, dengan Pernafasan Bumi.&lt;br /&gt;
5. Duduk Tahiyat Akhir, dengan Pernafasan Pohon.&lt;br /&gt;
6. Duduk Bocah, dengan Pernafasan Gunung Berapi.&lt;br /&gt;
7. Sunggi Bumi, dengan Pernafasan Hujan.&lt;br /&gt;
8. Kalasungsang, dengan Pernafasan Api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Demo Pencerahan dan Pengosongan Diri&lt;br /&gt;
D. Bersyukur&lt;br /&gt;
E. Meditasi Assyifa sebagai Penutup&lt;br /&gt;
III. MALAM JUM’AT KETIGA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Legi / Sukra Umanis )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 21.30 – sampai selesai&lt;br /&gt;
Dengan Acara Khusus&lt;br /&gt;
A. “Pesta Pencerahan Diri”&lt;br /&gt;
dengan berpakaian Kain Kafan Jati Diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. “Pesta Penghancuran Ego”&lt;br /&gt;
dengan berpakaian Kain Kafan Pencerahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. “Pesta Kepasrahan Diri”&lt;br /&gt;
dengan berkain Kafan Pencerahan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat : &lt;br /&gt;
Berubah-ubah, berpindah-pindah.&lt;br /&gt;
Di Goa, Di Pantai, Di Gunung, Di Sungai, Di Tempat Suci atau Di Jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harus Membawa Sarana Pendukung :&lt;br /&gt;
1. Canang Sari&lt;br /&gt;
2. Dupa&lt;br /&gt;
3. Minyak Wangi&lt;br /&gt;
4. Lilin Merah&lt;br /&gt;
5. Dan Lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IV. MALAM JUM’AT KEEMPAT&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Pon / Sukra Pon )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Latihan Dasar Nataraga   &lt;br /&gt;
1. Pernafasan Huwalla&lt;br /&gt;
2. Senyum Assyifa&lt;br /&gt;
3. Putar Leher&lt;br /&gt;
4. Cium Lutut&lt;br /&gt;
5. Duduk Kaki Teratai&lt;br /&gt;
6. Duduk Angkat Kaki&lt;br /&gt;
7. Duduk di atas Kaki&lt;br /&gt;
8. Duduk di atas Tumit&lt;br /&gt;
9. Minum Kopi&lt;br /&gt;
10. Berpasangan menggergaji&lt;br /&gt;
11. Bertolakan punggung&lt;br /&gt;
12. Duduk Ayam&lt;br /&gt;
13. Gaya Merak&lt;br /&gt;
14. Sangga Buwana&lt;br /&gt;
15. Kala Sungsang&lt;br /&gt;
16. Duduk di langit&lt;br /&gt;
17. Panah Arjuna&lt;br /&gt;
18. Sujud Mentari&lt;br /&gt;
19. Kayang&lt;br /&gt;
20. Meremas Langit&lt;br /&gt;
21. Ancel Langit&lt;br /&gt;
22. Duyung Santai Goyang Ekor&lt;br /&gt;
23. Weluku Sungsang&lt;br /&gt;
24. Sunggi Bumi&lt;br /&gt;
25. Jembatan Ayu&lt;br /&gt;
26. Gendewa&lt;br /&gt;
27. Terkapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Laku Tarian Esoterik Tandawa&lt;br /&gt;
1. Tarian Esoterik Methodik&lt;br /&gt;
2. Tarian Esoterik Met. Sambungrasa&lt;br /&gt;
3. Tarian Esoterik Kondisional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Bersyukur&lt;br /&gt;
E. Meditasi Penutup Assyifa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
V. MALAM JUM’AT KELIMA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Kliwon / Sukra Kliwon )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Setiap Malam Jum’at Kelima ada acara khusus dari rumah ke rumah Pelakon Tandavan yaitu sebagai  AJANG BAGI RASA&lt;br /&gt;
A. Curahan Hati (Curhat)&lt;br /&gt;
B. Studi Kasus Pencerahan&lt;br /&gt;
C. Sumbang dan Sambung Rasa&lt;br /&gt;
D. Wejangan Suci&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Jadwal Acara&lt;br /&gt;
A. Meditsai Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Senyum Assyifa&lt;br /&gt;
C. Ajang Bagi Rasa&lt;br /&gt;
D. Bersyukur &lt;br /&gt;
E. Transfer Energi Assyifa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh berpakaian seragam Tandava, berkain Kafan Pencerahan, atau Kafan Jati Diri atau Busana Ageng Diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-421018938999001557?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/proposal-pembangunan-padepokan-tandava.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-6377386327592710085</guid><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 13:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:19:43.866-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengalaman Spiritual</category><title>PENGALAMAN SEPIRITUAL WISNU</title><description>Bali, 7 Mei 2009&lt;br /&gt;
Hari Kemis Jam 22.00 Wita, saya, Papa Welldo, Juliet, Pak Agus dan Ibu Agus berangkat  ke pantai Geger Nusa Dua untuk melakukan ritual penggugahan ruh. Di sini saya digugah ruhnya. Dalam ritual itu saya mengalami pengalaman sepiritual . Ada 3 hal dalam ritual ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pembersihan/ Mandi Suci&lt;br /&gt;
Dalam pembersihan tersebut saya meminum air dari 7 macam bunga yang sudah disalurkan energi oleh Papa Welldo. Pada minuman pertama saya disuruh membaca Bismillah 3 kali dan merasakan  aliran air ke seluruh tubuh. Yang saya rasakan dan alami air tersebut berubah menjadi energi dan menyatu sampi ke urat nadi dengan cahaya putih. Pada minuman kedua saya disuruh membaca Istifar 3 kali, yang saya rasakan sama seperti yang pertama, cahaya yang keluar merah. Minuman ketiga membaca subhanallah 3 kali dan sisa airnya diguyurkan ke kepala dengan membaca hamdallah 3 kali energinya masuk dari ujung kepala sampai kaki.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. Penggugahan Ruh&lt;br /&gt;
Disini yang dimaksud dengan penggugahan ruh adalah membangkitkan ruh dari tidurnya. Disini saya mengalami di tengah dada saya mengelurakan cahaya putih seperti lampu strabo yang cahayanya sampai menembus langit. Dalam penggugahan ruh ini saya seperti bangun dari mimpi-mimpi saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mengaktifkan Cakra Ruh&lt;br /&gt;
Dalam proses mengaktifkan cakra Ruh ini, pertama saya melakukan sujud rembulan yang berfungsi untuk menarik energi dari alam semesta ini terutama bulan, yang kedua saya lakukan sujud bumi fungsinya untuk menarik energi gravitasi bumi, setelah itu digabungkan keduanya dengan cara berputar-putar seperti tarian sufi, saya merasakan energi yang sangat luar biasa mengalir dari tubuh saya, setelah proses awal seluruhnya selesai, barulah Papa Welldo mengaktifkan cakra Ruh saya melalui 3 titik :&lt;br /&gt;
• Cakra Syagaf yang berpusat di dada, disitu ada 4 cakra yang harus diaktifkan yaitu :&lt;br /&gt;
- Cakra Afidah tempatnya dua jari dibawah putting susu kanan&lt;br /&gt;
- Cakra Fu’adah tempatnya dua jari diatas putting susu kanan&lt;br /&gt;
- Cakra Khofi tempatnya dua jari diatas putting susu kiri&lt;br /&gt;
- Cakra Cubb tempatnya dua jari dibawah susu kiri&lt;br /&gt;
• Cakra Qulbu yang berpusat di tengah-tengah kedua mata dan dada&lt;br /&gt;
• Cakra Shader  yang berpusat di perut (pusar).&lt;br /&gt;
Setelah semua cakra diaktifkan, saya memohon gerakan silat jurus naga, seketika itu tubuh ini langsung bergerak menari-nari  dengan indahnya seperti naga yang meliuk-liukan tubuhnya. Setelah selesai tubuh saya terasa ringan sekali.&lt;br /&gt;
Setelah semua ritual selesai saya disuruh Papa Welldo untuk masuk ke Goa melakukan Meditasi. Dalam meditasi saya melihat Papa Welldo duduk di bawah Pohon Bodhi seperti Buddha dengan pakaian kebesarannya, seketika tubuh saya memancarkan cahaya dan berubah seperti Buddha sedang bermeditasi dan saya sudah berada di tempat lain yaitu di langit. Disana saya melihat hamparan langit penuh dengan bintang-bintang begitu maha indahnya. Belum puas melihatnya Ruh saya menyuruh mengaktifkan cakra Shader. Setelah saya aktifkan seketika angin berhenti berembus beberapa detik disekitar saya, yang ada hanya kekosongan kekal dan hampa. Setelah selesai meditasi saya turun dari Goad an sudah ditunggu oleh Papa Welldo dan yang lainnya untuk segera kembali ke rumah. Sebelum pulang Papa Welldo berpesan agar bunga  yang tadi buat mandi suci dibuang di perempatan jalan dengan uang koin 500 rupiah sebanyak 7 buah. Maksudnya disini bukan kesyrik atau yang lainnya. Hakekatnya saya hidup di jalan kepastian bukan bercabang yang dimaksud bercabang disini seperti hidup di dalam mimpi-mimpi, baik dan buruk selalu mempunyai sifat dualistis yang semuanya bercabang dan di dalam cabang itu masih ada cabang dan akan terus bercabang tanpa ada kepastian dan selalu berubah-ubah.&lt;br /&gt;
Setelah sampai di rumah saya bercerita pengalaman-pengalaman saya yang dulu-dulu ke Papa Welldo. Beliau langsung ngomong-ngomong, bila kamu ingin meningkat, saya jawab “ya”, langsung Papa menyuruh saya berganti baju ikhrom dan disuruh melakukan sujud di 4 tempat :&lt;br /&gt;
- Yang pertama saya disuruh sujud di depan motor papa, saya langsung melakukannya. Dalam sujud itu saya melihat Papa Welldo duduk di atas motor sambil tersenyum, dan saya seketika berada di dalam Masjid yang begitu …. Yang pernah saya lihat, bukan di jalan. Setelah itu saya melihat Kereta Kencana berhenti dan turunlah seorang putrid yang sangat cantik sekali, saya Tanya “ siapa kamu” dia menjawab “ aku Kanjeng Ratu Roro Kidul. Setelah itu saya melihat Ular besar dihadapan saya, ada 3 Ular, 1 di depan saya, 1 diantara tengah-tengah sujud saya dan yang 1 lagi melilit saya, disaat itu saya pasrahkan hidup saya. Nggak lama ular itu menghilang dengan sendirinya, barang dengan selesainya sujud saya, baru Papa Welldo memberikan maksudnya kenapa saya disuruh sujud di depan motornya, untuk menghancurkan ego dan kesombongan dalam diri dan juga untuk menghancurkan pikiran-pikiran yang negative dalam diri, yang hakekatnya rendahkanlah dirimu serendah mungkin hingga ego, kesombongan dan pikiran-pikiran negative hancur dalam dirimu.&lt;br /&gt;
- Sujud yang kedua dilakukan di teras rumah, dalam sujud itu saya mengalami tubuh saya mengeluarkan cahaya biru dari ujung kepala sampai ke tulang belakang dan dubur, setelah itu tubuh ini mengeluarkan cahaya biru, tubuh ini seperti berlubang-lubang dan mengeluarkan cahaya biru yang sangat terang.&lt;br /&gt;
- Setelah selesai melaksanakan sujud kedua saya lanjutkan sujud di dalam rumah. Sewaktu sujud ruang itu menjadi sangat terang sekali dan saya melihat Papa  rebahan di tempat tidur yang begitu indah dengan ditemani Bidadari yang sangat cantik. Papa bilang inilah Sorgaku.&lt;br /&gt;
- Setelah selesai sujud ketiga langsung lanjut ke atas yang merupakan tempat khusus Papa untuk meditasi. Di tempat itu saya melakukan dua kali sujud. Dan meditasi. Sewaktu sujud lagi-lagi tubuh ini mengeluarkan cahaya biru seketika, dan tubuh saya terbelah menjadi dua seperti Patung dibelah. Diri ini berkata “ itulah tubuhmu yang penuh dengan kotoran duniawi yang semuanya berasal dari ego, kesombongan dan pikiranmu”. Setelah sujud selesai saya melakukan meditasi, dalam meditasi saya melihat dibelakang saya ada dua Malaikat dan di depan saya Papa Welldo dengan pakaian kebesarannya. Disamping Papa ada Ulang King Cobra yang besar dengan warna putih seperti ularnya Dewa Syiwa. Papa bilang “ ego seperti ular, bunuhlah dengan Pedang Ati “ hakekatnya bunuhlah egomu dengan keikhlasan dan keberanian yang dimili Ati” bunuhlah kebodohanmu dengan kecerdasan yang dimiliki Ati, itulah Pedang Ati, penuh keikhlasan yang tinggi, keberanian, kecerdasan dan makrifat yang tinggi pada Allah. Sewaktu meditasi saya mendapat isaroh/petunjuk untuk mengaktifkan 3 titik cakra. Setelah selesai saya bilang ke Papa tentang apa yang saya alami dan petunjuk yang saya dapat. Papa ngasih tugas untuk mengaktifkan cakra 3 hari, sehari 1 cakra semalam penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bali, 08 Mei 2009&lt;br /&gt;
Jam 23,30 Papa menyuruh saya untuk latihan menari. Disini kita sebut Meditasi Tandava Nrtya Gerak Luar (MTGL), saya latihan 2 tarian methodic dan kondisional. Untuk kondisional menggunakan sarana-sarana tertentu seperti tongkat, toya, pedang, cemeti dan selendang. Disini saya menggunakan tongkat. Setelah selesai saya langsung mengambil air wudhu dan melakukan tugas meditasi dari Papa Welldo untuk mengaktifkan Cakra Syagaf. Dalam meditasi saya melihat cahaya kuning dalam titik-titik cakra dan berputar hingga terasa sekali getarannya dalam dada. Ikhrom sayapun berubah warna menjadi biru, tiba-tiba disamping saya ada Ular hitam berjalan dan dibelakangnya ada Ular King Cobra besar melingkar di leher saya, seperti Syiwa. Setelah itu saya melihat Papa Welldo di depan saya dan suasana berubah saya berada dalam kerajaan. Saya melihat Papa Welldo duduk di singgasana dan didampingi oleh 9 orang yang memakai baju putih dan sorban. Papa Welldo hanya tersenyum melihat saya. Tiba-tiba saya melihat wanita yang saya sukai yang bernama Citra tersenyum pada saya dan dibarengi hati ini menyuruh stop. Saya bingung kenapa stop perintahnya kan semalam suntuk. Saya juga takut karena Papa Welldo mengawasi saya dari belakang dan saya juga mendengar suara “kamu sedang diawasi, apapun tindak-tandukmu” Saya jadi takut tapi hati ini tetap menyuruh  berhenti seketika itu juga saya berhenti, badan ini rasanya seperti putus dan lemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bali, 09 Mei 2009&lt;br /&gt;
Sebelum saya melaksanakan tugas dalam meditasi, saya latihan 2 tarian dulu. Sewaktu melakukan tarian kondisional dengan tongkat, saya melihat seseorang dengan baju ikhrom mengajari saya jurus tongkat, gerakannya begitu indah dan menawan sekali. Setelah selesai jurus tersebut saya diajak latih tanding, tiba-tiba saya sudah berada di tempat lapangan terbuka dan saya melihat banyak yang melihat dengan pakaian yang ikhrom semua termasuk saya duduknya melingkar seperti membuat arena. Disitulah saya mulai latih tanding dengan yang mengajari saya. Disini bukan saling serang tapi memadukan jurus, begitu indahnya dan serasi perpaduan jurus yang kami lakukan.&lt;br /&gt;
Setelah selesai latihan saya stop untuk melakukan tugas dalam meditasi, sewaktu meditasi saya melihat diri saya memakai ikhrom warna biru dengan rumbai-rumbai begitu indahnya, tiba-tiba tubuh saya tinggal bayangan seperti di film hologram yang lebih kaget lagit tiba-tiba setengah badan sebelah kiri ada Papa Welldo, jadi dalam diri saya ada setengah tubuh papa dan setengah tubuh saya. Tidak beberapa lama saya melihat Ular hitam yang besar dan panjang disebelah kiri saya. Gak lama ada Kereta kencana dating, ternyata Kanjeng Ratu dating sambil tersenyum melihat saya. Patung Buddha di depan sayapun berubah menjadi singgasana. Kanjeng Ratu duduk disana, tiba-tiba saya berubah menjadi Dewa Syiwa. Nggak begitu lama Pak Karno datang dengan baju kebesarannya. Papa dan kanjeng Ratu masuk ke rumah. Pak Karno duduk di singgasana yang diduduki Kanjeng Ratu dan saya dikasih tongkat kecil yang sering beliau bawa. Setelah itu Papa Welldo dan Kanjeng Ratu datang. Papa langsung duduk di singgasana itu dengan pakaian kebesarannya, sebelah kiri Papa Kanjeng Rat uterus Pak Karno dan sebelah kanan Dewa Syiwa. Tempat meditasi saya berubah menjadi Kerajaan yang sangat indah dan megah. Tiba-tiba hati ini bilang “ setelah meditasi segeralah kamu tulis pengalaman ini dan ceritakanlah ke Gurumu (Papa Welldo), karena gurumu akan memberikan sesuatu kepadamu” dan mintalah ijin dan ridhonya agar kamu dimintakan ijinNya untuk bisa menikahi orang yang kamu sukai”. Setelah hati ini selesai ngobrol, papa Welldo tersenyum kepada saya, tiba-tiba dada ini begitu panas dan mengeluarkan cahaya putih begitu juga diantara kedua mata. Cahaya merah membentuk segitiga dan langsung menuju ke dada Papa seperti lazer, kayak ada yang menggerakkan tubuh ini saya langsung memberikan hormat 3 kali. Tiba-tiba dada ini mengeluarkan cahaya seperti lampu strabo tembus ke langit dengan tulisan Allah dalam bentuk arah. Papa tersenyum lagi pada saya. Nggak berapa lama tepat di ulu hati terasa sakit sekali tiba-tiba cahaya itu berubah menjadi kristal berwarna biru, begitu indahnya karena pertama kali saya melihat kristal seperti itu, saya bertanya “ Apa ini ?” Papa menjawab “ itu kumpulan energimu” terus Papa menyuruh stop meditasinya dan bilang “ sudah cukup” sayapun berhenti dan menyudahi meditasi saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bali 10 Mei 2009&lt;br /&gt;
Jam 22.00 Wita, saya mulai diajarkan pernafasan angina dan pohon oleh Papa Welldo. Sewaktu latihan saya merasakan suatu energi yang luar biasa yang pernah saya peroleh. Setelah latihan pernafasan selesai Papa Welldo menyuruh saya untuk melatihnya setiap hari karena ini sangat berguna buat apapun. Tiba-tiba saya dengar Ruhnya Papa memberi wejangan “ Janganlah engkau menjadi sombong dengan apa yang engkau punya karena itu bisa membunuh dirimu, merendahlah kamu serendah mungkin “ Setelah latihan pernafasan selesai saya melanjutkan dengan latihan tari/MTGL, terus lanjut ke meditasi.&lt;br /&gt;
Dalam meditasi saya berada di taman yang begitu indah, saya disambut dengan begitu indahnya dan meriah seperti dalam pesta, bak pejuang yang menang perang, setiap langkah saya ditaburi dengan kertas warna warni dan bunga. Perasaan saya sangat gembira sekali karena baru pertama kali seperti ini. Suasana yang ada hanyalah gembira dan suka cita. Setelah itu saya kembali ke tempat meditasi kemudian saya melihat Ular Hitam besar berubah menjadi Belut dan pakaian saya berubah lagi seperti ikhrom biru. Di pangkuan saya ada Busur Panah, tiba-tiba titik-titik cakra saya berubah menjadi anak panah. Setelah itu saya merasakan kekosongan dan keheningan yang ada hanya saya dan Aku, seperti halnya seorang kekasih yang lagi memadu cinta. Tiba-tiba ego saya keluar dan saya langsung disuruh sujud sampai otot paha, otot pantat patah dan otot tulang belakang tertarik sampai terasa sakit, hati ini bilang “ itu hukuman jika kita sedang berdua dan egomu muncul kamu harus sujud agar egomu tidak mengganggu kita “ begitulah seterusnya bila ego saya keluar, saya langsung dengan sendirinya sujud dengan tanpa merubah posisi meditasi. Tiba-tiba titik-titik cakra saya berubah menjadi kristal dengan warna merah, biru, hijau, putih dan emas. Kristal-kristal tadi berubah menjadi satu kristal. Walaupun menjadi satu kristal tapi warnanya tidak berubah. Setelah itu kristal tersebut masuk ke dalam dada dan di dalam dada tiba-tiba ada bunga perak dan kristal tersebut di atasnya.&lt;br /&gt;
Setelah itu kembali kekosongan dan keheningan yang ada, sempat dari luar saya lihat orang-orang berlarian sambil membawa kerenda, mengarah ke saya dan tiba-tiba saya diangkat dan dimasukan ke kerenda, tapi kerenda itu berubah menjadi singgasana dan diangkat oleh orang-orang tadi. Sewaktu saya dibawa di tengah jalan, orang-orang yang membawa saya di stop oleh Ibu Ratu. Ibu Ratu bilang “ mau kalian bawa kemana anak ini? Kembalikan dia dan jangan diganggu” tiba-tiba saya sudah berada di tempat saya lagi. Saya juga sempat sebentar berada di taman dengan wanita yang saya suka, disana kami bercanda dan tertawa dan kembali lagi yang ada hanya keheningan dan kekosongan, sampai hati ini bilang “ sudah cukup meditasimu. Selamat” Saya sempat bingung apa artinya Selamat? Terus saya hentikan meditasinya dan langsung mulai menulis pengalaman yang baru saya rasakan. Oh ya saya hampir lupa, sewaktu melakukan meditasi dan mengaktifkan cakra Sulton hati ini bilang “Inilah Dia Yang Maha Besar dan Maha Luas dari apapun dan tidak ada yang bisa menandingiNya, inilah kebesaranNya “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam&lt;br /&gt;
Wisnu, Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-6377386327592710085?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/pengalaman-sepiritual-wisnu.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-3609654942557621501</guid><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 13:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:19:43.867-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengalaman Spiritual</category><title>PENGALAMAN SPIRTUAL OLEH NIKE IST LESTARI</title><description>Sembuh Dari Sakit Ginjal yang Kronis&lt;br /&gt;
1. Tanggal, 1 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 19:58:41&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Mas sorry aku belum bisa kirim email, dari dahulu sampai sekarang suamiku belum sehati. Sekarang aku sedang mengalami sakit infeki ginjal”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Nike ingin sembuh?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
2. Tanggal, 2 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 16:25:18&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Tahun 1994, aku pernah mengalami mati suri selama 4 jam. Pengalaman spiritual yang luar biasa sekali tentang perjalanan spiritualku. Aku menyaksikan proses pelepasan roh dari ragaku, sesudah itu aku dapat berkomunikasi dengan alam ghaib. Apakah hal  itu juga merupakan sesuatu yang berpengaruh di dalam langkahku kini memasuki kehidupan spiritual? “&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo:&lt;br /&gt;
“Ya, itu pasti. Kamu sangat disayang oleh Tuhan, Berbahagialah. Coba amalkan 1100X Astaghfirullah dan 1100X Subhanallah berturut-turut sampai 3 malam, sesudahnya SMS aku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tanggal, 3 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 02:39:55 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Mas, baru saja aku  selesai menjalankan amalan itu. Seolah ada suatu waktu yang membatasi di dalam aku berdzikir. Semakin lama semakin cepat aku rasakan, dan aku menyaksikan kehidupan masa laluku. Jauh, dimulai dari kehidupan sebelum kehidupan nyataku di zaman ini hingga pada kehidupan yang sekarang sedang saya jalani.&lt;br /&gt;
Aku melihat ada kesalahan di masa laluku. Dan kemudian kurasakan ada gerakan tanganku yang mengobati pada bagian tubuku yang sakit. Kurasakan ada tenaga ghaib yang luar biasa ditanganku. Bagaimana itu Mas”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Teruskan sampai 3 malam berturut-turut, itu kekuatan penghancur terhadap segala penyakit-penyakit itu sekaligus pada saat yang sama berisi energi pemulihan kembali”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Tanggal, 3 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 02:48:10 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Pada saat dzikir yang kedua Subhanallah Kurasakan aku melesat jauh ke langit, di sana aku ditemani seorang lelaki yang memakai Jubah panjang putih. Dan semua sinar aku lihat memancar ke arahku dan aku rasakan ada kekuatan energi yang dasyat ditanganku, bagaimana Mas?”&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Bagus sekali, itu pertanda baik, kekuatan cahaya penyembuhan sedang bekerja. Dan itu pula suatu pertanda baik bagi kemajuan dan kedalaman pengalaman spiritualmu”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tanggal, 3 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 02:51:41 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Dan ajaibnya Lelaki yang berjubah putih itu saat ini juga ada dikamarku, dihadapanku, siapakah Beliau sesungguhnya Mas”.&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Beri Salam Beliau, kemudian tanyakan nama Beliau dan apa maksud kehadirannya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Tanggal, 3 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 03:24:51 (Tengah Malam&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Beliau menyebutkan namanya : Abah Yusuf (Syikh Maulana Yusuf). Dan Beliau mengatakan bahwa diriNya adalah ayah angkat dari Dewi Kwan Im istrinya Mas Welldo, benarkah begitu?”&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Ya begitulah adanya, benar apa yang dikatakan Beliau. Beliaulah Mertuaku”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Tanggal, 4 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 02:46:03 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Hari ini aku  merasakan sakit yang luar biasa, sedangkan apa yang kualami di dalam meditasi kali ini tidak jauh beda dengan yang kemarin malam. Aku terbaring, tubuhku dibalut dengan sinar putih terutama pada bagian tubuhku yang amat sakit. Bagaimana Mas?’&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Tetaplah bertahan pada pikiran yang positif, yakinlah pada dirimu, bahwa kamu adalah Ruh Suci dan bukan tubuh raga saja. Ruh adalah Imam, Pengendali, sedangkan tubuhmu adalah ma’mun, maka kendalikanlah tubuhmu, ma’mun harus mengikuti Imam. Karena Ruhmu tak dapat sakit maka seharusnya tubuhmupun tidak merasakan sakit pula”.&lt;br /&gt;
8. Tanggal, 4 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 02:45:54 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Pada saat dzikir yang kedua, aku bertemu dengan Dewi Kuam Im, dan semua cahaya yang memancar dari Beliau seolah mengarah kepadaku. Namun kulihat ada seberkas sinar Biru yang dilimpahkan ketelapak tanganku. Kemudian tanganku bergerak mengobati bagian tubuhku yang sakit. Sementara aku terbaring, cahaya putih membalut tubuhku. Bagaimana Mas”.&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Pembalut Putih adalah energi bioplasmik yang berkekuatan sebagai pembersih dan pelindung, sedangkan Sinar Biru adalah kekuatan penyembuh, penawar dan penetralisir “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Tanggal, 5 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 03:56:30 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Aku terlelap sesudah berdzikir, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa lagi, sinar-sinar itu senantiasa tertuju kepadaku. Sebuah sinar Biru jatuh ditelapak tanganku dan Dewi Kwam Im dengan lirih memanggilku”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Tanggal, 5 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 04:04:32 (Hampir Pagi)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Pada saat dzikir yang kedua, mendadak tubuhku bergetar, ada satu kekuatan yang menerobos masuk ke dalam dadaku, mengalir ketanganku, ada gerakan tangan membasuh muka dan mengobati pada bagian yang sakit. Bagaimana Mas? “&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Itulah Penghancuran titik terakhir sekaligus pemulihan titik sempurna. Itu pertanda kamu sudah sembuh sempurna dari penyakitmu. Bahkan kamu sekarang ini sidah memiliki kekuatan-kekuatan itu yang bisa kamu gunakan untuk menolong orang lain”.&lt;br /&gt;
Menangani Kasus Pencurian Niskala &lt;br /&gt;
11. Tanggal, 10 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 20:11:30&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Pada akhir-akhir ini sering terjadi kehilangan uang di perumahan dimana aku tinggal, mulai dari Rp. 100 ribu sampai Dua Juta Rupiah. Orang-orang bilang ada semacam Tuyul dan setelah kutembus ternyata wujudnya seperti Kancil. Bagaimana cara menghentikannya ?”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Pukulah dengan Gubahan Sya’I “&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Tanggal, 11 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 00:27:54 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Ada petunjuk tentang siapa yang punya dan dari mana dia dating. Pada saat dipuncaknya dzikir ada kekuatan besar ditanganku dan ada kekuatan yang mendorongku. Dan akhirnya terjadilah pertarungan yang melelahkan. Dan aku berhasil dengan telak memukul muka Kancil itu dan kulihat wajahnya menjadi hangus terbakar. Bagaimana Mas ?”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Bikin ia menyerah atau mati, atau jika sudah mati ucapkan Alhamdulillah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Tanggal, 12 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 01:27:28.&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Mas, malam ini aku pukul dia 2 X pas di uluhati dan di kaki, ada tali-tali yang menjerat dia, malam ini aku dibantu seorang paranormal dari Bali namanya Pak Made dan baru saja masuk Islam.”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Kancil itu hanya pesuruh, maka carilah siapa pemiliknya, tangkap dengan Gubahan Sya’i dan introgasi dia”&lt;br /&gt;
14. Tanggal, 12 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 06:59:20&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Yang punya sudah kelihatan dan posisinya sudah kita ketahui, pada saat muka Kancil hangus ketika ku hajar ternyata wajah sipemiliknya hangus pula. Dan sekarang ini pemiliknya sedang mengincarku dan selalu menghantui aku terus menerus, dalam kondisi sadar dan bangun maupun dalam kondisi tidur”.&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Jangan takut, Gubahan Thawaf kamu sudah kuat, namun untuk memperkuat luar dan dalam, amalkan kembali Thawaf dan Sya’I dimulai dari Chakra Qolbu terus ke Chakra Syagaf”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Tanggal, 13 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 10:30:38&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Saat ini kancilnya berusaha keras untuk lari, dia sudah tidak bisa melawan. Dan ternyata ada lagi yang lain yang mencuri uang dalam jumlah jutaan, dia Rajanya Siluman, milik orang kota, tubuhnya besar seperti bara api.”&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Perkuat diri dengan melangsungkan amalan Gubahan Ksatriya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa Syukur&lt;br /&gt;
16. Tanggal, 22 November 2003&lt;br /&gt;
Jam 16:03:55&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Saat ini aku sedang terkapar dalam sujud kegembiraan yang cerah dan baru, seolah ada matahari lain ang bersinar di dalam hatiku. Aku sangat butuh bimbinganMu wahai Guru. Jangan sampai dan jangan biarkan aku kehilangan jejak seperti dulu. Terimakasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menangani Kasus Guna-Guna&lt;br /&gt;
17. Tanggal, 3 Desember 2003&lt;br /&gt;
Jam 16:57:10&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Mas Welldo, saat ini Masku diguna-gunai oleh bekas pacarnya yang juga bekas Pembantu Mbak-ku. Dia merasa sakit hati dan mengguna-gunai Masku hingga lupa ingatan dan ingin membunuh Mbak-ku dan Ibuku. Sampai sekarang dia masih terus mendendam dan dalam 1 tahun keluargaku meninggal tidak wajar 3 orang. Kulihat dalam diri Masku dilapisi 3 lapisan pekat, lapisan pertama berhasil aku hancurkan dengan Thawaf dan Sya’i. Bagaimana Mas, agar aku dapat berhadapan dengan dukunnya?”&lt;br /&gt;
Jawaban Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Baca Sya’i dan kosongkan diri agar terisi oleh hakikat Allah SWT, sesudah itu arahkan ke Masmu. Jika ada apapun yang muncul maka lenyapkan saat itu juga, setiap Haq datang maka yang bathil lenyap seketika.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
18. Tanggal, 4 Desember 2003&lt;br /&gt;
Jam 16:53:40&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Pada saat aku mencari hakikat, ada hal luar biasa yang terjadi, aku melhat proses pelepasan Ruh dari jasadku. Bagaimana Mas.?&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Itulah yang disebut ngerogosukmo dengan kemampuanmu itu kamu dapat menembus batas ruang dan waktu, teruskan seperti apa yang kukatakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak Menangani Kasus&lt;br /&gt;
19. Tanggal, 27 Desember 2003&lt;br /&gt;
Jam 16:56:29&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Aku belum tahu bagaimana caranya membalas semua kebaikan yang Mas Welldo berikan kepadaku. Sungguh hal itu merupakan suatu karunia yang luar biasa buatku. Nike.”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Bersyukurlah padaNya, Dialah yang telah kuasa menolongmu, aku sekedar perantaraNya, yang berbuat berdasarkan kehendakNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
20. Tanggal, 29 Desember 2003&lt;br /&gt;
Jam 18:43:12&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Alhamdulillah ternyata banyak orang-orang yang membutuhkan pertolonganku dan insyaAllah sudah banyak kasus yang aku tangani dan aku Bantu seperti menyembuhkan orang-orang sakit. Sekarang ada kasus lagi.”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Syukurlah, begitu seharusnya untuk selalu menolong yang lemah dan papa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SAFAR LANGIT&lt;br /&gt;
21. Tanggal, 5 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 02:06:45 (Tengah Malam)&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Mas Welldo. Alhamdulillah, Meditasiku baru saja usai, dan tubuhku melesat ke atas langit dan berputar-putar hebat, aku melihat secercah pelangi di sekitarku dan tubuhku gemetaran.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SAFAR ZAMAN&lt;br /&gt;
22. Tanggal, 5 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 02:52:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Aku merasakan sangat dekat sekali dengan Guru Welldo dan Istri Guru yaitu Dewi Kwan Im, kemudian aku dikelilingi oleh para orang suci, para wali Allah, para Pendeta Suci, para Biksu dan sekelasnya. Aku bisa merasakan, aku bisa berada dari satu zaman ke zaman yang lain, masa lalu atau masa depan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menangani Kasus Orang Buta&lt;br /&gt;
23. Tanggal, 14 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 01:04:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ InsyaAllah Guru, malam ini, mohon doa restunya, aku sedang membantu menyembuhkan anak yang sakit gagal ginjal dan saat ini keadaan matanya buta, semoga Tuhan memberkati, Amin.”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“Amien, Amien. Allah selalu bersamamu, membantu yang lain dari kesulitan karena keikhlasan. Amalkan AlFatihah dengan Teknik Kedua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
24. Tanggal, 14 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 19:14:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Ternyata anak yang buta itu dirasuki dua orang Jin Kuda terbang dan Kerbau bermata tiga, yang mengambil alih penglihatan anak itu. Dzikir yang saya amalkan berupa pusaran angin.”&lt;br /&gt;
Jawaban dari Guru Welldo :&lt;br /&gt;
“ Teruskan, Allah bersama kita. Amien.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
25. Tanggal, 15 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:32:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Butanya sudah berjalan 3 tahun. Syaraf otak sebelah kiri dan kanan sudah tersentuh oleh saluran energi Assyifa dan insyaAllah sudah mulai bersih dan terus naik dari ginjal ke mata.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
26. Tanggal, 15 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:15:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“ Secara medis anak itu sudah dinyatakan gagal ginjal sampai mempengaruhi matanya, hingga buta dan saluran kencingnya tidak berfungsi secara sempurna dan optimal dan kini aku dapatkan ada 3 jin yang menguasai anak itu, yaitu berupa Kerbau bermata tiga yang mengambil penglihatannya, lalu Kuda terbang bersayap dan Wanita tua.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27. Tanggal, 15 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:20:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Ini hari kedua aku mengamalkan apa yang Guru perintahkan, insyaAllah kekuatan yang kuperoleh berupa pusaran angin yang beraura biru menyelimuti tubuh anak itu dari kaki sampai kepala.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
28. Tanggal, 15 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:24:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Petunjuknya adalah 1/3 malam terakhir pada ke-3 dan ke-6 dan ke-9. Mohon petunjuk dan bimbngan Guru. Terima kasih.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
29. Tanggal, 16 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 02:13:10&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Hasil dzikir semalam, Jin wanita tua berhasil dilemparkan ke luar. Yang kedua kekuatannya luar biasa Guru. Syarafnya mulai bersih dan posisinya sudah sampai di tengah punggung. Bagaimana Guru, apakah Allah akan mengembalikan penglihatannya seperti sediakala?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
30. Tanggal, 1 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:24:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Terima kasih Guru, kami sudah punya rencana ke Bali, tapi masih nunggu waktu yang tepat, liburku dengan libur suamiku berbenturan, semoga keinginan kami bisa terkabul untuk bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
31. Tanggal, 17 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 02:20:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, mengapa aku nampak berubah menjadi raksasa yang punya kekuatan besar dan hasilnya, Kuda Terbang Kabur kembali keasalnya dan syaraf anak itu mulai bersih. Sekarang posisinya berada di pundak. Alhamdulillah. Terima kasih Guru atas petunjuk dan restunya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
32. Tanggal, 18 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 09:20:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, malam ini tidak ada perlawanan yang berarti dari Kerbau Bermata Tiga. Kulawan tatapan matanya, karena kulihat kekuatan terdasyatnya di sana, sinar matanya yang berwarna merah membara sekarang berwarna kuning. Dan posisi syaraf anak itu sekarang ada di leher.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
33. Tanggal, 22 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 11:36:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, hasil dzikir semalam membuat mata anak itu diselimuti sinar putih, apakah itu pertanda matanya akan pulih kembali? Hari ini adalah hari ke-9, Guru.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
34. Tanggal, 22 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 23:55:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, Alhamdulillah, 2 pusaka sudah ada padaku, juga satu keris beraura emas seperti Pasak Bumi bermahkota Ular Besar. Bagaimana pengaruhnya padaku dan keluargaku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
35. Tanggal, 22 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 04:10:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, dua pusaka itu insyaAllah adalah penjaga Harta Karun di Tanah Jawa dan sekarang ada di kedua telapak tanganku. Alhamdulillah pengaruhnya baik menambah wibawa dan melembutkan hati. Pusaka itu adalah pusaka tertinggi dari Kerajaan Jin dan akan menjadi Pusaka keturunanku nanti.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
36. Tanggal, 25 Januari 2004&lt;br /&gt;
Jam 03:50:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, InsyaAllah, ayat yang berhasil kudapatkan dari langit adalah Surat Sulaiman ayat ke-15, yang artinya : dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman dan keduanya mengucapkan segala puji bagi Allah Yang Maha Melebihkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
37. Tanggal, 16 Pebruari 2004&lt;br /&gt;
Jam 20:07:45&lt;br /&gt;
SMS dari Nike Ist Lestari (08123419910)&lt;br /&gt;
“Guru, tentang anak yang buta ada tujuh lapis kepekatan dimatanya, enam lapisan sudah berhasil dilenyapkan, tinggal 1 lapisan terakhir di tengah manik mata hitamnya. Sudah ada cahaya putih, amalan sudah kulakukan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuban,     Pebruari 2004&lt;br /&gt;
Hormat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nike Ist Lestari&lt;br /&gt;
(No. 0052/TN/Indonesia/2001)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-3609654942557621501?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/pengalaman-spirtual-oleh-nike-ist.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-3347571974858700361</guid><pubDate>Sun, 01 Nov 2009 13:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:21:53.863-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>BINATANG YANG BERAKAL</title><description>Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah!&lt;br /&gt;
Jutaan manusia yang hidup di hutan kota&lt;br /&gt;
Mereka makan-minum dan beranak-pinak di sana&lt;br /&gt;
Coba saksikan pula!&lt;br /&gt;
Ribuan binatang yang berkeliaran&lt;br /&gt;
Di tengah hutan belantara&lt;br /&gt;
Merka hidup, makan dan minum&lt;br /&gt;
Beranak-pinak di sana&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Apakah kamu melihat?&lt;br /&gt;
Apa yang membuat mereka berbeda?&lt;br /&gt;
Yang satu dari yang lainnya?&lt;br /&gt;
Apa bedanya manusia dengan binatang?&lt;br /&gt;
Secara phisik ragawi sama sekali tidak berbeda&lt;br /&gt;
Bahkan manusia lebih lemah dan rapuh&lt;br /&gt;
Tak punya kekuatan dan kemampuan seperti yang lainnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah bayi manusia ketika lahir ke dunia&lt;br /&gt;
Apalagi berjalan, merangkakpun tak mampu&lt;br /&gt;
Begitu pula ketika makan dan minum&lt;br /&gt;
Selalu menunggu tangan lain yang menolongnya&lt;br /&gt;
Tidak seperti anak sapi atau anak harimau, baru lahir sudah bisa berlari&lt;br /&gt;
Dan mencari susu induknya untuk minum&lt;br /&gt;
Itulah kodrat&lt;br /&gt;
Bahwa manusia bukan sejenis makhluk individual&lt;br /&gt;
Yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana kehidupan binatang&lt;br /&gt;
Manusia tidak dapat hidup bahkan berkembang&lt;br /&gt;
Tanpa adanya bantuan tangan-tangan lain&lt;br /&gt;
Manusia adalah makhluk sosial&lt;br /&gt;
Yang hidup dan pertumbuhannya senantiasa dilalui lewat bersosialisasi&lt;br /&gt;
Bersosialisasi adalah cara hidup saling tolong-menolong adalah tradisi&lt;br /&gt;
Saling mengingatkan adalah budayanya&lt;br /&gt;
Saling menyayangi adalah agamanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan binatang yang individual&lt;br /&gt;
Mereka tidak memiliki tradisi dan budaya&lt;br /&gt;
Apa yang mereka lakukan berdasarkan instink&lt;br /&gt;
Mereka melakukan sekedar untuk bertahan hidup&lt;br /&gt;
Sekalipun untuk itu harus menyerang yang lain&lt;br /&gt;
Apalagi kalau mau makan&lt;br /&gt;
Mereka saling berkelahi satu dengan yang lainnya&lt;br /&gt;
Untuk berebut makanan untuk hidup&lt;br /&gt;
Cara hidup binatang yang tak berbudaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan hanya kebiasaan hidup binatang saja&lt;br /&gt;
Kamu bisa menemukan pola hidup semacam itu pada kehidupan manusia&lt;br /&gt;
Baik secara personal individual maupun secara sosial kolektif&lt;br /&gt;
Apa yang mereka lakukan dalam hidup ini&lt;br /&gt;
Untuk makan, minum dan beranak pinak atau saling menyerang untuk bertahan hidup&lt;br /&gt;
Mereka tidak ubahnya seperti binatang ternak dan binatang buas&lt;br /&gt;
Sesuatu yang membedakan mereka, hanyalah seperangkat hiasan, pangkat, kedudukan dan senjata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti tanduk pada seekor banteng, &lt;br /&gt;
Atau belalai pada seekor gajah,&lt;br /&gt;
Atau taring pada seekor singa&lt;br /&gt;
Begitu pula manusia sebagian besar mereka tak jauh berbeda&lt;br /&gt;
Akal-pikiran hanya sekedar perangkat, &lt;br /&gt;
untuk mencari makan demi bertahan hidup,&lt;br /&gt;
dan sebagai senjata untuk menyerang yang lainnya,&lt;br /&gt;
demi kepentingan diri individu semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara struktural phisikal memang tidak berbeda&lt;br /&gt;
Punya kepala dan pancaindera&lt;br /&gt;
Punya badan dengan seperangkat libidonya&lt;br /&gt;
Punya tangan dan kaki dengan  sepak terjangnya&lt;br /&gt;
Hanya bentuk rupa dan namanya&lt;br /&gt;
Yang membuat mereka berbeda&lt;br /&gt;
Hanya mahkota dan senjatanya&lt;br /&gt;
Yang membuat mereka nampak tidak sama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau singa adalah binatang bertaring&lt;br /&gt;
Ular binatang berlidah kembar dua&lt;br /&gt;
Kerbau binatang bertanduk&lt;br /&gt;
Badak binatang bercula, maka manusia adalah binatang berakal&lt;br /&gt;
Memang tidak ada bedanya&lt;br /&gt;
Antara akal-pikiran dengan tanduk atau cula pada badak&lt;br /&gt;
Hanya senjata untuk menyerang yang lain&lt;br /&gt;
Hanya perangkat untuk mencari makan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedemikian rendahnya martabat manusia&lt;br /&gt;
Sehingga serupa dengan binatang buas ?&lt;br /&gt;
Memangsa yang lain untuk kepentingan hidup sendiri&lt;br /&gt;
Sedemikian burukkah kedudukan manusia&lt;br /&gt;
Sehingga cara hidupnya sejajar binatang ternak?&lt;br /&gt;
Yang kerjanya cuma makan, minum dan beranak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
FUNGSI KODRATI AKAL PIKIRAN&lt;br /&gt;
Kedudukan akal pikiran&lt;br /&gt;
Sebagai perlengkapan yang sangat esensial&lt;br /&gt;
Pada diri dan kehidupan manusia&lt;br /&gt;
Melebihi dari sekedar pembeda&lt;br /&gt;
Dengan makhluk lainnya yang physikal&lt;br /&gt;
Oleh karena itu fungsi dan manfaat akal yang sebenarnya harus ditemukan&lt;br /&gt;
Sebagaimana sapu yang dibuat manusia&lt;br /&gt;
Diciptakannya sebagai alat pembersih lantai&lt;br /&gt;
Itulah fungsi kodrati sapu secara esensial&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sapu sering digunakan hanya sebatas untuk menyapu saja&lt;br /&gt;
Sekalipun tidak bersih tidak mengapa&lt;br /&gt;
Yang penting sudah menyapu&lt;br /&gt;
Itulah fungsi struktural sapu&lt;br /&gt;
Dan pada suatu saat dalam keadaan tertentu sangat bahaya&lt;br /&gt;
Sapu bisa digunakan secara aksidental&lt;br /&gt;
Untuk memukul seseorang atau seekor hewan&lt;br /&gt;
Dari pemilahan fungsional ini&lt;br /&gt;
Dapat diklasifikasikan pula kegunaan akal secara aksidental,&lt;br /&gt;
tidak sedikit kamu menggunakan akal pikiranmu sebagai senjata untuk menyerang,&lt;br /&gt;
dan membuat tipu-muslihat. &lt;br /&gt;
Hal ini tidak jauh berbeda dengan binatang buas yang menggunakan taringnya untuk memangsa yang lainnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula tidak sedikit diantara kamu yang menggunakan akal secara struktural menciptakan keinginan-keinginan berkhayal dan mencari kekayaan materi seperti binatang ternak yang cuma makan minum menyenangkan dan membikin gemuk tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka fungsi sebenarnya akal-pikiran&lt;br /&gt;
Harus dapat menempatkan martabat dan harkatmu sebagai manusia yang luhur yang memiliki budi pekerti baik&lt;br /&gt;
Sehingga memberikan dampak dan bias positif pada kehidupan dan sesamamu baik individual personal maupun sosial kolektif&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka fungsi esensial yang luhur dari akal harus digali di dalam diri akal itu sendiri&lt;br /&gt;
Berakal adalah berpikir&lt;br /&gt;
Berpikir ialah bertanya-tanya di dalam diri&lt;br /&gt;
Bertanya ialah mencari jawab&lt;br /&gt;
Mencari jawab ialah mencari jawaban yang benar&lt;br /&gt;
Mencari jawaban yang benar ialah mencari kebenaran yang sebenar-benarnya&lt;br /&gt;
Jadi fungsi esensial kodrati akal-pikiran adalah untuk mencari dan menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dai klasifikasi pembagian ini dapat diketahui tiga macam manusia dengan tingkah-laku dan perangai yang berbeda&lt;br /&gt;
Maka ada manusia yang berwatak ganas, seperti binatang buas menerkam lainnya&lt;br /&gt;
Tidak memiliki kasih saying pada yang lain&lt;br /&gt;
Kecuali pada diri dan kelompoknya&lt;br /&gt;
Juga ada manusia yang berperangai seperti binatang ternak&lt;br /&gt;
Yang cuma bersenang-senang sendiri&lt;br /&gt;
Makan dan minum membesarkan tubuhnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang ketiga adalah manusia yang telah mencapai kesadaran luhurnya&lt;br /&gt;
Sehingga kehadirannya dapat dijadikan cahaya dan cermin dan memberikan pancarannya untuk menerangi lingkungan sekitar hidupnya.&lt;br /&gt;
Insan kamil, al-Launa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selanjutnya klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/berjalan-dengan-hati-maka-kamu-akan.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
========================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-3347571974858700361?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/binatang-yang-berakal-oleh-welldo.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-3620091655739217403</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 22:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:22:19.209-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>We are one, ONE ! only ONE!</title><description>We are one, ONE ! only ONE!&lt;br /&gt;
Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wahai seluruh umat manusia&lt;br /&gt;
Lihatlah ke dalam, ke Hatimu yang dalam&lt;br /&gt;
Dapatkah kamu melihat perbedaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun mengapa kamu merasa lebih tinggi dan beradab dari yang lainnya?&lt;br /&gt;
Mengapa kamu rumangsa lebih layak dan pantas dari yang lainnya&lt;br /&gt;
Mengapa kamu rumangsa lebih suci dan beragama dari yang lainnya?&lt;br /&gt;
Mengapa kamu rumangsa merasa lebih memiliki dari pada yang lainnya?&lt;br /&gt;
Sejuta mengapa akan mengalir dari Hatimu dan kamu harus menjawabnya dan bukan dengan kata-kata yang terbatas dan multimakna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Hatimu tidak ada perbedaan, karena Hati selalu melihat ke Dalam yang Dalam&lt;br /&gt;
Perbedaan itu hanya ada di luar sana jauh dari Kenyataan sebenarnya&lt;br /&gt;
Karena yang berbeda hanyalah bentuk, warna dan sebutan &lt;br /&gt;
dan semuanya itu adalah hasil kreasi dari pikiranmu yang terikat dan terbatas.&lt;br /&gt;
yang telah menciptakan illusi yang kamu anggap nyata.&lt;br /&gt;
Itulah maya, itulah dunia&lt;br /&gt;
Dunia cuma bentuk-bentuk yang senantiasa berubah &lt;br /&gt;
dan yang selalu berubah bukanlah Kenyataan sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
IBLIS adalah Keterpisahan&lt;br /&gt;
Semuanya hanya nama, sebutan, kata-kata, pikiran dan pemikiran yang telah menyembunyikan Kenyataan dari mata bathinmu&lt;br /&gt;
Pikiran dan Bahasa telah memanipulasi Kenyataan &lt;br /&gt;
ke dalam bentuk dan kata-kata yang sangat terbatas dan rancu makna. &lt;br /&gt;
Dunia adalah Sihir, Maya dan Illusi dan pikiranmu yang terikat adalah Penyihirnya&lt;br /&gt;
Semakin kamu berpikir semakin tumbuh dan kuat penyihir dan daya sihirnya yang dapat menyesatkan, &lt;br /&gt;
namun tidak ada yang disesatkan kecuali dirimu sendiri.&lt;br /&gt;
Sadarlah kamu terikat oleh pikiranmu yang kerdil dan terbatas&lt;br /&gt;
Sadarlah kamu bahwa kamu masing-masing di dalam dunia yang kamu ciptakan sendiri, sehingga masing-masing kamu hidup di dalam duniamu sendiri-sendiri, &lt;br /&gt;
sekalipun seagama, sedarah, sebangsa, satu ras.&lt;br /&gt;
Pikiranmulah yang telah membuatmu terpisah dari yang lainnya &lt;br /&gt;
dan merasa lebih tinggi, lebih suci, lebih layak, lebih beradab, lebih terhormat dari yang lain. Kemudian kamu menjadi gelisah, ketakutan, keraguan, merasa sendiri sebagai bagian yang terpisah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia yang padat pembedaan dan perbedaan &lt;br /&gt;
hanya ada di dalam pikiranmu belaka. &lt;br /&gt;
Ketika kamu hanyut selalu melihat ke luar terjebak dalam bentuk dan sebutan, sehingga kamu hanya melihat kekurangan pada orang lain &lt;br /&gt;
dan kelebihan pada diri sendiri, itulah awalnya ego tumbuh.&lt;br /&gt;
Ego dan dunia yang maya tercipta secara bersamaan dan pikiranmu adalah penciptanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin kuat kamu berpikir maka semakin kuat keberadaan ego dan duniamu, namun bagaimanapun kuatnya, keduanya tidaklah  kekal dan senantiasa berubah-ubah karena keduanya diciptakan dari bahan yang senantiasa berubah yaitu pikiranmu dan yang senantiasa berubah-ubah cuma nama dan rupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiranmu menjadi ada ketika dia bergerak, ketika pikiranmu bergerak maka terciptalah dunia dan ego serta terciptalah keterpisahan sehingga kamu terpisah dari dirimu sendiri, terpisah dari alammu sendiri dan terpisah dari Tuhanmu.&lt;br /&gt;
Kamu benar-benar dalam keadaan terpisah, ablasah, iblis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia adalah sihir dan Ego adalah penyihirnya&lt;br /&gt;
Pikiranmu adalah mantra sihirnya dan dirimu sendiri yang menjadi korbannya&lt;br /&gt;
Pikiranmu ada karena kamu gerakkan&lt;br /&gt;
Pikiranmu muncul karena kamu gunakan&lt;br /&gt;
Pikiranmu bergerak karena terikat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterikatan pada masa lalu atau masa depan&lt;br /&gt;
Maka semakin kau gunakan pikiranmu semakin kamu terikat dan susah bernafas. Semakin terpisah dan jauh dari Kenyataan Abadi. &lt;br /&gt;
Jika kamu sadar bahwa pikiranmu hanya menciptakan keterpisahan, keterbatasan, ketidakkekalan,&lt;br /&gt;
maka jangan kamu ikuti keinginannya. Jangan kamu turuti geraknya&lt;br /&gt;
Berhenti! Diam! Hening!&lt;br /&gt;
Jika tak ada sama sekali gerak, maka pikiranmu lenyap&lt;br /&gt;
yang ada hanya HENING&lt;br /&gt;
Saat itulah lenyap pula dunia dan ego &lt;br /&gt;
yang ada hanya HENING&lt;br /&gt;
Tidak ada apa-apa lagi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena yang sungguh-sungguh ada tidak dapat disebut dengan kata-kata.&lt;br /&gt;
Yang ada benar-benar telah suci dan bebas dari nama dan rupa atau bentuk, itulah KEHENINGAN, KEKOSONGAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam KEHENINGAN itulah Hatimu menjadi terbuka&lt;br /&gt;
Dia dapat melihat tanpa mata&lt;br /&gt;
Dapat mendengar tanpa telinga&lt;br /&gt;
Dapat mencium tanpa hidung&lt;br /&gt;
Dapat merasakan tanpa lidah&lt;br /&gt;
Hatimu dapat menyaksikan dan tidak ada yang disaksikan&lt;br /&gt;
Kecuali Penyaksi itu sendiri&lt;br /&gt;
Dan tidak ada yang tersaksikan&lt;br /&gt;
Kecuali Hati itu sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika kamu melihat dengan Hati&lt;br /&gt;
Maka yang kamu lihat hanya Hati &lt;br /&gt;
dan dalam Hati semuanya satu dan Setara&lt;br /&gt;
Namun jika kamu melihatnya dengan ego&lt;br /&gt;
Maka yang kamu temukan hanya ego &lt;br /&gt;
dan ego ada di dalam keterpisahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bukalah Hatimu seluas mungkin &lt;br /&gt;
dan tidak perlu kamu memasukinya karena kamu sudah di dalam&lt;br /&gt;
Karena kamu sesungguhnya Hati itu sendiri atau bathin atau NISKALA itu sendiri. Dan dengan Hati kamu tidak akan melihat perbedaan dan melakukan pembedaan&lt;br /&gt;
Dan dengan Hati kamupun dapat menerima Perbedaan dan bukan pembedaan. Hati kamu tahu bahwa yang berbeda hanya bentuk dan namanya, namun esensinya sama, &lt;br /&gt;
Kenyataannya sama dan satu sebagai makhluk yang berakal&lt;br /&gt;
Tidak ada perbedaan dalam kesetaraan ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warna kulit bukanlah perbedaan&lt;br /&gt;
Ras dan Keturunan bukanlah ketentuan&lt;br /&gt;
Barat dan Timur bukanlah kepastian&lt;br /&gt;
Agama dan pandangan hanyalah perbedaan keyakinan dan pendapat &lt;br /&gt;
percaya pada Tuhan atau tidak, hanyalah sebuah pemikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanyalah pikiran semata-mata &lt;br /&gt;
dan semua perbedaan ini ada dalam keterbatasan dan tidak nyata, &lt;br /&gt;
sehingga tidak beralasan sama sekali yang satu merasa lebih dari yang lain, yang merasa lebih benar merendahkan dan menyesatkan yang lain.&lt;br /&gt;
Hanya gara-gara ruang yang skala Barat dan Timur merasa terpisah&lt;br /&gt;
Hanya gara-gara warna kulit dan mata kamu menjadi terpisah sebagai bangsa-bangsa yang saling ingin menguasai dan memperbudak yang lainnya.&lt;br /&gt;
Hanya karena ras kamu menjadi terpisah.&lt;br /&gt;
Menjadi suku-suku yang memikirkan kepentingan dan keuntungan kelompoknya dengan menjatuhkan dan merendahkan suku-suku lainnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan karena perbedaan agama dan keyakinan kamu menjadi terpisah&lt;br /&gt;
dan saling membenarkan dirinya sendiri &lt;br /&gt;
dengan menuduh orang lain sebagai sesat dan menyesatkan&lt;br /&gt;
Dan hanya karena kepicikan seseorang didalam memahami agama, sehingga mereka melupakan cinta dan keluhuran manusia&lt;br /&gt;
yang harus mereka hormati, sehingga antar umat beragama saling baku hantam mengatasnamakan Tuhan dan Agama&lt;br /&gt;
Itu adalah perampokan kebebasan orang lain dengan bertopeng Keagamaan, Ketuhanan dan Kebenaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ego-ego yang berpakaian suci&lt;br /&gt;
Perampok-perampok yang berpenampilan sebagai pemimpin agama&lt;br /&gt;
Waspadalah terhadap iblis-iblis yang menciptakan keterpisahan &lt;br /&gt;
dan kamu jangan hanya menolong manusia itu menjauh dari iblis, &lt;br /&gt;
tapi juga harus menolong iblis dari keterpisahannya&lt;br /&gt;
Karena iblis itu adalah dirimu sendiri yang membuat dirimu merasa lebih suci, lebih baik dan lebih tinggi dari yang lain dengan merendahkan, menuduh sesat dan menjatuhkan yang lainnya.&lt;br /&gt;
Bahkan sebagai makhluk yang berdaging dan bertulang, manusia dan binatang tidaklah berbeda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia punya ego dan naluri&lt;br /&gt;
Binatang punya napsu dan instink&lt;br /&gt;
Cara hidup manusia dan binatangpun tidak berbeda, &lt;br /&gt;
berunsur hewani yang hanya cari makan &lt;br /&gt;
dan bertahan hidup dari serangan dan menyerang yang lainnya&lt;br /&gt;
Sehingga otak, akal manusia tidak berbeda dengan tanduk banteng, taring singa atau belalai gajah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Hati yang dapat membuat otak dan akal manusia menjadi luhur dan berbudi&lt;br /&gt;
Sehingga dengan Hatinya, Manusia akan melihat perbedaan&lt;br /&gt;
sebagai Dwi Tunggal yang keberadaannya saling membutuhkan &lt;br /&gt;
demi Keseimbangan, Keharmonisan dan Keadilan&lt;br /&gt;
Apapun yang Harmonis adalah Keindahan yang Dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kuat melindungi yang lemah&lt;br /&gt;
Yang tinggi menolong yang rendah&lt;br /&gt;
Yang melek menuntun yang buta&lt;br /&gt;
Yang buta pasrah pada yang melek&lt;br /&gt;
Yang lebih memberi yang kurang tanpa diminta&lt;br /&gt;
Yang kurang hanya menerima dan bukan meminta dari yang lebih&lt;br /&gt;
Yang tua menyayangi yang muda&lt;br /&gt;
Yang muda menghormati yang tua&lt;br /&gt;
Yang tahu wajib menjawab&lt;br /&gt;
Yang tidak tahu berhak bertanya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka lihatlah Keindahan itu &lt;br /&gt;
Dalam Keindahan tiada keterpisahan&lt;br /&gt;
Semuanya menyatu dalam Cinta&lt;br /&gt;
Dalam Cinta tidak ada keterpisahan &lt;br /&gt;
Siapapun sedang mencintai dan dicintai&lt;br /&gt;
Karena siapapun juga adalah Cinta&lt;br /&gt;
Cinta itu Suci dan Indah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian benar atau salah, lebih atau kurang, melek atau buta, hanyalah proses belajar di dalam mencintai dan dicintai &lt;br /&gt;
untuk meraih Cinta yang Murni dan Benar. &lt;br /&gt;
Dan Cinta yang Murni itu tidak lain dan tidak bukan adalah Dirimu Sendiri yang sebenarnya,&lt;br /&gt;
yang bebas dan berada di belakang nama dan bentuk yang terbatas dan berubah-ubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai Makhluk yang memiliki pertumbuhan, &lt;br /&gt;
manusia tidak berbeda dengan pohon-pohon, tumbuhan dan semua binatang, sampai ketingkat virus dan kuman. &lt;br /&gt;
Perbedaan yang ada hanyalah sebagai hal&lt;br /&gt;
atau unsur yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya &lt;br /&gt;
demi pertumbuhan itu sendiri. &lt;br /&gt;
Pertumbuhan alam itu sangat seimbang, &lt;br /&gt;
ketika mereka membutuhkan satu dengan yang lain, &lt;br /&gt;
mereka saling menggunakannya guna pertumbuhannya &lt;br /&gt;
dalam batas-batas yang dibutuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas lalat dan ulat tidak mampu mengejar mangsanya yang besar,&lt;br /&gt;
mereka harus sabar menunggu. &lt;br /&gt;
Ada singa kelaparan yang mengejar rusa, &lt;br /&gt;
dan ketika tertangkap, singa hanya memakan bagian tertentu saja, yang dibutuhkan dan tidak banyak &lt;br /&gt;
yang lainnya ditinggalkan untuk disantap binatang-binatang lainnya. &lt;br /&gt;
sehingga lalat, ulat dan semutpun mendapatkan bagiannya &lt;br /&gt;
bahkan sampai rumput dan tumbuhan yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa indah dan adilnya kesemestaan,&lt;br /&gt;
namun berbeda dengan manusia, &lt;br /&gt;
ketika manusia memangsa yang lainnya, &lt;br /&gt;
bukan berdasarkan kebutuhan, &lt;br /&gt;
namun lebih banyak berdasarkan keinginan dan nafsu belaka, &lt;br /&gt;
bahkan sering kali berdasarkan keuntungan diri semata &lt;br /&gt;
dengan cara mengorbankan yang lainnya. &lt;br /&gt;
Memaksa dan memangsa yang lainnya demi kepentingan sendiri, keluarga sendiri atau kelompoknya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengorbankan yang lain adalah cara binatang &lt;br /&gt;
bahkan lebih rendah dari binatang, &lt;br /&gt;
karena binatang memangsa lainnya berdasarkan kebutuhan yang terbatas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan manusia tidak, &lt;br /&gt;
manusia memangsa berdasarkan keinginannya, &lt;br /&gt;
manusia akan memangsa apa saja, siapa saja yang diinginkannya, dan lebih dari kebutuhannya. &lt;br /&gt;
Pada hal yang dibutuhkan manusia untuk hari ini hanyalah makan, minum tiga kali sehari. &lt;br /&gt;
Di dalam sekali makan paling tidak satu piring nasi dan satu gelas air minum dan satu setel pakaian untuk melindungi tubuhnya. &lt;br /&gt;
Namun manusia mengambilnya lebih dari kebutuhan, &lt;br /&gt;
bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk hari esok bahkan untuk tujuh turunannya.&lt;br /&gt;
Semakin tahu cara mengambilnya, &lt;br /&gt;
semakin banyak  yang dirampoknya, &lt;br /&gt;
maka rusaklah keseimbangan alam, keseimbangan sosial, keseimbangan ekonomi, keseimbangan kehidupan. &lt;br /&gt;
Pada akhirnya hancurlah keseimbangan jiwa masing-masing individu. &lt;br /&gt;
Itulah keserakahan dan ketamakan manusia lebih buas dari binatang buas, lebih jahat dari ular-ular belukar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keserakahan dan ketamakan muncul dari pikiran manusia &lt;br /&gt;
yang terikat dengan masa lalu dan masa depan, &lt;br /&gt;
sehingga lahir ketakutan dan harapan, &lt;br /&gt;
sehingga berani mencuri dan merampok &lt;br /&gt;
karena takut lapar dan berharap kaya harta di masa depan. &lt;br /&gt;
Manusia berani merendahkan dan membunuh &lt;br /&gt;
hanya takut dikuasai dan direndahkan  oleh yang lain. &lt;br /&gt;
Ketamakan dan keserakahan, mengakibatkan ketidak-seimbangan di segala bidang. &lt;br /&gt;
Ketakutan dan harapan adalah saudara kembar yang lahir karena keterikatan pikiranmu, kepada masa lalu dan masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan adalah kegelapan,&lt;br /&gt;
Ketakutan dan harap adalah kebutaan,&lt;br /&gt;
Yang lahir dari kegelapan masa lalu  dan masa depan,&lt;br /&gt;
Masa lalu atau masa depan adalah kegelapan, &lt;br /&gt;
gelap, tidak ada yang terang &lt;br /&gt;
hanya hari ini, saat ini, disini dan kini yang terang dan nyata.&lt;br /&gt;
Maka berbuatlah yang pasti menurut kebutuhan saat ini. disini dan sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka jika masing-masing kamu berbuat menurut kebutuhan saat ini yang terbatas, maka hidup menjadi indah dan harmonis, yang kita hadapi hanyalah Kenyataan saat ini, namun kita ingin berbuat sesuatu untuk seminggu, sebulan, setahun bahkan untuk tujuh turunan yang tidak akan habis-habisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat berbahaya tidak hanya bagi orang lain, &lt;br /&gt;
juga bagi dirimu sendri, karena sesungguhnya ketika kamu bebuat semacam itu,bukan kamu yang menjadi tuannya, tapi nafsu keinginanmu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu hanyalah budaknya saja dan kamu adalah budak yang setia menjaga hartamu dari kehilangan dan kekurangan, &lt;br /&gt;
sehingga tanganmu selalu kamu genggam erat-erat, &lt;br /&gt;
tidak ada yang pernah ke luar dari tanganmu, &lt;br /&gt;
sebagai pemberian kecuali karena kamu tahu &lt;br /&gt;
bahwa kamu akan mendapatkan keuntungan lebih dai pemberianmu.&lt;br /&gt;
Sehingga jelas seluruh perbuatanmu &lt;br /&gt;
kadang-kadang nampaknya untuk beribadah dan berderma, &lt;br /&gt;
padahal sesungguhnya kamu sedang berdagang, &lt;br /&gt;
sedang mencari keuntungan semata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu sesungguhnya pedagang, dan  pasar adalah wilayahmu, pasar adalah kekuasaanmu, namun para pedagang yang hanya mencari keuntungan semata, memperluas wilayahnya semuanya ingin dijadikan pasar, agama dan kesucian dijadikan pasar tempat untuk mendapat keuntungan dan kekayaan, politik dan pemerintahan dijadikan pasaruntuk meraih keuntungan dan untuk menjatuhkan pesaing-pesaing lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budaya  dan tradisi dijadikan pasar &lt;br /&gt;
untuk mendapatkan keuntungan pribadi belaka, baik secara phisik material maupun mental spiritual.&lt;br /&gt;
Sesungguhnya politik, ekonomi, sosial, budaya dan tradisi itu bersih, namun ketika orang-orang yang bermental pasar, bermental kapitalis merambah bidang-bidang kemanusiaan yang suci itu, maka bidang-bidang itu menjadi cemar dan terpolusi. Maka untuk membersihkan instansi-instansi itu kita harus memilih dan mendudukan orang-orang yang bebas dan suci dari kepentingan. Jauhkan dan jangan biarkan orang-orang pasar dan para pedagang menguasainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kamu harus menolong para pedagang itu dari pikiran dan mental rendahnya. Orang-orang pasar ini bisa menjual Negara dan bangsanya, bisa menjual agama dan keyakinan, bisa menjual diri dan pikirannya, karena orang-orang pasar matanya Cuma melihat semuanya adalah pasar, di dalam pasar yang dia lihat  hanya keuntungan. Keuntungan inilah Tuhan-tuhan mereka, yang mereka harapkan dapat menolong mereka dari ketakutan-ketakutan yang mereka ciptakan sendiri di dalam pikiran mereka yang membuat mereka terpisah dan kesepian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya apa yang mereka takutkan tidak ada di dalam Kenyataan yang kekal abadi ini. Namun dengan hati manusia akan bebas dari ketakutan itu, karena ketakutan adalah kekuatan sihir dari pikiranmu sendiri, semakin kamu berpikir, semakin kuat sihirnya, dan sesungguhnya sihir itu tidak nyata, hanya tipuan saja, dirimu yang tertipu oleh pikiranmu &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
sendiri. Maka hentikanlah kekuatan sihir pikiranmu dengan HENING, maka semuanya lenyap dalam HENING.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagaimana benda, kamu tidak berbeda dengan batu, pasir, kerikil atau debu sekalipun. &lt;br /&gt;
Itulah KENYATAAN.&lt;br /&gt;
Baik secara Niskala atau Sekala, kamu tidak berbeda dengan apapun yang ada. Sedangkan Nama dan Rupa tidak ada karena bukan Kenyataan. Nama dan Rupa hanyalah kreasi dan klasifikasi pikiranmu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada apa-apa kecuali ATMA.&lt;br /&gt;
Tidak ada apa-apa kecuali RUH.&lt;br /&gt;
Tidak ada apa-apa kecuali DIRI.&lt;br /&gt;
Tidak ada apa-apa kecuali KENYATAAN itu sendiri yang SATU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selanjutnya klik&lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/11/binatang-yang-berakal-oleh-welldo.html"&gt; di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
==================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-3620091655739217403?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/we-are-one-one-only-one.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-8451378815618108577</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-30T17:53:54.676-07:00</atom:updated><title>PENDEKATAN TANDAVA NRTYA YANG SUPRA SUBYEKTIF META ILMIAH</title><description>Oleh :&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi dan lagi,&lt;br /&gt;
bahwa saya, Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
sama sekali tidak mengajarkan sebuah agama apapun,&lt;br /&gt;
meskipun kadang-kadang saya menggunakan kata-kata atau istilah-istilah popular dari suatu agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sengaja saya mengambil istilah-istilah agama karena saya melihat ada pengertian lebih mendalam dan tepat dari pada pengertian-pengertian yang sedang berkembang di dalam masyarakat. Sehingga disini perlu diperhatikan ada perbedaan pengertian secara terminologis istilah-istilah yang saya pakai dengan pengertian-pengertian  lain. Jadi jangan mencoba membuat perbandingan dengan terminologi lainnya, jika tidak akan menjadi bingung karenanya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Jika saya mengambil kata-kata dari ajaran Nasrani, Buddha, Hindu, ataupun dari ajaran Islam bukan berarti ingin membuat perbandingan, namun ingin memberikan gambaran dan menarik perhatian anda pada suatu kenyataan bahwa pada hakikatnya Kebenaran dapat muncul di berbagai macam dan bentuk ajaran dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika saya mengutif kata-kata dari agama-agama kuno atau ajaran-ajaran lainnya bermaksud dapat memberikan makna yang lebih dalam, dengan demikian dapat memperbaiki arus perubahan, terutama untuk mereka yang menganut agama-agama dan ajaran-ajaran yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya katakan kepada anda sekalian, tidaklah perlu mencari ke tempat yang lainnya untuk memperoleh Kebenaran, akan saya tunjukan kepada anda bagaimana memasuki yang lebih dalam lagi, ke dalam suatu ajaran yang sudah anda miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wejangan Suci Tandava Nrtya dengan teknik dan methodologi lakunya dapat dipandang sebagai sebuah uraian dengan cara yang lain, cara yang baru, cara yang lebih seksama dan istimewa di zaman ini tentang spiritual yang niskala, hakikat ajaran semua agama yang tidak muncul dari sumber external di luar namun dari satu sumber internal yang terang dan benar yaitu yang sudah ada di dalam dirimu sendiri (inner source). Jadi tidak berisi uraian-uraian yang spekulatif sebagaimana teori-teori ilmiah dan filsafat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi pendekatan ilmiah saintifik disebut cara yang obyektif rasional, maka pendekatan yang saya ambil dapat disebut pendekatan Supra Subyektif Meta Ilmiah yang berbeda sama sekali dengan cara-cara para penganut subyektifis maupun obyektifis  karena keduanya sama-sama menggunakan standard dan paradigma rasional untuk melihat Kenyataan yang diletakan  sangat jauh hanya sebagai obyek saja, sehingga hanya menghasilkan dugaan-dugaan saja, baik secara ilmiah ataupun tidak.&lt;br /&gt;
Berbeda dengan Tandava Nrtya yang menggunakan cara yang Supra Subyektif Meta Ilmiah, menempatkan Kenyataan sebagai suatu yang tidak terpisah dari subyek, karena Kenyataan subyeklah yeng menentukan kenyataan lainnya. Kemudian yang Supra Subyektif ini akan terungkap dengan terang dan jelas karena subyek sebagai kenyataan yang tak dapat disangkal adanya dan merupakan dasar bagi lainnya. Keberadaan subyek sebagai Kenyataan sudah terang dengan sendirinya sehingga tak perlu pembuktian lagi dan sungguh-sungguh Meta-Ilmiah yang irasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENDEKATAN SUPRA SUBYEKTIF META ILMIAH YANG SYSTEMATIK, LOGIS DAN UNIVERSAL&lt;br /&gt;
Methodologi dan laku yang saya tawarkan sungguh-sungguh merupakan pendekatan supra-subyektif-meta ilmiah.&lt;br /&gt;
Kata-kata supra-subyektif-metailmiah  saya pinjam secara terpaksa dari khasanah bahasa kata-kaum obyektifis karena tidak ada jalan lain lagi. &lt;br /&gt;
Hanya lewat pikiran dan bahasa kata kita dapat berkomunikasi, lewat suara dan lambang-lambang kita dapat berdialog. Sudah tentu bahasa dan lambang-lambang yang sudah disepakati bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu digarisbawahi bahwa Kebenaran bukanlah hasil kesepakatan, namun Kebenaranlah yang menjadi isi dan tujuan yang dibawa oleh bahasa dan lambang-lambang itu.&lt;br /&gt;
Kenyataan yang menyentuh setiap diri terjadi di dalam dialog tanpa kata-kata. Inilah bahasa diri yang padat dan dalam yang terang dan menerangkan, sangat supra-subyektif metailmiah. Berbeda dengan subyektifikasi yang subyektif yang mencoba berdialog dengan diri subyek lewat sebuah pemikiran. Juga berbeda dengan methodology kaum-obyektifis-ilmiah yang senantiasa berdialog lewat pemikiran yang sistematik ilmiah dan logis terhadap kenyataan yang diletakan sebagai obyek yang terpisah dari subyek pengamatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Tandava Nrtya di dalam methodologinya mencoba mengungkap Kenyataan faktis yang menyentuh subyek dengan terang benderang yang tak perlu pembuktian dan pembenaran apapun bagi dirinya, namun ketika kita hendak mengungkapkannya kepada subyek lain, mau tidak mau kita harus masuk ke dalam sebuah percakapan kata-kata yang harus melewati jalan raya pemikiran namun dengan menggunakan perangkat lunak kaum-obyektifis ilmiah yang sistematik, logis dan obyektif imparsial sebagai parameternya. Oleh karena itu methodologi ini saya sebut pendekatan Supra-Subyektif-Metailmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasa kata-kata adalah satu-satunya jalan yang dapat kita lalui untuk berdialog dengan diri yang lain untuk mengangkat Kenyataan Diri Subyek, sekalipun kita menyadari bahwasannya kesalah-artian dan kesalah-pahaman bisa terjadi dikarenakan keterbatasan bahasa kata-kata yang juga memiliki nilai ganda yang saling bertentangan yang satu dengan yang lainnya, yaitu dualitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PIKIRAN HENInG ADALAH BERSIH DARI KONSEP APAPUN&lt;br /&gt;
Jadi Tandava Nrtya sama sekali bukanlah sebuah System Kepercayaan, Keyakinan atau sebuah System Agama yang hanya mengandalkan dogma-dogma ataupun sama-sama sekali bukanlah sebuah Sytem Ilmu Pengetahuan atau Filsafat  yang hanya mengandalkan paradigma-paradigma dan prasangka-prasangka yang spekulatif. &lt;br /&gt;
Tandava Nrtya bukanlah Ilmu Agama ataupun Filsafat Ketuhanan. Tandava Nrtya bukanlah sebuah Pemikiran atau Obyeknya.&lt;br /&gt;
Sekalipun pada akhirnya dapat menjadi bahan kajian ilmiah dan ilmu filsafat, dan bahkan bisa jadi mereka akan menyetarakan System Pencerahan ini. Sekedar sebagai hasil sebuah proses pemikiran belaka itulah kebiasaan kaum obyektifis dan kaum rasional, semuanya di luar kepentingan dan kebutuhan Tandava Nrtya, yang mengutamakan pengalaman praktis Kenyataan dari pada pernyataan dan gagasan-gagasannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya hanya menawarkan jalan yang nyata dan akurat tak tersangkalkan dan tak terhindarkan agar dapat mengalami Kenyataan sebagaimana Kenyataan itu sendiri tanpa diganggu atau dicemari oleh sebuah konsepsi atau persepsi apapun, apakah itu konsepsi ilmiah atau filsafat maupun konsepsi agama.&lt;br /&gt;
Bagaimana seharusnya menyaksikan Kenyataan dengan kejernihan pikiran, pikiran yang hening, tidak bergerak sedikitpun, maka kamu akan mengalami dan merasakan Kenyataan sebagai suatu Keindahan yang tanpa cacat sedikitpun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PIKIRAN HANYA MENGHASILKAN DUALISME&lt;br /&gt;
Dalam Keheningan,&lt;br /&gt;
anda tidak akan melihat sedikitpun hal-hal yang buruk dan negatif,&lt;br /&gt;
yang ADA hanyalah Kedamaian, Keindahan, Keharmonisan, Kebahagiaan .&lt;br /&gt;
Kenyataan tunggal yang tak terungkap dengan kata-kata belaka,&lt;br /&gt;
namun anda dapat menikmatinya dan merasakannya.&lt;br /&gt;
Jika kamu sedikit saja menggerakan pikiranmu untuk memahami Kenyataan,&lt;br /&gt;
maka yang kamu dapatkan hanyalah sebuah pengertian saja,&lt;br /&gt;
yang tidak ada di dalam Kenyataan,&lt;br /&gt;
karena pengertian atau konsepsi bukanlah kenyataan dan tidak kekal,&lt;br /&gt;
pengertian sebagaimana sumbernya adalah mudah berubah dan sementara,&lt;br /&gt;
maka janganlah terikat dan fanatik pada suatu yang tidak kekal dan mudah berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu menyaksikan Kenyataan,&lt;br /&gt;
dan kamu gunakan pikiranmu menangkapnya,&lt;br /&gt;
maka tidak ada yang dapat kamu tangkap kecuali sebuah nilai,&lt;br /&gt;
baik atau buruk, salah atau benar, tinggi atau rendah, &lt;br /&gt;
jauh atau dekat, lurus atau sesat,&lt;br /&gt;
keduanya senilai karena eksistensi keduanya tidak ada, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
inilah yang disebut dualisme atau Dun-ya di dalam ajaran Islam/atau dwaita,&lt;br /&gt;
atau Maya di dalam ajaran Hindu dan Buddha,&lt;br /&gt;
serba dua yang saling bertentangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dun-ya hanyalah sebuah prasangka,&lt;br /&gt;
bahkan Tuhan-pun hanya praduga hasil ciptaan dari pikiranmu sendiri,&lt;br /&gt;
maya adalah sebuah penilaian baik atau buruk hanyalah sebuah pendapat,&lt;br /&gt;
tinggi atau rendah hanyalah sebuah konsepsi,&lt;br /&gt;
jauh atau dekat hanyalah sebuah perbandingan saja,&lt;br /&gt;
yang adanya selalu tergantung pada yang lainnya,&lt;br /&gt;
tidak dapat disebut baik kalau tidak ada yang buruk,&lt;br /&gt;
keduanya sama-sama tidak nyata adanya,&lt;br /&gt;
hanya ada di dalam pikiranmu saja. &lt;br /&gt;
Mengapa harus merisaukannya? &lt;br /&gt;
Mengapa harus membuang-buang waktu mempermasalah-kannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bebaskanlah dirimu&lt;br /&gt;
dari segala macam prasangka&lt;br /&gt;
baik tentang Dirimu sendiri &lt;br /&gt;
atau tentang kenyataan alam semesta atau tentang Tuhan-mu&lt;br /&gt;
Tidak sadarkah kamu?&lt;br /&gt;
bahwa dirimu yang kamu yakini adanya&lt;br /&gt;
hanyalah sebuah konsepsi dan pandanganmu saja, itulah ego&lt;br /&gt;
sehingga membuatmu congkak atau bahkan sebaliknya ?&lt;br /&gt;
Bebaskan dirimu dari nilai dualisme !&lt;br /&gt;
yang tidak nyata dan tidak kekal, jauhi dan hancurkan&lt;br /&gt;
perangkap dari pikiranmu sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sadarkah kamu ?&lt;br /&gt;
bahwa dunia yang kamu saksikan&lt;br /&gt;
bukanlah kenyataan yang sebenarnya&lt;br /&gt;
lihat saja diantara kamu&lt;br /&gt;
selalu berbeda pendapat dan pandangan tentang apa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa terjadi demikian itu?&lt;br /&gt;
karena kamu tidak hidup dan hadir di dalam Kenyataan ini&lt;br /&gt;
kamu tidak sadar dan tidak tahu&lt;br /&gt;
bahwa kamu hidup di dalam mimpimu, di dalam keinginanmu&lt;br /&gt;
apa yang ada di dunia adalah bentuk dari keinginan dan pikiranmu&lt;br /&gt;
karena kamu yang telah menciptakannya untuk kamu hancurkan kembali.&lt;br /&gt;
Bangunlah dari tidurmu, bangkitlah dari mimpimu&lt;br /&gt;
keluarlah dari pikiranmu&lt;br /&gt;
jauhilah keinginanmu&lt;br /&gt;
berjalanlah pada kenyataan ini&lt;br /&gt;
sekarang ini, dan hanya disini&lt;br /&gt;
sekarang dan disini adalah niskala&lt;br /&gt;
inilah Kenyataan, tanpa ruang- tanpa waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sadarkah kamu ?&lt;br /&gt;
bahwa Tuhan yang kamu sembah,&lt;br /&gt;
masih ada di dalam pikiranmu yang adanya sebagai prasangkamu&lt;br /&gt;
karena Tuhan yang kamu yakini hanya kamu saja yang percaya&lt;br /&gt;
dan kamu hanya percaya pada Tuhan yang ada di dalam pikiranmu&lt;br /&gt;
itulah sebabnya kamu menolak Tuhan&lt;br /&gt;
yang datang dari pikiran lain, apalagi dari ajaran lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sadarkah kamu ?&lt;br /&gt;
bahwa kamu sesungguhnya belum tunduk pada Tuhan yang Nyata&lt;br /&gt;
karena kamu hanya tunduk pada Tuhan yang ada di dalam otakmu,&lt;br /&gt;
yang sesuai dengan konsepsi pikiranmu&lt;br /&gt;
kamu tidak menyembah Tuhan yang sebenarnya&lt;br /&gt;
karena hanya tunduk pada pikiranmu saja,&lt;br /&gt;
hanya percaya pada pikiranmu,&lt;br /&gt;
jadi pikiranmu itulah tuhan, &lt;br /&gt;
yang kamu sembah dan kamu patuhi.&lt;br /&gt;
Bangkitlah dan bebaskan dirimu,&lt;br /&gt;
dari berhala yang kamu ciptakan sendiri.&lt;br /&gt;
Patuhilah Tuhan yang Nyata, yang dipuji sanjung oleh semua umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan yang hanya dipuji sanjung oleh satu umat saja,&lt;br /&gt;
dan tidak oleh umat yang lainnya bukanlah Tuhan yang sebenarnya&lt;br /&gt;
itu hanyalah sebuah konsepsi&lt;br /&gt;
adanya hanya di dalam pikiran umat tertentu.&lt;br /&gt;
Bebaskan diri dari tuhan-tuhan yang terbatas,&lt;br /&gt;
yang kamu ciptakan dari pikiranmu sendiri,&lt;br /&gt;
karena sesungguhnya Tuhan yang ADA,&lt;br /&gt;
hanya Satu dan Satu Satunya yang dipuji sanjung semua umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya rahasia dirimu, Jati Diri dan Tuhan………., &lt;br /&gt;
kuncinya ada di dalam pikiranmu.&lt;br /&gt;
Karena pikiranmu adalah anugrah,&lt;br /&gt;
yang diberikan Tuhan kepadamu sebagai tongkat dan petunjuk,&lt;br /&gt;
untuk mengarungi perjalanan di Semesta Raya ini,&lt;br /&gt;
yang sekaligus yang membedakan kamu dengan binatang.&lt;br /&gt;
Kerbau bertanduk&lt;br /&gt;
Gajah berbelalai&lt;br /&gt;
Manusia berakal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal pikiranmu adalah kesaktianmu,&lt;br /&gt;
dia dapat menjadi penuntun bagimu, &lt;br /&gt;
jika kamu tahu bagaimana manfaat dan menggunakannya.&lt;br /&gt;
Sebaliknya jika kamu tidak tahu manfaat yang sebenarnya dan cara menggunakannya,&lt;br /&gt;
maka kamu akan terperangkap dan termakan olehnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu sudah dan sedang mengalaminya,&lt;br /&gt;
bagaimana pikiranmu yang telah dan sedang mempermainkanmu.&lt;br /&gt;
Tidakkah kau sadari,&lt;br /&gt;
bersumber dari manakah&lt;br /&gt;
seluruh keluh kesah dan kegelisahanmu?&lt;br /&gt;
Tidakkah kamu tahu,&lt;br /&gt;
berakar dari sumber manakah seluruh kecongkakan dan keangkuhanmu?&lt;br /&gt;
Kamu hanyalah sebuah permainan,&lt;br /&gt;
seperti bola yang terkadang dilempar ke atas dan terkadang ditendang ke bawah.&lt;br /&gt;
ego, pikiran dan keinginanmu itulah yang telah memperbudak dan mempermainkanmu.&lt;br /&gt;
Kamu tidak dapat berbuat apa-apa sebelum pikiranmu memutuskannya. &lt;br /&gt;
Kamu tidak sadar bahwa kamu telah menjadi budaknya.&lt;br /&gt;
Kamu hanya mengikuti apa yang sudah direncanakan olehnya,&lt;br /&gt;
dan menjadi kecewa dan menyalahkan diri jika gagal mencapai keinginannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SELAMATKAN DIRIMU DARI KEPICIKAN PIKIRANMU SENDIRI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama diturunkan ke dunia guna memperbaiki ahlak dan bhudi-pekertimu wahai manusia&lt;br /&gt;
Apa yang harus kamu perjuangkan,&lt;br /&gt;
adalah bagaimana agar ahlakul karimah dapat mendasar dan tegak di dalam dirimu, di dalam Hatimu dan mendasari Perbuatanmu.&lt;br /&gt;
Agama bukanlah sesuatu yang harus diperjuangkan dan dibela&lt;br /&gt;
Agama  yang berisi kebenaran tak butuh perjuangan dan pembelaan,&lt;br /&gt;
karena tak seorangpun dapat melenyapkan kebenaran. yang ditunjuk agama&lt;br /&gt;
Karena yang ada hanya Kebenaran tidak ada yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang ada hanyalah Kebenaran,&lt;br /&gt;
dan yang bathil ini tidak ada dalam Kenyataan ini.&lt;br /&gt;
Mungkin saja hanya ada dalam pikiranmu semata,&lt;br /&gt;
maka perjuangkan dan belalah dirimu dari pikiranmu yang bathil dan sesat,&lt;br /&gt;
dan siapa yang lebih mengetahui kebathilan,&lt;br /&gt;
kecuali dirimu sendiri dan semua kesesatan bersumber dari pikiranmu.&lt;br /&gt;
Maka kebathilanmu sendirilah yang harus kamu kikis dan kamu lenyapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ku anfusakum Wa’ahlikum naro “&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin kamu mengetahui kebathilan pikiran orang lain, &lt;br /&gt;
sedang kebathilan pikiranmu sendiri saja tidak tahu. &lt;br /&gt;
Lalu dengan apa kamu menuduh orang lain sesat,&lt;br /&gt;
dan sekali-sekali kamu tidak menuduh orang lain sesat ,&lt;br /&gt;
hanya karena kamu merasa benar sendiri.&lt;br /&gt;
Itulah kesombongan, itulah kebathilan, itulah kesesatan.&lt;br /&gt;
Apalagi jika kamu membuat kerusakan dan menindas yang lain,&lt;br /&gt;
karena merasa benar sendiri.&lt;br /&gt;
Pikiran punya dunia dan jalannya sendiri, &lt;br /&gt;
mulut punya kebiasaan dan tatakramanya sendiri.&lt;br /&gt;
Hati punya kedalaman dan caranya sendiri,&lt;br /&gt;
Perbuatan punya kebiasaan dan tujuannya sendiri,&lt;br /&gt;
pikiran dan hatimu boleh jadi benar menurutmu, &lt;br /&gt;
namun apa artinya jika mulutmu dan prilakukmu,&lt;br /&gt;
tidak berahlak dan tidak berbudi? &lt;br /&gt;
Menyakiti dan menindas orang lain,&lt;br /&gt;
yang sepaham dan segolongan denganmu?&lt;br /&gt;
Apakah kamu sudah benar-benar tahu akan Kebenaran Murni,&lt;br /&gt;
ataukah kamu hanya tahu dan percaya,&lt;br /&gt;
bahwa yang benar hanya yang ada dalam pikiranmu saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taat dan fanatic itu berbeda jauh,&lt;br /&gt;
Seperti cahaya dan kegelapan,&lt;br /&gt;
Keduanya tak dapat disatukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taat : &lt;br /&gt;
adalah fanatik kepada Kebenaran Murni yang Universal dan Kekal,&lt;br /&gt;
Sedangkan fanatik :&lt;br /&gt;
adalah taat dan kepatuhan kepada pikiranmu semata yang sangat subyektif dan sepihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama yang membawa Kebenaran diturunkan ke duniamu, &lt;br /&gt;
guna memperbaiki iman dan keyakinan,&lt;br /&gt;
di dalam hubungan vertikalmu dengan Tuhan Semesta Alam. &lt;br /&gt;
Juga memperbaiki akhlak dan tingkah lakumu secara horizontal didalam hubunganmu dengan sesama.&lt;br /&gt;
Camkan itu wahai manusia,&lt;br /&gt;
Jangan kamu merasa lebih dari lainnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KENYATAAN, PEMIKIRAN DAN KEBENARAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama diturunkan ke duniamu, sebagai Kebenaran,&lt;br /&gt;
untuk membawa kabar tentang Kebenaran,&lt;br /&gt;
untuk membedakan yang sungguh berbeda,&lt;br /&gt;
yang Benar dari kesesatan yang menyesatkan,&lt;br /&gt;
yang Nyata dari pernyataan yang dualistik dan taknyata. Maka perhatikanlah sungguh-sungguh,&lt;br /&gt;
Kenyataan dan bukan pernyataannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan akan tetap sebagai Kenyataan,&lt;br /&gt;
pernyataan akan tetap hanya pernyataan,&lt;br /&gt;
pernyataan bukanlah kenyataan&lt;br /&gt;
Sekalipun datangnya dari dan karena Kenyataan,&lt;br /&gt;
karena pernyataan hanyalah sekedar sederetan kata-kata belaka,&lt;br /&gt;
pernyataan hanyalah sebuah informasi atau ungkapan kata-kata,&lt;br /&gt;
pernyataan hanyalah suatu pendapat, suatu pemikiran,&lt;br /&gt;
pernyataan hanyalah suatu penilaian, yang eksistensinya tidak ada,&lt;br /&gt;
tidak eksis di dalam Kenyataan Tunggal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agama bagi seseorang memang benar-benar Nyata, karena ia mengalaminya.&lt;br /&gt;
Sedangkan bagi yang lainnya, &lt;br /&gt;
agama hanya sebuah pernyataan kalau baru mengetahui dan mendengarnya,&lt;br /&gt;
Ada perbedaan kwalitas antara mendengar atau mengetahui Kebenaran.&lt;br /&gt;
Melihat atau menyaksikan  Kebenaran dengan Mengalami Kebenaran.&lt;br /&gt;
Untuk yang hanya mendengar atau yang hanya melihat Kebenaran, masih dibutuhkan pembuktian dan pembenaran. &lt;br /&gt;
Sedangkan untuk yang mengalaminya, tidak lagi membutuhkan pembuktian dan pembenaran.&lt;br /&gt;
Karena Kenyataan itu sendiri yang telah membuktikan kebenaran dirinya.&lt;br /&gt;
Kebenaran itu begitu Nyata bagi subyek yang mengalaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana orang yang sakit.&lt;br /&gt;
Sakit yang dideritanya sangat Nyata dirasakannya begitu dalam dan menyentuh,&lt;br /&gt;
sehingga baginya tidaklah memerlukan pembuktian lagi apakah ia sakit atau tidak.&lt;br /&gt;
Namun bagi seorang dokter,yang hanya mendengarkan keluhannya,&lt;br /&gt;
maka apapun yang ia dengar dari pasiennya hanyalah sebuah pernyataan belaka,&lt;br /&gt;
sekalipun pernyataan itu dari pengalamannya yang Nyata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kemudian dokter melakukan penyelidikan dengan alat-alat, hanyalah sekedar membantu untuk melakukan pembenaran dan bukan pembuktian&lt;br /&gt;
Karena untuk membuktikan, ia harus mempunyai pengalaman serupa dan sama, jika di suatu hari sang dokter mengalami sakit yang serupa, maka ia telah membuktikannya, bahwa apa yang dulu dikeluhkan oleh pasiennya persis seperti apa yang ia alami saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi dokter, sakit yang ia alami adalah Kebenaran yang tidak perlu lagi pembenaran atau pembuktian, merasakan sakit itu sendiri sudah merupakan bukti tak terkatakan, adalah Kenyataan yang tak terelakan, dan pada saat yang sama dokter itu menyatakan pembenaran,&lt;br /&gt;
bahwa apa yang dikatakan oleh pasiennya dahulu tentang sakit yang dialaminya sungguh-sungguh sebuah Kebenaran. Pernyataannya sesuai dengan Kenyataan.&lt;br /&gt;
. &lt;br /&gt;
Jadi perhatikanlah !&lt;br /&gt;
Ada perbedaan kwalitas antara Kenyataan dengan Kebenaran&lt;br /&gt;
Ini namanya perbedaan eksistensial. Kenyataan itu sungguh eksis, sedangkan Kebenaran tidak eksis, karena Kebenaran hanyalah hasil sebuah Pembenaran. Namun Kebenaran akan menjadi eksis bagi orang yang juga mengalami pengalaman yang serupa, maka persamaan antara Kebenaran dan Kenyataan  adalah persamaan esensial. Oleh karena itu kamu harus sungguh-sungguh dapat membedakan yang sungguh-sungguh berbeda, baik secara eksistensi maupun secara esensi. Begitu pula kamu harus dapat mengambil persamaan analogis, tentang suatu Kebenaran baik secara eksistensi atau esensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebenaran hanyalah sebuah stempel&lt;br /&gt;
Kebenaran hanyalah sebuah penghubung, tali pengikat,&lt;br /&gt;
yang menyatakan benar atau tidak suatu pernyataan.&lt;br /&gt;
Jika suatu pernyataan sama sekali tidak terkait dengan Kenyataannya,&lt;br /&gt;
maka disebut terbukti tidak benar.&lt;br /&gt;
Jadi Kebenaran adalah persesuaian antara Pernyataan dengan Kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan adalah masalah Hati&lt;br /&gt;
Kebenaran adalah persoalan logika&lt;br /&gt;
Pernyataan adalah masalah pemikiran&lt;br /&gt;
Pikiran adalah cara kita berdialog&lt;br /&gt;
Pikiran adalah jalan raya, dimana kamu dapat berhubungan &lt;br /&gt;
Logika adalah hukum dan peraturannya&lt;br /&gt;
Hatilah yang paling menyaksikan da merasakannya&lt;br /&gt;
Hatilah yang membuktikannya&lt;br /&gt;
Logika hanya membenarkannya&lt;br /&gt;
Pikiran hanya menyatakannya&lt;br /&gt;
Mulut hanya mengatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikanlah&lt;br /&gt;
Kasus antara dokter dan pasien.&lt;br /&gt;
Bagi pasien, sakit yang dialaminya adalah Kebenaran yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.&lt;br /&gt;
Bagi pasien, sakit yang dideritanya adalah Kebenaran yang tak perlu lagi pembenaran dan pembuktian.&lt;br /&gt;
Inilah Kebenaran, lain halnya bagi seorang dokter, keluhan yang didengar dari seorang pasien hanyalah sebuah pernyataan dan bukan Kenyataan bagi dirinya, sehingga dokter harus melakukan pembenaran, dan pembuktian lebih dahulu sebelum memberikan penyembuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dokter menggunakan sejumlah alat-alat kedokteran, untuk melakukan pengecekan, namun alat-alat itu hanya mampu memberikan suatu pembenaran, untuk seorang dokter yang menyatakan bahwa pasien itu benar-benar sakit, namun bukanlah sebuah pembuktian, karena alat-alat itu tidak dapat memberikan pengalaman yang akurat sama, seperti apa yang diderita oleh pasien untuk dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Kebenaran itu masih saja sebuah Misteri &lt;br /&gt;
yang Kebenarannya hanya bisa diterima sebagai sebuah keyakinan ilmiah, diagnosa,&lt;br /&gt;
Namun hasilnya akan sangat berbeda bagi dokter, jika suatu saat dia menderita penyakit yang serupa sebagaimana yang dialami pasiennya . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia dapat dengan terang benderang membuktikan Kebenaran keluhan pernyataannya sang pasien, karena pada saat yang sama dokter telah menjadi pasien bagi dirinya sendiri, dan sekaligus menjadi dokter bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
Dokter dan pasiennya adalah satu kenyataan, ketika sakit, seorang dokter adalah pasien,sebaliknya ketika ia melakukan penyembuhan diri, sekalipun pasien adalah seorang dokter, maka dari sini diketahuilah bahwa seorang ahli seperti dokter, hanya mampu membenarkan pasien dan hanya pasien yang dapat membuktikan kebenaran pasien lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya pasien yang tahu pasien&lt;br /&gt;
Hanya Wali yang tahu Wali&lt;br /&gt;
Hanya Tuhan yang tahu Tuhan&lt;br /&gt;
Seorang dokter atau seorang ahli hanya mampu melakukan Pembenaran, dan bukan Pembuktian.  Oleh karena itu yang mereka miliki hanyalah Keyakinan dan Kepercayaan dan bukan Kepastian&lt;br /&gt;
Demikian pula di dalam Kebenaran Spiritual, pengalaman religius atau pengalaman spiritual seseorang, adalah Kebenaran yang Nyata yang tidak membutuhkan pembenaran dan pembuktian baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu tidaklah berhak dan sangat bodoh sekali, jika orang lain atau bahkan seorang ahli agama atau bahkan sebuah lembaga agama, menuntut sipenikmat yang memiliki pengalaman spiritual untuk membuktikan Kebenarannya.&lt;br /&gt;
Apa yang dialami penikmat adalah Kenyataan yang sangat dalam dan padat, dan bagaimana mungkin ia dapat mengungkapkannya ke dalam bahasa kata-kata, yang penuh keterbatasan dan multi makna?&lt;br /&gt;
Sekalipun dapat mengatakannya, maka Kenyataan yang dialaminya akan dianggap hanya sebagai pernyataan belaka, yang memiliki nilai dualitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang ahli agama atau bahkan sebuah lembaga riset agama sekalipun, tidak akan pernah dapat membuktikan Kebenaran penikmat mengenai pengalaman spiritualnya. &lt;br /&gt;
Kitab Suci hanyalah memberikan sedikit bantuan untuk melakukan pembenaran dan bukan pembuktian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana bagi seorang dokter, stetoskop dan teori kedokteran, hanyalah sekedar memberikan bantuan untuk sebuah pembenaran dan bukan pembuktian.&lt;br /&gt;
Pembuktian hanya bisa terjadi jika dokter menjadi pasien bagi dirinya.&lt;br /&gt;
Inilah Kebenaran Suprasubyektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran yang berhasil dicapai seorang dokter, seorang ahli agama atau pengamat, hanya dapat memberikan suatu keyakinan saja, dan bukan sebuah kepastian. &lt;br /&gt;
Kepastian hanya ada pada pasien atau penikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian yang mengherankan lagi adalah dengan keyakinan itu sering seorang ahli agama atau bahkan sebuah lembaga agama, berani dengan kata-kata pasti menyesatkan keyakinan orang lain baik seagama maupun lain agama. &lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin suatu keyakinan berani menyesatkan keyakinan lain, apalagi suatu kepastian penikmat, sedangkan kebenaran keyakinannya sendiri, belum bisa dibuktikan sebagai sebuah kepastian bagi dirinya ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya Kepastianlah yang berhak menentukan benar atau tidaknya suatu keyakinan.&lt;br /&gt;
Namun Kepastian tidak akan memberikan penilaian apapun terhadap keyakinan-keyakinan yang ada, yang berbeda. Karena sudah jelas semuanya, Kepastian adalah kenyataan, sedangkan Keyakinan adalah Pernyataan. Keyakinan adalah sebuah proses silogistik yang terjadi di dalam suatu pemikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana keyakinan Ibrahim yang terus berproses menaik,&lt;br /&gt;
dimulai dari meyakini bintang sebagai Tuhan,sampai meragukan matahari sebagai Tuhan, karena Matahari selalu datang dan pergi.&lt;br /&gt;
Ibrahim mencari Kepastian sebagaimana keyakinan seorang teoritikus atomic,&lt;br /&gt;
yang meyakini bahwa atomlah yang diakui sebagai benda terkecil dalam Semesta. &lt;br /&gt;
Namun keyakinan ini menjadi pudar, ketika ditemukan lagi ada partikel yang lebih kecil yaitu electron.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah telah menyimpan data-data, bagaimana berani dan konyolnya sebuah keyakinan menghakimi keyakinan lainnya.&lt;br /&gt;
Lebih konyol lagi jika sebuah keyakinan menghakimi Kepastian sebagai Kesesatan, sebagaimana yang pernah dialami oleh seorang Copernikus dan Galileo Galiley ,&lt;br /&gt;
yang tidak dapat membela Kebenaran dirinya dihadapan Hakim-hakin agama,&lt;br /&gt;
dan membiarkan dirinya tersiksa, dari pada harus mengatakan bahwa Kepastiannya yang menyatakan bahwa bumi itu bulat dan mataharilah yang menjadi pusat gerak bumi, sebagai pernyataan yang salah dan sesat.&lt;br /&gt;
Copernikus hanyalah satu diantara sekian juta manusia, yang memiliki Kepastian yang menjadi korban kesesatan orang-orang yang hanya memiliki keyakinan saja.&lt;br /&gt;
Lebih tepatnya kefanatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
========================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-8451378815618108577?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/pendekatan-tandava-nrtya-yang-supra.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-6465536350611526025</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-13T10:07:19.871-08:00</atom:updated><title>ABOUT TANDAVA NRTYA</title><description>&lt;b&gt;TANDAVA NRTYA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PUSAT &lt;b&gt;PENCERAHAN&lt;/b&gt; DIRI MELALUI PESTA PENCERAHAN MURNI UNTUK MERAYAKAN &lt;br /&gt;
KEMERDEKAAN DIRI MURNI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdirinya Pusat Pencerahan Murni &lt;b&gt;Tandava Nrtya&lt;/b&gt; berangkat dari kerisauan &lt;b&gt;spiritual&lt;/b&gt; seorang &lt;b&gt;Grand Master Destroyer&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Welldo Wnophringgo&lt;/b&gt; menyaksikan dan mendengar berbagai macam permasalahan dan keluhan yang muncul baik ditingkat individu yang sangat personal sampai dialur sosial kolektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan dan peranan agama-agama yang diharapkan mampu merampungkan permasalahan yang muncul dan bisa menjembatani kesenjangan sosial di berbagai jenjang lapisan masyarakat, nampaknya kewalahan dengan semakin merenggangnya kesenjangan keharmonisan baik intern, ekstern maupun intra umat beragama maupun penganut aliran kepercayaan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Wacana, penerangan maupun penjelasan yang lahir kemudian hanyalah bersifat pembelaan terhadap kebenaran dan kesucian ajaran oleh masing-masing penganutnya tanpa memberikan solusi tuntas terhadap disharmoni dan ketidakseimbangan yang terjadi di dalam kehidupan manusia yang ada disekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dilakukan oleh para pembela agama hanya melakukan penyanjungan terhadap  ajaran yang memang sudah mulya dan suci, namun sama sekali keagungan agama tak menyentuh terlalu dalam kejiwa pemeluknya sehingga nampak kesenjangan yang mencolok antara prilaku dan ucapan kebenaran yang disampaikan, malahan jauh dari tuntunan kebenaran esensi murni ajaran agama, sehingga hanya memberikan permasalahan-permasalahan baru yang lebih rumit dan tak pernah tuntas. Perbedaan keyakinan, agama, faham dan pandangan menjadi penyulut terjadinya disharmoni sosial dan kegalauan personal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sebagai Pusat Pencerahan Murni kehadirannya diharapkan mampu memberikan sumbangsihnya untuk ikut melakukan penjernihan terhadap masalah yang muncul sehingga mampu melihat dengan jernih dan obyektif akar dan sumber asal semua permasalahan dan kericuhan yang muncul dan mencoba untuk menjawab setiap persoalan-persoalan yang tidak mampu dijawab oleh Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya berdiri tidak berdasarkan agama apapun dan bukan pusat pengembangan agama tertentu dan juga bukan sebuah aliran kepercayaan. Tandava Nrtya tidak berkepentingan terhadap salah satu agama atau semua agama, namun lebih banyak fokus kepada kepentingan-kepentingan manusia secara utuh dengan seluruh keinginan dan persoalan yang muncul di dalam perjalanan hidupnya mencapai kebahagiannya.&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya tidak ingin mengambil alih peranan dan tugas agama di dalam teknis dan aturannya yang berupaya mengajarkan pentinganya memiliki sebuah “Keyakinan” oleh setiap individu umat manusia. Bukan tugas dan kewajiban Tandava Nrtya dan para Pelakon untuk membangun pentingnya sebuah “ Keyakinan” pada setiap umat apalagi mengubahnya. Tandava Nrtya hanya memberikan kemudahan dan kejernihan bagi setiap individu sehingga dapat melakukan koreksi dan pembenahan diri terhadap bangunan keyakinannya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sama sekali tidak meragukan kebenaran dan kesucian semua agama ansich yang sudah tertulis selama berpuluh tahun dan bahkan berabad-abad di dalam Kitab Sucinya masing-masing. Tandava Nrtya hanya membantu memberikan perangkat lunak untuk dapat melihat kembali setiap hasil langkah pendekatan manusia terhadap Tuhan atau agama yang berupa Keyakinan maupun hasil pendekatan manusia terhadap alam maupun dirinya yang berupa Ilmu Pengetahuan dan Filsafat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya sangat peduli terhadap kwalitas setiap keyakinan yang ada di dalam setiap individu personal maupun sosial kolektif, karena keyakinan adalah akar yang tumbuh di dalam pikiran manusia yang batangnya memasuki ruang hati manusia yang selanjutnya melahirkan sikap dan gaya hidup tertentu dan pada akhirnya akan mewujudkan  tingkah laku dan perbuatan nyata yang bersentuhan secara sosial dengan kepentingan dan kemerdekaan hidup yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu disadarai dan dicermati bahwa seluruh persoalan dan permasalahan yang muncul di dalam kehidupan individual maupun sosial, dimulai dari Krisis Identitas dan Keyakinan diri sampai kepada tindak kekerasan karena faktor tajamnya perbedaan kepentingan dan pandangan masing-masing pihak yang mana persoalannya tak pernah selesai secara tuntas, semuanya berakar dari keyakinan yang tertanam di dalam jiwa-jiwa yang sedang mencari arah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya hanya mencoba untuk membantu setiap individu untuk menemukan sendiri jawabannya terhadap permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan, filsafat atau agama apapun. Tandava Nrtya hanya membantu setiap individu yang membutuhkannya untuk mencapai Kejernihan Dirinya sebagaimana apa adanya sehingga mampu melihat seluruh persoalan di dalam kehidupan dengan mata dan hati yang jernih tanpa kepentingan apapun..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi dan lagi, Tandava Nrtya bukanlah Pusat Pengajaran apapun apalagi ajaran agama. Tandava Nrtya bukanlah sebuah ajaran melainkan sebuah laku dan gaya hidup yang sehat dan merdeka secara holistik. Sekalipun Tandava melakukan pengupasan terhadap ajaran atau istilah-istilah popular dari salah satu agama bukan dalam rangka untuk mengajarkan agama lebih dalam, namun lebih ditekankan pengupasan agama atau istilah itu untuk mendorong setiap individu untuk lebih memahami keberadaan Dirinya di atas Jagad Semesta Raya ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula memang sengaja Tandava Nrtya menggunakan istilah-istilah agama karena melihat ada pengertian yang lebih mendalam dan tepat dari pada pengertian-pengertian yang sedang marak berkembang di dalam masyarakat, sehingga perlu diperhatikan ada perbedaan pengertian secara terminologis istilah-istilah yang dipakai Tandava Nrtya dengan pengertian pengertian yang lain. Jadi jangan membuat perbandingan dengan terminologi lainnya, jika tidak akan menjadi bingung karenanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tandava Nrtya mengambil istilah-istilah dari ajaran Hindu, Buddha, Kristen atau Islam bukan berarti ingin membuat perbandingan atau sinkretisasi, melainkan ingin memperlihatkan gambaran dan menarik perhatian anda pada suatu kenyataan bahwa pada hakikatnya Kebenaran bisa muncul dipelbagai macam dan bentuk ajaran agama dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tandava Nrtya mengutif kata-kata dari agama tertentu atau ajaran-ajaran lainnya bermaksud memberikan makna yang lebih dalam, dengan demikian dapat memberikan arus perubahan terutama untuk mereka para penganut ajaran agama yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya menganjurkan kepada anda sekalian, tidaklah perlu mencari ke tempat lainnya untuk memperoleh Kebenaran. Tandava Nrtya akan memperlihatkan kepada anda bagaimana memasuki lebih dalam lagi ke dalam ajaran agama yang sudah anda miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya melalui teknik laku dan methodologinya dapat dipandang sebagai sebuah uraian dan jalan dengan cara yang pintas dan unik. Cara yang baru sekaligus lama, cara yang seksama dan istimewa dengan keunggulan dan kelebihannya dengan yang lainnya di zaman ini tentang Kebenaran Hakiki, yaitu sebuah Hakikat yang ditunjuk dan menjadi arah oleh semua agama dan ajaran leluhur, yang tidak muncul dan ada dari Sumber external di luar, namun dari Satu Sumber Internal yang terang tanpa diterangi yang sudah ada di dalam dirimu sendiri (inner source). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Wejangan Murni Pencerahan Tandava Nrtya tidak berisi uraian-uraian yang spekulatif sebagaimana teori-teori ilmiah dan filsafat ( yang hanya merupakan hasil pendekatan human secara rasional terhadap Kenyataan yang diletakkan hanya sebagai obyek yang terpisah dari Subyek pengamat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya mengantarkan setiap individu untuk mendekati Kenyataan di dalam pengalaman murni apa adanya. Pendalaman secara Supra Subyektif Meta Ilmiah adalah pendekatan Tandava Nrtya yang berbeda kwalitas kebenarannya dengan hasil pengamatan dan pendekatan rasional yang obyektif ilmiah maupun yang subyektif partial individual. Pendalaman Supra Subyektif Meta Ilmiah adalah sebuah pendekatan dimana tidak ada keterpisahan antara Subyek dengan Obyek bahkan tidak ada dualitas subyek-obyek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya adalah sebuah Laku Pencerahan dan Pencerahan Laku, atau lebih tepatnya  sebuah Gaya Hidup (Style of Life) yang Sehat, Bahagia dan Merdeka secara total holistik. Merupakan Teknologi dan Methodelogi Pencerahan Murni yang menakjubkan untuk menciptakan Keselarasan dan Penyempurnaan Diri di seluruh Sistem Kehidupan, Organikal, Khemikal, Phisikal, Mental, Intelektual, Emosional dan ditingkat Spiritual yang dapat mengembangkan kemampuan dan kecerdasan dasar seseorang sehingga dapat melakukan pengendalian diri terhadap potensi-potensi kreatif Rahmani dan energi-energi produktif Rahimi :baik yang ada di dalam diri individu yang mikrokosmik maupun yang terbentang di alam semesta secara makrokosmik, secara Skala dan Niskala, sehingga tercapai keselarasan kosmik dengan dirinya sendiri secara individual atau dengan lingkungan masyarakatnya secara sosial maupun dengan lingkungan alamnya secara natural.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laku Pencerahan Murni Tandava Nrtya mengingatkan kita bahwa Kesehatan, Kebahagiaan  dan Kemerdekaan adalah sebuah pilihan yang lebih disukai oleh sistem tubuh, jiwa dan Ruh. Laku Pencerahan Murni adalah suatu gerak kosmik esoterik yang paling dalam yang merupakan luapan ekspresi Cinta-Diri Murni yang mengejawantah dalam bentuk ragam gerakan yang indah Tarian Kosmik Esoterik yang mempesona dan elastik penuh kharisma Ruhany adalah manifestasi kehadiran Ruh Murni atau Atma Sejati di dalam keselarasan Raga-Jiwa-Ruh Diri individu dengan Ruh Diri Universal Supreme Being.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui Tarian Murni ini sehingga tercapai Keselarasan Kosmik, menyatunya Tarian dengan Sang Penari yang Agung menghasilkan getaran energi kosmik yang penuh dengan kenikmatan Bathin dan kelezatan Ragawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tandava Nrtya adalah “ Kunci Rahasia “ sekaligus  “ Jalan Pintas “ untuk sebuah Kebangkitan Ruh  ( Awakening dan Awareness) untuk menempati posisi dan kondisi Fitrah, sebuah Kesadaran Murni Diri yang Merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena demikian sudah jelas dan pasti niat baik maksud dan tujuan mulia tidak akan mudah dan mengalami kemajuan yang pesat tanpa adanya dukungan oleh pihak-pihak lain yang terkait, yang merasa terlibat dan bertanggungjawab atas kedamaian, kenyamanan, kemerdekaan di dalam kehidupan bersama secara sosial politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dukungan Moral dan Spiritual maupun phisik material dari berbagai pihak dan instansi maupun lembaga baik formal maupun non formal sangat diharapkan demi terlaksana dan terwujudnya cita-cita mulya dan luhur demi kebaikan, kedamaian, kebahagiaan dan kebebasan individu umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar Spiritual dari Kami silahkan baca Artikel2 yang ada di kolom blogroll&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ACARA LAKU MEDITASI TANDAVA NRTYA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. KAMIS MALAM PERTAMA&lt;br /&gt;
( Malam Jum at Pahing / Sukra pahing )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Latihan Nataraga&lt;br /&gt;
1. Sujud Mentari&lt;br /&gt;
2. Bangau Sembah &lt;br /&gt;
3. Kursi Kayangan &lt;br /&gt;
4. Panah Arjuna&lt;br /&gt;
5. Sawung Lenggah&lt;br /&gt;
6. Duduk Teratai&lt;br /&gt;
7. Sangga Buana&lt;br /&gt;
8. Kala Sungsang &lt;br /&gt;
9. Duyung Santai Goyang Ekor&lt;br /&gt;
10. Weluku Sunsang&lt;br /&gt;
11. Sunggi Bumi&lt;br /&gt;
12. Jembatan&lt;br /&gt;
13. Kayang&lt;br /&gt;
14. Terkapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Laku Tarian Suci Esoteric Tandava&lt;br /&gt;
1. Tarian Esoterik Metodik&lt;br /&gt;
2. Tarian Esoterik Metodik Sambung Rasa&lt;br /&gt;
3. Tarian Esotorik Kondisional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D Bersyukur&lt;br /&gt;
E Meditasi Assyifa Sebagai Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
II. KAMIS MALAM KEDUA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Wage / Sukra Wage )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Latihan Nataraga bersamaan dengan Nataambekan&lt;br /&gt;
1. Sujud Mentari, dengan Pernafasan Zigzag.&lt;br /&gt;
2. Duduk Buddha, dengan Pernafasan Udara.&lt;br /&gt;
3. Duduk Teratai, dengan Pernafasan Matahari.&lt;br /&gt;
4. Duduk Tahiyat Awal, dengan Pernafasan Bumi.&lt;br /&gt;
5. Duduk Tahiyat Akhir, dengan Pernafasan Pohon.&lt;br /&gt;
6. Duduk Bocah, dengan Pernafasan Gunung Berapi.&lt;br /&gt;
7. Sunggi Bumi, dengan Pernafasan Hujan.&lt;br /&gt;
8. Kalasungsang, dengan Pernafasan Api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Demo Pencerahan dan Pengosongan Diri&lt;br /&gt;
D. Bersyukur&lt;br /&gt;
E. Meditasi Assyifa sebagai Penutup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
III. KAMIS MALAM KETIGA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Legi / Sukra Umanis )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 21.30 – sampai selesai&lt;br /&gt;
Dengan Acara Khusus&lt;br /&gt;
A. “Pesta Pencerahan Diri”&lt;br /&gt;
dengan berpakaian Kain Kafan Jati Diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. “Pesta Penghancuran Ego”&lt;br /&gt;
dengan berpakaian Kain Kafan Pencerahan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. “Pesta Kepasraham Diri”&lt;br /&gt;
dengan berkain Kafan Pencerahan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IV. MALAM JUM’AT KEEMPAT&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Pon / Sukra Pon )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Meditasi Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Latihan Dasar Nataraga   &lt;br /&gt;
1. Pernafasan Huwalla&lt;br /&gt;
2. Senyum Assyifa&lt;br /&gt;
3. Putar Leher&lt;br /&gt;
4. Cium Lutut&lt;br /&gt;
5. Duduk Kaki Teratai&lt;br /&gt;
6. Duduk Angkat Kaki&lt;br /&gt;
7. Duduk di atas Kaki&lt;br /&gt;
8. Duduk di atas Tumit&lt;br /&gt;
9. Minum Kopi&lt;br /&gt;
10. Berpasangan menggergaji&lt;br /&gt;
11. Bertolakan punggung&lt;br /&gt;
12. Duduk Ayam&lt;br /&gt;
13. Gaya Merak&lt;br /&gt;
14. Sangga Buwana&lt;br /&gt;
15. Kala Sungsang&lt;br /&gt;
16. Duduk di langit&lt;br /&gt;
17. Panah Arjuna&lt;br /&gt;
18. Sujud Mentari&lt;br /&gt;
19. Kayang&lt;br /&gt;
20. Meremas Langit&lt;br /&gt;
21. Ancel Langit&lt;br /&gt;
22. Duyung Santai Goyang Ekor&lt;br /&gt;
23. Weluku Sungsang&lt;br /&gt;
24. Sunggi Bumi&lt;br /&gt;
25. Jembatan Ayu&lt;br /&gt;
26. Gendewa&lt;br /&gt;
27. Terkapar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Laku Tarian Esoterik Tandawa&lt;br /&gt;
1. Tarian Esoterik Methodik&lt;br /&gt;
2. Tarian Esoterik Met. Sambungrasa&lt;br /&gt;
3. Tarian Esoterik Kondisional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Bersyukur&lt;br /&gt;
E. Meditasi Penutup Assyifa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
V. MALAM JUM’AT KELIMA&lt;br /&gt;
( Malam Jum’at Kliwon / Sukra Kliwon )&lt;br /&gt;
Mulai Jam 20.00 – 24.00&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Setiap Malam Jum’at Kelima ada acara khusus dari rumah ke rumah Pelakon Tandavan yaitu sebagai  AJANG BAGI RASA&lt;br /&gt;
A. Curahan Hati (Curhat)&lt;br /&gt;
B. Studi Kasus Pencerahan&lt;br /&gt;
C. Sumbang dan Sambung Rasa&lt;br /&gt;
D. Wejangan Suci&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Jadwal Acara&lt;br /&gt;
A. Meditsai Pembuka Kwan Im&lt;br /&gt;
B. Senyum Assyifa&lt;br /&gt;
C. Ajang Bagi Rasa&lt;br /&gt;
D. Bersyukur &lt;br /&gt;
E. Transfer Energi Assyifa&lt;br /&gt;
===================&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-6465536350611526025?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/tandava-nrtya.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-2952434305515323884</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:22:19.209-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>ZAMAN KEBODOHAN</title><description>Ilmu dan teknologi setiap saat mengalami perubahan yang tentunya dikatakan semakin canggih dan super moderen, yang siap akan memanjakan gerak gerik manusia dalam menguasai dunia dan memenuhi egonya. Dunia terasa semakin sempit dan kecil karena dengan mudahnya dapat dilihat lewat media bahkan dikunjungi langsung dalam hitungan menit atau jam. Sungguh zaman kemajuan yang luar biasa dari ukuran persepsi manusia yang menyebut dirinya dengan manusia moderen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di abad super canggih ini manusia telah banyak berkreasi guna mengungkap rahasia alam semesta. Banyak sudah teori dan hukum sebab akibat yang telah diketahui dan diungkapnya. Berbagai penemuan dan penciptaan teknologi seakan tak pernah henti sebagai ekspresi salah satu sifat dasar manusia yang selalu ingin tahu.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dari sudut pandang yang rasional mestinya kita akan semakin baik demikian pula alam semesta tempat kita hidup. Namun apa yang kita saksikan dari menit ke menit, jam ke jam dan hari ke hari, mungkin kita sepakat hidup di zaman ini terasa tidak nyaman, was-was dan selalu gelisah akan terjadinya kemurkaan alam yang sering terjadi akhir-akhir ini maupun masa depan yang terasa diliputi awan gelap baik untuk kita saat ini maupun generasi mendatang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang banyak faktor yang mempengaruhi dan mungkin sudah menjadi kehendak Hyang Khaliq. Bila dipandang dari sudut rasional mestinya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menghasilkan sesuatu yang berbanding lurus, namun kenyataannya kondisi alam dan kehidupan sepertinya berbanding terbalik. Ilmu dan teknologi semakin canggih namun alam dan segala isinya semakin rusak. Tidak perlu disebutkan disini tentang kerusakan tersebut, mari kita tengok ke dalam diri kemudian pandanglah ke luar dan tatap apa yang terjadi di sekitar kita. Mungkin kita menyikapinya berbeda-beda tergantung sedalam apa kita mampu melihatnya ke dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin benar sebagian pendapat orang yang mengatakan, dunia ini memang merupakan rumah sakit gila terbesar. Dalam artian positip sebagian gila terhadap swadharmanya, namun sebaliknya sebagian besar gila akan kesenangan duniawi. Namun yang terakhir ini tentu berpotensi besar akan menjadi gila benaran. Semuanya itu tentu ada faktor penggeraknya yaitu keinginan yang melahirkan nafsu. Dan itu wajar adanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan/Hyang Widhi yang paling tinggi derajatnya dan dengan egonya akan berusaha menaklukan sesuatu yang berproses mengikuti irama perputaran alam semesta. Kita selalu berebut kesempatan, ibarat pisang goreng yang baru disuguhkan, dengan cekatan tangan-tangan kita mengambilnya karena takut nggak kebagian dan bila perlu melahapnya cepat-cepat biar dapat mengambilnya lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah gambaran sebagian besar kita saat ini yang mementingkan prinsip-prinsip hukum dagang dan menyusutnya rasa berbagi dalam segala hal. Pada hal kita juga sadar yang namanya jadi manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa bantuan yang lainnya. Memang demikianlah adanya setiap peluang akan selalu menjadi rebutan dan setiap kesempatan juga selalu dikurasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sekali lagi hal tersebut wajar namun sesudahnya sulit untuk berbagi. Malangnya lagi hal ini telah merambah segi-segi kehidupan yang lainnya sampai-sampai kebebasan yang paling hakikipun sulit untuk didapat. Lihat saja hampir sebagian besar telah menggunakan hukum rimba, dengan berlindung dibalik kebenaran. Pada hal kebenaran yang dipahaminya hanyalah sebuah persepsi sebagian pihak yang belum tentu diterima pihak lainnya. Sehingga yang lemah terpinggirkan dan semakin terhimpit, tertekan dalam segala hal dibawah kekuasaan tirani mayoritas. Ironis memang di zaman yang serba moderen ini kebebasan hakikipun justru menjadi barang langka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kemampuan meta phisik ilmiah manusia moderen telah menciptakan banyak aturan maupun hukum untuk mengatur komunitasnya, namun sayang sebagian besar hanya memihak kelompok yang menguntungkan saja. Apalagi dalam pelaksanaannya penuh dengan intrik kemunafikan sehingga lama kelamaan menimbum kerak yang justru menjadi racun bagi semuanya. Akhirnya berakibat fatal karena bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum alam yang bersandar kepada keseimbangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia yang katanya paling beradab di muka bumi ini tentu tidak akan tinggal diam sampai di sini. Sekali lagi namanya manusia akan terus berusaha mencari kebebasan dengan caranya sendiri sampai ajal dijemput. Walaupun kebebasan yang dicari dan didapatnya menurut pemahaman masing-masing. Bila kita saksikan dan rasakan apa adanya ternyata impian yang diidamkan hanyalah ilusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang yang kaya harta duniawi bathinnya sengsara oleh kerterikatan hartanya, apalagi orang miskin harta menjadi sengsara lahir bathin karena terpinggirkan dan kepapaannya. Terus kebebasan model bagaimana yang kita cari? Tergantung pribadi masing-masing dalam memahami kebebasan yang didambakannya. Namun sayang konsep kebebasan yang diharapkan sebagian besar diwujudkan pada zaman ini hanya terfokus pada kesenangan duniawi yang justru melahirkan ketakutan, was-was dan ketertekanan serta keterikatan yang amat kuat. Pertanyaannya apakah kita semakin canggih atau semakin bodoh?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak konsep kebebasan yang dipahami diantara kita yang akhirnya melahirkan persepsi yang banyak pula. Memang banyak kebebasan menurut tujuannya, namun sayang dan sekali lagi sangat disayangkan kebebasan yang digapainya sebagian besar bertumpu kepada hal-hal yang sifatnya duniawi dulu baru berniat mencari kebebasan hakiki. Celakanya apabila tujuan duniawinya tidak kesampaian atau ajalnya duluan dijemput maka sirnalah tujuan akhirnya. Jadi sebagian besar waktu kita untuk berebut bila perlu bertengkar serta saling sikut hanya untuk mengejar ilusi dan kita lupa bahwa alam semesta selalu berproses dalam keseimbangannya, seperti memuainya suatu benda yang hanya berubah bentuk namun massanya selalu tetap. Kalau demikian halnya buat apa kita mesti berebut ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tragis memang melaksanakan suatu pekerjaan yang sia-sia. Mungkin saatnya kita menoleh kepada makhluk yang lebih rendah dari kita, seperti contoh binatang. Lihatlah kesehariannya bila mereka sudah cukup makan dia tidak akan membuat kegaduhan, malah rukun sambil bercengkrama. Namun beda dengan kita yang mengaku makhluk yang mempunyai derajat paling tinggi, justru sudah kenyang tujuh turunan malah menjadi-jadi dan ingin menguasai semuanya. Sekali lagi memang ironis dan tragis di era kesejagatan yang super moderen ini. Mari kita simak wejangan dibawah ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah bayi manusia ketika lahir ke dunia&lt;br /&gt;
Apalagi berjalan, merangkakpun tak mampu&lt;br /&gt;
Begitu pula ketika makan dan minum&lt;br /&gt;
Selalu menunggu tangan lain yang menolongnya&lt;br /&gt;
Tidak seperti anak sapi atau anak harimau, baru lahir sudah bisa berlari,&lt;br /&gt;
dan mencari susu induknya untuk minum&lt;br /&gt;
Itulah kodrat&lt;br /&gt;
Bahwa manusia bukan sejenis makhluk individual,&lt;br /&gt;
yang bisa hidup sendiri tanpa bantuan yang lain&lt;br /&gt;
Sebagaimana kehidupan binatang&lt;br /&gt;
Manusia tidak dapat hidup bahkan berkembang,&lt;br /&gt;
tanpa adanya bantuan tangan-tangan lain&lt;br /&gt;
Manusia adalah makhluk sosial, yang hidup dan pertumbuhannya senantiasa dilalui lewat bersosialisasi&lt;br /&gt;
Bersosialisasi cara hidup saling tolong-menolong adalah tradisi&lt;br /&gt;
Saling mengingatkan adalah budayanya&lt;br /&gt;
Saling menyayangi adalah agamanya&lt;br /&gt;
Welldo Wnophringgo&lt;br /&gt;
Bahasa sederhana dari wejangan seorang bijaksana tersebut mestinya telah membuka mata hati kita untuk saling menolong dan mengasihi, namun kini hakekat itu telah jauh kita tinggalkan mungkin sudah dianggap usang dan kuno. Kita sering mendengar ceramah, dharma wacana, baca buku baik tentang duniawi maupun sorgawi, namun ibarat angin semilir yang menghibur hati lara sesaat kemudian lewat begitu saja tanpa bekas digilas tuntutan hidup yang penuh dengan illusi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sibuk berebut illusi ibarat makanan enak di mulut namun perut yang menanggung derita dan sekali lagi derita yang didahului derita phisik kemudian phsihik atau sebaliknya. Kita sibuk bicara konsep yang melahirkan persepsi sendiri-sendiri yang selalu terbalut dengan kepentingan dan kemunafikan. Sulit memang mencari kejujuran dan kebenaran saat ini karena telah terkontaminasi oleh banyak kepentingan dan kesepakatan. Kita sadar bahwa kejujuran dan kebenaran hakiki bukanlah kesepakatan, meskipun kita tahu bahwa kejujuran dan kebenaran adalah landasan dalam mewujudkan kebebasan. Kejujuran dan kebenaran hanyalah sebuah pernyataan untuk mengungkapkan kenyataan apa adanya. Oleh karena demikian marilah kita cari kenyataan itu di relung hati kita masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ayo baca artikel selamjutnya klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/we-are-one-one-only-one.html"&gt;di sini &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-2952434305515323884?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/zaman-kebodohan.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-3513288432133601861.post-9203191855923632151</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 00:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-13T10:22:19.210-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pencerahan Suci</category><title>AKU TERSESAT DAN MENYESATKAN</title><description>Keseharian aku dalam beberapa warsa yang lalu selalu merasa rendah diri dan kadang-kadang tinggi hati bila berhadapan dengan teman-teman yang berlainan agama atau kepercayaan lainnya. Apalagi lawan bicaranya menyombongkan agamanya dan merendahkan agama yang saya peluk. Waduh sebel banget, ingin rasanya berontak bila perlu baku hantam terhadap lawan bicara. Demikian pula halnya dalam nonton TV, begitu ada canel yang menyiarkan agama orang lain serta merta aku memindahkan canel-nya. Alergi rasanya bila melihat maupun mendengarkan apa yang disampaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Gejolak pikiran yang mengakibatkan kebencian teramat sangat bila ada orang yang mengagung-agungkan agamanya dan secara implisit merendahkan agama yang aku anut. Perasaan ini aku pendam begitu lama, benci bercampur dendam terhadap orang lain yang beda agama atau kepercayaan. Aku yakin bahwa agamakulah agama dari Tuhan dan sempurna serta pasti akan mengantarkan aku ke jalan yang benar dan masuk Syurga. Keyakinan inilah yang kadang-kadang membuat aku menjadi tinggi hati. Penampilan aku menjadi eksklusif, terbatas pada orang-orang yang seiman dan seagama dan yang lainnya adalah manusia-manusia munafik, najis dan sesat, yang sedapat mungkin dijauhi agar tidak mempengaruhi imanku. Begitulah keseharian aku di kala itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika aku berjumpa dengan seseorang yang berpenampilan apa adanya, sederhana lain dari pada yang lain, tutur katanya yang lemah lembut membuat hatiku sejuk. Kepada beliaulah aku menumpahkan unek-unek selama ini. Sebagai penghargaan atas kebaikan beliau dan beliau sendiri tidak keberatan, aku langsung memanggilnya Guru dan berlangsunglah percakapan antara Guru dengan aku seperti berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Guru, kenapa saya selalu memandang bahwa kebenaran dalam agamakulah yang paling sempurna dibandingkan agama atau kepercayaan lainnya. Bagaimana Guru, pemahaman saya yang demikian. Pada hal saya tahu semua agama diturunkan oleh Tuhan yang satu adanya;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Kamu belum memahami agamamu dengan benar. Masih gelap gulita bagi kamu. Lebih baik kamu diam dan renungkan dalam hati, kalau memang kamu belum mengenalnya secara mendalam. Pandangan kamu selama ini bisa menjadi duri dalam tubuhmu yang sakitnya kamu rasakan sepanjang hidupmu;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Lho kenapa begitu Guru? Aku terdiam sejenak setelah bertanya demikian. Pada hal aku selama ini telah berupaya keras untuk memahami dan melaksanakan ibadah agama yang saya anut;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Kamu semestinya tidak punya praduga yang demikian. Bila kamu sampai berbuat anarkhis kepada saudaramu yang beda agama maupun keyakinan, apakah kamu ingin disebut pahlawan pembela agama dan kebenaran? Kamu hanya sebagai budak hina dari nafsu dan egomu sendiri, para pemuja Nafsu dan Ego yang taat. Kamu selama ini dikendalikan oleh ego yang pengecut tanpa mau membuka hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Aku termenung selesai Guru berucap seperti itu, ada rasa gejolak dalam dadaku, bahwa apa yang saya harapkan dari jawaban Guru akan mendukung sikap saya, ternyata bertolak belakang. Kemudian Guru kembali mengingatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Aku yakin masih banyak diantara kamu yang memiliki jiwa pemberani dan satria yang berani melindungi dan mengayomi sesama saudara meskipun beda keyakinan atau agama, dengan tetap waspada terhadap diri sendiri melalui pengendalian diri. Mewaspadai diri dan mengendalikan dirimu sendiri adalah keutamaan hakiki dari pada mewaspadai dan mengendalikan orang lain. Bahkan kamu telah menyakiti hatimu sendiri bila selalu berpraduga negatif terhadap orang lain yang beda keyakinan. Kamu telah menghianatinya, kamu korbankan bagi kepentingan pikiranmu yang sempit, picik dan bebal. Pemimpi yang tidak sadar akan dirinya, kamu tergiur oleh Syurga harapanmu yang kamu bangun didalam mimpi burukmu. Kamu tidak akan mendapatkan apa – apa, apalagi Syurga, Cinta Kasih Tuhan kecuali rasa benci yang bertengger selamanya dalam dirimu;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Aku terdiam seribu bahasa, beliau serius menasehatiku, barangkali telah lama beliau memendam perasaan ini, karena selama ini banyak kasus-kasus yang berlatar agama maupun keyakinan yang memicu terciptanya suatu kondisi yang jauh dari tujuan hakiki dari berbagai agama/keyakinan yang ada. Mungkin baru dalam kesempatan inilah beliau mencurahkannya. Kemudian Guru melanjutkan nasehatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Bila kamu masih mempunyai praduga yang memandang rendah agama lain, sebaiknya kamu diam dan menghormati saudara kita yang beda agama/keyakinan. Dan bila kamu melakukan penghinaan sama saja kamu telah dan nyata – nyata menodai dan merendahkan keyakinanmu. Karena ego dan kepicikan, kecongkakan dan kesombonganmu mata dan hatimu menjadi buta dan bebal. Sesungguhnya kamu tidak mematuhi Tuhan yang sebenarnya, kecuali egomu. Kamu tiada lain hanyalah seorang pemuja dan pengikut yang buta dari nafsu dan pikiranmu sendiri. Tak ada tempat yang layak dalam dirimu cinta dan kasih sayang sehingga tak ada hati dalam dirimu, kau gempur saudaramu sendiri dan kau hinakan saudara sebangsamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Aku lagi-lagi terdiam, merenungkan ucapan Guru yang demikian dan langsung melakukan introspeksi diri, apa benar aku selama ini tak punya rasa kasih sayang, kemudian aku kembali bertanya. Kalau demikian Guru apa yang mesti saya lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Jika semua orang menjadi pengecut, jika semua orang berdiam diri tidak bergeming sedikitpun untuk melindungi yang lemah melerai yang kuat dan mengendalikan kecongkakannya apakah ini permasalahan sederhana? Jika kamu semuanya menjadi buta, jika kamu semua tak punya hati, jika kamu semua tak punya nyali untuk mencapai Kemerdekaan adalah permasalahan bersama yang harus kamu tuntaskan bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi demikian ya Guru, saya semestinya terlebih dahulu mempelajari, memahami dan menghayati dalam-dalam agama yang dipeluk agar rasa kasih sayang tumbuh dan peduli akan orang lain serta membuang jauh-jauh praduga negatif terhadap agama/keyakinan orang lain, begitu kan Guru. Terus yang mesti menyatakan suatu agama atau keyakinan berada di jalan Tuhan, siapa Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Masalah Tuhan dan keyakinan seharusnya Tuhan sendiri yang harus menjadi Hakim Agung karena hanya Dia yang tahu Siapa Dirinya. Maka serahkanlah semua keputusan kepadaNya. Perbuatanmu yang merugikan orang lain mesti diadili seadil – adilnya. Siapapun juga diantara kamu yang buta dan tak peduli kepada kefasikan yang ada di depan matamu maka sesungguhnya yang terjadi kejahatan itu telah memasuki dirimu yang telah berubah menjadi ketakutanmu. Ketahuilah olehmu bahwa semua kejahatan berawal dan berasal dari ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi ketakutan itulah penyebab utamanya ya Guru? Memang kami merasa takut eksistensi kami terganggu, apalagi selama ini sudah mapan dan kami ingin mengajegkannya, makanya kalau ada paham lain yang muncul, kami takut akan terjadi gejolak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Ketakutan ini pulalah yang sedang menjangkiti pikiranmu dan merasuki semua pikiranmu sebagai iblis yang menguasai dirimu. Apakah kamu masih punya mata dan hati ? Apakah kamu masih dapat berpikir positif dan logis yang membangun? Apakah kamu masih mampu bertindak adil dan beradab? Apakah kamu sudah kehilangan hatimu? Atau apakah kamu sudah tak kenal cinta? Atau Hatimu memang sudah diganti dengan hati Serigala yang buas? Sedang sebuas – buasnya Serigala masih kenal dengan anak – anaknya, masih sayang dengan saudaranya dan masih menghormati bangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Begini Guru, apa yang saya sampaikan, begitulah keyakinan saya yang saya pelajari dalam Kitab Suci Agama yang saya peluk. Bila ada orang maupun sekelompok orang menyebarkan kebenaran yang melecehkan keyakinan kami, berarti melawan atau melecehkan perintah Tuhan dan itu akan dapat mempengaruhi umat lainnya yang selama ini sudah harmonis dan rukun. Tentu akan memunculkan banyak perbedaan yang mengarah kepada kondisi yang tidak kondusif lagi. Kan begitu Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Apa yang sesungguhnya kamu ketahui tentang Kebenaran dan atas nama kebenaran macam apa, kamu mempunyai praduga negatif terhadap yang lainnya? Terlalu berani mengaku dirimu paling benar, tetapi ceroboh menjelekan dan berpraduga negatif terhadap keyakinan orang lain. Karena kamu merasa diri paling benar, paling beragama, merasa diri paling suci, sehingga kamu menyangka bahwa Tuhan hanya milikmu saja, Tuhan hanya berpihak kepadamu saja sehingga apapun yang kamu lakukan Tuhan akan memberkatimu Syurga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Kebenaran yang kami pahami adalah semua perintah dan larangan Tuhan yang tertuang dalam kitab suci agama kami. Tuhan bagi kami adalah segalanya tempat kami memohon dan berlindung, demikian kan Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Apa yang kamu ketahui tentang Tuhan, mengenalpun tidak, apalagi menjumpaiNya? Kamu tidak tahu apapun tentangNya, kamu hanya tahu nama – namaNya saja, itupun kamu dapatkan dari buku bacaan, selain itu kamu peroleh dari katanya orang. Tetapi lagakmu sudah seperti orang suci yang menyangka dirimu paling benar, berlagu seperti Tuhan yang kuasa dan menjelekkan keyakinan saudara lainnya yang beda keyakinan. Kamu akhirnya menjadi congkak dan gegabah, karena mengira dirimu paling benar dan jauh dari perasaan cinta dan kasih sayang serta rasa hormat kepada kaum lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Memang demikianlah adanya Guru. Pemahaman saya akan kebenaran sebagaimana diamanatkan Tuhan yang disebutkan dalam kitab suci agama kami dan belum tahu banyak tentang kebenaran yang dimaksudkan dalam agama maupun keyakinan yang lainnya;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Pemahaman kamu akan kebenaran berdasarkan pada kebenaran subyektif pikiranmu sendiri yang masih picik dan sempit? Belum sungguh – sungguh berlandaskan kepada Kebenaran Obyektif Kitab Sucimu? Sejauh mana kamu mengetahui Kitab Sucimu sehingga kamu mempunyai praduga negatif terhadap prinsif dan pedoman hidup orang lain? Sedalam apakah kamu mengenal dirimu sehingga kamu belum bisa menghormati dan menghargai orang lain yang beda keyakinan?&lt;br /&gt;
Aku : Aku tersentak dan terdiam sejenak setelah Guru berkata demikian. Pikiranku menerawang apa itu kebenaran subyektif dan apa itu kebenaran obyektif. Akhirnya aku jawab. Guru, menyangkut kebenaran yang saya yakini sampai saat ini adalah hasil pemahaman saya baik dengan cara membaca maupun mendengar ceramah dari pemuka-pemuka agama kami. Apapun yang disampaikan oleh panutan kami itulah yang saya yakini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Sedekat apakah kamu mengetahui Tuhanmu, sehingga kamu seenaknya menyangsikan dan meremehkan Tuhan orang lain. Dengarkan kataku, apa bedanya kamu dengan Pemimpinmu apabila kamu berhak dan bisa menjadi Pemimpin yang dicintai dan dihormati. Tidak ada bedanya selama kamu bisa berbuat adil dan beradab serta dapat mengayomi semua orang tanpa pilih kasih, lebih – lebih terhadap yang papa dan lemah, jika dapat seperti itu kamu semua adalah Pemimpin terhormat. Apa bedanya kamu dengan Guru dan orang-orang suci yang menjadi Panutan yang dijunjung, dicintai dan dikenal banyak orang, apabila kamu dapat melakukan kebaikan dan kebenaran semulia mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Aku mulai terheran-heran dan berusaha mencamkan dan memahami apa yang disampaikan barusan. Bahwa aku juga bisa menjadi pemimpin dan panutan. Aku terdiam dan Guru melanjutkan wejangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Camkanlah olehmu kata – kata ku ini. Kamu semua adalah Pemimpin selama kamu dapat meletakkan kepentinganmu di belakang kepentingan orang lain. Kamu semua adalah pemimpin selama kamu mampu mengendalikan egomu demi kemerdekaan dan kebahagiaan orang – orang yang kamu cintai. Sebaliknya sekalipun kamu sedang duduk secara resmi di kursi kepemimpinan formal atau umat apabila didalam prakteknya kamu lebih mendahulukan kepentinganmu di atas kepentingan orang lain maka kamu bukanlah pemimpin lagi, bahkan lebih rendah lagi hakikatmu. Kamu tidak lain hanyalah budak hina dari nafsu dan egomu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Ooh begitu Guru, Jadi sayapun bisa menjadi pemimpin umat ya Guru sepanjang saya mampu menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi, begitu Guru;&lt;br /&gt;
Guru : Ya, dan tahukah kamu ciri – ciri orang yang terjajah. Tidak bisa dipimpin, apalagi memimpin. Apabila terjadi, kamu salah mengangkatnya menjadi Pemimpinmu maka penjajahan dan perbudakan menjadi fenomena yang nyata bagimu sebagai akibat dari kelalaianmu sendiri dan itu pelajaran yang baik untuk mengingatkanmu. Hanya kemerdekaan yang dapat memberi kemerdekaan. Dalam kemerdekaan semuanya adalah pemimpin. Kamu semuanya adalah pemimpin, apapun sebutanmu dan kewajibanmu yang berbeda – beda hanya konsepsi dan esensinya tergantung kwalitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Maksud Guru ? Aku terdiam dan bingung memahami ucapan Guru. Kemudian Guru melanjutkan ucapannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Pemimpin itu bisa disebut dengan nama atau julukan yang bermacam – macam. Nabi adalah pemimpin, Sang Juru Selamat juga pemimpin, Rosul adalah pemimpin, Rabbi, Pendeta, Rsi, Mpu juga pemimpin. Presiden, Raja, Perdana Menteri, Panglima, Bupati, Residen, Lurah, Camat, Pak RW, Pak RT atau Kepala Lingkungan juga pemimpin. Malaikat, Dewa dan Awatara semuanya adalah pemimpin. Bahkan Tuhan itu sendiri pemimpin. Sebutan dan julukan pemimpin bisa beda sedangkan esensinya sama dan sangat tergantung pada kwalitas keluasan dan kepeduliannya terhadap apa yang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi begitu Guru, bahwa seorang pemimpin tegantung dari luasan tanggung jawab dan kewajibannya terhadap yang dipimpin, kemudian Guru melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Jika kamu merasa bertanggung jawab dan peduli terhadap kemerdekaan bangsa maka kamu disebut pemimpin bangsa. Jika kamu peduli terhadap seluruh manusia tanpa dibatasi Agama, Budaya, Bangsa, warna kulit dan adat istiadat, maka kamu adalah pemimpin umat. Jika kamu hanya peduli pada golongan maka kamu hanyalah pemimpin kelompokmu saja. Dan apa sebutannya bagi kamu yang melulu peduli kepada perut dan bawah perutmu saja?&lt;br /&gt;
Aku : Aku terdiam, kemudian saya mulai dapat menangkap apa yang diucapkan Guru. Jadi demikian ya Guru, bahwa pemimpin itu harus tulus dan ikhlas dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya serta menempatkan kepentingan yang dipimpin ketimbang kepentingan dirinya. Pantaslah ya Guru bahwa mereka yang mampu memimpin sangat dicintai para pengikutnya maupun orang-orang yang sekalipun tidak kenal langsung dengan diri sang pemimpin, karena dampak kepemimpinannya membawa perubahan yang lebih baik maka pemimpin itu dicintai dan dielu-elukan dan dikenang oleh banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Memang demikianlah adanya, lalu apakah salah dan berdosa jika diantara kamu dipuja dan dipuji seluhur para Rasul, para Rsi, para Guru Suci karena tingkah laku dan perbuatanmu dicintai dan dihormati pengikutmu? Barulah disebut kekeliruan jika kamu ingin diakui sebagai pemimpin umat hanya untuk kepentingan dan keuntungan dirimu sendiri semata. Barulah disebut kerugian apabila kamu disakiti dan ditipunya secara fisik maupun mental. Oleh karenanya kamu baru berhak menuntut ganti rugi itupun hanya terbatas pada korban langsung saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi benar pemahaman saya ya Guru, bila ajaran sang pemimpin kemudian diikuti oleh pengikutnya dan berdampak positif bagi seluruh umat, mestinya kita dukung meskipun kita tidak menjadi pengikutnya, toh juga mereka tidak membuat keoranan atau merugikan orang lain, benar demikian Guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Ya begitulah, lalu apakah sesat dan menyesatkan jika kamu ingin menolong dan memimpin orang – orang yang mencintai dan mempercayaimu? Lalu mengapa kamu menjadi berang ketika ada orang lain yang seperti itu? Jelas semua ini karena kedengkianmu dan prasangka burukmu semata? Lalu apakah salah dan tidak boleh apabila kamu memiliki dan mengalami kebenaran pengalaman spiritual? Lalu kamu pikir apakah perlu orang yang mengalami keajaiban itu membuktikannya pada orang yang menuntut? Lalu bagaimana mungkin kalau yang menuntut itu belum pernah mengalami ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi tat kala ada orang yang minta tolong karena mereka mencintai dan mempercayai kita, maka kita wajib membantunya dengan tulus ikhlas seperti yang diamanatkan dalam kitab suci termasuk bila kita mampu mengalami kejadian yang sifatnya spiritual. Karena pernah mengalami dan kita sudah mampu mencapainya kemudian ada orang minta tolong dan percaya terhadap pengalaman kita, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk memberitahunya, demikian ya Guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Ya begitulah, kita jangan apriori dulu bila ada yang telah mampu mengalami kejadian yang sifatnya spiritual, apalagi irihati dan dengki. Kalau kita menuntut untuk membuktikannya, sama halnya dengan penelitian intelektual, seperti dokter – dokter yang menuntut pasiennya untuk membuktikan kebenaran penyakit yang diderita si pasien  kepada diri mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi kalau kita bertanya kepada yang pernah mengalami kejadian spiritual, kita baru hanya dapat jawaban yang menghasilkan keyakinan, bahwa apa yang dialami oleh seseorang memang benar atau illusi belaka. Jadi kebenarannya baru sebatas keyakinan, begitu Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Ya, sama ibaratnya seorang dokter menanyakan rasa sakit kepada si pasien. Sudah seharusnya dan menjadi kewajibannya bagi dokter untuk mencari buktinya sendiri namun sejauh apa yang bisa dilakukan oleh dokter takkan dapat membuktikannya. Stetoskop dan ilmunya hanya dapat digunakan sebatas sebagai pembenaran. Begitu pula pengalaman spiritual hanya bisa diceritakan dan bisa diterima oleh kamu yang sudah mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Ooh, begitu Guru, jadi kita harus berusaha ikut mengalami dengan cara minta bimbingan kepada yang sudah mengalami dan kalau kita juga mengalami hal yang sama atau serupa, barulah keyakinan itu menjadi kenyataan atau kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi karena sudah mengalami sendiri, benar kan begitu Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Kebenaran hakiki hanyalah bagi kamu yang telah dan sedang mengalaminya dan bagi orang – orang yang setarapmu. Kebenaran keyakinanmu tidak akan pernah mencapai universal selama kamu berusaha keras mencari dan membuat perbedaannya karena ingin melebihkannya dari yang lain. Karena itu kebenaran subyektifmu tidak dapat dijadikan patokan untuk merendahkan faham – faham lain. Apalagi mengenai Tuhan, yang masih ghaib dan misteri buatmu, jangankan melihat wajahNya mendengar suaraNya saja belum mampu lalu dengan ukuran apakah kamu seenaknya menentukan kebathilan dan kebatalan Tuhan dari agama maupun kepercayaan orang lain? Jelas kamu sendiri tidak mau menerima dan dapat membela diri dan melawannya jika keyakinanmu dilecehkan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Ya Guru aku baru memahami, kalau kami belum pernah alami sendiri lebih baik kita positif thinking saja, yang penting kepemimpinan mereka bersama pengikutnya memberi manfaat yang lebih baik bagi lingkungan dari kondisi sebelumnya, misalnya menjadi welas asih antar sesama, suka menolong, peduli terhadap berbagai masalah yang ada dan tindakan lainnya yang memberikan kedamaian bagi lingkungannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Dengar kataku. Cara hidup boleh berlainan. Iman dan keyakinan boleh berbeda. Tapi yang penting secara sosial perbuatan dan perkataanmu tidak boleh saling merugikan dan saling menyakiti sesamamu dan sesama hidupmu. Jangan kamu mengakui dirimu sebagai orang yang beradab beragama jika perbuatanmu menyakiti dan mengacam ketentraman orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Jadi saran Guru, saya harus menjadi pemimpin yang mampu membawa teman-teman kami untuk menebarkan kasih sayang, welas asih dan bantu membantu dalam keseharian, sehingga apapun yang kami lakukan akan diterima oleh lingkungan disekitarnya, benar begitu Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Begitulah jika kamu mampu menjadi pemimpin. Namun sayang saat ini pemimpin sejati semakin langka. Susah mencari pemimpin yang berani melindungi dan mengayomi kaum yang lemah dari kepicikan dan kecongkakan kaum yang kuat. Sangat jarang ada pemimpin yang bernyali singa dan berhati lembut, yang tidak takut kehilangan suara dan tidak tergantung pada yang terbanyak kecuali demi Kemerdekaan Sejati &lt;br /&gt;
Aku : Apa itu Kemerdekaan sejati Guru? Aku lanjut bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Kemerdekaan dan Kebenaran Sejati bukanlah hasil kesepakatan suara mayoritas dan lagi pula mayoritas bukanlah jaminan. Tahukah kamu bahwa yang berkualitas itu jumlahnya minoritas sangat sedikit sekali. Zaman kini jarang ada pemimpin yang memiliki kejujuran dan keterbukaan kecuali kepura – puraan dan kemunafikan. Maka hati – hatilah kepada yang berpura – pura waras padahal sesungguhnya tidak waras. Aku jarang menjumpai Pemimpin Sejati dan Pejuang Kemerdekaan di negeri ini. Aku tidak lagi melihat apapun atas diri Pemimpin yang ada kecuali Pengemis dan Perampok. Aku tidak menyaksikan apapun kecuali Ketakutan dan Kemiskinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Aku menjadi terperangah mendengar ucapan Guru yang demikian, benarkah diantara kami sekarang ini tidak bisa menjadi pemimpin sejati. Kemudian aku bertanya kembali. Lalu apanya yang salah Guru? Lalu Guru melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru : Apa artinya sebuah kehadiran agama jika tidak mampu memberikan warna positif kepada para pengikutnya sehingga selalu terjadi penguasaan, penekanan terhadap kelompok yang lemah, kerusakan dan kerusuhan yang memakan korban jiwa manusia? Apakah ini suatu pertanda bahwa agama yang ada tidak lagi mampu dan memadai untuk dijadikan pedoman guna menghadapi perkembangan hidup. Atau suatu pertanda dibutuhkannya pemahaman agama yang sama sekali baru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Memang benar demikian Guru, seperti pemahaman saya di awal pembicaraan tadi. Diantara kami yang beda agama sering terjadi gesekan-gesekan yang menjurus kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan di luar daerah banyak sekali kerusuhan yang terjadi berlatar belakang agama atau keyakinan. Setelah mendengar wejangan Guru saya baru sadar bahwa kita adalah sebangsa dan setanah air dan leluhur kita mungkin masih sedarah. Guru, kenapa hal ini bisa terjadi pada hal diantara kita telah berlomba-lomba dalam menjalankan ibadah agama, mestinya suasana semakin damai, tetapi malah sebaliknya dan kebanyakan kita mengalami degradasi moral.&lt;br /&gt;
Guru : Seharusnya kamu bisa belajar sehingga tak perlu mengulang kembali atau tersandung lebih  dari satu kali pada batu yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku : Ya Guru, aku akan mulai introspeksi diri agar tidak lagi mengulangi tindakan maupun punya praduga negatif terhadap teman-teman yang beda agama atau keyakinan lain. Terima kasih, Guru telah membuka hati saya ke jalan yang terang.&lt;br /&gt;
Guru mengangguk dan beliau diantar oleh pengikutnya entah pergi ke mana. Yang jelas aku jadi termangu seolah-olah tak percaya dapat bertemu orang sebijak dan seluas itu pandangan hidupnya. Semoga aku dapat berjumpa kembali dengannya di lain waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pertemuan dimaksud, saya mulai membuka diri dengan mendahulukan perasaan cinta dan kasih sayang bila berhadapan dengan orang lain, apakah seagama maupun tidak. Saya mulai mencoba memahami berbagai ceramah maupun dakwah agama maupun keyakinan orang lain yang ditayangkan di TV maupun lewat media lain dengan maksud mengurangi praduga negatif terhadap sesama. Prinsif yang saya pegang adalah apapun agamanya maupun keyakinannya, toh juga mereka saudara kita yang sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama juga berwujud manusia seperti kita sendiri, yang bisa marah kalau tersinggung atau diganggu, apalagi saat ini banyak permasalahan hidup yang semakin hari semakin komplek. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mencoba mengubungi teman-teman, dimana Guru yang saya jumpai itu berdomisili, yang pada akhirnya aku temukan dan beliaupun menerima aku sebagai salah satu muridnya. Singkat cerita setelah aku melakoni arahan Guru, maka aku merasakan perubahan dalam diriku baik pola pikir, perkataan maupun tindakan. Aku lebih ceria dari sebelumnya, bisikan hatipun sering ku dengar ibarat percakapan dua orang bila memikirkan sesuatu. Jawabannyapun muncul tanpa disadari bila ada permasalahan atau hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan yang umumnya masih terbungkus dengan kata-kata agama yang tabu diungkap selama ini. Pandangan-pandangan tentang kehidupan seolah-olah memancar dari dalam diri yang menerangi langkah aku untuk menggapai kemerdekaan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayo Baca Artikel selanjutnya klik &lt;a href="http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/zaman-kebodohan.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3513288432133601861-9203191855923632151?l=tandavanrtya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://tandavanrtya.blogspot.com/2009/10/aku-tersesat-dan-menyesatkan_30.html</link><author>noreply@blogger.com (Tandava Nrtya | adhe novan)</author><thr:total>0</thr:total></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

