<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sepatucokelat&#039;s blog</title>
	<atom:link href="https://sepatucokelat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://sepatucokelat.wordpress.com</link>
	<description>berburu kata dengan sepatu</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Sep 2011 17:26:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">10910278</site><cloud domain='sepatucokelat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/d59f9b99440832c68dba650e300cb0592cb68cdfb7881f8d6f3c13e9e07417df?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>sepatucokelat&#039;s blog</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/osd.xml" title="sepatucokelat&#039;s blog" />
	<atom:link rel='hub' href='https://sepatucokelat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Belum Ada Judul</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/07/belum-ada-judul/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/07/belum-ada-judul/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 17:24:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu Bercerita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=241</guid>

					<description><![CDATA[BAGIAN PERTAMA 16 Feb 2010 Nadia!! Buruan, ntar kita terlambat!! Teriakan membahana di rumah bercat biru tua. Membuat yang punya nama buru-buru menuruni anak tangga. “Iya ma..ini juga udah turun” “Lama amat sih. Katanya tadi malas ikutan. Eh, dandannya malah lama” komentar si mama. Aku hanya terdiam. Dandan? Fthuh.. Aku lama berpikir untuk membatalkan atau &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/07/belum-ada-judul/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">BAGIAN PERTAMA</p>
<p style="text-align:justify;">16 Feb 2010</p>
<p style="text-align:justify;">Nadia!! Buruan, ntar kita terlambat!! Teriakan membahana di rumah bercat biru tua. Membuat yang punya nama buru-buru menuruni anak tangga. “Iya ma..ini juga udah turun” “Lama amat sih. Katanya tadi malas ikutan. Eh, dandannya malah lama” komentar si mama. Aku hanya terdiam. Dandan? Fthuh.. Aku lama berpikir untuk membatalkan atau tidak ikut mama kok. Dalam hati aku ngedumel. Aih, kalau bukan karena paksaan mama, aku tidak akan mau ikut. Acara ini pasti membosankan. Pertanyaannya pasti ga jauh-jauh dari “Kapan undangannya Nad?”. “Ayo dunk Nad. Tunggu apa lagi” “Siska malah udah punya anak dua”. Haiya…..aku bosan!!! Aku mengepalkan tangan dan menghempaskannya dengan kesal di setir yang tak berdosa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada apa Nad?” Mama bertanya keheranan</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, ga ada apa-apa ma. Aku hanya kesal ama pengendara motor yang tiba-tiba nyelip.” jawabku berdalih.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ga usah buru-buru. Yang penting sampai dengan selamat” kata si mama sambil merapikan make-upnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-241"></span>Kuiyakan nasehatnya dengan menarik napas panjang. Basa basi sana sini. Sapa sana sini. Senyum sana sini. Setelah aku merasa cukup, aku meninggalkan mamaku yang sedang asyik becanda dengan teman arisannya. Sebelum tante A, B, C, D memberikan daftar nama-nama pria yang mencari istri, aku harus segera angkat kaki. Cabut. Kabur. Melarikan diri. Sembunyi. Ya, dan kata lain yang dapat mewakilinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak sulit menemukan tempat untuk itu di hotel mewah ini. Kafe buku mungil terlihat di sudut kiri. Kuarahkan langkahku tanpa ragu lagi. Beberapa pengunjung melirik. Mungkin mereka berpikir kok bisa pengantin terlihat di kafe buku saat resepsi pernikahannya, pikirku nakal. Aku senyum-senyum sendiri. Lumayan juga koleksi buku di kafe ini. Kuraih sebuah majalah sebagai bacaan ringan dan memesan secangkir mochacino. Hm..tak ada titik favorit yang bisa kutemukan. Sudut yang menghadap ke jendela kaca sudah terisi. Kecuali aku rela berbagi. Kepalang tanggung.</p>
<p style="text-align:justify;">“Boleh aku duduk di sini?” tanyaku ramah pada penghuni sudut Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada kolam mini di sebelahnya. Dia mengangkat wajah ke arah suara. Sekilas mengamatiku kemudian meneruskan bacaannya. Sedikit ragu aku mendaratkan pantatku di kursi di hadapannya. Aku meliriknya sejenak untuk memastikan bahwa dia tidak keberatan berhadapan dengan ‘pengantin’ pelarian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku tidak mengiyakan permintaanmu&#8221; kata pria itu dingin beberapa menit kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">Sontak aku tersedak ketika menyeruput mochacino yang baru nongol. Sedikit cipratannya mengenai kebaya putihku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ow. Okay” aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut. “Hmm..tak ada tempat lagi selain di sini. Apakah seseorang sudah atau akan menduduki kursi ini?” Aku mencoba memahami situasi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bukan urusan Anda” jawabnya pula. Dingin. Ketus.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa? Baik-baik ditanya kok jawabnya demikian. Aku tak habis pikir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm..kalau begitu aku akan tetap di sini. Anda tidak membantuku. Dan..rasanya tidak ada tanda nama di kursi ini. Berarti bebas diduduki siapa saja bukan?” Jawabku tidak terima.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia memandangku, akhirnya, dengan tajam sembari menutup bukunya. Aku memandangnya pula dengan kesal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku tak akan pergi&#8221; kataku melunak. Meskipun sesungguhnya aku telah kehilangan selera. Untuk menghabiskan mochacino. Untuk mendengarkan gemericik air kolam mini. Untuk membaca majalah. Untuk duduk di dekat pria aneh ini. Untuk kabur. Ma, ngobrolnya udah selesai belum? Boleh kita pulang?</p>
<p style="text-align:justify;">Kami masih beradu pandang. Seolah siapa yang akhirnya mengalihkan pandangan berarti kalah dan harus menyingkir. Kenapa aku merasa mata itu menyimpan luka?</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah. Aku akan pergi. Lain kali tolong tuliskan nama pemesan kursi ini” kataku perlahan sembari angkat tumit dari tatapan tajamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan bersungut-sungut aku menuju tempat parkir. Mobil lebih hangat daripada pria ini. Fthuhh…</p>
<p style="text-align:justify;"> &#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align:justify;">“Kemana aja tadi Nad. Tante Rani nyariin tuh” mama mencairkan kebekuan perjalanan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maaf ma, aku sedang tidak ingin mendiskusikan apa pun” jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebisuan menemani perjalanan pulang kami. Sementara itu, di kafe buku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Saya kan sudah bilang, kursi itu tidak boleh ditempati!“</p>
<p style="text-align:justify;">“Maaf pak, tadi saya tidak keburu mencegah karena kebetulan kafe rame. Maafkan saya pak. Lain kali saya akan perhatikan.”</p>
<p style="text-align:justify;">Pria yang dipanggil pak itu menarik napas panjang. “Ya, sudah. Kamu dapat kembali bekerja” perintahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa pengunjung masih terlihat asyik dengan bacaannya. Pria dekat kolam mini, termenung memandang ulah ikan-ikan kecil di kolam itu.</p>
<p style="text-align:justify;">BAGIAN DUA</p>
<p style="text-align:justify;">17 Feb 2010</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berlari sekencang-kencangnya melewati lorong-lorong rumah sakit. Tujuanku cuma satu, menuju kamar paling ujung setelah belok kiri. Ketika aku mendekati pintu kamar yang sedikit terbuka itu, aku menjatuhkan kedua lututku ke lantai. Aku terisak. Sangat terisak. Seorang wanita separuh baya keluar dari pintu itu. Matanya sembab. Sedikit keheranan dia menatap ke arahku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tante..” aku menyapa lirih Tante Riska memelukku haru.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana keadaannya?” Terbata aku bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tante Riska tidak menjawab. Bersama kami terisak dalam pelukan. Tubuhnya kaku tak bergerak. Napasnya terdengar sangat lemah. Aku memandanginya dengan badan bergetar dan linangan air mata. Dalam isakan tertahan yang sangat menyesakkan. Aku seperti bermimpi. Lebih tepatnya aku ingin ini hanya mimpi. Nafasnya terdengar semakin perlahan. Dan akhirnya tidak pernah kembali. Tante Riska pingsan. Tangisan pun semakin ramai terdengar. Aku masih berdiri. Melongo. Di sisi pembaringan. Menatap wajah sahabatku yang memucat. Arya!!! Aku berteriak dan menemukan diriku terjaga dari tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">Mimpi itu lagi. Aku mengatur napas sambil memandangi langit-langit kamarku. Dua tahun sudah setelah kepergian Arya. Aku pikir waktu akan menelan nestapa. Namun, aku belum bisa menghapus air mata. Aku belum bisa melupakan Arya. Arya adalah sahabatku. Aku mengenalnya sejak popok menjadi pakaian wajib kami. Ketika air liur meleleh tak karu-karuan. Kami belajar berjalan bersama. Berebut botol susu, mobil-mobilan, dan apa saja yang menarik perhatian kami. Kami saling mengerti ketika orang dewasa tidak mengerti apa yang kami inginkan. Setiap hari, kami melewati eucalyptus yang juga bertambah tinggi sebagaimana kami, setiap berjalan ke sekolah. Kami akan berlomba siapa yang lebih dahulu menyentuh pintu kelas. Kami pun berlomba untuk jadi juara. Dan tentu saja Arya tak terkalahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika aku berusia 10 tahun, ayah ibuku bercerai. Malam-malam sebelumnya kerap aku mendengar pertengkaran mereka. Teriakan-teriakan mereka. Aku pun akan sembunyi di bawah selimut dan menyanyikan lagu yang diajarkan Arya. Aku akan menyanyikannya entah kali keberapa.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Malam gelap lindungi aku </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku ingin tidur dengan lelap </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bintang-bintang terangiku </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku pun tenang dan terlelap </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Arya selalu membuatku tertawa. Dia seolah tahu aku sedang gulana. Dia seolah tahu aku sedang berduka. Dan tak pernah disinggungnya kenapa. Dia hanya mencoba membuatku tertawa. Dan usahanya tak pernah sia-sia. Ibunya adalah pengasuhku sewaktu balita. Aku lebih menganggapnya ibu daripada bunda. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Arya dan ibunya tidak pernah keberatan akan kehadiranku di tahun-tahun selanjutnya. Mereka selalu menyambut gembira.</p>
<p style="text-align:justify;">Arya tumbuh menjadi pemuda. Banyak wanita yang memujanya. Kerap mereka menitipkan padaku salam untuk Arya. Kadang-kadang coklat berbagai rupa. Bahkan pernah benda kecil berharga. Awalnya, mereka pikir kami ada apa-apanya. Tapi, setiap itu pula, Arya akan tertawa dan mengacak rambutku di hadapan pemuja-pemujanya. “Dia sudah seperti adik bagiku” ujarnya. Dan aku, gadis pemalu, diam-diam terluka.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya. Entah kenapa aku tidak suka jika dia hanya menganggapku adik belaka. Dan untuk per tama kalinya dalam hidupku, aku merasa sangat menderita. Aku tidak ingin ada orang lain yang diperhatikan oleh Arya, selain Nadia. Aku selalu ingin bersama Arya. Aku tidak suka melihatnya bersama wanita lain pula. Tak pernah aku merasakan hal demikian ke lain pria. Tiada selain Arya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasca perceraian orangtuaku, aku tidak yakin akan menikah dengan pria. Tapi, Arya membuatku percaya. Akhirnya aku jatuh cinta pada seorang pria. Namun, tak sedikitpun dia tahu tentang itu semua. Karena aku menyimpannya dengan sempurna. Tak seorang di dunia ini tahu pula. Tiada, selain aku dan hati Nadia.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tahu kalau dia mencintai seorang wanita. Ketika menyeruput mocachino hangat sepulang kerja, matanya bercerita. Binar seperti ini belum pernah kulihat di mata Arya. Tidak juga ketika dia berhasil menjadi juara. Aku mendengarkannya dengan mataku, tapi hatiku entah kemana. Sesekali aku tersenyum dan mengangguk-angguk seolah mengerti maksudnya. Padahal aku sibuk menentramkan gelora. Kecewa. Luka. Hari itu dia berniat untuk mengungkapkan perasaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku akan memperkenalkannya padamu Nad” serunya sembari berlari ceria.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ok. Ku tunggu Ya. Hati-hati!” Jawabku pura-pura bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak disangka, itu adalah lambaian tangan terakhir Arya. Setelahnya aku berlari ke rumah sakit sekencang yang aku bisa. Dan aku tidak menemukan binar matanya. Aku tidak akan mengenal wanita yang dicintainya. Tidak ada lagi yang akan membuatku tertawa. Tidak ada lagi pria dalam hidup Nadia. Perlahan aku bersenandung lagu Arya. Aku tak juga pejamkan mata. Malam itu aku terjaga sampai fajar menyilaukan mata. bersambung.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/07/belum-ada-judul/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">241</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/02/surat/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/02/surat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Sep 2011 13:34:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu Bercerita]]></category>
		<category><![CDATA[Kartika]]></category>
		<category><![CDATA[Surat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=220</guid>

					<description><![CDATA[Surat itu sejak kemarin tergeletak di atas meja kerjaku. Surat ini lagi, gerutuku. Kenapa harus surat? Fthuhh..kuhempaskan napas berat, seberat kelelahan yang masih menempel di tubuhku. Percaya atau tidak, surat itu selalu datang pada tanggal dan bulan yang sama, dengan isi yang sama, tulisan yang sama dan ajaibnya amplop dan kertas yang sama. Aku benar-benar &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/02/surat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Surat itu sejak kemarin tergeletak di atas meja kerjaku. Surat ini lagi, gerutuku. Kenapa harus surat? Fthuhh..kuhempaskan napas berat, seberat kelelahan yang masih menempel di tubuhku. Percaya atau tidak, surat itu selalu datang pada tanggal dan bulan yang sama, dengan isi yang sama, tulisan yang sama dan ajaibnya amplop dan kertas yang sama. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana si penulis surat itu melakukan semua ini. <em>”Kali ini aku tidak akan mengalah</em>”. Kataku ke arahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua hari berlalu..surat itu masih di sana.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Halo?”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ka, udah dapat surat belum?”,</em> balas suara orang di seberang tanpa basa basi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ada berita apaan?”</em> Jawabku santai tak menjawab pertanyaannya</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Udah dapat surat kan? Tidak mungkin tidak”.</em> Balasnya juga tak menjawab pertanyaanku. Surat lagi surat lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Surat?”.</em> Aku pura-pura tidak mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ka, aku tahu kamu ga menyukai surat itu Tapi surat kali ini berbeda. Aku mohon bacalah!”.</em> Dan suara itu tiba-tiba terputus.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa lagi ini. Pokoknya tidak! Kali ini aku tidak mau membacanya. Aku tidak ingin&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-220"></span>Hari ketiga.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Halo” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ka, udah baca suratnya belum?”</em> tanpa basa-basi lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Hm..mm, Beritahu aja apa isinya.. Lebih baik aku mendengarnya darimu daripada harus membaca surat itu!”</em> jawabku tidak tertarik.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Ka, Aku mohon luangkan waktumu sebentar saja membaca suratnya!”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Aku lagi banyak kerjaan nih,,,udah ya&#8230;” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ka..Ka..bentar&#8230;”</em> suara itu menahan tanganku menutup telepon. <em>”Ka, yang ini berbeda. Kumohon bacalah! Kalau kamu tidak ingin menyesal seumur hidup!”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Teet..terputus seperti biasa. Aku memandang telepon itu dengan wajah kesal dan marah. Apa-apaan ini! Kenapa dia jadi ikut-ikutan membuatku naik darah. Semua ini karena surat itu. Benar-benar membuat hidupku tidak damai. Lihatlah, surat itu membuatku bertengkar dengan Riko, satu-satunya keluarga yang kupercayai. Riko tahu betul bagaimana buruknya hubunganku dengan si surat. Tapi ancamannya tadi berhasil membuatku melirik surat itu lagi. Bagaimana kalau isinya memang berbeda? Bagaimana kalau akhirnya aku menyesal? Aku bertanya-tanya. Tidak! Tidak! Pokoknya kali ini aku tidak akan membacanya! Aku tidak mau&#8230;..!!! Teriakku dalam hati, menolak mendengarkan Rico. Bukankah selama ini, dengan alasan sama -takut menyesal, aku membaca surat itu. Dan pada akhirnya aku benar-benar menyesal. <em>”Pokoknya tidak! Tidak!”,</em> kali ini aku benar-benar berteriak di dalam kamarku.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti magnet raksasa yang menarik benda-benda logam apa saja yang didekatkan kepadanya, demikianlah surat-suratnya, membuatku tidak ingin berdekatan dengannya apalagi menyentuhnya. Seringkali aku meletakkannya beberapa hari di atas meja dan memandanginya. Namun, akhirnya aku akan membacanya dan lagi-lagi jengkel tidak karuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Permintaan penulis surat ini sangat sulit untuk kumengerti. Pulang? Kepulangan yang tidak pernah kurindukan. Berbeda dengan Riko. Sesekali aku mendengar mereka tertawa bersama. Tertawa? Kok bisa? Sementara, kepulanganku hanya untuk mendengarkan nyanyian burung hantu dari belakang rumah dan.. tarikan napasnya. Aku tersenyum pahit.</p>
<p style="text-align:justify;">Kupandang wajahku di cermin. Wajah ibuku. Ibu? Aku termenung. Seandainya ibu masih ada, tentu aku tidak akan pernah menerima surat ajaib itu. Seandainya ibu yang menulis surat itu, akan aku buka dengan segera dan membacanya berulang-ulang. Seandainya&#8230; Ftiuhh, aku tersenyum pahit. Lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibu meninggal ketika aku berumur tujuh tahun. Aku masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa itu. Peristiwa yang membuat matahari terbenam di rumah kami. Hari itulah, hari terakhir ibu tersenyum padaku. Ibu menghembuskan napasnya yang terakhir sambil menggenggam tanganku dan tersenyum. Senyum yang selalu kuingat sampai saat ini. Sesudah itu aku juga tidak lagi melihat senyum laki-laki itu. Seolah senyumnya dibawa pergi oleh ibuku untuk menemaninya di alam sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tumbuh menjadi remaja tanpa seorang ibu, juga tanpa ayah. Hanya Riko, saudaraku satu-satunya yang menyinari hidupku. Ketika aku mendapat haid pertamaku, aku histeris. Riko yang menenangkan aku bahkan membelikan aku pembalut wanita. Aku selalu tersenyum geli setiap mengingat kejadian itu. Dan kami akan tertawa bersama setiap mengulang kisah itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tawaku menghilang setelah Riko memutuskan mengambil beasiswa untuk kuliah di pulau lain. Riko tahu berat bagiku melepas kepergiannya, juga berat baginya meninggalkan aku. Tapi, <em>”Demi hidup yang lebih baik Ka”,</em> katanya padaku di suatu malam. Aku tak bisa berkata apa-apa selain menatapnya dengan mata berkaca-kaca memintanya mengurungkan niat.</p>
<p style="text-align:justify;">Diam-diam aku menyimpan keinginan menyusul Riko dan segera meninggalkan rumah tanpa matahari ini dan laki-laki tua yang disebut ayah oleh Riko. Setelah lulus SMA tanpa ragu aku menyusul Riko pergi untuk melanjutkan studi, meskipun ternyata berbeda kota dengan Riko. Tapi tak mengapa, setidaknya tidak di sini, bersama laki-laki ini. Singkat cerita di sinilah aku sekarang, telah menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar dan terkenal. Bulan ini, aku dipromosikan untuk menduduki posisi penting di salah satu cabang di luar negeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Bunyi <em>handphone</em> yang tergeletak di atas meja kerjaku membuyarkan lamunanku. Dengan gontai aku melangkah dan meraihnya. Riko.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ada apa lagi kak?”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Sudah baca suratnya belum?”</em> tanya Riko tak sabar.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Aduh, aku kan udah bilang, aku tidak akan membacanya. Ada apaan sih?”</em> jawabku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ayolah Ka, sebentar saja luangkan waktumu untuk membaca surat itu. Apa kamu ga percaya ama kakakmu ini? Percayalah, suratnya berbeda dari sebelumnya.”</em> Jawab Riko memelas.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Aduh, kerjaanku juga lagi banyak nih. Aku ga akan diizinkan cuti bulan ini. Aku ga bisa pulang”</em> kataku ikut-ikutan memelas.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ka, aku janji ini terakhir kalinya aku memintamu membaca suratnya. Setelah surat ini, terserah apa yang akan kamu lakukan, mau bakar, sobek atau buang surat-surat itu sebelum membacanya, terserahmu. Tapi, kali ini, untuk terakhir kalinya. Aku mohon bacalah surat itu. Aku serius. Udah ya..dah!”</em> terputus lagi tanpa menunggu jawabanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk terakhir kalinya? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu sekarang? Aku terus berpikir sampai akhirnya tertidur. Aku terbangun dari tidurku ketika merasakan seseorang menyentuhku. Aku terkejut setengah mati dan mengucek-ngucek mataku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ibu!! A..a..a&#8230;pa yang ibu lakukan di sini?”</em> kataku terbata-bata, masih belum terima dengan penglihatanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ibuku ada di dekatku, membelai kepalaku pula. Ibu hanya tersenyum. Senyum yang ditinggalkannya padaku. Dia terus membelai rambutku. Memandangiku dengan penuh kerinduan. Aku benar-benar belum bisa menghilangkan keterkejutanku –dan ketakutanku. Kupandang sekelilingku memastikan aku masih di kamarku. Ibuku lagi-lagi tersenyum sambil terus membelai rambutku. Setelah itu, perlahan-lahan sosoknya menghilang seperti asap lilin yang terbawa angin. Aku berteriak-teriak memanggilnya namun dia tidak kembali. ”Ibu!!!” aku berteriak keras. Aku keringatan, napasku tersenggal-senggal. Dan sekali lagi kupandang sekelilingku, tidak ada siapa-siapa. Aku bermimpi dan kali ini aku benar-benar terbangun.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari keempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku masih belum bisa melupakan mimpiku kemarin. Apa aku memang harus pulang? Pikirku dalam hati. Aku berjalan mondar-mandir di ruang kerjaku, di kamar, di taman dan aku belum menemukan keputusan. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku pulang karena ibu, kataku ke arah surat itu dengan cemberut. Kuraih dia, dan memasukkannya ke dalam koperku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku harus menempuh perjalanan darat selama 4 jam dari ibukota provinsi ke kampung halamanku. Perjalanan yang mengocok perut karena jalannya yang berliku-liku. Aku duduk dengan tegang bukan karena wajah jalanan ini. Kalimat bosku, saat izin cuti serasa bergema di telinga sebelah kiriku. ”<em>Karirmu dipertaruhkan di project ini Ka!”.</em> Kalimat terakhir Riko bergema di telinga kananku. Belum lagi, isi surat yang seperti menerorku dan wajah ibu yang membayang-bayangiku. Apa yang terjadi sebenarnya? Bus mini yang kutumpangi bergoyang ke kanan ke kiri membuat penumpangnya muntah-muntah. Lengkaplah sudah, perjalanan ini benar-benar memuakkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah itu tak berubah sejak setahun lalu. Bahkan sejak sepuluh tahun silam. Pemilik rumah ini tidak mau merenovasi rumahnya dengan alasan yang tidak kumengerti –aku memang tidak tahu. Mengapa juga mempertahankan rumah tua ini? Kalau soal biaya, dia tidak perlu khawatir. Sejak dulu Riko sudah menawarkan. Tapi, dia hanya diam dan menggelengkan kepala. <em>”Simpan saja untuk cucu-cucuku”</em> samar-samar kudengar suaranya dari balik dinding kamarku suatu malam. Diam-diam ada rasa rindu yang menyeruak di dada. Bagaimanapun tempat ini meninggalkan kesan mendalam padaku. Meski tanpa matahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Drak.. Aku berhenti dari nostalgiaku. Seseorang membuka pintu rumah. <em>”Kartika!?”</em> Riko menyapaku dengan keheranan. Aku tersenyum padanya kemudian memeluknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Syukurlah, akhirnya kamu datang juga. Kita berangkat sekarang ya..”</em> kata Riko. ”</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Berangkat? Kemana?”</em> aku kebingungan</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ke Rumah Sakit.”</em> jawab Riko. Rumah sakit?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nanti kamu akan tahu”</em> Riko berbicara seolah mengerti apa yang aku pikirkan. Tiba-tiba saja aku sangat khawatir. Khawatir pada laki-laki itu, untuk pertama kalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Riko membuka sebuah pintu kamar di salah satu sudut rumah sakit tua ini. Dia membiarkan aku masuk lebih dulu. Kuedarkan mataku sejenak dan terbentur pada sosok rapuh di pembaringan. Riko menganggukkan kepalanya padaku entah bermaksud apa. Mungkin untuk meyakinkanku kalau kami tidak salah kamar. Jantungku berdebar lebih kencang, dan kakiku goyah seolah tidak kuat lagi mengangkat tubuhku. Apa yang terjadi pada laki-laki ini? Selama beberapa lama aku hanya terpaku di tempatku dan menatapnya. Dia sedang tertidur.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba-tiba dia membuka mata, perlahan. Aku terkejut. Dan beberapa saat kami hanya saling berpandangan. Riko menawarkan tempat duduk padaku.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Tidak usah. Aku di sini saja.”</em> kataku sambil berjalan ke arah jendela.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Kartika”</em> laki-laki itu memanggilku dengan suara perlahan. Ini untuk pertama kalinya dia memanggil namaku, setelah kematian ibuku. Aku menoleh kepadanya. Enggan mendekat.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Kemarilah”</em> pintanya</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan langkah berat kuturuti keinginannya. Dia tak berkata-kata lagi, hanya memandangiku, membuatku merasa risih.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Ma..a..f..”</em> sambungnya terbata-bata dengan sisa-sisa tenaga.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian mata tua itu perlahan tertutup dan dia tersenyum padaku, seperti senyum ibuku saat itu. Senyum pertama dan terakhir padaku setelah puluhan tahun. Aku melongo di tempat dudukku. Samar-samar kudengar isak Riko di sebelahku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku hanya membisu dan terus membisu sampai jenazahnya disemayamkan di sebelah ibuku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku masih membisu di dalam kamarku. Kupandangi surat itu berjam-jam dengan tatapan kosong. Kali ini aku tidak mau membacanya karena aku tidak berani mengetahui apa isinya. Dengan tangan gemetaran, akhirnya aku meraih surat itu. Jantungku berdebar-debar. Tulisan ini sangat akrab di mataku. Namun, tekanan dan coretannya tidak serapih surat-surat sebelumnya, seolah menandakan penulisnya ketika itu kesulitan menulis kata demi katanya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Ayah memberimu nama Kartika. Karena ketika ibumu mengandungmu, dia suka sekali melihat bintang. Semalam-malaman dia bisa tahan memandang bintang-bintang sambil berbicara padamu. Akhirnya engkau lahir, ibumu bahagia sekali. Ayah juga. Ayah masih ingat bagaimana reaksinya ketika kuusulkan nama Kartika buatmu. Dia melonjak kegirangan, sambil berkata ”Tepat sekali, tepat sekali”. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Ibumu sakit parah. Penyakit apa itu, ayah tidak tahu. Yang ayah tahu, ayah tidak mampu membiayai pengobatan ibumu. Kartika, kau mewarisi wajah ibumu. Tentu kau senang dengan hal itu. Siapa yang mau mewarisi wajah ayah sepertiku. Wajah itulah yang membuatku menjauhimu. Seolah aku sedang melihat ibumu setiap kali memandangmu, dan itu membuat ayah merasa bersalah. Ayah telah mendapat hukuman dengan tidak mendapat kasih sayangmu. Setelah Riko pergi, ayah tahu kamu sedih luar biasa. Ayah ingin sekali mengobrol denganmu, tapi rasanya janggal sekali. Ayah selalu berkata dalam hati, belum waktunya..belum waktunya&#8230;.sampai akhirnya ayah tidak mampu lagi mengubah sikap ayah padamu dan menyadari tahun demi tahun telah berlalu. Setelah kepergianmu, rumah ini benar-benar gelap gulita. Ayah merindukan kalian. Tiga puluh dua tahun yang lalu, aku menikahi ibumu. Pulanglah nak, mungkin ini terakhir kita bertemu&#8230;</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aku menangis meraung-raung dan sesekali berteriak seperti orang hilang akal. Aku terus menangis, sampai mataku lelah dan bengkak. Dengan pandangan nanar kuraih surat itu lagi dan melihat tanggalnya, 5 Juli.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/09/02/surat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">220</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Ingin Berjauhan</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/04/17/tak-ingin-berjauhan/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/04/17/tak-ingin-berjauhan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 09:08:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu Hati]]></category>
		<category><![CDATA[berjauhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=218</guid>

					<description><![CDATA[Aku yakin bahwa setiap orang yang saling mencintai tidak ingin berjauhan. Tapi kadang tak ada banyak pilihan. Pilihannya hanya tidak dan memilih orang lain. Atau ya, dan memilih berjauhan. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, rasanya tidak mungkin menanti orang lain. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, segala rintangan seolah terabaikan. Termasuk konsekuensi &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/04/17/tak-ingin-berjauhan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align:justify;">Aku yakin bahwa setiap orang yang saling mencintai tidak ingin berjauhan. Tapi kadang tak ada banyak pilihan. Pilihannya hanya tidak dan memilih orang lain. Atau ya, dan memilih berjauhan. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, rasanya tidak mungkin menanti orang lain. Jika cinta sudah menguasai hati dan pikiran, segala rintangan seolah terabaikan. Termasuk konsekuensi berjauhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Rindu adalah konsekuensi utama berjauhan. Dua orang yang saling mencintai seolah tak ingin terpisahkan. Mereka ada untuk saling mengisi kekosongan. Saling mengisi kesepian. Saling mengisi kekurangan. Dalam pengertian akan ketidaksempurnaan. Dan mereka seolah penuh, terhibur, dan berkelimpahan ketika bertatapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun di jaman sekarang ada banyak fasilitas yang dapat membantu kebutuhan pasangan yang berjauhan, rindu hanya bisa diselesaikan oleh pertemuan. Sejernih apapun suara yang kamu dengar, sejelas apapun layar yang kamu lihat, sesering apapun kamu bertukar kabar, rindu hanya bisa diselesaikan dengan pertemuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, kadang tak ada banyak pilihan. Semakin jauh jarak yang memisahkan, semakin terbatas kemungkinan. Menahan rindu adalah makanan keseharian. Kekosongan seolah naik ke permukaan. Rindu hanya bisa diselesaikan ketika bertatapan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kelak kebersamaan akan menjadi milik pasangan yang berjauhan. Rindu tak lagi menjadi makanan keseharian. Mereka akan merasa penuh dan berkelimpahan. Karena dimengerti dalam ketidaksempurnaan. </p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya, aku tak ingin berjauhan. Rinduku sungguh tak tertahankan.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/04/17/tak-ingin-berjauhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">218</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dia atau dia?</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/03/15/dia-atau-dia/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/03/15/dia-atau-dia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 13:24:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu Hati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=212</guid>

					<description><![CDATA[Dua wanita itu saling teriak tak peduli reaksi orang-orang di sekitar. Yang satu mengeluarkan kalimat-kalimat ancaman, yang satu lagi membalas tanpa kelihatan gentar. Suara mereka terdengar menggelegar. Bergema di sudut-sudut toilet dan membuat wanita-wanita lain bergeser. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kedua wanita yang bertengkar. Tapi penasaran, setelah satpam dan seorang laki-laki separuh baya masuk &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/03/15/dia-atau-dia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dua wanita itu saling teriak tak peduli reaksi orang-orang di sekitar. Yang satu mengeluarkan kalimat-kalimat ancaman, yang satu lagi membalas tanpa kelihatan gentar. Suara mereka terdengar menggelegar. Bergema di sudut-sudut toilet dan membuat wanita-wanita lain bergeser. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan kedua wanita yang bertengkar. Tapi penasaran, setelah satpam dan seorang laki-laki separuh baya masuk melerai dan meminta mereka keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">Istri dan simpanan. Kata wanita di sebelahku yang juga mencuci tangan. Aku tersenyum tak ingin membicarakan. Tapi si ibu berbicara panjang lebar meski melihatku seolah tidak mendengarkan. Aku berlalu masih dengan senyuman.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam diam dan jalan, aku bertanya-tanya dan berpikir. Mengapa hal-hal demikian dapat terjadi di sekitar. Mengapa para pria bisa ingkar. Ingkar pada janji setia ketika cinta masih bergetar. Benarkah sama sekali cinta remaja itu telah pudar. Digantikan oleh tubuh muda yang kelihatan lebih segar. Atau sejak semula tidak pernah ada cinta yang menjadi bahan bakar. Yang menyalakan mesin pernikahan dan mengabaikan segala perbedaan meskipun mendasar. Entahlah, aku belum bisa berkomentar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-212"></span>Ini bukan kali pertama aku melihat pertengkaran. Di usia belasan, aku melihat seorang anak menyodorkan parang pada ayahnya yang punya simpanan. Dengan wajah garang tanpa ampun. Si Ibu berteriak-teriak sembari tersedu sedan. Saat itu benar-benar menegangkan. Sampai sekarang tak bisa kulupakan. Aku di usia remaja belum memahami sepenuhnya apa itu perselingkuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Seiring bertambahnya usia dan berubahnya jaman, perselingkuhan pun semakin menjamur. Televisi kerap menayangkan peristiwa serupa kadang mendramatisir. Disisipi dengan nasehat para pakar. Sebagian berkomentar, istri harus pandai merawat diri supaya suami tidak suka pergi keluar. (Istri rupawan dan setia tidak juga dapat menjamin untuk tidak ingkar). Ada yang berkomentar, beri waktu buat suami bersenang-senang, nanti dia juga akan kembali ke sangkar. (Seandainya terjadi pada dia, aku tidak yakin dia akan punya komentar). Ada lagi komentar, beri perhatian pada suami, jangan suka mengatur.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa sesungguhnya yang dicari oleh petualang cinta hambar? Ya, hambar. Cinta yang dibangun di atas pasir. Yang sekarang ada, dan sebentar lagi tersapu air.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa sesungguhnya yang dicari para musafir? Apakah mereka belum menemukan air?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/03/15/dia-atau-dia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">212</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengakuan Dara (Saat Itu Telah Tiba)</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/01/10/pengakuan-dara-saat-itu-telah-tiba/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/01/10/pengakuan-dara-saat-itu-telah-tiba/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Jan 2011 15:07:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu Hati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=202</guid>

					<description><![CDATA[Saat itu telah tiba. Akhirnya aku jatuh cinta. Setelah sekian lama usia. Pada seorang pria tentunya. Seorang pria biasa.  Entahlah darimana bermula. Cinta benar-benar tidak diduga. Aku dimana, dia dimana. Dipertemukan oleh nostalgia. Oleh sebaris kalimat tak bermakna. Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskan kronologisnya. Cintaku lahir bukan dari sebuah kesan luar biasa. Bukan karena baik rupa. &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/01/10/pengakuan-dara-saat-itu-telah-tiba/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Saat itu telah tiba. Akhirnya aku jatuh cinta. Setelah sekian lama usia. Pada seorang pria tentunya. Seorang pria biasa.  Entahlah darimana bermula. Cinta benar-benar tidak diduga. Aku dimana, dia dimana. Dipertemukan oleh nostalgia. Oleh sebaris kalimat tak bermakna.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskan kronologisnya. Cintaku lahir bukan dari sebuah kesan luar biasa. Bukan karena baik rupa. Bukan pula karena baik suara. Meskipun kenyataannya, dia memiliki keduanya. Entahlah, aku sendiri kadang masih tidak percaya. Jatuh cinta pada ini pria. Teman lama yang dulu kulirik pun tiada.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia tidak pernah mengejar si Dara. Tidak juga berusaha membuat kesan sempurna. Cintaku lahir dari perhatian dan kebutuhan teman bicara. Ketika tak seorang pun di dunia ini aku percaya. Ketika aku jenuh dengan penilaian dan bingkai sempurna dari sesama. Ketika aku muak dengan nasehat orang yang seolah paling memahami Dara. Ketika aku lelah menghindari kejaran pria-pria yang berusaha meninggalkan kesan sempurna. Ketika aku tak membutuhkan mulut selain telinga. Ketika semua itu membuatku gelisah dan insomnia. Dia hadir karena sebaris kalimat tak bermakna. Aku jatuh cinta bukan karena kesan luar biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, aku mengaku bahwa jatuh cinta membuat dilema. Kali ini, aku pun mengaku hal yang sama. Meski rasa sayang tumbuh seiring berjalannya masa, demikian pula halnya tanda tanya. Benarkah dia yang akan menjadi cinta pertama dan satu-satunya. Sebagaimana harapan si Dara. Tidak mudah menyatukan hati dan kepala. Tapi, setelah aku menjawab iya, kebimbangan, tanda tanya, entah kemana. Berganti perasaan lega dan bahagia. Ketika aku menemukannya, kami tak punya pilihan selain bersama. Dimana saja. Kapan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal pertama yang ingin aku lakukan setelahnya adalah memberitahu dunia. Bahwa si Dara akhirnya jatuh cinta. Bukan untuk membuat kesan luar biasa, tapi supaya orang lain berhenti melakukan usaha. Entah, berusaha membuatku jatuh cinta. Atau berusaha menjodohkan dengan siapa saja. Juga supaya mereka  berhenti mencibir dan menilaiku terlalu pemilih dan keras kepala. Meskipun, komentar seolah paling memahami si Dara masih terdengar di telinga.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-202"></span>Banyak yang bilang, jatuh cinta membuatku seolah bukan Dara. Sejujurnya aku tidak suka mendengarnya. Siapa yang pernah tahu bagaimana aku jatuh cinta sebelumnya? Siapa yang bisa membandingkannya? Dara tetaplah Dara. Hanya dia sedang jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah cintaku membuat banyak orang tidak percaya. Tidak percaya bahwa aku bisa jatuh cinta. Tidak percaya bahwa aku bisa menulis kalimat-kalimat cinta. Tidak percaya bahwa aku bisa mengenggam tangan seorang pria. Tidak percaya bahwa aku bisa bersikap mesra. Siapa yang pernah tahu bagaimana aku jatuh cinta sebelumnya? Siapa yang bisa membandingkannya? Berhentilah seolah paling memahami si Dara.</p>
<p style="text-align:justify;">Cintaku memang masih berusia muda. Tak berhenti aku berdoa supaya dia sampai di usia senja. Sesungguhnya aku hanyalah wanita biasa yang menginginkan satu kisah cinta. Aku yakin saat itu telah tiba.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2011/01/10/pengakuan-dara-saat-itu-telah-tiba/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">202</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tinggal Juli</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/08/14/selamat-tinggal-juli/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/08/14/selamat-tinggal-juli/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 06:03:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu-Sepatu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=194</guid>

					<description><![CDATA[Aku benci Juli. Dia meninggalkan luka di hati. Tak terperi. Mungkin mudah baginya untuk meninggalkan aku dalam isak dan sepi. Tanpa memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Juli membiarkanku dalam amarah dan dengki. Menelantarkanku dalam emosi yang sulit dipahami. Membuatku lupa arti mengampuni. Kamu dengar itu Juli? Kamu membuatku lupa arti mengampuni. Satu-satunya tempatku bersembunyi &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/08/14/selamat-tinggal-juli/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku benci Juli. Dia meninggalkan luka di hati. Tak terperi. Mungkin mudah baginya untuk meninggalkan aku dalam isak dan sepi. Tanpa memberikan aku kesempatan untuk membela diri. Juli membiarkanku dalam amarah dan dengki. Menelantarkanku dalam emosi yang sulit dipahami. Membuatku lupa arti mengampuni.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu dengar itu Juli? Kamu membuatku lupa arti mengampuni. Satu-satunya tempatku bersembunyi selama ini. Dari luka hati tak terperi. Dari amarah dan dengki. Dan sekarang aku tak tahu lagi. Bagaimana aku menenangkan diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku benci Juli. Karena dia ingkar janji. Membuat malamku tanpa mimpi. Suaraku tanpa melodi. Mataku tanpa pelangi. Mengapa dia seolah tak mau mengerti. Meski aku telah memohon berkali-kali. Supaya dia memperbaiki diri. Tapi, semuanya memuai.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku benci Juli. Karena dia bermain api. Mencicipi kenikmatan duniawi. Aku tahu kadang Juli menolak sama sekali. Namun godaan duniawi terlalu menawan dan memesona Juli. Dan akhirnya dia tak tahu jalan kembali. Aku seolah tak mengenalnya lagi. Juli ternyata tak sebaik penilaianku selama ini. Kemana Juli yang kucintai? Atau inikah sebenarnya Juli? Bagaimana aku membawanya kembali? Tempat sembunyi, masihkan ada ruang bagi Juli? Lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Benarkah aku membenci Juli? Atau aku memang harus membenci Juli? Aku tak diberi pilihan lain lagi. Tapi, aku tak bisa terus begini. Aku tak ingin Juli ini. Aku harus pergi. Aku memutuskan pergi. Meninggalkan semua luka hati. Meninggalkan semua emosi yang sulit dipahami. Meninggalkan isak dan sepi. Di tempatku bersembunyi.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat tinggal Juli. Aku tak akan kembali.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/08/14/selamat-tinggal-juli/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">194</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persimpangan Perjalanan</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/07/17/persimapangan-perjalanan/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/07/17/persimapangan-perjalanan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 14:14:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu-Sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[persimpangan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=190</guid>

					<description><![CDATA[Lagi-lagi aku berada di persimpangan dan kesulitan memutuskan arah perjalanan lagi-lagi sepatu cokelat tidak memberikan aku jawaban kenapa belakangan ini dia terlihat tidak perhatian Ayolah sepatu cokelat, jangan biarkan aku tertawan tidak biasanya kamu demikian apakah aku terlalu memaksakan atau diammu adalah jawaban Kamu masih ingat caranya bukan? ketukkan ujung sepatumu untuk salah satu pilihan &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/07/17/persimapangan-perjalanan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi aku berada di persimpangan<br />
dan kesulitan memutuskan arah perjalanan<br />
lagi-lagi sepatu cokelat tidak memberikan aku jawaban<br />
kenapa belakangan ini dia terlihat tidak perhatian </p>
<p>Ayolah sepatu cokelat, jangan biarkan aku tertawan<br />
tidak biasanya kamu demikian<br />
apakah aku terlalu memaksakan<br />
atau diammu adalah jawaban </p>
<p>Kamu masih ingat caranya bukan?<br />
ketukkan ujung sepatumu untuk salah satu pilihan<br />
sekarang hanya ada dua pilihan<br />
kita pernah mengalami yang jauh membingungkan<br />
seharusnya, lebih mudah memutuskan </p>
<p>Ayolah sepatu cokelat, jangan biarkan aku tanpa tujuan<br />
aku tak ingin lebih lama di persimpangan<br />
atau aku harus memutuskannya sendirian?<br />
asal kamu siap untuk perjalanan tak menyenangkan</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/07/17/persimapangan-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">190</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepatu Cokelat tak akan Terganti</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/25/sepatu-cokelat-tak-akan-terganti/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/25/sepatu-cokelat-tak-akan-terganti/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 18:48:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu-Sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=180</guid>

					<description><![CDATA[Aku salah memilih sepatu lagi. Biasanya tak begini. Aku kenal si kaki. Tapi, kenapa aku bisa salah lagi. Sebulan lalu kupilih sepatu hitam dengan garis-garis merah di area jari. Tapi jarang sekali aku pakai. Haknya terlalu tinggi. Membuat pegal kaki. Kalau sangat terpaksa baru kupakai. Untuk membuat terlihat lebih tinggi. Dan untuk apa lagi. Aku &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/25/sepatu-cokelat-tak-akan-terganti/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku salah memilih sepatu lagi. Biasanya tak begini. Aku kenal si kaki. Tapi, kenapa aku bisa salah lagi. Sebulan lalu kupilih sepatu hitam dengan garis-garis merah di area jari. Tapi jarang sekali aku pakai. Haknya terlalu tinggi. Membuat pegal kaki. Kalau sangat terpaksa baru kupakai. Untuk membuat terlihat lebih tinggi. Dan untuk apa lagi. Aku merasa cukup tinggi. Mengapa aku tidak berpikir panjang sewaktu melihatnya pertama kali. Waktu itu, aku juga lama mencari-cari. Coba sana sini. Membandingkan kanan kiri. Dan akhirnya memilih sepatu hitam dengan garis-garis merah ini. Aku jadi sadar, kadang merek terkenal hanya berat di nilai.</p>
<p style="text-align:justify;">Bulan ini aku memilih warna khaki. Aku sangat suka warna ini. Modelnya sederhana dan menarik hati. Pertama aku mencobanya, tak ingin coba yang lain lagi. Aku langsung jatuh hati. Tapi, ternyata aku salah lagi. Kakiku lecet baru memakainya dua kali. Padahal aku telah memastikan sebelumnya kalau dia akan nyaman di kaki. Aku mencobanya dengan berjalan selama 10 menit sebagaimana tips dari para ahli. Tak peduli penjualnya mengamati. Tapi, kenapa setelah dibawa kemari, dia berulah seperti ini. Kakiku menolak memakainya lagi. Kulirik nama terkenal pembuatnya dan menggerutu dalam hati.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-180"></span>Aku jadi teringat sepatu cokelat yang aku beli lama sekali. Dan aku puja-puja selama ini. Aku masih memakainya sesekali. Meskipun sudah tak sejaya ketika pertama kali. Tak lagi secantik si warna khaki. Tak lagi seanggun sepatu hitam dengan garis-garis merah di area jari. Tapi kakiku tak pernah rewel sejak pertama kali. Mereka terlihat sehati. Serasi. Padahal, penciptanya bukanlah orang terkenal di Bumi. Yah, aku pernah memperbaikinya sekali. Hanya sekali. Setelahnya kakiku seolah menari. Memakainya kesana kemari. Tapi, usia lama-lama tidak bisa diajak kompromi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kupandang satu per satu ketiga sepatu ini. Hm..dipikir-pikir hidup juga seperti memilih sepatu mana yang tepat di kaki. Ada banyak model, harga dan warna yang menjadi alternatif untuk dipilih sebelum akhirnya tepat di hati. Kelihatannya gampang tapi tidak selalu mudah menentukan pilihan yang serasi. Mempertimbangkan banyak kemungkinan dan berpikir kesana kemari. Kadang aku salah memilih solusi. Seperti sepatu ini. Rasanya di awal sudah yakin sekali. Namun, sesal datang setelah menjalani. Rasanya seperti kaki yang lecet dan terluka ini. Rasanya tidak ingin menjalaninya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang aku memilih tanpa berpikir panjang kali tinggi. Hanya karena keinginan sendiri. Seolah aku sudah siap dengan semua konsekuensi. Nyatanya aku membayar mahal untuk ini. Pilihan yang berat di nilai. Penyesalan dan keinginan seandainya waktu bisa terulang lagi. Untuk memperbaiki. Untuk memilih lagi. Untuk tidak salah lagi. Beberapa pilihan bisa diperbaiki. Bila salah arah kita bisa segera kembali. Apabila kita menyadari.</p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya setiap pilihan seperti ketika menemukan sepatu cokelat ini. Betapa akan lebih menyenangkan perjalanan ini. Dan aku akan selalu menari. Namun, aku bukanlah pencipta perjalanan ini. Aku hanya diberikan pilihan belok kanan atau kiri. Jalan terus atau berhenti. Diberikan kemampuan berpikir panjang kali tinggi. Untuk tidak salah memilih solusi. Untuk terus berlari. Meninggalkan semua hal yang di belakangku menuju yang hakiki.</p>
<p style="text-align:justify;">Hm..Sepatu cokelat, kamu dicipta untuk menopang tubuh nan berat ini. Betapa jauh dari ukuranmu yang mini. Tapi kamu tak pernah berhenti. Sampai akhirnya usia tidak dapat diajak kompromi. Mengapa aku terlihat lebih rapuh dari sahabatku ini. Seandainya pun usiaku tidak dapat diajak kompromi, itu berarti masaku sudah usai dalam perjalanan ini. Tapi, aku tak tahu kapan usia tidak dapat diajak kompromi. Itu berarti aku masih memilih untuk terus berjalan atau berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang aku sering lalai. Dalam perjalanan ini sesungguhnya aku tak pernah sendiri. Ada Pencipta perjalanan ini. Yang selalu mengawasi. Mengamati. Mengajari. Aku diberikan sepatu cokelat sebagai pijakan dalam menentukan arah dan solusi. Sepatu cokelat yang tak akan terganti. Aku lalai memahami petunjuk yang ada di sana sini. Sehingga aku kadang salah arah dan salah memilih solusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan memang tak selalu cantik, anggun dan penuh tari. Tapi aku punya sepatu cokelat yang tak akan terganti. Itu berarti aku masih harus terus berlari. Meninggalkan semua hal yang di belakangku menuju yang hakiki.</p>
<p style="text-align:justify;">Betul sekali! Hidup ini seperti memilih sepatu mana yang tepat di kaki.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/25/sepatu-cokelat-tak-akan-terganti/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">180</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Sangat Cemburu!</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/17/aku-sangat-cemburu/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/17/aku-sangat-cemburu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 16:09:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu-Sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=178</guid>

					<description><![CDATA[aku merindukan saat-saat itu ketika tak ada nama selain namaku tak ada tawa sehangat tawaku, buatmu matahari seolah enggan berlalu tanpa sapaanmu. dan bintang seakan temaram tanpa tatapanmu aku tahu bahwa hatiku bukan untukmu entahlah pada siapa tertuju. bukan padamu, kala itu tapi aku mau sapaanmu selalu mengawali pagiku dan salammu menutup malamku aku tak &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/17/aku-sangat-cemburu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>aku merindukan saat-saat itu<br />
ketika tak ada nama selain namaku<br />
tak ada tawa sehangat tawaku, buatmu<br />
matahari seolah enggan berlalu tanpa sapaanmu.<br />
dan bintang seakan temaram tanpa tatapanmu</p>
<p>aku tahu bahwa hatiku bukan untukmu<br />
entahlah pada siapa tertuju.<br />
bukan padamu, kala itu<br />
tapi aku mau sapaanmu selalu mengawali pagiku<br />
dan salammu menutup malamku</p>
<p>aku tak ingin ada nama lain selain namaku<br />
aku tak ingin tawa lain mencuri telingamu<br />
aku tak ingin kehilangan bintangku<br />
aku tak ingin matahari cepat-cepat berlalu<br />
meski aku tahu hatiku bukan untukmu</p>
<p>aku..aku..aku..</p>
<p>bagaimana bisa kamu tahan menghadapiku<br />
yang hanya tahu tentang aku<br />
bagaimana bisa kamu merindunya setiap waktu<br />
yang hanya bicara tentang aku aku aku</p>
<p>kamu tahu bahwa hatiku bukan untukmu<br />
hatiku milik hatiku<br />
ayolah, tinggalkan aku<br />
yang tak mau tahu tentangmu<br />
dan kamu setuju</p>
<p>tapi, malam ini aku sangat cemburu<br />
karena bintangku punya nama baru<br />
seolah matahari tak bersinar untukku<br />
dan malam tak berpihak padaku</p>
<p>Lagi-lagi harapku<br />
tak ingin ada nama lain selain namaku<br />
tak ingin tawa lain mencuri telingamu<br />
tak ingin kehilangan bintangku</p>
<p>benarkah hatiku milik hatiku?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/06/17/aku-sangat-cemburu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">178</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batwoman</title>
		<link>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/05/25/batwoman/</link>
					<comments>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/05/25/batwoman/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sepatucokelat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 14:10:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sepatu-Sepatu]]></category>
		<category><![CDATA[cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[jubah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sepatucokelat.wordpress.com/?p=169</guid>

					<description><![CDATA[Aku mau baju seperti itu! Masa yang dibeliin dia mulu! Aku menggerutu di hadapan ibuku. Itu kurang cocok buat anak perempuan, jawab si ibu. Pokoknya aku mau!! Rengekku. Dan menuju sudut pintu. Cemberut dalam gerutu. Sejak kemarin, aku cemburu. Adik laki-lakiku satu-satunya memamerkan baju baru. Baju yang punya jubah hitam itu. Sangat terkenal di zaman &#8230; <a class="more-link" href="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/05/25/batwoman/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Aku mau baju seperti itu! Masa yang dibeliin dia mulu! Aku menggerutu di hadapan ibuku. Itu kurang cocok buat anak perempuan, jawab si ibu. Pokoknya aku mau!! Rengekku. Dan menuju sudut pintu. Cemberut dalam gerutu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kemarin, aku cemburu. Adik laki-lakiku satu-satunya memamerkan baju baru. Baju yang punya jubah hitam itu. Sangat terkenal di zaman kecilku. Setiap anak sepertinya punya, setidaknya satu. Memang tidak berjubah hitam melulu. Ada merah dan biru. Sesuai jagoan yang ditiru. Aku sangat suka baju berjubah hitam itu. Rasanya berar-benar seperti jagoan idolaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, kenapa aku tidak bisa memilikinya, setidaknya satu. Apa maksud ibu kalau baju itu kurang cocok untukku. Seandainya ibu belikan untukku, aku janji tidak akan meminta baju tahun baru. Adikku melewatiku dan jubah hitamnya berkibar tertiup angin yang berhembus dari pintu. Ibu!! Aku mau baju dengan jubah hitam itu!! Dalam hati aku berseru.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-169"></span>Keesokan harinya, ibu menyodorkan sebuah bungkusan biru. Kubuka dengan terburu-buru. Mataku berbinar dan hilanglah cemburu. Aku tak sabar mengenakannya di tubuhku. Ibu, apakah aku terlihat seperti jagoan idolaku? Yuuhuuuu!!! Aku berlari ke sana kemari sambil berseru-seru.<a href="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg"><img data-attachment-id="187" data-permalink="https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/05/25/batwoman/batwomen-2/" data-orig-file="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg" data-orig-size="125,125" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="batwomen" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg?w=125" data-large-file="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg?w=125" class="size-full wp-image-187 alignleft" title="batwomen" src="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg?w=523" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Adik, ayo kita berpacu! Jubah siapa yang paling berkibar, dialah jagoan nomor satu! Adikku menerima tantanganku. Kami pilih tempat di gudang dengan timbunan karung berisi padi-padi itu. Rencananya adalah meloncat dari timbunan yang satu ke yang satu. Seolah terbang begitu.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya sih seru. Sesekali tertawa sembari seolah terbang begitu. Aku pilih timbunan yang tingginya nomor satu. Aku ambil kuda-kuda dan hendak menuju ke timbunan sebelah situ. Hup! Wadouuuu!! Kepalaku terbentur langit-langit gudang dan gravitasi tak dapat menahan tubuh kecilku. Aku jatuh dari ketinggian 5 meter dengan posisi tak menentu. Jubah hitam menutupi wajahku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesaat kemudian, tangisan terdengar sampai ke pintu. Ibuku berlari terburu-buru. Menuju jagoan yang kini berwajah sendu. Sayup-sayup terdengar adikku berseru, kakak jagoan nomor satu!</p>
<p style="text-align:justify;">Aku meringis dalam pangkuan ibuku. Kini aku tau kenapa baju dengan jubah hitam ini tidak cocok untukku.</p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sepatucokelat.wordpress.com/2010/05/25/batwoman/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">169</post-id>
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e03a26e5cc1c832cec74bedc3b1a9290b6b8b7885f423ca32ee7fe646f56d1ec?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Ruby</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://sepatucokelat.wordpress.com/wp-content/uploads/2010/05/batwomen1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">batwomen</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
