<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Sepoci Kopi</title>
	
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description>Live Life Beyond the Ordinary</description>
	<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 02:51:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/SepociKopi" type="application/rss+xml" /><feedburner:emailServiceId>SepociKopi</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>S.O.S!: Ribet Ala Femme</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/-ZM1vFRhfh4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/14/sos-ribet-ala-femme/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 02:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[S.O.S!]]></category>

		<category><![CDATA[humor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4772</guid>
		<description><![CDATA[Selamat datang di Klinik S.O.S!, klinik yang memecahkan seribu satu masalah lesbian bermasalah. Kami menawarkan solusi, bukan subsidi. Jangan ragu menghubungi kami sebab kami senang membantu aneka problematikamu. S.O.S! Pertolongan Pertama Pada Kegilaan. 
Yang Lagi buka praktek: Frizzy Jo
Dear dokter yang baik hati,
Sebelum saya mengutarakan masalah saya, saya cuma ingin dokter tau kalau saya tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignright size-full wp-image-4774" title="make_up___by_chaster" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/make_up___by_chaster.jpg" alt="make_up___by_chaster" width="186" height="285" />Selamat datang di Klinik S.O.S!, klinik yang memecahkan seribu satu masalah lesbian bermasalah. Kami menawarkan solusi, bukan subsidi. Jangan ragu menghubungi kami sebab kami senang membantu aneka problematikamu. S.O.S! Pertolongan Pertama Pada Kegilaan. </em></p>
<p>Yang Lagi buka praktek: Frizzy Jo</p>
<p><em>Dear </em>dokter yang baik hati,<br />
Sebelum saya mengutarakan masalah saya, saya cuma ingin dokter tau kalau saya tidak bermaksud menyinggung masalah yang berkaitan dengan kesetaraan label. Tapi masalah yang menghimpit saya kali ini benar-benar bikin saya nyaris kehilangan akal sehat, itu juga kalau memang saya punya.</p>
<p><span id="more-4772"></span>Saya sudah beberapa kali menjalin hubungan yang mana pasangan saya selalu femme. Kegagalan terus menerus dalam menjalani sebuah hubungan membuat saya mencapai suatu kesimpulan. Femme selalu bikin semua hal jadi ribet. Mungkin saya terkesan blak-blakan dan menyinggung perasaan para femme ya. Tapi saya tidak tahu lagi ke mana saya harus mengadu.</p>
<p>Bayangin aja, setiap kami ingin berangkat ke sebuah tempat, saya harus menunggu minimal satu jam sampai mantan pacar saya selesai berdandan. Itu pun masih terhitung beruntung jika dibandingkan dengan di tengah perjalanan tiba-tiba dia minta kembali ke rumah dengan alasan ingin menukar sepatu yang tiba-tiba dia rasa nggak <em>matching </em>dengan pakaian yang dia kenakan. Itu baru satu kasus.</p>
<p>Belum lagi sikapnya yang selalu mengingatkan saya pada iklan rokok. Jika saya sedang berpergian tanpa dirinya, pertanyaan &#8220;Lagi di mana, ngapain, sama siapa?&#8221; tidak pernah absen menghampiri saya. Jadinya bukan salah saya dong kalau saya berasumsi femme itu posesif? Setuju nggak sih, dok? Mohon saran dong sebelum saya malahan menjadi antipati terhadap semua femme. Terima kasih atas masukannya.</p>
<p>Yang nyaris anti femme,<br />
Sherly</p>
<p><strong>Jawaban:<br />
</strong><br />
Dear Sherly,<br />
Waduh, menanggapi masalah kamu bikin saya harus hati-hati dalam menjawab nih. Soalnya saya nggak mau dianggap pro anti femme, nanti klinik saya bisa didemo. Dan lebih bahaya lagi bisa-bisa saya malah susah cari gebetan, kan saya juga suka sama yang agak-agak femme gitu deh.</p>
<p>Oke, saya nggak akan membahas tentang bagaimana ribetnya berpacaran dengan femme ya. Karena bagi saya, pacaran sama siapa pun kalau memang lagi dapat yang selalu bikin ribet ya tetap aja ribet. Mau dia butch, andro, atau pun femme, percaya deh ribet nggak memandang label.</p>
<p>Untuk masalah kamu ini, saya bisa memberikan beberapa saran. Pertama-tama, mungkin sebaiknya kamu melakukan komunikasi secara baik-baik dengan pasangan kamu tentang keberatan kamu. Kalau misalnya masih juga nggak mempan, nah, ada baiknya kamu bersikap sebagai seorang femme yang ribetnya ngalahin pasangan kamu.</p>
<p>Kalau kamu harus menunggu satu jam untuk dia selesai berdandan, kamu buat deh dia nunggu kamu satu jam juga. Bisa aja pas dia dandan, kamu mandi satu jam. Saat kamu selesai mandi kan dia udah selesai tuh, nah gantian kamu buat dia nunggu kamu satu jam lagi. Nggak perlu ikutan dandan, tapi kamu bisa aja nyemir sepatu kek, nyukur bulu ketiak kek, atau mandiin anjing dan kucing tetangga. Kalau dia marah, ini saat yang tepat buat kamu numpahin uneg-uneg.</p>
<p>Atau bisa juga pas lagi jalan berdua di mal sama pasangan, dan saat pasangan lagi asyik-asyiknya lihat baju yang dia incar, kamu tiba-tiba ribut minta ke salon saat itu juga. Bukan salon rambut, tapi salon mobil loh. Atau kamu mendadak kepengin nyuci mobil sewaktu sedang berada di tengah jalan. Dijamin pasangan kamu akan balik menganggap kamu wanita paling ribet sedunia.</p>
<p>Nah, untuk masalah terakhir yang berkaitan dengan pertanyaan pasangan di telepon ibaratnya seperti konferensi pers antara polisi vs KPK. Saat kamu menerima panggilan telepon dari si dia, kamu harus mengajukan pertanyaan yang sama sebelum dia sempat melontarkan pertanyaan itu. Tanyakan kepadanya: &#8220;Lagi ngapain? Sama siapa? Di mana?&#8221; dan kalau perlu kamu bisa menambahkan kalimat yang menggambarkan diri kamu nggak percaya sama dia seperti &#8220;Masa sih? Kok di belakang kamu kayak ada suara cewek gitu?&#8221; Belajarlah bagaimana polisi ngeles dan dewan terhormat DPR bergaya di televisi. Kamu pasti bisa, deh!</p>
<p>Untuk kali ini saya berani jamin kalau pasangan kamu nggak akan jadi femme yang bikin kamu ribet lagi. Sebagai gantinya kamu akan susah punya pacar secara kamu sekarang udah lebih ribet dari perempuan mana pun yang ada di dunia. Ingat lho, dunia lesbian ini sempit, bisa jadi obrolan di telepon kamu sama di dia disadap, lalu gosip tentang kamu sudah menyebar ke mana-mana. Nah, selamat mencoba ya.</p>
<p>Salam,<br />
tim S.O.S!</p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi, 2009<br />
Salam hangat,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/14/sos-ribet-ala-femme/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/14/sos-ribet-ala-femme/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Cinta Pertama</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/Yxq0GxKj_C4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/13/have-your-say-cinta-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 15:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4767</guid>
		<description><![CDATA[
Pengalaman pertama sebagai lesbian sering kali membuat bingung, pastinya. Pernah mengalaminya? Ingat dong bagaimana kejadiannya? Dengarkan kita sahabat lesbian kita, Magenta, bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai lesbian.
Sebenarnya aku tidak memiliki ketertarikan terhadap perempuan sejak kukecil. Rasanya masa kecilkuku berjalan biasa-biasa saja. Orangtuaku menjaga aku dan adik-adikku dengan baik. Kami tumbuh besar tanpa terhalang dengan problema.
Aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4768" title="poci4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/poci4.jpg" alt="poci4" width="170" height="113" /></p>
<p><em>Pengalaman pertama sebagai lesbian sering kali membuat bingung, pastinya. Pernah mengalaminya? Ingat dong bagaimana kejadiannya? Dengarkan kita sahabat lesbian kita, Magenta, bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai lesbian.</em></p>
<p>Sebenarnya aku tidak memiliki ketertarikan terhadap perempuan sejak kukecil. Rasanya masa kecilkuku berjalan biasa-biasa saja. Orangtuaku menjaga aku dan adik-adikku dengan baik. Kami tumbuh besar tanpa terhalang dengan problema.</p>
<p><span id="more-4767"></span>Aku naksir dengan lelaki waktu umur 11 tahun. Tidak gejala-gejala yang membuatku bingung dengan orientasi seksualku. Aku menjadi remaja yang tampaknya &#8220;normal&#8221;, berpacaran dengan lelaki dan naksir dengan artis atau penyanyi lelaki yang tampan.</p>
<p>Setahun lalu, persis ketika aku duduk di tahun ketiga kuliahku, aku terjebak hujan. Setelah menunggu beberapa saat, hujan tidak juga berhenti, jadi kuputuskan untuk menerobosnya.  Berlari-lari berusaha agar tidak basah ternyata membuatku lengah. Aku terserempet motor.</p>
<p>Pengendara motornya kabur begitu aja tak peduli ketika aku kepeleset terjatuh di kubangan air. Maunya cepat, malah jadi celaka. Aku bukan hanya basah kuyup, tapi juga sakit <em>(besoknya pinggulku meninggalkan bekas biru lebam)</em>, dan tak pernah merasa terhina seperti itu. Tapi seorang perempuan yang sedang duduk berteduh di dekat warung membantuku. Dia bilang dia sedang menunggu jemputan kakaknya yang akan membawanya pulang, kalau kebetulan aku searah jalan, dia tidak keberatan aku ikut di mobilnya.</p>
<p>Begitulah bagaimana aku bertemu dengan Yudha. Yudha bukan perempuan yang berteduh di warung, itu namanya Susiana. Yudha adalah kakaknya yang menjemput kami berdua. Yudha barusan saja lulus kuliah, sedang mencari pekerjaan, dan dia sangat tampan. Aku belum pernah melihat perempuan yang setampan itu.</p>
<p>Dari cuma mengobrol pendek-pendek di mobil, aku akhirnya tahu beberapa hal tentang Yudha. Selanjutnya aku berteman dengan Susiana, bertemu Yudha beberapa kali di rumahnya, dan pada akhirnya aku lupa persisnya bagaimana, intinya aku jatuh cinta sama Yudha.</p>
<p>Itu perasaan yang bener-bener membingungkan. Aku ketakutan dan bersemangat, dua-duanya sekaligus. Aku mencoba berkelit dari Yudha, tapi karena rupanya Yudha juga udah suka denganku, pengejaran dia ke aku sungguh sulit kutolak. Di suatu malam yang hujan, aku pertama kali berciuman dengan perempuan di mobil Yudha.</p>
<p>Selanjutnya kami berpacaran. Sekarang sudah nyaris satu tahun kami bersama. Bagiku, sangat nyaman berpacaran dengan perempuan daripada lelaki. Aku sayang sama kekasihku dan bahagia bersamanya. Aku tidak berpikir lagi tentang lelaki sejak aku bersama Yudha. Aku ingin bersama pasangan hidupku selama-lamanya sampai maut meregangkan nyawaku. Sayang, kamu adalah satu-satunya perempuan untukku.</p>
<p>@Magenta, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/13/have-your-say-cinta-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/13/have-your-say-cinta-pertama/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Vibrator, Perlu Nggak sih?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/8XXHQBnmYjM/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/13/kesehatan-dan-seksualitas-vibrator-perlu-nggak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 04:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>

		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4763</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Topik kita kali ini adalah benda kecil yang kurang lebih seukuran lengan perempuan dan berfungsi sebagai sahabat para lesbian, namanya vibrator. Masa’ sih kamu nggak kenal barang ini? Kalau ditilik dari asal katanya to vibrate (menggetar), berarti ada sesuatu yang digetarkan oleh benda ini. Bagian tubuh mana yang digetarkan? Terserah pada imajinasi terliar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4764" title="bed_by_xstephanyx" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/bed_by_xstephanyx.jpg" alt="bed_by_xstephanyx" width="210" height="280" />Oleh: Juno Bis</p>
<p>Topik kita kali ini adalah benda kecil yang kurang lebih seukuran lengan perempuan dan berfungsi sebagai sahabat para lesbian, namanya <em>vibrator</em>. Masa’ sih kamu nggak kenal barang ini? Kalau ditilik dari asal katanya <em>to vibrate</em> (menggetar), berarti ada sesuatu yang digetarkan oleh benda ini. Bagian tubuh mana yang digetarkan? Terserah pada imajinasi terliar yang dapat kamu gambarkan!  Bentuk vibrator amat beragam. Tetapi secara garis besar bisa dibedakan dalam dua kategori, yaitu yang menyerupai kemaluan lelaki - biasanya terbuat dari sejenis karet sintetis yang agak lentur agar bisa digunakan sesuai fungsinya - dan yang serupa <em>hand-gun</em>, terbuat dari bahan plastik agak keras dan berbentuk seperti senjata laras pendek. Warnanya?  Biasanya cuma putih, krem, dan coklat tua. Tapi mungkin suatu hari kamu mau berinovasi menciptakan warna-warna lain, misalnya ungu dan pink, jadi kan bisa digunakan sebagai hadiah Valentine’s Day! Kenapa tidak?  Supaya agak fokus, kita batasi saja obrolan kita kali ini pada fungsi positif dan negatif alat ini. Oke?</p>
<p><span id="more-4763"></span>Bagi teman-teman yang LDR, vibrator bisa menjadi solusi tepat untuk menghilangkan pusing-pusing di kepala yang timbul karena kangen banget sama si dia. Bagi teman-teman ‘jojoba’ (jomblo-jomblo bahagia), alat bantu ini merupakan teman yang dapat diandalkan, apalagi kalau kita berkali-kali gagal mendapatkan teman kencan yang cocok. Sedangkan bagi pasangan yang tinggal berdekatan atau pun seatap, vibrator bisa dijadikan alternatif yang menyenangkan kalau ingin mencoba berbagai gaya dan cara yang baru. Cara memakainya? Banyak cara, tergantung bagaimana kamu mengenal tubuhmu. Daerah sensitif mana yang bisa menghasilkan kilatan-kilatan listrik ke seluruh tubuh dengan bantuan vibtrator. Bisa atas, bisa bawah. Bisa di luar, bisa di dalam. Bisa dibiarkan tak bergerak, bisa juga dibuat gerakan .</p>
<p>Benda cantik ini pastinya membuat kita sangat puas karena multi orgasme yang mampu dihadirkannya. Dan untuk mencapainya pun tidak perlu tenaga kuda, sebab sampai hari ini belum ada vibrator yang  bisa mengeluh “Boss, berhenti dulu, dong! Kan capek, nih?!”  Jadi terbukti bahwa benda ini tidak mengenal kelelahan fisik. Ketahanannya tergantung pada tangan yang menggenggamnya.</p>
<p>Meskipun menimbulkan sensasi yang gelisah (geli-geli basah), sebaiknya kemampuan vibrator ini tidak dijadikan tumpuan satu-satunya untuk mencapai kepuasan seksual. Biar bagaimana pun kenikmatan yang ditimbulkan oleh sentuhan tangan, jemari, bibir, dan lidah lebih mantap daripada  getaran yang diantarkan oleh benda mati ini. Sentuhan kulit dan kulit, tubuh dan tubuh selalu lebih indah. Lagi pula, kalau kita terlalu mengagungkannya, kita akan menjadi manusia yang tidak memerlukan pasangan atau partner lagi.</p>
<p>Lepas dari baik buruknya penggunaan vibrator ini, ada perlunya teman-teman waspada ketika memakainya. Berbagi vibrator dengan orang lain adalah hal yang terlarang. Dengan partner tentu boleh, tapi jangan ganti-ganti partner ya. Setia dengan satu partner saja. Kesehatan membagi vibrator itu dipertanyakan, waspadalah. Kalau mau lebih aman, sarungkan vibrator dengan kondom.</p>
<p>Ada seorang teman yang berkonsultasi dengan seorang dokter kandungan. Inilah dialog yang sempat terekam di kamar praktek sang dokter:</p>
<p>Teman: “ Dokter, ada vibrator yang ketinggalan di vagina saya.”<br />
Dokter: “Oh, kalau begitu, biar saya lakukan operasi kecil untuk mengeluarkannya!”<br />
Teman: “Oh, tidak usah, Dok, tidak usah!”<br />
Dokter: “Maksud Anda?”<br />
Teman: “Biarkan saja di dalam. Tolong dokter gantikan saja baterenya.”</p>
<p>Yo, ayo, ayo… siapa yang mau ganti batere??</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2009</p>
<p>Catatan: Terima kasih kepada teman kencanku yang memberikan inspirasi penulisan artikel ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/13/kesehatan-dan-seksualitas-vibrator-perlu-nggak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/13/kesehatan-dan-seksualitas-vibrator-perlu-nggak-sih/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bengkel Menulis: Cerita Klise, Baik Atau Buruk?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/PtJL7o61iKk/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/12/bengkel-menulis-cerita-klise-baik-atau-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 09:51:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Bengkel Menulis]]></category>

		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4754</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Pernah merasa deja-vu bahkan merasa capek ketika sedang membaca novel? Coba intip deretan kisah di bawah ini, kira-kira pernah merasa membacanya atau tidak:
1.	bangun pagi, terlambat, tergesa-gesa menuju sekolah, kemudian bertemu dengan si anak baru yang juga terlambat ke sekolah
2.	dua perempuan berteman akrab, semakin akrab, kemudian ternyata mereka adalah sepasang lesbian
3.	tokoh perempuan yang miskin tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4755" title="the_story_of_a_lifetime_______by_foureyes" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/the_story_of_a_lifetime_______by_foureyes.jpg" alt="the_story_of_a_lifetime_______by_foureyes" width="168" height="168" />Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Pernah merasa <em>deja-vu</em> bahkan merasa capek ketika sedang membaca novel? Coba intip deretan kisah di bawah ini, kira-kira pernah merasa membacanya atau tidak:</p>
<p>1.	bangun pagi, terlambat, tergesa-gesa menuju sekolah, kemudian bertemu dengan si anak baru yang juga terlambat ke sekolah<br />
2.	dua perempuan berteman akrab, semakin akrab, kemudian ternyata mereka adalah sepasang lesbian<br />
3.	tokoh perempuan yang miskin tapi cantik dan baik hati, bertemu dengan lelaki sempurna, lalu mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya</p>
<p><span id="more-4754"></span>Pernah? Dari ribuan novel yang aku baca (baik novel bagus atau buruk), mungkin aku berhasil menemukan adegan-adegan di atas dengan mudah. Klise yang aku maksud (lihat judul) bukan berarti klise dalam kata-kata (seperti mengapa awan selalu harus “berarak”? Atau mengapa hujan selalu diasosiasikan dengan suasana melankolisme?), melainkan klise dalam cerita.</p>
<p>Pertama-tama, mari kita menyamakan persepsi dengan menemukan arti klise. Definisi klise dalam cerita adalah adegan yang digunakan berulang-ulang. Seorang penulis yang telah menulis ratusan naskah tidak dapat mengelak adegan klise ini. Misalnya, berapa ribu kisah tentang perempuan yang sempurna: ia cantik, hebat, tabah, berani, dan tergila-gila <em>fashion</em>? Contohnya novel-novel pop-art yang ngetop dilabelin <em>chicklit</em>, atau novel pemenang Pulitzer, <em>Gone with the Wind</em>. Berapa ribu kisah tentang cerita dalam mimpi atau khayalan di mana pembaca akan sulit membedakan mana yang real dan sureal? Contohnya <em>Alice in the Wonderland </em>atau <em>The Book of Lost Things</em>. Berapa ribu kisah tentang tokoh yang nyaris mati dan kemudian menemukan pencerahan dalam perjalanan menuju kematiannya? Contohnya <em>Wednesday with Morrie </em>atau <em>Through the Glass, Darkly.</em> Bagaimana kisah tentang lesbian, tentang perempuan yang bertemu dengan perempuan lalu jatuh cinta? Itu terlalu banyak, sampai otakku tidak sanggup meng-<em>download </em>judul-judulnya.</p>
<p>Jadi, apa salahnya menggunakan cerita yang klise? Mungkin kita harus membedakan suatu cerita tergelincir menjadi klise-yang-garing-dan-membosankan atau klise-yang-tidak-terasa-klise. Misi menulis tentang saja menciptakan adegan-adegan yang <em>original</em>, tapi seperti yang sudah aku tulis di atas, adegan klise tidak dapat begitu saja dibuang. Menulis adegan klise ternyata lebih sulit daripada menulis adegan <em>fresh </em>yang berbeda, ibaratnya seperti pemain akrobat meniti tali. Sedikit saja dia kehilangan keseimbangan, maka ia akan terjun bebas dan terjatuh.</p>
<p>Kata kuncinya terletak dari kemampuan si penulis untuk menjalankan ceritanya dengan lancar. Patrick Davis, penulis skenario untuk film Hollywood, memberikan analogi seperti ini: benang merah cerita adalah supir dari suatu kendaraan. Sementara adegan adalah kendaraan itu tersebut, bisa berarti pesawat, mobil, sepeda, motor, perahu, dan lain-lain. Hal sepele dan klise seperti cerita <em>boy-meet-girl </em> bisa dibungkus dengan berbagai adegan sehingga terasa unik. Adegan itu bisa saja berupa adegan politis, horor, <em>historical romance</em>, atau <em>setting </em>yang menarik dan berbeda.</p>
<p>Pengetahuan itu juga penting, apalagi informasi. Banyak-banyaklah mendapatkan gudang informasi tentang seluruh cerita, sehingga tema klasik (sebagai pengganti kata “klise”) tidak menjadi terasa basi. Aku pernah membaca satu novel yang tokoh utamanya katanya menderita HIV (sepertinya tujuan cerita adalah tokoh sekarat yang menemukan makna kehidupan dalam perjalanan menuju kematiannya, kurang klise apa coba?), tapi ternyata si penulis sama sekali tidak memiliki <em>back up </em>informasi tentang medis, kedokteran, dan informasi HIV sehingga terasa kisahnya mengada-ada dan miskin tentang fakta-fakta.</p>
<p>Fiksi memang fiksi – bukan fakta, tapi fiksi harus masuk akal dan ditopang oleh fakta yang masuk akal juga. <em>Unpublished writers, take heart.</em> Menulis cerita yang klise tapi segar membutuhkan ketrampilan. Jangan juga selalu terjebak memikirkan cerita yang &#8220;harus selalu berbeda dan unik&#8221;. Lihatlah bagaimana klisenya dongeng <em>Twilight </em>saga, tapi kenapa orang bisa tergila-gila?</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/12/bengkel-menulis-cerita-klise-baik-atau-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/12/bengkel-menulis-cerita-klise-baik-atau-buruk/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Gen dan Orientasi Seksual</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/1mUtGYUs-1Q/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/12/gen-dan-orientasi-seksual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 01:15:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4748</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sky
Mendadak saya teringat akan sebuah acara talkshow yang dibawakan oleh Anjasmara. Pada salah satu episode acara tersebut, tampil seorang perempuan yang mengaku tidak jadi dinikahi oleh tunangannya karena menurut gosip yang beredar, adik laki-laki dari perempuan tersebut adalah seorang gay. Si tunangan tidak ingin memiliki anggota keluarga dengan orientasi seksual yang “menyimpang”. Kedua hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4749" title="dna_by_lxlacidstormlxl" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/dna_by_lxlacidstormlxl.png" alt="dna_by_lxlacidstormlxl" width="216" height="162" />Oleh: Sky</p>
<p>Mendadak saya teringat akan sebuah acara <em>talkshow </em>yang dibawakan oleh Anjasmara. Pada salah satu episode acara tersebut, tampil seorang perempuan yang mengaku tidak jadi dinikahi oleh tunangannya karena menurut gosip yang beredar, adik laki-laki dari perempuan tersebut adalah seorang gay. Si tunangan tidak ingin memiliki anggota keluarga dengan orientasi seksual yang “menyimpang”. Kedua hal tersebut kemudian membuat saya bertanya-tanya: sebenarnya, seberapa besar, sih, kaitan antara gen atau hubungan kekeluargaan terhadap orientasi seksual seseorang?</p>
<p><span id="more-4748"></span>Berdasarkan penelitian, orientasi seksual memang memiliki hubungan dengan gen. Pada hewan, misalnya, lalat buah (<em>Drosophilla</em>) jantan yang memiliki <em>fruitless gene</em> hanya mengejar lalat buah jantan lain, bukan lalat betina. Berarti bisa kita katakan lalat jantan itu adalah gay. Bagaimana dengan manusia? Penelitian yang dilakukan oleh Kendler, Thornton, Gilman, dan Kessler pada tahun 2000 menunjukkan bahwa ketika salah satu dari sepasang anak kembar ternyata homoseksual, maka terdapat kemungkinan sebesar 31% bahwa saudaranya juga homoseksual jika mereka adalah kembar identik (<em>monozygotic</em>). Sementara itu, pada kembar tidak identik (<em>dizygotic</em>), kemungkinannya hanya 8%.</p>
<p>Kembar identik atau <em>monozygotic </em>adalah kembar yang dihasilkan oleh satu sperma dan satu sel telur, dalam pembelahannya, terjadi identitas lebih dari satu, dan membagi kantung rahim yang sama. Sementara kembar tak identik alias <em>dizygotic </em>adalah kembar yang dihasilkan oleh dua sperma dan dua sel telur, mengalami pembuahan yang bersamaan, dan membagi kantung rahim yang sama.</p>
<p>Penelitian lain yang dilakukan oleh Bailey dan Pillard pada tahun 1991 serta penelitian Bailey, Pillard, Neale, dan Agyei pada tahun 1993 memberikan hasil yang sedikit berbeda. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui orientasi seksual kerabat dewasa (<em>adult relatives)</em> dari seorang pria atau wanita homoseksual. Hasilnya, 52% saudara kembar <em>monozygotic </em>seorang gay adalah homoseksual, 22% jika mereka kembar <em>dizygotic</em>, dan di bawah 15% jika mereka adalah saudara angkat. Hasil penelitian tersebut lebih rendah pada wanita, yaitu 48% jika mereka kembar <em>monozygotic</em>, 16% jika mereka kembar <em>dizygotic</em>, 14% pada saudara yang tidak kembar, dan 6% jika mereka saudara angkat.</p>
<p>Meskipun demikian, tidak perlu menyalahkan siapa pun jika ternyata di antara kerabat kita memang ada gay atau lesbian selain diri kita sendiri. Walaupun gen dapat memengaruhi orientasi seksual seseorang, gen bukanlah satu-satunya faktor penentu. Jika tidak, seharusnya kemungkinan kembar identik untuk memiliki orientasi seksual yang sama adalah 100%, bukan 48% atau 52 %, right? Lingkungan juga merupakan faktor lain yang diduga memiliki hubungan yang sangat erat dengan orientasi seksual seseorang. Sebagai tambahan, sejumlah ilmuwan berargumentasi bahwa hormon, <em>pre-natal events</em>, dan anatomi otak juga berpengaruh terhadap orientasi seseorang.</p>
<p>Terlepas dari riset dan data yang saya dapatkan, pastilah masih banyak lagi riset yang lebih baik di tahun-tahun belakangan ini. Dunia genetika adalah dunia yang memiliki kecepatan luar biasa. Dalam satu bulan, kita bisa menemukan riset terbaru dan teori yang gres. Lagipula, terlepas dari semua hal itu, saya mau memercaya bahwa orientasi seksual adalah pilihan. <em>Yes, I believe that it’s merely a choice.</em> Seringkali, seseorang memang tidak dapat menentukan pada siapa dia ingin jatuh cinta. Namun, orang tersebut dapat memilih untuk melanjutkan cintanya, atau pergi menjauh. <em>You are a lesbian, a gay, a bisexual, or a heterosexual, only when you choose and identify yourself as one. </em>Jadi, bukan salah siapa-siapa jika saya adalah seorang lesbian.<em> It’s my choice, my own responsibility.</em></p>
<p>@Sky, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/12/gen-dan-orientasi-seksual/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/12/gen-dan-orientasi-seksual/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Imagine Me And You</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/Rn5tMJ_J4h8/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/11/telezkop-imagine-me-and-you/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4738</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Shinigami
Imajinasi bukanlah monopoli kelompok tertentu; ia bukan hanya milik para pembuat film, pelukis, penulis, atau segala macam profesi berbasis seni lainnya. Manusia sudah bisa berimajinasi sejak kanak-kanak. Masih ingat bagaimana kita membayangkan diri menjadi dokter, mengenakan jas panjang putih dengan stetoskop melingkar di leher? Atau bagaimana akan menenteng tas kerja warna hitam dari bahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4740" title="imagination_by_xbooshbabyx" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/imagination_by_xbooshbabyx.jpg" alt="imagination_by_xbooshbabyx" width="144" height="202" />Oleh: Shinigami</p>
<p>Imajinasi bukanlah monopoli kelompok tertentu; ia bukan hanya milik para pembuat film, pelukis, penulis, atau segala macam profesi berbasis seni lainnya. Manusia sudah bisa berimajinasi sejak kanak-kanak. Masih ingat bagaimana kita membayangkan diri menjadi dokter, mengenakan jas panjang putih dengan stetoskop melingkar di leher? Atau bagaimana akan menenteng tas kerja warna hitam dari bahan kulit sambil melangkah yakin dalam balutan blazer berwarna senada layaknya seorang direktur utama suatu perusahaan multinasional? Melihat keberadaan imajinasi yang telah muncul dalam hidup manusia sejak usia yang sangat muda –seperti halnya kemampuan untuk makan, minum, serta merasakan— saya percaya bahwa imajinasi itu sesuatu yang penting dan tidak dapat diremehkan, termasuk dalam suatu hubungan percintaan.</p>
<p><span id="more-4738"></span>Eits, tolong dibersihkan sedikit pikirannya. Saya tidak akan membahas tentang imajinasi dan fantasi seksual liar yang dimiliki para lesbian. Tergoda sih, tapi ah, tidak sekarang. Imajinasi yang saya bahas lebih kepada membayangkan hidup, membayangkan masa depan&#8230; ehm, yang lebih jauh daripada aktivitas ranjang nanti malam dengan pasangan. Konsentrasi yang benar dong bacanya. Hehehe&#8230; Senang deh menggoda.</p>
<p>Kembali ke topik imajinasi yang lebih serius ini. Ya, imajinasi tentang masa depan itu penting dalam suatu hubungan, atau bahkan ketika baru akan memulai suatu hubungan. Setiap orang pasti memiliki pandangan yang ideal mengenai kehidupannya, khususnya kehidupan dengan pasangan. Misalnya bayangan untuk tinggal berdua di rumah kecil yang nyaman, dengan taman kecil di belakang dan pagar tinggi di depan sehingga tidak diributi oleh para tetangga yang bisa jadi selalu ingin tahu urusan orang. Saya yakin kalian pasti memiliki versi masing-masing.</p>
<p>Bagus kan? Bagus dong. Tetapi apakah beres sampai sini dan segalanya akan lancar-lancar saja? Sayangnya bukan begitu aturan mainnya. Terkadang saya berpikir bahwa setiap orang yang memiliki imajinasi seperti layaknya seorang sutradara pementasan teater yang membangun panggungnya berdasarkan naskah yang ia kerjakan. Setelah mendalami naskahnya, ia tahu apa yang dia inginkan, mulai dari bentuk, warna, hingga bahan. Tetapi ini baru separuh jalan, sebab yang ada barulah suatu <em>setting </em>alias lingkungan fisik yang mati. Semuanya tidak akan sama sebelum ada manusia yang menempati lingkungan fisik tersebut.</p>
<p>Maka di sinilah kolaborasi antara (calon) pasangan dan imajinasi seseorang terjadi. Sebagaimana yang harus dilakukan seorang sutradara, pada tahap ini seseorang akan melakukan audisi atas (calon) pasangan itu, mencoba melihat dalam bayangannya apakah perempuan itu cocok berperan sebagai pasangan di dalam <em>setting </em>kehidupan ideal yang dimiliki orang tersebut. Jadi, kalau dirasa tidak cocok, dibuang dong perempuan itu? Belum tentu. Sebab, pada tahap ini seseorang akan melihat seberapa besar perubahan yang perlu dilakukan terhadap gambaran idealnya bila memang perempuan ini tidak bisa seratus persen pas berada di dalamnya. Kompromi itu pasti ada. Seberapa banyak dan seberapa rela itulah masalahnya.</p>
<p>Menurut saya, untuk suatu hubungan yang tahan lama seperti sepatu Crocs, seseorang harus bisa membayangkan hidupnya bersama si (calon) pasangan dan menyukai bayangan yang dilihatnya itu. Tetapi ingat, bayangannya bukan bayangan buta loh. Maksud saya jangan asal membayangkan tanpa didasari pemahaman yang cukup atas diri, watak, dan kebiasaan (calon) pasangan. Jangan mentang-mentang sedang jatuh cinta lalu memaksa melihat bahwa semua yang ada baik-baik saja. Itu namanya takabur dan seenaknya sendiri. Kenali perempuan itu dengan baik, atau malah sangat baik, sebelum mulai membayangkan untuk menjalin hubungan serius dengannya.</p>
<p>Kesimpulannya, demi kebaikan sendiri, gunakan imajinasi dan ciptakan bayangan yang realistis. Saya tahu ini terdengar berlawanan, tetapi memang begitu kenyataannya — bersikap realistis itu penting. Ya, artinya kalau memang setelah dibayangkan dengan realistis yang terjadi malah bukannya senyum lebar sarat cinta, melainkan kerenyitan dahi dalam, dan merasa tidak nyaman dengan apa yang dilihat, sebaiknya lupakan saja; tidak perlu memaksakan diri menjalin suatu hubungan yang tidak akan membuat bahagia. Membayangkannya saja susah, apalagi saat benar-benar harus menjalaninya. <em>Save your breath, find another girl.</em></p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/11/telezkop-imagine-me-and-you/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/11/telezkop-imagine-me-and-you/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Perempuan dalam 4M</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/axbZ6Ebwe-4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/11/4732/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 01:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4732</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arinie
Terlahir sebagai perempuan dalam tradisi Jawa yang kental, sejak kecil saya telah terbiasa mendengar nasihat, petatah-petitih dari orang-orang tua dalam keluarga besar ayah maupun ibu. Petatah-petitih  yang menjadi adagium yang tercetak tebal di kepala bahwa seorang perempuan, sesuai kodratnya suatu hari harus menjadi seorang  istri yang mengabdikan hidupnya pada sang suami atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4733" title="woman_and_bamboo_by_miaki" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/woman_and_bamboo_by_miaki.png" alt="woman_and_bamboo_by_miaki" width="144" height="183" />Oleh: Arinie</p>
<p>Terlahir sebagai perempuan dalam tradisi Jawa yang kental, sejak kecil saya telah terbiasa mendengar nasihat, petatah-petitih dari orang-orang tua dalam keluarga besar ayah maupun ibu. Petatah-petitih  yang menjadi adagium yang tercetak tebal di kepala bahwa seorang perempuan, sesuai kodratnya suatu hari harus menjadi seorang  istri yang mengabdikan hidupnya pada sang suami atau <em>garwo</em>. Seorang <em>garwo </em>yang berarti <em>sigaranne nyowo</em> atau belahan nyawa, belahan jiwa  yang berhak mendapatkan pengabdian berupa kemampuan 3M sepenuhnya dari sang istri yaitu <em>macak, manak,</em> dan masak.</p>
<p><span id="more-4732"></span>3M yang menjadi sebuah kewajiban bahwa seorang perempuan wajib bisa berdandan (<em>macak</em>) demi menyenangkan hati suami, melahirkan (<em>manak</em>) demi kelangsungan keturunan, dan memasak (masak) untuk memenuhi kebutuhan ragawi seluruh anggota keluarga.  Lengkapnya seorang perempuan memiliki kewajiban sekitar dapur-sumur-kasur bagi lelaki yang menjadi suaminya.</p>
<p>Seiring perkembangan sosial dalam kehidupan, tugas perempuan bertambah dengan <em>makaryo </em>atau bekerja, menghasilkan sesuatu yang bukan cuma sekedar menopang roda perekonomian keluarga melainkan juga seringkali seorang istri menjadi tulang punggung keluarga di banyak rumah tangga di setiap pelosok negeri kita tercinta.</p>
<p>Perempuan, yang konon katanya terlahir sebagai sosok yang lemah, nyatanya mengemban kewajiban yang tak bisa dibilang ringan. Siapa bilang melahirkan dan memasak cuma sekedar kewajiban domestik yang ringan? Kalaulah para lelaki diberi dua kewajiban ini, maka keluh kesah mereka akan lebih panjang dari aktivitas ngerumpi para perempuan. Begitu pula tak bisa dipungkiri, melahirkan adalah arena pertarungan hidup dan mati seorang perempuan demi kelangsungan sebuah generasi yang sama sekali tak bisa diwakilkan oleh lelaki mana pun demi nama solidaritas. Itu juga bukan sebuah keputusan yang ringan ketika seorang perempuan memutuskan untuk bekerja di sela aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.</p>
<p>Adagium 4M bukan lagi hal yang asing di mata masyarakat pada hari ini. Ia tak lagi milik orang Jawa melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.  Sejujurnya 4M bukanlah semata doktrin, melainkan rambu buat para perempuan yang mengemban tugas mulia sebagai ibu generasi. Walaupun banyak di antara kita, lesbian, yang terhalang memenuhi kriteria 4M terutama <em>manak</em>, bukan berarti  tak mampu tapi lebih karena  merasa tak bisa. Tetap saja, seorang sahabat lesbian memilih menikah untuk mendengar suara jam alam memanggilnya: mengandung dan memiliki anak. Atau para mombian yang menyadari bahwa pernikahan, suami dan anak - tak bisa membuat dirinya lepas dari kelesbianannya. Tapi bukan berarti mereka yang memilih tidak menikah, sama sekali tak memiliki rasa keibuan dan sifat-sifat alamiah kewanitaannya. Tak heran jika seorang butchi menghasilkan lima kerajinan kruistik ukuran besar dalam waktu 3 bulan atau seorang andro merajut <em>mute </em>dan memasak ala resto.</p>
<p>Bukan bermaksud mengingkari  kewajiban melahirkan jika seorang lesbian memilih tidak menikah. Jika diteropong jauh  ke dalam hati, pasti ia juga merindukan hadirnya makhluk kecil yang lucu sebagai keturunannya. Hidup, bagaimanapun, adalah sebuah pilihan. Seorang lesbian dengan pilihannya untuk tidak menikah tetaplah seorang perempuan. Dia tidak melahirkan dari rahimnya, tapi bukan berarti tidak bisa melahirkan dari hatinya. Perempuan-perempuan yang (mampu) menjalankan peran 4M dalam keluarga adalah pahlawan yang layak dihormati, misalnya para ibu yang, melahirkan para lesbian ke dunia. Mereka layak mendapatkan cinta, kasih, dan penghormatan tulus dan tak layak mendapatkan pelecehan sekecil apa pun bentuknya.</p>
<p>Bagaimana dengan lesbian?  Layakkah kita mendapat sebutan pahlawan keluarga dengan anomali (jika menjadi lesbian bisa disamakan dengan sebuah &#8220;kecacatan&#8221;) yang kita sandang? Tentu saja, tetaplah berkarya dengan apa yang kita bisa bukan semata hanya berharap mendapat sampiran gelar pahlawan. Karena seringkali seorang pahlawan ada dalam bayang-bayang kegelapan, tak nampak, dan tak dikenal. Biarkan dunia merasakan hasil <em>makaryo </em>kita. Tidak apa-apa jika kita menjadi pahlawan tak dikenal, tak dikenang, asalkan kebaikan yang kita ukirkan menjadi genta yang gaungnya dirasakan oleh setiap orang yang kita cintai. Ini bukan saatnya bagi seorang lesbian untuk meratapi segala duka dan ketakberdayaan diri. Bangkitlah, tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berarti dalam segala keterbatasan diri. Jadilah pahlawan paling tidak buat diri kita sendiri. Selamat Hari Pahlawan, saudari-saudariku.</p>
<p>@Arinie, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/11/4732/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/11/4732/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tajuk: Lesbian Pahlawan dan Kita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/bZmOxPZ5gGY/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/10/tajuk-lesbian-pahlawan-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 06:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4727</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Setiap ada kesempatan baik itu pagi atau sore, saya selalu menyempatkan diri berjalan-jalan kaki sekalian mengeksplorasi tempat saya tinggal. Jika bosan, terkadang saya pergi lebih jauh, mengenakan sepatu sport, baju olahraga, siap-siaplah saya sampai disangka atlit sprinter Indonesia. Well… badan saya cukup proporsional dan meyakinkan buat ikutan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4728" title="indonesia_bersatu__by_kakajoe" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/indonesia_bersatu__by_kakajoe.jpg" alt="indonesia_bersatu__by_kakajoe" width="154" height="218" />Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Setiap ada kesempatan baik itu pagi atau sore, saya selalu menyempatkan diri berjalan-jalan kaki sekalian mengeksplorasi tempat saya tinggal. Jika bosan, terkadang saya pergi lebih jauh, mengenakan sepatu sport, baju olahraga, siap-siaplah saya sampai disangka atlit <em>sprinter </em>Indonesia. <em>Well</em>… badan saya cukup proporsional dan meyakinkan buat ikutan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional, mana tahu saja suatu hari kelak dengan hobi ini saya bisa mengharumkan nama Indonesia menjadi pahlawan? Oh ya, ngomong-ngomong soal pahlawan, siapa sebenarnya pahlawan? Makna pahlawan menjadi sangat relatif masa kini. Menurut Wikipedia,  pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani.</p>
<p><span id="more-4727"></span>Berarti  siapa saja yang gagah berani berjuang di bidangnya bisa masuk kategori pahlawan. Jika demikian,  saya sangat mendukung munculnya apresiasi baru ini. Merayakan hari pahlawan dengan cara memberi penghargaan kepada siapa saja yang dengan keberanian, keperkasaan, serta kekesatriaannya rela berkorban untuk kebaikan orang lain, baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, politik, kreatif, dan sebagainya. Betapa sayangnya, setiap perayaan hari pahlawan kita lewatkan begitu saja mengabaikan jasa-jasa pahlawan di sekeliling kita. Pahlawan jelas seseorang yang sudah melakukan hal-hal dengan keberaniannya membela kehidupan orang lain. Jika demikian, betapa terasa mutu peringatan hari pahlawan yang kita lakukan dangkal dan garing dari tahun ke tahun. Saya tidak yakin apa pelajar dan pegawai makin menghayati makna hari pahlawan tersebut melalui upacara dan menabur bunga di laut atau taman makam pahlawan.</p>
<p>Baiklah, coba kita kembali pada aktivitas jalan-jalan saya tadi. Baru saja saya beranjak tak jauh dari pinggiran rel kereta api, saya melihat seorang bapak di pos penjaga sedang membaca koran. Iseng-iseng saya mengobrol dengan beliau. Betapa kagetnya saya, menurut beliau selama 34 tahun menjaga palang tersebut ia tidak pernah berhari raya Idul Fitri bersama keluarga. Bolehkah ia saya sebut sebagai pahlawan? Tak jauh dari pinggiran rel kereta, berderet bangunan semi permanen. Di sana puluhan bahkan mungkin ratusan pemulung yang setiap hari memunguti plastik bekas  dan berbagai jenis sampah yang dipilah-pilah untuk diolah kembali. Tidak terbayang sampah-sampah menggunung jika mereka tidak ada. Mengingat budaya memilah-milah sampah di lingkungan tempat tinggal merupakan pemandangan langka. Aktivitas hidup para pemulung ini tentu masuk dalam kategori pahlawan. Tapi kapan coba menteri lingkungan hidup kita mau memberi penghargaan itu kepada mereka? Bahkan wacana itu barangkali tidak pernah ada.</p>
<p>Masih di lokasi yang sama, seorang ibu menjemur buah pinang yang  ia kumpulkan dari pohon-pohon pinang peneduh jalan yang tak jauh dari lokasi rumahnya. Dalam satu hari ia bisa menjual pinang-pinang tersebut seharga 6,000 rupiah hingga 7,500 rupiah. “Bisa membeli tambahan sekilo beras,” katanya. Menghidupi empat orang anak dengan pekerjaan suami sebagai penarik ojek tentu saja ekonomi mereka kembang kembis mengikut fluktuasi harga sembako. Pukul empat pagi ia sudah ke pasar menjual pinang yang ia siapkan sehari sebelumnya, pukul delapan mengambil upah cuci strika, hingga&#8230; entah kapan pekerjaaannya berakhir. Ia adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Melakukan ziarah nasional di Taman Makam Pahlawan boleh-boleh saja, meskipun sebenarnya yang dimakamkan di sana rata-rata merupakan almarhum POLRI dan TNI. Pahlawankah mereka? Bagaimana dengan guru-guru bantu yang  bergaji minim, siang mengajar sore hari menjadi supir taksi dan bus cadangan? Bagaimana juga nasib tukang sampah yang riskan terhadap efek limbah beracun dan sumber-sumber penyakit?</p>
<p>Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Melalui keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaannya terjadi perubahan positif bagi negara dan bangsa. Mungkin tak perlu mencakup lingkup yang luas. Sebenarnya kita bisa menjadi pahlawan paling tidak bagi siapa saja di sekeliling kita. Memaknai hari pahlawan mungkin tidak cuma memberi penghargaan kepada orang-orang yang banyak berjasa pada lingkungan sekitar kita, namun menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk menjadi pahlawan bagi orang lain. Kita tahu banyak problema yang dihadapi para lesbian, mulai dari krisis identitas, urusan percintaan, pernikahan, bahkan terancam usir dari rumah-rumah mereka ketika orientasi itu diketahui oleh orangtua. Bahkan kemudian banyak yang menjadi tidak jelas arah hidup setelah terusir, menggelandang tak tahu arah, pendidikan terpaksa berhenti di tengah jalan karena tak ada dana dari mana pun. Barangkali ada sesuatu yang bisa kita lakukan buat mereka. Bolehkah saya menyebut LSM lesbian sebagai pahlawan luar biasa yang memiliki tanggungjawab dan panggilan nurani untuk bekerja menampung para lesbian bermasalah, memberikan beasiswa untuk mereka sehingga mereka bisa mandiri dan berguna tanpa berakhir menjadi sampah masyarakat?</p>
<p>Sebagian dari kita mungkin ada yang memang tak punya apa-apa, hanya bermodalkan tenaga dan ide. Tentu tenaga dan pikiran tersebut bisa menjadi sumber pertolongan. Misalnya melakukan sesuatu yang positif di tempat tinggal, seperti mengelola sampah, menjaga kebersihan, membantu lansia dan anak kecil, memberikan tempat duduk di bus untuk ibu hamil, bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, menghormati keluarga. Mungkin seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa teman lesbian kita: mengajari anak-anak jalanan membaca. Meskipun hanya berkelas di kolong jembatan, atau halaman mesjid dan gereja. Bolehkah saya sebut teman-teman lesbian kita ini pahlawan? Memang tidak mudah untuk menjadi pahlawan, namun jika bibit dan kemauan untuk siap berkorban ditumbuhkan, barangkali rasa cinta dan harmoni bisa merata di setiap tempat. Nilai-nilai kepahlawan ini patut mendapat penghargaan dari kita semua.</p>
<p>Pada kesempatan ini juga saya ingin menyampaikan penghargaan saya kepada penulis SepociKopi, baik kolomnis, penulis lepas, penulis tetap, kreator di balik semua ide, dan para lesbian yang sukarela mengulurkan tangannya untuk mendukung SepociKopi - mereka telah menjadi pahlawan bagi para lesbian. Saya hargai pengorbanan buah pikir, tempat, dan waktu dalam menghidupkan semangat, sukacita, arah jalan, dan pencerahan bagi para lesbian semuanya. Selamat hari pahlawan. Mari tanya diri sendiri apakah kita rela berkorban untuk orang-orang di sekeliling kita? Jika jawaban itu “ya”, selamat Hari Pahlawan, wahai para lesbian pahlawanku. Mari sematkan rasa cinta di dadamu, selalu.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/10/tajuk-lesbian-pahlawan-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/10/tajuk-lesbian-pahlawan-dan-kita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Domine Eduard Oslo dan Sore</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/z5EASLEy32k/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/10/domine-eduard-oslo-dan-sore/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 03:49:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Memory]]></category>

		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>

		<category><![CDATA[Traveling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4723</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rosallyn Tanoyo
Saya sering berpikir untuk mengoleksi sore. Satu sore ke sore yang lain, dengan satu rasa dengan rasa yang lain. Apalagi semenjak sering terkungkung dalam gedung bertingkat (meskipun secara logika semakin tinggi letak kantor saya, semakin dekat dengan sore) tembok-tembok beton berhiaskan kaca menahan sore masuk dalam ingatan saya. Dan sore menjadi mahal.
Saya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4724" title="love__5_55_p_m__by_sanitynvrfoundme" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/love__5_55_p_m__by_sanitynvrfoundme.jpg" alt="love__5_55_p_m__by_sanitynvrfoundme" width="210" height="165" />Oleh: Rosallyn Tanoyo</p>
<p>Saya sering berpikir untuk mengoleksi sore. Satu sore ke sore yang lain, dengan satu rasa dengan rasa yang lain. Apalagi semenjak sering terkungkung dalam gedung bertingkat (meskipun secara logika semakin tinggi letak kantor saya, semakin dekat dengan sore) tembok-tembok beton berhiaskan kaca menahan sore masuk dalam ingatan saya. Dan sore menjadi mahal.</p>
<p>Saya lebih suka sore dibandingkan pagi. Pagi tercipta untuk terlalu optimis warnanya menjelang terang artinya akan banyak permulaan. Sore terbuat dari berpuluh-puluh ketergesaan, keringat, makian, amarah lama-lama menghitam artinya istirahatlah barang sejenak.</p>
<p><span id="more-4723"></span>Hari ini saya sedang menikmati sore, tepat di sebelah jendela. Awannya bergulung-gulung dan kemudian jika saya mengalihkan pandangan dia beranjak. Langit menjelang sore warnanya biru bersih. Bandara Domine Eduard Oslo, penduduk setempat menyebutnya DEO, tempat saya duduk saat ini. Bandara ini terletak di Sorong sebuah kabupaten di Papua Barat yang cukup berkembang. Udaranya sangat kering dan anehnya bisa timbul hujan rintik di tengah terik matahari.</p>
<p>Hingga empat tahun yang lalu saat Sorong belum berubah menjadi kabupaten. Bandara aktif adalah Jeffman yang terletak di Pulau Jeffman pulau kecil sebelah barat Sorong. Untuk mencapai kota Sorong penumpang harus menaiki <em>boat </em>selama kurang lebih 20 menit. Namun jika memilih untuk menggunakan feri maka lebih lama lagi yaitu 30 menit. Dan paling seru jika berani memanfaatkan perahu biasa, selama satu jam terombang-ambing di lautan pacific. Bandara ini dibangun pada masa kolonial Belanda, panjang Bandara 1850 m dengan klasifikasi bandara kelas dua. Dulu bandara DEO hanya mampu menerima pesawat-pesawat kecil saja. Saat ini Jeffman sudah tidak dipergunakan lagi. Dengar-dengar hanya menjadi pemukiman penduduk saja.</p>
<p>Meskipun bandara daratan (DEO) sekarang merupakan bandara utama, namun tetap saja menyimpan banyak keunikan. Tidak yang seperti dibayangkan bentuk bandara yang bersih, megah, bandara ini merupakan bandara mungil. Hampir persis dengan perhentian kereta api pedalaman pada film-film tahun 40-an. Loket-loketnya masih terbuat dari kayu, tanpa sentuhan pendingin ruangan. Jika ingin melakukan <em>check-in</em> tiket untuk ditukar dengan <em>boarding pass</em>, suasananya riuh rendah. Petugas bandara akan memanggil satu persatu. Taut muka penumpang terlihat sangat tegang. Ternyata meskipun telah membeli tiket mereka masih punya kemungkinan tidak terangkut oleh pesawat alias tidak dapat tempat duduk. Maklum saja beberapa maskapai penerbangan disini masih memberlakukan penjualan tiket secara manual.</p>
<p>Sehingga ketika saya datang untuk meliput penerbangan perdana Batavia Air ke Sorong, masih sempat terlihat orang-orang berebutan<em> check-in.</em> Dan berdesak-desakan sambil dorong-dorongan. Kawan saya salah satu petugas Batavia Air, berusaha menenangkan mereka dengan berkata, ”Tenang, semua akan kebagian tiket karena kita pakai komputer. Sistem komputer akan membuat Anda bisa terbang semua!&#8221;</p>
<p>Hmmm&#8230;</p>
<p>Jangan tanyakan masalah penerangan, beberapa maskapai mampu mendarat tanpa <em>landing lamp</em> (saya tidak tahu apakah patut bersorak gembira, tapi hari saya bilang <em>it&#8217;s cool dude!</em>). Hanya pilot yang memiliki jam terbang tinggi mampu menguasai bandara ini.  Namun, maskapai penerbangan yang mendahulukan <em>safety</em>, tentu saja tidak akan melakukan hal semacam itu.</p>
<p>Sekeliling bandara masih banyak rumah-rumah penduduk. Pembatas antara bandara dan dunia luar hanya pagar kawat saja, yang mudah dibengkokan. Dekat dengan landasan tampak anak-anak kampung bermain sambil menghitung pesawat serta mengumpulkan sampah. Jika sedang melakukan lari pagi, tiba-tiba pesawat bisa lewat di atas kepala seperti adegan di film <em>Pearl Harbour.</em></p>
<p>Sudah habis sore saya hari ini. Saya masih terkagum-kagum. Cakrawala Sorong bisa membelah langit dengan sempurna bersama semburan merahnya di atas badan-badan pesawat. Koleksi sore saya yang lain lagi.</p>
<p>Saya merindukanmu. Seandainya kau di sini, saya tidak akan ajak menghitung pesawat (meskipun kau akan menikmati dengan sungguh!). Mungkin secangkir teh dan beberapa keping biskuit di atas genting lebih asyik. Bersama salakan <em>shutter </em>kamera saya tentunya. Selamat sore WIB.</p>
<p>@Rosallyn Tanoyo, SepociKopi, 2009</p>
<p>*Redaksi berterima kasih kepada Rosallyn atas kiriman tulisannya</p>
<p><strong>Tentang Rosallyn Tanoyo:<br />
</strong> Penulis dadakan sesuai cuaca. Hobi nongkrong dan membaca serta makan. Saat ini sedang mendalami lomography.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/10/domine-eduard-oslo-dan-sore/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/10/domine-eduard-oslo-dan-sore/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Berita: Kristen Stewart Lesbian?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/Jsn_c8Azfno/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/09/berita-kristen-stewart-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 12:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4717</guid>
		<description><![CDATA[Dikutip dari: www.liputan6.com
Gena Gerina
06/11/2009 09:05 &#124; Selebritas
Los Angeles:
Baru-baru ini, bintang Twilight Kristen Stewart mengaku, dirinya seorang lesbian. Karena itu, seperti diberitakan Female First, perempuan kelahiran 9 April 1990 itu menolak tudingan tengah menjalin kasih dengan Robert Pattinson, lawan mainnya dalam Twilight.
&#8220;Kami tidak berhubungan. Aku seorang lesbian. Aku hanya berusaha untuk menjaga hubungan baik,&#8221; ujarnya. Ungkapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4718" title="kristen-stewart" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/kristen-stewart.jpg" alt="kristen-stewart" width="191" height="286" />Dikutip dari: <a href="http://showbiz.liputan6.com/berita/200911/250113/Kristen.Stewart.Lesbi.">www.liputan6.com</a><br />
Gena Gerina</p>
<p>06/11/2009 09:05 | Selebritas<br />
Los Angeles:</p>
<p>Baru-baru ini, bintang <em>Twilight </em>Kristen Stewart mengaku, dirinya seorang lesbian. Karena itu, seperti diberitakan <em>Female First</em>, perempuan kelahiran 9 April 1990 itu menolak tudingan tengah menjalin kasih dengan Robert Pattinson, lawan mainnya dalam <em>Twilight.</em></p>
<p>&#8220;Kami tidak berhubungan. Aku seorang lesbian. Aku hanya berusaha untuk menjaga hubungan baik,&#8221; ujarnya. Ungkapan itu, bisa jadi, merupakan kekesalan atas sejumlah pemberitaan tentang dirinya dengan sejumlah aktor, termasuk dengan Taylor Lautner.</p>
<p>&#8220;Kami memang dekat, tapi cuma sebatas teman,&#8221; jelas aktris yang pernah membintangi <em>Panic Room</em> dan<em> The Messengers</em> itu.(GEN/SHA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/09/berita-kristen-stewart-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2009/11/09/berita-kristen-stewart-lesbian/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
