<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Sepoci Kopi</title>
	
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description>Live Life Beyond the Ordinary</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 06:19:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SepociKopi" /><feedburner:info uri="sepocikopi" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>SepociKopi</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Jazirah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/LKwCxfknpUk/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/10/jazirah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 05:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6328</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Peta yang sejak tadi berada dalam genggaman, kubentangkan di atas meja bundar, menyajikan menu utama. Sosok-sosok yang mengelilingin meja bundar mengerumun, berapa tangan langsung menunjuk bagian-bagian penting wilayah perladangan. Sesosok tubuh menjulang menyeruak, lalu berdehem sejenak.
”Jadi bagian ini tak boleh kami sentuh?” tanya memastikan.
Seseorang yang lebih tua mempersilakanku berbicara. Meski mereka penduduk asli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6331" title="Sahara_II_by_Delicate_Daydream" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Sahara_II_by_Delicate_Daydream.jpg" alt="Sahara_II_by_Delicate_Daydream" width="213" height="164" />Oleh: Ade Rain</p>
<p>Peta yang sejak tadi berada dalam genggaman, kubentangkan di atas meja bundar, menyajikan menu utama. Sosok-sosok yang mengelilingin meja bundar mengerumun, berapa tangan langsung menunjuk bagian-bagian penting wilayah perladangan. Sesosok tubuh menjulang menyeruak, lalu berdehem sejenak.</p>
<p>”Jadi bagian ini tak boleh kami sentuh?” tanya memastikan.</p>
<p>Seseorang yang lebih tua mempersilakanku berbicara. Meski mereka penduduk asli yang lebih paham situasi sekitar, tetap kuingatkan mereka beberapa bagian sisi oase. Tebing-tebing terpacak indah di ceruk tanah yang sering didiami gerombolan kambing gunung terlarang dirobohkan, kecuali mereka siap bertempur dengan para Nomad.<span id="more-6328"></span></p>
<p>“Ini,” Aku mengarahkan pena dari kanan ke kiri hingga terhenti  pada oase yang harus dibendung. “Di sana sumber air para gembala, ratusan unta dan domba para Nomad biasanya mengambil sisi utara, sehingga tak menggangu perladangan petani.&#8221;</p>
<p>Ia mengangguk mendengarkan penjelasanku, lalu beberapa saat kemudian suara riuh rendah kembali berdengung memenuhi <em>basecamp.</em></p>
<p>Padang pasir itu luas membentang. Angin mulai mengembusi pasir gurun dan bulan di atasnya menyisakan bau malam. Bintang membentuk garis-garis melintang sekilas tak beraturan, titik-titik sinar membuat coretan di langit pagi yang membiru. Beberapa goresan cahaya seakan-akan menyeringaikan senyuman. Padahal beberapa saat yang lalu hamparan pasir di depan tenda baru saja tersiram air sembahyang yang dibuang begitu saja usai Subuh tadi, tapi iring-iringan kuda baru saja mengeringankannya.</p>
<p>Kaki kuda terakhir berhenti tepat di depan <em>basecamp</em>-ku. Sosok <em>pria</em> itu berhenti di sana. Wajahnya berbalut sorban, hanya menyisakan hidung dan mata. Ia tampak berupaya menenangkan tunggangannya, ketika menatapku yang berdiri menyambut kedatangan mereka ia seolah memohon  agar aku ikut menenangkan kudanya. Ia <em>pria</em> aneh yang sukses membuat jantungku berulang kali mengaduh. Aku mengenalnya sebagai pria berdesain gagah menjulang, layaknya figur pemimpin pasukan pejuang bersuara murai. Ia satu dari sepuluh ahli bendungan yang  dikirim Raja untuk memperbaiki oase yang mengaliri ladang kurma petani.</p>
<p>Setelah pertemuan warga pesawangan gurun, para ahli ini hampir setiap malam mengelilingi api unggun tak jauh dari pemukiman penduduk. Sejak menjadi mediator antara warga dan para arsitek, ia kukenal sebagai seseorang yang bicaranya amat terbatas, sosok yang tak pernah pembuka sorban penutup wajah. Angin padang pasir memang mengirim panas mengigit, semua orang memaklumi gayanya, kecuali aku. Ia membuatku penasaran sejak sorban masih menutupi ke setengah parasnya. Sementara wajah-wajah ahli lain dilepas bebas. Tipikal arab dengan roman muka tanpa kumis, cambang hitam rapi dibiarkan membujur dari kanan ke kiri dagu seolah pulau-pulau dengan pantai yang jernih dan bersih.</p>
<p>Pada pertemuan  yang ke sekian kali, kemah bermesin pendingin dengan meja bundar ditengahnya, kursiku berseberangan dengan si muka tabir.</p>
<p>“Jangan mengadu domba kelompok warga ini, karena para Nomad sering beranggapan tidak adil sebuah oase mengaliri seluruh ladang petani.</p>
<p>Bagian sisi utara sama sekali tak boleh kalian sentuh. Petani dan para Nomad pernah tumpah-tumpahan darah hanya untuk sumber mata air ini.” Kataku tegas.</p>
<p>Ia jeli memerhati peta lalu dengan bahasa teknis membuat rumus-rumus kalkulasi rumit. Setelah pembicaraan semakin sulit kucerna aku berniat meninggalkan ruangan. Bukan tugasku merancang dan mendesain mashalat bendungan tersebut.</p>
<p>Tapi baru beberapa meter aku beranjak, seseorang memanggil namaku, si muka tabir. “Bisakah kamu uruskan pertemuan dengan dua kelompok itu besok?” Suaranya jernih, ranum, riam air, melodi bernada rendah, dan bulat.</p>
<p>“Baik.” Aku langsung berbalik memunggunginya, namun suara itu masih terngiang, aksen kental gurun pasir.</p>
<p>Perkemahan mereka berada di sisi barat, mentari tenggelam di belakangnya membentuk siluet bukit-bukit kerucut hitam. Dari balik dinding tempatku berdiam tempat mereka bagai kumpulan semak belukar, aku bisa melihat mereka dengan bebas. Orang-orang  bagai kelinci  liar keluar masuk, dan hatiku terpaut pada  kelinci bertabir. Hari ketika memediasi suku-suku bertikai itu, aku memergoki tapak tangannya yang bersih dengan kuku-kuku panjang membesar. Punggung tangannya jernih, tapi tangguh bagai pelepah kurma mengilat, ia berhasil menyedot seluruh energiku ke situ.</p>
<p>Pada pertemuan yang kesekian kali,  ia memintaku agar tinggal sejenak bersamanya. Ada sesuatu hal yang teramat penting yang harus ia ungkapkan.</p>
<p>“Persoalan ini jauh lebih rumit dari merancang bendungan itu. Sesuatu yang harus kamu tahu.” Ia duduk diam, menunduk, seolah ada sesuatu menempel di sepatunya. “Setelah mengetahui, mohon  jangan lagi canggung padaku.”  Bicaranya semakin berat, seolah-olah apa yang akan ia ucapkan wasiat penting yang harus kucatat.</p>
<p>Aku mengangguk, mencoba mengerti, sejujurnya aliran darahku tersendat-sendat di ujung jari. Pelan-pelan ia membuka sorban  penutup wajah itu. Darahku berdesir.</p>
<p>Oh Tuhan!</p>
<p>Sejak itu, malam-malam dingin membuat terjagaku dua kali lebih panjang dari malam biasa, nyaris setiap pagi aku berharap akan tumbuh tunas-tunas tanaman baru di pasir gurun tempat berpijak. Pria itu, eh bukan&#8230; perempuan berbalut jubah lelaki dengan wajah tertutup lilitan sorban sukses memenjara waktu-waktuku dari memikirkan hal lain kecuali dirinya. Sering aku buntu pada pertemuan-pertemuan sore selanjutnya, seperti pisau tumpul yang tak sanggup membelah apapun. Hanya mendengar perkembangan-perkembangan terbaru tanpa sanggup berkata-kata.</p>
<p>Suatu hari usai zhuhur, ia menghampiri ruanganku di bagian proyek itu, membawa sebuah peta.</p>
<p>“Percayakah kamu bahwa oase besar ini ternyata sebuah kawah gunung api dan masih aktif, ribuan tahun dulu letusannya teramat dashyat&#8230;” Ia mengambil tanganku mengarahkan ujung pensilku pada peta. Darahku mendesir, aroma tubuhnya uap embun segar yang membuka pori-pori. Kakiku kaku seolah takut seekor kumbang yang menempel di kulit akan beranjak pergi. Sungguh  aku tak bisa melupakan hari itu.</p>
<p>Ah aku benci waktu-waktu <em>technical meeting</em>-ku yang bengong dan tumpul.</p>
<p>Hingga pada suatu waktu, ia menghentikan langkahku ketika ruangan sepi. Menarik jemari tangan perlahan, kemudian memasukkan apik pada genggaman jemarinya. Ia menghela nafas panjang, tanpa suara, menundukkan kepala seolah tengkuknya tak lagi bertulang.</p>
<p>“Sesuatu yang aneh terjadi padaku.” Suaranya gagu.</p>
<p>Ia membuka tabir muka, melupakan pakaian pria itu, merapatkan buah dadanya yang  penuh pada buah dadaku, membenamkan kepalaku pada buku bahu, lalu perlahan merenggang. Bibir merapat pada dahi, dingin.  Nafasku pasrah memburu, seperti tikus padang pasir yang keletihan menghindar elang. Tangannya yang besar merengkuh penuh genggaman,  membisiki mantera paling indah yang kudengar dari seorang penyihir, rumus paling sederhana yang kudengar dari seorang ilmuwan, konsep sketsa bangunan paling akurat yang diucapkan dari bibir seorang arsitek. Ruhku terpilin-pilin, jiwa bergairah itu tergagap bingung mengelana kegelapan.  Pada dinding bendungan setengah jadi hati kami menyerap kemilau cahaya, memijarkannya kembali seiring aliran oase. Sejak itu pula binar-binar mata kami menambah taburan bintang di langit jazirah, melengkapi cahaya serangga malam yang berjeda-jeda menyinari pelepah-pelepah kurma&#8230;</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/10/jazirah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/10/jazirah/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Mirror, Mirror on the Wall</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/MowN9IMy-p4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/10/mirror-mirror-on-the-wall-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 02:00:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6357</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Shinigami
Saya yakin, hampir semua dari kita mengenali frase yang menjadi judul artikel kali ini. Ya, apalagi kalau bukan penggalan awal pertanyaan si ratu jahat di cerita Putih Salju kepada si cermin tentang siapa yang paling cantik di seluruh negri. Bagi yang menerjemahkan judul tersebut ke ranah dunia kecantikan dan sudah siap-siap mengikuti pembahasan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6358" title="Mirror_by_Hari1232" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Mirror_by_Hari1232-247x300.jpg" alt="Mirror_by_Hari1232" width="181" height="218" />Oleh: Shinigami</p>
<p>Saya yakin, hampir semua dari kita mengenali frase yang menjadi judul artikel kali ini. Ya, apalagi kalau bukan penggalan awal pertanyaan si ratu jahat di cerita Putih Salju kepada si cermin tentang siapa yang paling cantik di seluruh negri. Bagi yang menerjemahkan judul tersebut ke ranah dunia kecantikan dan sudah siap-siap mengikuti pembahasan tentang perawatan wajah, dengan berat hati saya harus mengecewakan Anda. Saya tidak akan membicarakan si ratu&#8211;saya tidak sedang mood membicarakan narsisme akut yang jamak ditemui di diri manusia zaman ini yang membuat mereka merasa perlu mengarahkan fokus segala sesuatunya kepada diri sendiri. Sebaliknya, saya mencoba mengajak kalian melongok posisi si cermin barang sejenak.<span id="more-6357"></span></p>
<p>Saya yakin kita cukup sering berada di posisi si cermin, yaitu ketika seseorang mengharapkan kita mengeluarkan suatu pernyataan atau pendapat mengenai sesuatu, khususnya yang berkenaan dengan diri si penanya tersebut. Ambil contoh ketika pasangan baru saja potong rambut di salon kelas yahud dan memamerkan potongan rambut itu kepada kita. Malangnya, potongan rambut itu, menurut kita, tidak cocok baginya karena membuat wajahnya yang bulat semakin bulat, sementara pasangan tak ingin terlihat <em>chubby</em>. Nah, jawaban apa yang harus diberikan? Kedengarannya seperti situasi buah simalakama ya? Dimakan kita mati (baca: dicemberuti seharian, dicuekin, dianggap tak mengerti mode), enggak dimakan pasangan yang celaka (baca: jadi bahan omongan temen-temen suka gosip yang berspekulasi berat badannya pasti naik paling tidak dua kilo).</p>
<p>Entah dengan kalian, yang pasti, saya memilih tetap menjadi si cermin ketika ia berkata, &#8220;Yang paling cantik di seluruh negeri tak lain dan tak bukan adalah Putih Salju.&#8221; (Ya, ya, mungkin saja bukan persis begitu kata-katanya, tapi intinya sama, kan?) Dengan kata lain, saya memilih untuk berkata jujur. Bukankah itu membahayakan diri sendiri? <em>Yeah, well</em>, berkata jujur memang acap bukanlah pilihan yang bebas risiko. Saya rasa, ketika menyebutkan nama Putih Salju pun, si cermin menghadapi konsekuensi murka sang ratu yang mungkin akan membantingnya hingga hancur berkeping-keping. Tetapi si cermin toh tetap melakukannya.</p>
<p>Terlepas dari kenyataan bahwa si cermin adalah benda mati- yang meskipun sakti, tentu tak akan merasakan sakit hati seperti kita bila menanggung marah pasangan-menurut saya ada dua alasan mengapa kita tetap harus berkata jujur. Alasan pertama adalah kepercayaan. Ketika pasangan bertanya sedemikian rupa kepada kita, itu artinya ia memercayai kita. Ia percaya kita bisa menjadi orang yang akan memberikan jawaban yang sebenarnya. Ia sungguh menganggap serius pendapat kita. Apakah kita rela menistai kepercayaan semacam itu dengan memberikan kepalsuan? Memang, bisa saja ia mengharapkan jawaban yang indah semerbak taman bunga, tetapi apalah artinya itu bila kebohongan belaka? Bagi saya, bila ia sudah sedemikian rupa menganggap penting pendapat saya, maka saya haruslah &#8220;berterima kasih&#8221; dengan memberikan jawaban yang sebenarnya.</p>
<p>Alasan kedua adalah cinta. Tunggu, sebelum kalian muntah-muntah sambil menuduh saya hiperbolis sok romantis, biarkan saya menjelaskan. Bila kita mencintai seseorang, kita tentu menginginkan yang terbaik bagi orang tersebut, bukan? Nah, bila yang terjadi bukanlah yang terbaik baginya, apakah kita malah memuji-mujinya, membiarkan dia terkungkung ilusi bahwa yang dia miliki atau tunjukkan adalah hal terbaik yang dimilikinya? Apakah kita rela ia menjadi bahan tertawaan atau gosip orang hanya gara-gara kita tidak berkata sejujurnya? Tidakkah lebih baik kita mengatakan yang sebenarnya sehingga hal yang kurang baik itu bisa diperbaiki sedemikian rupa? Cinta bukan berarti selalu menuruti pasangan dan selalu memberikan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Meski begitu, ada satu hal yang harus diingat: jujur tidak sama dengan kejam. Bayangkan jika si cermin menjawab ratu dengan berkata, &#8220;Yang paling cantik? Aduh, jangan berharap kamu lah ya. Masa muka tirus <em>trademark</em> penderita bulimia/anoreksia gitu mau bersaing dengan pipi kemerahan Putih Salju? Enggak level. Udah jelas menang Putih Salju!&#8221; Saya jamin cermin itu sudah dibanting-banting hingga serbuk dan orang yang melihat pasti menyangka dia adalah setumpuk <em>glitter</em> warna perak. Intinya, kejujuran kita juga harus ditopang dengan penyampaian yang pas dan tak menyinggung perasaan. Bila memang kejujuran itu sendiri tak terlalu menyenangkan, saya rasa tidak perlulah kita menambahkan goresan dari duri kata-kata yang membungkusnya. Yang kita lakukan adalah menyampaikan kejujuran, bukan menyiksa atau berbahagia di atas penderitaannya. Kalau perlu, kalimat penghibur dapat disertakan setelah pernyataan jujur kita.</p>
<p>Jadi, kalau memang potongan rambut pasangan yang tidak murah itu malah membuat wajahnya terlihat lebih tak menarik dari sebelumnya, mungkin yang bisa kita katakan adalah, &#8220;Tidak terlalu menonjolkan kelebihan wajah kamu sih, Sayang. Kamu mungkin terlihat sedikit lebih <em>chubby</em> dari sebelumnya. Tapi tenang, enggak lama rambut kamu pasti akan panjang dan kamu bisa memilih model rambut yang lebih bagus dari yang sudah-sudah.&#8221; Jangan lupa tersenyum manis dan mencium lembut pipinya ya.</p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/10/mirror-mirror-on-the-wall-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/10/mirror-mirror-on-the-wall-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tajuk: Aborsi dan Kita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/I7jx5StgLV4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/09/tajuk-aborsi-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 09:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6333</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Ruang pemeriksaan pasien sontak riuh, caci maki keluar dari ruang tunggu tempat kerja adik sepupuku. Seorang remaja dan perempuan parobaya memukul meja praktek, kemudian melengos pergi meninggalkan ruang pemeriksaan yang langsung hening. Dua perawat mencoba tersenyum saat aku mencari tahu apa yang terjadi. Sebagai persyaratan mengambil program pendidikan spesialis, salah satu syarat dokter-dokter [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6334" title="Elwen_is_pregnant_by_VyrL" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Elwen_is_pregnant_by_VyrL-200x300.jpg" alt="Elwen_is_pregnant_by_VyrL" width="140" height="210" />Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Ruang pemeriksaan pasien sontak riuh, caci maki keluar dari ruang tunggu tempat kerja adik sepupuku. Seorang remaja dan perempuan parobaya memukul meja praktek, kemudian melengos pergi meninggalkan ruang pemeriksaan yang langsung hening. Dua perawat mencoba tersenyum saat aku mencari tahu apa yang terjadi. Sebagai persyaratan mengambil program pendidikan spesialis, salah satu syarat dokter-dokter lulusan segar harus mengabdi di daerah terpencil selama kurun waktu tertentu. Adik sepupuku yang cita-citanya selama ini bekerja di tempat terpencil memilih sebuah rumah pengobatan di pedalaman. Pahitnya ternyata klinik-klinik kecil tersebut sering di jadikan sasaran aborsi seperti permintaan dua perempuan tadi.</p>
<p><span id="more-6333"></span>Pada umumnya jika seseorang ingin melakukan aborsi memang tempat terpencil yang menjadi pilihan, kota-kota kecamatan seperti tempat sepupuku berdedikasi. Barangkali banyak yang berpikir tempat tersebut takkan mudah diendus. Sepupuku tadi mengaku dalam satu bulan sedikitnya lima orang dengan aneka alasan memohon aborsi.  Pelakunya pun beragam, mulai dari ibu-ibu sampai perempuan usia belasan. Alasan ibu-ibu melakukan aborsi memang usang: takut tak mampu membayar biaya melahirkan, tak ada biaya membesarkan anak, anak-anaknya sudah banyak, alasan gaji suami nggak cukup buat satu anak lagi, dan alasan ecek-ecek lainnya. Bagi yang remaja biasanya mengaku korban perkosaaan, dicabuli saudara, ketika digagahi nggak sadar, aih intinya terlalu mengarang.</p>
<p>Yang menggelikan menurut adikku, ternyata pasien yang mengamuk kayak di atas tadi itu ternyata pemandangan biasa bagi dokter-dokter di pedalaman ini. Yang lebih parah dan paling capek bukan sama yang marah-marah seperti tadi, tapi kalau pasien tersebut yang merengek-rengek dan tidak mau pulang. Kalau sudah begitu biasanya adikku akan bilang begini,</p>
<p>“Mbak, pasti Mbak sudah mencoba dikeluarkan dengan cara yang lain-lain (baca: aneh-aneh) kan? Pasti sudah minum obat macam-macamkan? Nah, kalau sudah, saya akan beri obat untuk menjaga pendarahannya agar tidak  terlalu hebat.”<br />
<em><br />
Sret sret sret.</em> Ia menuliskan resep “vitamin”. Si pasien tadi akan segera keluar ruangan dengan besar hati bersama resep aborsi palsu. Konyolnya ini juga berbahaya. Jika pelaku melakukan cara-cara aneh di luar sana, dokter bisa dijerat hukum karena dianggap memberikan pil kepada si pemohon tadi. Namun menurut adikku, kalau tidak seperti itu, konon pasien akan tinggal di ruangan sampai seorang dokter akan bersedia membantu aborsi. Menurutnya malah pernah seorang pasien memohon sambil memegang-megang kakinya. Oh lala! Baiklah, saya bukannya tidak mau menceritakan pengalaman adikku yang menjadi dokter pedalaman, tapi tulisan ini tentang aborsi. Mari kembali ke subyek utama.</p>
<p>Aborsi atau gugur kandungan, yang dalam bahasa Latinnya <em>abortus </em>adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Dalam ilmu kedokteran ada beberapa istilah  untuk membedakan aborsi. <em>Spontaneous abortion </em>yakni gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan atau sebab-sebab alami.<em> Induced abortion </em>atau <em>procured abortion, </em>pengguguran kandungan yang disengaja, termasuk di dalamnya <em>therapeutic abortion,</em> pengguguran yang dilakukan karena kehamilan tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, terkadang dilakukan sesudah pemerkosaan. <em>Eugenic abortion</em> adalah pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat. <em>Elective abortion</em> yakni pengguguran yang dilakukan karena alasan-alasan lain. Dalam bahasa sehari-hari, istilah &#8220;keguguran&#8221; biasanya digunakan untuk <em>spontaneous abortion, </em>sementara &#8220;aborsi&#8221; digunakan untuk <em>induced abortion </em>atau <em>abortus provocatus criminals.</em></p>
<p>Menjalani kehamilan memang berat, apalagi kehamilan yang tidak dikehendaki. Terlepas dari alasan apa yang menyebabkan kehamilan, aborsi dilakukan karena terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Namun boleh tidaknya aborsi mengundang kontroversi. Ada yang berpendapat bahwa aborsi perlu dilegalkan dan ada yang berpendapat tidak perlu dilegalkan. Jika diperdebatkan kira-kira sisi positifnya begini. Pelegalan aborsi dimaksudkan untuk mengurangi tindakan aborsi yang dilakukan oleh orang yang tidak berkompeten, misalnya dukun beranak. Sepanjang aborsi tidak dilegalkan maka angka kematian ibu akibat aborsi akan terus meningkat. Nah, negatifnya tentu kita juga tahu bahwa, aborsi berarti pembunuhan. Ada yang melarang atas nama agama. Ada yang menyatakan bahwa jabang bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain.</p>
<p>Jika aborsi untuk alasan medis, umumnya aborsi tersebut dianggap legal. Untuk korban perkosaan, masih di area abu-abu. Aborsi tersebut masih &#8220;diperbolehkan&#8221; walaupun tidak semua dokter mau melakukannya. Kasus perkosaan merupakan pilihan yang pahit. Meskipun bisa saja kita mengusulkan untuk memelihara anak tersebut hingga lahir dan diadopsi oleh pasangan lain yang menginginkan seorang bayi, itu semua tergantung atas kematangan jiwa si ibu dan dukungan masyarakat agar anak yang dilahirkan tidak sia-sia dan dilecehkan masyarakat.</p>
<p>Kita tahu banyak lesbian muda yang tengah mencari identitas diri masih mencoba-coba menjalin hubungan dengan lelaki untuk memastikan orientasi seksualnya. Namun sayang banyak yang malah kebabalasan, akhirnya hamil di luar nikah dan lelaki yang diharapkan bisa mengubah orientasi seksual tadi tidak bertanggungjawab. Apa solusinya?  Pemecahannya tentu bukan dengan cara pintas. Prinsip melegalkan aborsi, sama seperti prinsip lokalisasi prostitusi. Banyak  celah yang justru akan dimanfaatkan untuk alasan kejahatan. Sebagai lesbian kita berhak dan harus melindungi diri dari tekanan dan eksploitasi orang lain, termasuk desakan siapa pun agar mau melakukan aborsi.  Pikirlah baik-baik sebelum melakukan aborsi dengan berbagai pertimbangan.</p>
<p>Kita tahu selain melanggar hukum, <em>abortus provocatus criminals</em> bisa menjerat sang ibu masuk bui, sanggup menjerat dokter atau bidan yang membantu aborsi, serta menyeret orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi ikut tinggal di balik jeruji. Pikirkan baik-baik alasan tadi, pertimbangkan kesehatan diri pribadi, lalu ingatlah jiwa makhluk hidup yang juga memiliki hak hidup. Membunuhnya dengan keputusan aborsi bisa menghantui seumur hidup. Carilah seseorang yang sanggup mendampingi, memberikan dukungan baik finansial maupun psikologis. Datangi lembaga-lembaga terkait jika orang-orang di sekeliling tidak mendukung.</p>
<p>Wahai lesbian, mari kita sepakat mencegah hal ini terjadi. Sebab aborsi baik yang dilakukan oleh paramedis ataupun dukun, legal atau illegal, akan tetap menyakitkan buat semua perempuan &#8211; lesbian maupun bukan, lahir dan batin.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/09/tajuk-aborsi-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/09/tajuk-aborsi-dan-kita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>The Little Writer</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/V5Uk5IQoEWY/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/09/the-little-writer/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 09:45:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6336</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Manies
Secara keseluruhan, saya menyuarakan diri saya sebagai penulis. Saya melabelkan diri saya sebagai penulis. Saya mengaku sebagai penulis. Dan saya merasa sebagai penulis. Intinya satu, saya memang penulis. Separah apapun tulisan saya, saya tetap penulis. Dan hidup untuk menulis. Mau di maki-maki, mau dipuji, saya tetaplah penulis.
Dan saya berharap tulisan saya dihargai meskipun jelek. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6337" title="The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar-296x300.jpg" alt="The_little_writer_by_Raccoon_with_a_cigar" width="178" height="180" />Oleh: Manies</p>
<p>Secara keseluruhan, saya menyuarakan diri saya sebagai penulis. Saya melabelkan diri saya sebagai penulis. Saya mengaku sebagai penulis. Dan saya merasa sebagai penulis. Intinya satu, saya memang penulis. Separah apapun tulisan saya, saya tetap penulis. Dan hidup untuk menulis. Mau di maki-maki, mau dipuji, saya tetaplah penulis.</p>
<p>Dan saya berharap tulisan saya dihargai meskipun jelek. Kritik adalah nafas buat saya. di mana saya dapat melihat pandangan orang lain tentang tulisan saya. Mereka boleh menghina tulisan saya seenaknya. Bukan masalah. Dihina pun saya senang karena menurut saya, artinya tulisan saya dihargai. Bukan masalah.</p>
<p><span id="more-6336"></span>Apa definisi “dihargai” menurut saya? Saya mau orang yang membaca tulisan saya &#8220;menghargai&#8221; buah pemikiran saya, &#8220;menghargai&#8221; tujuan tulisan saya, &#8220;menghargai&#8221; apa yang saya mau. Kalau memang ada kesalahan dan kejanggalan dalam cara tulis saya, saya tak keberatan disuarakan! Tidak akan pernah keberatan. Orang sukses peka terhadap kritik, tapi tidak menghindari kritik.</p>
<p>Belakangan ini saya hobi mempublikasikan tulisan saya lewat notes. Fasilitas dari jejaring sosial yang sedang beken-bekennya, Facebook. Saya mengangkat sebuah cerita yang memang bertema lesbian sesuai yang saya inginkan. Saya hanya ingin melihat pendapat orang-orang tentang tulisan saya, apakah itu cocok dikonsumsi orang banyak? Saya berusaha menjadi orang yang terbuka dan memiliki pola pikir positif, juga dapat menerima kritik dengan lapang dada (dan lapang otak).</p>
<p>Melalui notes itu saya men-<em>tag </em>dua dunia saya lewat Facebook. Dunia Lesbian dan dunia nyata saya dengan para teman <em>straight </em>saya. Mereka memang belum mengetahui identitas saya yang sebenarnya, dan itu bukan masalah menurut saya. Saya suka menulis. Saya menulis tema apapun yang menurut saya menarik.</p>
<p>Inti yang mau saya bahas kali ini tentang tulisan saya. Beberapa teman lesbian saya memberikan tanggapan yang positif dan sedikit kritik, yah saya menerimanya dengan lapang otak tentunya. Yang menjadi masalah adalah teman <em>straight </em>saya. Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, kita hidup bersama orang lain, di mana kita harus memiliki rasa simpatik dan toleransi yang tinggi. Entah mengapa, kedua hal itu tidak dimiliki oleh para teman straight saya.</p>
<p>Hingga akhirnya di suatu malam, salah seorang teman lesbian saya mengirimi SMS. Yang perlu diketahui, teman saya ini adalah seorang musisi yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai reviewer penerbit. Yah, komentator mungkin istilahnya. Dia yang memberi pendapat apakah novel itu pantas diterbitkan atau tidak. Masukan darinya pasti sangatlah berharga untuk saya.</p>
<p>“Eh, sorry ya, elo jangan tersinggung. Tapi gue mau ngomong sesuatu. Gua rada kesel sama temen-temen <em>straight </em>lo.”</p>
<p>“Emang kenapa dengan mereka?”</p>
<p>“Mereka segitunya sih sama lesbian? Bilang jijik. Munafik.”</p>
<p>Saya mengecek kembali komentar-komentar yang dilayangkan oleh para teman-teman <em>straight </em>saya. Yah, setelah di teliti lagi, wajar saja kalau teman lesbian saya ini tersinggung. “Ceritanya sih bagus, tapi kok temanya lesbian gitu sih? Elo tau sendiri gua rada jijik sama lesbian.” Atau “<em>Over all, </em>cerita lo sih bagus. Tapi sayang aja tema lesbiannya agak mengganggu.”</p>
<p>Apakah mereka sedang bersikap tidak adil? Sekarang saya yang serba salah. Di satu sisi, mereka adalah teman-teman baik saya selama di sekolah. Saya bertatap muka dengan mereka setiap hari, sehingga saya mengetahui betul cara berpikir mereka. Sekarang saya ingin menyuarakan buah pemikiran saya segamblang-gamblangnya. Memang, saya berusaha menjadi orang yang objektif dan mau melihat dari dua sisi, dalam kasus ini, melihat dari sisi teman-teman <em>straight </em>saya.</p>
<p>Anggaplah teman saya ini adalah <em>homophobia </em>yang suka semena-mena terhadap kaum homoseksual dan mencerca mereka. Saya bukanlah si Superman siang bolong yang datang tiba-tiba untuk mengangkat harkat martabat para lesbian atau menjadi rumah tempat mereka dapat berlindung di bawah tulisan-tulisan dan kata-kata saya. Saya hanyalah seorang penulis. Penulis yang sebetulnya memang sedang menguak dunia lesbian secara lebih luas sehingga mengubah persepsi dan pandangan orang-orang selama ini tentang lesbian. Lewat sebuah karya.</p>
<p>Tidak mudah mengerti dunia itu. Tidak selamanya hubungan lesbian itu menjijikan; tidak selamanya lesbian itu identik dengan perpisahan dan kesedihan. Terkadang kita harus bisa menerima bahwa setiap manusia mengaplikasikan perasaan dan cinta mereka dengan caranya masing-masing. Dari tulisan saya, saya ingin menciptakan dunia saya sendiri yang (harapannya) cocok dikonsumsi remaja, tidak hanya “kalangan tertentu”. Harapan saya bisa diterima di kalangan luas agar orang-orang tidak akan merasa segan untuk melakukan kontak dengan para lesbian karena lesbian pun bisa menjadi orang hebat. Itulah pekerjaan seorang penulis.</p>
<p>@Manies, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/09/the-little-writer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/09/the-little-writer/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Puisi: Alufiru</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/slvoDi0Urdw/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/08/puisi-alufiru/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 06:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6311</guid>
		<description><![CDATA[Alufiru
Oleh: Zetha Septina Abdu
kita melewati masa kecil dengan amat lucu
tanpa lolipop, balon warna-warni
dan tak pernah tahu bagaimana cara membuat gelembung dari permen karet
usia mengumpul dalam ketukan langkah berirama tango
dan kita mengenangnya
sebagaimana bunyi harmonika
yang dimainkan dengan leher kaku
berusaha melarikan senja dengan suara seserak mungkin
karena pagi hari selalu saja datang lebih cepat
sementara mimpi-mimpi diburu dan ditombaki
pada sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alufiru</strong><br />
Oleh: Zetha Septina Abdu</p>
<p>kita melewati masa kecil dengan amat lucu<br />
tanpa lolipop, balon warna-warni<br />
dan tak pernah tahu bagaimana cara membuat gelembung dari permen karet</p>
<p>usia mengumpul dalam ketukan langkah berirama tango<br />
dan kita mengenangnya<br />
sebagaimana bunyi harmonika<br />
yang dimainkan dengan leher kaku<br />
berusaha melarikan senja dengan suara seserak mungkin<br />
karena pagi hari selalu saja datang lebih cepat<br />
sementara mimpi-mimpi diburu dan ditombaki</p>
<p>pada sebuah akhir yang dipaksakan,<br />
kita selalu menunggu gerimis menderas menjadi hujan<br />
membiarkan curahnya memenuhi seluruh kekosongan<br />
sebuah cara sederhana, kelak kita berharap ia punya nama:<br />
tapi bukan cinta</p>
<p><strong>Tentang Zetha Septina Abdu:</strong><br />
Tinggal di kota berhati nyaman, masih saja suntuk menyelesaikan skripsi di salah satu universitas negri di Jogja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/08/puisi-alufiru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/08/puisi-alufiru/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mix n’Match: Perempuan-Perempuan di Balik Layar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/OMmUNgDRnRg/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/07/mix-nmatch-perempuan-perempuan-di-balik-layar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 16:16:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6301</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Bahasan Mix n&#8217;Match kali ini bakal rada serius walaupun nggak lepas dari topik hiburan. Tanggal 7 Maret ini kebetulan pengumuman Academy Award alias Oscar. Keramaian yang muncul adalah nama Kathryn Bigelow yang disebut berkali-kali sebagai kandidat kuat pemenang sutradara terbaik untuk film The Hurt Locker yang juga dinominasikan sebagai film terbaik. Yang lucu sebenarnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6302" title="oscar-kathrynbigelow" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/oscar-kathrynbigelow.jpg" alt="oscar-kathrynbigelow" width="260" height="201" />Oleh: Alex</p>
<p>Bahasan Mix n&#8217;Match kali ini bakal rada serius walaupun nggak lepas dari topik hiburan. Tanggal 7 Maret ini kebetulan pengumuman Academy Award alias Oscar. Keramaian yang muncul adalah nama Kathryn Bigelow yang disebut berkali-kali sebagai kandidat kuat pemenang sutradara terbaik untuk film <em>The Hurt Locker</em> yang juga dinominasikan sebagai film terbaik. Yang lucu sebenarnya, Kathryn Bigelow yang berusia 58 tahun ini bersaing ketat dengan mantan suaminya, James Cameron&#8212;sutradara <em>Avatar</em> untuk dua penghargaan penting ini.</p>
<p><em>The Hurt Locker</em> bercerita tentang perang yang amat sangat lelaki dari sudut pandang sutradara perempuan. Filmnya mendapat banyak pujian dan penghargaan. Kalau suka film perang yang manusiawi, <em>The Hurt Locker</em> adalah film yang patut ditonton. Kathryn Bigelow sebelumnya pernah menyutradarai film<em> Point Break </em>dengan bintang utama Keanu Reeves. Walaupun gagal di Golden Globe, Kathryn Bigelow menjadi sutradara terbaik dalam BAFTA Award dan Directors Guild of America.<span id="more-6301"></span></p>
<p>Kathryn Bigelow merupakan sutradara perempuan keempat yang memperoleh nominasi Sutradara Terbaik di Academy Award. Jika menang di Oscar tahun 2010 ini, dia akan jadi perempuan pertama yang menjadi sutradara terbaik selama 82 tahun Academy Award diadakan. Kayaknya Amerika masih kalah sama Indonesia yang punya Nia Dinata dan Mira Lesmana deh. Atau sejumlah sutradara perempuan lain di Indonesia yang mendapat beragam penghargaan.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="195" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/JIgEhiUVKh8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="195" src="http://www.youtube.com/v/JIgEhiUVKh8&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Perempuan pertama yang memperoleh nominasi Academy Award adalah Lina Wertmuller, sutradara Italia yang mendapat nominasi tahun 1976 untuk film <em>Seven Beauties</em>, sebuah komedi hitam tentang kisah di kamp konsentrasi. Hampir dua puluh tahun kemudian Jane Campion dinominasikan sebagai sutradara terbaik dalam film <em>The Piano </em>pada tahun 1994, sebuah film dengan karakter perempuan yang kuat dengan tema<em> psycho-sexual</em> yang mencengangkan. Kemudian hampir sepuluh tahun, tepatnya pada tahun 2003, Sofia Coppola memperoleh nominasi dalam film <em>Lost in Translation.</em></p>
<p>Kalau untuk Academy Award, memenangkan perempuan sebagai sutradara terbaik bakalan jadi yang pertama, pada tahun 1984, Golden Globe sudah memenangkan Barbra Streisand sebagai sutradara terbaik untuk film <em>Yentl. </em>Sebuah film tentang perempuan Yahudi yang menyamar sebagai laki-laki agar bisa bersekolah. Masalah timbul ketika dia jatuh cinta pada laki-laki, dan ada perempuan lain yang naksir padanya karena mengira dia laki-laki sungguhan. <em>Yentl</em> merupakan salah satu yang banyak mendapat pujiaan dan celaan pada saat yang bersamaan terutama karena Barbra Streisand yang hampir sepanjang film berperan sebagai laki-laki.</p>
<p>Selain nama-nama tersebut di atas, beberapa sutradara perempuan pernah nyerempet-nyerempet di Oscar. Nora Ephorn, misalnya. Film yang disutradarainya, <em>Julie and Julia</em>, memberikan nominasi Oscar buat Meryl Streep sebagai aktris terbaik. Saya menyukai film-film Nora Ephorn, yang selain menjadi sutradara juga merupakan novelis dan produser. Film-filmnya biasa bertema komedi romantis yang membuai seperti <em>Sleepless in Seatle, You&#8217;ve Got Mail</em>, dan <em>Bewitched.</em></p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="195" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/sIvOLOOlU7g&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="195" src="http://www.youtube.com/v/sIvOLOOlU7g&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Satu lagi adalah Julie Taymor. Dia merupakan sutradara film, teater, dan opera yang pernah mendapat beberapa penghargaan Tony Award, Emmy, dan Academy Award  untuk lagu original terbaik. Dia juga perempuan pertama yang memenangkan Tony Award sebagai sutradara drama musikal terbaik dengan menyutradarai <em>The Lion King</em> versi drama panggung musikal. Saat ini Julie Taymor sedang  mengadaptasi <em>Spider-Man </em>untuk diangkat ke panggung teater musikal Broadway.</p>
<p>Dua film layar lebar yang mengangkat nama Julie Taymor adalah<em> Frida</em> dan <em>Across the Universe. </em>Film <em>Frida</em> yang diangkat dari kisah hidup seniman Meksiko Frida Kahlo memperoleh beberapa nominasi Oscar. <em>Across the Universe, </em>film musikal dengan lagu-lagu The Beatles yang dirilis tahun 2007, juga memperoleh banyak pujian.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="195" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/43aLbo-Y_W0&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="195" src="http://www.youtube.com/v/43aLbo-Y_W0&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Jadi siapa pun yang memenangkan Academy Award, perempuan-perempuan ini sudah mencatatkan sejarahnya di balik layar.</p>
<p>Selamat menonton.</p>
<p>@Alex,  SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/07/mix-nmatch-perempuan-perempuan-di-balik-layar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/07/mix-nmatch-perempuan-perempuan-di-balik-layar/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>S.O.S: Capek Jadi Kepala Rumah Tangga</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/zL_L91GZ4FI/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 14:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[S.O.S!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6296</guid>
		<description><![CDATA[Dear DoMba yang aneh,
DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.
Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6298" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/poci2.jpg" alt="poci" width="124" height="190" />Dear DoMba yang aneh,</p>
<p>DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.</p>
<p>Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa <em>living together</em> mirip dengan kehidupan rumah tangga betulan. Jadi saya diposisikan menjadi seorang &#8221;suami&#8221; yang harus memenuhi semua kebutuhan &#8220;istri&#8221; dan rumah tangga. Dalam hubungan lesbian ini, saya merasa semua menjadi tidak jelas. Benarkah tindakan pacar saya DoMba? Menurut pendapat DoMba, bagaimana sistem keuangan pasangan lesbian yang<em> living together</em> sebenarnya? Adakah kewajiban-kewajiban seperti demikian yang harus dipatuhi? Karena jujur, secara fisik saya sudah tidak kuat mencari uang siang-malam demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.</p>
<p>Mohon bimbingan DoMba.</p>
<p>Thanks,<br />
Sarungkan<br />
<span id="more-6296"></span><br />
Dear Sarungkan yang antik,<br />
Kamu ini sebenarnya peranakan India atau Lutung sih? Kok sepintas nama kamu kayak artis Bollywood yang keren itu? Tapi kalau saya perhatikan kok malah bawa-bawa marga Kasarung? Ah, sudahlah, yang penting sekarang kamu sarungkan pedangmu dulu, itu kalau kamu bawa pedang ya.</p>
<p>Masalah hidup bersama, seperti yang pernah diulas oleh Shinigami, memang merupakan masalah yang kompleks bukan hanya bagi pasangan lesbian tapi juga pasangan hetero yang sudah menikah secara legal. Jangankan buat yang gajinya pas-pasan, buat yang pendapatannya cukup juga pasti ribet. Saya perhatikan titik masalah yang terjadi karena sejak awal kalian tinggal bersama, kalian telah melakukan pengkotakan terhadap label. Ditambah pemahaman bahwa sebagai butch, kamu harus menjadi “kepala rumah tangga”, dan pacar sebagai seorang yang femme, selayaknya hanya menjadi “ibu rumah tangga” yang baik.</p>
<p>Menurut saya tidak ada keharusan untuk memenuhi kebutuhan pacar kamu. Sama halnya dengan pacar kamu juga tidak harus untuk melayani kebutuhan kamu yang dianggap sebagai pencari nafkah. Dalam kehidupan berpasangan, yang seharusnya terjadi adalah memberi karena INGIN memberi, bukan karena HARUS memberi.</p>
<p>Ada dua hal yang saya asumsikan menjadi penyebab kamu merasa terbebani. Pertama, coba kamu pelajari hati kamu lagi deh, soalnya sepengetahuan saya, kalau kita cinta dan sayang sama seseorang, maka apa pun yang kita lakukan akan menjadi sebuah kesenangan dan kita bisa menikmatinya tanpa menjadikannya sebagai beban. Kedua, mungkin juga kamu memang sudah benar-benar kewalahan menghadapi tingkah laku pasangan kamu yang terlalu menuntut, jadinya kamu merasa letih. Dalam hal ini saya pikir kamu butuh jamu Pangkubumi ramuan Mbah De Ni.</p>
<p>Coba kamu perhatikan, apakah selama ini pasangan sudah melayani kamu layaknya ibu rumah tangga yang baik atau belum. Kalau selama ini dia hanya melayani dirinya sendiri, misalnya: cuma masak, nyuci dan nyetrika pakaian milik dia sendiri, kamu harus pandai membuat strategi. Kalau saat kamu pegal tapi dia menolak dimintai tolong mijitin kamu, sudah saatnya kamu berpikir ulang soal rumah tangga kalian. Lain halnya kalau kamu merasa porsi kamu dalam melakukan kegiatan rumah tangga hanya segelintir sementara dia melayani segala kebutuhan kamu, kamu nggak bisa menuntut balik dong. Lagian ngapain sih tuntut-menuntut? Mending saling tuntun-menuntun.</p>
<p>Ada cara yang cukup ekstrem untuk &#8220;memberi pelajaran” kepada pasangan yang terlalu banyak enuntut. Dalam kasus kamu, selama ini kamu dituntut untuk mencari nafkah siang dan malam bagi kebutuhan kalian berdua sampai-sampai fisik kamu terganggu. Coba ambil cuti beberapa hari. Jadilah pasangan yang “manja” dan minta perhatian lebih dari pasangan kamu. Minta dia buatin bubur, tapi jangan mau makan kalau tidak disuapin. Berubahlah menjadi “kepala rumah tangga” yang cerewet akan kebersihan. Beri komentar pedas dan sinis setiap kamu menemukan setitik debu pada perabotan rumah tangga, kalau perlu kamu bisa melakukan dramatisasi dengan mengoleskan ujung telunjuk kamu dan meniupnya seperti di adegan film yang majikannya minta dirajam itu lho.</p>
<p>Nah, kalau pasangan kamu mulai menunjukkan tampang bete dan siap menerkam kamu, jangan terpancing. Ini saatnya mengkomunikasikan segala hal yang mengganjal di hati dengan cara baik-baik. Kalau perlu siapkan seember air es, kalau dia mulai panas, segera siram agar kembali dingin.</p>
<p>Kalau pasangan kamu mengerti, saya yakin kamu tidak akan letih secara fisik lagi karena sibuk mencari nafkah. Tapi kayaknya sih kamu bakal capai fisik juga, karena akhirnya kamu juga harus nyuci dan nyetrika serta bersih-bersih rumah sendiri karena pasangan kamu marah lalu kabur sehabis kamu siram air es. (Semoga) selamat saat mencoba, ya.</p>
<p>Salam hangat,<br />
Dokter Jo</p>
<p>Sarungkan yang juga aneh. Kalau menurut pandangan Mbah, dalam kasus kamu yang terpenting bukanlah masalah nilai benar atau salah pada sebuah kewajiban, tapi bagaimana kalian bisa saling memberi pengertian. Dalam sebuah hubungan yang sehat, mestinya tidak ada aturan yang justru malah menekan pasangan hingga melampaui batas kesanggupannya. Aturan memang akan selalu ada, tapi tujuan aturan dibuat adalah seharusnya demi kebaikan. Agar manusia tahu mana hak dan kewajibannyalah maka aturan dibuat. Sebab tak jarang manusia menjadi begitu alpa terhadap kewajibannya, dan malah terus menuntut agar haknya terpenuhi. Ada banyak orang yang malas cari uang, tapi ngamuk-ngamuk minta dikasih makan, plus ayam goreng dan kambing guling pula.</p>
<p>Alamak!</p>
<p>Jadi dalam hal ini sebenernya tidak baik jika kita menetapkan aturan yang begitu ketat tentang siapa yang harus membiayai rumah tangga, dan siapa yang harus mengurus rumah tangga. Baik kamu dan partner keduanya adalah bagian dari rumah tangga. Jadi mencari nafkah tentu adalah kewajiban bersama, apalagi jika kamu belum bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga yang ujung-ujungnya malah membuat kamu sakit. Lihatlah dalam kehidupan rumah tangga heteroseksual pun ada begitu banyak suami yang dibantu istrinya dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga apabila pendapatan suaminya memang belum mencukupi.</p>
<p>Sebenarnya kunci kesuksesan sebuah hubungan adalah komunikasi. Komunikasi bagaikan sebuah ruang yang bisa menghancurkan segala salah prasangka, menyatakan hal yang belum ternyatakan, dan memahami banyak hal yang belum terpahami. Maka saran Mbah, bicarakanlah kepada partner bahwa sebenarnya kamu nggak sanggup menanggung semua kebutuhan hidup kalian sendiri. Putuskan kewajiban-kewajiban apa saja yang bisa kamu lakukan dan yang harus partner lakukan. Aturlah keuangan sebaik mungkin. Kalau bisa, jangan satukan tabuangan kalian, sebab takutnya akan menimbulkan masalah apabila kalian putus nanti. Ingat Indonesia belum membuat undang-undang pembagian harta gono-gini untuk kaum lebian yang bercerai. Bisa repot deh!</p>
<p>Namun apabila, seandainya, jikalau setelah kamu komunikasikan dengan partner dan ternyata partner masih ngotot nuntut kamu yang harus mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kalian sendirian. Cobalah renungkan, Sis! Apakah partner benar-benar mencari kekasih, atau mencari orang yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya? Cinta tidak pernah menuntutmu jadi kaya, tapi cinta jutru memberimu kekayaan kasih. Cinta tidak pernah memintamu untuk mencukupi, tapi cintalah justru membuatmu menjadi cukup. Hm… Jadi teringat saat Mbah mendekati Tante Mel dengan hanya bermodalkan sepiring nasi goreng pinggir jalan yang harganya cuma delapan ribu seporsi. Tapi entah mengapa nasi goreng itu bisa membuat hati Tante Mel berdebar-debar, hidungnya kembang kempis dan matanya berkedip-kedip. Sumpah! Sakin senengnya Tante Mel makan nasi gorengnya lahap banget, sampe nambah pula, bahkan minta dibungkus buat dibawa pulang untuk kakak-kakaknya dan para keponakan yang jumlahnya seabrek, halah lebay deh! Ups! Intinya Tante Mel bahagia bukan karena Mbah banyak uang, tapi karena kekerenan Mbah DeNi yang luar biasa, eh… maksudnya karena cinta Tante Mel yang tulus. Hihihihihi…</p>
<p>salam,<br />
Mbah De Ni.</p>
<p>@Tim SOS, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Class, I’m in Love</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/FolfFV6nTro/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/06/lagak-lajang-class-im-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 12:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6292</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar Arumi
Hati saya hampir berkarat, kelamaan nggak digosok, kelamaan nggak diasah. Jangan-jangan, ada lumut penuh kerak yang sedang tumbuh di dalamnya. Kulit saya mengering, bukan karna gak pernah ditaruh lotion, tapi karena terlalu lama nganggur, dan gak ada yang mengelusnya. Kepala juga semakin membatu, sebab sudah lama gak ada yang membelainya. Udah lama, lamaaaaaaa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6293" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/poci.jpg" alt="poci" width="170" height="118" />Oleh: Oscar Arumi</p>
<p>Hati saya hampir berkarat, kelamaan nggak digosok, kelamaan nggak diasah. Jangan-jangan, ada lumut penuh kerak yang sedang tumbuh di dalamnya. Kulit saya mengering, bukan karna gak pernah ditaruh <em>lotion</em>, tapi karena terlalu lama nganggur, dan gak ada yang mengelusnya. Kepala juga semakin membatu, sebab sudah lama gak ada yang membelainya. Udah lama, lamaaaaaaa banget, hampir 3 atau 4 tahun sudah menjomblo. Iya iya iya, kita lagi membicarakan tentang diri saya, si Lajang Lapuk.</p>
<p>Ngaku deh, gue jablay! Hiks. Pengen dibelai, pengen! Mulai ngawur deh kalau saya sudah mulai menulis dengan tanda seru. Artinya, hati lagi nggak stabil, otak lagi awut-awutan. Mau tahu sebabnya? Saya lagi jatuh hati, sepertinya begitu, saya deg-degan nggak keruan kalau lagi dekat-dekat sama si cantik itu. Mungkin, lumut di hati saya sedang berubah wujud menjadi kembang melati tujuh rupa yang tiap jamnya berubah sesuai suasana hati. Kalau hati saya lagi berbunga-bunga, melatinya mekar hingga bikin dada saya sesak dan buat muka saya merah. Kalau hati saya lagi kangen si dia, melatinya bakalan kuncup tertutup rapat, persis otak saya yang lagi mampet karena cuma mikirin si dia. Kalau saya lagi dekat-dekat si dia, melatinya akan mengeluarkan nada-nada dahsyat persis konser musik yang bermandikan diva. Ah, gawat, malu mau nulis panjang-panjang di sini, rasanya kok persis ABG yang lagi maruk cinta.</p>
<p><span id="more-6292"></span>Pernah merasa <em>denial</em> akan sesuatu nggak selain<em> denial</em> dengan orientasi seksualmu sendiri? Saat kamu tahu sesuatu itu memang beneran &#8220;Yes&#8221;, tapi otakmu mati-matian menyangkal dan bersikukuh kalau itu &#8220;No&#8221;. Pernah gak merasa kalau jatuh cinta itu haram? Saat kamu dan partnermu berada di dalam tenggang cinta yang begitu-begitu saja, tiba-tiba ada seseorang yang lain, yang membuat hatimu bergetar dan bernyawa lagi. Sinyalnya sampe menusuk ke urat nadimu, hingga saat malam menjelang pun, kamu masih bergelut dengan argumentasi, bahwa kamu nggak tertarik sama perempuan itu karena di hatimu hanyalah partner sekarang yang setia mendampingimu. Atau begini, pernah gak dengar kisah seorang profesor setengah baya yang terobsesi sama seorang gadis remaja, sang Lolita? Kisah cinta yang begitu menyakitkan, dan sepertinya pun, saya sudah terjebak di dalamnya. Antara ingin keluar dari rasa sakit yang tak tertahankan itu, tetapi masih bertahan dengan nyeri dan ngilu-nya yang menantang. Ya, saya terjebak. <em>Dead Lock.</em></p>
<p>Mati-matian saya menyangkal cinta itu, mati-matian saya menyangkalnya. Tetapi, letupannya gak pernah berhenti di benak saya. Persis letupan <em>popcorn</em> yang gurih, nikmat dan lezat, karena pasti mau dan mau lagi. Kalau logika yang berbicara, saya sudah tidak mau jatuh cinta lagi. Sudah capek, makan hati, lelah! Tapi, kalau hati yang mulai bersuara, bagian tubuh mana yang sanggup menolaknya? Si hati yang lemah itu, bahkan sanggup mengacaukan jalan pikiran si otak. Dan, otak saya taruhannya! Bagaimana konsentrasi mengajar saya tidak terpecah kalau hati terus menatap si dia yang duduk di barisan kedua? Bagaimana bisa saya jadi dosen panutan kalau ada mahasiswa yang berhasil menerobos alam berpikir dosennya yang mulai cabul? Bagaimana ini, bagaimana ini, bagaimana?</p>
<p>Bel berbunyi, akhirnya juru selamat datang juga. Bergegas saya tinggalkan kelas mengajar yang mulai hiruk-pikuk itu. Secepat kilat saya membereskan laptop dan OHP di kelas. Kali ini, saya butuh alat bantu pernapasan, dada saya mulai sesak di ruangan ini. Jangan sampai, si dia melihat keringat saya bercucuran di sini. Sekejap setelah berbenah, saya berjalan menuju ruang piket di ujung sana.</p>
<p>‘’Bu, bolpoinnya ketinggalan!’’</p>
<p><em>Dug-dug,dag-dag,ser-ser, plotak-pletok, doarrrrrrrrr!</em> Si dia sudah berdiri di depan saya. Dan saya, hanya mematung disini, persis batu tumpul yang minta dipahat. Sambil mengambil Parker kecintaan saya, mulutpun berucap, &#8220;Thanks ya, Zi. Jangan lupa, tambahin indikator variable X di skripsi kamu.&#8221;</p>
<p>Cukup, itu saja. Karena setelahnya, saya benar-benar sudah terjangkit pedofilia stadium akut.</p>
<p>@ Oscar Arumi, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/06/lagak-lajang-class-im-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/06/lagak-lajang-class-im-in-love/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Noktah Merah: Lesbian dari Dulu Sampai Sekarang</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/meUDykeIml4/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/05/noktah-merah-lesbian-dari-dulu-sampai-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 10:04:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6275</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Bagaimana sejarah lesbian yang tercatat di zaman dari penanggalan sebelum Masehi sampai sekarang? Ternyata setelah melakukan riset, aku menemukan banyak sejarah lesbian yang lumayan lengkap dan dirunut berdasarkan tahun. Mulai  dari 580 Sebelum Masehi hingga abad 21.
Intinya, perkembangan era lesbian dari tahun ke tahun ternyata nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita sekarang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6277" title="James_Barry_(surgeon)05" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/James_Barry_surgeon05-253x300.jpg" alt="James_Barry_(surgeon)05" width="159" height="189" />Oleh: Ade Rain</p>
<p>Bagaimana sejarah lesbian yang tercatat di zaman dari penanggalan sebelum Masehi sampai sekarang? Ternyata setelah melakukan riset, aku menemukan banyak sejarah lesbian yang lumayan lengkap dan dirunut berdasarkan tahun. Mulai  dari 580 Sebelum Masehi hingga abad 21.</p>
<p>Intinya, perkembangan era lesbian dari tahun ke tahun ternyata nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita sekarang. Jangan sedih atau bete kalau menemukan kekejaman yang dilakukan otoritas di masa itu. Sejarah bukan untuk dibenci, tapi untuk dipelajari agar tak terulang.  Tundukkan kepala sebagai tanda duka cita pada lesbian-lesbian yang menjadi korban kekejaman masa lalu akibat ketidaktahuan tentang homoseksual. Yuk, rapikan dudukmu, resapi, dan kita akan mundur sejenak menembus waktu.</p>
<p><span id="more-6275"></span>580 SM: Terkenal Sappho sekolah perempuan berkembang di Isle of Lesbos. Selengkapnya tentang Sappho, silakan baca <a href="http://sepocikopi.com/2009/12/04/noktah-merah-sappo-circa/">Noktah Merah tentang Sappho.</a></p>
<p>60: Boudicca (Boadiciea), pemimpin perang dari Iceani Anglia Timur, Celtic memimpin pemberontakan melawan penjajah Romawi, menghancurkan kota-kota Colchester. Pemerintah St. Albans berhasil menangkapnya di London. Ia berhasil lolos. Namun akhirnya ia dikalahkan setelah Roma membawa bala bantuan, dipermalukan oleh mereka. Akhirnya ia meracuni dirinya sendiri. Namanya sering diucapkan menjadi Boo-Dee-Ka asal kata dari <em>bulldyke</em>. Berarti kata <em>dyke </em>sudah ada sejak tahun ini.</p>
<p>380: Gregory dari Nazianzus memerintah pembakaran puisi Sappho.</p>
<p>1073: Otoritas gerejawi Konstantinopel dan Roma memerintahkan semua salinan sisa puisi Sappho dihancurkan. Untung masih ada yang menyelamatkannya sehingga kita masih bisa menikmati keindahan puisi tersebut.</p>
<p>1260: Sekolah Hukum Orleans menghukum pelaku lesbian dengan hukuman mutilasi dan dibakar di tiang pancang.</p>
<p>1649: Marry Hammon dan Goodwife Norman dituntut  hukuman 16 tahun penjara di Plymouth, Massachusetts karena kedapatan berhubungan intim di tempat tidur. Norman dipaksa membuat pengakuan di depan publik tapi tuntutan kepada Hammon dihilangkan. Norman diyakini sebagai perempuan pertama Amerika yang dijatuhi hukuman karena lesbianisme.</p>
<p>1655: New Haven memperluas definisi sodomi sebagai pelanggaran berat termasuk hubungan seksual sesama perempuan.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6281" title="Venus" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Venus-182x300.jpg" alt="Venus" width="109" height="180" />1682: <em>Venus Dan Le Cloitre</em>, sebuah novel tentang lesbian biarawati menyebabkan keramaian dan skandal di Perancis.</p>
<p>1654: Christina, Ratu Swedia &#8211; yang dibesarkan sebagai lelaki &#8211; mencintai seorang perempuan dalam lingkungan istananya bernama Ebba Saprre yang memutuskan hubungan setelah ratu meninggalkan tampuk kekuasaan. Ratu juga pernah  jatuh cinta pada pemain opera diva Angelica Georgini.</p>
<p>1782: Deborah Sampson, keturunan gubernur William Bradford, dikucilkan dari gereja First Baptist Church Middleborough, Massachusetts karena ia kerap berpakaian pria yang longgar dan bertingkah laku yang tidak Kristiani.</p>
<p>Awal 1800an: James Miranda Berry dari Inggris memperoleh gelar dokter pertama di usianya yang masih remaja. Saat ia masih remaja, ia menjalin hubungan dengan seorang anak perwira militer penting. Dia dianggap pria di kalangan medis. Terkenal genit dengan wanita, konon  Miranda suka menari bersama cewek-cewek.</p>
<p>1810: Seorang ibu melaporkan Marianne Woods dan Jane Pirie &#8211; pengawas asrama putri &#8211; melakukan tindak kriminal. Lillian Hellman menggunakan kisah ini sebagai plot operanya <em>The Childerns Hours</em> seratus tahun kemudian.</p>
<p>1810: Prancis memasukkan homoseksualitas sebagai pelanggaran hukum.</p>
<p>1811: Gabriel Freche melaporkan seorang perempuan Berdache bernama Qunqon berpakaian ala lelaki memiliki tiga istri. Ia ia mengaku nabi, pahlawan, dan mediator perdamaian.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6279" title="florence" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/florence-197x300.jpg" alt="florence" width="138" height="210" />1820: Florence Nightingale peletak dasar-dasar peraturan keperawatan di zaman sekarang &#8211; bergelar Lady of the Lamp, menulis di catatannya: &#8220;Saya telah tinggal dan tidur di ranjang dengan perempuan Inggris dan Rusia di pertanian Countesses. Tidak ada wanita yang memiliki gairah hidup terhadap perempuan sebesar dari apa yang saya miliki.” Nightingale hidup dalam adat istiadat ketat Ratu Victoria. Diduga jika ia memang lesbian, besar kemungkinan ia homofobia dan terkurung oleh budaya.</p>
<p>1836: Tahun terakhir Inggris mengeksekusi para pelaku homoseksualitas walaupun hukum itu masih berlaku sampai tahun 1961</p>
<p>1848: Elizabeth Cady Stanton mengatur pertama Konvensi hak-hak perempuan menerbitkan sebuah deklarasi Sentiments dan melakukan resolusi pendahulu gerakan feminis modern.</p>
<p>1855: Artikel tentang Lucy Ann Lobdell yang diteliti di jurnal kesehatan bidang Alienist and Neurologist. Di tahun inilah terdengar penyebutan istilah &#8220;lesbian&#8221; pertama kali sebagai istilah medis kedokteran, sesuai dengan nama pulau Lesbos di mana ditemukan perilaku perempuan penyuka perempuan. Ia sering berpakaian layaknya seorang pria, meninggalkan rumah untuk mendapatkan banyak uang. Lucy dinyatakan gila karena perilaku tersebut dan dipenjarakan hingga 40 tahun sampai akhir hidupnya.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6280" title="queen victoria" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/queen-victoria-261x300.jpg" alt="queen victoria" width="157" height="180" />1885: The Labouchere Amandemen mengultimatum bahwa semua kegiatan homoseksual dianggap tindakan kriminal. Dipercaya ratu Victoria menolak istilah &#8220;lesbian&#8221; dalam hukum tersebut karena ia tidak percaya pada perilaku seksual antara perempuan dengan perempuan, tapi ternyata kisah itu salah. Dihilangkan istilah &#8220;lesbian&#8221; dalam hukum itu karena para dewan House of Lord memutuskan tidak memasukan istilah &#8220;lesbian&#8221; karena takut para perempuan memiliki ide menjadi lesbian. Tapi gosip atau kisah tentang ratu Victoria yang membela kaum lesbian pada pembuatan hukum tersebut tidak menjadi sia-sia. Patungnya menjadi fokus perhatian di tahun 1977 pada hari International Women&#8217;s Day yang juga pada hari itu mengangkat keberadaan kaum lesbian di masyarakat.</p>
<p>1886: Ma Rainey, mombian pertama, penyanyi yang terkenal dengan istilah <em>Mother of the Blues</em> lahir. Silakan baca sebagian kecil kisahnya di <a href="http://sepocikopi.com/2009/11/20/noktah-merah-lesbian-from-the-past-who-made-a-difference/">Noktah Merah di sini.</a></p>
<p>Bagaimana keberadaan lesbian dan politiknya di abad 19? Mau tahu? Sayangnya, mengingat ruang terbatas di SepociKopi, sejarah ini harus bersambung ya. Tunggu edisi selanjutnya, kita akan membahas perjuangan para lesbian di abad 19 sampai dengan abad 21.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
<p><strong>Keterangan gambar:</strong><br />
Gambar 1: foto Dr. James Miranda Berry dari Inggris<br />
Gambar 2: Novel <em>Venus Dans Le Cloitre</em> yang menghebohkan<br />
Gambar 3: foto perawat Florence Nightingale<br />
Gambar 4: patung Ratu Victoria yang terkenal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/05/noktah-merah-lesbian-dari-dulu-sampai-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/05/noktah-merah-lesbian-dari-dulu-sampai-sekarang/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bengkel Menulis: Ruang Komen SepociKopi, Untuk Apa dan Siapa?</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/fQav9E0Hrtw/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/04/bengkel-menulis-ruang-komen-sepocikopi-untuk-apa-dan-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 07:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bengkel Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6262</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Ini diawali dengan seorang sahabat lesbian yang hendak memenuhi tugas universitasnya dengan melakukan wawancara kepadaku seputar jurnalisme SepociKopi. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban menarik (dan menantang) membuat kami menghabiskan satu malam di Y!M dengan tingkat keseriusan yang santai. Dari sanalah, aku berkilas balik tentang ribuan tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara kongkrit di sepocikopi.com.
Sepocikopi.com adalah media &#8211; itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-6266" title="chimpanzee_thinking_poster" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/chimpanzee_thinking_poster-234x300.jpg" alt="chimpanzee_thinking_poster" width="187" height="240" />Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Ini diawali dengan seorang sahabat lesbian yang hendak memenuhi tugas universitasnya dengan melakukan wawancara kepadaku seputar jurnalisme SepociKopi. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban menarik (dan menantang) membuat kami menghabiskan satu malam di Y!M dengan tingkat keseriusan yang santai. Dari sanalah, aku berkilas balik tentang ribuan tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara kongkrit di sepocikopi.com.</p>
<p>Sepocikopi.com adalah media &#8211; itu sudah jelas &#8211; bukan suatu komunitas lesbian. Media dengan hukum yang patuh pada aturan jurnalistik, terlahir dari masyarakat lesbian yang kritis dan cerdas. Para pembacanya &#8211; yang mencintai media tersebut &#8211; bolehlah disebut sebagai komunitas. Tulisan-tulisan di SepociKopi adalah ribuan “jendela atau pintu yang terbuka”. Para pembaca dapat melihat di balik jendela/pintu itu dan menilainya dengan kacamata masing-masing.</p>
<p><span id="more-6262"></span>Begitulah takdir tulisan, gagasan, dan buah pikiran yang dilempar di masyarakat. Pergumulan ide penulis dalam karyanya bukan lagi menjadi milik si penulis; <em>mereka milik pembaca</em>. Penilaian pembaca tidak bisa lagi dikendalikan atau diatur sesuai keinginan sang penulis. Beberapa penulis sepocikopi.com memercayai hukum ini sehingga dengan segala hormat dan rendah hati mereka tidak membalas komen-komen yang berseliweran di bawah tulisannya, biarpun sesungguhnya mereka membaca dan mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Aneka komen untuk satu artikel menandakan kemajemukan sikap, pluralisme wawasan, dan keberagaman pemikiran. Suatu karya akan berjalan melewati tikungan apresiasi melalui cara-cara yang berbeda. Dimulai dengan naskah yang dikirim ke redaksi dan redaksi yang menjadi juri untuk menentukan siapa yang diterima. Setelah tulisan itu dipublikasikan, apakah artinya tulisan itu sudah kelar dinilai dan pantas disebut tulisan yang terbaik di antara tulisan lain (apalagi yang ditolak)?</p>
<p>Misalnya begini, dalam dunia olahraga kita mengenal yang namanya Juara Dunia. Rasanya banyak cabang olahraga yang mengklaim memiliki pertandingan yang pemenangnya dianugrahi titel Juara Dunia. Sebut saja <em>World Champion </em>untuk olahraga cabang badminton, catur, bola sodok, tinju, golf, bahkan sepakbola.Tapi apakah sebenarnya para pemain Juara Dunia benar-benar bertanding dengan <em>seluruh </em>lawannya dari <em>seluruh </em>negara-negara di dunia? Tentu tidak. Dalam badminton misalnya, pemain Indonesia tidak bertanding dengan pemain Afganistan, atau pemain Rusia (kalau pun ada). Ada aturan-aturan pertandingan pada setiap kompetisi internasional yang berbeda-beda.</p>
<p>Begitu juga dengan redaksional SepociKopi. Aturan main yang dipakai pastinya berbeda dengan aturan main koran Kompas, misalnya. Aturan main ini kelihatannya menyulap penulis yang karyanya muncul SepociKopi seakan-akan sebagai<em> World Champion</em>, padahal belum tentu. Mungkin saja masih ada tulisan bagus yang bertebaran di blog atau situs LGBT lain. Selain itu, setelah lolos redaksi bukan berarti tulisan tersebut sudah sempurna. Tugas redaksi seharusnya dilanjutkan oleh para pembaca. Bagaimana caranya?</p>
<p>Komen adalah hak penuh seorang pembaca. Di tangan pembaca lesbian yang kritis dan cerdas, ruang komen dapat dijadikan ruang diskusi dan ajang tukar menukar wawasan/intelektualitas. Sayangnya, banyak pembaca lesbian yang masih kurang memanfaatkan dan mengerti fungsi ruang komen. Ruang komen dijadikan sarana untuk curhat kehidupannya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan artikel, bahkan lebih parah lagi, dijadikan tempat untuk mencari pacar atau pertemanan.</p>
<p>Padahal tugas seorang pembaca &#8211; perpanjangan tangan redaksi &#8211; selain menikmati tulisan, yaitu mengkaji isi tulisan dan memperluas ruang untuk terus menerus bertanya. Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki celah keraguan, menyisakan skeptisme, dan mengilustrasikan sikap. Sistem kualifikasi SepociKopi akan terbantukan dengan banyaknya pembaca yang memberi pendapat menarik di ruang komen. Maka tercipta kesempatan untuk memperbarui sistem baru apabila yang lama terasa kurang memadai.</p>
<p>Nah, dengan canggihnyanya pergerakan tulis menulis, baca membaca yang keren dan dinamis &#8211; aku percaya &#8211; akan terlahir generasi lesbian lain (baca: baru) yang lebih cerdas dan kritis sehingga terus menerus menaikkan kualitas SepociKopi.  Seyogyanya artikel dan ruang komen tak henti memiliki nilai-nilai estetis serta dipenuhi dengan pergumulan gagasan intelektual yang (selalu) bisa berubah. <em>Ah tell me now</em>, ini bukan impian kosong di siang bolong kan?</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/04/bengkel-menulis-ruang-komen-sepocikopi-untuk-apa-dan-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/03/04/bengkel-menulis-ruang-komen-sepocikopi-untuk-apa-dan-siapa/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
