<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Sepoci Kopi</title>
	
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description>Live Life Beyond the Ordinary</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 10:31:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SepociKopi" /><feedburner:info uri="sepocikopi" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>SepociKopi</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Tajuk: Mudik dan Kita</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/C52MPv5o2Fw/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/07/tajuk-mudik-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 10:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8256</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Liburan, eh lebaran sebentar lagi. Menjelang hari raya Idul Fitri aktivitas paling menonjol yang diramai-ramaikan media massa adalah mudik. Aksi pulang kampung ke rumah kerabat ini menjadi tradisi massal yang tak bisa dihindarkan sepekan sebelum hari raya. Aspek yang ditimbulkannya luar biasa besar. Hampir semua sektor ekonomi tersentuh oleh mudik: pasar yang  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/sumintar-selamat-mudik-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-8257" title="sumintar-selamat-mudik-2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/sumintar-selamat-mudik-2-300x215.jpg" alt="sumintar-selamat-mudik-2" width="240" height="172" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Liburan, eh lebaran sebentar lagi. Menjelang hari raya Idul Fitri aktivitas paling menonjol yang diramai-ramaikan media massa adalah mudik. Aksi pulang kampung ke rumah kerabat ini menjadi tradisi massal yang tak bisa dihindarkan sepekan sebelum hari raya. Aspek yang ditimbulkannya luar biasa besar. Hampir semua sektor ekonomi tersentuh oleh mudik: pasar yang  bejubel, jasa pengiriman barang, bengkel, hotel sampai jasa tambal ban kecipratan rezeki. Sudah pasti gejolak perekonomian menurun untuk beberapa waktu. Sektor bisnis transportasi panen besar. Inilah waktunya semua orang bepergian. Yang tidak merayakan lebaran pun ikut-ikutan memilih jalan-jalan karena bisnis terhenti. Sebagian yang lain memutuskan mengajak anak-anaknya liburan karena pembantu rumah tangga latah mengambil cuti tahunan, mumpung lebaran!</p>
<p><span id="more-8256"></span>Jika merencanakan mudik di tahun 2010 ini tentu banyak hal yang dipertimbangkan. Dana pulang kampung tersebut tentu saja sudah direncakan jauh-jauh hari. Dengan demikian tidak ada pengeluaran ekstra. Tunjangan Hari Raya bisa dialokasikan buat yang lain. Mari kita sepakat bahwa mudik tidak sama dengan pemborosan. Ini berarti harus dipikirkan bagaimana caranya menghemat perjalanan sehingga mudik nyaman dan tidak terjadi pembengkakan biaya. Bagi yang punya dana berlebih barangkali kenaikan harga tiket hingga 100% bukan masalah. Tapi buat yang berpenghasilan pas-pasan naiknya harga tiket mudik  sama dengan pemerasan. Tidak ada pilihan selain membeli tiket tersebut dengan pasrah.</p>
<p>Jika memiliki kenderaan pribadi barangkali solusi jalan darat bisa dilakukan, namun semua ini bergantung dengan waktu cuti yang semakin berkurang tersita lamanya di perjalanan. Tapi sudah pasti mudik dengan kendaraan sendiri jauh lebih nyaman dan aman.  Perhatikan kondisi badan, apakah cukup prima ketika membawa kenderaan berjalan jauh. Jika jarak yang ditempuh cukup jauh dan cuma mengandalkan sopir tunggal saja, berarti asupan gizi saat sahur harus pas. Intinya adalah cukup tidur. Jangan lupa membawa segala macam obat di dalam perjalanan, jika ada apa-apa di tengah jalan. Pokoknya pastikan kondisi badan dan sekeluarga fit.</p>
<p>Setelah menyiapkan diri tentu kenderaan menjadi satu-satunya bagian terpenting yang harus diperhatikan,pastikan kondisi kendaraan apakah sudah cukup baik untuk berjalan jauh. Konsultasi dengan teknisi langganan jangan kikir merogoh kocek jika diperlukan, mengingat jika rusak di tengah jalan, teknisi yang mendatangi mobil dalam keadaan rusak biasanya tidak murah. Cek  kondisi semua ban, tekanan angin, urat ban, motifnya masih jelas atau tidak. Ban serap dan dongkrak pastikan bisa digunakan.</p>
<p>Jika harus meninggalkan rumah, periksa lagi kondisi rumah, aman dari dalam dan aman dari gangguan luar. Cek lagi apakah ada kabel listrik yang masih menempel di plug-nya. Air kran tidak terbuka. Serta melaporkan kekosongan rumah pada petugas jaga jika memang ada petugas yang rutin menjaga perumahan yang ditinggalkan pemudik. Jika memiliki hewan peliharaan, tidak ada cara lain kecuali menitipkannya pada kerabat atau teman dekat. Jika ditinggal di rumah pastikan bahwa selalu ada yang memberi makan mereka; ikan di aquarium, kucing, kelinci, burung dan sebagainya.</p>
<p>Baiklah bagaimana dengan teman lesbian yang akan melakukan perjalanan dengan kenderaan umum? Bukan rahasia umum lagi, jika perhiasan jadi magnet menarik tindak kriminal. So, jika ingin nyaman jangan pamer perhiasan sama sekali selama di kendaraan umum, meskipun itu hanya perhiasan imitasi. Apapun aksesori yang dipakai biasanya mengundang pelaku kriminal melirik. Kenakan pakaian yang tak mencolok, baik dalam warna maupun model. Celana panjang dengan berbahan denim dan atasan berbahan katun memudahkan ruang gerak. Pakailah sepatu sport yang nyaman dan ringan di kaki seperti yang biasa dipakai para andro atau butchi (eits…gender ya?). Eniwei hindari menggunakan sepatu hak tinggi. Ingat bahwa ini perjalana mudik, bukan pergi ke pesta.</p>
<p>Uang, ini yang paling krusial, untuk berjaga-jaga dari tindak kejahatan simpan uang di beberapa tempat yang sekiranya aman dan jauh dari jangkauan copet. Selain itu, seandainya terlanjur kena palak setidaknya masih ada sebagian uang yang diselamatkan. Hindarkan mengeluarkan dompet di depan umum, barang ini idola para pencopet. Lebih aman jika menyimpan sejumlah uang pas di saku celana dan menyimpan dompet di bagian terdalam tas. Mengingat akan berdesak-desakan dengan banyak orang jangan lupa bawa selalu uang receh di saku yang lain, setidaknya berbagi kasih pada pengemis atau pengamen.</p>
<p>O  iya, Meski lama tak pulang kampung bukan berarti harus memborong semua oleh-oleh. Keselamatan dan kenyamanan jauh lebih penting, bepergian dengan transportasi umum, tentu kemudahan gerak jadi prioritas utama yang harus diperhatikan. Minimalkan barang, perkirakan berapa lama akan berlibur dan pilih tas pakaian berbahan tebal dan kuat, lebih bagus lagi jika dilengkapi pengunci bernomor kode otomatis.</p>
<p>Cobalah, tetap tenang dan waspada terhadap tukang ojek, calo, tukang becak yang berebutan penumpang. Meski berada dalam situasi yang tidak nyaman, berusaha tegas dengan mereka. Tarik nafas panjang bisa membantu mengembalikan ketenangan. Usahakan tetap bersikap wajar dan sopan meski teman seperjalanan menawarkan kebaikan. Jangan terlalu akrab dan jangan terlalu berlebihan mencurigai teman perjalanan. Bersikap hati-hati dan tolak dengan halus jika ada yang menawari makanan atau minuman. Jangan pula terlena dengan tampang cantik dan baik hati, siapa tahu itu hanya sebuah perangkap, carilah pembicaraan umum dan hindarkan percakapan pribadi.</p>
<p>Setelah semuanya siap. Rasakan keberadaan Tuhan di samping kita dalam setiap langkah Biasakanlah berdoa sebelum melakukan pekerjaan apapun termasuk selama dalam  perjalanan.  Selamat mudik ya, selamat menyambut Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/07/tajuk-mudik-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/07/tajuk-mudik-dan-kita/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>The Unloneliness Project</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/Oa0xXkgoUfo/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/07/the-unloneliness-project/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Sep 2010 01:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8253</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuage
Mungkin, inilah misi kita hidup di dunia ini. Sebuah proyek besar yang tanpa sengaja selalu kita kerjakan dari hari ke hari, the unloneliness project. Proyek mengusir kesepian adalah sesuatu yang alamiah, kita lakukan tanpa kita sadari, sebagaimana kita berjalan dan bernapas.
Hingga suatu saat aku berada di suatu tempat, sendiri, barulah aku sadar. Barulah aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-8254" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/poci.jpg" alt="poci" width="130" height="185" />Oleh: Nuage</p>
<p>Mungkin, inilah misi kita hidup di dunia ini. Sebuah proyek besar yang tanpa sengaja selalu kita kerjakan dari hari ke hari, <em>the unloneliness project</em>. Proyek mengusir kesepian adalah sesuatu yang alamiah, kita lakukan tanpa kita sadari, sebagaimana kita berjalan dan bernapas.</p>
<p>Hingga suatu saat aku berada di suatu tempat, sendiri, barulah aku sadar. Barulah aku berpikir tentang kesepian-kesepian, barulah aku terpikir tentang proyek besar yang tidak pernah kita sadari itu.</p>
<p>Aku telah ditinggal sendiri di tempat ini, tempat ini bukanlah Shangrilla, bukan tempat ideal yang indah untuk menyendiri dan merenung, malah kebalikannya. Tetapi ternyata cukup untuk membuatku berpikir.</p>
<p><span id="more-8253"></span>Kesepian itu macam-macam. Setidaknya ada 3 yang bisa aku pikirkan. Ketiga ini mungkin berjenjang/bertingkat, mungkin juga merupakan variasi. Entahlah&#8230;</p>
<p>Kesepian tingkat pertama, pada level yang paling mendasar adalah kesepian yang bersifat fisik. Kita butuh orang lain di sekitar kita, <em>someone to talk to, someone to be with</em>, dan sedikit <em>human touch</em>. Ini bisa siapa saja, karena masih bersifat mendasar (primitif) jadi ketika lama kita tidak bertemu siapa-siapa, tidak ada kontak dengan manusia, sedikit perhatian dari siapa saja akan terasa menghibur. Karena ternyata itu adalah salah satu kebutuhan alamiah manusia.</p>
<p>Kesepian tingkat dua, bahkan ketika kita sudah terpuaskan pada level pertama, secara fisik kita terpenuhi, namun masih saja terkadang kita merasa lonely. Kesepian ini lebih karena keinginan kita tidak terpenuhi. Kita terlalu banyak keinginan, kita tidak pernah puas, dan sering kali kita tidak tahu apa yang kita inginkan! Lah bagaimana kita bisa memenuhi keinginan kita itu bila bahkan kita tidak tahu apa yang kita inginkan? Ini kesepian yang cukup sulit.</p>
<p>Pada tingkatan ketiga, mungkin lebih tinggi dari yang level dua, mungkin juga sama. Ketiga jenis ini, bisa juga disejajarkan, sekali lagi, terserah kok. Pada tingkat ketiga, adalah kesepian karena merasa tidak dimengerti. Ini bisa disebut kesepian intelektual. Orang-orang pintar dan dalam, orang-orang &#8220;sinting&#8221;, para pemimpin, para visioner, sering merasakan kesepian ini. Tidak harus mereka, mungkin kamu juga kadang akan merasakannya.</p>
<p>Apakah ada lagi jenis kesepian yang lain? Tolong tambahkan bila ada. Tanpa kita sadari, sepanjang hidup kita, ketiga itulah musuh yang coba kita taklukkan. Kita adalah makhluk yang selalu membutuhkan teman, manusia adalah makhluk sosial, kamu pasti sering dengar.</p>
<p>Di level paling bawah adalah orang-orang di sekitar kita, tempat kita berinteraksi, melakukan aktivitas sehari-hari. Tetangga, teman kantor, teman sekolah, teman-teman. Teman pun tidak jarang ada yang bisa menjadi pembunuh kesepian tingkat kedua bahkan ketiga, mereka yang kita sebut sahabat seringkali adalah orang yang secara fisik sering bertemu dengan kita, ataupun bisa juga secara fisik jauh tapi dapat memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi itu.</p>
<p>Pada tingkatan tertinggi adalah cinta. Cinta adalah puncak dari <em>the unloneliness project</em>. Seorang partner diharapkan dapat memenuhi semuanya. Mulai dari kebutuhan fisik, seseorang yang ada di sampingmu, seseorang yang menemanimumu ke mana-mana, seseorang yang memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, sentuhan manusia, dan seks. Seseorang yang diajak ngobrol itu sudah pasti.</p>
<p>Masalahnya, sampai tingkat apa kebersamaan itu dapat membunuh kesepian-kesepian kita tadi itu. Coba cek dan ricek dalam hubungan kamu bagaimana. Kalau ada waktu saya akan buatkan kuesioner untuk mengukur tingkat kepuasan sebagai pasangan&#8230; tapi sementara cukuplah sampai di sini, namanya juga iseng mengeksplorasi sebuah wacana.</p>
<p>Siapa yang bisa memenuhi semuanya, hingga setuntas-tuntasnya, hingga kita tidak lagi merasa sedikit pun kesepian. <em>Not any slightest feeling of loneliness.</em> Itulah ketika kita sudah menemukan si dia. <em>The perfect partner.</em></p>
<p>Akankah kita menemukannya? Katanya, tidak ada yang sempurna&#8230;</p>
<p>@Nuage, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/07/the-unloneliness-project/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/07/the-unloneliness-project/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Puisi: Perempuan Empat Musim</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/UXU0gSWcNNI/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/06/puisi-perempuan-empat-musim-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 12:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya/Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8245</guid>
		<description><![CDATA[Perempuan Empat Musim
Oleh: Bakiak Langgar
Roncean melati
hiasan sanggul perawan,
Mahkota bunganya
rontok menaburi rahim,
Kau bukan lagi
perempuan karbitan,
Saat getah buahmu
terasa legit di lidah.

*kado kecil untuk mombian
Tentang Bakiak Langgar:
Tinggal di Semarang
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perempuan Empat Musim<br />
Oleh: Bakiak Langgar</p>
<p>Roncean melati<br />
hiasan sanggul perawan,<br />
Mahkota bunganya<br />
rontok menaburi rahim,<br />
Kau bukan lagi<br />
perempuan karbitan,<br />
Saat getah buahmu<br />
terasa legit di lidah.</p>
<p><span id="more-8245"></span><br />
*kado kecil untuk mombian</p>
<p><strong>Tentang Bakiak Langgar</strong>:<br />
Tinggal di Semarang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/06/puisi-perempuan-empat-musim-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/06/puisi-perempuan-empat-musim-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: 12 Buku karya Cerpenis Pilihan SepociKopi</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/ITTuHNWkw_E/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/06/mix-n-match-12-buku-karya-cerpenis-pilihan-sepocikopi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 21:53:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya/Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8222</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Setelah kami mengupload informasi segera terbitnya Kumpulan Cerpen Pilihan SepociKopi &#8220;Un Soir du Paris&#8221; banyak komentar masuk dan menanyakan siapa sih penulis-penulis ini. Inilah jadinya kalau seorang lesbian cuma tahunya baca buku lesbian, dan memakai kacamata kuda tidak mau tahu bahwa masih ada jenis buku lain yang bisa dibaca untuk meningkatkan kualitas diri. Dua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Alex</p>
<p>Setelah kami mengupload informasi segera terbitnya Kumpulan Cerpen Pilihan SepociKopi &#8220;Un Soir du Paris&#8221; banyak komentar masuk dan menanyakan siapa sih penulis-penulis ini. Inilah jadinya kalau seorang lesbian cuma tahunya baca buku lesbian, dan memakai kacamata kuda tidak mau tahu bahwa masih ada jenis buku lain yang bisa dibaca untuk meningkatkan kualitas diri. Dua belas cerpenis ini adalah penulis terkemuka di Indonesia. Karya-karya mereka bertebaran di rak toko buku. Sekali google, nama mereka akan bermunculan puluhan hingga ribuan entri. </p>
<p>Berikut ini saya pilihkan karya-karya lain mereka yang belum tentu ada lesbiannya lho. Jadi mungkin buat mereka yang cuma maunya baca buku lesbian saja, nggak perlu klik &#8220;Read more&#8221;. Saya memilihkan 12 buku yang memuat karya 12 cerpenis ini, yang bisa jadi pilihan bacaan di kala senggang. Karena tak ada waktu untuk membuat review satu per satu, saya <em>copy-paste</em> sebagian sinopsis dari situs resmi penerbit buku ybs.</p>
<p><span id="more-8222"></span>
<p><strong><img height="250" alt="baladaching" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/baladaching.jpg" width="169" align="left" />Balada Ching-Ching &#8211; Maggie Tiojakin</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2010 (kumcer)</p>
<p>Ching-Ching adalah seorang gadis keturunan. Ia selalu dijadikan bulan-bulanan di sekolah. Ayahnya seorang pedagang kwetiau pinggiran. Ini adalah baladanya, juga balada manusia lainnya.</p>
<p>Masing-masing kisah dalam koleksi fiksi pendek ini merupakan sebuah vignet tentang apa artinya menjadi manusia biasa&#8212;yang sakit, sedih, senang, hidup, mati, gila, waras. Lebih dari itu, dunia fiksi yang dipersembahkan dalam koleksi ini sungguh mewakili kegelisahan internal semua orang, di mana karakter-karakternya tumbuh dewasa lewat kegagalan dan kekeliruan, obsesi dan pilihan, harapan dan keputusasaan.</p>
<p><strong><img height="250" alt="nagabumi" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/nagabumi.jpg" width="161" align="left" />Nagabumi &#8211; Seno Gumira Ajidarma</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2010 (novel)</p>
<p>Nagabumi, sebuah cerita tempat orang-orang awam menghayati dunia persilatan sebagai dunia dongeng, tentang para pendekar yang telah menjadi terasing dari kehidupan sehari-hari, karena tujuan hidupnya untuk menggapai wibawa naga.</p>
<p>Nagabumi adalah drama di antara pendekar-pendekar, pertarungan jurus-jurus maut, yang diwarnai intrik politik kekuasaan, maupun pergulatan pikiran-pikiran besar, dari Nagasena sampai Nagarjuna, dengan selingan kisah asmara mendebarkan, dalam latar kebudayaan dunia abad VIII-IX.</p>
<p><strong><img style="WIDTH: 166px; HEIGHT: 247px" height="342" alt="sepotongbibir" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/sepotongbibir-1.jpg" width="225" align="left" />Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia &#8211; Agus Noor</strong><br />
Bentang Pustaka &#8211; 2010 (kumcer)</p>
<p>Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia, kumpulan prosa Agus Noor menghimpun puncak-puncak pencapain estetis dan eksplorasinya dalam bercerita, hingga kisah-kisahnya terasa penuh pukau. Cinta dan perselingkuhan, sensualitas dan kepedihan, sampai memori kekejaman politik dan religiositas, terasa subtil dalam bahasanya yang puitik dan seringkali mengejutkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><img height="250" alt="kronikbetawi" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/kronikbetawi.jpg" width="164" align="left" />Kronik Betawi &#8211; Ratih Kumala</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2009 (novel)</p>
<p>Kronik Betawi karya Ratih Kumala ini bercerita tentang perjalanan kota Betawi dan anak daerahnya menghadapi modernisasi dan menepis berbagai persepsi miring terutama dari para pendatang. Kerelaan berbagi dengan kaum pendatang dalam mengais rejeki di ibukota ternyata tidak sebanding dengan dampaknya. Kota Jakarta bagai bukan milik penduduk aslinya lagi. Diceritakan, pembangunan yang sembarangan dan pertumbuhan permukiman bahkan telah menghilangkan asal-usul serta sejarah beberapa tempat.</p>
<p>Novel ini khas Betawi. Menghibur, menyindir, dan ceplas-ceplos. Sebuah pengingat, dokumentasi, dan apresiasi bagi nilai-nilai dan keluhuran budaya Betawi yang patut dibanggakan.</p>
<p><strong><img height="250" alt="dimsumterajhir" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/dimsumterajhir.jpg" width="168" align="left" />Dimsum Terakhir &#8211; Clara Ng</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2006 (novel)</p>
<p>Berkisah tentang empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus-menerus berdetik.</p>
<p>Dimsum Terakhir adalah drama penuh harum memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh Clara Ng. Kisah ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang selalu ada di setiap hati kita semua.</p>
<p><strong><img height="250" alt="ulardimangkuk" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/ulardimangkuk.jpg" width="167" align="left" />Ular di Mangkuk Nabi &#8211; Triyanto Triwikromo</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2009 (kumcer)</p>
<p><em>Triyanto menyajikan bahasa yang benar-benar kuat, agar melalui bahasa, secara tersirat ia dapat menyampaikan pandangannya. Penguatan bahasa, sekali lagi menjadi kunci sentral, dan karena itu form menjadi lebih eksplisit daripada content</em>.<br />
&#8212;Budi Darma, sastrawan dan kritikus</p>
<p><em>Menakjubkan dengan dua ketukan&#8212;itulah yang dicapai oleh Triyanto Triwikromo dengan cerita-cerita pendek ini&#8230;. Agaknya kumpulan cerita pendek ini berangkat dari premis bahwa hidup tidak gila, tetapi kegilaan itu bisa indah, dan dalam saat-saatnya yang paling baik, bisa menakjubkan.</em><br />
&#8212;Goenawan Mohamad, penyair dan kritikus</p>
<p><strong><img height="250" alt="rahasiaselma" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/rahasiaselma.jpg" width="170" align="left" />Rahasia Selma &#8211; Linda Christanty</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2010 (kumcer)</p>
<p>Setelah Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty meraih Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk kategori buku fiksi Indonesia terbaik, kini Linda kembali lagi dengan cerita-ceritanya tentang dunia hari ini dalam Rahasia Selma. Rahasia orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan, trauma, doktrin, mitos, kesunyian, atau bahkan apa yang mereka sendiri tak tahu. Cerita-cerita ini meluaskan pandangan kita tentang manusia dan kemanusiaan, sampai ke batas-batas terjauh yang dimungkinkan.</p>
<p><strong><img height="250" alt="takadakelinci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/takadakelinci.jpg" width="163" align="left" />Tak Ada Kelinci Di Bulan &#8211; Stefanny Irawan</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2006 (kumcer)</p>
<p>Inilah sebuah karya yang mengungkap sisi-sisi lain kehidupan dengan santun dan puitis. Di dalam kumpulan cerpen Tidak Ada Kelinci di Bulan!, Stefanny Irawan menggarap tema homoseksual, konflik psikologis, perselingkuhan dan penyimpangan cinta dengan gaya bercerita yang elegan. Eksplorasi bahasa yang dilakukan Stefanny membuat cerpen-cerpennya unik dan berbeda dari gaya bercerita yang rata-rata kini digandrungi oleh para penulis; lugas dan verbal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><img style="WIDTH: 156px; HEIGHT: 233px" height="197" alt="duniaaleci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/duniaaleci.jpg" width="128" align="left" />Dunia di Kepala Alice &#8211; Ucu Agustin</strong><br />
Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2007Â  (kumcer)</p>
<p>Kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice berisi sebelas cerpen yang memadukan style dongeng dengan ‘tema-tema zaman sekarang’: <em>child abuse</em>, homoseksualitas, dan cinta di luar kelaziman.</p>
<p>Keindahan berbahasa ditampilkan oleh Ucu dengan pemakaian metafora-metafora yang puitis. Dalam cerpen “Ismail Penjahit Hati”, misalnya, tokoh Ismail diceritakan memiliki benang dari pintalan ludah laba-laba untuk menjahit hati yang luka karena cinta. Kumpulan cerpen Dunia di Kepala Alice menyodorkan kepada pembaca sebuah perjalanan ke negeri dongeng dengan cita rasa masa kini.</p>
<p><strong><img style="WIDTH: 165px; HEIGHT: 273px" height="343" alt="cha untuk chayang" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/chauntukchayang.jpg" width="225" align="left" />Cha Untuk Chayang (Teenlit) &#8211; Abmi Handayani dan Dalih Sembiring</strong></p>
<p>Gramedia Pustaka Utama &#8211; 2008 (novel)</p>
<p>Tokoh utama novel ini bernama Lina, asal Balikpapan yang kuliah di Yogyakarta. Dia seorang cewek cerdas dengan logat yang lucu. Kalau dengar dia ngomong, kamu pasti bakal tersenyum, atau bengong, atau malah merinding. Sebagai pendatang baru di Kota Pelajar, Lina berkenalan dengan beraneka macam karakter. Ada Bebe, waria kece pemilik resto. Ada Eno, cewek jutek yang doyan baca. Serta Zeta dan Lili, duet cewek pabrikan yang cantik jelita. Tentu saja Lina ketemu cowok juga. Ada Helmi yang imut-imut, dan Yogi, cowok indie yang tergila-gila sama pudel. Baca buku ini dan ikuti petualangan Lina yang penuh warna, mulai dari kena copet, belajar bikin cha latte, sampai merias diri habis-habisan demi mendapatkan cowok yang dia incar.</p>
<p><strong><img style="WIDTH: 173px; HEIGHT: 252px" height="300" alt="bingkisan petir" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/bingkisanpetir.jpg" width="210" align="left" />Bingkisan Petir:</strong></p>
<p><strong>Antologi Cerita Pendek Cerpenis Kalimantan Timur (2005)</strong></p>
<p>Editor: Korrie Layun Lampan</p>
<p>Salah satu cerpen Shantined termasuk dalam kumpulan cerpen ini. Beberapa karyanya berupa puisi dimuat di harian nasional.Â Selain dalam kumcer ini,Â puisinya juga tergabung dalam antologi bersama Surat Putih 2 (2003), Surat Putih 3 (2004), Dian Sastro for President 3 (2004), Perkawinan Batu (2004). Selain aktif di milis-milis puisi, juga aktif di Dewan Kesenian Balikpapan.</p>
<p><strong><img style="WIDTH: 173px; HEIGHT: 275px" height="314" alt="sutasoma" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/sutasoma.jpg" width="194" align="left" />Sutasoma &#8211; Cok Sawitri</strong></p>
<p>Penerbit Kaki Langit Kencana &#8211; 2009</p>
<p>Novel Sutasoma ini terinspirasi dari karya Empu Tantular, yang judul resminya adalah Porusadha, populer dengan nama Sutasoma; yang secara tradisi dibagi dalam dua versi. Yakni versi Bali dan Jawa. Dalam novel ini justru baru ditemukan proses ajaran Mahayana Tantra dan latar belakang Jayantaka; mengungkapkan pula jalan rahasia yoga tantra, kemudian tokoh-tokoh yang semula kabur dalam kisah lisannya dihidupkan dengan berbagai percakapan dan penjelasan mengenai ajaran Buddha Nusantara dan siwait, di latar belakangnya adalah kisah negara yang bangkit merebut kedaulatan dan bagaimana akibat apabila seorang raja menerapkan “dharma agama” dan “dharma negara” tanpa memperhitungkan kebhinekaan.</p>
<p>Novel ini dilihat dari sudut pandang Jayantaka, yang Raja Kerajaan Ratnakanda yang menyaksikan konflik dan carut-marut keluarga kerajaan saat ayahnya masih menjadi raja. Berbagai ambisi terbuka akan kekuasaan dan jabatan, juga persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik-menarik menyebabkan Ratnakanda perlahan berada di ambang kehilangan kedaulatan.</p>
<p>Demikian 12 buku yang mungkin bisa jadi pilihan bacaan untuk lebih membuka wawasan terhadap dunia sastra Indonesia yang terdiri atas banyak penulis hebat.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/06/mix-n-match-12-buku-karya-cerpenis-pilihan-sepocikopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/06/mix-n-match-12-buku-karya-cerpenis-pilihan-sepocikopi/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>S.O.S! : DoMba Liburan Ke Jogja (2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/_S4zKcDwHg0/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/04/s-o-s-domba-liburan-ke-jogja-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Sep 2010 16:39:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8210</guid>
		<description><![CDATA[ DoMba Liburan Ke Jogja (1)
Malamnya Dokter nggak bisa tidur karena harus mengurusi igauan Mbah. Kerennya, si Mbah itu bisa ngobrol meskipun sedang tertidur. Tadinya Dokter pikir Mbah mengigau karena masih trauma dengan gempa sebelumnya, namun setelah mendengar igauan Mbah, Dokter jadi bete sendiri!
&#8220;Emm&#8230; Dok, nih&#8230;.&#8221; Mbah mengulurkan kacamatanya seolah meminta Dokter meletakkan di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/Yogyakarta___by_disconation.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-8219" title="__Yogyakarta___by_disconation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/Yogyakarta___by_disconation-300x199.jpg" alt="__Yogyakarta___by_disconation" width="250" height="175" /></a> <a href="http://sepocikopi.com/2010/08/28/s-o-s-domba-liburan-ke-jogja/" target="_blank">DoMba Liburan Ke Jogja (1)</a></p>
<p>Malamnya Dokter nggak bisa tidur karena harus mengurusi igauan Mbah. Kerennya, si Mbah itu bisa ngobrol meskipun sedang tertidur. Tadinya Dokter pikir Mbah mengigau karena masih trauma dengan gempa sebelumnya, namun setelah mendengar igauan Mbah, Dokter jadi bete sendiri!</p>
<p>&#8220;Emm&#8230; Dok, nih&#8230;.&#8221; Mbah mengulurkan kacamatanya seolah meminta Dokter meletakkan di atas meja.<br />
<span id="more-8210"></span><br />
Dokter pikir si Mbah belum tidur sampai tiba-tiba ia berkata, &#8220;Enggak mau&#8230;&#8221; Namun setelah menyadari bahwa Mbah bicara dalam tidurnya, Dokter langsung ambil kesempatan, siapa tahu bisa nanya nomor togel yang keluar besok.</p>
<p>&#8220;Nggak mau apa, Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuhan&#8230;&#8221;</p>
<p>Wuih, Dokter kagum sama Mbah karena dalam tidurnya pun Mbah mengingat Tuhan, &#8220;Tuhan kenapa, Mbah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Enggak mau&#8230; hamil&#8230;.&#8221;</p>
<p>Gubraks! Apa hubungannya Tuhan &#8211; nggak mau &#8211; hamil, coba? Merasa penasaran mendengar kelanjutannya, Dokter terus bertanya, &#8220;Tuhan nggak mau kamu hamil, Mbah?&#8221;</p>
<p>Semakin takjub saat si Mbah bisa menggeleng sambil tertidur, &#8220;Bukan&#8230;&#8221; Dokter makin kesal sama jawaban Mbah yang bertele-tele, &#8220;Jadi apa yang benar dong???&#8221;</p>
<p>Dan seperti paham kalau Dokter mulai bete, Mbah akhirnya menjawab dengan lancar (masih dengan mata terpejam) &#8220;Nggak mau Tuhan, hamil&#8230;&#8221;</p>
<p>PLAK!</p>
<p>Ini adalah bentuk kekesalan Dokter kepada si Mbah yang dilampiaskan pada nyamuk yang tiba-tiba ngotot masuk ke dalam mulut Mbah yang kembali menganga.</p>
<p>Setelah melewatkan malam pertama (ehem!), Dokter bangun pagi sesuai bunyi alarm, sementara Mbah masih tidur dengan nyenyak. Kasihan juga kalau melihat pose tidur si Mbah. Meringkuk membelakangi guling, mulut menganga lebar, namun cukup tahu diri untuk menampung mulutnya dengan menadahkan tangan. Sepertinya khawatir bakal ileran di rumah orang kali, ya. Pose tersebut menguntungkan Dokter saat harus memaksa si Mbah bangun dari mimpinya,  tinggal menaruh satu sendok makan garam ke dalam mulut Mbah dan membuat Mbah melompat &#8220;kegirangan&#8221; karena menyangka terbangun di pinggir pantai Parangtritis.</p>
<p><strong>Hari Kedua </strong></p>
<p>Dimulai dari Gereja Santo Antonius Kotabaru, DoMba memilih jadwal ibadah pukul 08.30 WIB. Sebenarnya DoMba datang tepat waktu, tapi banyaknya jemaat yang beribadah di gereja tersebut membuat DoMba kebagian duduk di bagian luar gereja dengan menggunakan kursi plastik. Agak susah berkonsentrasi, sih. Bukan hanya karena bisingnya suara alarm mobil, tapi juga karena di samping Dokter ada pasangan yang ngobrol sejak mulai ibadah sampai ibadah selesai, bahkan Dokter curiga mereka masih berniat melanjutkan sampai gereja ditutup! Hampir saja Dokter menyuntikkan obat bius saking kesalnya, untung saja dicegah oleh Mbah.</p>
<p>Selesai ibadah DoMba mencoba jajanan yang ada di sekitar gereja. Dokter ngotot banget pengen makan telor puyuh yang diceplok. Pake acara minta disuapin Mbah, lagi. Dasar manja!</p>
<p>Kemudian tur dilanjutkan ke <strong>Candi Borobudur. </strong> Diam-diam Mbah punya obsesi memeluk stupa di puncak Borobudur (nggak banget seh obsesinya!). Ternyata Borobudur panas, loh. Wajahnya Dokter sampai memerah seperti udang matang yang siap dinikmati. Maklum, meskipun Dokter sering mengaku bangga menjadi orang Indonesia, namun kulit indomya tetap nggak bisa disamarkan (indomie maksudnya). Kunjungan ke Borobudur didominasi acara foto-foto dengan berbagai gaya. Ngalahin orang yang mau foto <em>prewedding</em>, deh.</p>
<p>Di sini juga jelas sekali, bahwa kebaikan si Dokter kerap bikin bikin malu. Dokter sibuk menawarkan diri membantu bule-bule untuk ngambil foto, yang langsung di tolak mentah-mentah oleh sang bule. Mungkin tampang kriminal si Dokter membuat mereka ketakutan kalau kameranya bakal dilarikan oleh Dokter.</p>
<p>Sepulang dari Candi Borobudur, DoMba menuju <strong>Dagadu Outlet. </strong>Berencana mengoleh-olehi  kaus untuk Mel-nya si Mbah. Si Mbah yang tidak mahir memilih kaos perempuan akhirnya meminta bantuan Dokter yang lebih terbiasa merayu perempuan dengan memberikan kaos singlet. Pokoknya kalau ada perempuan yang merayu kamu dengan selusin kaus singlet, itu pasti Dokter pelakunya.</p>
<p>Atas bantuan  Dokter, Si Mbah memilih kaos warna kuning yang ternyata sangat disukai Mel. Makasih ya Dokter! Mwwah!</p>
<p>Kali ini mereka akur.</p>
<p>Acara karaoke yang sudah dirancang ternyata batal, lantaran Dokter ngotot memilih nonton IMB. Rupanya Dokter penasaran dengan aksi Brandon dan Hudson . Padahal sih, Mbah curiga kalau si Dokter nggak mau melewatkan  penampilan Titi Sjuman. Terpaksa deh, Mbah mendampingi Dokter. Baru setelah acara IMB selesai, DoMba ngacir lagi.</p>
<p>Kali ini tujuannya <strong>Kolong Langit</strong>. Konon, kabarnya Kolong Langit adalah kafe lesbian, tempat beberapa teman lesbian Jogjakarta berkumpul.  Tapi sayang, saat DoMba ke sana Kolong Langit sedang sepi. Mungkin karena hujan deras yang tidak berhenti mengguyur Yogyakarta. So, rencana jumpa fans dan <em>tepe-tepe </em>akhirnya batal, padahal DoMba udah dandan keren banget, tuh.</p>
<p>Untungnya DoMba berkesempatan berbincang-bincang secara ekslusif dengan pemilik kafe,  seorang seniman yang nyentrik dan jenius. Malam itu, Dokter tidak bisa menahan tawa lantaran Mbah&#8221;<em>roaming&#8221;</em> dari pembicaraan. Ngantuk ya, Mbah?</p>
<p><strong>Hari ketiga</strong></p>
<p><strong></strong>DoMba menghabiskan waktu di Malioboro, surganya  wisata cendramata khas Jogja. Rekomendasinya adalah Mirota Batik. Tokonya besar, loh. Selain menjual pakaian, juga menjual pernak pernik kerajinan tangan. Ugh, DoMba jadi belanja gila-gilaan! Soalnya banyak banget yang ngarep dapat oleh-oleh. Tuh bener saja,  Bening selaku editor S.O.S! langsung sms menagih oleh-oleh dengan ancaman tidak akan meloloskan liputan liburan ini kalau nggak dibeliin oleh-oleh berupa andong Jogja beserta kudanya yang asli. Astaga!</p>
<p>Beranjak dari Malioboro, akhirnya DoMba ketemu juga nasi bakar yang sudah diidam-idamkan. Nasi bakar plus tempe, telor dan lele rasanya mak nyusss! Rasanya pengen memboyong pedagangnya sekalian ke Jakarta dan buka konter Nasi Bakar Sepocikopi. He he he.</p>
<p>Meski berat meninggalkan kota Jogjakarta, tapi DoMba harus kembali ke habitatnya agar tidak merusak ekosistem Jogja Berhati Nyaman.</p>
<p>Di Bandara Adi Sucipto DoMba menunggu pesawat menuju Jakarta dalam suasana <em>mellow. </em>Sedang asik-asiknya memutar kembali kenangan liburan kemarin, tiba-tiba Mbah memekik panik. Kursi yang DoMba duduki bergoyang dengan kencang. Wajah Mbah yang memucat membuat Dokter ikutan panik.</p>
<p>Si Mbah nyaris berteriak “Gempaaaa!” sambil siap-siap tiarap. Dokter pun siap-siap menuding si Mbah atas kebiasaannya yang suka kentut sembarangan dan bikin gempa. Tapi saat melihat orang-orang disekitar DoMba yang tenang-tenang saja, Dokter langsung membekap mulut si Mbah, mencegah terjadinya kehebohan.</p>
<p>Ternyata setelah ditelusuri, goncangan tadi bersumber dari ulah cowok yang duduk di belakang kursi DoMba. Dia menggoyang-goyangkan kakinya hingga membuat kursi DoMba ikutan bergoyang bagaikan goyangan gempa lokal. Huff&#8230; Terbukti kan, sekarang, ternyata bukan cuma Mbah yang parno!</p>
<p>Begitulah kisah romantis DoMba. Terima kasih buat SepociKopi yang telah menghadiahi DoMba liburan terhebat ini! (hi hi hi, biar penulis yang lain pada ngiri. Padahal sih, DoMba bayar sendiri kok).</p>
<p>DoMba kembali ke Jakarta dengan bahagia, mengumpulkan tenaga dan siap-siap membuka klinik dengan kulit yang makin eksotis <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam eksotis,<br />
DoMba</p>
<p>Tim S.O.S!, SepociKopi, 2010</p>
<p>Picture Yogyakarta by disconation, Deviantart</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/04/s-o-s-domba-liburan-ke-jogja-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/04/s-o-s-domba-liburan-ke-jogja-2/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Persahabatan Sejati</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/1DvPAYF85A8/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/03/have-your-say-persahabatan-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 11:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8205</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki dunia lesbian dan mengakuinya di hadapan teman-teman straight memang memiliki resiko tersendiri. Banyak lesbian yang menempuh resiko itu untuk menjadi terbuka dan apa adanya. Berhargakah keterusterangan tersebut jika kehilangan teman? Ataukah memang keterusterangan adalah syarat mutlak untuk menilai kemilau persahabatan? Dengarkan kisah Erika Chan yang bercerita tentang sahabat-sahabat straight-nya.
Perkenalkan teman-teman SepociKopi, nama saya Erika. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/1111588950_634caa5fba.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-8206" title="1111588950_634caa5fba" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/1111588950_634caa5fba-300x300.jpg" alt="1111588950_634caa5fba" width="240" height="240" /></a><em>Memasuki dunia lesbian dan mengakuinya di hadapan teman-teman straight memang memiliki resiko tersendiri. Banyak lesbian yang menempuh resiko itu untuk menjadi terbuka dan apa adanya. Berhargakah keterusterangan tersebut jika kehilangan teman? Ataukah memang keterusterangan adalah syarat mutlak untuk menilai kemilau persahabatan? Dengarkan kisah Erika Chan yang bercerita tentang sahabat-sahabat straight-nya.</em></p>
<p>Perkenalkan teman-teman SepociKopi, nama saya Erika. Sejujurnya, saya terkejut sekali menemukan situs SepociKopi. Situs ini adalah impian saya sejak saya mengakui orientasi seksual saya kepada diri ini. Situs ini juga adalah angan-angan semua sahabat-sahabat lesbian saya dulu. Jadi alangkah gembiranya saya menemukan ternyata impian itu bukan sekadar impian, tapi benar-benar menjadi kenyataan. Proficiat SepociKopi untuk ketekunan dan keberhasilan yang dicapai dari situs ini. Saya melihat bookmark dan jumlah angka-angka pengunjung yang mencengangkan. Luar biasa1 Teman-teman lesbian yang berdiri di belakang situs ini, saya mengucapkan terima kasih.</p>
<p><span id="more-8205"></span>Saya ingin membagi cerita. Dulu ketika pertama kali saya mengetahui orientasi seksual saya, dunia internet belum seramai ini. Bahkan lesbian pun juga belum bisa semudah ini bertemu dan berkenalan. Sulit sekali untuk mengakui ketertarikan saya terhadap perempuan. Buku-buku yang beredar di pasaran juga tidak banyak membantu.</p>
<p>Sepuluh tahun yang lalu, saya memutuskan untuk <em>coming out </em>untuk pertama kali kepada sahabat perempuan saya. Dia teman dari SMA, yang selalu bersama saya. Sahabat saya itu sudah saya anggap saudari sendiri. Saya memilih hari yang tepat, mencari suasana, dan mempersiapkan segala-galanya. Saya membawanya berlibur bersama. Di malam obrolan persahabatan kami, saya bercerita kepadanya.</p>
<p>Saya melihat kegalauan dan keterkejutan yang luar biasa hebat di matanya. Saya tidak heran. Sahabat saya yang satu ini sangat religious. Dia rajin pergi ke gereja dan bahkan sebentar lagi menjadi pendeta. Sampai hari ini, saya sering membayangkan apa yang sahabat saya pikiran dan rasakan di malam itu.</p>
<p>Apa yang terjadi di malam itu membuat saya merasa itu adalah suatu kesalahan besar dan secara bersamaan, juga adalah tindakan paling benar yang saya lakukan seumur hidup saya. Salah karena akhirnya saya menciptakan jeda yang pelan-pelan menjadi jurang pemisah antara aku dan sahabatku. Dua bulan kemudian, saya benar-benar kehilangan sahabat saya yang satu itu. Benar karena akhirnya saya berani melihat wajah saya utuh di depan mata sahabat saya. Saya sudah menghadapi ketakutan saya.</p>
<p>Sejak saat itu, saya tidak pernah menyesal untuk<em> coming out</em> kepada sahabat terbaik saya. Jangan salah, saya bukan tipe orang yang suka berbicara sembarangan. Saya tipe pendiam, sebenarnya. Di antara kelompok, biasanya sayalah yang paling tidak banyak bicara.</p>
<p>Saya memiliki teman-teman dekat dari golongan tertentu. Maksudnya, saya dekat dengan seseorang di kantor. Saya juga dekat dengan seseorang di lingkungan gereja. Saya juga dekat dengan seseorang di keluarga. Sahabat-sahabat saya banyak, tapi saya termasuk pemilih. Apabila saya merasa nyaman dengan seseorang, maka saya akan berbagi banyak hal kepada dirinya.</p>
<p>Pengalaman<em> coming out </em>saya kepada sahabat SMA tidak membuat saya berkecil hati dengan penolakan. Justru itu membuat saya merasa harus menemukan sahabat <em>straight </em>sejati. Sahabat yang tidak memilah-milih orientasi seksual dan SARA. Sahabat yang bisa menerima saya sungguh-sungguh apa adanya. Sahabat yang bisa saya curhatin tentang apa saja, tanpa perlu berpura-pura.</p>
<p>Teman kedua yang saya <em>coming out</em> adalah teman kantor. Setelah saya pertimbangkan baik-baik, untung dan ruginya, akhirnya saya memutuskan untuk bercerita kepadanya dengan santai. Temanku itu terkejut, tentu saja. Nggak heran. Tapi saya senang, dia bisa menerima keadaan saya. Dia tidak menganggap orientasi seksual adalah suatu hal yang penting untuk dijadikan alasan pertemanan. Hubungan kami berlanjut menjadi teman yang baik.</p>
<p>Tidak heran kalau orientasi seksual saya pun akhirnya bocor sampai ke bos saya. Saya tidak mau menuduh teman saya, tapi akhirnya nyaris seluruh kantor saya (dulu) tau saya lesbian. Saya anggap teman saya itu sangat santai saat berhadapan dengan isu ini, sehingga kalau dia berkata &#8220;eh si anu juga lesbian&#8221; itu suatu pernyataan yang sebiasa &#8220;eh aku liburan mau pergi ke Bali.&#8221; Setelah tahu cara berpikiranya, saya tidak marah. Saya toh juga tidak memintanya untuk bertanggungjawab terhadap rahasia saya. Sampai hari saya mengetikkan cerita ini, teman saya itu tetap menjadi teman saya. Terkadang kami masih sering keluar bersama-sama, walaupun kami sudah tidak sekantor lagi.</p>
<p>Setelah itu, saya lebih nyaman dan rileks mengatakan siapa diri saya kepada sahabat-sahabat terbaik saya. Ingat ya, sahabat-sahabat baik. Saya tidak bisa sembarangan berkata kepada semua orang bahwa saya lesbian. Saya juga tidak senyaman itu apabila pengakuan itu menjadi bumerang bagi saya sendiri. Di kantor saya sekarang, tidak ada seorang pun yang tahu saya lesbian. Kebetulan, saya juga belum memiliki teman akrab di sana.</p>
<p>Keluarga saya tidak berada di Jakarta, ini mungkin juga yang membuat saya tidak terlalu mencemaskan reaksi keluarga. Saya membutuhkan teman straight dekat, karena cuma merekalah yang bisa menjadi keluarga saya di sini. Tentu saja selain pacar dan teman-teman lesbian. Saya tidak mau menggantungkan seluruh hidup saya di dunia lesbian. Bagi saya, hanya hidup di dunia lesbian seperti kehidupan yang penuh kepura-puraan dan ilusi. Maksud saya&#8230; c&#8217;mon, kita tahu dunia kita bukan lesbian saja. Saya butuh teman dan lingkungan umum di mana saya merasa nyaman berada di sana dan mereka menerima saya dengan tangan terbuka.</p>
<p>Demikian cerita saya tentang sahabat-sahabat <em>straight </em>dan pengalaman coming out saya. Sampai sekarang, saya masih tetap percaya, persahabatan yang sejati adalah persahabatan melintas batas, yang tidak akan memandang orientasi seksual, suku, agama, ras, dan antargolongan. Jika ada sahabat yang seperti itu, saya rasa dia bukan sahabat yang baik. Salam sukses buat SepociKopi.</p>
<p>@Erika Chan, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/03/have-your-say-persahabatan-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/03/have-your-say-persahabatan-sejati/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat 12 Penulis Kumcer “Un Soir Du Paris”</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/peRTcf7g6mg/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 08:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8197</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Cerpen-cerpen di &#8220;Un Soir du Paris&#8221; adalah cerpen yang pernah kami tampilkan di situs ini sejak tahun 2007. Berkat dukungan teman-teman dari para penulis atas izin pemuatan mereka di situs ini, akhirnya setelah tiga tahun kita bisa memiliki sebuah kumpulan cerpen yang  merupakan kumpulan cerpen full lesbian pertama di Indonesia.
Bukan sekadar kumpulan cerpen, tapi terdiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-8200" title="Cov_Un-Soir-du-PARIS" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/Cov_Un-Soir-du-PARIS.jpg" alt="Cov_Un-Soir-du-PARIS" width="267" height="380" />Oleh: Alex</p>
<p>Cerpen-cerpen di &#8220;Un Soir du Paris&#8221; adalah cerpen yang pernah kami tampilkan di situs ini sejak tahun 2007. Berkat dukungan teman-teman dari para penulis atas izin pemuatan mereka di situs ini, akhirnya setelah tiga tahun kita bisa memiliki sebuah kumpulan cerpen yang  merupakan kumpulan cerpen <em>full </em>lesbian pertama di Indonesia.</p>
<p>Bukan sekadar kumpulan cerpen, tapi terdiri atas cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media massa atau pernah dimuat dalam antologi/kumpulan cerpen. Semua penulis yang karyanya terangkum di sini karyanya pernah diterbitkan dalam bentuk buku, baik itu puisi, cerpen, dan novel. Ini memang suatu kesengajaan untuk menunjukkan eksistensi suatu karya lesbian yang pernah dipublikasikan di media massa. Siapa tahu, ini bisa menjadi perintis untuk terbitnya karya-karya lesbian dari penulis baru di masa datang.</p>
<p>Mari kita kenali lebih akrab sosok 12 penulis cerpen dalam kumpulan cerpen &#8220;Un Soir du Paris&#8221;:<br />
<span id="more-8197"></span><br />
<strong>Cok Sawitri </strong>lahir di Sidemen, Karangasem, Bali tanggal 1 September 1968. Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, cerpen dan novel. Dua bukunya yang masuk dalam <em>short list</em> Khatulistiwa Literary Award adalah <em>Janda dari Jirah </em>(2007) dan <em>Sutasoma</em> (2009). Kini Cok tinggal di Bali dan menjadi juru bicara Komponen Rakyat Bali.</p>
<p> <strong>Shantined</strong> lahir di Yogyakarta, 21 Oktober 1972. Sekarang tinggal di Bontang, Kaltim. Beberapa puisi diterbitkan oleh harian/majalah: HORISON, Republika, Suara Pembaharuan, Minggu Pagi, Kaltim Pos, Tribun Kaltim, Dinamika &amp; Kriminal, BEN!, cerpen dan puisinya juga dibukukan dalam antologi. Shanti aktif mengikuti berbagai seminar, kongres maupun pertemuan sastrawan di berbagai kota di Indonesia.</p>
<p><strong>Abmi Handayani</strong> perempuan kelahiran 5 januari 1987 di Balikpapan. Lulusan Jurusan Sejarah UGM dengan skripsi berjudul <em>Perkara Mesoem; penangkapan homoseksual di Indonesia circa 1938-1939</em>. Tertarik pada dunia penulisan sejak bersekolah di SLTP Patra Dharma 1 Balikpapan. Bersama kawan-kawan sekolahnya di SMA Negeri 6 Balikpapan pernah menjuarai kompetisi majalah dinding. Memutuskan untuk menjadi penulis—baik fiksi maupun lepas—di tahun-tahun awal kuliahnya. Memulai debutnya dengan teenlit  <em>Cha untuk Chayang</em>, duet dengan Dalih Sembiring (Gramedia, 2005). Beberapa cerpennya dimuat di media antara lain “The Sky Scribbler” (The Jakarta Post dan Prima Storia); “Sent” (Esquire), dan “Dua Malam Terakhir” dan “Sebuah Mimpi Rahasia” (Jeune). Kini intens menggeluti dunia seni dan sastra bersama kawan berprosesnya di Sanggar Kali Putih, Sawangan, Wonosobo.  </p>
<p><strong>Ucu Agustin</strong> adalah penulis, wartawan, juga pembuat film dokumenter. Ucu telah menerbitkan 2 buku kumpulan cerpen berjudul <em>Kanakar </em>dan <em>Dunia di Kepala Alice</em>, serta sebuah novel berjudul <em>Being Ing</em>.</p>
<p><strong>Stefanny Irawan</strong>, selain menulis, juga menjadi managing director suatu teater kecil, dosen di almamaternya, dan juga penerjemah. Karya-karyanya diterbitkan di berbagai media nasional, beberapa antologi, dan <em>Tidak Ada Kelinci di Bulan!</em> (GPU, 2006) adalah kumpulan cerpen pertamanya. Masih tinggal di Surabaya.</p>
<p><strong>Linda Christanty</strong> adalah sastrawan dan wartawan. Ia menulis buku kumpulan cerpen <em>Kuda Terbang Maria Pinto</em>  yang menjadi pemenang prosa Khatulistiwa Literary Award dan buku kumpulan esei <em>Dari Jawa Menuju Atjeh</em>. Ia bekerja sebagai pemimpin redaksi sindikasi feature Aceh Feature, tinggal di Banda Aceh.</p>
<p><strong>Clara Ng </strong>adalah penulis, pendongeng, dan pekerja sastra full time untuk cerita anak, novel, skenario, esai, dan cerpen. Lulus dari Ohio State University, Amerika. <em>Gaya Rambut Pascal</em> (2006), <em>Melukis Cinta</em> (2007), <em>Jangan Bilang Siapa-siapa</em> (2008) mendapat penghargaan cerita anak-anak Adikarya Ikapi. Novelnya yang diterbitkan antara lain: <em>Gerhana Kembar</em> (2007) dan <em>Tea for Two</em> (2009) pernah dimuat secara bersambung di koran Kompas. Dongeng-dongengnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk konsumsi negara ASEAN. Sekarang tinggal di Jakarta.</p>
<p><strong>Triyanto Triwikromo</strong> lahir tanggal 15 September 1964. Cerpennya dimuat di sejumlah media cetak dan antologi termasuk antologi tahunan <em>Cerpen Kompas Pilihan</em> dan <em>20 Cepen Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana</em>. Kumcer terbarunya adalah <em>Ular di Mangkuk Sang Nabi</em> (2009). Triyanto kini aktif sebagai redaktur budaya di harian Suara Merdeka, Semarang.</p>
<p><strong>Ratih Kumala</strong> lahir di Jakarta tanggal 4 Juni 1980. Ia telah menerbitkan tiga novel dan satu kumpulan cerpen. Novel terbarunya berjudul <em>Kronik Betawi</em> (2009). Ratih kini tinggal di Jakarta bersama suaminya Eka Kurniawan, dan bergiat sebagai skrip editor divisi drama di Trans TV.</p>
<p> <strong>Agus Noor</strong> menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Buku-buku yang telah ditulisnya antara lain, <em>Memorabilia</em>, <em>Bapak Presiden yang Terhormat</em>, <em>Selingkuh Itu Indah</em>, <em>Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia)</em>, <em>Matinya Toekang Kritik</em>, <em>Potongan Cerita di Kartu Pos</em>. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul <em>Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia</em>. Ia bisa dikunjungi di http://agusnoorfiles.wordpress.com.</p>
<p><strong>Seno Gumira Ajidarma</strong> dilahirkan tahun 1958. Menulis sejak 1974 dan bekerja sebagai wartawan dari 1977. Mulai 1985 bekerja untuk Gramedia Majalah. Menerima sejumlah penghargaan sastra, dan tulisannya diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain menulis, juga memotret dan berpameran. Mengajar di almamaternya, Fakultas Film dan Televisi IKJ maupun Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.</p>
<p><strong>Maggie Tiojakin </strong>adalah jurnalis dan penulis kumpulan cerita pendek <em>Homecoming (And Other Stories), Balada Ching-Ching </em>(Gramedia Pustaka Utama, 2010). Karya fiksi pendeknya telah diterbitkan di&#8211;antara lain&#8211;Writers’ Journal, Voices, Femina, Sun Magazine, hackwriters.com, The Jakarta Post, Kompas, TNY, dan Eastown Fiction. Dia berdomisili di Jakarta, Indonesia.</p>
<p>Nantikan tanggal terbit &#8220;Un Soir du Paris&#8221; tanggal 9 September 2010. Buku ini tersedia di toko buku di seluruh Indonesia, juga di toko buku online langgananmu.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Saat Berbuka Tiba</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/jvBYMWgFl4E/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 15:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Sebeningembun
Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah  seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan&#8230;, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="WIDTH: 178px; HEIGHT: 248px" height="274" alt="Jama Masjid by Faylinn" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/jama_masjid_by_faylinn.jpg" width="225" align="left" /> Oleh: Sebeningembun</p>
<p>Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah  seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan&#8230;, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.</p>
<p><em>Sesungguhnya kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.</em></p>
<p><span id="more-8199"></span>
<p>Di depanku layar komputer masih berkedip-kedip, setelah sesorean <em>ngabuburit</em> di dunia maya. Mulai acara mengunjungi forum-forum diskusi, melompati beberapa portal berita sembari menyelesaikan beberapa detil pekerjaan kantor yang tertunda. TV juga masih menyala dengan suara lirih hingga memungkinkanku mendengar sayup-sayup lantunan salawat dari masjid di kompleks belakang.</p>
<p>Hanya dua benda, laptop dan TV yang menemaniku kala berbuka. Plus ponsel yang sesekali bergetar menyampaikan ucapan selamat berbuka puasa. Partner masih di kantor. Hari kerja begini sangat sulit buat dia menyempatkan diri menemaniku berbuka puasa. Selain karena tuntutan pekerjaan, jalanan yang macet dan sesak selalu jadi pemandangan rutin di jam-jam pulang kantor menjelang berbuka. Kesempatan menikmati buka bersama partner bisa dihitung dengan jari tangan. Tapi anehnya, tidak sedikitpun terasa sepi.</p>
<p>Aku masih berselonjor menikmati kedamaian. Konon katanya, saat menjelang buka puasa dan saat berbuka adalah waktu terbaik agar doa-doa kita dikabulkan Tuhan. Dan boleh jadi, doa-doa yang dipanjatkan orang-orang itulah yang menguarkan aroma syahdu hingga ke ruang tengah rumah kami. Udara pekat oleh manisnya kedekatan dengan Tuhan.</p>
<p>Sebutir butir kurma yang legit semakin memulihkan tenagaku. Mungkin bukan hanya karena kandungan gizinya yang tak terbantahkan, tapi karena kasih sayang yang terselip di antara susunan kurma tersebut. Awal bulan Ramadan kemarin, seorang sahabat mengirimkan dua kotak kurma, setelah beberapa minggu sebelumnya dia juga mengirimkan penganan untuk menemaniku menyantap hidangan sahur. Tidak ada kalimat yang mampu menerjemahkan perhatian setulus itu kecuali sesuatu yang bernama kasih sayang.</p>
<p>Teringat aku, sepenggal percakapan dengan partner saat menikmati kurma bersama-sama.</p>
<p>“Dik, kurma itu adalah salah satu jenis buah yang menunjukkan kekuasaan Tuhan,” katanya memulai cerita.</p>
<p>“Oh, ya? mengapa begitu A?” tanyaku antusias.</p>
<p>“Lihatlah, bagaimana kuasa Tuhan menciptakan buah kurma. DIA menumbuhkannya di negeri gurun pasir. Di atas bumi yang kelihatan gersang dan sulit mendapatkan air, DIA menumbuhkan tanaman yang menghasilkan buah yang luar biasa: bergizi, manis, mengenyangkan, dan menyimpan ratusan mineral bermanfaat yang tidak kita temukan pada buah lain.”</p>
<p>Aku tersenyum, berbisik lirih. <em>Mahasuci Engkau Tuhan</em>.</p>
<p>Dan hari-hari pekat oleh manisnya kebersamaan.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya, untuk ukuran orang yang menikmati ibadah puasa sendirian aku tidak sempat merasa kesepian. Kesibukan partner dengan pekerjaannya di kantor justru membuatku memiliki kuantitas waktu yang cukup untuk meretas kembali jalan menuju Tuhan yang selama ini kubiarkan tak terawat, onak dan duri-duri kemalasan membuatku terseok-seok mengejar banyak ketertinggalan. Seperti sekarang ini&#8230;.</p>
<p>Pikiranku masih melompat ke sana kemari. Meski azan sudah selesai berkumandang, aku masih saja enggan beranjak ke kamar mandi untuk segera berwudu sebelum menunaikan solat magrib. </p>
<p>Dan lintasan kenangan itu muncul lagi&#8230; Televisi yang selama ini tak mempan dikritik karena hanya mampu menayangkan acara yang tak mendidik, di bulan ramadan ini seakan berlomba menjadi sarana penyebar kebaikan. Televisi yang biasa kucibir sinetronnya, kini harus kusyukuri keberadaannya sebagai sumber penambah wawasan, khususnya buat orang-orang sepertiku yang cetek pemahaman agamanya.</p>
<p><em>Sholat itu wajib, tetapi hati harus menemukan alasan agar sholat menjadi khusyuk.</em></p>
<p>Cukup lama aku tercenung, potongan kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Sebentuk cermin jernih terpampang di hadapanku, memaksa diri untuk menatap jauh ke relung hati terdalam.</p>
<p>Terkadang ada bisikan-bisikan, “Halah, ngapain juga sembahyang kalau kelakuannya kagak bener” atau “Kalau solat cuma sekedar lepas kewajiban dapat apa? Nggak ada rasanya… sama aja dengan yang kagak solat.” Duh… kerjaan siapa sih yang ngebisikin hal-hal begini? syaitan kali, ya? Tapi bukannya syaitan lagi dirantai?</p>
<p>Mungkin aku harus terus mengasah diri, terus mencari alasan-alasan untuk bisa khusuk melaksanakan solat, tidak sekedar melepaskan kewajiban, apalagi sampai mengabaikan kewajiban itu hanya karena tidak menemukan alasan agar menjadi khusuk.</p>
<p>Eh, sebentar&#8230; Aku teringat lagi sesuatu. Tadi sore, saat berselancar di dunia maya, aku sempat membaca <em>timeline</em> di Twitter seorang penulis. Kalau tidak salah begini bunyinya, &#8220;Berpura-puralah menjadi seseorang yang baik selama mungkin&#8211;sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura!&#8221;</p>
<p>Aha! mungkin tips ini bisa kuterapkan. Berpura-pura menjadi seseorang yang khusuk solatnya, sampai akhirnya lupa bahwa aku sedang berpura-pura. Atau mungkin berpura-pura lupa bahwa aku seseorang lesbian, agar aku tidak perlu lagi tersaruk-saruk memanggul label lesbian yang membuatku enggan menghadap Tuhan, padahal Tuhan sendiri berjanji bahwa IA Mahapengasih yang tidak akan pernah pilih kasih.</p>
<p>Baiklah, tidak ada salahnya dicoba. Mumpung kesempatan mengumpulkan kekuatan tinggal seminggu lagi, terlalu sayang kesempatan berharga ini disia-siakan. Sebab belum tentu diri ini akan berjumpa dengan Ramadan berikutnya. </p>
<p>@Sebeningembun, SepociKopi, 2010</p>
<p>Ilustrasi <a href="http://faylinn.deviantart.com/art/Jama-Masjid-47428516?q=boost%3Apopular+masjid&amp;qo=35">Jama Masjid</a> by Faylinn, Deviantart.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Shampo Cinta</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/gfRkQeJ9u24/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/01/te-lez-kop/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 08:10:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8184</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Shinigami
Sebenarnya hal-hal kecil dan remeh dalam hidup kita bisa memiliki arti lebih kompleks atau korelasi yang jelas dengan hal-hal yang lebih penting bila kita benar-benar memperhatikannya atau mencoba melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda. Namun seringnya, di tengah segala macam situasi hidup, kita tak menyadari itu. Kita sering sibuk hidup tanpa dengan sadar mencoba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/shampoo26.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-8185" title="shampoo26" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/shampoo26-300x250.jpg" alt="shampoo26" width="240" height="200" /></a>Oleh: Shinigami</p>
<p>Sebenarnya hal-hal kecil dan remeh dalam hidup kita bisa memiliki arti lebih kompleks atau korelasi yang jelas dengan hal-hal yang lebih penting bila kita benar-benar memperhatikannya atau mencoba melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda. Namun seringnya, di tengah segala macam situasi hidup, kita tak menyadari itu. Kita sering sibuk hidup tanpa dengan sadar mencoba menikmati hidup. Salah satu hal remeh yang bila diamati lagi bisa berarti lebih adalah shampo. Benar, si cairan kimia yang tugasnya membersihkan rambut di kepala kita dari, idealnya, segala macam masalah rambut yang kita miliki. Arti lebih apa? <em>Well</em>, hubungan kita terhadap shampo ternyata sangat paralel dengan hubungan kita terhadap cinta.</p>
<p><span id="more-8184"></span>Pada awalnya, kita mungkin tak terlalu pemilih terhadap shampo. Shampo apa pun tidak masalah dengan rambut kita. Ini mengingatkan saya pada fase cinta pertama. Cinta pertama seringnya bukan hasil dari pilih-pilih. Seperti shampo yang menarik kita dengan bentuk botolnya, warnanya, wanginya, cinta pertama bisa menarik kita dengan fitur fisiknya. Yang penting menarik, yang penting ada. Dan kita bisa bertahan memakai shampo itu hanya karena wanginya, seperti kita bisa bertahan dengan cinta pertama karena cakep atau kerennya.</p>
<p>Tetapi, keadaan berubah, kehidupan terus berjalan, usia bertambah. Kita tidak bisa lagi pakai shampo sembarangan. Ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat kita harus menyesuaikan pilihan shampo kita itu. Misalnya ketombe, atau rambut bercabang, atau rambut rontok. Kita tentu harus tahu dulu apa yang dibutuhkan rambut kita sebelum kita memutuskan shampo apa yang akan dipakai. Ketidaktepatan memilih shampo tentu bisa runyam akibatnya. Begitu juga dengan cinta. Semakin matang kita memahami diri kita, pilihan cinta kita juga akan lebih spesifik. Supaya hubungan kita langgeng, kita butuh tahu dulu pasangan seperti apa yang kita butuhkan.</p>
<p>Jika kita orangnya terlalu kaku atau kering seperti kulit kepala yang akhirnya menghasilkan ketombe, tentu kita butuh shampo yang bisa mendinginkan kita alias butuh pasangan yang mampu membuat kita lebih santai. Jika kita orangnya susah setia seperti rambut bercabang, berarti kita butuh pasangan yang mampu mengendalikan kebercabangan itu dan membuat kita setia. Kalau kita orangnya gampang patah semangat layaknya rambut rontok, maka kita butuh pasangan yang bisa menguatkan dan mengobarkan semangat kita. Tidak bisa sembarangan lagi kalau mau hubungan yang awet.</p>
<p>Bagaimana dengan yang masih oke-oke saja memakai shampo untuk segala jenis rambut? Ya tidak apa-apa. Itu bisa berlaku untuk orang yang tak memiliki kebutuhan khusus, baik untuk shampo maupun cinta/pasangan. Bisa jadi orang itu termasuk orang yang sangat mudah menyesuaikan diri dan nyaris bisa menerima segala macam keadaan. Sepertinya orang seperti ini bisa berbahagia karena, mestinya, tidak akan susah baginya menemukan pasangan.</p>
<p>Lantas, kalau kita berganti shampo? Tidak masalah juga. Tidak bisa dipungkiri bahwa pada suatu masa, kita butuh mengganti shampo karena sudah tidak cocok, misalnya. Ini juga terjadi dalam hubungan cinta. Karena satu dan lain hal pula, kita bisa berpisah dengan seseorang. Tetapi sebagaimana halnya berganti shampo tidak berarti kita tidak akan memakai shampo lagi, berpisah dengan seseorang bukan berarti kita akan berhenti dan tak akan menjalin hubungan lain lagi. Ketika kita berganti shampo, tentu kita akan mencari shampo yang lebih baik, bukan? Sama seperti yang terjadi setelah kita putus. Kita akan mencari yang lebih baik lagi.</p>
<p>Sudah? Analoginya cuma dari jenis shampo? Oho, tidak. Relevansi shampo dan hubungan percintaan juga bisa ditarik dari pemakaiannya. Memakai shampo tidak cukup hanya memakai, tetapi kita butuh membilasnya hingga bersih dari kepala kita. Sisa shampo di kepala malah akan menimbulkan masalah kelak. Sama seperti hubungan cinta yang memerlukan pembilasan secara berkala, yaitu pembilasan kesalahan masing-masing pihak yang melibatkan proses membahas dan memaafkan. Membiarkan kesalahan itu terus menumpuk tentu tidaklah sehat bagi hubungan kita dengan pasangan.</p>
<p>Yang terakhir, baik shampo maupun hubungan cinta sama-sama  bisa membuat mata kita pedih dan mencucurkan air mata dalam waktu yang cukup lama. Khusus yang satu ini, saya yakin para pembaca SepociKopi yang cerdas-cerdas bisa mengaitkannya sendiri. Masih ada korelasi yang lain? Silakan dicari.</p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/01/te-lez-kop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/01/te-lez-kop/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Dua Perempuan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/SepociKopi/~3/39EVp7dPbKM/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/01/dua-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 08:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Memory]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8187</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ayni
Tubuhku menyelinap lemas. Sekujur tubuhku dihinggapi rasa tak menentu. Perlahan keringat mulai bercucuran. Mata memuntahkan air ke dalam hati. Mata yang sama tertuju pada dua orang perempuan yang sedang masyuk dengan cinta. Mungkin karena jarak pertemuan yang jauh hingga saat bertemu mereka melepasnya tanpa beban seolah tak ada perempuan lain yang begitu perih melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/800_Licudine_Broken_Heart.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-8188" title="800_Licudine_Broken_Heart" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/800_Licudine_Broken_Heart-300x292.jpg" alt="800_Licudine_Broken_Heart" width="240" height="234" /></a>Oleh: Ayni</p>
<p>Tubuhku menyelinap lemas. Sekujur tubuhku dihinggapi rasa tak menentu. Perlahan keringat mulai bercucuran. Mata memuntahkan air ke dalam hati. Mata yang sama tertuju pada dua orang perempuan yang sedang masyuk dengan cinta. Mungkin karena jarak pertemuan yang jauh hingga saat bertemu mereka melepasnya tanpa beban seolah tak ada perempuan lain yang begitu perih melihat mereka bercengkrama.</p>
<p>Tubuh terasa kecut, nyali memudar menatap perempuanku. Sedikit penyesalan dengan pertanyaan: kenapa aku memberanikan diri di depan mereka? Mata ini semakin tersiksa melihatnya. Tak kuingkari, aku cemburu melihat perempuanku bersama perempuannya. Perempuanku menatap indah seakan berkata &#8220;Ini  cinta dan hidupku selamanya. Jangan ganggu aku, kau hanya perempuan pelampiasan saat perempuanku tak di sisiku.&#8221; Ah&#8230; aku hanya tersenyum, mencoba menghibur diri sendiri bahwa perempuanku tak seburuk itu.</p>
<p><span id="more-8187"></span>Logika punya sejuta tanya tapi hati satu tak mampu menjawab. Hatiku hanya berbisik lirih, &#8220;Aku bahagia melihat perempuanku &#8221; Dingin jus melon ternyata tak mampu mendamaikan suasana hati. Aku beku menahan kesakitan. Aku berharap hati ini seperti es batu yang tercampur dalam es lemon milik perempuannya, akan mencair bersama waktu. Oh, perempuanku, ingin rasanya meludahi muka manismu karena dengan kejam kau rayu perempuanmu, mempertotonkan kemesraanmu, membuatku serasa duduk di atas bara. Sedikit pun tak kau hargai perasaan ini!</p>
<p>Detik-detik terus berlalu perlahan, hati mulai berdamai dengan keadaan meski masih terasa sangat mengiris. Tak adil bila dua perempuan itu tersenyum, saling menatap manja, mengumbar cintanya sementara aku&#8230; duduk manis bak menikmati sebuah pertunjukan sirkus sesekali tersenyum bahkan ikut tertawa, menepis  hati yang lagi galau bergemuruh. Perlahan kuhapus air mata, bertekad ini adalah air mata terakhir untuk perempuanku. Aku beranjak jauh dari kehidupannya namun tidak dengan cintaku. Sekian banyak cara telah ditempuh untuk menjauh dari cinta&#8230; Namun cinta tetap mengikuti seperti bayanganku.</p>
<p>@Ayni, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/01/dua-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://sepocikopi.com/2010/09/01/dua-perempuan/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
