<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Serak Minahasa</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</managingEditor><pubDate>Tue, 8 Apr 2025 19:16:58 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>https://serakminahasa.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Apa yang Kita Sombongkan?</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2018/06/apa-yang-kita-sombongkan.html</link><category>Cerita</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Fri, 15 Jun 2018 23:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-2404686865431162662</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;Seorang pria
yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru
sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai
rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini
orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta
nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun
tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi
orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya
melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang
benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. &lt;br /&gt;
Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita merasa lebih
kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.&lt;br /&gt;
Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa lebih
pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.&lt;br /&gt;
Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering
menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus
dibandingkan dengan orang lain.&lt;br /&gt;
Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita
mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong
karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena
seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah,
ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (&lt;i&gt;self-esteem&lt;/i&gt;) dan kepercayaan diri (&lt;i&gt;self-confidence&lt;/i&gt;). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi
kebanggaan (&lt;i&gt;pride&lt;/i&gt;), Anda sudah berada
sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah
terlalu jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan KESADARAN
sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang
dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk
berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam
indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah
yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian
(ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati.
Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan
paradigma yang perlu kita lakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK
FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian kita adalah spiritualitas,
sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan
tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan
seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal.
Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak
luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam".
Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan
atau ilusi ego.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan,
semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan
sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini
berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan
pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.
Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk
persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.
Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat
baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Be happy! &lt;/span&gt;
&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Asal Muasal Sewindu Tujuh Hari</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2018/06/asal-muasal-sewindu-tujuh-hari.html</link><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Thu, 14 Jun 2018 14:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-4584251089386598186</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Agar kehidupannya menjadi teratur, manusia membutuhkan cara untuk menentukan waktu melakukan tugas atau untuk membedakan musim. Berkat semangat observasi itu, manusia menemukan kalender.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Seperti yang kita ketahui, Bulan berputar mengelilingi Bumi kira-kira selama 28 hari. Selama itu pula, Bumi mengalami 4 fase, yaitu bulan baru, bulan sabit, bulan purnama dan bulan sabit lagi. 28 hari dibagi menurut 4 fase ini maka jadilah satu periode yang terdiri dari 7 hari. Kita menyebutnya satu minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Orang Babilonia (sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi) adalah yang pertama kali menerapkan pembagian tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, orang Hebron menambahkan simbol agama. Mereka mengutip teks Injil yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia selama enam hari dan beristirahat di hari ketujuh. Hari terakhir ini disebut Sabbath dalam tradsi Yahudi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Di Roma, pada kekaisaran Augustus, satu minggu yang kita kenal sekarang benar-benar diterapkan. Setiap hari (atau “dies” dalam bahasa Latin) diberi nama dewa yang berbeda. Luna (Senin), Mars (Selasa), Merkurius (Rabu), Jupiter (Kamis), Venus (Jumat), Saturnus (Sabtu), dan Solis (Sunday dalam bahasa Inggris).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Pada tahun 393, penganut agama Kristiani mengubah hari Solis menjadi ‘Domingo’ atau dies Dominicus, atau ‘hari Penguasa’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Ada juga sejarahnya pada waktu itu, satu-satunya pembagian waktu adalah bulan dan ada terlalu banyak hari dalam satu bulan untuk diberi nama sendiri-sendiri. Tetapi ketika manusia mulai membangun kota-kota, mereka ingin mempunyai hari istimewa untuk berdagang, yakni suatu hari pasar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Kadang-kadang hari-hari pasar ini ditetapkan setiap hari kesepuluh dan kadang-kadang setiap hari ketujuh atau setiap hari kelima orang-orang Babilonia memutuskan hari pasar harus jatuh pada hari ketujuh. Pada hari ini mereka tidak bekerja, tetapi bertemu untuk berdagang dan mengadakan upacara-upacara keagamaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Bangsa Yahudi mengikuti contoh mereka, tetapi mengkhususkan hari ketujuh untuk keperluaan keagamaan. Dengan demikian hari minggu pun muncul. Hari itu adalah hari antara hari-hari pasar. Bangsa Yahudi menberi nama untuk masing-masing hari dari ketujuh hari itu, tetapi sebenarnya itu adalah hitungan setelah hari Sabat (yaitu hari Sabtu). Misalnya, hari Rabu dinamakan hari keempat (empat hari setelah hari Sabtu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Ketika Bangsa Mesir menggunakan minggu yang terdiri dari tujuh hari mereka menamakan hari-hari itu menurut nama kelima planet, matahari dan bulan. Bangsa Romawi menggunakan nama-nama Mesir untuk hari-hari mereka dalam seminggu: hari Matahari, hari Bulan, hari planet Mars, hari planet Merkurius, hari planet Yupiter, hari planet Venus, dan hari planet Saturnus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Kita memperoleh nama-nama hari bukan dari Bangsa Romawi tetapi dari Bangsa Anglo-Saxon, yang menamai sebagian besar dari hari-hari menurut nama dewa-dewa mereka, yang kurang lebih sama dengan dewa-dewa Bangsa Romawi, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari Matahari menjadi ‘Sunnandaeg’, atau Sunday (Minggu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari Bulan dinamakan ‘Monandaeg’, atau Monday (Senin).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari Mars menjadi hari Tiw,yaitu dewa perang mereka. Ini menjadi ‘Tiwesdaeg’, atau Tuesday (Selasa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Bukannya nama Merkurius, nama Dewa Woden diberikan menjadi Wednesday (Rabu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari Romawi Yupiter, dewa guntur, menjadi hari guntur Dewa Thor, dan ini menjadi Thursday (Kamis).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari berikutnya dinamakan Frigg, istri Dewa Odin, dan oleh karena itu kita mempunyai Friday (Jumat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Hari Saturnus menjadi ‘Saeterbsdaeg’, terjemahan dari bahasa Romawi, dan kemudian menjadi Saturday (Sabtu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;Satu hari, biasanya dihitung sebagai jarak antara terbitnya matahari dan terbenamnya matahari. Bangasa Romawi menghitungnya dari tengah malam sampai tengah malam, dan kebanyakan bangsa-bangsa modern menggunakan metode ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: large;"&gt;(&lt;i&gt;nukilan dari beberapa sumber)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Naskah Lorem Ipsum </title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/11/naskah-lorem-ipsum.html</link><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sun, 15 Nov 2015 08:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-5080856521814569327</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Naskah Lorem Ipsum standar yang digunakan sejak
tahun 1500an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 10.5pt; margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;"Lorem ipsum dolor
sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut
labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud
exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute
irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat
nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa
qui officia deserunt mollit anim id est laborum."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Bagian 1.10.32 dari "de Finibus Bonorum et
Malorum", ditulis oleh Cicero pada tahun 45 sebelum masehi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 10.5pt; margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;"Sed ut
perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque
laudantium, totam rem aperiam, eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et
quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo. Nemo enim ipsam voluptatem
quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni
dolores eos qui ratione voluptatem sequi nesciunt. Neque porro quisquam est,
qui dolorem ipsum quia dolor sit amet, consectetur, adipisci velit, sed quia
non numquam eius modi tempora incidunt ut labore et dolore magnam aliquam
quaerat voluptatem. Ut enim ad minima veniam, quis nostrum exercitationem ullam
corporis suscipit laboriosam, nisi ut aliquid ex ea commodi consequatur? Quis
autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil
molestiae consequatur, vel illum qui dolorem eum fugiat quo voluptas nulla
pariatur?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Terjemahan tahun 1914 oleh H. Rackham&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 10.5pt; margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;"But I must explain
to you how all this mistaken idea of denouncing pleasure and praising pain was
born and I will give you a complete account of the system, and expound the
actual teachings of the great explorer of the truth, the master-builder of
human happiness. No one rejects, dislikes, or avoids pleasure itself, because
it is pleasure, but because those who do not know how to pursue pleasure
rationally encounter consequences that are extremely painful. Nor again is
there anyone who loves or pursues or desires to obtain pain of itself, because
it is pain, but because occasionally circumstances occur in which toil and pain
can procure him some great pleasure. To take a trivial example, which of us
ever undertakes laborious physical exercise, except to obtain some advantage
from it? But who has any right to find fault with a man who chooses to enjoy a
pleasure that has no annoying consequences, or one who avoids a pain that
produces no resultant pleasure?"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Bagian 1.10.33 dari "de Finibus Bonorum et
Malorum", ditulis oleh Cicero pada tahun 45 sebelum masehi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 10.5pt; margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;"At vero eos et
accusamus et iusto odio dignissimos ducimus qui blanditiis praesentium
voluptatum deleniti atque corrupti quos dolores et quas molestias excepturi
sint occaecati cupiditate non provident, similique sunt in culpa qui officia
deserunt mollitia animi, id est laborum et dolorum fuga. Et harum quidem rerum
facilis est et expedita distinctio. Nam libero tempore, cum soluta nobis est
eligendi optio cumque nihil impedit quo minus id quod maxime placeat facere
possimus, omnis voluptas assumenda est, omnis dolor repellendus. Temporibus autem
quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet ut et
voluptates repudiandae sint et molestiae non recusandae. Itaque earum rerum hic
tenetur a sapiente delectus, ut aut reiciendis voluptatibus maiores alias
consequatur aut perferendis doloribus asperiores repellat."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif;"&gt;Terjemahan tahun 1914 oleh H. Rackham&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: Times, Times New Roman, serif; line-height: 10.5pt; text-align: justify;"&gt;"On the other hand,
we denounce with righteous indignation and dislike men who are so beguiled and
demoralized by the charms of pleasure of the moment, so blinded by desire, that
they cannot foresee the pain and trouble that are bound to ensue; and equal
blame belongs to those who fail in their duty through weakness of will, which
is the same as saying through shrinking from toil and pain. These cases are
perfectly simple and easy to distinguish. In a free hour, when our power of
choice is untrammelled and when nothing prevents our being able to do what we
like best, every pleasure is to be welcomed and every pain avoided. But in
certain circumstances and owing to the claims of duty or the obligations of
business it will frequently occur that pleasures have to be repudiated and
annoyances accepted. The wise man therefore always holds in these matters to
this principle of selection: he rejects pleasures to secure other greater pleasures,
or else he endures pains to avoid worse pains."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apa Itu Lorem Ipsum</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/10/apa-itu-lorem-ipsum.html</link><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Wed, 7 Oct 2015 09:41:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-8198302094329034541</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Dalam industri percetakan, Lorem Ipsum dikenal sebagai suatu contoh teks tulisan atau dummy, yang menjelaskan tentang penataan huruf atau typesetting. Sejak tahun 1500-an, Lorem Ipsum sudah dijadikan standar contoh teks. Ini bermula ketika seorang tukang cetak mengambil sebuah kumpulan teks lalu mengacaknya menjadi sebuah buku contoh huruf. Buku contoh huruf itu mampu bertahan selama 5 abad, kemudian beralih tanpa perubahan ke penataan huruf elektronik dan mulai dipopulerkan tahun 1960. Ditandai dengan diluncurkannya lembaran-lembaran Letraset yang menggunakan kalimat-kalimat dari Lorem Ipsum. Selanjutnya, versi Lorem Ipsum digunakan oleh perangkat lunak Desktop Publishing seperti Aldus Pagemaker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asal muasal Lorem Ipsum&lt;br /&gt;
Lorem Ipsum mempunyai akar dari sebuah naskah sastra latin klasik era 45 SM dan bukanlah teks yang bisa diacak. Seorang Professor Bahasa Latin dari Hampden-Sidney College di Virginia yang bernama Richard McClintock melakukan penelitian untuk mencari makna salah satu kata latin yang dianggap paling tidak jelas yang diambil dari salah satu bagian Lorem Ipsum, yaitu&amp;nbsp;&lt;b&gt;consecteur&lt;/b&gt;. Sang Professor mendapatkan maknanya dari literatur klasik yang diyakini sebagai sumber yang dapat dipercaya. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa Lorem Ipsum berasal dari bagian 1.10.32 dan 1.10.33 dari naskah karya Cicero yang berjudul "de Finibus Bonorum et Malorum" (Sisi Ekstrim dari Kebaikan dan Kejahatan). Cicero menuliskan naskah itu pada tahun 45 SM dan merupakan naskah risalah dari Teori Etika yang begitu terkenal pada jaman Renaissance. Baris pertama dari Lorem Ipsum yang berbunyi "&lt;b&gt;Lorem ipsum dolor sit amet&lt;/b&gt;...", berasal dari sebuah baris di bagian 1.10.32.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebagai Anggota Masyarakat</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-sebagai-anggota-masyarakat.html</link><category>Fiksi</category><category>Giroth Wuntu</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Wed, 9 Sep 2015 17:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-1145119294800561712</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 0px;"&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Pada suatu hari di kampung kami diedarkan undangan bagi seluruh anggota jemaat, untuk menghadiri pertemuan dengan maksud akan membicarakan permasalahan yang menyangkut pemilihan anggota-anggota pimpinan jemaat, bertempat di gedung sekolah Zending. Beberapa anggota telah hadir lalu menggunakan kesempatan itu untuk berbincang-bincang, terutama tentang segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan masalah pokok, yakni kehidupan keagamaan atau penginjilan di kampung kami.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tiada berapa lama tiba pula beberapa anggota, termasuk Tete Koneng. Dan karena tuan penulong sendiri belum hadir, maka kehadiran orang tua yang penuh pertentangan ini, telah menambah ramai pula perbincangan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tetapi meskipun Tete Koneng dikenal sebagai seorang yang gemar banyak bicara, tetapi janganlah diartikan bahwa dia memang seorang pembicara asal bicara saja dan tidak tahu ujung pangkal cerita atau persoalan yang diketengahkan, Orang tuan ini adalah seorang yang dalams segala hal selalu berlaku cermat dan hati-hati, tidak ingin menggurui ataupun memaksakan pendapatnya, meskipun karena itu sudah merupakan pembawaannya, ia selalu keras, tegas, dan terbuka. Dan ia tidak melupakan untuk selalu memberikan dorongan dan semangat pada siapapun saja yang hadir dalam setiap ada pertemuan, untuk supaya semua mengambil bahagian dalam perbincangan itu. Sangatlah disesalkannya, apabila ada orang-orang yang boleh jadi karena kurang penguasaan dalam bahasa atau kurang pengalaman dalam pergaulan, lalu enggan mengemukakan gagasan atau pendapatnya meskipun ia mengerti permasalahan yang sedang dibicarakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Nah....inilah penyakit yang sudah tertanam sejak dahulu di jaman Belanda. Di jaman penjajahan itu, seseorang yang meskipun hanya menguasai ‚waar ga je’, ‚goeden morgen’ lalu dipandang sebagai seorang terpelajar dan karenanya dia sajalah yang harus diberi kesempatan untuk boleh bicara banyak, meskipun mungkin saja ia sendiri sama sekali atau hanya sedikit menguasai apa yang harus dibicarakan. Dan orang-orang yang tidak mengerti bahasa asing itu, dianggap saja bodoh tidak atau kurang terpakai dalam pergaulan, apalagi turut dalam perbincangan mempertukar-pikirkan suatu soal atau masalah“. Demikianlah Tete Koneng dan dimana saja, apabila ia menemui orang-orang yang suka mengikat dan menghukum dirinya dan semua kegiatan hidupnya dengan rasa rendah diri, lalu mengira saja buah pikiran orang lain, atau menerima saja apa yang akan diperbuat dan dilakukan orang lain terhadap dirinya, meskipun itu serba salah dan tidak manusiawi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Oleh karena pertemuan itu semata-mata untuk membicarakan masalah yang khas, yang khusus, yaitu tugas menginjilan, maka dengan sendirinya para pembicara banyak yang menekankan pada kemampuan orang-orang yang akan menjadi pelopor dalam lapangan penginjilan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Saudara-saudara.....“ demikian seorang pembicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„Saya kira dengan memperhatikan perkembangan-perkembangan yang baru sekarang, dalam hubungan dengan tugas-tugas gerejani, yang banyak menuntut tenaga dalam pelaksanaannay, baiknya dalam menentukan pemuka-pemuka jemaat kali ini, kita memilih yang muda-muda, karena mereka masih berotot kuat. Maklumlah karena akan ada banyak kegiatan yang diarahkan ke seluruh bagian kampung, termasuk juga mengunjungi kebun-kebun ladang yang agak jauh dari kampung, karena banyak keluarga yang tinggal di kebun berhubung sekarang musim panen padi ladang. Atau paling kurang setengah dari yang terpilih itu tenaga yang muda-muda. Karena saudara-saudara, sebagaimana yang kita saksikan sekarang, sudah banyak perubahan dalam tugas-tugas kita, sehingga kita yang tua-tua ini, sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri. Sudah tidak sanggup lagi melaksanakan tugas yang agaknya sudah harus seba cepat dan beraneka ragam pula. Bukankah begitu saudara-saudara? Kalau boleh saya katakan, bahwa benarlah kalau segala kegiatan dan usaha dalam penginjilan, atau semua yang berhubungan dengan Firman Tuhan sudah harus mengejar dan atau menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. Kalau Riedel sudah harus menyesuaikan diri dalam pergaulan dengan orang-orang alifuru yang setengah biadab, mememuis dan lain-lain, maka kita sekarang sudah harus berhadapan dengan orang-orang yang sudah bersekolah yang biasa dikatakan orang-orang terpelajar, dimana diantara mereka tidak sedikit yang berperilaku lebih buruk dari orang-orang biadab. Mereka menipu, membodohi dan menyusahkan rakyat saja.....kira-kira bagaimana pendapat saya saudara-saudara? Ataukah memang saudara harus demikian.....sudahkah ada pembaruan dalam dunia penginjilan? Artinya kita harus mengikuti dari belakang kemajuan ilmu pengetahuan.....?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Oh.....saya kira tidak demikian. Tidak ada perubahan dalam penginjilan“. Demikian Tete Koneng menanggapi. „Saudara-saudara......kalau kita berbicara tentang penyebaran Firman Tuhan, untuk tugas-tugas gereja atau penginjilan, tidak ada yang baru. Tugas bagi orang-orang yang percaya pada Injil, beriman kepada Tuhan, sama saja seperti dahulu. Karena Firman Tuhan tidak berubah dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya, demikian juga dalam penugasannya. Yang merupakan masalah yaitu mengembangkan ketrampilan, kegiatan, kesungguh-sungguhan dan tentu saja juga meningkatkan kemampuan berpikir mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan. Karena kalau kita perhatikan benar-benar, sekarang ini sedang terjadi perlombaan berpikir semacam adu kemampuan otak di segala bidang kehidupan manusia. Dan kalau kita simpulkan semua ini, perkembangan kemajuan berpikir yang menurut kenyataan banyak yang hanya mengarah atau yang ditujukan kepada kepentingan golongan dan perorangan ini, artinya sekarang ini benih-benih permusuhan dan benci-membenci sedang di semai dan yang pada akhirnya akan bermuara kepada kehancuran segala yang telah diciptakan oleh manusia itu sendiri selama keberadaan manusia itu. Karena seperti yang tadi saudara katakan“, seraya Tete Koneng, menunjuk pada salah seorang pembicara, „Kalau dulu pendeta Riedel menghadapi mememuis yang dengan pedang terhunus, maka kita sekarang sedang melawan perkembangan-perkembangan ilmu tipu-menipu. Tuhan saja yang maha tahu......barangkali kita sekarang sedang melangkah mendekati neraka......“ demikian Tete Koneng seraya tidak melupakan pembenarannya tentang pendapat-pendapat pembicara lainnya, termasuk yang bahwa benarlah kalau dalam penugasan-penugasan sebentar supaya dipilih tenaga-tenaga yang muda-muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Saudara-saudara“, demikian pembicara lainnya, Tugas kita nantinya, apabila diantara kita ini ada yang terpilih, tentulah terutama sekali yaitu tentang masalah pengumpulan dana. Untuk biaya-biaya perampungan gereja kita, dan juga bantuan pada mereka yang sangat memerlukannya, yang kesemuanya ini, tidak dapat dipisahkan dari tugas kita dalam mengelola ladang Tuhan demi penyebaran Injil. Saudara-saudara sesuatu yang perlu kita perhatikan bersama-sama, yaitu tentang kesadaran kita mengenai arti dari pada pengerja atau petugas di ladang Tuhan itu. Sebab menurut pengalaman kita semua, agaknya masih ada diantara kita, yang belum tahu barangkali, atau memang tidak mau tahu tentang arti daripada tugas-tugas itu, yaitu pengerja di ladang Tuhan, jadi bukan pemilik ladang itu. Apa sebab saya bicara begini saudara-saudara? Memang kedengarannya lucu, tetapi karena banyak bukti dan kita dapat menyaksikan sendiri bahwa ada sementara teman kita juga yang sering melanggar batas. Ada hasil-hasil ladang, seperti pisang masak atau hasil-hasil kebun lainnya, yang bukannya dia kumpulkan lalu dibawa ke lumbung Tuhan, tetapi dibawanya pulang ke rumah....ha....ha.....ha. Dan ada pula yang memanfaatkan kedudukannya sebagai seorang rohaniawan yang ada kedudukan di ladang Tuhan itu, untuk menyombongkan dirinya, orang-orang ini tidak mengerti, bahwa kedudukannya di ladang Tuhan itu, bukan soal duniawi untuk mencari kesempatan mencari kesenangan apalagi kemewahan, harta dan kehormatan. Bagaimana kita dapat menghasilkan panen atau hasil ladang Tuhan yang baik, kalau memilih orang yang demikian.....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Ya, benar sekali keterangan atau uraianmu itu saudara“, demikian Tete Koneng langsung menyambutnya. „Memang pengalaman membuktikan, ada si pengerja atau penjaga kebun Tuhan, suka mencuri di kebun itu. Kalau dalam undang-undang itu dapat saja disebut ‚penggelapan’ atau ‚verduistering’ dalam bahasa Belanda. Saya agak malu menyebutnya pencuri sebetulnya, karena kata itu terlalu kasar atau keji kalau ditujukan pada seorang rohaniawan bukan? .....ha....ha....ha...“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Sebentar saja pertemuan itu telah ramai dengan gelak tawa, sementara ada diantara mereka yang berpandang-pandangan, karena agaknya mereka telah dapat menerka, bahwa Tete Koneng sedang mengarahkan uraiannya itu terhadap seorang dua diantara mereka itu, yang pernah berbuat sesuatu yang tidak terpuji terhadap dana-dana yang dikumpulkan anggota-anggota jemaat, untuk perbaikan gereja dan bantuan-bantuan kemanusiaan. Berhubung pula karena pada saat itu masyarakat sedang mencurigai seorang pendeta yang diperkirakan kurang teliti dalam usaha pengumpulan dana untuk perbaikan gedung gereja yang telah rusak pada waktu perang Belanda dengan Jepang. Malahan ada sebagian anggota masyarakat yang terang-terangan menuduh bahwa benarlah kalau pendeta itu telah menggunakan dana itu untuk kepentingan dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Tapi maaf om Koneng, takira oom, butul jo tu Mark Twain pe pendapat kalu begitu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Kiapa Karl Marx bilang apa? Dia tulis dibuku mana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Ooooo......bukang Karl Marx, Oom, Kita neanda kenal tu Karl Marx.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Yang kita pe maksud itu Mark Twain, tu penulis kenamaan bangsa Amerika, yang dia pe nama &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; asli kalu kita neanda salah, Samuel. L. Clemens, mar bukang tu Karl Marx.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Kiapa.....apa dia pe pendapat so?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Dia bilang Oom.....umumnya manusia-manusia ini, ada yang memuja kedudukan, ada yang memuja pahlawan, ada yang memuja kekuasaan, dan ada yang memuja Allah. Namun mereka semua memuja uang. Bagaimana itu Oom?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Bagitu, ee?“ Kalu dia pe pendapat bagitu, kita lei ada pendapat.......dan memang tiap-tiap manusia harus bebas melahirkan pendapatnya, tetapi jangan kita menyamakan seseorang yang sedang berlari-lari kesana kemari mencari pinjaman uang, berhutang untuk membeli obat dan beras satu liter, dengan mereka orang-orang rakus penimbun kekayaan yang siang malam berbuat kejahatan, berupa menipu bahkan membunuh, sambil sekalian berdoa supaya kekayaannya kian bertumpuk. Itu no, ta pe pendapat!“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„Mar bukang kwa Marx, oom......Mark Twain ta bilang.......No, sapa kote tu Karl Marx yang oom ada cumu itu?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„Oooooo......so dia orang komunis pe dotu, dorang pe opo. So dia itu Belanda paling binci. Karena dia kong banya skali torang pe bangsa, ada beberapa ribu stou yang dapa hukum buang ka Digul di Papua sana yang sekarang so ganti nama Irian. Ada yang Belanda gantong sampe mati kwa, kita sandiri kurang sadiki so ta’iko kasana. Ada beberapa orang kawanua yang kita kenal, yang dibuang ke Digul itu. Malahan ada seorang kawanua namanya Nayoan telah hilang dan meninggal disana. Berita terakhir, ia telah dimakan oleh orang-orang di pedalaman sana. Yang lain saya masih ingat nama-nama mereka antaranya Waworuntu, Rompis, Wentuk, Dompas, Malewo, dan Yan Dengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tetapi Yan Dengah sempat lari ke Tiongkok dan kembali ke Indonesia sekitar tahun-tahun Proklamasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;So itu Yan Dengah ini tu salah satu dari pendiri Partai Komunis di Indonesia pada tahun 1920 di Semarang. So itu dorang-dorang itu, tu pemberontak tahun 1926 yang kita kenal dan dicatat dalam sejarah sebagai ’perintis-perintis kemerdekaan’“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„selamat Sore-selamat sore.........“ demikian tuan penulong menyalami mereka yang telah lebih dahulu berada ditempat itu. Bagaimana broer Koneng.....bae-bae jo?“ Tuan penulong yang mengenal baik om Koneng, langsung menegurnya sambil senyum-senyum. „Banyak cerita bagus rupanya broer Koneng........? Dari jalan kita so dapa dengar kasana“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„Ooooo......bagini tuan penulong, kitorang sedang berbincang-bincang bertukar pikiran tentang kalau umpamanya ada diantara kami ini yang akan terpilih sebentar, mereka haruslah tenaga-tenaga muda semua. Dan lebih dari itu, mereka harus banyak belajar menambah pengetahuan disegala bidang yang menyangkut hidup dan kehidupan manusia, dalam hubungan kita manusia dengan Firman Allah. Dan terutama sekali ia harus sadar dan mengerti betul, batas-batas haknya di ladang Tuhan itu, yang bahwa dia benar-benar hanya sebagai pengerja dan bukan pemilik atau penguasa kebun itu. Sebab maklumlah tuan penolong, ada juga si pengerja-pengerja di ladang Tuhan, yang suka bawa pulang ke rumah itu hasil-hasil dari kebun Tuhan itu. Saya kira tuan penulong, kewajiban kita sebagai pengerja diladang Tuhan itu, hanyalah mengolahnya, menabur benih, menyianginya, lalu menuainya dan membawanya ke lumbung Tuhan dan bukan dibawa ke rumah. Bagaimana tuan penulong? Kira-kira bagitu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Ha....ha....ha.....ya, benar sekali itu broer Koneng.....ha....ha.....ha....., saya ini adalah juga salah satu dari para pengerja di ladang Tuhan itu, dan saya juga terus- menerus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan saya. Dan memang menurut pendapat saya, yang paling sulit bagi manusia, yaitu bagaimana kita dapat memisahkan mana yang dunia punya dan mana yang Tuhan punya. Yang didalam Alkitab juga telah diterangkan dengan singkat saja, yaitu ’berikan pada kaisar apa yang kaisar punya, dan berikan pada Tuhan apa yang Tuhan punya’ dan untuk itu semua, baiklah kita saling mengingatkan terutama bagi kita-kita ini sebagai pelopor-pelopor dalam penyebaran Injil“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; „Tapi maaf tuan penulong, saya ingin menambahkan sedikit, maksud saya, saya ingin mendapat penjelasan dari tuan penulong mengenai soal......tentang hak Kaisar dan Allah. Maksud saya apa yang harus kita berikan kepada pemerintah dan apa yang menjadi hak dari pemuka kita dalam bidang agama atau penyebaran injil. Sebab bukankah akan mulia sekali apabila kita sebagai rakyat dan anggota jemaat yang setia, benar-benar dapat memenuhi dengan baik apa yang dituntut oleh Injil itu. Begini tuan penulong. Jadi.......kita sebagai rakyat dan juga sebagai pengiring Tuhan Yesus, apakah kita tidak perlu membuat penilaian yang benar, apakah kepada kaisar atau pemerintah dan pengemuka agama yang bagaimana, kita harus menyerahkan apa yang wajib kita berikan itu. Kalu rupa tu pemerintah dan pengemuka agama yang bagaimana, kita harus menyerahkan apa yang wajib kita berikan itu. Kalu rupa tu pemerintah yang lalu-lalu dang tuan penulong? Tu pemerintah penjajah Belanda, kong tu lebe gila lagi tu Dai Nippon? Bagitu lei torang pemimpin-pemimpin jemaat yang rupa tu om Koneng pernah cirita, ada kata salah seorang pendeta, waktu baru abis perang deng Jepang orang curiga dia beking ilang tu doi untuk pembangunan Gereja.....“ demikian seorang pembicara memajukan pertanyaan pada tuan Penulong.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;„Maaf saudara-saudara.......; saya sungguh mengerti apa yang menjadi sebab atau pangkal dari keinginan oom Leber untuk memajukan pertanyaan ini. Sekali lagi saya katakan yang saya maklum tentang apa yang ditanyakan saudara. Tetapi begini saudara-saudara.......; karena sebagai mana telah saya katakan tadi, yang bahwasanya baiklah kita saling mengingatkan dan saling membangun penuh kesabaran, karena sesungguhnya hanya sebahagian kecil saja dari sekian banyak permasalahan di dalam dunia ini yang dapat kita tanggulangi, sedangkan yang sekian banyak lagi, termasuk soal pemerintah-pemerintah dalam dunia ini, demikian pengemuka-pengemuka agama yang kurang atau tidak melaksanakan tugas mereka dengan baik kita serahkan sajalah kepada Tuhan semuanya itu. Bukankah begitu saudara-saudara?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Giroth Wuntu] Tete Koneng di Rumah Duka</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-di-rumah-duka.html</link><category>Fiksi</category><category>Giroth Wuntu</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Tue, 8 Sep 2015 17:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-6205400183816209161</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi, baru sekitar pukul enam, Tete Koneng kelihatan sedang sibuk memberi makan ayam-ayam peliaraannya, ketika ia dikejutkan oleh suara isterinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;`“E, Koneng....! Apa kamu tidak perlu bersiap-siap kerumah duka itu? Saya lihat sudah ada orang-orang yang menuju kesana“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oh....?! dimana ada kedukaan.....? Siapa yang meninggal?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ee.....masak kamu tidak tahu Koneng? Apa kamu tidak mendengar tetengkoren tadi malam?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oooh....barangkali karena saya sudah lelap tidur, maklumlah saya sudah sangat lelah pulang dari kebun. Pantas si Epus saya lihat pagi-pagi sekali dia sudah diserambi depan rumahnya dan duduk-duduk di kursi goyang....coba kamu lihat dia.....ha....ha....ha, tetapi siapa yang meninggal itu?!“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Anaknya si Dina, yang kedua bungsu, saya dengar dari tetangga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oh....mungkin itu anak perempuan yang baru kelas dua itu, yang minggu lalu pernah disuruh ibunya kemari untuk menanyakan kalau kita menjual telur ayam, kau ingat bukan?!“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ya, benar anak itu yang meninggal. Tetapi mengapa kamu menyebut-nyebut si Epus itu, ada urusan apa kita dengan dia Koneng?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Kita memang tidak ada urusan dengan dia, tetapi kita perlu juga mengetahui atau mengenal siapa dia si Epus itu, karena kebetulan hari ini ada pula kedudukan di kampung kita“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Tetapi apa gunanya kita mencampuri urusan orang lain. Kalau tentang kedudukan itu, ya memang perlu kita perhatikan, tetapi bukan tentang siapa si Epus itu dan siapa-siapa lagi. Sedangkan urusan dalam rumah saja sudah memusingkan“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Kita tidak akan atau mau mencampuri persoalan orang lain, tetapi perlu mengetahui saja...; tetapi kalau memang perlu sekali, ya, apa salahnya kalau terpaksa mencampurinya. Sebab memang kamu tidak mengetahui hubungan antara kedukaan itu dengan si Epus!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Apa?!!....mau mencampuri urusan orang lain!?....jangan Koneng! Nanti jadi lei rupa tempo hari, urusan orang laeng ngana maso campur sampe amper jadi bakalae di kumpulan“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oh, itu perkara penting. Itu soal tempo hari. Itu soal doi derma, kitorang baku salah di barekeng. Itu Yohan kira kita neanda ada catatan. Akhirnya dia malo sendiri. Coba kalu kita neanda maso campur, so „nar de maan“ tu spuluh ribu; harga satu rumah itu“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Iyo, maar itu so lalu. Skarang biar akang tu campur-campur urusan orang laeng, berenti. Lebebae lakas pigi karumah duka itu“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Tante Nona rupanya pagi itu sedang bangkit lagi sifat pemarahnya. Sedangkan suaminya Tete Koneng yang memiliki sifat keras dan tidak senang mendengar ucapan-ucapan istrinya itu, timbul niat untuk yang kesekian kalinya ingin menggurui Tante Nona.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„E......Nona.....sudah salah lagi kau Nona. Dan kalau saja saya boleh berbicara sebagai seorang yang percaya pada Firman Tuhan, cara kau atau jalan pikiranmu yang mau menjauhkan keluarga kita sari masyarakat, adalah suatu dosa dihadapan Tuhan“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Apaaa...! saya sudah berdosa!?....karena saya tidak suka memikirkan soal orang lain....? soal si Epus itu?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Tentu, karena si Epus itu anggota masyarakat juga, bukan?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Lebih baik kamu cepat saja ke rumah duka itu. Kita tidak ada urusan dengan si Epus“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Nah, mengapa kamu suruh juga saya untuk cepat kerumah duka, kalau saya suka pergi.....kalau saya tidak suka, tidak apa. Dan nanti kalau kita mati torang bajalan sandiri kakubue. Bagaimana boleh bagitu?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oh, itu soal lain, itu soal kedudukan“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Eh, Nona, kita harus mengerti dan menyadari betul-betul, yang bahwa kita ini, keluarga kita ini, hanyalah sebahagian kecil dari masyarakat dan juga sekaligus sebagai anggota dari masyarakat itu. Jadi segala sesuatu yang terjadi dimasyarakat, apapun yang menimpa orang-orang disekitar kita, adalah juga menyangkut keluarga kita, sebagai anggota masyarakat di kampung ini. Seperti yang terjadi hari ini, ada keluarga yang ditimpa kedukaan, maka kita pun harus memikirkannya. Pokoknya apa saja yang dihadapi masyarakat, kesukaran atau kesenangan. Kalau masyarakat aman tentram keluarga kita juga tentu aman tentram. Kalau orang-orang disekitar kita rukun dan damai, pasti kitapun merasakannya. Tetapi sebaliknya apa bila masyarakat tidak ada kerukunan, kacau balau penuh pertentangan dan huru-hara penuh kemunafikan, pasti kita juga gelisah terbawa-bawa. Ya......Nona, kecuali kalau kita bertempat tinggal didalam gua atau ditengah hutan sana“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Yaaa......saya juga mengerti itu Koneng, tetapi yang beking pusing pa ta pe kapala, kiapa kwa pagi-pagi ada bicara tu kedudukan, kitorang pi ta campur deng tu Epus itu.....? tu manusia ta pe paling binci......Ooooh, ngana nentau butul sapa tu pai tua itu? Orang jaha dia. Ngana bulung tahu baru-baru ini tu Rewung, Dolop pe Mama, orang pe paling susah di kampung ini, dapa pangge pa kuntua, dari tu si Epus da klak, yang tante Rewung bulung bayar lunar tu dia pe utang pa dia“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oooo ha, ha, ha......bagitu dang.....jadi karena itu kamu tidak senang padanya? Dan kamu tahu kira-kira berapa banyak utang si Rewung itu? Dan digunakan untuk apa uang itu.....pasti kamu tidak tahu....!?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Memang saya belum tahu. Yang saya tahu bahwa si Rewung telah meminjam uang itu sejak dua tahun yang lalu“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Makanya dengar dahulu, uang itu berjumlah dua rupiah tujuh puluh sen. Memang cukup banyak juga. Dan saya kira si Rewung tidak mampu lagi membayarnya. Apalagi dia sekarang sudah sakit-sakitan. Dia tidak dapat lagi menjadi buruh di kebun orang, seperti menanam padi, menyiang atau lain-lain pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Sedang si Dolop anaknya yang satu-satunya itu, sejak kecil sudah sakit-sakitan. Yaa.....kasihan si Rewung, dia teman sekolah saya dulu....eh.....Nona, Kamu tahu digunakan untuk apa uang itu? Uang itu telah digunakan untuk biaya pengobatan sampai penguburan suaminya dulu. Rupanya penyakit suaminya tidak dapat disembuhkan lagi.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oh, iya, saya ingat, benar uang itu digunakan waktu itu. Memang jahat benar si Epus itu“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Makanya saya ingin menceritakan atau menjelaskan kepadamu tentang kelakuan si Epus itu. Dan kalau tadi saya bicara tentang dia si Epus, yang masih pagi-pagi benar dia sudah duduk di kursi goyang di serambi depan rumahnya, itu ada hubungan dengan kedukaan itu. Tetapi kan kau yang belum mengerti arah pembicaraanku, langsung marah dan mengacau pembicaraanku. Coba kamu perhatikan dia duduk diserambi depan itu, karena dia tahu yang akan ada orang atau salah satu dari anggota keluarga yang ditimpah kedukaan itu, yang akan datang lagi padanya, untuk meminjam uang dan dia sekarang sedang bersiap-siap menunggunya.....mungkin si Dina sendiri yang akan datang. Hanya beberapa orang saja di kampung kita ini, yang tidak pernah datang padanya untuk meminta pertolongan meminjam uang, tetapi tentu saja dengan mempertaruhkan barang apa saja. Dan kalau kita mempunyai sesuatu barang untuk dijadikan petaruh atau jaminan, maka harus pandai-pandailah mengambil hatinya, memelas dan beribah-ibah. Apakah uang yang dibutuhkan mereka itu untuk membayar angsuran dana sosial kampung atau bayar arisan, lebih-lebih kalau keperluan seperti yang dibutuhkan si Dina yang kedukaan itu. Karena maklumlah untuk persiapan pemakaman, peti jenasah terutama harus dipersiapkan secepatnya.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Nah,.....lihat.....kau lihat? Siapa yang sedang memasuki halaman si Epus.....lihat? itu si Liwun saudaranya si Dina, bukan?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Karena agaknya sudah agak terlambat, Tete Koneng bergegas menuju ke rumah duka. Disana telah banyak yang hadir. Dan sudah lumrah kalau disetiap kehadiran orang tua ini, dimana saja ada orang-orang berkumpul, pasti ada pula pengaruh khusus. Dari kejauhan nampak Tete Koneng bersama dua tiga temannya berjalan mendatangi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Entah apa pula yang akan dikatakan Tete Koneng sebentar, karena tuan penulong belum ada“, demikian suara beberapa orang. Sudah pasti ia akan marah-marah lagi, atau paling kurang ia akan menggerutu, karena sekarang sudah jam setengah satu, padahal rencana pemakaman sudah ditentukan sam setengah tiga“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Selamat siang-selamat siang. Bagaimana tuan penulong tentu belum ada pula ya....? bukan main......dari dulu selama dia bertugas di paroki kita, dia hampir selalu begitu. Ini tentu karena dia terbiasa di kota. Dia tidak tahu, yang keadaan masyarakat di kampung, berbeda dengan di kota. Bagi kita disini tidak ada sejam pun yang dibiarkan berlalu atau tidak dimanfaatkan untuk melakukan sesuatu usaha. Bahkan lima atau sepuluh menit pun sangat berarti pada saat-saat tertentu. Ada yang harus pergi ke kebun mengusir burung, menyadap saguer, mengambil kayu akar atau pergi menengok binatang piaraan dan lain-lain kesibukan di rumah. „Demikian Tete Koneng yang baru saja tiba mengomel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Tidak apalah om Koneng, kita tunggu saja sebentar, masih ada waktu satu menit barangkali. Mari kita ngobrol-ngobrol sedikit. Kamu beberapa orang inii, sudah lama tidak bertemu dengan om Koneng dan ngobrol-ngobrol. Maklumlah kami bukan penduduk kampung ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ooo....dari kampung mana, saudara-saudara?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Dari Touliang Oki om“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Oo, Jadi kitorang babacirita dulu sadiki dang.....boleh juga, asal kita jangan ribut. Sebab kalau ditanah lapang kong beribut rupa tempo hari, waktu perayaan itu, tidak apa-apa. Tetapi kalau di rumah yang sedang kedukaan begini, lalu kita membuat keributan, bicara keras-keras umpamanya, itu artinya kita tidak tahu kesopanan, tidak tahu pergaulan bukan?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Betul itu oom Koneng“, seorang anak muda yang dahulu juga pernah mengajak Tete Koneng bertukar pikiran mengenai perbedaan agama dan Firman Tuhan, telah mulai pula membuat gara-gara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Begini om, teman-teman saya ini.....“ sambil menoleh ke kiri dan ke kanan,“mengatakan bahwa anak yang sudah meninggal ini, bukanlah meninggal karena sesuatu penyakit biasa seperti Malaria, Disentri atau Influenza yang dapat saja diobati oleh dokter, karena beberapa jenis obat dokter sudah pernah digunakan namun tidak juga berhasil. Itulah sebabnya banyak orang di kampung ini berpendapat bahwa mungkin sekali anak itu meninggal disebabkan rohnya ditangkap jin atau setan yang menjadi penunggu di pohon besar di belakang sekolah sana....bagaimana itu om Koneng? .....kira-kira.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Haaa....mungkin ditangkap jin penunggu? Mengapa tidak dikatakan pasti hanya mungkin dan sekalian menggambarkan bentuk rupa jin itu.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ya, saya kira begitu, oom. Tetapi tentang jin itu, ya, siapakah yang dapat melihat bentuk jin atau penunggu, apalagi menyaksikan dengan mata kepala sendiri pula, si Jin atau barangkali pontianak, atau sebangsa mereka menangkap roh anak itu, tentu saja tidak ada. Sebab memang tidak dapat dilihat, tetapi, penyakit anak itu tidak dapat disembuhkan dengan obat-obat dokter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Nah tentulah hanya dukun yang tahu menahu tentang dunia roh-roh jahat dan setanlah, yang dapat menyembuhkan penyakit anak itu. Dan memang saya dengar mereka juga sudah pernah memanggil beberapa dukun berganti-ganti, tetapi hanya dukun-dukun di kampung ini saja. Mereka sudah pernah merencanakan juga untuk memanggil tonaas dari negeri Belang seorang dukun kenamaan, tetapi mereka tidak ada biaya.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„O, jadi obat dokter sudah dicoba, dukun juga sudah pernah, kecuali mungkin Tonaas dari Belang bukan?“ demikian Tete Koneng menyelai. „Dan saya dengan jemaat di kampung ini, sudah pernah beberapa kali mengunjungi dan mendoakan kesembuhan anak itu tetapi sia-sia saja“.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Giroth Wuntu] Tete Koneng Seorang Pejuang</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-seorang-pejuang.html</link><category>Fiksi</category><category>Giroth Wuntu</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Mon, 7 Sep 2015 16:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-14597474648233509</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span style="text-indent: 0.5in;"&gt;Tete Koneng adalah seorang pejuang teladan. Dan karena pada jamannya Tete Koneng, siapa saja yang berani menentang kekuasaan Belanda langsung dicap Komunis, maka wajarlah kalau orang tua yang galak ini, mendapat julukan „Koneng Merah“, atau Koneng Komunis. Malahan bagi yang kurang mengenalnya ia memang dikira bekas buangan Digul atau Tanah Merah. Padahal Tete Koneng bukanlah seorang komunis penganut paham Marxisme-Leninisme apalagi seorang atheis. Orang tua yang sudah berambut putih ini, hanyalah seorang Nasionalis sejati, yang mendambakan kemerdekaan, bebas dari penjajahan dan karenanya ia sangat mengagumi Bung Karno dan Bung Hatta.....katanya; „Mereka itulah pemimpin-pemimpin bangsa kita yang sejati. Karena selain mereka berotak tajam, dapat melihat jauh kedepan, mereka juga berani masuk bui, dan tidak gentar menghadapi peluru yang setiap saat dapat membunuh mereka. Rupa dorang itu wajar dibilang pemimpin....jago dorang. Orang-orang muda seharusnya rajin membaca buku-buku yang berisi ajaran-ajaran Bung Karno. Saya ada menyimpan surat-surat kaabr tua dari beberapa tahun yang lalu antaranya, Tjahaya Siang, Nationale Comentaren, Bintang Timur, Pertimbangan dan lain-lain yang berisi tulisan tentang Bung Karno, dan saya selalu mengajak pemuda-pemuda atau siapa saja supaya datang membacanya di rumah. Dan di rumah pun saya juga ada gambar-gambar dari jago-jago politik dan kemanusiaan di dunia ini seperti Soekarno, Gandhi, Lincoln dan lain-lain banyak lagi“. Demikian antara lain cuplikan-cuplikan dalam ucapannya apabila ia tengah membakar semangat anak-anak muda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Beberapa surat kabar tua memang sering dibawa-bawa Tete Koneng jika diwaktu senggang dia berkesempatan berjalan-jalan atau mengunjungi warung atau tempat orang-orang yang sedang santai berkumpul-kumpul. Ataupun apabila ia diundang ke pesta hari jadi atau keramaian kampung. Dan dengan sendirinya Tete Koneng mulai mengarahkan obrolan yang tidak ada gunanya, ke pembicaraan tentang persoalan-persoalan yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dengan bersemangat, seakan berpidato diatas mimbar, ia menjelaskan kepada siapa saja yang kurang mengerti uraiannya, tentang arti dari tulisan atau artikel yang mengandung ajakan dan dorongan untuk lebih-lebih menyadari tentang betapa indahnya negeri Indonesia ini dan betapa kayanya tanah air pusaka kita ini. Saudara harus tahu, khusus tentang Minahasa saja, apa pendapat seorang pujangga Belanda, yang menyesal sekali, karena buku itu sudah dirampok tentara Belanda Twapro waktu mereka menggeledah rumah saya. Dengarkan apa yang dikatakan oleh pujangga itu, „Sesungguhnya, Minahasa adalah salah satu dari tempat yang amat subur di bumi sebagai pemberian Tuhan. Saudara mengerti itu? Dan benarlah saudara-saudara kalau Indonesia ini disebut-sebut sebagai untaian permata Zamrud di Khatulistiwa. Betapa saja keuntungan Belanda selama ia menjajah Indonesia ini. Dan betapa akan lebih maju dan mulia tanah air kita ini apabila kita sendirilah yang mengatur dan membangunnya, bukankah begitu saudara.....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Benar sekali oom“, Demikian sambutan serentak dari beberapa orang pemuda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Makanya kita harus rajin membaca buku-buku, bertukar-tukar pikiran untuk menambah pengetahuan, terutama tentang tanah air dan bangsa kita Indonesia“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„E, oom! Dulu oom pernah bacirita tentang pengakuan, ya katakanlah pujian seorang penulis bangsa Belanda juga tentang wanita Minahasa.....bagaimana itu oom? Ha....ha....ha....!!!“. Demikian seorang pemuda menyelahi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Kiapa.....? Tentang wanita....?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Iyo, oom......“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ah, memang ngoni anak-anak muda, selalu suka bacirita soal perempuan“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Biasa kwa itu dia oom....“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„No, dengar bae-bae, Dia bilang tu tuang Graafland bilang, dia tulis pa dia pe buku yang katanya:&amp;nbsp;&lt;i&gt;„Demikian cantiknya wanita-wanita Minahasa dan karenanya mereka tidak perlu menepi, artinya dorang nyanda perlu ba sei, jika mereka berpapasan dengan wanita-wanita bangsa Eropa.&lt;/i&gt;...so dengar itu?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Eh, ..hebat kote torang pe nona-nona“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„So itu torang musti menghargai torang pe nona-nona. Jangan ngoni karena batamang kasana deng laki-laki, barangkali lapungu, papancuri atau bajingan dari mana, ngoni kase batunangan akang deng torang pe nona-nona........iyo to...? Dan saya anjurkan juga berulang-ulang apda saudara-saudara dan teman-teman yang lain supaya rajin membaca buku dan belajar juga politik“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Om Koneng sangat menyesalkan orang-orang atau siapapun saja, terutama anak-anak muda yang tidak ada keinginan untuk belajar politik. Dikatakannya sudah sejak beberapa ratus tahun yang silam, dikala bendera merah putih masih terpendam didalam bumi, sudah ada orang-orang bangsa kita yang paham tentang politik dan berjuang melawan penjajah. Ini berarti opo-opo kita sudah ada pengertian dan kesadaran bahwa bangsa lain tidak berhak menjajah bangsa lain. Ingatlah kita tentang waranei-waranei, opo-opo kita dalam perang-perang yang berulang-ulang di Minawanua dan sekitarnya. Coba bayangkan semangat dan keberanian mereka.“ Demikian antara lain nasihat-nasihat Tete Koneng pada pemuda-pemuda menjelang dan sekitar Proklamasi 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Dalam pergolakan 14 Februari 1946 di Sulawesi Utara, dimana kota Tondano banyak memberikan peranannya, Tete Koneng ikut pula bergiat memberikan petunjuk-petunjuk terutama dalam menggalang persatuan dan kekuatan, menyadarkan rakyat yang kurang atau tidak mengerti dan kebingungan menentukan sikap. Dijelaskan oleh Tete Koneng berulang-ulang bahwa akan salah kita, kalau kita memarahi apalagi memusuhi sebagian rakyat, yang tidak atau belum dapat ikut dalam usaha-usaha mempergencar perjuangan, karena kesanggupan dan kemampuan kita manusia tidaklah sama. Baik itu kemampuan otaknya untuk mengerti keadaan yang sedang terjadi, boleh jadi karena dia kurang berani atau memang manusia penakut, dan ada pula yang terhalang karena gangguan ekonomi, rumah tangga dan lain-lain. Semua ini harus dipikirkan dan dibawa dalam pertimbangan karena jika tidak demikian, artinya kita kurang bijaksana dan tidak dapat menggalang persatuan dan kekuatan. Yang penting kita harus dapat memisahkan siapa kawan, dan siapa yang menentang perjuangan. Artinya dia penentang kemerdekaan, dan sekaligus menelanjangi mereka, penghasut-penghasut dan kaki tangan Belanda yang suka menakut-nakuti, melemah-lemahkan semangat rakyat supaya tidak melawan penjajah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Dalam situasi demikian, tentu saja Tete Koneng tidak habis-habisnya mengumpat-umpat, menyumpahi orang-orang yang meremehkan atau melecehkan saja segala yang merupakan usaha dan gerakan yang ingin mengakhiri kekuasaan penjajah. Dan terhadap segolongan orang-orang yang terang-terangan ingin mempertahankan kekuasaan Belanda itu, Tete Koneng telah mengambil garis yang tegas pula. Dimana dan kapanpun orang-orang ini ditantangnya untuk bertukar pikiran, berdebat secara terbuka, bahkan sampai mengarah-arah keperkelahian, dimana Tete Koneng yang sudah dalam usia senja itu, sedikitpun tidak menunjukkan rada gentar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Dalam usia-ku yang setua ini, saya ingin buktikan bahwa mereka yang hingga saat ini masih menjadi kaki tangan Belanda, apapun yang mereka inginkan, akan saya layani. Memanglah orang-orang ini hanya ujudnya saja yang manusia tetapi merekaa berprilaku tidak berbeda dengan binatang penjilat pantat penjajah. Sedari dahulu memang ada saja orang yang demikian. Kita ingat saja siapa itu Urbanus Mateus, Bekasi Pedro Ranty, Bastian Saway, Maondei dan lain-lainnya lagi yang menjadi mata-mata Belanda pada perang terakhir di Tondano ini. Mereka membantu Belanda dalam bentuk sebagai pesuruh, bahkan membantu juga dalam penyebaran penginjilan, tetapi sekaligus mereka juga menjadi mata-mata Belanda. Dan demikian pula dijaman Jepang. Ada saja manusia-manusia yang berbudi pekerti rendah, yang sepertinya belum mengenal peradaban, akrena banyak menyusahkan masyarakat. Mereka menawarkan diri untuk bekerja pada Jepang, menajdi mata-mata atau mite-mite, mencari-cari kesalahan orang. Yang tidak bersalah difitnah, hanya karena menginginkan sepotong dua potong sabun atau selembar kain belacu. Ada pula yang kesukaannya dan keahliannya yaitu masak ke kampung-kampung membodohi dan membohongi wanita-wanita untuk dijadikan wanita-wanita penghibur atau istri dari orang-orang Jepang saja, orang-orang sampah masyarakat ini, sudah merasa senang dan gembira. Yang penting mereka sudah menjadi sahabat tentara Jepang. Dan dalam segala kegiatan yang terkutuk ini, mereka tidak memperdulikan siapa saja yang akan menjadi korban, apakah dia temannya atau saudaranya sekalipun. Dan tidak sedikit juga saudara-saudara kita yang dihabisi nyawanya dengan samurainya Jepang karena ulah jahat mereka. Dan coba pula kita perhatikan sekarang, dalam gerakan-gerakan rakyat yang memperjuangkan kemerdekaan ini, tidak sedikit bekas kaki tangan Jepang ini, yang....ya, terimakasihlah kalau mereka benar-benar sudah sadar dan merobah perilaku mereka, lalu sungguh-sungguh ingin bahu-membahu dalam perjuangan sekarang, tetapi kalau itu hanya merupakan siasat untuk menutupi dosa-dosanya dahulu, atau boleh jadi juga karena takut, dikiranya nanti kalau Belanda dapat kembali lalu menghukum mereka, karena pernah bekerja sama dengan Jepang. Jadi kita juga harus berhati-hati terhadap orang-orang semacam ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Dalam suatu rapat perayaan peringatan hari Nasional dua tahun sesudah kemerdekaan, Tete Koneng hampir saja mengacau keramaian itu, gara-gara ia mengganggu seorang pejabat pemerintah setempat yang sedang berpidato. Konon agaknya Tete Koneng yang sedari permulaan pidato pejabat itu ia terus mengikutinya dengan teliti, telah dapat menangkap beberapa kelemahan dalam uraian-uraian itu. Sang pembicara rupanya hanya menguraikan atau lebih tepat dikatakan menceritakan saja sejarah perjuangan bangsa Indonesia, sambil membubuhinya dengan sanjungan-sanjungan yang ngawur menjemukan, dan tidak memberikan tekanan khusus pada jerih payah, penderitaan, dan pengorbanan para pejuang, tidak juga tentang pentingnya bagaimana melanjutkan perjuangan dalam mengisi kemerdekaan dan yang tersulit yaitu mempertahankan kemerdekaan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Ei......berenti......ngana!“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Tiba-tiba saja orang dikejutkan dengan teriakan Tete Koneng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Nyanda butul ngana.......! Para pejuang yang telah gugur untuk kemerdekaan tidak membutuhkan sanjungan-sanjungan dari siapapun, juga dari kamu sendiri....tidak......tidak......! Mereka tidak menuntut pujian atau apapun, sebab pujian dan sanjungan-sanjungan bisa munafik, atau berpura-pura saudara. Yang mereka harapkan, dengan sungguh-sungguh dari kita ini, yang sedang mengeyam hasil perjuangan mereka itu, ialah dengan sungguh-sungguh melanjutkan perjuangan dalam bentuk mengisi kemerdekaan.......sebagai darma-bakti kita yang tinggal ini, dan sebagai kelanjutan dari usaha jerih payah mereka. Karena bagi seorang pengkhianat, mudah saja ia menyembunyikan dan menutup-nutupi kepengkhianatannya dengan seonggok kembang-kembang yang mahal ke makam para pahlawan itu, karena kebetulan dia berkemampuan. Dia juga boleh saja menjadi yang paling rajin dan setia menghadiri hari-hari seperti ini atau hari-hari raya nasional lainnya, tetapi untuk apa? Bukankah selain menutupi dosa-dosanya yang sekalian juga menonjolkan diri untuk cari muka, bukan? Yang sekarang terkenal dengan „pahlawan-pahlawan kesiangan“. Dengan Tete Koneng memang jagoan pidato, pembakar semangat rakyat, sebagian pengunjung perayaan itu telah datang mengerumuninya dan menambah semangat dan emosi orang tua itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Saudara-saudara!“ Demikian Tete Koneng melanjutkan, „Saya tahu kami rakyat kecil ini, yang sudah dengan sekuat kemampuan kami ikut dalam perjuangan, bukanlah lalu merasa sebagai orang-orang yang berjasa dan istimewa, bukan saudara-saudara. Tetapi yang kami tuntut dari mereka yang pernah tidak memperdulikan, yang mencemohkan dan malahan menentang perjuangan kemerdekaan itu, supaya merobah tingkah laku dan jangan munafik......lalu mari tunjukkan bukti kesadaran dan kesungguh-sungguhan kita dalam usaha mengisi kemerdekaan ini. Dan ini berarti kita meneruskan, melanjutkan segala sesuatu yang belum sempat dirampungkan oleh para ksatria, para pejuang, yang telah mendahului kita“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Demikian Tete Koneng yang baru berhenti setelah ia ditenangkan oleh beberapa teman dekatnya, antaranya seorang pensiunan guru tua sepupunya, yang mengenal betul watak Tete Koneng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Tidak ada gunanya mendengarkan badut itu........Landverrader....!“ Demikian Tete Koneng menggerutu sambil berjalan meninggalkan kerumunan orang banyak itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-sebongkah-batu-gunung.html</link><category>Fiksi</category><category>Giroth Wuntu</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Sun, 6 Sep 2015 17:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-5282831609891457586</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span style="text-indent: 0.5in;"&gt;Orang-orang tua memanggilnya ’Koneng‘ saja, sedangkan yang lebih muda menegurnya engan ’Oom‘ atau ‚Broer Koneng‘. Dan kami anak-anak biasa menyebutnya ‚Tete‘ atau ‚Opa Koneng‘ ataupun ‚Opo Koneng‘. Seorang tua yang berwibawa, cerdas, rendah hati dan dapat bergaul dengan siapapun saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Meskipun ia telah berusia sekitar tujuh puluh tahunan, tetapi dengan perawakannya yang tinggi semampai, berotot, tidak gemuk tetapi bukan pula kerempeng, dengan gerak geriknya yang gagah, roman muka yang tampan, mata yang menyorot tajam, dilengkapi dengan kumis yang dipilin meruncing keatas, salah-salah ia dikira oleh orang-orang muda, sebagai bapak pendiunan&amp;nbsp;&lt;i&gt;marsose&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau perwira KNIL bagian Komando, yang biasa disebut, pasukan Baret Merah pimpinan Westerling.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Konon karena hari kelahiran Tete Koneng, bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, maka ia lalu seakan-akan memperoleh hak untuk selain nama keluarga Tawaluyan dan nama kecil lainnya, dapat pula ditambahkan sebutan ‚Koneng‘, yang berarti raja. Karenanya ia lalu lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Koneng Tawaluyan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Tete Koneng, bukan hanya dikenal dan disegani di kampung kami, tetapi dapat dikatakan sebagian besar penduduk di kota kami mengenalnya dengan baik karena luas pergaulannya. Tetapi terutama juga karena keunikannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Tete Koneng bukanlah manusia yang biasa-biasa saja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tentunya dalam artian yang baik. Jelasnya ia bukan orang tua sembarangan. Sebagai manusia, tingkah laku dan cara-caranya, disana-sini wajar-wajar saja dan kalau ada hal-hal yang kurang dapat diterima oleh sementara orang, terutama tentu karena soal kekerannya, ketegasannya, dengan suaranya yang sewaktu-waktu menggeledak disertai dengan mata yang melotot, kalau sedang terlibat dalam suatu perdebatan yang serius. Tetapi Tete Koneng tetaplah terpandang sebagai seorang bijaksana dan menonjol dalam berbagai bidang yang bermanfaat untuk masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Tete Koneng ini, banyak membaca buku. Terutama buku-buku yang menulis dan menerangkan tentang segala sesuatu yang menyangkut soal hidup dan kehidupan masyarakat. Sebab itu ia banyak pengetahuan dan iapun banyak menyimpan tulisan-tulisan tentang kisah-kisah tempo dulu, terutama yang berkaitan dengan cerita kesukaannya yaitu perang perlawanan rakyat Minahasa terhadap Belanda, yang lazim dikenal dengan ‘Perang tondano’. Karena kebetulan pula, orang tua ini adalah salah satu dari buyut-buyut dotu Tawaluyan salah seorang dari mereka-mereka yang paling mencuat dari warisan waranei-waranei para pahlawan Tondano. Karena adanya catatan-catatan tentang kepribadian yang baik dari Tete Koneng inilah, yang mengharuskan ia layaj mendapat penilaian yang menonjol, seperti yang telah diuraikan di atas.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Di rumah Tete Koneng terpampang hambar-gambar dari orang-orang atau tokoh-tokoh yang dinilainya penting dan hebat, dari mana-mana saja. Baik mereka yang berasal dari dalam negeri, maupun yang dari luar Indonesia seperti, Doekarno, Hatta, Ratulangi, Thamrin, Tan Malaka, Syahrir, Hasanudin, Cut Nya’Dien, Walanda Maramis, Kartini, Sisinga Mangaraja, Pattimura, Lincoln, Lenin, Napolen, Gandi dan lain-lain yang kesemuanya itu diberinya berbingkai. Ia akan senang sekali, bila ada yang berminat secara sungguh-sungguh untuk megetahui siapa-siapa saja gambar-gambar itu. Maka satu kuliah singkat akan segera diberikannya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Pada suatu hari pernah terjadi suatu peristiwa di kantor hokum kedua, dimana emosi Tete Koneng kembali tidak dapat dikendalikannya lagi dalam hubungan dengan kelalaian sang hukum kedua pada tugasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
“Hukum-kedua apa kau…! Seorang penguasa atau pengemban tugas untuk kepentingan rakyat bukanlah pertama-tama dan terutama memamerkan kekuasaannya, melainkan yang paling diutamakan yaitu membuktikan kemampuan dalam melaksanakan tugas. Cakap,jujur, berani bertanggung jawab dan tidak hanya untuk menyenangkan atau semata-mata hanya menjadi budak atasan saja, laliu menyusahkan rakyat kecil seperti kami…….Hukum-kedua apa ngana, hokum-kedua gardus…….setang ngana!”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
“Sudahlah Oom Koneng”, demikian petugas kantor hukum-kedua cepat-cepat ingin menentramkan orang tua galak itu dalam suatu peristiwa, tatkala Tete Koneng dating ke kantor hukum-kedua dalam hubungan dengan masalah pelebaran jalan didepan rumahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
“Ah, tidak ……, itu hokum-kedua alat mati saja dia. Hanya sebagai boneka dalam tugasnya, dan dia sekalipun seorang Kristen, pastilah ia seorang yang munafik, buruk hati dan bodoh pula. Orang bagitu nyanda&amp;nbsp;&lt;i&gt;waar&lt;/i&gt;&amp;nbsp;jadi ukung-kedua. Dan saya dapat pastikan juga, bahwa dia, namun seorang yang percaya dan taat pada injil, mungkin belumpernah atau memang ia tidak mau membaca dan mempelajari hikayat raja Solaiman.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Coba dia baca butul-butul bagaimana raja Solaiman pe hikayat…..berani, jujur, cerdas dan kalau memutuskan suatu perkara dia tidak memihak, artinya ia netral. Bukang rupa itu ukung-kadua biongo itu”.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
“Ee….om Koneng basabarjo….ee,&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Om&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;Koneng…, turaja Solaiman lei barangkali ada saribu dia pe’bini, oom Koneng”.&amp;nbsp;&lt;span lang="DE"&gt;Demikian seorang petugas yang mengenal betul pribadi orang tua itu setengah bergurau berbisik pada Tete Koneng.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Eee, apa ngana bilang?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;“itu oom, tu raja Solaiman...daang? satu kawang dia pe bini….!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;“Ah, Godverdomme...onbeschoft...caparuni ngana ...kita nyanda bicara itu...“.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Demikian keduanya sejenak tertawa terkekeh-kekeh seraya menuruni tangga kantor hukum-kedua, dimana Tete Koneng tidak lupa menyemprotkan teriakannya keras-keras karena kekesanlannya terhadap hukum-kedua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Kalau dalam uraian diatas dikatakan bahwa Tete Koneng adalah manusia yang penuh dengan pertentangan dalam penilaian kita, itu adalah benar. Karena meskipun ia dikenal sebagai orang tua yang rendah hati dan sopan, dapat bergaul dengan siapa pun saja, tetapi janganlah diartikan bahwa dia mudah saja mendiamkan apalagi dengan membenarkan pikiran-pikiran yang menyeleweng atau gagasa-gagasan bodoh tidak berbobot. Terlebih lagi kalau segala pikiran dan pendapat yang ngawur tidak benar itu, sudah berwujud tindakan yang menyusahkan dan membohongi, menipu rakyat. Maka pada lesempatan yang beginilah, kita akan menyaksikan dan meyakini, bahwa benarlah kalau Tete Koneng ini, bagi yang mengenalnya, ia dianggap sebagai sebongkah batu gunung yang tidak mudah diremukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Bagi Tete Koneng, dengan tidak memperdulikan apakah sesuatu permasalahan itu langsung menyangkut dirinya atau tidak, asal saja itu dianggapnya merugikan masyarakat, akan dilawannya betapapun akibatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Dan tidak jarang memang Tete Koneng mengalami kesulitan karena cara dan tindak tanduknya itu. „Semua permasalahan dalam masyarakat, harus menjadi persoalan tiap orang. Kecuali kanak-kanak yang belum dapat mengemukakan pikirannya, orang-orang tua yang sudah pikun, atau mereka yang kurang waras“. Demikian pendapat Tete Koneng yang selalu dikemukakkannya pada setiap kesempatan bertukar pikiran didalam pergaulan atau perhimpunan dimana pun saja. Baik tentang soal-soal yang menyangkut agama, kegiatan sosial masyarakat, ataupun mengenai pemerintahan. Dan tentu saja Tete Koneng adalah jagoannya dalam bersoal jawab mengulas permasalahan, apalagi berpidato membakar semangat rakyat. Lawan-lawannya atau yang kurang setuju dengan perilaku Tete Koneng akan keok hilang nyali dibuatnya, tetapi yang mengenal benar perilaku Tete Koneng merasa asyik mendengarkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Orang yang suka memencilkan diri, tidak mau ikut berpikir berbicara dan berbuat sesuatu bersama masyarakat sekitarnya orang yang hanya tahu dirinya sendiri saja, atau keluarganya ataupun golongannya, mereka itulah yang biasanya menjadi biang keladi segala ketimpangan, ketidakadilan, dan kekacauan masyarakat. Orang-orang demikian tidak pernah tenang, dan selalu gelisah memikirkan segala keinginannya yang belum terpenuhi. Dengan tidak memperdulikan apakah nafsu serakahnya itu akan merugikan dan menyusahkan masyarakat banyak. Pada waktu malam mereka juga tidak dapat tidur nyenyak karena pada siang harinya mereka tidak atau belum memperoleh sesuatu keuntungan atau hasil dari orang-orang lain di sekitarnya, tidak perduli dengan akal dan tipu daya apapun saja. Mereka inilah manusia-manusia anak-anak Iblis yang akan menggiring kita ke neraka. Neraka dunia yang berujud kekacauan masyarakat dan terutama neraka di akhirat sana, apabila kita tidak mampu membuka kedok dan menelanjangi mereka“. Demikian ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Salah satu pegangan Tete Koneng yang amat kokoh, apabila menghadapi semua permasalahan, baik itu soal yang paling sepele samapai pada yang dapat berakhir di penjara, katanya: „Bagi manusia yang benar-benar ingin dan berani memperbaiki kepincangan dalam masyarakat, ialah pertama-tama mempelajari keadaan masyarakat itu, termasuk dan bahkan terutama dirinya sendiri, lalu mengambil tindakan. Dan apabila kita sudah mengayunkan langkah, maka patokan kita hanyalah dua: memberikan segala sesuatu yang kita miliki termasuk jiwa raga kita kepada masyarakat itu atau tidak memberikan sama sekali apapun kepada masyarakat itu, sebab katanya, „ mungkin saja pendapat atau kesimpulan masyarakat itu tidak benar dan akan mengakibatkan kesulitan bagi masyarakat itu.“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„E, maaf oom Koneng“, demikian seorang anak muda yang agaknya ingin mengajukan sesuatu pertanyaan pada Tete Koneng dalam suatu pertemuan, „Tetapi mengapa pada setiap persoalan, apakah itu soal kebudayaan, persoalan ekonomi, pokoknya membicarakan masalah apa saja, om Koneng selalu saja suka menghubungkannya dengan agama...?!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Bagaimana....?“ Tete Koneng balik bertanya. „saudara dari golongan mana? Maksud saya agama saudara....?“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Saya GMIM oom“&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;„Saudara bodoh barangkali. Pernahkah kau mendengar sekali saja, saya berbuat demikian? Berbicara tentang pemilihan hukum-tua pinontol sawang, atau masalah koperasi lalu menghubung-hubungkan dengan agama? Bahkan dengan persoalan uang dana untuk pembangunan gereja yang sudah tidak diketahui kemana perginya, saya tidak pernah sangkut-pautkan dengan agama. Yang saya selalu dan akan selamanya kaitkan dengan semua permasalahan kita manusia ialah Firman Tuhan dan bukan agama. Karena kita manusia ini, saudara dengan saya, bahkan segala isi dunia ini, berada karena Firman Tuhan. Kita bukan dijadikan atau dilahirkan oleh agama. Dan saudara harus tahu, betapa bedanya agama dan Firman Tuhan. Saudara mengerti itu? Agama itu dapat kita umpamakan sebagai jalan atau jalur untuk menuju kepada pelaksanaan Firman Tuhan. Adapun agama itu dapat saja saudara dustai bahkan saudara perdagangkan, tetapi Firman Tuhan itu tidak dapat diputar-balikkan. Bahkan bukan munafik. Sebagaimana agama itu dapat tumbuh karena kerja manusia, agama itu pula dapat hancur karena perbuatan manusia juga. Firman Tuhan tidak dapat berubah dahulu sekarang dan sampai selama-lamanya, tetapi agama seperti yang saudara saksikan sendiri....sekarang ini, sudah berapa ratus kalau belum beribu golongan agama di dunia ini. Ini yang di kalangan pengikut Kristus saja, yang kesemuanya membawa-bawa nama Tuhan dan para nabi. Dan makin meningkat jumlah golongan-golongan itu, kian bertambah pula keahlian mereka untuk saling melecehkan, saling mengolok dan menjelek-jelekkan, menghina dan memfitnah. Memanglah sudah seharusnya abgi setiap orang untuk percaya dan yakin seyakin-yakinnya tentang kebenaran agama yang dipeluknya, sebab bagaimana kalau orang tidak bulat keyakinannya terhadap agama yang dipeluknya, orang beragama bagaimana itu....? Tetapi akan lebih besar lagi kesalahan kita, dosa kita, kalau kita berani dan merasa berhak menuduh dalam pikiran terutama dalam hati kita, yang bahwasanya agama si A, dan si B itu salah, tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Karena menurut pendapat saya, saudara, bahkan pada seorang pencuri, seorang pembunuh atau seorang sundal yang sedang berada di hadapan kita, kita tidak berhak, karena kita tidak ada kekuasaan sedikitpun untuk dengan membawa-bawa nama Tuhan menghukumnya sebagai seorang yang bersalah apalagi orang berdosa. Hanya Tuhanlah yang maha mengetahui salah benarnya seseorang. Hanya dia sajalah yang dapat menimbang besar kecilnya dosa-dosa kita manusia. Dan saya kira saudara, kesetiaan, ketaatan dan kepercayaan kita terhadap agama yang kita peluk itu, janganlah itu secara mutlak dapat kita samakan dengan keimanan kita kepada Tuhan....kira-kira bagaimana saudara....?“ Demikian Tete Koneng melayani seorang anak muda yang pada suatu pertemuan di pesta Permandian, agaknya ia ingin mencoba-coba Tete Koneng, „Dan saudara tahu......“ demikian Tete Koneng melanjutkan, „Kalau saja saya boleh menambahkan apa sebab saya selalu menghubung-hubungkan persoalan masyarakat dengan Injil, dengan Firman Tuhan, karena kenyataan membuktikan kian banyak saja manusia-manusia yang pandai, yang memanfaatkan bidang penginjilan sebagai lapangan pencarian untuk kepentingan duniawi dan telah lari atau menjauhi segala yang dimaksud oleh Injil atau Firman Tuhan itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;Bahkan kian bertambah saja orang-orang yang suka memperalat atau menggunakan agama sebagai topeng untuk mencari bahkan mencuri kedudukan dan kesenangan hidup, yang dengan licik dan tidak ada rasa malu apalagi takut, menonjol-nonjolkan diri sebagai seorang yang taat beragama, setia dan patuh pada perintah Tuhan dan tentu saja mereka mahir pula dalam menghafal ayat-ayat kitab suci. Lalu sebagai akibat dari kekurang-pengertian kita tentang bedanya agama dan Firman Tuhan seperti yang telah saya jelaskan tadi, dan ketidak-mampuan kita untuk mengenal rupa dan tindak-tanduk manusia-manusia yang pada hakekatnya adalah tidak lain dari serigala berbulu domba yang berkeliaran di masyarakat itu, timbullah segala salah pengertian kericuhan dan kekacauan pada masyarakat. Baik itu hanya berupa pertengkaran antar golongan atau kelompok dalam suatu negeri, sampai pada berkobarnya perang-perang yang melanda dunia ini.....Entah sudah berapa menjadi korban. Dikorbankan oleh mereka yang dengan semangat untuk saling membunuh, dengan semboyan demi keadilan dan kemanusiaan, yang dengan tangan satu memegang kitab suci dan tangan lainnya memegang bedil. Lalu bagaimana pula peranan sementara rohaniawan, ulama dan pemuka-pemuka agama selanjutnya? Mereka begitu dingin dan tenang tak ubahnya seperti batu nisan yang berada disampingnya, mereka berdiri berkhotbah dan menyembayangi para korban perang iblis itu. Apakah itu bertentangan dengan Firman Tuhan? Ataukah karena memang dibenarkan oleh hukum agama? Siapakah atau pihak manakah dari mereka yang saling membunuh itu yang benar-benar menghayati dan melaksanakan Firman Tuhan? Harus kiranya kita sadari bahwa pada dasarnya, orang-orang yang kesana-kemari berteriak-teriak atas nama kebenaran dan Tuhan, sambil mengayun-ayunkan pedang dan semboyan lebih banyak musuh yang mati lebih baik, dengan tidak memperdulikan jiwa manusia, anak istri dan keluarga para korban itu, adalah tidak lain karena mereka tengah melaksanakan apa yang diinginkan dan diperintahkan oleh orang-orang mabuk kekuasaan, serakah, segelintir manusia yang sedang dirasuk kegilaan akan kesenangan dunia kesombongan dan bernaluri hewan.“&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tete Koneng karya Giroth Wuntu</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2010/01/tete-koneng_09.html</link><category>Fiksi</category><category>Giroth Wuntu</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Sat, 9 Jan 2010 16:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-1539901994732777557</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src="//img2.blogblog.com/img/video_object.png" style="background-color: #b2b2b2; " class="BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder" id="ieooui" data-original-id="ieooui" /&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:Calibri;  mso-font-alt:"Century Gothic";  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin-top:0in;  margin-right:0in;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0in;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} &lt;/style&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Tete Koneng, seorang yang tampan penuh wibawa, serta anggota masyarakat yang dihormati, yang kukenal sejak masa kanak-kanakku kurang lebih empat puluh tahun yang lampau, dan telah meninggal dunia beberapa tahun sesudah tanah air kita lepas dari penjajahan.&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;
Ada beberapa catatan kecil yang ingin kusajikan pada generasi mendatang, tentang gerak langkah dan tingkah laku manusia unik ini, yang sekalipun ia merupakan pokok yang penuh pertentangan bagi sementara orang, namun ia tetaplah bagaikan sebongkah batu gunung, kalau saja ia belum dapat dijuluki bukit batu dan sekalian mercusuar dalam skala kota kami yang kecil Tondano, terutama penonjolannya pada saat sebagian rakyat Minahasa sedang timbul tenggelam dan linglung, diterpa gejolak perjuangan sekitar Proklamasi 1945 karena adanya &lt;i&gt;Twapro&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Hoofden Bond&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut empat cerita yang terdapat dalam buku fiksi yang berjudul Tete Koneng:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-sebongkah-batu-gunung.html" target="_blank"&gt;Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-seorang-pejuang.html" target="_blank"&gt;Tete Koneng Seorang Pejuang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-di-rumah-duka.html" target="_blank"&gt;Tete Koneng di rumah duka&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://serakminahasa.blogspot.com/2015/09/tete-koneng-sebagai-anggota-masyarakat.html" target="_blank"&gt;Tete Koneng Sebagai Anggota Masyarakat&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span lang="DE"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Manado: Kota Pariwisata atau Kota Sampah?!</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/08/blog-post.html</link><category>Ekspresi</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Thu, 21 Aug 2008 14:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-6338071501410249185</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Akankah manado di tahun 2010 dapat mencapai cita-cita sebagai 
kota pariwisata dunia? Adakalanya pertanyaan ini sering menjanggal dalam
 hati kita sebagai warga kota yang menyaksikan langsung keadaan 
lingkungan kota manado. Tentu saja yang amat terkait dalam masalah 
lingkungan kota manado adalah tentunya tentang masalah bersih tidaknya 
lingkungan kita. Sangat senang dengan berbagai kebijakan pemerintah 
tentang penanganan lingkungan terlebih khusus yaitu lingkungan kota. 
Dengan adanya peraturan batas waktu pembuangan sampah, adanya tong-tong 
sampah yang tersedia di pinggiran jalan walaupun hanya di pinggir jalan 
raya saja, namun ini lebih baik di banding dengan tahun-tahun sebelumnya. 
Tetapi apakah hal ini sudah menjadi salah satu syarat adanya pencegahan 
lebih lanjut dari kebersihan kota manado?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Masalah lingkungan 
tentunya ada kaitannya dengan masalah sampah karna sampah merupakan 
salah satu yang dipermasalahkan akhir-akhir ini. Berbagai kegiatan sering di 
selenggarakan oleh kelompok-kelompok pecinta alam, organisasi yang bergerak di 
bidang lingkungan dengan tujuan pelestarian lingkungan dengan perwujudan 
kesadaran akan pentingnya kebersihan itu. Sejauh ini pemerintah telah 
berusaha mungkin dengan berbagai cara untuk pewujudan lingkungan bersih 
menuju WOC 2010. tapi adakah usaha pemerintah ini di sadari juga oleh 
masyarakat kota? Tubuh tanpa kepala atau sebaliknya itu merupakan hal 
yang tak mungkin. Masalah lingkungan bukan hanya persoalan satu pihak 
saja namun ini berkaitan dengan semua unsur dari yang tekecil sampai 
yang terbesar, dari yang terendah hinggah yang tertinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Campur tangan
 dan keikutsertaan masyarakat sangat mempengaruhi langsung masalah ini. 
Mengapa? Karna masyarakat sendiri yang menikmati atau merasakan secara 
langsung, jadi sebenarnya masyarakat itu juga yang memegang tanggungjawab
 itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kita tahu juga bahwa, apabila kita berbicara tentang komponen 
masyarakat berarti sudah termasuk dari anggota keluarga itu sendiri. 
Sebenarnya yang menjadi sumber dari sadar tidaknya manusia dapat dinilai
 dari kehidupan keluarga itu sendiri. Tidak menutup kemungkinan, peran 
orang tua sebagai pimpinan tertinggi yang sangat berpengaruh. Kebiasaan 
bersih yang diterapkan dalam keluarga akan menjadi dasar dalam 
kehidupan bermasyarakat. Jadi, sebenarnya yang menanggung masalah ini 
siapa?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kebiasaan yang baik akan mempengaruhi yang buruk, dasar 
yang kuat tidak mudah untuk di goyahkan. Bila kebiasaan dan dasar hidup 
bersih sudah tertanam dalam diri pribadi manusia dan di tunjang dengan 
kerjasama yang baik dengan peraturan pemerintah, mengapa kota Manado tidak
 menjadi kota pariwisata dunia 2010? Sampah sebenarnya bukanlah masalah 
bagi kita. Yang dipermasalahkan adalah kesadaran, perilaku dan budaya 
masyarakat bersih. Sebagai masyarakat sosial yang hidup berdampingan 
marilah kita belajar untuk saling menghargai, menghargai peraturan, 
sesama dan lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SAMPAH DAN DAUR ULANG</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/08/sampah-dan-daur-ulang.html</link><category>Gerundulan</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Thu, 21 Aug 2008 14:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-4185574728231844085</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZL-7w_KcKY-BheHBzxW6epIpEDcmdZj97RrOsa4rwKwk-50VcomMDK2mtZo3vwfb1VB_hy6f-ZT0usDrMV2Ndn7E2VdNA8wRwvcNPDQS_ZoPVJEDBTyzHbkP-Yn253HVesmo8GA96cw/s1600/DSCN3016.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZL-7w_KcKY-BheHBzxW6epIpEDcmdZj97RrOsa4rwKwk-50VcomMDK2mtZo3vwfb1VB_hy6f-ZT0usDrMV2Ndn7E2VdNA8wRwvcNPDQS_ZoPVJEDBTyzHbkP-Yn253HVesmo8GA96cw/s320/DSCN3016.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kalau di Indonesia daur ulang baru menjadi trend kira-kira beberapa tahun yang lalu, di Swiss daur ulang sudah menjadi gaya hidup. Sebagai negara kecil yang mempunyai sumber energi dan alam yang terbatas, Swiss berusaha untuk menghemat sumber tersebut. Semua serba dihemat, air, kayu, kertas, kain, botol plastik, kaleng, gelas, sampe sampah biologis. Yang namanya tong sampah di sini macam-macam bentuk dan warnanya. Banyak tong sampah yang dikhususkan untuk satu jenis sampah saja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ngomong-ngomong tentang sampah, Swiss bersih banget!! Gimana nggak bersih, tiap 100 meter ada tong sampah. Tiap pagi ada mobil warna orange (di Jenewa, di kota laen mobilnya laen warnanya) yang ngumpulin sampah dari tong-tong sampah di pinggir jalan. Terlebih lagi, beberapa hari sekali, banyak mobil sapu (truk kecil yang ada sapunya buat bersihin jalan atau trotoar) berkeliaran di jalan. Bayangin aja, jalan mobil aja disapu, jadi yang namanya jalan itu jarang banget ada sampah bertebaran. Trotoar juga dibersihin, pake mobil sapu mini (nyokap gue yang clean freak pasti seneng banget kalo dikasih satu..), dan kadang disemprot aer, buat ngebersihin debu yang bandel nempel di sela-sela trotoar. Tempat nunggu bus juga dipoles, 2 minggu sekali. Kalau petugas kebersihan udah dateng seru deh. Mereka efisien banget. Maximal 10 menit, halte bis langsung mengkilap, setelah digosok dengan sabun dan disemprot aer. Cuman ya itu, musti hati-hati kalo pas kebetulan lagi nunggu bis. Kadang gue suka ngayal, gimana ya kalo di Indonesia juga diterapin sistem yang sama. Alangkah indahnya. Nggak perlu punya tim kebersihan dan jadwal kayak di sini, paling enggak di pinggir jalan, tong sampah disediakan lebih banyak. Tidak hanya di depan kantor pemerintah atau mall aja. Gue rasa kalo tong sampah banyak, orang pun akan lebih terdorong untuk membuang sampah pada tempatnya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gue masih inget dulu di Bandung dijulukin agen petugas kebersihan sama temen2 gue. Abisnya gue langsung ngamuk (beneran ngamuk) kalo ngeliat temen gue ada yang buang sampah sembarang. Gue bakalan ngoceh ampe temen gue mungut sampah yang dibuangnya itu dan nyari tong sampah. Dan sering banget gue berantem ama temen2 gue yang mau buang plastik bekas makanan di dalam angkot, atau ke jalanan dari dalam mobil. Jawaban mereka satu, "...duile pit, eloe segitunya, yang buang sampah kan banyak. Satu plastik lagi nggak akan bikin banyak perbedaan." Pemikiran seperti inilah yang bikin kota2 di Indonesia penuh dengan sampah. Tiap orang berpikir, ah..cuman kecil ini..tapi kalo 100 orang berpikir seperti itu, jadi ada 100 sampah yang bertebaran!! Berhubung gue tetep ngotot, akhirnya temen2 gue jadi punya kebiasaan nggak buang sampah sembarangan kalo lagi jalan ama gue, atau harus menanggung malu dicelotehin ama gue sepanjang jalan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Jadi kebanyang dong gimana bahagianya gue bisa tinggal di negara yang bener2 memperhatikan masalah sampah dan kebersihan. (Coba deh baca Asterix di Swiss, di sana orang Swiss digambarkan sebagai maniak kebersihan. Stereo type, tapi ada benernya, kebersihan di Swiss beda sekali dengan Perancis ato Italia, negara tetangganya)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kembali ke daur ulang, sekarang banyak daerah di Jenewa yang memperketat hukum daur ulang. (Yup..ada hukumnya, dan denda kalo melanggar. Hati2, di sini denda jumlahnya bisa bikin dongkol sebulan penuh) Sekarang di beberapa daerah sudah membangun tempat sampah khusus untuk sampah rumah tangga, kaleng, kertas, dan sampah biologis. Setiap rumah tangga harus memisahkan sampah mereka sebelum dibuang ke tempat sampah. Dan kalau ada yang ketahuan tidak memisahkan sampah sebagaimana mustinya, langsung didenda. Di daerah tempat tinggal gue belom diperketat seperti itu, tapi kita udah dianjurkan untuk memisahkan sampah biologis. Pemerintah melakukan kampanye dengan membagi2kan secara gratis tempat sampah biologis (warnanya hijau dengan gambar landak, lambang sampah biologis), terus di samping tempat pengumpulan sampah ditaruh tong sampah khusus warna hijau.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Gue seneng banget pas dapet intruksi dan tong sampah gratis, udah lama sih niatnya, cuman lupa mulu. Tapi rada repot juga, soalnya sekarang tiap mau buang sampah musti mikir2 ini termasuk sampah biologis atau bukan? Kalo kertas sih memang sudah dipisahkan dari dulu, dan seminggu sekali akan ada mobil truk khusus untuk sampah kertas yang bakal ngangkut.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Daur ulang kertas sudah cukup mendarah daging di negara ini. Karena mereka nggak punya hutan yang bisa memasok pabrik kertas (hutan yang ada semuanya dilindungi, bahkan pohon2 di taman kota aja dilindungi, kalo mau ditebang harus ambil suara masyarakat dulu), jadi ya musti daur ulang. Kantor pemerintah dan badan pendidikan diwajibkan untuk menggunakan kertas daur ulang untuk setiap kebutuhan. Dari kertas buat print out, note book, sampe amplop. Dan harga kertas daur ulang pun jauh lebih murah dari kertas yang diproduksi dari pohon.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;(Kebalikan dari Indonesia dimana pohon di hutan sudah digunduli dan pabrik kayu dan kertas disubsidi besar2an. Subsidi inilah yang menjadi pendorong penebangan hutan di Indonesia dan membuat hutan di Indonesia sebagai salah satu hutan yang terancam di dunia. I can talk a lot about this, &lt;i&gt;I have been studying deforestation problem in Indonesia for four years now. But I better leave the academic talk behind&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Tahun ini ada peraturan baru untuk daur ulang alat2 elektronik. Semenjak Januari, seluruh toko yang menjual alat elektronik harus menerima alat elektronik yang sudah tidak dipakai lagi untuk kemudian didaur ulang, terlepas dari apakah alat tersebut dibeli dari toko yang bersangkutan atau tidak. Kebijakan yang sangat menguntungkan masyarakat dan pemerintah. Kewajiban mendaur ulang alat elektronik, dilimpahkan kepada kelompok bisnis. Alat elektronik tidak akan menggunung menjadi tumpukan sampah, dan pemerintah tidak perlu bingung membuat tempat penampungan sampah. Masyarakat bisnis juga tidak bisa mengeluh, karena di setiap harga penjualan alat elektronik telah disertakan pajak daur ulang.Ternyata kekurangan sumber daya alam telah membentuk masyarakat Swiss untuk lebih berhemat dan menghargai lingkungan. Sayang Indonesia masih tidak sadar betapa pentingnya pemeliharaan sumber daya alam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;Indonesia terus terang jauh lebih kaya daripada Swiss, apa sih yang nggak ada di Indonesia? Tapi karena berlimpahnya sumber daya tersebut, pemerintah jadi tidak punya alasan untuk berhemat. Penghematan sumber daya alam melalui &lt;i&gt;technology upgrading&lt;/i&gt; memang mahal, tapi untuk jangka panjang akan memungkinkan penghematan yang sangat berharga. Kapan ya pemerintah Indonesia mulai memikirkan lingkungan hidup dan mulai berhemat, waktu hutan semua sudah gundul? Waktu binatang dan biomas yang hidup di hutan sudah punah? Waktu seluruh sungai sudah terpolusi dan mata air sudah tercemar? Atau waktu padang rumput sudah menjadi gurun dan pepohonan menjadi barang langka? Kapan ya masyarakat Indonesia akan sadar pentingnya membuang sampah pada tempatnya? Waktu semua sungai sudah ditutupi sampah? Waktu got menggenang dan banjir menjadi kenyataan hidup sehari2? Waktu jalanan sudah dihiasi dengan sampah dan jalan di trotoar sudah harus pake sepatu bot? Atau waktu seluruh pulau sudah tertutup sampah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEZL-7w_KcKY-BheHBzxW6epIpEDcmdZj97RrOsa4rwKwk-50VcomMDK2mtZo3vwfb1VB_hy6f-ZT0usDrMV2Ndn7E2VdNA8wRwvcNPDQS_ZoPVJEDBTyzHbkP-Yn253HVesmo8GA96cw/s72-c/DSCN3016.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>"Pencagaralaman"</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/08/memaknai-kembali-kata-pencagaralaman.html</link><category>Otto Soemarwoto</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Thu, 21 Aug 2008 13:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-5044775989834389076</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
oleh Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencagaralaman adalah padanan &lt;i&gt;nature conservation&lt;/i&gt;. Kata cagar alam telah lama digunakan dan telah menjadi baku. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada di dalamnya. Di dalam cagar alam tidak dibolehkan adanya segala jenis eksploitasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mencagar (&lt;i&gt;to conserve&lt;/i&gt;) adalah pengawetan atau pelestarian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 'cagar' berarti benda yang dipakai sebagai tanggungan pinjaman atau hutang. 'Mencagar' berarti memberikan barang sebagai tanggungan pinjaman. Apabila dihubungkan dengan arti cagar alam sesuai dengan konsep, &lt;b&gt;bumi bukanlah milik&lt;/b&gt; &lt;b&gt;kita&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;melainkan milik anak cucu kita&lt;/b&gt;. Kita hanyalah meminjamnya dari anak cucu kita dan harus mengembalikannya kepada mereka dalam keadaan yang baik. Bahkan harus lebih baik dari semula sebagai pembayaran bunganya. Cagar alam itu merupakan tanggungan atau pinjaman, bahwa kita akan mengembalikan pinjaman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak manusia ada di bumi, ia telah memanfaatkan hewan dan tumbuhan dalam lingkungan. Mula-mula dengan cara seadanya, yaitu apa yang ia temui di alam. Tetapi tidak semuanya ia tangkap atau ambil. Melainkan berdasarkan pengalaman ia menyeleksi hewan dan tumbuhan yang dianggapnya berguna. Hewan dan tumbuhan yang di seleksi kemudian ia pelihara dan budidayakan. Mulai lahirlah pertanian dan peternakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam pandangan ekonomi masa kini, segala macam sumber daya harus dimanfaatkan. Karena itu, konsep sebidang lahan yang tidak boleh dijamah, sukar untuk diterima. Tekanan makin besar agar cagar alam diikut sertakan di dalam proses pembangunan. Untuk mengatasi tekanan ini dipakailah konsep 'Taman Nasional'. Pada prinsipnya taman nasional sama dengan cagar alam, tetapi di dalamnya dapat dilakukan kegiatan pembangunan yang tidak bertentangan dengan tujuan pencagaralaman. Kegiatan itu misalnya, pariwisata, penelitian dan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pencagaralaman seperti tertera dalam Strategi Pencagaralaman Sedunia (&lt;i&gt;World Conservation Strategy&lt;/i&gt;) mempunyai tujuan yaitu: memelihara proses ekologi yang esensial system pendukung kehidupan, mempertahankan keanekaragaman dan menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara terlanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketiga tujuan tersebut saling berkaitan. Tujuan ketiga menyatakan secara eksplisit, pencagaran tidak berlawanan dengan pemanfaatan jenis dan ekosistem. Tetapi, pemanfaatan itu haruslah dilakukan dengan cara yang menjamin adanya kesinambungan, artinya kepunahan jenis dan kerusakan ekosistem tidak boleh terjadi. Dengan terjaganya keanekaan jenis dan tidak rusak ekosistem, ekologi yang esensial dalam sistem pendukung kehidupan akan dapat terpelihara pula, misalnya, fungsi hidrologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Batas merupakan hal yang sangat esensial untuk daerah yang dilindungi. Batas itu harus jelas, baik di peta maupun di lapangan. Batas yang jelas dapat menghindari terjadinya sengketa. Bila terjadi sengketa, batas tersebut merupakan dasar bagi penyelesaian sengketa. Batas yang jelas juga menjadi pegangan kuat bagi para petugas untuk melakukan pengawasan, perlindungan dan penertiban. Lewat perjuangan yang panjang maka sekarang ini kita mengenal istilah batas hutan adat yang menjadi milik mutlak masyarakat adat. Luas juga menjadi hal yang sangat esensial untuk daerah yang dilindungi karena semakin sempit suatu daerah semakin besar kecepatan kepunahan jenis lahan daerah itu. Jika luas ini dipersempit terus menerus maka akan mendesak satwa jenis tertentu untuk punah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jumlah jenis di suatu daerah ditentukan oleh kecepatan kepunahan jenis dan kecepatan imigrasi atau masuknya jenis ke dalam daerah tersebut. Kepunahan jenis mengurangi jumlah jenis. Proses ini terjadi terus-menerus melalui persaingan antar jenis, iklim yang tidak tentu dan bencana alam yang dapat merusak habitat jenis didaerah itu. Hasil penelitian mereka menunjukkan, jumlah pohon jenis tertentu per hektar tidaklah banyak. Karena itu, dalam hutan yang besar jumlah jenisnya, terdapat rata-rata jumlah individu yang rendah masing-masing jenis. Hal yang serupa berlaku untuk fauna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Faktor yang mempengaruhi kerentanan kepunahan jenis ialah makin tinggi kepadatan jenis makin besar terjadinya tumpang tindih cara hidup berbagai jenis. Karena itu, dengan memperluas daerah, kepadatan jenis akan menurun. Dengan demikian, dibawah kondisi yang sama, kecepatan kepunahan jenis akan lebih kecil di daerah yang luas dibanding dengan di daerah yang sempit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Imigran jenis baru ke dalam suatu daerah akan mempertinggi jumlah jenis. Peluang suatu jenis yang datang merupakan jenis baru yang belum ada di daerah itu. Jenis yang baru itu dapat kita anggap datang dari suatu daerah yang merupakan sumber jenis. Makin dekat sumber jenis itu, makin banyak jenis yang dapat datang. Sebaliknya, makin jauh sumber jenis, makin sedikit jenis yang dapat datang. Imigrasi dapat pula diperbesar, apabila ada jembatan antara daerah itu dengan sumber jenis. Jembatan itu dapat berupa hutan yang menghubungkan daerah itu dengan sumber jenis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara garis besar, daerah di dalam cagar alam terbagi dalam tiga daerah. Daerah 1 diperuntukkan bagi pariwisata yang intensif. Daerah 2 untuk pariwisata yang terbatas, serta penelitian dan pendidikan yang intensif. Daerah 3 merupakan daerah yang terbatas, yang dilindungi dengan ketat dan orang hanya boleh masuk dengan izin khusus. Daerah ini dapat dipakai untuk penelitian dan pendidikan yang tidak merusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tujuan daerah yang dilindungi adalah untuk pencagaralaman. Oleh karena itu, pengembangan daerah yang dilindungi tidak boleh berlawanan dengan tujuan itu. Pengembangan yang tidak bertentangan dengan tujuan itu ialah penggunaan daerah itu untuk penelitian dan pendidikan. Pengembangan pariwisata dapat juga diatur, agar tidak berlawanan dengan tujuan pencagaralaman. Jenis kegiatan lain, misalnya eksploitasi tumbuhan dan hewan serta pertambangan tidaklah sesuai dengan tujuan daerah itu untuk pencagaralaman. Karena secara langsung menyebabkan kerusakan pada fauna, flora dan bentang alam. Kecuali itu juga akan mendorong terjadinya pemukiman dan pembangunan jalan raya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Cagar alam mempunyai fungsi utama yaitu utnuk menyimpan jenis dalam keadaan hidup. Koleksi hidup itu sewaktu-waktu dapat kita gunakan, tetapi bukan untuk tujuan ekonomi melainkan tujuan ilmiah.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GAMBARAN MASYARAKAT JERMAN DI JAMAN HITLER (3)</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/06/gambaran-masyarakat-jerman-di-jaman_18.html</link><category>Hitler</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Wed, 18 Jun 2008 06:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-2562305917925153590</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;PEMBERSIHAN PERWIRA PASUKAN BADAI (1934)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Rakyat Jerman hanya perlu kurang dari 12 minggu dalam kekuasaan Hitler untuk melihat apa jadinya status Yahudi di negara Nazi yang baru ini. Pada tanggal 1 April 1933, partai memboikot semua toko milik Yahudi selama sehari penuh. Nazi menjadikan golongan Yahudi sebagai kambing hitam atas kekalahan pada PD I dan banyak kegagalan lainnya. Kebayakan rakyat Jerman membiarkan hal tersebut karena menganggapnya sebagai bagian dari revolusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan-bulan awal kekuasaan Nazi, orang-orang Yahudi Jerman juga menjadi korban dari serangan dan kekerasan dari Pasukan Badai (SA). Pasukan itu juga mengambil langkah keras lain. Pada tahun 1933, bersama-sama dengan pelajar yang bersimpati, SA melakukan pembakaran massal buku-buku “terlarang”, terutama yang dibuat oleh penulis Yahudi. Lebih jauh lagi, Ernst Julius Rohm, pemimpin tertinggi Pasukan Badai, juga menuntut agar pasukannya dimasukkan ke dalam pasukan militer Jerman reguler. Militer menolak keras ide tersebut. Penolakan terhadap Pasukan Badai itu dilatarbelakangi oleh ketidaksukaan kalangan militer akan tingkah laku dan penampilan mereka; Pasukan Badai dibenci sebagian besar prajurit Militer Jerman, juga menjadi semakin jelas – bukan hanya bagi kalangan militer- bahwa Ernst Julius Rohm, komandan tertinggi Pasukan Badai, berusaha untuk mengambil alih Angkatan Bersenjata Jerman. Ia berusaha untuk menjadi Menteri Angkatan Bersenjata dan membentuk pasukannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim panas tahun 1934, Hitler mendapat sebuah kabar yang sangat mengejutkan. Heinrich Himmler, yang juga berambisi untuk berkuasa yang secara teknis masih bekerja untuk Ernst Julius Rohm dalam hierarki Nazi, melaporkan kepada Hitler bahwa Ernst Rohm, teman lama Hitler yang kini menjabat sebagai pemimpin tertinggi Pasukan Badai (SA), sedang mempersiapkan sebuah kudeta; dan Hitler mempercayainya. Pada tanggal 30 Juni 1934, ketika sedang berlibur di Bavaria, Ernst Rohm ditangkap dan dibawa ke penjara terdekat, dua hari kemudian ia ditembak mati. Tak hanya sampai disitu, pada bulan Juli 1934, Hitler juga “membersihkan” jajaran perwira SA yang dituduh sedang menyiapkan revolusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angkatan bersenjata sangat berterima kasih; mereka senang Rohm tewas dan kekuasaan Pasukan Badai dikurangi. Sebagai ungkapan terima kasih, mereka ajukan diri untuk ucapkan sumpah setia pada Hitler secara pribadi. Orang yang kini, setelah kematian Presiden Hindenburg, tak hanya menjabat sebagai Kanselir Jerman tapi juga pemimpin negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kematian Rohm, Hitler tampaknya telah mengembalikan ketertiban; militer telah bersumpah untuknya; revolusi di jalan mereda. Pada tahun-tahun berikutnya, rakyat Jerman mulai memandang Hitler sebagai seorang pemimpin yang kuat dan penuh percaya diri; yang orasinya menjanjikan negara Jerman Baru yang dinamis dan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEBANGKITAN JERMAN (1930-an)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada pertengahan tahun 1930-an, Jerman kembali bangkit di bawah kepemimpinan Hitler. Saat itu, Nazi dengan menteri ekonominya, Hjalmar Schacht, berhasil menghapus pengangguran di Jerman dengan menciptakan berbagai proyek yang menyerap banyak tenaga kerja seperti proyek pembangunan Autobahn dan proyek persenjataan kembali militer Jerman. Nazi juga menambah anggaran militer di tahun pertama kekuasaan mereka sampai-sampai militer tidak mampu menghabiskan seluruh biaya yang dianggarkan. Proyek-proyek tersebut membawa Jerman ke dalam keadaan tenaga kerja penuh (full employment). Rakyat mendapat pekerjaan dan penghasilan sehingga mereka dapat membeli makanan. Persenjataan kembali juga menghapus rasa malu rakyat Jerman karena telah menyerah di Perang Dunia I. Pada tahun 1935, Inggris, yang ketika itu merasa bersalah karena telah memaksakan Perjanjian Versailes yang memberatkan rakyat Jerman, membuat perjanjian baru dengan Hitler. Dalam perjanjian itu, Hitler diperbolehkan membangun angkatan lautnya melebihi batas yang diizinkan dalam Perjanjian Versailes. Hitler yang ingin memantapkan hubungan dengan Inggris kemudian mengirim Joachim von Ribbentrop pada musim panas tahun 1936 untuk mengupayakan terciptanya aliansi antara Inggris dengan Jerman. Sayangnya, Joachim von Ribbentrop gagal membuat kesepakatan di Inggris; bukan karena Inggris tidak mau beraliansi dengan Jerman, melainkan karena orang Inggris menganggap Nazi mengirimkan orang yang terlalu sombong. Ribbentrop membuat kesalahan fatal dengan memberikan salut Nazi (dengan mengangkat tangan kanan) kepada Raja Inggris George VI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1936, orang Jerman menganggap negara mereka telah berubah menjadi negara yang lebih baik di tangan Hitler setelah ia memerintahkan pasukan Jerman untuk memasuki kembali wilayah Jerman yang sempat lepas akibat Perjanjian Versailes, Rhineland. Selain Rhineland, Hitler juga memerintahkan pasukannya untuk memasuki wilayah dengan penduduk berbahasa Jerman lainnya, Austria, pada tanggal 15 Maret 1938. di kedua wilayah itu, pasukan Jerman disambut hangat dan meriah. Lebih jauh lagi, rakyat Jerman melihat tindakan pengambilan kembali Rhineland dan Austria itu sebagai salah satu isyarat bahwa negara mereka mulai mendapatkan kembali kekuatan dan harga dirinya. Sepulangnya ke Jerman, Hitler disambut gegap gempita sebagai seorang pahlawan bangsa Jerman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun pada tahun kejayaan tersebut terjadi pula sebuah peristiwa mencengangkan yang mengubah kehidupan rakyat Jerman. Orang Yahudi secara sistematis disingkirkan dari Jerman. Undang-undang Nurenberg Tahun 1935 melarang pernikahan orang Yahudi dengan warga Jerman lainnya dan mengatakan bahwa Yahudi bukanlah warga negara Jerman. Hitler dan Nazinya juga mengobarkan propaganda-propaganda yang menyatakan bahwa kekuasaan Yahudi di Jerman sudah terlalu besar dan memancing rakyat Jerman untuk melawannya; misalnya dengan mengatakan bahwa diantara 4.800 orang pengacara di Berlin, 3.600-nya adalah orang Yahudi. Propaganda tersebut berhasil mengubah pendapat masyarakat Jerman sehingga mereka tak berkeberatan jika orang Yahudi disingkirkan dari negara Jerman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Austria sendiri, pasukan SS mulai menjalankan aksinya “membersihkan” orang Yahudi dari tanah yang sekarang merupakan bagian dari negara Jerman itu. Yahudi Austria juga dipaksa melakukan pekerjaan yang memang dirancang untuk mempermalukan mereka; misalnya menyikat jalanan sampai bersih. Selain pasukan SS, beberapa penduduk Austria pendukung Nazi juga ikut menghina orang Yahudi itu; mereka menendangi Yahudi yang sedang bekerja dan menertawakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak tahan didiskriminasi dan diperlakukan secara kasar, ribuan orang Yahudi keluar dari Jerman sepanjang tahun 1930-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada musim gugur tahun 1938, terjadi sebuah peristiwa mengejutkan: Ernst von Rath, seorang diplomat Jerman tewas di Paris ditangan seorang pemuda Yahudi bernama Herschel Gryuzspan yang marah melihat perlakuan Nazi terhadap keluarganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam acara peringatan Percobaan Revolusi Burgerbrau Keller (yang terjadi pada tahun 1923), Joseph Goebbels, menteri propaganda Nazi, meminta persetujuan dari Hitler untuk membebaskan Pasukan Badai (SA) untuk melakukan balas dendam atas peristiwa terbunuhnya Ernst kepada para Yahudi; dan Hitler setuju. Dan akhirnya, terjadilah peristiwa yang disebut dengan Kristalnacht; Malam Kristal. Dalam peristiwa itu, Pasukan Badai menghancurkan sekitar 8.000 rumah, toko, dan bangunan-bangunan lain milik orang Yahudi. Mereka juga membunuh dan memenjarakan sekurangnya 30.000 orang Yahudi; menghancurkan 1.668 sinagog dan membakar 267 diantaranya. Banyak orang Jerman yang tidak setuju dengan peristiwa ini, salah satu diantaranya adalah Kolonel Claus von Stauffenberg, seorang perwira Nazi yang hampir membunuh Hitler di kemudian hari. Meskipun begitu, popularitas Hitler tidak terganggu. Hitler tak pernah membicarakan peristiwa itu di depan publik sehingga kebanyakan rakyat Jerman percaya bahwa peristiwa itu terjadi bukan atas kehendak sang Fuhrer, melainkan karena kebrutalan Pasukan Badai itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PEMBERSIHAN ANAK-ANAK CACAT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada akhir tahun 1938 atau awal tahun 1939, Philipp Bouhler, pemimpin Kantor Istana Kanselir Fuhrer, memberikan sebuah surat -yang ditulis oleh seorang ayah dari anak yang cacat mental- kepada Hitler. Surat itu berisi tentang permintaan ijin sang ayah untuk membunuh anaknya itu; Hitler setuju. Lebih jauh lagi, Hitler malah memerintahkan orang-orangnya untuk menghabisi semua anak cacat di seluruh Jerman. Philipp Bouhler sendiri kemudian diberi hak untuk membentuk kesatuan polisi rahasia untuk menyeleksi dan membunuh anak-anak cacat dalam hitungan hari setelah mereka lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polisi rahasia itu kemudian mencari anak-anak yang diduga cacat, kemudian menuliskan biodata dan ciri-ciri anak itu di selembar formulir. Formulir itu kemudian diserahkan kepada tiga orang dokter khusus yang akan menentukan apakah anak tersebut layak untuk hidup; jika tidak, mereka akan menandai formulir itu dengan tanda “X”. Setelah itu, mereka akan ditugaskan untuk menjemput anak yang dianggap “tak layak hidup” untuk kemudian dikumpulkan dan dibunuh dengan menyuntikan luminal atau morfin dengan dosis yang mematikan ke dalam tubuh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERANG DAN KEJATUHAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perang yang pecah pada tahun 1939 menyebabkan terjadinya kemunduran di tubuh partai, terutama setelah tahun 1941 ketika perang mulai memanas dan menyeret Jerman ke dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Pada saat yang sama, Hitler meninggalkan urusan domestik dan memusatkan perhatiannya pada militer tanpa menunjuk seseorang untuk menggantikan kedudukannya untuk mengatur masalah domestik. Akibatnya, administrasi sipil Jerman kacau, tidak terorganisasi dan tidak efektif. Dalam keadaan seperti ini, the Gauleiters, yang hampir semuanya merupakan loyalis fanatik Hitler, mulai mengambil kontrol atas pengarahan tenaga kerja, alokasi perumahan, proteksi serangan udara, dan lainnya. Kadangkala mereka juga bertindak sebagai ombudsman untuk rakyat. Mereka juga menghasut pengusiran semua orang Yahudi yang tersisa di Jerman dengan alasan rakyat Jerman mulai kekurangan rumah dan tempat tinggal akibat pengeboman yang dilakukan sekutu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
Tentara adalah wilayah terakhir dari negara Jerman untuk menyerah kepada Partai Nazi, dan itu tidak pernah sepenuhnya. Pra-1933 Reichswehr telah melarang anggotanya bergabung dengan partai-partai politik, dan ini dipertahankan untuk beberapa waktu setelah 1933. Nazi zaman militer bergabung dengan SS Waffen, sayap militer SS. Tetapi pada tahun 1938, baik Menteri Pertahanan Blomberg dan kepala staf angkatan darat, Jenderal Werner von Fritsch, dikeluarkan dari kantor setelah skandal yang dibuat-buat. Hitler menjadikan dirinya Menteri Pertahanan, dan para pemimpin militer yang baru, Jenderal Franz Halder dan Walther von Brauchitsch, kagum pada Hitler dan tidak dapat menentang kehendaknya secara terbuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KOMPOSISI PARTAI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Anggota umum (Parteimitglieder) dalam partai Nazi sebagian besar terdiri dari penduduk urban kelas menengah ke bawah. 7% anggota adalah kelas atas, 7% petani, 35% buruh industri dan 51% sisanya adalah kelas menengah. Sementara itu, kelompok profesi yang paling banyak bergabung dengan Nazi adalah dokter medis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Nazi memulai kekuasaannya di Jerman pada tahun 1933, Nazi telah memiliki anggota dengan jumlah lebih dari 2 juta orang. Ketika berkuasa, mereka menarik lebih banyak anggota hingga mencapai 8,5 juta anggota di akhir kekuasaannya. Meskipun begitu, hanya sekitar 1 juta orang yang aktif berperan dalam partai; sisanya kebanyakan bergabung karena alasan karir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ANGGOTA MILITER&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Anggota Nazi yang memiliki ambisi militer didorong untuk bergabung dengan Waffen SS atau Wehrmacht terutama ketika Perang Dunia II berkobar. Awalnya, peraturan mengharuskan setiap anggota Nazi yang bergabung dengan Wehrmatch untuk melepaskan keanggotaannya dari partai. Meskipun begitu, keadaan Perang Dunia II memaksa sejumlah perwira Nazi seperti Reinhard Heydrich dan Fritz Todt dan beberapa anggota lainnya untuk bergabung dengan Wehrmacht tanpa melepaskan keanggotaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KEANGGOTAAN PELAJAR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada tahun 1926 Partai Nazi membentuk sebuah divisi yang keanggotaannya terdiri dari pelajar-pelajar di Jerman yang dikenal dengan nama NA-Deutscher Studentenbund (NSDtB).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;GRUP PARAMILITER&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai tambahan, beberapa grup paramiliter eksis dan “mendukung” tujuan Nazi. Semua anggota dari grup-grup tersebut dibutuhkan untuk menjadi anggota reguler partai Nazi, dan nantinya bisa memasuki grup pilihan mereka masing-masing. Sistem raksasa/besar dari tanda kepangkatan paramiliter partai Nazi dikembangkan untuk setiap paramiliter yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Grup paramiliter besar dari Partai Nazi sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Schutzstaffel (SS): Pengawal pribadi Hitler.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sturmabteilung (SA): Pasukan Badai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nationalsozialistisches Fliegerkorps (NSFK): National Socialist Flyers Corps.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nationalsozialistisches Kraftfahrerkorps (NSKK): National Socialist Motor Corps.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SIMBOL PARTAI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bendera Nazi: Partai NSDAP menggunakan swastika yang menghadap ke kanan sebagai simbol mereka. Warna merah dan hitam melambangkan Blut und Boden (darah dan tanah). Sebelumnya, warna hitam, putih dan merah digunakan sebagai warna bendera Konfederasi Jerman Utara (yang didirikan oleh Otto von Bismark, yang diilhami dari warna hitam dan putih bendera Prusia). Pada tahun 1871, bendera Konfederasi Jerman Utara itu kemudian dijadikan sebagai Reichflagge (bendera Reich). Warna hitam, putih, dan merah juga pernah dijadikan sebagai lambang nasionalis, terutama pada masa perang Dunia I dan pada masa Republik Weimar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Swastika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagu : Horst Wessel Lied.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Elang Jerman: Partai Nazi menggunakan bentuk elang Jerman tradisional yang diubah sedemikian rupa; berdiri diatas lambang swastika di dalam rangkaian daun ek. Ketika kepala elang tersebut menghadap ke pundak kirinya, lambang itu menyimbolkan Partai Nazi, dan disebut dengan Parteiadler. Sebaliknya, ketika menghadap ke pundak kanannya, elang itu menyimbolkan negara (Reich), dan disebut dengan Reichsadler. Setelah partai Nazi berkuasa di Jerman, mereka segera mengganti lambang elang Jerman tradisional dengan elang Jerman mereka di seluruh negara dan institusinya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GAMBARAN MASYARAKAT JERMAN DI JAMAN HITLER (2)</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/06/gambaran-masyarakat-jerman-di-jaman.html</link><category>Hitler</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Tue, 17 Jun 2008 23:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-4004413717759481834</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;GEJOLAK PEREKONOMIAN JERMAN (1930) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada pertengahan 1920-an ekonomi Jerman pulih dan inflasi mulai berkurang. Pemerintahan Weimar yang berkuasa berhasil menyelesaikan masalah pergantian kerugian perang dengan meminjam uang dari Amerika Serikat. Namun, ada sejumlah rakyat Jerman yang tidak setuju dan menyebut peristiwa ini sebagai “kemerosotan Weimar”. Mereka bergabung  dengan kelompok nonpolitik seperti Wandervogel yang menyerukan untuk kembali ke cara hidup lama yang lebih sederhana. Nazi memanfaatkannya dan ikut mensosialisasikan gerakan untuk kembali ke nilai lama ini (gerakan ini tetap bertahan ketika Nazi berkuasa dalam sebuah kelompok yang dinamakan Hitler-Jugend, “Kelompok Muda Hitler”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pertengahan tahun 1920-an, partai Nazi menjadi sebuah partai kecil yang radikal. Program partai mereka menjanjikan bahwa jika Nazi berkuasa, Yahudi Jerman, yangh dianggap berada dibalik 'Perjanjian Versailes', akan dicabut kewarganegaraannya, atau bahkan diusir dari negara tersebut. Menurut Bruno Hahnel, pemimpin Kelompok Muda Hitler untuk tahun 1927-1945, mereka menganggap bahwa Golongan Yahudi Dunia (World Jewry) ingin meraih kekuasaan dan menguasai dunia sehingga Kelompok Muda Hitler harus menggagalkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isu konspirasi Yahudi sedunia itu disuarakan secara terbuka oleh Nazi; dan dipercaya. Dan bersamaan dengan munculnya paham anti-Semit itu, tumbuh keyakinan bahwa kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses politik, sehingga kemudian, Nazi mendirikan sayap paramiliter yang disebut Sturm Abteilung (SA), “Pasukan Badai”. Tugasnya adalah menjaga pertemuan-pertemuan Nazi, mengancam pengikut partai-partai lain dan menggalang dukungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;HITLER MENJADI KANSELIR (1923) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada tahun 1928 atau 7 tahun setelah Hitler memimpin partai, Nazi gagal meraih kekuasaan dalam pemilu. Pada pemilu itu, Nazi hanya mendapatkan 2,6% suara. Tapi 4 tahun dan 18 bulan kemudian, Hitler menjadi Kanselir Jerman karena Nazi didukung oleh keadaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 1930-an, Jerman jatuh bangkrut. Harga produk pertanian dunia yang jatuh mengakibatkan kemiskinan, jatuhnya Wall Street mengakibatkan kemerosotan ekonomi di seluruh dunia, ditambah lagi dengan datangnya tagihan utang dari Amerika Serikat yang semakin menekan persediaan devisa Jerman. Tahun 1931 angka pengangguran di Jerman meningkat hingga 5 juta orang. Pengangguran hidup dengan susah payah di perkotaan ketika Jerman menjadi negara dengan perekonomian paling buruk di dunia. Keadaan semakin buruk ketika lima bank utama di Jerman hancur pada tahun 1931 menyebabkan lebih dari 20.000 perusahaan Jerman gulung tikar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa diduga, dalam krisis ekonomi itu, suara untuk Nazi meningkat, orang-orang mulai tertarik dengan prinsip mereka: “Versailes adalah kejahatan dan Yahudi berada dibelakangnya. Marxisme harus dihancurkan dan Bangsa Jerman haruis lahir kembali.” bahkan karena sedemikian bosannya dengan keadaan ekonomi, orang-orang pedesaan yang belum pernah mendengar tentang Hitler dan partainya ikut memilih Nazi. Seperti misalnya di kota terpencil di wilayah Prusia Timur, Neidenburg, terjadi peningkatan suara yang sangat drastis untuk Nazi. Pada tahun 1928, Nazi mendapat 2,3% suara di sini. Namun pada tahun 1930 dukungan yang mereka dapatkan melonjak ke angka 25,8%; padahal Hitler tak pernah berkunjung ke sana dan tak ada perwakilan partai Nazi di kota itu. Tapi bukan hanya Nazi yang mulai naik daun, komunis juga mulai mendapat dukungan sehingga demokrasi yang baru lahir di Jerman mulai terancam karena para pemilih terdorong ke titik ekstrim; antara Nazi dan Komunis. Pertikaian mulai terjadi, Nazi dan Pasukan Badainya (SA) dengan Komunis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun pada pemilu itu, Hitler kalah dari pesaingnya Presiden Hindenburg, ia telah menetapkan dirinya sebagai pemimpin alternatif Jerman yang menawarkan keteraturan, kedisiplinan dan kharisma. Pada pemilu tahun 1932 mayoritas mulai memilih dua partai yang secara terbuka bertujuan menggulingkan demokrasi Jerman: Nazi dan Komunis. Demokrasi yang datang di Jerman pada akhir PD I dianggap kurang cocok dan harus disingkirkan dari Jerman. Dalam pidato pemilihan umumnya (Juli, 1932) Hitler tidak menyembunyikan fakta bahwa Nazi memiliki paham kediktatoran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya pada pemilihan umum bulan Juli 1932 itu, Nazi menjadi partai terbesar di Jerman dengan meraih 37,4% suara. Kini hanya ada satu orang yang menjadi penghalang antara Hitler dan posisi Kanselir: Presiden Hindenburg, orang yang pernah bersaing dengan Hitler untuk jabatan presiden dan mengalahkannya. Hindenburg bertemu Hitler pada tanggal 13 Agustus 1932 dan dalam pertemuan itu, Hitler menuntut untuk menjadi Kanselir; Hindenburg menolak. Ia tidak setuju bila kekuasaan pemerintah diberikan ke satu partai yang tidak mewakili mayoritas pemilih dan -lebih jauh lagi- tidak toleran dengan disiplin yang rendah dan seringkali menggunakan kekerasan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian munculah sekelompok orang mulai menekan dan melobi presiden Hindenburg, termasuk salah satu diantaranya seorang pengusaha mantan Direktur Reich Bank Hjalmar Schacht. Ia menulis surat kepada Hindenburg mendesak agar Hitler diberi mandat Kanselir demi kebaikan Jerman. Para pengusaha ketika itu lebih memilih agar perekonomian Jerman dikuasai oleh Nazi daripada Komunis yang jelas akan mematikan usaha mereka. Tekanan baru muncul sebagai akibat dari permainan perang militer: sebuah laporan menegaskan pada kabinet bahwa dalam kerusuhan sipil, militer tidak dapat mengendalikan baik Nazi maupun Komunis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan hanya Hindenburg saja yang mendapat tekanan; Nazi juga mendapatkan hal yang sama. Partai Nazi terancam bangkrut dan kehabisan uang stelah salah satu tokoh utama partai, Gregor Strasser, mengundurkan diri. Sehingga dukungan suara mereka turun menjadi 33%; tampaknya dukungan untuk mereka sudah mencapai titik maksimal. Untungnya, Nazi mendapat dukungan dari kelompok tradisional Kanan yang ingin menggulingkan demokrasi dan komunis karena tanpa dukungan Hitler, mereka tidak akan mampu melekukannya. Salah satu diantara mereka, mantan Kanselir bangsawan Von Papen, menawarkan kesepakatan: Hitler bisa menjadi Kanselir jika ia, Von Papen, menjadi wakil Kanselir, dan hanya ada 2 anggota Nazi lainnya yang masuk kabinet yang matoritas diisi oleh orang-orang konservatif tradisional. Dengan begitu, ia berharap pengaruh Hitler dapat “dijinakkan”. Akhirnya Hindenburg menawarkan posisi Kanselir kepada Adolf Hitler pada tanggal 30 Januari 1933. dan segera setelah pengangkatan resmi itu, salah satu sahabat terdekat Hindenburg pada saat Perang Dunia I, Jenderal Ludendorf, mengirim telegram kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[...] &lt;i&gt;Ku ramalkan -dengan sungguh-sungguh- bahwa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        “orang terkutuk” ini akan membawa negara kita ke dalam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        jurang yang dalam. Generasi mendatang akan mengutukmu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        karena ini. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Pada tanggal 30 Januari 1933 itu pula, Nazi mengadakan parade perayaan yang meriah di Berlin; revolusi telah dimulai.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GAMBARAN MASYARAKAT JERMAN DI JAMAN HITLER (1)</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/06/gambaran-kehidupan-masyarakat-jerman.html</link><category>Hitler</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Sun, 15 Jun 2008 23:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-480962595521259680</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP adalah sebuah partai politik yang pernah dimiliki oleh Jerman yang didirikan pada tahun 1920 dan berbasis di Munchen. Sebelum itu bernama Deutsche Arbeiterpartei (Partai Buruh Jerman), nama partai itu diubah atas desakan Adolf Hitler untuk memasukkan eleman nasional sosialisme. Lambang resmi NSDAP adalah Swastika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NSDAP adalah kekuatan politik utama dalam Nazi Jerman sejak kejatuhan Republik Weimar pada tahun 1933 hingga akhir Perang Dunia II pada tahun 1945, ketika dideklarasikan ilegal dan para pemimpinnya ditangkap dan dikenai tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan melalui Pengadilan Nurenberg. Para penganut dan pelaksana Partai Nazi telah mengangkat sebuah ideologi politik baru, biasa dikenal sebagai “Naziisme”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MASA AWAL MUNCULNYA PAHAM ANTI-SEMIT&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nazisme muncul sebagai akibat dari Perang Dunia I. Pada 11 November 1918 secara mengejutkan bagi pasukan garis depan Jerman (Tentara Raterepublik), perang tiba-tiba berakhir. Pasukan garis depan tidak merasa dikalahkan dan mereka heran mengapa gencatan senjata terjadi begitu cepat sehingga mereka harus segera meninggalkan posisinya padahal mereka masih berada di wilayah musuh. Mitos yang berkembang di antara para prajurit Jerman yang menyerah ini adalah bahwa mereka telah “ditikam dari belakang”. Bahwa pasukan garis depan dan 2 juta rakyat Jerman tewas selama perang telah dikhianati oleh kelompok Marxis dan Yahudi yang telah memunculkan perbedaan pendapat di negara mereka. Ketika pasukan selamat itu kembali ke Jerman baru yang demokratis, mereka membawa serta kekecewaan mereka. Seusai perang, negara-negara sekutu melanjutkan blokade terhadap Jerman. Pasukan yang kembali dan berbaris melewati Munchen, ibukota Bayern, terkejut melihat keluarga mereka yang masih menderita. Jutaan rakyat Jerman kelaparan dan ribuan lainnya sekarat akibat penyakit TBC dan influenza.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di jerman, politik terbagi menjadi 2 kutub, Konservatif dan Sosialis. Masing-masing kelompok menjadi radikal di masa krisis. Situasi semakin bertambah buruk dengan munculnya gerakan Republik Soviet Munchen, sebuah upaya untuk menciptakan pemerintahan bergaya Soviet yang dikobarkan oleh kelompok sayap kiri Raterepublik di Munich. Tentara pemerintah diturunkan untuk menumpas pemberontakan tersebut dan pecahlah pertempuran terbuka di jalan-jalan Munich. Lebih dari 500 orang terbunuh. Tentara didukung oleh Freikorps, prajurit bayaran sayap kanan yang dibiayai oleh pemerintah. Freikorps benar-benar menjalankan tugasnya, mereka membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai anggota Raterepublik dan berhasil menumpas pemberontakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prasangka anti-Semit di kelompok kanan semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa pimpinan Raterepublik sebagian besar adalah orang Yahudi, sehingga muncul kesan bahwa Bolshevisme (Komunis) dan Yudaisme pada dasarnya adalah sama. Wajar ketika sikap anti Yahudi kemudian berkembang luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Freikorps dielu-elukan di Munchen setelah penumpasan Raterepublik. Kelompok Yahudi adalah kambing hitam yang sempurna untuk disalahkan atas semua penyakit negara tersebut. Freikorps didukung oleh pejabat-pejabat sayap kanan di militer seperti Kapten Ernst Roehm (yang nantinya akan menjadi komandan tertinggi SA (Sturm Abteilung), “Pasukan Badai”, seorang pribadi dengan filosofi sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;KELAHIRAN NAZI (1920)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Di awal tahun 1918, sebuah partai bernama Freier Ausschuss fur Einen Deutschen Arbeiterfrieden (Komite Bebas untuk Kedamaian Buruh Jerman) didirikan di Bremen, Jerman. Anton Dexler, seorang tukang kunci dan penyair, mendirikan sebuah cabang dari perkumpulan ini pada 7 Maret 1918 di Munich. Pada tahun 1919, Dexler, dengan Gottfried Feder, Dietrich Eckart dan Karl Harrer, mengubah nama partai tersebut menjadi Deutsche Arbeiterparte (Partai Pekerja Jerman) atau biasa disingkat DAP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 1919, Rohm bergabung dengan partai tersebut. Disana, dia bertemu dengan seorang veteran Perang Dunia I, berusia 30 tahun: Kopral Adolf Hitler yang sama seperti Rohm, membenci kelompok Komunis dan Yahudi. Hitler juga bergabung dengan partai pekerja Jerman pada tahun 1919. di kartu anggotanya tertera dia anggota nomor 555 meskipun pada kenyataannya dia anggota nomor 55; partai itu memberi nomor mulai dari 500 agar anggotanya terlihat banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hitler tak berbeda dengan ribuan mantan prajurit lainnya di Munchen, luntang lantung tanpa pekerjaan tetap. Tapi kini dia telah menyadari bakat alaminya untuk berorasi dan menarik orang untuk bergabung dengan partainya, sehingga ia memiliki peran dominan di sana. Dia salurkan kebencian, kemarahan atas berakhirnya perang dengan pidato yang berapi-api. Hitler selalu berbicara tentang apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan perjanjian damai Versailes yang ditandatangani pada akhir Perang  Dunia I. Berdasarkan perjanjian itu, Jerman kehilangan banyak wilayah negaranya, dan dipaksa membayar ganti rugi pada negara-negara pemenang. Pada awal 1920, inflasi merajalela tak terkendali, keuangan benar-benar hancur sehingga rakyat Jerman berpikir bahwa demokrasi tak menghasilkan apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Bayern, pada tahun 1921 Hitler dinobatkan menjadi pimpinan partai pekerja Jerman yang kecil itu. Namanya diubah menjadi Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (Partai Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman), disingkat Nazi atau NSDAP. Saat itu hanyalah salah satu dari banyak partai Sayap Kanan di Munich dan mereka semua mengatakan yang sama: Versailes adalah kejahatan dan kelompok Yahudi ada di belakangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamisme Hitler yang dibarengi dengan nada tanpa kompromi dalam pidato-pidatonya mulai menarik warga Bayern terkemuka lainnya untuk berpaling pada partai baru Nazi. Pada tahun 1922, seorang penerbang ulung pemegang penghargaan “Pour le Merite” sekaligus komandan skuadron Richtodenber dalam Perang Dunia I, Herman Goring, bergabung dengan Nazi. Nazi pun menyebarkan pengaruhnya ke wilayah pedesaan Bayern. Di sana, seorang mahasiswa pertanian yang awalnya ingin menjadi peternak ayam, Heinrich Himmler, bergabung dengan Nazi (di kemudian hari, ia ditunjuk sebagai komandan tertinggi SS).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PERCOBAAN REVOLUSI (1923)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bulan Januari 1923 di Ruhr, pasukan Perancis datang untuk meminta pembayaran ganti rugi perang, mengasingkan dan menghina rakyat Jerman. Perancis memerintah mereka dengan tangan besi. Rakyat Jerman menganggap ini sebagai upaya balas dendam. Hitler dan Nazi memanfaatkan ketidakpuasan rakyat Jerman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Munchen pada tahun 1923, dalam suasana krisis yang disebabkan oleh pendudukan Ruhr, Hitler dan Nazinya mulai bertindak. Hitler berdiri di atas panggung Burgerbrau Keller pada tanggal 8 November dan menghentikan rapat politik sayap kanan, ia menyerukan dilaksanakannya sebuah revolusi nasional untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri di Berlin. Keesokan harinya, 9 November 1923, bersama dengan partai sayap kanan lainnya berparade di Munich untuk mengumpulkan dukungan. Mereka dihentikan polisi di monumen perang Feldherrenhalle. Awalnya, Nazi berharap militer dan polisi mendukung parade tersebut dan bergabung bersama mereka, tapi yang terjadi sebaliknya, polisi tidak mendukung mereka; tembakan dilepaskan dan peserta parade dibubarkan. Untung bagi Hitler, ia berhasil lolos dari penembakan itu. 4 perwira polisi dan 16 anggota Nazi kehilangan nyawa mereka. Selain membunuh polisi, beberapa pengikut Nazi juga melakukan perampokan bank dalam aksinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hitler kemudian diadili bersama pimpinan parade lainnya pada awal 1924 dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap polisi dan perampokan banktler menjadi terkenal karena pernyataan sikapnya yang berani. Sebagai hasilnya, ia harus menjalani hukuman 9 bulan penjara di Penjara Lansberg; setelah menyulut revolusi, pembunuhan 4 perwira polisi, dan perampokan bank. Tahun 1924, nama Hitler dan Nazi sempat terbenam.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Riwayat Hidup Wolfgang Borchert</title><link>https://serakminahasa.blogspot.com/2008/06/riwayat-hidup-wolfgang-borchert.html</link><category>Biografi</category><category>Drama</category><category>Sejarah</category><author>noreply@blogger.com (Oki Petrus Laoh)</author><pubDate>Sat, 14 Jun 2008 23:27:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8649190152764394803.post-231746951786793476</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Wolfgang Borchert dilahirkan di Hamburg pada tanggal 20 Mei 1921. Ayahnya bernama Fritz Borchert, seorang guru sekolah dasar di Hamburg-Eppendorf, dan ibunya bernama Hertha Salchow, seorang pengarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Pada tahun 1928 Wolfgang Borchert mulai masuk sekolah dasar dan empat tahun kemudian ia memasuki Oberrealschule di Hamburg-Eppendorf. Pada tahun 1938 ia meninggalkan sekolah lanjutan atas dan atas keinginan ayahnya ia belajar berdagang buku pada Heinrich Boysen dari tahun 1939-1941 dan dalam waktu senggangnya ia belajar sandiwara pada Helmuth Gmelin, karena sebenarnya ia ingin sekali menjadi seorang aktor. Pada tahun 1940 ia berhasil meraih kemenangan dalam bermain sandiwara. Ia diterima bermain pada teater Hannover. Tetapi pada tahun yang sama ia ditangkap gestapo, yaitu polisi rahasia jaman Nazi, karena syair-syairnya dianggap bertentangan dengan politik Nazi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pada tahun 1941 ia masuk dinas militer dan kemudian dikirim ke Front Timur. Pada tahun 1942 ia terkena serangan penyakit Lever. Ketika bertugas di front timur ia mendapat cedera pada lengan kirinya dan kemudian diangkut ke rumah sakit di Schwabach. Akan tetapi ia dicurigai telah melukai lengannya sendiri, oleh karena itu ia ditangkap dan diperhadapkan pada pengadilan militer dan dijatuhi hukuman penjara selama tiga bulan di Nurnberg. Namun pada pemeriksaan ia dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Kemudian ia diperhadapkan lagi ke pengadilan militer karena dituduh menentang pemerintah dan partai secara lisan maupun tulisan sehingga ia dijatuhi hukuman penjara lagi selama empat bulan. Setelah itu ia dikirim kembali ke front timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Tahun 1943 hampir sepanjang tahun dia berada di rumah sakit karena terserang penyakit lever dan luka beku. Sebenarnya pada Oktober 1943 dia akan dibebastugaskan dari dinas militer karena kesehatannya tidak memungkinkan untuk dinas kemiliterannya, tetapi satu hari sebelum pembebasannya ia kembali dimasukkan ke dalam penjara, karena lawan politisnya yang menirukan Goebbels, seorang menteri propaganda Jerman pada waktu itu. Pada bulan September 1944 putusan uintuk Wolfgang Borchert yang selama ini tertunda akhirnya dijatuhkan, yaitu hukuman penjara selama sembilan bulan, tetapi ia dihadapkan pada pilihan antara hidup di penjara atau pergi ke front timur. Ia memilih hidup di penjara Berlin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Pada tahun 1945 ia bertugas di front barat dekat Frankfurt, tetapi ia ditangkap oleh tentara Perancis, kemudian ia berhasil meloloskan diri dengan jalan melarikan diri dari kereta api dan harus berjalan sejauh enam ratus kilometer menuju Hamburg. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Bulan September 1945 ia kembali bermain sandiwara dan kabaret. Pada bulan November ia melakukan persiapan sebagai asisten sutradara dalam pertunjukkan Nathan der Weise di Hamburg. Karena keadaannya yang kian lama kian memburuk, maka ia diharuskan beristirahat di tempat tidur. Permulaan tahun 1946 ia masuk rumah sakit Elizabeth dan selama ia sakit dia berhasil menyelesaikan kumpulan ceritanya Die Hundeblume dan masih banyak lagi cerita dan syair-syair yang ia selesaikan. Pada hari Paskah tahun 1946 ia pulang ke rumahnya, tetapi dokter-dokter telah memperhitungkan, bahwa Wolfgang Borchert hanya tahan hidup paling lama satu tahun lagi. Bulan Desember kumpulan syairnya yang berjudul Laterne, Nacht und Sterne diterbitkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Pada bulan Januari 1947 meskipun dalam keadaan sakit ia berhasil menulis drama dengan judul: Draussen vor der Tur. Karya ini hanya ditulisnya dalam waktu beberapa hari. Pada tanggal 13 Februari 1947 drama ini disiarkan melalui radio sebagai sebuah sandiwara radio. Pada bulan April kumpulan prosanya Die Hundeblume diterbitkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          Pada tanggal 22 September atas prakarsa teman-temannya ia diangkut ke Sanatorium Basel. Penyakitnya kian parah dan pada tanggal 20 November 1947 jam 9.00 Wolfgang Borchert meninggal dunia di Clara Spital Basel karena penyakit TBC yang dideritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           Satu hari setelah kematiannya yaitu pada tanggal 21 November 1947 dramanya yang berjudul “Draussen vor der Tur” dipentaskan untuk pertama kalinya di suatu teater di Hamburg. Drama ini mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton sehingga secara tiba-tiba menjadikan pengarangnya terkenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pada tanggal 24 November 1947 diadakan upacara berkabung Hornli-Gottesacker di Basel. Kemudian abu jenasahnya dimakamkan di pemakaman Ohlsdorf di Hamburg.&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>