<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Seuramoe Jeumpa</title><description>Seuramoe tulisan dan berita Aceh</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Husen Coe)</managingEditor><pubDate>Fri, 27 Feb 2026 11:40:31 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:image href="http://1.bp.blogspot.com/-A7qgYwPUbTs/WTT4Ftw8QLI/AAAAAAAAANg/050cVVo9ToAOhJPnkFBbbQ6g9-EdRHwJwCK4B/s1600/seuramoe%2Bjeumpa.png"/><itunes:subtitle>Seuramoe Nanggroe Jeumpa Lhee Sagoe, Aceh yang Mulia. Berisi rangkaian tulisan ke-Acehan terkini dan masa lampau dalam perspektif Sejarah, Tokoh, Peninggalan, Karya, dan tulisan ke-Acehan lainnya</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:category text="News &amp; Politics"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Tugu Simpang Lima yang Inspiratif, Landmark Aceh di Pusat Kota </title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/tugu-simpang-lima-yang-inspiratif-landmark-aceh-di-pusat-kota.html</link><category>Opini</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Sat, 10 Jun 2017 19:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-6397896188397143978</guid><description>Tugu Simpang Lima Kota Banda baru saja diresmikan. Kehadirannya pun baru-baru ini banyak memunculkan interpretasi tentang konsep dan bentuk dan desainnya. Ada yang mengagumi, mempertanyakan dan ada juga yang mempertanyakannya. Respons yang variatif seperti itu memang wajar mengingat belum semua masyarakat paham mengenai konsep dan desain Tugu Simpang Lima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3qF2l62EmKku_8rLDNYQYGDyjKOF7ord4ltrcqphQjKPD9pJpK6UkWIWCpamU7jv3YCqcuJ1VrtaqeaPpZu2-kgZPbdd00mmxsk0Jg0Oe7WJ0k45v_7sfWdHSLKuxsIvs557ccI-wTj8/s1600/Tugu+simpang+5+banda+aceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="tugu simpang 5 banda aceh" border="0" data-original-height="393" data-original-width="700" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3qF2l62EmKku_8rLDNYQYGDyjKOF7ord4ltrcqphQjKPD9pJpK6UkWIWCpamU7jv3YCqcuJ1VrtaqeaPpZu2-kgZPbdd00mmxsk0Jg0Oe7WJ0k45v_7sfWdHSLKuxsIvs557ccI-wTj8/s320/Tugu+simpang+5+banda+aceh.jpg" title="tugu simpang 5 banda aceh" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan sedikit yang berpikir bahwa tugu tersebut sekadar asal jadi atau malah dituding meniru bentuk-bentuk lain. Namun banyak yang tahu bahwa sebenarnya proses desain tugu tersebut menghabiskan waktu yang tidak singkat melalui riset, dengar pendapat dan diskursus yang disandarkan pada disiplin keilmuan yang berkompeten di bidangnya. Intinya, desain yang sederhana ini tercipta melalui proses panjang yang tak seperti disangka banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada empat konsep dasar yang dielaborasi dalam pengembangan desain Tugu Simpang Lima Banda Aceh, antara lain: Konteks lokasi, isu desain, karakter desain dan budaya perusahaan Bank Bukopin. Mengapa Bank Bukopin? Ya karena tugu ini direvitalisasi oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Proses perencanaan&lt;/h4&gt;
Yang pertama adalah konteks lokasi. Dalam proses perencanaan, kondisi eksisting kawasan perencanaan dan konteks lokasi menjadi hal penting yang dipertimbangkan. Tugu Simpang Lima Banda Aceh merupakan satu landmark yang terletak pusat kota yang memiliki sejarah dan memori yang sering dijadikan lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada konteks lokasi, ada empat eksplorasi konsep yang diterapkan pada desain, antara lain: axis-oriented (sumbu), urban oase, multi-purposes building, dan landmark Kota Banda Aceh. Sesuai namanya, lokasi tugu ini memiliki lima persimpangan jalan protokol yang selalu padat, yaitu: Jalan Tgk HM Daud Beureuh, Jalan T Panglima Polem, Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Jalan Diponegoro, dan Jalan T Angkasa Bendahara. Aksis ini direspons dengan menciptakan bentuk tugu yang berorientasi menghadap kelima aksis (sumbu) jalan yang ada pada sekitar kawasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep urban oase diterjemahkan dengan menghadirkan lansekap taman kecil dan Kolam Air Mancur sebagai elemen pendukung untuk memberi nilai lebih terhadap tugu. Keberadaan taman dan Kolam Air Mancur tersebut diharapkan mampu berkontribusi untuk mengendalikan iklim mikro dalam menurunkan suhu di sekitar tugu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, konsep multi-purposes sculpture diterjemahkan melalui penciptaan bentuk tugu yang bukan hanya mengedepan estetika saja, namun juga aspek yang fungsional. Sesuai dengan latar belakang konteks lokasi tugu sebagai tempat yang sering dijadikan lokasi penyampaian aspirasi dan demonstrasi, maka desain tugu yang baru ini justru memberi ruang yang lebih nyaman untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin hari kota akan semakin berkembang menyesuaikan diri. Identitas kota dapat dipertahankan, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa perkembangan kota bisa melahirkan identitas baru. Kehadiran tugu baru ini diharapkan tetap bisa menjadi penanda kota (landmark) menggantikan tugu yang lama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Isu desain&lt;/h4&gt;
Konsep dasar yang kedua adalah isu desain. Isu desain yang diangkat dalam desain ini adalah isu-isu kekinian yang berhubungan dengan lokalitas, identitas, dan karakter Kota Banda Aceh saat ini. Ide awal perencanaan tugu ini diambil dari bentuk Pintoe Aceh, sesuai dengan permintaan Ibu Wali Kota Banda Aceh. Bentuk yang ditransformasikan adalah setengah Pintoe Aceh yang kemudian dieksplorasi melalui beberapa proses dengan memasukkan nilai-nilai dari konsep kota madani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugu tersebut berjumlah lima pilar utama yang merujuk pada lima Rukun Islam. Pilar tersebut berbentuk setengah Pintoe Aceh yang menjulang ke atas. Bentuk Pintoe Aceh akan terlihat secara abstrak dari view tertentu. Beberapa menilai bahwa tugu ini bentuknya asimetris. Padahal ketidaksimetrisan itu disengaja sebagai bagian dari desain yang dinamis, agar visualisasi yang tercipta lebih kaya dan beragam jika dilihat dari berbagai sudut di Simpang Lima itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi ada yang mengait-ngaitkan bentuk tugu dengan lambang partai politik tertentu. Padahal tudingan tersebut sama sekali tidak relevan. Betapa banyak hal yang menunjukkan kemiripan di dunia ini meskipun tidak ada kaitannya sama sekali, misalnya bentuk bulan sabit yang sering dijadikan logo organisasi, lambang negara dan sebagainya dengan tujuan dan makna masing-masing. Adalah sebuah kemustahilan pula mengaitkan proses desain dan pembangunan tugu ini dengan negosiasi pada partai politik tertentu. Kalau memang benar melibatkan partai politik tertentu, pasti pihak Bank Bukopin dan pemerintah kota akan langsung menolak mentah-mentah ide dan konsep desain tugu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu prinsip kota madani yang diterjemahkan dalam desain tugu ini adalah konsep hablum-minallah dan hablum-minannas. Konsep ini diterjemahkan dengan mentranformasikan bentuk yang mengerucut ke atas (vertikal) sebagai simbol hablum-minallah. Sedangkan konsep hablum-minannas sendiri diterjemahkan melalui bentuk kaki tugu, yang jika terlihat dari atas akan membentuk sebuah transformasi rangkulan yang berkesinambungan dan tidak berujung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asmaul Husna yang diterapkan pada konsep awal memiliki filosofi sebagai jembatan atau media menyatukan konsep hablum-minannas menuju hablum-minallah. Ini memiliki filosofi bahwa, jika warga kota saling bahu membahu dan saling bekerja sama dalam membangun Kota Banda Aceh dengan mengikat diri pada konsep hablum-minallah, maka visi isi kota madani akan tercapai.&lt;br /&gt;
Mengenai perubahan konsep Asmaul Husna menjadi ornamen Pintoe Aceh, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal sudah menjelaskan bahwa setelah melakukan audiensi dengan MPU, para ulama tidak setuju dengan dibuatkannya tulisan Asmaul Husna tersebut. Menurut para ulama, Tugu Simpang Lima merupakan pusat demonstrasi masyarakat kota, sedangkan tulisan Asmaul Husna merupakan tulisan yang sangat sakral. Oleh sebab itu, tidaklah sesuai disandingkan dengan berbagai aksi demonstrasi tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;br /&gt;Identitas kota&lt;/h4&gt;
Desain ini juga memasukkan unsur identitas kota Banda Aceh. Hal ini dinisbatkan pada Hari Jadi Kota Banda Aceh, 22 April, di mana hari jadi sebuah kota adalah sesuatu yang memorable bagi setiap masyarakat kotanya. 22 Buah jumlah lampu taman adalah bermakna tanggal jadinya Kota Banda Aceh, sedangkan 4 tingkatan tugu ini bermakna bulan jadinya Kota Banda Aceh (April).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk tugu didesain ikonik dan estetis dengan konsep bentuk modern dan dinamis sebagai etalase penada kawasan Simpang Lima Banda Aceh. Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa tugu ini tidak didesain untuk sekadar menjadi sculpture atau landmark kota, namun juga fungsional sebagai ruang publik kota. Desain Tugu Simpang Lima ini diharapkan mampu menggambarkan nilai seni, filosofi, karakter, dan cita-cita yang mencerminkan keberadaan, dinamika, dan orientasi futuristik, baik bagi wilayah maupun warga kotanya, dengan mempertimbangkan keharmonisan dengan konteks lokasi kawasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugu Simpang Lima ini direvitalisasi oleh Bank Bukopin bekerja sama dengan Pemerintah Kota Banda Aceh. Oleh karena itu salah satu konsep yang di transformasikan dalam desain adalah 3 dari 5 budaya Perusahaan Bukopin: respect others, excellent, dan dedicated to customers. Ketiga budaya tersebut diterjemahkan dengan menghadirkan desain yang respek terhadap kebutuhan masyarakat kota, memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitar, dan berkontribusi terhadap perkembangan Kota Banda Aceh. Pada setiap ujung tugu juga akan dipasang kamera CCTV.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberadaan Tugu Simpang Lima bagi warga Kota Banda Aceh diharapkan dapat menimbulkan rasa bangga dan cinta kotanya, serta menimbulkan apresiasi, inspirasi, dan daya tarik bagi para pemangku kepentingan dalam beraktivitas membangun Kota Banda Aceh. Harapan ke depan, bukan hanya tugu saja yang diperindah, Pemko Banda Aceh juga dapat menata kawasan Simpang Lima secara keseluruhan seperti jalur pejalan kaki, papan reklame, dan lain-lain. Semoga!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ditulis oleh &lt;b&gt;Zulhadi Sahputra, ST, MT. dan Dr. Ir. Izziah, M.Sc.&lt;/b&gt;, Dosen Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://aceh.tribunnews.com/2017/06/03/tugu-simpang-lima-yang-inspiratif" rel="nofollow" target="_blank"&gt;Serambi Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3qF2l62EmKku_8rLDNYQYGDyjKOF7ord4ltrcqphQjKPD9pJpK6UkWIWCpamU7jv3YCqcuJ1VrtaqeaPpZu2-kgZPbdd00mmxsk0Jg0Oe7WJ0k45v_7sfWdHSLKuxsIvs557ccI-wTj8/s72-c/Tugu+simpang+5+banda+aceh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Dua Seniman Aceh Gelar Silaturahmi Budaya ke Jakarta</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/dua-seniman-aceh-gelar-silaturahmi-budaya-ke-jakarta.html</link><category>Apresiasi</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Thu, 8 Jun 2017 11:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-830197507141544544</guid><description>Dua seniman Aceh, yang juga pengajar pada Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dedy Kalee dan Teuku Afifuddin melangsungkan kunjungan silaturrahmi dengan tokoh Aceh di Jakarta, Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH, yang merupakan Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Geografi Tawaran Geografi Lemhanas) di Jakarta, Selasa (6/6/2017).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfCME_zpc0DoP483mK3DAEek7gUD1G6UgEH9TYdcqRHVbRqSrU9ILFIJrUVTcfPecbLchyM1l-kNWRU38sjs473rGBZ42bB9N59ZTd2_vzgs6FtSozIClPFYYVBfDCkw1kfF1Ng3DS9wI/s1600/dua-seniman-aceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Dua Seniman Aceh Gelar Silaturahmi Budaya ke Jakarta" border="0" data-original-height="393" data-original-width="700" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfCME_zpc0DoP483mK3DAEek7gUD1G6UgEH9TYdcqRHVbRqSrU9ILFIJrUVTcfPecbLchyM1l-kNWRU38sjs473rGBZ42bB9N59ZTd2_vzgs6FtSozIClPFYYVBfDCkw1kfF1Ng3DS9wI/s320/dua-seniman-aceh.jpg" title="Dua Seniman Aceh Gelar Silaturahmi Budaya ke Jakarta" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Seniman Aceh Deddy Kalee (kiri) dan Teuku Afifuddin (kanan) saat bersilaturrahmi dengan Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin SH SIP MH, di Jakarta, Selasa (6/6/2017).&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pertemuan tersebut, Mayjen Abdul Hafil Fuddin mengingatkan kepada generasi muda Aceh agar tidak melupakan nilai-nilai tradisi Aceh yang berbasis Islam. Dalam hal ini, Mayjen Hafil Fuddin mencontohkan kemajuan bangsa-bangsa seperti India, China, Jepang, dan Korea yang sejatinya karena salah satunya ditopang kekuatan tradisi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bangsa -bangsa itu maju, lantaran mereka bangsa yang kuat dengan tradisi dan menjadi pendorong kemajuan bangsanya. Nah, bagaimana agar seni mampu mengubah cara pandang orang Aceh untuk mencapai kemajuannya, ini yang harus terus dikembangkan. Seni budaya Aceh itu basisnya adalah Islam," ujar Mayjen Hafil Fuddin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurutnya, dalam wilayah geografi, bukan hanya dimaknai sebagai wilayah semata, melainkan ada yang disebut dengan kultural geografik, mencakupi wilayah budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Di sinilah peran penting budaya itu, mendorong dan mengubah cara pandang masyarakat. Dan itu tugas Anda sebagai seniman," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan silaturrahim yang merupakan bagian dari rangkaian silaturrahmi budaya kepada berbagai pihak di Jakarta itu juga menyinggung peran ISBI Aceh, apakah mampu memainkan peran mengubah karakter manusia Aceh atau tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kembali, itu ISBI Aceh yang bisa menjawabnya," tambah Abdul Hafil yang juga dikenal sebagai tokoh pembina olahraga nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deddy Kalee dan Teuku Afifuddin mengaku mendapat banyak masukan dari pertemuan informal tersebut. "Kami generasi muda Aceh, harus terus menggali nilai nilai tradisi. Pandangan Pak Hafil makin memperkuat tekad kami menyelami nilai-nilai tradisi Aceh dan mengimplimentasikannya dalam karya-karya kreatif kami," ujar Deddy Kalee, yang dikenal sebagai perupa, pembuat dan peniup alat musik Aceh seureune kalee.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Teuku Afifuddin, selain dikenal sebagai organisatoris seni yang terampil, juga seorang penyair dan akademisi seni, menamatkan pendidikan megister seni dari ISI Padangpanjang. Keduanya, Deddy dan Afif juga diagendakan bersilatirrahim dengan seniman Aceh lainnya yang berdomisili di Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://aceh.tribunnews.com/2017/06/07/dua-seniman-aceh-gelar-silaturahmi-budaya-di-jakarta" rel="nofollow" target="_blank"&gt;AcehTribunnews&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjfCME_zpc0DoP483mK3DAEek7gUD1G6UgEH9TYdcqRHVbRqSrU9ILFIJrUVTcfPecbLchyM1l-kNWRU38sjs473rGBZ42bB9N59ZTd2_vzgs6FtSozIClPFYYVBfDCkw1kfF1Ng3DS9wI/s72-c/dua-seniman-aceh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Laksamana Keumalahayati Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/laksamana-keumalahayati-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Thu, 8 Jun 2017 09:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-2137123889027852249</guid><description>JAKARTA - Seluruh fraksi di Komisi X DPR RI menyatakan dukungan penuh, diusulkannya Laksamana Pocut Meurah Keumalahayati sebagai pahlawan nasional. Menindaklanjuti gagasan tersebut, Pemerintah Aceh diminta mengajukan usulan secara tertulis kepada Presiden melalui Menteri Sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persetujuan penuh fraksi-fraksi Komisi X itu dicapai dalam rapat dengar pendapat umum Komisi X dengan pengurus organisasi Kongres Wanita Indonesia (Kowani), di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/6/2017).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFfbsGNF0oJEUfKBSvmPqEZva99aNivQQOQKUJQ_Z-GTTp41MINnJlog7fYuvIXxDV75jWaEH8j9t2jDJj2VEeo7hYnY3npUSaxeTeoRhqxzIXrJ5Ck27gz4SIo0TiV7C9o_baZ_9Ifqs/s1600/Keumalahayati.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="393" data-original-width="700" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFfbsGNF0oJEUfKBSvmPqEZva99aNivQQOQKUJQ_Z-GTTp41MINnJlog7fYuvIXxDV75jWaEH8j9t2jDJj2VEeo7hYnY3npUSaxeTeoRhqxzIXrJ5Ck27gz4SIo0TiV7C9o_baZ_9Ifqs/s320/Keumalahayati.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ketua Komisi X DPR, Teuku Riefky Hasrya, bersama pengurus Kowani, dan Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'ala, cucu sultan terakhir Aceh (kedua dari kanan), di ruang rapat Komisi X DPR RI dalam rapat usulan Laksamana Keumalahayati menjadi Pahlawan Nasional&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rapat yang dipimpin Ketua Komisi X, Teuku Riefky Harsya tersebut dihadiri Ketua Umun Kowani, Dr Ir Giwo Rubanto Wiyogo MPd, Sekjen Kowani, Titien Pamudji SIP, dan sejumlah pengurus Kowani lainnya. Rapat tersebut juga dihadiri Sultanah Putroe Safiatuddin, Cahaya Nur’alam, cucu sultan terakhir Aceh, Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah, dan penulis sejarah Aceh, Pocut Haslinda Syahrul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketua Komisi X DPR RI, Teuku Riefky Harsya, menyatakan Komisi X akan meminta kepada Pimpinan DPR RI mengeluarkan Surat Rekomendasi terhadap usulan pencalonan Laksamana Keumalahayati sebagai pahlawan nasional kepada Pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kesepakatan seluruh fraksi adalah menyetujui diusulkannya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional. Kami mendukung 1000 persen,” ucapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide direkomendasikannya kepahlawanan Keumalahayati diajukan Kowani, federasi dari 90 organisasi wanita tingkat nasional yang berdiri sejak 22 Desember 1928. Organisasi tersebut sepakat merekomendasikan Laksamana Keumalahayati sebagai pahlawan nasional, setelah mempelajari sejarah dan sepak terjang Keumalahayati yang memimpin Armada Laut Kesultanan Aceh pada abad ke-16.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Peran dan kebesaran Keumalahayati adalah fakta. Itu bukan dongeng. Bangsa Indonesia memiliki teladan seperti Keumalahayati, karenanya kami sepakat merekomendasikannya sebagai pahlawan nasional,” kata Ketua Umum Kowani Giwo Rubanto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Giwo juga menjelaskan, Laksamana Keumalahayati adalah laksamana perempuan muslim dunia pertama yang memimpin armada perang. Kesatuan TNI Angkatan Laut telah pula mengabadikan nama Keumalahayati dalam kapal perang KRI Keumalahayati pada 1987. Nama Keumalahayati juga ditabalkan sebagai nama sejumlah gedung, rumah sakit, serta lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sehingga Kowani sangat ingin Laksamana Keumalahati diusulkan sebagai pahlawan nasional,” kata Giwo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Giwo juga mengatakan, menambahkan pengukuhan kepahlawanan Keumalahayati harus dilakukan melalui usulan tertulis dari Gubernur Aceh. Usulan paling lambat sudah harus diterima Menteri Sosial sebelum 16 Juni 2017, sehingga bisa dikukuhkan pada 10 November 2017.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut keterangannya, Kowani sudah menyurati Gubernur Aceh, tapi belum memperoleh respon.”Kita harapkan melalui Komisi X, bisa menindaklanjuti hal ini,” ujanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disebutkan saat ini baru ada 12 pahlawan wanita Indonesia, yaitu Martha Christina Tiahuhu, Nyi Ageng Serang, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, RA Kartini, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyi. Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Po Daeng Risaju, Fatmawati Soekarno, Siti Hartinah Soeharto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFfbsGNF0oJEUfKBSvmPqEZva99aNivQQOQKUJQ_Z-GTTp41MINnJlog7fYuvIXxDV75jWaEH8j9t2jDJj2VEeo7hYnY3npUSaxeTeoRhqxzIXrJ5Ck27gz4SIo0TiV7C9o_baZ_9Ifqs/s72-c/Keumalahayati.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Syeikh Abdelrahman Eldesouky Tak Sanggup Menahan Haru Saat Masuk Baiturrahman</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/syeikh-abdelrahman-eldesouky-tak-sanggup-menahan-haru-saat-masuk-baiturrahman.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Thu, 8 Jun 2017 09:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-7238677465163916714</guid><description>Saat Syeikh Abdelrahman saat memimpin shalat di Masjid utama di negeri yang dijuluki Serambi Mekkah ini, pada malam pertama Ramadhan 1438 H, atau Jumat (26/5/2017) lalu, tak sanggup menahan haru. Ini adalah pertama kalinya memasuki Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;“Saya menangis terharu melihat antusiasme masyarakat melaksanakan shalat Tarawih di Masjid (Baiturrahman). Sampai memacetkan beberapa ruas jalan di sekitar masjid,” ungkap Syeikh asal Mesir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGddC55A105jaPu4CxoO5_awpWoQxFKFMwsRPeWhw3o0GpV2CiXMDbX19Uy4zCrN4Y3ydPVb-8Z3xHQgnseSvVeV6LhQJFBr3RV5oW3ZshRnZYHAbWjf3GqVvhdq5gir-ctLjqLMUSP8s/s1600/syeikh-abdelrahman-eldesouky.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Syeikh Abdelrahman Eldesouky" border="0" data-original-height="393" data-original-width="700" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGddC55A105jaPu4CxoO5_awpWoQxFKFMwsRPeWhw3o0GpV2CiXMDbX19Uy4zCrN4Y3ydPVb-8Z3xHQgnseSvVeV6LhQJFBr3RV5oW3ZshRnZYHAbWjf3GqVvhdq5gir-ctLjqLMUSP8s/s320/syeikh-abdelrahman-eldesouky.jpg" title="Syeikh Abdelrahman Eldesouky" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Syeikh Abdelrahman Eldesouky&amp;nbsp;Tak Sanggup Menahan Haru Saat Masuk Baiturrahman&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu disampaikan Syeikh Abdelrahman bernama lengkap Syeikh Abdelrahman Eldesouky Taha Radwan dalam bahasa Arab di tempat penginapannya di Hotel Grand Permata Hati, Ulee Lheue, Banda Aceh, didampingi oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh, Ustaz Fachruddin Lahmuddin SAg MPd, sekaligus bertindak sebagai penerjemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikh kelahiran Gharbiah, Mesir, 12 Mei 1964 ini melanjutkan, suasana Tarawih di Masjid Baiturrahman malam itu benar-benar mengingatkan dirinya seperti sedang berada di Masjidil Haram, Mekkah dimana jamaah berdesak-desakan untuk shalat dan melaksanakan berbagai ibadah lainnya kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Syeikh Abdelrahman, ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya di bumi Serambi Mekkah. Ia diundang oleh Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Aceh dan Pemerintah Aceh untuk menjadi imam shalat Tarawih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh selama sebulan penuh dalam Ramadhan tahun ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syeikh Abdelrahman menuturkan, salah satu motivasi dirinya memenuhi undangan DMI Aceh adalah karena ingin melihat dan membuktikan langsung semangat keagamaan dan beribadah masyarakat Aceh. Sebab selama ini dirinya hanya mendengar Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya muslim dan memiliki semangat keagamaan yang cukup baik. “Saat saya tiba ke Aceh, ternyata informasi itu benar-benar terbukti,” ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Direktur Lembaga Alquran Universitas Al-Azhar di Provinsi Gharbiah ini juga merasa tak keliru memilih untuk memenuhi undangan ke Aceh pada Ramadhan 1438 Hijriah tahun ini. Sebab, ia merasa penyambutan yang diterimanya luar biasa atau jauh lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya. Baik makanan, tempat tinggal, atau fasilitas lain yang diterimanya tak ada yang kurang sesuatu apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, saya merasa datang ke Aceh seperti masuk ke rumah keluarga sendiri. Saya tidak merasa sebagai orang asing di sini, apalagi umat muslim Aceh menurut saya sangat mencintai agamanya. Insya Allah saya bisa menyelesaikan tugas selama sebulan di Aceh,” ungkap Syeikh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, tahun ini Syeikh juga menerima undangan untuk menjadi imam Tarawih dari komunitas muslim di Australia. “Tapi, karena ingin melihat Aceh dan sudah terbiasa dengan komunitas Melayu, makanya saya lebih memilih datang ke Aceh. Sebelumnya saya juga pernah memenuhi undangan muslim di Prancis,” ungkap Syeikh yang memiliki empat anak ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakan, dirinya memenuhi undangan ke berbagai negara khusus pada bulan Ramadhan. Sebab, di luar bulan Ramadhan ia harus melaksanakan tugas rutin sebagai Direktur Lembaga Tahfiz Alquran Al-Azhar di Provinsi Gharbiah, Mesir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal makanan yang disuguhkan kepadanya selama di Aceh, Syeikh Abdel Rahman mengatakan, makanan di Aceh tak jauh beda dengan di Malaysia. “Saya sudah sangat terbiasa dengan makanan Melayu karena sudah 12 tahun datang ke Malaysia setiap bulan Ramadhan. Jadi, makanan di Aceh tak masalah bagi saya. Yang penting, makanannya halal dan tidak berbahaya bagi kesehatan,” timpal Syeikh yang saat itu memakai busana kebesaran Universitas Al-Azhar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga mengatakan, perhatian untuk membangun, memelihara, dan memakmurkan masjid di Aceh mungkin nomor dua di dunia setelah Arab Saudi.&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan datangnya bulan Ramadhan tahun ini, ia mengajak seluruh umat Islam untuk bersyukur kepada Allah SWT karena sudah dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh dengan rahmat, ampunan (maghfirah), dan pembebasan dari api neraka ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jadi, mari kita manfaatkan kelebihan-kelebihan bulan suci ini. Gunakan bulan latihan menahan hawa nafsu ini untuk mencapai derajat takwa yang permanen agar sepanjang hayat kita tetap taat dan ikut perintah Allah SWT. Mudah-mudahan semua amalan yang kita kerjakan selama Ramadhan, dapat terus berlanjut di luar bulan Ramadhan,” pesan Syeikh.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGddC55A105jaPu4CxoO5_awpWoQxFKFMwsRPeWhw3o0GpV2CiXMDbX19Uy4zCrN4Y3ydPVb-8Z3xHQgnseSvVeV6LhQJFBr3RV5oW3ZshRnZYHAbWjf3GqVvhdq5gir-ctLjqLMUSP8s/s72-c/syeikh-abdelrahman-eldesouky.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Proyek Jembatan Krueng Tingkeum Terbengkalai, Masyarakat Menyeberang Menggunakan Rakit</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/proyek-jembatan-krueng-tingkeum-terbengkalai-masyarakat-menyeberang-menggunakan-rakit.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Thu, 8 Jun 2017 09:18:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-189724114227596432</guid><description>&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;BANDA ACEH -- Proyek
pembangunan jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten Bireuen, masih
terbengkalai. Karenanya masyarakat sekitar harus menggunakan rakit untuk
menyeberang. Sementara kondisi badan jalannya yang juga belum teraspal menyebabkan
musim kemarau banyak debu, sedangkan pada musim hujan, badan jalannya menjadi becek.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2JZY2Bl40jXkX2-oWCz9W784n2GLFriUyvxsFL-Y21zpPDHFdTH5euT4Nb0_WWOrAhFU1LbRtFgadEO2z68cmDBw8kzRgSrlW-dU6LJkU_7V2Gcet20hI3eNYf9Abm4SpEaEwzVKrsa8/s1600/warga-menyeberangi+krueng+tingkeum.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Jembatan Krueng Tingkeum Terbengkalai" border="0" data-original-height="393" data-original-width="700" height="179" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2JZY2Bl40jXkX2-oWCz9W784n2GLFriUyvxsFL-Y21zpPDHFdTH5euT4Nb0_WWOrAhFU1LbRtFgadEO2z68cmDBw8kzRgSrlW-dU6LJkU_7V2Gcet20hI3eNYf9Abm4SpEaEwzVKrsa8/s320/warga-menyeberangi+krueng+tingkeum.jpg" title="Jembatan Krueng Tingkeum Terbengkalai" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jalan alternatif yang terlalu jauh, masyarakat memilih menumpang boat untuk menyeberangi Krueng Tingkeum, Kutablang, Bireuen, dengan harus membayar Rp. 5.000 untuk sekali jalan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Sejak
jembatan itu dibongkar maret lalu, masyarakat yang berada di sebelah
kanan sungai (Banda Aceh-Medan), yaitu Desa Tingkeum Baro, Pulo Reudeup,
Geulanggang, Muenje, Cot Ara, dan lainnya yang hendak ke pasar Kutablang harus
putar jalan sepanjang 8,5 km, melintasi jembatan rangka baja Mon Kelayu, jalan
Samuti Aman, dan terakhir ke ujung jembatan sebelah timur, baru bisa tiba ke
pasar Kutablang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Sementara
asyarakat yang berada di sebelah kiri sungai (Medan-Banda Aceh) yang ingin ke
Matanggeulumpang Dua harus putar jalan sepanjang 7,5 km melintasi jalan Desa
Tingkeum Manyang, Blang Mee, Pante Baro, Kubu, melewati jembatan rangka baja
Pante Lhong terus ke simpang empat Gie Kapal, kembali ke jalan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Dalam
sebulan terakhir, untuk memperpendek rute jalan yang memutar itu, sudah ada
beberapa kelompok masyarakat yang menyediakan rakit penyeberangan. Tarif
penyeberangannya untuk sekali jalan adalah Rp 5.000/sepmor bersama
pengenderanya. Tak tanggung-tanggung, kadang dalam satu hari, ada dua sampai
empat kali masyarakat harus menyeberang, biayanya bisa mencapai Rp 20.000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Sedikit
kemudahan itu hanya dirasakan oleh pengguna sepeda motor, tidak dengan
kendaraan lainnya. Kendaraan seperti mobil penumpang umum, barang, dan mobil
pribadi, terpaksa harus melintasi jalan alternative yang panjang berlekok dan
berdebu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Mendapat
laporan tersebut, Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah meminta kepada Satker Jalan
Nasional I Aceh yang bertanggung jawab terhadap pembangunan kembali jembatan
Krueng Tingkeum tersebut agar bisa mempercepat pelaksanaan pembangunannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;“Hampir
setiap hari masyarakat yang berada di jalur alternatif mempertanyakan kepada
kami, kapan pembangunan jembatan Krueng Tingkeum yang terletak di ruas jalan
nasional tersebut dibangun kembali. Mereka sudah tak tahan dengan debu jalan
dan harus mengeluarkan dana Rp 5.000 untuk satu kali penyeberangan naik rakit,”
kata Zaini Abdullah pada pertemuan dengan Kepala Balai PU Jalan Nasional I
Aceh, Faturrahman dan sejumlah Kasetker maupun PPK Jalan Nasional, Senin (5/6/2017)
malam di Pendapa Gubernur Aceh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;&lt;span style="color: #323233;"&gt;Selanjutnya,
Gubernur Zaini mengingatkan kepada Kasatker dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
Jalan Nasional Wil I Aceh, untuk terus memelihara rute jalan alternatif&lt;/span&gt;&lt;span class="apple-converted-space" style="color: #323233;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #016fba; text-decoration-line: none;"&gt;Jembatan&lt;/span&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Krueng Tingkeum itu dengan baik mengingat tiga minggu lagi sudah masuk kegiatan
angkutan Lebaran yang pastinya aktivitas dan volume kendaraan meningkat dari
kondisi normalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Menanggapi
permintaan Zaini tersebut, Kepala Kasatker PU Jalan Nasional I Aceh,
Faturrahman Raden, didampingi Kasatker dan PPK-nya mengatakan, proses tender
proyek pembangunan jembatan Krueng Tingkeum itu telah selesai dan pemenangnya
juga sudah ada, yaitu PT Reskarya Joint Operational dengan perusahaan lokal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Menurut
laporan kontraktor, kata PPK Kasatker Jalan Nasional, Amri, kontraktor pemenang
proyek jembatan Tingkeum saat ini sedang dalam pengiriman besi tiang pancang
jembatan dari Lampung ke Aceh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Menunggu
tiba tiang pancang jembatan di lokasi, sekaranag ini kontraktor telah melakukan
persiapan pekerjaan, apa saja yang bisa dikerjakan lebih dulu, akan dikerjakan.
Misalnya, melakukan pengukuran untuk pembangunan kepala jembatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Tanggung
jawab lainnya, lanjut Amri, pemeliharaan badan jalan alternatif. Jalan yang
berlubang ditimbun dan kemudian digilas pakai mesin gilas untuk memeratakannya.
Setiap hari sudah disediakan dua alat berat untuk meratakan badan jalan yang
berlubang tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Sementara
itu, Kapolres Bireuen, AKBP Riza Yulianto SE SH menilai, kondisi ruas jalan
alternatif sebelah utara jembatan Krueng Tingkeum, Kutablang, Kabupaten
Bireuen, dapat dianggap memadai. Kendaraan besar, sedang, maupun kecil bisa
melintas, namun dibeberapa tempat memang telah berlubang dan bergelombang, sehingga
itu perlu segera diperbaiki, mengingat tak lama lagi akan memasuki mudik
lebaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background: white; margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"&gt;
&lt;span style="color: #323233; font-family: &amp;quot;arial&amp;quot; , &amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 13.0pt;"&gt;Menurut
informasi yang dihimpun, 48 tiang pancang dan perangkat lainnya untuk
pembangunan jembatan Krueng Tingkeum yang didatangkan dari Jakarta kini dalam
perjalanan ke Bireuen. Diperkirakan, pada 20 Ramadhan tiang-tiang pancang
tersebut tiba ke Bireuen. Sedangkan pembangunan jembatan baru akan dimulai
seusai Lebaran Idul Fitri dan akan rampung akhir Desember 2017.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2JZY2Bl40jXkX2-oWCz9W784n2GLFriUyvxsFL-Y21zpPDHFdTH5euT4Nb0_WWOrAhFU1LbRtFgadEO2z68cmDBw8kzRgSrlW-dU6LJkU_7V2Gcet20hI3eNYf9Abm4SpEaEwzVKrsa8/s72-c/warga-menyeberangi+krueng+tingkeum.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/sosok-dibalik-meledaknya-kutidhing-syekh-ghazali-lkb-mengaku-kembangkan-musik-berawal-dari-ejekan.html</link><category>Apresiasi</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Tue, 6 Jun 2017 03:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-2938849019746967723</guid><description>Anda tentunya sudah tidak asing lagi dengan lagu Kutidhing dan Rihon
Meulambong yang dipopulerkan Liza Aulia. Begitu juga dengan lagu Hasan Husen
yang dibawakan Rafli. Namun, hanya sedikit yang tahu siapa sosok dibalik
meledaknya lagu-lagu itu di pasaran. Dialah Syekh Ghazali LKB, sang produser perusahaan
rekaman Kamoe Sajan Gata atau yang lebih dikenal dengan Kasga Record.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIn6P2BqWZZd6UQ1_4e6y1pGhfK_MYw-n2CbDAi04IINq79szk3jn6TGknF11SLdy7IaJgncl4vNVcNV2iKXmBTkPRZuxlVxos-SxHwTe2XXXtKxHuV6ECD2wCTeSqE-YfN8ZRm706ho/s1600/liza+aulia_kutidhing.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan" border="0" data-original-height="800" data-original-width="913" height="280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIn6P2BqWZZd6UQ1_4e6y1pGhfK_MYw-n2CbDAi04IINq79szk3jn6TGknF11SLdy7IaJgncl4vNVcNV2iKXmBTkPRZuxlVxos-SxHwTe2XXXtKxHuV6ECD2wCTeSqE-YfN8ZRm706ho/s320/liza+aulia_kutidhing.png" title="Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sosok Dibalik Meledaknya Kutidhing, Syekh Ghazali LKB Mengaku Kembangkan Musik Berawal Dari Ejekan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Om Syekh, begitu ia biasa disapa, adalah pria kelahiran Samalanga, 17
Agustus 1963 silam. Ia mulai berkecimpung di dunia musik Aceh sejak tahun 1998 saat
pertama kali membentuk Kasga Record. Namun, Jauh sebelum itu ada cerita menarik
untuk diulik dan menjadi titik balik perjalanannya dalam mengembangkan musik
Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era tahun 80-an, ia merantau ke Jakarta. Disana, ia mempunyai teman dari
berbagai suku seperti Sunda, Jawa dan Batak. Mereka sering berkumpul dan
menyanyi dengan membawakan lagu-lagu khas daerah mereka. Sampai tibalah giliran
Syekh Ghazali untuk bernyanyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria yang hobi membaca ini pun kebingungan akan menyanyikan lagu apa. Ia akhirnya
menyanyikan lagu Bungong Jeumpa, lagu wajib daerah Aceh yang sudah dikenal di
seluruh Indonesia. Namun, tembang yang ia nyanyikan mendapat tanggapan dingin
dari rekan-rekannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ada salah satu teman yang kerap menyindirnya. “masak cuma lagu
Bungong Jeumpa saja dari dulu dibawakan Aceh, lagu lain mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tentu pasti sindiran itu membuat Om Syekh tersinggung. “Suatu saat
nanti saya akan membuat lagu Aceh dan memperkenalkan lagu Aceh pada mereka,” batin
Syekh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berawal dari kejadian itu semangat dan motivasi untuk memajukan Aceh di
bidang musik pun mulai dalam dirinya. Setelah ia kembali ke Aceh pada tahun 1993,
ia mulai merintis usaha untuk mengumpulkan modal. Kala itu ia pernah menyewakan
buku dan novel miliknya dengan sistem antar jemput dan dari pintu ke pintu. Ia
juga menyulap ruang tamu rumahnya menjadi ruang baca. Selain itu, ia juga
menjadi distributor Teka Teki Silang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah memiliki sedikit modal, pada Tahun 1998 ia pun mulai belajar menjadi
produser pada Ibnu Arhas, yakni salah seorang musisi Aceh yang karya-karyanya
cukup digemari oleh masyarakat. Pada 2001, ia dikenalkan dengan Rafli oleh
seorang temannya. Tahun 2002 ia mengeluarkan karya perdananya yaitu Cut Intan,
Ainal Mardhiah dan Hasan Husen. Tahun 2003 ia memproduksi album Cut Miranda dan
Rapai Kolaborasi Etnik Trendi (Raket).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pada Ibnu Arhas, ia juga menimba ilmu pada Cut Rosmawar. Dengan
banyaknya lagu-lagu Aceh yang diproduksinya, ia telah membuktikan kepada
teman-temannya dulu bahwa lagu Aceh bukan hanya Bungong Jeumpa dan Bungong
Seulanga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;


















&lt;br /&gt;
Berkat kerja kerasnya dalam memajukan musik Aceh, 2014 lalu ia pun mendapat Anugerah
Banda Aceh Madani 2014 oleh Wali Kota Banda Aceh sebagai pelopor musik etnik
Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWIn6P2BqWZZd6UQ1_4e6y1pGhfK_MYw-n2CbDAi04IINq79szk3jn6TGknF11SLdy7IaJgncl4vNVcNV2iKXmBTkPRZuxlVxos-SxHwTe2XXXtKxHuV6ECD2wCTeSqE-YfN8ZRm706ho/s72-c/liza+aulia_kutidhing.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/06/anzib-lamnyong-maestro-aceh-pencipta-lagu-aceh-loen-sayang.html</link><category>Apresiasi</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Sat, 3 Jun 2017 10:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-2007935767706446035</guid><description>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 2;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lagu &lt;b&gt;Tanoh Lon Sayang&lt;/b&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;lagu Wajib Daerah Aceh selain Bungong Jeumpa dan Aneuk Yatim.
Lagu ini memang sangat terkenal dikalangan masyarakat Aceh dan dan telah
terpilih menjadi lagu Wajib Daerah Aceh pada tahun 2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; mso-outline-level: 2;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Sementara itu, ada beberapa sumber yang mengatakan dan meyakini bahwa lagu &lt;b&gt;Tanoh
Lon Sayang&lt;/b&gt; merupakan ciptaan &lt;b&gt;Anzib
Lamnyong &lt;/b&gt;seorang diri&amp;nbsp;dengan judul asli &lt;b&gt;Aceh Lon
Sayang&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Tanoh Lon
Sayang yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;dipercaya merupakan ciptaan komponis
&lt;b&gt;T. Djohan&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Anzib Lamnyong&lt;/b&gt; pun menjadi sedikit kontrofersi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMmdRRqziBlQq-uMXSenAJDiV-Z-1hxgFs1YHaVy4kOk7SCeN0WeQBzg66v7jkbjIbSlgqfiw2eMatM0XlukoUw5eeTUkg2-l2r9tOITo7KDlqyISyvmn5uG7hF_jml3M5CRG7izoUyzw/s1600/14550030_1180609962027486_1435396122070745088_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang" border="0" data-original-height="480" data-original-width="480" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMmdRRqziBlQq-uMXSenAJDiV-Z-1hxgFs1YHaVy4kOk7SCeN0WeQBzg66v7jkbjIbSlgqfiw2eMatM0XlukoUw5eeTUkg2-l2r9tOITo7KDlqyISyvmn5uG7hF_jml3M5CRG7izoUyzw/s320/14550030_1180609962027486_1435396122070745088_n.jpg" title="Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Anzib Lamnyong, Maestro Aceh Pencipta Lagu Aceh Lon Sayang&lt;br /&gt;
(Foto: Pictaram.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Menurut ulasan music.or.id,
mereka mengatakan bahwa Lagu Aceh Lon Sayang termaktub di halaman pertama buku &lt;b&gt;Irama Dairah Atjeh&lt;/b&gt; dengan judul ‘&lt;b&gt;Atjeh Lon Sajang&lt;/b&gt;’.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mereka percaya, T.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Djohan dan Anzib Lamnyong memang telah
menghasilkan banyak lagu yang sekarang dianggap sebagai warisan endatu, seperti
lagu &lt;i&gt;Mars Iskandar Muda, Cut Nyak Dhien, Bungong Keumang, Teungku Tjhik Di
Tiro, Teuku Oemar&lt;/i&gt;, dan lain-lain. Tetapi, setelah menemukan bukti tertulis tersebut,
mereka percaya bahwa judul asli lagu &lt;/span&gt;&lt;b style="font-size: 12pt;"&gt;Tanoh
Lon Sayang&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt; adalah &lt;/span&gt;&lt;b style="font-size: 12pt;"&gt;Aceh Lon Sayang&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;,
dan diciptakan oleh sang maestro musik Aceh, almarhum &lt;/span&gt;&lt;b style="font-size: 12pt;"&gt;Anzib Lamnyong&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Semasa hidupnya, Anzib Lamnyong telah
menciptakan ratusan lagu yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu &lt;b&gt;Irama Daerah Atjeh&lt;/b&gt; (1916-1967), &lt;b&gt;Buhu Atjeh&lt;/b&gt; (1950-an) dan &lt;b&gt;Irama Atjeh Baroe&lt;/b&gt; (sejak 1964).
&amp;nbsp;Lagu Aceh Lon Sayang termasuk lagu-lagu yang diciptakannya pada masa IDA,
dibuat tahun 1955 dan diberi nomor 50. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Menurut mereka, setelah buku itu
diterbitkan (1966), kemungkinan besar pernah ada kolaborasi antara T. Djohan
dan Anzib untuk merubah lagu tersebut, sehingga T. Djohan juga dianggap sebagai
bagian dari pengarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Selain sebagai seorang Maestro musik
Aceh, Anzib Lamnyong yang memiliki nama asli Abdul Aziz ini juga dikenal
sebagai sastrawan. Pria kelahiran 1892 di Silang Kampung Rukoh (wilayah
Darussalam)&amp;nbsp; Banda Aceh itu juga pernah
menjadi guru di beberapa Sekolah Rakyat dan pensiun pada tahun 1957. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kreatifitasnya bermula sejak tahun
1927 saat ia mulai menulis berbagai cerita pendek untuk dimuat di berbagai
surat kabar terbitan Medan. Namun, sejak tahun 1916 ia telah mengumpulkan berbagai
karya sastra dan budaya Aceh sebagai wujud kecintaannya di bidang bahasa dan
sastra. Anzib juga pernah memberikan kursus bahasa Aceh pada opsir-opsir
Belanda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Karir seninya mulai dibangun sejak
ia belajar bermain biola pada tahun 1914-1916. Karena kepiawaiannya itu, ia
menjadi violis dalam &lt;i&gt;muziek-vereeniging&lt;/i&gt;
Aceh Band yang dipimpin oleh &lt;i&gt;ABC
Theuvenet &lt;/i&gt;antara tahun 1917 sampai 1920. Setelah itu, ia menjadi violis di
Deli Bioskop Kutaraja. Ia juga bergabung dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;Muziek-vereeniging&amp;nbsp;De
Endracht&lt;/i&gt;. Tak puas hati, pada tahun 1922, ia pun mendirikan grup musik
sendiri yang diberi nama &lt;i&gt;laasmuziek&lt;/i&gt; di Lamnyong sampai tahun 1926.
Sesudah itu hampir, ia vakum dalam dunia musik hampit seperempat abad lamanya.
Baru pada tahun 1955 ia kembali bermusik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Setelah kembali bermusik, ia menjadi
violis orkes daerah Indahan Seulawah dan memainkan lagu-lagu daerah yang
disiarkan melalui RRI Kutaraja. Lagu-lagu yang sempat populer waktu itu di
antarnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Atjeh Lon Sayang, Nanggroe Atjeh, Bungong, Sulthan Iskandar
Muda, Gunongan, Prang Atjeh&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan sebagainya yang merupakan karangan
Anzib dan kawan-kawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Tahun 1959, grup ini terpaksa harus
bubar karena perbedaan&amp;nbsp;pendapat antara DA Manua dan Anzib.
DA Manua menginginkan segi-segi hiburan lebih ditingkatkan dengan tidak
semata-mata membawakan lagu-lagu daerah. Perselisihan tersebut terlukis dalam
beberapa catatan harian Anzib. “DA. Manua kurang mengetahui bahwa di daerah
Aceh juga mempunyai lagu-lagu sendiri yang khas,” tulis Anzib dalam catatan
hariannya tahun 1961.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Semasa hidup, Anzib telah menciptakan lebih dari 200 lagu Aceh. Tahun 1974,
ia memperoleh Piagam Penghargaan dari Gubernur Aceh atas jasa dan karyanya di
bidang bahasa dan pendidikan. Anzib Lamnyong akhirnya menghadap sang pencipta dalam
usia 84 tahun di Banda Aceh pada 1976 silam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Lain halnya dengan Anzib Lamnyong, tidak
banyak informasi yang menjelaskan siapa itu T. Djohan. &lt;/span&gt;Sebagian orang
mengaitkannya dengan almarhum Mayjen Teuku Djohan yang pernah menjadi Wakil
Gubernur Aceh.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Menurut investigasi yang dilakukan Atjehpost.co dengan putra almarhum Mayjen Teuku Djohan
tersebut yang bernama Teuku Irwan Johan, mengungkapkan tidak benar bahwa ayahnya
merupakan pecipta lagu &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal; mso-bidi-font-style: italic;"&gt;Tanoh Lon Sayang&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;"Almarhum ayah saya, nyanyi pun tidak bisa. Jadi tidak benar kalau pecipta
lagu Tanoh Lon Sayang adalah ayah saya,” ujar Teuku Irwan Johan sebagaimana kami kutip dari Atjehpost.co.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Berarti, besar kemungkinan Teuku Djohan yang dimaksud bukanlah&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mayjen Teuku Djohan yang pernah menjadi Wakil Gubernur Aceh itu&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;. Mungkin Teungku Johan yang lain yang mungkin seorang musikus sahabar dekat Anzib.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Teks Asli Lagu Aceh Lon Sayang&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Menurut berbagai sumber, Lagu Tanoh Lon Sayang sebenarnya
adalah versi pendek dari lagu karya Anzib Lamnyong berjudul Aceh Lon Sayang atau
dalam ejaan lama ditulis ‘Atjeh Lon Sajang’. Meski tak ada bukti konkrit
perubahan lagu Aceh Lon Sayang menjadi Tanoh Lon Sayang adalah kesepakatan
bersama antara Teuku Djohan dan Anzib, yang pasti, lagu Aceh Lon Sayang
diciptakan Anzib seorang diri.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ulasan Atjehpost.co dan musik.or.id menunjukkan lagu versi panjangnya dalam buku karya
Anzib Lamnyong berjudul Irama Dairah Atjeh. Dalam buku yang diterbitkan tahun
1966 itu tertulis bahwa lagu Atjeh Lon Sajang diciptakan tahun&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;dengan
&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 115%;"&gt;tulisan pada kanan atas terdapat tulisan :lagee
ngoen sjaee (lagu dan lirik) ditulis oleh ANZIB.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEIuIL3DZakNycSmNSUOsgB5QGf7714DpVRsqrJDnSFyO5jfmyRFvfxPFjvRC4dgDvR18ScfFy-kp1lYBkK4uPGJlrVIsiAXN99W6u7vfK4JFiG_LNyQ91o-JbwA70Q20pd4fD4VkqMLE/s1600/tulisan+asli+aceh+loen+sayang.png" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="767" data-original-width="454" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEIuIL3DZakNycSmNSUOsgB5QGf7714DpVRsqrJDnSFyO5jfmyRFvfxPFjvRC4dgDvR18ScfFy-kp1lYBkK4uPGJlrVIsiAXN99W6u7vfK4JFiG_LNyQ91o-JbwA70Q20pd4fD4VkqMLE/s320/tulisan+asli+aceh+loen+sayang.png" width="189" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Teks Asli Lagu Aceh Lon Sayang&lt;br /&gt;
(Foto: Atjehpost.co)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Berikut adalah lirik aslinya:&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;ATJEH LON SAJANG&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;1.&lt;br /&gt;
Dairah Atjeh tanoh lon sajang&lt;br /&gt;
Sabab disinan teumpat lon lahe&lt;br /&gt;
Tanoh keuneubah endatu mojang&lt;br /&gt;
Nibak teumpat njan lon udep mate&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Di sinan teumpat gampong
halaman,&lt;br /&gt;
Lampoh deungon blang luah bukon le&lt;br /&gt;
Laot ngon darat seuneubok ladang&lt;br /&gt;
Leupah le sinan djiteuka wase&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;2.&lt;br /&gt;
Mita raseuki tjari makanan,&lt;br /&gt;
Deungon peukajan bandum Tuhan bri&lt;br /&gt;
Hukum sjariat teeebet seumbahjang&lt;br /&gt;
Inong ngon agam geupubuet sare&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Wareh ngon kawom karong ngon
rakan,&lt;br /&gt;
Meuhimpon sinan hana tom meutjre&lt;br /&gt;
Meuaneuk tjutjo lam makmu aman&lt;br /&gt;
Han saeue sinan njang na meuseuke&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Na pat lon peugah susah sukaran&lt;br /&gt;
Bak wareh rakan diuneuen ngon wie&lt;br /&gt;
Na soe tem tem tulong, 'oh matee alang&lt;br /&gt;
Na soe tem tanom, 'oh watee mate&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Keuredja udep na soe peutimang&lt;br /&gt;
Na soeu peuseunang keureudja mate&lt;br /&gt;
Hate njang susah lon rasa seunang&lt;br /&gt;
Atjeh lon sajang sampoe 'an matee&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Pada pengantar buku itu, Anzib
mewanti-wanti bahwa semua syair dalam buku itu baru dapat dinyanyikan oleh
orang lain atas persetujuannya. Ia bahkan melarang mengganti nada
lagunya.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Larangan itu ditulisnya dalam
kalimat seperti ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Bandum sjae ngon panton dalam buku
njoe, maseng-maseng ka na buku iramadji deungon not balok atawa not angka. Bek
sagai-sagai geupeunjanji deungon lagu2 laen. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;(Semua
syair dan pantun dalam buku ini, masing-masing sudah ada iramanya dengan not
balok atau not angka. Jangan sekali-kali menyanyikannya dengan nada
lain).&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Soe njang meunabsu keu buku
iramadji, djeuet geulakee bak peungarangdji deungon geumeurunoe
beukeubit-keubit. Meunjo ka djeuet ka geudeungo le pengarang, baro geubri
peureuseutudjuan, djeuet geumeuen ditempat umum atau Studio RRI. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;(Barang siapa yang ingin iramanya, bisa meminta kepada
pengarangnya dengan syarat dipelajari sungguh-sungguh. Kalau sudah mendapat
persetujuan dari pengarang, barulah boleh dinyanyikan di tempat umum atau di
Studio RRI).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;Buhu ngen sjae dalam buku njoe
nakeuh hak peungarang njang djeuet geutuntut nibak peungadelan meunurot
peuratoran undang2 Negara Republik Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;
(Syair dalam buku ini adalah hak pengarang yang bisa dituntut di pengadilan
menurut undang-undang Negara Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;
PEUNGARANG,&lt;br /&gt;
BANDA ATJEH, DJULI 1966&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMmdRRqziBlQq-uMXSenAJDiV-Z-1hxgFs1YHaVy4kOk7SCeN0WeQBzg66v7jkbjIbSlgqfiw2eMatM0XlukoUw5eeTUkg2-l2r9tOITo7KDlqyISyvmn5uG7hF_jml3M5CRG7izoUyzw/s72-c/14550030_1180609962027486_1435396122070745088_n.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hikayat Prang Sabi, Masterpiece of Aceh yang Melegenda dan Mendunia</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/05/hikayat-prang-sabi-masterpiece-of-aceh-yang-melegenda-dan-mendunia.html</link><category>Apresiasi</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Tue, 30 May 2017 12:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-2807122654089117269</guid><description>Anda pasti pernah mendengar tentang Hikayat Prang Sabi bukan? Lalu apa sebenarnya isi dari Hikayat Prang Sabi yang terkenal itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi&lt;/b&gt;&amp;nbsp;adalah sebuah Mahakarya Aceh berupa sastra berbentuk hikayat yang intinya berisi tentang seruan berperang melawan Belanda. Hikayat Prang Sabi sendiri dituliskan tahun 1881 oleh seorang Ulama Aceh bernama&amp;nbsp;&lt;b&gt;Haji Muhammad&lt;/b&gt; atau yang lebih dikenal sebagai &lt;b&gt;Teungku Chik Pante Kulu&lt;/b&gt;. Teungku Chik Pante Kulu adalah seorang putra Aceh kelahiran Pante Kulu, Kemukiman Titue, Pidie. Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Saat itu, Tengku Chik Pante Kulu yang sudah 28 tahun belajar di Mekkah, memutuskan pulang ke Aceh untuk melawan kolonial Belanda. Besar kemungkinan Hikayat Prang Sabi&amp;nbsp;ditulisnya di atas kapal selama pelayarannya dari Arab ke Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKhnmpB1iH7aRRb0Wic-_kw9RIhsPzK2E5759CYFLnXl9oh-Ti88Wl_5udWORmVK43bDtc0H3rOFNsl5BfCYvV_VL0bbqQsREmoFdPVRuDuNywcRCEGDJqgb7NPRbUUnoxDFhxHItJC0g/s1600/Pengaruh+Hikayat+Prang+Sabi+dalam+Sejarah+Perang+Aceh.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam Sejarah Perang Aceh" border="0" height="225" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKhnmpB1iH7aRRb0Wic-_kw9RIhsPzK2E5759CYFLnXl9oh-Ti88Wl_5udWORmVK43bDtc0H3rOFNsl5BfCYvV_VL0bbqQsREmoFdPVRuDuNywcRCEGDJqgb7NPRbUUnoxDFhxHItJC0g/s400/Pengaruh+Hikayat+Prang+Sabi+dalam+Sejarah+Perang+Aceh.jpg" title="Pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam Sejarah Perang Aceh" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="font-size: 12.8px;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: start;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.8px;"&gt;Teungku Chik Pante Kulu, Penulis&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.8px;"&gt;Hikayat Prang Sabi.&lt;br /&gt;Foto: Ist&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sebagian pendapat yang lain, Hikayat Prang Sabi&amp;nbsp;yang ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu adalah merupakan suruhan Ulama Aceh bernama Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee atau yang lebih dikenal dengan Teungku Chik Tanoh Abee. Hal ini bermula saat Teungku Chik di Tiro Muhammad Saman meminta izin kepada Teungku Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. Saat itu Teungku Chik Tanoh Abee menanyakan pada Pada Teungku Chik di Tiro: “&lt;i&gt;Soe yang muprang dan soe yang taprang&lt;/i&gt;? (Siapa yang berperang dan siapa yang akan diperangi?)”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, Teungku Chik Tanoh Abee merestui Teungku Chik di Tiro untuk mengobarkan peperangan terhadap Belanda. Dalam dukungannya, Teungku Chik Tanoh Abee mengarang sebuah versi Hikayat Prang Sabi dalam bahasa Arab yang dikhususkan untuk Panglima Prang. Sementara itu, ia meminta Teungku Chik Pante Kulu untuk menulis Hikayat Prang Sabi dalam huruf arab berbahasa Aceh yang dikhususkan untuk laskar perang. Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu inilah yang membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad laskar Aceh dalam berperang melawan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi karangan Teungku Chik Pante Kulu&amp;nbsp;adalah pada mukadimah. Bagian ini pula yang menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya hikayat tersebut. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk turun perang. disamping itu juga disebutkan pahala-pahala yang diperoleh bagi orang-orang yang berjihad dalam prang Sabi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahakarya Hikayat Prang Sabi ditulis oleh Teungku Chik Pante Kulu mendapatkan apresiasi yang luar biasa di mata dunia sampai sekarang, juga menjadi momok menakutkan bagi Belanda saat hikayat ini di kumandangkan kala itu. Seorang pengarang Belanda, Zentgraaf pernah menulis, "Para pemuda meletakan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya sastra ini yang sangat menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung. Ini karya sastra yang sangat berbahaya".&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Menurut Zentgraaf, hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi&amp;nbsp;telah menjadi momok yang sangat ditakuti Belanda saat itu, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan (apalagi membaca) Hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi, mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia-Belanda. Sarjana Belanda ini menyimpulkan bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia ini yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali Hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi&amp;nbsp;karya Teungku Chik Pante Kulu dari Aceh. Karenanya, Belanda melarang membaca syair ini hingga tahun 1942.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Seorang sarjana barat lain, Prof. Dr. Anthoni Reid, ahli sejarah bangsa Autralia berkata: "Kegiatan para Ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan popular dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi&amp;nbsp;adalah yang paling masyhur dalam membangkitkan semangat perang suci". Itu sebabnya, Sejarawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat Prang Sabi yang ditulis Tengku Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJengzvXbKTYcr4jNGn1LcVx4Uv5u092mPVxIt3xSR9S18SOt2srnxrsXUXV60tGtcdbD_HOKOhzF9dVjWPmKCcBzxz6GjDMRJVUqkxc_hHe_Re-MTVloIZ8wPVBoPQ6FLmBKmdC4CUJI/s1600/Kitab+Hikayat+Prang+Sabi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Kitab Hikayat Prang Sabi" border="0" data-original-height="254" data-original-width="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJengzvXbKTYcr4jNGn1LcVx4Uv5u092mPVxIt3xSR9S18SOt2srnxrsXUXV60tGtcdbD_HOKOhzF9dVjWPmKCcBzxz6GjDMRJVUqkxc_hHe_Re-MTVloIZ8wPVBoPQ6FLmBKmdC4CUJI/s1600/Kitab+Hikayat+Prang+Sabi.jpg" title="Kitab Hikayat Prang Sabi" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kitab Hikayat Prang Sabi yang Melegenda. &lt;br /&gt;
Foto: Ist&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Hasjmy, Kitab Hikayat Prang Sabi adalah hikayat perang suci yang dibacakan dihalayak ramai dengan dua tujuan utama. Pertama untuk merekrut (mobilisasi) para pemuda (rakyat) untuk berperan aktif dalam perang melawan penjajahan Belanda. Kedua, untuk mengumpulkan biaya perang secara cepat dan praktis. Dengan demikian, kedua tujuan itu dicapai dengan sangat baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut sebagian pendapat, Hikayat Prang Sabi biasanya didendangkan oleh seorang tukang cerita (&lt;i&gt;Shahibul Hikayat)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dengan suaranya yang khas, sementara beberapa orang yang lain akan berperan aktif dibagian-bagian hikayat yang menggugah perasaan mereka seperti menunjukan kebencian terhadap kafir penjajah atau dalam kalimat-kalimat tauhid yang dibacakan dalam syair&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;. &lt;/i&gt;Memang, dalam kitab Hikayat&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Prang Sabi&amp;nbsp;sangat banyak dijumpai kalimat-kalimat tauhid, terutama saat terjadi pergantian dari satu kisah ke kisah yang lain. Maka, dapat kita bayangkan betapa besar efeknya saat kalimat ikhlas tersebut berkumandang bergemuruh di Gampung atau arena keramaian tempat dibacakannya hikayat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembacaan Hikayat Prang Sabi biasanya ditutup dengan pendaftaran pemuda-pemuda yang ingin berperang serta melakukan penghimpunan sumbangan. Disamping itu, hikayat ini dibaca secara perorangan. Pernah diceritakan, seorang penduduk kampung Peurada, Kemukiman Kayee Adang, daerah Mukim XXVI --sekarang Kecamatan Inginjaya-- bernama Leem Abah dengan penuh heroik menikam Belanda di Pekan Aceh. Pada suatu malam, Leem Abah mendengar seseorang membaca Hikayat&amp;nbsp;Prang Sabi. Besoknya, di depan&amp;nbsp;&lt;i&gt;Societeit Atjeh Clup&lt;/i&gt;&amp;nbsp;--sekarang Balai Teuku Umar--, saat dijumpainya seorang Belanda sedang berjalan-jalan, mendadak Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain dan ditikamnya Belanda itu tepat pada dadanya. Belanda itu pun mati ditempat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M. di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie, memang telah lama meninggalkan kita. Namun, Hikayat Prang Sabi yang ditinggalkannya masih tetap hidup di relung-relung jiwa anak bangsa Aceh sampai sekarang. Ini adalah sebuah hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia dan harus diteladani oleh generasi-generasi Aceh masa kini dan masa depan untuk menciptakan karya pembakar semangat juang Prang berbentuk Dakwah-Jihad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhKhnmpB1iH7aRRb0Wic-_kw9RIhsPzK2E5759CYFLnXl9oh-Ti88Wl_5udWORmVK43bDtc0H3rOFNsl5BfCYvV_VL0bbqQsREmoFdPVRuDuNywcRCEGDJqgb7NPRbUUnoxDFhxHItJC0g/s72-c/Pengaruh+Hikayat+Prang+Sabi+dalam+Sejarah+Perang+Aceh.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Aceh Telah Dibuat Tugu Titik Nol Peradaban Islam Tahun 1984, Jokowi Malah Kembali Resmikan Barus</title><link>https://seuramoejeumpa.blogspot.com/2017/03/aceh-telah-dibuat-tugu-titik-nol-peradaban-islam-tahun-1984-jokowi-malah-kembali-resmikan-barus.html</link><category>News</category><author>noreply@blogger.com (Husen Coe)</author><pubDate>Fri, 31 Mar 2017 12:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8043806402507736384.post-9115411166865324690</guid><description>&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;Sejarah telah&amp;nbsp;mencatat,
Aceh adalah daerah pertama masuk Islam &amp;nbsp;ke &amp;nbsp;Indonesia. Sejak abad
pertama Hijrah (8 M), agama &amp;nbsp;Islam sudah masuk ke Timur Aceh, yakni Peureulak
yang kemudian berkembang sampai ke Pasee, Aceh Utara&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;‎&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;. Sejarah juga mencatat, &lt;/span&gt;&lt;span style="color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;kerajaan Islam Samudra
Pasee kala itu telah &amp;nbsp;menjalin hubungan diplomatik dengan luar negeri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8cxukNYUK53eWS0snSal5_F4qY8OVfom8vK2ayVfvrA0O3vakQTKshAE87bXWmOQBDmRVSBquISQxtrjqERN-DHDUY0z_oKPZCzC89MaXao1P9F058i7s23Ublmf1Myeu5ddda2RIysg/s1600/rps20161129_094923_566.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="557" data-original-width="800" height="222" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8cxukNYUK53eWS0snSal5_F4qY8OVfom8vK2ayVfvrA0O3vakQTKshAE87bXWmOQBDmRVSBquISQxtrjqERN-DHDUY0z_oKPZCzC89MaXao1P9F058i7s23Ublmf1Myeu5ddda2RIysg/s320/rps20161129_094923_566.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aceh Telah Dibuat Tugu Titik Nol Peradaban Islam Tahun 1984, Jokowi Malah Kembali Resmikan Barus &lt;br /&gt;(Foto:Ist)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Aceh yang merupakan daerah pertama masuk Islam bukan sekadar
cerita rakyat dan lagenda, tetapi merupakan hasil penelitian para sarjana, ahli
sejarah, dan arkeolog. Hal tersebut telah tertulis dengan baik dalam kitab
maupun batu nisan. Pada tahun 1963 pernah dibuat seminar tentang peradaban
islam tertua yang dihadiri para pakar seluruh dunia Islam dan mengukuhkan
Pereulaklah yang memiliki peradaban Islam tertua nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Karena hal tersebut pula Aceh juga diberi gelar Serambi Mekkah.
Dalam kitab ‘&lt;b&gt;Idharul Haq&lt;/b&gt;’ karya Syeikh
Ishaq Al-Makarani, telah menyebutkan siilsilah raja-raja Pereulak yang beragama
Islam, kemudian dilanjutkan oleh raja-raja Pasee. Sementara daerah lain ketika
itu masih beragama Hindu dan Budha. Orang Aceh punya kebanggaan sendiri sebagai
daerah pertama masuk Islam, apalagi &amp;nbsp;telah diakui sejarawan dunia, baik
Islam maupun non islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Negara-negara tetangga
seperti Malaysia, Pattani/Thailand, Brunei Darussalam, Mesir, Arab Saudi,
India, Belanda, Pakistan telah mengakui hal tersebut, dan telah mereka tuliskan
dalam berbagai buku mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Namun, baru-baru ini sudah ada orang yang ingin melenyapkan klem
peradaban Aceh sebagai daerah pertama masuk dan berkembangnya Islam. Mereka mulai
menulis berbagai buku tafsiran terbaru tanpa bukti outentik untuk menghancurkan
klem tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Mereka mengklaim Barus lebih awal dari Aceh dengan hanya
menunjukkan nisan-nisan tua polos tanpa catatan. Hanya dengan bukti tak otentik
tersebut, &lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial;"&gt;di Kelurahan Pasar Barus Gerigis,
Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara &lt;/span&gt;telah dibuat
Monumen “Barus Titik Nol Masuk Islam ke Nusantara”. Parahnya lagi, &lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial;"&gt;Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) pun
dengan terlalu tergesa-gesa meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam
Nusantara itu pada Jumat, 24 Maret 2017 kemarin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Monumen Barus tersebut tentu
tak rasional. Fakta membuktikan, Peureulak telah dibuat monument pada tahun 1984
dan belum diselesaikan sampai sekarang, malah telah dibangung monument baru
dengan menghancurkan bukti-bukti yang ada. Aceh sebagai daerah pertama masuk
Islam, secara historis juga sangat dirugikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Hal ini membuat geram banyak Sejarawan Aceh dan Dunia. &lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial;"&gt;Penulis Novel Sejarah, Putra Gara&lt;span class="apple-converted-space"&gt;, mengecam peresmian itu. Dengan lantangnya ia
mengatakan Jokowi tidak mengerti sejarah. &lt;/span&gt;Ia siap menjadi pemateri
sejarah kepada Jokowi dan siapa saja yang membuat klem baru tersebut untuk
membeberkan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;“Jokowi
Tidak Mengerti Sejarah. Barus Bukan Tempat Peradaban Islam Tertua. Barus sebelum
masehi hanya pelabuhan besar, di mana tempat mengangkut rempah-rempah, kapur
barus, kayu dll ke beberapa belahan dunia, salah satunya ke Timur Tengah,”&lt;/span&gt;
Ujar Putra Gara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="background-attachment: initial; background-clip: initial; background-image: initial; background-origin: initial; background-position: initial; background-repeat: initial; background-size: initial; color: #222222; font-family: Verdana, sans-serif; font-size: 11.5pt;"&gt;“Kesultanan
Barus baru ada abad 14 Masehi. Sementara Islam masuk ke Jeumpa (Aceh) abad ke
7. Cicitnya Rosulullah, anaknya Husein, pasca perang di Karbala, merapat di
Jeumpa, dan menikah dengan seorang putri raja Jeumpa,&amp;nbsp;yang anaknya kelak
mendirikan kerajaan Peureulak,” Semprotnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Selain itu, Sastrawan Aceh yang
lain yang juga murid kesayangan Ali Hasjmy, &amp;nbsp;H. Ameer Hamzah mengatakan, ada kemungkinan
sejarah sengaja dikotak-katik untuk tujuan melemahkan peran Aceh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“Mungkin sebab ketidaksukaan mereka
kepada Aceh yang kerap memborontak (DI/TII, GAM) karena meminta otonomi
pengegakan Syariat Islam. Nampak jelas bahwa orang-orang Islam sekuler dan non-muslim
sedang berupaya menghapuskan Aceh sebagai daerah yang berjasa terhadap
perkembangan Islam Nusantara,” Ujarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Sementara itu, pemerhati
sejarah Aceh, Mustafa, mengatakan Presiden Jokowi sudah tidak membaca dan tidak
mengerti sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; line-height: 19.5pt; margin-bottom: 19.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“Kalau hanya hasil historinya
mengacu pada makam, sangat mustahil sebuah daerah bisa ditetapkan, dan
sejarawan mana yang berani mengeklaim bahwa Barus adalah pertama masuknya Islam
ke Indonesia, apa tidak dibaca sejarah atau tidak tau sejarah,” paparnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai Peureulak, Aceh
Timur. Pada saat itu, pedagang Barus sering ke Selat Malaka untuk menjual batu
kapur, mereka belum Islam, namun Peureulak sudah menjadi kerajaan Islam, kan
aneh jika kota Barus ditetapkan sebagai masuknya Islam di Indonesia,”
semprotnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Masyarakat pencinta Sejarah Aceh ini menduga kuat peresmian Kota
Barus sebagai kilometer nol Islam Nusantara tidak terlepas dari kepentingan pribadi
Presiden Jokowi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;“Ada kepentingan apa tiba-tiba Jokowi langsung menetapkan,
apakah sebelumnya sudah uji publik dan menggelar seminar seperti ditetapkan
Samudra Pasai sebagai daerah pertama masuknya Islam ke Indonesia bahkan Asia
Tenggara,” simpulnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Dari penelusuran kami, ada berbagai referensi buku yang
memperkuat Aceh sebagai daerah pertama masuk Islam sangat antara lain; Kitab
Idharul Haq, (Ishaq Makarani), Islam Fil Biladil Indonesia, (Ahmad al- Usairy)
&amp;nbsp;Silsilah Tarikh Islamy (Mahmud Syajir), Rihlah Ibnu Batutah (Ibnu Batutah),
Almuslimun Fil &amp;nbsp;al-Alam (Abdurrahman Zaki, Al-Islam fi Indonesia (Muhammad
Dhiya’ da Abdullah Nuh), Sejarah Ummat Islam (Hamka) dan Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Nusantara oleh Prof Ali. Hasjmy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Tak hanya itu, banyak pula sejarawan baik dari dalam atau luar
negeri seperti China, Malaysia, Belanda, Pattani-Thailand, Arab Saudi, Tunisia
dan Mesir yang mengakui bahwa Aceh adalah daerah pertama penyebaran Islam di
Nusantara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background: white; box-sizing: border-box; line-height: 19.5pt; margin: 0cm 0cm 19.5pt;"&gt;
&lt;span style="color: #222222; font-family: &amp;quot;Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.5pt;"&gt;Adapun sejarawah tersebut yaitu Ibnu Batutah (Tunisia),
Laksamana Cheng Ho (China), Prof. Dr. Hamka, Prof. Dr. Ibrahim Alfian (UGM)
Prof. Ali Hasjmy (UIN Ar-Raniry), &amp;nbsp;Prof. Dr. Naguib Al-Atas (Malaysia),
Prof. Dr. AJ Pijkar (Belanda), Prof Dr. Muarif &amp;nbsp;Ambari (UI), Prof, Dr.
Abubakar Atjeh (UIN Jakarta), Prof Datok Burhan (Malaysia), Prof. Dr. C. Snoeck
Hurgronye (Belanda), &amp;nbsp;Ismail Benjasmish (Pattani-Thailand), Dr. Ahmad Al
Usairy (Arab Saudi), Prof Dr. Ahmad Syalabi (Mesir). Dan masih banyak lagi yang
tak dapat disebutkan dalam ruang terbatas ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg8cxukNYUK53eWS0snSal5_F4qY8OVfom8vK2ayVfvrA0O3vakQTKshAE87bXWmOQBDmRVSBquISQxtrjqERN-DHDUY0z_oKPZCzC89MaXao1P9F058i7s23Ublmf1Myeu5ddda2RIysg/s72-c/rps20161129_094923_566.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>