<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Shine A Lite Clinic - Klinik Tumbuh Kembang Anak</title>
	<atom:link href="https://www.shinealiteclinic.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://www.shinealiteclinic.com</link>
	<description>Klinik tumbuh kembang anak Manado (Shine A lite Clinic) didirikan pada tahun 2017 atas prakarsa DR. Meitha Togas, SpAK, Dokter spesialis anak tumbuh-kembang dengan tujuan membantu keluarga dengan anak-anak yang memiliki hambatan pertumbuhan dan perkembangan. </description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Nov 2025 02:34:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9</generator>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Klinik Tumbuh Kembang Anak</itunes:subtitle><item>
		<title>Tantrum vs Meltdown: Dua Hal yang Mirip Tapi Berbeda</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/17/tantrum-vs-meltdown-dua-hal-yang-mirip-tapi-berbeda/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/17/tantrum-vs-meltdown-dua-hal-yang-mirip-tapi-berbeda/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2025 02:34:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.shinealiteclinic.com/?p=618</guid>

					<description><![CDATA[Dalam dunia tumbuh kembang anak, istilah tantrum dan meltdown sering dianggap sama karena keduanya sama–sama melibatkan ledakan emosi. Padahal, keduanya adalah dua hal yang berbeda dari segi penyebab, respons anak, dan cara penanganannya. Memahami perbedaannya sangat penting agar orang tua atau pendamping bisa merespons dengan tepat. Apa Itu Tantrum? Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="2560" height="1707" src="http://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-scaled.jpg" alt="" class="wp-image-620" srcset="https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-scaled.jpg 2560w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-300x200.jpg 300w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-1024x683.jpg 1024w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-768x512.jpg 768w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-1536x1024.jpg 1536w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-2048x1365.jpg 2048w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/pexels-yankrukov-6210218-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></figure>



<p>Dalam dunia tumbuh kembang anak, istilah tantrum dan meltdown sering dianggap sama karena keduanya sama–sama melibatkan ledakan emosi. Padahal, keduanya adalah dua hal yang berbeda dari segi penyebab, respons anak, dan cara penanganannya. Memahami perbedaannya sangat penting agar orang tua atau pendamping bisa merespons dengan tepat.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Apa Itu Tantrum?</strong></p>



<p>Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya muncul ketika anak mengalami frustrasi atau tidak mendapatkan keinginannya. Tantrum adalah bagian dari perkembangan emosi normal, terutama pada anak usia 1–4 tahun yang masih belajar mengekspresikan perasaan.</p>



<p></p>



<p><strong>Ciri-ciri Tantrum</strong></p>



<p>Anak masih punya kontrol tertentu terhadap perilakunya.</p>



<p>Biasanya terjadi karena ingin sesuatu (mainan, perhatian, makanan, dll).</p>



<p>Dapat berhenti ketika keinginan terpenuhi atau saat diberikan alternatif.</p>



<p>Anak sering mengecek reaksi orang dewasa (misalnya melihat apakah orang tua memperhatikan).</p>



<p>Tangisan, teriak, marah, memukul, berguling, atau menjatuhkan diri.</p>



<p></p>



<p><strong>Penyebab Umum Tantrum</strong></p>



<p>Lapar atau lelah</p>



<p>Keinginan tidak terpenuhi</p>



<p>Transisi aktivitas</p>



<p>Mencari perhatian</p>



<p>Batasan atau aturan baru</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Apa Itu Meltdown?</strong></p>



<p>Meltdown adalah reaksi berlebihan (overload) yang terjadi ketika sistem sensori atau emosional anak kewalahan. Ini bukan perilaku yang sengaja dilakukan dan bukan upaya untuk memanipulasi.</p>



<p>Meltdown lebih sering terjadi pada anak neurodivergen, seperti Autisme, ADHD, atau anak dengan gangguan sensori (SPD), tetapi juga bisa dialami anak neurotipikal dalam situasi tertentu.</p>



<p></p>



<p><strong>Ciri-ciri Meltdown</strong></p>



<p>Anak kehilangan kontrol sepenuhnya.</p>



<p>Tidak bisa berhenti meskipun diberi apa yang diinginkan.</p>



<p>Umumnya terjadi karena sensory overload (kebisingan, keramaian, cahaya, sentuhan).</p>



<p>Anak terlihat sangat tertekan, overwhelmed, atau panik.</p>



<p>Reaksi bisa berupa menangis keras, menutup telinga, memukul diri sendiri, berjongkok, atau melarikan diri.</p>



<p></p>



<p><strong>Penyebab Umum Meltdown</strong></p>



<p>Terlalu banyak rangsangan (suara, cahaya, keramaian).</p>



<p>Ketidakmampuan memproses informasi secara cepat.</p>



<p>Emosi yang menumpuk tapi tidak dapat dipahami.</p>



<p>Kelelahan sensori atau mental.</p>



<p></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Perbedaan Tantrum vs Meltdown (Ringkas dan Jelas)</strong></p>



<p>Aspek Tantrum Meltdown</p>



<p>Kontrol diri Masih ada kontrol Tidak ada kontrol<br>Motivasi Ingin sesuatu / frustrasi Overload sensori atau emosi<br>Bisa berhenti? Bisa berhenti saat kebutuhan terpenuhi Tidak bisa berhenti begitu saja<br>Respons orang dewasa Anak memperhatikan reaksi orang dewasa Anak tidak peduli / tidak sadar sekitar<br>Durasi &amp; intensitas Bisa pendek Bisa panjang &amp; intens<br>Sering muncul pada… Anak usia dini Anak neurodivergen / sensori sensitif</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Cara Tepat Menghadapi Tantrum</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Tetap Tenang dan Konsisten</li>
</ol>



<p>Anak mempelajari cara bereaksi dari emosi orang tua.</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li>Berikan Batasan yang Jelas</li>
</ol>



<p>Jangan langsung memenuhi keinginan untuk menghentikan tantrum, karena ini memperkuat perilaku.</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Validasi Perasaan</li>
</ol>



<p>Contoh: “Mama tahu kamu sedih karena tidak dapat mainan.”</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li>Beri Pilihan</li>
</ol>



<p>Bukan menyerah, tetapi memberi kontrol: “Mau mandi sekarang atau 5 menit lagi?”</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li>Setelah Tenang, Edukasi</li>
</ol>



<p>Ajarkan cara lain untuk mengekspresikan perasaan.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Cara Tepat Menghadapi Meltdown</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Bawa Anak ke Tempat yang Lebih Tenang</li>
</ol>



<p>Kurangi rangsangan suara, cahaya, atau sentuhan.</p>



<ol start="2" class="wp-block-list">
<li>Gunakan Teknik Sensori</li>
</ol>



<p>Deep pressure</p>



<p>Memeluk jika anak nyaman</p>



<p>Headphones</p>



<p>Mainan sensorik</p>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Berikan Support Emosional</li>
</ol>



<p>Tidak perlu ceramah saat meltdown berlangsung.</p>



<ol start="4" class="wp-block-list">
<li>Amankan Lingkungan</li>
</ol>



<p>Pastikan anak tidak membahayakan diri sendiri.</p>



<ol start="5" class="wp-block-list">
<li>Recovery Time</li>
</ol>



<p>Setelah meltdown, anak butuh waktu untuk “pulih” dari overload.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Bagaimana Membedakan Tantrum vs Meltdown?</strong></p>



<p>Tanyakan 3 hal ini:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Apakah anak menginginkan sesuatu?<br>Jika ya → kemungkinan tantrum.</li>



<li>Apakah anak bisa berhenti ketika diberi keinginannya?<br>Jika tidak bisa → biasanya meltdown.</li>



<li>Apakah lingkungan terlalu bising / ramai / melelahkan?<br>Jika ya → meltdown lebih mungkin.</li>
</ol>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p><strong>Kesimpulan</strong></p>



<p>Tantrum dan meltdown terlihat mirip, tetapi akar penyebab dan penanganannya berbeda. Tantrum merupakan bagian perkembangan normal, sedangkan meltdown terkait dengan overload sensori atau emosi yang intens. Dengan memahami perbedaannya, orang tua dapat memberikan respons yang lebih tepat, suportif, dan efektif.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/17/tantrum-vs-meltdown-dua-hal-yang-mirip-tapi-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terapi Wicara: Pengertian, Sejarah, dan Manfaatnya untuk Anak.</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/11/terapi-wicara-pengertian-sejarah-dan-manfaatnya-untuk-anak/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/11/terapi-wicara-pengertian-sejarah-dan-manfaatnya-untuk-anak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2025 10:08:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.shinealiteclinic.com/?p=614</guid>

					<description><![CDATA[Apa Itu Terapi Wicara? Terapi wicara (speech therapy) adalah bentuk intervensi yang membantu individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara, berbahasa, atau berkomunikasi.Tujuan utama terapi ini adalah membantu anak (atau orang dewasa) berkomunikasi dengan lebih jelas, efektif, dan percaya diri — baik melalui kata-kata, bahasa tubuh, maupun alat bantu komunikasi. Terapi wicara juga sering disebut terapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Apa Itu Terapi Wicara?</strong></p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="2560" height="1707" src="http://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara.jpg" alt="" class="wp-image-615" srcset="https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara.jpg 2560w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-300x200.jpg 300w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-1024x683.jpg 1024w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-768x512.jpg 768w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-1536x1024.jpg 1536w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-2048x1366.jpg 2048w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2025/11/terapi-wicara-1080x720.jpg 1080w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></figure>



<p>Terapi wicara (speech therapy) adalah bentuk intervensi yang membantu individu yang mengalami kesulitan dalam berbicara, berbahasa, atau berkomunikasi.<br>Tujuan utama terapi ini adalah membantu anak (atau orang dewasa) berkomunikasi dengan lebih jelas, efektif, dan percaya diri — baik melalui kata-kata, bahasa tubuh, maupun alat bantu komunikasi.</p>



<p>Terapi wicara juga sering disebut terapi bicara dan bahasa (speech and language therapy) karena tidak hanya melatih pengucapan suara, tetapi juga mencakup kemampuan memahami bahasa, menyusun kalimat, hingga aspek sosial komunikasi.</p>



<p></p>



<p><strong>Sejarah Singkat Terapi Wicara</strong></p>



<p>Awal mula terapi wicara dapat ditelusuri sejak akhir abad ke-19 di Eropa, saat mulai banyak penelitian tentang gangguan bicara seperti gagap (stuttering) dan afasia (kesulitan berbicara akibat kerusakan otak).</p>



<p>Beberapa tokoh penting dalam sejarah terapi wicara antara lain:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Adolf Kussmaul (1822–1902)<br>Seorang dokter asal Jerman yang pertama kali memperkenalkan istilah “aphasia” dan meneliti berbagai gangguan bicara. Ia dianggap sebagai salah satu pelopor awal bidang terapi wicara modern.</li>



<li>Carl Seashore (1866–1949)<br>Psikolog asal Amerika Serikat yang mengembangkan metode penilaian kemampuan bicara dan pendengaran. Ia juga turut membantu membentuk dasar ilmiah dari profesi terapis wicara.</li>
</ol>



<ol start="3" class="wp-block-list">
<li>Lee Edward Travis (1896–1987)<br>Dikenal sebagai “Father of Speech Pathology in America”, Travis mendirikan program studi terapi wicara pertama di Amerika Serikat pada tahun 1920-an di University of Iowa.</li>
</ol>



<p>Sejak saat itu, terapi wicara berkembang pesat di berbagai negara — termasuk di Indonesia — dengan pendekatan yang semakin berbasis ilmu neurologi, psikologi perkembangan, dan linguistik.</p>



<p></p>



<p><strong>Dasar Keilmuan Terapi Wicara</strong></p>



<p>Terapi wicara merupakan bidang multidisipliner, yang menggabungkan:</p>



<p>Ilmu Linguistik → memahami struktur dan fungsi bahasa.</p>



<p>Neurologi → mempelajari hubungan otak dengan kemampuan bicara.</p>



<p>Psikologi Perkembangan → memahami tahapan tumbuh kembang anak.</p>



<p>Audiologi → menilai pengaruh pendengaran terhadap bicara.</p>



<p>Karena itu, seorang terapis wicara (speech-language pathologist) dilatih untuk memahami berbagai aspek komunikasi — dari produksi suara, artikulasi, pemahaman bahasa, hingga aspek sosial komunikasi.</p>



<p></p>



<p><strong>Manfaat Terapi Wicara untuk Anak</strong></p>



<p>Terapi wicara membantu anak-anak dengan berbagai kondisi, seperti:</p>



<p>Speech Delay (keterlambatan bicara)</p>



<p>Gangguan artikulasi atau fonologi (pelafalan huruf L, R, K, S, dsb.)</p>



<p>Kesulitan memahami atau menggunakan bahasa</p>



<p>Gagap (stuttering)</p>



<p>Gangguan komunikasi sosial (seperti pada anak autistik)</p>



<p>Kesulitan menelan atau makan (oral motor disorder)</p>



<p></p>



<p><strong>Terapi Wicara di Indonesia</strong></p>



<p>Di Indonesia, profesi Terapis Wicara mulai berkembang sejak tahun 1980-an, diawali oleh kerja sama antara para dokter, ahli pendidikan khusus, dan universitas kesehatan.<br>Kini, terapi wicara diatur dan diakui sebagai profesi medis yang bernaung di bawah Ikatan Terapis Wicara Indonesia (ITWI).</p>



<p>Beberapa universitas seperti Poltekkes Kemenkes Surakarta dan Universitas Indonesia memiliki program pendidikan formal untuk mencetak terapis wicara profesional.</p>



<p></p>



<p><strong>Kesimpulan</strong></p>



<p>Terapi wicara bukan sekadar mengajari anak “berbicara”, tetapi membantu mereka menemukan cara terbaik untuk berkomunikasi.<br>Dengan memahami sejarah dan dasar keilmuannya, kita jadi tahu bahwa profesi ini berakar kuat pada penelitian ilmiah dan kasih terhadap manusia — terutama anak-anak yang sedang belajar menyuarakan dunianya.</p>



<p></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>“Setiap anak punya suara. Tugas kita adalah membantu mereka menemukan cara untuk menyampaikannya.”</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2025/11/11/terapi-wicara-pengertian-sejarah-dan-manfaatnya-untuk-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Floortime Therapy</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2021/07/01/floortime-therapy/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2021/07/01/floortime-therapy/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2021 00:08:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=400</guid>

					<description><![CDATA[Floor Time Therapy merupakan sebuah intervensi yang bertujuan untuk membantu perkembangan mental individu. Pertama kali dikembangkan oleh Dr. Stanley Greenspan beserta koleganya, terapi ini kemudian dipakai oleh guru, terapis (seperti terapi okupasi dan terapi bicara), tenaga kerja kesehatan mental, orang tua, dan pihak-pihak lain yang bekerja dalam bidang pelayanan individu berkebutuhan khusus. Dalam pelaksanaannya, floor [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Floor Time Therapy merupakan sebuah intervensi yang bertujuan untuk membantu perkembangan mental individu. Pertama kali dikembangkan oleh Dr. Stanley Greenspan beserta koleganya, terapi ini kemudian dipakai oleh guru, terapis (seperti terapi okupasi dan terapi bicara), tenaga kerja kesehatan mental, orang tua, dan pihak-pihak lain yang bekerja dalam bidang pelayanan individu berkebutuhan khusus. Dalam pelaksanaannya, floor time therapy mengandalkan hubungan baik dan erat antar individu yang kemudian dapat meningkatkan keinginan individu untuk lebih terlibat dalam suatu aktivitas/kegiatan, kemampuan komunikasi, perilaku positif, dan kemampuan untuk berpikir.</p>



<p>Floor Time Therapy juga sering dipakai untuk menangani kasus anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), dengan menerapkan pendekatan evidence-based yakni dalam pengambilan keputusan, akan lebih mengutamakan proses berpikir yang kritis berdasarkan temuan- temuan selama proses terapi. Penerapan floor time therapy sendiri bisa dikatakan memiliki satu prinsip utama yakni, kapanpun dan di manapun: “All the Time Everywhere”.</p>



<p>Ketika berhadapan dengan anak berkebutuhan khusus, misalnya anak dengan ASD, tentunya membutuhkan perhatian yang lebih intensif dibanding dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus. Pada anak dengan ASD, mereka memiliki inisiatif yang kurang jika dibiarkan sendiri dan apabila mereka terlalu sering dibiarkan sendiri, mereka akan kehilangan kesempatan untuk menikmati masa kanak-kanaknya (bermain dengan teman sebaya, menikmati beragam aktivitas, dsb.). Maka dari itu, prinsip kapanpun dan di manapun sangatlah membantu penangan anak dengan ASD karena floor time therapy dapat dilakukan tak hanya di tempat terapi, bisa juga di rumah, halaman, taman bermain, tempat belanja, tentunya selama ada pengawasan khusus dari orang tua dan/atau terapis. Floor time therapy juga bisa melibatkan anak-anak lain selain anak dengan ASD. Pelaksanaannya pun bisa dilakukan kapanpun di sepanjang hari. Kunci dari terapi ini ialah agar orang tua dan anak bisa menikmati setiap kegiatan yang dilakukan. Terapi ini memiliki 6 Tonggak Waktu; regulasi diri dan ketertarikan dengan dunia, ketertarikan dalam membina hubungan dengan orang lain, komunikasi dua arah, komunikas kompleks, pemikiran dan juga ide-ide yang berkaitan dengan emosi. Secara keseluruhan, terapi ini mengajak anak dengan ASD untuk bisa memaksimalkan potensi diri yang mereka miliki dengan cara menyadarkan mereka siapa mereka sebenarnya.</p>



<p>Secara keseluruhan, konsep utama dalam terapi ini adalah proses bermain dengan anak yang bertujuan untuk membantu perkembangan bahasa, kognisi, emosi, dan komunikasi anak, yang sesuai dengan tahap perkembangannya.&nbsp;Selama proses terapi, hubungan baik antara anak dan terapis sangatlah diperlukan. Maka dari itu, dalam prosesnya terapis akan berusaha menciptakan hubungan yang aman, nyaman, ceria, dan menyenangkan dengan anak.&nbsp;Floor time therapy bisa berjalan selama dua sampai 5 jam sehari, dan sebaiknya berlangsung dalam lingkungan yang tenang dan kondusif. Dalam proses terapi, orang tua dapat bergabung dengan terapis. Orang tua dan terapis dapat membantu anak agar lebih bisa fokus dengan interaksi sosial dan pemikiran logis selama dan di luar proses terapi.</p>



<p><em>Source:&nbsp;https://www.stanleygreenspan.com/resources/research</em></p>



<p>https://www.icdl.com/floortime</p>



<p><em>Picture:&nbsp;https://sensationstation.ae/dir-floortime-play-therapy/</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2021/07/01/floortime-therapy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terapi Sensori Integrasi</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/28/terapi-sensori-integrasi/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/28/terapi-sensori-integrasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Jun 2021 09:47:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=396</guid>

					<description><![CDATA[Sejarah sensori Integrasi (SI) diterbitkan kepada publik pertama kali tahun 1966 oleh Jean Ayres Phd OTR tentang intervensi metode SI dan peran OT dalam metode tersebut. Ayres mengembangkan teori Sensori Integrasi untuk menjelaskan masalah penginterpretasian sensasi dari tubuh dan lingkungan serta kesulitan pada akademik dan motor learning dalam memenuhi tuntutan lingkungan yang mempengaruhi manusia untuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejarah sensori Integrasi (SI) diterbitkan kepada publik pertama kali tahun 1966 oleh Jean Ayres Phd OTR tentang intervensi metode SI dan peran OT dalam metode tersebut. Ayres mengembangkan teori Sensori Integrasi untuk menjelaskan masalah penginterpretasian sensasi dari tubuh dan lingkungan serta kesulitan pada akademik dan motor learning dalam memenuhi tuntutan lingkungan yang mempengaruhi manusia untuk melakukan&nbsp;<em>occupation</em>. Seorang terapis okupasi berperan dalam mengevaluasi dan memberi terapi, bila seseorang tidak dapat melakukan tugas hariannya dengan baik. Pada anak-anak, okupasi untuk mereka mencakup: kemandirian, kemampuan untuk mengikuti perkembangan anak, dan kemampuan untuk mendapatkan kegembiraan, kepuasan, dan pengembangan diri dari aktivitas bermain dan semua hal tersebut diperhitungkan sesuai dengan umur anak yang bersangkutan.</p>



<p>Sensori integrasi terpusat di tiga dasar yaitu&nbsp;<em>tactile</em>,&nbsp;<em>vestibular&nbsp;</em>dan&nbsp;<em>proprioceptive</em>, ketiganya terbentuk dan terhubung sebelum seseorang dilahirkan dan akan terus berkembang ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungannya.&nbsp;<em>Tactile, vestibular</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>proprioceptive</em>&nbsp;tidak hanya saling berhubungan, tetapi juga terhubung dengan sistem lain di dalam otak, sistem yang saling terhubung ini akan membantu seseorang untuk&nbsp;<em>survive</em>, dan proses timbal baliknya akan dapat menginterpretasikan dan bereaksi terhadap stimulus yang datang dari tubuh dan lingkungan.</p>



<p>Sensori integrasi membantu secara memadai proses sensorik seorang anak agar tercapai: kemampuan dalam mengolah informasi secara tepat, kemampuan dalam berkonsentrasi, kemampuan organisasi, self-esteem, kemampuan kontrol diri, percaya diri, kemampuan akademis, kemampuan berpikir abstrak, kemampuan spesialisasi dari masing-masing sisi tubuh dan otak. Sistem yang ada pada sensori integrasi meliputi:</p>



<p><strong>1) Sistem Vestibular (Keseimbangan)</strong></p>



<p>Sistem vestibular terletak pada bagian dalam telinga dan berfungsi mendeteksi gerakan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada posisi kepala, apakah tegak lurus atau dimiringkan, dan kelainan pada sistem ini terwujud dalam dua cara yang berbeda, beberapa anak hipersensitif terhadap rangsangan vestibular dan bereaksi berlebihan terhadap aktivitas gerakan yang biasa. Sebagian yang lain berperilaku <em>under sensitif</em>, sehingga seringkali mereka menunjukkan perilaku yang berlebih seperti melompat dan memutar tubuh. Vestibular sense adalah indera yang memproses informasi tentang pergerakan (<em>movement</em>), gaya berat (gravitasi), keseimbangan (<em>balance</em>) yang diterima melalui telinga.</p>



<p><strong>2) Sistem Proprioceptive</strong></p>



<p><em>Proprioceptive</em> adalah sistem yang mengacu pada komponen-komponen dari otot, sendi, dan urat daging yang memberikan kesadaran pada seseorang tentang posisi tubuhnya. <em>Proprioceptive</em> yang berfungsi efisien maka posisi tubuh secara otomatis akan disesuaikan dengan situasi-situasi yang berbeda, serta kemampuan untuk merencanakan tugas-tugas motorik yang berbeda. <em>Proprioceptive</em> sense adalah indera yang memproses informasi tentang posisi tubuh, bagian tubuh yang diterima oleh otot-otot, persendian, tulang.</p>



<p><strong>3) Sistem Tactile</strong></p>



<p><em>Tactile sense </em>adalah indera yang memproses informasi tentang perasa dan peraba yang diterima melalui kulit. Gangguan pada sistem <em>tactile </em>menunjukkan bahwa stimulus yang datang dari reseptor kulit tidak terproses dengan baik. Sistem tactile adalah sistem yang menginformasikan kepada otak tentang kegelisahan yang dirasakan di bawah permukaan kulit, informasi ini termasuk sentuhan ringan, nyeri, temperatur dan tekanan.</p>



<p><strong>4) Sistem Visual</strong></p>



<p>Menurut Kranowitz sistem visual adalah sebuah proses yang sangat kompleks yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasi apa yang dilihat, untuk mengantisipasi apa yang datang ke kita, dan mempersiapkan kita dalam menghadapi sesuatu. Kemampuan persepsi visual adalah kemampuan untuk mengenali hubungan seseorang dalam suatu ruang dengan benda dan dirinya, membedakan suatu objek dengan yang lainnya, membedakan suatu objek dengan latar belakang, mengenali secara tepat ketika diperlihatkan bagian dari sebuah benda secara sekilas, serta kemampuan untuk mengingat secara tepat dan berurutan dari beberapa item.</p>



<p><strong>5) Sistem Auditori</strong></p>



<p>Menurut Kranowitz (dalam Nisrina) dijelaskan bahwa sistem auditori adalah kemampuan untuk mendengar sesuatu atau suara. Kita lahir dengan kemampuan ini, kita tidak bisa belajar bagaimana cara melakukan sesuatu tanpa kita mendengarnya.</p>



<p>Proses auditori bertugas untuk menerima informasi, merasakan dan membedakan antara suara, mengumpulkan dan mengauraikan suara, mengingat apa yang didengar, mengintegrasikan apa yang didengar dan mengekspresikannya menjadi sebuah respon, menentukan asal suara.</p>



<p>Sunanik. (2013). Pelaksanaan Terapi Wicara dan Terapi Sensori Integrasi Pada Anak Terlambat Bicara.&nbsp;<em>Jurnal Pendidikan Islam&nbsp;</em>1<em>(7)</em>, 19-44.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/28/terapi-sensori-integrasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Lanjut: Terapi Okupasi</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/26/mengenal-lebih-lanjut-terapi-okupasi/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/26/mengenal-lebih-lanjut-terapi-okupasi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Jun 2021 08:45:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=365</guid>

					<description><![CDATA[Terapi okupasi adalah salah satu&#160;&#160;bentuk layanan kesehatan yang sudah dikenal sejak tahun 1920, merupkan ilmu terapan dari kombinasi bidang medis, etiologi fisik, dan sosial ekonomi, serta disfungsi biologis. Terapi ini bertujuan untuk membantu&#160;individu yang mengalami gangguan fisik atau mental, yang berfokus pada&#160;&#160;aktivitas dan latihan yang meningkatkan kemandirian saat mengerjakan kegiatan sehari-hari.&#160;Program terapi biasanya terdiri atas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Terapi okupasi adalah salah satu&nbsp;&nbsp;bentuk layanan kesehatan yang sudah dikenal sejak tahun 1920, merupkan ilmu terapan dari kombinasi bidang medis, etiologi fisik, dan sosial ekonomi, serta disfungsi biologis. Terapi ini bertujuan untuk membantu&nbsp;individu yang mengalami gangguan fisik atau mental, yang berfokus pada&nbsp;&nbsp;aktivitas dan latihan yang meningkatkan kemandirian saat mengerjakan kegiatan sehari-hari.&nbsp;Program terapi biasanya terdiri atas aktivitas-aktivitas yang berfokus pada pengembangan kemampuan motorik yang dirasa kurang maksimal.&nbsp;Terapi okupasional ini bisa dilakukan secara personal, atau dalam satu kelompok kecil.</p>



<p>Dalam terapi okupasi, terapis bertugas untuk mendorong, menjaga, san mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan anak dalam proses bersosialisasi dan beraktivitas selama berada di lingkungan sosial seperti sekolah dan taman bermain. Selain itu,&nbsp;seorang&nbsp;<em>terapis okupasi&nbsp;</em>juga berperan dalam&nbsp;mengedukasi keluarga sang pasien&nbsp;untuk berperan serta aktif memperbaiki keadaan mental dan fisik pasien.</p>



<p>Sebelum memulai proses terapi, terapis akan melihat kemampuan dan kekuatan yang sudah dimiliki oleh anak, yang kemudian dapat membantu terapis menentukan program apa yang cocok dengan kebutuhan anak. Terapis akan membantu anak mengembangkan kemampuan belajar, harga diri, kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan berinteraksi. Terapis biasanya menggunakan pendekatan holistik, yakni dengan melihat secara keseluruhan, semua kebutuhan anak, tak hanya mental melainkan juga fisik, emosi, sensori, kognisi&nbsp;&nbsp;dan sosial.</p>



<p>Ada beberapa jenis aktivitas diantaranya; pengembangan keterampilan motorik halus (misalnya, anak di minta untuk mengambil benda kecil menggunakan pinset), pengembangan keterampilan motorik kasal (misalnya, jumping jacks atau berlari lawan rintang), dan pengembangan kemampuan melalukan kegiatan sehari-hari (misalnya memakai pakaian atau merapikan kasur).</p>



<p><em>Source:&nbsp;https://www.autism.org.uk/advice-and-guidance/professional-practice/occupation-therapy</em></p>



<p><em>www.understood.org/en/learning-thinking-differences/treatments-approaches/therapies/occupational-therapy-what-you-need-to-know</em></p>



<p><em>https://www.aota.org/Conference-Events/OTMonth/what-is-OT.aspx</em></p>



<p><em>Gambar: lifespan.org</em></p>



<p></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2021/06/26/mengenal-lebih-lanjut-terapi-okupasi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kapan Anak Siap Masuk Sekolah Dasar?</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2020/12/16/kapan-anak-siap-masuk-sekolah-dasar/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2020/12/16/kapan-anak-siap-masuk-sekolah-dasar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2020 06:28:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=356</guid>

					<description><![CDATA[Orang tua sering bertanya , “Apakah Anak saya sudah siap masuk, SD?”. Apakah yang menjadi dasar untuk menilai anak sudah siap masuk Sekolah Dasar atau SD?. Apakah dari segi usia?, kemampuan kognitifnya seperti baca tulis?, atau kematangan emosinya?. Beberapa orang tua bahkan menginginkan anaknya yang belum genap berusia 6 tahun segera masuk bangku Sekolah Dasar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Orang tua sering bertanya , “Apakah Anak saya sudah siap masuk, SD?”. Apakah yang menjadi dasar untuk menilai anak sudah siap masuk Sekolah Dasar atau SD?. Apakah dari segi usia?, kemampuan kognitifnya seperti baca tulis?, atau kematangan emosinya?. Beberapa orang tua bahkan menginginkan anaknya yang belum genap berusia 6 tahun segera masuk bangku Sekolah Dasar karena dianggap sudah mampu mengenal huruf, angka bahkan sudah bisa membaca, berhitung dan menulis. Beberapa orang tua bahkan sudah mempersiapkan anaknya sejak Taman Kanak – Kanak dengan berbagai les atau bimbingan membaca dan menulis agar dapat diterima di SD favorite yang menerapkan seleksi masuk seperti layaknya ujian masuk Perguruan Tinggi.</p>



<p>Terjadi banyak perubahan
saat anak masuk ke jenjang pendidikan formal seperti Sekolah Dasar. Anak akan
mengalami perubahan dalam hal lingkungan fisik. Saat TK mereka “belajar dan
bermain dalam gedung yang lebih kecil, dengan jumlah siswa yang relatif lebih
sedikit. Saat SD akan belajar di dalam gedung yang lebih besar dan jumlah murid
yang lebih banyak.</p>



<p>Di Sekolah Dasar anak
sudah mulai dikenalkan dengan aturan&nbsp; dan prosedur yang harus ditaati.
Seperti berbaris sebelum masuk ke kelas, jam pelajaran yang lebih awal, angkat
tangan jika bertanya dan beberapa aturan lain yang dibuat untuk ketertiban
kelas. Juga mereka mulai mengenal suatu proses belajar yang terstruktur dan
formal sehingga anak diharapkan sudah dapat duduk tenang dalam waktu tertentu
saat mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah dan sudah lebih mandiri saat di
kelas.</p>



<p>Selain itu
&nbsp;dibutuhkan kemampuan&nbsp;<em>social relationship&nbsp;</em>karena mereka mulai mengenal tidak hanya teman
dan guru yang tentu jumlahnya lebih banyak tetapi ada komponen lain di sekolah
seperti bapak satpam, tukang kebun, ibu penjaja kantin sekolah dan karyawan
administrasi yang bertugas di kantor sekolah.</p>



<p>Kesiapan anak untuk
masuk jenjang pendidikan formal seperti Sekolah Dasar, harus melihat dari semua
aspek kesiapan perkembangan anak, yaitu meliputi : perkembangan motorik kasar
dan halus, kognitif, sosial emosi, bahasa,&nbsp;<em>literacy/numeracy,&nbsp;</em>&nbsp;dan bukan umur biologis saja. Umur
biologis belum menjamin kesiapan anak untuk bersekolah. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kemampuan perkembangan anak lebih penting daripada umur
biologis untuk menilai kesiapan anak masuk sekolah.</p>



<p>Untuk usia sekolah,
kemampuan motorik kasar meliputi kemampuan seperti : berjalan baik di garis
lurus, berdiri dengan satu kaki, berlari baik, naik turun tangga sendiri,
melompat jauh dan mendarat dengan dua kaki bersamaan, melempar, menendang dan
menangkap bola, serta sudah dapat mengayuh sepeda roda tiga. Kemampuan motorik
halus meliputi : kemampuan memegang pensil dengan baik (tripod posisi), dapat
menggambar bentuk dasar seperti lingkaran, kotak dan segi tiga, dapat mewarnai
didalam garis pembatas, dapat menggunting pola bentuk dasar, bermain menyusun
balok 3 dimensi, mandiri untuk mampu melepas dan memakai baju berkancing,
risluiting, memakai sepatu dan kaos kaki,dan makan serta minum sendiri.</p>



<p>Kemampuan kognitif yang
dibutuhkan untuk seorang anak untuk siap di sekolah dasar diantaranya :
kemampuan menjelaskan persamaan dan perbedaan suatu benda, dapat mengelompokan
benda sesuai dengan klasifikasi sederhana, menyelesaikan puzzle sederhan (5
sampai 6 keping), dapat memahami pola berurutan dari deret bentuk atau warna,
mengenal bentuk dan warna, mengetahui konsep waktu seperti hari, bulan dan
tahun. Kemampuan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan sosial emosi.
Yaitu : mengetahui nama, umur dan jenis kelamin, paham dan bisa mengantri,
dapat bermain bersama dan berbagi, memulai pembicaraan dan permainan. Anak juga
sudah mampu berpisah dari orang tua saat sekolah, mampu bertahan untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan, dapat mengungkapkan dan mengontrol emosi,
sudah dapat mandiri saat buang air kecil dan air besar, dapat menumpukan
perhatian dan meminta pertolongan kepada orang dewasa saat membutuhkan.</p>



<p>Aspek perkembangan
berikutnya adalah : perkembangan bahasa, baik bahasa reseptif (pemahaman)
maupun bahasa ekspresif (kata – kata yang dikeluarkan). Diantaranya adalah :
memahami dan mengikuti dua instruksi bersamaan, memahami konsep dasar seperti
arah, preposisi, ukuran dan perbandingan. Kemampuan berbahasa ekspresif
meliputi : dapat membuat kalimat lengkap, artikulasinya jelas, dapat
menceritakan kembali dengan urutan yang logis,dapat membuat kalimat berisi 10
kata atau lebih, dapat bertanya 5 W 1 H ( what, who, when, where, why and how).</p>



<p>Kemampuan literasi atau
kecakapan menulis dan membaca serta berhitung atau angka, merupakan syarat
paling terakhir untuk seorang anak dianggap siap sekolah. Karena dengan
terpenuhinya kemampuan – kemampuan diatas yaitu perkembangan motorik kasar dan
halus, kognitif, sosial emosi, bahasa, kemampuan literasi akan berkembang dan
lebih mudah dipelajari seorang anak. Kemampuan literasi seperti, anak sudah
lebih menyukai mendengarkan&nbsp;<em>story telling</em>&nbsp;dengan rima dan puisi, dapat menulis namanya,dapat
mengidentifikasi dan menulis huruf besar dan huruf kecil, dan mudah memahami
kata – kata yang sering dilihat atau&nbsp;<em>sight words.</em>&nbsp;Kemampuan berhitung seperti mengenal dan menulis angka 1
sampai 10 dan dapat memahami konsep kuantitas angka 1 sampai 10. Paham konsep
lebih sedikit dan lebih banyak.</p>



<p>Hal yang paling penting
adalah dukungan dari orang tua dalam menghadapi hal – hal yang dapat
menimbulkan kecemasan saat awal masuk sekolah. Berupa penjelasan tentang hal –
hal apa saja yang akan dihadapi anak disekolah. Hal ini penting karena anak
akan takut atau cemas, karena dia belum mendapatkan gambaran yang jelas tentang
apa saja yang akan dihadapinya saat masuk ke sekolah baru. Ada baiknya orang
tua bersama anak survey ke sekolah tersebut. Melihat langsung kondisi sekolah,
atau dapat juga melalui gambar atau foto – foto di website atau online.
Membacakan cerita tentang suasana sekolah yang menyenangkan dan memberikan
informasi yang positif tentang bersekolah dalam beberapa hari atau satu minggu
sebelum anak masuk. &nbsp;</p>



<p>Penulis : Dr. Trully
Kusumawardhani Triyanto, Sp.A</p>



<p>Reviewer : DR. Dr.
Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si</p>



<p><em>Source : https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/kapan-anak-siap-masuk-sekolah-dasar</em><br><em>gambar : cermati.com</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2020/12/16/kapan-anak-siap-masuk-sekolah-dasar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Sudah Besar Masih ‘Ngeces’</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/25/anak-sudah-besar-masih-ngeces/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/25/anak-sudah-besar-masih-ngeces/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Nov 2020 01:30:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=352</guid>

					<description><![CDATA[‘Ngiler’ atau ‘ngeces’ pada bayi memang terlihat lucu. Ibu biasanya sibuk sebentar-bentar mengganti&#160;bib&#160;atau baju bayi yang basah. ‘Ngeces’ pada bayi bisa disebabkan banyak hal namun seiring bertambah usia mengeces akan berhenti dengan sendirinya. Jadi, jika anak sudah besar masih ‘ngeces’, Anda perlu tahu penyebabnya. Bayi ‘ngeces’ itu wajar ‘Ngeces’ atau&#160;drooling&#160;pada bayi biasanya terjadi jika kadar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>‘Ngiler’ atau ‘ngeces’ pada bayi memang terlihat lucu. Ibu biasanya sibuk sebentar-bentar mengganti&nbsp;<em>bib</em>&nbsp;atau baju bayi yang basah. ‘Ngeces’ pada bayi bisa disebabkan banyak hal namun seiring bertambah usia mengeces akan berhenti dengan sendirinya. Jadi, jika anak sudah besar masih ‘ngeces’, Anda perlu tahu penyebabnya.</p>



<p><strong>Bayi ‘ngeces’ itu wajar</strong></p>



<p>‘Ngeces’ atau&nbsp;<em>drooling</em>&nbsp;pada bayi biasanya terjadi jika kadar produksi air ludah sudah berlebih dan mencapai 1-1,5 liter per hari. Air liur berfungsi melindungi gigi dan gusi serta mencuci mulut bayi dari timbunan bakteri penyebab bau mulut. Air liur dengan kandungan enzim&nbsp;<em>amylase</em>-nya berguna untuk mencerna protein dan karbohidrat. Sumber air liur 70% dari kelenjar di bawah tulang rahang, dan 10% dari kelenjar ludah di bawah lidah.</p>



<p>Kondisi ‘ngeces’ pada bayi sebenarnya tergantung pada pematangan fungsi otot mulut. Semakin matang fungsi otot mulut, maka kemungkinan ‘ngeces’ juga semakin berkurang. Bayi ‘ngeces’ biasanya disebabkan beberapa hal, salah satunya karena bayi mau tumbuh gigi. Hal lainnya juga bisa disebabkan karena tidak adanya gigi pada mulut bayi yang membuat tak mampu menahan air liur.</p>



<p>Menghadapi bayi yang mudah ‘ngeces’, sangat disarankan untuk selalu menjaga kebersihan mulut bayi dengan membersihkan sisa makanan apabila ia selesai makan. Ini untuk menghindari berbagai infeksi akibat sisa-sisa makanan yang menempel di area mulut. ‘Ngeces’ pada bayi normalnya terjadi hingga berusia 18-24 bulan.</p>



<p><strong>Bila ‘ngeces’ tak berhenti</strong></p>



<p>Pada usia anak di atas 2 tahun&nbsp; ‘ngeces’ bisa terjadi karena ada masalah saat mengonsumsi sesuatu yang ditelan, atau bisa juga pertanda adanya gangguan kesehatan. Makanan yang dikonsumsi juga dapat memengaruhi kondisi anak sudah besar masih ‘ngeces’. Misalnya memakan makanan yang asam atau minum beberapa jenis obat yang dapat meningkatkan produksi air liur.</p>



<p>Ada juga yang disebabkan masalah kesehatan yang bersifat organik, misalnya ukuran lidah yang besar, karies gigi, gigi tidak menutup dengan baik, atau adanya infeksi pada gusi. Masalah kesehatan lainnya yang membuat anak besar masih‘ngeces’ bisa juga diakibatkan hidung yang tersumbat, pembesaran kelenjar adenoid yang disertai pernafasan melalui mulut, atau pilek kronik.</p>



<p>Anak sudah besar masih ‘ngeces’ juga bisa terjadi pada anak dengan gangguan motorik seperti&nbsp;<em>cerebral</em>&nbsp;<em>palsy</em>. Sebagian tubuhnya mengalami kelumpuhan, termasuk gangguan otot mulut yang membuat air liur tidak bisa tertelan.</p>



<p>Anak yang masih mengeces di usia yang sudah cukup besar tentu memerlukan pemeriksaan dari dokter untuk mengetahui secara lebih jelas apa penyebabnya. Dalam hal ini ada beberapa pemeriksaan yang akan dijalani anak seperti pemeriksaan saraf lengkap, pemeriksaan dengan radioisotop untuk menilai kelenjar air liur, foto untuk melihat pembesaran adenoid dan lainnya.</p>



<p>Sumber :</p>



<p>www.anakku.id/artikel/detil/anak-sudah-besar-masih-ngeces</p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/25/anak-sudah-besar-masih-ngeces/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PENTINGNYA STIMULASI BERMAIN UNTUK MERANGSANG KECERDASAN MULTIPEL</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipel/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipel/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2020 02:22:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=348</guid>

					<description><![CDATA[Sel-Sel&#160;otak janin dibentuk sejak 3-4 bulan di dalam kandungan. Setelah lahir sampai umur 3 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai miliaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antarsel, sehingga membentuk rangaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>Sel-Sel</strong>&nbsp;otak janin dibentuk sejak 3-4 bulan di dalam kandungan. Setelah lahir sampai umur 3 tahun jumlahnya bertambah dengan cepat mencapai miliaran sel, tetapi belum ada hubungan antar sel-sel tersebut. Mulai kehamilan 6 bulan, dibentuklah hubungan antarsel, sehingga membentuk rangaian fungsi-fungsi. Kualitas dan kompleksitas rangkaian hubungan antar sel-sel otak ditentukan oleh stimulasi (rangsangan) yang dilakukan oleh lingkungan kepada bayi-balita tersebut.</p>



<p>Semakin bervariasi rangsangan yang diterima maka semakin kompleks hubungan antar sel-sel otak. Semakin sering dan teratur rangsangan diterima, maka semakin kuat hubungan antar sel-sel otak tersebut. Semakin kompleks dan kuat hubungan antar sel-sel otak, maka semakin tinggi dan bervariasi kecerdasan anak dikemudian hari. Bila dikembangkan terus menerus, anak akan mempunyai banyak variasi kecerdasan (<em>multiple intelligences</em>).</p>



<p>Oleh karena itu, jika kita menginginkan anak dengan kecerdasan multiple harus dilakukan perangsangan setiap hari pada semua sistem indera (pendengarann, penglihatan, perabaan, pembauan, pengecapan), gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi, merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran dengan suasana bermain dan kasih sayang.</p>



<p><strong>Stimulasi bermain</strong></p>



<p>Stimulasi dilakukan setiap kali ada kesempatan berinteraksi dengan bayi/balita. Misalnya ketika memandikan, mengganti popok, menyusui, menyuapi makanan, menggendong, mengajak berjalan-jalan, bermain, menonton TV, di dalam kendaraan, menjelang tidur, atau kapan dan di manapun Anda dapat berinteraksi dengan balita Anda.</p>



<p>Untuk merangsang kecerdasan berbahasa verbal ajaklah bercakap-cakap, bacakan cerita berulang-ulang, rangsang untuk berbicara dan bercerita, menyanyikan lagu anak-anak dll.</p>



<p>Latih kecerdasan logika-matematik dengan mengelompokkan, menyusun, merangkai, menghitung mainan, bermain angka, halma, congklak, sempoa, catur, kartu, teka-teki, puzzle, monopoli, permainan computer dll.</p>



<p>Kembangkan kecerdasan visual-spasial dengan mengamati gambar, foto, merangkai dan membongkar lego, menggunting, melipat, menggambar, halma, puzzle, rumah-rumahan, permainan komputer dll.</p>



<p>Melatih kecerdasan gerak tubuh dengan berdiri satu kaki, jongkok, membungkuk, berjalan di atas satu garis, berlari, melompat, melempar, menangkap, latihan senam, menari, olahraga permainan dll.</p>



<p>Merangsang kecerdasan musical dengan mendengarkan music, bernyanyi, memainkan alat musik, mengikuti irama dan nada.</p>



<p>Melatih kecerdasan emosi interpersonal dengan bermain bersama dengan anak yang lebih tua dan lebih muda, saling berbagi kue, mengalah, meminjamkan mainan, bekerja sama membuat sesuatu, permainan mengendalikan diri, mengenal berbagai suku, bangsa, budaya, agama melalui buku, TV dll.</p>



<p>Melatih kecerdasan emosi intrapersonal dengan menceritakan perasaan, keinginan, cita-cita, pengalaman, berkhayal, mengarang ceritera dll.</p>



<p>Merangsang kecerdasan naturalis dengan menanam biji hingga tumbuh, memelihara tanaman dalam pot, memelihara binatang, berkebun, wisata di hutan, Gunung, sungai, pantai, mengamati langit, awan, bulan, bintang dll.</p>



<p>Bila anak mempunyai potensi bawaan berbagai kecerdasan dan dirangsang terus-menerus sejak kecil dengan cara yang menyenangkan dan jenis yang bervariasi maka ia akan mempunyai kecerdasan yang multiple.</p>



<p>Kreativitas anak akan berkembang jika orangtua selalu bersikap otoritatif (demokratik), yaitu mendengarkan dan menghargai pendapat anak, serta mendorongnya berani mengungkapkannya. Keluarga harus merangsang anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan tentang berbagai benda atau kejadian di sekeliling, yang mereka dengar, lihat, rasakan atau mereka pikirkan dalam kehidupan sehari-hari.<br><br>Sumber : www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipel</p>



<p>Penulis: DR. Dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi</p>



<p>Ikatan Dokter Anak Indonesia</p>



<p>Artikel pernah dimuat di harian Kompas, kolom klasika, tanggal 24 Juni 2012</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/pentingnya-stimulasi-bermain-untuk-merangsang-kecerdasan-multipel/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>AUTISME: ADAKAH HARAPAN?</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/autisme-adakah-harapan/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/autisme-adakah-harapan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Nov 2020 01:52:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=345</guid>

					<description><![CDATA[Autisme masih merupakan momok bagi sebagian orang tua. Apakah anak saya menderita autisme? Bagaimana mengenali anak dengan autisme? Ke mana saya harus mencari bantuan? Apakah autisme bisa disembuhkan? Pada artikel ini akan dibahas mengenai autisme, bagaimana deteksi dini dan hubungannya dengan masa depan anak dengan autisme. Mengenal autisme lebih jauh Autisme atau yang sekarang disebut [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p> Autisme masih merupakan momok bagi sebagian orang tua. Apakah anak saya menderita autisme? Bagaimana mengenali anak dengan autisme? Ke mana saya harus mencari bantuan? Apakah autisme bisa disembuhkan? Pada artikel ini akan dibahas mengenai autisme, bagaimana deteksi dini dan hubungannya dengan masa depan anak dengan autisme. </p>



<p><strong>Mengenal autisme lebih jauh</strong></p>



<p>Autisme atau yang sekarang disebut sebagai gangguan spektrum autisme (GSA) adalah kumpulan gangguan perkembangan dengan karakteristik lemahnya pada bidang interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang atau minat terbatas. Angka kejadian autisme meningkat dari tahun ke tahun, namun sampai sekarang penyebab autisme masih belum diketahui secara pasti. Diduga faktor genetik dan faktor lingkungan merupakan penyebab dari gangguan ini.</p>



<p>Anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial-emosional timbal balik. Mereka sulit diajak bercakap-cakap, kurang sampai tidak memiliki emosi atau ekspresi yang sesuai untuk suatu keadaan, atau tidak memberi respons sama sekali jika dipanggil atau diajak bicara. Tidak adanya kontak mata, tidak ada ekspresi wajah, atau bahasa tubuh lainnya dapat menunjukkan anak menderita autisme. Untuk anak yang lebih besar, dimana pertemanan biasanya mulai terbentuk, anak dengan autisme sulit menjalin pertemanan sampai tidak menaruh minat terhadap teman.</p>



<p>Perilaku, minat, dan aktivitas anak dengan autisme sangat terbatas (stereotipik) dan sifatnya berulang (repetitif). Dalam berbicara atau interaksi dengan benda, anak biasanya menggerakan anggota tubuh tertentu berulang-ulang, menderetkan mainan, menumpuk kaleng, mebalik-balik benda atau lembaran buku, atau mengulangi perkataan orang (ekolalia). Anak cenderung melakukan rutinitas seperti ritual dan kaku dan anak hanya menyukai benda atau mainan tertentu.</p>



<p>Selain reaksi yang kurang terhadap rangsangan luar, anak dengan autisme dapat memberikan reaksi berlebihan atau reaksi yang tidak wajar terhadap rangsangan nyeri, suhu, suara, atau tekstur benda. Gejala-gejala ini sampai mengganggu interaksi sosial, aktivitas sekolah, bermain, atau fungsi kehidupan anak sehari-hari.</p>



<p><strong>Waspada&nbsp;<em>red flags&nbsp;</em>Autisme</strong></p>



<p>Sangatlah penting bagi orang tua, pengasuh, guru, atau masyarakat awam untuk mewaspadai&nbsp;<em>red flags&nbsp;</em>(tanda bahaya).&nbsp;<em>Red flags&nbsp;</em>adalah tanda atau gejala yang apabila masih terlihat pada usia tertentu, harus segera dilakukan intervensi.&nbsp;<em>Red flags&nbsp;</em>tersebut antara lain:</p>



<ol class="wp-block-list"><li>Tidak ada&nbsp;<em>babbling&nbsp;</em>(ocehan), tidak menunjuk, atau tidak menunjukkan mimik wajah yang wajar pada usia 12 bulan</li><li>Tidak ada kata-kata berarti pada usia 16 bulan</li><li>Tidak ada kalimat terdiri dari 2 kata yang bukan ekolalia pada usia 24 bulan</li><li>Hilangnya kemampuan berbahasa atau kemampuan sosial pada usia berapa pun</li><li>Anak tidak menoleh atau sulit menoleh apabila dipanggil namanya pada usia 6 bulan &#8211; 1 tahun</li></ol>



<p>Apabila menemukan salah satu&nbsp;<em>red flags</em>, anak harus segera dibawa ke dokter spesialis anak untuk selanjutnya dilakukan skrining dan pemeriksaan lebih lanjut sehingga diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin dan intervensi dapat dilakukan atau anak dirujuk ke dokter spesialis saraf anak dan/atau disiplin ilmu lainnya.</p>



<p>Sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak untuk dilakukan skrining perkembangan rutin mulai usia 9 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Pada usia 18 bulan dan 24 bulan, atau pada usia berapapun anak ditemukan <em>red flags</em>, anak dilakukan skrining khusus untuk autisme. </p>



<p><strong>Tata laksana autisme</strong></p>



<p>Setelah anak didiagnosis autisme, anak membutuhkan konsultasi kepada ahli dari berbagai disiplin ilmu. Tidak semua anak dengan dengan autisme memerlukan terapi obat, tetapi semua anak dengan autisme harus mendapatkan intervensi non-obat, diikuti dengan sekolah dan pembinaan kemampuan mandiri serta kemampuan bekerja. Penilaian kebutuhan intervensi dilakukan oleh dokter saraf anak dan dokter rehabilitasi medis bersama terapis yang sudah berpengalaman. Penentuan intervensi ini berdasarkan dari usia anak, beratnya gejala, dan kemampuan intelektual anak.</p>



<p>Beberapa program dan teknik intervensi telah terbukti kuat secara ilmiah untuk menatalaksana autisme. Beberapa intervensi tersebut antara lain:&nbsp;<em>sensory integration</em>,&nbsp;<em>sensory-based intervention</em>, intervensi perilaku (program&nbsp;<em>verbal behaviour</em>), intervensi wicara, dan sekolah. Intervensi dilakukan oleh terapis yang ahli dan berpengalaman di tempat-tempat pelayanan autisme. Pelatihan terhadap orang tua sesuai dengan intervensi yang didapat anak juga perlu dilakukan, sehingga orang tua tahu apa yang harus diperbuat dan secara tidak langsung mengurangi stres.</p>



<p><strong>Masa depan anak dengan autisme</strong></p>



<p>Berkembangnya ilmu kedokteran menimbulkan harapan pada penyakit autisme. Sudah semakin banyak instrumen skrining yang dapat dipakai untuk mendeteksi dini autisme dengan lebih spesifik. Semakin dini diagnosis autisme ditegakkan, maka semakin cepat pula intervensi yang dapat diberikan. Hal ini telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik. Sebuah penelitian menunjukkan sebesar 20% anak dengan autisme dapat mandiri dalam kesehariannya atau hanya membutuhkan sedikit bantuan, 30% independen terbatas dan memerlukan bantuan, dan 50% masih membutuhkan pengawasan terus menerus atau memerlukan perawatan di tempat khusus atau rumah sakit.<br><br>sumber :<br>https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/autime-adakah-harapan</p>



<p>Penulis: Dr. Kartika Novieka Wirawan</p>



<p>*Artikel ini dibuat berdasarkan buku pidato pengukuhan guru besar Prof. DR. Dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K) berjudul&nbsp;&#8220;Autisme: Cahaya dalam Kegelapan&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2020/11/20/autisme-adakah-harapan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Main Gagdet Lebih dari 2 Jam Sehari, Berpengaruh Pada Kecerdasannya</title>
		<link>https://www.shinealiteclinic.com/2019/02/26/anak-main-gagdet-lebih-dari-2-jam-sehari-berpengaruh-pada-kecerdasannya/</link>
					<comments>https://www.shinealiteclinic.com/2019/02/26/anak-main-gagdet-lebih-dari-2-jam-sehari-berpengaruh-pada-kecerdasannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Shine A Lite Clinic]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2019 03:59:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://www.shinealiteclinic.com/?p=244</guid>

					<description><![CDATA[Wajar jika anak main gadget untuk sekadar melepas penat sepulang sekolah, atau ketika memang sedang bosan dan ingin mencari hiburan lain. Selayaknya jam belajar, bermain gadget juga ada batas waktunya. Namun, terlalu membebaskan anak bermain gadget, bahkan melebihi 2 jam dalam sehari, tentu bisa menimbulkan efek buruk bagi anak. Tak terkecuali untuk fisik, otak, dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" width="758" height="467" src="http://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2019/02/WEB-Kids-Lifestyle-Inti-St-Clair-is201008100247copy-758x467.jpg" alt="" class="wp-image-251" srcset="https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2019/02/WEB-Kids-Lifestyle-Inti-St-Clair-is201008100247copy-758x467.jpg 758w, https://www.shinealiteclinic.com/wp-content/uploads/2019/02/WEB-Kids-Lifestyle-Inti-St-Clair-is201008100247copy-758x467-300x185.jpg 300w" sizes="(max-width: 758px) 100vw, 758px" /></figure>



<p>Wajar jika anak main gadget untuk sekadar melepas penat sepulang sekolah, atau ketika memang sedang bosan dan ingin mencari hiburan lain. Selayaknya jam belajar, bermain gadget juga ada batas waktunya. Namun, terlalu membebaskan anak bermain gadget, bahkan melebihi 2 jam dalam sehari, tentu bisa menimbulkan efek buruk bagi anak. Tak terkecuali untuk fisik, otak, dan pola tidur harian anak.</p>



<h2 class="wp-block-heading">Dua jam, waktu maksimal anak main gadget</h2>



<p>Orangtua mana yang tidak ingin buah hatinya tumbuh cerdas? Atas dasar ini, para peneliti dari&nbsp;<a href="https://www.thelancet.com/journals/lanchi/article/PIIS2352-4642(18)30278-5/fulltext" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Children’s Hospital of Eastern Ontario Research Institute</a>&nbsp;di Amerika Serikat, menganjurkan Anda untuk membatasi waktu anak main gadget agar tidak lebih dari 2 jam dalam sehari. Pastikan juga anak cukup tidur dan tetap aktif sepanjang hari.</p>



<p>Ya, saran tersebut keluar setelah periset mengamati sekitar 4.500 anak-anak berusia 8-11 tahun, dengan menilai berapa banyak waktu yang biasanya dihabiskan anak untuk bermain&nbsp;<a href="https://hellosehat.com/parenting/perkembangan-balita/pengaruh-gadget-bicara-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">gadget</a>, tidur, dan melakukan aktivitas fisik.</p>



<p>Ternyata dari seluruhnya, hanya sekitar 5 persen anak-anak yang memenuhi jadwal rutinitas hariannya ideal. Rekomendasi dari Canadian 24-Hour Movement Guidelines for Children and Youth, yakni 2 jam untuk main gadget, 9-11 jam tidur di malam hari, dan 1 jam melakukan kegiatan yang melibatkan fisik.</p>



<p>Menariknya, anak-anak yang punya jadwal harian yang ideal memiliki kecerdasan yang lebih unggul ketimbang teman-teman seusianya yang tidak membagi-bagi waktu untuk bermain gadget, tidur, dan beraktivitas fisik.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/11/WEB-Kids-Lifestyle-Inti-St-Clair-is201008100247copy-758x467.jpg?x54339" alt="anak kecanduan gadget" class="wp-image-185139"/></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading">Apa hubungan waktu tidur dengan fungsi kognitif otak anak?</h2>



<p>Jeremy Walsh, selaku salah seorang peneliti, menuturkan bahwa waktu anak main gadget lebih dari 2 jam tanpa sadar memang bisa menurunkan kemampuan kognitif anak. Dalam artian, anak mungkin jadi lebih gemar bermain gadget daripada belajar, sehingga otomatis kemampuannya dalam bidang akademik cenderung lebih rendah daripada teman-temannya yang jarang bermain gadget.</p>



<p>Turut mendukung pernyataan tersebut, Eduardo Esteban Bustamante, seorang asisten dosen di&nbsp;University of Illinois ‘College of Applied Health Sciences, mengemukakan pendapatnya bahwa sebenarnya waktu main gadget memang dapat memengaruhi kemampuan otak anak dalam berpikir.</p>



<p>Bukan hanya itu,&nbsp;<a href="https://hellosehat.com/hidup-sehat/fakta-unik/jam-biologis-manusia/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">jam biologis</a>&nbsp;tubuh anak pun terganggu sehingga mengacaukan waktu tidur optimalnya.&nbsp;Menurutnya, terlalu sering dan lama saat bermain gadget bisa mengganggu proses pemulihan stres di dalam tubuh.</p>



<p>Padahal, hal tersebut sangat dibutuhkan di masa tumbuh kembang anak seperti sekarang ini, yang salah satunya diperoleh ketika anak beristirahat. Intinya, satu menit yang dihabiskan untuk menatap layar gadget, telah mengurangi satu menit waktu tidur.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter"><img decoding="async" src="https://hellosehat.com/wp-content/uploads/2018/12/manfaat-anak-main-gadget-700x467.jpg?x54339" alt="anak main gadget" class="wp-image-188798"/></figure></div>



<h2 class="wp-block-heading">Kuncinya, buat aturan waktu bermain gadget</h2>



<p>Memang, bukan hal yang mudah untuk memisahkan anak dari gadget favoritnya. Namun, bukan berarti tidak mungkin, ‘kan? Anda tetap harus bekerja ekstra keras untuk memberikan pengertian pada anak mengenai aturan bermain gadget yang baik dan benar.</p>



<p>Sebaiknya, batasi anak agar tidak menggunakan gadgetnya setidaknya 1 jam sebelum tidur. Tekankan juga untuk mengurangi intensitas bermain gadget dalam sehari, tapi perbanyak dengan melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.</p>



<p>Misalnya&nbsp;<a href="https://hellosehat.com/parenting/tips-parenting/manfaat-baca-buku-untuk-anak/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">membaca buku</a>, menonton film mengenai pengetahuan dalam bentuk yang menarik bagi anak, dan lain sebagainya. Lakukan dengan cara yang baik, tidak terkesan memaksa, tapi tetap tegas, sehingga anak bisa tergerak hatinya untuk menaati aturan ini.</p>



<p>Terlepas dari itu semua, waktu anak main gadget bukanlah satu-satunya faktor penentu kecerdasannya. Maka itu, tugas Anda sebagai orangtua adalah tetap menuntun anak untuk senantiasa melakukan hal-hal positif yang baik untuk diri dan masa depannya.</p>



<p>Bahkan, sesepele istirahat dan tidur yang cukup, melakukan kegiatan fisik semaksimal mungkin, hingga membatasi waktu anak ketika bermain gadget. Selain baik bagi kesehatan anak, fungsi kognitif otak anak pun ikut berkembang lebih maju.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.shinealiteclinic.com/2019/02/26/anak-main-gagdet-lebih-dari-2-jam-sehari-berpengaruh-pada-kecerdasannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>