<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331</id><updated>2023-03-18T04:09:12.997-07:00</updated><title type='text'>Sihir Cinta</title><subtitle type='html'>&quot;..Kombinasi yang menyihir antara elemen pop dan kecerdasan literasi. Seru!&quot; (Dewi &#39;Dee&#39; Lestari)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default?alt=atom'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default?alt=atom&amp;start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Miranda</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://img.photobucket.com/albums/v307/rheinaya/running_away.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115760615802986117</id><published>2006-09-06T22:08:00.000-07:00</published><updated>2006-09-06T22:33:25.863-07:00</updated><title type='text'>I Love You, Om... -the novel-</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Sebuah pembunuhan telah terjadi. Menyamar sebagai juru warta kematian dirinya sendiri, Orestes masuk ke dalam istana. Mengendap diam-diam ke dalam kamar dan membunuh Aegisthus, lalu Clytemnestra—ibu kandungnya sendiri. Sebuah balas dendam atas permintaan Electra, saudara perempuannya, untuk pasangan yang telah membunuh Agamemnon, ayah kandung mereka. &lt;/span&gt;Kisah Yunani kuno ini yang menginspirasi Freud untuk ekuivalensi feminin dari teori &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Oedipus complex&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada mitologi Yunani dalam &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;I Love You, Om...&lt;/span&gt; Dion bukan Electra yang dendam pada sang ibu karena telah berselingkuh dan membunuh ayahnya. Ia juga tak punya adik laki-laki yang akan membalas dendam atas kematian ayahnya. Ia hanya kadang-kadang sangat merindukan Ayah. Ayah, yang kerap membawakannya buku cerita bergambar—bukan komik seperti yang dibawa ibunya—dan hadiah-hadiah tak terduga dari perjalanannya berlayar keliling dunia. Yang akan membacakan cerita sebelum ia terlelap tanpa jatuh tertidur seperti ibunya. Dion hanya seorang gadis kecil berusia sebelas tahun, yang kerap merindukan perhatian, setelah ayahnya meninggal dunia dan ibunya menjadi sangat sibuk demi mereka. Dion baru berusia sebelas tahun, ketika ia bertemu Gaza. Seorang laki-laki yang akan membujuknya ketika ia ngambek. Yang bersedia menemaninya berkeliling kota sepulang sekolah dan membelikannya es krim. Seperti ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi perasaan itu pun bertransformasi. Dion terlampau kecil untuk dapat menerka, menjelaskan, dan membatasi perasaannya. Gaza yang terlalu matang untuk Dion bahkan kesulitan memahami pergulatan besar dalam dirinya: tentang perasaan, norma, ukuran kewarasan, kerinduan-kerinduan dari masa lalu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Penis envy&lt;/span&gt;. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Castration complex&lt;/span&gt;. Entah jika Dion juga mengalaminya. Tetapi cinta datang kepada siapa saja. Bahkan pada gadis kecil dua belas tahun dan laki-laki matang dua puluh delapan tahun. Pilihannya ada pada tangan si pelaku. Bukan penonton. Bukan pengamat. Bukan kritikus. Karena cinta bebas nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;I Love You, Om...&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;the novel&lt;/span&gt;, diadaptasi dari skenario film karya Aviv Elham dan diproduksi oleh Gunja Film dengan judul sama. Diterbitkan oleh GagasMedia, September 2006. 139 halaman, Rp 17.000. []</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115760615802986117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115760615802986117&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115760615802986117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115760615802986117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/09/i-love-you-om-novel.html' title='I Love You, Om... -the novel-'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115632240065139523</id><published>2006-08-23T01:35:00.000-07:00</published><updated>2006-08-23T01:40:00.713-07:00</updated><title type='text'>Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;sebuah pengantar proses&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;. Itu namanya. Sebuah kijang tua tujuhpuluhan yang mengantar kami ke kehidupan di balik pepuing dan jejak debu di udara. Yang mempertemukan kami dengan dunia ajaib di balik bencana, dan menjadi saksi tumbuhnya kembali sebuah desa. Tempat di mana anak-anak tak lupa cara tertawa, dan orang-orang tua masih bisa bersenda. Di tengah kepasrahan dan reruntuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik jendela &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; berkecepatan sedang, kami merekam tilas hidup desa yang luluh lantak akibat gempa berkekuatan 5,9 S.R, 27 Mei 2006 lalu, yang masih berdenyut tak kenal lelah meski bencana merenggut banyak dari mereka. Sebuah keajaiban yang membuat kami belajar memahami makna paradoks di balik bencana. Lihatlah. Di balik sekian pasang mata yang mengintai ketika kendaraan tua kami menyusur jalan yang membelah desa, kami melihat pijar. Menyala, meski tersaput jelaga sisa gempa. Sekian pasang mata itu tidak semata bertanya: ‘apa bantuan yang dapat diberikan untuk kami’, tetapi ‘apa yang dapat kita lakukan bersama untuk kembali pulih’. Darinya, kami membaca tekad untuk beranjak dari keterpurukan. Sebuah keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitu banyak keajaiban lain. Relawan-relawan yang dengan komitmen penuh mengisi proses dengan atmosfir sejuk waktu ke waktu, bantuan demi bantuan yang datang tak terduga, sampai mogoknya sang &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; dan ban yang pecah ketika menjalankan tugas. Ajaib, sebab tak ada yang membuat kami surut, meski mesti melangkah dengan tersaruk-saruk. Meski compang-camping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Armada ini memang compang-camping. Ketika bencana memorak-morandakan sebagian wilayah Jogjakarta dan Jawa Tengah seratus hari yang lalu, Perkumpulan Seni Indonesia, organisasi yang berangkat dari semata-mata komitmen ini, bertanya: apa yang dapat dilakukan untuk mereka, para korban bencana. Apa yang dapat kami gayuh, hanya dengan kapasitas dan kemampuan yang kami miliki. Hingga tersepakati sebuah proses yang demikian sederhana: pendampingan untuk anak-anak korban bencana, pada lingkup yang tak kalah kecil jika diperbandingkan dengan luas lingkup wilayah korban bencana. Sebentuk pendampingan yang diformulasikan dalam program sederhana pula: mengajak anak untuk mengungkapkan, dengan bahasa mereka sendiri, ketakutan-kegelisahan-luka jiwa-pikiran-anganangan dan harapan mereka untuk masa depan. Mengajak anak menyuarakan diri sendiri, dengan sesedikit mungkin menempatkan mereka sebagai objek. Dengan sedikit bekal yang kami miliki, selama bulan Juli hingga pertengahan Agustus, PSI menjalankan pendampingan di beberapa titik, antara lain: Pelemsewu, Kasongan, Pengkol, Bawuran, dan Karangasem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di sinilah kini kami berada, bersama &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; dan serangkaian keajaiban yang membuat program tahap awal berhasil terlampaui. Sesungguhnya, masih banyak yang ingin kami lakukan untuk bangkit bersama korban bencana. Masih banyak titik yang ingin kami singgahi menitih &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;: Payak, Bawuran Tengah, lereng Merapi, bahkan Pangandaran, jika saja kami mampu. Mungkin kelak. Sebab, ketika tikar digulung, anak-anak dampingan kami kembali ke rumah, dan sang &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt; disimpan kembali dalam garasi, diam-diam kami menyimpan janji. Untuk selalu kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini; &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa &lt;/span&gt;mungkin berhenti. Sejenak saja. Tetapi celoteh anak yang meramaikan hidup kami sebentar kemarin akan menggantikannya, melanglang tanah air dan belahan lain dunia, menceritakan suka-duka mereka di tengah reruntuhan dan kehilangan. Sementara kami hanya bisa memandang dan berdoa: semoga sesuatu yang sederhana ini cukup berarti. Semoga mereka, anak-anak di wilayah bencana, menemukan kekuatannya untuk melompat keluar dari ingatan buruk tentang gempa, pada suatu pagi dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;Dan inilah armada &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Garudayeksa&lt;/span&gt;, relawan-bagian PSI pada mana saya mesti mengucapkan terima kasih sedalamnya: Landung Simatupang, Hari Santosa, Pak Piet Hari, Ina Landung, Ibu Tuti, Ibnu ‘Denko’ S, Anto, Ivan Bestari, Dewi, Tri ‘Mungil’ W, Prasetyo ‘Sinyo’, Fr. Danang, Anggie, dan Tita.&lt;br /&gt;Terima kasih pula untuk dukungan penuh awak PSI di Betawi terhadap proses: FX Rudy Gunawan, Agung Yudha, Andi Yuwono, Raharja W. Jati.&lt;br /&gt;Serta seluruh keajaiban yang menyertai kami sepanjang proses: Maya, Frans, Ibu Agus Sukidi, Ibu Soni, Paroki Katedral Denpasar, Ibu Retno Iskandar dan KPH Kotabaru, Pak Wiwit C-59, Ninit Yunita dan Adhitya Mulya, Icha Rahmanti, Rumah Seni Cemeti, Rm. Windyatmaka dan Wisma Mahasiswa, Gerakan Jogja Bangkit, Bapak Ryan Masagung dan TB Gunung Agung, Tinuk Yampolsky, Yayasan Pustaka Kelana, Penerbitan Kanisius, Tita Rubi dan Studio Biru, Shabaviz Publishing House Iran, Gun Yayincilik Publishing House Mesir, Bp Diyono dan Masyarakat Pengkol-Kulonprogo, dan semua pihak yang tak dapat disebut satu per satu. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There always be miracle, when you believe. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;“You may give them your love but not your thoughts.&lt;br /&gt;For they have their own thoughts.&lt;br /&gt;You may house their bodies but not their souls.&lt;br /&gt;For their souls dwell in the house of tomorrow, which&lt;br /&gt;you cannot visit, not even in your dreams.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—Kahlil Gibran, The Prophet, “On Children”—&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115632240065139523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115632240065139523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632240065139523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632240065139523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/08/mobil-tua-dan-mata-yang-mengintai-dari.html' title='Mobil Tua dan Mata yang Mengintai dari balik Reruntuhan'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115632199992713704</id><published>2006-08-23T01:29:00.000-07:00</published><updated>2006-08-23T01:33:29.210-07:00</updated><title type='text'>Bencana, Trauma, dan Akar Kultur</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;&quot; &gt;Miranda Harlan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Ada satu hal yang kerap ternafikan ketika bencana mengembalikan sebagian manusia ke titik mula kehidupan, dan menggerakkan sebagian yang lain untuk memberi bantuan, hampir tanpa arah dan koordinasi. Ialah akar kultur masyarakat korban bencana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Pascabencana bagi masyarakat korban adalah masa yang rentan secara sosiokultural. Ketergantungan korban terhadap bantuan di masa tanggap-darurat bencana menimbulkan problema-problema sosial yang peka, karena hiruk-pikuk bantuan tak lepas dari tumpang-tindih kepentingan. Wajar bila isu semacam Kristenisasi, Islamisasi, Indomie-sasi, sampai terbentuknya budaya ‘kridha lumahing asta’, tanpa memasalahkan tendensi di balik pahlawan pemberi bantuan, menjadi isu faktual yang mengkhawatirkan. Tanpa pertimbangan yang bijaksana dari pemberi bantuan, masyarakat korban bencana, alih-alih terbantu, bisa-bisa justru terancam akan tercerabut dari akar kulturnya semula. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Hal ini menjadi kekhawatiran sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta, pascabencana yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei lalu. Menurut mereka, rupa-rupa bantuan yang diterima korban, jika tak dimaknai secara benar, berpotensi membelokkan masyarakat korban dari kultur semula. Kesadaran akan hal ini, bagi kalangan kebudayaan, mestinya tak hanya disadari oleh masyarakat korban alias penerima bantuan, tetapi pun oleh lembaga-lembaga penyalur bantuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Kekhawatiran akan bergesernya kultur masyarakat korban akibat bencana disampaikan Whani Dharmawan, yang dengan beberapa budayawan lain seperti Bondan Nusantara dan Miroto, membentuk Gerakan Jogja Bangkit. Sebuah gerakan pemulihan pascabencana melalui pendekatan kultural. Membanjirnya bantuan, menurut Whani, jika tidak dikelola dengan baik oleh lembaga-lembaga distribusi, dapat menimbulkan, semisal, budaya ‘kridha lumahing asta’ atau budaya meminta-minta. Adalah kewajiban lembaga penyalur untuk mengorganisir bantuan yang masuk dan melibatkan masyarakat korban secara sedemikian rupa sehingga terhindar dari mentalitas peminta-minta. Hal senada diungkapkan pula oleh Landung Simatupang, “Jangan sampai bantuan berdus-dus mi instan membuat ibu-ibu lupa cara memasak &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;jangan brongkos&lt;/span&gt;.” Pada tataran hidup bermasyarakat, Landung menggarisbawahi kultur bergotong-royong, toleransi, dan saling pengertian, yang terancam pupus jika bantuan tidak disikapi secara proporsional. Terlebih, ketika masyarakat korban bencana berada dalam kondisi mental yang labil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Karena itu, proses pemulihan kejiwaan korban bencana menjadi urgensi yang mesti pula diperhatikan, di samping pembangunan dan pemulihan fisik. Dengan landasan mental yang kuat, masyarakat akan memaknai bencana sebagai sebuah momentum. Untuk bergerak, membangun kembali, untuk beranjak kepada pemahaman yang lebih. Dengan mental yang sehat, masyarakat korban gempa akan memaknai bencana secara positif, tanpa tercerabut dari akar kulturnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Pulih dari trauma melalui gerakan kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Gerakan kebudayaan adalah jalur yang dipilih oleh sebagian kalangan kebudayaan di Yogyakarta untuk memulihkan kondisi kejiwaan masyarakat korban gempa. Jogja Bangkit—sebuah lembaga yang berdiri atas kerja sama beberapa penerbit dan dikelola oleh Julius dan Penerbit Galang Press—misalnya, menjalankan trauma healing dengan mengelilingkan hiburan Badut Sponge Bob dan Ketoprak Den Baguse Ngarso ke daerah-daerah bencana di Yogyakarta. Pada tataran lanjut, Romo Banar mengatakan media hiburan semacam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk terjadinya dialog antarwarga. Dialog untuk saling berbagi dalam kelompok-kelompok kecil, dengan didampingi fasilitator, adalah salah satu proses pemulihan trauma yang dapat diterapkan untuk orang-orang tua. Sebab, seperti disampaikan Landung Simatupang, trauma yang dialami anak-anak, selain sebagai dampak bencana sendiri, kerap kali merupakan tularan dari orangtua. Sementara pemulihan trauma untuk orang tua, dalam implementasi bantuan, cenderung dinomorduakan dari proses pemulihan trauma untuk anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Pendampingan terhadap orang tua dalam proses berbagi dilakukan pula oleh relawan-relawan dari Bulungan, Jakarta, di posko Kepuhan (Imogiri, Bantul) yang dikelola oleh Ihsan ‘Dobleh’ Zulkarnain dan Wendy Shan Wong dari Institut Seni Indonesia. Wendy, pada pengalaman di lapangan, menemukan kenyataan bahwa korban pada usia produktif dan lanjut ternyata membutuhkan muara untuk mencurahkan isi hati. Kebutuhan itulah yang kemudian difasilitasi sebagai salah satu implementasi pemulihan trauma bagi masyarakat korban. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Selain melalui proses berbagi, pemulihan trauma untuk korban usia produktif dapat pula dilakukan melalui bangkit dan hidupnya kembali rutinitas masyarakat sebelum bencana terjadi. Keyakinan akan hal inilah yang melandasi program Gerakan Jogja Bangkit untuk masyarakat korban bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Pascagempa 27 Mei lalu, perhatian warga korban usia produktif terserap pada rehabilitasi hunian-hunian yang rusak, sehingga mereka tak sempat menjalankan aktivitas ekonomi yang menjadi rutinitas sebelum bencana terjadi. Aktivitas inilah yang coba dihidupkan kembali oleh Gerakan Jogja Bangkit. Dengan memberi bantuan riil sesuai bidang pencaharian masyarakat korban gempa, Whani berharap trauma yang dialami oleh masyarakat korban pada usia produktif akan teratasi. Dua minggu pascagempa, misalnya, Gerakan Jogja Bangkit memberi bantuan dua puluh unit sepeda untuk korban yang sebelum gempa bermata pencaharian sebagai tukang sol sepatu keliling. Gerakan Jogja Bangkit juga mendirikan sekolah dan pondok baca untuk anak di Kasongan, Bergan, dan Payak, Bantul, DIY. Meski dikemas sebagai bantuan untuk anak, Whani berharap pondok-pondok baca ini kemudian menjadi media berkumpulnya orang-orang tua, dan selanjutnya dapat menjadi rangsangan untuk menjalankan aktivitas bermasyarakat seperti semula, sebelum terjadi bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Masih dalam kerangka tujuan dan upaya yang sama, seniman tari Miroto menghidupkan kembali kelompok-kelompok kesenian ketoprak di pedesaan, dan berharap proses tersebut dapat dipentaskan di luar Yogya. Dengan melibatkan mereka dalam proses berkesenian, mengajak korban bencana untuk beraktivitas rutin, dan mengepulkan kembali tungku-tungku dapur mereka, Miroto berharap proses ini memijarkan semangat baru dalam diri korban. Sekali lagi, tanpa menjerumuskan mereka menjadi kaum yang ‘kridha lumahing asta’. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Ekspresi Anak, Sembuhnya Luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Merujuk pada deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Peringatan Tahun Anak Sedunia (1979), anak-anak termasuk salah satu kelompok yang harus diutamakan sebagai penerima bantuan di saat terjadi bencana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Ketika perhatian orangtua dan pengampunya terserap pada proses membangun kembali hidup pascabencana, anak menjadi objek yang rentan mengalami gangguan kejiwaan. Anak kerap terlalaikan, dan secara tanpa sadar terus tergerus oleh trauma orangtua dan pengampunya terhadap bencana dan akibat yang ditimbulkannya. Anak kehilangan kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan mengekspresikan keinginannya untuk dipahami, dalam konteks kehidupan pascabencana. Berbeda dengan korban berusia dewasa yang mampu berbagi beban dan ganjalan yang ditanggungnya kepada orang lain, proses pemulihan trauma untuk anak memiliki kompleksitas dan bentuk penanganan tersendiri.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Piaget, seorang ahli psikologi anak, menyatakan bahwa permainan menjembatani ruang kosong antara pengalaman-pengalaman yang nyata dengan pikiran dan perasaan yang bergolak dalam diri anak. Demikian pula kesenian. Permainan dan kesenian, oleh ahli terapi anak, sejak lama diyakini sebagai bentuk terapi yang tepat bagi anak-anak korban bencana. Melalui bermain dan berkesenian, anak mengekspresikan dirinya dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan media tersebut, anak menyampaikan kebutuhannya. Dus, kondisi kejiwaannya menjadi lebih mudah dipahami. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Berpijak pada pemahaman tersebut, beberapa lembaga seperti Laboratorium Pembelajaran Cakrawala dan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI) memusatkan perhatian dan melakukan pendampingan terhadap anak-anak, melalui proses bermain dan berkesenian bersama. Seperti diungkapkan oleh Detty Aryanti, ahli psikologi anak yang berpengalaman menangani korban trauma Badai Katrina di Amerika Serikat, tahun 2005 lalu, jika orang dewasa mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya melalui kata-kata, pada anak-anak, mainan dan benda adalah “kata-kata”, dan permainan adalah “bahasa”. Menyediakan media bagi anak untuk berkomunikasi adalah bantuan yang tepat guna memulihkan anak dari trauma. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Hari Santosa, pemilik Sanggar Menggambar Melati Suci yang selama bertahun-tahun berpengalaman bergulat dengan anak-anak, meyakini bahwa menggambar merupakan salah satu media yang tepat untuk mengekspresikan kegelisahan yang tersimpan di alam bawah sadar anak. Bersama PSI, Hari Santosa melakukan pendampingan terhadap anak-anak di beberapa titik bencana, di antaranya Kasongan, Bawuran, Pelemsewu, dan Pengkol. Melalui menggambar, Hari mengajak anak melangkah, mengambil jarak dari penyebab trauma, yang pada tingkat lanjut membuat anak secara mandiri mampu mengatasi trauma yang dialaminya. Selain menggambar, PSI mendekatkan anak dengan tradisi tulis, dan mendorong anak untuk menceritakan pengalaman batinnya dengan membuat cerita. Untuk mendukung keberlangsungan proses kreatif anak, PSI membangun pula perpustakaan sederhana untuk mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Pustaka merupakan infrastruktur kreativitas yang cukup penting. Dalam perjalanan program bersama PSI, Landung Simatupang menemui kenyataan yang menyedihkan; betapa anak di pedesaan masih begitu jauh dari tradisi menulis. Jangankan membuat sebuah karangan utuh, sebagian besar dari mereka belum bisa menulis dengan ejaan yang benar, terlebih menggunakan tanda baca. Gejala ini menunjukkan rendahnya mutu pendidikan anak di pedesaan. Sesuatu yang mestinya dicermati oleh lembaga-lembaga yang peduli. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Serupa dengan PSI, Laboratorium Pembelajaran Cakrawala bekerja sama dengan masyarakat lokal membangun Pusat Kegiatan Anak (Children Center) sebagai upaya memulihkan trauma anak-anak korban bencana. Cakrawala memfokuskan program pada satu desa binaan dengan menyediakan fasilitator, sarana yang diperlukan, serta materi atau “kurikulum” yang terstruktur. Rangkaian kegiatan yang ditawarkan kepada anak terdiri dari tiga tahap. Berawal dari penanganan kebutuhan dasar yang meliputi pemulihan daya kerja indera peraba (bermain-main dengan pasir, air, tanah liat, dan lilin). Pada tahap kedua, anak diajak untuk menggambar, menulis, membuat boneka atau wayang, bermain musik, dan mendongeng. Kesemua keasyikan tersebut bermuara pada tahap ketiga, di mana anak akan membuat pertunjukan; menyusun cerita drama, dan bermain teater. Dengan cara tersendiri, terapi anak melalui teater diterapkan pula oleh Sheep of Peace, bekerja sama dengan Anak Wayang Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Bagaimanapun bentuknya, rangkaian upaya pemulihan trauma terhadap korban bencana tak boleh dilepaskan dari akar kultur masyarakat. Seperti diungkapkan Landung Simatupang, lembaga-lembaga penyalur bantuan mesti mempertimbangkan aspek ini secara bijaksana sebelum menjalankan program trauma-healing. Sedapat mungkin, pendampingan yang dilakukan oleh fasilitator di lapangan tak membuat masyarakat korban tercerabut dari akar kulturnya. Terlebih, menimbulkan ketergantungan masyarakat korban terhadap fasilitator dan lembaga bantuan. Proses pemulihan dari trauma tak akan berjalan efektif jika tidak didukung oleh kemandirian korban untuk lepas dari trauma. Adalah tugas kita semua, lembaga fasilitator &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;trauma-healing&lt;/span&gt;, untuk mengingatnya.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115632199992713704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115632199992713704&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632199992713704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115632199992713704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/08/bencana-trauma-dan-akar-kultur.html' title='Bencana, Trauma, dan Akar Kultur'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115261997609615700</id><published>2006-07-11T05:00:00.000-07:00</published><updated>2006-07-11T05:12:56.380-07:00</updated><title type='text'>Maridjan: The Man Behind Merapi</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Lewat tengah hari menjelang senja, kami memasuki halaman sebuah rumah sederhana yang tampak tenang, meski tak terlalu lengang. Orang tua itu sedang berdiri di pekarangan rumah, bersama beberapa orang yang mengerumun di dekatnya. Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah pelannya mendekati kami. Orang tua itu tersenyum hangat, sembari bersalam. “&lt;i&gt;Sinten&lt;/i&gt;,&lt;i&gt; niki&lt;/i&gt;?”&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote1anc&quot; href=&quot;#sdfootnote1sym&quot;&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; sapanya karib. Dalam sekejap, rasa waswas yang sesekali bersambang selama berada di kawasan Kinahrejo-Kaliadem, lenyap tersapu sorot mata yang arif sekaligus menentramkan hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Kedatangan kami disambut langsung oleh Mbah Maridjan, &lt;i&gt;the man behind&lt;/i&gt; Merapi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Kebersahajaan, seperti dikatakan semua orang, nyata lekat pada sosok R. Ng. Suraksohargo, yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan itu. Tak sedikit pun tersirat keangkuhan dalam diri sang juru kunci Merapi, meski belakangan ia dikabarkan bersikap &lt;i&gt;mbalela&lt;/i&gt; karena menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Jusuf Kalla untuk turun gunung ketika aktivitas Merapi meningkat sampai status Awas. Alih-alih mengungsi, orang tua yang &lt;i&gt;linuwih&lt;/i&gt; (dianggap memiliki kelebihan) ini memilih tetap bertahan di Kinahrejo, ketika 14 Juni lalu Merapi kembali mengeluarkan awan panas yang mencapai pemukiman penduduk. Saat itu, warga dukuh Kinahrejo yang terkenal enggan mengungsi berbondong-bondong meninggalkan tempat tinggal mereka menuju Balai Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, termasuk isteri dan anak-anaknya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bagi Mbah Maridjan, sikap bertahan adalah salah satu wujud baktinya sebagai juru kunci Merapi, selayaknya nama Suraksohargo, yang secara harfiah berarti ‘menjaga gunung’. Dengan bertahan, Mbah Maridjan menjalankan laku prihatin dan berdoa, memanjatkan permohonan keselamatan. Tak hanya untuk warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi, tetapi juga untuk seluruh warga Daerah Istimewa Yogyakarta. Entah adakah kaitan antara sikap bertahannya dengan mistik dan klenik, seperti kerap dimitoskan. Bagi Mbah Maridjan, ketika Gunung Merapi sedang giat beraktivitas seperti saat-saat ini, hanya berdoa yang bisa ia lakukan. “&lt;i&gt;Saged-e kulo nggih namung nyuwun kawilujengan dumateng Ingkang Maha Kuwaos. Liya-liyane kulo mboten saged, saestu&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote1anc&quot; href=&quot;#sdfootnote1sym&quot;&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Persepsi yang mengaitkan Mbah Maridjan dengan dunia klenik mungkin muncul karena ritual-ritual yang dilakukannya sebagai penjaga; &lt;i&gt;juru reresik&lt;/i&gt;, juru kunci Gunung Merapi. Caranya memanjatkan permohonan kepada Yang Maha Kuasa memang sarat nilai-nilai tradisional, hal-hal yang belum sanggup dijelaskan dengan nalar pengetahuan dan akal sehat. Hal-hal yang kemudian oleh persepsi umum disepakati sebagai klenik. Tengok sejenak kebiasaannya. Sejak status Merapi ditingkatkan menjadi Awas, sehari-hari Mbah Maridjan menjalankan puasa &lt;i&gt;mutih&lt;/i&gt; sebagai laku prihatin. Hanya makan sekepal nasi dan minum air putih, selain mengisap rokok putih kegemarannya. Secara rutin dijalankannya laku tirakat. Bersemadi di kediamannya, di Paseban Sri Manganti (terletak di pos I Gunung Merapi), atau Paseban Labuhan Dalem (pos II). Setiap tanggal 30 Rejeb Tahun Saka ia melakukan ritual Labuhan di Paseban Labuhan Dalem, bersama para &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Ritual ini biasanya disertai pula oleh rombongan pecinta alam dan masyarakat. Doa untuk Eyang Empu Romo, Eyang Empu Permadi, Eyang Panembahan Sapu Jagat (dikenal juga dengan nama Kyai Sapu Jagat), dan semua yang &lt;i&gt;lenggah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote2anc&quot; href=&quot;#sdfootnote2sym&quot;&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; di Gunung Merapi tak pernah ditinggalkan ketika menjalankan ritual. Selain itu, setiap sudut ruang tamu rumahnya dipenuhi pusaka, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X, penanggalan Jawa-Islam, dan foto Gunung Merapi. Tetapi di antara kesehariannya, kerabat Keraton ini tak pernah meninggalkan salat lima waktu di masjid yang dibangunnya di ujung pekarangan rumah. Klenikkah ia? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Wallahu’alam&lt;/i&gt;. Seperti dinyatakan sendiri olehnya, sebagian orang menganggap Mbah Maridjan sebagai puncak kearifan lokal, yang karena kedekatan dengan Gunung Merapi dan kejernihan hatinya, sanggup mengenali setiap tanda-tanda yang dikeluarkan sang gunung. Barangkali bahkan tak ada hubungannya dengan mistik dan klenik. “Psikologi Merapi itu ya Maridjan,” ujar Ong Hari Wahyu, seorang perupa, menggambarkan betapa menunggalnya sosok Mbah Maridjan dengan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia ini. “Karena dia sejak kecil di situ. Hidup, makan, minum air Merapi, jadi dia sudah bisa membaca gejala alam.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Perjalanan Mbah Maridjan mengenal Gunung Merapi tentulah sudah sangat panjang. Maridjan lahir tahun 1927 dan dibesarkan di Merapi. Dari almarhum ayahnya, Mas Penewu Suraksohargo, ia mewarisi jabatan sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tahun 1974, ia diangkat menjadi Wakil Juru Kunci. Pada masa-masa itu ia kerap mewakili ayahnya dalam laku Labuhan, pada peringatan &lt;i&gt;jumenengan&lt;/i&gt; (naik tahta) Sultan. Tahun 1982, sepeninggal ayahnya, Mbah Maridjan diangkat menjadi Mantri Juru Kunci. Tiga belas tahun kemudian, Sri Sultan Hamengkubuwono X, lewat Serat Kekancingan Dalem Ngarsa Dalem Sultan Hamengkubuwono X tertanggal 3 Maret 1995, menaikkan pangkat Mbah Maridjan menjadi Mas Penewu Juru Kunci, jabatan yang dipangkunya hingga saat ini.&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote3anc&quot; href=&quot;#sdfootnote3sym&quot;&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Selama lebih dua puluh tahun Mbah Maridjan telah mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengabdikan diri sebagai juru kunci Gunung Merapi. Tetapi pergulatannya dengan Merapi menempuh jarak berlipat lebih panjang. Sejak kecil, ia yang tinggal di lereng selatan Merapi telah mencerap kearifan sang ayah (yang konon juga dimiliki ibunya) dalam menghadapi tindak-tanduk Merapi. Selama perjalanan panjang hampir seumur hidup, ia tak hanya belajar mengenali gejala-gejala alam berkaitan dengan aktivitas Merapi. Tetapi juga belajar memahami “keinginan” sang gunung yang tak pernah berhenti “memberi” pada warga di sekitarnya tersebut, melalui laku tirakat dan kebersahajaan yang tak pernah lepas. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bagi Mbah Maridjan, Merapi adalah makhluk gaib yang bernafas, berpikir, dan berperasaan. Jangan mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya, demikian selalu pesan Mbah Maridjan. “Mbledhos, njeblug, wedhus gembel,” kepada kami ia merinci istilah-istilah yang umum digunakan oleh masyarakat mengenai aktivitas Merapi, tetapi membuat Sang Makhluk terluka perasaannya. Istilah-istilah itu, menurut Mbah Maridjan, memang umum digunakan, tetapi baginya tetaplah “kurang umum” alias tidak sopan. “&lt;i&gt;Kanggo wong pinter mbok menawi kedah ngaten niku, nanging kanggo wong bodho kados kulo niki nggih mboten makaten.&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote4anc&quot; href=&quot;#sdfootnote4sym&quot;&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bagi “orang-orang bodoh”, lanjutnya, saat ini Merapi sedang “membangun”. Suara gelegar yang beberapa kali terdengar diibaratkannya sebagai “orang tua yang sedang memecah batu di puncak Gunung Merapi”. Jikapun aktivitas Merapi kini meningkat, itu berarti Sang Gaib yang &lt;i&gt;lenggah&lt;/i&gt; di sana sedang punya hajat. Dan menurut Mbah Marijan, selayaknya orang punya hajat, sampahnya tidak akan dibuang ke depan, tetapi ke samping dan belakang rumah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sifat Jawa yang sarat simbol tersirat dari cara Mbah Maridjan menjelaskan apa yang tengah terjadi pada Merapi. Gunung Merapi yang terhubung dengan Laut Selatan dan menjadi salah satu poros imajiner sebagai kekuatan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memang diibaratkannya menghadap Keraton Yogya. Sedang bagian “depan rumah” yang dimaksudkannya adalah bagian selatan gunung, yakni kota Yogyakarta. Tak hanya sarat simbol, selayaknya apa yang telah dipercayai selama bertahun-tahun, Mbah Maridjan bersikap sangat halus terhadap Merapi. Ritual dan tatacara yang ia lakukan adalah bentuk penghormatan pada makhluk yang dijaganya. Agar Sang Gunung senantiasa bersabar, tak memasukkan dalam hati perilaku orang-orang kota yang terkesan mengecilkan artinya. Dalam kebijakan pikirnya, Mbah Maridjan menyadari bagaimana sikap “orang-orang pandai” telah melukai Gunung Merapi. Membawa dampak buruk bagi masyarakat yang bermukim di sekitar gunung. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Tak hanya perilakunya yang sarat nilai tradisi. Tutur kata Mbah Maridjan pun selalu bernilai simbolik. Di balik kerendahan hati dan kebersahajaan, lelaki tua yang membuka diri pada dunia dan suka bicara dengan siapa pun ini menyimpan kebijaksanaan. Suatu kali, seperti dituturkan oleh budayawan Landung Simatupang, pada suatu acara hajatan, Mbah Maridjan bercerita. Tentang rombongan pendaki Gunung Merapi yang diantarnya. Mereka, orang-orang kota dengan pakaian modern dan atribut lengkap termasuk sepatu gunung, merasa heran pada Mbah Maridjan yang menyertai perjalanan mereka tanpa alas kaki. Di tengah perjalanan yang sulit, salah satu dari mereka bertanya, kenapa ia tak menggunakan alas kaki. “Kan panas?” Mbah Maridjan diam sejenak. Mengembuskan nafas, memandang tajam si penanya, dan dengan sebersit senyum justru balik bertanya: kenapa mereka tak menggunakan penutup kepala. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Pertanyaannya tentu saja membuat si penanya bingung. Menangkap selisih paham antara mereka, Mbah Maridjan melanjutkan kalimatnya dengan enteng: saya tidak mengenakan alas kaki, tetapi menutup kepala (dengan kopiah). Karena bagi saya, kepala lebih utama daripada kaki. Karena kepalalah yang berpikir dan memberi perintah pada kaki untuk berjalan. Sementara kaki hanya saya gunakan untuk melangkah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bagi Landung, cerita di atas menunjukkan bagaimana sikap bijak Mbah Maridjan menempatkan keutamaan dan mengesampingkan logika praktis orang kota, alias “orang-orang pandai”. Sebuah kalimat bermakna ganda, berkonotasi demikian filosofis, yang mungkin hampir tak pernah terpikirkan oleh kita semua. Ceritera ini tersurat pula dalam buku &lt;i&gt;The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih&lt;/i&gt;, bersama sebuah kalimat bersayapnya yang lain: “Buah yang kamu pungut di bawah pohon terasa manis dan masak, sebaliknya yang kamu petik dari pohon dengan menyogoknya pakai tongkat bambu akan selalu terasa pahit.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote5anc&quot; href=&quot;#sdfootnote5sym&quot;&gt;6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Monggo&lt;/i&gt; lho, silakan dimakan. Ini bukan fantasi,” paksa Mbah Maridjan pada kami, menjelang senja di rumahnya. Dengan cekatan dibukanya setoples kue kering yang &lt;i&gt;manggrok&lt;/i&gt; di hadapan kami, ditemani gelas-gelas berisi teh hangat yang kental dan manis yang terasa legit di tengah hawa dingin menusuk tulang. Sekali lagi, ia mengatakan kalimat yang sama: supaya kami segera menikmatinya. “&lt;i&gt;Niki sanes fantasi&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;niki tenanan,&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote6anc&quot; href=&quot;#sdfootnote6sym&quot;&gt;7&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; ujarnya lucu. Dari pengalaman kami yang pendek bersamanya, sosok sederhana itu memang memancarkan kebaikan hati yang tak dibuat-buat. Tetapi sosok Mbah Maridjan tak sekadar sosok yang baik hati dan bersahaja. Di dalamnya tersimpan kebijaksanaan dan pemahaman tentang esensi hidup. Lewat kesempatan itu, mungkin ia sedang berusaha mengingatkan kami akan hakikat hidup modern, yang kini dipenuhi oleh fantasi belaka. Dan jalan untuk mengetahui yang sebenar-benarnya adalah tidak dengan mengamatinya. Membedahnya dengan pisau analisis. Tetapi menjalaninya. Mencicipinya. Menikmatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt; “&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Saya ini cuma orang bodoh...”&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Dalam beberapa perbincangan dengan narasumber yang berbeda, kami hampir selalu menemukan kalimat yang lantas seolah menjadi &lt;i&gt;trademark&lt;/i&gt; Mbah Maridjan. Kalimat yang mengesankan kerendahan hati dan kebersahajaannya, dan menjauhkannya dari kesan hendak menonjolkan diri. Kalimat itu adalah kalimat yang kerap kali meluncur dari bibirnya, bersama seutas senyum hangat. “Saya ini cuma orang bodoh.”  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bagi sebagian orang yang kami temui, Mbah Maridjan memang hanyalah seorang jujur. Tanpa embel-embel kekuatan supranatural. Juru-juru kunci yang lain dapat membuktikan kesaktian dan kelebihan mereka, diiringi pengakuan orang-orang di sekitarnya, yang tidak dilakukan oleh Mbah Maridjan. Tetapi mungkin justru kalimat itulah yang menancapkan kesan kuat akan sosoknya pada diri orang-orang lain. Kesan itu pula yang ditangkap oleh Elisabeth D. Suprapto, penulis buku &lt;i&gt;The White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih&lt;/i&gt;. Ketika Elisabeth meminta penjelasan, cermatilah tuturan Mbah Maridjan: “Kalau orang pinter diberi satu, akan minta dua. Tapi kalau orang bodoh diberi satu, akan disyukuri.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote7anc&quot; href=&quot;#sdfootnote7sym&quot;&gt;8&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Ungkapan yang selalu diucapkan Mbah Maridjan dengan cara yang jenaka itu tentu memiliki makna yang, selain begitu relijius, juga sangat dalam. Senantiasa bersyukur sesungguhnya membuat manusia menjadi manusia. Membuat manusia menemukan hakikat kesetiaan. Menemukan dirinya yang utuh. Dengan bersyukur, manusia kembali pada kejernihan hati. Dan lewat hati yang jernih, ia melihat hal-hal yang tak terlihat dan tertutupi oleh rasionalitas pikir. Sebaliknya, makna bodoh dalam falsafah Jawa pun mengandung makna tersembunyi. “Yang tak tahu, tetapi sesungguhnya mengetahui.” Dengan menempatkan diri sebagai orang bodoh, manusia akan terus mengisi. Mencoba memahami dengan menjalani. Sebab yang berusaha dipahami pada hakikatnya bukan sesuatu yang berhenti. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Mengungkapkan diri sebagai orang bodoh sesungguhnya adalah cerminan laku &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;. Budaya Jawa mengenal &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kawruh&lt;/i&gt;, jelas Landung Simatupang pada kami di satu perbincangan minum teh sore hari. Yang disebut dengan &lt;i&gt;kawruh&lt;/i&gt; adalah ilmu pengetahuan, &lt;i&gt;knowledge&lt;/i&gt;. Sedangkan &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt; adalah mengetahui dengan cara menjalani, &lt;i&gt;nglakoni&lt;/i&gt;. Keduanya memiliki tujuan sama: memahami suatu objek. Perbedaannya terletak pada cara yang ditempuh untuk mendapatkan pemahaman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Kawruh&lt;/i&gt; atau ilmu pengetahuan memandang objek sebagai sesuatu yang berjarak dari si pembelajar, di mana objek dibekukan, dimatikan, dihentikan daya hidupnya untuk diamati, dibedah, dipelajari strukturnya, dan selanjutnya dianalisis. Dari situ didapatkan pemahaman terhadap objek. Tidak demikian halnya dengan &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;. Dalam &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;, dikenal adanya daya hidup objek. &lt;i&gt;Ngelmu&lt;/i&gt; memahami objek sebagai sesuatu yang terus bergerak, hidup, berubah. Maka jalan satu-satunya untuk memahami objek yang berdaya hidup tersebut adalah dengan menyatu, menunggal, menjadi sang objek. Memahami pola hidup, pikir, dan perasaan objek. Memahami sesuatu, tidak dengan mengambil jarak, melainkan dengan menyatu. Itulah yang dilakukan oleh Mbah Maridjan. Menyatukan jiwa dengan Merapi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Penjelasan ini kemudian membawa sedikit penerang, mengapa Mbah Maridjan menolak pergi dari Kinahrejo, dukuh terakhir di lereng Gunung Merapi yang jaraknya hanya kurang lebih 3 km dari puncak tersebut. Sebab jika ia memilih untuk pergi dan mengungsi, maka ia menempatkan dirinya berjarak dengan Merapi. Dan dengan mengambil jarak, ia membekukan Gunung Merapi, sang makhluk berdaya hidup yang senantiasa dipersonifikasikannya sebagai orang tua. Memutus benang pemahamannya. Tak hanya itu; sebagai orang yang senantiasa &lt;i&gt;ngelmu&lt;/i&gt;, Mbah Maridjan sangat konsisten. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sikap konsistennyalah yang membuat masyarakat Kinahrejo menaruh hormat, di samping ia yang lucu dan gemar bicara pada siapa saja. “Dengan siapa saja, dengan anak kecil pun ia tetap hormat. Artinya tidak memandang usianya berapa,” ujar Bademan, salah seorang penduduk setempat. “Yang jelas, masyarakat sini hormat terhadap Mbah Maridjan dengan sikap yang sederhananya itu,” tandasnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Hal senada juga diungkapkan Mbah Pujowijono, warga Kinahrejo yang rumahnya hanya berjarak seratusan meter dari rumah Mbah Maridjan. “Bapak itu takut sama uang banyak,” komentarnya. Lalu kisah tentang Mbah Maridjan pun meluncur dari bibirnya. Mbah Maridjan yang disebutnya Bapak tak pernah mempertanyakan uang gaji yang pada suatu waktu ketika sampai di tangan berkurang jumlahnya. “Misalnya, mestinya terima lima belas ribu, kalo yang sampe cuma sepuluh ribu, Bapak nggak pernah tanya. Kalo orang lain kan tanya, &lt;i&gt;iki diutang sapa&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;po piye&lt;/i&gt;, gitu kan? Bapak nggak.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Gaji Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi memang sebulan hanya Rp 5.600,00. Jumlah yang kerap kali diguyonkannya sebagai “lima juta enam ratus ribu rupiah”. Karena itu, Mbah Maridjan biasa mengambil gaji di Keraton tiga bulan sekali, agar jumlah yang ia dapat tak &lt;i&gt;tombok&lt;/i&gt; dengan ongkos naik bus ke kota. Mbah Pudjo juga berkisah bahwa Mbah Maridjan, yang dipanggilnya Bapak, takut menerima bantuan banyak-banyak. “Biar Pak Dukuh yang membagi adil. Diberi lebih pun dia tidak mau, maunya sama dengan yang lain,” jelas Mbah Pudjo. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Pribadi Mbah Maridjan memang unik. Itulah yang tak ada pada pribadi-pribadi lain. Ia tak pernah mementingkan diri sendiri. Alasan itu yang dilontarkannya ketika diminta turun dari Kinahrejo, saat status Merapi meningkat menjadi Awas. “Di sini, saya bisa berdoa untuk keselamatan banyak orang. Tapi kalau saya ikut mengungsi, itu berarti saya mengejar kepentingan pribadi.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote8anc&quot; href=&quot;#sdfootnote8sym&quot;&gt;9&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; Karakter ini diungkapkan pula oleh warga di sekitarnya, yang sempat bicara pada kami. “Orangnya begitu bersahaja, tidak mementingkan pribadi tetapi mementingkan orang lain, orangnya ramah, dan lucu,” papar Bademan, ketika ditanyai kesannya tentang Mbah Maridjan. Tampaknya, atas alasan ini pulalah Mbah Maridjan menolak undangan pemerintah Jerman untuk menonton langsung pembukaan Piala Dunia 2006. &quot;Aku &lt;i&gt;emoh ora gelem&lt;/i&gt;, aku ini orang kecil, tidak tahu apa-apa, ya &lt;i&gt;emoh&lt;/i&gt;. Sandalku saja sandal jepit, &lt;i&gt;yo hilang keselempit&lt;/i&gt;,&quot;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote9anc&quot; href=&quot;#sdfootnote9sym&quot;&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; jawabnya lugu ketika undangan itu disampaikan kepadanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;font-size:100%;&quot;&gt;Undangan menonton Pesta Pembukaan Piala Dunia 2006, 9 Juni lalu di Jerman, disampaikan oleh seorang wartawan Jerman yang datang untuk menemuinya. Sang wartawan mendapat mandat langsung dari Walikota Munich untuk menitipkan undangan kepada Mbah Maridjan. Undangan itu bukan basa-basi, tentu, sebab pemerintah Jerman bersedia menanggung seluruh biaya akomodasi Mbah Maridjan, bahkan juga pengurusan paspornya, jika sang juru kunci Merapi tersebut bersedia datang. Sayangnya, sang wartawan yang ketitipan mandat tak bisa bertemu langsung dengannya saat itu, karena yang dicari malah sedang ke puncak Merapi berbekal cangkul di pundak. Tetapi bertemu atau tak bertemu toh hasilnya tak akan jauh berbeda: Mbah Maridjan bergeming. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Reaksi yang lugu pulalah yang muncul dari Mbah Maridjan, ketika mantan presiden RI Megawati Sukarnoputri secara khusus memberinya polis asuransi, dalam kesempatan kunjungannya ke Yogyakarta, awal Juni lalu. Barangkali sang mantan presiden berniat baik, berusaha memahami keteguhan tekad Mbah Maridjan untuk bertahan di Kinahrejo. Padahal ingar-bingar situasi di Merapi mulai meresahkan banyak orang. Boleh jadi pula pemberian asuransi itu sesungguhnya bermakna sebagai sebuah sentilan, bahwa Mbah Maridjan tetaplah manusia biasa. Tetapi Mbah Maridjan memang tak pernah mementingkan diri sendiri. Ia tak perlu polis asuransi. Ia hanya orang lugu yang sedang berusaha memahami kehendak Sang Kuasa, dan kehendak Merapi. “Apa itu, polis, &lt;i&gt;kulo mboten ngertos&lt;/i&gt;,” jawabnya lugu ketika berita itu disampaikan kepadanya. Baginya, ada lebih banyak orang yang perlu dibantu, yaitu masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya, ketimbang dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Tetapi hakikatnya, Mbah Maridjan memang hanya seorang manusia biasa. Ketika awan panas menyerang Kaliadem dan sekitarnya, 14 Juni lalu, ia turut mengungsi. Tidak turun ke barak-barak pengungsian bersama warga Kinahrejo yang lain, tetapi ke masjid berarsitektur Jawa yang dibangunnya di ujung pelataran, berjarak sepelontaran batu dari rumahnya. Di sana, ia merapal doa, memohon keselamatan jiwa kepada Yang Maha Kuasa. Ia tak pernah mengingkari kodratnya sebagai manusia biasa. Seperti juga yang kerap diakunya kepada media, dan diungkapkannya pada kami di rumahnya yang sederhana. &lt;i&gt;Saya ini tidak bisa apa-apa&lt;/i&gt;, tuturnya dalam bahasa Jawa, masih dengan senyum arifnya yang menyejukkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Pak Ponimin dan Pak Sawidjan, &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; Keraton yang menjaga daerah Kaliadem dan menjalankan tugas yang sama dengan Mbah Maridjan, sebagai &lt;i&gt;juru&lt;/i&gt; &lt;i&gt;reresik&lt;/i&gt; Gunung Merapi, menandaskan hal sama. “Mbah Maridjan itu orang sejujur-jujurnya orang,” tukas Pak Sawidjan, seusai cerita panjang dengan Pak Ponimin mengenai peristiwa awan panas di teras rumahnya, suatu siang. Hal itu diamini Pak Ponimin, sang juru reresik yang &lt;i&gt;linuwih&lt;/i&gt; dan dijadikan panutan oleh warga Kaliadem. Dalam obrolannya dengan kami, Pak Ponimin yang enggan bercerita banyak mengenai Mbah Maridjan mengisahkan hal-hal gaib yang dilihatnya, beberapa saat sebelum dan setelah gempa tektonik 5,9 skala Richter mengguncang kota Yogya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Pak Ponimin memang salah satu &lt;i&gt;abdi dalem&lt;/i&gt; yang turut menjaga Gunung Merapi dan dikaruniai kelebihan. Ia dekat dengan para gaib yang &lt;i&gt;nglenggahi&lt;/i&gt; Gunung Merapi. Secara implisit, dalam kisahnya Pak Ponimin menegaskan hubungan baik dan saling menghormati yang terjalin antara ia dengan “Keraton Merapi”. Ihwal mitos mengenai adanya “pemerintahan” di Gunung Merapi, seperti juga di Laut Selatan, memang diakui oleh sekalangan orang, terutama mereka yang menganut paham Kejawen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Mbah Maridjan, boleh jadi memang hanya manusia biasa. Ia tak bisa melihat hal-hal gaib. Tak memiliki kelebihan seperti yang dimiliki Pak Ponimin, kecuali lewat mimpi-mimpi, yang dituainya dalam raga yang tidur ketika bersemadi. Mata lahirnya yang tajam dan cerdas tak sanggup menangkap peristiwa-peristiwa tak kasat mata. Tetapi mata batinnya telah menyampaikan banyak hal kepadanya. Mata batin yang terasah karena laku prihatin, karena kesetiaannya pada Merapi, karena kesederhanaan dan kebersahajaannya sebagai manusia. Mata batinnya menangkap keresahan warga yang timbul karena tindak pragmatisme ilmu pengetahuan modern yang berlebihan dan semata-mata mengeksploitasi gunung yang dijaganya, yang dicintainya dengan pengabdian sepenuh hati. Ketika Mbah Maridjan berkata Merapi sedang murka, berarunglah lebih dalam untuk mencapai makna yang ingin disampaikannya. Boleh jadi jauh di dalam kalimatnya, ia sedang berkata, bukan Merapi &lt;i&gt;an sich&lt;/i&gt; yang sedang murka, tetapi warga di sekitar Merapi yang tersia-sia karena tindak kapitalistik dan komersialisasi Gunung Merapi. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Seperti diungkapkan Landung Simatupang, arti penting Mbah Maridjan sesungguhnya adalah karakternya yang tak pernah mementingkan diri sendiri. Mbah Maridjan setia menyuarakan warga yang bertahun-tahun diayomi oleh Merapi. Suara Mbah Maridjan dalam beberapa kasus seperti &lt;i&gt;back hoe&lt;/i&gt; (begu) yang menambang pasir di jalur tradisional Merapi dan kasus padang golf Merapi (Merapi Golf) yang dibangun di Cangkringan-lah bentuk pengayomannya yang paling nyata terhadap warga yang bermukim di sekitar lereng Gunung Merapi. Bukan perkara anjuran untuk mengungsi atau tidak mengungsi, seperti yang kerap diributkan dan diwacanakan di media massa. Mbah Maridjan tak pernah tidak mengindahkan keselamatan warga lereng Gunung Merapi, meski ia bersikukuh untuk bertahan di tempatnya. Tidak. Tengoklah penggalan indah antara hubungannya dengan Sultan yang tersurat dalam &lt;i&gt;The White Banyan&lt;/i&gt; berikut:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt; “&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Saya mohon kebijaksanaan, supaya Kinahrejo aman-tenteram, tidak diusik oleh pemerintah, untuk pindah.&lt;/i&gt; Juga mohon pada Tuhan di Kinahrejo diberi keselamatan.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sinuwun setuju, dan dhawuh: “&lt;i&gt;Kalau tidak saya yang menyuruh pergi ... jangan pergi&lt;/i&gt;.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnoteanc&quot; name=&quot;sdfootnote10anc&quot; href=&quot;#sdfootnote10sym&quot;&gt;&lt;sup&gt;11&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/p&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote1&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote1sym&quot; href=&quot;#sdfootnote1anc&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote1sym&quot; href=&quot;post-create.g?blogID=10410331#sdfootnote1anc&quot;&gt;1&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style=&quot;font-family: georgia;&quot;&gt;Siapa, ini?&lt;/span&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote1sym&quot; href=&quot;#sdfootnote1anc&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote1sym&quot; href=&quot;#sdfootnote1anc&quot;&gt;2&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-family: georgia;&quot; lang=&quot;en-US&quot;&gt;Saya hanya bisa memohon keselamatan kepada Yang  Maha Kuasa. Yang lain-lain saya tidak bisa, sungguh. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote2&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote2sym&quot; href=&quot;#sdfootnote2anc&quot;&gt;3&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-family: georgia;&quot;&gt;Istilah “yang &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: georgia;&quot;&gt;lenggah&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia;&quot;&gt;” ditafsirkan sebagai makhluk gaib  yang menguasai Gunung Merapi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote3&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote3sym&quot; href=&quot;#sdfootnote3anc&quot;&gt;4&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang=&quot;en-US&quot;&gt;&lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt;, “Perusak Merapi Harus  Tobat”, Mei 2006&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote4&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote4sym&quot; href=&quot;#sdfootnote4anc&quot;&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang=&quot;en-US&quot;&gt;Untuk orang pandai mungkin harus begitu, tapi  untuk orang-orang bodoh seperti saya tidak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote5&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote5sym&quot; href=&quot;#sdfootnote5anc&quot;&gt;6&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-family: georgia;font-size:100%;&quot; &gt;&lt;i&gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/i&gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote6&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote6sym&quot; href=&quot;#sdfootnote6anc&quot;&gt;7&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; “Ini bukan fantasi, ini sungguhan.”&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote7&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote7sym&quot; href=&quot;#sdfootnote7anc&quot;&gt;8&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt; &lt;span style=&quot;font-family: georgia;font-size:100%;&quot; &gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: georgia;font-size:100%;&quot; &gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote8&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote8sym&quot; href=&quot;#sdfootnote8anc&quot;&gt;9 &lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;  Kompas Cyber Media&lt;/i&gt;, “Di Rumah Mbah Maridjan Suatu Pagi”,  Mei, 2006&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote9&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote9sym&quot; href=&quot;#sdfootnote9anc&quot;&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; “mBah Maridjan ‘Emoh’ ke Piala Dunia”, Juni, 2006 (diambil  dari mailing list madiunClub)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt; &lt;div id=&quot;sdfootnote10&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote9sym&quot; href=&quot;post-create.g?blogID=10410331#sdfootnote9anc&quot;&gt;11&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-family: georgia;font-size:100%;&quot; &gt;&lt;i&gt;The  White Banyan, Lahirnya Kembali Beringin Putih,&lt;/i&gt; Elisabeth D.  Prasetyo dan Heri Dono, diterbitkan oleh babad alas, Yogyakarta,  1998&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;div id=&quot;sdfootnote1&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;sdfootnote&quot;&gt;&lt;a class=&quot;sdfootnotesym&quot; name=&quot;sdfootnote1sym&quot; href=&quot;#sdfootnote1anc&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115261997609615700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115261997609615700&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115261997609615700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115261997609615700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/07/maridjan-man-behind-merapi.html' title='Maridjan: The Man Behind Merapi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-115244061805969395</id><published>2006-07-09T02:58:00.000-07:00</published><updated>2006-07-09T03:28:27.856-07:00</updated><title type='text'>Resensi Identitas</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:85%;&quot;  &gt;[&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, Minggu, 4 Juni 2006]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(255, 153, 0);&quot;&gt;Identitas &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;adalah label yang konstan, yang setia, dan dengan seluruh perekatnya mengingatkan kita terus menerus akan hidup yang nyata, yang hakikat; yang bukan mimpi belaka. Dalam mimpi, identitas dan entitas berbaur dan mengabur. Kekaburan inilah yang membuat jarak antara yang mimpi dan yang nyata. Tetapi, di manakah letak dan makna identitas ketika yang mimpi dan yang nyata berkelindan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Pemikiran tentang relasi antara entitas, identitas, yang mimpi, dan yang nyata tak berhenti sampai di situ. Dalam Identity (versi bahasa Indonesia berjudul Identitas, diterjemahkan oleh Landung Simatupang), Milan Kundera, dengan cerdas, reflektif, di beberapa bagian cenderung satir, mempertanyakan makna yang mimpi, yang imaji, terhadap identitas; terhadap perihal yang mendasari munculnya gagasan eksistensialisme. Dan yang terpenting, membungkusnya dalam peristiwa sederhana, yang sehari-hari, tanpa menyisihkan keunikan setiap perihal sehari-hari. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([&quot;mb&quot;,&quot;p.27-28) Chantal tersipu,\ndan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa\nhari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam\nsampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di\ndalam kotak posnya. &quot;Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata.\nKau cantik, cantik sekali.&quot; \n \nImaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup\nChantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai\nterbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji\nitu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat\nmenjadi &quot;aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan,\nmenembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia&quot; (p.43). Lewat\nsurat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya\ntereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali\ntersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka\nsiapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan\nkarakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan\nJean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk\nmenyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari\nkonsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati\nkesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa\nmembangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit\nantara mereka berdua. \n \nSeperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif\ndan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan\nmanusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi\nkegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan\nJean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan\nhidup sebelum kelahiran. &quot;Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun,\nyang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan\nkamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi.\nKamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup,\nitu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar\ndari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa\nmenghindari mereka sesudah kamu mati.&quot; (&quot;,1] );  &lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Identitas adalah tentang sepasang kekasih yang hidup bersama; Chantal, si perempuan yang bergulat di antara khayalan tentang promiskuitas dan konformisme yang membuatnya baur dalam setiap kehidupan dengan wajah berbeda, dan Jean-Marc, si laki-laki berumur empat tahun lebih muda darinya, yang mencintai Chantal dengan mendalam dan dengan pemikiran romantisnya yang berujung pada katarsis. Pada suatu hari dalam liburan mereka, Chantal berkata kepada Jean-Marc, &quot;Laki-laki tak lagi menoleh kepadaku&quot;. Jean-Marc menatapnya tak mengerti. &quot;Lelaki tidak lagi menoleh memandangmu. Memang itu yang bikin kamu sedih?&quot; Bagaimana kau bisa berpikir lelaki tidak lagi menolehmu, padahal aku tidak pernah berhenti mengubermu di mana pun juga kamu? (p.27-28) Chantal tersipu, dan percakapan antara dua pribadi ini pun terhenti. Tetapi beberapa hari kemudian, Chantal mulai mendapati surat-surat tak bernama dalam sampul tak berperangko tak beralamat yang tertuju untuknya, terselip di dalam kotak posnya. &quot;Aku menguntitmu ke mana-mana seperti mata-mata. Kau cantik, cantik sekali.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Imaji akan seorang pengagum rahasia memantik kembali gairah hidup Chantal yang memadam; ia merasa berada dalam kerumunan dan mulai terbakar hingga melenyap jadi sosok tak kasat mata karena menua. Imaji itu mengembalikan kepadanya gagasan tentang promiskuitas, hasrat menjadi &quot;aroma mawar yang merebak, menembus semua laki-laki dan, menembus melalui laki-laki, merangkul seluruh dunia&quot; (p.43). Lewat surat-surat itu, Chantal merasa identitasnya mengutuh, yang sebelumnya tereduksi oleh keberadaan Jean-Marc. Surat-surat itu membuatnya kembali tersipu seperti remaja belasan tahun. Ia dengan asyik menerka-nerka siapa laki-laki yang tahu persis detail kesehariannya, dan menghidupkan karakter si pengagum rahasia dalam percintaan-penuh-gairahnya dengan Jean-Marc. Alih-alih bercerita kepada Jean-Marc, ia memilih untuk menyimpan surat-surat itu di balik tumpukan behanya; menghindari konsekuensi diolok-olok oleh pasangannya sebagai pembual dan menikmati kesenangan akan dikagumi itu, sendirian. Hingga sebuah peristiwa membangkitkan kecurigaan dan perasaan telah dikhianati yang rumit antara mereka berdua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;([&quot;mb&quot;,&quot;p.61) Di satu bagian, Kundera\nmenyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang\nmenenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan\nidentitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti\ndiungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang\neksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir\nsebagai spirit tulisan-tulisannya. \n \nNovel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek,\nditerjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang\nkaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke\npribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui\nkarakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan\nberefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari\nmungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya,\nTuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam\nkonteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia\nmodern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang\nmempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi\nsebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu\nbertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan\nidentitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah\ntanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia\nmemantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah\nskenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas\nbukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu\nsendiri. [] \n&lt;br /&gt;*penulis, tinggal di Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&quot;,1] );  &lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Seperti dalam tulisannya yang sudah-sudah, yang analitik, eksploratif dan dengan elaborasi yang sabar, Kundera mengungkapkan kegalauan manusia terhadap identitas, terhadap arti keberadaan. Kegalauan demi kegalauan itu tercecer dalam sudut-sudut kehidupan Chantal dan Jean-Marc; cinta, persahabatan, kematian dan setelah-kematian, bahkan hidup sebelum kelahiran. &quot;Ketahuilah, bahkan dalam perut ibumu pun, yang konon sakral, kamu masih tetap bisa dijangkau. Mereka memfilmkan kamu, mereka memata-matai kamu, mereka memperhatikanmu bermasturbasi. Kamu tidak pernah bisa menghindar dari mereka selagi kau masih hidup, itu semua orang tahu. Tapi ternyata kamu juga tidak bisa menghindar dari mereka, bahkan sebelum kamu lahir pun. Begitu juga kamu tidak bisa menghindari mereka sesudah kamu mati.&quot; (p.61) Di satu bagian, Kundera menyindir televisi dengan serangkaian program representasi kitsch yang menenggelamkan manusia dalam kerumunan komunal dan melenyapkan identitas, justru dengan mengangkatnya ke permukaan. Seperti diungkapkannya dalam The Art of Novel, bagi Kundera novel adalah ajang eksplorasi eksistensi manusia, tanpa menanggalkan kejenakaan yang satir sebagai spirit tulisan-tulisannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Novel setebal 175 halaman ini terdiri dari 51 bab pendek-pendek, diterjemahkan oleh Landung dengan irama tutur memikat dan kosakata yang kaya. Perspektif penutur melompat-lompat dari Chantal ke Jean-Marc ke pribadi sang penulis; di banyak bagian, pemikiran yang tecermin melalui karakter di dalamnya membuat pembaca berhenti untuk merenung dan berefleksi. Surat-surat yang diterima Chantal hampir setiap hari mungkin mengingatkan kita pada Dunia Sophie (Jostein Gaarder); bedanya, Tuhan dalam konteks Dunia Sophie adalah sang pencipta, dan tuhan dalam konteks surat-surat untuk Chantal adalah wujud berhala baru manusia modern: citra diri. Identitas, karenanya adalah sebuah novel posmo yang mempertanyakan kembali keberadaan manusia, ketika ia dipandang tak lagi sebagai manusia tetapi sebagai semata simulakrum. Pertanyaan itu bertahan hingga akhir cerita, di mana Chantal mengalami kebalauan identitas di tengah imaji akan pesta orgy; sebuah kerumitan yang seolah tanpa ujung. Identitas meninggalkan gaung panjang selepas membaca. Ia memantik pemikiran dan refleksi mendasar seorang manusia melalui sebuah skenario sederhana yang tidak bertele-tele. Akan tetapi, Identitas bukanlah sebuah jawaban. Sebab akhirnya justru permulaan pencarian itu sendiri. []&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;*penulis, tinggal di Yogyakarta&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/115244061805969395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=115244061805969395&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115244061805969395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/115244061805969395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/07/resensi-identitas.html' title='Resensi Identitas'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114943788652309234</id><published>2006-06-04T08:17:00.000-07:00</published><updated>2006-06-04T09:18:07.366-07:00</updated><title type='text'>Wisata Bencana di Akhir Minggu</title><content type='html'>&lt;i style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;Transporter&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;gaiacorps&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt; melaporkan, Jalan Imogiri Timur, Jalan Imogiri Barat, dan Jalan Parangtritis sepanjang pagi hingga menjelang malam ini mengalami kemacetan hingga sepanjang 3 kilometer.&lt;/span&gt;&lt;o:p style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Kemacetan diperkirakan terjadi karena meningkatnya jumlah wisatawan bencana pada akhir minggu ini, hari kedelapan pascabencana. Kebanyakan mereka melakukan perjalanan ke daerah-daerah bencana dan kamp-kamp pengungsian untuk memotret, atau sekadar melihat aktivitas pengungsi. Tetapi ada pula sejumlah keluarga yang berkeliling dengan mobil. Tidak sekadar untuk ‘berwisata’, tetapi juga membawa bantuan untuk disalurkan ke kamp-kamp pengungsian di sepanjang perjalanan. “Mereka datang sekeluarga, ngobrol-ngobrol, lalu membuka bagasi dan mengeluarkan sedikit bantuan yang mereka bawa,” ujar salah seorang relawan &lt;b&gt;gaiacorps&lt;/b&gt;. Menurut Aan, salah satu &lt;i&gt;transporter&lt;/i&gt; yang menjadi saksi mata, jenis-jenis bantuan yang mereka bawa di antaranya adalah sembako, &lt;i&gt;hygiene kit&lt;/i&gt;, nasi bungkus, atau &lt;i&gt;snack&lt;/i&gt;. Semuanya dalam kemasan-kemasan kecil.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Bencana gempa yang menimpa Jogjakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei yang lalu memang tak hanya mengundang keprihatinan massal, tetapi juga perhatian dan decak dari masyarakat, baik penduduk lokal Jogja maupun orang-orang dari luar daerah. Sejak hari kedua pascabencana, kepadatan jalan menuju daerah Bantul dan sekitarnya salah satunya disebabkan oleh mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan, memadati situs-situs korban bencana, entah untuk sekadar menonton atau mengambil gambar. Beberapa situs yang mengundang perhatian media dan kalangan luas di antaranya adalah gedung STIE Kerjasama dan gedung BPKP di Jalan Parangtritis.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Maraknya wisata bencana juga ditandai dengan ‘lenyapnya’ kamera dari peredaran. Beberapa teman yang memiliki akses ke media rekam tersebut menyatakan sulitnya mendapatkan kamera Single Lens Reflect (SLR), dari jenis manual hingga digital, terutama pada akhir minggu ini. Demikian pula yang dialami oleh salah seorang teman fotografer amatir yang datang dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sejak Sabtu hingga Senin mendatang, kedatangan fotografer-fotografer, baik profesional maupun amatir, dari luar daerah ke &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jogjakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, mencapai puncaknya. Mereka datang untuk merekam sisa-sisa bencana di tempat kejadian.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Wisata di kala pascabencana memang ekses yang, kendati ironis, tak dapat terhindarkan. Mobilisasi &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ke daerah bencana terjadi tak hanya karena padatnya arus bantuan, tetapi juga karena besarnya rasa ingin tahu. Masyarakat berlomba-lomba menjadi saksi mata peristiwa; berlomba-lomba mengabadikan situs yang terimbas bencana. Gambar dan rekaman peristiwa seolah barang langka layak koleksi yang mengundang decak kagum dan pantas dibanggakan. Barangkali pula, kelak sebagian dari mereka akan menghuni galeri dalam pameran-pameran foto tematis, menjadi mitos yang hidup dari mulut ke mulut. Menjadi bagian dari kenangan yang, meski menyakitkan, tetap saja mengundang decak kagum. Menjadi wacana yang dipolemikkan, lalu berhenti. Terlupakan. Beberapa dari mereka bisa jadi tak berhenti sampai di situ; gambar dan informasi yang mereka miliki mungkin turut mendatangkan sesuatu untuk mereka yang menjadi korban, yang hidupnya tak berhenti sampai di kamp pengungsian saja. Begitulah seharusnya.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Dalam perjalanan menuju Blali, Seloharjo, saya sempat bergumam dengan seorang teman saat melewati mereka: “Kalau saja mereka yang berdiri di tepi-tepi jalan nggak cuma nonton, tapi ikut melakukan sesuatu untuk para korban bencana.” Teman saya menimpali, “Apalagi jumlah mereka banyak sekali. Kalau sekian banyak orang dikerahkan untuk jadi relawan yang mendampingi korban, bayangin.”&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;Akhir minggu ini menjadi akhir minggu yang riuh-ramai di daerah Bantul dan sekitarnya. Sejumlah artis pun turut datang, entah apa pun maksud kedatangan mereka. Pengungsi dan korban bencana tentu ikut senang, karena kedatangan mereka membawa buah tangan. Tetapi jangan lupa berempati. Jangan hanya jadi penonton. Mereka tak suka ditonton. Tengoklah salah satu tulisan di tepi jalan:&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: verdana;&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;font-family: verdana; text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;“Tolong, desa xxx, 100 m (tanda panah) rusak parah. Kami butuh bantuan, bukan jadi tontonan!!!”&lt;span style=&quot;font-family: verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114943788652309234/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114943788652309234&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114943788652309234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114943788652309234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/06/wisata-bencana-di-akhir-minggu.html' title='Wisata Bencana di Akhir Minggu'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114913399960466982</id><published>2006-05-31T20:52:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T20:53:19.736-07:00</updated><title type='text'>Yang Tertinggal dan Yang Hilang</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul &lt;i&gt;volunteer&lt;/i&gt; yang bersedia &lt;i&gt;stay&lt;/i&gt; di lapangan, menghubungi &lt;i&gt;base-base&lt;/i&gt; bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;To be, or not to be&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;. &lt;i&gt;That is the question&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114913399960466982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114913399960466982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913399960466982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913399960466982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/yang-tertinggal-dan-yang-hilang_31.html' title='Yang Tertinggal dan Yang Hilang'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114913368311780050</id><published>2006-05-31T20:46:00.000-07:00</published><updated>2006-05-31T20:49:56.950-07:00</updated><title type='text'>Yang Tertinggal dan Yang Hilang</title><content type='html'>&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Apa yang bisa kamu lakukan ketika orang-orang di sekitarmu kehilangan tempat tinggal, kenangan, sarana penunjang hidup, bahkan orang-orang yang dicintai? Apa yang tertinggal untuk mereka? Apa yang bisa kita kembalikan kepada mereka, selain harapan akan hidup yang lebih baik?&lt;/span&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Ribuan rumah mungkin dibangun, jutaan satuan bantuan boleh jadi berdatangan tak henti-henti, tim medis barangkali bersiaga 24 jam di kamp pengungsi korban, tetapi tak ada yang bisa mengembalikan hidup mereka seperti semula. Yang tertinggal jadi pepuing, di balik jerit terbekam reruntuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Sesedikit apa pun yang dapat dilakukan untuk mereka, kami, Anda; kita gaiacorps, melakukan apa yang mungkin. Mengumpulkan tim medis, merangkul &lt;i style=&quot;&quot;&gt;volunteer&lt;/i&gt; yang bersedia &lt;i style=&quot;&quot;&gt;stay&lt;/i&gt; di lapangan, menghubungi &lt;i style=&quot;&quot;&gt;base-base&lt;/i&gt; bantuan, sampai bersibuk dengan sms dan Yahoo Messenger untuk tujuan kurang lebih serupa. Sedari pagi, kehidupan di kantor Gaia sudah menyala; telepon keluar dan masuk hampir tak berjeda, sebagian orang mondar-mandir, dari telepon ke PC ke benam kertas ke tumpukan bantuan ke kafe di luar ke faksimili ke halaman, sampai kembali ke muka PC. Lalu lintas padat, meski tak sampai memacetkan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Di sela-sela kesibukan itu, mitos tentang peristiwa-peristiwa aneh bin ironis pun beredar. Kemarin kami menerima sekotak besar bantuan obat-obatan yang ternyata kadaluarsa 4 tahun yang lalu. Masygul dan absurd. Di titik lain, satu atau beberapa pihak mengedrop tenda yang lantas, dengan penuh rasa syukur, didirikan dan dimanfaatkan oleh kampung korban di muka Jogja Expo Center. Belum habis rasa syukur mereka, seseorang tiba-tiba menagih iuran, 200 ribu rupiah per tenda yang berdiri! Alhasil, tenda pun rubuh. Harapan yang sempat mengembang kembali ciut. Belum lagi sikap pengusaha persewaan tenda yang adem-ayem titi tentrem karto raharjo selagi kampungnya turut menjadi korban, dan dengan asyiknya menggelar stok karpet mereka; bukan untuk dimanfaatkan dengan sebaiknya oleh korban, tetapi untuk ditikam hangat cahaya matahari: dijemur. Betapa tak habis pikir. Pula tak habis pikir ketika isu tsunami di hari pertama gempa disiarkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab hingga membuat panik sekian ribu warga Jogja, demi secuil barang jarahan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Bagaimanapun, bencana tidak lagi cukup peristiwa yang mengundang keprihatinan massal. Bencana tiba-tiba pun telah menjadi produk; komoditas yang laku dijual ke bendera-bendera pengusung kepentingan. Termasuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab di atas. Konflik kepentingan, termasuk klaim-mengklaim daerah, terjadi di sana-sini. Di tengah suasana genting, kepentingan birokrasi terus bertahan tak tergoyahkan, tak bisa diputus. Membuat orang-orang terus mengutuk. Sementara korban terdiam tak terurus. Terbengkalai. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;i style=&quot;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;To be, or not to be&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;. &lt;i style=&quot;&quot;&gt;That is the question&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;Adakah tanda tanya itu di kepala Anda?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt;&lt;font&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114913368311780050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114913368311780050&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913368311780050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114913368311780050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/yang-tertinggal-dan-yang-hilang.html' title='Yang Tertinggal dan Yang Hilang'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114898980082908848</id><published>2006-05-30T04:47:00.000-07:00</published><updated>2006-05-30T04:50:01.106-07:00</updated><title type='text'>Urgent: bantuan gempa Seloharjo, Bantul, DIY</title><content type='html'>Halo, ini Miranda, on behalf of Yayasan GAIA, Jln Jembatan Merah 84 B&lt;br /&gt;(Timur LIA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon dibantu.&lt;br /&gt;Yayasan GAIA sedang mencoba membantu para pengungsi di daerah Pundong&lt;br /&gt;desa Seloharjo Lapangan Mblale Bantul karena daerah ini dianggap nggak&lt;br /&gt;papa padahal apa2. Yayasan GAIA telah keliling dr desa ke desa dan&lt;br /&gt;menyurvey berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan:&lt;br /&gt;Tenda&lt;br /&gt;Selimut&lt;br /&gt;Kompor dan bahan bakarnya&lt;br /&gt;Alat masak&lt;br /&gt;Makanan kering maupun basah (biskuit, roti, dan semacamnya)&lt;br /&gt;Jarum suntik&lt;br /&gt;Cairan infus&lt;br /&gt;Jarum jahit&lt;br /&gt;Benang jahit&lt;br /&gt;Sofratule&lt;br /&gt;Kassa steril&lt;br /&gt;Alkohol&lt;br /&gt;Rivanol&lt;br /&gt;Betadine&lt;br /&gt;Hipofix&lt;br /&gt;Povidon&lt;br /&gt;OBH syrup&lt;br /&gt;Perban besar&lt;br /&gt;Perban elastis&lt;br /&gt;Bidai&lt;br /&gt;Spalk&lt;br /&gt;Kapas&lt;br /&gt;Furosemide&lt;br /&gt;Pehacaine&lt;br /&gt;Transamin&lt;br /&gt;Adona&lt;br /&gt;Cotrimoxazole syrup&lt;br /&gt;Amoxycillin syrup&lt;br /&gt;Hansaplast&lt;br /&gt;Metocopamide&lt;br /&gt;Sakaneuron&lt;br /&gt;Ibuprofen&lt;br /&gt;Ciprofloxacin&lt;br /&gt;Voltadex&lt;br /&gt;Neurodex&lt;br /&gt;Hufavicee&lt;br /&gt;Daneuron&lt;br /&gt;Amoxicillin&lt;br /&gt;Asam Mefenamat&lt;br /&gt;Terra F&lt;br /&gt;Neuromex&lt;br /&gt;Captopril&lt;br /&gt;Bedak salicyl&lt;br /&gt;Ketokonazole tablet&lt;br /&gt;Multivitamin anak&lt;br /&gt;Mertigo&lt;br /&gt;GG&lt;br /&gt;CTM&lt;br /&gt;Serum ATS&lt;br /&gt;Vaksin TT&lt;br /&gt;Cairan antiseptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang akan menyumbang uang bisa lewat :&lt;br /&gt;No rek gempa Bantul&lt;br /&gt;BCA 0940648114 a/n yudhi hermanu&lt;br /&gt;kancab Rawamangun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang punya kenalan NGO/Funding lokal/international yang dapat&lt;br /&gt;membantu, tolong forward kontak ke GAIA atau memforward pengumuman&lt;br /&gt;ini. Untuk yang berminat bisa datang ke GAIA jadi relawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thks sebelumnya.&lt;br /&gt;Miranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yayasan GAIA&lt;br /&gt;Jl. Jembatan Merah 84B Gejayan Yogyakarta&lt;br /&gt;(0274) 524117&lt;br /&gt;0816685871 (Difla)&lt;br /&gt;www.yayasan-gaia.org&lt;br /&gt;&lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://gaiacorps.blogspot.com/2006/05/kilas-balik-slog-27-mei-2006-sd-29-mei.html&quot;&gt;http://gaiacorps.blogspot.com&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114898980082908848/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114898980082908848&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114898980082908848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114898980082908848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/05/urgent-bantuan-gempa-seloharjo-bantul.html' title='Urgent: bantuan gempa Seloharjo, Bantul, DIY'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114639043335814240</id><published>2006-04-30T02:42:00.000-07:00</published><updated>2006-04-30T02:47:27.450-07:00</updated><title type='text'>Pagi Terakhir Bersama Pak Pram</title><content type='html'>Di antara kelabu-kelabu yang masih&lt;br /&gt;(tak tahu malu) bernafas, tiba-tiba&lt;br /&gt;dering mesin di pagi hari mengesahkan&lt;br /&gt;hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita&lt;br /&gt;tak&lt;br /&gt;tahu&lt;br /&gt;berapa tetes lagi tinta hitam&lt;br /&gt;diam-diam&lt;br /&gt;menunggu jatuh&lt;br /&gt;(kelabu menghitam) #&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi bening, lewat empat tahun yang lalu, saya menulis sepenggalan sajak itu. Pada sebuah pagi menjelang siang, ketika seorang kawan di Gelanggang mengabarkan kematian Pak Kayam (Umar Kayam) yang, entah kenapa, membuat hati saya tergetar. Sajak itu tak pernah termuat di mana-mana, kecuali pada secarik kertas dalam Buku Bebas, media curhat non-cetak kami, para Gelanggang-&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ers &lt;/span&gt;(warga gelanggang mahasiswa UGM). Juga hanya termuat dalam kepala saya. Tak pernah tersimpan lebih dari sebuah puisi tak terkabar. Yang pagi ini tiba-tiba menyata begitu saja.&lt;br /&gt;Pagi ini, pagi mendung di kota saya, pesan singkat dari beberapa sahabat membuat saya tercenung. Pak Pram, seorang sastrawan besar, pejuang kemanusiaan, salah satu putra terbaik bangsa, telah berpulang. Beliau kembali ke pangkuan sang Pencipta pada 30 April 2006, pukul 9.15 WIB di rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, setelah semalam dipulangkan dari Rumah Sakit St. Carolus, sekira pukul 19.00 WIB. Sebelumnya, sejak Kamis (27/4) lalu, seperti dikabarkan oleh media dan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;mailing list&lt;/span&gt;, beliau dirawat di Intensive Care Unit RS St. Carolus, dalam kondisi tak stabil.&lt;br /&gt;Setelah simpang-siur berita yang sempat saya terima malam sebelumnya, pesan-pesan singkat yang berdering di pagi ini mengesahkan kabar hitam. Mengesahkan duka yang dalam di hati siapa saja.&lt;br /&gt;Jika saja saya sempat mengenal beliau lebih dalam. Sebagai seorang pengagum, saya belum lagi cukup lama mengenal Pak Pram. Masih segar dalam ingatan saya, buku beliau yang pertama kali saya baca adalah &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Larasati &lt;/span&gt;(terbitan Hasta Mitra), pinjaman dari seorang teman penggemar fanatik yang berhasil memiliki bukunya (kala itu masih dilarang peredarannya). Keberpihakan terhadap perempuan dalam menentukan nasibnya pada karya-karya fiksi beliau membuat kekaguman saya melencir, di samping paparan sejarah yang lugas dan “tidak berpihak kepada yang menang”. Belakangan baru saya tahu, karya-karya Pak Pram terinspirasi oleh ibunya, yang meninggal dunia di usia 34 tahun, ketika beliau masih berumur 17 tahun. Ia bahkan melihat “revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan-ibunya”.&lt;br /&gt;Saya tak pernah benar-benar mengenalnya. Sosok itu; yang begitu saya kagumi dan hormati. Yang entah kenapa, tiba-tiba terasa dekat di hati saya, ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun ke-79 di TIM. Sosok yang menancap dalam, ketika dengan suara serak ia bercerita perihal perlakuan kejam di masa penahanan, yang membuat susut pendengarannya. Yang selalu ingin saya kenal lebih dekat, sejak saat itu. Kesempatan yang kini tak mungkin lagi saya dapatkan.&lt;br /&gt;Pada sebuah pagi cerah di bulan Juli 2004, saya dan Aishah Basar, seorang sahabat, berkunjung ke rumah Jl. Multikarya, Utan Kayu, untuk merundingkan kerja sama Penerbit Lentera Dipantara dengan Teater Utan Kayu dalam Festival Filsafat. Di teras rumah tenang itu, kedatangan kami disambut oleh Pak Pram, yang duduk tenang, asyik membaca sebuah harian pagi; yang lalu mendongak dan tersenyum pada kami. Kami tercekat. Sampai mas Yudi (Yudistira Ananta Toer) keluar rumah dan mengajak kami masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian, Pak Pram melintas, masuk ke ruang dalam. Lagi-lagi, kami hanya mampu tercekat. Mas Yudi, barangkali memahami apa yang berpusar dalam kepala kami, hanya tersenyum. “Mau mengobrol dengan Bapak?” Sebuah tawaran yang tak pernah bisa kami jawab, sebab entah kenapa tiba-tiba kami merasa kerdil dan gagu. Bahkan melenyap. Tawaran itu kemudian berganti dengan janji segurat tanda tangan Pak Pram di buku-buku beliau yang kami miliki. Yang juga tak sempat terlaksana, sebab pada kedatangan kami berikutnya, Pak Pram tak sedang berada di rumah tenang itu. Saya tak pernah menyangka, itulah kesempatan terakhir saya bertemu Pak Pram. Se-tak menyangka saya, pagi ini adalah pagi terakhir kita bersama Pak Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Pak Pram. Cinta dan ingatan kami tak pernah habis. Juga akan pesanmu untuk jangan mudah memaafkan rezim yang berlaku tak adil. Tak pernah habis; semoga pula perjuangan.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114639043335814240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114639043335814240&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114639043335814240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114639043335814240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/pagi-terakhir-bersama-pak-pram.html' title='Pagi Terakhir Bersama Pak Pram'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17228607884026804724</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114563414931147415</id><published>2006-04-21T08:39:00.000-07:00</published><updated>2006-04-21T08:58:46.530-07:00</updated><title type='text'>Paradoks Indonesia</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Indonesia adalah negeri yang padat &lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;paradoks&lt;/span&gt;. Tengoklah dari yang paling asasi. Negara ini mengaku &lt;i style=&quot;&quot;&gt;bhineka tunggal ika&lt;/i&gt;. Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Sebuah semboyan ideal, untuk sebuah negara yang terdiri dari beragam bangsa, seperti Indonesia. Betapa harmonis. Praktiknya? Jauh panggang dari api. Ingin contoh lain? Indonesia memperingati dua hari besar sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan: Hari Ibu dan Hari Kartini. Nyatanya, isu kesetaraan gender yang telah dirintis oleh Kartini sejak tahun 1890-an masih terus diperjuangkan hingga sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Kalau saja Mahapatih Gadjahmada tidak pernah mengikrarkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan seluruh nusantara. Sebab dari sanalah sesungguhnya gerusan terhadap kebhinekaan bermula: keinginan untuk menguasai bangsa lain. Ketika negara kesatuan ini lahir, kedaulatan bangsa-bangsa di dalamnya diciutkan menjadi suku bangsa. Penghargaan terhadap bangsa tentu saja turut menciut. Lalu muncul yang kuat, menguasai yang lebih tertinggal. Mengisap, sampai bangsa yang diisap kehabisan semuanya, termasuk kesabaran. Mengimpit dan menginjak, sampai yang diimpit mencapai titik balik dan melenting. Jika hukum rimba memang masih berlaku, siapa yang mesti disalahkan jika kemudian muncul perlawanan dan perpecahan? Poso, Sampit, Aceh, Papua....&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Yang satu, yang tunggal, memang tidak bisa disamakan dengan yang seragam. Penunggalan dari keberbagaian tidak bisa dicapai dengan memaksakan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;conformity&lt;/i&gt;. Tampaknya, pengertian itulah yang kerap tumpang tindih di negeri ini. Setidaknya, yang dipahami oleh orang-orang yang berkuasa. Bahwa persatuan sama dengan penyeragaman. Perbedaan digerus dan dipaksa lebur ke dalam nilai-nilai yang diakui ‘bersama’. Dianggap baku. Nilai mana yang kemudian menjadi acuan dan terfasilitasi, sepenuhnya tunduk kepada selera yang-lebih-kuat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Di negeri yang bhineka ini, praktik &lt;i style=&quot;&quot;&gt;conformity&lt;/i&gt; tak pernah usai. Barangkali itu pula yang membuat rakyat berlaku serupa; sebab begitulah contoh yang diberikan oleh pemimpinnya. Perbedaan terus diredusir, atau bahkan dihapuskan. Betapa sulit dan panjang jalan yang mesti ditempuh untuk mendapat pengakuan sebagai warga negara dengan hak-hak yang sama, ketika ia adalah warga keturunan Tionghoa, atau salah satu anggota keluarganya diasumsikan pernah terlibat sebagai komunis, misalnya. Tak ada ruang untuk menyatakan sikap sendiri, dan mendapatkan penghargaan atasnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pun dalam wacana pornografi yang tengah terus diperdebatkan. Ada pemaksaan nilai-nilai tertentu di dalamnya. Ada kecenderungan untuk menyeragamkan yang bhineka ini—bangsa, agama, kepercayaan—ke dalam nilai satu kelompok. Ada yang dengan keras (dan dengan cara kekerasan) menentang pihak yang berbeda paham dengan kelompoknya, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam. Ada pengakuan terhadap kebhinekaan (keberbedaan), tetapi miskin penghargaan dan justru melakukan penindasan terhadapnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Inilah paradoksnya Indonesia. Seperti juga ketika dua hari dalam setahun diperingati sebagai bentuk penghormatan terhadap perempuan, tetapi kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan terus terjadi. Dari mulai yang paling ekstrim seperti kasus Lisa (termasuk juga Lisa-Lisa yang lain, yang tak cukup beruntung untuk diekspos di media massa dan mendapat pembelaan orang banyak), sampai yang paling halus semacam pemampatan keberdayaan perempuan hingga hanya dianggap sebagai ‘pencetak anak’. Pun, wajah paradoks Indonesia pula yang terlihat, ketika 78 tahun yang lalu Sumpah Pemuda menyatakan berbahasa satu: bahasa Indonesia, tetapi sebagian besar generasi muda kini lebih bangga menggunakan bahasa Inggris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Agaknya, melalui yang serba paradoks inilah kedewasaan kita sebagai negeri berbangsa-bangsa (bukan suku-suku bangsa) diuji. Agaknya, RUU Pornografi adalah sebuah momentum untuk mengaca: benarkah kita adalah bangsa yang paradoks? Atau ... benarkah negeri ini bhineka tunggal ika? [21 April 2006]&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;  style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;PS (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;post-script&lt;/i&gt;): Selamat Hari Kartini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;  style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;PS (pesan sponsor): Terima kasih atas dukungan terhadap iklan masyarakat Tolak RUU Porno. Aliansi Mawar Putih akan dukung Pawai Bhinekka Sabtu 22 April di Bundaran HI. Kenakan kostum etnik/daerah yang santai asik, kumpul di kafe-kafe lantai 1 Plaza Indonesia jam 10.30-an. Ada panitia yang membawa bunga untuk info acara. Atau, kalau mau seru, gabung dengan Pawai mulai di Monas jam 9. Saatnya tunjukkan cinta pada Indonesia damai &amp;amp; bhineka!&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114563414931147415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114563414931147415&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114563414931147415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114563414931147415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/paradoks-indonesia.html' title='Paradoks Indonesia'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114455612081290884</id><published>2006-04-08T20:39:00.000-07:00</published><updated>2006-04-08T21:15:20.836-07:00</updated><title type='text'>Seribu Buku untuk Tunanetra</title><content type='html'>Kamis sore (6/4), di Library@Senayan, Ismail melangkah ke muka penonton tanpa keraguan. Keterbatasan yang dimilikinya membuat ia tak bisa melihat panggung, tapi lampu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;spot&lt;/span&gt;, derap emosi penonton yang larut bersama langkahnya, karakter tokoh yang lekat dalam diri, dan seluruh aspek panggung telah begitu hidup dalam imajinya. Sore itu, ialah si empunya panggung dan seluruh pementasan. Meski sesekali pergerakannya mesti dibantu oleh orang awas (istilah orang-orang tunanetra untuk menyebut mereka yang bisa melihat), tak sedikit pun keraguan terpancar dari dirinya. Penampilannya begitu mantap. Seperti kalimat-kalimat yang mengalir lancar dari bibirnya. “Saya baru pulang dari &lt;i style=&quot;&quot;&gt;airport&lt;/i&gt;, dan saya kesal sekali! Barusan saya bertengkar dengan istri saya.”    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Ismail adalah seorang tunanetra yang menutur apresiasi tujuh buku braille GagasMedia melalui sebuah monolog. Ia menajuki penampilannya: &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Monolog Tujuh Nukil&lt;/span&gt;. Sebuah mozaik dari tujuh apresiasi terhadap tujuh buku Braille yang dilalapnya dalam tujuh hari. Dalam euforia, sebab kerinduannya akan bacaan telah terakumulasi sekian tahun lamanya. Ismail bukan satu-satunya tunanetra yang mengalami euforia membaca. “Saya pusing, istri saya mau pergi ke Singapura. Dia &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ngambek &lt;/span&gt;karena kami tidak bisa punya anak,” seruannya segera menuai tawa. Pementasan monolog itu adalah bagian dari program “Dengan Jari Aku Melihat Dunia, Dengan Jari Kita Bergandengan Tangan”, sebuah program kerja sama antara Yayasan Mitra Netra, Penerbit GagasMedia, Forum Indonesia Membaca, dan perpustakaan pendidikan nasional. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Dalam pentas itu, ia bukan lagi Ismail. Ia adalah Rahmat Natadiningrat, seorang tokoh dalam novel &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Testpack&lt;/i&gt; karya Ninit Yunita. Ismail memainkan perannya dengan wajar, dan mozaik tujuh karya yang dibacanya direkat dengan halus. Tujuh karya itu adalah &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Testpack&lt;/i&gt;, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll&lt;/i&gt; (F.X Rudy Gunawan), &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Filosofi Kopi&lt;/i&gt; (Dewi Lestari), &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Brownies&lt;/i&gt; (Fira Basuki), &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ungu Violet&lt;/i&gt;, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Cintapuccino&lt;/i&gt; (Icha Rahmanti) dan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Si&lt;/i&gt; &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Parasit Lajang&lt;/i&gt; (Ayu Utami). Selama &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; belas menit, ruang pun rehat dari suasana haru bercampur ruah kebahagiaan yang membuka acara di Library@Senayan, sore itu. Sesekali, ledak tawa meningkahi permainan. Penampilannya segar dan hidup. Seluruh diri Ismail memancarkan keyakinan yang kuat, membuat penonton hampir tak terpikir bahwa ia seorang difabel. Ia adalah seorang pemuda yang mengalami kebutaan di usia 17 tahun, mula-mula karena mata kirinya terkena tembak senapan angin, dan menyusul beberapa saat kemudian, mata kanannya. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Keyakinan yang kuat akan berwarnanya sebuah dunia baru memang memenuhi atmosfer ruang perpustakaan pendidikan nasional tersebut. Sebuah kebahagiaan yang telah ditunggu oleh teman-teman tunanetra selama tak kurang dari &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; belas tahun. Dewi Lestari menyebut momen ini sebagai sebuah &quot;pelangi imajiner&quot; yang menjembatani dua dunia. Dewi menjelaskan bahwa ide untuk membantu teman-teman tunanetra dengan mem-braille-kan buku-bukunya sebenarnya sudah lama ada di kepala. Pada saat yang sama, telah sekian lama juga Yayasan Mitra Netra berjuang untuk mengadakan bacaan bagi para tunanetra. “Setelah 15 tahun, kami baru memiliki 302 judul buku Braille, yang sebagian besar merupakan buku-buku pelajaran.&quot;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Sebuah pergerakan yang sangat lamban, jika dibandingkan dengan kurang lebih 10.000 judul buku yang terbit di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; setiap tahunnya. &quot;Selama ini kami hanya bisa mendengar munculnya buku-buku populer tanpa bisa membacanya, yang membuat kami merasa berada di sebuah dunia lain. Karena itu, kerja sama dengan penerbit GagasMedia saat ini merupakan perwujudan mimpi,” tutur Irwan Dwi Kustanto, Wakil Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, yang sore itu menjadi juru bicara. Wajar jika pada momentum Kamis sore itu, setelah penantian yang demikian panjang, ia merasa seperti sedang bermimpi. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; banyak kegelisahan tentang tunanetra yang mesti terus dicari jawabannya, yang kadang-kadang membuat Irwan (dan teman-teman tunanetra yang lain) merasa sunyi di tengah keramaian. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; mata rantai yang hilang dalam masyarakat kita, yang membuat mereka merasa terkucil di sebuah dunia berpagar tinggi. Tidak hanya rasa malu sebagai seorang difabel yang membatasi kehidupan sosial mereka, ketidaktahuan akan akses menuju pengetahuan dan fasilitas membuat sebagian besar kaum tunanetra makin terpuruk dalam ketakberdayaan. Baru sedikit dari mereka yang berkeras maju mengatasi hambatan dan keterbatasan diri mereka. Selain itu, terbatasnya dukungan dari lingkungan sekitar merupakan faktor penghambat yang cukup besar. Drs. Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra, pada suatu kesempatan menyebut sempitnya pemahaman pemerintah terhadap kebutuhan kaum tunanetra. Hal ini, pada muaranya malah memunculkan mafia-mafia yang melulu berkutat memperebutkan lahan yang sama, sementara di luar itu masih begitu luas hutan yang bisa dibabat. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Ketiadaan sumber bacaan bagi mereka yang daya penglihatannya terbatas hanyalah salah satu dari sekian banyak masalah. Selain persoalan semacam jaminan perlindungan kesamaan hak dan kesempatan dalam dunia kerja yang tidak diatur pada undang-undang penyandang cacat, Irwan menyebut juga keprihatinannya terhadap angka tunanetra bersekolah, yang jumlahnya sampai saat ini baru mencapai sekitar 2.000 orang, dari kurang lebih 3.000.000 penduduk tunanetra di Indonesia. Karena itu, kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan Penerbit GagasMedia adalah gayung bersambut yang diharapkan dapat menjadi gong pembuka kerja sama Yayasan Mitra Netra dengan pihak-pihak lain, apa pun bentuknya.&lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Acara itu bukan hanya milik teman-teman tunanetra. Ia juga sebuah ruang yang prestisius untuk para penulis. Sore itu, sebanyak delapan penulis antara lain: F.X Rudy Gunawan, Ayu Utami, Dewi Lestari, Fira Basuki, Yennie Hardiwijaya, Ninit Yunita, Icha Rahmanti, dan saya, hadir dan menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi sebagai relawan program “1000 Buku Untuk Tunanetra”. &lt;i&gt;Soft copy&lt;/i&gt; naskah kesemua penulis tersebut dikontribusikan kepada Yayasan Mitra Netra secara cuma-cuma. Program “1000 Buku Untuk Tunanetra” sendiri sebenarnya telah dicanangkan Yayasan Mitra Netra sejak tahun 2005. Tetapi, bahkan ketika IKAPI menyatakan dukungannya terhadap program tersebut dan mengimbau penerbit untuk bergandengan tangan dengan Yayasan Mitra Netra, kerja sama baik antara mereka dengan penerbit baru terealisasi kini. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Kesediaan penulis memberikan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;soft copy&lt;/i&gt; karyanya untuk Yayasan Mitra Netra secara seremonial ditandai dengan penandatanganan &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;surat&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pernyataan disaksikan audiens yang hadir, di awal acara. Beberapa penulis, yang karyanya terbit tidak hanya di bawah bendera GagasMedia, seperti Ayu Utami, Fira Basuki, dan Dewi Lestari, menyatakan kesediaannya untuk memberikan pula &lt;i style=&quot;&quot;&gt;soft copy&lt;/i&gt; karya mereka yang dipublikasikan oleh penerbit lain. Selanjutnya, lewat relasi yang terjalin antara penulis, penerbit, dan teman-teman tunanetra ini, semua pihak berharap akan muncul karya-karya dari mereka yang tidak awas, yang, seperti diyakini oleh Ayu Utami, memiliki dimensi kedalamannya sendiri karena kekayaan imajinasi yang tidak dimiliki orang awas. Menanggapi hal ini, F.X Rudy Gunawan, Direktur Penerbit GagasMedia menyatakan kesediaannya untuk mendukung pemublikasian karya-karya para tunanetra nantinya. Salah satu bentuk yang diusulkan oleh Ayu Utami, misalnya, adalah penerbitan buku humor tunanetra. &lt;/p&gt;   &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Ayu Utami juga menyatakan pentingnya program pelatihan penulisan untuk mengakomodasi kreativitas para tunanetra, dan ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh penulis, penerbit, organisasi seperti IKAPI, dan forum-forum publik yang terkait dengan buku, selain, tentunya, pemerintah. Dukungan semacam ini merupakan kewajiban moral siapa saja, karena seperti berulang kali dikatakan oleh Irwan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang memberi kesempatan menang pada kelompok-kelompok yang tertindas atau termarjinalkan”. &lt;/p&gt; &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Obrolan interaktif yang diselai penampilan musik oleh Endah—juga Dewi Lestari yang sempat membawakan lagu &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Eternal Flame&lt;/span&gt;—sore itu diakhiri dengan demo pencetakan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;soft copy&lt;/i&gt; ke dalam format Braille oleh Irwan Dwi Kustanto. Beliau yang menyandang &lt;i style=&quot;&quot;&gt;low vision&lt;/i&gt; mengoperasikan komputer dengan bantuan program &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Job Access With Speech&lt;/i&gt; dan peranti lunak bernama Mitra Netra Braille Converter, yang dibuat oleh Yayasan Mitra Netra untuk mempermudah proses pencetakan buku-buku braille. Dan ketika hari bergulir senja, meski kaki terasa berat dan hati begitu penuh, acara tetap mesti diusai. Tetapi keintiman hubungan antara penulis, penerbit, relawan, dan teman-teman tunanetra terus membekas tak terlupakan. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; begitu banyak kerja bersama yang menanti untuk terus dilakukan. Sore kemarin, sebuah jendela lagi terbuka untuk mereka. Siapa bilang dengan jari tunanetra tak bisa mengubah dunia?  &lt;/p&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;(tulisan ini dimuat pula di Koran Tempo edisi Minggu, 9 April 2006)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114455612081290884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114455612081290884&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114455612081290884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114455612081290884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/seribu-buku-untuk-tunanetra.html' title='Seribu Buku untuk Tunanetra'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114406049229022192</id><published>2006-04-03T03:04:00.000-07:00</published><updated>2006-04-03T04:02:39.800-07:00</updated><title type='text'>Lengkap dalam Ketaklengkapan</title><content type='html'>&lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Freud, suhu psikoanalisis, pernah berkata: anak yang tidak diinginkan/’haram’&lt;a href=&quot;http://us.f602.mail.yahoo.com/ym/ShowLetter?box=Inbox&amp;MsgId=2806_11120792_3738548_1947_10834_0_35999_37981_403370375&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;bodyPart=2&amp;tnef=&amp;amp;YY=22387&amp;order=down&amp;amp;sort=date&amp;pos=0&amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;amp;view=a&amp;head=b&amp;amp;ViewAttach=1&amp;Idx=0#02000001&quot;&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt; cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih lemah daripada anak pada umumnya. Kecenderungan tersebut muncul sebagai manifes perdebatan antara &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; (pikiran sadar) dengan &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; (kumpulan naluri bawah sadar) dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; (sistem nilai) dalam diri seseorang. Dari premis di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi kejiwaan berhubungan erat dengan kondisi fisik; entah apa bermanifes ke mana (kekurangan/ketakstabilan fisik berpengaruh pada kondisi psikis, atau sebaliknya; sebab perdebatan yang tak teratasi antara &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; dengan &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; berpotensi menyebabkan kecemasan, penyakit-penyakit neurotik, dan psikosomatik). Untuk mengatasi perdebatan tak henti-henti ini, &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; tak berhenti bergerak. Menggali, mencari jawaban. Mencerap dan mencerna pengalaman. Mengerahkan seluruh indera untuk memperoleh keutuhan diri. &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Lalu bagaimana dengan manusia yang dikaruniai indera tak lengkap? Apakah ketaklengkapan indera mesti membatasi mereka mencari jawaban demi keutuhan diri? Tidakkah mereka mesti berjuang lebih keras daripada kita yang panca-inderanya bekerja dengan baik? Perjuangan itu bahkan mesti menjadi lebih sulit, dengan minimnya dukungan dari orang-orang di sekitar mereka. &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Kompleksitas kejiwaan teman-teman dengan indera tak lengkap sering kali luput dari perenungan. Padahal kita tak berhak menghakimi bahwa dunia orang-orang tunanetra, misalnya, lebih sederhana daripada dunia kita—yang seluruh inderanya berfungsi dengan baik—hanya karena daya penglihatan mereka terbatas. Kita sering kali menyederhanakan persoalan berdasar kacamata subjektif, tanpa mau tahu lebih dalam tentang duduk sebenarnya. Sebuah contoh sederhana yang saya alami, misalnya. Ketika berkunjung ke Yayasan Mitra Netra dan duduk mengobrol dengan Pak Irwan dan Pak Bambang Basuki yang memiliki &lt;i&gt;low vision&lt;/i&gt;, kami sempat mengobrolkan keinginan teman-teman tunanetra untuk menonton film, dan bagaimana membuat sebuah film bisa diapresiasi oleh para tunanetra. Lalu muncul sebuah istilah dalam kepala saya yang terceletuk begitu saja: “mendengar film”. Sebuah istilah yang kemudian disanggah oleh Pak Bambang. &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;“Bukan mendengar film, Mbak. Kami menonton film. Menonton dengan telinga, penciuman, dan jari-jari kami.” &lt;i&gt;Menonton dengan seluruh indera selain penglihatan yang masih berfungsi dengan baik.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Sanggahan itu membuat saya tersadar. Betapa selama ini kita kerap dengan enteng menyederhanakan persoalan; menyederhanakan fenomena di sekitar kita. Sebuah kebiasaan yang membuat ceruk kepedulian dalam &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt; kita terkikis. Yang menumpulkan sensitivitas dan empati terhadap kompleksitas manusia lain dengan segala kekurangan dan kelebihan yang lekat pada dirinya. Penyederhanaan itu pula yang barangkali membuat kita selama ini seolah-olah tak menyadari keberadaan tunanetra, dan secara tanpa sadar mengucilkan mereka dalam menara tinggi dengan semesta kehidupan mereka sendiri. Penyederhanaan itu pula yang mungkin membuat maskapai penerbangan Air Asia keberatan mengizinkan salah seorang tunanetra menjadi penumpang perjalanan mereka tanpa disertai pendamping. Padahal, penumpang tunanetra bisa berlaku sama baik dengan penumpang berindera lengkap, dengan fasilitas-fasilitas bantu yang selalu tersedia di bandara. &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Saya merasa tertohok. Lebih tertohok lagi ketika menyadari, berbagai tembok atas nama keterbatasan yang diciptakan masyarakat kita bahkan mencapai hak-hak pribadi seseorang; untuk membaca, misalnya. Hitung berapa banyak perpustakaan yang memuat bacaan braille, &lt;i&gt;audio-book&lt;/i&gt; dan komputer-bicara, untuk memperkaya wawasan tunanetra, mengasup dan membantu &lt;i&gt;ego&lt;/i&gt; mereka menemukan jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan besar kehidupan dan mengatasi perdebatan dengan sang &lt;i&gt;id&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;super-ego&lt;/i&gt;. Hitung berapa banyak organisasi yang menegaskan kepeduliannya terhadap tunanetra, dan memperjuangkan kelayakan yang sama dengan orang lain. Jangan bertanya ‘mana tanggung jawab negara terhadap mereka’, jika tak ingin mendengar jawaban yang menyedihkan. &lt;/p&gt;  &lt;p align=&quot;justify&quot;&gt;Saya kemudian merasa beruntung mengenal Yayasan Mitra Netra (YMN). Karena lewat yayasan inilah kepedulian kita menemu muara. YMN membuat kita setidaknya tahu apa yang bisa kita lakukan untuk mendukung tunanetra. Program &lt;i&gt;1000 buku untuk tunanetra&lt;/i&gt; berbicara pada kita, bahwa tunanetra tak butuh dibantu berdiri ketika terjatuh, tak butuh pendamping ketika hendak beperjalanan jauh, tetapi butuh lautan baca di mana pengalaman batin bisa disauh. Saya, Anda, siapa saja, dapat mendukung mereka dengan cara yang sederhana, tanpa mesti menyederhanakan persoalan.&lt;br /&gt;Program mendatang, peluncuran tujuh novel braille kerja sama penerbit GagasMedia dan Yayasan Mitra Netra, mudah-mudahan membuka mata kita (yang masih bisa melihat dengan baik) semua. Membuka cakrawala kesadaran kita, bahwa siapa pun tanpa kecuali, berhak memiliki diri yang utuh, yang lengkap. Dalam ketaklengkapannya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;p&gt;&lt;a target=&quot;_blank&quot; name=&quot;02000001&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; saya menggunakan tanda kutip karena ‘haram’ atau ‘tidak haram’ adalah label sosial, bukan hal yang sifatnya kodrati&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.gagasmedia.net/kabar_gagas/gagasmedia_luncurkan_7_buku_pengarangnya_dalam_format_braille.html&quot;&gt;GagasMedia Luncurkan Tujuh Buku Pengarangnya dalam Format Braille&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://mitranetra.or.id/news/index.asp?lg=2&amp;id=23206316&amp;amp;mrub=5&quot;&gt;Yayasan Mitra Netra&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;http://mitranetra.or.id/news/index.asp?lg=2&amp;id=23206316&amp;amp;mrub=5&quot;&gt;Dan Si &quot;Ungu Violet&quot; Pun Menjadi Relawan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114406049229022192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114406049229022192&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114406049229022192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114406049229022192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/04/lengkap-dalam-ketaklengkapan.html' title='Lengkap dalam Ketaklengkapan'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114182914432229694</id><published>2006-03-08T06:07:00.000-08:00</published><updated>2006-03-08T10:23:08.370-08:00</updated><title type='text'>from prejudice to hypocrisy</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Jakarta, 8 Maret 2006&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah tulisan saya minggu lalu, sebenarnya. Kesempatan belum mengizinkan saya untuk segera meng-&lt;em&gt;upload&lt;/em&gt;-nya. Tapi juga belum basi, bahkan kini menjadi isu yang semakin krusial, karena dalam perkembangannya malam ini saya dengar RUU APP selangkah makin dekat menuju pengesahan; GOLKAR sudah setuju dan yang menolak hanya PDI-P.&lt;br /&gt;Tapi saya belum menyerah. Semoga pula teman-teman yang tidak setuju terhadap RUU APP. Indikasi ini menguatkan niat saya bahwa kita memang sudah semestinya berbuat sesuatu; menyusun kekuatan untuk menolak atau sekurang-kurangnya meminta DPR untuk mempertimbangkan kembali diberlakukannya UU APP. Jangan patah semangat.&lt;br /&gt;Teman-teman pekerja seni dan budayawan Yogyakarta telah membuat pernyataan sikap. Gadis Arivia mengajak perempuan-perempuan Indonesia untuk dengan tegas menolak kriminalisasi terhadap kaum perempuan (yang merupakan implementasi turunan dari disahkannya RUU APP). Apa yang harus kita lakukan?&lt;br /&gt;Mari bersikap.&lt;br /&gt;Tabe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;right&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;Sore tadi, saya menghadiri forum diskusi mengenai RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang difasilitasi oleh Teater Garasi dan Taman Budaya Yogyakarta. Mula-mula saya merasa beruntung berada di sana. Selanjutnya, saya merasa ngeri. Bahkan, teramat ngeri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size:130%;&quot;&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kengerian yang sama juga dihadapi seluruh seniman dan pekerja seni yang hadir dalam forum tersebut. Betapa tidak, RUU yang kabarnya akan disahkan antara akhir Maret sampai Juni tahun ini (kini sedang dalam proses penjajakan ke daerah-daerah melalui DPRD) adalah bentuk represi terhadap hak asasi manusia. Sebagian besar orang yang tak menyadari imbas pascapengesahan RUU tersebut barangkali tak sudi ambil peduli. Toh, ini tampak semacam persoalan remeh-temeh. Tapi ketika saya mencerap isi draft RUU APP, saya tahu, seperti juga dikatakan orang-orang lain, kelak jika disahkan, dampak dari legal-formal ini bukan lagi hal yang remeh-temeh; sebaliknya berpotensi memusnahkan akar kebudayaan nasional dan merebut hak mendasar di negara demokrasi: kebebasan untuk berekspresi, demi tujuan yang entah bakal tercapai entah tidak: perbaikan akhlak warga negara.&lt;br /&gt;Potensi ketidakadilan muncul dari kenisbian hukum yang disebut Ugo Ran Prasad (penulis; musisi) ‘berangkat dari prasangka’ ini. Tak hanya nisbi, RUU APP bahkan ironis, sebab tak satu pun pasalnya secara &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;memberi batasan mengenai pornografi dan pornoaksi. Pasal 25 ayat 1, misalnya, berbunyi: “Setiap orang dewasa dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual”. Silakan cerna sendiri, dan temukan betapa lucunya jika kita kelak bahkan mesti memplester bibir sendiri sebab diasumsikan merupakan bagian tubuh yang sensual.&lt;br /&gt;Lantas, mari tengok imbas pengesahan RUU APP yang bisa sangat luas dan tak terduga. Mestikah kebudayaan tradisional, yang dengan adanya UU APP diasumsikan sebagai pornoaksi, disimpan ke dalam museum dan dibiarkan mati pelan-pelan? Atau akan terjadi serangkaian kekecualian terhadap kasus-kasus tertentu? Jika begitu, kita mesti mempertanyakan di mana letak keadilan dan kekuatan hukum yang berlaku di Indonesia. Berapa banyak lagi buku dan media cetak yang mesti dibredel hanya karena memuat adegan cium bibir (berarti termasuk juga novel saya), jika UU ini (dan saya berasumsi akan) berlaku surut? Saya bahkan menemui kelakar yang menyedihkan: jangan-jangan kelak Yesus pada lambang salib pun mesti ‘disarungi’ sebab dianggap erotis.&lt;br /&gt;Kelihatannya sepele. Tetapi RUU APP sesungguhnya berkaitan dengan begitu banyak aspek mendasar kehidupan manusia. Mulai dari afeksi, tradisi, apresiasi, sampai ekspresi. Wajar jika ada pihak-pihak yang kemudian merasa terancam dan ngeri. Kengerian itu mengiris dalam, sampai-sampai saya merasa pengesahan RUU APP tak jauh beda dengan menempelkan cap ‘komunis’ pada setiap yang berbau seni dan budaya rakyat, di zaman Orde Baru. Yang berbeda hanya cap-nya. Dulu komunisme, kini pornografi dan atau pornoaksi. Ada pula yang menyebut RUU APP sebagai produk &#39;talibanisme&#39;. Dengan disahkannya RUU APP, barangkali pentas-pentas &lt;em&gt;kethoprak &lt;/em&gt;mesti gulung tikar. Tak ada lagi gelaran kebudayaan tradisi di ruang publik, sebab kesenian mesti dilakukan di tempat khusus pertunjukan seni, yang &lt;u&gt;diizinkan oleh negara&lt;/u&gt;. Segala bentuk kesenian akan kehilangan nafasnya: ilham penciptaan yang bebas tanpa batas. Setelah keran kebebasan pers dan media dibuka lebar-lebar, kini kita kembali ‘dikandangi’ oleh keterbatasan-keterbatasan yang tidak masuk akal, yang mencampuradukkan hal privat dengan hal publik.&lt;br /&gt;Kenisbian hukum akan memunculkan anomali-anomali yang berbuntut pada ketidakadilan (yang boleh jadi bermuara pula pada perpecahan). Maka, apalah jadinya kita, selain sebagai kelinci percobaan yang ‘dikorbankan’ demi mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah krusial negara ini? &lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.lbh-apik.or.id/ruu-pornografi.htm&quot;&gt;draft RUU Anti Pornografi &amp;amp; Pornoaksi&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114182914432229694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114182914432229694&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114182914432229694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114182914432229694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/03/from-prejudice-to-hypocrisy.html' title='from prejudice to hypocrisy'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-114024213670113979</id><published>2006-02-17T21:53:00.000-08:00</published><updated>2006-02-17T22:04:26.660-08:00</updated><title type='text'>Bandung berjuang untuk kemanusiaan!</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Sudah lebih setahun pascakematian Munir Said Thalib, dan kasus kematian aktivis hak asasi manusia ini belum juga menampakkan tanda-tanda kejelasan. Kasusnya bahkan menyayup setelah vonis dijatuhkan pengadilan kepada Pollycarpus Budihari Priyanto, yang diyakini banyak orang, hanyalah &lt;i&gt;scapegoat&lt;/i&gt; sekaligus bukti bahwa praktek impunitas dalam kasus kekerasan politik di negara ini masih terjadi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Mematahkan impunitas negara dalam kekerasan dan pembunuhan politik adalah kewajiban kita seluruhnya. Maka, PSI bekerja sama dengan Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), Toko Buku Ultimus Bandung dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia menggelar pementasan monolog “Matinya Seorang Pejuang”, pemutaran film “Bunga Dibakar” – jalan panjang kehidupan Munir – dan diskusi kasus Munir bersama Raharja Waluya Jati (VHR) dan Andi Yuwono (Praxis). Sebelumnya, kegiatan ini telah diselenggarakan di sembilan kota di Indonesia (Yogyakarta, Malang, Surabaya, Denpasar, Mataram, Jakarta, Medan, Bengkulu, Batu) sejak Januari 2005. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Perjuangan melawan penindasan hak asasi manusia dimulai dari diri sendiri. Apakah Anda bersama kami?&lt;/p&gt;    &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Tabe,&lt;br /&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;PSI • KASUM • ISAI • TB Ultimus • STSI Bandung&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian Kegiatan&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;b&gt;Senin, 27 Februari 2006&lt;/b&gt; (TB Ultimus, Jl Lengkong Besar 127, Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;18.30 s.d 20.00 – diskusi kasus Munir&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;20.00 s.d 20.46 – pemutaran film “Bunga Dibakar”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;b&gt;Selasa, 28 Februari 2006&lt;/b&gt; (Gedung Dewi Asri, STSI Bandung)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;19.14 s.d 20.00 – pemutaran film “Bunga Dibakar”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;20.00 s.d 21.00 – pentas monolog “Matinya Seorang Pejuang”&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;“&lt;b&gt;Matinya Seorang Pejuang”&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Pelakon Tunggal : Wendy H.S&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Naskah : F.X Rudy Gunawan&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Sutradara : Landung Simatupang&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Artistik : Hendro Suseno&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Setting : Kuncoro D.P&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Lighting : Johan D.H&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Sound&amp;Multimedia : Prasetyo “Sinyo” B.M&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Produksi : Miranda&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Supervisi : Raharja Waluya Jati&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Keuangan : Dhiah Hartini&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Dokumentasi : Ratrikala Bhre  &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Koordinator Lokal : Yunis Kartika&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;“&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;b&gt;Bunga Dibakar”&lt;/b&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Durasi  : 46 menit&lt;/p&gt;     &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Produser : Institut Studi Arus Informasi, Imparsial, Kontras,&lt;br /&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;bekerja sama dengan Cinema Society, Cangkir Kopi Mediavisual, Off Stream, dan Lembaga Pembebasan, Media dan Ilmu Sosial&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Sutradara : Ratrikala Bhre Aditya&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Produser Eksekutif : M. Abduh Azis&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; Bulan September 2004, Indonesia dikejutkan oleh meninggalnya Munir, tokoh gerakan hak asasi manusia yang konsisten dengan perjuangannya.  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Film ini mencoba merekonstruksi perjalanan hidup dan perkembangan kejiwaan serta pergolakan batinnya. Dari seorang Munir, aktivis muslim yang sangat ekstrim, menjadi seorang Cak Munir yang menjunjung tinggi toleransi, menghormati nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan dan  berjuang tanpa kenal lelah melawan praktek-praktek otoritarian serta militeristik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Si pemberani ini ternyata juga manusia biasa yang menurutnya, juga mengenal rasa takut. Namun yang justru menginspirasi adalah kata-katanya: “...kita harus lebih takut kepada takut itu sendiri, karena rasa takut itu menghilangkan akal sehat dan kecerdasan kita.” Ia sosok yang suka bercanda dan sangat mencintai isteri dan kedua anaknya.&lt;/p&gt;   &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;Ia dibunuh justru pada era di mana demokrasi dan keterbukaan serta harapan akan hadirnya sebuah Indonesia yang dia cita-citakan mulai tumbuh. Bunga indah itu kini telah dibakar.&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot; lang=&quot;id-ID&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0in; font-family: georgia;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;id-ID&quot;&gt;*”Bunga Dibakar” adalah judul seri enam lukisan Yayak Yatmaka yang didedikasikan kepada para aktifis yang telah hilang. Lukisan di judul pembuka film adalah lukisan Yayak dengan judul “Bunga Dibakar” yang ketujuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/114024213670113979/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=114024213670113979&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114024213670113979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/114024213670113979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/02/bandung-berjuang-untuk-kemanusiaan.html' title='Bandung berjuang untuk kemanusiaan!'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113973298597884904</id><published>2006-02-11T23:25:00.000-08:00</published><updated>2006-02-12T01:03:53.193-08:00</updated><title type='text'>U Can See My Puser=Pornografi?</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#666666;&quot;&gt;Apa batasan pornografi menurutmu?&lt;br /&gt;Ada beragam definisi pornografi dalam sekian kepala kita. Membuatnya seragam tentu saja perkara bukan mudah. Ini soal sensitif yang dalam prakteknya, seperti diungkapkan dalam perdebatan-perdebatan di media massa, membawa imbas ke mana-mana. Bisa berimbas ke wilayah kebebasan ekspresi dalam berbagai bidang dan tingkatan – termasuk ekspresi kasih sayang dan ekspresi diri sendiri – sampai ke wilayah wacana perempuan sebagai korban patriarki. Jika tidak hati-hati, penerapan hukum sebagai tafsiran terhadap (nantinya) UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU-APP) bisa membawa korban-korban yang tak seharusnya jadi sasaran.&lt;br /&gt;Wajar jika Ayu Utami, dalam &lt;em&gt;Today’s Dialogue &lt;/em&gt;Metro TV satu hari sebelum rapat pembahasan RUU-APP di DPR, menyatakan mesti ada batasan yang &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;mengenai pornografi dan pornoaksi. Apa lagi, Ketua MUI sendiri mengamini betapa tipis batas antara pornografi dan kebebasan berekspresi (&quot;Jangan Kekang Ekspresi&quot;; &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 21 Jan &#39;06). Seperti apa batasan &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;yang mesti ditetapkan untuk “menggawangi” praktek-praktek “amoral” di negara ini? Sebenarnya bukan soal rumit, yang entah kenapa, membuat DPR mesti berlama-lama membahasnya. Atau UU-APP memang sengaja dibuat untuk menyebabkan tafsir yang luas bin luwes?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak tiga bab pertama RUU-APP 2006 (&lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 20 Januari ’06) berikut:&lt;br /&gt;Bab I&lt;br /&gt;Pengertian:&lt;br /&gt;• Pornografi adalah substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan atau erotika.&lt;br /&gt;• Pornoaksi: adalah perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan atau erotika di muka umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab II&lt;br /&gt;Larangan:&lt;br /&gt;• Larangan tentang pembuatan, penjualan, penyiaran tulisan, rekaman suara, film dan/lukisan yang mengeksploitasi tubuh atau aktivitas seksual baik diri sendiri maupun orang lain sebagai model.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab III&lt;br /&gt;Pengecualian dan Perizinan&lt;br /&gt;• Pengecualian ditujukan untuk pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, adat istiadat, kegiatan seni, olahraga, atau pengobatan gangguan kesehatan dalam batas yang diperlukan (rekomendasi dokter/rumah sakit) serta mendapat izin dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari temukan batasan yang &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;dalam pasal-pasal tersebut.&lt;br /&gt;Ada?&lt;br /&gt;Beruntunglah kamu yang menemukannya, karena saya tidak.&lt;br /&gt;Tiga kata kunci pada bab kunci (Bab I RUU-APP) masih mengandung arti luas. Seksual = berkenaan dengan jenis kelamin, atau berkenaan dengan perkara persetubuhan. Cabul berarti tidak senonoh, melanggar kesopanan. Erotika, menurut kamus bahasa berarti karya yang tema atau sifatnya berkenaan dengan nafsu kelamin atau kebirahian. Menurut Jim Supangkat, definisi umum tentang erotisisme (&quot;Pornoaksi tidak mungkin diatur dgn UU&quot;; &lt;em&gt;Kompas &lt;/em&gt;27 Jan &#39;06) adalah komunikasi yang menyangkut keingintahuan tentang seksualitas lawan jenis. Sedang seksualitas sama sekali bukan pornografi dan merupakan bagian dalam kehidupan manusia dan tidak bisa disebutkan dalam pengertian yang negatif. Keseluruhan hidup manusia bahkan tak lepas dari identitas seksual dan dimensi seksualitasnya (&lt;em&gt;Filsafat Seks&lt;/em&gt;, F.X Rudy Gunawan). Tafsiran terhadap tiga kata kunci tersebut, tak pelak lagi, bisa menjadi sangat &lt;em&gt;debatable&lt;/em&gt;. Seperti apa gagasan yang mengeksploitasi seksual(itas)? Standar kesopanan yang mana yang digunakan untuk menentukan perbuatan cabul? Jika erotika adalah karya (seni), berarti ada disharmonisasi antara Bab I dengan pengecualian dalam Bab III, yaitu yang menyangkut kegiatan seni. Mungkin maksudnya erotis (bersifat merangsang nafsu birahi) atau erotisisme? Tapi apa ada standar perilaku erotis yang sama di kepala tiap orang? Kembali ke esensi masalah: apakah tiga kata kunci itu cukup &lt;em&gt;rigid &lt;/em&gt;memberi batasan pornografi? Kenapa tidak menggunakan batasan yang lebih jelas, misalnya: &quot;Substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi (maaf) payudara, pantat dan alat kelamin&quot;?&lt;br /&gt;Belum lagi perempuan yang akan sangat rentan jadi korban dan “dikriminalkan” berdasarkan RUU-APP. Betapa dilematisnya posisi perempuan dalam wacana pornografi dan pornoaksi. Apa (nantinya) UU-APP berpihak pada perempuan (&quot;RUU APP tdk mengakomodasi perempuan&quot;; &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;,&lt;em&gt; &lt;/em&gt;4 Feb ’06)? Apa imbas diberlakukannya UU-APP terhadap pelaku prostitusi? Apa (nantinya) UU-APP mengakomodasi hak perempuan-perempuan yang disudutkan oleh kepentingan ekonomi dan kerap kali terpaksa “melayani” fantasi laki-laki lewat iklan, media massa, tempat hiburan malam, sampai lokalisasi??&lt;br /&gt;Blrrrggghhh...!!! Lupakan itu, tak usah berumit ria. Bayangkan jika suatu saat berciuman di tempat umum untuk mengekspresikan kasih sayang atau memakai kaus pendek yang (sedikit) potensial pamer pusar (&lt;em&gt;u can see my &lt;/em&gt;puser) dianggap sebagai pornoaksi yang membuat kita menanggung sanksi denda berjuta-juta (betapa kaya dan kurang kerjaannya aparat penegak hukum kita nantinya; apa lagi kalau praktek “sidang di tempat” alias bayar di jalan masih nge-trend!). Apakah baju yang tertutup menjamin moralitas bangsa? Apa membeli majalah &lt;em&gt;Playboy &lt;/em&gt;untuk memenuhi rasa ingin tahu bisa dicap bejat? Apa berjualan majalah dan tabloid “porno” di pinggir jalan berarti pelaku kriminal?&lt;br /&gt;Jadi, perlu nggak sih, UU Anti Pornografi dan Pornoaksi? Jangan-jangan UU ini cuma “produk” kemunafikan bangsa yang takut akan perubahan dan tak percaya pada filter, &lt;em&gt;self defence mechanism &lt;/em&gt;dan kecerdasan masing-masing warga negaranya dalam memilih mana pornografi mana bukan. Seperti diungkapkan mas Bimo Nugroho (ISAI) dalam sebuah liputan khusus mengenai UU-APP, saya lebih setuju jika dibuat regulasi mengenai di mana saja media-media tersebut boleh diakses, siapa saja yang boleh mengaksesnya, dan sanksi apabila terjadi pelanggaran. Silahkan membuat UU-APP, tapi setidaknya buatlah batasan yang jelas mengenai pornografi dan pornoaksi, karena bangsa kita sungguh sangat suka menafsir. Lebih-lebih, secara gegabah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baca juga: &lt;a href=&quot;http://kompas.com/gayahidup/news/0601/07/121930.htm&quot;&gt;Sejumlah Seniman Menolak RUU-APP&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113973298597884904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113973298597884904&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113973298597884904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113973298597884904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/02/u-can-see-my-puserpornografi.html' title='U Can See My Puser=Pornografi?'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113772856256230154</id><published>2006-01-19T18:41:00.000-08:00</published><updated>2006-01-19T19:45:52.646-08:00</updated><title type='text'>Boston Marriage</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/boston1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/boston1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Jenis perkawinan seperti apa yang Anda inginkan? Perkawinan sakinah, mawaddah warahmah? Atau perkawinan dengan seorang pekerja keras dengan karir yang baik tanpa mengesampingkan keluarganya? Atau perkawinan yang menghargai hak privat pasangannya untuk mengaktualisasikan diri dalam konteks seluas-luasnya, mungkin? Saya melakukan jelajah rimba maya hari ini, dan menemukan jenis perkawinan yang, tanpa sadar, sering kali saya idam-idamkan. Ia disebut &lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:85%;&quot; &gt;Boston Marriage&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Istilah Boston Marriage dipercaya muncul dari novel Henry James, &lt;i&gt;The Bostonians&lt;/i&gt; (1886 – tentang dua perempuan berkepribadian kontras yang kemudian terikat dalam jalinan konflik seksual antara mereka); atau mungkin juga dari pasangan-pasangan perempuan yang &quot;membina rumah tangga&quot; di Boston; di antaranya Sarah Orne Jewett, seorang novelis, dengan &quot;istrinya&quot;, Annie Adams Field, juga penulis. Boston Marriage adalah sebuah ungkapan yang digunakan untuk mendefinisikan sepasang perempuan yang membina kehidupan mereka bersama-sama (biasanya dalam satu rumah). Apakah Boston Marriage adalah sebuah pernikahan lesbian? Lilian Faderman, seorang sejarawan, mengatakan kesimpulannya tak semudah itu ditentukan. Orang mungkin berkata Anda –atau teman Anda– adalah seorang lesbian ketika mereka melihat Anda –atau ia– tinggal bersama perempuan lain dan membina rumah tangga. Orang mungkin akan berkata &quot;Maaf – pernikahan.... apa?&quot; sambil mendelik ketika Anda menyebut&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 102, 0);font-size:180%;&quot; &gt; &lt;span style=&quot;color: rgb(153, 0, 0);&quot;&gt;Boston Marriage&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, terlebih mereka yang memahaminya sebagai bentuk kontrak pasangan lesbian. Tapi segolongan perempuan –termasuk saya diantaranya– bisa jadi memandang Boston Marriage sebagai bentuk perkawinan yang relatif paling aman. Dan percayalah; yang sebenarnya terjadi pada Boston Marriage tak semata-mata sesederhana kesimpulan &quot;rumah tangga lesbian&quot;. &lt;/p&gt;   &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Lepas dari relasi seksual antaranggota &quot;rumah tangga&quot; ini, Boston Marriage menurut saya adalah bentuk kontemplatif relasi antarperempuan. Sebuah rumah tangga di mana kamu merasa aman untuk berbagi visi, opini, kasih sayang, hingga cerita sehari-hari dengan pasanganmu. Tak jauh beda dengan lazimnya perkawinan; hanya saja yang ini relatif lebih aman dari tekanan-tekanan patriarki dalam rumah tangga. Dua orang perempuan yang &quot;straight&quot; (istilah ini saya gunakan hanya untuk membedakannya dengan kaum lesbian) tapi memutuskan untuk tidak menikah bisa membina sebuah rumah tangga, merumuskan cita-cita bersama, berbagi rekening bank, bahkan membesarkan anak bersama-sama. Boston Marriage tak membatasi anggota rumah tangganya untuk menjalin relasi dengan orang lain – termasuk memiliki kekasih. Boston Marriage bisa menjadi solusi untuk kekhawatiran yang muncul dari trauma terhadap sistem patriarkal atau perkawinan konvensional yang gagal. Boston Marriage adalah bentuk ikatan persahabatan ideal sepasang perempuan, yang tak akan memaksa anggotanya untuk terus berada di rumah yang sama dan siapa pun di antara keduanya bisa &quot;terbang&quot; keluar rumah untuk sesuatu (atau seseorang) yang dicintai. Bukankah ide itu sangat menyenangkan?&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/boston2.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;&quot; src=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/boston2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Setelah mengamati keadaan di sekeliling saya selama ini, saya kerap berandai-andai jika saya tinggal dengan seorang (atau beberapa orang) sahabat perempuan dan menjalani sisa hidup saya bersama mereka. Beberapa diantaranya mungkin orangtua tunggal, dan saya merasa tak sedikit pun keberatan untuk membesarkan anaknya bersama-sama. Ini membuat saya paham bahwa (sekali lagi), salah satu dampak positif perkawinan adalah rasa aman, dan rasa aman hakikatnya tidak berasal dari jenis kelamin atau status dengan pasangan, tapi dari kesetiaan dan komitmennya untuk menemani dan ditemani. Hari ini saya menemukan formulasi yang saya idam-idamkan itu, dan menemukan bahwa banyak perempuan di luar sana ternyata memiliki mimpi yang sama dengan saya. Sungguh menyenangkan. [miranda]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/div&gt; &lt;p style=&quot;margin-bottom: 0cm; font-family: verdana;&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;Baca juga:&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.msmagazine.com/june01/marriage.html&quot;&gt;So, Are You Too Together?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.celebratefriendship.org/boston.htm&quot;&gt;What&#39;s Boston Marriage?&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113772856256230154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113772856256230154&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113772856256230154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113772856256230154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/01/boston-marriage.html' title='Boston Marriage'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113646862189955076</id><published>2006-01-05T05:32:00.000-08:00</published><updated>2006-01-05T07:51:56.110-08:00</updated><title type='text'>Kawin Kompleks</title><content type='html'>&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Apa yang membuat Anda memutuskan untuk kawin? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/marriage.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center&quot; alt=&quot;The marriage of Tristram and Isoude&quot; src=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/marriage.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Entah ada hubungannya atau tidak dengan usia &lt;em&gt;quarter-life &lt;/em&gt;yang sudah saya jalani, saya tertarik pada “&lt;span style=&quot;font-size:180%;color:#990000;&quot;&gt;kawin&lt;/span&gt;” (bedakan dengan &quot;untuk kawin&quot;, ya. ^_^). Ini bukan ketiba-tibaan. Saya pernah beberapa kali membahasnya dari berbagai perspektif. Tapi setelah sekian lama merenungkan secara sambil lalu, saya terpaksa mengakui bahwa &quot;kawin&quot; memang membuat saya tertarik. Dan mungkin perlu direnungkan tidak secara sambil lalu.&lt;br /&gt;Tentu bukan prosesi tribal atau aspek biologis dari “kawin” yang membuat saya tertarik (hmmm... katakanlah, dalam beberapa celah, ya. Tapi secara keseluruhan? Rasanya bukan.). Sekarang, mari mengetuk kepala masing-masing dan bertanya: Kenapa kamu memutuskan untuk kawin atau setidaknya merasa membutuhkan pernikahan dan melembagakan diri, atau bahkan untuk tidak kawin?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Atas nama keingintahuan di atas keisengan belaka, saya pernah mendiskusikannya dengan seorang teman peskenario film, Agustinus Sudarsa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;“Kenapa orang-orang pada kawin, ya, Gus?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Dia tersenyum. Dia bilang (ini agak mengejutkan sekaligus menyenangkan, karena ternyata saya menemukan seorang teman dengan ketertarikan yang sama), &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;“Aku yo lagi meh gawe skenario soal kawin, jhe.”&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=10410331#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Karena itu kami lantas berdiskusi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Jadi, kenapa orang memutuskan untuk kawin? Diskusi simpang-siur itu tentu tak berkesimpulan. Ada banyak sekali alasan untuk kawin. Seberagam latar belakang manusia. Kawin adalah tradisi yang sama tuanya dengan sejarah manusia. Manusia bisa saja memutuskan menikah karena alasan (selain cinta, tentunya) tradisi, &lt;span style=&quot;font-size:130%;color:#666600;&quot;&gt;religiositas&lt;/span&gt;, pengabdian, sekuriti, &lt;span style=&quot;font-size:130%;color:#6666cc;&quot;&gt;prokreasi&lt;/span&gt;, sosiokultural, sampai keseluruhannya. Seorang teman dari suku Batak bilang, kawin dalam perspektif masyarakat tradisional Batak adalah demi alasan prokreasional; meneruskan keturunan. Selain alasan prokreasi, yang kebanyakan terjadi pada generasi di atas kita barangkali adalah perkawinan sebagai bentuk &lt;span style=&quot;font-size:130%;color:#006600;&quot;&gt;pengabdian&lt;/span&gt; perempuan terhadap laki-laki. Golongan ini bisa saja beririsan dengan golongan lain yang beralasan bahwa kawin dianjurkan oleh agama. Sebagian golongan rural barangkali kawin demi alasan &lt;span style=&quot;font-size:130%;color:#990000;&quot;&gt;sosiokultural&lt;/span&gt;. “Kalo kamu kawin, alasannya apa, Mar?” Kami semua menoleh pada seorang teman dalam diskusi itu. “Rasa aman,” jawabnya pendek.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Diskusi antara kami berakhir dengan hipotesis; kini trend seputar kawin adalah alasan sekuriti. &lt;span style=&quot;font-size:180%;color:#666666;&quot;&gt;Rasa aman&lt;/span&gt;, pembebasan dari kekhawatiran. Karena mitosnya, manusia pada dasarnya adalah makhluk yang terbelah, barangkali. Atau yang lebih logis, karena manusia adalah makhluk sosial sekaligus individual sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;Lalu, ketika sifat manusia kian androginal; ketika seorang perempuan atau laki-laki merasa cukup dan aman dengan dirinya sendiri,&lt;br /&gt;apa &lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;masih ada &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;alasan untuk kawin?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;....................................................&lt;br /&gt;(miranda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a title=&quot;&quot; style=&quot;mso-footnote-id: ftn1&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=10410331#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt; Terjemahan bebas-nya kira-kira begini: “Aku juga lagi mo bikin skenario soal kawin, neh…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113646862189955076/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113646862189955076&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113646862189955076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113646862189955076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2006/01/kawin-kompleks.html' title='Kawin Kompleks'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113524415135193657</id><published>2005-12-22T00:27:00.000-08:00</published><updated>2005-12-22T01:44:51.476-08:00</updated><title type='text'>catatan akhir tahun</title><content type='html'>&lt;div  style=&quot;text-align: justify;font-family:georgia;&quot;&gt;Barangkali ini adalah sebuah catatan akhir tahun. Bukan berarti berisi ulasan peristiwa selama satu tahun yang sebentar lagi akan berlalu. Tapi barangkali lebih pada jejaring pemikiran yang melintas-lantur dalam kepala saya, menjelang akhir tahun ini.&lt;br /&gt;Tadi malam, sambil terkantuk saya menonton &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;The Stepford Wives&lt;/span&gt;. Sebuah film yang disutradarai Scott Rudin dan dibintangi oleh Nicole Kidman. Lalu saya menemukan sesuatu yang pada paruh akhir tahun ini kerap bersinggungan dengan diri saya. &quot;Apa yang akan dilakukan &#39;sang superior&#39; laki-laki ketika terimpit inferioritas terhadap pasangannya?&quot;&lt;br /&gt;Saya membuat analisis yang tertuang dalam sebuah cerita pendek. Laki-laki, sang superior yang &#39;terjangkit&#39; inferioritas berkepanjangan itu bisa kena schizoprenia, mengalami delusi dan halusinasi, dan dalam jangka panjang punya potensi untuk membunuh pasangannya. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Nonsense&lt;/span&gt;? Belum tentu. Dalam &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;The Stepford Wives&lt;/span&gt;, &#39;barisan sakit hati&#39;, para laki-laki yang bergabung dalam Stepford Men Association, melampiaskan dendam dengan menjerumuskan pasangannya ke dalam &#39;kematian sementara&#39; dan mengubah mereka jadi robot. Tak cukup, wujud robot bentukan mereka adalah perempuan-perempuan &#39;idaman&#39; yang terobsesi pada dapur, rumah cantik dan tubuh molek. Sebuah perubahan yang, menurut film itu, nyaris tak mungkin terjadi pada barisan wanita karir plus plus yang sukses, cerdas, kaya, kemampuan diplomasi di atas rata-rata dan punya segala (sebab wanita demikian identik dengan penampilan seadanya, dan kecantikan serta tubuh terawat menjadi semacam ikon ketidakcerdasan di kalangan mereka). Perempuan idaman? Tinggal di rumah seharian, menekuni trend buku masak dan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;housing&lt;/span&gt;, &#39;mengawini&#39; alat-alat kecantikan, merawat diri dengan berbagai produk dan alat kebugaran demi terjaganya hubungan seks yang ideal, dan cuma bisa bilang &#39;ya&#39; tanpa pertimbangan asertif kepada pasangan? Mereka, para laki-laki sakit hati itu, pasti telah mengalami sisip-pikir. Schizoprenic.&lt;br /&gt;Di dunia nyata? Jangan tanya. Belum dua minggu yang lalu, seorang laki-laki pengangguran hampir membunuh isterinya karena sebuah alasan sepele. Penolakan sang istri melayani birahinya, karena hendak berjualan di pasar. Seorang bapak tiri (yang juga berstatus pengangguran) tega memperkosa dua anak gadisnya, bahkan berkali-kali, ketika sang istri mencari nafkah di luar rumah. Seorang lelaki penganggur yang lain bisa mengancam akan membunuh istri, keluarga dan teman-temannya, ketika sang istri (yang juga jadi penopang ekonomi keluarga) akhirnya menggugat cerai. Mengeluarkan rentetan ayat sebagai pembenaran, dan merasa diri Ratu Adil. Oh.&lt;br /&gt;Inilah wajah lain budaya patriarki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang melintas-lantur dalam kepala saya menjelang akhir tahun ini adalah kuping tipis para pejabat, perdebatan mengenai kerja editor di milis pasarbuku, kelaparan di Yahukimo, dan vonis 14 tahun penjara yang dijatuhkan untuk terdakwa Pollycarpus Budihari Priyanto. Tidak ada benang merah yang menghubungkan kelima topik di atas, memang. Kecuali bahwa kelima-limanya kadangkala memancing kesedihan saya. Terlebih dua topik terakhir. Seharusnya pemerintah kita digugat untuk meninggalkan warga Papua dalam kubangan keprimitifan dan menjadikan mereka warga negara kelas dua. Hell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well,&lt;br /&gt;selamat Hari Ibu. Sebentar lagi, selamat Natal dan Tahun Baru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113524415135193657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113524415135193657&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113524415135193657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113524415135193657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/catatan-akhir-tahun.html' title='catatan akhir tahun'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113447181509816719</id><published>2005-12-13T02:07:00.000-08:00</published><updated>2005-12-13T03:03:35.133-08:00</updated><title type='text'>&quot;Itu benar-benar panjang dan melelahkan.&quot;</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Birokrasi. Hari ini, genap tiga kali angin birokrasi menyepoi kepala saya. Sekali sebelum jatuh tertidur akibat kelelahan tertahan, sekali sesudah terbangun dengan perasaan absurd, dan sekali setelah benar-benar sadar - kali ini bahkan bersentuhan langsung dengannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Pagi tadi, di koran saya baca pengakuan seorang pengusaha Taiwan yang mengeluh soal birokrasi panjang berinvestasi di Indonesia, dan perlakuan aparat lokal yang jauh berbeda dibandingkan dengan perlakuan aparat di Cina. Juga ketika para investor yang notabene adalah pendatang itu mesti &#39;membayar biaya tambahan&#39; di bagian imigrasi bandara, karena mereka selalu minta duit. Siang tadi, dalam sebuah momen makan siang dengan seorang sahabat, ia mengeluhkan soal para pejabat di tingkat pemerintahan terendah yang tak segan-segan minta uang sebagai &#39;imbalan&#39; tanda tangan dokumen-dokumen tanah dan bangunan. Dan betapa proses itu sudah menjadi sangat lazim bagi mereka, yang bahkan berani &#39;memasang harga&#39;. Tapi, seberapa keras pun sahabat saya mengeluh, birokrasi panjang dan melelahkan itu tetap mesti ditempuh. Dan seberapa tak setuju pun hati nuraninya (dan hati nurani saya, juga Anda, tentu), ritual suap-menyuap itu pun mesti berlaku, supaya proses bisa berjalan terus tanpa hambatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Pembicaraan kami terseling perdebatan keras, karena di satu sisi menurut saya para pejabat pemerintahan tingkat rendah itu tidak sepenuhnya salah, dan jika memang mesti ada kambing hitam, yang mesti disalahkan adalah sistem. Di sisi lain, fenomena birokrat tingkat rendah di negara kita yang, konon, kaya ini, memang menjengkelkan. Karena para PNS itu kebanyakan hanya mengutak-atik &lt;em&gt;solitaire&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;freecell&lt;/em&gt; di PC-nya, ongkang-ongkang di posisi menunggu momen-momen dibutuhkan (seperti yang sahabat saya alami), di mana dengan sendirinya uang datang, hanya dengan segurat tanda tangan. Hanya berembel-embelkan jabatan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Sore ini, lagi-lagi proses yang saya tempuh di kampus terganjal birokrasi. Lagi-lagi saya dibuat kesal dan setengah putus asa. Tanpa disuruh, kepala saya tak henti merutuk dan bertanya; apa yang ada di kepala para pemimpin dan aparatur ketika dulu menciptakan sistem dan jenjang birokrasi yang melelahkan, yang pada muaranya membudayakan korupsi, kolusi dan nepotisme di negara ini? Tidak semua birokrat berelasi dengan uang dan tidak semua birokrasi UUD (ujung-ujungnya duit), memang (meski sebagian besar ya). Tapi pemikiran saya sesederhana banyak orang lain: kalau memang bisa dibuat mudah, kenapa &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; mesti dibuat-buat sulit? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Kini, ketika kita semua terlalu terbiasa menyuap dan jenjang birokrasi yang dipanjang-panjangkan terus dipertahankan, sehingga kemalasan menghadapi birokrasi yang hinggap menjadi sebuah kewajaran yang membenarkan budaya suap terus terjadi, masih patutkah kita bertanya: &lt;span style=&quot;font-size:180%;&quot;&gt;kapan&lt;/span&gt; kita keluar dari budaya dan lingkaran setan ini?&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113447181509816719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113447181509816719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113447181509816719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113447181509816719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/itu-benar-benar-panjang-dan-melelahkan.html' title='&quot;Itu benar-benar panjang dan melelahkan.&quot;'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113384807068630059</id><published>2005-12-05T20:29:00.000-08:00</published><updated>2005-12-05T21:47:50.726-08:00</updated><title type='text'>warna-warni dunia paralel</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family:verdana;&quot;&gt;Malam tadi, dalam sebuah latihan yang berakhir dengan perbincangan, Wendy [sang monolog&#39;er] melontarkan isu tentang salah satu karya seni rupa kontemporer dalam Biennale Jogja VIII (Biennale Jogja VIII adalah sebuah program yang melibatkan dua kajian budaya sekaligus; seni rupa dan pusaka/heritage. Tajuk program dua tahunan itu tahun ini adalah &quot;Di Sini dan Kini&quot; - &lt;em&gt;Consciousness of The Here and Now&lt;/em&gt;). Karya yang disebut-sebut itu (saya terus terang lupa judul persisnya) berkaitan dengan &#39;berdarmawisata di kota sendiri&#39;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Biennale Jogja tahun ini memang mengangkat wacana-wacana yang berkaitan dengan kebijakan tata kota; pengelolaan wilayah yang tidak tersiasati dengan baik, polusi iklan dengan menjamurnya giant-board di sembarang tempat, munculnya sekian mal di tempat-tempat yang &#39;tidak semestinya&#39; [seperti persis di seberang sebuah SMU, atau malah di dalam kompleks universitas], yang kerap kali mengusik keberadaan pusaka peninggalan sejarah. Disebut-sebut juga pengaruh kapitalisme global yang memengaruhi perangai warga kota Jogja (dalam interpretasi saya, ini berkaitan dengan Mc Donald&#39;isme, salah satunya). Tak heran, jika salah satu karya seni rupa kontemporer yang lolos kuratorial Biennale Jogja tahun ini adalah karya bertajuk &#39;berdarmawisata di kota sendiri&#39; itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Back then, wujud karya itu adalah &#39;piknik&#39; ke berbagai situs bersejarah (sosial-budaya) di Jogja. Konon, karya itu ditanggapi antusias oleh masyarakat. Indikasinya jelas: banyak orang mendaftar untuk &#39;berdarmawisata di kota sendiri&#39;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Lontaran itu kemudian ramai ditanggapi oleh kami: aku, mas Landung, Sinyo the multimediaman dan Kuncoro setting&#39;er. Mas Landung menceletuk: &lt;em&gt;dia, sang seniman itu, pasti sudah mempersiapkan programnya dengan baik. Mulai dari survey ke bantaran kali code, ngobrol dengan ketua RT-nya, lalu membeberkan riwayat keluarga itu pada para &#39;turis&#39;....&lt;/em&gt; [meski ramai canda, kami sadar betul kalau kebanyakan dari kami memang sudah lama &#39;lupa&#39; pada kota sendiri]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Konon, bantaran kali Code memang termasuk salah satu situs yang akan dikunjungi dalam &#39;karya&#39; itu. Entah benar, entah tidak. Lalu, dalam perjalanan pulang, tepat di jembatan Gondolayu, sesuatu tiba-tiba meletik dalam pikiran saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Beberapa waktu lalu pernah terjadi, jembatan itu jadi salah satu situs nongkrong; tempat di mana para pengendara motor berhenti untuk sekedar memandang lelampu di bawah jembatan; lelampu yang berasal dari kawasan permukiman di bantaran kali Code. Tiba-tiba, otak melankolik saya merasa betapa ide itu pathetic. Apa yang sedang mereka lihat dari atas jembatan, orang-orang itu? Kemiskinan? Kehidupan di bantaran kali Code yang terepresentasi kulit-kulitnya saja lewat ratusan kerlip lampu, yang sama sekali tak pernah bercerita tentang apa yang sesungguhnya mereka hadapi di sana? Sejak kapan kelas marjinal jadi tontonan yang keren, bahkan romantis bagi kelas yang lebih tinggi? Is that what really happened? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Dan di balik ratusan kerlip lampu di bawah sana, ratusan manusia sedang terpana, memelototi televisi mereka, menonton sinetron dan tontonan sampah yang terus membuat mereka bermimpi (meski kata salah seorang teman yang saya hormati, bermimpi baik untuk membuat mereka &#39;survive&#39;) dan berkubang dalam kebodohan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:Verdana;&quot;&gt;Sungguh, sebuah dunia paralel yang warna-warni.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113384807068630059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113384807068630059&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113384807068630059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113384807068630059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/12/warna-warni-dunia-paralel.html' title='warna-warni dunia paralel'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113316721782905893</id><published>2005-11-27T23:41:00.000-08:00</published><updated>2005-11-29T22:04:22.910-08:00</updated><title type='text'>anakanak bengkulu</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/1600/child.0.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center&quot; alt=&quot;&quot; src=&quot;http://photos1.blogger.com/blogger/4338/798/320/child.0.jpg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:verdana;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&quot;Ambo dah sampe di Bengkulu. Di siko ndak ado k bulet (maksudnya circle k, pen.), ndak ado bioskop, ndak ado supermarket. cuma ado minimarket.&quot;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;&quot; &gt;???????&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;&quot; &gt;Itu adalah isi sms dari salah seorang teman yang sudah lebih dulu sampai di Bengkulu (Bengkulu adalah kota kedelapan pentas monolog &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;Matinya Seorang Pejuang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, sebuah monolog yang didedikasikan untuk alm. Munir; tempat darimana aku baru saja pulang). Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, sms itu sebentar sempat bikin hati setengah deg-degan dan kepala dipenuhi bayangan buruk tentang Bengkulu. Apalagi, informasi lanjutan mengabarkan bahwa di sana setiap hari hujan. Barusan mendengar kabar ada gempa bumi di Bengkulu, dan kabarburung dari manamana kalau kota ini rawan banjir bikin bayangan-bayangan buruk menggelembung makin gede. Bagaimanapun, komitmen membuat bayangan buruk di kepala kami cuma jadi &#39;angin numpang lewat&#39; dan segera lenyap larut di udara, tanpa sempat bikin merasa &#39;angin-anginan&#39; ketika berangkat. Untunglah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah. Mulanya, berbagai kabarburung yang tidak jelas asal-muasalnya itu bikin aku tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi terhadap Bengkulu. Tapi empat malam di sana benar-benar mengubah pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya aku (tepatnya kami) berpikir tingkat apresiasi mereka terhadap kesenian tidak bisa terlalu diharapkan, karena Bengkulu bukan kota besar. Tapi ternyata aku (tepatnya kami) salah besar. Mereka punya daya apresiasi cukup besar, bahkan kalau dibandingkan dengan Yogya yang konon, katanya kota budaya (meski mungkin juga karena di Yogya alternatif tontonan memang sudah lebih beragam ketimbang di sana). Bayangkan, dua sesi pemutaran film yang kami buat selalu penuh. Yang ajaib, ruangan dipenuhi oleh &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;&quot; &gt;anak-anak&lt;/span&gt; SMP &amp; SMA! Ajaib buatku, karena film yang diputar jelas-jelas bukan film populer, tapi film dokumenter. Pun, pentas monolognya. 50% penonton adalah anak sekolah. Dulu, waktu aku masih SMA, minat nonton pertunjukan teater cuma dimiliki kalangan terbatas. Lagipula kebanyakan orangtua (pada waktu itu) belum terlalu &#39;setuju&#39; dengan hal-hal berbau &#39;komunis&#39; semacam pertunjukan teater macam begitu. Beda sekali dengan mereka.&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(204,102,0)&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(204,102,0);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold&quot;&gt;A thing to be underlined&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, mereka tidak datang karena paksaan atau keliatan merasa terpaksa. Nggak. Mereka datang dengan wajah ingin tahu dan semangat yang jelas-jelas terpancar dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih tentang &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;&quot; &gt;anak-anak&lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;perempatan-perempatan jalan Bengkulu (yang sangat bersih, dan &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;landscape&lt;/span&gt;-nya asyik banget) bersih dari anak-anak kecil bawa &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(204,102,0)&quot;&gt;kecrekan&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;dan minta duit. Sama sekali nggak ada. Dan waktu kami semua singgah di teluk Sepang, sebuah kampung nelayan di sana, yang penuh sekali dengan anak-anak kecil, aku menemukan anak-anak yang &#39;aura&#39;-nya jauh beda dengan aura anak-anak kota jaman sekarang. &lt;span style=&quot;FONT-STYLE: italic&quot;&gt;Like a journey to the past&lt;/span&gt;, mereka masih polos (meski juga kenal istilah &#39;so what gitu loh&#39;) dan mainannya sama dengan mainanku jaman kecil. Bukan uang yang bikin mereka senang, tapi &#39;mainan&#39; dan &#39;bermain&#39;. Lagi-lagi rasanya miris kalau aku membandingkan dengan anak-anak umur segitu yang sudah pegang kecrekan dan ngamen di perempatan jalan. Yang sorot matanya jauh lebih dewasa dari fisiknya dan &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold;font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(204,102,0)&quot;&gt;cemar&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;oleh polusi kehidupan kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tau, ya.&lt;br /&gt;Hal-hal kecil kaya&#39; gitu bikin aku salut pada Bengkulu. Mungkin kita perlu mengaca pada mereka. Lihat apa yang bisa dilakukan oleh generasi muda kita, kalau punya semangat sebesar mereka. Semangat untuk tahu, bahkan mengapresiasi sesuatu yang tidak dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, dan bersetia bertahan! Buat aku, itu sebuah prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Bengkulu, selain terkesan, aku sedikit merasa tertampar. Bagaimanapun, seharusnya kita semua mengaca dari semangat murni mereka. Tapi sepertinya, ini pikiran &lt;span style=&quot;FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(204,102,0)font-size:85%;&quot; &gt;utopis&lt;/span&gt;. Yeah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;COLOR: rgb(102,102,102);font-family:verdana;&quot; &gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113316721782905893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113316721782905893&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113316721782905893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113316721782905893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/anakanak-bengkulu.html' title='anakanak bengkulu'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113212202437908128</id><published>2005-11-15T21:55:00.000-08:00</published><updated>2005-11-15T22:20:24.400-08:00</updated><title type='text'>favorit + mati lampu</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Favorit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Sekali waktu, aku pernah berdebat dengan seseorang tentang &#39;favorit&#39;. Bukan sekedar term-nya, tapi juga bagaimana aku menggolongkan sesuatu sebagai &#39;favorit&#39; atau &#39;suka&#39;, atau biasa-biasa. Kami berdebat keras, karena terusterang entah kenapa aku kurang terbiasa dengan -isme favorit. Agak sulit menyebut beberapa things sebagai favorit. Entah karena aku memang susah (atau terlalu sombong) untuk memfavoritkan sesuatu, atau karena sejak kecil tak terbiasa dengan ide favorit. Yang aku ingat sekali, waktu kebiasaan mengedarkan diary bergambar warnawarni (dan kerap berbau wangi) untuk bertukar biografi jadi trend semasa SD, aku selalu sulit menuliskan &#39;makanan favorit&#39;, &#39;bintang film favorit&#39;, etc etc etc. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Memang begitu. Teman yang mendebatku, atau siapapun mungkin heran, karena &#39;favorit&#39; bukan sesuatu yang sangat berjarak dalam kehidupan sehari-hari; barangkali justru kerapkali sangat dekat. Tapi begitulah aku....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-weight: bold; font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;&quot; &gt;Mati lampu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;tadi malam, ruas jalan kaliurang dengan radius kurang lebih satu kilometer, mati lampu. seluruh ugm dirundung kegelapan (kecuali beberapa gedung seperti fak. hukum, fak. teknologi pertanian dan gedung pusat ugm) selama kuranglebih tiga perempat jam. Latihan monolog Matinya Seorang Pejuang yang sedianya dilaksanakan di plasa sospol praktis gagal total. Akhirnya kami pun beramai-ramai hijrah ke daerah selatan yang diperkirakan tidak mengalami gangguan listrik. Setelah menempuh rute Terban-Jl Mangkubumi *yang pasar maling-nya lagi rame2nya*-Bumijo-Kuncen-dan berlabuh di Wirobrajan selama setengah jam, kami sampai di tujuan. Ironisnya, salah satu teman yang berangkatnya menyusul setengah jam kemudian ke selatan mengabarkan kalau listrik di ruas jalan kaliurang sudah menyala tak berapa lama setelah kami berangkat ke selatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Hubungan favorit dan mati lampu??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Sebenarnya begini: aku punya seorang pengemis favorit di perempatan Mirota Kampus. Pengemis itu, seorang bapak tua yang sepanjang hari nongkrong sambil ngerokok linthingan atau terkantuk-kantuk di depan pelataran KFC, adalah pengemis yang selalu berhasil menarik perhatian (dan recehanku) setiap kali berhenti di lampu merah KFC. Meski ia mungkin tak pernah mengenalku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Tapi malam kemarin, mati lampu membuatku tak sempat menengoknya seperti biasa. Karena listrik mati membuat lampumerah perempatan itu tidak beroperasi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Aku melintasinya. Ia masih terkantuk-kantuk. Tiba-tiba aku merasa ingin mengelus dada. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;div style=&quot;text-align: center; font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 102, 0);&quot;&gt;Berapa rupiah rejekinya, bapak tua pengemis itu, yang melayang akibat mati lampu, ya..?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113212202437908128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113212202437908128&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113212202437908128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113212202437908128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/favorit-mati-lampu.html' title='favorit + mati lampu'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113203495693569775</id><published>2005-11-14T21:38:00.000-08:00</published><updated>2005-11-14T22:09:16.950-08:00</updated><title type='text'>Azahari dan conspirative thinking</title><content type='html'>&lt;span style=&quot;font-family: trebuchet ms;&quot;&gt;Waktu dengar berita bom di Villa Nova, Batu, Malang yang dikabarkan menewaskan Azahari the demolition man dan Arman, ada yang absurd. Yang terlintas pertama kali di pikiran bukan perasaan puas, bersyukur atau gembira karena the demolition man sudah men-demolish dirinya sendiri. Bukan juga harapan bahwa kekejaman terorisme di indonesia akan segera berakhir.&lt;br /&gt;Yang terlintas justru keraguan.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;br /&gt;bener nggak sih Azahari sudah mati?&lt;br /&gt;for a guy like him, yang bertahun-tahun terakhir keberadaannya sulit terlacak, yang aksinya (was) selicin belut, kan bukan persoalan sulit membuat skenario kematian untuk melenyapkan diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Pikiran seperti ini bukan cuma punya kepalaku. Aku hampir yakin, keraguan yang sama berbiak dalam kepala banyak orang di negeri ini. Kebobrokan sistem mungkin sudah membuat kita kehilangan kepercayaan, selalu negative thinking dan berpikir konspiratif. Karena itu, berita bahwa SBY begitu gembira karena dua pencapaian besar dalam waktu hampir berbarengan dengan &#39;meledaknya&#39; Azahari dan digerebeknya pabrik ekstasi gede di Banten yang terbaca di koran terasa tak lebih sebagai angin lalu yang tidak juga menimbulkan perasaan bangga, lega, berterimakasih atau apapun lah, terhadap pemerintah. Buatku aneh, karena kematian (kalau benar Azahari) yang seharusnya bikin lega itu ternyata cuma meninggalkan perasaan hambar. Lagi-lagi apatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin-kemarin, aku kerap bertanya, kenapa rasanya aku begitu apatis terhadap perkembangan peristiwa sosial-politik di Indonesia. Apatis yang tak mau tahu sama sekali. Is it because of me, faktor yang murni berasal dari dalam diriku, atau karena sistem membentukku jadi manusia apatis? Atau malah kombinasi keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahu. Tapi at least, sekarang kalaupun aku apatis,&lt;br /&gt;aku tahu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113203495693569775/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113203495693569775&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203495693569775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203495693569775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/azahari-dan-conspirative-thinking.html' title='Azahari dan conspirative thinking'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10410331.post-113203177594678719</id><published>2005-11-14T19:55:00.000-08:00</published><updated>2005-11-14T21:16:16.096-08:00</updated><title type='text'>Lauch Missing the novel</title><content type='html'>&lt;div  style=&quot;text-align: center;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);font-family:trebuchet ms;font-size:130%;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;font-size:100%;&quot;&gt;^^ sila hadir ^^&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153); font-weight: bold;font-size:130%;&quot; &gt;&lt;br /&gt;Soda Lounge&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt; Laksda Adisucipto, Kamis &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153); font-weight: bold;font-size:130%;&quot; &gt;17 Nov&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt; 05, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);font-size:180%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-size:130%;&quot; &gt;19.00&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;pm&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;Launch &amp; Talkshow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold; color: rgb(102, 102, 204);font-family:georgia;font-size:180%;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Missing the novel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;Ruwi Meita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;presented by GagasMedia Publisher&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;about &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Missing the novel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;Maya adalah seorang wanita berumur 25 tahun. Kemampuan istimewa mata &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;ketiga membuat tubuhnya bisa dijadikan medium  untuk berkomunikasi dengan &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;roh, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;hanya dengan memegang benda yang punya kaitan psikologis dengan roh itu semasa hidup. Masa lalu Maya yang kelam membuatnya tak bisa mengontrol kemampuan, sehingga yang ada hanyalah ketakutan-ketakutan yang tak teratasi. Sedang Steven, suami Maya yang bekerja sebagai fotografer di sebuah majalah budaya dan seni, tak mampu memahami Maya sehingga pernikahan mereka menjadi hambar.&lt;br /&gt;Adalah Dini, sahabat Maya yang kemudian menawarkan pekerjaan di cafe dengan maksud mengalihkan perhatian Maya dari segala beban hidupnya. Konflik dimulai saat secara tidak sengaja Steven mengunci seorang bocah bernama Vega dalam bagasi mobilnya, ketika gadis cilik itu sedang bermain petak umpet dengan teman-temannya. Permasalahan semakin pelik saat Maya secara tidak sengaja melihat Vega berada di bagasi mobil Steven lewat &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;vision-nya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;. Pertengkaran pun terjadi antara pasangan itu. Mereka saling mencurigai. Mereka tak bisa berpikir jernih. Lalu bagaimana nasib Vega? Apakah dia masih hidup? Apa yang dilakukan Maya dan Steven selanjutnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;Novel yang ditulis berdasarkan skenario Ery Sofid ini punya &lt;/span&gt;&lt;em style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;soul &lt;/em&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;dan nuansa berbeda dengan film-nya, bahkan dengan novel-novel adaptasi horor lainnya setelah mengalami banyak pengembangan di sana-sini. Penulisnya menampilkan sesuatu yang mengerikan tanpa harus terjebak dalam stereotip novel horor. Juga indah. &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;about &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Missing the movie&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;Film ini diproduksi oleh Starvision Plus dengan bintang-bintang film horor seperti Marcella Zalianty, Endhita, dan Inong. Film yang disutradarai Chiska Dopert ini mengambil gambar-gambar suram sejak awal untuk lebih menekankan karakter Maya (Endhita). Launching film &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Missing&lt;/span&gt; sudah digelar di Jakarta pada 20 Oktober kemarin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;about Ruwi Meita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;Ibu satu anak kelahiran Yogya ini masih terdaftar sebagai mahasiswa sastra Perancis UGM. Karya-karya terdahulunya adalah &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Dara Manisku the end of story&lt;/span&gt; dan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Kumpulan Cerpen Mari Mengutuk Laki-laki&lt;/span&gt;. Kini, selain menulis ia aktif di sebuah komunitas baca tulis yang didirikannya, Komunitas Buta Huruf.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style=&quot;font-style: italic; color: rgb(51, 153, 153);&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sihircinta.blogspot.com/feeds/113203177594678719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10410331&amp;postID=113203177594678719&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203177594678719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10410331/posts/default/113203177594678719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sihircinta.blogspot.com/2005/11/lauch-missing-novel.html' title='Lauch Missing the novel'/><author><name>Anonymous</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/blank.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>