<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797</atom:id><lastBuildDate>Sun, 16 Nov 2025 08:14:30 +0000</lastBuildDate><title>Sirna Raga</title><description></description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>301</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-8381210037512030536</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 08:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T15:38:33.418+07:00</atom:updated><title>Melepas Penderitaan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGbI-K4aCLROVCXnC3uef7x-5LVTH8nu4Ur5lyDSa1z_Qb7lEH5mIV8Uoio_qavmWaN9AALg-r7FXgduZXGGzXDVVi99-jXea2y6Qwoib-flJ7dT8rGbNDh9eQsUxX8MCToYggNBnctEE/s1600/penderitaan.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGbI-K4aCLROVCXnC3uef7x-5LVTH8nu4Ur5lyDSa1z_Qb7lEH5mIV8Uoio_qavmWaN9AALg-r7FXgduZXGGzXDVVi99-jXea2y6Qwoib-flJ7dT8rGbNDh9eQsUxX8MCToYggNBnctEE/s1600/penderitaan.gif" height="303" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Penderitaan muncul dari keinginan dan keinginan selalu mempunyai 
objek. Objek ini bisa berupa segala sesuatu di alam rupa atau materi 
(tanah, air, angin, api); objek ini adalah segala sesuatu yang ada dalam
 &lt;strong&gt;kesadaran&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Melepas objek keinginan dan subjek yang berkeinginan akan membebaskan diri dari penderitaan.&lt;br /&gt;
Maka ada empat jalan melepas penderitaan:&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;melepas subjek tanpa melepas objek&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;melepas objek tanpa melepas subjek&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;melepas baik subjek maupun objek&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;melepas bukan subjek dan bukan objek.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;span id="more-5698"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Melepas Subjek dan Bukan Objek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;Seorang peternak Ayam mengalami 
kerugian, Ayamnya bayak yang mati. Selama ini sang petani tidak pernah 
mengalami kerugian sebesar ini. Ia bertanya kesalahan apa yang dia 
lakukan hingga ayamnya banyak yang mati, hingga mengakibatkan kerugain 
tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Petani = Subyek&lt;br /&gt;
Ayam = Obyek&lt;/div&gt;
Yang menjadikan sang petani menderita adalah subyeknya. Untuk 
melepaskan penderitaannya, orang seperti petani tersebut bisa dibantu 
untuk melepas subjek dan bukan objeknya. Pikiran orang menentukan 
realita. Saat orang sedang sedih, ia melihat seluruh dunia tampak suram;
 saat orang bahagia, ia memandang seluruh dunia tampak indah mempesona.&lt;br /&gt;

Realita objek perlu ditekankan: adalah wajar dalam berternak ayam, 
banyak ayam yang mati. Peristiwa itu alamiah adanya seperti terbitnya 
matahari di pagi hari dan terbenamnya matahari di sore hari. Berharap 
matahari bersinar terus sepanjang hari merupakan harapan yang absurd.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong style="line-height: 1.5em;"&gt;Melepas Objek dan Bukan Subjek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Seorang pria setengah baya sedang dilanda krisis dalam hidup berumah 
tangga. Ia mudah jatuh hati pada seorang perempuan yang rupawan. 
Meskipun sudah mempunyai istri, ia masih memiliki wanita-wanita 
simpanan.&lt;br /&gt;

Pria tersebut didera oleh objek dalam wujud perempuan yang rupawan. 
Ia mengaku tidak tahan menahan gelora nafsu saat melihat perempuan yang 
rupawan. Ia bisa dibantu dengan melepas objek dan memberi penekanan pada
 peran subjek.&lt;br /&gt;

Perasaan akan objek tertentu merupakan manifestasi dari kesadaran. 
Segala sesuatu yang kita rasakan, yang kita sentuh, yang kita kenali, 
yang kita dengar bisa menguasai diri kita dan membuat kita menderita. 
Dengan melepas objek, kita kembali kepada kesadaran bahwa mereka semua 
bukan realita independent di luar diri kita. Subjek dan objek selalu 
saling terhubung dan saling berpengaruh.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong style="line-height: 1.5em;"&gt;Melepas Subjek dan Objek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Seorang bapak mengeluh karena setelah sekian tahun hidup 
berumah-tangga, ia tetap merasakan ada jarak antara dirinya dengan 
pasangan hidup dan anak-anaknya. Keluarga ini cukup mapan secara 
ekonomi. Tidak ada ketidakharmonisan hubungan antara suami-istri ataupun
 antara anak-anak dengan dirinya. Hubungan yang paling intim sekalipun 
masih tetap menyisakan jarak antara dirinya dengan yang lain. Ia meniti 
berbagai jalan kerohanian tapi ia merasa tetap sebagai orang asing yang 
terpisah dari orang lain, termasuk orang-orang yang ia cintai.&lt;br /&gt;

Orang seperti bapak tersebut bisa dibantu dengan melepas subjek dan 
objek sekaligus. Adanya subjek dan objek selalu menimbulkan jarak; 
adanya jarak selalu menciptakan ketegangan dan konflik.&lt;br /&gt;

Peganglah obor api di tangan kiri dan dekatkan tangan kanan anda ke 
obor api tersebut. Kalau terlalu dekat, tangan kanan anda bisa terbakar 
oleh obor api. Tangan anda bisa terbakar karena tangan anda bukanlah 
obor api dan obor api bukanlah tangan anda. Tangan kanan anda tidak akan
 terbakar meskipun dilekatkan dengan obor api kalau tangan kanan anda 
adalah juga obor api. Persoalan terjadi karena ada jarak antara tangan 
kanan anda dan obor api, antara subjek dan objek.&lt;br /&gt;

Ketika menyaksikan pergerakan gelombang besar dari lautan dan 
menghantam hampir seluruh kawasan pesisir Aceh pada 26 Desember 2004, 
orang-orang Aceh berpikir bahwa hari Kiamat sudah tiba. Bumi akan segera
 runtuh. Dalam sekejap, mereka melihat kampung mereka dan 
kampung-kampung tetangga mereka habis disapu gelombang air. Mereka 
melihat tidak ada lagi kampung tersisa, baik kampung mereka maupun 
kampung tetangga. Kehidupan seolah terhenti dan segala hubungan 
terputus.&lt;br /&gt;

Terlepasnya entitas subjek dan objek serta pudarnya hubungan subjek 
dan objek adalah seperti hilangnya kampung-kampung karena disapu 
gelombang Tsunami dan pudarnya hubungan antar kampung. Terlepasnya 
subjek sekaligus objek secara permanen tentu tidak menguntungkan dalam 
gerak kehidupan sehari-hari seperti halnya hilangnya kampung-kampung dan
 terputusnya hubungan antar kampung. Namun moment terlepasnya subjek 
sekaligus membuka perspektif baru dalam melihat realita.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong style="line-height: 1.5em;"&gt;Melepas Bukan Subjek dan Bukan Objek&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pada sore hari pada hari pertama setelah Tsunami, orang-orang Aceh 
melihat dari kejauhan asap membubung dari antara pepohonan. Orang-orang 
melihat ternyata masih ada kehidupan di kampung tetangga. Mereka 
kemudian mencari jalan untuk berhubungan kembali dengan kampung tetangga
 yang sempat terputus.&lt;br /&gt;

Setelah subjek dan objek terlepas, orang kembali kepada realita 
kehidupan secara nyata, kembali ke alam dualitas subjek dan objek. Namun
 demikian ia bebas dari penjara subjek, bebas dari penjara objek, bebas 
dari penjara tiada subjek dan tiada objek, bebas dari penjara subjek 
sekaligus objek. Ia kembali berelasi dengan anak dan pasangan hidup, 
uang dan barang-barang, alam yang berwujud dan tak berwujud, dan 
seterusnya dengan perspektif yang baru.&lt;br /&gt;

Orang biasa yang tidak menjalani latihan-latihan rohani cenderung 
dipenjara oleh objek sementara pejalan rohani cenderung dipenjara oleh 
subjek. Lebih mudah melepas objek pikiran daripada pikiran itu sendiri. 
Lebih mudah melepas objek keinginan daripada keinginan itu sendiri. 
Orang takut melepas pikiran atau keinginannya karena pandangan bahwa 
dengan melepas pikiran atau keinginan hanya akan meninggalkan kehampaan;
 tidak akan ada sesuatu yang dirasakan, disentuh, didengar, dilihat, 
dicapai, diperoleh, dst. Terlepasnya pikiran dan objek pikiran bukan 
membawa kepada kehampaan, melainkan pada realita yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;

Mungkin bahasanya kurang mudah dipahami. Kita renungkan bersama.</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/melepas-penderitaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGbI-K4aCLROVCXnC3uef7x-5LVTH8nu4Ur5lyDSa1z_Qb7lEH5mIV8Uoio_qavmWaN9AALg-r7FXgduZXGGzXDVVi99-jXea2y6Qwoib-flJ7dT8rGbNDh9eQsUxX8MCToYggNBnctEE/s72-c/penderitaan.gif" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-7554315849684502399</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 08:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T15:31:53.891+07:00</atom:updated><title>Dzikir Nafas</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisrq8uSn_992tZQ4uNpKkUzJ8H2PNQkvW7xSxYcIF3vv9Pz0RQLFAPNQNB0nSX2lS7yK4QQBuJPus2-VicgKPWcCnef5_m2hbCnAsTp_2qQh3OgFwxnfyRJZ6cWeJi5JCdcUu9mGTpDXE/s1600/Nafas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisrq8uSn_992tZQ4uNpKkUzJ8H2PNQkvW7xSxYcIF3vv9Pz0RQLFAPNQNB0nSX2lS7yK4QQBuJPus2-VicgKPWcCnef5_m2hbCnAsTp_2qQh3OgFwxnfyRJZ6cWeJi5JCdcUu9mGTpDXE/s1600/Nafas.jpg" height="400" width="318" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pada tanggal 15 Rojab 1435 &amp;nbsp;kemarin, secara tersirat Guru kami 
memberikan pelajaran tentang Dzikir Nafas. Kami mencari literatur dari 
Thoriqoh Anfasiyah tentang Dzikir tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Perlu diketahui bahwa buyut dari Sang Guru, Kyai Akhmad Zamrozi 
pengikut Thoriqoh Anfasiyah. Dan Beliau Sang Guru telah tamat dan boleh 
membai’at ajaran thoriqoh Anfasiyah. Jadi tidaklah aneh jika kami di 
berikan sedikit tentang metode Dzikir tersebut.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5696"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Jadi menurut kami pelajaran itu tidak hanya dikerjakan di malam 27 
Rojab saja, tapi cobalah untuk mengerjakan tiap hari ( setiap saat). 
Kami sendiri sudah mendapat pelajaram tersebut lebih dari setahun lalu 
melalui “jalan lain” dan sudah kami amalkan dan kemarin itu kami anggap 
sebagai “pengijazahan”&amp;nbsp; secara detail. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;

Penjelasan berikut bisa digunakan sebagai referensi untuk memahami 
pelajaran kemarin, jadi metode tetap seperti di pelajaran dan penjelasan
 bisa mengikuti literatur berikut.&lt;br /&gt;

Zikir nafas merupakan zikir tingkat tinggi dimana para penerima zikir
 ini akan dibawa kepada pengenalan “diri yang sejati” sehingga ia lebih 
dekat dengan dirinya yang haq. Disamping itu zikir napas ini akan 
membawa seseorang kepada maqam keabadian dalam berzikir, karena selama 
napas itu masih dikandung badan selama itu pula nafas ini tidak akan 
berhenti menyebut Allah swt. Nafas tidak mengenal cela, salah, tidak di 
gunjing, di fitnah, bahkan tidak pernah mencuri, merampok, membunuh dan 
lain-lain dari pada sifat-sifat yang mazmumah.&amp;nbsp;Oleh karena itu nafas 
dapat dikatakan makhluk yang kudus (suci).&lt;br /&gt;

Zikir pada thariqat anfasiyah tidak di amalkan seperti kita 
mengamalkan zikir pada thariqat qadiriyah dan naqsyabandiyah. Zikir ini 
cukup di gerakkan atau di fungsikan melalui jalan bai’at kepada guru 
yang memiliki ijazah dari seorang mursyid yang sudah di akui 
kebenarannya. Apabila nafas sudah berfungsi maka ia tidak akan berhenti 
menyebut Allah swt, dalam dirinya sendiri, mengingat Allah swt, dalam 
dirinya sendiri dan nafas ini tidak mengenal lupa sekalipun seseorang 
itu dalam keadaan tidur bahkan dalam keadaan sakratul maut nafas itu 
tidak pernah lengah dalam mengingat Allah swt.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;CARA MELAKUKAN ZIKIR NAFAS ( Metode dari Thoriqoh Anfasiyah)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Sebelum membaca istigfar terlebih dahulu membaca di bawah ini 3 kali.&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" dir="RTL" style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="RTL"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;الله المعين – الله ناظري – الله شاهدي&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya :&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; Allah penolongku – Allah penglihatanku – Allah penyaksiku.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Lalu membaca istigfar thariqat anfasiyah 3 kali&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="text-align: right;"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;بسم الله الرحمن الرحيم&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="RTL"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;ﺃستغفر الله&amp;nbsp;&amp;nbsp;من تقصير&amp;nbsp;&amp;nbsp;فى عبادة&amp;nbsp;&amp;nbsp;عدد&amp;nbsp;&amp;nbsp;ﺃنفاس&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div dir="RTL"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;لا معبود&amp;nbsp;&amp;nbsp;بحق&amp;nbsp;&amp;nbsp;الا&amp;nbsp;&amp;nbsp;الله&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Selanjutnya membacakan lafaz zikir nafas 3 kali dan merenungkan maknanya. Lafaznya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;

&lt;div dir="RTL"&gt;
&lt;span style="font-size: medium;"&gt;هو الله&amp;nbsp; –&amp;nbsp; هو الله&amp;nbsp; –&amp;nbsp; هو الله&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Kalimat”&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;هو&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;“
 yang masuk pada ketika menarik nafas kedalam rongga mulut dan kalimat 
ini akan menyebar keseluruh tubuh melalui kehalusan serta kelembutan 
nafas yang menjadi tanda kehidupan bagi diri zat kita yang abadi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kalimat”&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;الله&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; “ yang keluar pada ketika menghembuskan nafas dari rongga tubuh, ini sebagai tanda pengakuan diri zat kita yang abadi.&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Penjelasan Makna Zikir Diatas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;هو&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;artinya Aku&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;: jadi setiap nafas yang masuk dia akan berzikir menyebut dirinya&amp;nbsp;هو&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku&lt;/i&gt;), apa kita dalam keadaan jaga, lupa, atau tidur, selama nafas itu masuk kedalam rongga selama itu pula ia menyebut dirinya&amp;nbsp;هو&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;artinya : diri Dzat Tuhan yang bersifat dengan sifat Kesempurnaan.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Jadi setiap nafas yang keluar dari mulut maupun hidung akan menyebut dirinya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Allah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;

Jika di terjemahkan lafaz&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;هو الله&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;ini akan bermakna&amp;nbsp;&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;.
 Kalimat ini tidak di sebut, selama nafas keluar masuk selama itu pula 
ia berzikir dengan sendirinya. Zikir ini yang menjadi hakikat diri kita 
yang sebenarnya. Kita ini&amp;nbsp;&lt;i&gt;adalah Allah,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;karena hanya Dia yang 
ada, semua yang kita sebut makhluk hanyalah bayangan belaka, bukan pada 
yang sebenarnya. Setiap bayangan akan kembali kepada wujud aslinya. 
Wujud asli kita adalah Allah, semua yang ada di alam jagad raya ini akan
 hancur, yang tinggal hanya wujud Allah saja. Ia berfirman di dalam 
Qur’an-Nya :&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Artinya :&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 26.&amp;nbsp; Semua yang ada di bumi itu akan binasa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 27. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;هو الله&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp; atau&amp;nbsp;&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ini
 bukan hanya pengakuan diri makhluk, namun pengakuan yang timbul dari 
Diri Dzat-Nya sendiri, selama ada pengakuan makhluk, itu bukan Dia.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Lalu menghayati bagian nafas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Bermula bagian nafas itu ada empat yaitu :&lt;br /&gt;

1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;نفس&amp;nbsp;&lt;/span&gt; (nafas)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Letaknya di mulut, ia sebagai keadaan keluar masuk pada tubuh 
manusia, dan nafas ini yang menjadi tanda kehidupan manusia, apabial 
nafas ini terputus, maka terputuslah air kehidupannya. Nafas ini akan 
selalu berzikir siang dan malam dengan menyebut&amp;nbsp;هو الله&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;

2.&amp;nbsp;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;ﺃنفس&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(anfas)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Letaknya di hidung, ia keluar masuk melalui jalan hidung. Anfas ini 
akan selalu berzikir siang dan malam dengan menyebut&amp;nbsp;هو الله&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;). Jadi hidung kita tidak pernah putus berzikir menyebut diri Dzatnya sendiri.&lt;br /&gt;

3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;تنفس&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;strong&gt;(tanaffas)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Letaknya di tengah-tengah antara telinga kanan dan kiri. Tanaffas ini
 tidak keluar dari tempatnya, ia selalu berzikir siang dan malam dengan 
menyebut&amp;nbsp;هو الله&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;). Tanaffas ini yang selalu menjaga fikiran dari kelalaian, sehingga kita terhindar dari&amp;nbsp;&lt;i&gt;penyakit lupa&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(orang sasak menyebutnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;penyakit opa&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;

4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;نفوس&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp; (nufus)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Letaknya di jantung. Nufus ini selalu di dalam tidak keluar, tidak 
kekanan tidak kekiri, tidak keatas dan tidak kebawah,&amp;nbsp;ia selalu berzikir
 siang dan malam dengan menyebut&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;هو الله&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;(&lt;i&gt;Aku Allah&lt;/i&gt;). Tanaffas ini membuat sekujur tubuh menyebut diri Dzatnya sendiri.&lt;br /&gt;

Orang yang sudah mengetahui ilmu nafas akan memiliki beberapa kelebihan selama ia hidup di dunia, diantaranya ialah :&lt;br /&gt;

&lt;ol start="1"&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Tidak akan pernah lalai ruh dan sirnya dalam berzikir kepada Allah swt.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Tidak terkena oleh penyakit lupa (opa) dimasa tuanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Dihindari dari sakratul maut di akhir hidupnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Mengetahui hari, tanggal dan jam kematiannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Jasadnya tidak akan di makan oleh tanah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;em&gt;* Dari thoriqoh Anfasiyah&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;UPDATE !!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Dzikir ini memang bukan dari “Shiddiqiyyah” tapi bersumber dari 
“Anfasiyah”. Tapi tidak masalah. Bagi yang ingin memperdalam / latihan 
dzikir ini, bisa mencoba metode berikut. Kami sudah mencoba dan 
Alhamdulilah sudah “melihat” sesuatu.&lt;br /&gt;

- Selain kontak pokok, cukup ditambah kontak ke Beliau Kyai Akhmad 
Zamroji ( Buyut Bpk Kyai ) dan tentu saja harus kontak ke Sang Guru 
Syekh Muchtarullloh Almujtabaa.&lt;br /&gt;

- Awalan amalan tetap, seperti di Istianah.&lt;br /&gt;

- Asmaul Husna AS SAMII’U – 180 X &amp;nbsp;dan AL BASHIIRU – 302 X&lt;br /&gt;

- Bacaan pertama dalam pelajaran, masuk lewat hidung keluar lewat mulut, pelan pelan saja masing masing 66 X&lt;br /&gt;

- Bacaan kedua , masuk lewat hidung keluar lewat hidung, kalau bisa 92 X&lt;br /&gt;

- Bacaan ketiga, masuk lewat hidung tahan di otak sebentar, keluar lewat hidung. 17 X&lt;br /&gt;

- Sebetulnya ada bacaan ke empat, cobalah yang diatas itu dikerjakan dulu, semoga mendapat petunjuk bacaan yang ke empat.&lt;br /&gt;

Dan yang lebih penting, latihlah setiap saat tanpa jumlah hitungan. 
Kalau sudah agak terbiasa, jangan tersenyum-senyum terus kalau dekat 
dengan orang…&lt;br /&gt;

Selamat mencoba !!</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/dzikir-nafas.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEisrq8uSn_992tZQ4uNpKkUzJ8H2PNQkvW7xSxYcIF3vv9Pz0RQLFAPNQNB0nSX2lS7yK4QQBuJPus2-VicgKPWcCnef5_m2hbCnAsTp_2qQh3OgFwxnfyRJZ6cWeJi5JCdcUu9mGTpDXE/s72-c/Nafas.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-6450684581552487502</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 08:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T15:10:30.123+07:00</atom:updated><title>Filsafat Pohon Pisang</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgs4p4S5PHnEDfJPpAb4h6DAiKxnzzHW9EjqSO8b7_GVmXRfx3Z95F9juc4bJWq5vcg19wDNkqPfUQHe2dsBICmohCa0cRjx6HX4k-pu5ucduG3olLy9ao3pxMBTx-Sf6XFpsKMby3LXeY/s1600/pisang.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgs4p4S5PHnEDfJPpAb4h6DAiKxnzzHW9EjqSO8b7_GVmXRfx3Z95F9juc4bJWq5vcg19wDNkqPfUQHe2dsBICmohCa0cRjx6HX4k-pu5ucduG3olLy9ao3pxMBTx-Sf6XFpsKMby3LXeY/s1600/pisang.png" height="320" width="282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Diterangkan dalam surat Al-Waqi’ah,&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA-ASH-HAABUL YAMIINI MAA ASH-HAABUL YAMIIN&amp;nbsp;( Al-Waqi’ah / 27 ).&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Artinya :&amp;nbsp; Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FII SHIDRIN MAKHDLUUD&amp;nbsp;&amp;nbsp;( Al-Waqi’ah / 28 ).&lt;br /&gt;
Artinya :&amp;nbsp; Berada diantara pohon bidara yang tidak berduri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA THOLHIN MANDLUUD&amp;nbsp;( Al-Waqi’ah / 29 ).&lt;br /&gt;
Artinya :&amp;nbsp; Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya).&lt;/div&gt;
Jadi di dalam syurga itu ada pohon pisangnya, nanti jangan-jangan 
sampeyan bayang-bayangkan, di syurga itu ada pisang raja ataukah pisang 
sobo ? Sobo kepok apakah sobo gajeh ?&lt;br /&gt;

Dalam surat Al-Waqi’ah, disinggung-singgung, bahwa Ashabul Yamin di syurga itu mendapat &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tholhin Mandluud”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;strong&gt;Tholhin&lt;/strong&gt; : Pohon pisang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mandluud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; :&amp;nbsp; Yang bersusun buahnya.&lt;/div&gt;
Ini apa rahasianya ?&lt;br /&gt;

Kita semuanya, sudah sering makan buah pisang, apakah semua orang 
yang makan buah pisang itu mendalami rahasia pisang ? Sehingga nanti 
bisa masuk golongan Ashabul yamin ?&lt;br /&gt;

Jawabnya : Belum tentu.&lt;br /&gt;

Maka disini, perlu kami sampaikan filsafatnya &lt;b&gt;&lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Pohon Pisang”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;span id="more-5690"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;* FILSAFAT YANG PERTAMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pohon pisang itu tersusun dari serat-serat yang halus dan lemah yang 
mudah putus, akan tetapi karena bersatunya serat-serat tersebut, 
sehingga menjadi pohon yang tegak dan kuat.&lt;br /&gt;

Jadi meskipun kecil-kecil, meskipun halus, akan tetapi kalau satu-kesatuan, maka menjadi pohon yang kuat.&lt;br /&gt;

Apakah isyarah ini ?&lt;br /&gt;

Rosululloh S.A.W. bersabda :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI 
WASALLAMA : ALJAMAA’ATU ROHMATUN WAL FURQOTU ‘ADZAABUN.&amp;nbsp;( ‘An Nu’man bin
 Basyir ) Rowahu Abdulloh&amp;nbsp;( Jami’ush shoghir / Jilid I / Bab huruf Jim&amp;nbsp; /
 Hal : 248 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya &amp;nbsp;&amp;nbsp; :Bersabda Rosululloh s.a.w : Bersatu itu menjadi rohmat, dan pecah-belah itu menjadi siksa.&lt;/div&gt;
Jadi bagaimanapun kecilnya, kalau bersatu, maka akan menjadi kuat. Coba perhatikanlah !&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Lautan yang begitu luasnya, itu hanyalah kumpulannya setetes demi setetes air.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gurun sahara yang begitu luasnya sejauh pandangan mata, itu hanya kumpulannya butir- demi butiran pasir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dunia yang begini megahnya, ini hanya kumpulannya atom-atom.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Oleh sebab itu, jangan suka meremehkan barang-barang yang kecil.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Sepeda motor seumpamanya tidak ada lampunya, yang harganya mahal 
itu, maka masih bisa jalan. Akan tetapi bila tidak ada pentilnya yang 
kecil itu, maka tentulah tidak akan bisa jalan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Negara tidak ribut disebabkan gajah dan harimau yang besar itu. Akan
 tetapi gara-gara nyamuk malaria yang kecil itu, maka negara menjadi 
ribut.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Jadi pohon pisang itu adalah satu pohon yang terdiri dari serat-serat
 yang halus dan lemah, akan tetapi oleh sebab menjadi satu-kesatuan, 
maka menjadi pohon yang kuat. Dan menurut Hadits Nabi, satu-kesatuan 
atau bersatu itu membawa rohmat.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;* FILSAFAT YANG KEDUA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pohon pisang itu adalah satu pohon yang bermanfaat segala-galanya.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Daunnya lebar kita tidak ikut melebarkan, yang bermanfaat untuk dibuat bungkus.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Buahnya tersusun rapi, kita tidak ikut mengaturnya. Rasa buahnya 
manis, kita tidak perlu memberi gula, kita tinggal makan saja. Yang buah
 tersebut banyak bermanfaat untuk bermacam-macam makanan, dikolok, 
dikripik dan lain-lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ontongnya bermanfaat, untuk dibuat sayur.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gedeboknya bermanfaat untuk dibuat bungkus tembakau.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hatinya / aresnya bermanfaat buat sumbu atau soda.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Gedebok busuknya bermanfaat untuk mengobati bisul.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Jadi semuanya serba manfaat, dan kalau kita sebagai manusia, yang 
martabatnya lebih tinggi dari pada pisang, akan tetapi kalau hidup kita 
tidak bermanfaat, maka alangkah rendahnya diri kita.&lt;br /&gt;

Rosululloh S.A.W. bersabda :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : KHOIRUN NAASI ANFA’UHUM LINNAAS ( An Jabir ) – ( Al-Hadits ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya &amp;nbsp;&amp;nbsp; : Bersabda Rosululloh s.a.w : Sebaik-baik manusia, mereka yang paling bermanfaat bagi sesama manusia.&lt;/div&gt;
Hadits diatas menerangkan : Manusia yang paling baik, adalah manusia yang paling bermanfaat kepada sesama manusia, artinya :&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Bermanfaat ucapannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bermanfaat fikirannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bermanfaat perasaannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bermanfaat halnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bermanfaat harta bendanya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Semuanya itu bermanfaat kepada sesama manusia. Dirinya manusia, 
ibunya manusia, bapaknya manusia, saudaranya manusia, gurunya manusia, 
muridnya manusia, tetangganya manusia. Wal-hasil bermanfaat bagi sesama 
manusia.&lt;br /&gt;

Oleh sebab itu, kalau kita berusaha supaya ucapan kita bermanfaat, 
fikiran kita bermanfaat, itu artinya kita mengikuti ilmu pisang itu 
tadi. Dan Fa- Insya Alloh, kalau kita mau berusaha kearah situ, maka 
nanti kita bisa mendapatkan &lt;b&gt;Tholhin Mandluud&lt;/b&gt; di dalam syurga.&lt;br /&gt;

Akan tetapi kalau kita tidak menjadi manusia yang bermanfaat, maka 
akan menjadi manusia yang membawa mudlorot atau membawa bahaya bagi diri
 kita dan orang lain. Lesannya membawa bahaya, halnya membawa bahaya, 
fikirannya membawa bahaya.&lt;br /&gt;

Jadi pohon pisang adalah satu pohon yang segala-galanya bermanfaat bagi manusia.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;* FILSAFAT YANG KETIGA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pohon pisang itu sebelum berbuah, jika dipotong, maka akan tumbuh 
lagi. Dipotong lagi, maka akan trubus / tumbuh lagi, akan tetapi kalau 
sudah berbuah, kemudian dipotong, maka barulah ia tidak tumbuh lagi atau
 akan mati. Jadi pohon pisang itu mau mati, apabila sudah berbuah 
kebaikan.&lt;br /&gt;

Lalu kita sebagai manusia yang martabatnya lebih tinggi dari pada 
pohon pisang, itu bagaimana ? Apakah kalah dengan pohon pisang ?&lt;br /&gt;

Ya kita pikir-pikir. &amp;nbsp;Pohon pisang itu juga tidak kenal musim. Musim 
apa saja, ia tetap berbuah. Musim kemarau, ia berbuah, musim penghujan, 
iapun tetap berbuah.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;* FILSAFAT YANG KEEMPAT&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pohon pisang itu, bila kita menanam sekali saja, maka setelah itu akan terus-menerus bersambung pohon pisang darinya.&lt;br /&gt;

Makanya kebiasaan orang menjodohkan anaknya, itu memakai &lt;i&gt;tuwuh&lt;/i&gt; pohon pisang. Tidak ada yang memakai &lt;i&gt;tuwuh&lt;/i&gt; ubi kayu.&lt;br /&gt;

Apa maksud memakai &lt;i&gt;tuwuh&lt;/i&gt; pohon pisang ?&lt;br /&gt;

Maksudnya ialah :&lt;i&gt; Mantu sekali, biar tidak bolak-balik mantu,&amp;nbsp; supaya&amp;nbsp; Istiqomath Thoriqotuhu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;* FILSAFAT YANG KELIMA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pohon pisang adalah misal pemimpin yang sejati. Sebab bagi pohon pisang, tidaklah berlaku pepatah : &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Patah tumbuh hilang berganti”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Sebab pohon pisang itu, sebelum ia berbuah (hamil), maka ia beranak lebih dahulu.&lt;br /&gt;

Jadi pepatah : &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Patah tumbuh, hilang berganti”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, itu pepatah yang tidak berlaku bagi pohon pisang, akan tetapi yang berlaku bagi pohon pisang ialah pepatah yang berbunyi : &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Sebelum patah tumbuh, sebelum hilang telah siap &amp;nbsp;penerusnya”.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Dan itulah semboyannya pemimpin yang sejati, pemimpin yang baik.&lt;br /&gt;

Jadi pemimpin yang baik itu harus mempersiapkan penerusnya, yakni seperti halnya pohon pisang.&lt;br /&gt;

Coba kita perhatikanlah pohon pisang !&lt;br /&gt;

Pohon pisang itu sebelum berbuah / hamil, maka ia telah beranak 
terlebih dahulu. Dan sebelum ia mati, maka pohon pisang itu sudah 
mempersiapkan kader-kader penerus disekelilingnya.&lt;br /&gt;

Kalau kita membaca Al Qur-an, kemudian kita menemukan keterangan bahwa di dalam syurga ada&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tholhin Mandluud”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
 : Pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), kemudian kita 
bayang-bayangkan di syurga ada pisang sobonya. Itu artinya pengertian 
kita terlalu dangkal, dan tidak mengerti tentang falsafah ilmu. Sebab 
dalam Al Qur-an itu banyak kalam-kalam hal.&lt;br /&gt;

Semoga menjadi inspirasi !</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/filsafat-pohon-pisang.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgs4p4S5PHnEDfJPpAb4h6DAiKxnzzHW9EjqSO8b7_GVmXRfx3Z95F9juc4bJWq5vcg19wDNkqPfUQHe2dsBICmohCa0cRjx6HX4k-pu5ucduG3olLy9ao3pxMBTx-Sf6XFpsKMby3LXeY/s72-c/pisang.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1688894011777772583</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 07:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T15:00:30.047+07:00</atom:updated><title>Maha Mendengar - Maha Melihat</title><description>&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNyiyxNChVPe26833hA8RQ6fi1Ge08kFaESVBGQZEUAcGLkua5H1p2SwaOhlMWK1vrM8hrKhRSR7hty_ODY84x-60K4gvpvBk5vMl5GVESO-9mcV6Lc6wVFs0J96z4NyzV8lTf1UZV6tQ/s1600/DZAT.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNyiyxNChVPe26833hA8RQ6fi1Ge08kFaESVBGQZEUAcGLkua5H1p2SwaOhlMWK1vrM8hrKhRSR7hty_ODY84x-60K4gvpvBk5vMl5GVESO-9mcV6Lc6wVFs0J96z4NyzV8lTf1UZV6tQ/s1600/DZAT.jpg" height="293" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
SUBHAANALLADZII ASROO BI`ABDIHII LAILAN 
MINAL MASJIDIL HAROOMI ILAL MASJIDIL AQSHOLLADZII BAAROKNAA HAULAHUU 
LINURIYAHUU MIN&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;AAYAATINAA INNAHUU HUWAS SAMII’UL BASHIIR ( Q.S. Al 
Isro’ \ 17 \ Ayat 1 )&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya: ” Maha Suci Dzat yang telah 
memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Harom ke Masjidil
 Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya,agar Kami perlihatkan 
kepadanya sebagian ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi 
Maha Mengetahui “.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5687"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Pada bulan Rojab ini, terutama malam 27 Rojab, waktunya setelah jam 
12 malam sampai Fajar, kalau bisa diusahkan untuk mengamalkan sbb :&lt;br /&gt;
&lt;ol start="1"&gt;
&lt;li&gt;Membaca Ayat diatas ( 1 Ayat ) dibaca sampai 27 X&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca HUWAS SAMI’UL BASHIIR minimal 40X&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca BAQIYATHUS SHOLIHAT 7x&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Bagi yang ingin mencoba cara lain, tapi ini tidak resmi. Jadi kalau mau saja, kalau ragu tidak usah dikerjakan. Caranya sbb :&lt;br /&gt;
Pada hari Selasa besok, tepatnya Selasa Kliwon (11), Rabu Legi (12), 
Kamis Pahing (17) = 40 . Itu neptu jawa, dan kebetulan tidak hari nahas 
didalamya.&lt;br /&gt;
Pada 3 hari itu puasa. Tapi puasanya yang serius, artinya perbanyak 
waktu untuk riadhoh. Selama puasa itu perbanyaklah mengamalkan HUWAS 
SAMI’UL BASHIR. Atau AS SAMI’U – AL BASHIIRU .&lt;br /&gt;
Kalau mau detail, pada siang hari dan malam hari baca sbb :&lt;br /&gt;
&lt;ol start="1"&gt;
&lt;li&gt;Membaca Ayat diatas 27 X&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca AS SAMI’U dibaca &lt;b&gt;180&lt;/b&gt; X&amp;nbsp; kemudian AL BASHIIRU dibaca &lt;b&gt;302&lt;/b&gt; X.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca BAQIYATHUS SHOLIHAT .. 7 X&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Itu amalan pokoknya, sedangkan amalan tambahan terserah saja. Yang penting perbanyak riadhoh. Istilahnya “ngebleng”.&lt;br /&gt;
Silakan bagi yang mau mencoba.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Sekarang sedikit menerangkan masalah Isro’ Mi’roj.&lt;br /&gt;
Rahasia sesungguhnya peristiwa&amp;nbsp; Isro’ Mi’roj ada pada 2 kalimat di atas, yaitu HUWAS SAMI’UL BASHIIR.&lt;br /&gt;
AS SAMI’U = Maha Mendengar&amp;nbsp; dan AL BASHIIRU = Maha melihat.&lt;br /&gt;
Bukan hanya Alloh Maha Mendengar, tapi Alloh memberikan pendengaran kepada hambanya.&lt;br /&gt;
Sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi sampai 10 tahun, sampai 
peristiwa isro’ Mi’roj, Nabi hanya mendengar berita melalui wahyu 
Illahi. Diberitakan ada Nabi-nabi sebelumya, tapi belum pernah 
menyaksikan pertemuan dengan Nabi-nabi sebelum beliau. Ada Kolam 
Kautsar, Syurga, Neraka, dsb. Tapi hanya mendengar saja.&lt;br /&gt;
Setelah itu Rosululloh di Isro’ Mi’rojkan, dengan tujuan supaya :&lt;br /&gt;
LINURIYAHUU MIN AAYAATINAA &amp;nbsp;= ” Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian ayat-ayat Kami ”&lt;br /&gt;
Jadi bukan hanya AS SAMI’U saja, tapi juga AL BASHIIRU = menyaksikan yang Ghoib.&lt;br /&gt;
Jadi kesimpulan Isro’ Mi’roj itu ada di 2 klaimat tersebut, yaitu AS SAMI’U AL BASHIIRU.&lt;br /&gt;
Ketika mengamalkan dua kalimat tersebut, mohonlah kepada Alloh agar 
Iman kita di Mi’rojkan sampai ke tingkat Yakin. Di tingkat Yakin itulah 
kita akan membuktikan sendiri dengan mata hati kita apa-apa yang ghoib.&lt;br /&gt;
Semoga manfaat..</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/maha-mendengar-maha-melihat.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNyiyxNChVPe26833hA8RQ6fi1Ge08kFaESVBGQZEUAcGLkua5H1p2SwaOhlMWK1vrM8hrKhRSR7hty_ODY84x-60K4gvpvBk5vMl5GVESO-9mcV6Lc6wVFs0J96z4NyzV8lTf1UZV6tQ/s72-c/DZAT.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1149756319630239525</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 07:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T14:44:00.344+07:00</atom:updated><title>Menimbun Daya Penderitaan</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_T3Q9-AaP2jqMplfsLFYkDLuwQRh_YPbWzr7fwkgbyOtH8RGbqQkyp3lYh056OhJ9EOvEgn8o42pv5jiAk-zRZZPQftUYF0SdKEl3fSux7wvhiwctscM-ytzmMug0D1Do-jqWVBtQJJI/s1600/ayam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_T3Q9-AaP2jqMplfsLFYkDLuwQRh_YPbWzr7fwkgbyOtH8RGbqQkyp3lYh056OhJ9EOvEgn8o42pv5jiAk-zRZZPQftUYF0SdKEl3fSux7wvhiwctscM-ytzmMug0D1Do-jqWVBtQJJI/s1600/ayam.jpg" height="400" width="338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;AYAM YANG PENUH PENDERITAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Terus terang kami sangat prihatin dengan kebiasaan diri kami sendiri 
dan anak-anak kami yang sangat menyukai daging ayam,&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; ayam potong 
terutama. Saya sendiri sudah berusaha seminim mungkin mengkonsumsi 
daging ayam, tapi anak kami yang pertama masih terlalu sulit untuk di 
jauhkan dari daging ayam. Untunglah anak kami yang kedua hampir tak 
pernah kami beri makan daging ayam.&lt;br /&gt;

Sebetulnya selain ayam, hewan lain produk peternakan, juga menderita 
seperti ayam. Peternakan sapi, ikan, baik ikan yang di tangkap dari 
laut, maupun yang diternak. Cobalah kita ikuti sedikit kisah ayam, yang 
kami copas dari artikel di internet.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5686"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;APA YANG TERJADI PADA AYAM?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Kebanyakan peternakan-peternakan kecil telah digantikan oleh “pabrik 
peternakan”&amp;nbsp;besar tempat ayam, babi, kalkun, dan sapi diperlakukan 
seperti mesin alih-alih individu&amp;nbsp;yang hidup dan berperasaan. Sekarang, 
hampir seluruh daging, telur, dan produk-produk susu yang dijual di 
supermarket dan restoran berasal dari hewan-hewan&amp;nbsp; dari peternakan 
seperti itu. Perusahaan-perusahaan raksasa yang mendapat untung dari 
pabrik peternakan menghabiskan jutaan untuk menyembunyikan kenyataan 
melalui gambar-gambar dari hewan-hewan yang hidup dengan damai&amp;nbsp; di dalam
 lumbung yang penuh damai. Sayangnya, gambar indah ini tidak lagi mampu 
menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;

Kebanyakan ayam dibesarkan dan dibunuh untuk makanan bagi hewan 
ternak lainnya, akan tetapi tidak ada satu pun hukum federal yang 
melindungi ayam dari penyiksaan — walau dua-pertiga dari rakyat Amerika 
berkata mereka akan mendukung hukum seperti itu.&lt;br /&gt;

Ayam pedaging yang dibesarkan dan lalu dibunuh untuk dimakan 
dagingnya, menghabiskan seluruh hidup mereka di dalam kandang-kandang 
kotor, sarat-amonia bersama puluhan ribu unggas lainnya.&amp;nbsp; Mereka diberi 
obat secara teratur dan dibesarkan untuk tumbuh&amp;nbsp; sangat besar dan sangat
 cepat sehingga banyak yang menjadi lumpuh&amp;nbsp;akibat berat badan mereka 
sendiri atau menderita kerusakan organ.&lt;br /&gt;

Seorang penulis New York yang mengunjungi sebuah pabrik peternakan 
ayam menulis, “Saya hampir jatuh ke tanah karena bau yang sangat kuat 
dari tinja dan amonia. Mata saya terbakar dan juga paru-paru saya, dan 
saya tidak bisa melihat atau bernapas.”&lt;br /&gt;

Banyak ayam menderita penyakit pernapasan kronis, sistem kekebalan 
yang melemah, dan bronkitis. Menurut sebuah laporan oleh USDA, lebih 
dari 99 persen bangkai ayam terjangkit bakteri E. coli pada saat mereka 
mencapai pasar, sebagian besar karena kondisi kotor kandang tempat 
mereka dibesarkan.&lt;br /&gt;

Setelah enam minggu dalam kondisi mengerikan ini, ayam-ayam itu 
secara kasar dilempar ke dalam kotak-kotak yang ditumpuk-tumpuk di 
bagian belakang sebuah truk, dan kemudian dipindahkan melewati bermacam 
cuaca ekstrem ke rumah jagal.&lt;br /&gt;

Di rumah jagal, para pekerja dengan kejam mengambil dan menggantung 
mereka terbalik dengan kaki di atas, dimana mereka dipaksa dibelenggu, 
merusak banyak dari mereka dalam proses tersebut. Lalu, leher-leher ayam
 tersebut dipotong, dan mereka diseret melalui tangki-tangki dari air 
yang sangat panas, sering saat mereka masih sadar.&lt;br /&gt;

Ayam-ayam yang dibesarkan untuk telur mereka dikurung, lima sampai 11
 pada satu tempat, ke dalam kurungan kawat yang sangat kecil sampai 
mereka tidak memiliki cukup ruangan untuk merentangkan sayap sekalipun. 
Sayap dan kaki mereka mengalami cacat akibat tidak digunakan, kaki dan 
telapak kaki mereka menjadi tidak berbentuk akibat berdiri di atas 
lantai kandang kawat yang miring. Ujung paruh dari setiap ayam 
betina&amp;nbsp;yang sensitif dipotong dengan pisau yang panas membara. 
Dibutuhkan 34 jam untuk&amp;nbsp;menghasilkan hanya satu telur. Setelah sekitar 
dua tahun pengurungan, mereka dengan&amp;nbsp;kasar ditarik dari kandang-kandang 
mereka dan dipindahkan untuk dijagal. Tubuh-tubuh&amp;nbsp;mereka sudah menjadi 
sangat babak belur dan kurus sampai mereka hanya bisa digunakan untuk 
sup atau makanan hewan.&lt;br /&gt;

Anak ayam jantan tidak berharga bagi industri telur karena mereka 
tidak menghasilkan&amp;nbsp;telur dan karena jenisnya terlalu kecil untuk 
dibesarkan sebagai pedaging. Industri telur&amp;nbsp;membunuh jutaan anak ayam 
jantan yang baru lahir setiap tahun dengan mencekik mereka sampai mati 
di dalam tas-tas atau menjatuhkan mereka hidup-hidup ke dalam mesin 
giling berkecepatan tinggi.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;HEWAN YANG MENAKJUBKAN: AYAM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Penelitian telah membuktikan bahwa ayam lebih cerdas daripada anjing,
 kucing, dan&amp;nbsp;bahkan sebagian primata. Dalam pengeraman alami, induk ayam
 mulai mengajari anak-anaknya berbagai panggilan bahkan sebelum mereka 
menetas — dia berkokok&amp;nbsp;lembut kepada anak-anak ayam itu sambil duduk di 
atas telur, dan mereka berkicau balik&amp;nbsp;kepadanya dan satu sama lain dari 
dalam cangkangnya. Sayangnya, anak-anak ayam di peternakan pabrik tidak 
pernah bertemu induk mereka.&lt;br /&gt;

***&lt;br /&gt;

Sebetulnya tempat paling utama menyimpan “memori penderitaan” ada di 3
 titik. Otak, Hati dan Kelamin. Kalaupun terpaksa kita makan daging dari
 hewan yang penuh penderitaan, usahakan sebisa mungkin hindari ketiga 
bagian itu. OTAK – HATI – KELAMIN.&lt;br /&gt;

Semoga manfaat..</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/menimbun-daya-penderitaan.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_T3Q9-AaP2jqMplfsLFYkDLuwQRh_YPbWzr7fwkgbyOtH8RGbqQkyp3lYh056OhJ9EOvEgn8o42pv5jiAk-zRZZPQftUYF0SdKEl3fSux7wvhiwctscM-ytzmMug0D1Do-jqWVBtQJJI/s72-c/ayam.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-8137076822715762375</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2014 07:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-06-03T14:52:50.965+07:00</atom:updated><title>Gedung Cahaya</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEik9unEjUQvpGO9Wjv4YGR_5ShFVfoGadPjVc6tf-fqCwcuETbw9uKLAxJUyboe9gmLSM1dvJ1Y8O1S_S7Uwn_rB8ZH84_paq-9S2luyyh2Rh7Gka4s_d8_6sR71ANwvd3wS6E1tHKH5d4/s1600/gedung+cahaya.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEik9unEjUQvpGO9Wjv4YGR_5ShFVfoGadPjVc6tf-fqCwcuETbw9uKLAxJUyboe9gmLSM1dvJ1Y8O1S_S7Uwn_rB8ZH84_paq-9S2luyyh2Rh7Gka4s_d8_6sR71ANwvd3wS6E1tHKH5d4/s1600/gedung+cahaya.jpg" height="291" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
BISMILLAHIRROHMANIRROHIIMI&lt;br /&gt;
Bagi sebagian pembaca pastilah sudah tidak asing lagi dengan gambar 
gedung di atas.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ya, itu gedung yang berada di tengah-tengah&amp;nbsp;area tempat 
berdo’a bersama-sama di setiap malam tanggal 15. Tapi mungkin sebagian 
belum tahu nama gedung itu. gedung itu&amp;nbsp;bernama GEDUNG CAHAYA.&lt;br /&gt;
Pada waktu berdo’a bersama setiap tanggal 15, gedung tersebut 
ditempati oleh SANG MURSYID beserta KHOLIFAH-nya, dan bebera&amp;nbsp;orang yang 
dipandang penting. Terus terang kami tidak tahu kategori “penting” 
disini. Sebaiknya tidak usah menduga-duga, karena&amp;nbsp;kita sedang tidak 
membahas hal tersebut.&lt;span id="more-5682"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Pada kesempatan kali ini kami akan sedikit berbagi pengalaman kepada 
saudara di sini yang kebetulan setiap tanggal 15 ikut&amp;nbsp;berdo’a bersama di
 sana, tentang bagaimana “memanfaatkan” GEDUNG CAHAYA ini.&lt;br /&gt;
Kami yakin sebagian besar saudara yang hadir di pengajian itu 
tidaklah paham tentang keberadaan GEDUNG CAHAYA itu. Buktinya&amp;nbsp;sebagian 
besar dari peserta lebih senang datang terlambat dan santai-santai. 
Bahkah sampai-sampai Sang Guru membuat kebijakan&amp;nbsp;baru, di pengajian yang
 akan datang, jam 8 pengajian harus dimulai, masak setiap pengajian Guru
 justru menunggu murid, hingga&amp;nbsp;molor sampai jam 10 malam.&lt;br /&gt;
Kembali ke pokok bahasan. Di malam pengajian, GEDUNG CAHAYA ini pada 
sore hari, pada kira-kira setelah Maghrib powernya mulai&amp;nbsp;di ON-kan. 
Secara ghoib gedung ini memancarkan cahaya sangat terang menyelimuti 
seluruh area, dan memancar terhubung ke langit.&amp;nbsp;Gitu kira-kira 
gambarannya. Cobalah untuk merasakan sendiri, ketika berada di sana.&lt;br /&gt;
Nah sekarang bagaimana “memanfaatkan” pancaran cahaya tersebut, kami 
akan sedikit berbagi cara pada saudara di sini sesuai&amp;nbsp;dengan tingkatan 
masing-masing pelajaran yang sudah di ikuti.&lt;br /&gt;
1. Bagi yang baru saja mendapat pelajaran &lt;b&gt;DZIKIR NAFY ISBAT&lt;/b&gt;.
 Bagi yang baru mendapat pelajaran DZIKIR ini, cobalah untuk&amp;nbsp;melatih 
diri dengan “menghilangkan” semuanya, artinya melenyapkan wulu, kulit, 
daging… dst, melenyapkan jasmani dan&amp;nbsp;”memasukkan” cahaya yang meliputi 
kita saat itu. Setidaknya bayangkan saja seperti itu dulu.&lt;br /&gt;
2. Bagi yang sudah mendapat pelajaran &lt;b&gt;DZIKIR ISMU DZAT&lt;/b&gt;.
 Bagi yang sudah mendapat pelajaran ini, cobalah berlatih 
“melenyapkan”&amp;nbsp;semua yang ada di muqodimmah dzikir itu, seluruh PANCA 
INDRA dan GERBANG ROHANI. Kemudian, seiring dzikir Alloh-alloh…&amp;nbsp;rasakan 
CAHAYA mengalir kedalam diri kita. Usahakan kalimat Alloh.. Alloh itu 
tidak dibaca, tapi muncul dengan sendirinya.&lt;br /&gt;
3. Bagi yang sudah mendapat pelajaran &lt;b&gt;TR 7&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;TR 40&lt;/b&gt;.
 Khusus di tempat ini, cobalah merubah sedikit pola fikir. Jangan 
menarik&amp;nbsp;CAHAYA di area ini, karena saudara akan membutuhkan energi 
terlalu besar, dan hasilnya kurang maksimal. CAHAYA di area ini&amp;nbsp;tidak 
perlu di tarik, karena sudah MELIPUTI. Cobalah untuk MENYELARASKAN saja,
 menguasai kesadaran kalau kita sedang dalam&amp;nbsp;liputan CAHAYA.&lt;br /&gt;
4. Bagi yang sudah mendapat pelajaran &lt;b&gt;FATEHAH&lt;/b&gt;. 
Karena pelajaran FATEHAH adalah penggabungan dari point 1 – 3, maka 
cukup&amp;nbsp;menyadarkan diri kita untuk MELEBUR dalam CAHAYA. Setiap Ayat 
FATEHAH akan menghasilkan CAHAYA yang otomatis TERKONEKSI dengan&amp;nbsp;cahaya 
di area tersebut. Bagi yang sudah mencapai rahasia FATEHAH tingkat ke 2,
 cobalah masuk melewati GERBANG ROHANI, dan&amp;nbsp;tenggelamkan diri kita 
kedalam cahaya.&lt;br /&gt;
5. Bagi yang sudah mendapat pelajaran&lt;b&gt; AYAT NUR&lt;/b&gt;. 
Karena ini GEDUNG CAHAYA, dan yang ditulis di plang atap itu juga AYAT 
NUR,&amp;nbsp;cara paling akurat “meng-akses” GEDUNG CAHAYA ini tentu saja 
menggunakan AYAT CAHAYA. Ketika kita menggunakan AYAT NUR di area&amp;nbsp;ini, 
seperti kita ketemu yang kita cintai. Begitulah kira-kira. Istilahnya 
CAHAYA ketemu CAHAYA. NURUN ALA NUR.&lt;br /&gt;
Secara umum, segala yang kami sampaikan di atas, harus dikerjakan 
dengan Ikhlas. Dan kunci utama dari proses diatas adalah Ikhlas. Nah 
sebetulnya Ikhlas sendiri sangat sulit dicapai, tapi jangan menyerah, 
teruslah berlatih. Insya Alloh dilain kesempatan akan kami sampaikan 
&amp;nbsp;tentang tingkatan Ikhlas. Semua saling menunjang, saudara berusaha 
meng-akses CAHAYA, Insya Alloh dikemudian hari kita akan diberi 
kepahaman tentang Ikhlas. Insya Alloh.&lt;br /&gt;
Itulah sedikit pengalaman kami. Kami sangat yakin, pengalam kami 
hanyalah setitik air embun dibanding lautan. Kami juga&amp;nbsp;percaya, saudara 
kami di sini atau yang di sana, banyak yang jauh lebih berpengalamam 
dalam hal ini.&lt;br /&gt;
Mungkin ada terlintas di fikiran saudara, kira-kira manfaat apa yang 
didapat jika kita bisa meng-akses CAHAYA di area itu?&amp;nbsp;cukup sederhana 
saja, CAHAYA menjadikan HIDUP LEBIH HIDUP… kaya iklan saja.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/06/rumah-cahaya.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEik9unEjUQvpGO9Wjv4YGR_5ShFVfoGadPjVc6tf-fqCwcuETbw9uKLAxJUyboe9gmLSM1dvJ1Y8O1S_S7Uwn_rB8ZH84_paq-9S2luyyh2Rh7Gka4s_d8_6sR71ANwvd3wS6E1tHKH5d4/s72-c/gedung+cahaya.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1094320435595545125</guid><pubDate>Fri, 21 Mar 2014 02:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-21T09:51:54.972+07:00</atom:updated><title>Awalnya Agama itu Ma'rifatullah</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7r8wVsrX4Vq7WZl_3Yeo0bvUS15yZjo1dsxKTxyESOfEoQ-LKF7kD7lTphl8VqZ7H9q6ZXw_8t6LNCefKQgWWJMGHoSRX-mbufVFyJi4jmqQL_6vtQ-wCWk-KcM-X1TE7MFd1XJRjxMs/s1600/edit.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7r8wVsrX4Vq7WZl_3Yeo0bvUS15yZjo1dsxKTxyESOfEoQ-LKF7kD7lTphl8VqZ7H9q6ZXw_8t6LNCefKQgWWJMGHoSRX-mbufVFyJi4jmqQL_6vtQ-wCWk-KcM-X1TE7MFd1XJRjxMs/s1600/edit.jpg" height="272" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Sayyidina Ali berkata: &lt;i&gt;“Awal-awalnya Agama itu ma’rifat&lt;/i&gt;.&lt;i&gt;”&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;AWWALUDDIN MA’RIFATULLOH.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ma’rifatulloh itu paling awal.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sudah selama itu tidak lewat situ (&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ma’rifatulloh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Kalau tidak lewat situ lewat mana? Masuk rumah tidak melalui pintunya.&lt;span id="more-5665"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA’TUL BUYUUTA MIN ABWAABIHAA.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Artinya: “Kamu mendatangi rumah harus melalui pintunya.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Pintunya itu &lt;i&gt;Ma’rifatulloh&lt;/i&gt; (Mengenal Gusti Alloh). Tidak &lt;i&gt;Ma’rifatulloh&lt;/i&gt;
 akan tetapi langsung saja. Demi mati membela Islam. Belum tahu kok 
bicara begitu. Kok mati saja, berani mati, mestinya berani hidup.&lt;br /&gt;
Kok berani mati tidak berani mati juga mati. Yang banyak ujiannya itu kan hidup, berani hidup.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Artinya: “Aku bersaksi tidak ada tuhan lainnya Alloh.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Aku bersaksi, saksinya bohong-bohongan apa betulan? Kalimatnya ditambah AN. &lt;b&gt;&lt;i&gt;An&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ini &lt;b&gt;&lt;i&gt;ta’kid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; artinya sesungguhnya tidak bohong-bohongan, tak ada Tuhan lainnya Alloh.&lt;br /&gt;
Aku bersaksi Muhammad utusan Alloh. Menjadi saksi, (saksi palsu apa 
tidak palsu). Harus mengetahui mana sasaran syahadat Tauhid dan harus 
mengetahui mana sasaran syahadat Rosul.&lt;br /&gt;
Tapi sekarang ini ada sarjana Ushuluddin. Itu hebat sudah tahu 
sedalam-dalamnya. Anda mempunyai keyakinan, apakah Alloh itu ada apa 
tidak? Lho kok tidak berani menjawab. Mengatakan tidak ada berarti 
kafir, anda sembrono, kalau kafir masuk neraka, masuk neraka anda. 
Katanya masuk neraka itu tidak ada batasnya (&lt;b&gt;&lt;i&gt;Abadal Abad&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;).&lt;br /&gt;
Tidak begitu! Masuk neraka itu juga ada batasnya dan juga keluar. Pengeran itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Rohman Rohiim &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;menghukum orang kok tidak ada batasnya.&lt;br /&gt;
Saya dan anda itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;maujud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; bukan &lt;b&gt;&lt;i&gt;wujud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Maujud&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; itu diadakan. Mengapa diadakan? Karena asalnya tidak ada, kalau tidak diadakan ya tidak ada.&lt;br /&gt;
Sekarang ini Alloh Ta’ala ada apa tidak? Ada. Wah ini salah. Mengatakan &lt;b&gt;tidak ada&lt;/b&gt; berarti kafir, mengatakan &lt;b&gt;ada&lt;/b&gt; itu mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;
Langit ada, matahari ada, bumi ada, gelas ini ada, meja ada, bolpoin ada, Tuhan ada. Kalau begitu sama &lt;b&gt;&lt;i&gt;Laisa Kamitslihi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.
 Daun ada, cangkir ada tapi keadaannya tidak sama. Adanya ada tapi 
keadaannya tidak sama. Kalau begitu Tuhan ada, alam ini ada akan tetapi 
keadaannya tidak sama. Tapi adanya bagaimana? Ya sama. Kalau begitu ya 
tetap saja.&lt;br /&gt;
Terus bagaimana itu tadi apa anda di syari’at saja apa diteruskan ke Thoriqot apa ke Haqiqat.&lt;br /&gt;
Nanti kalau di Haqiqat kemudian tidak Sholat. &lt;i&gt;Mblakrak&lt;/i&gt; (kemana-mana) itu nanti. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Iyyaaka Nastaiin &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;saja tidak mau &lt;b&gt;&lt;i&gt;Iyyaakana’ Budu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;kesasar&lt;/i&gt; (tersesat) anda nanti. Istilah sekarang Jenar. Jenar dengan Siti Jenar itu berlainan.&lt;br /&gt;
Di waktu telah disebutkan kalau di Thoriqot itu:&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
AHDZUN BI AHWATHI KAL WARO’&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Hati-hati..! Thoriqot itu hati-hati.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/03/awalnya-agama-itu-marifatullah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7r8wVsrX4Vq7WZl_3Yeo0bvUS15yZjo1dsxKTxyESOfEoQ-LKF7kD7lTphl8VqZ7H9q6ZXw_8t6LNCefKQgWWJMGHoSRX-mbufVFyJi4jmqQL_6vtQ-wCWk-KcM-X1TE7MFd1XJRjxMs/s72-c/edit.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1114019280522455564</guid><pubDate>Fri, 21 Mar 2014 02:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-21T09:51:43.475+07:00</atom:updated><title>Bermacam-macam Mi'roj</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF9VzEb8JwxRWSqg1tJSTUw9RkehXMycrKWFj295MzXQFTZ1PVmMrAkRkTtu_WIS-bGgT-k_BFnLgGcYxa8T-VOA9OOrXvi3QdlEysey_DwT2rrPabnDPv6cMq-IWgGxh1G9ucBgp58JM/s1600/Mi'Roj1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF9VzEb8JwxRWSqg1tJSTUw9RkehXMycrKWFj295MzXQFTZ1PVmMrAkRkTtu_WIS-bGgT-k_BFnLgGcYxa8T-VOA9OOrXvi3QdlEysey_DwT2rrPabnDPv6cMq-IWgGxh1G9ucBgp58JM/s1600/Mi'Roj1.jpg" height="400" width="338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini lanjutan dari tulisan JALAN MENUJU ALLOH. Di dalam Sholat, Zakat, Puasa, Hajji semuanya itu harus ada &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syari’at&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Haqiqat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Thoriqot&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Thoriqotnya Sholat itu banyak. Cari di toko-toko buku yang 
besar-besar maupun yang kecil-kecil. Buku tuntunan Sholat pasti 
tebal-tebal. Lebih-­lebih karangannya Hasbi Shiddiqi, tebal sekali. Anda
 kalau membaca itu pasti bingung tidak &lt;b&gt;&lt;i&gt;mi’roj-mi’roj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; hanya berputar-putar di situ.&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;span id="more-5664"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;* Bermacam-Macam Mi’ Roj&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ASH-SHOLAATU MI’ROJUL MUKMINIIN&lt;/b&gt;. Sholat itu kan naik (Mi’roj).&lt;br /&gt;
Ada Mi’roj :&amp;nbsp;MIN DHOHIRIN ILADH DHOHIR.&lt;br /&gt;
Ada Mi’roj:&amp;nbsp;MIN DHOHIR ILAL GHOIBI.&lt;br /&gt;
Ada Mi’roj:&amp;nbsp;MIN GHOIBI ILAL GHOOIBIL GHOIB.&lt;br /&gt;
Jadi Mi’roj itu ada 3 macam:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Mi’roj dari Dhohir menuju Dhohir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mi’roj dari Dhohir menuju Ghoib.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mi’roj dari Ghoib menuju Ghoibul ghoib.&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Anda dan saya itu sudah Mi’roj, hanya saja tidak terasa. Baca sendiri dalam surat Mukminuun ayat 12.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALAQOD KHOLAQNAI, INSAANA MIN SULAALATIN MIN THIIN.&lt;/div&gt;
Mi’roj dari Ath Thin terus menuju Nutfah, kemudian naik lagi ke 
`Alaqoh sampai ke tingkat 7 lengkap menjadi jasmani manusia. Ini 
dinamakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mi’roj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Setelah lahir telinga kanan di-Adzani dan telinga kiri di-Qomati 
supaya Mi’roj lagi. Sholat itu memang Mi’roj dari dhohir menuju ghoib.&lt;br /&gt;
Dari Ath Thin (tanah campur air) itu derajad pertama sampai menjadi manusia tingkat 7. dilihat sendiri dalam Al Qur’an.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALAQOD KHOLAQNAL INSAANA MIN SULAALATIN MIN THIN.&lt;/div&gt;
Jadi dari Sulaalatin min Thin sampai Insan itu tingkat 7, prosesnya 
itu Mi’roj. Kemudian dari Insan sampai Insan Abdulloh itu juga melalui 
tingkat 7, yaitu Sholat.&lt;br /&gt;
Diteliti sendiri di dalam Sholat nanti akan mengetahui. Berdiri, 
Ruku’, I’tidal, Sujud pertama, bangun dari sujud, Sujud kedua, duduk. 
Ada 7.&lt;br /&gt;
Dan diwajibkan membaca surat yang ayatnya hanya 7.&lt;br /&gt;
Jadi dari Insan sampai Insan Abdulloh melalui Sholat, itu namanya Mi’roj. Mi’roj dari Dhohir menuju Ghoib.&lt;br /&gt;
Kemudian Mi’roj dari Ghoib menuju Ghoibul Ghoib, yaitu dari Sholat sampai ke inti Fatehah.&lt;br /&gt;
Baca sendiri di dalam tafsir Mafaatihul Ghoib Jilid I, karangan Imam 
Fathur Rozi. Kalau Nabi kita itu Muhammad, tapi kita tidak ikut Mi’roj 
padahal kita diperintah Uswatun Hasanah. Nabinya Mi’roj akan tetapi 
umatnya tidak ikut Mi’roj, ya di bawah saja. (Ash Sholatu Mi’rojul 
Mukminiin).&lt;br /&gt;
Tapi kalau memang anda mengatakan Mi’roj orang-orang &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sar’i&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &amp;nbsp;ramai/geger, dikatakan&amp;nbsp;&lt;i&gt;kementhus&lt;/i&gt; (sok tahu). Ya biarlah itu memang dunia mereka.&lt;br /&gt;
Kalau anda tanya ada buku tuntunan puasa? Ada. Thoriqohnya puasa, 
kaifiyahnya puasa? Ada. Ada buku tuntunan Zakat? Ada. Ada buku tuntunan 
Hajji? Bertebaran, ada yang tebal dan ada yang tipis.&lt;br /&gt;
Kalau anda tanya ada buku Thoriqohnya Laa Ilaaha Illalloh? Tidak ada 
di toko. Yang ada Thoriqohnya Sholat, Thoriqohnya Zakat, Thoriqohnya 
Hajji, Thoriqohnya Puasa, bukunya tebal-tebal.&lt;br /&gt;
Pada tulisan selanjutnya kan kami tulis sedikit tentang dalil &amp;nbsp;AWWALUDDIN MA’RIFATULLOH. (&lt;i&gt;Ma’rifatulloh itu paling awal.)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/03/bermacam-macam-miroj.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF9VzEb8JwxRWSqg1tJSTUw9RkehXMycrKWFj295MzXQFTZ1PVmMrAkRkTtu_WIS-bGgT-k_BFnLgGcYxa8T-VOA9OOrXvi3QdlEysey_DwT2rrPabnDPv6cMq-IWgGxh1G9ucBgp58JM/s72-c/Mi'Roj1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-9150285948784784802</guid><pubDate>Fri, 21 Mar 2014 02:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2014-03-21T09:52:11.846+07:00</atom:updated><title>Jalan Menuju Allah</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMIuKcxjL4KOUJJvQAf2aOqduk6A8gOs6hb8mcAOD4qTCamQb8Zjflz0ZDC6YQ4XGz3B2jxQTrDUxO-W0dG1YBKOTjkD2oC4ygKmFf6dwqhDu1iz3o7Xy_zxzKp0MpOHW2yxqpWoV9s-o/s1600/ap.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMIuKcxjL4KOUJJvQAf2aOqduk6A8gOs6hb8mcAOD4qTCamQb8Zjflz0ZDC6YQ4XGz3B2jxQTrDUxO-W0dG1YBKOTjkD2oC4ygKmFf6dwqhDu1iz3o7Xy_zxzKp0MpOHW2yxqpWoV9s-o/s1600/ap.jpg" height="300" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih dahulu menerangkan jalan menuju Alloh. Ada beberapa jalan 
menuju Alloh, yaitu Jalan Syari’at, Jalan Thoriqoh dan Jalan Haqiqat. Di
 dalam Syahadat ada Syari’ at, ada Thoriqot dan ada Haqiqatnya.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Di dalam Sholat ada Syari’at, ada Thoriqot dan ada Haqiqatnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di dalam Puasa ada Syari’at, ada Thoriqot dan ada Haqiqatnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Di dalam Zakat ada Syari’ at, ada Thoriqot dan ada Haqiqatnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dan di dalam Ibadah Hajj i juga ada Syari’ at, ada Thoriqot dan ada Haqiqatnya.&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span id="more-5659"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Hanya saja selama ini kalau kata Thoriqot itu didengar dan diucapkan orang, yang muncul di dalam fikiran orang itu hanya Dzikir &lt;b&gt;&lt;i&gt;Laa Ilaaha Illalloh &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dzikir Ismu Dzat Alloh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Padahal semuanya itu ada Thoriqotnya.&lt;br /&gt;
Mengapa hanya istilah tersebut yang muncul di dalam fikiran orang banyak, yaitu hanya Dzikir &lt;b&gt;&lt;i&gt;Laa Ilaaha Illalloh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Itu hanya penonjolan saja. Jangan dikira di dalam Sholat, Zakat, Hajji itu tidak ada Thoriqot dan Haqiqatnya, misalnya:&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Subhaanalloh&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah termasuk Dzikir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; juga termasuk Dzikir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Allohu Akbar&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; juga termasuk Dzikir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Laa haula walaa quwwata illaa billah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; juga terrnasuk Dzikir.&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;kita
 itu yaitu Laa Ilaaha Illalloh. Mungkin dikira lainnya itu bukan Dzikir.
 Itu hanya dari segi penonjolan saja. Penonjolan itu disebutkan di dalam
 hadits:&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOH SAW : AFDHOLUDZ DZIKKRI LAA ILAAHA ILLALLOH&lt;/div&gt;
Hanya dari segi penonjolan saja, seperti ada acara Tahlilan. Di dalam
 Tahlil itu yang dibaca bermacam-macam ya Al Qur’an, Asma’ul Husna dan 
sebagainya, akan tetapi hanya disebut Tahlilan, membaca Laa Ilaaha 
Illalloh.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Hallala – Yuhallilu – Tahliilan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Itu hanya dari segi penonjolan saja. Tidak boleh hanya dari segi 
Syari’at saja tanpa Haqiqat. Tidak dibenarkan Haqiqat saja tanpa 
Syari’at. Apalagi tanpa Syari’at dan Haqiqat.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FASYARII’ATUN BILAA HAQIIQOTIN `AATHILAH&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Artinya: “Maka Syari ‘at tanpa haqiqat kosong (suwung)”.&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; `Aathilah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;itu adanya sama dengan tidak adanya, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wujuuduhu Ka Adaamihi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA HAQIIQOTUN BILAA SAYRII’ATIN BAATHILAH.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Haqiqat tanpa Syari’at Bathal&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
BILAA SYARII’ATIN WA HAQIIQOTIN JAI’RAH.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Tanpa Syari ‘at, tanpa Haqiqat bangkai larut.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
BI SYARII’ATIN MA’A HAQIIQOTIN KAMILAH.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dengan Syari’at beserta Haqiqat sempurna.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;`Aathilah&amp;nbsp;=&amp;nbsp;Kosong.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Baathilah&amp;nbsp;=&amp;nbsp;Bathal.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Jaifah&amp;nbsp;=&amp;nbsp;Bangkai.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;i&gt;Kaamilah&amp;nbsp;=&amp;nbsp;Sempurna.&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Contoh Persoalan Haqiqat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tiap-tiap kita mendengarkan orang Adzan,&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;ALLOHU AKBAR 2X &amp;nbsp;jawabannya ALLOHU AKBAR.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH &amp;nbsp;jawabannya ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLOH.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;ASYHADU ANNAM MUHAMMADAR ROSUULUULLOH jawabannya ASYI-IADU ANNAM MUHAMMADAR. ROSUULUULLOH.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;HAYYA `ALASH SHOLAT &amp;nbsp;jawabannya:&amp;nbsp;LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;HAYYA `ALAL FALAAH jawabannya:LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;ALLOHU AKBAR 2X jawabannya ALLOHU AKBAR.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;LAA ILAAHA ILLALLOH jawabannya LAA ILAAHAILLALLOH.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 1.5em;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Kok aneh? Setelah kalimat HAYYA `ALASH SHOLAT (&lt;i&gt;Marilah kita menegakan Sholat&lt;/i&gt;), jawabannya LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH.&lt;br /&gt;
Marilah kita menegakan Sholat untuk mencapai kemenangan (HAYYA `ALAL FALAAH), jawabannya LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH.&lt;br /&gt;
Mengapa kok tidak sama? Ini masalah haqiqat. Sholat, berdiri, ruku’, 
Sujud, Duduk, I’tidal, membaca Fatehah, Tasbeh, Tahmid, Tahiyyat, 
semuanya itu berbentuk. Di belakang bentuk itu ada sesuatu yang tidak 
berbentuk. Ada sesuatu yang bukan suara. Tidak bisa dilihat, tidak bisa 
didengar. Di belakang yang berbentuk itu ada sesuatu yang tidak 
berbentuk, yaitu daya dan kekuatan.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Tanpa daya dan kekuatan kita tidak bisa berdiri.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanpa daya dan kekuatan kita tidak bisa ruku’.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanpa daya dan kekuatan kita tidak bisa Sujud.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanpa daya dan keku,atan kita tidak bisa membaca Fatehah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanpa daya dan kekuatan kita tidak bisa Duduk dan lain sebagainya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Jadi kalau tanpa daya, seperti berdiri, sujud, ruku’ membaca semuanya itu tidak ada.&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Daya itu tidak dapat dilihat oleh mata. Tidak bisa diraba oleh tangan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak bisa dicium oleh hidung. Tidak bisa didengar oleh telinga.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Itu di balik yang berbentuk yang dapat disaksikan oleh mata.&lt;br /&gt;
-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Daya dan Kekuatan itu tidak akan ada kalau tidak dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Bi Haulillah Wa Quwwatillah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Jadi sampai ke situ.&lt;br /&gt;
Dari berdiri, ruku’, Sujud, naik ke Daya. Dari Daya Mi’roj ke Dzat 
Alloh. Jangan hanya melihat berdiri. Jangan hanya melihat duduk. Jangan 
hanya melihat ruku’. Jangan hanya melihat Sujud saja. Itu hanya 
Syari’atnya saja.&lt;br /&gt;
Kita tidak akan Sholat sampai kepada haqiqat selama hanya terbatas bacaan (&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tadabbur Ma’na&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;).
 Berdiri, ruku’, Sujud, tapi kita lupa bahwa kita Sholat yang 
mensholatkan kita itu daya Alloh. Makanya mengapa dalam Sholat itu dari 
114 surat yang wajib dibaca hanya Surotul Fatehah. Di situ ada intinya:&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
IYYAAKA NA’ BUDU WA IYYAKA NASTA’IIN.&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;`Iyyaka na’budu hanya kepadamu Tuhan kami beribadah.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Ini hanya untuk melindungi syari’at (&lt;b&gt;&lt;i&gt;kasyab&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Seakan-akan hanya dari sinilah munculnya sumber ibadah. Hanya kepadamu Alloh kami beribadah tapi &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wa `iyyaka nasta’iin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
 dan hanya kepadamu Alloh kami mohon pertolongan tentang ibadah. Tanpa 
pertolonganmu kami tidak bisa apa-apa, tidak bisa ibadah. Ini adalah 
haqiqat.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyaka Na’budu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; = Syari’at.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Wa `iyaaka Nasta’iin &lt;/i&gt;&lt;/b&gt; = Haqiqat.&lt;/div&gt;
Kalau artinya hanya di &lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyakana’budu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; saja tanpa &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wa `Iyyakanasta’iin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, ya itu tadi termasuk `&lt;b&gt;&lt;i&gt;Aathilah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (kosong).&lt;br /&gt;
Merasa bisa sendiri. Merasa bisa membaca sendiri. Merasa bisa berdiri
 sendiri. Merasa bisa Ruku’ sendiri. Merasa bisa duduk sendiri.&lt;br /&gt;
Jadi harus &lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyakana’ Budu wa `Iyyaka Nasta’iin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, bukan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tsumma&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Kalau anda membaca &lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyakan’budu Tsumma Wa `Iyyakanasta’iin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, ini salah.&lt;br /&gt;
Jangan &lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyakana’budu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; hanya kepadamu Tuhan saya beribadah akan tetapi kami beribadah. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Na-&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;nya itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nahnu &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;bukan saya tapi kami, sebab di belakang itu ada kita mohon pertolongan.&lt;br /&gt;
IHDINASH SHIROOTOL MUSTAQIIM. SHIROOTHOL LADZIINA AN’AMTA `ALAIHIM GHOIRIL MAGHDUUBI `ALAIHIM WALAADH DHOOLIIN.&lt;br /&gt;
Kalau kalimatnya Tunjukanlah kami (&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ihdinaa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;) akan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Shiroothol Mustaqiim&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Tetapi Haqiqatnya &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tetapkanlah Kami&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Kalau hanya tunjukanlah kami, sudah berapa ratus kali, berapa ribu kali kita itu membaca &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ihdinaa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
 (kita mohon petunjuk). Sudah diberi petunjuk apa belum? Kalau belum 
do’anya tidak pernah terkabul. Kalau sudah diberi petunjuk untuk apa 
mohon petunjuk? Jadi kalimatnya &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ihdinaa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; maknanya &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tsabbitnaa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (Mohon ditetapkan). Sebab kadang-kadang setelah menerima petunjuk melenceng. Itulah sebabnya dalam do’a diterangkan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ROBBANAA LAA TUZIGH QULUUBANAA BA’DA IDZHADAITANAA&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Artinya: “Wahai Tuhan janganlah kami melenceng setelah kami menerima petunjuk.”&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Setelah menerima petunjuk banyak yang melenceng. Mudah-mudahan kita 
itu setelah diberi petunjuk, petunjuk itu ditetapkan pada diri kita agar
 tidak melenceng.&lt;br /&gt;
Jadi &lt;b&gt;&lt;i&gt;`Iyyakana’budu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ini melindungi Syari’at. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wa `Iyyaka Nasta’iin&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
 itu melindungi Haqiqat. Haqiqat saja tanpa Syari’at bathal. Hingga kita
 diperintah `Iyyakana’budu. Kalau Haqiqat saja akan menjadikan bahaya. 
Kalau syari’at saja ya menjadi kulit/&amp;nbsp;&lt;i&gt;“&lt;b&gt;Kulliti&lt;/b&gt;“&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
Kalau Haqiqat saja, mari kita sholat. Untuk apa Sholat? Saya sudah 
ditaqdirkan di Azali, kalau saya nanti masuk surga tanpa Sholatpun masuk
 surga. Kalau kita ditaqdirkan dalam Azali masuk neraka, walaupun sholat
 tetap masuk neraka. Oleh sebab itu untuk apa sholat? Ini namanya 
garingan (keringan).&lt;br /&gt;
Ya begitu itu kalau haqiqat. Sebelum Sholat sudah Sholat. Sebelum makan sudah makan. Sebelum berak sudah berak.&lt;br /&gt;
Jadi Syari’at ya Haqiqat, Haqiqat juga Syari’at. Kalau kita sholat 
akan tetapi syari’at saja, itu namanya kosong. Kalau Haqiqat saja 
menjadi bathal.&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya kalau mengajak, HAYYA `ALASH SHOLAAH jawabannya:&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAA HAULA WALAA QU W WATA ILLAA BILLAAHIL `ALIYYIL `ADHIM.&lt;/div&gt;
Baca sendiri di dalam Hadits Bulughul Marom. Tapi selama ini kita jarang berfikir mengapa jawabannya begitu?&lt;br /&gt;
Di dalam hadits &lt;b&gt;&lt;i&gt;Laa Haulaa Walaa Quwwata Illaa Billah &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;itu disebut gedungnya surga.&lt;br /&gt;
Saudara faham itu, saudara memegang gedungnya surga, tinggal kuncinya.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAA HAULAA WALAA QU W WATA ILLAA BILLAH KANZUN MIN KUNUUZIL JANNAH&lt;/div&gt;
Begitu pula Sholat, Zakat, Puasa, Hajji semuanya itu harus ada &lt;b&gt;&lt;i&gt;Syari’at&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Haqiqat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Thoriqot&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Thoriqotnya Sholat itu banyak. Cari di toko-toko buku yang 
besar-besar maupun yang kecil-kecil. Buku tuntunan Sholat pasti 
tebal-tebal. Lebih-­lebih karangannya Hasbi Shiddiqi, tebal sekali. Anda
 kalau membaca itu pasti bingung tidak &lt;b&gt;&lt;i&gt;mi’roj-mi’roj&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; hanya berputar-putar di situ.</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2014/03/jalan-menuju-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMIuKcxjL4KOUJJvQAf2aOqduk6A8gOs6hb8mcAOD4qTCamQb8Zjflz0ZDC6YQ4XGz3B2jxQTrDUxO-W0dG1YBKOTjkD2oC4ygKmFf6dwqhDu1iz3o7Xy_zxzKp0MpOHW2yxqpWoV9s-o/s72-c/ap.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-7209876146468769412</guid><pubDate>Wed, 24 Jul 2013 01:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-24T08:14:31.122+07:00</atom:updated><title>Nikmat</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUTdbSMry6fHkWaHqJc3rto1eRH-x250x1kR-mFXG3rhTHeBVhC77T9o1OOud82d940eeF28Rjv2hq_Pym_qJTznpItAfA53VSyxIqhjmCI2uk_xD5XvBAd7gcry8YbdOR9ksYC9a8G4E/s1600/thCAYRLXGG.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUTdbSMry6fHkWaHqJc3rto1eRH-x250x1kR-mFXG3rhTHeBVhC77T9o1OOud82d940eeF28Rjv2hq_Pym_qJTznpItAfA53VSyxIqhjmCI2uk_xD5XvBAd7gcry8YbdOR9ksYC9a8G4E/s320/thCAYRLXGG.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam Alqur-an memang telah diterangkan bahwa manusia itu tidak akan dapat menghitung nikmat dari Alloh dikarenakan sangat banyaknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;i&gt;Artinya : " Dan apabila kamu menghitung nikmat Alloh pastilah kamu tidak bisa menghitung nya"&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Meskipun nikmat itu tidak dapat dihitung, akan tetapi tentunya nikmat itu bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis, diantaranya ada nikmat yang besar, ada nikmat yang kecil dan berbagai macam kelompok nikmat lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;i&gt;Diantara nikmat-nikmat Alloh yang tidak bisa dihitung itu manakah nikmat-nikmat Alloh yang tergolong besar ?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Cara orang memandang nikmat itu ada 2 macam, yaitu :&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
1. Ada yang memandang nikmat Alloh dari sumbernya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
&lt;span&gt;Ini adalah cara memandang dari atas kebawah atau &lt;/span&gt;pandangan ma'rifat billah atau pandangan dari sentral, dari sumbernya &lt;i&gt;(Dan ini kita belum bisa).&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
2. Ada yang memandang nikmat Alloh dari segi nilainya nikmat itu sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
&lt;span&gt;Ini adalah cara memandang dari bawah keatas atau nikmat dipandang dari sudut nikmat itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dan kedua-duanya ini benar menurut Alqur-an.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span id="more-2027"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Bila nikmat Alloh dipandang dari sudut sumbernya nikmat semata, maka tidak ada nikmat yang kecil, semua nikmat itu besar. Dan bila nikmat Alloh dipandang dari sudut nilainya nikmat, maka nikmat dari Alloh itu ada yang besar dan ada yang kecil.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Karena sumbernya nikmat itu sendiri adalah Dzat Yang Maha Besar, Dzat Yang Maha Akbar. Maka semua nikmat yang tak terbilang itu semuanya Akbar (&lt;i&gt;Besar&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jadi yang tampak hanya keagungannya Alloh saja, tidak tampak macam-macam nikmat.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;&lt;i&gt;Pandangan ini timbul karena sangat besar ma'rifat billahnya / penglihatan hatinya . Dan masalah pandangan ini adalah &lt;b&gt;maqom,&lt;/b&gt; jadi berbeda dengan orang yang hanya membahas saja.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Keterangan&lt;/b&gt; :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kalau hanya membahas saja itu mudah dan bahasan-bahasan yang tinggi itu bisa menjadi tipu daya. Adapun&lt;span&gt;  macam tipu daya yang paling banyak ada didalam gaya tasawuf, diantaranya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
1. Ada yang mengaku-aku atau berkata : Bahwa saya adalah ahli Tasawuf.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
&lt;span&gt;Meskipun tidak dikatakan, kalau sudah Tasawuf tetaplah tasawuf.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
2. Ada yang bicaranya memakai gaya Tasawauf tapi hal-nya tidak Tasawuf.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
3. Ada yang segi penampilannya (memperburuk pakaiannya) supaya dianggap seakan-akan tidak menghiraukan dunia atau zuhud atau taqorrub ilalloh.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
4. Ada yang bergaya ngantuk didepan umum supaya dianggap kalau malam selalu mujahadah (tidak tidur).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
5. Ada yang bila didepan orang banyak gayanya selalu mengucapkan Tahmid, Tasbih, dsb. Dengan harapan supaya mendapat pujian dari orang lain (riya').&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;    &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Padahal pujian orang itu tidaklah bisa merubah orang tersebut menjadi benar-benar Tasawuf.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Akan tetapi kalau nikmat itu dipandang dari segi wujudnya nikmat (bukan dari sumbernya nikmat) maka nikmat-nikmat itu ada yang besar dan ada yang kecil. Dan kita tidak akan mampu untuk menghitungnya meskipun usia kita ditambah ratusan tahun.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Sebagai contoh yang ringan saja :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Tiap detak jantung adalah nikmat, bisakah kita menghitungnya ?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Tiap kedip mata adalah nikmat, mampukah kita menghitung kedip mata kita ?&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Tiap langkah kita juga merupakan nikmat, mungkinkah kita bisa menghitungnya? Tentunya tidak akan bisa, belum lagi lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Dan menurut Ulama' Hikam (maksudnya Kitab Alhikam, yakni kitab Tasawuf tingkat tinggi) diterangkan bahwa :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;        &lt;i&gt;" Alamatnya orang yang tertutup akan nikmat Alloh adalah yang baru ingat akan nikmat Alloh apabila nikmatnya diambil " . &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Seperti misalnya: Ada orang yang sakit mata, dia itu baru ingat bahwa kesehatan mata adalah nikmat dari Alloh setelah dia merasakan sakit mata. Nikmat kaki, dia baru merasakan kalau kakinya adalah nikmat setelah kakinya mengalami lumpuh dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;i&gt;Oleh karena itu jika diberi sakit hendaklah disyukuri, karena berarti tutupnya dibuka oleh Alloh atau diingatkan kembali terhadap nikmat Alloh.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Dan nikmat Alloh Ta'ala itu juga : &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ada yang bersifat dhohir dan ada yang bersifat bathin.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ada yang bersifat mauhibi dan ada yang bersifat kasbiy.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ada yang bersifat dunyawi dan ada yang bersifat ukhrowi. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Dasar Alqur-an yang menerangkan ada nikmat yang bersifat dhohir dan ada yang bersifat bathin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span&gt;     Artinya : "Dan untukmu nikmat-nikmatnya lahir dan bathin". ( Luqman ayat 20 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;i&gt;&lt;span&gt;&lt;div&gt;
&lt;strong&gt;Nikmat :&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Nikmat Dhohir&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat Bathin&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat Mauhibiy&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat kasbiy&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat Duniawi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nikmat Ukhrowi&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat dhohir adalah nikmat yang dapat dilihat oleh mata, diraba oleh tangan, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung dan dapat dirasakan oleh lidah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Contohnya nikmat dhohir yang ada didalam diri adalah seluruh anggota badan yang tampak dan nikmat bathin yang diluar diri kita adalah alam semesta termasuk langit, bulan, bintang, matahari, bumi, gunung, dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span id="more-2034"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat bathin adalah nikmat yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat diraba oleh tangan, tidak dapat dicium oleh hidung, tidak dapat didengar oleh telinga dan tidak dapat dirasa oleh lidah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;&lt;b&gt;Contohnya :&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt; &lt;/b&gt;- Yang didalam diri, seperti : hidup, aqal, fikir, angan-angan dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 - Yang diluar diri, seperti : Malaikat dsb.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat mauhibiy adalah nikmat yang semata-mata pemberiannya&lt;span&gt; Alloh tanpa kecampuran usaha manusia. &lt;br /&gt; Seperti nikmat hidup, aqal, fikir, dll.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat kasbiy adalah nikmat dari Alloh yang bercampur dengan ikhtiar manusia. &lt;br /&gt; Seperti rumah yang kita bangun.&lt;br /&gt; (Seandainya manusia tidak diberi kekuatan dan aqal fikir dari Alloh maka tidak mungkin manusia bisa membangun rumah).&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Aqal itu nikmat mauhibiy, kemudian aqal yang dikembangkan sendiri melalui usaha-usaha itu namanya kasbiy. Baikpun dibidang jasmani maupun dibidang ruhani sama-sama ada nikmat mauhibiy dan kasbiy.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat duniyawi adalah nikmat yang diberikan waktu didunia&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Nikmat ukhrowi adalah nikmat yang diberikan di akhirat .&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Beberapa waktu lalu sudah di terangkan bahwa apabila nikmat itu dipandang dari sudut wujudnya nikmat, maka nikmat itu ada yang besar dan ada yang kecil. Lalu apa sajakah yang tergolong nikmat besar ?.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Yang tergolong ni'mat besar itu banyak, diantaranya :&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat keberadaan &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat hidup&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat wujud manusia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat aqal &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat Iman&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span&gt;Ni'mat Islam&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div&gt;
Inilah diantara ni'mat yang besar, tetapi ada lagi ni'mat yang paling besar, yaitu : Ni'mat hidup sejati – hidup yang baik&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
Artinya : " Maka Aku berikan hidup dia dengan hidup yang thoyyibah " .&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span id="more-2087"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Istilah lainnya ialah " &lt;b&gt;Hidup haq&lt;/b&gt; ". Sebagaimana tersebut dalam Alqur-an :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
Artinya : " Mereka itu adalah orang mu'min yang haq ". &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Istilah lainnya lagi ialah : &lt;b&gt;Hayatan haqiqi&lt;/b&gt; artinya&lt;i&gt;: hidup hakekat&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hidup yang sejati&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;hidup yang bermakna , hidup yang berarti, bukan sekedar hidup-hidupan &lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Nikmat hidup sejati di katakan ni'mat yang terbesar karena hidup manusia yang tidak hidup sejati, tidak hidup haq atau tidak hidup yang bermakna itu diterangkan dalam Alqur-an surat Ar-Ro'du ayat 17, "adalah seperti buih".&lt;span&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="margin-left: 40px;"&gt;
Artinya : " Demikianlah Alloh membuat perumpamaan bagi yang haq dan yang bathil. Maka adapun buih itu akan hilang sebagai suatu yang tidak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia , maka ia tetap di bumi.Demikianlah Alloh membuat perum­pamaan – perumpamaan "&lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
&lt;span&gt;Jadi bagi Alloh hidup yang tidak sejati atau tidak bermakna atau tidak haqiqi walaupun 1000 tahun adalah sama dengan buih. Sedangkan buih itu akan hilang ikut gerakan air, bila dikumpulkan tidak ada apa-apanya dan tidak ada harganya sama sekali &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="center"&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;Maka apalah artinya hidup ini bila hanya seperti buih ? Tampaknya saja hidup, padahal sebenarnya mati bagi Alloh, tampaknya saja ada padahal sebenarnya tidak ada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span&gt;( &lt;i&gt;Angan-anganlah sendiri, kita ini seperti buih apa tidak. Mudah terombang-ambing keadaan/ berita apa tidak ? )&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
 &lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/nikmat.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUTdbSMry6fHkWaHqJc3rto1eRH-x250x1kR-mFXG3rhTHeBVhC77T9o1OOud82d940eeF28Rjv2hq_Pym_qJTznpItAfA53VSyxIqhjmCI2uk_xD5XvBAd7gcry8YbdOR9ksYC9a8G4E/s72-c/thCAYRLXGG.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-2111730254644701042</guid><pubDate>Wed, 17 Jul 2013 06:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-17T13:09:53.111+07:00</atom:updated><title>Obat Taajusy Syifa’</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUWikvr5e2j_X4CUCzM1rv1v-elmkBunJYFKWIAuZE1TXAx5e_YKgXnC5ObSK4wdaasfQ9ZjxC8-uG1Vgs2A3MolTUfaIiOqHZ1zfZJHkfl9WhyoPmWj4o-jCtnJ4cwDNW7zFupGcQwP0/s1600/tajusifa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="221" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUWikvr5e2j_X4CUCzM1rv1v-elmkBunJYFKWIAuZE1TXAx5e_YKgXnC5ObSK4wdaasfQ9ZjxC8-uG1Vgs2A3MolTUfaIiOqHZ1zfZJHkfl9WhyoPmWj4o-jCtnJ4cwDNW7zFupGcQwP0/s320/tajusifa.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pada bulan Romadhon, biasanya di&amp;nbsp; malam Barokah tanggal 17, ada obat &lt;b&gt;TAAJUSY SYIFA’ &lt;/b&gt;yang bisa dibeli diwaktu acara tersebut. Selama ini kita kurang begitu tahu tentang &lt;b&gt;TAAJUSY SYIFA’&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;tersebut. Disini kami coba sampaikan sedikit keterangan tentang &lt;b&gt;TAAJUSY SYIFA’. &amp;nbsp;&lt;/b&gt;Semoga manfaat
&lt;br /&gt;
&lt;span id="more-5457"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;DOA NABI SULAIMAN AS.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Di dalam kitab FATHUL MALIKIL MAJID halaman 105, di sebutkan:&lt;br /&gt;

Suatu hari nabiyulloh SulaimanAS. mengadakan sidang lengkap, mengenai
 sidangnya ini tersebut di dalam kitab Qoshoshul Anbiya’ halaman 213. 
Sebagai pangkal tolak keterangan nabiyulloh Sulaiman as. Sebagaimana 
tersebut di dalam Al Qur-an surat Shod ayat 35.&lt;br /&gt;

&lt;div align="right" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
QOOLA ROBBIGHFIRLII WA HABLII MULKAN LAA YANBAGHII LI-AHADIN MIN BA’DII INNAKA ANTAL WAHHAAB (Shod/35)&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya: Berkata nabiyulloh Sulaiman 
AS. Yaa Tuhan ampunilah aku dan berilah kepadaku kerajaan yang tidak di 
miliki seorangpun sesudah saya. Sesungguhnya engkau adalah Dzat yang 
maha memberi.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Nabiyulloh Sulaiman mohon kepada Alloh Ta’ala:&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Dosanya mohon di ampuni&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mohon di beri kerajaan yang kerajaan itu sesudah nabiyulloh Sulaiman
 tidak ada manusia di seluruh dunia sampai akhir zaman yang mempunyai 
kerajaan tidak ada sebanding dengan kerajaannya nabiyulloh Sulaiman.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Permohonannya nabiyulloh Sulaiman di kabulkan, makanya tidak ada 
kerajaan yang membandingi kerajaannya nabiyulloh Sulaiman. Setengah dari
 kehebatannya kerajaan nabiyulloh Sulaiman, apabila nabiyulloh Sulaiman 
akan mengadakan sidang di persiapkan kursi podium yang di buat oleh Jin.
 Kursinya terbuat dari gading gajah. Gading gajah yang sudah di ukir di 
tretes dengan yakut lu’lu’ zabarzud ahdhor (permata-permata yang 
mahal-mahal). Podiumnya memakai 4 tiang dan memakai tangga, kanan kiri 
tangga di beri gambar macan yang terdiri dari emas, matanya berlian, di 
atasnya tiang ada burung Garuda.&lt;br /&gt;

Apabila nabi Sulaiman akan berpidato dan mulai menginjak tangga 
pertama baling-baling yang ada di atasnya berputar kemudian gambar 
burung Garuda dan Merak yang terdiri dari emas mulai mekar sayapnya. 
Apabila menginjak tangga kedua macannya mulai menggerakan kepalanya dan 
mengaum untuk menyirep pendengar. Apabila menginjak tangga ke tiga 
burung Garuda mengambil kitab Zabur dan di sampaikan ke hadapan 
nabiyulloh Sulaiman.&lt;br /&gt;

Pendengar-pendengar sebelah kanan para ulama’ dengan 1.000 kursi 
emas. Sebelah kiri tokoh-tokoh Jin kursinya terbuat dari perak. Seluruh 
hayawan hadir sedangkan burung-burung di perintah berada di atas dan 
mengembangkan sayapnya satu dengan yang lain supaya sinar matahari tidak
 menyinarinya.&lt;br /&gt;

Ketika nabiyulloh Sulaiman As. Sudah wafat dan berjarak beberapa 
ratus tahun kerajaanya di jarah oleh raja Buhtanashor yang kafir ingin 
memiliki kursinya nabiyulloh Sulaiman. Kemudian kursi itu di boyong ke 
negerinya. Kemudian kursi itu di coba oleh raja Buhtanashor, ketika 
menginjak anak tangga pertama muncul suara mengerang dan naik menginjak 
anak tangga kedua muncul auman macan, akhirnya raja Buhtanashor jatuh 
dan mati. Setelah itu tidak ada orang yang berani menginjak podiumnya 
nabi Sulaiman. Kemudian podium di kembalikan lagi ke kerajaan nabi 
Sulaiman di Palestina. Akhirnya podium itu ghoib sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;NABI SULAIMAN AS. KEDATANGAN TAMU TAK DI UNDANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Suatu hari ketika nabiyulloh Sulaiman berada dalam persidangan 
lengkap,&amp;nbsp; sebab nabi Sulaiman itu menguasai seluruh manusia, menguasai 
Jin, menguasai Syaithon, menguasai seluruh hayawan yang ada di dalam 
lautan dan hayawan yang ada di daratan, menguasai angin. Nabiyulloh 
Sulaiman bersabda:&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNALLOHA SUBHANAWATA’ALA QOD 
SAKH-KHOROLI AL JIN WAL INSIN WAL WUKHUS WAT THUYUURI WAR RIKH FA-AL 
KHOLAQOLLOHU TABAROKA WATA’ALA KHOLQON LAM YASROHUMLI&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya: Alloh Ta’ala menundukan 
kepada aku semua jin, manusia, hayawan, burung-burung dan angin 
semuanya. Kemudian nabi Sulaiman bersabda kepada hadlirin, apakah ada 
makhluk Alloh Ta’ala di atas bumi ini yang belum tunduk kepada saya? 
Kemudian Fatiasib (skretarisnya) menjawab:&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
YAA NABIALLLOH KULLU MAA SAKH-KHOROLAKA LAA YABQOO MIN KHORDALIN MIN MULKILLAHI TA’ALA&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Yaa nabi Alloh tidak ada makhluk 
semuanya yang ada di atas bumi ini yang belum tunduk kepada nabi 
Sulaiman, Jin yang berada di dasar lautan juga sudah tunduk.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Di tengah-tengah Fatiasib menjawab seperti itu tidak di sangka-sangka
 muncul di hadapan nabi Sulaiman itu makhluk yang tingginya 40 dzirak 
(kira-kira 60 meter). Di situ menyala-nyala seperti api. Nabi Sulaiman 
kaget dan seluruh Punggawa takut. Kemudian Fatiasib berkata: Jangan 
takut! Ucapkan Allohu Akbar 3 x. Kemudian semuanya mengucapkan Allohu 
Akbar 3 x dan suasana menjadi tenang.&lt;br /&gt;

Setelah tenang nabi Sulaiman bertanya:&lt;br /&gt;

Nabi SulaimanAS. : Siapa kamu dan namamu siapa? Dan pekerjaanmu apa? 
Kok tiba-tiba muncul di hadapanku, apakah kamu jin atau kamu manusia?&lt;br /&gt;

Jawab: YAA NABI ALLOH ANA RIIHUL AHMAR WAD DAA-IL AKBAR&lt;br /&gt;

Nabi Sulaiman…. nama saya itu Riihul Ahmar Daa-il Akbar (penyakit 
besar), saya ini jendralnya penyakit. Semua penyakit itu anak buah saya.
 Apabila Alloh Ta’ala akan mengirim adzab kepada suatu negeri Alloh 
Ta’ala perintah kepada saya kemudian negera itu saya &lt;i&gt;trajang &lt;/i&gt;dan Negara itu hancur.&lt;br /&gt;

Oleh dia semua penyakit-penyakit yang besar di ceritakan.&lt;br /&gt;

Nabi SulaimanAS. : Kemudian nabi Sulaiman berkata kepada tentaranya 
kalau begitu enaknya orang ini di bunuh supaya tidak ada orang yang 
sakit besar.&lt;br /&gt;

Jawab: Saya ini tidak bisa mati kalau belum hari qiamat, semua tentara di suruh membunuh saya, saya ini tidak apa-apa.&lt;br /&gt;

Kemudian dia berkata: Apabila saya menyerang otak maka itu tidak bisa
 di obati. Kalau menyerang pendarahan bertahun-tahun akan mengalami 
pendarahan. Apabila menyerang lumpuh, seluruh badan akan lumpuh puluhan 
tahun. Kalau menyerang orang sampai tidak sadar, bertahun tahun tidak 
akan sadar.&lt;br /&gt;

Setelah itu Riihul Ahmar Daa-il Akbar hilang dan tidak muncul lagi.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;RIIHUL AHMAR MENYERANG SAYYIDINA HASAN CUCU ROSULULLOH&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Kemudian pada zaman Nabi Muhammad SAW. Muncul lagi. Kalau di hitung jarak mulai nabi Sulaiman sampai Nabi Muhammad 1.800 tahun.&lt;br /&gt;

Peristiwa munculnya Riihul Ahmar Daa-il Akbar pada zaman Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;

Nabi Muhammad SAW mempunyai cucu namanya Hasan putranya Siti 
Fathimah. Hasan terkena sakit pendarahan, dari telinga, mata, hidung, 
qobul dan duburnya keluar darah. Pendarahan itu tidak bisa di hentikan 
dengan bermacam-macam cara. Nabi Muhammad susah lebih-lebih Siti Fatimah
 dan Sayyidina Ali. Kemudian suatu waktu Malaikat Jibril datang di 
hadapan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana tersebut di dalam kitab Fathul 
Malikil Majid.&lt;br /&gt;

Malaikat Jibril: Mengapa nabi susah?&lt;br /&gt;

Nabi Muhammad SAW: Saya susah karena cucu saya sakit, saya belum pernah mengetahui sakit seperti itu.&lt;br /&gt;

Malaikat Jibril: Itu di senggol Riihul Ahmar Daa-il Akbar yang muncul pada zaman Nabi Sulaiman.&lt;br /&gt;

Nabi Muhammad SAW. Apakah ini bisa di obati?&lt;br /&gt;

Kemudian Malaikat Jibril pergi sebentar dan datang lagi dengan membawa doa yang sangat panjang.&lt;br /&gt;

Malaikat Jibril: Doa ini apabila di baca di masukan ke dalam obat 
yang obat itu di telan, maka orang itu tidak akan di serang Riihul Ahmar
 selama 1 tahun.&lt;br /&gt;

Biasanya Riihul Ahmar itu apabila menyerang orang itu mengambil hari-hari nahas. Dalam satu bulan hari nahas itu ada 8.&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 3&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 5&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 13&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 16&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 21&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 24&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tanggal 25&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hari Rabu Akhir&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;OBAT TAAJUSY-SYIFA’&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Jangan sampai dalam 1 tahun kita itu terserang Riihul Ahmar Daa-il 
Akbar, karena kalau sudah terserang harapan tipis bisa di obati. Oleh 
sebab itu Guru kami membuat obat dengan nama TAAJUSY SYIFA’. Yang Beliau
 asma-I dengan asma’nya Malaikat Jibril dan menelannya juga harus di 
telan pada tanggal-tanggal nahas. Satu orang cukup menelan satu butir 
saja. Apabila akan menelan membaca:&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
BISMILLAAHIR ROHMAANIR ROHIIM&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ALLOHU AKBAR 3 X&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ALIYYIL ‘ADHIIM 3 X&lt;/div&gt;
Kemudian di kunyah dan minum air matang yang hangat. Insyaalloh dalam 1 tahun tidak di serang Riihul Ahmar Daa-il Akbar.&lt;br /&gt;

Apabila sudah&amp;nbsp; terserang Riihul Ahmar Daa-il Akbar atau penyakit 
besar seperti lumpuh, pendarahan, tidur tidak bangun-bangun sampai 3 
tahun, tidak sadar, ini sulit di obati. Kadang-kadang masih bisa 
ditolong hanya saja pengobatannya itu:&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tidak boleh tidur siang&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kalau masih baru di embunkan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Banyak-banyak membaca (&amp;nbsp; لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ الْعَظِيْمِ&amp;nbsp; )&lt;strong&gt; LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ALIYYIL ‘ADHIIM&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/obat-taajusy-syifa.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUWikvr5e2j_X4CUCzM1rv1v-elmkBunJYFKWIAuZE1TXAx5e_YKgXnC5ObSK4wdaasfQ9ZjxC8-uG1Vgs2A3MolTUfaIiOqHZ1zfZJHkfl9WhyoPmWj4o-jCtnJ4cwDNW7zFupGcQwP0/s72-c/tajusifa.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1490672302627966261</guid><pubDate>Sun, 07 Jul 2013 16:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-07T23:33:52.529+07:00</atom:updated><title>Menyerap Cahaya Allah</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUrG2RdeYv4RaeDibICdfQ1YbK3CjGF2KYeXZJaubQg5Z-EKxUdY19GtEwilOVSy7UCeLASA6aPJj-2tI7-K_rpVYFSKRIUy1PFDeg8MRAApNonAT3CSr0Cm8doQHEIgYPqjb57_JVJyo/s1600/cc.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="217" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUrG2RdeYv4RaeDibICdfQ1YbK3CjGF2KYeXZJaubQg5Z-EKxUdY19GtEwilOVSy7UCeLASA6aPJj-2tI7-K_rpVYFSKRIUy1PFDeg8MRAApNonAT3CSr0Cm8doQHEIgYPqjb57_JVJyo/s400/cc.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sudah sekian lama kami tidak meng-update Disirna Raga . Secara 
lahiriyah memang kami sedikit sibuk, tapi secara rohaniyah lebih sibuk 
lagi. Sejak malam Isro’ Mi’roj kemarin, kami belum bisa menentukan sikap
 akan kelanjutan bahasan-bahasan didalam Sirna Raga &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada malam Isro’ Mi’roj kemarin, ada peristiwa yang mencengangkan bagi kami. Guru kami &lt;i&gt;menghendaki&amp;nbsp; &lt;/i&gt;hujan
 yang sangat deras, ditambah petir menyambar nyambar. Bukan hanya tidak 
menolak, tapi memang beliau sangat berharap hal tersebut terjadi. Semua 
yang hadir kocar-kacir, kebigungan. Ada yang pingsan, ada yang shock. 
Kami para kru acara hanya bisa pasrah. Semisal jika saja petir menyambar
 antena pemancar radio/TV kami… kerugian materi bisa ratusan juta. Sound
 system, multimedia, semua terhubung secara langsung. Dan kami bagian dari tim 
ini.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5446"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Mengapa beliau menghendaki demikian? Dalam pengajian disampaikan, 
bahwa beliau akan menyampaikan sesuatu yang belum pernah beliau 
sampaikan sebelumnya. Yaitu bahasan tentang &lt;b&gt;Isro’ Mi’roj versi Tassawuf&lt;/b&gt;.
 Lalu seberapa khususkah? Menurut kami sih biasa saja, karena bahasan 
tersebut sudah pernah kami ulas di website ini. Tentu saja biasa, 
bukankah waktu itu pengajian umum?&lt;br /&gt;

Sementara ini kami masih mendalami hal tersebut. Pertanyaannya? Mengapa &lt;i&gt;hanya&lt;/i&gt;
 akan menyampaikan hal seperti itu saja, harus melalui peristiwa yang 
sangat mengkhawatirkan kami semua. Nah, bukankah di SIRNA RAGA masih 
jauh lebih mendalam bahasannya.&lt;br /&gt;

Secara kebetulan lagi, dalam beberapa bulan terkahir kami (khususnya 
Si GPA) secara intensif mendapat pelajaran khusus &amp;nbsp;dari guru kami. Yang mana pelajaran itu sudah pasti tidak mungkin diikuti oleh 
murid lain. Sebab itulah, makanya kami &amp;nbsp;akan berkonsultasi dulu dengan 
beliau-beliau pembimbing rohani kami, tentang lanjutan konsep SIRNA RAGA &lt;br /&gt;

Sebagai selingan dalam menyambut bulan romadhon, di sini akan kami 
sampaikan sedikit amalan, dengan harapan pada pembaca SIRNA RAGA bisa
 menangkap cahaya nurullloh di bulan Romadhon. Semoga Alloh swt menolong
 kita.&lt;br /&gt;

Bila kita banyak mengamalkan amal-amal Sholeh berarti Ruhani kita, Fikiran kita, Jasmani kita itu&amp;nbsp; &lt;b&gt;MENYERAP&amp;nbsp; CAHAYA&amp;nbsp; NUURULLOH&lt;/b&gt;
 sebanyak-banyaknya, menghisap Cahaya Nuurulloh, menangkap Cahaya 
Nuurulloh sebanyak-banyaknya.&amp;nbsp; Dan Nuurulloh yang kita tangkap itu nanti
 diakhirat akan bisa tampak/terlihat jelas, kita bisa menyaksikannya. 
Sedangkan kalau di alam dunia, yang bisa tampak/melihat Nuurulloh hanya 
orang-orang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;b&gt;(DZAWIL&amp;nbsp; BASHOOIR)&lt;/b&gt;, orang awam tidak bisa.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;

Bagi orang yang selama hidupnya mau mencerap cahaya Nuurulloh 
sebanyak-banyaknya, maka diakhirat ketika berjalan tidak perlu memakai 
obor atau lampu, karena dari dirinya sendiri muncul cahaya, menyinar 
cahaya.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;

Ini tersebut dalam Hadits Nabi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;QOOLA&amp;nbsp; ROSUULULLOOHI&amp;nbsp; SHOLLALLOOHU&amp;nbsp; 
‘ALAIHI&amp;nbsp; WASALLAM&amp;nbsp; :&amp;nbsp; YAUMA&amp;nbsp; TAROL&amp;nbsp; MU’MINIINA&amp;nbsp; WAL&amp;nbsp; MU’MINAATI&amp;nbsp; YAS’AA&amp;nbsp;
 NUURUHUM&amp;nbsp; BAINA&amp;nbsp; AIDIIHIM&amp;nbsp; WA&amp;nbsp; AIMAANIHIM.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Artinya :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; Bersabda Rosululloh SAW., :&lt;/b&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;“Pada hari orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan melihat cahaya berjalan dari antara depannya dan antara kanannya”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Jadi didepannya itu terang disinari cahaya yang berjalan, dikanannya 
juga diterangi cahaya yang berjalan.&amp;nbsp; Cahaya tersebut muncul dari 
Ruhaninya, Fikirannya yang ketika di dunia itu menyerap Nuurulloh atau 
Nuuron Mubiinaa lewat amal-amal Sholeh.&lt;br /&gt;

Oleh sebab itu bila kita diakhirat tidak membawa cahaya maka walaupun
 diakhirat “semoga padang kubure”, ya percuma saja, wong tidak membawa 
cahaya tetap gelap-gulita.&lt;br /&gt;

Sedangkan amal jelek itu juga cahaya tapi cahayanya gelap-gulita, 
hitam kelam, cahayanya hitam melebihi hitamnya orang.&amp;nbsp; Di dalam 
Al-Qur’an disebutkan&amp;nbsp; :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;WAYAUMAL&amp;nbsp; QIYAAMATI&amp;nbsp; TAROL&amp;nbsp; LADZIINA&amp;nbsp; KADZDZABUU&amp;nbsp; ALALLOOHI&amp;nbsp; WUJUHUHUM&amp;nbsp; MUSWADDAN.&amp;nbsp; &lt;i&gt;(Q.S.&amp;nbsp; Az-Zumar).&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Artinya :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;“Pada hari qiyamat kamu melihat orang-orang yang dusta akan Alloh itu wajahnya sangat hitam sekali”.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(MUSWADDAN), itu cahaya hitam yang berasal dari amal jelek.&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Sinarnya Takabbur itu hitam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sinarnya Hasud itu hitam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sinarnya Thoma’ itu hitam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sinarnya Hirshun itu hitam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sinarnya Riyaa’ itu hitam.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Semuanya itu hitam. Semua amal jelek itu cahayanya hitam kelam dan 
itu nanti diakhirat akan menjadikan gelap-gulita sehingga 
grayah-grayah.&amp;nbsp; Jadi manusia itu tidak bisa Padang Kubure kalau dia 
sendiri tidak membawa lampu. Lampunya itu ada didalam Hatinya Sendiri.&lt;br /&gt;

Menurut Ilmu Metafisik Islam, tiap-tiap wirid itu ada cahayanya 
sendiri-sendiri.&amp;nbsp; Ayat Kursi punya cahaya sendiri. Subhanalloh cahayanya
 sendiri, surat Ikhlas cahayanya sendiri. Cahaya tersebut bisa dilihat 
dalam air yang ditutup dengan Kain Sutra. Umpamanya ada beberapa gelas 
berjejer dan diisi air, gelas yang satu dibacai Subhanalloh, gelas 
satunya lagi dibacai surat ini, gelas lainnya dibacai wirid ini, 
beberapa hari ditutup dengan kain sutra, maka dalam beberapa hari dibuka
 akan kelihatan cahayanya.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ada yang bercahaya Hijau.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada yang bercahaya Kuning.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada yang bercahaya Putih.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada cahayanya sendiri-sendiri.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Makanya kalau bukan Ahli Dzawil Bashooir itu tidak tahu/tidak bisa 
melihatnya.&amp;nbsp; Kalau di dunia, walaupun kita tidak bisa melihat cahaya 
tersebut, tapi adanya cahaya itu bisa kita rasakan. Bagaimana bisa?. 
Begini, umpama ada satu kaum atau satu kota, dan diantara satu kaum itu 
ada seorang ulama’ besar, disebut ulama’ besar karena dirinya itu penuh 
cahaya, penuh Nurulloh.&lt;br /&gt;

Apabila suatu kaum atau suatu tempat itu ditunggui atau dihuni 
seorang ulama’ besar, maka terasa bahwa disekitarnya itu bercahaya. Dan 
kalau ulama’nya itu wafat maka terasa disekitarnya itu redup, gelap, 
tidak terasa sinarnya. Terasa redup karena cahayanya dibawa orang 
tersebut masuk barzah.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;

Jadi adanya Nuur (Cahaya) itu dapat kita rasakan. Cuma banyak orang 
yang tidak tahu perasaan yang seperti itu apa, itu sebenarnya adalah 
sinar Nuuron Mubiinaa. Sebagaimana yang disebut dalam Al-Qur’an :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;WA&amp;nbsp; ANZALNAA&amp;nbsp; ILAIKUM&amp;nbsp; NUURON&amp;nbsp; MUBIINAA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Artinya :&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; “Dan Kami menurunkan kepadamu semua cahaya yang jelas”.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Inilah amalannya do’anya. Do’a ini umum, bisa di googling. Hanya saja
 cobalah untuk mengamalkan secara khusus di bulan Romadhon ini. Terutama
 di waktu malam menjelang fajar… detail amalan tidak perlu kami 
sampaikan.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
‘ALLAHUMMAJ’AL FI QALBI NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA FI BASHARI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA FI SAM’I&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA ‘AN YAMINI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA ‘AN YASARI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA MIN FAUQI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA MIN TAHTI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA MIN AMAMI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA MIN KHALFI&amp;nbsp;NUURON&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA A’ZHIM LI NUURON&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
(Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam 
pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya di sebelah kananku, 
cahaya di sebelah kiriku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, 
cahaya di atasku, cahaya di bawahku dan muliakanlah cahaya bagiku) </description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/menyerap-cahaya-allah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUrG2RdeYv4RaeDibICdfQ1YbK3CjGF2KYeXZJaubQg5Z-EKxUdY19GtEwilOVSy7UCeLASA6aPJj-2tI7-K_rpVYFSKRIUy1PFDeg8MRAApNonAT3CSr0Cm8doQHEIgYPqjb57_JVJyo/s72-c/cc.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1350691826487769184</guid><pubDate>Sun, 07 Jul 2013 16:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-07T23:07:22.862+07:00</atom:updated><title>Pohon Syurga</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitVkqQSMt8WFAWp3GxUYQXa4CaQ0zx9_Zo2zF-uKGkNWxBLzASmsSQiCaLvIObDb8Yvf02JRCQFKRtn6WbWB7Wb9SdOsFDLwaWALvwiyxTk1IKyOU1Kg4ieK5CYaPMelL5HiOVEcfiYgU/s1600/syurga.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="288" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitVkqQSMt8WFAWp3GxUYQXa4CaQ0zx9_Zo2zF-uKGkNWxBLzASmsSQiCaLvIObDb8Yvf02JRCQFKRtn6WbWB7Wb9SdOsFDLwaWALvwiyxTk1IKyOU1Kg4ieK5CYaPMelL5HiOVEcfiYgU/s400/syurga.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;NABI MUHAMMAD BERTEMU DENGAN NABI IBROHIM AS.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Setelah Rosululloh SAW Mi’roj, dan waktu beliau akan kembali ke 
dunia, disitu beliau bertemu dengan Nabiyyulloh Ibrohim AS, yang waktu 
itu Nabi Ibrohim menyandarkan dirinya di Baital Makmur.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Bait : Rumah. Makmur : Ramai. Jadi Baital Makmur itu rumah yang 
ramai, dan setiap hari masuk 70.000 Malaikat ke Baital Makmur. Masuk 
tapi tidak pernah keluar. Mungkin ditimbang-timbang oleh akal fikir : “&lt;i&gt;Kok&lt;/i&gt; cukup ya, 70.000 Malaikat masuk ke Baital Makmur, seberapa besarnya Baital Makmur itu ? Apa tidak berdesakan ?”&lt;br /&gt;

Jawabnya : “Ya tidak berdesakan, sebagai contoh sebuah gedung yang 
dipenuhi dengan cahayanya lampu, apakah kita di dalam gedung yang penuh 
dengan cahaya lampu itu merasa terdesak oleh cahaya lampu ? Kan tidak 
terdesak oleh cahaya lampu, malaikat itupun juga dari cahaya”.&lt;span id="more-5433"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Setelah Rosululloh kembali dari Mi’roj dan waktu akan turun ke dunia,
 Rosululloh bertemu dengan Nabiyyulloh IbrohimAS. Hal ini diterangkan 
dalam Hadits Nabi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI 
WASALLAMA : RO-AITU IBROOHIIMA LAILATA USRIYA BII FAQOOLA : YAA 
MUHAMMADU AQRI` UMMATAKAS SALAAMA WA-AKHBIRHUM ANNAL JANNATA THOYYIBATUT
 TURBATA ‘ADZBATUL MAA-I WA-ANNAHAA QII’ANUN WAGHOROO SUHAA 
SUBHAANALLOOH, WALHAMDULILLAAH, WALAA-ILAAHA ILLALLOOH, WALLOOHU AKBAR, 
WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
‘An Ibni Mas’ud Hadits Shohih Jami’ush Shoghir -Jilid II – Bab Huruf (Ro`) – Halaman : 33.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Bersabda Rosululloh SAW :&amp;nbsp; 
Saya melihat Ibrohim pada malam aku di-Isro`kan, maka beliau berkata : 
wahai Muhammad, sampaikanlah salam kepada umatmu dan beritahukanlah 
kepada mereka, sesungguhnya syurga itu tanahnya suci dan airnya tawar. 
Dan ada tanah datar tanamannya ialah Subhanalloh, Wal hamdulillah, 
Walaa-ilaaha illalloh, Walloohu Akbar, Walaa Haula Walaa Quwwata Illaa 
Billaahil ’Aliyyuil ‘Adhiim”.&lt;/div&gt;
Kesimpulannya : Setelah Rosululloh SAW dari Mi’roj, dan akan kembali 
ke dunia, Rosululloh bertemu dengan Nabiyyulloh Ibrohim AS yang 
bersandar di Baital Makmur. Nabiyyulloh Ibrohim AS berkata kepada Nabi 
Muhammad :&lt;br /&gt;

&lt;div align="left" style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;YAA MUHAMMADU AQRI` UMMATAKAS SALAAMA &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya : “Muhammad ! Sampaikan salamku kepada umatmu”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Jadi Nabi Ibrohim (Rosul Ulul Azmi) itu kirim salam kepada kita (umat Nabi muhammad) :&lt;i&gt; “Assalaamu ‘Alaikum“&lt;/i&gt;, yang menyampaikan adalah Nabi Muhammad, ya kita jawab : &lt;i&gt;“Wa’alaikumus Salam”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

Bapak Kyai dawuh : “Pernahkah kita mendengar Kanjeng Nabi menyampaikan salam kepada kita ? Kalau dijawab tidak mendengar, &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt; apakah kita itu &lt;i&gt;budek&lt;/i&gt; (tuli) ! Ya mendengar, tapi tidak diperhatikan itulah yang jadi sebab tidak mendengar salam yang disampaikan Kanjeng Nabi”.&lt;br /&gt;

Setelah Nabi Ibrohim berkata yang maksudnya kirim salam kepada umatnya Nabi muhammad, kemudian berkata lagi :&lt;br /&gt;

&lt;div align="left" style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;WA-AKHBIRHUM&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya : “Sampaikanlah khabar kepada umatmu”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;1. ANNAL JANNATA THOYYIBATUT TURBATA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Artinya : “Sesungguhnya syurga itu tanahnya suci”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

Jadi syurga itu ada tanahnya, tapi tidak seperti tanah yang ada di dunia sini, tanahnya syurga itu suci.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;2. WA ‘ADZBATUL MAA-I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Artinya : “Airnya syurga itu tawar (tidak asin)”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;3. WA-ANNAHAA QII’ANU&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Artinya : “(Di syurga itu) ada tanah yang datar”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;4. WAGHOROOSUHAA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Artinya : “Dan tanamannya (di tanah datar syurga itu ada 5 jenis pohon, yaitu : )”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp; SYAJAROTUT TASBIIHA&lt;/b&gt; yaitu :&amp;nbsp; &lt;b&gt;SUBHAANALLOOH.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;2.&amp;nbsp; SYAJAROTUT TAHMIIDA&lt;/b&gt; yaitu : &lt;b&gt;ALHAMDULILLAAH.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;3.&amp;nbsp; SYAJAROTUT TAHLIILA&lt;/b&gt; yaitu : &lt;b&gt;LAA ILAAHA ILLALLOOH.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;4. SYAJAROTUT TAKBIIRO&lt;/b&gt; yaitu : &lt;b&gt;ALLOOHU AKBAR &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;5. SYAJAROTUT TABRII-AH&lt;/b&gt; yaitu : &lt;b&gt;LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL ‘ALIYYIL ‘ADHIIM. &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Lima macam diatas inilah, jenisnya pohon syurga, dan semuanya dinamakan : &lt;b&gt;Syajarotut Thoyyibah&lt;/b&gt;. Oleh karena buminya syurga itu Thoyyibah (suci), maka pohon yang timbul dari bumi yang Thoyyibah itupun dinamakan : &lt;b&gt;Syajarotut Thoyyibah&lt;/b&gt;. Tapi mengapakah yang umum dikatakan &lt;b&gt;Syajarotut Thoyyibah&lt;/b&gt; itu &lt;b&gt;LAA-ILAAHA ILLALLOOH&lt;/b&gt; ?&lt;br /&gt;

Dikatakan seperti itu, karena dilihat dari segi penonjolannya saja, tapi sebenarnya semuanya diatas adalah juga &lt;b&gt;Syajarotut Thoyyibah.&lt;/b&gt;
 Dan kalau sekarang kita tidak menanam lima pohon Thoyyibah itu, ya 
janganlah kita mengharap-harap bertemu dengan buahnya pohon Thoyyibah. 
Kalau pohon Thoyyibah itu ditanam, maka buahnya bisa kita rasakan setiap
 detik. Dalam Al Qur-an diterangkan:&lt;br /&gt;

&lt;div align="left" style="padding-left: 30px;"&gt;
KULLA HIININ BI-IDZNI ROBBIHAA.&lt;/div&gt;
Dalam surat Ibrohim :&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
KALIMATAN
 THOYYIBATAN KASYAJAROTIN THOYYIBATIN ASHLUHAA TSAABITUN WAFAR’UHAA FIS 
SAMAA-I TU`TII UKULAHAA KULLA HIININ BI-IDZNI ROBBIHA&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tasbiihaa?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tahmiida ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tahliila?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Takbiiro ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tabrii-ah ?&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Kesemuanya itu, bisa dirasakan bagi orang yang menanam pohon-pohon 
tersebut. Jadi pohon-pohon tersebut ditanam dibumi, tapi bukan bumi 
disini ini, tapi buminya syurga, dan syurga itu diatasnya langit.&lt;br /&gt;

Bagaimanakah cara menanam pohon-pohon tersebut?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;b&gt;Menanam Pohon Syurga&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="left" style="padding-left: 30px;"&gt;
KALIMATAN THOYYIBATAN 
KASYAJAROTIN THOYYIBATIN ASHLUHAA TSAABITUN WAFAR’UHAA FIS SAMAA-I 
TU`TII UKULAHAA KULLA HIININ BI-IDZNI ROBBIHA &amp;nbsp;(S.Ibrahim:24 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
24. tidakkah kamu perhatikan bagaimana 
Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang 
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
25. pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tasbiihaa?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tahmiida ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tahliila?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Takbiiro ?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah manisnya buah Syajarotut Tabrii-ah ?&lt;span id="more-5438"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Kesemuanya itu, bisa dirasakan bagi orang yang menanam pohon-pohon 
tersebut. Jadi pohon-pohon tersebut ditanam dibumi, tapi bukan bumi 
disini ini, tapi buminya syurga, dan syurga itu diatasnya langit.&lt;br /&gt;

Bagaimanakan menanam pohon-pohon tersebut?&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;MENANAM POHON SYURGA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Kita menanam pohon-pohon syurga tersebut di sini, sedangkan syurga di
 atas langit. Jadi kita menanamnya harus dari atasnya langit. Kapan 
menanamnya? Ya sekarang, masak besok.&lt;br /&gt;

Bagi yang sudah mendapat pelajaran dzikir Nafi Isbat, maka kita akan 
tahu mana Bumi kita, mana langit kita. Bumi kita itu ya jasmani kita; 
wulu, kulit, daging… dan bagi yang sudah pendapat pelajaran dzikir Ismu 
Dzat, maka kita akan tahu langit kita. Ada langit tingkat “Sanubari”, 
naik lagi yang lebih tinggi, yani “ Maknawi” dan seterusnya..&lt;br /&gt;

Jadi ada Qolbun Sanubari, ada Qolbun Maknawi, dan ada Qolbun Sirri. 
Sampai di Qolbun Sanubari, itu sudah beruntung. Lebih beruntung lagi 
kalau sampai Qolbun Maknawi, lebih beruntung lagi kalau naik lagi sampai
 Qolbun Sirri : sampai di Sidrotil Muntaha. Naiknya harus lewat sholat, 
makanya sholat itu dalam hadits disebutkan : &lt;strong&gt;Ash-Sholaatu Mi’roojul mu`miniin.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Nabi Muhammad SAW adalah Uswatun Hasanah, artinya contoh yang baik. 
Yang diberi contoh itu siapa ?. Yang diberi contoh itu adalah kita 
semua, oleh sebab itu kita harus menyontoh kepada Nabi Muhammad SAW. 
Jadi bukan hanya mengadakan peringatan saja, tapi harus juga 
menyontohnya. Kalau Nabi Muhammad itu Isro’, maka kitapun harus ikut 
Isro’. Kalau Nabi Muhammad itu Mi’roj, maka kitapun harus ikut Mi’roj. 
Begitulah seharusnya&amp;nbsp; kalau kita menyontoh Nabi Muhammad SAW. Nabi 
Muhammad Mi’roj, tapi kita tetap dibawah, itu namanya kita tidak 
menyontoh Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;

Begitu juga&amp;nbsp; kalau Nabi Muhammad SAW dioperasi, maka kitapun harus 
dioperasi. Hati kita, kita operasi sendiri. Karena kalau tidak 
dioperasi, maka tidak akan bisa naik (Mi’roj). Dioperasi itu untuk 
menghilangkan kotoran-kotorannya syetan yang banyak itu. Setelah 
dioperasi kemudian iman di&lt;i&gt;gerojok&lt;/i&gt;kan kesitu, sebab disitu belum ada imannya.&lt;br /&gt;

Bingung?&lt;br /&gt;

Ya, bingung lagi kalau nggak ketemu, kalau ketemu maka tidak akan 
bingung. Terhadap langitnya sendiri tidak tahu, yang dilihat 
berkali-kali &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; langit yang diatasnya kepala saja, kalau langit 
yang diatas kepala kita, itu bukan langit yang diatas kita, tapi justru 
dibawah kita.&lt;br /&gt;

Kalau pada diri kita ada langitnya, maka pada diri kitapun ada 
bintangnya, dan bintang itu kalau kiyamat akan rontok. apakah bintangnya
 yang ada pada diri kita itu ? Bintang yang ada pada diri kita itu ialah
 &lt;i&gt;“Hawaasun”&lt;/i&gt; yakni : penglihatan, penciuman, perasa dll, itu semua adalah bintang-bintang.&lt;br /&gt;

Kalau kita sungguh-sungguh menanam pohon-pohon 5 jenis tersebut 
dengan betul, yakni tanah sebelum ditanam dipersiapkan dahulu, dan kalau
 sudah ditanam, lalu pohon tersebut dijaga dengan sungguh-sungguh jangan
 sampai terkena penyakit-penyakit yang akan merusak pohon tersebut, 
begitu juga rumput-rumput yang menggangu tanaman tersebut harus 
dicabuti, maka kalau demikian pohon-pohon tersebut buahnya akan dapat 
dirasakan kenikmatannya.&lt;br /&gt;

Akan tetapi kalau sesudah pohon tersebut ditanam, kemudian pohon itu 
dibiarkan begitu saja, rumput-rumput yang mengganggunya tidak dicabuti, 
maka pohon tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/pohon-syurga.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEitVkqQSMt8WFAWp3GxUYQXa4CaQ0zx9_Zo2zF-uKGkNWxBLzASmsSQiCaLvIObDb8Yvf02JRCQFKRtn6WbWB7Wb9SdOsFDLwaWALvwiyxTk1IKyOU1Kg4ieK5CYaPMelL5HiOVEcfiYgU/s72-c/syurga.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-6726276851553977616</guid><pubDate>Sun, 07 Jul 2013 15:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-07T22:50:32.453+07:00</atom:updated><title>Tujuan Isro` Mi’roj</title><description>&lt;strong&gt;&amp;nbsp; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;strong&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOkH583xD0uZzRyH0d4gTDLFTqlcT3q5xgNDhEynnoy4fuJow0dHm988EZFbo1CC1zffw9D9VLCEvj0moMxtkNz9tAh9POTsA7tYRHwYUYEAv6AmmGPZpJFL_zUC1M5vCvT63tIdTJbyk/s1600/Isra-Miraj.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="337" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOkH583xD0uZzRyH0d4gTDLFTqlcT3q5xgNDhEynnoy4fuJow0dHm988EZFbo1CC1zffw9D9VLCEvj0moMxtkNz9tAh9POTsA7tYRHwYUYEAv6AmmGPZpJFL_zUC1M5vCvT63tIdTJbyk/s400/Isra-Miraj.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;TUJUAN ISRO` MI’ROJ BAGI NABI MUHAMMAD SAW&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Rosululloh SAW lahir pada tahun 570 M, kemudian pada tahun 610 Masehi
 diangkat menjadi Nabi, dan pada tahun 622 Masehi tepatnya pada bulan 
Rojab tanggal 27 malam Isnen, beliau di-Isro’ Mi’rojkan oleh Alloh 
Ta’ala. Lalu apakah perlunya Muhammad Rosululloh SAW itu di-Isro’ 
Mi’rojkan?&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Isro’ itu perjalanan Rosululloh dari Masjidil harom (Mekkah) sampai 
ke Masjidil Aqsho (Palestina). Jarak antara Masjidil Harom (Mekkah), 
dengan Masjidil Aqsho (Palestina) pulang-pergi kurang lebih 4000 Km. Dan
 yang dikatakan Mi’roj adalah Rosululloh naik dari Masjidil Aqsho sampai
 ke Sidrotil Muntaha. Dan perjalanan Isro’ Mi’roj Rosululloh itu dari 
berangkat sampai kembali lagi, itu hanya semalam.&lt;span id="more-5429"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Adapun perlunya Rosululloh SAW di-Isro’kan oleh Alloh Ta’ala, yakni 
untuk memperlihatkan kepada Rosululloh sebagian ayat-ayat Alloh. Ini 
diterangkan dalam Al Qur-an surat Al Isro’ ayat 1.&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
LINURIYAHUU MIN AAYAATINAA (Al Isro’ / 1)&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Untuk Kami perlihatkan kepada dia, sebagian ayat-ayatKu”.&lt;/div&gt;
Adapun perlunya Rosululloh di-Mi’rojkan, diterangkan dalam Al Qur-an surat An Najm ayat 18.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
RO-AA MIN AAYAATI ROBBIHIL KUBROO (An Najm / 18)&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Melihat sebagian ayat-ayat Tuhannya yang besar”.&lt;/div&gt;
Jadi perlunya Nabi Muhammad SAW di-Mi’rojkan adalah untuk melihat 
sebagian tanda-tanda Alloh yang besar, ini khusus untuk Nabi Muhammad 
SAW, karena beliau selama menjadi Nabi 12 tahun, itu menerima wahyu dari
 Alloh Ta’ala perantaraan Malaikat Jibril, yang isi dari wahyu itu 
berisi bermacam-macam berita. Dalam wahyu itu diberitakan :&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya Adam AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya IdrisAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya NuhAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya IbrohimAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya MusaAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya HarunAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya YusufAS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya Ya’qub AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya Syu’aib AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada Rosul yang namanya Isa AS, dan lain sebagainya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada syurga.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada neraka.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Akan tetapi semuanya itu masih berupa berita,&amp;nbsp; Nabi Muhammad sendiri 
belum menyaksikan langsung akan apa-apa yang sudah diberitakan melalui 
wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril tersebut. Oleh sebab itu 
Rosululloh di-Isro` Mi’rojkan, sehingga Rosululloh bertemu dengan 
Nabi-Nabi yang diberitakan selama 12 tahun itu. Disitu Rosululloh :&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Adam AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Idris AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Ibrohim AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Musa AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Harun AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Isa AS.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertemu Nabi Dawud AS, dan lain-lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Mengapakah Nabi Muhammad bertemu dengan para Nabi-Nabi ?&lt;br /&gt;

Karena Nabi-Nabi yang dipertemukan dalam Mi’roj itu semua 
pengalaman-pengalamannya, peristiwa-peristiwanya juga akan dialami oleh 
Nabi Muhammad SAW. Jadi Nabi Muhammad akan mengalami peristiwanya Nabi 
Adam AS. Nabi Muhammad akan mengalami peristiwanya Nabi IbrohimAS. Nabi 
Muhammad akan mengalami peristiwanya Nabi YusufAS. Nabi Muhammad juga 
akan mengalami peristiwanya Nabi Isa AS, dan sebagainya. Hal ini bisa 
dibaca dalam kitab-kitab Tarikh, nanti kita akan mengetahui sendiri, 
bahwa peristiwa-peristiwa yang dialami oleh para Nabi-Nabi itu juga 
dialami Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;

Jadi Nabi Muhammad SAW dipertemukan dengan apa-apa yang telah 
deberitakan kepadanya, sehingga Nabi Muhammad SAW sadar, bahwa bukan 
hanya beliau saja yang mengalami peristiwa-peristiwa yang beliau alami, 
akan tetapi semua tokoh-tokoh terdahulu juga mengalami pahit-getirnya 
didalam perjuangan.&lt;br /&gt;

Begitu juga berita adanya syurga,&amp;nbsp; berita adanya neraka, berita 
adanya Kursiyyulloh, Semuanya yang asalnya berita kemudian disaksikan 
sendiri oleh Nabi Muhammad SAW. Begitu juga berita adanya Qolam Nun : &lt;b&gt;Wal Qolami Wamaa Yasthuruun&lt;/b&gt;,
 dalam Mi’roj, oleh Nabi Muhammad SAW dibuktikan sendiri akan adanya 
berita tersebut. Berita adanya Sidrotil Muntaha, juga dibuktikan sendiri
 oleh Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;

Inilah perlunya Mi’roj untuk Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;TUJUAN ISRO’ MI’ROJ UNTUK UMAT ISLAM.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Adapun tujuannya Isro’ Mi’roj khusus untuk umat Islam adalah untuk 
menguji keimanan umat Islam. Hal ini tersebut dalam Al Qur-an surat Al 
Isro` ayat 60.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WAMAA JA’ALNARRU`YALLATII AROIINAAKA ILLAA FITNATAL LINNAASI&amp;nbsp;(Al Isro` / 60)&lt;/div&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/tujuan-isro-miroj.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgOkH583xD0uZzRyH0d4gTDLFTqlcT3q5xgNDhEynnoy4fuJow0dHm988EZFbo1CC1zffw9D9VLCEvj0moMxtkNz9tAh9POTsA7tYRHwYUYEAv6AmmGPZpJFL_zUC1M5vCvT63tIdTJbyk/s72-c/Isra-Miraj.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-1733498005487370097</guid><pubDate>Sun, 07 Jul 2013 15:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-07T22:31:08.636+07:00</atom:updated><title>Do'a Kaya dan Nyawanya Do'a</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4RfsPFgXRh5r1sqJafuVNohoSjybQf2LxxBfjM2BeyIAx1npWGhaKPDYbXS5kSk8qtS7fVLynVvILPdcQJnja1yDvgFuJCRk2NkTEmhXzkWznP0zW51VkL4flNDg8aWd2FZg-3Ik6_no/s1600/doa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="326" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4RfsPFgXRh5r1sqJafuVNohoSjybQf2LxxBfjM2BeyIAx1npWGhaKPDYbXS5kSk8qtS7fVLynVvILPdcQJnja1yDvgFuJCRk2NkTEmhXzkWznP0zW51VkL4flNDg8aWd2FZg-3Ik6_no/s400/doa.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;DO’A KAYA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Di hari Kamis Awal bulan Rojab ada amalan yang berisi permohonan. 
Puasa di hari kamis dan Sholat pada malam Jum’at-nya. Amalan ini ada di 
tulisan sebelumnya. Nah Setelah sholat jika ingin berdo’a inilah salah 
satu yang kami sarankan. Berdo’a agar kaya. Baca tiap Jum’at, di luar 
bulan Rojab juga.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Nabi Muhammad pernah mengajarkan doa untuk kekayaan atau doa agar 
bisa melunasi hutang. Meskipun punya hutang segunung, akan bisa 
terlunasi, entah darimana sebabnya. Karena Allohlah yang menciptakan 
sebab-sebab.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
MUSABBIBUL ASBAB&lt;span id="more-5420"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Apalagi hutang yang hanya 1/2 gunung atau 1/4 gunung. Dan doa ini tersebut dalam kitab Al Adzkar Nawawi. Bunyi doanya :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ALLOOHUMMA YAA GHONIYYU YAA KHAMIID, YAA 
MUBDI-U YAA MU-’IID YAA ROHIIMU YAA WADUUD, AGHNINAA BIHALAALIKA ‘AN 
HAROOMIK, WABITHOO-’ATIKA ‘AM MA’SHIYATIK, WABIFADL-LIKA ‘AN MAN SIWAAK.&lt;/div&gt;
Dibaca pada hari Jum-at/ Malam Jum’at&lt;br /&gt;

Dalam doa ini ada permintaan kaya (rejeki yang halal), ada permohonan
 thoat pada Alloh serta jauh dari ma’siat, ada permohonan keloberannya 
Alloh, bukan dari lainnya Alloh.&lt;br /&gt;

Tapi kalau sudah diberi kaya jangan lupa pada Alloh dan harus bertambah syukurnya.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;NYAWANYA DO’&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Doa itu ada nyawanya, bukan nyawanya o-rang yang berdoa. Bila ada doa
 yang tidak tercapai itu bukan karena berdoanya, tapi mungkin ada 
aturannya yang dilanggar.&lt;br /&gt;

Seandainya anda disuruh memilih antara doa yang cepat terkabul dan 
doa yang tidak cepat terkabul, kira-kira anda pilih yang mana. Bila 
memilih cepat terkabul, tapi kemudian selang 1 bulan mati, bagaimana ?. 
Bila memilih lambat terkabulnya, berarti lama, mungkin keburu disita 
rumahnya.&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Padahal ketika lahir kedunia itu semua manusia tidak ada yang 
membawa apa-apa termasuk tidak membawa rumah, tidak membawa sepatu, 
sandal, semuanya telanjang. Jadi semuanya faqir, masih lebih kaya 
bekecot, dia lahir beserta rumahnya. Dan kembalinya manusia nanti juga 
tidak membawa rumah atau lainnya. Yang paling baik dibawa adalah taqwa&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FA INNA KHOIROZ ZAADID TAQWA WATTAQUUNI YA ULIL ALBAB.&lt;/div&gt;
Dalam masalah ini (minta cepat atau lambat) yang paling baik adalah memilih &lt;strong&gt;apa yang paling baik bagi Alloh&lt;/strong&gt;.
 Karena yang baik bagi Alloh itu mesti baik bagi kita. Tapi bila baik 
menurut kita, belum tentu baik bagi Alloh. Dan rasa ingin cepat (cepat 
terkabul) itu kadang-kadang kehendaknya hawa.&lt;br /&gt;

Alloh itu maha rohman rohim, jadi pasti memberi. Hanya saja 
pemberiannya Alloh itu kadang-kadang cocok dengan yang diminta tapi 
kadang pula tidak cocok, namun yang pasti diberi. Jadi yang penting bagi
 kita itu adalah pokok berdoa.&lt;br /&gt;

Tapi kok ada yang tidak hasil?.&lt;br /&gt;

Tidak berhasilnya itu juga pemberiannya Alloh dan pasti ada hikmahnya namun kita tidak mengerti.&lt;br /&gt;

Hikmahnya apa kok tidak dikabulkan?.&lt;br /&gt;

Kadang karena sayangnya Alloh. Mungkin bila dikabulkan lalu keluar 
rewelnya atau gilanya. Jadi yang baik itu kita serahkan pada Alloh, mana
 yang baik bagi Alloh.&lt;br /&gt;

Ketika saudara kita(atau kita sendiri) sakit parah, cobalah utuk 
memahami konsep ini.&amp;nbsp;Dalam keadaan sakit, mintalah kepada Alloh apa yang
 paling baik bagi Alloh terhadap diri anda. Bila bagi Alloh lebih baik 
wafat, ya supaya diwafatkan saja dan bila bagi Alloh lebih baik sehat 
(dikasih umur panjang) ya supaya dipanjangkan umurnya. &amp;nbsp;Ini penting, 
faktanya banyak beliau-beliau di atas sana yang tidak memahami konsep 
ini, hingga harus menderita sakit bekepanjangan.&lt;br /&gt;

Jadi yang baik itu pasrah kepada Alloh, tapi kalau nafsu umumnya minta umur 1000 tahun.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WAMINALLADZIINA ASYROKUU YAWAD DU AHADUHUM LAU YU’AMMARU ALFA SANATIN. (Al Baqoroh ayat 96)&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Sebagian orang musyrik menghendaki supaya berumur 1000 tahun.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Jadi sebagian orang musyrik itu senang bila diberi usia 1000 tahun (Ini musyriknya biar panjang).&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Sedikit Masalah kemusyrikan. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;Diakherat nanti sudah tidak ada musyrik, semuanya tauhid. Baikpun musyrik&lt;/i&gt; &lt;i&gt;maupun
 dosa semuanya tidak ada gunanya diakherat, hanya berguna didunia saja. 
Sebab diakherat nanti semua tabir disingkap. Sehingga tidak ada orang 
kafir, semuanya mukmin, semuanya sudah percaya kepada Tuhan (sudah 
kenyataan baru percaya). Tapi imannya sudah tidak manfaat. Manfaatnya 
iman hanya didunia.&lt;/i&gt;</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/doa-kaya-dan-nyawanya-doa.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4RfsPFgXRh5r1sqJafuVNohoSjybQf2LxxBfjM2BeyIAx1npWGhaKPDYbXS5kSk8qtS7fVLynVvILPdcQJnja1yDvgFuJCRk2NkTEmhXzkWznP0zW51VkL4flNDg8aWd2FZg-3Ik6_no/s72-c/doa.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-7073384934647314586</guid><pubDate>Sun, 07 Jul 2013 15:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-07-07T22:12:05.351+07:00</atom:updated><title>Amalan – Amalan Bulan Rojab</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUDKENDAZp2ch0KqK_C3wud5jYrj-ZWVMFk2oYNsbr33fpfy9gQ3SprV435tzSfrH3UUY3mQrOmZTSLHcwQ05dqaiYdmzgfH_XJIYS8bLr1JKL9qYpLLN4rcD-DvVWUv9Vn0aQPVcFVYw/s1600/rojab.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="301" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUDKENDAZp2ch0KqK_C3wud5jYrj-ZWVMFk2oYNsbr33fpfy9gQ3SprV435tzSfrH3UUY3mQrOmZTSLHcwQ05dqaiYdmzgfH_XJIYS8bLr1JKL9qYpLLN4rcD-DvVWUv9Vn0aQPVcFVYw/s400/rojab.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dua hari lagi kita masuk Bulan Rojab, Disini akan kami sampaikan 
amalan-amalan bulan Rojab. Karena Amalan sangat banyak, kami bagi 
beberapa bagian tulisan secar a bersambung. Tapi langsung kami muat 
bersamaan.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

Amalan bulan Rojab sangat banyak, sumbernya dari beberapa kitab 
hadist, tapi di sini kami sampaikan amalannya saja, Hadistnya terlalu 
banyak kalau di tulis di sini.&lt;br /&gt;

Dalam bulan Rojab, ada bermacam-macam amalan, yakni :&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Amalan Mandi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Do’a&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Tasbih.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Puasa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Sholat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan&amp;nbsp;Shodaqoh.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div align="center"&gt;
***&lt;span id="more-5413"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;strong&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; AMALAN MANDI.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila masuk tanggal 1 Rojab, hendaklah mandi, niatnya mandi : &lt;i&gt;“Niat Ingsun mandi menghormati bulan Rojab karena Alloh” &lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau&lt;i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku mandi menghormati bulan Rojab karena Alloh”&lt;/i&gt;.
 Boleh mandinya menjelang Maghrib, boleh mandinya setelah Maghrib. 
Caranya mandi haruslah merata keseluruh badan, sebagaimana&amp;nbsp; mandi besar 
(jinabat).&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan nanti apabila masuk tanggal 15 Rojab, maka mandi lagi 
seperti mandi tanggal 1 rojab, begitu pula nanti apabila masuk tanggal&amp;nbsp; 
30, juga mandi seperti tanggal 1 Rojab, niatnyapun juga sama.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; AMALAN DO’A&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOO-HU’ALAIHI 
WASALLAMA : IDZAA DAKHO-LA ROJABIN QOOLA ALLOOHUMMA BAARIKLANAA FII 
ROJABIN WA SYA’-BAANA WABALLIGHNAA ROMADLOONA.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : &lt;em&gt;“Tatkala masuk (tanggal 1) bulan Rojab, berdoa : ALLOOHUMMA BAARIK-LANAA FII ROJABIN WA SYA’BAANA WABALLIGHNAA ROMADLOONA.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Keterangan masalah doa diatas&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;

Tatkala sudah masuk tanggal 1 bulan Rojab, maka&amp;nbsp; Rosululloh SAW&amp;nbsp; langsung&amp;nbsp; berdoa :&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
ALLOOHUMMA BAARIKLANAA FII ROJA-BIN WA SYA’BAANA WABALLIGHNAA ROMADLOONA&lt;/div&gt;
Jadi amalan doa ini dibaca setiap hari, memang doa ini singkat, akan tetapi di dalamnya mengandung makna yang sangat luas.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Permohonan yang pertama&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
ALLOOHUMMA BAARIKLANAA FII ROJA-BIN WA SYA’BAANA&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya : “Ya Alloh berilah kami berkah, di dalam bulan Rojab dan di dalam bulan Sya’ban”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Jadi dengan doa ini, kita memohon kepada Alloh Ta’ala supaya kita 
diberkahi di bulan Rojab dan di bulan Sya’ban. Di sini ada kalimat 
“LANAA”, maksudnya : Diri kami, keluarga kami, isteri kami, suami kami 
semua-nya dimohonkan supaya diberi hidup yang barokah. Dan hidup yang 
barokah itu artinya hidup yang padanya itu tetap kebaikan-kebaikan dari 
tuhan yang menyertainya.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Permohonan yang kedua&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div align="center" style="padding-left: 30px; text-align: left;"&gt;
WABALLIGHNAA ROMADLOONA&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya : “Dan sampaikanlah umur kami (keluarga kami) sampai bulan Rojab”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Di dalam doa diatas ada 3 bulan yang disebut-sebut, yakni :&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Bulan Rojab.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bulan Sya’ban.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bulan Romadlon.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Dan ini adalah mengandung masalah yang besar.&lt;br /&gt;

Jadi persiapan untuk menghadapi bulan Romadlon, itu persiapannya 
dimulai sejak tanggal 1 bulan Rojab. Kalau di bulan Romadlon turun &lt;b&gt;“Al Qodar”&lt;/b&gt;, yakni pada tanggal 27, tapi di dalam bulan Rojab ada &lt;b&gt;“Mi’roj Nabi”&lt;/b&gt;,
 yakni pada tanggal 27 Rojab. Jadi 27 Rojab, itu ada hubungannya dengan 
27 Romadlon. Tiga bulan diatas, adalah intinya satu tahun.&lt;br /&gt;

Oleh sebab itu kalau kita tidak berhati-hati, maka kita akan ditinggalkan oleh kesempatan yang hebat ini.&lt;br /&gt;

Jadi amalan doa ini, diamalkan setiap hari dari tanggal 1 sampai 
tanggal 30 (terakhir) bulan Rojab, di waktu pagi dan sore. Dan itu nanti
 kita akan diberi hidup barokah oleh Alloh Ta’ala.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;3. Amalan Tasbih.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Adapun amalan Tasbih, dibagi menjadi 3 macam, yakni :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;1.&amp;nbsp; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tanggal 1 – 10&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Amalan Tasbihnya :&amp;nbsp;SUBHAANAL&amp;nbsp; HAYYIL&amp;nbsp; QOYYUUM.&amp;nbsp;( 100&amp;nbsp; x )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya : “Maha suci Alloh Dzat yang Maha Hidup dan Maha berdiri sendiri”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Tasbih ini dibaca 100 x&amp;nbsp; setiap hari. Di Tasbih ini ada &lt;b&gt;“Ismul Akbar”.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;2.&amp;nbsp; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tanggal 11 -&amp;nbsp; 20&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Amalan Tasbihnya :&amp;nbsp;SUBHAANALLOOHIL AHADISHSHOMAD&amp;nbsp;( 100 x ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;strong&gt;3.&amp;nbsp; &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Tanggal 21 -&amp;nbsp; 30&lt;/span&gt;.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Amalan Tasbihnya :&amp;nbsp;SUBHAANALLOOHIR&amp;nbsp; RO-UUF.&amp;nbsp;( 100 X ).&lt;/div&gt;
Silahkan mana yang dipilih, umpamanya mengawalkan doanya saja, tidak 
usah mengamalkan tasbih, ya silahkan. Umpamanya mengamalkan amalan 
tasbih saja, tidak usah berdoa, itu juga boleh.&lt;br /&gt;

Umpamanya berkata : Amalan tasbih ini, &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; sampai tanggal 30, ya saya memilih tanggal 1 sampai 10 saja lainnya tidak.&lt;br /&gt;

Itu juga boleh.&lt;br /&gt;

Ada lagi : Kalau saya memilih yang tengah-tengah saja, yakni tanggal 11 sampai 20 saja, awal dan akhirnya tidak.&lt;br /&gt;

Ya silahkan, itu boleh saja.&lt;br /&gt;

Ada lagi : Ya sudah, saya tidak mengamalkan semua.&lt;br /&gt;

Ya boleh, merdeka, nanti yang rugi itu dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bulan Rojab, ada bermacam-macam amalan, yakni :&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Amalan Mandi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Do’a&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Tasbih.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Puasa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan Sholat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amalan&amp;nbsp;Shodaqoh.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Kemarin sudah kami sampaikan 1 -3 , ini lanjutannya.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; AMALAN PUASA.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Amalan puasa ini bermacam-macam, yakni:&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ada amalan puasa 3 hari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada amalan puasa hanya 1 hari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada amalan puasa 30 hari.&lt;span id="more-5415"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Amalan puasa 3 hari&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Amalan puasa 3 hari, yakni puasa pada tanggal 1 – 2 dan 3. Mengenai puasa ini, dalam Hadits diterangkan :&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Puasa tanggal 1 bulan Rojab, nilainya 3 tahun. Dosa-dosa kecil tiga tahun, ditutup atau dilebur, ini kalau puasa tanggal 1.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Puasa tanggal 2, nilainya 2 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Puasa tanggal 3, nilainya 1 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Seumpamanya tanggal 1 – 2 – 3 belum 
berpuasa, karena ada udzur, karena ada tamu (bagi wanita biasanya 
tiap-tiap bulan kedatang an tamu) bagaimanakah kalau puasa tanggal 4?&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Kalau berpuasa tanggal 4 sampai tanggal 
30, ini nilainya sama, yakni : tiap-tiap satu hari nilainya satu bulan. 
Jadi kalau dikumpulkan ya banyak, berapa bulan itu, ya syukurlah kalau 
dirangkap mengamalkan puasa sampai satu bulan, mulai tanggal 1 sampai 
tanggal 30.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Ada lagi, kalau seumpamanya memilih yang 
mudah. Pernah ada seorang yang sudah tua menghadap Rosululloh SAW, lalu 
orang tua tersebut matur kepada Rosululloh : Rosul kalau saya ini 
berpuasa 3 hari berturut-turut, saya ini tidak mampu, karena saya ini 
sudah tua. Apakah ada yang ringan&amp;nbsp; Rosul ?&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Rosululloh &amp;nbsp; : Ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Orang Tua &amp;nbsp; : Bagaimana Rosul ?&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Rosululloh &amp;nbsp; : Kamu waktu tanggal 1, 
puasalah satu hari, nanti yang dua kamu puasa lagi satu hari tanggal 15,
 dan tanggal 30 puasa lagi satu hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Orang tua &amp;nbsp;&amp;nbsp; : Terima kasih, Rosul.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Rosululloh &amp;nbsp; : Ya, itu dikerjakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Jadi kalau kita tidak kuat berpuasa 3 
hari berturut-turut, maka kita boleh memilih puasa tiga hari yang 
waktunya tidak berturut-turut tiga hari, yakni : pada tanggal 1 puasa, 
setelah itu kosong tidak puasa. Kemudian pada tanggal 15 kita berpuasa 
lagi satu hari, setelah itu kosong lagi, baru berpuasa lagi pada tanggal
 30 (penutup) bulan Rojab.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Kalau bisa selama puasa ini cobalah untuk mengurangi sebisa mungkin kumpul-kumpul dengan teman-teman, istilahnya &lt;em&gt;ngebleng.&lt;/em&gt; Dan perbanyak amalan-amalan yang sudah diperoleh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dan memang terkadang ada orang yang 
berpuasa, tapi tidur saja, ya akhirnya tidak sholat Shubuh, tidak sholat
 Dhuhur juga tidak sholat Ashar. Baru bangun kalau waktu sudah sore 
mendekati waktu Maghrib, begitu bangun dari tidur tanya : “Bikin Kolek 
(minuman) Ta?”. Orang seperti itu namanya orang yang oper jadwal, orang 
yang seperti itu tambah rugi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Amalan puasa satu hari&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (puasa hari Kamis awal beserta sholatnya)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Ada lagi puasa yang paling khusus, yakni 
puasanya satu hari pada hari kamis awal bulan Rojab. Niatnya puasa : 
“Niat Ingsun puasa hari kamis awal bulan Rojab karena Alloh”. Jadi tidak
 usah seperti biasanya di umum yang pakai lagu: &lt;i&gt;“Nawaitu shouma Ghoddin ‘An-Adaa-i Fardli Syahri Romadloona Hadzihis Sanati Fardlu Lillaahi Ta’ala”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dan mengenai puasa hari kamis yang awal&amp;nbsp; 
bulan Rojab, ini sejarahnya panjang. Dan Insya-Alloh akan diterangkan di
 tulisan-tulisan mendatang. Dan amalan puasa hari kamis yang pertama, 
ini ada gandengannya dengan sholat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Jadi Siapa yang mengerjakan puasa pada 
hari Kamis awal, maka malam Jum’atnya harus melaksanakan sholat sunat 
khusus sebanyak 12 roka’at, setiap 2 roka’at salam. Dan&amp;nbsp; waktunya&amp;nbsp; 
sholat sunat tersebut ialah setelah sholat Maghrib.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Lalu tiap-tiap roka’atnya apa yang dibaca ?&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Yang dibaca tiap-tiap roka’at ialah :&lt;/div&gt;
&lt;ol&gt;&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Membaca surat : &lt;b&gt;Al Fatihah 1 x.&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca surat : &lt;b&gt;Inna Anzalnaahu sampai akhir&amp;nbsp; 3 x.&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membaca surat : &lt;b&gt;Qul Huwalloohu Ahad sampai akhir 12 x.&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dan seandainya waktu Isya’ belum selesai, maka diteruskan sampai selesainya. Memang ini pekerjaannya agak lumayan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bacaan-bacan setelah sholat 12 rokaat&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dan setelah selesai melaksanakan sholat 12 rokaat, kemudian&amp;nbsp; :&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
1.&amp;nbsp; Membaca sholawat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bunyinya :&lt;br /&gt;ALLOOHUMMA&amp;nbsp; SHOLLI&amp;nbsp; ‘ALAA MUHAMMADIN&amp;nbsp; NABIYYIL&amp;nbsp; UMMIYYI&amp;nbsp;WA ‘ALAA&amp;nbsp; AALIHI&amp;nbsp; WASALLAM.&amp;nbsp;(&amp;nbsp; 70 x&amp;nbsp; )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
2. Setelah membaca sholawat diatas, kemudian sujud. Didalam sujud membaca :&lt;br /&gt;SUBBUUHUN&amp;nbsp; QUDDUUSUN ROBBUL MALAA-IKATI&amp;nbsp; WAR RUUH.&amp;nbsp;(&amp;nbsp; 70&amp;nbsp; x&amp;nbsp; )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
Jadi sujudnya itu lama, karena 
mem-bacanya 70 x, nanti kalau seumpamanya kepalanya sakit, ya tidak usah
 sujud, ya tidak usah sholat, sebab membaca 70 x itu memang lama, 
apalagi kalau tidak hafal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
3.&amp;nbsp; Setelah sujud, lalu bangun dari sujud dan membaca :&lt;br /&gt;ROBBIGHFIR WARHAM WATAJAAWAZ ‘AMMAA TA’LAMU FA-INNAKA ANTAL ‘AZIIZUL A’DHOM&amp;nbsp;(&amp;nbsp; 70&amp;nbsp; x&amp;nbsp; )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
4.&amp;nbsp; Kemudian setelah membaca doa diatas 70 X, lalu sujud lagi. Didalam sujud membaca lagi bacaan :&lt;br /&gt;SUBBUUHUN QUDDUUSUN ROBBUL MALAA-IKATI WAR RUUH&amp;nbsp;(&amp;nbsp; 70&amp;nbsp; x&amp;nbsp; )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
5.&amp;nbsp; Dan setelah selesai membaca bacaan 
tersebut diatas sebanyak 70 X, maka jangan tergesa-gesa bangun dari 
sujud, disitulah diperintah &lt;b&gt;“Memohon kepada Alloh”&lt;/b&gt;, terserah apa 
yang akan dimohon. Jadi letak permoho-nannya itu disitu. Kalau waktu 
sujud yang pertama, maka jangan terburu-buru meminta, barulah kalau 
sudah sujud yang kedua, barulah&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; memohon kepada Alloh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&amp;nbsp;“Bagaimanakah kalau tidak berpuasa hari 
Kamis ?&amp;nbsp; Kalau tidak berpuasa pada hari Kamis awal Rojab, maka ini tidak
 diperintahkan untuk melaksanakan sholat diatas. Jadi sholat ini 
dikerjakan di malam Jum’at, dan dikerjakan bagi orang yang berpuasa hari
 Kamis yang pertama bulan Rojab. Adapun bagi yang tidak mengerjakan 
puasa awal Kamis bulan Rojab, maka tidak usah melaksanakan sholat 
diatas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Nanti jangan-jangan ada yang memilih : “Saya memilih sholatnya saja, tidak usah puasa”. Ini tidak boleh, sebab ini gandengannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Ini khusus hari Kamis yang pertama, 
bagaimana kalau Kamis yang kedua atau Kamis yang ketiga ?&amp;nbsp; ini tidak 
bisa, ya cuma Kamis yang pertama. Mengapa kok Kamis yang pertama ? Ini 
ada sejarahnya, nanti kapan-kapan kami muat di sini&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Ini kalau memilih puasa satu hari yakni 
puasa hari Kamis yang pertama bulan Rojab. Bagaimana kalau umpamanya 
amalan dikerjakan semuanya ? Ini malah lebih utama”.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;&amp;nbsp;5.&amp;nbsp; amalan sholat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Kalau amalan sholat, ini cuma sholat saja, sumpamanya tidak memakai 
puasa, hanya memilih sholat saja, ya silahkan. Pilihan amalan sholat ini
 pilihan yang paling &lt;i&gt;simpel&lt;/i&gt;. Mengenai amalan sholat bulan Rojab ini tinggal pilih.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada tanggal malam 1 Rojab, maka melak-sanakan sholat, 
kemudian malam tanggal 15 Rojab, melaksanakan sholat lagi, kemudian pada
 tanggal malam 30 (terakhir) bulan Rojab, melaksanakan sholat lagi. Jadi
 ini &lt;i&gt;gampang&lt;/i&gt;, sebab tidak banyak.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Sholat malam tanggal 1 Rojab&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Pada malam tanggal 1 Rojab, melaksanakan sholat sunat awal Rojab 
sebanyak 10 rokaat. Dan tiap-tiap dua rokaat salam. Adapun niatnya ialah
 : &lt;i&gt;“Ingsun sholat awal Rojab”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;

Adapun yang dibaca tiap-tiap satu rokaat, yaitu :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
1. Membaca ;&lt;b&gt; surat Al Fatihah ( 1 X )&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
2. Membaca ; &lt;b&gt;surat&lt;/b&gt;&lt;b&gt; Qul Huwalloohu Ahad&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;( 3 X )&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
3. Membaca surat ; &lt;b&gt;Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun ( 3 X ).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Bagaimanakah kalau tidak bisa / hafal &lt;b&gt;surat&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun ?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Ya boleh diganti dengan &lt;b&gt;surat&lt;/b&gt;&lt;b&gt; Qul Huwalloohu Ahad&lt;/b&gt;. Akan
 tetapi kalau bisa membaca surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, maka jangan 
diganti, kalau bisa membaca surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, ya membaca 
surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun.&lt;br /&gt;

Dua surat itu namanya surat Ikhlas. Jadi surat Qul Yaa Ayyuhal 
Kaafiruun ini namanya surat Ikhlas, dan surat Qul Huwalloohu Ahad, 
namanya juga surat Ikhlas.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Bacaanyang dibaca&amp;nbsp; setelah sholat&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Kemudian setelah salam ditiap-tiap dua rokaat, lalu kedua tangan 
diangkat sambil membaca bacaan. Jadi mengangkat tangan dan membaca 
bacaan itu tidak menunggu 10 rokaat selesai semuanya, akan tetapi 
tiap-tiap dua rokaat setelah salam, lalu dua tangan diangkat dan membaca
 :&lt;br /&gt;

LAA&amp;nbsp; ILAAHA&amp;nbsp; ILLALLOOH&amp;nbsp; WAHDAHUU&amp;nbsp;LAA SYARIIKALAH LAHULMULKU WALAHUL 
HAMDU YUHYII WAYUMIITU WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUTU BIYADIHIL&amp;nbsp; KHOIIR&amp;nbsp; 
WAHUWA&amp;nbsp; ‘ALAA&amp;nbsp;KULLI&amp;nbsp; SYAI-IN&amp;nbsp; QODIIR.&lt;br /&gt;

ALLOOHUMMA LAA MAANI’A LIMAA A’THOITA WALAA MU’THIYA LIMAA MANA’TA WALAA YANFA’U DZAL JADDI MINKAL JADDU. ( Di baca 1 x )&lt;br /&gt;

Setelah selesai membaca doa diatas, kemudian kedua tangan diusapkan ke wajah.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Sholat tanggal malam 15 Rojab&lt;/span&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Untuk amalan sholat malam 15 Rojab, sama yakni 10 rokaat. Dan bacaan 
tiap-tiap rokaatnya, sama dengan yang dibaca pada tanggal malam 1, yakni
 :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
1. Membaca ;&lt;b&gt; surat Al Fatihah ( 1 x )&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
2. Membaca ; &lt;b&gt;surat&lt;/b&gt;&lt;b&gt; Qul Huwalloohu Ahad&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;( 3 x )&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
3. Membaca surat ; &lt;b&gt;Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun ( 3 x ).&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Kemudian setelah salam, tangan diangkat dan yang dibaca itu ada bedanya dengan yang dibaca tanggal 1. Adapun yang dibaca ialah :&lt;br /&gt;

LAA&amp;nbsp; ILAAHA&amp;nbsp; ILLALLOOH&amp;nbsp; WAHDAHUU&amp;nbsp;LAA SYARIIKALAH LAHULMULKU WALAHUL 
HAMDU YUHYII WAYUMIITU WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUTU BIYADIHIL&amp;nbsp; KHOIIR&amp;nbsp; 
WAHUWA&amp;nbsp; ‘ALAA&amp;nbsp;KULLI&amp;nbsp; SYAI-IN&amp;nbsp; QODIIR.&lt;br /&gt;

ILAAHAN WAAHIDAN AHADAN FARDAN WATRON LAM YATTAKHIDZ SHOOHI-BATAN WALAA WALADAA.&amp;nbsp;( Dibaca 1 x )&lt;br /&gt;

Kemudian setelah itu kedua tangan diusapkan ke wajah.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Amalan sholat malam 30 Roja&lt;/span&gt;b.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

Pada malam tanggal 30 Rojab, melak-sanakan sholat lagi 10 rokaat. Dan
 bacaan surat dalam sholat sama dengan yang dibaca pada tanggal malam 1 
dan malam 15. Setelah salam tangan diangkat dan membaca :&lt;br /&gt;

LAA&amp;nbsp; ILAAHA&amp;nbsp; ILLALLOOH&amp;nbsp; WAHDAHUU&amp;nbsp;LAA SYARIIKALAH LAHULMULKU WALAHUL 
HAMDU YUHYII WAYUMIITU WAHUWA HAYYUN LAA YAMUUTU BIYADIHIL&amp;nbsp; KHOIIR&amp;nbsp; 
WAHUWA&amp;nbsp; ‘ALAA&lt;br /&gt;

KULLI&amp;nbsp; SYAI-IN&amp;nbsp; QODIIR. WASHOLLALLOOHU&amp;nbsp; ‘ALAA&amp;nbsp; SAYYIDINAA MUHAMMADIN&amp;nbsp;
 WA ‘ALAA&amp;nbsp; AALIHITH THOOHIRIIN&amp;nbsp; WALAA&amp;nbsp; HAULAA&amp;nbsp; WALAA QUWWATA&amp;nbsp; ILLAA&amp;nbsp; 
BILLAAHIL&amp;nbsp; ‘ALIYYIL ADHIIM. (Dibaca 1 X ).&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; AMALAN SHODAQOH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Amalan shodaqoh di dalam bulan Rojab ini, shodaqoh menurut kemampuan.
 Adapun niatnya shodaqoh yakni niat shodaqoh menghormati bulan Rojab. 
Dan shodaqoh di bulan Rojab ini tersimpul rahasia yang besar.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Boleh shodaqoh uang 5000 Rupiah setiap hari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Boleh shodaqoh uang 1000 Rupiah setiap hari.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Boleh shodaqoh uang 500 Rupiah setiap hari.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ini terserah, ini shodaqoh untuk meng-hormati bulan Rojab.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Apakah itu shodaqoh berupa pakaian.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apakah itu shodaqoh berupa uang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apakah itu shodaqoh berupa bahan makanan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Ini terserah kita. Dan ini mengandung rahasia yang&amp;nbsp; besar.</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/07/amalan-amalan-bulan-rojab.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUDKENDAZp2ch0KqK_C3wud5jYrj-ZWVMFk2oYNsbr33fpfy9gQ3SprV435tzSfrH3UUY3mQrOmZTSLHcwQ05dqaiYdmzgfH_XJIYS8bLr1JKL9qYpLLN4rcD-DvVWUv9Vn0aQPVcFVYw/s72-c/rojab.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-6474392847656658077</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 17:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-06T01:01:55.800+07:00</atom:updated><title>Penutup Tauhid Rububiyyah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3MJ4nv5TPptf72umitGo7W8EtpJi0ptINvNE2lrWtfu3GsxpftuPeAujKGe95FLn3VYQmHnvAfGFVjoHEz9CETZbtxjgVmqretzzwvMb1oZfQoFOGvUypJ27Cga-Mcvy4iOYupNfjszg/s1600/gelape.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="361" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3MJ4nv5TPptf72umitGo7W8EtpJi0ptINvNE2lrWtfu3GsxpftuPeAujKGe95FLn3VYQmHnvAfGFVjoHEz9CETZbtxjgVmqretzzwvMb1oZfQoFOGvUypJ27Cga-Mcvy4iOYupNfjszg/s400/gelape.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
Tulisan ini lanjutan bahasan sebelumnya. Memang sengaja 
agak berjauhan waktunya, kami berharap tulisan yang lalu &amp;nbsp;bisa 
diangan-angan dulu. Sekali lagi masalah TAUHID RUBUBIYYAH itu masalah 
pelik, jadi &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;jangan dianggap enteng. Di dalamnya menerangkan 
masalah-masalah yang rumit, tapi tetap saja kami samarkan, sehingga 
membutuhkan perenungan sesuai kemampuan rohani masing-masing.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
Sekarang yang dibahas, mengapa Jiwa kita yang telah di 
bai’at di lautan Alastu birobbikum, bisa lupa semuanya. Mengapa Jiwa 
kita akhirnya ‘selingkuh’ dengan dunia, dan menginggalkan Robbi? Ikuti 
ulasannya !&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="left"&gt;
&lt;b&gt;FASE KEHIDUPAN DAN&amp;nbsp; UJIAN-UJIAN DI DUNIA&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Setalah manusia itu lahir, akhirnya mengalami proses dan berubah 
menjadi bocah, lalu jadi remaja, kemudian dewasa, setelah itu jadi tua.&lt;span id="more-5355"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Didalam surat Al Hadid / ayat 20 diterangkan bahwa manusia itu mengalami beberapa fase:&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
I`LAMUU ANNAMAL HAYAATUD DUNYAA LA`IBUN 
WALAHWUN WAZIINATUN WA TAFAAKHURUN BAINAKUM WATAKAATSURUN FIL AMWAALI 
WAL AULAADI.&amp;nbsp;( Al Hadid / 20).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Ketahuilah, bahwa 
sesungguhnya hidup di dunia itu adalah permainan, lelahan (membuang 
waktu tanpa manfaat), perhiasan, bangga-banggaan diantara kamu, dan 
berlomba-lomba memperbanyak harta dan anak “.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Keterangan ayat ini adalah&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;
Bahwa setelah lahir, manusia itu mengalami beberapa fase, yakni :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1). (LA`IBUN).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pertama, ketika usia bocah, senangnya hanya bermain&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;2). (WALAHWUN).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Setelah melewati usia bocah, lalu 
masuk usia remaja. Pada fase ini, manusia itu lebih suka lelahan yakni 
membuang-buang waktu, bergerombol membentuk geng. Sehari hari ke warnet 
untuk game online, PS-an.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;3). (WAZIINATUN).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Setelah itu lalu mengalami fase 
yang lebih suka menghias-hiasi diri, sehari-hari diisi dengan mengatur 
rambutnya saja, mengatur cara berjalannya, depan dan belakangnya diberi 
kaca cermin untuk mengetahui sudah pantes ataukah belum.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Setiap hari yang dibicarakan itu gelang 
emas, kalung, sepeda motor, model rambut gondrong atau gundul, dsb. 
Group-group-an. Ikut group sana, ikut group sini. Ada group facebook, 
group penyanyi, group ustadz, group pengajian, umroh, haji, sok ahli 
dzikir dsb.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;4). (WATAFAAKHURUN BAINAKUM).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Kemudian masuk fase ini, yakni sukanya 
itu bangga-banggaan diantara mereka ; membangga-banggakan uangnya, 
membangga-banggakan sawahnya, membangga-banggakan nasabnya/keturunannya,
 membangga-banggakan kepandaian-nya, dsb.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;5).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;(WATAKAATSURUN FIL AMWAALI WAL AULAADI).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Kalau sudah, lalu , yakni berlomba banyak-banyakan uang dan banyak-banyakan membuat anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Harta benda itu bermacam-macam, 
diantaranya : kendaraan, sawah, rumah, pangkat, pekerjaan, dsb, itu 
semua termasuk (AL AMWAALI).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Dan kesemuanya itu juga termasuk tutup bagi manusia.&lt;br /&gt;
Belum lagi tertutup jasmaninya, tertutup panca inderanya, seperti 
tertutup dari pandangan mata, pendengaran telinga, dan lain sebagainya.&amp;nbsp;
 &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Ada lagi keterangan dalam surat Ali Imron sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ZUYYINA LINNAASI HUBBUSYSYAHAWAATI 
MINANNISAA-I WAL BANIINA WAL QONAATHIIRIL MUQONTHOROTI MINADZ DZAHABI 
WAL FIDLDLOTI WAL KHOILIL MUSAWWAMATI WAL AN`AAMI WAL HARTSI DZAALIKA 
MATAA`UL HAYAATID DUNYAA.&amp;nbsp;(Ali Imron / 14).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya :&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” Dihiaskan pada manusia itu 
senang macam-macam kesenangan ; seperti perempuan-perempuan, anak-anak, 
dan harta benda yang banyak dari emas, perak, kuda yang bagus, 
binatang-binatang ternak, dan tanaman-tanaman.&amp;nbsp; &amp;nbsp;Demikian itulah 
kesukaan hidup di dunia “.&lt;/div&gt;
(HUBB) artinya : Cinta.&lt;br /&gt;
(SYAHAWAAT) artinya : Macam-macam kesenangan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Jadi manusia itu dihiasi dengan bermacam-macam kesenangan :&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1). (MINANNISAA-I).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pertama, ingin punya istri (bagi yang perempuan ingin punya suami).&lt;br /&gt;
Mengapa hanya disebut &amp;nbsp;(MINANNISAA-I) saja, sedangkan (MINARRIJAALI) tidak disebut ?&lt;br /&gt;
Adanya dalam ayat ini tidak disebut secara langsung adalah supaya 
tidak menyinggung orang perempuan, sedangkan kalau orang laki-laki itu 
kan perasaannya tebal.&lt;br /&gt;
Memang halusnya kitab Alqur-an seperti itu, makanya dalam ayat ini 
seakan-akan yang butuh hanya orang laki-laki saja padahal sebenarnya 
sama saja.&lt;br /&gt;
Akan tetapi didalam surat At Taghoobun diterangkan bahwa istri adalah musuh, bila ingin punya istri berarti mencari musuh :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNA MIN AZWAAJIKUM WA AULAADIKUM `ADUWWAL LAKUM (At Taghoobun / 14).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Sesungguhnya istri-istrimu dan anak-anakmu adalah musuh-musuhmu “.&lt;/div&gt;
Bila istri adalah musuh, kalau begitu kita cari musuh.&lt;br /&gt;
Iya musuhan, tapi persiapan dulu, nanti tahu-tahu lamaran. Memang mengucapkan &lt;b&gt;‘&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Qobiltu&lt;/i&gt;&lt;b&gt;‘ &lt;/b&gt;nya itu tidak seberapa tetapi dibelakang pernyataan &lt;b&gt;‘&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Qobiltu&lt;/i&gt;&lt;b&gt;‘&lt;/b&gt; tersebut ada tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;
Jadi kita menikah itu harus hati-hati, karena bahayanya nikah itu banyak tapi pahalanya juga berlipat-lipat, umpama :&lt;br /&gt;
Sholatnya orang yang masih bujangan itu hanya satu pahalanya, namun 
sholatnya orang yang sudah punya istri itu 27 lipat, ini ada haditsnya.&lt;br /&gt;
Akan tetapi seandainya ketika sholat, baca takbirotul ihrom “&lt;i&gt;Alloohu Akbar&lt;/i&gt;” yang diingat justru istrinya, maka lebih baik tidak punya istri supaya sholatnya tidak terganggu seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2). (WAL BANIINA).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Setelah mempunyai istri, lalu timbul lagi syahwatnya yaitu ingin punya anak laki-laki.&lt;br /&gt;
Pada umumnya, memang anak yang pertama diinginkan adalah anak laki-laki, setelah itu barulah ingin anak perempuan.&lt;br /&gt;
Aneh kok lebih ingin anak laki-laki, padahal sudah diinsafi bahwa 
kenakalan anak laki-laki ya seperti itu, kalau anak perempuan kan 
terkenal penurut, disuruh mandi juga mudah, sedangkan anak laki-laki 
disuruh mandi saja pakai kejar-kejaran atau diberi uang dulu barulah mau
 mandi, anak saya sendiri juga seperti itu.&lt;br /&gt;
Masalah senang akan anak laki-laki ini memang sudah terlanjur nash Alqur-an : (WAL BANIINA).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;(WAL QONAATHIIRIL MUQONTHOROTI).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kalau sudah tercapai mempunyai anak, lalu ingin mengumpulkan harta benda yang banyak, yakni :&lt;br /&gt;
(MINADZ DZAHABI WAL FIDLDLOTI) : Mengumpulkan emas dan perak, untuk 
simpanan di hari tua atau untuk melengkapi kebutuhan hidup karena bila 
sewaktu-waktu dibutuhkan mudah menjualnya.&lt;br /&gt;
(WAL KHOILIL MUSAW-WAMATI): Ingin mempunyai kuda, atau kalau sekarang itu kendaraan seperti sepeda motor, dsb.&lt;br /&gt;
Kemudian setelah itu, timbul lagi keinginan :&lt;br /&gt;
(WAL AN`AAMI) : Ingin punya binatang ternak yang gemuk-gemuk, seperti
 ingin punya bebek banyak, punya kambing banyak, atau sapi yang banyak, 
dan sebagainya.&lt;br /&gt;
(WAL HARTSI) : Ingin mempunyai bermacam-macam tanaman, seperti 
jagung, mangga, tebu, minta semua yang ditanam itu subur dan banyak 
hasilnya sehingga diberi segala macam pupuk, itu boleh saja asalkan 
tidak lupa bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Pertolongan 
Alloh.&lt;br /&gt;
(LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&amp;nbsp;(DZAALIKA MATAA-`UL HAYAATID DUNYAA)&lt;/b&gt; : Itulah perbendaharaan dunia.&lt;br /&gt;
Demikianlah Firman Allloh Ta`ala dalam Alqur-an.&lt;br /&gt;
&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Cobalah kita angan-angan bersama&lt;/span&gt;
 ; sedemikian banyaknya tutup-tutup pada diri manusia ; tertutup 
jasmani, tertutup pandangan mata, tertutup pendengaran telinga, tertutup
 lesan, tertutup gerak, tertutup diam, dan tertutup bermacam-macam 
keinginan.&lt;br /&gt;
Bahkan kita sendiri tidak bisa menghitung berapa banyaknya sesuatu 
yang menutupi diri kita, sehingga Tauhid Rububiyyah yang ada didalam 
diri kita itu terlupakan. &lt;br /&gt;
Tapi perlu di ingat, Iman tidak pernah hilang, hanya tertutup denga tutup yang sangat tebal&lt;span style="font-size: small;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;TAUHID RUBUBIYYAH TIDAK AKAN HILANG DARI DIRI MANUSIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Iman tertutup jasmani, tertutup pandangan mata, tertutup pendengaran 
telinga, tertutup lesan, tertutup gerak, tertutup diam, dan tertutup 
bermacam-macam keinginan.&lt;br /&gt;
Bahkan kita sendiri tidak bisa menghitung berapa banyaknya sesuatu 
yang menutupi diri kita, sehingga Tauhid Rububiyyah yang ada didalam 
diri kita itu terlupakan.&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
Meskipun begitu, sebenarnya Tauhid Rububiyyah itu masih ada didalam, 
masih tetap dan tidak hilang, hanya saja kita lupa, bahkan sampai ada 
yang ngetop lupanya sehingga kalau diingatkan sudah tidak bisa lagi, ini
 namanya kafir haq, sebagaimana disebutkan dalam surat An Nisa` :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ULAA-IKA HUMUL KAAFIRUUNA HAQQO (An Nisa` / 151).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Mereka itu adalah orang kafir yang sejati “.&lt;span id="more-5358"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Yang disebut kafir haq itu bila tutupnya sudah tidak bisa lepas. Akan tetapi walaupun lupa sama sekali, tapi tidak hilang.&lt;br /&gt;
Sebaliknya seandainya diingatkan oleh para Rosul dan akhirnya terbuka
 dan betul-betul sadar, maka ini namanya : MU`MINUUNAL HAQQO.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ULAA-IKA HUMUL MU`MINUUNA HAQQO. (Al Anfal).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Mereka itu adalah orang mukmin yang sejati”.&lt;/div&gt;
Jadi ada kafir haq, dan ada mukmin haq, serta ada lagi yang silih 
berganti yakni asalnya terbuka lalu tertutup kemudian terbuka lalu 
tertutup lagi, sebagaimana diterangkan dalam surat An Nisa` :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNAL LADZIINA AAMANUU TSUMMA KAFARUU 
TSUMMA AAMANUU TSUMMA KAFARUU TSUMMAZDAADUU KUFRON LAM YAKUNILLAAHU 
LIYAGHFIROLAHUM WALAA LIYAHDIYAHUM SABIILAA (An Nisa` / 137).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya banyak 
orang-orang yang beriman kemudian berubah kafir, lalu jadi beriman lagi,
 kemudian menjadi kafir lagi, maka mereka itu bertambah kekafirannya, 
dan tidak ada jalan ampun bagi mereka “.&lt;/div&gt;
Iman yang tertutup itu seperti bulan tertutup mendung, memang 
bulannya tidak kelihatan tetapi jangan dianggap bulan tersebut hilang, 
ada kalanya terbuka dan ada kalanya tertutup lalu terbuka lagi tapi ada 
juga yang terbuka terus.&lt;br /&gt;
Kalau Mu`minuunal Haqqo itu terbuka terus karena dia menggali terus.&lt;br /&gt;
Jadi ada Mu`minuunal haqqo, ada Kaafiruunal haqqo, dan ada yang 
berubah-ubah mukmin-kafir-mukmin-kafir sehingga yang mengkhawatirkan itu
 kalau : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Bertambah dahsyat kekafirannya&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Dan bila sudah begitu maka :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Tidak ada jalan ampun&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Dan tidak ada jalan keluar&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Inilah akibat akhir yang kita khawatirkan semua, bila melihat yang seperti ini maka siapakah yang tidak takut ?&lt;br /&gt;
Akan tetapi walaupun tutupnya sedemikian banyaknya tapi tetap iman itu tidak akan hilang.&lt;br /&gt;
Jadi Iman Tauhid Rububiyyah itu tetap dan tidak akan hilang dari Ruh,
 tidak bertambah dan juga tidak berkurang, hanya saja ada yang imannya 
tertutup.&lt;br /&gt;
Iblis yang sudah dicap kafir saja toh masih mengakui Robbi, sebagaimana disebutkan dalam Alqur-an :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ROBBI FA-ANDHIRNII ILAA YAUMIN YUB`ATSUUN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : (Berkata Iblis) : “Wahai Tuhanku, maka tangguhkanlah aku sampai hari kebangkitan/ hari kiamat “.&lt;/div&gt;
Dalam ayat ini, Iblis itu juga percaya kepada Alloh dan percaya 
kepada hari kiamat, percaya bahwa Alloh itu Khooliq dan dirinya itu 
makhluq.&lt;br /&gt;
Didalam sebuah ayat Alqur-an juga menyebutkan bahwa orang kafir itupun berdo`a :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WAMAA DU`AA-UL KAAFIRIINA ILLAA FII DLOLAAL.&amp;nbsp;(Ar Ro`du / 14).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dan tiadalah doanya orang-orang kafir itu kecuali didalam kesesatan “.&lt;/div&gt;
Kalau memang orang-orang kafir itu sudah tidak percaya kepada Alloh Ta`ala, masak mereka itu berdoa ?&lt;br /&gt;
Atau dalam hadits Nabi :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM : ITTAQUU DA`WATAL MADHLUUMI WALAU KAANA KAAFIROO.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Bersabda Rosululloh S.A.W : ” 
Takutlah kamu semua pada doanya orang yang kamu aniaya walaupun mereka 
itu orang kafir “.&lt;/div&gt;
Jadi meskipun kafir, tapi Iman Rububiyyah-nya itu tetap dan tidak hilang.&lt;br /&gt;
Adapun kafir itu maknanya hanyalah ‘&lt;i&gt;tertutup&lt;/i&gt;‘.&lt;br /&gt;
Sedangkan tertutup itu tidak sama dengan hilang.&lt;br /&gt;
Akan tetapi didalam pengajian-pengajian umum ; orang kafir itu 
disebut sebagai orang yang tidak mempunyai iman. Pernyataan seperti ini 
adalah tidak ada dasarnya, tidak ada pedomannya.&lt;br /&gt;
Bahasan tentang TAUHID RUBUBIYYAH sementara sampai di sini dulu. 
Bahasan kami sudah sangat panjang, sekiranya cukup untuk mengupas 
masalah-masalah yang dulu pernah terbengkelai. Semisal hakekat iman, 
Iman Asli dan Iman Sebab, Nafs dan Ruh.. dsb. Jika ada yang sekiranya 
kurang paham coba koment saja. Asal tidak sangat sensitif, Insya Alloh 
kita diskusikan bersama.&lt;br /&gt;
Setelah mengupas masalah Tauhid Rububiyya rasanya kurang pas kalau 
tidak mengupas masalah Tauhid Ubudiyyah. di kesempatan selanjutnya akan 
kami ulas masalah TAUHID UBUDIYYAH. Karena masalah Tauhid Ubudiyyah juga
 agak rumit, serumit &amp;nbsp;bahasan Tauhid Rububiyyah, maka akan kami tulis 
&amp;nbsp;secara bersambung yang panjang juga… semoga bisa memudahkan kita untuk 
paham.&lt;br /&gt;
Sedikit renungan dari Bahasan Tauhid Rububiyyah, barangkali ‘nyanthol’ ;&lt;br /&gt;
Cobalah
 untuk berfikir cerdas, dari beberapa tulisan sebelum ini, kita coba 
renungkan. Ketika NAFS di janji ( Tauhid Rububiyyah) kemudian di’sebar’ 
kira-kira itu terjadi berapa triliun tahun yang lalu ? Nah ketika di 
‘benda-benda mati’ berapa juta kali, di tanah berapa juta kali, di 
tumbuhan, di hewan… berapa juta kali ? di planet A, B, C, D.. berapa 
juta planet yang disinggahi Jiwa kita?&amp;nbsp; Itulah MI’ROJ kita yang 
sesungguhnya. Mi’roj dari langit ke langit. Migrasi Jiwa dari fase ke 
fase.. nah ketika jadi ‘manusia dunia’ fase ke berapa? Dan ketika 
menjadi ‘manusia sejati’ fase ke berapa? Coba hitung sendiri… ( ini 
bahasan martabat tujuh ).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;MANUSIA (Insan Kamil) SEBAGAI MAKHLUK TERTINGGI &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak syukur kepda Alloh Ta’ala, bisa merasakan nikmat dari Alloh 
Ta’ala. Bagaimana pun nikmatnya dunia ini, bila diberikan kepada satu 
orang, tapi tidak dirasakan nikmat, apakah bisa mensyukuri? Tidak bisa.&lt;br /&gt;
Harus disadari seluruh dunia ini adalah lokam (kulit, sepet) dan 
berliannya adalah kita ini. Isinya dunia adalah manusia, lainnya manusia
 bukan isi, walaupun dunia ini ada bintang bulan, lautan, tapi kalau 
tidak ada manusia, maka namanya dunia kosong, dunia suwung, jadi isinya 
adalah manusia. Rumah ini juga demikian, ada lemari, ada meja-meja, dan 
sebagainya, tapi kalau manusianya tidak ada maka dikatakan rumah kosong.&lt;span id="more-5366"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Berliannya hidup adalah manusia, kompas hidup ini adalah manusia, 
jadi ikhtisarnya alam semesta ini adalah manusia. Silahkan dicari pada 
diri kita ini, gunungnya mana, &lt;i&gt;alas&lt;/i&gt;nya (hutannya) mana, 
harimaunya mana, kancilnya mana, malaikatnya mana, bidadarinya mana, ini
 kalau mau mencari akan ketemu semua. Jadi puncak-puncaknya&amp;nbsp; makhluq 
Alloh ini adalah manusia. Dari tanah naik-naik sampai Sulalah, 
macam-macam zat, ada tumbuh-tumbuhan, terus naik, akhirnya jadi Darah, 
Nuthfah, akhirnya jadi Alaqoh, Mudlghoh, sampai akhirnya jadi manusia, 
kalau sudah jadi manusia (Insan kamil) ini sudah puncak. Puncak dalam 
istilah bahasa Arab adalah Muntaha. Jadi kedudukannya manusia&amp;nbsp; itu 
puncak, silahkan di lihat dalam surat An Nas, kedudukannya manusia itu 
disebutkan setelah &lt;i&gt;Robbi &lt;/i&gt;berikutnya &lt;i&gt;Nas&lt;/i&gt;, setelah &lt;i&gt;Maliki&lt;/i&gt; berikutnya &lt;i&gt;Nas&lt;/i&gt;, setelah &lt;i&gt;Ilahi&lt;/i&gt; berikutnya &lt;i&gt;Nas&lt;/i&gt;.
 Jadi&amp;nbsp; kedudukannya di atas manusia ini adalah Tuhan, di bawahnya Tuhan 
adalah manusia, dan di bawahnya manusia adalah seluruh alam. Jadi posisi
 kita itu di tengah-tengah.&lt;br /&gt;
Malaikat kedudukannya kalah bila dibanding dengan kedudukannya manusia, itu namanya Muntaha. &lt;i&gt;Silahkan… boleh mengkritik, ini tasawwuf kok.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Menetapkan posisi ini sulit, di atas Tuhan, kemudian di bawahnya 
manusia, dan di bawahnya manusia adalah seluruh alam, yang seluruh alam 
ini adalah untuk manusia. Itu bukan masalah tempat, tapi kedudukan 
derajatnya. Seluruh alam ini mengabdi kepada manusia, ini perintah Alloh
 :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
SAKHOROLAKUM MAA FIS SAMAAWATI WAMAA FIL ARDLI&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
“(Alloh) telah menundukkan untukmu&amp;nbsp; semua apa-apa yang ada di lagit dan apa-apa yang ada di bumi.” (QS. Luqman : 20)&lt;/div&gt;
Ditundukkan semuanya untuk manusia, maka silahkan dinaiki.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Dunia kendaraan akhirat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dawuhnya Kanjeng Nabi :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA : ALLAILU WAN NAHAARU MATHIYATAANI FARKABUUHUMAA BALAGHUN ILAL AKHIRAH&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
“Bersabda Rosululloh SAW. : Malam dan siang segala isinya ini adalah kendaraan, naikilah sampai kepada akhirat.”&lt;/div&gt;
Jadi dunia supaya ditumpangi/dinaiki, jangan sampai dinaiki dunia, 
yang dilarang adalah dinaiki dunia. Kalau menumpangi dunia memang 
diperintah, tapi kalau kita ditumpangi dunia maka akan rusak, bejat. 
Kalau menumpangi dunia itu enak, &lt;i&gt;nyaman&lt;/i&gt;, karena dunia ini adalah kendaraan. Ibarat kendaraan bisa yang baik bisa yang jelek, tidak jadi masalah asal syukur.&lt;br /&gt;
Syukur itu tulisannya SYIN, KAF, RO’, bacanya SYAKARO artinya telah syukur. Tapi kalau &lt;i&gt;syin&lt;/i&gt; titik tiga ini titik tiganya hilang, bunyinya SAKARO artinya telah &lt;i&gt;mendem /&lt;/i&gt;tidak
 sadar, karena tiga titik itu rahasianya syukur. Satu persatu titik ini 
ada artinya sendiri-sendiri, titik satu apa artinya, titik dua apa 
artinya, dan titik tiga apa artinya. Lain kali akan kami tulis masalah 
Syukur ini.&lt;br /&gt;
Semoga manfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/penutup-tauhid-rububiyyah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3MJ4nv5TPptf72umitGo7W8EtpJi0ptINvNE2lrWtfu3GsxpftuPeAujKGe95FLn3VYQmHnvAfGFVjoHEz9CETZbtxjgVmqretzzwvMb1oZfQoFOGvUypJ27Cga-Mcvy4iOYupNfjszg/s72-c/gelape.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-3562355220198829862</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 17:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-06T00:23:58.002+07:00</atom:updated><title>Ruh Malaikat bukan yang Menerima Tauhid Rububiyyah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8qCeQnsxUYOmsQr9zBY9AhUXgxHwy2N3DoBbLVlGLcvwea0y-nsfEevQfkF-OXjMz6-CKrflANrlRVVFYYsfMnk_yYHfWKYuHvipHTrQvojOR6GkXofz5zJmdnljrwheIl56jLB-pZbY/s1600/77.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8qCeQnsxUYOmsQr9zBY9AhUXgxHwy2N3DoBbLVlGLcvwea0y-nsfEevQfkF-OXjMz6-CKrflANrlRVVFYYsfMnk_yYHfWKYuHvipHTrQvojOR6GkXofz5zJmdnljrwheIl56jLB-pZbY/s400/77.jpg" width="290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ketika manusia dalam kandungan umur 4 bulan barulah ada Ruh dari 
Unsur Malaikat yakni Malaikat meniupkan Ruh pada jasmani itu tadi.&amp;nbsp; Jadi
 yang dari Malaikat itu adalah Ruh tapi namanya masih JISIM &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;yakni JISMUN
 LATHIIFUN.&lt;br /&gt;

Dan Jismul Lathif ini luarnya dibungkus dengan jasmani lapis tujuh ; bulu-kulit-daging-darah-otot-tulang-sumsum.&lt;br /&gt;

Dalamnya ada&amp;nbsp; (JISMUN LATHIIFUN, artinya: susunan halus), tapi 
luarnya dibungkus dgn (JISMUN KASYIIFUN, artinya : susunan kasar) yang 
tersusun dari empat unsur (air, tanah, api, udara).&lt;br /&gt;

Jadi Jismul Lathif itu adalah yang dari Malaikat, oleh karena itulah bila kita bisa bertemu maka kita jadi sakti/digdaya.&lt;br /&gt;

Jadi didalam diri kita itu ada unsur malaikatnya, ada unsur apinya, 
ada unsur anginnya, ada unsur buminya, dan didalam bumi itupun ada 
emasnya, ada intannya, ada batubara, ada bensin, dsb.&lt;span id="more-5340"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Oleh sebab itu didalam diri manusia itu ada keinginan untuk mengajak 
kepada yang sebangsanya sesuai dengan masing-masing unsurnya.&lt;br /&gt;

Ada keinginan mengumpulkan emas, perak, karena barang-barang itulah yang sebangsa dengan unsur tanah.&lt;br /&gt;

Malaikat adalah suci, makanya yang dari unsur Malaikat itu mengajak 
kepada kebaikan saja, mengajak terbang ke alam Malakut, tapi yang dari 
unsur tanah justru mengajak ke bawah, sehingga terjadilah tarik-menarik,
 tinggal terserah hati kita akan mengikuti yang mana ; ikut ke atas 
silahkan, ikut ke bawah juga silahkan, tidak ikut ke atas dan ke bawah 
tapi di tengah-tegah juga silahkan.&lt;br /&gt;

Kalau didalam arena tarik-menarik itu kita jatuh, ya tidak apa-apa 
asal kita bisa bangun lagi, jatuh-bangun jatuh-bangun itu hal yang biasa
 pokoknya tidak jatuh terus.&lt;br /&gt;

Apakah kita bisa bertemu Jismul Lathif ?&lt;br /&gt;

Bisa, asalkan kita mau menempuh caranya.&lt;br /&gt;

Rupanya Jismul Lathif itu persis dengan rupa kita ini, hanya saja tidak bisa diraba, tapi rupanya sama persis.&lt;br /&gt;

Dan Jismul Lathif itu tadi &lt;b&gt;bukanlah RUH ROBBANI&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;bukan ANFUS yang menerima Tauhid Rububiyyah&lt;/b&gt;, karena Jismul Lathif itu adalah jisim.&lt;br /&gt;

Jadi ANFUS yang dari alam Arwah dan telah menerima Tauhid Rububiyyah itu dibungkus dengan Jismul Lathif.&lt;br /&gt;

Dan Jismul Lathif dibungkus dengan Jismun Kasyif ; bulu-kulit-daging-darah-otot-tulang-sumsum.&lt;br /&gt;

Sedangkan (RUH MIN AMRI ROBBI) tidak akan kami bahas disini. ” Maka 
apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke 
dalamnya RUH-Ku, maka hendaklah kalian hormat kepadanya “.(S. Al Hijr, 
15:29):&lt;br /&gt;

Dia (Allah) mengatakan ‘RUH-Ku’, dan bukan RUH Adam&lt;br /&gt;

Setelah lengkap, barulah manusia itu keluar dan terlahir di dunia ini.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALLOOHU AKHROJAKUM MIN BUTHUUNI UMMAHAA-TIKUM LAA TA`LAMUUNA SYAI-AN. (An Nahl / 78).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dan Alloh telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu, dan kamu dalam keadaan serba tidak tahu apa-apa “.&lt;/div&gt;
Oleh karena manusia lahir itu membawa iman, dan iman itu adalah suci, maka didalam hadits diterangkan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM : KULLU MAULUUDIN YUULADU `ALAL FITHROH.&lt;/div&gt;
Jadi iman itu adalah pembawaan.&lt;br /&gt;

Kalau seandainya ada orang yang mengatakan bahwa iman itu keluar dari
 hati, maka pernyataan itu adalah keliru karena hati itu tidak bisa 
menimbulkan iman, bahkan didalam Alqur-an diterangkan bahwa Nabi-Nabi 
itu hanyalah mengingatkan saja, bukan menimbulkan iman.&lt;br /&gt;

Yang benar adalah : Iman itu pembawaan Jiwa, sebagaimana telah diterangkan didepan.&lt;br /&gt;

Manusia lahir di dunia ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa : (LAA 
TA`LAMUUNA SYAI-AN), maka Alloh Ta`ala menjadikan pendengaran dan 
penglihatan:&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WAJA`ALA LAKUMUS SAM`A WAL ABSHOORO WAL AF-IDAH. (An Nahl / 78).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Dan Alloh menjadikan bagi kamu pendengaran dan penglihatan serta hati “.&lt;/div&gt;
Dan dengan pemberian Alloh berupa panca indera itu sehingga manusia bisa mengetahui segala sesuatu.&lt;br /&gt;

Tulisan diatas memperjelas perbedaan antara RUH dan NAFS. Bahasan Ruh
 ‘hanya’ akan sebatas Ruh malaikat. Karena bahasan Ruh malaikat-pun 
sudah lebih dari cukup untuk melatih menyambungkan JIWA kita kepada 
jiwa-jiwa yang tenang, jiwa yang selalu dalam ridlo Allah.&lt;br /&gt;

Bahasan ke-ROHANI-an sementara di jeda dulu. Jadi yang akan kita 
bahas, kenapa kita lupa dengan janji Jiwa kita. Apa saja yang menutup 
Jiwa kita. &amp;nbsp;Ikuti di tulisan berikutnya..</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/ruh-malaikat-bukan-yang-menerima-tauhid.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8qCeQnsxUYOmsQr9zBY9AhUXgxHwy2N3DoBbLVlGLcvwea0y-nsfEevQfkF-OXjMz6-CKrflANrlRVVFYYsfMnk_yYHfWKYuHvipHTrQvojOR6GkXofz5zJmdnljrwheIl56jLB-pZbY/s72-c/77.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-3377151666929710943</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 16:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-06T00:13:29.534+07:00</atom:updated><title>Hakekat Iman</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNL8DeL4fRUc9QH7GSsanSNwvXsdh6JWi3NJPWm0jTXXgWmKGJnpTzXXzYwASqL7twXr0AF7I_wTPlYin4LpEiujUrKjLOwYcOBMKxR2gQJQ0R4WMaoVDuBzcwoP5LWJDiwB-PT1SaBvg/s1600/iman.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNL8DeL4fRUc9QH7GSsanSNwvXsdh6JWi3NJPWm0jTXXgWmKGJnpTzXXzYwASqL7twXr0AF7I_wTPlYin4LpEiujUrKjLOwYcOBMKxR2gQJQ0R4WMaoVDuBzcwoP5LWJDiwB-PT1SaBvg/s400/iman.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;h&lt;/b&gt;&lt;b&gt;akekat Iman&lt;/b&gt; itu ialah :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(QOBUULIR RUUH)&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Yakni : &lt;b&gt;Menerimanya Ruh akan Tauhid Rubuubiyyah&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Kalau dalam ilmu kalam diistilahkan :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
HADIITSUN NAFSI TABII`UN LIL MA`RIFATI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Iman itu adalah : Omongannya nafsi atau percayanya nafsi, tapi nafsi itu percaya setelah mengetahui (ma`rifat) “.&lt;/div&gt;
Jadi mengetaui dahulu, setelah tahu kemudian percaya.&lt;br /&gt;
Ada yang percaya dulu tetapi tidak mengetahui, ini namanya &lt;b&gt;taqlid&lt;/b&gt;.&lt;span id="more-5284"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Seumpama ditanya :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Kamu percaya akan adanya cangkir&lt;/i&gt; ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dijawab : ” &lt;i&gt;Ya, saya percaya&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Lalu ditanya lagi :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Apakah kamu sudah tahu akan cangkir&lt;/i&gt; ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dijawab : ” &lt;i&gt;Belum tahu&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Maka kepercayaan yang seperti ini adalah &lt;b&gt;&lt;i&gt;taqlid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yakni: Percaya akan adanya sesuatu tetapi tidak mengetahui sendiri, namun hanya katanya-katanya saja.&lt;br /&gt;
Dan ada lagi orang itu yang percaya akan sesuatu setelah mengetahui terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Seumpama ditanya : ” &lt;i&gt;Kamu tahu cangkir&lt;/i&gt; ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dijawab : ” &lt;i&gt;Ya, saya tahu cangkir&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Ditanya lagi :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Apakah kamu percaya akan adanya cangkir itu&lt;/i&gt; ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dijawab : ” &lt;i&gt;Ya, saya percaya&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Maka kepercayaan karena telah mengetahuinya ini disebut: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Iman Ma`rifat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Jadi iman itu ada dua macam :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
1. Ada Iman Ma`rifat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
2. Ada Iman Taqlid.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya ada orang ditanya :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” Kamu percaya Alloh ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” Percaya “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” Yaqin ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” Yaqin, bahkan `ainul yaqin, haqqul yaqin “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” Berapa Alloh itu ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” Hanya satu “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” Ataukah mungkin ada dua ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak !. Seandainya saya 
dipaksa agar berkata bahwa Alloh itu lebih dari satu, walaupun saya 
dipotong-potong seperti lombok, dirajang-rajang seperti kembang, 
pastilah aku tetap berkata bahwa Alloh itu hanyalah Satu, bukan dua.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Tuhan Alloh itu hanya satu til-til, tidak
 ada lainnya, kalau ada orang yang mengatakan bahwa ada Tuhan lainnya 
Alloh, itu adalah musyrik, itu najis :&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNAMAL MUSYRIKUUNA NAJASUN. (At Taubat).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya orang-orang musyrik itu adalah najis”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebentar…………, kamu kok sangat 
metiti seperti demikian bahkan sampai berani mati segala itu lho, apakah
 kamu sudah tahu Gusti Alloh ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” Sudah “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
A : ” Bagaimana “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
B : ” &lt;b&gt;Gemuk&lt;/b&gt; “.&lt;/div&gt;
Kalau jawabannya seperti ini, ya percuma saja ngotot seperti itu, hanya ngototi sesuatu yang salah.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad S.A.W. bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM : LAA IIMAANA LIMAN LAA AMAANATA LAHU.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Bersabda Rosululloh SAW : “Tidak ada iman bagi orang yang tidak melaksanakan amanat”.&lt;/div&gt;
Jadi &lt;b&gt;hakekatnya amanat&lt;/b&gt; yang sampai jagad tidak sanggup menerimanya adalah &lt;b&gt;Tauhid Rubuubiyyah&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
Dan sebelum seluruh manusia turun&amp;nbsp; ke dunia, &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;didalam NAFS-nya sudah tertanam Tauhid Rubuubiyyah&lt;/span&gt;
 yang langsung berhadapan langsung kepada Alloh, tidak memakai 
perantaraan Nabi, tidak memakai dalil Alqur-an, dan juga tidak memakai 
dalil alam, tapi langsung.&lt;br /&gt;
Disinilah sumbernya Ladunii, inilah sumbenya segala sumber.&lt;br /&gt;
Lupakah kita ?&lt;br /&gt;
Ya kita lupa, karena di dunia kita terlalu sibuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pertama pertanyaannnya ialah : &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(ALASTU).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Kemudian jawabannya ialah&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (BALAA).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Setelah itu :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (SYAHIDNAA).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(SYAHIDNAA) ini &lt;b&gt;ma`rifat&lt;/b&gt;, oleh sebab itulah didalam syahadat itu bunyinya adalah :&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
(ASYHADU) : ” &lt;i&gt;Ingsun menyaksikan&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
(AN) : ” &lt;i&gt;Sesungguhnya&lt;/i&gt; ” ( Ingsun menyaksikan itu tidak bohong-bohongan, tapi benar-benar).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
(LAA ILAAHA)&amp;nbsp; : ” &lt;i&gt;Tidak ada Tuhan&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 60px;"&gt;
(ILLALLOH) : ” &lt;i&gt;Lainnya Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Ini adalah kalimat syahadat / kalimat tauhid, dan kalimat syahadat itu semestinya timbul dari ilmu tauhid.&lt;br /&gt;
Jadi kalimat tauhid itu timbul dari ilmu tauhid, dan ilmu tauhid adalah timbul dari hakekat tauhid.&lt;br /&gt;
Ada kalimat tauhid, ada ilmu tauhid, dan ada hakekat tauhid.&lt;br /&gt;
Jadi jangan dikira orang yang banyak membaca LAA ILAHA ILALLOH&amp;nbsp;itu 
adalah sudah ahli tauhid, tidak, karena yang dibaca itu hanyalah kalimat
 tauhid, yang kalimat tauhid itu timbul dari ilmu tauhid, dan ilmu 
tauhid timbul dari hakekat tauhid.&lt;br /&gt;
Dan kalimat itu sendiri ada bermacam-macam ;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Kalau kalimat itu disusun dengan ucapan, maka namanya adalah kalimatul `ibarot.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kalau kalimat itu tidak disusun dengan ucapan tapi tersusun dari tulisan-tulisan, namanya adalah kalimatul maktabat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bila kalimat itu tersusun dengan gerakan maka namanya kalimatul isyarah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apabila kalimat itu disusun di hati saja, tidak disusun dengan suara atau tulisan atau isyarah, namanya kalimatun nafsi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Jadi ada kalimatul `ibarat, ada kalimatul isyarah, ada kalimatun nafsi, dan ada kalimatul hakikat.&lt;br /&gt;
jadi di dalam hati tetap ada iman, tapi lesan manusia mengingkari..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;DIDALAM HATI TETAP ADA IMAN TAPI LESAN BERDUSTA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
Jadi hakekatnya iman adalah amanat, haqiqotul iman adalah ma’rifat :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
HADIITSUR NAFSI TABII`UL LIL MA`RIFATI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;&amp;nbsp; Penerimaannya nafsi akan satunya Alloh setelah Nafsi itu mengetahui langsung akan Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Lalu apakah haqiqotul iman yang dibawa di alam alastu birobbikum 
tersebut masih tetap ada ketika manusia sedang didalam rahim sang ibu ?&lt;br /&gt;

Haqiqotul iman itu tidak akan berubah untuk selama-lamanya dan tidak 
akan keluar dari nafs manusia, tapi langgeng selanggeng Nafs, itulah 
sebabnya sehingga dalam ayat Alqur-an diterangkan :&lt;span id="more-5301"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN KHOLAQOS 
SAMAAWAATI WAL ARDLO WASAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO 
LAYAQUULUNNALLOOHU.&amp;nbsp;( Q.S. Al `Ankabuut / Ayat 61 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dan seandainya kamu 
(Muhammad) bertanya kepada orang-orang kafirin dan musyrikin : “Siapakah
 yang telah mencip-takan tujuh langit dan tujuh bumi dan siapakah yang 
telah menundukkan matahari dan bulan ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Maka pastilah mereka menjawab : ” Yang 
menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi serta yang menundukkan matahari 
dan bulan adalah Alloh “.&lt;/div&gt;
Karena yang dimaksud dalam ayat diatas itu tidak bertanya kepada lisannya sebab lisan itu &lt;em&gt;mencla-mencle&lt;/em&gt;, tapi bila kamu bertanya kepada hatinya dengan pertanyaan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan langit dan bumi&lt;/i&gt; ? “.&lt;/div&gt;
Mesti jawabannya Hati adalah :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAYAQUULUNNALLOOHU.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(&lt;i&gt;Yang menciptakan langit dan bumi adalah Alloh&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;
Jadi yang dituju dalam ayat &amp;nbsp;(WALA-IN SA-ALTAHUM) itu adalah hatinya,
 bukan lesannya orang-orang kafir, sebab lesannya orang-orang kafir itu 
hanyalah berdusta yakni lesannya menyatakan tidak percaya kepada Alloh 
(ini hanya dusta lesannya saja), tapi &lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;sebetulnya Nafs mereka tetaplah mengakui percaya kepada Alloh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, makanya dalam Alqur-an banyak disebutkan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNALLADZIINA KAFARUU WAKADZDZABUU.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang kafir dan orang-orang yang berdusta “.&lt;/div&gt;
Mengapakah lesannya orang kafir itu mendustakan Alloh ?, padahal hatinya tidak.&lt;br /&gt;

Karena sebagian dari orang-orang kafir itu memakai alasan bahwa oleh 
karena tidak pernah bertemu dengan Tuhan maka berarti Tuhan itu tidak 
ada.&lt;br /&gt;

Perlu diketahui ; bahwasannya tidak bertemu itu berbeda dengan tidak ada.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;i&gt;Misalnya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

Ada suatu barang, lalu kita mencari barang tersebut, tapi dalam 
pencarian itu kita tidak menemukannya, maka bukan berarti barang yang 
belum ditemukan itu tidak ada, sebab kalau toh tidak ada lalu kenapa 
kita mencarinya ?&lt;br /&gt;

Sebenarnya ada tapi tidak ketemu.&lt;br /&gt;

Jadi orang kafir itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;hanya berdusta saja&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;div style="text-align: left;"&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;strong&gt;TIDAK ADA YANG MAMPU MENIMBULKAN IMAN&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;Apakah haqiqotul imannya orang kafir itu hilang ?&lt;br /&gt;

Tidak hilang, tidak akan hilang, kanjeng Nabi dawuh :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM : KULLU MAULUUDIN YUULADU `ALAL FITHROH.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Bersabda Rosululloh S.A.W : ” Tiap-tiap anak yang lahir itu mesti lahir membawa Fithrotul Iman “.&lt;/div&gt;
Jadi hakekat iman itu sudah pembawaan.&amp;nbsp;Iman itu bukan timbul dari 
ajaran seorang guru,&amp;nbsp;Bukan timbul dari dalil Alqur-an,&amp;nbsp;Bukan timbul dari
 dalil alam.&lt;br /&gt;

Sebab iman itu memang sudah pembawaan ANFUS dari alam Arwah sebelum 
NAFS memakai jasmani, oleh sebab itu begitu lahir langsung membawa 
Fithrotul iman :&lt;br /&gt;

Sedemikian dalamnya masalah iman ini sampai Alloh berfirman dalam surat Al An`am :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALAU ANNANAA NAZZALNAA ILAIHIMUL 
MALAAIKATA WAKALLAMAHUMUL MAUTAA WAHASYARNAA `ALAIHIM KULLA SYAI-IN 
QUBULAN MAA KAANUU LIYU`MINUU (Al An`am / 111).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dan seandainya Kami turunkan 
kepada mereka seluruh malaikat tujuh langit, dan seandainya seluruh 
orang-orang mati (semua orang mati mulai dari Nabi Adam dibangkitkan 
hidup lagi) untuk bercakap-cakap dengan mereka, dan seandainya Kami 
himpunkan kepada mereka tiap-tiap sesuatu dengan berhadapan, niscaya 
tiadalah mereka akan beriman “.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Jadi marilah kita renungkan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

Seluruh apa yang ada di jagad ini tidak ada yang mampu membawa amanat Alloh.&lt;br /&gt;

Yang pertama ditawari adalah langit, lalu bumi, kemudian gunung, semuanya tidak sanggup menerima tawaran itu.&lt;br /&gt;

Maka manusia yang tidak ikut ditawari amanat tersebut menyatakan mampu.&lt;br /&gt;

Dan setelah Nafs memakai jasmani, maka manusia jadi &lt;b&gt;&lt;i&gt;lupa akan tauhid rububiyyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karena selama beberapa tahun tertutup, tutupnya pun berlapis-lapis.&lt;br /&gt;

Oleh sebab itulah maka Alloh memerintahkan Rosul ke dunia ini untuk 
mengingatkan saja supaya manusia itu tidak jatuh pada musyrik, supaya 
sesuai dengan tauhidnya. &amp;nbsp;Jadi Rosul bukan untuk meng-imankan seseorang,
 tapi hanya mengingatkan saja…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;ROSUL DIUTUS BUKAN UNTUK  MENGIMANKAN MANUSIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Karena di dalam hati manusia pasti ada iman, maka Rosul diutus ke 
dunia ini bukanlah untuk mengimankan manusia kepada Alloh Ta’ala karena 
hal itu merupakan &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;pekerjaan yang tahsilul hasil&lt;/span&gt;, pekerjaan yang sia-sia, karena didalam JIWA semua manusia itu telah iman, hanya saja manusia itu menyeleweng atau lupa.&lt;br /&gt;

Perhatikan Ayat berikut :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
AFALAA YANDHURUUNA ILAL IBILI KAIFA KHULIQOT.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA-ILAS SAMAA-I KAIFA RUFI`AT .&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA-ILAL JIBAALI KAIFA NUSHIBAT.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA-ILAL ARDLI KAIFA SUTHIHAT.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FADZAKKIR INNAMAA ANATA MUDZAKKIR.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
( Al Ghoosyiyah / 17 – 21 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Apakah kamu tidak melihat 
kepada unta, betapakah unta itu dijadikan ?. Dan apakah kamu tidak 
melihat kepada langit, betapakah langit&amp;nbsp; itu ditinggikan ?. Dan apakah 
kamu tidak melihat kepada bukit-bukit, betapakah bukit-bukit itu 
ditegakkan ?. Dan apakah kamu tidak melihat kepada bumi, betapakah bumi 
itu dihamparkan ?. Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau adalah 
orang yang memberi peringatan “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;span id="more-5325"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Cobalah diangan-angan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;:&lt;br /&gt;

Setelah menyebut unta kok menyebut langit, gunung, dan bumi?&lt;br /&gt;

Sedangkan didalam surat Ahzab / ayat 72 diterangkan ; bahwa amanat 
Alloh itu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, lalu siapakah 
untanya ?&lt;br /&gt;

Untanya yang di padang pasir adalah saya dan kita semua yang glinuk-glinuk ini (manusia).&lt;br /&gt;

Kemudian ayat tersebut diakhiri dengan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FADZAKKIR INNAMAA ANTA MUDZAKKIR.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” &lt;i&gt;Maka berilah peringatan, sesungguhnya engkau adalah orang yang memberi peringatan&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Jadi kanjeng Nabi itu hanyalah mengingatkan.&lt;br /&gt;

Mengapakah diingatkan ?&lt;br /&gt;

Adanya diingatkan, karena manusia itu membawanya tetapi lupa atau 
tidak tahu akan apa yang dibawa, seperti binatang unta. Dan yang membuat
 manusia lupa itu banyak sekali sebabnya.&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;strong&gt;KENDARAANNYA JIWA&amp;nbsp; SELAMA&amp;nbsp; MENGEMBARA DI DUNIA&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

NAFS manusia memang ditugaskan oleh Alloh untuk mengembara di dunia atau menjadi musafir di dunia.&lt;br /&gt;

Jadi ANFUS itu bukan penduduk asli dunia, NAFS itu penduduk sana, adapun perlunya kesini adalah untuk mengembara.&lt;br /&gt;

Dan berhubung dunia ini adalah materi maka sebelum Nafs turun ke 
dunia, maka disiapkanlah kendaraannya dulu yaitu Alloh menciptakan yang 
namanya &lt;strong&gt;badan/jisim/jasad&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Didalam surat Al A`rof / ayat 148 disebut jasad&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
MIN HULIYYIHIM `IJLAN &lt;strong&gt;JASADAN&lt;/strong&gt; LAHU KHUWAARUN.&amp;nbsp;(Al A`rof / ayat 148).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dari perhiasan emas-emas dijadikan anak sapi yang berjasad, dan anak sapi itu memiliki suara “.&lt;/div&gt;
Ayat ini ada hubungannya dengan peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa
 ketika munajat di gunung Thursina` selama 40 hari akan menerima Kitab 
Taurot.&lt;br /&gt;

Ketika ditinggal munajat itulah maka salah seorang kaumnya Nabi Musa 
yang bernama Samiri mengumpulkan perhiasan orang banyak, diantaranya 
berupa kalung, gelang, dsb, lalu emas tersebut dibentuk menjadi seekor 
anak sapi, kemudian anak sapi itu disihir sehingga bisa bersuara. 
Selanjutnya kaumnya Nabi Musa disuruh oleh Samiri untuk menyembah seekor
 anak sapi tersebut, akhirnya semua kembali musyrik lagi.&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Didalam surat Yunus / ayat 92 disebut badan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
FAL YAUMA NUNAJJIIKA BI&lt;strong&gt;BADAN&lt;/strong&gt;IKA LITAKUUNA LIMAN KHOLFAKA AAYATAN&amp;nbsp;(Yunus / ayat 92).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Pada hari ini Kami selamatkan
 badan engkau (badannya Fir`aun diselamatkan oleh Alloh dari kerusakan),
 supaya menjadi ayat/tanda bagi orang yang kemudian “.&lt;/div&gt;
Jadi badannya Fir`aun sampai sekarang ini masih utuh yakni sekarang 
dimasukkan kaca di museum Mesir, dimaksudkan agar menjadi ayat atau 
pelajaran bagi manusia bahwa Fir`aun itu adalah seorang raja kaya yang 
ma`shiyat kepada Alloh Ta`ala.&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Dalam Surat Al Baqoroh / ayat 247 disebut jisim&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
BASTHOTAN FIL `ILMI WAL &lt;strong&gt;JISM&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(Al Baqoroh / ayat 247).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Ilmu yang luas dan jisim yang kuat “.&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Mengapa disebut jisim&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ?&lt;br /&gt;

Jisim itu berarti : susunan.&lt;br /&gt;

Semua wujud yang tersusun dari beberapa unsur dinamakan jisim.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI 
WASALLAM : KHOLAQOLLOOHUL INSAANA MIN ARBA`ATI ASY-YAA-A, MINAL MAA-I 
WATTUROOBI WANNAARI WARRIIHI.&amp;nbsp; (Al Hadits).&lt;/div&gt;
Kitab Arrohmatuth Thiibi wal Hikmah.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Bersabda Rosululloh S.A.W : ” 
Alloh Ta`ala telah membuat jisimnya manusia itu dari empat perkara, dari
 air, dari tanah, dari api, dan dari angin “.&lt;/div&gt;
Jadi jasmaninya manusia itu disusun dari empat unsur :&lt;br /&gt;

&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Air&lt;/b&gt;, mengandung basah : &amp;nbsp; (ruthoobun).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tanah/bumi&lt;/b&gt;, mengandung kering : (yabisun).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Api&lt;/b&gt;, yang&amp;nbsp; mengandung daya panas : (haarun).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Angin&lt;/b&gt;, mengandung dingin : (bardun).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Jadi didalam jasmani manusia itu terkumpulnya api, angin, air, bumi, atau kumpulnya tabi`at panas, dingin, basah, kering.&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Kadang ada yang kebanyakan apinya sehingga mudah marah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ada yang kadang lebih banyak anginnya dari pada apinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kadang ada yang lebih banyak daya buminya dari pada lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dan terkadang lebih banyak unsur airnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Inilah yang menimbulkan macam-macam tabi`atnya manusia.&lt;br /&gt;

Kemudian inti sari dari empat unsur itu diproses oleh Alloh Ta`ala menjadi &amp;nbsp;(sulaalah) :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALAQOD KHOLAQNAL INSAANA MIN SULAALATIN MIN THIIN. (Al Mu`minuun).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dan sungguh telah Kami ciptakan manusia itu dari sulaalah dari ath thiin “.&lt;/div&gt;
Letaknya (sulaalah) itu di tempat yang namanya (ath-thiin).&lt;br /&gt;

Sulaalah yang ada di ath-thiin itu diproses menjadi nuthfah yang tempatnya itu antara shulbi wat tarooib :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
YAKHRUJU MIN BAINIS SHULBI WAT TAROO-IB.&amp;nbsp;(Ath Thooriq / ayat 7).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Yang keluar dari antara Shulbi dan Taroo-ib “.&lt;/div&gt;
Setelah bertempat di antaranya lalu diproses oleh Alloh Ta`ala di 
&amp;nbsp;(AL ARHAAM) yang ada di alam kandungan, atau kadang-kadang dinamakan 
&amp;nbsp;(QOROORIN MAKIIN).&lt;br /&gt;

Selama sembilan bulan diproses didalam &amp;nbsp;&amp;nbsp;(DHULUMAATIN TSALAATS) dan disitulah manusia itu digambar.&lt;br /&gt;

Ini sebagaimana diterangkan dalam ayat Alqur-an :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
YAKHLUQUKUM FII BUTHUUNI UMMAHAATIKUM KHOLQON MIN BA`DI KHOLQIN FII DHULUMAATIN TSALAATSIN. (Az Zumar / 6).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dia (Alloh) menciptakan kamu dalam perut ibumu, penciptaan demi penciptaan didalam tiga lapis kegelapan “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
HUWALLADZII YUSHOWWIRUKUM FIL ARHAAMI KAIFA YASYAA-U (Ali Imron / 6).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dialah Dzat yang menggambar kamu didalam Arham sebagaimana dikehendakiNya “.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Sebelum manusia dilahirkan, ia diproses dulu selama 40 hari X 3.&lt;br /&gt;

Dan setelah diproses selama 40 hari X 3, lalu mulai turun Ruh yang ditiupkan dari Malaikat.&lt;br /&gt;

Keterangan ini disebutkan dalam sebuah hadits Nabi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLA ROSUULULLOOHI SHOLLALLOOHU `ALAIHI WASALLAM :&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNA AHADAKUM YUJMA`U KHOLQU FII BATHNI 
UMMI. ARBA`IINA YAUMAN NUTHFATAN, TSUMMA YAKUUNU `ALAQOTAN MITSLA 
DZAALIKA, TSUMMA YAKUUNU MUDLGHOTAN MITSLA DZAALIKA, TSUMMA YURSALU 
ILAIHIL MALAKU WAYANFUKHU FIIHIR RUUHU WAYU`MARU BI-ARBA`ATI KALIMAATIN&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Bersabda Rosululloh S.A.W : ” 
Sesungguhnya tiap-tiap salah seorang kamu itu dikumpulkan kejadiannya 
didalam perut ibu. Selama 40 hari kamu menjadi nuthfah, kemudian kamu 
menjadi `alaqoh selama 40 hari, lalu menjadi mudlghoh selama 40 hari, 
kemudian Alloh Ta`ala mengutus Malaikat maka Malaikat meniupkan Ruh 
didalamnya dan perintah menulis empat kalimat “.&lt;/div&gt;
Jadi setelah nuthfah ada didalam Arham selama 40 hari X 3 maka 
barulah ada Ruh dari Unsur Malaikat yakni Malaikat meniupkan Ruh pada 
jasmani itu tadi.&lt;br /&gt;

Tiupan dari Malaikat itu disebut : (JISMUN LATHIIFUN).&lt;br /&gt;

Tulisan di atas banyak keterangan yang tersamar tentang Mi’roj 
manusia, atau kalau di tempat lain disebut MIGRASI JIWA. Cobalah di baca
 lagi dan di angan-angan..&lt;br /&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/hakekat-iman.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNL8DeL4fRUc9QH7GSsanSNwvXsdh6JWi3NJPWm0jTXXgWmKGJnpTzXXzYwASqL7twXr0AF7I_wTPlYin4LpEiujUrKjLOwYcOBMKxR2gQJQ0R4WMaoVDuBzcwoP5LWJDiwB-PT1SaBvg/s72-c/iman.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-3528398088003977509</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 16:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T23:41:07.593+07:00</atom:updated><title>Allah Menawarkan Amanah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpb7SnUSC2MT37sZNHEvnCMZS8VhwDpTHgPEqgGuF3yB4YloR37hPeU1Iv4HkkP6OhiwTCZbOVuEYFHFDw4NKDufwe0CO6sG9Ql4JxhB0RFuGY-cwE55Hakw1gnXs1nyFqTgWHK23fYwA/s1600/Amanah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpb7SnUSC2MT37sZNHEvnCMZS8VhwDpTHgPEqgGuF3yB4YloR37hPeU1Iv4HkkP6OhiwTCZbOVuEYFHFDw4NKDufwe0CO6sG9Ql4JxhB0RFuGY-cwE55Hakw1gnXs1nyFqTgWHK23fYwA/s400/Amanah.jpg" width="343" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;em&gt;* Dalam Tulisan-tulisan yang akan datang, &amp;nbsp;seringkali istilah 
NAFS disamakan dengan RUH. Itu hanya untuk memudahkan pemahaman saja. 
&amp;nbsp;Sedangkan untuk detail NAFS dan RUH bisa di baca &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;pada tulisan 
sebelumnya. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;***&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

Sebelum manusia muncul di permukaan bumi, manusia itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;sudah ada&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &amp;nbsp;Dimana ?&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;&lt;i&gt;Di alam Arwah atau lebih tepatnya di Alam lautan Anfus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

Ketika jagad ini sudah lengkap diciptakan ; sudah ada langit, bumi, 
gunung, dsb, tetapi manusia belum ada di permukaan bumi ini, maka 
sebenarnya ketika itu manusia sudah ada&amp;nbsp; yakni di alam arwah, manusia 
masih belum memakai jasmani, belum pakai kulit, &amp;nbsp;hanya lautan Anfus.&lt;br /&gt;

Belum ada Rosul, belum ada Nabi, masih Ruh/Nafs, kedudukannya sama. 
(Kalau orang satu itu Ruh, tapi kalau orang banyak itu Arwah).&lt;br /&gt;

Maka disitulah Alloh Ta`ala dawuh kepada langit, dawuh kepada bumi, dawuh kepada seluruh gunung yang ada di dunia&amp;nbsp; ini.&lt;span id="more-5276"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Dawuh tersebut adalah sebagaimana yang tersebut dalam surat Ahzab / ayat 72 :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNAA `ARODLNAL AMAANATA `ALAS SAMAAWAATI
 WAL ARDLI WAL JIBAALI FA-ABAINA AN YAHMILNAHAA WA-ASYFAQNA MINHAA 
WAHAMALAHAL INSAANU. INNAHUU KAANA DHOLUUMAN JAHUULAA. (Al Ahzab / ayat 
72).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya Aku (Alloh) 
menawarkan amanat atas langit tujuh dan bumi dan gunung-gunung (tapi Ruh
 tidak ikut ditawari), maka langit dan bumi serta gunung-gunung enggan 
memikulnya dan takut menerima amanat tersebut, kemudian manusia sanggup 
membawa amanat itu. Sesunggguhnya manusia itu dholim dan bodoh “.&lt;/div&gt;
Satu ayat dalam surat Al Ahzab / ayat 72 ini marilah kita renung-renungkan bersama :&lt;br /&gt;

Dalam ayat ini menyebut empat makhluq ; yakni langit, bumi, gunung, dan manusia.&lt;br /&gt;

Adapun yang ditawari oleh Alloh Ta`ala untuk membawa amanat itu hanya tiga makhluq ; yaitu langit, bumi, dan gunung, sedangkan &lt;b&gt;&lt;i&gt;manusia tidak ikut ditawari&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

Akan tetapi jangan ditanya memakai bahasa apakah Alloh menawarkan amanat kepada tiga makhluq itu ?&lt;br /&gt;

Tidak usah kita bertanya memakai bahasa apa karena ini adalah masalah hakekat.&lt;br /&gt;

Lho, kok tiga makhluq itu bisa ngomong ; langit bisa ngomong, bumi bisa ngomong, gunung juga bisa ngomong, apa iya ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Alloh Ta`ala berfirman kepada langit : ” &lt;i&gt;Hei langit, terimalah amanatKu&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Alloh Ta`ala juga berfirman kepada bumi : ” &lt;i&gt;Hei bumi, terimalah amanatKu ini&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Begitu juga kepada semua gunung yang bertengger sebesar itu, Alloh berfirman : ” &lt;i&gt;Hei gunung, terimalah amanatKu&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Akan tetapi semua yang ditawari itu menjawab tidak sanggup membawa 
amanat tersebut karena begitu beratnya amanat yang ditawarkan.&lt;br /&gt;

Didalam ayat tersebut, manusia tidak termasuk yang ikut ditawari 
amanat, akan tetapi kemudian Ruh manusia angkat tangan dan menyatakan 
sanggup membawa amanat itu.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” &lt;i&gt;Dan manusia sanggup membawa amanat itu “.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Akan tetapi lucunya, di akhir ayat ini, manusia yang sanggup membawa amanat itu justru disebut :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNAHUU KAANA DHOLUUMAN JAHUULAA.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya manusia itu dholim dan bodoh”.&lt;/div&gt;
Lho mengapakah yang sanggup membawa amanat itu justru dikatakan dholuuman jahuulaa ? Mestinya malah dipuji.&lt;br /&gt;

Dan mengapakah langit, bumi, dan gunung yang tidak sanggup menerima amanat justru tidak disebut dholuuman jahuulaa ?&lt;br /&gt;

Bagaimanakah ini ?&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;APAKAH AMANAT&amp;nbsp;YANG DITAWARKAN ITU ?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Kemudian timbul pertanyaan lagi : ” &lt;i&gt;Apakah amanat yang ditawarkan oleh Alloh Ta`ala itu&lt;/i&gt; ? “.&lt;br /&gt;

Kalau kita membaca di buku-buku dan kitab-kitab tafsir, maka amanat Alloh tersebut ditafsirkan bermacam-macam.&lt;br /&gt;

Namanya saja kitab tafsir, yang dibahas juga banyak, seperti membahas
 : Kalau memang langit, bumi, dan gunung itu tidak sanggup membawa 
amanat, sedangkan manusia sanggup, lalu kuat manakah antara tiga makhluq
 tersebut dengan manusia ?&amp;nbsp; Bila manusia itu sanggup menerima amanat 
berarti manusia itu lebih kuat dari langit, bumi, dan gunung.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; ” &lt;i&gt;Kalau memang kamu (manusia) sanggup menerima amanat maka terimalah amanatKu ini&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

Ini tidak memakai perantaraan Nabi dan Rosul, tetapi langsung antara Alloh dengan Nafs manusia.&lt;br /&gt;

Jadi seluruh Nafs manusia, termasuk Nasf saya dan Nafs saudara, tidak
 pandang bulu, pada waktu itu langsung berhadapan dengan Alloh, tanpa 
hijab, tanpa aling-aling, tanpa perantaraan Nabi/Rosul karena memang 
pada waktu itu belum ada Nabi dan Rosul, semua sama derajatnya ( 
sebagaimana halnya bila kita pergi ibadah hajji yakni pada saat di 
`Arofah semuanya sama ).&lt;br /&gt;

Apakah amanat Alloh tersebut ?&lt;br /&gt;

Amanatnya ialah &lt;b&gt;&lt;i&gt;diberi tawaran&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Allah berfirman dalam S. Al A’raf, 7:172):&lt;/div&gt;
” Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak cucu 
Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap ANFUS 
mereka (seraya berfirman): ‘Bukanlah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: 
‘Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi “.&lt;br /&gt;

ALASTU BIROBBIKUM&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; A (alif) : ” Apakah “.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; LASTU : ” Tidak ada Aku “.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; BIROBBIKUM : ” Tuhanmu “.&lt;br /&gt;

Atau lebih lengkap artinya ialah : ” &lt;i&gt;Apakah Aku ini bukan Tuhanmu&lt;/i&gt; ? “.&lt;br /&gt;

Dalam ayat ini ; Alloh tidak berfirman : ” &lt;i&gt;Aku ini Tuhanmu&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

Tetapi : ” &lt;i&gt;Apakah Aku ini bukan Tuhanmu&lt;/i&gt; ? “.&lt;br /&gt;

Inilah yang ditawarkan oleh Alloh Ta`ala.&lt;br /&gt;

Lalu bagaimanakah jawabannya Ruh ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLUU BALAA&lt;/div&gt;
Artinya : ” ANFUS berkata : Ya, Panjenengan adalah Tuhanku “.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
SYAHIDNAA&lt;/div&gt;
Artinya : ” Aku menyaksikan “.&lt;br /&gt;

`ALAA ANFUSINAA&lt;br /&gt;

Artinya : ” Atas ANFUS saya “.&lt;br /&gt;

Didalam ayat : &amp;nbsp;ALASTU BIROBBIKUM&amp;nbsp; (&lt;i&gt;“Apakah Aku ini bukan Tuhanmu ?”), &lt;/i&gt;disitu ada lafadh : &amp;nbsp;(BIROBBIKUM), dan &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(BIROBBIKUM) inilah &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Rubuubiyyah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

Jawab ANFUS :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QOOLUU BALAA SYAHIDNAA `ALAA ANFUSINAA&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
” Ya, aku menyaksikan atas anfus-ku “.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ini namanya : &lt;b&gt;IJAB&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ini namanya : &lt;b&gt;iqror&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; ini namanya : &lt;b&gt;QOBUL&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

ini namanya : &lt;b&gt;SYAHADATNYA JIWA&lt;/b&gt;, masih belum syahadat jasmani.&lt;br /&gt;

Lha disini inilah Tauhid Rubuubiyyah itu tertanam dalam NAFS/JIWA seluruh manusia.&lt;br /&gt;

Di angan-angan dulu… Bersambung..</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/allah-menawarkan-amanah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgpb7SnUSC2MT37sZNHEvnCMZS8VhwDpTHgPEqgGuF3yB4YloR37hPeU1Iv4HkkP6OhiwTCZbOVuEYFHFDw4NKDufwe0CO6sG9Ql4JxhB0RFuGY-cwE55Hakw1gnXs1nyFqTgWHK23fYwA/s72-c/Amanah.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-5829145672362794939</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 16:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T23:27:48.604+07:00</atom:updated><title>Tauhid atau Syirik ?</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIq0cx1A-_AdWaL8I6vQuXMGjQxwmRZtV7vNOc7gtXQewLsFO1o7Jq38Q-QG94NXUhty20D3sWjCS3WZALqsnBUHdwlR-jBzZx384mvDKToo25Z1pIGOxcXGPEsWObGLZvjQF1imsWrY/s1600/angel.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="346" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIq0cx1A-_AdWaL8I6vQuXMGjQxwmRZtV7vNOc7gtXQewLsFO1o7Jq38Q-QG94NXUhty20D3sWjCS3WZALqsnBUHdwlR-jBzZx384mvDKToo25Z1pIGOxcXGPEsWObGLZvjQF1imsWrY/s400/angel.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Orang kafir mengatakan bahwa Alloh-lah 
yang menciptakan alam semesta ini, tapi merka juga di katakan tidak 
berakal. Tidak ber-akal adalah sejelek-jelek hewan melata, dan 
sejelek-jelek hewan melata adalah &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;orang kafir…&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
Dari keterangan sebelumnya, merek aitu TAUHID ATAU SYIRIK ?&lt;br /&gt;

Apabila kita jawab :&amp;nbsp;” &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mereka itu tauhid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; “.&lt;br /&gt;

Maka ini bertentangan dengan beberapa ayat dalam Alqur-an, yakni :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
1. Bertentangan dengan ayat : BAL AKTSARUHUM LAA YA`QILUUN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
2. Dan juga bertentangan dengan ayat : SHUMMUN BUKMUN `UMYUN FAHUM LAA YA`QILUUN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
3. Bertentangan dengan ayat :INNA SYARRODDAWAABBI `INDALLOOHISH SUMMUL BUKMUL LADZIINA LAA YA`QILUUN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
4. Juga bertentangan dengan ayat : INNA SYARRODDAWAABBI `INDALLOOHIL-LADZIINA KAFARUU FAHUM LAA YU`MINUUN.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5270"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
Tetapi seandainya kita jawab :&amp;nbsp;” &lt;b&gt;&lt;i&gt;Mereka itu tidak tauhid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; “.&lt;br /&gt;

Maka akan bertentangan dengan ayat Alqur-an :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN KHOLAQOS 
SAMAAWAATI WAL ARDLO WASAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO 
LAYAQUULUNNALLOOHU.&amp;nbsp;( Q.S. Al `Ankabuut / Ayat 61 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Dan seandainya kamu (Muhammad)
 bertanya kepada orang-orang kafirin dan musyrikin : ” Siapakah yang 
telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi dan siapakah yang telah 
menundukkan matahari dan bulan ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Maka pastilah mereka menjawab : ” Yang 
menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi serta yang menundukkan matahari 
dan bulan adalah Alloh “.&lt;/div&gt;
Padahal ini adalah Firman Alloh sendiri dalam Alqur-an, dan memang 
benar bahwa kenyataannya Alloh-lah Dzat Yang Menciptakan langit dan 
bumi.&lt;br /&gt;

Lihatlah dalam Alqur-an surat Al A`rof , surat Yunus, surat Ibrohim, dan dalam surat Sajadah, semuanya menerangkan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
ALLOOHUL LADZII KHOLAQOS SAMAAWAATI WAL ARDLO.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Alloh adalah Dzat yang menciptakan langit dan bumi “.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Ketika mereka (orang-orang kafir) ditanya : &amp;nbsp;MAN KHOLAQOS SAMAAWAATI WAL ARDLO ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?).&lt;/div&gt;
Kemudian mereka menjawab :&amp;nbsp;LAYAQUULUNNALLOOH.&amp;nbsp;(Yang menciptakannya adalah Alloh).&lt;br /&gt;

Bukankah ini jawaban yang benar ?&lt;br /&gt;

Seandainya jawaban ini tidak benar, lalu siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?&lt;br /&gt;

Bila ditanya lagi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
MAN SAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO ?&amp;nbsp;(Siapakah yang menundukkan matahari dan bulan ?).&lt;/div&gt;
Kalau dijawab :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAYAQUULUNNALLOOH.&amp;nbsp;(Yang menundukkan matahari dan bulan adalah Alloh).&lt;/div&gt;
Maka ini adalah jawaban yang sesuai dengan Alqur-an :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WASAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO KULLUN YAJRII LI-AJALIN MUSAMMA. DZAALIKUMULLOOHU ROBBUKUM. (Faathir / 13).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dia (Alloh) menundukkan 
matahari dan bulan, masing-masing berjalan sesuai waktu yang ditentukan.
 Itulah ciptaan Alloh, Tuhanmu “.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Bila diberi pertanyaan lagi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
MAN NAZALA MINAS SAMAA-I MAA-AN FA-AHYAA BIHIL ARDLO BA`DA MAUTIHAA ?&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
( Siapakah yang menurunkan air dari langit yang dengan air itu bumi menjadi hidup ?).&lt;/div&gt;
Kalau dijawab :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
LAYAQUULUNNALLOOH&amp;nbsp;( Yang menurunkan air dari langit adalah Alloh ).&lt;/div&gt;
Maka ini adalah jawaban yang juga cocok dengan ayat Alqur-an :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WA-ANZALA MINASSAMAA-I MAA-AN FA-AHYAA BIHIL ARDLO BA`DA MAUTIHAA.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Dan Kami (Alloh) telah menurunkan air dari langit, maka hiduplah bumi dengan air itu setelah matinya “.&lt;/div&gt;
” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan langit&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan bumi&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan matahari&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan bulan&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan hujan dari langit&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menghidupkan tumbuh-tumbuhan&lt;/i&gt; ? “.&amp;nbsp;Mereka menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;br /&gt;

Apakah orang-orang yang menjawab dengan jawaban yang benar ini disebut ” musyrik ” ?.&lt;br /&gt;

Apakah ada jawaban lain yang lebih benar ?&lt;br /&gt;

Adakah yang menciptakan langit itu selain Alloh ?&lt;br /&gt;

Inilah rumitnya masalah Tauhid Rububiyyah.&lt;br /&gt;

Bila mereka itu ‘&lt;b&gt;&lt;i&gt;tauhid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;‘, padahal yang dituju dalam ayat di atas &amp;nbsp;adalah orang kafir dan&amp;nbsp; musyrik.&lt;br /&gt;

Tapi kalau disebut mereka itu ‘&lt;b&gt;&lt;i&gt;musyrik&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;‘, padahal 
jawaban mereka itu sesuai dengan i`tiqod tauhid yakni mengakui bahwa 
tidak ada yang menciptakan jagad ini selain Alloh.&lt;br /&gt;

I`tiqod tauhid adalah i`tiqod yang suci, kebalikannya i`tiqod tauhid 
adalah i`tiqod syirik, dan i`tiqod syirik adalah i`tiqod najis :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNAMAL MUSYRIKUUNA NAJASUN. (At Taubat).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya orang-orang musyrik itu adalah najis “.&lt;/div&gt;
Dan bila orang yang menjawab : LAYAQUULUNNALLOOH itu disebut 
bertauhid, maka pasti mereka itu aman, karena Alloh Ta`ala berfirman 
dalam hadits qudsi :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
MAN ATHORROLII BITTAUHIIDI DAKHOLA HISNII, WAMAN DAKHOLA HISNII AMINA `ADZAABII.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Barang siapa yang mendapatkan
 tauhid dalam hatinya maka orang itu masuk GedungKu, dan barang siapa 
yang masuk GedungKu maka ia aman dari siksaKu “.&lt;/div&gt;
Menurut hadits qudsi ini ; kalau ingin aman dari siksa Alloh maka harus masuk Gedung Tauhid.&lt;br /&gt;

Kalau mereka itu dikatakan tauhid, berarti mereka&amp;nbsp; itu sudah suci dan
 sudah tidak terkena ancaman neraka karena sudah masuk gedung tauhid.&lt;br /&gt;

Padahal yang dituju dalam ayat :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN KHOLAQOS 
SAMAAWAATI WAL ARDLO WASAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO 
LAYAQUULUNNALLOOHU.&amp;nbsp;( Q.S. Al `Ankabuut / Ayat 61 ).&lt;/div&gt;
yang dituju dalam ayat ini adalah orang-orang kafir.&lt;br /&gt;

Padahal jawaban mereka (orang-orang kafir) : ” LAYAQUU-LUNNALLOOHU ” 
itu adalah jawaban yang sesuai dengan beberapa ayat dalam Alqur-an atau 
sesuai dengan aqidah tauhid.&lt;br /&gt;

Bagaimanakah mengenai masalah ini ?&lt;br /&gt;

Pilihan jawabannya hanya ada dua : tauhid atau syirik ?&lt;br /&gt;

Kalau jawabannya benar maka pahalanya besar.&lt;br /&gt;

Akan tetapi bila anda menjawabnya keliru maka nanti kami juga ikut disalahkan.&lt;br /&gt;

Memang masalah tauhid rububiyyah ini adalah masalah yang tidak mudah.&lt;br /&gt;

Maka pada tulisan-tulisan selanjutnya inilah akan kami mulai 
mengungkap persoalan tauhid rububiyyah, oleh sebab itu saudara harus 
berusaha mengulang-ulang membaca tulisan ini.&amp;nbsp;Memang ini dibikin sejelas
 mungkin. Maklumlah, saudara kita banyak. Tidak semua bisa paham hanya 
dengan keterangan yang singkat.&lt;br /&gt;

Pada tulisan berikutnya mulai masuk kedalam inti bahasan Tauhid Rubbubiyyah..&lt;br /&gt;




        </description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/tauhid-atau-syirik.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkIq0cx1A-_AdWaL8I6vQuXMGjQxwmRZtV7vNOc7gtXQewLsFO1o7Jq38Q-QG94NXUhty20D3sWjCS3WZALqsnBUHdwlR-jBzZx384mvDKToo25Z1pIGOxcXGPEsWObGLZvjQF1imsWrY/s72-c/angel.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-8656723968539734401</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 16:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T23:06:34.656+07:00</atom:updated><title>Tauhid Rububiyyah</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimVQfxX4BzxRa5phZEiMqaCHPIvy5g9nIALlsHtbVs5naSaf-hf9oeOpBw97zshTP5WmV8vgbXegm6tEsNw6gLo9coJgp2L5rJbwICqNSTEM1vXLA7wFVYqcNKrDuleM1Q5UoTOVYxGuU/s1600/tauhid-22.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="290" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimVQfxX4BzxRa5phZEiMqaCHPIvy5g9nIALlsHtbVs5naSaf-hf9oeOpBw97zshTP5WmV8vgbXegm6tEsNw6gLo9coJgp2L5rJbwICqNSTEM1vXLA7wFVYqcNKrDuleM1Q5UoTOVYxGuU/s400/tauhid-22.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sebelum saudara mengikuti apa-apa yang ada di &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sirna Raga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, ada yag perlu diperhatikan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Apa-apa yang dimuat di sini, &lt;strong&gt;jangan tergesa-gesa ditelan mentah-mentah&lt;/strong&gt;, tapi &lt;strong&gt;jangan juga &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;tergesa-gesa ditolak mentah-mentah.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Apa Sebab?&lt;/div&gt;
&lt;ol start="1" type="1"&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sebab dari yang ada didalam yang kami sampaikan.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
  Ya kalau yang kami sampaikan benar, kalau salah; nanti saudara termasuk orang yang menelan kesalahan.&lt;br /&gt;
  Sebaliknya, ya kalau salah, kalau benar; berarti saudara termasuk orang yang menolak kebenaran&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;ol start="2" type="1"&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Sebab dari yang ada pada diri saudara-saudara sendiri. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
  Yaitu pertimbangan akal sehat. Akal berfungsi untuk menimbang baik-buruk, benar-salah, layak-patut dsb, jadi ditimbang dulu.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div&gt;
Meskipun begitu kalau menimbang juga dipengaruhi oleh rasa. Rasa 
hati berpengaruh pada senang dan benci. Jika akal saudara condong pada 
saya, tentu saja akan ditelan saja karena senang. Jika saudara benci 
pada saya, apa yang kami sampaikan pasti ditolak.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ini moqodimmah yang perlu kami sampaikan. Apa latar belakan muqodimmah ini perlu kami sampaikan?&lt;br /&gt;
 Karena yang kami muat di &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sirna Raga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; sering kali banyak &lt;strong&gt;perbedaan&lt;/strong&gt; dengan pendapat umum, tapi bukan &lt;strong&gt;pertentangan.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jika pertentangan bisa menimbulkan konflik dan dendam, tapi jika perbedaan bisa harmonis, seperti bhinneka tunggal ika.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;strong&gt;Jadi banyak perbedaan tapi bukan pertentangan.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saya tidak akan minta saudara menerima apa yang kami sampaikan di &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sirna Raga&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. diterima syukur, ditolak juga tidak masalah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Kalau memang benar yang kami sampaikan, itu semata-mata pertolongan
 dari Alloh semata. Kalau yang kami sampaikan tidak benar, itu memang 
kami yang bodoh dan lemah.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Selamat mengikuti !!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sebelumnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika nantinya ada 
pertanyaan atau komentar yang agak sensitif, kami pura-pura tidak tahu. 
Artinya tidak kami tanggapi. Harap maklum.&amp;nbsp;
Apabila sudah memasuki bidang tauhid rububiyah, maka yang mengulas 
ini merasa punya tanggung jawab yang besar, karena bila sampai keliru 
maka bahayanya besar,&amp;nbsp; tapi sebaliknya, bila tidak keliru maka besar 
pahalanya. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;

Pembahasan tauhid rububiyyah ini memerlukan kehati-hatian dan harus 
di baca berulang-ulang. Memang ini sudah memasuki bidang yang rumit 
tetapi kita janganlah mundur karena kerumitan karena dibalik yang rumit 
itu ada yang manis, oleh sebab itu kita berharap mudah-mudahan kita 
mampu memahaminya, amiin…….&lt;span id="more-5200"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;***&lt;br /&gt;

Sekarang memasuki bidang pembahasan &lt;b&gt;&lt;i&gt;“Tauhid Rubuubiyyah”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;

Dan sumber pembahasan Tauhid Rubuubiyyah dalam tulisan ini tidak kami
 ambilkan dari&amp;nbsp; kitab-kitab ilmu tauhid atau kitab-kitab ilmu kalam, 
akan tetapi kami ambilkan dari sumbernya segala sumber, yakni wahyu 
Ilahi atau kitab suci Alqur-an.&lt;br /&gt;

Didalam Alqur-an ada beberapa ayat yang mene-rangkan tentang 
persoalan Tauhid Rubuubiyyah, adapun bunyi ayat-ayat tersebut adalah 
sebagai berikut :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN KHOLAQOS 
SAMAAWAATI WAL ARDLO WASAKHKHOROSY SYAMSA WAL QOMARO 
LAYAQUULUNNALLOOHU.&amp;nbsp;( Q.S. Al `Ankabuut / Ayat 61 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Dan seandainya kamu (Muhammad)
 bertanya kepada orang-orang kafirin dan musyrikin : ” Siapakah yang 
telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi dan siapakah yang telah 
menundukkan matahari dan bulan ? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&amp;nbsp;Maka pastilah mereka menjawab : ” Yang 
menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi serta yang menundukkan matahari 
dan bulan adalah Alloh “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN NAZALA MINAS 
SAMAA-I MAA-AN FA-AHYAA BIHIL ARDLO MIN BA`DI MAUTIHAA 
LAYAQUULUNNALLOOHU QULILHAMDULILLAAHI BAL AKTSARUHUM LAA YA`QILUUN.&amp;nbsp;( 
Q.S. Al `Ankabuut / Ayat 63 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Dan seandainya kamu (Muhammad)
 bertanya kepada orang-orang kafirin dan musyrikin : “Siapakah yang 
telah menurunkan air dari langit, yang dengan air itu bumi menjadi hidup
 setelah matinya? “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Maka pastilah mereka menjawab : ” Yang 
telah menciptakan air, dan yang telah menurunkan hujan dari langit, 
serta yang telah menghidupkan bumi dengan air hujan setelah bumi itu 
mati, adalah Alloh, tidak ada lainnya “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Katakanlah (Muhammad) : ” Segala puji kepunyaan Alloh “.&amp;nbsp;Tetapi kebanyakan manusia tidak menggunakan aqal “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
WALA-IN SA-ALTAHUM MAN KHOLAQOS SAMAAWAATI WAL ARDLO LAYAQUULUNNA KHOLAQOHUNNAL `AZIIZUL `ALIIM.&amp;nbsp;( Q.S. Az Zukhruf / Ayat 9 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : “Dan seandainya kamu (Muhammad)
 bertanya kepada orang-orang kafirin dan musyrikin : ” Siapakah yang 
telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi?”.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Maka pastilah mereka menjawab : ” Yang 
telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi adalah Dzat Yang Maha 
Perkasa – Maha Pandai “.&lt;/div&gt;
Tiga ayat ini menjadi pokok pembahasan Tauhid Rubuubiyyah.&lt;br /&gt;

Akan tetapi pada ayat yang kedua diatas yakni surat Al `Ankabut/ayat 63, akhir ayatnya menegaskan :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
QULIL HAMDULILLAAHI BAL AKTSARUHUM LAA YA`QILUUN.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : Katakanlah (Muhammad) : “Segala puji kepunyaan Alloh “, tetapi kebanyakan manusia tidak menggunakan aqal.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;PERSOALAN YANG MUNCUL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Berdasarkan keterangan pada beberapa ayat diatas, maka seandainya semua manusia itu ditanya :&lt;br /&gt;

Siapakah yang menjadikan langit ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menjadikan bintang ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menjadikan matahari ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menjadikan bulan ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menurunkan hujan ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menghidupkan bumi ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
Siapakah yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Pasti menjawab : ” &lt;i&gt;Alloh&lt;/i&gt; “.&lt;/div&gt;
( Tidak ada orang yang menjawab selain itu ).&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

Kalau tiga ayat ini digandeng :&lt;br /&gt;

” &lt;i&gt;Siapakah yang menciptakan seluruh jagad ini&lt;/i&gt; ? “.&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Walhasil semuanya pasti menjawab :&amp;nbsp;” ALLOOHUL `AZIIZUL `ALIIM “.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
( &lt;i&gt;Yang menciptakan semua jagad ini adalah Alloh Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Pandai&lt;/i&gt; ).&lt;/div&gt;
Maka orang yang menjawab dengan jawaban sebagaimana diatas itu, apakah mereka termasuk ber-&lt;b&gt;tauhid&lt;/b&gt; ataukah &lt;b&gt;syirik&lt;/b&gt;? apakah &lt;b&gt;kafir&lt;/b&gt; ataukah &lt;b&gt;syirik&lt;/b&gt; ?&lt;br /&gt;

Untuk menjawab masalah ini, kita haruslah hati-hati, karena lafadz 
(SA-ALTAHUM) dalam tiga ayat diatas adalah ditujukan kepada orang-orang 
kafir, akan tetapi orang-orang kafir dalam tiga ayat tersebut juga 
mengakui bahwa yang menciptakan alam semesta ini adalah Alloh Ta`ala.&lt;br /&gt;

Kalau mereka itu dikatakan &lt;b&gt;tauhid&lt;/b&gt;, lalu mengapakah dalam 
keterangan ayat lain mereka itu disebut kafir ?, bahkan dalam akhir ayat
 surat Al Ankabut / ayat 63 dikatakan :&amp;nbsp;BAL AKTSARUHUM LAA YA`QILUUN. 
&amp;nbsp;(Tetapi kebanyakan mereka itu tidak menggunakan aqal).&lt;br /&gt;

Namun kalau mereka dikatakan &lt;b&gt;tidak tauhid&lt;/b&gt;, padahal dalam beberapa ayat diatas mereka itu mengakui bahwa Pencipta seluruh alam semesta adalah Alloh Ta`ala.&lt;br /&gt;

Lalu bagaimanakah persoalan ini ?&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;strong&gt;BAL AKTSARUHUM LAA YA`QILUUN&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
Seandainya orang yang mengakui Alloh Ta`ala itu disebut ‘&lt;i&gt;bertauhid&lt;/i&gt;‘,
 lalu mengapakah dalam akhir ayat tersebut dikatakan :&amp;nbsp;BAL AKTSARUHUM 
LAA YA`QILUUN.&amp;nbsp;(Tetapi kebanyakan mereka itu tidak menggunakan aqal).&lt;br /&gt;

Padahal orang yang tidak berakal itu didalam surat Al Baqoroh / ayat 
171 disebut sebagai orang yang tuli hatinya, bisu hatinya dan buta 
hatinya :&lt;br /&gt;

SHUMMUN BUKMUN `UMYUN FAHUM LAA YA`QILUUN ( Albaqoroh / ayat 171 ).&lt;br /&gt;

Artinya : ” Sesungguhnya sejelek-jelek hayawan bagi Alloh ialah 
orang-orang kafir, maka mereka itu tidak berakal 
“.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(SHUMMUN) : Tuli hatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(BUKMUN) : Bisu hatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(`UMYUN) : Buta hatinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
(FAHUM LAA YA`QILUUN) : Maka mereka itu tidak berakal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Kemudian didalam surat Al Anfal / ayat 22, diterangkan bahwa orang 
yang tuli dan bisu serta tidak menggunakan aqal itu adalah sejelek-jelek
 daabbah (makhluq yang melata) :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNA SYARRODDAWAABBI `INDALLOOHISH SUMMUL BUKMUL LADZIINA LAA YA`QILUUN.&amp;nbsp;( Al Anfal/ayat 22 ).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Artinya : ” Sesungguhnya sejelek-jelek daabbah bagi Alloh ialah orang yang tuli dan bisu, adalah mereka itu tidak berakal “.&lt;/div&gt;
Jadi yang disebut orang tidak berakal adalah orang yang tuli dan bisu
 hatinya, dan orang yang tuli dan bisu hatinya itu adalah sejelek-jelek 
makhluq yang melata dibumi.&lt;br /&gt;

Kemudian diperjelas lagi dalam surat Al Anfal / ayat 55, bahwa 
sejelek-jelek makhluq yang melata dibumi adalah orang-orang kafir :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
INNA SYARRODDAWAABBI `INDALLOOHILLADZIINA KAFARUU FAHUM LAA YU`MINUUN ( Al Anfal / ayat 55).&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;i&gt;Artinya: “Sesungguhnya sejelek-jelek hayawan (yang melata) bagi Alloh ialah orang-orang kafir, maka mereka itu tidak beriman”.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
Jadi kalau menurut ayat-ayat ini ; Albaqoroh/171, Al Anfal/ 22, Al 
Anfal /55, orang yang tidak berakal berarti orang itu tidak beriman.&lt;br /&gt;

Padahal didalam Al `Ankabut /ayat 63 ; orang yang mengakui Alloh masih disebut ‘ &lt;i&gt;tidak berakal&lt;/i&gt; ‘ :&lt;br /&gt;

TAUHID ATAU SYIRIK-KAH MEREKA ?&amp;nbsp; Kita lanjutkan di tulisan berikutnya.. (sambil nunggu izin)&lt;/div&gt;
</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/tauhid-rububiyyah.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimVQfxX4BzxRa5phZEiMqaCHPIvy5g9nIALlsHtbVs5naSaf-hf9oeOpBw97zshTP5WmV8vgbXegm6tEsNw6gLo9coJgp2L5rJbwICqNSTEM1vXLA7wFVYqcNKrDuleM1Q5UoTOVYxGuU/s72-c/tauhid-22.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-7744393850663936559</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 15:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T22:43:32.064+07:00</atom:updated><title>Perbedaan Ruh/Nyawa dengan Nafs/Jiwa</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsogZ3To9s4T4Uor9vdU63ciPQlokbox9tR6XW7WCCxIlpYITOy5IkDNBM8dHPwGJnvv_bsMJsyheFcMGfHwHgpaFXj4Z_FPGo1yVlX-iYPWzbfJtTQ6deiqnHIcNpKPTM86OLiMinqQA/s1600/ruh-jiwa-ragas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="302" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsogZ3To9s4T4Uor9vdU63ciPQlokbox9tR6XW7WCCxIlpYITOy5IkDNBM8dHPwGJnvv_bsMJsyheFcMGfHwHgpaFXj4Z_FPGo1yVlX-iYPWzbfJtTQ6deiqnHIcNpKPTM86OLiMinqQA/s400/ruh-jiwa-ragas.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kalau kita googling tentang RUH – NYAWA –
 NAFS – JIWA – JASAD . Justru bikin kita bingung, inilah yang&amp;nbsp; sedikit 
membuat kami takut, boleh tidak kami bahas ini dari pendapat (Thoriqoh) 
kami?&amp;nbsp; Setelah kami &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;analisa dari ratusan sumber pengajian guru kami, 
cukup jelas perbedaan antara RUH/NYAWA – NASF/JIWA – JASAD/JASMANI. 
Setidaknya menghasilkan kesimpulan sbb :&amp;nbsp;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;RUH –&amp;gt;STATIS&amp;nbsp; dan NAFS –&amp;gt;DINAMIS&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;NAFS :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;NAFS merasakan kehidupan, terhubung dengan JASAD ( penghubungnya adalah RUH/NYAWA)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;NAFS merasakan kematian ( hanya merasakan&amp;nbsp; tapi tidak mati).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;NAFS merasakan sesuatu , was-was, susah, sedih, resah, gembira, siksa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;NAFS mengalami naik dan turun, kebangkitan dan kejatuhan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;NAFS yang di janji di alam ‘alastu birrobikum’- TAUHID RUBBUBIYYAH&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;NAFS Barang lama, tapi ada awalnya, artinya diciptakan.&amp;nbsp;&lt;span id="more-5195"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;strong&gt;RUH&lt;/strong&gt; :&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ruh barang lama, tidak diciptakan tapi diwujudkan. Kalau pada manusia istilahnya ditiupkan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Ruh adalah unsur kehidupan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selalu bersih dan terhormat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak Was-was, tidak berkehendak, tidak berhawa, tidak susah, tidak resah, tidak sedih, tidak gembira, tidak merasa siksa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak naik ataupun turun martabatnya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;strong&gt;HUBUNGAN RUH – NAFS dan JASAD&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Secara sederhana, RUH sifat kemuliaan. Jasad sifat hawa, sifat 
kejatuhan. Ruh dan Jasad ibarat KUTUB magnit.&amp;nbsp; Sedangkan NAFS akan 
tertarik ke satu sisi. Jika cenderung ke JASAD akan jatuh ke hawa. Jika 
naik ke RUH akan mencapai kemuliaan.&lt;br /&gt;

NYAWA identik dengan RUH , yaitu unsur kehidupan.&lt;br /&gt;

Nyawa mengikat diantaranya. Mengikat NAFS dan JASAD . Jadi Nyawa 
identik dengan RUH. Sehingga ketika RUH dicabut ( mencabut cop 
listrik??) maka NAFS akan merasakan putus hubungan dengan JASAD. Akan 
merasakan kematian.&lt;br /&gt;

Atau mungkin seperti ini, dalam seperangkat komputer, JASAD adalah 
fisik dari CPU, MONITOR, KEYBOARD, MOUSE. NAFS adalah SOFTWARE / PROGRAM
 dalam komputer. Dan RUH adalah LISTRIK/ENERGI penghidupnya. JASAD 
jelas, NAFS hanya bisa di ketahui keberadaannya jika PC hidup. Dan Agar 
bisa hidup harus ada RUH-nya / Listriknya. Listrik menyambungkan fungsi 
HARDWARE dengan SOFTWARE. &amp;nbsp;Jika listrik mati (dicabut), maka keduanya 
akan terpisah/ tidak befungsi.&lt;br /&gt;

Jika manusia mati, JASAD kembali ke tanah, RUH kembali ke ALAM RUH, 
dan JIWA/NAFS melanjutkan perjalanan panjang (umumnya dikatakan ke Alam 
Barzah)&lt;br /&gt;

Kita boleh bahas ini, tapi boleh juga mengabaikan. Seperti kita 
melihat, mendengar, berbicara, mencium, mersakan, bergerak ataupun 
tidur. Kita boleh memperhatikan hal tersebut boleh juga mengabaikan. 
Kita membahas ataupun tidak, kita tetap melihat, mendengar.. dst. Kita 
meyakini atau pun tidak kalau yang mendengar, melihat dst itu bukan 
jasad kita, kita tetap di dalam hukum Alam tersebut. Kita tetap 
mendengar, melihat dst..&lt;br /&gt;

Kita tidak harus percaya dan menyakini adanya RUH, NAFS yang 
berjalan/bermigrasi dari Alam Alastu birrobikum, hingga Irji’i ila 
robbikii. &amp;nbsp;Karena kita bukan berada diluar kepercayaan, tapi di 
dalamnya.&lt;br /&gt;

Hal tsb hanyalah Hukum Alam biasa yang sudah menjadi ketetapan dari 
Tuhan, dan kita adalah komponen yang berada didalam Hukum Alam ini.&lt;br /&gt;

Bahwa, sama-sama telah kita ketahui yang namanya jiwa/nafs itu tidak 
mengenal mati, oleh karenanya jiwa / nafs ini akan mengalami perjalanan 
panjang. Dari Alam Tauhid Rubbubiyyah hingga kembali. Tapi kapan kita 
kembali padanya ?&amp;nbsp; Semua terserah kita..&lt;br /&gt;

Dikit dulu, nanti di sambung dengan ulasan yang berkaitan dengan 
hal-hal tersebut. Di pahami dulu, agar tidak salah&amp;nbsp; persepsi.&amp;nbsp; Insya 
Alloh.&lt;br /&gt;




        </description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/perbedaan-ruhnyawa-dengan-nafsjiwa.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsogZ3To9s4T4Uor9vdU63ciPQlokbox9tR6XW7WCCxIlpYITOy5IkDNBM8dHPwGJnvv_bsMJsyheFcMGfHwHgpaFXj4Z_FPGo1yVlX-iYPWzbfJtTQ6deiqnHIcNpKPTM86OLiMinqQA/s72-c/ruh-jiwa-ragas.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-5286889864862513734</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 15:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T22:31:27.272+07:00</atom:updated><title>Tuhan Maha Adil</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqGO3djFjJyntsnXUYisXJ_Izk2BEb3aDwlcJu7kc83vwYFLWGI47tv525Fpamb4YfMg-GeMtFAFBFfsOkQx2yH2NJF7URiq-FO0WJ4zCmYOGvSSEvenbmRxpAQ-_1ZvKvbsxACLIhbwE/s1600/timbangan+merah44.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="258" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqGO3djFjJyntsnXUYisXJ_Izk2BEb3aDwlcJu7kc83vwYFLWGI47tv525Fpamb4YfMg-GeMtFAFBFfsOkQx2yH2NJF7URiq-FO0WJ4zCmYOGvSSEvenbmRxpAQ-_1ZvKvbsxACLIhbwE/s400/timbangan+merah44.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Perhatikan Pertanyaan-pertanyaan&amp;nbsp; dibawah ini, pertanyaan yang sajak kecil sudah ada dalam&amp;nbsp; pikiran penulis. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
 Butuh waktu lama untuk menemukan jawaban yang masuk akal dari 
pertanyaan&amp;nbsp; dibawah&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; bahkan&amp;nbsp; sempat&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; masuk&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; pesantren&amp;nbsp; 
dan&amp;nbsp; menanyai beberapa ulama tapi&amp;nbsp; tidak juga mendapati jawaban yang 
masuk akal dan memuaskan. &lt;br /&gt;

Beberapa pertanyaan yang dahulu sering muncul dalam diri penulis adalah :&lt;br /&gt;

1. Menurut pemahaman &lt;i&gt;sebagian&lt;/i&gt; ulama Islam, surga dan neraka 
adalah kekekalan&amp;nbsp;abadi&amp;nbsp; setelah&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; mati.&amp;nbsp; Yang&amp;nbsp; bertempat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; 
neraka&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berbuat kejahatan dan yang menempati surga
 adalah mereka yang berbuat kebajikan. Nah apakah&amp;nbsp; masuk&amp;nbsp; akal&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; 
kehidupan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bumi&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sangat&amp;nbsp; singkat&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; merupakan persiapan 
yang cukup untuk memasuki alam siksa abadi atau alam kesenangan abadi?&amp;nbsp;&lt;span id="more-5192"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Jika kehidupan yang singkat ini demikian menentukan untuk menuju alam
 abadi mengapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada manusia yang hidup hanya beberapa minggu setelah 
dilahirkan dan mengapa&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; hidup&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; hampir&amp;nbsp; 100&amp;nbsp;
 tahun?&amp;nbsp; Disini&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; akan mendapati orang yang berumur panjang akan 
memiliki resiko mendapat alam siksa abadi di banding manusia yang lahir 
sebentar lalu meninggal. Lah enak sekali menjadi bayi kemudian meninggal
 dunia dan masuk alam surga abadi. Padahal bayi tersebut tidak mengalami
 kesulitan/godaan hidup layaknya orang dewasa karena tidak sempat &lt;br /&gt; 
mengembangkan&amp;nbsp; dirinya.&amp;nbsp; Dimana&amp;nbsp; keadilan&amp;nbsp; Tuhan&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; membiarkan&amp;nbsp; 
seseorang hidup hanya beberapa saat kemudian memasukan ke alam 
kebahagiaan abadi tapi dilain&amp;nbsp;&amp;nbsp; pihak&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tuhan&amp;nbsp;&amp;nbsp; membiarkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; seseorang&amp;nbsp;&amp;nbsp;
 hidup&amp;nbsp;&amp;nbsp; cukup&amp;nbsp;&amp;nbsp; lama&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian mencampakannya ke alam kesengsaraan 
abadi? Silahkan anda renungkan dengan hati yang jernih.&lt;br /&gt;

2. Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, orang yang beragama Islam 
masuk surga dan yang beragama non Islam masuk neraka selamanya. 
Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dengan nasib orang yang lahir 
dalam keluarga non muslim? Atau bagaimana mereka yang hidup di suatu 
tempat dimana agama Islam tidak dikenal sama sekali? Sungguh beruntung 
manusia yang lahir dalam keluarga muslim dan sungguh celaka mereka yang 
lahir dalam keluarga non muslim atau hidup di daerah yang tidak mengenal
 agama Islam.&lt;br /&gt;

Pernahkan kita memikirkan bagaimana jika kita terlahir dalam keluarga
 non muslim? Saya yakin tidak banyak dari kita&amp;nbsp; yang memikirkan hal ini 
atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli!. “Ah saya kan sudah beragama 
Islam sejak lahir, masa bodoh dengan agama orang lain. Biarkan saja 
mereka masuk neraka, toh itu sudah takdir Tuhan, yang penting kan saya 
masuk surga”. Weleh..weleh.. kalau kita sudah tidak memiliki empati 
terhadap penderitaan orang lain berarti diri kita masih terkurung oleh 
ego, suatu penyakit hati yang harusnya dilenyapkan!&lt;br /&gt;

Lalu dimana keadilan Tuhan jika surga/neraka didapat berdasarkan 
kepemelukan agama tertentu? Tentulah tidak mudah menentukan keyakinan 
akan kebenaran suatu agama. Bagi yang lahir muslim tentu akan meyakini 
Islam adalah agama yang paling benar dan yang lain sesat. Begitu juga 
jika lahir dalam keluarga non muslim tentu akan meyakini agamanya yang 
paling benar dan lainnya sesat. Tidak mengherankan banyak orang yang 
pusing memilih agama dan akhirnya netral dan tidak memilih agama apapun 
namun tetap percaya keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;

3. Pertanyaan lainnya&amp;nbsp; : mengapa di dunia ini ada orang yang kaya dan
 yang lain miskin&amp;nbsp; tertindas?&amp;nbsp; Mengapa&amp;nbsp; si&amp;nbsp; A&amp;nbsp; dilahirkan&amp;nbsp; ditengah&amp;nbsp; 
keluarga&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; makmur sedangkan si B lahir dalam keluarga yang miskin? 
Mengapa bukan si B yang lahir dalam keluarga kaya raya sedangkan si A 
lahir dalam keluarga miskin?&amp;nbsp; Mengapa si C lahir dalam keadaan cantik 
dan si D buruk rupa? Mengapa si E lahir dalam keadaan jenius sedangkan 
si F bodoh atau bahkan terbelakang mental?&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mengapa si G lahir dalam 
keadaan cacat&amp;nbsp;&amp;nbsp; sedangkan si H lahir dalam kondisi sehat tanpa kurang 
suatu apapun? Mengapa si J seringkali berusaha dengan keras namun gagal 
terus menerus sedangkan si K tanpa bersusah payah malah dapat mencapai 
keberhasilan ?&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
4. Lalu apa jawaban kita terhadap kelahiran manusia-manusia istimewa atau anak indigo berikut ini :&lt;br /&gt;

&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Mozart, musisi jenius yang mampu menggubah lagu dalam usia 6 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Beethoven musisi jenius yang memukai publik dalam usia 7 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bentham, dalam usia&amp;nbsp; 4 tahun mampu membaca dan menulis dalam bahasa&amp;nbsp;Latin dan Yunani.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Voltaire, mampu menceritakan dongeng Fontaine ketika berusia 3 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Christian&amp;nbsp;&amp;nbsp; Heinecken&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; mampu&amp;nbsp;&amp;nbsp; berbicara&amp;nbsp;&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; jam&amp;nbsp;&amp;nbsp; 
setelah&amp;nbsp;kelahirannya,&amp;nbsp; menguraikan&amp;nbsp; isi&amp;nbsp; Al&amp;nbsp; Kitab&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; umur&amp;nbsp; 
setahun,&amp;nbsp; menjawab&amp;nbsp;&amp;nbsp;pertanyaan geografi dalam usia dua tahun, bicara 
dalam bahasa perancis dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; latin dalam usia ke tiga dan menjadi 
pelajar filsafat dalam usia 4 tahun.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;William James Sidis, mampu membaca, menulis dan bicara dalam bahasa&amp;nbsp;&amp;nbsp;Perancis, Rusia, Inggris dan Jerman dalam usia 2 tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ferruco Burco, bocah Italia yang mampu memimpin orkestra simfoni dalam&amp;nbsp;usia empat tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Giancella&amp;nbsp; de&amp;nbsp; Marco,&amp;nbsp; gadis&amp;nbsp; Italia&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memimpin&amp;nbsp; London&amp;nbsp; Philharmonic&amp;nbsp;Orchestra pada usia delapan tahun.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Thomas&amp;nbsp; Macaulay,&amp;nbsp; mampu&amp;nbsp; berbicara&amp;nbsp; layaknya&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; dewasa&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; 
masih&amp;nbsp;&amp;nbsp;berusia setengah tahun. Menjadi penulis sejarah pada usia tujuh 
tahun.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Menarik sekali kehidupan anak-anak indigo tersebut, dan hampir ditiap
 negara selalu lahir bocah-bocah jenius dan uniknya sebagian besar 
mereka berasal dari orang tua yang sama sekali tidak memiliki keahlian 
apapun. Nah, ada rahasia apa dibalik semua ini? Mengapa nuansa kehidupan
 diatas terjadi didunia? Kalau kita pahami secara awam jelaslah bahwa 
terjadi diskriminasi atau ketidakadilan diantara sesama manusia. Di satu
 sisi, Tuhan nampaknya menciptakan manusia-manusia yang beruntung namun 
di lain sisi Tuhan menciptakan manusia yang kurang beruntung.&lt;br /&gt;

Nah, apa jawaban kita terhadap berbagai pertanyaan diatas? &amp;nbsp;“&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ah…
 itu kan sudah takdir Tuhan… sampeyan tidak boleh menggugat Tuhan 
dong….bukankah takdir baik dan buruk&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; ditentukan&amp;nbsp; sendiri&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; 
Tuhan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; diterima&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; dengan pasrah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;”.&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ya..ya..ya inilah jawaban kebanyakan orang terhadap pertanyaan diatas
 yaitu sudah menjadi takdir atau kehendak Tuhan. Segala sesuatu yang 
menimpa manusia adalah takdir dari Tuhan yang harus diterima manusia. 
Sejujurnya saya katakan, jawaban ini sangat tidak memuaskan dan tidak 
masuk akal karena seakan-akan Tuhan itu pilih kasih dengan menguntungkan
 sebagian manusia dan menzalimi sebagian manusia lain. Padahal di Al 
Quran telah dijelaskan bahwa Tuhan sama sekali tidak menzalimi manusia. 
Simak ayat berikut :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;em&gt;Yang demikian itu disebabkan oleh 
perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali&amp;nbsp; tidak 
menganiaya hamba-Nya. (Q.S Al Anfaal (8) : 35)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;em&gt;Sesungguhnya Allah tidak berbuat 
zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat 
zalim kepada diri mereka sendiri. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt; (Q.S Yunus (10) : 44)&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;em&gt;Barang&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kafir&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; 
dia&amp;nbsp; sendirilah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menanggung &amp;nbsp;&amp;nbsp; (akibat)&amp;nbsp;kekafirannya&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; 
barangsiapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; beramal&amp;nbsp; saleh&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; dia&amp;nbsp; telah mempersiapkan diri 
buah dari amal salehnya itu. (Q.S Ar Ruum (30) : 44)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;em&gt;Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah perbuatan tanganmu &lt;/em&gt;&lt;em&gt;sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar&amp;nbsp; (kesalahanmu). Dan kamu tidak &lt;/em&gt;&lt;em&gt;dapat menghindar (dari azab Allah) di muka bumi. (Q.S Asy Syuura (42) : 30-31)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
&lt;em&gt;Barangsiapa yang mengerjakan amal 
yang saleh maka itu adalah itu adalah untuk dirinya sendiri dan 
barangsiapa mengerjakan kejahatan maka itu akan menimpa dirinya sendiri,
 kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. &amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;(Q.S Al Jaatsyiah (45) : 15)&lt;/em&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
Lima&amp;nbsp; ayat&amp;nbsp; diatas&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; sangat&amp;nbsp; jelas&amp;nbsp; menerangkan&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; 
segala&amp;nbsp; sesuatu&amp;nbsp; yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan manusia 
itu sendiri&amp;nbsp;&amp;nbsp; sehingga jawaban “Takdir (kehendak) Tuhan” adalah jawaban 
yang tidak tepat. Jawaban ini jelas telah&amp;nbsp;mengkambing-hitamkan Tuhan 
dengan mengatakan bahwa itu adalah perbuatan Tuhan, padahal Tuhan sama 
sekali tidak menzalimi atau merugikan manusia.&lt;br /&gt;

&lt;/div&gt;
Tuhan&amp;nbsp; hanyalah&amp;nbsp; menjalankan&amp;nbsp; roda&amp;nbsp; hukum&amp;nbsp; alam&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; 
ditetapkan-Nya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum 
alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah 
kehendak Tuhan, maka seakan-akan segala sesuatu yang menimpa manusia 
adalah atas kehendak Tuhan semata.&lt;br /&gt;

Sayang sekali, dalam berbagai terjemahan Quran, kata &lt;strong&gt;man yasya’&lt;/strong&gt; diterjemahkan ke dalam&amp;nbsp; bahasa&amp;nbsp; Indonesia &lt;strong&gt;“Allah&amp;nbsp; menghendaki”&lt;/strong&gt;.&amp;nbsp;
 Tentu&amp;nbsp; saja&amp;nbsp; terjemahan&amp;nbsp; demikian&amp;nbsp;melanggar pernyataan bahwa Allah 
tidak merugikan manusia sedikit pun. Terjemahan &amp;nbsp;yang&amp;nbsp; seharusnya&amp;nbsp; 
lebih&amp;nbsp; tepat&amp;nbsp; adalah &lt;em&gt;“Allah&amp;nbsp; menghendaki&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berkehendak
 kepada-Nya”. Jika manusia ingin sesat maka akan dibiarkannya sesat dan 
jika menginginkan petunjuk-Nya maka akan diberinya petunjuk. Dengan kata
 lain, Allah memberikan petunjuk kepada manusia yang menghendaki 
petunjuk-Nya. Hal ini dikuatkan pula oleh sebuah Hadist :&lt;br /&gt;

&lt;div style="padding-left: 30px;"&gt;
Dari Abu Zar. r.a, Nabi bersabda : Allah 
berkata kepadaku, Wahai hamba-Ku, Aku (Allah) haramkan atas diriku 
berbuat aniaya, begitu pula antara sesamamu. Wahai hamba-Ku, semua kamu 
sesat kecuali orang yang dapat petunjuk dari-Ku, &lt;br /&gt; maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku beri petunjuk. (H.R Muslim)&lt;em id="__mceDel"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;
Dari berbagai fakta dan penjelasan yang telah disampaikan diatas, 
adakah jawaban yang masuk akal? Silakan direnungkan dulu. Jika diijinkan
 Insaya Alloh akan kami ulas sedikit demi sedikit.</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/tuhan-maha-adil.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhqGO3djFjJyntsnXUYisXJ_Izk2BEb3aDwlcJu7kc83vwYFLWGI47tv525Fpamb4YfMg-GeMtFAFBFfsOkQx2yH2NJF7URiq-FO0WJ4zCmYOGvSSEvenbmRxpAQ-_1ZvKvbsxACLIhbwE/s72-c/timbangan+merah44.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2547653132383681797.post-527130906588344808</guid><pubDate>Fri, 05 Apr 2013 15:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-04-05T22:10:22.441+07:00</atom:updated><title>Hikmah Kisah Maling Kundang</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJQHynH-3uzyLY9Y5GoU0oWbmBdTwpAlYUbZFmEcrsG32OOyzBVD7zaEsLNNgRbnYTHow-WnfRqHv3lHNn4PFlc51uu81qzNGQEdJm_AyHH_zDNWs7PcAcSNNF1tboBEK9ecsaHuiw_hs/s1600/Malin+Kundange.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="331" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJQHynH-3uzyLY9Y5GoU0oWbmBdTwpAlYUbZFmEcrsG32OOyzBVD7zaEsLNNgRbnYTHow-WnfRqHv3lHNn4PFlc51uu81qzNGQEdJm_AyHH_zDNWs7PcAcSNNF1tboBEK9ecsaHuiw_hs/s400/Malin+Kundange.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu waktu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai 
wilayah Sumatra. Keluarga tersebut terdiri dari ayah,&amp;nbsp;ibu dan seorang 
anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;
keluarga yang memprihatinkan, sang&amp;nbsp;ayah memutuskan untuk mencari nafkah 
di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.
&lt;br /&gt;
Maka tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua 
minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih&amp;nbsp;lamanya, ayah 
Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus 
menggantikan posisi ayah Malin untuk&amp;nbsp;mencari nafkah.&lt;br /&gt;

Ibu Malin yang nama aslinya Nur Lita dulunya gadis desa yang suka 
Fesbuk-an. Kemana-mana bawa HP yang dibeli dengan menjual&amp;nbsp;hasil panen 
orang tuanya. Hasil panen yang mestinya untuk menutup kebutuhan 
sehari-hari dipaksa untuk beli Hp si Lita, Ibunya&amp;nbsp;si Malin.&lt;span id="more-5181"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;

Ketika suatu hari seorang pria korban dari kebinalan Si Lita, 
sehingga berurusan dengan Polisi, dengan tuduhan melarikan&amp;nbsp;gadis dibawah
 umur. Akhirnya masalah diselesaikan dengan kekeluargaan, Si Pria malang
 menjadi suami Si Lita, yang aslinya Si&amp;nbsp;Lita telah digauli banyak pria. 
Undian bro..&lt;br /&gt;

Kini semua itu telah menjadi bagian cerita masa lalu yang tidak di 
ungkit-ungkit lagi. Kini cerita yang terjadi adalah Si Malin menjadi 
pengganti Ayahnya yang telah pergi jauh tak kembali. Sesunguhnya Ayah 
Malin telah menikah lagi dengan pacar&amp;nbsp;lamanya. Ayah Malin merasa enak 
saja, toh Malin bukan anak kandungnya…&lt;br /&gt;

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya 
yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan&amp;nbsp;dirinya. Ia 
berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya
 ketika kembali ke kampung halaman, ia&amp;nbsp;sudah menjadi seorang yang kaya 
raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang yang 
dulunya miskin sekarang&amp;nbsp;sudah menjadi seorang yang kaya raya.&lt;br /&gt;

Sekedar info, Malin kundang adalah anak yang sholeh. Anak yang sangat
 rajin mujahadah. Rajin dzikir siang malam. Suatu ketika Malin Kundang 
berharap bisa kholwat jauh kenegeri sebrang. Tapi dia masih “terjerat” 
ikatan bakti seorang anak pada orang tua. Ketika tiba kesempatan.. tak 
dilewatkan lagi, merantau sambil Kholwat.&lt;br /&gt;

Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula 
kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena&amp;nbsp;Malin terus 
mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat 
hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin 
segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya.&amp;nbsp;”Anakku, jika 
engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau 
lupa dengan ibumu dan kampung halamannu&amp;nbsp;ini, nak”, ujar Ibu Malin 
Kundang sambil berlinang air mata.&lt;br /&gt;

&amp;nbsp;Singkat cerita, malin kundang beruntung. Di perjalanan dia ketemu 
seorang guru pesantren di jawa yang kaya raya, yang kebetulan sedang 
bepergian bersama keluarganya. Dipertemuan mereka akhirnya ada 
kecocokan. Malin kundang diangkat menjadi murid dan di jadikan menantu. 
Sungguh beruntung.&lt;br /&gt;

Malin Kundang mendapat Pencerahan. Dengan harta yang berlimpah, cukup
 waktu bagi Malin Kundang untuk mencapai&amp;nbsp;tingkat sempurna rohaninya. 
Kini Dia mendapat tugas untuk memberi Ujian terakhir Untuk Ibunya, yang 
telah lama menderita&amp;nbsp;akibat karmanya sendiri.&lt;br /&gt;

Berita
 Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai 
juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang&amp;nbsp;merasa bersyukur dan 
sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang
 setiap hari pergi ke dermaga,&amp;nbsp;menantikan anaknya yang mungkin pulang ke
 kampung halamannya.&lt;br /&gt;

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya
 melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak 
buah&amp;nbsp;kapal serta pengawalnya yang banyak. Tidak lupa, sebelum pergi 
sebagian besar harta Malin Kundang telah di berikan kepada&amp;nbsp;Panti Asuhan,
 Anak-anak yatin di desa itu.Ibu Malin Kundang yang setiap hari 
menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat&amp;nbsp;indah itu, masuk ke 
pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak 
kapal. Ia yakin kalau yang sedang&amp;nbsp;berdiri itu adalah anaknya Malin 
Kundang beserta istrinya.&lt;br /&gt;

Malin
 Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup 
dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan&amp;nbsp;orang tersebut, semakin 
yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin 
Kundang, anakku, mengapa kau pergi&amp;nbsp;begitu lama tanpa mengirimkan 
kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi 
kemudian? Malin Kundang&amp;nbsp;segera melepaskan pelukan ibunya dan 
mendorongnya hingga terjatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja 
mengaku sebagai&amp;nbsp;ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang 
pura-pura tidak mengenali ibunya, karena ingin menguji ibunya. “Wanita 
itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia hanya seorang 
perempuan penuh dosa yang sedang menghadapi ujian akhir dari Tuhan”, 
sahut Malin kepada istrinya.&lt;br /&gt;

Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu 
Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya&amp;nbsp;menjadi anak 
durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan 
tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi 
dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh 
kencang dan badai dahsyat&amp;nbsp;datang menghancurkan kapal Malin Kundang. 
Setelah itu Malin Kundang bermunajat kepada Tuhan, dan saat itu pula dia
 diangkat&amp;nbsp;kelangit dan hilang. Orang-orang menganggap malin kundang 
menjadi batu. Karena memang demikian adanya, jasad Malin Kundang&amp;nbsp;yang 
telah &amp;nbsp;kekal muksa, karena Rohaninya meliputi Jasadnya.&lt;br /&gt;

Ibu malin kundang yang mendapat Ujian Akhir, ternyata gagal total. 
Ternyata nafsu Ibu malin masih sangat besar. Keinginan&amp;nbsp;akan dunia masih 
sangat menggebu. Ketika diberi kesempatan sebagai Ibu yang dalan kondisi
 teraniaya, yang do’anya mustajabah,&amp;nbsp;Justru dia buat mengutuk anaknya. 
Sungguh Nafsu amarah yang menyelimutinya.&lt;br /&gt;

Kini semua telah Usai. Malin Kundang telah Muksa, Jasmaninya Abadi. 
Ibu Malin tetap miskin, dan semakin miskin. Seumur&amp;nbsp;hidupnya menyesal 
tapi tidak pernah Taubat. Hidup sengsara seumur hidupnya, sampai ajalnya
 dalam kesengsaraan.&lt;br /&gt;

TUHAN SELALU&amp;nbsp;MEMBERI PILIHAN. !!&lt;br /&gt;

Jangan terlalu serius. &amp;nbsp;Semoga ada hikmahnya.</description><link>http://sirnaraga.blogspot.com/2013/04/hikmah-kisah-maling-kundang.html</link><author>noreply@blogger.com (Gusti Pramana Agung)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJQHynH-3uzyLY9Y5GoU0oWbmBdTwpAlYUbZFmEcrsG32OOyzBVD7zaEsLNNgRbnYTHow-WnfRqHv3lHNn4PFlc51uu81qzNGQEdJm_AyHH_zDNWs7PcAcSNNF1tboBEK9ecsaHuiw_hs/s72-c/Malin+Kundange.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>