<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:yt="http://gdata.youtube.com/schemas/2007" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0">
   <channel>
      <title>Situs Muslimah</title>
      <description>Pipes Output</description>
      <link>http://pipes.yahoo.com/pipes/pipe.info?_id=uGI8gdCC3BGwEeSn2R2EvQ</link>
      <atom:link rel="next" href="http://pipes.yahoo.com/pipes/pipe.run?_id=uGI8gdCC3BGwEeSn2R2EvQ&amp;_render=rss&amp;page=2" />
      <pubDate>Sun, 27 May 2012 13:47:11 +0000</pubDate>
      <generator>http://pipes.yahoo.com/pipes/</generator>
      <atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SitusMuslimah" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="situsmuslimah" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">SitusMuslimah</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
         <title>Nasihat Untuk Penghafal Al Quran 5 (Hafalan Cepat Lupa)</title>
         <link>http://muslimah.or.id/hadits/nasihat-untuk-penghafal-al-quran-5-cepat-lupa.html</link>
         <description>Pertanyaan:
Sebagian pelajar,  mereka menghafal AlQur&amp;#8217;an dengan cepat dan sepat pula lupanya, bagaimana solusi  dari permasalahan ini?
Jawaban : 
Seorang pelajar  yang menghafal Al Qur&amp;#8217;an dengan cepat dan cepat pula lupanya, maka sungguh dia  telah menghafal dengan hafalan yang jelek, oleh karena ini ia cepat lupa dan  hafalannya semata mata menyebutkan makna [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2851</guid>
         <pubDate>Sat, 26 May 2012 00:00:00 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Sebagian pelajar,  mereka menghafal AlQur&#8217;an dengan cepat dan sepat pula lupanya, bagaimana solusi  dari permasalahan ini?</p>
<p><strong>Jawaban : </strong></p>
<p>Seorang pelajar  yang menghafal Al Qur&#8217;an dengan cepat dan cepat pula lupanya, maka sungguh dia  telah menghafal dengan hafalan yang jelek, oleh karena ini ia cepat lupa dan  hafalannya semata mata menyebutkan makna makna dan solusinya adalah dengan  memantabkan hafalan dan bersungguh sungguh padanya hingga tidak lupa dengan  cepat.</p>
<p>Adapun cara yang  paling baik bagi para pelajar semacam ini adalah mereka memperdengarkan kepada  ustadz apa yang mereka hafal pada hari itu dan hari hari yang lalu, demikianlah  pada setiap hafalah hingga terikat dan terpatri hafalan yang telah lalu dengan  hafalan yang sesuai. </p>
<p>***</p>
<p>artikel <a rel="nofollow">muslimah.or.id</a><br />
Disalin dari buku Keajaiban Hafalan – Bimbingan bagi yang ingin menghafal Al Qur’an oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As Sahaibani Muhammad Taqiyul Islam. Pustaka Al Haura’</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Hadits Jihad dan Niat</title>
         <link>http://muslimah.or.id/hadits/hadits-jihad-dan-niat.html</link>
         <description>Riyadhus Shalihin hadits ke 3 
Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Semua Perbuatan dan Ucapan, Baik yang Terang-Terangan Maupun Sembunyi-Sembunyi
3- وعن عائِشةَ رضيَ اللهُ عنها ، قَالَتْ : قَالَ النبي  :
 لا هِجْرَةَ بَعْدَ  الفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
وَمَعناهُ : لا هِجْرَةَ مِنْ مَكّةَ لأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إسلاَمٍ [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2914</guid>
         <pubDate>Thu, 24 May 2012 00:00:04 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Riyadhus Shalihin hadits ke 3 </strong></p>
<p><strong>Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat Dalam Semua Perbuatan dan Ucapan, Baik yang Terang-Terangan Maupun Sembunyi-Sembunyi</strong></p>
<p class="arab">3- وعن عائِشةَ رضيَ اللهُ عنها ، قَالَتْ : قَالَ النبي  :<br />
 لا هِجْرَةَ بَعْدَ  الفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا<br />
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ<br />
وَمَعناهُ : لا هِجْرَةَ مِنْ مَكّةَ لأَنَّهَا صَارَتْ دَارَ إسلاَمٍ .
</p>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, dia berkata: Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wa sallam</em> bersabda: <em>“Tidak ada hijrah setelah terbukanya kota Mekah. Akan tetapi  (yang ada) adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diminta berangkat jihad maka  berangkatlah.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Artinya: Tidak ada hijrah dari Mekah karena Mekah telah  menjadi Darul Islam</p>
<p><strong>Faedah hadits:</strong></p>
<ol>
<li>Dihapusnya       kewajiban hijrah dari Mekah ke Madinah setelah pembukaan kota       Mekah karena Mekah telah menjadi Darul Islam, begitu juga kota       lain, jika telah menjadi kota       Islam, maka hukumnya sama dengan Mekah yaitu tidak ada hijrah.</li>
<li>Berita       gembira bahwasanya Mekah akan selalu menjadi kota Islam.</li>
<li>Perintah       hijrah tidak terputus apabila di dunia masih ada negeri kafir dan negeri       Islam. Barang siapa yang terdzalimi di negeri kafir maka wajib untuk       hijrah ke negeri Islam jika mampu.</li>
<li>Hirjah       tidak disyariatkan lagi jika sebuah negeri telah menjadi negeri Islam.       Namun kebaikan hijrah yang menjadi terputus karena hal itu bisa digantikan       dengan jihad dan niat yang baik.</li>
<li>Wajib       ikut berperang jika diperintahkan penguasa. Hal ini menujukkan bahwa jihad       harus bersama penguasa yang syah.</li>
<li>Amal       dinilai berdasarkan niatnya.</li>
<li>Wajib       bertekad untuk jihad, berlatih dan mempersiapkan diri untuk melakukannya.</li>
</ol>
<p>***<br />
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br />
disarikan dari Kitab <em>Bahjatun Naadziriin Syarh Riyaadhish Shaalihiin </em> karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali<br />
Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id</p>
<div>
<div id="ftn1">
<p><a rel="nofollow" name="_ftn1" href="#_ftnref1"> 3</a>-  أخرجه : البخاري 5/72 ( 3900 ) ، ومسلم 6/28 ( 1864 ) .</div>
</div>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Kajian Khusus Muslimah Yogyakarta (26 Mei 2012): Meraih Predikat Istri Shalihah</title>
         <link>http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-khusus-muslimah-yogyakarta-26-mei-2012-meraih-predikat-istri-shalihah.html</link>
         <description>Hadirilah Kajian Khusus Muslimah dengan tema:
&amp;#8220;Meraih Predikat Istri Shalihah (Di Atas Bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah)&amp;#8221;
Pemateri:
Ustadzah Ummu Yasir
(Pengajar Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz)
Insya Allah diselenggarakan pada:
Sabtu, 26 Mei 2012
Pukul 08.00 &amp;#8211; selesai
Di Masjid Pogung Raya (MPR), Utara Fakultas Teknik UGM
Gratis, terbuka untuk Umum
Khusus Putri
Informasi:
085228016597
Penyelenggara:
Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari
Bagi peserta yang datang akan mendapatkan buku saku “Sejak [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2936</guid>
         <pubDate>Tue, 22 May 2012 06:38:13 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Hadirilah Kajian Khusus Muslimah dengan tema:</p>
<p><strong>&#8220;Meraih Predikat Istri Shalihah (Di Atas Bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah)&#8221;</strong></p>
<p><strong>Pemateri:</strong><br />
Ustadzah Ummu Yasir<br />
(Pengajar Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz)</p>
<p><strong>Insya Allah diselenggarakan pada:</strong><br />
Sabtu, 26 Mei 2012<br />
Pukul 08.00 &#8211; selesai<br />
Di Masjid Pogung Raya (MPR), Utara Fakultas Teknik UGM</p>
<p>Gratis, terbuka untuk Umum<br />
Khusus Putri</p>
<p><strong>Informasi:</strong><br />
085228016597</p>
<p><strong>Penyelenggara:</strong><br />
Forum Kegiatan Kemuslimahan Al-Atsari</p>
<p>Bagi peserta yang datang akan mendapatkan buku saku <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://toko.radiomuslim.com/software-multimedia/details/2159/148/buku-islam/buku-saku-dan-souvenir/buku-saku-sejak-memilih,-meminang-dan-menikah-sesuai-sunnah.html">“Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah Sesuai Sunnah”</a> secara GRATIS!!</p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/05/MM-26-05-12.jpg"><img title="MM 26 05 12" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/05/MM-26-05-12-467x1024.jpg" alt="" width="280" height="614"/></a></p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Kajian Rutin Sekitar UGM Forum Kajian Islam Mahasiswa (FKIM)</title>
         <link>http://muslimah.or.id/info-dauroh-kajian/kajian-rutin-sekitar-ugm-forum-kajian-islam-mahasiswa-fkim.html</link>
         <description>Datang dan Ikuti Kajian Rutin [GRATISSS] Untuk Putra Putri :
1. &amp;#8220;BEGINILAH GENERASI TERBAIK MENGAJARKAN&amp;#8221;
Pemateri : Ustadz Noor Akhmad Setiawan, Ph.D
(Dosen S1 Jurusan Teknik ELektro dan Teknologi Informasi &amp;#8211; Mahasiswa S2 Da&amp;#8217;wah MEDIU)
Setiap Hari Rabu
Pukul 15.45 WIB &amp;#8211; 17.00 WIB
Tempat : Mushola Teknologi Fakultas Teknik UGM
CP &amp;#8211; 082178869292
2. &amp;#8220;TAZKIYATUN NUFUS&amp;#8221;
Bersama : Ustadz Abu Yassir
( Pengasuh Web www.mutiarahikmah.com [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2933</guid>
         <pubDate>Tue, 22 May 2012 06:36:42 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Datang dan Ikuti Kajian Rutin [GRATISSS] Untuk Putra Putri :</p>
<p><strong>1. &#8220;BEGINILAH GENERASI TERBAIK MENGAJARKAN&#8221;</strong></p>
<p>Pemateri : Ustadz Noor Akhmad Setiawan, Ph.D<br />
(Dosen S1 Jurusan Teknik ELektro dan Teknologi Informasi &#8211; Mahasiswa S2 Da&#8217;wah MEDIU)</p>
<p>Setiap Hari Rabu<br />
Pukul 15.45 WIB &#8211; 17.00 WIB</p>
<p>Tempat : Mushola Teknologi Fakultas Teknik UGM<br />
CP &#8211; 082178869292</p>
<p><strong>2. &#8220;TAZKIYATUN NUFUS&#8221;</strong></p>
<p>Bersama : Ustadz Abu Yassir<br />
( Pengasuh Web <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.mutiarahikmah.com/">www.mutiarahikmah.com</a> )</p>
<p>Setiap Hari Selasa<br />
Ba&#8217;da Shalat Ashar</p>
<p>Tempat : Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM<br />
CP &#8211; 08566507880</p>
<p><strong>3. &#8220;KAJIAN TEMATIK &#8220;</strong></p>
<p>Setiap Hari Kamis<br />
Ba&#8217;da Shalat Dzuhur</p>
<p>Tempat : Mushola Al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM<br />
CP &#8211; 085789109181</p>
<p><strong>Penyelenggara</strong><br />
Forum Kajian Islam Mahasiswa ( FKIM ) Yogyakarta<br />
SKI Teknik Kimia UGM<br />
SKI Teknik Geodesi UGM<br />
Takmir MusTek UGM<br />
Takmir Masjid IbSin FK UGM<br />
Takmir Masjid Al Ihsan Kehutanan UGM</p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/04/fkim.jpg"><img title="fkim" src="http://muslim.or.id/wp-content/uploads/2012/04/fkim.jpg" alt="" width="461" height="326"/></a></p>
<p>Sumber <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Alam Kubur</title>
         <link>http://muslimah.or.id/aqidah/alam-kubur.html</link>
         <description>Pertanyaan, “Semoga Allah membalas Anda  dengan kebaikan. Penanya ini, Ibrahim dari Riyadh, bertanya, &amp;#8216;Apakah akidah ahlus  sunnah wal jama&amp;#8217;ah dalam masalah  kehidupan di alam barzakh?&amp;#8217;”
Jawaban  Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, “Akidah  mereka (ahlus sunnah wal jama&amp;#8217;ah, pent.) dalam  masalah kehidupan di alam barzakh adalah berdasarkan dalil-dalil  yang terdapat [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2909</guid>
         <pubDate>Mon, 21 May 2012 00:00:48 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan</strong>, “Semoga Allah membalas Anda  dengan kebaikan. Penanya ini, Ibrahim dari Riyadh, bertanya, &#8216;Apakah akidah <em>ahlus  sunnah wal jama&#8217;ah</em> dalam masalah  kehidupan di alam barzakh?&#8217;”</p>
<p><strong>Jawaban  Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin</strong>, “Akidah  mereka (<em>ahlus sunnah wal jama&#8217;ah</em>, pent.) dalam  masalah kehidupan di alam barzakh adalah berdasarkan dalil-dalil  yang terdapat pada Al-Kitab (Al Quran, pent.) dan As-Sunnah, yaitu bahwa  sesungguhnya manusia akan diazab atau  diberi nikmat di dalam kuburnya sesuai dengan kondisi  amalan mereka (sewaktu di dunia, pent.).</p>
<p>Allah <em>tabaraka wa ta&#8217;ala </em>berfirman tentang  pengikut Fir&#8217;aun,</p>
<p class="arab">النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا  وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَاب</p>
<p>&#8216;<em>Kepada  mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, serta pada hari terjadinya  kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), &#8216;Masukkanlah Fir&#8217;aun dan kaumnya ke dalam  azab yang sangat keras.&#8221;</em> (QS.  Al-Mu&#8217;min:46)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ  وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ  تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ  الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ</p>
<p>&#8216;<em>Alangkah  dahsyatnya sekiranya kamu melihat saat orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil  berkata), &#8216;Keluarkanlah nyawamu!&#8217; Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang  sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan)  yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap  ayat-ayat-Nya.</em>&#8216; (QS.  Al-An&#8217;am:93)</p>
<p>Allah <em>tabaraka wa ta&#8217;ala </em>berfirman,</p>
<p class="arab">فَلَوْلا  إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ * وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ * وَنَحْنُ  أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ * فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ  غَيْرَ مَدِينِينَ * تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * فَأَمَّا إِنْ  كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ * فَرَوْحٌ  وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ * وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ  الْيَمِينِ * فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ * وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ  الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ * فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ * وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ *  إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ * فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ</p>
<p><em> &#8216;Maka,  mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, sementara ketika itu kalian menyaksikan,  dan Kami berada lebih dekat  kepadanya daripada kalian namun kalian tidak melihat hal itu?Maka, mengapa  jika kalian tidak dikuasai (oleh Allah), kalian tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya), jika  kalian adalah orang-orang yang  benar? Adapun jika dia (orang yang mati)  termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman, rezeki,dan SurgaAn-Na&#8217;im. Adapun jika termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah  bagimu karena kamu berasal dari  golongan kanan. Adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia  mendapat hidangan air yang mendidih, dan dia  dibakar di dalam jahanam. Sesungguhnya, (yang disebutkan ini)  adalah suatu keyakinan yang benar. Oleh karena  itu, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Mahabesar.&#8217;</em> (QS. Al-Waqi&#8217;ah:83&#8211;96)</p>
<p>Kehidupan  tersebut, yang di dalamnya terdapat kenikmatan atau azab, merupakan kehidupan  alam barzakh, tidak sama  dengan  kehidupan dunia. Oleh karena itu, orang yang hidup di sana (alam barzakh, pent.) tidak memerlukan  air, makanan, udara, tidak pula perlindungan dari rasa dingin dan panas. Itulah  kehidupan yang tidak kita ketahui hakekat senyatanya. Semua  itu merupakan perkara gaib, yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah <em>&#8216;azza  wa jalla </em>atau orang-orang yang telah tiba di kehidupan tersebut dan  (mereka) telah merasakan kebenaran yang nyata itu. Kita senantiasa membaca  dalam doa kita, &#8216;Aku berlindung dari azab jahanam, azab kubur, ujian kehidupan  dan ujian kematian, serta ujian (ketika tibanya) Al-Masih Ad-Dajal.&#8217;”</p>
<p>***<br />
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br />
sumber <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1423.shtml">http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1423.shtml</a><br />
diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Mutiara-Mutiara Faedah</title>
         <link>http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/mutiara-mutiara-faedah.html</link>
         <description>TIGA  JALAN MASUK BAGI SETAN
فائدة كل ذي لب يعلم أنه لا طريق للشيطان عليه  إلا من ثلاث 
جهات أحدها التزيد والإسراف فيزيد على قدر  الحاجة فتصير فضلة وهي حظ الشيطان ومدخله إلى القلب وطريق الاحتراز من إعطاء النفس  تمام مطلوبها من غذاء أو نوم أو لذة أو راحة فمتى أغلقت هذا [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=2905</guid>
         <pubDate>Sat, 19 May 2012 00:00:00 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="color:#ff0000;">TIGA  JALAN MASUK BAGI SETAN</span></strong></p>
<p class="arab"><strong>فائدة كل ذي لب يعلم أنه لا طريق للشيطان عليه  إلا من ثلاث </strong></p>
<p><strong>جهات أحدها التزيد والإسراف فيزيد على قدر  الحاجة فتصير فضلة وهي حظ الشيطان ومدخله إلى القلب وطريق الاحتراز من إعطاء النفس  تمام مطلوبها من غذاء أو نوم أو لذة أو راحة فمتى أغلقت هذا الباب حصل الأمان من  دخول العدو منه الثانية الغفلة فإن الذاكر في حصن الذكر فمتى غفل فتح باب الحصن  فولجه العدو فيعسر عليه أو يصعب إخراجه الثالثة تكلف مالا يعنيه من جميع الأشياء</strong>
</p>
<p>Setiap orang yang berakal pasti mengetahui  bahwa hanya ada tiga jalan masuk bagi setan:</p>
<p><strong>Pertama: Menambah-nambahi dan  berlebih-lebihan</strong>. Dengan ini, seseorang menambah-nambahi sesuatu di luar batas  kebutuhannya, sehingga ada sisa kelebihan, dan itulah jatah setan dan jalan masuk setan menuju hatinya, serta celah untuk menghindarkan jiwa  dari puncak keinginannya [sehingga selalu menjadi tidak puas], baik dalam  makanan, tidur, berbagai kelezatan, atau waktu istirahat.</p>
<p>Ketika anda mengunci seluruh pintu ini, terwujudlah keamanan dari masuknya musuh.</p>
<p><strong>Kedua: Bersikap lalai</strong>. Sesungguhnya orang yang senantiasa  berzikir, selalu berada dalam benteng zikir. Ketika dia lalai, pintu benteng  itu pun terbuka, kemudian musuh menembus masuk dan merusak benteng itu. Akhirnya dia kerepotan dan kesulitan  untuk mengeluarkannya.</p>
<p><strong>Ketiga: Memberat-beratkan diri</strong> dengan segala jenis perkara yang tidak bermanfaat baginya.</p>
<p>(<em>Al-Fawaid</em>, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hlm. 191,  Maktabah Asy-Syamilah).</p>
<p align="center">==</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>MANUSIA YANG PALING MEMBERI MANFAAT  UNTUKMU</strong> </span></p>
<p class="arab"><strong> فصل  أنفع الناس لك رجل مكنك من نفسه حتى تزرع فيه خيرا أو </strong></p>
<p><strong> تصنع  إليه معروفا فأنه نعم العون لك على منفعتك وكمالك فانتفاعك به في الحقيقة مثل  انتفاعه بك أو أكثر وأضر الناس عليك من مكن نفسه منك حتى تعصي الله فيه فإنه عون  لك على مضرتك ونقصك </strong>
</p>
<p>Manusia yang paling memberi manfaat  untukmu adalah seseorang yang membiarkan dirimu bergaul dengannya, sehingga  engkau bisa menanamkan kebajikan atau memberi kebaikan padanya. Karena dia merupakan sebaik-baik  penolong bagimu agar engkau bisa memberikan  manfaat dan menuju kesempurnaanmu. Pada hakekatnya, ketika engkau memanfaatkan  temanmu itu sama saja dia sedang memanfaatkan dirimu, atau bahkan lebih banyak lagi.</p>
<p>Sementara manusia yang paling berbahaya bagimu adalah orang yang bisa mempengaruhimu, sehingga engkau bermaksiat pada Allah  dalam pertemanan itu. Karena dia sesungguhnya telah menjadi penolongmu untuk  membahayakan dirimu dan menuju kekuranganmu.</p>
<p>(<em>Al-Fawaid</em>, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hlm. 192,  Maktabah Asy-Syamilah).</p>
<p align="center">==</p>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">EMPAT TIANG KEKUFURAN</span></strong></p>
<p class="arab"><strong>فصل أركان الكفر  أربعة الكبر والحسد والغضب والشهوة فالكبر يمنعه </strong></p>
<p><strong> الانقياد والحسد يمنعه قبول النصيحة وبذلها  والغضب يمنعه العدل والشهوة تمنعه التفرغ للعبادة فإذا انهدم ركن الكبر سهل عليه  الانقياد وإذا انهدم ركن الحسد سهل عليه قبول النصح وبذله وإذا انهدم ركن الغضب  سهل عليه العدل والتواضع وإذا انهدم ركن الشهوة سهل عليه الصبر والعفاف والعبادة  وزوال الجبال عن أماكنها أيسر من زوال هذه الأربعة عمن بلى بها</strong>
</p>
<p>Tiang kekufuran ada empat: sombong, dengki, amarah, dan syahwat.</p>
<p>Sombong akan menghalangi seseorang dari  ketundukan. Dengki akan menghalangi seseorang dari kesediaan untuk menerima  nasihat dan memberikan nasihat. Amarah menghalangi diri untuk  bersikap adil. Sementara syahwat akan menghalangi jiwa untuk mencurahkan waktu  dalam rangka ibadah.</p>
<p>Jika tiang kesombongan itu runtuh, dia akan mudah untuk melakukan ketundukan (kepada Allah, <em>pent.</em>).  Jika tiang kedengkian itu tumbang, dia akan mudah untuk menerima nasihat dan memberikan nasehat. Jika tiang amarah itu roboh, dia akan mudah untuk bersikap adil dan tawadhu. Jika tiang  syahwat itu jatuh, dia  akan mudah untuk bersikap sabar, menjaga kehormatan diri, dan ber ibadah.</p>
<p>Memindahkan gunung dari tempatnya menetap  lebih mudah dibandingkan melenyapkan keempat hal ini dari diri orang yang telah terjangkiti empat penyakit itu.</p>
<p>(<em>Al-Fawaid</em>, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, hlm. 158&#8211;159,  Maktabah Asy-Syamilah).</p>
<p>***<br />
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id">muslimah.or.id</a><br />
diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id</p>]]></content:encoded>
         <category>Akhlak dan Nasehat</category>
      </item>
      <item>
         <title>Anak, perhiasan sekaligus ujian</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/8dwTMoCFiNw/</link>
         <description>Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman: ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ &amp;#8220;Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia &amp;#8220;(QS. Al-Kahfi:46) Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka. Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian). Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman: إِنَّمَآ [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=979</guid>
         <pubDate>Wed, 02 Jun 2010 21:27:06 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/06/shoesss.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-982" title="shoesss" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/06/shoesss-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201"/></a></span></span></span></span></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:<span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span></span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span style="font-size:large;">ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ<br />
</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>&#8220;Harta dan anak-anak adalah perhiasaan kehidupan dunia &#8220;</em>(QS. Al-Kahfi:46)</span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span><br />
<span style="color:#000000;"> Ya tentu saja, anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Betapa jiwa kita merasa bahagia menyaksikan mereka dan hati pun bergembira saat bercanda ria dengan mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> Namun waspadalah, sebab anak adalah fitnah (ujian).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> Dan Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:</span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span><br />
<span style="color:#000000;"> <span style="font-size:large;">إِنَّمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَأَوۡلَـٰدُكُمۡ فِتۡنَةٌ۬‌ۚ  وَٱللَّهُ عِندَهُ ۥۤ أَجۡرٌ عَظِيمٌ۬</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>&#8220;Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar&#8221; </em>(QS. At-Taghaabun:15)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> Jangan kita terpedaya!<br />
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi angkuh dan tidak mensyukuri nikmat</span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span><span style="color:#000000;"> Allooh Subhannahu Ta’ala. Ia menjadi angkuh dan berbangga diri karena anaknya, merasa paling tinggi dari orang lain. Ia sombong dan takabbur, bahkan merendahkan orang lain dan berlaku aniaya. Maka hal itu hanya mengantarkannya ke neraka.<br />
Simak firman Allooh Subhannahu Ta’ala berikut ini:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(</span><span style="color:#000000;">وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ  مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (﻿٣٤﻿</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(وَقَالُواْ  نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ  (﻿٣٥﻿</span><span style="color:#000000;"><span style="color:#000000;"></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;">(قُلۡ  إِنَّ رَبِّى يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ وَلَـٰكِنَّ  أَڪۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ (﻿٣٦﻿</span></p>
<p><span style="color:#000000;">وَمَآ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُكُم بِٱلَّتِى  تُقَرِّبُكُمۡ عِندَنَا زُلۡفَىٰٓ إِلَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا  فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ</span></p>
<p><span style="color:#000000;">(<span style="color:#000000;"></span>لَهُمۡ جَزَآءُ ٱلضِّعۡفِ بِمَا عَمِلُواْ وَهُمۡ فِى  ٱلۡغُرُفَـٰتِ ءَامِنُونَ (</span><span style="color:#000000;">٣٧</span><span style="color:#000000;">﻿</span><span style="color:#000000;"><br />
</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
<em>Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata:&#8221;Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Dan mereka berkata:&#8221;Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Katakanlah:&#8221;Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan (bagi siapa yang dikendaki-Nya), akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8221;.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam jannah). </em>(QS. Saba’: 34-37)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> Anak, kerap kali mendorong ayah untuk meghalalkan usaha yang haram. Demi masa depan anak katanya…<br />
Ia pun berusaha keras mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, dengan segala cara, sekalipun ia harus mendzhalimi yang lemah, memusuhi manusia atau memutus tali silaturrahim.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Anak, kadang membuat seorang hamba menjadi kikir dan penakut. Saat ingin bersedekah, setan datang kepadanya seraya berkata,”Anakmu tadi minta ini dan itu! Maka demi anaknya, ia pun urung menginfakkan hartanya di jalan Allooh Subhannahu Ta’ala. Padahal yang diminta oleh anaknya itu bukanlah suatu kebutuhan primer.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Benarlah sabda Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam:<br />
<em>“Sesungguhnya anak bisa membuat seseorang menjadi bakhil, penakut, jahil dan bersedih.”</em> (HR. Al-Hakim (5284) dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jaami’(1990))</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Ketika ia harus mengatakan kalimat yang hak, ia berfikir dua kali. Ia takut petaka akan menimpa dirinya dan anak kesayangannya. Ia pun memilih diam daripada menyampaikan kebenaran.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> Ketika anak jatuh sakit, rasa iba mendorong orang tua bertindak bodoh, melanggar syari’at agama dengan ucapan maupun perbuatannya, mengugat takdir Allooh dan tidak menerima ketetapan-Nya. Ia pun membawa anaknya ke dukun padahal Nabi melarang pebuatannya itu.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Yang parah lagi, ada pula anak yang mendorong orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran, Wallaahul musta’an.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Perhatikanlah orang yang tertipu disebabkan anak-anaknya dan tidak mensyukuri nikmat Allooh ini! Ia adalah seorang kafir Makkah bernama Khalid bin Mughirah. Allooh Subhannahu Ta’ala berkata tentangnya:<br />
<em>Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak,<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>dan anak-anak yang selalu bersama dia,</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>dan Ku-lapangkan baginya (rezki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya,<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur&#8217;an).<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. </em>(QS. Al-Muddatstsir: 11-17)<br />
Dia adalah lelaki yang dikarunia anak-anak dan Allooh menjadikan ia selalu bersama mereka untuk mengais rizki. Bahkan rizki lah yang mengelilinginya. Dan anak-anaknya senantiasa berada di sisi nya menjadi hiburan baginya. Walau demikian, ia tidak mensyukuri nikmat Allooh, bahkan dibalasnya dengan kekufuran.<br />
Akibatnya, Allooh Subhannahu Ta’ala berfirman:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Tahukah kamu apa (naar) Saqar itu<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.<br />
</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>(Naar Saqar) adalah pembakar kulit manusia. </em>(QS. Al-Muddatstsir: 26-29)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Lalu bagaimana caranya agar kita terhindar dari fitnah (godaan) ini?<br />
Jadikanlah cinta pertama kita untuk Allooh Subhannahu Ta’ala.  Jadikan manusia yang paling kita cintai adalah Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Allooh dalam mengurus mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam mengajarkan bahwa di antara yang dapat menghapuskan keburukan akibat godaan anak adalah mengerjakan sholat, puasa, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar. Rosulullooh Shololloohu ‘alahi Wassallam bersabda:<br />
<em>“Gangguan menimpa seseorang disebabkan keluarga, harta, anak, diri dan tetangganya dapat dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh dan beramar ma’ruf nahi munkar.” </em>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)<br />
Walloohu a’lam bish showab.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><br />
*Ditulis ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari buku “Mencetak Generasi Robbani, Pustaka Darul Ilmi untuk jilbab.or.id*</span></p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=8dwTMoCFiNw:yVr9beTzPL4:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/8dwTMoCFiNw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
         <category>Keluarga</category>
      </item>
      <item>
         <title>Rapatkan dan Luruskan Shaf (Barisan) Sholat</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/qGTI-pJl6Bs/</link>
         <description>Penulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama&amp;#8217;ah namun antar jama&amp;#8217;ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai  1 (satu) meter.  Terkadang bila sholat berjama&amp;#8217;ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama&amp;#8217;ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis. Kedua kondisi diatas membuat [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=890</guid>
         <pubDate>Fri, 28 May 2010 06:41:18 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Penulis memperhatikan bahwa pada sebagian besar masjid/musholla yang telah penulis kunjungi untuk melaksanakan sholat, senantiasa terdapat beberapa wanita yang melaksanakan sholat berjama&#8217;ah namun antar jama&#8217;ah wanita tersebut terdapat jarak/celah yang lebarnya bahkan sampai  1 (satu) meter.  Terkadang bila sholat berjama&#8217;ah dan penulis bermaksud merapatkan shaf, maka jama&#8217;ah disebelah kanan/kiri malah semakin menjauhkan kaki mereka dari kaki penulis.</p>
<p>Kedua kondisi diatas membuat sedih penulis,  karena dalam Islam pada saat melaksanakan sholat berjama&#8217;ah kita dianjurkan untuk senantiasa meluruskan shaf dan menutup celahnya (merapatkannya).</p>
<p>Hal tersebut berdasarkan hadits &#8216;Aisyah Radhiallahu &#8216;anha, dia bercerita : Rasulullah Shollallahu &#8216;alayhi wa Sallam bersabda :<span id="more-890"></span></p>
<p>“Sesungguhnya Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang menyambung barisan. Barang siapa menutupi kerenggangan (yang ada dalam barisan), niscaya dengannya Allah akan meninggikannya satu derajat.” (HR. Ibnu Majah,Ahmad, Ibnu Khuzaimah,Al-Hakim,  dinilai Shahih oleh Adz-Dzahabi dan al-Albani).</p>
<p>Kemudian,</p>
<p>Dari Nu&#8217;man bin Basyir, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu&#8217;alayhi wa Sallam bersabda : &#8220;Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak;maka) Allah akan jadikan perselisihan di antaramu.&#8221; (Muttafaq &#8216;alayhi, Bukhari No. 717 dan Muslim No.436)</p>
<p>Hadits ini juga telah diriwayatkan oleh Abu Dawud No. 552 dan Ahmad (IV:276) dan dishahihkan oleh al Albani dalam ash Shahihah no.32 secara lengkap, setelah membawakan hadits di atas, maka Nu&#8217;man bin Basyir radhiallahu &#8216;anhu berkata :</p>
<p>&#8220;Maka saya (Nu&#8217;man bin Basyir) melihat seorang laki-laki (dari para Shahabat) menempelkan <strong>bahunya ke bahu yang ada disampingnya</strong>, dan <strong>lututnya dengan lutut yang ada disampingnya</strong> serta <strong>mata kakinya dengan mata kaki yang ada disampingnya</strong>).&#8221;</p>
<p>Pernyataan Nu&#8217;man bin Basyir ini juga telah disebutkan oleh Imam Bukhari didalam kitab Shahihnya (II:447-Fat-hul Bari).</p>
<p>Diriwayatkan pula Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shollallahu  &#8217;alayhi wa Sallam telah bersabda:</p>
<p>&#8220;Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan. Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barangsiapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya.</p>
<p>(Shahih. Abu Dawud no:666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fat-hul Bari (II:447) dan Shahihut Targhib Wat Tarbib no:492).</p>
<p>Sehingga bengkoknya shaf akan mengakibatkan permusuhan dan pertentangan hati, kekurangan iman dan hilangnya kekhusyu&#8217;an.</p>
<p>Sebagaimana lurusnya sebuah shaf termasuk (sebagian dari) kesempurnaan sholat, yang demikian itu diungkapkan  di dalam sabda Rasulullah shollallaahu &#8216;alayhi wa Sallam,</p>
<p>“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).</p>
<p>Di dalam riwayat lain :</p>
<p>“Karena lurusnya shaf itu sebagian dari baiknya sholat”(HR. Al-Bukhari &amp; Muslim).</p>
<p>Ukhty, Para Shahabat Radhiallahu &#8216;anhum sangatlah memperhatikan masalah merapatkan dan meluruskan shaf ini.</p>
<p>Diriwayatkan dari Umar bahwasanya ia menugasi beberapa orang laki-laki untuk merapikan shaf makmum, dan ia (Umar) tidak bertakbir untuk memulai sholatnya melainkan setelah dilaporkan oleh para petugasnya itu bahwa shaf telah rapi semua, begitulah juga diriwayatkan dari Ali dan &#8216;Utsman, bahwa keduanya dahulu biasa melakukan hal itu setiap sebelum memulai sholat, dan mereka berdua biasa berkata (sebelum memulai shalat); &#8220;Istawu (luruskan shafmu)&#8221; bahkan Ali berkata: &#8220;Wahai Fulan! Majulah,&#8221; (Dan berkata kepada yang lainnya:) &#8221; Wahai fulan, mundurlah. (Lihat pula riwayat-riwayatnya di dalam kitab al Muwaththa&#8217;, Imam Malik : no. 234, 375, 376).</p>
<p>Ya Ukhty Muslimah, mari rapatkan dan luruskan shaf kita  karena hal itu merupakan sunnah Nabi Shollallahu &#8216;alayhi wa sallam yang agung. Maka marilah kita menghidupkannya.</p>
<p>Merapatkan dan meluruskan shaf dilakukan dengan cara merapatkan bahu, lutut, dan mata kaki.</p>
<p>Semoga dengannya, Allah mengangkat derajat kita, menjauhkan perselisihan dan permusuhan di antara kita. Amiin&#8230;</p>
<p>Sumber :</p>
<p>1.Ensiklopedi Shalat menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, Dr. Sa&#8217;id bin &#8217;Ali bin Wahf al-Qahthani, Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i , Hal 580-581<br />
2.Ensiklopedi Mini Keutamaan Sholat Berjama&#8217;ah , Prof. Dr. Fadhl Ilahi ,  Salwa Press, Hal. 42<br />
3.Pengaruh Shalat terhadap Iman dan Jiwa Menurut Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah, Husain bin &#8216;Audah al-&#8217;Awayisyah, Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i, Hal. 18<br />
4.Apa Kata Imam Syafi&#8217;i tentang Meluruskan dan Merapatkan Shaf Shalat, Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa, Pustaka Abdullah</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=qGTI-pJl6Bs:VtPjEzcN-FE:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/qGTI-pJl6Bs" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Ummu Shalih, 82 tahun, Penghafal Al-Qur’an</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/vsS83JErLjk/</link>
         <description>RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati. Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut.  Mari kita simak bersama! Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur&amp;#8217;an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur&amp;#8217;an, sungguh sangat [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=962</guid>
         <pubDate>Sat, 17 Apr 2010 11:46:53 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>RUBRIK KELUARGA pada Majalah Ad-Dakwah selalu menghadirkan kepada para pembacanya kisah-kisah yanq penuh keteladanan dan juga berbagai informasi yang menyejukkan hati.</p>
<p>Berikut ini adalah salah satu pengalaman nyata yang dimuat dalam majalah tersebut.  Mari kita simak bersama!<strong><br />
</strong></p>
<blockquote><p><strong>Ummu Shalih. 82 tahun, mulai menghafal Al-Qur&#8217;an pada usianya yang ke-70. Tamasyanya ke taman hafalan Al-Qur&#8217;an, sungguh sangat menginspirasi. Cita-citanya yang tinggi, kesabaran, dan juga pengorbanannya patut kita teladani.</strong></p></blockquote>
<p><span id="more-962"></span>Inilah hasil wawancara dengan Ummu Shalih.</p>
<blockquote><p><strong>Motivasi apa yang mendorong Anda untuk menghafalkan Al-Qur&#8217;an pada umur yang setua ini?</strong></p></blockquote>
<p>Sebenarnya, cita-cita saya untuk menghafal Al-Qur&#8217;an sudah tumbuh sejak kecil. Kala itu ayah selalu mendoakanku agar menjadj hafizhah Al-Qur&#8217;an seperti beliau dan juga seperti kakak laki-lakiku. Dari hal itulah, aku mampu menghafal beberapa surat —kira-kira 3 juz.</p>
<p>Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku menikah. Tentu setelah itu aku tersibukkan dengan urusan rumah dan anak-anakku. Ketika aku dikaruniai 7 (tujuh) orang anak, suamiku wafat.   Karena ketujuh buah hatiku masih kecil-kecil, maka seluruh waktuku tersita untuk mengurusi dan mendidik mereka.</p>
<p>Nah, ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga, maka waktu ku pun kembali luang. Dan hal yang pertama kali aku tunaikan adalah mencurahkan tenaga dan waktuku untuk mewujudkan cita-cita agungku yang tertunda untuk menghafal Kitabullah Azza wa Jalla.</p>
<blockquote><p><strong>Bagaimana awal perjalanan Anda dalam menghafal?</strong></p></blockquote>
<p>Aku mulai menghafal kembali ketika putri bungsuku masih duduk di bangku Tsanawiyah (SMP).  Dia salah satu putriku yang paling dekat denganku, dan dia sangat mencintaiku.  Sebab kakak-kakak perempuannya telah menikah dan disibukkan dengan kehidupan baru mereka.  Sedangkan, dia (putri bungsuku) tinggal bersamaku. Dia sangat santun, jujur, dan mencintai kebaikan.</p>
<p>Putri bungsuku pun bercita-cita untuk menghafal Al-Qur&#8217;an—terlebih ketika ustadzahnya menyemangati dirinya. Dari sinilah, saya dan juga putri bungsuku menghafal Al-Qur&#8217;an, setiap hari 10 ayat.</p>
<blockquote><p><strong>Bagaimana metode yang Anda gunakan untuk menghafal?</strong></p></blockquote>
<p>Setiap hari, kami hanya menghafal 10 ayat saja. Pada ba&#8217;da Ashar, Kami selalu duduk bersama.   Putriku membaca ayat, kemudian aku menirukannya hingga 3 (tiga) kali.   Setelah itu putriku menerangkan makna dari ayat-ayat yang Kami baca. Lantas membaca kembali ayat-ayat tersebut hingga 3 (tiga) kali.</p>
<p>Keesokan harinya, sebelum berangkat ke sekolah putriku mengulangi ayat-ayat tersebut untukku. Tak cukup itu saja, saya pun menggunakan tape recorder untuk mendengar murattal Syaikh Al-Hushairi, dan aku mengulanginya hingga 3 (tiga) kali. Aku pun mendengar murattal tersebut pada sebagian besar waktuku.</p>
<p>Kami menetapkan hari Jum&#8217;at, khusus untuk mengulangi kembali ayat-ayat yang kami hafal selama satu pekan. Demikian seterusnya, saya dan putri bungsuku selalu menghafal ayat-ayat Al-Qur&#8217;an dengan cara tersebut.</p>
<blockquote><p><strong>Kapan Anda selesal menghafal seluruh Al-Qur&#8217;an?</strong></p></blockquote>
<p>Kira-.kira 4,5 tahun berjalan aku sudah hafal 12 Juz dengan cara yang telah saya sebutkan. Kemudian putriku pun menikah. Ketika suaminya mengetahui kebiasaan kami, dia pun mengontrak sebuah rumah yang dekat dengan rumahku untuk memberikan kesempatan kepadaku dan putriku untuk menyempurnakan hafalan kami.</p>
<p>Semoga Allah membalas kebaikan menantuku dengan kebaikan yang lebih baik. Dialah yang selalu menyemangati kami, bahkan terkadang dia menemani kami untuk menyimak hafalan kami, menafsirkan ayat-ayat yang kami baca, dan juga memberikan pelajaran-pelajaran berharga kepada kami.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, putriku tersibukkan dengan urusan anak-anaknya dan pekerjaan rumahnya.   Sehingga tidak bisa melazimi kebiasaan yang telah kami jalani. Putriku pun merasa khawatir hafalanku menjadi terbengkalai. Maka, putriku pun mencarikan untukku seorang ustadzah agar dapat menemaniku menyempurnakan hafalanku.</p>
<p>Dengan taufik Allah Azza Wajalla aku pun telah purna menghafalkan seluruh Al-Qur&#8217;an.   Semangat putriku pun masih membara untuk menyusulku menjadi hafizhah Al-Qur&#8217;an. Bahkan,  tidak mengendur sedikit pun.</p>
<blockquote><p><strong>Cita-cita Anda sangat tinggi, dan Anda pun telah mewujudkannya. Siapakah sosok wanita di sekitar Anda yang selalu mendukung Anda?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Motivasi saya telah jelas dan terang. Putri-putriku, juga para menantu perempuanku pastinya selalu mendukungku. Walau hanya satu jam, kami sepakat untuk mengadakan pertemuan sepekan sekali. Dalam pertemuan itu kami menghafal beberapa surat, dan saling menyimak hafalan. Terkadang pertemuan itu pun macet. Tetapi kemudian mereka bersepakat kembali untuk bertemu. Saya yakin, niat mereka semua sangat baik.</p>
<p>Tak ketinggalan pula, cucu-cucu perempuanku yang selalu memberikan kaset-kaset murattal Al-Qur&#8217;an. Hingga aku pun selalu memberi mereka bermacam-macam hadiah.</p>
<p>Awalnya, tetangga-tetanggaku juga tidak simpatik dengan cita-citaku. Mereka selalu mengingatkanku betapa sulitnya menghafal di usia yang daya ingatnya telah lemah. Tetapi ketika mereka melihat kebulatan tekadku, akhirnya mereka pun berbalik mendukung dan menyemangatiku. Ada di antara tetanggaku yang juga ikut tersulut semangatnya untuk menghafal, dan sedikit demi sedikit hafalannya pun mulai bertambah.</p>
<p>Ketika tetangga-tetanggaku mengetahui bahwa aku telah purna menghafal seluruh Al-Qur&#8217;an, mereka pun sangat berbahagia. Hingga kulihat air mata bahagia menetes di pipi mereka.</p>
<blockquote><p><strong>Sekarang, apakah Anda merasa kesulitan untuk muraja&#8217;ah (mengulangi) hafalan?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Saya selalu mendengarkan murattal Al-Qur&#8217;an, dan menirukannya. Demikian juga ketika shalat, saya selalu membaca beberapa surat panjang. Terkadang pula saya meminta salah seorang putriku untuk menyimak hafalanku.</p>
<blockquote><p><strong>Di antara putra-putri Anda, adakah yang juga hafizh seperti Anda?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Tak ada satu pun dari mereka yang hafal keseluruhan Al-Qur&#8217;an. Tetapi, insya Allah mereka selalu berusaha mencapai cita-cita menjadi hafizh. Semoga Allah menyampaikan mereka pada hal tersebut dengan bimbingan-Nya.</p>
<blockquote><p><strong>Setelah hafal Al-Qur&#8217;an, tidak terpikirkan untuk menghafal hadits?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Saat ini, saya telah hafal 90 hadits, dan saya tetap berkeinginan untuk melanjutkannya, Insya Allah. Saya menghafalnya dengan mendengarkan dari kaset. Pada setiap akhir pekan, putriku membacakan untukku 3 (tiga) hadits. Sekarang, saya telah mencoba untuk menghafal hadits lebih banyak lagi.</p>
<blockquote><p><strong>Setelah kurang lebih 12 tahun Anda disibukkan dengan menghafal Al-Qur&#8217;an, perubahan apa yang Anda rasakan dalam kehidupan Anda?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Benar, saya merasakan perubahan yang mendasar dalam diri saya. Walau sebelum menghafal&#8211;untuk Allah segala pujian—saya selalu menjaga diri untuk senantiasa dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.</p>
<p>Setelah disibukkan dengan menghafalkan Al-Qur&#8217;an, justru saya merasakan kelapangan hati yang tak terkira, dan sirnalah seluruh kecemasan dalam diriku. Saya pun tidak pernah menyangka akan terbebas dari perasaan khawatir terhadap urusan-urusan yang menimpa anak-anakku.</p>
<p>Moral dan spiritku benar-benar terangkat. Hingga aku pun rela berpayah-payah untuk mewujudkan kerinduanku dalam mewujudkan cita-citaku. Inilah nikmat terbesar yang diberikan oleh Sang Khaliq Azza Wajalla kepadaku sebagai wanita tua, suami pun telah tiada, dan juga anak-anaknya pun mulai berkeluarga.</p>
<p>Di saat wanita lanjut usia lainnya terjebak dalam angan-angan dan lamunan. Tetapi aku —segala puji hanya untuk Allah— tidak merasakan hal yang demikian. Saya benar-benar tersibukkan dengan urusan besar yang memiliki faedah di dunia dan akhirat.</p>
<blockquote><p><strong>Ketika itu, apakah Anda tidak berpikir untuk mendaftarkan diri pada sebuah pesantren penghafal Al-Qur&#8217;an?<br />
</strong></p></blockquote>
<p>Pernah beberapa wanita yang mengusulkan kepadaku, tapi saya adalah wanita yang terbiasa untuk berdiam diri di dalam rumah dan jarang sekali keluar rumah. Alhamdulillah, karena putriku telah mencukupi segalanya dan membantuku dalam segala urusan. Sungguh, putriku benar-benar tidak ada duanya. Aku pun telah banyak mengambil pelajaran darinya.</p>
<blockquote><p><strong>Apa yang terkesan dalam diri Anda tentang putri bungsu Anda yang telah membimbing dan mendampingi Anda?</strong></p></blockquote>
<p>Putri bungsuku telah memberikan pelajaran mengagumkan dalam kebaikan dan kedermawanan yang keduanya sulit ditemui pada zaman sekarang. Terlebih dia mendampingiku menghafal Al-Qur&#8217;an pada usia ABG. Padahal,usia ini adalah usia labil yang mudah terombang-ambing dan tergoda dengan keadaan yang menjerumuskan.</p>
<p>Tidak seperti umumnya teman-teman seusianya, putriku memaksakan diri untuk meluangkan waktunya untuk mendampingiku. Dia pun mengajari dan mendampinqiku dengan tekun, sabar, dan penuh kelembutan. Suaminya pun demikian —semoga Allah senantiasa menjaganya, selalu menolong dan telah memberikan bantuan yang begitu banyak. Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan kepada mereka berdua dan menyejukkan pandangan mata mereka dengan anak-anak yang shalih.</p>
<blockquote><p><strong>Apa saran Anda kepada wanita yang telah lanjut usia, dan menginginkan untuk dapat menghafalkan Al-Qur&#8217;an, tetapi terhalang oleh rasa khawatir dan merasa tidak mampu untuk melaksanakannya?</strong></p></blockquote>
<p>Saya katakan, &#8220;Jangan berputus asa terhadap cita-cita yang benar. Teguhkanlah keinginanmu, bulatkan tekadmu, dan berdoalah kepada Allah di setiap waktu. Kemudian, mulailah sekarang juga. Setelah umurmu berlalu dan kau curahkan seluruhnya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak, dan mengurus suami. Maka sekarang saatnyalah Anda memanjakan diri. Bukan berarti kemudian memperbanyak keluar rumah, memuaskan diri dengan tidur, bermewah-mewah, dan banyak beristirahat. Tetapi memanjakan diri dengan amal shalih.  Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala kita memohon khusnul khatimah.</p>
<blockquote><p><strong>Nasihat Anda terhadap para remaja?</strong></p></blockquote>
<p>Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Nikmat Allah berupa kesehatan, dan banyaknya waktu luangmu, maksimalkanlah untuk menghafal kitab Allah Azza Wa Jalla. Inilah cahaya yang akan menyinari hatimu, hidupmu, dan kuburmu setelah engkau mati.</p>
<p>Jika kalian masih memiliki ibu, bersungguh-sungguhlah dalam membimbingnya menuju ketaatan kepada Allah. Demi Allah, tidak ada nikmat yang lebih dicintai seorang ibu kecuali seorang anak shalih yang mau menolongnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla.<br />
(diterjemahkan dari quraan-sunna.com)</p>
<p>== disalin dari buku:<br />
HAFAL AL-QUR&#8217;AN TANPA NYANTRI<br />
penyusun: Abdud Daim Al Kahil.<br />
penerbit: Pustaka Arafah<br />
Cet I, Maret 2010, halaman 129-137</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=vsS83JErLjk:7w-DBHDBLdo:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/vsS83JErLjk" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Izinkan Anak Berbuat “Salah”</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/htNAsv59D3s/</link>
         <description>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu dimiliki oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar memandang kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting dilakukan. Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak untuk berhasil tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu diimbangi dengan meneguhkan anak untuk bersikap [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=959</guid>
         <pubDate>Sat, 06 Mar 2010 23:31:33 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki  oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang  kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan.  Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil  tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan meneguhkan  anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan.  Orang tua juga  perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski  telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p></blockquote>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt=""/><span id="more-959"></span></p>
<p>Ka&#8217;ab bin Malik. Ia salah satu sahabat mulia Rasulullah shallallahu  alaihi wa sallam. Ia juga pemuka sahabat kalangan Anshor dari suku  Khazraj. Berkali-kali ia membersamai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa  Sallam dalam berbagai peperangan, tetapi tidak di perang Tabuk. Ketika  sebagian besar sahabat bersiap untuk perang ini, Ka&#8217;ab bin Malik tak  segera melakukan hal yang sama. Pada akhirnya ia memang tertinggal, tak  ikut serta dalam peperangan ini. Karena kesalahan ini, Rasulullah dan  sahabat-sahabat lain mengucilkannya beberapa lama hingga akhirnya  Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberi kabar gembira: <em>&#8220;Berbahagialah  dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu.</em>&#8221;  Itulah kabar tentang diterimanya taubat Ka&#8217;ab bin Malik.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya merupakan bagian dari perjalanan  hidup karena kita memang tidak sempurna. Siapapun bisa melakukan  kesalahan dan mengalami kegagalan, termasuk sahabat Ka&#8217;ab bin Malik  sebagaimana dikisahkan di atas. Bahkan Nabi Adam pun pernah berbuat  salah. Benar sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana  diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah bahwa setiap bani Adam berbuat  salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang  bertaubat.</p>
<p>Kesalahan dan kegagalan sesungguhnya melekat pada proses  keberhasilan. Thomas Alfa Edison misalnya. Ia berhasil menemukan lampu  pijar setelah melakukan 9.999 kali percobaan. Kegagalan dan kesalahan  tersebut tidak menjadikannya putus asa. Justeru ia mengatakan bahwa  dengan begitu ia mengetahui ribuan cara agar lampu tidak menyala. Sikap  realistis inilah<br />
yang tampaknya menopang kesuksesan Thomas Alfa Edison. Ia menerima  kesalahan dan kegagalan sebagai sesuatu yang wajar dan menjadikannya  titik tolak untuk maju dan berkembang.</p>
<p>Berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan dan khawatir mengalami  kegagalan tentu saja wajar. Namun, ketika kekhawatiran itu sangat  berlebihan sehingga menghalangi untuk bertindak apapun, tentu tidak  wajar. Inilah yang mungkin secara tidak sadar dilakukan orang tua yang  sangat protektif kepada anaknya.</p>
<p>Lihatlah bagaimana orang tua dengan segera memegang sang anak yang  sedikit terhuyung ketika sang anak baru berlatih berjalan. Lihat pula  bagaimana orang tua segera mengatakan <strong>&#8220;<em>Nak, jangan pilih warna itu,  tidak cocok, Gunakan yang ini saja</em></strong>&#8221; ketika anak belajar mewarnai.</p>
<p>Orang tua sering begitu protektif dan tidak memberikan kesempatan  kepada anak untuk mencoba berbagai hal dalam proses belajar mereka  karena begitu khawatir anak melakukan kesalahan.</p>
<p>Tak disangsikan bahwa perilaku demikian didasari oleh rasa sayang  mereka. Namun, perilaku demikian berpotensi meneguhkan keyakinan pada  diri anak bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah tabu.  Akibatnya anak cenderung menghindari tindakan apapun yang dipandangnya  dapat menyebabkan kegagalan. Akibat selanjutnya bisa diduga bahwa hal  itu akan membatasi mereka untuk berkreasi dan berkembang.</p>
<p>Kesadaran bahwa kesalahan dan kegagalan adalah manusiawi perlu  dimiliki oleh siapapun, termasuk anak. Mendorong dan melatih anak agar  memandang kesuksesan dan kegagalan dalam persektif yang benar penting  dilakukan. Dalam hal ini orang tua berperan penting. Mendorong anak  untuk berhasil tentu saja wajar dan bahkan harus. Namun hal itu perlu  diimbangi dengan<br />
meneguhkan anak untuk bersikap realistis untuk menerima kegagalan. Orang  tua juga perlu berbagi pengalaman bahwa tidak setiap tujuan pasti  terwujud meski telah dipersiapkan dengan teliti dan matang.</p>
<p>Di kelas, guru juga berperan penting untuk menumbuhkan kesadaran dan  keyakinan bahwa melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan adalah  manusiawi. Bagaimana caranya? Sesekali guru perlu mengisahkan  tokoh-tokoh hebat yang dalam kisah suksesnya juga pernah melakukan<br />
kesalahan dan mengalami kegagalan. Kisah Ka&#8217;ab bin Malik dan Thomas Alfa  Edison di atas dapat dijadikan contoh. Guru juga perlu memberikan rasa  aman bagi anak untuk mencoba hal-hal baru dalam proses belajar mereka  tanpa kekhawatiran akan dicerca jika melakukan kesalahan. Guru perlu  meyakini bahwa anak .akan belajar dengan cepat jika mereka berada dalam<br />
lingkungan yang menerima terjadinya kesalahan. Guru sebaiknya  menghindari komentar atau pertanyaan yang bersifat negatif seperti: &#8220;<em>bagaimana  bisa kamu melakukan kesalahan seperti itu?&#8221; atau &#8220;kamu tidak  mendengarkan saya ya&#8230; sehingga bisa salah seperti ini</em>?&#8221;</p>
<p>Dalam kegiatan pembelajaran, guru seharusnya tidak bersegera  memberikan rumus formal kepada anak untuk menyelesaikan suatu soal. Anak  perlu diberikan kebebasan untuk melakukan eksplorasi dan menemukan cara  mereka sendiri tanpa khawatir akan dicerca jika melakukan kesalahan.  Hal ini akan mendorong anak berpikir kreatif dengan melihat berbagai  kemungkinan<br />
cara menyelesaikan soal. Mungkin saja cara mereka lebih kreatif dan  lebih mudah dipahami, setidaknya oleh mereka sendiri. Namun, mungkin  juga anak akan mengalami kesulitan dan menemui jalan buntu. Terhadap hal  ini guru hendaknya membimbing mereka untuk mengenali kesalahan mereka  dan memanfaatkannya untuk proses belajar mereka. Cara demikian akan  memberikan pengalaman dan kemampuan berharga kepada anak. Pengalaman  dimaksud adalah pengalaman menghadapi masalah, bukan menghindarinya, dan  secara bebas berusaha menyelesaikannya tanpa takut gagal. Pengalaman  demikian sangat penting bagi anak mengarungi kehidupannya kelak.</p>
<p>Membelajarkan anak agar menyadari bahwa melakukan kesalahan dan  mengalami kegagalan adalah manusiawi memerlukan proses. Hal itu perlu  dilakukan secara berkelanjutan sehingga anak memiliki perspektif yang  benar dan berimbang dalam memandang keberhasilan dan kegagalan.</p>
<p>dari:<br />
Izinkan Anak Berbuat &#8220;Salah&#8221;: Ali Mahmudi,Dosen Matematika Universitas  Negeri Yogyakarta.<br />
Fahma Vol.7 No.2, Februari 2010, hal. 14-15.</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=htNAsv59D3s:30hwKDJb2ds:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/htNAsv59D3s" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
         <category>Keluarga</category>
      </item>
      <item>
         <title>Jangan Salah Mendidik (bag.3)</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/U1L9t-3SMyA/</link>
         <description>JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3) penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc 11. Khawatir yang Berlebihan Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=956</guid>
         <pubDate>Sun, 28 Feb 2010 11:17:08 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bag.3)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>11. Khawatir yang Berlebihan</strong><br />
Perasaan  takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir terhadap masa depan anak  merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua. Namun, perasaan itu  akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah menjadi was-was  akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban biaya  hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.</p>
<p><span id="more-956"></span></p>
<p><img title="Selebihnya..." src="http://parentingmuslim.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt=""/>Ketakutan  seperti itu hanya akan membuat hidup terbebani, tidak percaya dengan  takdir, dan mengurangi ketawakalannya kepada Allah. Yang ada nanti hanya  perasaan tidak tenang dan khawatir terhadap nasib anaknya. Inilah yang  kadang membuat orangtua tidak tega saat melepas anaknya menempuh  pendidikan boarding school (pondok) di pesantren. Padahal, setiap  orangtua harus menyadari bahwa suatu saat nanti anak akan berpisah  dengannya, baik untuk mencari ilmu atau mencari pekerjaan untuk  menghidupi keluarganya setelah menikah kelak.</p>
<p><strong>12.  Kurang Sabar dalam Menerima Hasil</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah punya  target-target tertentu atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi  orangtua telah mendidik anaknya untuk mengganti jabatannya atau memegang  perusahaannya setelah  dia meninggal. Namun, ternyata sang anak  mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan membangkang, melainkan karena  bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan dan harapan orangtuanya.  Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya, &#8220;Tinggal belajar saja  kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!&#8221;</p>
<p>Padahal, kita  semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta&#8217;ala mengaruniakan kecerdasan dan  kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua  bersikap bijak.  Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin  mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha  Adil dan Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa  orangtua harus kecewa dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya?   Bukankah lebih baik mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam  mendidik dan mengarahkan anak, daripada terpaku pada hasil akhirnya?</p>
<p><strong>13.  Curiga Berlebihan</strong><br />
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi  kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan  interaksi dengan anak maupun anggota keluarga yang lain.  Keterbukaan  dan kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara  tulus dan memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya,  bila orang tua mudah menuduh<br />
tanpa bukti, mencurigai setiap  gerak-gerik anak tanpa alasan dan menganggap anak berkhianat kepada  orangtuanya, perasaan anak akan tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan  kemarahan anak kepada orangtua akan tersulut. Apalagi bila anak merasa  apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar.</p>
<p>Oleh karena itu, orang  tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan mudah curiga  dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya karena  kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan  kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.</p>
<p>Di  pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis orangtuanya tidak  sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar menghadapi  sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi  yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan  dendam kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang  dibiarkan bisa memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling  percaya,  tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap  masalah.</p>
<p><strong>14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</strong><br />
Kalau  tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih, pasti kita akan bergaul  dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan dengan para ulama  dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada kebaikan, amal  shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan  orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular  kebaikannya. Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau  hidup di lingkungan yang buruk, akan pula terkena getah keburukannya.</p>
<p>Wahai  anak shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul  dengan orang buruk berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli  bid&#8217;ah perusak agama. Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama  orang baik dan orang yang buruk akan berkumpul dengan orang yang buruk.  Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang dikumpulkan bersama orang yang  dicintainya.</p>
<p><em><strong>dari buku:</strong></em><br />
judul: &#8220;Untukmu  Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit:  rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 42-45</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=U1L9t-3SMyA:2ZGm2OaQIYU:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/U1L9t-3SMyA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
         <category>Keluarga</category>
      </item>
      <item>
         <title>Jangan Salah Mendidik (bag 2)</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/UexKFJSekxM/</link>
         <description>JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2) penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc 5. Motivasi yang Kurang Tepat Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=953</guid>
         <pubDate>Thu, 25 Feb 2010 23:02:25 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN SALAH MENDIDIK (bagian 2)<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin  Syamsudin, Lc</p>
<p><strong>5. Motivasi yang Kurang Tepat</strong><br />
Kesalahan  orangtua atau guru dalam memberi motivasi kepada anak didiknya bisa  memberi dampak yang kurang baik. Misalnya, mendoromg anak berprestasi  dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak berprestasi agar  tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar bangga  dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan  merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh  dalam menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin  berprestasi dan mendapat hadiah yang menggiurkan.<br />
<span id="more-953"></span>Parahnya lagi,  hanya untuk mengejar hadiah yang dijanjikan, si anak bisa saja  menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau berbuat curang lainnya,  yang penting hadiah didapat.</p>
<p>Alhasil, bila dia tidak bisa  berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas  belajar, sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh  teman-temannya akan timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak  yang dimotivasi agar bangga dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh  menjadi anak yang tidak pandai bersyukur kepada Allah; ia hanya  bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan kendali bila gagal.</p>
<p><strong>6.  Membatasi Kreativitas Anak</strong><br />
Ada sebagian orangtua yang membatasi,  memaksa dan selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang  bakat anak, membuat anak kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan  cenderung memisahkan diri dari teman-temannya. Seharusnya orangtua  mengarahkan, membimbing, mendorong dan memberi fasilitas agar anak  mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas itu tidak melanggar  syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan bermanfaat untuk  diri maupun agamanya. Anak yang merasa didukung kreativitasnya akan  tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi orang yang  bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang bangga dengan  orang-tuanya.</p>
<p><strong>7.  Membatasi Pergaulan</strong><br />
Kadang,  karena tidak ingin anak terpengaruh oleh perilaku buruk teman  bergaulnya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap anaknya.  Bahkan, anak tak boleh &#8220;nimbrung&#8221; jika orang tuanya sedang menerima  tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu  yang belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang  shalih, paham As-Sunnah dan rajin beribadah.</p>
<p>Sikap orangtua  seperti di atas membuat anak menjadi pemalu dan tidak pandai bergaul,  atau akan membuat anak mudah merendahkan orang lain yang dianggap tidak  selevel dengannya.</p>
<p>Orangtua bijaksana akan mengawasi pergaulan  anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak  bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak  bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin  beribadah dan berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya  menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di  sekitarnya.</p>
<p><strong>8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib</strong><br />
Ketidakdisiplinan  dan kurang tertibnya orang tua dalam mendidik anak akan membuat anak  juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani hidupnya. Orangtua dan  para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib sejak usia dini  sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam menunaikan  tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan  ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih  untuk membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid  (bagi anak laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati  perintah orangtua dalam kebaikan, bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p>Setiap  orangtua atau pendidik hendaknya membuatkan jadwal rutin harian, yang  berkaitan dengan ibadah, tugas harian maupun tugas sekolah, dan orangtua  harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya jangan sampai ada yang  terlewatkan.</p>
<p><strong>9. Hanya Pendidikan Formal</strong><br />
Sebagian  orangtua sudah merasa cukup mendidik anak bila sudah memberi mereka  pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar. Padahal, kebanyakan  lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa memedulikan  kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan  pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari  pendidikan formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan  hidup. Sebab, kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya  melalui madrasah saja.</p>
<p>Dengan kata lain, setiap anak harus  membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang berkaitan dengan  realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi, komunikasi,  situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu, orangtua  haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan  bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.  Karenanya, pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak  diperlukan, karena dengan pendidikan inilah si anak akan dapat  menyaring, mana ilmu teknologi, bisnis, komunikasi, dan segala hal yang  bermanfaat atau justru berpotensi merusak akidah maupun akhlak  seseorang.</p>
<p><strong>10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab</strong><br />
Orangtua  harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi pada  anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang terkait dengan  urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa tugas  sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung  jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk  lebih dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik  hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala maupun kepada sesama  manusia terutama kepada orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.</p>
<p>Orangtua  harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama,  diri, dan lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban  zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar  tumbuh rasa tanggung jawab dan sensitivitasnya pada agama dan  lingkungan, baik lingkungan rumah maupun sekolah.</p>
<p>11.Khawatir  yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga  Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p>keterangan  poin 11-14, edisi depan, <em>insya allah&#8230;</em></p>
<p>dari buku:<br />
judul:  &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin,  Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 38-42</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=UexKFJSekxM:YZCuFgqVZrc:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/UexKFJSekxM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>mencetak anak shalih: JANGAN SALAH MENDIDIK</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/Ae6r0WYzfIU/</link>
         <description>JANGAN  SALAH  MENDIDIK penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=949</guid>
         <pubDate>Thu, 18 Feb 2010 23:26:49 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>JANGAN  SALAH  MENDIDIK<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc</p>
<p>Lembaga pendidikan hanya sebuah sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat buruk anak. Oleh karena itu, bila sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama, maka orangtua harus pandai-pandai memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan syariat Islam.</p>
<p>Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan di dunia. Alhasil, mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal dipakai sebagai alat pengangkat prestise orangtua, sekadar alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu berharap memiliki anak shalih.</p>
<p>Berikut beberapa contoh kesalahan orang tua dalam memberikan pendidikan buat anak-anaknya:<br />
<span id="more-949"></span><strong>1. Salah Tujuan</strong><br />
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan<br />
perintah Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah subhanahu wa ta&#8217;ala yang bertakwa dan shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak.</p>
<p>Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas banyak orang awam. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama dicampakkan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang ikhtilat,<br />
banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas, dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinahan merajalela.</p>
<p><strong>2. Salah Sekolahan</strong><br />
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren, tanpa peduli apakah pesantren itu penuh bid&#8217;ah atau tidak, dan apakah akidah dan akhlak para santri benar-benar terkontrol.</p>
<p>Harus diakui, saat ini masih ada sekolah Islam yang di situ bercampur-baur antara pelajar laki-laki dengan perempuan, atau kurang memperhatikan sistem pengajarannya, sehingga bercampur antara pelajaran yang syar&#8217;i dan bid&#8217;ah, bahkan antara ajaran Islam dan ajaran kafir. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang anak. Kelak, ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan pemahaman dan pengamalan Islam yang<br />
menyimpang dari syariat Islam.</p>
<p><strong>3. Salah Teladan</strong><br />
Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas, keteladan memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif. Karena itu, orangtua harus memilih pendidik yang menjunjung tinggi<br />
nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.</p>
<p><strong>4. Salah Metode Pendidikan</strong><br />
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang tidak tepat, sehingga tujuan dan target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak semakin manja. Anak yang selalu diluluskan permintaan materinya akan tumbuh menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan permintaannya, bisa punya kebiasaan mencuri. Di sekolah, anak hanya dicecar dengan hafalan, tapi kurang diajak memahami suatu permasalahan.</p>
<p>5. Motivasi yang Kurang Tepat<br />
6. Membatasi Kreativitas Anak<br />
7. Membatasi Pergaulan<br />
8. Tidak Disipilin dan Kurang Tertib<br />
9. Hanya Pendidikan Formal<br />
10.Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab<br />
11.Khawatir yang Berlebihan<br />
12.Kurang Sabar dalam Menerima Hasil<br />
13.Curiga Berlebihan<br />
14.Menjauhkan Anak dari Orang Shalih</p>
<p><em><strong>keterangan poin 5-14, edisi depan, insya allah&#8230;</strong></em></p>
<p>dari buku:<br />
judul: &#8220;Untukmu Anak Shalih&#8221;<br />
penyusun: Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin, Lc<br />
penerbit: rumah penerbit al-manar<br />
halaman: 35-38</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=Ae6r0WYzfIU:aZkYiZ27FlU:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/Ae6r0WYzfIU" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>“Berikan kami Al Qur’an, bukan cokelat!”</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/w_CNTEPh7KE/</link>
         <description>&amp;#8220;Al Qur&amp;#8217;an! Al Qur&amp;#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&amp;#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi. Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&amp;#8217;an Bukan Cokelat! (Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.) [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=945</guid>
         <pubDate>Fri, 22 Jan 2010 23:34:56 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Al Qur&#8217;an! Al Qur&#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.</p></blockquote>
<p><span id="more-945"></span></p>
<p><strong>Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&#8217;an Bukan Cokelat!</strong></p>
<p>(<em>Banyak yang sebenarnya harus saya catat ketika bekerja menemani anak-anak di berbagai daerah dan negara. Namun,cerita yang satu ini amat berkesan. Menohok konsep diri.</em>)</p>
<p>Anak-anak hebat tidak selamanya lahir dari fasilitas yang serba lengkap, bahkan sebagian dari mereka disembulkan dari kehidupan sulit yang berderak-derak. Mereka tumbuh dan berkembang dari kekurangan.</p>
<p>Pada sebuah musim dingin yang menggigit, di sebuah pedalaman, di belahan timur Eropa, kisah ini bermula. Kejadian menakjubkan, setidaknya bagi saya.</p>
<p>Salju bagai permadani putih dingin menyelimuti pedalaman yang telah kusut masai dirobek perang yang tak kunjung usai. Dentuman bom dan letupan senjata meraung-raung dimana-mana. Sesekali, terdengar ibu dan anak menjerit dan kemudian hilang.</p>
<p>Di tenda kami, puluhan anak duduk memojok dalam keadaan teramat takut.  Sepi. Takada percakapan. Takada jeritan. Hanya desah pasrah merayap dari mulut mereka terutama ketika terdengar letupan atau ledakan.</p>
<p>Di luar, selimut putih beku telah menutup hampir semua jengkal tanah. Satu-dua pohon perdu masih keras kepala mendongak, menyeruak. Beberapa di antara kami terlihat masih berlari ke sana-kemari. Memangku anak atau membopong anak-anak yang terjebak perang dan musim dingin yang menggigit tulang.</p>
<p>Tiba-tiba dari kejauhan, saya melihat dua titik hitam kecil. Lambat laun, terus bergerak menuju tenda kami. Teman di samping yang berkebangsaan Mesir mengambil teropong.</p>
<p>&#8220;Allahu Akbar!&#8221; teriaknya meloncat sambil melemparkan teropong sekenanya.</p>
<p>Saya juga meloncat dan ikut berlari menyusul dua titik hitam kecil itu. Seperti dua rusa yang dikejar Singa Kalahari, kami berlari.</p>
<p>Dari jarak beberapa meter, dapat kami pastikan bahwa dua titik hitam kecil itu adalah sepasang anak. Anak perempuan lebih besar dan tinggi dari anak lelaki. Anak perempuan yang manis khas Eropa Timur itu terlihat amat lelah. Matanya redup. Sementara, anak lelaki berusaha terus tegar.</p>
<blockquote><p>&#8220;Cokelat &#8230;,&#8221; sodor teman saya setelah mereka sampai di tenda penampungan kami.</p></blockquote>
<p>Anak yang lebih besar dengan mata tajamnya menatap teman saya yang menyodorkan sebungkus cokelat tadi.</p>
<p>Teman saya merasa mendapat perhatian maka dia semakin semangat menyodorkan cokelat. Diangsurnya tiga bungkus cokelat ke kepalan tangan anak yang kecil (yang ternyata adalah adiknya).</p>
<p>Sang Kakak dengan cepat dan mengejutkan kami mengibaskan tangannya menolak dua bungkus cokelat yang diberikan. Teman saya yang berkebangsaan Mesir itu terkesiap.</p>
<blockquote><p>&#8220;Berikan kami Al Qur&#8217;an, bukan cokelat!&#8221; katanya hampir setengah berteriak.</p></blockquote>
<p>Kalimatnya yang singkat dan tegas seperti suara tiang pancang dihantam berkali-kali.</p>
<p>Belum seluruhnya nyawa kami berkumpul, sang Kakak melanjutkan ucapannya,</p>
<blockquote><p>&#8220;Kami membutuhkan bantuan abadi dari Allah! Kami ingin membaca Al Qur&#8217;an. Tapi, ndak ada satu pun Al Qur&#8217;an.&#8221;</p></blockquote>
<p>Saya tercekat apalagi teman saya yang dari Mesir. Kakinya seperti terbenam begitu dalam dan berat di rumput salju. Kami bergeming.</p>
<p>Dua titik hitam yang amat luar biasa meneruskan perjalanannya menuju tenda pengungsi. Mereka berusaha tegap berjalan.</p>
<blockquote><p>&#8220;Al Qur&#8217;an! Al Qur&#8217;an! Bukan cokelat! Bukan Cokelat!&#8221; kata anak perempuan setengah berteriak ke beberapa teman lain yang sedang mengurus pengungsi.</p></blockquote>
<p>Saya dan teman Mesir yang juga adalah kandidat doktor ilmu tafsir Al Qur&#8217;an Universitas Al Azhar Kairo itu kaku.</p>
<p>[<em>Takakan pernah terlupakan kejadian di sekitar Mostar ini. Meski musim dingin dan dalam dentuman senjata pembunuh yang tak terkendali, angsa-angsa terus berenang di sebuah danau berteratai yang luar biasa indahnya. Beberapa anak menangis dipangkuan. Darah menetes. Beberapa anak-anak bertanya, dimana ayah dan ibu mereka. (Saya ingin melupakan tahunnya.</em>)]</p>
<p>== disalin dari:<br />
&#8220;<strong>Aku Mau Ayah! Mungkinkah tanpa sengaja anak Anda telah terabaikan? 45 Kisah Nyata Anak-Anak Yang Terabaikan</strong>&#8220;,  bab &#8220;<strong>Dua Pasang Mata di Tengah Salju: Al Qur&#8217;an Bukan Cokelat</strong>!&#8221; (hal 83-86)<br />
Penulis: Irwan Rinaldi.<br />
Penerbit: Progressio Publishing.<br />
Cetakan Pertama, Juni 2009<br />
==</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=w_CNTEPh7KE:e-E4UOFlyEY:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/w_CNTEPh7KE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Aida: “Aku mau sekolah terus, tidak mau bekerja”</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/viQ9D-nT_YE/</link>
         <description>&amp;#8220;Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi, jurusan tata boga, terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&amp;#8221; belum selesai  mengucapkan jurusan apa. Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut,  &amp;#8220;Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja&amp;#8221;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran. Tulisan Ummu Mumtaz (ibu rumah tangga, tinggal di Yogyakarta),- dimuat di [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=940</guid>
         <pubDate>Fri, 15 Jan 2010 08:24:49 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>&#8220;Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi, jurusan tata boga, terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&#8221; belum selesai  mengucapkan jurusan apa. Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut,  &#8220;Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja&#8221;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.</p></blockquote>
<p>Tulisan <strong>Ummu Mumtaz</strong> (ibu rumah tangga, tinggal di Yogyakarta),- dimuat di &#8216;<strong>Fahma&#8217; Vol 6 No.08 Agustus 2009, hal 16-17</strong>-  ini, banyak yang dapat kita ambil faedahnya, insya Allah.  Apa saja faedah yang bisa kita dapatkan?  Silakan temukan sendiri faedah-faedah yang berserak&#8230;. selamat mencari.</p>
<p><span id="more-940"></span>Aida setiap hari kesepian di rumah, pasalnya bapak dan ibu Aida selalu pulang sore. Aida anak tunggal, kebetulan tetangga dekat tidak mempunyai anak seusia Aida. Sepulang sekolah biasanya Aida menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolah dan jika sudah capek beralih nonton televisi. Begitulah rutinitas Aida sehari-hari.</p>
<p>Ibu Aida biasanya pulang kerja pukul 16.00 WIB,  sedangkan bapak Aida pulang kerja selepas Maghrib.  Oleh-oleh kedua orangtua Aida selalu tak kelupaan buat Aida.  Kadang Aida sendiri yang pesan makanan kesukaanya, bakso.</p>
<p>Karena bekerja seharian ibu Dina orangtua Aida tampak capek sesampai di rumah, ibu Dina seorang manager perusahaan kertas FT Satria Makmur.  Perusahaan di mana ibu Dina menjadi manager, memiliki karyawan 10.000 orang.  Lain halnya dengan pak Yazid,  orang tua Aida ini pengawas mekanik perusahaan tekstil PT Sritex Jaya.  Karena jarak tempuh yang lebih jauh jika di banding tempat kerja ibu Dina, maka pak Yazid harus berangkat lebih dulu dan pulang belakangan.</p>
<p>Hari-hari Aida ditemani oleh seorang pembantu bagian dapur dan seorang pegawai taman.  Perasaan jenuh kerap menimpa Aida ketika menunggu kedua orang tua pulang kerja.  Rumah besar yang dilengkapi berbagai perabot mewah selalu sepi, kecuali sekali waktu ada teman-teman ibu Dina arisan.</p>
<p>Aida perlahan tapi pasti beranjak remaja.  Sekarang kelas dua SMP.  Kisah Aida yang begitu mencengangkan bermula dari kelas dua SMP.</p>
<p>Setiap pulang kerja ibu Aida selain tampak capek juga mengeluh tentang persoalan di tempat kerja. Ibu Aida tak menyadari ekspresi wajah dan keluhan persoalan kerjanya direkam oleh putrinya,  belum selesai ibunya<br />
bercerita,  Aida kedatangan bapaknya pulang kerja.   Cerita serupa meluncur dari pak Yazid ayah Aida.  &#8220;<strong><em>Hari ini sial betul saya, lima mesin macet total secara mendadak,  saya kena teguran keras pimpinan</em></strong>&#8220;, sambil meletakkan tas di atas meja, pak Yazid melanjutkan keluhannya.</p>
<p>Aida tertegun memandangi kedua orangtuanya, ia tidak mendapati tegur sapa kedua orang tuanya.  Tanpa disadari Aida terbersit pikiran negatif tentang dunia kerja.  &#8220;<strong><em>Wah besok aku tidak mau kerja,  kerja itu capek,  ruwet dan tidak menyenangkan,  aku akan sekolah terus saja</em></strong>&#8220;, pikir Aida sambil melamun.</p>
<p>Aida lulus SMP,  orang tua Aida menawari untuk memilih sekolah yang disukai Aida.   Kedua orang tua Aida tampak senang karena nilai UAN Aida bagus.   Aida memilih sekolah berkelas internasional, yang waktu sekolahnya lebih panjang.   Alasan Aida memilih sekolah internasional agar bisa lama di sekolah, berangkat jam 06.00 WIB hingga jam 18.00 WIB. Karena di rumah sepi.</p>
<p>Prestasi akademik Aida luar biasa, setiap hari bisa memberikan kebanggaan buat orangtua.  Perjalanan Aida di SMA cukup gemilang hingga kelas 3.   Aida merasa enjoy di sekolah, karena banyak teman-temannya yang baik dan fasilitas sekolah lengkap.</p>
<p>Waktu ujian akhirpun tiba, Aida telah siap dengan segalanya. Pak Yazid kaget ketika membaca koran, kalau pekan depan sudah tiba saatnya ujian.  Maklum selama ini tidak sempat menanyakan kesiapan ujian pada anaknya.  &#8220;<strong><em>Aida, besok Senin kamu ujian kan, sudahkah kamu siap untuk ujian nak&#8230;?</em></strong>&#8221; teriak Yazid kepada putrinya, Aida.   Aida yang ada di dalam kamar spontan menjawab, &#8220;<strong><em>Sudah</em>&#8220;</strong>.</p>
<p>Usai ujian,  Aida cukup gembira,  nilai sembilan tiap mata pelajaran diraihnya dengan mudah.  &#8220;<strong><em>Saya harus mendapatkan nilai bagus agar saya bisa kuliah, saya tidak mau kerja</em></strong>&#8220;,  gumam Aida.   Masuklah Aida kejurusan ekonomi kelas internasionnal.   Kedua orangtua Aida amat gembira dengan keberhasilan anaknya, Aida.</p>
<p>Seiring dengan karir yang meningkat ibu Dina semakin sibuk, keluhan capek dan keruwetan di kantor semakin nyaring di telinga Aida.   Aida semakin &#8220;alergi&#8221; dengan kerja.   Gelar sarjana begitu cepat diraih Aida,  prestasi akademik diraih dengan gemilang, IPK 3,9 indikatornya.</p>
<p>Kedua orangtua Aida ternyata sempat memperbincangkan lapangan kerja buat satu-satunya buah hati mereka.  Saling tarik-menarik antara pak Yazid dan Ibu Dina terjadi.  Pak Yazid menghendaki Aida masuk dan berkarir di tempatnya kerja PT Tekstil Sritex Jaya,   ibu Dina juga menghendaki Aida bekerja di tempat ia bekerja,  pabrik kertas PT Satria Makmur.   Deadlock pun terjadi.   Akhirnya mereka sepakat menyerahkan pilihan kerja pada yang bersangkutan, Aida.</p>
<p>Selepas makan malam Bu Dina menyempatkan mengajak bicara Aida, pekerjaan apa yang akan ia kehendaki setelah lulus sarjana ekonomi.   &#8220;<strong><em>Aida, ibu sangat ingin kamu bekerja bersama ibu, gajinya bisa besar</em></strong>&#8220;, kata ibu.   Pak Yazid pun menimpali,  &#8220;<strong><em>Aida, kebetulan di tempat bapak kerja membutuhkan tenaga baru, kamu bisa masuk</em></strong>&#8220;.   Tak sepatah katapun keluar di mulut Aida. Kedua orang tuanya, menunggu pilihan kerja di mana yang dikehendaki Aida.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Ibu,  bapak,  saya akan sekolah lagi,  saya tidak mau kerja.   Saya akan mengambil program studi magister manajemen</em></strong>&#8220;,  kata Aida.   Kedua orangtua tampak senang walaupun keinginan Aida untuk mengikuti jejak kerjanya tidak terkabul.   Keadaan mendadak berubah menjadi tegang ketika Aida melanjutkan bicaranya.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Setelah selesai magister manajemen saya berencana kuliah lagi,  jurusan tata boga,  terus saya akan kuliah lagi jurusan apa&#8230;</em></strong>&#8221; belum selesai mengucapkan jurusan apa.   Selanjutnya Pak Yazid tampak terkejut.   &#8220;<strong><em>Aida kamu masak mau sekolah terus, kapan kamu mau kerja</em></strong>&#8220;, sergah pak Yazid dengan penuh penasaran.</p>
<p>&#8220;<strong><em>Aku tidak mau kerja, aku mau sekolah terus, kerja itu capek banyak persoalan dan tidak enak</em></strong>&#8220;, lanjut Aida.</p>
<p>Kedua orangtua Aida nampak berpandangan, terbersit saling menyalahkan antara keduanya.</p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=viQ9D-nT_YE:WPo9M1_OJU8:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/viQ9D-nT_YE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
         <category>Obrolan Muslimah</category>
      </item>
      <item>
         <title>Indahnya Rumah Tangga di Bawah Naungan Manhaj  Nubuwwah</title>
         <link>http://feedproxy.google.com/~r/BlogJilbabOnline/~3/35iBOSXJqOI/</link>
         <description>Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin Rumah Tangga Sebuah Amanah Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh: يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ [...]</description>
         <guid isPermaLink="false">http://jilbab.or.id/?p=922</guid>
         <pubDate>Sun, 10 Jan 2010 21:50:54 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-927 aligncenter" src="http://jilbab.or.id/wp-content/uploads/2010/01/63.jpg" alt="63" width="258" height="196"/></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;"><span style="color:#000000;">Oleh Ust. Abu Ahmad bin Syamsyuddin</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Rumah Tangga Sebuah Amanah</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (﻿٦﻿)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em><span id="more-922"></span></em>Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong>“</strong><strong><em>Kamu sekalian adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas </em></strong><strong><em>ke</em></strong><strong><em>pimpin</em></strong><strong><em>an</em></strong><strong><em>nya</em></strong><strong><em>, s</em></strong><strong><em>eorang </em></strong><strong><em>imam</em></strong><strong><em> adalah pemimpin, dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em> dan seorang</em></strong><strong><em> laki-laki </em></strong><strong><em>adalah</em></strong><strong><em> pemimpin dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawab</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>atas atas kepemimpinannya</em></strong><strong><em>, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya </em></strong><strong><em> dan </em></strong><strong><em>akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>, </em></strong><strong><em>serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta </em></strong><strong><em>tanggung</em></strong><strong><em> </em></strong><strong><em>jawa</em></strong><strong><em>bnya</em></strong><strong><em>”</em></strong><strong><em>.</em></strong><strong><em> </em></strong><em>(</em><em>Shohih, diriwayatkan oleh</em><em> Bukh</em><em>o</em><em>ri</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. </em><em> Muslim</em><em> dalam </em><em>Shohih</em><em>-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam </em><em>Sunan</em><em>-nya: 1705)</em><em> </em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Bekal Membina Rumah Tangga</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”.</em> (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih <em>Sunan </em>Abu Dawud: 337)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.</span></p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Akhlaq Seorang Pendidik</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (﻿١٥٩﻿)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.</em> (QS. Ali Imran [3]: 159)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.”</em> (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">“<em>Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam <em>Shohih</em>-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam <em>shohih-</em>nya: 7408)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Wahai saudaraku, para suami&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><strong> </strong>Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">&#8230;.. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)</em></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (﻿٣٤﻿)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. </em>(QS. An-Nisa’ [4]: 34)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))<br />
<em>&#8220;Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalam <em>Shohih</em>-nya: 3631)</span></p>
<p><span style="color:#800000;"><strong>Wahai saudaraku, para isteri&#8230;</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>Kewajiban Seorang Suami</strong></span></p>
<p><span style="color:#000000;">Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:</span></p>
<p><span style="color:#000000;">1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal</span></p>
<p><span style="color:#000000;">2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas</em>.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan</em>-nya: 1851)</span></p>
<p><span style="color:#000000;">3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang i<em>khtilath</em> (bercampur) dan <em>kholwah</em></span> (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.</p>
<p><span style="color:#000000;">8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh</span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><strong>Kewajiban Seorang Isteri</strong></span></p>
<p>Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:</p>
<p>1.<span style="color:#000000;"> Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”</em>. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam <em>Shahih-</em>nya: 4840, at-Tirmidzi dalam <em>Sunan</em>-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam <em>Sunan-</em>nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> 2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah <em>nafilah</em> (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:</span></p>
<p><span style="color:#000000;"><em>“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.”</em> (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam <em>Shahih</em>-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam <em>Shahih</em>-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam <em>Sunan</em>-nya: 1687, 2458).</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> 3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> 4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> 5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.</span></p>
<p><span style="color:#000000;"> 6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.</span></p>
<p><span style="color:#000000;">7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya</span>.</p>
<p><span style="color:#800080;"><strong>Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil</strong></span></p>
<p>Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:</p>
<p>“<em>Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya</em>.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)</p>
<p>Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:</p>
<p>وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (﻿٢١﻿)</p>
<p><em>Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em>Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an</p>
<p><em>Diketik ulang oleh Ummu Tsaqiif al-Atsariyyah dari majalah Mawaddah Edisi 1 Tahun ke-1 (1428/2007) untuk </em><a rel="nofollow"><em>http://jilbab.or.id</em></a><em>)</em></p>
<div class="feedflare">
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?i=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:D7DqB2pKExk" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=qj6IDK7rITs" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:DN0H40_Ym5U"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=DN0H40_Ym5U" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:V-t1I-SPZMU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=V-t1I-SPZMU" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:tr8VpXobKIM"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=tr8VpXobKIM" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:UT3xtbGYFzA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=UT3xtbGYFzA" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:u0Zhe-nyOHo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=u0Zhe-nyOHo" border="0"></a> <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?a=35iBOSXJqOI:BEAz8qGB7-I:ACf-c_HutVc"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/BlogJilbabOnline?d=ACf-c_HutVc" border="0"></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/BlogJilbabOnline/~4/35iBOSXJqOI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Fungsi Hadis terhadap al-Quran</title>
         <link>http://zuliyanti.wordpress.com/2009/10/18/kedudukan-hadis/</link>
         <description>Alquran dan Hadis adalah dua sumber hukum syariat Islam yang tetap dan kekal selamanya. Seorang Muslim tidak mungkin memahami syariat Islam secara mendalam dan lengkap tanpa kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang alim pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari keduanya. Banyak ayat Alquran dan Hadis yang memberikan pengertian bahwa [...]&lt;img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zuliyanti.wordpress.com&amp;amp;blog=1401063&amp;amp;post=68&amp;amp;subd=zuliyanti&amp;amp;ref=&amp;amp;feed=1" width="1" height="1"/&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://zuliyanti.wordpress.com/?p=68</guid>
         <pubDate>Sun, 18 Oct 2009 04:44:59 +0000</pubDate>
         <media:content medium="image" url="http://1.gravatar.com/avatar/dfb69e305d482d0cebae53479b85f94c?s=96&amp;amp;d=identicon&amp;amp;r=G">
            <media:title type="html">yanti</media:title>
         </media:content>
         <category>Hadits</category>
      </item>
      <item>
         <title>Manajemen Pendidikan</title>
         <link>http://zuliyanti.wordpress.com/2009/09/26/manajemen-pendidikan/</link>
         <description>Tujuan pendidikan sebagaimana tertuang pada UU Nomor 2 tahun 1989 pasal 4, antara lain dirumuskan: &amp;#8220;Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki  pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa [...]&lt;img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zuliyanti.wordpress.com&amp;amp;blog=1401063&amp;amp;post=62&amp;amp;subd=zuliyanti&amp;amp;ref=&amp;amp;feed=1" width="1" height="1"/&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://zuliyanti.wordpress.com/?p=62</guid>
         <pubDate>Sat, 26 Sep 2009 02:28:04 +0000</pubDate>
         <media:content medium="image" url="http://1.gravatar.com/avatar/dfb69e305d482d0cebae53479b85f94c?s=96&amp;amp;d=identicon&amp;amp;r=G">
            <media:title type="html">yanti</media:title>
         </media:content>
         <media:content medium="image" url="http://alatsar.files.wordpress.com/2009/09/10.jpg?w=67&amp;amp;h=67">
            <media:title type="html">Download File</media:title>
         </media:content>
         <category>Anak Kita</category>
      </item>
      <item>
         <title>Tulisan Terbaru</title>
         <link>http://mutiarasuamiku.blogspot.com/2009/01/tulisan-terbaru.html</link>
         <author>Mutiara Suamiku</author>
         <guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-30823775.post-6939153322792042321</guid>
         <pubDate>Mon, 12 Jan 2009 11:40:00 +0000</pubDate>
      </item>
      <item>
         <title>Do’a Perubah Takdir</title>
         <link>http://zuliyanti.wordpress.com/2008/07/02/doa-perubah-takdir/</link>
         <description>&amp;#8220;Ya Allah, aku tidak memohon kepada-Mu untuk mengubah takdir-Mu, namun aku hanya memohon agar engkau bersikap lembut kepadaku.&amp;#8221; Demikian doa yang sering diucapkan sebagian orang. Sejauh mana keabsahan dari doa tersebut? Jawab : Al-Hamdulilllah. Doa itu seringkali diucapkan orang. Namun itu doa yang sama sekali tidak pantas. Karena Allah hanya menyariatkan kepada kita untuk memohon [...]&lt;img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=zuliyanti.wordpress.com&amp;amp;blog=1401063&amp;amp;post=61&amp;amp;subd=zuliyanti&amp;amp;ref=&amp;amp;feed=1" width="1" height="1"/&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://zuliyanti.wordpress.com/?p=61</guid>
         <pubDate>Wed, 02 Jul 2008 09:04:33 +0000</pubDate>
         <media:content medium="image" url="http://1.gravatar.com/avatar/dfb69e305d482d0cebae53479b85f94c?s=96&amp;amp;d=identicon&amp;amp;r=G">
            <media:title type="html">yanti</media:title>
         </media:content>
         <category>Fatwa Ulama</category>
      </item>
   </channel>
</rss><!-- fe3.pipes.sp1.yahoo.com compressed/chunked Sun May 27 13:47:09 UTC 2012 -->

