<?xml version="1.0"?>
<rss version="2.0" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:yt="http://gdata.youtube.com/schemas/2007" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
   <channel>
      <title>Situs Muslimah</title>
      <description>Pipes Output</description>
      <link>http://pipes.yahoo.com/pipes/pipe.info?_id=uGI8gdCC3BGwEeSn2R2EvQ</link>
      <atom:link rel="next" href="http://pipes.yahoo.com/pipes/pipe.run?_id=uGI8gdCC3BGwEeSn2R2EvQ&amp;_render=rss&amp;page=2"/>
      <pubDate>Thu, 01 Oct 2015 22:55:37 +0000</pubDate>
      <generator>http://pipes.yahoo.com/pipes/</generator>
      <item>
         <title>Keberkahan Amal Ikhlas</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/keberkahan-amal-ikhlas/</link>
         <description>Apabila seorang hamba mengikhlaskan niatnya lalu beramal shalih meskipun sedikit, niscaya Allah Ta’ala akan menerima dan melipatgandakan pahalanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسْلِمِينَ وَفِي رِوَايَةٍ مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللّٰهِ لأُنْحِيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/keberkahan-amal-ikhlas/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2491</guid>
         <pubDate>Thu, 01 Oct 2015 21:10:26 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Apabila seorang hamba mengikhlaskan niatnya lalu beramal shalih meskipun sedikit, niscaya Allah <em>Ta’ala</em> akan menerima dan melipatgandakan pahalanya. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab">لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسْلِمِينَ<br />
وَفِي رِوَايَةٍ مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللّٰهِ لأُنْحِيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لَا يُؤْذِيهِمْ فَأُدْخِلَ الجَنَّةَ</p>
<p><em>”Sungguh aku melihat seseorang yang berguling-guling dalam jannah (saking nikmatnya) karena ia menyingkirkan sebatang pohon yang ada di jalan, yang senantiasa mengganggu kaum muslimin yang melaluinya. Dalam riwaqyat lain disebutkan: ”Ada seorang laki-laki melewati sebatang ranting yang tergolek di tengah jalan, maka ia berkata dalam hati: ’Demi Allah, akan kusingkirkan ranting ini dari jalannya kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka’, maka orang itu pun dimasukkan ke dalam Janah karenanya”.</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Perhatikannlah amal yang remeh tadi, yang hanya menyingkirkan sebatang ranting, yang perbuatan ikhlas tersebut atas rahmat Allah, dapat memasukkan pelakunya ke dalam Jannah!</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dikutip dari <em>Langkah Pasti Menuju Bahagia</em> Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim, Penerbit Daar An-Naba&#8217;, Solo</p>
<p>WanitaSalihah.Com</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Apa Itu Ikhlas?</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/apa-itu-ikhlas/</link>
         <description>Kriteria ikhlas ialah apabila niat dalam beramal hanya karena Allah semata, bukan yang lain. Bukan karena pamer, atau supaya di dengar orang, atau dalam rangka mendekatkan diri kepada seseorang. Jadi, beramal bukan karena menunggu-nunggu pujian orang atau khawatir akan celaan mereka. Apabila niat beramal sudah karena Allah semata dan tidak memperindah amalan karena manusia maka &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/apa-itu-ikhlas/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2490</guid>
         <pubDate>Wed, 30 Sep 2015 21:11:00 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Kriteria ikhlas ialah apabila niat dalam beramal hanya karena Allah semata, bukan yang lain. Bukan karena pamer, atau supaya di dengar orang, atau dalam rangka mendekatkan diri kepada seseorang. Jadi, beramal bukan karena menunggu-nunggu pujian orang atau khawatir akan celaan mereka.</p>
<p>Apabila niat beramal sudah karena Allah semata dan tidak memperindah amalan karena manusia maka berarti itu berarti seorang mukhlis.</p>
<p>Fudhail bin ‘Iyadh <em>rahimahullah</em> berkata: ”Beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, adapun ikhlas itu ialah bila Allah memelihara dari keduanya”.</p>
<p>Maka ikhlaskanlah seluruh amalan karena Allah semata, janganlah pernah mengharap ada orang yang tahu, dan golongkanlah diri sebagaaimana yang disebutkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em> berikut :</p>
<p class="arab">قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِى لِلّٰه رَبِّ الْعٰلَمِينَ</p>
<p><em>“Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.”</em> (Qs. Al-An’aam: 162)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dikutip dari “<em>Langkah Pasti Menuju Bahagia</em>” Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al-Qasim, Penerbit Daar An-Naba&#8217;, Solo</p>
<p>WanitaSalihah.Com</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Shalat Tidak Khusyu Karena Mikir Pekerjaan</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/shalat-tidak-khusyu-karena-mikir-pekerjaan/</link>
         <description>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, saya memiliki profesi yang beragam, hal ini saya lakukan demi mencari rizki. Pekerjaanku membuatku benar-benar sibuk sampai melalaikanku menuntut ilmu syar&amp;#8217;i yang bermanfaat. Saking sibuknya terkadang masalah pekerjaan hadir dalam pikiranku tatkala shalat. Akankah aku diadzab karena pekerjaan ini? Jawaban: Tentang permasalahan bahwa sibuk bekerja &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/shalat-tidak-khusyu-karena-mikir-pekerjaan/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2487</guid>
         <pubDate>Wed, 30 Sep 2015 07:07:25 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Fadhilatusy Syaikh, saya memiliki profesi yang beragam, hal ini saya lakukan demi mencari rizki. Pekerjaanku membuatku benar-benar sibuk sampai melalaikanku menuntut ilmu syar&#8217;i yang bermanfaat. Saking sibuknya terkadang masalah pekerjaan hadir dalam pikiranku tatkala shalat. Akankah aku diadzab karena pekerjaan ini?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Tentang permasalahan bahwa sibuk bekerja dapat melalaikan dari menuntut ilmu, hal ini tidaklah mengapa. Karena menuntut ilmu (secara mendalam)  hukumnya fardhu kifayah jika telah ada orang yang mencukupi untuk menuntut ilmu maka gugur kewajiban yang lain.</p>
<p>Adapun pekerjaan yang bisa melalaikan dari shalat maka dengarkanlah firman Allah Ta&#8217;ala berikut:</p>
<p class="arab">
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.&#8221;</em> (Al Munaafiquun: 9)</p>
<p>Janganlah engkau menjadi orang yang merugi!<br />
Berusahalah menghadirkan hatimu sebagaimana kau hadirkan jasadmu untuk shalat. Agar engkau tidak disibukkan perkara lain selain shalat. Latihlah dirimu untuk tetap demikian sampai engkau merasakan nikmatnya shalat, sehingga shalatmu bisa mencegahmu dari perbuatan keji dan munkar. (<em>Silsilah Al Liqa Asy Syahri</em> 65)</p>
<p>Sumber: Tathbiiq Fatawa Ibnu Utsaimin Lianduruwiid<br />
Simak versi audi betikut:</p>
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_065_11.mp3">http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_065_11.mp3</a> 
<p>Diterjemahkan Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com</p>
<p>***<br />
Artikel Wanitasalihah.Com</p>
<p>فضيلة الشيخ، لي أعمال كثيرة أبحث فيها عن الرزق تقوم بشغلي عن طلب العلم النافع، وهذا العمل يشغلني حتى أحياناً في وقت صلاتي بالتفكير، فهل أنا مؤاخذ على هذا العمل؟</p>
<p>الجواب:</p>
<p>أما بالنسبة لشغل العمل عن طلب العلم فلا حرج؛ لأن طلب العلم فرض كفاية، إذا قام به من يكفي سقط عن الآخرين. وأما إشغاله عن الصلاة فاستمع إلى قول الله تعالى:﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْخَاسِرُونَ﴾ [المنافقون:9] فلا تخسر، حاول أن تحضر قلبك كما أحضرت جسمك للصلاة، وألا تنشغل فيما سواها، وعوِّد نفسك على هذا حتى تجد لذة الصلاة، وحتى تكون صلاتك ناهية لك عن الفحشاء والمنكر.</p>]]></content:encoded>
         <enclosure length="637338" type="audio/mpeg" url="http://zadgroup.net/bnothemen/upload/ftawamp3/mm_065_11.mp3"/>
      </item>
      <item>
         <title>Kebiasaan-Kebiasaan Yang Wajib Dijauhi Dalam Pesta Pernikahan</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7822-kebiasaan-kebiasaan-yang-wajib-dijauhi-dalam-pesta-pernikahan.html</link>
         <description>Berikut ini beberapa hal yang semestinya dihindari dalam pesta pernikahan agar pernikahan menjadi berkah dan bebas dari pelanggaran syariat</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7822</guid>
         <pubDate>Wed, 30 Sep 2015 02:57:45 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini melainkan telah dijelaskan dan tidak ada satu masalah pun melainkan telah disentuh oleh nilai Islam, kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam, agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>Dalam hal pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Dari sejak mencari kriteria calon pendamping hidup, hingga bagaimana cara berinteraksi dengannya tatkala resmi menjadi penyejuk hati. Islam memberikan tuntunan, begitu pula Islam mengarahkan bagaimana panduan menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang suka ria, namun tetap memperoleh berkah dan tidak menyelisihi sunnah Rasulullah <em>shallaallahu ‘alaihi wasallam</em>, demikian pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap ada daya tarik tersendiri. Maka Islam mengajarkannya.</p>
<p>Adapun sebagian kebiasaan yang wajib dijauhi dalam pesta pernikahan:</p>
<p><strong><u>Pertama</u> :</strong> <strong>Menyandingkan Pengantin Pria Bersama Pengantin Wanita</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Jibrin –<em>rahimahullāh</em>– ditanya : “Apakah boleh menyandingkan pengantin pria bersama pengantin wanita di tengah-tengah para tamu wanita dalam pesta pernikahan?”</p>
<p><strong>Jawaban: </strong>Perbuatan ini tidak dibolehkan. Sebab ini adalah bukti atas tercabutnya rasa malu dan <em>taqlid </em>(mengekor) kepada kaum yang suka berbuat keburukan. Bahkan perkaranya jelas. Sebab, pengantin wanita merasa malu menampakkan diri di hadapan manusia, lalu bagaimana halnya bersanding di hadapan orang-orang yang sengaja menyaksikan?<sup>[1]</sup></p>
<p>Syaikh Ibnu Baaz berkata: “Di antara perkara munkar yang diadakan manusia pada zaman ini ialah meletakkan pelaminan untuk pengantin wanita di tengah kaum wanita dan menyandingkan suaminya di dekatnya, dengan dihadiri kaum wanita yang berdandan dan bersolek. Mungkin juga ikut hadir, bersama pengantin pria, kaum pria dan kalangan kerabatnya atau kerabat pengantin wanita. Orang yang memiliki fitrah yang lurus dan memiliki <em>ghirah </em>(kecemburuan) beragama, akan mengetahui apa yang terkandung dalam perbuatan ini yaitu berupa keburukan yang besar dan memungkinkan kaum pria asing menyaksikan kaum wanita yang menggoda lagi bersolek, serta akibat buruk yang akan dihasilkannya. Oleh karena itu, wajib mencegah hal itu dan menghapuskannya, untuk mencegah sebab-sebab fitnah dan melindungi komunitas wanita dari perkara yang menyelisihi <em>syari’at</em> yang suci.<sup>[2]</sup></p>
<p><strong><u>Kedua</u> :</strong> <strong>Saweran</strong></p>
<p>Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Yazid al-Anshari –kakeknya adalah Abu Umamah–, ia mengatakan: “Nabi <em>shallaallahu ‘alaihi wasallam</em> melarang <em>nahbah</em><sup>[3]</sup> dan <em>mutslah</em><sup>[4] </sup>.”<sup>[5]</sup></p>
<p>Ibnu Qudamah –<em>rahimahullāh</em>– berkata: “Karena dalam kebiasaan ini (yakni saweran) berisi perebutan, berdesak-desakkan dan perkelahian. Barangkali mungkin diambil oleh orang yang tidak disukai oleh pemilik barang yang ditaburkan tersebut, karena kerakusan dan ketamakannya serta kekerdilan jiwanya. Sementara orang yang disukai pemilik harta yang ditaburkan tersebut terhalang, karena beradab baik serta menjaga diri dan kehormatannya. Demikianlah pada umumnya. Sebab, orang-orang yang beradab baik akan memelihara dirinya dari berdesak-desakan dengan manusia rendahan untuk suatu makanan atau selainnya. Juga karena ini adalah kehinaan, sedang Allah menyukai perkara-perkara yang luhur daripada berdesak-desakan untuk perkara yang murahan. Yang diperselisihkan hanyalah mengenai kemakruhan hal itu. Adapun kebolehannya, maka tidak diperselisihkan di dalamnya, dan tidak pula mengambilnya. Karena ini semacam membolehkan (orang lain) terhadap hartanya, sehingga ini serupa dengan semua hal yang dibolehkan.”<sup>[6]</sup></p>
<p>Al-Hafizh berkata dalam <em>al-Fath</em>: “Malik dan segolongan ulama memakruhkan perbuatan dalam saweran pengantinan.”<sup> [7]</sup></p>
<p><strong><u>Ketiga</u> :</strong> <strong>Mengatakan “<em>Bir Rafaa’ wal Baniin</em>” (Semoga Rukun dan Banyak Anak)</strong></p>
<p>Tidak boleh mengatakan: “<em>Bir rafaa’ wal baniin, </em>sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak mengetahui. Sebab, itu termasuk perbuatan Jahiliyyah.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Hajar –<em>rahimahullāh</em>– berkata: “Kalimat ini biasa diucapkan oleh kaum Jahiliyyah sehingga ucapan ini dilarang, sebagaimana diriwayatkan oleh Baqi bin Makhlad dari jalan Ghalib dari al-Hasan, dari seseorang dari Bani Tamim. Ia menuturkan: ‘Semasa Jahiliyyah, kami biasa mengucapkan: ‘<em>Bir rafaa’ wal baniin</em>.’ Ketika Islam datang, Nabi <em>shallaallahu ‘alaihi wasallam</em> mengajarkan kepada kami. Beliau bersabda: ‘<em>Ucapkanlah</em>:</p>
<p style="text-align:right;">بَارَكَ اللّهُ لَكُمْ، وَ بَارَكَ فِيْكُمْ، وَ بَارَكَ عَلَيْكُمْ</p>
<p><em>‘Semoga Allah memberkahi kalian, memberkahi pada kalian dan memberkahi atas kalian.’”</em></p>
<p>An-Nasai dan ath-Thabrani meriwayatkan dari jalan lain, dari ‘Aqil bin Abi Thalib bahwa ia tiba di Bashrah lalu menikahi seorang wanita, maka mereka mengucapkan kepadanya: “<em>Bir rafaa’ wal baniin</em>.” Maka ia mengatakan: “Jangan mengatakan demikian, tapi ucapkanlah sebagaimana ucapan Rasulullah <em>shallaallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">اللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِمْ</p>
<p>‘<em>Ya Allah, berkahilah mereka, dan berkahilah atas mereka</em>.’” (Para perawinya <em>tsiqat</em>). <sup>[8]</sup></p>
<p><sup> &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</sup></p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<p><sup>[1] </sup><em>Fataawaa Islamiyyah </em>(III/188)</p>
<p><sup>[2] </sup>Ibid.</p>
<p><sup>[3] </sup><em>Nahbah</em> ialah apa yang ditebarkan pada saat pesta berupa harta, permen (coklat), makanan atau selainnya.</p>
<p><sup>[4]</sup><em> Mutslah </em>yakni <em>tamtsil </em>(melukai atau merusak anggota tubuh). Di antara <em>mutslah </em>ialah seorang bernadzar untuk melukai hidungnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Imran bin Hushain dalam riwayat Ahmad (no. 19437).</p>
<p><sup>[5]</sup> HR. Al-Bukhari (no. 2474), kitab <em>al-Mazhaalim wal Ghadhab</em>, Ahmad (no. 18265)</p>
<p><sup>[6]</sup> <em>Al-Mughni bisy Syarhil Kabiir </em>(VIII/118)</p>
<p><sup>[7] </sup><em>Fat-hul Baari </em>(V/120)</p>
<p><sup>[8] </sup><em>Fat-hul Baari </em>(IX/222)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Referensi : </strong>Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq. &#8220;<em>Panduan Lengkap Nikah dari A sampai Z</em>”. Pustaka Ibnu Katsir.</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Haruskah Potongan Rambut dan Kuku Dikubur dalam Tanah?</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/haruskah-potongan-rambut-dan-kuku-dikubur-dalam-tanah/</link>
         <description>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah Pertanyaan: Haruskah rambut dan kuku di kubur setelah dipotong? Jawaban: Rambut dan kuku yang telah dipotong tidak harus dikubur, meskipun menguburnya itu lebih baik. Bila anda tidak melakukannya, tidak masalah, insyaallah Ta&amp;#8217;ala. Terdapat beberapa hadits yang memerintahkan mengubur rambut dan kuku, namun semuanya tidak shahih. Al Baihaqi mengatakan &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/haruskah-potongan-rambut-dan-kuku-dikubur-dalam-tanah/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2483</guid>
         <pubDate>Mon, 28 Sep 2015 20:47:47 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid <em>hafidzahullah</em></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Haruskah rambut dan kuku di kubur setelah dipotong?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
Rambut dan kuku yang telah dipotong tidak harus dikubur, meskipun menguburnya itu lebih baik. Bila anda tidak melakukannya, tidak masalah, <em>insyaallah Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Terdapat beberapa hadits yang memerintahkan mengubur rambut dan kuku, namun semuanya tidak shahih.</p>
<p>Al Baihaqi mengatakan dalam <em>Syu&#8217;abul Iman</em>,</p>
<p>Telah diriwayatkan beberapa hadits dari beberapa jalur tentang mengubur rambut dan kuku, namun semuanya dha&#8217;if (lemah) . (<em>Nasbur Raayah Fi Takhriji Ahaditsil Hidaayah</em> 1/189)</p>
<p>Imam Ahmad bin Hambal <em>rahimahullah</em> berkata, Diajurkan mengubur rambut dan kuku. Namun jika tidak, tidak masalah menurut pandangan kami. (Diriwayatkan oleh al-Khallal dalam <em>At Tarajjul</em> hal. 19)</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> pernah ditanya tentang hukum mengubur rambut dan kuku setelah dipotong. Beliau menjawab,</p>
<p>Sebagian ulama menegaskan yang lebih baik dan paling utama, mengubur rambut dan kuku setelah dipotong. Terdapat atsar dari beberapa shahabat <em>radhiyallahu&#8217;anhum</em> tentang hal ini. Adapun menganggap bahwa membiarkan potongan rambut dan kuku di tempat terbuka atau membuangnya ke suatu tempat, akan bernilai dosa, ini tidak benar. (<em>Majmu&#8217; Fatawa Asy Syaikh Al Utsaimin</em> 11/ Soal Jawab No. 60)</p>
<p>Sumber:<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://islamqa.info/ar/97740">http://islamqa.info/ar/97740</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Markaz Fatawa</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Aku pernah membaca bahwa Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> memerintahkan untuk mengubur tujuh anggota badan manusia yaitu rambut,kuku,darah, darah haid,gigi, ari-ari dan kulup (daging yang dipotong saat khitan). Saya berharap Anda berkenan menjelaskan kepadaku tentang hal ini. Apakah hadits ini sampai derajat shahih? Lalu bagaimanakah mungkin mengumpulkan rambut yang rontok berjatuhan di setiap tempat atau bagaimana mungkin mengubur rambut bagi orang yang tinggal di perkotaan (tidak ada lahan kosong)? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan menjadikan diri Anda bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong><br />
<em>Alhamdulillah washshalatu wassalamu ala Rasulillah wa &#8216;ala aalihi washahbih, ammaba&#8217;d.</em></p>
<p>Terdapat beberapa atsar yang memerintahkan mengubur rambut, kuku,darah, gigi, kulup dan ari-ari. Meskipun atsar tersebut dha&#8217;if. Akan tetapi perintah ini secara substansi selaras dengan nash-nash wahyu baik Al Qur&#8217;an maupun As Sunnah yang menjaga kehormatan jasad manusia serta anjuran memuliakannya. Seperti penjelasan fatwa No. 9187.</p>
<p>Jika tidak ditemukan tempat untuk mengubur darah dan yang lainnya,Anda bisa menyingkirkan benda-benda tersebut dengan cara membuangnya di saluran pembuangan, saluran drainase atau cara lainnya agar tidak terlihat lagi oleh pandangan manusia.</p>
<p>Karena Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> pernah suatu ketika memerintahkan Abdullah bin Zubair untuk membuang darah (bekam) beliau <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> di tempat yang tidak dilihat seorangpun. Sebagaimana yang dijelaskan dalam fatwa lain tentang hal ini.</p>
<p>Adapun rambut yang berjatuhan jika tidak memungkinkan untuk mengumpulkan dan mencarinya satu-satu maka tidak mengapa membiarkannya, <em>wallahua&#8217;lam</em>.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sumber:<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&amp;Option=FatwaId&amp;Id=119428">http://fatwa.islamweb.net/</a><br />
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com</p>
<p>Artikel WanitaSalihah.Com</p>
<p>&#8212;</p>
<p>لا يلزم دفن الشعر أو الأظافر بعد قصّها</p>
<p>هل يلزم بعد قص الأظافر أو حلق الشعر أن أقوم بدفنه ؟</p>
<p>الحمد لله</p>
<p>لا يلزمك دفنه ، وإن دفنته فهو حسن ، وإن لم تفعل فلا حرج عليك إن شاء الله تعالى .</p>
<p>وقد وردت أحاديث في الأمر بدفن الشعر والأظافر غير أنها لا تصح .</p>
<p>قال البيهقي في شعب الإيمان : وقد روي حديث دفن الشعر والأظفار من أوجه ، كلُّها ضعيفة . انتهى</p>
<p>نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية ( 1 / 189 ) .</p>
<p>وقال الإمام أحمد بن حنبل رحمه الله: يَدفن الشعر والأظفار ، وإن لم يفعل : لم نَرَ به بأساً رواه الخلال في الترجل ( ص 19 ) .</p>
<p>وسُئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله : عن حكم دفن الشعر والأظافر بعد قصها ؟</p>
<p>فأجاب :</p>
<p>ذَكر أهل العلم أن دفن الشعر والأظافر أحسن وأولى ، وقد أُثر ذلك عن بعض الصحابة رضي الله عنهم ، وأما كون بقائه في العراء ، أو إلقائه في مكان يوجب إثماً : فليس كذلك انتهى .</p>
<p>مجموع فتاوى الشيخ العثيمين ( 11 / جواب السؤال رقم 60 ) .</p>
<p>***</p>
<p>السؤال</p>
<p>قرأت أن الرسول صلى الله عليه وسلم كان يأمر بدفن سبعة أشياء من الإنسان: الشعر، والظفر، والدم، والحيضة، والسن، والمشيمة، والقلفة .</p>
<p>فأتمنى أن تشرحوا لي هذا وما مدى صحته?</p>
<p>وأيضا كيف يمكن أن نحصر الشعر لما فيه من تساقط في كل مكان، أو كيف يمكن دفن الدم بما أن السكن في مدن وليس في البر؟</p>
<p>وجزاكم الله خيرا، ونفع بكم الإسلام والمسلمين.</p>
<p>الإجابــة</p>
<p>الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:</p>
<p>فقد وردت بعض الآثار في الأمر بدفن الشعر، والظفر، والدم، والسن، والقلفة، والمشيمة، وهذه الآثار وإن كانت ضعيفة لكن مضمونها موافق لما دلت عليه نصوص الوحي من القرآن والسنة من حرمة الآدمي وكرامته. وسبق بيان ذلك في الفتوى:9187.</p>
<p>وإذا لم يوجد مكان يدفن فيه الدم أو غيره، فيمكن أنيتخلص منه بجعله في المجاري، والبواليع، أو غيرها، مما يجعله يختفي عن أعين الناس، فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم عبد الله بن الزبيرأن يريق دمه صلى الله عليه وسلم في مكان لا يراه أحد، كما في الفتوى المشار إليها.</p>
<p>وأما ما تساقط من الشعر.. فمما لا يمكن جمعه أو تتتبعه، أو يصعب ذلك، فلا حرج في تركه.</p>
<p>والله أعلم.</p>
<p>وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Bolehkah Anak Perempuan Memakai Baju Ketat dan Mini?</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/bolehkah-anak-perempuan-memakai-baju-ketat-dan-mini/</link>
         <description>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh,  kami sering melihat anak-anak perempuan sekitar umur 7tahunan diitempat-tempat perkumpulan para wanita, mereka memakai baju mini dan ketat dengan model potongan rambut ala barat, ada juga potongan rambut seperti laki-laki. Tatkala kami sampaikan nasehat kepada ibunya, si ibu berkilah karena mereka masih anak-anak. Kami mohon &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/bolehkah-anak-perempuan-memakai-baju-ketat-dan-mini/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2478</guid>
         <pubDate>Mon, 28 Sep 2015 04:15:09 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin rahimahullah</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Fadhilatusy Syaikh,  kami sering melihat anak-anak perempuan sekitar umur 7tahunan diitempat-tempat perkumpulan para wanita, mereka memakai baju mini dan ketat dengan model potongan rambut ala barat, ada juga potongan rambut seperti laki-laki.<br />
Tatkala kami sampaikan nasehat kepada ibunya, si ibu berkilah karena mereka masih anak-anak. Kami mohon kepada Anda untuk mencerahkan permasalahan ini dengan sejelas-sejelasnya. Baarakallahufikum.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Suatu yang wajar bila kondisi seseorang itu dipengaruhi masa kanak-kanaknya. Pengaruh tersebut tetap melekat sampai ia tumbuh dewasa.</p>
<p>Oleh karenanya,  Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> memerintakan kita agar menyuruh anak-anak mengerjakan shalat di usia 7tahun dan memukul mereka jika enggan shalat di usia 10 tahun. Agar mereka terbiasa mengerjakannya.</p>
<p>Anak kecil itu tergantung kebiasaan. Jika dia dibiasakan memakai baju mini sebatas lutut atau baju lengan pendek atau bahkan hanya sampai bahu maka hilanglah rasa malunya.</p>
<p>Pada ahirnya mereka merasa nyaman dengan pakaian seperti ini hingga dewasa.</p>
<p>Demikian juga masalah potongan rambut. Sudah sepantasnya wanita memiliki rambut yang berbeda dengan rambut laki-laki.</p>
<p>Jika seorang wanita memotong rambut seperti laki-laki maka dia bertasyabbuh (menyerupai) laki-laki.</p>
<p>Sungguh Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa orang tua kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang anak-anaknya, tentang pengarahan dan pendidikan mereka.</p>
<p>Sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>,</p>
<p class="arab">
الرجل راعٍ في أهل بيته ومسئول عن رعيته
</p>
<p>&#8220;Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka.&#8221;</p>
<p>Maka berhati-hatilah dari kelalaian semacam ini!</p>
<p>Hendaknya tiap orang bersungguh-sungguh mengarahkan anaknya baik anak laki-laki ataupun perempuan,  bersemangat mendidiknya sampai Allah benar-benar memperbaiki keadaan mereka. Sehingga mereka menjadi penyejuk mata kedua orangtuanya. (<em>Silsilah Al Liqa Asy Syahri</em> 66)</p>
<p>***<br />
Sumber: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwiid<br />
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com<br />
Simak melalui audio berikut:</p>
<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://zadgothemen/upload/ftawamp3/mm_066_10.mp3">http://zadgothemen/upload/ftawamp3/mm_066_10.mp3</a> 
<p>Artikel Wanitasalihah.Com</p>
<p>حكم إلباس البنات الصغار ملابس قصيرة والضيق</p>
<p>[السؤال: ]</p>
<p>فضيلة الشيخ، كثيراً ما نرى في مجالس النساء الفتيان والفتيات الصغار ذوي السبع سنوات أو نحوها وهم يرتدون الملابس القصيرة أو الضيقة، أو بقصات غريبة، أو قصات للفتيات الصغيرات تشبه قصات الأطفال الذكور، فإذا تكلمنا مع الأم ونصحناها احتجت بأنهم مازالوا صغاراً، فنرجو من فضيلتكم التكرم بالبيان الشافي لقضية لباس الأطفال وقص شعورهم، وبارك الله فيكم.</p>
<p>الجواب:</p>
<p>من المعلوم أن الإنسان يتأثر بالشيء في صغره، ويبقى متأثراً به بعد الكبر، ولهذا أمر النبي صلى الله عليه وسلم أن نأمر الصبيان بالصلاة لسبع سنين ونضربهم عليها لعشر؛ ليتعودوا، والطفل على ما اعتاد، فإذا اعتادت الطفلة الصغيرة أن تلبس القصير الذي يصل إلى الركبة، والقصير الذي يصل إلى العضد أو الكتف؛ ذهب عنها الحياء، واستساغت هذه الملابس بعد كبرها، كذلك بالنسبة للشعر، فالمرأة لا بد أن يكون لها شعر يتميز عن شعر الرجال، فإن جعلت شعرها كشعر الرجال فقد تشبهت بهم، وقد لعن النبي صلى الله عليه وسلم المتشبهات من النساء بالرجال. وليُعلَم أن الأهل مسئولون عن هؤلاء الصبيان، وعن توجيههم وتربيتهم، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم:« الرجل راعٍ في أهل بيته ومسئول عن رعيته». فالحذر الحذر من الإهمال! وليكن الإنسان جاداً في توجيه أبنائه وبناته، حريصاً عليهم حتى يصلحهم الله تبارك وتعالى ويكونوا قرة عين له.</p>
<p>المصدر: سلسلة اللقاء الشهري &gt; اللقاء الشهري [66]</p>]]></content:encoded>
         <enclosure length="0" type="audio/mpeg" url="http://zadgothemen/upload/ftawamp3/mm_066_10.mp3"/>
      </item>
      <item>
         <title>Beriman Kepada Ash Shirath (2)</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7819-beriman-kepada-ash-shirath-2.html</link>
         <description>Pada hari kiamat, setelah manusia dihisab dan ditimbang amal perbuatannya, Allah Ta’ala membentangkan ash-shirath di atas neraka jahannam dalam kondisi yang gelap gulita</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7819</guid>
         <pubDate>Mon, 28 Sep 2015 01:00:01 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<h4 class="western"><span style="color:#ff0000;"><span lang="en-US"><b>Sifat-Sifat (Bentuk atau Gambaran) </b></span></span><span style="color:#ff0000;"><span lang="en-US"><i><b>“Ash-Shirath”</b></i></span></span></h4>
<p class="western"><span lang="en-US">Hadits-hadits Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">telah menunjukkan sifat (gambaran) </span><span lang="en-US"><i>ash-shirath </i></span><span lang="en-US">dengan sifat yang cukup banyak. Sifat-sifat </span><span lang="en-US"><i>ash-shirath </i></span><span lang="en-US">tersebut termasuk dalam perkara ghaib yang tidak mungkin diketahui oleh manusia kecuali melalui jalan wahyu. Di antara dalil yang menggambarkan tentang </span><span lang="en-US"><i>ash-shirath </i></span><span lang="en-US">antara lain:</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US">Dari Abu Sa’id Al-Khudhri </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="en-US">dalam sebuah potongan hadits yang panjang, beliau menceritakan bahwa Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p align="center">…<span lang="ar-SA">ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ </span>&#8220;<span lang="ar-SA">، قُلْنَا</span>: <span lang="ar-SA">يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الجَسْرُ؟ قَالَ</span>: &#8221; <span lang="ar-SA">مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ، عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلاَلِيبُ، وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ، تَكُونُ بِنَجْدٍ، يُقَالُ لَهَا</span>: <span lang="ar-SA">السَّعْدَانُ</span> …</p>
<p class="western">“ … <span lang="en-US"><i>kemudian didatangkanlah jembatan, dan dibentangkan di antara dua punggung neraka jahannam. Kami (para sahabat) bertanya,’Wahai Rasulullah, bagaimanakah bentuk jembatan itu?’ Rasulullah menjawab,’(Jembatan itu) licin dan menggelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait (semacam jangkar, pen.) dan kawat berduri yang ujungnya bengkok. Ia bagaikan pohon berduri di daerah Najd, dikenal dengan pohon Sa’dan … “.</i></span></p>
<p class="western"><span lang="en-US">Abu Sa’id Al-Khudhri </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span><span lang="en-US"> kemudian berkata,</span></p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ</span></p>
<p class="western">“<span lang="en-US"><i>Telah sampai (berita) kepadaku bahwa shirath itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” </i></span><span lang="en-US"><b>[1]</b></span></p>
<p class="western"><span lang="en-US">Dari Hudzaifah </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="en-US">Nabi </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنِ اُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ، وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ</span></p>
<p class="western">“<span lang="en-US"><i>Di kedua sisi shirath terdapat besi pengait yang digantungkan, dan diperintahkan untuk mengait siapa saja yang diperintahkan kepadanya. Maka ada yang terpeleset, namun dia selamat. Dan ada pula yang terjungkir masuk ke dalam neraka.” </i></span><span lang="en-US"><b>[2]</b></span></p>
<p class="western" style="text-align:left;"><span lang="en-US">An-Nawawi </span><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span><span lang="en-US">menjelaskan hadits di atas,</span></p>
<p class="western" style="text-align:right;"><span lang="ar-SA">معناه أنهم ثلاثة أقسام قسم يسلم فلا يناله شئ أصلا وقسم يخدش ثم يرسل فيخلص وقسم يكردس ويلقى فيسقط في جهنم</span></p>
<p class="western">“<span lang="en-US"><i>Maknanya, terdapat tiga golongan manusia. Pertama, mereka yang selamat, tidak terkena (tidak disambar) besi pengait sama sekali. Ke dua, mereka yang terpeleset disambar besi pengait, kemudian dilepas lagi dan dibebaskan (selamat). Ke tiga, mereka yang terjungkir, dilemparkan, dan jatuh ke dalam neraka jahannam.” </i></span><span lang="en-US"><b>[3]</b></span></p>
<p class="western"><span lang="en-US">Dari Abu Hurairah </span><span lang="en-US"><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="en-US">Rasulullah </span><span lang="en-US"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="en-US">bersabda,</span></p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">وَبِهِ كَلالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ، أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ؟ </span>&#8221; <span lang="ar-SA">قَالُوا</span>: <span lang="ar-SA">بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ</span>: &#8221; <span lang="ar-SA">فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ، غَيْرَ أَنَّهَا لاَ يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ</span></p>
<p class="western">“<span lang="en-US"><i>Pada jembatan itu terdapat besi-besi pengait seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?” Para sahabat menjawab,”Pernah wahai Rasulullah”’ Rasulullah bersabda,”Maka ia seperti duri pohon Sa’dan. Hanya saja, tidak ada yang mengetahui ukuran (besarnya) kecuali Allah.” </i></span><span lang="en-US"><b>[4]</b></span><i> </i></p>
<p class="western"><span lang="en-US">Dari dalil-dalil di atas, dapat dikatakan bahwa </span><span lang="en-US"><i>ashi-shirath </i></span><span lang="en-US">memiliki gambaran berikut ini:</span></p>
<ol>
<li>
<p class="western"><span lang="en-US"><i>Shirath </i></span><span lang="en-US">dibentangkan di atas neraka jahannam.</span></p>
</li>
<li>
<p class="western"><span lang="en-US">Licin, sehingga dapat menggelincirkan kaki manusia dan membuat jatuh (ke dalam neraka).</span></p>
</li>
<li>
<p class="western"><span lang="en-US">Di kedua sisinya terdapat besi pengait (semacam jangkar) dan duri. Tidak ada yang mengetahui besarnya, kecuali Allah Ta’ala.</span></p>
</li>
<li>
<p class="western"><span lang="en-US">Lebih lembut dari rambut, namun lebih tajam dari pedang. </span><span lang="en-US"><b>[5]</b></span></p>
</li>
</ol>
<h4 class="western"><span style="color:#ff0000;"><span lang="en-US"><b>Kegelapan pada Saat Melintasi </b></span></span><span style="color:#ff0000;"><span lang="en-US"><i><b>Ash-Shirath</b></i></span></span></h4>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">Pada hari kiamat, setelah manusia dihisab dan ditimbang amal perbuatannya, Allah Ta’ala membentangkan </span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>ash-shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">di atas neraka jahannam dalam kondisi yang gelap gulita. Maka manusia melintas di atas </span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">sesuai dengan cahaya yang diberikan kepadanya. </span></span></p>
<p class="western" lang="en-US">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ </span>(12) <span lang="ar-SA">يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ </span>(13) <span lang="ar-SA">يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ</span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;">“</span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada meraka), &#8220;Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.&#8221;</i></span></span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, &#8220;Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.&#8221; Dikatakan (kepada mereka), &#8220;Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).&#8221; Lalu diadakan di antara mereka (yaitu orang mukmin dan orang muafik) dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya (yang menghadap orang mukmin) ada rahmat dan di sebelah luarnya (yang menghadap orang munafik) dari situ ada siksa.</i></span></span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, &#8220;Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?&#8221; Mereka menjawab, &#8220;Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.”</i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"> (QS. Al-Hadiid [57]: 12-14)</span></span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">Orang-orang yang beriman diberi cahaya yang menerangi mereka pada saat melintasi </span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>shirath. </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">Terangnya cahaya yang mereka miliki akan sesuai dengan amal mereka masing-masing. Adapun orang-orang munafik, mereka tidaklah diberi cahaya. Sehingga mereka pun jatuh ke dalam neraka jahannam. </span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><b>[6]</b></span></span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">Ibnu Katsir </span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US">berkata ketika menjelaskan ayat di atas,</span></span></p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">يَقُولُ تَعَالَى مُخْبَرًا عَنِ الْمُؤْمِنِينَ الْمُتَصَدِّقِينَ أَنَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ فِي عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ، بِحَسَبِ أَعْمَالِهِمْ كَمَا قَالَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى</span>: <span lang="ar-SA">يَسْعى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ قَالَ</span>: <span lang="ar-SA">عَلَى قَدْرِ أَعْمَالِهِمْ يَمُرُّونَ عَلَى الصِّرَاطِ، مِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الْجَبَلِ، وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ النَّخْلَةِ وَمِنْهُمْ مَنْ نُورُهُ مِثْلُ الرَّجُلِ الْقَائِمِ، وَأَدْنَاهُمْ نُورًا مَنْ نُورُهُ فِي إِبْهَامِهِ يَتَّقِدُ مَرَّةً ويطفأ مرة، وَرَوَاهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَابْنُ جَرِيرٍ</span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;">“</span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang yang beriman bahwasannya pada hari kiamat mereka memiliki cahaya yang bersinar di hadapan mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka. Tentang firman Allah Ta’ala (yang artinya),’sedang cahaya mereka bersinar di hadapan mereka’, Abdullah bin Mas’ud berkata, ’Mereka melintasi shirath sesuai dengan amal perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang memiliki cahaya sebesar gunung, ada yang memiliki cahaya seperti pohon kurma, dan ada pula yang memiliki cahaya seperti (setinggi) seorang laki-laki yang berdiri tegak. Orang yang paling rendah adalah yang memiliki cahaya pada ibu jari mereka, terkadang bersinar dan terkadang cahaya tersebut padam.’ Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir.” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><b>[7]</b></span></span></p>
<p class="western" lang="en-US">Adh-Dhahak berkata,</p>
<p style="text-align:right;" align="center"><span lang="ar-SA">ليس أحد إِلَّا يُعْطَى نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَإِذَا انْتَهَوْا إِلَى الصِّرَاطِ طُفِئَ نُورُ الْمُنَافِقِينَ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْمُؤْمِنُونَ أَشْفَقُوا أَنْ يُطْفَأَ نُورُهُمْ كَمَا طُفِئَ نُورُ الْمُنَافِقِينَ فَقَالُوا</span>: <span lang="ar-SA">رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نورنا</span></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;">“</span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><i>Tidak ada seorang pun, melainkan (pasti) diberikan cahaya pada hari kiamat. Maka ketika mereka sampai ke shirath, padamlah cahaya yang dimiliki oleh orang-orang munafik. Maka ketika orang-orang mukmin melihat hal itu, mereka khawatir kalau cahaya mereka juga ikut padam sebagaimana cahaya orang-orang munafik. Orang-orang mukmin pun berdoa,’Wahai Rabb kami, sempurnakanlah cahaya kami.” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><b>[8].</b></span></span><i></i></p>
<p class="western"><span style="color:#000000;"><span lang="en-US"><b>[Bersambung]</b></span></span></p>
<p class="western">***</p>
<p class="western"><span lang="en-US">Dis</span><span lang="id-ID">elesai</span><span lang="en-US">kan</span><span lang="id-ID"> menjelang</span><span lang="en-US"> dzuhur</span><span lang="id-ID">, Sint-Jobskade Rotterdam NL, </span><span lang="en-US">Ahad 5</span><span lang="id-ID"> Dzulhijah 1436</span></p>
<p class="western" lang="id-ID" align="left">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p class="western"><span lang="id-ID">Penulis:</span><span lang="id-ID"><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p class="western">___</p>
<h5 class="western" lang="en-US"><b>Catatan kaki:</b></h5>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[1] </b></span><span lang="en-US">HR. Muslim no. 183.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[2] </b></span><span lang="en-US">HR. Muslim no. 195.</span><b> </b></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[3] </b></span><span lang="en-US"><i>Syarh Shahih Muslim, </i></span><span lang="en-US">3/29.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[4] </b></span><span lang="en-US">HR. Bukhari no. 6573.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[5] </b></span><span lang="en-US">Bagian ini diterjemahkan dengan beberapa penambahan dari kitab </span><span lang="en-US"><i>Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaail wa Dalaail, </i></span><span lang="en-US">karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najar, Daar An-Nashihah, Madinah KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 241-242.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[6] </b></span><span lang="en-US">Lihat </span><span lang="en-US"><i>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, </i></span><span lang="en-US">2/736 karya Syaikh Shalih Alu Syaikh.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[7] </b></span><span lang="en-US"><i>Tafsir Ibnu Katsir,</i></span><span lang="en-US"> 8/15.</span></p>
<p class="western"><span lang="en-US"><b>[8] </b></span><span lang="en-US"><i>Tafsir Ibnu Katsir,</i></span><span lang="en-US"> 8/15.</span></p>
<p class="western">Artikel Muslimah.or.id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Nasehat Sahabat Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘Anhu</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/nasehat-sahabat-umar-bin-khaththab-radhiyallahu-anhu/</link>
         <description>Ad-Dainuri mencatat bahwasanya satu waktu Umar radhiyallahu &amp;#8216;anhu memberi nasehat kepada seorang laki-laki dengan berkata: ”Jangan sampai (kondisi) orang lain memalingkan perhatianmu dari memperhatikan diri sendiri, karena segala akibat yang akan terjadi menjadi tanggunganmu tanpa melibatkan mereka. Jangan pula kamu menghabiskan waktu seharian hanya dengan berjalan-jalan karena seluruh kegiatanmu itu tercatat rapi. Dan bila kamu &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/nasehat-sahabat-umar-bin-khaththab-radhiyallahu-anhu/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2385</guid>
         <pubDate>Fri, 25 Sep 2015 22:30:40 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Ad-Dainuri mencatat bahwasanya satu waktu Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> memberi nasehat kepada seorang laki-laki dengan berkata: ”Jangan sampai (kondisi) orang lain memalingkan perhatianmu dari memperhatikan diri sendiri, karena segala akibat yang akan terjadi menjadi tanggunganmu tanpa melibatkan mereka. Jangan pula kamu menghabiskan waktu seharian hanya dengan berjalan-jalan karena seluruh kegiatanmu itu tercatat rapi. Dan bila kamu melakukan kesalahan susullah ia dengan berbuat kebaikan karena dalam hematku tak ada sesuatu pun yang lebih cepat menghapus kecuali kebajikan baru terhadap dosa lama”. (Kitab <em>Al-Kanz </em>jilid 8, hlm. 208)</p>
<p>Thabrani telah mencatat dalam kitabnya <em>Al-Aushat </em>dari Ahnaf bin Qais berkata: ”Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> pernah berkata kepadaku: &#8216;Wahai Ahnaf, siapa yang tawanya banyak, wibawanya akan merosot. Barangsiapa suka bercanda niscaya ia akan diremehkan. Barangsiapa banyak omongnya banyak pula bohongnya. Barangsiapa banyak bohongnya malunya sedikit. Barangsiapa malunya sedikit, wara&#8217;nya tipis. Dan barangsiapa wara&#8217;nya tipis, malunya akan mati&#8217;.”(Kitab <em>A-Kanz </em>jilid 8, hlm. 235)</p>
<p>Ibnu Abi Dunya beserta Abu Bakar As-Shuli dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa beliau telah menulis surat kepada anaknya, Ibnu Umar <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>: ”Adapun sesudahnya aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah sebab siapa yang bertakwa kepada-Nya niscaya dia akan dilindungi-Nya. Barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya hidupnya dicukupkan-Nya. Barang siapa memberi-Nya pinjaman, niscaya akan dibayar dengan ganjaran. Barangsiapa bersyukur kepada-Nya, niscaya rezekinya bertambah. Maka hendaklah ketakwaan itu tidak pernah luput dari penglihatanmu, menjadi tiang dari seluruh amalmu dan penerang hatimu. Karena amal yang tidak disertai niat tidak bernilai apa-apa. Orang yang tidak melakukan muhasabah tidak ada pahala baginya. Orang yang tidak memiliki kasih sayang sesungguh dia tidak memiliki harta sedikit pun. Dan tidak ada satu pun yang terasa baru bagi orang yang tidak berakhlak”.(Kitab <em>A-Kanz </em>jilid 8, hlm. 207)</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Dikutip dari <em>Taushiyah Ruhiyah Sahabat, </em>Pustaka Imani, Jakarta terbit th.1995 M</p>
<p>Artikel WanitaSalihah.Com</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Beriman Kepada Ash Shirath (1)</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7810-beriman-kepada-ash-shirath-1.html</link>
         <description>Di antara peristiwa menakutkan yang akan kita alami di hari kiamat adalah ketika kita melewati jembatan (shirath) yang dibentangkan di atas neraka jahannam menuju ke surga</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7810</guid>
         <pubDate>Fri, 25 Sep 2015 03:44:35 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Di antara peristiwa menakutkan yang akan kita alami di hari kiamat adalah ketika kita melewati jembatan </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>(shirath) </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">yang dibentangkan di atas neraka jahannam menuju ke surga. Ini adalah salah satu peristiwa yang wajib kita imani, karena telah banyak ditunjukkan oleh dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Sudah selayaknya bagi kita untuk berdoa memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan kemudahan dalam melewatinya kelak di akhirat. Dalam serial tulisan kali ini, kami akan membahas hal-hal pokok yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">tersebut.</span></span></p>
<h4><span style="color:#ff0000;"><span lang=""><b>Pengertian </b></span></span><span style="color:#ff0000;"><span lang=""><i><b>Ash-Shirath</b></i></span></span></h4>
<p><span lang="">Secara bahasa, </span><span lang=""><i>ash-shirath </i></span><span lang="">(</span>الصراط<span lang="">)</span><b> </b><span lang="">mengandung makna “suatu jalan yang terang”</span><span lang=""><b>[1]. </b></span><span lang="">Menurut istilah syar’i, </span><span lang=""><i>ash-shirath </i></span><span lang="">adalah “jembatan yang dibentangkan di atas punggung (permukaan) neraka jahannam”</span><span lang=""><b>[2]</b>.<b> </b></span><span lang="">Al-Bukhari </span><span lang=""><i>rahimahullah </i></span><span lang="">berkata,</span></p>
<p lang="" style="text-align:right;" align="CENTER">باب الصراط : جسر جهنم</p>
<p>“<span lang=""><i>Bab (tentang) ash-shirath: Jembatan (di atas) neraka jahannam.” </i></span><span lang=""><b>[3]</b></span></p>
<p><span lang="">Oleh karena itu, tidak ada jalan menuju surga kecuali dengan melewati </span><span lang=""><i>ash-shirath </i></span><span lang="">(jembatan) ini.</span></p>
<h4><span style="color:#ff0000;"><span lang=""><b>Dalil-Dalil Yang Menetapkan Adanya </b></span></span><span style="color:#ff0000;"><span lang=""><i><b>Ash-Shirath</b></i></span></span></h4>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Adanya </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath</i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""> ditetapkan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ para ulama.</span></span></p>
<h5><b>Dalil dari Al-Qur’an</b></h5>
<p lang=""><span style="color:#000000;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align:right;" align="CENTER">وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا</p>
<p><span style="color:#000000;">“<span lang=""><i>Dan tidak ada seorang pun dari padamu, </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i><u><b>melainkan mendatangi neraka itu.</b></u></i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i> Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">(QS. Maryam [19]: 71)</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna “mendatangi neraka” </span></span> <span lang="">(</span>الورود<span lang="">)</span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>(“al-wuruud”)</i></span></span><b> </b><span style="color:#000000;"><span lang="">dalam ayat di atas. Sebagian ulama berpendapat bahwa maknanya adalah “masuk ke dalam neraka”. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Juraij, dan pendapat yang dipilih oleh Al-Qurthubi. </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[4]</b></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Sebagian ulama yang lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah “lewat (melintas) di atas neraka”. Ini adalah pendapat Qatadah dan juga dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari. </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[5]</b></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Adapun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa maknanya yaitu “melintasi jembatan di atas neraka.” </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[6]</b></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir</span></span> <span style="color:#000000;"><span lang=""> bin ‘Abdillah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu.</i></span></span><i> </i><i> </i><span style="color:#000000;"><span lang="">Jabir </span></span><i> </i><span style="color:#000000;"><span lang="">bin ‘Abdillah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""> berkata bahwa Ummu Mubasysyir mengabarkan kepadanya, bahwa dia mendengar Rasulullah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">berkata ketika berada di sisi Hafshah,</span></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align:right;" align="CENTER">لَا يَدْخُلُ النَّارَ، إِنْ شَاءَ اللهُ، مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ، الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا» قَالَتْ: بَلَى، يَا رَسُولَ اللهِ فَانْتَهَرَهَا، فَقَالَتْ حَفْصَةُ: {وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا} [مريم: 71] فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا} [مريم: 72]</p>
<p><span style="color:#000000;">“<span lang=""><i>Tidak akan masuk neraka -jika Allah menghendaki- seorang pun dari mereka yang ikut serta berbai’at di bawah pohon.” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">Hafshah berkata,</span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>”Apakah memang benar seperti itu, wahai Rasulullah?” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">Rasulullah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">lalu menegur Hafshah (yang berbicara seperti itu). Lalu Hafshah membacakan ayat,</span></span></p>
<p style="text-align:right;" align="CENTER">وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا</p>
<p><span style="color:#000000;">“<span lang=""><i>Dan tidak ada seorang pun dari padamu, </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i><u><b>melainkan mendatangi neraka itu.</b></u></i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">(QS. Maryam [19]: 71) Kemudian Rasulullah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">bersabda, </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>”Allah Ta’ala berfirman,</i></span></span></p>
<p style="text-align:right;" align="CENTER">ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا</p>
<p>“<span lang=""><i>Kemudian kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” </i></span><span style="color:#000000;"><span lang="">(QS. Maryam [19]: 72)” </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[7].</b></span></span></p>
<p><span lang="">Dalam hadits yang lain, juga diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdillah </span><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span><span lang="">beliau berkata,</span></p>
<p dir="RTL" style="text-align:right;" align="CENTER">أَنَّ عَبْدًا لِحَاطِبٍ جَاءَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْكُو حَاطِبًا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ لَيَدْخُلَنَّ حَاطِبٌ النَّارَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَذَبْتَ لَا يَدْخُلُهَا، فَإِنَّهُ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ»</p>
<p>“<span lang=""><i>Sesungguhnya budak Hathib mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadukan Hathib (yaitu tuannya, pen.). Budak Hathib berkata,’Wahai Rasulullah, sungguh Hathib pasti akan masuk neraka.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,’Kamu berdusta, dia tidak akan masuk neraka karena dia pernah ikut serta dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah” </i></span><span lang=""><b>[8]</b>.</span></p>
<p><span lang="">Dalam dua hadits di atas, </span><span style="color:#000000;"><span lang="">Rasulullah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">menafikan (mengingkari) masuknya para sahabat yang berbai’at di bawah pohon dan juga masuknya Hathib </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">ke dalam neraka. Maka hal ini menunjukkan bahwa siapa saja yang Allah Ta’ala selamatkan dari neraka, maka mereka tidak akan masuk ke dalam neraka tersebut. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>“al-wuruud” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">dalam surat Maryam ayat 71 di atas adalah “melintasi </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">(jembatan)”.</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Selain itu, tidak ada pertentangan antara “masuk ke dalam neraka” dengan “melintasi </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">karena </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">adalah jembatan di atas neraka jahannam. Maka siapa saja yang melintasi </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>ash-shirath </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">maka sudah bisa dikatakan bahwa dia masuk ke dalam neraka.</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Ibnu Hajar </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">berkata,</span></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align:right;" align="CENTER">ولا تنافي بينهما لأن من عبر بالدخول تجوز به عن المرور ووجهه أن المار عليها فوق الصراط في معنى من دخلها</p>
<p><span style="color:#000000;">“<span lang=""><i>Tidak ada pertentangan di antara kedua makna tersebut. Karena barangsiapa yang menggunakan istilah ‘masuk’ maka boleh menggunakan istilah ‘lewat/melintas’. Hal ini karena barangsiapa yang melintas di atas neraka (di atas jembatan) sama maknanya dengan ‘masuk neraka’” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[9].</b></span></span></p>
<h5><b>Dalil dari As-Sunnah</b></h5>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Dari Abu Hurairah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">Rasulullah </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">bersabda</span></span> <span style="color:#000000;"><span lang="">dalam sebuah potongan hadits yang panjang tentang kondisi pada hari kiamat,</span></span></p>
<p dir="RTL" style="text-align:right;" align="CENTER">…وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا، وَلاَ يَتَكَلَّمُ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ، وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ …</p>
<p><span style="color:#000000;">“ … <span lang=""><i>dan dibentangkanlah ash-shirath di antara kedua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku adalah yang pertama kali melintasinya. Tidak ada seorang pun yang berbicara ketika itu kecuali para rasul. Ucapan para rasul ketika itu adalah,’Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah’ … “ </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[10]</b>.</span></span></p>
<h5><b>Dalil Ijma’</b></h5>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Dari Abu Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abu Hatim, beliau berkata,</span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>”Aku bertanya kepada bapakku dan Abu Zur’ah tentang madzhab ahlus sunnah dalam pokok-pokok agama, dan apa yang mereka ketahui dari para ulama di berbagai penjuru negeri dan apa yang mereka berdua yakini tentang hal itu? Maka keduanya menjawab, ‘Kami menjumpai ulama dari berbagai negeri, baik negeri Hijaz, Iraq, Syam, dan negeri Yaman, maka di antara madzhab mereka: … </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i><b>dan ash-shirath adalah haq (benar adanya)</b></i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[11].</b></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Ibnu Abi Zamanin </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">berkata,</span></span></p>
<p lang="" style="text-align:right;" align="CENTER">وأهل السنة يؤمنون بالصراط، وأن الناس يمرون عليه يوم القيامة على قدر أعمالهم</p>
<p><span style="color:#000000;">”<span lang=""><i>Ahlus sunnah beriman kepada ash-shirath, dan sesungguhnya manusia akan melintasinya pada hari kiamat sesuai dengan amal perbuatan mereka” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[12]</b>.</span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang="">Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni </span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang="">berkata,</span></span></p>
<p dir="RTL" lang="" style="text-align:right;" align="CENTER">ويؤمن أهل الدين والسنة بالبعث بعد الموت .. والمقام الهائل من الصراط، والميزان</p>
<p><span style="color:#000000;">”<span lang=""><i>Ahli agama dan ahlus sunnah beriman adanya hari kebangkitan setelah mati … dan kondisi yang menakutkan berupa ‘ash-shirath’, dan (beriman kepada) ‘al-mizan’ (timbangan).” </i></span></span><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[13] [14].</b></span></span></p>
<p><span style="color:#000000;"><span lang=""><b>[Bersambung]</b></span></span></p>
<p>***</p>
<p><span lang="">Dis</span><span lang="id-ID">elesai</span><span lang="">kan</span><span lang="id-ID"> menjelang</span><span lang=""> maghrib</span><span lang="id-ID">, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Sabtu 4 Dzulhijah 1436</span></p>
<p lang="id-ID" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p><span lang="id-ID">Penulis:</span><span lang="id-ID"><b> M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<p>___</p>
<h5><span style="color:#000000;"><b>Catatan kaki:</b></span></h5>
<p><span lang=""><b>[1] </b></span><span lang=""><i>Maqayiis Al-Lughah </i></span><span lang="">3/349, karya Ibnu Faris.</span></p>
<p><span lang=""><b>[2] </b></span><span lang="">Lihat </span><span lang=""><i>Majmu’ Al-Fataawa, </i></span><span lang="">3/146 dan </span><span lang=""><i>Fathul Baari, </i></span><span lang="">13/425.</span></p>
<p><span lang=""><b>[3] </b></span><span lang=""><i>Shahih Al-Bukhari, </i></span><span lang="">8/117.</span></p>
<p><span lang=""><b>[4] </b></span><span lang="">Lihat </span><span lang=""><i>Jami’ul Bayaan, </i></span><span lang="">9/142 karya Ath-Thabari dan </span><span lang=""><i>At-Tadzkirah bi Ahwaalil Mauta wa Umuuril Akhirah, </i></span><span lang="">2/762.</span></p>
<p><span lang=""><b>[5] </b></span><span lang=""><i>Jami’ul Bayaan, </i></span><span lang="">9/144 karya Ath-Thabari.</span></p>
<p><span lang=""><b>[6] </b></span><span lang="">Lihat </span><span lang=""><i>Majmu’ Al-Fataawa, </i></span><span lang="">4/279.</span></p>
<p><span lang=""><b>[7] </b></span><span lang="">HR. Muslim no. 2496.</span></p>
<p><span lang=""><b>[8] </b></span><span lang="">HR. Muslim no. 2495.</span></p>
<p><span lang=""><b>[9] </b></span><span lang=""><i>Fathul Baari, </i></span><span lang="">3/124.</span></p>
<p><span lang=""><b>[10] </b></span><span lang="">HR. Bukhari no. 806.</span></p>
<p><span lang=""><b>[11] </b></span><span lang="">Diriwayatkan oleh Al-Laalika’i dalam </span><span lang=""><i>Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlus Sunnah, </i></span><span lang="">2/197-198.</span></p>
<p><span lang=""><b>[12] </b></span><span lang=""><i>Ushuulus Sunnah, </i></span><span lang="">hal. 168.</span></p>
<p><span lang=""><b>[13] </b></span><span lang=""><i>‘Aqidatus Salaf Ash-Haabul Hadits, </i></span><span lang="">hal. 75.</span></p>
<p><span lang=""><b>[14] </b></span><span lang="">Diterjemahkan dan disarikan dari kitab </span><span lang=""><i>Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaail wa Dalaail, </i></span><span lang="">karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najar, Daar An-Nashihah, Madinah KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 231-235.</span></p>
<p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Tips Menjadikan Rumah Penuh Berkah (4): Jadikan Rumah Sebagai Kiblat</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/tips-menjadikan-rumah-penuh-berkah-4-jadikan-rumah-sebagai-kiblat/</link>
         <description>Maksud kiblat disini menjadikan rumah sebagai tempat untuk beribadah. Allah Ta&amp;#8217;ala berfirman, وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ &amp;#8220;Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: &amp;#8220;Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai kiblat &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/tips-menjadikan-rumah-penuh-berkah-4-jadikan-rumah-sebagai-kiblat/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2431</guid>
         <pubDate>Thu, 24 Sep 2015 23:50:40 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Maksud kiblat disini menjadikan rumah sebagai tempat untuk beribadah.</p>
<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: &#8220;Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu sebagai <strong>kiblat</strong> dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman&#8221;</em>. (QS. Yunus: 87)</p>
<p>Ibnu Abbas menjelaskan makna ayat diatas,</p>
<p>&#8220;Mereka diperintahkan menjadikan rumah-rumah tersebut sebagai tempat untuk bersujud (tempat shalat). &#8221;</p>
<p>Ibnu Katsir mengatakan,&#8221;Perintah ini &#8211;<em>wallahu a&#8217;lam</em>&#8211; turun tatkala mereka (Bani Israil) menghadapi ujian yang makin hebat karena kedzaliman Fir&#8217;aun dan bala tentaranya, dan mereka menekan Bani Israil, lalu Bani Israil diperintahkan memperbanyak shalat.</p>
<p>Sebagaimana firman Allah <em>Ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arab">يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين</p>
<p><em>&#8220;Wahai orang-orang beriman minta tolonglah dengan kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang yang bersabar.&#8221;</em> (QS. Al Baqarah: 153)</p>
<p>Dalam sebuah hadits disebutkan tatkala Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> menghadapi masalah rumit beliau <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> melakukan shalat. (<em>Umdatut Tafsir</em> 1/110)</p>
<p>Hal ini menunjukkan pentingnya melakukan ibadah di dalam rumah terlebih di waktu-waktu sulit. Demikian juga tatkala seorang muslim tidak bisa melaksanakan shalat di tempat terbuka di hadapan kaum kafir.</p>
<p>Kami sebutkan praktek akan hal ini,adanya <em>mihrab</em> (bilik kamar) Maryam yang dijadikan tempat khusus untuk beribadah. Allah menceritakan tentangnya,</p>
<p class="arab">كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا</p>
<p><em>&#8220;Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya.&#8221;</em></p>
<p>Demikian juga yang dilakukan para sahabat <em>radhiyallahu &#8216;anhum</em>, mereka bersemangat melaksanakan shalat sunnah di rumah-rumah mereka.</p>
<p>Inilah (contoh) kisah yang menggambarkan keadaan mereka,</p>
<p class="arab">عن محمود بن الربيع الأنصاري، أن عتبان بن مالك -وهو من أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم، وهو ممن شهدوا بدرًا من الأنصار- أنه أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: يارسول الله! قد أنكرت بصري وأنا أصلي لقومي، فإذا كانت الأمطار سال الوادي الذي بيني وبينهم، لم أستطع أن آتي مسجدهم فأصلي بهم، وددت يا رسول الله أنك تأتيني فتصلي في بيتي فأتخذه مصلى، قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سأفعل إن شاء الله .</p>
<p>Dari Mahmud bin Rabi&#8217; Al Anshariy bawasanya &#8216;Itban Bin Malik -salah seorang sahabat Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> dari kalangan kaum Anshar yang pernah ikut perang Badr- suatu ketika ia mendatangi Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> lalu berkata,</p>
<p>“Wahai Rasulullah sungguh mataku kini bertambah kabur sementara aku harus mengimami kaumku. Jika turun hujan, lembah yang berada di tengah antara rumahku dengan masjid, mengalir airnya. Sehingga aku tak bisa pergi ke masjid mereka untuk mengimami mereka. Aku berharap -wahai Rasulullah- seandainya Anda berkenan mendatangi rumahku lalu shalat di sana, akan kujadikan tempat tersebut, tempat untuk shalat.”</p>
<p>Lalu Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> menjawab, <em>&#8220;Aku akan penuhi keinginanmu insyaallah.&#8221;</em></p>
<p class="arab">قال عتبان: &#8220;فغدا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأبو بكر حين ارتفع النهار فاستأذن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأذنت له، فلم يجلس حتى دخل البيت، ثم قال: «أين تحب أن أصلي في بيتك؟» قال: فأشرت له إلى ناحية من البيت، فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فكبر، فقمنا فصففنا فصلى ركعتين ثم سلم &#8220;</p>
<p>Lanjut &#8216;Itban, &#8220;Keesokan harinya Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> dan Abu Bakar <em>radhiyallahu&#8217;anhu</em> (mendatangi rumahku) tatkala sudah agak siang. Kemudian beliau meminta ijin masuk, akupun memberi ijin. Beliau tidaklah duduk hingga masuk ke ruang utama. Kemudian beliau bersabda, &#8220;Tempat mana yang engkau inginkan agar aku shalat di rumahmu?&#8221; Lalu aku menunjuk arah tempat (yang kuinginkan) dari rumahku. Kemudian beliau berdiri lalu takbiratul ihram. Kamipun berdiri (ikut shalat) dan meluruskan shaf. Beliau shalat dua raka&#8217;at kemudian salam.(HR. Al Bukhari dalam <em>Al Fath</em> 1/519).</p>
<p>وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>
<p>Sumber: Risalah singkat &#8220;<em>Arba&#8217;uuna Nashiihatin Li Ishlaahil Buyuut</em>&#8221; karya Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafudzahullah</p>
<p>Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Artikel Wanitasalihah.com</p>
<p>&#8212;</p>
<p>والمقصود اتخاذ البيت مكانًا للعبادة .</p>
<p>قال الله عز وجل: {وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَن تَبَوَّءَا لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتاً وَاجْعَلُواْ بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ} [يونس:87]،قال ابن عباس: &#8220;أمروا أن يتخذوها مساجد&#8221;.</p>
<p>قالابن كثير: &#8220;وكان هذا -والله أعلم- لما اشتد بهم البلاء من قبل فرعون وقومه، وضيقوا عليهم، أمروا بكثرة الصلاة كما قال الله تعالى: {يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ} [البقرة:153]، وفي الحديث: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر صلى» (عمدة التفاسير:110/1 ).</p>
<p>وهذا يبين أهمية العبادة في البيوت وخصوصًا في أوقات الاستضعاف، وكذلك ما يحصل في بعض الأوضاع عند ما لا يستطيع المسلمون إظهار صلاتهم أمام الكفار، ونتذكر في هذا المقام أيضًا محرابمريم-وهو مكان عبادتها- الذي قال الله فيه: {كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا} [آل عمران من الآية: 37].</p>
<p>وكانالصحابةرضي الله عنهم يحرصون على الصلاة في البيوت -في غير الفريضة- وهذه قصة معبرة في ذلك، عن محمود بن الربيع الأنصاري، أن عتبان بن مالك -وهو من أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم، وهو ممن شهدوا بدرًا من الأنصار- أنه أتى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: الله! قد أنكرت بصري وأنا أصلي لقومي، فإذا كانت الأمطار سال الوادي الذي بيني وبينهم، لم أستطع أن آتي مسجدهم فأصلي بهم، وددت يا رسول الله أنك تأتيني فتصلي في بيتي فأتخذه مصلى، قال: فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «سأفعل إن شاء الله»&#8221;.</p>
<p>قال عتبان: &#8220;فغدا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأبو بكر حين ارتفع النهار فاستأذن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأذنت له، فلم يجلس حتى دخل البيت، ثم قال: «أين تحب أن أصلي في بيتك؟» قال: فأشرت له إلى ناحية من البيت، فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فكبر، فقمنا فصففنا فصلى ركعتين ثم سلم&#8221; (رواه البخاريالفتح:1/519).</p>
<p>وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Selamat Hari Raya Idul Adha 1436H</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7803-selamat-hari-raya-idul-adha-1436h.html</link>
         <description>Segenap pengurus Muslimah.or.id mengucapkan : /taqabbalallahu minna wa minkum/</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7803</guid>
         <pubDate>Thu, 24 Sep 2015 14:29:17 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Segenap pengurus <a rel="nofollow" class="profileLink" target="_blank" href="http://muslimmah.or.id">Muslimah.or.id</a> mengucapkan :</p>
<p style="text-align:center;font-size:22px;">تقبل الله منا ومنكم</p>
<p style="text-align:center;">/taqabbalallahu minna wa minkum/</p>
<div class="text_exposed_show">
<p style="text-align:center;">Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan anda semua</p>
<p style="text-align:center;">Selamat Hari Raya Idul Adha 1436H</p>
</div>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Ciri-Ciri Beserta Perbedaan Darah Haid &amp; Istihadhah</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/ciri-ciri-beserta-perbedaan-darah-haid-istihadhah/</link>
         <description>Darah haid memiliki ciri-ciri khusus sehingga seorang wanita dengan mudah bisa mengenalinya, walhamdulillah. Syaikh Abu Malik mengatakan, &amp;#8220;Darah haid berwarna hitam,kental, memiliki bau yang tidak sedap yang mengalir dari tempat khusus wanita (rahim) di waktu-waktu yang telah diketahui.&amp;#8221; (Shahih Fiqh Sunnah, I/206) Dalil akan hal ini, sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu &amp;#8216;anha,beliau berkata, bahwasanya Fathimah &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/ciri-ciri-beserta-perbedaan-darah-haid-istihadhah/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2424</guid>
         <pubDate>Thu, 24 Sep 2015 04:00:04 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Darah haid memiliki ciri-ciri khusus sehingga seorang wanita dengan mudah bisa mengenalinya, <em>walhamdulillah</em>.</p>
<p>Syaikh Abu Malik mengatakan, &#8220;Darah haid berwarna hitam,kental, memiliki bau yang tidak sedap yang mengalir dari tempat khusus wanita (rahim) di waktu-waktu yang telah diketahui.&#8221; (<em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, I/206)</p>
<p>Dalil akan hal ini, sebuah hadits dari Aisyah <em>radhiyallahu &#8216;anha</em>,beliau berkata, bahwasanya Fathimah binti Abi Hubaisy suatu ketika sedang istihadhah. Rasulullah <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em> bersabda kepadanya,</p>
<p class="arab">إن دم الحيض دم أسواد يعرف، فإذا كان ذالك فأمسكي عن الصلاة، فإذا كان الآخر فتوضئي وصلي</p>
<p><em>&#8220;Darah haid adalah darah hitam sebagaimana kalian ketahui. Jika darahnya demikian tinggalkanlah shalat, namun jika darahnya memiliki ciri-ciri lain berwudhulah kemudian shalatlah.&#8221;</em> (HR. Abu Dawud dan Nasa&#8217;i dishahikan Ibnu Hibban. Al Hakim berkata hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim)</p>
<p><strong>Lalu apa perbedaan darah haid dengan darah istihadhah?</strong></p>
<p>Darah istihadhah secara fisik berbeda dengan darah haid. Darah istihadhah dapat kita ketahui dari tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam <em>Shahih Fiqh Sunnah</em> I/216, diantara tanda tersebut:</p>
<p>1. Darah istihadah mengalir diluar waktu haid dan waktu nifas<br />
2. Tidak bersambung dengan darah haid dan darah nifas<br />
3. Bukan darah kebiasaan dan bukan darah fitrah akan tetapi darah istihadhah keluar karena urat yang terputus.<br />
4. Darah istihadhah berwarna merah segar seperti pendarahan.<br />
5. Tidak berhenti sampai sembuh uratnya. Berbeda dengan haid, yang putus sendiri ketika masa siklus selesai</p>
<p><em> Wallahua&#8217;lam.</em></p>
<p class="arab">وصلى الله على نبينامحمدوعلى آله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين</p>
<p><strong>Maraji</strong>’:</p>
<ul>
<li><em>Shahih Fiqh Sunnah</em>, Abu Malik Kamal, Maktabah At Taufiqiyyah</li>
<li><em>Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram</em>, Abdullah Al Bassam, Jannatul Afkar, Kairo</li>
</ul>
<p>&#8212;</p>
<p>Penyusun: Ummu Fatimah<br />
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits</p>
<p>Artikel Wanita Salihah.Com</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Kurban Satu Ekor Kambing Untuk 100 Orang?</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/kurban-satu-ekor-kambing-untuk-100-orang/</link>
         <description>Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid hafidzahullah Pertanyaan: Apakah sah kurban satu ekor hewan untuk seluruh anggota keluarga meskipun mereka banyak? Jawaban: Alhamdulillah, Satu ekor hewan cukup untuk kurban seluruh anggota keluarga walaupun jumlah mereka banyak. Dari Atha&amp;#8217; bin Yasar beliau berkata, سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/kurban-satu-ekor-kambing-untuk-100-orang/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2467</guid>
         <pubDate>Wed, 23 Sep 2015 03:22:11 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Fatwa Syaikh Muhammad  Shalih Al Munajjid <em>hafidzahullah</em></p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
Apakah sah kurban satu ekor hewan untuk seluruh anggota keluarga meskipun mereka banyak? </p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Alhamdulillah,</p>
<p>Satu ekor hewan cukup untuk kurban seluruh anggota keluarga walaupun jumlah mereka banyak.</p>
<p>Dari Atha&#8217; bin Yasar beliau berkata,</p>
<p class="arab">
سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ
</p>
<p>&#8220;Aku bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari bagaimakan cara berkurban di jaman Nabi <em>shallallahu&#8217;alaihi wasallam</em>?&#8221;</p>
<p>Beliau menjawab,  &#8220;Seorang kepala keluarga berkurban dengan seekor domba untuk dirinya dan anggota keluarganya. Mereka makan daging kurban tersebut dan menyedekahkannya.&#8221; (Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam <em>Shahih At Tirmidzi</em>)</p>
<p>Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri berkata dalam <em>Tuhfatul Ahwadzi</em>,<br />
&#8220;Hadits ini merupakan dalil tegas bahwa kurban satu ekor domba cukup untuk kepala dan anggota keluarga seluruhnya, meskipun jumlah mereka banyak. Ini adalah suatu kebenaran.&#8221;</p>
<p>Al Haafidz Ibnul Qayyim berkata dalam <em>Zaadul Ma&#8217;aad</em>,<br />
&#8220;Diantara petunjuk Nabi <em>shallallau&#8217;alaihi wasallam</em> bahwa kurban satu ekor domba itu cukup untuk kepala dan anggota keluarga seluruhnya meskipun jumlah mereka banyak.&#8221;</p>
<p>Asy Syaukani menegaskan hal serupa dalam <em>Nailul Authar</em>,<br />
&#8220;Suatu kebenaran bahwasanya satu domba cukup untuk satu keluarga meskipun jumlah mereka seratus jiwa atau bahkan lebih. Demikianlah praktek yang terjadi di jaman Nabi.&#8221;</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin berkata dalam <em>Asy Syarhul Mumti&#8217;</em> (5/275),<br />
&#8221; Berserikat dalam pahala tidak ada batasannya. Dahulu Nabi shallallahu&#8217;alaihi wasallam berkurban untuk seluruh umatnya. Ada juga sahabat yang berkurban satu ekor domba untuk dirinya dan seluruh anggota keluarganya. Meskipun jumlah mereka seratus.&#8221;</p>
<p>Al Lajnah Ad Daimah pernah ditanya:<br />
Keluarga ini terdiri dari 22 anggota. Pemasukan mereka dari satu orang,  nafkah mereka dari satu orang. Dan di hari Idul Adha mereka menyembelih satu hewan kurban saja. Saya tidak tahu apakah kurban mereka sah atau haruskan menyembelih dua kurban?</p>
<p>Para Ulama Lajnah menjawab:<br />
Jika mereka adalah keluarga besar dan tinggal satu rumah maka cukup bagi mereka menyembelih satu hewan kurban. Meskipun menyembelih lebih dari satu itu lebih baik. (<em>Fatawa Al Lanjah Ad Daimah</em>,11/408)</p>
<p>Simak artikel kami: <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://wanitasalihah.com/ketentuan-kurban-sekeluarga/">Ketentuan Kurban Sekeluarga</a><br />
***<br />
Sumber:  http://islamqa.info/ar/45916<br />
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.com</p>
<p>Artikel Wanitasalihah.com</p>
<p>هل تكفي أضحية واحدة عن أهل البيت جميعاً ، ولو كان عددهم كثيراً ؟.</p>
<p>الحمد لله</p>
<p>تكفي أضحية واحدة عن أهل البيت جميعا ، مهما كثروا .</p>
<p>روى الترمذي (1505) عن عَطَاء بْن يَسَارٍ قال : سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتْ الضَّحَايَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ . صححه الألباني في صحيح الترمذي .</p>
<p>قال في &#8220;تحفة الأحوذي&#8221; :</p>
<p>&#8220;هذا الحديث نَصٌّ صَرِيحٌ فِي أَنَّ الشَّاةَ الْوَاحِدَةَ تُجْزِئُ عَنْ الرَّجُلِ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَإِنْ كَانُوا كَثِيرِينَ ، وَهُوَ الْحَقُّ .</p>
<p>قَالَ الْحَافِظُ اِبْنُ الْقَيِّمِ فِي &#8220;زَادِ الْمَعَادِ&#8221; : وَكَانَ مِنْ هَدْيِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ الشَّاةَ تُجْزِئُ عَنْ الرَّجُلِ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَوْ كَثُرَ عَدَدُهُمْ .</p>
<p>وقَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي &#8220;نيْلِ الأوطار&#8221; : وَالْحَقُّ أَنَّ الشَّاةَ الْوَاحِدَةَ تُجْزِئُ عَنْ أَهْلِ الْبَيْتِ , وَإِنْ كَانُوا مِائَةَ نَفْسٍ أَوْ أَكْثَرَ كَمَا قَضَتْ بِذَلِكَ السُّنَّةُ &#8221; انتهى باختصار .</p>
<p>وقال الشيخ ابن عثيمين في &#8220;الشرح الممتع&#8221; (5/275) :</p>
<p>&#8221; التشريك في الثواب لا حصر له ، فها هو النبي صلى الله عليه وسلم ضحى عن كل أمته ، وها هو الرجل يضحي بالشاة الواحدة عنه وعن أهل بيته ، ولو كانوا مئة &#8221; انتهى .</p>
<p>وسئلت اللجنة الدائمة : هذه العائلة تتكون من اثنين وعشرين فرداً ، والدخل واحد ، والمصروف واحد ، وفي عيد الأضحى المبارك يضحون بضحية واحدة ، فلا أدري هل هي تجزئ أم أنه يلزمهم ضحيتان ؟</p>
<p>فأجابت :</p>
<p>&#8221; إذا كانت العائلة كثيرة ، وهي في بيت واحد ، فيجزئ عنهم أضحية واحدة ، وإن ضحوا بأكثر من واحدة فهو أفضل &#8221; انتهى .</p>
<p>فتاوى اللجنة الدائمة&#8221; (11/408)</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Menggemakan Takbir pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7799-menggemakan-takbir-pada-sepuluh-hari-pertama-bulan-dzulhijjah.html</link>
         <description>Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar menuju pasar pada sepuluh awal bulan Dzulhijjah sambil menggemakan takbir</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7799</guid>
         <pubDate>Tue, 22 Sep 2015 23:25:14 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Allah <em>Ta&#8217;ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align:right;">لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ</p>
<p><em>“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” </em>(QS. Al-Hajj: 28).</p>
<p>Ibnu Abbas mengatakan bahwa yang dimaksud “<em>hari-hari yang telah ditentukan”</em> adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Imam Bukhari meriwayatkan secara mu’alaq dari Ibnu Abbas dengan bentuk jazm (kalimat aktif).</p>
<p>Ibnu Katsir (III/429) berkata, “Periwayatan semisal juga datang dari Abu Musa Al-Asy’ari, Mujahid, Qatadah, Atha’, Sa’id bin Jubair, Hasan Al-Bashri, Dhahhak, Atha’ Al-Khurasani, dan Ibrahim An-Nakha’i. Ini merupakan mazhab Imam Syafi’i dan popular dari Imam Ahmad bin Hanbal.</p>
<p>Tentang keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata: Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ الْعَشْرِ قَالُوْا وَلَا الْجِهَادُ؟ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ</p>
<p>“<em>Tidak ada amal yang keutamaannya melebihi amal yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. </em>Para sahabat bertanya, “<em>Tidak pula jihad di jalan Allah?</em>” Beliau menjawab, “<em>Tidak pula jihad di jalan Allah kecuali seseorang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya, dan tidak kembali dengan apapun.</em>” (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi no.757).</p>
<p>Tirmidzi berkata, “Dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Ibnu ‘Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin Amru dan Jabir.”</p>
<p>Penulis berkata, “Hadits Ibnu ‘Umar diriwayatkan oleh Ahmad no. 5446, dengan tambahan: ‘<em>Maka perbanyaklah ucapan Tahlil, Takbir dan Tahmid.</em>’”</p>
<p>Para pentahqiq Musnad berkomentar, “Hadits ini derajatnya hasan shahih.”</p>
<p>Imam Bukhari berkata, “Konon Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar menuju pasar pada sepuluh awal bulan Dzulhijjah sambil menggemakan takbir, sehingga orang-orang mengikuti takbir mereka berdua.” (Lihat Kitab <em>Al-‘Idain</em>, Bab: Keutamaan amal pada hari-hari tasyriq).</p>
<p>_______________________</p>
<p>Diketik ulang dengan sedikit penyesuaian bahasa oleh Tim Muslimah.Or.Id dari buku terjemahan yang berjudul “<em>Kumpulan Lengkap Amalan Nabi yang Diremehkan”, </em>halaman 128-129, penerbit: As-Salam Publishing.</p>
<p>Judul asli: <em>Al-Washiyyah bi ba’dhis-Sunan Syibhil Mansyiyyah </em>karya Haifa binti Abdullah Ar-Rasyid</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Sebab-Sebab Masuknya Setan ke dalam Tubuh Manusia</title>
         <link>http://wanitasalihah.com/sebab-sebab-masuknya-setan-ke-dalam-tubuh-manusia/</link>
         <description>Berikut ini diantara sebab setan masuk ke dalam tubuh manusia Pertama: Sebagai Bentuk Ujian dari Allah عزّ و جلّ Allah ta’ala berfirman, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan. (Qs. Al-Anbiya': 35) &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://wanitasalihah.com/sebab-sebab-masuknya-setan-ke-dalam-tubuh-manusia/&quot; title=&quot;Read more&quot;&gt;...&lt;/a&gt;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://wanitasalihah.com/?p=2439</guid>
         <pubDate>Tue, 22 Sep 2015 21:28:11 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Berikut ini diantara sebab setan masuk ke dalam tubuh manusia</p>
<p><strong>Pertama:</strong> Sebagai Bentuk Ujian dari Allah عزّ و جلّ</p>
<p>Allah <em>ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ</p>
<p><em>Dan Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan.</em> (Qs. Al-Anbiya': 35)</p>
<p>Dari Mush&#8217;ab bin Sa&#8217;ad, dari bapaknya, dia bertutur, aku pernah bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berat ujiannya? Beliau bersabda, Para Nabi, kemudian yang lebih mirip lalu yang lebih mirip. Seseorang diuji sesuai tingkatan agamanya, apabila dia kuat dalam agamanya maka ujiannya akan semakin berat, dan jika dia lembek dalam agamanya dia akan diuji sesuai tingkatan agamanya. Ujian tidak akan hilang dari hamba hingga dia meninggalkannya berjalan di muka bumi sedang dia tidak memiliki dosa.  (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no. 2398 dan dia berkata, Ini hadits hasan shahih.”)</p>
<p>Dan dari Abu Hurairah رضي الله عنه , dia berkata, Rasulullah صلى الله عليه و سلم , bersabda,</p>
<p><em>Ujian akan tetap menemani seorang laki-laki dan perempuan yang beriman pada diri, anak, dan hartanya hingga ia menjumpai Allah sedang ia tidak memiliki dosa. </em>(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, no.2399 dan dia berkata, Ini hadits hasan shahih.)</p>
<p>Serta dalam hadits tentang perempuan hitam yang kesurupan, Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda kepadanya,</p>
<p><em>Jika kamu mau, kamu bersabar dan bagimu surga, dan jika kamu berkehendak, aku akan berdoa kepada Allah agar dia menyembuhkanmu. </em></p>
<p>Maka dia berkata, Aku akan bersabar. (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Nash-nash ini menunjukkan bahwa musibah dapat menghapuskan dosa hamba yang beriman dan mengantarkannya masuk surga jika dia bersabar, <em>insyaa&#8217; Allah</em>.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Sebagai Hukuman dari Allah Disebabkan Hamba Melakukan Dosa dan Maksia</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُبِينٍ</p>
<p><em>Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian). </em>(Qs. Asy-Syura: 30)</p>
<p>Allah عز و جل juga berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى</p>
<p><em>Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.</em> (Qs. Thaha: 124)</p>
<p>Dan Dia عز و جل juga berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ .وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ .حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ .</p>
<p><em>Barangsiapa yang berpaling dari Pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur&#8217;an), Kami akan adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada Hari Kiamat) dia berkata, &#8216;Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu seperti jarak timur dan barat.&#8217; Maka setan adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).</em> (Qs. Az-Zukhruf: 36-38).</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata,</p>
<p>Penguasaan ruh jahat (setan) kepada manusia paling banyak adalah disebabkan minimnya agama serta hampanya hati dan lisan mereka dari hakikat-hakikat dzikir dan <em>ta&#8217;awwudz</em> serta perlindungan-perlindungan nabawi yang mencerminkan keimanan, sehingga setan itu menemukan orang tersebut tidak memiliki senjata, bahkan &#8216;telanjang&#8217; (dari penjagaan-Nya) sehingga ini berpengaruh padanya. (<em>Zaadul Ma&#8217;ad</em>, 4/6)</p>
<p><strong>Ketiga</strong>: Asmara, Hawa Nafsu dan Syahwat</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, 19/39-40,</p>
<p>Dan jin (setan) dapat merasuki manusia, kadang melalui desakan syahwat dan hawa nafsu yang membabi buta.Kemudian dia berkata, Merupakan perbuatan keji yang diharamkan oleh Allah تعالى , sebagaimana hal itu diharamkan atas manusia, walaupun dengan kerelaan yang lain, lalu bagaimana jika dengan kebencian?! Itu merupakan kekejian dan kezhaliman! Maka mereka pun diberitahu akan hal itu serta diberitahu bahwa ini adalah perbuatan keji yang diharamkan, atau kekejian dan kezhaliman, agar hujjah tegak atas mereka pada masalah itu dan mereka mengetahui bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya yang diutus kepada jin dan manusia juga berlaku pada mereka.</p>
<p><strong>Keempat</strong>: Kebencian dan Dendam</p>
<p>Ibnu Taimiyah رحمه الله , berkata, 29/40</p>
<p>Bisa jadi -dan itu yang banyak atau bahkan paling banyak- disebabkan karena benci dan balas dendam, semisal mereka disakiti oleh sebagian manusia atau mereka mengira bahwa manusia sengaja menyakiti mereka, baik dengan mengencingi sebagian mereka atau dengan menuang air panas dan atau dengan membunuh sebagian mereka, walaupun si manusia tidak mengetahuinya -sedang pada jin terdapat kejahilan dan kezhaliman- lalu mereka membalasnya dengan yang lebih dari semestinya.</p>
<p>Ibnu Taimiyah jug berkata,</p>
<p>Apabila si manusia tidak tahu, maka mereka diberitahu bahwa orang ini tidak tahu, dan orang yang tidak sengaja menyakiti tidak berhak mendapatkan hukuman. Dan jika dia melakukannya di rumah dan miliknya, mereka diberitahu bahwa rumah ini adalah miliknya, sehingga dia boleh berbuat padanya apa saja yang diperbolehkan, sedangkan kalian tidak memiliki hak untuk tinggal pada sesuatu yang menjadi kepunyaan manusia tanpa seizin mereka, maka tinggallah kalian di tempat-tempat reruntuhan dan padang sahara.</p>
<p><strong>Kelima</strong>: Tindakan Bodoh Jin</p>
<p>Gangguan juga terjadi dari tindakan bodoh dari sebagian mereka, sebagaimana hal itu juga dapat dilakukan dari orang-orang yang berakhlak rendahan, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam, 19/40.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ditulis ulang dari buku <em>Pengobatan Cara Nabi صلى الله عليه و سلم Terhadap Kesurupan, Sihir, dan Gangguan Makhluk Halus</em> (judul asli: أوضح البيان في علاج المسّ و السحر و إياذاء الجان ) &#8211; <em>Thal&#8217;at bin Fu&#8217;ad al-Hulwani.</em> Daarul Haq, Jakarta 2013</p>
<p>WanitaSalihah.Com</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Jual Beli Barang Terpaksa</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7796-jual-beli-barang-terpaksa.html</link>
         <description>Manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Banyak barang yang dibutuhkan dimiliki oleh orang lain. &amp;#8230;</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7796</guid>
         <pubDate>Tue, 22 Sep 2015 12:40:47 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Banyak barang yang dibutuhkan dimiliki oleh orang lain. Misalnya, seorang petani yang memiliki bahan pangan juga membutuhkan pakaian, sehingga dia harus menukar sebagian hasil panennya dengan uang dan membeli pakaian dengan uang tersebut; begitu juga sebaliknya. Dengan demikian, dia harus berinteraksi dengan orang lain untuk menutupi kebutuhannya.</p>
<p>Interaksi seseorang dengan pihak lainnya untuk bertukar barang/jasa diatur oleh Islam dalam fikih muamalat. Islam menjelaskan syarat-syarat sahnya sebuah muamalat yang bila tidak terpenuhi maka perpindahan barang dan alat tukar (uang) menjadi haram.</p>
<p>Di antara syarat sahnya jual-beli yaitu harus dilakukan oleh kedua belah pihak dengan saling ridha (suka sama suka), tanpa ada unsur keterpaksaan.</p>
<p>Seorang yang terpaksa yaitu orang yang berada di bawah ancaman fisik pihak lain yang mampu melakukan ancaman tersebut, bila pihak yang dipaksa tidak mau melakukan jual-beli.</p>
<p>Seperti jual-beli yang terjadi di sebagian tempat di beberapa kota di Indonesia; pada saat calon pembeli menawar harga sebuah barang maka dia dipaksa dengan berbagai cara untuk membeli, terkadang dengan ancaman dan gertakan bernada tinggi.</p>
<p>Hukum jual-beli ini tidak sah dan status uang serta barang adalah haram. Berdasarkan firman Allah,</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ</p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.”</em> (QS. An-Nisa&#8217;: 29).</p>
<p>***</p>
<p>Disalin dari buku <em>Harta Haram Muamalat Kontemporer,</em> hlm. 23-24, karya Dr. Erwandi Tarmizi, M.A., Penerbit Berkat Mulia Insani.</p>
<p>Dipublikasikan ulang oleh <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id/">Muslimah.Or.Id</a>, dengan pengeditan bahasa.</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id/">Muslimah.Or.Id</a></p>]]></content:encoded>
         <category>Fikih</category>
      </item>
      <item>
         <title>Pakai Jilbab Lebar, Namun Masih Termasuk Tabarruj</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7794-pakai-jilbab-lebar-namun-masih-termasuk-tabarruj.html</link>
         <description>Tujuan disyariatkannya jilbab bagi perempuan adalah untuk menutupi perhiasan dan kecantikan mereka ketika mereka berada di luar rumah atau di hadapan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7794</guid>
         <pubDate>Tue, 22 Sep 2015 04:18:35 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Tujuan disyariatkannya jilbab bagi perempuan adalah untuk menutupi perhiasan dan kecantikan mereka ketika mereka berada di luar rumah atau di hadapan laki-laki yang bukan suami atau mahramnya.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak diragukan lagi, wanita yang keluar rumah memakai pakaian atau jilbab yang dihiasi dengan bordiran, renda, ukiran, motif dan yang sejenisnya, ini jelas merupakan bentuk <em>tabarruj</em>, karena pakaian/jilbab ini menampakkan perhiasan dan keindahan yang seharusnya disembunyikan.</p>
<p>Maka meskipun pakaian atau jilbab tersebut dari bahan kain yang longgar dan tidak tipis, akan tetapi kalau dihiasi dengan hiasan-hiasan yang menarik perhatian atau dengan model yang justru semakin memperindah penampilan wanita yang mengenakannya maka ini jelas termasuk <em>tabarruj</em>.</p>
<p>Kemudian kalau kita tanyakan kepada wanita yang menambahkan bordiran, renda, ukiran, motif dan yang sejenisnya pada pakaian luarnya, apa tujuannya?, maka tentu dia akan menjawab: supaya indah, untuk hiasan, supaya keren, dan kalimat lain yang senada.</p>
<p>Maka dengan ini jelas bahwa tujuan ditambahkannya bordiran, renda, ukiran dan motif pada pakaian wanita adalah untuk hiasan dan keindahan, sedangkan syariat Islam memerintahkan bagi para wanita untuk menutupi dan tidak memperlihatkan perhiasan dan keindahan mereka kepada selain <em>mahram</em> atau suami mereka.</p>
<p>Bahkan kalau kita merujuk pada pengertian bahasa, kita dapati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI online) bahwa motif/ renda/ bordir juga disebut sebagai hiasan.</p>
<p>Pakaian dan jilbab seperti ini telah disebutkan oleh para ulama sejak dahulu sampai sekarang, disertai dengan peringatan keras akan keharamannya.</p>
<p><strong>Imam adz-Dzahabi</strong> berkata[1]: “Termasuk perbuatan (buruk) yang menjadikn wanita dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah ) yaitu <span style="text-decoration:underline;">memperlihatkan perhiasan, emas dan mutiara (yang dipakainya) di balik penutup wajahnya, memakai wangi-wangian dengan kesturi atau parfum ketika keluar (rumah), memakai pakaian yang diberi celupan warna (yang menyolok), kain sutra dan pakaian pendek, disertai dengan memanjangkan pakaian luar, melebarkan dan memanjangkan lengan baju, serta hiasan-hiasan lainnya ketika keluar (rumah)</span>. Semua ini termasuk <em>tabarruj</em> yang dibenci oleh Allah dan pelakunya dimurkai oleh-Nya di dunia dan akhirat. Oleh karena perbuatan inilah, yang telah banyak dilakukan oleh para wanita, sehingga Rasululah bersabda tentang mereka: “Aku melihat Neraka, maka aku melihat kebanyakan penghuninya adalah para wanita”[2].</p>
<p>Perhatikan ucapan imam adz-Dzahabi ini, bagaimana beliau menjadikan perbuatan <em>tabarruj</em> yang dilakukan oleh banyak wanita adalah termasuk sebab yang menjadikan mayoritas mereka termasuk penghuni Neraka[3], <em>na’uudzu billahi min dzaalik</em>.</p>
<p><strong>Imam Abul Fadhl al-Alusi</strong> berkata: “Ketahuilah, sesungguhnya ada sesuatu yang menurutku termasuk perhiasan wanita yang dilarang untuk ditampakkan, yaitu perhiasan yang dipakai oleh kebanyakan wanita yang terbiasa hidup mewah di jaman kami di atas pakaian luar mereka dan mereka jadikan sebagai hijab waktu mereka keluar rumah. Yaitu <span style="text-decoration:underline;">kain penutup tenunan dari (kain) sutra yang berwarna-warni, memiliki ukiran (bordiran/sulaman berwarna) emas dan perak yang menyilaukan mata</span>. Aku memandang bahwa para suami dan wali yang membiarkan istri-istri mereka keluar rumah dengan perhiasan tersebut, sehinga mereka berjalan di kumpulan kaum laki-laki yang bukan mahram mereka dengan perhiasan tersebut, ini termasuk (hal yang menunjukkan) lemahnya kecemburuan (dalam diri para suami dan wali mereka), dan sungguh kerusakan ini telah tersebar merata”[4].</p>
<p><strong>Fatwa lajnah daimah</strong> (kumpulan ulama besar ahli fatwa) di Arab Saudi, yang diketuai oleh syaikh ‘Abdl ‘Azizi Alu asy-Syaikh, beranggotakan: syaikh Shaleh al-Fauzan, syaikh Bakr Abu Zaid dan syaikh Abdullah bin Gudayyan. Fatwa no. 21352, tertanggal 9/3/1421 H, isinya sebagai berikut: “’<em>Abayah</em> (baju kurung/baju luar) yang disyariatkan bagi wanita adalah jilbab yang terpenuhi padanya tujuan syariat Islam (dalam mentapkan pakaian bagi wanita), yaitu menutupi (perhiasan dan kecantikan wanita) dengan sempurna dan menjauhkan (wanita) dari fitnah. Atas dasar ini, maka ‘<em>abayah</em> wanita harus terpenuhi padanya sifat-sifat (syarat-syarat) berikut: …<strong>Yang ke empat</strong>: ‘<em>abayah</em> tersebut tidak diberi hiasan-hiasan yang menarik perhatian. Oleh karena itu, ‘<em>abayah</em> tersebut harus polos dari <span style="text-decoration:underline;">gambar-gambar, hiasan (pernik-pernik), tulisan-tulisan (bordiran/sulaman) maupun simbol-simbol</span>”[5].</p>
<p><strong>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin</strong> pernah diajukan kepada beliau pertanyaan berikut:</p>
<p>“Akhir-akhir ini muncul di kalangan wanita (model) <em>‘abayah</em> (pakaian luar/baju kurung) yang lengannya sempit dan di sekelilingnya (dihiasi) bordir-bordir atau hiasan lainnya. Ada juga sebagian <em>‘abayah</em> wanita yang bagian ujung lengannya sangat tipis, bagaimanakah nasihat Syaikh terhadap permasalahan in?”</p>
<p>Jawaban beliau:</p>
<p>“Kita mempunyai kaidah penting (dalam hal ini), yaitu (hukum asal) dalam pakaian, makanan, minuman dan (semua hal yang berhubungan dengan) <em>mu’amalah</em> adalah mubah/boleh dan halal. Siapapun tidak boleh mengharamkannya kecuali jika ada dalil yang menunjukkan keharamannya.</p>
<p>Maka jika kaidah ini telah kita pahami, dan ini sesuai dengan dalil dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Allah  berfirman:</p>
<p dir="RTL">{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً}</p>
<p>“<em>Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian</em>” (QS al-Baqarah: 29).</p>
<p>Dan Firman-Nya:</p>
<p dir="RTL">{قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ}</p>
<p>“<em>Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat</em>” (QS al-A’raaf: 32).</p>
<p>Maka segala sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dalam perkara-perkara ini berarti itu halal. Inilah (hukum) asal (dalam masalah ini), kecuali jika ada dalil dalam syariat yang mengharamkannya, seperti haramnya memakai emas dan sutra bagi laki-laki, selain dalam hal yang dikecualikan, haramnya <em>isbal</em> (menjulurkan kain melewati mata kaki) pada sarung, celana, gamis dan pakaian luar bagi laki-laki, dan lain-lain.</p>
<p>Maka apabila kita terapkan kaidah ini untuk masalah ini, yaitu (hukum memakai) ‘<em>abayah</em> (model) baru ini, maka kami katakan: bahwa (hukum) asal pakaian (wanita) adalah dibolehkan, akan tetapi jika pakaian tersebut menarik perhatian atau (mengundang) fitnah, karena terdapat <span style="text-decoration:underline;">hiasan-hiasan bordir yang menarik perhatian (bagi yang melihatnya), maka kami melarangnya, bukan karena pakaian itu sendiri, tetapi karena pakaian itu menimbulkan fitnah</span>”[6].</p>
<p>Di tempat lain beliau berkata: “Memakai ‘<em>abayah</em> (baju kurung) yang dibordir dianggap termasuk <em>tabarruj</em> (menampakkan) perhiasan dan ini dilarang bagi wanita, sebagaimana firman Allah :</p>
<p dir="RTL">{وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لا يَرْجُونَ نِكَاحاً فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ}</p>
<p>“<em>Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan</em>” (QS an-Nuur: 60).</p>
<p>Kalau penjelasan dalam ayat ini berlaku untuk perempuan-perempuan tua maka terlebih lagi bagi perempuan yang masih muda”[7].</p>
<p><strong>Syaikh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim</strong> berkata: “Yang jelas merupakan pakaian wanita yang menjadi perhiasan baginya adalah pakaian yang <span style="text-decoration:underline;">dibuat dari bahan yang berwarna-warni atau berukiran (bordiran/sulaman berwarna) emas dan perak yang menarik perhatian dan menyilaukan mata</span>”[8].</p>
<p>Kemudian, perlu juga kami ingatkan di sini, bahwa berdasarkan keterangan di atas, maka <strong>termasuk <em>tabarruj</em></strong> yang diharamkan bagi wanita adalah membawa atau memakai beberapa perlengkapan wanita, seperti tas, dompet, sepatu, sendal, kaos kaki, dan lain-lain, jika perlengkapan tersebut memiliki bentuk, motif atau hiasan yang menarik perhatian, sehingga itu termasuk perhiasan wanita yang wajib untuk disembunyikan.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin berkata: “Memakai sepatu yang (berhak) tinggi (bagi wanita) tidak diperbolehkan, jika itu di luar kebiasaan (kaum wanita), membawa kepada perbuatan <em>tabarruj</em>, <span style="text-decoration:underline;">nampaknya (perhiasan) wanita dan membuatnya menarik perhatian (laki-laki)</span>, karena Allah  berfirman:</p>
<p dir="RTL">{وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى}</p>
<p>“<em>Dan janganlah kalian (para wanita) bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu</em>” (QS al-Ahzaab:33).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Maka segala sesuatu yang membawa wanita kepada perbuatan <em>tabarruj</em>, <span style="text-decoration:underline;">nampaknya (perhiasan)nya dan tampil bedanya seorang wanita dari para wanita lainnya dalam hal mempercantik (diri)</span>, maka ini diharamkan dan tidak boleh bagi wanita”[9].</p>
<p>***</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<p>[1] Kitab “<em>al-Kaba-ir</em>” (hal. 134)</p>
<p>[2] HSR al-Bukhari (no. 3069) dan Muslim (no. 2737)</p>
<p>[3] Lihat keterangan syaikh al-Albani dalam kitab “<em>Jilbaabul mar-atil muslimah</em>” (hal. 232)</p>
<p>[4] Kitab “<em>Ruuhul ma’aani</em>” (18/146)</p>
<p>[5] <em>Fataawa al-Lajnah ad-daaimah</em> (17/141)</p>
<p>[6] <em>Liqa-aatil baabil maftuuh</em> (46/17)</p>
<p>[7] Kitab <em>“Majmu’ul fataawa war rasa-il”</em> (12/232).</p>
<p>[8] Kitab “<em>Shahiihu fiqhis sunnah</em>” (3/34).</p>
<p>[9] <em>Majmuu’atul as-ilatin tahummul usratal muslimah</em> (hal. 10)</p>
<p>___</p>
<p>Di-<em>copas</em> dari tulisan Ustadz Abdullah Taslim Lc., MA. yang berjudul &#8220;<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://manisnyaiman.com/tabarruj-dandanan-ala-jahiliyah-wanita-modern/">Tabarruj, dandanan ala jahiliyah wanita modern</a>&#8221; di website pribadi beliau.</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Hadits-Hadits Lemah dan Palsu Seputar Anak</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7788-hadits-hadits-lemah-dan-palsu-seputar-anak.html</link>
         <description>Kami akan menyebutkan tiga contoh hadits yang popular dinisbatkan atas Nabi kita Muhammad ﷺ yang mulia, padahal ternyata bukan</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7788</guid>
         <pubDate>Sun, 20 Sep 2015 00:49:02 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>Masalah ini dibahas agar tidak terjerumus dalam ancaman Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> terhadap orang-orang yang mendustakan beliau,</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia bersiap-siap (mendapat) tempat duduknya di neraka</em>.” (HR. al-Bukhari no. 1209)<em>.</em></p>
<p>Kami akan menyebutkan tiga* contoh hadits yang popular dinisbatkan atas Nabi kita Muhammad ﷺ yang mulia, padahal ternyata bukan. Oleh karenanya, hendaknya hal ini menjadi perhatian dan kewaspadaan bagi kita semua.</p>
<h4><span style="color:#ff0000;"><strong>Adzan Saat Bayi Lahir</strong></span></h4>
<p style="text-align:right;">مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ, فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى, لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa yang dikaruniai seorang bayi, lalu dia adzani di telinga bagian kanannya dan iqamat di telinga bagian kirinya, maka dia tidak akan ditimpa gangguan jin.</em>”</p>
<p><strong>MAUDHU’. </strong>Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam <em>Syu’aibul Iman (</em>VI/390), Abu Ya’la (no. 6780), Ibnu Sunni dalam <em>‘Amalul Yaum wa Lailah </em>(no. 623). Dari jalan <strong>Yahya bin al-Ala’ </strong>dari <strong>Marwan bin Salim </strong>dari Thalhah bin ‘Ubaidillah dari Husain bin ‘Ali.</p>
<p>Sanad hadits ini maudhu’ atau palsu disebabkan Yahya bil al-Ala’ dan Marwan bin Salim adalah dua rawi yang memalsukan hadits. <sup>[1]</sup></p>
<h4><span style="color:#ff0000;"><strong>Nama yang Paling Dicintai</strong></span></h4>
<p style="text-align:right;">أَحَبَّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ مَا عُبِّدَ و مِا حُمِّدَ</p>
<p>“<em>Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama yang dihambakan dan dipuji.</em>”</p>
<p><strong>TIDAK ADA ASALNYA. </strong>Sebagaimana ditegaskan oleh as-Suyuthi dan sebagainya. Lihat <em>Kasyful Khafa’ </em>(I/390, 50).</p>
<p>Lafazh yang benar adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:right;">أَحَبَّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَ عَبْدُ الرَّحْمنِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya sebaik-baik nama kalian di sisi Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman.</em>” <sup>[2]</sup></p>
<p><strong>Faedah: </strong>Ibnu Hazm <em>rahimahullah</em> menukil kesepakatan ulama tentang haramnya setiap nama yang dihambakan kepada selain Allah seperti ‘Abdul ‘Uzza dan ‘Abdul Ka’bah. Pendapat ini disetujui oleh al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam <em>Tuhfatul Maudud </em>(hal. 37).</p>
<p>Dengan demikian, maka tidak halal nama-nama seperti ‘Abdu ‘Ali dan ‘Abdul Husain sebagaimana popular dalam kelompok Syi’ah, juga ‘Abdu Nabi atau ‘Abdu Rasul sebagaimana dilakukan oleh sebagian Ahlus Sunnah yang awam. <sup>[3]</sup></p>
<h4><span style="color:#ff0000;"><strong>Pahala Anak untuk Orang Tuanya</strong></span></h4>
<p style="text-align:right;">إِنَّ حَسَنَاتِ الصَّبِيِّ لِوَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا</p>
<p>“<em>Pahala ibadah anak kecil itu untuk kedua orang tuanya atau salah satunya.</em>”</p>
<p><strong>MAUDHU.</strong> Ibnu Muflih dalam <em>al-Furu’ </em>(I/291) menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya dengan sanad yang lemah dari Anas secara marfu’. Dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam <em>al-Maudhu’at. </em><sup>[4] </sup>Tetapi kami belum mendapatkannya dalam <em>Musnad Ahmad </em>maupun <em>al-Maudhu’at</em>. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
<p><strong>Faedah: </strong>As-Sakhwi berkata, “Anak kecil diberi pahala atas amal shalih mereka sebagaimana pendapat mayoritas ulama. An-Nawawi menceritakan dalam <em>Syarh Muslim </em>dari Malik, Syafi’i, Ahmad dan mayoritas ulama.”</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan hadits bahwa ada seorang wanita yang mengangkat anak kecilnya kepada Nabi, seraya mengatakan: “Apakah anak ini mendapat pahala haji?” Nabi ﷺ bersabda: “Ya, dan untukmu juga pahala.” <sup>[5] </sup>Yakni, anak tersebut mendapat pahala haji tetapi itu hanya sunnah baginya, sehingga dia belum gugur kewajiban haji apabila telah dewasa.</p>
<p>Adapun dosa anak kecil, maka tidak dicatat, berdasarkan hadits:</p>
<p>“<em>Diangkat pena dari tiga golongan, orang gila sehingga sadar, orang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga baligh.</em>”</p>
<p>Kesimpulannya, anak kecil dicatat amal kebaikannya tetapi tidak dicatat amal jeleknya.<sup>[6]</sup></p>
<p>Allahu a&#8217;lam.</p>
<p>***</p>
<p>Diketik ulang dengan sedikit penyesuaian bahasa oleh Tim Muslimah.Or.Id dari buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.</p>
<p>*) Pada naskah aslinya terdapat empat hadits, untuk lebih lengkapnya silahkan langsung merujuk ke buku yang telah kami sebutkan di atas.</p>
<h5>Catatan kaki</h5>
<p><sup>[1]</sup> <em>Silsilah adh-Dha’ifah </em>(no. 321). Dan lihat kembali bahasan dalam buku “Bekal Menanti si Buah Hati” karya Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi bahasan ‘<em>Mengadzani Bayi, Sunnahkah?</em>’</p>
<p><sup>[2]</sup> HR. Muslim (no. 2132)</p>
<p><sup>[3]</sup> Lihat <em>Silsilah al-Ahaadits adh-Dha’iifah </em>(no. 411)</p>
<p><sup>[4] </sup><em>Al-Muntaqa min Faraidh al-Fawaid </em>(hal. 91) Ibnu ‘Utsaimin dan <em>at-Tuhfah</em> <em>al-Karimah </em>(hal. 99) Ibnu Baaz</p>
<p><sup>[5] </sup>HR. Muslim (no. 1336)</p>
<p><sup>[6] </sup><em>Al-Ajwibah al-Mardhiyyah </em>(II/766-767)</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Artikel muslimah.or.id</p>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (2)</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7781-ilmu-amal-dakwah-dan-sabar-2.html</link>
         <description>Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7781</guid>
         <pubDate>Sat, 19 Sep 2015 15:58:40 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<h4 lang="id-ID" align="LEFT"><span style="color:#ff0000;"><b>Mengamalkan Ilmu</b></span></h4>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Seseorang tidaklah menuntut ilmu kecuali untuk mengamalkan ilmu tersebut. Maksudnya, seseorang dapat mewujudkan ilmu yang telah dipelajarinya tersebut menjadi suatu perilaku yang nyata dan tercermin dalam pemikiran dan amalnya. Apabila dia berilmu, namun tidak mau beramal, ilmu itu justru akan berbalik mencela dirinya karena ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan diamalkan. Apabila dia berilmu, tetapi tidak mau beramal, dia akan dilaknat karena dia mengetahui kebenaran, namun meninggalkan kebenaran tersebut. Ibnu Mas’ud </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Pelajarilah ilmu. Apabila sudah tahu, amalkanlah!” </i></span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Oleh karena itu, betapa indah perkataan Fudhail bin ‘Iyadh </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah</i></span><span lang="id-ID"><i><b>,”Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim.”</b></i></span><i> </i><span lang="id-ID">Perkaataan ini mengandung makna yang dalam. Apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, dia seperti orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh. Maka, seseorang yang berilmu tidaklah menjadi seorang alim yang sebenarnya sampai dia mengamalkan ilmunya. </span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Hendaklah seorang muslim mengetahui pentingnya mengamalkan ilmunya. Karena seseorang yang tidak mengamalkan ilmunya, ilmu tersebut akan berbalik menghujat (mencela) dirinya</span><span lang="en-US">.</span> <span lang="en-US">S</span><span lang="id-ID">ebagaimana sabda Nabi </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam,</i></span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ</b></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Seorang hamba tidak akan beranjak dari tempatnya pada hari kiamat nanti hingga dia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; </i></span><span lang="id-ID"><i><b>tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan;</b></i></span><span lang="id-ID"><i> tentang hartanya, darimana dia peroleh dan ke mana dia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa dia gunakan.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Tirmidzi. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Shahih Sunan Tirmidzi, </i></span><span lang="id-ID">no. 2417).</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Semua orang yang belajar ilmu syar’i dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya, tidak akan mendapat berkah dan pahala ilmu yang sangat agung. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></span><span lang="id-ID"> mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>مثل الذي يعلم الناس الخير وينسى نفسه كمثل السراج يضيء للناس ويحرق نفسه</b></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya sendiri (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar.”</i></span><span lang="id-ID"> (HR. Thabrani. Dihasankan oleh Al-Albani dalam </span><span lang="id-ID"><i>Shahihut Targhib wat Tarhib, </i></span><span lang="id-ID">no. 131)</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Ilmu itu sangat berkaitan dengan amal karena </span><span lang="id-ID"><b>amal adalah buah dari ilmu</b></span><span lang="id-ID">. Oleh karena itu, ilmu tanpa disertai amal bagaikan pohon yang tidak berbuah. Pohon tersebut tidak ada manfaatnya. Tujuan menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Sebaliknya, orang yang beramal tanpa didasari ilmu, dia justru akan tersesat dan amalnya akan sia-sia. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا، فَهْوَ رَدٌّ</b></span></span></p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, amal tersebut </i></span><span lang="id-ID"><i><b>tertolak</b></i></span><span lang="id-ID"><i>.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p align="LEFT"><span lang="id-ID">Perhatikan surat Al-Fatihah yang senantiasa kita baca,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ </b></span></span><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>(6) </b></span></span><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ </b></span></span><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>(7)</b></span></span></span></p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Fatihah [1]: 6-7).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Dalam ayat tersebut, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menyebut orang-orang yang beramal tanpa ilmu sebagai </span><span lang="id-ID"><b>orang yang sesat</b></span><span lang="id-ID">. Adapun orang-orang yang berilmu, tetapi tidak mau beramal, itulah orang-orang yang dimurkai. Ini adalah dua hal yang harus kita camkan dengan baik.</span></p>
<h4 lang="id-ID"><span style="color:#ff0000;"><b>Berdakwah kepada Allah</b></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Berdakwah, mengajak manusia kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik. Ketika seseorang telah mengetahui kebenaran, hendaklah dia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka kepada agama Allah dan menyebarkan kebaikan. Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ، ثُمَّ ادْعُهُمْ إِلَى الإِسْلاَمِ ، وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ ، فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ</b></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka. Kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang kewajiban yang harus mereka tunaikan. Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seseorang dengan perantara dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">juga bersabda,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا</b></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim)</span></p>
<p><span lang="id-ID">Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk menyampaikan ilmu yang telah kita miliki kepada masyarakat serta mengajak mereka kepada kebaikan. Ilmu yang kita miliki bukanlah untuk diri kita saja, akan tetapi juga untuk orang-orang selain kita. Sehingga janganlah menyembunyikan ilmu tersebut, apalagi menghalang-halangi orang lain agar jangan sampai mengetahuniya. Akan tetapi, kita harus menyampaikan dan menjelaskan ilmu tersebut kepada mereka. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ</b></span></span></span></p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, (yaitu) ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya.’”</i></span><i> </i><span lang="id-ID">(QS. Ali ‘Imran [3]: 187).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Inilah perjanjian yang Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">buat bagi para ulama, yaitu agar mereka menjelaskan kepada masyarakat tentang ilmu yang telah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">anugerahkan kepada mereka. Hal itu untuk menyebarkan kebaikan dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.</span></p>
<p><span lang="id-ID">Dakwah inilah yang merupakan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">dan orang-orang yang mengikutinya. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</b></span></span></span></p>
<p>“<span lang="id-ID"><i>Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.&#8221; </i></span><span lang="id-ID">(QS. Yusuf [12]: 108).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Realita masyarakat kita sekarang ini menunjukkan bahwa kesyirikan terjadi di mana-mana, </span><span lang="id-ID"><i>bid’ah</i></span><span lang="id-ID"> telah merajalela, dan maksiat telah tersebar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Sehingga mereka sangat membutuhkan dakwah kita, dakwah yang menyeru kepada </span><span lang="id-ID"><i>tauhidullah, </i></span><span lang="id-ID">menjadikan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sebagai satu-satunya sesembahan semata dan tidak menujukan ibadah kepada selain Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID">. </span></p>
<p><span lang="id-ID">Seseorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sehingga dakwah yang dilakukannya tegak di atas landasan ilmu dan </span><span lang="id-ID"><i>bashirah</i></span><span lang="id-ID"> (hujjah yang nyata). Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah &#8211;</i></span><span lang="id-ID">ketika menjelaskan surat Yusuf ayat ke-108 di atas- berkata bahwa ilmu yang dibutuhkan untuk berdakwah bukanlah ilmu syar’i (ilmu tentang apa yang akan didakwahkan) saja, akan tetapi juga mencakup ilmu tentang keadaan orang-orang yang akan didakwahi dan ilmu tentang metode yang paling tepat dan paling sesuai agar dakwah itu sampai kepada mereka. Inilah di antara bentuk hikmah dalam berdakwah.</span><i> </i><span lang="id-ID">(Lihat </span><span lang="id-ID"><i>Al-Qoulul Mufiid ‘alaa Kitaabit Tauhiid, </i></span><span lang="id-ID">1/82, cet. Daarul ’Aqidah).</span></p>
<h4 lang="id-ID"><span style="color:#ff0000;"><b>Bersabar dalam Dakwah </b></span></h4>
<p><span lang="id-ID">Masalah ke empat dari empat perkara tersebut adalah bersabar atas gangguan yang dihadapi ketika menyeru ke jalan Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala.</i></span><span lang="id-ID"> Hendaklah seorang </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span> <span lang="en-US">(juru dakwah) </span><span lang="id-ID">bersabar atas gangguan yang dia terima dari masyarakat. Karena menyakiti </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> sudah menjadi tabiat manusia kecuali mereka yang telah Allah </span><span lang="en-US"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">beri hidayah. Hal ini sebagaimana firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID">,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا</b></span></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-An’am [6]: 34).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Marilah kita melihat apa yang terjadi pada </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> teladan kita semua, yaitu Muhammad </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">Betapa banyak halangan dan gangguan yang beliau dapatkan. Orang-orang kafir Quraisy saat itu mengolok-olok beliau dengan sebutan orang gila, dukun, tukang sihir, pendusta, dan lain-lain sebagaimana yang Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">ceritakan dalam Al</span><span lang="en-US">&#8211;</span><span lang="id-ID">Qur’an. Beliau juga dilempari batu sampai berdarah. Beliau juga diancam akan dibunuh. Dalam perang Uhud pun beliau terluka. Akan tetapi, beliau tetap bersabar di atas dakwahnya. </span></p>
<p><span lang="id-ID">Oleh karena itu, seorang </span><span lang="id-ID"><i>da’i</i></span><span lang="id-ID"> wajib bersabar dalam berdakwah dan tidak menghentikan dakwahnya. Dia harus sabar atas segala penghalang dakwahnya dan sabar terhadap gangguan yang ia dapati. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menyebutkan wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya,</span></p>
<p lang="id-ID" style="text-align:right;" align="CENTER"><span style="color:#000000;"><span style="font-family:'Traditional Arabic', serif;"><span style="font-size:large;"><b>يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ</b></span></span></span></p>
<p>”<span lang="id-ID"><i>Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Luqman [31]: 17).</span></p>
<p><span lang="id-ID">Pada akhir tafsir surat Al-‘Ashr ini, Syaikh</span><b> </b><span lang="id-ID">Abdurrahman As-Sa’di </span><span lang="id-ID"><i>rahimahullah </i></span><span lang="id-ID">berkata,</span><span lang="id-ID"><i>”Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. </i></span><span lang="id-ID"><i><b>Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar.</b></i></span><span lang="id-ID"><i>” </i></span><span lang="id-ID">(</span><span lang="id-ID"><i>Taisiir Karimir Rahmaan, </i></span><span lang="id-ID">hal. 934). </span></p>
<p><span lang="id-ID">Semoga Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">memberikan taufik kepada kita untuk menyempurnakan keempat hal ini sehingga kita dapat memperoleh keuntungan yang besar di dunia ini, dan lebih-lebih di akhirat kelak. </span><span lang="id-ID"><i>Amiin.</i></span></p>
<p>***</p>
<p><span lang="">Selesai disempurnakan menjelang maghrib, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Ahad 6 Sya’ban 1436</span></p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5><span lang="en-US"><b>Referensi Utama:</b></span></h5>
<ul>
<li><span lang=""><i>Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, </i></span><span lang="">‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.</span></li>
<li><span lang=""><i>Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, </i></span><span lang="">Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.</span></li>
</ul>
<div id="serial-posts-wrapper">
<h3 class="serial-posts-heading"><span class="serial-pre-text">Anda sedang membaca: "&nbsp;</span><span class="serial-name">Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar&nbsp;</span><span class="serial-post-text">", baca lebih lanjut serial dari artikel ini:</span></h3>
<ul class="serial-posts">
<li class="serial-posts-list-item"><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://muslimah.or.id/7752-ilmu-amal-dakwah-dan-sabar-1.html" title="Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (1)">Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (1)</a></li>
<li class="serial-posts-list-item current-inactive">Ilmu, Amal, Dakwah, dan Sabar (2)</li>
</ul>
</div>]]></content:encoded>
      </item>
      <item>
         <title>Hati Orang yang Suka Membaca Al-Qur’an Selalu Merasa Senang</title>
         <link>http://muslimah.or.id/7776-hati-orang-yang-suka-membaca-al-quran-selalu-merasa-senang.html</link>
         <description>Tidak ada (rasa) hasad kecuali kepada dua orang, diantaranya yaitu orang yang diberi al-Kitab oleh Allah sedang dia membacanya di tengah malam dan siang hari</description>
         <guid isPermaLink="false">http://muslimah.or.id/?p=7776</guid>
         <pubDate>Fri, 18 Sep 2015 00:49:09 +0000</pubDate>
         <content:encoded><![CDATA[<p>&#8216;Abdullah bin &#8216;Umar bercerita, “Aku pernah mendengar Rasulullah <em>s</em><em>hallallahu &#8216;alaihi wa </em><em>s</em><em>allam </em>bersabda<em>, </em><span style="line-height:1.5;">“</span><em style="line-height:1.5;">Tidak ada (rasa) hasad kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang diberi al-Kitab oleh Allah sedang dia membacanya di tengah malam dan siang hari, dan orang yang diberi harta oleh Allah sedang dia menyedekahkannya di tengah malam dan di siang hari</em><span style="line-height:1.5;">.” (HR. al-Bukhari).</span></p>
<p>Kemudian Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu &#8216;anhu</em> bahwa Rasulullah <em>s</em><em>hallallahu &#8216;alaihi wa </em><em>s</em><em>allam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ فَقَالَ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَهْوَ يُهْلِكُهُ فِي الْحَقِّ فَقَالَ رَجُلٌ لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ</p>
<p>“<em>Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang, yaitu orang yang diajari Al-Qur&#8217;an oleh Allah lalu dia membacanya di tengah malam dan siang hari, kemudian tetangganya mendengarnya dan berkata, ‘Seandainya aku diberi apa yang diberikan kepada si fulan, niscaya aku akan melakukan seperti apa yang dikerjakannya.’ Dan orang yang diberi kekayaan oleh Allah, lalu dia mengalokasikannya dalam kebenaran, kemudian ada orang berkata, ‘Seandainya aku diberi seperti apa yang diberikan kepada si fulan itu, niscaya aku akan melakukan seperti apa yang dilakukannya</em>.’”</p>
<p>Kandungan kedua hadits di atas bahwa orang yang suka membaca al-Qur&#8217;an selalu merasa senang, yaitu dalam keadaan baik, karenanya dia harus berusaha mempertahankan apa yang ada padanya.</p>
<p>Disebut <em>ghibthah</em> (bukan hasad) jika seseorang mengharapkan nikmat seperti yang dirasakan dua orang tersebut. Hal tersebut jelas berbeda dengan sifat iri (hasad) yang tercela, yaitu mengharapkan hilangnya nikmat dari orang yang menjadi obyek hasadnya tersebut, baik orang tersebut memperoleh nikmat tersebut maupun tidak. Menurut syari&#8217;at, hal itu sangat tercela dan merusak. Dan itulah kedurhakaan pertama kali yang dilakukan oleh iblis, yaitu ketika dia iri kepada Adam <em>‘</em><em>alaihissalam</em> atas apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, baik itu berupa kemuliaan, penghormatan, maupun pengagungan. Sedangkan iri yang disyari&#8217;atkan dan terpuji adalah iri yang tetap menginginkan langgengnya keadaan yang membahagiakan.</p>
<p>Abu Kabsyah al-Anmari berkata, “Rasulullah <em>s</em><em>hallallahu &#8216;alaihi wa </em><em>s</em><em>allam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align:right;">مثلُ هذه الأُمَّةِ كمثلِ أربعةِ نفرٍ رجلٌ آتاهُ اللهُ مالًا وعلمًا فهو يعملُ بعلمِه في مالِه يُنفقُه في حقِّهِ ورجلٌ آتاه اللهُ علمًا ولم يُؤْتِه مالًا فهو يقولُ لو كان لي مثلَ هذا عملتُ فيه مثلَ الذي يعملُ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فهما في الأجرِ سواءٌ ورجلٌ آتاه اللهُ مالًا ولم يُؤْتِه علمًا فهو يخبطُ في مالِه يُنفقُه في غيرِ حقِّهِ ورجلٌ لم يُؤْتِه اللهُ علمًا ولا مالًا فهو يقولُ لو كان لي مثلَ هذا عملتُ فيه مثلَ الذي يعملُ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فهما في الوِزْرِ سواءٌ .</p>
<p>“Perumpaan umat ini adalah seperti empat orang, yaitu seseorang yang diberi kekayaan dan ilmu oleh Allah, lalu dia mengamalkannya dan pada kekayaannya dia menginfakkannya kepada yang berhak. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah tetapi ia tidak diberi kekayaan, lalu ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta seperti ini, niscaya aku akan memanfaatkannya seperti yang dilakukan oleh orang itu.’ Rasulullah berkata, ‘Keduanya sama dalam penerimaan pahala.’ Serta seseorang yang diberi kekayaan oleh Allah tetapi ia tidak diberi ilmu oleh-Nya, lalu dia menghamburkan dan membelanjakan tidak pada haknya. Dan seseorang yang tidak diberi kekayaan dan (tidak) juga ilmu oleh Allah sedang dia mengatakan, ‘Seandainya aku memiliki kekayaan seperti orang itu, niscaya aku akan melakukan seperti yang dia lakukan.’ Rasulullah berkata, &#8216;Maka keduanya sama dalam hal dosanya.’” (Sanadnya shahih)</p>
<p><em>W</em><em>alillahil hamdu wal minnah. </em></p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Ditulis ulang dengan sedikit peringkasan dari buku &#8220;<em>Tafsir Ibnu Katsir</em>&#8221; jilid 8 (edisi terjemah Indonesia), Penyusun: Dr. &#8216;Abdullah bin Muhammad bin &#8216;Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh. Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i,</p>
<p>Artikel <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.muslimah.or.id">www.muslimah.or.id</a></p>]]></content:encoded>
      </item>
   </channel>
</rss>
<!-- fe7.yql.bf1.yahoo.com compressed/chunked Thu Oct  1 22:55:36 UTC 2015 -->
