<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155</id><updated>2024-10-24T18:16:10.719+07:00</updated><category term="Opini"/><category term="Pernik-pernik"/><category term="Novel Bersambung"/><category term="Feature"/><category term="Cerpen Lama"/><category term="Cerpen"/><category term="Pendidikan"/><category term="Pariwisata"/><title type='text'>SKETSA ARUS RASYID</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>58</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2177710304147275275</id><published>2010-12-28T10:03:00.000+07:00</published><updated>2010-12-28T10:03:45.170+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Lama"/><title type='text'>Titin Masih Perawan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEXUANWxRj8froxwdQRyCZUymbLWV0lXrzgv5pwikvmkOTNliLgkmU9ClGQos4BJJInkz5pPP1iRZdOIu6TYhFNeuCOCluRAPsgZfZNjqsvujTmiwTuGhxnRiIGXQkHl96G05WL-INK9xA/s1600/pregnant-female.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEXUANWxRj8froxwdQRyCZUymbLWV0lXrzgv5pwikvmkOTNliLgkmU9ClGQos4BJJInkz5pPP1iRZdOIu6TYhFNeuCOCluRAPsgZfZNjqsvujTmiwTuGhxnRiIGXQkHl96G05WL-INK9xA/s200/pregnant-female.jpg&quot; width=&quot;183&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sampai usia 35 tahun ini Titin masih belum menikah. Titin masih perawan tulen, begitu kata orang-orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada nada bangga, sekaligus risi. Bangga karena pada usianya itu Titin masih bisa mempertahankan kesuciannya. Apalagi Titin bukanlah gadis kebanyakan: ia cantik, bahkan paling cantik di antara gadis-gadis yang terdapat di desa itu – sebuah desa di pinggir gunung yang dipimpin oleh ayahnya sendiri. Risi karena memang statusnya yang belum menikah. Perempuan desa diusia seperti Titin, kalau belum menikah, selalu jadi gunjingan. Ini tak jarang membuat orang tuanya merasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang mengherankan. Apa yang kurang pada diri Titin? Karena sombongkah, mentang-mentang puteri kepala desa? Rasanya tidak. Sebab sering terlihat Titin bercanda dengan gadis-gadis lain. Sering pula Titin ikut menuai padi, atau tandur, atau apa saja yang biasa dikerjakan perempuan desa. Titin pun selalu menoleh bila ada pria menyapa, lalu tersenyum manis. &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Titin tidak sombong,” begitu kata orang-orang. &lt;br /&gt;
“Titin wanita cantik luar dan dalam,” kata warga desa. &lt;br /&gt;
Lantas apa sebenarnya yang menyebabkan Titin belum juga menikah? Tak seorang pun tahu. Orang tuanya sendiri tak bisa menjawab pertanyaan itu. Mereka hanya mampu bersabar seraya berupaya mencarikan pria yang pantas buat putri tunggalnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi usaha orang tuanya untuk mendekatkan jodoh Titin, belum menampakkan hasil. Pak Kuwu selalu gagal mengundang lelaki untuk pasangan anaknya. Bahkan sering pula Pak Kuwu menanyai anaknya, kalau-kalau ia sudah punya pilihan sendiri. “Tunjukkanlah kalau kau sudah punya pilihan. Jangan takut, siapa dan bagaimana, asal baik, Bapak dan Ibu pasti setuju,” kata ayahnya suatu hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun dengan sedih Titin senantiasa menggelengkan kepala. Biasanya dari sudut-sudut matanya ada air mengembang, lalu meleleh menyebrangi sepasang pipinya yang montok dan halus, dan jatuh ke atas pangkuannya. Dan biasanya pula Sang Ibu dengan sigap memeluknya. Sementara Pak Kuwu hanya mampu menatap dengan kebisuan yang dalam. Dan pandangan hatinya menembus batas-batas,  mencari-cari tempat Tuhan sambil berseru, “Tuhan, mengapa demikian buruk nasib anakku?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering terbersit dalam pikiran Pak Kuwu, apakah semua ini karena jabatannya sebagai kepala desa? Atau ada yang salah ketika ia mendidiknya? Belakangan ini pertanyaan-pertanyaan itu kembali menggodanya. “Tak ada artinya aku jadi kuwu kalau anakku menderita,” desahnya sambil mengambil keputusan ia akan segera mengundurkan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Pak Kuwu belum sempat mengundurkan diri ketika desa itu diguncang khabar mengejutkan: Titin hamil tiga bulan. Bagai tanggul di pinggir desa yang jebol oleh hujan semalam, berita kehamilan itu cepat sekali menyebar. Dalam sekejap seluruh penduduk desa itu mengetahuinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tercengang.&lt;br /&gt;
“Yang benar?” tanya seseorang&lt;br /&gt;
“Kalau tidak percaya, ya sudah!” jawab orang yang membawa berita kehamilan Titin.&lt;br /&gt;
“Siapa bapaknya?” &lt;br /&gt;
“Tidak tahu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gegerlah desa itu. &lt;br /&gt;
Para ibu berkata, “Tak menyangka ia begitu!” &lt;br /&gt;
Sedang para gadis bergidik, “Ih, amit-amit!” &lt;br /&gt;
Ya, kehamilan Titin jadi berita besar. Ini memang karena setahu mereka Titin belum menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Pak Kuwu menikahkannya secara diam-diam?” tanya seoorang nenek di sebuah warung. “Bagaimana Mang Punduk? Mang Punduh `kan orang dekat Pak Kuwu? Pasti sudah dibisiki, walau tidak ikut hadir dalam pernikahannya, atau mungkin tdak boleh hadir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mang Punduk menggeleng. “Agar tidak menjadi fitnah, saya akan menanyakannya langsung kepada Pak Kuwu. Kita tentunya tidak ingin Kuwu kita mendapat aib,” jawab Mang Punduh. Dan orang-orang yang ada di warung itu mengangguk setuju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya sendiri tidak mengerti Punduh, mengapa aib ini terjadi,” suara Pak Kuwu perlahan. Wajahnya menyimpan duka. Sorot matanya tak lagi menyimpan wibawa. Mang Punduh melihat kuwunya sebagai prajurit yang kalah perang. Sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi, ia berkata lagi, “Anakku membisu. Ia tetap tidak mau mengaku ketika dituduh telah berbuat bejat. Kekerasan yang kami lakukan pun hanya membuat kami lebih tidak berdaya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlihat oleh Mang Punduh bibir kuwunya bergetar menahan tangis, atau mungkin juga amarah.&lt;br /&gt;
“Maaf, Pak, bukan maksud saya ikut campur urusan pribadi Bapak. Tapi….” Mang Punduh merasa bersalah tadi ia telah bertanya tentang kehamilan Titin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, Punduh! Tanpa kau tanyakan pun, saya akan menceritakannya kepadamu, malah mungkin kita perlu memusyawarahkannya. Saya merasa pasti tanpa bantuan orang lain, saya tidak bisa menyelesaikannya.” Pak Kuwu menarik tubuhnya ke depan. “Terutama mengenai siapa bapak jabang bayi itu. Kau selidiki seluruh lelaki di desa ini. Kau cari keterangan, siapa yang pernah melihat ada lelaki masuk ke rumahku, atau melihat anakku bersama lelaki lain. Kau juga buka arsif, siapa-siapa yang pernah melakukan kejahatan. Aku sendiri sekali lagi akan menanyai anakku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi sampai hamil Titin berjalan empat bulan, lelaki yang menyetubuhi Titin belum juga ditemukan. Semua lelaki di desa itu bersumpah `demi langit runtuh` kalau mereka telah berbuat tak senonoh terhadap Titin. Dan Titin sendiri tetap pada pendiriannya: tidak pernah berjinah! Dan lebih aneh, ketika Titin dibawa ke puskesmas, atas saran seseorang untuk memastikan betul tidaknya Titin hamil, bidan mengatakan, “Titin hamil, benar!. Tapi... dia masih perawan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang mengantarkan Titin ke puskesamas terbelalak. “Tidak mungkin!” seru Pak Kuwu. Yang lain hanya menggelengkan kepala. Dan orang-orang terlalu terkejut mendengar hasil pemeriksaan itu, sehingga keterangan bidan selanjutnya tidak begitu terdengar. Atau lebih tepatnya, tidak dapat dimengerti. Orang-orang hanya mendengar, “Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali,” kata bidan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak aneh kalau berita terakhir itu menambah geger desa itu. Bahkan ada yang berani menduga, “Titin disetubuhi mahluk halus!” Dugaan semacam itu hampir mendapat persetujuan seluruh warga desa setelah seorang tetua yang paham tentang kemahlukhalusan menyatakan hal yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah? Aku tidak tahu. Yang jelas, ketika aku ditugaskan sebagai guru di sebuah SD inpres yang ada di desa itu, Titin yang cantik, masih belum menikah. Jabang bayi yang dikandungnya telah lama lahir. Bahkan sudah berumur dua tahun. Puteranya lelaki, sempurna, cakep seperti ibunya. Sementara Pak Kuwu sendiri sudah tidak lagi jadi kuwu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang masih sering diperbincangkan, orang-orang tidak percaya Titin hamil tanpa dijamah seorang lelaki. Dan aku pun membisu ketika orang-orang di desa itu meminta pendapatku tentang kasus Titin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Cerpen lama, pernah dimuat di HU.Bandung Pos, beberapa tahun silam)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2177710304147275275/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/12/titin-masih-perawan.html#comment-form' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2177710304147275275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2177710304147275275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/12/titin-masih-perawan.html' title='Titin Masih Perawan'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEXUANWxRj8froxwdQRyCZUymbLWV0lXrzgv5pwikvmkOTNliLgkmU9ClGQos4BJJInkz5pPP1iRZdOIu6TYhFNeuCOCluRAPsgZfZNjqsvujTmiwTuGhxnRiIGXQkHl96G05WL-INK9xA/s72-c/pregnant-female.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-8696383705795348860</id><published>2010-12-02T09:56:00.000+07:00</published><updated>2010-12-02T09:56:26.297+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Lama"/><title type='text'>Sulastri Diperkosa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF15uxV-WMalNlcY97N_dLnCnhNSRaoA3smMuGnOa73HtNk_KvVLwIgnLVOQtgIcNuseILiOGWR9TsQblG2f8eaGmgUdwCy5hMMw49BkCW8EpEqRjt2bb93fiu5-1ug2pCkRpYHBRjFWyt/s1600/b5516769_m_5516771_8588.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF15uxV-WMalNlcY97N_dLnCnhNSRaoA3smMuGnOa73HtNk_KvVLwIgnLVOQtgIcNuseILiOGWR9TsQblG2f8eaGmgUdwCy5hMMw49BkCW8EpEqRjt2bb93fiu5-1ug2pCkRpYHBRjFWyt/s200/b5516769_m_5516771_8588.jpg&quot; width=&quot;163&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sulastri diperkosa! Begitu kata temanku dua minggu lalu. “Lima belas pemuda brangasan yang tidak dikenal, secara biadab memperkosa Sulastri di sebuah rumah kosong yang terletak di dekat SD Inpres,” kata sang rekan, seakan-akan sedang membacakan sebuah berita kriminal di koran mingguan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pagi-pagi ketika anak-anak SD itu bermain di dekat ruumah kosong itu, mereka mendengar rintihan. Waktu ditengok, di dalam rumah kosong itu tampak Sulastri terbaring lemas dengan tubuh tanpa busana. Di tubuhnya banyak luka-luka. Malahan yang paling rusak adalah iii…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Stop!” kataku memotong kalimatnya. Aku sudah bisa membayangkan tanpa dongeng yang lengkap sekalipun pun, bahwa betapa malangnya Sulastri. Ia tentu harus terbaring di rumah sakit sekian hari dengan penanganan medis yang intensif. Aku juga sudah dapat membayangkan, betapa orang tuanya berduka, betapa kakak-kakaknya (Sulastri putri bungsu) sedih berkepanjangan. Dan betapa pacarnya terpukul (Sulastri akan menikah dengan pacarnya itu tiga bulan lagi).&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Malam itu, seperti biasanya Sulastri pulang kuliah,” rekanku memaparkan awal peristiwa menyedihkan itu tanpa kuminta. “Bumi baru saja disiram hujan, sehingga malam terasa lebih sepi. Padahal jam belum menunjuk pada angka sembilan. Sulastri berdiri di pinggir jalan, menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang ke rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiba-tiba di depannya berhenti sebuah mobil colt. Seseorang – Sulastri tentu menduganya ia kernet – menongolkan kepalanya dari jendela pintu mobil seraya menyebut nama sebuah kampung yang akan dituju Sulastri. Tentu saja Sulastri bergegas naik ke mobil itu. Ia sama sekali tidak curiga. Sebab Sulastri mengira colt itu angkutan umum. Lagi pula di dalamnya banyak orang, yang dikira Sulastri mereka adalah penumpang juga….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan terlalu bertele-tele. Singkat saja ceritanya,” potongku. Aku memang bukan orang yang senang mendengar cerita semacam itu. Bukan apa-apa; aku tidak mau perasaanku terlibat kedalam suatu kisah yang menyeramkan. Terus-terang saja aku penakut. Aku takut mengalami hal yang sama seperti dialami Sulastri. Sekalipun aku lelaki, tapi di jaman ini tidak mustahil ada segerombolan perempuan yang memperkosa seorang pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya, Sulastri baru menyadari adanya ketidakberesan ketika mobil itu tidak berhenti di tempat yang ditunjuknya. Malah si sopir lebih mempercepat laju kendaraannya, sementara dua orang lelaki yang berada di bangku belakang dengan cepat membekam mulut dan hidung Sulastri dengan sapu tangan. Sulastri mencium suatu bau yang aneh, dan sesaat kemudian Sulastri sudah tak ingat apa-apa lagi. Sulastri pingsan dibius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sopir colt menghentikan mobilnya di dekat sebuah SD Inpres. Lalu dengan hati-hati para penumpang colt yang berjumlah lima belas orang itu menggotong tubuh Sulastri, membawanya ke sebuah rumah kosong tidak jauh dari SD itu. Kemudian terjadilah perkosaan itu,” kata sang rekan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tercenung sejenak. Lalu tanyaku, “Kau tahu dari mana cerita itu? Dari Sulastri sendiri, atau dari para pemerkosanya? Eh, apakah pemuda-pemuda bragajul itu sudah tertangkap?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Belum. Bangsat-bangsat itu masih buron,” jawabnya yakin. “Aku mendapatkan cerita itu dari Susi. Kau `kan tahu Susi? Makanya aku tahu urutan cerita itu dengan lengkap. Sebab Sulastri pasti menceritakannya kepada Susi. Itu sama saja artinya Sulastri bercerita kepadaku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Aku memang pernah sekelas dengan Susi semasa SMA. Sedangkan Sulastri adalah adik kelasku, teman baik Neni, adiknya Susi. Aku kenal baik Sulastri, soalnya aku pernah naksir dia. Tapi lalu datang Marni dalam kehidupan SMA-ku, sehingga Sulastri terlupakan untuk sementara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empat hari kemudian temanku datang bercerita lagi. Apa yang pernah terbayangkan dalam benakku bahwa setelah kejadian itu Sulastri mungkin akan menjadi gadis paling murung di dunia -- lewat cerita temanku – kini menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Katanya, “Hanya tiga hari Sulastri dirawat di rumah sakit. Tapi itu tidak berarti Sulastri sudah sehat. Orang tua Sulastri terpaksa membawa pulang putrinya, sebab di rumah sakit pun Sulastri tidak mau didekati perawat dan dokter yang akan mengobati luka-lukanya, terutama yang di situ itu. Pengobatan yang pernah diterimanya hanyalah ketika Sulastri pingsan dihari pertama di rumah sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pernah ke situ didatangkan psikiater, dengan harapan Sulastri mau menumpahkan tekanan-tekanan batinnya. Tapi jangankan bercerita, ngomong sepatah dua patah kata pun Sulastri tidak mau. Termasuk kepada orang tua dan kakak-kakaknya. Malah setelah berada di rumah, Sulastri tidak mau ditemui siapa pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana dengan tunangannya?” tanyaku. Aku kira persoalan inilah yang paling penting sekarang. Sulastri sudah jelas bukan perawan lagi. Dan peristiwa yang dialaminya akan menjadi trauma berkepanjangan. Mungkin Sulastri akan merasa dirinya kini sebagai gadis yang tak lagi berharga. Oleh karena itu pengakuan yang sejujur-jujurnya dari si tunangan, mungkin akan menolong Sulastri. Lebih-lebih kalau si tunangan itu mau juga menikahinya dengan kondisi Sulastri seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku belum tahu. Tapi dari cerita Burhan, bekas pacar Sulastri, katanya sih dia belum pernah menjenguk Sulastri,” jawab temanku, dan ia berjanji akan mencari tahu tentang tunangan Sulastri itu. Dan itu memang benar. Lima hari kemudian temanku datang lagi, bercerita bahwa si tunangan itu sama sekali tidak mau menemui Sulastri, padahal oleh kakak-kakaknya telah diberi tahu dan minta tolong agar dia menghibur Sulastri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan itu saja,” kata temanku, “Rencana pernikahan mereka pun dibatalkan oleh lelaki itu. Alasannya `Saya tidak mau menikah dengan barang bekas`. Itu dikatakan si tunangan kepada kakak-kakaknya Sulastri. Lalu salah seorang kakak Sulastri mengatakannya lagi kepada Burhan, dan Burhan meneruskannya Susi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Esok atau lusa aku akan menengok Sulastri. Siapa tahu kepadaku ia mau mengungkapkan tekanan-tekanan batinnya. Gini-gini juga aku pernah merasakan cintanya. Malahan konon kata Susi, pemuda yang sampai kini masih dicintainya adalah aku. Nah dengan modal itu aku kira Sulastri mau menumpahkan kepedihannya. Kau ikut, Rus? Kita sama-sama ke sana,” kata temanku sesaat sebelum pamitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau saja duluan. Aku pasti ke sana. Tapi nanti. Dua tiga hari ke depan aku amat sibuk,” kataku. Namun sebelum aku sempat ke sana, kawanku nongol lagi ke rumahku. Aku sudah bisa menebak dia mau nambah cerita soal Sulastri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kedatangannya kali ini tampak berbeda. Temanku kelihatan murung. Malah dia tidak bergairah ketika aku bertanya bagaimana kondisi Sulastri setelah dia menengoknya. Aku sendiri tiba-tiba merasa was-was, jangan-jangan Sulastri meninggal dunia, atau bunuh diri, atau paling tidak, menjadi gila karena tidak tahan tekanan batin akibat pemerkosaan yang dialaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“He, kenapa diam? Apakah ada sesuatu yang lebih buruk menimpa Sulastri?” tanyaku.&lt;br /&gt;
Temanku menggelengkan kepala. Lalu katanya, “Manusia sekarang benar-benar sudah keterlaluan.”&lt;br /&gt;
“Maksudmu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua cerita tentang Sulastri sama sekali tidak benar. Ketika aku berkunjung ke rumahnya, Sulastri sehat wal afiat. Bahkan tak ada luka sekecil apa pun di tubuhnya. Sulastri justru terkejut ketika aku menceritakan bahwa dia diperkosa lima belas pemuda berandal. Kemudian Sulastri terbahak. Aku dikatakannya telah tertipu ulah Susi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Susi sendiri bagaimana, telah kau datangi, atau mungkin telah kau maki-maki karena telah menyebarkan cerita bohong itu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itulah edannya. Susi ternyata mendapatkan khabar pemerkosaan Sulastri itu dari berbagai pihak, sebagian dari Si Burhan, sebagian dari Si Dodi, sebagian dari tukang becak, dan sebagian lagi Susi mendengarnya dari calo-calo terminal tempat dia biasa naik angkutan umum ke kampusnya. Ketika aku menemui Si Burhan dan Si Dodi untuk menanyakan dari mana mereka mendengar khabar Sulastri diperkosa, keduanya juga mengatakan bahwa khabar itu diperoleh dari orang lain. Apakah itu bukan sesuatu yang edan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahan. Tawaku seketika meledak. Sementara wajah temanku tampak merenggut. Mungkin dia tersinggung aku mentertawakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Okelah kalau begitu,” kataku kemudian. “Semuanya jelas. Sulastri tidak kenapa-napa, dan kita patut bersyukur. Tapi aku sendiri tetap aku berkunjung rumah Sulastri. Aku akan menceritakan kepadanya bahwa kau depresi berat lantaran merasa bersalah telah menyebarkan khabar bohong tentang Sulastri. Tapi tentu saja yang lebih penting lagi adalah silaturahmi. Sudah lama juga aku tidak bersua Sulastri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esoknya memang aku berkunjung ke rumah Sulastri. Kakak tertuanya menyambut kedatanganku di teras rumah. “Kebetulan Dik Rus datang ke sini. Ayo sama-sama saja kita ke rumah sakit. Sulastri ada di sana,” katanya tanpa mempersilakan aku masuk. Dia sendiri memang kelihatan seperti akan keluar rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Sulastri sakit? Bapak atau Ibu yang sakit, atau yang lain?”&lt;br /&gt;
“Nanti kita lihat saja di rumah sakit,” jawabnya.&lt;br /&gt;
Aku tak lagi bertanya, sekalipun benakku dipenuhi rasa heran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, kakak Sulastri pun tak bicara. Dari raut wajahnya aku melihat kesedihan. Itu tentu karena ada keluarganya yang dirawat di rumah sakit. Tapi siapa? Aku baru tahu ketika setibanya di rumah sakit, kakaknya Sulastri langsung membawaku ke sebuah ruangan rawat-inap. Di situ aku melihat kedua orangnya, kakak-kakaknya yang lain, dan juga ada beberapa gadis dan pemuda yang aku kira mungkin teman-teman kuliahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka berdiri di sisi tempat tidur. Aku mendekat. Di situ aku lihat Sulastri terbaring. Matanya terpejam. Wajahnya penuh dengan memar biru kehitaman. Sementara tarikan napas tampak amat lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Sulastri?” tanyaku perlahan kepada kakaknya yang datang bersamaku. Dia lalu menyeretku ke sebuah sudut ruangan. Dengan suara rendah dia mengatakan bahwa tadi malam sekitar pukul sembilan, Sulastri diperkosa oleh lima belas pemuda bragajul di sebuah rumah kosong di pinggir jalan desa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak terlukiskan bagaimana aku terkejutnya mendengar khabar itu. Terlebih lagi kejadiannya hampir sama dengan cerita bohong yang disampaikan temanku itu. Apakah hanya suatu kebetulan semata? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, maksudku hanya akan tahu, bahwa temanku itu akan semakin depresi kalau ia kemudian tahu bahwa tiga hari setelah ia berkunjung ke rumahnya, Sulastri benar-benar jadi korban perkosaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Cerpen lama, pernah dimuat di HU.Bandung Pos awal 90-an)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/8696383705795348860/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/12/sulastri-diperkosa.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8696383705795348860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8696383705795348860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/12/sulastri-diperkosa.html' title='Sulastri Diperkosa'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiF15uxV-WMalNlcY97N_dLnCnhNSRaoA3smMuGnOa73HtNk_KvVLwIgnLVOQtgIcNuseILiOGWR9TsQblG2f8eaGmgUdwCy5hMMw49BkCW8EpEqRjt2bb93fiu5-1ug2pCkRpYHBRjFWyt/s72-c/b5516769_m_5516771_8588.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2940166908591505839</id><published>2010-11-01T09:58:00.001+07:00</published><updated>2010-11-01T10:04:23.293+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Lama"/><title type='text'>Kemana Martini Harus Kucari?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiD6Eo_mUMQwuzrx0lhUIKPE0FRhjUez_NiNhg-Wzzbb0pB1E56lwqyJVcgvC-7sxxontX1HxqcD3FniTCdiMkmrwn6w2Jsxz94eH-BjWPF1ymACf-BNc-UNaz5mdY2_SJY4BwMYpIGrUV/s1600/Ilustrasi+Martini.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;174&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiD6Eo_mUMQwuzrx0lhUIKPE0FRhjUez_NiNhg-Wzzbb0pB1E56lwqyJVcgvC-7sxxontX1HxqcD3FniTCdiMkmrwn6w2Jsxz94eH-BjWPF1ymACf-BNc-UNaz5mdY2_SJY4BwMYpIGrUV/s200/Ilustrasi+Martini.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tidak seorang pun karyawan di Perusahaan Pembalut Wanita itu tahu siapa Martini sebetulnya.  Di mana tempat  tinggalnya dan siapa orang tuanya, tak ada yang tahu. Yang  mereka tahu Martini itu sekretaris bos. Dia cakap, cantik, luwes – itu pasti – dan ramah. Kata-kata yang keluar dari mulutnya yang bagus itu enak didengar. Malahan bau mulutnya pun terasa segar. Begitu juga keringatnya, harum. Tapi mereka tidak tahu siapa Martini sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka hanya tahu Martini merupakan karyawan yang paling rajin dan senantiasa datang paling pagi. Sehingga mereka tidak tahu dengan siapa Martini diantar ke kantor, apakah dengan pacarnya, dengan suaminya atau orang tuanya. Ketika kantor bubaran pun sekitar jam empat sore, para karyawan hanya bisa melihat Martini selalu naik bis kota jurusan C, yang kebetulan tidak ada karyawan lain di perusahaan itu yang pulang ke arah sana.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tidak perdulikah para karyawan di sana kepada Martini, sehingga mereka sama sekali tidak tahu asal-usul Martini? Mungkin bukan itu penyebabnya. Tapi justru karena sosok Martini sendiri. Kecantikan dan keramahannya menebarkan pesona luar biasa  yang membuat orang didekatnya seperti kena hipnotis. Itu diakui seorang karyawan, “Kalau sudah berhadapan dengan Martini, kita seolah-olah kehilangan kata-kata. Entah kenapa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karyawan lain juga merasa begitu. “Sebetulnya kepengen sih saya menanyakan apakah  Martini sudah punya pacar atau belum, atau barangkali sudah bersuami. Kalau belum bersuami atau belum punya pacar sama sekali, kenapa begitu. Padahal Martini cantik luar biasa,” katanya kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya juga kepengen menanyakan di mana tempat tinggalnya dan apakah masih memiliki ayah-ibu serta saudara. Kalau ya berapa orang saudaranya. Saya kepengen sekali menanyakan itu semua. Namun ketika berhadapan dengan Martini, lantas saya dikasih senyumnya yang manis dan mimik wajahnya yang ceria, tiba-tiba saja keinginan itu hilang. Dan saya jadi berpikir buat apa menanyakan itu semua. Apa untungnya bagi saya. Dengan melihat Martini tersenyum saja, kok hati saya merasa sudah cukup puas mengenal Martini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal senada pernah juga diungkapkan karyawan lain kepadaku. Katanya, “Kita umumnya merasa gatal pengen tahu masalah-masalah pribadi orang lain. Lebih-lebih bila orang itu cantik dan menarik seperti Martini. Tapi aneh kepada Martini, kita seakan-akan tak bisa buka mulut. Saya sendiri pernah mencoba beberapa kali untuk menanyakan asal-usulnya. Tapi itu lenyap seketika sesaat selah saya berhadapan dengan Martini. Saya lupa segalanya kalau Martini sudah tersenyum dan ngajak ngobrol.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan aku ketahui pula bahwa petugas di bagian personalia pun tidak tahu siapa Martini sebetulnya. Tak pernah tercatatkan status atau biografinya di buku induk pegawai, sebagaimana lazimnya catatan tentang seorang karyawan tetap. Untuk Martini semua itu seolah-olah terlupakan. Tapi alasan petugas personalia, seperti dikatakannya kepadaku, sederhana saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Martini hadir sebagai karyawan Perusahaan Pembalut Wanita tanpa prosedur yang jelas, sebagaimana ketentuan-ketentuan yang telah diatur perusahaan. Kali pertama Martini muncul di ruangan saya adalah ketika ia ke sini bersama bos. Kata beliau waktu itu `Ini Martini, pegawai baru kita. Tolong catat namanya`. Hanya begitu kata bos seraya ke luar lagi bersama Martini. Tak ada penyerahan berkas tentang data-data Martini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kau kan bisa menanyakannya langsung kepada Martini dilain kesempatan? Kan kau juga tahu data-data tentang seorang karyawan sangatlah penting, ” ujarku ketika itu. Aku merasa berhak bertanya begitu karena di perusahaan itu aku punya jabatan yang erat kaitannya dengan urusan tetek-bengek karyawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kata bos itu tidak perlu. Yang penting Martini tercatat sebagai karyawan perusahaan ini dan kerjanya memuaskan. Atau kalau memang Bapak masih menghendaki data-data Martini, bagaimana kalau Bapak sendiri yang menanyakannya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah! Pada dasarnya aku pun seperti kebanyakan karyawan lain, kepengen bertanya ini-itu, namun ketika sudah berhadapan dengan Martini dan dikasih senyumnya yang amat manis serta nada bicaranya yang enak didengar, membuat keinginan itu lenyap seketika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi begitulah! Selama enam bulan ini Martini menjadi sosok teka-teki yang rumit, tapi menarik untuk digunjingkan. Ada sebagian karyawan yang bilang bahwa Martini merupakan gadis simpanan bos, dengan bukti-bukti asal-usulnya tidak jelas. “Dengan begitu, kalau istri bos tahu bahwa bos nyeleweng, Martini akan terlindungi, kerena alamatnya tidak ada,” katanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Martini sebetulnya sanak famili bos sendiri. Sebab kalau Martini orang lain, bos tentu akan menyuruh bawahannya mencatat segala data tentang Martini, sehingga kalau misalnya Martini membawa kabur uang kantor dapat disusul ke rumahnya atau meminta pertanggungjawaban keluarga atau orang tuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga ada yang berpendepat bahwa Martini sebetulnya seorang polwan dari bagian intel yang sengaja dipekerjakan bos di perusahaannya. Jadi sifatnya sementara. Karenanya segala tetek-bengek tentang  asal-usul Martini dianggap tidak penting oleh bos. Sedangkan tugas yang dibebankan kepadanya mungkin menyangkut berbagai hal, mulai dari lalu-lintas keungan perusahaan hingga kemungkinan adanya mata-mata dari perusahaan sejenis yang mencoba mencuri formula pembuatan pembalut wanita. Maklum produk pembalut wanita dari perusahaan tempat saya bekerja terbilang laris dan digandrungi kaum perempuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pendapat mayoritas dari para karyawan menyebutkan bahwa Martini mula-mula datang ke perusahaan itu sebagai tenaga praktekan dari sebuah akademi sekretaris. Selama praktek, bos menilai Martini punya potensi menjadi karyawan teladan. Sehingga kemudian bos memintanya untuk menjadi karyawan tetap. Atau boleh jadi selama kerja praktek itu, bos jatuh cinta kepada Martini, lalu bos memintanya untuk terus bekerja di perusahaan itu agar mereka dapat bercinta kapan saja. Soal data-data Martini yang semestinya dicatat bagian personalia, terlupakan oleh bos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai enam bulan ini Martini memang jadi bahan obrolan. Namun pagi tadi para karyawan tampak celingukan. Meja tempak kerja Martini, yang persis berada di depan ruangan bos, hingga pukul Sembilan masih kosong. Martini belum masuk kantor. Ini aneh dan tidak biasanya. Bahkan sampai istirahat siang tiba, sekretaris cantik itu belum juga kelihatan. Inilah untuk pertama kalinya Martini absen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi rupanya tak hanya hari ini. Esoknya Martini juga absen, sehingga para karyawan bertanya-tanya, “Ke mana Martini?” Sebagian menduga Martini mungkin sakit. Yang lain bilang mungkin Martini pulang kampung dan tak sempat mengasih khabar ke kantor. Bahkan ada juga yang berpikiran Martini mungkin dibunuh komplotan penjahat setelah seluruh kekayaannya dirampok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, jangan-jangan Martini diperkosa dan sekarang berada di rumah sakit,” pendapat karyawan lainnya lagi, “Piihak rumah sakit tidak bisa menyampaikan khabar ke kantor kita oleh karena tak ada alamat kantor ini dalam dokumen-dokumen yang dibawa Martini di tasnya. Atau boleh jadi karena Martini merasa malu telah diperkosa. Jadi dia menganggap tidak usah mengasih khabar kepada bos.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karyawan lain menduga lebih gila lagi. Katanya, Martini mungkin ketabrak sedan yang dikemudikan pemuda sableng di suatu tempat yang sunyi, sehingga dengan enaknya si pemuda membawa Martini lalu melemparkannya ke sebuah jurang yang sangat dalam, yang di sana telah menanti ular-ulah besar pemakan bangkai. Sehingga dengan begitu jejak tabrakan itu tak berbebas, dan si pemuda sableng kembali menyetir sedannya sambil bersiul-siul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi dugaanku sih Martini telah menikah dengan pemuda pilihannya.  Karena itu Martini merasa tidak perlu bekerja lagi,  sebab sudah ada suami yang memberinya napkah. Hal itu menurut Martini tak perlu disampaikan kepada bos, toh datangnya ke kantor ini pun secara tak terduga, maka perginya pun secara tak terduga pula,” kata karyawan dari bagian pemasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai seminggu Martini belum juga masuk kantor, dan aku kemudian dipanggil bos. Beliau menanyakan mengapa Martini belumj juga bekerja. Tentu saja aku gelagapan ditanya begitu.  Sebab aku sendiri memang tidak tahu karena apa Martini absen dalam seminggu ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Coba hubungi ke rumahnya. Barangkali dia sakit dan perlu uang buat berobat ke dokter. Kasihan kan?” kata bos, “Lagi pula kantor kita butuh tenaga Martini. Coba kamu lihat, selama seminggu Martini tidak hadir, acara saya berantakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi kita tidak punya alamatnya, Pak?”&lt;br /&gt;
“Ah, masak sih?” bos tampak keheranan. “Tapi kalau memang belum tercatat, coba tanyakan kepada karyawan lain. Pasti ada yang tahu. Saya ingin dengar khabarnya besok,” ujar bos seraya menyandarkan punggungnya ke kursi. Dan aku paham maksud beliau bahwa pembicaraan sudah selesai. Aku pun keluar dari ruangan bos.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil melangkah, otakku berputar, kemana aku harus mencari Martini kalau di perusahaan ini tak tercatat alamatnya? Siapa yang harus kuhubungi  kalau Martini selama ini terkesan seperti mahluk yang keluar dari belahan batu? Para karyawan, seperti yang kuduga sebelumnya, memang tak seorang pun tahu di mana Martini tinggal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haruskah aku menanyai setiap sopir, kernet  dan kondekutur bis kota jurusan C, di mana kira-kira Martini selalu turun? Tapi hapalkah mereka kepada penumpang bernama Martini? Kalau pun ada yang hapal bahwa Martini selalu turun di halte anu, lalu aku harus mencari kemana lagi? Kecil kemungkinan begitu Martini turun dari bis kota, dia sudah sampai di rumahnya, atau hanya perlu puluhan langkah dari halte itu untuk sampai ke rumahnya.  Kemungkinan besar  dari halte itu Martini naik beca lagi, atau mungkin naik bis kota lagi ke jurusan lain. Haruskah aku menanyakannya juga kepada setiap tukang becak dan setiuap sopir bis kota di kotaku?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar bingung. Sampai aku pulang ke rumah, aku belum bisa memutuskan ke mana aku harus mencari Martini, atau siapa yang harus aku hubungi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;(Cerpen lama, pernah dimuat di HU Bandung Pos sekitar awal 90-an, dan diedit di sana-sini tanpa mengurangi substansi cerpen aslinya)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2940166908591505839/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/11/kemana-martini-harus-kucari.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2940166908591505839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2940166908591505839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/11/kemana-martini-harus-kucari.html' title='Kemana Martini Harus Kucari?'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiiD6Eo_mUMQwuzrx0lhUIKPE0FRhjUez_NiNhg-Wzzbb0pB1E56lwqyJVcgvC-7sxxontX1HxqcD3FniTCdiMkmrwn6w2Jsxz94eH-BjWPF1ymACf-BNc-UNaz5mdY2_SJY4BwMYpIGrUV/s72-c/Ilustrasi+Martini.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-3656561656067068864</id><published>2010-10-28T13:17:00.000+07:00</published><updated>2010-10-28T13:17:25.013+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Mbah Maridjan dan Sumpah Pemuda</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYeLrdoLFkIjzlXN6PYYK3XGVTrWfFlbUcnDCxrYEjAHWxrfVJC7b8_ZMyWylTyfztxIYVe88LEUjuScJpZpaq8nSS8o5YBlCUxjl7FlQ6RBfxZ8wVTq4n5ODOL6m5m-4JD0oJjQXT1oOg/s1600/abig_1288197501.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYeLrdoLFkIjzlXN6PYYK3XGVTrWfFlbUcnDCxrYEjAHWxrfVJC7b8_ZMyWylTyfztxIYVe88LEUjuScJpZpaq8nSS8o5YBlCUxjl7FlQ6RBfxZ8wVTq4n5ODOL6m5m-4JD0oJjQXT1oOg/s1600/abig_1288197501.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Apa kaitannya mBah Maridjan dengan Sumpah Pemuda? Memang secara langsung tidak ada. Bahkan untuk ikut memperingati Hari Sumpah Pemuda, Kamis 28 Oktober 2010 pun, Juru Kunci Gunung Merapi itu sudah tidak bisa. Sebab beliau keburu wafat bersama puluhan warga Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman,  akibat letuhan Gunung Merapi, Senin lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kalau kita cermati, ada hal yang layak jadi renungan kita, khususnya para pemuda, disaat kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, sekaligus disaat negeri kita tengah diguncang berbagai bencana alam. Yakni kesetiaan mBah Maridjan pada sumpahnya untuk menjadi juru kunci Gunung Merapi. Tapi untuk itu kita agaknya perlu memperjelas dulu istilah “juru kunci”.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Memang di beberapa tempat, apalagi bila terkait dengan makam-makam keramat,  juru kunci merupakan sebutan lain untuk kuncen. Aktivitasnya, merawat makam keramat, memberi penjelaskan kepada para tamu yang berziarah ke sana perihal “ketokohan” orang  yang kini makamnya dikeramatkan, serta memimpin doa-doa dan semacamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak tahu apakah di Gunung Merapi juga ada makam keramat dengan juru kunci mBah Maridjan, karena saya belum pernah bertandang ke sana. Tapi sebutan juru kunci yang melekat pada mBah Maridjan, seperti yang saya baca dari media, tampaknya memang berbeda dengan sebutan juru kunci di tempat yang ada makam keramatnya.  Tugas mBah Maridjan sebagai juru kunci tak lain untuk menjaga Gunung Merapi, seperti diungkapkan Sri Sultan Hamengku Buwono X.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai juru kunci Gunung Merapi, kata Sri Sultan, selama ini memang mBah Maridjan sulit untuk diajak mengungsi setiapkali Gunung Merapi memasuki fase erupsi. “Itulah wujud tanggung jawab dia sebagai juru kunci yang selalu menjaga Gunung Merapi,” katanya seperti ditulis &lt;a href=&quot;http://www.harianpelita.com/read/7280/37/feature/sultan--mbah-maridjan-sosok-bertanggungjawab/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Harian Pelita&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perannya seperti itu agaknya bisa lebih diperjelas dengan pesan mBah Maridjan sendiri yang disampaikan  kepada KH.Hasyim Muzadi, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU). Kata Pak Kiai di Harian Pelita (Kamis/28/10/2010), mBah Maridjan pernah berpesan dalam bahasa Jawa, yang kalau diterjemahkan artinya `Anda adalah teman dari orang-orang besar, harus serius dan bersungguh-sungguh, semoga alam ini tentram`. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pesan itu sangat dalam artinya,” ujar KH.Khasyim Muzadi yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS).  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang Pak Kiai tidak menjelaskan sedalam apa pesan mBah Maridjan itu untuk para pengambil kebijakan di negeri ini. Tapi pesan seperti itu agaknya bisa lebih menguatkan tugas mBah Maridjan sebagai juru kunci penjaga Gunung Merapi. Dengan kata lain, juru kunci sebagai penjaga hutan dan lingkungan alam.  Sebab memang khabarnya begitulah sumpah mBah Maridjan ketika diangkat sebagai juru kunci Gunung Merapi oleh Keraton Ngayogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan dan sumpah itulah yang layak kita renungkan, khususnya para pemuda, disaat kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Khususnya lagi terkait sumpah “bertanah air satu, tanah air Indonesia”.  Sebab sumpah semacam itu sesungguhnya tidak semata janji kita untuk menjaga kesatuan dan persatuan negeri ini. Namun juga menjaga “tanah” dan “air” itu sendiri, yang merupakan bagian terpenting dari hutan dan lingkungan hidup. Tanpa tanah dan air, kita bisa apa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu menjaga “tanah” dan “air” sama pentingnya dengan menjaga keutuhan Republik Indonesia. Apalagi kondisi lingkungan alam kita belakangan ini disebut-sebut sudah banyak yang rusak. Hutan-hutan banyak yang gundul; sungai-sungai banyak yang tercemar limbah industri. Hal itu memang dampak lain dari derap pembangunan. Atau dengan kata lain, alam memang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Tapi tak bisakah kita mengurangi dampak negatif dari upaya pemanfaatan alam itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ilmu dan teknologi yang semakin maju, saya kira dampak negatif itu bisa ditekan sekecil mungkin. Dan untuk itu, pemuda yang dalam sejarah kita telah terbukti selalu menjadi pelopor perubahan, tentu dapat lebih menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian alam dan lingkungan hidup sebagai wujud sumpah pemuda “bertanah air satu tanah air Indonesia”. Jadi di sinilah saya kira letak kaitan mBah Maridjan dengan Peringatan Sumpah Pemuda.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/3656561656067068864/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/mbah-maridjan-dan-sumpah-pemuda.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3656561656067068864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3656561656067068864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/mbah-maridjan-dan-sumpah-pemuda.html' title='Mbah Maridjan dan Sumpah Pemuda'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYeLrdoLFkIjzlXN6PYYK3XGVTrWfFlbUcnDCxrYEjAHWxrfVJC7b8_ZMyWylTyfztxIYVe88LEUjuScJpZpaq8nSS8o5YBlCUxjl7FlQ6RBfxZ8wVTq4n5ODOL6m5m-4JD0oJjQXT1oOg/s72-c/abig_1288197501.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2797841919777803216</id><published>2010-10-15T13:36:00.000+07:00</published><updated>2010-10-15T13:36:42.511+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>One Day No Rice</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM1iIFHIwQd3dMaFJE8S2lSF2gU4Eq5oZ7QfZpU7HzVLJETKrNADHMij9f-p9jysmSWQRglii-irmg0boI8dD4r-o0FAkOUfWDj4dTxN-oYBZZdqB10EnYHnTDrErGdvllrfuzGqjJfFeW/s1600/beras.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;181&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM1iIFHIwQd3dMaFJE8S2lSF2gU4Eq5oZ7QfZpU7HzVLJETKrNADHMij9f-p9jysmSWQRglii-irmg0boI8dD4r-o0FAkOUfWDj4dTxN-oYBZZdqB10EnYHnTDrErGdvllrfuzGqjJfFeW/s200/beras.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lontong, ketupat dan bubur memang bahan bakunya sama, yakni beras. Begitu juga nasi, asalnya dari beras juga. Tapi kalau sudah menyangkut &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;perut kita&lt;/a&gt;, yang namanya lontong, ketupat dan bubur, berbeda dengan nasi. Paling tidak bagi saya dan umumnya masyarakat di daerah saya, Cianjur, Jawa Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud saya begini: sekalipun perut saya telah diisi bubur, atau yang agak padat seperti lontong dan ketupat, tapi saya tetap menganggap belum makan. Sebab bagi saya, yang disebut makan adalah &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;makan nasi&lt;/a&gt;. Sedangkan yang disebut makan bubur, makan lontong atau makan ketupat, itu namanya &lt;i&gt;nyaneut&lt;/i&gt; (semacam makan ringan) yang tak beda dengan makan mie-bakso, martabak atau roti. Dan hal itu dimaksudkan sekedar untuk menahan lapar sampai akhirnya ketemu nasi. &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Begitulah pola konsumsi saya sejak kecil. Makan nasi sangat pokok. Lalu kalau sekarang ada kampanye One Day No Rice (sehari tanpa makan nasi, katanya dalam seminggu), bisakah perut saya menerimanya? Atau barangkali untuk menghormati ajakan kampanye dari pemerintah itu, sebaiknya saya puasa saja sekaligus, toh sama saja hari itu saya tidak makan nasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang sama, tapi jelas tidak sebangun. Puasa bernilai ibadah. Sedangkan One Day No Rice bernilai penghematan. Lebih tepatnya, One Day No Rice yang merupakan bagian dari kegiatan Kementerian Pertanian dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2010, lebih bertujuan kepada upaya untuk mengurangi &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;konsumsi beras&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampanye One Day No Rice, kata Menteri Pertanian Suswono seperti dilansir &lt;a href=&quot;http://www.detikfinance.com/read/2010/10/14/110814/1464718/4/mentan-jangan-tunggu-kena-diabetes-baru-tak-makan-nasi&quot; target=&quot;new&quot;&gt;detikfinance&lt;/a&gt;, akan mendukung ketahanan stok dan diversifikasi pangan. Bahkan dengan mengkonsumsi pangan yang beragam bisa menjadi perbaikan gizi masyarakat. Caranya pun tidak harus dilakukan sehari penuh, namun porsi nasi bisa dikurangi satu porsi sehari. Sehingga dalam waktu tiga hari setara dengan tak makan nasi sehari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi rupanya kampanye One Day No Rice itu boleh diubah menjadi “one day a little rice”. Karena yang penting tujuannya tercapai, yakni berkurangnya konsumsi beras, sekaligus terciptanya diversifikasi &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;pangan&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu rupanya perlu dilakukan, sebab secara nasional ketergantungan masyarakat kita terhadap beras, sangat tinggi. Seperti dikatakan Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Mulyono Muchtar, pada era tahun 1950-60-an ketergantungan pangan masyarakat Indonesia pada beras masih sebesar 53%, namun kini ketergantungan itu semakin tinggi hingga mencapai 92-95%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setujulah kalau One Day No Rice itu bertujuan ke sana. Soalnya saya sendiri selama ini telah mempraktekkan sebagian &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;ajakan&lt;/a&gt; itu. Saya memang terbiasa makan nasi sehari dua kali (standarnya tiga kali sehari). Bahkan saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang tinggal di pedesaan, di kolong-kolong jembatan di kota-kota besar, terkadang hanya sehari sekali makan nasi,  malah mungkin sehari tak ketemu nasi. Mereka telah lebih dulu melaksanakan One Day No Rice sebelum pemerintah mengkampanyekannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari itu, saya juga setuju One Day No Rice. Sebab ada kecenderung areal pesawahan di negeri kita semakin hari semakin banyak yang berubah fungsi menjadi kompleks perumahan, pabrik dan semacamnya, sementara upaya pencetakan sawah baru luasnya tidak signifikan, kalau pun tidak dikatakan tidak ada. Itu artinya, produksi beras nasional akan berkurang sekalipun upaya intensifikasi pertanian  digiatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sisi lain mulut yang harus &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;disuapi&lt;/a&gt; nasi semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan penduduk. Sehingga akan menjadi persoalan sangat serius bila nanti produksi beras tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Memang untuk itu bisa ditempuh jalan pintas, yakni mengimpor beras. Tapi impor beras ke negeri yang katanya subur makmur ini selalu menuai pro-kontra. Makanya, mungkin, dicari jalan terbaik, yakni dengan cara mengurangi konsumsi beras, yang langkahnya antara lain berupa kampanye One Day No Rice.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi memang tidak mudah mengubah pola konsumsi masyarakat yang sudah mengakar.  “Dari jaman purbakala, di khatulistiwa cocok dengan beras. Mengubah budaya tidak gampang. Ok dikurangi, tapi harus ada pengganti yang rasanya enak dan murah,” kata Ayong Suherman Dinata, pemilik PT Alam Makmur Sembada kepada &lt;a href=&quot;http://www.detikfinance.com/read/2010/10/12/160117/1462593/4/kampanye-one-day-no-rice-dinilai-untuk-atasi-anjloknya-produksi-beras&quot; target=&quot;new&quot;&gt;detikfinance&lt;/a&gt; mengomentari kampanye One Day No Rice.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayong menyatakan pengalaman negara-negara seperti Jepang dan Hong Kong yang berhasil mengurangi konsumsi beras masyarakatnya tidak terlepas dari dukungan daya beli masyarakat di negera-negara tersebut yang memang sudah sejahtera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul juga tuh. Singkong atau gaplek, memang bisa jadi makanan enak sebagai pengganti nasi, kalau diolah sedemikian rupa. Lalu sebagai temannya disajikan rendang daging sapi atau panggang ayam bakar, ditambah sayur cap-cay atau lodeh nangka. Pasti &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;santapan&lt;/a&gt; seperti itu akan penuh gizi dan sehat. Tapi untuk itu memang perlu duit, sedangkan kondisi sekarang banyak  masyarakat kita yang daya belinya rendah.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagi mayoritas masyarakat kita makan nasi tetap pilihan utama. Nasi hangat dengan garam pun, terasa nikmat dan kenyang. Atau dengan sedikit variasi yakni &lt;i&gt;nasi tutug oncom&lt;/i&gt; (nasi yang dicampur dengan bubuk oncom yang sebelumnya telah dipanggang di atas api alakadarnya), pasti lezat, sekalipun memang minus gizi. Yang penting &lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;nasinya&lt;/a&gt; ada.... every day to eat rice, dan bukan one day no rice.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2797841919777803216/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/one-day-no-rice.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2797841919777803216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2797841919777803216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/one-day-no-rice.html' title='One Day No Rice'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM1iIFHIwQd3dMaFJE8S2lSF2gU4Eq5oZ7QfZpU7HzVLJETKrNADHMij9f-p9jysmSWQRglii-irmg0boI8dD4r-o0FAkOUfWDj4dTxN-oYBZZdqB10EnYHnTDrErGdvllrfuzGqjJfFeW/s72-c/beras.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-400319981688558478</id><published>2010-10-11T09:29:00.001+07:00</published><updated>2010-10-11T09:34:46.446+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Feature"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pernik-pernik"/><title type='text'>Bingung Mau Pilih Siapa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq6SNoOtz4QJjTUF1FVo4qbSyGem8_uYLacAUMGeceTu0yMFPg2yAqcyWYuIdzshhxshpr4UrHtCbC9ffk2O6JiNL8EPVXhfAHKym5iifztXNCT1B70WhuzmtlZuTArYPElIUMb1A8zxwX/s1600/confused1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq6SNoOtz4QJjTUF1FVo4qbSyGem8_uYLacAUMGeceTu0yMFPg2yAqcyWYuIdzshhxshpr4UrHtCbC9ffk2O6JiNL8EPVXhfAHKym5iifztXNCT1B70WhuzmtlZuTArYPElIUMb1A8zxwX/s320/confused1.jpg&quot; width=&quot;264&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pemungutan suaranya memang masih lama, sekitar tiga bulan lagi, tepatnya Senin, 10 Januari 2011 seperti yang dijadwalkan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Cianjur, Jabar. Tapi rasa bingung mau milih siapa dalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) kali ini, sudah lengket di pikiran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mestikah saya golput? Bagi saya itu bukan pilihan bijak, sekalipun golput juga adalah sebuah pilihan. Saya tetap menganggap pemilu dan pemilukada penting, sekalipun saya hanya memiliki satu suara. Tapi kok bingung siapa yang harus saya pilih? Bagaimana pula bila istri saya, bapak/ibu mertua dan saudara-saudara saya, bertanya kepada saya, “siapa yang harus dipilih nanti?” (maklumlah, sekalipun cuma orang biasa, namun saya kerap juga jadi referensi dalam urusan coblos-mencoblos ini he he he…). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang harus saya sebutkan bila mereka bertanya begitu? Atau, mestikah mereka juga saya ajak untuk golput? Wah, celaka! Saya bisa-bisa dibui dengan tuduhan memprovokasi orang lain untuk menggagalkan pemilukada. Sebab kata orang-orang yang terkait dengan pelaksanaan pemilu/pemilukada, mengajak golput kepada orang lain termasuk pelanggaran hukum, sekalipun golput  itu sendiri adalah sebuah pilihan dalam berdemokrasi.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Ah jadi tambah bingung nih! Padahal saya sendiri belum tentu golput. Saya hanya bingung mau milih siapa dalam pemilukada kali ini. Soalnya ada delapan pasang bakal calon (balon) kepala daerah (bupati/wakil bupati) Cianjur periode 2011-2016 yang terdaftar di KPUD setempat, yakni lima pasang dari  jalur parpol dan tiga pasang dari jalur non-parpol alias independen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka -- nama-nama lengkapnya dapat dilihat &lt;a href=&quot;http://cianjurpost.blogspot.com/2010/10/jumlah-balonbupwabup-cianjur-bakal.html&quot; target=&quot;”new”&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt; – memang layak menjadi pemimpin, dan saya yakin pula mereka pun punya bekal kepemimpinan yang memadai. Apalagi mereka yang berasal dari birokrasi. Pengetahuan, pemahaman dan pengalaman dalam pemerintahan, tentunya telah mendarah-daging.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bagi saya persoalannya bukan cuma itu. Saya ingin bupati dan wakil bupati Cianjur periode mendatang itu merupakan pemimpin-pemimpin yang tidak mementingkan diri, keluarga dan kelompoknya, bersungguh-sungguh melaksanakan apa yang dijanjikannya saat kampanye, serta mau mendengar keluhan-keluhan rakyat untuk kemudian diwujudkan dalam suatu program pembangunan yang terencana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhana bukan? Bahkan keinginan seperti itu akan sangat mudah dilaksanakan oleh kepala daerah yang tanpa gelar kesarjanaan sekalipun. Tapi lagi-lagi persoalannya bukan sekedar itu. Persoalannya justru terletak pada niat sesungguhnya para balon bupati dan wakil Cianjur itu: apa tujuan sesungguhnya mereka ingin menjadi pemimpin? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah yang belum saya dengar dari mereka yang kini tercatat di KPUD Cianjur sebagai balon bupati dan balon wakil bupati. Makanya saya bingung mau milih siapa. &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/400319981688558478/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/bingung-mau-pilih-siapa.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/400319981688558478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/400319981688558478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/bingung-mau-pilih-siapa.html' title='Bingung Mau Pilih Siapa'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgq6SNoOtz4QJjTUF1FVo4qbSyGem8_uYLacAUMGeceTu0yMFPg2yAqcyWYuIdzshhxshpr4UrHtCbC9ffk2O6JiNL8EPVXhfAHKym5iifztXNCT1B70WhuzmtlZuTArYPElIUMb1A8zxwX/s72-c/confused1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-5915714771091642689</id><published>2010-10-01T10:47:00.000+07:00</published><updated>2010-10-01T10:47:08.208+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Berlomba-lomba untuk Menjadi Pemimpin</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC3n6D0FY9Qnz-h37_vBxFrKz16VTBlwRAfTnOfMUJu3KjL8qHQ3aRClasKKni4zxDOZ9Cn62ZyeY4O2GSKyKLa5MohmqLm_a6DTCzicZBRweTj3DavY4EaTIPdi778uc8Nx0Df_eoiXML/s1600/running-marathon.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;160&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC3n6D0FY9Qnz-h37_vBxFrKz16VTBlwRAfTnOfMUJu3KjL8qHQ3aRClasKKni4zxDOZ9Cn62ZyeY4O2GSKyKLa5MohmqLm_a6DTCzicZBRweTj3DavY4EaTIPdi778uc8Nx0Df_eoiXML/s200/running-marathon.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ada hal yang sangat menarik di negeri ini pasca kran demokrasi dibuka selebar-lebarnya. Yakni, ternyata begitu banyak orang yang berambisi menjadi pemimpin. Orang berlomba-lomba bikin partai politik dengan harapan akan terpilih menjadi menteri – kalau mungkin presiden – atau paling tidak menjadi anggota DPR/DPRD. Dan ketika pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) dibuka, orang pun berlomba-lomba mengejar kursi gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakilwalikota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Termasuk di situ, para selebritis kita. Ada belasan artis yang coba-coba terjun ke dunia politik dan ikut pemilukada. Mereka rupanya belum puas atas peran keartisannya yang “sekedar” menghibur halayak, sehingga mereka lalu terjun ke dunia politik dan pemerintahan supaya, mungkin, perannya bisa lebih luas dan terasa oleh rakyat. Atau lebih jauhnya barangkali mereka menganggap dunia politik dan pemerintahan sama saja dengan dunia hiburan: membuat rakyat senang? Saya tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Yang jelas, sebagian dari para selebritis itu gagal karena hanya menawarkan populeritas, sebagian lagi beruntung bisa duduk di kursi DPR/DPRD atau menjadi pemimpin di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Soal sejauh mana peran dan tugas mereka selama menjadi anggota DPR/DPRD atau kepala/wakil kepala daerah, saya tidak tahu, mungkin Anda sendiri bisa menilainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salahkah mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin, khususnya pemimpin rakyat? Tidak. Sama sekali tidak salah. Bahkan hal itu termasuk hak asasi yang dijamin undang-undang bahwa setiap warga negara di negeri ini punya hak dan kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin. Hanya saja persoalannya kemudian tidaklah sesederhana itu. Menjadi pemimpin bukan sekedar hak, tapi juga ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Inilah alasan mengapa tidak semua orang layak jadi pemimpin. Bahkan ada yang mengatakan pemimpin (untuk rakyat) itu bukan diciptakan, tapi dilahirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu mungkin karena adanya kecakapan-kecakapan atau sifat-sifat tertentu yang tidak dimiliki oleh setiap orang, misalnya kharisma. Pemimpin yang kharismatik umumnya menjadi idola rakyat dan perintah-perintahnya akan secara ikhlas dipatuhi dan dilaksanakan. Sebaliknya dalam sebuah pemerintahan yang dikendalikan pemimpin karbitan, akan mudah ditemukan adanya pembangkangan-pembangkangan, sehingga capaian program yang diinginkan pemimpin tersebut sulit terealisasikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang pemimpin kharismatik susah dicari. Tapi ada sifat lain yang agak mendekati sifat kharismatik, yakni wibawa dan ini bisa diciptakan oleh yang bersangkutan dengan cara bersikap tegas, jujur, adil, cepat tanggap, penuh perhatian kepada nasib rakyat serta tidak mementingkan dirinya sendiri, keluarga dan kelompoknya,  Perintah-perintah dari seorang pemimpin yang berwibawa, umumnya dipatuhi dan dilaksanakan, sehingga capaian program yang diinginkannya pun akan mudah terwujud.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sebetulnya percaya mereka yang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin rakyat itu, termasuk dari kalangan selebritis, sudah menyiapkan bekal kepemimpinan yang memadai, serta memiliki sifat-sifat yang akan menjadikan mereka sebagai pemimpin yang berwibawa, kalau mungkin kharismatik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di sisi lain, saya agak curiga manakala melihat cara mereka dalam mengejar kursi pemimpin itu, yakni dengan cara “membeli suara rakyat” alias membagi-bagikan uang kepada rakyat agar rakyat memilihnya. Biasanya cara seperti itu akan melahirkan pemikiran “bagaimana saya bisa secepatnya mengembalikan modal” ketika mereka terpilih sebagai pemimpin rakyat. Inilah persoalan yang umum terjadi dalam sebuah pemerintahan yang pemimpinnya muncul melalui proses pemilihan langsung oleh rakyat -- di negeri kita tentu saja. (Gambar diambil dari &lt;a href=&quot;http://www.english-online.at/sports/marathon/running-the-marathon.htm&quot; target=&quot;new&quot;&gt;English-Online&lt;/a&gt;) &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/5915714771091642689/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/berlomba-lomba-untuk-menjadi-pemimpin.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/5915714771091642689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/5915714771091642689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/10/berlomba-lomba-untuk-menjadi-pemimpin.html' title='Berlomba-lomba untuk Menjadi Pemimpin'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhC3n6D0FY9Qnz-h37_vBxFrKz16VTBlwRAfTnOfMUJu3KjL8qHQ3aRClasKKni4zxDOZ9Cn62ZyeY4O2GSKyKLa5MohmqLm_a6DTCzicZBRweTj3DavY4EaTIPdi778uc8Nx0Df_eoiXML/s72-c/running-marathon.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-6247593750216148473</id><published>2010-09-24T11:08:00.000+07:00</published><updated>2010-09-24T11:08:03.460+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Surat Terbuka untuk Presiden</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3vbaljz7_HH7xeG_PeUEDiiU3jrDcOBV2WYwALLxvQqVT4X1hQHk1pa66rE34p1P8xOrBCLRFfrSLx_fFE9Pom-xU2k06aZ0nTs6X7VfDrZ3K5nJYrUkvN0wayBGXJTnxXxJi7FOEhmDe/s1600/Surat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;149&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3vbaljz7_HH7xeG_PeUEDiiU3jrDcOBV2WYwALLxvQqVT4X1hQHk1pa66rE34p1P8xOrBCLRFfrSLx_fFE9Pom-xU2k06aZ0nTs6X7VfDrZ3K5nJYrUkvN0wayBGXJTnxXxJi7FOEhmDe/s200/Surat.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bapak Presiden yang terhormat,&lt;br /&gt;
Teriring salam dan doa untuk Bapak sekeluarga, para menteri  dan segenap rakyat Indonesia agar senantiasa tabah menjalani hari-hari yang terasa kian berat, perkenankan saya urun-rempug menyikapi persoalan paling serius di negeri kita tercinta ini, yakni pemberantasan korupsi. Ini saya sampaikan karena kebetulan sekarang ada momen  yang saya anggap sangat tepat, yaitu seputar pengangkatan Kapolri dan Jaksa Agung yang baru, yang dalam beberapa hari terakhir memang jadi perbincangan hangat di media massa. &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tentu intinya bukan soal aspirasi ribuan jaksa yang mengharapkan agar Bapak memilih Jaksa Agung dari kalangan internal. Soal itu bagi saya tidak penting. Dari internal atau pun dari luar, silakan Bapak yang menentukan. Saya hanya berharap pengangkatan Kapolri dan Jaksa Agung yang baru nanti tetap berada dalam bingkai pemberantasan korupsi sebagaimana yang selama ini Bapak gelorakan. Artinya, Kapolri dan Jaksa Agung yang baru nanti bukan saja orang yang benar-benar bersih, tapi juga memiliki komitmen luar biasa baik untuk membersihan istitusinya dari praktik dan perilaku koruptif  maupun mengungkap secara tuntas kasus-kasus dugaan korupsi mulai dari tingkat pusat hingga daerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu bukan saja untuk memulihkan institusi kepolisian dan kejaksaan yang citranya belakangan ini kurang baik akibat terungkapnya sejumlah kasus tidak terpuji, namun juga untuk memenuhi harapan bangsa ini agar ke depan dapat tercipta pemerintahan yang bersih dan berwibawa, yang pada gilirannya menjadikan bangsa ini lebih sejahtera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak Presiden yang terhormat,&lt;br /&gt;
Kenapa Kapolri dan Jaksa Agung yang baru nanti harus memiliki komitmen luar biasa untuk menyapu bersih praktik dan perilaku koruptif mulai dari tingkat pusat hingga daerah, karena diera reformasi ini saya lihat praktik dan perilaku koruptif cenderung menyebar dan merata. Padahal saya akui secara jujur, selama ini Bapak telah berupaya keras memberantas korupsi melalui institusi-institusi yang telah terbentuk. Tapi hasilnya baru kelihatan di tingkat pusat, sementara untuk daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, tampaknya belum begitu menggembirakan, kalau pun tidak dikatakan mengecewakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak memang yang berpendapat pemberantasan korupsi di negeri kita terciinta ini, untuk tahap awal, sebaiknya lebih didahulukan kepada koruptor kelas kakap, yang notabene berada di pusat. Tapi bagi saya justru seharusnya sebaliknya. Sebab yang bersentuhan langsung dengan rakyat itu adalah pemerintah daerah, dan saya kira sebagian besar alokasi anggaran APBN dibelanjakan di daerah. Bahkan mungkin kalau uang yang dikorupsi aparatur daerah dari setiap daerah di tanah air dikumpulkan, jumlahnya akan melebihi kerugian negara akibat dicuri koruptor kelas kakap di tingkat pusat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari itu, program-program pembangunan yang Bapak laksanakan pada intinya adalah untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Di situ jelas sekali peran pemerintah daerah. Sehingga saya berkeyakinan bahwa keberhasilan pembangunan nasional dimulai dengan keberhasilan pembangunan daerah. Bahkan saya dapat mengatakan bahwa sebaik apa pun program pembangunan nasional yang Bapak canangkan, niscaya akan gagal kalau tidak mendapat dukungan serius pemerintah daerah. Dan sebesar apa pun dana APBN yang Bapak gelontorkan untuk membiayai pembangunan-pembangunan di daerah, niscaya akan hangus begitu saja kalau aparatur di daerah tidak amanah alias berperilaku koruptif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itulah saya berharap pemberantasan korupsi yang tak henti Bapak gelorakan, hendaknya juga mulai difokuskan pada pemberantasan korupsi di daerah-daerah di seluruh tanah air, dan itu bisa Bapak lakukan antara lain dengan mengangkat Kapolri dan Jaksa Agung yang punya komitmen luar biasa untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapak Presiden yang terhormat,&lt;br /&gt;
Kalau Bapak sudah menemukan calon Kapolri dan Jaksa Agung yang seperti itu, saya harap Bapak tekan kontrak dengan yang bersangkutan, yang isinya mereka juga nantinya akan memilih dan mengangkat kapolda dan kepala kejaksaan tinggi (kejati)  yang bersih dan punya komitmen luar biasa untuk memberantas korupsi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapolri dan Jaksa Agung yang baru pun nantinya harus tekan kontrak dengan kapolda dan kejati yang diangkatnya bahwa mereka (kapolda/kejati) akan mengangkat kapolres/kapolresta dan kepala kejaksaan negeri (kejari) yang bersih dan punya komitmen luar biasa untuk memberantas korupsi di daerahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja saya sama sekali tidak menuduh bahwa Kapolri dan Jaksa Agung sekarang tidak punya komitmen seperti itu. Begitu juga para kapolda dan kejati, hingga para kapolres/kapolresta dan kejari. Mereka boleh jadi memang punya komitmen seperti itu, karena mereka termasuk orang-orang pilihan. Hanya saja mungkin belum diperlihatkan kepada rakyat, sehingga kesan yang muncul adalah daerah menjadi ladang subur untuk praktik dan perilaku koruptif, dan banyak aparat penegak hukum di daerah terkesan kurang serius mengusut kasus-kasus dugaan korupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin dengan cara seperti itu, upaya pemberantasan korupsi akan lebih kena sasaran, dan harapan masyarakat untuk merasakan hidup lebih sejahtera, akan segera terwujud. Sehingga tanah air kita yang subur ini dapat menjadi pangkal kemakmuran bagi segenap rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian kiranya surat ini. Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam surat ini ada kata dan kalimat yang kurang pantas disampaikan, maklum saya hanya seorang awam – seorang awam yang sangat berharap Bapak dapat memerdekakan bangsa ini dari korupsi.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/6247593750216148473/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/surat-terbuka-untuk-presiden.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6247593750216148473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6247593750216148473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/surat-terbuka-untuk-presiden.html' title='Surat Terbuka untuk Presiden'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3vbaljz7_HH7xeG_PeUEDiiU3jrDcOBV2WYwALLxvQqVT4X1hQHk1pa66rE34p1P8xOrBCLRFfrSLx_fFE9Pom-xU2k06aZ0nTs6X7VfDrZ3K5nJYrUkvN0wayBGXJTnxXxJi7FOEhmDe/s72-c/Surat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2266152507285304358</id><published>2010-09-07T15:13:00.000+07:00</published><updated>2010-09-07T15:13:35.858+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Gubernur Jabar Bikin Kartu Lebaran dengan Uang Rakyat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaAol2uPHE95MSjf-qVf00K6vB3dJGDVt2nlv1EWEDYaxK9DyEw87i1aeFz1xBub8Dp3q99rr4tpYt0MmsLh1P-Y5HarpSGWUxE7VI3Orx9CCk9YR2Tm7IYOZMeftVVjNKr98pTn87JHei/s1600/Gubernur+Jabar.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaAol2uPHE95MSjf-qVf00K6vB3dJGDVt2nlv1EWEDYaxK9DyEw87i1aeFz1xBub8Dp3q99rr4tpYt0MmsLh1P-Y5HarpSGWUxE7VI3Orx9CCk9YR2Tm7IYOZMeftVVjNKr98pTn87JHei/s200/Gubernur+Jabar.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pekan-pekan terakhir di bulan suci Ramadhan, warga Jawa Barat dikejutkan dengan ulah Gubernur Ahmad Heryawan. Dia dikhabarkan membuat kartu lebaran dengan menggunakan dana APBD provinsi alias uang rakyat sebesar Rp1,7 miliar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Luar biasa! Uang sebesar itu dihamburkan gubernur hanya untuk sekedar mengucapkan selamat idul fitri lewat sebentuk kartu. Bayangkan kalau uang sebesar itu digunakan untuk memperbaiki gedung SD yang rusak atau diberikan kepada rakyat miskin dalam bentuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, manfaatnya tentu akan lebih besar.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Wajar bila ulah Gubernur Jabar itu menuai protes dari masyarakat dan didemo mahasiswa. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun turun tangan. KPK memanggil sejumlah pejabat Pemprov Jabar terkait pengalokasian anggaran untuk proyek kartu lebaran itu dalam APBD Jabar Tahun 2010. Karena memang KPK menganggap pembuatan kartu ucapan melanggar Keputusan Presiden No.42/2002 tentang Pedoman Pelaksanaan APBN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Pasal 13 ayat (1) dinyatakan, &lt;i&gt;“Atas beban anggaran belanja negara tidak diperkenankan melakukan pengeluaran untuk keperluan: b.pemberian ucapan selamat, hadiah/tanda mata, karangan bunga, dan sebagainya untuk berbagai peristiwa.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemanfaatan uang negara untuk kesempatan lebaran adalah pelanggaran berat dan masuk dalam kategori tindak pidana korupsi,” kata Wakil Ketua KPK Bidang Pencegahan, Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat Haryono Umar, seperti dilansir &lt;i&gt;Pikiran Rakyat&lt;/i&gt; (7/9/2010).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi Ahmad Heryawan sendiri berdalih pengadaan kartu lebaran dan prangko dialokasikan pada APBD 2010, disusun berdasarkan Permendagri No.25/2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD tahun 2010. Nilainya sendiri bukan Rp1,7 miliar, tapi katanya “hanya” Rp851 juta. Dan kartu lebaran bergambar Gubernur Ahmad Heryawan dan Wakil Gubernur Dede Yusuf itu bukan untuk kepentingan pribadi, namun kepentingan Pemprov Jabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh jadi Ahmad Heryawan benar bahwa pengadaan kartu lebaran tidak melanggar peraturan. Tapi masalahnya bagi kita bukan semata ada-tidaknya aturan yang mengatur proyek kartu lebaran, namun lebih jauhnya adalah “bagaimana sih perasaan gubernur saat mengalokasikan dana APBD untuk kartu lebaran dan biaya kirimnya, sementara di sisi lain jutaan warga Jabar hidup miskin dan infrastruktur perlu dibenahi?” Tentu dengan pengadaan kartu lebaran itu ada kesan gubernur kurang memiliki kepekaan sosial, di samping menabrak skala prioritas penggunaan dana APBD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh jadi pula Ahmad Heryawan benar bahwa kartu lebaran yang dibiayai uang rakyat itu bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk dan atas nama Pemprov Jabar. Tapi persoalannya kemudian, imbal-balik apa yang diperoleh pemerintah dan warga Jabar setelah kartu lebaran tersebut disebarkan kepada sekitar 350 ribu alamat? Kalau misalnya kartu lebaran itu disebar ke pengusaha, apakah lantas investasi di Jabar akan meningkat? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan-jangan kartu lebaran gubernur dan wakil gubernur Jabar itu akan sama saja seperti kita menerima kartu ucapan selamat dari kerabat dan kenalan: selintas dibaca isinya, lalu dilempar ke tempat sampah. Bayangkan bila itu adalah kartu lebaran yang dicetak dengan uang rakyat dengan nilai ratusan juta. Tidakkah Anda sedih uang rakyat dihambur-hamburkan?&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2266152507285304358/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/gubernur-jabar-bikin-kartu-lebaran.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2266152507285304358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2266152507285304358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/gubernur-jabar-bikin-kartu-lebaran.html' title='Gubernur Jabar Bikin Kartu Lebaran dengan Uang Rakyat'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaAol2uPHE95MSjf-qVf00K6vB3dJGDVt2nlv1EWEDYaxK9DyEw87i1aeFz1xBub8Dp3q99rr4tpYt0MmsLh1P-Y5HarpSGWUxE7VI3Orx9CCk9YR2Tm7IYOZMeftVVjNKr98pTn87JHei/s72-c/Gubernur+Jabar.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-7298603300584386102</id><published>2010-09-03T13:20:00.001+07:00</published><updated>2010-09-03T13:23:13.090+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Dang Didung Ikut Pemilukada (2 dari 2)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF9V9sARfKwwIMrBrgS885MQhy10x7WhzTSRfFH3tt9k63CE7IW2REhhXTF8K8DtHgBIMY0gBDAkFarOKGkjaPoKIwHhuRFhRgKcboFWFPG5Vw3od_Js0DYALwNjPMDWCee00feMAGMgYx/s1600/kursi2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF9V9sARfKwwIMrBrgS885MQhy10x7WhzTSRfFH3tt9k63CE7IW2REhhXTF8K8DtHgBIMY0gBDAkFarOKGkjaPoKIwHhuRFhRgKcboFWFPG5Vw3od_Js0DYALwNjPMDWCee00feMAGMgYx/s200/kursi2.jpg&quot; width=&quot;163&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Setelah sempat tertunda karena saya menganggap penting membuat postingan tentang &lt;a href=&quot;http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/tergoda-siswi-smp.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;siswi SMP&lt;/a&gt; alias Sekolah Menengah Pertama sebagai salah satu bentuk SEO untuk menandingi adanya konten negatif seputar siswi SMP, berikut ini saya turunkan lanjutan cerpen &lt;a href=&quot;http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/dang-didung-ikut-pemilukada-1-dari-2.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Dang Didung Ikut Pemilukada&lt;/a&gt; bagian dua alias bagian terakhir:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begitulah Pak Didung. Kami sangat berharap Pak Didung mau kami usung. Mumpung masih ada waktu sekitar sepuluh bulan lagi. Ini kami kira cukup untuk persiapan dan mengumpulkan sekitar 70 ribu tanda tangan rakyat sebagai bentuk dukungan formalnya kepada kita.”&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung merenung. Dia tidak segera menjawab. Terutama karena memang bila jawaban “ya” yang dibutuhkan, maka hal itu harus merupakan keputusan bersama, yakni keputusan dia dan istrinya. Bahkan mungkin harus pula mendengar saran-saran dari kedua orang tuanya, baik orang tua dari istri maupun orang tuanya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di lubuk hatinya Dang Didung juga tidak yakin bahwa dia akan mampu menjadi seorang pemimpin dari sekelompok masyarakat yang begitu besar, yang latar-belakang sosial, ekonomi, budaya dan politiknya berbeda satu sama lain. Sekarang saja, sebagai ketua RW di sebuah kompleks perumnas, Dang Didung seringkali pusing tujuh keliling hanya sekedar bagaimana warga perumahan itu sadar atas kewajibannya melaksanakan ronda malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi persoalan-persoalan sepele yang terjadi di lingkungannya, seperti anak-anak yang berantem, salah parkir mobil sampai nabrak pagar rumah orang, pertengkaran suami-istri dan sebagainya. Semua persoalan itu akhirnya sampai juga ke rumahnya, dan Dang Didung dituntut untuk menyelesaikannya dengan sebuah keputusan bijak yang dapat diterima semua pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan bagi Dang Didung tanggung jawab seorang pemimpin itu berkonsekwensi dunia akhirat. Apa yang dilakukannya selama menjdi pemimpin, bukan hanya dinilai oleh orang-orang yang dipimpinnya saja, tapi juga dicatat malaikat untuk nanti dipertanggungjawabkan di depan Hakim Maha Agung. Karena itu Dang Didung tidak serta-merta mau menerima tawaran tersebut. Katanya, “Saya tidak bisa memutuskan sekarang. Berilah saya waktu satu minggu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kang Natasukma dan kawan-kawannya setuju. Mereka akan datang lagi seminggu kemudian. Dan Dang Didung dalam seminggu bermusyawarah dengan istri, orang tua dari kedua belah pihak, serta beberapa tetangganya yang dianggap Dang Dading memiliki wawasan yang luas soal politik dan pemerintahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari musyawarah itu Dang Didung akhirnya memutuskan untuk ikut pemilukada. Hal ini disambut gembira Kang Natasukma dan kawan-kawannya ketika mereka bertamu lagi ke rumah Dang Didung pada waktu yang dijanjikan. Mereka pun tak lagi membuang-buang waktu. Kang Natasukma secepatnya menyusum tim untuk mengumpulkan tanda-tangan rakyat sebagai bukti dukungan formalnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Dang Didung sendiri mulai bersilaturahmi kepada rekan-rekan pedagang di pasar tradisional dan para ketua RW/RT yang dia kenal. Terkadang dibarengi oleh Kang Natasukma. Mula-mula mereka bersilaturahmi di sekitar kota, lalu ke kecamatan-kecamatan sampai ke desa-desa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin karena namanya cukup dikenal di kalangan para ketua RW di kabupaten itu, dalam waktu sekitar tiga bulan, dukungan formal rakyat berupa tanda-tangan berikut fotocopy KTP-nya sudah mencapai 70 ribu lebih, dan itu sudah lebih dari jumlah batas minimal dukungan rakyat bagi calon dari jalur perseorangan sebagaimana diatur undang-undang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ketika Dang Didung dan Natasukma menyerahkan berkas-berkas pendaftarannya ke KPUD pada jadwal yang telah ditentukan, yang kemudian oleh petugas KPUD diverifikasi, baik secara administrasi maupun faktualnya di lapangan, mereka lolos dengan mulus. Dan secara resmi Dang Didung-Natasukma dinyatakan sebagai salah satu dari tujuh pasangan calon bupati/wakil bupati peserta pemilukada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka pun segera mencetak stiker, spanduk dan baliho yang bertemakan “Berubah Bersama Rakyat”. Lalu pada saat kampanye dimulai, stiker, spanduk dan baliho itu disebar kepada rakyat serta dipasang di sudut-sudut kota dan pelosok-pelosok desa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat bersamaan, mereka menggelar panggung hiburan rakyat di 100 tempat dengan menampilkan berbagai kesenian mulai dari seni tradisional, orkes dangdut hingga tampilan penyanyi pop berkelas nasional. Juga menggelar tabligh-tablig akbar di 100 titik dengan menampilkan da`i kondang baik tingkat lokal maupun nasional. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pokoknya dibandingkan enam peserta pemilukada lain, kampanye pasangan Dang Didung-Natasukma terbilang lebih semarak, sekalipun ada juga sindiran dari beberapa kelompok masyarakat yang menyebut mereka sebagai calon bupati/wakil bupati yang kikir. Sebab memang mereka tidak pernah membagi-bagikan uang dan sembako kepada rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan para pengamat politik lokal, yang berkomentar di berbagai media cetak, dengan gaya yang seolah-olah pandai menganalisa situasi politis hati rakyat, menyebut pasangan Dang Didung-Natasukma hanya sekedar peserta penghibur saja. Dengan pongah mereka bilang, “Pemilukada kali ini sesungguhnya hanya diikuti enam pasangan, sekalipun secara resmi memang ada tujuh pasangan calon yang akan bertarung, yakni tiga pasangan independen dan empat pasangan yang diusung parpol.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu tibalah saat pemungutan suara, yang beberapa jam kemudian diteruskan dengan perhitungan suara. Dang Didung bersama istri, memberikan suaranya di TPS yang ada di lingkungan RW-nya. Begitu juga Kang Natasukma bersama istri, mencoblos di TPS setempat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat suara dihitung, sungguh luar biasa. Baik di TPS-nya Dang Didung maupun di TPS-nya Kang Natasukma, mereka berhasil mengumpulkan suara lebih dari 70 persen. Hal ini membuat saksi-saksi dari pasangan lain protes, terlebih lagi saksi dari pasangan incumbent yang diusung parpol besar. Mereka ngotot ingin dihitung ulang, karena memang di dua TPS itu pasangan incumbent sama sekali tidak memperoleh satu suara pun. Namun hasil hitung ulang sama saja. Pasangan incumbent nol suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu juga di TPS-TPS lain. Suara yang dikumpulkan Dang Didung-Natasukma mengungguli lawan-lawannya secara telak, termasuk di TPS-TPS yang berlokasi di kampung tempat tinggal masing-masing para calon lain itu. Mereka agaknya di kampungnya sendiri tidak disukai, sekalipun sehari sebelum pencoblosan, warga setempat dikasih sembako lengkap dengan lauk-pauknya oleh tim sukses dari para calon itu. Tapi warga di sana agaknya paham benar, para calon itu baik hati karena ada pamrihnya, bukan karena dorongan hati yang ihlas. Rakyat rupanya sudah cerdas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hingga pukul 22.00 hari itu, tim yang diturunkan pasangan Dang Didung-Natasukma ke TPS-TPS untuk mencatat hasil perhitungan, sudah bisa menyajikan laporannya dengan hasil yang cukup mengejutkan: pasangan Dang Didung-Natasukma mengumpulkan suara 44 persen, diikuti pasangan independen lainnya yang meraih suara 27 persen, sisanya dikumpulkan oleh calon lain dengan suara tak terlalu berjauhan. Pasangan incumbent sendiri hanya mendapatkan suara 11 persen saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita menang!” Teriakan bergema di posko pasangan Dang Didung-Natasukma, yang kebetulan merupakan rumah tinggal Kang Natasukma. Tim dan pendukungnya lalu menyalami Dang Didung dan Natasukma yang duduk berdampingan di posko itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita menang!” Kembali teriakan kegembiraan bergema.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi itu baru hasil perhitungan versi kita. Realnya boleh jadi akan sangat berbeda,” ujar Dang Didung yang di-aya-kan oleh Kang Natasukma. “Kita perlu juga mengetahui hasil perhitungan versi calon-calon lain, karena hasil perhitungan KPUD dipastikan lambat. Kalau hasil perhitungan calon-calon lain menunjukkan kita yang unggul, sekalipun suaranya di bawah perhitungan versi kita, bolehlah kita meluapkan kegembiraan. Besok mungkin kita bisa memperolehnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang diperolehnya kemudian justru lebih dari itu. Beberapa pesaingnya justru secara terbuka kepada para wartawan setempat mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada pasangan Dang Didung-Natasukma. Bahkan calon bupati dari pasangan independen yang mengumpulkan suara diurutan kedua, menganggap kemenangan pasangan Dang Didung-Natasukma sebagai kemenangannya juga. “Terbukti sudah sekarang rakyat menghendaki calon pemimpin dari jalur independen yang memimpin mereka,”  katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang luar biasa. Kemenangan Dang Didung-Natasukma nyaris tanpa protes dari calon-calon lainnya, apalagi sampai ada yang menuduhnya telah berbuat curang. Ini mendorong memperlancar proses perhitungan suara oleh KPUD. Sehingga pada jadwal yang ditentukan, dalam rapat plenonya yang terbuka untuk umum, KPUD menetapkan pasangan Dang Didung-Natasukma sebagai pemenang pemilukada dengan meraih suara 46,2 persen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di rumahnya yang sederhana, sepulang mengikuti rapat pleno KPUD hari itu, Dang Didung termenung di kamarnya. Di wajahnya sama sekali tak terlihat rona kegembiraan. Padahal suasana rumahnya sendiri saat itu sedang ramai, penuh oleh pendukung dan tamu-tamu yang datang  mengucapkan selamat. Tapi Dang Didung sendiri tidak bisa menikmati suasana bahagia itu. Dang Didung sepertinya benar-benar resah menghadapi hari esok, hari-hari setelah dia dan Kang Natasukma nanti dilantik sebagai bupati dan wakil bupati oleh gubernur atas nama mendagri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung resah karena dia sangat yakin bahwa tugas, wewenang dan kewajiban seorang bupati itu berbeda dengan tugas, wewenang dan kewajiban seorang ketua RW. Dan Dang Didung nanti bukan lagi seorang ketua RW di kompleks perumnas, tapi seorang bupati yang memimpin ribuan wilayah ke-RW-an. Kalau nanti Dang Didung mampu merealisasikan janji-janjinya, mungkin orang akan terkagum-kagum dan membanggakannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bagaimana kalau gagal? “Pantas! Bupati kita ini levelnya cuma seorang ketua RW kok!” Pasti begitu sindiran yang dilontarkan para pengamat politik lokal kepadanya. Pasti dengan pongah mereka juga bilang, “Masyarakat kita memang perlu pendidikan politik agar mereka bisa menjatuhkan pilihannya secara cerdas, tidak seperti pemilukada lalu.” Dang Didung pasti akan sedih dengan penilaian seperti itu, sebab itu artinya rakyat yang memilih dia dan Kang Natasukma adalah rakyat yang bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di kamarnya Dang Didung masih termenung. Pikirannya makin jauh menerawang ke depan, dan karena itu Dang Didung mulai ragu dia akan mampu menjadi seorang bupati yang amanah. (&lt;a href=&quot; http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html &quot;&gt;ArusRasyid&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/7298603300584386102/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/dang-didung-ikut-pemilukada-2-dari-2.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/7298603300584386102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/7298603300584386102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/09/dang-didung-ikut-pemilukada-2-dari-2.html' title='Dang Didung Ikut Pemilukada (2 dari 2)'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhF9V9sARfKwwIMrBrgS885MQhy10x7WhzTSRfFH3tt9k63CE7IW2REhhXTF8K8DtHgBIMY0gBDAkFarOKGkjaPoKIwHhuRFhRgKcboFWFPG5Vw3od_Js0DYALwNjPMDWCee00feMAGMgYx/s72-c/kursi2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-1144240553490323080</id><published>2010-08-27T13:54:00.003+07:00</published><updated>2010-08-27T14:10:01.528+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pernik-pernik"/><title type='text'>Tergoda Siswi SMP</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkQhpSRMSC5FInJCU6hHBzzYIspQjp1Ket5MqOULCDglcWkVe4aYWpFkIK9ibUCUoFhlgp-QTVj285Pe5vvdgJQ5XmIXUt2J97rgHV0cJfqzEj-KqeZCcOFBx1xF1CVHDdbCvDVPkIjvH8/s1600/Teen.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkQhpSRMSC5FInJCU6hHBzzYIspQjp1Ket5MqOULCDglcWkVe4aYWpFkIK9ibUCUoFhlgp-QTVj285Pe5vvdgJQ5XmIXUt2J97rgHV0cJfqzEj-KqeZCcOFBx1xF1CVHDdbCvDVPkIjvH8/s200/Teen.jpg&quot; width=&quot;188&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tergoda siswi SMP? Ah, yang benar? Sungguh saya pernah tergoda siswi SMP. Benar-benar tergoda sehingga saya susah tidur, susah makan, susah konsentrasi dan susah-susah semacamnya. Pokoknya segala susah akibat godaan siswi SMP itu. Dan hal itu kini terkenang kembali, lalu mendorong saya untuk menuliskannya, sehingga postingan kali ini yang mestinya melanjutkan cerpen &lt;a href=&quot;http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/dang-didung-ikut-pemilukada-1-dari-2.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Dang Didung Ikut Pemilukada&lt;/a&gt; bagian kedua alian bagian terakhir, terpaksa saya tunda (tapi percayalah cerpen itu akan saya tuntaskan karena naskahnya sendiri sudah selesai dibuat).&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kembali kepada godaan siswi SMP. Ceritanya terjadi sekitar akhir tahun 70-an. Saya tulis saja sekolahnya, yakni SMPN 2 Cianjur, Jawa Barat. Sedangkan nama siswinya… Ah, sebaiknya tidak saya sebut. Saya khawatir kalau namanya ditulis, dia jadi ingat saya. Mending kalau cuma ingat, bagaimana kalau dia ingin merealisasikan godaannya berupa keinginan untuk hidup bersama dengan saya (ah, ge-er!) karena misalnya dia saat ini sedang menjanda?. Berabe jadinya, karena sekarang saya telah berkeluarga, punya anak-istri yang sangat saya cintai. Jadi saya sebut saja dia sebagai Siswi SMP, biar tak ada yang ngejar-ngejar saya (ah, ge-er lagi!).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu saya duduk di kelas dua di SMP yang sama. Dengan kata lain, Siswi SMP itu teman sekelas saya. Awalnya memang saya tidak begitu memperhatikan Siswi SMP itu, karena saya anggap tak ada istimewanya. Kalau pun dibilang cantik, teman-teman cewek sekelas lainnya juga cantik-cantik dan manis-manis. Tapi suatu ketika saya benar-benar terpesona: pada jam istirahat pertama (hari, tanggal dan bulannya lupa) saya lihat Siswi SMP itu sedang duduk sendiri di bangkunya, tampak termenung sambil menggigit bibirnya yang merah (merah asli dari sananya, bukan merah lipstick). O, sungguh pemandangan yang luar biasa! Dimata saya saat itu, Siswi SMP itu menjadi demikian teramat cantik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itulah saya tergoda dia. Dan diam-diam saya sering mencuri pandang. Lalu kalau dia balik memandang, saya buru-buru menunduk atau memalingkan muka ke mana saja. Saya belum berani adu tatap, bahkan untuk sekedar menyapanya saja, saya seolah-olah kehilangan nyali, padahal dia teman sekelas dan saya bisa ngomong apa saja. Akibatnya jadi parah: saya dibayang-bayangi Siswi SMP itu kemana pun saya melangkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru beberapa pekan kemudian saya mulai berani menyapanya dengan berpura-pura pinjam buku catatan pelajaran tertentu, karena sebelumnya saya tak sempat mencatat (waktu itu penjelasan guru lebih banyak dicatat siswa, karena belum ada buku paket yang dijual paksa kepada siswa-siswi, kecuali beberapa buku pelajaran yang disediakan sekolah). Tapi hanya sebatas itu. Saya tetap belum punya nyali untuk mengungkapkan perasaan saya, sekalipun misalnya melalui tulisan di buku-buku catatannya yang pernah saya pinjam (lebih tepatnya barangkali, saya takut kalau menulis sesuatu di bukunya, lantas diperlihatkan kepada teman-temannya, wah malu saya!). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itukah yang namanya cinta monyet, atau lebih tepatnya cinta anak monyet? Soalnya kalau cinta monyet, kedua belah pihak sama-sama mengungkapkan perasaannya masing-masing, lalu bertengkar karena hal-hal kecil, lalu baikan kembali, bertengkar lagi, baikan kembali, lalu putus. Sedangkan cinta anak monyet, tidak begitu. Yang namanya anak `kan belum bisa mengungkapkan perasaannya (ah, konyol!). Jadi saya pun waktu itu agaknya sedang dilanda cinta anak monyet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Celakanya cinta gaya anak monyet itu berlangsung terus. Saya tetap tidak terus-terang bahwa saya teramat menyukai Siswi SMP itu. Saya hanya bisa mencuri-curi pandang, atau pura-pura pinjam buku catatannya agar saya bisa berdekatan. Dengan kerelaannya memberi pinjaman buku itu pun, saya sudah merasa senang. Lebih senang lagi kalau secara kebetulan makan bakso berdua di kantin sekolah. Tapi tetap tak ada yang terungkap. Dan hal itu berlangsung hingga saya dan Siswi SMP itu, lulus dan keluar dari SMPN 2 Cianjur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja saya merasa kehilangan. Tapi cinta anak monyet rupanya tidak berkembang menjadi cinta monyet apalagi cinta beneran. Saya hanya merasa kehilangan, tapi tidak berupaya untuk mengejarnya. Terlebih lagi SLTA yang kami tempuh kemudian, berbeda. Dan secara perlahan saya melupakannya. Apalagi sejak lulus SMP, saya tidak pernah ketemu lagi. Memang pernah ada khabar, katanya mantan Siswi SMP itu menikah diusia muda, lalu dibawa suaminya ke kota lain. Sampai sekarang belum ada khabar lagi. Saat reuni tahun lalu, mantan Siswi SMP itu tidak hadir. Ketika saya tanya teman-teman, jawabnya tidak tahu, karena alamatnya sekarang juga tidak tahu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah cerita kecil tentang Siswi SMP yang pernah menggoda saya. Dan saya tidak tahu apakah kisah Tergoda Siswi SMP ini dapat menjadi keyword yang ampuh untuk meminimalisir munculnya konten siswi SMP berkonotasi negatrif dalam mesin pencari? Yang jelas saya sependapat dengan teman-teman bloger lain yang lebih dulu menulis postingan tentang pelajar atau siswa-siswi SMP sebagai SEO tandingan untuk melawan SEO berkonotasi nagatif menyangkut siswi SMP, bahwa keyword siswi SMP ketika ditulis di mesin pencari haruslah memunculkan konten tentang siswi SMP dalam pengertian dia adalah pelajar yang sedang menuntut ilmu di Sekolah Menengah Pertama; bukan konten yang lain-lain apalagi video atau gambar siswi SMP yang tengah berbugil-ria.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/1144240553490323080/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/tergoda-siswi-smp.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1144240553490323080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1144240553490323080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/tergoda-siswi-smp.html' title='Tergoda Siswi SMP'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkQhpSRMSC5FInJCU6hHBzzYIspQjp1Ket5MqOULCDglcWkVe4aYWpFkIK9ibUCUoFhlgp-QTVj285Pe5vvdgJQ5XmIXUt2J97rgHV0cJfqzEj-KqeZCcOFBx1xF1CVHDdbCvDVPkIjvH8/s72-c/Teen.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-778448218496480417</id><published>2010-08-25T14:22:00.001+07:00</published><updated>2010-08-27T14:18:30.134+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Dang Didung Ikut Pemilukada (1 dari 2)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-aOBG7YMcpBxELSqcyK-dn5AIudgVQGJzxD8w3h11ihF6avAT94sV_fdkk2xHH7A3hdI-Qec8YODi6mthoIXnoiEzPvgqb17KEassTDbPmT8YdwyoS8JlViIEFYI2gozgnp-pE4B4RCMZ/s1600/kursi1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-aOBG7YMcpBxELSqcyK-dn5AIudgVQGJzxD8w3h11ihF6avAT94sV_fdkk2xHH7A3hdI-Qec8YODi6mthoIXnoiEzPvgqb17KEassTDbPmT8YdwyoS8JlViIEFYI2gozgnp-pE4B4RCMZ/s200/kursi1.jpg&quot; width=&quot;163&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dang Didung tertawa terbahak-bahak ketika lima orang tamu yang belum lama dikenalnya, setelah ngobrol kesana-kemari, mengemukakan maksud utama kedatangannya ke rumah Dang Didung malam itu. Katanya mereka sepakat untuk mengusung Dang Didung sebagai bakal calon bupati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha ha ha ha ha…” Dang Didung masih terus terbahak. Sebab bagi Dang Didung, ucapan tamu-tamunya itu terasa amat lucu, bahkan lebih lucu dari tingkah Mr.Bean yang sering ia tonton di televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami serius!” tegas salah seorang dari mereka, yang kemudian di-iya-kan oleh teman-temannya. Dang Didung pun menghentikan tawanya. Tapi suara “heheheh” masih juga keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Kami memang bukan petinggi partai politik,” kata orang itu lagi, “Tapi sekarang ini, seperti yang Bapak ketahui, untuk menjadi calon bupati atau wakil bupati itu bisa melalui jalur independen. Nah, kami akan mengusung Bapak melalui jalur independen.” Lalu orang itu melirik kepada lelaki setengah baya yang duduk di sampingnya, yang dikenal Dang Didung sebagai Kang Natasukma, seraya berkata lagi, “Coba, Kang, terangkan seterang-terangnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kang Natasukma, yang dikenal Dang Didung sebagai insinyur pertanian yang mengaplikasikan ilmunya secara langsung dengan menjadi petani itu, menyorongkan tubuhnya ke depan. “Begini Pak Dading,” katanya, “Kami ini kecewa menyaksikan kondisi daerah kita dalam empat tahun terakhir. Kami rasa tak ada kemajuan. Bupati dan aparatnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Rakyat kurang terperhatikan. Korupsi merajalela, sekalipun memang susah dibuktikan. Atau barangkali tepatnya, para penegak hukum tidak pernah serius mengusut kasus-kasus dugaan korupsi. Akankah begini seterusnya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung tidak bereaksi. Tapi hati kecilnya mengakui apa yang dipaparkan Kang Natasukma benar adanya. Daerahnya, yang merupakan tempat dia dilahirkan, dibesarkan dan didiami hingga kini, terkesan mundur. Pembangunan mandeg. Isu korupsi hampir setiap hari ia dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sekarang menjelang pemilukada,” kata Kang Natasukma selanjutnya, “Para birokrat yang berambisi menjadi bupati atau wakil bupati, sudah sibuk menggalang dan menjalin komunikasi dengan partai-partai politik. Begitu pun incumbent. Mereka sudah lupa pada kewajibannya mengurus rakyat. Nanti pun boleh jadi ketika mereka terpilih, mereka lupa mengurus rakyat. Makanya harus ada perubahan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung setuju. Memang harus ada perubahan. Tapi siapa orangnya yang akan mampu membenahi aparatur ketika hampir semua pejabat telah terkontaminasi virus korupsi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dalam setahun terakhir, secara diam-diam kami telah meneliti dan mengkaji tokoh-tokoh daerah, di luar kaum birokrat, yang akan kami usung sebagai bakal calon bupati. Tapi semua tokoh itu tidak memenuhi kriteria yang kami inginkan, kecuali satu, seorang tokoh sekelas ketua RW yang namanya dikenal oleh hampir semua ketua RW dan RT di kabupaten ini. Karena ketua RW itu merupakan ketua RW teladan dalam tiga tahun terakhir. Ketua RW itu tak lain Pak Didung sendiri,” papar Kang Natasukma seraya menatap Dang Didung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi tentu saja,” lanjut Kang Natasukma, “bukan hanya karena Pak Didung punya nilai elektabilitas seperti itu saja bila kami lantas memilih Bapak. Tapi juga karena hal lain. Kami tahu Pa Didung dan keluarga merupakan orang yang benar-benar taat beribadah. Kami tahu Pak Didung, sekalipun hanya seorang pedagang kecil di pasar tradisional, tapi sudah terkenal kejujurannya di kalangan konsumen pasar tradisional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung agak mengerutkan keningnya. Kang Natasukma kok tahu siapa dirinya. Atau memang dalam setahun terakhir ini, dirinya diam-diam dipantau kelompok lima ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Satu hal lagi yang terpenting,” kata Kang Natasukma, “Putra-putri Pak Didung masih balita, dan mereka dalam asuhan seorang ibu yang begitu solehah. Mengapa ini sangat penting dalam kriteria bakal calon bupati yang kami tentukan, sebab anak-anak dan istri seringkali menjadi biangkerok dan pangkal penyebab suami melakukan tindakan koruptif.  Bahkan tak jarang, istri dan anak ikut campur urusan pemerintahan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hatinya Dang Didung membenarkan. Soalnya selama pemerintahan sekarang, banyak isu yang berkembang seputar anak dan istri bupati. Anak-anaknya yang telah dewasa kerap disebut-sebut menjadi agen proyek: merekalah yang mengatur siapa rekanan yang layak mendapatkan suatu proyek, sekalipun formalnya proyek itu ditenderkan. Lalu istrinya, kerap disebut sebagai orang yang berada di balik promosi dan mutasi jabatan. Artinya dialah yang menentukan siapa pejabat yang harus dimutasikan, siapa yang harus dipromosikan dan siapa yang harus disingkirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbeda kalau putra-putri bupati itu masih balita yang diasuh seorang ibu yang benar-benar solehah, yang mengerti mana haram, mana halal, mana pekerjaan suami, mana pekerjaan istri. Juga anak-anak yang masih balita, mana mungkin mereka tahu urusan proyek,” kata Kang Natasukma seraya menegaskan, “Dari kriteria itu, Pak Didung layak kami usung sebagai calon bupati.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung tertawa kecil. Lalu katanya, “Kalau pun saya siap, siapa yang akan menjadi wakil bupatinya? Siapa pula yang akan mendanainya? Bukankan untuk menjadi calon bupati atau wakil bupati itu butuh dana miliaran rupiah? Sedangkan saya hanyalah seorang pedagang kecil di pasar tradisional.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“O, itu! Tadi saya lupa menyampaikannya.” Orang yang duduk di samping Kang Natasukma cepat menimpali. “Orang yang akan jadi wakil Pak Didung tak lain Kang Natasukma. Ada kesamaan di antara Pak Didung dan Kang Natasukma. Sama-sama taat beribah, punya istri solehah dan putra-putrinya juga masih balita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu soal pendanaannya?” Dang Didung penasaran.&lt;br /&gt;
“Pak Didung jangan khawatir soal biaya,” kata orang itu lagi, “Sebab kami telah menyiapkan segalanya. Bahkan kami jamin Pak Didung takkan mengeluarkan uang sepeser pun untuk pencalonan ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Betul, Pa Didung,” sambung Kang Natasukma, “Kami telah menyiapkan Rp10 miliar, itu pun kalau Pak Didung percaya. Tapi kami juga harus terus-terang kepada Pak Didung bahwa dana sebesar itu bukan untuk dibagi-bagikan kepada rakyat agar mereka nanti memilih kita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung agak mengerutkan keningnya. Sebab dalam pemahamannya, biaya yang dikeluarkan seorang calon bupati itu bukan hanya untuk melengkapi persyaratan, tes kesehatan, bikin kaos, baliho, spanduk, stiker dan semacamnya, tapi juga untuk dibagi-bagikan kepada rakyat supaya rakyat nanti memilihnya. Makanya dana yang harus disiapkan sangat besar. Tapi para calon mau mengeluarkannya. Sebab bila terpilih, dalam sesaat modal itu sudah bisa dikembalikan. Caranya, ya kalau tidak dengan menggerogoti APBD, apa lagi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kami takkan membeli suara rakyat,” kata Kang Natasukma, “Kami justru ingin memberi pendidikan politik yang benar kepada rakyat, bahwa mereka memilih calon pemimpin bukan karena calon pemimpin itu telah memberi mereka uang atau sembako alakadarnya, atau telah memberikan bantuan dana untuk memperbaiki tempat-tempat ibadah, sarana air bersih, perlengkepan olah raga dan sebagainya. Tapi mereka memilih calon pemimpin itu karena memang mereka melihat bahwa calon pemimpin itu amanah dan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik dikemudian hari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Didung sebetulnya tidak yakin cara seperti itu akan berhasil memikat hati rakyat. Bahkan tidak mustahil rakyat menganggapnya sebagai calon bupati yang bokek, atau malah menyebutnya pelit dan kikir. Tapi Dang Didung tidak mau memperdebatkannya. Soalnya Dang Didung sendiri sebetulnya tidak suka dengan cara-cara calon pemimpin yang pura-pura dermawan. Padahal sesungguhnya dia berbuat begitu hanya pada saat butuh dukungan rakyat. (Bersambung)&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.bigextracash.com/aft/fd1befc1.html&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Times,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: x-large;&quot;&gt;ArusRasyid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/778448218496480417/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/dang-didung-ikut-pemilukada-1-dari-2.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/778448218496480417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/778448218496480417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/dang-didung-ikut-pemilukada-1-dari-2.html' title='Dang Didung Ikut Pemilukada (1 dari 2)'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-aOBG7YMcpBxELSqcyK-dn5AIudgVQGJzxD8w3h11ihF6avAT94sV_fdkk2xHH7A3hdI-Qec8YODi6mthoIXnoiEzPvgqb17KEassTDbPmT8YdwyoS8JlViIEFYI2gozgnp-pE4B4RCMZ/s72-c/kursi1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2345891035191469288</id><published>2010-08-12T12:32:00.000+07:00</published><updated>2010-08-12T12:32:17.588+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Betulkah Anak Terlantar Dipelihara oleh Negara?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIjnrX973-vhIxEEs4G8dWhx5i2gQ5QazJa86WWQ15aSvDpjEX89Za3-v8LcQEay6RgzTNSIdtHIy8-zDKlZIVsob4kqrkU_FkfEZtGy6VoGR8NiqbO8WgksaIizh6gCtT6Fc5QbBegMG0/s1600/82586_menteri_sosial__salim_segaf_al_jufri_300_225.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIjnrX973-vhIxEEs4G8dWhx5i2gQ5QazJa86WWQ15aSvDpjEX89Za3-v8LcQEay6RgzTNSIdtHIy8-zDKlZIVsob4kqrkU_FkfEZtGy6VoGR8NiqbO8WgksaIizh6gCtT6Fc5QbBegMG0/s200/82586_menteri_sosial__salim_segaf_al_jufri_300_225.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara”. Ini bukan kalimat bombastis atau janji seorang calon pemimpin saat kampanye. Kalimat yang indah dan manusiawi itu tak lain adalah bunyi Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945, yang oleh anak-anak SD pun mungkin telah hapal di luar kepala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun cobalah tengok ke sekeliling. Kita niscaya akan terhenyak seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat banyaknya fakir-miskin yang kurang diperhatikan pemerintah. Bahkan yang lebih ironis, begitu banyak anak-anak terlantar di negeri ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diakui Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Al Jufri. Katanya saat ini di seluruh Indonesia ada sekitar 5,4 juta anak terlantar. Dari hasil assasment yang dilakukan Kemensos terhadap anak jalanan, sekitar 80 persen penyebab anak-anak turun ke jalan adalah disebabkan kemiskinan (Pelita, Kamis, 12 Agustus 2010). &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Karena itu, kata Mensos, untuk menuntaskan akar kemiskinan, orang tua dari anak-anak terlantar ini juga perlu diberdayakan ekonominya. Jika orang tuanya punya usaha ekonomi yang baik, maka diharapkan anak-anak jalanan tidak akan turun lagi ke jalanan dan mereka bisa kembali sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu penanganan Kemensos sendiri terhadap 5,4 juta anak terlantar itu, bagaimana? Apa yang telah dilakukan Kemensos selama ini? Di jalanan, anak-anak terlantar masih dengan sangat mudah kita temukan. Mereka dengan suara yang dibuat sememelas mungkin, menengadahkan telapak tangannya kepada siapa saja yang berpapasan demi uang recehan. Padahal mereka semestinya bercengkerama dengan riang bersama teman-teman sebayanya di sekolah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Boleh jadi mereka sebetulnya terpaksa mengemis, karena memang terdesak kebutuhan ekonomi keluarga. Mereka pun pasti ingin seperti anak-anak yang lain, yang bisa bebas bermain, sekolah dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkinkah dalam kasus pengemis-pengemis cilik itu ada aroma eksploitasi anak oleh orang tuanya, mengingat kita seringkali menjumpai pengemis dewasa yang membawa-bawa balita saat beroperasi? Hal semacam itu tidak mustahil terjadi. Dan kalau memang terjadi, mestinya pihak berwenang segera bertindak. Sebab &lt;a href=&quot;http://www.pdat.co.id/hg/reference_pdat/2005/01/03/UU RI nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.doc&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak&lt;/a&gt;, telah mengisyaratkan adanya sanksi hukum bagi orang tua/wali yang mengeksplotai seorang anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya dalam Pasar 13 disebutkan bahwa (1) &lt;i&gt;setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi maupun seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan dan penganiayaan, ketidakadilan, dan perlakuan salah lainnya&lt;/i&gt;. Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa &lt;i&gt;dalam hal orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pelaku dikenakan pemberatan hukum&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi aturannya lengkap. Bagaimana seorang anak harus tumbuh-kembang, sudah diatur sedemikian rupa sehingga di negri ini tidak dimungkinkan adanya seorang anak yang hidup secara tidak layak. Begitu sebetulnya kalau kita merujuk pada Pasal 34 UUD 1945 dan Pasal 13 UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kata-kata yang indah dalam undang-undang itu tidaklah seindah implementasinya. Sebab masih banyak anak-anak di negeri ini yang kurang beruntung. Mereka berkeliaran di lingkungan keras seperti terminal bis, stasiun kereta api, pasar dan semacamnya. Mereka menengadahkan telapak tangannya kepada setiap orang yang lewat untuk sekedar memperoleh uang receh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa amanat undang-undang yang sudah sangat jelas itu tidak terrealisasikan dalam kehidupan nyata? Apakah para pengambil kebijakan di negeri ini tidak tahu ada undang-undang seperti itu? Atau barangkali, tahu sih tahu, namun nurani mereka terbutakan oleh kepentingan-kepentingan pribadi? Boleh jadi begitu. Yang jelas kita hanya bisa mengurut dada atas terjadinya pengabaian undang-undang, justru oleh para penguasa sendiri.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2345891035191469288/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/betulkah-anak-terlantar-dipelihara-oleh.html#comment-form' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2345891035191469288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2345891035191469288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/08/betulkah-anak-terlantar-dipelihara-oleh.html' title='Betulkah Anak Terlantar Dipelihara oleh Negara?'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIjnrX973-vhIxEEs4G8dWhx5i2gQ5QazJa86WWQ15aSvDpjEX89Za3-v8LcQEay6RgzTNSIdtHIy8-zDKlZIVsob4kqrkU_FkfEZtGy6VoGR8NiqbO8WgksaIizh6gCtT6Fc5QbBegMG0/s72-c/82586_menteri_sosial__salim_segaf_al_jufri_300_225.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-8300657275361542527</id><published>2010-07-19T12:57:00.000+07:00</published><updated>2010-07-19T12:57:55.679+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Pasca Kenaikan TDL Perkampungan Kembali ke Tahun 70-an</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7ulj98i8uxhl2vXMn0AvhSHkqRno-gUh1PSnlcI_QIBF6NGqzMb2qoqiKGXWTAwSkhRSZlgEXLe6xUgB8lUGfH1IoUNNWmsYZnRAwpcKFyLzOd-gkzD73OVgFD-42AXBlU8Ta_8vOHiAo/s1600/PLN-dlm-2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7ulj98i8uxhl2vXMn0AvhSHkqRno-gUh1PSnlcI_QIBF6NGqzMb2qoqiKGXWTAwSkhRSZlgEXLe6xUgB8lUGfH1IoUNNWmsYZnRAwpcKFyLzOd-gkzD73OVgFD-42AXBlU8Ta_8vOHiAo/s200/PLN-dlm-2.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Hemat sama dengan pelit? Paling tidak begitulah pasca PLN menggulirkan token (listrik prabayar) berbarengan dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Token memang baru dioperasikan di beberapa daerah, belum menyeluruh secara nasional seperti halnya kenaikan TDL. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di daerah saya sendiri, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, listrik prabayar itu baru dilaksanakan di wilayah Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) Cianjur Kota. Itu pun khabarnya baru sekitar 10.000 dari sekitar 120 ribu pelanggannya. Namun dari pengguna token sebanyak itu, sangat terasa perubahannya: di malam hari banyak kampung-kampung yang kembali ke tahun 70-an.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kok bisa begitu? Sebabnya sederhana, pelanggan listrik (pengguna token) sekarang ini benar-benar berhemat aliar ngirit. Termasuk saya. Di malam hari hanya ada tiga gantungan listrik masing-masing 5 watt yang masih menyala: satu di kamar tidur, satu di kamar mandi dan satu lagi di luar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lampu yang di luar, yang terangnya hanya temaram saja, dikomplen secara guyon oleh seorang tetangga saya, “Kok gak beramal lagi sekarang? Bukankah menerangi gang di malam hari itu termasuk amal kebaikan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Untungnya kompak ya,” lanjut sang tetangga, “Saya juga begitu. Yang lain pun sama, demi hemat, lampu penerangan di gang-gang dimatikan. Malah sekarang banyak perkampungan di perkotaan yang kembali ke tahun 70-an. Penerangan di gang-gang perkampungan hampir tidak ada, karena saat itu belum banyak masyarakat yang menjadi pelanggan PLN.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang pasca kenaikan TDL, para pengguna token bisa mengetahui betapa mahalnya harga listrik sekarang ini. Hal itu bisa dilihat dari meterannya. Semakin banyak listrik dipakai, angka-angka dalam meteran token akan semakin cepat berkurang. Dan kalau pulsa listrik yang tertera di meteran itu habis, listrik dengan sendirinya padam. Untuk menyalakannya kembali, kita harus beli pulsa listrik. Kalau kejadiannya siang hari, mungkin tidak repot. Tapi bagaimana kalau kejadiannya tengah malam? Terpaksa bergelap-gelap hingga pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda dengan pelanggan lama yang masih membayar tagihan listriknya secara bulanan atau abodemen. Sekalipun ada kenaikan TDL, kita biasanya tidak berubah dalam menggunakan listrik di rumah. Bahkan kita tidak mau tahu berapa KWh listrik yang kita pakai perbulannya. Yang penting kita bayar sekian perbulan. Kalau belum punya uang, ya nunggak. Bulan depan baru bayar listrik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi dengan listrik prabayar, kita tidak bisa begitu lagi. Tak ada istilah nunggak. Yang ada -- kalau tidak punya duit buat beli pulsa listrik -- listrik mati, bisa sehari, dua hari, seminggu atau sebulan, tergantung sampai kapan kita punya duit untuk beli pulsa listrik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disatu sisi harus diakui, dengan token kita benar-benar bisa mengontrol pemakaian listrik; bisa berhemat, malah bisa ngirit, seperti halnya pengguna telepon seluler prabayar. Bahkan pula bisa mengurangi biaya yang kita tidak tahu pemanfaatannya, yakni biaya administrasi bank. Setiap kita beli pulsa listrik, kita dikenakan biaya administrasi bank Rp1.600,- (ada pula yang Rp2.000,- katanya tergantung bank-nya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biaya adminitrasi bank itu bisa dihemat. Misalnya begini, tarohlah dalam sebulan kita beli pulsa listrik Rp100.000,-. Pembelian pulsa listrik sebanyak itu memang bisa dicicil. Sebut saja kita beli pulsa listrik Rp20.000,- untuk pemakaian enam hari, dan enam hari berikutnya kita beli lagi Rp20.000,- sehingga dalam sebulan kita beli pulsa listrik Rp20.000,- sebanyak lima kali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari lima kali pembelian pulsa listrik itu kita harus mengeluarkan biaya admintrasi bank sebesar Rp8.000,-. Dan kita bisa menghematnya dengan cara membeli sekaligus pulsa listrik Rp100.000,-, sehingga biaya adminitrasi bank yang kita keluarkan hanya Rp1.600,- saja. Sebab memang adminitrasi bank diambil dari setiapkali kita beli pulsa listrik berapa pun besarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu bisa terus dihemat, misalnya kita beli sekaligus pulsa listrik Rp500.000,- untuk pemakaian lima bulan ke depan, biaya adminitrasi bank yang kita keluarkan pun tetap hanya Rp1.600,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah saya kira sisi baiknya listrik prabayar. Namun ada juga sisi “jeleknya”. Dengan listrik prabayar -- paling tidak saya dan sejumlah pengguna token lain yang saya ketahui mulai mengurangi pemakaian listriknya untuk penerangan gang di depan rumahnya -- telah diajari PLN untuk bersikap individualis dan kikir: biarlah gang-gang gelap, yang penting rumah tetap terang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu akan sangat menyenangkan bila penggunaan token dibarengi dengan harga listrik yang murah. Tapi mana mungkin? PLN sendiri khabarnya ingin mandiri, tak mau disubsidi pemerintah. Artinya PLN ingin menjual listrik kepada masyarakat sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkannya, yakni sekitar Rp1.200,-/KWh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi siap-siaplah para pelanggan PLN, karena TDL pasti akan naik lagi, sekalipun entah kapan.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/8300657275361542527/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/07/pasca-kenaikan-tdl-perkampungan-kembali.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8300657275361542527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8300657275361542527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/07/pasca-kenaikan-tdl-perkampungan-kembali.html' title='Pasca Kenaikan TDL Perkampungan Kembali ke Tahun 70-an'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj7ulj98i8uxhl2vXMn0AvhSHkqRno-gUh1PSnlcI_QIBF6NGqzMb2qoqiKGXWTAwSkhRSZlgEXLe6xUgB8lUGfH1IoUNNWmsYZnRAwpcKFyLzOd-gkzD73OVgFD-42AXBlU8Ta_8vOHiAo/s72-c/PLN-dlm-2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-155440377072985624</id><published>2010-07-09T10:44:00.001+07:00</published><updated>2010-07-09T10:46:48.588+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen"/><title type='text'>Sid, Nisa Sakit Parah!</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIVpl_nZ_iusrxXp8cbPZkoZwFHZ58mjfcw-18JBYmEVrQULJLxypSsUFs9OfYql_bW4-EH8hOvAF9ZBVAbCKSkwYz3xCMwhR2dP3yCprqJ5W2pnfY1-uHArsFXGyV1OA_NxekNGPWeNpv/s1600/Ilustrasi+Cerpen+Nisa.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;178&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIVpl_nZ_iusrxXp8cbPZkoZwFHZ58mjfcw-18JBYmEVrQULJLxypSsUFs9OfYql_bW4-EH8hOvAF9ZBVAbCKSkwYz3xCMwhR2dP3yCprqJ5W2pnfY1-uHArsFXGyV1OA_NxekNGPWeNpv/s200/Ilustrasi+Cerpen+Nisa.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Terkejut, lalu tercenung. Itulah sikapku sesaat setelah membaca pesan singkat yang masuk ke hape-ku, pagi tadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terkejut karena memang selama hampir empat tahun ini aku tak pernah memperoleh khabar tentang Nisa. Atau tepatnya barangkali, aku bersyukur selama hampir empat tahun ini tak pernah dikhabari soal Nisa. Tapi sekarang, khabar tentang Nisa tiba-tiba muncul, dan itu bukan khabar yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sid, Nisa sakit parah.” &lt;br /&gt;
Begitu bunyi pesan singkat yang dikirim Burhan, sahabat baikku. Ini juga merupakan pesan singkat yang pertama dari Burhan kepadaku selama hampir empat tahun. Dan aku sebetulnya bersyukur selama hampir empat tahun Burhan tak pernah mengirim khabar apa pun baik tentang dirinya maupun Nisa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sekarang Burhan tiba-tiba mengabarkan Nisa sakit parah. Kapan Nisa mulai sakit? Sejak kapan pula sakitnya tambah parah? Burhan selama ini tak pernah mengabarkannya. Mungkinkah karena Burhan ingin menjaga perasaanku? Atau Nisa sendiri yang melarangnya?&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Aku gamang. Apakah aku harus menjenguknya? Atau mengabaikannya? Toh bagiku sekarang Nisa bukan siapa-siapa lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nisa semakin parah. Sekarang dirawat di rumah sakit. Jenguklah, Sid.”  Burhan kembali mengirim khabar, dua hari kemudian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sakit apa sebetulnya perempuan itu, Burhan tidak menyebutkannya. Aku sendiri enggan untuk menanyakan soal itu. Apalagi untuk menjenguknya. Aku merasa, mengetahui khabar dan keadaan Nisa saat ini, serasa luka yang kembali nanahan. Sekejam itukah aku sekarang ini kepada perempuan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nisa. Ya, Anisa lengkapnya. Nama itu pernah melekat dan mengisi relung-relung hatiku, lima tahun lalu. Aku, Burhan dan Nisa bekerja di kantor pusat. Tapi aku dan Burhan telah lebih lama bekerja di situ. Nisa sendiri sebetulnya bisa bekerja di situ atas rekomendasi Burhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya aku tidak tahu Burhan dan Nisa punya hubungan khusus. Bahkan ketika aku tanya ada hubungan apa antara dia dan Nisa sehingga Burhan merekomendasikan gadis bermata bening itu bekerja di situ, Burhan hanya bilang, “Famili dekat. Ingin cari pengalaman katanya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kenapa aku, setelah tak mampu lagi menahan daya tariknya yang begitu dahsyat sejak dihari-hari pertama Nisa bekerja di kantorku, aku dengan ringan saja berterus-terang kepada Burhan bahwa aku naksir Nisa dan meminta Burhan untuk menyampaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ha ha ha…Lagi jatuh cinta rupanya. Nantilah saya sampaikan,” kata Burhan terbahak, bahkan sempat berguyon, “Tapi ingat, jangan gantung diri kalau Nisa menolak cintamu. Dia itu sepertinya jinak-jinak merpati. Ha ha ha…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betul memang, Nisa tak mudah diterka. Saat kami makan berdua di kantin kantor, dan aku menyinggung soal Burhan, gadis bermata bening itu langsung bilang, “Titipanmu lewat Burhan untukku telah aku terima,” lantas tersenyum. Entah apa maknanya, aku tidak dapat menterjemahkannya. Hanya saja sikapnya yang ramah kepadaku, aku rasakan murni keramahan seorang perempuan baik hati. Tak lebih tak kurang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi aku telah terlanjur jatuh cinta, dan aku tak boleh putus asa. Aku tak henti mendekatinya; mencoba menyelami jiwanya, memahami kesukaan-kesukaannya, bahkan terkadang aku sedikit bersikap atraktif untuk memancing perhatiannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya tidak terlalu sia-sia. Pada bulan keempat sejak bekerja di kantorku, Nisa tampaknya mulai luruh. Dia tak lagi menolak kalau aku mengajaknya nonton di bioskop, atau makan di restoran. Dia juga tak menolak mendampingiku kalau aku mengajaknya untuk hadir pada undangan pernikahan sahabat atau familiku. Bahkan dia tersenyum kalau dalam pesta pernikahan itu ada familiku yang mengguyoninya, “O, ini rupanya calonmu itu, Sid!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun merasa tak lagi bertepuk sebelah tangan, sekalipun belum pernah terucap kata-kata cinta dari mulutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua proses itu diketahui Burhan. Sebab selama ini aku selalu terbuka. Malah boleh dibilang, tak ada rahasia di antara aku dan Burhan. Apalagi kami bertiga sekantor, sekalipun beda ruang kerja. Dan sejauh ini Burhan bersikap biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan aku merasakan perubahan sikap Burhan. Terlebih lagi setelah aku minta pendapatnya kapan kira-kira waktu yang tepat untuk melamar Nisa. Saat itu aku melihat raut wajah sahabatku yang menunjukkan keterkejutan. Bahkan dihari-hari berikutnya Burhan berupaya menghindar kalau aku bercerita tentang Nisa, sampai suatu hari dia masuk ke ruang kerjaku (sejak aku dekat dengan Nisa, Burhan tak pernah lagi masuk ke ruang kerjaku untuk sekedar ngobrol ngaler-ngidul).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ada yang ingin saya sampaikan, dan saya rasa ini sangat penting. Tapi jangan di sini,” katanya seraya menatapku, “Bagaimana kalau sepulang kantor kita makan di restoran biasa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, asyik tuh! Sudah lama memang kita gak makan bersama di restoran itu,” kataku. Sejujurnya aku sangat senang dengan ajakan Burhan, sekalipun di sisi lain aku merasakan sesuatu yang janggal. Karena biasanya, kalau dia ingin mengatakan sesuatu, langsung dikatakan saat itu juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejanggalan itu masih aku rasakan saat kami sudah berada di restoran, sore harinya. Sikap Burhan tampak kaku, tidak seperti kepada seorang teman yang telah lama bersahabat baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak tahu dari mana pembicaraan ini harus dimulai. Tapi memang pembicaraan ini harus dibuka sekarang,” katanya seraya mengambil amplop putih dari saku kemejanya. “Ini ada surat dari Nisa. Tapi jangan dibaca sekarang. Saya mau cerita dulu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burhan menyulut sebatang rokok. “Begini, Sid…” katanya. Maka meluncurlah cerita  dari mulut Burhan -- sebuah cerita yang membuat aku tepukul, terhempas ke tempat sampah paling kotor, sekaligus membuatku sangat kecewa bercampur marah. Ingin rasanya saat itu aku menghajar Burhan habis-habisan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Burhan tidak jujur, bahkan aku menganggap Burhan sengaja menjerumaskanku ku jurang kehancuran setelah sebelumnya aku dininabobokan. Betapa tidak, Burhan dan Nisa  sejak remaja ternyata telah dijodohkan keluarganya. Bulan depan mereka akan menikah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan saya, Sid. Harusnya saya jujur ketika kau kali pertama bilang naksir Nisa. Bahkan harusnya saya jujur ketika kau menanyakan hubungan Nisa dengan saya terkait rekomendasi saya kepada pimpinan atas lamaran kerja Nisa. Tapi saat itu, saya dan Nisa masih berpikir, sekalipun kami dijodohkan sejak remaja, tapi kalau satu sama lain tidak saling mencintai, kami sepakat untuk bubar,” paparnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jujur saya akui, saya dan Nisa tidak saling mencintai, sehingga saya memberi kebebasan kepada Nisa untuk mencari lelaki yang benar-benar dicintainya. Dan itu adalah kau, Sid,” katanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Namun saya juga harus jujur bahwa saya dan Nisa datang dari keluarga kolot. Ketika kebersamaan kau dan Nisa tercium mereka dan mereka melihat kau dan Nisa tidak sekedar teman sekantor, keluarga kami berembug dengan hasil satu keputusan: kami harus segera menikah.” Burhan mengisap rokoknya dalam-dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak bisa membantah, Sid. Nisa juga. Ada konsekwensi-konsekwensi yang tak harus saya sebutkan bila kami menolak pernikahan itu. Saya sendiri tidak tahu bagaimana jadinya rumah tangga kami nanti tanpa cinta.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku benar-benar terpukul. Burhan keterlaluan. Dan Nisa, kenapa harus membuka pintu hatinya kalau memang tak mau ambil resiko: menolak rencana pernikahannya dengan Burhan, dan memilih aku sebagai pria pilihannya? Aku tak menemukan jawaban atas ketidak-mengertianku itu dalam surat Nisa yang dititipkan lewat Burhan. Nisa dalam suratnya itu hanya bercerita seperti apa yang disampaikan Burhan, lalu berulang-ulang memohon maaf kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya terasa menyakitkan. Apalagi para penyebabnya berada satu kantor. Maka seminggu kemudian aku menghadap pimpinan, menanyakan kembali tawarannya beberapa bulan lalu tentang posisi baruku di kantor cabang di sebuah kota kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pimpinan yang juga mengetahui kondisiku, tanpa banyak bertanya lagi langsung mengeluarkan surat pemindahanku ke kantor cabang. Dan sejak itu aku mencoba melupakan Nisa dan Burhan. Memang beberapa khabar yang disampaikan Burhan, baik tentang dirinya maupun Nisa, dibulan-bulan awal kepindahanku masih sempat aku aku terima lewat pesan singkat. Tapi selanjutnya aku bersyukur Burhan, apalagi Nisa, tak lagi mengirim khabar. Toh khabar-khabar yang mereka kirim sebelumnya pun tak pernah aku tanggapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang setelah hampir empat tahun, Burhan mengabarkan Nisa, istrinya, sakit parah, dan berharap aku menjenguknya. Perlukah setelah perlakuannya yang teramat menyakitkan? Berat memang kalau segalanya dikaitkan dengan masa lalu. Tapi rasanya berdosa juga bila aku sama sekali tak pernah menjenguknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga hari kemudian aku berangkat dari kota kecilku ke kota tempat tinggal Burhan dan Nisa. Aku bermaksud langsung datang ke rumah sakit. Dalam perjalanan hape-ku berbunyi menandakan ada kiriman pesan singkat. Aku buka, aku baca isinya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maafkan Nisa, Sid. Tadi subuh Nisa wafat. Berhari-hari Nisa menanyakan kau. Katanya hanya ingin minta maaf, lalu mendengar langsung kau sendiri memaafkannya. Itu pula pesan terakhirnya. Saya mohon maafkan dia dengan setulus-tulusnya, Sid.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku langsung terhenyak setelah membaca pesan singkat Burhan itu. Aku merasa menjadi orang paling tolol sekarang. Mestinya sejak kali pertama Burhan mengabarkan Nisa sakit parah, aku langsung menjenguknya. Mestinya aku sedikit manusiawi saat itu. Mestinya aku sudah memaafkan Nisa sejak dulu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasanya sekarang aku menjadi orang yang paling berdosa.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/155440377072985624/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/07/sid-nisa-sakit-parah.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/155440377072985624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/155440377072985624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/07/sid-nisa-sakit-parah.html' title='Sid, Nisa Sakit Parah!'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIVpl_nZ_iusrxXp8cbPZkoZwFHZ58mjfcw-18JBYmEVrQULJLxypSsUFs9OfYql_bW4-EH8hOvAF9ZBVAbCKSkwYz3xCMwhR2dP3yCprqJ5W2pnfY1-uHArsFXGyV1OA_NxekNGPWeNpv/s72-c/Ilustrasi+Cerpen+Nisa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-8440232664471542491</id><published>2010-06-29T10:20:00.000+07:00</published><updated>2010-06-29T10:20:44.028+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Novel Bersambung"/><title type='text'>Lalu Semuanya Berubah (12)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4iv6PJdHyFxSZPPIx6MmTobmwFbfn8FM89yV2PvqMeSgFw4td8HgHOcXbrHUJx9hGvwDePYXUNB__LDgqU6Io1AW9d-071pEHy8boCsLfofn6JwZZVzwexE1_t64mUB59GNvzH8amwqVe/s1600/Nanggung.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;155&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4iv6PJdHyFxSZPPIx6MmTobmwFbfn8FM89yV2PvqMeSgFw4td8HgHOcXbrHUJx9hGvwDePYXUNB__LDgqU6Io1AW9d-071pEHy8boCsLfofn6JwZZVzwexE1_t64mUB59GNvzH8amwqVe/s200/Nanggung.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lanjutan Novel Bersambung &quot;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lalu Semuanya Berubah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&quot;:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika matahari yang temaram diselimuti awan kelabu tepat berada di atas ubun-ubunnya, tanaman singkong milik Nenek itu selesai Jaja cabuti. Batang-batangnya ditumpukkan di samping saung Bapak. Sebagaian mungkin akan dimanfaatkan untuk kayu bakar. Sebagian lagi mungkin akan ditanam di pematang-pematang sawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan daun-daunnya telah Jaja timbuni dengan tanah di salah satu sudut petakan. Dalam seeminggu dedaunan itu bakal membusuk, dan Jaja bisa manfaatkan untuk pupuk. Ubinya dari empat petak sawah, hanya menghasilkan beberapa pikul saja. Padahal kalau ketela itu dibiarkan beberapa bulan lagi, hasilnya bisa mencapai kwintalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja bersandar di saung Bapak. Dadanya telanjang, dibiarkan dibelai angin. Pandangnya berkeliling ke sudut-sudut lembah yang kini tak lagi lenggang. Hampir di setiap petakan sawah, tampak orang-orang. Sebagian melakukan apa yang tadi Jaja kerjakan. Sebagian lagi mulai mencangkul sisi-sisi pematang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Besok atau lusa mungkin aku bisa mulai mencangkul pematang,” pikir Jaja. “Tapi tentu hanya aku sendiri yang mencangkul pematang dan seluruh sawah Bapak, yang sekarang aku anggap telah mereka wariskan kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
“Entah butuh berapa hari aku menyelesaikan pekerjaan itu. Aku ragu pada kemampuanku saat ini. Boleh jadi aku butuh banyak waktu. Sedangkan kalau diburuhkan kepada orang lain, aku rasa tidak mungkin. Aku tak punya uang untuk membayar kuli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya Bapak ada, aku pasti mendapat bantuan tenaga. Atau lebih tepatnya, aku akan membantu Bapak mempercepat pengerjaan sawah-sawah ini. Oleh tenaga Bapak, sawah empat petak itu bisa diselesaikan dalam dua hari, seperti yang aku saksikan dulu. Kemudian Emak menanam padinya, yang kadang-kadang dibantu juga oleh Bapak atau Nenek atau mertua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setelah itu, aku dan Bapak ikut mencangkul sawah mertua. Emak pun ikut menanam  padinya. Suatu kebersamaan yang aku rasa sulit aku temukan kembali. Sesulit aku melupakan Emak dan Bapak. Sesulit aku membunuh kenyataan bahwa Mae kini tak lagi menjadi milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sangat boleh jadi jemari tangan Mae sekarang, lancip-lancip. Kuku-kukunya mungkin dicat merah. Mae tentu tak sudi lagi menjamah lumpur, apalagi ikut tandur. Bahkan tidak mustahil Mae sudah lupa bagaimana menanam padi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mae saat ini sangat mungkin tak lagi menjadi sesosok perempuan desa, yang tangan, kaki  dan tubuhnya penuh lumpur. Buktinya  dua tahun ia tak sekalipun menginjakkan kaki di desa ini. Mae sekarang telah menjadi perempuan kota, berikut ikatan-ikatan kekotaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagiku perubahan sikap semacam itu amat mengecewakan, kendati jiwa kedesaan atau  kekotaan hak setiap orang sebagai pilihan cara hidup. Tapi bagiku Mae tidak sekedar sesosok perempuan, istri atau emak dari anakku. Mae pun adalah sawah, bukit, kambing-kambing dan angin pegunungan. Semuanya mengikat jiwa dan ragaku sampai menjadikanku anak desa seutuhnya. Dulu aku merasakannya begitu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi hidup punya alurnya sendiri. Sebelum Jaja bisa meraih impiannya, kematian Usin lalu dengan amat kejamnya menciptakan jalan hidup yang terpotong-potong. Mae menjelma menjadi wanita kota dan Jaja bersusah-payah meraih kambali jiwa kedesaannya, yang selama delapan tahun nyaris terhapus oleh pembelengguan Nusakambangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan soal pemberangkatannya ke Nusakambangan itu pun, sebetulnya membingungkan. Kata berita koran yang sempat ia dengar dari percakapan sipir di pulau itu, seharusnya Jaja tidak perlu dibawa ke Nusakambangan. Karena memang bukan  penjahat kelas kakap, yang sering keluar-masuk penjara.  Tetapi lantaran ada kekeliruan data, yang mengisyratkan Jaja pembunuh berbahaya, terpaksa ia dibuang ke Nusakambangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja tidak mengerti, apakah yang dimaksud “kekeliruan data” itu, tertukar identitas dengan penjahat  kakap yang bernama sama, atau bagaimana. Ia tidak memahami adanya perbedaan antara penjahat yang dikirim ke Nusakambangan dengan penjahat yang dikurung di rumah tahanan biasa. Sebab bagi Jaja, dipenjara di Nusakambangan atau di rumah tahanan, sama saja: terpuruknya sebagian perjalanan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itu telah merampas jiwa kedesaanya. Bahkan ketika ia memperoleh kebebasannya, jiwa kedesaan itu ternyata tak mudah dibangun lagi lantaran sejumlah peristiwa yang ia hadapi bertentangan dengan harapan-harapannya. Terlebih lagi adanya kenyataan bahwa perempuan yang teramat dicintainya, lenyap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku pikir, sukar sekali aku bisa membangun kembali rasa kedesaan seutuhnya tanpa kehadiran perempuan yang tidak saja sebagai perempuan, isteri dan emak dari anakku, namun juga sebagai sawah, bukit, kambing-kambing dan angin pegunungan,” renung Jaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah terlintas di benaknya bahwa ia mungkin bisa menciptakan Mae yang lain lewat sosok Suti. Namun karena kenyataan ia adalah perempuan bersuami, maka harapan semacam itu menjadi mustahil. Suti, bagaimanapun takkan pernah bisa benar-benar mengikatkan jiwa raganya pada sawah  berikut kedesaan, sepanjang kehadirannya cuma sebagai perempuan yang dikelilingi sejumlah batas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja memang tidak menyangkal bahwa kehadiran perempuan itu belakangan ini, ikut mendorong gairahnya menengok tanaman ketela, dan mungkin akan mendorong Jaja ketika mengolah sawah Bapak pada hari-hari selanjutnya. Tapi pada saat yang bersamaan terbesit kekhawatiran bahwa Si Tua Bangka itu akan mengetahui apa yang diperbuat isteri keempatnya. Itulah mengapa Jaja menganggap Suti takkan bisa mengikat dirinya pada sawah dan kedesaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang-orang yang sedang bekerja di petakan-petakan sawah itu pun, aku kira, punya dorongan kerja yang tidak saja didasarkan pada tanggung jawabnya mengolah alam, akan tetapi juga didorong kekuatan lain yang sifatnya lebih manusiawi. Yakni istri-istri dan anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merekalah yang secara sempurna mempererat ikatan kedesaan pada desanya sendiri.&lt;br /&gt;
“Dan aku? Kian hari kian terasa bahwa aku butuh seseorang yang bisa lebih mempribadi,” bisiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Justru pada saat seperti ini bayangan Mae tiba-tiba bermain di pelupuk mata dengan amat genitnya. Lalu dendamku pun membara pada Si Bujang Lapuk yang telah merebut Mae;  pada Si Tua Bangka yang kucurigai selalu menggoda Mae sewaktu aku di Nusakambangan; pada tetangga-tetangga yang masih menganggapku sebagai orang bebal. Semua itu benar-benar membuat batinku tersiksa.” Jaja mengeluh. Lantas  tercenung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matahari mulai bergeser ke barat. Satu per satu orang-orang meninggalkan sawahnya. Mereka menunda pekerjaan untuk esok hari. Beberapa di antaranya memikul telombong berisi ubi ketela. Beberapa lainnya cuma membawa parang dan cangkul. Gembala-gembala kecil menggiring kambingnya. Nun di atas langit, sekelompok burung kuntul mengawasi kepulangan petani-petani itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Jaja berpaling ke kanan, maksudnya akan mengambil kaos oblong yang ia gantungkan di galar saung, secara tak terduga ia menangkap sebuah bayangan bergerak di pematang, tak jauh dari saung Bapak. Itu seorang perempuan. Tangannya mengapit bungkusan plastik. Kepalanya tertutup kerudung biru. Sepertinya ia telah bepergian cukup jauh, dan Jaja mengenal perempuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Dialah!&lt;br /&gt;
“Hey, Ja, panen ya?” seru perempuan bersuami itu dari pematang sana. Langkahnya sesaat berhenti. Bibirnya, seperti biasa, merekah seraya memandang ke saung Bapak. Ia mengangguk kecil ketika kakinya kembali melangkah. Tanpa berpaling lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak berkedip Jaja memandanginya. Kemudian terdengar desah  panjang ketika tubuh perempuan itu lenyap di tepi kampung. Mungkin Jaja menyesal. Karena memang semula ia menduga isteri keempat Wak Duriat akan singgah di saung Bapak, lantas sebagaimana biasanya ia akan mengacaukan pikiran-pikiirannya -- lewat keriangan suaranya yang membelai-belai genderang telinga; lewat binar-binar matanya yang menyimpan ajakan-ajakan halus; lewat bahasa tubuhnya yang bermakna seribu kata malam pengantin. (&lt;i&gt;Bersambung&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/8440232664471542491/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-12.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8440232664471542491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8440232664471542491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-12.html' title='Lalu Semuanya Berubah (12)'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4iv6PJdHyFxSZPPIx6MmTobmwFbfn8FM89yV2PvqMeSgFw4td8HgHOcXbrHUJx9hGvwDePYXUNB__LDgqU6Io1AW9d-071pEHy8boCsLfofn6JwZZVzwexE1_t64mUB59GNvzH8amwqVe/s72-c/Nanggung.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-1439717927332774538</id><published>2010-06-25T15:14:00.000+07:00</published><updated>2010-06-25T15:14:57.870+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Hati-hati 29 Juta Tabung Gas 3 Kg tidak Layak Pakai</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5tKb0Jmak2TteewPAhSMmx7P82spBAIwJo3gdKR1IShRO4iKICN4F2HA6bjSAXw74p_IttyrHYT_eHOCwgHu7-3WvfcfUA64htBRPzzVNueYKyidpf4u-HHd_-jp5JnjpsTIAwBXXiXmd/s1600/Tabung+LPG+Pertamina.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5tKb0Jmak2TteewPAhSMmx7P82spBAIwJo3gdKR1IShRO4iKICN4F2HA6bjSAXw74p_IttyrHYT_eHOCwgHu7-3WvfcfUA64htBRPzzVNueYKyidpf4u-HHd_-jp5JnjpsTIAwBXXiXmd/s200/Tabung+LPG+Pertamina.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernahkah Anda, di jaman Orde Baru yang katanya tidak demokratis, &quot;dipaksa&quot; oleh pemerintah untuk menggunakan produk tertentu sekalipun demi kepentingan nasional? Rasanya belum pernah ya. Tapi sebaliknya diera reformasi yang katanya rakyat hidup lebih demokratis, kita &quot;dipaksa&quot; oleh pemerintah untuk menggunakan gas (LPG) dengan alasan pemerintah tidak mungkin terus-menerus memberikan subsidi bahan bakar minyak (BBM), termasuk minyak tanah, yang notabene digunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia untuk memasak, lampu penerangan (bagi yang belum kebagian aliran listrik) dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mayoritas masyarakat memang merasa &quot;dipaksa&quot; untuk menggunakan gas oleh karena setelah Program Konversi Minyak Tanah ke Elpiji berhasil dilakukan pemerintah, minyak tanah lenyap seolah-olah kembali ke perut bumi. Kalau pun masih ada, selain jumlahnya sangat terbatas juga harganya selangit, bahkan lebih mahal ketimbang harga bensin. Ini terbalik dibandingkan saat Orde Baru. Saat itu harga minyak tanah lebih murah ketimbang harga bensin, dan itu berkat adanya subsidi yang menurut saya layak dinikmati rakyat. &lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tapi sudahlah. Program Konversi sudah selesai. Lupakan minyak tanah. Karena rakyat pun, harus diakui, banyak juga yang merasakan keuntungan penggunaan gas, sepanjang tabungnya layak pakai, komponen kompor gas memadai dan volume gas yang dibelinya sesuai dengan kapasitas tabungnya sendiri. Dan karena itu silakan pemerintah tersenyum karena programnya berhasil dilaksanakan dan dinikmati rakyat. Tapi apa yang sesungguhnya terjadi sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalnya kita mungkin menganggap kasus tabung gas yang meledak, hanya kasuistis semata. Begitu juga takaran atau isi gas dalam tabung yang tidak sesuai dengan ukurannya, hanya ulah segelintir orang untuk memperoleh keuntungan lebih dengan menipu konsumen. Sehingga kita pun &quot;dapat&quot; menerima sikap pemerintah yang terkesan acuh-tak-acuh atas kasus-kasus tersebut. Karena mungkin hal itu bukan bencana nasional akibat Program Konversi. Tapi kemudian kita tersentak, dibalik ledakan-ledakan tabung gas 3 kg itu ternyata ada sesuatu yang kurang beres. Bahkan sahabat saya  &lt;a href=&quot;http://atokz.blogspot.com/2010/06/bom-waktu.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Atok&lt;/a&gt; menyebutnya sebagai Bom Waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simak berita utama halaman pertama &lt;a href=&quot;http://www.hupelita.com/baca.php?id=95963&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Harian Pelita&lt;/a&gt;. Di situ disebutkan hasil survey Badan Sertifikasi Nasional (BSN) yang sangat menyengat otak kita. Katanya 66 persen dari 44 juta tabung atau sekitar 29 juta tabung yang beredar di masyarakat tidak layak pakai. Begitupun dengan komponen lainnya yaitu kompor yang 50 persen atau sebesar 22 juta unit tidak layak pakai, sebanyak 8,8 juta regulator juga tidak memenuhi standar. Bahkan, 100 persen selang yang digunakan masyarakat saat ini tidak layak. Kondisi ini sangat mengerikan karena masyarakat harus menggunakan produk yang tidak standar dan mengancam nyawanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendesak pemerintah untuk segera menarik produk elpiji 3 Kg yang tidak layak pakai karena keberadaannya akan mengancam nyawa pemiliknya. &quot;Ini cacat hukum karena secara hukum konsumen tidak boleh menggunakan produk yang tidak layak. Jadi, kami meminta agar produk elpiji 3 Kg yang tidak layak ini harus di-recall atau ditarik oleh pemerintah karena pertaruhannya korban jiwa,&quot; jelas Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia juga menilai, program konversi minyak tanah ke elpiji yang dibuat pemerintah sebagai kebijakan yang instan dan terburu-buru. Kebijakan ini dibuat tanpa kajian dan sosialisasi yang matang kepada masyarakat. Padahal, sosialisasi penggunaan elpiji kepada para penggunanya ini sangat penting. Berdasarkan fakta yang ada kasus ledakan elpiji 3 Kg disebabkan masyarakat kurang paham soal bagaimana menggunakan elpiji secara baik dan benar. &quot;Insiden yang terjadi salah satunya disebabkan kesalahan masyarakat tidak tahu bagaimana menggunakan elpiji 3 Kg. Selang bocor malah ditambal. Ini entah karena mereka tidak tahu atau secara finansial mereka tidak mampu?&quot; ungkapnya. Tulus juga menilai pemerintah seperti cuci-tangan setelah menetapkan program ini. Pengawasan pemerintah dianggap masih sangat kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidakkah hal itu mengerikan? Masihkah pemerintah akan berpangku-tangan? Padahal persoalannya bukan hanya itu. Takaran gas dalam tabung 3 kg, belakangan ini sering dikeluhkan masyarakat karena isinya tidak sesuai alias tekor. Hal itu diketahui bukan saja karena gas cepat habis (padahal pemakaiannya normal), tapi juga terlihat dari meteran yang terpasang di regulator. Katanya, pada awal-awal penggunaan elpiji, angka dalam regulator menunjukkan angka 6, sehingga bisa disimpulkan bahwa setiap angka berarti setengah kilo. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan angka meteran itu hanya sampai pada angka 5. Komsumen umumnya masih bisa menerima. Namun dalam dua pekan terakhir, banyak komsumen yang terhenyak. Angka meteran regulator, ketika dipasang ke tabung gas 3 kg yang baru, hanya menunjuk angka 3 atau 4. Tekornya berarti satu kilo bahkan ada yang lebih, sementara harganya tetap, eceran di warung Rp15.000,00. Apakah karena regulatornya rusak, atau karena gas dalam tabung membeku? Yang jelas, gas dalam tabung 3 kg cepat habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalannya menjadi serius kalau kita lihat bahwa pengguna tabung 3 kg di Nusantara sebagian besar masih menggunakan komponen yang diperolehnya dari bantuan pemerintah. Seperti regulator yang tidak dilengkapi alat ukurnya. Mereka tentu tidak tahu bahwa isi tabung 3 kg yang dibelinya, mungkin tidak sesuai dengan isi elpijinya yang juga harus 3 kg. Mereka hanya tahu, gas cepat habis padahal pemakaiannya normar-normal saja. Apakah hal ini juga tidak menjadi perhatian pemerintah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sagat disayangkan memang bila Program Konversi itu hanya cukup dilihat dari sisi beban APBN semata bahwa sekarang subsudi untuk BBM telah berkurang secara signifikan, sehingga APBN bisa berbuat lebih banyak untuk membangun berbagai kepentingan rakyat. Padahal konversi mestinya juga dibarengi dengan tanggung jawab penuh pemerintah untuk melindungi masyarakat terkait penggunaan elpiji sebagai bahan bakar untuk rumah tangga.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/1439717927332774538/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/hati-hati-29-juta-tabung-gas-3-kg-tidak.html#comment-form' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1439717927332774538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1439717927332774538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/hati-hati-29-juta-tabung-gas-3-kg-tidak.html' title='Hati-hati 29 Juta Tabung Gas 3 Kg tidak Layak Pakai'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh5tKb0Jmak2TteewPAhSMmx7P82spBAIwJo3gdKR1IShRO4iKICN4F2HA6bjSAXw74p_IttyrHYT_eHOCwgHu7-3WvfcfUA64htBRPzzVNueYKyidpf4u-HHd_-jp5JnjpsTIAwBXXiXmd/s72-c/Tabung+LPG+Pertamina.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2237342177540995047</id><published>2010-06-21T12:43:00.002+07:00</published><updated>2010-06-21T12:47:39.218+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pernik-pernik"/><title type='text'>Award ke-2 dari Sahabat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrgbRvkodtFPod1-WUJZGaMpME9cQsyWSoauK5fdveq7PRHaUXrvSgN9mmFq9CWixJQxXfEBdc7R1z7xWOC9eRGb3fkWAtvGEbgODADI0SKYb6BSBmxmSYlHQPPjjKSBIxscVTBjEWff1Y/s1600/award+backlink.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrgbRvkodtFPod1-WUJZGaMpME9cQsyWSoauK5fdveq7PRHaUXrvSgN9mmFq9CWixJQxXfEBdc7R1z7xWOC9eRGb3fkWAtvGEbgODADI0SKYb6BSBmxmSYlHQPPjjKSBIxscVTBjEWff1Y/s1600/award+backlink.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sahabat saya yang kreatif, &lt;a href=&quot;http://ir2brothers.blogspot.com/2010/06/my-first-triple-awards.html&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Indra&lt;/a&gt; menanugerahi saya sebuah award, bersama sepuluh sahabat lainnya. Ini merupakan award kedua, setelah yang pertama saya memperoleh award serupa dari sahabat &lt;a href=&quot;http://nensa-catatanku.blogspot.com&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Nensa Moon&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya benar-benar merasa tersanjung, sekalipun di sudut hati paling dalam, saya sebetulnya merasa belum layak memperoleh award. Karena blog saya, termasuk postingannya masih jauh dari menarik.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Namun demikian, seraya mengucapkan terima kasih kepada Indra, dan juga sekali lagi kepada Nensa, award yang saya terima Insya Allah akan menjadi dorongan semangat saya untuk terus berkarya dan terus meningkatkan kualitas tulisan-tulisannya. Kepada sahabat Indra, dan juga sekali lagi kepada Nensa, semoga terus kreatif dan sukses selalu.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2237342177540995047/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/award-ke-2-dari-sahabat.html#comment-form' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2237342177540995047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2237342177540995047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/award-ke-2-dari-sahabat.html' title='Award ke-2 dari Sahabat'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjrgbRvkodtFPod1-WUJZGaMpME9cQsyWSoauK5fdveq7PRHaUXrvSgN9mmFq9CWixJQxXfEBdc7R1z7xWOC9eRGb3fkWAtvGEbgODADI0SKYb6BSBmxmSYlHQPPjjKSBIxscVTBjEWff1Y/s72-c/award+backlink.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-3469223731757930413</id><published>2010-06-21T12:11:00.000+07:00</published><updated>2010-06-21T12:11:29.459+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Novel Bersambung"/><title type='text'>Lalu Semuanya Berubah (11)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihNt7-C7Qlw8Xrl-6jkJxSXppPyS6bLFI1cJaAuHYNiwE4odV6pSC2NdB4gbiGowjyE0yq1mwiQ4I03D4QkTQncDD-QkcDY23rWdn-p892w3imYNXOkMSE1KlMCM3b1lo5otJ1-GVIgzyS/s1600/Graphic+Mencangkul.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;138&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihNt7-C7Qlw8Xrl-6jkJxSXppPyS6bLFI1cJaAuHYNiwE4odV6pSC2NdB4gbiGowjyE0yq1mwiQ4I03D4QkTQncDD-QkcDY23rWdn-p892w3imYNXOkMSE1KlMCM3b1lo5otJ1-GVIgzyS/s200/Graphic+Mencangkul.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lanjutan novel “&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lalu Semuanya Berubah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;”:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lengkung langit tak lagi berwarna biru. Karena noda-noda kelabu mulai muncul di sana sini. Matahari pun cuma samar-samar. Cahayanya dihadang kabut hitam. Alam sekan-akan berkabung seiring berlalunya kemarau panjang. Ia berhasil menjalankan tugasnya: membakar sawah-sawah hingga membatu; memanggang ilalang dan rerumputan hingga mengering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya. Kemarin hujan pertama jatuh di desa itu. Menciumi lembah gersang. Menggetarkan daun-daun yang tersisa. Bunyi tak-tik-taknya pada atap-atap rumah, seolah nyanyian merdu yang telah lama dinantikan. Suara gemuruh di langit, seolah pawai tambur yang mengabarkan berita bahagia. Debu-debu yang mengepul, seolah asap putih dari dapur-dapur penduduk.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kodok-kodok berpesta pora. Gelak tawanya berlomba dengan deru angin yang mengantarkan hujan ke bumi. Burung-burung kuntul bersenandung di atas batu-batu besar. Tubuhnya dibiarkan basah kuyup. Cacing-cacing berkeliaran. Berlari dari tempat persembunyiannya di dalam tanah. Mereka menari-nari di atas lumppur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayam-ayam di samping rumah menekuk lehernya. Tapi kemudian matanya jelalatan ketika mereka melihat cacicng-cacing itu. Seekor cacing kalung menari-nari, hingga ia tak sadar mendekati seekor ayam betina. Tubuhnya yang merah kehitaman cuma bisa meronta sesaat setelah paruh ayam betina itu menyambarnya. Sedetik kemudian, setelah ia berkotek-kotek, menghamburlah lima ekor anak ayam dari tubuh induknya itu. Mereka bersuka-ria. Mereka saling membagi makanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya beberapa detik saja pembunuhan itu berlangsung.  Anak-anak ayam kembali ke tubuh induknya. Berlindung dalam kehangatan bulu-bulu sang induk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bocah-bocah telanjang berlarian. Tubuhnya yang kurus-kurus dan kehitaman, berkilat-kilat dalam guyuran air hujan deras. Seseorang di antara mereka menyepak genangan air, menerpa tubuh kawan-kawannya yang sedang berkumpul berhompimpah. Air coklat bercampur kotoran kambing, ayam dan mungkin juga kotoran manusia, menyirami tubuh-tubuh itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serentak mereka berpaling, meninggalkan hompimpahnya. Lalu beramai-ramai mereka membalas. Dari segala sudut, tubuh itu diguyur. Tapi dengan tawa berderai-derai, ia kembali membalas. Sesaat kemudian semuanya berlarian ke pinggir sebuah rumah. Berdiri di bawah talang. Berebutan mereka mendapatkan guyuran air talang. Kotoran kambing, ayam dan mungkin juga kotoran manusia, tersapukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun rupanya mereka belum puas. Mereka kembali ke pelataran tadi. Saling menyerang dengan air komberan. Masing-masing adalah musuh. Derai tawa berbaur dengan gemuruh hujan. Lantas semuanya menceburkan diri pada sungai kecil yang airnya melimpah. Warnanya coklat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepasang katak hijau bercumbu di balik sebuah batu di sisi kolam kecil. Tuntutan alam hendak dipenuhinya. Sementara seekor ular sawah mengawasi perkawinan itu. Bersamaan dengan meloncatnya katak jantan dari atas punggung betina, pertanda perkawinan usai, ular itu menyambarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayang kalah gesit. Si jantan meloncat lagi, lebih jauh seraya mengejek, “Wek!” Dengan marah ular itu mengejarnya. Sesaat, dua mahluk itu saling kejar di sisi kolam. Lalu dengan sisa tenaganya katak jantan itu meloncat ke atas dahan jambu rendah yang tumbuh di pematang kolam. Namun sedetik sebelum kakinya menyentuh dahan tersebut, paruh ayam jago menyambarnya dengan suka cita. Hanya sekali terdengar teriakannya, lantas mati di paruh si jago itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasib ular sawah pun tak berbeda ketika bocah-bocah tadi melihatnya, lalu menghujaninya dengan batu dan kayu. Seorang di antara mereka akhirnya mengangkat ular yang sudah tak bernyawa itu dengan sebatang ranting. Ramai-ramai mereka melemparkannya ke kali kecil. Air lalu menariknya ke hilir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba kilat menoreh langit. Disusul geledak petir. Sebuah pohon kelapa paling tinggi di pinggir kampung, menjadi sasarannya. Seketika api berkobar-kobar. Deras hujan pun tak dapat membunuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang memandang pohon kelapa itu dengan meringgis-ringgis. Sementara bocah-bocah telanjang berlarian ke rumah masing-masing, tanpa membersihkan tubuhnya. Mereka mengambil kain sarung, lalu menyelimuti dirinya mulai ujung kaki hingga leher. Kemudian jongkok di tepas sambil memeluk dada. Matanya nanar memandang kobaran api di pucuk pohon kelapa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali-sekali mereka tampak meringgis. Mungkin mereka teringat bagaimana tubuh Ustam gosong disambar petir ketika ia sedang mengembalakan kambingnya di tegalan saat hujan rintik-rintik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desa itu kembali hidup. Derai tawa, gemuruh hujan dan nyanyian tak-tik-tak di atap-atap rumah, telah membangunkan desa dari tidur lelapnya. Semua menggeliat. Semua mata tak berkedip menatap hujan. Semua menyimpan harapan pada tanah-tanah yang mulai melembek; pada  alam yang kembali tersenyum; pada kolam-kolam yang airnya kembali penuh; pada petak-petak sawah yang mulai tergenang.&lt;br /&gt;
“Alhamdulillah, hujan telah turun,” gumam Nenek. Sepasang mata tuanya dipicingkan, seperti sedang menajamkan pandangannya pada sawah-sawah di lembah itu. “Besok, cabutilah ketela itu, Ja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Belum cukup besar, Nek. Sebaiknya kita tunggu satu atau dua bulan lagi.” Jaja menukas seraya mengikuti pandangan Nenek, menatap pesawahan yang lenggang namun terasa ada denyut-denyut kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Tidak, Ja. Besok pun kau segera cabuti ketela itu. Tidak apa ubinya masih kecil-kecil. Bisa kita buat getuk. Sawah-sawah itu yang lebih penting, Ja. Kau harus mulai mencangkulnya. Sawah-sawah itu pasti merindukanmu, Ja.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu keputusan Nenek. Itu rencana hari esok yang mesti Jaja jalankan. Tak dapat ditunda-tunda lagi. Kehendak Nenek sukar dirubah. Misalnya membiarkan tanaman  singkong itu beberapa bulan lagi. Hujan yang mulai turun, tentu akan mempercepat petumbuhannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin bukan cuma Nenek yang bersikap begitu. Hampir semua penduduk desa tidak mustahil berpikiran seperti Nenek. Sebab pesawahan itu terlalu lama dibiarkan lenggang, tanpa cucuran keringat. Parang, cangkul, garpu, garu dan teplakan sudah terlalu lama tidak menciumi lumpur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sebuah tepas Jaja mendengar percakapan tetangga dekat, yang suaranya hilang-timbul ditelan gemuruh hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinjam cangkul? Memangnya kau tak punya? Masa?  Setiap orang sini, punya,” ujar seseorang dari tepas rumah itu. Jaja tidak tahu siapa. Tapi itu  jelas suara laki-laki, “Wah, pasti! Pasti! Kau sudah meninggalkan warisan leluhur. Kau bukan lagi bulu taneuh, sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan begitu, Kang! Daging, urat dan tulangku masih berbau lumpur. Tulen, Kang, aku masih tukang tani! Aku terpaksa pinjam cangkulmu karena….” Kalimatnya tak berlanjut. Mungkin orang ini sedang berpikir, atau mungkin juga malu menjelaskan alasannya. Orang itu, Ukar, kawan sepermainan Jaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“He, karena apa, Kar?” tanya yang lain, suaranya mirip perempuan. Gemuruh hujan menyamarkan pendengaran Jaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cangkul punyaku, terpaksa Kang, terpaksa aku tukarkan dengan beberapa liter beras sewaktu kemarau mulai menyengat. Lagi pula saat itu aku terus ke kota, cari kerjaan. Pikirku, nanti sepulang dari kota, aku akan membeli cangkul baru. Tak tahunya, tak terbeli, Kang,” ujar Ukar. Pasti ucapanya itu disertai senyam-senyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan di tepas itu, untuk beberapa saat mengabur. Ditelan gemuruh hujan. Angin mengencang. Pohon kelapa dan pinang, meliuk-liuk seakan-akan mau tercabut dari akar-akarnya. Rantinng-ranting kecil dan  dedaunan beterbangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Susahlah orang macam Wak Duriat itu.” &lt;br /&gt;
Kembali Jaja medengar percakapan di tepas itu.&lt;br /&gt;
“Pinjam kecil-kecilan saja harus pakai boreh, pakai rente. Berapa tadi, Kar? Seperapat liter untuk sebulan? Tuh, selama sepuluh bulan ini rentenya saja sudah  dua liter setengah.” Entah siapa yang berkata itu. Jaja tidak mengenalnya. Mungkin karena suara itu terlalu pelan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya. Tapi tidak bisa dibayar dengan padi gogo atau IR. Harus sama dengan beras yang aku pinjam, pandanwangi. Kebanyakan orang-orang di sini ‘kan makan beras IR.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau makan pandanwangi, Kar?” Suara perempuan. Kedengarannya seperti Ceu Juhi, “Wah wah! Kau jadi orang besar, Kar! Kau jadi menak sehari, ya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bukan aku, Ceu. Hanya Yayah saja. Kasihan, isteriku sedang hamil besar. Tak tega aku memberi Yayah rebus ketela. Kasihan jabang bayinya, Ceu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu juga bagus. Siapa tahu anakmu kelak mendapat jodoh seorang menak dari kota. Seperti Mae. Hidupnya senang sekarang.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mae memang beruntung, menjadi isteri Bapak Juru Penerang.” Itu suara Kang Mali. Jaja mengenalnya. Ia pandai membuat pikatan burung. Semasa Jaja remaja, pernah belajar  soal itu pada Kang Mali. Namun pikatan buatan Jaja bukannya didekati burung-burung, malah dijauhi. Kata Kang Mali,  jeruji-jeruji bambunya terlalu kasar dan besar-besar. Tapi sekalipun Jaja mencoba melaksankan petunjuk Kang Mali, tetap  saja pikatan buatanya tak mau didekati seekor burung pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Eh, apa Mae sudah tahu kalau Si Jaja ternyata tidak meninggal di Nusakambangan? Apa Mae tahu ia sekarang ada di sini? Kasihan juga tuh anak Sumarna! Si Inah lagi, belum pernah ditengok emaknya,” lanjut Kang Mali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Laaahh, Kang! Kasihan-kasihan!” Suara perempuan. Tapi kedengarannya bukan Ceu Juhi. Mungkin perempuan yang tadi bertanya kepada Ukar. “Itu ‘kan akibat perbuatanya sendiri. Gusti Allah menghukum Si Jaja dengan rupa-rupa penderitaan. Seperti isterinya yang dinikahi Bapak Juru Penerang, ya lantaran ia membunuh Kang Us...”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba kilat berpencar. Disusul bunyi gemuruh, seperti suara drum yang  sedang  digelindingkan di atas jalan berbatu. Bunyinya sambung-menyambung. Kata perempuan itu  tak dapat Jaja dengar kelanjutannya. Bahkan untuk beberapa saat, percakapan di tepas itu pun, tak sampai ke telinga Jaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian setelah hujan mereda, obrolan itu kembali terdengar.&lt;br /&gt;
“Eh, Kang, berapa harga kambing yang akan kau jual itu?” Suara lelaki, “Saya bisa membawanya  ke pasar Kemisan di Kota Kecamatan. Kebetulan besok aku akan ke sana, menjual beberapa perkutut, tangkapan minggu lalu. Sekalian saja, Kang.” Mungkin orang itu tukang pikat burung, seperti Kang Mali, dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukur, Jang, kalau besok mau ke pasar,” ujar Kang Juhi. Terdengar ia menyebutkan harga kambing yang diinginkannya. “Sekalian, Jang, tolong belikan bako mole di tokonya Haji Jamhur.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Obrolan orang-orang di tepas tetangga itu selanjutnya tak Jaja perhatikan. Sebab Nenek memanggilnya dari dapur. Nenek menyuruh Jaja membelah kayu bakar. Untunglah sebelum musim hujan datang, ia telah menebang satu-satunya pohon suren di belakang rumah. Sebagian telah mengering, tapi masih berupa belahan-belahan besar. Tentu tidak akan muat dimasukkan ke dalam tungku api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja membelahi kayu itu hingga menjadi serpihan-serpihan yang sekiranya bakal muat dimasukkan ke dalam tungku api. Kemudian sambil menghangatkan tubuh, Jaja menemani Nenek menanak nasi. (&lt;i&gt;Bersambung&lt;/i&gt;)&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/3469223731757930413/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3469223731757930413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3469223731757930413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-11.html' title='Lalu Semuanya Berubah (11)'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihNt7-C7Qlw8Xrl-6jkJxSXppPyS6bLFI1cJaAuHYNiwE4odV6pSC2NdB4gbiGowjyE0yq1mwiQ4I03D4QkTQncDD-QkcDY23rWdn-p892w3imYNXOkMSE1KlMCM3b1lo5otJ1-GVIgzyS/s72-c/Graphic+Mencangkul.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-8282384201035581939</id><published>2010-06-16T12:26:00.000+07:00</published><updated>2010-06-16T12:26:53.504+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pernik-pernik"/><title type='text'>Jawaban TAG ENJOY ABOUT ME...dari Nensa Moon</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2cm1G9VIxGChzW5YeTZ8O_SdHLglq5tcQZYC8LHo1HeFCEY5OhaWwNnZ0MPi1yU1OENlb4ai0xFTKaRajf1p8i4pbpKO75TDRXZx2P7WBFJpsPzKdWu4aAkAqvaxProLT8jPyPFhgbYI/s1600/Jerry.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2cm1G9VIxGChzW5YeTZ8O_SdHLglq5tcQZYC8LHo1HeFCEY5OhaWwNnZ0MPi1yU1OENlb4ai0xFTKaRajf1p8i4pbpKO75TDRXZx2P7WBFJpsPzKdWu4aAkAqvaxProLT8jPyPFhgbYI/s200/Jerry.jpg&quot; width=&quot;146&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sahabat saya, &lt;a href=&quot;http://nensa-catatanku.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Nensa Moon&lt;/a&gt; mewariskan tag ini buat saya dan sepuluh sahabat lainnya. Mohon maaf kepada Nensa karena TAG ENJOY ABOUT ME… baru muncul sekarang. Kendalanya bukan karena pertanyaan-pertanyaan tag ini yang sulit (toh bukan ujian Matematika atau IPA, ya kan?), tapi lebih karena… malu ketahuan belangnya, he he he…. Tapi kepalang basah kuyup, ya sudah, saya isi saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;1. Kapan Anda mulai ngeblog?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Sekitar November 2009. Efektifnya Desember-lah. Soalnya saat kali pertama bikin blog isinya hanya about me (bodohnya saya, tulisan about me ini saya tampilkan sebagai postingan, padahal kolomnya sudah disediakan), lalu postingan kedua Novel Bersambung “Lalu Semuanya Berubah” itu, bagian pertamanya. Jadi memang sama sekali tidak menarik.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;2. Nama blog Anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
SKETSA ARUS RASYID. Tapi blog pertama yang dibikin pada sekitar November itu namanya ORANG-ORANG TERCINTA (romantis dan menyentuh kan? ha ha ha). Hal itu karena niat awalnya bikin blog tak lain untuk berbagi cerita tentang orang-orang tercinta di sekitar saya, mulai dari anak, mantan pacar alias istri, tetangga, teman, guru sampai orang-orang tercinta dalam imajiner. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kemudian saya merasa tema seperti itu pada gilirannya akan membatasi kreativitas, sementara di sekeliling saya (termasuk melalui media yang saya lihat dan baca) banyak yang menarik untuk ditulis. Akhirnya sekitar sebulan kemudian saya bikin lagi blog baru bernama SKETSA ARUS RASYID yang isinya memang jadi gado-gado. Yang namanya gado-gado, terkadang manis, terkadang masam, terkadang pedas, tapi yang lebih sering justru tak terasa garam-gulanya alias hambar he he he…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Blog ORANG-ORANG TERCINTA sendiri saya jadikan blog sample untuk mencoba templit yang saya peroleh dari beberapa blog tutorial, sebelum dipasang di blog SKETSA. Lalu setelah templit SKETSA relatif saya anggap cukup memadai, saya ganti nama blog ORANG-ORANG itu menjadi Cianjur Post. Isinya tentang kejadian-kejadian di Kabupaten Cianjur yang ditulis dengan gaya jurnalistik. Tapi itulah, jangankan punya dua blog, satu pun hampir kewalahan ngisinya. Akibatnya Cianjur Post kurang tergarap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;3. Apa yang pertama dilihat saat membuka blog anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Komentar terbaru. Selain karena ingin mengetahui reaksi pembaca atas postingan saya, tapi juga karena komentar dari teman-teman menjadi dorongan saya untuk terus tulis dan terkadang juga membuat saya bahagia: senyam-senyum sendiri karena komentarnya banyak yang menggelitik. Alhamdulillah sejauh ini saya belum pernah menerima komentar bernada spam (Terima kasih ya teman-teman semua!).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;4. Blog seperti apa yang anda sukai?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Saya tuh termasuk orang “rakus” juga kayaknya. Blog apapun, sepanjang isinya menarik, apalagi ada manfaatnya, tentu akan saya baca. Ada memang blog yang tidak saya sukai, yakni blog yang tidak ada postingannya he he he (ah, ga lucu!).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;5. Kota tempat tinggal anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Pernah dengar Kota Tauco? Ya, di Kota Tauco alias Kota Cianjur-lah saya lahir dan tinggal. Tapi jangan berharap bisa melihat Kota Cianjur (salah satu kabupaten di Jawa Barat) dipenuhi penganan tauco. Sebab beda dengan Sumedang sebagai Kota Tahu, yang di mana-mana di Kota Sumedang kita memang dengan mudah menemukan makanan yang lezat itu. Di Cianjur, yang namanya tauco, hanya ada di toko-toko tertentu. Pabriknya saja, kalau tidak salah, tinggal dua. Tapi sudahlah, sebutannya sudah begitu. Mau apa lagi? Yang penting, percayalah, wajah-wajah orang Cianjur tidak seperti tauco…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;6. Pekerjaan anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Bapak rumah tangga. Lho, memang ada? Jelas ada. Lihat saja di KTP, kita kerap menemukan identitas seorang perempuan yang pada kolom pekerjaannya tertulis IBU RUMAH TANGGA. Kalau perempuan boleh mencantumkan “rumah tangga” sebagai pekerjaan, mengapa laki-laki tidak boleh? Supaya adil, maka saya pun ingin menjawab pertanyaan ke-6 ini dengan BAPAK RUMAH TANGGA, hik hik hik…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;7. Menurut teman anda wajahmu mirip siapa?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mirip siapa ya? Entarlah saya tanya dulu kepada teman-teman, barangkali ada yang menganggap saya mirip Rano Karno atau Iwan Fals, atau barangkali siapa tahu ada yang menganggap saya mirip Dul Sumbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;8. Bagian apa yang paling anda senangi dari wajah anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Hidung. Tapi ini tidak berarti hidung saya mancung. Saya senang hidung saya karena memang saya sering memijit-mijitnya. Maklum hidung saya banyak komedonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;9. Siapa orang yang paling berjasa dalam hidupmu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Emak dan Bapak tentu saja, sesuai dengan asal-usul saya. Sebab memang “asal” saya dari Emak, tapi yang “usul” Bapak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;10. Kejadian lucu yang pernah dialami saat sekolah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Ngompol di celana saat kelas satu SD (maksud saya MI, karena memang tingkat dasar, saya sekolah di madrasah ibtidaiyah). Pasti gak percaya ya? Masak kejadian di kelas satu SD masih ingat? Ngarang ya? Syukurlag kalau tidak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Kenangan saat pertama pacaran?&lt;br /&gt;
Nah, ini yang sulit. Soalnya saya mulai kenal pacaran pada usia di atas 30. Jadi tak ada kenangan saat pacaran masa remaja. Gak percaya? Syukur kalau begitu. Sebab itu artinya saya dianggap lelaki normal juga he he he…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;12. Tipe wanita atau pria idaman anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Ya, seperti istri saya sekarang. Akan sangat berbahaya bila saya menyebutkan tipe wanita idaman saya di luar tipe istri saya, jangan-jangan nanti dia minta cerai karena menganggap saya tak lagi mencintainya. Betul kan? “Betul! Betul! Betul!” begitu kata Si Ipin dalam serial Upin &amp;amp; Ipin juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;13. Berapa jumlah anak yang diinginkan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Saya agaknya termasuk warga negera yang baik. Buktinya saya patuh pada imbauan pemerintah (Orde Baru tentu saja, karena pemerintahan sekarang kurang peduli pada Program KB). Jadi, dua anak cukup, laki perempuan sama saja. Kebetulan dua anak saya semuanya cowok. Sehingga nanti mereka jadi bodyguard ibunya. Bapaknya sendiri ke mana? Kan sibuk ngeblog!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;14. Gimana ya kalau pasangan kita selingkuh?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Ah, gak mau memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Yang penting, jangan selingkuh!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;15. Apa mimpi terakhir anda?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Diterkam harimau. Dan saya sangat senang mimpi semacam itu. Soalnya kata orang, mimpi diterkam harimau itu akan mendapat duit sangat banyak. Tapi bukankah mimpi yang artinya bakal dapat duit itu yakni mimpi mendapatkan ikan mas? Yang itu juga betul. Hanya saja kalau mimpi seperti itu, dapat duitnya sedikit. Ngarang lagi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;16. Apa yang akan dilakukan jika mendapat hadiah 1 milyar dolar?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Ah, gak mau ber-jika-jika, takut jadi gila. Realistis saja bahwa sekarang ini duit sulit didapat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;17. Olah raga yang sering anda lakukan?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Nah ini juga pertanyaan sulit. Lho, saya memang kurang suka olah raga. Apakah jalan kaki sekitar satu kilometer termasuk olah raga? Kalau ya, saya memang sering melakukan itu, yakni ketika saya gak punya ongkos untuk naik kendaraan umum. Jadinya ya jalan kaki, itung-itung olah raga, padahal lagi bokek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;18. Kejadian yang membuat anda tertawa?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Tentu saja yang lucu-lucu. Masak sih saya akan tertawa ketika melihat orang lain tertabrak mobil, atau melihat anak kecil kecemplung ke kolam? Gak mungkinlah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;19. Harapan anda untuk blogger dunia?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Saling mendukung. Saling membantu. Gelarorakan terus perdamaian dunia. Dan tetap semangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;20. Tag ini diwariskan kepada siapa? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Sesuai dengan surat wasiat dari pembuat tag ini bahwa TAG ENJOY ABOUT ME… harus diwariskan secara turun-temurun (multi-lavel kali istilahnya), tidak boleh dijadikan harta milik sendiri, maka saya pun mewariskan tag ini kepada sahabat-sahabat yang namanya tercantum di bawah ini. Seandainya dari sahabat-sahabat tersebut ada yang telah memperoleh tag yang sama, anggaplah sahabat memperoleh anugerah ganda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://rahmatpunya.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Rahmatea&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://bunglonblog.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Bunglonblog&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://warkop-it.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Warkop IT&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://fajarmufti.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Fajar Mufti Setiawan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://victorwelding.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Victor Welding&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://bodorurangsunda.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Kang Abuy&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;http://herdoniwahyono.blogspot.com/&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Herdoni Wahyono&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/8282384201035581939/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/jawaban-tag-enjoy-about-medari-nensa.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8282384201035581939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/8282384201035581939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/jawaban-tag-enjoy-about-medari-nensa.html' title='Jawaban TAG ENJOY ABOUT ME...dari Nensa Moon'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgY2cm1G9VIxGChzW5YeTZ8O_SdHLglq5tcQZYC8LHo1HeFCEY5OhaWwNnZ0MPi1yU1OENlb4ai0xFTKaRajf1p8i4pbpKO75TDRXZx2P7WBFJpsPzKdWu4aAkAqvaxProLT8jPyPFhgbYI/s72-c/Jerry.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-2374520013159227915</id><published>2010-06-12T14:23:00.000+07:00</published><updated>2010-06-12T14:23:33.074+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Kapan Negeri ini Terbebas dari Praktik Korupsi?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNeLcco4jxdGxFOei_iLIuWP98yY3hgUvtaFH1OjSRJw7zcMXdEJayg4nxO6JiYE3_Jux3zYvh9Rjfg02aSQecvCtBxNl8JmWH_fEheLm7Nt-A_92Qh1i5Y41iqlPw5pxUggfXEBwbE0JV/s1600/Mahfud+MD.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNeLcco4jxdGxFOei_iLIuWP98yY3hgUvtaFH1OjSRJw7zcMXdEJayg4nxO6JiYE3_Jux3zYvh9Rjfg02aSQecvCtBxNl8JmWH_fEheLm7Nt-A_92Qh1i5Y41iqlPw5pxUggfXEBwbE0JV/s1600/Mahfud+MD.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, seperti yang saya baca di &lt;a href=&quot;http://www.hupelita.com/baca.php?id=95111&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Harian Pelita&lt;/a&gt;, menilai saat ini hanya ada tiga lembaga negara yang masih bersih dari praktik korupsi. Yakni MK, Komisi Yudisial (KY) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mahfud MD juga menilai pasca 1998 (era repormasi) semua presiden Republik Indonesia gagal memperbaiki birokrasi, karena sampai saat ini kinerja aparat pemerintah masih buruk dan korupsi makin merajalela.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah begitu? Saya kira Mahfud MD takkan berkata seperti itu kalau memang tidak punya alasan kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita sendiri agaknya sulit membantah pernyataan Ketua MK itu. Sebab memang selama ini kita telah cukup mengetahui melalui media bahwa mayoritas lembaga negara masih berisi oknum-oknum yang “terbahak-bahak di atas mayat orang” alias koruptor. &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Praktik korupsi itu juga terjadi di semua tingkatan mulai pusat hingga daerah, baik di lembaga/instansi yang mengurus penegakan hukum maupun lembaga/instansi yang mengurus pendidikan dan agama. Jadi agaknya di era reformasi, praktik korupsi telah mencapai “kesempurnaannya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaannya sekarang, saya kira, bukan &lt;i&gt;mengapa&lt;/i&gt; praktik korupsi kian merajalela, akan tapi &lt;i&gt;kapan&lt;/i&gt; negeri kita akan terbebas dari praktik korupsi? Sebab soal mengapa praktif korupsi kian merajalela, kita sudah sering mendengar alasannya dari para pakar di bidang “perkorupsian”, bahkan kita juga kerap mendengar adanya seminar dan lokakarya menyangkut penegakan hukum dalam rangka pemberantasan korupsi. Tapi toh hasilnya tidak kelihatan. Yang ada justru praktik korupsi tetap tumbuh subur bagai jamur di musim hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makanya yang jadi pertanyaan kita, kapan negeri kita terbebas dari praktik korupsi? Untuk menjawab pertanyaan itu kita tidak membutuhkan seminar atau lokakarya yang menghadirkan pakar-pakar hebat di bidangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjawab pertanyaan itu hanya diperlukan adanya aksi atau tindakan. Sebab perangkat hukumnya sudah ada, termasuk penegak hukumnya (saya yakin seyakin-yakinnya di negeri ini masih banyak penegak hukum yang jujur dan kredibel). Sehingga seberapa cepat kita dapat menikmati hidup di negeri yang terbebas dari praktik korupsi, tergantung dari seberapa hebat tindakan aparat penegak hukum dalam memberantas korupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhana kan? Itu kata saya yang awam hukum dan ketatanegaraan. Tapi tentu akan lain lagi di mata para pemimpin kita. Aksi untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya, boleh jadi dianggap para pemimpin kita bukan perkara sederhana, apalagi dianggap mudah seperti membalikan telapak tangan. Apalagi pula praktik korupsi terkadang seperti kentut (maaf!) di tengah kerumunan orang. Baunya memang tercium di hidung, tapi siapa yang kentut tidak akan serta-merta bisa ditebak (kecuali dengan mendatangkan ahli, misalnya celana dalam orang-orang itu satu persatu diperiksa, pasti akhirnya ketahuan juga).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan ada pula anekdot, katanya ketika para ahli di bidang hukum dan adminitrasi negera (yang jujur tentu saja) telah menemukan formula jitu untuk mencegah terjadinya praktik korupsi, para calon koruptor pun berusaha keras mencari formula penawarnya, dan yang umumnya unggul adalah formula penawar itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kapan dong negeri kita terbebas dari praktik korupsi? Saya tidak tahu. Mungkin 10 tahun lagi, mungkin 100 tahun lagi, atau malah boleh jadi negeri yang benar-benar bersih dari praktik korupsi itu hanya ada di negeri impian. Karena itu terkadang saya punya pikiran buruk: biarlah koruptor tetap ada di negeri ini asal saja mereka berperilaku seperti Robin Hood, mencuri uang negara tapi hasilnya lantas dibagi-bagikan kepada rakyat miskin, dan dia sendiri tidak menikmatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja pikiran semacam itu selain kacau, juga tidak mendukung upaya yang dilakukan para penggiat penegakan hukum. Makanya lebih baik kita berpikir seperti Mahfud MD saat mengomentari peninjauan kembali (PK) praperadilan perkara SKPP Bibit-Chandra oleh Kejaksaan Agung. Mahfud dalam &lt;a href=&quot;http://www.hupelita.com/baca.php?id=95111&quot; target=&quot;new&quot;&gt;Harian Pelita&lt;/a&gt; itu antara lain mengatakan, “…Komentar-komentar tentang itu sudah banyak, masyarakat tinggal menilai. Tuhan akan bekerja sesuai dengan hukum-Nya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, di tengah ketidak-mengertian kita mengapa praktik korupsi makin merajalela, dan di tengah ketidak-tahuan kita kapan negeri ini akan terbebas dari praktik korupsi, maka kalimat “Tuhan akan bekerja sesuai dengan hukum-Nya sendiri” itu bisa membuat kita yakin bahwa praktik korupsi pun pada akhirnya akan berakhir, dan koruptor akan mendapat hukumannya, kalau tidak di dunia, ya diakhirat nanti. &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/2374520013159227915/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/kapan-negeri-ini-terbebas-dari-praktik.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2374520013159227915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/2374520013159227915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/kapan-negeri-ini-terbebas-dari-praktik.html' title='Kapan Negeri ini Terbebas dari Praktik Korupsi?'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNeLcco4jxdGxFOei_iLIuWP98yY3hgUvtaFH1OjSRJw7zcMXdEJayg4nxO6JiYE3_Jux3zYvh9Rjfg02aSQecvCtBxNl8JmWH_fEheLm7Nt-A_92Qh1i5Y41iqlPw5pxUggfXEBwbE0JV/s72-c/Mahfud+MD.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-3528733879850191225</id><published>2010-06-02T09:15:00.000+07:00</published><updated>2010-06-02T09:15:09.648+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Lama"/><title type='text'>Kustinaningrum Kembali kepada Suaminya</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtrwMM4XIC8qaVQl9whSmtyy08KvdTCvmlDtTZ9Iz4JLOLD4FXvP0q1xfXlxHR8YxAgJBEpxoFec1tdFIW368qDLSnuL2yKaZSuN94BzBM_TO5QNl_EHgG6LbLdiIRTU9U9Bn-Z-0mW7Hw/s1600/Ilustrasi+Cerpen2.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtrwMM4XIC8qaVQl9whSmtyy08KvdTCvmlDtTZ9Iz4JLOLD4FXvP0q1xfXlxHR8YxAgJBEpxoFec1tdFIW368qDLSnuL2yKaZSuN94BzBM_TO5QNl_EHgG6LbLdiIRTU9U9Bn-Z-0mW7Hw/s200/Ilustrasi+Cerpen2.jpg&quot; width=&quot;169&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Parasnya tidak terlalu cantik. Tapi aku kira, dia manis. Bahkan mungkin para hidung belang akan terpesona menatap bentuk tubuhnya. Aku sendiri sering menelan ludah, lalu pikiranku yang normal serasa dikacaukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memang sexy (maaf!) dan menggoda iman. “Tatapan matanya penuh ajakan.” Itu  kata para suami yang sedang dilanda puber kedua yang percakapannya tertangkap telingaku secara tak sengaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu senyumnya; aku pikir lebih manis ketimbang madu terbaik sekalipun. Malah aku pikir senyum itulah yang membuat keseluruhan wajahnya menjadi bercahaya. Sehingga para suami yang sedang dilanda puber kedua itu, ada yang bilang, “Senyumnya seperti sihir. Membuat kita mau disuruh apa saja.” &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Kali pertama ketemu saat aku berbelanja di toko Te Ko Seng. Di toko itu dia juga sedang berbelanja (dia dan aku berbeda kampung, tapi berbelanja di toko yang sama, karena memang di daerahku hanya Te Ko Seng satu-satunya toko paling lengkap). Aku langsung tergoda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Godaan pertama yang menyerangku tentu saja melalui mataku. Sungguh, selama dia berbelanja, yang aku kira tak kurang dari 20 menit, mataku terus lengket kepadanya: sekali-sekali jatuh kepada wajahnya, kalau kebetulan dia sedang menghadap ke arahku; sekali-sekali jatuh kepada punggungnya, terus turun ke bawah dan aku tiba-tiba mendesah; dan pada kesempatan lain mataku jatuh pada samping tubuhnya, ada sebuah bentuk silhuet yang benar-benar mempesona.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Godaan pertama ternyata berlanjut pada godaan berikutnya. Yang ini aku kira terasa lebih berat. Aku tak bisa tidur karena memikirkan pertemuan di toko itu. Aku malah jadi menyesal, mengapa tadi aku tidak menyapanya, menanyakan alamat rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esoknya, lewat Nartiti seorang kenalan baik di kampung sebelah, kuketahui ternyata dia pendatang baru dan tinggal di rumah Haji Ilyas (“Dia keponakan Pak Haji dari Sindanglaya,” kata Nartiti). Sehari-harinya bekerja di sebuah instansi pemerintah (“Dia pegawai negeri yang baik,” kata Nartiti lagi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakannya pula bahwa Kustinaningrum – demikian nama perempuan itu dan aku kira itu sebuah nama yang cantik -- tinggal di rumah Pak Haji untuk mencoba pisah kamar dan rumah dengan suaminya sampai ada keputusan lebih lanjut dari suaminya itu (“Suamiku amat cemburuan sehingga aku benar-benar tak dapat ke luar rumah selain untuk bekerja dari pagi hingga pukul tiga,” kata Kustinaningrum kepada Nartiti, dan Nartiti menyampaikannya kembali kepadaku).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kustinaningrum belum punya anak. Pernikahannya sendiri baru berjalan delapan bulan. Tapi biduk rumah tangga rupanya sedang dilanda badai. Kustinaningrum minta cerai dan kini sedang dalam proses pertimbangan suaminya (“Dia calon janda kembang,” kata Nartiti, kenalan baikku).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersenyum, dan Nartiti menatapku penuh curiga. Masa bodoh! Yang penting, aku lega sekarang. Tapi rasa lega itu, memacu rasa rasa rindu. Aku rindu ketemu Kustinaningrum. Haruskah aku datang ke rumah Haji Ilyas? Berat. Aku tak mau disebut lancang dan tak tahu diri. Bagaimana pun Kustinaningrum belum benar-benar menjadi janda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya jalan terbaik, berharap ketemu di toko Te Ko Seng. Dan aku kini nongkrong di depan toko itu, menatapi setiap orang yang masuk ke sana. Tapi hingga dua jam, dia belum juga muncul. Jangan-jangan hari ini Kustinaningrum tidak berbelanja ke toko Te Ko Seng? Aku mencoba bersabar. Karena orang sabar, kata orang, akan memperoleh apa yang diinginkannya. Dan itu betul. Ketika rokokku tinggal tiga batang (aku tadi membeli sebungkus di toko Te Ko Seng), Kustinaningrum muncul dan masuk ke toko itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera aku menyusulnya. Aku masuk ke toko Te Ko Seng, pura-pura sedang mencari barang belanjaan. Padahal aku hanya ingin menatapinya. Dari depan, dari belakang, dari samping. Dia sempat menatapku, tanpa sengaja, lalu cepat berpaling lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa puas telah bertemu perempuan itu lagi. Apalagi aku telah mengetahui nama dan alamat rumahnya sekarang. Tapi aku juga menyesal, mengapa ketika bertemu di toko Te Ko Seng untuk kali kedua itu, aku tidak bertindak sedikit agresif? Mestinya aku bertanya, “Boleh dong kita kenalan?” Kalau jawabannya ya, berlanjut pada pertanyaan, “Boleh saya datang ke rumah situ?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku lupa berbasa-basi seperti itu mungkin karena aku teramat terpesona. Tapi esok, aku harus lebih agresif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esoknya memang aku kembali ketemu perempuan itu di tempat yang sama, juga melakukan hal yang sama: menatapinya lekat-lekat. Kali ini, untuk sekitar semenit, mataku dan matanya saling peradu pandang. Aku lalu tersenyum. Sesaat dia tampak ragu-ragu, tapi akhirnya Kustinaningrum membalas senyumanku. Dan senyumnya membuat keseluruhan wajahnya menjadi bercahaya. Seketika itu pula aku seperti tersihir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku jadi lupa pada janjiku sendiri untuk berbasa-basi, “Boleh dong kita kenalan?”, “Boleh saya datang ke rumah situ?” dan hal-hal sepele lain yang bisa menjadi jalan untuk mengenalnya secara lebih dekat. Aku benar-benar tersihir, sehingga aku tak mampu berkata-kata. Bahkan ketika Kustinaningrum ke luar dari toko Te Ko Seng, aku hanya mampu menatapi langkahnya hingga dia menghilang di balik tikungan. Aku benar-benar merasa dungu. Besok aku harus bisa!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh dong kita kenalan?” akhirnya kataku esok harinya, seraya menyodorkan telapak tangan mengajak salaman. Aku sudah tahu sekarang bahwa Kustinaningrum biasa datang ke toko Te Ko Seng setiap jam lima sore. Dan biasanya pula dia membeli kue agar-agar atau kue lapis (aku akan mengiriminya kue-kue semacam itu bila aku sudah dibolehkan datang ke rumahnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kustinaningrum tersenyum seraya menerima telapak tanganku. Kami bersalaman. Terasa kulit telapak tangannya begitu lembut. Kebetulan waktu itu toko sedang sepi. Jadi aku tak perlu malu bila aku menatapinya sedekat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kustinaningrum `kan?” kataku. Sesaat aku melihat dia sedikit terkejut, mungkin karena aku tahu namanya. Tapi kemudian dia tersenyum seraya mengangguk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Boleh aku aku berkunjung?”&lt;br /&gt;
Kustinaningrum kembali tersenyum. &lt;br /&gt;
“Boleh saja,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku berbunga-bunga hingga aku kehilangan kata-kata. Bahkan ketika dia berkata, “Saya pulang duluan,” aku sepertinya telah disihir menjadi batu. Mulutku tak terbuka untuk mengucapkan sepatah katapun. Aku terlalu bahagia saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di rumah aku marah-marah. Seluruh keluarga terkena amarahku. Pasalnya tak seeorang pun dari anggota keluargaku yang mau memberi pinjaman uang. Sedangkan waktu itu aku sendiri tak punya sepeserpun. Jadi mana mungkin aku bisa berkunjung ke rumah Kustinaningrum tanpa membawa kue agar-agar atau kue lapis kesukaannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang malam aku merasa dongkol. Aku batal datang ke rumah perempuan itu. Bahkan sampai pagi pun nyesalku belum juga lenyap. Namun Tuhan Maha Besar. Siangnya aku mendapat kiriman wesel untuk honor dari tulisanku yang dimuat di sebuah majalah. Aku langsung menguangkannya di Kantor Pos. Pulangnya langsung pesan kue agar-agar dan kue lapis di toko Te Ko Seng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selesai salat Isya aku berangkat ke rumah Haji Ilyas dengan langkah yang terasa amat ringan. Di atas, langit bertaburan bintang, berkedap-kedip. Cuaca memang cerah, secerah hatiku saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun tak urung hatiku mengerut ketika tiba di depan rumah Haji Ilyas, lewat kaca jendela aku melihat bayang-bayang seorang lelaki. Perlahan aku mendekat ke jendela dan mencoba mengintip orang yang ada di ruang tamu. Tidak jelas, karena dia membelakangiku. Tapi cukup jelas aku mendengar suara Kustinaningrum, “Boleh aku kembali ke rumah. Tapi tolong berilah aku sedikit kebebasan. Aku juga ingin seperti istri-istri yang lain.” Lalu kudengar pula ucapan lelaki itu, “Awalnya Kakang kira melarangmu bergaul sembarangan, demi kebaikanmu, demi kebaikan kita. Tapi maafkan Kakang kalau hal itu telah membuatmu merasa terkekang. Sekarang pulanglah. Kakang….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak tahu apa yang diucapkan Si Bejul itu selanjutnya. Karena aku segera beranjak dari situ. Mungkin aku juga setengah lari pulang ke rumah. Sebab tanpa terasa aku sudah berdiri di tengah ruangan keluarga rumahku, lalu melemparkan kue agar-agar dan kue lapis ke hadapan adik-adikku yang sedang asyik nonton televisi. “Nih, makan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tak perduli seluruh keluarga terkejut dengan tingkahku. Lebih-lebih dengan kehadiran kue-kue itu (selama ini memang aku belum pernah membeli kue-kue untuk seisi rumah, karena aku merasa malu menentengnya). Aku langsung masuk kamar dan mengurung diri. Tercenung. Menarawang. Membayangkan Kustinaningrung. Tatapannya. Senyumnya. Benar-benar menghipnotisku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Dari cerpen lama, pernah dimuat di HU.Bandung Pos, awal 90-an, dengan sedikit perubahan tanpa mengubah substansi cerpen asal). &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/3528733879850191225/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/kustinaningrum-kembali-kepada-suaminya.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3528733879850191225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/3528733879850191225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/kustinaningrum-kembali-kepada-suaminya.html' title='Kustinaningrum Kembali kepada Suaminya'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtrwMM4XIC8qaVQl9whSmtyy08KvdTCvmlDtTZ9Iz4JLOLD4FXvP0q1xfXlxHR8YxAgJBEpxoFec1tdFIW368qDLSnuL2yKaZSuN94BzBM_TO5QNl_EHgG6LbLdiIRTU9U9Bn-Z-0mW7Hw/s72-c/Ilustrasi+Cerpen2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-6134234896473891718</id><published>2010-06-01T15:44:00.000+07:00</published><updated>2010-06-01T15:44:57.392+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Novel Bersambung"/><title type='text'>Lalu Semuanya Berubah (10)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeDo13UywnUgxQg4FGcYwfsMwgy_VqsoqMSx1uLi21kKM1SI_4KjcWYtuyGfgzAoxVRDfzp4gcxVWyFfFIMJ7mAbwc6gZLkxItqZoBuXPVwoeIuPfeohH7HBZNqphF5k9RHvQS_9zt3nfv/s1600/Graphic+Saung+Sawah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;137&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeDo13UywnUgxQg4FGcYwfsMwgy_VqsoqMSx1uLi21kKM1SI_4KjcWYtuyGfgzAoxVRDfzp4gcxVWyFfFIMJ7mAbwc6gZLkxItqZoBuXPVwoeIuPfeohH7HBZNqphF5k9RHvQS_9zt3nfv/s200/Graphic+Saung+Sawah.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lanjutan Novel Bersambung “&lt;i&gt;Lalu Semuanya Berubah&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;”:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disatu sisi, kehadiran perempuan itu di saung Bapak, benar-benar membuat hatinya kecewa. Sebab keinginan bahwa Nenek dan Inah yang mestinya pertama kali menikmati saung baru itu, ternyata telah diserobot istri keempat Si Tua Bangka. Tapi disisi lain, menggeliat rasa suka, yang kemudian membangunkan segala angan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin angan-angan itu lahir terlalu dini. Sebab kepulangan Jaja ke desa, yang dibuntuti bias-bias pertiwa masa silam, belumlah lama. Perempuan itu pun bukanlah lajang yang bisa dibolak-balik sesuka hati. Keduanya menjadi alasan yang kurang menguntungkan bila saat ini Jaja memiliki semacam angan-angan terhadap istri keempat Wak Duriat itu. &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Namun apakah salah bila angan-angan itu terdorong karena kekosongan hatinya akan makna perempuan secara pribadi, yang telah terentang bertahun-tahun? Itulah, ketika kerinduannya terhadap Mae yang kini disekap Si Bujang Lapuk terasa tak tertahankan, Jaja merasa menemukan penggantinya lewat perempuan itu, dengan segala ulahnya yang menggoda. Jaja benar-benar tak bisa mengelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hey, seperti orang jantungan!” serunya lagi bernada riang.&lt;br /&gt;
Genderang telinga Jaja terasa dielus-elus, yang kemudian menggeletar-geletarkan syaraf kelelakiannya; mengaburkan pertimbangan bahwa perempuan itu bersuami. Suaranya yang merdu mengandung kekuatan sihir sehingga Jaja tak mampu menahan kedua kakinya untuk mendekati saung Bapak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kau tak suka aku duduk di sini?”&lt;br /&gt;
Jaja masih terpaku.&lt;br /&gt;
“Ayo, duduklah!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja seperti kerbau yang dicocok hidung. Bahkan mungkin ia tidak sadar bahwa saung itu adalah miliknya. Namun ucapan perempuan itu jelas menunjukkan Jaja sebagai tamu di saungnya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lebih seminggu, ya, kau tak melihatku.”&lt;br /&gt;
Jaja cuma menatap.&lt;br /&gt;
“Kau selalu menantiku, kan?”&lt;br /&gt;
Ucapan perempuan itu benar-benar menelanjanginya.&lt;br /&gt;
“Maklumlah, Ja, aku `kan punya suami!” Tawanya berderai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah karena ucapannya yang terakhir itu, entah karena Jaja tak tahu apa yang mesti dilakukannya, ia lalu melepas pandang pada lembah yang masih lenggang. Bola matanya  bergulir-gulir ke sekeliling. Di beberapa sudut tampak tiga empat ekor kambing tengah mencari-cari rumput di antara ilalang kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh di atas langit, tampak melayang-layang sepasang bangau. Mereka sepertinya tengah mengelilingi pesawahan itu. Kadang mereka menukik, lalu melayang rendah, dan kembali mengepakkan sayapnya meniti angin. Entah apa yang dicari mereka. Mungkin air atau sedikit makanan. Tapi lembah itu terlalu gersang. Air yang masih tersedia, hanyalah di sepanjang sungai. Itu pun tak banyak, hanya sekedar pertanda bahwa sungai  yang membelah pesawahan itu masih pantas disebut sebagai sungai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari tempat yang jauh, mungkin di sekitar bukit-bukit gundul itu samar-samar terdengar burung perkutut. Nyanyiannya terbawa angin, menebar ke sudut-sudut lembah. Di atas tanaman ketela di depan saung Bapak hinggap empat ekor burung pipit. Cericit suaranya untuk beberapa saat menghidupkan keheningan. Kemudian mereka terbang kembali menakala makanan yang dicarinya tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi seekor burung seupah, yang muncul berikutnya seraya berputar-putar di atas daun-daun ketela yang bergelombang tertiup angin, burung-burung pipit itu mungkin dianggapnya kurang teliti. Sebab sesaat setelah menclok pada pucuk ketela, ia menemukan ulat kecil yang bersembunyi di balik dedaunan. Ulat itu menggeliat-geliat ketika paruh burung si seupah mematuknya. Hanya beberapa detik, lenyaplah ulat tak berdosa itu ke perut si seupah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah dari mana datangnya, seekor seupah lain hinggap di dahan ketela yang sama. Mungkin pendatang ini, jantan. Karena segera saja ia mencium si seupah yang pertama.  Mereka bergelut sambil mengepakkan sayapnya. Kemudian si jantan itu terbang kembali. Sementara si betina tampak mengais-ngaiskan paruhnya pada bulu-bulu tubuhnya. Boleh jadi ia sedang membetulkan pakaiannya yang tadi telah diacak-acak si jantan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Enak ya kalau jadi burung,” ujar perempuan itu. Nada suaranya masih terdengar riang, “Bebas melakukan apa saja. Bebas terbang kemana saja. Kau mau jadi seekor burung?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaja berpaling, kembali menatap perempuan itu. Di sudut hatinya Jaja tertawa.  Pertanyaan perempuan itu benar-benar menggelitik Atau tidakkah itu bermakna ajakan halus? Jaja tidak mau berpikir ke sana. Jaja hanya melihat bahwa bibir perempuan itu merekah. Bola matanya bercahaya. Lekat menerpa Jaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batas-batas memudar.&lt;br /&gt;
Jaja menangkap pergelangan tangan perempuan itu. Menariknya perlahan, Pandangannya menembus bola mata perempuan itu, yang kian lama kian mendekat. Namun seiring dengan hembusan hawa panas di seputar wajahnya,  Jaja melihat bola mata itu berubah menjadi layar kecil. Lalu tampak Si Tua Bangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matanya yang rabun terbeliak-beliak penuh kecemburuan. Gigi-giginya yang tinggal beberapa buah, menyeringai. Seakan-akan mau mengoyak tubuh Jaja. Lalu menelannya sepotong demi sepotong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar Si Tua Bangka perlahan mengabur. Akhirnya lenyap. Tapi bersamaan dengan hembusan hawa panas di wajahnya, Jaja melihat layar itu berubah menjadi bulatan putih dengan titik hitam di tengahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ja, lepaskan tanganku!”&lt;br /&gt;
Jaja tak  mendengar suara perempuan itu. Jaja tengah memperhatikan bulatan putih dengan titik hitam. Ia tengah menunggu wajah siapa lagi yang akan muncul. Tapi sebelum Jaja melihat seraut wajah lain, tubuhnya terasa ada yang mendorong dengan kuat. Jaja nyaris terjungkal, kalau saja tidak terhalangi bilik saung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ja, tidak baik berbuat begitu.” &lt;br /&gt;
Jaja terperangah. Berkali-kali ia menggisik kelopak matanya. Tapi jelas perempuan itu duduk tak jauh dari tempatnya. Rona merah tiba-tiba menebar di kulit wajah lelaki itu. Jaja tak berani beradu pandang. Ia malah berpaling ke arah lain. Emak dan Bapak sepertinya terluka melihat Jaja tidak mampu mengendalikan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kita `kan bukan burung, Ja,” ujar perempuan itu. Suaranya masih bernada riang, “Mungkn pada kesempatan lain aku mau, Ja. Maksudku, nanti bila kita ditakdirkan bisa menikah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali Jaja menatap perempuan itu. Kembali ia melihat bibirnya merekah; bola matanya berbinar-binar; keseluruhan wajahnya menyemburatkan keceriaan. Semua membuat rasa kelelakiannya meronta-ronta. Namun perempuan itu sekarang yang mempertegas batas-batas. (&lt;i&gt;Bersambung&lt;/i&gt;) &lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/6134234896473891718/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-10.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6134234896473891718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6134234896473891718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/06/lalu-semuanya-berubah-10.html' title='Lalu Semuanya Berubah (10)'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeDo13UywnUgxQg4FGcYwfsMwgy_VqsoqMSx1uLi21kKM1SI_4KjcWYtuyGfgzAoxVRDfzp4gcxVWyFfFIMJ7mAbwc6gZLkxItqZoBuXPVwoeIuPfeohH7HBZNqphF5k9RHvQS_9zt3nfv/s72-c/Graphic+Saung+Sawah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-6484356453395077723</id><published>2010-05-27T10:22:00.000+07:00</published><updated>2010-05-27T10:22:45.762+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Pemilukada Cianjur: Mencari Pemimpin yang Amanah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1FG02oiNcZANmlOfhlIH_Jrsukzeu6N1RLc9L55hLASh6fSYyCwL2wEKu8jES8TtjQteMj4t3SJ5gOy96o4nUeZTij87KQIbO9iebs80bfNM6MHeznGow0wI4YeLjFg7RAwBWcaYvTWTu/s1600/Ilustrasi+Pemilukada.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;295&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1FG02oiNcZANmlOfhlIH_Jrsukzeu6N1RLc9L55hLASh6fSYyCwL2wEKu8jES8TtjQteMj4t3SJ5gOy96o4nUeZTij87KQIbO9iebs80bfNM6MHeznGow0wI4YeLjFg7RAwBWcaYvTWTu/s400/Ilustrasi+Pemilukada.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Dalam beberapa bulan ke depan, hiruk-pikuk pesta demokrasi di Kabupaten Cianjur, Jabar, akan dimulai. Rakyat akan kembali diajak datang ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyalurkan hak pilihnya, memilih bupati dan wakil bupati Cianjur periode 2011-2016.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Antusiaskah rakyat Cianjur menyambut Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada), yang pemungutan suaranya dijadwalkan Januari tahun depan? Bagi mereka yang berniat mencalonkan sebagai calon bupati dan calon wakil bupati, pemilukada memang disambut sangat antusias. Begitu juga bagi partai politik, pemilukada ibarat perayaan pernikahan yang sangat ditunggu-tunggu pasangan calon pengantin.&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Tapi bagi rakyat sendiri, Pemilukada 2011 itu tampaknya masih dianggap dingin. Bahkan dari beberapa obrolan saya dengan para tetangga di kampung, ada kesan mereka tak mau ambil pusing. Hal itu mungkin karena rakyat jenuh. Sebab memang diera reformasi ini begitu sering kita menyelenggarakan pemilu, mulai dari pemilu tingkat desa, tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pemilu nasional. Wajar bila rakyat jenuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apalagi memang hasil pemilu, dalam semua tingkatannya, mengesankan tidak menjadikan kehidupan rakyat lebih baik, kecuali bagi mereka yang beruntung bisa duduk di kursi empuk DPR/DPRD dan beruntung menjadi pemimpin. Bagi mereka, pemilu dalam semua tingkatannya adalah cara instant untuk bisa kaya mendadak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apakah hal serupa juga akan terjadi dengan hasil Pemilukada Cianjur 2011 nanti? Mungkinkah hasilnya hanya akan tetap menempatkan rakyat sebagai masyarakat yang tidak berdaya, sementara mereka yang merasakan kehidupan lebih baik serta merasakan kesejahteraan yang meningkat signifikan adalah bupati/wakil bupati terpilih bersama kroni-kroninya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekalipun memang realitas yang kita temukan dari hasil pemilu dan pilkada (dulu namanya pilkada, bukan pemilukada) itu terkesan tidak menunjukkan keadaan kehidupan rakyat yang lebih baik, tapi barangkali tidak baik juga berprasangka buruk atas sesuatu yang belum terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa tahu, kali ini, dari sejumlah tokoh yang belakangan muncul sebagai bakal calon (balon) bupati dan wakil bupati Cianjur itu, ada yang benar-benar bersosok pemimpin yang amanah. Dia tidak mengejar kekuasan untuk kemudian duduki dan dinikmatinya selama lima tahun. Tapi dia mengejar kekuasaan untuk kemudian mengendalikan kekuasaannya untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sebut “mengejar kekuasaan”, sebab pemimpin-pemimpin di negeri ini, mulai dari bupati, walikota, gubernur dan presiden, muncul karena proses formal bernama pemilu. Dan mereka baru bisa ikut dipilih rakyat dalam pemilu kalau mereka sebelumnya didaftarkan oleh partai politik sebagai calon bupati, walikota, gubernur atau presiden. Kalau pun melalui jalur independen, mereka harus memiliki dukungan rakyat secara formal berupa tandatangan dan KTP. Jadi ketika mereka masuk dalam proses pemilu maka sesungguhnya mereka sedang mengejar kekuasaan. Persoalannya, apa yang mereka lakukan setelah mendapat kekuasaan? Amanah atau hianat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau setelah mereka mendapat kekuasaan itu mereka hanya duduk dan menikmatinya saja, maka dia termasuk pemimpin yang hianat. Apalagi bila mereka bersenang-senang dengan uang negara, maka mereka sesungguhnya adalah pemimpin yang berjiwa dan berhati tikus. Sebaliknya, kalau setelah mereka mendapat kekuasaan lalu mereka mengendalikan kekuasaannya untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya, maka merekalah pemimpin yang amanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab memang yang disebut amanah berkonsekwensi terhadap terpenuhi kepentingan orang lain. Dalam kaitan pemilukada, tentu yang disebut orang lain itu adalah rakyat atau masyarakat di daerah bersangkutan. Dan yang disebut kepentingan rakyat adalah semua program pembangunan yang memungkinkan rakyat dapat hidup lebih baik. Pelaksanaan pembangunan itu sendiri akan berjalan dengan baik kalau dana pembangunannya tidak dikorupsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti itulah saya kira Pemilukada Cianjur Tahun 2011 harus diletakkan – mencari dan memilih sosok pemimpin yang amanah.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/6484356453395077723/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/05/pemilukada-cianjur-mencari-pemimpin.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6484356453395077723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/6484356453395077723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/05/pemilukada-cianjur-mencari-pemimpin.html' title='Pemilukada Cianjur: Mencari Pemimpin yang Amanah'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1FG02oiNcZANmlOfhlIH_Jrsukzeu6N1RLc9L55hLASh6fSYyCwL2wEKu8jES8TtjQteMj4t3SJ5gOy96o4nUeZTij87KQIbO9iebs80bfNM6MHeznGow0wI4YeLjFg7RAwBWcaYvTWTu/s72-c/Ilustrasi+Pemilukada.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2907984155146591155.post-1736483424893518000</id><published>2010-05-22T15:28:00.000+07:00</published><updated>2010-05-22T15:28:23.310+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Opini"/><title type='text'>Menyedihkan, Juara Olimpiade MIPA Belum Terima Hadiah</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh672_EDZiQRDj3-0VWqnAWqrLGD91sZSZgVoWqLf0wyTfj4ui1j0h3TXJDFpffH_qie9g7Z7pZvzSUX0BEJ5lUvuNuZhix8O7sStF4FbYyoSEVdgKCX-eqI-qYH1ZJgA9r8phNVd0VzA0b/s1600/MIPA.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh672_EDZiQRDj3-0VWqnAWqrLGD91sZSZgVoWqLf0wyTfj4ui1j0h3TXJDFpffH_qie9g7Z7pZvzSUX0BEJ5lUvuNuZhix8O7sStF4FbYyoSEVdgKCX-eqI-qYH1ZJgA9r8phNVd0VzA0b/s200/MIPA.jpg&quot; width=&quot;176&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Lagi-lagi dari Harian Pelita saya menemukan berita yang membuat hati saya serasa dibakar, bahkan sempat berucap, “Ini keterlaluan!”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita headline daerah yang dimuat di halaman enam berjudul “Siswa Berprestasi Menagih Janji, Penghargaan dan Hadiah Uang Belum Diterima” itu memaparkan adanya seorang siswa SD dari keluarga kurang mampu yang berprestasi dalam lomba sangat bergengsi, Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA). Namun hadiahnya belum juga diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Emang&lt;/i&gt; berapa miliar &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; hadiah uang untuk juara Olimpiade MIPA itu, sehingga pihak panitia penyelenggara belum mampu memberikan hadiah yang merupakan hak mutlak pemenang?&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Siswa itu, Samsul Bahri (11 tahun), murid Kelas V SD Negeri Sukamulya III, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dia menjadi Juara II Bidang Studi Matematika dalam Olimpiade MIPA Tingkat Kabupaten Cianjur Tahun 2010, yang diselenggarakan beberapa waktu lalu. Tapi sampai sekarang hadiah berupa tropi dan uang pembinaan, belum diterima. Samsul yang bercita-cita menjadi guru itu baru menerima hadiah alakadarnya dari pihak sekolah berupa buku dan alat tulis (Pelita, Sabtu, 22/05/2010).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh menyedihkan. Hadiah untuk juara Olimpiade MIPA tingkat kabupaten, yang bisa dipastikan tidak akan mencapai ratusan juta (puluhan juta pun belum tentu), apalagi sampai miliaran, tega-teganya dianggap remeh oleh pihak panitia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal Olimpiade MIPA merupakan ajang lomba sangat bergengsi, sehingga bila ada siswa yang menjadi juaranya, kita langsung menganggap bahwa dia merupakan siswa yang cerdas, yang seharusnya mendapat perlakuan istimewa dari pihak instansi terkait. Ini malah hadiahnya saja belum diberikan. Jangan-jangan ada yang kurang beres di pihak panitia penyelenggara olimpiade yang khabarnya ditangani Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cianjur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin bagi sebagian orang, keterlambatan pemberian hadiah itu bukanlah hal yang substansial dari penyelenggaraan Olimpiade MIPA. Sehingga penantian Sang Juara untuk memperoleh haknya berupa hadiah uang dan tropi, dianggap sepele. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sesungguhnya keterlambatan seperti itu bukan saja mencederai harkat Olimpiade MIPA yang begitu bergengsi, tapi juga mengesankan bahwa Disdik kurang menghargai siswa berprestasi. Padahal pemberian hadiah justru dapat mendorong peningkatan prestasi yang bersangkutan. Apalagi bila melihat latar-belakang keluarga Samsul yang katanya tergolong warga kurang mampu, tentu hadiah berupa uang pembinaan akan sangat berarti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya hal-hal seperti itu tidak dipertimbangkan panitia penyelenggara. Mereka tampaknya menganggap remeh pemberian hadiah. Dan hal itu, saya kira, kurang mendidik, dan kurang sejalan dengan semangat Disdik sendiri, yang mengurusi dunia pendidikan.&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arusrasyid.blogspot.com/feeds/1736483424893518000/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/05/menyedihkan-juara-olimpiade-mipa-belum.html#comment-form' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1736483424893518000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2907984155146591155/posts/default/1736483424893518000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arusrasyid.blogspot.com/2010/05/menyedihkan-juara-olimpiade-mipa-belum.html' title='Menyedihkan, Juara Olimpiade MIPA Belum Terima Hadiah'/><author><name>ARUS RASYID</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03006112677904626394</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9OcEoi7GsV-5HIsBO82KlYxNIA-prmssQnrf5bDXWW0IXL6V7L5v3iq96-1QwiGFzI5QYJbr7OoTqUox-qmuRmSbZ1uWtVB2WPXZs1OpuNqitj3tHcCFwiTfCmRPg-jQ/s220/Asepr.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh672_EDZiQRDj3-0VWqnAWqrLGD91sZSZgVoWqLf0wyTfj4ui1j0h3TXJDFpffH_qie9g7Z7pZvzSUX0BEJ5lUvuNuZhix8O7sStF4FbYyoSEVdgKCX-eqI-qYH1ZJgA9r8phNVd0VzA0b/s72-c/MIPA.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>13</thr:total></entry></feed>