<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>solilokui</title><description>catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (~alof)</managingEditor><pubDate>Wed, 13 May 2026 14:39:15 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">134</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini </itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Christianity"/></itunes:category><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="Personal Journals"/></itunes:category><itunes:category text="News &amp; Politics"/><itunes:category text="Arts"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Kado ti Bandung #1</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/05/kado-ti-bandung-1.html</link><category>jentera hari</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Mon, 11 May 2026 14:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8554284448451106903</guid><description>&lt;title&gt;&lt;i&gt;Kado ti Bandung&lt;/i&gt; #1&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Detik-detik Menjelang Pencoblosan&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KartuDelegasi.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="576"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/KartuDelegasi.jpg"
      width="320"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Usai sudah perhelatan akbar
  &lt;b&gt;Perkumpulan Lions Indonesia Distrik 307&lt;/b&gt; (Indonesia) bertajuk
  &lt;b&gt;Konvensi Tahunan Ke-50&lt;/b&gt; yang diselenggarakan di Kota Bandung dan
  sekaligus diselaraskan dengan penyelenggaraan
  &lt;b&gt;Konvensi Tahunan Ke-15 Distrik 307-A1&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Semua peserta sudah kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pesan,
  kesan, kenangan, dan nilai yang semakin melebarkan perspektifnya mengenai
  Perkumpulan Lions secara luas hingga peran personalnya dalam kelompok
  terkecil, yakni &lt;i&gt;club&lt;/i&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dari rentetan kegiatan yang cukup padat sejak pagi sampai malam selama tanggal
  7 hingga 10 Mei 2026, ada 2 mata acara yang --menurut pendapat dan minat
  saya-- sangat krusial bagi organisasi, yakni :
&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Mosi untuk perubahan beberapa bagian dari AD/ART, dan&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    Pemilihan pucuk pimpinan Distrik 307; yakni District Governor (DG), First
    Vice District Governor (FVDG), dan Second Vice District Governor (SVDG).
  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;
  Yang pertama merupakan panduan dan koridor penyelenggaraan organisasi,
  sedangkan yang kedua adalah tim pimpinan tertinggi yang akan memandu arah
  organisasi agar bertumbuh-kembang dalam koridor tadi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Untuk urusan AD/ART, nanti sajalah bahasannya. Tak banyak yang tertarik urusan
  detail dan &lt;i&gt;njlimet&lt;/i&gt; begini &#128513; Saat ini saya ingin cerita soal pemilihan
  SVDG yang kebetulan diikuti oleh 2 orang kandidat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;i&gt;Let's start ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Pengetahuan saya amatlah minim terkait siapa dan apa rencana para kandidat
  bagi organisasi. Saya hanya berkesempatan mengikuti kampanye secara tak
  langsung melalui WhatsApp Group. Adapun informasi tambahan, apalagi yang
  &lt;i&gt;behind the scene&lt;/i&gt;, saya peroleh dari Presiden saya di Starlight
  (maklumlah, namanya juga orang baru, jadi masih &lt;i&gt;culun&lt;/i&gt; &#128513;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kartu Delegasi berwarna merah sudah saya pegang, sehingga saya punya kewajiban
  moral untuk memilih alias &lt;b&gt;TIDAK GOLPUT!&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kok gitu? Gimana penjelasannya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menurut kacamata saya, Lions memiliki mekanisme penjaringan dan penyaringan
  yang harusnya sih tidak perlu dipertanyakan lagi mutunya. Reputasi dan
  kompetensi para kandidat telah &lt;b&gt;teruji&lt;/b&gt; serta &lt;b&gt;terpuji&lt;/b&gt; di bidang
  masing-masing dalam kurun waktu memadai sehingga dianggap layak untuk jabatan
  tersebut. Intinya, mereka semua adalah yang terbaik dalam berbagai aspek
  organisasi menurut versi Lions.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Maka tidaklah mudah bagi saya membandingkan kiprah keduanya secara matematis
  (&lt;i&gt;not apple to apple&lt;/i&gt;). Di sisi lain, kekuatan masing-masing kandidat,
  sekali lagi menurut pendapat saya, amat dibutuhkan oleh organisasi dalam
  memacu kemajuan dan perkembangan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jadi, terus terang, saya masih belum menentukan pilihan final hingga saat-saat
  terakhir. (Sampai &lt;i&gt;diomelin&lt;/i&gt; Presiden saya. &lt;i&gt;Hapunten&lt;/i&gt;, Pres &#128591;)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masalahnya, saya harus memilih siapa?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Paparan oleh Sekondan mengenai kandidat yang didukungnya serta pidato para
  Kandidat menjelang saat pencoblosan adalah &lt;b&gt;kesempatan terakhir&lt;/b&gt; bagi
  mereka maupun pemegang suara untuk memantapkan pilihan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sudah dapat diduga bahwa 3 menit paparan Sekondan maupun pidato para kandidat
  selama 5 menit cenderung normatif mengenai pribadi, potensi, kinerja,
  prestasi, dedikasi, dsb. Kendati demikian, saya yakin pasti ada yang unik di
  sela &lt;i&gt;template&lt;/i&gt; pidato. Itu yang saya cari!
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Maka saya menyimak dan mencatat apa yang mereka sampaikan dengan penuh
  perhatian (hingga dicolek kawan semeja yang melihat saya &lt;i&gt;orat-oret&lt;/i&gt; di
  buku catatan &#128513;). Apa boleh buat, saya mengemban 1 suara mewakili Starlight
  yang harus saya pertanggungjawabkan secara moral dan rasional.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya berdehem kecil ketika seorang kandidat menegaskan prinsip bahwa yang
  lebih penting baginya "bukanlah siapa saya, melainkan untuk apa saya".
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Walau belum cukup jelas bagaimana detail implementasinya, kelihatannya Sang
  Kandidat punya fokus pada peran dan proses fungsional ke masa depan tinimbang
  terjebak eforia pencapaian yang sudah menjadi masa lalu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kemudian Sang Kandidat memproklamasikan komitmennya untuk bekerjasama dan
  mendukung DG terpilih (halmana merupakan komitmen semua kandidat, termasuk
  FVDG). Namun tidak berhenti sampai di situ. Sang Kandidat mengimbuhi
  pernyataan tersebut dengan frasa tegas "akan loyal dalam berbagai situasi".
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sini saya berdehem untuk yang keduakali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Memilih pimpinan tertinggi yang tak sepaket dengan wakilnya (dipilih
  sendiri-sendiri) mengandung konsekuensi yang cukup riskan. Masing-masing
  berangkat dengan visi dan rencana aksi sendiri, masing-masing punya basis
  massa pendukung. Perlu sinkronisasi dan harmonisasi. Jika tak sejalan,
  runyamlah urusan organisasi di masa depan. (IMHO, harusnya sih urusan &#120364;&#120354;&#120378;&#120354;&#120364;
  gini gak terjadi di Lions &lt;i&gt;lantaran&lt;/i&gt; bukan ormas politik ataupun bisnis.)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya tidak akan berpanjang-lebar lagi membahas kemungkinan ini-itu. Itu sudah
  cukup bagi saya untuk mencoblos siapa pada kartu suara berwarna biru.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengapa demikian?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Simpel aja sih. Karena saya ingin kepemimpinan DG Solida Adby Ramly di periode
  2026 - 2027 sukses gemilang dan membanggakan. Menjadi pelari terakhir dalam
  estafet &lt;b&gt;Mission 1.5&lt;/b&gt; bukanlah peran ringan, sehingga butuh tim solid
  yang sehati dan sepemahaman dalam satu derap tanpa terdistrak berbagai
  hambatan apalagi friksi berbasis ego.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demikianlah.&lt;/p&gt;

&lt;p class="fot"&gt;
  (Apakah kisah sudah selesai seiring usainya pemilihan? Ternyata belum,
  sodara-sodara ... &#128513;)
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Senin, 11 Mei 2026 10:58 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">HARRIS Hotel &amp; Conventions Festival Citylink, Jl. Peta No.241, Suka Asih, Bojongloa Kaler, Bandung City, West Java 40231, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.929580800000001 107.5865762</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-35.239814636178849 72.4303262 21.380653036178845 142.7428262</georss:box></item><item><title>Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/05/sebuah-hari-tanpa-alasan-mengeluh.html</link><category>familia</category><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Fri, 1 May 2026 22:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7120250004292441839</guid><description>&lt;title&gt;Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&#151; &lt;i&gt;Today is May, But Not A Mayday&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ 1 ]&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BabaMandi.jpg" title="Memandikan Baba"&gt;
    &lt;img
      alt="Memandikan Baba"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="768"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BabaMandi.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Memandikan Baba&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah
  tak memakai rompi sebagaimana biasa.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kok gak pakai baju?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Mau dimandikan," sahut Riris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Sini, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar
  mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum
  &lt;a href="https://gajatoba.org/" target="_blank"
    &gt;Perkumpulan Gaja Toba Semesta&lt;/a
  &gt;
  (PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang
  keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan
  lanjut ke rumah Lisna&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;, adik saya yang tinggal di Bogor, untuk
  mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring
  (&lt;i&gt;online&lt;/i&gt;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun
  batal datang ke lokasi acara.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sehabis mandi, &lt;i&gt;leyeh-leyeh&lt;/i&gt; sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya
  membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening
  &lt;i&gt;kinclong&lt;/i&gt;, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa dengan sedikit
  bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali
  memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ 2 ]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih
  menggantung di langit.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak
  sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun
  berdiri tanpa mengeluh.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan
  suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung
  melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol,
  kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih
  kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KeretaBogor.jpg" title="Stasiun Bogor"&gt;
    &lt;img
      alt="Stasiun Bogor"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/KeretaBogor.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Stasiun Bogor&lt;/p&gt;
  &lt;!--p&gt;https://www.seaart.ai/explore/detail/cmlakjle878c73fcu13g&lt;/p--&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di
  beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap.
  Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa belum juga diperbaiki.
  Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin.
  (Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno -
  Hatta saja bocor." &#128584;)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan
  orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah
  memesan transportasi daring. Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi.
  Tampak permanen.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos
  kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali
  keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki
  jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya &#128533;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring.
  Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari
  untuk menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas
  di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu
  langsung berhadapan dengan jalur angkot yang super padat dan macet.
  &lt;i&gt;Makin ribet dah&lt;/i&gt; ...
&lt;/p&gt;

&lt;div id="fullpost"&gt;
  &lt;p class="hrx"&gt;[ 3 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena
    angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan
    Suryakencana yang dekat dengan rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat
    sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit
    terguyur hujan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun
    berjalan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai
    tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti
    saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini
    mengalami kehujanan di tengah jalan? Ah, sungguh tak sepadan. Nikmati saja
    ...
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 4 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin
    terasa. Maka saya masuk ke rumah makan
    &lt;a
      href="https://www.tripadvisor.com/Restaurant_Review-g297706-d798350-Reviews-Ngohiang_Gang_Aut-Bogor_West_Java_Java.html"
      target="_blank"
      &gt;Ngohiang&lt;/a
    &gt;
    yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang
    mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar
    sekolah).
  &lt;/p&gt;

  &lt;div class="captr"&gt;
    &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Ngohiang.jpg" title="Ngohiang"&gt;
      &lt;img
        alt="Ngohiang"
        border="0"
        height="320"
        data-original-height="1024"
        data-original-width="576"
        src="https://solilokui.gt.tc/img/Ngohiang.jpg"
    /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;p&gt;Ngohiang&lt;/p&gt;
  &lt;/div&gt;

  &lt;p&gt;
    Usai menghabiskan seporsi &lt;i&gt;ngohiang&lt;/i&gt; panas dan meneguk habis segelas es
    pala, saya ke kasir untuk bayar.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Hanya bisa &lt;i&gt;cash&lt;/i&gt;," jawab kasir.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    "Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan
    kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir
    mengeluh.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet
    agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih
    ada uang yang cukup untuk membayar makanan dan minuman yang telanjur
    disantap.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Beruntung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang jumlahnya pas dengan
    tagihan. Puji Tuhan! Kenangan indah masa kecil mengenai manisnya es pala tak
    berubah jadi tawar akibat keluhan &#128591;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.&lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 5 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa
    menit. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut.
    Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.
  &lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi
    alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick
    membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1
    jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan
    secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya
    adalah mie goreng.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya tunda sejenak proses
    alamiah penanggulangan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus
    bungsu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;div class="captr"&gt;
    &lt;a
      href="https://solilokui.gt.tc/img/MakanMalamDiBogor.jpg"
      title="Makan malam di Bogor"
    &gt;
      &lt;img
        alt="Makan malam di Bogor"
        border="0"
        data-original-height="1024"
        data-original-width="683"
        height="320"
        src="https://solilokui.gt.tc/img/MakanMalamDiBogor.jpg"
    /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;p&gt;Makan malam&lt;/p&gt;
  &lt;/div&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah Clara tiba, kami pun duduk bersama mengelilingi meja makan bundar.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan
    dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya
    memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sungguh saya sangat bersyukur, sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak
    pernah seorang pun anggota keluarga Lisna mengeluhkan kondisi yang mereka
    jalani ini selama sekian tahun. Kiranya kami semua dijauhkan dari dukacita
    seperti itu &#128591;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan,
    kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 6 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam di sana, saya pun berpamitan.
    Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi
    motor menuju stasiun.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah tersedia. Sekejap kemudian kereta pun
    melaju menuju Jakarta. Kali ini tak ada yang istimewa. Tampaknya semua orang
    sedang asyik ataupun terjebak dengan pikiran masing-masing.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek
    motor.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sesampai di rumah, Baba sudah menanti di depan pintu. Bermain sebentar
    dengan Baba, lalu mandi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sambil mengaduk kopi, saya buka laptop untuk menuliskan kisah hari ini.
    Kisah tentang sebuah hari yang berhias beberapa aksen dinamis namun tanpa
    satu pun keluhan. Sungguh karunia yang teramat indah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="fot"&gt;
    &lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt; Kisah tentang Lisna ada di
    &lt;a href="https://solilokuifajar.blogspot.com/2008/06/les-miserables-1.html"
      &gt;Les Misérables #1&lt;/a
    &gt;
    dan
    &lt;a href="https://solilokuifajar.blogspot.com/2008/08/les-miserables-2.html"
      &gt;Les Misérables #2&lt;/a
    &gt;.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Jumat, 01 Mei 2026 22:26 &#127760;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Bogor City, West Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5971468999999994 106.8060388</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-39.560693282853407 71.64978880000001 26.36639948285341 141.96228879999998</georss:box></item><item><title>Kuntum Hening Abadi</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/04/kuntum-hening-abadi.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 19 Apr 2026 00:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1918805026320051702</guid><description>&lt;title&gt;Kuntum Hening Abadi&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a
    href="https://solilokui.gt.tc/img/EdelweisBike.jpg"
    title="Edelweis hening"
  &gt;
    &lt;img
      alt="Edelweis hening"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/EdelweisBike.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan
  ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang
  dengan kata ganti orang kedua,"kamu". Sekena rasa hatinya saat itu. Bukan
  karena sedang tak suka.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Iya," sahutku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan
  lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus
  persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas
  membenahi tendanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Bisa keluar sebentar?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada apa?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada yang mau saya berikan."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta
  kacamata balap tentu saja melengkapi &lt;i&gt;jersey&lt;/i&gt; dan celana pendek
  &lt;i&gt;sport&lt;/i&gt;. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di
  punggung.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama
  beberapa kawannya di grup pecinta alam.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Tadi malam," sahutnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit
  pita keemasan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Edelweis," gumamku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan
  mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini (harusnya pihak lelaki yang
  memberikan bunga).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga
  Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu
  sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa
  yang tak sanggup dihalau.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada lagi," katanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman
  benang 4 warna.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama
  sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk
  siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan
  simpul gelang itu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kenapa? Gak suka?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketus seperti biasa dan saya tak pernah punya hasrat untuk tersinggung
  padanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Andai ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai lebar.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ya ..." sambungnya sepaham.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya.
  Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya
  diam saling pandang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Saya jalan dulu ya," pamitnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan
  betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus
  dinding mimpi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak
  berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga
  akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi
  sempurna.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 19 April 2026 00:55 &#127760; Bandung&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Senjakala Cahaya Bening</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/04/senjakala-cahaya-bening.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 12 Apr 2026 23:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-3119308676560253934</guid><description>&lt;title&gt;Senjakala Cahaya Bening&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Artefak Hadirmu&lt;/p&gt;
&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a
    href="https://solilokui.gt.tc/img/CahayaBening.jpg"
    title="Senjakala Cahaya Bening"
  &gt;
    &lt;img
      alt="Senjakala Cahaya Bening"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/CahayaBening.jpg"
      width="320"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Senjakala Cahaya Bening&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Kami duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua
  orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak
  tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat
  berhati-hati.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada yang berubah."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dia diam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp.
  Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan.
  &lt;i&gt;Ghosting&lt;/i&gt;."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih diam. Sekarang wajahnya sedikit menunduk menatap ujung sepatunya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Ada yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang
  sudah-sudah. Dan kamu tahu &lt;i&gt;banget&lt;/i&gt;, tak sekali pun saya pernah
  mempersoalkan protes bahkan marahmu."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetap diam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara di antara jari
  telunjuk dan tengah tanpa dihisap. Menunggu dia bicara. Terbakar hingga
  setengahnya secara percuma.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bergeming. Tak jua ada reaksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Rerumputan tempat kami duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan
  mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat
  yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan
  perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan
  mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam
  dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu
  menjemput."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tak sabar, aku lanjutkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah
  kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik
  kita, menurut saya."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya
  di tanah.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir
  yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya,
  &lt;i&gt;'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'&lt;/i&gt;. Kamu jawab,
  &lt;i&gt;'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'&lt;/i&gt;."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita itu kini hanya tepekur
  di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihnya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas
  wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan
  berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ujung bibirnya sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan
  perih.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Bicaralah," pintaku penuh harap dia tak membatalkan niatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Lalu mulutnya mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti
  kepedihan yang amat rentan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Abang tak sayang aku."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kok gitu?" tanyaku kaget.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Setelah sekian lama ..."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jeda sejenak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu dia lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"... Abang tak pernah menciumku."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelu.&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 12 April 2026 23:03 &#127760; Melak&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nevermore</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/01/nevermore.html</link><category>di balik nada</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Thu, 29 Jan 2026 09:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-4691147725514497131</guid><description>&lt;title&gt;&lt;i&gt;Nevermore&lt;/i&gt;&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&#151; Mahakarya yang Diabaikan&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BattleOfTheBands.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="586"
      height="400"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BattleOfTheBands.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Battle of The Bands: UI vs ITB&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Banyak yang bisa menyebutkan lagu-lagu karya &lt;b&gt;Queen&lt;/b&gt;, grup band asal
  Inggris, yang populer seantero jagat. Sebut saja "Bohemian Rhapsody" yang
  masuk jajaran lagu legendaris sepanjang masa. Juga "Love of My Life", "We are
  The Champions", "I Want to Break Free", "Crazy Little Thing Called Love", dan
  sederet lainnya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Namun, menurut dugaan saya, hanya segelintir yang mengenal lagu "Nevermore"
  (dari album &lt;b&gt;Queen II&lt;/b&gt;, 1974) yang rilis pada masa Freddie Mercury masih
  asyik dengan lirik bertema dongeng (&lt;i&gt;fairy tales&lt;/i&gt;) dibalut kekhasan
  operatik penuh harmoni.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di sisi lain, tak sedikit penggemar yang menobatkan lagu ini sebagai mahakarya
  terbaik yang indah dan intim, mewakili momen kejeniusan yang sempurna dengan
  arsitektur yang kompleks, berlapis, dan artistik. Hanya saja, lagu ini kerap
  menjadi permata tersembunyi yang terabaikan
  &lt;i&gt;(underrated)&lt;/i&gt;. Bisa jadi karena durasinya yang sangat singkat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya jadi penasaran, apakah band ITB ataupun UI berkenan menyisipkan 79 detik
  waktu mereka untuk membawakan lagu ini dalam
  &lt;b&gt;Battle of The Bands&lt;/b&gt; pada tanggal 30 Januari 2026 esok di Balai Sarbini.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sungguh bikin penasaran &#128526;&lt;/p&gt;

&lt;table class="nbtbl"&gt;
  &lt;tbody&gt;
    &lt;tr&gt;
      &lt;td&gt;
        &lt;iframe
          allowfullscreen=""
          class="BLOG_video_class"
          height="266"
          src="https://www.youtube.com/embed/1lXwT7mxmf8"
          width="320"
          youtube-src-id="1lXwT7mxmf8"
        &gt;&lt;/iframe&gt;
      &lt;/td&gt;

      &lt;td&gt;
        &lt;p&gt;
          There's no living in my life anymore&lt;br /&gt;
          The seas have gone dry&lt;br /&gt;
          And the rain stopped falling
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Please don't you cry anymore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Can't you see?&lt;br /&gt;
          Listen to the breeze&lt;br /&gt;
          Whisper to me, please&lt;br /&gt;
          Don't send me to the path of Nevermore
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Even the valleys below&lt;br /&gt;
          Where the rays of the sun&lt;br /&gt;
          Were so warm and tender
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Now haven't anything to grow&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Can't you see?&lt;br /&gt;
          Why did you have to leave me?&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Nevermore, Nevermore&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Why did you deceive me?&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Nevermore, Nevermore&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Send me to the path of Nevermore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          When you say you didn't love me anymore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Nevermore&lt;br /&gt;
          Nevermore
        &lt;/p&gt;
      &lt;/td&gt;
    &lt;/tr&gt;
  &lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;p class="xCtr"&gt;Liputan yang muncul kemudian mengenai acara ini:&lt;/p&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.youtube.com/watch?v=Q1DYwQOW19A" target="_blank"
        &gt;260130 Battle of the Bands ... UI - ITB&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://youtu.be/V0C7Z_kTaNk" target="_blank"
        &gt;260130 Battle of the Bands ITB and UI - short compilation&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://www.tiktok.com/@thekadrimohamad/video/7604553339392527636"
        &gt;Battle of the Bands: Yellow Jacket vs Ganesha Concert&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://alumniamagz.id/battle-of-the-bands-ui-vs-itb-rivalitas-kampus-nostalgia-musik-dan-panggung-silaturahmi-alumni/"
        target="_blank"
        &gt;Battle of the Bands UI vs ITB: Rivalitas Kampus, Nostalgia Musik, dan
        Panggung Silaturahmi Alumni&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://ekraf.go.id/news/deputy-minister-of-creative-economy-attends-ui-vs-itb-battle-of-the-bands-supports-strengthening-music-across-campuses"
        target="_blank"
        &gt;ekraf.go.id&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Kamis, 29 Januari 2026 09:52 WITA &#127760; Morowali&lt;/p&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://img.youtube.com/vi/1lXwT7mxmf8/default.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Balai Sarbini, Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 50 1, RT.1/RW.4, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10220, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.219664 106.8143624</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-39.328118056760012 71.6581124 26.888790056760008 141.9706124</georss:box></item><item><title>Bernyanyi dalam Gelap</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/12/bernyanyi-dalam-gelap.html</link><category>di balik nada</category><category>hikayat kedunguan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 14 Dec 2025 00:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2765644284043478503</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;style&gt;
      .post-body b, u { background-color:var(--hiLite); }
    &lt;/style&gt;
    &lt;title&gt;Bernyanyi dalam Gelap&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Nada Getir di Terowongan Panjang&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a
        href="https://solilokui.gt.tc/img/BernyanyiDalamGelap.jpg"
        title="Bernyanyi dalam Gelap"
      &gt;
        &lt;img
          alt="Bernyanyi dalam Gelap"
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="1080"
          data-original-width="1080"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BernyanyiDalamGelap.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;Bernyanyi dalam Gelap&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Amat beragam ekspresi peduli tanah air. Dari yang teguh menunaikan kuasa
      jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi
      kritik. Kritik itu sendiri bisa mewujud dalam demonstrasi keras, petisi
      elegan, literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut
      dalam hening merapal doa.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Spektrum kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata
      terbentang lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, syahdu merindu
      terang di ujung terowongan, hingga lontar celoteh jenaka yang menghunjam
      kepekaan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Dengan cara itulah alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena
      yang melanda Indonesia. Letup keresahan dan kegeraman membuncah lugas
      dalam
      &lt;b&gt;LAGU PERANG&lt;/b&gt; yang merangkul semua orang agar menolak takluk pada
      kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa
      merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih belarasa dalam merawat
      mimpi dan daya juang sesama anak negeri meski harus rela
      &lt;b&gt;BERNYANYI DI DALAM GELAP&lt;/b&gt;.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Di kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa
      &lt;b&gt;PERCUMA&lt;/b&gt; kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab
      rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para
      pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap
      &lt;b&gt;EGP (EMANG GUE PIKIRIN)&lt;/b&gt;. Mereka adalah &lt;b&gt;DRAKULA&lt;/b&gt; tanpa nurani
      yang tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa &lt;b&gt;HALO&lt;/b&gt; sebagai
      tanda bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa
      demikian keras mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam
      ritmis &lt;b&gt;MELODI SKJ (STANDAR KEWARASAN JIWA)&lt;/b&gt; yang menampik bodoh.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kita patut setia &lt;b&gt;MENJAGA NEGERI&lt;/b&gt; dari tangan-tangan kotor yang tak
      sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. &lt;b&gt;RAKYAT JELANTAH&lt;/b&gt; sekalipun harus
      punya harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa
      bangga berbisik, "&lt;b&gt;AKU PADAMU&lt;/b&gt;, wahai Tanah Air tercinta."
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB
      terjalin kental dalam album kesadaran bertajuk
      &lt;b&gt;BERNYANYI DALAM GELAP&lt;/b&gt;. Kami paham bahwa menjalani kegelapan
      bukanlah pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun
      kebodohan. Sedangkan kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang
      melesakkan sikap pasrah bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami
      sepakat bernyanyi sebagai isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari
      nurani walau gelap menghadang pandang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="myPoem ind"&gt;
      Kini dan di sini,&lt;br /&gt;
      kami masih ada&lt;br /&gt;
      dan akan tetap ada,&lt;br /&gt;
      mengusung suara yang tak tersuarakan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 14 Desember 2025 00:19 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Botol Minum</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/11/botol-minum.html</link><category>hikayat kedunguan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 30 Nov 2025 09:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2894244770511247615</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Botol Minum&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BotolMinum.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="400"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="576"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BotolMinum.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Saya punya botol minuman yang biasa-biasa saja. Kapasitas 800 ml, warna
      bening, dan ada label nama isteri saya. Kok begitu? Memang saya pinjam
      dari isteri saya karena 2 botol sebelumnya pecah akibat jatuh, sementara
      yang lainnya berukuran kecil ataupun berat (berbahan metal yang cocok
      untuk kopi).
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Botol yang selalu saya bawa, apalagi saat ke luar kota, sudah beberapa
      kali tertinggal. Masing-masing sekali di Medan, Jagakarsa, Morowali,
      Sorowako. Namun bisa kembali karena ada kawan yang berkenan dititipi
      membawakan pulang ataupun diserahkan oleh petugas jaga sebelum saya
      melanjutkan perjalanan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sebagai orang yang awet menggunakan barang (selama masih berfungsi), tentu
      saja ketinggalan barang akan sangat mengganggu. Hal ini pernah saya alami
      ketika &lt;i&gt;laptop&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;external hard disk&lt;/i&gt; berisi banyak data
      penting tertinggal di hotel Bandung. Akibatnya, subuh-subuh harus kembali
      mengambilnya padahal baru tengah malam sebelumnya saya pulang ke Jakarta.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Jadi saya bisa paham mengapa ada orang yang sampai panik ketika barangnya
      tertinggal di ruang publik yang berpotensi menjadi kehilangan. Entah
      karena harganya yang sangat mahal, atau fungsinya yang vital, atau karena
      nilai sentimentalnya, atau karena pinjaman, atau sebab lainnya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Hanya saja saya belum paham, seberapa berhargakah sebuah
      &lt;i&gt;tumbler&lt;/i&gt; sehingga dianggap setara dengan rusaknya reputasi seseorang
      maupun instansi bahkan hilangnya mata pencaharian. Sungguh masih misteri.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Jangan-jangan hanya tampilannya yang terlihat sederhana padahal di
      dalamnya terkandung rahasia negara atau pernak-pernik konspirasi rumit
      seperti dalam film-film spionase. Mari berprasangka baik ... &#128522;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;
      &#128204; Minggu, 30 November 2025 09:36 &#127760; Taman Wisata Alam, Pantai Indah Kapuk
    &lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Pantai Indah Kapuk, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.1022911 106.74071</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-10.467707225838984 102.34617875 -1.736874974161017 111.13524125</georss:box></item><item><title>Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/07/kesadaran-sebelum-hari-pencoblosan.html</link><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 19 Jul 2025 07:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8153687884749550482</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Pemilihan Ketua Umum IA-ITB 2025&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Vote.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="756"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Vote.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;"Kok mendadak sih? Tiga hari lagi."&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      "Gak mendadak kok. Malah ini pengunduran dari yang seharusnya bulan lalu."
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Informasi ini pun sebenarnya saya tahu karena mengikuti cukup banyak grup
      percakapan alumni. Jika tidak, kemungkinan besar saya juga akan mendapat
      pengalaman kemendadakan seperti kawan yang menghubungi saya kemarin.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Dalam keikutsertaan sebagai penggembira di pinggiran beberapa perhelatan
      tingkat nasional, daerah, serta almamater, kali ini saya tak terimbas
      gaung kemeriahan kontestasi. Dari ketiga kandidat yang muncul, hanya 1
      yang saya kenal. Namun tak satu pun yang saya tahu penawarannya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;"Abang sudah tua," gurau kawan tadi penuh makna.&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Saya hanya tertawa sadar diri.&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 19 Juli 2025 07:38 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rumah Kosmos Sipoholon</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/03/rumah-kosmos-sipoholon.html</link><category>karsa</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 8 Mar 2025 20:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8097921905758616640</guid><description>&lt;title&gt;Rumah Kosmos Sipoholon&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos1.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="470"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos1.jpg"
      width="400"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Rumah kosmos&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;"Jadi bagaimana konsepnya?"&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  "Simpel aja kok, yang di luar merasuk ke dalam dan yang di dalam memancar ke
  luar.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sejenak saya tercenung mencoba memaknai jawaban singkat
  &lt;a href="https://id.linkedin.com/in/jimmy-purba-6aa73134" target="_blank"
    &gt;Jimmy Purba&lt;/a
  &gt;
  sang arsitek, lalu manggut-manggut seakan paham.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sejatinya karya arsitektur menjadi aksen penanda dalam bingkai alam tanpa
  intensi menyabot pesona agung asalinya. Terlebih yang mengusung muatan
  spiritual sebagaimana rumah dinas Pimpinan HKBP yang menyibak pandang 360° ke
  seantero gunung, lembah, dan hutan Sipoholon.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos2.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="768"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos2.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Rumah Kosmos&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Terbayang ketakjuban menyaksikan momen fajar menguntai birai penghujung malam
  di sana, kala makrokosmos di luar dan mikrokosmos di dalam beresonansi
  sempurna seperti saat turunnya firman pertama, "Jadilah terang."
&lt;/p&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/16nnoaBPtC/" target="_blank"
        &gt;Rumah masa depan.&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/16AVEuoC9o/" target="_blank"
        &gt;Rumah doa, rumah pemulihan raga dan jiwa, dan rumah kasih.&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/15tXzxkeaz/" target="_blank"
        &gt;Rumah Dinas HKBP: Fotogenik!&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#hkbp #rumah #arsitektur&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 08 Maret 2025 20:59 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sang Pemimpin Kawanan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/11/sang-pemimpin-kawanan.html</link><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 6 Nov 2024 23:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-6611805435806465005</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Sang Pemimpin Kawanan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;[kalipso 002 relawan]&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Chess.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt="Chess"
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="683"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Chess.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Mengonsolidasikan relawan dengan beragam latar belakang bukanlah hal
      mudah. Perlu waktu, energi, dan kesabaran ekstra tebal untuk
      mengorkestrasi visi, derap langkah, solidaritas, bahkan membangkitkan
      keberanian mengorbankan berbagai hal berharga, termasuk nyawa pada situasi
      ekstrem.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Dalam komunitas relawan, karakter dan keteladanan seseorang diuji hingga
      kerak-kerak dasarnya. Rantai komando terbentuk bukan karena kepangkatan
      ataupun senioritas, apalagi bayaran, melainkan kualitas pribadi yang
      piawai memadukan ketegasan dan keluwesan dalam menyikapi dinamika di
      lapangan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Menjadi pemimpin kawanan relawan merupakan tantangan teramat rumit. Dia
      tak bisa menjanjikan imbalan harta atau kuasa guna membangkitkan semangat
      juang kawan-kawannya dalam berbagai keterbatasan, melainkan harga diri
      sebagai manusia bermental merdeka di hari-hari mendatang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sungguh beruntung hingga kini saya masih berkesempatan berjumpa
      orang-orang berkarakter pemimpin kawanan seperti itu. Mereka memang
      langka.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Rabu, 06 November 2024 23:28 &#127760; Boear&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Panggilan Kehormatan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/11/panggilan-kehormatan.html</link><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 5 Nov 2024 15:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1706846231849104388</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Panggilan Kehormatan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;[kalipso 001 relawan]&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Patriot.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="683"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Patriot.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Benjamin Martin yang semula menolak menjadi komandan tentara kontinental
      akhirnya terjun membabat pasukan kolonial Inggris yang telah membunuh
      anaknya. Segera dia bentuk pasukan relawan dari masyarakat sipil yang
      umumnya adalah petani yang tak pernah angkat senjata &lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Bertempur melawan tentara aktif adalah misi bunuh diri namun bisa sarat
      makna ketika alasan dan tujuannya mulia. Entah demi apa pun, yang semuanya
      masih bisa diperdebatkan, namun bukan itu yang menjadi perhatian saya saat
      ini.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Menjadi relawan tak musti bersebab matinya anak seperti dialami Benjamin
      melainkan bisa juga oleh terbitnya harapan baru bagi masa depan anak-anak
      maupun kekhawatiran sirnanya harapan tersebut.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kalah-menang bukanlah dasar kalkulasi pilihan sebab tak ada yang bisa
      menjamin kemenangan ataupun kekalahan dalam melawan pasukan terlatih. Opsi
      yang tersedia hanyalah keberanian menegakkan harkat sebagai manusia
      seturut nurani dan logika.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Setipis apa pun peluangnya, amat layak diperjuangkan agar tak hanya jadi
      penggerutu yang memasrahkan leher dalam kekang kendali orang lain.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="fot"&gt;
      [1] Sinopsis film
      &lt;a
        href="https://jabarekspres.com/berita/2024/08/15/sinopsis-film-the-patriot-perjuangan-petani-selama-perang-kemerdekaan-as/"
        target="_patriot"
        &gt;"The Patriot"&lt;/a
      &gt;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 05 November 2024 15:31 &#127760; Boear&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kearifan Silimalombu</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/08/kearifan-silimalombu.html</link><category>bumi</category><category>ecce homo</category><category>jentera hari</category><category>kelana</category><category>kuliner</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 18 Aug 2024 01:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7929527290578304594</guid><description>&lt;title&gt;Kearifan Silimalombu&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Sumut Punya Cerita&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Silimalombu.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="768"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Silimalombu.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Nyonya rumah dan tamu di Silimalombu&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga
  tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin
  tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga
  Toba difermentasi jadi minuman (&lt;i&gt;mango wine&lt;/i&gt;), berbagai flora dan fauna
  dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya
  hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (&lt;i&gt;zero waste&lt;/i&gt;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai
  wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing
  yang menjadi tamu menginap di &lt;i&gt;homestay&lt;/i&gt; Silimalombu. Agak ironis, namun
  demikianlah adanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga
  Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di
  sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di
  danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan
  dengan mengolah dan menikmatinya.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/MangoWine.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="400"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="576"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/MangoWine.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Mango wine&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai &lt;i&gt;ecovillage&lt;/i&gt; dan
  menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi
  oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada
  tahun 2020.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;i&gt;&lt;b&gt;Lisoi! Lisoi! Lisoi!&lt;/b&gt;&lt;/i
  &gt;&#129346;
&lt;/p&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a target="_blank" href="https://youtu.be/Qjojk--oJuI"
        &gt;EcoVillage Silimalombu LakeToba&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a target="_blank" href="https://www.instagram.com/silimalombuecovillage"
        &gt;silimalombuecovillage&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="tag"&gt;
  #latepost #Samosir #Sumut #NorthSumatera #wine #ecoliving #nirlimbah
  #zerowaste #pariwisata #tourism
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 18 Agustus 2024 01:49 &#127760; Medan&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sarapan di Medan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/07/sarapan-di-medan.html</link><category>jentera hari</category><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 31 Jul 2024 06:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-140297138827264279</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Sarapan di Medan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Sumut Punya Cerita&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SarapanMedan.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt="Sarapan di Medan"
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/SarapanMedan.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Matahari terbit agak lebih lambat di Medan dibanding Jakarta. Ketika
      Jakarta sudah bergegas menembus kemacetan jalan, Medan baru menggeliat.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Tak heran jika jam 7 hingga 9 WIB masih banyak warga Medan yang kedapatan
      sedang sarapan di tempat yang acap disebut warkop (warung kopi).
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Pagi ini saya sarapan di Warkop Deli, Jalan Abdullah Lubis, Medan.
      Sepiring bihun goreng yang diracik dengan telur bebek dan 2 tusuk sate
      kerang saya santap nikmat. Ditutup dengan secangkir kopi susu dan 2 butir
      telur setengah matang, rasanya bangkit semangat untuk berkegiatan sepenuh
      hari.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;⚜️ SUKA-SUKA&lt;/p&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;
      #latepost #Medan #Sumut #NorthSumatera #sarapan #breakfast #warungkopi
      #warkop #kuliner #culinary
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; 31 Juli 2024 06:46 &#127760; Medan&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Warkop Deli, Jl. Abdullah Lubis No.68, Babura, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20154, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">3.5772326 98.6532531</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-29.509188561260846 63.4970031 36.663653761260846 133.8095031</georss:box></item><item><title>Kembalinya Pasukan Perang Darat</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/05/kembalinya-pasukan-perang-darat.html</link><category>jentera hari</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 27 May 2023 05:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1491764306858041372</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Kembalinya Pasukan Perang Darat&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Suara Hati&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/PPD4GP.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="912"
          data-original-width="1600"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/PPD4GP.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Lima tahun dalam penantian, akhirnya Pasukan Perang Darat (PPD) bangkit
      kembali ketika negara memanggil. Jika dahulu militansinya diperuntukkan
      bagi Joko Widodo (Jokowi), kali ini mereka tampil demi Ganjar Pranowo.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kinerja Jokowi yang dipandang baik sehingga meraih tingkat kepuasan sampai
      82% (survei LSI April 2023) menjadi konsiderans penting bahwa kemajuan dan
      arah perjalanan bangsa ini berada di koridor yang tepat sehingga perlu
      dipertahankan bahkan ditingkatkan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Mengingat konstitusi negara Republik Indonesia yang membatasi masa jabatan
      presiden maksimal 2 kali, maka perjalanan Jokowi pun harus berakhir di
      2024. Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa
      penggantinya adalah orang yang tepat untuk menindaklanjuti pencapaian yang
      sudah diraih.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Dari 3 sosok yang digadang-gadang sebagai calon presiden, pilihan pun
      jatuh pada Ganjar Pranowo. Demikian banyak aspek pada diri beliau yang
      suai dengan kriteria. Selain kinerja yang teruji, juga kepribadiannya yang
      merakyat, sederhana, humoris, melayani, cepat tanggap, gesit, stamina
      tangguh, rekam jejak bersih, mengayomi semua kalangan, berjiwa muda,
      kesatria, tidak ketinggalan zaman, serta sederet karakter
      &lt;i&gt;servant leader&lt;/i&gt; lainnya. Tidak lupa, dia juga adalah seorang suami
      dan ayah yang baik.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Lantas, kenapa PPD harus turun gunung jika Ganjar Pranowo dipandang sudah
      memenuhi kriteria sebagai sosok terbaik yang layak menjadi Presiden?
      Bukankah dia akan mudah memenangi kursi kepresidenan?
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Semesta kiprahnya yang selama ini terbatas di Provinsi Jawa Tengah membuat
      semua prestasi dan kebaikannya belum membahana ke seantero negeri. Sederet
      keberhasilan yang dibangunnya di jenjang provinsi perlu diprojeksikan ke
      tingkat nasional. Kemajuan Jawa Tengah merupakan bukti nyata sekaligus
      cikal-bakal kemajuan menuju Indonesia Gemilang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Inilah tugas para relawan. Inilah amanah yang diemban oleh PPD. Merupakan
      sebuah kehormatan untuk memberitakan kabar baik ini ke seluruh penjuru
      kota dan desa, di jalan-jalan, pasar, pertokoan, stasiun, perumahan, dan
      semua tempat di mana ada mata dan telinga. Terlebih, pada mereka yang
      masih memiliki hati terbuka serta cinta tulus pada negeri serta generasi
      masa depan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Sebab, sejatinya, &lt;b&gt;PPD adalah suara hati anak bangsa&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Salam takzim.&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; 27 Mei 2023 05:46 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/02/balada-fana-seorang-bukan-biduan.html</link><category>di balik nada</category><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 21 Feb 2023 21:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-5995167655315395379</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/MicSplash.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/MicSplash.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        &lt;a
          href="https://pixabay.com/illustrations/podcast-song-sound-microphone-8543921/"
          target="_blank"
          &gt;pixabay.com&lt;/a
        &gt;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Menyimak kisah sendu Bang Andrew Simbolon tentang dunianya yang fana [1],
      ingatan langsung menerawang ke cita-cita masa silam. Kalau Bang Andrew
      kepingin jadi penyanyi rock setelah kuliah, saya pernah kesengsem jadi
      pesohor tarik urat leher ketika masih bersekolah dengan celana pendek
      alias SMP.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Saat itu nama Ebiet G. Ade sangat fenomenal sebagai penyair yang
      bernyanyi. Walau suaranya disebut-sebut mirip Jose Feliciano, sang
      penyanyi kondang tunanetra, syair lagunya sungguh menggoda karena
      bersahaja namun puitis. Konon pula dia menggunakan puisi-puisi karya
      Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi, yang berkiprah di kawasan
      Yogyakarta bersama para tokoh sastra lainnya seperti Korie Layun Rampan,
      Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Begitu pula ketika Guruh Soekarnoputra dan Eros Djarot menggetarkan
      blantika musik Indonesia dengan karya-karya monumental mereka yang
      mengusung kosa kata ajaib dalam lirik-liriknya, makin terbakar gairah
      menulis lagu berbekal kamus bahasa kuno.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sayang disayang, saya harus jujur mengakui bahwa musikalitas saya rupanya
      tak sedahsyat hasrat. Bahkan suara pun amat jauh dari kategori merdu,
      halmana menyalahi kodrat sebagai orang Batak &#128532; Mau daftar ikutan
      &lt;i&gt;vocal group&lt;/i&gt; sekolah saja rasanya tak ada nyali, apalagi masuk
      paduan suara seperti Mak Lindes Dumaria Gultom. Konon pula seperti Bang
      Toni P Sianipar yang bergabung di Elfa's Singers.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Walau ada beberapa lagu yang tercipta (atau sebagai penulis lirik untuk
      lagu karya kawan), dengan lapang dada saya kuburkan impian menjadi penyair
      yang bernyanyi. &lt;i&gt;Baibay&lt;/i&gt; &#128075;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      &lt;i&gt;Ndilalah&lt;/i&gt; saat kuliah saya sempat beberapa kali didapuk menjadi
      vokalis band. Itu pun saya yakini bukanlah karena suara yang keren atau
      aksi panggung nan memesona melainkan karena tak ada kawan lain yang
      bersedia menanggung malu di atas panggung. Sesederhana itu.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kendati demikian, kecintaan pada musik membuat saya tak ragu terlibat
      aktif bersama kawan-kawan untuk menyelenggarakan Festival Musik
      Solidaritas sebagai ajang kompetisi band antar angkatan di Himpunan
      Mahasiswa Mesin (HMM) ITB.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Begitu pula berbelas tahun setelah menjadi alumni, didaulat menyanyi
      karena para pemain band lebih sibuk berkutat dengan &lt;i&gt;chord&lt;/i&gt; di
      instrumen masing-masing. Ini pun bukan di band delegasi angkatan yang
      bernama Musicology, melainkan sekte yang mengambil genre rock bernama
      &lt;b&gt;Darkside of Musicology (DOM)&lt;/b&gt;. Di Musicology sih saya hanya kebagian
      peran angkat-angkat alat musik atau jadi &lt;i&gt;supporter&lt;/i&gt; Bonekology atau
      jadi
      &lt;a href="https://youtu.be/I7RR32KBvLc" target="_blank"
        &gt;badut jahil untuk klip video&lt;/a
      &gt;
      &#128513;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ketika pandemi covid merajalela, saya kenal aplikasi bernama Smule.
      Mulailah saya punya media melampiaskan suara pas-pasan tanpa harus tersipu
      kena sorot &lt;i&gt;spotlight&lt;/i&gt;. Dan di sinilah saya tahu bahwa Bang Andrew
      suaranya memang keren dan &lt;i&gt;effortless&lt;/i&gt; sehingga layak dibanggakan
      sebagai orang Batak.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Barangkali karena saya lebih senior "sekian bulan" sajalah maka Bang
      Andrew sulit berkeberatan ketika saya &lt;i&gt;join&lt;/i&gt; di Smule menyanyikan
      lagu Dream Theater yang berjudul "The Spirit Carries On" dengan urat leher
      nyaris putus &#129322;
    &lt;/p&gt;

    &lt;iframe
      allowfullscreen=""
      class="BLOG_video_class capt"
      frameborder="0"
      width="350"
      height="350"
      src="https://www.smule.com/recording/dream-theater-the-spirit-carries-on/2348959464_3836357432/frame/box"
    &gt;&lt;/iframe&gt;

    &lt;p class="xCtr"&gt;
      &lt;a
        href="https://www.smule.com/recording/dream-theater-the-spirit-carries-on/2348959464_3836357432"
        target="_blank"
        &gt;www.smule.com&lt;/a
      &gt;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Demikianlah hikmah di dunia yang fana ini. Walau suara parah sehingga jauh
      dari layak sebagai biduan, ternyata lingkar pertemanan justru kian besar.
      Dan saya agak percaya bahwa nanti seusai kiprah di dunia fana ini spirit
      kita tetap bisa hadir melalui karya dan kenangan. &lt;i&gt;Yekann, guyszz&lt;/i&gt;?
    &lt;/p&gt;

    &lt;!--div&gt;&lt;p&gt;* tulisan ini dibuat untuk #aiglduniafanaceleng di bawah colekan spiritual Bang Andrew dan Téh Nenden Agustina.&lt;/p&gt;
		&lt;p&gt;[1] &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1648689305601674/?mibextid=Nif5oz" target="_blank"&gt;Posting Bang Andrew&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
		 &lt;/div--&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;#aiglDuniaFanaCeleng&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 21 Februari 2023 21:56 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berbagi Natal</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/01/berbagi-natal.html</link><category>interfidei</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 22 Jan 2023 12:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-6014744914161621252</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Berbagi Natal&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITB.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITB.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;Penampilan Anak-anak Berkebutuhan Khusus&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Keindahan kehidupan tercermin dari keselarasan dan kepedulian, khususnya
      antarmanusia. Berlimpah karunia Tuhan bagi alam semesta yang layak dibagi
      kepada semua.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Menjadi sangat luar biasa ketika suka cita kita dalam
      &lt;b
        &gt;Perayaan Natal Bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung
        (IA-ITB)&lt;/b
      &gt;
      pada tanggal 21 Januari 2023 kemarin diwarnai kehadiran anak-anak
      berkebutuhan khusus (ABK) yang berbagi kegembiraan memuliakan Tuhan
      melalui penampilan kesenian dan kreativitas. Melalui mereka kita
      diingatkan menjadi manusia yang tak henti bersyukur walau dalam segala
      keterbatasan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Perayaan kali ini memiliki misi berbagi dengan mereka yang oleh Tuhan
      dianugerahi keistimewaan sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Untuk
      itu, IA-ITB membuka pintu dukungan pelayanan bagi mereka melalui rekening
      donasi:
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITBFlyer.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="1080"
          data-original-width="1080"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITBFlyer.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;div class="cite"&gt;
      &lt;ul&gt;
        &lt;li&gt;Bank Mandiri xxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;(a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;Bank BCA xxxxxxxxxx&lt;br /&gt;(a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;/li&gt;
      &lt;/ul&gt;
      &lt;p&gt;* &lt;i&gt;mohon tambahkan angka 25 pada akhir nominal&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;yang akan disampaikan kepada:&lt;/p&gt;

    &lt;ol&gt;
      &lt;li&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/li&gt;
      &lt;li&gt;Yayasan HOPE&lt;/li&gt;
      &lt;li&gt;Yayasan Tri Asih&lt;/li&gt;
    &lt;/ol&gt;

    &lt;p&gt;
      Kiranya suka cita kita menyambut kasih Allah yang terwujud melalui
      kedatangan Anak-Nya kian bermakna melalui kepedulian pada mereka yang
      merindukan cinta kasih sesama.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Salam Natal bagi kita semua.&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jl. H. R. Rasuna Said, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2222187 106.8330759</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-18.894228284169728 71.676825900000011 6.4497908841697287 141.98932589999998</georss:box></item><item><title>Yayasan Bhakti Luhur</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/01/yayasan-bhakti-luhur.html</link><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Thu, 19 Jan 2023 17:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-309226102639450303</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a
        href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg"
        &gt;&lt;img
          src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg=s320"
          border="0"
          alt=""
          id="BLOGGER_PHOTO_ID_7623362901253328690"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      &lt;b&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/b&gt; adalah lembaga sosial swasta yang menangani
      dan melayani lebih dari 500 anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) baik fisik
      maupun mental, yatim piatu, miskin, dan telantar. Banyak dari mereka yang
      bahkan tak tahu lagi keberadaan keluarganya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Melalui yayasan ini para ABK belajar berbagai keterampilan, seperti
      membuat aneka olahan makanan ringan, bercocok tanam, kesenian, dan
      lain-lain.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Keterbatasan penglihatan (tuna netra), pendengaran (tuna rungu),
      komunikasi verbal (tuna wicara), anggota tubuh (tuna daksa), maupun mental
      (&lt;i&gt;down syndrome, autis&lt;/i&gt;) tidak menghalangi mereka untuk memuji Tuhan
      melalui nyanyian, permainan angklung, serta tarian.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Bukankah sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa?&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Mari bersama kita dukung mereka dalam
      &lt;b&gt;Kebaktian dan Perayaan Natal 2022 IA-ITB&lt;/b&gt; yang akan diselenggarakan
      pada:
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="orig"&gt;
      &lt;p&gt;
        &#128198; Sabtu, 21 Januari 2023&lt;br /&gt;
        &#128342; 10:00 WIB (GMT+7)&lt;br /&gt;
        &#127979; Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Karet Kuningan, Jakarta
        Selatan
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Pendaftaran kehadiran:&lt;br /&gt;
        &lt;a href="http://bit.ly/RSVP-NATAL-IAITB"
          &gt;http://bit.ly/RSVP-NATAL-IAITB&lt;/a
        &gt;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;br /&gt;

    &lt;div class="cite xCtr"&gt;
      &lt;p&gt;
        Rekening donasi:&lt;br /&gt;
        &lt;b&gt;Bank Mandiri&lt;/b&gt; xxxxxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;br /&gt;
        &lt;b&gt;Bank BCA&lt;/b&gt; xxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;* tambahkan angka 25 pada akhir nominal.&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;br /&gt;

    &lt;div class="fot"&gt;
      * Mohon bantuan untuk meneruskan ke grup WA/FB/Telegram alumni yang
      lain.&lt;br /&gt;
      Terimakasih &#128591;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Kamis, 19 Januari 2023 17:21 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg=s72-c" width="72"/><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan DKI Jakarta Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail RT.2, RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12920, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2222187 106.8330759</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-34.532452536178845 71.6768259 22.088015136178846 141.98932589999998</georss:box></item><item><title>Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/10/jus-enak-segar-dan-sehat.html</link><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 9 Oct 2022 21:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-3306024901760021862</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusGolf.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="400"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="576"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/JusGolf.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        Jus segar dan enak sebagai sajian&lt;br /&gt;
        bagi para peserta turnamen golf&lt;br /&gt;
        di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh
      alumni 83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas
      konsumsi menyampaikan,
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;"Lof, kita perlu jus nih buat para &lt;i&gt;golfer&lt;/i&gt;."&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;"Berapa banyak?"&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;"600 botol ukuran 200 ml."&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;"Sebentar ya, saya cari dulu."&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Alih-alih membuka aplikasi toko daring (&lt;i&gt;online&lt;/i&gt;), saya memilih
      bersilancar di Facebook Group (FBG) AIGL mencari
      &lt;i&gt;hestek&lt;/i&gt; #ngelapakday dan kata kunci "jus". Entah kenapa saya
      memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko &#128522;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus
      botolan dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya
      disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya
      coba.
    &lt;/p&gt;

    &lt;!--p&gt;&lt;a href="https://m.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1120148068455803/" target="_blank"/&gt;&lt;/p--&gt;

    &lt;p&gt;
      Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga
      Mbak Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang
      sekali saat ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang
      pembayarannya macet &#128532;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      "Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan &#128517;", sambung Mbak Tantry
      membuka peluang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang
      ditindaklanjuti oleh kawan saya. &lt;i&gt;Deal!&lt;/i&gt;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah
      Golf BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian
      yang kami pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua
      &#128522;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa
      manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Di &lt;i&gt;shelter&lt;/i&gt; tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya
      mencoba menggali testimoni para &lt;i&gt;usher&lt;/i&gt;, kawan-kawan panitia, maupun
      para pemain golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah
      &lt;i&gt;usher&lt;/i&gt; dan staf lapangan golf menanyakan bagaimana cara memesan jus
      ini karena di label botol tidak tercantum nomor kontak produsennya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara,
      terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak
      pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke
      mejanya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah
      cukup minum jus. Enak dan segar."
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian
      kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh
      kawan panitia. Habis ludes tandas!
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja
      kami hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja
      dengan senang hati kami memberikan nomor telepon produsennya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar
      mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi
      mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari
      600 botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin &#128591;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="citex"&gt;
      Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor
      kontak.
    &lt;/p&gt;

    &lt;table class="capt"&gt;
      &lt;tr&gt;
        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusVarian.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              width="320"
              data-original-height="361"
              data-original-width="720"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/JusVarian.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;
            Varian jus:&lt;br /&gt;1. Alpukat, 2. Jeruk, 3. Strawberry, 4. Mangga, 5.
            Sirsak, 6. Nenas
          &lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;

        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusTersedia.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              width="320"
              data-original-height="576"
              data-original-width="1024"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/JusTersedia.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;
            Tersedia melimpah untuk dinikmati para pemain golf sambil makan
            siang dan menikmati acara hiburan.
          &lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;
      &lt;/tr&gt;

      &lt;tr&gt;
        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusCatat.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              height="320"
              data-original-height="1024"
              data-original-width="576"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/JusCatat.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;
            Ada yang memuji serta mencari info produsen jus ini kepada kawan
            panitia yang adalah mantan orang nomor #1 di BUMN migas terbesar
            Republik ini &#128522;
          &lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;
      &lt;/tr&gt;
    &lt;/table&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;
      #UMKM #jus #WSA #NgelapakDay #IndahnyaBerbagi #golf #ITB83Berbagi
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 09 Oktober 2022 21:46 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Damai Indah Golf, Jl. Bukit Golf I BSD Sektor VI, Lengkong Karya, Kec. Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2815644000000006 106.6522315</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-34.591798236178846 71.4959815 22.028669436178845 141.8084815</georss:box></item><item><title>Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/09/saat-semesta-turut-campur.html</link><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 18 Sep 2022 22:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-696234881925563852</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="cite"&gt;
      &lt;p&gt;
        Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan
        batasan jelas "&lt;i&gt;once upon a time&lt;/i&gt;" dalam celeng ini. Apakah
        kejadian di masa puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi
        beberapa menit yang lalu?
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Apa pun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi
        kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya
        bebaslah mengartikannya &#128513;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/AtomicEnergy.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="574"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/AtomicEnergy.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        Atomic energy universe creation&lt;br /&gt;
        &lt;a
          href="https://pixnio.com/media/atomic-energy-universe-creation-illustration-big-bang"
          target="_blank"
          &gt;pixnio.com&lt;/a
        &gt;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam
      merangsek ke seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini
      bisa sedikit dinetralkan dengan ngopi &#127861; [atau lainnya, seperti &#127867; &#127863; &#129347;
      &#128521;] bersama kawan, yang tentunya dalam situasi hangat disertai
      perbincangan menggembirakan hati (bukan harus lucu melainkan yang membuat
      rasa dan pikiran menggeliat hidup).
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan
      dengan kawan-kawan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;h2&gt;1&lt;/h2&gt;

    &lt;p&gt;
      Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9
      September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp
      Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17
      nanti.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis
      peluang kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun
      personal, tak ada alasan yang mempertautkan relasi kami.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di
      BSD, 23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga
      pertama kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka,
      saya pun menyanggupi untuk ke Bandung.
    &lt;/p&gt;

    &lt;h2&gt;2&lt;/h2&gt;

    &lt;p&gt;
      Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan
      berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol,
      Inggris.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat
      itu. Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya
      lagi, saat saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983,
      baru saya tahu bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB.
      Tepok jidat banget deh atas kealpaan saya yang fatal ini &#129318;‍♂️
    &lt;/p&gt;

    &lt;h2&gt;3&lt;/h2&gt;

    &lt;p&gt;
      Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan
      tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83
      dan pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang
      menjadi Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14
      September guna meminta waktu audiensi.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      &lt;i&gt;Ndilalah&lt;/i&gt; Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS
      Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya
      pas jam makan siang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak
      lulus ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor
      dan kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor
      pengajar di berbagai universitas ternama.
    &lt;/p&gt;

    &lt;h2&gt;4&lt;/h2&gt;

    &lt;p&gt;
      Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di
      Sekretariat IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung
      akrab dan intens dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa
      besok pagi dia akan ke Bandung.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas
      Gembong mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana
      saya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="hrx"&gt;***&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai
      keajaiban, mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol
      memberi kesempatan untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas
      Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru
      Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala
      &lt;i&gt;Fast and Furious&lt;/i&gt; &#128513;).
    &lt;/p&gt;

    &lt;div id="fullpost"&gt;
      &lt;p&gt;
        Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami
        turun dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung
        untuk kuliah. Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu
        kawan-kawan SMA yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi. Walau agak
        sedikit lapar, urusan sarapan bisa diaturlah nanti di Bandung ...
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di Fakultas Teknik Mesin dan
        Dirgantara (FTMD) ITB, sementara saya dan ayahnya adalah alumni Lab
        Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab walau usia terpaut cukup
        jauh. Bisa jadi molekul logam dalam diri kami langsung bergetar dan
        berinterferensi harmonis &#128522;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah
        ayahnya selama kuliah. Hahahaha ... Ini situasi yang membuat saya kagok
        &#129315;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain
        pada zamannya, yakni &lt;i&gt;bangor&lt;/i&gt; dan gaul selain tetap melaksanakan
        kewajiban belajar &#129315; Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri
        ayahnya yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas
        tanpa pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale
        tertawa-tawa mendengar penuturan saya.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Ale menurunkan saya di kafe Hummingbird di Jalan Progo. Tepat
        berbarengan dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung
        kami terlibat dalam perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia
        semasa SMA berikut bunga-bunga kenakalan masa remaja &#128513;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang
        sangat jarang) tidak membuat kami kikuk. Namun kealpaan saya menjalin
        tali silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi
        seru karena saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa
        bilang, &lt;i&gt;gayeng&lt;/i&gt;. Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak
        sebagai satu-satunya lelaki di antara para perempuan ...
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah
        sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang
        menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA.
        Namun hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair
        dan hangat.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS.
        Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan
        cepat.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate
        kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang
        disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga
        pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan
        awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak
        penuturannya (sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta
        pendengar yang baik namun pelupa) &#129315;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju kafe Dakken di
        Jalan Riau untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar
        tidak mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak
        lazim, pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda &#128522;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih
        sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; yang
        sangat bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-&lt;i&gt;charge&lt;/i&gt;
        dari 2 perjumpaan yang menyenangkan.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat
        segar berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang
        tadi berlangsung baik. Syukurlah ... &#128591;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini,
        semua berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama
        saja (yang tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun
        tak perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan
        yang sudah panjang ini jadi semakin panjang.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya
        dan Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke &lt;i&gt;pool&lt;/i&gt; CitiTrans di
        Dipati Ukur karena Siesca mau mengirim paket.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi
        seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah
        di Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan
        asupan energi lagi.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk
        mencari kawan yang bisa diajak mengisi waktu sambil menantikan munculnya
        rasa kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk
        bernostalgia gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di
        seputaran Jalan Dipati Ukur.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di
        HP, saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya
        lewatkan saja karena perlu posting tersendiri &#128513;).
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah
        siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center Jalan Dr.
        Djundjunan pun bisa terpenuhi.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak
        saya sangka bahwa daerah ini berkembang pesat dalam bidang pariwisata
        (bisa jadi bukan pesat tapi karena saya sudah sangat lama tak melihat
        perkembangan di sana). Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol,
        tempat kuliner yang tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata
        yang bagus serta punya keunikan.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa.
        Tidak pernah terpikir ada tempat seperti ini sehingga tak pernah
        berhasrat main ke daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah
        dibanding Bandung Utara (Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan.
        Hebat!
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa
        populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi
        puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak.
        Artinya, kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang
        dan macan tutul. Wah, sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies
        langka ini masih belum punah.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Usai bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami mampir
        sejenak di Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang
        terlihat kabut turun perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah
        sekaligus mistis. Terasa dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian
        hangat ditingkah kopi, wedang ronde, dan pisang bakar keju.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; di Pasteur untuk
        kembali ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga
        sanggup melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;***&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Amat nyata terbukti bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan
        sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang
        kuat dibalut kepasrahan, akan merintis jalan bagi semesta untuk turut
        campur.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini.
        Mengalir saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung
        merupakan momen yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses
        penyembuhan yang luar biasa ampuhnya. Istilah zaman now, &lt;i&gt;healing&lt;/i&gt;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p align="center"&gt;
        &lt;i
          &gt;To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love
          you&lt;/i
        &gt;
        &#128149;
      &lt;/p&gt;

      &lt;!-- p&gt;Colek para jurig celeng AIGL yang pastinya sangat paham mengenai indahnya pertemanan: Bang Fernando Tampubolon, Ma'e Nenden Agustina, Téh Pepy Febriany, Papa Jenggo Radjawali, Om Ashrul Iskandar.&lt;/p --&gt;

      &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

      &lt;p class="datex"&gt;
        &#128204; Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 &#127760;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Bandung, Bandung City, West Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.9174639 107.6191228</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-35.227697736178847 72.4628728 21.392769936178844 142.7753728</georss:box></item><item><title>Hikayat Tujuh Purnama</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/09/hikayat-tujuh-purnama.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 3 Sep 2022 21:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7749472321919092234</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Hikayat Tujuh Purnama&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Hikayat7Purnama.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1208"
          data-original-width="967"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/Hikayat7Purnama.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1
      meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat
      memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di
      hadapannya yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Masih sanggup untuk kutahankan&lt;br /&gt;
      Meski telah kau lumatkan hati ini&lt;br /&gt;
      Kau sayat luka baru di atas luka lama&lt;br /&gt;
      Coba bayangkan betapa sakitnya
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau
      mungkin seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia.
      Perbincangan pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan
      dalih keengganan menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya
      dalam hidup kualami penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan
      segala.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Hanya Tuhanlah yang tahu pasti&lt;br /&gt;
      Apa gerangan yang bakal terjadi lagi&lt;br /&gt;
      Begitu buruk telah kau perlakukan aku&lt;br /&gt;
      Ibu menangislah demi anakmu
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan
      kegagalan yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku
      berubah. Tak diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk
      mimpi di mana dirinya tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah
      kukibas ragam janji dan pesona yang kutengarai bisa menggerus arti
      hadirnya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Sementara aku tengah bangganya&lt;br /&gt;
      Mampu tetap setia meski banyak godaan&lt;br /&gt;
      Begitu tulusnya kubuka tanganku&lt;br /&gt;
      Langit mendung gelap malam untukku
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah
      pun petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang
      dulu, yang tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya
      tekad hengkang membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku
      mengurai kebuntuan yang dirangkainya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Ternyata mengagungkan cinta&lt;br /&gt;
      Harus ditebus dengan duka lara&lt;br /&gt;
      Tetapi akan tetap kuhayati&lt;br /&gt;
      Hikmah sakit hati ini&lt;br /&gt;
      Telah sempurnakan kekejamanmu
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak
      perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa
      kata. Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang
      telanjur retak. Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan
      dengan terawang kosong.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Petir menyambar hujan pun turun&lt;br /&gt;
      Di tengah jalan sempat aku merenung&lt;br /&gt;
      Masih adakah cinta yang disebutkan cinta&lt;br /&gt;
      Bila kasih sayang kehilangan makna
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak
      tengah malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini
      berlumur jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala
      risiko telah bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung
      hatiku walau kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah
      satu masa nanti tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="song xCtr"&gt;
      Ternyata mengagungkan cinta&lt;br /&gt;
      Harus ditebus dengan duka lara&lt;br /&gt;
      Tetapi akan tetap kuhayati&lt;br /&gt;
      Hikmah sakit hati ini&lt;br /&gt;
      Telah sempurnakan kekejamanmu
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi
      segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya
      melintasi kenang dalam hening setajam belati.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="citex"&gt;
      ilham dari lagu
      &lt;a href="https://youtu.be/JMbuKAdjSOI" target="blank"
        &gt;Seberkas Cinta yang Sirna&lt;/a
      &gt;
      &amp;#151; Ebiet G. Ade
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="fot"&gt;
      &lt;p&gt;
        Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi
        puisi" dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya
        coba terapkan pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" &#128516;
      &lt;/p&gt;
      &lt;!--p&gt;Inilah hasilnya setelah jungkir balik beberapa lama. Sebuah mosaik peristiwa yang saya persembahkan kepada Dewan Juri nan arif serta budiman: Om Ashrul Iskandar, Bang Fernando Tampubolon, Papa Jenggo Radjawali, Ma'e Nenden Agustina, dan Neng Pepy Febriany. Kiranya berkenan ??&lt;/p--&gt;

      &lt;!--p&gt;O ya, perlu juga saya sampaikan untuk tak hiraukan foto yang menjadi sampiran. Tak usah pula mereka-reka sosok serta saat kejadiannya, sebab kesamaan cerita hanyalah kebetulan yang tak kuasa dihindari &amp;#128513;&lt;/p--&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;!--p&gt;#Love ?? #Forever ? #LoveHurts&lt;/p--&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 03 September 2022 21:58 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pertamakalinya Tak Perlu Ulang Sebut Nama</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/pertamakalinya-tak-perlu-ulang-sebut.html</link><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 31 Aug 2022 23:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1808374702955711842</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Pertamakalinya Tak Perlu Ulang Sebut Nama&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/DonorKopi.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="576"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/DonorKopi.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Usai donor darah, mampir sejenak ke St*rb*cks untuk ngopi. Baru kali ini
      petugas di bagian pemesanan bisa menangkap jelas nama yang saya sebutkan
      tanpa harus mengulang. Padahal saya pakai masker. Mungkin nama saya memang
      pasaran, sehingga tidak salah tulis &#128516;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Bang Toha eh Bang Togap Siagian keknya perlu ganti nama deh ... &#128513;&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Terpikir mau memesan kopi ala Bu Nenden's Special tapi khawatir mereka
      bingung meraciknya. Ya sudah, apa adanya sajalah sesuai yang tertera dalam
      menu.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime #donordarah #ngopi&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; 31 Agustus 2022 23:26 &#127760; Depok&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Margo City, Jl. Margonda Raya No.358, Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16423, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.372967 106.8344235</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-15.09875389225423 98.045361 2.3528198922542307 115.623486</georss:box></item><item><title>Vantage Point [1]</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/vantage-point-1.html</link><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 30 Aug 2022 00:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2055724236377931445</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;&lt;i&gt;Vantage Point&lt;/i&gt;&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Exactly A Year Ago: 20210829&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      "Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda
      dan angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/LondonEye.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="683"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/LondonEye.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;London Eye&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;
      Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang
      datang dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna
      Tobing yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town
      Square alias Citos disepakati secara aklamasi sebagai
      &lt;i&gt;rendezvous&lt;/i&gt; selewat tengah hari.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan
      setelah hampir gagal memindai &lt;i&gt;QR code&lt;/i&gt; PeduliLindungi.id.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami
      berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan
      tentunya harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas
      A1 &#128540;). Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang
      agak memencil.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di
      Janji Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani
      bertegur sapa dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan
      Ito Luci sedang &lt;i&gt;moncer&lt;/i&gt; reputasinya sebagai selebritas papan atas
      AIGL.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane dan Mas
      Gapit (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan
      Lae Ecko, Bang Nelson, Ito Mei, serta Mbak Arik, di bawah asuhan Mamak
      Lindes.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot
      menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan
      mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL
      sampai pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;
      Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main
      tembak aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih
      emang wajar kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru
      sekarang ngobrol dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain,
      besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh &#129330;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;
      Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah
      perjumpaan pertama kami dengannya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda.
      Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit,
      kami sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang
      &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang &#128522;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah
      mustahil membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92)
      apalagi Neng Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas,
      serta lumayan jauh selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini
      berkorelasi langsung dengan usia &#128541;).
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca
      hampir 2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film
      dewasa, Ito Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih
      rewel bawel sebagai batita &#129315;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir
      serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau
      grup BTS, saya masih bisa nimbrung.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas
      mampu meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para
      anggotanya sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya.
      Salut!
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;
      Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat
      kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.
    &lt;/p&gt;

    &lt;div id="fullpost"&gt;
      &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami
        selama menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka
        berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan
        mistis yang mencekam.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Menurut &lt;i&gt;sense&lt;/i&gt; gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi
        dia kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-&lt;i&gt;edit&lt;/i&gt;
        adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara
        gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat
        duduknya.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo &#128591;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Idih, sedang gak &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; banget deh bahas horor. Mending gue alihkan
        ke soal lain aja.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        "Nih ada &lt;i&gt;banana cake&lt;/i&gt; buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan
        Abel, anak gue. Enak banget lho."
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya
        berkembang karena &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt;-nya memang di situ.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya
        gak kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau
        pesan &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat
        cekak. Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang
        tahunan pisah. Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Mungkin sedang dihinggapi aura baik Malaikat Kanan yang murah hati, saya
        pun menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke
        Bandung aja?"
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Weits ... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan
        acara yang pakai &lt;i&gt;plan&lt;/i&gt; malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi
        aja dah.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah
        rampung dengan mengerahkan para staf.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau
        hati kecil agak menyesal juga sih melempar ide ini karena pulangnya
        pasti sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh pulang
        kemalaman, nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang
        ditarik balik.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam
        sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang.
        Jadilah Ito Luci yang mengemudi.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Bang alof payah ah ... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan.
        Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget
        dia, jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal
        jalan di Jaksel.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju
        Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak
        pakai ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini ... Baru pertama
        ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja
        ditemenin. Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di
        &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa
        mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam
        saya simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa
        apa yang mereka bahas.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Setelah singgah sejenak di &lt;i&gt;rest area&lt;/i&gt; terdekat, giliran saya
        mengambil alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi
        dan analisis terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya
        warna-warni kehidupan ini &#129315;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam
        tempo kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."&lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat
        kegairahan berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang
        dingin pula. Enak nih makan yang hangat-hangat.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;"Gimana kalau ke sate Hadori?"&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung
        aja di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak.
        Kami pun melipir ke situ.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy ...&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat
        kuliah dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja
        dia gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat
        mereka. Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung &#128513;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        &lt;i&gt;Anyway, thanks&lt;/i&gt; berat ya, &lt;i&gt;friends&lt;/i&gt;. Kalian baik banget mau
        repot nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama,
        kayak adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya
        juga Bang alof mau jadi supir kelas AKAP.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;&lt;i&gt;Such a wonderful day ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

      &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;
        Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke
        Jakarta. Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi.
        Dan sepanjang jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir
        kantuk dan rasa sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1
        dini hari.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Selamat ulang tahun yang pertama.&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta &#128591;&lt;/p&gt;

      &lt;!--p&gt;Mohon doa restu dari yang mulia para sesepuh persahabatan AIGL:&lt;/p&gt;
	  &lt;p&gt;Om Ashrul, Bang Fernando, Papa Jenggo, Téh Nenden, Neng Pepy. &lt;/p--&gt;

      &lt;p class="citex"&gt;
        Pernah tayang film berjudul &lt;b&gt;Vantage Point&lt;/b&gt; tentang penembakan
        terhadap Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang
        beberapa saksi. Cara bercerita seperti ini disebut
        &lt;b&gt;Rashomon Effect&lt;/b&gt;, karena pertamakali diterapkan oleh sutradara
        kreatif legendaris Akira Kurosawa dalam film Rashomon.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas,
        bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati
        sebisanya.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="fot"&gt;
        ini baru preambul yang akan disambung jika ada &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; &#128513;
      &lt;/p&gt;

      &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime #friendship&lt;/p&gt;

      &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 30 Agustus 2022 00:56 &#127760;&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Superman is NOT Dead!</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/superman-is-not-dead.html</link><category>kelana</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 13 Aug 2022 21:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7427675250966932206</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Superman is NOT Dead!&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; &lt;i&gt;The Legend Continues&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanBroken.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="642"
          data-original-width="475"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanBroken.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;&lt;i&gt;Broken Superman&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
      bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
      berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut
      ceritanya adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut &#128522;
    &lt;/p&gt;

    &lt;div style="clear: both;"&gt;&lt;/div&gt;

    &lt;table class="capt"&gt;
      &lt;tr&gt;
        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanITB.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              height="320"
              data-original-height="1024"
              data-original-width="768"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanITB.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;26 Oktober 2013&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;

        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanPisa.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              height="320"
              data-original-height="1024"
              data-original-width="683"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanPisa.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;9 Maret 2016&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;
      &lt;/tr&gt;
    &lt;/table&gt;

    &lt;p&gt;
      Setelah menerima estafet dari &lt;b&gt;Kal El&lt;/b&gt; alias Clark Kent di tahun 2013
      untuk mengamankan acara &lt;b&gt;Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM)&lt;/b&gt; di
      Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di
      menara doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;&lt;i&gt;Enough is enough!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

    &lt;!--p&gt;(Saya gak ingat ada di mana kaos ini sekarang &#129315;)&lt;/p--&gt;

    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanDaniEl.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanDaniEl.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;Dani El&lt;br /&gt;7 Juli 2022&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang
      ternyata punya &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt; yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah
      dan &lt;i&gt;enjoy&lt;/i&gt; lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban
      oleh &lt;b&gt;Dani El&lt;/b&gt; alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya
      lebih pas sebagai Superman &#128077;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa
      dibuktikan CCTV.
    &lt;/p&gt;

    &lt;!--p&gt;Termasuk juga Dewan Jurig nan Kryptonite: Bang Fernando Tampubolon, Mak Nenden Agustina, Téh Pepy Febriany, Pak Jenggo Radjawali, Om Ashrul Iskandar. Yekaaaan, gaes ...&lt;/p--&gt;

    &lt;p&gt;BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?&lt;/p&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 13 Agustus 2022 21:57 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Tower of Pisa, Piazza del Duomo, 56126 Pisa PI, Italy</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">43.722952 10.396597</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">18.46543002124892 -24.759653 68.980473978751078 45.552847</georss:box></item><item><title>Satu Dekade Kesetiaan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/satu-dekade-kesetiaan.html</link><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 13 Aug 2022 21:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-4615711653539806322</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Satu Dekade Kesetiaan&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20160612.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20160612.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;12 Juni 2016&lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota yang saya miliki ini
      senantiasa menemani sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011
      dengan fenomena antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android,
      saya tetap mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal
      mempertahankan tahta di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa
      saya fungsikan sebagai alarm &lt;i&gt;wekker&lt;/i&gt;, pencatat waktu, ataupun
      kalender &#128513;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar &lt;b&gt;jam BB&lt;/b&gt; dari
      kalangan kawan-kawan &lt;b&gt;Komunitas Musik ITB (KMI)&lt;/b&gt;.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Apa hubungannya dengan musik?&lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa
      rajinnya kami berlatih musik dalam band &lt;b&gt;Dark of Musicology&lt;/b&gt; (band
      ITB 83 non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga
      lewat tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai
      &lt;i&gt;sahur on the rock&lt;/i&gt; &#127925;&#127929;&#127908;&#128526;).
    &lt;/p&gt;

    &lt;table class="capt"&gt;
      &lt;tr&gt;
        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20170611.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              width="320"
              data-original-height="576"
              data-original-width="1024"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20170611.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;11 Juni 2017&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;

        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20180601.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              width="320"
              data-original-height="576"
              data-original-width="1024"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20180601.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;
      &lt;/tr&gt;
    &lt;/table&gt;

    &lt;p&gt;
      Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat
      lunaknya &lt;i&gt;error&lt;/i&gt; sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan
      &lt;i&gt;install&lt;/i&gt; ulang.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?&lt;/p&gt;

    &lt;table class="capt"&gt;
      &lt;tr&gt;
        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20190604.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              height="320"
              data-original-height="1024"
              data-original-width="576"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20190604.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;4 Juni 2019&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;

        &lt;td&gt;
          &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20220813.jpg"&gt;
            &lt;img
              alt=""
              border="0"
              width="320"
              data-original-height="576"
              data-original-width="1024"
              src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20220813.jpg"
          /&gt;&lt;/a&gt;
          &lt;p&gt;13 Agustus 2022 setelah pensiun&lt;/p&gt;
        &lt;/td&gt;
      &lt;/tr&gt;
    &lt;/table&gt;

    &lt;p class="fot"&gt;
      Saya baru sadar, hanya 1 foto (terakhir) yang tidak diambil pada bulan
      Juni &#128562;
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 13 Agustus 2022 21:48 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Z-One Studio, Jl. Yado 3 No.Z-1, RT.9/RW.2, Gandaria Utara, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12140, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2541831 106.7892377</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-30.226737777459419 71.6329877 17.718371577459422 141.9454877</georss:box></item><item><title>Kebo Iwa</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/kebo-iwa.html</link><category>ecce homo</category><category>hikayat kedunguan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 2 Aug 2022 02:17:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-5221857066629953814</guid><description>&lt;html&gt;
  &lt;head&gt;
    &lt;title&gt;Kebo Iwa&lt;/title&gt;
  &lt;/head&gt;
  &lt;body&gt;
    &lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Kisah Ketamakan&lt;/p&gt;

    &lt;div class="captl"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KeboIwa1.jpeg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/KeboIwa1.jpeg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Suatu masa, ada sepasang suami istri di suatu desa di Pulau Bali yang
      belum dikaruniai anak setelah bertahun-tahun menikah. Setiap hari mereka
      berdoa, hingga akhirnya sang istri mengandung dan melahirkan seorang bayi
      laki-laki.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Bayi itu bertumbuh sangat cepat dengan nafsu makan luar biasa. Semakin
      hari ia semakin besar hingga tubuhnya melebihi orang dewasa. Orang-orang
      memanggilnya Kebo Iwa yang berarti “paman kerbau.”
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Nafsu makan Kebo Iwa membuat kedua orang tuanya kewalahan. Mereka terpaksa
      meminta bantuan warga desa sehingga kebutuhan pangan Kebo Iwa turut
      ditanggung seluruh penduduk.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kebo Iwa juga terkenal pemarah. Jika keinginannya tak terpenuhi, dia akan
      merusak. Menghancurkan rumah warga, bahkan tak segan merusak pura. Tentu
      saja hal ini amat meresahkan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Meski begitu, karena tenaganya besar, Kebo Iwa kerap dimintai pertolongan
      untuk mengangkut batu, meratakan tanah, memindahkan bangunan, membendung
      sungai, menggali sumur, dsb. Semua dikerjakan dengan imbalan makanan
      berlimpah.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Ketika musim kering tiba, warga desa mengkhawatirkan cadangan pangan
      mereka. Bagaimana memenuhi kebutuhan Kebo Iwa sedangkan persediaan
      terbatas?
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Betapa takut mereka membayangkan amarah Kebo Iwa. Mereka berpikir keras
      hingga akhirnya menemukan siasat menyingkirkan Kebo Iwa.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Suatu hari, warga menemui Kebo Iwa dan mengeluhkan banyaknya rumah yang
      rusak akibat amukannya. Kebo Iwa berdalih bahwa itu adalah kesalahan
      mereka yang tidak memberinya cukup makanan.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Warga beralasan mereka gagal panen akibat kurangnya air. Mereka berjanji
      akan menyediakan makanan berlimpah jika Kebo Iwa membuatkan sumur untuk
      mengairi sawah dan lahan pertanian.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kebo Iwa pun setuju. Dia membangun kembali rumah-rumah yang rusak lalu
      menggali sumur di tempat yang sudah ditentukan. Pada saat bersamaan, warga
      mengumpulkan batu-batu kapur di sekitar tempat galian.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kebo Iwa bertanya, “Untuk apa batu-batu kapur besar itu?” Mereka menjawab,
      batu-batu itu disiapkan untuk rumah Kebo Iwa.
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="captr"&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KeboIwa2.jpeg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/KeboIwa2.jpeg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p&gt;
      Ia pun semakin semangat menggali hingga air mulai memancar. Kebo Iwa
      mengira pekerjaannya sudah selesai, namun Kepala desa mengatakan sumur
      masih belum mencukupi sebagai sumber air satu desa. Maka Kebo Iwa terus
      menggali sumur semakin besar dan dalam.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Kebo Iwa akhirnya kelelahan. Dia pun beristirahat dan langsung menyantap
      habis makanan yang disiapkan warga. Kekenyangan, Kebo Iwa sangat mengantuk
      dan tertidur pulas dalam lubang galiannya.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Kepala desa memerintahkan warga untuk
      melempar batu-batu kapur ke dalam sumur. Kebo Iwa sontak terbangun dan
      sangat terkejut. Namun sudah terlambat. Rasa kenyang ditambah air dan
      bebatuan yang memenuhi lubang galian membuatnya tidak sanggup keluar untuk
      menyelamatkan diri. Dia akhirnya terkubur dalam sumur galiannya sendiri.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Celakanya, air sumur terus meluap membanjiri desa dan area sekitar.
      Akibatnya, warga terburu-buru mengungsi ke tempat yang lebih tinggi tanpa
      dapat menyelamatkan banyak barang. Mereka kehilangan harta benda, sawah,
      ladang, ternak, dan rumah.
    &lt;/p&gt;

    &lt;p&gt;
      Beberapa desa yang tenggelam itu membentuk sebuah danau besar yang kini
      dikenal sebagai Danau Batur. Sedangkan timbunan tanah hasil galian Kebo
      Iwa membentuk gunung yang dinamai Gunung Batur.
    &lt;/p&gt;

    &lt;div class="cite"&gt;
      &lt;p&gt;&lt;b&gt;Moral Cerita&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Sifat serakah, egois, tamak, serta hanya memikirkan kepentingan pribadi
        akhirnya akan merugikan diri sendiri dan sekitar. Meski hebat dan kuat
        sebagai individu, jika tidak memiliki rasa kasih, maka lingkungan dan
        sesama pun tidak akan menerima. Dengan kelebihan maupun kekurangan,
        harus tetap rendah hati dalam memberi maupun menerima bantuan sesama.
      &lt;/p&gt;

      &lt;p&gt;
        Disadur dari:&lt;br /&gt;
        &lt;a
          href="https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/cerita-rakyat-bali-legenda-kebo-iwa-dan-asal-usul-gunung-batur"
          target="_blank"
          &gt;Legenda Kebo Iwa dan asal-usul Gunung Batur&lt;/a
        &gt;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/div&gt;

    &lt;p class="tag"&gt;
      #Bali #CeritaRakyat #GunungBatur #KeboIwa #legenda #egoisme #tamak #kuasa
    &lt;/p&gt;

    &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 02 Agustus 2022 02:17 &#127760;&lt;/p&gt;
  &lt;/body&gt;
&lt;/html&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>