<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>solilokui</title><description>catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini semua adalah sebagian ungkapan kejujuran yang saya ingin berbagi dengan anda.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (~alof)</managingEditor><pubDate>Mon, 8 Jun 2026 19:26:09 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>catatan-catatan kecil di sini tidak lebih dari percik pemikiran yang sempat tertuang ke dalam bentuk tulisan. kalaupun isinya tidak tertata baik ataupun tidak berkenan pada anda, demikianlah adanya kenyataan diri saya pada saat itu. setidak-tidaknya, ini </itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Christianity"/></itunes:category><itunes:category text="Society &amp; Culture"><itunes:category text="Personal Journals"/></itunes:category><itunes:category text="News &amp; Politics"/><itunes:category text="Arts"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><xhtml:meta content="noindex" name="robots" xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml"/><item><title>Perempuan di Titik Nol</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/05/perempuan-di-titik-nol.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 31 May 2026 18:45:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-3793362064040275245</guid><description>&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/PerempuanTitikNol.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/PerempuanTitikNol.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  "Tak bisakah Abang tidak mengritik yang saya lakukan?" tanyanya dengan nada
  cukup ketus.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sangat tak kusangka mendapat respon sekeras itu. Padahal tak sedikit pun niat
  menggugat keputusan yang diambilnya. Kalaupun pandanganku cukup sering berbeda
  dengan jalan pikirannya, tak lain dari upaya mengajaknya lebih realistis
  menyikapi situasi yang berlangsung.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia baru saja bercerai tanpa sedikit pun pegangan. Tak ada kesepakatan
  &lt;i&gt;gono-gini&lt;/i&gt;, konon pula jaminan untuk hari-hari mendatang. Sementara
  sekian tahun terakhir dia tak punya sumber penghasilan pribadi yang ajeg. Di
  satu sisi, aku melihat eforia seorang pejuang yang berhasil mematahkan
  belenggu tua. Namun di sisi lain, dia ibarat seekor burung kecil yang ingin
  pulang saat senja namun sarangnya telah musnah bersama hangusnya hutan. Inilah
  situasi yang acap membuatku khawatir.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Segalanya harus mulai dari nol, yang diakuinya merupakan kegentaran tersendiri
  yang sering muncul sebagai hantu penyemai kesangsian atas keputusan yang sudah
  telanjur diambil.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Bisakah saya mengejar mereka yang sudah melangkah jauh selama saya terjebak
  belasan tahun dalam kerangkeng kenihilan?" untuk kesekian kali dia ungkap
  keraguan berbalut kepedihan, mengingat di masa lalu justru dia yang biasanya
  terdepan dalam berbagai hal dibanding kawan-kawannya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu pernah bikin acara besar dan heboh yang idenya mendadak muncul,
  sedangkan waktunya tinggal beberapa hari. Dengan kemampuan meyakinkan
  kawan-kawan yang setia dibarengi ketekunan kamu dalam komitmen, nyatanya
  berhasil," kucoba menggiring ingatannya dengan mencuplik satu peristiwa dari
  untaian panjang kisah masa lalu yang pernah dia ceritakan. Sengaja kuambil
  episode yang berbeda dari yang sudah pernah kugunakan agar dia tidak membantah
  dengan alasan yang sama &#128540;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Itu kan dulu waktu masih mahasiswa, gak ada beban kalaupun gagal. Sekarang
  adalah soal kehidupan nyata yang entah tersisa berapa lama lagi, yang saya tak
  mau membingkainya dengan kegagalan kesekian kali." Ternyata dia masih punya
  amunisi perlawanan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kamu belum kehilangan sentuhan ajaib kamu," putusku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ah, Abang sok tahu ..."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku hanya bisa meringis agak kecut mencoba menepis keraguanku sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Belasan tahun kamu mampu bertahan dalam kenyataan yang amat bertolak belakang
  dengan mimpi maupun kemampuan kamu," balasku setengah menohok sikap tak
  berdayanya demi mengusik egonya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Maksudnya?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu bisa menabahkan diri menggenggam harapan walau kepastian hadirnya berkas
  cahaya nyaris nol andai tetap tinggal dalam terowongan. Kamu berhasil menjaga
  api jiwa kamu tetap bernyala."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Mungkin karena saya bodoh dan hanya berilusi," keluhnya. Gaya merendahkan
  diri yang sering kubilang menyebalkan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Itu adalah masa yang tak semua orang mampu melaluinya dengan istimewa," kali
  ini aku mencoba bersikap lunak.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sekian lama dia tak punya penjelasan mengapa bisa terhanyut untuk menekan
  harga diri hingga ke titik nadir. Entah demi apa. Seperti tersihir. Tak pernah
  mencoba mencari alasan meninggalkan jalan yang sudah dipilih, yang kemudian
  dia sadari tak membanggakan apalagi membahagiakan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Abang membuat saya berani menghabisi ilusi itu meski tak ada kepastian apapun
  setelah keputusan itu. Malah saya gak punya apa-apa."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Semua memang berlangsung cepat. Sikap pasrah bermetamorfosis menjadi tekad
  yang kian membesar secara eksponensial hanya beberapa bulan sejak kami saling
  kenal. Padahal yang kulakukan selama itu tak lebih dari mereproduksi album
  masa mudanya yang penuh warna dengan memberikan catatan kaki perihal
  potensinya yang masih relevan untuk masa kini tatkala usia tak lagi muda.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Keberanian ini yang dulu membuat kamu menorehkan kemenangan dan kenangan.
  Saya percaya keberanian ini masih menyertai kamu untuk membangun kisah baru."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Mungkin keberanian konyol," gumamnya datar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku hanya mengangkat sebelah alis, enggan menyimpulkan apa-apa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Menurut Abang saya bisa melalui semua ini?" keraguannya membuncah lagi namun
  sekaligus menjadi isyarat adanya upaya meraih pegangan lebih kokoh.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Hanya jika kamu komit pada semua janji kamu."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kalau Abang percaya, cobalah untuk tidak mengritik apa yang saya lakukan,"
  tembaknya ulang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saya hanya berpikir yang terbaik bagi kamu," sahutku setelah diam beberapa
  saat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Tapi kan saya yang menjalaninya, bukan Abang."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Saya khawatir."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Soal apa?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kamu sendirian."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saya tahu. Dan itu memang menakutkan. Tapi biarkan saya menikmati hari-hari
  berdasarkan keputusan saya, baik senang maupun susah, setelah sekian lama
  bahkan tak punya hak atas kata-kata saya sendiri."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sudah agak lama kusadari bahwa pertemanan kami merupakan kesempatan baginya
  memacu proses kembalinya kepercayaan diri untuk bersikap setelah sekian lama
  terbiasa menempatkan diri sebagai alas kaki yang selalu salah dalam setiap
  persoalan. Kini dia sedang membiasakan diri menata argumen dan rasionalitas
  perlawanannya sendiri dengan aku sebagai mitra latih.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku pun tersenyum. Pantaslah sikapnya amat kontras dengan sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kuharap apapun yang terjadi nanti adalah konsekuensi terukur yang akan
  memandunya ke kedewasaan, menggantikan tahun-tahun gelap yang demikian ganas
  mengikis kemandiriannya. Semoga hakikat diri yang pernah hadir di masa mudanya
  segera terbangkitkan untuk sigap mengenali tanda-tanda hari sehingga kesalahan
  sekalipun tak mudah menyurukkan ke sudut fatal.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Berjanjilah," pintaku pelan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Janji apa?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Ketika keraguan bahkan penyesalan mulai mengusik, ingatlah bahwa saya selalu
  bersamamu meski pada saat kita tak bersama."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Matanya memandangku. Lapis bening perlahan mulai menggenang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Bermurahhatilah sejenak pada saya, Bang," bisiknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku pun maklum bahwa janji itu tak perlu diucapkan.&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 31 Mei 2026 18:45 &#127760; Kopi Temu&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kado ti Bandung #1</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/05/kado-ti-bandung-1.html</link><category>jentera hari</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Mon, 11 May 2026 14:08:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8554284448451106903</guid><description>&lt;title&gt;&lt;i&gt;Kado ti Bandung&lt;/i&gt; #1&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Detik-detik Menjelang Pencoblosan&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KartuDelegasi.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="576"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/KartuDelegasi.jpg"
      width="320"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Usai sudah perhelatan akbar
  &lt;b&gt;Perkumpulan Lions Indonesia Distrik 307&lt;/b&gt; (Indonesia) bertajuk
  &lt;b&gt;Konvensi Tahunan Ke-50&lt;/b&gt; yang diselenggarakan di Kota Bandung dan
  sekaligus dipadukan dengan &lt;b&gt;Konvensi Tahunan Ke-15 Distrik 307-A1&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Semua peserta sudah kembali ke tempat masing-masing dengan membawa pesan,
  kesan, kenangan, dan nilai yang semakin melebarkan perspektifnya mengenai
  Perkumpulan Lions secara luas hingga peran personalnya dalam kelompok
  terkecil, yakni &lt;i&gt;club&lt;/i&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dari rentetan kegiatan yang cukup padat sejak pagi sampai malam selama tanggal
  7 hingga 10 Mei 2026, ada 2 mata acara yang --menurut pendapat dan minat
  saya-- sangat krusial bagi organisasi, yakni :
&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Mosi untuk perubahan beberapa bagian dari AD/ART, dan&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    Pemilihan pucuk pimpinan Distrik 307; yakni District Governor (DG), First
    Vice District Governor (FVDG), dan Second Vice District Governor (SVDG).
  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;
  Yang pertama merupakan panduan dan koridor penyelenggaraan organisasi,
  sedangkan yang kedua adalah tim pimpinan tertinggi yang akan memandu arah
  organisasi agar bertumbuh-kembang dalam koridor tadi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Untuk urusan AD/ART, nanti sajalah bahasannya. Tak banyak yang tertarik urusan
  detail dan &lt;i&gt;njlimet&lt;/i&gt; begini &#128513; Saat ini saya ingin cerita soal pemilihan
  SVDG yang kebetulan diikuti oleh 2 orang kandidat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;i&gt;Let's start ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Pengetahuan saya amatlah minim terkait siapa dan apa rencana para kandidat
  bagi organisasi. Saya hanya berkesempatan mengikuti kampanye secara tak
  langsung melalui WhatsApp Group. Adapun informasi tambahan, apalagi yang
  &lt;i&gt;behind the scene&lt;/i&gt;, saya peroleh dari Presiden saya di Starlight
  (maklumlah, namanya juga orang baru, jadi masih &lt;i&gt;culun&lt;/i&gt; &#128513;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kartu Delegasi berwarna merah sudah saya pegang, sehingga saya punya kewajiban
  moral untuk memilih alias &lt;b&gt;TIDAK GOLPUT!&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kok gitu? Gimana penjelasannya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menurut kacamata saya, Lions memiliki mekanisme penjaringan dan penyaringan
  yang harusnya sih tidak perlu dipertanyakan lagi mutunya. Reputasi dan
  kompetensi para kandidat telah &lt;b&gt;teruji&lt;/b&gt; serta &lt;b&gt;terpuji&lt;/b&gt; di bidang
  masing-masing dalam kurun waktu memadai sehingga dianggap layak untuk jabatan
  tersebut. Intinya, mereka semua adalah yang terbaik dalam berbagai aspek
  organisasi menurut versi Lions.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Maka tidaklah mudah bagi saya membandingkan kiprah keduanya secara matematis
  (&lt;i&gt;not apple to apple&lt;/i&gt;). Di sisi lain, kekuatan masing-masing kandidat
  --sekali lagi menurut pendapat saya-- amat dibutuhkan oleh organisasi dalam
  memacu kemajuan dan perkembangan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jadi, terus terang, saya masih belum menentukan pilihan final hingga saat-saat
  terakhir. (Sampai &lt;i&gt;diomelin&lt;/i&gt; Presiden saya. &lt;i&gt;Hapunten&lt;/i&gt;, Pres &#128591;)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masalahnya, saya harus memilih siapa?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Paparan oleh Sekondan mengenai kandidat yang didukungnya serta pidato para
  Kandidat menjelang saat pencoblosan adalah &lt;b&gt;kesempatan terakhir&lt;/b&gt; bagi
  mereka maupun pemegang suara untuk memantapkan pilihan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sudah dapat diduga bahwa 3 menit paparan Sekondan maupun pidato para kandidat
  selama 5 menit cenderung normatif mengenai pribadi, potensi, kinerja,
  prestasi, dedikasi, dan bla bla bla lainnya. Kendati demikian, saya yakin
  pasti ada yang unik di sela &lt;i&gt;template&lt;/i&gt; pidato. Itu yang saya cari!
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Maka saya menyimak dan mencatat dengan penuh perhatian apa yang mereka
  sampaikan (hingga dicolek kawan semeja yang melihat saya &lt;i&gt;orat-oret&lt;/i&gt; di
  buku catatan &#128513;). Apa boleh buat, saya mengemban 1 suara mewakili Club
  Starlight yang harus saya pertanggungjawabkan secara moral dan rasional.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya berdehem kecil ketika seorang kandidat menegaskan prinsip bahwa yang
  lebih penting baginya "bukanlah siapa saya, melainkan untuk apa saya".
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Walau belum cukup jelas bagaimana detail implementasinya, kelihatannya Sang
  Kandidat lebih berfokus pada peran dan proses fungsional ke masa depan
  tinimbang terjebak eforia pencapaian yang sudah menjadi masa lalu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kemudian Sang Kandidat memproklamasikan komitmennya untuk bekerjasama dan
  mendukung DG terpilih (halmana merupakan komitmen semua kandidat, termasuk
  FVDG). Namun tidak berhenti sampai di situ. Sang Kandidat mengimbuhi
  pernyataan tersebut dengan frasa tegas "akan loyal dalam berbagai situasi".
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sini saya berdehem untuk yang keduakali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Memilih pimpinan tertinggi yang tak sepaket dengan wakilnya (dipilih
  sendiri-sendiri) mengandung konsekuensi yang cukup riskan. Masing-masing
  berangkat dengan visi dan rencana aksi sendiri, masing-masing punya basis
  massa pendukung. Perlu sinkronisasi dan harmonisasi yang tak semudah
  &lt;i&gt;omon-omon&lt;/i&gt;. Jika mereka gagal sejalan, runyamlah urusan organisasi di
  masa depan. (IMHO, harusnya sih urusan &lt;i&gt;kayak&lt;/i&gt; gini gak mungkin terjadi
  di Lions &lt;i&gt;lantaran&lt;/i&gt; bukan ormas politik ataupun bisnis.)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya tidak akan berpanjang-lebar lagi membahas kemungkinan ini-itu dengan
  mengkhayalkan bakal begini-begitu di masa depan. Kedua deheman tadi sudah
  cukup menjadi petunjuk bagi saya untuk mencoblos siapa pada kartu suara
  berwarna biru.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengapa demikian?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;i&gt;Simpel&lt;/i&gt; aja sih. Karena saya ingin kepemimpinan DG terpilih, Solida Adby
  Ramly, di periode 2026 - 2027 sukses gemilang dan membanggakan. Menjadi pelari
  terakhir dalam estafet &lt;b&gt;Mission 1.5&lt;/b&gt;&lt;sup&gt;*&lt;/sup&gt; bukanlah peran ringan,
  sehingga butuh tim solid yang sehati dan sepemahaman dalam satu derap tanpa
  terdistrak berbagai hambatan apalagi friksi berbasis ego.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demikianlah.&lt;/p&gt;

&lt;p class="cite"&gt;
  * &lt;b&gt;1.5 mission&lt;/b&gt; adalah target tercapainya jumlah anggota Lions sebanyak
  1,5 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2027.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="fot"&gt;
  Apakah kisah sudah selesai seiring usainya pemilihan? Ternyata belum,
  &lt;i&gt;sodara-sodara&lt;/i&gt; ... &#128513;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Senin, 11 Mei 2026 10:58 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">HARRIS Hotel &amp; Conventions Festival Citylink, Jl. Peta No.241, Suka Asih, Bojongloa Kaler, Bandung City, West Java 40231, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.929580800000001 107.5865762</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-35.239814636178849 72.4303262 21.380653036178845 142.7428262</georss:box></item><item><title>Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/05/sebuah-hari-tanpa-alasan-mengeluh.html</link><category>familia</category><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Fri, 1 May 2026 22:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7120250004292441839</guid><description>&lt;title&gt;Sebuah Hari Tanpa Alasan Mengeluh&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&#151; &lt;i&gt;Today is May, But Not A Mayday&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ 1 ]&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BabaMandi.jpg" title="Memandikan Baba"&gt;
    &lt;img
      alt="Memandikan Baba"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="768"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BabaMandi.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Memandikan Baba&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Sudah hampir tengah hari. Saya lihat Baba, anjing kami, duduk di ruang tengah
  tak memakai rompi sebagaimana biasa.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kok gak pakai baju?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Mau dimandikan," sahut Riris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Sini, biar saya yang mandikan," kata saya sambil menggendong Baba ke kamar
  mandi sementara Riris menyiapkan shampoo dan handuk Baba.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usai memandikan dan mengeringkan Baba, giliran saya mandi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Awalnya saya berencana ikut acara pemilihan Ketua Umum
  &lt;a href="https://gajatoba.org/" target="_blank"
    &gt;Perkumpulan Gaja Toba Semesta&lt;/a
  &gt;
  (PGTS, sebuah wadah gerakan sosial para alumni ITB beragama Kristen yang
  keturunan Batak) yang diselenggarakan siang ini. Seusai acara, saya akan
  lanjut ke rumah Lisna&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;, adik saya yang tinggal di Bogor, untuk
  mengantarkan barang pesanan yang kemarin sudah tiba dari toko daring
  (&lt;i&gt;online&lt;/i&gt;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tetapi karena tak kunjung menerima kode untuk mengikuti pemilihan, saya pun
  batal datang ke lokasi acara.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sehabis mandi, &lt;i&gt;leyeh-leyeh&lt;/i&gt; sejenak sambil membaca pesan di WhatsApp.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Melihat saya masih berselonjor santai, Riris meminta saya membantunya
  membersihkan lemari es. Mumpung tak ada agenda mendesak, saya pun mengiyakan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Usai mencuci rak-rak akrilik lemari es sehingga tampak bening
  &lt;i&gt;kinclong&lt;/i&gt;, saya bereskan tas kecil yang akan dibawa dengan sedikit
  bergegas karena langit sudah mulai mendung dan guntur sesekali
  memproklamasikan kehadirannya setengah malu-malu.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ 2 ]&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dengan ojek motor saya berangkat menuju stasiun Tebet. Warna kelabu masih
  menggantung di langit.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tak lama menunggu, kereta jurusan Bogor tiba. Gerbong agak penuh tapi tak
  sampai berdesakan seperti sarden. Karena tak ada kursi kosong, saya pun
  berdiri tanpa mengeluh.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Tepat di depan saya berdiri sepasang lelaki dan perempuan, entah pasangan
  suami istri atau masih berpacaran. Si perempuan setengah bergantung
  melingkarkan kedua tangannya di leher sang lelaki. Sambil mereka mengobrol,
  kadang si lelaki mengusap wajah atau kening si perempuan. Mesra sekali.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Setengah perjalanan, hujan turun. Semakin lama semakin deras. Wah, gawat nih
  kalau hujan tak berhenti. Apalagi Bogor kan pelanggan setia hujan.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/KeretaBogor.jpg" title="Stasiun Bogor"&gt;
    &lt;img
      alt="Stasiun Bogor"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/KeretaBogor.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Stasiun Bogor&lt;/p&gt;
  &lt;!--p&gt;https://www.seaart.ai/explore/detail/cmlakjle878c73fcu13g&lt;/p--&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Benar saja. Sesampai di Stasiun Bogor, hujan turun dengan penuh semangat. Di
  beberapa lokasi tampak ember mulai penuh menampung air bocor dari atap.
  Kelihatannya sih bukan kebocoran baru tapi entah kenapa belum juga diperbaiki.
  Selain tak elok dipandang, juga berbahaya karena membuat lantai semakin licin.
  (Jangan pula ada yang komen, "Terminal 3 bandara internasional Soekarno -
  Hatta saja bocor." &#128584;)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Biasanya begitu keluar dari stasiun saya langsung naik jembatan penyeberangan
  orang (JPO) lalu berjalan sedikit hingga depan toko Eiger. Dari situ barulah
  memesan transportasi daring. Ternyata jembatan ditutup dengan pagar besi.
  Tampak permanen.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menurut petugas di stasiun, orang harus menyeberang jalan raya menerobos
  kepadatan lalulintas. "Jembatan sudah lama rusak," tambahnya. Aneh sekali
  keputusan pemerintah yang mengelola Kota Bogor ini. Alih-alih memperbaiki
  jembatan yang sungguh diperlukan manusia, kok malah menutupnya &#128533;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jadi repot juga menentukan titik jemput jika memesan transportasi daring.
  Selain akan membingungkan karena penumpang dan pengemudi harus saling mencari
  untuk menemukan satu sama lain, juga berpotensi menambah kemacetan lalulintas
  di derasnya hujan. Apalagi pintu keluar stasiun yang hanya satu-satunya itu
  langsung berhadapan dengan jalur angkot yang super padat dan macet.
  &lt;i&gt;Makin ribet dah&lt;/i&gt; ...
&lt;/p&gt;

&lt;div id="fullpost"&gt;
  &lt;p class="hrx"&gt;[ 3 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah bertanya pada pedagang di stasiun, saya sangat bersyukur karena
    angkot yang mangkal di pintu stasiun ternyata rutenya melewati Jalan
    Suryakencana yang dekat dengan rumah adik saya. Maka, dengan langkah cepat
    sejarak 3 meter saja saya pun sudah masuk angkot. Memang agak basah sedikit
    terguyur hujan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama menunggu, seorang penumpang terakhir naik sehingga angkot pun
    berjalan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sepanjang perjalanan, saya merenung. Berulang kali saya selamat sampai
    tujuan tanpa kehujanan. Bahkan tadi malam pun saya beruntung hujan berhenti
    saat hendak pulang ke rumah. Lantas, haruskah mengeluh ketika kali ini
    mengalami kehujanan di tengah jalan? Ah, sungguh tak sepadan. Nikmati saja
    ...
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 4 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Angkot tiba di mulut Gang Aut, Jalan Suryakencana. Saatnya turun.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Rasa lapar tiba-tiba muncul. Mungkin dingin akibat hujan membuatnya makin
    terasa. Maka saya masuk ke rumah makan
    &lt;a
      href="https://www.tripadvisor.com/Restaurant_Review-g297706-d798350-Reviews-Ngohiang_Gang_Aut-Bogor_West_Java_Java.html"
      target="_blank"
      &gt;Ngohiang&lt;/a
    &gt;
    yang dulu cukup sering saya mampiri karena menyediakan es pala (yang
    mengingatkan pada masa kecil ketika sering jajan es pala di depan pagar
    sekolah).
  &lt;/p&gt;

  &lt;div class="captr"&gt;
    &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Ngohiang.jpg" title="Ngohiang"&gt;
      &lt;img
        alt="Ngohiang"
        border="0"
        height="320"
        data-original-height="1024"
        data-original-width="576"
        src="https://solilokui.gt.tc/img/Ngohiang.jpg"
    /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;p&gt;Ngohiang&lt;/p&gt;
  &lt;/div&gt;

  &lt;p&gt;
    Usai menghabiskan seporsi &lt;i&gt;ngohiang&lt;/i&gt; panas dan meneguk habis segelas es
    pala, saya ke kasir untuk bayar.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Bisa pakai QRIS?" tanya saya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Hanya bisa &lt;i&gt;cash&lt;/i&gt;," jawab kasir.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    "Walah ... Apa kalian masih hidup di zaman batu? Pedagang ketoprak dengan
    kereta dorong saja sudah pakai QRIS," ujar saya setengah heran hampir
    mengeluh.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Bukannya tanpa alasan, melainkan saya sudah sangat jarang mengisi dompet
    agak banyak karena sudah kebiasaan bertransaksi secara daring. Semoga masih
    ada uang yang cukup untuk membayar makanan dan minuman yang telanjur
    disantap.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Beruntung masih ada beberapa lembar sepuluh ribuan yang jumlahnya pas dengan
    tagihan. Puji Tuhan! Kenangan indah masa kecil mengenai manisnya es pala tak
    berubah jadi tawar akibat keluhan &#128591;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Di luar hujan sudah mulai reda walau masih menyisakan gerimis.&lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 5 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Dengan berjalan kaki saya menuju rumah Lisna dan tiba di sana dalam beberapa
    menit. Lisna dan Patrick, anak sulungnya yang baru lulus SMA, menyambut.
    Peter, suami Lisna, sedang tak di rumah karena ada tugas ke luar kota.
  &lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Kami duduk di sofa ruang tamu. Setelah menyerahkan barang yang menjadi
    alasan saya ke Bogor, kami pun ngobrol ini-itu dengan hangat. Patrick
    membuatkan saya kopi pahit panas yang saya teguk dengan nikmat.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Kelihatannya hujan memang berefek luar biasa pada rasa lapar. Baru sekitar 1
    jam ngobrol, perut sudah minta diisi lagi. Patrick pun memesan makanan
    secara daring untuk diantar ke rumah. Mereka sudah tahu bahwa kesukaan saya
    adalah mie goreng.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama kemudian lauk-pauk pesanan tiba. Tapi saya tunda sejenak proses
    alamiah penanggulangan lapar demi menunggu Clara, anak kedua sekaligus
    bungsu, yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;div class="captr"&gt;
    &lt;a
      href="https://solilokui.gt.tc/img/MakanMalamDiBogor.jpg"
      title="Makan malam di Bogor"
    &gt;
      &lt;img
        alt="Makan malam di Bogor"
        border="0"
        data-original-height="1024"
        data-original-width="683"
        height="320"
        src="https://solilokui.gt.tc/img/MakanMalamDiBogor.jpg"
    /&gt;&lt;/a&gt;
    &lt;p&gt;Makan malam&lt;/p&gt;
  &lt;/div&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah Clara tiba, kami pun duduk bersama mengelilingi meja makan bundar.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Patrik mengisi piring Lisna dengan nasi serta lauk-pauk. Saya memperhatikan
    dengan sedikit haru. Adik saya yang sudah sangat minim daya penglihatannya
    memiliki ketergantungan dalam banyak hal pada orang-orang di sekitarnya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sungguh saya sangat bersyukur, sepanjang yang saya tahu dan lihat, tak
    pernah seorang pun anggota keluarga Lisna mengeluhkan kondisi yang mereka
    jalani ini selama sekian tahun. Kiranya kami semua dijauhkan dari dukacita
    seperti itu &#128591;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Kami pun makan dengan suka cita setelah doa yang dipimpin Clara. Usai makan,
    kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan ngobrol sambil menuntaskan kopi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ 6 ]&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar jam 20, artinya sudah sekitar 4 jam di sana, saya pun berpamitan.
    Hujan sudah berhenti, maka cukup aman untuk menggunakan jasa transportasi
    motor menuju stasiun.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setiba di Stasiun Bogor, kereta sudah tersedia. Sekejap kemudian kereta pun
    melaju menuju Jakarta. Kali ini tak ada yang istimewa. Tampaknya semua orang
    sedang asyik ataupun terjebak dengan pikiran masing-masing.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Saya turun di Stasiun Tebet dan melanjutkan perjalanan ke rumah dengan ojek
    motor.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sesampai di rumah, Baba sudah menanti di depan pintu. Bermain sebentar
    dengan Baba, lalu mandi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sambil mengaduk kopi, saya buka laptop untuk menuliskan kisah hari ini.
    Kisah tentang sebuah hari yang berhias beberapa aksen dinamis namun tanpa
    satu pun keluhan. Sungguh karunia yang teramat indah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="fot"&gt;
    &lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt; Kisah tentang Lisna ada di
    &lt;a href="https://solilokuifajar.blogspot.com/2008/06/les-miserables-1.html"
      &gt;Les Misérables #1&lt;/a
    &gt;
    dan
    &lt;a href="https://solilokuifajar.blogspot.com/2008/08/les-miserables-2.html"
      &gt;Les Misérables #2&lt;/a
    &gt;.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Jumat, 01 Mei 2026 22:26 &#127760;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Bogor City, West Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.5971468999999994 106.8060388</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-39.560693282853407 71.64978880000001 26.36639948285341 141.96228879999998</georss:box></item><item><title>Kuntum Hening Abadi</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/04/kuntum-hening-abadi.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 19 Apr 2026 00:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1918805026320051702</guid><description>&lt;title&gt;Kuntum Hening Abadi&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a
    href="https://solilokui.gt.tc/img/EdelweisBike.jpg"
    title="Edelweis hening"
  &gt;
    &lt;img
      alt="Edelweis hening"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/EdelweisBike.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu di rumah?" langsung begitu suara pertama yang terdengar ketika panggilan
  ponsel kuterima. Sungguh tanpa basa-basi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia satu-satunya orang yang kadang memanggil dengan sapaan "Abang", kadang
  bertukar dengan kata ganti orang kedua, "kamu". Sekena rasa hatinya saat itu.
  Bukan karena sedang tak suka.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Iya," sahutku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hari masih pagi. Namun jalan di depan rumah sudah cukup bising dengan
  lalu-lalang orang yang hendak pergi bekerja, sekolah, ataupun mengurus
  persoalan masing-masing. Tukang cakwe di pinggir jalan pun masih belum tuntas
  membenahi tendanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Bisa keluar sebentar?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada apa?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada yang mau saya
 berikan."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku pun beringsut bangkit dari sofa dan beranjak ke luar rumah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia menanti di pinggir jalan sambil duduk di sadel sepedanya. Helm serta
  kacamata balap tentu saja melengkapi &lt;i&gt;jersey&lt;/i&gt; dan celana pendek
  &lt;i&gt;sport&lt;/i&gt;. Dan sebagaimana kebiasaannya, ransel selalu bertengger di
  punggung.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kapan balik?" tanyaku karena tahu dia kemarin pergi naik gunung bersama
  beberapa kawannya di grup pecinta alam.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Tadi malam," sahutnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tanpa banyak bicara dia ulurkan seikat kecil bunga terbungkus plastik berlilit
  pita keemasan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Edelweis," gumamku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dia tersenyum kecil memperlihatkan gigi gingsulnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Saya petik kemarin sore. Teringat Abang."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Agak kikuk kuraih bunga itu sambil berharap orang lewat tak terusik dan
  mengernyitkan kening atas adegan kontraversi ini karena biasanya pihak
  lelakilah yang memberikan bunga.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kamu tahu makna bunga sederhana ini?" tanyaku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Apa saya sebodoh itu menurut Abang?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku hanya meringis. Sudah pasti dia tak bodoh untuk paham arti simbolis bunga
  Edelweis. Sehingga, pastinya dia juga tak bodoh memaknai pemberian ini padaku.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Berlangsung sepagi ini, di kesempatan pertama yang bisa dia lakukan. Tentu
  sesuatu yang sangat berarti. Bukan ketergesaan, lebih merupakan gejolak rasa
  yang tak sanggup dihalau.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada lagi," katanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dia membuka kantung luar ranselnya dan mengeluarkan sebentuk gelang anyaman
  benang 4 warna.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Ini tak sengaja ketemu waktu kemarin membereskan laci. Saya buat sudah lama
  sekali, saat mengisi hari dan hati yang kosong. Waktu itu tak terpikir untuk
  siapa. Kini saya tahu kenapa dulu membuatnya," katanya sambil melonggarkan
  simpul gelang itu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kuulurkan lengan dan dia pasangkan di pergelangan tangan kananku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Rasanya seperti dilamar," gurauku menggoda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kenapa? Gak suka?"&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketus seperti biasa dan aku tak pernah punya hasrat untuk tersinggung padanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kalau saja ..." gumamku lirih sambil berlindung di balik kamuflase seringai
  lebar.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ya ..." sambungnya sepaham.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku memandangi wajahnya. Mencoba menembus tabir jiwa melalui bola matanya.
  Dalam hening yang amat rapuh. Begitu pun dia. Tanpa sentuhan. Sepenuhnya hanya
  diam saling pandang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sampai akhirnya dia sunggingkan senyum khasnya. Tak ada perih dan sesal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Saya jalan dulu ya," pamitnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku mengangguk kecil. Berat. Terasa sangat tak berdaya. Sekejap bisa kurasakan
  betapa dingin serpih keabadian yang tak pernah sanggup mewujud menembus
  dinding mimpi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hingga beberapa jenak aku masih berdiri tepekur di pinggir jalan. Nyaris tak
  berkedip memandangi dia mengayuh sepedanya dengan pelan, semakin jauh, hingga
  akhirnya hilang di kelokan jalan. Seperti perpisahan tanpa lambaian.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Orang kian banyak berlalu-lalang di sekitarku. Namun tak kudengar suara. Sunyi
  sempurna. Amat lama.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 19 April 2026 00:55 &#127760; Bandung&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Senjakala Cahaya Bening</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/04/senjakala-cahaya-bening.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 12 Apr 2026 23:03:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-3119308676560253934</guid><description>&lt;title&gt;Senjakala Cahaya Bening&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Artefak Hadirmu&lt;/p&gt;
&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a
    href="https://solilokui.gt.tc/img/CahayaBening.jpg"
    title="Senjakala Cahaya Bening"
  &gt;
    &lt;img
      alt="Senjakala Cahaya Bening"
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/CahayaBening.jpg"
      width="320"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Senjakala Cahaya Bening&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Kita duduk bersisian menghadap ke jalan lengang tanpa saling pandang. Satu dua
  orang lewat di kejauhan terpaut jeda waktu lumayan panjang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kurasa sudah kelewat lama keheningan membelenggu. Hingga akhirnya mulutku tak
  tahan mendesiskan bisikan pelan, nyaris seperti keluhan yang sangat
  berhati-hati.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Ada yang berubah."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kamu diam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Aku menyambung, "Tanpa penjelasan, kamu abaikan semua pesan saya di WhatsApp.
  Seperti ada yang kamu hindari. Berhari, minggu, hingga bulan."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih diam. Sekarang wajahmu sedikit menunduk menatap ujung sepatumu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Apa yang salah? Kalaupun ada, kan kamu bisa tegur langsung seperti yang
  sudah-sudah. Dan kamu tahu persis, tak sekali pun saya pernah mempersoalkan
  protes bahkan marahmu."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetap diam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kunyalakan sebatang rokok kretek dan membiarkannya membara tanpa dihisap di
  antara jari telunjuk dan tengah. Menunggu kamu bicara. Terbakar hingga
  setengahnya secara percuma.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bergeming. Tak jua ada reaksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Rerumputan tempat kita duduk terasa kian dingin. Senja pun seperti enggan
  mengalirkan angin. Terasa agak menyesakkan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan keheningan ini sangatlah menyebalkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Berkali-kali kita janji ketemu hanya untuk makan siang di berbagai tempat
  yang menurutmu layak didatangi. Kemudian ngopi sepanjang sore dengan
  perbincangan yang kadang tak berbobot namun kerap juga menuntut perenungan
  mendalam hingga kita berdebat. Lalu kita berpisah kala matahari kian redam
  dalam kelam, saat saya antar kamu ke mobil atau stasiun kereta atau suamimu
  menjemput."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tak sabar, aku lanjutkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kamu tentu masih ingat, pernah kita habiskan hari sejak pagi sekali di rumah
  kacamu. Lantas kita genapi sore di kawasan suaka Selatan kota. Hari terbaik
  kita, menurut saya."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kuhisap dalam-dalam rokok yang terbakar percuma itu lalu memadamkan puntungnya
  di tanah.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saat itu tabir kabut yang turun membaur dengan ruap kopi panas di cangkir
  yang kita genggam erat karena udara teramat dingin. Dan saya bertanya,
  &lt;i&gt;'Sampai kapan kita bisa terus seperti ini?'&lt;/i&gt;. Kamu jawab,
  &lt;i&gt;'Selama Abang tak membawaku paksa ke tempat yang tak kuinginkan'&lt;/i&gt;."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kamu, perempuan yang biasanya energik bertabur aura suka cita, kini hanya
  tepekur di sampingku dengan pandangan lurus menatap ujung sepatu putihmu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Saya tidak pernah memperlakukan kamu tak senonoh. Menyentuhmu pun sebatas
  wajarnya antarsahabat. Paling banter menggandeng, cium pipi saat jumpa dan
  berpisah," sambungku dengan canda mencoba menyibak kekakuan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ujung bibirmu sedikit tertarik dalam makna sangat sumir antara senyum dan
  perih.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Bicaralah," pintaku penuh harap kamu tak membatalkan niat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Lalu mulutmu mendesirkan kalimat singkat yang sangat pelan, nyaris seperti
  kepedihan yang amat rentan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Abang tak sayang aku."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Kok gitu?" tanyaku kaget.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Setelah sekian lama ..."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jeda sejenak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu kamu lanjutkan dengan desir yang tetap pelan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"... Abang tak pernah menciumku."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sontak kepedihan itu melompat pindah ke ulu hatiku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelu.&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 12 April 2026 23:03 &#127760; Melak&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Nevermore</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2026/01/nevermore.html</link><category>di balik nada</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Thu, 29 Jan 2026 09:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-4691147725514497131</guid><description>&lt;title&gt;&lt;i&gt;Nevermore&lt;/i&gt;&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&#151; Mahakarya yang Diabaikan&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BattleOfTheBands.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="586"
      height="400"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BattleOfTheBands.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Battle of The Bands: UI vs ITB&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Banyak yang bisa menyebutkan lagu-lagu karya &lt;b&gt;Queen&lt;/b&gt;, grup band asal
  Inggris, yang populer seantero jagat. Sebut saja "Bohemian Rhapsody" yang
  masuk jajaran lagu legendaris sepanjang masa. Juga "Love of My Life", "We are
  The Champions", "I Want to Break Free", "Crazy Little Thing Called Love", dan
  sederet lainnya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Namun, menurut dugaan saya, hanya segelintir yang mengenal lagu "Nevermore"
  (dari album &lt;b&gt;Queen II&lt;/b&gt;, 1974) yang rilis pada masa Freddie Mercury masih
  asyik dengan lirik bertema dongeng (&lt;i&gt;fairy tales&lt;/i&gt;) dibalut kekhasan
  operatik penuh harmoni.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di sisi lain, tak sedikit penggemar yang menobatkan lagu ini sebagai mahakarya
  terbaik yang indah dan intim, mewakili momen kejeniusan yang sempurna dengan
  arsitektur yang kompleks, berlapis, dan artistik. Hanya saja, lagu ini kerap
  menjadi permata tersembunyi yang terabaikan
  &lt;i&gt;(underrated)&lt;/i&gt;. Bisa jadi karena durasinya yang sangat singkat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya jadi penasaran, apakah band ITB ataupun UI berkenan menyisipkan 79 detik
  waktu mereka untuk membawakan lagu ini dalam
  &lt;b&gt;Battle of The Bands&lt;/b&gt; pada tanggal 30 Januari 2026 esok di Balai Sarbini.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sungguh bikin penasaran &#128526;&lt;/p&gt;

&lt;table class="nbtbl"&gt;
  &lt;tbody&gt;
    &lt;tr&gt;
      &lt;td&gt;
        &lt;iframe
          allowfullscreen=""
          class="BLOG_video_class"
          height="266"
          src="https://www.youtube.com/embed/1lXwT7mxmf8"
          width="320"
          youtube-src-id="1lXwT7mxmf8"
        &gt;&lt;/iframe&gt;
      &lt;/td&gt;

      &lt;td&gt;
        &lt;p&gt;
          There's no living in my life anymore&lt;br /&gt;
          The seas have gone dry&lt;br /&gt;
          And the rain stopped falling
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Please don't you cry anymore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Can't you see?&lt;br /&gt;
          Listen to the breeze&lt;br /&gt;
          Whisper to me, please&lt;br /&gt;
          Don't send me to the path of Nevermore
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Even the valleys below&lt;br /&gt;
          Where the rays of the sun&lt;br /&gt;
          Were so warm and tender
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Now haven't anything to grow&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Can't you see?&lt;br /&gt;
          Why did you have to leave me?&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Nevermore, Nevermore&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Why did you deceive me?&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Nevermore, Nevermore&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          Send me to the path of Nevermore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          When you say you didn't love me anymore&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]&lt;br /&gt;
          [ &lt;i&gt;Aah ...&lt;/i&gt;]
        &lt;/p&gt;

        &lt;p&gt;
          Nevermore&lt;br /&gt;
          Nevermore
        &lt;/p&gt;
      &lt;/td&gt;
    &lt;/tr&gt;
  &lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;p class="xCtr"&gt;Liputan yang muncul kemudian mengenai acara ini:&lt;/p&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.youtube.com/watch?v=Q1DYwQOW19A" target="_blank"
        &gt;260130 Battle of the Bands ... UI - ITB&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://youtu.be/V0C7Z_kTaNk" target="_blank"
        &gt;260130 Battle of the Bands ITB and UI - short compilation&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://www.tiktok.com/@thekadrimohamad/video/7604553339392527636"
        &gt;Battle of the Bands: Yellow Jacket vs Ganesha Concert&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://alumniamagz.id/battle-of-the-bands-ui-vs-itb-rivalitas-kampus-nostalgia-musik-dan-panggung-silaturahmi-alumni/"
        target="_blank"
        &gt;Battle of the Bands UI vs ITB: Rivalitas Kampus, Nostalgia Musik, dan
        Panggung Silaturahmi Alumni&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a
        href="https://ekraf.go.id/news/deputy-minister-of-creative-economy-attends-ui-vs-itb-battle-of-the-bands-supports-strengthening-music-across-campuses"
        target="_blank"
        &gt;ekraf.go.id&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Kamis, 29 Januari 2026 09:52 WITA &#127760; Morowali&lt;/p&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://img.youtube.com/vi/1lXwT7mxmf8/default.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Balai Sarbini, Jl. Jend. Sudirman No.Kav. 50 1, RT.1/RW.4, Karet Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10220, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.219664 106.8143624</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-39.328118056760012 71.6581124 26.888790056760008 141.9706124</georss:box></item><item><title>Bernyanyi dalam Gelap</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/12/bernyanyi-dalam-gelap.html</link><category>di balik nada</category><category>hikayat kedunguan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 14 Dec 2025 00:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2765644284043478503</guid><description>&lt;style&gt;
  .post-body b, u { background-color:var(--hiLite); }
&lt;/style&gt;

&lt;title&gt;Bernyanyi dalam Gelap&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&#151; Nada Getir di Terowongan Panjang&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a
    href="https://solilokui.gt.tc/img/BernyanyiDalamGelap.jpg"
    title="Bernyanyi dalam Gelap"
  &gt;
    &lt;img
      alt="Bernyanyi dalam Gelap
"
      border="0"
      data-original-height="1080"
      data-original-width="1080"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BernyanyiDalamGelap.jpg"
      width="320"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Amat beragam ekspresi peduli tanah air. Dari yang teguh menunaikan kuasa
  jabatan, menampik tabiat korupsi, hingga yang dayanya mengkristal jadi kritik.
  Kritik itu sendiri bisa mewujud dalam demonstrasi keras, petisi elegan,
  literasi pencerahan, lantun lagu, sampai yang hanya mampu larut dalam hening
  merapal doa.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Spektrum kritik melalui harmoni nada dan lirik lagu pun ternyata terbentang
  lebar. Ada yang garang lantang siap menerjang, syahdu merindu terang di ujung
  terowongan, hingga lontar celoteh jenaka yang menghunjam kepekaan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dengan cara itulah alumni ITB melambungkan getir batinnya atas fenomena yang
  melanda Indonesia. Letup keresahan dan kegeraman membuncah lugas dalam
  &lt;b&gt;LAGU PERANG&lt;/b&gt; yang merangkul semua orang agar menolak takluk pada
  kebobrokan. Kalaupun perjuangan ternyata harus patah, sejatinya jiwa-jiwa
  merdeka tak pernah kalah. Selalu tersimpan benih belarasa dalam merawat mimpi
  dan daya juang sesama anak negeri meski harus rela
  &lt;b&gt;BERNYANYI DI DALAM GELAP&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di kegelapan, rasa pedih kian menyayat kala menyaksikan betapa
  &lt;b&gt;PERCUMA&lt;/b&gt; kekayaan alam maupun perjuangan para pendahulu akibat adab
  rakyat yang terbodohkan maupun pemimpin yang tak acuh. Terlebih saat para
  pengkhianat demikian tamak melampiaskan syahwat diri dengan sikap
  &lt;b&gt;EGP (EMANG GUE PIKIRIN)&lt;/b&gt;. Mereka adalah &lt;b&gt;DRAKULA&lt;/b&gt; tanpa nurani yang
  tega menghisap jiwa rakyat hingga kerontang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Beruntung selalu ada sosok yang tak henti menyapa &lt;b&gt;HALO&lt;/b&gt; sebagai tanda
  bahwa kehidupan masih berdenyut walau rasa letih dan putus asa demikian keras
  mendera. Kesadaran hakiki layak dirawat melalui dentam ritmis
  &lt;b&gt;MELODI SKJ (STANDAR KEWARASAN JIWA)&lt;/b&gt; yang menampik bodoh.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kita patut setia &lt;b&gt;MENJAGA NEGERI&lt;/b&gt; dari tangan-tangan kotor yang tak
  sungkan memperkosa Ibu Pertiwi. &lt;b&gt;RAKYAT JELANTAH&lt;/b&gt; sekalipun harus punya
  harga diri selaku ahli waris negeri. Hanya dengan demikian kita bisa bangga
  berbisik, "&lt;b&gt;AKU PADAMU&lt;/b&gt;, wahai Tanah Air tercinta."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ekspresi resah, geram, asa, semangat, dan kesetiakawanan alumni ITB terjalin
  kental dalam album kesadaran bertajuk
  &lt;b&gt;BERNYANYI DALAM GELAP&lt;/b&gt;. Kami paham bahwa menjalani kegelapan bukanlah
  pilihan, melainkan penindasan atas ketakberdayaan maupun kebodohan. Sedangkan
  kegelapan amatlah berbahaya karena berpeluang melesakkan sikap pasrah
  bersekutu dengan penjarah. Di titik itu, kami sepakat bernyanyi sebagai
  isyarat bahwa tekad dan arah belum pupus dari nurani walau gelap menghadang
  pandang.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="myPoem ind"&gt;
  Kini dan di sini,&lt;br /&gt;
  kami masih ada&lt;br /&gt;
  dan akan tetap ada,&lt;br /&gt;
  mengusung suara yang tak tersuarakan.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 14 Desember 2025 00:19 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Botol Minum</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/11/botol-minum.html</link><category>hikayat kedunguan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 30 Nov 2025 09:36:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2894244770511247615</guid><description>&lt;title&gt;Botol Minum&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BotolMinum.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="400"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="576"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BotolMinum.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Saya punya botol minuman yang biasa-biasa saja. Kapasitas 800 ml, warna
  bening, dan ada label nama isteri saya. Kok begitu? Memang saya pinjam dari
  isteri saya karena 2 botol sebelumnya pecah akibat jatuh, sementara yang
  lainnya berukuran kecil ataupun berat (berbahan metal yang cocok untuk kopi).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Botol yang selalu saya bawa, apalagi saat ke luar kota, sudah beberapa kali
  tertinggal. Masing-masing sekali di Medan, Jagakarsa, Morowali, Sorowako.
  Namun bisa kembali karena ada kawan yang berkenan dititipi membawakan pulang
  ataupun diserahkan oleh petugas jaga sebelum saya melanjutkan perjalanan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sebagai orang yang awet menggunakan barang (selama masih berfungsi), tentu
  saja ketinggalan barang akan sangat mengganggu. Hal ini pernah saya alami
  ketika &lt;i&gt;laptop&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;external hard disk&lt;/i&gt; berisi banyak data penting
  tertinggal di hotel Bandung. Akibatnya, subuh-subuh harus kembali mengambilnya
  padahal baru tengah malam sebelumnya saya pulang ke Jakarta.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jadi saya bisa paham mengapa ada orang yang sampai panik ketika barangnya
  tertinggal di ruang publik yang berpotensi menjadi kehilangan. Entah karena
  harganya yang sangat mahal, atau fungsinya yang vital, atau karena nilai
  sentimentalnya, atau karena pinjaman, atau sebab lainnya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hanya saja saya belum paham, seberapa berhargakah sebuah
  &lt;i&gt;tumbler&lt;/i&gt; sehingga dianggap setara dengan rusaknya reputasi seseorang
  maupun instansi bahkan hilangnya mata pencaharian. Sungguh masih misteri.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jangan-jangan hanya tampilannya yang terlihat sederhana padahal di dalamnya
  terkandung rahasia negara atau pernak-pernik konspirasi rumit seperti dalam
  film-film spionase. Mari berprasangka baik ... &#128522;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;
  &#128204; Minggu, 30 November 2025 09:36 &#127760; Taman Wisata Alam, Pantai Indah Kapuk
&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Pantai Indah Kapuk, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.1022911 106.74071</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-10.467707225838984 102.34617875 -1.736874974161017 111.13524125</georss:box></item><item><title>Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/07/kesadaran-sebelum-hari-pencoblosan.html</link><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 19 Jul 2025 07:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8153687884749550482</guid><description>&lt;title&gt;Kesadaran Sebelum Hari Pencoblosan&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Pemilihan Ketua Umum IA-ITB 2025&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Vote.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="756"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Vote.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;"Kok mendadak sih? Tiga hari lagi."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Gak mendadak kok. Malah ini pengunduran dari yang seharusnya bulan lalu."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Informasi ini pun sebenarnya saya tahu karena mengikuti cukup banyak grup
  percakapan alumni. Jika tidak, kemungkinan besar saya juga akan mendapat
  pengalaman kemendadakan seperti kawan yang menghubungi saya kemarin.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dalam keikutsertaan sebagai penggembira di pinggiran beberapa perhelatan
  tingkat nasional, daerah, serta almamater, kali ini saya tak terimbas gaung
  kemeriahan kontestasi. Dari ketiga kandidat yang muncul, hanya 1 yang saya
  kenal. Namun tak satu pun yang saya tahu penawarannya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Abang sudah tua," gurau kawan tadi penuh makna.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya hanya tertawa sadar diri.&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 19 Juli 2025 07:38 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Rumah Kosmos Sipoholon</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2025/03/rumah-kosmos-sipoholon.html</link><category>karsa</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 8 Mar 2025 20:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-8097921905758616640</guid><description>&lt;title&gt;Rumah Kosmos Sipoholon&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos1.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="470"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos1.jpg"
      width="400"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Rumah kosmos&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;"Jadi bagaimana konsepnya?"&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  "Simpel aja kok, yang di luar merasuk ke dalam dan yang di dalam memancar ke
  luar.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sejenak saya tercenung mencoba memaknai jawaban singkat
  &lt;a href="https://id.linkedin.com/in/jimmy-purba-6aa73134" target="_blank"
    &gt;Jimmy Purba&lt;/a
  &gt;
  sang arsitek, lalu manggut-manggut seakan paham.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sejatinya karya arsitektur menjadi aksen penanda dalam bingkai alam tanpa
  intensi menyabot pesona agung asalinya. Terlebih yang mengusung muatan
  spiritual sebagaimana rumah dinas Pimpinan HKBP yang menyibak pandang 360° ke
  seantero gunung, lembah, dan hutan Sipoholon.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos2.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="768"
      height="320"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/RumahKosmos2.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Rumah Kosmos&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Terbayang ketakjuban menyaksikan momen fajar menguntai birai penghujung malam
  di sana, kala makrokosmos di luar dan mikrokosmos di dalam beresonansi
  sempurna seperti saat turunnya firman pertama, "Jadilah terang."
&lt;/p&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/16nnoaBPtC/" target="_blank"
        &gt;Rumah masa depan.&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/16AVEuoC9o/" target="_blank"
        &gt;Rumah doa, rumah pemulihan raga dan jiwa, dan rumah kasih.&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a href="https://www.facebook.com/share/p/15tXzxkeaz/" target="_blank"
        &gt;Rumah Dinas HKBP: Fotogenik!&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#hkbp #rumah #arsitektur&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 08 Maret 2025 20:59 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sang Pemimpin Kawanan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/11/sang-pemimpin-kawanan.html</link><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 6 Nov 2024 23:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-6611805435806465005</guid><description>&lt;title&gt;Sang Pemimpin Kawanan&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;[kalipso 002 relawan]&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Chess.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt="Chess"
      border="0"
      height="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="683"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Chess.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Mengonsolidasikan relawan dengan beragam latar belakang bukanlah hal mudah.
  Perlu waktu, energi, dan kesabaran ekstra tebal untuk mengorkestrasi visi,
  derap langkah, solidaritas, bahkan membangkitkan keberanian mengorbankan
  berbagai hal berharga, termasuk nyawa pada situasi ekstrem.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dalam komunitas relawan, karakter dan keteladanan seseorang diuji hingga
  kerak-kerak dasarnya. Rantai komando terbentuk bukan karena kepangkatan
  ataupun senioritas, apalagi bayaran, melainkan kualitas pribadi yang piawai
  memadukan ketegasan dan keluwesan dalam menyikapi dinamika di lapangan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menjadi pemimpin kawanan relawan merupakan tantangan teramat rumit. Dia tak
  bisa menjanjikan imbalan harta atau kuasa guna membangkitkan semangat juang
  kawan-kawannya dalam berbagai keterbatasan, melainkan harga diri sebagai
  manusia bermental merdeka di hari-hari mendatang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sungguh beruntung hingga kini saya masih berkesempatan berjumpa orang-orang
  berkarakter pemimpin kawanan seperti itu. Mereka memang langka.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Rabu, 06 November 2024 23:28 &#127760; Boear&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Panggilan Kehormatan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/11/panggilan-kehormatan.html</link><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 5 Nov 2024 15:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1706846231849104388</guid><description>&lt;title&gt;Panggilan Kehormatan&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;[kalipso 001 relawan]&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Patriot.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="683"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Patriot.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Benjamin Martin yang semula menolak menjadi komandan tentara kontinental
  akhirnya terjun membabat pasukan kolonial Inggris yang telah membunuh anaknya.
  Segera dia bentuk pasukan relawan dari masyarakat sipil yang umumnya adalah
  petani yang tak pernah angkat senjata &lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Bertempur melawan tentara aktif adalah misi bunuh diri namun bisa sarat makna
  ketika alasan dan tujuannya mulia. Entah demi apa pun, yang semuanya masih
  bisa diperdebatkan, namun bukan itu yang menjadi perhatian saya saat ini.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menjadi relawan tak musti bersebab matinya anak seperti dialami Benjamin
  melainkan bisa juga oleh terbitnya harapan baru bagi masa depan anak-anak
  maupun kekhawatiran sirnanya harapan tersebut.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kalah-menang bukanlah dasar kalkulasi pilihan sebab tak ada yang bisa menjamin
  kemenangan ataupun kekalahan dalam melawan pasukan terlatih. Opsi yang
  tersedia hanyalah keberanian menegakkan harkat sebagai manusia seturut nurani
  dan logika.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Setipis apa pun peluangnya, amat layak diperjuangkan agar tak hanya jadi
  penggerutu yang memasrahkan leher dalam kekang kendali orang lain.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="fot"&gt;
  [1] Sinopsis film
  &lt;a
    href="https://jabarekspres.com/berita/2024/08/15/sinopsis-film-the-patriot-perjuangan-petani-selama-perang-kemerdekaan-as/"
    target="_patriot"
    &gt;"The Patriot"&lt;/a
  &gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 05 November 2024 15:31 &#127760; Boear&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kearifan Silimalombu</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/08/kearifan-silimalombu.html</link><category>bumi</category><category>ecce homo</category><category>jentera hari</category><category>kelana</category><category>kuliner</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 18 Aug 2024 01:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7929527290578304594</guid><description>&lt;title&gt;Kearifan Silimalombu&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Sumut Punya Cerita&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Silimalombu.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="768"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Silimalombu.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Nyonya rumah dan tamu di Silimalombu&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Bisa jadi dahulu ada 5 sapi yang entah apa pula cerita tersohornya hingga
  tempat terpencil di kawasan Samosir itu dinamai Silimalombu. Desa ini mungkin
  tak akan pernah jadi topik andai hanya melangkah dalam pakem biasa-biasa saja.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Hingga seorang perempuan bernama Ratnauli Gultom mengubah takdirnya. Mangga
  Toba difermentasi jadi minuman (&lt;i&gt;mango wine&lt;/i&gt;), berbagai flora dan fauna
  dipanen dari sekitar untuk diolah jadi hidangan dan produk lokal, hingga gaya
  hidup berwawasan lingkungan nirlimbah (&lt;i&gt;zero waste&lt;/i&gt;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sebagaimana biasa, keunikan sebuah tempat lebih dulu diketahui dan dicintai
  wisatawan mancanegara. Bahkan hingga sekarang pun lebih banyak orang asing
  yang menjadi tamu menginap di &lt;i&gt;homestay&lt;/i&gt; Silimalombu. Agak ironis, namun
  demikianlah adanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saat berkunjung sekian tahun lalu, saya berjumpa dengan satu keluarga
  Skotlandia (ayah, ibu, puteri berusia 6 tahun) yang sudah 2 bulan tinggal di
  sana. Sehari-hari mereka mengikuti kegiatan Ratna mengambil ikan dan udang di
  danau Toba, memetik sayuran, memanen jagung, ubi, buah, dsb yang dilanjutkan
  dengan mengolah dan menikmatinya.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/MangoWine.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="400"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="576"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/MangoWine.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Mango wine&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Amat pantas jika Silimalombu melabel diri sebagai &lt;i&gt;ecovillage&lt;/i&gt; dan
  menjadi destinasi yang wajib diperhitungkan sehingga pernah khusus dikunjungi
  oleh Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti pada
  tahun 2020.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setiap tempat dan waktu akan melahirkan legendanya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;i&gt;&lt;b&gt;Lisoi! Lisoi! Lisoi!&lt;/b&gt;&lt;/i
  &gt;&#129346;
&lt;/p&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a target="_blank" href="https://youtu.be/Qjojk--oJuI"
        &gt;EcoVillage Silimalombu LakeToba&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;
      &lt;a target="_blank" href="https://www.instagram.com/silimalombuecovillage"
        &gt;silimalombuecovillage&lt;/a
      &gt;
    &lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="tag"&gt;
  #latepost #Samosir #Sumut #NorthSumatera #wine #ecoliving #nirlimbah
  #zerowaste #pariwisata #tourism
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 18 Agustus 2024 01:49 &#127760; Medan&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sarapan di Medan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2024/07/sarapan-di-medan.html</link><category>jentera hari</category><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 31 Jul 2024 06:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-140297138827264279</guid><description>&lt;title&gt;Sarapan di Medan&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Sumut Punya Cerita&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SarapanMedan.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt="Sarapan di Medan"
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/SarapanMedan.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Matahari terbit agak lebih lambat di Medan dibanding Jakarta. Ketika Jakarta
  sudah bergegas menembus kemacetan jalan, Medan baru menggeliat.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tak heran jika jam 7 hingga 9 WIB masih banyak warga Medan yang kedapatan
  sedang sarapan di tempat yang acap disebut warkop (warung kopi).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Pagi ini saya sarapan di Warkop Deli, Jalan Abdullah Lubis, Medan. Sepiring
  bihun goreng yang diracik dengan telur bebek dan 2 tusuk sate kerang saya
  santap nikmat. Ditutup dengan secangkir kopi susu dan 2 butir telur setengah
  matang, rasanya bangkit semangat untuk berkegiatan sepenuh hari.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;⚜️ SUKA-SUKA&lt;/p&gt;

&lt;p class="tag"&gt;
  #latepost #Medan #Sumut #NorthSumatera #sarapan #breakfast #warungkopi #warkop
  #kuliner #culinary
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; 31 Juli 2024 06:46 &#127760; Medan&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Warkop Deli, Jl. Abdullah Lubis No.68, Babura, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara 20154, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">3.5772326 98.6532531</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-29.509188561260846 63.4970031 36.663653761260846 133.8095031</georss:box></item><item><title>Kembalinya Pasukan Perang Darat</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/05/kembalinya-pasukan-perang-darat.html</link><category>jentera hari</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 27 May 2023 05:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1491764306858041372</guid><description>&lt;title&gt;Kembalinya Pasukan Perang Darat&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Suara Hati&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/PPD4GP.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="912"
      data-original-width="1600"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/PPD4GP.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Lima tahun dalam penantian, akhirnya Pasukan Perang Darat (PPD) bangkit
  kembali ketika negara memanggil. Jika dahulu militansinya diperuntukkan bagi
  Joko Widodo (Jokowi), kali ini mereka tampil demi Ganjar Pranowo.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kinerja Jokowi yang dipandang baik sehingga meraih tingkat kepuasan sampai 82%
  (survei LSI April 2023) menjadi konsiderans penting bahwa kemajuan dan arah
  perjalanan bangsa ini berada di koridor yang tepat sehingga perlu
  dipertahankan bahkan ditingkatkan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Mengingat konstitusi negara Republik Indonesia yang membatasi masa jabatan
  presiden maksimal 2 kali, maka perjalanan Jokowi pun harus berakhir di 2024.
  Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa penggantinya
  adalah orang yang tepat untuk menindaklanjuti pencapaian yang sudah diraih.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dari 3 sosok yang digadang-gadang sebagai calon presiden, pilihan pun jatuh
  pada Ganjar Pranowo. Demikian banyak aspek pada diri beliau yang suai dengan
  kriteria. Selain kinerja yang teruji, juga kepribadiannya yang merakyat,
  sederhana, humoris, melayani, cepat tanggap, gesit, stamina tangguh, rekam
  jejak bersih, mengayomi semua kalangan, berjiwa muda, kesatria, tidak
  ketinggalan zaman, serta sederet karakter
  &lt;i&gt;servant leader&lt;/i&gt; lainnya. Tidak lupa, dia juga adalah seorang suami dan
  ayah yang baik.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Lantas, kenapa PPD harus turun gunung jika Ganjar Pranowo dipandang sudah
  memenuhi kriteria sebagai sosok terbaik yang layak menjadi Presiden? Bukankah
  dia akan mudah memenangi kursi kepresidenan?
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Semesta kiprahnya yang selama ini terbatas di Provinsi Jawa Tengah membuat
  semua prestasi dan kebaikannya belum membahana ke seantero negeri. Sederet
  keberhasilan yang dibangunnya di jenjang provinsi perlu diprojeksikan ke
  tingkat nasional. Kemajuan Jawa Tengah merupakan bukti nyata sekaligus
  cikal-bakal kemajuan menuju Indonesia Gemilang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Inilah tugas para relawan. Inilah amanah yang diemban oleh PPD. Merupakan
  sebuah kehormatan untuk memberitakan kabar baik ini ke seluruh penjuru kota
  dan desa, di jalan-jalan, pasar, pertokoan, stasiun, perumahan, dan semua
  tempat di mana ada mata dan telinga. Terlebih, pada mereka yang masih memiliki
  hati terbuka serta cinta tulus pada negeri serta generasi masa depan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebab, sejatinya, &lt;b&gt;PPD adalah suara hati anak bangsa&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salam takzim.&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; 27 Mei 2023 05:46 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/02/balada-fana-seorang-bukan-biduan.html</link><category>di balik nada</category><category>ecce homo</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 21 Feb 2023 21:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-5995167655315395379</guid><description>&lt;title&gt;Balada Fana Seorang [Bukan] Biduan&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/MicSplash.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/MicSplash.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;
    &lt;a
      href="https://pixabay.com/illustrations/podcast-song-sound-microphone-8543921/"
      target="_blank"
      &gt;pixabay.com&lt;/a
    &gt;
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Menyimak kisah sendu Bang Andrew Simbolon tentang dunianya yang fana [1],
  ingatan langsung menerawang ke cita-cita masa silam. Kalau Bang Andrew
  kepingin jadi penyanyi rock setelah kuliah, saya pernah kesengsem jadi pesohor
  tarik urat leher ketika masih bersekolah dengan celana pendek alias SMP.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saat itu nama Ebiet G. Ade sangat fenomenal sebagai penyair yang bernyanyi.
  Walau suaranya disebut-sebut mirip Jose Feliciano, sang penyanyi kondang
  tunanetra, syair lagunya sungguh menggoda karena bersahaja namun puitis. Konon
  pula dia menggunakan puisi-puisi karya Presiden Malioboro, Umbu Landu
  Paranggi, yang berkiprah di kawasan Yogyakarta bersama para tokoh sastra
  lainnya seperti Korie Layun Rampan, Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Begitu pula ketika Guruh Soekarnoputra dan Eros Djarot menggetarkan blantika
  musik Indonesia dengan karya-karya monumental mereka yang mengusung kosa kata
  ajaib dalam lirik-liriknya, makin terbakar gairah menulis lagu berbekal kamus
  bahasa kuno.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sayang disayang, saya harus jujur mengakui bahwa musikalitas saya rupanya tak
  sedahsyat hasrat. Bahkan suara pun amat jauh dari kategori merdu, halmana
  menyalahi kodrat sebagai orang Batak &#128532; Mau daftar ikutan
  &lt;i&gt;vocal group&lt;/i&gt; sekolah saja rasanya tak ada nyali, apalagi masuk paduan
  suara seperti Mak Lindes Dumaria Gultom. Konon pula seperti Bang Toni P
  Sianipar yang bergabung di Elfa's Singers.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Walau ada beberapa lagu yang tercipta (atau sebagai penulis lirik untuk lagu
  karya kawan), dengan lapang dada saya kuburkan impian menjadi penyair yang
  bernyanyi. &lt;i&gt;Baibay&lt;/i&gt; &#128075;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;i&gt;Ndilalah&lt;/i&gt; saat kuliah saya sempat beberapa kali didapuk menjadi vokalis
  band. Itu pun saya yakini bukanlah karena suara yang keren atau aksi panggung
  nan memesona melainkan karena tak ada kawan lain yang bersedia menanggung malu
  di atas panggung. Sesederhana itu.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kendati demikian, kecintaan pada musik membuat saya tak ragu terlibat aktif
  bersama kawan-kawan untuk menyelenggarakan Festival Musik Solidaritas sebagai
  ajang kompetisi band antar angkatan di Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Begitu pula berbelas tahun setelah menjadi alumni, didaulat menyanyi karena
  para pemain band lebih sibuk berkutat dengan &lt;i&gt;chord&lt;/i&gt; di instrumen
  masing-masing. Ini pun bukan di band delegasi angkatan yang bernama
  Musicology, melainkan sekte yang mengambil genre rock bernama
  &lt;b&gt;Darkside of Musicology (DOM)&lt;/b&gt;. Di Musicology sih saya hanya kebagian
  peran angkat-angkat alat musik atau jadi &lt;i&gt;supporter&lt;/i&gt; Bonekology atau jadi
  &lt;a href="https://youtu.be/I7RR32KBvLc" target="_blank"
    &gt;badut jahil untuk klip video&lt;/a
  &gt;
  &#128513;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketika pandemi covid merajalela, saya kenal aplikasi bernama Smule. Mulailah
  saya punya media melampiaskan suara pas-pasan tanpa harus tersipu kena sorot
  &lt;i&gt;spotlight&lt;/i&gt;. Dan di sinilah saya tahu bahwa Bang Andrew suaranya memang
  keren dan &lt;i&gt;effortless&lt;/i&gt; sehingga layak dibanggakan sebagai orang Batak.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Barangkali karena saya lebih senior "sekian bulan" sajalah maka Bang Andrew
  sulit berkeberatan ketika saya &lt;i&gt;join&lt;/i&gt; di Smule menyanyikan lagu Dream
  Theater yang berjudul "The Spirit Carries On" dengan urat leher nyaris putus
  &#129322;
&lt;/p&gt;

&lt;iframe
  allowfullscreen=""
  class="BLOG_video_class capt"
  frameborder="0"
  width="350"
  height="350"
  src="https://www.smule.com/recording/dream-theater-the-spirit-carries-on/2348959464_3836357432/frame/box"
&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;p class="xCtr"&gt;
  &lt;a
    href="https://www.smule.com/recording/dream-theater-the-spirit-carries-on/2348959464_3836357432"
    target="_blank"
    &gt;www.smule.com&lt;/a
  &gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Demikianlah hikmah di dunia yang fana ini. Walau suara parah sehingga jauh
  dari layak sebagai biduan, ternyata lingkar pertemanan justru kian besar. Dan
  saya agak percaya bahwa nanti seusai kiprah di dunia fana ini spirit kita
  tetap bisa hadir melalui karya dan kenangan. &lt;i&gt;Yekann, guyszz&lt;/i&gt;?
&lt;/p&gt;

&lt;!--div&gt;&lt;p&gt;* tulisan ini dibuat untuk #aiglduniafanaceleng di bawah colekan spiritual Bang Andrew dan Téh Nenden Agustina.&lt;/p&gt;
		&lt;p&gt;[1] &lt;a href="https://www.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1648689305601674/?mibextid=Nif5oz" target="_blank"&gt;Posting Bang Andrew&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
		 &lt;/div--&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#aiglDuniaFanaCeleng&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 21 Februari 2023 21:56 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berbagi Natal</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/01/berbagi-natal.html</link><category>interfidei</category><category>sosialita</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 22 Jan 2023 12:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-6014744914161621252</guid><description>&lt;title&gt;Berbagi Natal&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITB.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="576"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITB.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Penampilan Anak-anak Berkebutuhan Khusus&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Keindahan kehidupan tercermin dari keselarasan dan kepedulian, khususnya
  antarmanusia. Berlimpah karunia Tuhan bagi alam semesta yang layak dibagi
  kepada semua.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Menjadi sangat luar biasa ketika suka cita kita dalam
  &lt;b
    &gt;Perayaan Natal Bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB)&lt;/b
  &gt;
  pada tanggal 21 Januari 2023 kemarin diwarnai kehadiran anak-anak berkebutuhan
  khusus (ABK) yang berbagi kegembiraan memuliakan Tuhan melalui penampilan
  kesenian dan kreativitas. Melalui mereka kita diingatkan menjadi manusia yang
  tak henti bersyukur walau dalam segala keterbatasan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Perayaan kali ini memiliki misi berbagi dengan mereka yang oleh Tuhan
  dianugerahi keistimewaan sebagai ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Untuk itu,
  IA-ITB membuka pintu dukungan pelayanan bagi mereka melalui rekening donasi:
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITBFlyer.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="1080"
      data-original-width="1080"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Natal2022IAITBFlyer.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div class="cite"&gt;
  &lt;ul&gt;
    &lt;li&gt;Bank Mandiri xxxxxxxxxxxxx&lt;br /&gt;(a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;/li&gt;
    &lt;li&gt;Bank BCA xxxxxxxxxx&lt;br /&gt;(a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;/li&gt;
  &lt;/ul&gt;
  &lt;p&gt;* &lt;i&gt;mohon tambahkan angka 25 pada akhir nominal&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;yang akan disampaikan kepada:&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Yayasan HOPE&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Yayasan Tri Asih&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;
  Kiranya suka cita kita menyambut kasih Allah yang terwujud melalui kedatangan
  Anak-Nya kian bermakna melalui kepedulian pada mereka yang merindukan cinta
  kasih sesama.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salam Natal bagi kita semua.&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jl. H. R. Rasuna Said, RT.2/RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12940, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2222187 106.8330759</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-18.894228284169728 71.676825900000011 6.4497908841697287 141.98932589999998</georss:box></item><item><title>Yayasan Bhakti Luhur</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2023/01/yayasan-bhakti-luhur.html</link><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Thu, 19 Jan 2023 17:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-309226102639450303</guid><description>&lt;title&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/title&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a
    href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg"
    &gt;&lt;img
      src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg=s320"
      border="0"
      alt=""
      id="BLOGGER_PHOTO_ID_7623362901253328690"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;b&gt;Yayasan Bhakti Luhur&lt;/b&gt; adalah lembaga sosial swasta yang menangani dan
  melayani lebih dari 500 anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) baik fisik maupun
  mental, yatim piatu, miskin, dan telantar. Banyak dari mereka yang bahkan tak
  tahu lagi keberadaan keluarganya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Melalui yayasan ini para ABK belajar berbagai keterampilan, seperti membuat
  aneka olahan makanan ringan, bercocok tanam, kesenian, dan lain-lain.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Keterbatasan penglihatan (tuna netra), pendengaran (tuna rungu), komunikasi
  verbal (tuna wicara), anggota tubuh (tuna daksa), maupun mental (&lt;i
    &gt;down syndrome, autis&lt;/i
  &gt;) tidak menghalangi mereka untuk memuji Tuhan melalui nyanyian, permainan
  angklung, serta tarian.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukankah sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang sangat istimewa?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Mari bersama kita dukung mereka dalam
  &lt;b&gt;Kebaktian dan Perayaan Natal 2022 IA-ITB&lt;/b&gt; yang akan diselenggarakan
  pada:
&lt;/p&gt;

&lt;div class="orig"&gt;
  &lt;p&gt;
    &#128198; Sabtu, 21 Januari 2023&lt;br /&gt;
    &#128342; 10:00 WIB (GMT+7)&lt;br /&gt;
    &#127979; Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Karet Kuningan, Jakarta Selatan
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Pendaftaran kehadiran:&lt;br /&gt;
    &lt;a href="http://bit.ly/RSVP-NATAL-IAITB"&gt;http://bit.ly/RSVP-NATAL-IAITB&lt;/a&gt;
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;div class="cite xCtr"&gt;
  &lt;p&gt;
    Rekening donasi:&lt;br /&gt;
    &lt;b&gt;Bank Mandiri&lt;/b&gt; xxxxxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)&lt;br /&gt;
    &lt;b&gt;Bank BCA&lt;/b&gt; xxxxxxxxxx (a/n IKATAN ALUMNI ITB)
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;* tambahkan angka 25 pada akhir nominal.&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  * Mohon bantuan untuk meneruskan ke grup WA/FB/Telegram alumni yang lain.&lt;br /&gt;
  Terimakasih &#128591;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Kamis, 19 Januari 2023 17:21 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEgJ1Ud26lsiex2TwKlOrANHgyDtL3Ebk4-WH9Fa1wY_dE0QhulesGfpxYaPKqOOqVarSUKafZaJc8TbNNNWRQP_bLQGGg4utZvh0ibcYHGBVFoOSh5jST1CJq3nXFd3uW88oUT0xtHAElXJPnMAo8WCI-cLJRF5j5_WnviObMcMqDkRmVI4Uhg=s72-c" width="72"/><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Jl. HR Rasuna Said Kav C-22 Setiabudi Setiabudi Jakarta Selatan DKI Jakarta Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail RT.2, RW.5, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12920, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2222187 106.8330759</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-34.532452536178845 71.6768259 22.088015136178846 141.98932589999998</georss:box></item><item><title>Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/10/jus-enak-segar-dan-sehat.html</link><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 9 Oct 2022 21:46:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-3306024901760021862</guid><description>&lt;title&gt;Jus Enak, Segar, dan Sehat yang Amat Dipujikan&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusGolf.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="400"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="576"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/JusGolf.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;
    Jus segar dan enak sebagai sajian&lt;br /&gt;
    bagi para peserta turnamen golf&lt;br /&gt;
    di Damai Indah Golf, Bumi Serpong Damai
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Seminggu menjelang pelaksanaan turnamen golf yang diselenggarakan oleh alumni
  83 ITB, Renny Tamba, kawan panitia yang bertanggung jawab atas konsumsi
  menyampaikan,
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;"Lof, kita perlu jus nih buat para &lt;i&gt;golfer&lt;/i&gt;."&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;"Berapa banyak?"&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;"600 botol ukuran 200 ml."&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;"Sebentar ya, saya cari dulu."&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Alih-alih membuka aplikasi toko daring (&lt;i&gt;online&lt;/i&gt;), saya memilih
  bersilancar di Facebook Group (FBG) AIGL mencari
  &lt;i&gt;hestek&lt;/i&gt; #ngelapakday dan kata kunci "jus". Entah kenapa saya
  memprioritaskan membeli dari teman ketimbang toko &#128522;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketemulah posting lama Mbak Tantry Widiyanarti yang mempromosikan jus botolan
  dari buah segar, tanpa pengawet, yang keuntungan dari penjualannya
  disumbangkan bagi orang tak mampu. Hmm, sungguh menarik. Baiklah saya coba.
&lt;/p&gt;

&lt;!--p&gt;&lt;a href="https://m.facebook.com/groups/alumniitbgarislucu/permalink/1120148068455803/" target="_blank"/&gt;&lt;/p--&gt;

&lt;p&gt;
  Langsung saya kontak Mbak Tantry. Ternyata produsennya adalah tetangga Mbak
  Tantry yang beliau arahkan membuat jus ketika masa pandemi. Sayang sekali saat
  ini tidak lagi berproduksi karena banyak pembeli yang pembayarannya macet &#128532;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Kalau mau beli banyak kyknya bisa dikondisikan &#128517;", sambung Mbak Tantry
  membuka peluang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketika saya sampaikan kebutuhan 600 botol, maka terjadilah transaksi yang
  ditindaklanjuti oleh kawan saya. &lt;i&gt;Deal!&lt;/i&gt;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di hari pelaksanaan turnamen pada tanggal 8 Oktober 2022 di Damai Indah Golf
  BSD, itulah saat pertama saya menyicipi jus tersebut. Ada 4 varian yang kami
  pesan: jambu, mangga, jeruk, strawberry. Ah, dicoba saja semua &#128522;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Jusnya kental dan sangat terasa buahnya, bukan seperti jus imitasi. Rasa
  manisnya pun pas. Enak dan sungguh segar.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di &lt;i&gt;shelter&lt;/i&gt; tempat para pemain golf beristirahat sejenak, saya mencoba
  menggali testimoni para &lt;i&gt;usher&lt;/i&gt;, kawan-kawan panitia, maupun para pemain
  golf mengenai jus ini. Semua bilang enak. Malah &lt;i&gt;usher&lt;/i&gt; dan staf lapangan
  golf menanyakan bagaimana cara memesan jus ini karena di label botol tidak
  tercantum nomor kontak produsennya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Siangnya, saat para pemain golf berkumpul untuk makan dan mengikuti acara,
  terlihat masih banyak botol jus di tempat minuman. Tapi saya amati, banyak
  pemain yang bolak-balik mengambil beberapa botol sekaligus untuk dibawa ke
  mejanya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Seorang kawan pemain golf mengatakan, "Saya tidak makan nasi nih. Sudah cukup
  minum jus. Enak dan segar."
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Di penghujung acara, hanya tersisa sekitar selusin botol jus yang kemudian
  kami nikmati sambil berdiskusi. Dan 2 botol terakhir dibawa pulang oleh kawan
  panitia. Habis ludes tandas!
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sempat ada pemain golf dari pihak sponsor yang sengaja mendatangi meja kami
  hanya untuk menanyakan bagaimana mendapatkan jus itu. Tentu saja dengan senang
  hati kami memberikan nomor telepon produsennya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Mbak Tantry, tolong sampaikan pada tetangga yang membuat jus ini agar
  mempertahankan kualitas produksinya sehingga tidak mengecewakan ekspektasi
  mereka yang sudah mencicipi kenikmatannya kemarin. Siapa tahu berawal dari 600
  botol kemarin bisa bergulir pesanan melimpah. Amin &#128591;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="citex"&gt;
  Pada stiker label yang ditempel pada botol sebaiknya dicantumkan nomor kontak.
&lt;/p&gt;

&lt;table class="capt"&gt;
  &lt;tr&gt;
    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusVarian.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="361"
          data-original-width="720"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/JusVarian.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        Varian jus:&lt;br /&gt;1. Alpukat, 2. Jeruk, 3. Strawberry, 4. Mangga, 5.
        Sirsak, 6. Nenas
      &lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;

    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusTersedia.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/JusTersedia.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        Tersedia melimpah untuk dinikmati para pemain golf sambil makan siang
        dan menikmati acara hiburan.
      &lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;
  &lt;/tr&gt;

  &lt;tr&gt;
    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/JusCatat.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="576"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/JusCatat.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;
        Ada yang memuji serta mencari info produsen jus ini kepada kawan panitia
        yang adalah mantan orang nomor #1 di BUMN migas terbesar Republik ini &#128522;
      &lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;
  &lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;p class="tag"&gt;
  #UMKM #jus #WSA #NgelapakDay #IndahnyaBerbagi #golf #ITB83Berbagi
&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Minggu, 09 Oktober 2022 21:46 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Damai Indah Golf, Jl. Bukit Golf I BSD Sektor VI, Lengkong Karya, Kec. Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2815644000000006 106.6522315</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-34.591798236178846 71.4959815 22.028669436178845 141.8084815</georss:box></item><item><title>Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/09/saat-semesta-turut-campur.html</link><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sun, 18 Sep 2022 22:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-696234881925563852</guid><description>&lt;title&gt;Saat Semesta Turut Campur Menghibahkan Energi&lt;/title&gt;

&lt;div class="cite"&gt;
  &lt;p&gt;
    Sebenarnya sih sampai sekarang saya masih tak begitu paham makna dan batasan
    jelas "&lt;i&gt;once upon a time&lt;/i&gt;" dalam celeng ini. Apakah kejadian di masa
    puluhan tahun lalu ataukah bisa juga yang terjadi beberapa menit yang lalu?
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Apa pun itu, kisah berikut adalah "suatu momen dalam waktu" yang memberi
    kesan dan pesan sangat dalam bagi saya. Namanya juga subjektif, ya bebaslah
    mengartikannya &#128513;
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/AtomicEnergy.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="574"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/AtomicEnergy.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;
    Atomic energy universe creation&lt;br /&gt;
    &lt;a
      href="https://pixnio.com/media/atomic-energy-universe-creation-illustration-big-bang"
      target="_blank"
      &gt;pixnio.com&lt;/a
    &gt;
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Beberapa minggu belakangan ini terasa sekali kejenuhan kian kejam merangsek ke
  seluruh aspek keseharian saya. Biasanya kondisi seperti ini bisa sedikit
  dinetralkan dengan ngopi &#127861; [atau lainnya, seperti &#127867; &#127863; &#129347; &#128521;] bersama kawan,
  yang tentunya dalam situasi hangat disertai perbincangan menggembirakan hati
  (bukan harus lucu melainkan yang membuat rasa dan pikiran menggeliat hidup).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ya, tepat sekali, energi pemulihan kerap saya peroleh dari kebersamaan dengan
  kawan-kawan.
&lt;/p&gt;

&lt;h2&gt;1&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;
  Entah semesta mendengar keluh hati saya, tiba-tiba saja pada tanggal 9
  September 2022 pukul 21:53 Bang Andrew Simbolon berkabar melalui WhatsApp
  Group (WAG) bahwa dia akan berada di Bandung dari tanggal 15 sampai 17 nanti.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Walau sesama anak Mesin, selisih 15 angkatan tentunya mereduksi habis peluang
  kami bertemu di kampus. Begitu pula dari sisi profesional maupun personal, tak
  ada alasan yang mempertautkan relasi kami.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Semua ini semata-mata karena AIGL yang menjumpakan kami pertama kali di BSD,
  23 Februari 2020, atas prakarsa Mas Eko Jatmiko Utomo. (Di sini juga pertama
  kali saya berjumpa Evi Eleanora Oscar, Mesin 1999.)
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya periksa agenda, ternyata tak ada acara khusus di 15 September. Maka, saya
  pun menyanggupi untuk ke Bandung.
&lt;/p&gt;

&lt;h2&gt;2&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;
  Tak dinyana, 4 hari kemudian di WAG Kelas 3B5 SMAN 3 Bandung muncul ajakan
  berjumpa di Bandung sehubungan dengan mudiknya Dian Hadi dari Bristol,
  Inggris.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Dian adalah salah satu dari sedikit murid perempuan di kelas kami saat itu.
  Semenjak wisuda SMA, tak pernah saya berjumpa dengannya. Gilanya lagi, saat
  saya menjadi Ketua Panitia Reuni 30 Tahun ITB Angkatan 1983, baru saya tahu
  bahwa Dian adalah alumni Teknik Arsitektur '83 di ITB. Tepok jidat banget deh
  atas kealpaan saya yang fatal ini &#129318;‍♂️
&lt;/p&gt;

&lt;h2&gt;3&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;
  Bertepatan saya ada keperluan terkait beberapa prinsip dasar pendidikan
  tinggi, teringatlah pada Mas Ahmad Syamil Full, kawan sekelas di Mesin 83 dan
  pendekar silat Perisai Diri (colek Mas Chandrasa Sedyaleksana) yang menjadi
  Dekan di BINUS. Maka saya pun mengontak Mas Syamil pada tanggal 14 September
  guna meminta waktu audiensi.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  &lt;i&gt;Ndilalah&lt;/i&gt; Mas Syamil berkabar bahwa dia sekarang bertugas di BINUS
  Bandung. Permohonan saya disambut cukup antusias, bahkan diatur waktunya pas
  jam makan siang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sebenarnya sudah sangat lama pula saya tak berjumpa dengannya. Semenjak lulus
  ITB, Mas Syamil melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat hingga Doktor dan
  kemudian melanglang seantero Negeri Paman Sam sebagai Profesor pengajar di
  berbagai universitas ternama.
&lt;/p&gt;

&lt;h2&gt;4&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;
  Rabu sore saya ada jadwal bertemu dengan Mas Gembong Primajaya di Sekretariat
  IA-ITB. Sehabis diskusi (sebagaimana lazimnya berlangsung akrab dan intens
  dengan berbagai perspektif), Mas Gembong bilang bahwa besok pagi dia akan ke
  Bandung.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ketika saya katakan bahwa saya pun akan ke Bandung, serta merta Mas Gembong
  mengajak barengan. Persis pula waktunya pagi hari sesuai rencana saya.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;***&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Tampak benar semesta demikian peduli. Jika bisa dibilang sebagai keajaiban,
  mungkin ini salah satunya. Semua pihak seakan bersekongkol memberi kesempatan
  untuk menuntaskan berbagai rencana pada hari yang sama.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kamis pagi tanggal 15 September saya pun berangkat ke Bandung berdua Mas
  Gembong. Tak sampai 2 jam perjalanan, kami tiba di rumahnya di Kota Baru
  Parahyangan. (Berkendara dengannya menimbulkan sensasi ala
  &lt;i&gt;Fast and Furious&lt;/i&gt; &#128513;).
&lt;/p&gt;

&lt;div id="fullpost"&gt;
  &lt;p&gt;
    Mas Gembong mengajak saya sarapan dulu. Tetapi tak lama setelah kami turun
    dari mobil, Ale, putera Mas Gembong berpamitan mau ke Bandung untuk kuliah.
    Saya putuskan untuk ikut Ale saja agar bisa segera bertemu kawan-kawan SMA
    yang menjadwalkan pertemuan jam 10 pagi. Walau agak sedikit lapar, urusan
    sarapan bisa diaturlah nanti di Bandung ...
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Sepanjang perjalanan, kami ngobrol santai.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Ale ternyata kuliah di Jurusan Material di Fakultas Teknik Mesin dan
    Dirgantara (FTMD) ITB, sementara saya dan ayahnya adalah alumni Lab
    Metalurgi. Sontak muncul pertautan rasa akrab walau usia terpaut cukup jauh.
    Bisa jadi molekul logam dalam diri kami langsung bergetar dan
    berinterferensi harmonis &#128522;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Barangkali itu pula sebabnya Ale tak sungkan menanyakan bagaimana kiprah
    ayahnya selama kuliah. Hahahaha ... Ini situasi yang membuat saya kagok &#129315;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Dengan singkat saya jawab bahwa ayahnya sama normalnya dengan kawan lain
    pada zamannya, yakni &lt;i&gt;bangor&lt;/i&gt; dan gaul selain tetap melaksanakan
    kewajiban belajar &#129315; Saya bilang juga ada hal luar biasa pada diri ayahnya
    yang ternyata sangat berguna di masa sekarang, yakni solidaritas tanpa
    pamrih dan keluasan jejaring pertemanan tanpa batas. Ale tertawa-tawa
    mendengar penuturan saya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Ale menurunkan saya di kafe Hummingbird di Jalan Progo. Tepat berbarengan
    dengan tibanya kawan-kawan lain, termasuk Dian. Langsung kami terlibat dalam
    perbincangan seru. Apalagi kalau bukan nostalgia semasa SMA berikut
    bunga-bunga kenakalan masa remaja &#128513;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekian puluh tahun tak jumpa mereka (kecuali dalam reuni besar yang sangat
    jarang) tidak membuat kami kikuk. Namun kealpaan saya menjalin tali
    silaturahmi tak menjadi pengurang keakraban. Malah suasana jadi seru karena
    saling mengingatkan drama-drama di kelas dahulu. Orang Jawa bilang,
    &lt;i&gt;gayeng&lt;/i&gt;. Beruntung pula saya tak menjadi sasaran tembak sebagai
    satu-satunya lelaki di antara para perempuan ...
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama kemudian, Neng Nurul 'uyuy' Akriliyati bergabung. Uyuy adalah
    sahabat Dian saat di Inggris. Tentu saja hal ini menjadi kejutan yang
    menyenangkan bagi kawan-kawan karena kami berbeda 8 angkatan di SMA. Namun
    hal itu sama sekali bukan hambatan dalam membangun suasana cair dan hangat.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar pukul 12.30 saya berpamitan untuk menemui Mas Syamil di BINUS.
    Dengan menggunakan Go-Jek saya bisa tiba di kawasan Pasir Kaliki dengan
    cepat.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak lama kemudian saya dan Mas Syamil sudah duduk menyantap sop dan sate
    kambing sambil berbincang-bincang. Begitu banyak informasi yang
    disampaikannya mengenai pernak-pernik perjalanan hidupnya sebagai tenaga
    pendidik yang membuat saya cukup tercengang kagum. Malah akhirnya tujuan
    awal saya menemuinya jadi tergusur karena lebih asyik menyimak penuturannya
    (sesuai dengan sifat saya yang pendiam dan pemalu serta pendengar yang baik
    namun pelupa) &#129315;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar jam 15 kami pun berpisah. Saya bergegas menuju kafe Dakken di Jalan
    Riau untuk memenuhi janji berjumpa dengan Bang Andrew. O ya, agar tidak
    mengundang kecurigaan bahwa antara kami ada hubungan yang tak lazim,
    pertemuan ini pun akan disaksikan oleh Neng Siesca Roselinda &#128522;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Bang Andrew dan Neng Siesca berkabar bahwa mereka baru bisa datang lebih
    sore dari rencana. Tak masalah. Saya sedang dalam &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; yang sangat
    bagus. Energi saya cukup memadai karena baru di-&lt;i&gt;charge&lt;/i&gt;
    dari 2 perjumpaan yang menyenangkan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar pukul 17 lewat, Bang Andrew tiba di TKP dengan wajah sangat segar
    berseri-seri. Tampaknya semua urusan dan rapat mendadaknya siang tadi
    berlangsung baik. Syukurlah ... &#128591;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Kami pun langsung berbincang sambil mengudap. Lucu memang AIGL ini, semua
    berlangsung lancar tanpa hambatan kesungkanan. Persis kawan lama saja (yang
    tentunya tetap mengindahkan tata krama sewajarnya).
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tak berapa lama kemudian, Neng Siesca tiba. Makin seru jadinya. Namun tak
    perlulah diuraikan di sini apa topik obrolan kami. Nanti tulisan yang sudah
    panjang ini jadi semakin panjang.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar jam 21 kami terpaksa angkat kaki karena restoran mau tutup. Saya dan
    Neng Siesca diantar oleh Bang Andrew ke &lt;i&gt;pool&lt;/i&gt; CitiTrans di Dipati Ukur
    karena Siesca mau mengirim paket.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Semula saya berencana mau langsung pulang ke Jakarta. Tetapi sore tadi
    seorang kawan berusul untuk haha-hihi keesokan hari. Nanggung juga sudah di
    Bandung, sekalian saja menginap supaya besok bisa dapat tambahan asupan
    energi lagi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sehabis berpisah dengan Neng Siesca, saya pindai data di HP untuk mencari
    kawan yang bisa diajak mengisi waktu sambil menantikan munculnya rasa
    kantuk. Maka berjumpalah saya dengan kawan semasa SMA untuk bernostalgia
    gembira sambil menikmati sajian malam yang berlimpah di seputaran Jalan
    Dipati Ukur.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar pukul 3, kantuk mulai merongrong. Dengan menggunakan aplikasi di HP,
    saya memesan hotel di kawasan Dago. (Drama tentang hotel ini saya lewatkan
    saja karena perlu posting tersendiri &#128513;).
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tidur sekitar 4 jam sudahlah cukup. Jam 8 pagi lewat sedikit, saya sudah
    siap jalan. Janji bertemu kawan di Bandung Trade Center Jalan Dr. Djundjunan
    pun bisa terpenuhi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tanpa banyak cakap, kami pun berangkat ke kawasan Bandung Selatan. Tak saya
    sangka bahwa daerah ini berkembang pesat dalam bidang pariwisata (bisa jadi
    bukan pesat tapi karena saya sudah sangat lama tak melihat perkembangan di
    sana). Akses yang bagus ditambah ketersediaan jalan tol, tempat kuliner yang
    tersebar di mana-mana, dan tentunya objek wisata yang bagus serta punya
    keunikan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Dan yang cukup mengejutkan saya adalah adanya tempat penangkaran rusa. Tidak
    pernah terpikir ada tempat seperti ini sehingga tak pernah berhasrat main ke
    daerah ini. Rupanya Bandung Selatan tak kalah dibanding Bandung Utara
    (Lembang dan sekitarnya). Sungguh mengagumkan. Hebat!
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Pak Aep yang menjadi penjaga tempat penangkaran rusa bercerita bahwa
    populasi rusa yang asalnya hanya 2 sampai 4 ekor, kini sudah menjadi
    puluhan. Kalau tak salah 90-an, dengan jumlah betina lebih banyak. Artinya,
    kian besar peluang meningkatnya jumlah rusa.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Pak Aep juga menyampaikan bahwa di kawasan situ masih ada macan kumbang dan
    macan tutul. Wah, sebuah kabar yang menggembirakan bahwa spesies langka ini
    masih belum punah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Usai bermain dengan rusa yang jinak namun agak jahil, kami mampir sejenak di
    Kafe Bahtera yang kerap disebut Pinisi. Sejauh pandang terlihat kabut turun
    perlahan menyelimuti hutan dan jalan. Begitu indah sekaligus mistis. Terasa
    dingin. Tapi perbincangan kami sedemikian hangat ditingkah kopi, wedang
    ronde, dan pisang bakar keju.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sekitar jam 16 saya diantar ke pangkalan &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; di Pasteur untuk
    kembali ke Jakarta. Terasa sekali kantung energi saya melimpah sehingga
    sanggup melunturkan tumpukan kejenuhan yang mendera belakangan ini.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;***&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Amat nyata terbukti bahwa pertemanan polos tanpa agenda tersembunyi akan
    sedemikian kuat mendukung ketahanan mental. Begitu pula kehendak yang kuat
    dibalut kepasrahan, akan merintis jalan bagi semesta untuk turut campur.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Sungguh, saya sangat bersyukur memiliki kawan-kawan seperti ini. Mengalir
    saja seturut hati. Tanpa mereka sadari, 2 hari di Bandung merupakan momen
    yang sangat berarti bagi saya. Menjadi proses penyembuhan yang luar biasa
    ampuhnya. Istilah zaman now, &lt;i&gt;healing&lt;/i&gt;.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="fot"&gt;
    To all of you, my dear friends, I can only say thank you and I love you &#128149;
  &lt;/p&gt;

  &lt;!-- p&gt;Colek para jurig celeng AIGL yang pastinya sangat paham mengenai indahnya pertemanan: Bang Fernando Tampubolon, Ma'e Nenden Agustina, Téh Pepy Febriany, Papa Jenggo Radjawali, Om Ashrul Iskandar.&lt;/p --&gt;

  &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

  &lt;p class="datex"&gt;
    &#128204; Minggu, 2 menit menjelang berakhirnya tanggal 18 September 2022 &#127760;
  &lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Bandung, Bandung City, West Java, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.9174639 107.6191228</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-35.227697736178847 72.4628728 21.392769936178844 142.7753728</georss:box></item><item><title>Hikayat Tujuh Purnama</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/09/hikayat-tujuh-purnama.html</link><category>imaji</category><category>perempuan</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 3 Sep 2022 21:58:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7749472321919092234</guid><description>&lt;title&gt;Hikayat Tujuh Purnama&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/Hikayat7Purnama.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="320"
      data-original-height="1208"
      data-original-width="967"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/Hikayat7Purnama.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Tak sekejap pun diangkatnya wajah untuk menatapku yang duduk tak sampai 1
  meter di depannya meski beberapa kali kulambaikan tangan sebagai isyarat
  memohon perhatian. Matanya tanpa jeda tertuju pada layar laptop di hadapannya
  yang tampak sedemikian penting tinimbang keberadaanku.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Masih sanggup untuk kutahankan&lt;br /&gt;
  Meski telah kau lumatkan hati ini&lt;br /&gt;
  Kau sayat luka baru di atas luka lama&lt;br /&gt;
  Coba bayangkan betapa sakitnya
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Nyaris seperempat hari penuh aku terhenyak laksana pengidap kusta atau mungkin
  seonggok nista yang tak layak dipandang sebagai manusia. Perbincangan
  pendek-pendek yang terasa amat dipaksakan pun hanya meruapkan dalih keengganan
  menyimak, konon pula menjelaskan. Belum pernah sebelumnya dalam hidup kualami
  penihilan setelak ini. Hampa mutlak. Kehilangan segala.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Hanya Tuhanlah yang tahu pasti&lt;br /&gt;
  Apa gerangan yang bakal terjadi lagi&lt;br /&gt;
  Begitu buruk telah kau perlakukan aku&lt;br /&gt;
  Ibu menangislah demi anakmu
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Bertimbun kisah yang ingin kututurkan gamblang. Tentang ikhtiar dan kegagalan
  yang mendera belakangan ini, yang memantik anggapannya bahwa aku berubah. Tak
  diketahuinya liku petaka yang meluluh lantakkan sebentuk mimpi di mana dirinya
  tertahbis sebagai episentrum ruang benderang setelah kukibas ragam janji dan
  pesona yang kutengarai bisa menggerus arti hadirnya.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Sementara aku tengah bangganya&lt;br /&gt;
  Mampu tetap setia meski banyak godaan&lt;br /&gt;
  Begitu tulusnya kubuka tanganku&lt;br /&gt;
  Langit mendung gelap malam untukku
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Genap satu purnama aku dihempas ke nadir ngarai gulita. Tak kusua secercah pun
  petunjuk untuk memahami amarahnya bahwa aku tak lagi seperti yang dulu, yang
  tak pernah palingkan pandang darinya, sehingga dibulatkannya tekad hengkang
  membawa luka menganga tanpa menyisakan peluang bagiku mengurai kebuntuan yang
  dirangkainya.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Ternyata mengagungkan cinta&lt;br /&gt;
  Harus ditebus dengan duka lara&lt;br /&gt;
  Tetapi akan tetap kuhayati&lt;br /&gt;
  Hikmah sakit hati ini&lt;br /&gt;
  Telah sempurnakan kekejamanmu
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Setiap kata yang kuutarakan senantiasa ditepis ujar menggentarkan, "Tidak
  perlu dibahas lagi!". Membuatku gagap bagai seorang pandir minim kosa kata.
  Serta-merta kusadari tak guna berupaya menata ulang ruang yang telanjur retak.
  Dan sejurus kemudian aku sudah tercenung di tepi jalan dengan terawang kosong.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Petir menyambar hujan pun turun&lt;br /&gt;
  Di tengah jalan sempat aku merenung&lt;br /&gt;
  Masih adakah cinta yang disebutkan cinta&lt;br /&gt;
  Bila kasih sayang kehilangan makna
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Kendati demikian, sebentuk rasaku padanya, yang kubopong cermat sejak tengah
  malam tadi, kukuh bergeming. Tak satu serpih pun kikis walau kini berlumur
  jelaga dan sayatan teramat perih. Kepasrahan menerima segala risiko telah
  bangkitkan keteguhan, "Akan kurawat ruang benderang di relung hatiku walau
  kini kosong tanpa dirinya bertahta di mahligainya." Entah satu masa nanti
  tatkala kearifan ataupun nestapa meraja secara paripurna.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="song xCtr"&gt;
  Ternyata mengagungkan cinta&lt;br /&gt;
  Harus ditebus dengan duka lara&lt;br /&gt;
  Tetapi akan tetap kuhayati&lt;br /&gt;
  Hikmah sakit hati ini&lt;br /&gt;
  Telah sempurnakan kekejamanmu
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sekarang aku hanya ingin pulang ke titik perdana di mana dapat kuresapi
  segenap nada subtil perbincangan selewat tengah malam, tempat bayangnya
  melintasi kenang dalam hening setajam belati.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="citex"&gt;
  ilham dari lagu
  &lt;a href="https://youtu.be/JMbuKAdjSOI" target="blank"
    &gt;Seberkas Cinta yang Sirna&lt;/a
  &gt;
  &amp;#151; Ebiet G. Ade
&lt;/p&gt;

&lt;div class="fot"&gt;
  &lt;p&gt;
    Dahulu sempat populer suatu proses kreatif yang dinamai "musikalisasi puisi"
    dengan Ebiet G. Ade sebagai salah satu tokohnya. Di sini saya coba terapkan
    pembalikannya menjadi "prosaisasi lagu" &#128516;
  &lt;/p&gt;
  &lt;!--p&gt;Inilah hasilnya setelah jungkir balik beberapa lama. Sebuah mosaik peristiwa yang saya persembahkan kepada Dewan Juri nan arif serta budiman: Om Ashrul Iskandar, Bang Fernando Tampubolon, Papa Jenggo Radjawali, Ma'e Nenden Agustina, dan Neng Pepy Febriany. Kiranya berkenan ??&lt;/p--&gt;

  &lt;!--p&gt;O ya, perlu juga saya sampaikan untuk tak hiraukan foto yang menjadi sampiran. Tak usah pula mereka-reka sosok serta saat kejadiannya, sebab kesamaan cerita hanyalah kebetulan yang tak kuasa dihindari &amp;#128513;&lt;/p--&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;!--p&gt;#Love ?? #Forever ? #LoveHurts&lt;/p--&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 03 September 2022 21:58 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pertamakalinya Tak Perlu Ulang Sebut Nama</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/pertamakalinya-tak-perlu-ulang-sebut.html</link><category>kuliner</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Wed, 31 Aug 2022 23:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-1808374702955711842</guid><description>&lt;title&gt;Pertamakalinya Tak Perlu Ulang Sebut Nama&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/DonorKopi.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="576"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/DonorKopi.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Usai donor darah, mampir sejenak ke St*rb*cks untuk ngopi. Baru kali ini
  petugas di bagian pemesanan bisa menangkap jelas nama yang saya sebutkan tanpa
  harus mengulang. Padahal saya pakai masker. Mungkin nama saya memang pasaran,
  sehingga tidak salah tulis &#128516;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bang Toha eh Bang Togap Siagian keknya perlu ganti nama deh ... &#128513;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Terpikir mau memesan kopi ala Bu Nenden's Special tapi khawatir mereka bingung
  meraciknya. Ya sudah, apa adanya sajalah sesuai yang tertera dalam menu.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime #donordarah #ngopi&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; 31 Agustus 2022 23:26 &#127760; Depok&lt;/p&gt;
</description><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Margo City, Jl. Margonda Raya No.358, Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16423, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.372967 106.8344235</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-15.09875389225423 98.045361 2.3528198922542307 115.623486</georss:box></item><item><title>Vantage Point [1]</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/vantage-point-1.html</link><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Tue, 30 Aug 2022 00:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-2055724236377931445</guid><description>&lt;title&gt;&lt;i&gt;Vantage Point&lt;/i&gt;&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; Exactly A Year Ago: 20210829&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  "Berangkaaaat," menyeruak teks di WhatsApp. Tertera nama Siesca Roselinda dan
  angka 05:12 pada tanggal 29 Agustus 2021.
&lt;/p&gt;

&lt;div class="captr"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/LondonEye.jpg" title="London Eye"&gt;
    &lt;img
      alt="London Eye"
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="683"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/LondonEye.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Siang ini saya menunaikan janji kencan segitiga dengan Neng Siesca yang datang
  dari Bandung karena ada urusan ke Jakarta serta dengan Ito Lucianna Tobing
  yang terkena jadwal piket ngantor setengah hari. Cilandak Town Square alias
  Citos disepakati secara aklamasi sebagai
  &lt;i&gt;rendezvous&lt;/i&gt; selewat tengah hari.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sekitar jam 13 saya masuk area mal terlaris di kawasan Jakarta Selatan setelah
  hampir gagal memindai &lt;i&gt;QR code&lt;/i&gt; PeduliLindungi.id.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Nyaris berbarengan, Ito Luci tiba. Setelah berbasa-basi sejenak, kami
  berkeliling mencari tempat paling nyaman untuk makan dan ngobrol (dan tentunya
  harus aman karena beberapa topik bahasan tergolong rahasia kelas A1 &#128540;).
  Akhirnya pilihan jatuh pada resto Sate Senayan di lantai 2 yang agak memencil.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ini adalah pertemuan ketiga kami. Pertama, saat kopdar perdana AIGL di Janji
  Jiwa (Cibubur, 21 September 2019). Saat itu saya belum berani bertegur sapa
  dengannya. Maklumlah, saya kan pemalu dan pendiam, sedangkan Ito Luci sedang
  &lt;i&gt;moncer&lt;/i&gt; reputasinya sebagai selebritas papan atas AIGL.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Pertemuan kedua, ketika dijamu makan siang di rumah Mbak Jane dan Mas Gapit
  (Alam Sutra, 16 Agustus 2020), yang juga dihebohkan oleh rombongan Lae Ecko,
  Bang Nelson, Ito Mei, serta Mbak Arik, di bawah asuhan Mamak Lindes.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Pembawaan Ito Luci yang supel membuat saya nyaman berbincang tanpa repot
  menata kata. Apalagi dia tipe blak-blakan sehingga kami kian tak sungkan
  mengulas rinci berbagai hal, mulai dari dinamika yang terpapar di AIGL sampai
  pernak-pernik kehidupan yang menyentuh ruang privat.
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Bang alof nih kalau nanya gak pakai tedeng aling-aling banget sih? Main tembak
  aja kayak sedang interogasi maling jemuran. Yang ditanyain sih emang wajar
  kalau antara kawan akrab. Lha, kita kan baru kenal dan baru sekarang ngobrol
  dekat. Tapi emang sih kayak sudah akrab.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Mudah-mudahan aja dia gak ember. Ngakunya sih lupaan. Sekarang diceritain,
  besok juga sudah gak ingat. Ya udah, anggap aman aja deh &#129330;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Kurang-lebih 15 menit baku tukar cerita, Neng Siesca pun muncul. Inilah
  perjumpaan pertama kami dengannya.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Ternyata bawaannya 11-12 dengan Ito Luci. Meriah, ceria, dan penuh canda.
  Keseruan ngobrol pun meningkat kian hangat. Tak sampai bermenit-menit, kami
  sudah lancar berhaha-hihi membahas berbagai topik yang sedang
  &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; maupun yang sudah basi tapi bisa didaur ulang &#128522;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Sebagai anak Mesin/FTI 83 yang terkenal pemalu dan pendiam, amatlah mustahil
  membayangkan bisa berkarib dengan Ito Luci (Arsitektur/FTSP 92) apalagi Neng
  Siesca (Kimia/FMIPA 97). Telak berbeda jurusan dan fakultas, serta lumayan
  jauh selisih angkatannya (tak perlu dipertegas bahwa hal ini berkorelasi
  langsung dengan usia &#128541;).
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Terhadap Ito Luci terpaut nyaris 1 dekade, sedangkan dengan Neng Siesca hampir
  2 windu. Artinya, saat saya sudah pegang KTP untuk nonton film dewasa, Ito
  Luci sedang seru-serunya main congklak dan Neng Siesca masih rewel bawel
  sebagai batita &#129315;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Namun, nyatanya, komunikasi meluncur mulus. Kami bisa ketawa-ketiwi, mikir
  serius maupun bengong bersama tanpa ragu. Asalkan bukan soal drakor atau grup
  BTS, saya masih bisa nimbrung.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Patut saya menjura takzim atas kesaktian AIGL yang dengan sekali kibas mampu
  meluruhkan berbagai sekat dan tingkat sehingga keakraban para anggotanya
  sangat mudah terjalin walau belum pernah bertemu sebelumnya. Salut!
&lt;/p&gt;

&lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;
  Unik juga konektivitas ala AIGL. Gak pernah ketemu di kampus Ganesha saat
  kuliah tapi tetap aja ada bahan yang bikin obrolan nyambung.
&lt;/p&gt;

&lt;div id="fullpost"&gt;
  &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Sambil menyantap makanan, saya ceritakan "gangguan" yang saya alami selama
    menyepi sendiri di sebuah rumah besar yang kosong dalam rangka
    berkonsentrasi menyunting buku. Serta-merta topik pun beralih ke kawasan
    mistis yang mencekam.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Menurut &lt;i&gt;sense&lt;/i&gt; gue sih memang ada yang ganggu Bang alof. Apalagi dia
    kerjanya sering malam banget sampai pagi. Dan yang di-&lt;i&gt;edit&lt;/i&gt;
    adalah buku tentang eksorsis alias pengusiran setan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tapi ya gak sampai gimana-gimana juga sih. Paling banter denger suara
    gedebak-gedebuk di loteng atau suara air ngucur di belakang tempat duduknya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Lebih seru pengalaman gue dong berurusan dengan tokoh sakti Borneo &#128591;&lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Idih, sedang gak &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; banget deh bahas horor. Mending gue alihkan ke
    soal lain aja.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    "Nih ada &lt;i&gt;banana cake&lt;/i&gt; buat Bang alof dan Neng Siesca. Bikinan Abel,
    anak gue. Enak banget lho."
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Boleh dong sekali-sekali promosi hasil karya anak. Doain ya bisnisnya
    berkembang karena &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt;-nya memang di situ.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Waduh, gak kerasa udah hampir jam 16. Kudu balik ke Bandung euy supaya gak
    kemalaman sampai rumah. Kasihan Mimil ditinggal seharian. Gue mau pesan
    &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; dulu ya. Duh, padahal masih asyik pisan ngobrolnya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Perjumpaan yang semula dicadangkan hanya 2 sampai 3 jam terasa amat cekak.
    Meski baru pertama tapi serasa reuni antar sahabat lama yang tahunan pisah.
    Masih banyak yang antre ingin dicurahkan.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Mungkin sedang dihinggapi aura baik Malaikat Kanan yang murah hati, saya pun
    menoleh pada Ito Luci sambil nyeletuk tanpa mikir, "Apa kita ke Bandung
    aja?"
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Weits ... Tantangan Bang alof kayaknya seru juga. Sering banget kan acara
    yang pakai &lt;i&gt;plan&lt;/i&gt; malah gak jadi. Mendingan spontan eksekusi aja dah.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Langsung gue nyahut, "Ayo! Siapa takut?"&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Lagian hari ini gue sedang hepi karena tugas ngedandanin kantor sudah
    rampung dengan mengerahkan para staf.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Akhirnya kami pun sepakat mengantar Neng Siesca pulang ke Bandung. Walau
    hati kecil agak menyesal juga sih melempar ide ini karena pulangnya pasti
    sangat telat. Maklumlah, Mama bilang anak baik gak boleh pulang kemalaman,
    nanti digigit nyamuk. Tapi telanjur ajukan penawaran, pantang ditarik balik.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Di kisaran jam 18 kami hengkang dari Citos. Berhubung begadang malam
    sebelumnya, saya minta izin tidur sekitar 15 menit di jok belakang. Jadilah
    Ito Luci yang mengemudi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Bang alof payah ah ... Masak keluar dari Citos dia salah kasih arahan.
    Bukannya ke Bandung, eh malah menuju Depok. Kali emang ngantuk banget dia,
    jadi rada kusut memorinya. Lah, gue kan warga Bekesyong, mana hapal jalan di
    Jaksel.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Terpaksa muter dah. Dan setelah yakin berada di jalan yang benar menuju
    Cipularang, Bang alof langsung bobok di jok belakang. Untung aja gak pakai
    ngorok kayak Bang Toni P Sianipar di lobby hotel di DC.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Bisa-bisanya gue punya temen-temen rada sableng gini ... Baru pertama
    ketemu, main nekad nganter balik ke Bandung. Gue sih seneng aja ditemenin.
    Daripada gue dihipnotis sama penumpang lain di
    &lt;i&gt;travel&lt;/i&gt; terus diculik. Kasihan Mimil atuh. Iya, kan?
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Niat merem beberapa menit ternyata gagal total karena saya tak kuasa
    mengabaikan obrolan seru kedua perempuan yang duduk di depan. Diam-diam saya
    simak dan resapkan walau sadar sekali bahwa besok pun sudah lupa apa yang
    mereka bahas.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Setelah singgah sejenak di &lt;i&gt;rest area&lt;/i&gt; terdekat, giliran saya mengambil
    alih kemudi. Sepanjang jalan, proses tukar menukar informasi dan analisis
    terus berlangsung. Dan memang menakjubkan rupanya warna-warni kehidupan ini
    &#129315;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Puji Tuhan! Haleluya! Perjalanan santai berlangsung amat lancar. Dalam tempo
    kurang dari 3 jam, roda mobil sudah menjejak kota Bandung.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Mau ke mana nih kita? Lapar lagi euy."&lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Iya juga ya, kerasa lapar. Kayaknya kalori terkuras deras akibat kegairahan
    berdiskusi tak putus selama beberapa jam. Mana Bandung sedang dingin pula.
    Enak nih makan yang hangat-hangat.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;"Gimana kalau ke sate Hadori?"&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Gak pakai banyak cingcong, semua setuju.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Tapi ternyata sate Hadori tutup karena dagangannya sudah ludes. Untung aja
    di sebelahnya ada sate Sineureut yang kata orang malah lebih enak. Kami pun
    melipir ke situ.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;Emang enak nih satenya. Tapi ogah nambah. Malu euy ...&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Selesai makan, lanjut deh kita nganter Neng Siesca ke rumahnya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Mari nikmati sejuk Bandung di malam hari, serasa bernostalgia saat kuliah
    dulu. Tentu saja sambil melanjutkan obrolan kelas A1.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Bang alof nyetirnya selow amat. Kayaknya kekenyangan. Mudah-mudahan aja dia
    gak ngantuk. Mungkin perlu dikasih asupan kopi.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ SIESCA :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Lucu deh jadinya. Kan dari Bandung gue bawain kue Soes Merdeka buat mereka.
    Eh sekarang malah ikutan balik tuh kuenya ke Bandung &#128513;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    &lt;i&gt;Anyway, thanks&lt;/i&gt; berat ya, &lt;i&gt;friends&lt;/i&gt;. Kalian baik banget mau repot
    nganter gue pulkam. Bahagia rasanya hari ini.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ LUCI :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Unik. Baru juga kenal sama Neng Siesca tapi serasa udah sohib lama, kayak
    adik sendiri. Gak tega ngelepas dia balik sendirian. Ada untungnya juga Bang
    alof mau jadi supir kelas AKAP.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Such a wonderful day ...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

  &lt;p class="hrx"&gt;[ ALOF :&gt;&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;p&gt;
    Sehabis mengantar Neng Siesca, kami langsung putar arah kembali ke Jakarta.
    Nonstop tanpa mampir. Perjalanan juga selancar berangkat tadi. Dan sepanjang
    jalan ada saja bahan obrolan yang manjur untuk mengusir kantuk dan rasa
    sepi. Dan akhirnya kami tiba di Jakarta sekitar jam 1 dini hari.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Selamat ulang tahun yang pertama.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Semoga selalu sehat, bahagia, dan penuh cinta &#128591;&lt;/p&gt;

  &lt;!--p&gt;Mohon doa restu dari yang mulia para sesepuh persahabatan AIGL:&lt;/p&gt;
	  &lt;p&gt;Om Ashrul, Bang Fernando, Papa Jenggo, Téh Nenden, Neng Pepy. &lt;/p--&gt;

  &lt;p class="citex"&gt;
    Pernah tayang film berjudul &lt;b&gt;Vantage Point&lt;/b&gt; tentang penembakan terhadap
    Presiden Amerika Serikat yang ditinjau dari sudut pandang beberapa saksi.
    Cara bercerita seperti ini disebut &lt;b&gt;Rashomon Effect&lt;/b&gt;, karena
    pertamakali diterapkan oleh sutradara kreatif legendaris Akira Kurosawa
    dalam film Rashomon.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;
    Walau kisah fiksi ini amat jauh kelasnya dibanding kedua film di atas,
    bolehlah saya contek modusnya dengan sedikit modifikasi. Sila menikmati
    sebisanya.
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="fot"&gt;
    ini baru preambul yang akan disambung jika ada &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; &#128513;
  &lt;/p&gt;

  &lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime #friendship&lt;/p&gt;

  &lt;p class="datex"&gt;&#128204; Selasa, 30 Agustus 2022 00:56 &#127760;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Superman is NOT Dead!</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/superman-is-not-dead.html</link><category>kelana</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 13 Aug 2022 21:57:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-7427675250966932206</guid><description>&lt;title&gt;Superman is NOT Dead!&lt;/title&gt;

&lt;p class="sh1"&gt;&amp;#151; &lt;i&gt;The Legend Continues&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanBroken.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      height="320"
      data-original-height="642"
      data-original-width="475"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanBroken.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;&lt;i&gt;Broken Superman&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Menjadi pengayom, pelindung, pelayan, dan penegak hukum bagi masyarakat
  bukanlah pekerjaan mudah. Tak jarang malah terasa sebagai beban yang amat
  berat. Kalau gak percaya, coba saja tanya pada POLRI yang menurut ceritanya
  adalah institusi yang mengemban tupoksi tersebut &#128522;
&lt;/p&gt;

&lt;div style="clear: both;"&gt;&lt;/div&gt;

&lt;table class="capt"&gt;
  &lt;tr&gt;
    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanITB.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="768"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanITB.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;26 Oktober 2013&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;

    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanPisa.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="683"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanPisa.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;9 Maret 2016&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;
  &lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;p&gt;
  Setelah menerima estafet dari &lt;b&gt;Kal El&lt;/b&gt; alias Clark Kent di tahun 2013
  untuk mengamankan acara &lt;b&gt;Pulang Kampung Ikatan Alumni Mesin (IAM)&lt;/b&gt; di
  Aula Barat ITB dan terus berlanjut secara intens hingga terdampar di menara
  doyong Pisa tahun 2016, akhirnya saya putuskan berhenti.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Capek kali pun keluyuran ke sana ke mari padahal saya paling hobi rebahan.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;i&gt;Enough is enough!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;

&lt;!--p&gt;(Saya gak ingat ada di mana kaos ini sekarang &#129315;)&lt;/p--&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanDaniEl.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="1024"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/SupermanDaniEl.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;Dani El&lt;br /&gt;7 Juli 2022&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Beruntung ada seorang anak muda dari Jurusan Teknik Mesin ITB yang ternyata
  punya &lt;i&gt;passion&lt;/i&gt; yang sama. Apalagi dia ternyata amat lincah dan
  &lt;i&gt;enjoy&lt;/i&gt; lelarian ke segala penjuru. Maka logo keramat pun diemban oleh
  &lt;b&gt;Dani El&lt;/b&gt; alias Daniel Agung yang dari segala aspek tentunya lebih pas
  sebagai Superman &#128077;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Saya yakin tak seorang pun bisa membantah fakta ini walau tidak bisa
  dibuktikan CCTV.
&lt;/p&gt;

&lt;!--p&gt;Termasuk juga Dewan Jurig nan Kryptonite: Bang Fernando Tampubolon, Mak Nenden Agustina, Téh Pepy Febriany, Pak Jenggo Radjawali, Om Ashrul Iskandar. Yekaaaan, gaes ...&lt;/p--&gt;

&lt;p&gt;BTW, siapa lagi yang punya kaos dengan logo S legendaris ini?&lt;/p&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 13 Agustus 2022 21:57 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Tower of Pisa, Piazza del Duomo, 56126 Pisa PI, Italy</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">43.722952 10.396597</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">18.46543002124892 -24.759653 68.980473978751078 45.552847</georss:box></item><item><title>Satu Dekade Kesetiaan</title><link>http://solilokuifajar.blogspot.com/2022/08/satu-dekade-kesetiaan.html</link><category>jentera hari</category><author>noreply@blogger.com (~alof)</author><pubDate>Sat, 13 Aug 2022 21:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-21457155.post-4615711653539806322</guid><description>&lt;title&gt;Satu Dekade Kesetiaan&lt;/title&gt;

&lt;div class="captl"&gt;
  &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20160612.jpg"&gt;
    &lt;img
      alt=""
      border="0"
      width="320"
      data-original-height="576"
      data-original-width="1024"
      src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20160612.jpg"
  /&gt;&lt;/a&gt;
  &lt;p&gt;12 Juni 2016&lt;/p&gt;
&lt;/div&gt;

&lt;p&gt;
  Gawai Blackberry Bold (BB) seri 9900 Dakota yang saya miliki ini senantiasa
  menemani sejak rilis di Indonesia pada penghujung tahun 2011 dengan fenomena
  antrean pembeli. Walau beralih ke iPhone ataupun Android, saya tetap
  mengantungi mahakarya dari Canada (yang sayangnya gagal mempertahankan tahta
  di kerajaan ponsel cerdas). Minimal, benda ini bisa saya fungsikan sebagai
  alarm &lt;i&gt;wekker&lt;/i&gt;, pencatat waktu, ataupun kalender &#128513;
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Gara-gara fungsi istimewanya ini, dia mendapat gelar &lt;b&gt;jam BB&lt;/b&gt; dari
  kalangan kawan-kawan &lt;b&gt;Komunitas Musik ITB (KMI)&lt;/b&gt;.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa hubungannya dengan musik?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;
  Karena BB ini kerap menjadi alat bantu penghasil bukti dokumentasi betapa
  rajinnya kami berlatih musik dalam band &lt;b&gt;Dark of Musicology&lt;/b&gt; (band ITB 83
  non-festival alias untuk bergembira dan meluapkan ekspresi) hingga lewat
  tengah malam bahkan subuh (tradisi bulan puasa yang kami namai
  &lt;i&gt;sahur on the rock&lt;/i&gt; &#127925;&#127929;&#127908;&#128526;).
&lt;/p&gt;

&lt;table class="capt"&gt;
  &lt;tr&gt;
    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20170611.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20170611.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;11 Juni 2017&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;

    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20180601.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20180601.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;Tepat jam 00:00 WIB tanggal 1 Juni 2018&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;
  &lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;p&gt;
  Kini BB kebanggaan yang setia tersebut sudah pensiun karena perangkat lunaknya
  &lt;i&gt;error&lt;/i&gt; sedangkan saya sudah tak bersemangat melakukan
  &lt;i&gt;install&lt;/i&gt; ulang.
&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah anda pernah memiliki nasib sebagai salah satu pengguna BB?&lt;/p&gt;

&lt;table class="capt"&gt;
  &lt;tr&gt;
    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20190604.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          height="320"
          data-original-height="1024"
          data-original-width="576"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20190604.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;4 Juni 2019&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;

    &lt;td&gt;
      &lt;a href="https://solilokui.gt.tc/img/BB20220813.jpg"&gt;
        &lt;img
          alt=""
          border="0"
          width="320"
          data-original-height="576"
          data-original-width="1024"
          src="https://solilokui.gt.tc/img/BB20220813.jpg"
      /&gt;&lt;/a&gt;
      &lt;p&gt;13 Agustus 2022 setelah pensiun&lt;/p&gt;
    &lt;/td&gt;
  &lt;/tr&gt;
&lt;/table&gt;

&lt;p class="fot"&gt;
  Saya baru sadar, hanya 1 foto (terakhir) yang tidak diambil pada bulan Juni &#128562;
&lt;/p&gt;

&lt;p class="tag"&gt;#aiglOnceUponATime&lt;/p&gt;

&lt;p class="datex"&gt;&#128204; Sabtu, 13 Agustus 2022 21:48 &#127760;&lt;/p&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><georss:featurename xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">Z-One Studio, Jl. Yado 3 No.Z-1, RT.9/RW.2, Gandaria Utara, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12140, Indonesia</georss:featurename><georss:point xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-6.2541831 106.7892377</georss:point><georss:box xmlns:georss="http://www.georss.org/georss">-30.226737777459419 71.6329877 17.718371577459422 141.9454877</georss:box></item></channel></rss>