<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>This is the best day ever / Soyuzno's journal</title>
	
	<link>http://soyuzno.com/journal</link>
	<description>This is the best day ever is a (almost) daily journal, random ramblings and not-so-important writings of a creative and art direction, also a graphic designer in Tokyo.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Sep 2011 06:53:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Soyuzno" /><feedburner:info uri="soyuzno" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>Soyuzno</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><feedburner:browserFriendly>This is an XML content feed. It is intended to be viewed in a newsreader or syndicated to another site, subject to copyright and fair use.</feedburner:browserFriendly><item>
		<title>Finish line – Downhill from here</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/05/finish-line-downhill-from-here/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/05/finish-line-downhill-from-here/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 May 2010 09:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu sejak saya mulai menulis blog ini. Tadinya blog ini hanya sekedar blog-blog biasa saja. Mencatat makan apa hari ini, lagi ngapain, dan lain-lain. Ya, seperti layaknya blog. 
Kemudian sejak saya pindah ke Jepang, blog ini menjadi tempat untuk menyimpan dan berbagi cerita dengan menuliskan perjalanan hidup saya selama di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu sejak saya mulai menulis blog ini. Tadinya blog ini hanya sekedar blog-blog biasa saja. Mencatat makan apa hari ini, lagi ngapain, dan lain-lain. Ya, seperti layaknya blog. </p>
<p>Kemudian sejak saya pindah ke Jepang, blog ini menjadi tempat untuk menyimpan dan berbagi cerita dengan menuliskan perjalanan hidup saya selama di Jepang. Tentunya dengan harapan dapat bermanfaat bagi yang membaca, dan juga memberikan updet kabar saya bagi teman-teman di Indonesia. </p>
<p>Mulanya saya agak belagu menulis dalam bahasa Inggris. Ceritanya sih biar mendunia gitu :p.  Sampai pada suatu saat saya mengetahui kalau bos saya di kantor ternyata membaca blog saya juga. Saya kurang tau apa di Jepang semua bos punya hobi membaca blog karyawannya.</p>
<p><span id="more-316"></span>Lantas karena alasan privasi, saya mulai menulis dalam bahasa Indonesia. Ternyata menulis dengan bahasa ibu memang lebih mantap. Saya perhatikan cerita-cerita yang saya tulis semakin lama semakin panjang.</p>
<p>Seringkali kalau tidak saya tahan, akan kebablasan menjadi ribuan kata. Pada akhirnya <em>draft</em> tulisan tersebut harus saya babat disana-sini supaya tidak terlalu panjang. Selain itu saya juga perhatikan bahwa cerita saya jadi lebih berbobot. Tidak berat tapi menarik <em>*sekali-sekali memuji diri sendiri :p*</em>. Saya sering membaca kembali cerita-cerita yang lama dan saya menikmati cerita-cerita yang saya tulis.</p>
<p>Jumlah pengunjung juga mengalami peningkatan. Tidak seperti blog lain sih, pengunjung blog ini paling 20an sebulan. Rata-rata adalah blogger yang sempat saya tinggali jejak, dan saya memang jarang meninggalkan jejak dimana-mana. Jumlah yang ikutan nimbrung di kolom komentar juga meningkat perlahan. Dan saya senang sekali bisa mengenal banyak teman baru lewat blog ini. </p>
<p>Suatu ketika saya baru mengetahui kalau bos di perusahaan kedua juga senang membaca blog saya. Padahal beliau bule dan tidak mengerti bahasa Indonesia. Beliau bilang ingin belajar bahasa Indonesia karena penasaran dengan isi cerita saya yang sepertinya menarik serta banyak yang meninggalkan komentar (dan mayoritas perempuan).</p>
<p>Bos ketiga, si George Clooney, sama sekali tidak peduli dengan blog saya. Beliau seorang blogger terkenal, jadi tidak ada waktu untuk membaca blog yang nggak jelas dan nggak bermutu :p</p>
<p>Saya tetap menulis walaupun seringkali tidak bisa menjaga komitmen untuk menulis seminggu sekali. Semakin lama masa interval antar cerita menjadi semakin panjang. Tadinya sebulan ada dua tulisan, berubah menjadi dua bulan ada satu tulisan. Jumlah pembaca pun semakin menurun karena setiap kesini kok nggak ada cerita baru. Pasti bete berat. </p>
<p>Dengan tertatih saya terus paksakan menulis. Bukan karena saya tidak suka menulis, tapi mencari waktu untuk menulisnya itu <em>lho</em>. Biasanya di saat-saat tersebut saya akan mengganti tampilan supaya dengan suasana baru, diharapkan saya lebih semangat menulis. Tapi pengaruh tampilan baru itu biasanya hanya sesaat saja. Saya kembali malas :p</p>
<p>Beberapa saat setelah bergabung dengan Om dan Tante, saya baru tau kalau ternyata si Tante juga suka baca blog saya. Beliau lebih &#8216;niat&#8217; dibanding atasan-atasan sebelumnya karena artikel saya sampai diterjemahkan menggunakan perangkat lunak penterjemah.</p>
<p>Beliau selaku penulis memang senang membaca artikel-artikel dari penulis lain. Dan beliau mengatakan tulisan saya bagus <em>*ehem*</em> dan berencana untuk berkolaborasi dengan saya untuk menulis, karena beliau menganggap saya sebagai sesama rekan penulis. Tentu saya bangga sampai hidung saya kembang-kempis. Membayangkan berkolaborasi dengan penulis-penulis yang telah banyak mendapatkan penghargaan tentu sangat menyenangkan. </p>
<p>Eniwe, seperti yang kita ketahui bersama, saya sudah meninggalkan Jepang sekitar sebulan yang lalu. Sejak saat itu tidak ada cerita baru disini. Petualangan di Jepang sudah berakhir, sehingga saya pun sampai pada keputusan untuk menghentikan aktivitas di blog ini. Tentunya cerita-cerita yang sudah saya tulis akan tetap saya simpan disini sebagai bacaan ringan saat saya ingin bernostalgia kembali sambil ngopi dan makan coklat. Selain itu saya juga ingin cerita-cerita disini bisa menginspirasi atau sekedar menghibur pembaca-pembaca baru yang kebetulan nyasar kemari.</p>
<p>Tapi jangan kuatir. Saya merencanakan sebuah rumah baru untuk petualangan terbaru saya. Seperti biasa, saya <em>nggak</em> akan mengumbar alamat nya ke sembarang tempat :d. Saya berencana untuk membuatnya sedikit eksklusif, supaya tidak diusik oleh atasan-atasan yang dulu maupun yang sekarang. Jadi silakan tinggalkan pesan di kolom komentar di bawah ini atau mengirimkan email ke soyuzno/at/gmail/dot/com untuk mendapatkan pemberitahuan kapan dan dimana rumah baru dari blog saya :)</p>
<p>Terima kasih banyak saya haturkan atas kesetiaan para pembaca yang budiman dan budiwati yang selama ini mengikuti cerita-cerita saya yang ringan, nggak mutu, tapi bikin ketagihan <em>*memuji diri sendiri lagi :p*</em>. Sampai ketemu lagi ya! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/05/finish-line-downhill-from-here/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When the sun goes down – It’s time to go our separate ways</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/04/when-the-sun-goes-down-its-time-to-go-our-separate-ways/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/04/when-the-sun-goes-down-its-time-to-go-our-separate-ways/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 03:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2006, tepat di bulan ini, saya menjejakkan kaki pertama kali di Jepang. Pengalaman pertama tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan penuh keyakinan dan jumawa, saya bertekad untuk menaklukkan negeri sakura ini. Tekad tersebut terdengar wajar andai saja diucapkan di negara lain, sayangnya tidak berlaku di negara ini. 
Saat itu saya belum tau bagaimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2006, tepat di bulan ini, saya menjejakkan kaki pertama kali di Jepang. Pengalaman pertama tersebut tidak akan pernah bisa dilupakan. Dengan penuh keyakinan dan <em>jumawa</em>, saya bertekad untuk menaklukkan negeri sakura ini. Tekad tersebut terdengar wajar andai saja diucapkan di negara lain, sayangnya tidak berlaku di negara ini. </p>
<p>Saat itu saya belum tau bagaimana susahnya melawan resistansi atau penolakan terhadap orang asing yang bisu-buta-tuli bahasa Jepang. Tapi dasar saya yang selalu pede jaya dan terkesan arogan, kendala bahasa bukan masalah bagi saya saat itu. Dengan bantuan mimik serta <em>gesture</em>, seharusnya bahasa tarzan akan bisa dipahami dengan mudah. Tapi kenyataannya tidak semudah itu.</p>
<p>Saya juga kurang tau kenapa Jepang bagaikan magnet bagi banyak orang, bagaikan bunga ranum dan segar yang selalu dikelilingi kupu-kupu. Selama berada di negara ini, saya menerima cukup banyak email dari orang-orang yang begitu cintanya terhadap negara Jepang, sampai saya suka geleng-geleng sendiri tanpa bantuan ekstasi. </p>
<p><span id="more-311"></span>Saya jadi tau gimana rasanya menjadi selebriti. Saya pernah menerima email dari desainer yang ada di New York dan sangat ingin bekerja di Tokyo. Begitu juga dengan dua orang mahasiswa desain grafis di Amsterdam yang minta bantuan dicarikan tempat magang. Sayapun mereferensikan biro iklan favorit saya, <a href="http://wktokyo.jp" title="Outside link to Wieden and Kennedy Tokyo">Wieden + Kennedy</a>. </p>
<p>Selain itu ada juga musisi amatir dari Swedia yang minta diperkenalkan dengan musisi atau orang-orang yang bekerja dalam dunia entertainment di Tokyo. Nah yang ini dengan menyesal saya tolak karena saya tidak ada koneksi ke dunia entertainment.  </p>
<p>Disamping email-email dari para bule tersebut, banyak pula dari negeri sendiri. Semuanya dalam bentuk ajakan berteman di Facebook. Saya sampai sering tidak ingat siapa mereka saat melihat-lihat daftar teman atau saat membaca status-status di Facebook saya. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/shinjuku-night.jpg" alt="Shinjuku at night" class="alignleft" />Seiring bertambahnya waktu, saya mulai bisa membaur dan menjadi bagian dari masyarakat. Dalam hal pekerjaan, sepertinya saya sudah seperti berada di negeri sendiri. Kehilangan atau berganti pekerjaan setiap tahun. Teman-teman yang saya kenal disini, dari saat pertama saya tiba hingga saat saya menulis artikel ini, masih bekerja di tempat yang sama.</p>
<p>Walopun rasanya agak aneh kalau saya syukuri, tapi <a href="http://soyuzno.com/journal/2007/05/crash-and-burn-the-best-is-yet-to-come/" title="Read related article">pengalaman-pengalaman</a> <a href="http://soyuzno.com/journal/2008/12/the-end-of-the-beginning-farewell-and-goodnight/" title="Read related article">kehilangan</a> <a href="http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/" title="Read related article">pekerjaan</a> dan turun kasta tersebut sungguh bermakna dan susah dilupakan. Saya cukup yakin, seandainya saya makmur riang gembira seperti rekan-rekan saya yang lain, mungkin saya tidak akan mendapat kesempatan untuk mengalami hal-hal beraneka-ragam itu. </p>
<p>Tapi kalau mau jujur, saya lebih memilih seperti rekan-rekan saya saja. Banyak uang, bisa menikmati hidup di negara yang luar biasa indah ini, serta menabung untuk masa depan.</p>
<p>Saya kadang berpikir, dengan kejadian-kejadian yang saya alami ini sepertinya kok disengaja supaya saya angkat kaki dari Jepang. Pede jaya lagi :p. Dimulai dari tempat kerja pertama yang bergelimang uang dan tiba-tiba merugi, saya keras kepala dan memutuskan bertahan walaupun sudah diperintahkan pulang ke Jakarta. </p>
<p>Kemudian saya pindah ke perusahaan kedua yang ternyata lebih miskin. Nyaris tidak bisa menabung. Tapi saya masih keras kepala. </p>
<p>Dibuatlah dunia kacau dengan krisis ekonomi yang menghantam semua sektor. Kantor pun kolaps. Kepala tetap sekeras batu karang. </p>
<p>Pindah ke perusahaan ketiga dengan gaji pas-pasan. Tetap tidak bisa menabung. Saya masih tidak mau angkat kaki. Akhirnya dibuatlah saya berhenti dan kelayapan tanpa uang berbulan-bulan dan mengalami penolakan-penolakan karena keterbatasan saya bicara-dengar-tulis tersebut. Sampai akhirnya bekerja di tempat yang sekarang ini, tanpa uang sepeserpun yang saya pegang <em>*tapi perut bisa sejahtera dan gendut*</em>.</p>
<p>Bekerja di tempat terakhir ini sebenarnya <a href="http://soyuzno.com/journal/2010/04/utopia-parkway-yet-the-wind-whispers-hello-when-it-blows/" title="Go to related story">sangat menyenangkan</a>. Perut sejahtera, jam kerja tidak monoton, kerja di tempat yang indah, ritme nya lambat, dan tidak perlu kuatir bayar biaya-biaya hidup. Tapi sepertinya pilihan ini cocok seandainya saya mau jadi pertapa, <em>ndak</em> suka berteman, <em>nggak</em> ada perempuan lagi di dunia, lenyapnya XBOX dan Playstation di alam semesta ini, dan saya tidak ada hutang. </p>
<p>Jadi sepertinya saya dan Jepang selama 4 tahun ini saling mengadu batok kepala siapa yang lebih keras. Hingga akhirnya salah satu harus mengalah dan itu adalah saya. </p>
<p>Banyak faktor yang membuat saya mengambil keputusan itu. <em>Alter ego</em> saya sebenarnya tidak bisa menerima. Kok bisa-bisanya mengalah dan mundur. Tidak seperti soyuz yang biasanya. </p>
<p><strong>Waktu</strong>. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan seandainya harus adu keras jidat selamanya, kalau perlu sampai berdarah-darah. Tapi sayangnya waktu berputar sangat cepat dan saya sedang berpacu dengannya. Seandainya saya ke negara ini 10 tahun lebih awal mungkin akan beda ceritanya. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/clock.jpg" alt="Time" class="alignleft" />Tante pernah berkata di dunia yang semakin cepat ini kita harus fleksibel terhadap situasi. Rencana A gagal, langsung pindah ke rencana B, dan seterusnya. Tidak ada gunanya bertahan pada rencana yang tidak berjalan. Menghabiskan waktu dan tenaga.</p>
<p>Apalagi lima taun lalu saya menargetkan di usia yang sekarang ini seharusnya saya sudah <em>leyeh-leyeh</em> sambil ngelus-elus perut, didampingi istri cantik dan dikelilingi dayang-dayang cantik nan <em>semlohe</em>. Bukan kejar-kejaran dengan <em>deadline</em> hutang.</p>
<p><strong>Uang</strong>. Saya mengikuti kemana uang berkumpul. Matre? Tentu! <em>*bangga*</em>. Saya tidak pernah malu mengakui kalau saya memang selalu menjual diri ke penawar tertinggi. Saat di Jepang sudah kering dan tidak ada Yen yang bisa disedot lagi (oleh saya), berarti sudah waktunya saya angkat kaki; sebelum terbenam lebih dalam di lingkaran setan bernama hutang itu.</p>
<p><strong>Terasing</strong>. Dulu di awal-awal saya kemari, saya sering mendengar saran untuk menetap atau <em>settling down</em> tapi saya selalu ragu untuk menjawab iya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dan membuat saya tidak bisa <em>nancep</em> disini. Beberapa tahun kemudian saya mendengar hal yang sama lagi, dan jawaban saya tetap sama, &#8220;Pengen sih, tapi kok kayak nggak <em>homey</em> disini.&#8221; </p>
<p>Sampai detik ini saya menduga hal itu karena perasaan terasing yang disebabkan ke-bisu-tuli-buta-an saya. Memang ada beberapa teman dekat yang selalu saya recoki dan siap membantu dengan masalah bahasa ini. Mengurus sesuatu, mengisi formulir, menelpon sesuatu, dan lain-lain. </p>
<p>Tapi tentunya saya tidak bisa terus-terusan mengganggu waktu mereka. Mereka punya hidup sendiri. Apalagi saya sempat diduga sebagai orang ketiga oleh pasangannya karena saking seringnya saya repoti. Cukup di Jakarta saja reputasi saya sebagai perusak hubungan pacaran dan suami-istri :p</p>
<p>Selain itu, seperti orang lain, saya tidak terlalu suka bergantung kepada orang lain.</p>
<p><strong>Tanggung jawab</strong>. Sebagai seorang yang bertanggungjawab atas strategi di dunia online serta penyedia solusi komunikasi visual dan pemasaran, saya harus mengerti apa <em>insights</em> dari si target pemirsa, apa budaya dan kebiasaan online mereka, dan bagaimana mereka berinteraksi dengan sebuah produk atau layanan. </p>
<p>Sayangnya karena saya tidak paham bahasa Jepang, akhirnya saya tidak pernah berhasil memprediksi dan menggali perilaku dan keinginan dari calon target pemirsa yang saya tuju. Akhirnya sayapun gagal mempromosikan Tante di dalam negeri. Semua rencana dan ide-ide kami gagal total. Sedangkan di luar Jepang, saya berhasil <em>*soyuz gitu lowh :p*</em></p>
<p>Saya tau ini bukan melulu salah saya. Perilaku online pengguna internet di Jepang juga cukup unik dengan beberapa &#8216;penyakit&#8217; dan aib juga. Tapi saya harus bertanggungjawab. Bagaimana saya bisa memberikan solusi komunikasi visual dan pemasaran seandainya saya tidak bisa mengerti komunikasi dengan konsumen, dalam hal ini bahasa Jepang?</p>
<p>Selayaknya manusia, saya juga sering menyesal kenapa kok tidak belajar bahasa Jepang dengan sungguh-sungguh. Apalagi setiap melihat cewe-cewe Jepang yang <em>kinyis-kinyis</em> itu. Tapi seperti layaknya manusia juga, saya bisa memberikan alasan berbagai rupa. Sibuk kerja, pulang selalu dini hari, dan seterusnya. Padahal sih intinya males :p</p>
<p><strong>Gerah</strong>. Selama disini saya merasa bahwa seharusnya saya bisa mencapai lebih tinggi, bisa mengeluarkan semua keahlian, bisa melakukan lebih dari yang sekarang, dan bisa mendapatkan reputasi internasional. Jepang merupakan tempat yang tepat untuk itu. Tapi sekali lagi bahasanya itu <em>lho</em>. Ampun deh <em>bok</em>&#8230;</p>
<p>Dan saya sudah cukup bersabar dengan diskriminasi ini. Buat saya, <em>nggak</em> fair kalau performa dilihat dari kemampuan bahasa saja. Dan saya sudah kehabisan stok sabar. Seandainya Jepang itu adalah manusia, sudah saya gelitikin sampe pingsan, sadar, dan pingsan lagi.</p>
<p><strong>Benalu</strong>. Sebenarnya Om dan Tante juga sedang megap-megap dengan keuangan mereka. Tapi karena <del>saya sangat jagoan</del> mereka membutuhkan bantuan, jadinya mereka mau nggak mau harus menyewa saya. Tentunya saya <em>nggak</em> tega dan <em>nggak</em> mau menjadi beban. Setidaknya cukup banyak yang bisa dihemat dengan kepergian saya karena biaya perawatan saya lumayan tinggi. Misalnya saja jatah beras yang biasa habis dalam waktu 3 bulan, bisa habis hanya dalam waktu 1 bulan sejak ada saya :p</p>
<p><strong>Cinta yang lain</strong>. Saat Jepang selama 4 tahun tetap <em>keukeuh</em> memalingkan muka dan menolak cinta saya, sudah saatnya untuk melupakan dan pindah ke lain hati. Segala sesuatu yang dipaksakan itu <em>ndak</em> nikmat <em>tho</em>. Merupakan kerugian buat Jepang saat kehilangan cinta dari salah satu <em>creative director</em> jempolan <em>*ehem&#8230;*</em></p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/sakura.jpg" alt="Cherry blossom" /></p>
<p>Keputusan meninggalkan Jepang juga bukan hal mudah. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menimbulkan rasa cinta terhadap negara ini. Selain itu rasanya berat sekali meninggalkan orang-orang spesial (perempuan tentunya), teman-teman baik, dan cewe-cewe Jepang yang imut dan <em>irresistable</em> itu :p </p>
<p>Tapi setiap perjalanan selalu akan ada akhir nya. Terlepas dari apakah benar-benar berakhir atau karena ada perjalanan dan petualangan baru. Selain itu hubungan yang bertepuk sebelah tangan ini tidak ada gunanya dipertahankan, apalagi ada yang lain yang siap menerima cinta saya <em>*aih&#8230;dangdut skali!*</em></p>
<p>Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu, bagi saya negara ini layaknya tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah melihat satu persatu teman-teman pergi, kini giliran saya yang harus berangkat melanjutkan perjalanan. </p>
<p>Terlepas dari masa-masa sulit yang pernah saya alami, berada disini merupakan pengalaman luar biasa dan tak terlupakan seumur hidup. </p>
<p>Misalnya saja saat saya hampir berkelahi dengan dua anggota yakuza ketika melewati sebuah klub malam. Untunglah saya tidak terpancing emosi dan menerapkan pepatah Jakarta, &#8216;lo jual, gue beli&#8217;. Bisa-bisa saya berakhir di dasar teluk Tokyo. </p>
<p>Atau saat saya beberapa kali diberhentikan oleh pak polisi dan digeledah seluruh tubuh karena diduga seorang kriminal atau anggota geng. Selain itu banyak kisah-kisah kecil dan menarik lainnya yang sudah pernah saya bagi disini. <em>Monggo</em> dilihat-lihat di <a href="http://soyuzno.com/journal/archives/" title="Check the archive">arsip</a>. </p>
<p>Saya akui atau tidak, senang sekali bisa memenuhi rencana awal saya untuk meninggalkan negara ini, walaupun terlambat 6 bulan dari jadwal. Sekaligus saya juga sedih dan ingin sekali berlari-lari dengan tersedu-sedu sambil mengitari pohon atau tiang listrik, saat saya mengucapkan ini: </p>
<p>Sayonara Japan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/04/when-the-sun-goes-down-its-time-to-go-our-separate-ways/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Utopia parkway – Yet the wind whispers ‘hello’ when it blows</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/04/utopia-parkway-yet-the-wind-whispers-hello-when-it-blows/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/04/utopia-parkway-yet-the-wind-whispers-hello-when-it-blows/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 06:36:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Dulu, saat masih bekerja di Tokyo, saya sempat terpikir dan berkeinginan untuk merasakan Jepang yang sesungguhnya, yang lebih tradisional dan membumi. Kayak di pilem Oshin gitu lho. Tokyo jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Sebagai generasi yang hidup di kota-kota megapolitan, setelah beberapa bulan Tokyo menjadi biasa saja bagi saya. 
Saya ingin merasakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, saat masih bekerja di Tokyo, saya sempat terpikir dan berkeinginan untuk merasakan Jepang yang sesungguhnya, yang lebih tradisional dan membumi. Kayak di pilem Oshin gitu <em>lho</em>. Tokyo jelas-jelas tidak ada bedanya dengan kota-kota besar lainnya. Sebagai generasi yang hidup di kota-kota megapolitan, setelah beberapa bulan Tokyo menjadi biasa saja bagi saya. </p>
<p>Saya ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari gaya hidup metropolitan. Yang <em>ndeso</em> kalo perlu, dimana kalau ke kantor harus melalui hamparan sawah di kiri-kanan jalan. Atau menunggang kerbau melewati pematang sawah sambil updet status di facebook atau twitter saat menuju ke stasiun. Atau saat sore hari bermain-main di pantai sambil mengunggah (<em>upload</em>) foto pakai iPhone.</p>
<p><span id="more-305"></span>Kalau sering membaca blog ini pasti ingat saya beberapa kali menulis kalimat <em>&#8216;be careful of what you wish for&#8217;</em> (kalau belum pernah baca, <em>monggo</em> lho disimak cerita saya satu persatu di <a href="http://soyuzno.com/journal/archives/" title="Go to Archive">arsip</a> <em>*promosi :p*</em>). Akhirnya sekali lagi saya memperoleh apa yang saya inginkan. Merasakan kehidupan Jepang yang &#8216;biasa saja&#8217; dan sederhana, jauh dari gemerlap ibukota. </p>
<p>Walaupun seandainya saya boleh protes ke Tuhan, saya <em>ndak</em> suka prosesnya. Harus jadi pengangguran, celana kedodoran, hingga hutang dimana-mana dulu sebelum tiba di tempat ini. Tapi setidaknya, saya bisa mengalami hal-hal yang luar biasa. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/house_uphill.jpg" alt="house in the hill"/></p>
<p>Hampir semuanya sesuai dengan apa yang saya bayangkan. Setiap ke kantor (studio), saya pasti melewati hamparan-hamparan sawah di salah satu sisi jalan, dan deretan pohon pinus atau bukit-bukit yang berada di sisi jalan yang lain. Yang berbeda hanyalah moda transportasi nya. Bukan menunggang kerbau, tapi mobil. Bukan melewati pematang sawah, melainkan jalanan aspal yang mulus. </p>
<p>Selain itu, saya juga sebenarnya lebih suka daerah pantai dibanding gunung. Saya anak pantai <em>*ceilee..anak pantai*</em>. Jika dihadapkan pada pilihan <em>hiking</em> atau ke pantai, sudah pasti saya akan pilih ke pantai. </p>
<p>Tapi daerah pegunungan juga menarik sebenarnya. Sejuk dan hijau serta kaya dengan beraneka satwa. Sejak berada disini, saya jadi lebih menghargai alam dan ciptaan lain di luar manusia. Kadang saya suka lupa; mendekatkan diri ke Tuhan tapi tidak peduli dengan ciptaanNya yang lain, terutama yang non manusia. </p>
<p>Berada di sini malah membuat saya lebih dekat ke sang Pencipta dibandingkan saat di Tokyo, dimana saya rajin beribadah setiap minggu. Tentu bukan karena jarak dari gunung ke surga lebih dekat. </p>
<p>Yang pasti saya lebih bisa mengontrol keinginan untuk <em>mencet</em> serangga yang banyak berlalu lalang di dalam studio dan kebun Om dan Tante. Semua serangga hidup tenteram dan panjang umur.</p>
<p>Tinggal di tempat ini membuat saya seakan sedang berobat. Atau sedang bertapa layaknya di pilem-pilem silat. Memulihkan tenaga fisik dan mental. Menyenangkan. </p>
<p>Selain itu saya juga sembuh dari trauma terhadap anjing. Saya bisa berteman akrab dengan 6 anjing yang mereka miliki. Walaupun saya yakin banget akan tetap gemetaran kalau berhadapan dengan Doberman atau Rottweiler segede anak gajah.</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/sekolahan.jpg" alt=""/ class="alignleft"/>Semenjak pindah dari Tokyo, saya ditempatkan di sebuah rumah tua bertingkat dua di kota Otsuki setelah sebulan tinggal bersama mereka. Benar-benar rumah, bukan flat atau apartemen layaknya di Tokyo. </p>
<p>Lantai dua terdiri dari 6 buah kamar kos yang berantakan, penuh dengan barang-barang. Saya dengar dulunya lantai ini memang disewakan sebagai kos-kosan. Seandainya saya pemilik rumah ini, pasti saya perbaiki dan manfaatkan menjadi kamar kos putri :p.</p>
<p>Letak rumah ini termasuk cukup strategis. Sekali kepeleset, saya akan tiba di gedung sekolah SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Bayangkan brapa banyak cewe-cewe berkeliaran saat bubaran sekolah atau kuliah :p</p>
<p>Delapan kali tersandung, saya akan tiba di sebuah <em>department store</em>. Dua puluh lima kali terpelanting, saya tiba di stasiun kereta api. Saya bilang &#8216;cukup&#8217; strategis karena selain tiga fasilitas tersebut, semuanya jauh <em>bok</em>! </p>
<p>Misalnya saja ke McDonald yang membutuhkan lebih dari dua ratus jungkir balik, yang saya rasa bukannya membuat saya sampai ke tujuan, tapi ke rumah sakit karena otak sungsang gara-gara kebanyakan jungkir balik. </p>
<p>Begitu pula dengan fasilitas ATM. Butuh ratusan koprol hanya untuk menarik uang. Untungnya (atau sialnya?) saya tidak pernah punya uang sejak bekerja dengan Om dan Tante. Jasa saya ditukar dengan fasilitas tempat tinggal dan makan. </p>
<p>Ngomong-ngomong soal makan, Om dan Tante &mdash;terutama Om, sering kuatir kalau saya kelaparan mengingat postur tubuh saya yang menjulang, yang mana logikanya tempat penyimpanan makanan saya tentu lebih panjang dari para <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muggle" title="Outside link to information about muggle"><em>muggle</em></a>. </p>
<p>Pada akhirnya mereka selalu membuat makanan dengan porsi spesial dengan intensitas cukup sering; yang membuat perut saya sejahtera dan maju tak gentar. Sampai-sampai saya hampir tidak bisa melihat ujung jempol kaki saya sendiri. </p>
<p>Dalam hal bekerja pun tidak seperti pekerjaan pada umumnya yang memiliki jam kerja teratur. Misalnya saja, di saat hari cerah dan hangat, kami berhenti bekerja dan keluar ke kebun <em>*kayaknya lebih cocok disebut hutan*</em> serta memanen buah kiwi atau sayur-mayur yang nantinya akan diolah oleh Om menjadi makanan yang lezat nan sehat. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/piknik.jpg" alt="" class="alignleft"/>Atau hanya sekedar berjalan-jalan di kebun sambil menikmati hamparan pemandangan alam di bukit-bukit sekitar, sambil ditemani 6 ekor anjing. Atau kami akan piknik, menikmati sarapan pagi di kebun seperti yang kami lakukan kemarin siang <em>*lho, sarapan kok siang?*</em></p>
<p>Di hari cerah yang lain, saya diajak ke samping rumah utama dan diajari membelah bongkahan pohon yang akan digunakan untuk perapian saat musim dingin. Butuh tiga hari bagi saya untuk bisa membelah sebongkah batangan pohon. Ternyata tidak semudah yang dikira. </p>
<p>Saya harus menggoyang pinggul sedemikian rupa saat mengayunkan kapak sehingga tenaga yang berada di ujung kaki bergerak menuju ujung kapak. Mirip teknik membanting saat saya belajar Jujitsu semasa kuliah. Mungkin hal ini &mdash;goyang-menggoyang pinggul&mdash; dianggap mudah oleh penyanyi-penyanyi dangdut yang punya jurus ngebor, ngecor, dan bermacam-macam jurus ala tukang bangunan itu.</p>
<p>Saya merasa benar-benar seperti berada di pilem-pilem silat. Sebelum diajari ilmu kanuragan, harus disiksa fisik terlebih dahulu. Yang biasanya memegang laptop, kali ini harus menjinjing kapak dan sekop. </p>
<p>Sekop ini saya gunakan saat terjadi badai salju beberapa waktu yang lalu. Salju turun begitu derasnya hingga saat keesokan harinya seluruh jalan ditutupi es setebal hampir 30 senti. </p>
<p>Jadinya Om dan saya, beserta warga-warga lain di bukit tersebut melakukan kerja bakti membersihkan jalan dari salju. Traktor pembersih salju dari pemerintah daerah hanya membersihkan sampai setengah bukit saja, sedangkan kantor/tempat tinggal Om dan Tante lebih ke atas lagi. Kerja bakti itu lumayan membuat saya muak dengan salju, yang sebelumnya saya gila-gilai itu. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/fuji.jpg" alt="Picture of Mt Fuji"/></p>
<p>Selain itu, setiap beberapa kali dalam seminggu, kami akan mengunjungi ruko milik Tante yang berada di sebuah kota wisata yang bernama Fujiyoshida. Kota ini merupakan salah satu &#8216;pintu gerbang&#8217; menuju gunung Fuji, dengan perkiraan 9 juta wisatawan lokal dan mancanegara setiap tahunnya yang berkunjung ke kota ini. Tidak heran banyak sekali cewe-cewe bening disana, melebihi kota tempat tinggal saya.</p>
<p>Kami biasanya selalu melalui dan mengitari danau Kawaguchiko, salah satu dari lima danau yang berada di sekitar gunung Fuji. Senang sekali melihat pemandangan di danau; mendengar gemericik riak-riak ombak yang ditimbulkan oleh angin, melihat burung rajawali terbang berputar-putar di atas danau, bebek-bebek yang berenang kesana kemari. </p>
<p>Saya sangat beruntung bisa memandang gunung Fuji dan mengunjungi danau berulang-ulang layaknya rutinitas, dimana mungkin bagi orang Jepang sendiri termasuk sesuatu yang mewah. </p>
<p>Saya juga sempat merasakan ikut membongkar muatan buku-buku Tante di bea cukai Jepang. Juga bersama Om memasukkan 500-an selebaran promosi ke dalam kotak pos di rumah-rumah yang berada di area Fujikawaguchiko sampai digonggongi dan dikejar anjing yang segede anak kerbau. Saya jadi kasian dengan Pak Pos.</p>
<p>Saya cukup yakin tidak banyak desainer yang bisa merasakan proses dari mendesain hingga mendistribusikan hasil desainnya seperti yang saya alami ini. </p>
<p>Sepertinya saya menikmati gaya hidup saya saat ini, terlepas dari minimnya (hampir tidak ada) uang yang saya miliki dan terputusnya hubungan dengan teman-teman saya di Tokyo. Buktinya, berubahnya <em>four pecs</em> di perut saya menjadi satu buntelan kudanil montok <em>*sigh*</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/04/utopia-parkway-yet-the-wind-whispers-hello-when-it-blows/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Final sound – Midnight in a perfect world</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 23:41:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya &#8216;hanya&#8217; meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.
Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, sepasang suami istri yang saya bantu beberapa waktu lalu &#8212;yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante&#8212; menyelamatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan November kemarin saat saya seharusnya meninggalkan Jepang, saya jadinya &#8216;hanya&#8217; meninggalkan Tokyo dengan gregetan karena semua rencana yang sudah saya susun dengan indahnya jadi berantakan.</p>
<p>Tepat beberapa hari sebelum saya harus angkat kaki dari tempat tinggal saya, <a href="http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/" title="Read the related story">sepasang suami istri</a> yang saya bantu beberapa waktu lalu &mdash;yang selanjutnya saya sebut saja Om dan Tante&mdash; menyelamatkan saya di detik-detik terakhir. </p>
<p>Perusahaan yang sedianya berminat memperkerjakan saya, entah kenapa menjadi lambat dalam menindaklanjuti proses kepindahan saya. Padahal saya sudah menyetop kontrak apartemen dan tidak mungkin untuk mengubah keputusan tersebut. Butuh uang (sangat banyak) dan waktu. Dua hal yang dari dulu tidak pernah saya miliki. </p>
<p>Makanya, saat Om dan Tante memberikan penawaran yang menggiurkan, saya langsung menyanggupi. Daripada nanti jadi gelandangan tampan di Jepang. </p>
<p>Selama tinggal bersama mereka, banyak hal-hal menarik yang terjadi dan saya juga mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bermanfaat. Hal-hal yang menarik itu  berupa kejadian-kejadian kecil tapi selalu membuat saya terpukau sampai kadang-kadang ternganga hingga rongga mulut menjadi kering. </p>
<p><span id="more-298"></span><strong>Di minggu pertama</strong> saya tinggal disana, saya melihat seekor kijang berada di tengah jalan. Saat itu sudah lewat tengah malam ketika kami kembali dari suatu tempat. Beberapa kilometer mendekati rumah, sesosok kijang jantan besar tiba-tiba saja muncul entah dari mana. Beruntung saat itu kami tidak ngebut. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/journal/wp-content/uploads/2010/02/asakawa-hills.jpg" alt="A view of Asakawa" class="alignleft" />Kijang itu berdiri gagah dengan tanduknya yang besar dan kokoh. Memandang kami sejenak, kemudian meloncat ke balik rerimbunan pohon di sisi jalan. Saya cuma bisa menganga. Untung di pegunungan tidak ada lalat <em>*atau ada ya?*</em>.</p>
<p>Saya langsung teringat salah satu adegan dalam salah satu episode film Harry Potter <em>*saya lupa yang mana*</em>; di mana saat Harry sedang bertahan mati-matian melindungi Sirius Black dan dirinya dari sedotan Dementor, dari seberang danau muncul sesosok  kijang yang sekujur tubuhnya mengeluarkan cahaya dari rapalan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Spells_in_Harry_Potter#E" title="Outside link to the definition of Expecto Patronum"><em>Expecto Patronum</em></a> yang dahsyat. Harry sangat percaya bahwa kijang itu penjelmaan ayahnya yang datang membantu.</p>
<p>Sebagai fans berat Harry Potter, <a href="http://ka-nia.com/" title="Outside link to Kania's blog">Kania</a> pasti bisa membantu mengingatkan di episode yang manakah itu :p.</p>
<p><strong>Di minggu kedua</strong>, saya berkesempatan melihat monyet. Kali ini di siang bolong, saat kami sedang dalam perjalanan menuju tempat calon klien. Mobil kami harus berhenti saat serombongan monyet dalam jumlah cukup banyak &mdash;besar dan kecil&mdash; menyeberang dari hutan di sisi jalan sebelah kanan ke hutan di sisi jalan sebelah kiri. Mereka bermain-main sejenak di pepohonan sebelum menghilang ke dalam hutan.</p>
<p>Kali ini saya teringat Indonesia. Bukan! Bukan orangnya lho, tapi momen nya. Saya teringat saat terjadi demo atau sepakbola, jalanan selalu macet karena para pendemo atau pendukung kesebelasan tertentu sedang lewat dan kendaraan harus berhenti daripada babak belur dihajar massa.</p>
<p><strong>Pada minggu ketiga</strong>, saya melihat bintang jatuh. Saat itu sudah lewat tengah malam dan saya baru selesai kerja. Salah satu hal yang menyenangkan dari tinggal di pegunungan yang jauh dari kota adalah langit yang bersih. Saya cukup keluar rumah dan mendongak, dan di atas sana puluhan bintang bersinar dengan indahnya di langit yang tak berawan. Bahkan kadang saya bisa melihat rasi bintang yang saya lupa namanya. </p>
<p>Saat bintang jatuh itu lewat, saya cuma bisa ternganga kembali. Sama sekali tidak terpikir sedikitpun untuk <em>make a wish</em>. Terus terang saraf motorik saya agak payah kalau berhadapan dengan reaksi-reaksi spontan. </p>
<p><strong>Di minggu keempat</strong>, saya beruntung dapat melihat seekor rubah yang sedang menyeberang jalan. Saat itu sudah  tengah malam juga, kurang lebih sama dengan waktu di saat saya melihat kijang. Rupanya hewan-hewan itu suka menyeberang jalan malam-malam, padahal jalanan sangat gelap. Kebiasaan yang buruk. Saya pernah menemukan jasad kucing yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Kucing itu rupanya menjadi korban tabrak lari dari pengemudi yang ugal-ugalan.</p>
<p>Di minggu-minggu berikutnya saya kembali melihat kijang, rubah, dan juga monyet. Tinggal satu makhluk yang saya belum lihat hingga tulisan ini dibuat. Beruang. Tapi melihat banyaknya hal-hal luar biasa yang sudah terjadi, kemungkinan besar saya akan  melihatnya suatu saat nanti. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/02/final-sound-midnight-in-a-perfect-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In between days – A dustland fairytale</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 00:25:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedtime stories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=292</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. 
Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. 
Aku selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Musim dingin sudah tiba dari November tahun lalu, tapi salju dengan pongahnya tidak sudi menampakkan diri hingga pertengahan Januari ini. </p>
<p>Mataku memandang butiran-butiran putih yang berjatuhan dari langit, sepertinya para dewa sedang mengadakan pesta es serut dan remah-remah es nya jatuh ke bumi. </p>
<p>Aku selalu <a href="http://soyuzno.com/journal/2007/06/youll-never-be-frightened-to-make-them-wait/" title="Read the previous article">suka hujan</a>, apalagi hujan salju. Di tempat asalku, salju hanya ada dalam imajinasi. Beruntung aku terlahir penuh imajinasi sehingga saat aku ingin melihat salju, cukup dengan melamun dan duniaku berubah menjadi negeri fantasi yang penuh salju. </p>
<p>Aku ingat bagaimana sedari kecil aku ingin sekali bisa menyentuh salju. Menangkapnya saat ia jatuh. Walaupun aku paham bahwa salju itu tak lebih hanya butiran es, sama dengan yang ada di dalam kulkas. </p>
<p>Makanya aku suka sekali membuka lemari pendingin dan menyentuh bunga-bunga es yang ada di <em>freezer</em> dan ayah selalu memarahiku saat kepalaku sudah setengah masuk ke dalam kulkas.</p>
<p><span id="more-292"></span><img src="http://soyuzno.com/uploads/snow.jpg" alt="snow"/></p>
<p>Mataku kembali memandang ke luar jendela. Pohon-pohon yang berada di pekarangan tertutup salju. Daun-daun yang berjatuhan di musim gugur kemarin sudah berganti dengan tumpukan es yang bertengger dengan manisnya di dahan-dahan pohon seakan berkata, hey pohon&#8230;usah kau bersedih ditinggal daun-daunmu. Aku akan menemani hari-harimu yang dingin hingga daunmu kembali dalam pelukanmu.</p>
<p>Ah&#8230;ternyata bukan hanya musim gugur yang bisa membuat perasaan menjadi <em>mellow</em>. Pikiranku melayang ke musim dingin dua tahun yang lalu. </p>
<p>Siang itu udara dingin sungguh menusuk tulang, tapi Harajuku masih tetap ramai dengan orang-orang yang berlomba memenuhi nafsu belanja mereka. Walaupun aku berada di kantor yang hangat, tapi kadang masih bisa kurasakan hembusan angin dingin yang membelai leherku dengan mesranya, bagaikan seorang kekasih yang sedang mencumbu pujaan hatinya.</p>
<p>Saat itu kantor masih sepi karena teman-temanku sedang keluar makan siang. Hanya tinggal aku dan seorang temanku yang berada di ruangan sebelah, ruang tim editor.</p>
<p>Aku sedang sibuk bercengkerama dengan komputer Mac ku, saat sebuah suara memanggilku lembut.</p>
<p>&#8220;Andrew, kamu nggak dingin? Cuma pakai t-shirt kayak gitu?&#8221;</p>
<p>Aku menoleh ke arah asal suara dan melihat Nanako &mdash;teman kantorku&mdash; sedang berdiri di depan pintu ruanganku. Dengan wajah yang imut, pembawaan keibuan serta lemah lembut, sulit bagi pria manapun untuk menolak rasa ingin menyayangi dan melindunginya. Kadang aku berpikir, apa semua perempuan Kyoto seperti itu.</p>
<p>&#8220;Oh, nggak kok&#8221;, jawabku sambil tersenyum. &#8220;Aku malah merasa kepanasan sih sebenarnya.&#8221;</p>
<p>Huh&#8230;sombong!</p>
<p>&#8220;Wah hebat sekali! Aku kedinginan nih. Lihat, tanganku sampai dingin banget&#8221;, katanya sambil menengadahkan kedua tangannya dan menyodorkannya ke arahku. </p>
<p>Aku bangkit dari kursiku dan menghampirinya. Agak ragu dan canggung kujulurkan kedua tanganku untuk merasakan sedingin apa telapak tangannya. Terlalu lama bergaul dengan komputer sepertinya telah mengikis kemampuanku dalam menghadapi wanita. </p>
<p>Payah, keluhku dalam hati.</p>
<p>Belum sampai jari-jariku menyentuh tangannya yang halus, tangannya terlebih dulu meraih dan menggenggam jemariku. </p>
<p>Erat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/01/in-between-days-a-dustland-fairytale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Distant noises – Other voices pounding in my broken head</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 11:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, atasan saya &#8212;si George Clooney&#8212; mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2&#215;1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.
Malam sudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa bulan yang lalu, atasan saya &mdash;si George Clooney&mdash; mengajak saya diskusi di sebuah bar (yang berubah menjadi kios bento saat siang hari), tepat di seberang gedung kantor. Ruangan berbentuk setengah segitiga dengan ukuran 2&#215;1 meter itu lebih tepat disebut rumah liliput. Berada didalamnya bisa membuat saya megap-megap seperti ikan lele yang perlu oksigen.</p>
<p>Malam sudah cukup larut sehingga bar yang dwifungsi itu padat dengan manusia yang melepas kepenatan setelah seharian bekerja. Si Clooney langsung memesan bir untuknya dan <em>Coca Cola</em> buat saya. Sang bartender &mdash;yang ternyata cantik juga&mdash; terlihat ragu dan mengkonfirmasi apa benar kami memesan <em>cola</em>. Tampang sangar kok minumnya <em>cola</em>, begitu mungkin pikirnya.</p>
<p>Isi pembicaraan kami berdua kurang lebih mengenai masa depan saya di perusahaan, terutama sesudah berakhirnya masa <em>probation</em> saya. Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya disepakati bahwa kami tidak bisa bersama lagi dan harus memilih jalan masing-masing. </p>
<p>Perbedaan visi dan tidak tercapainya ekspektasi dari kedua belah pihak. Dua hal itu yang menjadi alasan utama perpisahan antara perusahaan dan saya.</p>
<p><span id="more-279"></span>Di satu sisi, keputusan itu memberi dampak yang membuat piaraan di perut resah dan mengadakan aksi demo. Membayangkan bahwa ada kemungkinan saya tidak akan bisa makan di resto <em>all you can eat</em> sesering biasanya, karena dompet bakal lebih cepat menipis.</p>
<p>Di sisi lain, hati kecil ini melonjak kegirangan karena tidak perlu lagi merasakan yang namanya terpaksa bangun, terpaksa berangkat, terpaksa kerja, terpaksa lembur. Hanya dua hal yang tidak menimbulkan rasa terpaksa&mdash;saat pulang kantor dan saat memandang perempuan-perempuan cantik yang lalu-lalang di Harajuku. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/bluesky.jpg" alt="Blue sky at Hachioji" class="alignleft" />Pada bulan berikutnya, dimulailah proses mencari pekerjaan lagi. Seperti yang sudah-sudah, mencari lowongan desainer yang tidak perlu menguasai bahasa Jepang merupakan hal yang luar biasa sulit. Mengutip kata almarhum Asmuni, &#8220;Sebuah hil yang mustahal.&#8221; </p>
<p>Tapi herannya, saya tidak pernah kapok untuk malas belajar bahasa Jepang. Padahal setiap taun selalu mengalami siklus &#8216;<em>berhenti kerja-nganggur-kelaparan-dapet kerja lagi</em>&#8216; yang seakan menjadi ritual tahunan.</p>
<p>Pelajaran moral nomer satu: Kalau berniat menetap dan bekerja di negara yang bahasanya bukan Inggris, kuasai 100% bahasa negara tersebut. Terutama jika di negara itu makhluk perempuannya cantik, imut, dan menggemaskan.</p>
<p>Dengan menguasai sepenuhnya bahasa tersebut, kita bisa menikmati hidup senikmat-nikmatnya&mdash;yang dalam bahasa <em>londo</em> nya disebut &#8216;<em>live our life to the fullest</em>&#8216;. Bukan berarti saya tidak menikmati kehidupan disini. Sungguh, saya sangat menikmati setiap detiknya. Hanya saja terasa ada yang kurang. Seperti makan gado-gado tanpa krupuk. Atau ikan gurame goreng tanpa sambel terasi. Tetap enak tanpa krupuk atau sambel, tapi kurang ajib.</p>
<p><em>Eniwe</em>, setelah beberapa waktu berlalu, semua celana saya mulai kedodoran dan saya masih belum ada kerjaan penuh waktu (<em>fulltime</em>). Saat itulah saya memutuskan untuk mengubah strategi sebelum saya terpaksa harus berganti mengenakan sarung, karena tidak ada celana yang pas. Pengalaman dan ketrampilan dalam menyusun strategi digital untuk website membuat otak saya otomatis bekerja dan menganalisa semua kemungkinan yang bisa membuat saya sehat berisi dan piaraan di perut tersenyum kembali.</p>
<p>Menjadi <em>fulltime freelance</em> jelas bukan pilihan yang bijak, walaupun sangat menggiurkan. Kendala bahasa (lagi) menjadi penyebab utama nya. Ditambah dengan status orang asing, tantangan yang saya hadapi akan lebih berat. Menunggu hingga berakhirnya krisis ekonomi juga jelas-jelas merupakan langkah yang bodoh.</p>
<p>Akhirnya saya mengambil keputusan untuk pindah ke negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Walaupun tidak <em>was-wes-wos</em> seperti Eminem yang lagi kepedesan, tapi saya cukup pede dengan kemampuan bahasa Inggris saya.</p>
<p>Kenapa bukan memilih pulang ke Indonesia? Saya sendiri belum menemukan jawabannya. Mudah-mudahan bukan karena nasionalisme saya telah luntur.</p>
<p>Pilihan pertama sudah dapat dipastikan, New York atau London. Dua kota tempat mangkalnya pemain-pemain industri periklanan dunia. Membayangkan berada di tengah hiruk pikuk kawasan Madison Avenue saja sudah bisa membuat bulu kaki saya bergidik.</p>
<p>Tetapi saat ngobrol lewat telpon dengan seorang teman baik dan sekaligus guru flash saya, <a href="http://ferryhalim.com/" title="Outside link to Ferry Halim">Ferry Halim</a>, muncul dua negara yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Norwegia dan Swedia. </p>
<p>Imajinasi pun melayang ke ranah Skandinavia, berjalan-jalan di dataran berbukit-bukit dengan bangunan peninggalan jaman Medieval. Sungguh menerbitkan air liur <em>*slurp!*</em>. Ditambah lagi dengan berkumpulnya perusahaan desain favorit saya seperti <a href="http://northkingdom.com/" title="Outside link to North Kingdom">North Kingdom</a>, <a href="http://perfectfools.com/" title="Outside link to Perfect Fools">Perfect Fools</a>, dan <a href="http://f-i.com/" title="Outside link to Fantasy Interactive">Fantasy Interactive</a>, menjadikan Swedia sebuah pilihan yang layak dipertimbangkan.</p>
<p>Tapi saya harus menghapus air liur yang sudah sempat jatuh beberapa tetes. Swedia dan Norwegia tidak menggunakan bahasa Inggris. Belajar bahasa lagi, <em>no way</em>!</p>
<p>Akhirnya saya dengan tegas memutuskan untuk membuang ego saya jauh-jauh &mdash;yang awalnya saya kira tidak saya miliki&mdash; dan memilih negara yang menggunakan bahasa Inggris, kalau bisa lokasinya dekat dengan Indonesia. Pertimbangannya, saya bisa lebih leluasa untuk mudik dan bertemu orang tua serta adik-adik saya di Surabaya.</p>
<p>Singkat cerita, saya mendapatkan pekerjaan di negara lain dan semua persiapan sudah saya lakukan, termasuk persiapan mental untuk meninggalkan teman spesial, tercinta, dan teman-teman yang lain. Lantas otak pun kembali bekerja dan menyusun strategi-strategi jangka pendek hingga jangka panjang. Semua rencana terlihat sangat sempurna. Tinggal dijalani saja.</p>
<p>Tapi disaat itu pula, satu persatu rencana dan strategi yang sudah disusun mulai berguguran seakan terkena <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Butterfly_effect" title="Outside link to Wikipedia">butterfly effect</a>. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/shinjuku.jpg" alt="Shinjuku West at night"/></p>
<p>Hal itu sempat membuat saya bertanya-tanya dan protes ke Tuhan. Rencana saya oke kok. Saya bisa memaksimalkan potensi tanpa dibatasi hal-hal bodoh seperti ketidakmampuan bahasa, bisa lebih sering bertemu ortu dan adik-adik, dan lagipula perempuan-perempuan Jepang akan merasa aman. Semua senang kan?</p>
<p>Saya terus mencoba mereka-reka apa sebenarnya rencana besarnya. Tapi semuanya berujung pada tanda tanya segede gaban.</p>
<p>Setelah mulai dijalani, barulah perlahan tersingkap maksud sebenarnya. Dan memang saya akui jauh lebih sempurna dari strategi-strategi saya <em>*ya iya donk, makanya disebut Tuhan, bukan Soyuz*</em>.</p>
<p>Pelajaran moral nomer dua: Meskipun engkau seorang <em>digital strategist</em> atau <em>strategic planner</em> yang handal jaya, jangan pernah mencoba mengerti strategiNya. Lebih baik diikuti saja deh daripada pusing. </p>
<p>Salah satu hal yang mulai tersingkap adalah tugas saya ternyata belum selesai di negara ini. Rupanya masih ada yang memerlukan kehadiran dan bantuan saya, baik secara profesional maupun personal. </p>
<p>Jadinya, ditempatkanlah saya di Otsuki untuk membantu <a href="http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/" title="Read the related article">sepasang suami istri</a> yang sedang berjuang mewujudkan mimpi dan ambisi mereka.</p>
<p>Sepertinya 2010 ini akan menjadi tahun yang menarik. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2010/01/distant-noises-other-voices-pounding-in-my-broken-head/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time – We might as well be strangers – part 3 (end)</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Dec 2009 12:35:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.
Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari pembicaraan awal di email yang saya terima, tugas saya adalah membantu memindahkan data dalam bentuk Word ke dalam PDF. Bagi orang seperti saya yang sehari-harinya bernapas di dunia desain dan komputer, pekerjaan itu merupakan salah satu tugas yang mudah.</p>
<p>Tapi ternyata tidak semudah yang saya perkirakan. Kendala yang saya hadapi saat mengerjakan hal itu adalah, Indesign yang digunakan adalah versi Jepang, dengan format penulisan dalam <em>template</em> nya adalah vertikal dari atas ke bawah layaknya buku-buku Jepang. </p>
<p>Pekerjaan yang harusnya bisa selesai (setidaknya dalam bayangan saya) dalam waktu 5 menit, akhirnya menjadi 2 malam 3 hari. Selama hari-hari itu saya <em>kleyengan</em> menghadapi tulisan kanji yang terdapat dalam fungsi dan menu dari Indesign. </p>
<p><span id="more-267"></span>Saat itulah saya menyadari kenapa hampir semua perusahaan yang saya kirimi surat lamaran selalu mengharuskan bahasa Jepang tingkat bisnis saat mencari seorang desainer. Rupanya kendalanya nanti ada pada <em>software</em> yang akan digunakan, bukan kendala komunikasi. </p>
<p>Tadinya saya pikir perusahaan-perusahaan tersebut melakukan diskriminasi terhadap orang asing, walaupun saya tetap beranggapan dalam hal tertentu negara ini adalah negara yang penuh diskriminasi. Sepertinya menjadi orang asing disini termasuk kejahatan, terutama menjadi orang asing yang tidak menguasai bahasa Jepang. </p>
<p><em>Eniwe</em>, perhitungan yang meleset itu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan karena saya bisa mengalami banyak hal menarik selama tinggal beberapa hari di tempat mereka. Setiap hal yang kurang menyenangkan atau tidak sesuai rencana, pasti selalu terdapat hal yang luar biasa di baliknya. </p>
<p><strong>Pertama</strong>, Saya jadi bisa menikmati tidur yang luar biasa. Saya tidur di kamar tamu dimana terdapat sebuah ranjang yang keterlaluan empuknya, ditambah <em>bed cover</em> dan selimut hangat. Sungguh berbeda dengan <em>futon</em> saya yang tipis dan keras itu. Saya seakan tidak mau bangun. </p>
<p><strong>Kedua</strong>, saya bisa merasakan membuang perasaan di toilet ramah lingkungan. Saat membuang perasaan saya yang tidak enak, saya terkagum dengan dekorasi toilet mereka yang sungguh berkesan natural. Ditambah dengan banyak jangkrik dan juga laba-laba besar di dinding, suasana alam nya menjadi lebih terasa.</p>
<p>Yang lebih mengagumkan adalah toilet ini tidak menggunakan <em>flush</em> layaknya toilet modern. Jadi perasaan yang terbuang itu langsung <em>&#8216;mak plung&#8217;</em> ke dalam <em>septic tank</em> yang telah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa mengolah limbah manusia menjadi pupuk.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, saya bisa menikmati makanan yang ditanam sendiri. Memang bukan saya yang menanam sayur-mayur nya, tapi saat menikmati makanan yang dihidangkan, sungguh luar biasa dan memiliki kelezatan yang &#8216;lain&#8217;. Terasa lebih segar. </p>
<p><strong>Keempat</strong>, saya bisa mulai belajar mengurangi kegugupan saya terhadap anjing. Sudah lama sebenarnya saya ingin mengatasi trauma saya dan memulihkan hubungan mesra saya dengan anjing. Dan seatap dengan enam anjing sepertinya merupakan terapi yang jitu nantinya. </p>
<p><strong>Kelima</strong>, saya mendapatkan banyak pesanan kerja. Karena saya sangat membantu mereka, saya jadinya diberikan tanggung jawab untuk mengerjakan 3 buah website mereka dan mengarahkan tampilan serta estetika dari keseluruhan buku-buku yang akan diterbitkan di masa yang akan datang.</p>
<p>Saya sama sekali tidak menyangka bahwa niat awal saya yang &#8217;sekedar&#8217; ingin berbuat sedikit kebaikan bagi sesama, malah mendatangkan berkat bertubi-tubi dan pengalaman-pengalaman lain yang sungguh luar biasa. </p>
<p>Hidup itu sungguh tidak bisa ditebak tapi bisa dipastikan akan selalu mengagumkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/12/this-is-the-last-time-%e2%80%93-we-might-as-well-be-strangers-%e2%80%93-part-3-end/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time – We might as well be strangers – part 2</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 13:45:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[Kami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.
Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana typhoon menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="K" class="cap">K</span>ami sepakat untuk bertemu di rumah mereka. Dengan asumsi bahwa mengerjakan langsung di tempat mereka akan lebih cepat dibandingkan di tempat saya. Lagipula saya berpikir ingin sekali-kali berlibur ke luar kota. Dan ini adalah kesempatan yang luar biasa.</p>
<p>Pada hari yang disepakati, yang ternyata adalah hari dimana <em>typhoon</em> menghantam Tokyo, saya berangkat menuju stasiun Hachioji dan tersangkut disana. Seluruh kereta ke luar Tokyo tidak beroperasi karena takut diterbangkan angin. </p>
<p>Setelah berkomunikasi sejenak, mereka berdua memutuskan untuk turun gunung dan menjemput saya di Hachioji. Karena perjalanan dari rumah mereka membutuhkan waktu 1 jam, saya disarankan untuk jalan-jalan dulu. </p>
<p>Dengan senang hati saya menerima ide tersebut, langsung menuju ke Becks dan memesan satu set burger+fries+salad serta secangkir kopi. Definisi &#8216;jalan-jalan&#8217; buat saya akan selalu melibatkan makanan. </p>
<p><span id="more-257"></span>Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya saya bertemu dengan mereka. Sepasang suami istri yang ramah dan sederhana. Sambutan mereka sungguh luar biasa. Selama dalam perjalanan ke rumah mereka, kami banyak bercerita. Terlihat sekali bagaimana mereka sungguh bersukacita atas kedatangan saya. Hal itu sungguh menyenangkan.</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/asakawa.jpg" alt="Asakawa, Japan"/></p>
<p>Diperlukan kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai rumah mereka, setelah berkelok sana-sini di lereng gunung. Asakawa benar-benar merupakan sebuah daerah yang indah buat saya. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh, sekitar tiga kali lemparan kolor. </p>
<p>Selain itu rumah-rumahnya besar dan terlihat cukup tua. Dan sejauh mata memandang, hanya terlihat bukit-bukit penuh pepohonan dengan daun menguning-mencoklat-memerah khas musim gugur. </p>
<p>Rumah mereka juga luar biasa. Sebuah rumah yang besar dan asri, serta berumur kurang lebih 300 tahun, berada di salah satu sisi lereng bukit. Rumah ini merupakan salah satu rumah yang pertama kali didirikan di daerah tersebut. </p>
<p>Di samping rumah mereka yang besar itu, terdapat sebuah rumah panggung yang sepertinya merupakan gudang dan di kolong rumah nya dipakai untuk menyimpan bongkahan batang pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk perapian di dalam rumah. </p>
<p>Di sekeliling rumah tersebut merupakan kebun dimana mereka menanam sayur-sayuran dan buah-buahan untuk dikonsumsi sendiri. Sedangkan di belakang rumah mereka merupakan hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang dan sepertinya serem kalo malem. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/asakawa2.jpg" alt="Asakawa, Japan"/></p>
<p>Begitu mobil yang kami tumpangi berhenti tepat di depan pintu, saya melihat di balik pintu tersebut muncul beberapa sosok wajah yang cukup saya kenali. Saya mulai tegang. Begitu tuan rumah membuka pintu rumah nya, makhluk yang berada di balik pintu tersebut berhamburan keluar. </p>
<p>Tidak tanggung-tanggung, empat ekor anjing berukuran sedang dan besar langsung menerjang saya. Tiga berwarna coklat dan satu anjing berwarna hitam berlari-lari disekeliling saya sambil mengendus-endus. Selain itu masih ada dua ekor lagi yang berada di dalam  rumah. </p>
<p><em>Glek!</em> Jantung saya berdetak dengan cepatnya, layaknya sedang menikmati malam pertama. Tubuh pun mulai membeku tidak bisa bergerak. Satu anjing mungkin masih bisa saya atasi, tapi kalo empat&#8230;tunggu dulu. </p>
<p>Empat ekor anjing yang harusnya lucu-lucu itu, terus mengelilingi saya sambil mengibaskan ekor mereka dengan riang. Tuan rumah mengatakan kalau hal ini sangat jarang terjadi. Makhluk-makhluk lucu tersebut selalu menggonggong tak henti-hentinya kalau ada tamu yang datang. Berarti terbukti kalau saya memang memiliki hubungan yang unik dengan makhluk-makhluk tersebut. </p>
<p>Setelah berhasil mengatasi kegugupan saya, walaupun jantung saya masi berdetak dengan irama <em>ajeb-ajeb</em>, kami langsung menuju ke lantai 2 yang merupakan studio mereka. Kembali saya takjub melihat ruangan di lantai 2 tersebut. </p>
<p>Seluruh lantai 2 tersebut terbuat dari kayu dan atmosfirnya sungguh mendukung untuk produksi kreatif. <em>Cozy</em> dan tenang. Selain itu 3 buah komputer Mac dengan gagahnya bertengger di meja kerja mereka. Sungguh hidup ini terasa sangat indah jika hanya ada Mac di dunia ini. </p>
<p>Kami pun mulai bekerja. Pekerjaan yang tadinya saya perkirakan bisa saya selesaikan dalam waktu 5 menit ternyata meleset&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This is the last time – We might as well be strangers – part 1</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 04:48:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Otsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: Wikipedia), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.
Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="O" class="cap">O</span>tsuki (大月), sebuah kota kecil di pegunungan dengan populasi 29.803 jiwa pada tahun 2008 (sumber: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ōtsuki,_Yamanashi" title="Outside link to Wikipedia page">Wikipedia</a>), terletak di prefektur Yamanashi dan berjarak 40 menit dari gunung Fuji, jika mengendarai mobil.</p>
<p>Untuk mencapai Otsuki, ada beberapa alternatif kereta api yang bisa digunakan dari stasiun Shinjuku atau Hachioji. Tentu saja bisa juga menggunakan sepeda, tapi sepertinya kurang bijaksana. </p>
<p>Terdapat dua jalur kereta api yang bisa digunakan. Pertama adalah <em>Chuo Line</em> yang merupakan kereta lokal, dimana kata &#8216;lokal&#8217; berarti perjalanan akan menempuh waktu cukup lama. </p>
<p>Kedua, dengan <em>Kaiji</em> atau <em>Super Asuza</em> yang merupakan kereta ekspres dan membutuhkan waktu 1 jam untuk mencapai Otsuki dari stasiun Shinjuku atau 40 menit jika berangkat dari stasiun Hachioji. </p>
<p><span id="more-241"></span>Beberapa waktu belakangan ini saya sering mengunjungi kota ini untuk bertemu dengan klien. Terus terang, sangat menyenangkan saat kita bisa mengkombinasikan pekerjaan dengan rekreasi. Semua yang dilakukan terasa lebih mudah dinikmati.</p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/otsuki.jpg" alt="photo of Otsuki"/></p>
<p>Sebenarnya saya hanya mampir beberapa menit saja di Otsuki. Pertemuan saya dengan klien selalu dilakukan di rumah klien yang harus ditempuh dengan mobil dan membutuhkan waktu kurang lebih 18 menit dari tengah kota, setelah menanjak dan berkelok-kelok di lereng gunung hingga sampai pada satu daerah bernama Asakawa.</p>
<p>Jika anda lantas terbayang sebuah daerah terpencil, maka bayangan itu tidak salah. Sinyal telpon selular belum mencapai Asakawa. Tapi untungnya sudah tersedia koneksi internet pita lebar (<em>broadband</em>) ADSL. </p>
<p>Awal pertemuan kami terjadi sekitar bulan September akhir.  Saat itu saya menerima sebuah email yang masuk ke <em>inbox</em> nipponscape.com saya. Isi email itu menceritakan bahwa si pengirim surat adalah seorang wanita yang juga merupakan penulis buku, pengajar dalam bidang penyembuhan alternatif dan berasal dari Skotlandia, bersuamikan orang Jepang yang juga seorang penulis handal serta memiliki keahlian akupunktur. </p>
<p>Mereka berdua tinggal di gunung, di sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan sudah berusia 300 tahun (rumahnya lho, bukan mereka). Mereka bercocok tanam dan menikmati makanan dengan sayuran yang berasal dari kebun sendiri. Terdengar menyenangkan, bukan?</p>
<p>Selain itu mereka tinggal bersama 2 ekor kucing dan 6 ekor anjing. Nah yang ini terdengar kurang menyenangkan buat saya. Saya memiliki <em>love-hate relationship</em> yang cukup unik dengan anjing. Saya suka sekali anjing, tapi saya juga takut dengan anjing. Saya ingin sekali memelihara <em>Golden Retriever</em> tapi saya gugup kalau berhadapan dengan anjing. </p>
<p>Hubungan yang aneh.</p>
<p>Eniwei, mereka menceritakan kalau saat ini sedang mempersiapkan sebuah buku yang sudah siap dicetak dalam format Ms. Word. Sayangnya pihak percetakan &mdash;sudah pasti&mdash; tidak menerima format Word dan menyarankan mereka berdua untuk mencari seorang desainer yang profesional, yang bisa membantu memindahkan tulisan di Word tersebut ke dalam format Adobe Indesign. </p>
<p>Singkat cerita, mereka menemukan website Nipponscape.com dan memutuskan meminta bantuan. Mereka mengatakan hanya memiliki sedikit uang untuk membayar jasa desainer dan juga dalam keadaan <em>desperado</em> karena sebentar lagi akan digelar konferensi pers mengenai peluncuran buku tersebut, tapi buku nya sama sekali belum dibuat. </p>
<p>Saya lantas menghapus email dari mereka. Tentu bukan karena sombong atau tidak peduli. Di Nipponscape, merespon email adalah tugas dari rekan saya. Lagipula sebagai orang asing, saya tidak memiliki kewenangan yang cukup untuk mengambil keputusan. Agak disayangkan memang, di negara semaju ini masih kental aroma diskriminasi.</p>
<p>Seminggu kemudian, saya kembali menerima email dari mereka. Tapi kali ini ditujukan langsung ke email pribadi saya. Dalam email tersebut dituliskan kalau penulis wanita ini berusaha sangat keras untuk bisa mencari info tentang saya. Dalam prosesnya, mereka menemukan banyak website yang membahas tentang desain soyuzno.com yang terbaru *<em>ehem&#8230;</em>*. Mereka berdua semakin bertekad untuk menghubungi saya. </p>
<p>Saya memutuskan membalas email mereka. Saya bisa membayangkan bagaimana frustasi nya mereka, tidak bisa mewujudkan impian yang sudah di depan mata. Saya mengatakan akan membantu mereka secara gratis karena tugasnya cukup mudah, memindahkan file berbentuk PDF ke dalam Indesign. Lagipula sepertinya saya sudah cukup lama tidak berbuat baik untuk sesama. </p>
<p>Kemudian email balasan dari mereka pun tiba. Mereka sangat gembira dan seakan-akan hawa kelegaan terpancar keluar dari isi email mereka. Selain itu mereka memuji-muji saya, mengatakan saya baik sekali *<em>ehem&#8230;ehem&#8230;</em>* dan menyebutkan sepertinya ada yang spesial dengan saya saat membaca profil saya di Nipponscape *<em>uhuk&#8230;uhuk&#8230;</em>*</p>
<p>Pada awalnya saya berpikir hal itu adalah sekedar puja-puji karena euforia kelegaan saat memperoleh bantuan dari Soyuz, dan gratis. Tapi setelah beberapa kali bertemu, saya menyadari bahwa dugaan saya salah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/11/this-is-the-last-time-we-might-as-well-be-strangers-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The sounds and lights fade and fall away in symmetry</title>
		<link>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/</link>
		<comments>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 02:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>soyuz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Life]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[experience]]></category>
		<category><![CDATA[mudik]]></category>
		<category><![CDATA[tokyo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://soyuzno.com/journal/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Maret, akhir musim dingin 2009. Hawa terasa sangat dingin pagi ini. Terutama saat subuh seperti ini. Sedikit tiupan angin pagi sudah membuat saya menggigil. Ah&#8230;mungkin karena saya tidak tidur semalaman, pikir saya. 
Salah satu sifat buruk yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan. Setiap ada sesuatu atau rencana aktivitas yang berbeda dari biasanya, saya selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span title="M" class="cap">M</span>aret, akhir musim dingin 2009. Hawa terasa sangat dingin pagi ini. Terutama saat subuh seperti ini. Sedikit tiupan angin pagi sudah membuat saya menggigil. Ah&#8230;mungkin karena saya tidak tidur semalaman, pikir saya. </p>
<p>Salah satu sifat buruk yang sampai saat ini belum bisa dihilangkan. Setiap ada sesuatu atau rencana aktivitas yang berbeda dari biasanya, saya selalu tidak bisa tidur dari sehari sebelumnya. </p>
<p><em>Excited</em>. Adrenalin selalu bergejolak. Tubuh sudah lelah berteriak minta istirahat, tapi otak dengan egoisnya terus bekerja, memompa peredaran darah menjadi lebih cepat ke jantung dan memaksa sang mata untuk terjaga.</p>
<p><span id="more-211"></span>Jam di iPhone saya sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Saya bergegas bangun dan mandi. Ya, saya dengar kalau saat tidak tidur semalaman lebih baik tidak usah mandi. Tapi terasa aneh kalau keluar rumah tanpa mandi. </p>
<p>Selesai mandi dan bersiap-siap, saya langsung menyeret koper dan berangkat ke stasiun kereta api. Bis yang akan membawa saya ke Narita akan berada di depan stasiun. Saya harus buru-buru supaya bisa ikut dalam perjalanan paling pagi, 6.30. Jadi saya bisa tiba di <em>airport</em> jam 8 atau paling lambat setengah 9. </p>
<p><img src="http://soyuzno.com/uploads/limobus.jpg" alt="Airport Limousine in Chofu"/><br />
Suara roda koper yang bergesekan dengan aspal terasa sangat-sangat berisik di pagi yang hening itu. Apa daya, terlalu berat kalo harus saya jinjing sampai stasiun. Bisa-bisa saya bakal tertidur di tengah jalan karena kelelahan.  </p>
<p>Sambil terus berjalan, saya mulai merasa ada sesuatu yang kurang tapi entah apa itu. Saya kembali melihat jam di iPhone, masih jam 5 lewat. Masih ada waktu, pikir saya. Akhirnya kaki ini pun berbelok ke McDonald. Saya harus ngopi dan sarapan sebelum roboh di jalan sambil menggendong koper. Kan nggak <em>cool</em> jadi nya. </p>
<p>Setelah menikmati burger, <em>french fries</em>, dan kopi hangat, saya bergegas melanjutkan perjalanan ke stasiun. Sebenarnya secangkir <em>roast coffee</em> tidak akan mempan mengatasi rasa kantuk, tapi sudahlah. Yang penting perut sudah terisi. </p>
<p>Begitu tiba di depan stasiun, ternyata bis nya belum datang. Hanya terlihat seorang petugas bis dan seorang polisi yang berjaga di pos polisi depan stasiun. Saya pun meletakkan koper dan menghela napas lega. Tersirat rasa bangga bahwa kali ini saya tidak menjadi <em>last minute man</em> seperti biasanya. </p>
<p>Saat saya sedang meregangkan otot-otot tubuh alias <em>ngulet</em> dengan jurus favorit, cacing <em>breakdance</em>, tiba-tiba terlintas begitu saja di dalam otak&#8230;tas plastik besar yang ada di dekat lemari ternyata ketinggalan!</p>
<p>$#@%^$#&#038;**!!!</p>
<p>Berarti saya harus kembali ke tempat tinggal saya sambil menyeret koper lagi? Nggak banget deh! </p>
<p>Lantas saya memutar otak, mencari akal bagaimana supaya tidak usah membawa koper tersayang kesana-kemari. Sungguh saya akan benar-benar pingsan begitu sampai di stasiun lagi.</p>
<p>Apa saya titip di pos polisi saja? Hmm&#8230;tapi kok kayaknya nggak sopan. Kesannya pos polisi itu tempat penitipan. Akhirnya saya mendekati petugas bis tersebut, dan bertanya apa saya boleh menitipkan koper ke beliau karena saya harus kembali mengambil barang yang tertinggal. Pakai bahasa Jepang? Tentu saja dong! <em>*bangga*</em>. </p>
<p>Yaa&#8230;nggak juga sih. Saya cuma sebut kata-kata penting nya saja sambil nunjuk-nunjuk koper. &#8220;Ada barang tertinggal&#8221;, &#8220;Tas ini nggak papa?&#8221; </p>
<p>Dua kalimat itu saja serta gerakan tangan bisa membuat bapak itu mengerti. Beliau bilang tidak apa-apa dan menyuruh untuk buru-buru karena bis sebentar lagi akan datang. Saya memang mahir bahasa tarzan.</p>
<p>Akhirnya saya pun mengucapkan terima kasih sambil membungkuk beberapa kali dan segera berlari menuju tempat tinggal saya. Perjalanannya jadi terasa lebih jauh kali ini. Huh! </p>
<p>Langit semakin terang saat saya sampai di stasiun lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 6.25 dan bis sudah bersiap-siap berangkat. Saya pun buru-buru menghampiri bapak tadi, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan segera membeli karcis. Setelah koper dimasukkan ke dalam bagasi, saya bergegas masuk ke dalam bis.</p>
<p>Beuh! Tetap jadi <em>last minute man</em> juga akhirnya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://soyuzno.com/journal/2009/09/the-sounds-and-lights-fade-and-fall-away-in-symmetry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

