<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>spiritgrace, cristiancristmas, easter, and gereja</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/SpiritgraceCristiancristmasEasterAndGereja" /><description>phanaerosis,Download gambar Rohani, cristian, time 3D
      pictures,for cristmas, easter, and curch buletin,buat warta gereja,dan
      segala sesuatu untuk natal, paskah, kartu ucapan, crismas card,kartu
      natal, screen saver</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Welly)</managingEditor><lastBuildDate>Sat, 31 Dec 2011 01:52:29 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="spiritgracecristiancristmaseasterandgereja" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>phanaerosis,Download gambar Rohani, cristian, time 3D pictures,for cristmas, easter, and curch buletin,buat warta gereja,dan segala sesuatu untuk natal, paskah, kartu ucapan, crismas card,kartu natal, screen saver</itunes:subtitle><itunes:summary>phanaerosis,Download gambar Rohani, cristian, time 3D pictures,for cristmas, easter, and curch buletin,buat warta gereja,dan segala sesuatu untuk natal, paskah, kartu ucapan, crismas card,kartu natal, screen saver</itunes:summary><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><item><title>MENGURAI DURI JADI MAHKOTA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/mengurai-duri-jadi-mahkota.html</link><category>MAHKOTA</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 13 Nov 2008 10:27:15 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-1597836778863874779</guid><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" target="_blank" href="http://1.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/SAilUixoDlI/AAAAAAAAAB4/jmfaQLBZKbo/S269/eka_darmaputera.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 90px; height: 124px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/SAilUixoDlI/AAAAAAAAAB4/jmfaQLBZKbo/S269/eka_darmaputera.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Oleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol, aku dapat singgah di tempatmu&lt;br /&gt;dan bertemu dengan kamu, sehinga kamu dapat mengantarkan aku ke sana,&lt;br /&gt;setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu." Itulah kedambaan&lt;br /&gt;serta rencana Paulus. Destinasi Spanyol, via Roma. Rencana itu ternyata&lt;br /&gt;gagal total. Ke Spanyol, ia tak pernah sampai. Ke Roma pun, ia cuma&lt;br /&gt;singgah sebagai terpidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Spanyol" dan "Roma" adalah gambaran hidup manusia. Harapan yang luruh.&lt;br /&gt;Mimpi yang runtuh. Dawai harpa yang putus satu satu. Penegasan betapa&lt;br /&gt;kegagalan mewujudnyatakan harapan adalah bagian tak terpisahkan dari&lt;br /&gt;realitas kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah membahas dua macam reaksi manusia terhadap kenyataan pahit&lt;br /&gt;ini (red: baca "Pinjamkan Kepadaku Tiga Roti). Keduanya saling berbeda,&lt;br /&gt;tapi sama-sama tak membuahkan apa-apa. Reaksi yang satu, adalah menolak&lt;br /&gt;dan melawan. Hasilnya? Bagai menahan banjir dengan kedua belah tangan.&lt;br /&gt;Sia-sia. Reaksi yang lain, memilih sikap tiarap sambil menjauh dan&lt;br /&gt;bersembunyi. Hasilnya? Bagaikan burung unta. Menyangka telah bebas dari&lt;br /&gt;bahaya, hanya karena tidak melihatnya. Bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melawan salah, tapi menghindar pun percuma, lalu bagaimana&lt;br /&gt;semestinya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita&lt;br /&gt;bahas dulu alternatif ketiga. Yang melawan tidak, menghindar pun tidak.&lt;br /&gt;Melainkan mencemplungkan diri ke dalamnya, mengikut arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik sikap yang sering disebut orang "pragmatis" tersebut,&lt;br /&gt;tersembunyilah sebuah filsafat hidup yang tak banyak disadari--apalagi&lt;br /&gt;diakui--bahkan oleh para penganutnya sendiri. Filsafat hidup yang saya&lt;br /&gt;maksudkan adalah fatalisme. Yang dalam praktik, salah satu derivatnya&lt;br /&gt;adalah oportunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi fatalisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada atau&lt;br /&gt;terjadi sesungguhnya telah ditetapkan dan ditentukan dari "sono"-nya.&lt;br /&gt;Ditentukan oleh apa atau siapa? Oleh apa pun namanya, yang kekuatannya&lt;br /&gt;jauh melampaui kekuatan kita. Karena itu, ketetapannya tidak bisa&lt;br /&gt;berubah dan tidak boleh diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Shakespeare mengiaskan kehidupan sebagai sebuah pentas drama,&lt;br /&gt;dengan lakon yang sudah pasti pakemnya, dan dengan pembagian peran yang&lt;br /&gt;telah ditentukan sebelumnya, maka sang "Ia" itulah sutradaranya.&lt;br /&gt;Penentu segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap keyakinan bahwa segala sesuatu punya penggerak atau penyebab&lt;br /&gt;perdana (= prima causa), saya tidak punya keberatan apa-apa. Yang ingin&lt;br /&gt;saya persoalkan adalah, karena fatalisme telah menarik konsekuensi yang&lt;br /&gt;terlampau jauh dari situ. Misalnya, aliran ini meyakini bahwa karena&lt;br /&gt;segala sesuatu telah ditentukan terlebih dahulu (= predestined) oleh&lt;br /&gt;Sang Maha Kuasa, maka konsekuensinya adalah Anda dan saya--si mahluk&lt;br /&gt;fana dan hina dina ini--tidak diberi pilihan lain, kecuali menerimanya.&lt;br /&gt;Sebenarnya sampai di sini pun, keberatan saya masih belum terlalu&lt;br /&gt;prinsipal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika mereka mengatakan bahwa menerima ketetapan Allah itu&lt;br /&gt;berarti menyerah dan takluk secara pasif ; ketika mereka mengatakan&lt;br /&gt;bahwa karenanya kebebasan atau kehendak bebas adalah nonsens dan mitos&lt;br /&gt;semata; dan mengajarkan bahwa jalan kehidupan manusia adalah bagaikan&lt;br /&gt;sabut kelapa yang dipermainkan gelombang, yang bernama "nasib"; wah,&lt;br /&gt;no way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran manusia di situ adalah gambaran manusia yang sangat malang.&lt;br /&gt;Ibarat bola yang disepak ke sana kemari sekehendak hati . Sangat&lt;br /&gt;berlawanan dengan gambaran di dalam Alkitab bahwa manusia--walaupun&lt;br /&gt;fana--adalah makhluk mulia. Dan bahwa kehendak bebas--sebab itu,&lt;br /&gt;tanggung jawab--bukanlah isapan jempol belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oportunisme adalah anak sulung fatalisme. Mengapa? Sebab jika sesuatu&lt;br /&gt;cuma mesti diterima, lha ya buat apa susah-susah melawannya? Bila&lt;br /&gt;korupsi jelas-jelas mustahil dihapus, mengapa tidak justru menangguk&lt;br /&gt;untung dari padanya? Ketimbang basah karena kecipratan lumpur orang&lt;br /&gt;lain, mengapa tidak mencemplungkan diri saja sekalian? Menjilat&lt;br /&gt;penguasa lalim yang tak mungkin ditumbangkan, bukanlah soal benar atau&lt;br /&gt;salah. Tapi soal cerdik atau bodoh. Soal realistis atau berkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fatalis adalah orang-orang yang amat religius. Maksud saya,&lt;br /&gt;religisoitas mereka adalah religiositas yang fatalistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengatakan, bila tak sehelai rambut pun akan gugur dari kepala&lt;br /&gt;tanpa ditentukan oleh Allah, maka apa yang "ada"--apa lagi bila&lt;br /&gt;"sukses"--pastilah dikehendaki Allah. Tidak bisa tidak. Dan bila&lt;br /&gt;dikehendaki Allah, bagaimana mungkin melawannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda lihatkah bahaya moral yang luar biasa besar di sini? Yaitu ketika&lt;br /&gt;orang menganggap bahwa semua yang "dibiarkan" Allah adalah&lt;br /&gt;"dikehendaki" Allah! Logikanya: bila Tuhan tidak mengizinkan, pasti&lt;br /&gt;saya tak akan berhasil mengeluarkan barang-barang selundupan itu. Tapi&lt;br /&gt;buktinya saya berhasil 'kan? Jadi? Bila logika semacam ini kita tarik&lt;br /&gt;lebih jauh, maka mereka percaya bahwa karena Iblis dibiarkan Tuhan,&lt;br /&gt;maka perbuatan Iblis juga disetujui Tuhan. Wah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, kebebasan yang tak terbatas itu tidak ada. Ada banyak hal&lt;br /&gt;di dalam hidup kita, di mana kita tinggal menerimanya. Bahkan kelahiran&lt;br /&gt;dan kehadiran kita di dunia ini sekalipun! Ini bukan pilihan Anda,&lt;br /&gt;bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi antara "menerima" dan "menerima," bisa berbeda-beda kualitas serta&lt;br /&gt;dampaknya. Ada yang menerima, tapi dengan penasaran. Ada yang menerima,&lt;br /&gt;sekadar karena apa boleh buat. Tapi ada pula yang menerima dengan&lt;br /&gt;ketaatan, dan tanpa kegetiran. Yang justru memanfaatkan kegagalan&lt;br /&gt;sebagai awal keberhasilan baru, tanpa mengkhianati prinsip serta hati&lt;br /&gt;nurani. Orang yang berkata, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang paling kreatif ketika kita, seperti Paulus, menyadari&lt;br /&gt;kenyataan bahwa kita tidak bisa ke "Spanyol," adalah: bagaimana&lt;br /&gt;mengubah kegagalan menjadi kekayaan, dan tantangan menjadi peluang.&lt;br /&gt;Serdadu-serdadu Romawi telah mengubah mahkota menjadi duri. Dengan itu&lt;br /&gt;mereka menyangka, mereka berhasil mematahkan semangat dan keyakinan&lt;br /&gt;diri Yesus. Ternyata mereka gagal. Mereka gagal, karena Yesus mengubah&lt;br /&gt;duri di kepalaNya menjadi mahkota!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berpengaruh yang berhasil mengukir sejarah adalah orang-&lt;br /&gt;orang dengan perangai seperti itu. Orang-orang yang mengubah "duri"&lt;br /&gt;menjadi "mahkota." Begitulah kita baca dari riwayat hidup Charles&lt;br /&gt;Darwin, Robert Louis Stevenson, Helen Keller, Gus Dur, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Mereka mengubah kondisi yang merugikan, menjadi aset yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis biografi George Frederick Handel menulis, "Kesehatannya dan&lt;br /&gt;nasibnya telah membawa Handel ke titik paling rendah. Tubuhnya sebelah&lt;br /&gt;kanan lumpuh total. Uangnya habis tandas tanpa sisa. Orang-orang yang&lt;br /&gt;menagih utang mengancam akan membawanya ke penjara. Untuk beberapa saat,&lt;br /&gt;ia tergoda untuk menyerah. Tapi kemudian semangatnya membubung lagi,&lt;br /&gt;dan itu dipakainya untuk menulis karya terbesarnya: 'MESSIAH'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koor HALELUYA yang megah tidak digubah di sebuah villa musim panas di&lt;br /&gt;"Spanyol" atau "Roma." Melainkan lahir di sebuah "bilik bui" yang&lt;br /&gt;sempit, gelap, dan pengap. Karenya, saudaraku, wajah Indonesia yang&lt;br /&gt;bopeng dan keriput bukanlah alasan yang sah untuk kita berhenti&lt;br /&gt;mencintainya. Luka-luka bernanah di sekujur tubuhnya jangan kita&lt;br /&gt;jadikan dalih, untuk menjauhi dan cuma mengutukinya tanpa berbuat&lt;br /&gt;apa-apa. (SH-06&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-1597836778863874779?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-13T10:27:15.042-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/SAilUixoDlI/AAAAAAAAAB4/jmfaQLBZKbo/s72-c/eka_darmaputera.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENGASIHI MUSUH: URGENSI ATAU FANTASI?</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/mengasihi-musuh-urgensi-atau-fantasi.html</link><category>MENGASIHI MUSUH</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Fri, 18 Apr 2008 07:03:56 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-29492756764994376</guid><description>"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah&lt;br /&gt;musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah&lt;br /&gt;bagi mereka yang menganiaya kamu." Dari semua titah Yesus, tak ayal&lt;br /&gt;lagi, inilah perintah yang paling sulit dipraktikkan. Namanya saja&lt;br /&gt;musuh, lha kok mesti dikasihi. Aneh bin ajaib, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang dengan serius, tulus dan jujur mengatakan, "Saya akui,&lt;br /&gt;perintah tersebut memang luhur dan mulia. Tapi bagaimana&lt;br /&gt;melaksanakannya?" Bagaimana mungkin mengasihi orang yang dengan sadar,&lt;br /&gt;sengaja, serta terencana, bermaksud mencelakakan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau orang lalu bersikap seperti Nietzsche. Filsuf Jerman ini&lt;br /&gt;mengatakan, bahwa perintah "mengasihi musuh" adalah salah satu bukti&lt;br /&gt;nyata, betapa etika Kristen--seperti yang ingin ditekankannya--adalah&lt;br /&gt;etikanya orang yang berkepribadian lembek bagai bubur dan yang punya&lt;br /&gt;nyali melempem seperti kerupuk. Bukan etikanya orang yang tegar, tegap,&lt;br /&gt;dan perkasa. Etikanya para pecundang, bukan filsafat hidupnya para&lt;br /&gt;pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu, kata Nietzsche, bila jujur, sebenarnya juga ingin&lt;br /&gt;membalas musuh-musuhnya. Siapa yang tidak?! Tapi sayang sekali, mereka&lt;br /&gt;tak punya keberanian. Hatinya kecil. Maka jadilah pengecut-pengecut itu,&lt;br /&gt;melalui perintah ini, menghibur diri sambil mencari pembenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun alasannya berwarna-warni, suara terbanyak akan menyimpulkan,&lt;br /&gt;bahwa Yesus adalah pemimpi. Idealis yang tak peduli pada yang praktis.&lt;br /&gt;Sebab itu, begitu nasihat mereka, boleh saja ajaran-Nya Anda amini dan&lt;br /&gt;simpan baik-baik di dalam hati. Tapi Anda tak perlu repot-repot mencoba&lt;br /&gt;melaksanakannya. Karena ini hanya akan membuat Anda frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kata orang banyak. Namun saya mau berkata lain. Saya ingin&lt;br /&gt;mengatakan bahwa, teristimewa untuk dunia kita masa kini, perintah&lt;br /&gt;Yesus yang satu itu secara khusus justru menantang kita dengan urgensi&lt;br /&gt;dan relevansi baru. Kekerasan demi kekerasan nan tak kunjung henti di&lt;br /&gt;segenap belahan bumi, seharusnya mengingatkan kita betapa jalan&lt;br /&gt;kebencian yang kita lalui selama ini, akhirnya hanya punya satu ujung&lt;br /&gt;saja. Yakni kebinasaan dan kehancuran total bagi semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya bila, seperti Nietzsche, kita mau menyelamatkan masa depan&lt;br /&gt;peradaban manusia, maka harus kita sadari, bahwa perintah "mengasihi&lt;br /&gt;musuh" adalah sebuah keharusan yang tak dapat tidak. Bukan sekadar&lt;br /&gt;fantasi indah seorang idealis atau etikanya para pecundang. Bahwa kasih,&lt;br /&gt;termasuk di sini mengasihi musuh, adalah satu-satunya kunci solusi bagi&lt;br /&gt;masalah-masalah besar yang membelit seluruh umat manusia dewasa ini.&lt;br /&gt;Dan bahwa Yesus bukanlah seorang idealis tanpa nilai praktis, melainkan&lt;br /&gt;justru seorang realis yang amat sangat praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak berarti bahwa Yesus menafikan kesulitan-kesulitan serius yang&lt;br /&gt;inheren terkandung di dalam perintah tersebut. O, jangan Anda samakan&lt;br /&gt;Yesus dengan pendeta-pendeta atau penginjil-penginjil yang dari&lt;br /&gt;belakang mimbar menggambarkan betapa perjalanan iman itu seolah-olah&lt;br /&gt;tanpa pergumulan, bahwa kehidupan itu tanpa beban, dan bahwa kekudusan&lt;br /&gt;itu begitu gampang. Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yesus mengenal betul keterbatasan manusiawi serta dilema-dilemanya. Ia&lt;br /&gt;sendiri mengalaminya. Namun demikian, tanpa meremehkan kenyataan itu,&lt;br /&gt;Yesus benar-benar sangat serius dengan titah-Nya itu, kata demi kata.&lt;br /&gt;Dan Ia mau agar kita juga sama seriusnya dengan apa yang diperintahkan-&lt;br /&gt;Nya itu. Tugas kita, saudara, bukanlah melakukan studi kelayakan apakah&lt;br /&gt; perintah itu bisa dilaksanakan atau tidak. Tugas kita cuma ini&lt;br /&gt;memahami perintah itu dengan benar, lalu membulatkan tekad&lt;br /&gt;melaksanakannya. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam praktik, bagaimana sih caranya mengasihi musuh? Apa sih&lt;br /&gt;yang mesti dan dapat kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mampu melaksanakan perintah ini, Anda pertama-tama perlu&lt;br /&gt;mengembangkan terus kemampuan dan terutama kemauan Anda dalam hal&lt;br /&gt;mengampuni. Orang tak mungkin mengasihi tanpa mau mengampuni. Dan&lt;br /&gt;selanjutnya yang mesti Anda sadari adalah, pengampunan selalu berarti&lt;br /&gt;mengampuni orang yang bersalah, khususnya orang yang telah melukai dan&lt;br /&gt;menyakiti Anda. Orang baik-baik tidak memerlukan pengampunan Anda.&lt;br /&gt;Begitu pula orang yang senantiasa menyenangkan hati Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, mengampuni begitu saja orang yang telah melukai dan menyakiti&lt;br /&gt;kita?! Ini mungkin mengagetkan. Tapi memang tak ada pilihan lain.&lt;br /&gt;Pengampunan selalu merupakan bagian dari kewajiban si korban, bukan si&lt;br /&gt;pelaku. Yang berkewajiban mengampuni adalah pihak yang telah menjadi&lt;br /&gt;korban ketidakadilan, korban penindasan, korban penghisapan, korban&lt;br /&gt;kebencian, korban pengkhianatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan para pelaku kejahatan berada di kutub yang satu lagi, yaitu&lt;br /&gt;dalam posisi perlu diampuni. Bukan mengampuni. Ini jelas dalam&lt;br /&gt;perumpamaan "Si Anak Hilang." Ketika si anak durhaka itu akhirnya tiba&lt;br /&gt;juga pada akal sehatnya, lalu dengan langkah tak pasti mengatasi rasa&lt;br /&gt;malu dan rasa takut ia menyusuri jalan kembali untuk mencari&lt;br /&gt;pengampunan, apa yang terjadi? Adalah orang yang paling ia salahi dan&lt;br /&gt;sakiti--sang Ayah!--merupakan satu-satunya orang yang dapat menyiramkan&lt;br /&gt;air sejuk pengampunan. Tak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengampunan tidak berarti melupakan, apalagi mengabaikan, kejahatan&lt;br /&gt;yang pernah dilakukan. Samasekali tidak! Kejahatan tidak boleh&lt;br /&gt;dilupakan, dan memang tidak bisa. Pengampunan sejati justru hanya bisa&lt;br /&gt;hadir dan lahir dari tengah rasa pedih yang masih amat terasa. Tapi&lt;br /&gt;meskipun begitu, di tengah kepedihan dan sakit hati itu, yang&lt;br /&gt;bersangkutan dengan sadar dan sengaja, tidak membiarkan kepedihan itu&lt;br /&gt;memadamkan api kasihnya, serta meruntuhkan jembatan penghubung&lt;br /&gt;antarkeduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedihannya yang sangat juga tidak ia biarkan membunuh pengharapan dan&lt;br /&gt;peluang, bahwa pada satu saat--entah kapan--mereka akan dapat menjalin&lt;br /&gt;lagi sebuah awal baru dalam kebersamaan mereka. Jadi bukan "to forget&lt;br /&gt;and to forgive" atau "lupakan dan ampuni," tetapi justru "to remember&lt;br /&gt;and to forgive" atau "mengingat dan mengampuni"! Aku tidak melupakan&lt;br /&gt;kesakitan serta kepedihanku akibat perbuatanmu, itu tak mungkin, tapi&lt;br /&gt;aku dengan tulus bersedia mengampunimu. Aku tidak dapat membenarkan&lt;br /&gt;kejahatanmu, ini juga mustahil, tetapi justru karena itu aku&lt;br /&gt;mengampunimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu saja karena adanya kemauan yang kuat&lt;br /&gt;serta tekad yang bulat. Mengampuni seungguhnya bukanlah soal mampu atau&lt;br /&gt;tidak mampu, tetapi soal mau atau tidak mau. Kemauan yang kuat untuk&lt;br /&gt;mengampuni ini, pada gilirannya, akan amat terbantu bila ada kesadaran&lt;br /&gt;yang penuh, bahwa pada setiap orang selalu terdapat kejahatan maupun&lt;br /&gt;kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya, tak ada orang sepenuhnya baik dan seluruhnya jahat.&lt;br /&gt;Sejahat-jahatnya si musuh, ia pasti menyimpan kebaikan. Dan sebaik-&lt;br /&gt;baiknya diri kita, pasti ada kekurangan dan kesalahan di dalamnya.&lt;br /&gt;Setiap orang karenanya membutuhkan baik penerimaaan maupun pengampunan.&lt;br /&gt;Kita ataupun siapa saja. Implikasinya, bila Anda membutuhkan&lt;br /&gt;pengampunan dari orang lain, apakah Anda punya alasan yang sah bagi&lt;br /&gt;keengganan Anda mengampuni orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengampuni maupun mengasihi bukanlah soal getar rasa atau gejolak emosi.&lt;br /&gt;Bukan soal suka atau tidak suka. Tapi, sekali lagi, soal mau atau tidak&lt;br /&gt;mau. Sebab itu beruntunglah kita, karena Tuhan tidak memerintahkan&lt;br /&gt;kita untuk menyukai musuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Tuhan sendiri, kita tahu, Ia tidak akan bisa memaksa siapa pun&lt;br /&gt;untuk menyukai orang yang tidak ia sukai. Tapi orang memang tidak harus&lt;br /&gt;terlebih dahulu menyukai seseorang, baru dapat menerima dan&lt;br /&gt;mengampuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagi. Di atas saya katakan, bahwa tak seorang pun dapat&lt;br /&gt;memaksa Anda untuk mengampuni. Pengampunan itu mesti tulus, tanpa&lt;br /&gt;terpaksa. Namun demikian, Anda dapat "memaksa" diri Anda sendiri untuk&lt;br /&gt;mengampuni. Maksud saya, kemauan itu harus Anda kendalikan, bukan&lt;br /&gt;sebaliknya mengendalikan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih-lebih bila kita ingat, betapa negeri ini sudah tak punya&lt;br /&gt;banyak pilihan lagi, kecuali "rekonsiliasi sekarang" atau "hancur&lt;br /&gt;berkeping-keping kemudian." Secara individual kita tentu tak akan mampu&lt;br /&gt;mendamaikan seluruh negeri. Namun kita dapat mulai dengan mengusir&lt;br /&gt;kebencian, memadamkan dendam, dan menghadirkan damai di hati kita&lt;br /&gt;masing-masing. Ini arti dan dampaknya pasti besar sekali. (SH-031201)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-29492756764994376?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-18T07:03:56.457-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KEJAHATAN MEMANG PERKASA, TAPI TIDAK MAHAKUASA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/kejahatan-memang-perkasa-tapi-tidak.html</link><category>KEJAHATAN</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 17 Apr 2008 20:25:11 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-4084055186797106411</guid><description>Oleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Yunani kuno--seperti kita--percaya, Allah (= theos) itu baik.&lt;br /&gt;Sebab Ia baik, mustahillah dari sini muncul yang jahat. Jadi, kalau&lt;br /&gt;begitu, dari manakah kejahatan berasal? Jawab mereka: pasti dari&lt;br /&gt;"Tuhan" yang lain. Tuhan yang "bengis." Namanya, Demiourgos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula versi lain. Sebab Theos itu baik, yang disebut "jahat" itu&lt;br /&gt;tidak mungkin ada. Alias ilusi semata. Ilusi karena manusia yang telah&lt;br /&gt;terperangkap oleh kebendaan dan kedagingan, tak mampu lagi menangkap&lt;br /&gt;kebenaran yang sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman Kristen amat berbeda. Mewarisi iman Israel Perjanjian Lama, orang&lt;br /&gt;Kristen meyakini, pertama, kejahatan itu riil, nyata, fakta. Bukan&lt;br /&gt;sekadar fiksi, ilusi, atau fantasi. Dan, kedua, orang Kristen&lt;br /&gt;mempercayai dengan sepenuh hati, hanya ada satu Allah, tidak "allah"&lt;br /&gt;yang baik dan "allah yang "jahat." Allah yang satu itu adalah Khalik&lt;br /&gt;semua. Yang tampak maupun yang tidak. Yang baik maupun yang jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekristenan malah tidak cuma mengakui bahwa kejahatan itu ada, tetapi&lt;br /&gt;juga menekankan bahwa kuasa kejahatan itu perkasa luar biasa. Sebab&lt;br /&gt;itu, bila tak mau celaka, jangan sekali-kali meremehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemampuan serta kemauan maksimalnya sekalipun, manusia tak bakal&lt;br /&gt;mampu menandingi apalagi mengalahkan si Jahat. Buku terakhir Perjanjian&lt;br /&gt;Baru, Wahyu, secara dramatis melukiskan perang akhir yang imbang antara&lt;br /&gt;kuasa kebenaran versus kuasa kejahatan. Walaupun akhirnya, si Anak&lt;br /&gt;Domba itulah yang memenangkan pertarungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, iman Kristen tidak cuma mengatakan bahwa kejahatan itu ada serta&lt;br /&gt;serba perkasa, titik. Sebab bila cuma itu, ya apa istimewanya? Dan apa&lt;br /&gt;manfaatnya? Yang istimewa adalah kekristenan menegaskan, secara&lt;br /&gt;intrinsik di dalam dirinya, kejahatan menyimpan benih-benih&lt;br /&gt;penghancuran dirinya sendiri. Dengan perkataan lain, kejahatan&lt;br /&gt;menyimpan kekuatan yang self-destructive. Seperti kamikaze, pasukan&lt;br /&gt;bunuh diri Jepang di masa PD II dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja untuk masa yang lama, kejahatan tampak tangguh dan perkasa,&lt;br /&gt;seolah-olah tak mungkin tergoyahkan. Tapi, lihatlah apa yang terjadi&lt;br /&gt;dalam sejarah! Tidak ada kelaliman yang tahan bertahta selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika--bisa lama bisa pendek--kuasa kejahatan akan digilas&lt;br /&gt;oleh kuasa keadilan. Keniscayaan ini berlaku untuk kekuasaan apa saja,&lt;br /&gt;di mana saja dan kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia boleh saja melecehkan dan memandang remeh moral dan etika.&lt;br /&gt;Ketika pemimpin-pemimpin umat beragama baru-baru ini berkumpul, lalu&lt;br /&gt;bersepakat untuk melancarkan sebuah gerakan moral, saya tahu banyak&lt;br /&gt;yang menertawakannya di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Moral? Bisa apa moral?!" Toh sejarah membuktikan adanya sebuah hukum&lt;br /&gt;besi moral yang selalu berlaku, baik orang mau mengakuinya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah hidup ini berlangsung menurut aturan dan ketentuan-&lt;br /&gt;ketentuan moral tertentu. Anda mau melawannya? O, silakan! Tapi&lt;br /&gt;bersiap-siaplah menuai buahnya dan menanggung konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tak mau mengakuinya? O, silakan! Anda tidak dipaksa. Tapi hukum&lt;br /&gt;itu akan berjalan terus, tanpa menunggu restu dan pengakuan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada masa-masa di mana seakan-akan orang-orang seperti Hitler atau&lt;br /&gt;Mussolini, Idi Amin, atau Rasputin diberi keleluasaan menikmati&lt;br /&gt;kejayaannya. Bagaikan ilalang yang dibiarkan tumbuh bebas mengimpit&lt;br /&gt;gandum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada saatnya, ketika ilalang akan dipisahkan dari gandum. Yang&lt;br /&gt;satu untuk dibakar menjadi abu, dan yang lain untuk disimpan di dalam&lt;br /&gt;lumbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu karya akbarnya, Les Miserables, Victor Hugo berbicara&lt;br /&gt;mengenai perang antara Wellington dan Napoleon, perang Waterloo yang&lt;br /&gt;terkenal itu. Ia menulis, "Mungkinkah Napoleon memenangkan peperangan?&lt;br /&gt;Jawab kita, tidak. Mengapa tidak? Apakah karena Wellington? Atau karena&lt;br /&gt;Bluecher? Juga tidak! Tapi karena Allah .... Vonis bagi Napoleon telah&lt;br /&gt;dijatuhkan sejak awal oleh Sang Maha Kekal. Kejatuhannya telah&lt;br /&gt;ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa. Napoleon telah membuat Allah jengkel.&lt;br /&gt;Waterloo bukanlah peperangan sebenarnya. Ia adalah gambaran dari ajang&lt;br /&gt;perang semesta yang sebenarnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajang perang semesta yang sebenarnya? Apa maksudnya? Waterloo, menurut&lt;br /&gt;Victor Hugo, merepresentasikan peperangan moral yang terus-menerus&lt;br /&gt;terjadi. Waterloo adalah lambang kejatuhan yang pasti dari setiap&lt;br /&gt;"napoleon" yang ada di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peringatan abadi tentang rapuhnya sebuah angkatan anak manusia&lt;br /&gt;yang mabok oleh kemenangan militer. Penegasan bahwa kebenaran--atau&lt;br /&gt;apapun yang baik--tak mungkin dihasilkan oleh kuasa pedang, melainkan&lt;br /&gt;hanya oleh kuasa roh melalui kekuatan moral!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda masih kurang yakin? Telah lupakah Anda bahwa belum sampai seratus&lt;br /&gt;tahun yang lalu, selama berabad-abad, dunia--khususnya Asia dan Afrika--&lt;br /&gt;masih dikuasai oleh sistem kolonialisme? Sebuah sistem yang waktu itu&lt;br /&gt;diyakini sebagai kodrat yang hanya mesti diterima, dan tak mungkin&lt;br /&gt;diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak. Suatu kekuatan yang tersembunyi juga bekerja di bawah&lt;br /&gt;permukaan. Kekuatan kemerdekaan dan keadilan. Ini disungguhkan tidak&lt;br /&gt;kurang oleh MacMillan, Perdana Menteri dari kekuatan kolonial terbesar&lt;br /&gt;di dunia, Inggris. Ia mengatakan bahwa "angin perubahan telah mulai&lt;br /&gt;bertiup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian hanya dalam waktu tidak lebih dari 15 tahun, kekuatan-kekuatan&lt;br /&gt;kolonial rubuh satu demi satu bagai deretan kartu domino, dan puluhan&lt;br /&gt;negara baru bermunculan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa dan dari mana kekuatan ini? Kita tidak tahu. Yang jelas, inilah&lt;br /&gt;yang terjadi bila kuasa Tuhan bekerja. Inilah yang terjadi bila&lt;br /&gt;kekuatan moralitas dilawan. Inilah yang terjadi bila proses pembusukan&lt;br /&gt;telah sampai ke titik yang tak tersembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mampu mengalahkan dan menaklukkan kuasa kejahatan. Mungkin tidak&lt;br /&gt;dengan cara menggelontor bumi dengan air bah seperti pada zaman Nuh;&lt;br /&gt;atau membelah lautan seperti pada zaman Musa, atau membakar bumi&lt;br /&gt;seperti yang terjadi atas Sodom dan Gomora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang tidak perlu. Sebab sebagaimana saya katakan, lambat atau&lt;br /&gt;cepat kuasa-kuasa kejahatan itu akan menghancurkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bagian dari hukum besi moralitas yang tak mungkin dilawan.&lt;br /&gt;Membuktikan kebenaran kata-kata Yesus, orang yang bijaksana akan&lt;br /&gt;mendirikan rumahnya di atas batu. "Kemudian turunlah hujan dan&lt;br /&gt;datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak&lt;br /&gt;rubuh ...." Berbeda dengan mereka yang mendirikan rumahnya di atas&lt;br /&gt;pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Russell Lowell menulis, "Kebenaran selamanya terpuruk di lantai&lt;br /&gt;berdebu. Dan kejahatan selamanya bertahta di singgasana mulia. Tapi,&lt;br /&gt;jangan salah, sebab dari lantai berdebu ini, taufan masa depan menyapu.&lt;br /&gt;Dan di kesamaran yang tersembunyi, berdirilah Allah di bawah naungan&lt;br /&gt;bayang-bayang--memperhatikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Zaman ini zaman edan. Yang tidak ikut-ikutan edan tidak kebagian."&lt;br /&gt;Kata-kata ini amat terkenal, bukan? Tapi tolong jangan kutip&lt;br /&gt;Ronggowarsito cuma sampai di sini. Sebab yang tak kalah pentingnya&lt;br /&gt;adalah, ia juga mengatakan, "Seuntung-untungnya yang edan, masih lebih&lt;br /&gt;beruntunglah mereka yang eling dan waspada." (SH-090202)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-4084055186797106411?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-17T20:25:11.377-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>ALLAH BISA!</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/allah-bisa.html</link><category>ALLAH BISA</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Tue, 15 Apr 2008 10:16:52 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-7192347674745549567</guid><description>Oleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat iman Kristen adalah kepecayaan bahwa Allah adalah Allah yang Maha&lt;br /&gt;Kuasa (= omnipotent), Maha Hadir (= omnipresent ), dan Maha Tahu&lt;br /&gt;(= omniscient). Artinya, tidak ada satu pekerjaan pun yang Allah tidak&lt;br /&gt;bisa lakukan. Tidak ada satu tempat pun di mana Allah tidak ada di situ&lt;br /&gt;. Dan, tidak ada satu rahasia pun yang Allah tidak tahu. Ia adalah&lt;br /&gt;Allah yang kompeten. Bukan Allah yang impoten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini, kepercayaan ini--paling sedikit secara formal--tetap&lt;br /&gt;sentral. Tidak bisa ditawar-tawar. Namun bila yang formal dapat&lt;br /&gt;dikatakan tidak berubah, yang kontekstual, yaitu konteks di mana orang&lt;br /&gt;Kristen sekarang hidup, telah mengalami banyak perubahan yang drastis&lt;br /&gt;lagi radikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan daya ragawi manusia&lt;br /&gt;beribu kali ganda. Teleskop dan televisi telah meningkatkan daya&lt;br /&gt;penglihatannya. Telepon, radio, dan mikrofon telah melipatgandakan daya&lt;br /&gt;bicara maupun pendengarannya. Mobil dan pesawat terbang telah&lt;br /&gt;memperpanjang daya jangkau langkah kakinya. Obat-obatan penemuan baru&lt;br /&gt;telah memperpanjang usia harapan hidupnya. Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah wajar semata, bila pencapaian-pencapaian yang mengagumkan ini&lt;br /&gt;sedikit demi sedikit menggerus keyakinan sentral bahwa Allah adalah&lt;br /&gt;Allah yang Maha Bisa. "Bukan Allah (saja) yang maha bisa, tapi&lt;br /&gt;manusia!" begitu ia sesumbar. Perlahan tapi pasti, teosentrisme&lt;br /&gt;bergeser menjadi antroposentrisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belum terlalu lama manusia menikmati kenyamanan berada di tahta&lt;br /&gt;tertinggi dan di titik-api seluruh semesta itu, banyak hal terjadi yang&lt;br /&gt;telah mengguncangkan dan merontokkan kepongahannya. Penemuan-penemuan&lt;br /&gt;teknologi yang baru saja dipuja-puja sebagai tumpuan harapan seluruh&lt;br /&gt;masa depan umat manusia ternyata mengandung potensi merusak dan&lt;br /&gt;membinasakan yang luar biasa pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, bagaikan pusaran pasir yang tak tertahankan--dengan&lt;br /&gt;perlahan tapi pasti--kekuatan perusak itu sedang menyeret seluruh umat&lt;br /&gt;manusia menuju kemusnahan total. Dengan terkejut manusia menyadari,&lt;br /&gt;betapa ia tidak mampu menyelamatkan diri sendiri--apalagi dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh kesadaran baru ini tidak serta-merta menggiring manusia kembali&lt;br /&gt;mengorientasikan diri kepada Allah. Realitas kejahatan yang begitu&lt;br /&gt;kolosal dan spektakuler, baik secara kualitatif maupun kuantitatif;&lt;br /&gt;kedahsyatan bencana-bencana alam yang dalam sekejap menyapu bersih&lt;br /&gt;ribuan nyawa, virus, dan kuman penyakit-penyakit baru maupun lama yang&lt;br /&gt;muncul dengan daya resistensi tinggi terhadap obat-obatan yang ada;&lt;br /&gt;peperangan antarbangsa dan pertikaian antarkelompok yang telah mencapai&lt;br /&gt;tingkat kegilaan yang tak lagi mampu dipahami dengan akal sehat;&lt;br /&gt;kesenjangan memilukan antara minoritas kelompok kaya dan mayoritas kaum&lt;br /&gt;miskin yang kian tak terjembatani; kekosongan, kesepian serta ketiadaan&lt;br /&gt;makna yang menindih perasaan manusia; semua ini--dan yang lain-lain--&lt;br /&gt;justru membuat sebagian besar manusia modern kian skeptis terhadap&lt;br /&gt;kemahabisaan Allah. Mengapa semua ini sampai terjadi, bila Allah memang&lt;br /&gt;ada dan mampu mencegah serta mengatasinya? Apakah kepercayaan bahwa&lt;br /&gt;Allah Maha Bisa sebenarnya telah jauh kadaluwarsa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal saya hendak mengatakan, kendala terbesar untuk memperoleh&lt;br /&gt;pencerahan dalam menjawab pertanyaan tersebut adalah praduga yang&lt;br /&gt;keblinger bahwa Allahlah sutradara di balik semua kejahatan yang&lt;br /&gt;menimpa manusia. Padahal semua yang terjadi itu, sebagian terbesar&lt;br /&gt;disebabkan oleh karena kebebalan dan keculasan manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tidak adil, menuntut Allah untuk kejahatan yang dilakukan oleh&lt;br /&gt;Hitler, Stalin, Idi Amin, atau Osama. Atau menghukum-Nya untuk korupsi&lt;br /&gt;yang dilakukan oleh rezim Orde Baru (maupun oleh rezim yang lebih&lt;br /&gt;"baru" lagi). Iblis yang sebenarnya jauh lebih lantas menghadapi&lt;br /&gt;tuduhan ini, eee ... malah perkaranya kita deponir dan kita bebaskan ia&lt;br /&gt;dari segala tuntutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak pernah berada di balik, di tengah, ataupun di depan&lt;br /&gt;kejahatan. Sebab yang kita sebut sebagai kejahatan, per definisi,&lt;br /&gt;adalah segala sesuatu yang melawan dan menentang Allah. Dus, bagaimana&lt;br /&gt;mungkin, membayangkan Allah berada di pihak kejahatan--baik aktif&lt;br /&gt;maupun pasif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kebenaran yang lebih benar daripada pernyataan serta&lt;br /&gt;kenyataan bahwa Allah selalu berada di balik, di dalam, dan di depan&lt;br /&gt;kebaikan. Yang selalu dilakukan oleh Allah adalah mendayagunakan&lt;br /&gt;kemahakuasaan-Nya untuk mengubah apa yang semula dirancang sebagai&lt;br /&gt;kejahatan agar berakhir menjadi kebaikan. Dan apa yang semula kita&lt;br /&gt;caci sebagai kemalangan, bila kita retrospeksi ke belakang, eee ...&lt;br /&gt;sering justru merupakan awal dari keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya katakan adalah betapa pun spektakuler dan kolosalnya&lt;br /&gt;realitas kejahatan di sekitar kita; betapa pun pedihnya luka batin kita;&lt;br /&gt;betapa pun dalamnya keterpurukan kita; dan betapa pun suramnya cahaya&lt;br /&gt;pengharapan dalam hidup kita; semua ini secara objektif belum cukup&lt;br /&gt;sahih untuk kita jadikan alasan untuk menyerah, dan tidak mau&lt;br /&gt;mempercayakan diri lagi kepada Allah. Sekaranglah saatnya kita memetik&lt;br /&gt;pelajaran dari pengalaman--bukan dari kepercayaan yang membabi-buta!--&lt;br /&gt;untuk menanggalkan kepercayaan diri yang berlebih-lebihan kepada&lt;br /&gt;kemampuan manusia, dan kembali melabuhkan sauh pengharapan kita kepada&lt;br /&gt;yang Maha Bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita menyadari kembali betapa kecilnya manusia dan betapa&lt;br /&gt;dahsyatnya Allah! Dengan ini saya tidak bermaksud sedikit pun untuk&lt;br /&gt;menafikan kemampuan manusia. Namun, kemampuannya itu semestinya justru&lt;br /&gt;membuat ia menyadari betapa tidak mampunya ia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda meragukan kemampuan Allah mengendalikan kejahatan yang ada di&lt;br /&gt;dunia ini? Astaga, pakailah nalar Anda sebaik-baiknya! Bila pergerakan&lt;br /&gt;seluruh alam semesta saja berada di bawah kendali-Nya, betapa lagi yang&lt;br /&gt;ada di bumi ini! Ia pasti bermiliar-miliar atau bertriliun-triliun kali&lt;br /&gt;lebih mampu! Seorang Ade Ray yang punya kekuatan mengangkat beban&lt;br /&gt;ratusan kilo masih Anda ragukan kemampuannya mengangkat beras 10 kilo?&lt;br /&gt;Oh, come on!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa secara proporsional, bumi kita ini tak ubahnya bagaikan&lt;br /&gt;debu di lingkungan galaksinya sendiri. Begitu pula dengan kemampuan&lt;br /&gt;manusia yang kita agul-agulkan itu! Agar kita tidak bagaikan katak yang&lt;br /&gt;merasa diri lembu, demi objektivitas kita harus menanggalkan ilusi&lt;br /&gt;tentang kehebatan diri sendiri yang berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang mengagumkan dari prestasi manusia. Tapi sebelum kita keburu&lt;br /&gt;terjerat tanpa sadar oleh arogansi antroposentrisme yang menyesatkan,&lt;br /&gt;marilah kita melihat alam semesta yang lebih luas. Kita akan mendapati,&lt;br /&gt;betapa semua penemuan dan capaian manusia yang tertinggi, tetap tak ada&lt;br /&gt;artinya dibandingkan dengan apa yang telah ditata oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah data-data berikut ini masih akurat atau tidak.&lt;br /&gt;Tapi, saya pernah membaca tentang bagaimana bumi kita ini mengelilingi&lt;br /&gt;matahari dengan kecepatan begitu rupa sehingga bila dilakukan adu balap,&lt;br /&gt;dalam satu jam pertama saja pesawat jet manusia yang tercanggih akan&lt;br /&gt;sudah ketinggalan 66.000 mil di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli juga mengatakan, bagaimana dalam perjalanan mengelilingi&lt;br /&gt;matahari itu, bumi ini menempuh jarak 584 juta mil per tahun, dengan&lt;br /&gt;kecepatan rata-rata 66. 700 mil per jam atau 1,600. 000 mil per hari.&lt;br /&gt;Itu berarti, pada saat yang sama keesokan harinya kita telah berada&lt;br /&gt;1.600.000 mil jauhnya dari tempat di mana kita berada sekarang.&lt;br /&gt;Dan toh kita tidak merasakan apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkah Anda bayangkan semua ini? Sungguh fantastis, bukan?&lt;br /&gt;Pertanyaan saya: bila Allah mampu mengendalikan semua yang begitu&lt;br /&gt;fantastis, masihkah Anda ragukan kemampuan-Nya mengendalikan hidup&lt;br /&gt;Anda dan perjalanan arah sejarah dunia ini? Jadi, manakah yang&lt;br /&gt;sebenarnya telah kadaluarsa: kepercayaan tentang ke-Maha-Bisa-an&lt;br /&gt;Allah, atau ketidakpercayaan manusia? (SH-020302)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-7192347674745549567?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-15T10:16:52.032-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BERKEMAUAN BAJA, BERHATI KACA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/berkemauan-baja-berhati-kaca.html</link><category>BERKEMAUAN BAJA</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Mon, 14 Apr 2008 02:50:12 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-5000912439954861160</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di masa gonjang-ganjing sekarang ini&lt;/span&gt;, apakah Anda--seperti saya--&lt;br /&gt;mendambakan seseorang yang dapat kita jadikan idaman, andalan, serta&lt;br /&gt;panutan? Menurut para cerdik cendekia, orang yang pantas dijadikan&lt;br /&gt;idaman adalah orang yang paripurna. Maksudnya, ia memiliki serta&lt;br /&gt;merangkum semua karakter luhur di dalam dirinya. Termasuk karakter-&lt;br /&gt;karakter yang sendiri-sendiri sebenarnya saling berlawanan. Jadi,&lt;br /&gt;misalnya, yang bersangkutan mestilah seorang idealis sekaligus realis;&lt;br /&gt;berpikir jauh ke depan atau melambung tinggi ke awan-awan, tapi tetap&lt;br /&gt;menginjak bumi; seorang pemikir yang dalam dan pelaksana yang andal;&lt;br /&gt;amat disegani namun serentak juga disayang orang setulus hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan, manusia sempurna itu tidak ada. Yang mendekati&lt;br /&gt;sempurna pun amat langka. Sebab siapa orangnya yang mampu begitu&lt;br /&gt;paripurna? Tuntutan Tuhan atas kita, tak satu miligram atau setengah&lt;br /&gt;inci pun kurang dari itu. "Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu&lt;br /&gt;yang di sorga adalah sempurna." Itu berarti, Anda dan saya mesti&lt;br /&gt;berjuang sangat keras agar menjadi kian paripurna. Tidak terjerat oleh&lt;br /&gt;fanatisme sempit yang membabi buta, atau oleh kepicikan yang timpang&lt;br /&gt;dan berat sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dalam kualitasnya yang paling prima, adalah hidup yang merupakan&lt;br /&gt;ajang perpaduan yang dinamis dan harmonis antara semua unsur-unsurnya.&lt;br /&gt;Termasuk unsur-unsur yang sekilas tampak saling bertentangan. Seperti&lt;br /&gt;tutur George Wilhelm Friedrich Hegel, kebenaran tidaklah terletak pada&lt;br /&gt;tesis dan tidak pula pada antitesis, melainkan pada sintesis yang&lt;br /&gt;adalah perpaduan antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu bisa dipahami peliknya hidup yang cuma mengandalkan kebenaran&lt;br /&gt;semata-mata! Yang bersangkutan akan menghadapi tantangan baik dari luar&lt;br /&gt;maupun dari dalam. Tantangan eksternal maupun tantangan internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tantangan yang berasal dari luar, Yesus menampilkannya sebagai&lt;br /&gt;"domba di tengah-tengah serigala." Orang yang setia kepada kebenaran&lt;br /&gt;akan senantiasa hidup di bawah ancaman dan tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak, ada orang-orang, yang karena rela menjual kebenaran dan&lt;br /&gt;harga diri, mampu terus mengapung bahkan melambung di zaman atau rezim&lt;br /&gt;apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, ada pula yang karena tak pernah rela melawan&lt;br /&gt;kebenaran serta mengkhianati hati nurani, maka walau zaman telah&lt;br /&gt;berganti zaman, terus saja mereka hidup merana bagaikan domba di tengah&lt;br /&gt;-tengah serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh, kata Yesus, mereka harus terus bertahan. Pantang menyerah. Domba&lt;br /&gt;tidak boleh berubah jadi serigala. Tapi juga jangan sampai cuma jadi&lt;br /&gt;mangsa tanpa daya serigala-serigala jahanam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, mereka harus berusaha memadu dan meramu dua karakter&lt;br /&gt;sekaligus. Dan inilah yang saya sebut sebagai tantangan yang bersifat&lt;br /&gt;internal, atau berasal dari dalam. Yaitu sulitnya menjadi "cerdik&lt;br /&gt;seperti ular" sekaligus "tulus seperti merpati," seperti yang&lt;br /&gt;dikehendaki Yesus. Di satu pihak, ada kemauan keras, semangat rawe-rawe&lt;br /&gt;rantas, malang-malang putung, bahkan Werkudara. Di lain pihak, ada hati&lt;br /&gt;yang lembut, putih, tanpa pretensi, bagaikan Puntadewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir-hampir mustahil, bukan, membayangkan seseorang yang memiliki dua&lt;br /&gt;sifat sekaligus, 'ular' maupun 'merpati'? Tidak sulit membayangkan Pak&lt;br /&gt;Polan yang culas dan keji tanpa hati nurani. Juga tidak rumit&lt;br /&gt;membayangkan si Monang, yang jujur dan lugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini ada Adolf Hitler yang berhati iblis. Ada pula lbu Teresa&lt;br /&gt;yang berhati malaikat. Tapi bagaimana membayangkan malaikat berhati&lt;br /&gt;iblis? Atau iblis berhati malaikat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit. Sangat sulit. Tapi kesulitan ini wajar semata. Sebab&lt;br /&gt;tidak ada jalan yang mudah dan sederhana untuk mencapai tujuan yang&lt;br /&gt;mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pula harga murah untuk mendapatkan benda yang sungguh-sungguh&lt;br /&gt;berharga. Kesulitan, Saudara, adalah sesuatu yang melekat pada&lt;br /&gt;kebenaran. Sesuatu yang tak mungkin terhindarkan. Karena itu, betapapun&lt;br /&gt; sulit, kita tak punya pilihan lain. Kita harus bersedia menebus "resep&lt;br /&gt;" yang mahal itu. Atau terpaksa mengucapkan, "Selamat tinggal,&lt;br /&gt;kebenaran!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pencinta kebenaran harus berjuang keras untuk menjadi manusia-&lt;br /&gt;manusia dengan kemauan baja tapi sekaligus berhati kaca. Berkemauan&lt;br /&gt;baja, artinya: kokoh dan teguh dalam tekad dan kemauan. Bisa dipatahkan,&lt;br /&gt;namun mustahil dibengkokkan atau dibelokkan. Komitmennya kepada&lt;br /&gt;kebenaran adalah harga pas. Tanpa diskon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di samping berkemauan baja, seorang pencinta kebenaran mesti pula&lt;br /&gt;berhati kaca. Artinya, tidak cuma berkobar-kobar memperjuangkan&lt;br /&gt;kebenaran, tapi memperjuangkan kebenaran itu dengan motif dan cara yang&lt;br /&gt;benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu ia mesti bersih dari maksud-maksud serta kepentingan-&lt;br /&gt;kepentingan tersembunyi. la mesti jernih dan bening bagai kaca.&lt;br /&gt;Transparan. Dan, seperti kaca pula, ia juga lembut serta mudah terluka.&lt;br /&gt;Namun ini sama sekali bukanlah tanda kelemahan, melainkan justru tanda&lt;br /&gt;kekuatan. Hati seorang pencinta kebenaran adalah hati yang mudah sekali&lt;br /&gt;tergetar, tergores, bahkan retak oleh hadirnya ketidakbenaran serta&lt;br /&gt;kepalsuan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, ia tidak bisa tinggal diam. Amat mungkin, dalam keadaan itu,&lt;br /&gt;ia tidak tahu harus bicara apa atau mesti bertindak bagaimana. Tapi&lt;br /&gt;hatinya tak bisa diam. Tak pernah bisa diam, penuh perlawanan. (SH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERKEMAUAN BAJA, BERHATI KACA (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang dengan kemampuan baja adalah orang dengan penglihatan yang jelas,&lt;br /&gt;tekad yang keras, dan pilihan-pilihan yang tegas. Matanya menyorot&lt;br /&gt;tajam. Kakinya melangkah tegap. Mantap, penuh kepastian. Tahu ke mana&lt;br /&gt;ia mesti pergi. Itu adalah langkah-langkah seorang panglima; gagah,&lt;br /&gt;menebar aroma kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya ingin katakan, saudara-saudaraku, begitulah seharusnya kita&lt;br /&gt;merangkul kebenaran. Memeluknya dengan sepenuh kemauan serta komitmen&lt;br /&gt;sekokoh baja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bisa menyangkal, bahwa salah satu kebutuhan serta kedambaan&lt;br /&gt;terdalam umat manusia zaman ini, adalah orang-orang dengan kemauan baja&lt;br /&gt;seperti itu? Orang-orang yang tak mudah dibolak-balikkan atau dibelok-&lt;br /&gt;bengkokkan oleh gertakan maupun rayuan. Orang-orang yang di tengah&lt;br /&gt;musim atau iklim apapun, cuma punya satu komitmen: kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alangkah mengecewakan! Semakin renta usia umat manusia, ternyata&lt;br /&gt;semakin rentanlah ia terhadap kemudahan, kenikmatan, serta kegemerlapan.&lt;br /&gt;Alhasil, bumi kita justru pengap dan penuh sesak dengan orang-orang&lt;br /&gt;yang berkemauan selembek bubur dan serapuh krupuk! Terlalu banyak bebek,&lt;br /&gt;terlalu sedikit burung garuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia cenderung menjadi kian manja. Enggan bersusah-susah. Malas&lt;br /&gt;berfikir lama serta mendalam. Sebab itu sekarang ini di Indonesia ada&lt;br /&gt;segudang persoalan mendasar, tapi yang tersedia cumalah jawaban-jawaban&lt;br /&gt;instan serta jalan keluar setengah matang. Persoalan cenderung menumpuk,&lt;br /&gt;disembunyikan, tidak diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpedulian manusia terhadap apa yang benar dan apa yang palsu&lt;br /&gt;inilah, yang dieksploitir perusahaan-perusahaan iklan untuk merangsang&lt;br /&gt;selera dangkal manusia. Kemalasan manusia memilah antara informasi dan&lt;br /&gt;provokasi; kerakusannya melahap rumor serta sensasi; serta&lt;br /&gt;keengganannya menapis antara yang fakta dan yang propaganda; inilah&lt;br /&gt;yang dimanfaatkan oleh media-media massa yang tak bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu money politics'? Ah, apa lagi bila bukan karena budaya di mana&lt;br /&gt;untuk segala sesuatu ada "tarif"nya? Sebab itu siapa mengatakan&lt;br /&gt;Indonesia serba terpecah belah? O, samasekali tidak! Sebab kita&lt;br /&gt;sebenarnya begitu teguh bersatu dan begitu erat bersinergi. Tapi&lt;br /&gt;sayangnya, cuma dalam menghancur-luluhkan masa depannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, harapan kita satu-satunya--dan ini pun kian meredup&lt;br /&gt;pula--adalah kemauan baja. Hanya dengan kemauan baja, kita dapat&lt;br /&gt;menahan gelombang zaman yang begitu kuat menerpa. Hanya dengan kemauan&lt;br /&gt;baja, kita dapat melawan kemanjaan dan kemalasan yang menghancurkan&lt;br /&gt;diri kita sendiri. Memulihkan perlawanan serta semangat juang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kemauan baja adalah hati yang lembut. Tanpa hati yang lembut,&lt;br /&gt;kemauan keras akan berhenti pada kebekuan dan kekakuan, di mana tidak&lt;br /&gt;ada kehangatan maupun keceriaan. Sebab yang ada cumalah musim dingin&lt;br /&gt;yang abadi. Tanpa matahari musim semi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak ada yang lebih tragis daripada orang yang dengan ketekunan&lt;br /&gt;dan disiplin yang tinggi berhasil memiliki kemauan baja, namun segera&lt;br /&gt;terhempas kembali sebab kemauan baja itu tidak pernah lebih daripada&lt;br /&gt;sekadar keras hati. Maksud saya, ada kemauan, tapi tanpa kepedulian.&lt;br /&gt;Ada semangat yang tinggi, tapi tanpa hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si orang muda yang kaya, atau si bodoh yang menepuk-nepuk dada karena&lt;br /&gt;panen rayanya yang sukses, atau si kaya dalam kisah Lazarus yang miskin,&lt;br /&gt;mereka tidak dikecam oleh Yesus karena mereka bermauan baja atau&lt;br /&gt;berkemauan lembek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka dikecam karena ketidakpedulian mereka kepada sesama. Karena&lt;br /&gt;mereka memandang kehidupan sebagai sebuah cermin, hanya untuk melihat&lt;br /&gt;diri mereka sendiri. Bukan sebagai jendela, melalui mana mereka bisa&lt;br /&gt;melihat keluar dan menyatakan kepedulian terhadap sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu mesti kedua-duanya. Kemauan yang keras saja tanpa hati yang&lt;br /&gt;lembut, akan melahirkan pemaksaan bahkan penindasan. Sebaliknya hati&lt;br /&gt;yang lembut saja tanpa kemauan yang keras, hanya akan melahirkan iba&lt;br /&gt;dan kasihan, tidak membuahkan tindakan. Keduanya kurang paripurna.&lt;br /&gt;Karena itu kurang berdaya guna. (SH)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-5000912439954861160?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-14T02:50:12.027-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bagaimana saya dapat diampuni dan merasakannya?</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/bagaimana-saya-dapat-diampuni-dan.html</link><category>mengampuni</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Wed, 09 Apr 2008 21:43:47 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-6390785369730412046</guid><description>&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="SV"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;b style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size: 24pt; color: rgb(0, 153, 51);" lang="SV"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;engampuni dan melupakan"&lt;/span&gt; bunyi pepatah lama. Namun segampang itukah? Seorang anak lelaki yang baru dicampakkan pacarnya berkata "Dia telah begitu melukai perasaan saya. Bagaimana saya dapat memaafkan segala perbuatannya padaku? "Seorang gadis yang dilecehkan secara seksual oleh ayahnya selama bertahun-tahun berkata, "Mengapa saya harus memaafkan perbuatan tersebut?". Seorang pengedar obat bius yang ingin merubah jalan hidupnya berkata, "Apakah Tuhan benar-benar akan mengampuni segala perbuatan yang pernah kulakukan? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 51);"&gt;Kebutuhan Untuk Diampuni&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Allah membenci dosa; Dia tidak tahan melihat keburukannya. Karena itu dosa yang tidak diakui dalam hidup kita merintangi dan merusak hubungan kita dengan Allah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;"Sesungguhnya tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaraNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bukan hanya tidak adanya pengampunan yang merintangi kita dan Allah, hal itu juga merusak hubungan kita dengan orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;"Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara menceraikan sahabat yang karib" (Amsal 17:9) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 51);"&gt;Kebutuhan Akan Pengampunan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena Allah membenci dosa, harga sebuah pengampuanan sangatlah tinggi. &lt;/span&gt;Injil menuliskan beberapa syarat untuk pengampunan: &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengorbanan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Ibrani 9:22 berkata tanpa penumpahan darah,      tidak ada pengampunan." Dalam Perjanjian Lama diperlukan korban domba      yang tak bercacat untuk meredakan murka Allah. &lt;/span&gt;Yesus, Anak Allah      yang tak berdosa, mati di kayu salib dan menjadi korban penebusan dosa.      Yesus membayar pengampunan bagi kita ketika mati di salib. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar supaya Ia membawa kita kepada Allah." &lt;/span&gt;(1 Petrus 3:18a) &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Sebab di dalam Dia dan oleh darahNya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kasih karuniaNya." &lt;/span&gt;(Efesus 1:7) &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Mengampuni sesama.&lt;/b&gt;      Syarat untuk pengampunan dosa adalah mengampuni sesama. 1 Korintus 13:5      berkata "kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain". Ingat      bahwa Amsal 17:9 mengajarkan pada kita bahwa sahabat sejati mengampuni.      Allah juga menjadikan mengampuni sesama sebagai syarat untuk menerima      pengampunan dariNya. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Karena jika kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tapi jika kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14,15) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni kamu." &lt;/span&gt;(Efesus 4:32) &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pengakuan Dosa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; Kita harus mengakui dosa kita pada Allah      jika ingin hubungan kita dengan Dia dipulihkan. Melihat pada kebutuhan      akan pengampunan, kita mengetahui dosa yang tidak diakui dapat memisahkan      hubungan kita dengan Allah. Pengakuan adalah jalan untuk memulihkan      hubungan kita dengan Allah, karena walau kita tidak setia, Ia tetap setia      (2 Timotius 2:13). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni sehala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." &lt;/span&gt;(1 Yoh 1:9) &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Bertobat.&lt;/b&gt; Kita harus      memutuskan untuk berubah, berpaling dari dosa kita. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;"Karena itu beginilah jawab Tuhan :"Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan dihadapanKu." (Yeremia 15:19a) &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 51);"&gt;Hasil dari Pengampunan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alkitab menjanjikan kebaikan atas pengampuan Allah: &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Kebahagiaan.&lt;/b&gt; Ketika      tahu bahwa Tuhan mengampuni kita diberkati (bahagia). &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi. Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tidak berjiwa penipu." &lt;/span&gt;(Mazmur 32:1-2) &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Allah memilih untuk tidak      memperhitungkan dosa kita.&lt;/b&gt; Hasil dari pengampunan adalah Allah tidak      mengingat kesalahan kita. Dia tidak menyimpannya untuk mendakwa kita.      Karena darah Kristus telah menutupi dosa kita, Allah tidak mengingat-ingat      dosa kita. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;"Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu." &lt;/span&gt;(Yesaya 43:25) &lt;/p&gt;  &lt;ul type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Allah mengangkat kita dari      dosa.&lt;/b&gt; "Sejauh timur dari barat, demkian dijauhkanNya dari pada      kita pelanggaran kita" (Mazmur 103:12) &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;Kita dapat mengampuni diri      sendiri.&lt;/b&gt; Saat kita diampuni, kita dapat mengampuni diri sendiri dan      meneruskan hidup kita. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1in;"&gt;"Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari pada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus." (Filipi 3:13,14)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-6390785369730412046?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-09T21:43:47.793-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Bagaimana menerima pengampunan dosa</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2008/04/bagaimana-menerima-pengampunan-dosa.html</link><category>Bagaimana menerima pengampunan dosa</category><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Tue, 08 Apr 2008 19:08:45 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-6140483664664925254</guid><description>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Soalan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;:&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt; "&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Bagaimana menerima pengampunan dosa daripada Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Jawapan:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;  Kisah Para Rasul 13:38 memaklumkan, “Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Apakah pengampunan dosa dan mengapa saya perlukannya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Perkataan “ampun” bermakna membersihkan batu sabak, memaafkan, membatalkan hutang. Bila kita membuat kesalahan ke atas orang, kita meminta maaf supaya hubungan dengannya dapat dipulihkan. Pengampunan dosa bukan diberikan kerana orang itu patut diampun. Tiada sesiapa berhak mendapat ampun. Pengampunan dosa ialah satu tindakan kasih sayang, belas kasihan dan rahmat. Pengampunan ialah satu keputusan tidak hendak mengambil tindakan hukum ke atas seseorang, walaupun dia telah membuat salah kepada kamu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Kitab Injil kata kita semua perlukan pengampunan dosa daripada Tuhan. Kita semua telah membuat dosa. Pengkhotbah 7:20 menyatakan, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang salih: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” 1 Yahunes 1:8 menyatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” Semua dosa adalah perbuatan menentang Tuhan (Mazmur 51:4). Akibatnya, kita terdesak memerlukan pengampunan Tuhan. Jika dosa kita tidak diampun, kita akan menderita selama-lamanya disebabkan berdosa (Matius 25:46; Yohanes 3:36).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Pengampunan – Bagaimana mendapatnya?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Kesyukurannya, Tuhan adalah kasih sayang dan penuh rahmat – ingin mengampunkan dosa kita! 2 Petrus 3:9 menyatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Tuhan berhasrat memaafkan kita, oleh itu Dia menyediakan pengampunan untuk kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;" lang="SV"&gt;Hukuman ke atas dosa kita ialah kematian. Bahagian separuh yang pertama Roma 6:23 menyatakan, “Sebab upah dosa ialah maut..” Kematian abadi adalah akibat dosa kita. Tuhan, di dalam rancangan sempurnanya, menjadi seorang manusia – Kristus Yesus (Yohanes 1:1,14). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;" lang="FR"&gt;Yesus mati di atas salib, ganti kita mengalami hukuman mati. 2 Korintus 5 :21 mengajar kita, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: SimSun; color: black;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;" lang="FR"&gt;Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: SimSun; color: black;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;" lang="FR"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Yesus mati di atas salib, mengambil hukuman mati kita ! Sebagai Tuhan, kematian Yesus memberikan pengampunan dosa bagi seluruh dunia. 1 Yohanes 2:2 memaklumkan, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” Yesus bangkit daripada kematian, mengumumkan kemenangannya mengatasi dosa dan kematian (1 Korintus 15:1-28). Puji Tuhan, melalui kematian dan kebangkitan Kristus Yesus, bahagian separuh kedua Roma 6:23 adalah benar, “…tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; line-height: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Adakah kamu inginkan dosa kamu diampun? Adakah kamu mempunyai perasaan bersalah yang tidak dapat diatasi? Pengampunan dosa tersedia jika kamu percaya kepada Kristus Yesus sebagai penyelamat kamu. Efesus 1:7 kata, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,” Yesus membiayai hutang kita, supaya kita dapat diampun. Apa yang kamu perlu buat ialah meminta Tuhan mengampun kamu melalui Yesus, percaya Yesus mati kerana hendak menebus dosa kamu – maka Tuhan pasti akan ampun kamu! Yohanes 3:16-17 mengandungi berita yang mengagumkan ini, “Kerana begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Tuhan mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="line-height: 12pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Pengampunan – begitu senang sahaja?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: rgb(21, 49, 106);"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma; color: black;"&gt;Ya, ia adalah senang! Kamu tidak dapat membeli pengampunan daripada Tuhan. Kamu tidak dapat membayar untuk mendapat pengampunan. Kamu hanya boleh menerimanya, dengan iman, malalui rahmat dan belas kasihan Tuhan. Jika kamu hendak menerima Yesus Kristus sebagai Penyelamat kamu dan menerima pengampunan daripada Tuhan, maka berdoalah begini. Doa tidak akan menyelamatkan kamu, tetapi kepercayaan kepada Yesus Kristus yang mendatangkan ampun dosa. Doa hanya satu cara menunjuk kepada Tuhan iman kamu dan berterima kasih kepada Tuhan kerana menyediakan pengampunan dosa. "Tuhan, saya mengaku saya sudah berdosa terhadap kamu dan patut dihukum. Tetapi Yesus Kristus ganti saya menerima hukuman itu supaya saya dapat diampun melalui kepercayaan ke atas Kristus. Saya akan meninggalkan dosa saya dan percaya kepada Tuhan demi pengampunan. Terima kasih Tuhan kerana rahmat dan pengampunan kamu yang mengagumkan itu! Amen!"&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-6140483664664925254?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-04-08T19:08:45.613-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apakah jaminan keselamatan bersifat Alkitabiah?</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/11/apakah-jaminan-keselamatan-bersifat.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 08 Nov 2007 19:46:02 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-5733237199412449965</guid><description>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.31in;" align="center"&gt;&lt;span style="color:#15316a;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;b&gt;Apakah jaminan keselamatan bersifat Alkitabiah?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:  "Apakah jaminan keselamatan bersifat Alkitabiah?"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  Ketika orang mengenal Kristus sebagai Juruselamat mereka, mereka dibawa masuk ke dalam hubungan dengan Allah yang menjamin keselamatan mereka. Yudas 24 mengatakan “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya.” Kuasa Tuhan mampu untuk menjaga orang percaya jangan sampai jatuh. Adalah tergantung pada Tuhan, bukan kita, untuk membawa kita ke hadapan kemuliaanNya. Jaminan keselamatan kita adalah hasil dari perlindungan Tuhan dan bukan dari usaha kita menjaga keselamatan kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; T&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;uhan Yesus Kristus memproklamirkan, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:28-29). Baik Yesus maupun Bapa memegang kita dalam tanganNya dengan teguh. Siapa yang dapat memisahkan kita dari genggaman Bapa dan Anak?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;  &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Efesus 4:30 memberitahu kita bahwa orang-orang percaya dimeteraikan untuk “hari penyelamatan” (Efesus 4:30). Jikalau orang-orang percaya tidak memiliki jaminan keselamatan, pemeteraian itu tidak akan berlaku sampai hari penyelamatan, tetapi hanya sampai kepada hari berdosa, murtad atau tidak percaya. Yohanes 3:15-16 mengatakan bahwa barangsiapa percaya kepada Yesus Kristus akan “memiliki hidup kekal.” Jikalau seseorang dijanjikan hidup kekal namun diambil kembali, itu bukan sesuatu yang “kekal.” Jikalau jaminan keselamatan tidak benar, janji hidup kekal di dalam Alkitab adalah salah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;  &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Salah satu penjelasan paling kuat mengenai jaminan keselamatan adalah dalam Roma 8:38-39  “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39). Jaminan keselamatan kita adalah berdasarkan kasih Allah kepada mereka yang telah ditebusNya. Jaminan keselamatan kita telah dibayar lunas oleh Kristus, dijanjikan oleh Bapa dan dimeteraikan oleh Roh Kudus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-5733237199412449965?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-11-08T19:46:02.666-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Apakah jaminan keselamatan adalah ”izin” untuk berdosa?</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/10/apakah-jaminan-keselamatan-adalah-izin.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Wed, 31 Oct 2007 21:09:47 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-2667224006156769171</guid><description>&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Pertanyaan:  "Apakah jaminan keselamatan adalah ”izin” untuk berdosa?"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(21, 49, 106);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Jawaban:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Keberatan yang paling umum terhadap doktrin jaminan keselamatan adalah bahwa doktrin ini katanya mempromosikan ide bahwa orang-orang Kristen boleh hidup semaunya dan tetap diselamatkan. Walaupun secara ”tehnis” hal ini mengandung kebenaran, ini bukan ”esensi” dari jaminan keselamatan. Seseorang yang telah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;benar-benar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya ”dapat” hidup dalam dosa, namun dia tidak ”akan” berbuat demikian. Kita perlu menarik garis yang tegas antara bagaimana seorang Kristen hidup – dan apa yang dapat dilakukan orang untuk memperoleh keselamatan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; line-height: 0.17in;" lang="sv-SE"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Alkitab sangat jelas bahwa keselamatan adalah semata-mata karena anugrah melalui iman di dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9; Yohanes 14:6). Seseorang diselamatkan melalui iman – hanya oleh iman. Pada saat seseorang percaya pada Yesus Kristus dengan sesungguhnya, dia diselamatkan dan keselamatannya terjamin. Keselamatan tidak diterima dengan iman dan kemudian dipertahankan dengan perbuatan. Rasul Paulus membicarakan isu ini dalam Galatia 3:3, “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” Jika kita diselamatkan melalui iman, keselamatan kita juga dipelihara dan dijamin dengan iman. Kita tidak dapat menghasilkan keselamatan kita sendiri. Karena itu kita juga tidak dapat menghasilkan cara untuk memelihara keselamatan itu. Adalah Tuhan yang menjaga keselamatan kita (Yudas 24). Tangan Tuhan memegang kita dengan teguh dalam genggamanNya (Yohanes 10:28-29). Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah (Roma 8:38-39).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; line-height: 0.17in;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Semua penolakan terhadap jaminan keselamatan pada dasarnya adalah kepercayaan bahwa kita perlu menjaga keselamatan kita melalui pekerjaan baik kita. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini sama sekali bertolak belakang dengan keselamatan berdasarkan anugrah. Kita diselamatkan karena jasa-jasa Kristus, bukan diri kita (Roma 4:3-8). Mengatakan bahwa kita perlu menaati Firman Tuhan atau hidup suci demi untuk mempertahankan keselamatan kita adalah sama dengan mengatakan bahwa kematian Yesus tidak cukup untuk melunasi hutang dosa kita. Kematian Yesus sudah sungguh-sungguh cukup untuk melunasi semua hutang dosa kita – dulu, sekarang dan akan datang, sebelum dan sesudah diselamatkan (Roma 5:8; 1 Korintus 15:3; 2 Korintus 5:21).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.19in; margin-bottom: 0.19in; line-height: 0.17in;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Setelah mengatakan semua ini, apakah ini berarti bahwa orang Kristen dapat hidup semaunya dan tetap diselamatkan? Ini pada dasarnya adalah pertanyaan yang bersifat mengandai-andai karena Alkitab jeals mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan hidup ”semau mereka.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Orang-orang Kristen adalah ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Orang-orang Kristen menyatakan buah Roh (Galatia 5:22-23), bukan perbuatan daging (Galatia 5:19-21). 1 Yohanes 3:6-9 dengan jelas mengatakan bahwa orang Kristen yang sejati tidak akan terus menerus hidup dalam dosa. Menanggapi tuduhan bahwa kasih karunia mengajurkan dosa, Rasul Paulus mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Roma 6:1-2).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 0.17in;"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Jaminan keselamatan bukan “izin” untuk berdosa. Sebaliknya, itu adalah suatu ketenangan karena mengetahui bahwa kasih Tuhan kepada orang-orang yang percaya adalah terjamin. Mengetahui dan memahami hadiah keselamatan yang begitu besar tidak akan menghasilkan ”izin” untuk berdosa. Bagaimana mungkin seseorang yang tahu harga yang harus dibayar oleh Yesus Kristus untuk kita dapat terus hidup dalam dosa (Roma 6:15-23)? Bagaimana mungkin seorang yang memahami kasih Tuhan yang tanpa syarat dan terjamin bagi mereka yang percaya dapat mengambil kasih itu dan membuangnya ke wajah Tuhan? Orang yang seperti ini bukan membuktikan bahwa jaminan keselamatan memberi dia izin untuk berdosa, namun justru membuktikan bahwa dia belum betul-betul mengalami keselamatan dalam Yesus Kristus. “ Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma,sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(1 Yohanes 3:6).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-2667224006156769171?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-31T21:09:47.170-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Jonathan GOEIJ</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/10/jonathan-goeij.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Sun, 07 Oct 2007 23:16:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-7152397050852436303</guid><description>Jonathan GOEIJ&lt;br /&gt;Jonathan Goeij was born, grew, and big in the Surabaya city.He dibesarkan in the family that the agnostic -- between believed and not to the Lord.In the age 10 years, his mother died and a relative kemudianremained several months with them to help treated him danhis relatives.By his relatives he was every week asked kethe church to follow the School on Sunday.Briefly the story, at the time of him was undergoing the lecture period, ayahnyasuffered cancer of the lungs.In a heavy-hearted manner, he mengambilthe decision to leave the lecture and worked to support biayafamily life.Sepeninggal his father, he did not come back chatted bangkuthe lecture.In 1998, he took the decision to go to America untukenjoyed the calm life and felt the democratic atmosphere.In this country he accepted the training that was extraordinary from the Lord.Banyakreform that was carried out, especially egoism and the characteristics feodalthat generally is to himself Indonesians, was eroded completely.All the valuable experiences eventually would he poured in a berkalamanner in column articles in Gloria Cyber Ministries.In America, he received the opportunity to continue education.Iaat the same time took two-way, Business Real Estate to menunjangthe business there, and Political Science so that seldom knew tentangpolitics and so that always did not become the scapegoat."I was embarrassed, just very this an age" of "my my life was dismissed darimy work, usually I myself who asked to go out."Was like this kataHong to me.Hong was just issued from his work sebagaiwaitress, the reason that was given by his employer because of the capacity bahasaEngland him that still was weak.As the newcomer in America apalagithe future here with tourists's visas, Hong indeed not many choices, the work anything that could be gotten by acceptance, beforehand worked as baby sitter but not kerasan danafterwards received the work as waitress in chinese fast foodthat too not be aged old.I had also experienced fate that almost was the same as Hong, waktuarrived in LA then the first time that was carried out by me was to search makelarmanpower.With help receptionist my place motel menginapI could find the address of manpower brokers from suratthe news spoke the mandarin who was read out by him, the offer a person makelarto work as kitchen helper in Colorado immediately akusnatched.And the work only remained for two weeks because I tidakqualified, did not fill the condition, got vegetables, meat, etc..I often wrong.Cut off vegetables was also very slow although akutried as quickly as possible in fact once the knife wound, tapihumankind that all his life might dikata had not entered the kitchen iniof course far from hope of the owner's employer of the restaurant.In fact wajarif being spent."Please my husband, please any work scrap," requested ibuTina to me, afterwards the mother Tina tell about how his husband, pakJohan, came come here five last year.For that Sir Johan telahalternated the work, but most worked as buruhthe factory in Philadelpia.But frank I did not know bagaimanacould help look for the work, especially because of Sir Johan sudahover stay and of course did not have the work permit.In the company tempatkuworks now like generally the 'white person's' company lainnyaneeded the work permit, although only to enter worked sebagaithe cleanliness power for example.Indonesians here indeed enough that not punyathe status, came as tourists and afterwards to reside here not maucame home to Indonesia.I understood their reason, many that merasa'sultry' lived in Indonesia apart from also the demand of economics that membuatthey remained here.Ms Liana said if he remained danworked in America was for the sake of his children, his children already mulaientered the tertiary institution and needed the quite high cost.Hampirall the pay that acceptance as nanny was sent by him to Indonesia, the pay a person nanny was indeed not big but at least was enough untukfinanced his family life and his children's school there."Although I here became the maid for the sake of the child, my children all tidakmight be stupid like his mama, they must the school in the tertiary institution."More the Liana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-7152397050852436303?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-10-07T23:16:49.511-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>JONATHAN GOEIJ</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/08/jonathan-goeij.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Sun, 26 Aug 2007 21:32:13 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-1438124846461910392</guid><description>JONATHAN GOEIJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jonathan Goeij lahir, tumbuh, dan besar di kota Surabaya. Ia dibesarkan&lt;br /&gt;dalam keluarga yang agnostik--antara percaya dan tidak pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 10 tahun, ibunya meninggal dunia dan seorang kerabat kemudian&lt;br /&gt; tinggal beberapa bulan bersama mereka untuk membantu merawat ia dan&lt;br /&gt;saudara-saudaranya. Oleh kerabatnya inilah ia setiap minggu diajak ke&lt;br /&gt;gereja untuk mengikuti Sekolah Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, pada saat ia sedang menjalani masa kuliah, ayahnya&lt;br /&gt;menderita penyakit kanker paru-paru. Dengan berat hati, ia mengambil&lt;br /&gt;keputusan untuk meninggalkan kuliah dan bekerja untuk menopang biaya&lt;br /&gt;hidup keluarga. Sepeninggal ayahnya, ia tak kembali mengecap bangku&lt;br /&gt;kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998, ia mengambil keputusan untuk pergi ke Amerika untuk&lt;br /&gt;menikmati kehidupan yang tenang dan merasakan suasana yang demokratik.&lt;br /&gt;Di negara ini ia menerima gemblengan yang luar biasa dari Tuhan. Banyak&lt;br /&gt;perombakan yang dilakukan, terutama sekali keakuan dan sifat feodal&lt;br /&gt;yang umumnya ada pada diri orang Indonesia, dikikis habis-habisan.&lt;br /&gt;Semua pengalaman berharga itu nantinya akan ia tuangkan secara berkala&lt;br /&gt;dalam tulisan-tulisan kolom di Gloria Cyber Ministries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Ia&lt;br /&gt;sekaligus mengambil dua jurusan, Business Real Estate untuk menunjang&lt;br /&gt;bisnis di sana, dan Political Science agar sedikit mengetahui tentang&lt;br /&gt;politik dan agar tidak selalu menjadi kambing hitam.&lt;br /&gt;"Aku malu, baru sekali ini seumur hidupku aku dikeluarkan dari&lt;br /&gt;pekerjaanku, biasanya aku sendiri yang minta keluar." Demikian kata&lt;br /&gt;Hong kepadaku. Hong baru saja dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai&lt;br /&gt;waitress, alasan yang diberikan oleh majikannya karena kemampuan bahasa&lt;br /&gt;Inggrisnya yang masih lemah. Sebagai pendatang baru di Amerika apalagi&lt;br /&gt;waktu datang ke sini dengan visa turis, Hong memang tidak mempunyai&lt;br /&gt;banyak pilihan, pekerjaan apapun yang bisa didapat diterimanya, pernah&lt;br /&gt;sebelumnya bekerja sebagai baby sitter tetapi tidak kerasan dan&lt;br /&gt;kemudian mendapat pekerjaan sebagai waitress di chinese fast food&lt;br /&gt;itupun tidak berumur lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga pernah mengalami nasib yang hampir sama dengan Hong, waktu&lt;br /&gt;tiba di LA maka pertama kali yang aku lakukan adalah mencari makelar&lt;br /&gt;tenaga kerja. Dengan bantuan receptionist motel tempat aku menginap&lt;br /&gt;aku dapat menemukan alamat makelar-makelar tenaga kerja dari surat&lt;br /&gt;kabar berbahasa mandarin yang dibacakannya, tawaran seorang makelar&lt;br /&gt;untuk bekerja sebagai kitchen helper di Colorado segera saja aku&lt;br /&gt;sambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pekerjaan itu hanya bertahan selama dua minggu karena aku tidak&lt;br /&gt;qualified, tidak memenuhi syarat, mengambilkan sayur, daging, dlsb.&lt;br /&gt;aku sering kali keliru. Memotong sayurpun lambat sekali biarpun aku&lt;br /&gt;telah berusaha secepat mungkin bahkan pernah luka kena pisau, tapi&lt;br /&gt;manusia yang seumur hidupnya boleh dikata tidak pernah masuk dapur ini&lt;br /&gt;tentu saja jauh dari harapan majikan pemilik restoran. Sebenarnya wajar&lt;br /&gt;saja kalau dikeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolonglah suamiku ini, tolong carikan pekerjaan apa saja," pinta ibu&lt;br /&gt;Tina kepadaku, kemudian ibu Tina menceritakan bagaimana suaminya, pak&lt;br /&gt;Johan, datang kemari lima tahun yang lalu. Selama itu pak Johan telah&lt;br /&gt;berganti-ganti pekerjaan, tetapi kebanyakan bekerja sebagai buruh&lt;br /&gt;pabrik di Philadelpia. Tetapi terus terang aku tidak tahu bagaimana&lt;br /&gt;bisa membantu mencarikan pekerjaan, terutama karena pak Johan sudah&lt;br /&gt;over stay dan tentu saja tidak punya ijin kerja. Di perusahaan tempatku&lt;br /&gt;bekerja sekarang ini seperti pada umumnya perusahaan 'bule' lainnya&lt;br /&gt;membutuhkan ijin kerja, biarpun hanya untuk masuk bekerja sebagai&lt;br /&gt;tenaga kebersihan saja misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Indonesia di sini memang cukup banyak yang tidak punya&lt;br /&gt;status, datang sebagai turis dan kemudian menetap di sini tidak mau&lt;br /&gt;pulang ke Indonesia. Aku memaklumi alasan mereka, banyak yang merasa&lt;br /&gt;'gerah' tinggal di Indonesia selain juga tuntutan ekonomi yang membuat&lt;br /&gt;mereka bertahan di sini. Ibu Liana mengatakan kalau dia tinggal dan&lt;br /&gt;bekerja di Amerika adalah demi anak-anaknya, anak-anaknya sudah mulai&lt;br /&gt;masuk perguruan tinggi dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Hampir&lt;br /&gt;seluruh gaji yang diterimanya sebagai nanny dikirimkannya ke Indonesia,&lt;br /&gt;gaji seorang nanny memang tidak besar tetapi setidaknya cukup untuk&lt;br /&gt;membiayai kehidupan keluarganya dan sekolah anak-anaknya di sana.&lt;br /&gt;"Biarlah aku di sini menjadi babu demi anak, anak-anakku semua tidak&lt;br /&gt;boleh bodoh seperti mamanya, mereka harus sekolah di perguruan tinggi."&lt;br /&gt;tambah Liana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali aku bingung kalau menghadapi teman-teman yang berkeluh kesah,&lt;br /&gt;aku memaklumi dan bersimpati kepada mereka, aku masih teringat akan&lt;br /&gt;masa di mana aku harus bekerja dua belas jam sehari dengan hanya&lt;br /&gt;beristirahat waktu makan dan gaji yang dibawah upah minimum, itupun aku&lt;br /&gt;merasa sangat bersyukur karena bisa mendapat pekerjaan dan mempunyai&lt;br /&gt;uang untuk disimpan. Tetapi sekarang bagaimana untuk menolong teman-&lt;br /&gt;temanku, selama mereka tetap tidak mempunyai status maka keadaan&lt;br /&gt;seperti itu akan terus berulang. Apakah memang tidak ada jalan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbagai cara telah aku lakukan," cerita om Yahya, "baik itu sponsor&lt;br /&gt;dari keluarga, jalur kerja, asylum,kesemuanya gagal. Aku hanya tinggal&lt;br /&gt;bisa berdoa dan berdoa". Om Yahya datang ke sini lebih dari dua puluh&lt;br /&gt;tahun yang lalu dan telah berupaya sekuatnya untuk bisa menjadi legal.&lt;br /&gt;"Akhirnya Tuhan membuka jalan," lanjut om Yahya. "Pemerintah Amerika&lt;br /&gt;memberikan pengampunan untuk mereka yang overstay." Memang pada sekitar&lt;br /&gt;tahun delapan puluhan pemerintah Amerika memberikan pengampunan kepada&lt;br /&gt;para imigran gelap. Ya, Tuhan telah membuka jalan bagi om Yahya. Aku&lt;br /&gt;tahu Tuhan juga akan membuka jalan bagi teman-temanku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;West Covina, 22 Juni 2002&lt;br /&gt;Jonathan Goeij&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-1438124846461910392?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-26T21:32:13.351-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PETANI</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/08/petani.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Sun, 26 Aug 2007 21:29:36 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-4728106640310039000</guid><description>PETANI&lt;br /&gt;oleh: Jonathan Goeij *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang ajalnya seorang petani memanggil kedua orang anak laki-lakinya. Diwariskannya kepada mereka masing-masing sepetak sawah yang sama besarnya dan sama suburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua petani bersaudara itu, Gabriel dan Michael, bekerja keras dari pagi sampai petang mengelola sawah warisan orang tuanya. Keduanya bekerja sama kerasnya dan sama rajinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun, tidak terasa telah sepuluh tahun berlalu. Sawah Michael tetap sebesar satu petak itu, tetapi sawah Gabriel ternyata telah berkembang menjadi sepuluh petak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penasaran Michael bertanya kepada Gabriel, "Sawah kita asalnya sama besarnya dan sama suburnya, kita pun masing-masing telah bekerja keras, tetapi mengapa engkau berhasil berkembang pesat sedangkan aku tetap seperti semula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gabriel menjawab, "Setiap kali panen, hasil yang terbaik tidak aku jual, sengaja aku sisihkan dan digunakan sebagai bibit. Dengan demikian pada musim tanam berikutnya hasil panenku menjadi lebih berlimpah karena menggunakan bibit yang terbaik. Demikian seterusnya, dan itulah rahasiaku mengapa aku bisa berkembang pesat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis adalah jemaat di gereja IFGF Temple City - California.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-4728106640310039000?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-26T21:29:36.125-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>EFESUS, KETIKA ORTODOKSI TERLALU MAHAL</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/efesus-ketika-ortodoksi-terlalu-mahal.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 13 Nov 2008 10:27:15 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-8508702060063331470</guid><description>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/RphR4qYN-1I/AAAAAAAAAAo/J-1MSl_zZqA/s1600-h/JESUS2.GIF"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5086905813005368146" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/RphR4qYN-1I/AAAAAAAAAAo/J-1MSl_zZqA/s200/JESUS2.GIF" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;EFESUS, KETIKA ORTODOKSI TERLALU MAHAL&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: Eka Darmaputera&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kini yang tampak hanyalah puing yang terpuruk sepanjang enam mil. Tak ada lagi kapal yang bisa merapat ke pantainya. Padahal di abad-abad pertama, Efesus adalah pelabuhan tersibuk di kawasan Asia Kecil. Itu lumrah belaka, bila di antara tujuh jemaat yang disebut-sebut dalam kitab Wahyu, jemaat di kota inilah yang disapa pertama-tama.&lt;br /&gt;Efesus memang bukan ibu kota provinsi. Namun, pamornya jauh lebih berkilau ketimbang Pergamus, ibu kota yang sebenarnya. Ia terkenal dengan julukan "metropolis pertama dan terbesar di Asia." Bahkan saking kagumnya, seorang pujangga, menyebutnya "Lumen Asiae" atau "Cahaya Asia."&lt;br /&gt;Sebagai kota pelabuhan terbesar, dan sekaligus titik temu tiga jalur utama perdagangan darat, Efesus adalah salah satu kota niaga terpenting di seluruh kekaisaran Roma juga pintu gerbang antara Asia dan Eropa. Gubernur Roma yang baru akan mulai bertugas harus mendarat dulu di Efesus sebelum ke Pergamus.&lt;br /&gt;Sebaliknya, para saudagar yang akan ke Roma mesti bertolak dari sini. Ketika para martir Kristen diangkut ke Roma untuk dijadikan mangsa singa dan sebagainya, mereka juga diberangkatkan dari sini sehingga Ignatius menyebut Efesus sebagai "Jalan Raya Para Syuhada."&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Dalam bayangan kita, kota sebesar, sesekular dan sekomersial Efesus pasti membuat kehidupan penduduknya jauh dari sifat religius dan norma-norma moral yang terpuji. D????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????5????????????????????????????????????????????????????????•???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????‰???????????5??????????????????????????????????????????at kita, bukan?&lt;br /&gt;Di Efesus, keduanya terpadu dan menyatu harmonis sekali, melalui kehadiran ratusan gadis cantik jelita yang berfungsi rangkap sebagai imam dan sebagai pelacur suci di kuil-kuil Artemis. Orang-orang Romawi menyatukan diri dengan pujaan mereka dengan cara menyetubuhi pelacur-pelacur "suci" itu.&lt;br /&gt;Di samping sebagai sentra kehidupan seks bebas, Efesus juga merupakan pusat berkumpulnya penjahat-penjahat buronan kelas kakap dari segala penjuru. Di sini konon berlaku aturan, penjahat apa pun yang berhasil mencapai Efesus akan memperoleh suaka, dan bebas dari kejaran hukum.&lt;br /&gt;Melihat peri kehidupan moral seperti ini, pantaslah Heraklitus, filsuf Yunani pra-Socrates yang paling terkemuka dikenal sebagai "The Weeping Philosopher." Filsuf yang menangis. Ia menangisi kebobrokan dan keborokan kotanya.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Saya tak akan berbicara lebih panjang lagi mengenai Kota Efesus. Informasi di atas sekadar dimaksudkan agar Anda memperoleh gambaran, bagaimana sulitnya hidup setia sebagai jemaat di tengah-tengah konteks seperti itu. Sulitnya menerapkan "filsafat ikan": di dalam air, tapi tidak tenggelam. Tapi justru dalam hal inilah, jemaat ini istimewa.&lt;br /&gt;Wahyu Yohanes menjelaskan, jemaat ini memperoleh pujian yang luar biasa.Jarang-jarang Tuhan memuji sebuah jemaat seperti itu.&lt;br /&gt;Pertama, karena jemaat ini hidup. Giat, aktif, dan kerja keras. Tuhan suka pada jemaat yang dinamis bukan jemaat yang beku atau suam-suam kuku atau yang mati enggan, hidup pun tak mau.&lt;br /&gt;Kedua, karena jemaat ini amat serius dengan imannya. "Committed" penuh terhadap kemurnian ajaran. Karena itu, mereka sangat mewaspadai pengajar-pengajar sesat dan nabi-nabi palsu. Yohanes menyebut mereka "tidak sabar terhadap orang-orang jahat"&lt;br /&gt;Bagi mereka, ajaran iman itu bukan "nasi rames," comot sana comot sini asal enak, tak peduli apakah perut akan sakit dibuatnya nanti. Pengetahuan mereka akan ajaran yang benar memampukan mereka menelanjangi para serigala yang berbulu domba, dan "mendapati mereka pendusta."&lt;br /&gt;Ketiga, jemaat ini dipuji karena keuletan, ketabahan, dan kerelaan mereka untuk menderita dan berkorban demi Kristus. "Engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah," kata Tuhan.&lt;br /&gt;Sedikit sekali, bukan, jemaat yang seideal ini? Aktif dalam kegiatan, serius dalam ajaran, dan berani dalam berkorban. Saya mengenal banyak jemaat yang aktif, sayang ajarannya amburadul penuh tahayul. Ada lagi yang ajarannya lempang, tapi lalu jadi dingin dan kaku. Sedang yang lain, ramai dengan kegiatan serta serius dalam ajaran, tapi kurang tahan berkorban. Jemaat Efesus tidak!&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Toh dalam Alkitab, jarang-jarang kita membaca kecaman Tuhan yang sekeras seperti yang ditujukan-Nya kepada jemaat yang "ideal" ini. Jemaat Efesus diingatkan Tuhan, tentang "betapa dalamnya engkau telah jatuh." Diserukan, "Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan."&lt;br /&gt;Apa gerangan kesalahan fatal jemaat teladan ini? Menurut kitab Wahyu, "Aku mencela engkau karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."&lt;br /&gt;"Meninggalkan kasih yang semula." Rupa-rupanya yang terjadi adalah begitu fanatiknya jemaat ini memegangi ortodoksi, mereka lalu melihat yang lain sebagai musuh yang harus ditumpas, bukan sebagai domba yang mesti dicari, atau sebagai sesama yang mesti dikasihi.&lt;br /&gt;Mereka juga terserang penyakit sombong rohani, merasa diri benar sendiri. Di dalam, saling menuding. Dan ke luar, eksklusif serta menutup diri. Itulah yang terjadi, ketika kasih ditinggalkan.&lt;br /&gt;Komitmen terhadap ortodoksi tentu saja penting. Tuhan memuji jemaat Efesus dalam hal ini. Jemaat yang "jorok" dalam hal ajaran, artinya apasaja ditelan asal enak, akan menjadi jemaat yang membiarkan diri dipimpin oleh spekulasi dan teori rekaan manusia, bukan lagi oleh kebenaran Firman Tuhan. Yang boleh jadi menarik dan menyenangkan, tapi pasti menyesatkan. Saya melihat gejala mengerikan ini kian mengharu-biru gereja-gereja kita di Indoensia. Waspadalah!&lt;br /&gt;Namun, toh jangan sekali-kali mempertahankan dan memper"tuhan"kan doktrin dengan mengorbankan kasih! Sebab kebenaran tanpa kasih, bukan lagi kebenaran. Lagipula ketika kasih ditinggalkan, apa yang tinggal? Sebagaimana halnya jiwa, walau memang bukan segala-galanya, tapi bila manusia kehilangan jiwa apa lagi yang tersisa?&lt;br /&gt;Kasih tidak berarti mentoleransi kesesatan, apa lagi kebejatan. Bila kebenaran bisa ditegakkan tanpa kasih, kasih tidak dapat diwujudkan tanpa kebenaran. Bedanya adalah kasih berusaha mengoreksi, bukan memvonis mati. Kasih mengampuni, bukan mengutuki. Kasih membawa kembali, bukan mengusir pergi.&lt;br /&gt;Kepedulian utama ortodoksi adalah seperangkat prinsip kebenaran pasti, sedangkan kasih, kepedulian utamanya adalah manusia. Dan tak syak lagi, bagi Tuhan, manusia adalah yang terpenting.&lt;br /&gt;Paling sedikit, manusia lebih penting dari prinsip. Bila tidak demikian, itu berarti kita telah membayar terlalu mahal. "Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan roh kepadanya." (SH-090302)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-8508702060063331470?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-13T10:27:15.487-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_4A4reHhPDMY/RphR4qYN-1I/AAAAAAAAAAo/J-1MSl_zZqA/s72-c/JESUS2.GIF" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BUKAN ASAL TAMPIL BEDA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/bukan-asal-tampil-beda.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Fri, 13 Jul 2007 21:25:51 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-3900811373429829624</guid><description>BUKAN ASAL TAMPIL BEDA&lt;br /&gt;Orang yang teguh bagai batu karang atau tegar laksana burung elang, pasti lebih mengundang rasa hormat dan decak kagum, ketimbang sabut kelapa antingkan gelombang,au bebek yang beraninya cuma menyelinap di tengah kerumunan banyak orang. Karena itu, jayalah para nonkonformis! Dan matilah kaum oportunis serta kompromis!&lt;br /&gt;Tapi tidak asal nonkonformis! Sebab yang terhormat bukanlah orang yang pokoknya mengatakan 'tidak,' atau yang kebanggaannya asal tampil beda! Tidak. Orang yang cuma bermodal 'ngeyel' atau 'ngotot,' tidak mengundang decak kagum atau rasa hormat.&lt;br /&gt;Itu sebabnya, Paulus tidak cukup hanya mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini" titik. Agaknya ia menyadari benar, betapa nonkonformisme yang keren itu mudah sekali dijadikan kedok sikappamer diri dan merasa benar sendiri. Menjadi pembalut kepongahan, kemunafikan, serta kegenitan yang memuakkan.&lt;br /&gt;"Tetapi," tulis Paulus lebih lanjut, "berubahlah oleh pembaharuan budimu." Nonkonormisme hanya akan membawa berkat, bila didahului pertobatan. Hanya membangun, bila diletakkan dalam bingkai sikap mentalbaru. Dengan perkataan lain, hanya bisa mengubah, setelah si nonkonformis sendiri mengalami transformasi diri. Budinya, kata Paulus,harus dibaharui.&lt;br /&gt;Hanya bila ini terjadi, seorang nonkonformis akan berjuang lebih seimbang. Di satu pihak, melawan kejahatan dengan konsisten, sepenuh hati, dan tanpa kompromi. Di lain pihak, melakukannya dalam kasih dan dengan penuh rendah hati. Di satu pihak, tidak terjebak oleh kesabaran pasif yang memberinya dalih untuk tidak berbuat apa-apa. Di lain pihak,tidak sembrono hantam kromo akibat ketidaksabaran yang tanpa perhitungan.&lt;br /&gt;Seorang nonkonformis yang telah mengalami transformasi diri, menyadari betapa perjuangan melawan kejahatan adalah peperangan tanpa ujung, yangmenuntut kesabaran dan keuletan yang nyaris tanpa batas. Sekaligus, suatu rangkaian pertempuran tanpa henti dari tempat ke tempat, yang menuntut seluruh energi dan konsentrasi dari saat ke saat.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Betapa dunia membutuhkan non-konformis tipe itu! Non-konformis sejati, yang tetap runduk karena berisi. Yang berani berbeda, tidak sekadar petantang-petenteng sarat dengan snobisme serta nafsu pamer diri. Yang tak mengenal rasa jeri, tapi bukan cuma karena ingin disebut pemberani.Kita amat membutuhkan pejuang-pejuang seperti itu karena, betapa rentannya masa depan umat manusia. Kita membutuhkan orang-orang yang bermental baja dan berhati kaca, untuk memperlambat proses pembusukannya. Sebab sadarkah Anda betapa planet kita bisa luluh lantakdalam sekejap, lumer bagaikan lemak terpanggang bara, oleh misalnya satu saja ledakan nuklir? Dan bahwa umat manusia bisa lenyap musnah dalam sesaat, akibat senjata kimia dalam suatu perang biologi, seperti kuman antraks misalnya?&lt;br /&gt;Rentannya kehidupan ini oleh banyak pakar disimpulkan, sebagai dampak samping teknologi ciptaan manusia yang lepas kendali. Yang sebabnya takmampu diprediksi, dan yang akibatnya tak sanggup diatasi.&lt;br /&gt;Karenanya racun paling berbisa bagi masa depan umat manusia, sebenarnyaterletak pada diri manusia sendiri. Pada kecenderungan hatinya: kesombongannya, kepalsuannya, kedengkiannya, serta pementingan diri sendiri. Dari waktu ke waktu kita menyaksikan, bagaimana kebenaran dipasung oleh kebohongan dan kemunafikan. Bagaimana manusia menyembah ilah-ilah palsu, yang kini tak lagi bernama Baal atau berbentuk anak lembu mas, tapi bernama etno-nasionalisme, etno-religionisme, materialisme, hedonisme serta egosentrisme.&lt;br /&gt;Isme-isme yang saya sebutkan itu, wah, daya pikatnya luar biasa. Tapi sekaligus, daya hancurnya juga amat mengerikan. Untuk melawannya, tidakcuma dibutuhkan seorang pemberani, tapi orang yang telah "dibaharui budinya." Maksud saya, orang yang tak lagi terpilin oleh pusaran roh-roh zaman yang saya sebutkan di atas. Anggur baru, kata Yesus, membutuhkan kerbat baru.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa cita-cita reformasi kian lirih saja suaranya dan luruh kekuatannya, sebab pejabat dan penyelenggara negeri yang mestinya mereformasi, ternyata masih perlu direformasi. Mereka adalah kerbat-kerbat lama. Mereka adalah stok lama dengan bungkus baru. Sebenarnya sudah tak layak pakai, dan seharusnya sudah dibuang sejak dulu-dulu. Mengikuti petuah Yesus: lebih baik masuk surga dengan satu mata, ketimbang tubuh utuh tapi masuk neraka.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Yakinlah, bahwa keselamatan dunia serta kelangsungan masa depan umat manusia, termasuk di dalamnya nasib bangsa kita, tidak akan terwujud melalui pintu penyesuaian diri kepada kecenderungan mayoritas. Tapi melalui lorong-lorong sempit, lorong-lorong perlawanan kaum minoritas non-konformis. Ini hendaknya kita ingat benar. Khususnya oleh mereka yang mengidentikkan kearifan dengan mengikuti kemauan mereka yang lebihbanyak atau yang lebih kuat.&lt;br /&gt;Dalam batas-batas tertentu, menyesuaikan diri tentu perlu. Tapi Anda mesti menetapkan rambu batas yang tegas dan jelas, di mana dan kapan harus mengatakan 'tidak'. Seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak berlutut di depan patung raja. "Jika Allah kami yang kami puja (berkenan) melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami -- tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan -- menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."&lt;br /&gt;Seperti Thomas Jefferson, yang walaupun hidup di tengah zaman yang membenarkan perbudakan, menyatakan: "Kami memegangi ini sebagai kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi, yaitu bahwa semua orang diciptakan setara, dan bahwa semua orang dikaruniai oleh Sang Khalik hak-hak yang tak dapat tanggal, antara lain hak untuk hidup, hak untuk bebas, dan hak untuk mengejar kebahagiaan." Tidak dapat tidak. Sebab, seperti kata Abraham Lincoln, tak ada satu bangsa pun di muka bumi ini mampu bertahan, setengah budak dan setengah merdeka.&lt;br /&gt;Saya tidak dapat menutup-nutupi kenyataan, bahwa sikap seperti itu mengandung konsekuensi. Seorang non-konformis sejati, tidak mustahil mesti berjalan dalam bayang-bayang penderitaan, berisiko kehilangan pekerjaan atau kedudukan, dan setiap kali mungkin mesti menjawab pertanyaan anak-anaknya yang masih belia, "Mengapa sih Papa begitu sering masuk penjara? Apakah Papa orang jahat?"&lt;br /&gt;Apa boleh buat. Bagi pengabdi kebenaran, betapa acap, salib datang mendahului mahkota. Namun begitu, tak ada alasan untuk mundur. Sebab sisi kebenaran yang lainnya adalah, bahwa hidup seorang nonkonformis sejati -- betapapun pendeknya -- tidaklah menuju senja, melainkan fajar. Bagi mereka, kematian bukan tujuan akhir, cuma sasaran antara. Tak perlu diacuhkan benar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-3900811373429829624?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-13T21:25:51.919-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MIMPI YANG RUNTUH</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/mimpi-yang-runtuh.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 21:34:48 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-3620716855065861489</guid><description>MIMPI YANG RUNTUH&lt;br /&gt;Salah satu kepahitan yang mesti kita telan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan adalah kenyataan bahwa tidak semua mimpi kita yang paling indah, serta cita-cita kita yang paling luhur, akan menjadi kenyataan. Getirnya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, harapan demi harapan luruh, rubuh, dan runtuh, satu demi satu! Padahal,sering kali itu adalah harapan-harapan mulia. Sama sekali tidak mengada-ada.&lt;br /&gt;George Frederic Watts, dalam salah satu lukisannya yang paling kesohor,melukiskan "Pengharapan" sebagai sosok sendu. Duduk di puncak bola dunia, menundukkan kepala, sementara jemarinya memetik harpa--pada satu-satunya senar yang belum putus.&lt;br /&gt;Siapa yang belum pernah mengalami kegetiran itu? Senar harpa yang putus satu-satu. Lalu lagu kehidupan yang sumbang dan menyayat muncul dari situ. Bahkan Paulus pun, tak terkecuali, mengalaminya. Nyaris di akhir suratnya ke Roma, ia menulis, "Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol, aku dapat singgah di tempatmu (= Roma) dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana (= Spanyol), setelah seketika aku menikmati pertemuan dengan kamu."&lt;br /&gt;Harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Paulus tak pernah sampai ke Spanyol. Dan menginjakkan kakinya di kota Roma pun bukan untuk "singgahdi tempatmu," melainkan sebagai tawanan dengan tangan dan kaki terbelenggu. Padahal, Roma dan Spanyol adalah dua kota paling penting dalam strategi pemberitaan Injil Paulus. Bisa dibandingkan dengan Kabul dan Kandahar bagi pasukan Taliban. Spanyol adalah batas "paling jauh" atau "ujung bumi" yang dapat dicapai oleh Injil pada waktu itu, sedang Roma adalah "pintu gerbang" menuju ke situ.&lt;br /&gt;Bukankah pengalaman Paulus ini adalah tipikal pengalaman manusia? Setiap orang pasti punya "Spanyol"-nya masing-masing. Tempat ia melabuhkan sauh pengharapannya yang paling jauh; dan mengukir idealismenya yang paling mulia. Tapi boro-boro "Spanyol," sampai di "Roma" pun melenceng jauh dari skenario.&lt;br /&gt;Pada awalnya, seperti Abraham atau seperti Musa, oh, para idealis dengan semangat menggebu-gebu, ikhlas meninggalkan segala sesuatu, demi "tanah perjanjian" yang limpah dengan susu dan madu. Demi "Spanyol"! Namun akhirnya? Sampai ke batas usia mereka, seperti tutur penulis surat Ibrani, mereka cuma bisa "melambai-lambaikan tangan dari kejauhan." Tak pernah masuk ke "negeri perjanjian."&lt;br /&gt;Apa yang tidak rela dikorbankan oleh Mohandas Mahatma Gandhi demi India yang bersatu dan merdeka? Namun semua pengorbanannya seolah-olah hanyalah pembayar tiket masuk guna menyaksikan perang antarkelompok agama yang secara tragis membelah anak benua itu menjadi India dan Pakistan, lalu kemudian Pakistan dan Bangladesh (dan mungkin kemudian lagi, India dan Kashmir?).&lt;br /&gt;Contoh ini masih dapat kita perpanjang lagi tanpa batas. Woodrow Wilson dengan impian "Liga Bangsa-Bangsa"-nya. Gorbachev dengan gagasan "Glasnost" dan "Perestroika"-nya. Sun Yat Sen dengan prinsip "San Min Chu I"-nya. Gamal Abdel Nasser dengan ambisi "Pan Arabika"-nya. Soekarno dengan obsesi "Pancasila" dan "Gotong Royong"-nya. Lalu mungkin pula kita nanti dengan kedambaan akan "Indonesia Baru" dengan "Reformasi" dan "masyarakat sipil"-nya. Semua itu adalah harapan-harapan yang mungkin tak akan pernah terwujud. Mimpi-mimpi yang runtuh agaknya adalah bagian tak terelakkan dari kefanaan manusia.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Bila memang tak terhindarkan, bagaimana kita mesti menyikapinya? Ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah, saking kecewanya, orang lalu membenamkan diri ke dalam pusaran frustrasi yang melingkar-lingkar tanpa jalan keluar, ditindih rasa penasaran, serta dibakar olehapi perlawanan dan pemberontakan kepada kenyataan.&lt;br /&gt;Orang-orang dari tipe ini biasanya berkembang menjadi orang-orang yang berhati beku, yang menyimpan kebencian dan menyandang dendam, bukan cuma terhadap Tuhan, melainkan juga terhadap orang-orang lain, bahkan terhadap dirinya sendiri. Karena tak mungkin berhadap-hadapan langsung dengan Tuhan, mereka akan melampiaskan amarah kepada orang-orang di sekitar mereka, khususnya kepada pihak yang lebih "lemah." Dalam hal ini, mereka bisa menjadi amat kejam dan tak berperikemanusiaan. Beberapa analis sosial menengarai kemungkinan, kebencian sementara pihak kepada "minoritas" Kristen, antara lain adalah karena faktor tersebut. Maksud saya, orang-orang Kristen itu sebenarnya cuma "sasaran antara" saja dari keberangan mereka, bukan tujuan akhir. Benar tidaknya analisis ini, tidak relevan saya permasalahkan di sini.&lt;br /&gt;Ke-"judes"-an, keberangan, kepekaan yang berlebih-lebihan, bahkan kekerasan dan kekejaman adalah karakteristik yang dominan dari tipe reaksi yang pertama ini. Kekecewaannya yang amat mendalam membuat ia tak mampu mengasihi apa pun. Dan sebaliknya, mereka juga tidak mengharapkan kasih siapa pun. Duka yang panjang, kekekecewaan yang berulang-ulang, dan perasaan tertindas yang telah menorehkan luka yang amat dalam, adalah kombinasi ampuh untuk melahirkan kepribadian yang saya sebutkan itu.&lt;br /&gt;Konon, banyak teroris yang memilih jalan kekerasan bukanlah orang-orangyang kejam sejak awalnya. Semula, mereka barangkali hanyalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang mau menagih hak mereka. Tapi sayang sekali, mereka tidak cukup memiliki kesabaran dan kesadaran bahwa untuk mewujudkan yang baik diperlukan proses perjuangan dan pengorbanan yang panjang, serta cara yang baik pula. Klaim mereka bahwa mereka berjuang untuk yang baik dan yang benar tidak jarang harus mereka buktikan dengan kesediaan untuk berlapang dada menerima kenyataan, ketika cita-cita yang paling luhur serta upaya yang paling maksimal, tidak serta-merta menjamin keberhasilan.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Reaksi yang lain, yang kedua, mengambil bentuk yang sebaliknya. Bukannya menjadi agresif, melainkan justru menarik diri dari dunia sekitar, memilih berasyik-asyik dengan diri sendiri, lalu berkembang menjadi introver, rapat-rapat menutup diri. Hanya dengan begitu, merekamerasa aman dari sekelilingnya yang terasa serba mengancam. Karenanya, tak seorang pun mereka izinkan masuk ke dalam privasinya. Sebaliknya, tak sekelumit pun mereka berminat dan berniat masuk ke kehidupan orang lain.&lt;br /&gt;Orang-orang ini telah berhenti bergumul, kehilangan daya, serta kehabisan gairah berjuang. Satu-satunya yang mereka inginkan adalah mengasingkan diri, kemudian tenggelam dalam alam kepasifan total. Mereka selalu menjaga jarak terhadap sekitarnya. Tidak mau terlibat apa-apa. Tidak pula peduli pada siapa-siapa.&lt;br /&gt;Tak punya cukup kepedulian untuk mengasihi, ataupun nafsu untuk membenci. Terlalu menjauh bahkan untuk memikirkan diri sendiri, dan terlalu beku untuk memikirkan orang lain. Terlalu tertutup untuk merasakan sukacita, terlalu apatis untuk merasakan dukacita. Matanya tak mampu lagi menangkap keindahan alam. Telinganya kehilangan kepekaanuntuk mendengar keagungan karya-karya musik abadi. Orang-orang seperti ini tidak mati, tapi juga tidak hidup. Mereka cuma sekadar eksis. Ada, tapi tidak berada.&lt;br /&gt;Harapan yang terus-menerus dikecewakan telah menggiring mereka kepada sinisme yang melumpuhkan, seperti yang dilukiskan oleh Omar Khayyam, sang pujangga. "Pengharapan tempat sauh hati manusia melabuh / lebur jadi abu / atau bertaburan bagai salju / di wajah gurun berdebu / berkilau sejam dua / lalu sirna."&lt;br /&gt;Tapi salah dugalah mereka yang menyangka, bahwa mereka bisa melarikan diri dari kenyataan. No way! Filsafat "burung onta" yang merasa aman asal saja tidak melihat bahaya akan menjerumuskan mereka ke bahaya yanglebih fatal. Pada satu pihak, bodohlah orang yang membenturkan kepalanya ke tembok dengan maksud merubuhkannya. Pada lain pihak, yang tidak kalah sia-sianya, adalah berpikir bahwa hanya dengan menunggu tanpa berbuat apa-apa, pada suatu ketika, tembok itu akan rubuh dengan sendirinya.&lt;br /&gt;Jadi jelaslah, dua reaksi yang telah kita perbincangkan ini bukanlah cara merespons kekecewaan yang semestinya. Lalu bagaimana seharusnya? Masih ada dua pilihan sikap lagi yang harus kita bahas. Namun untuk ini, mohon Anda bersabar sampai minggu depan. Yang jelas pokok bahasan kita ini sangat relevan, khususnya karena kita akan segera memasuki tahun yang baru. (SH-020102)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-3620716855065861489?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-05T21:34:48.962-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>AGAMA DENGAN AKAL SEHAT</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/agama-dengan-akal-sehat.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 21:34:16 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-5333793239692878378</guid><description>AGAMA DENGAN AKAL SEHAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Anda pasti maklum, bahwa inilah antara lain doa Yesus bagi orang-orang yang dengan semena-mena telah menyalibkan-Nya. Isinya tidak cuma mendemonstrasikan kebajikan yang menakjubkan serta tak tertandingi. Tapi juga membunyikan alarm tanda bahaya--nyaring dan lantang sekali.&lt;br /&gt;Dengan doa itu, Dia mengajak kita membedah diri; melakukan otopsi. Apakah kita tahu apa yang kita perbuat? Apakah bangsa ini menyadari apayang ia lakukan? Sadar akan apa makna dan dampak; implikasi serta konsekuensi, dari setiap yang dilakukan?&lt;br /&gt;Di sini, menurut Yesus, kita berhadapan muka dengan salah satu masalah kemanusiaan yang paling serius. Sebab alangkah kerap dan begitu acap, dalam tindakannya, manusia asal saja bertindak tanpa menimbang-nimbang.Sering tidak tahu apa yang diperbuatnya sendiri. Tidak melihat apa yangseharusnya ia lihat dengan cermat dan teliti. Oleh sebab itu, manusia tidak cuma butuh pengampunan atas semua kesalahannya. Tapi, tidak kurang dari itu, ia juga butuh pencerahan atas kertidaktahuan dan kebutaannya.&lt;br /&gt;Orang-orang yang berteriak-teriak histeris di pekarangan gubernuran menuntut kematian Yesus waktu itu, tidak serta-merta adalah orang-orangjahat. Mereka cuma kesal--seperti kita pun pasti berang--kepada orang yang menurut mereka dengan seenak perutnya menginjak-injak tradisi suciteologi dan religi, yang dengan khidmat telah mereka rawat berabad-abad. Tapi sayang, mereka buta. Merasa tahu, tapi sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu siapa sebenarnya Dia yang darah-Nya ingin mereka hirup,dan yang nyawa-Nya ingin mereka cabut. Dia tak lain adalah Tuhan atas semua hukum serta aturan agama yang mau mereka bela itu.&lt;br /&gt;Pentas sejarah penuh dengan tragedi serta ironi sejenis. Socrates, ribuan tahun yang lalu, juga dipaksa menenggak racun. Bukan oleh orang-orang lalim yang di tubuh mereka mengalir darah Iblis lalu menjadi demonis. Tapi oleh orang-orang Gerika yang amat terhormat lagi beradab.Mereka--seperti kita di tahun 66-an--merasa harus memenuhi amanat suci:membunuh si ateis.&lt;br /&gt;Sekali lagi, sayang sekali, orang-orang "baik" ini tidak menyadari kebutaan mereka. Tidak menyadari bahwa keseragaman yang mereka paksakanakan memasung dan mengerdilkan. Sebaliknya ke'bhineka'an--seperti diwakili oleh konsep Socrates tentang "allah" yang berbeda dari yang ada--justru akan memperluas cakrawala religiositas mereka.&lt;br /&gt;Kita bisa menyebutkan ratusan contoh lain mengenai kebutaan manusia. Termasuk kebutaan agama pada umumnya dan gereja pada khususnya. Pengalaman Copernicus, Galileo Galilei, Charles Darwin, Mahatma Gandhi,Martin Luther King Jr., Theys Hiyo Eluay, dan sebagainya, adalah sebagian kecil contoh mengenai mereka yang telah menjadi korban perbuatan orang-orang yang (mungkin) bermaksud baik, tapi buta.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kisah-kisah tersebut, dalam retrospeksi, seharusnya membuat kita malu kepada diri sendiri. Sebodoh itukah kita? Sebegitu butakah mata hati kita? Tragisnya, kita toh tak jera-jera juga. Berulang-ulang dan berulang-ulang, kita kembali menapaki lorong kesalahan yang sama. Terjerumus ke lubang yang itu-itu juga.&lt;br /&gt;Kata Arief Budiman, kalau orang tanpa sengaja terperosok ke lubang, ini namanya tragedi. Namun bila kemudian. orang tersebut jatuh dan jatuh kembali ke lubang yang sama, ini namanya komedi. Cuma jelas, pasti badut yang tak lucu.&lt;br /&gt;Orang-orang yang "buta nurani" itu merasa tahu betul apa yang mereka lakukan. Baik motivasi maupun tujuannya. Dan semuanya sungguh aduhai, serba indah, luhur, dan mulia. Tapi bagi mereka Yesus berdoa, "Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang gemar menyulut konflik dan menebar teror, bermain-maindengan api etnis dan agama di negeri kita, adalah orang-orang buta yangpengecut tapi berbahaya. Saya akui, ini memang cara paling mudah dan jalan paling cepat untuk membakar semangat. dan memikat pengikut. Tapi apakah mereka tahu apa yang mereka perbuat? Bahwa api yang mereka sulutakan membakar segenap negeri, serta mengubur seluruh masa depan--termasuk rumah dan masa depan mereka sendiri?&lt;br /&gt;Tapi tidak cukup hanya berbicara mengenai para provokator serta aktor-aktor intelektualis di belakang mereka, yang entah siapa. Saya juga harus menyapa semua penyelenggara negeri ini. Ya legislatifnya, ya eksekutifnya, ya yudikatifnya. Semua pemimpin orpol, ormas, dan ornop. Semua tokoh agama, pendidik, dan cendekiawan. Para penentu kebijakan ekonomi dan pelaku bisnis. Para perwira tinggi sampai prajurit TNI dan POLRI. Pemimpin-pemimpin masyarakat khususnya di daerah bergolak. SemuaAnda yang disapa oleh sang Sabda. Tahukah Anda apa yang Anda perbuat? Sadarkah Anda apa atau siapa yang Anda salibkan?&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Yang ingin saya tekankan adalah, bahwa ketulusan dan maksud baik saja ternyata tidak cukup. Siapa bisa menyangkal bahwa Hitler atau Stalin, Soeharto atau Aidit, seperti halnya Kayafas dan Pilatus, semuanya bermaksud baik? Tapi Shakespeare memang telah mengingatkan, betapa "Hal-hal termanis berubah jadi pahit sebab tindakan; (dan) ilalang pun berbau lebih harum ketimbang bunga bakung yang busuk."&lt;br /&gt;Maksudnya, pada akhirnya, semuanya harus diuji dari output-nya. Bukan cuma dari klaim-klaim niat baiknya. Jadi tolong jangan Anda telan mentah-mentah propaganda tentang "agama kasih," bila yang Anda lihat adalah betapa dengan tangan kanannya ia memberi, tapi dengan tangan kirinya ia mengambil. Jangan pula Anda manggut-manggut terlalu gampang terhadap klaim "agama damai," bila di tangannya Anda lihat pedang terhunus dan di matanya nafsu membunuh. Keabsahan suatu maksud baik, juga amat ditentukan oleh "cara"nya dan "produk"nya. Benarkah caranya? Baikkah akibatnya?&lt;br /&gt;"Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Yesus mengingatkan, betapa perbuatan tak bermoral yang keji dan kejam paling sering dilakukan orang atas nama moralitas. Dan orang tak menyadarinya. Semua berlangsung leluasa, sebab orang terlalu mengagungkan (atau mengeksploitasi) keluguan, yang sebenarnya adalah "kedunguan." Yang lebih tak lucu lagi adalah, orang menamakan ini "iman" Pura-pura lupa, bahwa iman memang melampaui pengertian, tapi tidak berlawanan.&lt;br /&gt;Karena itu, betapa pentingnya pencerahan! Tuhan menuntut kita mengasihi-Nya bukan hanya dengan segenap hati dan seluruh jiwa, tapi juga dengansepenuh akal budi. Semangat keagamaan yang berkobar dan berkibar tanpa akal sehat, akan menghasilkan fanatisme yang kuat, mungkin disiplin yang ketat. Tapi pasti bukan iman yang sehat. Pasti pula tidak akan membawa berkat.&lt;br /&gt;Kita memang harus mengasihi, tapi jangan sambil mematikan akal budi. Kita memang dituntut bermurah hati, tapi jangan tanpa kalkulasi sama sekali. Kita memang mesti memelihara idealisme, tapi jangan lalu kehilangan realisme.&lt;br /&gt;Yesus disalibkan bukan oleh para penjahat, tapi oleh para ulama, teolog, dan pejabat. Bukan karena alasan-alasan kriminal, tapi untuk tujuan yang amat sakral. Tapi mengapa begitu jadinya? Sebab isi kepala yang salah tidak pernah menghasilkan hati yang benar. The heart can never be totally right, if the head is totally wrong.&lt;br /&gt;Agama hanya akan menjadi berkat, ketika iman bersanding dengan perbuatan; keyakinan berdamping dengan kebaikan, dan religiositas berpadu dengan akal sehat. Ketika para pemimpin dan penganut agama tahuapa yang mereka perbuat. Sadar dan tahu, apakah yang mereka lakukan itumenebar kasih atau menuai dengki. Membangun jembatan penghubung atau mendirikan tembok pembatas. Menghargai kebaikan dan kebenaran, atau justru menyalibkannya. (SH-261101)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-5333793239692878378?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-05T21:34:16.880-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>25 TAHUN YANG LALU OM YO MENINGGALKAN KITA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/25-tahun-yang-lalu-om-yo-meninggalkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 21:17:18 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-7895608084964908888</guid><description>25 TAHUN YANG LALU OM YO MENINGGALKAN KITAOleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas" (Amsal 22:1).&lt;br /&gt;Dua puluh lima tahun yang lalu ketika saya mendengar Om Yo meninggalkandunia yang fana ini, dan kembali ke rumah Bapa di sorga, saya masuk ke kamar belajar saya, mengunci pintu, merenung dan berdoa. Mengapa itu yang menjadi reaksi spontan saya? Baru kemudianlah saya menyadarinya. Jauh di lubuk hati saya yang paling dalam, bagi saya, Pak Leimena atau Om Yo bukanlah orang untuk diiringi jenazahnya ke pemakaman, melainkan orang yang perlu kita renungi makna kehidupan serta kehadirannya di tengah-tengah kita.&lt;br /&gt;Setiap orang itu unik. Setiap pribadi itu berharga. Ini adalah Allah sendiri yang mengatakannya. Melalui nabi Yesaya, Ia bersabda, Aku telahmemanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaanKu. Engkau berhargadi mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau (Yesaya 43:1,4). Ya, karena itu jangan pernah kita perlakukan seorang pun terlampau tinggi, atau pandang seorang pun terlalu rendah. Setiap orang berharga di mata Allah, dan mulia, dikasihi Allah.&lt;br /&gt;Namun demikian, saya yakin toh tetap penting untuk bertanya: Apa sesungguhnya yang membuat Om Yo istimewa? Apakah karena beliau "langganan" jadi menteri, bahkan Pejabat Presiden, beberapa kali? Ini tentu saja istimewa. Amat istimewa. Sebab banyak yang sampai "merdukun"ke sana kemari, kepingin jadi menteri, toh tetap tidak kesampaian. Tapi jadi menteri berulang-ulang kali, walau istimewa, jelas tidak unik. Banyak orang punya pengalaman yang sama.&lt;br /&gt;Apa yang membuat Om Yo istimewa? Menurut saya, pasti juga bukan karena gaya bicaranya. Sebab bila ini, Roeslan Abdulgani atau Sabam Sirait, atau yang lain-lain, mungkin sekali lebih menarik. Bagaimana kalau kejelasan visinya, kejeniusan intelektualitasnya, kualitas kepemimpinannya? O ya tentu, Om Yo memang cukup punya kualitas dalam ketiga hal itu. Namun toh, saya kira kita sepakat, bukan terutama di situ Oom Yo istimewa.&lt;br /&gt;Jadi apa? Mungkin sekali jawaban saya ini akan terasa sebagai sanjunganyang berlebih-lebihan. Tapi sebenarnya tidak. Sebab salah satu dari banyak kelemahan saya yang paling besar adalah, saya tidak bisa dan tidak biasa menyanjung. Wah, kalau saja bisa, mungkin sekarang saya sudah bisa menikmati uang pensiun anggota DPR. Dan yang kedua, kalaupunbenar apa yang akan saya katakan ini terasa sebagai sanjungan, ini tetap saja tak ada pengaruhnya apa-apa, sebab sanjungan yang bagaimana pun tingginya, menurut pendapat saya, tetap tidak cukup untuk mengungkapkan keistimewaan Om Yo.&lt;br /&gt;Memberi Rasa TenangKeistimewaan Om Yo banyak sekali. Saya cuma akan menyebutkan beberapa, yang saya anggap harus saya katakan. Pertama, beliau memberi rasa tenang. Ayem. Rustig. Sebagai aktivis Kristen, saya merasa "tenang" selama Om Yo ada di "sana." Mengapa rasa tenang itu? Sebab sekali pun keberadaannya di sana tidak membawa keuntungan material apa-apa bagi keluarganya, bagi teman-temannya, atau bagi kelompoknya, tapi paling sedikit ia tidak akan mencemarkan nama baik orang Kristen. Ia menjadi "garam" di sana. Kadang-kadang memang tak terlalu terasa "asin"-nya. Tapi juga tak pernah "tawar" sehingga, seperti kata Yesus, "tidak ada gunanya, selain dibuang dan diinjak orang" (Matius 5:13b).&lt;br /&gt;Integritas moral serta semangat pengabdianya yang murni--dua hal yang paling sulit didapati pada pemimpin-pemimpin kita sekarang, baik di gereja maupun di luar gereja--memang tidak membuat ia menyuarakan kebenaran dengan terang dan dengan lantang. Juga tidak membuatnya melawan kebathilan dengan garang. Ini sebagian karena kondisi tak memungkinkan, sebagian lagi karena ini memang bukan tipe Om Yo. Ia jauhdari tipe seorang tokoh yang flamboyan.&lt;br /&gt;Sang domine--begitu Bung Karno biasa menyapanya--pasti tidak akan menjilat atau mengkhianati kebenaran, sekadar demi bisa bertahan satu-dua-tiga periode. Juga tidak akan korupsi, dengan alasan siapa tahu di kabinet yang akan datang tidak ditunjuk lagi. Sebagai kader-kader Kristen kami merasa tenang, karena kami yakin ia tidak akan membuat kami malu. Bahkan sebaliknya, pada tokoh seperti dia--di balik kesederhanaan dan keluguannya--ada sesuatu yang membuat kami bangga. Di situ, Om Yo istimewa.&lt;br /&gt;Saya masih ingat betul, bagaimana pada sebuah konferensi nasional Gereja dan Masyarakat, terjadi suatu perdebatan seru. Ini gara-gara ucapan Pak Leimena, yang mengatakan bahwa revolusi Indonesia sejajar atau paralel dengan iman kristiani. Walau tak terucapkan, mudah sekali teraba dan terasa protes keras beberapa tokoh. Om Yo mulai menjilat? Ia akan menggiring orang-orang Kristen Indonesia ke posisi seperti gereja-gereja Jerman di masa Hitler? Injil disatu-napaskan dengan perkara-perkara duniawi--dan, astaga, dengan 'politik' lagi?!&lt;br /&gt;Saya tidak menyalahkan, bahkan sangat menghormati orang-orang yang memberi reaksi keras itu. Gereja selalu memerlukan suara-suara seperti itu, supaya tidak mudah larut dan hanyut oleh roh-roh zaman. Tapi bagi orang yang mengenal Om Yo dari dekat pasti tahu, beliau tidak akan pernah berbuat seperti itu. Seperti kata kitab Amsal, bagi beliau, "Nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar, dikasihi orang lebihbaik daripada emas dan perak" (Amsal 22:1).&lt;br /&gt;Kalau begitu, bagaimana seharusnya memahami apa yang beliau ingin sampaikan? Bagi orang yang menyelami semangat serta cara berpikir Om Yo, menurut saya, tidak punya pilihan lain kecuali mengatakan bahwa dalamhal ini, alangkah benarnya ia! "Sejajar," bukankah ini berarti tidak saling mengatasi atau membawahi, dan tidak pula saling bersaing atau bersilang? Lha bukankah justru beginilah hubungan antara kehidupan beragama dan kehidupan bernegara itu semestinya ditata dalam negara Pancasila: sebagai mitra sejajar?!&lt;br /&gt;Sama PentingnyaYang sama pentingnya adalah, bahwa di balik kalimat Om Yo itu, beliau ingin menegaskan, bahwa menjadi orang Kristen yang sejati tidaklah bertentangan dengan menjadi seorang patriot dan seorang revolusioner yang sejati pula. Sebaliknya menjadi seorang patriot dan seorang revolusioner yang sejati, juga tidak serta merta berarti mengkhianati iman kristianinya.&lt;br /&gt;Setiap kita harus menjadi kedua-duanya sekaligus. Serentak, sejajar, saling membatasi, namun sekaligus juga saling menghidupi. Karena saya Kristen, saya terpanggil untuk menjadi seorang patriot. Dan karena sayaseorang patriot, saya membutuhkan iman supaya tidak terjerumus menjadi chauvinis. Saya seorang Kristen Indonesia dan sekaligus seorang Indonesia Kristen. Sejajar. Tak perlu dipilih-pilih atau dipilah-pilah.Tak sedetik pun saya berhenti jadi orang Kristen, dan tak sedetik pun saya bukan orang Indonesia. Bukankah ini cara yang paling tepat untuk memahami dan memberi isi kepada konsep Om Yo yang paling terkenal, yaitu "kewarganegaraan yang bertanggung jawab" itu?&lt;br /&gt;Banyak orang mengkritik Om Yo sebagai pemimpin yang tidak bertipe kenabian. Menurut mereka, rustig tidak cocok dengan sifat dan sikap seorang nabi. Saya tidak sependapat. Sebab di dalam Alkitab, kita tidakcuma mengenal satu tipe nabi. Yang pantas disebut "nabi" itu bukan hanya yang prophets of the doom, yang menuding-nuding seperti Natan, atau mengutuk seperti Yunus, atau meraung seperti Yohanes Pembaptis.&lt;br /&gt;Ada pula tipe nabi seperti Hosea, yang demi mengemban amanat kenabiannya, mesti mengalami langsung bagaimana sakitnya, hinanya, dan terkutuknya, mencintai, mengawini dan akhirnya dikhianati oleh seorang perempuan sundal. Atau tipe nabi seperti Yeremia, yang ikut menanggung risiko dibuang ke Mesir bersama-sama dengan bangsanya, bangsa yang telah diperingatkannya tapi selalu melecehkannya. Atau seperti Elia, nabi yang pernah melarikan diri karena tidak tahan didera rasa sendiri, sebab semua orang telah membelot dari Tuhan atau mati dimakan pedang. Maksud saya, kenabian seseorang itu tidak bisa diukur hanya dari ke-"galak"-annya.&lt;br /&gt;Ada nabi dengan gaya Yohanes Leimena, yang lemah lembut, tapi samasekali tidak lemah. Bagi saya, gaya kenabian seperti ini menawarkansebuah model kenabian yang layak dipertimbangkan sebagai salah satu gaya kenabian yang kontekstual. Maksud saya, gaya kenabian yang tidak terutama mengandalkan kata-kata, atau diekspresikan melalui demonstrasi-demonstrasi serta petisi-petisi, melainkan melalui seluruh kehidupan kita, seluruh komitmen kita, seluruh kepedulian kita. Ringkas kata, melalui integritas moral kita!&lt;br /&gt;Integritas moral. Itulah, menurut saya, salah satu yang paling berhargayang ditinggalkan oleh Om Yo bagi bangsanya dan bagi kita. Bukan harta yang banyak. Bukan konsep-konsep abstrak. Tapi suatu teladan kehidupan dan pengabdian yang merefleksikan keyakinan, betapa "nama baik lebih berharga daripada kekayaan besar; dikasihi orang lebih baik daripada perak dan emas."&lt;br /&gt;Banyak BerubahHari ini, 25 tahun yang lalu, Om Yo meninggalkan kita. Selama 25 tahun itu, keadaan sudah begitu banyak berubah. Istana Merdeka maupun Istana Negara, Jalan Teuku Umar, PGI, RS PGI Cikini, STT Jakarta, ya seluruh Indonesia, telah amat berubah. Saya juga telah berubah. Sekiranya beliau saat ini melihat saya, saya yakin beliau tidak akan lagi dengan senyumnya yang khas dan telunjuk yang digoyang-goyangkannya di depan saya, akan menyapa, Hier komt de stoute jongen seperti dulu-dulu. Saya sudah tidak muda lagi. Dan juga sudah jauh lebih jinak.&lt;br /&gt;Saya coba membayangkan, bagaimana kira-kira reaksi beliau menyaksikan semua perubahan itu? O, saya yakin, beliau akan senang sekali malam ini. Senang melihat kita berkumpul begitu baur, seolah-olah tanpa batas. Tua muda. Tokoh, setengah tokoh. Kristen, bukan Kristen. Semua sebagai satu keluarga besar. Tapi beliau pasti akan lebih senang, kalau ada lebih banyak lagi orang-orang muda berada di depan. Lebih banyak orang muda yang berani duduk di depan. Saya tahu betul, itu salah satu obsesibeliau. Bahwa pada setiap kurun waktu, selalu lahir generasi pimpinan yang baru. Yang sama baiknya, bahkan semakin lama semakin baik.&lt;br /&gt;Inilah mengapa beliau tak pernah menderita post-power syndrome. Dari menteri, waperdam, lalu "cuma" jadi Direktur RS PGI Cikini, tetap sama saja tuh. Sebab baginya, "nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada emas dan perak." Saya yakin kita pasti sepakat mengatakan, "Om Yo, bagi kami, namamu tetap harum! Katong tetap sayang Om Yo! We love you, always!"&lt;br /&gt;* Makalah ini disampaikan pada Peringatan 25 tahun Wafatnya Dr Johannes Leimena, 26 Maret 2002. (SP 270302)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-7895608084964908888?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-05T21:17:18.360-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MELAWAN KONFORMISME</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/07/melawan-konformisme.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Thu, 05 Jul 2007 21:16:34 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-1585797823494357509</guid><description>MELAWAN KONFORMISME&lt;br /&gt;By . Mr Eko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini," begitu Paulus memberi nasihat. Artinya: dalam hidup di dunia ini, jangan hendaknya kita jadi konformis yang demi rasa aman terus mengekor mengikuti kehendak zaman.&lt;br /&gt;Atau jadi bebek yang baru merasa terlindung bila berada di tengah rombongan. Tapi jadilah batu karang, yang walau didera ombak namun tetap bertahan!&lt;br /&gt;Jadilah burung elang, yang tak ragu terbang sendiri menerjang angin menembus awan! Sebab, seperti tutur Emiliano Zapata, tokoh revolusionerMeksiko, "Lebih baik mati berpijak di atas kakimu, ketimbang hidup bertumpu pada lututmu."&lt;br /&gt;Nasihat yang jempol! Tapi apa tidak konyol? Bukankah di sepanjang zaman, berjuang melawan konformisme selalu merupakan perjuangan yang amat berat? Lihat, misalnya, pengalaman Pilatus. Atau Yohanes Pembaptis. Bahkan Yesus.&lt;br /&gt;Beratnya perjuangan tersebut, kian terasa di zaman kita. Yakni ketika tekanan sekitar dan pengaruh massa begitu perkasa.&lt;br /&gt;Ialah yang membentuk cara berfikir kita. Dan ia pulalah yang menabuh genderang menentukan langkah dan irama kaki kita, menarikan irama status quo.&lt;br /&gt;Sekitar kita adalah kekuatan raksasa yang menarik leher kita dan mencucuk hidung kita, supaya kita menempuh jalan yang aman, yaitu jalanmengikut angin.&lt;br /&gt;Supaya kita menghindari lorong-lorong sunyi, yang biasanya cuma dilaluikaum mbalelo dan minoritas keras kepala.&lt;br /&gt;Dan mencegah kita melakukan tindakan bodoh, yaitu memasuki peperangan yang mustahil kita menangkan. Di belakang kekuatan besar itu, saudara, adalah roh konformisme.&lt;br /&gt;Beberapa pakar sosiologi menegaskan, bahwa moralitas tak lain adalah hasil kesepakatan kelompok semata. Bahwa yang benar dan yang baik adalah yang sesuai dengan kehendak kelompok.&lt;br /&gt;Beberapa pakar psikologi menekankan, betapa kematangan serta kestabilanmental dan emosional seseorang ditentukan oleh kemampuan yang bersangkutan menyesuaikan diri dengan lingkungan di mana ia berada.&lt;br /&gt;Dan beberapa agamawan pun mengukur kadar kemurnian iman orang dari kerelaan yang bersangkutan untuk tunduk tanpa reserve terhadap rumusan-rumusan dogma tertentu. Semua ini, saudara, adalah bentuk lain dari konformisme.&lt;br /&gt;Paulus, saya yakin, bukan tidak menyadari realitas ini. Meremehkannya pun, pasti tidak. Namun begitu, dengan tegasnya ia menekankan supaya kita tidak menjadi konformis yang membabi buta. Keluhuran moral lebih penting ketimbang persetujuan atau penerimaan sekitar.&lt;br /&gt;Yang mengatakan ini, bukan cuma Paulus. Yesus pun menegaskan hal yang sama. Berulang-ulang kali, dengan tajam sekali.&lt;br /&gt;Misalnya, ketika peradaban modern secara sistematis mencuci otak kita agar percaya bahwa kebahagiaan ditandai oleh ukuran mobil kita; atau oleh ke'wah'an bangunan rumah kita; atau oleh ke'eksklusif'an merek pakaian kita; Yesus mengingatkan betapa "Hidup manusia tidaklah ditentukan oleh kelimpahan harta yang ia miliki."&lt;br /&gt;Ketika banyak dari generasi muda (dan tua juga) terlanjur yakin bahwa seks bebas adalah bagian hakiki dari aktualisasi serta ekspresi diri, Yesus menggelengkan kepala-Nya dan berkata, "Barangsiapa memandang perempuan dan menginginkannya, ia sudah berzinah di dalam hatinya."&lt;br /&gt;Ketika mayoritas orang lebih memilih jalan kenikmatan ketimbang keyakinan, dan oleh karenanya menolak menderita demi kebenaran, kita mendengar Yesus berujar, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, oleh karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga."&lt;br /&gt;Ketika para alim ulama serta tokoh agama membusungkan dada membanggakanketaatan beragama mereka, Yesus malah mencibir seraya berkata, "Sesungguhnya para pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului kamumasuk ke Kerajaan Allah."&lt;br /&gt;Tatkala kita -- baik karena ketumpulan perasaan kita maupun karena kepongahan individualisme kita -- gagal memberi respon terhadap kebutuhan sesama yang bernasib malang, dengan menahan geram Yesus mengecam, "Apa yang kalian lakukan terhadap saudaraku yang paling hina ini, itulah kelakuan kalian terhadap Aku."&lt;br /&gt;Dan sewaktu di tengah maraknya suasana konflik, kita cenderung membiarkan bara dendam dan api benci membakar jiwa menggerogoti sanubari, Yesus mengajar, "Kasihilah musuhmu, berkatilah orang yang mengutukimu, berbuatlah baik kepada yang membencimu, dan berdoalah bagimereka yang memfitnah dan menganiaya kamu."&lt;br /&gt;Di mana-mana dan kapan saja, sepertinya ketika kasih Yesus senantiasa memancarkan cahaya yang menyilaukan, menelanjangi wajah buruk dari kecenderungan konformitas kita yang tersembunyi.&lt;br /&gt;Persoalannya, masih mendengarkah kita? Masih adakah rasa jengah tersisadi kalbu kita? Atau sebaliknya, kita malah tambah mengeraskan hati?&lt;br /&gt;Mengapa tokoh-tokoh seperti Paulus dan Yesus menekankan hal-hal yang oleh dunia dipandang sebagai tidak umum, tidak normal, dan tidak lazim?Apakah bukan ini yang acap membuat orang jadi skeptis dan sinis terhadap agama?&lt;br /&gt;Yakni karena "tidak realistisnya" dan "tidak relevannya" agama itu. Karena agama seolah-olah cuma memberi dua pilihan kepada manusia: menjadi "eksentrik" atau menjadi "munafik."&lt;br /&gt;Saya punya dua tanggapan. Yang pertama adalah, agama sejati -- tak dapat tidak -- memang mesti begitu.&lt;br /&gt;Sebab bila agama, sekedar demi realisme dan relevansi, ikut-ikutan berkubang dalam lumpur roh-roh zaman, lalu apa manfaat atau faedahnya agama? Agama akan kehilangan jatidiri dan fungsinya, bila ia tak punya yang lain, yang berbeda, yang lebih baik, untuk ditawarkan kepada dunia.&lt;br /&gt;Tapi jelas, bukan sekadar asal "nyeleneh." Isu utama di sini bukanlah realistis atau tidak realistis, melainkan apakah agama itu kritis dan profetis. Agama harus kritis dan profetis.&lt;br /&gt;Pemimpin-pemimpin agama mesti kritis dan profetis. Menyerukan pertobatan, ketika masyarakat salah jalan. Tidak malah ikut-ikutan jadikoruptor atau provokator. Atau demi popularitas, mengorbankan ingeritas. Demi kekuasaan dan kekayaan, melacurkan kehormatan.&lt;br /&gt;Tanggapan saya yang kedua ialah, bahwa walaupun sangat menyadari akan risiko disebut kuno, kolot, dan usang, tapi -- apa boleh buat -- kehidupan ini cuma memberi satu di antara dua kemungkinan.&lt;br /&gt;Yaitu, seperti pernah dikatakan oleh Longfellow, mau jadi "landasan/telenan" atau menjadi "martil." Mau jadi obyek yang sepenuhnya dibentuk oleh keadaan, atau subyek yang mempengaruhi perkembangan keadaan.&lt;br /&gt;Apa yang kita maui, tidak sulit untuk dipilih. Siapa yang secara sadar memilih untuk jadi "telenan"? Yang sulit adalah konsekuensinya. Apalagibila yang harus kita hadapi adalah tekanan massa dan kecenderungan dunia.&lt;br /&gt;Sebab itu, bila Anda memilih untuk menyerah saja, saya tidak heran. Namun demikian, perlu Anda ketahui bahwa sejarah hanya berutang kepada orang-orang seperti Thomas Jefferson, yang pernah menulis, "Aku telah bersumpah di depan altar Allahku, untuk melancarkan perang abadi kepadasegala bentuk tirani yang menjajah pikiran bebas manusia." Perang tanpaujung melawan konformisme.&lt;br /&gt;Seperti terjadi pada Yohanes Pembaptis atau Stefanus, bahkan Yesus; pada Socrates atau Polycarpus, non-konformisme kadang-kadang harus dibayar dengan darah. Tapi dari bumi yang basah oleh darah para nonkonformis inilah, peradaban dapat berlanjut. Paling tidak, dapat bertahan.&lt;br /&gt;Jadi silakan pilih. Menjadi "sabut kelapa" yang dipontang-pantingkan gelombang, atau menjadi "batu karang" yang dalam deraan ombak terus bertahan? Antara menjadi "bebek" yang terlindung di tengah rombongan, atau, menjadi "burung elang" yang berani menempuh risiko terbang sendirian mengarung awan? (SH-201001)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-1585797823494357509?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-05T21:16:34.198-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>AKU MEMPUNYAI SEBUAH IMPIAN</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/aku-mempunyai-sebuah-impian.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Fri, 29 Jun 2007 21:50:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-7838853153350409066</guid><description>AKU MEMPUNYAI SEBUAH IMPIAN&lt;br /&gt;"I have a dream ... little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character." Martin Luther King, Jr&lt;br /&gt;Pidato yang disampaikan Martin Luther King, Jr di anak tangga Lincoln Memorial Park, Washington DC tahun 1963 ini telah menggoncang Amerika, bahkan dunia. Menjungkir balikkan politik rasialis Amerika "separate but equal."&lt;br /&gt;King memang mempunyai impian, kita pun mempunyai impian, aku juga. Tetapi King berani melangkah mewujudkan impiannya dengan segala risikonya. J Edgar Hoover, direktur FBI, mengatakan King sebagai "the most dangerous man in America, and a moral degenerate." Pada tahun 1968 King dibunuh dengan tanpa kejelasan siapa pembunuhnya bahkan sampai sekarang, biarpun ada James Earl Ray yang diduga sebagai si pembunuh.&lt;br /&gt;"Sampai kapan pun kasta-kasta manusia tetap ada. Pada saat kita membuka sebuah usaha misalnya, akan ada tenaga pekerja, pengawas, manajer dan lain sebagainya. Itu pun merupakan pembagian kasta-kasta dan akan selalu ada," demikian kuliah Mr Hinds di kelas.&lt;br /&gt;Mr Hinds, professorku itu, merupakan seorang kulit hitam yang berhasil memenuhi impian King, mencapai gelar PhD dan mengajar sebagai professor dengan murid-murid beraneka warna kulit, termasuk mereka yang berkulit putih. Apa yang dikatakan Mr Hinds memang benar, sampai kapan pun kasta akan tetap ada. Yang membedakan bukan lagi warna kulit, tetapi dari kemampuannya, dari bobot pikirannya, dari ketepatannya melangkah mengambil kesempatan yang ada.&lt;br /&gt;Pernah dulu, waktu masih kanak-kanak, aku berkenalan dengan seorang teman baru. Waktu aku ajak ke rumah dan duduk mengobrol bersama di depan pintu pagar. Tanpa aku sangka, Papaku keluar dan melihat teman baruku. Diusirnya temanku itu dan aku dipanggil ke dalam, dimarahi, dan tidak boleh keluar rumah.&lt;br /&gt;Waktu itu tentu saja aku bingung, tetapi kemudian aku menyadari betapa setiap orangtua tentu akan bertindak yang sama, tidak ingin anak-anaknya bergaul dengan gelandangan--tentu bukan sepenuhnya karena warna kulitnya yang sawo matang, karena dengan anak dokter tetangga rumah yang juga sawo matang aku sama sekali tidak dilarang bergaul.&lt;br /&gt;Tetapi apakah temanku itu bisa menolak menjadi anak gelandangan dan dapat memilih menjadi anak dokter? Bisakah anak gelandangan mempunyai kesempatan yang sama dengan anak dokter dan dapat keluar dari kastanya? Atau, bisakah suatu saat kelak tidak akan ada lagi anak gelandangan?&lt;br /&gt;Aku tahu aku juga mempunyai impian, tetapi ... apakah aku berani melangkah mewujudkan impianku?&lt;br /&gt;West Covina, 16 Maret 2002Jonathan Goeij&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-7838853153350409066?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-29T21:50:26.976-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Surat Paulus Kepada Filemon</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/surat-paulus-kepada-filemon.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Fri, 29 Jun 2007 21:49:28 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-6425633830608017493</guid><description>Surat Paulus Kepada Filemon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam1 Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudarakita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami 2 dan kepada Apfiasaudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dankepada jemaat di rumahmu:3 Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari TuhanYesus Kristus menyertai kamu.&lt;br /&gt;Ucapan syukur4 Aku mengucap syukur kepada Allahku, setiap aku mengingat engkau dalam doaku,5 karena aku mendengar tentang kasihmu kepada semua orang kudus dan tentangimanmu kepada Tuhan Yesus. 6 Dan aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam imanturut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus.7 Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hatiorang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.&lt;br /&gt;Permintaan Paulus kepada Filemon mengenai Onesimus8 Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untukmemerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, 9 tetapi mengingatkasihmu itu, lebih baik aku memintanya daripadamu. Aku, Paulus, yang sudahmenjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, 10 mengajukanpermintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara,yakni Onesimus 11-dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarangsangat berguna baik bagimu maupun bagiku. 12 Dia kusuruh kembali kepadamu-dia, yaitu buah hatiku-. 13 Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagaigantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena injil, 14 tetapitanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itujangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.15 Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supayaengkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya, 16 bukan lagi sebagai hamba,melainkan lebih dari hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudahdemikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan. 17 Kalauengkau menganggapku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.18 Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggung-kanlah semuanya itu kepadaku- 19 aku Paulus, menjaminnya dengan tulisantanganku sendiri: Aku akan membayarnya- agar jangan kukatakan: "Tanggungkan-lah semuanya itu kepadamu!"- karena engkau berhutang kepadaku, yaitu dirimusendiri. 20 Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan:hiburkanlah hatiku di dalam Kristus! 21 Dengan percaya kepada ketaatanmu,kutuliskan ini kepadamu. Aku tahu, lebih dari permintaanku ini akan kaulakukan.22 Dalam pada itu bersedialah juga memberi tumpangan kepadaku, karenaaku harap oleh doamu aku akan dikembalikan kepadamu.&lt;br /&gt;Salam23 Salam kepadamu dari Epafras,temanku sepenjara karena Kristus Yesus,24 dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.25 Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai roh kamu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-6425633830608017493?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-29T21:49:28.515-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Belajar Mencintai Dari Cicak</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/belajar-mencintai-dari-cicak.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Fri, 29 Jun 2007 21:45:32 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-569622423767923089</guid><description>Belajar Mencintai Dari Cicak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun??? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu!Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya....&lt;a href="http://www.goldenkid.blogspot.com/" target="_blank"&gt;AHHHH&lt;/a&gt;!Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.Sungguh ini sebuah cinta...cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban.Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, kekasih, saudara lelaki, saudara perempuan..... Seiring dengan berkembangnya teknologi, akses kita untuk mendapatkan informasi berkembang sangat cepat. Tapi tak peduli sejauh apa jarak diantara kita, berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang kita kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Kisah ini berasal dari Jepang-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORWARS LAH EMAIL INI KEPADA SAHABAT,TEMAN, SAUDARA, KERABAT ANDA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-569622423767923089?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-29T21:45:32.778-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SMIRNA, KETIKA IMAN MENAGIH UTANG</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/smirna-ketika-iman-menagih-utang.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 20:01:49 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-3952705344859735461</guid><description>SMIRNA, KETIKA IMAN MENAGIH UTANG&lt;br /&gt;Oleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Efesus, Smirna adalah yang kedua yang disapa oleh Roh Tuhan. Ini tidak mengherankan. Di dalam segala hal, keduanya bersaing ketat. Bila Efesus adalah yang "terbesar dan tersibuk," Smirna adalah yang "teranggun dan terelok."&lt;br /&gt;Orang menamainya "kembang Asia." Kadang-kadang, "mahkota Asia." Aristides, dalam lirik pujiannya tentang kota ini, menulis, "Keagungannya menjangkau setiap relung bagaikan lengkung pelangi, kemilaunya menggapai sorga, menelusupi setiap rongga, berbinar-binar bagaikan pedang tembaga di tangan Homer."&lt;br /&gt;Yang membuat Smirna lebih menarik lagi adalah karena ia merupakan kota yang paling terencana, tidak awut-awutan seperti kota-kota kita. Bisa begitu, karena Lychimus membangunnya dari puing-puing kota lama yang telah 400 tahun luluh lantak akibat diguncang gempa dahsyat.&lt;br /&gt;Jadi tidak kebetulanlah bila Tuhan memperkenalkan diri kepada jemaat di Smirna sebagai "Yang telah mati dan hidup kembali." Ini menjelaskan riwayat hidup Yesus, tapi juga pengalaman Smirna sendiri.&lt;br /&gt;Ada lagi--di samping yang lain-lain--yang membuat Smirna amat terkenal,yaitu kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada Roma. Cicero, sang pujangga, menyebutnya sebagai "sekutu kita yang paling lama dan paling setia."&lt;br /&gt;Suatu ketika, pasukan Roma menderita kelaparan dan kedinginan di medan tempur, penduduk Smirna serta-merta melepaskan jubah-jubah mereka lalu mengirimkannya ke sana. Kemudian, jauh sebelum Roma mencapai puncak kejayaannya, di Smirnalah untuk pertama kali dibangun sebuah kuil pemujaan Dewi Roma. Jadi, kota ini memang memiliki loyalitas sejati, jauh dari keinginan mencari muka atau menjilat kaki.&lt;br /&gt;Smirna tidak cuma unggul di sektor niaga, politik, dan pariwisata. Ia juga hebat sebagai kota budaya. Stadionnya megah. Perpustakannya lengkap. Gedung teater dan musiknya canggih, dan sebagainya. Sebagai informasi tambahan, Homer adalah "anak Smirna."&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Membicarakan keistimewaan Smirna bisa tak ada habis-habisnya. Ini tentutak akan kita lakukan. Akan tetapi, ada beberapa hal yang memang harus dikatakan.&lt;br /&gt;Misalnya bahwa di kota ini hadir sebuah komunitas Yahudi yang cukup besar, kaya, dan berpengaruh. Kehadiran komunitas inilah yang menampilkan sosok Smirna yang samasekali lain, khususnya bagi orang-orang Kristen. "Mahkota Asia" yang elok ini tak lagi bagaikan kembang musim semi yang menyebar bau wangi ke mana-mana, tapi berubah menjadi raksasa bengis yang memuncratkan banyak darah ke segala arah. Darahnya para martir. Orang-orang Yahudi melihat "sekte Kristen" ini sebagai penyakit sampar yang amat berbahaya, yang mesti secepatnya dibasmi sampai tuntas-tas dan habis-bis. Supaya lebih efektif, mereka pun meminjam tangan penguasa Romawi.&lt;br /&gt;Di kota inilah, di Smirna, penganiayaan terhadap orang-orang Kristen terjadi amat intensif, sangat kejam dan paling menumpahkan darah. Di kota inilah, di Smirna, kisah-kisah kepahlawanan para martir yang paling dramatis terjadi. Sebab itu saya sebut Smirna sebagai simbol keadaan, ketika iman menagih hutang, dan ketika mereka yang mengaku beriman mesti membayarnya--tunai. Smirna adalah representasi situasi tatkala kesetiaan diuji sampai ke batas, dan orang-orang percaya mesti membuktikannya--saat itu juga. Karena itu, Smirna adalah peringatan, betapa stiker-stiker seperti--We are a successful "family!"--tak selalutepat kita lekatkan di kaca belakang mobil kita. Sebab kekristenan tidak cuma kisah sukses. Tidak cuma itu. Dan tak selamanya begitu.&lt;br /&gt;Ini nyata pada kisah Polikarpus, Uskup Smirna, yang mati sebagai syuhada, pada hari Sabtu 23 Februari, tahun 155. Hari itu adalah hari raya. Kota Smirna penuh sesak. Orang-orang yang berjejal di stadion sedang berada di puncak keriaan dan keliaran mereka. Tiba-tiba terdengar teriakan, "Para ateis mesti dibasmi! Cari Polikarpus, lalu bawa ke sini!" Teriakan yang bermula dari salah satu sudut, segera membahana menjadi teriakan histeris seluruh arena.&lt;br /&gt;Di mana Polikarpus? Sebenarnya dengan amat mudah ia dapat menyelinap ke luar kota dan menyelamatkan diri. Tapi ini tidak dilakukannya, sebabmelalui mimpi ia memperoleh penglihatan tentang bantal yang terbakar. Ia yakin, "Aku akan dibakar hidup-hidup." Tempat persembunyiannya diketahui setelah seorang budak Kristen, karena tak tahan siksaan, terpaksa mengaku. Polikarpus segera digelandang ke penjara. Tapi di sini ia memperoleh perlakuan yang baik. Sebab sampai kapten yang menjaganya pun tak ingin melihat orang baik ini mati.&lt;br /&gt;Pada hari itu, dalam perjalanan pendek dari penjara ke stadion, kapten itu terus membujuknya, "Polikarpus, apa sih susahnya mengatakan 'Kaisaritu Tuhan,' mempersembahkan korban dan membakar dupa, tapi Anda selamat?" Toh Polikarpus bersikeras. Baginya hanya Yesus Kristus, dan tak ada yang lain, adalah Tuhan.&lt;br /&gt;Ketika memasuki arena, konon terdengar suara dari sorga, "Kuatkan hatimu, Polikarpus, bersikaplah sebagai lelaki sejati!" Penguasa kota memberi kesempatan terakhir untuk memilih: mengutuki Kristus serta membakar dupa untuk Kaisar, atau mati. Menanggapi ini, meluncurlah jawaban Polikarpus yang amat terkenal itu, "88 tahun aku melayani-Nya, tak sekalipun Ia mengecewakan aku. Bagaimana mungkin aku menghujat Rajaku yang telah menyelamatkan aku?"&lt;br /&gt;Penguasa Smirna balas mengancam dengan hukuman bakar, yang kembali ditanggapi oleh Polikarpus dengan gagah berani, "Anda mengancam aku dengan api yang menyala seketika lalu padam, karena Anda tidak mengenalapi abadi yang tak pernah padam, yang menunggu orang-orang jahat di pengadilan yang akan datang. Anda tunggu apa lagi? Lakukanlah segera apa yang Anda mau."&lt;br /&gt;Mendengar itu, dibakar oleh rasa geram, berbondong-bondonglah mereka yang hadir, mengumpulkan kayu bakar dari mana-mana. Tarmasuk orang-orang Yahudi, walaupun mereka tahu hari itu adalah hari Sabat. Begitulah, saudara. bila kebencian telah menguasai akal sehat dan hati nurani. Walau mereka amat beragama.&lt;br /&gt;Sewaktu mereka ingin mengikatnya, Polikarpus menolak. "Tak perlu," begitu katanya, "Ia yang memberiku kekuatan untuk tahan terhadap api, pasti akan memberiku kekuatan untuk bertahan dalam nyalanya, sehingga pantang aku melarikan diri sekalipun kalian tak mengikatku." Lalu api pun mulai berkobar, dan suasana hening meliputi arena. Semua yang hadirterpana mendengar doanya--bukan doa ratapan melainkan doa pujian!&lt;br /&gt;"Ya Allah yang Maha Kuasa, Bapa dari Putra-Mu yang mulia dan tercinta, Yesus Kristus, yang melalui-Nya kami memperoleh pengetahuan yang penuh tentang Dikau; Allah semua malaikat dan kuasa; Allah segala ciptaan dansegenap keluarga orang-orang benar yang hidup di hadapan-Mu. Aku memuliakan-Mu karena telah Kaukaruniakan kepadaku hari ini dan saat ini, di mana aku diperkenan mengambil bagian, bersama-sama dengan para syuhada yang lain, minum dari cawan Kristus ... Saat ini aku mohon, berkenanlah Dikau menerimaku sebagai korban yang layak, sama seperti Dikau telah menerima mereka ... Maka aku akan memuliakanMu di dalam segala perkara. ... Amin."&lt;br /&gt;Sampai di sini adalah fakta. Sedangkan yang berikut ini adalah legenda.Api besar yang berkobar-kobar itu konon justru menjadi tenda pelindung bagi Polikarpus. Sehingga untuk membunuhnya, seorang algojo harus menikamnya dengan pedang. Dan, menurut yang empunya cerita, dari lubang luka bekas tikam itu, keluarlah burung merpati dan darah yang amat banyak. Begitu banyaknya, sehingga memadamkan api yang menyala-nyala.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Berbeda dengan Efesus, saya akui, jemaat Smirna tidak memberikan kesan sebagai jemaat yang "wah." Kesetiaan, saudara, biasanya memang tidak gilang-gemilang. Tapi kepada jemaat seperti inilah, dengan lembut Tuhandatang seraya menyapa, "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamumahkota kehidupan."&lt;br /&gt;Setia sampai mati. Alangkah manis selalu kisah-kisah tentang kesetiaan,bukan? Tapi sekaligus, alangkah langkanya! Saya sempat bertanya-tanya, apakah kata itu masih tercantum di Kamus Umum Bahasa Indonesia. Apakah kesetiaan masih berharga dalam kehidupan pribadi Anda, dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, bakan bergereja kita?&lt;br /&gt;Namun apa pun yang terjadi, anugerah Tuhan hanya bisa disambut dengan iman. Dan iman menuntut kesetiaan. Tak sedikit pun kurang dari itu. "Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya." (SH-160302)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-3952705344859735461?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-26T20:01:49.717-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PERGAMUS, TEMPAT DI MANA IBLIS BERTAKHTA</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/pergamus-tempat-di-mana-iblis-bertakhta.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 19:59:19 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-4244869612944197119</guid><description>PERGAMUS, TEMPAT DI MANA IBLIS BERTAKHTAOleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;Pergamus tidak sekaya Efesus. Tidak pula seindah Smirna. Namun begitu, toh ada yang menyebutnya, longe clarissimum Asiae, artinya, "kota paling kesohor di (provinsi) Asia."&lt;br /&gt;Betapa tidak. Penguasa datang dan pergi silih berganti, mulai dari Aleksander Agung dari Makedonia sampai Attalus III dari Roma, tapi selama hampir 400 tahun lamanya, ia mampu bertahan sebagai ibu kota.&lt;br /&gt;Kota ini memang tak sesukses Efesus atau Smirna, dalam hal menjadi pusat niaga. Namun dalam hal budaya, o, jangan tanya. Pergamus mengungguli keduanya.&lt;br /&gt;Perpustakaannya menyimpan tak kurang dari 200.000 gulungan naskah atau perkamon (berasal dari kata 'pergamus'!). Cuma Aleksandria, yang memiliki perpustakaan terbesar di dunia, yang mampu mengalahkannya.&lt;br /&gt;Di samping kota budaya, Pergamus adalah juga pusat agama. Paling sedikit ada dua tempat keramat yang paling terkenal, kondang sampai ke mancanegara.&lt;br /&gt;Yang pertama, adalah kuil pemujaan bagi Zeus, dewa tertinggi serta termulia orang Gerika. Dan yang kedua adalah kuil pemujaan untuk Asklepios, sang dewa penyembuh nan sakti mandraguna. Karena ramainya orang dari segala penjuru dunia berkunjung serta berziarah ke kuil yangkedua, seorang penulis wisata menjuluki Pergamus sebagai "Lourdes-nya dunia masa lampau."&lt;br /&gt;Yang menarik adalah Wahyu Yohanes mencatat bagaimana Tuhan justru menyebut Pergamus sebagai "takhta Iblis." Apakah ini disebabkan karena adanya kuil-kuil pemujaan itu?&lt;br /&gt;Mungkin saja. Tapi agaknya bukan itulah alasan utamanya. Sebab bagaimana pun sesatnya dan bagaimana pun bejatnya yang dilakukan orang di dua kuil tersebut, pengaruh buruknya terhadap orang-orang Kristen nyaris tiada.&lt;br /&gt;Yang lebih mungkin menurut saya adalah, terkait dengan kenyataan bahwa Pergamus adalah ibu kota provinsi. Sebagai pusat pemerintahan, tak terhindarkanlah Pergamus menjadi pusat kultus pemujaan kaisar. Apa dan bagaimana kultus ini sebenarnya?&lt;br /&gt;Sepintas kilas, kultus ini memberi kesan sebagai praktik ritual yang cukup beradab dan tidak terlalu "jahat." Namun dalam kenyataan, akibat robekan taringnya dan cakar mautnyalah, berjatuhan ribuan martir sebagai korban.&lt;br /&gt;Bukan cuma dalam jumlah yang luar biasa banyak, tapi juga dengan cara yang luar biasa biadab. Masuk akallah, bila karena ini, Tuhan menyebutnya sebagai tempat kota di mana Iblis bertakhta.&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Di atas telah saya katakan, bahwa sepintas lalu kultus pemujaan kaisar tidak memberi kesan jahat, atau sebagai sesuatu yang sangat mengganggu iman. Ditinjau dari sudut pandang tertentu, kultus ini lebih merupakan sebuah "ritus politik," ketimbang sebuah "ritus keagamaan."&lt;br /&gt;Mirip-mirip upacara penghormatan bendera setiap tanggal 17 di negeri kita, atau sumpah setia kepada tanah-air seperti yang lazim di Amerika.Upacara "sekuler" yang, kecuali bagi sekelompok kecil orang-orang "ekstrem," biasanya dianggap sebagai "tidak ada apa-apanya." Artinya, boleh-boleh saja dilakukan, sebab tidak ada kaitannya dengan--dan karena itu tidak bakal mengganggu--integritas iman seseorang.&lt;br /&gt;Awal mula kelahiran kultus ini adalah juga karena urgensi politis, yaitu bagaimana menjaga integrasi wilayah kekaisaran Roma yang luasnya meliputi tiga benua? Apakah yang dapat dijadikan pemersatu atau perekatbatin yang efektif, bagi suatu masyarakat yang pasti luar biasa keaneka-ragaman agama, bahasa, dan budayanya?&lt;br /&gt;Satu-satunya pilihan yang paling masuk akal dan bisa diterima oleh semua pihak adalah kaisar sebagai lambang pemersatu. Kesetiaan kepada kaisar dimanfaatkan sebagai pengikat solidaritas seluruh warga pax romana, yang diharapkan bisa mengatasi--tanpa menghilangkan--perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka.&lt;br /&gt;Tuntutan pelaksanaan kultus ini ringan, fan caranya pun, sederhana, beradab, tidak berlebih-lebihan. Sengaja dibuat begitu agar tidak justru memancing keberatan dan perlawanan banyak pihak.&lt;br /&gt;Setahun sekali, pada tanggal yang telah ditetapkan, setiap warga negaraRoma diwajibkan datang ke kuil terdekat. Di situ, di depan patung sang Kaisar, ia diminta mengambil sikap hormat, membakar dupa, sambil mengucapkan "Caesar adalah Kurios."&lt;br /&gt;Setelah itu, mereka pun memperoleh kartu bukti yang menyatakan bahwa mereka telah melakukan kewajiban mereka. Beres. Mereka boleh pulang ke rumah mereka, atau ke mana saja. Sekeluar dari tempat itu, mereka bebassebebas-bebasnya memuja dewa apa pun yang mereka percayai, dan dengan cara apa pun yang mereka yakini. Sama sekali tidak rumit, bukan?&lt;br /&gt;Soal keharusan mengucapkan kalimat "Caesar adalah Kurios," sebenarnya juga tak perlu dipermasalahkan benar. Sebab istilah "kurios," walaupun bisa berarti "Tuhan," juga bisa sekadar berarti "tuan."&lt;br /&gt;Seperti kata "lord" dalam bahasa Inggris, atau "heer" dalam bahasa Belanda, atau "gusti" dalam bahasa Jawa. Bisa dipakai untuk manusia, bisa pula untuk Tuhan. Tidak salah, bukan. menyebut kaisar itu "tuan"?&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Tidak sedikit orang Kristen pada waktu itu yang memilih untuk bersikap "luwes" lagi "bijaksana." Tak ada soal menyebutkan "tiga kata" itu.&lt;br /&gt;"Bukankah orang Kristen mesti taat kepada negara dan hormat kepada raja?" begitu kilah mereka membenarkan diri. Saya membayangkan, dalih yang paling banyak mereka pakai adalah juga dalih yang paling sering kita pakai, yaitu "Yang penting kan apa yang ada di dalam hati kita. Tuhan pasti melihat hati kita, bukan cuma tangan kita atau mulut kita. Biar pun tangan kita membakar dupa, Ia tahu hati kita tidak meyangkali-Nya."&lt;br /&gt;Orang-orang yang "luwes" dan "bijaksana" ini umumnya bisa "survive" danselamat di segala zaman. Walaupun tak bisa dipastikan, apakah hati mereka tenteram sejahtera.&lt;br /&gt;Namun, sebagian orang Kristen lainnya memilih mengambil sikap yang mungkin kita sebut "radikal," "ekstrem," atau "kaku." Orang-orang "kaku" ini, sungguh mati, menghormati kaisar mereka.&lt;br /&gt;Menghormatinya dengan sepenuh serta setulus hati. Tidak sekadar menjilat kaki. Namun, mereka menolak menyebut kaisar sebagai "kurios." Bukan karena mereka tidak tahu bahwa "kurios" juga bisa sekadar berarti"tuan."&lt;br /&gt;Mereka tahu itu, tapi mereka tidak mau menipu diri dan mencari-cari pembenaran. Bagi mereka, hanya Yesuslah satu-satunya yang layak mereka sebut "Kurios." Tak ada yang lain. Dan tak bisa lain.mau berkompromi. Orang-orang seperti ini dinamai "mbalelo" atau "keras kepala."&lt;br /&gt;Dunia menuntut konformitas atau penyesuaian diri, lebih menyukai "orang baik-baik," ketimbang "orang baik." "Orang baik-baik" itu penurut, sedangkan "orang baik" biasanya pembangkang.&lt;br /&gt;Salahkah berkompromi atau menyesuaikan diri? Tentu tidak. Keduanya tak terhindarkan, selama kita mesti hidup bersma-sama dengan orang lain.&lt;br /&gt;"Take and give," saling memberi dan saling menerima. Tapi persoalannya bukanlah kompromi boleh atau tidak, melainkan seberapa jauh.&lt;br /&gt;Yesus bukan orang yang "eksentrik," yang ingin asal tampil beda. Tidak.Ia dikecam karena Ia hidup normal, makan-minum, dan bergaul seperti orang biasa.&lt;br /&gt;Namun, Ia menolak bersikap munafik. Ia menolak menipu orang lain dan membohongi diri sendiri. Ia akan mengatakan "ya" untuk yang "ya," dan "tidak" bila harus "tidak." Ia mau kita juga begitu.&lt;br /&gt;Kepada gereja di Pergamus, Tuhan berkata, "Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Ibils." Dia tahu di mana kita berada, yaitu di tempat yang jauh dari ideal bagi keamanan dan kenyamanan iman kita.&lt;br /&gt;Akan tetapi, Ia mau kita tetap di situ dengan kedua belah kaki kita, dengan sepenuh hati kita. Dan dengan syarat, "engkau berpegang kepada nama-Ku, dan tidak menyangkal imanmu kepada-Ku."&lt;br /&gt;Orang Kristen tidak perlu harus kaku seperti kayu. Baik juga bila Anda bisa lentur seperti bambu, tapi selalu setia pada prinsip.&lt;br /&gt;Pantang membohongi hati nurani. "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya." (SH-230302)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-4244869612944197119?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-26T19:59:19.914-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KE MANA RASA DUKA ITU?</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/ke-mana-rasa-duka-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Tue, 26 Jun 2007 19:57:26 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-5998167038742381519</guid><description>KE MANA RASA DUKA ITU?(Refleksi Setelah Serangan ke Afghanistan)&lt;br /&gt;MINGGU malam, 7 Oktober 2001, Amerika Serikat akhirnya jadi juga menyerang Afghanistan. Sepanjang hari setelah itu, media massa pun penuh dengan laporan pro dan kontra tindakan tersebut, serta antisipasiterhadap apa saja yang bisa terjadi setelah itu.&lt;br /&gt;Saya saja yang sangat lamban dan jauh ketinggalan. Sebab pikiran dan hati saya masih tertambat di tanggal 11 September 2001. Saya sedang berada di Perth, Australia Barat, waktu itu. Kurang lebih pukul 22.00 waktu setempat.&lt;br /&gt;Sedikit pun saya tak menyadari, bahwa sebuah peristiwa teror yang amat mengerikan baru saja terjadi. Sebuah pukulan dahsyat terhadap kemanusiaan yang amat sulit dicari tandingannya, baik bila ditinjau dari kecermatan perencanaan serta eksekusinya, maupun bila dilihat kehebatan akibatnya.&lt;br /&gt;Di layar kaca saya menyaksikan sebuah gedung pencakar langit yang dilalap api hampir di puncaknya, lalu runtuh rebah ke tanah tak lama kemudian.&lt;br /&gt;Saya memelototinya dan, ya Tuhan, WTC hancur luluh! Gedung bertingkat 110 itu! Tempat saya pernah berjalan, bercanda, dan bercengkerama, sambil menikmati bagel, hamburger atau hot dog, bertahun-tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Karena saya lumayan akrab dengan wilayah dan gedung itu, saya tahu apa artinya yang baru saja terjadi. Artinya ialah, dalam tempo nyaris sekejap, ribuan orang tiba-tiba menemui ajal. Ribuan, itu pasti. Sebab pada jam-jam tertentu, bisa 9.000 sampai 10.000 orang berada di gedung kembar itu. Tapi apalah arti jumlah bila kita bicara soal nyawa.&lt;br /&gt;Apakah ada batas minimun atau maksimum di mana menangisi sebuah musibahyang merenggut nyawa bisa disebut patut atau tidak patut? Apakah satu nyawa terlalu sedikit dan seribu nyawa terlalu banyak? Atau yang mesti kita katakan adalah, bahwa hidup adalah hidup, berapa pun jumlahnya dansiapa pun 'pemilik'-nya?&lt;br /&gt;Sebab cuma dari Dia, Allah yang Satu, tak ada yang lain, setiap dan segenap kehidupan berasal. Dan karenanya tak ada satu nyawa pun yang boleh dicabut paksa, tanpa membuat Ia murka dan berduka.&lt;br /&gt;Tidak peduli apakah itu nyawa orang Amerika atau nyawa orang Afghanistan. Apakah itu nyawa orang Madura atau nyawa orang Dayak. Demi merekalah saya menulis. Mengingatkan kita akan apa yang nyaris dilupakan. Para korban.&lt;br /&gt;Menyaksikan peristiwa itu, saya sungguh terguncang dan amat berduka. Sampai sekarang pun. Antara Perth dan New York terbentang jarak entah berapa ribu mil.&lt;br /&gt;Beda waktu antara kedua tempat itu kurang lebih 12 jam. Di sana pagi, di sini malam. Toh saya merasa ada di sana. Berbaur bersama mereka, para korban, baik yang masih ada maupun yang telah tiada.&lt;br /&gt;Menyatu dalam 1001 macam rasa yang saling bertumpang tindih. Ada rasa duka, ada rasa tak percaya, dan terutama rasa tak berdaya. Saya tentu tak tahu siapa mereka: berapa usia serta apa warna kulit, kebangsaan, kelamin atau agama mereka. Sedikit pun saya tak peduli. Yang saya tahu adaslah, bahwa di bawah reruntuhan itu, mereka satu. Begitu menyatu.&lt;br /&gt;Manusia memang cenderung membeda-bedakan. Tapi Tuhan tidak. Bahkan setan pun tidak. Pesawat terbang bajakan penyebar maut itu saya yakni tidak diperlengkapi dengan radar yang mampu membedakan, mana yang Yahudi, Kristen atau Islam; mana yang Amerika dan mana yang Arab. Alat semacam itu tak akan pernah ada. Sampai kiamat.&lt;br /&gt;Itu berarti perbedaan-perbedaan antar manusia yang sering kita anggap begitu penting, ternyata tidak berarti apa-apa ketika berhadap-hadapan dengan realitas kehidupan yang paling esensial.&lt;br /&gt;Yaitu, ketika manusia dilahirkan, ketika manusia saling mencintai, dan ketika manusia mati. Walaupun tidak boleh dipandang remeh, perbedaan itu pada hakikatnya periferal belaka. Tidak esensial.&lt;br /&gt;Ini membuat saya bertanya-tanya, apakah tragedi ini adalah cara Tuhan yang keras untuk memaksa manusia menyadari kembali kesatuannya? Cara Tuhan mengajak manusia mengakui, betapa kesatuan jauh lebih hakiki ketimbang perbedaan?&lt;br /&gt;Paling tidak, begitu saya berpikir, karena peristiwa trageis ini, manusia mau menyatu dalam duka yang sama. Berduka bagi mereka yang entah siapa, bangsa apa atau agama apa, tetapi adalah sesama. Harapan yang amat sederhana itu, ternyata tak kesampaian juga.&lt;br /&gt;Peristiwa yang mengguncangkan dunia itu tetap tak sanggup membuat manusia satu. Kian bersatu pun tidak. Sebaliknya, seperti yang kita lihat, manusia kian terbelah-belah. Semalam, Afghanistan diserang. Dan sebagai akibatnya, entah apa.&lt;br /&gt;Kemanakah rasa duka itu pergi? Mungkin informasi yang dijejalkan terus menerus ke benak kita, sampai "mblenek", justru itulah yang membuat perasaan kita menjadi tumpul. Seperti makanan enak tak akan lagi terasa enak, bila terlalu banyak. Atau penyebabnya terletak pada asumsi yang ada di balik informasi-informasi itu?&lt;br /&gt;Di Australia, selama 2 X 24 jam, seluruh informasi itu disajikan di bawah tema dan perspektif, America Under Attack. Mungkin saja ada maksud baik di belakang itu. Yaitu, solidaritas kemanusiaan hendak digalang bersama-sama dengan Amerika yang baru saja diserang. Menurut hemat saya, betapa pun baiknya maksud yang terkandung, asumsi itu naif dan picik.&lt;br /&gt;Amerika adalah bangsa yang amat saya kagumi dan sangat saya hormati. Saya punya hubungan batin yang dalam dengannya. Amerika, amat jelas, bukan setan. Tapi Amerika juga bukan Tuhan. Malaikat pun tidak. Dengan jujur saya menyatakan, bahwa saya ikut terluka dan berduka bersama-samadengan bangsa yang besar ini.&lt;br /&gt;Namun demikian, toh saya tidak dapat membenarkan kepongahan dan sekaligus kepicikannya. Saya dapat memahami keberangan dan kesakitannya. Kita pun pasti merasakan keberangan dan kesakitan yang sama - mungkin lebih-bila kita berada di tempat mereka.&lt;br /&gt;Ini sebaiknya, jangan pernah kita lupakan. Sebab itu, tindakan yang paling manusiawi dan paling masuk akal adalah, dengan penuh simpati danempati kita berusaha menyadarkan dan menyabarkan raksasa yang sedang meraung kesakitan ini, agar jangan sampai ia tambah melukai dirinya sendiri. Bukan membakar-bakar benderanya. Bukan memusuhi warga negaranya...&lt;br /&gt;Sebenarnya ini adalah momentum yang baik untuk kita mengobar-ngobarkan kembali solidaritas kemanusiaan kita, dan mendemonstrasikan kesatupaduan kita melawan semua musuh kemanusiaan... Kita melakukan blunder besar yang sulit termaafkan, bila kita sampai terperangkap olehjebakan pro dan kontra Amerika. Kemanusiaan kita terlalu besar dan terlalu berharga untuk dipertaruhkan dalam permainan berbahaya ini.&lt;br /&gt;Betapa besarnya pun Amerika, ia tetap terlalu kecil untuk kita jadikan alasan bagi terbelahnya solidaritas kemanusiaan kita. Kita sungguh berdosa terhadap ribuan korban yang telah jauh, dan ribuan lain yang akan jatuh, bila kita biarkan mereka mati cuma demi Bush atau demi Usamah atau demi agama sekali pun. Isu utama kita bukanlah America Under Attack. Melainkan Our Whole Humanity is Under Attack.&lt;br /&gt;Seluruh kemanusiaan kita sedang diserang. Selayaknyalah seluruh tubuh akan akan menderita meriang panas dingin, walau cuma sebagian kecil saja dari padanya yang terserang radang.&lt;br /&gt;Tapi sisi paling tragis dari tragedi ini adalah itu. Bahwa reaksi spontan orang beranekaragam - dari yang amat geram sampai yang menari-nari kegirangan--, bagi saya, wajar-wajar saja. Tapi yang seharusnya membuat kita trenyuh adalah, bahwa di antara 1001 macam reaksi yang berbeda-beda itu, yang paling senyap adalah rasa duka. Kita melihat betapa peristiwa tersebut ditinjau, dianalisis, dikuliti dan dikupas sampai habis-bis. Seolah tak satu faset pun dibiarkan luput dari sorotan. Kecuali satu, dan inilah yang paling menyedihkan. Kita melupakan para korban. Kita melupakan korban yang telah jatuh, dan jugamengabaikan korban-korban lain yang masih akan berjatuhan. Dan berani-beraninya kita mengatakan, bahwa itu kita lakukan "demi solidaritas"!&lt;br /&gt;Bila orang tak lagi bisa berduka atas tragedi yang menimpa sesamanya, dan ketika hidup-mati manusia tak lagi sentral dalam pertimbangan kita,itu berarti ada sesuatu yang amat salah dengan peradaban kita. Ada sesuatu yang amat salah dengan kemanusiaan kita. Ada sesuatu yang amat salah dengan keyakinan agamaniah kita. Bagi saya prioritas utama agendabersama kita bukanlah menangkap atau melindungi Osama. Tapi mengembalikan kemanusiaan bersama kita itu.&lt;br /&gt;Orang bilang bahwa peradaban modern telah memampukan manusia memiliki hampir segala sesuatu. Tapi bila yang hilang adalah kemanusiaan, apakahgunanya semua yang ia miliki itu? Orang juga bilang bahwa agama sedang bangkit dan naik daun. Tapi kalau agama yang bangkit itu tak mampu menolong manusia menemukan kembali kemanusiaannya, apakah gunanya agama? (Sinar Harapan)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-5998167038742381519?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-26T19:57:26.378-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SARDIS, HIDUP PADAHAL MATI</title><link>http://spiritgrace.blogspot.com/2007/06/sardis-hidup-padahal-mati.html</link><author>noreply@blogger.com (Welly)</author><pubDate>Mon, 25 Jun 2007 20:34:38 PDT</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4472277293560716487.post-4148992705190416405</guid><description>SARDIS, HIDUP PADAHAL MATIOleh: Eka Darmaputera&lt;br /&gt;Bila Anda ingin memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimanagilang-gemilangnya masa silam yang bisa begitu kontras bagaikan siang dan malam bila dibandingkan dengan suramnya kenyataan sekarang, tak bisa lain, Sardis adalah contoh yang paling mencolok. Bila banyak kota lain, semakin tua usianya justru semakin tampak muda sebab terus-menerus diperbarui dan dibangun kembali, Sardis sebaliknya. Sardis adalah kota yang mengalami degenerasi. "Engkau dikatakan hidup," kata Tuhan, "padahal engkau mati."&lt;br /&gt;Kurang lebih tujuh abad sebelum surat dalam kitab Wahyu ini ditulis, Sardis adalah salah satu kota terbesar di muka bumi. Sebuah metropolis.Di situlah raja-raja Sardian memerintah dengan kemewahan yang tak terbayangkan, apalagi terkatakan.&lt;br /&gt;Legenda tentang kemakmuran dan kekayaannya membuat Sardis bagaikan sebuah negeri yang cuma eksis dalam dunia dongeng. Sungai Pactolus yang membelahnya, konon, mengalirkan emas. Lama setelah Sardis lenyap dari muka bumi, orang yang terlalu amat sangat kayanya masih disebut sebagai"sekaya Croesus." Croesus adalah raja Sardis yang paling kaya.&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan raja diraja Croesus inilah, Sardis berhasil mencapai titik puncak kejayaannya, tapi sekaligus juga meluncur cepat bagaikan terjun bebas ke titik nadir. Hancur lebur. Kehancuran biasanyatidak terjadi tiba-tiba, maka wajarlah untuk bertanya: apa sih yang telah terjadi?&lt;br /&gt;Sebenarnya mengenai kemungkinan akan hancurnya Sardis ini--walaupun waktu itu dianggap sebagai kemustahilan--Croesus telah diberi peringatan sebelumnya. Sayangnya, orang seperti dia, yang sedang mabuk kepayang oleh kesuksesannya sendiri, sedang tenggelam dalam "kejumawaan," lazimnya sulit luar biasa untuk bisa menerima kabar buruk.&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, karena haus kuasa yang tak kunjung terpuaskan serta rasa yakin diri yang meluap-luap, Croesus memutuskan untuk menyeberangiSungai Halys, dan memerangi raja diraja Cyrus dari Persia. Sebelum itu,ia terlebih dahulu meminta pertimbangan serta petunjuk dari seorang cenayang terkenal di kuil Delphi. Sang dukun, konon, menjawab, "Sekali Anda menyeberangi Sungai Halys, Anda akan membawa sebuah kerajaan besarke kehancuran."&lt;br /&gt;Mendengar petunjuk itu, hati Croesus semakin mantap. Ia yakin, kali iniia pasti akan berhasil memaksa negeri adikuasa itu bertekuk-lutut untukselama-lamanya. Tak pernah sedikit pun terlintas di benaknya, bahwa ramalan itu sesungguhnya ditujukan kepadanya, bahwa kerajaan yang dibawa ke kehancuran itu tak lain adalah Sardis; bahwa yang akan membawa Sardis ke kehancuran tak bukan adalah Croesus sendiri; dan bahwa keputusannya untuk menyeberangi sungai Halys adalah awal dari proses keruntuhan tersebut. Ah, mana mungkin?!&lt;br /&gt;Konon setelah menyeberangi sungai, Croesus segera dipukul mundur oleh Cyrus yang memang telah bersiap diri. Namun ini toh tak sedikit pun membuat Croesus berkecil hati.&lt;br /&gt;Kegagalan kali ini, begitu pikirnya, hanyalah suatu sukses yang tertunda. Ia telah memperhitungkan semuanya. Ia akan membawa pasukannyakembali ke kota, mengurung diri rapat-rapat, dan dari situ menunggu saat yang tepat untuk menyerang balik.&lt;br /&gt;Croesus telah menyiapkan stok logistik yang cukup, siap menunggu sampaibala tentara Cyrus kehabisan ransum. Pada saat itulah, ia akan melumat habis pasukan yang pasti lemas kelaparan itu. Taktik yang lumayan brilian, bukan?&lt;br /&gt;Namun, Cyrus yang kenyang makan asam garam peperangan, bukan tak tahu akan siasat semacam itu. Ia segera mengadakan sayembara: barang siapa berhasil memberitahukan jalan masuk ke benteng Croesus yang terkenal tak bisa ditembus itu, akan diberi hadiah yang besar.&lt;br /&gt;Hal yang tak terduga, yaitu yang diperkirakan tak mungkin terjadi, ternyata terjadi. Faktor "X" seperti inilah yang biasanya tak pernah diperhitungkan oleh orang-orang sesukses Croesus. Mereka hanya mengandalkan kalkulasi otaknya. Padahal tak semua peristiwa dalam sejarah ini berjalan sesuai dengan skenario otak manusia, bukan?&lt;br /&gt;Seorang prajurit Persia secara tak sengaja melihat seorang prajurit Sardis keluar melalui sebuah celah sempit yang terdapat di tembok benteng yang tebal itu, guna mengambil kembali topi besinya yang terjatuh ke luar. "Bila orang bisa keluar dari situ," demikian pikir prajurit Persia itu, "orang pun pasti akan bisa masuk dari situ."&lt;br /&gt;Hal ini ia sampaikan kepada Cyrus. Dan, benar, melalui celah sempit itulah, Cyrus kemudian memasuki kota, merangsek dan menghancurkan pasukan Sardis dalam waktu singkat. Kehancuran Sardis menjadi kian lengkap setelah Cyrus, untuk mencegah kemungkinan pemberontakan, melarang orang Sardis membawa atau memiliki senjata apapun.&lt;br /&gt;Anak-anak Sardis hanya boleh dididik menyanyi dan menari, tidak boleh diajar berkelahi atau ilmu bela diri. Demikianlah, dengan perlahan tapipasti, Sardis kian melapuk, mengalami degenerasi. Kelihatannya hidup, padahal mati.&lt;br /&gt;Tragedi yang menimpa Sardis mengandung pelajaran yang amat berharga bagi kita semua, yaitu betapa kehancuran bisa tiba begitu mendadak, juga ketika orang sedang berada di puncak rasa keberhasilan dan kejayaannya. Solon, si orang paling bijak di Yunani, pernah datang berkunjung dan dipameri kehebatan serta kegemilangan Sardis. Akan tetapi, mata orang bijak tak pernah silau oleh penampakan luar semata.&lt;br /&gt;Dengan peka Solon melihat bagaimana di balik rasa yakin diri yang berlebih-lebihan itu, Sardis sebenarnya sedang mengalami proses pembusukan yang tak tertahankan. Perjumpaannya dengan Croesus inilah yang kemudian memeteraikan ucapan Solon yang abadi, "Jangan katakan seorang pun sukses atau berbahagia, sebelum ia mati." Yang penting bukanlah siapa yang bisa tertawa sekarang, melainkan siapa yang akan tertawa terakhir nanti.&lt;br /&gt;Menurut pengalaman saya, tak ada kearifan hidup yang lebih penting untuk diingat daripada yang berikut ini. Satu, "Jangan cepat patah semangat tatkala gagal, dan jangan gampang tekebur menepuk dada tatkala sukses." Dua, "Berharaplah akan yang terbaik, tapi bersiaplah untuk yang terburuk." Karenanya, tiga, waspada, waspada, dan waspada! Setebal-tebalnya tembok dan benteng Sardis, ternyata mempunyai celah juga!&lt;br /&gt;Dalam konteks keadaan seperti itulah, jemaat Tuhan di Sardis berada. Banyak enaknya. Sebab sepintas lalu, bila diamati dari luar, Sardis yang sedang repot memikirkan nasibnya sendiri tak punya minat untuk mengganggu kehidupan jemaat.&lt;br /&gt;Sebab itu, berbeda dengan beberapa jemaat lain, jemaat Sardis tidak mengalami tantangan berarti baik dari dalam maupun dari luar. Aman terkendali. Namun, saudara, justru dalam keadaan "aman-aman saja" inilah, bahaya yang jauh lebih besar sesungguhnya sedang mengintai. Bahaya apa? "Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati."&lt;br /&gt;"Aku tahu segala pekerjaanmu," kata Tuhan. Berarti jemaat ini penuh dengan kegiatan dan kesibukan. Yang rutin maupun yang istimewa. Namun, ingatlah, kualitas kehidupan sebuah gereja tak pernah bisa diukur hanyadari jumlah kegiatan serta kesibukannya. Kalau sibuk, yang harus segeradipertanyakan adalah sibuk apa?&lt;br /&gt;Heran bin ajaib, jemaat Sardis relatif bebas baik dari gangguan bida'ahdan ajaran-ajaran sesat dari dalam, maupun dari tekanan penganiayaan dari luar. Namun bila kita pikirkan lebih mendalam, keadaan ini sebenarnya tidaklah terlalu mengherankan.&lt;br /&gt;Di balik segala keburukannya, bida'ah dapat lahir karena hati yang mencari, dan otak yang berfikir. Memang cara mencarinya salah, dan apa yang mereka temukan menyesatkan. Ini amat kita sayangkan. Namun, otak yang berpikir dan hati yang terus mencari--for better or for worse--adalah tanda adanya kehidupan.&lt;br /&gt;Jemaat Sardis bebas dari gangguan bida'ah, bukan karena kesadarannya yang murni tentang ortodoksi, tetapi semata-mata karena ia "hidup, padahal mati." Karena otaknya berhenti berpikir. Karena hatinya malas mencari.&lt;br /&gt;Jemaat ini juga relatif aman dari tekanan eksternal. Tapi kembali di sini, tak ada yang patut disyukuri ataupun dibanggakan dari kenyataan ini. Karena penyebabnya tak lain adalah, jemaat ini hanya kelihatannya saja hidup, padahal mati. Karena itu tidak dianggap sebagai bahaya atauancaman. Tak perlu diperhitungkan. Kalaupun macan, macan kertas atau macan ompong.&lt;br /&gt;Pengalaman jemaat Sardis dan peringatan Tuhan sebaiknya mendorong gereja-gereja Tuhan di Indonesia segera memeriksa diri. Kita sering dengan bangga mengatakan bahwa gereja Tuhan sedang mengalami kebangkitan yang luar biasa sekarang ini. Mudah-mudahan saja. Tapi benarkah?&lt;br /&gt;Jangan-jangan kita cuma kelihatannya saja hidup, padahal mati. Isi kesibukan kita hanyalah bagaimana memperbesar, memperkaya, memperkuat dan memuaskan diri sendiri. Ibadah beruibah menjadi entertainment. Injil menjadi komoditas bisnis. Atas keadaan ini, saya katakan "Awas!" Orang yang kelewat gemuk amat rentan terhadap penyakit yang bisa menyerang tiba-tiba, dan fatal akibatnya.&lt;br /&gt;Padahal Tuhan sudah mengingatkan, "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu, karena secara demikian juga nenek-moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu" (Lukas 6:26) Gereja yang hidup dan penuhvitalitas, selalu berada di bawah serangan. Tidak aman-aman saja. Karena itu, biasanya tidak terlalu gemuk. Awas! "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepadanya." (SH-060402)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4472277293560716487-4148992705190416405?l=spiritgrace.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-06-25T20:34:38.098-07:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

