<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Sukron ( سكرا )</title>
	<atom:link href="https://sukronihbs.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://sukronihbs.wordpress.com</link>
	<description>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Jan 2014 01:32:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">25246683</site><cloud domain="sukronihbs.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/44de5327a4cf431a616a20594239a2cc6410332f52637f097a7238afa94adb8a?s=96&amp;d=https%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fwebclip.png</url>
		<title>Sukron ( سكرا )</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://sukronihbs.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="Sukron ( سكرا )" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://sukronihbs.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga</itunes:subtitle><item>
		<title>Mengenal Syi’ah</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2014/01/29/mengenal-syiah/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2014/01/29/mengenal-syiah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jan 2014 01:32:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/?p=554</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Mengenal Syi’ah (Bag. 1) Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du: Risalah yang singkat ini saya tulis sebagai sumbangsih saya yang sangat kecil terhadap saudara-saudara saya kaum muslim yang berada di Syiria yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg"><img data-attachment-id="555" data-permalink="https://sukronihbs.wordpress.com/2014/01/29/mengenal-syiah/1549438_445977128861854_82501512_n/" data-orig-file="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg" data-orig-size="403,394" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="1549438_445977128861854_82501512_n" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=403" class="aligncenter  wp-image-555" alt="1549438_445977128861854_82501512_n" src="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=180&#038;h=176" width="180" height="176" srcset="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=300 300w, https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=180 180w, https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=360 360w, https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 180px) 100vw, 180px" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong style="line-height:1.5em;">Mengenal Syi’ah (Bag. 1)</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:<br />
Risalah yang singkat ini saya tulis sebagai sumbangsih saya yang sangat kecil terhadap saudara-saudara saya kaum muslim yang berada di Syiria yang dibantai oleh kaum Syi’ah Nushairiyyah (tentara Syiria) tanpa pandang bulu tanpa rasa kasihan. Anak-anak, wanita, dan orang-orang lemah mereka bantai juga, semoga Allah balas mereka dengan balasan yang setimpal dan menjadikan saudara-saudara kita yang dibantai sebagai syuhada, Allahumma aamin.<br />
Risalah ini insya Allah akan menerangkan sedikit tentang agama Syi’ah secara umum dan siapakah sebenarnya mereka agar diketahui oleh saudara-saudara kami kaum muslimin.<br />
Dalam penyusunan risalah ini kami merujuk kepada kitab Min ‘Aqaa’idisy Syi’ah karya Abdullah bin Muhammad dengan beberapa penambahan, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjadikan penulisan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat, Allahumma aamin.<br />
Kapankah munculnya Syi’ah?<br />
Syi’ah muncul ketika ada seorang Yahudi yang mengaku muslim bernama Abdullah bin Saba’. Ia menyatakan sebagai orang yang mencintai Ahlul bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan bersikap ghuluw (melampaui batas) terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu serta menyatakan bahwa Beliau adalah orang yang mendapat wasiat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi khalifah setelahnya, kemudian meningkat sampai menuhankan Ali bin Abi Thalib.<br />
Al Qummi dalam kitabnya Al Maqaalaat wal Firaq hal. 10-21 menjelaskan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang yang pertama menyatakan keimaman Ali dan mengadakan keyakinan raj’ah (kembalinya imam setelah menghilang), serta sebagai orang pertama yang mencela Abu Bakar, Umar, Utsman dan semua sahabat. Demikian juga dinyatakan oleh An Nubakhtiy dalam kitabnya Firaqusy Syi’ah hal. 19-20.<br />
Al Baghdadi berkata, “Kaum Saba’iyyah adalah para pengikut Abdullah bin Saba’, seorang yang berlebihan terhadap Ali, ia menyangka bahwa ia (Ali) adalah seorang Nabi, dan bahkan sampai menyangka bahwa dia adalah Allah.”<br />
Mahasuci Allah dari perkataan Abdullah bin Saba’ itu.<br />
Al Baghdadi juga berkata, “Ibnus Sauda’ ini (Abdullah bin Saba’) berasal dari penduduk Hiirah, lalu ia menyatakan sebagai seorang muslim dan ingin memiliki pengaruh dan kedudukan di kalangan penduduk Kufah, maka ia memberitahukan kepada mereka (penduduk Kufah), bahwa dalam Taurat disebutkan, bahwa setiap nabi memiliki orang yang mendapat wasiat, dan Ali adalah orang yang mendapat wasiat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”<br />
Asy Syahrustani menjelaskan, bahwa Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang menyatakan keimaman Ali radhiyallahu ‘anhu, dan para pengikutnya (Saba’iyyah) adalah kelompok pertama yang menyatakan adanya sifat ghaibah (menghilang) bagi imam dan raj’ah (kembali lagi di kemudian hari).<br />
Dengan demikian, kaum Syi’ah adalah kelompok pertama yang menyatakan Ali mendapatkan wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjadi khalifah setelahnya, demikian juga mereka yang mengadakan keyakinan raj’ah (kembalinya imam mereka setelah menghilang), dan sebagai kelompok orang yang menuhankan para imam mengikuti jejak Abdullah bin Saba’.<br />
Mengapa Syi’ah disebut Rafidhah?<br />
Ada beberapa pendapat tentang mengapa Syi’ah disebut Rafidhah.<br />
Menurut tokoh mereka, yaitu Al Majlisiy dalam kitabnya “Biharul Anwar”, dimana ia berkata dalam kitabnya, “Bab Keutamaan Rafidhah dan Terpujinya Nama itu,” ia menyebutkan riwayat dari Sulaiman Al A’masy, ia berkata: Aku masuk menemui Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad, lalu aku berkata, “Aku siap menjadi tebusan bagimu! Mengapa orang-orang menamai kita dengan Rafidhah, dan apa Rafidhah itu?” Ia menjawab, “Demi Allah, bukan mereka yang memberi nama itu kepadamu, tetapi Allah menamai kamu dengannya dalam kitab Taurat dan Injil melalui lisan Musa dan Isa.”<br />
Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka (kaum Syi’ah) disebut Rafidhah, karena mereka pernah datang kepada Zaid bin Ali bin Al Husain, lalu mereka berkata kepadanya, “Berlepas dirilah kamu dari Abu Bakar dan Umar, niscaya kami akan bersamamu.” Zaid berkata, “Keduanya adalah dua kawan kakekku. Bahkan aku berwala’ (mencintai dan membela) keduanya.” Maka mereka berkata, “Kalau begitu kami rafadh (menolak) kamu.” Maka dari itu, mereka disebut Rafidhah, sedangkan orang-orang yang tetap membai’at Zaid dan ikut bersamanya sebagai Zaidiyyah.” (At Ta’liqat ‘alaa Matni Lum’atil I’tiqad oleh Abdullah Al Jibrin hal. 108).<br />
Ada pula yang berpendapat, bahwa kaum Syi’ah disebut Rafidhah karena mereka menolak keimaman Abu Bakar dan Umar. Dan ada pula yang berpendapat, bahwa mereka disebut Rafidhah, karena mereka menolak agama (Islam) (Lihat Maqalat Al Islamiyyin oleh Muhyiddin Abdul Hamid 1/89).<br />
Jumlah pecahan golongan Syi’ah<br />
Dalam kitab Da’iratul Ma’arif (4/67) disebutkan, bahwa Syi’ah terpecah belah menjadi lebih dari tujuh puluh tiga golongan yang masyhur.<br />
Bahkan orang Syi’ah Rafidhah sendiri yang bernama Mir Baqir Ad Damad menyatakan, bahwa seluruh golongan yang disebutkan dalam hadits, yakni hadits tentang terpecah belahnya umat menjadi tujuh puluh tiga golongan, bahwa semua golongan itu adalah golongan syi’ah, dan yang selamat hanya Syi’ah Imamiyyah.<br />
Al Muqrizi dalam Al Khuthath (2/351) menyebutkan, bahwa jumlah pecahan mereka mencapai 300 golongan.<br />
Asy Syahrustani dalam Al Milal wan Nihal hal. 147 menyatakan, bahwa Syi’ah Rafidhah terbagi menjadi lima golongan, yaitu: Al Kisaniyyah, Az Zaidiyyah, Imamiyyah, Ghaliyah, dan Isma’iliyyah.<br />
Menurut Al Baghdadi dalam Al Farqu bainal firaq hal. 41, bahwa Syi’ah Rafidhah setelah masa pemerintahan Ali radhiyallahu ‘anhu terbagi menjadi empat golongan, yaitu: Zaidiyyah, Imamiyyah, Kisaniyyah, dan Ghulat.<br />
Namun perlu diperhatikan, bahwa Zaidiyyah tidaklah termasuk golongan Rafidhah, kecuali sempalan dari Zaidiyyah, yaitu golongan Al Jarudiyyah, maka ia termasuk Rafidhah.<br />
Akidah Al Bada’ yang diyakini kaum Syi’ah<br />
Bada’ maksudnya tampak jelas setelah sebelumnya samar atau munculnya pandangan yang baru. Konsekwensi kedua makna ini adalah bahwa sebelumnya keadaannya masih samar dan sebelumnya tidak tahu. Sifat ini “bada” dengan kedua maknanya adalah mustahil bagi Allah Ta’ala. Akan tetapi anehnya, kaum Syi’ah menetapkankan adanya badaa’ bagi Allah, Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.<br />
Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ar Rayyan bin Ash Shalt, ia berkata: Aku mendengar Ari Ridha mengatakan, “Allah tidaklah mengutus seorang Nabi melainkan datang dengan melarang arak dan menetapkan sifat badaa’ bagi Allah Ta’ala.” (Ushulul Kafi hal. 40)<br />
Bahkan Abu Abdillah berkata, “Tidak ada bentuk peribadatan kepada Allah yang menyamai keyakinan badaa’.” (Ushulul Kafi oleh Al Kulainiy dalam kitab At Tauhid (1/331)<br />
Mahasuci dan Mahatinggi Allah dari keyakinan mereka ini, padahal Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan Mahabijaksana. Allah Ta’ala berfirman,<br />
وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ<br />
“Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. An Nisaa’: 26)<br />
Akidah kaum Syi’ah Rafidhah tentang sifat-sifat Allah Ta’ala<br />
Kaum Syi’ah Rafidhah adalah golongan pertama yang berkeyakinan tajsim (bahwa Allah bertubuh seperti manusia).<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, bahwa orang Syi’ah Rafidhah yang memelopori kedustaan ini adalah Hisyam bin Al Hakam, Hisyam bin Salim Al Jawaliqi, Yunus bin Abdurrahman Al Qummiy, dan Abu Ja’far Al Ahwal. Mereka ini adalah tokoh-tokoh kaum Syi’ah Itsna ‘Asyariyyah, lalu mereka menjadi kaum Jahmiyyah yang meniadakan sifat bagi Allah Ta’ala (mengingkari sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah).<br />
Bahkan kebanyakan riwayat mereka menyifati Allah Ta’ala dengan sifat-sifat negatif yang mereka tetapkan bagi Allah Ta’ala. Ibnu Babawaih telah meriwayatkan lebih dari tujuh puluh riwayat yang mengatakan, bahwa Allah Ta’ala tidak disifati dengan zaman, tempat, kaifiyat, gerakan, berpindah, sifat-sifat tubuh, demikian juga tidak dirasakan, tidak berupa jisim (tubuh) dan tidak pula bentuk.<br />
Kaum Syi’ah juga mengingkari turunnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih. Mereka juga mengatakan, bahwa Al Qur’an adalah makhluk, dan mengingkari ru’yah (bahwa Allah dapat dilihat di akhirat nanti).<br />
Disebutkan dalam kitab Biharul Anwar, bahwa Abu Abdillah Ja’far Ash Shadiq pernah ditanya tentang Allah Tabaraka wa Ta’ala, “Apakah Allah dapat dilihat pada hari Kiamat?” Ia menjawab, “Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari hal itu dengan ketinggian yang besar. Sesungguhnya pandangan itu tidak dapat melihat selain sesuatu yang memiliki warna dan kaifiyat (berkondisi tertentu), dan Allah yang menciptakan warna dan kaifiyat.” (Lihat kitab Biharul Anwar oleh Al Majlisi 4/31).<br />
Adapun Ahlussunnah, maka mereka mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah (firman Allah), bukah makhluk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,<br />
أَحْسَنُ الْكَلَامِ كَلَامُ اللَّهِ، وَأَحْسَنُ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ<br />
“Sebaik-baik ucapan adalah kalamullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Nasa’i, dan dinyatakan shahih isnadnya oleh Al Albani)<br />
Dan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat nanti sebagaimana firman Allah Ta’ala,<br />
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ -إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ<br />
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.–Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (Terj. QS. Al Qiyamah: 22-23)<br />
Sedangkan dalam hadits disebutkan,<br />
إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ<br />
“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Bersambung…<br />
Marwan bin Musa<br />
Maraji’: Aqidatus Syi’ah (Abdullah bin Muhammad), Al Maktabatusy Syamilah, Mausu’ah Al Haditsiyyah Al Mushaghgharah, Siyahah fii Alamit Tasyayyu’ (Imam Muhibbbudin Abbas Al Kazhimiy), Minhajul Firqatin Najiyah (M. bin Jamil Zainu), dll.</p>
<p>blogmuslim.16mb.com</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2014/01/29/mengenal-syiah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">554</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/1549438_445977128861854_82501512_n.jpg?w=300">
			<media:title type="html">1549438_445977128861854_82501512_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/29/sampai-kapan-kelalaian-ini-berakhir/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/29/sampai-kapan-kelalaian-ini-berakhir/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 May 2012 14:56:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/?p=508</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir? Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (terj. Al Anbiyaa’: 1) Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan ayat di atas. Anda akan melihat mereka lalai terhadap akhirat, lalai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><a href="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg"><img data-attachment-id="526" data-permalink="https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/29/sampai-kapan-kelalaian-ini-berakhir/pemadangan/" data-orig-file="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg" data-orig-size="160,160" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="pemadangan" data-image-description="" data-image-caption="" data-large-file="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg?w=160" class="aligncenter size-full wp-image-526" title="pemadangan" src="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg?w=570" alt=""   srcset="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg 160w, https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg?w=150&amp;h=150 150w" sizes="(max-width: 160px) 100vw, 160px" /></a><br />
بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<h2 style="text-align:center;">Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir?</h2>
<p><em>Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (terj. Al Anbiyaa’: 1)</em></p>
<p>Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan ayat di atas. Anda akan melihat mereka lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang sesungguhnya mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras pikiran dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama jika ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia –‘iyaadzan billah-. Rasulullah  shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ</p>
<p>“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah). Jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, benci pun karena dunia meskipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka meninggalkan perintah Rabb mereka…</p>
<p>Perhatikanlah! Karena urusan dunia mereka rela meninggalkan shalat berjama’ah, karena permainan mereka rela mengorbankan harta dan tenaga adapun untuk berinfak dan bersedekah berat sekali melakukannya, karena urusan dunia mereka rela meninggalkan shalat, karena kepentingan dunia mereka rela bermaksiat, karena kenikmatan yang rendah inikah mereka rela meninggalkan perintah Rabb mereka yang telah mengaruniakan bermacam-macam nikmat?</p>
<p>Sampai kapankah kelalaian ini berakhir?</p>
<p>Untuk rapat ada waktu, untuk permainan ada waktu, untuk bisnis ada waktu, untuk jalan-jalan ada waktu, untuk semuanya ada waktu namun untuk membaca Al Qur’an, menghadiri majlis ilmu syar’i, shalat berjama’ah, mengerjakan kewajiban agama dan menambah dengan amalan sunat; ma’af “TIDAK ADA WAKTU”.</p>
<p>Sampai kapan kelalaian ini berakhir?</p>
<p>Banyak di antara mereka yang pandai dan cerdas terhadap masalah dunia, namun tidak pandai dalam masalah akhirat, ia sama sekali tidak memikirkan apa yang bermanfaat buat akhiratnya,</p>
<p><em>Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (terj. Ar Ruum: 7)</em></p>
<p>Penyair mengatakan,</p>
<p dir="RTL">يَا مُتْعِبَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِرَاحَتـِهِ</p>
<h3>أَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَاْستَكْمِلْ فَضَائِلَهَا</h3>
<p dir="RTL">أَتْعَبْتَ جِسْمَكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْــرَانٌ</p>
<p dir="RTL">فَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لَا بِالْجِسْمِ إِنْسَــانٌ</p>
<p><em>Wahai kamu yang memeras tenaga, berapa banyak tenaga yang kamu keluarkan,</em></p>
<p><em>Sudah, beralihlah memperbaiki rohani anda dan kejarlah keutamaan,</em></p>
<p><em>Apakah kamu akan tetap terus memeras tenaga untuk hal yang ada kerugian di dalamnya,</em></p>
<p><em>Karena kamu sebagai manusia karena ruh, bukan badan.</em></p>
<p>Alangkah semangatnya mereka mengejar harta dan dunia, namun alangkah beratnya mereka melangkahkan kakinya memenuhi panggilan Tuhannya.</p>
<p>Kita semua tidak mengingkari seseorang mengejar dunia, namun yang jadi masalah adalah jika berlebihan sampai tidak menyisakan waktu untuk akhirat. Begitulah kenyataannya.</p>
<p>Waktunya berlalu begitu saja tanpa faedah, bahkan penuh terisi dengan maksiat dan meninggalkan perintah,</p>
<p><em>Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.&#8211;Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (terj. Al Infithaar: 6-7)</em></p>
<p>Ia mengira perbuatannya itu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan, padahal sebenarnya mendatangkan kesengsaraan sadar atau tidak sadar,</p>
<p><em>Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta&#8221; (terj. Thaha: 124)</em></p>
<p>Kepada mereka ditujukan perkataan penyair yang bijak,</p>
<p dir="RTL">نَهَارُكَ يَا مَغْرُوْرٌ سَهْوٌ وَغَفْـلَةٌ</p>
<p dir="RTL">وَشُغْلُكَ فِبْمَا سَوْفَ تَكْرَهُ غِبَّهُ</p>
<p dir="RTL">وَلَيْـلُكَ نَوْمٌ وَالرَّدَى لَكَ لاَزِمٌ</p>
<p dir="RTL">كَذَلِكَ فِي الدُّنْيَا تَعِيْشُ الْبَهَائِمُ</p>
<p><em>Siangmu wahai orang yang lalai adalah lupa dan tidak sadar.</em></p>
<p><em>Sibukmu hanya untuk hal-hal yang kelak kamu akan menyesali akibatnya,</em></p>
<p><em>Malammu tidur, sudah layak kerugian menimpamu,</em></p>
<p><em>Seperti itulah binatang hidup di dunia.</em></p>
<p>Dosa di matanya ibarat lalat menempel di hidung, ia lupa dan lalai kepada siapa sebenarnya ia berbuat maksiat.</p>
<p>Di pagi dan siang hari dosa-dosa dijalaninya dari mulai dosa kecil hingga dosa besar.</p>
<p>Ghibah (gosip), namimah (adu domba), dusta, menuduh orang lain menjadi hal yang biasa. Khianat, mengambil harta orang lain tanpa kerelaannya, menyakiti tetangga, memutuskan tali silaturrahim, bermusuhan menjadi bagian hidupnya. Sombong, ‘ujub (bangga diri), hasad dan ghisy (menipu orang) menjadi akhlaknya. Mengumbar aurat bagi wanita dan memakai wewangian baginya ketika keluar sudah biasa. Memakai sutera dan perhiasan emas bagi laki-laki, mencukur habis janggut, memakai sarung atau celana isbal (melewati mata kaki) maupun lainnya sudah biasa. Dosa kecil dan besar dilaluinya seakan-akan tidak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang dosa kecil,</p>
<p dir="RTL">إِيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ فَإِنَّهُنَّ إِذَا يَجْتَمِعْنَ عَلىَ الرَّجُلِ حَتًَّى يُهْلِكَنَّهُ</p>
<p>“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa itu apabila berkumpul pada seorang hamba maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ 2687)</p>
<p>Padahal,</p>
<h1>لاَصَغِيْرَةَ مَعَ اْلِاسْتِمْرَارِ وَلاََ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلاِسْتِغْفَارِ</h1>
<p>“Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar apabila diiringi istighfar.”</p>
<p>Dan seakan tidak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang dosa besar bahwa ia (dosa besar) dapat membinasakan dunia-akhirat (muubiqaat) yang di antaranya,</p>
<p dir="RTL">اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ</p>
<p>“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu ?” Beliau menjawab, “Syirk kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh zina kepada wanita mukminah yang baik-baik lagi tidak tahu-menahu.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Ia tidak lagi sempat bertanya kepada dirinya “Apa akibat dari tindakannya itu?” “Apa yang akan terjadi setelah puas mengerjakan perbuatan itu?”</p>
<p>Apakah mereka masih saja lalai terhadap kematian? Apakah mereka masih saja lalai terhadap hisab, apakah mereka masih saja lalai terhadap kubur? Apakah mereka masih saja lalai terhadap neraka dan apakah mereka masih saja lalai terhadap azab cepat atau lambat?</p>
<p>Relakah mereka menanggung azab yang pedih hanya karena ingin mendapatkan keseanangan yang sesaat?</p>
<p>Sampai kapan kelalaian ini berakhir?</p>
<p><em>Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) (terj. Al Hijr: 3)</em>.</p>
<p>Yakni biarkan saja mereka menikmati hidupnya seperti halnya binatang, yang diurusnya hanya makan, minum dan kesenangan semata, kelak mereka akan mengetahui dan menyesali perbuatannya.</p>
<p>Pernahkah terlintas di hatinya bahwa dunia hanya sementara dan hidupnya di dunia merupakan ujian baginya; apakah ia mampu melaksanakan kewajiban agama yang diembankannya atau tidak?</p>
<p dir="RTL">أَمـَا وَاللهِ لَوْ عَلِمَ اْلأَنَامُ   # لِمـَا خُلِقُوْا لَمَا غَفَلُوْا وَنَامُوْا</p>
<p dir="RTL">لَقَدْ خُلِقُوْا لِمَا لَوْ أَبْصَرْتَهُ # مَمَاتٌ ثُمَّ قَـبْرٌثُمَّ حَشْـٌر</p>
<p dir="RTL">عُيُوْنُ قُلُوْبِهِمْ تاَهُوْا وَهَامُوْا  # وَتَوْبِيْخٌ وَأَهْـوَالٌ عِظَـامٌ</p>
<h4>Demi Allah, kalau sekiranya orang tahu</h4>
<p><em>Untuk apa mereka diciptakan, tentu mereka tidak lalai dan lelap tidur </em></p>
<p><em>Kamu akan lihat di depannya</em></p>
<p><em>Maut, kubur dan padang mahsyar,</em></p>
<p><em>Hati mereka bingung tidak tahu arah, </em></p>
<p><em>Ada</em><em> celaan dan peristiwa yang menegangkan.</em></p>
<p>Sebelum menjauh pembicaraan ini mari kita menengok kepada diri sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang lalai itu atau tidak, jalan mana yang kita tempuh; apakah jalan yang menghubungkan kepada keridhaan Allah ataukah jalan yang menghubungkan kepada kemurkaan Allah. Perhatikanlah baik-baik hal ini, karena masalahnya serius, bukan main-main, jangan biarkan dirimu terjatuh. Bangkit dan perbaikilah sekarang, lihatlah apakah sikapmu selama ini sejalan dengan perintah Allah atau sejalan denagan larangan-Nya.</p>
<p>Ketahuilah, agama ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena berpegang dengan sebagiannya dan meninggalkan yang lain masuk dalam kategori bermain-main dengan perintah Allah, dan ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta&#8217;aala berfirman,</p>
<p><em>“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (terj. Al Baqarah: 85).</em></p>
<p>Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim antara di masjid dan di luar masjid tetap mempraktekkan ajaran Islam, bicaranya dibatasi dengan ajaran Islam dan sikapnyapun demikian, bicaranya tidak jauh dari kebaikan dan sikapnya tidak jauh dari nilai-nilai Islam.</p>
<p>Anda bisa memulai hal ini dari sekarang, tidak ada kata “Sudah terlanjur basah”, ini adalah putus asa, dan putus asa adalah akhlak orang-orang kafir.</p>
<p><em>Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir&#8221;.(terj. Yusuf: 87)</em></p>
<p>Inginkah anda kepada surga yang penuh kenikmatan, tidak ada kematian dan tidak ada penderitaan, tidak ada kemiskinan dan kesedihan, tidak ada sakit dan tidak ada lagi masa tua?  Semua kenikmatan ada di hadapan, dan kenikmatannya adalah kenikmatan yang sempurna. Inginkah anda berkumpul bersama orang-orang yang memperoleh kenikmatan (para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih)? Maka taatilah Allah dan Rasul-Nya, jauhilah segala larangan dan kerjakanlah perintah sesuai kemampuan,</p>
<p><em>Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka ttulah teman yang sebaik-baiknya. (terj. An Nisaa’: 69)</em></p>
<p>Bandingkanlah dengan neraka yang di dalamnya penuh kesengsaraaan dan penderitaan, bila lapar diberi makan Zaqqum dan bila haus diberi nanah dan air mendidih,</p>
<p><em>Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai&#8211;Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas&#8211;Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya&#8211;Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman&#8211;Selain air yang mendidih dan nanah&#8211;Sebagai pambalasan yang setimpal&#8211;Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. (terj. An Naba’: 21-28)</em></p>
<p>Semoga nasehat ini membuat anda ingin untuk memperbaiki diri.</p>
<p>Tempuhlah jalan ini dan jangan ragu! Hati-hatilah jangan sampai tertipu oleh dunia, betapa pun terasa lama menikmati dan hidup di dunia ini, namun anda tetap akan pergi meninggalkannya dan maut akan mendatangi anda. Berapa banyak orang yang sebelumnya mengira akan hidup lama, namun ternyata besoknya atau lusanya telah pergi hanya tinggal namanya, orang-orang membawanya ke liang kubur yang akan menjadi nikmat atau azab baginya.</p>
<p>Sungguh sangat rugi dan rugilah dia, jika maut datang sedangkan dirinya belum sempat bertobat, sungguh sangat rugi dan rugilah dia jika ada seruan bertobat namun ia tidak mau menanggapi.</p>
<p>Berpikirlah matang-matang, persiapkan amalan karena di depanmu ada maut bersama sekaratnya dan kubur bersama kegelapannya.</p>
<p>Ingat, Rabbmu akan bertanya kepadamu tentang amalanmu besar maupun kecil,</p>
<p><em>Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua</em><em>&#8212;</em><em>tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (terj. Al Hujr: 92-93)</em></p>
<p>Demi Allah, sungguh sangat tidak masuk akal apabila ada seseaorang yang santai begitu saja, tidak beramal padahal di depannya ada peristiwa-peristiwa dahsyat yang menegangkan, maut-kubur-kebangkitan dan pembalasan. Sungguh, saat ini adalah kesempatan bagi anda untuk beramal dan nanti tidak ada lagi saat beramal.</p>
<p>Tengoklah ke kanan dan kiri, berapa banyak orang yang dijemput kematian tanpa membawa amalan. Tengoklah ke kanan dan ke kiri berapa banyak orang yang dijemput kematian dalam keadaan berbuat maksiat, ini semua akibat menunda-nunda tobat, thuulul amal (panjang angan-angan) dan menyangka masih jauh kematian.</p>
<p>Jangan sampai kamu seperti orang yang dijemput kematian baru menyadari akan kelalalaiannya, seraya mengatakan,</p>
<p><em>&#8220;Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)&#8211;Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan” (terj. Al Mu’minuun: 99-100)</em></p>
<p>akan tetapi,</p>
<p><em>Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (terj, Al Munaafiqun: 11)</em></p>
<p align="right">Marwan bin Musa</p>
<p><strong>Maraaji’:</strong> Al Ghaflah Al Muhlikah (Maktab ta’aawuni’y lid da’wah wal irsyaad), Uriid an atuub wa laakin (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid) dll.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/29/sampai-kapan-kelalaian-ini-berakhir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">508</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/05/pemadangan.jpg">
			<media:title type="html">pemadangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peringatan Maulid</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/12/peringatan-maulid/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/12/peringatan-maulid/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 09:26:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/?p=464</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam Pengantar Tidak diragukan lagi, kita semua cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan mencintai Beliau termasuk Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan membencinya merupakan sifat orang-orang munafik. Namun demikian, cinta yang sejati tidak hanya terlontar di lisan, bahkan berpengaruh pada sikapnya, seperti dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><img class="aligncenter" src="https://i0.wp.com/allfacebook.com/files/2011/01/stop.jpg" alt="" width="200" height="200" /></p>
<p dir="RTL" align="center">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p align="center"><strong><em>Mengkaji Peringatan Maulid Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam</em></strong></p>
<p><strong><em>Pengantar</em></strong></p>
<p>Tidak diragukan lagi, kita semua cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Bahkan mencintai Beliau termasuk Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan membencinya merupakan sifat orang-orang munafik. Namun demikian, cinta yang sejati tidak hanya terlontar di lisan, bahkan berpengaruh pada sikapnya, seperti dengan menghidupkan Sunnahnya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah sesuai contohnya. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p dir="RTL">فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » .</p>
<p>“Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk golonganku.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Bukanlah dinamakan cinta yang sejati jika seseorang mengaku cinta kepada Beliau tetapi menjauhi Sunnahnya dan membuat bid’ah (mengada-ngada) dalam agama yang Beliau bawa. Seorang penyair berkata:</p>
<p dir="RTL">لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ   إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطيعُ</p>
<p> “Kalau seandainya cintamu sejati, tentu kamu akan menaati, sesungguhnya orang yang mencintai akan menaati orang yang dicintai.”</p>
<p><strong><em>Sejarah singkat maulid</em></strong></p>
<p>Sesungguhnya orang yang meneliti Sirah Nabi, para sahabat dan para tabi’in, bahkan generasi yang hidup di atas tahun 350 H, tentu tidak akan menemukan adanya seorang di kalangan mereka yang menyebut-nyebut peringatan ini, menyuruh untuk memperingatinya atau mendorong untuk memperingatinya. Oleh karena itu, Al Haafizh As Sakhaawiy berkata, “Peringatan maulid asy syarif itu tidak dinukilkan dari seorang pun as salafush shaalih pada tiga abad yang utama, bahkan hal itu terjadi hanyalah setelahnya.”</p>
<p>Lalu kapankah peringatan maulid ini diadakan?</p>
<p>Seorang ahli sejarah yang bernama Al Imam Al Muqriziy <em>rahimahullah</em> menyebutkan di dalam kitabnya Al Khuthath (1/490), “Tentang beberapa hari yang dijadikan para khalifah bani Fathimiyyah sebagai hari raya dan hari besar, di mana rakyat diberi kebebasan dan mereka memperoleh kenikmatan yang banyak (di hari itu). Ia berkata:</p>
<p>“Para khalifah Bani Fathimiyyah dalam setahunnya memiliki hari raya dan hari-hari besar, yaitu hari besar “Akhir Tahun”, hari besar “Awal Tahun”, Hari ‘Asyura”, “Maulid Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam”, “Maulid ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu &#8216;anhu”, “Maulid Al Hasan dan Al Husain ‘alaihimas salaam”, “Maulid Fatimah Az Zahraa ‘alaihas salaam”, “Maulid Khalifah Al Haadhir”, “Malam Awal Rajab”, “Malam Nishfu Rajab”, hari besar “Malam Ramadhan”, “Awal Ramadhan”, “Pertengahan Ramadhan”, “Malam Penutupan”, hari raya “Idul Fithri”, hari raya “‘Idun Nahr (qurban)”, hari raya “Al Ghadiir”, “Kiswatusy Syitaa’” dan “Kiswatush shaif”, hari raya “Fat-hul Khalij”, “Hari Nuuruuz”, “Hari Ghithaas”, “Hari Kelahiran (Al Masih)”, “Khamiisul ‘adas” dan “Hari-Hari Rukuubaat”.”</p>
<p>Dalam It’aazhul Hunafa (2/48), Al Muqriziy berkata: “Pada bulan Rabi’ul Awwal, orang-orang diwajibkan menyalakan lampu di semua jalan baik di jalan raya maupun gang-gang kecil di Mesir.”</p>
<p>Pada halaman lain (3/99) di tahun 517 H disebutkan, “Acara maulid Nabi yang mulia pun berjalan di bulan Rabi’ul Awwal seperti biasanya.”</p>
<p>Dari sini sedikit dapat diketahui bahwa yang pertama kali mengadakan peringatan maulid nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah Daulah Bani Fathimiyyah di Mesir, di samping mereka adakan pula maulid ‘Ali, maulid Hasan dan maulid Husain radhiyallahu &#8216;anhum.</p>
<p>Jika kita memperhatikan secara seksama hari raya-hari raya tersebut niscaya kita dapat melihat adanya pencampur-adukan antara hari raya Islam (yaitu ‘Idul Fitri dan Idul Adh-ha) dengan hari raya di luar Islam, seperti hari raya Nairuuz, Ghithaas, kelahiran Al Masih dsb. Hal ini tidaklah mengherankan karena memang Daulah Bani Fathimiyyah ini tegak untuk memudarkan cahaya Islam, mereka adalah daulah Syi’ah Raafidhah; daulah yang dikenal permusuhannya terhadap Islam dan ulamanya.</p>
<p>Daulah ini nama sebenarnya adalah Daulah ‘Abiidiyyah, diganti nama dengan Fathimiyyah adalah agar terkesan bahwa mereka keturunan Fatimah puteri Nabi radhiyallahu &#8216;anha, sehingga diterima oleh masyarakat.</p>
<p>Penisbatan daulah mereka dengan “Fathimiyyah” sebenarnya tidak benar, karena mereka adalah keturunan ‘Abiid, bukan Fatimah. Imam Abu Syaamah (w. 665 H) seorang ahli hadits dan ahli sejarah berkata dalam kitabnya Ar Raudhatain fii Akhbaarid Daulatain hal. 200-202 menjelaskan tentang Bani ‘Abiidiyyah tersebut:</p>
<p>“Mereka menampakkan diri ke hadapan orang-orang sebagai orang-orang terhormat keturunan Fatimah, akhirnya mereka menguasai beberapa negeri, menindas banyak orang.Paraulama besar menyebutkan bahwa mereka tidak pantas seperti itu, nasab mereka juga tidak benar, bahkan yang terkenal adalah bahwa mereka adalah keturunan Abiid, sedangkan orang tua ‘Abiid sendiri adalah keturunan Al Qaddah seorang atheis lagi Majusi, ada yang mengatakan bahwa orang tua ‘Abiid ini adalah seorang Yahudi dari penduduk Salmiyyah di daerah Syam, ia adalah seorang tukang besi. Sedangkan ‘Abiid sendiri nama sebelumnya adalah Sa’id, ketika ia memasuki Maghribi dirubah namanya menjadi ‘Abiidullah dan mengaku-ngaku sebagai keturunan ‘Ali dan Fathimah, ia menasabkan diri dengan tidak benar, yang tidak disebutkan oleh seorang pun dari  kalangan para penulis nasab Alawi, bahkan jama’ah para ulama menyebutkan nasab sebaliknya. Lama-kelamaan ia pun menjadi raja dan menamai dirinya dengan Al Mahdiy, dibangunnya kerajaan Al Mahdiyyah di Maghrib serta menasabkan kepadanya. Dia (‘Abiid) adalah seorang Zindiq, buruk dan memusuhi Islam serta terang-terangan menampakkan sebagai syi’ah dan menggunakannya sebagai tirai dengan rasa semangat hendak memusnahkan agama Islam. Ia bahkan membunuh para fuqaha’ (ahli fiqih Islam) dan ahli haditsnya dalam jumlah besar. Memang niatnya adalah menghilangkan mereka dari dunia, agar alam ini tidak ubahnya seperti binatang, sehingga ia berhasil merusak ‘aqidah mereka dan menyesatkan mereka, dan Allah akan senantiasa menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membenci.”</p>
<p>Keturunannya tumbuh di atas sikap seperti itu dan siap menampakkan (permusuhan kepada Islam) secara terang-terangan saat tiba kesempatannya, jika tidak ada kesempatan, mereka menyembunyikannya. Para da’inya bertebaran di berbagai negeri, mereka menyesatkan orang-orang yang dapat mereka sesatkan, musibah besar ini terus menimpa Islam dari awal daulah mereka sampai akhirnya, yaitu dari tahun 299 H sampai tahun 567 H. Di masa kejayaan mereka, banyak sekali orang-orang Syi’ah Raafidhah dan mereka semakin kuat, di masa itu pula orang-orang dikenakan pajak, golongan selain mereka juga banyak yang mengikutinya, dirusaknya keyakinan-keyakinan berbagai kelompok yang tinggal di pegunungan di perbatasan Syam seperti Nashiriyyah, Druuz dan kelompok Hasyisyiyyah yang termasuk bagiannya, para penguasa mereka berhasil menundukkan kelompok tersebut karena lemahnya akal mereka dan karena kebodohan mereka, yang tidak mereka lakukan kepada selainnya, akhirnya orang-orang Faranj berhasil menaklukkan berbagai daerah di Syam dan jazirah, hingga akhirnya Allah memberikan nikmat kepada kaum muslimin dengan munculnya Al Baitul Ataabikiy yang dipelopori oleh semisal Shalaahuddin (Al Ayyubiy) ia berhasil merebut kembali negeri-negeri tersebut dan menyingkirkan Daulah Fathimiyyah ini….dst” (lih. Ar Raudhatain fii akhbaarid daulatain hal. 200-202)</p>
<p>Al Haafizh Ibnu Katsir rahihamullah mengatakan tentang bani ‘Abiidiyyah: “(Mereka adalah) orang-orang kafir, fasik dan fajir (suka maksiat).”</p>
<p>Dari penjelasan di atas kita pun mengetahui bahwa yang mengadakan pertama kali Maulid Nabi adalah Daulah Fathimiyyah bukan Shalaahuddin Al Ayyubiy, tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian saudara-saudara kita dengan tanpa bukti, bahkan dialah yang menyingkirkan Daulah Fathimiyyah ini.</p>
<p>Secara jujur kami katakan, “Pantaskah orang-orang yang memusuhi Islam dan ulamanya dijadikan sebagai rujukan oleh kita sehingga kita ikut-ikutan memperingati maulid yang mereka adakan?!”</p>
<p><strong><em>Hukum memperingati maulid</em></strong></p>
<p>Ketahuilah saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya peringatan maulid ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas yang shahih sehingga ia merupakan perkara bid’ah. Di samping itu, peringatan maulid ini:</p>
<ol>
<li>Tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, bahkan Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak pernah memperingati hari kelahirannya semasa hidupnya.</li>
<li>Tidak pernah diadakan oleh generasi terbaik ummat ini (para sahabat, tabi’in dan tabi’ut taabi’in), bahkan yang mengadakannya pertama kali adalah orang-orang yang lebih dekat dengan kekafiran daripada keimanan yaitu orang-orang Bathiniyyah (Daulah Fathimiyyah).</li>
<li>Orang yang memperingatinya sama saja telah mengerjakan larangan Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabdanya,</li>
</ol>
<p dir="RTL">إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</p>
<p>“Jauhilah olehmu hal yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud)</p>
<ol>
<li>Orang yang memperingatinya sama sekali tidak memperoleh pahala apa-apa, karena Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</li>
</ol>
<p dir="RTL">مَن عَمِلَ عمَلاً لَيْسَ عَلَيهِ أمْرُنا فَهُوَ رَدٌّ</p>
<p>“Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)</p>
<p>Niat baik tidaklah cukup, bahkan harus dibarengi dengan amal yang sesuai Sunnah.</p>
<ol>
<li>Ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam masih hidup, telah turun ayat kepada Beliau,</li>
</ol>
<p><em>“Pada hari ini, telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.”</em> (terj. Al Maa’idah: 3)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan telah sempurnanya agama ini dan tidak boleh ditambah-tambah.</p>
<ol>
<li>Kalau seandainya memperinghati kelahiran Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam adalah baik tentu Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan para sahabatnya sudah mendahului kita melakukannya.</li>
<li>Kalau seandainya orang yang memperingatinya beralasan bahwa hal ini sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, maka sebagaimana telah diterangkan sebelumnya bahwa cinta yang sejati menghendakinya untuk   menghidupkan Sunnahnya, menaati perintahnya dan menjauhi larangannya.</li>
<li>Peringatan maulid ini mirip dengan orang-orang Nasrani yang memperingati hari kelahiran Al Masih, sedangkan kita dilarang menyerupai mereka.</li>
<li>Hari besar dalam Islam hanyalah tiga: Hari raya ‘Idul Fithri, hari raya ‘Idul Adh-ha dan hari Jum’at, selainnya adalah bukan hari besar Islam.</li>
<li>Pada umumnya dalam acara maulid, terdapat ghuluw (sikap melampaui batas) kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, padahal hal itu dilarang oleh Beliau.</li>
</ol>
<p>Bahkan terkadang dilantunkan sya’ir-sya’ir yang di dalamnya terdapat syirk, seperti dalam Qasidah Burdah karya Al Buwshairiy sbb:</p>
<p dir="RTL">يَاأَكْرَمَ اْلخَلْقِ مَاِلي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ</p>
<p dir="RTL">سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ اْلحَادِثِ الْعَمَم</p>
<p dir="RTL">فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتِهَا</p>
<p dir="RTL"> وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمِ اللَّوْحِ وَاْلقَلَمِ<em></em></p>
<p><em>“Wahai manusia paling mulia, kepada siapa lagi aku berlindung,</em></p>
<p><em>selain kepadamu ketika datang musibah yang merata,</em></p>
<p><em>sungguh, di antara kedermawananmu adalah dunia dan perhiasannya,</em></p>
<p><em>dan di antara ilmumu adalah ilmu tentang Al Lauhul Mahfuzh dan Al Qalam.”</em></p>
<p>Padahal dalam shalat, kita sering mengucapkan: “<em>Dan hanya kepadaMu-lah (ya Allah) <strong>kami meminta pertolongan.</strong>”</em> (Al Fatihah: 5), dan disurat Al A’raaf: 188 diterangkan bahwa Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tidak mengetahui yang ghaib.</p>
<p>Melihat dalam peringatan maulid sering terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam, oleh karena itu, seorang tokoh non muslim imperials Prancis, Napoleon Bonaparte mendukung sekali acara tersebut. Bahkan saat peringatan ini semakin pudardi Mesir,iamengeluarkan uang 300 riyal Frank untuk acara tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh ahli sejarah Mesir Al Jibritiy dalam kedua bukunya ‘Ajaa’ibul Aatsaar (2/201, 249) dan Mazh-harut taqdiis hal. 47. Al Jibritiy juga menjelaskan bahwa kaum imperialis Prancis mendukung hal itu karena di dalamnya terdapat pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam.</p>
<p>Kita juga sering menyaksikan, saat beberapa orang yang memperingatinya menyebutkan nama Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, mereka semua berdiri, di antara mereka ada yang beranggapan bahwa ketika itu ruh Nabi Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam sedang datang? Subhaanallah, dari mana keyakinan ini muncul?</p>
<p>Padahal ketika Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam masih hidup, para sahabat tidak mau berdiri ketika Beliau datang, karena mengetahui bahwa Beliau membenci dihormati dengan berdiri. Anas bin Malik radhiyallahu &#8216;anhu mengatakan,</p>
<p dir="RTL">لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ</p>
<p>“Tidak ada seorang pun yang paling dicintai oleh mereka (para sahabat) daripada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, namun mereka bila melihat Beliau (datang) tidak berdiri, karena mengetahui bahwa Beliau benci hal itu.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan Tirmidzi)</p>
<p>Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga pernah bersabda,</p>
<p dir="RTL">مَنْ اَحَبَّ اَنْ يَتَمَثَّلَ لَهُ النَّاسُ ِقيَامًا فَلْيَتَبَوّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّاِر</p>
<p>“Barangsiapa yang suka dihormati dengan berdiri, maka hendaknya ia siapkan tempat duduknya di neraka.” (Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad)</p>
<p>Oleh karena itulah, para ulama di berbagai tempat dan dari berbagai madzhab fiqh dari sejak dahulu hingga sekarang telah mengingatkan kaum muslimin untuk menjauhi maulid dan tidak memperingatinya. Seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al Fakihaniy (ulama madzhab Maliki), Syaikh Muhammad Bakhyat Al Muthii’iy (mufti Mesir), Imam Syathibiy, Syaikh Ali Mahfuzh, Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Basyiruddin Al Qanuujiy ulama dari India, Syaikh Muhammad bin Abdul waahhab, Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Syaikh Shaalih Al Fauzaan, Syaikh Hamuud At Tuwaijiriy, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz (Mufti umum kerajaan ‘Arab Saudi), Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Al Albani dan lainnya.</p>
<p align="right">Marwan bin Musa</p>
<p><strong>Maraaji’:</strong> Al Maulidun Nabawiy (Nashir bin Yahya Al Haniiniy), Minhaajul Firqatin Naajiyah (M. bin Jamiil Zainu), dll.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/05/12/peringatan-maulid/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">464</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="http://allfacebook.com/files/2011/01/stop.jpg"/>
	</item>
		<item>
		<title>Perayaan Hari Valentin day</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/03/24/perayaan-hari-valentin-day/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/03/24/perayaan-hari-valentin-day/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Mar 2012 13:34:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/?p=335</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم Perayaan Hari Valentin Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ * “Sungguh, kamu akan mengikuti jejak orang-orang sebelummu sejengkal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p dir="RTL" align="center"><a href="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/wallpaper_islamic_6_by_adobes-330x190.jpg"><img loading="lazy" class="alignnone" src="https://i0.wp.com/allfacebook.com/files/2011/01/stop.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a><a href="https://sukronihbs.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/03/71155_101168213345_2287584_n.jpg"><br />
</a>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<h1 align="center"><strong>Perayaan Hari Valen</strong><strong>t</strong><strong>in</strong><strong></strong></h1>
<p>Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p dir="RTL">لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ *</p>
<p><em>“Sungguh, kamu akan mengikuti jejak orang-orang sebelummu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga jika seandainya mereka menempuh jalan ke lubang dhabb (binatang kecil seperti biawak), tentu kamu akan mengikuti juga.” </em>Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah (yang akan diikuti)?” Beliau menjawab,<em> “Siapa lagi?”.</em></p>
<p>Benarlah apa yang disabdakan Beliau shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, akhir-akhir ini banyak di kalangan kaum muslimin yang mengikuti jejak langkah orang-orang kafir. Tradisi mereka, akhlak mereka serta sebagian syi’ar mereka telah diikuti oleh sebagian kaum muslimin.</p>
<p>Salah satu diantara sekian banyak syi’ar kaum kafir yang diikuti oleh sebagian kaum muslimin adalah “Iidul Hubb” atau “Valentine’s Day”. Inilah hari raya yang oleh sebagian kaum muslimin diikuti, diperingati dan dirayakan., khususnya di kalangan remaja.</p>
<p>Sebelum membahas hukumnya, berikut ini sekilas tentang asal mula dan sejarahnya.</p>
<p><strong>Cerita tentang Idul hubb (hari kasih sayang)</strong></p>
<p>Hari kasih sayang adalah salah satu di antara hari raya para masyarakat Roma penyembah berhala, di mana pemujaan terhadap berhala sudah memasyarakat di Roma sebelum abad ke-17. Perayaan hari itu ini menurut mereka adalah sebagai ungkapan cinta ilahi.</p>
<p>Adabeberapa kisah tentang hari kasih sayang ini, berikut ini di antaranya:</p>
<p><strong><em>Cerita pertama</em></strong> – cerita yang paling masyhur- sbb:</p>
<p>Orang-orang Roma memiliki keyakinan bahwa Romalius (pendirikotaRoma) suatu hari pernah disusui oleh srigala. Srigala itu memberikan kemampuan dan daya fikir yang lebih kepadanya. Untuk mengenang peristiwa ini orang-orang Roma mengadakan perayaan besar-besaran pada pertengahan bulan Februari setiap tahunnya. Pada perayaan tersebut diadakan penyembelihan anjing dan kambing, lalu darahnya dioleskan kepada dua orang pemuda yang berbadan kekar. Kemudian dibersihkan dengan air susu. Setelah itu dua orang pemuda tersebut berjalan dengan rombongan besar mengelilingi kota dengan membawa dua potong kulit, yang kemudian dilumuri oleh orang yang menjumpainya. Ketika itu wanita-wanita Roma menyambut kedatangan rombongan tersebut dengan menghadapkan diri ke kulit bekas lumuran itu, mereka beranggapan bahwa hal itu dapat menghilangkan kemandulan dari mereka atau menyembuhkannya.</p>
<p><strong>Hubungan cerita ini dengan pendeta Valentin</strong></p>
<p>Valentin adalah nama seorang pendeta yang meninggal setelah penyiksaan kaisar Claudius pada tahun 296 M karena menentang keputusannya yang melarang pernikahan di kalangan tentara. Kemudian dibuatkan gereja di Roma di tempat ia dimakamkan pada tahun 350 M untuk mengenangnya.</p>
<p>Ketika masyarakat Roma banyak memeluk agama Nasrani, mereka masih tetap memperingati tradisi hari kasih sayangnya, namun mereka menggantinya, yang dahulu adalah hari rasa cinta ilahi lalu berubah menjadi hari mengenang korban yang menurut mereka, bahwa pendeta Valentin adalah pembela kasih sayang.</p>
<p>Di antara perbuatan mereka yang batil dalam hari raya tersebut adalah dicatatnya nama-nama gadis yang sudah layak nikah dalam lipatan kertas yang kecil, lalu ditaruh dalam mangkok di atas meja, kemudian dipanggil para pemuda yang ingin menikah agar masing-masing mereka mengeluarkan kertas itu, lantas pemuda itu siap melayani gadis yang tertulis di kertas itu dalam waktu setahun agar masing-masingnya dapat mengenal lebih jauh yang lain, kemudian keduanya menikah atau mengulangi lagi kegiatan tersebut pada hari raya berikutnya.</p>
<p><strong><em>Cerita kedua</em></strong>, sebagai berikut:</p>
<p>Kesimpulannya adalah, bahwa orang-orang Roma pada hari-hari pemujaan berhala, memperingati hari raya yang disebut dengan “Loberkiliya”. Di hari itu, mereka mempersembahkan korban kepada sesembahan mereka, dan mereka meyakini bahwa berhala mereka dapat menjaga mereka dari bahaya dan menjaga ternak mereka dari serigala. Ketika masyarakat Roma memeluk agama Nasrani, pada saat itu pemerintahnya adalah Claudius II, dia melarang tentaranya menikah, karena dianggap nikah itu menghalangi seseorang untuk berperang. Maka Valentin menentang ketetapan ini, sehingga pernikahan tetap terjadi di kalangan tentara secara sembunyi-sembunyi. Ketika kaisar mengetahui hal itu, Valentin pun dimasukkan dalam penjara dan diputuskan untuk dihukum mati.</p>
<p><strong><em>Cerita ketiga</em></strong>, sebagai berikut:</p>
<p>Bahwa kaisar Claudius II adalah seorang penyembah berhala, sedangkan Valentine adalah salah seorang pendeta Nasrani. Kaisar ingin mengeluarkan dia dari agamanya agar ikut menyembah berhala, namun dia menolak, akhirnya dia dihukum mati pada tanggal 14 Februari tahun 270 M, malam hari raya pemujaan berhala, yaitu Loberkilia.</p>
<p>Ketika masyarakat Roma banyak yang memeluk agama Nasrani, mereka masih tetap memperingati hari Loberkilia, namun mereka mengaitkan dengan hari hukuman mati terhadap Valentin untuk mengenangnya karena ia mati demi membela agamanya seperti dalam cerita ketiga ini atau mati demi membela orang-orang yang bercinta menurut cerita kedua.</p>
<p><strong>Manakah cerita yang benar?</strong></p>
<p>Kami tidak mengetahui, cerita yang mana yang benar, karena cerita-cerita di kalangan bangsa Roma dan orang-orang Nasrani begitu banyak? Akan tetapi maksud disebutkan cerita ini tidak lain agar kaum muslimin tidak tertipu olehnya sehingga mereka ikut-ikutan memperingatinya.</p>
<p><strong>Pengkajian</strong></p>
<p>Jika kita melihat sekilas tentang awal mula atau sejarah Valentin ini, maka kita akan menemukan berbagai keyakinan dan perbuatan yang bertolak belakang dengan ajaran Islam di antaranya:</p>
<p>Þ    Asal hari kasih sayang adalah sebuah upacara masyarakat Roma penyembah berhala. Bagaimana mungkin seorang muslim yang hanya menyembah Allah mengikuti upacara kaum musyrikin?</p>
<p>Þ    Jika melihat sejarah awal mula hari kasih sayang, kita akan menemukan banyak cerita-cerita yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin manusia bisa disusui oleh srigala, apalagi diberikan kekuatan dan kelebihan dalam berfikir.</p>
<p>Þ    Jika kita melihat kisah Valentin, maka kita akan menemukan bahwa ternyata hari raya Valentin adalah hari raya mengenang seorang pendeta. Hal ini sama saja berwalaa’ (menaruh rasa cinta) kepada mereka, sedangkan berwalaa’ kepada non muslim dilarang.</p>
<p><strong>Beberapa acara dalam perayaan Valentin </strong></p>
<ol>
<li>Bersuka  ria sebagaimana dalam hari raya.</li>
<li>Saling tukar-menukar bunga berwarna merah sebagai tanda cinta, di mana menurut orang-orang Roma dahulu sebagai tanda cinta ilahi, dan menurut orang-orang Nasrani sebagai cinta antar lawan jenis.</li>
<li>Membagi-bagikan kartu selamat, terkadang di dalamnya ada gambar anak kecil bersayap dua, dengan membawa busur panah dan anak panahnya. Padahal ini adalah tuhan cinta orang-orang Roma penyembah berhala.</li>
<li>Saling tukar-menukarsuratyang berisi ungkapan rasa cinta dalam bentuk sya’ir, prosa, atau kalimat yang ringkas. dan terkadang tertulis disana, “Jadilah kamu seorang Valentin”.</li>
<li>Di negara-negara Nasrani, pada hari Valentin, masyarakatnya mengadakan pesta baik di siang hari maupun malamnya. Di pesta itu laki-laki bercampur baur dengan wanita dan diadakan acara dansa, di samping adanya acara kirim hadiah berupa bunga merah dan coklat kepada pasangannya, temannya atau orang yang disukainya.</li>
</ol>
<p>Jika kita memperhatikan acara tersebut, kita dapat mengetahui bertentangannya acara tersebut dengan ajaran Islam. Hal itu dikarenakan beberapa alasan berikut:</p>
<p><em>Pertama</em>, Valentin adalah sebuah hari raya, di mana orang-orang bersuka ria pada hari itu. Sedangkan dalam Islam hari raya untuk kaum muslimin hanyalah hari raya ‘Idul Fithri, ‘Idul Adh-ha dan hari Jum’at. Selainnya bukan hari raya umat Islam. Oleh karena itu, ketika Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tiba di Madinah, ketika itu penduduk Madinah memiliki hari raya tersendiri, Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">َقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى</p>
<p>&#8220;Sungguh, Allah Ta&#8217;ala telah memberikan ganti dengan yang lebih baik dari kedua hari itu, yaitu &#8216;Idul Fithr dan &#8216;Idul Adh-ha.”(HR. Nasa’i dan Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih)</p>
<p><em>Kedua</em>, merayakan hari kasih sayang terdapat bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, karena yang mengadakannya adalah masyarakat Roma penyembah berhala, kemudian orang-orang Nasrani. Sedangkan kita dilarang bertasyabbuh dengan mereka dalam ciri khas mereka.</p>
<p><em>Ketiga</em>, perayaan Valentin dimaksudkan untuk menyebarkan rasa kasih, cinta dan sayang tanpa pandang bulu, baik kepada orang muslim maupun orang kafir. Sedangkan kita sebagai kaum muslimin dilarang berwalaa’ (memberikan rasa cinta dan kesetiaan) kepada orang-orang kafir, meskipun dibolehkan berbuat baik dan bersikap adil terhadap mereka dalam bermu&#8217;amalah (lihatsurat Al Mumtahanah : 8), sedangkan hati tetap tidak dibolehkan memiliki rasa cinta dan kesetiaan kepada mereka (lih. Al Mujadilah : 22).</p>
<p><em>Keempat</em>, rasa cinta, kasih dan sayang yang diinginkan dalam perayaan Valentin adalah rasa cinta dan kasih di luar ikatan pernikahan antara laki-laki dan wanita. Di mana hal ini mengakibatkan terjadinya perbuatan zina dan perbuatan lain yang diharamkan Allah Ta’ala.</p>
<p>Oleh karena itu, hendaknya kita tidak memperingatinya, tidak ikut serta dengannya dan tidak hadir di dalamnya. Demikian pula tidak membantunya. Termasuk membantunya adalah mendukung terlaksananya acara tersebut dan mengucapkan selamat atau memberikan bingkisan ataupun menjualnya.</p>
<p><strong>Fatwa Ulama tentang Valentin Day</strong></p>
<p>Berikut ini fatwa dari para ulama yang terhimpun dalam Lajnah Daa’imah (pantia tetap bagian fatwa KSA) no. 21203 tanggal23/11/1420H tentang memperingati hari Valentin ketika ada yang mengajukan pertanyaan sbb:</p>
<p>“Sebagian orang ada yang mengadakan acara hari kasih saying (Valentin day) pada tanggal 14 bulan Pebruari di setiap tahun Masehi, dan mereka saling tukar menukar hadiah berupa bunga berwarna merah, serta mengenakan pakaian berwarna merah dan saling mengucapkan selamat, dan sebagian toko permen membuat permen berwarna merah serta membuat gambar hati di permen itu, dan sebagian toko juga membuatkan pengumuman terhadap barang khusus hari itu? Apa pendapat anda tentang:</p>
<ol>
<li>Memperingati hari tersebut?</li>
<li>Membeli makanan tersebut di took-toko itu pada hari itu?</li>
<li>Menjualnya para pemilik took yang tidak memperingati kepada orang yang memperingatinya dengan sebagian yang dihadiahkan pada hari itu?</li>
</ol>
<p>Semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.</p>
<p>Jawab:</p>
<p>”Setelah Lajnah melakukan pengkajian terhadap pertanyaan yang diajukan, lajnah memberikan jawaban, bahwa berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah yang tegas serta ijma’ salaful ummah bahwa hari raya dalam Islam hanya dua saja yaitu Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Adapun hari raya selainnya baik berkaitan dengan seorang tokoh, kelompok, atau suatu peristiwa dan lainnya adalah hari raya yang diada-adakan. Tidak boleh bagi kaum muslimin melakukannya, mengakuinya, serta menampakkan senang terhadapnya dan membantunya dengan sesuatu apa pun, karena yang demikian termasuk melanggar aturan-aturan Allah, dan barang siapa yang melanggar aturan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat zalim kepada dirinya. Jika ditambah dengan hari raya buatan yang berasal dari hari raya orang-orang kafir, maka hal ini sama saja dosa ditambah dosa, karena hal itu sama saja telah menyerupai mereka dan merupakan bentuk walaa’ kepada mereka. Padahal Allah subhaanah telah melarang kaum mukmin bertasyabbuh (menyerupai) dengan mereka serta berwala’ kepada mereka dalam kitab-Nya yang mulia. Bahkan telah sah dari Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bahwa Beliau bersabda:</p>
<p dir="RTL">مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</p>
<p>“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongannya.”</p>
<p>Perayaan hari Valentin adalah salah satu di antaranya, karena ia adalah salah satu hari raya pemujaan berhala orang-orang Nasrani. Oleh karena itu, tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukannya, mengakuinya maupun mengucapkan selamat terhadapnya. Ia wajib meninggalkan dan menjauhinya, memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhi segala sebab yang mendatangkan kemurkaan Allah dan siksa-Nya. Sebagaimana diharamkan pula bagi seorang muslim membantu perayaan ini maupun perayaan haram lainnya baik dengan ikut makan-makan, minum-minum, menjual-belikan,  membuatnya, memberikan hadiah, melakukan surat-menyurat, mengiklankan atau lainnya. Karena semua itu termasuk tolong-menolong atas dasar dosa dan pelanggaran serta di atas maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, padahal Allah Jalla wa ‘Alaa berfirman:</p>
<p><em>“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya..” (terj. Al Maa’idah : 2)</em></p>
<p>Dan wajib hukumnya bagi seorang muslim berpegang kepada Al Qur’an dan As Sunnah dalam semua keadaannya, apalagi di saat-saat terjadinya fitnah (cobaan) serta banyaknya kerusakan. Ia pun harus berpikir matang dan berhati-hati agar jangan sampai jatuh ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai (orang-orang Yahudi) dan orang-orang yang sesat (orang-orang Nasrani) serta orang-orang fasik yang tidak takut terhadap keagungan Allah, tidak peduli dengan ajaran Islam.</p>
<p>Seorang muslim juga harus berharap kepada Allah, meminta hidayah-Nya serta meminta diteguhkan di atasnya, karena tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang memberikan keteguhan selain Dia. Kepada Allah-lah kita berharap taufiq. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.”</p>
<p><em>Lajnah Da’imah lil buhutsil ‘ilmiyyah wal iftaa’:</em></p>
<p>Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alusy Syaikh, anggota: Shalih bin Fauzan Al Fauzan, Abdullah bin Abdurrahman Al Ghudayyan, dan Bakar bin Abdullah Abu Zaid.</p>
<p align="right">Marwan bin Musa</p>
<p><strong>Maraaji’:</strong> <em>‘Iidul hubb, qisshatuhu, hukmuhu </em>(Ibrahim bin Muhammad Al Huqail)<em>, Fatwa Valentin </em>(Lajnah Daa’imah)<em> </em>dan<em> </em>buletin An Nur <em>“Hukum Merayakan Hari Valentin”.</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2012/03/24/perayaan-hari-valentin-day/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">335</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="http://allfacebook.com/files/2011/01/stop.jpg"/>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Bacaan Makmum Dibelakang Imam.</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/bagaimana-bacaan-makmum-dibelakang-imam/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/bagaimana-bacaan-makmum-dibelakang-imam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:54:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/bagaimana-bacaan-makmum-dibelakang-imam/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217;alaikum. Bismillah, segala puji bagi Allah, selawat serta salam atas Rosulillah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- 1. Berkaitan dengan bacaan makmum dibelakang imam, maka berikut penjelasannya : &#8211; Bacaan makmum dibelakang imam pada sholat sirriyah (sholat yang imam tidak mengeraskan bacaannya) dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد </p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p>Bismillah, segala puji bagi Allah, selawat serta salam atas Rosulillah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-</p>
<p>1. Berkaitan dengan bacaan makmum dibelakang imam, maka berikut penjelasannya :</p>
<p>&#8211; Bacaan makmum dibelakang imam pada sholat sirriyah (sholat yang imam tidak mengeraskan bacaannya) dan setelah rekaat kedua pada sholat jahriyah (yang mana imam tidak mengeraskan kembali bacaannya), maka bagi makmum untuk membaca Al-Fatehah sendiri-sendiri.</p>
<p>&#8211; Bacaan makmum dibelakang imam pada dua rekaat awal sholat jahriyah, maka dalam perkara ini para ulama berbeda pendapat. untuk penjelasan perbedaan pendapat tersebut silahkan baca artikel Hukum Membaca Al-Fatehah Dibelakang Imam.</p>
<p>2. Adapun diamnya imam sejenak setelah membaca surat Al-Fatehah adalah hal yang hasan (baik). karena dengan itu telah mengamalkan dan telah menggabungkan antara dua pendapat para ulama yang berbeda terkait bacaan makmum dibelakang imam. sebagian ulama mewajibkan diam dan mendengarkan ketika imam membaca Al-Fatehah atau ayat setelahnya berdasar firman Allah :</p>
<p>وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.&#8221; (QS Al-A&#8217;raf : 204)</p>
<p>Adapun para ulama yang membolehkan membaca Al-Fatehah dibelakang imam ketika imam sedang membaca Al-Fatehah berdasarkan sabda Rosullullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- :</p>
<p>لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَم يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ</p>
<p>Artinya : &#8220;Tidak dianggap telah sholat bagi orang yang belum membaca pembuka al-quran (surat al-fatehah).&#8221; (HR Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Dan imam yang berhenti sejenak antara bacaan Al-Fatehah dan ayat-ayat setelahnya maka beliau memberi waktu kepada makmum untuk membaca Al-Fatehah sendiri-sendiri. hal tersebut sebagai pengamalan dan penggabungan dari dua pendapat yang berbeda tersebut.</p>
<p>wabillahi at-taufiq</p>
<p>Muhammad Sukron, s P.d</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/bagaimana-bacaan-makmum-dibelakang-imam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">239</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengertian Nadzar dan Macamnya</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/pengertian-nadzar-dan-macamnya/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/pengertian-nadzar-dan-macamnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:44:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/pengertian-nadzar-dan-macamnya/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217;alaikum. Nadzar secara bahasa adalah janji. dan secara istilah adalah mewajibkan atas dirimu untuk melakukan sesuatu amalan yang bukan wajib di sebabkan suatu kejadian Contoh dari nadzar adalah ketika seseorang sedang menghadapi ujian akhir sekolah, dia berkata pada dirinya, &#8220;jika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. </p>
<p>Nadzar secara bahasa adalah janji. dan secara istilah adalah mewajibkan atas dirimu untuk melakukan sesuatu amalan yang bukan wajib di sebabkan suatu kejadian</p>
<p>Contoh dari nadzar adalah ketika seseorang sedang menghadapi ujian akhir sekolah, dia berkata pada dirinya, &#8220;jika saya lulus ujian maka saya akan memberi uang 100 ribu rupiah kepada fakir miskin.&#8221; seperti ini adalah nadzar.</p>
<p>Bukan termasuk nadzar jika seseorang bernadzar untuk amalan yang wajib. seperti ketika seorang berjanji (nadzar) akan melaksanakan sholat subuh ketika dia lulus ujian. maka ini bukan nadzar. karena sholat subuh hukumnya wajib. dan nadzar adalah merubah amalan yang asal hukumnya bukan wajib menjadi wajib.</p>
<p>Dan nadzar untuk melakukan perbuatan maksiat tidak boleh di penuhi/lakukan. seperti jika seseorang berjanji (nadzar) tidak akan mengunjungi/silaturahmi kepada temannya yang bernama si A jika dia lulus ujian akhir. maka nadzar untuk perbuatan maksiat tidak boleh hukumnya.</p>
<p>Dari pernyataan yang anda katakan, saya tidak melihat perkataan anda itu sebagai nadzar. melainkan sebuah doa. karena nadzar di ucapkan untuk melakukan hal yang anda mampu untuk melakukannya. dan hal yang berkaitan dengan hati, itu bukan kuasa kita. karena hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati.</p>
<p>Jika hendak berdoa, maka berdoalah untuk kebaikan anda. dan berusaha untuk menjaga dan memperbaiki diri. semoga Allah senantiasa menunjuki kita ke jalan yang lurus.</p>
<p>&#8211; Hukum Masturbasi</p>
<p>Masturbasi baik yang di lakukan laki-laki ataupun perempuan memiliki pembahasan hukum yang sama. hukum masturbasi adalah haram menurut kebanyakan ulama. dan dasar pengharaman tersebut adalah firman Allah :</p>
<p>وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.&#8221; (QS Al-Mukminun : 5-7)</p>
<p>Pada ayat diatas, Allah mensifati orang-orang yang beriman adalah mereka yang menjaga kemaluan mereka, kecuali untuk istri-istri/suami-suami. dan yang menggunakan kemaluannya selain untuk istri/suami maka termasuk perbuatan yang melampaui batas. dan batas Allah adalah jelas antara halal dan haram. dan yang melampaui batas berarti mereka yang telah menyeberang dari halal ke haram.</p>
<p>&#8211; Saran untuk menjaga diri dari perbuatan tersebut</p>
<p>1. Jika anda belum menikah, maka segera menikah itu lebih baik. dan lebih menjaga anda dari perbuatan-perbuatan yang tidak halal.<br />
2. Jika anda tidak mampu untuk menikah, maka perbanyaklah puasa. karena dalam puasa terdapat tameng untuk menjaga kita dari perbuatan tercela.<br />
3. Berkumpullah dengan orang-orang yang baik.<br />
4. Hindari dari melihat atau membaca hal-hal yang dapat membangkitkan gairah.<br />
5. Jangan sering menyendiri.<br />
6. Seringlah membaca al-Qur&#8217;an dan mempelajari isinya.<br />
7. Selalu sibukkan diri dengan kegiatan yang positif.</p>
<p>wabillahi at-taufiq</p>
<p>Muhammad Sukron, S.Pd</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/pengertian-nadzar-dan-macamnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">238</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa 10 Dzul Hijjah.</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-puasa-10-dzul-hijjah/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-puasa-10-dzul-hijjah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:36:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-puasa-10-dzul-hijjah/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217; alaikum. Jawaban : Adapun dasar dari disunnahkannya puasa pada awal-awal Dzul Hijjah adalah hadits berikut : مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد</p>
<p>Assalamu&#8217; alaikum. </p>
<p>Jawaban : Adapun dasar dari disunnahkannya puasa pada awal-awal Dzul Hijjah adalah hadits berikut :</p>
<p>مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ</p>
<p>Artinya : &#8220;Tidak ada hari yang mana amalan sholih itu lebih dicintai oleh Allah kecuali pada hari-hari ini (10 hari Dzul Hijjah). Para sahabat berkata : Wahai Rosulullah! walaupun jihad di jalan Allah sekalipun? Beliau menjawab : iya, walaupun jihad di jalan Allah sekalipun. kecuali orang yang pergi dengan jiwa dan hartanya dan kembali tanpa itu semua.&#8221; (HR Bukhori)</p>
<p>Hadits ini menjelaskan mutlak amalan sholih yang dikerjakan pada 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah lebih utama dari waktu yang lain, termasuk puasa. dan puasa yang disunnahkan pada bulan Dzul Hijjah adalah 9 hari awal terutama hari ke 9. karena itu adalah hari Arafah. begitu yang dijelaskan Imam An-Nawawi dalam syarh Muslim.</p>
<p>كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوم تِسْع ذِي الْحِجَّة ، وَيَوْم عَاشُورَاء ، وَثَلَاثَة أَيَّام مِنْ كُلّ شَهْر : الِاثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْر وَالْخَمِيس</p>
<p>Artinya : &#8220;Dahulu Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- berpuasa pada 9 Dzul Hijjah, hari &#8216;Asyura, 3 hari pada tiap bulan dan senin dan kamis.&#8221; (HR Ahmad dan An-Nasai)</p>
<p>Adapun hadits-hadits yang menunjukkan bahwa beliau tidak berpuasa pada hari-hari tersebut seperti yang diriwayatkan dalam shohih Muslim, &#8216;Aisyah berkata :</p>
<p>مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ</p>
<p>Artinya : &#8220;Aku sama sekali tidak pernah melihat Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- berpuasa 10 hari itu.&#8221;</p>
<p>Juga hadits dalam shohih Muslim dari &#8216;Aisyah juga :</p>
<p>أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَصُمْ الْعَشْرَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Bahwa Nabi -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- tidak berpuasa pada 10 hari itu.&#8221;</p>
<p>Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi ketika men-syarh hadits-hadits diatas beliau menyatakan bahwa hadits-hadits tersebut tidak menandakan bahwa puasa pada hari-hari awal bulan Dzul Hijjah tidak sunnah. karena bisa jadi ketika itu Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- sedang sakit atau dalam perjalanan atau udzur yang lain sehingga beliau tidak melaksanakannya. dan puasa pada awal-awal Dzul Hijjah adalah sunnah berdasarkan hadits yang pertama diatas dan juga amalan-amalan sholih yang lainnya.</p>
<p>wallahu a&#8217;lam </p>
<p>Muhammad Sukron, S P.d</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-puasa-10-dzul-hijjah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">237</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Minum Sambil Berdiri.</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-minum-sambil-berdiri/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-minum-sambil-berdiri/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:27:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-minum-sambil-berdiri/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217;alaikum. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya seperti berikut : حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ قَعَدَ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ فِي [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum. </p>
<p>Hadist tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shohihnya seperti berikut :</p>
<p>حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مَيْسَرَةَ سَمِعْتُ النَّزَّالَ بْنَ سَبْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ<br />
أَنَّهُ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ قَعَدَ فِي حَوَائِجِ النَّاسِ فِي رَحَبَةِ الْكُوفَةِ حَتَّى حَضَرَتْ صَلَاةُ الْعَصْرِ ثُمَّ أُتِيَ بِمَاءٍ فَشَرِبَ وَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَذَكَرَ رَأْسَهُ وَرِجْلَيْهِ ثُمَّ قَامَ فَشَرِبَ فَضْلَهُ وَهُوَ قَائِمٌ ثُمَّ قَالَ إِنَّ نَاسًا يَكْرَهُونَ الشُّرْبَ قِيَامًا وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُ</p>
<p>Artinya : Dikatakan kepada kami oleh Adam berkata; dikatakan kepada kami oleh Syu&#8217;bah berkata; dikatakan kepada kami oleh Abdul Malik bin Maisarah berkata : aku mendengar An-Nazzal bin Sabrah bercerita tentang Ali -radhiallahu &#8216;anhu- bahwa ketika itu setelah sholat dhuhur dia duduk diantara orang-orang di Kufah (untuk membantu kebutuhan-kebutuhan mereka) sampai datangnya waktu ashar. kemudian diberikan kepadanya air maka beliau meminumnya dan mencuci muda dan tangannya, disebutkan juga mencuci kepada dan kakinya, kemudian berdiri dan meminum sisa air itu dalam keadaan berdiri. kemudian berkata : sesungguhnya orang-orang membenci untuk minum berdiri, dan sesungguhnya Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- pernah berbuat sebagaimana yang aku perbuat.</p>
<p>Hadist ini menunjukkan bahwa minum sambil berdiri adalah mubah/diperbolehkan. karena Ali mengatakan bahwa Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- juga pernah berbuat sebagaimana yang dia perbuat yaitu minum sambil berdiri.</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fath Al-Bari fi Syarh Shohih Al-Bukhori tentang diperbolehkannya minum sambil berdiri (tanda udzur) sebagaimana itu adalah pendapat kebanyakan ulama.</p>
<p>Adapun hadist-hadist yang menandakan pelarangan minum sambil berdiri begitu juga makan, itu pelarangan jika sekelompok orang diberikan air, dan salah seorang berdiri untuk meminum terlebih dahulu sebelum yang lain. begitu Ibnu Hajar menjelaskan.</p>
<p>beliau melanjutkan : &#8220;adapun hadist yang memerintahkan untuk memuntahkan, tidak ada perbedaan diantara para ulama bahwa memuntahkan kembali tidaklah wajib bagi orang yang minum berdiri. sebagian ulama mengatakan : hadist itu mauquf (hanya sampai) Abu Hurairah (perkataan Abu Hurairah).&#8221;</p>
<p>Adapuan hadist Anas yang mengandung pelarangan makan sambil berdiri, maka para ulama tidak ada yang berbeda pendapat bahwa makan sambil berdiri adalah mubah/boleh. dan pendapat paling kuat adalah mubah/bolehnya minum sambil berdiri.</p>
<p>Sedangkan hadist-hadist tentang pelarangan minum sambil berdiri mengkabarkan akan sesuatu yang lebih baik dan utama yaitu minum dengan duduk, juga ditakutkan dalam minum sambil berdiri akan menyebabkan sakit.</p>
<p>Kesimpulan : Minum sambil berdiri adalah mubah/boleh dalam keadaan apapun, begitu juga makan. memuntahkan air yang diminum sambil berdiri tidaklah wajib. dan pelarangan minum sambil berdiri tidak menandakan pengharamannya akan tetapi lebih pada persoalan adab.</p>
<p>Rujukan : Fath Al-Bari fi Syarh Shohih Al-Bukhori</p>
<p>Muhammad sukron</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/hukum-minum-sambil-berdiri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">236</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholatnya Para Nabi Sebelum KIta</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/sholatnya-para-nabi-sebelum-kita/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/sholatnya-para-nabi-sebelum-kita/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Nov 2011 03:17:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/sholatnya-para-nabi-sebelum-kita/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217;alaikum Sebagaimana sholat 5 waktu diwajibkan atas ummat Muhammad -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-, maka para nabi sebelum beliau juga diwajibkan atas mereka sholat. mereka dan ummat yang mengikuti mereka juga mengerjakan sholat. adapun dasar bahwa mereka juga mengerjakan sholat yaitu sholat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum</p>
<p>Sebagaimana sholat 5 waktu diwajibkan atas ummat Muhammad -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-, maka para nabi sebelum beliau juga diwajibkan atas mereka sholat. mereka dan ummat yang mengikuti mereka juga mengerjakan sholat. adapun dasar bahwa mereka juga mengerjakan sholat yaitu sholat yang memang disyariatkan atas mereka dengan syariah yang berbeda-beda adalah sebagai berikut :</p>
<p>رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.&#8221; (QS Ibrahim : 37)</p>
<p>رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ</p>
<p>Artinya : &#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat.&#8221; (QS Ibrahim : 40)</p>
<p>Firman Allah tentang Musa dan Harun -&#8216;alaihima as-salam- :</p>
<p>وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: &#8220;Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman.&#8221; (QS Yunus : 87)</p>
<p>Dan tentang Isa -&#8216;alaihi as-salam- :</p>
<p>وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.&#8221; (QS Maryam : 31)</p>
<p>Dan tentang Zakaria :</p>
<p>فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ</p>
<p>Artinya : &#8220;Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab.&#8221; (QS Ali Imran : 39)</p>
<p>Dan tentang semua nabi -&#8216;alaihim as-salam- :</p>
<p>أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا # فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا # إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئًا</p>
<p>Artinya : &#8220;Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (58) Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (59) kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (60)&#8221; (QS Maryam : 58-60)</p>
<p>Adapun sholat mereka juga ada sujud dan rukuknya. Allah berfirman :</p>
<p>وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ</p>
<p>Artinya : &#8220;Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: &#8220;Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i&#8217;tikaf, yang ruku&#8217; dan yang sujud&#8221;.&#8221; (QS Al-Baqoroh : 125)</p>
<p>يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ</p>
<p>Artinya : &#8220;Wahai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.&#8221; (QS Ali Imran : 43)</p>
<p>Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- bersabda :</p>
<p>إنا معاشر الأنبياء أُمرنا بتعجيل فطرنا وتأخير سحورنا ووضع أيماننا على شمائلنا في الصلاة</p>
<p>Artinya : &#8220;Kami para nabi diperintahkan akan 3 hal : mendahulukan berbuka, mengakhirkan sahur, dan meletakkan tangan kanan kami diatas tangan kiri kami dalam sholat.&#8221; (HR At-Thabrani)</p>
<p>Akan tetapi bagaimana sholatnya para nabi sebelum kita? Allah lebih tahu bagaimana sholat mereka secara lebih mendetail. yang pasti, kita sebagai ummat Muhammad -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- diperintahkan untuk melaksanakan sholat sebagaimana yang Nabi -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- contohkan. beliau bersabda :</p>
<p>صلوا كما رأيتموني أصلي</p>
<p>Artinya : &#8220;Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.&#8221; (HR Bukhori)</p>
<p>wabillahi at-taufiq </p>
<p>Muhammad Sukron, S.Pd</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/02/sholatnya-para-nabi-sebelum-kita/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">235</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Dzikir Nabi Setelah Sholat.</title>
		<link>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/01/tata-cara-dzikir-nabi-setelah-sholat/</link>
					<comments>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/01/tata-cara-dzikir-nabi-setelah-sholat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[sukronihbs]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 12:05:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tak terkategori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/01/tata-cara-dzikir-nabi-setelah-sholat/</guid>

					<description><![CDATA[بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد Assalamu&#8217;alaikum. Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- telah mengajarkan kita bagaimana berdzikir setelah sholat fardhu. dan diantara cara dzikir yang disunnahkan adalah : &#8211; Mengeraskan suara ketika membaca dzikir setelah sholat fardhu. hal ini didasari oleh hadits dari Ibnu Abbas -rodhiyallahu &#8216;anhu- [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p>الحمد لله رب العالمين, والصلاة والسلام على أشرف المرسلين. أما بعد</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum.</p>
<p>Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- telah mengajarkan kita bagaimana berdzikir setelah sholat fardhu. dan diantara cara dzikir yang disunnahkan adalah :</p>
<p>&#8211; Mengeraskan suara ketika membaca dzikir setelah sholat fardhu. hal ini didasari oleh hadits dari Ibnu Abbas -rodhiyallahu &#8216;anhu- berkata :</p>
<p>كان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة على عهد النبي صلى الله عليه وسلم، قال: وكنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعتهم</p>
<p>Artinya : &#8220;Mengeraskan suara dalam dzikir ketika orang-orang telah selesai menunaikan sholat fardhu pada zaman Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam-. berkata : aku mengetahuinya ketika mereka telah selesai (melaksanakan sholat fardhu) dan aku mendengarnya (suara dzikir).&#8221; (HR Bukhori)</p>
<p>&#8211; Dzikir sendiri-sendiri tanpa ada yang memimpin. bahwa pada zaman Rosulullah -sholallahu &#8216;alaihi wasallam- dzikir itu dilaksanakan sendiri-sendiri dan dengan suara keras sebagaimana hadits diatas, dan tidak dilakukan dengan satu suara dengan seorang yang memimpin dzikir tersebut.</p>
<p>Adapun dzikir yang disunahkan setelah sholat fardhu adalah sebagai berikut :</p>
<p>1.<br />
أَسْـتَغْفِرُ الله . (ثَلاثاً)<br />
اللّهُـمَّ أَنْـتَ السَّلامُ ، وَمِـنْكَ السَّلام ، تَبارَكْتَ يا ذا الجَـلالِ وَالإِكْـرام .</p>
<p>Astaghfirul-lah (3x)<br />
Allahumma antas-salam waminkas-salam, tabarakta ya thal-jalali wal-ikram. (HR Muslim)</p>
<p>2.<br />
لا إلهَ إلاّ اللّهُ وحدَهُ لا شريكَ لهُ، لهُ المُـلْكُ ولهُ الحَمْد، وهوَ على كلّ شَيءٍ قَدير، اللّهُـمَّ لا مانِعَ لِما أَعْطَـيْت، وَلا مُعْطِـيَ لِما مَنَـعْت، وَلا يَنْفَـعُ ذا الجَـدِّ مِنْـكَ الجَـد.</p>
<p>La ilaha illal-lahu wahdahu la shareeka lah, lahul-mulku walahul-hamd, wahuwa AAala kulli shayin qadeer, allahumma la maniAAa lima aAAtayt, wala muAAtiya lima manaAAt, wala yanfaAAu thal-jaddi minkal-jad. (HR Bukhori dan Muslim)</p>
<p>3.<br />
لا إلهَ إلاّ اللّه, وحدَهُ لا شريكَ لهُ، لهُ الملكُ ولهُ الحَمد، وهوَ على كلّ شيءٍ قدير، لا حَـوْلَ وَلا قـوَّةَ إِلاّ بِاللهِ، لا إلهَ إلاّ اللّـه، وَلا نَعْـبُـدُ إِلاّ إيّـاه, لَهُ النِّعْـمَةُ وَلَهُ الفَضْل وَلَهُ الثَّـناءُ الحَـسَن، لا إلهَ إلاّ اللّهُ مخْلِصـينَ لَـهُ الدِّينَ وَلَوْ كَـرِهَ الكـافِرون.</p>
<p>La ilaha illal-lah, wahdahu la shareeka lah, lahul-mulku walahul-hamd, wahuwa AAala kulli shayin qadeer. la hawla wala quwwata illa billah, la ilaha illal-lah, wala naAAbudu illa iyyah, lahun-niAAmatu walahul-fadl walahuth-thana-ol- hasan, la ilaha illal-lah mukhliseena lahud-deen walaw karihal-kafiroon. (HR Muslim)</p>
<p>4.<br />
سُـبْحانَ اللهِ، والحَمْـدُ لله ، واللهُ أكْـبَر . (ثلاثاً وثلاثين)<br />
لا إلهَ إلاّ اللّهُ وَحْـدَهُ لا شريكَ لهُ، لهُ الملكُ ولهُ الحَمْد، وهُوَ على كُلّ شَيءٍ قَـدير .</p>
<p>Subhanal-lah walhamdu lillah, wallahu akbar (33x).<br />
La ilaha illal-lahu wahdahu la shareeka lah, lahul-mulku walahul-hamd, wahuwa AAala kulli shayin qadeer. (HR Muslim)</p>
<p>5.<br />
( قُـلْ هُـوَ اللهُ أَحَـدٌ …..) [ الإِخْـلاصْ ]<br />
( قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ الفَلَـقِ…..) [ الفَلَـقْ ]<br />
( قُـلْ أَعـوذُ بِرَبِّ النّـاسِ…..)[ الـنّاس ] (ثلاث مرات بعد صلاتي الفجر والمغرب. ومرة بعد الصلوات الأخرى)</p>
<p>{Qul huwa Allahu ahad…} [Al-Ikhlas]<br />
{Qul aAAoothu birabbi alfalaq…..} [Al-Falaq]<br />
{Qul aAAoothu birabbi alnnas…..} [An-Nas]<br />
(Dibaca masing-masing 3x pada sholat subuh dan maghrib, dan satu kali pada sholat yang lain) (HR Abu Daud dan An-Nasai)</p>
<p>6. Membaca ayat kursi (Al-Baqoroh : 255) (HR An-Nasai)</p>
<p>7.<br />
لا إلهَ إلاّ اللّهُ وحْـدَهُ لا شريكَ لهُ، لهُ المُلكُ ولهُ الحَمْد، يُحيـي وَيُمـيتُ وهُوَ على كُلّ شيءٍ قدير</p>
<p>La ilaha illal-lahu wahdahu la shareeka lah, lahul-mulku walahul-hamd, yuhyee wayumeet, wahuwa AAala kulli shayin qadeer.(Dibaca 10x setiap sholat subuh dan maghrib) (HR At-Tirmidzi)</p>
<p>8.<br />
اللّهُـمَّ إِنِّـي أَسْأَلُـكَ عِلْمـاً نافِعـاً وَرِزْقـاً طَيِّـباً ، وَعَمَـلاً مُتَقَـبَّلاً .</p>
<p>Allahumma innee as-aluka AAilman nafiAAan, warizqan tayyiban, waAAamalan mutaqabbalan.(Dibaca setelah salam pada sholat subuh) (HR Ibnu Majah)</p>
<p>Wabillahi at-taufiq</p>
<p>Muhammad Sukron, S.Pd</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://sukronihbs.wordpress.com/2011/11/01/tata-cara-dzikir-nabi-setelah-sholat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">232</post-id>
		<media:content medium="image" url="https://1.gravatar.com/avatar/a27bf451cb1d64874ce27e0952b5e319194e1a70cb90028e2d3217dca4e58071?s=96&amp;d=&amp;r=G">
			<media:title type="html">sukronihbs</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>