<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Survey dan Pemetaan</title>
	<atom:link href="https://erfan1977.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://erfan1977.wordpress.com</link>
	<description>Jasa konsultan bidang Jasa Survey, Pemetaan (Pembuatan Peta Tematik &amp; Atlas), Pelatihan SIG, Perkebunan, Lingkungan dan Kehutanan. Kami menawarkan kerjasama dengan berbagai perusahaan swasta, nasional, instansi pemerintah, serta penelitian</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Nov 2013 13:13:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="erfan1977.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/43260073d70490af04b54949a7ceec390df6959b870faa6587a85a8cbd103dbc?s=96&amp;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Survey dan Pemetaan</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://erfan1977.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="Survey dan Pemetaan" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://erfan1977.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Jasa konsultan bidang Jasa Survey, Pemetaan (Pembuatan Peta Tematik &amp; Atlas), Pelatihan SIG, Perkebunan, Lingkungan dan Kehutanan. Kami menawarkan kerjasama dengan berbagai perusahaan swasta, nasional, instansi pemerintah, serta penelitian</itunes:subtitle><item>
		<title>Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 2)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/30/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-2/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/30/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Nov 2013 12:56:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[peta kerusakan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[sistem informasi geografis]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=2288</guid>

					<description><![CDATA[4. Banjir dan Genangan (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Banjir dan genangan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan. Hal ini terutama terkait dengan lamanya dan ketinggian genangan yang mengakibatkan kerusakan terhadap tanah serta unsur biotis yang &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/30/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png"><img data-attachment-id="2289" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/30/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-2/kerusakan-lahan1/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png" data-orig-size="941,619" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="kerusakan lahan1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=584" class="alignnone size-full wp-image-2289" alt="kerusakan lahan1" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=584&#038;h=384" width="584" height="384" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=584&amp;h=384 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=150&amp;h=99 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=300&amp;h=197 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png?w=768&amp;h=505 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png 941w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p>4. Banjir dan Genangan</p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Banjir dan genangan merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan. Hal ini terutama terkait dengan lamanya dan ketinggian genangan yang mengakibatkan kerusakan terhadap tanah serta unsur biotis yang ada. Dimana tanah dan unsur biotis yang tergenang dalam jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan kerusakan dan bahkan kematian terhadap unsur biotis tersebut, selain itu unsur-unsur hara pada tanah dapat hilang karena ikut terhanyut terbawa oleh aliran banjir tersebut. Semaikin lama terjadi genangan atau banjir pada suatu daerah maka dampak yang diakibatkannya pun akan semakin besar.</p>
<p><span id="more-2288"></span></p>
<p style="text-align:justify;">5. Sifat dakhil Tanah (Menurut PP 150 tahun 2000)</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jenis tanah rentan dan sensitif terhadap faktor-faktor berubahan lingkungan baik itu karena alam maupun karena campur tangan manusia. Tingkat kerentanan suatu jenis tanah dapat didekati berdasarkan sifat-sifatnya yang tercantum dalam PP 150 tahun 2000. Adapun sifat-sifat tanah tersebut adalah sebagai berikut;</p>
<p>Solum atau ketebalan tanah</p>
<p style="text-align:justify;">Tebal tanah mencerminkan zona keleluasaan perkembangan akar: pengambilan air dan hara serta untuk menopang batang-tubuh tanaman itu sendiri. Tebal &lt; 20 cm menjadi penghambat keleluasaan akar, kecuali untuk tanaman rerumputan.</p>
<p>Tingkat Kebatuan</p>
<p style="text-align:justify;">Kebatuan adalah bahan mineral kasar dengan ukuran &gt; 2 mm. Keberadaan bahan ini yang melebihi 40% sangat mengurangi keleluasaan perkembangan akar untuk menyerap air dan hara.</p>
<p>Fraksi Pasir</p>
<p style="text-align:justify;">Kemampatan dan kesarangan tanah berhubungan dengan penyematan lengas. Bila terllu mampat maka drainasi terhambat dan kehawaan akar mengalami penghambatan. Sebaliknya bila terlalu sarang akan menyebabkan air cepat hilang terperkolasi. Penyimpan dan penyedia hara terletak pada koloid tanah yang merupakan gabungan dari koloid organik dan <i>clay. </i>Ukuran 4 me% sering digunakan sebagai kapasitas minimum untuk penyimpanan hara. Hal ini didekati dengan nilai 18% koloid pada jenis clay kaolinitik yang biasanya dijumpai pada tanah lanjut usia + bahan organik (1 %).</p>
<p>DHL (Daya Hantar Listrik)</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai ion terlarutkan yang &gt; 4 mS, dapat menyebabkan plasmolisis atau pemecahan/pembusukan akar karena aliran air justru keluar dari akar yang seharusnya diserap dari larutan tanah.</p>
<p>pH Tanah</p>
<p style="text-align:justify;">Tanah usia lanjut dicirikan oleh pH yang rendah, tanah kapuran ditandai oleh pH yang tinggi. Tanah masam mengandung ion Al yang bersifat toksik bagi tanaman, tanah yang alkalis menyebabkan imbangan hara yang tidak baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor-faktor diatas tersebut dapat digunakan untuk menentukan potensi kerusakan suatu lahan, dan untuk pendekatan dapat menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring. Dengan menggunakan metode skoring akan didapatkan hasil berupa peta potensi kerusakan lahan dengan skala tertentu yang sesuai dengan PP No.10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta Tata Ruang Wilayah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 1)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/" target="_blank">Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 1)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/30/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan1.png">
			<media:title type="html">kerusakan lahan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 1)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Nov 2013 12:41:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[kerusakan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[membuat peta]]></category>
		<category><![CDATA[peta kerusakan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[sistem informasi geografis]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=2280</guid>

					<description><![CDATA[(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Berdasarkan UU no. 41/2009 lahan merupakan bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png"><img data-attachment-id="2282" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/kerusakan-lahan2/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png" data-orig-size="1278,1134" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="kerusakan lahan2" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=584" class="alignnone  wp-image-2282" alt="kerusakan lahan2" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=409&#038;h=363" width="409" height="363" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=409&amp;h=363 409w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=818&amp;h=726 818w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=150&amp;h=133 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=300&amp;h=266 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png?w=768&amp;h=681 768w" sizes="(max-width: 409px) 100vw, 409px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Berdasarkan UU no. 41/2009 lahan merupakan bagian daratan dari permukaan bumi sebagai suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan definisi Kerusakan lahan menurut PERMEN RI No.4/2001 adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lahan tidak lagi dapat berfungsi secara optimal dalam menunjang pembangunan berkelanjutan.</p>
<p><span id="more-2280"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Pieri,<i> dkk</i>,. (1995), kerusakan lahan dapat disebabkan oleh: erosi air, erosi angin, penurunan kesuburan tanah, kehilangan bio-aktifitas tanah, penggaraman, water logging, penurunan muka air tanah, pencemaran tanah, deforestation, perusakan hutan, pengrusakan padang penggembalaan dan desertification. Selain itu kerusakan lahan juga dapat terjadi karena peristiwa alam (gempa, longsoran, perubahan iklim), perbuatan manusia atau penggabungan peristiwa alam dengan perbuatan manusia (Notohadinegoro, 1986).</p>
<p style="text-align:justify;">Pendekatan penilaian kerusakan lahan berdasarkan SK MENLH No.43/MENLH/10/1996 disesuaikan dengan peruntukan lahan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Curah Hujan</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor curah hujan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam kerusakan lingkungan, dimana Energi kinetik (&gt;1) yang merupakan kumulatif curah hujan sebesar 20 mm/jam dianggap mempunyai kemampuan untuk merusak tanah (Hudson, 1981). Curah hujan merupakan salah satu faktor terjadinya erosi atau perpindahan massa tanah oleh air, dimana hujan kumulatif bulanan &gt;250 mm berpotensi menyebabkan erosi tanah. Berdasarkan tingkatannya tanah yang tererosi dapat diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: 1. Tererosi ringan: solum tanah tebal, erosi lembar (kedalaman erosi &lt;5 cm depth, lebar pada permukaan &lt;10 cm), erosi percik (mengangkut material dalam unit lahan; 2. Erosi sedang: ketebalan solum  tinggi, erosi lembar/sheet erosion (kedalaman 5 &#8211; 20 cm, dan lebar 5 – 20 cm); 3. Erosi kuat: tanah tipis, erosi lembah (kedalaman erosi lebar (kedalaman, &gt;20 cm kedalaman dan ketebalan).</p>
<p style="text-align:justify;">2. Kemiringan Lereng</p>
<p style="text-align:justify;">Kemiringan lereng juga merupakan faktor penyebab terjadinya erosi, dimana lereng merupakan bidang luncur bagi air dimana aliran air akan semakin cepat jika kemiringan lerengnya tinggi. Selama mengalir air akan membawa apapun yang ada dipermukaan tanah sesuai dengan kekuatan aliran tersebut. Jika suatu lahan dalam kondisi terbuka (tidak terdapat vegetasi) maka aliran air permukaan akan semakin cepat yang tentunya akan mengerosi tanah yang dilaluinya.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Penggunaan Lahan dan Tindakan Konservasi</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan lahan merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap kondisi suatu lahan, dimana telah banyak terjadi alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya. Hal ini mengakibatkan dampak yang besar terhadap keberlanjutan lahan tersebut dan juga daerah-daerah yang ada disekitarnya yang merupakan satu kesatuan fungsi baik hidrologi maupun ekologis.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu tindakan konservasi terhadap lahan olahan juga memberikan kontribusi terhadap tingkat erosi yang pada akhirnya juga memberikan kontribusi terhadap tingkat kerusakan lahan. Lahan yang tidak dikelola dengan baik atau tidak dilakukan tindakan konservasi akan lebih rentan tererosi oleh air terutama pada daerah dengan kemiringan lereng yang tinggi. Adapun tindakan konservasi yang biasa dilakukan pada lahan-lahan pertanian antara lain sistem teras dan gulud. Dengan tindakan konservasi baik teras maupun gulud dapat mengurangi tinkat erosi air terhadap tanah, sehingga keberadaan topsoil tanah dapat dipetahankan dimana tingkat kesuburan tanah dapat terjaga.</p>
<p style="text-align:justify;">Membuat Peta Potensi Kerusakan Lahan (Bagian 2)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2013/11/13/membuat-peta-potensi-kerusakan-lahan-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/11/kerusakan-lahan21.png">
			<media:title type="html">kerusakan lahan2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekosistem Gambut (Bagian 2)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/20/ekosistem-gambut-2/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/20/ekosistem-gambut-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2012 17:26:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik gambut]]></category>
		<category><![CDATA[lahan]]></category>
		<category><![CDATA[lahan gambut]]></category>
		<category><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=2022</guid>

					<description><![CDATA[Hidrotopografi (Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Hidrotopografi mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah. Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat saluran drainase di kawasan kubah, &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/20/ekosistem-gambut-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration:underline;">Hidrotopografi</span></p>
<p style="text-align:justify;">(Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Hidrotopografi mencerminkan kaitan antara topografi gambut dengan permukaan air tanah. Pada kawasan gambut yang mempunyai kubah, semakin ke pusat kubah permukaan air tanah semakin dalam. Dengan demikian apabila dibuat saluran drainase di kawasan kubah, maka air cenderung akan keluar dari kawasan tersebut. Akibat selanjutannya adalah berkurang atau hilangnya kemampuan untuk menahan intrusi air laut.  Pada kawasan gambut yang tidak mempunyai kubah, air tanah selalu menggenang pada saat musim hujan atau saat fluktuasi air naik (contohnya kasus Rawa Lebak). Pada kawasan ini air tanah lebih sulit diatur kecuali dibuat penahan. Variasi kondisi ini diikuti juga oleh perbedaan kualitas air tanah dan kesuburan tanah gambut itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sedimen di Bawah Gambut</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman menunjukkan bahwa hampir semua lahan gambut yang bermasalah selalu berhubungan dengan meningkatnya kemasaman tanah pada lahan tersebut sebagai akibat dari teroksidasinya mineral pirit di bawah lapisan gambut.</p>
<p style="text-align:justify;">Tipe sedimen di bawah lapisan gambut sangat bervariasi karena gambut di Indonesia terbentuk di lingkungan yang sangat beragam. Secara garis besar gambut dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:</p>
<ol>
<li>Gambut pleistosen teras, yang terletak di atas sedimen kuarsa putih (seperti di Palangkaraya,</li>
<li>Berengbengkel Pangkalan Bun, Tanjung Putting) dan umumnya berkembang menjadi hutan Kerangas, atau di atas sedimen liat,</li>
<li>Gambut sistem sungai, yang terletak di atas sedimen liat dengan lingkungan pengendapan sungai (Rawa Lakbok, Rawa Pening), atau di atas sedimen kapur (Kolonodale Sulteng),</li>
<li>Gambut sistem pantai, yang terletak di atas sedimen sistem mangrove, laguna, beting pasir, pasir pantai, dan sebagainya.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Masing-masing sedimen di bawah gambut tersebut menunjukkan sifat yang sama sekali berbeda, oleh karena itu prinsip kebijakan pengelolaan lahan gambut harus sangat memperhatikan aspek ini.<span id="more-2022"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Flora dan Fauna</span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari hutan alam gambut dihasilkan tidak kurang dari 50 jenis pohon yang sudah teridentifikasi dan beberapa diantaranya mulai harus dilindungi karena hampir habis akibat penebangan untuk keperluan properti, furnitur, dan pasar ekspor. Di samping itu juga dihasilkan berbagai hasil hutan non-kayu seperti getah, rotan, madu, buah-buahan hutan, tanaman hias, bahan baku obat-obatan tradisional, bulu binatang buruan, serta tumbuhan bawah sebagai sumber pakan satwa liar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hutan gambut juga ditemukan berbagai fauna, seperti : amfiibi, reptil, sejumlah mamalia, dan aves, serta biota perairan, seperti plankton, dan benthos yang merupakan indikator pencemaran perairan.  Selain potensi yang sudah diketahui ini, masih ada potensi yang belum diketahui. Untuk mengoptimumkan kedua situasi ini maka perlu dilakukan perlindungan dan pemanfaatan kawasan yang unik biodiversitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Karakteristik Ruang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kawasan gambut mempunyai unit ruang yang dapat ditinjau dari berbagai sisi, misalnya dari air atau dinamika alami lainnya. Dengan mengenali batas-batas alami yang membatasi bekerjanya mekanisme proses ekologis yang berhubungan dengan daya dukung dan dinamika  kehidupan dalam ekosistem lahan gambut, maka dapat dibuat suatu batas wilayah, yang dalam hal ini disebut sebagai Unit Hidrologis Gambut. Dalam proses perencanaan pemanfaatan dan pengembangan lahan gambut, unit hidrologis gambut ini harus diperlakukan sebagai satu satuan pengelolaan yang tidak terpisahkan oleh batas administrasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut lokasi pembentukannya, gambut dapat terbentuk dalam (a) sistem rawa danau, (b) sistem rawa belakang tanggul sungai besar (backswamp) yang biasanya disebut sebagai sistem rawa lebak, dan (c) sistem rawa pantai.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem rawa danau dapat terbentuk sebagai bagian danau bekas krater volkan (volcanic crater), danau tapal kuda (oxbow lake), danau dalam sistem  Gambut (sinkhole, doline), danau sebagai bagian dari sistem struktural seperti lipatan (folding system).  Gambut dalam sistem rawa danau ini biasanya berada di dalam daratan (pulau atau kontinen), oleh karena itu sering disebut sebagai gambut pedalaman. Batas eko-fungsional gambut dalam sistem rawa danau ini adalah batas danau itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem  rawa lebak  merupakan  bagian dari sistem daerah aliran sungai (DAS), namun sub-ekosistem ini  sangat berbeda dengan sub-ekosistem lain dalam sistem DAS.  Oleh karena itu  dalam pengelolaannya juga spesifik.  Batas wilayah eko-fungsional sistem gambut di rawa lebak adalah tanggul sungai utama, anak-anak sungai di kanan-kirinya, dan daratan. Jika dibangun suatu sistem daerah sungai, maka batas daerah unit hidrologisnya harus terdapat di dalam sistem yang lebih besar dan tidak bertentangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sistem rawa pantai merupakan sistem yang berhubungan dengan batas daratan dan lautan.  Sistem rawa pantai ini terbentuk oleh karena kenaikan permukaan air laut (transgression). Oleh karena itu maka dasar (basement) dari lapisan gambut tersebut dapat merupakan beberapa unit geomorfologi seperti tanggul-alami (natural levee), dataran pelimpasan (crevasse splay-deposit plain), punggung pasir pantai (natural beach ridges), gumuk pasir (sand dunes),  sedimen mangrove (mangrove sediments) dan lainnya.  Batas dari sistem rawa pantai ini adalah lautan, dan daratan baik pada bagian kiri-kanan dan  hulunya.  Dalam sistem rawa pantai ini  terdapat sungai-sungai yang saling berhubungan satu dengan yang lain, sehingga di dalam sistem ini dimungkinkan ada pulau atau delta. Pulau atau delta ini senantiasa berbatasan dengan sungai-sungai, atau sungai dengan laut. Sebagian besar gambut di Indonesia adalah gambut dalam sistem rawa pantai, seperti gambut di pantai timur Sumatra, pantai barat dan selatan Kalimantan, dan di pantai selatan dan leher burung Papua.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua sistem rawa ini mempunyai potensi membentuk daerah kubah, dan keberadaan kubah tergantung proses pembentukan kawasan gambut tersebut. Dalam beberapa kasus semua sistem gambut seperti danau, rawa lebak, delta dan lain-lain  dimungkinkan terbentuknya kubah (dome) dengan sistem hidrologis yang khas. Dinamika sistem hidrologis dalam kubah gambut ini  sangat menentukan  dinamika kehidupan  yang didukungnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragamnya proses dan lingkungan pembentukan lahan gambut, menyebabkan kondisi masing-masing lahan gambut berbeda sehingga dibutuhkan manajemen yang spesifik dan berbeda dengan tempat lainnya. Uraian mengenai karakteristik gambut di atas menjadi pertimbangan bahwa lahan gambut harus dikembangkan secara utuh, atau dengan kata lain setiap unit hidrologis gambut ini harus diperlakukan sebagai satu satuan pengelolaan yang tidak terpenggal-penggal oleh batas administrasi, serta harus berdasarkan studi dan informasi yang lengkap mengenai karakteristiknya sehingga tidak menimbulkan kerusakan dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Jika dilakukan pembangunan di dalam suatu sistem daerah sungai, yang didalamnya ada kawasan gambut, maka batas daerah unit hidrologis daerah gambut tersebut harus dilihat di dalam sistem yang lebih besar. Dalam hal ini batas hidrologis DAS secara keseluruhan dan batas hidrologis gambut harus bersesuaian.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Fungsi Dan Manfaat Ekosistem Gambut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gambut mulai gencar dibicarakan orang sejak sepuluh tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari bahwa sumberdaya alam ini tidak hanya berfungsi sebagai pengatur hidrologi, sarana konservasi keanekaragaman hayati, tempat budi daya, dan sumber energi;  tetapi juga memiliki peran besar sebagai pengendali perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. Beberapa nilai tambah diringkas pada uraian berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Pengatur air</span></p>
<p style="text-align:justify;">Gambut memiliki porositas yang tinggi sehingga mempunyai daya menyerap air yang sangat besar. Apabila jenuh, gambut saprik, hemik dan fibrik dapat menampung air berturut-turut sebesar 450 persen, 450 – 850 persen dan lebih dari 850 persen dari bobot keringnya atau hingga 90 persen dari volumenya. Karena sifatnya itu, gambut memiliki kemampuan sebagai penambat (reservoir) air tawar yang cukup besar sehingga dapat menahan banjir saat musim hujan dan sebaliknya melepaskan air tersebut pada musim kemarau sehingga dapat mencegah intrusi air laut ke darat.  Selain itu, hal yang penting diketahui adalah dalam kubah gambut terdapat air yang ‘terjebak’ dalam ruang yang besar, yang berperan mengangkat kubah tanah gambut.</p>
<p style="text-align:justify;">Fungsi gambut sebagai pengatur hidrologi dapat terganggu apabila mengalami kondisi drainase yang berlebihan karena material ini memiliki sifat kering tak balik, porositas yang tinggi, dan daya hantar vertikal yang rendah. Gambut yang telah mengalami kekeringan sampai batas kering tak balik, akan memiliki bobot isi yang sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, strukturnya lepas-lepas seperti lembaran serasah, mudah terbakar, sulit menyerap air kembali, dan  sulit ditanami kembali.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Habitat Hayati</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai habitat unik bagi kehidupan beraneka macam flora dan fauna, bila lahan ini mengalami kerusakan, maka dunia akan kehilangan ratusan spesies flora dan fauna, karena kelompok tersebut tidak mampu tumbuh pada habitat lainnya.  Keanekaragaman hayati yang hidup di habitat lahan gambut merupakan sumber plasma nutfah yang (mungkin) dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat varietas atau jenis flora dan fauna komersial sehingga diperoleh komoditas yang tahan penyakit, berproduksi tinggi, atau sifat-sifat menguntungkan lainnya. Lahan gambut juga merupakan habitat ikan air tawar yang merupakan komoditas dengan nilai ekonomi yang tinggi dan penting untuk dikembangkan, seperti seperti gabus, toman, jelawat, tapah, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Bahan Baku Energi dan Bahan Baku lainnya</span></p>
<p style="text-align:justify;">Gambut dapat ditambang untuk keperluan energi maupun keperluan lain seperti media tanaman dan bahan industri. Untuk keperluan energi, gambut ini masih dipakai khususnya di daerah subtropis, sedangkan di daerah tropis jarang dilakukan. Penggunaan gambut sebagai sumber energi di tropis relatif tidak lestari karena proses pulihnya gambut sangat lama (dibandingkan dengan gambut di subtropis) dan kandungan energinya relatif rendah sehingga secara ekonomis tidak menguntungkan. Tetapi jika dimanfaatkan sebagai bahan baku non energi mungkin menguntungkan, seperti untuk bahan baku industri, dan hal tersebut tergantung oleh berbagai variabel ekonomi lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengingat pemanfaatan gambut terjadi seperti di Indonesia adalah usaha pemanfaatan sumberdaya alam tidak dapat pulih (non renewable resources) maka dalam usaha pemanfaatannya harus memperhatikan sifat-sifat sedimen di bawah gambut yang mungkin mempersulit usaha-usaha selanjutnya. Contohnya sedimen berpirit (tanah sulfat masam) dan pasir kuarsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambut jika akan dimanfaatkan sebagai bahan baku energi ataupun non energi maka selain harus mempertimbangkan aspek ekonomis, juga harus mempertimbangkan fungsi kawasan lain, fungsi hidrologi dalam satu unit hidrologi, pengendali iklim, fungsi kehati atau fungsi gambut lainnya. Fungsi kawasan lainnya sering tidak diperhatikan dalam kaitannya dengan peranannya akan baik jika lingkungan sekitarnya atau yang terkait tidak terganggu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sarana Budidaya</span></p>
<p style="text-align:justify;">Lahan gambut juga sangat berpotensi sebagai sarana budidaya pertanian atau perkebunan berkelanjutan, sepanjang tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi dan menggunakan teknologi yang tepat, serta pemilihan komoditas yang adaptif.  Awalnya di Indonesia pemanfaatan gambut diarahkan ke tanaman pangan terutama dalam mendukung pengembangan daerah transmigrasi. Tetapi saat ini orientasi penggunaan lahan gambut sudah beralih ke tanaman tahunan (perkebunan atau kehutanan), yang persyaratannya berbeda dengan tanaman pangan; dan lebih mudah. Secara ideal kombinasi berbagai komoditas, seperti: hutan, tanaman tahunan, tanaman setahun, ternak atau ikan yang sudah beradaptasi secara lokal, yang memungkinkan adanya sifat saling mendukung akan membuat kawasan gambut lebih lestari.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Pengatur Iklim Global</span></p>
<p style="text-align:justify;">Gambut menjadi isu penting dalam sepuluh tahun terakhir, ketika dunia mulai menyadari fungsi gambut sebagai pengendali perubahan iklim global karena kemampuannya dalam menyerap dan menyimpan cadangan karbon dunia. Gambut Indonesia menyimpan cadangan karbon sebesar 46 GT (atau 46&#215;109 ton), sehingga memiliki peran yang cukup besar sebagai penjaga iklim global.  Apabila gambut tersebut terbakar atau mengalami kerusakan, materi ini akan mengeluarkan gas terutama CO2, N2O, dan CH4 ke udara dan siap menjadi perubah iklim dunia.  Di lain pihak, walaupun lahan gambut dalam keadaan tidak terkeringkan atau terbakar, oleh beberapa peneliti, lahan gambut dicatat juga sebagai penyumbang emisi gas metan (CH4) ke udara. Besaran sumbangan emisi ini dalam kurun waktu tertentu secara keseluruhan belum diketahui, sehingga perlu diteliti.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Ekosistem Gambut (1)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/">Ekosistem Gambut (Bagian 1)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/20/ekosistem-gambut-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekosistem Gambut (Bagian 1)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2012 17:24:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[ekosistem]]></category>
		<category><![CDATA[Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[Hidrotopografi]]></category>
		<category><![CDATA[Karakteristik Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[lahan gambut]]></category>
		<category><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[tanah]]></category>
		<category><![CDATA[tanah gambut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=2014</guid>

					<description><![CDATA[Pengertian Ekosistem Gambut (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 centimeter disebut &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pengertian Ekosistem Gambut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Gambut adalah tanah yang mengandung bahan organik lebih dari 30 persen, sedangkan lahan gambut adalah lahan yang ketebalan gambutnya lebih dari 50 centimeter. Lahan yang ketebalan gambutnya kurang daripada 50 centimeter disebut lahan bergambut. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan-bahan organik seperti dedaunan, ranting serta semak belukar yang berlangsung dalam kecepatan yang lambat dan dalam keadaan anaerob.</p>
<p style="text-align:justify;">Lahan gambut dapat menempati cekungan, depresi, atau bagian-bagian terendah di pelembahan, dan penyebarannya di dataran rendah sampai dataran tinggi. Selain itu lahan gambut juga terbentuk di daerah rawa, yang umumnya merupakan posisi peralihan di antara ekosistem daratan dan ekosistem perairan. Sepanjang tahun atau dalam jangka waktu yang panjang dalam setahun, lahan ini selalu jenuh air (waterlogged) atau tergenang air.</p>
<p>Berdasarkan ketebalannya, gambut dibedakan menjadi 4 tipe:</p>
<ol>
<li>Gambut Dangkal, dengan ketebalan 0.5 &#8211; 1.0 m</li>
<li>Gambut Sedang, memiliki ketebalan 1.0 &#8211; 2.0 m</li>
<li>Gambut Dalam, dengan ketebalan 2.0 &#8211; 3.0 m</li>
<li>Gambut Sangat Dalam, yang memiliki ketebalan melebihi 3.0.</li>
</ol>
<p>Berdasarkan kematangannya, gambut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Fibrik, digolongkan demikian apabila bahan vegetatif aslinya masih dapat diidentifikasikan atau telah sedikit mengalami dekomposisi</li>
<li style="text-align:justify;">Hemik, disebut demikian apabila tingkat dekomposisinya sedang</li>
<li style="text-align:justify;">Saprik, merupakan penggolongan terakhir yang apabila telah mengalami tingkat dekomposisi lanjut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tanah Gambut secara umum memiliki kadar pH yang rendah,  kapasitas tukar kation yang tinggi, kejenuhan basa rendah, kandungan unsur K, Ca, Mg, P yang rendah dan juga memiliki kandungan unsur mikro (seperti Cu, Zn, Mn serta B) yang rendah pula.<span id="more-2014"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebaran Kawasan Gambut di Indonesia</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia, keberadaan lahan gambut paling banyak dijumpai pada lahan rawa dataran rendah di sepanjang pantai. Hamparan lahan gambut yang sangat luas, umumnya menempati depresi-depresi yang terdapat di antara aliran sungai–sungai besar di dekat muara yang gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. Pola penyebaran dataran dan kubah gambut adalah terbentang pada cekungan luas di antara sungai-sungai besar, dari dataran pantai ke arah hulu sungai.</p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia merupakan negara keempat dengan luas lahan rawa gambut terluas di dunia  (Euroconsult, 1984), yaitu sekitar 20 juta ha, setelah Kanada (170 juta ha), USSR (150 juta ha), dan Amerika Serikat (40 juta ha). Berdasarkan berbagai laporan, ternyata luas lahan gambut di Indonesia sangat bervariasi,  yaitu antara 13,5-26,5 juta ha (rata-rata 20 juta ha). Jika luas gambut Indonesia diperkirakan ada 20 juta ha, maka sekitar 50% gambut tropika dunia (yang luas totalnya sekitar 40 juta ha) berada di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Sumatera</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg"><img data-attachment-id="2016" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/tabel-gambut1/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg" data-orig-size="836,769" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel gambut1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-2016" title="tabel gambut1" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=584&#038;h=537" width="584" height="537" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=584&amp;h=537 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=150&amp;h=138 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=300&amp;h=276 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg?w=768&amp;h=706 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg 836w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Kalimantan</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="2017" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/tabel-gambut2/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg" data-orig-size="811,728" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel gambut2" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-2017" title="tabel gambut2" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=584&#038;h=524" width="584" height="524" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=584&amp;h=524 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=150&amp;h=135 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=300&amp;h=269 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg?w=768&amp;h=689 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg 811w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Tabel Luas dan Penyebaran Lahan Gambut Tahun 2002 di Pulau Papua</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="2018" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/tabel3/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg" data-orig-size="499,505" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel3" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg?w=296" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg?w=499" class="alignnone size-full wp-image-2018" title="tabel3" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg 499w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg?w=148&amp;h=150 148w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg?w=296&amp;h=300 296w" sizes="(max-width: 499px) 100vw, 499px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Karakteristik Ekosistem Gambut</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Karakteristik Fisik</span></p>
<p style="text-align:justify;">Karakteristik fisik yang penting meliputi sifat-sifat fisik gambut, yaitu kematangan, kerapatan isi dan ketebalan gambut, sifat hidrotopografi, sedimen di bawah gambut, sifat biologis yang mencakup flora, fauna, dan sifat kimia yang semuanya saling berinteraksi membentuk kesatuan lahan gambut yang unik dan mempunyai bentuk ruang yang spesifik.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambut tropika terbentuk dari sisa-sisa pepohonan, dan secara spesifik memiliki sifat-sifat yang berbeda dengan gambut suptropika yang terbentuk dari sedge dan lumut-lumutan sehingga menghasilkan gambut yang relatif homogen. Seperti gambut tropis lainnya, gambut di Indonesia dibentuk oleh akumulasi residu vegetasi hutan tropis yang kaya akan kandungan lignin dan selulosa (Andriesse, 1988). Karena lambatnya proses dekomposisi, di dalam tanah gambut sering dijumpai adanya timbunan batang, cabang dan akar tumbuhan besar yang terawetkan dan strukturnya relatif masih nampak jelas.</p>
<p style="text-align:justify;">Gambut di Indonesia ditemukan di pegunungan dan dataran rendah. Gambut di pegunungan relatif terbatas, sehingga jarang menjadi isu penting. Sedangkan gambut dataran rendah mempunyai ukuran relatif luas, dapat dibagi menjadi gambut ombrogen, yang terbentuk jauh dari pengaruh pasang surut air laut ataupun sungai sehingga memiliki kesuburan yang sangat rendah, dan gambut topogen yang masih memperoleh pengaruh pasang surut sehingga lebih subur.</p>
<p style="text-align:justify;">Kematangan tanah gambut yang menunjukkan tingkat dekomposisi gambut merupakan salah satu parameter penting dalam pendugaan daya dukung gambut. Demikian pentingnya informasi tersebut sehingga tingkat dekomposisi ini dijadikan dasar untuk penilaian subgroup dalam sistem taksonomi tanah. Berdasarkan tingkat dekomposisinya, gambut dibedakan menjadi gambut dengan tingkat kematangan fibrik, hemik dan saprik.  Gambut dengan tingkat kematangan fibrik adalah gambut dimana bahan organiknya masih belum terlalu terdekomposisi dan dicirikan dengan masih terlihatnya sifat-sifat dari jaringan tanaman.  Sebaliknya gambut dengan tingkat kematangan saprik adalah gambut dimana bahan organiknya telah terdekomposisi lanjut, sedangkan hemik adalah gambut dimana tingkat dekomposisi bahan organik antara keduanya. Tingkat dekomposisi gambut sangat berhubungan dengan kesuburannya, tanah yang mempunyai tingkat kematangan saprik lebih subur dari pada tanah dengan tingkat kematangan  fibrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diperhatikan bahwa parameter tingkat kematangan gambut tersebut hingga saat ini masih ditetapkan dengan metodologi yang tidak mencerminkan sifat gambut tropika yang sebenarnya. Parameter lainnya yang juga penting dalam pendugaan daya dukung gambut.adalah kerapatan isi tanah.  Kerapatan isi tanah merupakan besaran berat tanah kering (g) dibagi volume tanah utuh (cm3). Variasi nilai bobot isi ini sangat erat hubungannya dengan tingkat kematangan gambut.  Semakin matang gambut semakin besar nilai bobot isinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu diperhatikan bahwa seperti juga pada tingkat kematangan gambut,  hingga saat ini  parameter kerapatan isi masih ditetapkan dengan metodologi kurang sesuai untuk gambut tropika. Padahal nilai bobot isi ini diperlukan untuk semua perhitungan, seperti penentuan kandungan unsur-unsur seperti karbon, kandungan padatan dan keadaan porositas tanah. Ketebalan gambut yang dijumpai dalam keadaan alami sangat tergantung dengan umur pembentukan tanah gambut tersebut. Berdasarkan lokasi tempat terbentuknya gambut dapat dibagi kedalam: gambut pantai dan gambut pedalaman. Gambut pantai (coastal peat) umumnya mempunyai ketebalan lebih tipis dari pada gambut pedalaman yang terbentuk pada teras pleistosen. Berkaitan dengan kedua sifat sebelumnya, umumnya pada lapisan permukaan gambut cenderung lebih matang dan kerapatannya semakin tinggi. Ketiga sifat dasar ini sangat menentukan kesuburan dan daya dukung lingkungan gambut.</p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun pemanfaatan lahan rawa gambut secara besar-besaran oleh pemerintah telah dimulai sejak tahun 70-an, akan tetapi informasi ketebalan gambut yang akurat pada saat awal pembukaan lahan sangat sulit diperoleh.  Hal ini disebabkan oleh identifikasi tanah gambut pada waktu itu umumnya lebih ditujukan untuk mengklasifikasikannya ke dalam sistem Soil Taxonomy  yaitu identifikasi profil tanah hanya didasarkan pada kedalaman maksimum dua atau tiga meter.  Akibatnya ketebalan gambut umumnya hanya dinyatakan sebagai  &gt;2 meter atau  &gt;3 meter dan berapa nilai persisnya tidak diketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembukaan lahan gambut untuk berbagai keperluan sering dilakukan dengan membangun jaringan drainase.  Akibatnya akan terjadi penurunan permukaan gambut (subsidence) sebagai akibat dari kehilangan air dan meningkatnya proses dekomposisi bahan organik. Setelah gambut mengering, gambut tersebut akan sulit menjadi basah atau lembab kembali, karena sifatnya yang irreversible drying. Partikel-partikel gambut yang telah mengering sering disebut pseudosand yang mudah tererosi oleh angin maupun terbawa oleh aliran air dan  juga menjadi mudah terbakar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hidrotopografi</span></p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Ekosistem Gambut (Bagian 2)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/20/ekosistem-gambut-2/" target="_blank">Ekosostem Gambut (Bagian 2)</a></p>
<p>//</p>
<div id="__tbSetup"></div>
<p>//</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/11/13/ekosistem-gambut-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut1.jpg">
			<media:title type="html">tabel gambut1</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel-gambut2.jpg">
			<media:title type="html">tabel gambut2</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/11/tabel3.jpg">
			<media:title type="html">tabel3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 2)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-2/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 06:02:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[inceptisols]]></category>
		<category><![CDATA[jenis tanah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[peta ekplorasi tanah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1787</guid>

					<description><![CDATA[Sumber : http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/ Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia Inceptisols (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : <a href="http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/" target="_blank">http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/</a></p>
<p><a title="Peta Eksplorasi Tanah" href="https://erfan1977.wordpress.com/download-peta-gratis/peta-eksplorasi-tanah/" target="_blank">Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Inceptisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah mineral, atau tidak terdapat bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral. Pada satu atau lebih horison di antara kedalaman 20 dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral yang memiliki nilai-n sebesar 0,7 atau kurang dan mempunyai epipedon histik, molik, atau umbrik.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanah ini tergolong masih muda, sifat tanahnya sangat bervariasi bergantung bahan induknya, diantaranya: tekstur lebih halus dari pasir halus berlempung, sangat masam sampai netral, tergantung dari sifat bahan asal dan keadaan lingkungannya. Banyak data menunjukkan penampang tanahnya dangkal dan berbatu terutama di pegunungan atau perbukitan berlereng curam. Terdapat juga Inceptisols yang berbahaya untuk tanaman karena mengandung pirit atau aluminium yang tinggi. Pada tingkat subordo dijumpai Aquepts, Udepts, dan Ustepts yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sulfaquepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon histik atau pada lapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta mempunyai horison sulfurik yang batas atasnya didalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.<span id="more-1787"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Halaquepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon histik atau pada lapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta tidak terdapat bahan sulfidik. Tanah ini mempunyai satu horison atau lebih dengan ketebalan total 25 cm atau lebih di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral yang memiliki persentase natrium dapat-tukar (ESP) sebesar 15 persen atau lebih (atau SAR sebesar 13 atau lebih),dan terdapat penurunan nilai ESP (atau SAR) dibawah 50 cm seiring dengan bertambahnya kedalaman.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Endoaquepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kambik, padalapisan diantara kedalaman 40 cm dan 50 cm memiliki kondisi akuik selama sebagian waktu pada tahun-tahun normal (atau telah didrainase), dan matriks di bawah epipedon atau di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral berkroma 2 atau kurang serta tidak terdapat bahan sulfidik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Eutrudepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 60 persen atau lebih pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Dystrudepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar kurang dari 60 persen pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Dystrustepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih, tidak mengandung karbonat bebas di dalam 200 cm, memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar kurang dari 60 persen pada satu horison atau lebih di antara kedalaman 25 cm dan 75 cm dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban ustik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplustepts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah lain yang mempunyai horison kambik yang batas atasnya di dalam 100 cm dan batas bawahnya pada kedalaman 25 cm atau lebih dari permukaan tanah mineral, serta memiliki rejim kelembaban ustik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alfisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik. Tanah ini mengalami pelapukan lanjut, dan terjadi translokasi liat, pencucian basa-basa tidak intensif, dan mempunyai horison argilik yang umumnya beriklim kering (mempunyai bulan kering nyata). Kandungan basa-basa tertukar tinggi (KB &gt; 35%), miskin N,  P, dan K, reaksi tanah agak masam sampai netral, dan peka terhadap erosi. Penyebarannya terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Dua subordo Udalfs dan Ustalfs dijumpai diIndonesia yang diantaranya terbagi dalam grup berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapludalfs</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik yang berada di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan rejim kelembaban udik. Horison argiliknya mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum dan 50 persen atau lebih pada setengah bagian matriks bawahnya memiliki hue 10 YR atau lebih kuning.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplustalfs</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik yang berada di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan rejim kelembaban ustik. Horison argiliknya mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum dan pada 50 persen atau lebih matriks bagian bawahnya memiliki hue 7.5YR atau lebih kuning.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ultisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik atau kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm atau lebih di bawah batas atas horison argilik atau kandik. Tanah ini telah mengalami pelapukan lanjut dan terjadi translokasi liat pada bahan induk yang umumnya terdiri dari bahan kaya aluminium-silika dengan iklim basah. Sifat sifat utamanya mencerminkan kondisi telah mengalami pencucian intensif, diantaranya: miskin unsur hara N, P, dan K, sangat masam sampai masam, miskin bahan organik, lapisan bawah kaya aluminium (Al), dan peka terhadap erosi. Potensinya bervariasi dari rendah sampai sedang dan biasanya digunakan untuk tanaman keras. Penyebarannya terutama di dataran Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tingkat subordo dijumpai Humults, Udults, dan Ustults yang masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Plinthaquults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai kondisi aquik selama sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didrainase), pada satu horison atau lebih didalam 50 cm dari permukaan tanah mineral, dan mempunyai gejala redoksimorfik pada semua lapisan di antara kedalaman 25 cm dan 40 cm dari permukaan tanah mineral. Satu horison atau lebih didalam 150 cm dari permukaan tanah mineral, mengandung plintit baik yang berupa fase kontinyu atau menyusun setengah volumenya atau lebih.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Palehumults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 15 cm bagian atas horison argilik mengandung karbon organik sebesar 0,9 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang) atau lebih dan di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplohumults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 15 cm bagian atas horison kandik mengandung karbon organik sebesar 0,9 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang) atau lebih.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Plinthudults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison argilik. Tanah ini mengandung plintit baik yang berupa fase kontinyu atau menyusun setengah volumenya atau lebih didalam 150 cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kandiudults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm di bawah batas atas horison kandik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kanhapludults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum.Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Paleudults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison argilik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison argilik. Di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral tidak mempunyai penurunan liat sebesar 20 persen atau lebih (secara relatif) dari kandungan liat maksimum. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapludults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplustults</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison kandik dan memiliki kejenuhan basa sebesar kurang dari 35 persen pada kedalaman 125 cm dibawah batas atas horison kandik. Tanah ini memiliki rejim kelembaban tanah yang tergolong ustik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Spodosols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison spodik dan bahan albik pada 50 persen atau lebih dari setiap pedonnya. Horison spodiknya memiliki ketebalan 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan horison albik berada langsung diatasnya. Spodosol merupakan tanah yang telah berkembang lanjut, biasanya pada bahan induk pasir kuarsa, berdrainase tidak baik, struktur tanah lepas atau masif, sangat miskin unsur hara,dan peka terhadap erosi.Potensi tanah ini tergolong rendah dan tidak digunakan untuk usaha pertanian. Penyebarannya di daerah peralihan antara rawa gambut dan tanah darat terutama di Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Pada tingkat subordo dijumpai Aquods, Humods, dan Orthods yang masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplohumods</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai kelas besar butir berpasir dan horison spodik setebal 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih di bawah permukaan tanah mineral, dan terdapat horison albik langsung di atasnya. Horison spodiknya mengandung karbon organik sebesar 6,0 persen atau lebih.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplorthods</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai kelas besar butir berpasir dan horison spodik setebal 10 cm atau lebih dengan batas atas di dalam kurang dari 200 cm dan batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih di bawah permukaan tanah mineral, dan terdapat horison albik langsung di atasnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Oxisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas didalam150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut, atau mengandung liat sebesar 40 persen atau lebih (berdasarkan berat) dalam fraksi tanah halus dan horison kandik yang memiliki sifat-sifat mineral dapat-lapuk seperti horison oksik dan batas atasnya didalam 100 cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;">Oxisols merupakan tanah yang telah terlapuk sangat lanjut, penampang tanahnya dalam, bertekstur liat, porositasnya tergolong tinggi, daya menahan air kecil, dan didominasi mineral liat kaolinit, oksida besi dan aluminium. Tanah ini relatif resisten terhadap erosi, tergolong sangat miskin unsur hara dan cadangan mineral, kapasitas tukar kation rendah, dan retensi fosfat tinggi. Penyebarannya terutama di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua subordo yaitu : Udox dan Ustox telah dijumpai dan masing-masing menurunkan grup yang dapat diuraikan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Eutrudox</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut, atau tanah yang mengandung liat sebesar 40 persen atau lebih (berdasarkan berat) dalamfraksi tanah halus dan horison kandik yang memiliki sifat-sifat mineral dapat-lapuk seperti horison oksik dan batas atasnya di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 35 persen atau lebih pada seluruh horison di dalam 125 cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapludox</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai horison oksik dengan batas atas di dalam 150 cm dari permukaan tanah mineral dan tidak terdapat horison kandik yang memiliki batas atas di dalam kedalaman tersebut. Rejim kelembaban tanahnya tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 1)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-1/" target="_blank">Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 1)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 1)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-1/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 06:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[jenis tanah]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[peta ekplorasi tanah]]></category>
		<category><![CDATA[soil taxonomy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1783</guid>

					<description><![CDATA[Sumber : http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/ Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Peta tanah adalah alat pemberita visual tentang satuan tanah di suatu wilayah, baik mengenai penyebaran maupun sifat-sifatnya. Karena sifat tanah banyak, tidak mungkin seluruhnya dicantumkan dalam &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sumber : <a href="http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/" target="_blank">http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Peta Eksplorasi Tanah" href="https://erfan1977.wordpress.com/download-peta-gratis/peta-eksplorasi-tanah/" target="_blank">Download Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia</a></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Peta tanah adalah alat pemberita visual tentang satuan tanah di suatu wilayah, baik mengenai penyebaran maupun sifat-sifatnya. Karena sifat tanah banyak, tidak mungkin seluruhnya dicantumkan dalam peta, maka uraian tersebut di tuangkan dalam klasifikasinya yang dapat dikenali pada setiap satuan peta tanah (SPT). Informasi pada SPT sangat tergantung pada sekala peta dan intensitas pengamatan di lapangan, yang disesuaikan dengan tujuan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Klasifikasi tanah yang digunakan pada Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi mengikuti Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 1998). Sistem klasifikasi tanah ini mempunyai herarki yang berjenjang dalam 6 tingkat yaitu: tingkat ordo (order), subordo (suborder), grup (great group), subgrup (subgroup), famili (soil family), dan seri (soil series). Kategori rendah pada tingkat subgrup, famili, dan seri lebih sering digunakan pada pemetaan yang lebih detil. Berikut ini disajikan uraian singkat tentang sifat-sifat tanah Indonesia.</p>
<p><strong>Histosols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang kaya bahan organik, terdiri dari bahan saprik (matang), hemik (tengahan), atau fibrik (mentah), tergantung tingkat dekomposisinya. Tanah ini berkembang dari bahan tanah organik setebal  40 cm atau lebih, biasanya jenuh air selama 30 hari atau lebih dalam setahun pada tahun-tahun normal (kecuali telah didrainase). Berat jenis tanah dalam keadaan lembab tergolong rendah (0.1g/cm atau lebih). Tanah ini umumnya terdapat di daerah rawa dan lebih dikenal sebagai tanah gambut. Gambut yang tipis biasanya berupa gambut topogen dan bersifat subur (eutropik). Tanah gambut yang terlalu tebal biasanya berbentuk kubah (dome), bersifat masam, dan sangat miskin hara (terutama hara mikro). Apabila telah didrainase, tanah ini mengalami subsiden dan termineralisasi secara cepat. Apabila drainase berlebihan, tanah menjadi kering tak balik, mudah terbakar,dan pekaerosi.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia sebagian besar Histosols terdapat di pantai timur Sumatera, pantai selatan Kalimantan, dan pantai selatan Papua yang mempunyai ketebalan dan tingkat dekomposisi bervariasi. Tanah dengan tingkat dekomposisi tinggi dan kaya bahan mineral kualitas dan potensinya baik. Tidak demikian pada gambut yang tebal, mengadung pirit atau substratumnya berupa pasir kuarsa. Berdasarkan tingkat dekomposisinya, Histosols dibedakan menjadi Fibrists, Hemists, dan Saprists yang menurunkan grup berikut.<span id="more-1783"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplofibrists</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah berkembang dari bahan tanah organikyang tergolong fibrik dengan ketebalan bervariasi. Bahan tanah fibrik umumnya lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain. Tanah ini umumnya bersifat masam, miskin unsur hara, dan kapasitas melalukan air tergolong besar. Biasanya berpotensi rendah karena kandungan bahan mineral dan tingkat dekomposisinya rendah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sulfihemists</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah berkembang dari bahan tanah organik yang tergolong hemik dengan ketebalan dan berat jenis bervariasi. Bahan tanah hemik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan memiliki bahan sulfidik yang mengandung pirit didalam 100cm dari permukaan tanah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplohemists</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah berkembang dari bahan tanah organik setebal 40 cm atau lebih yang tergolong hemik dengan berat jenis, lembab, sebesar lebih dari 0.1g/cm. Bahan tanah hemik lebih tebal  dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan batas atas bahan tanah organik bagian bawah di dalam tier bawah.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplosaprists</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah berkembang dari bahan tanah organik setebal 40 cm atau lebih yang tergolong saprik dengan berat jenis, lembab, sebesar lebih dari 0.1g/cm. Bahan tanah saprik lebih tebal dibandingkan dengan bahan tanah organik yang lain dan batas atas bahan tanah organik bagian tier bawah di dalam tier bawah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Entisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang tidak memepunyai horison kambik, argilik, kandik, atau natrik di dalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral, tidak memiliki bidangkilir atau ped berbentuk baji, atau rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik pada kedalaman tersebut. Entisols tergolong tanah yang masih sangat muda,terdapat di dataran aluvial, pantai, lereng volkan aktif misalnya: gunung berapi dan lereng curam yang mengalami erosi berat, dapat beriklim basah atau kering. Bahan tanah yang relatif tua dan bersifat resisten terhadap pelapukan juga tergolong dalam Entisols, diantaranya pasir kuarsa dan mineral lain yang resisten. Sifat tanah ini sangat bervariasi, demikian juga dengan kesuburan, kesesuaian dan potensinya yang tergantung dari bahan induk, topografi, lingkungan, dan tingkat erosinya. Pada tingkat subordo, dijumpai Aquents, Fluvents, Orthents, dan Psamments, yang diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Sulfaquents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison dibawah kedalaman 25 cm,dan memiliki bahan sulfidik di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hydraquents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison dibawah kedalaman 25 cm. Pada seluruh horison diantara kedalaman 20 cm dan 50 cm di bawah permukaan tanah mineral tergolong belum matang, memiliki nilai-n lebih besar dari 0,7, dan mengandung liat sebesar 8 persen atau lebih pada fraksi tanah-halusnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Fluvaquents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison di bawah kedalaman 25 cm,dan memiliki penurunan kandungan karbon organik secara tidak teratur dari kedalaman 25 cm sampai 125 cm.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Endoaquents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang tidak mempunyai horison kambik, argilik, kandik, atau fragipan di dalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral, dan tidak memiliki sifat vertik. Tanah ini mempunyai kondisi akuik, selalu jenuh air, matriksnya tereduksi pada semua horison di bawah kedalaman 25 cm, dan memiliki bahan sulfidik di lapisan bagian bawah permukaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Udifluvents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang tergolong belum berkembang dan mem punyai lereng kurang dari 25 persen, rejim suhu tanah isohipertermik, rejim kelembaban udik, dan memiliki penurunan kandungan karbon organik secara tidak teratur mulai dari kedalaman 25 cm sampai kedalaman 125 cm.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Ustorthents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah dengan rejim kelembaban ustik yang tidak mempunyai sifat vertik dan horison kambik, argilik, kandik, atau fragi pan didalam kedalaman 100 cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Udorthents</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah dengan rejim kelembaban udik yang tidak mempunyai sifat vertik dan horison kambik, argilik, kandik, atau fragi pan didalam kedalaman 100cm dari permukaan tanah mineral.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Quartzipsamments</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang, pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya mempunyai fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen (berdasarkan volume), dengan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar, dan pada fraksi 0,02 sampai 2,0 mm mengandung mineral resisten sebesar lebih dari 90 persen (berdasarkan rata-rata tertimbang).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Ustipsamments</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang dan mempunyai rejim kelembaban ustik, pada seluruh lapisan didalam penampang kontrol kelas besar butirnya memiliki fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen  (berdasar kanvolume), dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Udipsamments</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang belum berkembang dan mempunyai rejim kelembaban udik, pada seluruh lapisan di dalam penampang kontrol kelas besar butirnya memiliki fragmen batuan sebesar kurang dari 35 persen  (berdasarkan volume), dan tekstur pasir halus berlempung atau lebih kasar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mollisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon molik dan kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison baik di antara batas atas horison argilik atau kandik dan kedalaman 125 cm di bawah batas atas tersebut. Tanah tergolong cukup berkembang, berwama coklat tua sampai hitam, miskin unsur hara P dan K, kaya bahan organik , dan basa-basa tertukar tergolong tinggi. Di bagian timur Indonesia, tanah ini umumnya dangkal, berkembang dari batu gamping dan permukaannya kasar dan berbatu-batu, serta mudah mengalami kekeringan. Daerah ini banyak digunakan untuk padang rumput. Hanya di daerah volkan tanahnya berpenampang dalam dan kesuburannya lebih baik. Penyebarannya terutama di daerah beriklim kering (ustik), yaitu: di Jawa Timur, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku Selatan. Terdapat tiga subordo, yaitu Rendolls, Udolls, dan Ustolls yang masing-masing menurunkan grup sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haprendolls</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon molik setebal kurang dari 50 cm, pada bahan tanah mineral berdiameter kurang dari 7,5 cm baik didalam maupun langsung dibawah epipedon molik mengandung CaCO setara dengan 40 persen atau lebih,dan rejim kelembaban tanahnya tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Argiudolls</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon molik, horison argilik, dan rejim kelembaban tanah tergolong udik. Pada keseluruhan horison di antara batas atas horison argilik dan kedalaman 125 cm dari batas atas horison tersebut memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapludolls</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon molik, kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison di dalam 125 cm,dan memililki rejim kelembaban tanah tergolong udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Argiustolls</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempuny aiepipedon molik dan horison argilik pada rejim kelembaban tanahnya tergolong ustik. Pada keseluruhan  horison diantara batas atas horison argililk dan kedalaman 125 cm dari batas atas horison tersebut memiliki kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplustolls</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai epipedon molik, kejenuhan basa (dengan NHOAc) sebesar 50 persen atau lebih pada keseluruhan horison didalam 125 cm,dan rejim kelembaban tanahnya tergolong ustik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Vertisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidangkilir atau ped berbentuk baji, rata-rata tertimbang kandungan liat sebesar 30 persen atau lebih, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Biasanya tanah berwarna hitam, miskin bahan organik, dan dominan mineral liat golongan smektit yang berkembang dari bahan induk relatif kaya basa-basa dan agak sulit melalukan air. Meskipun tanah ini kaya basa-basa, tetapi miskin nitrogen dan fosfat. Apabila cukup tersedia air, potensinya sangat baik untuk persawahan, walaupun berat pengolahannya di musim kemarau. Penyebaran Vertisols terutama di daerah beriklim kering dengan bentuk wilayah datar sampai bergelombang, seperti di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Pada tingkat subordo dijumpai Aquerts, Uderts, dan Usterts yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Endoaquerts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik. Di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral terdapat satu horison atau lebih yang mempunyai kondisi akuik pada sebagian waktu dalam tahun-tahun normal (atau telah didrainase) dan matriknya berkroma 1 atau kurang.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapluderts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka dan tertutup secara periodik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplusterts</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai suatu lapisan setebal 25 cm atau lebih dengan batas atas di dalam 100 cm dari permukaan tanah mineral, memiliki bidang kilir atau ped berbentuk baji, dan rekahan-rekahan yang terbuka selebar 5 mm atau lebih mencapai ketebalan 25 cm atau lebih, di dalam 50 cm dari permukaan tanah mineral, selama 90 hari kumulatif atau lebih setiap tahunnya pada tahun-tahun normal.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Andisols</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih dari tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral. Bahan induknya berupa abu/tuf volkan yang kaya gelas volkan. Sifat-sifatnya antara lain adalah: berat isi ringan, kaya bahan organik, kaya gelas volkan, mengandung mineral amorf (alofan), retensi fosfat tergolong tinggi, dan mempunyai sifat tak balik terhadap kekeringan. Dalam keadaan alami daya menahan airnya tinggi sekali dan resisten terhadap erosi, tetapi bila terganggu/kering, daya menahan airnya merosot dan tanah terhadap erosi air/angin. Secara kimia, tanah tergolong subur, sifat fisiknya cukup baik, potensi tinggi, terutama didaerah datar,  sedangkan didaerah berlereng curam terancam erosi. Penyebaran tanah ini cukup luas di daerah volkan baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif, seperti halnya di Sumatera, Jawa, NusaTenggara, Sulawesi, dan Maluku. Pada tingkat subordo dijumpai Aquands, Udands, Ustands, dan Vitrands yang masing-masing menurunkan grup yang diuraikan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hydrudands</span></p>
<p style="text-align:justify;">Udands lain yang mempunyai retensi air pada 1.500 kPa sebesar 100 persen atau lebih pada contoh tanah tidak kering-udara, pada satu lapisan atau lebih dengan ketebalan total 35 cm di antara permukaan tanah mineral dan kedalaman  100 cm dari permukaan tanah mineral atau batas atas lapisan tanah organik dengan sifat-sifat tanah andik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Hapludands</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban udik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Haplustands</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban ustik.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Ustivitrands</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban ustik. Pada keseluruhan 60 persen ketebalannya atau lebih memiliki retensi air pada 1.500 kPa kurang dari 15 persen untuk contoh kering-udara dan kurang dari 30 persen untuk contoh tidak kering-udara.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Udivitrands</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanah yang  mempunyai sifat tanah andik pada 60 persen atau lebih pada bagian tanah setebal 60 cm dari permukaan tanah mineral dan memiliki rejim kelembaban udik. Pada keseluruhan 60 persen ketebalannya atau lebih memiliki retensi air pada 1.500 kPa kurang dari 15 persen untuk contoh kering-udara dan kurang dari 30 persen untuk contoh tidak kering-udara.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 2)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-2/" target="_blank">Peta Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia (bagian 2)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/14/peta-sumberdaya-tanah-eksplorasi-indonesia-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menampilkan Peta Pada Halaman Google Earth</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/13/menampilkan-peta-pada-halaman-google-earth/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/13/menampilkan-peta-pada-halaman-google-earth/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Apr 2012 12:29:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[peta jalan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[Global Mapper]]></category>
		<category><![CDATA[google earth]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[peta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1776</guid>

					<description><![CDATA[(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Bagi anda terutama pengguna Google Earth pemula yang masih belum tahu bagaimana cara menampilkan peta (shp atau Map) tersebut agar dapat tampil pada Google Earth. Sebenarnya cara untuk menampilkan peta pada halaman Google Earth mudah &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/13/menampilkan-peta-pada-halaman-google-earth/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Bagi anda terutama pengguna Google Earth pemula yang masih belum tahu bagaimana cara menampilkan peta (shp atau Map) tersebut agar dapat tampil pada Google Earth. Sebenarnya cara untuk menampilkan peta pada halaman Google Earth mudah tetapi bagi anda pemula tentunya masih merasa bingung, sehingga tidak ada salahnya artikel ini saya sajikan semoga bermanfaat bagi anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa cara untuk dapat mengkonversi file dalam bentuk shp maupun map agar dapat di tampilkan pada halaman Google Earth. Pada kesempatan ini saya akan menggunakan fasilitas pada program Global Mapper untuk mengkonversi file dalam bentuk shp menjadi file dalam bentuk KML atau KMZ yang dapat ditampilkan pada halaman Google Earth.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:<span id="more-1776"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pertama tentunya program Global Mapper sudah ada dalam perangkat komputer anda. Buka program Global Mapper tersebut kemudian buka file peta (shp) yang ingin ditampilkan pada halaman Google Earth. Klik pada “Open on Your Own Data Files” dan pilih file peta yang anda inginkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1768" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image1/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg" data-orig-size="817,731" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1768" title="image1" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=350&#038;h=313" width="350" height="313" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=350&amp;h=313 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=700&amp;h=626 700w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=150&amp;h=134 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg?w=300&amp;h=268 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian pastikan jika sistem koordinat peta anda anda sudah benar dengan mengisikan sistem proyeksi pada “Projection” dengan sistem “UTM” atau “Geographic (latitude/longitude)”. Kemudian isi “Zone” sesuai dengan zona peta anda, disini saya menggunakan peta jalan Kabupaten Wonosobo Jateng dengan menggunakan proyeksi UTM dan berada pada zona – 49 southern Hemisphere, karena kabupaten wonosobo dengan sistem proyeksi UTM berada pada zona – 49 southern Hemisphere. Kemudian pilihlah “Datum” dengan WGS84 yang biasa digunakan untuk wilayah Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1769" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image2/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg" data-orig-size="787,697" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image2" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1769" title="image2" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=350&#038;h=310" width="350" height="310" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=350&amp;h=310 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=700&amp;h=620 700w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=150&amp;h=133 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg?w=300&amp;h=266 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah peta tampil pada halaman Global Mapper, kemudian pilih “File” pilih “Export Vector Data” pilih “Export KML/KMZ”. Setelah itu akan muncul “KML/KMZ Export Options” anda tidak perlu mengubah setting yang sudah ada kemudian klik “OK” kemudian beri nama dan simpan file tersebut. Dengan demikian maka file yang baru anda simpan tersebut telah berubah ekstensinya menjadi KML/KMZ.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1770" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image3/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg" data-orig-size="1165,765" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image3" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1770" title="image3" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=350&#038;h=230" width="350" height="230" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=350&amp;h=230 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=700&amp;h=460 700w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=150&amp;h=98 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg?w=300&amp;h=197 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1772" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image4/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg" data-orig-size="923,737" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image4" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1772" title="image4" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=350&#038;h=280" width="350" height="280" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=350&amp;h=280 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=700&amp;h=560 700w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=150&amp;h=120 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg?w=300&amp;h=240 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya anda dapat membuka Google Earth dan pastikan setting sistem koordinat Google Earth tersebut sudah UTM. Jika belum maka anda dapat merubah setting sistem koordinat pada “Tool” kemudian klik “Options” pilih “3D View” kemudian pilih “Universal Transverse Mercator” kemudian klik “OK”</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1771" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image7/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg" data-orig-size="1360,768" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image7" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1771" title="image7" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=350&#038;h=197" width="350" height="197" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=350&amp;h=197 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=698&amp;h=394 698w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=150&amp;h=85 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg?w=300&amp;h=169 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah sistem koordinat pada Google Earth sudah sama sistem koordinat peta maka buka file peta anda dengan cara pilih “File” kemudian klik “Open” dan pilih file KML/KMZ yang telah simpan di atas. Lihatlah peta anda sudah dapat ditampilkan pada halaman Google Earth. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1773" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image6/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg" data-orig-size="1360,768" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image6" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1773" title="image6" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=350&#038;h=197" width="350" height="197" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=350&amp;h=197 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=698&amp;h=394 698w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=150&amp;h=85 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg?w=300&amp;h=169 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1774" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/image8/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg" data-orig-size="1360,768" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="image8" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=584" class="alignnone  wp-image-1774" title="image8" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=350&#038;h=197" width="350" height="197" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=350&amp;h=197 350w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=698&amp;h=394 698w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=150&amp;h=85 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg?w=300&amp;h=169 300w" sizes="(max-width: 350px) 100vw, 350px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/13/menampilkan-peta-pada-halaman-google-earth/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image1.jpg">
			<media:title type="html">image1</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image2.jpg">
			<media:title type="html">image2</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image3.jpg">
			<media:title type="html">image3</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image4.jpg">
			<media:title type="html">image4</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image7.jpg">
			<media:title type="html">image7</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image6.jpg">
			<media:title type="html">image6</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/image8.jpg">
			<media:title type="html">image8</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tanggapan Kejadian Gempabumi Tanggal 11 April 2012 di sebelah barat Pulau Sumatra</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/12/tanggapan-kejadian-gempabumi-tanggal-11-april-2012-di-sebelah-barat-pulau-sumatra/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/12/tanggapan-kejadian-gempabumi-tanggal-11-april-2012-di-sebelah-barat-pulau-sumatra/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 05:44:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Gempabumi]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[sumatra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1758</guid>

					<description><![CDATA[Sumber : http://pvmbg.bgl.esdm.go.id, 11 April 2012 21:30 (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Laporan tanggapan terjadinya gempabumi di sebelah barat P. Simeulue, NAD. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG, Jakarta,  USGS, Amerika Serikat, dan GFZ, Jerman, sebagai berikut: Gempabumi terjadi pada &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/12/tanggapan-kejadian-gempabumi-tanggal-11-april-2012-di-sebelah-barat-pulau-sumatra/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sumber : <a href="http://pvmbg.bgl.esdm.go.id" target="_blank">http://pvmbg.bgl.esdm.go.id</a>, 11 April 2012 21:30</p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Laporan tanggapan terjadinya gempabumi di sebelah barat P. Simeulue, NAD. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG, Jakarta,  USGS, Amerika Serikat, dan GFZ, Jerman, sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Gempabumi terjadi pada hari Rabu, tanggal 11 April 2012, pukul 15:38:29 WIB </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan informasi dari BMKG, pusat gempabumi berada pada koordinat 2,40°LU dan 92,99°BT, dengan magnitude 8,5 SR pada kedalaman 10 km, berada 320 km di sebelah barat P. Simeulue. Sedangkan menurut USGS, pusat gempabumi  berada pada koordinat 2,35°LU dan 93,07°BT, pada kedalaman 33 km dan magnitudo 8.6 Mw. Menurut GFZ, pusat gempabumi  berada pada koordinat 2.25°LU dan 93,14  °BT, pada kedalaman 10 km dan magnitudo 8.5 Mw. Gempabumi utama tersebut diikuti oleh gempabumi susulan</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="101">Jam</td>
<td valign="top" width="100">Lon (<sup>o</sup>BT)</td>
<td valign="top" width="99">Lat (<sup>o</sup>LU)</td>
<td valign="top" width="99">H (km)</td>
<td valign="top" width="99">Mag.</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:00:22</td>
<td valign="top" width="100">91.49</td>
<td valign="top" width="99">1.33</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">6.2</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:27:57</td>
<td valign="top" width="100">91.75</td>
<td valign="top" width="99">1.23</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.9</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:28:02</td>
<td valign="top" width="100">91.72</td>
<td valign="top" width="99">1.21</td>
<td valign="top" width="99">42</td>
<td valign="top" width="99">6.5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:48:03</td>
<td valign="top" width="100">90.66</td>
<td valign="top" width="99">0.98</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">6.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:48:25</td>
<td valign="top" width="100">92.37</td>
<td valign="top" width="99">1.17</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">16:52:23</td>
<td valign="top" width="100">94.90</td>
<td valign="top" width="99">2.71</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.3</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:01:20</td>
<td valign="top" width="100">90.32</td>
<td valign="top" width="99">2.59</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.4</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:08:29</td>
<td valign="top" width="100">90.07</td>
<td valign="top" width="99">2.62</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.2</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:09:51</td>
<td valign="top" width="100">91.67</td>
<td valign="top" width="99">2.64</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">6.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:10:05</td>
<td valign="top" width="100">92.69</td>
<td valign="top" width="99">2.63</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:21:16</td>
<td valign="top" width="100">92.37</td>
<td valign="top" width="99">2.73</td>
<td valign="top" width="99">10</td>
<td valign="top" width="99">5.5</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="101">17:21:27</td>
<td valign="top" width="100">93.10</td>
<td valign="top" width="99">2.94</td>
<td valign="top" width="99">23</td>
<td valign="top" width="99">5.7</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;">Setelah gempa bumi utama dan serangkaian gempabumi susulan, terjadi gempa bumi besar pada pukul 17:43.01, berlokasi 190 km di sebelah selatan pusat gempabumi pertama. Menurut BMKG gempabumi ini berpusat pada koordinat  0,78°LU dan 92,15°BT, dengan magnitude 8,8 SR pada kedalaman 10 km, berada 483 km di sebelah baratdaya P. Simeulue. Sedangkan menurut USGS, pusat gempabumi berada pada koordinat 0,77°LU dan 92,45°BT, pada kedalaman 16,4 km dan magnitudo 8.2 Mw. Menurut GFZ, pusat gempabumi  berada pada koordinat 0.76°LU dan 92,43  °BT, pada kedalaman 10 km dan magnitudo 8.5 Mw.<span id="more-1758"></span></p>
<p align="left"><strong>Kondisi geologi daerah terkena gempabumi:</strong></p>
<p>Pantai barat Sumatera Utara dan Aceh pada umumnya disusun oleh batuan muda berupa aluvium yang diselang-seling oleh pantai terjal yang disusun oleh batuan sedimen berumur Tersier dan pra-Tersier.</p>
<p align="left"><strong>Dampak gempabumi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gempa bumi pertama menimbulkan kepanikan masyarakat di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru dan Padang. Gempabumi terasa di PPGA Bur ni Telong (V MMI), Tandikat, Marapi, Talang (III MMI), Sorik Marapi (IV MMI) dan Peut Sagoe (VI MMI).</p>
<p style="text-align:justify;">Gempabumi kedua menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut di Sabang (106 cm), Meulaboh (60 cm), Sabang (31 cm), Telukdalam-Nias (15 cm).</p>
<p align="left"><strong>Penyebab gempabumi:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pusat gempabumi ini berada di sebelah barat Zona Subduksi Sunda, pada daerah <em>outer rise</em>. Baik gempabumi pertama maupun gempabumi kedua memiliki mekanisme sesar mendatar dengan arah pergerakan utara-selatan. Karena mekanisme sumber gempabumi adalah sesar mendatar, maka potensi terjadinya tsunami tidak besar. Gempabumi pertama tidak memicu terjadinya tsunami, sedangkan gempabumi kedua menyebabkan kenaikan muka air laut di Meulaboh (106 cm), Sabang (60 cm), Telukdalam-Nias (15 cm).</p>
<p align="left"><strong>Rekomendasi:</strong></p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempabumi dan tsunami.</li>
<li style="text-align:justify;">Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa susulan, yang diharapkan berkekuatan lebih kecil.</li>
<li style="text-align:justify;">Tim Tanggap Darurat Gempabumi dan Tsunami akan segera diberangkatkan ke lokasi terdampak.</li>
</ul>
<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1760" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/12/tanggapan-kejadian-gempabumi-tanggal-11-april-2012-di-sebelah-barat-pulau-sumatra/gb_aceh_11042012/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg" data-orig-size="898,454" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="gb_aceh_11042012" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1760" title="gb_aceh_11042012" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=584&#038;h=295" width="584" height="295" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=584&amp;h=295 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=150&amp;h=76 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=300&amp;h=152 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg?w=768&amp;h=388 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg 898w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/12/tanggapan-kejadian-gempabumi-tanggal-11-april-2012-di-sebelah-barat-pulau-sumatra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gb_aceh_11042012.jpg">
			<media:title type="html">gb_aceh_11042012</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gempa Terbaru 11 april 2012</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 09:03:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[info gempa bumi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1740</guid>

					<description><![CDATA[Telah terjadi Gempa susulan dengan skala 8,1 jam 17.43 WIB pada kedalaman 29 km (sumber : BMKG) BNPB: Gempa Sesar Geser, Potensi Tsunami Tak Terlalu Besar sumber : Gagah Wijoseno &#8211; detikNews Rabu, 11/04/2012 16:57 WIB Jakarta Badan Nasional Penanggulangan &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1755" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/gempa-tgl-10-april-2012-b/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg" data-orig-size="973,647" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="gempa tgl 10 april 2012 b" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1755" title="gempa tgl 10 april 2012 b" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=584&#038;h=388" alt="" width="584" height="388" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=584&amp;h=388 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=150&amp;h=100 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=300&amp;h=199 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg?w=768&amp;h=511 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg 973w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p><strong>Telah terjadi Gempa susulan dengan skala 8,1 jam 17.43 WIB pada kedalaman 29 km </strong>(sumber : BMKG)<strong><br />
</strong></p>
<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1756" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/gempa-tgl-10-april-2012-c/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg" data-orig-size="975,643" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="gempa tgl 10 april 2012 c" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1756" title="gempa tgl 10 april 2012 c" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=584&#038;h=385" alt="" width="584" height="385" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=584&amp;h=385 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=150&amp;h=99 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=300&amp;h=198 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg?w=768&amp;h=506 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg 975w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>BNPB: Gempa Sesar Geser, Potensi Tsunami Tak Terlalu Besar</strong><br />
sumber : Gagah Wijoseno &#8211; detikNews<br />
Rabu, 11/04/2012 16:57 WIB</p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut gempa yang terjadi di Aceh diperkirakan tidak mengakibatkan tsunami yang besar. Penyebabnya, gempa yang terjadi sesar geser dan bukan sesar naik.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Analisis awal mekanisme gempa tadi yaitu sesar geser dan bukan sesar naik (bukan mega thrust) sehingga potensi tsunami tidak terlalu besar. Lokasinya yaitu di bagian luar dari daerah pertemuan lempeng (outer rise earthquake) jarak dari gempa 10 januari 2012 yaitu kurang dari 30 Km,&#8221; jelas juru bicara BNPB Sutopo dalam pernyataannya, Rabu (11/4/2012).</p>
<p style="text-align:justify;">Sutopo menjelaskan, intensitas gempa sekitar VII (sangat kuat) MMI di sebelah pantai barat Aceh, Sumatera Utara. Sedangkan di Pantai Barat, Sumbar intesitas VI (kuat). &#8220;Travel warning tsunami di sepanjang pantai barat Aceh dan Sumut sekitar 1 jam. Barat Sumbar 1-1,5 jam, barat Bengkulu dan Lampung sekitar 2-2,5 jam,&#8221; terang Sutopo.</p>
<p style="text-align:justify;">Sutopo mengimbau agar masyarakat tetap waspada. &#8220;Berdasarkan data pasang surut di Simeulue dan sekitar tidak ada perubahan, masih normal. Posko BNPB terus melakukan pemantauan dan kontak dengan daerah,&#8221; jelas Sutopo.</p>
<p><strong>Untuk mengetahui jauh tentang sesar geser dapat di lihat <a href="http://ptbudie.wordpress.com/2010/12/24/sesar-fault/#more-294" target="_blank">http://ptbudie.wordpress.com/2010/12/24/sesar-fault/#more-294</a></strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/04/11/gempa-terbaru-tgl-10-april-2012/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-b.jpg">
			<media:title type="html">gempa tgl 10 april 2012 b</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/gempa-tgl-10-april-2012-c.jpg">
			<media:title type="html">gempa tgl 10 april 2012 c</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian II)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-ii/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-ii/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 15:29:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[Metode]]></category>
		<category><![CDATA[Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[NSASD]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyusunan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1567</guid>

					<description><![CDATA[Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya Hutan (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Pengolahan data potensi tegakan hutan untuk mendapatkan hubungan antara peubah langsung di potret udara (kerapatan tajuk, diameter tajuk, dan tinggi pohon) terhadap peubah tak langsung (volume tegakan) menggunakan &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-ii/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya Hutan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Pengolahan data potensi tegakan hutan untuk mendapatkan hubungan antara peubah langsung di potret udara (kerapatan tajuk, diameter tajuk, dan tinggi pohon) terhadap peubah tak langsung (volume tegakan) menggunakan <em>software </em>lotus, Minitab dan lain sebagainya untuk memperoleh suatu persamaan regresi. Peta-peta tersebut diatas, diplot pada peta dasar sehingga menghasilkan peta Aktiva dan peta Pasiva. Peta Aktiva dan Peta Pasiva kemudian di<em>overlay</em>kan untuk menghasilkan Peta Neraca Sumberdaya Hutan. Peta Aktiva dan peta Pasiva yang dibuat secara manual kemudian didigitasi. Luas masing &#8211; masing berdasarkan fungsi hutan dan tipe hutan diperoleh dari hasil perhitungan peta digitasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Metode pengisian tabel</span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada pengisian tabel-tabel pada penyusunan neraca sumber daya hutan spasial, perubahan yang dicatat adalah perubahan data luas dan potensi sumber daya hutan yang mencakup:<span id="more-1567"></span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Perubahan sebagai akibat perubahan luas kawasan hutan:</span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Perubahan luas kawasan hutan sebagai akibat <em>penambaha</em>n luas kawasan hutan, yang terdiri dari, penunjukkan kawasan hutan, penetapan lahan pengganti, perubahan fungsi kawasan hutan;</li>
<li style="text-align:justify;">Perubahan luas kawasan hutan sebagai akibat <em>penguranga</em>n luas kawasan hutan yang terdiri dari, pelepasan kawasan hutan, tukar menukar kawasan hutan, perubahan fungsi kawasan hutan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Perubahan sebagai akibat dari perubahan penutupan vegetasi yang tidak harus mempengaruhi perubahan luas kawasan hutan:</span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Perubahan sebagai akibat penambahan pentupan vegetasi, yang meliputi, reboisasi, Hutan Tanaman Industri (HTI), Tebang Habis Permudaan Alam (THPA)/Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)/Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ);</li>
<li style="text-align:justify;">Perubahan sebagai akibat pengurangan penutupan vegetasi, yang meliputi, kebakaran hutan, perambahan hutan atau penebangan liar, THPA/THPB, TPTI/TPTJ, bencana alam.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Inventarisasi Potensi Kayu dan Non Kayu</span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">perubahan sebagai akibat penambahan luas kawasan hutan dan/atau penutupan vegetasi, potensi dihitung dengan cara menggandakan potensi (m3/ha) dengan luas perubahan tersebut;</li>
<li style="text-align:justify;">perubahan sebagai akibat pengurangan luas kawasan hutan dan/atau penutupan vegetasi, potensi dihitung dengan cara menggandakan potensi (m3/ha) dengan luas perubahan tersebut;</li>
<li style="text-align:justify;">data nilai perubahan potensi kayu dihitung dengan menggandakan nilai harga pasar yang berlaku setempat jumlah unit potensinya.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pengisian Neraca Sumberdaya Hutan</span></p>
<p style="text-align:justify;">Neraca sumberdaya  hutan  spasial disusun  dalam  bentuk  tabel  yang  berisi saldo awal, saldo akhir,  penambahan dan penyusutan setiap jenis komoditi hasil hutan. Pengisian serta perhitungan pada penambahan dan penyusutan sumberdaya hutan akan menghasilkan saldo akhir sumberdaya hutan. Data pada neraca sumberdaya hutan tersebut didapatkan dari tabel neraca perubahan hutan produksi, hutan suaka, hutan lindung, hutan wisata, hutan dalam kawasan hutan, hutan rakyat HTI, hutan kemasyarakatan, serta hutan kota. Dari neraca perubahan tersebut kemudian dibuat menjadi satu tabel dan menghasilkan tabel neraca sumberdaya hutan spasial.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya Lahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahap pengolahan data analisis neraca sumberdaya lahan spasial menggunakan metode pendekatan teknik tumpang-tindih peta atau istilah <em>superimpose </em>ataupun istilah <em>overlay</em>. Teknik <em>overlay </em>dapat digunakan bagi peta-peta yang sudah sama format dan skalanya. Pengolahan data neraca sumberdaya lahan untuk penyusunan saldo neracanya, dengan melakukan tumpang-tindih peta penggunaan lahan dengan status penggunaan lahan, dan penggunaan lahan pada kawasan lindung dan budidaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Analisis dan evaluasi sumberdaya lahan tersebut dihitung kedalam satuan areal luasan (ha) maupun dalam perhitungan persentase (%), termasuk perhitungan degradasi sumberdaya lahan. Tahap evaluasi sumber daya lahan termasuk penyusunan neracanya, yang kemudian dapat dipertajam dengan pembahasan terapannya. Evaluasi mengarah pada pemecahan masalah dan rekomendasi bagi perencanaan pembangunan. Evaluasi lebih lanjut kearah nilai sumber daya lahan, apabila sumberdaya tersebut telah dihitung dengan nilai rupiah (Rp).</p>
<p style="text-align:justify;">Perhitungan luas secara manual dilakukan dengan alat Planimeter. Perhitungan luas dapat dilakukan dengan komputer dari hasil data digital peta yang sudah masuk dalam format peta dalam sistim grid <em>Universal Transverse Mercator </em>(UTM). Hasil perhitungan dikonversi dengan luas wilayah yang baku setiap daerah. Perhitungan luas berdasarkan pada metode luasan posisi horisontal suatu bidang lahan. Metode dengan metode teknik penginderaan jauh bahwa bentang lahan dilihat dari atas, dengan dasar filosofi bahwa setiap penggunaan lahan untuk kehidupan akan menggunakan bidang datar dengan posisi atau tumbuh tegak ke atas. Kemiringan lereng suatu bidang lahan dipergunakan untuk dasar perhitungan volume lahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Metode pengisian tabel</span></p>
<p style="text-align:justify;">Neraca sumber daya lahan disusun dengan cara analisis dan evaluasi hasil inventarisasi data yang mencakup dua periode penyusunan, sehingga dapat diketahui perubahannya. Secara diskriptif neraca sumberdaya lahan disajikan dalam format tabel skontro sebelah menyebelah yaitu satu bentuk tabel yang menyatakan aktiva pada kolom sebelah kiri, dan menyatakan pasiva pada kolom sebelah kanan. Pada neraca sumberdaya lahan tidak terjadi adanya saldo total areal, karena jumlah total areal luasan tetap kecuali ada pemekaran daerah dan yang terjadi sebenarnya adalah peralian atau perubahan macam atau jenis sumberdaya lahan. Oleh karena itu dalam satu format tabel neraca sumberdaya lahan harus disertakan perubahan sumberdaya lahan. Tabel neraca sumberdaya lahan baik penggunaan lahan dan status pemilikan maupun pada kawasan lindung dan budidaya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian I)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/">Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian I)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-ii/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian I)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 15:12:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[Metode]]></category>
		<category><![CDATA[Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah]]></category>
		<category><![CDATA[NSASD]]></category>
		<category><![CDATA[Penyusunan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1558</guid>

					<description><![CDATA[Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Air (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Untuk  menghitung  penggunaan  air  dapat  dilakukan  dengan  peta  penggunaan  lahan, jika data  dan  peta  penggunaan  lahan  belum  tersedia  maka  peta  penggunaan  air dapat  dibuat langsung   berdasarkan   data   citra   satelit   atau  &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Air</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Untuk  menghitung  penggunaan  air  dapat  dilakukan  dengan  peta  penggunaan  lahan, jika data  dan  peta  penggunaan  lahan  belum  tersedia  maka  peta  penggunaan  air dapat  dibuat langsung   berdasarkan   data   citra   satelit   atau   foto   udara   dengan pendekatan   teknik penginderaan jauh. Inventarisasi  sumber daya  air  dalam  rangka penyusunan  neraca  sumberdaya  air  spasial disini  dilakukan  untuk  memperoleh  data sekunder  hasil  inventarisasi  oleh  instansi  terkait. Jenis data, asal  sumber serta pemakaiannya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Data air dan asalnya</span></p>
<ol>
<li>data curah;</li>
<li>data Iklim (temperatur, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran);</li>
<li>data air hujan tampungan dari penampungan air hujan;</li>
<li>data debit air sungai;</li>
<li>data air tanah;</li>
<li>data luas dan volume danau;</li>
<li>data waduk.<span id="more-1558"></span></li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pemanfaatan Air</span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Pemanfaatan air untuk domestik : air  untuk  kepentingan domestik  dapat  dihitung melalui pendekatan,  jumlah penduduk perkotaan dan pedesaan yang terdapat di DPS atau daerah administrasi;</li>
<li style="text-align:justify;">Pemanfaatan air untuk industri : data  penggunaan  air  untuk  industri  ringan dan berat  dari  dari  Dinas  Perindustrian  atau  industri pengguna air.</li>
</ol>
<p><strong>Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Mineral</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Inventarisasi data sumber daya mineral didapatkan dari data cadangan dan data eksplorasi yang  terdapat  di  setiap  instansi  pemerintah  atau  perusahaan  yang menanganinya  dalam kurun waktu tertentu, meliputi:</p>
<ol>
<li>inventarisasi data cadangan tiap komoditi bahan galian di kabupaten / kota;</li>
<li>produksi tahunan tiap komoditi bahan galian di kabupaten / kota;</li>
<li>inventarisasi data bahan galian pada periode tahun yang sedang berjalan;</li>
<li>harga tiap komoditi bahan galian terbaru yang berlaku dipasaran.</li>
</ol>
<p><strong>Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Hutan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bila data dan peta yang akan digunakan sebagai acuan dalam penyusunan neraca sumberdaya hutan tidak/belum ada maka digunakan metode pendekatan teknik penginderaan jauh, melalui metode penafsiran citra satelit dan foto udara. Petunjuk Teknis (Juknis) mengenai intepretasi foto udara dan citra satelit, menggunakan JUKNIS yang berlaku pada Departemen Kehutanan, yaitu :</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">SK Kepala Badan Inventarisasi dan Tata Guna Hutan (INTAG) No. 102/Kpts/VII-2/1989 tentang Ketentuan Teknis dan Tata Cara Pelaksanaan Pemotretan Udara, Pemetaan Vegetasi dan Pemetaan Garis Bentuk dalam rangka HPH;</li>
<li style="text-align:justify;">SK No. 125/Kpts/VII-2/1989 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penafsiran Citra landsat dan Pemetaan Planimetris Sumber Daya Hutan;</li>
<li style="text-align:justify;">SK No. 126/Kpts/VII-2/1989 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penafsiran Citra Spot dan Pemetaan Planimetris Sumber Daya Hutan;</li>
<li style="text-align:justify;">SK Dirjen INTAG N0. 23/Kpts/VII-2/1990 tentang Perubahan Lampiran SK No.125/Kpts/VII-2/1989 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penafsiran Citra landsat dan Pemetaan Planimetris Sumber Daya Hutan;</li>
<li style="text-align:justify;">SK Dirjen INTAG N0. 24/Kpts/VII-2/1990 tentang perubahan lampiran SK No.126/Kpts/VII-2/1989 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Penafsiran Citra Spot dan Pemetaan Planimetris Sumber Daya Hutan.</li>
</ol>
<p>Peta yang diperlukan dalam penyusunan neraca sumberdaya hutan antara lain :</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">peta <em>Regional Physical Planning Programme Transmigration </em>(RePProT), Bakosurtanal;</li>
<li style="text-align:justify;">peta Vegetasi dan Penggunaan Lahan (<em>National Forest Inventory</em>), interpretasi citra satelit (Landsat, SPOT, Radar), potret udara;</li>
<li style="text-align:justify;">peta penunjukan kawasan hutan dan perairan, peta padu serasi TGHK – RTRWP, peta RTRWP dan atau Peta Tata Guna Hutan Kesepatan (Departemen Kehutanan);</li>
<li style="text-align:justify;">peta garis kontur.</li>
</ol>
<p><strong>Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Lahan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tahap pengumpulan data sumberdaya lahan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dengan menggunakan metode pendekatan teknik penginderaan jauh, yang menggunakan foto udara maupun citra satelit pada suatu daerah dalam waktu dua periode pemotretan. Teknik ini untuk mendapatkan data awal penggunaan lahan dan data penggunaan lahan akhir. Teknik penginderaan jauh dilaksanakan dengan interpretasi citra sesuai dengan klasifikasi penggunaan lahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengumpulan data sekunder dapat menggunaan Peta <em>Regional Physical Planning Programme Transmigration </em>(RePPProT) sebagai data awal yang belum tersedia citra penginderaan jauh, dengan catatan perlu kompilasi dengan data yang detil dan klasifikasi yang perlu diolah serta disesuaikan. Peta RePPProT dapat digunakan pula sebagai sumber peta dasar untuk peta skala 1 : 250.000.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengumpulan data sekunder dapat menggunakan data pokok pembangunan daerah dengan kompilasi dan penyesuaian pada format, skala, dan klasifikasi neraca sumber daya lahan. Pemanfaatan peta tata ruang daerah dengan penyesuaian format dan klasifikasi neraca sumberdaya lahan. Pengumpulan data sumber daya lahan disusun dalam tabel inventarisasi data sumberdaya lahan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya Air</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perhitungan cadangan air permukaan : untuk   daerah   aliran   sungai   yang   telah dilakukan   pengukuran   debitnya   agar menggunakan data hasil pengukuran  debit sungai pada DAS tersebut; untuk  daerah  aliran  sungai  yang  berdekatan  dengan  DAS  yang telah  ada  hasil pengukuran  dapat dilakukan analisis dengan  metode regresi; untuk daerah aliran sungai yang belum ada pengukuran debit air sungai   sama sekali dapat melakukan  perhitungan  dengan  pendekatan  sungai  lain  yang  telah  ada  hasil perhitungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhitungan cadangan air bawah tanah ada beberapa pendekatan: perhitungan  cadangan air  bawah  tanah  diperlukan  data  tebal  akifer,  sebaran  akuifer dan transmisibilitas akuifer  baik akuifer tidak tertekan  maupun tertekan. Apabila data belum  tersedia,  maka cadangan  airtanah  tahunan  disetarakan  dengan  imbuhan  air tanah yang berasal dari air hujan. Perkiraan awal imbuhan dapat di hitung dengan   mengambil persentase tertentu dari curah  hujan  rata-rata  tahunan  (RF)  yang  meresap  ke  reservoir  air  bawah tanah. Ketelitian metode ini tergantung pada angka persentase imbuhan yang terpilih. Kecepatan imbuhan terutama dikontrol oleh keadaan geologi, tanah, penutup lahan, penggunaan lahan, penutup lahan dan kemiringan  lereng. Sebagai pegangan berdasarkan keadaan geologi percepatan imbuhan dari curah hujan tahunan rata-rata.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Metoda Pengolahan dan Penyajian Data Sumberdaya  Mineral</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Neraca  sumber  daya  mineral  disusun  dalam  bentuk  tabel  scontro  yang  berisi pasiva dan aktiva setiap jenis komoditi mineral. Pengisian dan perhitungan aktiva dan pasiva akan menghasilkan saldo akhir sumberdaya mineral</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Kolom aktiva</span></p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">Cadangan  awal:<strong>  </strong>data  cadangan  awal  dalam  satuan  ton  dengan  klasifikasi terukur, terindikasi,  tereka,  hipotetik,  didapatkan  dari  data  cadangan  awal  yang tercatat dalam Tabel  Inventarisasi  sumber  daya  mineral.  Setelah  itu  baru dikalikan  dengan harga-harga tiap-tiap komoditi atau jika tidak terdapat pada tabel tersebut, bisa memakai sumber informasi yang tepat dan dikeluarkan secara resmi;</li>
<li style="text-align:justify;">Pertambahan lain:<strong> </strong>meliputi penemuan baru dan perbaikan perhitungan cadangan dalam inventarisasi atau perhitungan  diluar  klasifikasi  diatas,  tetapi  masih  dalam perhitungan aktiva dan seluruhnya dikonversikan kedalam rupiah, cara dikalikan dengan harga;</li>
<li style="text-align:justify;">Perhitungan aktiva; Sub total : jumlah seluruh cadangan awal, total : jumlah seluruh aktiva dalam rupiah.</li>
</ol>
<p><span style="text-decoration:underline;">Kolom pasiva</span></p>
<p style="text-align:justify;">Faktor  pemanfaatan/eksploitasi  sumberdaya  mineral  diperhitungkan  dalam  satuan ukuran ton  dan  dikonversikan  kedalam  rupiah.  Pemanfaatan  sumberdaya  mineral mencakup penyusutan dan faktor eksternalitas.</p>
<ol>
<li style="text-align:justify;">pemanfaatan/penyusutan   sumberdaya   mineral:  meliputi   produksi  hilang   dalam proses, limbah yang dipindahkan dari inventarisasi data sumberdaya mineral, kemudian dikonversi ke dalam nilai rupiah dengan cara dikalikan harga yang berlaku. faktor  eksternalitas:  meliputi  kerusakan  lingkungan  hidup  pada  saat  eksplorasi dan lain-lainnya,  semua  diperhitungkan  karena  kaitan  dengan  pemanfaatan sumberdaya mineral, dan semua dikonversikan ke dalam nilai rupiah.</li>
<li style="text-align:justify;"><strong></strong>Perhitungan pasiva:<strong> </strong>Sub.saldo:<strong>  </strong>merupakan  hasil  pengurangan  sub.total  kolom aktiva dikurangi  jumlah pemanfaatan/penyusutan kolom pasiva, sehingga dalam sub.total kolom aktiva sama dengan sub.total kolom pasiva.</li>
<li style="text-align:justify;">Saldo akhir:<strong> </strong>merupakan hasil akhir tahun takwim dari total aktiva dikurangi dengan jumlah pemanfaatan/penyusutan dan jumlah faktor eksternalitas dalam satuan rupiah.</li>
</ol>
<p><a title="Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian I)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/">Metode Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD) (bagian II)</a></p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/11/metode-penyusunan-neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah (NSASD)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/03/neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/03/neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 03:13:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[Air]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[jasa konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Mineral]]></category>
		<category><![CDATA[Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1483</guid>

					<description><![CDATA[Latar Belakang (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Sumberdaya alam merupakan salah satu modal yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk menunjang pengembangan suatu wilayah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/03/neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Sumberdaya alam merupakan salah satu modal yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk menunjang pengembangan suatu wilayah. Namun, pemanfaatan sumber daya alam tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung keberhasilan usaha tersebut, perlu diketahui lokasi keterdapatannya dengan pasti potensi dan kondisi sumber daya yang ada di suatu wilayah, sehingga dapat dibuat perencanaan yang tepat dalam pengembangan wilayah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu alternatif caranya yaitu melalui penyusunan neraca sumber daya alam. Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral. Dalam Neraca sumber daya alam terdapat informasi mengenai besarnya sumber daya/cadangan setiap jenis mineral, jumlah mineral-mineral yang telah dimanfaatkan dan cadangan yang masih tersisa (saldo) serta besarnya pembiayaan pemulihan lingkungan di dalam pelaksanaan eksploitasi (pemanfaatannya), yang kesemuanya dapat dikonversikan dalam nilai rupiah sesuai harga terbaru yang berlaku dari waktu ke waktu sesuai dengan tahun anggaran (APBD) kabupaten. Selain informasi tersebut, hal yang penting lainnya adalah adanya informasi spasial atas persebaran lokasi sumber daya alam tersebut di suatu wilayah. Dengan demikian, neraca sumber daya alam yang disusun juga bersifat spasial/keruangan.<span id="more-1483"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian Dasar SDA (Sumber Daya Alam)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sumberdaya alam (SDA) berarti sesuatu yang ada di alam yang berguna dan mempunyai nilai dalam kondisi dimana kita menemukannya. Tidak dapat dikatakan SDA apabila sesuatu yang ditemukan tidak diketahui kegunaannya sehingga tidak mempunyai nilai, atau sesuatu yang berguna tetapi tidak tersedia dalam jumlah besar dibanding permintaannya sehingga ia dianggap tidak bernilai. Secara ringkasnya, sesuatu dikatakan SDA apabila memenuhi 3 syarat yaitu : 1) sesuatu itu ada, 2) dapat diambil, dan 3) bermanfaat. Dengan demikian, pengertian SDA mempunyai sifat dinamis, dalam arti peluang sesuatu benda menjadi sumberdaya selalu terbuka. Pemahaman mengenai SDA akan semakin jelas jika dilihat menurut jenisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan wujud fisiknya, SDA dapat dibedakan menjadi 4 klasifikasi yaitu:</p>
<ul>
<li>Sumberdaya Lahan;</li>
<li>Sumberdaya Hutan;</li>
<li>Sumberdaya Air;</li>
<li>Sumberdaya Mineral.</li>
</ul>
<p>Sedangkan berdasarkan proses pemulihannya, SDA dibedakan menjadi 3 klasifikasi (Alen, 1959), yaitu:</p>
<ul>
<li>Sumberdaya alam yang tidak dapat habis (<em>inexhaustible natural resources</em>), seperti : udara, energi matahari, dan air hujan;</li>
<li>Sumberdaya alam yang dapat diganti atau diperbaharui dan dipelihara (<em>renewable resources </em>), seperti : air di danau/ sungai, kualitas tanah, hutan, dan margasatwa.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (<em>non-renewable resources/ irreplaceable atau stock natural resources </em>), seperti : batubara, minyak bumi, dan logam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam penggunaannya, SDA yang dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui dapat saling melengkapi (komplementer), saling menggantikan (substitusi) atau dapat bersifat netral. Kajian tentang hubungan di antara berbagai penggunaan SDA ini akan sangat bermanfaat pada saat membahas masalah kebijaksanaan dalam pengelolaan SDA. Ruang lingkup SDA<em> </em>mencakup semua pemberian alam di bawah atau di atas bumi baik yang hidup maupun yang tidak hidup. Pengertian SDA meliputi semua sumberdaya dan sistem yang bermanfaat bagi manusia dalam hubungannya dengan teknologi, ekonomi, dan keadaan sosial tertentu. Definisi ini berkembang dan sekarang mencakup sistem ekologi dan lingkungan. Setelah lepas dari alam dan dikuasai oleh manusia, maka sumberdaya tersebut disebut barang-barang sumberdaya (<em>resource commodity </em>). Dari definisi tersebut menjadi jelas bahwa yang kita ketahui mengenai SDA tergantung pada keadaan yang kita warisi, tingkat teknologi saat ini maupun yang akan datang serta kondisi ekonomi maupun preferensi pasar (Howe, 1979).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Neraca Sumberdaya Alam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral.Kebutuhan informasi sumber daya lahan untuk pembangunan di daerah dan secara nasional diperlukan satu bahasa data yang akurat. Neraca sumber daya alam disepakati dalam empat komponen sumber daya alam yaitu sumber daya lahan, hutan, air, dan sumber daya mineral. Untuk mengetahui potensi air yang masih dapat di gunakan pada masa yang akan datang perlu disusun neraca sumber daya air. Neraca sumber daya air spasial adalah suatu informasi yang dapat menggambarkan sebaran cadangan sumber daya air, penggunaan sumber daya air, dan saldo akhir dari sumber daya air, sehingga pada waktu tertentu dapat diketahui kecenderungannya, apakah surplus atau defisit. Proses penyusunan neraca sumber daya air dilakukan dengan cara melalui inventarisasi potensi air, baik air hujan, air permukaan, air bawah tanah secara periodik kemudian dikurangi dengan jumlah volume penggunaannya. Neraca sumber daya air spasial dapat berfungsi sebagai salah satu informasi, kapan dan dimana wilayah defisit.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu metode evalusi potensi hutan adalah metode neraca sumber daya hutan. Neraca sumber daya hutan adalah suatu informasi yang dapat menggambarkan cadangan sumber daya hutan, kehilangan dan penggunaan sumber daya hutan, sehingga pada waktu tertentu dapat diketahui kecenderungannya, apakah surplus atau defisit, jika dibandingkan dengan waktu sebelumnya. Syarat dapat disusunnya neraca sumber daya hutan adalah telah dilakukan inventarisasi hutan minimal untuk dua periode waktu. Dengan demikian neraca sumber daya hutan dapat berfungsi sebagai salah alat evaluasi hutan sebagai suatu sistem peringatan dini (<em>early</em> <em>warning system</em>) mengenai degradasi hutan. Standar Nasional Indonesia Penyusunan neraca sumber daya hutan spasial ini merupakan tata cara (pedoman teknis) kegiatan pengumpulan dan pengolahan berbagai data serta informasi hutan (lokasi, luas, potensi tegakan, keadaan fisik lapangan) dan data lainnya dalam rangka penyusunan neraca sumber daya hutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber daya mineral adalah semua bahan galian yang terdapat di bumi yang dapat dipakai untuk kebutuhan hidup manusia. Sumber daya mineral merupakan modal nasional yang perlu dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang pembangunan. Namun, pemanfaatan sumber daya mineral tersebut harus memperhatikan konservasi dan upaya untuk kelestarian fungsi ekosistemnya. Untuk mendukung keberhasilan usaha tersebut, perlu diketahui lokasi keterdapatannya dengan pasti potensi dan kondisi sumber daya mineral yang ada di suatu wilayah, sehingga dapat dibuat perencanaan yang tepat dalam pengembangan wilayah tersebut. Penyusunan Neraca sumber daya mineral suatu daerah menjadi salah satu alternatif untuk membantu memecahkan persoalan tersebut. Dalam Neraca sumber daya mineral terdapat informasi mengenai besarnya sumber daya/cadangan setiap jenis mineral, jumlah mineral-mineral yang telah dimanfaatkan dan cadangan yang masih tersisa (saldo) serta besarnya pembiayaan pemulihan lingkungan di dalam pelaksanaan eksploitasi (pemanfaatannya), yang kesemuanya bisa dikonversikan dalam nilai rupiah sesuai harga terbaru yang berlaku dari waktu ke waktu sesuai dengan tahun anggaran (APBD) kabupaten maupun kota.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengelolaan Sumberdaya Alam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Prinsip umum dalam ilmu ekonomi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan umat manusia yang cenderung tidak terbatas dengan ketersediaan sumberdaya yang terbatas atau langka. Kelangkaan SDA ini merupakan salah satu faktor utama dalam kajian ekonomi yang berwawasan lingkungan dan karena faktor kelangkaan itu pula maka dibutuhkan pengelolaan SDA secara arif dan bijaksana. Tingkat ketersediaan dan kelangkaan sumberdaya memberikan indikasi tentang bagaimana seharusnya mengelola sumberdaya yang langka dimaksud agar tidak mengancam kelestariannya dengan tanpa dan atau meminimalkan terjadinya degradasi lingkungan. Macam dan karakterisasi sumberdaya tidak hanya menggambarkan bagaimana pentingnya sumberdaya tersebut tetapi yang lebih penting adalah bagaimana sebaiknya sumberdaya itu dikelola agar memenuhi kebutuhan ummat manusia tidak hanya masa kini, tapi juga masa yang akan datang. Hal yang perlu dicatat dalam mengelola SDA (Irawan, 1992):</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">biaya pengambilan/ penggalian semakin tinggi dengan semakin menipisnya persediaan SDA tersebut;</li>
<li style="text-align:justify;">kenaikan dalam biaya pengambilan/ penggalian SDA akan diperkecil dengan diketemukannya deposit baru serta adanya teknologi baru.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sebidang tanah tidak hanya bernilai tinggi karena adanya sumberdaya mineral yang terkandung di dalamnya, tetapi juga karena adanya “<em>opportunity cost </em>” berupa keindahan alam itu. Selain itu, juga perlu diingat dan dibedakan antara penggunaan sumberdaya yang bersifat dapat dikembalikan lagi dan penggunaan sumberdaya yang tak dapat dikembalikan ke keadaan semula (<em>irreversible </em>).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Perundang-Undangan Yang Melandasi Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kebutuhan informasi sumberdaya alam untuk pembangunan di daerah dan secara nasional diperlukan satu bahasa data yang akurat. Neraca sumberdaya alam disepakati dalam empat komponen sumberdaya alam yaitu sumberdaya lahan, hutan, air, dan sumberdaya mineral. Pelaksanaan penyusunan neraca sumberdaya alam spasial daerah yang dilandasi kebutuhan data sumberdaya lahan daerah melalui koordinasi teknis sektoral Pusat dan Daerah, pertemuan koordinasi penyusunan NSASD daerah di Depdagri tanggal 19 Januari 1991, yang kemudian dikuatkan dalam Inmendagri Nomor 39 Tahun 1995. Pelaksanaan neraca sumberdaya alam spasial nasional dilandasi dengan tugas pokok dan fungsi BAKOSURTANAL, dan Keppres Nomor 27 Tahun 1975 selaku Sekretariat Panitia Kekayaan Alam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Maksud, Tujuan dan Sasaran Penyusunan Neraca Sumberdaya Alam Spasial Daerah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Maksud penyusunan neraca sumberdaya alam spasial daerah adalah sebagai upaya untuk mengetahui besaran dan sebaran potensi sumber daya alam daerah untuk menyusun strategi pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam di Daerah, dalam suatu kerangka kesatuan tata lingkungan hidup secara optimal, serasi, seimbang dan berkelanjutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan penyusunan neraca sumberdaya alam spasial daerah adalah sebagai berikut:</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">melakukan pemutakhiran data sumberdaya alam melalui inventarisasi sumberdaya alam yang meliputi, sumberdaya air, hutan, mineral dan lahan;</li>
<li style="text-align:justify;">untuk mengetahui potensi sumber daya alam daerah yang masih dapat di gunakan pada masa yang akan datang;</li>
<li style="text-align:justify;">melakukan evaluasi sumberdaya alam, baik potensi, cadangan dan gambaran perubahan pemanfaatan serta degradasi sumberdaya alam untuk menyusun neraca sumberdaya alam spasial dalan kurun waktu tertentu;</li>
<li style="text-align:justify;">untuk menyusun arahan pengelolaan sumberdaya alam.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sasaran dari perencanaan ini adalah untuk:</p>
<ul>
<li style="text-align:justify;">tersusunnya inventarisasi data sumber daya alam spasial daerah;</li>
<li style="text-align:justify;">tersusunnya alat evaluasi sumber daya alam sebagai sistem peringatan dini mengenai degradasi sumber daya alam.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Penyusunan neraca sumberdaya alam spasial meliputi ruang lingkup, acuan, istilah dan definisi, persyaratan, klasifikasi, metode, penyajian data spasial, sistematika penulisan. Klasifikasi sumberdaya alam mencakup penggunaan lahan, status penguasaan lahan, kawasan lindung dan budidaya. Penggunaan lahan yang aktual terkait dengan status pemilikan lahan dan berkembang pada kawasan lindung dan budidaya. Metode yang digunakan meliputi metode pengumpulan data, pengolahan data, dan metode pemetaan. Penyajian data spasial mengacu pada Standar Nasional Indonesia Peta Rupabumi Indonesia dan Peta tematik yang telah digunakan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2012/02/03/neraca-sumberdaya-alam-spasial-daerah-nsasd/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membuat Kontur dari SRTM Menggunakan Global Mapper</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 12:23:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[SIG]]></category>
		<category><![CDATA[Global Mapper]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kontur]]></category>
		<category><![CDATA[membuat garis kontur]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan]]></category>
		<category><![CDATA[SRTM]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1362</guid>

					<description><![CDATA[(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Bagi yang sudah lama expert dibidang Mapping tentunya tidak akan asing dan kesulitan lagi untuk membuat garis kontur, tetapi bagi pemula yang baru mencoba belajar pemetaan semoga tulisan ini berguna untuk menambah literatur anda. Kali ini &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Bagi yang sudah lama <em>expert</em> dibidang <em>Mapping</em> tentunya tidak akan asing dan kesulitan lagi untuk membuat garis kontur, tetapi bagi pemula yang baru mencoba belajar pemetaan semoga tulisan ini berguna untuk menambah literatur anda. Kali ini saya akan menjelaskan cara membuat garis kontur dari data SRTM dengan menggunakan program global mapper. Sebelumnya yang harus diketahui, garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang memiliki ketinggian sama dipermukaan bumi. SRTM (shuttle radar topography mission) adalah sebuah satelit yang menghasilkan model elevasi digital untuk menghasilkan database bumi dalam bentuk topografi digital yang paling lengkap. Meskipun SRTM memiliki resolusi yang rendah sekitar 90 m tetapi masih banyak digunakan sebagai informasi untuk pekerjaan lapangan serta dimanfaatkan untuk membuat peta kontur dan lereng (slope). Hasil peta kontur maupun peta lereng dari pengolahan data SRTM maksimal berskala 1 : 90.000, dan lebih baik untuk skala 1 : 100.000 meskipun demikian banyak yang memperbesar skalanya dengan konsekwensi menurunkan kualitas hasil yang akan didapat.<span id="more-1362"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum memulai membuat kontur dari SRTM tentunya program global mapper sudah terinstal di komputer anda serta data SRTM sudah tersedia. Jika anda belum memiliki SRTM dapat di tulisan saya yang berjudul “SRTM dan Tingkat Ketelitian Peta RTRW”.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun langkah-langkah untuk membuat garis kontur dari SRTM dengan menggunakan program global mapper sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Buka program global mapper yang telah terinstal dikomputer anda, jika anda menggunakan global mapper 11.02 maka tampilannya akan seperti gambar berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1365" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm1/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg" data-orig-size="680,369" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1365" title="GM1" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=584&#038;h=316" width="584" height="316" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=582&amp;h=316 582w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=150&amp;h=81 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg?w=300&amp;h=163 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg 680w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membuka citra SRTM yang ada di komputer anda maka klik pada “Open Your Own Data Files” kemudian pilih seri data SRTM untuk daerah yang anda inginkan (dalam contoh ini saya menggunakan data untuk wilayah kabupaten Wonosobo – Jateng). Jika anda men download SRTM Pastikan ada Path row nya untuk mengetahui seri pembagian dari citra SRTM yang anda download. Agar garis kontur yang anda buat sesuai dengan daerah atau wilayah administrasi tertentu yang anda inginkan maka buka file peta (Shp atau TAB) dengan cara klik menu “File” kemudian pilih “Open Data File(s)…” dan pilih file yang akan anda buat garis kontur nya (contoh : adm kabupaten wonosobo geografis.shp).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1366" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm3/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg" data-orig-size="863,555" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM3" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1366" title="GM3" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=584&#038;h=375" width="584" height="375" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=584&amp;h=375 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=150&amp;h=96 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=300&amp;h=193 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg?w=768&amp;h=494 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg 863w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jika peta anda terlihat tidak jelas pada layar kerja maka anda dapat mengatur warna dan ketebalan dari peta tersebut dengan cara klik “Open Control Center” pada toolbar atau klik menu “tools” kemudian pilih “control center”. Setelah itu maka akan tampil jendela “Overlay Control Center”, klik peta yang ingin anda atur tampilannya (contoh : adm kabupaten wonosobo geografis.shp). kemudian klik “option” pada “Overlay Control Center”, maka akan tampil “Vector Options”. Pada “Vector Options” pilih tab  “Area Styles” kemudian klik pada “Use Same Style For All Features”. Setelah itu maka akan muncul jendela baru “Select Area Style”, kemudian pada “Border Style” aturlah “Pixel” (untuk mengatur ketebalan garis border) dan “Color” (untuk mengatur warna garis border (dalam hal ini saya mengatur 2 pixel dan warna saya pilih kuning agar lerlihat kontras dengan SRTM yang ada). Setelah dirasa cukup maka klik “ok” pada “Select Area Style” dan “Vector Options” serta “close” pada “Overlay Control Center”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1367" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm5/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg" data-orig-size="1045,651" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM5" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1367" title="GM5" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=584&#038;h=363" width="584" height="363" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=584&amp;h=363 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=150&amp;h=93 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=300&amp;h=187 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=768&amp;h=478 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg?w=1024&amp;h=638 1024w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg 1045w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian klik pada toolbar “Feature Info Tool” dan klik pada peta yang akan dibuat garis kontur nya, setelah itu maka akan muncul jendela “Feature Information”. Kemudian klik menu “File” dan pada klik “Generate Contours…” maka akan muncul jendela “Contour Generation Options”. Pilih tab “Contour Bounds” kemudian klik pada “Crop to Select Area Feature(s)” setelah itu kemudian klik “Ok”, hal ini dilakukan agar yang akan dibuat garis konturnya hanya daerah peta (shp atau TAB) yang kita inginkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1370" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm6/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg" data-orig-size="1351,735" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM6" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1370" title="GM6" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=584&#038;h=317" width="584" height="317" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=584&amp;h=317 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=1165&amp;h=634 1165w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=150&amp;h=82 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=300&amp;h=163 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=768&amp;h=418 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg?w=1024&amp;h=557 1024w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah proses “Generate Contour” selesai kemudian klik pada peta yang ada, maka akan terlihat garis kontur yang kita buat telah terlihat, untuk mengatur warna garis kontur tersebut dapat anda lakukan seperti pada langkah mengatur peta yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Anda dapat meng-eksport peta kontur tersebut sesuai dengan format (ekstensi) baik tipe raster maupun tipe vektor sesuai yang anda inginkan. Caranya yaitu dengan meng-klik menu “File”, jika anda ingin meng-ekport peta kontur tersebut menjadi data raster maka pilih “Export Raster and Elevation”, jika ingin meng-eksport peta kontur menjadi data vektor maka pilih “Export Vector Data”, kemudian pilih tipe data yang anda inginkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1371" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm8/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg" data-orig-size="939,741" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM8" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1371" title="GM8" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=584&#038;h=460" width="584" height="460" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=584&amp;h=460 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=150&amp;h=118 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=300&amp;h=237 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg?w=768&amp;h=606 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg 939w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda ingin men-eksport peta kontur tersebut menjadi file dengan ekstensi shp yang bisa dibuka dengan menggunakan program ArcView atau ArcGIS maka peta kontur tersebut harus dieksport dalam bentuk data vektor yaitu klik “File” kemudian pilih  “Export Vector Data” kemudian pilih “Export Shapefile” maka akan muncul jendela “Shapefile Export Options” kemudian klik pada “Export Lines” kemudian simpan file tersebut ditempat yang anda inginkan, kemudian klik “Ok”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1373" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm9/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg" data-orig-size="1357,723" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM9" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1373" title="GM9" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=584&#038;h=311" width="584" height="311" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=584&amp;h=311 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=1168&amp;h=622 1168w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=150&amp;h=80 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=300&amp;h=160 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=768&amp;h=409 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg?w=1024&amp;h=546 1024w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1374" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm10/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg" data-orig-size="1049,731" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM10" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1374" title="GM10" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=584&#038;h=406" width="584" height="406" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=584&amp;h=406 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=150&amp;h=105 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=300&amp;h=209 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=768&amp;h=535 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg?w=1024&amp;h=714 1024w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg 1049w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah hasil peta kontur yang telah anda buat dengan menggunakan program ArcView atau ArcGIS. Kontur yang telah anda buat itu memiliki interval garis kontur 100 m, hal ini karena SRTM memiliki resolusi 90 m sehingga memiliki tingkat akurasi yang baik jika untuk membuat kontur dengan interval 100 m.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1375" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/gm11/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg" data-orig-size="1355,715" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="GM11" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1375" title="GM11" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=584&#038;h=308" width="584" height="308" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=584&amp;h=308 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=1168&amp;h=616 1168w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=150&amp;h=79 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=300&amp;h=158 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=768&amp;h=405 768w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg?w=1024&amp;h=540 1024w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Semoga tulisan ini dapat memberikan tambahan referensi dan bermanfaat bagi anda para pemula yang ingin mempelajari dunia pemetaan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/28/membuat-kontur-dari-srtm-menggunakan-global-mapper/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm1.jpg">
			<media:title type="html">GM1</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm3.jpg">
			<media:title type="html">GM3</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm5.jpg">
			<media:title type="html">GM5</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm6.jpg">
			<media:title type="html">GM6</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm8.jpg">
			<media:title type="html">GM8</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm9.jpg">
			<media:title type="html">GM9</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm10.jpg">
			<media:title type="html">GM10</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gm11.jpg">
			<media:title type="html">GM11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 11:07:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[Alkalis]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan Kasar]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Drainese]]></category>
		<category><![CDATA[Erosi Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Genangan]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[jasa konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Karakteristik Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kedalaman Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemasaman tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Ketebalan Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitas Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Relief]]></category>
		<category><![CDATA[Survey]]></category>
		<category><![CDATA[Tekstur]]></category>
		<category><![CDATA[Topografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1096</guid>

					<description><![CDATA[3. Tanah (Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH, KTK), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>3. Tanah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya drainase tanah, tekstur, kedalaman tanah dan retensi hara (pH, KTK), serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas, bahaya erosi, dan banjir/genangan.</p>
<p><strong>Drainase</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel karakteristik kelas drainase tanah untuk evaluasi lahan. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman, terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 1 dan 2. Drainase tanah kelas kelas 3, 4 dan 5 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena sering jenuh air dan kekurangan oksigen.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1091" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg" data-orig-size="500,501" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel karakteristik kelas drainase tanah untuk evaluasi lahan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg?w=500" class="alignnone  wp-image-1091" title="tabel karakteristik kelas drainase tanah untuk evaluasi lahan" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg?w=500&#038;h=501" width="500" height="501" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg 500w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg?w=150&amp;h=150 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg?w=300&amp;h=300 300w" sizes="(max-width: 500px) 100vw, 500px" /></a></p>
<p><strong>Tekstur</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir, debu dan liat. Tekstur dapat ditentukan di lapangan dengan cara manual, atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur.<span id="more-1096"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1097" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg" data-orig-size="439,506" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi karakteristik tekstur tanah&amp;amp;tabel menentukan kelas tekstur di lapangan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg?w=260" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg?w=439" class="alignnone size-full wp-image-1097" title="tabel klasifikasi karakteristik tekstur tanah&amp;tabel menentukan kelas tekstur di lapangan" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg 439w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg?w=130&amp;h=150 130w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg?w=260&amp;h=300 260w" sizes="(max-width: 439px) 100vw, 439px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1098" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/gambar-segitiga-tekstur-tanah/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg" data-orig-size="406,370" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="gambar segitiga tekstur tanah" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg?w=406" class="alignnone size-full wp-image-1098" title="gambar segitiga tekstur tanah" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg 406w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg?w=150&amp;h=137 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg?w=300&amp;h=273 300w" sizes="(max-width: 406px) 100vw, 406px" /></a></p>
<p><strong>Bahan Kasar</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bahan kasar adalah prosentasi kerikil, kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah, yang dapat diklasifikasikan seperti pada tabel berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1099" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg" data-orig-size="406,134" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi prosentasi bahan kasar pd tanah" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg?w=406" class="alignnone size-full wp-image-1099" title="tabel klasifikasi prosentasi bahan kasar pd tanah" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg 406w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg?w=150&amp;h=50 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg?w=300&amp;h=99 300w" sizes="(max-width: 406px) 100vw, 406px" /></a></p>
<p><strong>Kedalaman Tanah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Klasifikasi kedalam tanah dapat dilihat pada tabel berikut ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1100" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg" data-orig-size="407,133" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi kedalaman tanah" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg?w=407" class="alignnone size-full wp-image-1100" title="tabel klasifikasi kedalaman tanah" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg 407w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg?w=150&amp;h=49 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg?w=300&amp;h=98 300w" sizes="(max-width: 407px) 100vw, 407px" /></a></p>
<p><strong>Ketebalan Gambut</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Klasifikasi ketebalan gambut dapat dilihat pada tabel berikut ini</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1101" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg" data-orig-size="408,152" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi ketebalan gambut" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg?w=408" class="alignnone size-full wp-image-1101" title="tabel klasifikasi ketebalan gambut" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg 408w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg?w=150&amp;h=56 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg?w=300&amp;h=112 300w" sizes="(max-width: 408px) 100vw, 408px" /></a></p>
<p><strong>Alkalinitas</strong></p>
<p>Menggunakan nilai prosentase natrium dapat ditukar (<em>exchangeable sodium percentage</em> atau ESP) yaitu dengan perhitungan</p>
<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1107" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/rumus1/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg" data-orig-size="152,42" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="rumus1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg?w=152" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg?w=152" class="alignnone size-full wp-image-1107" title="rumus1" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg?w=584"   /></a></p>
<p>Nilai ESP 15% sebanding dengan nilai sodium adsorption ratio atau SAR 13</p>
<p><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1108" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/rumus2/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg" data-orig-size="126,59" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="rumus2" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg?w=126" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg?w=126" class="alignnone size-full wp-image-1108" title="rumus2" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg?w=584"   /></a></p>
<p><strong>Erosi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan, yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion), erosi alur (rill erosion), dan erosi parit (gully erosion). Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan tanah yang hilang (rata-rata) pertahun, dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relatif mengandung bahan organik yang lebih tinggi. Tingkat bahaya erosi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1102" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-tingkat-bahaya-erosi/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg" data-orig-size="407,152" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel tingkat bahaya erosi" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg?w=407" class="alignnone size-full wp-image-1102" title="tabel tingkat bahaya erosi" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg 407w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg?w=150&amp;h=56 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg?w=300&amp;h=112 300w" sizes="(max-width: 407px) 100vw, 407px" /></a></p>
<p><strong>Banjir atau Genangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Banjir ditetapkan sebagai kombinasi pengaruh dari: kedalaman banjir (X) dan lamanya banjir (Y). Kedua data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat di lapangan. Bahaya banjir dengan simbol Fx,y (x: kedalaman air, y: lama genangan). Tabel berikut ini menunjukkan klasifikasi bahaya banjir atau genangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1103" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg" data-orig-size="492,350" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi banjir atau genangan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg?w=492" class="alignnone size-full wp-image-1103" title="tabel klasifikasi banjir atau genangan" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg 492w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg?w=150&amp;h=107 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg?w=300&amp;h=213 300w" sizes="(max-width: 492px) 100vw, 492px" /></a></p>
<p><strong>Kemasaman Tanah</strong></p>
<p>Kemasaman tanah dinyatakan dalam bentuk pH yang diukur pada kedalaman 0 – 20 cm dan 20 – 50 cm. Tabel berikut ini menunjukkan klasifikasi kemasaman (pH) tanah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1104" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg" data-orig-size="452,190" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klsifikasi kemasaman pH tanah" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg?w=452" class="alignnone size-full wp-image-1104" title="tabel klsifikasi kemasaman pH tanah" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg?w=584"   srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg 452w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg?w=150&amp;h=63 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg?w=300&amp;h=126 300w" sizes="(max-width: 452px) 100vw, 452px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/">Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-karakteristik-kelas-drainase-tanah-untuk-evaluasi-lahan.jpg">
			<media:title type="html">tabel karakteristik kelas drainase tanah untuk evaluasi lahan</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-karakteristik-tekstur-tanahtabel-menentukan-kelas-tekstur-di-lapangan.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi karakteristik tekstur tanah&amp;tabel menentukan kelas tekstur di lapangan</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/gambar-segitiga-tekstur-tanah.jpg">
			<media:title type="html">gambar segitiga tekstur tanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-prosentasi-bahan-kasar-pd-tanah.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi prosentasi bahan kasar pd tanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-kedalaman-tanah.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi kedalaman tanah</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-ketebalan-gambut.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi ketebalan gambut</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus1.jpg">
			<media:title type="html">rumus1</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/rumus2.jpg">
			<media:title type="html">rumus2</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-tingkat-bahaya-erosi.jpg">
			<media:title type="html">tabel tingkat bahaya erosi</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-banjir-atau-genangan.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi banjir atau genangan</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klsifikasi-kemasaman-ph-tanah.jpg">
			<media:title type="html">tabel klsifikasi kemasaman pH tanah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian I)</title>
		<link>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/</link>
					<comments>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[survey dan pemetaan lahan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 11:02:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Jasa Konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Alkalis]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan Kasar]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Drainese]]></category>
		<category><![CDATA[Erosi Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Genangan]]></category>
		<category><![CDATA[Iklim]]></category>
		<category><![CDATA[jasa konsultan]]></category>
		<category><![CDATA[Karakteristik Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kedalaman Tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemasaman tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Ketebalan Gambut]]></category>
		<category><![CDATA[konsultan survey dan pemetaan lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kualitas Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemetaan Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Relief]]></category>
		<category><![CDATA[Survey]]></category>
		<category><![CDATA[Tekstur]]></category>
		<category><![CDATA[Topografi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://erfan1977.wordpress.com/?p=1086</guid>

					<description><![CDATA[(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan ada &#8230; <a href="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(Konsultan Survey dan Pemetaan Lahan) &#8211; Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas lahan mempunyai keragaan yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO, 1976). Hubungan antara kualitas dan karakteristik lahan evaluasi lahan menurut Djaenudin <em>et al. </em>(2003) dapat dilihat pada tabel berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1087" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg" data-orig-size="634,355" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel kualitas lahan dan karakteristik lahan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1087" title="tabel kualitas lahan dan karakteristik lahan" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=584&#038;h=327" width="584" height="327" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=584&amp;h=327 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=150&amp;h=84 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg?w=300&amp;h=168 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg 634w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Topografi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam evaluasi lahan, faktor topografi yang perlu diperhatikan adalah lereng (relief) dan ketinggian (elevasi). Faktor lereng erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi, sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari. Berikut ini disajikan tabel klasifikasi relief, dimana klasifikasi tersebut dapat dimodifikasi sesuai dengan tujuan pemanfaatan.<span id="more-1086"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1089" data-permalink="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/tabel-klasifikasi-relief/" data-orig-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg" data-orig-size="623,234" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tabel klasifikasi relief" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=300" data-large-file="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=584" class="alignnone size-full wp-image-1089" title="tabel klasifikasi relief" alt="" src="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=584&#038;h=219" width="584" height="219" srcset="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=584&amp;h=219 584w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=150&amp;h=56 150w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg?w=300&amp;h=113 300w, https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg 623w" sizes="(max-width: 584px) 100vw, 584px" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kaitannya dengan tanaman, secara umum elevasi sering dibedakan menjadi 2 yaitu, dataran rendah (&lt;700 m dpl.) dan dataran tinggi (&gt; 700 m dpl.). Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut, maka temperatur semakin menurun. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Sedangkan tanaman karet, sawit, dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Iklim</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Faktor iklim yang pada umumnya erat kaitannya dengan tanaman adalah temperatur dan curah hujan. Tanaman kina dan kopi, misalnya, menyukai dataran tinggi atau suhu rendah, sedangkan karet, kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia, suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. Semakin tinggi tempat, semakin rendah suhu udara rata-ratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928):</p>
<p style="text-align:justify;"><em>26,3 <sup>o</sup>C &#8211; (0,01 x elevasi (m) x 0,6 <sup>o</sup>C)</em></p>
<p style="text-align:justify;">dimana suhu rata-rata dataran rendah/pantai 25 – 27 <sup>o</sup>C</p>
<p style="text-align:justify;">Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1 (satu) hari, yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. Sedangkan secara otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu, misalnya setiap menit, setiap jam, dan seterusnya. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan, jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan &gt; 200 mm, sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan &lt; 100 mm. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan, terutama untuk padi. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A, B, C, D dan E). Sedangkan Schmidt &amp; Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda, yaitu bulan basah (&gt; 100 mm) dan bulan kering (&lt; 60 mm). Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)" href="https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-ii-3/">Hubungan Kualitas Lahan dan Karakteristik Lahan (bagian II)</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://erfan1977.wordpress.com/2011/12/10/hubungan-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan-bagian-i/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://0.gravatar.com/avatar/0236ad23dccded68a8148995219a3cc4c9eb734ec7314e3d8ab40dd7fac5e1ff?s=96&amp;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&amp;r=G">
			<media:title type="html">erfan1977</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-kualitas-lahan-dan-karakteristik-lahan.jpg">
			<media:title type="html">tabel kualitas lahan dan karakteristik lahan</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://erfan1977.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/12/tabel-klasifikasi-relief.jpg">
			<media:title type="html">tabel klasifikasi relief</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>