<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971</id><updated>2025-10-08T00:06:04.919-07:00</updated><category term="arsip7"/><category term="Arsip"/><category term="Arsip2"/><category term="arsip6"/><category term="Pidato"/><category term="Arsip3"/><category term="Wedjangan Revolusi"/><category term="Biografi"/><category term="Galery"/><title type='text'>Tanah Airku</title><subtitle type='html'>JAS MERAH JANGAN MELUPAKAN SEJARAH</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>93</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8866957126659864170</id><published>2013-04-30T05:02:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:05:33.836-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Tan Malaka,  Hidup Kesepian Mati Kesepian.</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYaRCeN0Xz5EViKC61GPZCea-i8jP8qBiaU1R28g3FCcW939N3EiEY1bs3l4BFuOtt_nHlgN8neIui6qbKtRXZxLRJhvIFUI8bn8v1sQrlZkOGKmqPZd8BKZchpl52X0QRbbBCYYmTEdw/s1600/tan-malaka.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5528984374834829618&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYaRCeN0Xz5EViKC61GPZCea-i8jP8qBiaU1R28g3FCcW939N3EiEY1bs3l4BFuOtt_nHlgN8neIui6qbKtRXZxLRJhvIFUI8bn8v1sQrlZkOGKmqPZd8BKZchpl52X0QRbbBCYYmTEdw/s400/tan-malaka.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 348px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Gambar Atas : Tan Malaka di rumah Achmad Soebardjo September, 1945. Perhatikan jam tangannya yang diikat di separuh lengannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 130%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka, Hidup Kesepian Mati Kesepian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tan Malaka adalah anak  dari wilayah yang selalu gelisah, wilayah yang membutuhkan  intelektualitas sekaligus pencerahan spiritual. Ia tumbuh di Alam  Minangkabau dimana adatnya memberikan tempat pada akal sekaligus hidup  dalam alam agama. Tan Malaka berdiri di dua tempat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia adalah  pelajar yang cerdas bahkan teramat cerdas. Ia sekolah di Kweekschool,  sekolah Raja untuk menjadi guru. Tan Malaka kecil menjadi murid yang  paling cerdas di sekolahnya atas rekomendasi Tuan Fabius ke Nederlaand  dan sekolah di Rijkskweekschool, disana Tan Malaka hidup dengan beberapa  orang Belanda dari kalangan sosial rendah. Saat Tan Malaka sekolah di  Belanda, Eropa sedang dicekam suasana gelisah karena pertarungan wilayah  antara Jerman, Prusia, Perancis dan Rusia. Gerak gerik awal Revolusi  Rusia sudah menjalari banyak intelektual di eropa, di Belanda sendiri  berkembang aliran besar Sosialis Demokrat atau dikenal Sosdem, Tan  Malaka banyak bergaul dengan orang-orang Sosdem bahkan teman  indekost-nya sendiri seorang Belgia penganut Sosdem banyak bertukar  pikiran bahkan dari teman Belgia-nya ini Tan Malaka mendapat surat kabar  Sosdem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka orang yang sangat kritis dan rasional, dan  ia memilih jalur Lenin untuk mendapatkan titik hidup teori Marxisme. Ia  membacai tulisan-tulisan Lenin tentang revolusi, percepatan sejarah dan  segala macam aplikasi dari sebuah revolusi. Tan Malaka terpikat. Ia  memutuskan untuk membebaskan bangsanya. Tan Malaka adalah orang pertama  dari Hindia Belanda yang secara berkesadaran penuh bahwa suatu saat  Hindia Belanda akan membentuk peradaban baru, ia sendiri menamai  peradaban itu sebagai Peradaban Aslia (Asia-Australia Raya) dan pusatnya  di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka pulang ke Indonesia dan ia diarahkan  untuk bekerja di sebuah perkebunan di Deli bernama Senembah. Saat itu di  Deli banyak perkebunan jumlahnya berkisar sampai 500 buah, seluruh  perkebunan berjalan lancar dibawah integrasi pengaturan pemerintahan  Hindia Belanda yang rapi, sistem pengangkutan ada dibawah Maskapai  Deli-Spoor. Jaringan ini membuat Deli sebagai pusat perkebunan di dunia.  Disinilah Tan Malaka menganatomi kehidupan dilihat dari kelas-kelas  sosial. Tan Malaka mencatat bahwa untuk mendapatkan tenaga kerja yang  murah maka ada satu hal yang harus dijadikan bargain : &quot;Daya Tawar  Kebodohan&quot;  Pemerintah Hindia Belanda harus menjadikan kuli-kuli kontrak  sebagai manusia bodoh, terikat dan berwawasan sempit. Mereka harus  memeras keringat untuk hidup, sehingga mereka tidak lagi bisa memahami  makna kehidupan dan pembebasan pada manusia. Oleh pihak perkebunan Tan  Malaka diperintah untuk mendirikan satu pendidikan yang hanya artifisial  sebagai &#39;desa Potemkin&#39; desa Potemkin adalah julukan bagi sebuah desa  yang diatur bagus supaya Raja yang melihatnya senang, desa jenis ini  banyak dibikin pada masa Tsar Katharina dan hanya digunakan untuk  menyenangkan Tsarina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Tan Malaka selalu menolak segala hal  yang artifisial ia orang hakikat, ia selalu bekerja pada  situasi-situasi penuh esensi. Tan Malaka memberontak dan diusir dari  perkebunan Deli. Ia ke Batavia (Jakarta), di Batavia ia bertemu dengan  kelompok kiri yang baru tumbuh di lingkaran Sneevliet. Nasib membawanya  sebagai pemimpin PKI, bahkan Tan Malaka diakui sebagai salah satu  pemimpin Komunis terbesar di Asia. Ia bertemu dengan Stalin dan banyak  pejabat di Komunis Moskow, tapi ia melihat ada sesuatu yang salah di  Stalin, ia melihat begitu banyak penyimpangan. Ia berpikir : &quot;Teori Marx  adalah teori yang menjauhkan manusia pada keterasingan, keterasingan  dirinya pada lingkungan, keterasingan manusia pada pikirannya dan  keterasingan manusia pada gerak sejarah. Tapi kenapa Stalin justru  memenjarakan manusia hanya demi sebuah gerak sejarah&#39; Tan Malaka  berpikir tapi ia belum mendapat jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia pulang ke Jawa disana  ia langsung berkantor di Semarang, saat itu sedang ramai perpecahan di  tubuh Sarekat Islam (SI), suatu malam Tan Malaka dibawa ke Prambanan  oleh sekelompok orang. Para pemimpin PKI berteriak pada pertemuan sangat  rahasia &quot; Kita Memberontak sekarang juga sebagai katalisator, sebagai  pemicu pemberontakan besar di Asia Tenggara&quot; tandas salah satu pemimpin  Komunis. Tapi Tan Malaka justru berdiri &quot;Saya menolak&quot; Tan Malaka kontan  dibenci dan dia dijauhi oleh kelompok Moskow. Namun nama Tan Malaka  sudah terlanjur menjadi ikon PKI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah sebuah takdir sejarah  di negeri ini PKI selalu saja mengalami jebakan gerakan konyol dan  gerakan 1926/27 di Silungkang, Banten, Semarang dan Prambanan adalah  rangkaian gerakan paling kacau yang justru merugikan gerakan yang sudah  dibangun banyak elemen. Polisi Belanda punya kesempatan mengacau gerakan  dengan main keras. Dan Tan Malaka menjadi buronan nomor satu Agen  Polisi Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agen Polisi Rahasia Hindia Belanda di Bogor  mengontak Pemerintahan Inggris di Singapura dan Perwakilan Amerika  Serikat di untuk memburu Tan Malaka setelah Tan Malaka berhasil lari  dari penjara Belanda. Maka dimulailah episode perburuan paling mencekam  sepanjang sejarah Indonesia modern.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka dihadapkan situas  hidup-mati, temannya Soebakat ditembak mati di Singapura, ia sendiri  dikejar dimana-mana. Penolong Tan Malaka yang paling utama justru media  massa. Di Manila nama Tan Malaka menjadi headline surat kabar,  pemerintahan Manila mendesak agar Tan Malaka dibebaskan dari buruan  perwakilan Amerika Serikat di wilayah Manila. Lalu Tan Malaka melarikan  diri ke Hongkong disana Tan Malaka berhasil ditangkap lalu media massa  Hongkong, media Inggris bersimpati pada Tan Malaka dan mengirimkan surat  ke pemerintahan London untuk membebaskan Tan Malaka. Kesal dengan  situasi formal yang diserang Media akhirnya Polisi Belanda dan Inggris  ingin menghabisi Tan Malaka diluar jalur hukum, keputusan inilah yang  kemudian menjadi efek terbesar gangguan jiwa Tan Malaka yang terlalu  paranoid. Setiap pagi palu kematian sudah di depan matanya, dan kita  sendiri tak mungkin membayangkan bisa hidup dengan situasi kepribadian  seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka banyak mengalami kisah hidup yang naik  turun, ia terjebak pada perang Shanghai-Jepang, ia terjebak pada perang  Dunia dan akhirnya ia balik ke Jawa. Baliknya Tan Malaka ke Jawa ini  mirip perjalanan Lenin dari Bern ke Moskow dengan kereta api yang kerap  diingat dalam sejarah sebagai &#39;perjalanan revolusi&#39; Tan Malaka balik  dari Singapura ke Jawa dengan hanya perahu kecil ditengah badai,  taruhannya adalah kematian. Tan Malaka menghadapi itu demi sebuah  pembebasan, pembebasan bangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka sampai di Djakarta  tanpa memiliki apa-apa, namun ia punya kepandaian, ia pandai menjadi  guru, ia seorang poliglot, bisa banyak bahasa ia mengajar bahasa  Inggris, Belanda kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia mengontrak  rumah separuh kandang kambing di bilangan Rawajati, Kalibata (belakang  pabrik sepatu bata) ia sering merenung di danau dekat Rawajati (sekarang  danau pemakaman Kalibata) disana ia merenung tentang hakikat  pembebasan. Ia menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Ia  merinci hakikat gerak alam, ia mengarahkan seluruh situasi pada  soal-soal rasional ia menghantam tahayul dan tanpa referensi apapun ia  sudah mencantumkan segala ingatannya di kepala pada dasarnya ia bukan  saja seorang jenius, otaknya fotografis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu saat Tan Malaka  membaca buku di perpustakaan nasional (sekarang Musium Gadjah). Profesor  Purbacaraka berteriak di depan ruang baca &quot;Apakah ada yang bisa menjadi  penerjemah bagi pekerjaan saya&quot; Tan Malaka menunjukkan tangannya. Ia  bekerja menjadi penerjemah dari bahasa Belanda ke Bahasa Inggris untuk  pekerjaan Prof. Purbacakaraka, ahli bahasa Jawa Kuno pertama di  Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari Purbacaraka, Tan Malaka direkomendasikan ke  Bayah, Banten disana Tan Malaka berkarier sangat cepat ia menjadi kepala  di wilayah tambang batubara Bayah, ia menjadi penolong banyak Romusha  yang tersiksa. Ia membangun sistem masyarakat disana, dan yang  terpenting ia membangun jaringan. Jaringan inilah yang kemudian menjadi  senjata bagi dirinya untuk menyusun perjuangannya. Suatu saat datanglah  Bung Karno dan Bung Hatta. Tan Malaka yang dikenal di Bayah dengan nama  Ilyas Husein berdebat dengan Bung Karno disana, dan Bung Karno tak tau  siapa itu Ilyas Husein sebenarnya, dalam perdebatan itu Bung Karno  dikalahkan oleh Tan Malaka. Dan pertanyaan yang gagal dijawab oleh Bung  Karno dari Tan Malaka : &quot;Apakah sebuah kemerdekaan akan menjamin  kemenangan terakhir?&quot; Bila Bung Karno berpikir kemenangan awal, maka Tan  Malaka berpikir kemenangan akhir. Dan bagi Tan Malaka kemenangan akhir  itu adalah &#39;Beralihnya secara total hak Indonesia ke tangan rakyat  Indonesia bukan ke tangan elite atau tangan yang separuh terjajah&#39;  kemenangan akhir itu adalah &#39;Revolusi Sosial&#39;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemerdekaan  Indonesia berkumandang. Nama Tan Malaka melegenda, penulis cerita Matu  Mona seorang wartawan dari Medan menuliskan beberapa buku yang teramat  laris &#39;Patjar Merah&#39;. Nama Tan Malaka melegenda. Para pemuda yang  menjadi agen-agen revolusi kemerdekaan mulai tidak puas dengan Bung  Karno, Bung Karno memenangkan hati rakyat bukan hati Pemuda. Kaum  Radikal bertarung di jalan-jalan. Dibawah kepemimpinan Pandu  Kartawiguna, Maruto, Chaerul Saleh, Adam Malik, Sidik Kertapati dan  banyak juga preman-preman Jakarta macam Nurali, Haji Amat Geblek dan  Sjafei . Jakarta berlumur darah. Kaum pemuda Radikal dimarahi Bung Karno  agar jangan maen kokang senjata, tapi pemuda malah menertawai Bung  Karno. Disini kaum muda menemui idola baru, dan idola itu adalah Tan  Malaka. Diam-diam Tan Malaka datang ke Djakarta ke rumah sahabatnya  Achmad Soebardjo, disana Tan Malaka juga ditengarai menjalin cinta  dengan Jo Paramitha Soebardjo - kemenakan Achmad Soebardjo-. Jaringan  Banten adalah titik awal Tan Malaka bergerak : Jalur Achmad  Soebardjo-Tjeq Mamad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Bung Karno mencari jalur resmi, maka  Tan Malaka memilih jalur perang abadi. Bagi Bung Karno semua hal adalah  gertak dan diplomasi tapi bagi Tan Malaka semua soal adalah perang  betulan. Dan sepanjang masa revolusi ini Tan Malaka serta Sukarno  seperti dua matahari kembar yang meledak di banyak tempat. Revolusi  Sosial di Solo, Penculikan Perdana Menteri Sjahrir, Penangkapan Jenderal  Dharsono, Perang Srambatan sampai pada konflik Amir-Sjahrir di Madiun  dimana Tan Malaka digunakan Hatta untuk hantam Amir di Solo. Tapi sekali  lagi Tan Malaka tetaplah pejuang yang selalu ditinggal sendirian. Ia  ditinggal PKI, ia ditinggal Sukarno, ia ditinggal Sjahrir dan terakhir  ia sendirian lalu ditembak mati oleh pasukan Djawa Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tan Malaka pemimpi yang kesepian, hidup dalam kesepian dan penulis cerita yang sunyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ANTON&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8866957126659864170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/tan-malaka-hidup-kesepian-mati-kesepian_30.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8866957126659864170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8866957126659864170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/tan-malaka-hidup-kesepian-mati-kesepian_30.html' title='Tan Malaka,  Hidup Kesepian Mati Kesepian.'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYaRCeN0Xz5EViKC61GPZCea-i8jP8qBiaU1R28g3FCcW939N3EiEY1bs3l4BFuOtt_nHlgN8neIui6qbKtRXZxLRJhvIFUI8bn8v1sQrlZkOGKmqPZd8BKZchpl52X0QRbbBCYYmTEdw/s72-c/tan-malaka.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-6165479768133195032</id><published>2013-04-29T07:20:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:05:17.771-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Kisah Raden Saleh di London</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9wCK_1PMt23YH8bINx3s6MpSA9ZrYiLoUhsG5UyIYpgJjT3ZzebMiVcQE-oersgoec05M_fEfFauSSAKi_0gCsZIo2zFc7nWJe1GhrikG5N5JffSSQTUXERk0xZqmMnxV7e_un9kk6_0/s1600/Victoria_Duchess_of_Kent_1861.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5601010521244158946&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9wCK_1PMt23YH8bINx3s6MpSA9ZrYiLoUhsG5UyIYpgJjT3ZzebMiVcQE-oersgoec05M_fEfFauSSAKi_0gCsZIo2zFc7nWJe1GhrikG5N5JffSSQTUXERk0xZqmMnxV7e_un9kk6_0/s400/Victoria_Duchess_of_Kent_1861.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 274px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h6 class=&quot;uiStreamMessage&quot; ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}&quot; style=&quot;font-family: times new roman; font-weight: normal; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: small;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody&quot;&gt;Raden  Saleh Syarif Bustaman diundang ke istana Buckingham sebagai pelukis  Istana kelas satu. Raden Saleh yang melukis semua pose Ratu, termasuk  saat Ratu menikah dengan Pangeran Albert pada tahun 1860-an. Raden Saleh  disediakan ruangan di samping Istana Buckingham dan melukis hampir  semua istana sang Ratu. Kemudian setelah perayaan Pa&lt;span class=&quot;text_exposed_show&quot;&gt;meran  Kristal yang diadakan Pangeran Albert, Raden Saleh pulang membawa uang  yang banyak dari Ratu Victoria. Uang itu dibelikan lahan yang luas di  Cikini dan dijadikan rumah Raden Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Raden Saleh di  Tjikini merupakan rumah dengan penerangan lampu pijar pertama di  Batavia, lalu dijadikan titik nol oleh pengembang Bouwplow di Menteng.  Kemudian dijadikan kebun binatang dan oleh Ali Sadikin rumah itu menjadi  Taman Ismail Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, di dekat rumah itu ada sebuah  rumah kecil yang sering digunakan oleh Van Der Post, Perwira Intel  Inggris sekaligus orang kepercayaan Mountbatten untuk bertemu dengan  Sutan Sjahrir. Atas pengaruh Van Der Post, Inggris tidak mau campur  untuk urusan dengan Belanda yang berniat menjajah Indonesia. Van Der  Post adalah dukunnya Pangeran Charles. Saat Pangeran Charles ke Jakarta,  yang dicarinya adalah Poppy Sjahrir isteri Sjahrir dan ia membawa surat  pribadi Van Der Post pada isteri Sjahrir, lalu Pangeran Charles bilang :  &quot;Poppy adalah wanita terbaik di dunia di mata saya&quot;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/6165479768133195032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-raden-saleh-di-london_29.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/6165479768133195032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/6165479768133195032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-raden-saleh-di-london_29.html' title='Kisah Raden Saleh di London'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9wCK_1PMt23YH8bINx3s6MpSA9ZrYiLoUhsG5UyIYpgJjT3ZzebMiVcQE-oersgoec05M_fEfFauSSAKi_0gCsZIo2zFc7nWJe1GhrikG5N5JffSSQTUXERk0xZqmMnxV7e_un9kk6_0/s72-c/Victoria_Duchess_of_Kent_1861.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8673436918275400702</id><published>2013-04-28T12:09:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:04:57.405-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Sukarno dan Irian Barat</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2IrtiLxyLBc2OxuQhKqjs_-HEwTdYZKxId796IH4yR4xqKepW2j5In6-NlIvbTbFA_huyWNLWYZNSCyT7BzHrS71u-u6VJQwIHklZiLAd4c062teH7C0S-JlOTLvw-MR1cZVopRI12F0/s1600/Sukarno+dan+Irian+Barat.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5664170796278116450&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2IrtiLxyLBc2OxuQhKqjs_-HEwTdYZKxId796IH4yR4xqKepW2j5In6-NlIvbTbFA_huyWNLWYZNSCyT7BzHrS71u-u6VJQwIHklZiLAd4c062teH7C0S-JlOTLvw-MR1cZVopRI12F0/s400/Sukarno+dan+Irian+Barat.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 200px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada satu pagi di Bulan November 1959 Sukarno membaca laporan sebuah riset lama karya Juan Jacques Dozy yang merupakan referensi dari perpustakaan Belanda. Lalu ia mendengar adanya sebuah sinyalemen gerakan bisnis dari pengusaha Amerika Serikat Forbes Wilson yang akan mengeksplorasi Irian Barat. Sebenarnya masalah Papua Barat ini menjadi ganjalan pikiran Sukarno, karena ia merasa negaranya sudah terkepung dimana-mana, menurut analisa geopolitiknya : di utara Indonesia masih bercokol Inggris dengan Malaya dan di timur masih bercokol Belanda di Papua Barat. Ia belajar dari sejarah, pertemuan antara Inggris dan Belanda akan menjadi bentuk Kolonialisme, dan pertemuan mereka itu jelas akan mengepung pulau-pulau inti Nusantara. Lalu ketika ia mendengar bahwa pengusaha-pengusaha Amerika Serikat berminat terhadap masalah Papua Barat dan menemukan sumber cadangan raksasa di Papua Barat, insting geopolitik Sukarno bergerak cepat. Masalah Papua Barat jika didiamkan akan menjadikan Indonesia masuk ke dalam jurang penjajahan baru, yaitu tereksploitasinya Sumber Daya Alam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara di sisi lain, Bisnis bergerak cepat. Forbes Wilson pada 1 Februari 1960 melalui Freeport Sulphur dan East Burneo Company membuat kontrak kerjasama eksplorasi biji tembaga di Papua Barat. Selama beberapa bulan Wilson menjelajah kawasan Erstberg. Wilson terperancat menyaksikan kekayaan biji tembaga yang terhampar luas di permukaan tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Inilah keajaiban yang sulit ditemukan di manapun,” tulis Wilson di The Conquest of Cooper Mountain. “Sekitar 40 sampai 50 persen biji besi dan 3 persen tambang serta masih terdapat perak dan emas. Angka tiga persen itu saja sudah cukup menguntungkan bagi industri tambang. Tiga belas juta ton biji tembaga di permukaan tanah dengan kedalaman 100 meter. Jika untuk memproses 5.000 ton biji tembaga/hari dibutuhkan investasi 60 juta dollar AS, dengan rincian biaya produksi 16 sen dollar/poin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara harga jual 35 sen/poin, maka dalam tiga tahun saja inventasi itu sudah lunas,” tulis Wilson di The Conqust of Cooper Mountain. Deposit tembaga lebih besar bukan hanya Erstberg tetapi juga Gressberg. Freeport menyebut di areal Gressberg ini tersimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52, 1 juta ons. Doposit ini mempunyai nilai jual 77 milyar dollar As dan hingga 45 tahun ke depan masih menguntungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Freeport mengurungkan niatnya segera mengeksploitasi Erstberg. Sementara itu, hubungan Indonesia dan Belanda (yang lebih dulu menguasai Papua Barat) itu sangat genting dan mendekati perang terbuka. Pada tahun 1961 presiden AS John F Kennedy mengutus Ellsworth Bunker sebagai negosiator untuk menekan Belanda dan mengelabui PBB untuk Papua masuk ke dalam Indonesia.&lt;br /&gt;
Lalu Sukarno pada 19 Desember 1961 ditengah hujan deras yang mengguyur kota Yogyakarta mengumumkan rencana serangan militer untuk menguasai Papua Barat. Ia sebut Operasi itu adalah Trikora. Kemudian setelah pidato yang membakar semangat rakyat, ia kembali ke Jakarta dan memanggil Jenderal Nasution untuk menyelesaikan semua tahapan perang. Di ruang kerjanya Nasution rapat dengan staf-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya diputuskan Indonesia harus mendapat suplai senjata baru. Nasution menghubungi kontak-kontak penjualan senjata di Amerika Serikat, namun AS menolak membantu. Dinas Intelijen AS menilai, bila Indonesia berperang dengan Belanda maka Papua Barat akan jatuh ke tangan Indonesia ataupun bila Belanda berhasil mempertahankannya maka legitimasi dunia Internasional akan sah jatuh ke tangan Belanda. Diam-diam AS ingin menguasai Papua Barat melihat potensi sumber daya alamnya yang begitu luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada bulan Desember 1960, Jendral Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan &quot;menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat&quot;. Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet, dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Papua Barat bisa direbut, dengan sumber daya alam yang amat kaya itu Sukarno bermimpi akan membangun bangsanya menjadi bangsa terkuat di Asia. Dengan politik regionalnya ingin menguasai Asia Tenggara, dengan menguasai Asia Tenggara semua jalur dagang dan jalur ekonomi akan dikuasai Indonesia. Program ekonomi Sukarno adalah menguasai kekayaan alam dahulu setelah itu menyalurkannya untuk kesejahteraan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah Sukarno Indonesia berpotensi menjadi Negara terkaya nomor empat sedunia. Tapi sejarah berkata lain, dan kini terus bermunculan agen-agen asing yang terus menghembus-hembuskan argument untuk memusuhi Pemikiran dan Jalan Politik Sukarno yang tujuan mereka hanya satu : Penguasaan Sumber Daya Alam jatuh ke asing dan tidak adanya saluran untuk kesejahteraan umum.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8673436918275400702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sukarno-dan-irian-barat_28.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8673436918275400702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8673436918275400702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sukarno-dan-irian-barat_28.html' title='Sukarno dan Irian Barat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg2IrtiLxyLBc2OxuQhKqjs_-HEwTdYZKxId796IH4yR4xqKepW2j5In6-NlIvbTbFA_huyWNLWYZNSCyT7BzHrS71u-u6VJQwIHklZiLAd4c062teH7C0S-JlOTLvw-MR1cZVopRI12F0/s72-c/Sukarno+dan+Irian+Barat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-490872183876349319</id><published>2013-04-28T11:39:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:04:39.108-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Kisah Sukarno dan Rencana Pembangunan Semanggi dan Stadion Senayan</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibbw0KdvVvFaXV03Fiqnl4zH9F5Xh2-rHZ4CEyyG2X0k4ICdD7dxA5B6eHqhiNHAXD4eZMFp_ny3utulFUebtg9mV_QIhatxofxQVkAppmDaymCYvvBBH-6rMR188scpnuEpzWK_rY8CM/s1600/bungkarno-bro.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5664163390100173426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibbw0KdvVvFaXV03Fiqnl4zH9F5Xh2-rHZ4CEyyG2X0k4ICdD7dxA5B6eHqhiNHAXD4eZMFp_ny3utulFUebtg9mV_QIhatxofxQVkAppmDaymCYvvBBH-6rMR188scpnuEpzWK_rY8CM/s400/bungkarno-bro.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di depan maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana Stadion &quot;Ini...ini akan jadi Stadion terbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Sukarno memanggil pematung Sunarso dan berkata : &quot;Coba dari arah lurus ini, kamu buat Patung Selamat Datang, disinilah patung yang akan jadi gerbang bangsa kita, awal dari mula sejarah berpikir kita. Djakarta akan jadi kota dunia, ini impianku, dari Stadion Senayan ini akan dilingkari pusat-pusat kebudayaan, kita akan melahirkan bukan saja atlet-atlet handal tapi pelukis-pelukis jempolan, penari-penari kelas dunia, dan penyanyi-penyanyi yang lagunya bisa membangkitkan suara surga dari tanah Nusantara. Cobalah Sunarso aku ingin lihat karyamu, patung-patungmu akan memberi jiwa bagi bangkitnya bangsa kita ke muka dunia Internasional. Monumenmu yang kau bangun adalah kehormatan&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Bung Karno diperlihatkan maket jalan Semanggi : &quot;Semanggi ini perlambang bunga yang imbang, dari susunan daunnya dan batangnya. Ini seperti bangsa kita yang menyukai keindahan, dan taukah kamu...eh Bandrio, eh Jenderal Suprayogi, eh Sutami....keindahan itu adalah keseimbangan&quot; kata Bung Karno dengan mata penuh kemenangan.&lt;br /&gt;
—</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/490872183876349319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-sukarno-dan-rencana-pembangunan_28.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/490872183876349319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/490872183876349319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-sukarno-dan-rencana-pembangunan_28.html' title='Kisah Sukarno dan Rencana Pembangunan Semanggi dan Stadion Senayan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibbw0KdvVvFaXV03Fiqnl4zH9F5Xh2-rHZ4CEyyG2X0k4ICdD7dxA5B6eHqhiNHAXD4eZMFp_ny3utulFUebtg9mV_QIhatxofxQVkAppmDaymCYvvBBH-6rMR188scpnuEpzWK_rY8CM/s72-c/bungkarno-bro.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-1670556343585228868</id><published>2013-04-27T12:26:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:04:24.122-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pidato"/><title type='text'>Pidato Bung Karno Menemukan Jiwa Revolusi Kita</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMSNdI4019oFE4bH557AZGFzdqxRfxV47cWY5VJhYPn8ISl7y7YS7YQ4cL5FW9NzYTx5ON2bkUW1ywzl2kL1J1Nz0t-ZUqv29STLlgtbSXYhmZ9qhTRI2fKZmQ6tFyTnjl_H9X0DZx11E/s1600/Sukarno+ITB.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5664175236919182882&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMSNdI4019oFE4bH557AZGFzdqxRfxV47cWY5VJhYPn8ISl7y7YS7YQ4cL5FW9NzYTx5ON2bkUW1ywzl2kL1J1Nz0t-ZUqv29STLlgtbSXYhmZ9qhTRI2fKZmQ6tFyTnjl_H9X0DZx11E/s400/Sukarno+ITB.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 286px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saja berdiri dihadapan saudara-saudara, dan berbitjara kepada saudara-saudara diseluruh tanah-air, bahkan djuga kepada saudara-saudara bangsa Indonesia jang berada diluar tanah-air, untuk bersama-sama dengan saudara-saudara memperingati, merajakan, mengagungkan, mengtjamkan Proklamasi kita jang keramat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tegas saja katakan &quot;mengtjamkan&quot;. Sebab, hari ulang-tahun ke-empatbelas daripada Proklamasi kita itu harus benar-benar membuka halaman baru dalam sedjarah Revolusi kita, halaman baru dalam sedjarah Perdjoangan Nasional kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1959 menduduki tempat jang istimewa dalam sedjarah Revolusi kita itu. Tempat jang unik! Ada tahun jang saya namakan &quot;tahun ketentuan&quot;, - a year of decision. Ada tahun jang saja sebut &quot;tahun tantangan&quot;, - a year of challenge. Istimewa tahun jang lalu saja namakan &quot;tahun tantangan. Tetapi buat tahun 1959 saja akan beri sebutan lain. Tahun 1959 adalah tahun dalam mana kita, - sesudah pengalaman pahit hampir sepuluh tahun- , kembali kepada Undang-Undang-Dasar 1945, - Undang-Undang-Dasar Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun dalam mana kita kembali kepada djiwa Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun penemuan kembali Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun &quot;Rediscovery of our Revolution&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itulah maka tahun 1959 menduduki tempat jang istimewa dalam sedjarah Perdjoangan Nasional kita, satu tempat jang unik!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seringkali telah saja djelaskan tentang tingkatan-tingkatan Revolusi kita ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1945 - 1950. Tingkatan physical Revolution. Dalam tingkatan ini kita merebut dan mempertahankan apa jang kita rebut itu, jaitu kekuasaan, dari tangannja fihak imperialis, kedalam tangan kita sendiri. Kita merebut dan mempertahankan kekuasaan itu dengan segenap tenaga rochaniah dan djasmaniah jang ada pada kita, - dengan apinja kitapunja djiwa dan dengan apinja kitapunya bedil dan meriam. Angkasa Indonesia pada waktu itu adalah laksana angkasa kobong, bumi Indonesia laksana bumi tersiram api. Oleh karena itu maka pada periode 1945 - 1950 adalah periode Revolusi phisik. Periode ini, periode merebut dan mempertahankan kekuasaan, adalah periode Revolusi politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1950 - 1955. Tingkatan ini saja namakan tingkatan &quot;survival&quot;. Survival artinja tetap hidup, tidak mati. Lima tahun physical revolution tidak membuat kita rebah, lima tahun bertempur, menderita, berkorban-badaniah, lapar, kedjar-kedjaran dengan maut, tidak membuat kita binasa. Badan penuh dengan luka-luka, tetapi kita tetap berdiri. Dan antara 1950 - 1955 kita sembuhkanlah luka-luka itu, kita sulami mana jang bolong, kita tutup mana jang djebol. Dan dalam tahun 1955 kita dapat berkata, bahwa tertebuslah segala penderitaan jang kita alami dalam periode Revolusi phisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1956. Mulai dengan tahun ini kita ingin memasuki satu periode baru. Kita ingin memasuki periodenja Revolusi sosial-ekonomis, untuk mentjapai tudjuan terachir daripada Revolusi kita, jaitu satu masjarakat adil dan makmur, &quot;tata-tentrem-kerta-rahard&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;fbPhotosPhotoCaption&quot; id=&quot;fbPhotoSnowboxCaption&quot; live=&quot;polite&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;
&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class=&quot;word_break&quot;&gt;&lt;/span&gt;ja&quot;.&lt;br /&gt;
Tidakkah demikian saudara-saudara? Kita berevolusi, kita berdjoang, kita berkorban, kita berdansa dengan maut, toh bukan hanja untuk menaikkan bendera Sang Merah Putih, bukan hanja untuk melepaskan Sang Garuda Indonesia terbang diangkasa? &quot;Kita bergerak&quot;, demikian saja tuliskan dalam risalah &quot;Mentjapai Indonesia Merdeka&quot; hampir tigapuluh tahun jang lalu - : &quot;Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena kita ingin hidup lebih lajak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena &quot;ideaal&quot; sadja, kita bergerak karena ingin tjukup makanan, ingin tjukup pakaian, ingin tjukup tanah, ingin tjukup perumahan, ingin tjukup pendidikan, ingin tjukup minimum seni dan cultuur, - pendek kata kita bergerak kerena ingin perbaikan nasib didalam segala bagian-bagiannja dan tjabang-tjabangnja. Perbaikan nasib ini hanjalah bisa datang seratus procent, bilamana masjarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab stelsel inilah jang sebagai kemladean tumbuh diatas tubuh kita, hidup dan subur daripada tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnja masjarakat kita. - Oleh karena itu, maka pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan jang ketjil-ketjilan. - Pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan jang ingin merobah samasekali sifatnya masjarakat&quot;....&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendek-kata, dari dulu-mula tudjuan kita ialah satu masjarakat jang adil dan makmur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masjarakat jang demikian itu tidak djatuh begitu-sadja dari langit, laksana embun diwaktu malam. Masjarakat jang demikian itu harus kita perdjoangkan, masjarakat jang demikian itu harus kita bangun. Sedjak tahun 1956 kita ingin memasuki alam pembangunan. Alam pembangunan Semesta. Dan saudara-saudara telah sering mendengar dari mulut saja, bahwa untuk pembangunan Semesta itu kita harus mengadakan perbekalan-perbekalan dan peralatan-peralatan lebih dahulu, - dalam bahasa asingnya: mengadakan &quot;invesment-invesment&quot; lebih dahulu. Sedjak tahun 1956 mulailah periode invesment. Dan sesudah periode invesment itu selesai, mulailah periode pembangunan besar-besaran. Dan sesudah pembangunan besar-besaran itu, mengalamilah kita Inja-Allah subhanahu wa ta ála alamnja masjarakat adil dan makmur, alamnja masjarakat &quot;murah sandang murah pangan&quot;, &quot;subur kang sarwa tinadur, murah kang sarwa tinuku&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara-Saudara! Djika kita menengok kebelakang, maka tampaklah dengan djelas, bahwa dalam tingkatan Revolusi Phisik, segala perbuatan kita dan segala tekad kita mempunjai dasar dan tudjuan jang tegas-djelas buat kita semua: melenjapkan kekuasaan Belanda dari bumi Indonesia, mengenjahkan bendera tiga warna dari bumi Indonesia. Pada satu detik, djam sepuluh pagi, tanggal 17 Agustus, tahun 1945, Proklamasi diutjapkan, - tetapi lima tahun lamanja Djiwa Proklamasi itu tetap berkobar-kobar, tetap berapi-api, tetap murni mendjiwai segenap fikiran dan rasa kita, tetap murni menghikmati segenap tindak-tanduk kita, tetap murni mewahjui segenap keichlasan dan kerelaan kita untuk menderita dan berkorban. Undang-Undang-Dasar 1945, - Undang-Undang-Dasar Proklamasi - , benar-benar ternjata Undang-Undang-Dasar Perdjoangan, benar-benar ternjata satu pelopor daripada alat-Perdjoangan! Dengan Djiwa Proklamasi dan dengan Undang-Undang-Dasar Proklamasi itu, perdjoangan berdjalan pesat, malah perdjoangan berdjalan laksana lawine jang makin lama makin gemuruh dan tá tertahan, menjapu bersih segala penghalang!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal lihat! alat-alat jang berupa perbendaan (materiil) pada waktu itu serba kurang, serba sederhana, serba dibawah minimum! Keuangan tambal-sulam, Angkatan Perang tjompang-tjamping, kekuasaan politik djatuh-bangun, daerah de facto Republik Indonesia kadang-kadang hanja seperti selebar pajung. Tetapi Djiwa Proklamasi dan Undang-Undang-Dasar Proklamasi mengikat dan membakar semangat seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke! Itulah sebabnja kita pada waktu itu achirnja menang. Itulah sebabnja kita pada waktu itu achirnja berhasil pengakuan kedaulatan, - bukan souvereiniteits-overdracht&lt;wbr&gt;&lt;/wbr&gt;&lt;span class=&quot;word_break&quot;&gt;&lt;/span&gt; tetapi souvereiniteits-erkenning - , pada tanggal 27 Desember 1949.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah gilang-gemilangnja periode Revolusi phisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam periode jang kemudian, jaitu dalam periode survival, sedjak tahun 1950, maka modal perdjoangan dalam arti perbendaan (materiil) agak lebih besar daripada sebelumnja. Keuangan kita lebih longgar, Angkatan Perang kita tidak tjompang-tjamping lagi; kekuasaan politik kita diakui oleh sebagian besar dunia Internasional; kekuasaan de facto kita melebar sampai daerah dimuka pintu gerbang Irian Barat. Tetapi dalam arti modal-mental, maka modal-perdjoangan kita itu mengalami satu kemunduran. Apa sebab?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama oleh karena djiwa, sesudah berachirnja sesuatu perdjoangan phisik, selalu mengalami satu kekendoran; kedua oleh karena pengakuan kedaulatan itu kita beli dengan berbagai matjam kompromis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kompromis, tidak hanja dalam arti penebusan dengan kekajaan materiil, tetapi lebih djahat daripada itu: kompromis dalam arti mengorbankan Djiwa Revolusi, dengan segala akibat daripada itu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan Belanda, melalui K.M.B., kita mesti mentjairkan Djiwa-revolusi kita; di Indonesia sendiri, kita harus berkompromis dengan golongan-golongan jang non-revolusioner: golongan-golongan blandis, golongan-golongan reformis, golongan-golongan konservatif, golongan-golongan kontra-revolusioner, golongan-golongan bunglon dan tjetjunguk-tjetjunguk. Sampai-sampai kita, dalam mengorbankan djiwa revolusi ini, meninggalkan Undang-Undang-Dasar 1945 sebagai alat perdjoangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saja tidak mentjela K.M.B., sebagai taktik perdjoangan. Saja sendiri dulu mengguratkan apa jang saja &quot;tracée baru&quot; untuk memperoleh pengakuan kedaulatan. Tetapi saja tidak menjetudjui orang jang tidak menjadari adanja bahaja-bahaja penghalang Revolusi jang timbul sebagai akibat daripada kompromis K.M.B. itu. Apalagi orang jang tidak menjadari bahwa K.M.B. adalah satu kompromis! Orang-orang jang demikian itu adalah orang-orang jang pernah saja namakan orang-orang possibilis, orang-orang jang pada hakekatnya tidak dinamis-revolusioner, bahkan maungkin kontra-revolusioner. Orang-orang jang demikian itu sedikitnja adalah orang-orang jang beku, orang-orang jang tidak mengerti maknanja &quot;taktik&quot;, orang-orang jang mentjampur-bawurkan taktik dan tudjuan, orang-orang jang djiwanja &quot;mandek&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang jang demikian itulah, disamping sebab-sebab lain, meratjuni djiwa bangsa Indonesia sedjak tahun 1950 dengan ratjunnja reformisme. Merekalah jang mendjadi salah satu sebab kemunduran modal mental daripada Revolusi kita sedjak 1950, meskipun dilapangan peralatan materiil kita mengalami sedikit kemadjuan. Kalau tergantung daripada mereka, kita sekarang masih hidup dalam alam K.M.B.! Masih hidup dalam alam Uni Indonesia-Belanda! masih hidup dalam alam suprimasi modal belanda!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka berkata, bahwa kita harus selalu tunduk kepada perdjandjian internasional, sampai lebur-kiamat kita tidak boleh menjimpang daripadanja! Mereka berkata, bahwa kita tidak boleh merobah negara federal ála van Mook, tidak boleh menghapuskan Uni, oleh karena kita telah menandatangani perdjandjian K.M.B. &quot;Setia kepada aksara, setia kepada aksara!, demikianlah wijsheid jang mereka keramatkan. Njatalah mereka sama sekali tdak mengerti apa jang dinamakan Revolusi. Njatalah mereka tidak mengerti bahwa Revolusi djustru mengingkari aksara! Dan, njatalah mereka tidak mengerti , - oleh karena mereka memang tidak ahli revolusi -, bahwa modal pokok bagi tiap-tiap revolusi nasional menentang imperialisme-kolonialisme ialah Kosentrasi Kekuatan Nasional, dan bukan perpetjahan kekuatan nasional. Meskipun kita menjetudjui pemberian autonomi-daerah seluas-luasnja sesuai dengan motto kita Bhineka Tunggal Ika, maka federasi á la van Mook harus kita tidak setiai, harus kita kikis-habis selekas-lekasnja, oleh karena federalisme á la van Mook itu adalah pada hakekatnja alat pemetjah-belah kekuatan nasional. Djahatnja politik pemetjah-belahan ini ternjata sekali sedjak tahun 1950 itu, dan mentjapai klimaksnja dalam pemberontakan P.R.R.I.-Permesta dua tahun jang lalu, dan oleh karenanja harus kita gempur-hantjur habis-habisan, sampai hilang lenjap P.R.R.I.-Permesta itu sama sekali!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ja, sekali lagi: Persetudjuan internasional tidak berarti satu barang jang langgeng dan abadi. Ia harus memberi kemungkinan untuk setiap waktu menghadapi revisi. Apalagi, djika persetudjuan itu mengandung unsur-unsur jang bertentangan dengan keadilan manusia, - dilapangan politikkah, dilapangan ekonomikah, dilapangan militerkah -, maka wadjib persetudjuan tersebut direvisi pada waktu perimbangan kekuatan berobah. Misalnja pendjadjahan terhadap bangsa lain, meski tadinja ia disetudjui dalam sesuatu perdjandjian internasional sekalipun, ta&#39; dapat diterima sebagai suatu hukum jang mutlak dan abadi, jang harus dibenarkan terus menerus sampai keachir zaman.Tidak!, ia harus ditjela setadjam-tadjamnja, ditentang mati-matian, ditiadakan selekas mungkin. Tidak boleh kita membiarkan langgeng dan abadi sesuatu hukum jang berdasarkan penguasaan silemah oleh sikuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara-saudara, saja masih dalam membitjarakan periode survival. Selama kita masih dalam periode survival ini, maka segala kompromis dan reformisme jang saja sebutkan tadi tidak begitu disedari akan akibatnja. Ja, mungkin terasa kadang-kadang, bahwa djalannja pertumbuhan agak serat, tetapi keseratan ini makin lama makin diartikan sebagai satu kekurangan atau tjatjat jang memang melekat pada bangsa Indonesia sendiri, satu kekurangan atau tjatjat jang memang &quot;inhaerent&quot; kepada bangsa Indonesia sendiri, - bukan sebagai akibat daripda sesuatu kompromis, atau akibat sesuatu reformisme, atau akibat sesuatu possibilisme, pendek kata bukan sebagai akibat pengorbanan djiwa Revolusi. Segala kematjetan dan keseratan di &quot;verklaar&quot; dengan kata &quot;memang kita ini belum tjukup matang, memang kita ini masih sedikit Inlander&quot;, Sinisme lantas timbul! Kepertjajaan kepada kemampuan bangsa sendiri gojang. Djiwa Inlander jang memandang rendah kepada bangsa sendiri dan memandang agung kepada bangsa asing muntjul disana-sini terutama sekali dikalangan kaum intelektuil. Padahal semuanja sebenarnja adalah abibat daripada kompromis!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masuk kita kedalam periode invesment. Didalam periode inilah, - periode voorbeidingnja revolusi sosial-ekonomi - , makin tampaklah akibat-akibat djelek daripada kompromis 1949 itu. Terasalah oleh seluruh masjarakat - ketjuali masjarakatnja orang-orang pemakan nangka tanpa terkena getahnja nangka, masjarakatnja orang-orang jang &quot;arrivés&quot; , masjarakatnja sipemimpin mobil sedan dan sipemimpin penggaruk lisensi -, terasalah oleh seluruh rakjat bahwa djiwa, dasar, dan tudjuan Revolusi jang kita mulai dalam tahun 1945 itu kini dihinggapi oleh penjakit -penjakit dan dualisme-dualisme jang berbahaja sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimana djiwa Revolusi itu sekarang? Djiwa Revolusi sudah mendjadi hampir padam, sudah mendjadi dingin ta&#39;ada apinja. Dimana Dasar Revolusi itu sekarang? Dasar Revolusi itu sekarang tidak karuan mana letaknja, oleh karena masing-masing partai menaruhkan dasarnja sendiri, sehingga dasar Pantja Sila pun sudah ada jang meninggalkannja. Diaman tdjuan revolusi itu sekarang? Tudjuan Revolusi, - jaitu masyarakat jang adil dan makmur -, kini oleh orang-orang jang bukan putra-revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, dimana suara rakjat banyak dieksploitir, ditjatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, dimana berbagai golongan menggaruk kekajaan hantam-kromo, dengan mengorbankan kepentingan rakjat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala penjakit dan dualisme itu tampak menondjol terang djelas dalam periode invesment itu! Terutama sekali penjakit dan dualisme empat rupa jang sudah saja sinjalir beberapa kali: dualisme antara pemerintah dan pimpinan Revolusi; dualisme dalam outlook kemasjarakatan: masjarakat adil dan makmurkah, atau masjarakat kapitaliskah? dualisme &quot;Revolusi sudah selesaikah&quot; atau &quot;Revolusi belum selesaikah&quot;? dualisme dalam demokrasi, - demokrasi untuk rakjatkah, atau Rakjat untuk demokrasikah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sebagai saja katakan, segala kegagalan-kegagalan, segala keseratan-keseratan, segala kematjetan-kematjetan dalam usaha-usaha kita jang kita alami dalam periode survival dan invesment itu, tidak semata-mata desebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan jang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia sendiri, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa jang tolol, atau bangsa jang bodoh, atau bangsa jang tidak mampu apa-apa, - tidak! - , segala kegagalan, keseratan, kematjetan itu pada pokoknja adalah disebabkan oleh karena kita, sengadja atau tidak sengadja, sedar atau tidak sedar, telah menjeléwéng dari Djiwa, dari Dasar, dan dari Tudjuan Revolusi!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita telah mendjalankan kompromis, dan kompromis itu telah menggerogoti kitapunja Djiwa sendiri!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insjafilah hal ini, sebab, itulah langkah pertama untuk menjehatkan perdjoangan kita ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kalau kita sudah insjaf, marilah kita, sebagai sudah saja andjurkan, memikirkan mentjari djalan-keluar, memikirkan mentjari way-out, - think and re-think, make and re-make, , shape and re-shape. Buanglah apa jang salah, bentuklah apa jang harus dibentuk! Beranilah membongkar segala alat-alat jang tá tepat, - alat-alat maretiil dan alat-alat mental -. beranilah membangun alat-alat jang baru untuk meneruskan perdjoangan diatas rel Revolusi. Beranilah mengadakan &quot;retooling for the future&quot;. Pendek kata, beranilah meninggalkan alam perdjoangan setjara sekarang, dan beranilah kembali samasekali kepada Djiwa Revolusi 1945&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/1670556343585228868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/pidato-bung-karno-menemukan-jiwa_27.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1670556343585228868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1670556343585228868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/pidato-bung-karno-menemukan-jiwa_27.html' title='Pidato Bung Karno Menemukan Jiwa Revolusi Kita'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMSNdI4019oFE4bH557AZGFzdqxRfxV47cWY5VJhYPn8ISl7y7YS7YQ4cL5FW9NzYTx5ON2bkUW1ywzl2kL1J1Nz0t-ZUqv29STLlgtbSXYhmZ9qhTRI2fKZmQ6tFyTnjl_H9X0DZx11E/s72-c/Sukarno+ITB.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-7343890400917247665</id><published>2013-04-26T22:09:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:04:05.242-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Apa Itu Marhaen?</title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSUKoys2HNJz4FbMQc2ubn5Qd2D1p63sMM951EX-6IVEOJsfFZJbP2zeO3SYY1v4AgvVYijs3dCKwWeXC8A_rUYsTMCCLwiCvsO6fYrrHLuSvK5wF_TOJtLSTNzX9BKG9hewQDxQi1W0Y/s1600/Bung+Karno+Di+Tugu+Semarang.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;239&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSUKoys2HNJz4FbMQc2ubn5Qd2D1p63sMM951EX-6IVEOJsfFZJbP2zeO3SYY1v4AgvVYijs3dCKwWeXC8A_rUYsTMCCLwiCvsO6fYrrHLuSvK5wF_TOJtLSTNzX9BKG9hewQDxQi1W0Y/s320/Bung+Karno+Di+Tugu+Semarang.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagi sebagian besar orang dan bahkan intelektual sejarah mengartikan Marhaen Bung Karno sebagai akronim dari : Marx, Hegel dan Engels. Padahal menurut Sukarno sendiri Marhaen adalah nama orang, ini sama saja dengan Doel, Ahmad atau Bodin yang jamak dalam masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa itu Marhaen? sebuah kelas sosial yang kerap diucapkan Sukarno sebagai pendukung terbesar garis politiknya. Sukarno berkata &quot;Marhaen adalah orang yang punya modal tapi teramat kecilnya, ia punya gerobak sendiri, ia punya pacul sendiri dan ia punya tanah sendiri, tapi amat kecil, amat terbatas ia tidak mungkin disejahterakan oleh sistem&quot; itulah Marhaen dalam pengertian Sukarno. Dan oleh Sukarno pula &quot;Di Indonesia tidak ada kelas buruh yang murni, tidak ada kelas borjuis yang murni, mayoritas di Indonesia adalah Marhaen dan masyarakat Indonesia tidak mengenal pertentangan kelas seperti yang dipikirkan oleh para pengikut Marx&quot;. tentunya Sukarno agak sedikit mendangkalkan makna penentangan kelas Marxian, tapi sebagai sebuah struktur penjelasan ekonomi modal maka pemikiran Sukarno sangat luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarno menghendaki ekonomi modal yang kuat, negara bisa menjalankan revolusi sosialnya tanpa harus merampas hak-hak modal rakyat. Negara menjadi agen kesejahteraan umum, para dokter bekerja untuk kebaktian pada kesehatan masyarakat bukan uang, para guru bekerja sebagai bagian kebaktian bekerja untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bukan uang, dan para intelektual kita merumuskan masalah-masalah kehidupan untuk pencerahan bukan uang itulah makna kehidupan bagi Sukarno, dan Marhaen sebagai penopang ekonomi dari lautan masyarakat ini menjadi peran utama dalam distribusi kesejahteraan masyarakat, mereka mudah mendapat modal dari Bank Negara, anak-anak mereka sekolah gratis, kesehatan gratis dan negara menjadi sponsor utama pencerdasan masyarakat, negara menghindari dirinya menjadi agen kekerasan sekaligus menahan serbuan taktik penjajahan modal asing, atau menggelembungnya raksasa pengusaha nasional yang ingin mengakuisisi negara.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah arti penting menghidupkan kembali apinya Sukarnoisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anton Djakarta 2011.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/7343890400917247665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/apa-itu-marhaen_26.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7343890400917247665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7343890400917247665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/apa-itu-marhaen_26.html' title='Apa Itu Marhaen?'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgSUKoys2HNJz4FbMQc2ubn5Qd2D1p63sMM951EX-6IVEOJsfFZJbP2zeO3SYY1v4AgvVYijs3dCKwWeXC8A_rUYsTMCCLwiCvsO6fYrrHLuSvK5wF_TOJtLSTNzX9BKG9hewQDxQi1W0Y/s72-c/Bung+Karno+Di+Tugu+Semarang.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-743262721299189119</id><published>2013-04-25T13:38:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:03:49.620-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Mengukur Imajinasi Sukarno</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS2tGQNlYvXM5LPj8OOC-CmwybCqtJeZbOcvIoi7Wx-X_SgzRSbjJ1jUfw8uWQtJkFf1ZQ-3qPh9Y9uzQMBxy5gNiikAmgYUXzXE24nrfwwKROKconfp46gks4jAB1hsMG2RxsLwt4rBY/s1600/Karnos.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666419181661829618&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS2tGQNlYvXM5LPj8OOC-CmwybCqtJeZbOcvIoi7Wx-X_SgzRSbjJ1jUfw8uWQtJkFf1ZQ-3qPh9Y9uzQMBxy5gNiikAmgYUXzXE24nrfwwKROKconfp46gks4jAB1hsMG2RxsLwt4rBY/s400/Karnos.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 255px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Mempelajari Sukarno adalah sebuah imajinasi, sebuah degup yang mungkin tidak akan pernah berhenti. Sukarno dibesarkan oleh ilmu pengetahuan cara barat, tapi ia selalu berpikir dan bertindak dengan cara-cara Jawa. Orang Jawa tidak pernah menggunakan rasio-rasio yang terukur untuk membangun tindakan, mereka lebih mengedepankan insting-insting yang dipercayainya, mereka membangun tindakan dari rangkaian insting itu. Mustahil mempelajari Sukarno dan apa yang dilakukannya tanpa kita melibatkan banyak unsur kultural, sejarah kekuasaan Jawa, psikologis kekuasaan Jawa, cara orang Jawa melihat masa depan, cara orang Jawa mendalami siklus jaman dan yang terpenting dialektika jaman yang bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puncak kerja Sukarno adalah tahun 1960-an, yang oleh sejarawan Orde Baru dilabur sebagai tahun kebangkrutan Indonesia. Tapi sadarkah kita? di tahun-tahun itu Indonesia berada pada puncak sejarahnya. Puncak keagungannya? Militer kita terbesar nomor lima di dunia, pengaruh diplomasi kita meliputi hampir separuh dunia. Di luar Amerika Serikat dan Sovjet Uni, Indonesia-lah yang paling berperan dalam dunia politik internasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemiskinan di masa Sukarno yang diberitakan oleh media-media barat ini tak lebih antrean minyak tanah pada masa SBY, bahkan PKI yang kerap memprotes tindakan pemerintah oleh sejarawan Orde Baru dianggap sebagai penyebab lesunya ekonomi. Analisa ini menjadi lucu karena PKI berada diluar struktur pemerintahan. Ekonomi Indonesia tidak morat-marit sama sekali di Jaman Bung Karno, bahkan bila kita melihat secara EVA (Economics Value Added) rangkaian kinerja Sukarno tahun 1960-1965 memiliki nilai tinggi di masa depan, yaitu apa? -adanya penguasaan secara penuh modal nasional-. Sukarno dengan tahapan-tahapannya mengarahkan negara untuk menguasai modal nasional secara utuh. Dengan penguasaan modal nasional maka ia bermimpi : Biaya kesehatan dibiayai gratis, sekolah anak-anak bangsa gratis, dia bisa membiayai anggaran militer yang kuat dan seluruh Indonesia dibangun pelabuhan-pelabuhan dagang yang kuat serta ramai dan menjadi jalur penting perdagangan dunia. Tapi ekonom cupet, sejarawah tolol banyak melihat sesuatu hanya satu scoupe, satu dimensi, gagal melihat sesuatu dengan gairah keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di jaman Sukarno ketimpangan kekayaan nyaris tak ada. Anak Menteri dan anak rakyat biasa bersekolah di tempat yang sama, naik sepeda dengan merek yang sama, korupsi kalaupun ada jelas penyelesaiannya. Tidak ada kelompok atau orang yang berani korupsi dalam skala raksasa, karena kalau itu terjadi maka beresiko dihadapkan ke regu tembak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi masa Sukarno mungkin sudah lama berlalu, kita melewati sedemikian lama pengelabuan sejarah Orde Baru, dan sekelompok orang sekarang yang tak percaya bagaimana dunia sosialisme bekerja. Kita dipaksa untuk percaya bahwa Mall-Mall, Ruang Perbelanjaan Kapitalis, Rumah Sakit Mahal, Universitas Mahal adalah masa depan Indonesia, kita dipaksa percaya untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mimpi-mimpi Sukarno menjadi hantu yang menakutkan bagi mereka.............&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anton, 2011.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/743262721299189119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/mengukur-imajinasi-sukarno_25.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/743262721299189119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/743262721299189119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/mengukur-imajinasi-sukarno_25.html' title='Mengukur Imajinasi Sukarno'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgS2tGQNlYvXM5LPj8OOC-CmwybCqtJeZbOcvIoi7Wx-X_SgzRSbjJ1jUfw8uWQtJkFf1ZQ-3qPh9Y9uzQMBxy5gNiikAmgYUXzXE24nrfwwKROKconfp46gks4jAB1hsMG2RxsLwt4rBY/s72-c/Karnos.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-2133229612272080998</id><published>2013-04-24T14:02:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:03:29.498-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Beograd Masih Ingat Bung Karno</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD5hhejGBq2OvybTGjpX2-iaTO68_0nmtycnkvPixppWcbvUCRSGhthFvrkahyL6x8t4-nHgzeqeauE2XwDfo4xqo5EIRaYyNxZoAZua-K211l-ZdoQv3IhufQeh2G9nKeYeeiDCyS6wg/s1600/Tito.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666426373589025810&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD5hhejGBq2OvybTGjpX2-iaTO68_0nmtycnkvPixppWcbvUCRSGhthFvrkahyL6x8t4-nHgzeqeauE2XwDfo4xqo5EIRaYyNxZoAZua-K211l-ZdoQv3IhufQeh2G9nKeYeeiDCyS6wg/s400/Tito.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 301px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjumpaan secara tak sengaja dengan Miroslavic di Kafe Insomnia semakin meyakinkan bahwa nama besar Bung Karno, presiden RI pertama, benar-benar tinggal di hati rakyat Beograd, Serbia. Barangkali juga Bung Karno tidak hanya dikenang di Beograd, tetapi juga di kota-kota lainnya di seluruh Serbia atau malahan di seluruh wilayah bekas Yugoslavia.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kafe Insomnia yang terletak di perempatan Jalan Strahinjica Bana 66a itu tidaklah besar. Gedung kafe itu berlantai dua. Di lantai bawah ada sekitar 20 kursi, demikian juga di lantai atas. Tetapi, di ruang kecil itu, nama besar Bung Karno bergaung begitu keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ah, dari Indonesia,” ujar Miroslavic begitu ramah. Lelaki kelahiran tahun 1942, yang pernah memiliki percetakan kertas undangan dan tanggalan, itu lalu dengan lancar bercerita tentang Bung Karno. ”Coba di zaman sekarang ini muncul kombinasi pemimpin seperti (Josip Broz) Tito, Bung Karno, (Gamal Abdul) Nasser, (Jawaharlal) Nehru, dan siapa lagi itu yang dari Ghana, saya lupa, pasti hebat sekali.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Saya masih ingat, walau waktu itu masih kecil, kunjungan Bung Karno ke sini, Beograd. Bung Karno sahabat Tito. Waktu itu kami berdiri di pinggir jalan sambil melambai-lambaikan bendera kedua negara. Keduanya hebat,” tuturnya lebih lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Bung Karno memang selalu disebut-sebut di mana- mana. Begitu menginjakkan kaki di Beograd, yang pertama kali menyebut nama Bung Karno adalah Andri Hadi, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, yang memimpin delegasi Indonesia dalam dialog bilateral antarumat beragama (interfaith) Indonesia-Serbia. ”Kita tiba di negeri sahabatnya Bung Karno,” katanya saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Kedutaan Besar RI di Beograd, untuk kedua kalinya nama Bung Karno disebut. Kali ini oleh Dubes RI untuk Serbia Semuel Samson. ”Gedung KBRI ini berdiri di wilayah yang khusus, istimewa, tidak di kompleks korps diplomatik. Kita memperoleh tempat yang khusus dan luas karena eratnya persahabatan antara Bung Karno dan Tito,” jelas Semuel Samson.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Anda harus berbangga, sekarang mengikuti seminar di tempat yang dulu digunakan juga oleh para pemimpin Gerakan Nonblok (GNB) untuk pertama kalinya bersidang. Yang lebih istimewa lagi, dan ini harus membuat Anda bangga, di sinilah dulu Bung Karno juga bersidang. Bung Karno pemimpin besar. Dia sahabat Tito, yang berarti juga sahabat kami. Kami, rakyat Serbia, dulu Yugoslavia, bangga akan dia,” ujar Radislav Z Milanovic begitu lancar, tanpa bisa diputus, di sela-sela dialog antar-umat beragama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog diselenggarakan di Palace of Serbia, sebuah gedung yang digunakan untuk menggelar Konferensi Pertama GNB tahun 1961. Milanovic, seorang senior eksekutif di perusahaan penerbangan Serbia, yang pernah beberapa kali ke Indonesia, mengaku sangat mengagumi Bung Karno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam ruang sidang, Ljubodrag Dimic, seorang profesor doktor dari Universitas Beograd, yang menjadi salah satu pembicara dalam dialog, secara panjang lebar menjelaskan tentang persahabatan Indonesia lewat GNB. ”Bung Karno memainkan peran sangat besar dalam konferensi itu,” katanya. ”Soekarno memang tokoh besar. Anda, saudara-saudara kami dari Indonesia, harus berbangga memiliki tokoh sebesar dan sehebat Soekarno, sama seperti kami memiliki tokoh besar Tito,” lanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokoh pemersatu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang diucapkan Dimic itu diulangi lagi oleh pemimpin Komunitas Islam Serbia, Imam Besar Adem Zilkic, saat menerima delegasi Indonesia di kompleks Masjid Bajrakli. ”Jarak antara Indonesia dan Serbia memang jauh. Secara geografis kita berada di tempat yang berjauhan, tetapi secara spiritual kita dekat. Kita memiliki hubungan spiritual yang dekat. Yang berjasa mempererat hubungan spiritual kita adalah Soekarno. Dia sahabat kami rakyat Serbia,” kata Adem Zilkic.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua jam kemudian, di Universitas Beograd, Rektor Universitas Beograd Branko Bogdanovic, menjelang acara penandatanganan naskah kesepahaman antara Universitas Beograd dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, lagi-lagi bercerita tentang kebesaran dan kehebatan Bung Karno. ”Presiden Soekarno menerima gelar doktor kehormatan dari universitas ini. Pemberian gelar itu, selain menunjukkan kehebatan Soekarno di bidang akademi, juga membuktikan betapa kami sangat menghormati tokoh besar itu,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Ya, Soekarno memang tokoh besar. Ia pahlawan yang kami banggakan. Berdosalah kami kalau ke Beograd tidak singgah ke universitas ini, tempat dulu Soekarno mendapat gelar doktor,” sambung Semuel Samson. Bahkan Dubes RI untuk Serbia ini menyebut, selama 20 tahun masa pemerintahannya, Bung Karno 20 kali mengunjungi Yugoslavia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Dekan Fakultas Teologi Ortodoks Universitas Beograd Artemije Irenej, seorang uskup Gereja Ortodoks Serbia, tidak ketinggalan memuji Bung Karno menjelang kuliah umum yang disampaikan oleh Pendeta Margaretha Maria Hendriks-Ririmasse, Heru Prakoso SJ, dan Komaruddin Hidayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Bung Karno begitu dipuji dan dikagumi di Serbia? ”Itu menunjukkan kebesaran dan kehebatan Bung Karno sebagai tokoh GBN. Selain itu, Bung Karno juga dipandang sebagai pemimpin pendorong solidaritas, solidarity maker. Sebagai bangsa yang plural, Serbia sama dengan Indonesia, membutuhkan seorang pemersatu. Di sini, setelah Tito meninggal, Yugoslavia bubar, sementara setelah Bung Karno meninggal, Indonesia masih bersatu, masih utuh. Itu yang membuat mereka kagum kepada Indonesia, kagum kepada Bung Karno, sang pemersatu,” komentar Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bung Karno memang tokoh besar. Dan, rakyat Serbia mengakuinya.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
(trias kuncahyono dari Beograd, Serbia)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/2133229612272080998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/beograd-masih-ingat-bung-karno_24.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/2133229612272080998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/2133229612272080998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/beograd-masih-ingat-bung-karno_24.html' title='Beograd Masih Ingat Bung Karno'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiD5hhejGBq2OvybTGjpX2-iaTO68_0nmtycnkvPixppWcbvUCRSGhthFvrkahyL6x8t4-nHgzeqeauE2XwDfo4xqo5EIRaYyNxZoAZua-K211l-ZdoQv3IhufQeh2G9nKeYeeiDCyS6wg/s72-c/Tito.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-1241437223072975057</id><published>2013-04-23T18:52:00.001-07:00</published><updated>2013-05-18T01:03:11.725-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Tentang Rosihan</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihA6H7w4ePTT2fDALwy01Tzb19x1ZPxY9H8hvGMjc8FByhqHMF4R7WQbjqzVBctyJUNlqwiGTO48-PzDN0KVOp95PfyFur51Ns2TVkA0La3l47hfydKHM_t_TJ0pCzS8pjl28bMjcMLVw/s1600/rosihan.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666500052212823170&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihA6H7w4ePTT2fDALwy01Tzb19x1ZPxY9H8hvGMjc8FByhqHMF4R7WQbjqzVBctyJUNlqwiGTO48-PzDN0KVOp95PfyFur51Ns2TVkA0La3l47hfydKHM_t_TJ0pCzS8pjl28bMjcMLVw/s400/rosihan.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah buku yang aku suka sekali dan ini banyak menjadi drive ke sumber-sumber sejarah, judulnya &quot;In Memoriam&quot; dan ini karangan Rosihan Anwar. Cian, begitulah panggilan akrabnya adalah seorang pencatat waktu, bahkan mungkin satu-satunya orang di jaman kita ini yang mengenal begitu banyak orang dalam kronika republik. Ia pencatat kemanusiaan, banyak orang bilang dia arogan tapi faktanya ia disukai banyak orang. Ia mengenal Sukarno dan Sukarno sangat sayang padanya walaupun kemudian di satu waktu ia menyerang Sukarno setelah kematian bung besar itu. Tapi bagaimanapun Sukarno sudah mengajarinya bagaimana lekuk tubuh perawan atau yang bukan perawan hanya dari perspektif garis imajiner dua tangan dan dada.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Rosihan mengenal Suharto, bahkan pernah ikut dalam perjalanan hampir 8 jam dengan Suharto dan satu hal yang dicatat Rosihan adalah sikap diam yang luar biasa dari Suharto, Suharto bukan orang yang banyak bicara dan ini menjadi catatan Rosihan. Menjelang kematian Suharto, pernah minta pada Bob Hasan agar Rosihan datang, karena Suharto ingat saat mengunjungi Jenderal Sudirman di Wonosobo tempat gerilya sang Panglima itu. Namun Suharto pernah membredel koran Rosihan, &quot;Pedoman&quot; dan itu koran yang paling dicintai Rosihan, saat Ali Murtopo bertanya tentang nasib koran Rosihan, Harto menjawab singkat &quot; Wis Pateni wae&quot;. Dan Rosihan selalu mengingat-ingat ucapan ganas Suharto ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sejarah tetaplah sebuah kenangan, pahit manis atau getir bak buah busuk selalu diingat dengan keadaan penyadaran, hanya orang yang bijak sajalah yang bisa mengingat masa lalu dan menjadi bahan kenangan yang baik, dan inilah yang dilakukan Rosihan. Ia bisa mengenang Pram dengan amat baik, bagaimana Pram bersikap kaku saling melotot tanpa bicara pada sebuah perpustakaan, atau saat Pram dengan tiba-tiba secara ramah merangkul Rosihan pada sebuah pertemuan, ini menunjukkan bahwa manusia tidak terpenjara oleh sikap kaku, ada kalanya ia berubah. Ada kalanya ia menyadari bahwa hubungan tak selalu dibuat beku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu saat Rosihan berjalan di depan jalan Surabaya dan menyaksikan banyak orang berkerumun di depan Kantor PDI pada sabtu yang kelam 27 Juli 1996, ketika penyerbuan Rosihan mundur ke belakang, ia menangis kerna bangsanya tak pernah jera untuk menghentikan kekerasan, kekerasan akar dari segala bentuk mundurnya peradaban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rosihan adalah manusia yang hidup dalam kehidupan, ia pandai menulis, ia pandai bertutur dan ia pandai berlagak di depan kamera. Ia pernah main film Jakarta The Big Village, ia selalu tertawa beradu akting dengan kawannya, ia juga pernah berperan di film Tjoet Nyak Dien, hanya saja kawannya bilang, Rosihan tak pernah bisa mengeluarkan karakter Rosihannya untuk menjadi karakter pemerannya, apa yang dilihat ya itulah Rosihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebagian orang Rosihan Anwar adalah seorang PSI, Partai Sosialis Indonesia, partai elite intelektual yang selalu jadi jarum tajam bagi Sukarno juga Suharto. Ia sangat mengagumi Sjahrir dan Hatta tapi dilihat dari semua tulisannya, ia sesungguhnya pengagum Sukarno luar dalam. Yah, karena ia anak sejarah, yang dibesarkan jamannya, yang mengalami bagaimana lampu mati pada perayaan satu tahun republik ini merdeka pada sebuah istana tua di Yogya kemudian mencari senter memperbaiki sekering, Ia adalah sebuah saksi bagaimana Republik ini didirikan sekaligus ia menjadi saksi bagaimana bangsa ini ingin dibangun. Saat ini jiwanya telah terbang ke angkasa,menyatu dengan kawan-kawan lamanya, mungkin disana ia disambut Han Resink ataupun Pramoedya Ananta Toer, atau Usmar Ismail dan sahabatnya Chairil Anwar, tapi ia akan tetap menjadi memori..karena ia in memoriam selamanya bagi republik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~Seorang wartawan bukanlah hanya pencatat fakta, ia juga mencatat manusia-manusia dan Rosihan telah melakukan dengan baik. Terima Kasih Pak Rosihan, Bangsa ini menangisi kepergianmu~&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
ANTON</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/1241437223072975057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/tentang-rosihan_23.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1241437223072975057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1241437223072975057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/tentang-rosihan_23.html' title='Tentang Rosihan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEihA6H7w4ePTT2fDALwy01Tzb19x1ZPxY9H8hvGMjc8FByhqHMF4R7WQbjqzVBctyJUNlqwiGTO48-PzDN0KVOp95PfyFur51Ns2TVkA0La3l47hfydKHM_t_TJ0pCzS8pjl28bMjcMLVw/s72-c/rosihan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-644633674677267982</id><published>2013-04-22T04:00:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:19:26.241-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Mengapa Yogyakarta Disebut Daerah Istimewa?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXDXqHfe3KjhOtAWNIdO8iLmtgB_pD2QDfFtdWlj72StQsnG84CDaruGEv17l1Z7BLYOp5CeLDfLTJ_OXhr9mkJ9SHBOKqyTsnd7JMH8lDtkROgfkRaCUMb-nDCsEI7DaXb_7r-IyL5no/s1600/Sri++Sultan.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5544569310344810754&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXDXqHfe3KjhOtAWNIdO8iLmtgB_pD2QDfFtdWlj72StQsnG84CDaruGEv17l1Z7BLYOp5CeLDfLTJ_OXhr9mkJ9SHBOKqyTsnd7JMH8lDtkROgfkRaCUMb-nDCsEI7DaXb_7r-IyL5no/s400/Sri++Sultan.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 281px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: 85%;&quot;&gt;Gambar atas : Tampak Sri Sultan dan Hamengkubuwono IX&lt;br /&gt;Menyambut delegasi asing untuk keperluan perundingan di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengapa Yogyakarta Disebut Daerah Istimewa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan SBY yang  kelewat dungu dan tidak memahami sejarah serta perasaan orang Yogya  membuat banyak pihak meradang, begitu juga dengan Sri Sultan  Hamengkubuwono IX. Kenapa SBY bisa tidak mengerti sejarah Yogyakarta  dimana Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada waktu itu mempertaruhkan  kedudukan politiknya, tidak mempedulikan tawaran Ratu Juliana yang akan  memberikan kedudukan Sri Sultan HB X sebagai Pemimpin Koalisi  Indonesia-Belanda dan Menggadaikan kekayaannya untuk berlangsungnya  Pemerintahan Republik Indonesia. Generasi muda ada baiknya mengetahui  asal usul kenapa Yogyakarta diberikan status wilayah Istimewa sebagai  konsesi politik dan penghargaan Pemerintahan Republik Indonesia terhadap  peranan rakyat Yogya yang gantung leher mempertaruhkan eksistensi  Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama setelah Proklamasi 1945, pemimpin  pusat macam Sukarno, Hatta, Subardjo dan Amir Sjarifudin menyatakan  bahwa &quot;Eksistensi pengakuan pernyataan Pegangsaan harus didukung  kekuatan riil di daerah, Belanda atau pihak asing hanya akan mengakui  kemerdekaan itu bila kekuatan-kekuatan daerah mendukung&quot; memang pada  hari-hari pertama Jawara Banten sudah mendukung pernyataan kemerdekaan  RI dengan mengirimkan pendekar-pendekarnya mengamankan Jakarta.  Kekuasaan Jepang di seluruh wilayah Banten direbut oleh para pendekar.  Tapi kekuasaan pendekar itu bukan jenis kekuasaan formal yang teratur  rapi. Begitu juga dengan dukungan jago-jago silat Djakarta dan Bekasi  yang kemudian membentuk laskar bersendjata untuk langsung tarung di  jalan-jalan Cikini sampai Kerawang. Kekuasaan Informal langsung  mendukung Sukarno. Tapi bagaimana dengan kekuasaan formal yang telah  didukung administrasi rapi dan memiliki massa pengikut jutaan. Kekuasaan  formal itu terletak di Solo dan Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Solo dan Yogyakarta  disebut dengan daerah Voorstenlanden, atau daerah yang diberi kekuasaan  khusus oleh Hindia Belanda sebagai buntut perjanjian Giyanti 1755.  Setiap terjadi suksesi Belanda sebagai pemerintah pusat bernegosiasi  terus menerus dengan raja baru untuk menambah konsesi wilayah dan  peraturan-peraturan baru. Lama kelamaan daerah Voorstenlanden hanya  sebatas wilayah Yogyakarta dan Surakarta seluruh wilayah Mataram asli  semuanya masuk ke dalam pemerintahan Hindia Belanda. Namun wilayah boleh  direbut tapi pada hakikatnya rakyat Jawa Tengah dan Sebagian Jawa Timur  menganggap raja mereka berada di Solo dan Yogya. Seperti orang Madiun  yang lebih berorientasi pada Mangkunegaran atau Blitar yang menganggap  Yogya lebih representatif ketimbang Solo. Namun terlepas dari itu semua  raja-raja Yogya dan Solo dianggap bagian dari trah resmi raja-raja Jawa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengumuman kemerdekaan Indonesia dilakukan pada sebuah rumah di  Pegangsaan ini artinya : Kemerdekaan itu lahir bukan dalam situasi  formal. Pemerintahan pendudukan Jepang tidak lagi pegang kuasa di  Indonesia setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom dan Hirohito  dipaksa menandatangani surat pernyataan kalah tanpa syarat dihadapan  Jenderal MacArthur dan sebarisan perwira AS bercelana pendek.  -Pemerintahan Jepang dipaksa oleh pihak sekutu sebagai pemenang perang  untuk mengamankan seluruh aset-aset di wilayah Asia yang diduduki Jepang  termasuk Indonesia. Namun perwira-perwira samurai itu juga sudah pernah  berjanji pada sebarisan kaum Nasionalis untuk memerdekakan Indonesia,  tapi tujuan kemerdekaan itu adalah membentuk : Persekutuan bersama Asia  Timur Raya. Kemerdekaan itu ditunda beberapa kali sehingga sempat  membuat berang Sukarno. Namun pada malam 16 Agustus 1945 Laksamana Maeda  dengan garansi dirinya pribadi membantu kemerdekaan Indonesia sebagai  bentuk pemenuhan janji. Hanya saja statement kemerdekaan dikesankan  bukan dari Jepang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Sukarno butuh formalitas. Ia butuh rakyat  Jawa, hatinya orang Jawa untuk berdiri dibelakang dia setelah pengumuman  kemerdekaan. Sementara Tan Malaka sendiri yang belakangan muncul  meragukan kemampuan Sukarno menggalang dukungan rakyat secara utuh, Tan  Malaka bilang pada Subardjo &quot;Suruh Sukarno cepat cari dukungan di  tingkat daerah, dia jangan bermain di wilayah elite melulu&quot;. Apabila  tidak mendapat dukungan formal minimal di Jawa maka sekutu dengan cepat  bisa melikuidir Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barulah pada pagi hari saat Sukarno  sedang rapat dengan beberapa menteri datang sebuah surat kawat  (telegram) dari Yogyakarta. Sukarno membuka telegram itu dan langsung  melonjak dari tempat duduknya. Mukanya yang sedari awal kusut kurang  tidur sontak gembira. Di depan menterinya Sukarno berkata &quot;Surat ini  adalah langkah awal eksistensi secara de facto bangsa Indonesia, sebuah  functie yang bisa mendobrak functie-functie selanjutnya. De Jure kita  sudah dapatkan secara aklamasi pada Proklamasi Pegangsaan tapi De Facto  surat ini menjadi pedoman kita semua&quot;. Surat 5 September 1945 yang  berisi maklumat itu berasal dari Sri Sultan yang berisi bahwa :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama  : Bahwa daerah istimewa Ngayogyokarto Hadiningrat bersifat kerajaan  adalah daerah Istimewa dari negara Republik Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua,  bahwa kami sebagai kepala daerah memegang kekuasaan dalam negeri  Ngayogyakarto Hadiningrat dan oleh kerna itu berhubung dengan keadaan  dewasa ini segala urusan pemerintahan Ngayogyokarto Hadiningrat mulai  saat ini berada ditangan kami dan kekuasaan lainnya kami yang pegang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga  : Bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyokarto Hadiningrat dengan  pemerintahan pusat negara Republik Indonesia bersifat langsung dan kami  bertanggung jawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik  Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga poin dalam isi surat itu sesungguhnya adalah  sebuah negosiasi politik kepada Pemerintahan Republik Indonesia dari  kekuasaan Yogya. Bahwa Raja Yogya bersedia masuk ke dalam struktur  Indonesia apabila kekuasaan di Yogyakarta terjamin oleh Pemerintahan RI.  Sesungguhnya Sri Sultan membuat statement ini adalah kecerdasan Sri  Sultan karena ia tidak mau kelak Yogya akan banjir darah oleh revolusi  sosial kemudian Yogya dipimpin oleh kelompok-kelompok revolusioner yang  tidak bertanggung jawab. Pandangan visioner Sri Sultan ini terbukti jitu  : Beberapa waktu kemudian, Kesultanan Deli di Sumatera Timur dan  Surakarta terjadi revolusi sosial. Seluruh bangsawan Deli dibantai oleh  pasukan yang mendukung terjadinya gerakan anti kerajaan sementara di  Surakarta yang sebelumnya diberikan status juga oleh Jakarta sebagai DIS  : Daerah Istimewa Surakarta, terkena serbuan pasukan Tan Malaka yang  menolak adanya pemerintahan Swapradja, akibatnya status DIS dihapus  karena para penguasa Solo tidak bisa mengendalikan keadaan yang take  over Solo malah anak-anak muda yang tergabung dalam Tentara Pelajar.  Saat itu Sunan Pakubuwono XII dan Sri Mangkunagoro VIII masih bimbang  mau berpihak pada Republik atau menunggu Belanda datang. Pada tahun  1940-an seluruh penguasa Kasunanan Solo, Mangkunegaran, Pakualaman dan  Kasultanan Yogyakarta adalah raja-raja baru yang terdiri dari anak muda  berusia 30-an tahun. Rupanya Sunan PB XII dan Mangkunegoro VIII tidak  memiliki kejelian politik seperti Hamengkubuwono IX yang masuk langsung  ke dalam struktur pemerintahan RI dan mengendalikan Angkatan Bersenjata  serta mengamankan rakyat Yogya dari &quot;Kekacauan-Kekacauan Revolusi&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tindakan  Sultan yang cepat ini justru menguntungkan jalannya sejarah Republik  Indonesia di kemudian waktu, karena Sultan dengan kekuasaannya  menciptakan suatu daerah kantong yang terkendali. Daerah kantong inilah  yang kemudian dijadikan basis perjuangan menegakkan pemerintahan  Republik setelah sekutu masuk ke Tanjung Priok. Saat sekutu masuk yang  kemudian diboncengi NICA membuat penggede-penggede Republik terancam  nyawanya. Sjahrir sendiri pernah merasakan mobilnya diberondong peluru.  Hampir tiap malam Sukarno berpindah-pindah tempat karena diburu pasukan  intel Belanda, bahkan sering Sukarno tidur di kolong tempat tidur. Hal  ini jelas membuat pemerintahan tidak berjalan efektif. Adalah Tan Malaka  sendiri yang menganjurkan agar Jakarta segera dikosongkan dari  pemerintahan Republik dan Pemerintahan menyingkir ke pedalaman sembari  mengefektifkan pemerintahan. Tapi pedalaman mana yang bisa dikendalikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Hatta menjawab : &quot;Yogyakarta adalah tempat yang tepat,  karena di wilayah sana semua rakyatnya dikendalikan oleh Sultan hanya  saja apakah Sultan akan menjamin kita&quot; mendengar ucapan Hatta, Sukarno  memerintahkan stafnya menghubungi Sri Sultan. Dalam pembicaraan tidak  resmi ditelepon, Sri Sultan berkata :&quot;Saya Sultan Yogya, Sabdo Pendhito  Ratu. Menjamin bahwa Pemerintahan Republik Indonesia aman di Yogyakarta&quot;  Jaminan Sri Sultan inilah yang dijadikan titik paling penting  keberadaan Republik Indonesia ditengah ancaman serbuan pasukan  bersenjata Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dicapai kesepakatan bahwa untuk  menghadapi sekutu dan melobi penggede-penggede sekutu adalah Sutan  Sjahrir yang ditinggalkan di Jakarta sementara Presiden dan Wakil  Presiden sebagai lambang kekuasaan negara dibawa ke Yogyakarta dengan  Kereta Luar Biasa (KLB) yang sekaligus memboyong seluruh keluarga  mereka. Keberangkatan KLB itu juga menandai perpindahan Ibukota.  Peristiwa itu terjadi pada 4 Januari 1946.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Yogyakarta, Sri  Sultan bertanggungjawab penuh terhadap keselamatan seluruh penggede  Yogya. Seluruh pejabat ditempatkan dilingkungan Keraton. Sukarno  ditempatkan di Gedong Agung dan Sri Sultan menghormati kekuasaan  Republik Indonesia walaupun sesungguhnya Republik ini baru berdiri.  Pejabat-pejabat RI itu rata-rata dalam kondisi miskin. Sultan sendiri  yang kerap mengambil emas simpanannya untuk membiayai seluruh  operasional pemerintahan. Sri Sultan memberikan tanpa dihitung bahkan  pernah gaji pegawai Republiek belum terbayar Sri Sultan dengan dana  kekayaan pribadi sendiri membiayai gaji-gaji pegawai republiek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahu  bahwa Yogyakarta menjadi pusat kendali Republik. Tentara Belanda tidak  berani langsung mengebom Yogya. Hal ini terjadi karena Ratu Juliana dulu  adalah teman sekolah Sri Sultan di Belanda. Mereka berdua dari SD  sampai Kuliah berada dalam lingkungan yang sama. Sri Sultan dipanggil  Juliana sebagai Hengky. Bahkan ada gosip Ratu Juliana memiliki cinta  sejatinya pada Sri Sultan. Sebelum Yogya digempur pesan dari Kerajaan  Belanda bahwa nyawa Sri Sultan tidak boleh dikutak-kutik. Karena sikap  keras Juliana yang tidak  memperbolehkan kekuatan militernya menyenggol  Sri Sultan maka staff militer di Belanda mengambil kebijakan untuk  mempengaruhi Sri Sultan agar berpihak pada Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sri Sultan  ditawari menjadi pemimpin pemerintahan bersama Indonesia-Belanda tapi  Sultan menolak. Baginya Indonesia adalah tujuan hidupnya. Karena tidak  sabar atas sikap keras Sri Sultan yang berdiri dibelakang pemerintahan  Republik maka Belanda mau tidak mau harus menguasai Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada  tahun 1948 setelah terjadinya geger Madiun, Belanda punya taktik yang  khas dengan caranya yang licik menikam pemerintahan Republik di Yogya.  Belanda awalnya mengadakan perjanjian kerjasama latihan militer dengan  TNI sebagai wujud gencatan senjata tapi kemudian malah dari Semarang  pasukan Van Langen menerobos Yogya dengan Operasi Kraai. Sepuluh ribu  penerjun payung menghujani udara Maguwo, Yogyakarta diserbu tanpa  persiapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat itu yang jadi komandan keamanan Kota Yogya adalah  Suharto (kelak jadi Presiden RI kedua).Tapi entah pasukan Suharto ada  dimana. Letkol Latif Hendraningrat sendiri langsung mencari-cari Suharto  tapi tidak ketemu. Sudirman masih terbaring sakit karena paru-parunya  menghitam. Sedangkan Bung Karno cs sedang rapat di Gedong Agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasukan  Van Langen dengan cepat masuk ke Gedong Agung. Tapi sebelumnya terjadi  perdebatan keras. Sukarno menyerah atau melawan sekutu. Sukarno  berpendapat bahwa dengan ia menyerah maka dunia internasional akan  meributkan agresi militer Belanda dan memberikan dukungan bagi  Indonesia. Tapi pihak Sudirman menghendaki diadakannya perlawanan total,  Sukarno dan Hatta harus ikut berperang di pedalaman. Sukarno memilih  tidak ikut cara Sudirman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum ditangkap pasukan Van Langen  Sukarno berpesan pada Sri Sultan agar keutuhan Republik Indonesia  dijaga. Sultan hanya mengangguk namun sebagai Raja Jawa ia selalu  memenuhi janji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sri Sultan berpikir keras dengan apa Yogyakarta  harus mendapatkan kemenangan politiknya. Suatu sore Sri Sultan mendengar  perdebatan melalui BBC bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Delegasi  Belanda di PBB menyatakan &quot;Pemerintahan Illegal Republik Indonesia sudah  Hilang secara de facto yang berkuasa adalah Belanda kota Yogya  sepenuhnya dibawah kendali Pemerintahan Belanda&quot;. Mendengar hal itu  Sultan mendapat ide untuk mengejutkan dunia Internasional. Dipanggilnya  Suharto sebagai Komandan Wehrkreise X untuk membangun serangan kejutan.  Lalu terjadilah Serangan Umum 1949 yang kemudian mengubah jalannya  sejarah. Setelah serangan umum Pemerintahan Belanda di PBB kalah suara  dan dukungan Internasional mendukung Pemerintah Republik Indonesia  sehingga pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan RI. Karena  Juliana sangat membenci Sukarno maka yang datang menandatangani adalah  Hatta sementara di dalam negeri yang menandatangani adalah Sri Sultan  Hamengkubuwono IX di depan AJ Lovink.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penandatangan Pengakuan  Kedaulatan adalah pengakuan de facto. Dan Republik Indonesia yang masih  bayi benar-benar diselamatkan oleh Sri Sultan sebagai pengasuh yang  benar-benar menjamin keselamatannya. Lalu setelah puluhan tahun sejarah  hendak dilupakan. Masuknya kelompok-kelompok dogol di Jakarta dan  menguasai Politik Indonesia. Hanya karena ingin menggusur kedudukan Sri  Sultan sebagai kekuatan politik pada pertarungan 2014 maka mereka ingin  menghapuskan status daerah istimewa Yogya sekaligus ingin menghilangkan  kekuasaan de facto Raja Jawa yang berada dalam lingkungan bangsa  Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar kata Pram : &quot;Sebuah bangsa yang tidak mengerti sejarahnya sendiri hanya akan melahirkan ketololan-ketololan&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ANTON&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/644633674677267982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/mengapa-yogyakarta-disebut-daerah.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/644633674677267982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/644633674677267982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/mengapa-yogyakarta-disebut-daerah.html' title='Mengapa Yogyakarta Disebut Daerah Istimewa?'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXDXqHfe3KjhOtAWNIdO8iLmtgB_pD2QDfFtdWlj72StQsnG84CDaruGEv17l1Z7BLYOp5CeLDfLTJ_OXhr9mkJ9SHBOKqyTsnd7JMH8lDtkROgfkRaCUMb-nDCsEI7DaXb_7r-IyL5no/s72-c/Sri++Sultan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-3895886934790513647</id><published>2013-04-21T19:16:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:18:35.823-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Membongkar apa yang terjadi di balik surat Kartini</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpbxTwvuWTMWFg2d-AtJw6O4kR-sU_zumWiDb6xRMzOzEF6moeGGoJgcgShGDjbYRDMqnaCvkRhTQW72EUbSdZxoNERXRzSP-cdy4BwKSZLvfZUL1NiwtsYh2LeektsF7d2oGU9Or9w9o/s1600/Kartini+Surat.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5597855276456904498&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpbxTwvuWTMWFg2d-AtJw6O4kR-sU_zumWiDb6xRMzOzEF6moeGGoJgcgShGDjbYRDMqnaCvkRhTQW72EUbSdZxoNERXRzSP-cdy4BwKSZLvfZUL1NiwtsYh2LeektsF7d2oGU9Or9w9o/s320/Kartini+Surat.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 250px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat itu tahun 1880-an menjelang pergantian abad 20. Pemikiran Multatuli menjadi dentuman rasa berdosa orang Belanda bahwa mereka bisa kaya raya diatas bangkai orang-orang Hindia yang dipaksa kerja rodi untuk membangun infrastruktur jalan dan perkebunan-perkebunan swasta di seluruh tanah Sumatera dan Jawa. Yang menjadi perhatian disini adalah program akumulasi modal perkebunan adalah kerjaan kelompok liberal, kemudian setelah kaum liberal kehilangan suara pada tahun 1880-an mereka malah seakan-akan menyalahkan kelompok konservatif terhadap kekejiannya sendiri di masa lalu. Kaum liberal kemudian menggunakan tangan kelompok Sosialis yang sedang naik daun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertarungan di Parlemen Belanda yang kemudian melahirkan banyak nama di harian-harian Belanda macam Van Dedem, Van Kol ataupun Van Deventer menjadikan sebuah sodoran baru perlawanan politik kelompok liberal untuk membangun benteng baru yaitu : &quot;Akumulasi Budaya&quot;. Kaum liberal menganggap kelompok konservatif secara perlahan memenangkan akumulasi modal setelah mendapat dukungan angkatan bersenjata dan keluarga kerajaan, sementara kelompok liberal mendapatkan penghinaan atas suara Multatuli dari sinilah kemudian Kartini menjadi besar karena pertarungan politik di parlemen Belanda antara kelompok liberal garis keras yang didukung kelompok sosialis dengan kelompok konservatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegelisahan Kartini adalah kegelisahan penasaran ingin tau, bukan kegelisahan perlawanan. Ia hanya bertanya dalam surat-suratnya tentang diskriminasi-diskriminasi yang terjadi. Pemikiran Kartini belum sampai pada pemahaman bahwa yang terjadi atas diskriminasi seksual wanita adalah persoalan diskriminasi modal yang menggunakan kekerasan rasial sebagai program politik kolonial. Kartini tanpa sadar merindukan peradaban kolonial tersebut, bahwa wanita Indonesia harus masuk ke dalam sistem pendidikan barat agar mengerti bagaimana dunia bekerja tanpa sedikitpun ia mengeritik soal modal yang menjadi landasan peradaban masyarakat. Di titik persoalan lama, Kartini menggugat tentang kekolotan agama, kekerasan struktur feodal Jawa terhadap penindasan elite dengan bawahan dan segala bentuk diskriminasi sosial yang menghancurkan perempuan dan perasaan alam bawah sadar anak-anak, tapi Kartini belum sadar bahwa yang membuat semua itu adalah sistem permodalan asing bernama Kolonialisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di satu pihak kegelisahan Kartini dimanfaatkan kelompok liberal untuk menghardik kelompok konservatif dan ini menghasilkan kemenangan luar biasa, modal budaya bisa diraih kelompok liberal untuk memperluas akumulasi modal mereka, dengan masuknya sistem pendidikan barat maka kelompok liberal akan mendapatkan sebarisan tenaga terdidik yang bisa dibayar murah dan kelak dalam pemikiran mereka akan diciptakan cendikiawan creol yang status sosialnya disamakan dengan orang Belanda sehingga ketika Hindia disatu masa berdiri sendiri maka kaum creol terdidik inilah yang akan memegang Hindia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tahun 1920-an ketika nama Kartini naik daun setelah kematiannya yang tragis dan Pane menerjemahkan surat-suratnya, nama Kartini kemudian digunakan oleh kaum pergerakan untuk membangun saluran suara perempuan. Disini surat-surat kartini tidak lagi ditafsirkan sekedar gugatan wanita Jawa terhadap diskriminasi seksual tetapi oleh kaum pergerakan dikonversi menjadi gugatan modal. Dan Sukarno-lah yang menguasai ini dengan baik, Sukarno selalu mendengung-dengungkan apa yang ditulis dalam surat Kartini adalah sebuah perlawanan perempuan terhadap sistem, sebuah pembongkaran sistematis. Konversi pemikiran Kartini yang penasaran ingin tau saja, menjadi Kartini yang menggugat peradaban sepenuhnya adalah hasil kerja politik Sukarno. Disini Sukarno mampu membangun imajinasi seorang Ibu yang berpikiran maha raksasa mampu menandingi pejuang-pejuang emansipasi Amerika atau Eropa yang sedang naik daun di tahun 20-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai pada masa Sukarno berkuasa citra Kartini yang Rebel menjadi semakin sosialistik, apalagi saat anak Kartini. Kolonel Susalit terlibat dalam peristiwa Madiun 1948 adalah Sukarno yang menyelamatkannya sendiri demi sebuah citra Ibu Bangsa. Sukarno menggambarkan wanita Indonesia adalah seorang Kartini bertangan Sarinah, seorang berpikiran bangsawan tapi bertindak sebagai wanita yang mau masuk ke dalam lumpur masyarakat seperti Sarinah. Citra Kartini Rebel inilah yang kemudian dipatahkan oleh Suharto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di jaman Suharto surat Kartini tidak lagi menjadi penting, tapi Baju Kartini menjadi sebuah simbol modal luar biasa untuk menjadikan wanita Indonesia masuk ke dalam sistem Suhartorian. Semua lini harus terkooptasi ke dalam Sistem Suhartorian termasuk Kartini itu sendiri, citra Kartini yang rebel menurut imajinasi Sukarno menjadi Kartini yang bangsawan Jawa, bercitra anggun dan berbakti kepada suami, Kartini yang enggan berpikiran memberontak, yang tak paham persoalan-persoalan buruh, yang tak sensitif terhadap ketidakadilan. Kartini dalam konteks Suhartorian menjadi Kartini dengan alam kenyamanan, citra Kartini dikembalikan ke Keraton Kadipaten Mayong Jepara, menjadi sebuah figur yang lembut, selembut ibu-ibu dharma wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ANTON, 21 April 2011.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/3895886934790513647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/membongkar-apa-yang-terjadi-di-balik.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3895886934790513647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3895886934790513647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/membongkar-apa-yang-terjadi-di-balik.html' title='Membongkar apa yang terjadi di balik surat Kartini'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhpbxTwvuWTMWFg2d-AtJw6O4kR-sU_zumWiDb6xRMzOzEF6moeGGoJgcgShGDjbYRDMqnaCvkRhTQW72EUbSdZxoNERXRzSP-cdy4BwKSZLvfZUL1NiwtsYh2LeektsF7d2oGU9Or9w9o/s72-c/Kartini+Surat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-7745708615413549185</id><published>2013-04-20T20:10:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:17:33.615-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Wibawa Sukarno di Mesir</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizHrNarpw4pjwJfGKgoWq-XIvJwtg2dNvea7OI-Pf-nwTz2LTUBc0wDWWadKnPF95Rpz8FEdOzdSWzhT26dHNM0rmH0KWA9pT0ETmuC-r1SrFtDQHbDIckm2jbf34Qwi8Lyvf0Xj7rGqU/s1600/sukarno+dan+Nasser.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666521864217719746&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizHrNarpw4pjwJfGKgoWq-XIvJwtg2dNvea7OI-Pf-nwTz2LTUBc0wDWWadKnPF95Rpz8FEdOzdSWzhT26dHNM0rmH0KWA9pT0ETmuC-r1SrFtDQHbDIckm2jbf34Qwi8Lyvf0Xj7rGqU/s400/sukarno+dan+Nasser.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 300px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wibawa Sukarno hingga kini masih aku rasakan di Mesir ( Kisah Nyata )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan Ahmed Sokarno di Mesir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
50 tahun yang lalu,kisah persahabatan Sukarno dan Gamal Abd Nasr begitu akrab hingga terkenal diseluruh dunia,mengapa tidak, karena kedua pemimpin itu mempunyai wibawa yang tinggi dan juga mempunyai pengaruh terhadap kebijakan Internasional.Keduanya mempunyai kekuatan yang amat besar,Sukarno mempunyai bangsa Indoesia yang besar dan hasil alam yang melimpah ruah,kalau berbicara tentang pengaruh, Sukarno mempunyai wibawa tinggi dikawasan regional ( ASEAN pada saat ini ).Gamal Abd Nasr pun mempunyai pengaruh yang kuat di dunia Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak yang berkata “ah itu kan dulu,kalau sekarang ga ada pengaruhnya buat kita”, pernyataan ini amatlah salah,penulis dengan berbagai fakta akan coba menguraikan bahwa hingga saat ini wibawa Sukarno masih ada di bumi Mesir .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu sore di Madinat an Nasr,suatu kawasan yang banyak dihuni mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Mesir,saya keluar dari Saqqoh ( rumah kontrakan ) sambil membawa diktat kuliah untuk di Copy. Saya mulai mencari warung photo copy ,akhirnya saya mendapati sebuah warung photo copy yang ada disebelah kedai yang menjual peralatan dapur. Disana duduk seorang bapak yang bersusia cukup tua,tanpa basa basi saya langsung memberi diktat kuliah itu untuk di copy, sambil membolak balik diktat ,bapak tua tadi bertanya “enta min ein ? ” (kamu dari mana ) dan aku pun menjawab “min andunisie” ( saya dari Indonesia ) langsung dengan spontan beluai berkata “ooo ahmed sukarno “ di duni Arab Sukarno lebih dikenal dengan nama Ahmed Sukarno. Kemudian ia pun berkisah tentang Presiden Sukarno, ” Pada saat bapak masih sekolah,kami dan guru-guru mendengar berita kalau Ahmed Sukarno akan datang ke Kairo,saat itu sekolah spontan memutuskan libur sementara untuk menyambut kedatangan Ahmed Sukarno,dan kebetulan sekolah kami tidak jauh dari kawasan bandara Kairo,” dan saya bertanya ” apa yang bapak lakukan pada saat itu “ dan ia menjawab &quot;Karena rombongan Sukarno akan melewati sekolah kami,maka kami berdiri di depan sekolah sambil melambaykan tangan pertanda kami gembira dengan kedatangannya “ .Karena diktat yang di copy sudah habis ,saya kemudian pamit ,tapi seblum pamit sekali lagi pak tua itu berkata &quot;Sukarno itu pemimpin besar&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan saya pun menjawab ” terimaksih pak atas ceritanya,semoga nanti Indonesia punya pemimpin seperti beliau “dan saya pun pamit dan mengucapkan salam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah kedua terjadi pada tanggal 29 September 2010,siang itu pukul 12,saya pergi membeli isyh ( jenis roti yg terbuat dari gandum ) disebuah masjid yang mengelola isyh bersubsidi,diketahui bawa isyh adalah makanan pokok di negara-negara arab kalau di Indonesia kita bisa mengibaratkan seperti beras. Sesuai dengan peraturan yang berlaku,setiap pembeli harus membawa kartu yang berisi list,dimana nantinya setiap kita membeli maka list itu akan di contreng,agar tidak ada pembeli yang membeli isyh tersebut 2 kali dalam satu hari,karena hanya diperbolehkan satu kali per hari. Ketika aku menyodorkan uang 75 piester ( kira-kira 1000 rupiah),” mana kartu anggota mu,klo ga ada kartu ga bisa ambil isyh ini “ kata panita itu,sebenarnya kejadian itu sering terjadi,karena saya bukan pertama kali membli isyh di tempat itu,namun lagi-lagi seorang bapak tua disampingnya berkata ” kasih aja isyh nya sama dia,dia dah sering ambil disini “,kemudian panitia itu bertanya “enta min ein” ( kamu dari mana ) dan saya jawab “andunisie” ( saya orang Indonesia ), dan bapak tua tadi menyahut “Ahmed Sukarno Shoh !” ( Ahmed Sukarno bukan ! ) dan saya menjawab ” aiwah ( iya pak )” dan bapak tua itu pun berkata kepada panitia tersebut “dia itu bagian dari kita juga”. Dalam pemikiran saya pak tua tadi adalah ketua pengelola isyh bersubsidi tersebut,higga panitia lain ikut perintahnya,Bagi saya kisah ini sangat dalam,secara tidak langsung mereka menganggap bahwa masyarakat Indonesia yg ada di Mesir bagian dari masyarakat Mesir itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar kata Bung Karno ” jangan sekali-kali melupakan sejarah” ,Persahabatan Sukarno dan Gamal tidak hanya hubungan emosional dua pemimpin besar itu saja,tapi hubungan emosional rakyat Indonesia dan Mesir.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Azmil Nasution</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/7745708615413549185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/wibawa-sukarno-di-mesir.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7745708615413549185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7745708615413549185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/wibawa-sukarno-di-mesir.html' title='Wibawa Sukarno di Mesir'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizHrNarpw4pjwJfGKgoWq-XIvJwtg2dNvea7OI-Pf-nwTz2LTUBc0wDWWadKnPF95Rpz8FEdOzdSWzhT26dHNM0rmH0KWA9pT0ETmuC-r1SrFtDQHbDIckm2jbf34Qwi8Lyvf0Xj7rGqU/s72-c/sukarno+dan+Nasser.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-2149215714254075916</id><published>2013-04-19T20:21:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:16:29.390-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Gaji Sukarno dan Gaji SBY</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkQ5tyybp2NDMPyUvQox8iRGwrBca6JMzIPD6DS0tzrxJO5Yxl9BCSIHOGx5wlZ4EMSBnw5uM-WBhFikEZHjkdGkCWuQzR9hvb5PR7Xx2vMosetK5VXSYMwuhyxOlioY82TFM-JOWRx-4/s1600/Gaji+Sukarno+dan+Gaji+SBY.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666524135015684146&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkQ5tyybp2NDMPyUvQox8iRGwrBca6JMzIPD6DS0tzrxJO5Yxl9BCSIHOGx5wlZ4EMSBnw5uM-WBhFikEZHjkdGkCWuQzR9hvb5PR7Xx2vMosetK5VXSYMwuhyxOlioY82TFM-JOWRx-4/s400/Gaji+Sukarno+dan+Gaji+SBY.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 292px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaji Bung Karno- Bung Hatta dan Gaji SBY&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di tahun 1945 Bung Karno dan Bung Hatta digaji 1.000 gulden (edisi de Japaansche regering) = gulden jepang, patokan harga beras saat itu 25 sen/kg. Indikator lain lagi 1 gulden = US$ 2,65, berarti 1.000 gulden = US$ 2.650 atau kira-kira nilai sekarang setara Rp.23.850.000,- dan Gaji SBY Rp. 62.000.000,- dana taktis 2 Milyar dan biaya kunjungan ke luar negeri Rp. 80,53 Milyar per tahun. Belum fasilitas renovasi rumah dan lain-lain. Ini artinya gaji Bung Karno dan Bung Hatta lebih kecil nilainya daripada SBY. Dan bila dibandingkan dengan dana taktis serta dana kunjungan (berpergian) maka tunjangan mereka amat jauh berbeda. Dalam setahun ceruk dana yang bisa digunakan SBY atas fasilitas negara bisa mencapai 100 Milyar lebih. Sementara Bung Karno dan Bung Hatta 100 jutaan (nilai sekarang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bung Karno dan Bung Hatta saat itu berkunjungan dengan menggunakan kereta api dan pernah juga dengan pesawat yang resikonya ditembaki oleh NICA setelah 1945. Selama di Djakarta Agustus 1945- awal 1946 Bung Karno tiap malam berpindah-pindah tempat tidur dan dua kali rumahnya diberondong peluru NICA yang membonceng sekutu. Atas perlindungan Sri Sultan HB IX seluruh pemerintahan dibawa ke Yogyakarta. Di Yogyakarta pemerintahan RI tidak memiliki uang untuk menggaji pegawainya, dengan uangnya sendiri Sri Sultan HB IX menalangi gaji Pemerintah yang diperkirakan nilainya saat ini bisa 1.1 Trilyun untuk membiayai pemerintahan darurat. Sri Sultan membongkar kas keraton dan menjaminkan keutuhan Republik. Selama menjadi Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tidak mau digaji. Bahkan semua menteri di tahun 1945 hampir semuanya tidak memikirkan gaji, menurut Rosihan Anwar dalam catatannya :&quot;Menteri-menteri itu menganggap kerja bakti untuk rakyat&quot;. Tidak ada mobil mewah, yang ada sepeda. Banyak dari menteri rapat kabinet dengan naik becak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Bung Karno dan Bung Hatta tidak pernah mengeluhkan soal gaji. Di akhir hidupnya bahkan Bung Karno tidak punya uang sama sekali, sampai-sampai pengen jajan duku minjem duit ajudannya yang bernama Putu Nitri. Bung Hatta tidak pernah mengeluhkan penghasilannya, kisah terkenal adalah ia menyimpan gambar iklan sepatu Bally dari koran dan mengumpulkan uang untuk membeli sepatu itu, di akhir hidupnya uang pensiuan Bung Hatta bahkan tak cukup buat bayar listrik, Ali Sadikin Gubernur DKI yang membantu untuk mengurusi listrik dan air rumah Bung Hatta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil kerja para pemimpin saat itu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
2. Mewariskan modal nasional luar biasa dan menjadi negara dengan kekayaan sumber daya alam nomor tiga di dunia.&lt;br /&gt;
3. Mewariskan rasa kebangsaaan yang hidup.&lt;br /&gt;
4. Mewariskan dasar-dasar konstitusi dan landasan kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Pemerintahan SBY apa yang bisa dihasilkan?&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/2149215714254075916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/gaji-sukarno-dan-gaji-sby.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/2149215714254075916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/2149215714254075916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/gaji-sukarno-dan-gaji-sby.html' title='Gaji Sukarno dan Gaji SBY'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjkQ5tyybp2NDMPyUvQox8iRGwrBca6JMzIPD6DS0tzrxJO5Yxl9BCSIHOGx5wlZ4EMSBnw5uM-WBhFikEZHjkdGkCWuQzR9hvb5PR7Xx2vMosetK5VXSYMwuhyxOlioY82TFM-JOWRx-4/s72-c/Gaji+Sukarno+dan+Gaji+SBY.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-1174458911048652233</id><published>2013-04-18T20:58:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:15:30.339-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip2"/><title type='text'>Bung Karno Menurut Joesoef Ishak</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnoNIJknF4EWdZhDlr9CUkhHAI6gAhwe4pijT_5_Rw4V9Y1ROQHE4BAIU0j6-82ZIAfKCqqEV_2KodRfJy9fLQjVZmAXH_MTEDdIoQgXMTTdcYYF-QapTrseOvVaLPtfSC6e8Dj4n4uUQ/s1600/BK+Ishak.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666532782924408466&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnoNIJknF4EWdZhDlr9CUkhHAI6gAhwe4pijT_5_Rw4V9Y1ROQHE4BAIU0j6-82ZIAfKCqqEV_2KodRfJy9fLQjVZmAXH_MTEDdIoQgXMTTdcYYF-QapTrseOvVaLPtfSC6e8Dj4n4uUQ/s400/BK+Ishak.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 298px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia Indonesia Paripurna&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bung Karno adalah puncak segala-galanya bagi Indonesia, dari persoalan keindonesiaan sampai gambaran budaya dan peradaban manusia Indonesia. Jadi tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa figure Soekarno – meski bukan satu-satunya – adalah tokoh sentral untuk memahami dan mendalami sejarah Indonesia. Bahkan tidaklah keliru bila dikatakan bahwa sejarah hidup Bung Karno adalah patokan untuk mengukur tingkat budaya dan peradaban Indonesia, di mana moralitas dan pertanggungjawaban manusia pertaruhkan. (Joesoef Ishak, Wartawan).</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/1174458911048652233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/bung-karno-menurut-joesoef-ishak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1174458911048652233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1174458911048652233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/bung-karno-menurut-joesoef-ishak.html' title='Bung Karno Menurut Joesoef Ishak'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgnoNIJknF4EWdZhDlr9CUkhHAI6gAhwe4pijT_5_Rw4V9Y1ROQHE4BAIU0j6-82ZIAfKCqqEV_2KodRfJy9fLQjVZmAXH_MTEDdIoQgXMTTdcYYF-QapTrseOvVaLPtfSC6e8Dj4n4uUQ/s72-c/BK+Ishak.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-7897708029683115166</id><published>2013-04-17T23:01:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:14:29.463-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Cerita Tentang Hamengkubuwono VIII</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_1lRdzXE2_NZNSasJ-zFd6d1kypDf2HHVeAnuOqG7HfB9EmfKCPHEOUDZ-qnx74xHRjo_DF_zSI2bwfbymwlGFCSLXjXNWmjkjKMWiQ6nbXKub2H1F32ospfXiRwIirvoLiIBbDTNzdw/s1600/Hamengkubuwono+VIII.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666565600730459746&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_1lRdzXE2_NZNSasJ-zFd6d1kypDf2HHVeAnuOqG7HfB9EmfKCPHEOUDZ-qnx74xHRjo_DF_zSI2bwfbymwlGFCSLXjXNWmjkjKMWiQ6nbXKub2H1F32ospfXiRwIirvoLiIBbDTNzdw/s400/Hamengkubuwono+VIII.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 224px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 300px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Kisah Humanis Dari Yogyakarta : Tentang Sri Sultan HB VIII (Ayah Sri Sultan HB IX) mempersiapkan anaknya untuk menjadi pemimpin bangsa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
TIDAK sebagaimana tokoh dari dinasti Mataram yang&lt;br /&gt;
lain, nama Sri Sultan Hamengkubuwono VIII (Sultan HB VIII) memang terasa kurang bergaung di Bumi Nusantara, bahkan masyarakat yang tinggal di Yogya sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Popularitas Sultan HB VIII memang tidak seperti Panembahan Senapati,&lt;br /&gt;
Sultan Agung, Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I), Pangeran Diponegoro dan Sultan Hamengkubuwono IX. Namun, jika kita mau mencermati sejarah Yogyakarta menjelang masa-masa terakhir penjajahan Belanda di Nusantara ini, peran HB VIII laksana sepercik api lentera di kegelapan malam yang bias cahayanya mampu menembus dinding siti hinggil dan benteng keraton hingga menjangkau sudut-sudut dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Visi global telah berkembang di lingkungan istana Mataram meski tanpa perumusan yang rumit, yang memusingkan kepala.Sultan HB VIII yang saat itu masih berkedudukan sebagai putramahkota sadar betul akan perlunya pendidikan bagi putra-putranya dalam rangka&lt;br /&gt;
menghadapi perkembangan dan perubahan zaman. Persiapan awal untuk membuktikan keyakinannya dilakukan dengan tindakan yang mengejutkan banyak pihak. KRAy. Adipati Anom, sang permaisuri, &quot;dikebonke&quot; (dipindahkan keluar keraton) dengan alasan yang tidak diketahui oleh kerabat kraton, tetapi kedudukan sebagai garwa padmi tak pernah dicabut, bahkan segala atribut berupa pakaian dan payung kebesaran seorang permaisuri tetap disertakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah kontroversi sang putra mahkota itu tidak berhenti, Dorodjatun, putranya yang masih berusia 4 tahun-pun segera&lt;br /&gt;
&#39;disingkirkan&#39; dari kraton untuk kost pada keluarga Belanda. Di sini,&lt;br /&gt;
pangeran kecil itu dibiasakan hidup mandiri, jauh dari sikap manja dan&lt;br /&gt;
bermalas-malas, adanya hanya disiplin, kerja keras dan spartan.&lt;br /&gt;
Rupanya calon Sultan Yogya itu sadar benar bahwa orang yang telanjur kalingan suka, ilang prayitnane(terbuai oleh kesenangan, akan hilang kewaspadaan). Itulah sebabnya, Sultan HB VIII sengaja memisahkan kost putra-putranya dan tidak menyertakan inang-pengasuh ataupun abdi panakawan untuk menemani putrandanya yang sedang kost, meski kenyataannya Dorodjatun sering&lt;br /&gt;
menangis saat akan kembali ke kost sehabis berlibur di keraton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan yang sangat bermakna dari Sultan HB VIII adalah saat Dorodjatunakan ke Holland bersama kakaknya, BRM Tinggarto (nama kecil GBPH Prabuningrat) untuk kuliah di Universitas Leiden: &quot;Selama di Negeri Belanda, buka pintu hatimu seluas-luasnya. Berupayalah agar kau benar-benar menyelami sifat-sifat orang Belanda, karena di masa depan kau selalu akan berurusan dengan mereka&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah membuktikan bahwa buah pendidikan Sultan HB VIII mulai tampakpada pribadi Dorodjatun saat dirinya akan dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwono IX. Pembahasan kontrak politik dengan ahli diplomasi Belanda, Dr Lucien Adams, harus ia jalani secara maraton selama empat bulan berturut-turut tanpa membuahkan kesepakatan. Ia memang harus benar-benar teliti dan hati-hati, karena jika salah langkah, implikasinya akan sangat berat, karena menyangkut nasib rakyat negeri Mataram, Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dorodjatun adalah salah satu contoh putra terbaik bangsa yang&lt;br /&gt;
mengenyam pendidikan Barat tanpa harus kehilangan pribadinya sebagai orang Indonesia atau orang Jawa. Ia telah berhasil membuktikan bahwa belajar pada orang asing tidak berarti menjadi antek-antek, begundhal atau gedibalbangsa asing, tetapi justru sebaliknya, dengan mengenal sifat-sifat bangsa asing, dirinya akan lebih mudah menghadapi bangsa tersebut demi&lt;br /&gt;
keselamatan dan kesejahteraan rakyatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat itu terasa sangat bertolak belakang dengan keadaan sekarang,&lt;br /&gt;
dimana banyak ilmuwan melawat ke luar negeri untuk belajar ilmu&lt;br /&gt;
pengetahuan, teknologi, bahasa, budaya dan cara hidup orang asing.&lt;br /&gt;
Tetapi pada akhirnya mereka justru terhanyut menjadi agen atau&lt;br /&gt;
perpanjangan tangan orang asing untuk mengelabuhi bangsa sendiri.&lt;br /&gt;
Kebanggaan pada hal-hal yang berbau asing (Luar Negeri, Internasional,&lt;br /&gt;
Global) telah mengikis jatidiri sehingga tanpa disadari mereka terjebak&lt;br /&gt;
menjadi kacung-kacung imperialis, dimana kepandaian yang diperolehnya&lt;br /&gt;
justru digunakan untuk membuka pintu-pintu penjajahan baru dengan cara&lt;br /&gt;
menjual aset negara tanpa mempedulikan bahwa ulahnya menyengsarakan&lt;br /&gt;
rakyat banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sikap patriotis seorang ksatria Mataram hasil didikan Sultan HB VIII&lt;br /&gt;
benar-benar mengagumkan dan membanggakan. Setelah Serangan Oemoem 1 Maret 1949, keraton yang dicurigai sebagai pusat gerilya dikepung tentara Belanda di bawah pimpinan Kolonel Van Langen dan ajudannya Kapten De Jonge dengan pasukan tank dan panser yang moncongnya mengarah ke gerbang Keben (Kemandungan Lor).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sultan HB IX yang juga menyandang gelar Mayor Jenderal Tituler dari negeri Belanda itu menghalau dengan kata yang tegas dan penuh wibawa: &quot;Kalau tuan-tuan ingin memperlakukan (mengobrak-abrik) Keraton seperti Kepatihan, lebih baik bunuhlah saya&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di era awal kemerdekaan Indonesia, Sultan HB IX dengan jiwa besarnya telah menolak kedudukan Wali Negara sebagaimana yang ditawarkan Belanda. Suatu keputusan untuk &#39;mengasuh&#39; Indonesia yang masih &#39;bayi&#39; dengan segala risiko itu justru dipilihnya. Perannya sebagai &#39;Proklamator ke-2&#39; saat Soekarno-Hatta sedang menyingkir ke Bukittinggi, menjadi bukti bahwa Sultan HB IX adalah benar-benar patriot sejati, benteng terakhir negeri ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akankan pendidikan kita mampu berbuat seperti suksesnya Sultan HB&lt;br /&gt;
VIII dalam menyiapkan putranya menjadi seorang pemimpin besar dan&lt;br /&gt;
manusia berjiwa besar yang rela mempertaruhkan segala yang dimiliki&lt;br /&gt;
untuk kepentingan negerinya? Atau sebaliknya, kita justru akan&lt;br /&gt;
menjadikan anak-didik kita sebagai pialang/ broker/makelar untuk&lt;br /&gt;
menguras aset negara demi kepentingan pribadi dan orang asing?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabnya akan ditemukan setelah kita mencermati pendidikan di sekitar kita yang rasa-rasanya lebih banyak didikte oleh pasar dan penanam modal.Meski saat ini telah banyak bertebaran sekolah bersertifikasi ISO, juga sekolah dengan kualifikasi SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), bukan jaminan bahwa sekolah tersebut akan menghasilkan manusia berjiwa besar yang berani menghadapi tantangan zaman demi membela bangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsep dasar yang dipesankan barangkali memang berbeda. Sultan HB VIII berpesan pada putrandanya supaya di kemudian hari ia mampu menghadapi dan mengatasi penjajah. Apakah? pesan internasionalisasi pendidikan Indonesia sekarang apakah juga demikian? Jangan-jangan pesan itu hanya sebatas agar anak-anak kita ikut mengenyam keuntungan dari kolonialisme modern yang tengah nge-trend di masyarakat kita, alias kita mendidik mereka menjadi manusia oportunis.&lt;br /&gt;
Yang lebih ironis lagi, para fasilitator internasionalisasi pendidikan kita kadang over-PD, sekan-akan yang ia bawa adalah segala-galanya bagi pendidikan Indonesia. Sikapnya cenderung jumawa, jalannya tegap, dada membusung, dagu mendongak dan wajahnya menengadah seakan-akan dirinya adalah manusia klas internasional, jagat-semesta.&lt;br /&gt;
Bicaranya dengan bahasa Inggris logat Jawa yang di-native-native-kan. Mereka lupa bahawa di negeri aslinya sana, bukan hanya golongan orang pintar yang berbahasa Inggris, pencoleng dan orang bloon-pun juga fasih berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tidak sadar bahwa pada dasarnya kita sedang diolah menjadi follower yang nantinya akan diperankan sebagai bangsa yang tak lebih dari underbow sang funding country.Kalau mau menjadi bangsa yang bermartabat, jangan menyediakan diri untuk dijajah. Untuk menyikapi kemajuan, aspek global dan aspek mental kepribadian harus bangun secara imbang. Sri Sultan HB VIII adalah salah satu contoh seorang bapak/pendidik yang berhasil, dan Sri Sultan HB IX adalah salah satu contoh anak didik yang cemerlang, meskipun batal menjadi Sarjana karena tugas akhirnya dirampas Belanda. Tentu buah keberhasilan pendidikan seperti itu akan membanggakan dan membahagiakan kita semua, terlebih bagi para guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan malu untuk mengakui bahwa gelar akademis kita seakan menjadi tak bermakna dibanding pengorbanan beliau. Juga tak perlu merasa rendah diri, karena kita takut meniru kerasnya pendidikan oleh Sultan HB VIII itu. Tidak mengapa, toh derajad kita memang hanya sebagai rakyat jelata; wong pandh? galeng, pidak pedarakan, sedangkan dua Sultan tersebut adalah trahing kesuma, rembesing madu, wijiling adana tapa, yang tentu tidak akan nangis gulung koming hanya gara-gara lapar atau karena tidak disanjung orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
( SKH Kedaulatan Rakyat Rubrik Adiluhung)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Drs Anang Prawoto, Guru SMKN 2 Depok (STM Pembangunan) Mrican &lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/7897708029683115166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/cerita-tentang-hamengkubuwono-viii.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7897708029683115166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7897708029683115166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/cerita-tentang-hamengkubuwono-viii.html' title='Cerita Tentang Hamengkubuwono VIII'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj_1lRdzXE2_NZNSasJ-zFd6d1kypDf2HHVeAnuOqG7HfB9EmfKCPHEOUDZ-qnx74xHRjo_DF_zSI2bwfbymwlGFCSLXjXNWmjkjKMWiQ6nbXKub2H1F32ospfXiRwIirvoLiIBbDTNzdw/s72-c/Hamengkubuwono+VIII.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-1311686107202464602</id><published>2013-04-16T10:05:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:13:12.274-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Malari Titik Balik Terpenting Bangsa Ini</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipYiAVDYAZsurF0lebpRuSbLYeUhuFG3ZQ2tG9izRCpi1vYdwVQ1f-I_floG_Qs17eAm0e0RHNEDGfKDu0FP9146UVp0pUpJzY5dD0TgQVSMR17fSyY1-pfQfa_1i18L9JHsq8Ah55nUE/s1600/Malari+Mitrois.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5666735527477096994&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipYiAVDYAZsurF0lebpRuSbLYeUhuFG3ZQ2tG9izRCpi1vYdwVQ1f-I_floG_Qs17eAm0e0RHNEDGfKDu0FP9146UVp0pUpJzY5dD0TgQVSMR17fSyY1-pfQfa_1i18L9JHsq8Ah55nUE/s400/Malari+Mitrois.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 319px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Tiga Puluh Tujuh tahun yang lalu pecah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari) 1974. Dalam sejarah Malari sama sekali tidak dikenal bahkan hanya dibaca simpang lalu, peristiwa ini kalah dengan peristiwa yang dianggap penting lainnya dan nilainya sama dengan kerusuhan-kerusuhan yang biasa terjadi di Jakarta. Padahal dalam sejarah Indonesia modern, Malari 1974 adalah satu-satunya peristiwa yang paling penting dalam membentuk ke Indonesiaan, Malari adalah satu peristiwa yang membentuk peradaban ke Indonesiaan kita sekarang, Malari juga adalah pengantar untuk menjelaskan alam pikiran orang Indonesia dalam melihat bangsanya : Kenapa bangsa ini menjadi manusia-manusia yang terbudaki alam kebendaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan sebuah bangsa dikenal satu line, dimana satu garis itu ada milestone, hidupnya tonggak-tonggak penjungkirbalikkan tatanan masyarakat. Di Indonesia tonggak itu terjadi pada 1928 dimana kesadaran berbahasa dan wilayah terbentuk disinilah fase pertama sebuah bangsa terjadi : Fase kekuasaan. Kemudian pada tahun 1948 sebuah pilihan politik penting diputuskan melalui sebuah mitos di kaki gunung Lawu pada peristiwa konferensi Sarangan, ada atau tidaknya konferensi Sarangan 1948 sebagai sebuah fakta tidak lagi menjadi begitu penting setelah penyerbuan pasukan Siliwangi ke Madiun. Pada tahun 1948 seluruh gerakan kiri menjadi musuh bersama, pada tahun itu penasbihan kekuatan angkatan bersenjata yang anti gerakan kiri bertransformasi menjadi kekuatan elitis yang menentukan arah bangsa. Pada tahun 1948 tercipta fase kedua : Orientasi Bangsa Yang Melihat Amerika Serikat Sebagai Role Model Pembentukan Masyarakat Republik. Lalu di tahun 1965 merupakan tahun pembuka bagi keputusan apakah Orientasi itu menjadi sebuah tatanan masyarakat yang berdikari. Disini tatanan pembebasan diletakkan pada landasan paling dasarnya yaitu : Modal, lewat sebuah sistem politik antitesis dari pembebasan : Demokrasi Terpimpin yang akan mengantarkan pada Demokrasi Murni setelah tiga prasyarat dasar kemandirian terbentuk yaitu : 1. Kemandirian Politik 2. Berdikari secara Ekonomi 3. Berkebudayaan Otentik. Tiga landasan ini akan membentuk satu peradaban baru bernama Indonesia Raya sebuah peradaban alternatif yang memecah kebekuan dualisme yang tercipta akibat penyelesaian perang dunia yang tidak sempurna : Peradaban Komunis-Stalinis di Timur dan Peradaban Liberal di Barat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 1965 adalah masa penentuan apakah tatanan masyarakat menjadi tatanan yang mandiri dan otentik atau tatanan yang bergantung pada kekuatan kiblatnya dalam hal ini Amerika Serikat. Sukarno menolak tatanan yang bergantung pada kiblat itu, dengan jenius ia menyelesaikan seluruh persoalan wilayah yang menggantung pada masa perang revolusi, ia berhasil membangun lumbung modal. Lalu ia membuat konsep geopolitik ala Jawa terciptanya : Negara Inti dan Negara Mancanegara sebagai magersarinya. Negara Inti adalah Republiek Indonesia sementara Mancanegara atau Satelit Ring Satu adalah Singapore, Malaysia, Filipina dan Australia. Negara inti dan Satelit Ring Satu inilah yang akan digunakan sebagai kekuatan inti yang akan dijadikan modal dasar dalam pembentukan Triumvirat Asia : India-Indonesia-Cina. Triumvirat ini akan menjadi pusat industri yang mandiri dan tidak bergantung pada Amerika Serikat, Sovjet Uni atau Inggris. Tapi nasib Sukarno sangat tragis ia ditinggal sendirian oleh para Jenderalnya, dan ia marah soal pembangkangan Jenderal-Jenderalnya soal Malaysia, ia marah soal penyabotan pikiran Angkatan Ke V, sebagai sebuah kolone kekuatan massal yang mampu mengepung secara bersamaan front utara berhadapan dengan Malaysia dan front selatan membuka perang dengan Australia. Lalu penyelesaian lama terjadi, penyelesaian ala Jaman Revolusi 1945 : PENCULIKAN. Penyelesaian yang biasanya diselesaikan dengan cara penghadapan paksa ke penguasa ini malah diselesaikan hanya dengan tembakan prajurit-prajurit kroco di depan pintu rumah para Jenderal dan ini membuat Sukarno tersudut, jutaan orang harus kehilangan nyawanya. Impian Sukarno hancur lebur bersamaan dengan membusuknya ginjal Sukarno dan ia mati dalam kondisi lebih buruk dari pengemis di pasar yang tergeletak tanpa perawatan. Tragedi Sukarno ini akan membuka tragedi bangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tembakan prajurit di depan rumah Jenderal itu mengantarkan Indonesia masuk ke dalam fase ketiga : Fase Pembentukan Fundamen Kekuasaan Elite yang sah digunakan saat beberapa Jenderal memaksa Sukarno untuk menandatangani sebuah diktum militer yang kemudian diselewengkan menjadi sebuah nota penyerahan kekuasaan pada 11 Maret 1966.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh intelektual yang berpikiran barat, anak-anak muda kritis pembaca banyak buku, dan seluruh kekuatan yang ingin Indonesia meloncat ke peradaban liberal yang tidak mau dicekoki : Patung dan Pidato, bersatu menjungkirkan Sukarno. Sementara nun jauh dari Jakarta pembantaian massal terjadi, sungai-sungai banjir darah manusia dan jutaan nyawa manusia dipenggali kepalanya. Sebuah keinginan modernisasi bertemu dengan pembantaian yang akan menjadi trauma seluruh keluarga-keluarga di Indonesia dan ini dua peristiwa ini menemukan muaranya : Bangsa Yang Sakit Jiwa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu setelah 6 tahun berjalan menjauhi tahun 1965, bangsa yang sakit jiwa ini dikoreksi, muncul gerakan revolusi Mahasiswa di Perancis pada tahun 1968 yang menyadarkan bahwa kehidupan sosial yang penuh nilai-nilai moral akan rusak oleh tatanan kapitalisme. Sementara di Indonesia kapitalisme menemukan benihnya yang jahat : MODAL ASING, HUTANG LUAR NEGERI DAN PEJABAT-PEJABAT KOMPRADOR. Pertemuan-pertemuan politik mahasiswa diadakan dimana-mana, jaringan kampus terbentuk lagi tapi kali ini bukan soal membantai mahasiswa PKI atau CGMI tapi soal membentuk arahan politik baru yang lucunya ketika mereka menendangi pantat PKI di tahun 1966 mereka menoleh pada dasar-dasar pemikiran Karl Marx yang mereka sebut : KIRI BARU, New Left. Gelombang kiri baru ini menjadi arus besar pemikiran di Eropa Barat dan Amerika Serikat, ia membangun bentuknya pertama kali pada pemikiran sastra dan teater lalu merambah pada kritik tatanan masyarakat, di Eropa Barat Kiri Baru diterima tanpa kekerasan karena masyarakat demokrasi sudah terbentuk sempurna, bahkan kiri baru menjadi landasan ekonomi paling penting bagi Eropa Barat dimana kekuatan ekonomi tidak bergantung pada pusat-pusat modal dan barisan pejabat yang korup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Negara Tanpa Ketergantungan&quot; adalah tema besar yang awalnya diteriakkan Arif Budiman ditengah seminar New Left pada tahun 1971 menjadi dasar pemikiran baru mahasiswa, mereka menyerang Jenderal-Jenderal kaya, mereka mengeritik negara dengan kekuatan militer dan mereka tersadarkan &#39;Demokrasi Terpimpinnya Sukarno, Sudah menjadi Negara Neo Fasis oleh Suharto&#39;. Lalu mereka bertanya siapa cukong negara neo fasis ini? jawabnya : Cukong dari kekuasaan neo fasis ini adalah Modal Asing. Dan ketika kelompok Widjojo Nitisastro menyerang Pertamina, kelompok ini juga menyadarkan Orientasi tatanan barat yang diinginkan, muncul kelompok lain yang tiba-tiba menjadi penyeimbang Widjojo cs. Kelompok Hoemardani yang dekat dengan jaringan modal Jepang. Widjojo dan Hoemardani bertempur, sementara rivaalitas para Jenderal berlangsung ketat. Ali Sadikin membangun basisnya, Jenderal Mitro membangun benih-benih pemberontakan mahasiswa dan Ali Murtopo membentuk skenario penjebakan bagi Jenderal-Jenderal yang mulai berlagak menyaingi Suharto. Lalu mahasiswa tanpa sadar terkooptasi permainan para Jenderal ini, mereka gagal membangun kekuatan otentiknya, mereka tidak percaya diri untuk bertindak kecuali bergerak dengan jaminan perlindungan para Jenderal dan mereka tanpa sadar toh para Jenderal itu juga terjebak sebuah permainan intelijen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu ditengah rapat mahasiswa menemukan momentumnya : Kedatangan Tanaka. Kemudian mereka menyiapkan barisan, menyerbu pusat-pusat negara dan berpidato dimana-mana tapi tahun 1974 bukan jamannya revolusi 1945 dimana rakyat memiliki ruang spontannya, tahun 1974 adalah tahun dimana para intel pegang peranan. Masuklah isu Ramadi, kemudian dokumen itu dibaca Suharto lalu Ali Murtopo mendapat angin, kemudian beberapa sektor di Jakarta rusuh, Jenderal Mitro kehilangan kendali di Jakarta dalam hitungan enam jam dia terlambat menghambat pembakaran di Senen, secara legitimasi sebagai Pangkopkamtib dia gagal dan dia terjebak masuk ke dalam skenario intelijen. Jenderal Mitro dipanggil Suharto dan akan dibuang ke AS sebagai dubes, tapi Mitro menolak lalu keluar dari ruangan Suharto ia bukan siapa-siapa lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suharto marah-marah di depan helikopter yang mengantarkan Tanaka ke Bandara, tapi Suharto punya kesempatan menggebuk unsur terakhir para Jenderal yang menggangunya dan Suharto memenangkan pertarungan paling penting bagi pembentukan peradaban Indonesia paling fundamental : MODAL ASING DAN KETERGANTUNGAN EKONOMI. Inilah kemenangan yang tidak mungkin lagi dilawan oleh kekuatan apapun. Modal Asing dan Ketergantungan ekonomi menjadi tiang paling kokoh pembentukan elite pejabat. Dari sinilah kemudian lahir pemodal-pemodal kecil di dalam lingkaran Pertamina atau Cendana dan lingkaran ini kelak akan menjadi penguasa justru setelah Suharto jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malari 37 tahun adalah sebuah kisah yang bisa menjelaskan peradaban kita. Kenapa di Jalan-jalan raya sistem transportasi hancur lebur tapi mobil-mobil mewah berkeliaran, status manusia bergantung dengan sistem kebendaan, merk mobil akan menjadi status sosial di masyarakat bukan intelektualnya atau gerak sosialnya, Metro Mini dan Kopaja sampai detik ini masih menjadi angkutan ditengah negara lain bisa menyediakan sistem angkutan massal seperti kereta bawah tanah atau trem yang murah tapi nyaman. Manusia Indonesia dibudaki oleh barang-barang asing yang harus ia beli. Pembangunan mall-mall menjadi ruang publik satu-satunya, pusat kebudayaan tidak lagi berada di taman-taman kota dan Balai Masyarakat tapi dibangun di plaza-plaza pembelanjaan. Inilah tragedi sebuah negara yang di awalnya ingin membangun masyarakat sejahtera berkeadilan sosial malah melahirkan : Masyarakat Budak Kebendaan.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/1311686107202464602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/malari-titik-balik-terpenting-bangsa-ini.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1311686107202464602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1311686107202464602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/malari-titik-balik-terpenting-bangsa-ini.html' title='Malari Titik Balik Terpenting Bangsa Ini'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEipYiAVDYAZsurF0lebpRuSbLYeUhuFG3ZQ2tG9izRCpi1vYdwVQ1f-I_floG_Qs17eAm0e0RHNEDGfKDu0FP9146UVp0pUpJzY5dD0TgQVSMR17fSyY1-pfQfa_1i18L9JHsq8Ah55nUE/s72-c/Malari+Mitrois.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-3313329631185272411</id><published>2013-04-15T03:57:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:12:34.263-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Kisah-Kisah  Dibalik Sumpah Pemuda</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4Kt1mmekDvjQKlKkebPqjfK1L-zP2enP-Td8vvXqDo2u-tUEAxQqRkLkPk8I5uslUSqmzuxJWU9jj2hIHV7pvZ8ZmtbYBIOUoVsAOZAJamYJQ-q1pX3Qky-R0hjVTwQNm_oD-0cX2YAo/s1600/sumpahpemudaindonesia.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;214&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4Kt1mmekDvjQKlKkebPqjfK1L-zP2enP-Td8vvXqDo2u-tUEAxQqRkLkPk8I5uslUSqmzuxJWU9jj2hIHV7pvZ8ZmtbYBIOUoVsAOZAJamYJQ-q1pX3Qky-R0hjVTwQNm_oD-0cX2YAo/s320/sumpahpemudaindonesia.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di pertengahan tahun 1927, suatu saat Sugondo Djojopuspito, Maruto dan Pandu Kartawiguna datang ke kamarnya Mohammad Yamin, mahasiswa RHS (Sekolah Tinggi Hukum), disana Yamin bercerita bahwa ia baru saja bertemu Bung Karno, yang sering diledek pelajar-pelajar Jakarta saat itu sebagai &quot;Bapak Persatuan Dari Bandung&quot;. Yamin dengan nada gagah berkata &quot;Bung Karno hanya minta kita bersatu, itu...bagaimana menurut kalian?&quot; Sugondo dengan gayanya yang lembut membalas &quot;Buat saja satu kongres yang menyatakan pemuda bisa bersatu, biar Bung Karno senang&quot; obrolan ini sebenarnya adalah pembuka dari rangkaian kongres yang kelak terjadi, namun jiwa dari obrolan ini sesungguhnya terletak pada ucapan Sjahrir. Saat itu Sjahrir (-kelak jadi Perdana Menteri RI pertama-) masih duduk di AMS (sekarang setingkat SMA). Dia ini pelajar yang badung dan sudah diincar Intel Polisi Belanda, PID. Anak SMA ini sering membuat uraian tentang tulisan-tulisan politis di majalah dinding. Ia menulis revolusi Rusia, ia juga menulis ajakan menentang politik kolonial dan ia cantumkan di majalah dinding, pernah satu saat Sjahrir akan menempelkan tulisan di majalah dinding, Intel Polisi mengejar-ngejar Sjahrir sampai anak itu harus meloncat pagar. Beberapa hari kemudian majalah dinding di AMS Bandung dijaga polisi agar jangan sampai tulisan Sjahrir terpampang disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sjahrir anak muda yang terlalu pintar, ia disenangi oleh mahasiswa-mahasiswa Jakarta yang kerap mengunjungi rumah Bung Karno. Biasanya setelah mengunjungi rumah Bung Karno di Ciateul anak-anak mahasiswa itu nongkrong di Braga disana Sjahrir dengan celana pendeknya menjadi orang yang paling disenangi untuk bicara. Sjahrir ini bukanlah seperti Bung Karno yang selalu menyenangkan lawan bicara, ia memiliki karakter judes dan ceplas ceplos bila bicara tapi Sjahrir sangat cepat dalam mendalami pemaknaan berpikir. Sjahrir yang anak SMA itu berkata &quot;Kalian bicara persatuan, tapi tanpa suatu tindakan penjiwaan terhadap persatuan itu mana bisa?, persatuan itu bukan sekadar konsep untuk menyatukan sebuah perjuangan, tapi ia sebuah gagasan baru, sebuah jaman baru dan lebih besar lagi &#39;persatuan&#39; itu adalah sebuah peradaban baru. Bisa nggak kalian bikin sebuah peradaban baru bernama Indonesia, sebuah peradaban yang bisa saja seagung &#39;peradaban yunani&#39;, &#39;peradaban romawi&#39; atau &#39;peradaban eropa barat&#39; itulah tujuan dari persatuan&quot; kata Sjahrir sambil nyeruput sirop di pinggir jalan Braga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omongan Sjahrir inilah yang kena banget di hati Sugondo Djojopuspito, yang perlu mendapatkan perhatian adalah Sugondo ini, dialah pusar segala gerakan sumpah pemuda itu, ia yang mengatur agar PID tidak mengobrak abrik tempat berlangsung sumpah, ia mengakali kepala polisi bahwa kegiatan sumpah pemuda itu sebagai kegiatan debat biasa, dan ia juga mengakali para mahasiswa RHS dan siswa AMS untuk jangan berdebat karena ada kepala polisi, hal ini mempermudah terhadap jalannya kongres, karena kongres sering berlarut-larut karena perdebatan tiada henti. Saat itu terkumpullah 71 pengikrar sumpah pemuda yang diadakan di asrama milik Sie Kok Liong, Cina Semarang yang menjadi pengusaha properti di Jakarta. Sumpah pemuda ditutup oleh permainan biola WR Supratman, yang oleh intel PID dicatat sebagai &quot;Permainan biola kelas jalanan, dan tidak memiliki mutu musik seperti orang Belanda&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi toh kongres berjalan, Sjahrir tidak ikut karena harus ujian sekolah. Bung Karno mungkin tidak hadir karena menganggap itu kegiatan yunior-yuniornya. Bung Karno sudah di dalam lingkaran pemain-pemain pergerakan senior macam HOS Tjokro, Cipto Mangunkusumo, Sam Ratulangie dan Husni Thamrin. Tapi kemudian Bung Karno melonjak gembira saat ia dikabari Yamin bahwa sebuah kongres sudah berlangsung di Jakarta dan menjadi akar dari gerakan-gerakan pemuda selanjutnya. Dan memang anak-anak muda yang ikut dalam kegiatan sumpah pemuda itu banyak yang menjadi pemain politik pada masa revolusi. Yamin ikut Tan Malaka dan tergila-gila dengan kebudayaan Jawa. Sugondo agak tenggelam namanya karena kurang radikal, Maruto menjadi pemimpin banyak pemuda berwatak keras dan menguasai pertempuran-pertempuran di banyak kota di Jawa. Kaum muda menjadi pelopor sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum muda penggerak sejarah yang besar di tahun 1920-an, adalah anak-anak muda yang dibesarkan pada situasi romantis. Mereka berasal dari kalangan elite, berpendidikan tinggi dan membaca ribuan buku. Mereka manusia berimajinasi dan tidak melandasi sikapnya dengan disiplin yang mendewakan kekerasan tapi ini beda dengan anak-anak muda yang besar di tahun 1940-an, mereka anak-anak jaman yang dibesarkan oleh perang dunia. Dunia mereka keras, dunia mereka penuh banjir darah dan anak-anak muda ini banyak tinggal di barak-barak tentara Jepang. Mereka lahir dari tangsi bukan dari dunia buku. Dunia mereka kokang senjata bukan berdebat dan tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Generasi 45 inilah yang kemudian menjadi paling mewarnai dalam sejarah. Generasi perang ini membentuk sikap keras. Perdebatan tidak lagi menjadi suasana intelektual perjuangan dalam membentuk dan menganalisa masalah tapi sebuah todongan pistol dan meletakkan bayonet di leher menjadi alat diskusi. Semua tokoh politik yang berusaha memanfaatkan radikalisasi pemuda dalam memainkan senjata ini habis dengan kekerasan, nasib meminta Tan Malaka yang memanfaatkan militansi pengikutnya dengan membentuk Barisan Banteng dan Murba justru dibunuh di Jawa Timur. Amir Sjarifudin yang memanfaatkan Pesindo habis di Boyolali oleh pasukan Gatot Subroto. Pemuda tangsi kemudian menjelma menjadi satu generasi dengan masa yang panjang menguasai Indonesia. Sukarno berusaha memanfaatkan namun juga habis oleh generasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarno adalah satu-satunya orang yang paham mengarahkan energi muda pada sebuah pertarungan besar. Ia berhasil membangun militansi, membentuk barisan-barisan sukarelawan, membentuk imajinasi perjuangan bersama tentang kebangsaan dan jutaan pemuda disiapkan menyerbu Malaysia. Walaupun kemudian muncul sekelompok anak muda dari kalangan elite yang mengeritisi daya juang Sukarno, mereka dibesarkan alam pikiran Liberal Amerika Serikat dan jelas-jelas anti komunis. Sekelompok anak muda ini menolak mitos Sukarno. Aliran anti Sukarno ini justru bertemu dengan kemarahan barisan perwira nasionalis kolot setelah enam jenderal diculik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barisan perwira kolot ini dibesarkan dalam alam pikiran sederhana, berwatak priyayi feodal, pendukung nasionalisme dalam artian sempit dan tidak berdimensi intelektual. Barisan perwira ini yang kemudian pegang negara. Ironisnya barisan perwira yang tidak mengidahkan Intelektualitas ini justru berkompromi dengan barisan mahasiswa kritis anti Sukarno lalu terjadilah &#39;Monsterverbond&#39; persekutuan jahat dalam penggulingan Sukarno. Monsterverbond yang hanya berlangsung sesaat setelah itu dikoreksi pada tahun 1974 saat peristiwa Malari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suharto pusar dari barisan perwira ini menghancurkan gerakan muda. Awalnya ia menghabiskan gerakan paling lemah dalam dinamika masyarakat yaitu : Gerakan perempuan, lalu Suharto menghantam gerakan muda. pertama kali dihancurkan Gerakan Pemuda Rakyat. Gerwani dan Pemuda Rakyat diibliskan oleh kelompok ini untuk masuk dan ikut bertanggung jawab dalam peristiwa penembakan enam jenderal. Lalu Suharto menggiring mahasiswa mendukung dia. Gerakan pemuda oleh Suharto dimasukkan ke dalam sistem. Semua masyarakat harus masuk dalam sistem formal dimana seluruh saluran sistem formal masuk ke dalam lingkaran kekuasaan yang berpusat pada Suharto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Formalitas ala Suhartorian inilah yang kemudian menghancurkan seluruh jiwa dari dinamika gerakan pemuda. Kaum muda gagal memahami sistem tapi juga selalu merasa senang berada diluar sistem. Anehnya kaum yang diluar sistem diam-diam mengagumi kelompok di dalam sistem. Fenomena aktivis yang berbalik menjadi pemuja kekuasaan adalah fenomena umum yang dilahirkan dari sistem masyarakat Suhartorian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Formalitas menjadi segalanya. Orang menganggap berjuang harus masuk ke dalam sistem : Menjadi bagian Partai Politik resmi, Menjadi bagian dari parlemen dan menjadi bagian dari kekuasaan yang menyeluruh. Mereka lupa bahwa tanpa masuk sistem-pun mereka bisa merubah sejarah. Gerakan muda menjadi sebuah arus besar-besaran untuk masuk sistem bahkan kerap menjadi pelacur bagi kekuasaan. Himpunan-Himpunan Mahasiswa hanya dijadikan alat untuk mempermudah karir bagi mereka, mereka memperluas jaringan untuk dipersiapkan masuk ke dalam sistem itu. Setelah masuk ke dalam sistem mereka main proyek dan menjadi makelar anggaran lalu menjadi pelobi untuk melanggengkan sistem yang rusak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konstitusional kita dikelabui seakan-akan seluruhnya bergerak dalam satu sistem yang sejatinya adalah mengarah pada kekuasaan. Baik kekuasaan ketua partai atau kekuasaan para pemodal. Selama arah pikiran kita terpaku pada arus sistem itu sampai kiamat pun Indonesia tidak akan berubah. Kita perlu gerakan-gerakan muda yang memancing agar sistem ini hancur, Sistem Suhartorian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ANTON&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/3313329631185272411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-kisah-dibalik-sumpah-pemuda.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3313329631185272411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3313329631185272411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kisah-kisah-dibalik-sumpah-pemuda.html' title='Kisah-Kisah  Dibalik Sumpah Pemuda'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4Kt1mmekDvjQKlKkebPqjfK1L-zP2enP-Td8vvXqDo2u-tUEAxQqRkLkPk8I5uslUSqmzuxJWU9jj2hIHV7pvZ8ZmtbYBIOUoVsAOZAJamYJQ-q1pX3Qky-R0hjVTwQNm_oD-0cX2YAo/s72-c/sumpahpemudaindonesia.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8042680149760639877</id><published>2013-04-14T08:16:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:10:53.391-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip2"/><title type='text'>Foto Kerja Sukarno dan Agus Salim Saat Revolusi</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAFxQK6tOmLW58XeP-F0vV4qOAb6Qb3Ok1Z4i6JA-9ifOti1QewVA5qDRE6XgJIy1gWASVoOAgdXXv-k00pwjYGoVng6Ca81yQ1jYhSPHswZKwBPO9AhNvP1pnP5vtkKiF-MbWugoPjAs/s1600/Karno+salim.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667078484683548338&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAFxQK6tOmLW58XeP-F0vV4qOAb6Qb3Ok1Z4i6JA-9ifOti1QewVA5qDRE6XgJIy1gWASVoOAgdXXv-k00pwjYGoVng6Ca81yQ1jYhSPHswZKwBPO9AhNvP1pnP5vtkKiF-MbWugoPjAs/s400/Karno+salim.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 284px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Politisi jaman dulu bekerja buat rakyatnya dan membangun negerinya dengan pemikiran yang sungguh-sungguh serta tidak berharap mendapatkan kekayaan materi lihatlah Agus Salim dan Bung Karno ini yang terus menerus bekerja secara marathon untuk segera membereskan persoalan-persoalan perang di Indonesia. Agus Salim tidak tidur sepanjang malam, Bung Karno terus menerus membuat konsep yang bisa disebarkan ke beberapa orang delegasi perundingan serta melakukan perintah-perintah politik kepada para Jenderal perangnya untuk melakukan strategi menahan pasukan dan menyiapkan beberapa kantong militer di wilayah Republik. Foto ini dibuat sekitar tahun 1947. Dua tahun kemudian Bung Karno dan Agus Salim ditangkap Belanda dan dibuang ke Bangka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Agus Salim hidupnya miskin, ia hanya tinggal di sebuah gang kecil yang becek dimana Moch. Roem pernah mengisahkan hal ini. Tapi orang macam Agus Salim meninggalkan jasa yang luar biasa terhadap republik ini, begitu juga dengan Sukarno, dengan Hatta, dengan DN Aidit, dengan Hamka, dengan Sudirman, dan banyak tokoh lain yang melarat hidupnya. Tapi cobalah liat anggota DPR sekarang, untuk mengerjakan hal yang sebenarnya hanya berbiaya 10 juta rupiah saja bisa dianggarkan sampai 22 Milyar. Jadi saat kita makan di Restoran, saat kita menerima struk gaji, saat kita bayar parkir mobil dan saat kita beli tiket bioskop pajak yang dipotong dari transaksi kita itu digunakan untuk hura-hura para anggota Dewan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pendahulu kita bekerja keras untuk mengembangkan negeri ini, memajukan kecerdasan bangsa ini dan menyumbangkan tenaganya -Onderbank werk- untuk rakyat yang dicintainya. Para perampok anggaran di DPR menggarong duit negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bangsanya dan ironisnya mereka disebut : &quot;Anggota Dewan Yang Terhormat&quot;.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8042680149760639877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/foto-kerja-sukarno-dan-agus-salim-saat.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8042680149760639877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8042680149760639877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/foto-kerja-sukarno-dan-agus-salim-saat.html' title='Foto Kerja Sukarno dan Agus Salim Saat Revolusi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAFxQK6tOmLW58XeP-F0vV4qOAb6Qb3Ok1Z4i6JA-9ifOti1QewVA5qDRE6XgJIy1gWASVoOAgdXXv-k00pwjYGoVng6Ca81yQ1jYhSPHswZKwBPO9AhNvP1pnP5vtkKiF-MbWugoPjAs/s72-c/Karno+salim.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-3992667738781621123</id><published>2013-04-13T08:26:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:09:19.059-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip6"/><title type='text'>Sam Ratulangie Orang Yang Mempengaruhi Rasa Nasionalisme Sukarno</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHPtokBvYZMn_0BZ9siDfu3d1ph2Oe7Di4oUrCFPB-iI5EQ0VsAW-SM-bvP62skmqilVK5uQVuTzTaF4G-GtTUwFUwJuzM-BC93FAc1u6oT1lLgqpYzeUKnbMYCD3HAp-HZ8KkR-IvF-Y/s1600/Karno+Ratulangie.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667083930238038690&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHPtokBvYZMn_0BZ9siDfu3d1ph2Oe7Di4oUrCFPB-iI5EQ0VsAW-SM-bvP62skmqilVK5uQVuTzTaF4G-GtTUwFUwJuzM-BC93FAc1u6oT1lLgqpYzeUKnbMYCD3HAp-HZ8KkR-IvF-Y/s400/Karno+Ratulangie.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 251px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Tahukah anda siapa orang yang pertama kali mempengaruhi konsepsi tentang Indonesia dan nama Indonesia kepada Bung Karno? Orang itu adalah Sam Ratulangie. Sam Ratulangie ini putera Manado yang teramat cerdas, ia adalah lulusan Universitas Amsterdam dan kemudian mengambil gelar doktornya bidang fisika dan matematika di University of Zurich tahun 1919, sementara 14 tahun sebelumnya tahun 1905 einstein mengambil gelar doktoral di universitas yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sam Ratulangie melanglang buana ke berbagai tempat termasuk akhirnya pulang ke Jawa dan tinggal di Yogyakarta. Pada suatu malam di kota Yogya ia berpikir tentang sebuah konsepsi tentang nama Indonesia. Sam Ratulangie berpikir bahwa Hindia Belanda harus mempunyai satu nama yang bisa dikenal orang dan ia memutuskan kata Indonesia. Sementara yang lain masih menggunakan bahasa Belanda seperti : Indische, Indonesische atau Hindia Belanda. Sam Ratulangie-lah orang pertama yang menggunakan ejaan : INDONESIA. Akhirnya sekitaran awal tahun 1920-an Sam Ratulangie pergi ke Bandung dan mendirikan perusahan asuransi yang bernama Assurantie Maschapaj Indonesia. Ini adalah perusahaan pertama di Indonesia yang menggunakan kata : INDONESIA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar tahun 1923, Bung Karno berjalan-jalan sore di kota Bandung, maksudnya ia ingin pergi ke Braga tapi entah kenapa malah nyasar ke rumah Sam Ratulangie, dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, Bung Karno dan Sam Ratulangie berdiskusi tentang sebuah bangsa yang kemungkinan bisa dibangun di Hindia Belanda, dan kesan Bung Karno menangkap bahwa yang ia harus pikirkan adalah konsepsi nasionalisme Indonesia ketimbang konsep Internasionalisme seperti Komunisme atau Pan Islamisme - sampai sebelum bertemu Sam Ratulangie. Bung Karno masih berkonsep Pan Islamisme karena pengaruh HOS Tjokroaminoto-. setelah keluar dari pintu rumah Sam Ratulangie, pikiran Bung Karno tentang negara berubah total, Bung Karno menjadi seorang pemikir besar dalam bidang Nasionalisme dan ini berkat pengaruh Sam Ratulangie yang kemudian dipertajam dengan pemikiran-pemikiran Dokter Tjiptomangunkusumo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nasionalisme Sam Ratulangie adalah nasionalisme kemanusiaan, satu prinsip Minahasa yang ia pegang &quot;Si Tou timou tomou tuo&quot; yang artinya : Manusia baru disebut manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun 1937-1938 Sam Ratulangie keluar masuk penjara demi mempertahankan ide-ide kebangsaan Indonesia Raya. Setelah ia agak tidak dikejar untuk dibui Sam Ratulangie menjadi editor di Nationale Commentaren sebuah majalah berita berbahasa Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Indonesia merdeka sekitar tahun 1946 Sam Ratulangie bertemu dengan Bung Karno, oleh Bung Karno Sam Ratulangie diangkat menjadi Gubernur Sulawesi Utara. Dan sejarah menyaksikan Indonesia lahir dari pikiran putera Minahasa yang luar biasa ini.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/3992667738781621123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sam-ratulangie-orang-yang-mempengaruhi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3992667738781621123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/3992667738781621123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sam-ratulangie-orang-yang-mempengaruhi.html' title='Sam Ratulangie Orang Yang Mempengaruhi Rasa Nasionalisme Sukarno'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHPtokBvYZMn_0BZ9siDfu3d1ph2Oe7Di4oUrCFPB-iI5EQ0VsAW-SM-bvP62skmqilVK5uQVuTzTaF4G-GtTUwFUwJuzM-BC93FAc1u6oT1lLgqpYzeUKnbMYCD3HAp-HZ8KkR-IvF-Y/s72-c/Karno+Ratulangie.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8000746612939134062</id><published>2013-04-12T09:11:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:08:29.046-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Membaca Pikiran Sukarno</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRSLk23PluYRitdfPKLkySXQpJVqjQvLHRwtwsyXrrpSbp8EBX9uPW0hNmv1gKS0tM6jcb8pLiT31OCa2n6J8ESC-tUsMmeZrQjzbGRYk0KuHMYv8AJNGM8jHi33RiskokA4urSR0nk18/s1600/Sukarno+Kennedy.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667093288641816178&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRSLk23PluYRitdfPKLkySXQpJVqjQvLHRwtwsyXrrpSbp8EBX9uPW0hNmv1gKS0tM6jcb8pLiT31OCa2n6J8ESC-tUsMmeZrQjzbGRYk0KuHMYv8AJNGM8jHi33RiskokA4urSR0nk18/s400/Sukarno+Kennedy.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 400px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 366px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Tidak seperti Suharto yang berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah diri sendiri, adalah kemampuan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya dimana Suharto selalu memperhatikan keadaan orang-orang terdekatnya dan ia tidak pernah percaya pada kekuatan diluar lingkaran terdekatnya. Sukarno selalu berpikir bahwa kekuatan terbaik adalah &quot;Sesuai Kebutuhan Sejarah&quot;. Apabila Suharto sangat percaya pada intuisi-nya maka Sukarno sangat percaya pada Intelektualitas dan kemampuannya dalam menafsirkan arah gerak sejarah. Dari arah gerak sejarah inilah Sukarno menentukan &quot;Siapa Teman, Siapa Lawan&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarno mendirikan PNI 1927 dengan memanfaatkan kehancuran total PKI. Disana ada kevakuman sejarah dan dengan lompatan luar biasa ia mampu menjadi &quot;Pemimpin Nasional&quot; Sementara semua jago-jago lama Komunis berlarian ke luar negeri dikejar intel Belanda dan Inggris, sebagian besar ditangkapi dan dipenjarakan ke Digul, Sukarno membangun ruang gerak baru bernama Nasionalisme dan sontak ia menjadi raksasa baru dan pusat perhatian seluruh bangsa. Sukarno dengan cepat menjadi pemimpin dengan memanfaatkan keadaan. -Sukarno dengan lihai memanfaatkan kehancuran PKI kemudian menjadikan Nasionalisme sebagai arus besar sejarah - inilah keberhasilan pertama Sukarno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Jaman Jepang Sukarno memilih bergabung dengan Jepang, pertimbangannya sederhana : Apabila Jepang menang perang dalam pertempuran Asia Pasifik maka Indonesia langsung merdeka dan menjadi anggota Persekutuan Asia Timur Raya. Sukarno selalu melihat kondisi geopolitik. Di tahun 1931 dia selalu berbicara &quot;Kemerdekaan Indonesia bergantung pada Perang Asia Pasifik&quot; dan tidak ada satupun ahli politik serta pemimpin dunia yang memperkirakan ada perang Asia Pasifik hanya Sukarno yang berkata demikian, pada tahun 1942 saat Jepang mengebom Pearl Harbour dan Perang Pasifik dimulai barulah orang sadar bahwa Sukarno selalu mengatakan demikian 10 tahun sebelumnya. Saat mendengar kabar AS mengumumkan perang dengan Jepang, Sukarno berkata dengan Inggit &quot;Nggit, Aku merasa inilah saatnya Indonesia Merdeka&quot;. Sukarno sudah paham lama satu-satunya kekuatan yang bisa mengusir Belanda adalah kekuatan luar dan ia harus memanfaatkan kekuatan luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarno pulang ke Jakarta dan memanfaatkan kekuatan Jepang untuk mengeliminir semua aset Belanda dan menjadikan namanya tetap Flamboyan di tengah rakyat. Walaupun di Jaman Jepang ia dikatakan bertanggung jawab terhadap Romusha namun itu bukanlah kerjaan Sukarno, justru Sukarno yang meminta Jepang agar Indonesia punya kekuatan militernya sendiri. Sukarno paham kunci setelah Perang Pasifik adalah kekuatan militer antar wilayah dan Indonesia harus jadi tandem yang seimbang apabila Jepang menang perang atau kalau Jepang kalah perang maka Indonesia harus punya Angkatan Perang-nya untuk berhadapan dengan pemenang perang : 1. Amerika Serikat (menurut perhitungan Sukarno akan berpangkalan di Filipina dan menjadi dominasi di Asia Tenggara) 2. Inggris (berpangkalan di Malaya) 3. Sovjet Uni (Yang menurut perkiraan Sukarno akan mencari tempat baru di Asia Tenggara).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asia Tenggara selalu menjadi titik perhatian Sukarno, ada dua wilayah Asia Tenggara yang dijajah oleh kekuatan lemah Internasional : 1. Indochina dan 2. Indonesia. Indochina dijajah Perancis dan Indonesia dijajah Belanda. Dua titik lemah inilah yang diperkirakan Sukarno akan dikuasai Moskow atau Peking. Disinilah Sukarno menempatkan dirinya sebagai pemain politik Internasional, langkah pertama yang ia lakukan adalah menghindari Indonesia menjadi satelit Moskow dan Peking. Ia melihat Peking masih lemah dan bisa ia manfaatkan setelah menjadi raksasa dunia sementara satu-satunya kekuatan besar adalah Moskow.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya memang Moskow masuk ke Vietnam, tapi Cina-lah yang memenangkan perang di Vietnam. Sukarno adalah orang paling cerdik dalam memanfaatkan ini. Disatu sisi ia memegang Tan Malaka dengan melakukan deal politik untuk menyambungkan kekuatan laskar rakyat sebagai beking tentara resmi yang masih lemah, Sukarno menemui Tan Malaka pada September 1945. Kemudian di sisi lain ia pegang Sjahrir. Tujuan utama dari politik Sukarno 1945 adalah &quot;Mencegah agar jangan Moskow bermain di Jawa&quot; Apabila Moskow bermain di Jawa maka resikonya Belanda akan memanfaatkan kekuatan Amerika Serikat untuk menghantam Komunisme sebagai Project Pertama kali &quot;Membendung Kekuatan Merah di Asia&quot; yang memang sudah diperkirakan oleh Churchill sebelumnya, kata Churchill &quot;Setelah Hitler, Musuh kita adalah Stalin&quot;. Maka Sukarno berpegang kuat-kuat pada doktrin Churchill ini, dan hanya ada dua kekuatan yang bisa menghindari Indonesia dari Moskow : Tan Malaka yang dibenci Moskow dan Sjahrir cs yang berkiblat pada Eropa Barat. Sukarno memanfaatkan dua orang ini sebagai tangan kanan dan tangan kirinya lalu berhasil. Sukarno dengan cerdas memperpendek perang dan kemudian ia melakukan perang besar selanjutnya : Revolusi Indonesia Sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Revolusi Sukarno sesungguhnya adalah Revolusi Modal. Dan ini ia buktikan di tahun 1960, Sukarno tau bahwa Indonesia adalah negara paling kaya di muka bumi, dan kekayaan terbesar di Indonesia justru di wilayah Irian Barat. Irian Barat harus dijadikan lumbung modal Indonesia untuk menguasai politik di Asia Tenggara dengan menguasai politik di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi kekuatan nomor empat dunia setelah Amerika Serikat, Sovjet dan Cina, maka Sukarno memilih pembantu terdekatnya adalah Subandrio. Lagi-lagi Sukarno menunjukkan kejeniusan luar biasa, ia memanfaatkan kemampuan diplomasi Subandrio untuk menekan Kennedy. Sukarno menodong Kennedy apabila persoalan Irian Barat tidak beres maka AS akan menghadapi dua front di Asia Tenggara : Front Hanoi dan Front Jakarta. Kennedy mengalah dan memerintahkan Belanda mundur setelah &#39;Gertak&#39; Sukarno dengan puluhan pesawat buatan Sovjet dan beberapa korvet yang siap menyerang ke Irian Barat dan mempermalukan Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kennedy dimusuhi CIA setelah mengalah pada Bung Karno dan ditembak mati dengan meninggalkan cerita politik konspirasi. Lalu naiklah Lyndon B Johnson orang yang sangat keras dalam soal Asia Tenggara. Ia masuk ke Vietnam dengan brutal. Sukarno melihat bahwa persoalan Vietnam akan menjadi tragedi kemanusiaan yang luar biasa, ia berniat menghentikan perang di Vietnam dengan membangun poros persekutuan di luar AS. Sasaran antara Sukarno adalah Inggris dan mendepak Inggris dari Asia Tenggara. Karena bagi Sukarno, Inggris adalah otak bisnis di Asia Tenggara sementara Beking Keamanannya AS. Tapi Sukarno tau bahwa berhadapan dengan AS langsung tidak akan bisa maka Sukarno memperhatikan perkembangan politik di Peking. Mao sedang naik daun, kekuatan merahnya menggetarkan Amerika Serikat, Sukarno ingin memanfaatkan Mao Tse Tung bertarung langsung dengan AS di Asia Tenggara, Sukarno yakin Mao pasti menang karena keinginan utama AS bukanlah perang tapi dagang. Ini dibuktikan ketika Amerika mundur secara memalukan dari Perang Korea.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka untuk melancarkan hegemoni Indonesia di Asia Tenggara, Sukarno membuka front dengan Inggris di Kalimantan Utara. Lagi-lagi Sukarno menggunakan politik gertak. Apabila penguasaan Irian Barat, Sukarno memanfaatkan panasnya politik AS-Sovjet. Maka dalam kasus Ganjang Malaysia sesungguhnya Sukarno sedang nge-test Cina sebagai kekuatan di Asia. Dengan memanfaatkan kekuatan Cina maka Indonesia akan bisa memperpendek perang di Vietnam dan menghentikan pembantaian Amerika disana. Dengan menguasai hegemoni di Asia Tenggara maka Indonesia akan menjadi negara paling kaya di Asia setelah Cina.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi pemikiran Sukarno yang melompat jauh ke depan, pemikiran Sukarno yang sudah paham tentang pertarungan modal tidak pernah mampu dibaca tandem-tandem politik di dalam negeri. Terbukti Sukarno diboikot Jenderal-Jenderalnya sendiri dalam kasus Ganjang Malaysia. Sukarno dikentuti orang-orang yang belagak Intelektual tapi tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila Sukarno berhasil memainkan politik Ganjang Malaysia maka Irian Barat tidak akan jatuh ke Freeport, sepenuhnya kekayaan alam Indonesia dibangun untuk bangsa Indonesia dan kekayaan negara. Tidak ada yang namanya sekolah harus bayar, Rumah Sakit harus bayar. Indonesia akan diciptakan oleh Sukarno sebagai negara paling memakmurkan rakyatnya dan memang step pertamannya adalah menciptakan struktur modal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah kejeniusan Sukarno yang harus menjadi pelajaran bagi kita semua, dialah bapak bangsa yang mewarisi kekayaan nasional bangsa Indonesia. Bukan mewarisi hutang ribuan trilyun seperti yang dilakukan Suharto dan mungkin juga SBY.&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fcg&quot;&gt; &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8000746612939134062/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/membaca-pikiran-sukarno.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8000746612939134062'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8000746612939134062'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/membaca-pikiran-sukarno.html' title='Membaca Pikiran Sukarno'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiRSLk23PluYRitdfPKLkySXQpJVqjQvLHRwtwsyXrrpSbp8EBX9uPW0hNmv1gKS0tM6jcb8pLiT31OCa2n6J8ESC-tUsMmeZrQjzbGRYk0KuHMYv8AJNGM8jHi33RiskokA4urSR0nk18/s72-c/Sukarno+Kennedy.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-7072163670063944261</id><published>2013-04-11T09:24:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:07:41.375-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Arsip"/><title type='text'>Sukarno dan Pancasila</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKU1eDWuJluyqzyZFp0Qb3YVExa6-AGTJC2p6zZazimt2Jw2d4dFYNBYavE4Ppg9Rx2l7m_T_BY_09gMxe4ok8vI7cR2ts9k9QM_HB0qdZpflflkYLUsmVoEYJ5CeX2L2ig5bf_UToN1Y/s1600/Sukarno+PBB.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667097556339498514&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKU1eDWuJluyqzyZFp0Qb3YVExa6-AGTJC2p6zZazimt2Jw2d4dFYNBYavE4Ppg9Rx2l7m_T_BY_09gMxe4ok8vI7cR2ts9k9QM_HB0qdZpflflkYLUsmVoEYJ5CeX2L2ig5bf_UToN1Y/s400/Sukarno+PBB.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 300px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pancasila..saudara-saudara merupakan Overtrekking, puncak dari segala puncak penemuan Ideologi. Oleh kerna Marx menemukan bagaimana menghancurkan daripada sistem harga-harga yang diciptakan oleh kaum Borjuis, sistem manipulasi borjuis yang menghasilkan penindasan, Oleh karena Jefferson menemukan bagaimana sebuah negara bisa dieksperimen, bisa dibentuk dan bisa dibuat dalam sebuah gagasan besar tentang &#39;Manusia menjadi segala pusat kerja&#39; sehingga membentuk negara yang kuat dan kaya raya. Maka Pancasila adalah perpaduan keduanya!!...&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;fbPhotosPhotoCaption&quot; id=&quot;fbPhotoSnowboxCaption&quot; live=&quot;polite&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot; tabindex=&quot;0&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Perpaduan daripada gagasan menghilangkan penindasan seperti yang dimaklumkan Karl Marx, sebagai gagasan besar tentang membangun sebuah bangsa raksasa seperti yang diinspirasikan oleh Jefferson. Maka Pancasila juga mengambil daripada gagasan raksasa tentang penghargaan kemanusiaan yang telah dilahirkan Abraham Lincoln. Oleh kerna itu, aku ini sedjak muda memperdjoangkan daripada gagasan-gagasan ini, kuncinya satu..hanya satu!!...PERSATUAN. Persatuan adalah kunci dari segala kunci membentuk Modal Indonesia Raya, Indonesia Raya yang mampu, yang bisa menjadi MERTJU SUARNYA DUNIA...Menjadi arah pemandu daripada pembebasan manusia, menjadi sebuah avant garde dari Menghormatkan kemanusiaan. Peradaban manusia ditentukan oleh sikap saling hormat menghormati tiada ...tiada...tiada Penindasan, tiada penindasan...tiada penindasan sekali lagi ...saya kataken Tiada penindasan!!!! diantara persoon dengan persoon, negara dengan rakyatnya dan negara yang kuat dengan negara yang lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku katakan padamu, aku telah melewati begitu banyak kejadian, melewati kehidupan penuh bahaya ini, mata tuaku sudah melihat begitu aneka rupa kedjadian, aku melihat jatuh bangunnya bangsaku, aku melihat dunia kecil dari jeruji penjara, dan kini ditengah kalian hai bangsa-bangsa yang baru merdeka, hai para pemimpin-pemimpinnya dunia, saya kataken : TIDAK UNTUK PENINDASAN, TIDAK UNTUK PENJAJAHAN. Dan penjajahan bukan saja lagi penjajahan yang mengancam rakyat dengan penjara bukan lagi penjajahan yang menendangi kepala petani dan kaum buruh, tapi penjajahan yang dibentuk oleh modal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia Raya dibangun untuk membebaskan manusianya, dibentuk untuk memakmurkan bangsanya dan digagas untuk menjadi sebuah tempat : Berkumpulnya Manusia Baru, yang punya semangat menggebu-gebu, punya kekuatan maha raksasa untuk mengubah dunia, menjadi dunia yang nyaman bagi seluruh umat manusia. Itulah inti dari Revolusi Indonesia............&lt;/div&gt;
&lt;span class=&quot;fcg&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fcg&quot;&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/7072163670063944261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sukarno-dan-pancasila.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7072163670063944261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/7072163670063944261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/sukarno-dan-pancasila.html' title='Sukarno dan Pancasila'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKU1eDWuJluyqzyZFp0Qb3YVExa6-AGTJC2p6zZazimt2Jw2d4dFYNBYavE4Ppg9Rx2l7m_T_BY_09gMxe4ok8vI7cR2ts9k9QM_HB0qdZpflflkYLUsmVoEYJ5CeX2L2ig5bf_UToN1Y/s72-c/Sukarno+PBB.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-1082874848023573380</id><published>2013-04-10T09:24:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:05:34.239-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Kuliah Hukum-Hukum Revolusi</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcbnQT4yNrJWsAi3JXLSuIVdGBXtwqRTqhgR2i7X-4CtDZCmjOEEWHnYSr-3F5jyLYxMnCZyhg1PidyEjSvZQjMkOOuX2GZpjieVypf9wHQ2RQDo1QsbPJI_fHWZH23UzeDRDcQJrgWmw/s1600/kuliah+hukum-hukum+revolusi.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667838089615877138&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcbnQT4yNrJWsAi3JXLSuIVdGBXtwqRTqhgR2i7X-4CtDZCmjOEEWHnYSr-3F5jyLYxMnCZyhg1PidyEjSvZQjMkOOuX2GZpjieVypf9wHQ2RQDo1QsbPJI_fHWZH23UzeDRDcQJrgWmw/s400/kuliah+hukum-hukum+revolusi.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 194px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 259px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuliah Hukum-Hukum Revolusi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENGANTAR&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Revolusi adalah perubahan yang cepat atas susunan masyarakat, ia terdiri dari ribuan katalisator yang mengubah keadaan. Dalam revolusi perubahan keadaan bergerak sangat cepat bisa dalam hitungan jam. Dalam sejarah Indonesia modern Revolusi atas susunan masyarakat hanya terjadi dua kali dan ini menelan korban yang luar biasa. Pertama : Revolusi Egaliter 1945 dan Kedua, Revolusi Elitis 1965.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hakikatnya revolusi adalah mengubah pola pikir, mobilitas status sosial, mengubah susunan logika yang terbangun mapan, mengubah kebudayaan, mengubah arus informasi dan yang paling penting revolusi adalah mengubah : PETA MODAL. Tentang peta modal inilah yang tidak pernah dibahas baik dalam hukum-hukum revolusi Lenin, hukum-hukum revolusi Mao atau hukum-hukum revolusi Sukarno baik Lenin, Mao dan Sukarno bergerak dan terpaku pada mobilitas sosial saja, mereka tidak mendefinisikan pemetaan gerak Modal sehingga revolusi mereka penuh propaganda tapi gagal memasukkan konstelasi gerak modal sehingga mereka kerap terjebak pada persoalan-persoalan budaya, persoalan-persoalan logistik dan persoalan-persoalan wilayah (geopolitik) mereka gagal memenuhi analisa perkembangan masyarakat yang ditentukan hanya dan oleh hanya satu soal : MANUSIA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Indonesia tahun 1998 adalah bukan tahun revolusi, tapi tahun gagalnya rezim masyarakat tertutup menahan gempuran arus informasi yang dikembangkan oleh Internasionalisme Liberal lewat Internet, Asimetri Informasi tidak lagi monopoli &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Cendana and his gang &lt;/span&gt;tapi sudah dipancarkan lewat beberapa fraksi yang pecah kongsi dengan Cendana seperti : Militer, Cendikiawan dan Agamawan. Pemeran utama dalam reformasi 1998 tetaplah orang-orang yang dibesarkan oleh rezim Suharto, dibesarkan oleh modal Suharto dan dibesarkan oleh logika-logika Suharto. Terlepas dari habisnya kelompok cendikiawan yang dibabat Suharto sejak penangkapan besar-besaran mereka di tahun 1968 dan pembuangan mereka ke Pulau Buru sampai pembebasan mereka 1978-1982 sehingga Indonesia hanya menyisakan intelektual humanis berlagak liberal yang jelas sejak Malari 1974 Intelektualitas diluar arus Suharto nyaris tidak ada kecuali suara-suara rakyat yang tidak sistematis sifatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menjadi jelas bagi kita bahwa selama sepuluh tahun ini sesungguhnya kita mengalami &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;transfer of authority &lt;/span&gt;semu, sebuah perpindahan kekuasaan dari panggung Suharto yang teatrikal, penuh drama, taat narasi ke panggung lawak yang konyol, sarkastis, penuh adegan slapstick dan diselingi pertunjukan sulap. Dan sebagai gerak sejarah yang alami maka intermezzo panggung lawak ini akan berakhir menuju panggung yang sesungguhnya : Cerita Inti. Masalahnya cerita inti sejarah kita bergerak kemana : Melanjutkan Cerita Suharto apa Cerita Sukarno atau Menuju Sesuatu yang tak pasti? Inilah problema yang dihadapi bangsa ini sementara perpindahan panggung ini jelas membutuhkan perubahan total di masyarakat, dan inilah arti penting untuk menyadari ‘HUKUM-HUKUM REVOLUSI’. Hukum-hukum revolusi adalah sebuah gerakan modus untuk menguasai keadaan, membimbing keadaan dan menciptakan bangunan keadaan. Ini harus terstruktur sepenuhnya dan tidak acak, bila acak maka masyarakat akan kehilangan pegangan. Tapi hukum-hukum revolusi tidak boleh menyentuh jiwa dari masyarakat yaitu : hubungan-hubungan batin yang akan menyebabkan trauma, bila ini terjadi maka kita akan mengulangi masa penuh trauma seperti yang dilakukan Suharto ketika membentuk masyarakatnya seraya bertanggung jawab atas pembantaian 3 juta nyawa, pecahnya hubungan keluarga-keluarga, rusaknya hati nurani dan membentuk masyarakat paranoid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum-hukum revolusi Pertama harus mengantarkan pada manusia Indonesia pada : Pembebasannya, sebuah bangunan yang diinginkan oleh mimpi, oleh alasan dan oleh gerak intelektual seperti yang ditasbihkan pada Pembukaan Konstitusi 1945. Pembukaan inilah definisi bangsa Indonesia. Tidak bisa tidak, kecuali bangsa ini membubarkan Republik Indonesia yang dinotariskan pada rumah Sukarno di Pegangsaan. Konstitusi ini adalah kesepakatan bersama atas definisi mimpi membentuk bangsa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, hukum-hukum revolusi tidak boleh lepas dari situasi keilmiahannya, ilmiah adalah syarat paling utama membentuk masyarakat modern. Ilmiah adalah satu-satunya pilihan dalam menentukan pilihan masyarakat yang kritis dan menempatkan manusia pada kemanusiaannya. Agen-agen revolusi yang berada dalam lingkaran dalam revolusi adalah manusia-manusia yang sudah tersadarkan intuisi keilmiahannya, ia tidak boleh menjadi bagian dari tahayul, bagian dari irasional dan muncul diluar logika-logika kemanusiaan maka bila ini terjadi revolusi hanya mengantarkan manusia pada satu lembah yaitu : Masyarakat Mitos. Masyarakat Mitos ini adalah penghalang pertumbuhan sehat masyarakat dan percaya atau tidak selama 60 tahun lebih kemerdekaan Indonesia, kita terjebak pada masyarakat mitos itu. Dan puncak dari mitologi itu adalah : SAKRALITAS KEKUASAAN.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembongkaran sakralitas kekuasaan sudah dilakukan pada reformasi 1998 tapi justru membangun sakralitas kekuasaan yang baru yaitu : Agen Modal. Agen-agen modal yang tumbuh pada tahun 1980-an ini seperti cerita Machiavelli pada Pangeran Medici tentang Pangeran-Pangeran Perancis yang berkuasa disetiap wilayahnya sehingga kekuasaan Perancis mudah dikuasai tapi tidak mudah di’absolutkan’. Agen-agen modal inilah yang juga menentukan siapa Raja, siapa Bandit. Mereka menjadi pemegang konsorsium Republik dan berhak atas seluruh klaim nasional. –Tapi perlu diingat panggung yang mereka selenggarakan masih lemah karena mereka bergantung pada modal asing, mereka bergantung pada pasar uang asing dan mereka bergantung pada konstelasi gerak uang yang berputar. Inilah tumit Achilles mereka, sementara hak daulat modal bisa dibangun oleh jutaan manusia Indonesia yang bergerak di Pasar-Pasar, yang bergerak di sektor menengah, oleh pengusaha-pengusaha kecil menengah dan oleh kaum intelektual yang tumbuh di tepi-tepi kota dan desa. Kelompok inilah yang kelak akan meruntuhkan dan membawa Indonesia ke panggung berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori yang saya uraikan pada paragraf diatas sudah cukup masuk dalam hukum revolusi pertama ciptaan Sukarno : ‘Menentukan lawan dan kawan’. Tapi demarkasi ini tidak akan semudah Sukarno dalam mendefinisikan siapa lawan, siapa kawan. Tidak akan semudah ciptaan redaksional Kontrarevolusi, kontrev, si kepala batu tapi dengan mengimajinasikan lawan dan kawan berarti kita sudah masuk pada fase awal perubahan dan ini menjadi panduan sebelum masuk ke dalam hukum-hukum Revolusi yang akan saya uraikan nanti tapi sebelumnya saya akan sodorkan Prolog kepada anda : masyarakat otentik apa yang sudah terbangun di Indonesia. Hal ini sebagai pengantar panggung masyarakat mana yang akan kita pilih, revolusi jenis apa yang akan kita mulai seandainya rezim SBY selesai sehingga kita bisa menentukan panggung kita, bisa menentukan narasi kita lalu kita mampu menentukan masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TEMA BESAR&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengantar Hukum-Hukum Revolusi ini akan menjelaskan dulu apa tema besar dalam revolusi, seperti yang kita lihat selama sepuluh tahun ini bangsa ini tidak memiliki tema besarnya. Terutama sekali lima tahun belakangan dibawah kepemimpinan Rezim Peragu Susilo Bambang Yudhoyono. Tema besar yaitu : Lompatan Masyarakat, Lompatan kebudayaan, Lompatan cara berpikir dan Lompatan ekonomi dimana mustinya pemerintahan ini selama masa damai setelah Pemilu (2004-2009) membangun landasannya, tapi itu disia-siakan dan mereka bergembira atas ketidaktahuan mereka menyia-nyiakan waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita lihat ke belakang tentang gerak sejarah kita, Indonesia dibangun dengan basis lompatan yang luar biasa. Coba catat : Dalam sepuluh tahun yaitu : 1945-1955 Indonesia bisa memimpin Bangsa-Bangsa Asia Afrika menemukan identitas nasionalnya, dalam sepuluh tahun Indonesia mampu menjadikan sebuah negara dengan sistem masyarakat yang saling bergesek tapi menuju pada arah persatuan yang solid. Namun lompatan besar sepuluh tahun itu terganggu oleh konstelasi politik Internasional yaitu : Tatanan Dunia Berdasarkan Blok. Blok Kanan dan Blok kiri pada dasarnya kedua blok ini adalah Imperialis, inilah yang mendasari Tan Malaka untuk mengucapkan kalimat terkenalnya : “Kita tidak mau menjadi budak Imperialis Amerika pun tidak mau menjadi Budak Moskow” lalu berdasarkan analisa ini maka Sukarno di tahun 1953, pada sebuah malam yang dingin ketika ia membacai buku-buku geopolitik dan mendalami lagi Ernst Renan, maka ia berkesimpulan : “Langkah Pertama adalah menyelamatkan wilayah modal Republik, langkah kedua adalah mendefinisikan pola Imperialisme baru sehingga kita bisa mendeteksinya sekaligus menciptakan gerakan perlawanannya”. Jelasnya definisi Sukarno ini masih abstrak sampai ia menemukan polanya di tahun 1958 saat Pesawat Pope jatuh maka Sukarno sudah menemukan alasannya dalam membentuk konsolidasi kekuasaan demi menyelamatkan politik modal. Ia membaca gejala bahwa Amerika Serikat akan masuk dalam garis geopolitik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu lahirlah tema besar Sukarno, TRISAKTI : Politik Mandiri, Ekonomi Berdikari dan Berkebudayaan Otentik. Ini adalah tema luar biasa dan meloncati logika umum yang tidak dimengerti banyak orang.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
(Bersambung : TRISAKTI DAN TEMA BESAR PENGHANCURAN POLITIK MODAL)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/1082874848023573380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kuliah-hukum-hukum-revolusi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1082874848023573380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/1082874848023573380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/kuliah-hukum-hukum-revolusi.html' title='Kuliah Hukum-Hukum Revolusi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjcbnQT4yNrJWsAi3JXLSuIVdGBXtwqRTqhgR2i7X-4CtDZCmjOEEWHnYSr-3F5jyLYxMnCZyhg1PidyEjSvZQjMkOOuX2GZpjieVypf9wHQ2RQDo1QsbPJI_fHWZH23UzeDRDcQJrgWmw/s72-c/kuliah+hukum-hukum+revolusi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8000947190207174495</id><published>2013-04-09T05:45:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T13:06:24.068-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pidato"/><title type='text'>Pidato Sukarno tentang Agama dan Negara Nasional</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhF8dTlYzfJVg2RPuoFVbIOfeshylu3B8hj7BxvM7D1LN-qQ0T93-4Bh2fPcRuUc_nsDAccF-YX8nq0HxbvMNx1ZDOcZhi-segSiaM9tvTcjwchTThis6y3a5i41VqC83Fx4gvnSGIerw/s1600/Negara+Nasional.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5667781917171573490&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhF8dTlYzfJVg2RPuoFVbIOfeshylu3B8hj7BxvM7D1LN-qQ0T93-4Bh2fPcRuUc_nsDAccF-YX8nq0HxbvMNx1ZDOcZhi-segSiaM9tvTcjwchTThis6y3a5i41VqC83Fx4gvnSGIerw/s400/Negara+Nasional.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 282px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span id=&quot;formatbar_Buttons&quot; style=&quot;display: block;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;&quot; id=&quot;formatbar_JustifyFull&quot; onmousedown=&quot;CheckFormatting(event);FormatbarButton(&#39;richeditorframe&#39;, this, 13);ButtonMouseDown(this);&quot; onmouseout=&quot;ButtonHoverOff(this);&quot; onmouseover=&quot;ButtonHoverOn(this);&quot; onmouseup=&quot;&quot; style=&quot;display: block;&quot; title=&quot;Rata Penuh&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Rata Penuh&quot; border=&quot;0&quot; class=&quot;gl_align_full&quot; src=&quot;http://www.blogger.com/img/blank.gif&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&quot; Kita langsung terjun di dalam fase negara nasional ini. Maka oleh&lt;br /&gt;
karena itu di dalam perdebatan saya dengan beberapa pihak, saya berkata: ‘Republik Indonesia bukan negara agama, tetapi adalah negara nasional, di dalam arti meliputi seluruh badannya natie Indonesia’.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan apa yang dinamakan natie? Sebagai tadi sudah saya katakan, ialah segerombolan manusia dengan jiwa le desire d’etre ensemble, dengan jiwa,sifat, corak yang sama, hidup di atas satu wilayah yang nyata-nyata satu unit atau satu kesatuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, jikalau kita membantah anggapan, baik daripada pihak agama maupun dari pihak Marxis yang dangkal bahwa kita harus berdiri di atas kebangsaan dan mereka berkata tidak, pada&lt;br /&gt;
hakikatnya ialah oleh karena ada salah paham tentang apa yang dinamakan kebangsaan. Pihak agama kadang-kadang tidak bisa mengadakan batas yang tegas antara ini adalah agama, ini adalah kenegaraan.Negara tidak boleh tidak harus mempunyai wilayah, agama tidak. Adakah negara tanpa wilayah? Tidak ada! Negara harus mempunyai wilayah. Syarat mutlak daripada negara yaitu teritori yang terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan agar supaya negara kuat, maka wilayah ini harus satu unit. Dan bangsa yang hidup di dalam satu unit itu akankah menjadi bangsa yang kuat, jikalau ia mempunyai rasa kebangsaan bukan bikin-bikinan, tetapi yang timbul daripada objectieve verhoudingen.Agama tidak memerlukan teritorial, agama cuma mengenai manusia. Tapi lihat, orang yang beragama pun, aku beragama, engkau beragama, orang Kristen di Roma beragama, orang Kristendi negeri Belanda beragama, orang Inggris yang duduk di London beragama, pendeknya orang-orang beragama yang dalam agamanya tidak mengenal teritorial. Kalau ia memindahkan pikirannya kepada keperluan&lt;br /&gt;
negara, ya tidak boleh tidak harus berdiri di atas teritorial, di atas&lt;br /&gt;
wilayah. Tidak ada satu negara, meskipun negara itu dinamakan agama&lt;br /&gt;
Islam, tanpa teritorial…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, Saudara-saudara, saya ulangi, salah paham letaknya di situ. Tidak bisa membedakan antara apa yang diartikan dengan agama, apa yang diartikan dengan negara. Itulah sebabnya maka selalu hal ini menjadi persimpangsiuran di dalam pembicaraan-pembicaraan….”&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8000947190207174495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/pidato-sukarno-tentang-agama-dan-negara.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8000947190207174495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8000947190207174495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/pidato-sukarno-tentang-agama-dan-negara.html' title='Pidato Sukarno tentang Agama dan Negara Nasional'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjhF8dTlYzfJVg2RPuoFVbIOfeshylu3B8hj7BxvM7D1LN-qQ0T93-4Bh2fPcRuUc_nsDAccF-YX8nq0HxbvMNx1ZDOcZhi-segSiaM9tvTcjwchTThis6y3a5i41VqC83Fx4gvnSGIerw/s72-c/Negara+Nasional.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-8609939928087521729</id><published>2013-04-08T23:38:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T12:59:46.424-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Gentleman-nya Bung Hatta</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj03NCfMGZl0wJESh4PUWzwy_ByqAQAs6zNRneIYf4vf2jQ0gwT9ws5ryf2XMffNZsB1-6TDWf5Vkcb-GuLp4xvJp_hyjsEyxuhLHApdARZTfYeN3whd2IkoIA6Zyl243n9aGRUXSehYFM/s1600/Bung+Hatta+1956.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5668802218561306066&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj03NCfMGZl0wJESh4PUWzwy_ByqAQAs6zNRneIYf4vf2jQ0gwT9ws5ryf2XMffNZsB1-6TDWf5Vkcb-GuLp4xvJp_hyjsEyxuhLHApdARZTfYeN3whd2IkoIA6Zyl243n9aGRUXSehYFM/s400/Bung+Hatta+1956.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 267px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 400px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;link href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CAdmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot; rel=&quot;File-List&quot;&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name=&quot;place&quot; namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name=&quot;country-region&quot; namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name=&quot;City&quot; namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name=&quot;State&quot; namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;img src=&quot;//img2.blogblog.com/img/video_object.png&quot; style=&quot;background-color: #b2b2b2; &quot; class=&quot;BLOGGER-object-element tr_noresize tr_placeholder&quot; id=&quot;ieooui&quot; data-original-id=&quot;ieooui&quot; /&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:&quot;&quot;;  margin:0in;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:&quot;Times New Roman&quot;;  mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} @page Section1  {size:8.5in 11.0in;  margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in;  mso-header-margin:.5in;  mso-footer-margin:.5in;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} &lt;/style&gt; --&amp;gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:&quot;&quot;;  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:&quot;Times New Roman&quot;;  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak orang mengira termasuk hampir semua sejarawan bahwa mundurnya Hatta di tahun 1956 adalah ketidakcocokannya dengan Bung Karno. Tapi sebenarnya tidak, Hatta tidak pernah memusuhi secara serius Sukarno, Hatta sama sekali tidak ada masalah pada tahun 1956 dengan Sukarno atau keputusan-keputusan politik besar. Pembubaran Konstituante justru dilakukan setelah Hatta mundur, pemberontakan-pemberontakan di daerah tidak ada hubungannya dengan Bung Hatta, bahkan setelah tahun 1956 beberapa pemberontakan daerah awalnya adalah mosi tidak percaya kepada Djakarta karena dikira Djakarta menyingkirkan Hatta, padahal tidak. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam beberapa titik penting sejarah di masa lalu, Sukarno amat pasif dalam melakukan keputusan-keputusan politik, Sukarno. Hampir semua keputusan ditangani Hatta. Keputusan yang terkenal adalah Maklumat X 1945 soal liberalisasi pembentukan partai-partai politik. Dalam soal itu Sukarno kerap mengeluh ia dilangkahi Hatta. Dalam revolusi Sukarno ingin adanya Partai tunggal, tapi setelah fait accompli Hatta, partai menjadi terlalu banyak dan kerap menimbulkan friksi politik besar, puncaknya adalah perang Solo yang berakhir pada geger Madiun 1948. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhir Tahun 1948, Belanda menerjunkan puluhan ribu tentara mereka serentak ke kota-kota penting di &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Di muka dunia Internasional aksi itu dikatakan &quot;Aksi Polisionil&quot; karena Belanda masih menganggap &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; adalah wilayah dalam negeri Belanda. Sementara pihak &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; menyatakan itu adalah &quot;Agresi Militer yang kedua&quot; setelah sebelumnya terjadi tahun 1947, &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menuduh inilah yang disebut ekspansi militer sebuah Negara kepada Negara lain seperti hal-nya Hitler menginvasi Polandia. Sukarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim dan pemimpin-pemimpin lain di Yogya ditangkapi. Militer Republikein lari ke gunung-gunung mereka menolak untuk ditangkap, pihak Militer praksis dipegang Jenderal Sudirman yang sudah rusak paru-parunya untuk menembus lebat hutan di Jawa Tengah dan Timur melakukan konsolidasi pasukan. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat itu Tan Malaka sudah berhitung, “Kekuatan Belanda tinggal sedikit lagi, saya tahu benar watak orang Belanda. Dia tidak akan melakukan kekuatan besar-besaran bila tidak putus asa. Saya perkirakan perang paling lama akan berlangsung selama 2 tahun lagi, sementara Amerika Serikat dan Sovjet Uni masih pusing soal Eropa setelah selesainya Hitler dibunuh” &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Belanda berlagak gagah dimana-mana, tank-tank &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Sherman&lt;/st1:city&gt; berkeliling ke segenap penjuru &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dan membangun pencitraan bahwa Hindia Belanda dalam waktu dekat akan berdiri kembali. Ternyata terbukti dengan serangan militer yang sporadis dari militer &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; pasukan Belanda keteter dimana-mana. Serangan Umum di Yogya dan Serangan umum di Solo membuat Belanda keliatan kelemahannya. Tapi tidak bagi kelompok pro perundingan. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di tahun 1945 ada perbedaan antara Pemuda-Pemuda Djakarta dengan Djawa Tengah dan Djawa Timur. Pemuda-pemuda Djawa Tengah dan Timur memutuskan tidak mau berunding dengan pihak Djepang soal merebut gudang senjata, mereka langsung perang dan rakyat mengepung gudang. Senjata-senjata banyak didapatkan, bahkan di &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Surabaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kelengkapan militernya akibat merebut gudang senjata mampu secara jantan menghadapi Inggris, dan sejarah mencatat : ‘Hanya di Surabaya-lah Inggris kalah perang’. Di Djawa Tengah juga begitu, tidak ada perundingan gudang-gudang senjata harus direbut. Perebutan senjata ini nyaris tak menimbulkan korban, bahkan Kapten Suharto (kelak jadi Letkol Suharto) berhasil merebut gudang senjata di Kotabaru dan pasukannya memiliki alat kelengkapan militer paling kuat. Di Djakarta lain lagi ceritanya, keputusan saat itu adalah perundingan untuk merebut gudang senjata, akibatnya fatal. Puluhan tokoh pemuda mati dalam perang saat perundingan berlangsung bertele-tele, Daan Mogot dan tragedi dua anak Margono Djojohadikusumo : Subianto dan Sujono di Serpong Januari  1946. Akibat perundingan inilah pemuda-pemuda &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Djakarta&lt;/st1:place&gt; terlalu lemah dibandingkan rekannya yang di Djawa Tengah dan Djawa Timur. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu juga dengan pemikiran memperpendek perang revolusi 1945. Tan Malaka berpikir apabila perang diperpendek dengan perundingan maka yang terjadi adalah ‘Revolusi melahirkan bangsa yang lembek’. Tan Malaka ingin dilakukan perang total karena dengan hanya perang total-lah “Semua royan-royan revolusi bisa melahirkan rasa persatuan yang amat kuat diantara rakyat &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, rakyat akan paham tujuan besar bangsa &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; liwat kesakitan-kesakitan perang revolusi” &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi kabar di Yogya begitu menyakitkan hati Tan Malaka. &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Para&lt;/st1:place&gt; pemimpin tidak mau tempur mati-matian di hutan-hutan, tidak membangun perlawanan revolusinya. Di tahun 1948 terlihat sekali para pemimpin yang lahir dari dunia pergerakan Intelektual tidak terlatih untuk melakukan perang di hutan-hutan seperti yang dilakukan bekas anak buah Tan Malaka, Ho Chi Minh dari &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Vietnam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.  Tan Malaka sudah memperkirakan “Kalau pemimpin ditangkap tak lain tak bukan, ujung-ujungnya adalah Perundingan”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Generaal Sudirman, adalah pengikut Tan Malaka yang paling setia. Ia orang yang paling mendukung program-program Tan Malaka. Saat pertempuran di Solo terjadi, Sudirman menunggu apa kata Tan Malaka. Saat rapat Persatuan Perjuangan, Sudirman-lah yang membuka pidato rapat, lalu ketika Tan Malaka meneriakkan “Merdeka 100%” maka Sudirman berdiri dan bertepuk tangan seraya bersumpah akan memerdekakan Indonesia, total…setotal-totalnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sukarno sendiri saat itu sudah terjebak pada sistem pemerintahannya yang ia bentuk. Bila ia ke hutan, maka ia akan berhitung ‘siapa yang pegang komando’ bisa saja nanti kelompok Tan Malaka yang bisa drive dirinya. Sukarno selama perang revolusi menyerahkan keputusan ke Hatta, dan Hatta selamanya satu napas dengan Sjahrir lalu terjadilah keputusan yang paling amat dibenci Tan Malaka “Berunding dengan Belanda” &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perundingan KMB di Den Haag akhir tahun 1949, merupakan penghinaan bagi kelompok Tan Malaka. Di Koran-koran terjadi eforia KMB, rakyat seakan-akan gembira menerima keputusan perundingan, dikiranya KMB adalah kemenangan Republik, dikiranya KMB adalah berhasilnya perang. KMB justru adalah ‘Pertanda Indonesia Kalah Perang’ karena dimanapun dalam hukum perang Internasional ‘pihak yang kalah perang harus membayar ganti rugi akibat peperangan’ seperti Jerman yang kalah perang pada Perang Dunia Pertama, membayar dengan ‘Klausa Perjanjian Versailles’ dan Jepang yang kalah perang dengan Amerika Serikat harus menerima pendudukan pasukan Amerika Serikat di Jepang juga Jepang dilarang memiliki pasukan militernya sendiri. &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus membayar 4.6 Milyar Gulden ganti rugi perang. ‘Jadi logikanya &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus membayar bangsa asing yang membunuhi bangsanya sendiri’. Akibat perjanjian inilah yang amat lama tidak menjadi bahan perdebatan di muka-muka publik karena para tokoh kharismatis terlibat dalam perundingan ini. Ukuran dana 4,6 milyar gulden itu amat besar dengan nominal pada jaman itu, sebagai perbandingan : di tahun 1950 Amerika Serikat pernah menawari pembangunan jalan besar (Highway Standard) di sepanjang pulau Sumatera dengan konsesi masuknya mobil Ford ke Indonesia sebagai satu-satunya mobil yang bisa masuk  ke Indonesia selama 10 tahun. Nilai jalan itu adalah 6 juta dollar, tapi usulan itu ditolak karena akan memberlakukan sistem monopoli. Jadi seandainya 4,6 milyar gulden itu tidak dikembalikan maka 200 kali highway standard bisa dibangun diseluruh wilayah &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah terjadi perundingan, Sudirman menolak turun gunung. “Kalau saya turun gunung berarti saya gembira akan kekalahan pasukan TNI”. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena ia tahu, perundingan berarti kalah perang. Selama ini banyak di buku sejarah, seakan-akan Sudirman menolak turun gunung karena marah pada Sukarno, padahal bukan. Orang-orang di masa lalu tidak dangkal hatinya, mereka tidak peduli dengan konflik personal. Generaal Sudirman menolak turun gunung karena alasan prinsipil, ia tidak mau kalah perang. “Tapi pada akhirnya” persatuan diatas segala-galanya, pertaruhannya kalau Sudirman menolak turun gunung makan yang akan terjadi adalah perang saudara. Setiap orang tahu pada saat itu, Sukarno yang selalu jadi kartu pegangan orang &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, rakyat akan terjebak pada perang saudara yang tidak mereka mengerti. Sudirman mengalah demi persatuan. Sudirman turun gunung, tapi Tan Malaka ditembak mati di Jawa Timur. Inilah tragedi revolusi. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa kelompok pasukan Tan Malaka menolak turun gunung, yang paling terkenal adalah Chaerul Saleh. Chaerul ini yang pegang pasukan Bambu Runtjing. Ia terus melawan tentara resmi dan menolak perundingan, pasukan Chaerul Saleh menyerang pos-pos militer TNI di Sukabumi dan wilayah lain di Djawa Barat sebagai aksi bentuk penolakannya terhadap KMB. Bahkan sampai pada tahun 1952 pasukan Chaerul Saleh terus bertempur dengan pihak militer. Inilah yang membuat Nasution marah. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kebenaran kelompok Tan Malaka akhirnya terbukti pada tahun 1950-an ke atas. Di Vietnam, mereka menolak kalah dari Perancis dan melakukan perang total, di tahun 1952 Perancis angkat kaki dari Vietnam dengan menyisakan ratusan ribu serdadu berkalang tanah di Vietnam. Lalu Amerika Serikat datang dan merebut Vietnam dua puluh tiga tahun kemudian 1975, Amerika Serikat hengkang dari Vietnam dengan rasa malu, tentaranya berlarian ke helikopter seperti tentara pengecut menyelamatkan diri saat pasukan Ho Chi Minh masuk ke kota Saigon. Begitu juga dengan pasukan Mao yang berhasil menghantam kelompok Kuo Min Tang sampai ke &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Taiwan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; padahal pasukan Kuo Min Tang didukung Amerika Serikat. Dan saat ini di tahun 2011 kita menyaksikan seluruh Negara Eropa Barat mengemis pada RRC karena krisis ekonomi yang mereka alami.  &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah yang dimaui Tan Malaka, fase pertama dalam pembentukan Negara atau bangsa yang terjajah adalah perang total. Dalam perang total akan terjadi situasi baru, pemahaman-pemahaman baru, alam sadar baru,  dan yang terpenting arah sejarah menjadi lebih jelas tidak lembek. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Terbukti benar di tahun 1950-an perang &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Korea&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; meletus. Harga-harga komoditi naik : timah, minyak bumi, kopra, karet dll naik. Kejadian ini mirip dengan boom minyak tahun 1973 yang kemudian dijadikan landasan rejeki Suharto di masa Orde Baru untuk membiayai kekuasaannya. Kenaikan luar biasa harga-harga akibat perang &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Korea&lt;/st1:country-region&gt; 1950-an ini tidak bisa dinikmati rakyat &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; karena &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; harus bayar hutang perang kepada pihak Belanda. Yang kaya tetaplah perusahaan-perusahaan besar milik Belanda macam Lindeteves atau Borsumij Wehry. Kejadian ini membuat marah anggota Parlemen Komisi A, mereka memanggil Menteri Perekonomian saat itu Prof.Sumitro Djojohadikusumo. Sumitro menjawab “Kita sudah terikat perjanjian dengan Belanda”.  Kelompok sisa-sisa Tan Malaka yang saat itu bergabung dalam Partai Murba marah besar ‘Wah, kalau begini caranya kita harus buat mosi tidak percaya terhadap KMB”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perjuangan menyusun Mosi tidak percaya ini bukan soal mudah. Kelompok Partai Murba yang dipimpin Maruto Nitimihardjo harus berkelahi kesana kemari untuk meyakinkan mosi tidak percayanya. Untuk memulai mosi ini Maruto mendatangi Hatta lalu Maruto bicara “Masih kurang saja Belanda mengambil dari kita”. Seraya berkata pasrah Hatta berkata “Karena saya yang menandatangani perjanjian KMB itu, saya persilahkan saudara Maruto untuk melanjutkan apa maunya, saya siap menerima segala konsekuensinya”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hampir &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tahun Maruto melakukan pendekatan-pendekatan politik ke semua pihak untuk menolak hasil KMB dan menyatakan mosi tidak percaya. Akhirnya mayoritas anggota Parlemen menyetujui untuk melakukan mosi tidak percaya, apalagi setelah Pemilu 1955 Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mendukung apa mau Partai Murba. “Mosi tidak percaya pada KMB”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat perkembangan mosi itu Hatta secara gentlemen berkata “Saya akan mundur” Saat itu Maruto mendatangi Hatta di kantornya di Merdeka Selatan. Hatta lama memandangi wajah Maruto, dan ia mengeluarkan air mata lalu memeluk Maruto. Setelah pertemuan itu datanglah &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; dari Hatta : “Surat Pengunduran Diri”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pengunduran itu menjadi heboh dimana-mana, bahkan Sukarni Ketua Umum Murba, Partai yang jadi pelopor mosi tidak percaya itu berkata singkat sambil mau nangis : “Wah, Bung Hatta terlalu gentleman”. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mundurnya Hatta membuat pihak banyak kalang kabut. Achmad Subardjo yang saat itu jadi Duta Besar di Swiss berkata kepada beberapa orang “Sesungguhnya dulu di tahun 1945 terjadi apa namanya Gentleman Agreement Four, mirip Amerika Serikat pada awal Revolusinya di tahun 1776. Seperti perjanjian antara &lt;st1:state st=&quot;on&quot;&gt;Washington&lt;/st1:state&gt;, Jefferson, &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Madison&lt;/st1:city&gt; dan &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Franklin&lt;/st1:city&gt; untuk bergantian menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, walaupun &lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Franklin&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tidak menjabat tapi tiga orang menjabat bergiliran. Itulah yang terjadi, nah empat orang yang akan bergiliran jadi Presiden saat itu adalah : Sukarno, Iwa Kusumasumantri, Achmad Soebardjo dan Hatta sendiri. Tapi itu tidak terlaksana toh, malah keluar Testamen Tan Malaka”…..&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sukarno berdiam diri saja, ia sudah tahu arah sejarah akhirnya kelompok Tan Malaka yang menang dan benar melihat keadaan. Kemerdekaan 100% adalah tujuan terbesar bangsa ini, lalu dengan inspirasi dari Tan Malaka, Sukarno menjalankan program-program politiknya tapi siapakah yang bisa menggantikan Hatta? Kelompok PSI mengajukan Subandrio, yang pada akhirnya Bandrio malah merapat ke PKI. Sementara Murba harus menarik Maruto Nitimihardjo dan Sukarni sebagai lobbying ke Pemerintah, karena Maruto dianggap Sukarno selalu melawan, sementara Sukarni setiap ketemu Sukarno selalu berantem. Akhirnya Murba memanggil Chaerul Saleh yang di Jerman Barat untuk mendampingi Sukarno. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dan pada akhirnya sejarah memberi tahu pada kita, ketika Sukarno dikalahkan saat menjalankan agenda Tan Malaka dengan bahasa-bahasa Sukarno yang ia namakan Trisakti, Berdikari, Pantja Azimat Revolusi, Gesuri, Vivere Pericoloso lalu Gestapu 65 terjadi, Sukarno diinternir di Wisma Yaso, Subandrio diseret ke penjara, Chaerul Saleh kabarnya mati di WC Tahanan Militer dan membuat Sukarni di depan jenasah Chaerul Saleh ngamuk-ngamuk kepada Adam Malik karena tak bisa memberikan pertolongan sama sekali kepada Cherul Saleh. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu kita menyaksikan Indonesia seperti sekarang ini, tidak seperti Bung Hatta yang mengakui bila kebijakannya kalah dan tidak diakui, ia harus gentleman, coba sekarang Sri Mulyani menandantangani keputusan talangan Bank malah dilarikan ke luar negeri, ada juga Budiono yang malah  dijadikan Wakil Presiden RI, Kebijakan Negara dijalankan tanpa rasa bersalah. &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Negara kaya raya yang terus menerus dibodohi oleh Imperialisme asing. Negara dijual untuk kekayaan para pejabat. Kepada sejarah kita harus banyak belajar untuk masa depan &lt;st1:country-region st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;………… &lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/8609939928087521729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/gentleman-nya-bung-hatta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8609939928087521729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/8609939928087521729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2013/04/gentleman-nya-bung-hatta.html' title='Gentleman-nya Bung Hatta'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj03NCfMGZl0wJESh4PUWzwy_ByqAQAs6zNRneIYf4vf2jQ0gwT9ws5ryf2XMffNZsB1-6TDWf5Vkcb-GuLp4xvJp_hyjsEyxuhLHApdARZTfYeN3whd2IkoIA6Zyl243n9aGRUXSehYFM/s72-c/Bung+Hatta+1956.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5116736521100441971.post-4382895397054440038</id><published>2013-04-07T23:13:00.000-07:00</published><updated>2013-05-17T12:58:42.248-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="arsip7"/><title type='text'>Mereka Yang Terlupakan.............</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2rzOrfuEcIn1qEgJyKM26pp5rBrRcE-ZomdPLEWPVq2nRoLwtnYp_VCyE1EJ3bWAso1ohkbMVAucRwmoLNx94ChZzp1QEFn_X15x3hiK2GMlcVjuu-jx2nVpS8FS5CjZXqe58Vdwtcf0/s1600/trem.jpg&quot; onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;&quot; border=&quot;0&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5672521812546037106&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2rzOrfuEcIn1qEgJyKM26pp5rBrRcE-ZomdPLEWPVq2nRoLwtnYp_VCyE1EJ3bWAso1ohkbMVAucRwmoLNx94ChZzp1QEFn_X15x3hiK2GMlcVjuu-jx2nVpS8FS5CjZXqe58Vdwtcf0/s400/trem.jpg&quot; style=&quot;cursor: pointer; display: block; height: 368px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 350px;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari ini Presiden SBY menganugerahkan dua gelar Pahlawan Nasional kepada : Damara dan Johannes Leimena. Bagi banyak orang Pahlawan adalah ingatan tentang masa lalu, sebuah masa ketika kehidupan dikorbankan untuk tujuan-tujuan besar, membentuk Negara dan menyelamatkan masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi penghargaan tak selalu menghadirkan Pahlawan yang sesungguhnya, banyak dari mereka yang terlupakan termasuk pada mereka yang bertaruh untuk membentuk masa depan pada Jam-Jam Pertama Revolusi 1945, mereka ini tidak banyak diberikan perhatian dari Pemerintah, karena keberanian mereka melawan pemerintahan, ataupun keterlibatan mereka pada hal-hal yang berbau kiri, padahal sungguh aneh. Indonesia dibentuk karena memang cita-cita sosialisme, jadi ketika mereka menjadi kiri bukan berarti mereka adalah pengkhianat justru mereka mati demi sebuah cita-cita : KeIndonesiaan Kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Maruto Nitimihardjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak generasi sekarang yang tidak tahu siapa Maruto Nitimihardjo, mungkin bagi generasi tua mengenang Maruto adalah salah satu Tokoh Murba yang paling diingat di samping Sukarni. Padahal Maruto adalah pusar dari seluruh rangkaian gerakan muda di Indonesia dalam kurun waktu 1926-1950.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maruto adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap Sumpah Pemuda 1928, dialah yang mengilik-ngilik PPPI (Persatuan Peladjar-Peladjar Indonesia) Sugondo Djojopuspito untuk melakukan gebrakan politik dengan membangun jaringan, ide itu kemudian disetujui oleh Kotjo Sungkono ketua PI (Pemuda Indonesia) yang merupakan sayap penting di dalam tubuh PPPI.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ide Maruto ini didengar banyak kawannya lalu seseorang mengajak Maruto mengajak ke asrama tempat Yamin yang saat itu lagi tidur-tiduran di kamarnya sambil membaca buku. Maruto bertanya kepada Yamin, sedang baca apa kau, Min?. Yamin tertawa sambil memperlihatkan bukunya, coba kau baca Maruto ini buku bagus sekali lalu Yamin memberikan buku berjudul “Naar de Republiek” (Menuju Negara Republik) karangan Tan Malaka. Disaat itu juga ide tentang melakukan “pembentukan jaringan pemuda” dikatakan Maruto kepada Yamin, lalu Yamin menyahut “Ini ide gila, sebaiknya kau sampaikan itu ke Sukarno, dia kan disebut ‘Bapak Persatuan Indonesia’ abis ngomongnya persatuan melulu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu Maruto, Yamin, Sugondo dan banyak kawannya ke tempat Sukarno di Jalan Pangkur Bandung, Sukarno saat itu sedang mengajar kursus pada murid-muridnya dalam studieclub Bandung. Salah satunya adalah Gatot Mangkupradja. Di depan tamunya, Sukarno gembira sekali “Coba kamu gerakkan itu” seru Sukarno dengan mata melotot. Setelah mau pulang, Sukarno memesankan pada Maruto “Jaga baik-baik Pergerakan ini”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kelebihan Maruto adalah ia mampu membangun jaringan, Maruto bukan sosok yang penuh ide atau cerdas tidak seperti Yamin yang pengkhayal atau Sjahrir yang teramat cerdas, tapi Maruto adalah orang yang tekun. Dia setia dengan visi-nya, obsesi terbesar Maruto adalah membangun gerakan muda yang mampu mengantarkan jaman ini ke sebuah jaman baru, jaman merdeka. Apalagi setelah membaca buku Tan Malaka, maka Maruto semakin paham ke arah mana Indonesia harus bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Sukarno selalu berada di panggung sejarah dan memainkan drama-nya, maka Maruto ini selalu yang berkeringat membentuk panggung sejarah. Bila Sukarno, Hatta, Tan Malaka adalah aktor panggung berbakat, maka Maruto adalah tukang kerek layarnya, tukang angkat bangku, tukang yang membereskan segala perabot panggung. Tanpa peran Maruto mungkin panggung itu tak pernah ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang yang meremehkan arti penting Sumpah Pemuda 1928, padahal lewat koneksi Sumpah Pemuda itu bisa dibangun jaringan penting antar gerakan di daerah-daerah, lalu siapa yang menyangka Daud Bereuh tokoh penting Aceh yang pernah melawan Sukarno adalah salah satu pemuda yang hadir dalam Sumpah Pemuda 1928 dan saat konflik dengan pemerintahan Sukarno di kemudian hari ia hanya bisa berdiplomasi dengan pihak Djakarta apabila ada Maruto. Lalu Hatta mengirim Maruto ke Aceh dan membereskan persoalan sebenarnya dari konflik yaitu : Permusuhan kaum bangsawan dengan Ulama. Maruto juga pernah mau dibunuh oleh Laskar Banten, tapi pemimpin Laskar Banten Hadji Djaya adalah salah seorang yang hadir dari Sumpah Pemuda, Maruto dibebaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti penting kedua dari diri Maruto bahwa dialah orang yang paling bertanggung jawab dalam perang di Djakarta. Maruto dan Pandu Kartawiguna adalah tokoh pemuda yang memutuskan perang dengan pihak asing ketimbang berunding. Karena keputusan ini kelompok Maruto pernah diusir oleh anggotan Prapatan 10 pimpinan Eri Soedewo yang lebih ingin melalui jalan diplomasi. Pengusiran Maruto ini justru memancing tumbuhnya lasykar radikal yang angkat senjata di sekitaran Jakarta dan menjadikan Revolusi 1945 jadi perang beneran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Wikana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak dari orang Indonesia tidak tau siapa Wikana. Padahal tanpa Wikana kita tidak mengenal Indonesia seperti sekarang. Wikana adalah orang yang paling memperhitungkan posisi kemerdekaan Indonesia. Saat itu Sukarno dan Hatta amat percaya pada janji Jepang. Padahal bila diberi hadiah kemerdekaan oleh Jepang maka Indonesia akan jadi wilayah tanpa Tuan, karena apapun pemberian Jepang bisa dibatalkan demi hukum karena Jepang kalah perang. Satu-satunya jalan adalah merebut dari Jepang kemerdekaan itu. Perhitungan Wikana : Bila Indonesia kembali diterima sekutu maka ini sama saja dengan peristiwa 1811 dimana Inggris merebut Jawa dari Perancis kemudian mengembalikannya kepada Belanda. Sementara dua Raja di Jawa tidak segera melakukan pemberontakannya tapi malah asik main intrik sendiri. Akhirnya Jawa dijajah Belanda kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wikana tau sekali Jepang tidak akan marah, atau bertindak apapun. Seluruh perwira Jepang satu persatu sudah mulai bunuh diri, mabuk ataupun hopeless. Mereka akan membiarkan apapun apabila ada gerakan dari Indonesia. Wikana tau ini karena dia bekerja di Kaigun, atau Dinas Angkatan Laut Jepang. Wikana kemudian menyampaikan ide ini kepada Sukarni yang punya jaringan ke pemuda. Sukarni mendesak untuk memerdekakan sendiri atau bekerjasama bukan dengan Sukarno tapi Sjahrir, karena Sjahrir bukan kolaborator Djepang. Awalnya Wikana setuju ide Sukarni,  tapi Sjahrir gemetar saat akan menerima tanggung jawab Proklamasi lalu Sjahrir dating ke rumah Maruto, berulang kali Sjahrir bertanya pada Maruto “apa saya bisa?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar keraguan Sjahrir tak ada jalan lain bagi Wikana untuk mendesak Sukarno-Hatta. Wikana lalu datang bersama Chaerul Saleh, Sukarni, Subadio, dan lainnya termasuk DN Aidit (kelak jadi tokoh penting PKI). Disana Wikana yang paling dituakan dari pemuda untuk bicara, tapi Sukarno bicara terlalu keras pada Wikana sampai membentaknya, inilah yang bikin kecewa Sukarni pemuda Blitar berhati panas, sepulangnya dari rumah Sukarno, maka Sukarni bikin ide untuk culik Sukarno dan memaksa usulan Wikana diterima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarno-Hatta diculik sehabis sahur ke Rengasdengklok, tapi sebelumnya Wikana sudah mendesak pada Achmad Subardjo untuk merayu Sukarno agar jangan sampai bikin Proklamasi buatan Jepang. Berkali-kali Hatta bergumam “tidak mungkin melakukan ini tanpa Jepang, kita belum siap jika harus perang dengan Jepang” Sukarni bersikeras – Jalan satu-satunya adalah Indonesia melakukan sendiri, dan berperang dengan Jepang adalah resiko.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata lobi Subardjo berhasil, Laksamana Maeda berhasil dibujuk untuk pasang badan melindung Sukarno-Hatta dan para pemuda yang membikin proklamasi bukan buatan Jepang. Awalnya Sukarni membuat sendiri teks proklamasinya, tapi Subardjo menolak “Biar Hatta yang bikin, dia jago untuk buat surat administrasi” lalu lahirlah teks Proklamasi yang gaya bahasanya mirip bahasa Notaris itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sekarang Wikana belum dapat jasa Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pandu Kartawiguna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti penting Pandu Kartawiguna selain mendirikan kantor berita Antara bersama Adam Malik, dialah orang pertama yang menggerakkan pemuda Djakarta untuk turun ke jalan dan mengangkat senjata. Bersama Maruto, Pandu menggiring pemuda-pemuda membangun benteng-benteng pasir di sekitar wilayah Cikini, Pegangsaan, Kramat Raya sebagai basis pertempuran. Karena gerakan Pandu ini Sukarno marah-marah. Suatu malam Sukarno nyuruh dokter Muwardi untuk manggil Pandu dan Maruto, dipikirnya senang dengan perjuangannya Maruto dan Pandu menghadap Sukarno. Di tengah kumpulan para pembantu Sukarno, Maruto dan Pandu dimaki-maki Sukarno karena berani gerakin pemuda dan ini sama saja mengantarkan nyawa ke pemuda itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandu sampai keringat dingin gemetaran, ia tak tahan mendengarkan marah Sukarno di depan orang banyak, apalagi ada orang yang menambah-nambahi marah Sukarno itu, padahal Pandu sudah bertarung nyawa guling-gulingan di jalan mempertahankan Djakarta. Sejak kemarahan Sukarno itu beberapa tokoh pemuda tidak terlalu berharap pada Sukarno untuk perjuangan bersenjata, mereka memilih tokoh lain yang kemudian muncul : Tan Malaka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Sukarni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarni ini ibaratnya api dalam gerakan pemuda, ia yang selalu membangkitkan semangat. Tanpa Sukarni mungkin gerakan muda Indonesia saat itu tidak memiliki daya katalisatornya, daya penghubung agar gerakan menjadi hidup. Sukarni dikenal sebagai pengikut Tan Malaka yang paling setia, berani dan hidup mati demi apa yang diyakininya. Sukarni pernah dikurung di kamar gelap bersama Tan Malaka saat penangkapan kelompok Tan Malaka gara-gara kudeta Djenderal Majoor Sudarsono di tahun 1946.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukarni sendiri yang memaksa Sukarno untuk bertaruh di Lapangan Ikada agar ia dipercaya rakyat dan dilihat oleh intel-intel sekutu bahwa dialah pemimpin negeri ini, aksi Sukarni sering bikin kesal Sukarno dan pemerintahannya karena selalu bikin jalan bahaya, tapi aksi Sukarni yang nekat seperti pemaksaan pidato di Lapangan Ikada membuahkan hasil hebat : Sejak Lapangan Ikada, Sukarno memperoleh legitimasi politik luar biasa dari rakyat. Dan Sukarno mengakui itu dengan mendirikan Monumen Nasional, pada hakikatnya bila Proklamasi adalah De Jure, maka Pidato Lapangan Ikada adalah De facto dari Kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Chaerul Saleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah orang yang hidup demi prinsipnya dan mati dalam tragedi. Sulit membayangkan perang pemuda di masa revolusi 1945 tanpa kehadiran Chaerul Saleh. Perang Kemerdekaan itu terjadi bukan karena perlawanan tentara resmi, tapi karena nekatnya tokoh-tokoh muda. Peranannya dari Proklamasi sama persis apa yang dilakukan Wikana, Chaerul Saleh ini juga seseorang yang banyak akal, ia yang mengusahakan mobil untuk Sukarno, ia yang mengurusi semua persiapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Chaerul Saleh, Revolusi adalah sebuah drama romantik. Chaerul Saleh mungkin dikenang banyak orang sebagai tokoh pemuda yang tampan, karena kisah cintanya dengan Yohana, gadis betawi indo yang amat cantik itulah yang kemudian membawa dia pada imajinasi bahwa semuanya harus penuh dengan romantika-drama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di saat Hatta mundur karena bertanggung jawab terhadap pembatalan bayar hutang KMB 1949, Chaerul Saleh di dapuk jadi salah seorang Menteri Sukarno, melalui dialah konsep pembangunan Indonesia dengan mengadopsi strategi Jerman Barat dengan bikin industri-industri besar seperti Krakatau Steel, Pupuk Sriwijaya dilakukan. Chaerul Saleh melakukan lobi-lobi ke Sovjet untuk membantu pembangunan Krakatau Steel, menurut pandangan Chaerul Saleh masa depan suatu negara ditentukan oleh pabrik baja-nya dan dia berambisi Indonesia memiliki Pabrik Baja terbesar di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Gestapu 65 Chaerul Saleh habis-habisan di belakang Sukarno. Ia menolak mendukung Suharto, walaupun Partainya Murba memutuskan dukung Suharto. Chaerul Saleh ditangkap dan kemudian dipenjarakan. Lalu ia mati tak jelas di dalam penjara, kabarnya meninggal saat di WC. Inilah yang membuat marah banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bagaimana kabarnya Krakatau Steel? Akhirnya saham Pabrik ini dibawah Pemerintahan Komprador SBY dijual amat murah, dan Indonesia harus melupakan ambisi buat Pabrik Baja terbesar di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Djohan Sjahroezah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak banyak yang mengenal Djohan Sjahroezah, padahal tanpa tokoh ini gerakan pemuda di luar Djakarta tidak bisa bergerak. Djohan ini keponakan Sjahrir – karena hubungan keponakan inilah nama Djohan selalu dikaitkan dengan Sjahrir, padahal Djohan memiliki kemandirian politik bahkan lebih luas ketimbang Sjahrir-. .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Djohan adalah tokoh yang paling bertanggung jawab membangun jaringan gerakan muda untuk mendukung gerakan-gerakan di Djakarta. Salah satu jasa terpenting Djohan Sjahroedzah  membentuk jaringan pemuda yang bersiap merebut senjata dari gudang Jepang seperti di Pathook Yogyakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Djohan adalah satu-satunya tokoh dilingkaran Sjahrir yang paling amat dogmatis dalam memahami Marxisme, dia memandang perjalanan sejarah Indonesia sebagai sebuah episode yang dibuat fase-fasenya oleh Karl Marx. Pada episode Revolusi Kemerdekaan, Djohan menilai bahwa itu adalah masa Revolusi Borjuis akan datang masanya Revolusi Sosialis yang sesungguhnya. Jaringan Djohan terpenting adalah saat ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda BPM. Di perusahaan ini Djohan membentuk serikat buruh yang kemudian diradikalisasi, dari serikat buruh ini kemudian menyebar menjadi kelompok-kelompok politik menjelang Belanda jatuh dan sangat berfungsi sebagai kekuatan kelompok Illegal (Bawah Tanah) dalam menentang Jepang dan menyiapkan kemerdekaan. Djohan membangun satelit-satelit perjuangannya di banyak kota seperti di Semarang dia memerintahkan ML Tobing untuk bikin gerakan bawah tanah, di Yogyakarta ia memerintahkan Dimyati dan Dayino lalu menjadi gerakan penting di Yogyakarta dan basis gerakan militer pro Republik pada masa kemerdekaan. Djohan adalah satu-satunya tokoh pemuda yang paling dipercaya banyak kelompok. Dengan kelompok PKI Illegal tinggalan Musso ia juga dipercaya membentuk jalur dukungan. Djohan juga paham jaringan yang dibuat Amir yang sampai saat ini masih amat rahasia dan belum terkuak dalam sejarah, ada hubungan apa Amir dengan Belanda? Apakah benar ada senjata yang disimpan Belanda di banyak tempat termasuk di Banten yang kemudian jadi sumber konflik penting setelah masa kemerdekaan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Djohan juga yang mendirikan Paras (Partai Rakyat Sosialis). Djohan ini adalah pemuda paling radikal, tapi ia punya Paman yang perhitungan seperti Sjahrir. Setelah Sjahrir dengan celana tennis berpidato di Prapatan 10 tentang politik Diplomasi, tampaknya Djohan cenderung mengikti garis pamannya. Padahal jaringan yang dibangun Djohan amat radikal, jaringan inilah yang kemudian diambilalih oleh kelompok Tan Malaka seperti yang di Solo dan diambil PKI seperti link ke Sumarsono.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa kehadiran Djohan Sjahroezah amat sulit bagi kelompok pemuda mengoordinasi diri mereka. Tapi sampai sekarangpun Djohan tidak masuk hitungan Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Soe Hok Gie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin dari sekian tokoh yang saya ceritakan, Soe Hok Gie adalah tokoh yang paling akrab dengan diri kita. Soe Hok Gie mustinya masuk ke dalam daftar tokoh Pahlawan Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soe Hok Gie, adalah seorang keturunan Cina yang darinya justru kita banyak belajar tentang KeIndonesiaan. Dialah tokoh yang paling depan dalam menyadarkan sebuah Indonesia baru, Manusia Indonesia dengan Peradaban Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gie bertarung di jalan-jalan saat penumbangan Sukarno, tapi ia tidak membenci Sukarno ia membenci keadaan, ia tidak membenci PKI, ia membenci keadaan yang PKI masuk dalam lingkaran rumit. Pada akhirnya hanya Gie sendirian yang melawan pemerintah militer Orde Baru dengan menuliskan sebuah naskah penuh pujian kepada Sudisman tokoh PKI yang amat commit terhadap Sukarno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gie menolak untuk menjadi pejabat seperti pemuda lainnya macam Akbar Tandjung, Abdul Gafur atau Sofjan Wanandi. Ia memilih tetap pada jalur berjarak dengan kekuasaan. Dalam tulisannya Gie menceritakan pembantaian di Bali karena perburuan-perburuan orang PKI  yang amat menyeramkan. Dari sinilah kesadaran Gie muncul, ia harus melawan pemerintahan militer yang tidak benar. Tapi sayang Gie mati muda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari api pikiran Gie inilah kemudian terjajar rapi barisan mahasiswa yang menolak berkompromi dengan garis kekuasaan mulai dari Arif Budiman –kakak kandungnya sendiri-, Hariman Siregar, Dorodjatun Kuntjorojakti sampai pada Mahasiswa yang melawan Orde Baru 1998 dan berhasil menjatuhkan Suharto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gie, pantas menjadi Pahlawan Nasional.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://vv6.blogspot.com/feeds/4382895397054440038/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2011/11/mereka-yang-terlupakan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/4382895397054440038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5116736521100441971/posts/default/4382895397054440038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://vv6.blogspot.com/2011/11/mereka-yang-terlupakan.html' title='Mereka Yang Terlupakan.............'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06843139890348491577</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2rzOrfuEcIn1qEgJyKM26pp5rBrRcE-ZomdPLEWPVq2nRoLwtnYp_VCyE1EJ3bWAso1ohkbMVAucRwmoLNx94ChZzp1QEFn_X15x3hiK2GMlcVjuu-jx2nVpS8FS5CjZXqe58Vdwtcf0/s72-c/trem.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>