<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CUcARX48eyp7ImA9WhRUFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245</id><updated>2012-01-27T18:17:24.073+07:00</updated><category term="Kalimantan Selatan" /><category term="Sumatera Selatan" /><category term="Banten" /><category term="Sumatera Barat" /><category term="Yogyakarta" /><category term="Sulawesi Selatan" /><category term="Jawa Barat" /><category term="Kalimantan Tengah" /><category term="Bali" /><category term="Sumatera Utara" /><category term="Nusa Tenggara Timur" /><category term="Jakarta" /><category term="Jawa Timur" /><category term="Sulawesi Barat" /><category term="Bangka Belitung" /><category term="Jawa Tengah" /><title>Indahnya Indonesia</title><subtitle type="html" /><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>821</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/TasteTheRealIndonesia" /><feedburner:info uri="tastetherealindonesia" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;CUcARX4yfip7ImA9WhRUFks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-3050338859677282065</id><published>2012-01-27T18:17:00.001+07:00</published><updated>2012-01-27T18:17:24.096+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-27T18:17:24.096+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Mendaki Menuju Puncak Salib Kasih</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-b5X16wLwm18/TyKG0nxRepI/AAAAAAAAISk/cra4qJkFM-Y/s1600/IMG_9333.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-b5X16wLwm18/TyKG0nxRepI/AAAAAAAAISk/cra4qJkFM-Y/s320/IMG_9333.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Seusai perjalanan 10 menit menempuh lereng bukit, akhirnya saya dan teman saya tiba di Puncak Bukit Siatas Barita. Disinilah objek wisata Salib Kasih berada. Kota Tarutung sendiri sudah termasuk Kota berhawa sejuk dan segar. Nah, berada di ketinggian bukit membuat saya agak menggigil kedinginan karena anginnya lebih sejuk dan lebih segar. Untung saja, saya sudah siap dengan jaket sehingga dinginnya puncak bukit nggak terlalu terasa. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lA4CGRZG8sE/TyKHKqOOQtI/AAAAAAAAISw/p5uq1O53bJI/s1600/IMG_9353.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-lA4CGRZG8sE/TyKHKqOOQtI/AAAAAAAAISw/p5uq1O53bJI/s320/IMG_9353.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pintu masuk Salib Kasih adalah suatu bangunan dengan atap khas Batak, namun bercabang empat. Di depan pintu masuk ini berjejer, selayaknya tempat wisata pada umumnya, kios-kios makanan, oleh-oleh dan foto. Pada sisi lain yang berseberangan dengan deretan kios, ada pelataran terbuka dengan bentuk seperti teater yang konon sering digunakan untuk kebaktian raya, Natal atau Paskah. Di depan pelataran yang berbentuk teater tersebut ada sejumlah permainan anak seperti kincir ria, jungkat jungkit, atau perosotan. Kala itu, waktu menunjukkan pukul setengah tiga sore dan keramaian pengunjung tidak terlalu terasa. Kios-kios berjualan sebagian besar tutup dan sebagian yang buka tidak dipadati pengunjung. Mungkin memang bukan hari kunjungan besar kali yach? Yang menyenangkan, harga tiket masuk tempat ini luar biasa murah : Rp. 2.000 untuk dewasa dan Rp. 1.000 untuk anak-anak. Wow! Murah sekali! 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-az5-OqPjHXE/TyKHnNaWnDI/AAAAAAAAIS8/379WUj6v8VU/s1600/IMG_9337.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-az5-OqPjHXE/TyKHnNaWnDI/AAAAAAAAIS8/379WUj6v8VU/s320/IMG_9337.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xpGtmfxzxAk/TyKHnfD1NnI/AAAAAAAAITM/K4e6Ry00lC0/s1600/IMG_9352.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-xpGtmfxzxAk/TyKHnfD1NnI/AAAAAAAAITM/K4e6Ry00lC0/s320/IMG_9352.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;Di pintu masuk utama ada sosok patung Dr. Ingwer Luwig Nommensen di kala muda. Mengapa muda? Soalnya sosoknya terlihat lebih kurus dibanding foto-foto Nommensen yang umum ditemui dimanapun. Selain memang beliau adalah rasulnya Bangsa Batak, ada alasan tersendiri dan kaitan antara Nommensen dengan Siatas Barita ini sehingga beliau dibuatkan patung dan dipajang di pintu masuk Salib Kasih. Nah, perjalanan menuju puncak Salib Kasih hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki saja, melalui anak tangga yang sudah tersusun rapih, melalui hutan pinus yang rindang. Wilayah lintasan ini disebut Taman Kenangan karena sepanjang perjalanan, banyak ditemui prasasti-prasasti  mulai dari yang bentuknya sederhana dari bebatuan, kayu, hingga yang rapih dari keramik dan yang mewah berupa kursi peristirahatan. Prasasti-prasasti ini disumbang oleh banyak jemaat mulai dari Naggroe Aceh Darussalam hingga Papua. Ada sich komentar miring yang menyindir bahwa Taman Kenangan ini tak ubahnya laksana kuburan karena bentuk prasasti-prasasti tersebut nggak berbeda jauh dengan batu nisan yang dijajarkan di sepanjang jalan. Memang sich, kalau dilihat sekilas, memang agak mirip dengan deretan makam. Namun di sisi lain, Taman Prasasti ini bagus juga untuk menandai umat yang pernah berkunjung kesana. Sempat loch saya berpikir untuk meninggalkan suatu prasasti di tempat ini. Namun saya nggak mau yang ribet, sehingga prasasti yang terpikirkan ialah yang terbuat dari karton atau kertas saja walaupun nggak bisa dipastikan berapa lama prasasti dari karton tersebut akan bertengger sebelum akhirnya dikira sampah oleh petugas kebersihan setempat. Hahaha. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Pv0ba05T__I/TyKHrpMyZsI/AAAAAAAAITU/ot7Wgwhto8E/s1600/IMG_9362.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-Pv0ba05T__I/TyKHrpMyZsI/AAAAAAAAITU/ot7Wgwhto8E/s320/IMG_9362.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Bentuk jalan setapak yang tertata dengan rapih ini memang memudahkan para pejalan kaki yang akan berangkat menuju puncak Salib Kasih. Berjalan menembus hutan pinus pun terasa menyegarkan karena bebauan pinus ditambah suhu yang cukup sejuk dan rindang di bawang naungan daun pinus. Hanya saja, perjalanan ini cukup menguras tenaga karena dari patung Dr. IL Nommensen, jalan yang ditempuh seluruhnya menanjak. Perjalanan pada malam hari pun nggak disarankan karena saya memang nggak melihat sejumlah penerangan jalan yang memadai untuk para pejalan kaki (saya nggak terlalu tahu jam buka dan tutup Salib Kasih ini). Di ujung dari perjalanan menembus Taman Kenangan ini, jalanan terbagi menjadi dua, jalur pergi dan jalur pulang. Walaupun melalui jalur yang berbeda, namun kedua jalan setapak ini boleh dicoba karena banyak bacaan yang dikutip dari alkitab yang ditempelkan di sudut-sudut pohon atau semak. Nah, di ujung Taman Kenangan ini, disanalah Salib Kasih berada. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-3050338859677282065?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/D-Qc2NZKf1HWvHhKIi7ZTpusMXo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/D-Qc2NZKf1HWvHhKIi7ZTpusMXo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/D-Qc2NZKf1HWvHhKIi7ZTpusMXo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/D-Qc2NZKf1HWvHhKIi7ZTpusMXo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/MxVD7fPaiWY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/3050338859677282065/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/mendaki-menuju-puncak-salib-kasih.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/3050338859677282065?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/3050338859677282065?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/MxVD7fPaiWY/mendaki-menuju-puncak-salib-kasih.html" title="Mendaki Menuju Puncak Salib Kasih" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-b5X16wLwm18/TyKG0nxRepI/AAAAAAAAISk/cra4qJkFM-Y/s72-c/IMG_9333.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/mendaki-menuju-puncak-salib-kasih.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcFSHw6eyp7ImA9WhRUFUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-577754916414880562</id><published>2012-01-26T18:06:00.002+07:00</published><updated>2012-01-26T18:06:59.213+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-26T18:06:59.213+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Hutabarat Dan Siatas Barita</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hYr_YQUY-X8/TyEzSoLNmMI/AAAAAAAAIRo/Mca8HT0kVUE/s1600/IMG_9322.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-hYr_YQUY-X8/TyEzSoLNmMI/AAAAAAAAIRo/Mca8HT0kVUE/s1600/IMG_9322.JPG" imageanchor="1"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-hYr_YQUY-X8/TyEzSoLNmMI/AAAAAAAAIRo/Mca8HT0kVUE/s320/IMG_9322.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-KDmogbBheTg/TyEzSitlmeI/AAAAAAAAIR0/WkxfcjS7sWQ/s1600/IMG_9321.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-KDmogbBheTg/TyEzSitlmeI/AAAAAAAAIR0/WkxfcjS7sWQ/s320/IMG_9321.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Siatas Barita adalah nama salah satu bukit yang mengelilingi Rura (=lembah) Silindung, tempat Kota Tarutung berada. Keistimewaan Bukit Siatas Barita adalah keberadaan satu buah objek wisata rohani yang terletak persis di pucuk bukit yakni Salib Kasih. Salib Kasih adalah salib raksasa berukuran besar yang bisa terlihat dari dasar bukit sekalipun, bercahaya dan tampak seakan-akan menerangi, memberkati dan sekaligus melindungi Kota Tarutung. Walaupun tampak cukup dekat, kenyataannya akses menuju puncak Salib Kasih tidaklah sedemikian dekatnya. Saya berpikir bahwa jalan menuju Salib Kasih bisa ditempuh dengan berjalan lurus menaiki lereng bukit yang berhadapan langsung dengan salib tersebut. Kenyataannya, jalan raya menuju salib tersebut berkelok-kelok layaknya pendakian di gunung. Seusai melalui jalan yang berkelok-kelok pun, pengunjung harus melanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang terlah tertata dengan rapih menuju Salib Kasih ini. Perjalanan luar biasa yang sebanding dengan hasilnya. Walaupun memang tampak seperti objek wisata rohani khusus agama Nasrani, namun objek wisata ini adalah objek wisata umum untuk semua kalangan. Di Salib Kasih ini, anda bisa mengetahui siapa itu Ingwer Ludwig Nommensen, dan menikmati pemandangan cantik Rura Silindung dari ketinggian. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iI3hoh3Qwvg/TyEzqCTDPxI/AAAAAAAAISY/pXofrieRsxQ/s1600/IMG_9326.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-iI3hoh3Qwvg/TyEzqCTDPxI/AAAAAAAAISY/pXofrieRsxQ/s320/IMG_9326.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Zv5JlLT-tQ4/TyEzptHNeWI/AAAAAAAAISA/mmSEGpgtsPE/s1600/IMG_9323.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-Zv5JlLT-tQ4/TyEzptHNeWI/AAAAAAAAISA/mmSEGpgtsPE/s320/IMG_9323.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vOPpDM3PcF0/TyEzpsAzaSI/AAAAAAAAISM/woGnDVPamZ8/s1600/IMG_9324.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-vOPpDM3PcF0/TyEzpsAzaSI/AAAAAAAAISM/woGnDVPamZ8/s320/IMG_9324.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Permasalahannya ialah, tidak ada angkutan umum yang terjadwal yang menuju objek wisata ini. Klasik yach? Banyak sekali objek wisata di Indonesia yang tidak memiliki ketersediaan sarana angkutan umum berjadwal yang bisa mengantarkan pengunjung hingga ke pintu masuk objek. Untuk kelas backpacker seperti saya, tentu ini menjadi salah satu persoalan tersendiri dalam menunjungi objek wisata. Saya harus berjuang keras untuk melakukan negosiasi, baik dengan supir angkot ataupun ojek yang bisa mengantarkan saya ke objek wisata yang saya inginkan. Walaupun Siatas Barita tidak terletak terlalu jauh dari Kota Tarutung dan Kota Tarutung sangat terkenal dengan objek wisata rohani-nya, namun ketersediaan angkot berjadwal dan terorganisir menjadi suatu kendala tersendiri. Mungkin bisa menjadi masukan untuk PemKab Tapanuli Utara? Dalam perjalanan melintasi wilayah Hutabarat, seorang Inang bertanya kepada kami, kemanakah tujuan kami? Tentu, bukan tanpa alasan bahwa ia bertanya demikian kepada kami. Sepanjang perjalanan, saya dan rekan saya sibuk melihat kiri dan kanan jalan. Ketika Salib Kasih yang terkenal itu muncul di puncak Bukit Siatas Barita, kami berseru riuh rendah. Hahaha. Heboh sendiri dech pokoknya. Singkat kata, inang itu menjelaskan bahwa tidak ada angkutan umum untuk menuju puncak Siatas Barita. “Berjalan kaki saja, biar tahu rasa!”, begitu ucapan inang tersebut. Walaupun ucapan tersebut bernada keras, saya rasa, maksudnya adalah agar kami dianjurkan berjalan kaki, bahwa jalan menuju puncak tidak terlalu jauh. Namun, seorang amang bersama anaknya mendebat sang inang dan berkata bahwa jarak tersebut terlalu jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Si inang tidak mau kalah, ia berkata bahwa ia dan teman-temannya sudah pernah berjalan kaki dari dasar lereng menuju puncak bukit. Hoooo...tampaknya atas dasar inilah maka sang inang menganjurkan saya dan teman untuk berjalan kaki menuju puncak bukit. Namun, pendapat tersebut segera disanggah oleh sang amang. Ia mengatakan bahwa lebih baik naik menggunakan kendaraan karena matahari sudah agak condong ke barat. Kalau mau turun dari bukit saat pulang nanti, terserah kami saja, apakah mau berjalan kaki atau naik angkutan kembali. Si amang sejurus kemudian bertanya kepada supir angkutan apakah dia mau mengantarkan kami berdua ke puncak Siatas Barita. Dalam bahasa Batak, mereka berdua berdebat, yang saya bisa tebak bahwa sang supir agak nggak setuju. Namun, tampaknya perdebatan dimenangkan oleh sang amang karena sang supir mau mengantarkan kami dengan biaya RP. 60.000. Wow! Rp. 60.000?!?! saya langsung menawar harga tersebut tanpa berpikir panjang, “nggak bisa ditawar, Lae?”. Sungguh, sang amang beserta anaknya adalah orang yang baik. Ia memberikan kode dengan tangannya kepada kami dengan tiga jari teracung ke atas menandakan angka tiga. Akhirnya, saya menawar RP. 25.000 (dengan prinsip, kurangin sedikit dari harga yang dimaksud. Hihihihi). Sang supir tidak mau karena terlalu murah dan ia mengatakan bahwa perjalanan tersebut cukup jauh. Yaa…ujung-ujungnya sang supir nyerah sendiri karena akhirnya kami sepakat di harga Rp. 30.000, seperti yang disarankan oleh si amang. Waaah, mauliate godang, amang! Biaya Rp. 30.000 itu mencakup ongkos angkutan kota dari Kota Tarutung ke Hutabarat, dan dari kaki Siatas Barita menuju puncak bukit Salib Kasih untuk dua orang di angkutan yang legaaa itu. Perjalanannya sendiri sih hanya butuh waktu 10 menit saja dari kaki menuju puncak bukit. Namun, angkutan yang kami tumpangi meraung-raung menanjak melintasi jalan yang lumayan terawat dan beraspal. Hohoho. Ayo, kamu bisa!

&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-577754916414880562?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Vw6wkIGr18ZnfKGh-NXSm-L4_zI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Vw6wkIGr18ZnfKGh-NXSm-L4_zI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Vw6wkIGr18ZnfKGh-NXSm-L4_zI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Vw6wkIGr18ZnfKGh-NXSm-L4_zI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/MOE_9S7wZUU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/577754916414880562/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/hutabarat-dan-siatas-barita.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/577754916414880562?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/577754916414880562?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/MOE_9S7wZUU/hutabarat-dan-siatas-barita.html" title="Hutabarat Dan Siatas Barita" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-hYr_YQUY-X8/TyEzSoLNmMI/AAAAAAAAIRo/Mca8HT0kVUE/s72-c/IMG_9322.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/hutabarat-dan-siatas-barita.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IHQ3s4cSp7ImA9WhRUFEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-4261921992935903162</id><published>2012-01-25T18:05:00.002+07:00</published><updated>2012-01-25T18:05:32.539+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-25T18:05:32.539+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Hotel Bali, Tarutung</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Drirm6gR6YI/Tx_g93zgXTI/AAAAAAAAIQs/eMG8JdWd4Go/s1600/IMG_9309.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-Drirm6gR6YI/Tx_g93zgXTI/AAAAAAAAIQs/eMG8JdWd4Go/s320/IMG_9309.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Bingung memilih hotel yang sekiranya akan saya tempati membuat saya dan teman saya memasuki beberapa hotel di Tarutung. Hihihihi. Untung saja, waktu saya cukup banyak untuk melakukan ini. Plus, walaupun Tarutung berhawa sejuk cenderung dingin, entah kenapa selepas perjalanan dari Dolok Sanggul, cuacanya membuat saya malas untuk berjalan keluar. Saya ingin berteduh di dalam bangunan yang sejuk dan merebahkan diri sejenak. Jadi, tampaknya mencari hotel adalah suatu keharusan bukan? Ditambah lagi saya harus meletakkan barang-barang saya yang berat sebelum menuju Salib Kasih. Semakin butuh hotel banget dech. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-g32LuKb4DxQ/Tx_hEenKofI/AAAAAAAAIQ4/eMJNH59fv0k/s1600/IMG_9602.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-g32LuKb4DxQ/Tx_hEenKofI/AAAAAAAAIQ4/eMJNH59fv0k/s320/IMG_9602.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pilihan dijatuhkan antara Hotel Bali dan Hotel Perdana, dua yang menurut saya cukup baik dan masih sesuai dengan anggaran saya serta terletak di jalan yang sama, bersebelahan saja. Akan tetapi, bagaimana dengan isi dalamnya? Akhirnya saya dan rekan saya membuat keputusan, kami berdua berpencar dan masuk masing-masing hotel, minta ditunjukkan kamar, tanya harga, fasilitas dan kemudian bertemu lagi di tengah-tengah antara dua hotel yang kebetulan bertetangga tersebut. Bodohnya, saya datang dengan laporan “kamarnya lumayan”, sementara teman saya menunjukkan gambar di blackberry-nya yang ternyata foto suasana di dalam kamar tersebut. Haduh, bodoh bener, kenapa saya nggak foto yach? *tepok jidat*. Akhirnya, dengan kebodohan saya, teman saya harus saya ajak lagi ke hotel yang tadi saya masuki, minta ditunjukkan kamar sekali lagi, dan akhirnya dengan pandangan mata kami masing-masing yang seharusnya berarti “sesuatu banget”, akhirnya kami memilih Hotel Bali, hotel yang teman saya survey.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BzgfDjBFjGY/Tx_hPRB7eBI/AAAAAAAAIRE/BA3jljAEAY8/s1600/IMG_9613.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-BzgfDjBFjGY/Tx_hPRB7eBI/AAAAAAAAIRE/BA3jljAEAY8/s320/IMG_9613.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ya, saya memang pernah bilang bahwa tidak ada hotel yang cukup baru di wilayah Tarutung ini. Dengan harga yang sama, anda bisa mendapatkan hotel yang sangat bagus di wilayah Tuk-Tuk Siadong, kualitas agak lumayan di Pangururan, dan kualitas rata-rata di Tarutung. Hotel Bali ini mengusung gaya jadul, mungkin dibangun pada akhir 1980-an atau awal 1990-an. Arsitekturnya rata-rata serupa untuk wilayah Tarutung dan sekitarnya. Prinsip saya, nggak masalah mau tidur dimana juga yang penting kamarnya bersih dan nggak bikin suasana nggak menyenangkan. Kebersihan di Hotel Bali terhitung rata-rata cukup baik. Kamarnya ada televisi kecil, dengan siaran lokal, berubin tegel, pemandangan ke belakang kota, dinding kamar agar terkelupas dan kamar mandi yang nggak bisa ditutup dari dalam. Hihihihi. Kamar pertama yang kami terima ternyata air kerannya nggak keluar dan listriknya mati. Nggak mau rugi donk, akhirnya kami meminta kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar tersebut. Sialnya, kamar tersebut baru saja bekas check out sehingga butuh untuk dibersihkan terlebih dahulu. Untung saja, kamar tersebut listriknya nyala dan air kerannya menyala. Nggak kenapa dech tunggu sebentar demi kehidupan yang lebih baik #Halah.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-0kJlEjW4mxk/Tx_hdBTzbQI/AAAAAAAAIRY/nKiWt8pxi5A/s1600/IMG_9294.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-0kJlEjW4mxk/Tx_hdBTzbQI/AAAAAAAAIRY/nKiWt8pxi5A/s320/IMG_9294.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-7uOmhT42o_E/Tx_hc3VYJCI/AAAAAAAAIRQ/AfInTXa7Gqg/s1600/IMG_9619.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-7uOmhT42o_E/Tx_hc3VYJCI/AAAAAAAAIRQ/AfInTXa7Gqg/s320/IMG_9619.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;Tarutung berhawa dingin, sehingga keberadaan selimut di masing-masing tempat tidur mutlak dibutuhkan. Soal kamar mandinya, kalau tinggal sendiri sich nggak kenapa yach, mandinya bisa dengan pintu terbuka. Namun, kalau anda tinggal berdua, agak repot karena pintu harus ditutup dari luar sehingga membutuhkan bantuan rekan anda untuk menutup dan membuka pintu. Hehehe. Untuk sarapan, Hotel Bali ini tergolong fleksibel karena makan prasmanan baru diadakan ketika jumlah tamu yang menginap cukup banyak. Apabila jumlah tamu tidak terlalu banyak, maka makan pagi akan disediakan di kamar-kamar. Sarapan kami pada pagi itu tergolong berat, dan terhitung mewah untuk hotel dengan harga RP. 150.000. Makan pagi hari itu adalah nasi putih, mie goreng, dan telur bumbu cabai. Buah-buahannya adalah pisang dan minumnya boleh milih antara kopi atau the. Semua ini boleh diambil sepuasnya, ekstra kerupuk pula! Hohohoho. Sayang, saya kayaknya nggak bisa makan makanan seberat ini pada pagi hari sehingga saya hanya memakan seporsi mie goreng saja. Ngomong-ngomong, mie goreng Hotel Bali, atau Mie Goreng Tarutung rasanya agak berbeda dengan mie goreng yang selama ini pernah saya makan. Untuk satu hal yang paling saya ingat dan saya suka dari Hotel Bali ini adalah, ruang hall tengahnya, tempat tamu bisa duduk, bersantai dan mengobrol berbau bedak bayi! Saya suka sekali melewati ruangan ini berkali-kali.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-4261921992935903162?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y7GBadfVQL6_E61BHTrUWBV-LqU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y7GBadfVQL6_E61BHTrUWBV-LqU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y7GBadfVQL6_E61BHTrUWBV-LqU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Y7GBadfVQL6_E61BHTrUWBV-LqU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/HgQ8VOScVQk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/4261921992935903162/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/hotel-bali-tarutung.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4261921992935903162?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4261921992935903162?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/HgQ8VOScVQk/hotel-bali-tarutung.html" title="Hotel Bali, Tarutung" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-Drirm6gR6YI/Tx_g93zgXTI/AAAAAAAAIQs/eMG8JdWd4Go/s72-c/IMG_9309.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/hotel-bali-tarutung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4CR304cCp7ImA9WhRVGEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-85987559158690386</id><published>2012-01-17T23:32:00.001+07:00</published><updated>2012-01-17T23:32:46.338+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T23:32:46.338+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Pilah Pilih Hotel Dan Penginapan Di Tarutung</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ke3zy7KJO4Y/TxWhFpUIkbI/AAAAAAAAIPk/krkkRmzH00M/s1600/IMG_9707.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-ke3zy7KJO4Y/TxWhFpUIkbI/AAAAAAAAIPk/krkkRmzH00M/s320/IMG_9707.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mencari hotel di Tarutung susah-susah gampang. Tarutung, kota yang nggak terlalu besar rasanya bisa habis dikelilingi pusat kotanya dalam sekian jam dengan berjalan santai. Sambil berjalan santai di seputaran Tarutung Kota, saya melihat ada sejumlah penginapan yang bisa dipergunakan bagi para penjelajah untuk beristirahat. Sebagian besar penginapan itu memang terletak di seputaran pusat kota saja. Di luar wilayah itu, misalnya yang mau menuju arah Hutabarat, Sipoholon, atau Adian Koting tidak terlalu banyak (atau malah nggak ada?) penginapan. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5wzzrKktJAI/TxWhSs1JpVI/AAAAAAAAIP8/pn9FbCLXIEQ/s1600/IMG_9689.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-5wzzrKktJAI/TxWhSs1JpVI/AAAAAAAAIP8/pn9FbCLXIEQ/s320/IMG_9689.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-swcevsx9DQ4/TxWhStVs07I/AAAAAAAAIPw/qWKPwlAEbbQ/s1600/IMG_9305.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-swcevsx9DQ4/TxWhStVs07I/AAAAAAAAIPw/qWKPwlAEbbQ/s320/IMG_9305.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Deretan penginapan yang lumayan berada di Jalan Sisingamangaraja dan Jalan Ferdinand Lumban Tobing. Penginapan yang agak jadul terletak di Jalan D.I. Pandjaitan, dekat dengan pasar dan area ngetemnya angkutan yang akan membawa kita menuju Sibolga. Namun secara umum, nggak ada penginapan yang benar-benar baru di Tarutung Kota. Penginapan yang ada rata-rata sudah berumur, dan bisa terlihat jelas dari fisik bangunan, hingga furnitur yang digunakan. Kalau anda bertualang hingga Tarutung dan dimulai dari Medan, Pematang Siantar, Parapat, dan Tuk-Tuk Siadong, maka anda pasti akan merasakan degradasi kualitas penginapan untuk harga yang sama. Misalnya, di Tuk-Tuk Siadong anda bisa mendapatkan penginapan yang masuk kategori bagus dengan harga, sebut saja Rp. 150.000. Masuk Pangururan, untuk harga yang sama, anda bisa mendapatkan penginapan yang kualitasnya ”lumayan”. Nah, sesampainya di Tarutung, untuk harga Rp. 150.000, penginapan yang anda dapat masuk dalam kualitas “rata-rata”. Tebakan saya sich, walaupun Tarutung terkenal dengan Salib Kasihnya, kenyataannya jarang sekali turis dari belahan bumi bagian barat yang mencapai tempat ini. Rata-rata, mereka berpetualang hingga Samosir, atau Brastagi. Bagi yang agak nyentrik, mereka mungkin mencoba untuk pergi ke Nias. Namun, sepanjang perjalanan saya di Tarutung selama 2 hari 1 malam, saya tidak menemukan satu pun turis asing, baik dari Eropa, Amerika, atau bahkan turis dengan wajah Asia sekalipun. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-D8rCKnlEMN0/TxWhgehxMUI/AAAAAAAAIQQ/kcVmMF3xSbY/s1600/IMG_9674.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-D8rCKnlEMN0/TxWhgehxMUI/AAAAAAAAIQQ/kcVmMF3xSbY/s320/IMG_9674.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_kkoYL70G0g/TxWhgKgwcdI/AAAAAAAAIQI/hi-7ZzFfmzw/s1600/IMG_9522.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-_kkoYL70G0g/TxWhgKgwcdI/AAAAAAAAIQI/hi-7ZzFfmzw/s320/IMG_9522.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Mencari penginapan di Tarutung cukup mudah karena penginapan yang tersedia sebenarnya cukup untuk para petualang. Informasi harga kamarnya pun bisa didapat dari &lt;a href="http://www.taputkab.go.id/"&gt;website resmi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara&lt;/a&gt; yang mencatatkan 13 penginapan di Tapanuli Utara dengan dua buah di Siborong-borong dan Siatas Barita, sisanya berada di Kota Tarutung. Sayangnya, detail informasi mengenai kamar termasuk telepon, ulasan keadaan hotel dan kondisi kamar cukup sulit ditemukan. Apalagi beberapa dari penginapan tersebut menggunakan nama yang sangat umum seperti misalnya : Segar, Horas, Bali, Perdana, dan kata-kata yang akan mudah anda jumpai di kota kecamatan atau kabupaten lain di Sumatera Utara. Walaupun ketersediaan kamar cukup terjaga, namun para petualang yang benar-benar terorganisir akan lebih menyenangi kalau mereka sudah memiliki tempat untuk melewatkan malam di suatu kota (walaupun saya menggunakan cara melihat fisik dan interior hotel dan kemudian baru menyatakan ingin check-in sich...hehehe). 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-whwD8-Hz_oQ/TxWhrOYOllI/AAAAAAAAIQg/nikitDsnU7I/s1600/IMG_9688.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-whwD8-Hz_oQ/TxWhrOYOllI/AAAAAAAAIQg/nikitDsnU7I/s320/IMG_9688.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Beberapa hotel dan penginapan yang saya lalui antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;ul style="text-align: left;"&gt;
&lt;li&gt;Hotel Bali, Jalan Balige (Jalan Raya Tarutung-Siborong-borong) No. 1 Tarutung 22411, (0633)21854,(0633)20271&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hotel Perdana, Jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Tarutung, (0633)21526&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hotel Diaji, Jalan Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Tarutung, (0633)21627&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hotel Safari, Jalan Sisingamangaraja, Tarutung&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hotel Kenari, Jalan Mayjend D.I. Pandjaitan 43, Tarutung, 22411, (0633)21627&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hotel Palapa, Jalan Mayjend D.I. Pandjaitan No. 103, Tarutung, 22411, (0633)21845&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Losmen Segar, Jalan Mayjend D.I. Pandjaitan, Tarutung, 22411&amp;nbsp;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penginapan Horas, Jalan Raja Saul Lumban Tobing, Tarutung, 22411, 085270085110

&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-85987559158690386?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kkDmh60sgiczfXZp4dhZAOgei7I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kkDmh60sgiczfXZp4dhZAOgei7I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kkDmh60sgiczfXZp4dhZAOgei7I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/kkDmh60sgiczfXZp4dhZAOgei7I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/n-qBlrdg0fs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/85987559158690386/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/pilah-pilih-hotel-dan-penginapan-di.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/85987559158690386?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/85987559158690386?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/n-qBlrdg0fs/pilah-pilih-hotel-dan-penginapan-di.html" title="Pilah Pilih Hotel Dan Penginapan Di Tarutung" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-ke3zy7KJO4Y/TxWhFpUIkbI/AAAAAAAAIPk/krkkRmzH00M/s72-c/IMG_9707.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/pilah-pilih-hotel-dan-penginapan-di.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUANSH0_eip7ImA9WhRVFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-77698134397756580</id><published>2012-01-14T01:03:00.000+07:00</published><updated>2012-01-14T01:03:19.342+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-14T01:03:19.342+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Sisi Lain : Tarutung, Nggak Hanya Gereja</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-WZav-N208H8/TxBwnLmiomI/AAAAAAAAIOw/QqU-k4czTbc/s1600/IMG_9659.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-WZav-N208H8/TxBwnLmiomI/AAAAAAAAIOw/QqU-k4czTbc/s320/IMG_9659.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P0XOKDR3aXY/TxBwnQ20LEI/AAAAAAAAIO4/81F6TIShaN0/s1600/IMG_9691.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-P0XOKDR3aXY/TxBwnQ20LEI/AAAAAAAAIO4/81F6TIShaN0/s320/IMG_9691.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Tarutung dikenal sebagai pusatnya HKBP, atau bahkan tempat kelahiran HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Karena ini, nggak heran, ibukota Tapanuli Utara ini dikenal dengan ciri khas kristen-nya. Nggak urung, perayaan natal terbesar di Indonesia pun salah satunya dipusatkan di Kota Tarutung, selain Jakarta dan Manado tentunya. Pemandangan umum di Tarutung pun biasanya didominasi dengan segala macam bentuk gereja. Uniknya, gereja-gereja tersebut bahkan tidak berjarak jauh, ada yang bisa dicapai dalam 5 menit perjalanan kaki, atau bahkan berseberangan jalan, hingga berdempetan kiri kanan dan depan belakang. Gereja semuanya! Pemandangan sehari-hari di sekitar Tarutung memang gereja. Nggak Cuma Gereja HKBP, namun ada juga gereja lainnya seperti GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), GBI (Gereja Bethel indonesia), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, hingga Gereja Katolik. Mungkin teman-teman yang muslim akan sedikit bertanya-tanya kali yach, apakah ada masjid di Tarutung, plus makan makanan halal?
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WfrUTgByiJ8/TxBw0SIPKgI/AAAAAAAAIPI/kEJh_Mrwmhk/s1600/IMG_9561.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-WfrUTgByiJ8/TxBw0SIPKgI/AAAAAAAAIPI/kEJh_Mrwmhk/s320/IMG_9561.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-w00rQYUHmlc/TxBw0RsXaqI/AAAAAAAAIPU/0cZ77RT-7XY/s1600/IMG_9570.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-w00rQYUHmlc/TxBw0RsXaqI/AAAAAAAAIPU/0cZ77RT-7XY/s320/IMG_9570.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Jawabannya sangat memuaskan tentunya. Selain citra “Kota Wisata Rohani” yang memang kuat, Tarutung terkenal dengan kerukunan umat beragamanya. Suasana adem dan sejuk serta ritme yang santai, membuat siapa saja ingin menikmati Kota Tarutung. Plus, penduduk kota-nya yang luar biasa ramah, semakin membuat saya jatuh cinta dengan kota ini. Di tepian Sungai Sigeaon yang cantik, berdirilah sebuah Masjid Raya Tarutung! Wow, Masjid Raya ini berukuran besar dan biasanya kegiatan Hari Raya Idul Fitri atau Idul Qurban di Kota Tarutung dipusatkan di masjid ini. Nggak cuma itu, saya melihat ada sejumlah masjid yang berdiri tegak di jalan-jalan raya di Tarutung, salah satunya adalah yang berada di Jalan Raja Johannes Hutabarat yang menuju ke kaki Bukit Siatas Barita, wilayah Hutabarat. Soal makanan? Nggak usah terlalu kuatir! Sejumlah rumah makan khas Batak pun membuka usaha mereka di tempat ini. Errr...rumah makan khas Batak? Lapo-lapo dan sejenisnya kah? Eits, jangan salah. Batak tidak melulu diasosiasikan dengan kristen. Kalau teman-teman bermain-main ke Tapanuli Tengah hingga Tapanuli Selatan, pasti teman-teman akan banyak berjumpa dan mengetahui bahwa suku Batak banyak juga yang muslim. Salah satu rumah makan yang menyediakan menu makanan muslim adalah Kedai Nasi Islam A.R. Panggabean di Jalan D.I. Pandjaitan yang mengarah ke Hutabarat. Tarutung sebagai kota yang heterogen pun memiliki sejumlah pilihan rumah makan lain seperti misalnya Rumah Makan Putri Minang Islam dengan masakan khasnya nasi campur. Nah, nggak ada alasan lagi khan untuk nggak menyambangi Tarutung? Hmm...saya nggak dibayar untuk mengiklankan Tarutung oleh PemKab Tapanuli Utara loch. Saya yang merasa bahwa kota ini tenang dan menyenangkan, cocok banget untuk lokasi wisata, sangat merekomendasikan teman-teman untuk berkunjung kemari. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-77698134397756580?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BvfF5PtZsvxjEetilG4wO1d1V9c/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BvfF5PtZsvxjEetilG4wO1d1V9c/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BvfF5PtZsvxjEetilG4wO1d1V9c/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BvfF5PtZsvxjEetilG4wO1d1V9c/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/7hfOA50he7E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/77698134397756580/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-tarutung-nggak-hanya-gereja.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/77698134397756580?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/77698134397756580?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/7hfOA50he7E/sisi-lain-tarutung-nggak-hanya-gereja.html" title="Sisi Lain : Tarutung, Nggak Hanya Gereja" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-WZav-N208H8/TxBwnLmiomI/AAAAAAAAIOw/QqU-k4czTbc/s72-c/IMG_9659.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-tarutung-nggak-hanya-gereja.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4MQHg8eip7ImA9WhRVE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-1455212143492877568</id><published>2012-01-12T17:43:00.000+07:00</published><updated>2012-01-12T17:43:01.672+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-12T17:43:01.672+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Tinggal Di Tarutung?</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-TfE2-3FohMw/Tw6y0dwFIaI/AAAAAAAAINc/nJnJjIHte28/s1600/IMG_9546.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-TfE2-3FohMw/Tw6y0dwFIaI/AAAAAAAAINc/nJnJjIHte28/s320/IMG_9546.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Fo-aDwM2W4M/Tw6y00Cf9iI/AAAAAAAAIN4/tHxqo-0vhps/s1600/IMG_9684.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-Fo-aDwM2W4M/Tw6y00Cf9iI/AAAAAAAAIN4/tHxqo-0vhps/s320/IMG_9684.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-hm_qy9QXwds/Tw6y0nLR32I/AAAAAAAAINo/yTi83vg2jVw/s1600/IMG_9531.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-hm_qy9QXwds/Tw6y0nLR32I/AAAAAAAAINo/yTi83vg2jVw/s320/IMG_9531.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Tarutung, ibukota dari Tapanuli Utara adalah kota yang menyenangkan. Maka dari itu, saya akhirnya memilih untuk bermalam di kota ini. Seturut dengan semakin jauhnya wilayah jelajah saya dari objek-objek wisata standar, semakin sedikit pulalah penginapan komersil yang bisa dipilih sebagai tempat bermalam saya. Pada situasi seperti ini, saya memilih untuk menginap di ibukota Kabupaten dengan pertimbangan masih ada sejumlah penginapan yang dapat dijadikan pilihan. Situasi pada malam hari pun biasanya nggak sepi-sepi amat karena namanya juga kota. Hehehe. Walaupun nggak bisa dibandingkan dengan Medan atau Pematang Siantar, namun Tarutung yang dibelah oleh Sungai Sigeaon ini sudah memiliki jalur satu arah yang memutari pusat kota, yakni Jalan S.M. Raja yang menuju Sibolga dan Jalan F.L.Tobing yang menuju Balige. Angkutan kotanya cukup tertib walaupun yang namanya ngetem tuh ada dimana-mana yach. Pinggir kanan dan kiri Sungai Sigeaon pun sudah tertata rapih dan terdapat trotoar untuk pejalan kaki. Salah satu kota yang ramah terhadap pejalan kaki, menurut saya. Rasanya, saya kuat berjalan kaki dari pintu masuk Tarutung di Sipoholon sampai Siatas Barita di Hutabarat. Penduduk asli Tarutung pasti geleng-geleng kepala kalau melihat kelakuan saya. "Dasar orang Jakarta!", mungkin begitu pikir mereka. Hahaha. Aura Batak muncul lagi di tempat ini terutama dengan deretan bangunan Ruma dan Sopo Bolon besar yang merupakan Kantor DPRD Tapanuli Utara, Gedung Kesenian dan Kebudayaan serba guna Sopo Partungkoan, dan Kantor Bupati Tapanuli Utara menghiasi tepian sungai. Di sejumlah sudut kota, banyak pedagang Ulos membuka tokonya. Soal makan, rasanya nggak sulit yah mencari makanan di tempat ini. Yang sulit justru memilih, makanan mana yang mau dicoba (semuanya terlihat menggiurkan), mengingat sempitnya waktu di Tarutung. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-arHMxvVX_P4/Tw6zNo9fIkI/AAAAAAAAIOM/SXzkREDOj18/s1600/IMG_9644.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-arHMxvVX_P4/Tw6zNo9fIkI/AAAAAAAAIOM/SXzkREDOj18/s320/IMG_9644.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-NpuRY_4Pl2g/Tw6zNbUAJYI/AAAAAAAAIOA/ZaO3T-94T2A/s1600/IMG_9552.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-NpuRY_4Pl2g/Tw6zNbUAJYI/AAAAAAAAIOA/ZaO3T-94T2A/s320/IMG_9552.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Berjalan dan menikmati Tarutung, saya merasa bahwa saya harus melambat dan menikmati setiap inci denyut kehidupan saya di kota ini. Dengan jarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Kota Medan (288KM), walau dilintasi oleh lintas tengah Sumatera, Tarutung jauh dari kesan sibuk dan terburu-buru. Penduduk kota ini luar biasa ramah. Sembari berjalan-jalan, mereka menyapa saya dan memberikan sinyal bahwa mereka ingin difoto. Yah, saya mencoba mengambil foto mereka dalam beberapa pose dan mereka senang lhooo... Hehehe. Mereka tahu bahwa saya orang luar dan mereka tidak segan-segan menyapa, bahkan memberitahukan objek apa saja yang menarik untuk difoto atau dikunjungi di Tarutung. Dalam perjalanan, saya bahkan diberi sejumlah tips oleh sesama penumpang kendaraan, bahkan hingga urusan tawar menawar harga! Saya merasa terbantu sekali. Saya bahkan disapa oleh seorang pria yang bertanya bagaimana kabar saya dan bagaimana hasil fotonya. Sebelum saya bingung, ia melanjutkan bahwa ia sudah sempat difoto pada hari sebelumnya. Hohoho. Mungkin karena Tarutung tidak berukuran terlalu besar, maka orang-orangnya tidak terlalu banyak dan saling kenal dan tahu satu sama lain kali yach? Secara sekilas saja, Sibolga jauh lebih besar daripada Tarutung.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-FSj4EDfotb0/Tw6zUCrt7xI/AAAAAAAAIOY/6vtvsMKn9qg/s1600/IMG_9626.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-FSj4EDfotb0/Tw6zUCrt7xI/AAAAAAAAIOY/6vtvsMKn9qg/s320/IMG_9626.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kota yang bergelar Kota Wisata Rohani ini selain terkenal dengan Salib Kasih-nya, terkenal juga dengan slogan Bona Pasogit-nya. Rasanya sering denger dech, Bona Pasogit tuh apa yach? Secara harafiah, Bona Pasogit bisa diterjemahkan menjadi asal usul. Namun, pengertian kampung halaman pun ternyata masuk dalam frase “Bona Pasogit” ini. Bahkan di tepi jalan, ada papan reklame yang mengajak warga Tapanuli Utara untuk disiplin membayar pajak sebagai bukti kecintaan terhadap Bona Pasogit, ya kurang lebih maknanya adalah kampung asal. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0Oip_kjGd8Y/Tw6zYfZ11bI/AAAAAAAAIOk/bEYcV2MeIFs/s1600/IMG_9556.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-0Oip_kjGd8Y/Tw6zYfZ11bI/AAAAAAAAIOk/bEYcV2MeIFs/s320/IMG_9556.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau Tarutung itu artinya durian dalam bahasa Batak. Lucunya, saya nggak melihat ada banyak durian di Tarutung. Satu-satunya penjual durian yang saya temui selama berada di Tarutung adalah penjual durian di perempatan Jalan Ferdinand Lumban Tobing dan Jalan D.I. Pandjaitan. Konon, bukan karena Tarutung banyak ditumbuhi durian, namun karena ada sebuah pohon durian yang sering dijadikan tempat berkumpul sehingga nama Rura Silindung berubah menjadi Tarutung. Pohon durian ini kini letaknya tidak jauh dari Sopo Partungkoan di Jalan S.M. Raja. Dengan ritme yang dimilikinya, hawanya yang sejuk, dan keramahan orang-orangnya, saya mau tinggal di Tarutung di masa tua nanti. Hehehe.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-1455212143492877568?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eCk49sT8X4rswVaxHxQbZAJeh8Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eCk49sT8X4rswVaxHxQbZAJeh8Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eCk49sT8X4rswVaxHxQbZAJeh8Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/eCk49sT8X4rswVaxHxQbZAJeh8Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/Ls46b9nULr0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/1455212143492877568/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/tinggal-di-tarutung.html#comment-form" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/1455212143492877568?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/1455212143492877568?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/Ls46b9nULr0/tinggal-di-tarutung.html" title="Tinggal Di Tarutung?" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-TfE2-3FohMw/Tw6y0dwFIaI/AAAAAAAAINc/nJnJjIHte28/s72-c/IMG_9546.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/tinggal-di-tarutung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEDSXgzfip7ImA9WhRVEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-3441247487978872705</id><published>2012-01-10T23:57:00.002+07:00</published><updated>2012-01-10T23:57:58.686+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T23:57:58.686+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Selamat Datang Di Tapanuli Utara!</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xch_Y3tUF-4/Twxsq1kxoyI/AAAAAAAAIM4/g4eyQ6dbwwU/s1600/IMG_9451.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-xch_Y3tUF-4/Twxsq1kxoyI/AAAAAAAAIM4/g4eyQ6dbwwU/s320/IMG_9451.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebelum saya tiba di Ibukota Tapanuli Utara, saya pernah mendapat brosur kabupaten ini pada Sumut Expo di Balai Kartini sekitar November 2009. Dengan dikelilingi oleh Rura (=lembah) Silindung, hawa yang sejuk, bersentuhan dengan Danau Toba di utara dan Bukit Barisan di selatan, lokasi asal dan pusatnya HKBP (Perayaan Natal Nasional pernah dipusatkan di kota ini), sejumlah lokasi wisata iman, pusat pembuatan gitar, makanan unik, makam dan monumen, serta budaya Tapanuli yang masih asli, Tapanuli Utara layak banget menjadi tujuan wisata anda!, begitu kurang lebih anjuran dan ajakan brosurnya. Sepanjang sejarah kabupaten di Sumatera Utara, mungkin Tapanuli Utara-lah yang memegang rekor perpecahan (pemekaran) terbanyak, bahkan hingga ber-cucu. Aslinya, wilayah ini mencakup Dairi, Pakpak Bharat, Humbang Hasundutan, Samosir, Toba Samosir, dan Tapanuli Utara sendiri. Luas banget yach? Sekarang, unik dan anehnya, posisi Tapanuli Utara sendiri terletak lebih selatan daripada Tapanuli Tengah yang berada di tepi Samudera Hindia. Namanya perlu disesuaikan nggak tuh? Hehehe. Omong-omong, Tapanuli itu sendiri merujuk dari kata “Tapian Na Uli” yang bersumber dari wilayah di sekitar Sibolga, tepian yang indah. Dalam perkembangannya, Tapanuli itu merujuk pada wilayah di selatan Danau Toba, mulai dari Dairi hingga Mandailing Natal.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-DuTvG9cHmcE/TwxtWYIifTI/AAAAAAAAINM/kQd-NRLOlhg/s1600/IMG_0011.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-DuTvG9cHmcE/TwxtWYIifTI/AAAAAAAAINM/kQd-NRLOlhg/s320/IMG_0011.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nEFiyLF_B2A/TwxtWL3t4JI/AAAAAAAAINE/pPn8wyWXFKw/s1600/IMG_0005.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-nEFiyLF_B2A/TwxtWL3t4JI/AAAAAAAAINE/pPn8wyWXFKw/s320/IMG_0005.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sebenarnya, keindahan alam Tapanuli Utara sendiri sich sudah menjadi objek wisata tersendiri yach. Walaupun di siang hari nggak terlalu dingin-dingin amat, namun pada malam hari, dinginnya tempat ini lumayan bikin menggigil. Agak berbeda dengan kawasan Puncak, Jawa Barat yang menusuk tulang, dinginnya tempat ini lebih dikarenakan angin lembah yang bertiup di seputaran kota. Maklum, Tarutung kan memang terletak di dasar Rura Silindung. Jadi, memandang kemanapun, kita akan melihat bukit-bukit mengelilingi dan sekaligus membentengi kota ini. Terlebih dengan posisinya yang berada di dataran tinggi, komplit lah hawa dingin menyergap dari segala arah. Pemandangan sehari-hari yang saya lihat adalah awan tebal menyelimuti langit di atas Tarutung, hanya sesekali matahari bersinar menembus kumpulan awal tebal tersebut. Sejumlah kabut tebal biasa terlihat pada pagi hari, menutupi pandangan saya akan puncak-puncak bukit di sekitar Tapanuli Utara. Objek wisata andalan Tapanuli Utara adalah Salib Kasih yang berada di atas Bukit Siatas Barita. Waktu pertama kali melihat brosurnya dan dipromosikan sedemikian rupa, saya benar-benar penasaran dan ingin berkunjung ke Salib Kasih ini. Unik juga melihat salib sebesar ini dan berada di puncak bukit. Apakah saya sampai disana? Tunggu saja postingan selanjutnya! Hehehe. Di luar dari Salib kasih yang terletak cukup dekat dari Kota Tarutung, ada sejumlah objek wisata lain yang masih terhitung dekat seperti Air Panas Hutabarat, Air Panas Sipoholon, hingga yang lumayan butuh usaha untuk mencapainya seperti Monumen Munson Lyman dan Muara serta Hutaginjang. Tertarikkah mencicipi pesonanya Tapanuli Utara? Mari ikut saya!
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-3441247487978872705?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WV0tcToaUo2xUfHWciljqCALbHI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WV0tcToaUo2xUfHWciljqCALbHI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WV0tcToaUo2xUfHWciljqCALbHI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/WV0tcToaUo2xUfHWciljqCALbHI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/M_PxqSqlAUY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/3441247487978872705/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/selamat-datang-di-tapanuli-utara.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/3441247487978872705?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/3441247487978872705?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/M_PxqSqlAUY/selamat-datang-di-tapanuli-utara.html" title="Selamat Datang Di Tapanuli Utara!" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-xch_Y3tUF-4/Twxsq1kxoyI/AAAAAAAAIM4/g4eyQ6dbwwU/s72-c/IMG_9451.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/selamat-datang-di-tapanuli-utara.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkEDQnc9fyp7ImA9WhRWGUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-423824510628536732</id><published>2012-01-08T00:51:00.000+07:00</published><updated>2012-01-08T00:51:13.967+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-08T00:51:13.967+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Sisi Lain : Vespa Di Becak Motor Siborongborong</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OgKGgw21sP0/TwiFp5_IdGI/AAAAAAAAIMg/IonGJKKxcPg/s1600/IMG_9275.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-OgKGgw21sP0/TwiFp5_IdGI/AAAAAAAAIMg/IonGJKKxcPg/s320/IMG_9275.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sekali lagi, saya akan menulis tentang becak motor yang beroperasi di wilayah Sumatera Utara. Walaupun tidak terlalu saya perhatikan, namun hampir di setiap daerah umumnya memiliki becak motor dengan gaya dan ciri khas-nya masing-masing. Uniknya, untuk wilayah yang berbatasan pun, becak motornya bisa jadi berbeda atau bahkan sangat berbeda. Kondisi ini saya dapatan di rute Dolok Sanggul – Siborongborong – Tarutung. Walaupun ketiga kota ini bertetangga, bahkan antara Dolok Sanggul dan Siborongborong yang hanya terpisahkan oleh jarak setengah jam, namun becak motor yang dimiliki masing-masing kota berbeda.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RCLM8Uv70bI/TwiF6ke_GnI/AAAAAAAAIMs/whKn49-_rXk/s1600/IMG_9994.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-RCLM8Uv70bI/TwiF6ke_GnI/AAAAAAAAIMs/whKn49-_rXk/s320/IMG_9994.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Secara umum, motor yang digunakan oleh becak motor di banyak kota adalah motor besar. Motor besar yang dimaksud disini biasanya adalah Honda Win yang suaranya menderu-deru dan agak berisik kalau lewat. Hihihi. Nah, di Siborongborong, becak motornya ternyata menggunakan Vespa! Ya, keunikan dari Kota Siborongborong adalah becak motor yang menggunakan motor Vespa sebagai penariknya di sebelah kanan. Untuk ruang penumpangnya, bentuknya juga cukup unik karena berbentuk hampir menyerupai kapsul, agak berbeda dengan &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/gunung-berkonde-si-dolok-sanggul.html"&gt;Dolok Sanggul&lt;/a&gt; yang agak demokratis (baca : terbuka), atau bahkan &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/balada-di-atas-becak-motor-menuju.html"&gt;Pangururan&lt;/a&gt; yang sangat liberal (baca : terbuka banget. Hahaha). Sayangnya, empat kali melintasi kota ini, empat kali pula saya selalu menggunakan angkutan publik. Saya nggak menyempatkan diri untuk turun dan mencicipi sejumput Siborongborong. Jadi, saya juga tidak memiliki kesempatan untuk naik becak motor-nya sama sekali. Penumpangnya sih mungkin nggak merasakan perbedaan kali yach? Kan, yang berbeda hanya di motor supirnya. Penumpangnya sih cuma duduk. Hihihihi.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-423824510628536732?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U081kqL6zIgnMEHueUzGOVhb6VQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U081kqL6zIgnMEHueUzGOVhb6VQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U081kqL6zIgnMEHueUzGOVhb6VQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/U081kqL6zIgnMEHueUzGOVhb6VQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/iQqEI6BDDXU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/423824510628536732/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-vespa-di-becak-motor.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/423824510628536732?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/423824510628536732?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/iQqEI6BDDXU/sisi-lain-vespa-di-becak-motor.html" title="Sisi Lain : Vespa Di Becak Motor Siborongborong" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-OgKGgw21sP0/TwiFp5_IdGI/AAAAAAAAIMg/IonGJKKxcPg/s72-c/IMG_9275.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-vespa-di-becak-motor.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8ASHgyfyp7ImA9WhRWGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-8519443009230417766</id><published>2012-01-07T00:50:00.000+07:00</published><updated>2012-01-07T01:00:49.697+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-07T01:00:49.697+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Melintasi Pertigaan Siborongborong</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--uqzVbDZijs/TwcwUiTmJfI/AAAAAAAAILk/kkSIdu-LQL8/s1600/IMG_9273.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/--uqzVbDZijs/TwcwUiTmJfI/AAAAAAAAILk/kkSIdu-LQL8/s320/IMG_9273.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nggak terlalu jauh dari pintu gerbang “Selamat Jalan Dari Kabupaten Humbang Hasundutan”, nggak sampai 10 menit, sekitar 5 menitan malah, saya sudah tiba di Siborongborong. Posisi kota ini sedemikian strategisnya karena terletak di lintas tengah Sumatera. Artinya, pelancong dari arah selatan, mulai dari Kota Nopan, Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tarutung, harus melewati kota ini kalau ingin menuju utara seperti Balige, Dolok Sanggul, Sidikalang, Pematang Siantar, Kabanjahe, dan Medan. Untuk arah sebaliknya pun, pelancong harus melewati kota ini. Ini menjelaskan kenapa saya bolak-balik melewati kota ini berkali-kali saat akan menuju Tarutung, menuju Balige, kembali ke Pematang Siantar, dan menuju Sibolga.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-VaEHNz7XOlU/TwcwbmknE8I/AAAAAAAAILw/RjaxUIU2YJs/s1600/IMG_9274.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-VaEHNz7XOlU/TwcwbmknE8I/AAAAAAAAILw/RjaxUIU2YJs/s320/IMG_9274.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Terima kasih untuk teman saya, Tryvo Felix Sianturi yang secara nggak langsung sebenarnya, memperkenalkan kota ini kepada saya. Hehehe. Siborongborong menurut saya nggak ubahnya seperti kota-kota di Tapanuli yang pernah saya lihat. Mulai dari arsitektur bangunannya, deretan ruko-ruko di tepi jalan dengan atap khas Bolon, hingga suasana pasarnya, semuanya mirip dengan kota-kota di Tapanuli yang pernah saya lewati. Satu hal yang cukup membedakan adalah adanya satu buah pertigaan besar yang menghubungkan Dolok Sanggul, Tarutung, dan Balige. Walaupun disebut pertigaan besar karena menghubungkan tiga ibukota kabupaten, namun jangan bayangkan ini adalah pertigaan yang lebar. Hampir serupa dengan jalan-jalan lintas Sumatera dimanapun, median jalan hanya mampu digunakan maksimal dua buah kendaraan saja. Kondisi jalannya pun tidak bisa dikatakan baik. Entah mengapa, saya memiliki semacam perasaan bahwa jalanan di tempat ini tertutup oleh pasir kuning. Pertigaan yang dilalui oleh para pelancong dari berbagai kota pun sebenarnya merupakan perluasan dari Pasar Siborongborong yang berada di tanah lapang yang tepat berada di sebelah kiri jalur menuju ke Tarutung. Tidak ada hal-hal yang mencirikan Tanah Batak di tengah wilayah ini selain atap Batak dan gereja-gereja berbagai jemaat yang tersebar berserakan di seantero penjuru. Rumah adat, pakaian adat dan tari-tarian? Agak susah menemukannya ketika anda sudah keluar dari wilayah Samosir.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FyItNzRMFtg/TwcwmwcXOrI/AAAAAAAAIL8/R0LwHZ8LJJE/s1600/IMG_9284.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-FyItNzRMFtg/TwcwmwcXOrI/AAAAAAAAIL8/R0LwHZ8LJJE/s320/IMG_9284.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kecantikan alam Siborong-borong baru nyata jelas terlihat di area luar pasar. Dengan alam perbukitan dan tanah datar, terkadang campuran antara makam atau gereja membuat pemandangan yang cantik, menurut saya. Bandara Silangit, bandara-nya Kabupaten Tapanuli Utara juga berada di wilayah ini. Selain sebagai kota perlintasan, Siborong-borong juga terkenal sebagai kota pengumpul bagi kopi yang dihasilkan di Lintong Nihuta. Bahkan, menurut rencana, ke depannya akan dibangun pusat pengolahan kopi di Siborong-borong agar tidak terlalu jauh ketika harus diolah di Medan sana.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-o2c40BudN_E/Twcwvq18SXI/AAAAAAAAIMQ/DVNNuxwQCH8/s1600/IMG_9280.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-o2c40BudN_E/Twcwvq18SXI/AAAAAAAAIMQ/DVNNuxwQCH8/s320/IMG_9280.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Nwd_Mfc6Jqc/TwcwveXrPaI/AAAAAAAAIMI/xhkH1Rpj1Fs/s1600/IMG_9276.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-Nwd_Mfc6Jqc/TwcwveXrPaI/AAAAAAAAIMI/xhkH1Rpj1Fs/s320/IMG_9276.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Berbicara mengenai Siborongborong, maka yang terkait sich biasanya adalah wacana pembentukan &lt;a href="http://mulaharahap.wordpress.com/2007/04/10/pembentukan-provinsi-tapanuli/"&gt;Propinsi Tapanuli&lt;/a&gt; yang mencakup Dairi, Pakpak Bharat, Samosir, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Humbang Hasundutan dan Kota Sibolga. Alasannya sich, karena pusat pemerintahan yang ada, Medan dirasakan terlalu jauh dari kota-kota di wilayah Tapanuli. Siborongborong pada jaman dahulu memang pernah menjadi ibukota dari afdeling Hoovlakte Van Toba untuk wilayah Humbang, bukan di Dolok Sanggul. Dengan alasan ini pulalah tampaknya Siborongborong ingin dinaikkan lagi pamornya sebagai kota yang penting dan strategis dalam hal pemerintahan. Yah, pemekaran memang sesuatu yang sensitif. Sensitif dalam hal latar, sensitif dalam hal motif, dan sensitif dalam banyak aspek, termasuk kepentingan politis suatu kelompok atau bahkan orang. Soalnya, selain Propinsi Tapanuli, ada banyak wilayah lain yang menunggu untuk dimekarkan pula. Yang paling dekat di Sumatera Utara sebut saja ada wacana untuk Propinsi Barumun Raya, Propinsi Nias, Propinsi Sumatera Tenggara, Propinsi Sumatera Timur, dan Propinsi Asahan Labuhan Batu. Banyak ya? Pada beberapa sisi, pemekaran tampaknya solusi jitu untuk mengentaskan masalah kesenjangan pemerintahan dan kesejahteraan. Saya sangat setuju kalau ini yang dijadikan dasar landasan ide pemekaran wilayah. Jarak ratusan kilometer untuk pengurusan dokumen legal, atau pengiriman hasil bumi dalam kondisi jalan yang tidak selalu bagus memang sebaiknya dipangkas demi terciptanya iklim yang sehat bagi pemercepatan perkembangan suatu daerah. Namun di lain pihak, pemekaran tampaknya dijadikan ajang untuk bagi-bagi kekuasaan dan pengerucutan kelompok etnik. Apalagi, pemekaran umumnya mendapatkan dana hibah dari pemerintah pusat sebesar sekian milyar untuk penyelenggaraan pemerintahan perdana. Banyak kasus terkuak di negeri ini ketika sehabis dimekarkan, suatu daerah bukannya semakin maju malah semakin terbelakang. Hal ini diperparah lagi dengan pemimpin daerah tersebut yang sangat sukar ditemui berada di kantor di wilayah tersebut, kebanyakan justru berada di Jakarta! Hmm... ceritanya jadi sedikit miring ya? Nggak heran, kementrian dalam negeri sampai melakukan moratorium pemekaran menyoal pemekaran wilayah propinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia yang dirasakan terlalu “euforia” dalam iklim demokrasi dan kebebasan berpendapat ini. Lha, koq saya jadi ngelantur kemana-mana yach? Hehehe. Terlepas dari motif apapun yang ada di balik niat pembentukan propinsi Tapanuli, menarik untuk menyambangi Siborongborong sambil minum kopi Lintong dan mencicipi &lt;a href="http://blog.corporate.co.id/2009/09/sejarah-lahirnya-lepat-ombus-ombus-dari.html"&gt;Ombus-Ombus&lt;/a&gt;.Biarlah pemekaran menjadi persoalan elite tertentu. Yah...semoga berhasil dan diberkati dalam pelaksanaannya jika memang misinya memang mulia : kesejahteraan masyarakat. Amin! Kalau saya sich urusannya jalan-jalan dan foto-foto saja. Hehehe.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-8519443009230417766?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZLnQwx3n0RL64a_j8nRWaESq0dA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZLnQwx3n0RL64a_j8nRWaESq0dA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZLnQwx3n0RL64a_j8nRWaESq0dA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZLnQwx3n0RL64a_j8nRWaESq0dA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/y6Skn4UsP0s" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/8519443009230417766/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/melintasi-pertigaan-siborongborong.html#comment-form" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8519443009230417766?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8519443009230417766?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/y6Skn4UsP0s/melintasi-pertigaan-siborongborong.html" title="Melintasi Pertigaan Siborongborong" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/--uqzVbDZijs/TwcwUiTmJfI/AAAAAAAAILk/kkSIdu-LQL8/s72-c/IMG_9273.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/melintasi-pertigaan-siborongborong.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcEQnc9fCp7ImA9WhRWFkQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-38226095381775012</id><published>2012-01-05T00:26:00.001+07:00</published><updated>2012-01-05T00:26:43.964+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-05T00:26:43.964+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Sisi Lain : Flo Rida Feat T-Pain With Low To The Siborong-borong</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_mHNOL7ESVGc/TTXth1zCEqI/AAAAAAAACdQ/oxQ7nxsAY4g/s1600/florida%253Dzackylicioustuff.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_mHNOL7ESVGc/TTXth1zCEqI/AAAAAAAACdQ/oxQ7nxsAY4g/s320/florida%253Dzackylicioustuff.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Shawty had them apple bottom jeans (jeans)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Boots with the fur (with the fur)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
The whole club was lookin at her&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
She hit the flo (she hit the flo)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Next thing u kno&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Shawty got low low low low low low low low&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Them baggy sweat pants&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
And the reeboxs with the straps (with the straps)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
She turned around and gave that big booty a slap (heeey)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
She hit the flo (she hit the flo)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Next thing u kno&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
Shawty got low low low low low low low low
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dtsiYSVdTzc/TwSKr_uAJdI/AAAAAAAAILA/wBrsDMvatNo/s1600/IMG_9266.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-dtsiYSVdTzc/TwSKr_uAJdI/AAAAAAAAILA/wBrsDMvatNo/s320/IMG_9266.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--VR0062x0Zk/TwSKrvWiEdI/AAAAAAAAIK0/zJksqLbN9dc/s1600/IMG_9260.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/--VR0062x0Zk/TwSKrvWiEdI/AAAAAAAAIK0/zJksqLbN9dc/s320/IMG_9260.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Satu hal yang biasanya pasti saat saya menjelajah daerah-daerah adalah lagu yang diusung selama perjalanan. Biasanya, angkutan daerah memutarkan lagu khas atau lagu pop dengan bahasa daerah setempat. Lagu Batak diputarkan di wilayah Tapanuli, lagu Timor diputarkan di angkutan di Kupang, lagu Toraja diputarkan di bus Mamasa – Toraja, dan lagu Minang diputar di Sumatera Barat tentunya. Kalau nggak memutarkan lagu daerah, biasanya lagu andalan mereka adalah lagu-lagu nostalgia era 1980-an hingga awal 1990-an. Yang paling hits tentu saja Broery Marantika, Ebiet G. Ade, Pance Pondaag, dan tentu saja karya-karya Rinto Harahap. Di luar dari kedua kategori ini, umumnya terdapat lagu pop Indonesia standard seperti ST12, Peter Pan, Ungu, Wali, hingga band-band yang namanya belum sekelas yang sudah disebut pertama tadi. Lainnya lagu pop, tentu anda bisa menebak donk : dangdut! Ya, walaupun nggak sepopuler ketiga kategori awal, namun di beberapa daerah terutama wilayah Jawa, dangdut masih menjadi pilihan (sampe pusing dengerin dangdut di pesisir pantura – dangdut yang dibawakan oleh band lokal namun diaransemen dengan musik house). 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zvSqdkTpY98/TwSLEpP-a4I/AAAAAAAAILM/Ndq2oocitUk/s1600/IMG_9264.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-zvSqdkTpY98/TwSLEpP-a4I/AAAAAAAAILM/Ndq2oocitUk/s320/IMG_9264.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nah, di perjalanan selepas Dolok Sanggul melintasi Lintong Nihuta dan menuju arah Siborong-borong, Sampri yang saya naiki sudah cukup kosong, hanya tinggal segelintir orang saja yang tersisa di dalamnya. Sang supir memacu kendaraannya dengan agak ngebut, melintasi jalanan super mulus yang minim kelokan, melintasi dataran yang cukup lebar dengan vegetasi yang tidak terlalu rimbun di kiri dan kanan jalan. Sesekali, kuburan ala Batak muncul dan menjulang di dataran kiri dan kanan jalan. Tiba-tiba saja, sang supir memutarkan lagu T-Pain feat Flo Rida – Low dengan lirik seperti yang saya tulis di atas. Hahahaha. Saya langsung lirik-lirikkan dengan teman saya dan ya sudahlah, kita asyik sendiri di atas mobil sambil menggoyangkan badan mengikuti irama lagu hip hop ini. Saya pikir Shania Twain sudah paling hits di kapal penyebrangan Tomok – Ajibata. Ternyata, ada yang lebih hits lagi di jalur Lintong Nihuta – Siborong-borong. T-Pain dan Flo Rida pastinya. Hohohoho. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-0TDaNXXKI6I/TwSLNms5EVI/AAAAAAAAILY/hscAICRDhO8/s1600/IMG_9265.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-0TDaNXXKI6I/TwSLNms5EVI/AAAAAAAAILY/hscAICRDhO8/s320/IMG_9265.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sang supir memacu kendaraannya dengan ukuran yang menurut saya agak gila-gilaan. Memang sich jalanan super sepi dan posisi jalan yang berada di dataran membuat sang supir bisa dengan leluasa melihat ke segala arah. Walau demikian, terkadang ada belok-belokan kecil yang tidak terlihat dimana ujungnya, termasuk jalanan naik dan turun yang membuat saya agak khawatir. Amankah? Duh, saya jadi memegang pegangan angkot keras-keras, walau tetap bergoyang mengikuti irama lagu hip-hop di dalam angkutan yang melaju keras. Nah, saya menunggu nih, lagu apakah yang akan dibawakan berikutnya dari tape yang ada di dalam Sampri tersebut. Sayangnya, entah memang sang supir hanya menyukai lagu itu saja, atau dia kebetulan belum mengunduh lagu-lagu lainnya, alhasil, lagu berikutnya adalah lagu-lagu nostalgia di era 1980-an dan berlanjut lagu pop Indonesia. Selesailah sudah ajojing saya dan teman saya di dalam Sampri yang menuju Siborong-borong. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-38226095381775012?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TEcYMpr5xNTsgwTn68CrllGHTyE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TEcYMpr5xNTsgwTn68CrllGHTyE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TEcYMpr5xNTsgwTn68CrllGHTyE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/TEcYMpr5xNTsgwTn68CrllGHTyE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/jbMICKdNjlM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/38226095381775012/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-flo-rida-feat-t-pain-with-low.html#comment-form" title="10 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/38226095381775012?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/38226095381775012?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/jbMICKdNjlM/sisi-lain-flo-rida-feat-t-pain-with-low.html" title="Sisi Lain : Flo Rida Feat T-Pain With Low To The Siborong-borong" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_mHNOL7ESVGc/TTXth1zCEqI/AAAAAAAACdQ/oxQ7nxsAY4g/s72-c/florida%253Dzackylicioustuff.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>10</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/sisi-lain-flo-rida-feat-t-pain-with-low.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYGRH4_eSp7ImA9WhRWFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-4134378392728410833</id><published>2012-01-03T23:12:00.000+07:00</published><updated>2012-01-03T23:12:05.041+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-03T23:12:05.041+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Bertarung Dengan Daging Di Dolok Sanggul</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tdT2CjKfUFk/TwMn9nxRyZI/AAAAAAAAIKQ/bU9Ki76_tpE/s1600/IMG_9246.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-tdT2CjKfUFk/TwMn9nxRyZI/AAAAAAAAIKQ/bU9Ki76_tpE/s320/IMG_9246.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sebenarnya, Dolok Sanggul serupa dengan &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2010/03/hampir-makan-kuda-di-jeneponto.html"&gt;Jeneponto&lt;/a&gt;, terkenal akan masakan daging kuda-nya. Sayangnya, waktu terlampau singkat dan saya kelamaan mengamati dan berfoto-foto pemandangan di sekitar Dolok Sanggul. Akibatnya, dalam waktu yang lebih singkat lagi, saya harus memutuskan untuk makan dimana saja dengan resiko Sampri yang kami tumpangi akan segera berangkat. Sebelum memilih salah satu rumah makan, saya menghampiri salah seorang penumpang yang makan di Rumah Makan Pribumi dan bertanya apakah kendaraan masih akan menunggu kami? Bapak tersebut mengatakan agar kami makan saja dan jangan kuatir, nanti akan dipanggil. Yah, nggak mencari jauh-jauh, akhirnya saya memilih Rumah Makan Pribumi sebagai lokasi makan siang kami.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-1st5_YqJuMo/TwMoM1Ub-PI/AAAAAAAAIKc/v-xuiRRgOv4/s1600/IMG_9256.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-1st5_YqJuMo/TwMoM1Ub-PI/AAAAAAAAIKc/v-xuiRRgOv4/s320/IMG_9256.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya duduk di dalam rumah makan yang tampak jadul tersebut. Mejanya, kursinya, dindingnya, semuanya seakan membawa saya beberapa puluh tahun ke belakang. Hampir semuanya bernuansa kayu yang sudah pudar dimakan jaman. Bingung akan disajikan apa, tanpa basa-basi pramusaji menyajikan nasi, sebentuk daging, dan satu mangkok sup. Kayaknya cuma ada satu menu saja deh di tempat ini. Saya nggak tahu itu daging apa dan nggak tahu itu sup apa, kemungkinan sich sup daun labu karena bentuknya serupa dengan sup yang saya makan di Robema, Tomok. Saya nggak sempat berbincang-bincang dengan pramusaji karena segera bertarung dengan daging yang luar biasa keras tersebut. Sendok dan garpu yang saya gunakan sampai bengkok sehingga saya memutuskan untuk menggunakan tangan dan gigi. Krauk! Saya sampai khawatir daging ini akan membuat saya sakit perut saking keras dan alotnya. Hehehehe. Daging ini keras, dengan kuah yang menyelimutinya serupa semur karena rasanya manis. Saya harus mengorbankan tangan saya belepotan memegang daging agar bisa digigit. Tentu, saya jadi nggak bisa bebas memegang kamera lantaran tangan saya belepotan bertarung dengan daging. Hihihi. Sementara sayurnya, sama persis seperti yang saya rasakan di Robema, ada aroma tertentu namun rasanya hambar. Sayur labu memang harus disajikan dingin tampaknya.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-n5r83qNNBGk/TwMoYzwm4DI/AAAAAAAAIKo/l52q90II7po/s1600/IMG_9254.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-n5r83qNNBGk/TwMoYzwm4DI/AAAAAAAAIKo/l52q90II7po/s320/IMG_9254.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Rumah makan ini terbuat dari kayu, tipikal rumah lama gaya Sumatera yang dibangun dan disusun dari papan-papan. Foto-foto pemilik dipajang di tempat ini, saya bisa membaca salah satunya : keluarga marga Munthe, boru Simatupang dan boru Sihombing. Terima kasih untuk Bapak Lamsar Simanullang, asli Dolok Sanggul yang sudah menjelaskan kepada saya mengenai beda antara “marga” dengan “boru”. Info saja, marga digunakan untuk laki-laki dan boru digunakan untuk perempuan. Sayang, saya nggak sempat berbincang panjang dengan pramusaji atau pemilik warung tentang makanan yang saya makan karena mereka tampak sibuk melayani tamu. Sedang berusaha mencari waktu yang cocok, tiba-tiba saja penumpang yang tadi kami tanyai memanggil kami dan mengatakan bahwa Sampri sudah siap berangkat. Kyaaaaa. Alhasil, saya nggak menghabiskan daging entah-apapun-itu yang tersaji di atas meja makan saya. Nasi merahnya pun nggak saya habiskan lantaran takut ditinggal Sampri. Hihihi. Untuk standard Dolok Sanggul dan selama di Sumatera Utara, saya rasa makanan ini tergolong mahal karena untuk nasi merah, daging, dan sup daun labu, ditambah air putih sepuasnya, satu orang dikenakan biaya Rp. 17.500. Cukup mahal apalagi daging dan nasinya nggak habis. Hiks.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-4134378392728410833?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6UGavvTNu7oo8mg21EppT0TKiT8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6UGavvTNu7oo8mg21EppT0TKiT8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6UGavvTNu7oo8mg21EppT0TKiT8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/6UGavvTNu7oo8mg21EppT0TKiT8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/oI3ioaym0BU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/4134378392728410833/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/bertarung-dengan-daging-di-dolok.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4134378392728410833?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4134378392728410833?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/oI3ioaym0BU/bertarung-dengan-daging-di-dolok.html" title="Bertarung Dengan Daging Di Dolok Sanggul" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-tdT2CjKfUFk/TwMn9nxRyZI/AAAAAAAAIKQ/bU9Ki76_tpE/s72-c/IMG_9246.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/bertarung-dengan-daging-di-dolok.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8MRH0-cSp7ImA9WhRWFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-4334403221850963445</id><published>2012-01-02T18:14:00.001+07:00</published><updated>2012-01-02T18:14:45.359+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-02T18:14:45.359+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Gunung Berkonde, Si Dolok Sanggul</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-nd7-bOo8doQ/TwGRV92V33I/AAAAAAAAIJg/r_M9iv9K7bg/s1600/IMG_9251.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-nd7-bOo8doQ/TwGRV92V33I/AAAAAAAAIJg/r_M9iv9K7bg/s320/IMG_9251.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya nggak berhenti lama di Dolok Sanggul. Setelah jalanan yang terus menurun dari Tele melewati hutan dan rerimbunan tanaman di jalur beraspal yang bagus lewat, Sampri yang saya naiki mulai memasuki wilayah pemukiman dan toko-toko. Tujuan akhir saya sebenarnya adalah Kota Tarutung, Ibukota Tapanuli Utara yang masih kurang lebih 80 menit perjalanan ke arah selatan. Namun, Sampri yang saya naiki melambat ketika memasuki Kota Dolok Sanggul dan akhirnya, tanpa saya duga, berbelok di depan Hotel Asima, dan parkir. Orang di belakang saya sampai menggumamkan kata “makan” kepada saya yang bengong dan tidak membuka kursi untuk mereka lewat. Hahaha. Barulah saya tersadar dari bengongnya saya dan buru-buru turun untuk memberikan kesempatan bagi orang di belakang untuk turun. Ooo…jadi kita berhenti di Dolok Sanggul untuk makan toh? Padahal perjalanan masih nanggung. Satu jam lagi kita akan tiba di Tarutung. Tapi, ya, mungkin sang supir sudah lelah. Jadi ikut saja lah.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-5ZERQYbByUc/TwGReFv7jyI/AAAAAAAAIJs/a0DEcy4Vkyg/s1600/IMG_9236.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-5ZERQYbByUc/TwGReFv7jyI/AAAAAAAAIJs/a0DEcy4Vkyg/s320/IMG_9236.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-K600QrqpDCc/TwGReEHNFEI/AAAAAAAAIJ0/vUuil_BKRlM/s1600/IMG_9248.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-K600QrqpDCc/TwGReEHNFEI/AAAAAAAAIJ0/vUuil_BKRlM/s320/IMG_9248.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Tampaknya saya turun tepat di tengah-tengah Dolok Sanggul. Secara harafiah, Dolok artinya gunung atau bukit, sementara Sanggul artinya sanggul atau konde. Jadi, Dolok Sanggul artinya gunung berkonde. Entah ya, saya sich nggak melihat adanya bagian gunung yang berkonde yang cukup jelas di wilayah ini. Namun, secara umum Dolok Sanggul memang berada di dataran tinggi. Konon, pada malam hari Dolok Sanggul amat dingin, benar-benar berbeda dengan yang saya rasakan pada siang hari : panas menyengat. Dalam sekejab, saya langsung nggak betah berada di kota ini karena gerah-nya. Berada di tengah-tengah keramaian pasar, saya benar-benar merasa bahwa Dolok Sanggul adalah kota perniagaan. Disana sini didominasi oleh warung makan, perusahaan otobus lintas kota, toko barang keperluan sehari-hari mulai dari makanan, elektronik, kosmetik, hingga pakaian. Walau ramai, namun bangunan yang mereka gunakan tergolong sudah cukup lama berdiri. Mayoritas bangunan yang saya amati adalah bangunan papan khas Sumatera, walaupun beberapa bangunan baru telah menggunakan material batu bata dan kayu yang lebih modern. Keunikan tampak pada bagian pucuk atap yang mengadopsi arsitektur Batak Toba. Atap lancip dengan bentuk seperti pelana kuda pada bagian punggung atap mendominasi bangunan di tempat ini walaupun fondasi dasarnya sudah bukan merupakan bangunan tradisional lagi. Soal makanan, teman-teman yang muslim nggak perlu khawatir karena terdapat sejumlah rumah makan muslim walaupun penduduk Dolok Sanggul mayoritas beragama nasrani. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-RYFngGyZkL0/TwGRjP6E_hI/AAAAAAAAIKE/b4o-V3Zs-Gw/s1600/IMG_9242.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-RYFngGyZkL0/TwGRjP6E_hI/AAAAAAAAIKE/b4o-V3Zs-Gw/s320/IMG_9242.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Baru di Dolok Sanggul ini saya melihat ada banyak jenis angkutan lain selain Sampri (dan Pulo Samosir Nauli) yang sudah sangat umum saya naiki. Mungkin karena sudah keluar dari wilayah Samosir, makanya angkutannya sudah berbeda kali yach? Dua angkutan yang cukup mencolok adalah Humbang Jaya dan Sitra. Beberapa jenis angkutan lainnya menggunakan inisial yang saya nggak tahu kepanjangannya. Hehehe. Soal becak motor yang banyak berseliweran di kota ini, secara fisik menyerupai becak motor di Pangururan, hanya saja bertutup dan bentuknya lebih manis karena banyak lengkungnya. Sayang, sekali lagi saya nggak bisa berlama-lama di kota ini karena Sampri yang saya tumpangi akan melanjutkan perjalanan kembali ke selatan. Pilihannya hanya makan di Dolok Sanggul, atau menunggu entah Sampri berhenti dimana lagi, baru melakukan makan siang. Makan dimana yach?
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-4334403221850963445?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksxzU5-UYcI_5IolbqglJc3UxFE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksxzU5-UYcI_5IolbqglJc3UxFE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksxzU5-UYcI_5IolbqglJc3UxFE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ksxzU5-UYcI_5IolbqglJc3UxFE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/BI6fXkLaWDo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/4334403221850963445/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/gunung-berkonde-si-dolok-sanggul.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4334403221850963445?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4334403221850963445?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/BI6fXkLaWDo/gunung-berkonde-si-dolok-sanggul.html" title="Gunung Berkonde, Si Dolok Sanggul" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-nd7-bOo8doQ/TwGRV92V33I/AAAAAAAAIJg/r_M9iv9K7bg/s72-c/IMG_9251.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/gunung-berkonde-si-dolok-sanggul.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUEMRHY8eip7ImA9WhRWFE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-7897384862578524726</id><published>2012-01-02T00:08:00.000+07:00</published><updated>2012-01-02T00:08:05.872+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-02T00:08:05.872+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Selamat Datang Di Humbang Hasundutan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dA5q6AuIgbU/TwCSKfYWChI/AAAAAAAAII8/rSl20_DcqJc/s1600/IMG_9229.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-dA5q6AuIgbU/TwCSKfYWChI/AAAAAAAAII8/rSl20_DcqJc/s320/IMG_9229.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Namanya unik yah? Humbang Hasundutan, begitu namanya, mungkin nggak terlalu banyak dikenal penduduk Indonesia atau turis pada umumnya. Hal ini mungkin saja terjadi karena menilik posisinya yang berada di tepian barat daya Danau Toba, hampir tidak memiliki objek wisata yang cukup besar yang bisa menjadi magnet utama turis. Padahal, salah satu kota kecamatannya, Lintong Nihuta atau yang biasa dikenal sebagai Lintong, adalah salah satu produsen kopi berkualitas di Indonesia, disejajarkan dengan kopi Kintamani, kopi Kalosi, kopi Gayo, kopi Ruteng, kopi Mandailing, kopi Wamena, dan kopi Losari. Namun, nama Humbang Hasundutan seakan-akan tenggelam di bawah bayang-bayang Lintong Nihuta. Walaupun potensi yang dimiliki sebenarnya cukup banyak dan wilayahnya terletak pada dataran tinggi, kenyataannya belum banyak objek wisata yang dimaksimalkan sebagai tujuan wisata. Pada saat kunjungan, saya melihat Humbang Hasundutan lebih berorientasi pada kegiatan perdagangan dan jasa alih-alih pariwisata. Tidak ada hal-hal berbau etnik atau budaya cukup menonjol disini (saya membayangkan sebuah Ruma Bolon atau museum Batak koleksi pribadi sederhana). Jumlah hotel yang terlihat dan tampak pun belum bisa dibilang menggembirakan. Walaupun alamnya sebenarnya cantik (terutama dengan area yang bersentuhan langsung dengan Danau Toba di sudut sebelah timur laut), namun tidak ada unsur yang benar-benar “wah” yang membuat orang serius ingin menjadikan Humbang Hasundutan sebagai tujuan wisata utama. Istilah kasarnya, kayaknya lebih menarik kalau lanjut ke Balige, Tarutung, Sidikalang, atau Pangururan karena lebih banyak yang bisa dilihat.   
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-YWRlLiSnyiE/TwCSUg8Kc3I/AAAAAAAAIJI/XoLngmxdbgg/s1600/IMG_9237.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-YWRlLiSnyiE/TwCSUg8Kc3I/AAAAAAAAIJI/XoLngmxdbgg/s320/IMG_9237.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Humbang Hasundutan yang baru mekar pada tahun 2003 dari &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tapanuli_Utara"&gt;Tapanuli Utara&lt;/a&gt; sebenarnya adalah wilayah lama yang dileburkan dan dimekarkan kembali. Dahulu, pada jaman Karesidenan Tapanuli, ada sejumlah wilayah Afdeling atau yang sekarang kita kenal sebagai kabupaten. Afdeling Batak Landen adalah wilayah yang kita kenal sekarang sebagai wilayah Tapanuli Utara, mencakup Silindung (sekitar Tarutung), Humbang Hasundutan, Toba, Samosir, dan Dairi. Di bawah Afdeling Tapanuli, ada sejumlah Onder Afdeling yang salah satunya adalah Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba yang sekarang dikenal dengan Onder Afdeling Humbang Hasundutan (hanya saja waktu itu beribukota di Siborong-borong). Onder Afdeling bukanlah wilayah kecamatan karena pada masa sekarang, Onder Afdeling ini menjadi kabupaten-kabupaten baru, dimana salah satunya mekar menjadi kabupaten Humbang Hasundutan.  Kabupaten Tapanuli Utara sendiri diresmikan pada tahun 1945 dan hingga kini telah mengalami pemekaran berkali-kali hingga melahirkan anak dan cucu, salah satunya adalah &lt;a href="http://iannnews.com/ensiklopedia.php?prov=4&amp;amp;kota=32"&gt;Kabupaten Humbang Hasundutan&lt;/a&gt; yang berdiri pada tahun 2003.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-4qa7a2XrisM/TwCSwQ2va7I/AAAAAAAAIJU/gEi8KvfKiL4/s1600/IMG_9267.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-4qa7a2XrisM/TwCSwQ2va7I/AAAAAAAAIJU/gEi8KvfKiL4/s320/IMG_9267.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tidak ada sesuatu yang cukup khas yang saya bisa ingat cukup lama mengenai Humbang Hasundutan selain namanya yang unik. Kota terbesarnya, Dolok Sanggul biasa dilintasi oleh angkutan yang pergi dan pulang menuju Pangururan, Medan, Sidikalang, Tarutung, hingga Sibolga. Jalan terbesar dan terpanjang di kabupaten ini adalah Jalan Siliwangi yang sudah beraspal mulus. Hmm...sayang sekali, padahal saya rasa penamaan “Siliwangi” nggak berdasarkan kearifan dan kebudayaan lokal setempat. Akan lebih baik kalau jalan ini diberi nama Jalan Sisingamangaraja mengingat bahwa pahlawan nasional dari Tano Batak itu, Sisingamangaraja XII berasal dari kabupaten ini, tepatnya di &lt;a href="http://tanobatak.wordpress.com/2008/03/03/bakkara-kelahiran-sang-raja/"&gt;Tombak Sulu-Sulu, Bakkara&lt;/a&gt;. Sayangnya lagi, Jalan Sisingamangaraja sudah dipakai di kawasan lain di Humbang Hasundutan ini. hehehe. Kali lain saya ke tempat ini, saya mungkin akan berkunjung ke Desa Tombak Sulu-Sulu, mencoba &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negeri_Bakkara"&gt;Aek Sipangolu&lt;/a&gt;, dan meminum kopi Lintong.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-7897384862578524726?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1jYh8e_XaFymGtZopsXYYjjUDWQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1jYh8e_XaFymGtZopsXYYjjUDWQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1jYh8e_XaFymGtZopsXYYjjUDWQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1jYh8e_XaFymGtZopsXYYjjUDWQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/rjucs9jkwyg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/7897384862578524726/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/selamat-datang-di-humbang-hasundutan.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/7897384862578524726?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/7897384862578524726?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/rjucs9jkwyg/selamat-datang-di-humbang-hasundutan.html" title="Selamat Datang Di Humbang Hasundutan" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-dA5q6AuIgbU/TwCSKfYWChI/AAAAAAAAII8/rSl20_DcqJc/s72-c/IMG_9229.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2012/01/selamat-datang-di-humbang-hasundutan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQDQHg6eyp7ImA9WhRWEks.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-8559616151836647328</id><published>2011-12-30T23:26:00.001+07:00</published><updated>2011-12-30T23:26:11.613+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-30T23:26:11.613+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Mendaki Bukit Tele Dan Turun Ke Dolok Sanggul</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Af-nLWitB-0/Tv3laZ7NA2I/AAAAAAAAIIM/vUjNlMABMPs/s1600/IMG_9218.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-Af-nLWitB-0/Tv3laZ7NA2I/AAAAAAAAIIM/vUjNlMABMPs/s320/IMG_9218.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kata Orang Batak, hidup ini terkadang Naek Tobing, terkadang Manurung. Sagala Butar-Butar ada. Hehehe. Joke ringan a la Tano Batak aja sich. Namun, dari ketinggian Menara Pandang Tele, jalan yang akan saya lalui menuju Dolok Sanggul adalah Manurung. Ya, terus mengulir naik dan akhirnya melandai lurus dan turun. Perjalanan menuju Dolok Sanggul ditempuh dalam waktu satu jam untuk jarak sekitar 40 KM. Di bagian perjalanan ini, walaupun jalur masih berada di tepian Danau Toba, namun secara kasat mata, danau tersebut sudah tidak terlihat lagi dari sisi ini. Jalan raya negara yang menghubungkan Tele – Dolok Sanggul dibuat terlalu jauh dari tepian danau. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8jLkdyoxDT0/Tv3lpp49ERI/AAAAAAAAIIY/CI_YLxCNWRs/s1600/IMG_9220.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-8jLkdyoxDT0/Tv3lpp49ERI/AAAAAAAAIIY/CI_YLxCNWRs/s320/IMG_9220.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nggak jauh dari Menara Pandang Tele, terdapatlah sebuah pertigaan besar yang menghubungkan Pangururan, Tele, Sidikalang, dan Dolok Sanggul. Kalau saja Sampri yang saya naiki berbelok ke kanan, pasti keseluruhan ceritanya nggak seperti ini. Blog ini bakalan nyambung sama Mas Tri Wijanarko yang berjalan dari Sidikalang. Hehehe. Jadi, Sampri yang saya naiki berbelok ke kiri, menuju Ibukota Humbang Hasundutan, Dolok Sanggul. Sisa jalan meliuk dan berkelok-kelok sudah tinggal sedikit. Mayoritas sisa dari perjalanan rute ini adalah jalanan hampir lurus yang secara umum menurun. Ya, kita meninggalkan ketinggian Tele untuk menuju Dolok Sanggul, dari 1800 mdpl menuju 1400 mdpl. Walaupun menurut saya Dolok Sanggul sudah panas, kenyataannya, kota ini berada pada ketinggian 1400 mdpl, jauh lebih tinggi dari Pangururan yang ‘Cuma’ 1000 mdpl.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-yaBzHL0LuX4/Tv3l-qxeqvI/AAAAAAAAIIs/DwJv1qZvXvg/s1600/IMG_9223.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-yaBzHL0LuX4/Tv3l-qxeqvI/AAAAAAAAIIs/DwJv1qZvXvg/s320/IMG_9223.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-8WUYkKWAeso/Tv3l-iVi6BI/AAAAAAAAIIk/OW7cqbtceBw/s1600/IMG_9219.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-8WUYkKWAeso/Tv3l-iVi6BI/AAAAAAAAIIk/OW7cqbtceBw/s320/IMG_9219.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sampri yang kami naiki dari Tele ternyata sudah cukup penuh. Sempat saya ragu apakah tetap akan lanjut atau menunggu Sampri berikutnya. Namun, keraguan kami terbaca oleh supir Sampri tersebut. Ia kemudian turun dari kendaraan, menanyakan tujuan kami dan kemudian segera membantu kami untuk menata barang-barang di Samprinya, walau kami masih ragu-ragu. Benar-benar pelayanan yang privat, personal, dan menyentuh dech. Hahaha. Mungkin memang sudah jalannya kali yach? Kalau nggak dipaksa begini, kayaknya kami bakalan menunggu Sampri terus hingga sore dan baru sadar bahwa rata-rata Sampri yang melewati rute ini biasanya penuh. Toh, saya juga harus mengejar waktu kan? Alhasil, saya dan rekan saya terpisah dan harus duduk nyempil memenuhi slot kursi yang kosong. Pemandangan sepanjang jalan keluar dari Tele masih luar biasa, namun begitu melewati pertigaan Dolok Sanggul – Pangururan – Sidikalang, jalanan mulai hampir lurus dan pemandangannya sudah mulai monoton. Jalanan yang tergolong mulus, dengan hutan sekunder di kiri dan kanan lama kelamaan membuat saya mengantuk dan tertidur selang beberapa saat. Hal ini ditambah dengan supir Sampri yang hobinya menginjak gas (sampai saya yakin Sampri ini nggak ada pedal rem-nya) dan posisi saya berada di pinggir yang membuat saya ditampar bolak balik oleh angin pegunungan. Apalagi hujan agak rintik-rintik nanggung membuat segalanya semakin mendukung. Hihihi. Nggak heran, tidur menjadi agenda utama saya di jalur ini. Selang beberapa saat kemudian saya terbangun ketika menjumpai areal lapangan terbuka diantara hutan-hutan, tertidur kembali dan terbangun ketika sudah mulai memasuki wilayah Humbang Hasundutan.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-8559616151836647328?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/69WdPmXKJO5IrelRNLwwpbMugaA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/69WdPmXKJO5IrelRNLwwpbMugaA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/69WdPmXKJO5IrelRNLwwpbMugaA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/69WdPmXKJO5IrelRNLwwpbMugaA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/1h21KtJBRnw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/8559616151836647328/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/mendaki-bukit-tele-dan-turun-ke-dolok.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8559616151836647328?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8559616151836647328?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/1h21KtJBRnw/mendaki-bukit-tele-dan-turun-ke-dolok.html" title="Mendaki Bukit Tele Dan Turun Ke Dolok Sanggul" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-Af-nLWitB-0/Tv3laZ7NA2I/AAAAAAAAIIM/vUjNlMABMPs/s72-c/IMG_9218.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/mendaki-bukit-tele-dan-turun-ke-dolok.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE8GRn8-fyp7ImA9WhRWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-5611022515569785256</id><published>2011-12-29T17:00:00.000+07:00</published><updated>2011-12-29T17:00:27.157+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-29T17:00:27.157+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Warung Makan Dan Museum Numismatik Satu-Satunya Di Desa Tele</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-R-MGsiSqHZs/Tvw5LBMi9CI/AAAAAAAAIHE/qRQXs4hkCEw/s1600/IMG_9196.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-R-MGsiSqHZs/Tvw5LBMi9CI/AAAAAAAAIHE/qRQXs4hkCEw/s320/IMG_9196.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Warung makan ini mungkin satu-satunya warung yang berada di Desa Tele (hmm…desa? Saya nggak lihat adanya hunian lain selain warung makan dan pondok berjaga ini di seputaran Tele…). Lokasinya sedikit banyak mengingatkan saya akan &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2010/09/di-ketinggian-tinimbayo-tana-toraja.html"&gt;Tinimbayo&lt;/a&gt;, lokasi wisata di ketinggian Toraja Utara yang terletak di lereng Gunung Sesean. Walau nggak benar-benar mirip dengan pemandangan di &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2010/09/di-ketinggian-tinimbayo-tana-toraja.html"&gt;Tinimbayo&lt;/a&gt; (jelas, daratan di bawah &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2010/09/di-ketinggian-tinimbayo-tana-toraja.html"&gt;Tinimbayo&lt;/a&gt; dipenuhi Tongkonan dan Alang), namun komposisi tempat ini pas : satu tempat untuk melihat pemandangan dan satu-satunya warung makan yang berada entah berapa kilometer jauhnya dari warung terdekat lainnya. Selain memang bersifat mutualistis antara menara dan warung, keberadaan warung tentunya menguntungkan buat saya, terutama di jalur Pangururan – Dolok Sanggul yang sepi ini. Daripada bengong di pinggir jalan, makan, minum, sambil melihat-lihat sekeliling nggak jelek juga.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-6JXgYUWz29I/Tvw5Q56lz5I/AAAAAAAAIHQ/UcNqLUBgkKQ/s1600/IMG_9210.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-6JXgYUWz29I/Tvw5Q56lz5I/AAAAAAAAIHQ/UcNqLUBgkKQ/s320/IMG_9210.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Seperti halnya standar warung di pinggir jalan yang bermaksud untuk memanjakan para petualang yang lelah, haus, maupun lapar, warung ini menjual berbagai penganan umum seperti minuman teh, atau minuman ringan dalam kemasan, kopi hangat, snak ringan yang bisa dibawa-bawa (yang isinya cuma angin doank hihihi), dan permen. Ada pula sejumlah makanan unik yang saya jamin nggak bisa ditemui di tempat lain di Indonesia karena biasanya hanya diproduksi secara lokal saja dan didistribusikan tidak dalam skala luas. Contohnya adalah sebuah kue yang menarik perhatian saya dari namanya : Roti Ketawa. Secara fisik, roti ini nggak menimbulkan perasaan ajaib bagi saya, nggak beda jauh dengan roti-roti lokal yang biasa diproduksi masyarakat setempat. Namun, buat saya, namanya yang unik lah yang justru menarik perhatian saya. Bentuknya mirip croissant kecil yang dipadatkan dan ditaburi wijen pada bagian atasnya. Roti Ketawa ini keras, beda sama croissant yang kosong dan melesak ketika ditekan. Oh ya, Roti Ketawa Cap Bintang Terang ini diproduksi di Pematang Siantar. Cukup jauh juga loch wilayah jelajahnya mengingat roti ini bukanlah jenis roti yang bisa tahan cukup lama. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ig8QmOfUZ-8/Tvw6MPV_3II/AAAAAAAAIIA/Q1RQ0wtr908/s1600/IMG_9211.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-ig8QmOfUZ-8/Tvw6MPV_3II/AAAAAAAAIIA/Q1RQ0wtr908/s320/IMG_9211.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Memasuki warung ini, waktu serasa mundur beberapa puluh tahun ke belakang. Selain foto-foto sang pemilik yang sudah tampak jadul, warung ini juga memajang sejumlah foto orang-orang penting seperti Ludwig Ingwer Nommensen, rasulnya orang Batak berkebangsaan Jerman kelahiran Denmark yang menyebarkan Kristen ke penduduk Batak yang kala itu masih menganut Pelebegu. Foto Ompu Nommensen (begitu orang Batak memanggilnya) dan keluarganya tersebut bertanggal 1909 dan diambil di Sipoholon, satu kota yang terletak antara Siborong-borong dan Tarutung, masih terletak di Tapanuli Utara. Poster jadul lain yang langsung menarik mata saya adalah poster minuman bir hitam Anker Stout yang entah sudah dipasang dari tahun berapa. Hahaha. Nggak cuma warna posternya yang sudah pudar, namun desain poster dan minumannya sendiri pun sudah tidak pernah saya jumpai dalam keseharian saya. Entah dech kalau ada teman-teman yang masih menjumpai poster sejenis di lingkungannya. Adakah?
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-vOxcUQZ8KeE/Tvw5disUc2I/AAAAAAAAIHk/KBzRtS5Nv5A/s1600/IMG_9215.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-vOxcUQZ8KeE/Tvw5disUc2I/AAAAAAAAIHk/KBzRtS5Nv5A/s320/IMG_9215.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ouNsY6SXSq0/Tvw5dR8ukmI/AAAAAAAAIHc/ltX6do1zYL0/s1600/IMG_9213.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-ouNsY6SXSq0/Tvw5dR8ukmI/AAAAAAAAIHc/ltX6do1zYL0/s320/IMG_9213.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Nggak cuma warung makan dan minum serta tempat istirahat saja. Suatu kejutan yang menarik ternyata warung yang terletak di Desa Tele ini menyimpan koleksi mata uang Tapanuli dari jaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, hingga masa-masa awal kemerdekaan. Memang sich, koleksinya nggak banyak, namun museum mini ini membuat saya kagum karena benda koleksi yang ditampilkan masih cukup terawat walaupun nggak bisa dibilang sangat terawat. Yang menarik buat saya, adalah uang yang digunakan pada jaman pra-kemerdekaan dan masa penjajahan ternyata berbeda dengan yang kita kenal di Jawa, atau di belahan Indonesia lainnya. Uang yang ditampilkan disini jelas-jelas mencantumkan keterangan “mata uang Tapanuli” yang artinya hanya bisa dipakai selama anda berada di wilayah Tapanuli. Kalau misalnya saya mau ke Karesidenan Sumatera Timur seperti Labuhan Batu, Asahan atau Pematang Siantar, maka tampaknya peran money changer diperlukan disini. Hehehe. Saya nggak terlalu yakin bahkan, apakah money changer pada masa itu sudah ada atau belum. Hihihi. Repot juga yach? Walaupun uang atau alat pembayaran pada jaman itu masih sangat sederhana dari segi corak dan warna, namun saya cukup terkagum-kagum oleh kearifan lokal yang sudah diangkat oleh pemerintah setempat kala itu seperti memasukkan gambar burung rangkong, burung kakaktua jambul, hingga wayang orang. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-8L3bujUvfL4/Tvw5y_99OOI/AAAAAAAAIH0/njRU_88knV8/s1600/IMG_9204.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-8L3bujUvfL4/Tvw5y_99OOI/AAAAAAAAIH0/njRU_88knV8/s320/IMG_9204.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya senang berada di Desa Tele ini. Selain menikmati pemandangan yang indah dari ketinggian Menara Pandang Tele dan hawa sejuk yang luar biasa, saya juga bisa menikmati museum mini numismatik akan alat pembayaran yang sah di Karesidenan Tapanuli. Nggak cuma makan, minum, atau meluruskan kaki sejenak dan melihat pemandangan, warung ini menyediakan toilet yang bersih dan airnya dingin. Buat penggemar bebungaan, bersyukurlah karena pemilik warung ini nampaknya memang senang berkebun dan menanam bunga-bungaan khas pegunungan yang bentuk dan warnanya indah. Aneka baby breath, hibiscus, bougenville, dan keluarga duranta ditanam di sejumlah titik, baik di dalam pot maupun langsung di sepanjang lereng. Nggak terasa, sambil saya menunggu dan menikmati koleksi uang kertas jaman dahulu dan bebungaan, eh, Sampri-nya sudah datang untuk membawa saya ke kota berikutnya : Dolok Sanggul.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-5611022515569785256?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xu279dpramKrSOAMeQj64ZEqWCQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xu279dpramKrSOAMeQj64ZEqWCQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xu279dpramKrSOAMeQj64ZEqWCQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/xu279dpramKrSOAMeQj64ZEqWCQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/kbreojPd5kU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/5611022515569785256/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/warung-makan-dan-museum-numismatik-satu.html#comment-form" title="12 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/5611022515569785256?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/5611022515569785256?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/kbreojPd5kU/warung-makan-dan-museum-numismatik-satu.html" title="Warung Makan Dan Museum Numismatik Satu-Satunya Di Desa Tele" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-R-MGsiSqHZs/Tvw5LBMi9CI/AAAAAAAAIHE/qRQXs4hkCEw/s72-c/IMG_9196.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>12</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/warung-makan-dan-museum-numismatik-satu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYHSH49fyp7ImA9WhRWEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-6983890129463794561</id><published>2011-12-29T10:58:00.001+07:00</published><updated>2011-12-29T11:48:59.067+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-29T11:48:59.067+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Sisi Lain : Menara Pandang Tele Yang Terlantar</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-JX7h-4DGJ3Y/Tvvk47JCxpI/AAAAAAAAIFk/wXIh3_5zNAE/s1600/IMG_9174.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-JX7h-4DGJ3Y/Tvvk47JCxpI/AAAAAAAAIFk/wXIh3_5zNAE/s320/IMG_9174.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Objek wisata di Indonesia terutama yang dikelola oleh pemerintah umumnya hanya memiliki satu kondisi : rusak, kotor, nggak terurus, terabaikan, dan kurang perawatan. Upsss...itu ada 5 yach. Ehehehe. Memang sich, pendapatan utama objek wisata bergantung dari retribusi tiket masuk yang dipungut bagi setiap wisatawan yang datang berkunjung, sisanya dari subsidi pemerintah pusat ataupun lokal, tergantung instansi mana yang berwenang memegang objek wisata tersebut. Walau demikian, objek wisata besar nggak menjamin kondisinya sempurna. Sejumlah objek wisata yang terhitung cukup besar dan dikunjungi banyak turis pun terkadang mengalami nasib yang menyedihkan, kurang terurus, minim perawatan dan biasanya menjadi korban vandalisme dan ujung-ujungnya tampak kotor. Objek wisata besar dan terkenal saja bisa bernasib demikian, apalagi objek wisata kecil, jauh dari lalu lintas turis, sukar dijangkau, dan berada di tengah-tengah-entah-dimana pula!
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ox477H2ydV0/Tvvk8SU-HoI/AAAAAAAAIFw/XRkQ6QTbQz0/s1600/IMG_9176.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ox477H2ydV0/Tvvk8SU-HoI/AAAAAAAAIFw/XRkQ6QTbQz0/s320/IMG_9176.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ini yang saya rasakan ketika mengunjungi Panorama Indah Tele yang terkenal dengan Menara Pandang Tele-nya. Nggak usah jauh-jauh mengeksplorasi ke dalam sich, tulisan besar “Menara Pandang Tele” dan di bawahnya “Kabupaten Samosir” saja terlihat kotor, lusuh dan sangat butuh untuk dicat ulang. Padahal, Kabupaten Samosir baru berdiri tahun 2003. Namun, kondisi lusuhnya papan nama tersebut membuat si papan terlihat seumuran dengan si menara yang terbangun pada tahun 1988. Masuk ke dalam menara, saya bisa melihat bahwa tangan masyarakat kita terkenal dengan “kreatifitas tinggi”-nya namun salah tempat. Sejumlah bagian pilar dinding terkena coretan kreatif hasil karya anak negeri ini dengan aneka macam tulisan yang menegaskan bahwa mereka, kisah cinta dan asmara mereka, klub mereka, geng mereka, sekolah mereka atau apapun itu pernah berada di Menara Pandang Tele. Biar eksis ya, bo! Harusnya PemKab Samosir membuat Walk Of Fame bagi mereka yang berkunjung ke menara ini. Alih-alih mencorat-coret dinding, mereka bisa menulis sesuatu atau mencap tangan mereka di atas semen untuk kemudian diabadikan dalam bentuk prasasti. Ide yang bagus, bukan?
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_ml6fi63XF4/TvvlIOBB3lI/AAAAAAAAIF8/Q8BBVzRjjwE/s1600/IMG_9183.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-_ml6fi63XF4/TvvlIOBB3lI/AAAAAAAAIF8/Q8BBVzRjjwE/s320/IMG_9183.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Selain vandalisme tak bertanggung jawab, bagian dalam menara memang cukup menunjukkan usia dan kelapukkannya seperti plafon yang lembab dan lapuk, berjamur, terkena vandalisme (lagi), hingga cat yang termakan usia. Sejumlah bekas tempelan brosur iklan pun tampak terlihat di sejumlah sudut plafon. Di setiap lantai menara sebenarnya ada sebuah aula kecil di tengah-tengah bangunan guna pengunjung bisa mengamati pemandangan tanpa terkena hembusan angin atau terik matahari (apabila ada). Namun, pada lantai satu, pintu masuk aulanya ternyata rusak, gagangnya hilang, dan hanya diganjal dengan menggunakan sebentuk kawat. Tanpa perlawanan berarti, saya dorong pintu tersebut dan pintu tersebut terbuka lebar memperlihatkan isi dari aula kecil tersebut. Pintu tersebut pun sudah tidak terlalu utuh karena dari sela-sela pintu, saya bisa melihat tembus ke sisi aula yang lain. Yah, memang sich, dengan kunjungan wisatawan yang sangat sedikit dan biaya retribusi masuk yang hanya Rp. 2.000 per orang, tampaknya menara ini tidak bisa berbuat apa-apa. Semangkuk bakso saja harganya Rp. 5.000! Saya yakin, Rp. 2.000 tersebut tidak disetorkan sebagai penerimaan tiket masuk objek wisata (nggak ada tiket yang disobek juga), namun lebih dilihat kepada : upah menjaga menara. Wajar banget sich kalau saya pikir-pikir ini sebagai imbalan atas mereka melakukan kerja secara swadaya. Usaha pembersihan menara walau nggak rutin dilakukan setiap hari pun mungkin merupakan upaya swadaya mereka sendiri. Jadi yah, sangat wajar kalau penerimaan tersebut tidak disetorkan lebih lanjut. Pekerjaan Rumah PemKab Samosir yang lebih penting daripada sekedar menagih retribusi yang saya yakin nggak seberapa tersebut adalah meramaikan jalur wisata Sidikalang atau Dolok Sanggul – Pangururan. Ajak wisatawan untuk melihat Danau Toba dari sisi yang berbeda dan jadikan sebuah paket wisata. Bukan ide yang sulit mengingat mereka bisa pameran disana-sini, hingga keluar negeri. Apa iya, negeri ini hanya jago berbicara saja namun payah dalam hal pelaksanaan? Loch, koq saya jadi komplain begini? Hahaha.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-6983890129463794561?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nCerXqeC_Vt8PKSd8a33G9hz74M/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nCerXqeC_Vt8PKSd8a33G9hz74M/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nCerXqeC_Vt8PKSd8a33G9hz74M/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nCerXqeC_Vt8PKSd8a33G9hz74M/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/IHHKoNuWSX0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/6983890129463794561/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menara-pandang-tele-yang-terlantar.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6983890129463794561?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6983890129463794561?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/IHHKoNuWSX0/menara-pandang-tele-yang-terlantar.html" title="Sisi Lain : Menara Pandang Tele Yang Terlantar" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-JX7h-4DGJ3Y/Tvvk47JCxpI/AAAAAAAAIFk/wXIh3_5zNAE/s72-c/IMG_9174.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menara-pandang-tele-yang-terlantar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0QEQXc7fCp7ImA9WhRWEU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-2317134585569462882</id><published>2011-12-28T15:28:00.000+07:00</published><updated>2011-12-29T13:15:00.904+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-29T13:15:00.904+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Menara Pandang Tele Di Ketinggian Harian</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3d5SzePYGHI/TvrR8n6Yd1I/AAAAAAAAIEE/CljmeBAOQRI/s1600/IMG_9160.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-3d5SzePYGHI/TvrR8n6Yd1I/AAAAAAAAIEE/CljmeBAOQRI/s320/IMG_9160.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di salah satu belokan yang terus menanjak mengarah ke puncak, disanalah, sebongkah, sebentuk menara berada, tepat di sisi kiri jalan. Unik dan sekaligus aneh melihat menara setinggi itu di tengah-tengah gunung yang saya yakin populasinya sangat sedikit ini. Namun, itulah dia Menara Pandang Tele yang saya tuju. Tidak ada tanda-tanda spesifik yang menyatakan bahwa saya akan segera tiba di menara tersebut, hanya ketekunan melihat kondisi jalan dan lingkungan sekeliling yang membuat saya yakin bahwa saya sudah sampai di tempat yang dituju. Tidak juga dengan Lae, sang supir yang telah saya pesan sebelumnya untuk menurunkan saya di Tele. Jauh panggang dari api, ia tidak terlihat akan menurunkan kecepatannya sama sekali. Akhirnya, saya memberhentikan Sampri tersebut agar saya bisa menikmati Menara Pandang Tele ini. Sempat terbersit dalam pikiran saya, “jangan-jangan ini menara pertama, atau kedua dan ada satu menara lagi makanya si Lae tidak mau memberhentikan kendaraannya”. Maklum, mengingat pengalaman saya di &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2009/09/melihat-kota-padang-dari-ketinggian-di.html"&gt;Sitinjau Lauik&lt;/a&gt;, ternyata ada dua gazebo pandang dengan posisi salah satu gazebo lebih tinggi dan lebih memiliki pemandangan yang luar biasa. Nggak mau salah, saya sempatkan dahulu donk bertanya kepada sang supir, namun sayangnya jawaban yang diberikan nggak jelas atau dia nggak terlalu memahami maksud pertanyaan saya. Daripada ribet dan ujung-ujungnya terlewat, saya akhirnya memberhentikan Sampri yang saya tumpangi dan membayar biaya perjalanan dari Pangururan sebesar Rp. 15.000 untuk 22 KM dengan medan rusak, sempit, dan menanjak dalam waktu 30 menit.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-892jAjZLn2g/TvrSJXv7m_I/AAAAAAAAIEQ/d-emaSWD0n4/s1600/IMG_9178.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-892jAjZLn2g/TvrSJXv7m_I/AAAAAAAAIEQ/d-emaSWD0n4/s320/IMG_9178.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya baru tahu bahwa jalur yang baru saja saya lewati adalah jalur yang terkenal rawan sehubungan dengan sempitnya badan jalan, medan jalan yang berbatu-batu dan kondisi yang terus menanjak. Ini menjelaskan mengapa lintas barat Samosir sangat jauh dari hingar bingar turis. Kendaraan yang melewati tempat ini bisa dihitung dengan jari dan kebanyakan merupakan Sampri yang beroperasi antara Sidikalang atau Dolok Sanggul menuju Pangururan. Mencapai Menara Pandang Tele, saya tidak menjumpai satu orang pun. Apakah tempat wisata ini dibuka? Saya mencoba melihat keadaan sekeliling sambil memasuki areal menara. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GQI-50sqFng/TvrSSFizhiI/AAAAAAAAIEk/6m7QMAFpVKY/s1600/IMG_9166.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-GQI-50sqFng/TvrSSFizhiI/AAAAAAAAIEk/6m7QMAFpVKY/s320/IMG_9166.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VXE9ZP9Mzo0/TvrSR_kGW2I/AAAAAAAAIEc/V8Ov9ldv1q4/s1600/IMG_9189.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-VXE9ZP9Mzo0/TvrSR_kGW2I/AAAAAAAAIEc/V8Ov9ldv1q4/s320/IMG_9189.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Menara Pandang Tele adalah sebuah menara yang terletak di tepi jalan negara Pangururan – Sidikalang. Menara ini terletak di sisi kiri kalau anda berjalan dari arah Pangururan. Menara empat lantai ini (dihitung dari lantai dasar) adalah menara pandang biasa yang dibangun untuk menikmati pemandangan sekeliling Tanah Toba. Keunikan menara ini hanya terletak di bagian atap menara yang dibangun menyerupai arsitektur atap rumah Bolon sejumlah empat buah mengarah ke empat penjuru. Untuk menaiki menara, hanya terdapat pilihan tangga saja. Dari lantai dasar menara, Gunung Pusuk Buhit, Danau Toba, desa-desa di sekeliling Tele dan sejumlah air terjun terlihat cukup jelas. Walaupun pemandangan dari lantai teratas akan jauh lebih baik, namun perbedaannya tidak terlalu signifikan, dan terdapat kaca yang menghalangi pandangan langsung ke sekeliling. Menara ini dibangun pada era akhir 1980-an dan diresmikan pada 22 April 1988 oleh Bupati Tapanuli Utara saat itu, Drs. G. Sinaga. Ya, pada saat itu, wilayah yang kini menjadi wilayah Samosir masih merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Utara sebelum akhirnya mekar menjadi Toba Samosir dan akhirnya Kabupaten Samosir (tulisan Menara Pandang Tele di puncak menara sudah ditambahkan dengan Kabupaten Samosir). Areal sekeliling menara ini dikenal dengan nama Panorama Indah Tele. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sGcZkT-Cqzc/TvrSdkrzUxI/AAAAAAAAIFA/jSGbnv0KkKQ/s1600/IMG_9187.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-sGcZkT-Cqzc/TvrSdkrzUxI/AAAAAAAAIFA/jSGbnv0KkKQ/s320/IMG_9187.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gv3QzzUAH2s/TvrSdQCb5zI/AAAAAAAAIE0/Kj9A8PsMkvM/s1600/IMG_9194.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-gv3QzzUAH2s/TvrSdQCb5zI/AAAAAAAAIE0/Kj9A8PsMkvM/s320/IMG_9194.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sedang asyik-asyiknya kami berfoto ria dan mengamati keindahan panorama di sekeliling, tiba-tiba datanglah dua orang pria berjaket menghampiri kami. Nggak memperkenalkan diri, mereka tiba-tiba saja berceloteh tentang Menara Pandang Tele dan kemudian menanyakan asal usul kami. Sembari menjawab pertanyaan kedua pria tersebut, saya dan teman saya masih asyik berfoto-foto di sekeliling menara. Saya sebetulnya sudah bisa menebak sich maksud dari kedatangan mereka, namun saya tunggu sampai mereka mengatakannya. Oleh karena itu, saya cuek berfoto sambil mengobrol dengan mereka. Mereka bahkan menawarkan kami untuk naik ke atas menara, sambil mereka menjadi pemandunya. Sayang, kami masih senang berada di bawah dan mengeksplorasi keadaan sekeliling sehingga kami menunda naik ke atas. Lama nggak disusul, akhirnya mereka turun kembali dan mendapati saya dan rekan saya masih asyik berkeliling di bawah. Sambil menunggu saya dan rekan saya yang lama nggak naik-naik ke atas karena asyik mengeksplorasi sekeliling, akhirnya mereka memberanikan diri berkata, “biaya retribusinya Rp. 2.000 per orang”. Hooo...jadi mereka menunggu biaya retribusinya ternyata. Ya, saya jadi ingat akan Museum Huta Bolon di Simanindo yang tidak ditunggui namun begitu turis terdeteksi datang, mereka akan keluar untuk menerima uang retribusi tiket masuk. Wajar sich, Menara Pandang Tele ini sangat sepi. Mungkin dahulu pernah ramai sehingga dibangunlah menara pandang ini di sisi barat Danau Toba. Namun saat ini, hampir satu jam kami berkeliaran di Menara Pandang Tele ini, tidak ada seorang pengunjung lain pun terlihat. Segera, setelah membayar biaya retribusi sebesar Rp. 2.000 per orang, mereka kembali ke pondokan di seberang warung satu-satunya di Tele ini yang tampaknya merupakan tempat berkumpul orang-orang yang hidup di Tele. Soal nama “Tele” itu sendiri, saya nggak terlalu yakin bahwa “Tele” adalah bahasa Batak. Saya lebih mengasosiasikan “Tele” yang dimaksud sebagai cara untuk melihat jarak jauh, seperti pada lensa tele. Apakah mungkin ada teman-teman yang tinggal di Dairi, Samosir, atau Humbang Hasundutan yang bisa memberikan informasi mengenai ini?
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Lkc337tz5is/TvrSwcmPgGI/AAAAAAAAIFM/on1ebsWgA4w/s1600/IMG_9159.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-Lkc337tz5is/TvrSwcmPgGI/AAAAAAAAIFM/on1ebsWgA4w/s320/IMG_9159.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dari ketinggian menara, saya bisa melihat jalan berliku-liku yang kami lalui sebelumnya dari arah Pangururan. Dari atas, sangat jelas terlihat bahwa jalan yang kami lalui tadi adalah jalan yang sangat sepi. Kalau beruntung, anda bisa mendapatkan satu buah motor, atau sebuah mobil bergerak anggun di jalan meliuk-liuk tersebut. Bagian dalam menara sebenarnya sebuah ruang aula kecil yang dapat digunakan sebagai pengamat hampir di segala sisinya (lantai tertinggi, semua sisinya) untuk melihat pemandangan. Lucunya, lantai menara terbuat dari keramik yang sebenarnya bagus, namun sayangnya menjadi licin kalau hujan. Pada saat kunjungan, sedang terjadi hujan gerimis rintik-rintik di Tele sehingga terdapat sejumlah genangan di sisi menara yang tidak tertutup. Alhasil, saya harus berjalan pelan-pelan untuk menyusuri tangga agar tidak terpeleset. Plus, tangga yang agak sedikit curam membuat saya harus berhati-hati menyusurinya. Untungnya, bagian dalam dari aula merupakan tempat tertutup. Selain angin kencang pegunungan yang ditahan oleh kaca jendela yang lebar, bagian dalam aula terlindung dari hujan dan sengatan panas matahari. Sayangnya, kaca yang melingkari aula pemandangan justru membuat foto-foto pemandangan yang saya ambil menjadi bias karena memantulkan bayangan kaca. Filter CPL yang sedianya bisa mengoreksi bayangan berlebihan tersebut pun tidak mampu menghilangkan keseluruhan pantulan. Sayang sekali. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-IYrwVISXGuE/TvrS69vlTXI/AAAAAAAAIFY/taZMhht4lHs/s1600/IMG_9195.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-IYrwVISXGuE/TvrS69vlTXI/AAAAAAAAIFY/taZMhht4lHs/s320/IMG_9195.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ya, Tele memang merupakan titik tertinggi di wilayah sekitar. Hampir semua objek foto dan pemandangan terletak di bawah menara ini. Saya senang bisa berkunjung ke menara ini dan melihat Danau Toba dari sudut yang berbeda. Buat teman-teman yang sekiranya berminat mampir di menara ini, usahakan agar jangan terlalu sore biar nggak susah menunggu Sampri yang melintas yach. Repot juga khan kalau sampai kemalaman di Tele, masak iya harus tidur di dalam menara? Pagi dan siang hari sih hawanya sejuk dan segar. Namun, saya percaya pada malam hari suhu di tempat ini akan luar biasa dingin. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-2317134585569462882?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OdTkyRS5uv-2SjKPIFyLrhA2fY0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OdTkyRS5uv-2SjKPIFyLrhA2fY0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OdTkyRS5uv-2SjKPIFyLrhA2fY0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/OdTkyRS5uv-2SjKPIFyLrhA2fY0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/erNJVCLk4t4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/2317134585569462882/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menara-pandang-tele-di-ketinggian.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/2317134585569462882?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/2317134585569462882?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/erNJVCLk4t4/menara-pandang-tele-di-ketinggian.html" title="Menara Pandang Tele Di Ketinggian Harian" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-3d5SzePYGHI/TvrR8n6Yd1I/AAAAAAAAIEE/CljmeBAOQRI/s72-c/IMG_9160.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menara-pandang-tele-di-ketinggian.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08HQH0-eCp7ImA9WhRXGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-303294779199338688</id><published>2011-12-26T14:50:00.000+07:00</published><updated>2011-12-26T14:50:31.350+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-26T14:50:31.350+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Gunung Pusuk Buhit, Awal Mula Orang Batak</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-iInDPQpx-dM/Tvghkag85qI/AAAAAAAAIDs/FagTc7P6ZzU/s1600/IMG_9137.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-iInDPQpx-dM/Tvghkag85qI/AAAAAAAAIDs/FagTc7P6ZzU/s320/IMG_9137.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Gunung Pusuk Buhit adalah gunung sakral bagi masyarakat Batak. Gunung ini dipercaya sebagai tempat Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa) menurunkan keturunanNya. Kampung Sianjur Mula-Mula yang terletak di kaki Gunung Pusuk Buhit ini menjadi tempat bermukimnya Siraja Batak, nenek moyangnya orang Batak sebelum lama kelamaan beranak pinak dan meneruskan garis keturunan marga Batak (boru) yang dapat ditelusuri melalui Tarombo. Siapakah si Siraja Batak itu bisa ditelusuri &lt;a href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/mitologi-batak-pra-siraja-batak.html"&gt;disini&lt;/a&gt;. Gunung ini tidak terlihat jelas dari Tomok atau Ambarita karena terhalang oleh perbukitan Pulau Samosir. Namun dari sisi barat seperti Tele atau Pangururan, Gunung Pusuk Buhit ini terlihat sangat jelas. Tempat terbaik untuk mengamati Gunung Pusuk Buhit ini jelas berada di Menara Pandang Tele. Wisatawan bisa melakukan kegiatan wisata di gunung ini karena gunung ini memang populer sebagai tujuan pendakian. Untuk anda yang nggak berminat melakukan pendakian, bisa berkunjung ke beberapa tempat wisata sejarah yang dipercaya berkaitan dengan asal muasal Suku Batak seperti &lt;a href="http://id.shvoong.com/business-management/1901029-air-terjun-batu-sawan-rasa/"&gt;Batu Sawan&lt;/a&gt; (Air terjun rasa jeruk purut dengan batu berbentuk cawan besar), &lt;a href="http://togapardede.wordpress.com/2010/08/14/aek-sipitu-dai-air-tujuh-rasa-ada-di-tanah-batak/"&gt;Aek Sipitu Dai&lt;/a&gt; (pancuran dengan tujuh macam rasa air), &lt;a href="http://bersamatoba.com/tobasa/serba-serbi/batu-hobon-tempat-harta-kekayaan-orang-batak-dan-turun-nya-si-raja-batak.html"&gt;Batu Hobon&lt;/a&gt; (Batu berdiameter 1 meter dan bagian bawahnya berongga), dan &lt;a href="http://www.pixeletphotomagz.com/id/2010/10/pusuk-buhit-tempat-turunnya-raja-batak/"&gt;Sopo Guru Tatea Bulan&lt;/a&gt; (rumah kediaman Guru Tatea Bulan, anak Siraja Batak). 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-RA09oS3vaQs/TvghnjMRtRI/AAAAAAAAID4/Rr38YbTWvBY/s1600/IMG_9147.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-RA09oS3vaQs/TvghnjMRtRI/AAAAAAAAID4/Rr38YbTWvBY/s320/IMG_9147.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Gunung Pusuk Buhit ini merupakan gunung berapi aktif yang memang merupakan sisa-sisa letusan dari supervolcano Gunung Toba yang meletus dashyat puluhan ribu tahun yang lalu. Sisa keaktifan gunung ini masih bisa dilihat di jejak Aek Rengat, sumber mata air panas yang ada di kaki gunung Pusuk Buhit. BMKG pun sering memantau gunung ini dan baru saja memberikan status waspada, naik dari status normal untuk Pusuk Buhit pada tanggal 15 Desember 2011 ini. Di balik keindahan gunung ini, tersimpan bahaya yang dikandung di dalamnya apabila Gunung Pusuk Buhit sampai meletus. Salah satu bukti lain bahwa dataran Toba berada di atas sesar aktif adalah meletusnya Gunung Sinabung pada 29 Agustus 2010 dan gempa Tarutung tahun 2011 lalu. Ini menunjukkan bahwa dataran Toba dan sekitarnya memang berada di atas dapur magma yang aktif. Mudah-mudahan saja &lt;a href="http://bupatitaput.wordpress.com/tag/naga-padoha/"&gt;Naga Padoha&lt;/a&gt; yang dipasung oleh Siboru Deak Parujar tidak mengamuk terlalu lama agar keturunan Siraja Batak tidak sengsara dibuatnya.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-303294779199338688?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ojsW4Jk2c4WOcPrAoA-XunUoZMo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ojsW4Jk2c4WOcPrAoA-XunUoZMo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ojsW4Jk2c4WOcPrAoA-XunUoZMo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ojsW4Jk2c4WOcPrAoA-XunUoZMo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/qgP-BnqePls" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/303294779199338688/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/gunung-pusuk-buhit-awal-mula-orang.html#comment-form" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/303294779199338688?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/303294779199338688?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/qgP-BnqePls/gunung-pusuk-buhit-awal-mula-orang.html" title="Gunung Pusuk Buhit, Awal Mula Orang Batak" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-iInDPQpx-dM/Tvghkag85qI/AAAAAAAAIDs/FagTc7P6ZzU/s72-c/IMG_9137.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>6</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/gunung-pusuk-buhit-awal-mula-orang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEEAQ3w8eyp7ImA9WhRXGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-1687907605460661577</id><published>2011-12-26T12:17:00.001+07:00</published><updated>2011-12-26T12:17:22.273+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-26T12:17:22.273+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Mitologi Batak Pra Siraja Batak, Silsilah Orang Batak</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-swmlZ2VED7g/TvgDOIo0H5I/AAAAAAAAIDI/RkFJDArtFTM/s1600/IMG_9833.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-swmlZ2VED7g/TvgDOIo0H5I/AAAAAAAAIDI/RkFJDArtFTM/s320/IMG_9833.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nggak kalah dari Bangsa Yunani dan Bangsa Romawi lho, orang Batak memiliki mitologinya sendiri dan sejarah asal usul Orang Batak. Menariknya, banyak sekali tulisan-tulisan mengenai mitos asal usul Orang Batak di internet namun hanya sedikit yang benar-benar mirip. Walaupun secara garis besar serupa, namun detailnya banyak yang berbeda. Beberapa lainnya ada yang menggunakan versi yang lebih unik lagi. Entah apakah cerita tersebut dituturkan secara lisan saja sehingga wujud ceritanya berubah-ubah? Yang jelas, setelah sedikit mencari, saya mendapatkan gambaran seperti ini : (disarikan secara singkat dari &lt;a href="http://rapolo.wordpress.com/2003/10/15/41/"&gt;sini&lt;/a&gt;)
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-e5dxrpsDx_o/TvgDSTnkdTI/AAAAAAAAIDU/ghmD4EoJZZ0/s1600/IMG_9834.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-e5dxrpsDx_o/TvgDSTnkdTI/AAAAAAAAIDU/ghmD4EoJZZ0/s320/IMG_9834.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Dunia dalam mitologi Orang Batak terbagi menjadi Banua Ginjang (dunia atas-dewa-dewa), Banua Tonga (bumi, tempat manusia berada) dan Banua Toru (dunia bawah, tempat ruh berada). Di Banua Ginjang, ada seekor ayam yang bernama Manuk-Manuk Hulambujati yang mengerami telur sebesar periuk (perhatikan istilah manuk disini dalam &lt;a href="https://www.facebook.com/topic.php?uid=36367183527&amp;amp;topic=8816"&gt;Bahasa Batak, Jawa, dan Toraja&lt;/a&gt;). Dari telur tersebut, menetaslah tiga orang yang bernama Tuan Batara Guru, Ompu Tuan Soripada, Ompu Tuan Mangalabulan. Manuk-Manuk Hulambujati membesarkan mereka semua dan memohon kepada Debata Mulajadi Nabolon untuk memberikan pendamping hidup (wanita) kepada mereka semua. Tuan Batara Guru diberi pendamping bernama Siboru Pareme dan memiliiki keturunan : Tuan Sori Muhammad, Datu Tantan Debata Guru Mulia, dan Siboru Sorbajati dan Siboru Deak Parujar (dua orang yang disebut belakangan ini kembar). Karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Enda-Enda (anak dari Ompu Tuan Soripada dan Siboru Parorot) yang berwujud kadal, ia melompat ke Banua Tonga. Dalam proses “kaburnya”, Siboru Deak Parujar lebih menyukai tinggal di Banua Tonga dan tidak mau kembali ke Banua Ginjang walaupun sudah dibujuk oleh Debata Mulajadi Nabolon. Akhirnya, Debata Mulajadi Nabolon mengutus &lt;a href="http://texasindo.wordpress.com/2009/11/13/cerita-mitos-debata-mulajadi-na-bolon/"&gt;Raja Odap Odap&lt;/a&gt; untuk menjadi suami dari Siboru Deak Parujar. Mereka menikah dan mendapatkan dua anak kembar, Raja Ihat Manisia dan Boru Itam Manisia. Raja Ihat Manisia memiliki tiga anak : Raja Miok Miok, Patundal Na Begu, dan Aji Lapas Lapas. Raja Miok Miok memiliki anak bernama Engbanua. Engbanua ini memiliki tiga cucu, yakni : Raja Ujung, Raja Bonang Bonang, dan Raja Jau. Nah, anak dari Raja Bonang Bonang bernama Raja Tantan Debata. Anak dari Raja Tantan Debata inilah yang bernama Siraja Batak, leluhur dari masyarakat Batak dengan sistem &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tarombo_Batak"&gt;Tarombo&lt;/a&gt; (penurunan marga dengan garis keturunan patrilineal). Wiiiih, panjang dan ribet yach silsilah keturunan Orang Batak dari Siboru Deak Parujar hingga Siraja Batak. Nah, sejumlah mitos yang saya temukan di belantara internet ini terkadang agak menyerempet sedikit atau benar-benar beda sama sekali. Saya menemukan satu versi mitos yang berkisah tentang Raja Jau (saudara Raja Bonang Bonang) yang menjadi leluhur Orang Nias, padahal dalam versi lainnya, leluhur Orang Nias adalah Raja Asiasi, anak dari Raja Isombaon, atau cucu dari Siraja Batak itu sendiri. Ada &lt;a href="http://punguantogapurba.wordpress.com/raja-batak/"&gt;versi ekstrim&lt;/a&gt; pula menyebutkan bahwa Siboru Deak Parujar meminta burung layang-layang menenun Ulos dan dari dalamnya muncullah Siraja Batak. Disini disebutkan bahwa Siboru Deak Parujar diperistri oleh Siraja Batak! Nah loh! Padahal dalam versi lain jelas-jelas Siboru Deak Parujar adalah nenek dari nenek dari nenek dari nenek moyang Siraja Batak. Mana yang bener? Ini baru versi cerita dari pra-Siraja Batak. Belum lagi &lt;a href="http://devit1104.blogspot.com/2009/05/silsilah-dan-tarombo-batak.html"&gt;silsilah Pasca-Siraja Batak&lt;/a&gt; yang menerangkan tentang semua boru yang ada di Sumatera Utara dan sekitarnya, lho!
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UqQUgMtmKp4/TvgDWGv8fdI/AAAAAAAAIDg/gGYnvqUNiB8/s1600/IMG_8871.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-UqQUgMtmKp4/TvgDWGv8fdI/AAAAAAAAIDg/gGYnvqUNiB8/s320/IMG_8871.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berhubung cerita di atas adalah Mitos, memang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sama saja seperti kita mendiskusikan nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, bukannya hasil evolusi dari primata. Nggak akan pernah ketemu! Menurut sejumlah penelitian antropologi, bangsa Batak berasal dari &lt;a href="http://parapat0.tripod.com/sejarah.htmlit-tempat-turunnya-raja-batak/"&gt;daratan Thailand.&lt;/a&gt; Sejarah panjang termasuk penyerangan orang Mongolia membuat mereka terdesak dan keluar dari tempat tinggalnya, berlayar ke segala arah dan membuat suku bangsa baru hasil akulturasi. Orang Batak, turun di Barus, pintu barat Sumatera. Dari Barus, mereka berpindah-pindah hingga mencapai Sianjur Mula-Mula, tempat yang diklaim sebagai asal usul Orang Batak (sayangnya, selain Batak Toba dan Batak Angkola, puak yang lain menolak konsep ini karena mereka tidak merasa konsep tersebut sesuai dengan sejarah mereka). Padahal, nenek moyang bangsa Batak yang berpindah dari Thailand itu menyebar kemana-mana, termasuk Filipina, Taiwan, Nias, dan Sumatera Selatan, termasuk salah satunya di Barus yang menjadi cikal bakal orang Batak. Artinya, orang Batak ada keterikatan hubungan dengan orang Thailand yang menetap di wilayah Indochina. Yah, apapun sejarahnya, Masyarakat Batak, terutama Batak Toba dan Batak Angkola secara khusus percaya bahwa Gunung Pusuk Buhit yang berada di wilayah Sianjur Mula-Mula adalah tanah leluhur mereka, tempat pertama kali diturunkan oleh Debata Mulajadi Nabolon. Mereka percaya, kunjungan ke tempat ini adalah perjalanan spiritual menuju lokasi leluhur mereka berada. 
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-1687907605460661577?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oRQEN452pjgFWAA30rcwpmghtRk/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oRQEN452pjgFWAA30rcwpmghtRk/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oRQEN452pjgFWAA30rcwpmghtRk/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/oRQEN452pjgFWAA30rcwpmghtRk/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/1bKU_qr3MJk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/1687907605460661577/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/mitologi-batak-pra-siraja-batak.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/1687907605460661577?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/1687907605460661577?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/1bKU_qr3MJk/mitologi-batak-pra-siraja-batak.html" title="Mitologi Batak Pra Siraja Batak, Silsilah Orang Batak" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-swmlZ2VED7g/TvgDOIo0H5I/AAAAAAAAIDI/RkFJDArtFTM/s72-c/IMG_9833.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/mitologi-batak-pra-siraja-batak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MNQX06cCp7ImA9WhRQGUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-6596053653233094962</id><published>2011-12-15T17:38:00.000+07:00</published><updated>2011-12-15T17:38:10.318+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-15T17:38:10.318+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Nangkok Tu Dolok Tele - Mendaki Ke Bukit Tele</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-h2IjUNoLk1k/TunMye3gLRI/AAAAAAAAIBw/G2kmYyYL6-Q/s1600/Untitled-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-h2IjUNoLk1k/TunMye3gLRI/AAAAAAAAIBw/G2kmYyYL6-Q/s320/Untitled-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Begitu keluar dari Tano Ponggol, secara resmi sebenarnya saya sudah keluar dari Pulau Samosir. Namun, secara administratif, wilayah tempat saya berdiri ini masih masuk dalam Kabupaten Samosir. Ya, selain 6 kecamatan yang ada di dalam Pulau Samosir, ada 3 kecamatan lain yang berada di luar wilayah Pulau Samosir dan terletak di sisi barat danau (Harian, Sianjur Mula-Mula, dan Sitio-Tio). Tele yang akan saya sambangi ini masuk dalam wilayah kecamatan Harian.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-W8XfxSvZ6iM/TunM-zLLQSI/AAAAAAAAICI/DbtuHo-Xnzo/s1600/IMG_9110.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-W8XfxSvZ6iM/TunM-zLLQSI/AAAAAAAAICI/DbtuHo-Xnzo/s320/IMG_9110.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-9c3ubQc_Lro/TunM-gxOwnI/AAAAAAAAIB8/_uqA-jnecPE/s1600/IMG_9111.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-9c3ubQc_Lro/TunM-gxOwnI/AAAAAAAAIB8/_uqA-jnecPE/s320/IMG_9111.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Di jalur Pangururan – Tele, saya melihat wajah Samosir yang belum pernah saya lihat. Kalau selama ini saya mengenal wilayah Samosir adalah wilayah yang turistik, wajah di kawasan barat danau ini sungguh kontradiktif dengan kenyataan tersebut. Saya memasuki wilayah yang jarang dihuni, jalanan rusak dan sebagian besar sedang diperbaiki (atau justru baru dibuka?), dengan pemandangan di salah satu sisi yakni Danau Toba dan lama kelamaan berupa bukit tandus nan gersang di kanan dan kiri jalan. Kalau sukar untuk membayangkannya, coba dech ingat-ingat seperti apa sich wujud Jalan Tol Cipularang waktu pertama kali dibuka dulu. Jalan tol sepanjang 60 KMan tersebut jauh dari tanda-tanda kehidupan manusia, hanya bukit kering di kanan dan kiri. Bukit-bukti penuh bebatuan dan sedikit vegetasi mengisyaratkan tanda-tanda ketandusan di sekeliling. Bedanya, jalan lintas Pangururan – Tele merupakan jalan negara, bukan jalan tol. Sekali dua kali Sampri yang saya kendarai harus menurunkan kecepatan lantaran bertemu gundukan tanah yang belum diratakan. Entah apa jadinya kalau sang supir nekad untuk menerobos gundukan tanah tersebut, mungkin jadi Sampri terbang kali yach. Hahaha.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cROj1Ia853M/TunNEXs6f3I/AAAAAAAAICU/zxWtWBg3qqI/s1600/IMG_9106.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-cROj1Ia853M/TunNEXs6f3I/AAAAAAAAICU/zxWtWBg3qqI/s320/IMG_9106.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Buat saya, perjalanan ini terbagi menjadi tiga wilayah kawasan. Kawasan pertama adalah wilayah tepian Danau Toba. Lanskap di sebelah kanan jalan merupakan perbukitan yang masih hijau dan masih dipenuhi pepohonan. Di sebelah kiri, adalah wilayah perairan Danau Toba yang masih asri, terkadang dipenuhi keramba atau sawah. Jalanan di tempat ini walaupun sudah beraspal, namun tidak dapat dikategorikan baik. Beberapa gundukan tanah di tengah perjalanan membuat Sampri harus melambat. Kawasan kedua adalah jalur sempit di tengah-tengah perbukitan. Walaupun masih ada perkampungan, namun jumlahnya semakin menyusut seiring dengan semakin melajunya Sampri. Kondisi jalan di tempat ini mungkin yang terburuk dari ketiga kawasan, entah memang belum dibuat atau justru baru diperbaiki. Sejumlah alat berat untuk meratakan jalan memang terdapat di sejumlah tempat. Kondisi jalan yang kami lalui secara umum adalah jalan tanah dengan hiasan bebatuan disana-sini. Kecepatan Sampri menurun dengan drastis. Salah satu kampung yang saya ingat adalah Sosor Silinjuang. Unik juga sebab makna kata “Sosor” dalam bahasa Batak adalah “kampung yang baru saja dibuka”. Beberapa babi hutan terlihat berkeliaran di tempat ini. Danau Toba? Sudah tidak terlihat lagi dari sisi ini.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-DnbdGGpVYSw/TunNirKhJSI/AAAAAAAAICg/_f59IW0MucE/s1600/IMG_9114.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-DnbdGGpVYSw/TunNirKhJSI/AAAAAAAAICg/_f59IW0MucE/s320/IMG_9114.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Q0xBSUt-NmM/TunNiq2GzjI/AAAAAAAAICs/C4o6eI5euSM/s1600/IMG_9118.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-Q0xBSUt-NmM/TunNiq2GzjI/AAAAAAAAICs/C4o6eI5euSM/s320/IMG_9118.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Kawasan ketiga adalah kawasan tertinggi dari keseluruhan kawasan. Maklum, perjalanan di wilayah ini menanjak terus dan meliuk-liuk melewati gunung. Sampri yang saya tumpangi meraung-raung menanjak gunung. Pemandangan di kawasan ketiga ini tergolong indah buat saya. Di satu sisi, kita bisa melihat Danau Toba di ketinggian, sementara itu persis di sebelahnya, ada Gunung Pusuk Buhit yang cantik, tempat yang diyakini menjadi lokasi asal muasal Orang Batak Toba. Kondisi jalan di lintas pegunungan ini sudah beraspal hotmix, jauh lebih baik dibanding kawasan sebelumnya. Semakin menanjak, udara semakin dingin dan tak jarang kabut melintas berarak di sekeliling. Hawa tentu saja menjadi semakin dingin. Jalan yang kami lalui terlihat cukup jelas di bawah sana. Tele merupakan satu titik tertinggi diantara Pangururan dan Dolok Sanggul. Yang mengerikan, kendaraan yang melintas balik ataupun berada di depan/belakang kami bisa dihitung menggunakan sebelah tangan. Bahkan, saya merasa Sampri yang saya tumpangi bergerak pelan dan sendirian di tengah-tengah gunung ini. Saya tidak menemukan adanya kendaraan lain dan perkampungan di gunung yang saya lintasi ini untuk waktu yang menurut saya cukup lama. Jangan membayangkan kawasan puncak yang penuh dengan rumah, villa, pedagang, dan mobil yang mengantri yach! Melihat orang melintas saja rasanya langka di tempat ini. Hahaha. Untung saja, kengerian tersebut bisa saya tepis dengan pemandangan indah berupa Danau Toba dan pegunungan dari ketinggian. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-k8G0zYkLb-E/TunNmwn0r7I/AAAAAAAAIC4/FEyEEX2327I/s1600/IMG_9128.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-k8G0zYkLb-E/TunNmwn0r7I/AAAAAAAAIC4/FEyEEX2327I/s320/IMG_9128.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Walaupun Sampri yang saya naiki bergerak perlahan sambil meraung-raung sehingga perjalanan ini terasa cukup panjang, namun kenyataannya, saya tiba di Tele kurang lebih setengah jam saja selepas meninggalkan Pangururan. Jarak di atas kertas Pangururan – Tele adalah 22 KM, kalau dibulatkan 30 KM, artinya Sampri melaju dalam kecepatan 1KM/menit. Cukup cepat juga ternyata! Oh ya, penumpang yang naik atau turun di jalur ini pun bisa dibilang langka. Seingat saya, hanya ada satu penumpang yang turun di jalur yang saya lintasi ini. Sisanya, hanya saya dan rekan saya yang turun di Tele. Percayalah, anda nggak akan mau terjebak malam di tempat ini. Melihat perjalanan yang saya lakukan barusan, saya juga nggak akan mau untuk kembali ke Pangururan guna mengambil tas sekiranya tadi saya menitipkan tas di hotel. Hohoho. Oh, itu dia Menara Pandang Tele. “Berhenti, Bang!”.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-6596053653233094962?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YACPuBFWKmgXTifd-mb4WEYyHlE/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YACPuBFWKmgXTifd-mb4WEYyHlE/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YACPuBFWKmgXTifd-mb4WEYyHlE/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/YACPuBFWKmgXTifd-mb4WEYyHlE/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/SjPdqAQ6VFg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/6596053653233094962/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/nangkok-tu-dolok-tele-mendaki-ke-bukit.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6596053653233094962?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6596053653233094962?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/SjPdqAQ6VFg/nangkok-tu-dolok-tele-mendaki-ke-bukit.html" title="Nangkok Tu Dolok Tele - Mendaki Ke Bukit Tele" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-h2IjUNoLk1k/TunMye3gLRI/AAAAAAAAIBw/G2kmYyYL6-Q/s72-c/Untitled-1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/nangkok-tu-dolok-tele-mendaki-ke-bukit.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYCQHkzfip7ImA9WhRQF0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-943633188511346037</id><published>2011-12-14T00:26:00.000+07:00</published><updated>2011-12-14T00:26:01.786+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-14T00:26:01.786+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Menjadi Pulau Samosir Berkat Tano Ponggol</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-XpRLOUOcVno/TueKTFpO4LI/AAAAAAAAIBM/aB921PblY9o/s1600/IMG_9100.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-XpRLOUOcVno/TueKTFpO4LI/AAAAAAAAIBM/aB921PblY9o/s320/IMG_9100.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pulau apa yang terletak di tengah-tengah Danau Toba? Semenjak Sekolah Dasar, kita sudah dicekoki dengan pemahaman bahwa Samosir adalah pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba. Walaupun nggak sepenuhnya salah, namun pernyataan ini nggak sepenuhnya benar juga. Samosir sejatinya adalah sebuah daratan yang menjadi satu dengan daratan Sumatera. Pada masa itu, posisi Danau Toba berada di utara, timur, dan selatan daratan Samosir. Samosir terhubung dengan Sumatera via daratan sempit di wilayah timur, di sekitar wilayah Pangururan. Nah, pada masa penjajahan Belanda kurang lebih pada tahun 1907, dilakukanlah rencana untuk membuat terusan sepanjang 1 KM yang betul-betul memisahkan daratan Samosir dari Pulau Sumatera. Dua daratan yang terpisah tersebut dihubungkan oleh sebuah jembatan dengan lebar kurang lebih 20 meter. Terusan di bawah jembatan inilah yang dikenal hingga saat ini sebagai Tano Ponggol atau secara harafiah memiliki arti : “tanah yang dipotong”. Terusan ini dimaksudkan agar transportasi air di Samosir lancar dan kapal mampu mengelilingi bakal calon pulau tersebut.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ojDrVAV0sN8/TueKg4Cw4TI/AAAAAAAAIBY/fWsmfEzsANY/s1600/IMG_9099.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-ojDrVAV0sN8/TueKg4Cw4TI/AAAAAAAAIBY/fWsmfEzsANY/s320/IMG_9099.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-jWzGC29KsH4/TueKhA-KgXI/AAAAAAAAIBo/sZroBfuoDLg/s1600/IMG_9101.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-jWzGC29KsH4/TueKhA-KgXI/AAAAAAAAIBo/sZroBfuoDLg/s320/IMG_9101.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Sayangnya, hingga saat ini, Tano Ponggol tampak kurang terurus. Sepotong tanah yang sebenarnya memiliki nilai historikal tersebut jauh dari kesan spesial. Selepas gerbang utama Kota Pangururan yang berhiaskan ukir-ukiran Batak (dan running text LED), Sampri yang saya kendarai berbelok ke kiri, melewati sebuah kedai kopi, dan masuk ke satu jalan sempit dengan deretan rumah-rumah di kanan dan kiri jalan. Jalanan yang saya lalui tidak halus, banyak berisi pasir. Tiba-tiba saja Sampri melewati sebuah tempat yang nampaknya jembatan, lengkap dengan pemandangan sungai di kanan dan kiri. Tak lama, Sampri berbelok ke kiri dan menyusuri jalan menuju ke barat. Saya iseng bertanya walaupun sudah tahu jawabannya, “Pak, Tano Ponggol dimana yach?”. “itu, barusan kita lewat”, jawab sang supir sambil terus memacu kendaraannya. Sayang sekali, walaupun memang berukuran tidak terlalu lebar, tapi sebaiknya sepotong wilayah yang bersejarah ini diberi petunjuk, kalau perlu gapura penanda bahwa kita sedang memasuki Tano Ponggol. Lebih asyik lagi kalau ada papan informasi sejarah akan keberadaan tempat ini. Saya yang melewati tempat ini kurang dari 1 menit tidak merasakan adanya keistimewaan akan tempat ini. Ketidakterurusan tempat ini terlihat jelas dari pagar besi berwarna kuning yang berada di sisi jembatan namun sudah tergerus dimakan karat. Sisi kanal yang seharusnya rapih pun dipenuhi oleh berbagai macam “benda” mulai dari keramba nggak jelas hingga aneka macam tumbuhan seperti eceng gondok dan tanaman air lainnya. Nggak heran, masalah pengerukan Tano Ponggol dan kapal yang tidak bisa melewati terusan ini (bahkan kapal kecil sekalipun) menjadi hal yang tidak akan selesai untuk dibicarakan. Konon, biaya yang dikucurkan untuk mengeruk kanal ini cukup besar namun hasilnya tetap sama saja : pendangkalan Tano Ponggol terus terjadi hingga hari ini. Sayang dan sayang sekali mengingat terusan ini memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi objek wisata menarik di Kabupaten Samosir, terutama di dalam Kota Pangururan. Sayang banget khan, kalau terusan yang sebenarnya menarik ini nggak bisa menimbulkan kesan apapun terhadap turis atau penduduk yang melintas kurang dari 1 menit di atasnya. "Eh, memangnya kita barusan melewati apaan sich?".
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-943633188511346037?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSk3q4gQ5paxIC4K6AK0lzLiG-Q/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSk3q4gQ5paxIC4K6AK0lzLiG-Q/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSk3q4gQ5paxIC4K6AK0lzLiG-Q/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/BSk3q4gQ5paxIC4K6AK0lzLiG-Q/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/pC0e87F-TkM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/943633188511346037/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menjadi-pulau-samosir-berkat-tano.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/943633188511346037?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/943633188511346037?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/pC0e87F-TkM/menjadi-pulau-samosir-berkat-tano.html" title="Menjadi Pulau Samosir Berkat Tano Ponggol" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-XpRLOUOcVno/TueKTFpO4LI/AAAAAAAAIBM/aB921PblY9o/s72-c/IMG_9100.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/menjadi-pulau-samosir-berkat-tano.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEBSX8zfip7ImA9WhRQF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-8227339227981534224</id><published>2011-12-13T12:20:00.000+07:00</published><updated>2011-12-13T12:20:58.186+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-13T12:20:58.186+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Wajah-Wajah Pangururan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-gtwFpjz5h9U/TubgQbTncEI/AAAAAAAAIAE/VIzIKE-KbTs/s1600/IMG_9093.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-gtwFpjz5h9U/TubgQbTncEI/AAAAAAAAIAE/VIzIKE-KbTs/s320/IMG_9093.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Membawa tiga lensa dalam perjalanan kali ini menyadarkan saya akan satu hal : saya butuh satu lensa all-round yang nggak usah dilepas-lepas sehingga nggak ribet dalam situasi apapun, termasuk terburu-buru kala menaiki kendaraan umum. Ribet bener dech kalau kita sampai mengganti lensa di kendaraan umum. Dijamin, kita akan menjadi tontonan (walaupun ujung-ujungnya ada yang ngajak kenalan dan saya bisa promosi Indahnesia sich). Hahaha. Saya sich senang dengan lensa tele saya karena bisa menangkap wajah-wajah khas di suatu daerah dengan lebih detail dan lebih natural. Namun, tele saya benar-benar lensa tele, sehingga pada saat ada objek yang berjarak sangat dekat, lensa saya nggak memiliki kemampuan untuk menangkap objek/momen tersebut. Sayang sekali. Berbekal pengalaman ini, saya merasa bahwa saya membutuhkan Tamron AF 18-270mm f/3.5-6.3 VC sehingga objek sangat dekat atau jauh tetap bisa tertangkap dalam kondisi apapun, termasuk saat ribet dan nggak bisa bergerak karena angkutan yang terlalu penuh. Sayang, masalah anggaran tentu jadi persoalan utama. Duit segitu bisa buat jalan-jalan ke tiga tempat berbeda. Hohoho. Yah, kalau ada lensa AF 8-10000mm f/1.2 VC dengan bentuk yang lebih compact dan harga di bawah satu juta rupiah sich saya mau banget. Hahaha. “Ngimpi!”, kalau kata iklan. Jadi sebelum memiliki si Tamron itu, saya harus cukup puas dengan proses ganti-mengganti lensa demi mendapatkan foto wajah yang natural. Sambil menunggu Sampri saya menuju Tele berangkat, saya mencoba untuk menangkap wajah-wajah Pangururan dan geliatnya di pagi hari. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sq64dGEnYZs/Tubge7k4zHI/AAAAAAAAIBE/OBjQiW0uXQM/s1600/IMG_9097.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-sq64dGEnYZs/Tubge7k4zHI/AAAAAAAAIBE/OBjQiW0uXQM/s320/IMG_9097.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-tUS4QnvWamw/TubgdoXKAlI/AAAAAAAAIAQ/kVCtozrPJEA/s1600/IMG_9089.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-tUS4QnvWamw/TubgdoXKAlI/AAAAAAAAIAQ/kVCtozrPJEA/s320/IMG_9089.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-0pazVvmU3Do/Tubgd8WLRBI/AAAAAAAAIAY/UeKYCVUmBvY/s1600/IMG_9090.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-0pazVvmU3Do/Tubgd8WLRBI/AAAAAAAAIAY/UeKYCVUmBvY/s320/IMG_9090.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dYp13KMyeuo/TubgeFKJWSI/AAAAAAAAIAo/TTbWuIvStZA/s1600/IMG_9092.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-dYp13KMyeuo/TubgeFKJWSI/AAAAAAAAIAo/TTbWuIvStZA/s320/IMG_9092.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dx2TA5wFjb0/Tubge4Iw4DI/AAAAAAAAIAw/ChKZbcjv1yk/s1600/IMG_9094.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-dx2TA5wFjb0/Tubge4Iw4DI/AAAAAAAAIAw/ChKZbcjv1yk/s320/IMG_9094.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-8227339227981534224?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2SWZygndOBpgLmy1njp_f-gpWPQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2SWZygndOBpgLmy1njp_f-gpWPQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2SWZygndOBpgLmy1njp_f-gpWPQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/2SWZygndOBpgLmy1njp_f-gpWPQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/pKTeBbU3Dt4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/8227339227981534224/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/wajah-wajah-pangururan.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8227339227981534224?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/8227339227981534224?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/pKTeBbU3Dt4/wajah-wajah-pangururan.html" title="Wajah-Wajah Pangururan" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-gtwFpjz5h9U/TubgQbTncEI/AAAAAAAAIAE/VIzIKE-KbTs/s72-c/IMG_9093.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/wajah-wajah-pangururan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4CQXc-eip7ImA9WhRQF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-5548690657597724014</id><published>2011-12-12T23:56:00.000+07:00</published><updated>2011-12-12T23:56:00.952+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-12T23:56:00.952+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Bagaimana Caranya Keluar Dari Pangururan?</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zv0DFfGFR6g/TuYxf2DEaGI/AAAAAAAAH_g/u-nekbqRRB0/s1600/Untitled.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-zv0DFfGFR6g/TuYxf2DEaGI/AAAAAAAAH_g/u-nekbqRRB0/s320/Untitled.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sampri adalah angkutan generik untuk semua minibus yang beroperasi di banyak wilayah Sumatera Utara, namun wilayah jelajahnya masih di seputaran Samosir sich. Untuk keluar dari Pangururan, saya membutuhkan Sampri yang beroperasi di rute Pangururan – Tarutung (rencananya, perjalanan saya malam ini akan berakhir di Tarutung). Rute Sampri di Kota Pangururan sich ada banyak: rute utara melalui Sidikalang ke arah Medan, atau rute selatan melalui Dolok Sanggul, Siborong-borong, Tarutung dan berakhir di Sibolga. Tujuan saya berikutnya adalah Menara Pandang Tele (Rp. 15.000, ±30KM dari Pangururan dengan kondisi jalan tepian gunung dan luar biasa parah) yang difungsikan untuk melihat Danau Toba dari ketinggian. Menara Pandang ini terletak di wilayah Harian, terletak di perlintasan antara Pangururan dengan Dolok Sanggul atau Pangururan dengan Sidikalang, jadi naik sampri apapun nggak masalah sich karena umumnya akan melewati Tele ini.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tPytIfGOymw/TuYxpz3_lcI/AAAAAAAAH_4/HDaq9meYI2s/s1600/IMG_9087.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-tPytIfGOymw/TuYxpz3_lcI/AAAAAAAAH_4/HDaq9meYI2s/s320/IMG_9087.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/--TC20lltbRE/TuYxp2D4HpI/AAAAAAAAH_s/MmG9hLbjd4w/s1600/IMG_9086.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/--TC20lltbRE/TuYxp2D4HpI/AAAAAAAAH_s/MmG9hLbjd4w/s320/IMG_9086.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Seperti umumnya angkutan lokal apapun di Indonesia, mereka nggak mengenal jadwal. Selama kendaraan belum penuh maka kendaraan tidak akan diberangkatkan. Tentu, ini maksudnya untuk menghemat bahan bakar dan biar nggak rugi dalam kegiatan operasionalnya. Masuk akal sich hitung-hitungannya (apalagi kalau nanti saya cerita soal medan yang ditempuh!). Namun bagi seorang backpacker semacam saya, waktu adalah harta yang tak boleh di sia-siakan. Semakin cepat di perjalanan, semakin banyak hal yang bisa saya dapatkan di objek wisata. Namun, sampri saya belum terlihat akan bergerak sama sekali walaupun tas saya sudah dijejalkan masuk ke dalam bagasi kendaraan (bukan bagasi sich, tapi celah sempit antara kursi paling belakang dengan pintu). Penumpang yang masuk baru kami berdua dan seorang ibu dengan dua orang anaknya saja. Agak berbeda dengan angkutan di Jawa yang mungkin jumlahnya lebih banyak sehingga kita bebas memilih angkutan mana yang dirasakan lebih cepat membawa kita. Sayangnya, pilihan di Pangururan tidak banyak dan cukup terbatas. Kalau mau cepat jawabannya cuma carter! Kendaraan umum berjalan sesuai antrian dan jumlahnya nggak sampai jumlah jari di satu tangan dalam satu jam! Nah, makanya saya nggak bisa seenaknya dech mau milih-milih angkutan disini. Daripada bengong atau jadi nggak asyik, alhasil, saya berkeliling Pasar Pangururan sambil menunggu kendaraan berangkat. Tas saya? Tinggalin saja, kayaknya aman koq. Supir dan sekaligus kenek Sampri tersebut malah berkata agar saya berjalan-jalan saja, nanti kalau sudah mau berangkat akan dipanggil. Hahaha. Angkutan umum cita rasa carter.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-5548690657597724014?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9QgzXznY8GCuQz9NXES5lg7K0zU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9QgzXznY8GCuQz9NXES5lg7K0zU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9QgzXznY8GCuQz9NXES5lg7K0zU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/9QgzXznY8GCuQz9NXES5lg7K0zU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/8ANXZdRllAE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/5548690657597724014/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/bagaimana-caranya-keluar-dari.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/5548690657597724014?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/5548690657597724014?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/8ANXZdRllAE/bagaimana-caranya-keluar-dari.html" title="Bagaimana Caranya Keluar Dari Pangururan?" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-zv0DFfGFR6g/TuYxf2DEaGI/AAAAAAAAH_g/u-nekbqRRB0/s72-c/Untitled.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/bagaimana-caranya-keluar-dari.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AAR3szfCp7ImA9WhRQF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-6831464095024723142</id><published>2011-12-12T23:02:00.000+07:00</published><updated>2011-12-12T23:02:26.584+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-12T23:02:26.584+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Monumen Perjuangan TNI Di Pintu Masuk Pangururan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-QlrIRsHln2U/TuYlRMrIE0I/AAAAAAAAH-8/xzRi6XRUyr0/s1600/IMG_9065.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-QlrIRsHln2U/TuYlRMrIE0I/AAAAAAAAH-8/xzRi6XRUyr0/s320/IMG_9065.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pangururan sebagai ibukota Samosir praktis nggak memiliki objek wisata apapun yang bisa memaksa turis untuk tinggal lebih lama. Seperti yang saya bilang sebelumnya, objek wisata yang ada di wilayah Pangururan kebanyakan berada agak jauh di luar jangkauan kaki. Rata-rata, objek wisata terdekat yang ada harus menggunakan kendaraan dan jarak tempuhnya bisa dikatakan lumayan. Hmm.... untung saja ada monumen yang berdiri tidak jauh dari Pasar Pangururan, lumayan lah kalau mau mengenal Kota Pangururan lebih intim. Hihihi. 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-W4GwIFaXHAI/TuYlW48q0MI/AAAAAAAAH_I/sDj88k0-spk/s1600/IMG_9064.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-W4GwIFaXHAI/TuYlW48q0MI/AAAAAAAAH_I/sDj88k0-spk/s320/IMG_9064.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Lokasi berdirinya monumen ini membelakangi jalan masuk Pangururan dari wilayah timur (Tomok). Ya, pintu masuk kota ini memang ada tiga : satu yang utama dari arah barat via Tele - Tano Ponggol, satudari arah Tomok, dan satu lainnya dari arah selatan via Onan Runggu. Nggak banyak yang bisa diceritakan monumen ini selain tulisan yang ada pada bagian pedestal patung. Tulisan pada pedestal patung bertuliskan : “Dengan Rahmat Tuhan YME, Monumen Perjuangan TNI Sektor II, DMTT/STT SUB TERR – VII Komando Sumatera Telah Diresmikan Pada Tanggal : 2 Mei 1992”. Monumen ini diresmikan oleh Raja Inal Siregar, Gubernur Sumatera Utara pada masa itu dan ditandatangani juga oleh A.E Manihuruk, putera Samosir yang sukses di dunia militer Indonesia. Di sisi lain pedestal, ada semacam grafiran timbul yang melukiskan perjuangan pada masa Perang Kemerdekaan II tahun 1948. Saya tidak tahu patung ini siapa karena tidak ada informasi lebih lanjut. Namun buat saya, patung ini unik karena walaupun berstatus patung militer (atribut militernya cukup terasa loh), namun tangan kanan bapak ini memegang tongkat alih-alih senjata. Jalan damaikah? Entah apakah beliau A.E. Manihuruk atau bukan, saya tidak tahu, mungkin ada teman-teman di Pangururan yang bisa memberikan konfirmasi?
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-2vAx4eW4BEc/TuYlhkA8xdI/AAAAAAAAH_U/5kyg-SaVBAE/s1600/IMG_9061.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-2vAx4eW4BEc/TuYlhkA8xdI/AAAAAAAAH_U/5kyg-SaVBAE/s320/IMG_9061.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Sayang, seperti halnya tempat umum dan fasilitas publik di banyak tempat di Indonesia, lokasi monumen dan monumen ini tidak jauh dari ketidakpedulian dan vandalisme. Kolam air mancur yang berada persis di depan monumen ini tidak menyala dan sejumlah rerumputan meranggas dan terlihat kurang terawat. Yang paling parah, tampaknya ada yang memasang stiker kampanye pemilu di bagian tengah pedestal dan menutupi lambang Burung Garuda Pancasila. Entah apakah segera disobek kembali atau lama baru disobek namun tampak jelas sisa bekas stiker tempel di sekeliling Burung Garuda Pancasila, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pangururan memang kota kecil sich, namun bukan tidak mungkin apabila monumen yang ada dirawat dan dimaksimalkan, bisa menjadi objek wisata menarik yang masuk dalam daftar wajib kunjung kebanyakan wisatawan, bukan?
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-6831464095024723142?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CIb7ZGBDdD-1tNTbEUkHsX3nCwg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CIb7ZGBDdD-1tNTbEUkHsX3nCwg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CIb7ZGBDdD-1tNTbEUkHsX3nCwg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/CIb7ZGBDdD-1tNTbEUkHsX3nCwg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/td0usq49v8M" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/6831464095024723142/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/monumen-perjuangan-tni-di-pintu-masuk.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6831464095024723142?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/6831464095024723142?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/td0usq49v8M/monumen-perjuangan-tni-di-pintu-masuk.html" title="Monumen Perjuangan TNI Di Pintu Masuk Pangururan" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-QlrIRsHln2U/TuYlRMrIE0I/AAAAAAAAH-8/xzRi6XRUyr0/s72-c/IMG_9065.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/monumen-perjuangan-tni-di-pintu-masuk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0ACQns5cCp7ImA9WhRQFEg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-9482245.post-4483869477001058153</id><published>2011-12-10T00:27:00.001+07:00</published><updated>2011-12-10T00:29:23.528+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-10T00:29:23.528+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sumatera Utara" /><title>Ifumie Dan Mie Thai-Pedas A La Panguruan</title><content type="html">&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-ImjrIjg9wsg/TuJEGo5ZTKI/AAAAAAAAH90/vJOCg4yGpdc/s1600/IMG_9008.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://4.bp.blogspot.com/-ImjrIjg9wsg/TuJEGo5ZTKI/AAAAAAAAH90/vJOCg4yGpdc/s320/IMG_9008.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Malam yang sudah larut membuat kami lapar! Bukan malamnya yang membuat kami lapar, tapi karena nggak diisi apapun sepanjang perjalanan, itulah yang membuat kami lapar. Memang ada sich satu rumah makan persis di samping Hotel Dainang, nempel dengan Gereja Katolik Inkulturasi St. Mikhael. Namun kayaknya jalan-jalan ke kota lebih seru dech daripada makan cuma sepelemparan batu. Hihihi. Yah, disinilah kami berjalan kaki menyusuri malam, menghindari anjing yang menggonggong, demi pencarian akan makanan pengganjal perut, pemuas dahaga, pelega jiwa, pemulih sukma *halah*. Makanan di Pangururan sich sebenarnya ada beberapa. Walaupun sudah malam hari, namun kami bisa melihat sejumlah rumah makan atau kedai masih buka hingga larut malam. Pilihan makanannya memang nggak terlalu banyak walaupun nggak sedikit juga sich. Sejumlah rumah makan yang masih buka mengusung menu siap saji dan bayar sebanyak yang diambil. Hmm...pada malam hari yang dingin ini, saya ingin merasakan kehangatan *apa sich*. Menu makanan yang hangat tampaknya cocok untuk malam ini.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-NAb3GLYUbyw/TuJFML7yJRI/AAAAAAAAH-w/FDEdrTYFCnY/s1600/IMG_9010.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://3.bp.blogspot.com/-NAb3GLYUbyw/TuJFML7yJRI/AAAAAAAAH-w/FDEdrTYFCnY/s320/IMG_9010.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Yah, kembali lagi, iklan terbaik dalam mempromosikan suatu makanan adalah aroma! Nggak perlu iklan mahal-mahal, nggak perlu model ganteng dan cantik, nggak perlu tempat elegan dan menawan! Cukup perpaduan antara perut lapar dan aroma masakan yang menggugah, dijamin, pengunjung akan datang berduyun-duyun. Mungkin inilah yang terjadi pada salah satu rumah makan di Pangururan : Pondok Indah yang terletak di Jalan SM. Raja. Rumah makan ini cukup terang (terang dalam hitungan Pangururan) dan aroma masakan yang menguar dari tempat ini sangat memikat. Saya bisa mencium aroma nasi goreng dan mie goreng dari tempat ini. Dengan segera, saya menobatkan mie goreng menjadi makanan terenak di seluruh dunia. Hihihi.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Qzh-N0gGYw8/TuJES-y7KPI/AAAAAAAAH-M/FxGty0erHGs/s1600/IMG_9011.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-Qzh-N0gGYw8/TuJES-y7KPI/AAAAAAAAH-M/FxGty0erHGs/s320/IMG_9011.JPG" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Menu makanan yang ditawarkan sich standard. Namun, menu makanan hangatnya memang menarik. Ditambah dengan harga yang tidak terlalu mahal dan beberapa menu yang unik, akhirnya kami memutuskan untuk makan di tempat ini. Yum! Menu yang terjadi di tempat ini sich standard seperti Nasi Goreng, Mie Goreng, Ifumie, Capcay, Fuyunghai, Ikan Asam Manis, hingga Babi Kecap. Hmm...teman-teman yang muslim nggak boleh mencicipi restoran ini donk yach? Ditilik dari makanannya, menu makanan di tempat ini masuk dalam kategori Chinese food. Namun, pemilik dari tempat ini bernama Ompu Toman dan muka beliau nggak kelihatan Cina sama sekali, malah cenderung Batak. Hehehe. Ya iyalah, namanya saja “Ompu”. Beda cerita kalau namanya “Babah” atau “Ngkoh” hehehe. Nama menu makanan yang agak unik dan membuat saya ingin mencicipinya adalah Mie Thai-Pedas. Seberapa pedas sich? Kata Ito yang berjaga sich cukup pedas (dia menjawab sambil malu-malu dan ketawa-ketawa mesem-mesem). Berhubung harganya pun nggak terlalu mahal (Rp. 15.000), ya sudahlah saya coba saja bagaimana rasa Mie Thai-Pedas itu sementara teman saya memesan Ifumie (Rp. 14.000). Sambil memesan saya berkata,”pedasnya jangan banget-banget yach” yang kemudian langsung disambut oleh ucapan si Ito, “bumbunya sudah jadi dari sananya”, sambil tak lupa tertawa dan senyum mesem-mesem. Ow...baiklah, jadi kadar pedasnya nggak bisa ditera ulang tampaknya. Baiklah, kita coba saja bagaimana rasa makanan ini.
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-I3J5v-9kRf8/TuJE99ipKNI/AAAAAAAAH-g/R-yhbqF-gzI/s1600/IMG_9014.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-I3J5v-9kRf8/TuJE99ipKNI/AAAAAAAAH-g/R-yhbqF-gzI/s320/IMG_9014.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-GqF9OMEyOoY/TuJE9pzy-VI/AAAAAAAAH-Y/9v0YlLs8L74/s1600/IMG_9012.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://1.bp.blogspot.com/-GqF9OMEyOoY/TuJE9pzy-VI/AAAAAAAAH-Y/9v0YlLs8L74/s320/IMG_9012.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Pesanan teman saya, Ifumie, datang terlebih dahulu. Alih-alih Ifumie, bentuk makanan teman saya ini lebih terlihat menyerupai Mie Goreng atau Mie Capcai. Saya sampai berusaha bertanya ke Ito yang melayani dan meyakinkan bahwa ini memang pesanan yang tepat. Ternyata, memang wujud dari sang Ifumie seperti ini, mienya digoreng bersama dengan sayur-sayuran yang didominasi oleh potongan wortel. Hmm...bagaimana kalau kita pesan Mie Goreng beneran yach? Hehehehe. Ifumie yang sebenarnya kan harusnya digoreng kering dan kemudian disiram oleh kuah kental bercampur sayur-sayuran. Yah, untung saja rasanya masih enak dan gurih untuk dimakan. Perbandingan antara aroma dan rasa tidak terlampau jauh. Enak! Nah, permasalahan muncul dengan pesanan saya. Mie Thai-Pedas yang saya pesan tidak datang-datang. Cukup lama saya menunggu sembari mencicipi Ifumie milik teman saya. Setelah memanggil si Ito, nggak lama si Mie Thai-Pedas ini barulah datang. Mungkin proses pembuatannya memang cukup rumit dan lama sehingga pesanan ini nggak keluar-keluar. Soal wujud, Mie-Thai Pedas ini memang berwarna merah menyala, terbalut oleh cairan pedas yang tentunya membuat air liur terbit apalagi kalau lapar. Rasanya? Yah, memang pedas sich! Hahaha. Pertama-tama memang tidak terasa pedasnya, namun lama kelamaan, campuran antara lada dan cabai membuat makanan ini menjadi pedashhhhhh. Menu yang satu ini memang nikmat, apalagi kala panas dan hangat-hangat. Namun, perut saya nggak kuat kalau dipaksakan makan sepedas ini (catet : level pedas saya tidak terlalu keterlaluan koq) alhasil Mie Thai-Pedas ini tidak saya habiskan. Sayang sich, tapi saya nggak  mau mencri-mencri sepanjang perjalanan (masih ada 5 hari ke depan soalnya). Untungnya, teh di rumah makan ini tersedia gratis dan menurut saya yang penggemar teh, teh disini harum dan nikmat. Hihihi. Apalagi gratis! Makin nikmat saja dech. Pengalaman makan malam di Pangururan akhirnya ditutup dengan sekotak susu dingin untuk menetralkan perut agar tidak bergejolak esok harinya. Hehehehe.
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9482245-4483869477001058153?l=lomardasika.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LOkJ5r-lOlR0XJFg_9iwioOBISA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LOkJ5r-lOlR0XJFg_9iwioOBISA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LOkJ5r-lOlR0XJFg_9iwioOBISA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/LOkJ5r-lOlR0XJFg_9iwioOBISA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~4/dj57Phq-168" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://lomardasika.blogspot.com/feeds/4483869477001058153/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/ifumie-dan-mie-thai-pedas-la-panguruan.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4483869477001058153?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/9482245/posts/default/4483869477001058153?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/TasteTheRealIndonesia/~3/dj57Phq-168/ifumie-dan-mie-thai-pedas-la-panguruan.html" title="Ifumie Dan Mie Thai-Pedas A La Panguruan" /><author><name>Lomar Dasika</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15264000010415055429</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://2.bp.blogspot.com/_a1-SHsSp1Z4/S_nqVZcxQJI/AAAAAAAAFWg/EtpgqE0R3Sc/S220/IMG_3477.JPG" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-ImjrIjg9wsg/TuJEGo5ZTKI/AAAAAAAAH90/vJOCg4yGpdc/s72-c/IMG_9008.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://lomardasika.blogspot.com/2011/12/ifumie-dan-mie-thai-pedas-la-panguruan.html</feedburner:origLink></entry></feed>

