<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss"
	xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#"
	>

<channel>
	<title>TemanTakita.com</title>
	<atom:link href="/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link></link>
	<description>Portal Bakat Anak</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Nov 2018 03:18:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	
	<item>
		<title>Singapura Menghapus Sistem Rangking</title>
		<link>/singapura-menghapus-sistem-rangking/</link>
					<comments>/singapura-menghapus-sistem-rangking/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 04 Nov 2018 03:08:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>
		<category><![CDATA[sistem rangking]]></category>
		<category><![CDATA[sistem ranking]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2498</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#8220;Belajar bukan sebuah kompetisi!&#8221;, tegas Ong Ye Kung, Menteri Pendidikan Singapura ketika menjelaskan langkahnya menghapus...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/singapura-menghapus-sistem-rangking/">Singapura Menghapus Sistem Rangking</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>&#8220;Belajar bukan sebuah kompetisi!&#8221;</strong>, tegas Ong Ye Kung, Menteri Pendidikan Singapura ketika menjelaskan langkahnya menghapus sistem rangking.<span id="more-2498"></span></p>
<p>Ketika kami mempublikasikan artikel tentang <a href="/sistem-ranking-bersaing/">Penghapusan Sistem Rangking</a> dan <a href="/berprestasi/">Dampak Negatif Lomba</a>, banyak pembaca bereaksi menolak. Sebagian merujuk pada pendidikan di Singapura yang katanya lebih maju saja tetap menggunakan sistem rangking. Terlebih, asesmen kualitas pendidikan global PISA tahun 2015 menunjukkan capaian murid Singapura lebih tinggi dibandingkan semua negara peserta. Ternyata yang menjadi acuan, Singapura justru melakukan perubahan sistem pendidikan secara mendasar. Lompatan jauh!</p>
<p><a href="https://www.statista.com/chart/7104/pisa-top-rated-countries-regions-2016/"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2500" src="/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-negara-terbaik-pendidikan-pisa-2015-sistem-rangking.jpg?resize=605%2C754" alt="" width="605" height="754" srcset="/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-negara-terbaik-pendidikan-pisa-2015-sistem-rangking.jpg?w=605 605w, /wp-content/uploads/2018/11/Singapura-negara-terbaik-pendidikan-pisa-2015-sistem-rangking.jpg?resize=241%2C300 241w, /wp-content/uploads/2018/11/Singapura-negara-terbaik-pendidikan-pisa-2015-sistem-rangking.jpg?resize=257%2C320 257w" sizes="(max-width: 605px) 100vw, 605px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Dikutip dari situs <a href="https://www.weforum.org/agenda/2018/10/singapore-has-abolished-school-exam-rankings-here-s-why/">WeForum.org</a> dan <a href="https://www.straitstimes.com/singapore/education/learning-is-not-a-competition-no-more-1st-2nd-or-last-in-class-for-primary-and">Straitstimes.com</a>, Menteri Pendidikan Singapura memaparkan perubahan sistem pendidikan Singapura yang bisa disarikan menjadi beberapa poin berikut:</p>
<ol>
<li>Sistem rangking dihapus. Tidak ada lagi perbandingan antar murid</li>
<li>Ujian sama sekali dihapus pada kelas 1 dan 2 (pada usia 6 &#8211; 8 tahun)</li>
<li>Pada kelas yang lebih tinggi, ujian akan dikurangi pelaksanaannya</li>
<li>Buku rapor diubah agar murid lebih fokus pada kemajuan belajarnya</li>
</ol>
<p><strong>Mengapa Singapura yang mencapai capaian terbaik justru mau merombak sistem pendidikannya?</strong></p>
<p>Bila suatu negara capaian pendidikannya buruk tentu wajar melakukan perubahan sistem pendidikan. Alasannya jelas, agar capaian pendidikannya meningkat. Tapi posisi Singapura saat ini sedang berada pada tingkat terbaik. Mereka tidak punya alasan untuk melakukan perubahan sistem pendidikan. Mau mencapai apalagi?</p>
<div style="width: 642px;" class="wp-video"><!--[if lt IE 9]><script>document.createElement('video');</script><![endif]-->
<video class="wp-video-shortcode" id="video-2498-1" width="642" height="642" autoplay="1" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-Menghapus-Sistem-Rangking-Karena-Belajar-Bukan-Kompetisi.mp4?_=1" /><a href="/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-Menghapus-Sistem-Rangking-Karena-Belajar-Bukan-Kompetisi.mp4">/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-Menghapus-Sistem-Rangking-Karena-Belajar-Bukan-Kompetisi.mp4</a></video></div>
<p>Ternyata Singapura punya pandangan jauh ke depan. Sistem pendidikan bukan memenuhi tuntutan hari ini, tapi memenuhi tuntutan 20 tahun lagi. <a href="/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/">Pendidikan untuk masa depan anak.</a> Di masa depan, dunia kerja akan mengalami perubahan drastis. Ada banyak pekerjaan lama yang punah. Ada banyak pekerjaan baru yang lahir. Tantangan kerja yang tidak disiapkan oleh sistem pendidikan lama ala zaman industri.</p>
<p><a href="http://MemilihSekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-large wp-image-2501" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=580%2C1024" alt="" width="580" height="1024" srcset="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=580%2C1024 580w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=170%2C300 170w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=768%2C1356 768w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=566%2C999 566w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?resize=181%2C320 181w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/11/Dunia-Kerja-Anak-Zaman-Now.jpg?w=901 901w" sizes="(max-width: 580px) 100vw, 580px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p><strong>Apa yang dituju dalam perubahan sistem pendidikan Singapura? </strong></p>
<p>Singapura berharap murid belajar bukan dimotivasi berdasarkan rangking atau perbandingan dengan murid yang lain, tapi lebih pada kemerdekaan belajar (self regulated learning). Perubahan sistem pendidikan diharapkan memberi waktu lebih banyak pada murid untuk mempelajari berbagai topik dan keterampilan baru, mengenal beragam tantangan belajar dan pada ujung akhirnya menjadi pelajar merdeka sepanjang hayat.</p>
<p>Di hadapan 1700 pemimpin sekolah, <a href="https://www.straitstimes.com/singapore/education/learning-is-not-a-competition-no-more-1st-2nd-or-last-in-class-for-primary-and">Menteri Pendidikan Singapura</a> menyampaikan, &#8220;Saya tahu &#8220;menjadi rangking pertama atau kedua&#8221; di kelas pada masa lalu merupakan pengakuan yang membanggakan bagi prestasi murid. Tapi penghapusan sistem rangking dengan tujuan bagus, untuk memastikan anak memahami bahwa belajar bukan kompetisi, tapi disiplin diri yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan hidup.</p>
<p><strong>Sebagai orangtua, apa yang bisa dipelajari dari perubahan sistem pendidikan Singapura?</strong></p>
<p>Indonesia tentu berbeda dengan Singapura. Singapura sebagai negara kecil bisa jauh lebih cepat melakukan perubahan dibandingkan Indonesia. Jadi pilihannya ada di tangan orangtua, untuk belajar dan mengadopsi pelajaran dari sistem perubahan Singapura. Di Indonesia, banyak sekolah yang meniru sistem pendidikan Singapura yang masih menekankan pada sistem rangking. Peniruan yang dilakukan terang-terangan oleh banyak sekolah karena bisa memikat banyak orangtua untuk memilih sekolah tersebut.</p>
<p>Dengan adanya perubahan sistem pendidikan di Singapura ini, orangtua perlu memikirkan kembali cara memilih sekolah yang tepat buat anak-anaknya. Apakah akan mengikuti sistem lama pendidikan Singapura atau mengikuti perubahan sistem pendidikan Singapura yang menghapus sistem rangking?</p>
<p>Dalam buku Memilih Sekolah, sistem lama disebut sebagai sekolah menanamkan dan sistem baru disebut sebagai <a href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">sekolah menumbuhkan</a>. Segera dapatkan buku Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now untuk mendapatkan panduan memilih sekolah menumbuhkan. Hanya tersedia di <a href="http://MemilihSekolah.com">MemilihSekolah.com</a>.</p>
<p><strong>Seberapa banyak sekolah di Indonesia akan mengikuti perubahan sistem pendidikan Singapura? Mengapa?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/singapura-menghapus-sistem-rangking/">Singapura Menghapus Sistem Rangking</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/singapura-menghapus-sistem-rangking/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		<enclosure url="/wp-content/uploads/2018/11/Singapura-Menghapus-Sistem-Rangking-Karena-Belajar-Bukan-Kompetisi.mp4" length="7351584" type="video/mp4" />

			</item>
		<item>
		<title>Bila Tanpa Sistem Ranking, Bagaimana Anak Bisa Siap Bersaing?</title>
		<link>/sistem-ranking-bersaing/</link>
					<comments>/sistem-ranking-bersaing/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 May 2018 00:00:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[peringkat]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah menumbuhkan]]></category>
		<category><![CDATA[sistem ranking]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2488</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak orangtua menuntut guru dan sekolah menyediakan sistem ranking kelas anaknya. Orangtua berharap bisa melihat...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/sistem-ranking-bersaing/">Bila Tanpa Sistem Ranking, Bagaimana Anak Bisa Siap Bersaing?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyak orangtua menuntut guru dan sekolah menyediakan sistem ranking kelas anaknya. Orangtua berharap bisa melihat daya saing anaknya. Benarkah?<span class="Apple-converted-space"> </span></strong><span id="more-2488"></span></p>
<p>Penghapusan sistem ranking murid memang menjadi pro kontra antara orangtua, guru dan pihak sekolah. Sekolah menumbuhkan bersikap tegas menghapus sistem rangking yang berakibat kerepotan menghadapi tuntutan orangtua. Orangtua berpendapat dengan mengetahui ranking anaknya, maka mereka mengetahui seberapa jauh daya saing anaknya dibandingkan murid yang lain. Lagi pula sebagian perguruan tinggi mensyaratkan data rangking sebagai syarat mendapatkan rekomendasi. Meski ini merupakan salah satu salah kaprah terbesar perguruan tinggi dalam memilih calon mahasiswa (Baca artikel: <a href="https://www.kompasiana.com/nita.handayani/kontradiksi-penghapusan-sistem-ranking-di-sekolah_550916f0a33311a6452e3b83">Kontradiksi Penghapusan Sistem Rangking di Sekolah</a>)</p>
<p><strong>Apakah sistem ranking sejalan dengan tujuan pendidikan? Apa saja kerugian penggunaan sistem ranking?<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>Ada dua acuan dalam melakukan penilaian terhadap proses dan hasil belajar anak yaitu berbasis norma (rangking) atau berbasis kriteria. Acuan berbasis norma membandingkan capaian anak dengan capaian pada kelompoknya (kelas, sekolah dll). Acuan berbasis kriteria membandingkan capaian anak dengan kriteria-kriteria tertentu yang menjadi sasaran belajar.</p>
<p>Acuan berbasis norma, seperti sistem rangking, memang memudahkan untuk melihat perbandingan capaian anak dibandignkan kelompoknya. Orangtua bisa melihat apakah anak kita masuk 10 besar atau 10% tertinggi. Orangtua pun puas melihat hasil perbandingan tersebut. Tapi kemudahan pula yang menjadi salah kaprah acuan berbasis norma karena ada banyak hal esensial yang tidak terlihat dari perbandingan tersebut.</p>
<p><strong>Apa saja salah kaprah sistem ranking?</strong></p>
<p><strong>Sistem ranking hanya menunjukkan capaian relatif.</strong> Artinya, peringkat anak kita tergantung pada kemampuan rata-rata murid di kelasnya. Apa artinya peringkat satu di kelas yang rata-rata memang kemampuannya rendah? Jadi jurus paling mudah menempati rangking satu adalah masuk di kelas yang nilai rata-ratanya lebih rendah. Tentu bukan hal yang baik untuk anak kita bukan?<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p><strong>Sistem ranking menyembunyikan capaian belajar yang esensial.</strong> Anak kita jadi peringkat satu memang membuat kita puas. Tapi peringkat tersebut tidak menunjukkan capaian belajar yang esensial. Pendidikan adalah proses tumbuh kembang yang berkelanjutan sehingga setiap jenjang mensyaratkan kemampuan tertentu yang perlu dikuasai anak kita. Dengan melihat pada ranking, kita justru mengabaikan kemampuan yang penting dikuasai anak pada setiap jenjangnya. Semakin tinggi jenjangnya akan semakin terasa bahwa anak bisa terus menerus rangking pertama tapi sebenarnya tidak menguasai kemampuan untuk belajar dan hidup mandiri.</p>
<p><strong>Sistem ranking menyampaikan pesan yang keliru.</strong> Ketika peringkat yang menjadi nomor satu, maka anak akan mendapatkan pesan bahwa ia harus mengejar peringkat setinggi-tingginya. Semua daya upayanya pun dikerahkan untuk mencapainya sehingga anak pun terbiasa belajar hanya menjelang ujian atau upaya lain untuk memastikan nilainya lebih tinggi. Anak pun melupakan bahwa manfaat belajar bukan sekedar ranking, tapi penguasaan kemampuan yang akan menjadi bekalnya dalam menghadapi tantangan hidup.</p>
<p><strong>Sistem ranking menumbuhkan motivasi eksternal.</strong> Anak-anak yang belajar pada sekolah yang mengutamakan peringkat akan termotivasi belajarnya berdasarkan motivasi eksternal. Belajar hanya bila dinilai atau berpengaruh pada nilai dan peringkatnya. Kegemaran belajar yang sudah dimilikinya sejak lahir pun perlahan menghilang. Belajar menjadi beban.</p>
<p><strong>Sistem ranking menciptakan suasana kompetisi.</strong> Riset membuktikan belajar efektif pada suasana kolaboratif (Baca tulisan: <a href="/berprestasi/">Kompetisi</a>). Tapi prasyarat itu gagal dipenuhi bila sekolah menerapkan sistem rangking. Alih-alih kolaborasi, suasana sekolah justru menjadi sengit dengan persaingan. Murid yang satu bersaing dengan murid yang lain. Kelompok-kelompok kecil terbentuk untuk bersaing dengan kelompok lain. Sambil lupa bahwa saingan mereka dalam hidup sebenarnya bukanlah teman-temannya.</p>
<p>Pada akhirnya, jangan sampai peringkat yang bersifat relatif diyakini orangtua untuk menyiapkan anak menghadapi tantangan kerja dan kehidupan. Peringkat terhadap teman kelasnya tidak berarti sama sekali ketika anak harus menghadapi tantangan kerja dan kehidupan. Dalam kerja dan kehidupan, anak tidak hanya menghadapi teman kelasnya <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/13.1.0/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://memilihsekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2493 size-full" title="sistem ranking sekolah menumbuhkan memilih sekolah" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?resize=600%2C600" alt="" width="600" height="600" srcset="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?w=600 600w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?w=150 150w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?w=300 300w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?w=200 200w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Sistem-Ranking-Panduan-Memilih-Sekolah.jpg?w=320 320w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Jadi langkah <a href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">sekolah menumbuhkan</a> untuk menghapus sistem rangking sudah tepat. Sayangnya, penghapusan sistem rangking tidak disertai sosialisasi yang memadai pada orangtua. Apa pengganti sistem rangking untuk mengetahui daya saing murid?<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Masih ada pilihan lain yaitu penilaian berdasarkan acuan pada kriteria. Sistem kriteria ini mensyarakatkan sekolah memaparkan kemampuan yang penting dikuasai anak pada setiap semester/tahun ajaran. Pada setiap akhir siklus belajar (term/semester), guru menunjukkan capaian murid dibandingkan dengan kemampuan yang diharapkan dikuasainya. Apa saja kemampuan murid yang sudah diatas kriteria, sesuai kriteria dan masih di bawah kriteria. Guru, murid dan orangtua kemudian membuat kesepakatan untuk pengembangan dan perbaikan kemampuan murid untuk siklus belajar berikutnya.</p>
<p>Dengan acuan pada kriteria, orangtua mendapatkan informasi capaian belajar yang esensial. Guru dan orangtua bekerja sama untuk membantu murid mencapai kemampuan yang diharapkan karena kemampuan pada suatu jenjang dibutuhkan untuk belajar pada jenjang berikutnya. Dengan demikian, murid belajar berkelanjutan pada setiap jenjang sehingga pada akhir jenjang pendidikan menengah, murid siap untuk belajar dan hidup mandiri. Mereka tahu arah kariernya akan kemana setelah lulus pendidikan menengah.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Pastikan Anda memilih sekolah menumbuhkan, sekolah yang tidak menggunakan rangkin sebagai acuan penilaian hasil belajar anak Anda. Dapatkan <a href="http://memilihsekolah.com">Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now</a> yang dilengkapi panduan observasi dan wawancara untuk memililih sekolah menumbuhkan.</p>
<p><strong>Apakah Anda sudah tahu penguasaan anak Anda terhadap kemampuan sesuai jenjang pendidikannya? Atau hanya tahu sebatas peringkat anak pada sistem ranking di kelas dan sekolahnya? </strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/sistem-ranking-bersaing/">Bila Tanpa Sistem Ranking, Bagaimana Anak Bisa Siap Bersaing?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/sistem-ranking-bersaing/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Surat Direktur HRD kepada Kepala Sekolah Zaman Now</title>
		<link>/surat-direktur-hrd/</link>
					<comments>/surat-direktur-hrd/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Andrie Firdaus]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 May 2018 23:30:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[direktur hrd]]></category>
		<category><![CDATA[rekrutmen karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[seleksi karyawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2483</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak orangtua membayangkan nilai tinggi dari sekolah favorit lebih menjamin anaknya diterima kerja. Tapi di...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/surat-direktur-hrd/">Surat Direktur HRD kepada Kepala Sekolah Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyak orangtua membayangkan nilai tinggi dari sekolah favorit lebih menjamin anaknya diterima kerja. Tapi di zaman yang berubah, anak zaman now akan menghadapi tantangan yang berbeda. Simak surat dan video Direktur HRD ini </strong><br />
<span id="more-2483"></span></p>
<p>“Mulai sekarang, kami tidak lagi memakai nilai akademis untuk menyeleksi karyawan”</p>
<p>Dengan hormat,</p>
<p>Ibu-Bapak kepala sekolah yang baik, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas dedikasi yang tinggi terhadap tercapainya tujuan pendidikan bagi seluruh anak bangsa. Tidak lupa saya sampaikan adalah tugas kita bersama untuk saling menyebar maksud baik guna menempatkan tujuan pendidikan itu ke arah yang lebih baik.</p>
<p>Bersama kita ketahui, anak didik kita akan menampilkan hasil pembelajaran yang dijalaninya setelah lepas dari sekolah. Mereka tampil dan berkarya dalam dunia yang begitu nyata. Begitu penuh dengan tantangan, sehingga dalam dugaan saya, Ibu dan Bapak pasti berupaya keras meningkatkan kesiapan murid dalam menghadapi tantangan dunia di luar sekolah.</p>
<p>Selama bertahun-tahun, kami, praktisi di bidang sumber daya manusia menggunakan standar yang dibuat sekolah dalam menyeleksi karyawan. Standar itu bernama prestasi akademis. Maka, setumpuk lamaran yang mampir di meja saya begitu saja berkurang dengan cepat setelah saya gerakan tongkat pemindai nilai ijazah untuk menyortirnya. Murid dengan nilai tinggi dengan mudah diterima organisasi. Sementara penerima nilai rendah akan mengais rejeki di “dunia lain” kalau tidak mendapat pekerjaan berpenghasilan rendah.</p>
<div style="max-width: 854px;">
<div style="position: relative; height: 0; padding-bottom: 56.25%;"><iframe loading="lazy" style="position: absolute; left: 0; top: 0; width: 100%; height: 100%;" src="https://embed.ted.com/talks/lang/id/regina_hartley_why_the_best_hire_might_not_have_the_perfect_resume" width="854" height="480" frameborder="0" scrolling="no" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun, zaman berubah. Kenyataan membuka jendela keyakinan kami. Tidak selamanya murid berprestasi ini mampu menjalankan tanggung-jawab pekerjaannya dengan baik. Seakan seluruh energi mereka habis oleh Ujian Nasional, murid berprestasi gagal memompa semangat menghadapi ujian karier. Hampir dari setengah kepayahan beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebagian lain bermasalah dengan sikap kerja dan kerjasama satu dengan yang lain.</p>
<p>Bertemu dengan dunia kerja yang begitu dinamis, mata mereka mengisyaratkan kekosongan. Bagai menduga, apakah ini dunia yang sama. Dunia dimana aku dapat bersaing saat ujian tulis maupun praktik. Dunia dimana jika aku patuh, maka aku bisa cepat pulang. Dunia dimana aku punya waktu sebulan untuk berlatih menghafal rumus, urutan tata surya maupun tanggal persis suatu peristiwa sejarah. Tidak. Ini dunia yang betul-betul asing.</p>
<p>Begitu banyak jaring yang harus dirajut, begitulah cara kami bekerja. Bukan sekedar menyulam dengan pola yang teratur. Berkomunikasi efektif itu modalnya. Bukan sekedar ikut perintah. 4 dari 5 pimpinan kami di industri menginginkan lulusan yang mampu berkomunikasi dengan baik. Alih-alih sekedar menjawab pertanyaan, kami mau orang-orang yang mampu merapal pertanyaan secara efektif, lengkap dengan argumen logis dan berbasis data.</p>
<p>Bersinggungan dengan kompetisi di dunia kerja, orang pertama di garis ‘finish’ tidak menyilaukan kami. Kami butuh orang pertama di garis ‘start’. Seseorang yang memulai. Seseorang yang inovatif. Penuh gairah membawa kebaruan. Bukan pelintas tercepat di atas garis pacu. Kami butuh pencipta garis lintasan baru.</p>
<p>Seperti diketahui, dunia kita berubah sangat cepat. Belum ajeg kaki kita berdiri, sudah dipaksa melompat kembali. Beruntung kita masih terpapar sentuhan peradaban masa silam. Saat digitalisasi masih seumur jagung. Saat internet masih belajar merangkak. Tantangan dunia hiperrealitas masih longgar terasa. Tidak begitu dengan anak didik kita.</p>
<p>Mereka yang saat ini berada di bawah naungan Ibu dan Bapak, akan mendatangi suatu zaman yang benar-benar baru. Anak Zaman <em>Now </em>akan hidup di zaman <em>next</em>. Tantangan zaman now kelak tak lagi relevan di masa mendatang. Kompleksitas kehidupan berpilin dari kutub ke kutub. Revolusi Industri 4.0 menjadi nyata. Bisnis model industri mensyaratkan penggunaan sumber daya manusia seminimal mungkin. Pilihan karier sebagai karyawan, hanya terbatas pada siapa yang paling cepat belajar dan beradaptasi dengan teknologi yang ada. Peradaban non-digital menjadi barang antik.</p>
<p>Dengan perubahan itu, apakah tantangan karier anak kita sama dengan kita? Pun juga apakah tujuan pendidikan hanya terbatas pada pencapaian prestasi akademis? Kedua pertanyaan itu jawabnya tidak.</p>
<p>Kami khawatir  membayangkan anak didik kita berdiri di tengah pusaran hidup berbekal keterampilan yang tidak lagi dibutuhkan pada zamannya. Pakar dan analis ketenagakerjaaan masa depan menyampaikan, keterampilan sosial seperti kecerdasan emosi, persuasi dan keterampilan mengajar lebih dibutuhkan alih-alih keterampilan teknis spesifik. Selebihnya, kemampuan mempelajari keterampilan baru menentukan keberhasilan seseorang mencapai kariernya maupun menghadapi gelombang disrupsi lapangan kerja.</p>
<p><a href="http://MemilihSekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-large wp-image-2484" src="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=642%2C382" alt="" width="642" height="382" srcset="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=1024%2C610 1024w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=300%2C179 300w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=768%2C458 768w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=748%2C446 748w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?resize=485%2C289 485w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Direktur-HRD.jpg?w=1280 1280w" sizes="(max-width: 642px) 100vw, 642px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Kabar buruknya Ibu dan Bapak yang saya cintai; keterampilan tersebut tidak dapat diajarkan dengan cara pendidikan menanamkan yang berorientasi pada nilai akademik. Membuat anak cerdas secara emosi berbanding terbalik dengan tujuan membuat anak patuh. Mengajarkan persuasi tidak berhasil dengan cara memaksa dan mengancam. Keterampilan mengajar bukan juga dihasilkan dari cara mendidik berbekal hukuman. Puncaknya, kemampuan belajar hal baru tidak akan terasah jika anak tidak merdeka belajar.</p>
<p>Itu mengapa, surat ini begitu mendesak saya tulis. Bukan saja untuk menakuti, melainkan juga ingin mengajak bersama menatap ke depan. Tinggalkan segera cara-cara lama. Setidaknya, mulai ubah cara berpikir<em> </em>kita dan penuhi dengan harapan. Pendidikan untuk murid tidak hanya sebatas legitimasi eksistensi sekolah. Ada niat luhur dari seluruh pendidik. Bukan sekedar menyelamatkan tujuan pendidikan. Mari kita selamatkan peradaban.</p>
<p>Terima kasih telah menyediakan waktu untuk membaca surat ini</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hormat saya,</p>
<p>Direktur HRD</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/surat-direktur-hrd/">Surat Direktur HRD kepada Kepala Sekolah Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/surat-direktur-hrd/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Ciri Sekolah Menumbuhkan untuk Anak Zaman Now</title>
		<link>/ciri-sekolah-menumbuhkan/</link>
					<comments>/ciri-sekolah-menumbuhkan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 May 2018 00:21:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah menumbuhkan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2479</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orangtua pasti berharap memilih sekolah yang menumbuhkan potensi anak secara optimal. Tapi bagaimana bisa memilih...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">Inilah Ciri Sekolah Menumbuhkan untuk Anak Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Orangtua pasti berharap memilih sekolah yang menumbuhkan potensi anak secara optimal. Tapi bagaimana bisa memilih <a href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">sekolah menumbuhkan</a>, bila belum mengetahui ciri-cirinya. Segera baca dan pelajari tulisan ini</strong><span id="more-2479"></span></p>
<p>Orang awam ketika dihadapkan dengan berbagai tas, pasti melihat semua tas tersebut bagus. Tidak ada beda antara tas yang satu dengan tas yang lain selain tampilan yang terlihat. Namun, buat penggemar tas dapat dengan mudah mana tas yang pasaran dan mana tas yang bagus. Bahkan bagi yang ahli, mereka bisa membedakan mana tas yang asli dan mana yang palsu meski tampilannya terkesan sama.</p>
<p>Pola penilaian serupa terjadi pula pada berbagai benda sehari-hari kita. Sepatu, pakaian, otomotif, gawai, perangkat olah raga dan yang lainnya. Kecenderungan orang awam menilai sesuatu berdasarkan tampilan luarnya, tanpa memahami detil-detil kecil yang seringkali lebih menentukan.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Begitu pula kebanyakan orangtua menilai sebuah sekolah yang seringkali melihat penampilan luar. Bahkan ada orangtua yang mengaku selama ini menilai sekolah cukup berdasarkan brosur sekolah atau perkataan orangtua yang lain. Padahal sebagaimana tas, meski dua tas tampilannya sama bisa jadi hanya salah satunya yang asli.</p>
<p>Bila memilih tas saja kita harus cermat, maka memilih sekolah pun butuh penilaian yang lebih cermat lagi. Lebih dari sekedar uang sekolah yang harus dibayarkan, memilih sekolah berkaitan dengan masa depan anak. Bila keliru membeli tas, masih ada kemungkinan dikembalikan, maka keliru memilih sekolah lebih susah lagi. Jangan sampai <a href="/keliru-memilih-sekolah-2/">sudah habis jutaan</a>, ternyata keliru memilih sekolah.</p>
<p>Jadi mari pelajari ciri-ciri sekolah yang menumbuhkan, sekolah yang menyiapkan <a href="/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/">anak zaman now untuk siap bersaing dengan robot</a>.<span class="Apple-converted-space"> Lakukan kunjungan ke sekolah (Baca: <a href="/langkah-memilih-sekolah/">6 Langkah Memilih Sekolah</a>), kemudian cermati ciri-ciri berikut ini</span></p>
<ul>
<li dir="ltr">Visi Sekolah: Biasanya menggunakan kata: menghargai, perilaku/karakter anak, atau kata lain yang menunjukkan pusat perhatian utama sekolah adalah anak</li>
<li dir="ltr">Ukuran Keberhasilan: Penguasaan keterampilan hidup yang biasanya diukur dari perilaku dan karya anak</li>
<li dir="ltr">Tantangan Belajar: Memadukan tuntutan kurikulum dengan kebutuhan &amp; kemampuan anak</li>
<li dir="ltr">Sistem Penilaian: Ujian tulis hanya menjadi salah satu bentuk penilaian. Ada pameran karya dan pageralan atraksi anak-anak</li>
<li dir="ltr">Suasana Sekolah: Suasana cenderung stabil, ramai dalam batasan yang tidak mengganggu antar anggota sekolah</li>
<li dir="ltr">Pengembangan Guru: Ada program pengembangan untuk guru baru. Ada mekanisme bagi guru untuk berbagi pengalaman mengajar secara berkala</li>
<li dir="ltr">Keterlibatan Orangtua: Orangtua terlibat melalui beragam peran terhadap aktivitas sekolah. Ada sosialisasi peran yang diharapkan dari orangtua.</li>
<li dir="ltr">Makna Sarana: Menceritakan penggunaan sarana prasarana dalam menunjang proses belajar</li>
<li dir="ltr">Tampilan Sarana Sekolah: Banyak dinding yang diisi pajangan karya anak, pajangan tertata secara alami, tidak ada lokasi untuk piala karena habis untuk aktivitas belajar atau memajang karya anak. Ada petunjuk penggunaan fasilitas.</li>
<li dir="ltr">Sarana Pendukung: Kantin dan toilet diperhatikan karena percaya kebersihan dan kesehatan menentukan kualitas pendidikan</li>
</ul>
<p><a href="http://MemilihSekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2480" src="/wp-content/uploads/2018/05/Poster-Sekolah-Menumbuhkan.jpg?resize=600%2C819" alt="" width="600" height="819" srcset="/wp-content/uploads/2018/05/Poster-Sekolah-Menumbuhkan.jpg?w=600 600w, /wp-content/uploads/2018/05/Poster-Sekolah-Menumbuhkan.jpg?w=220 220w, /wp-content/uploads/2018/05/Poster-Sekolah-Menumbuhkan.jpg?w=234 234w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p><strong>Manakah dari <a href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">ciri-ciri sekolah menumbuhkan</a> yang paling mudah dikenali? Mana pula yang butuh usaha lebih untuk mengenalinya?<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/ciri-sekolah-menumbuhkan/">Inilah Ciri Sekolah Menumbuhkan untuk Anak Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/ciri-sekolah-menumbuhkan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tiga Alasan Kenapa Wajib Membaca Buku Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now</title>
		<link>/tiga-alasan-kenapa-wajib-membaca-buku-memilih-sekolah-untuk-anak-zaman-now/</link>
					<comments>/tiga-alasan-kenapa-wajib-membaca-buku-memilih-sekolah-untuk-anak-zaman-now/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Usman Djabbar]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 May 2018 05:56:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[alasan membaca]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2473</guid>

					<description><![CDATA[<p>Sejumlah pembaca, menuliskan komentar dan ulasan mereka tentang buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/tiga-alasan-kenapa-wajib-membaca-buku-memilih-sekolah-untuk-anak-zaman-now/">Tiga Alasan Kenapa Wajib Membaca Buku Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejumlah pembaca, menuliskan komentar dan ulasan mereka tentang buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now. Ini adalah salah satu ulasan pembaca yang bernas dan menarik disimak. Inilah tiga alasannya <span id="more-2473"></span><br />
Anda tahu efifani? Bermaksud mengambil cemilan di dapur, tapi masuknya ke kamar mandi atau bisa juga dibalik: niatnya ke kamar mandi, tapi bergerilya di dapur mengoyak makanan yang tersisa. Tetiba penuh semangat, mengambil selembar kertas kemudian menulis: &#8220;Hanya guru yang belajar yang pantas untuk mengajar. Mulai malam in<span class="text_exposed_show">i, saya akan berubah&#8221;. Keesokan harinya, jangankan semangat, lembaran kertas berisi tulisan semangat lupa ditaruh di mana. Begitulah efifani bekerja pada saya.</p>
<p>Banyak peristiwa yang mengantar saya mengalami pengalaman-pengalaman seperti di atas. Minggu ini, dua karya orang lain berhasil menyiksa saya tidak tidur semalaman. Pertama adalah film Accepted, rilis tahun 2006, ditulis Adam Cooper dkk. Karya kedua adalah buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now yang ditulis kawan saya, <a href="http://Bukik.com" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=1565277781&amp;extragetparams={"directed_target_id":null,"groups_location":null}" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Bukik Setiawan</a> dkk.</p>
<p>Jika film Accepted, bisa anda nonton gratis di situs tertentu, tidak dengan buku kawan saya itu. Ini buku mahal. Ya, buku mahal. Dibutuhkan kesadaran penuh untuk membelinya, tidak bisa sekedar iseng apalagi berharap sebagai hadiah. Saya sering berbagi bacaan Murakami, Kawabata, Nicolai Gogol, atau mungkin Hemingway dengan beberapa teman tapi tidak dengan buku ini. Maaf. Saya tidak bisa meminjamkannya dengan alasan apapun. </span></p>
<p><span class="text_exposed_show"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2474" src="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Tiga-alasan-buku-memilih-sekolah.jpg?resize=336%2C422" alt="" width="336" height="422" srcset="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Tiga-alasan-buku-memilih-sekolah.jpg?w=336 336w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Tiga-alasan-buku-memilih-sekolah.jpg?resize=239%2C300 239w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/Tiga-alasan-buku-memilih-sekolah.jpg?resize=255%2C320 255w" sizes="(max-width: 336px) 100vw, 336px" data-recalc-dims="1" /><br />
Sejak foto buku ini saya pajang di status WA, saya belajar ada tiga model percakapan tentang buku ini.</p>
<p>Model pertama:</p>
<p>“Menk, buku yang di statusmu itu beli di mana? Saya sudah tawaf di toko buku gra**di* dan tidak juga saya temukan.”</p>
<p>“Ah masa sih. Coba cari lagi.”</p>
<p>“Tidak ada Menk. Tidak ada buku begituan. Kalau buku trik lulus jadi pegawai negeri sipil sih banyak.”</p>
<p>“Wkwkwkwk.”</p>
<p>“Saya dikerjai lagi. So, pesan di mana? Toko online?”</p>
<p>“Emang krim pemutih, bisa pesan di mana-mana?”</p>
<p>“Hahahah. Saya serius menk, pesan di manaki?”</p>
<p>“Pesan di saya juga boleh. Tapi tidak janji ya. Saya berkabar.”</p>
<p>“Siappppp.”</p>
<p>Model kedua:</p>
<p>“Alhamdulilah, bukunya sudah terbit. Berbagi ya?”</p>
<p>“Siapppp.”</p>
<p>“Temu pendidik yang akan datang khusus bahas ini ya?”</p>
<p>“Siapppp”, jawabku memperpendek percakapan.</p>
<p>Model ketiga tidak kalah menarik.</p>
<p>“Asyik. Tawwa, adami bukunya.”</p>
<p>Saya hanya membalas dengan emoji senyum kelihatan sedikit giginya. Saya amat mafhum dengan kawan-kawan saya, termasuk yang menuliskan pesan di atas. Tapi sekali lagi, buku ini tidak untuk dipinjamkan. Jadi maaf bro Awal Dicokonuri.</p>
<p>Kenapa buku ini tidak dipinjamkan?</p>
<p>Begini:</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, ‘24 jam Bersama Gaspar’ dan ‘Bajingan yang Menyenangkan’ belum juga kembali ke pemiliknya yang sah. Keduanya buku lama sih, tapi saya amat sayang dengan para penulisnya. Saya belajar dari pengalaman, buku dari penulis yang saya sayangi, tidak untuk dipinjamkan.</p>
<p>Alasan lain? Selain mahal, buku ini bukan milik saya. Buku ini milik Ibu <a href="https://www.facebook.com/adelia.yusdianto" data-hovercard="/ajax/hovercard/user.php?id=100001593412236&amp;extragetparams={"directed_target_id":null,"groups_location":null}" data-hovercard-prefer-more-content-show="1">Adelia Yusdianto</a>, penggiat Komunitas Guru Belajar Makassar. <span class="_5mfr _47e3"><img loading="lazy" class="img" role="presentation" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/1f923.png?resize=16%2C16" alt="" width="16" height="16" data-recalc-dims="1" /><span class="_7oe"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/13.1.0/72x72/1f923.png" alt="🤣" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></span></span><span class="_5mfr _47e3"><img loading="lazy" class="img" role="presentation" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/05/1f923.png?resize=16%2C16" alt="" width="16" height="16" data-recalc-dims="1" /><span class="_7oe"><img src="https://s.w.org/images/core/emoji/13.1.0/72x72/1f923.png" alt="🤣" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></span></span><br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span class="text_exposed_show">&#8212;&#8211;</span></p>
<p style="text-align: left;"><span class="text_exposed_show">Kita kembali ke soal efifani saya malam ini: <a href="http://MemilihSekolah.com"><strong>Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now</strong></a>. Ada tiga alasan kenapa buku ini penting untuk dibaca, diresapi kemudian diamalkan. Ada baiknya anda memilikinya dulu sebelum membacanya.</p>
<p><strong>Pertama, buku ini memiliki daya ‘rusak’ yang besar. Jika anda baca sampai tuntas maka akan berpotensi merusak jam tidur malam Anda.</strong> </span></p>
<p style="text-align: left;"><span class="text_exposed_show">Untuk menuntaskan isi bukunya hanya butuh waktu dua-tiga jam. Tapi waktu yang dibutuhkan untuk menalar, meresapi, menimbang kembali pengalaman butuh lima-sepuluh jam. Saya mulai membaca jam 9 malam dan selesai kurang lebih pukul 11 malam. Tapi menimbang cerita Zhifah di sekolahnya kemudian membandingkan isi buku ini, membuat saya tidak tidur sampai subuh.</p>
<p>“Kenapa sih mesti pulang cepat?”, tanyaku.</p>
<p>“Tidak mauma terlambat ayah. Tidak mauka dikasih jalan jongkok lagi di sekolah”, jawabnya singkat.</p>
<p>Selain merusak jam tidur, buku ini juga berpotensi merusak ‘keyakinan’. Lho, kenapa keyakinan? Saya kembali memikirkan ulang segala bentuk kemapanan baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Ternyata selama ini, saya memelihara kesalahan demi kesalahan. Saya kutip pengalaman para penulis yang kemudian mereka tulis kembali di pengantarnya:</p>
<p>Titik pusat sekolah terbaik adalah ingin tampil di panggung, menjadi sorotan banyak kepentingan. Visi membuat sekolah berusaha keras mencapai kriteria dan standar yang ditetapkan pihak lain agar diakui sebagai sekolah terbaik. Fokusnya adalah tuntutan eksternal. Kebutuhan anak dipenuhi sejauh menjadi kriteria dari lembaga eksternal tersebut. Akibatnya jelas, kebutuhan anak kadang diabaikan karena sekolah disibukkan memenuhi tuntutan menjadi sekolah terbaik. Alih-alih membangun relasi positif, sekolah cenderung menegakkan aturan dan diisplin yang ketat. Sekolah menuntut anak-anak patuh dan tertib. Tercipta relasi sekolah dan anak yang tidak kondusif terbentuknya kegemaran belajar. Belajar menjadi paksaan.</p>
<p><strong>Kedua, buku memilih sekolah ini akan menjadikan Anda berdaya. Jika anda adalah orangtua, maka dengarlah keresahan para penulis buku</strong></p>
<p>“Kami percaya, orangtua adalah komunitas yang punya pengaruh besar dalam pendidikan anak, tapi kadang diabaikan perannya. Kami yang juga orangtua ingin mengajak semua orangtua untuk memgambil peran dalam melakukan perubahan pendidikan. Percayalah, diakui atau tidak, pandangan setiap orangtua dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan di level kelas, sekolah, daerah maupun nasional. Pada level sekolah, keputusan orangtua bisa mempengaruhi arah kebijakan sekolah. Tanpa murid, sekolah akan tutup. Bila kita sebagai orangtua dapat mengubah sikap kita maka perubahan akan berpengaruh pada sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan”. (Baca lengkapnya di: <a href="/sekolah-terbaik/">Mengapa Sekolah Terbaik tidak Baik untuk Anak</a>)</p>
<p>Jika Anda sebagai guru, buku ini akan mengubah cara pandang kita. Kita para guru amat paham, sangat paham bahwa zaman berubah, anak-anak juga turut berubah. Anak-anak tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri, kemudian akan memilih jenis pekerjaan yang berbeda dengan orangtuanya, berbeda cara pandang dengan gurunya, tapi kenapa cara mengajar kita para guru tidak berubah?</p>
<p>Pada sisi lain, masih banyak lakon kita tak ubahnya sebagai Guy dalam film The Croods. Betapa membosankannya menjalani kehidupan yang begitu-begitu saja. Berburu makanan, kenyang, bercerita masa lalu kemudian tertidur dan keesokan harinya masih menemukan kenyataan yang sama. Mengajar pun begitu, datang, mengisi daftar hadir, masuk kelas, menyajikan materi, menilai kemampuan anak kemudian pulang.</p>
<p>Kata Guy, sang Ayah, alam amat kejam dan keras. Anak-anak butuh dilindungi, dikendalikan untuk bertahan hidup. Belajar dari pengalamannya, Guy bersama keluarganya merasa aman bersembunyi di gua yang gelap.</p>
<p>“Rasa ingin tahu adalah pembunuh paling besar. Ingatlah itu Eep”, kata Guy pada putrinya.</p>
<p>Tapi Guy salah. Salah besar. Rasa ingin tahu tidak boleh disembunyikan. Pertanyaan kemerdekaan Eep: Apa maksud semua ini? Untuk apa kita melakukan itu? Semua pertanyaan-pertanyaan nakal ini tidak mampu dijawab oleh Guy. Tanpa disadarinya ketidaktahuan Guy justru akan membunuhnya dikemudian hari. Berhubungan dengan dunia luar adalah keniscayaan, pengalaman unik masing-masing individu mesti diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Dulu, di kelas, saya amat nyaman sebagai Guy. Setiap rasa ingin tahu yang muncul adalah bencana. Perubahan terhadap aturan-aturan warisan pengalaman adalah kepunahan. Sementara, setiap hari saya berhadapan dengan Sandy, Ugga, Eep, Grug atau Thunk yang punya perpektif sendiri-sendiri, ide sendiri-sendiri, cara berpikir sendiri-sendiri. Hari ini, saya mengajak kawan-kawan guru untuk keluar sebagai Guy.</p>
<p><strong>Ketiga, buku ini membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju alam yang terang benderang.</strong> </span></p>
<p style="text-align: left;"><span class="text_exposed_show">Ya, percayalah, buku ini akan memandu keluar dari salah kapra bagaimana memperlakukan anak-anak kita. Apa saja isinya? Saya hanya menuliskan alurnya saja dimulai dari bagaimana memahami anak zaman now, memahami cara belajar zaman now, memahami sekolah anak zaman now, memilih sekolah untuk anak zaman now.</p>
<p>Muncul pertanyaan: bukan kami tidak mau memilih sekolah yang cocok dengan keunikan anak-anak kami, tapi kami tidak punya pilihan lain. Bapak/ibu, bersabarlah, buku ini sudah menyediakan jawabannya.</p>
<p>Pallangga, 30 April 2018</span></p>
<p><a href="http://MemilihSekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-large wp-image-2391" src="/wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?resize=642%2C528" alt="" width="642" height="528" srcset="/wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=1024 1024w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=300 300w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=768 768w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=748 748w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=389 389w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=1284 1284w, /wp-content/uploads/2018/03/Profil-buku-memilih-sekolah.png?w=1926 1926w" sizes="(max-width: 642px) 100vw, 642px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/tiga-alasan-kenapa-wajib-membaca-buku-memilih-sekolah-untuk-anak-zaman-now/">Tiga Alasan Kenapa Wajib Membaca Buku Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/tiga-alasan-kenapa-wajib-membaca-buku-memilih-sekolah-untuk-anak-zaman-now/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memilih Sekolah untuk Siapa? Anak atau Orangtua?</title>
		<link>/memilih-sekolah-untuk-siapa/</link>
					<comments>/memilih-sekolah-untuk-siapa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Imelda Hutapea]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2018 05:45:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[untuk siapa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2467</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orangtua ingin sekolah terbaik untuk anaknya. Tapi seringkali keinginan tersebut membuat orangtua tidak sadar sebenarnya...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/memilih-sekolah-untuk-siapa/">Memilih Sekolah untuk Siapa? Anak atau Orangtua?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orangtua ingin sekolah terbaik untuk anaknya. Tapi seringkali keinginan tersebut membuat orangtua tidak sadar sebenarnya memilih sekolah untuk siapa, orangtua sendiri atau untuk anaknya. Baca dan periksa tujuan memilih sekolah di artikel ini <span id="more-2467"></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semasa anak kita masih bayi, kita sangat peduli apa kebutuhannya. Bagi yang baru menjadi orang tua, tiap kali sang bayi menangis, langsung sigap coba menterjemahkan makna tangisnya: apakah ia lapar? Popoknya basah? Lelah? Sakit?. Lalu buru-buru ambil tindakan (mengganti popok, menyusui) sesuai hasil “tafsirannya”, tak peduli waktu baik siang, malam maupun dini hari. Kalau perlu, agar tak salah tafsir, sampai perlu menonton tayangan ulang talkshow Oprah Winfrey yang mewawancarai pakar makna tangis bayi Priscilla Dunstan.</span></p>
<p><iframe class='youtube-player' width='642' height='362' src='https://www.youtube.com/embed/PgkZf6jVdVg?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;autohide=2&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' allowfullscreen='true' style='border:0;'></iframe></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian, sang bayi berkembang pesat, mulai duduk, merangkak…dan belum mulai berdiri. Mata kita mulai melirik anak tetangga yang seumuran anak kita, yang nampak di pagi hari berjemur sambil merambat di teras rumahnya. Batin berbicara: kapan ya, anak saya?.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masuk usia 2 tahunan, si bayi telah menjelma menjadi mahluk cilik super lincah dan ber tangan terampil. Terima bongkar, tidak terima pasang</span><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;"> Hampir semua yang ia lihat akan dijangkau dan ditelitinya, kalau perlu dicicip rasanya. Celotehannya panjang kali lebar kali tinggi. Kapan saja, di mana saja, baik di rumah maupun tempat umum. Jika akan bepergian, perhitungan sudah mulai ribet macam hitungan fengshui, bagaimana caranya supaya anak saya bisa tenang dan tidak “rusuh” di depan umum?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Apa perbedaan dari cerita di atas? Sepertinya telah terjadi pergeseran dari usaha pemenuhan kebutuhan anak, ke ehmm..pemenuhan kebutuhan orangtua.</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika anda lebih peduli pada anak saat melakukan komparasi bulat-bulat dengan perkembangan anak lain, disitu si anak bukan lagi menjadi subjek tapi mulai jadi objek. Mungkin Anda berpikir “Tetapi percayalah niat saya baik”. Betul sih, orangtua yang waras, mampu dan sehat pasti semua niatnya adalah untuk kebaikan anak.  Tetapi yang baik untuk anak, harusnya diawali dari menggali apa yang dibutuhkan si anak.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara umum, sama seperti kita, anak butuh rasa aman dan nyaman. Kemudian, wajib hukumnya pemenuhan kebutuhan fisik seperti haus, lapar dan lelah, agar kondisinya prima untuk belajar. Saking wajibnya, konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1989 menetapkan “Provision” (pemenuhan kebutuhan) sebagai hak anak-anak yang harus dipenuhi (UN Convention on the Rights of the Children)</span><span style="font-weight: 400;">.</span><span style="font-weight: 400;"> Agak melenceng sedikit, jadi jika anda mengurangi jatah kebutuhan makan anak sebagai bagian dari belajar disiplin, maka sebenarnya telah terjadi pelanggaran HAM anak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebih jauh lagi, kita masuk kepada apa kebutuhan</span> <span style="font-weight: 400;">anak itu sendiri secara spesifik. Mari coba kita lakukan tes kecil ini. Jawablah pertanyaan ini tanpa bertanya pada anak Anda.</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><strong>Sebutkan 3 permainan kesukaan anak Anda</strong></li>
<li style="font-weight: 400;"><strong>Sebutkan 3 nama teman baik anak Anda</strong></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Tulislah jawaban anda pada selembar kertas. Bagaimana, sulitkah menjawab dua pertanyaan di atas? Garuk-garuk kepala? Wah..wah..Anda perlu keramas</span><span style="font-weight: 400;"> <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/13.1.0/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></span></p>
<p><strong>Kebutuhan Anak adalah Faktor Penting Belajar</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap anak itu unik. Dari dunia medis, para dokter anak menggunakan standar “Denver II Development Milestones” (bisa dilihat di www. doctorguidelines.com) untuk memantau tumbuh kembang anak. Yang melegakan, pendekatan yang dipakai lebih menunjukkan persentase kurva tercapainya suatu kemampuan pada usia tertentu, yang masih bisa terus berlangsung pada bingkai waktu tertentu.  Artinya? Anak tumbuh pada tingkat kecepatan berbeda-beda sehingga tidak bisa disamaratakan. Di bidang pendidikan, pengakuan atas kecepatan yang berbeda ini teraplikasi dengan pendekatan yang disebut “Kontinum”, dengan prinsip yang sama yaitu suatu perkembangan (misal membaca) terjadi secara kontinyu pada kurun fase kelompok umur tertentu (misal jenjang prasekolah dan jenjang TK), bukan per patokan usia. Tercapainya kemampuan tersebut yaitu gradual ataupun sekaligus.</span> <span style="font-weight: 400;">Contoh: Pada jenjang prasekolah fasenya disebut kesadaran dan eksplorasi (Bahasa). (Lengkapnya bisa dilihat di www.developmentalstagesofliteracy.com)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Memilih Sekolah, mengapa perlu memahami kebutuhan anak? Tujuan pendidikan adalah membangun kemampuan</span> <span style="font-weight: 400;">dimana anak mendapat peran untuk partisipatif dan sebagai subyek pelaku aktif dalam belajar. Agar terjadi keaktifan anak tersebut, kita perlu tahu apa yang memotivasi, menggerakkannya.. Meminjam istilahnya Bu Najelaa Shihab, apa yang membuat anak betah mengerjakan sesuatu berlama-lama dengan mata yang berbinar-binar?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kembali ke soal tes kecil di atas, tentang 3 permainan yang disukai anak, apa perlunya pengetahuan ini dalam memilih sekolah? Jika anak anda aktif, senang permainan fisik, apakah hal tersebut dipenuhi di sekolah?  Dulu, saat survei sekolah untuk anak, saya pernah berkunjung ke sebuah sekolah yang tidak membolehkan murid-muridnya berlarian, bahkan pada saat jam istirahat. Mulut saya sudah gatal ingin bertanya, bagaimana pada saat pelajaran olah raga? Tapi berhubung sudah hilang minat, saya urungkan dan langsung balik kanan jalan pulang. Padahal sekolah tersebut indah permai dan berfasilitas keren nan lengkap.  Kebayang kan jika orantua tidak tahu anaknya suka permainan fisik, lalu tidak boleh lari samasekali, pasti anak stress bersekolah di situ.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahasan pertanyaan ke dua: pengetahuan anda tentang 3 orang teman baiknya, memberi Anda jalan masuk untuk dialog yang ril, bersifat “ open ended” alias terbuka, yaitu cerita-cerita tentang kejadian di kelas dan semakin mengenal diri serta pemikiran anak kita. Saking seringnya mendengar anak saya bercerita tentang teman-temannya, saya tahu misalnya si J menyebut dirinya tomboi, sedang si K tidak banyak bicara tetapi mereka berempat (anak saya dan 3 temannya) punya kesamaan, sama-sama suka seni dan menggambar dan lebih suka gaya kasual. Saya juga jadi lebih mudah tahu apa kesulitan anak saya di kelas; saya memulai dengan bicarakan teman-temannya lalu pelan-pelan pindah topik: kalo kamu sendiri, gimana? Lalu informasi tersebut dapat menjadi bahan masukan bagi gurunya.</span></p>
<p><a href="http://memilihsekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2468" src="/wp-content/uploads/2018/04/memilih-sekolah-untuk-siapa.jpg?resize=640%2C480" alt="" width="640" height="480" srcset="/wp-content/uploads/2018/04/memilih-sekolah-untuk-siapa.jpg?w=640 640w, /wp-content/uploads/2018/04/memilih-sekolah-untuk-siapa.jpg?w=300 300w, /wp-content/uploads/2018/04/memilih-sekolah-untuk-siapa.jpg?w=427 427w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam memilih sekolah, tugas pertama Anda adalah mengenal anak dan kebutuhannya. Tugas ini wajib alias MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) ya, Bapak Ibu, tidak boleh diabaikan. Jadi saat memilih sekolah, Anda punya gambaran spesifik sekolah seperti apa yang Anda cari. Kita sebagai orang tua adalah mitra sekolah sebagai sumber informasi tentang anak bagi pihak sekolah. Jika kita mangkir, lalu siapa? Jangan salahkan pihak sekolah tidak bisa memberikan dukungan belajar yang sesuai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda mau belajar lebih banyak lagi bagaimana memilih lembaga prasekolah? Ingin terhindar dari sekolah yang tak mau repot mengenali kebutuhan anak? Jangan sedih, saya sudah siapkan tuntunan lengkapnya di buku <a href="/profil-buku-memilih-sekolah/">Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now</a>. Disana anda akan berkenalan dengan tanda-tanda sekolah yang peduli kebutuhan anak. Buku ini tidak ada di toko buku, hanya tersedia khusus di <a href="http://Memilihsekolah.com">MemilihSekolah.com</a>. Silakan</span> <span style="font-weight: 400;">langsung dipesan dan selamat membaca!</span></p>
<p>Sumber foto: <a href="https://www.flickr.com/photos/toksiak/3159459276/in/photolist-nQqh6k-f8i7YV-7jKEzV-fHYdc7-9W3e2v-pbr7ng-4GgPdV-6mfDYb-4GkMQh-dyBc1i-pbr7hM-pbr7kc-8kMy4w-8kMy49-NJoJQW-NVRkCp-mZmCe-dRzq81-4GjpZR-uivVQ-yvxYV-4GkVd7-5cTthq-pbr7hB-tfpQb-f7CvL2-FACRzL-oay9Cy-yvxYX-dGi83q-7kickg-mZmCd-mZmCg-oprP2v-oprDqs-nFFdFs-5Pc4aN-7ipL7U-AggEJx-Jpmx4y-rW8uKs-U4nXDU-PkKW9P-MFWbvj-wFRCEh-yDBNjr-uhxtZG-tpv5k2-yvxYU-iqbo1">Flikcr.com</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/memilih-sekolah-untuk-siapa/">Memilih Sekolah untuk Siapa? Anak atau Orangtua?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/memilih-sekolah-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memilih Sekolah, Memilih Masa Depan Anak</title>
		<link>/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/</link>
					<comments>/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2018 00:55:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan anak]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2463</guid>

					<description><![CDATA[<p>Memilih sekolah bukan sekedar memilih tempat pendidikan anak, apalagi tempat penitipan anak. Memilih sekolah berarti...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/">Memilih Sekolah, Memilih Masa Depan Anak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://MemilihSekolah.com">Memilih sekolah</a> bukan sekedar memilih tempat pendidikan anak, apalagi tempat penitipan anak. Memilih sekolah berarti memilih masa depan anak. Apa pilihan Anda? </strong><span id="more-2463"></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telah puluhan tahun, kebanyakan orangtua menggunakan acuan <a href="/sekolah-favorit/">sekolah favorit</a> sebagai pilihan terbaik sebagai sekolah anaknya. Sekolah favorit adalah sekolah yang menjadikan capaian nilai akademis dan gelar juara sebagai ukuran keberhasilan. Pada masa lalu, acuan tersebut bisa jadi efektif dan terlihat sukses.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun, zaman berubah. Anak-anak zaman sekarang lahir di zaman yang sama sekali berbeda: zaman berkelimpahan, akses informasi sangat mudah, ritme kehidupan yang cepat dan pilihan cara hidup yang beragam. Anak zaman now lahir dan tumbuh menjadi generasi yang berbeda. Perbedaan pun terjadi pada tantangan kerja di masa depan anak. Pekerjaan rutin dan manual hari ini pun sudah mulai diambil alih proses otomatisasi melalui robot. Bagaimana dengan tantangan 20 tahun yang akan datang ketika Anak Zaman Now lulus sekolah/kuliah? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keresahan terhadap fenomena tersebut yang mendorong tim penulis, Bukik Setiawan, Andrie Firdaus dan Imelda Hutapea untuk menulis Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now. Ketiga penulis berasal dari latar belakang berbeda, ahli pendidikan, praktisi SDM dan praktisi PAUD, sehingga menjanjikan panduan yang diperkuat bukti riset tapi tetap praktis sebagai panduan bagi orangtua dalam menentukan masa depan anak. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Peluncuran buku Panduan Memilih Sekolah untuk Zaman Now yang diadakan di Eat &amp; Eat, FX Sudirman Jakarta, pada Rabu 11 April 2018 ini dibuka oleh Najelaa Shihab, tokoh pendidikan yang menginisiasi banyak inisiatif pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, Najelaa Shihab menyatakan </span></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="font-weight: 400;">“Dalam pendidikan, kita seringkali memilih saling menyalahkan, bukan memilih berdaya untuk perubahan. Buku <a href="http://MemilihSekolah.com">“Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now”</a> menjadi penting, lebih dari sekadar kumpulan informasi yang berdasar ilmu dan bukti, tetapi merangsang keterlibatan orangtua serta mendorong perbaikan kualitas sekolah. Buku ini akan memancing berbagai percakapan bermakna di dalam banyak ruang kelas dan keluarga”.</span></p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2465" src="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-2.jpg?resize=600%2C467" alt="" width="600" height="467" srcset="https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-2.jpg?w=600 600w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-2.jpg?w=300 300w, https://i1.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-2.jpg?w=411 411w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah pemaparan, tim penulis menyerahkan buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now kepada Najelaa Shihab yang dilanjutkan dengan foto bersama. Sesi selanjutnya adalah sesi bedah buku oleh tim penulis. Ada banyak pertanyaan yang diajukan beberapa orangtua dari sekitar 50 peserta yang memadati ruangan. Beberapa pertanyaan menarik yang diajukan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Tanya: Bagaiamana tanggapan penulis mengenai pendapat kalau memilih sekolah yang penting terhadap masa depan anak adalah memilih jurusan kuliah, kalau memilih pendidikan dasar apa adanya saja?</strong> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawab: Pandangan ini keliru. Pendidikan dasar justru yang lebih penting karena menjadi fondasi pembiasaan atas sikap dan pembentukan karakter. Misalnya: kemampuan menyampaikan pendapat. Cara yang umum di sekolah adalah dengan adanya kesempatan anak melakukan presentasi. Jika tidak dilatih maka besar kemungkinan anak akan mengalami kesulitan melakukan berbagai aktivitas belajar yang sebagian besar menuntut kemampuan berpendapat dan melakukan presentasi. </span></p>
<p><strong>Tanya: Kapan kita membolehkan anak memilih sekolah? Orang tua seringkali merasa khawatir anak salah memilih sekolah sehingga masa depan anak pun terpuruk.</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawab: Sejak usia dini anak perlu dilibatkan dalam memilih sekolah. Ketika usia dini, anak bisa ikut berkunjung ke sekolah, mencoba aktivitas di sekolah tersebut dan menyampaikan pendapatnya. Orangtua yang lebih besar memegang peran utama ketika anak masih usia dini, tapi semakin besar maka anak butuh mendapat kepercayaan yang lebih besar dalam memilih sekolah. Namun perlu diingat, keterampilan memilih perlu dikembangkan sedari dini, sesederhana anak dibolehkan membuat pilihan pada kegiatan sehari-hari. Misalnya: memilih baju yang boleh dipakai. </span></p>
<p><strong>Tanya: Apa keterampilan penting bagi anak zaman now untuk berhasil dalam berkarier? Dan sekolah seperti apa yang membekali anak dengan keterampilan tersebut?</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jawab: Kajian dari konsorsium pendidikan yang disebut P21 menyimpulkan ada 4 keterampilan belajar yang dibutuhkan untuk menghadapi abad ke-21, yaitu berpikir kritis, kreatif, komunikasi dan kolaborasi. Terlihat sederhana tapi nyatanya banyak sekolah yang tidak mengajarkan 4 hal penting tersebut karena sibuk dengan latihan soal demi mencapai nilai ujian setinggi-tingginya. Berbeda dengan kebanyakan sekolah, sekolah menumbuhkan justru pada dasarnya mengembangkan 4 keterampilan tersebut melalui aktivitas belajar yang relevan dengan kehidupan, kesempatan pada murid untuk menemukan solusinya sendiri, tantangan untuk melakukan presentasi dengan beragam cara dan bekerja sama untuk menyelesaikan tantagan belajar.</span></p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2464" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-1.jpg?resize=600%2C337" alt="" width="600" height="337" srcset="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-1.jpg?w=600 600w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-1.jpg?w=300 300w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/Memilih-Sekolah-Memilih-Masa-Depan-Anak-1.jpg?w=485 485w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" data-recalc-dims="1" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pada akhir acara, <a href="http://Bukik.com">Bukik Setiawan</a> menyerukan agar orangtua berdaya untuk belajar dan berubah dalam memilih sekolah, karena memilih sekolah berarti memilih masa depan anak. </span></p>
<p><strong>Buku tidak dijual di toko buku.</strong></p>
<p>Cara membeli buku #MemilihSekolah:</p>
<ol>
<li>Pesan online di <a href="http://MemilihSekolah.com">MemilihSekolah.com</a></li>
<li>Pesan langsung ke jaringan agen buku di daerah Anda. Lihat di <a href="http://memilihsekolah.com/daftar-agen-buku/">Daftar Agen Buku </a></li>
</ol>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/">Memilih Sekolah, Memilih Masa Depan Anak</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/memilih-sekolah-memilih-masa-depan-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Memilih Sekolah Apapun, Tanpa Kehilangan Gengsi?</title>
		<link>/bagaimana-memilih-sekolah-apapun-tanpa-kehilangan-gengsi/</link>
					<comments>/bagaimana-memilih-sekolah-apapun-tanpa-kehilangan-gengsi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2018 23:00:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[kehilangan gengsi]]></category>
		<category><![CDATA[memilih sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2456</guid>

					<description><![CDATA[<p>Banyak ahli pendidikan menuntut orangtua memilih sekolah tanpa menggunakan gengsi. Bila gengsi adalah kebutuhan alami,...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/bagaimana-memilih-sekolah-apapun-tanpa-kehilangan-gengsi/">Bagaimana Memilih Sekolah Apapun, Tanpa Kehilangan Gengsi?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak ahli pendidikan menuntut orangtua memilih sekolah tanpa menggunakan gengsi. Bila gengsi adalah kebutuhan alami, maka tuntutan itu tidak realistis. Lalu bagaimana memilih sekolah apapun, <strong>tanpa kehilangan gengsi</strong>? <span id="more-2456"></span></p>
<p>Gengsi bisa jadi faktor yang paling sering disalahkan dalam memilih sekolah. Pada satu sisi, banyak orangtua memilih sekolah berdasarkan gengsi. Pada sisi lain, para ahli pendidikan menuntut orangtua tidak menggunakan gengsi dalam memilih sekolah. Tapi apakah tuntutan para ahli tersebut realistis?</p>
<p>Dalam teori piramida kebutuhan Abraham Maslow (dipilih karena paling populer), manusia bertindak untuk memenuhi kebutuhan yang berjenjang. Dari bagian bawah hingga puncak piramida, berurutan kebutuhan fisiologis (makan, minum, rumah dll), rasa aman (keamanan, keteraturan, stabilitas dll), cinta dan rasa memiliki (afeksi, ikatan keluarga, kedekatan dll), penghargaan (gengsi, status, karier dll) dan aktualisasi diri (kreativitas, kemanusiaan  dll).</p>
<p style="text-align: center;"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2459" src="/wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?resize=642%2C449" alt="" width="642" height="449" srcset="/wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?w=800 800w, /wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?w=300 300w, /wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?w=768 768w, /wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?w=748 748w, /wp-content/uploads/2018/04/maslows-pyramid.jpg?w=457 457w" sizes="(max-width: 642px) 100vw, 642px" data-recalc-dims="1" /><br />
<a href="https://www.Vecteezy.com/">Design Credits: Vecteezy!</a></p>
<p>Sebagian kecil masyarakat masih berkutat pada dua kebutuhan terbawah: kebutuhan fisiologis dan rasa aman.  Kelompok masyarakat ini cenderung pasrah dalam memilih sekolah, bahkan seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Bagian masyarakat yang lebih kecil lagi berada pada puncak: aktualisasi. Kelompok masyarakat ini memilih sekolah sepenuhnya untuk mengembangkan potensi anak. Sekolah apapun, semahal apapun, tidak dipedulikan selama yakin sekolah tersebut bisa membantu anaknya tumbuh optimal.</p>
<p>Sementara sebagian besar masyarakat berada pada kebutuhan cinta &amp; rasa memiliki dan penghargaan. Sudah terpenuhi kebutuhan fisiologis dan rasa amannya, terutama kalangan menengah, tapi masih mencari pemenuhan dua kebutuhan di atasnya. Bagian terbesar masyarakat ini yang seringkali memilih sekolah berdasarkan gengsi. Sekolah sebagai bagian dari status sosial.</p>
<p>Dengan keadaan seperti ini tentu tidak masuk akal berharap masyarakat memilih sekolah dengan mengabaikan gengsi karena berarti mengabaikan atau melawan kebutuhan alaminya. Jadi kami pun tidak menyarankan Anda untuk mengabaikan gengsi Anda untuk memilih sekolah. Kami justru ingin membantu orangtua agar bisa memilih sekolah apa pun tanpa kehilangan gengsi. Penasaran?</p>
<p><a href="https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/gengsi">Gengsi</a> adalah harga diri. Semakin tinggi gengsi berarti semakin tinggi harga diri kita. Mari kita bicara tentang harga. Harga suatu barang menjadi tinggi ketika ada banyak permintaan sementara persediaan terbatas. Permintaan berkurang, harga menurun. Persediaan tak terbatas, tidak ada harganya. Siapa yang menentukan harga? Interaksi antara penjual dengan pembeli. Begitu juga dengan harga diri.</p>
<p>Dari mana harga diri berasal? Dari penilaian orang-orang di sekitar terhadap diri kita. Orang menilai berdasarkan sesuatu yang dianggap berharga karena keterbatasannya. Andai sekolah favorit jumlahnya tidak terbatas, pasti tidak ada harganya pula. Namun, karena kuota di sekolah favorit terbatas, maka nilainya melambung tinggi.</p>
<p>Kalau Anda memilih sekolah favorit dengan segala konsekuensinya (Baca: <a href="/cara-belajar-sekolah-favorit/">Cara Belajar Sekolah Favorit Ternyata Menimbulkan Dampak Negatif &#8211; Hasil Riset</a>), maka urusan harga diri pasti sudah selesai. Tapi berapa banyak orangtua yang terselesaikan persoalan harga dirinya dalam memilih sekolah? Banyak sekali. Tips-tips ini ditujukan buat Anda yang belum selesai persoalan harga dirinya.</p>
<p><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2458" src="/wp-content/uploads/2018/04/Bagaimana-Memilih-Sekolah-Apapun-Tanpa-Kehilangan-Gengsi.jpg?resize=640%2C390" alt="" width="640" height="390" srcset="/wp-content/uploads/2018/04/Bagaimana-Memilih-Sekolah-Apapun-Tanpa-Kehilangan-Gengsi.jpg?w=640 640w, /wp-content/uploads/2018/04/Bagaimana-Memilih-Sekolah-Apapun-Tanpa-Kehilangan-Gengsi.jpg?w=300 300w, /wp-content/uploads/2018/04/Bagaimana-Memilih-Sekolah-Apapun-Tanpa-Kehilangan-Gengsi.jpg?w=485 485w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" data-recalc-dims="1" /></p>
<ol>
<li>Temukan keunikan (calon) sekolah anak Anda. Sebagaimana anak, setiap sekolah itu unik. Sering-sering berinteraksi dengan pihak sekolah dan anak agar Anda bisa menemukan keunikan suatu sekolah. Jangan cari hal-hal besar yang luar biasa, tapi temukan hal yang langka atau jarang ditemui. Ingat hukum permintaan dan persediaan harga. Apa pun yang unik pasti berharga. Contoh: tradisi makan siang bersama murid dan guru, kegemaran membaca murid, karya-karya murid, suasana kekeluargaan, letak sekolah di tepu sungai dan lain sebagainya. Carilah sebanyak mungkin.</li>
<li>Mahirlah bercerita tentang (calon) sekolah anak Anda. Bila sudah menemukan hal unik, tugas berikutnya adalah mengemas keunikan tersebut menjadi cerita yang luar biasa. Kumpulkan cerita dan pengalaman terkait dengan keunikan tersebut. Mengapa cerita? Karena orang mendengarkan cerita, bukan sekedar keunikannya. Anda ingat cerita David &amp; Goliath? David yang bertubuh kecil bisa mengalahkan Golliath yang bertubuh besar. Banyak orang bertubuh kecil mengalahkan orang bertubuh besar tapi tidak diingat orang. David dan Goliath diingat karena orang mengingat cerita. Ceritakan cerita unik tersebut dengan cara yang tidak biasa, penuh semangat dan seolah-olah hanya terjadi di (calon) sekolah anak Anda.</li>
<li>Cari dan berteman dengan orangtua yang senilai. Sembari menceritakan cerita unik ke semua orang, temukan orangtua lain yang senilai, mempunyai keyakinan yang sama dengan Anda. Selain pendengar yang baik atas cerita Anda, mereka juga sumber cerita yang kaya. Jadi Anda bisa mendapat pendengar sekaligus berkelimpahan cerita. Anda selalu punya cerita menarik tentang (calon) sekolah anak Anda di pertemuan kantor atau pertemuan keluarga.</li>
<li>Berdaya dan berkontribusilah pada (calon) sekolah anak Anda. Pastikan Anda tidak kehabisan cerita dengan memilih menjadi berdaya dan berkontribusi pada (calon) sekolah anak Anda. Kontribusi bisa dalam bentuk apa pun, tidak harus uang. Misal, Anda punya keahlian meracik kopi. Ada banyak hal yang bisa Anda lakukan tanpa harus menyumbang uang. Buatlah kegiatan (event) meracik kopik untuk menggalang bantuan buku pada sekolah. Minta pada sekolah sebuah sesi buat Anda berbagi kisah profesi peracik kopi. Membuat racikan kopi buat guru dan kepala sekolah juga bisa. Jadi lah kreaatif!</li>
</ol>
<p>Itu 4 tips dari kami agar Anda bisa memilih sekolah apa pun tanpa kehilangan gengsi. Bahkan, Anda bisa dapat gengsi yang jauh lebih besar dan menarik dibandingkan orangtua yang memilih sekolah favorit *eh</p>
<p><strong>Anda punya ide lain untuk memilih sekolah apa pun tanpa kehilangan gengsi? Tuliskan di kolom komentar agar bisa dibaca orangtua lain yang senilai <img src="https://s.w.org/images/core/emoji/13.1.0/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber foto: <a href="https://www.flickr.com/photos/dominicspics/3312031262/in/photolist-63F2vh-bn42QK-pnQKqt-bn3P2k-9eYL4M-JnWz1b-rj9G3h-acNS4p-7Zeu9Q-bmYsni-8mu7JA-5Vwot-akD8ep-d7oz2E-77zC3q-9gccaS-8b82ds-b6P4Wr-8UgV3e-75CgM4-6vv91t-37aXeB-fD9e9o-fCRz1g-fCRycp-8e1mz5-8F5hu3-fD9buy-wVweu-fD9gwh-7LceEH-fD9dYN-fCRxFR-akk1Lc-fCRDy6-fD9aYj-fCRGgF-fD9deq-fCRLxF-gi2yhC-fCRH2k-fD9asJ-ghZXit-fCRxZM-8e1prf-fD9dsd-fCRDnV-fD9ekG-gi1zJe-gsgWD">Flickr</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/bagaimana-memilih-sekolah-apapun-tanpa-kehilangan-gengsi/">Bagaimana Memilih Sekolah Apapun, Tanpa Kehilangan Gengsi?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/bagaimana-memilih-sekolah-apapun-tanpa-kehilangan-gengsi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Sekolah Anak Anda sudah Mengajarkan 4 Keterampilan Belajar Anak Zaman Now?</title>
		<link>/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-mengajarkan-4-keterampilan-belajar-anak-zaman-now/</link>
					<comments>/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-mengajarkan-4-keterampilan-belajar-anak-zaman-now/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Bukik Setiawan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Apr 2018 23:30:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[anak zaman now]]></category>
		<category><![CDATA[berpikir kritis]]></category>
		<category><![CDATA[keterampilan belajar]]></category>
		<category><![CDATA[kolaborasi]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2448</guid>

					<description><![CDATA[<p>Zaman berubah, tantangannya pun berubah. Apakah Sekolah Anda Anda sudah mengajarkan keterampilan belajar abad ke-21...</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-mengajarkan-4-keterampilan-belajar-anak-zaman-now/">Apakah Sekolah Anak Anda sudah Mengajarkan 4 Keterampilan Belajar Anak Zaman Now?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Zaman berubah, tantangannya pun berubah. Apakah Sekolah Anda Anda sudah mengajarkan keterampilan belajar abad ke-21 untuk menghadapi tantangan itu?<span class="Apple-converted-space"> </span></strong><span id="more-2448"></span></p>
<p>Keterampilan belajar dibutuhkan anak untuk menguasai dan mengembangkan berbagai keterampilan hidup menghadapi tantangan zamannnya. Semakin terampil belajar, maka anak semakin mampu menguasai berbagai keterampilan hidup yang dibutuhkannya. Tanpa keterampilan belajar yang memadai, anak-anak akan kesulitan, bukan saja menghadapi tantangan zamannya, pun belajar menguasai keterampilan hidup yang dibutuhkannya.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p><strong>Keterampilan belajar Anak Zaman Now &gt;&gt; Keterampilan hidup abad ke-21 &gt;&gt; Keberhasilan menghadapi tantangan abad ke-21</strong></p>
<p>Sejumlah ahli mencermati perubahan zaman dan pergeseran keterampilan hidup yang dibutuhkan. Thomas Friedman, penulis <a href="http://romisatriawahono.net/2007/02/08/the-world-is-flat-globalisasi-versi-baru/">The World is Flat</a>, menyebutkan sejumlah keterampilan baru yang dibutuhkan untuk hidup di dunia yang datar. Daniel Pink dalam bukunya A Whole Ne Things memaparkan 1 konsep: <em>high touch, high tech</em> dan <a href="http://bukik.com/6-kapasitas-untuk-bersaing-di-jaman-kreatif/">6 keterampilan hidup</a> di zaman konseptual. Namun, mereka tidak menjelaskan keterampilan belajar untuk menghadapi zaman baru.</p>
<p>Kebutuhan akan kejelasan keterampilan belajar yang dibutuhkan anak-anak kita dijawab oleh sebuah lembaga kemitraan pendidikan yang disebut <a href="http://www.p21.org/index.php">P21</a>. Mereka melakukan studi dengan mewawancarai ratusan guru, orangtua, dan pemimpin bisnis. Mereka menyimpulkan 4 keterampilan belajar abad ke-21, atau dengan kata lain, keterampilan belajar yang penting bagi Anak Zaman Now. Hasil studi ini begitu populer sehingga diadopsi oleh banyak negara termasuk Indonesia.<span class="Apple-converted-space"> (Baca lengkapnya di <strong><a href="http://www.p21.org/our-work/resources/for-community">Bacaan P21 untuk Orangtua</a></strong>)</span></p>
<p><strong><a href="http://memilihsekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter size-full wp-image-2450" src="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/keterampilan-belajar-anak-zaman-now.jpg?resize=640%2C414" alt="" width="640" height="414" srcset="https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/keterampilan-belajar-anak-zaman-now.jpg?w=640 640w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/keterampilan-belajar-anak-zaman-now.jpg?w=300 300w, https://i2.wp.com/temantakita.com/wp-content/uploads/2018/04/keterampilan-belajar-anak-zaman-now.jpg?w=485 485w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" data-recalc-dims="1" /></a></strong></p>
<p><strong>Berpikir kritis</strong></p>
<p>Kemampuan memahami situasi dan menggunakan berpikir sistem <span class="Apple-converted-space">  </span>untuk melakukan penilaian, pengambilan keputusan dan menyelesaikan masalah.</p>
<p><strong>Kreativitas<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>Kemampuan menggunakan beragam teknik kreatif untuk menghasilkan ide baru, beda dan berharga melalui elaborasi ide, analisis dan evaluasi terhadap ide tersebut. (Baca: <a href="/sekolah-favorit/">Ingin Anak Kreatif? Jangan Memilih Sekolah Favorit</a>)</p>
<p><strong>Komunikasi<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>Kemampuan mendengarkan aktif dan menyampaikan ide secara jelas untuk berbagai tujuan, beragam media dan beragam situasi.</p>
<p><strong>Kolaborasi<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>Kemampuan bekerja secara efefktif dan respek dalam tim yang beragam melalui penyesuaian cara kerja dengan tetap fokus pada tujuan dan berbagi tanggung jawab dengan semua anggota tim.</p>
<p>Empat keterampilan belajar itu dianggap penting karena kecenderungan masa depan mengarah pada: semakin banyak informasi yang tersebar (termasuk HOAX), pekerjaan rutin dan manual akan diambil alih robot, serta banyaknya proyek kompleks yang membutuhkan komunikasi dan kolaborasi.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p>Tantangan bagi orangtua adalah menilai mana sekolah yang sudah mengajarkan 3 keterampilan belajar tersebut? Orangtua bisa mengajukan pertanyaan, apakah sekolah ini sudah menerapkan 4 keterampilan belajar?<span class="Apple-converted-space">  </span>Namun, pertanyaan tersebut mudah dijawab dengan penjelasan normatif dan umum, tanpa disertai bukti pendukung.</p>
<p>Karena itu orangtua perlu pertanyaan panduan yang lebih spesifik sehingga bisa mengenali bukti pendukung telah diajarkannya 4 keterampilan tersebut. Berikut pertanyaan yang bisa diajukan orangtua:</p>
<p>Berpikir kritis:</p>
<ol>
<li>Apakah murid belajar menjawab pertanyaan kompleks yang kemungkinan jawabannya lebih dari satu?</li>
<li>Apakah murid belajar mengenali<span class="Apple-converted-space"> </span></li>
</ol>
<p>Kreativitas</p>
<ol>
<li>Apakah sekolah mengajarkan teknik kreatif yang digunakan dalam mengerjakan proyek belajar?<span class="Apple-converted-space"> </span></li>
<li>Apakah sekolah menampilkan hasil karya semua murid pada suatu area atau kegiatan sekolah?<span class="Apple-converted-space"> </span></li>
</ol>
<p>Komunikasi</p>
<ol>
<li>Apakah sekolah mengajarkan murid untuk mendengar aktif pendapat orang lain khususnya temannya sendiri?<span class="Apple-converted-space"> </span></li>
<li>Apakah sekolah mengajarkan murid tentang berbagai cara dan media untuk mengkomunikasikan pesan?</li>
<li>Apakah semua anak mendapat kesempatan untuk melakukan presentasi setidaknya 1 kali dalam 1 semester?</li>
</ol>
<p>Kolaborasi<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<ol>
<li>Apakah sekolah mengajarkan teknik kerja sama tim yang digunakan untuk mengerjakan tugas secara berkelompok?<span class="Apple-converted-space"> </span></li>
<li>Apakah sekolah mengajarkan murid untuk berempati dan menghargai keragaman?</li>
<li>Apa saja kegiatan sekolah yang sifatnya bukan kompetisi? Mana yang lebih banyak, aktivitas kompetisi atau kolaborasi?</li>
</ol>
<p>Bila lebih banyak jawaban yang kurang memuaskan, kemungkinan besar sekolah anak Anda belum mengajarkan keterampilan belajar Anak Zaman Now. Anda sebagai orangtua bisa memberikan masukan pada sekolah untuk menyiapkan murid menghadapi tantangan masa depan, alih-alih sekedar mengejar nilai ujian.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>
<p><strong>Selamat mencoba! Mari menjadi asesor dan mitra bagi sekolah untuk Anak Zaman Now!<span class="Apple-converted-space"> </span></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber foto: <a href="https://www.flickr.com/photos/slyronit/22546356427/in/photolist-AmkYge-5TeuH1-mpE174-zyPVU-7egQ5m-BcpNa-5TeuTL-dtzQ5-5cg9Ek-moFYtB-3PN2Hs-bDtU33-593LBE-6nTz7b-5pLumS-VofR1e-bTVzc2-6RM8tD-5WWHQQ-ZiJzbS-7RiAUb-bEoSiQ-7FHpnH-6TSVgG-6ujSW-7FMyKS-bUjSdq-dauhnV-VJuYEb-nZxtp-4o9v9R-5qj4r-tTyaa-4FhL4Y-an2NQZ-511Gwe-56UX98-3tM5kp-8DiQiZ-6PRjJN-8oqAww-cSkp63-8VQfQb-bUjY65-2j2br7-KqnMuT-8osVMm-bTid6V-8azvb8-2iWLVn">Flikr.com</a></p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-mengajarkan-4-keterampilan-belajar-anak-zaman-now/">Apakah Sekolah Anak Anda sudah Mengajarkan 4 Keterampilan Belajar Anak Zaman Now?</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/apakah-sekolah-anak-anda-sudah-mengajarkan-4-keterampilan-belajar-anak-zaman-now/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pilihan Sekolah untuk Anak Zaman Now yang Berebut Pekerjaan dengan Robot</title>
		<link>/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/</link>
					<comments>/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Andrie Firdaus]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Apr 2018 00:00:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerah]]></category>
		<category><![CDATA[anak zaman now]]></category>
		<guid isPermaLink="false">/?p=2435</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bukan di masa depan, bukan besok, tapi sekarang robot telah mulai mengambil alih pekerjaan manusia....</p>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/">Pilihan Sekolah untuk Anak Zaman Now yang Berebut Pekerjaan dengan Robot</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bukan di masa depan, bukan besok, tapi sekarang robot telah mulai mengambil alih pekerjaan manusia. Ketika Anak Zaman Now harus berebut pekerjaan dengan robot, apa pilihan sekolah yang tepat buat mereka? </strong><span id="more-2435"></span></p>
<p>Saat pertama kali mesin cetak Gutenberg berkembang di Eropa pada abad 15, beberapa profesi diprediksi tidak lagi relevan pada zaman itu. Salah satunya adalah profesi scribe (penyalin naskah). Sebelum mesin cetak dikembangkan, naskah-naskah atau manuskrip-manuskrip pengetahuan ataupun informasi pemerintahan dan keagamaan disebarkan dengan menyalinnya secara manual. Seorang penyalin naskah menjadi profesi kelas menengah yang dihargai di berbagai negara.</p>
<p>Dengan berkembangnya mesin cetak yang mampu menyalin sebuah naskah dalam waktu singkat dan masif, industri percetakan mulai berkembang. Penyalin naskah menapaki jurang pensiun yang tak disangka. Profesi di bidang percetakan menjadi idola baru. Profesi yang membentang mulai dari penyunting, desainer sampai pengatur tinta.</p>
<p>Pada generasi berikut, tepatnya tiga sampai empat abad setelahnya, industri media cetak dan jurnalisme giliran menggeliat. Orang-orang berebut menjadi jurnalis demi berturut serta dalam revolusi industri sekaligus mengharapkan penghidupan yang layak.</p>
<p>Abad 20 menjadi masa media cetak berjaya. Muara dari semua informasi bersaing dengan media elektronik, Radio dan Televisi. Namun, hanya berselang satu abad, internet berkembang. Satu per satu media cetak mulai tumbang. Kabar terbaru Majalah Roling Stone Indonesia tutup edisi pada tanggal 1 Januari 2018 lalu. Kecuali mereka yang mampu beradaptasi di dunia online, seluruh media cetak tinggal menunggu waktu.</p>
<p>Dalam laporannya yang bertajuk Perspective from the Global Entertainment &amp; Media Outlook 2017, konsultan bisnis PriceWaterhouseCooper (PWC) memprediksi pertumbuhan koran dalam lima tahun ke depan minus 8,3 persen, diiringi turunnya majalah sebesar minus 6 persen. Berbanding terbalik dengan angka pertumbuhan media berbasis internet sebesar 0,5 sampai 6 persen. Pertumbuhan tersebut didominasi oleh penggunaan video internet sebesar 6%.</p>
<p><iframe class='youtube-player' width='642' height='362' src='https://www.youtube.com/embed/pQCF3PtAaSg?version=3&#038;rel=1&#038;fs=1&#038;autohide=2&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;wmode=transparent' allowfullscreen='true' style='border:0;'></iframe></p>
<p>Dalam laporan yang sama, mengutip hasil riset Deborah Bothun dan David Lancefield, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi daya dorong utama bagi industri media maupun industri lain untuk mempertahankan produktivitas sekaligus merangsang inovasi dan kreativitas. Kecerdasan buatan yang pada intinya adalah sebuah inovasi teknologi guna menggantikan peran manusia dalam pekerjaan kompleks, bagai mesin cetak Gutenberg di mata para penyalin naskah. Keniscayaan perubahan yang sudah dekat.</p>
<p>Dapat dipastikan profesi yang saat ini masih eksis akan tergantikan dengan peran kecerdasan buatan di segala bidang. Bahkan proses tersebut sudah berlangsung saat ini. Tahukah anda, salah satu rubrik olahraga di Detik.com tidak ditulis oleh manusia? Rubrik ini ditulis menggunakan kecerdasan buatan yang didesain sesuai dengan kebutuhan pembaca.</p>
<p>Kemampuan kecerdasan buatan yang sedemikian tinggi, mengingatkan kita pada film-film Sci-fi dimana peran manusia seluruhnya diganti oleh ROBOT. Rugi kita menghabiskan waktu mengejar karier yang sejatinya telah dialihkan kepada mesin, kepada robot. Terlebih lagi bila mengejar karier untuk Anak Zaman Now.</p>
<p>Di Jenewa, Swiss, pada tanggal 18 Januari 2016, bertajuk The Fourth Industrial Revolution, konferensi World Economic Forum menyoroti ancaman disrupsi bukan hanya terhadap bisnis model, melainkan juga terhadap pasar tenaga kerja. Melalui riset yang ditujukan kepada Direktur HR dan pimpinan organisasi di negara-negara yang menguasai sekitar 65% pasar tenaga kerja di seluruh dunia, didapatkan laporan dalam waktu 5 tahun sekitar tujuh koma satu juta pekerja akan kehilangan pekerjaannya. Jumlah itu kebanyaknya didominasi oleh pekerja kerah putih dan staf administratif, melalui program otomatisasi. Lalu berapa banyak jumlah pekerjaan Anak Zaman Now yang akan hilang?</p>
<p><iframe loading="lazy" style="border: none; overflow: hidden;" src="https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Fworldeconomicforum%2Fvideos%2F10154940153101479%2F&amp;show_text=0&amp;width=476" width="476" height="476" frameborder="0" scrolling="no" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>Bagaimanapun juga, kita masih berada di zaman transisi dimana teknologi masih berkelindan dengan tradisi okupasional zaman lalu. Namun, tahukah apa yang akan terjadi dengan Anak Zaman Now di masa depan? Benarkah kita sebagai orang tua telah menyiapkan Anak Zaman Now berebut pekerjaan dengan Robot? Sudahkah kita bergegas ketika profesi saat ini tidak lagi dapat diharapkan di masa mendatang?</p>
<p><strong>Semua kembali kepada pendidikan!</strong></p>
<p>Mungkin ini saat yang tepat memikir ulang pandangan kita terhadap pendidikan anak, terutama pendidikan Anak Zaman Now. Bahwasanya model pendidikan yang telah kita yakini sepanjang hidup sudah terlalu purba bagi anak. Meminta sekolah melanjutkan model pendidikan purba, sama dengan menjerumuskan anak ke palung terdalam menjauhi dunianya. Mengharap anak mencapai prestasi akademis sudah tidak lagi relevan dengan karirnya kelak.</p>
<p>Kita butuh pendidikan yang menyiapkan Anak Zaman Now menjadi berdaya di dunia, bukan menjadi macan kelas dengan segala hapalan dan nilai sempurna di rapor dan ijazah (Baca: <a href="/salah-kaprah-sekolah-favorit/">Lima Salah Kaprah Sekolah Favorit</a>). Kita butuh sekolah menjadi mitra peradaban, bukan membangun tradisi pre-historis di tengah perubahan.</p>
<p>Sebagai orang tua, kita tidak serta-merta mengampu kekuatan untuk mengubah sistem pendidikan secara keseluruhan. Pilihan untuk menemukan sekolah sebagai mitra yang tepat dalam mendidik anak lebih mendesak saat ini. Detik waktu tidak dapat ditunda demi menunggu sistem pendidikan sempurna diperbaiki. <a href="http://memilihsekolah.com">Memilih sekolah</a> yang tepat adalah cara paling mungkin dilakukan untuk masa depan Anak Zaman Now.</p>
<p>Ketika seluruh dunia mengalami perubahan cepat, sekolah dituntut mampu menumbuhkan cara belajar yang merdeka bagi anak. Merdeka dari segala kompetisi dengan sesama pelajar. Merdeka dari tuntutan akademis yang mengerdilkan. Merdeka untuk mencapai tujuan belajar dengan cara yang memanusiakan.</p>
<p>Mengapa harus memanusiakan, karena kita tidak bisa lagi menggunakan perspektif mesin seperti di zaman industri. Masih menggunakan perspektif lama berarti menyerahkan diri untuk tergilas revolusi kecerdasan buatan dan teman-teman robotnya dengan senjata “otomatisasi”-nya.</p>
<p><a href="http://MemilihSekolah.com"><img loading="lazy" class="aligncenter wp-image-2439 size-full" src="/wp-content/uploads/2018/03/Pilihan-Sekolah-untuk-Anak-Zaman-Now-yang-Berebut-Pekerjaan-dengan-Robot.jpg?resize=640%2C362" alt="pilihan sekolah anak zaman now" width="640" height="362" srcset="/wp-content/uploads/2018/03/Pilihan-Sekolah-untuk-Anak-Zaman-Now-yang-Berebut-Pekerjaan-dengan-Robot.jpg?w=640 640w, /wp-content/uploads/2018/03/Pilihan-Sekolah-untuk-Anak-Zaman-Now-yang-Berebut-Pekerjaan-dengan-Robot.jpg?w=300 300w, /wp-content/uploads/2018/03/Pilihan-Sekolah-untuk-Anak-Zaman-Now-yang-Berebut-Pekerjaan-dengan-Robot.jpg?w=485 485w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" data-recalc-dims="1" /></a></p>
<p>Satu hal yang juga disoroti oleh para pimpinan SDM di dalam forum ekonomi dunia 2016 lalu, bahwa dunia SDM masih belum mampu mengidentifikasi detil ancaman di depan. Proses otomatisasi hanya satu hal dari sekian banyak ancaman di belakangnya. Oleh karenanya, mereka merekomendasikan terciptanya kolaborasi antar berbagai pihak ketimbang saling berkompetisi. Ibarat menapaki gua yang gelap-gulita, kita perlu saling bergenggam tangan daripada terpisah jalan. Sekolah yang menonjolkan kompetisi sudah tidak relevan lagi bagi pendidikan anak zaman now.</p>
<p>Terakhir, biarkan sekolah menjadi tempat berkreasi, berinovasi dan berkolaborasi, ketimbang menampilkannya sebagai lintasan adu balap dengan garis akhir tanpa makna. Sungguh prestasi akademis pada akhirnya akan berakhir di tumpukan map semata. Sedang tujuan pendidikan bukanlah mencapai prestasi akademis. <strong>Karena kita bukan sedang membuat robot. Kita melampauinya.</strong></p>
<p>Sumber foto: <a href="https://www.flickr.com/photos/rodrigobasaure/419578844/in/photolist-D5sb1-6nW1d5-nVPafb-ifwkaE-fdaYQm-65vPwZ-8QfYM7-62vtnA-rxLGMd-5ve2ct-65xGTG-5vikLS-dM4eYm-8QfYmG-65C4n5-tavkF-c5Czr3-HH3sE-Kqanz-65xwQH-4Eu9JH-2KXMkU-foEUqq-dM4dpQ-cqxC5q-62rckg-Kq5JN-4bfXAc-5p2usn-62r9Qv-5YsCws-65wZSr-c5CBVm-7TGya6-7FSZEa-65vo9n-65thPc-65vxFD-qVqC8E-9rdu4w-39jFz-4bQwm9-HDL8T-62vC6u-65BZmb-5ve1Me-kQq4BX-65ApJW-oevBii-dr9nHw">Flickr</a></p>
<h3 style="text-align: center;"><a href="http://MemilihSekolah.com"><strong>Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now!</strong></a></h3>
<p>The post <a rel="nofollow" href="/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/">Pilihan Sekolah untuk Anak Zaman Now yang Berebut Pekerjaan dengan Robot</a> appeared first on <a rel="nofollow" href="">TemanTakita.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>/pilihan-sekolah-anak-zaman-now/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
