<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 02:09:14 +0000</lastBuildDate><category>- Tjan ID</category><category>- Huang Ying</category><category>Laron Penghisap Darah</category><category>- Wen Rui An</category><category>Golok Kelembutan</category><category>- Kho Ping Hoo</category><category>Badik Buntung</category><category>- Chin Tung</category><category>- Gan K. H</category><category>Bajak Laut Kertapati</category><category>Pedang Keramat Thian Hong Kiam</category><category>Gan K. H</category><title>Tempat Baca Cerita</title><description></description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>86</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-8964556946060286894</guid><pubDate>Fri, 02 Aug 2013 23:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-29T00:40:35.619+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 011. Hwesio Tua Buta dan Hwesio Kecil Jenaka</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;011. Hwesio Tua Buta dan Hwesio Kecil Jenaka&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hari sudah gelap gulita, samar-samar di kejauhan di depan sana kelihatan titik-titik sinar pelita yang kelap kelip, mungkin di depan sana ada perumahan atau pedusunan. Thian-hi menjadi girang, cepat-cepat ia keprak kudanya dilarikan ke arah sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu sudah dekat, Thian-hi menjadi melongo karena tempat itu melulu sebuah hutan lebat di atas sebuah pohon besar yang tinggi tergantung beberapa buah lampion, di tengah lampu-lampu lampion ini duduk bersila di atas sebuah dahan besar seorang tua yang memejamkan matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi hentikan kudanya, ia mendongak mengawasi orang tua di atas pohon itu sekian lamanya, diam-diam ia membatin siapakah orang tua ini, dengan lampu-lampu lampionnya ini ia memancing aku datang kemari apakah maksudnya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba orang tua itu membuka mata serta gumamnya, “Eh, betul-betul kepancing datang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bertambah kaget hati Thian-hi mendengar perkataan si orang tua, lekas-lekas ia melorot turun dari tunggangannya terus membungkuk tubuh serta serunya, “Wanpwe Hun Thian-hi, harap tanya siapakah Cianpwe yang mulia ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa menunjukkan berubahan mimik wajahnya si orang tua mengawasi Thian-hi dengan cermat, rada lama kemudian baru membuka mulut, “Tepat, kiranya kaukah Hun Thian-hi. Akulah &lt;b&gt;Jan-ting Lojin&lt;/b&gt;, apakah kau pernah dengar nama ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi melengak, ia geleng-geleng kepala, sahutnya, “Pengetahuan Wanpwe sangat cetek, belum pernah dengar nama ini, Cianpwe menggunakan sinar pelita untuk memancing Wanpwe kemari entah ada urusan apakah?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan seksama &lt;b&gt;Jan-ting Lojin (Si Tua Pelita)&lt;/b&gt; mengamat-amati Thian-hi, tanyanya, “Apa betul kau belum pernah dengar namaku ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi geleng kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanya Si Tua Pelita, “Apakah gurumu tidak beri tahu kepada kau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi was-was dan heran kenapa Si Tua Pelita ini tanya akan hal ini, ia menggeleng kepala lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Si Tua Pelita mendongak serta terloroh-loroh, gelak tawanya begitu keras memekakkan telinga sehingga menggetarkan seluruh alam sekelilingnya, daun berjatuhan. Hun Thian-hi bercekat dan berubah air mukanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah tertawa sekian lamanya, Si Tua Pelita ini mendesis sambil mengertak gigi, “Sangkamu kau masih bisa seperti dulu tidak memandang sebelah mata kepadaku lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, ia tidak tahu kemana juntrungnya perkataan si orang tua, mendadak ia teringat sesuatu serta-merta mulutnya lantas mengiakan, katanya, “Orang yang Cianpwe maksudkan barusan bukankah Ang-hwat-lo-koay?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita membelalakkan matanya mengawasi Hun Thian-hi, tanyanya, “Apa katamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bukankah orang yang Cianpwe maksudkan tadi adalah Ang-hwat-lo-koay?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita mendengus sekali, tanyanya, “Apakah orang berbaju mas itu kau yang bunuh?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi manggut-manggut, katanya, “Tapi Cianpwe jangan salah paham, aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita berkakakan, pelan-pelan kedua telapak tangannya menepuk ke bawah tubuhnya tiba-tiba mencelat ke tengah udara dan terbang melingkar satu bundaran terus hinggap pula di tempat asalnya, katanya kepada Thian-hi, “Kau sudah takut?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hati Thian-hi, gerak tubuh Si Tua Pelita ini sungguh luar biasa dan mengagumkan, belum pernah dilihatnya sebelum ini, apalagi timbul tenggelam tubuhnya begitu enteng tanpa mengeluarkan sedikit suara atau desiran angin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi lahirnya Thian-hi tetap tenang, malah ia mendongak dan bergelak tawa juga serunya, “Apa yang perlu ditakuti?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tidak lebih menakutkan dari ilmu Pencacat Langit Pelenyap Bumi yang diajarkan oleh gurumu itu bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Perlu kutandaskan lagi bahwa aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay” ujar Thian-hi dengan nada berat,&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Memang kenyataan ia mengajarkan sejurus ilmu ganas itu, kukira kau sendiri sudah tahu berapa banyak jiwa melayang karena ilmu ganas itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita terbungkam seribu basa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambung Thian-hi dengan nada lebih tertekan, “Betapa picik dan licik tujuannya itu, sungguh aku lebih menderita daripada dibunuh olehnya!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita rada sangsi, ia mendengus tidak percaya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menundukkan kepala tanpa bicara lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Si Tua Pelita bergerak meluncur tiba. Kedua tangannya dengan telak mencengkeram kedua pundak Thian-hi, secara gerak reflek Thian-hi meronta sekuat-kuatnya. Sesaat tampak Si Tua Pelita tertegun sebentar terus menggumam dengan lesu, “Ah, bukan dia!” lalu ia lepas tangan mencelat kembali ke tempatnya semula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi mendelong awasi si orang tua tanpa buka suara. Akhirnya Si Tua Pelita menunduk kepala serta katanya lirih, “Pergilah, selanjutnya jangan kau gunakan lagi jurus ganas itu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilihatnya oleh Thian-hi kelopak mata Si Tua Pelita mengembeng air mata, agaknya ia sangat kecewa dan sekejap mata saja sudah tambah tua puluhan tahun, maka katanya pelan, “Kalau Cianpwe punya dendam kesumat dengan Ang-hwat-lo-koay, Wanpwe bersedia membantu sekuat tenaga, aku tahu dimana sekarang ia berada!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita angkat kepala, ujarnya, “Tiada gunanya, siang-siang ia sudah pindah tempat. Tak mungkin ia menetap di tempat lama menunggu para musuhnya meluruk datang mencari penyakit padanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi berdiam diri sekian lama lalu pelan-pelan putar tubuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kau kembali!” tiba-tiba Si Tua Pelita memanggilnya kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apakah Cianpwe masih ada urusan?” tanya Thian-hi merandek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Tua Pelita termenung sebentar lalu katanya, “Tadi kau kata bahwa ada banyak orang telah menjadi korban karena jurus Jan-thian-ciat-te itu bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Si Tua Pelita, “Kuduga tentu kau mengalami banyak kesulitan karena jurus yang ganas itu. Demikian juga aku memancingmu kemari, walaupun kau takkan dapat membantu aku, namun maksud baikmu itu sungguh mengetuk sanubariku, biarlah kubantu sedikit kepadamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebentar Hun Thian-hi berpikir, lalu menggeleng serunya, “Terima kasih akan kebaikan Cianpwe. Aku terlalu banyak menanam budi orang lain, sampai pun Soat-san-su-gou berempat Cianpwe rela mati demi jiwaku seorang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bertaut alis Si Tua Pelita, katanya, “Apa katamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Thian-hi ceritakan bagaimana Bu Bing Loni mencari dirinya untuk menuntut balas serta pertemuannya dengan Soat-san-su-gou.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berjengkit alis Si Tua Pelita, ujarnya tertawa, “Kiranya begitu. Kedua tokoh yang dimaksudkan oleh Pek-bi tentu kedua bangkotan tua itu. Ah pengalaman dan pengetahuannya ternyata rada cetek juga. Tapi aku dapat menunjukkan sebuah jalan penerangan, kalau dibanding kedua bangkotan tua di Tiang-pek-san itu jauh lebih kuat berapa kali lipat!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wajah Hun Thian-hi mengunjuk rasa sangsi dan heran. Kata Si Tua Pelita menerangkan, “Dari sini kau langsung menuju ke utara, nanti disana kau bakal menemukan sesuatu rejeki besar. Tiga hari kemudian kau kembali ke sini menemui aku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai berkata tubuhnya mencelat berputar satu lingkaran menanggalkan semua pelita yang tergantung di atas pohon terus meluncur cepat ke dalam hutan dan menghilang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi terlongong-longong di tempatnya sekian lama menerawang pesan Si Tua Pelita sebelum pergi tadi, pikirnya, “betapapun jadinya aku harus pergi mencobanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cuaca masih rada gelap, dengan menunggang kudanya Hun Thian-hi melanjutkan perjalanan ke arah utara, entah berapa lama berselang, hari sudah menjelang pagi, namun sepanjang perjalanan ini tiada sesuatu yang diketemukan. Jauh dikeremangan kabut. pagi kelihatan bayangan sebuah bangunan kelenteng bobrok. Setelah melakukan perjalanan sehari semalam badan terasa penat, segera ia turun berjalan kaki sambil menuntun kudanya, setelah menambat kudanya didahan pohon besar langsung ia beranjak memasuki keleteng bobrok itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu sampai di ambang pintu dilihatnya seorang Hwesio tua tengah duduk samadi di tengah ruangan besar sana. Hwesio ini begitu tua sehingga jenggotnya panjang memutih menjulai di depan dadanya, wajahnya kelihatan berwarna merah, jubah abu-abu yang dipakainya kelihatan begitu bersih tanpa kena debu sedikit pun, sepintas pandang seakan-akan dewata dalam dongeng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu Thian-hi melangkah masuk wajah si Hwesio tua lantas berseri tawa, serunya, “Tuan kecil ini datang dari jauh, harap maaf Lo-ceng tidak menyambut secara semestinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam kaget hati Thian-hi, tanpa membuka mata lantas Hwesio tua ini mengetahui kedatangannya, lekas-lekas ia memberi soja serta sapanya hormat, “Wanpwe Hun Thian-hi, menghadapi pada &lt;i&gt;Sin-ceng&lt;/i&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua itu menggoyangkan tangan ujarnya, “Tuan ini janganlah menggoda &lt;i&gt;Lo-ceng&lt;/i&gt;, Lo-ceng sudah biasa mendengarkan derap langkah orang sehingga sekali dengar lantas tahu berapa usia tuan ini, apalagi sekitar sini tiada pedusunan, terang tuan pasti datang dari tempat yang cukup jauh bukan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memang ucapan si Hwesio tua masuk akal, hanya dari derap langkah saja lantas dapat membedakan berapa usia seseorang, apalagi dia tak pernah membuka mata mungkin memang buta. Tapi bagaimana mungkin seorang diri cacat lagi bisa hidup di tempat yang terpencil ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua itu agaknya dapat menebak isi hati Hun Thian-hi, katanya tersenyum, “Aku punya seorang murid kecil, tapi sekarang sedang keluar.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut, batinnya, “Tak heran, kukira kau sebatang kara disini. Seorang tua buta lagi mana mungkin bisa hidup di tempat semacam ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua itu tertawa lagi, katanya, “Silahkan duduk tuan, ada beberapa persoalan yang ingin Lo-ceng bicarakan dengan tuan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertegun, pikirnya, “Aku main terobosan masuk kemari, ada urusan apakah yang hendak dibicarakan oleh Hwesio tua ini?” Dalam hati ia bertanya-tanya namun ia menurut duduk di hadapan Hwesio tua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada lama si Hwesio tua terpekur, katanya. “Selama enam puluh tahun Lo-ceng menunggu disini, hanya besoklah saatnya yang kunantikan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hati Thian-hi, menunggu selama enam puluh tahun, jadi paling tidak usia Hwesio tua ini sedikitnya ada delapan atau sembilan puluh tahun, atau mungkin sudah melampaui seabad.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Hwesio tua itu sedang bicara, “Di dalam lembah di belakang kelenteng ini ada sepucuk pohon yang bernama &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kiu-thian-cu-ko&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, enam puluh tahun yang lalu waktu aku datang, kebetulan buah dan kembangnya telah gugur, besok justru adalah saatnya ia berkembang dan berbuah masak!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdebur jantung Thian-hi, Kiu-thian-cu-ko adalah buah Dewata yang sukar didapat dengan khasiatnya yang sangat mujarab. Konon kabarnya setiap enam puluh tahun sekali baru berbuah, jumlah seluruhnya hanya sembilan buah, sungguh tak terduga di tempat ini dirinya bisa menemukan buah dewata yang sangat berharga itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata si Hwesio, “Lo-ceng sudah menjaganya selama enam puluh tahun, namun bagi aku kesembilan buah itu tiada gunanya, hari ini kebetulan tuan datang kemari, biarlah aku pinjam bunga persembahan kepada sang Budha (memberi sedekah), kuberikan seluruhnya kepada tuan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keruan Thian-hi terkejut, serunya, “Mana boleh jadi? Benda macam Kui-thian-cu-ko yang begitu tinggi nilainya dijaga selama enam puluh tahun oleh Sinceng lagi, mana bisa diberikan begitu saja kepala orang lain?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua tertawa, ujarnya, “Tapi tidak begitu gampang kau untuk mendapatkan pucuk buah ajaib ini. Ketahuilah ada seekor ular sanca besar yang juga telah menunggu selama enam puluh tahun, masih ada lagi seorang aneh yang menunggunya selama tiga puluhan tahun pula!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Begitu pun tak mungkin jadi,” sahut Thian-hi mengiakan keterangan orang, “Besok biarlah aku pergi mencobanya, jikalau dapat kurebut, aku rela persembahkan kepada Sin-ceng!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua menggeleng kepala sambil tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata-Thian-hi lagi, “Meskipun tiada perlunya bagi Sin-ceng, namun kau sudah susah payah menunggunya selama enam puluh tahun. Kukira tentu sangat memerlukannya bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Walaupun Lo-ceng tidak bisa main silat.” demikian ujar Hwesio tua sembari tertawa-tawa, “namun hidup sampai setua ini perihal seluk beluk Bulim kuketahui juga. menurut jalan pernapasan tuan ini, bakat dan tulang tuan sungguh merupakan rahmat yang terbaik, apalagi dalam usia menanjak dewasa. Murid Lo-ceng sendiri tidak becus, maka dengan sukarela dan senang hati kuberikan pucuk pohon buah ajaib itu kepada tuan, harap tuan tidak menolak lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat orang bicara begitu tulus dan sungguh hati Thian-hi menjadi tidak enak dan risi. Toh disana masih ada orang lain yang ingin merebutnya juga, belum tentu dirinya bisa berhasil memetiknya, terpaksa sekarang disetujui dulu saja. maka segera ia menjawab, “Terpaksa kunyatakan banyak terima kasih akan karunia Sin-ceng.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio tua tersenyum ujarnya, “Suatu hal perlu kutegaskan, kalau tuan sudah setuju maka betapa juga, jangan sampai buah-buah ajaib itu terjatuh ke tangan orang lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi menjadi terhenyak melongo, sungguh ia tak habis heran kenapa jalan pikirannya dapat diketahui oleh Hwesio tua ini, terpaksa ia menyahut, “Wanpwe akan berbuat sekuat tenaga.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tuan tentu sangat lelah,” begitu ujar Hwesio tua, “silahkan istirahat sebentar!” habis berkata. dengan telapak tangannya ia mengusap-usap di depan muka Thian-hi, kontan Thian-hi lantas terjatuh mendengkur dan tertidur nyenyak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Thian-hi siuman dari tidurnya hari sudah terang benderang pada hari kedua. Tersipu-sipu Thian-hi meloncat bangun, ia heran mengapa sekali tertidur dirinya sampai pulas sehari semalam, waktu ia mengerling Hwesio tua itu sudah tak berada di tempatnya, sesaat ia terlongong, baru sekarang ia sadar bahwa, Hwesio tua ini pasti seorang sakti waktu ia lari keluat tampak kuda hitamnya masih tertambat di bawah pohon sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi masih teringat pesan Hwesio tua kemaren, maka segera ia menyusuri jalanan kecil menuju ke belakang kelenteng. Dengan ilmu ringan tubuhnya ia memanjat naik ke bukit yang tidak begitu tinggi, tiba di puncak bukit hidungnya lantas dirangsang bau harum semerbak. Sebenfar berdiri menerawang keadaan sekitarnya, tampak olehnya di seberang bukit sebelah depan sana terdapat sebuah gua esar, di depan gua ini melingkar seekor ular sanca besar warna putih tengah berhadapan dengan seorang tua yang mengenakan jubah kuning. Ular dan orang itu diam tak bergerak seperti ayam aduan, masing-masing tiada yang berani bergerak dulu, namun besar hasrat masing-masing untuk mendahului mendapatkan buah ajaib yang berbau wangi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agaknya orang tua jubah kuning itu tidak sabaran lagi, gesit sekali ia berkelebat hendak menerjang masuk ke dalam gua, namun secepat anak panah ular sanca putih itu mematuk mengarah tenggorokannya. Orang tua jubah kuning menjadi gusar, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang terus membabat ke moncong ular yang ternganga lebar itu. Ternyata si ular besar ini pun pandai berkelahi, dengan menekuk badannya ia sampok pedang musuh ke samping tubuhnya terus meluncur hendak menerjang ke dalam gua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si jubah kuning menggertak keras, pedangnya berputar memetakan setabir kabut sinar putih mendesak mundur ular putih itu keluar gua pula, begitulah mereka saling berhadapan lagi di luar gua dengan siap siaga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski hanya melibat beberapa gebrak pertarungan antara ular dan manusia ini namun diam-diam bercekat hati Thian-hi, batinnya, ‘kalau kepandaianku dibanding dengan ular dan si jubah kuning terang terpaut teramat jauh sekali. Kiu-thian-cu-ko itu jangan harap dapat kuperoleh, tapi aku sudah berjanji kepada Hwesio sakti itu, masa lantas mundur begini saja.’&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bau harum yang teruar keluar dari dalam gua semakin tebal, jelas si jubah kuning dan ular besar Itu semakin bersitegang leher, pelan-pelan Hun Thian-hi menggeser maju ke arah gua besar itu. Waktu ia menggeremet tiba di atas samping gua, untung saking tegang dan tumplek perhatian musuh di hadapannya, ular dan si jubah kuning tidak mengetahui kehadirannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelihatan kedua musuh bertengger ini sudah tak sabar lagi, mendadak si jubah kuning mengayun pedangnya menyerang ke arah ular sanca sebat sekali. Ular putih berkelit tanpa hiraukan si jubah kuning lagi ia mendahului melesat masuk ke dalam gua. Tapi gerak-gerik si jubah kuning cukup hebat. Lincah sekali tangan kirinya bergerak dengan telak telapak tangannya memukul ke tubuh si ular, terdengar ular putih mendesis keras, tubuhnya melenting balik mematuk kedua biji mata si jubah kuning. Terpaksa si jubah kuning mundur selangkah, pedang di tangan kanan lagi-lagi membabat ke kepala musuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si ular putih terdesak dan mundur berkelit, kontan jubah kuning timpukan pedangnya mengarah kedua biji mata sang ular, tanpa melihat apakah serangannya bakal berhasil segera ia menerobos masuk ke dalam gua. Keruan ular putih menjadi gugup, tubuhnya masih cukup gesit bergerak namun tak urung badannya sudah kena luka tergores, namun ia berhasil melenting maju merintangi si jubah kuning masuk ke dalam gua, maka dengan geram si jubah kuning ayun jotosannya menghantam sekuatnya menggetar mundur sang ular, sementara waktu mereka berhadapan lagi tanpa bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Thian-hi menghela napas lega, katanya dalam hati “Untung! Masih belum ada ketentuan pihak mana yang menang dan asor, kalau tidak sedikit pun aku takkan punya harapan.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tengah ia termenung sekonyong-konyong ia merasa telinganya seperti dikili-kili dengan hembusan angin silir, keruan kejutnya bukan kepalang, lekas-lekas ia berpaling dilihatnya seorang Hwesio kecil yang bertubuh tambun buntak tengah berseri tawa kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengkirik kuduk Thian-hi, untung orang tiada niat mencelakai jiwanya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekian lama Hwesio cilik itu tertawa-tawa lucu lalu berseru lirih, “Kau ingin mendapatkan Kiu-thian-cu-ko itu bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi manggut, baru saja ia hendak bicara, Hwesio cilik sudah mencegahnya dengan mendesis mulut dan menegakkan jari tangannya di depan mulutnya, begitu menarik tangan Thian-hi terus diajak lari ke bawah bukit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thiar-hi mandah saja diseret ke bawah bukit tanpa mampu mengeluarkan tenaga untuk meronta. Setiba di bawah Hwesio cilik itu memandang Thian-hi dan berkata, “Kalau kau ingin benar, aku bisa membantu kau!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi rada sangsi, namun akhirnya ia berkata, “Harap tanya &lt;i&gt;Siausuhu&lt;/i&gt; ini bergelar nama siapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Siausuhu apa?” dengus Hwesio cebol itu rada tak senang, “usiaku jauh lebih tua dari kau, orang lain sering panggil aku &lt;b&gt;Siau-hosiang (Hwesio Jenaka)&lt;/b&gt;, kau panggil aku Siau-hosiang saja!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hati Thian-hi menjadi geli dan ingin tertawa, namun tak enak dikatakan, terpaksa ia manggut-manggut saja, katanya, “Siau-hosiang! Kau ada cara baik apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio cilik bernama Siau-hosiang terkekeh-kekeh melebarkan mulutnya tanpa membuka kata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi tahu bahwa ilmu silat Hwesio Jenaka ini jauh lebih tinggi dari kemampuannya, kalau sudi membantu betul-betul merupakan pembantu yang boleh diandalkan, maka ia menambahi, “Kalau sudah dapat nanti kita bagi rata hasilnya bagaimana?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio Jenaka menarik muka, jengeknya, “Bagi rata? Kataku tadi aku hanya membantu kepadamu, kalau aku mau gampang saja aku turun kesana mengambilnya, buat apa harus bagi rata dengan kau apa segala!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Thian-hi minta maaf, sambungnya, “Tapi kau hanya tertawa-tawa saja tidak beritahu cara bagaimana harus bekerja, kalau….,”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Ah, ada aku disini masa perlu kuatir apa lagi?” kata Hwesio Jenaka sambil menepuk dada.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat sikap Hwesio cilik yang takabur ini, Thian-hi menjadi uring-uringan, katanya, “Jangan kau bicara begitu takabur!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio Jenaka tertegun sebentar lantas melebarkan mulutnya lagi terkekeh-kekeh, serunya, “Memang benar, tapi aku ada pegangan dan pasti berhasil. Hari ini kau ada kerja maka kubantu kau kelak kalau aku punya urusan dan minta bantuanmu apakah kau sudi membantu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi tercengang, tanyanya, “Kau ada urusan apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Sekarang tiada,” sahut Hwesio Jenaka dengan riang, “maksudku kelak kemudian hari kalau aku kena perkara apakah kau sudi membantu aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tidak kau jelaskan urusan apakah itu, mana aku tahu dapatkah aku membantu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hwesio Jenaka menunduk berpikir sebentar lalu angkat kepala serunya, “Mari kita naik ke atas!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div align=&quot;center&quot;&gt;   &lt;table border=&quot;1&quot; cellspacing=&quot;0&quot; cellpadding=&quot;2&quot; width=&quot;100%&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 006. Gadis Penunggang Burung Besar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-006-gadis-penunggang.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 007. Jaminan Hidup Satu Tahun&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-007-jaminan-hidup-satu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 008. Kekejian Kim-i Kongcu&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-008-kekejian-kim-i-kongcu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 009. Murid Baru Bu Bing Loni&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/07/badik-buntung-009-murid-baru-bu-bing.html&quot;&gt;09&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 010. Pembelaan Pak-kiam dan Lam Siau&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/08/badik-buntung-010-pembelaan-pak-kiam.html&quot;&gt;10&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;          &lt;td valign=&quot;top&quot; width=&quot;10%&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/div&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/08/badik-buntung-011-hwesio-tua-buta-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-4500509818652098445</guid><pubDate>Wed, 31 Jul 2013 23:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-27T21:36:43.492+07:00</atom:updated><title>Badik Buntung 010. Pembelaan Pak-kiam dan Lam Siau</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;010. Pembelaan Pak-kiam dan Lam Siau&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi yang terus maju menyelusuri tembok besar. Tahu dia bahwa urusan hari ini takkan berakhir begitu saja, di depan tentu masih banyak orang lagi yang tengah menanti kedatangannya. Tengah ia mencongklang kudanya, dari atas tembok yang tinggi itu kelihatan melayang turun bayangan seorang hinggap tiga tombak di hadapannya. Waktu Thian-hi menegasi pendatang ini berusia kira-kira empat puluhan, mengenakan jubah putih, janggut hitam menjulai di depan dadanya, pinggangnya menyoreng sebatang seruling putih, bukankah beliau Suhunya yang berbudi, Lam-siau &lt;b&gt;Kongsun Hong&lt;/b&gt;!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh kejut dan girang sekali Hun Thian-hi, bergegas ia lompat turun terus memburu maju dan berlutut, teriaknya, “Suhu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong mendehem keras. katanya kereng mengawasi Hun Thian-hi, “Apakah aku ini gurumu? Kau masih anggap aku ini gurumu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tercekat hati Thian-hi, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani bersuara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak kemudian baru Kongsun Hong berkata pula, “Sebelum ajal, ayahmu pernah berpesan wanti-wanti kepadaku untuk mengasuh kau baik-baik, tapi kau….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar gurunya menyinggung ayahnya terketuk sanubari Hun Thian-hi tak terasa air mata meleleh dengan dengan derasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong menghela napas, ujarnya, “Kalau ayahmu bukan saudara angkatku urusan hari ini aku sudah tidak peduli lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi masih tetap tak berani bicara, Kongsun Hong membentaknya lirih, “Bangun!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun dan berdiri ke samping, lama-lama Kongsun Hong mengamatinya. lalu katanya, “Kini &lt;b&gt;Thi-kiam Lojin&lt;/b&gt; dari &lt;b&gt;Bu-tong-pay&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Hwi-lam-it-lo Siang Ing&lt;/b&gt;, serta tokoh-tokoh lain tengah menantimu di depan sana, malah Pak-kiam suami-istri katanya juga sudah datang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdebar keras jantung Thian-hi, angkat kepala ia awasi Kongsun Hong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanya Kongsun Hong, “Kudengar kau telah membunuh puluhan tokoh-tokoh kosen dalam segebrak saja dan mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun, apakah berita ini benar?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong menjadi bungkam beberapa saat, rada lama kemudian ia tanya lagi dengan nada berat tertekan, “Dari mana kau pelajari jurus itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya waktU dijehak oleh Su Tat-jin sehingga terjeblos ke dalam jurang. Tak lupa iapun ceritakan juga perihal Bu Bing Loni dan Soat-san-su-gou. Kongsun Hong menjadi ketarik akan pengalaman muridnya yang aneh-aneh itu, sesaat ia terbungkam tak bisa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong terdengar gelak tawa nyaring di atas tembok tinggi sana, disusul dua bayangan orang melayang turun di hadapan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong memutar tubuh, katanya tertawa, “Kiranya Pak-kiam suami istri yang telah datang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Thian-hi menegasi memang yang datang ini adalah sepasang suami istri berusia pertengahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Pak-kiam Siau Ling berkata, “Sepak terjang muridku sangat memalukan dan membikin buruk nama perguruan saja, tak berani lapor kepadaku hanya disampaikan kepada istriku saja, sampai sekarang baru aku jelas duduk perkaranya, sengaja kita datang untuk memanggil pulang kedua muridku yang tak genah itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lam-siau Kongsun Hong tertawa, katanya, “Urusan yang sudah lalu buat apa disinggung lagi, yang terang mereka kena ditipu oleh pamannya apalagi demi nama baik perguruan maka mereka tak berani memberi laporan, maka tak perlu lah terlalu salahkan mereka.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pak-kiam Siau Ling menghela napas, ujarnya, “Betapapun mereka tak bisa diberi ampun.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Thian-hi!” kata Kongsun Hong, “Ajo, beri hormat kepada Pak-kiam suami istri, inilah &lt;b&gt;Pak-kiam Siau Ling&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Siau-siang-cu To Bwe&lt;/b&gt; yang sangat kau kagumi itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi sembah hormat, “Cianpwe berdua harap terimalah sembah sujut Wanpwe Hun Thian-hi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tak usah banyak peradatan,” ujar Pak-kiam Siau Ling, “perbuatan muridku kurang dapat dihargai, biarlah aku mewakili mereka minta maaf kepadamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Mana Wanpwe berani terima. Belum lama berselang aku berjumpa dengan saudara Su dan adiknya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Dimana mereka?” tanya Siau Ling, mukanya rada berubah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi rada sangsi, ia berpaling memandang ke arah Kongsun Hong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Kongsun Hong kepada Pak-kiam, “Ah, urusan bocah tak perlu dipikirkan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Saudara Su telah meninggal.” demikian Hun Thian-hi menerangkan singkat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagai disambar petir seketika Pak-kiam berdiri menjublek, Siau-siang-cu To Bwe melangkah maju menjambret baju Thian-hi teriaknya, “Apa! Kaukah yang membunuhnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bukan!” sahut Thian-hi cepat. “Dia menemui ajal di bawah tangan Kim-I Kongcu Leng Bu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau-siang-cu To Bwe melepas tangan, gumamnya, “Kim-I Kongcu Leng Bu! Lalu kemana Giok-lan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi menunduk, setelah rada sangsi ia menyahut lirih, “Sudah pergi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Leng Bu! Leng Bu!” mulut Pak-kiam menggumam. Matanya terpejam dan mengalirkan air mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi berkata lirih, “Leng Bu juga telah kubunuh!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;To Bwe berdiri terlongong. “Kenapa tadi tidak kau ceritakan kepadaku?” tanya Lam-siau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi bungkam, terpekur sekian lamanya baru pelan-pelan ia mengisahkan pengalamannya yang baru terjadi belum lama berselang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Takdir! Takdir!” desis Siau Ling sembari menghela papas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari atas tembok terdengar lagi gelak tawa yang kumandang, sesosok bayangan hijau melayang turun, teriaknya tertawa, “Kalian mengobrol begitu gembira, kita menjadi tidak sabar menunggu, maka menyusul kemari!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beruntun dari atas tembok melayang turun lagi dua sosok bayangan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tawar saja Lam-siau tertawa, katanya, “Kiranya adalah Thi-kiam Lojin dari Bu-tong dan Hwi-lam-it-lo, dan sahabat ini kalau aku tidak salah lihat tentu &lt;b&gt;Im-hong-ciang Lim Bing&lt;/b&gt; adanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dua orang yang datang belakangan adalah dua orang seorang membawa sebatang pedang yang terselip di punggungnya, seorang lain menggembol sebatang tongkat warna hijau, orang ketiga adalah laki-laki berusia tiga puluhan air mukanya membeku dingin tentu dia inilah yang berjuluk Im-hong-ciang Lim Bing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seru Thi-kiam Lojin bergelak tawa, “Kongsun Tayhiap sendiri juga sudah hadir, sungguh baik sekali. Entah tindakan apa yang segera kau jatuhkan kepada muridmu ini Kongsun Tayhiap?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong mandah tersenyum ewa, ujarnya, “Urusan ini sulit dibicarakan, sebetulnya segala perbuatan muridku ini itu bukanlah menjadi kehendaknya, dalam hal ini masih ada latar belakang yang sulit diterangkan. Biarlah aku tuntun muridku ini bertandang ke setiap para sahabat yang kena menjadi korban untuk minta maaf dan mohon keringanan hukuman. Entah bagaimana pendapat kalian?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bertandang minta pengampunan?” tiba-tiba Hwi-lam-it-lo menjengek, lalu terbahak-bahak, katanya lagi, “Apakah puluhan korban jiwa manusia itu cukup ditebus dengan bertandang minta pengampunan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Biarlah para keluarganya mencacah hancur tubuh Thian-hi.” sela Im-hong-ciang Lim Beng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Aku tak tanya kau,” dengus Lam-siau, “di tempat ini tiada tempat bagi kau turut campur bicara.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Im-hong-ciang Lim Bing belum lama mengangkat nama di dunia persilatan, sikapnya congkak sudah tentu dia tak mau mengalah, makinya gusar, “Kongsun Hong, apakah kau mau menjajal berkenalan dengan aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pak-kiam Siau Ling terloroh-loroh, serunya, “Aku Siau Ling tak tahu diri, ingin aku minta pengajaran kepada saudara ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada berubah rona wajah Thi-kiam Lojin, katanya kepada Siau Ling, “Siau Tayhiap kenapa berbalik kau bantu mereka?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bertaut alis Siau Ling, katanya, “Bukan melulu Hun Thian-hi saja yang salah dalam peristiwa ini, dia terdesak oleh situasi dan harus melakukan apa saja yang dia bisa demi keselamatan jiwa sendiri. Kenapa kalian mejadi semena-mena tanpa mencari tahu duduk perkara sebenarnya. Terpaksa aku bantu mereka!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Im-hong-ciang Lim Bing mendengus gusar, tantangnya, “Biar aku Ling Bing belajar kenal betapa tinggi kepandaian Pak-kiam yang kenamaan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Habis berkata langsung ia lancarkan serangannya ke arah Siau Ling.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lam-siau dan Pak-kiam diberi julukan sebagai Hwe-siang-ki, sudah tentu mereka masing-masing punya kepandaian simpanan yang melebihi orang lain, sudah tentu angkatan macam Lim Bing yang belum lama angkat nama tidak dipandang sebelah matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedikit bergerak mudah sekali Pak-kiam meluputkan diri dari rangsekan lawan, namun Im-hong-ciang Lim Bing tak tahu diri, ia terus menyerbu dengan ketat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pak-kiam Siau Ling merasa hutang budi kepada Hun Thian-hi, diam-diam ia sudah berketetapan hati untuk membela mati-matian. Gesit sekali ia berloncatan menghindari setiap pukulan Lim Bing yang cukup hebat juga. Gerak-geriknya laksana kelinci seperti burung kutilang yang berloncatan di atas dahan pohon, tak kalah hebatnya iapun saban-saban balas menyerang kepada Lim Bing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu saling gabrak kedua belah pihak sudah saling serang menyerang puluhan jurus, Siau Ling lancarkan jurus serangan yang gencar dan deras sehingga Im-hong-ciang Lim Bing kena terdesak mundur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sembari mengayun tongkat bambunya segera Hwi-lam-it-to Siang Bing menghardik, “Siau Ling, jangan kau takabur dan menghina orang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lekas-lekas Siau-siang-cu pun melolos pedang serta jengeknya, “Biar aku belajar kenal dengan pentung bambu da Hwi-lam-it-lo yang kesohor itu!” segera ia menghadang maju, maka mereka pun bertempur tidak kalah serunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tinggal Thi-kiam Lojin saja yang masih nganggur, mukanya membesi kaku, tapi hatinya gundah, ia tahu dan menurut gelagat, besar kemungkinan mereka bertiga bakal terjungkal dan mendapat malu, menurut dugaan semula disangkanya Pak-kiam suami isteri berdiri dipihaknya, kemenangan terang dan tentu bisa dicapai oleh pihaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh di luar perhitungan semula kenyataan Pak-kiam suami-isteri membantu Hun Thian-hi malah, ia sendiri tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan Lam-siau, terpaksa ia tinggal diam berpeluk tangan saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam babak Siau-siang-cu lawan Hwi-lam-it-lo kelihatan sinar pedang dan bambu hijau berkemilauan, saling serang dengan hebat dan serunya, kedua belah pihak kerahkan setaker kepandaian masing-masing, dalam waktu singkat susah dipastikan pihak mana bakal menang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya Im-hong-ciang Lim Bing jelas bukan tandingan Pak-kiam, untung Pak-kiam turun tangan tidak setakar tenaganya serta memberi sedikit kelonggaran, kalau tidak sejak tadi ia sudah terjungkal mampus. Meskipun gelisah namun Thi-kiam Lojin tak mampu bertindak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar derap langkah kuda yang dilarikan kencang tengah mendatangi, kira-kira masih berjarak puluhan tombak jauhnya, terdengarlah suitan panjang, Tampak dua sosok tubuh manusia terbang meninggalkan tunggangannya terus meluncur datang ke tengah gelanggang pertempuran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu kedua orang ini hinggap di tanah, seketika beruba air muka Lam-siau, diam-diam ia mengeluh dalam hati mengapa bisa kedua orang ini tiba disini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sendiri juga telah melihat tegas orang pendatang ini, bukan lain adalah dua orang penunggang kedua ekor kuda putih tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, Pak-kiam juga telah melirik, melihat kedatangan kedua orang ini diam-diam iapun bercekat, gerakannya gesit sekali dengan telak ia tusuk jalan darah &lt;i&gt;Im-hong-ciang&lt;/i&gt;, terus mundur berdampingan dengan Lam-siau. Demikian juga Siau Siang-cu dan Hwi-lam-it-lo juga meloncat mundur kembali ke tempatnya masing-masing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu melihat kedatangan bala bantuan, legalah hati Thi-kiam Lojin, segera ia bergelak tawa girang, serunya, “Kiranya &lt;b&gt;Yan-bun-siang-eng&lt;/b&gt; &lt;i&gt;Ciok Tayhiap&lt;/i&gt; berdua telah datang, entah kemana hingga’sekarang kalian baru sampai!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdebar keras jantung Hun Thian-hi mendengar kedua pendatang ini adalah Yan-bun-siang-eng. Dari penuturan gurunya ia pernah mendengar perihal Yan-bun-siang-eng &lt;b&gt;Ciok Sing&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Ciok Gi&lt;/b&gt; berdua, mereka masih muda dalam pengalaman kelana di Kangouw, namun selama lima tahun terakhir ini sudah tiga kali mereka pernah meluruk ke Timur Tionggoan, mengandal sepasang golok &lt;b&gt;Yan-hap-to&lt;/b&gt; dengan pengalamannya yang aneh dan lucu entah sudah berapa puluh tokoh Bulim yang terjungkal di bawah tangan mereka. Sudah tentu semakin hari ketenaran nama mereka semakin menjulang tinggi. Mereka berdua telah menciptakan ilmu permainan golok gabungan yang sangat lihai, selama ini belum pernah menemukan tandingan yang setimpal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu, dengan sikap gagah Siang-eng tengah menerawang keadaan kedua belah pihak, katanya dengan sombong, “Kedatangan kita bersaudara tak lain adalah untuk belajar kenal dengan tokoh-tokoh kenamaan yang menyebut dirinya Hwe-siang-ki, betapa tinggi kepandaiannya sejati.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lam-siau Kongsun Hong bergelak tawa, ujarnya, “Bagus, bagus! Kita berdua pun telah lama dengar Yan-bun-siang-eng, untung hari ini kita bertemu ingin benar kita minta pengajaran!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pak-kiam Siau Ling ikut menjengek, “Walaupun aku juga pernah dengar Yan-bun-siang-eng, tapi tidak lebih mereka hanya angkatan muda belaka!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah rona wajah Siang-eng, tanpa bicara lagi serentak mereka membalingkan golok masing-masing, dimana sinar putih gemerlapan, tahu-tahu Yan-hap-to sudah digenggam di tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lam-siau saling pandang sebentar dengan Pak-kiam diam-diam hati mereka sudah maklum betapa tinggi kepandain Yan-bun siang-eng ini dilihat cara mereka mengeluar kan goloknya, tidak lebih rendah dari Thi-kiam Lojin kalau tidak mau dikatakan lebih tinggi, apapula mereka bisa bermain begitu rapi dan ketat mengombinasikain permainan golok yang saling berlawanan, entah pelajaran dari tokoh manakah kepandaian mereka ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Pak-kiam melolos pedangnya, sedang Lam-siau menanggalkan seruling pualam dari pinggangnya. Sementara itu gesit sekali Yan-bun-siang-eng sudah bergerak ke kanan kiri mengepung kedua musuhnya di tengah gelanggang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lam-siau dan Pak-kiam berbareng bergelak tawa panjang, mereka dijuluki Hwe-siang-ki, betapa. tinggi nama dan gengsi mereka serta melihat tingkah laku Yan-bun siang-eng yang sombong dan takabur ini hati mereka menjadi tak senang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong angkat serulingnya terus dilekatkan di depan bibirnya. Lam-siau sudah dua puluh tahun malang melintang di Bulim mengandal Thian-liong-cit-sek dan &lt;b&gt;Siau-im-pit-hiat&lt;/b&gt; sudah tentu Siang-eng pun tak berani memandang rendah. Melihat Lam-siau berniat menggunakan irama serulingnya untuk menundukkan musuhnya, cepat-cepat Siang-eng menggerakkan goloknya terus menyerbu dengan garangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pak-kiam terbahak-bahak keras, dimana pedang panjangnya berputar-putar segera ia kembangkan &lt;b&gt;Hian-thian-hui-kiam&lt;/b&gt; merintangi serbuan Yan-bun-siang-eng. Tapi permainan sepasang Yan-hap-to Siang-eng memang luar biasa, apalagi Pak-kiam sangat percaya akan tenaga dan kepandaian sendiri secara kekerasan ia sambut serbuan musuh dari kanan kiri, kontan Siau Ling merasa tangannya tergetar keras, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat terbang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat hasil itu Yan-bun-siang-eng semakin berbesar hati, keruan mereka semakin temberang serangan semakin dipergencar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongsun Hong kaget dan merasakan langsung tekanan musuh yang semakin berat, menurut dugaan semula asal Pak-kiam Siau Ling kuat bertahan dua jurus saja cukup baginya berkesempatan untuk meniup serulingnya, maka situasi pertempuran selanjutnya boleh dikata pihak pemenang adalah mereka berdua, siapa duga kejadian justru di luar dugaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk menolong kawannya ia bersuit nyaring, seruling di tangannya terbang menyapu dengan dahsyatnya dengan salah satu jurus Thian-liong-cit-sek yaitu yang dinamakan tipu &lt;b&gt;Hwi-liong-wi-khong (Naga Sakti Terbang di Tengah Angkasa)&lt;/b&gt; menghadapi serbuan Yan-bun-siang-eng. Kombinasi mempermainkan Yan-hap-to kedua kakak beradik dari &lt;b&gt;Yan-bun&lt;/b&gt; memang hebat luar biasa, satu maju yang lain menjaga dan melindungi, maju mundur sangat teratur sekali, kadang-kadang serentak menyerbu bersama membacok ke arah Lam-siau dan Pak-kiam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, belum lagi jurus pertama dilancarkan rampung Lam-siau sudah menarik kembali serangannya di tengah jalan terus dirubah Sin-liong-jip-cui (Naga Sakti Masuk Air) tubuhnya mencelat terbang tinggi, seruling pualam terbang menukik dari atas ke bawah, berbareng mengancam jalan darah &lt;i&gt;Hoa-kay-hiat&lt;/i&gt; di batok kepala kedua musuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendapat kesempatan ini Pak-kiam segera melejit ke tengah udara menyamber pedang panjangnya yang meluncur turun, di tengah udara jumpalitan sekali sembari lancarkan Hian-thian-hui-kiam yang hebat merangsak ke arah Siang-eng berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun Yan-bun-siang-eng keburu sudah kembangkan Yan-hap-to-hoat yang hebat, golok mereka berputar memetakan sinar gemerdep yang bundar dan melingkar-lingkar mengaburkan pandangan mata. Meski Pak-kiam dan Lam-siau lancarkan serangan gencar yang hebat tapi kekuatan daya Putar dari pusaran golok lawan adalah begitu hebat dan lebat sekali sehingga setiap jurus serangan mereka selalu kena tertuntun atau dipunahkan begitu gampang oleh tenaga hisap yang kuat itu, begitulah meski mereka berdi atas angin untuk waktu dekat tak mungkin mereka dapat mengalahkan Yan-bun-siang-eng dengan mudah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat keadaan yang saling bertahan dan sama kuat ini, Thi-kiam Lojin tahu paling tidak mereka harus bertempur sebanyak tiga ratusan jurus baru Yan-bun-siang-eng dapat dikalahkan. Maka menggunakan kesempatan ini segera ia mulai bergerak setelah memberi isyarat kedipan mata kepada Im-hong-ciang dan Hwi-lam-it-to serentak mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Sreng!” lekas-lekas Siau-siang-cu To Bwe melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi. Terpaksa Thi-kiam Lojin juga melolos pedang, bersama Im-hong-ciang Lim Bing dan Hwi-lam-it-lo Siang Bing mengepung Hun Thian-hi berdua dari tiga jurusan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sudah tentu Lam-siau menjadi gelisah, cepat-cepat berteriak, “Thian-hi, lekas kau jalan dulu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Im-hong-ciang Lim Bing menyeringai dingin, ejeknya, “Mau lari? Tidak begitu gampang!” Gesit sekali ia merintangi jalan mundur Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mau tak mau Hun Thian-hi harus berpikir cermat, seandainya ia betul-betul bisa merat itulah baik sekali, namun paling tidak masih ada dua musuh yang bakal mengejar dirinya, maka kepungan kepada gurunya berdua dengan sendirinya bakal kocar-kacir. Tapi tiga orang yang dihadapinya sekarang rata-rata adalah tokoh-tokoh silat kosen kelas satu dari Bu-lim, seumpama Im-hong-ciang Lim Bing yang paling lemah pun jauh lebih unggul dari kemampuan sendiri. Karena pikiran ini akhirnya ia harus mengambil keputusan tegas, tangkas sekali kakinya bergerak menyelinap maju seraya kirim genjotan berantai yang deras merangsak ke arah Thi-kiam Lojin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat Hun Thian-hi menyerang dirinya dengan bertangan kosong terang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya Thi-kiam Lojin menjadi murka, seking gusar ia tertawa gelak-gelak malah, pedang panjang bergetar melintas tahu-tahu sudah menukik balik menusuk ke belakang memapak serangan Thian-hi, pikirnya dengan serangan balasan ini ia hendak menabas buntung sebelah tangan Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah disaat Hun Thian-hi menggenjot dengan kerasnya, pedang Thi-kiam Lojin pun sudah menabas datang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keruan Siau-siang-cu To Bwe menjerit kaget. Sangkanya serangan balasan pedang Thi-kiam Lojin ini hanya bertujuan mendesak mundur Thian-hi adalah di luar dugaannya bahwa Thian-hi menyerang dengan bertangan kosong, terang sebelah tangannya itu bakal cacat tanpa ampun lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tingkat kepandaian dan kedudukan Siau-siang-cu To Bwe sangat tinggi dan hebat, mana mungkin ia mandah saja melihat seorang angkatan muda begitu saja dikutungi sebelah tangannya di depan matanya, sungguh dia tidak berani membayangkan sebelumnya kalau hal ini bisa terjadi. Akan tetapi kejadian selanjutnya justru membuat ia melongo dan heran bukan buatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disaat pedang Thi-kiam Lojin hampir saja menyentuh tangan Hun Thian-hi, bukan saja Hun Thian-hi tidak berusaha melindungi atau menghindari tebasan pedang musuh, kelihatan malah disorongkan ke depan, berbareng tampak selarik sinar hijau berkelebat membawa hawa dingin kontan pedang panjang Thi-kiam Lojin kutung menjadi dua potong. Seketika Thi-kiam Lojin berdiri kesima. Siau-siang-cu sendiri pun terlongo heran dan kegirangan. Begitulah sembari menggembol Badik Buntung, Hun Thian-hi berkelebat lewat di samping tubuh Thi-kiam Lojin terus meloncat naik ke punggung kudanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Im-hong-ciang Lim Bing menggertak keras terus mengejar dengan kencang. Tapi keburu Hun Thian-hi sudah menjepit perut kudanya dan membedalnya cepat-cepat ke samping sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau-siang-cu menggertak keras sembari melintangkan pedang merintangi mereka bertiga. Thi-kiam Lojin menggerung keras menerjang lewat, sedang Hwi-lam-it-lo mengayun tongkat bambunya menempur Siau-siang-cu. Maka Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing berkesempatan mengejar terus ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi larikan kudanya kencang-kencang, Thi-kiam Lojin berdua mengejar dengan cepat. Sekejap saja lima li telah dilampaui jarak Thi-kiam Lojin berdua semakin jauh, mereka ketinggalan satu li di belakang, tahu mereka kalau mengejar terus pun takkan dapat menyusulnya, terpaksa mereka putar balik dengan uring-uringan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Hun Thian-hi masih larikan kudanya sekian lamanya, waktu ia berpaling Thi-kiam Lojin berdua sudah tidak kelihatan lagi, baru sekarang ia sempat menghela napas lega. Diam-diam ia bersyukur dalam hati di tengah jalan ini ia bersua dengan gurunya yaitu Lam-siau sehingga kesulitan dirinya dapat diatasi, terutama bantuan Pak-kiam suami istri sungguh besar artinya, kalau tidak sukar dikatakan bagaimana akibatnya tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi mendongak melihat cuaca, dilihatnya hari sudah hampir gelap, namun dirinya masih di tengah perjalanan jauh dari kota atau dusun, sekelilingnya tanah tandus dan hutan lekat yang memagari gurun berpasir menguning melulu. Tak tahu Thian-hi kemana ia harus menuju. terpaksa ia biarkan saja kuda hitamnya berjalan kemana dia suka….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 006. Gadis Penunggang Burung Besar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-006-gadis-penunggang.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 007. Jaminan Hidup Satu Tahun&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-007-jaminan-hidup-satu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 008. Kekejian Kim-i Kongcu&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-008-kekejian-kim-i-kongcu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 009. Murid Baru Bu Bing Loni&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/07/badik-buntung-009-murid-baru-bu-bing.html&quot;&gt;09&lt;/a&gt; | 10 |&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/08/badik-buntung-010-pembelaan-pak-kiam.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1038732066208920339</guid><pubDate>Mon, 29 Jul 2013 23:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-04-27T21:28:06.361+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 009. Murid Baru Bu Bing Loni</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;00&lt;b&gt;9. Murid Baru Bu Bing Loni&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Cin kepada Su Giok-lan, “Dik, jangan begitu kasar! Aku ada omongan yang perlu kusampaikan kepada saudara Hun!” — lalu ia berpaling katanya kepada Hun Thian-hi, “Saudara Hun aku ada sedikit omongan harap dengarlah!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lekas-lekas Hun Thian-hi maju memajang Su Cin, katanya berbisik, “Saudara Su, sungguh aku sangat menyesal!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan mendekam di tanah menangis tergerung-gerung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin mengerling ke arah Su Giok-lan serta katanya pada Hun Thian-hi, “Bermula kusangka pasti saudara Hun takkan terkalahkan oleh Kim-I Kongcu, siapa tahu….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi bertambah malu,&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Cin selanjutnya, “Peristiwa tempo hari saudara Hun sampai terfitnah secara semena-mena, untung Suboku sudah jelas duduk perkaranya, kelak tentu segalanya dapat dibikin terang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi semakin malu dan menyesal sekali, ia tertunduk tak berani adu pandang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Cin, “Adikku diracun oleh Leng Bu, dipaksanya untuk kawin dengan dia. Setelah aku tiada harap kau suka melindungi dan menjaga adikku baik-baik”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hati Hun Thian-hi mulai paham kenapa bermula tadi Su Cin kelihatan rada mengalah segan menghadapi Leng Bu, kiranya punya latar belakang yang keji ini…. Pelan-pelan ia berpaling memicingkan mata menatap ke arah Leng Bu, tampak Leng Bu berdiri jajar di samping tunggangannya tanpa menunjukkan sikap tertentu, pedang masih terpegang di tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Thian-hi berpaling lagi Su Cin berkata kepadanya, “Kulihat saudara Hun merupakan calon pendekar kenamaan yang bakal menjulang tinggi di antara sekian tunas muda saat ini, hari depanmu pasti gemilang, betapapun kau harus menjaga adikku baik-baik!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar orang memuji dan mengagumi dirinya, sungguh Thian-hi merasa haru dan terima kasih, tak kuasa air mata meleleh keluar dari kelopak matanya. Sembari mengigit gigi pelan-pelan ia berkata tegas, “Aku tentu menuntut balas bagi kau!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wajah Su Cin mengunjuk tawa riang, katanya kepada Su Giok-lan, “Dik! Ada sedikit omongan perlu kusampaikan kepadamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan berdiri duduk, air mata membasahi dan mengotori mukanya yang putih bersih. Setelah menghela napas baru Su Cin melanjutkan, “Adik Lan. Apakah kau mau dengar pesan eagkohmu sebelum ajal ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Engkoh!” jerit Su Giok-lan, tangisnya semakin menjadi-jadi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin menghela napas, ujarnya, “Jangan bersedih adik Lan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Leng Bu menjengek, “Kau menyesal sesudah sekarat siapa suruh kau selalu menghalang-halangi sepak terjangku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah air muka Su Cin, cepat Thian-hi menyikapnya erat-erat, kata Su Cin megap-megap, “Adik Lan, lekas katakan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat keadaan engkohnya yang semakin parah Su Giok-lan menjadi bingung dan manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan Su Cin menunjuk kepada Thian-hi, mulutnya terpentang namun tak kuasa mengeluarkan suara, mendadak mukanya menjadi kejang dan berubah semakin pucat, badannya berkelejotan sebentar terus menjadi kaku&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan semakin hebat tangisnya, dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi rebahkan badan Su Cin di atas tanah lalu pelan-pelan bangkit berdiri. Sejenak ia amat-amati jenazah Su Cin terus memutar tubuh mengawasi Kim-I Kongcu Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan menyeringai sinis Leng Bu pun mengawasi ke arah Thian-hi. Kalem saja Hun Thian-hi merogoh keluar Badik Buntungnya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu berkata dingin, “Hun Thian-hi menggetarkan Tionggoan, ternyata begitu saja kepandaiannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thlan-hi melangkah pelan-pelan menghampiri. Melihat sikap Hun Thian-hi ini diam-diam mengkirik tengkuk Leng Bu, dengan tangan kiri ia tepuk-tepuk kudanya terus menyuruhnya menjauh, tangan kanan menyoreng pedang mengawasi Thian-hi dengan tajam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setindak demi setindak Thian-hi maju menghampiri, Leng Bu menjadi tidak sabar, ringan sekali pedang emasnya berputar terus menyerang lebih dulu kepada Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebat sekali Thian-hi melompat ke samping menghindar. namun laksana bayangan ujung pedang mas lawan telah menyamber tiba pula. terpaksa Thian-hi harus mencelat berkelit lagi, kini mereka sudah ganti kedudukan yang berlawanan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu terus mendesak maju dengan serangan pedangnya yang gencar, Thian-hi terdesak mundur terus. Sekonyong-konyong biji mata Thian-hi memancarkan cahaya terang yang aneh, dimana Badik Buntung bergerak selarik sinar hijau pupus berkelebat jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumi telah dilancarkan, terus menungkrup ke arah Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Leng Bu melihat perubahan permainan Thian-hi yang aneh ini, hatinya sungguh kejut bukan main, pedang mas dibolang-balingkan rapat sekali untuk melindungi badan, namun tampak sinar hijau berkelebatan rapat merekah menyambar-nyambar. disertai tekanan tenaga besar yang luar biasa memberondong mengekang dirinya dari berbagai penjuru sehingga tenaga untuk ia angkat pedang sendiri pun tak mampu lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dimana sinar hijau melintas, kontan tubuh Leng Bu terkapar di tanah tanpa bergerak lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menyimpan lagi Badik Buntungnya serta berjalan balik menghampiri Su Giok-lan. Su Giok-lan mendelik mengawasi Hun Thian-hi, melihat Thian-hi menghampiri mendadak ia lompat berdiri sambil membopong jenazah Su Cin, makinya sambil mengertak gigi, “Laki-laki palsu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi tertegun. Kata Su Giok-lan gemes, “Terang kau dapat membunuh Leng Bu semudah itu, tapi kau biarkan engkohku mati dulu baru kau menuntut balas baginya, kau sangka aku bisa menghargai dan terima kasih kepadamu?” - selesai berkata air mata tak kuasa lagi membendung meleleh dengan derasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi punya kesukaran sendiri yang tak mungkim dijelaskan, terpaksa ia berdiri melongo saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan membopong jenazah Su Cin, Su Giok-lan lompat naik ke atas tunggangannya terus dilarikan ke depan sana dengan cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersentak Thian-hi dari lamunannya, cepat ia berlari mengejar serta teriaknya, “Nona Su.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan menghentikan lari kudanya, katanya berpaling, “Kau masih ada muka mengejar kemari! Sebelum meninggal, engkohku menuding kau, apa kau tahu apa maksudnya? Gamblang sekali ia menghendaki aku menuntut balas baginya, tahu? Laki-laki palsu!” — lalu kudanya dibedal lagi ke depan sekencang-kencangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi berdiri menjublek di tempatnya, mematung seperti tonggak, sungguh hatinya sangat duka dan entahlah bagaimana pula perasaannya, teringat akan pesan Su Cin sebelum ajal ia angkat kepala hendak mengejar lagi ke depan, namun bayangan Su Giok-lan sudah tak kelihatan lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan ia menghela napas, Su Giok-lan adalah murid Pedang Utara yang cukup kenamaan, tentu tidak akan mendapat kesusahan di depan sana, tapi dia kena dicekoki racun Kim-I Kongcu Leng Bu cara bagaimana harus mengobatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Teringat akan hal ini, cepat-cepat ia larikan kudanya mengajar ke depan, Tiba-tiba terdengar pekik burung di tengah angkasa, seekor burung terbang rendah di atas kepalanya terus menuju ke depan. Waktu ia angkat kepala dilihatnya orang yang menunggang burung tak lain adalah Siau Hong, tanpa merasa pelan-pelan ia meneriaki nama Siau Hong, Siau Hong berpaling ke belakang melambaikan tangan kepadanya, terus terbang ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi menjadi lega, anak buah Bu Bing Loni muncul menalangi persoalan ini, tentu Su Giok-lan takkan menghadapi bahaya apa-apa, mungkin malah mendapat rejeki besar dari beliau. Justru Bu Bing Loni tengah bermusuhan dengan dirinya, tentu Su Giok-lan akan dibantu dan dididiknya, meski selanjutnya ia bertambah seorang musuh yang kuat, betapapun hati menjadi lega.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah pikirannya ini hati Thian-hi menjadi lapang, ia tertawa geli sendiri lalu memutar balik kudanya, pelan-pelan dilarikan ke depan menyusuri tembok besar terus menuju ke arah timur laut. Waktu ia berpaling lagi, burung dewata dan kuda tunggangan Su Giok-lan tak kelihatan lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mayat Kim-I Kongcu Leng Bu masih menggeletak di tanah, kuda kembang bebenger di samping jenazahnya, sedang seekor kuda coklat lainnya tampak berlari kencang ke arah lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;*****&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, Su Giok-lan membedal kudanya lari ke depan, hatinya kosong dan hampa, benaknya dirundung kesedihan yang sangat memukul batinnya, namun tak kuasa dilampiaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kira-kira setangah li kemudian tiba-tiba terdengar pekik burung di tengah udara yang sangat nyaring seekor burung besar berbulu hijau lambat-lambat meluncur turun di depan tunggangannya. Sungguh kejutnya tak kepalang, lekas-lekas ia menarik kendali kudanya, terus melolos pedang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di atas burung besar ini duduk dua gadis jelita, seorang berpakaian hitam sedang yang lain dandan sebagai pelayan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan tak tahu siapakah mereka berdua, namun mereka menunggang burung besar tentu bukan sembarang orang, entah apa maksud tujuan mereka?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekian lama gadis baju hitam mengamati Su Giok-lan, baru terlihat bibirnya bergerak, katanya, “Nona Su, peristiwa barusan guruku sudah tahu seluruhnya, beliau menyuruh aku datang menahanmu sebentar, beliau ada sedikit omongan ingin tanya padamu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Gio-lan rada sangsi, tanyanya, “Siapakah gurumu? Urusan apa yang ingin dia tanyakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Guruku itu bergelar Bu Bing Loni!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apa? Bu Bing Loni?” teriak Su Giok-lan di luar dugaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis baju hitam manggut-manggut. Sungguh mimpi pun Su Giok-lan takkan menduga Bu Bing Loni bakal mencari dirinya. Bu Bing Loni merupakan tokoh kenamaan yang menjagoi seluruh jagat, kepandaiannya tiada lawan di kolong langit, sepak terjangnya saja yang tidak menentu. Dari sikap gadis baju hitam yang wajar dan tenang agaknya mereka tak berimaksud jelek terhadap dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia menghela napas lega, katanya prihatin, “Untuk urusan apakah beliau mencari aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Itulah beliau sudah datang kemari!” sahut gadis baju hitam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memang benar, waktu Su Giok-lan mendongak, tampak seekor burug dewata yang lain tengah meluncur turun pelan-pelan, dari punggung burung berbulu hijau ini berjalan turun seorang Nikoh tua yang berwajah welas asih, sepasang matanya memancarkan cahaya terang yang berwibawa….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan melangkah selangkah terus menekuk lutut, sembahnya, “Wanpwe Su Giok-lan menghaturkan sembah sujud kepada Cianpwe!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni mengamati Su Giok-lan dengan seksama, akhirnya katanya sembari manggut-manggut, “Bangunlah!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sembari menyeka air matanya pelan-pelan Su Giok-lan bangkit berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Sudah jangan nangis lagi,” ujar Bu Bing Loni, “Engkohmu meninggal, kemana selanjutnya kau hendak pergi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sahut Su Giok-lan sesenggukkan, “Aku hendak mencari guruku untuk menuntut balas!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni menggeleng kepala, katanya, “Tak mungkin, gurumu pun takkan mampu menangkis jurus serangannya itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan melengak, katanya, “Tentu Suhuku bisa mengundang orang lain untuk membalas dendam ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apa kau sendiri tidak ingin membalas dendam dengan tanganmu sendiri?” tanya Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan tersentak kaget sambil angkat kepala, matanya mengawasi Bu Bing Loni sahutnya tersekat, “Aku….aku ….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kalau kau mau, aku bisa menerima kau menjadi muridku.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan menjadi kegirangan, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa tokoh nomor satu sejagat ini rela menerima dirinya sebagai murid, sesaat ia menjadi melongo.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Eh, apa kau mau?” desak Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Suhu!” cepat-cepat Su Giok-lan maju berlutut dan menyembah berulang-ulang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni berseri tawa, ujarnya, “Tulangmu bagus, belum lama berselang aku mendapat sebatang &lt;i&gt;Ho-siu-oh&lt;/i&gt; yang berusia ribuan tahun, nanti boleh kau minum, kalau kau giat dan rajin belajar, tiga bulan saja, cukup kau dapat mempelajari Hui-sim-kiam-hoat, kalau kau mau menuntut balas gampang sekali seperti kau membalikkan tanganmu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan merangkak bangun dengan kegirangan, sahutnya, “Aku pasti giat belajar.” lalu tanyanya tak mengerti, “Suhu atau Suci kenapa tidak memberi hajaran kepadanya sekarang saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni mengerut kening, katanya, “Aku sudah sumpah, gurunya membunuh ayah Sucimu sehingga sakit hati ini pun sulit dibalas!”’&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan mengerling memandang ke arah gadis baju hitam. Bu Bing Loni berkata lagi, “Inilah Sucimu Ham Gwat.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersipu-sipu Su Giok-lan membungkuk tubuh memberi soja, “Suci, harap selanjutnya kau suka memberi bantuan dan bimbingan kepadaku yang masih hijau ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Ah Sumoay terlalu sungkan. Kulihat bakat dan rejeki Sumoy sangat besar, kelak tentu mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari aku sendiri!’&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Hun Thian-hi kan murid Lam siau? Bagaimana bisa menjadi musuh besar pembunuh ayahmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkedip-kedip biji mata Ham Gwat, katanya, “Lam-siau? Dia adalah murid Ang-hwat-lo-mo!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apa?” tanya Giok-lan heran dan, menegas, “Dia murid Ang-hwat-lo-mo?”’&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ham Gwat manggut-manggut, katanya, “Jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumi yang dilancarkan tadi untuk membunuh Kim-I Kongcu adalah ilmu silat pelajaran tunggal dari Ang-hwat-lo-mo. Dulu menggunakan jurus inilah Ang-hwat-lo-mo membunuh ayahku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan manggut-manggut, batinnya, “Kiranya Hun Thian-hi juga menjadi murid Ang-hwat-lo-mo. Tak heran ilmu silatnya begitu lihai. Dalam segebrak saja sekaligus membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kosen!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Bu Bing Loni, “Giok-lan, tak perlu banyak pikir, mari kita pulang!”’&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan mengiakan, jenazah Su Cin dijinjingnya bersama Bu Bing Loni dan lain-lain menunggang burung dewa terbang tinggi dan hilang di kejauhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;*****&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 006. Gadis Penunggang Burung Besar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-006-gadis-penunggang.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 007. Jaminan Hidup Satu Tahun&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-007-jaminan-hidup-satu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 008. Kekejian Kim-i Kongcu&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-008-kekejian-kim-i-kongcu.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 09 |&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/07/badik-buntung-009-murid-baru-bu-bing.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-81436501238519892</guid><pubDate>Wed, 26 Jun 2013 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-01-31T06:26:03.085+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 008. Kekejian Kim-i Kongcu</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;008. Kekejian Kim-i Kongcu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah tiba di kaki Gunung salju, Thian-hi langsung mengambil jalan menuju ke utara, menyelusuri Tembok Besar terus beranjak menuju ke timur laut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dataran tinggi tanah merah di daerah utara sangat panas, disini jarang kelihatan orang berlalu lalang, dimana-mana angin menghembus keras, debu dan pasir bergulung menari di tengah angkasa. Menunggang seekor kuda Thian-hi pelan-pelan melarikan tunggangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut adatnya ingin rasanya tumbuh sayap lantas terbang sampai di Tiang-pek-san. Tapi dirinya sudah menimbulkan bencana besar setiap saat dirinya menjadi incaran para tokoh-tokoh silat kenamaan, waktu lewat &lt;b&gt;Tionggoan&lt;/b&gt; ia berlaku sangat hati-hati. setelah mengalami berbagai rintangan dan susah payah akhirnya bisa sampai disini, betapapun harus selalu waspada jangan sampai meninggalkan jejak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah dengan tunggangannya pelan-pelan ia mencongklang ke arah timur. Sekonyong-konyong jauh di belakangnya terdengar derap langkan kuda yang dilarikan cepat. tak lama kemudian tampak dua ekor kuda berbulu putih melesat lewat di sampingnya. Sekilas pandang Thian-hi lantas kenal bayangan mereka, diam-diam terkejut hatinya. Dandan kedua orang itu serba ketat punggungnya mengenakan mantel berbulu warna putih bersih tanpa kelihatan kena debu, kalau ilmu silat mereka tidak lihai tak mungkin mereka berani mencari gara-gara pada dirinya, sedikit mengencangkan pedal kudanya ia menghentikan lari kuda hitamnya. Tampak kedua ekor kuda putih itu terus membedal ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi termangu mengawasi bayangan kedua orang ini menghilang di kejauhan. Mendadak dari samping sebelah kanan terdengar lagi derap langkah kuda yang mendatangi, debu kuning mengepul tinggi, tampak seekor kuda kembang dipacuh ke arah dirinya. Bercekat hati Thian-hi, agaknya hari ini aku harus memeras banyak keringat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kuda kembang itu berhenti dan menghadang di depan Thian-hi, sembari bebenger keras kaki depannya terangkat naik tinggi terus berputar setengah lingkaran, kini mereka berhadapan langsung dengan Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang duduk di atas kuda kembang ini adalan seorang pemuda bermuka cakap halus berpakaian serba kuning berkilauan, mengenakan mantel besar berwarna Kuning mas pula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berdetak keras jantung Hun Thian-hi. Bukankah pemuda ini berjuluk &lt;b&gt;Kim-I Kongcu&lt;/b&gt;, putra tunggal &lt;b&gt;Sing-hu-it-koay&lt;/b&gt; si iblis durjana yang sangat ditakuti itu? Entah untuk apa dia gelandangan sampai di Tionggoan, naga-naganya malah hendak cari setori pada dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kim-I Kongcu (Pemuda Baju Emas)&lt;/b&gt; menyeringai dingin kepada Thian-hi, katanya, “Kau inilah Hun Thian-hi? Pasti kau sudah tahu siapa aku ini bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walau tidak tahu apa gerangan maksud kedatangan Kim-I Kongcu &lt;b&gt;Leng Bu&lt;/b&gt; ini, namun dari sikapnya. yang garang dan takabur agaknya tidak mengandung maksud baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak ia amat-amati Pemuda Baju Emas tanpa mengeluarkan suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari kejauhan tampak mendatangi lagi dua ekor kuda coklat, yang terdepan terdengar berteriak dari kejauhan, “Saudara Leng, Jangan ceroboh!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Thian-hi berpaling tampak yang mendatangi tak lain adalah Su Cin dan adiknya Su Giok-lan, diam-diam hatinya membatin, “Payah, entah berapa banyak orang yang bakal meluruk datang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan Su Giok-lan datang berjajar. Kim-I Kongcu, Leng Bu tentawa lebar, katanya kepada Su Cin, “Urusan Kim-I Kongcu selamanya tak senang dicampuri orang lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedikit berubah rona wajah Su Cin, katanya mendengus, “kau sangka aku tukang bikin ribut? Kalau kau mau hanya kematianlah bagianmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu menyeringai sinis, pelan-pelan mantelnya dicopot terus melorot turun dari tunggangannya, serta katanya Kepada Su Cin, “Benar-benar, kunasehat kau jangan mencampuri urusan. Urusanku biar ayahku sendiri yang menanggungnya nanti.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah pucat air muka Su Cin, sekilas ia melirik Kepada Su Giok-lan, tampak muka adiknya membeku tanpa menunjukkan ekspresi, kini pandangan Su Cin beralih ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, ganti berganti Hun Thian-hi juga sedang mengamati mereka bertiga, entah ada hubungan apa diantara mereka bertiga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah turun di tanah lambat-lambat Leng Bu melolos sebilah pedang panjang kuning emas, katanya kepada Hun Thian-hi, “Hati-hatilah! Pedang hari ini harus menenggak sedikit darahmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tenang-tenang bercokol di atas kudanya, dingin pandangannya mengawasi Leng Bu. Ia tahu ayah Leng Bu itu Sing-hu-it-koay merupakan salah satu pentolan iblis ganas yang ditakuti di kalangan Kangouw. Sing-hu-it-koay jauh menetap di &lt;b&gt;Thian-lam&lt;/b&gt;, gurunya yang dijuluki Lam-siu (Seruling Selatan) pun segan untuk berhadapan tangsung dengan manusia iblis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat sikap acuh yang tidak menghiraukan dirinya, Leng Bu menjadi sengit, mendadak ujung pedangnya bergerak menggetar dari samping langsung ia menusuk ke pinggang Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tahu bahwa Kim-I Kongcu Leng Bu sudah lama malang melintang di Kangouw mengangkat nama. Hari ini sengaja mencari setori pada dirinya betapapun aku harus beri hajaran setimpal untuk menumpas sikapnya yang congkak. Seenaknya saja tangan kanan terayun tahu-tahu Badik Buntung sudah berada digenggamannya, selarik sinar hijau berkelebat langsung memapas turun ke batang pedang Leng Bu yang menusuk tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gerak tubuh kedua belah pihak amat cepat dan sama berkelit mundur, dilain saat tubuh Hun Thian-hi sudah mencelat tinggi meninggalkan tunggangannya dan berdiri berhadapan dengan Kim-I Kongcu Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu bertengger dengan muka merah padam, betapa cepat ia menarik balik pedangnya namun tak urung ujung pedangnya sudah terkupas sebagian oleh ketajaman Badik Buntung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Disebelah sana Su Cin tampak berseri dan manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu menyeringai sadis, cahaya pedangnya menari merangsak seru ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi pun menggerakkan Badik Buntung untuk melawan serbuan musuh. Kedua belah pihak adalah anak murid dari tokoh ternama yang berkepandaian cukup lihai, lwekang keduanya sama kuat dalam sementara waktu sulit untuk tentukan siapa lebih unggul yang terang mereka bertempur dengan bernapsu dan cepat, sinar pedang ke-kuningan menari-nari laksana kupu-kupu yang lincah, sebaliknya sinar hijau pupus laksana lembayung berputar dan membabat kian-kemari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski menggenggam senjata pusaka macam Badik Buntung. Hun Thian-hi merasa ilmu pedang Leng Bu adalah begitu hebat dan aneh sekali, sayang seruling pualamnya sudah kutung, Badik Buntung kurang leluasa baginya sehingga rada menghalangi gerak permainannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah pertempuan sengit itu tanpa terasa sudah mencapai ratusan jurus. Lama kelamaan dari pihak yang terdesak kini Leng Bu malah berinisiatip menyerang, sebaliknya semakin bertempur Hun Thian-hi merasa semakin payah. Ilmu serulingnya yang seharusnya cukup hebat tak kuasa dikembangkan karena tidak sesuai dengan senjata yang dipakai ini, sehingga intisari ilmu serulingnya kehilangan keampuhannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dikejap lain dua puluh lima jurus telah dicapai, tapi jurus demi jurus Leng Bu semakin gencar lancarkan serangannya. Su Cin yang menonton dipinggiran menjadi gugup dan gelisah. Sungguh tak dimengerti olehnya, dalam segebrak saja Hun Thian-hi sekaligus telah dapat membunuh puluhan musuhnya, Toh-hun-cui-hun yang kenamaan dan lihai itu pun terkutung sebelah lengannya, kenapa hari ini tak kuasa menghadapi Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kuatirnya Su Cin melompat turun dari atas kuda. Su Giok-lan tetap duduk di atas kuda tidak membawa sikap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, Hun Thian-hi semakin dibuat keheranan, bukankah Su Cin serombongan dengan Kim-I Kongcu Leng Bu, kenapa dia begitu gugup dan gelisah bagi dirinya? Besar hasratnya untuk mengetahui rahasia apa dibalik persengketaan ini. Karena pikirannya ini terpaksa ia main mundur sambil menjaga diri saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya Leng Bu menyeringai dingin, pedang panjang ditusukan semakin gencar, ia kembangkan Sing-hu-kiam-hoat, sejalur sinar kuning mas berterbangan mengurung tubuh Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedikit perhatian Hun Thian-hi terpecah situasi pertempuran lantas berubah gawat, sekarang Leng Bu telah mantap pegang serangan. Betapa pun Hun Thian-hi menggerakkan Badik Buntungnya untuk menangkis, menyampok gerak-geriknya mulai kacau balau, Kim-I Kongcu semakin mendapat angin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru sekarang Thian-hi betul-betul terkejut dengan mengertak gigi ia empos semangatnya, segera mengembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek, tujuannya hendak mengrangsak musuh. Tapi cahaya pedang Leng Bu keburu sudah membendung setiap penjuru dengan jurus &lt;b&gt;Pek-lian-jian-cong (Rantai Putih Ribuan Kati)&lt;/b&gt; sehingga Hun Thian-hi seakan-akan terbelenggu tak mampu bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berulang-ulang Hun Thian-hi lancarkan serangan balasan yang dahsyat, namun tak berarti sama sekali, karena ilmu pedang Sing-hu-kiam-hoat yang dilancarkan Lang Bu begitu hebat dengan tipu-tipunya yang lihai dan sulit diraba, dalam keadaan yang terdesak itu berapa kali sudah Hun Thian-hi hendak lancarkan jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumi, namun setiap kali terkiang pesan orang tua alis putih sehingga niatnya dibatalkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin semakin gelisah seperti semut di dalam kuali panas, tidaklah menjadi soal kalau Hun Thian-hi dipihak yang menang, kalau kalah…. urusan ini terjadi gara-gara paman dan mereka berdua yang harus bertanggung jawab, apalagi….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Hun Thian-hi menghadapi serangan berbahaya lagi tak tertahan Su Cin berteriak maju, “Leng Bu, berhenti!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu tak menduga Su Cin bakal merintangi perbuatannya, serta merta gerak geriknya sedikit merandek. Kesempatan baik ini tak disia-siakan oleh Thian-hi, mendadak mencelat tinggi dengan gaya Lui-tian-hwi-theng (Geledek dan Kilat Terbang Menyambar) tubuhnya terbang keluar dari kepungan musuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu menjadi melongo, dengan dingin ia awasi Thian-hi. Sekian lama mereka beradu pandang dengan diam. Mendadak pelan-pelan Leng Bu berpaling mengerling ke arah Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Cin dengan gusar, “Leng Bu! Jangan kau terlalu menghina orang. Ketahuilah dunia persilatan bukan milik Sing-hu-lo-koay ayahmu itu saja!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi tertegun, apa maksud kata-kata Su Cin terhadap Leng Bu ini?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu menyipit mata menyeringai sadis, jengeknya, “Kau selalu menghalangi perbuatanku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin mendengus, sebelah tangannya melolos pedang katanya, “Kau sangka murid Pedang Utara gampang dibuat permainan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa bercakap lagi setindak demi setindak pelan-pelan Leng Bu maju menghampiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Engkoh Cin! Hati-hati!” teriak Su Giok-lan dari atas kuda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tak apa, aku tidak takut!” sahut Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sembari melolos pedang tersipu-sipu Su Giok-lan meloncat turun dan berdiri di samping Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tidak tahu persoalan apa yang disengketakan, terpaksa ia berdiri menonton saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebentar Leng Bu menghentikan langkahnya, matanya mengawasi Su Giok-lan lalu mendesak lagi ke arah Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pedang Su Cin bergerak, ujung senjatanya menusuk tepat di tengah alis Leng Bu. Sigap sekali Leng Bu angkat pedang emasnya menyampok pedang lawan, tangkas sekali tahu-tahu tajam pedang emasnya berbalik sudah mengancam tenggorokan Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan angkat pedangnya membacok, begitulah mereka berdua mengeroyok Leng Bu. Namun sedikit pun LengBu tidak gentar, dengan Sing-hu-kiam-hoat ia masih mampu menghadapi keroyokan kedua musuhnya, malah ia pegang inisiatif pertempuran, Su Cin berdua dicecar dengan serangan membadai. Terpaksa Su Cin berdua kembangkan Hian-thian-hui-kiam pelajaran gurunya, dengan kekuatan gabungan ini, mereka mandah membela diri saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi mengikuti terus jalan pertempuran ini pikirnya, “Meski ilmu pedang Leng Bu cukup aneh dan keji. tapi pedang Hian-thian-hui-kiam dari Pedang Utara juga cukup lihai paling tidak lima raus jurus kemudian baru dapat dibedakan pihak mana bakal unggul dan asor tapi pertikaian apakah yang membuat mereka bermusuhan?” Naga-naganya Su Cin tiada maksud jahat terhadap dirinya, apalagi melihat martabat dan perangainya jauh lebih baik dibanding pamannya yang licik dan rendah itu. Syukur tadi ia memberi bantuan hingga aku terhindar dari malapetaka. Dengan cermat ia ikuti pula jalan pertempuran, kali ini kelihatan situasi telah berubah. Kim-I Kongcu terus lancarkan serangannya yang deras dan keras, sebaliknya. Su Cin berdua hanya menjaga diri tanpa balas menyerang. Hian-thian-tui-kiam mentabirkan bayangan pedang yang rapat dan padat membendung rangsakan Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wajah Leng Bu menyungging senyum dingin, pedangnya menyerang ke timur membabat kebarat bermainan sebat sekali kakinya bergerak lincah mengikuti gaya pedangnya, berputar-putar mengeliling kedua musuhnya. Sekonyong-konyong Leng Bu melenting mundur berkelebat tiba di samping kuda terus meraih mantel emas yang berada di pungung kudanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seketika berubah hebat air muka Su Cin berdua, cepat-cepat Su Cin berpaling ke arah Thian-hi, bibirnya sudah bergerak untuk berkata, namun ditelannya kembali. terasa hati Thian-hi menjadi tegang, serta merta serasa suasana tertekan ini bakal terjadi sesuatu peristiwa hebat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, dengan seringai giginya yang putih, Leng Bu menyerbu lagi kepada Su Cin berdua, Sekarang kelihatan gerak-geirik Su Cin berdua yang gugup dan was-was. terpaksa mereka bergerak untuk menangkis dan mambela diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat sikap dan air muka Su Cin berdua seperti ketakutan, pandangan Thian-hi lantas beralih kepada pedang mas yang dipegang tangan kiri Leng Bu, namun tiada sesuatu yang luar biasa entah kenapa Su Cin berdua agaknya sangat takut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beruntun Leng Bu lancarkan puluhan jurus serangan pedang, tiba-tiba ia ayun mantel di tangan kirinya untuk menggubat kedua batang pedang Su Cin berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tersentak kaget, jurus yang dilancar Leng Bu barusan adalah &lt;b&gt;Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah ilmu tunggal yang kenamaan dari &lt;b&gt;Hwi-cwan-ciam-soat Ciok Hou-bu&lt;/b&gt; majikan &lt;b&gt;Hwi-cwan-po&lt;/b&gt; di &lt;b&gt;Kang-lam&lt;/b&gt;. Entah cara bagaimana ilmu hebat itu bisa dipelajari oleh Kim-I Kongcu Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tengah ia menimang-nimang, Leng Bu sedang mengobat-abitkan mantel emasnya itu mendesak musuhnya sehingga Su Cin berdua kepontang-panting. Sekonyong-konyong, Leng Bu menarik mantel emasnya berputar begitu cepat dikombinasikan dengan pedang di tangan kanannya, beruntun ia lancarkan lima jurus serangan hebat. Terdengar Su Cin berdua menggertak bersama serentak kedua pedang mereka saling silang terus memantek ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tring!” tahu-tahu kedua batang pedang mereka menceng tinggi ke tengah udara tersapu mantel emas seketika tampak bayangan orang berkelebat berpencar, namun tahu-tahu Leng Bu berdiri angker di sebelah samping, mantel emas digenggam di tangan kirinya, sebaliknya ujung pedangnya mengancam tenggorokan Su Cin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan hendak memburu maju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Jangan bergerak!” bentak Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Muka Su Cin penuh keringat, seikilas ia mengerling ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi tidak menduga situasi berubah begitu cepat, seketika, ia menjublek ditempatnya tanpa suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Leng Bu menyapu pandang mereka berdua, pelan-pelan ia berkata kepada Su Cin, “Kau selalu merintangi perbuatanku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat keadaan Su Cin yang mengenaskan itu mencemas perasaan Thian-hi, betapapun keadaan Su Cin in karena menolong dirinya tadi. Sebagai murid Pak-kiam masa mandah saja dihina begitu rupa. Diam-diam ia menerawang sikap Su Cin tadi waktu membantu dirinya terang ia mengajak aku bekerja sama untuk menghadapi dan merobohkan Leng Bu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan-lahan Kim-I Kongcu menarik pedang emasnya. Hun Thian-hi menghela napas lega. Tapi mendadak ujung pedangg Kim-I Kongcu menusuk pula ke arah Su Cin. Su Cin tidak menduga Leng Bu berbuat begitu licik dan keji untuk berkelit pun tak sempat lagi, ujung pedang telak sekali menembus dadanya sebelah kanan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan terpekik nyaring terus menubruk maju. Kim-I Kongcu mengerling ke arah Su Giok-lan, pelan-pelan menarik pedangnya, wajahnya tak berubah sama sekali, lalu mundur dua langkah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua tangan Su Cin mendekap luka di dadanya, keringat dingin membasahi seluruh mukanya kedua biji matanya mendelik bagai kelereng yang hendak mencelat keluar ke arah Leng Bu penuh rasa dendam yang membara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersipu-sipu Hun Thian-hi juga memburu datang. “Perlu apa kau datang, pergi!” hardik Su Giok-lan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh Thian-hi menyesal setengah mati. ia menjublek ditempatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;03&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;04&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;05&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 006. Gadis Penunggang Burung Besar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-006-gadis-penunggang.html&quot;&gt;06&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 007. Jaminan Hidup Satu Tahun&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-007-jaminan-hidup-satu.html&quot;&gt;07&lt;/a&gt; | 08 |&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-008-kekejian-kim-i-kongcu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1144102698306210710</guid><pubDate>Tue, 25 Jun 2013 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-01-30T12:03:56.866+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 007. Jaminan Hidup Satu Tahun</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;007. Jaminan Hidup Satu Tahun&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selepas pandangan mata panorama di atas puncak pegunungan ini adalah putih bersalju melulu, pohon siong dan pek sudah berselimutkan bunga salju, selayang pandangan dunia sekelilingnya seperti dibuat dari keramik yang memutih berkilau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu sang surya pertama kali mengintipkan sinar kemuning menembus tabir gelapnya seluruh jagat raya ini, Hun Thian-hi seorang diri sudah beranjak naik menuju ke gunung salju mencari Soat-san-su-gou.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak terasa pagi hari itu ia sudah mencapai setengah perjalanan di lamping gunung, disini ia berhenti sebentar menghirup napas segar, pemandangan ciptaan alam yang indah molek yang terbentang di hadapannya betul-betul merupakan sebuah pesona yang seolah-olah merampas kesadarannya sehingga sekian saat ia menjublek di tempatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Puncak tertinggi dari gunung bersalju sudah terbentang di hadapannya, semangat Hun Thian-hi tambah berkobar dan hatinya menjadi girang sekali, segera kakinya bergerak semakin cepat menempuh berbagai aral rintang berbahaya, namun toh semua itu dapat diatasi berkat bekal lwekang dan ilmu ringan tubuhnya yang cukup sempurna.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lain dari keadaan di bawah gunung, puncak. tertinggi dari gunung bersalju ini justru serba hijau dan bersih sama sekali dari bunga salju, di mana-mana bertabirkan batu hijau seluas tiga lima puluh tombak. Waktu Hun Thian-hi memanjat ke atas batu hijau itu didapatinya di tengah-tengah sana duduk bersila jajar empat orang tua yang semuanya sudah beruban dan berjenggot memutih salju pula. Mereka duduk memutar setengah lingkaran, semuanya tengah memejamkan mata bersamadi, sekali pandang membuat orang timbul rasa hidmat dan hormatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersipu-sipu Hun Thian-hi maju berlutut serta sembahnya, “&lt;i&gt;Tecu&lt;/i&gt; Hun Thian-hi menghadap para &lt;i&gt;Cianpwe&lt;/i&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang tua yang duduk paling ujung membuka mata meng-angguk-angguk kepada Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul. Baru sekarang Hun Thian-hi melihat tegas orang tua ini bukan lain si orang tua beruban yang memberi petunjuk kepadanya di dalam gua itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beruntun orang ketiga juga membuka mata mengamati Hun Thian-hi sekian saat, lalu ujarnya, “Omongan &lt;i&gt;Si-te&lt;/i&gt; memang tidak salah, bocah ini bertulang mas punya bakat yang luar biasa, benar-benar seorang tunas yang punya harapan dan masa depan yang gemilang. Sayang sifat congkak dan sombongnya terlalu besar melibatkan dirinya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang kedua lantas membuka mata dan tertawa gelak-gelak, serunya, “Hal itu tidak menjadi halangan, bukankah waktu masih muda dulu kita lebih nakal dan brandalan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Hun Thian-hi menjadi girang dalam hati, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa Soat-san-su-gou sangat menghargai dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang ketiga mengerutkan kening, ia tetap menyanggah, “Tapi sifat congkak dan takabur selalu pasti menjadi rintangan kemajuan.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa perduli sanggahan saudaranya, orang kedua itu berkata kepada Hun Thian-hi, “Kudengar Si-te memujimu, sebelum ini aku belum percaya, hari ini dengan mataku sendiri kusaksikan baru aku mau percaya. Memang tidak salah pujiannya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Terima kasih akan pujian para Cianpwe!” — diam-diam Thian-hi menjadi heran akan sikap orang pertama dari Su-gou yang tetap samadi tak bergerak atau membuka mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanya si orang tua Kepada Thian-hi, “Waktu kau kemari apa kau bersua dengan Ham Gwat?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut, segera ia ceritakan pertemuan hari itu sejelasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua manggut, sebaliknya orang tua kedua mendengus hidung, ujarnya, “Bu Bing Loni terlalu takabur, sepak terjangnya sangat keterlaluan.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru sekarang tiba-tiba orang tua pertama membuka mata, dua biji matanya yang ditaungi kedua alisnya yang memutih panjang itu berkilat tajam, tersentak kaget benak Hun Thian-hi melihat ketajaman sinar pancaran mata orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua beralis putih ini berkata lambat-lambat, “&lt;i&gt;Ji-te&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Sam-te&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Si-te&lt;/i&gt;!” suaranya terdengar rendah namun mengandung wibawa yang besar dan angker.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiga, orang tua lainnya segera bungkam dan menunduk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambung orang tua beralis putih kalem, “Kita jangan terlalu bangga dan percaya akan kekuatan sendiri, aku kuatir dengan gabungan kekuatan kita berempat pun masih belum bisa menandingi Bu Bing Loni!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua kedua tak tahan lagi lantas menyeletuk, “Apakah ucapan &lt;i&gt;Toako&lt;/i&gt; ini tidak terlalu tinggi menilai Bu Bing Loni?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata orang tua beralis putih kepada Thian-hi, “Nak, kau bangunlah!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sembari mengawasi orang tua beralis putih ini pelan-pelan Thian-hi bangkit berdiri, orang tua pertama ini rada punya sikap yang angker dan agung dari ketiga saudaranya, setiap patah kata yang diucapkannya mempunyai pertimbangan yang masak dan masuk di akal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua beralis putih manggut-manggut memberi tanda supaya ia maju mendekat. Thian-hi menurut melangkah maju ke hadapan orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari jarak yang dekat ini si orang tua beralis putih mengamati Hun Thian-hi dengan seksama, rada lama kemudian baru ia menghela napas, ujarnya, “Kebesaran dan kejayaan Bulim kelak bakal tercekam di tangan bocah ini!” Lalu ia menunduk terpekur lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berempat semua diam tenggelam dalam pikiran masing-masing, lahirnya ia memuji akan bakat dan rejeki Thian-hi yang besar, namun helaan napas panjang itu betul-betul membuat perasaan semua orang menjadi tertekan dan berat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilain saat orang tua beralis putih angkat kepalanya berkata kepada Hun Thian-hi, “Mungkin kau harus tinggal beberapa hari disini, tunggulah setelah segala sesuatu mengenai urusan ini dapat dibikin beres baru kau boleh tinggal pergi, apakah kau sudi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut dengan melongo, tak tahu ia entah apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu. Seperti disengat kala, ketiga orang tua lainnya berpaling kaget.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Toako!” seru orang tua keempat lirih dan tertekan perasaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak orang tua beralis putih unjuk senyum riang, katanya, “Kalian tahu ilmu silat apa yang paling diandalkan oleh Bu Bing Loni?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiga yang lain menyahut berbareng, “Kita sama tahu, dia menggunakan sebilah pedang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih manggut-manggut, ujarnya, “Bukankah ilmu pedangnya yang dinamakan &lt;b&gt;Hui-sim-kiam-hoat&lt;/b&gt; menjagoi di seluhuh jagat ini!” sampai disini ia merandek sebentar lalu sambungnya, “Kalau kita berempat secara langsung menghadapi Hui-sim-kiam-hoat ini cara bagaimana mengatasinya?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketiganya tenggelam dalam pikirannya tak bersuara, akhirnya orang kedua buka bicara, “Menggunakan &lt;b&gt;Gin-ho-sam-sek (Tiga Jurus Sungai Perak)&lt;/b&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih menganggukan kepala, ujarnya, “Ucapan Ji-te memang tepat, menggunakan Gin-ho-sam-sek (tiga jurus sungai perak) untuk menyerang dan bertahan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong dari jauh di ufuk langit Sana terdengar pekik burung yang bersahutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar itu orang tua beralis putih lantas unjuk senyum lebar sembari manggut. Dia memberi tanda kepada Hun Thian-hi untuk menyingkir dan duduk di samping sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menurut perintah, ia menyingkir ke samping orang tua alis putih terus duduk bersila.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara kedua ekor burung besar yang bentuknya seperti merak yaitu yang dinamakan burung dewata berbulu hijau pupus sudah terbang mendatang semakin dekat. Kini Hun Thian-hi sudah semakin jelas, kedua ekor burung besar itu terbang jajar mendatangi dengan cepat. Di lain kejap kedua ekor burung ini sudah meluncur turun dan hinggap di atas batu hijau tanpa mengeluarkan sedikit pun suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi melihat ke atas punggung burung besar itu, yang mendarat lebih dulu ditunggangi dua orang, yaitu dayang kecil yang bernama Siau Hong, seorang lain adalah gadis berpakaian serba hitam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi kesima mengawasi wajah gadis baju hitam, kulit wajah gadis remaja ini kelihatan putih halus, sepasang matanya bening dan hitam bersinar tajam, setelah slorot turun dari punggung burungnya hanya sekilas memandang ke arah Soat-san-su-gou, hakikatnya ia seperti tidak melihat akan kehadiran Thian-hi disitu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, begitu loncat turun dayang kecil atau Siau Hong itu lantas sembunyi di belakang gadis baju hijau itu, lehernya diulur tinggi sembari jinjit-jinjit. Sepasang matanya yang jeli melotot lebar mengintip dari belakang pundak si nona ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu, burung dewata yang lainnya pun sudah mendarat, ditunggangi oleh seorang Nikoh tua yang mengenakan jubah keagamaan warna abu-abu. Pelan seperti malas-malasan ia turun dari punggurg burung dewata itu, matanya terpicing mengawasi Soat-san-su-gou ganti berganti, mendadak kelihatan biji matanya terpentang lebar memancarkan napsu membunuh yang tebal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilain pihak Soat-san-su-gou tetap berduduk samadi memejamkan mata tak bergerak, seperti tidak mengetahui akan kedatangan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelihatan Bu Bing Loni mengayun tangan kanan, dari dalam lengan bajunya ia melemparkan sebatang tongkat putih ke hadapan si orang tua pertama beralis putih itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tongkat sepanjang tiga kaki yang terbuat dari batu pualam itu melesak masuk seluruhnya ke dalam tanah, tanpa mengeluarkan suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan-lahan orang tua alis putih angkat kepala menatap ke arah Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Bu Bing Loni tertawa dingin, ujarnya, “Kedatanganku hanya untuk minta orang, pengajaran dari kalian yang menamakan diri sebagai Soa san-su-gou, betapa tinggi dan ada keanehan apa dari ilmu kepandaian kalian?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih beragu sebentar, katanya dengan suara rendah, “Ketahuilah dia bukan murid dari Ang-hwa-lo-mo itu, malah….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak menanti orang bicara habis, Bu Bing Loni segera menyela, “Segala sepak terjangku sejak dulu siapa yang berani tanya kenapa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesaat orang, tua alis putih merenung, lalu katanya kalem, “Apa tidak lebih baik kau pertimbangkan sekali lagi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni mendengus gusar, ia berpaling ke arah gadis baju hitam serta berkata, “Ambil pedangku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cepat-cepat gadis baju hitam itu mengangsurkan sebilah pedang panjang, pelan-pelan Bu Bing Loni melolos pedang itu dari sarungnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih mandah tertawa tawar, sebelah tangannya diulur mencabut keluar tongkat yang amblas dalam tanah di depannya terus dilontarkan kepada orang keempat, serempak mereka lantas mengeluarkan sebatan tongkat putih pula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan angker Bu Bing loni melintangkan pedangnya di depan dada, lambat-lambat ia memutar tubuh menghadapi Soat-san-su-gou dengan sikap dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbareng Soat-san-su-gou bangkit berdiri. Selama hidup ini baru pertama kali ini Thian-hi bakal menyaksikan pertunjukan adu silat tingkat tinggi, tak terasa jantung berdebur keras dan tegang, tersipu-sipu iapun berdiri menyingkir ke samping. Diam-diam ia melirik ke arah gadis baju hitam itu, orang tengah memusatkan perhatiannya ke tengah gelanggang, sedikit pun tidak hiraukan kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi malu sendiri, iapun segera menaruh perhatian akan pertarungan dahsyat yang bakal terjadi ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Soat-san-su-gou sudah mencari kedudukannya masing-masing, Bu Bing Loni terkepung diantara mereka berempat. Pelan-pelan Bu Bing Loni angkat dan menggerakkan pedang di tangannya, sikapnya yang angkuh dan menyungging senyum ejek hakikatnya tidak memandang sebelah mata pada keempat lawannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pedang panjangnya itu bergerak lamban melancarkan jurus serangan, setelah berputar-putar setengah lingkaran di tengah udara langsung menutul ke tenggorokan orang tua alis putih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menghadapi musuh besar yang diagulkan sebagai tokoh jahat nomor satu di seluruh jagat ini sedikit pun Soat-san-su-gou berempat tak berani berlaku ayal-ayalan, serempak cepat tongkat pualam mereka bergerak saling silang terbang serabutan melancarkan jurus pertama dari Gin-ho-im-sek yang dinamakan &lt;b&gt;Gin-poh-tam-tam-gi (Gelombang Perak Mengalun Berderai)&lt;/b&gt;, tabir sinar putih perak laksana percikan alunan air gelombang melandai ke arah Bu Bing Loni dari berbagai penjuru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dimana Bu Bing Loni menggoreskan pedangnya, tiba-tiba terasa pedangnya menjadi berat seperti tertahan maju, sementara ujung pedangnya laksana disedot oleh sesuatu kuatan yang hebat, sehingga kurang leluasa bergerak lagi. Keruan kejut sekali hatinya, diam-diam ia menyedot hawa mengerahkan tenaga, pedang panjangnya digerakkan kembali lebih cepat merangsak ke arah Soat-san-su-gou.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak gerak gerik tongkat para tokoh dari Soat-san itu membaling putar balik secara tiba-tiba, kontan pedangnya Bu Bing Loni kena terkurung dan dituntun ke samping hingga menusuk tempat kosong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gabungan ilmu tongkat Soat-san-su-gou memang cukup hebat, perubahannya sukar diraba sebelumnya, dari menjaga diri bisa berubah menyerang dengan dahsyat, apalagi dengan kepungan dari empat penjuru ini, serempak empat batang tongkat pualam itu menutuk lempang ke seluruh badan Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni sudah diakui sebagai tokoh silat nomor satu yang tiada bandingannya di kolong langit, ilmu pedangnya yang bernama Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang yang paling digdaya dan malang melintang di seluruh Bulim, masa begitu gampang ia mandah dikalahkan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu tusukan pedangnya mengenai tempat kosong lantas ia tahu akan akibat apa yang bakal dialaminya, maka dengan mendengus keras-keras, pedang panjangnya ditarik sertakan tenaganya…. Ting, ting, ting! Beruntun terdengar suara benturan nyaring yang menusuk telinga, dengan ketangkasan’permainan pedangnya sekaligus ia tangkis kembali keempat batang tongkat kemala putih Soat-san-su-gou yang menyerampang tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan serangan gabungan dari empat penjuru ternyata Soat-san-su-gou masih tidak mampu mendesak Bu Bing Loni setapak kaki pun, dan betul-betul luar biasa keruan mereka bercekat dan kaget dalam hati, untuk babak selanjutnya mereka tak berani gegabah main serang lebih dahulu serempak mereka loncat mundur dan berdiri menempati kedudukan semula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni berdiri tegar dengan muka beringas meskipun secara gampang ia berhasil membendung dan menghalau serangan gabungan lawan, namun hakikatnya selama hidupnya ini kapan ia pernah terdesak di bawah angin sedemikian rupa? Matanya berkilat memancarkan sinar biru mengandung nafsu membunuh yang berkobar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersapu oleh pandangan cahaya mata Bu Bing Loni yang menyeramkan itu, tanpa terasa melonjak keras jantung Hun Thian-hi, tak kuasa matanya lantas melirik ke arah si gadis berbaju hitam itu. Kelihatan sikap orang tetap seperti waktu datang tadi, sedikit pun wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, matanya menatap tajam dalam gelanggang. Sebaliknya Siau Hong membelalak kedua biji matanya tengah mengawasi Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memang di luar dugaan Bu Bing Loni bahwa kepandaian silat Soat-san-su-gou kiranya memang hebat di luar perhitungannya semula. Begitulah sekali lagi ia menggetarkan pedang panjangnya mengembangkan lagi Hui-sim-kiam-hoat yang telah menjagoi di seluruh kolong langit. Setitik sinar putih kemilau yang menyilaukan mata berkelebat laksana seekor ular hidup terbang menari di tengah angkasa terus membeliti dan menerjang keempat penjuru menyerang kepada musuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Soat-san-su-gou memusatkan seluruh perhatiannya. Sekali lagi mereka lancarkan jurus Gin-poh-tam-tam-ki (Gelombang Perak Mengalun Berderai), jurus ini memang peranti untuk menjaga diri tanpa balas menyerang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu gemblengan hasil pemikiran Soat-san-su-gou selama hidup ini. Betapapun tinggi kepandaian Bu Bing Loni yang sudah diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh jagat ini, dengan satu lawan empat dalam sementara waktu agaknya sukar dapat mengambil kemenangan dan memecahkan kepungan yang ketat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah tanpa menggeser kaki tangan Bu Bing Loni terus bergerak gesit dan tangkas sekali memutar dan menarik pedang panjangnya menyerang dahsyat kepada empat lawannya, sebentar saja ratusan jurus sudah berlahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saking hebat pertunjukan yang disaksikan ini Hun Thian-hi sampai melongo dan menjublek di tempatnya, darahnya berdesir semakin cepat. Pertunjukan adu kepandaian yang dilihatnya ini betul-betul belum pernah disaksikan selama hidup ini, kecepatan permainan pedang Bu Bing Loni yang banyak perubahannya betul-betul sukar diikuti dengan pandangan matanya. Sebaliknya meskipun Soat-san-su-gou selalu hanya melancarkan jurus-jurus pertamanya tadi, namun perubahannya yang kokoh kuat itu sulit pula dapat diselaminya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semakin bertempur hati Bu Bing Loni semakin was-was, baru sekarang diinsafi olehnya bahwa Soat-san-su-gou merupkan lawan tertangguh selama hidupnya. Kalau tadi ia berseru angkuh dengan berdiri diam ditempatnya, sekarang mulai kelihatan kakinya bergerak maju mundur, gerak badannya mengikuti tarian kelebat sinar pedangnya, mendadak tampak permainan pedangnya berubah lagi, kabut pancaran cahaya putih kemilau beterbangan memenuhi angkasa raya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cara perlawanan Soat-san-su-gou sebetulnya adalah dengan ketenangan menundukkan kekerasan, namun begitu permainan pedang Bu Bing Loni berubah, seketika mereka berempat merasakan tekanan tenaga dari luar semakin besar, batang pedang Bu Bing Loni kelihatan selincah naga terbang menari di tengah angkasa dan selulup timbul di tengah samudera raya, sudah beberapa kali hampir saja menerobos keluar dari kepungan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Empat tongkat Soat-san-su-gou teracung tinggi-tinggi ke tengah begitu sedikit saling sentuh gesit sekali sebelum Bu Bing Loni sempat menerobos keluar gerak perubahan tongkat mereka sudah mendahului menghalanginya kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang mereka pun mulai bergerak. Jurus kedua dari ilmu gabungan Gin-ho-sam-sek mereka mulai dilancarkan yaitu yang dinamaknn &lt;b&gt;Gam-lian-hun-in-ho (Gabungan Panjang Awan dan Bayangan)&lt;/b&gt;, empat batang tongkat pualam mereka seperti tergubat menjadi satu membentuk sejalur cahaya tonggak yang mengurung ketat Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Bu Bing Loni menggertak nyaring, permainan pedangnya bergerak semakin cepat, mereka berlima sudah mulai lancarkan seluruh kemampuan masing-masing, setaker dari seluruh kekuatan mereka sudah dikuras seluruhnya. Gelanggang pertempuran menjadi ribut, angin menderu seperti angin lesus, angkasa menjadi gelap. Gadis baju hitam yang menonton dipinggir gelanggang menjadi kesima dan prihatin menahan napas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adalah Hun Thian-hi terlongong di tempatnya berdiri, pertempuran dahsyat macam ini betul-betul merupakan totonan yang jarang dapat disaksikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak terasa pertempuran dahsyat ini berjalan semakin cepat dan hebat, dilain kejap ribuan jurus sudah lewat cuaca semakin terang, sinar bintang-bintang menjadi guram berkelap-kelip bertaburan di angkasa raya menyinari puncak tertinggi Soat-san ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini kelihatan jurus permainan Bu Bing Loni dari cepat berubah lambat, namun setiap jurus tipunya dilandasi kekuatan tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya, terus memberondong kepada empat lawannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikian juga Soat-san-su-gou terpaksa juga harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertahan dan megurung Bu Bing Loni.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kelihatan Bu Bing Loni menyeringai dingin, tiba-tiba batang pedangnya bergerak berputar membuat lingkaran besar seperti lembayung menggubat ke arah empat musuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Langit di sebelah timur bertambah terang, selarik cahaya kuning yang terang benderang mulai timbul di ufuk timur di balik awan, pelan-pelan matahari mulai timbul dari peraduannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Bu Bing Loni menggerung tertahan, cahaya sinar pedangnya mendadak menggelembung seperti lajur berkembang, itulah jurus &lt;b&gt;Kek-hun-sau-liang (Di Balik Awan Menggubat Tonggak)&lt;/b&gt; salah satu jurus Hui-sim-kiam-hoat yang ampuh dan sakti, dimana sinar pedang berkelebat menembus tinggi ke angkasa, terdengar pula suara nyaring lirih menembus kesunyian alam pegunungan. Terlihat tubuh tinggi besar Bu Bing Loni menjulang tinggi ke angkasa menerobos keluar dari kepungan Soat-san-su-gou, di tengah udara ia jumpalitan dengan gaya yang indah terus meluncur turun hinggap di tanah dengan enteng tanpa mengeluarkan suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil berdiri tegap wajahnya mengunjuk senyum sinis yang dingin, pedang melintang di depan dada.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Soat-san-su-gou juga bergerak cukup gesit, serentak mereka loncat mundur terus berdiri sejajar bersentuh pundak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesaat orang tua beralis putih merenung, lalu katanya kepada Bu Bing Loni, “Memang hebat, kita berempat mengaku kalah!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biji mata Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh, sekelebat saja lantas lenyap. Benar-benar di luar dugaannya dengan ketenaran Soat-san-su-gou, begitu terdesak di bawah angin lantas berani terang-terangan mengaku kalah, apalagi mereka selama ini mengetahui pribadinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni hanya mendengus saja, tak tahu cara bagaimana ia harus menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas menyapu pandang keseluruh gelanggang, orang tua beralis putih borkata lagi, “Secara jujur harus kita akui, kalau pertandingan ini diteruskan pasti kita berempat tak kuat melawan kehebatan Hui-sim-kiam-hoat!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni menyeringai dingin, tanyanya, “Kau ada permintaan apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua beralis putih berpikir sebentar lalu katanya sungguh-sungguh, “Ya, hari ini kita empat saudara mengaku kalah, malah kita rela untuk bunuh diri. Tapi kau harus melulusi dalam satu tahun ini melepaskan Hun Thian-hi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tidak mungkin!” jengek Bu Bing Loni ketus,&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kalau tidak setuju,” kata orang tua alis putih, “kukira kau sendiri lebih tahu, setelah pulang dari sini sedikitnya kau harus menghadap dinding sepuluh tahun, apalagi kita berempat, betapapun tinggi kepandaian silatmu, jangan harap kita mandah menyerah begitu saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pandangan Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh dan tajam. Orang tua alis putih tahu hati orang sudah tergerak, maka segera ia menambahi, “Satu tahun, hanya setahun saja. Masa dengan kedudukanmu yang teragung sebagai tokoh nomor satu di jagat ini takut menghadapi orang bocah yang masih hijau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni berpaling mengawasi Hun Thian-hi, “Baik”, sahutnya menjengek hina, “terpaksa kukabulkan sekali permintaan ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih bersorak girang, matanya memancarkan cahaya terang, serunya lagi, “Kau, demikian juga mereka?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih memutar tubuh menggapai kepada Hun Thian-hi, “Nak, kemarilah!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu mendengar percakapan orang tua alis putih dengan Bu Bing Loni tadi sesaat Hun Thian-hi menjadi kesima dan melongo, begitu mendengar panggilan pelan-pelan ia maju kehadapan orang tua alis putih. Dengan mematung ia bertanya kepada orang tua alis putih, “Locianpwe! Kenapa kau berbuat begitu?” Habis berkata tak tertahan lagi air mata lantas mengalir keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih tersenyum manis katanya, “Kelak tentu kau akan tahu, tak perlu kau bertanya lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Hun Thian-hi sambil membasut airmata, “Dengan keputusan kalian ini cara bagaimana aku bisa menerima….? Baru pertama kali ini aku berjumpa dengan kalian bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan orang tua alis putih terulur mengelus kepala Hun Thian-hi, matanya memandang jauh ke ufuk timur memandangi sang surya yang mulai menongol keluar, katanya kepada Hun Thian-hi, “Coba apa kau sudah melihat matahari terbit itu, itulah lambang dirimu kelak!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Raut muka Bu Bing Loni berkerut-kerut dan bergidik, namun sebentar saja, tanpa buka suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Soat-san-su-gou duduk bersila kembali, tersipu-sipu Hun Thian-hi berlutut di hadapan orang tua alis putih. Jiwa Soat-san-gu-gou berempat untuk menebus jiwanya sendiri selama setahun saja, sungguh perasaannya sangat tertekan dan haru sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih menghela napas, tanyanya, “Nak kudengar kau masih mengemban tugas menuntut balas sakit hati ayahmu bukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Siapakah musuh besar itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“&lt;b&gt;Mo-bin-su-seng (Pelajar Muka Iblis)&lt;/b&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih terkejut melongo, mulutnya mendesis, “Oh kiranya dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh orang tua alis putih tidak mengira bahwa Hun Thian-hi terikat permusuhan dengan dua tokoh lihai yang paling ditakuti di seluruh kolong langit ini. Bu Bing Loni merupakan tokoh paling ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi dan sepak terjangnya yang telengas. Sebaliknya Mo-bin-su-seng (Pelajar Muka Iblis) merupakan tokoh paling licik dan banyak akal muslihatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih angkat kepala mengawasi Bu Bing Loni sebentar lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Nak, sepeninggalmu dari sini segera kau menujlu ke &lt;b&gt;Tiang-pek-san&lt;/b&gt;, di Tiang-pek-san ada dua tokoh kosen aneh, jikalau kau dapat menerima anugerah mereka berdua, masa depanmu pasti gilang gemilang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lagi-lagi terdengar Bu Bing Loni menjengek hina.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih berkata pula, “Kita empat saudara sejak dua puluh tahun yang lalu mengasingkan diri bersama mempelajari dan memperdalam ilmu Gin-ho-sam-sek, sampai detik ini belum sempat menerima, seorang murid pun, hari ini agaknya kita berjodoh maka pelajaran tunggal ini harus kuturunkan kepadamu.” – Lalu dari dalam bajunya dirogoh keluar sejilid buku kecil yang tersulam di atas kain sutra putih terus diangsurkan kepada Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menerima buku itu dengan kedua tangannya, katanya tertekan hampir sesenggukan, “Terima kasih akan perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada &lt;i&gt;wanpwe&lt;/i&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua alis putih tertawa tawar, ujarnya, “Mengandal bekal lwekangmu sekarang kau takkan mampu mempelajarinya, tapi boleh kau simpan kelak tentu dapat kau gunakan.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi menyimpan buku catatan pelajaran Ghin-ho-sam-sek itu ke dalam kantong bajunya. Sementara itu orang tua alis putih angkat kepala memandang ke arah Bu Bing Loni katanya, “Tadi kau baru berkenalan dengan dua jurus pelajaran ilmu Gin-ho-sam-sek saja, kita berempat baru menggunakan dua jurus tapi cukup mengurung kau selama satu hari satu malam, ketahuilah perbawa jurus ketiga jauh berlipat ganda, dibanding jurus pertama dan jurus kedua. Sayang kita berempat belum selesai mempelajarinya, jikalau sudah tamat seluruhnya kutangggung kita takkan menderita kekalahan seperti ini, kau perlu selalu ingat akan peristiwa hari ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni menjengek dengan nada hina tanpa mengeluarkan suara….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak orang tua alls putih terpekur lalu katanya kepada Hun Thian-hi, “Jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumi itu sekali-kali jangan kau lancarkan lagi. Ketahuilah Ang-hwat-lo-mo terlalu banyak dan mendalam mengikat permusuhan di kalangan Kangouw. Jikalau dia sendiri yang tampil ke depan mungkin para musuhnya takkan berani banyak tingkah, tapi menghadapi kau kukuatir dendam kesumat mereka akan seluruhnya ditimpahkan ke atas pundakmu, akibatnya tentu sangat berat dan menyulitkan bagi kau!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut dan menerima wejangan ini dengan patuh. Orang tua alis putih lantas bungkam dan memejamkan matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh sedih dan rawan sekali perasaan Hun Thian-hi. Soat-san-su-gou rela mengorban kan jiwanya sendiri untuk mengganti jiwanya, budi teramat besar ini selama hidup ini agaknya sulit dapat membalasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Segera ia berlutut dan menyembah empat kali di hadapan orang tua alis putih. Tiba-tiba orang tua alis putih membuka matanya lagi serta katanya, “Nak, sifat congkak dan takabur harus kau tindas ke akarnya. Kalau kau selalu dibawa akan adatmu sendiri susah kau dapat mencapai tingkatan seperti apa yang kita harapkan, maka kuharap kau tidak menyia-nyiakan pengharapan kita berempat!” — habis berkata lalu memejamkan mata lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada lama Hun Thian-hi mengheningkan cipta lalu berturut-turut berlutut dan menyembah bergantian kepada empat orahg tua itu, mereKa duduk bersila memejamkan mata tanpa bergerak atau bersuara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu tiba giliran orang tua keempat, orang tua ini mendadak membuka mata dan berseri tawa katanya, “Nak, kudoakan kau selamat sepanjang jalan, semoga memperoleh rejeki besar!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak tertahan bercucur deras air mata Hun Thian-hi….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu tersenyum manis, ujarnya, “Kenapa kau, waktu pertama kali kubertemu dengan kau, kemana pula sikapmu yang gagah perwira tak mengenal takut itu. Sikap congkak memang boleh asal bukan tulang congkakmu saja yang melandasi segala sepak terjangmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia menyeka air mata dengan tangan kanannya terus bergegas bangun dengan tangkasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu tersenyum lebar, pelan-pelan memejamkan matanya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya orang tua alis putih membelalakkan kedua matanya, mulutnya menjebir dan bersuit panjang melengking, serempak mereka berempat duduk tegak menyilangkan tangan di depan dada, berbareng tangan kanan terayun kencang, empat tongkat pualam kontan melesat terbang menghilang, maka dilain saat jiwa mereka pun ikut melayang dengan duduk sempurna.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekian lama Hun Thian-hi termangu-mangu dengan mengembeng air mata, tiba-tiba ia membalik tubuh menghadap Bu Bing Loni dan membentak, “Sehari aku Hun Thian-hi masih hidup, sakit hati ini harus kubalaskan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu Bing Loni bergantian mengawasi empat orang tua yang sudah wafat itu, lalu melirik ke arah Hun Thian-hi dengan senyum ejek, waktu pandangannya teradu pandang dengan sorot mata Thian-hi tanpa terasa terkesiap hatinya. Terasa sorot pandangan Hun Thian-hi begitu tajam dan menakutkan, selama hidup dan malang melintang di dunia persilatan rasanya belum pernah ia merasa was-was dan kekuatiran yang luar biasa. Hatinya menjadi bertanya-tanya dan heran kenapa pancaran mata Hun Thian-hi bisa begitu tajam dan menakutkan, bukan saja mengandung rasa kebencian yang menggelora terasa pula tersembunyi kepintaran luar biasa yang sulit diraba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan mengkirik segera ia memutar tubuh ke arah gadis baju hitam serta serunya, “Gwat-ji, mari kita pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dingin-dingin saja sekilas gadis baju hitam menyapu pandang ke arah Hun Thian-hi, lalu membungkuk tubuh memberi hormat kepada Bu Bing Loni, sahutnya, “Ya, Suhu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan rasa takut-takut dan keheranan Siau Hong mengawasi Thian-hi lalu tersipu-sipu membalikkan tubuh mengintil di belakang nonanya, maka dilain kejap mereka bertiga sudah terbang makin tinggi di tengah angkasa menunggang burung dewata yang besar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Entak berapa lama Thian-hi berdiri termenung seorang diri. Pandangan gadis baju hitam tadi meski hanya sekilas saja, terasa olehnya pandangan yang dibekali rasa dendam dan kebencian yang mendalam, entahlah apa dan kenapa gadis remaja itu begitu benci kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi mendelong mengawasi Soat-san-su-gou, suara mereka masih terkiang dalam kupingnya prihatin si orang tua alis putih serta belas kasihan si orang tua betul-betul berkesan dan takkan terlupakan olehnya. Walaupun mereka baru kenal sehari semalam, namun budi dan kebaikan yang telah tertanam akan dirinya tidaklah kalah besar dibanding gurunya sendiri Seruling Selatan Kongsun Hong yang telah mengasuhnya selama puluhan tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan ia menghela napas lalu mendongak mengawasi angkasa, bayangan Bu Bing Loni dan gadis baju hitam bertiga sudah menghilang diujung langit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Thian-hi menerawang kemana tujuan selanjutnya. Siapakah dua tokoh yang dimaksud di Ting-pek-san itu? Sekian lama ia terpekur. setelah berlutut dan menyembah lagi kepada Soat-san-su-gou terus turun gunung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;03&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;04&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;05&lt;/a&gt; | 06 | &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-007-jaminan-hidup-satu.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1716039548772150578</guid><pubDate>Mon, 24 Jun 2013 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-01-30T11:59:00.619+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 006. Gadis Penunggang Burung Besar</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;006. Gadis Penunggang Burung Besar&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hatinya. Batinnya kenapa hari ini beruntun aku bertemu dengan tokoh-tokoh kosen, jarak dirinya berdiri tidak lebih tiga tombak saja, dengan kesebatan gerak tubuhnya ternyata bayangan orang saja tak keliahatan olehnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan dongkol ia celingukan ke sekelilingnya. Sekonyong-konyong gelak tawa tadi bergelombang keras seperti gema lonceng besar yang memekakkan telinga. Lagi-lagi Hun Thian-hi melesat cepat mengejar jejaknya ke arah sana namun ia meluncur turun bayangan setan pun tak terlihat olehnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebentar ia menerawang situasi sekelilingnya dengan ketajaman matanya, namun tak diketemukan sesuatu keganjilan apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski gelak tawa tadi terdengar lagi, kali ini tak dihiraukan lagi, tanpa berpaling ia terus berlari keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba ia merasa tengkuknya terasa rada dingin, juga ada gatal-gatal, keruan kejutnya bukan main, secara reflek ia menggunakan tangannya untuk mengusap ke belakang, tampak seekor ulat menggelinding jatuh dari atas tengkuknya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, sungguh hatinya berang sekali, namun hakikatnya ia merasa kagum dan kaget dengan kepandaian orang telah begitu hebat mempermainkan dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gelak tawa yang mengalun tinggi itu bergema pula dari dalam hutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak sabaran Hun Thian-hi membentak keras, “Siapa itu yang main sembunyi seperti pancalongok. Kalau kau manusia mari unjukkan tampangmu yang sebenar-benarnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setitik bayangan melesat dari dalam hutan langsung terbang ke arah Hun Thian-hi, cepat-cepat ia angkat tangan kanannya dengan kedua jarinya hendak menjepit bayangan kecil ini, tapi luncuran titik hitam itu mendadak bertambah cepat menerobos lewat dari celah-celah jari tangannya langsung melekat di bibir Hun Thian-hi. Hun Thian-hi berjingkrak merinding sembari mengusapnya jatuh dengan tangan kiri, lagi-lagi seekor ulat kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh dongkol dan gemes benar-benar sampai tak mampu bicara, akhirnya Hun Thian-hi menjadi nekad terus mengejar semakin dalam ke hutan yang semakin gelap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gelak tawa itu selalu membayangi dirinya terus menerobos semakin jauh ke dalam hutan, Hun Thian-hi pun terus mengejar dengan berani, kejar punya kejar akhirnya sampai di depan sebuah gua, tiba-tiba gelak tawa itu berhenti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu sebentar, namun ia nekad juga mengejar masuk ke dalam gua. Begitu ia melangkah masuk dilihatnya seorang tua yang mengenakan jubah panjang dari kain bagor tengah duduk semadi di dalam pojok gua sana. Orang tua ini berwajah merah, rambut dan jenggotnya sudah ubanan, wajahnya itu mengunjuk senyum ramah tamah, tempat dimana ia duduk dikelilingi sebuah garis bundaran sebesar tiga tombak. Tangannya kanan mencekal sebatang tongkat putih batu pualam panjang tiga kaki.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi ragu-ragu sejenak, tanyanya kepada orang tua itu, “Kaukah tadi yang menggoda aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu tetap dalam keadaan samadinya tanpa bergerak, sedikit pun ia tidak hiraukan pertanyaan Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mengerutkan kening, hidungnya mendengus lalu melangkah maju dengan uring-uringan. Namun baru saja kakinya menginjak masuk ke dalam arena garis bundaran itu, tampak tongkat di tangan si orang tua bergerak menutul ke depan, seketika ia merasa sejalur tenaga besar mendorong dirinya, tanpa kuasa karena tidak bersiaga sebelumnya Hun Thian terjungkir balik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh kejut hati Hun Thian-hi bukan kepalang. Dengan bekal lwekangnya sekarang masa begitu gampang kena disengkelit orang dengan sekali tutul dari jarak jauh? Bergegas ia bangkit berdiri, dengan uring-uringan ia pandang si orang tua, namun orang tua itu tetap dalam gaya semadinya tanpa bergerak sedikit pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi coba-coba ulur kakinya ke dalam bundaran namun segera hendak ditarik kembali, namun belum sempat bergerak lebih jauh mendadak terasa kakinya terdorong naik oleh segulung tenaga besar yang tidak kelihatan. Cepat-cepat ia menghimpun tenaga dan mengendalikan pernapasannya, namun hawa murni seperti macet di tengah jalan, sementara itu tubuhnya sudah terangkat naik oleh dorongan tenaga besar itu, terpaksa ia harus jumpalitan di tengah udara baru meluncur turun ke tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu tetap duduk di tempatnya seperti tak terjadi sesuatu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah hinggap di tanah Hun Thian-hi menjadi berdiri terlolong tak bersuara. Agak lama kemudian ia melangkah pelan-pelan memutar ke belakang si orang tua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua tetap tak bergerak. Setelah sampai di belakang orang, dijemputnya sebutir kerikil terus diselintikkan kepunggung si orang tua. Baru saja kerikil itu melesat sampai di tengah jalan, pandangannya seperti menjadi kabur oleh berkelebatnya selarik bayangan putih, disusul kerikil yang disambitkannya itu mendadak meluncur balik menerjang dirinya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tersipu-sipu Hun Thian-hi menyingkir ke samping, kerikil itu menyamber lewat di samping lehernya, “plok” amblas ke dalam dinding batu tanpa bekas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya Hun Thian-hi menjadi gemas dilolosnya keluar Badik Buntung, dengan nekad ia menubruk masuk ke dalam bundaran. Punggung si orang tua seperti tumbuh sepasang mata, mendadak tongkat putihnya terayun ke belakang menyapu kedua kaki Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sigap sekali Hun Thian-hi mengayun Badik Buntungnya hendak menangkis, namun lagi-lagi pandangan matanya serasa kabur oleh berkelebatnya sinar putih kemilau, kontan terasa Badik Buntung di tangan kanannya tergetar keras terlepas dari cekalannya terbang ke atas, sedang badannya sendiri juga terlempar keluar dari arena bundaran itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu berdiri tegak lagi Hun Thian-hi menjadi kesima sekian lama, pelan-pelan dijemputnya Badik Buntung lalu dengan lesu ia berjalan keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba si orang tua membuka matanya, katanya, “Bocah, kiranya tidak punya tekad besar!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menghentikan langkahnya, lalu berpaling memandang ke arah si orang tua, sahutnya, “Betapa besar pun tekadku, aku tak mampu menerjang masuk.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua tercengang dilain saat mendadak bergelak tawa nyaring, serunya, “Benar-benar, ucapanmu memang betul!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Teringat akan pengalaman yang aneh yang dialaminya selama ini tergerak hati Hun Thian-hi, lekas-lekas ia berlutut ke arah si orang ua sembari ujarnya, “Cianpwe menuntunku kemari, entah ada petunjuk apa yang berharga?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu tertegun sebentar lalu bergelak tawa, katanya, “Ternyata cukup pintar.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada girang hati Hun Thian-hi, tahu dia bahwa ilmu silat orang tua ini pasti sangat tinggi, jikalau bisa minta petunjuknya, perbekalan ilmu silatnya tentu akan bertambah maju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekian lama si orang tua tenggelam dalam pikirannya, mendadak wajahnya tegang serius, tanyanya, “Jurus Jam-thian-ciat-te itu kau pelajari dari mana?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertegun, sesaat ia menjadi kememek tak tahu bagaimana ia harus menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu mendengus hidung, tanyanya pula, “&lt;b&gt;Ang-hwat-lo-mo&lt;/b&gt; itu apamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar orang menanyakan orang tua aneh berambut merah itu, terperanjat hati Thian-hi sahutnya, “Aku tiada hubungan apa dengan beliau!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bohong!” maki si orang tua, “Kalau kau tiada hubungan dengan dia bagaimana ia bisa mengajarkan Jan-thian thiat-te kepandaian tunggal yang ganas itu kepada kau!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semakin kejut hati Hun Thian-hi, tengkuknya terasa merinding, bermula ia merasa heran kenapa Bu Bing Loni, bisa mencari dirinya. Pula teringat kata-kata orang tua rambut merah yang berkata sendlap-sendlup tak keruan itu, kiranya tak lain memang bertujuan mengumpankan dirinya kepada Bu Bing Loni, bukankah kematian dirinya bakal lebih mengerikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena pikirannya ini tak terasa mulut Thian-hi menggumam, “Ternyata tujuannya utama adalah hendak mencelakai jiwaku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua berubah air mukanya, mengerutkan kening tanpa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi angkat kepala mengawasi si orang tua. Hanya ia bercerita pengalamannya di dalam jurang dimana Ang-hwat-lo-mo bersemayam. Sambil mendengarkan orang tua manggut-manggut, setelah Hun Thian-hi habis bercerita ia berkata, “Begitu lebih baik, kau tak usah takut menghadapi Bu Bing Loni!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menatap tajam ke arah si orang tua berubah pikiran Thian-hi, ia mereka-reka, ia heran siapakah orang tua di hadapannya ini, seluruh tokoh-tokoh di Bulim ini siapa yang berani berkata bahwa dia tidak gentar menghadapi Bu Bing Loni!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat sikap Hun Thian-hi ini agaknya si orang tua sudah dapat menebak isi hatinya. Mendadak ia bergelak tawa pula, tahu-tahu laksana angin lesus berputar tubuhnya melenting keluar gua, terdengar ia berkata, “Carilah aku di &lt;b&gt;Tay-soat-san&lt;/b&gt;, jikalau &lt;b&gt;Ham Gwat&lt;/b&gt; mencarimu lagi, ambillah ini serahkan kepadanya!” — lenyap suaranya tampak tongkat putih batu pualam itu terbang jatuh di bawah kaki Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi terpesona di tempatnya, sekian lama ia menjublek tak bergerak, dari mulutnya menggumam, “&lt;b&gt;Soat-san-su-gou&lt;/b&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Soat-san-su-gou juga merupakan tokoh-tokoh aneh dari kalangan persilatan, sudah puluhan tahun terakhir tak pernah berkecimpung di kalangan Kangouw. Sungguh tak duga hari ini berjodoh bisa bertemu dengan beliau, malah mengundang dirinya pergi ke Soat-san.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menghela napas dengan riang, sungguh girang hatinya tak terkatakan. Dijemputnya tongkat putih pualam itu, mendadak mulutnya berseru tertahan, ujarnya, “Eh siapakah Ham Gwat itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nama Ham Gwat ini menjadi tanda tanya dalam sanubarinya, teringat olehnya akan dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong serta suara gadis remaja di tengah udara itu. “Mungkinkah….” Demikian ia bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya ia menjadi geli sendiri, lalu dengan langkah lebar ia keluar dari gua itu, kiranya hari sudah terang tanah, langit di sebelah timur bertambah terang, cahaya ungu suram bertambah lama bertambah kuning, dan kesudahannya timbul di balik awan luar yang bersusun matahari. Mula-mula sepotong, sebelah dan akhirnya bulat sebagai bulan digambaran berseri-seri laksana orang tersenyum memandang ke bumi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi celingukan mengawasi keadaan sekelilingnya, panjang dan dalam-dalam ia menghirup hawa pagi lalu perlahan-lahan keluar dari lautan rimba raya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja ia sampai di ambang hutan gelap itu, di tengah udara didengarnya pula pekik burung besar berbulu hijau, berdetak jantungnya, lekas-lekas ia mendongak memandang ke angkasa. Tampak seekor burung besar warna hijau melayang turun dari tengah angkasa, dalam kejap lain sudah mendarat di tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan tajam Hun Thian-hi menatap gadis kecil di atas punggung burung besar itu, itulah dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang kecil itupun memandang ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa menunjukkan perubahan mimik wajahnya Hun Thian-hi terus menatap wajah orang tanpa buka suara. Entah untuk tujuan buruk atau demi kebaikanlah dayang kecil ini mencari dirinya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seruling pemberian gurunya sudah dikutungi olehnya, ini merupakan suatu kesalahan yang tak terampunkan baginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ragu-ragu akhirnya Siau Hong menundukkan kepala, namun dalam kilas lain sudah angkat kepala pula, katanya kepada Hun Thian-hi, “Nyalimu sungguh sangat besar. Kenapa tidak lekas pergi, sebentar lagi nonaku bakal tiba, beliau takkan melepasmu lagi.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi masih sekian lama mengamati Siau Hong, melihat orang berkata setulus hati, namun ia masih segan dan tak sudi buka mulut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong menjengek, “Kau jangan anggap dirimu sangat jempolan, aku bermaksud baik datang kemari memberi kisikan kepadamu, kalau ganti orang lain aku takkan peduli!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkerut wajah Thian-hi, katanya pelan-pelan, “Terima kasih akan maksud baikmu. Aku tak perlu takut menghadapi nonamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong mengejek lagi, ujarnya, “Sombong benar-benar kau. Sangkamu jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumimu itu tiada bandingannya di jagat ini? Ketahuilah, sangat jauh sekali dibanding dengan kepandaian nonaku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong membanting kaki sembari berkata aleman, “Aku tak mau peduli lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar sebuah suara berkata pula di tengah udara, “Siau Hong apa yang tengah kau lakukan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong angkat kepala dengan kaget dan takut, sahutnya tercekat, “Nona! Tidak apa-apa.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mendongak, tampak seekor burung berbulu hijau mulus yang besar sekali, di atas punggung burung besar ini samar-samar kelihatan duduk seorang gadis remaja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar gadis di punggung burung besar itu berkata pula, “Siau Hong, ringkus Hun Thian-hi dan bawa pulang…. Suhu masih menunggu kedatangan kita!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong mengiakan, matanya memandang gugup dan gelisah ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi malah mandah tersenyum sinis, tanyanya, “Apakah nonamu itu yang bernama Ham Gwat?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong manggut-manggut. katanya, “Sekarang tiada jalan lain, biarlah aku berlaku sedikit ayal-ayalan, lekas kau bunuh diri, biar aku pulang mendapat hukuman saja.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertawa-tawa tanpa bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suara dari tengah udara berteriak mendesak, “Siau Hong, kenapa tidak lekas turun tangan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menyurut mundur beberapa langkah ke belakang, tongkat putih batu pualam di tangannya diayun berputar setengah lingkaran terus dilontarkan miring ke tengah udara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak sesosok bayangan mencelat terbang dari punggung burung besar laksana bintang jatuh tangkas sekali meraih tongkat batu pualam yang melesat terbang meninggi itu, di tengah angkasa berputar satu lingkaran lalu seringan kapas meluncur pula ke atas punggung burung besar yang terbang berputar-putar di tengah udara itu….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gerak gerik tubuhnya adalah sedemikian indahnya laksana bidadari yang menari gemulai di angkasa, kelihatannya jauh lebih ringan dan gesit dari burung camar. Sekian lama Hun Thian-hi terpesona sambil mendongak ke atas, hampir saja ia tidak mau percaya akan pandangan matanya sendiri. Selama hidup ini belum pernah ditontonnya ilmu kepandaian begitu tinggi dan menakjupkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah ia terlongong memandang ke angkasa. Dari bentuk bayangannya yang kelihatan sekelebat itu, dapatlah dibayangkan tentu ia seorang gadis remaja yang cantik molek berperawakan langsing menggiurkan, sayang tak terlihat jelas, sungguh besar harapannya gadis juwita itu bisa turun kemari untuk bertemu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis itu berteriak di tengah angkasa, “Siau Hong, hari ini batal saja, mari kita pulang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hong mengiakan, dengan pandangan ganjil ia awasi Hun Thian-hi lalu pelan-pelan naik ke punggung burung besar itu, sebentar saja mereka sudah menghilang di balik awan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mendelong mengawasi ujung langit, hatinya terasa kosong dan hampa, akhirnya ia menjadi geli sendiri akan sikapnya yang seperti kehilangan semangat itu, bergegas ia meninggalkan tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;03&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;04&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 005. Panggilan Medali Putih Pualam&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html&quot;&gt;05&lt;/a&gt; | 06 | &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-006-gadis-penunggang.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-6435076121534892434</guid><pubDate>Sun, 23 Jun 2013 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-01-30T11:52:09.095+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 005. Panggilan Medali Puti Pualam</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;005. Panggilan Medali Puti Pualam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bulan purnama tengah memancarkan sinar redup memutih perak menerangi seluruh jagat raya, tampak seorang pemuda tengah bergoyang gontai berjalan menyusuri jalan raya yang dipagari pohon-pohon rindang. Ditimpah sinar bulan nan menyejukkan jelas kelihatan muka si pemuda yang murung seperti dirundung kemalangan entah kekisruhan apa yang tengah membelit hatinya. Sinar kemilau bergoyang-goyang dari sebatang Seruling Batu Pualam yang tergantung di pinggangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan ia angkat kepala memandang ke arah bulan nan jauh di cakrawala, tak terasa kakinya berhenti melangkah entah apa yang tengah dipikirkan, tak lama kemudian ia mulai beranjak lagi ke depan dengan langkah berat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat keluar dari dalam rimba di pinggir jalan, persis hinggap di tengah jalan raya dan mencegat di hadapannya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Segera si pemuda menghentikan langkahnya, pelan-pelan ia berpaling ke arah hutan gelap di pinggir kanannya lalu berputar menghadapi orang di hadapannya ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kiranya itulah seorang Lama yang mengenakan jubah kuning tua, dari penerangan sinar bulan jelas kelihatan, lama jubah kuning ini tak lain tak bukan adalah musuh besar gurunya dulu, yaitu Sam Kong Lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agak lama Sam Kong Lama memicingkan mata mengawasinya, baru ia membuka mulut, “Apakah kau ini yang bernama Hun Thian-hi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar pertanyaan ini si pemuda rada bimbang, sesaat baru ia menyahut, “Ya, betul!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama bergelak tawa sekeras-kerasnya, ujarnya, “Sungguh besar nyalimu. Sebetulnya tiada niat aku mencari kau, tapi kudengar kau sekaligus telah membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kenamaan, malah mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun Cu Wi, apakah berita itu benar adanya?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi meragu, “Benar!” Akhirnya ia mengakui dengan lantang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama menyeringai dingin, jengeknya, “Sungguh tak duga Seruling Selatan punya murid muda yang berhati kejam telengas melebihi kebuasan binatang. Terang dia tak mampu mendidik muridnya, biarlah aku saja yang memberi hajaran!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tersenyum sombong, ujarnya, “Lebih baik aku bunuh diri di hadapan guruku daripada menerima hajaranmu. Ketahuilah sepak terjang murid Seruling Selatan selamanya tak sudi dikekang orang lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama menyeringai dingin, katanya, “Cukup gagah dan besar nyalimu, tak malu menjadi murid Lam-siau. Tapi sepak terjangmu hari ini seumpama Lam-siau sendiri hadir disini, beliau takkan berani merintangi aku untuk menghajar adat kepadamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah air muka Hun Thian-hi, ia maklum bahwa jurus serangan yang dilancarkan itu terlampau ganas dan besar akibatnya. Tak heran orang tua berambut merah tak membunuhnya malah mengajarkan ilmu yang hebat ini, kiranya mempunyai maksud-maksud tersembunyi. Dengan peristiwa yang telah dialaminya ini, terasa betapa menderita pukulan batin yang menimpa dirinya rasanya lebih besar derita yang menimpa dirinya dari pada dibunuh oleh si orang tua berambut merah….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya ia tertunduk tanpa bicara, sementara Sam Kong Lama langkah demi langkah menghampiri semakin dekat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tidak!” mendadak Hun Thian-hi angkat kepala dan berteriak tegas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama terhenyak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam benak Hun Thian-hi tengah membatin, sakit hati orang tua masih belum terbalas betapapun aku tidak sudi dikekang orang lain, apalagi peristiwa ini terjadi bukan karena disengaja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka kata Hun Thian-hi lantang, “Tidak, betapapun aku tidak rela menerima cercah kalian.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Raut muka Sam Kong Lama berkerut-kerut menampilkan rasa gusar, katanya, “Semakin kau berkukuh dosamu semakin tak berumpun, akan kuseret kau kehadapan gurumu, coba kulihat cara bagaimana dia akan mendidikmu sekali lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menanggalkan serulingnya sembari tertawa panjang, ujarnya, “Kalau kau mampu membekuk aku, dengan senang hati aku ikut kepadamu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama terbahak dua kali, ujarnya, “Dua puluh tahun yang lalu aku pernah bergebrak dengan gurumu, akhirnya sama-sama terluka berat. Aku harus mengakui secara pribadi gurumu adalah seseorang tokoh kenamaan yang sangat kuhormati, sungguh tak duga dia punya murid macam kau yang tak bisa mengurus diri!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkilat mata Hun Thian-hi desisnya dengan kukuh, “Urusan ini tak perlu kau turut campur.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saking murka Sam Kong Lama bergelak tawa menggelegar, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul laksana seekor burung elang yang menyamber mangsanya langsung menubruk ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tahu bahwa Sam Kong Lama ini merupakan tokoh nomor satu di luar perbatasan, seorang tokoh yang tidak boleh diganggu usik, melihat sedemikan hebat terjangan orang, gesit sekali ia melompat mundur, pikirnya hendak meluputkan diri dari jurus serangan pertama ini. Tak kira badan besar Sam Kong Lama tiba-tiba jumpalitan dan berputar cepat di tengah udara tahu-tahu kedua kakinya sudah menyapu datang ke arah Hun Thian-hi….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menggeser ke samping berbareng serulingnya melintang mengetuk jalan darah &lt;i&gt;Yung-cwan-hiat&lt;/i&gt; di mata kaki Sam Kong Lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bagus!” Sam Kong Lama berseru memuji, disusul tubuhnya bergerak lurus seperti berhenti di tengah udara, secepat kilat kedua telapak tangannya sudah menepuk datang kedada Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hati Hun Thian-hi, diam-diam ia kagum dalam hati akan keanehan dan kecepatan perubahan jurus tipu serangan Sam Kong Lama ini. Dalam saat-saat genting ini tiada waktu untuk banyak berpikir, tangkas sekali ia bergerak memutar meluputkan diri. “Trang”, tahu-tahu Badik Buntung sudah digenggam di tangan kirinya, berdiri tegap menghimpun semangat ia nantikan gebrak selanjutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru pertama kali ini Sam Kong Lama menyaksikan Badik Buntung, maka ia menjadi was-was tak berani sembarangan menyerang, lama dan lama sekali ia menatap wajah Hun Thian-hi tanpa bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sendiri juga tegak berdiri bersiaga tanpa berani sembarangan bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada lama kemudian baru Sam Kong Lama berkata lirih, “Tak malu kau menjadi murid Lam-sia!” Hilang suaranya laksana geledek menyamber mendadak ia menubruk maju lagi seraya menyerang dengan dahsyat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi bersuit nyaring, gerak tubuhnya pun tak kalah cepatnya menyongsong maju, tangan kanan membalingkan Seruling pualam mengembangkan ilmu Thian-liong-jhit-sek mengombinasikan Badik Buntung di tangan kiri merangsak dengan berani ke arah Sam Kong Lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua belah pihak tengah meluncur cepat saling terjang di tengah udara, dalam sedetik itu mereka sudah saling serang sebanyak lima jurus baru meluncur turun dan hinggap di atas tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak Sam Kong Lama menampilkan rasa kagum dan keheranan, katanya, “Betul-betul murid Lam-sia yang gagah perkasa!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya Hun Thian-hi mematung ditempatnya tanpa bergerak dan bicara. Dalam kejap lain rona wajah Sam Kong Lama berubah putus asa dan murung, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat lagi menerjang ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski lahirnya Hun Thian-hi berlaku tenang dan wajar, sebenar-benarnya susah payah tadi ia menyambut lima kali serangan lawan secara keras lawan keras, dadanya terasa bergetar dan sakit sehingga napas rada sesak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini melihat lawan menerjang lagi, maka kapok sudah ia, tak berani main kekerasan, cepat-cepat ia membuang diri ke samping.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi betapa luas pengalaman tempur Sam Kong Lama, sembari mendengus hidung kedua tangannya bergerak menyilang satu di belakang dan yang lain di depan saling susul menghantam ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi menyapukan Seruling pualam setengah lingkaran di tengah udara terus mengepruk ke depan. Begitu serulingnya saling bentur dengan telapak tangan lawan seketika tergetar hebat badan Hun Thian-hi, tak kuasa ia tersurut dua langkah, seketika wajahnya menjadi pucat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara serangan susulan Sam Kong Lama sudah melandai tiba pula. Dalam keadaan gawat ini tanpa disadari Badik Buntung di tangan kirinya lantas bergerak memutar siap hendak melancarkan jurus Pencacat Langit Pelenyap Bumi yang ganas itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untung baru saja jurus sakti itu akan dilancarkan mendadak bergolak darah dalam rongga dadanya, nuraninya bekerja, secara reflek akan keganjilan hajat di luar kesadarannya, maka cepat-cepat ia berusaha menguasai diri sembari menghentikan aksinya, untung masih keburu menarik kembali serangan dahsyat yang bakal dilancarkan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akan tetapi serangan Sam Kong Lama pun sudah melandai tiba, telak sekali sebuah pukulan mengarah pundak kirinya, untuk menghindar agaknya sudah terlambat. Dalam keadaan krisis inilah bintang penolong telah tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak di tengah udara terdengar pekik nyaring seekor burung, disusul suara seorang gadis berkata, “&lt;b&gt;Siau Hong&lt;/b&gt; — Benar-benar itulah orangnya, coba kau turun dan bekuk dia kemari!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seiring dengan merdu suaranya tampak dari tengah udara melayang turun seorang gadis berbaju hijau, pakaian yang lazim dikenakan oleh seorang dayang, dengan tangan tunggalnya tepat dan persis benar-benar ia tangkis pukulan Sam Kong Lama itu, di lain saat ia sudah berdiri tegar di atas tanah sambil tersenyum simpul. Terhindarlah Hun Thian-hi dari ancaman maut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang berbaju hijau ini mendehem dengan puas dan bangga, katanya kepada Hun Thian-hi, “Mari ikut aku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak Sam Kong Lama menatap dayang baju hijau itu lalu tanyanya, “Siapa kau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang baju hijau mendengus hidung, tiba-tiba tangannya bergerak melemparkan sebuah medali putih dari batu pualam. Begitu melihat medali putih batu pualam ini seketika berubah hebat air muka Sam Kong Lama, mulutnya terkancing tak berani banyak bicara lagi, diam-diam ia menguatirkan keselamatan Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu dengan seksama Hun Thian-hi sudah mengamati dayang kecil berusia kira-kira 15-16-an, iapun tahu siapa pemilik dari medali putih pualam itu, namun toh ia tersenyum sombong dan berkata, “Kau kira aku sudi ikut kau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedikit berubah rona wajah si dayang kecil ini, alisnya bertaut dalam, katanya menjengek, “Besar benar-benar nyali anjingmu, apa kau tidak kenal medali putih pualam ini?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pucat wajah Hun Thian-hi, namun sikapnya tetap angkuh, sahutnya tertawa, “&lt;b&gt;Bu Bing Loni&lt;/b&gt; merupakan tokoh aneh yang kenamaan, aku Hun Thian-hi toh tidak berbuat dosa terhadap beliau. Kalau kau mampu silakan kau ambil kepalaku persembahkan kepadanya!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang itu bersungut, katanya, “Kapan kau dengar orang yang dipanggil dengan medali putih pualam boleh sembarangan saja dibunuh?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Nanti dulu!” tersipu-sipu Sam Kong Lama berseru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang cilik itu menjadi murka, semprotnya jengkel, “Ada apa lagi yang perlu kau katakan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ragu-ragu sejenak akhirnya Sam Kong Lama berkata, “Untuk apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali putih pualam itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebetulnya ia tak berani sembarang buka mulut, namun serta melihat Hun Thian-hi berani main debat, dirinya seorang angkatan yang lebih tua masa harus unjuk kelemahan di hadapan murid Lam-siau? Apalagi diam-diam timbul kecurigaan dalam benaknya, masakan dengan kepandaian yang dimiliki oleh Hun Thian-hi sekarang, mungkinkah kabar yang tersebar luas di kalangan Kangouw itu benar-benar kenyataan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Dayang kecil itu semakin uring-uringan, ujarnya, “Kalau mau tanya silakan pergi tanya langsung kepada pemilik medali putih pualam itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah air muka Sam Kong Lama, tapi ia tertawa gelak-gelak untuk membesarkan nyalinya, dijemputnya medali putih pualam itu, katanya, “Baik, apapun yang hendak kau lakukan silakan. Tapi sebelum kau katakan sebab musababnya tak kuberi izin kau menyentuhnya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang kecil itu semakin gusar, bentaknya, “Besar benar-benar nyali anjingmu!” seiring dengan bentakannya tubuhnya bergerak bagai angin lesus menerjang kepada Sam Kong Lama, dimana tangan kanannya bergerak tahu-tahu cakarnya Sudah mengancam muka Sam Kong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong juga bergerak tidak kalah cepatnya, namun ia harus lancarkan empat serangan balasan baru berhasil membendung sejurus serangan lawan, keruan basah bajunya oleh keringat dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh di luar dugaannya bahwa kepandaian silat dayang kecil ini begitu lihai, dilihat naga-naganya, apa yang dinilai orang lain tentang betapa tinggi kepandaian Bu Bing Loni memang bukan omong kosong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat jurus serangannya tak membawa hasil dayang kecil itu berjingkrak murka, mukanya merah padam, tahu-tahu tubuhnya bergerak lebih cepat dan tangkas menyerang pula kepada Sam Kong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton tenang-tenang, sekilas pandang saja lantas diketahui olehnya bahwa Sam Kong Lama terang bukan menjadi tandingan dayang kecil ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak tahu dia untuk keperluan apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali putih pualam itu. Pernah didengar dari cerita orang bahwa Bu Bing Loni merupakan tokoh nomor satu di seluruh Bulim, namun sifatnya kejam dan telengas melebihi para gembong-gembong iblis yang paling jahat. Dulu waktu masih remajanya pernah patah hati, namun secara kebetulan menemukan sejilid buku pelajaran silat yang sekaligus telah mengangkat dirinya menjadi tokoh nomor satu tiada tandingan di seluruh kolong langit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Konon kabarnya empat puluh tahun yang lalu di puncak &lt;b&gt;Hoa-san&lt;/b&gt; ia tempur puluhan tokoh-tokoh silat kelas wahid, semuanya kena dibunuh tanpa ketinggalan satu pun yang hidup, cara turun tangannya kejam dan sadis sekali tiada bandingannya. Para penonton menjadi bergidik dan tak tega, sebaliknya sedikit pun tak berubah airmukanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski kejadian itu sangat menggemparkan, nanum para korban itu memang bukan orang baik-baik dari golongan sesat. Apalagi memang ilmu silat Bu Bing terlalu tinggi maka tiada seorangpun yang berani tampil ke depan, maka untuk selanjutnya dimana medali putih pualam ini muncul tiada seorangpun yang berani menolak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akan tetapi sebetulnya untuk urusan apakah, kenapa sekarang menimpa giliranku? “Hai, berhenti!” tiba-tiba ia berseru mencegah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangkas sekali dayang kecil baju hijau itu jumpalitan balik, di tengah udara badannya berputar indah sekali terus meluncur turun dengan kaki menginjak tanah lebih dulu, tanyanya, “Keperluan apa pula. yang perlu kau katakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi berpaling mengamati Sam Kong Lama, mulutnya menyung ging senyum tawar katanya kepada. dayang kecil itu, “Urusan ini tiada sangkut paut dengan dia. Marilah kita selesaikan sendiri.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak kira Dayang kecil dan Sam Kong Lama berseru berbareng tanpa berjanji, “Tidak!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak mereka saling pandang lalu Dayang kecil itu mendengus ejek, ujarnya, “Setiap kali medali putih pualam muncul siapa yang berani membangkang?” — sejenak ia berhenti mengawasi Hun Thian-hi berdua bergantian lalu sambungnya, “Memang lain dia lain kau, tapi persoalan ini bisa dibereskan bersama, silakan kamu berdua maju bersama!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama bergelak tawa, serunya, “Bagus! Hari ini terpaksa aku harus belajar kenal betapa, tinggi ilmu silat murid didik Bu Bing Loni!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Sombong benar-benar,” jengek Dayang kecil baju hijau, Mengandal kemampuan kalian masa ada. harganya belajar kenal dengan kepandaiian silat dari aliran Bu Bing loni? Aku saja yang maju sudah cukup berharga memandang kalian!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama menjadi dongkol dipandang enteng begitu rupa, dilandasi kemarahan segera kirim sebuah pukulan kencang ke arah Dayang cilik itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Dayang kecil itu tertawa dingin, sebat sekali meloncat terbang lempang ke depan, kedua ujung sepatunya menendang bergantian mengarah kedua biji mata Sam Kong Lama, betapa cepat dan tepat serangan berani ini benar-benar sangat hebat dan menakjubkan. Namun dengan suatu gerak yang sangat cepat Sam Kong Lama meloncat mundur menjauhi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara Hun Thian-hi juga tidak tinggal diam, laksana kilat iapun sudah bergerak membuntut tiba, dimana seruling pualamnya bergerak langsung ia menutuk jalan darah mematikan di punggung Dayang kecil. Hebat benar-benar kepandaian Dayang kecil baju hijau ini, seperti tumbuh mata saja belakang kepalanya, mendadak membalik sebuah tangannya, sekali raih ia mencengkram seruling Hun Thian-hi yang menutuk datang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keruan bukan kepalang kejut Hun Thian-hi, cepat Badik Buntung di tangan kirinya mengiris ke bawah langsung membabat pergelangan tangan Dayang kecil itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dilain pihak Sam Kong Lama juga tak kalah kejutnya, tergopoh-gopoh ia lancarkan sebuah pukulan ke arah Dayang kecil untuk menolong Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang kecil itu menggeram lirih, tiba-tiba tangan kanannya digentakkan kuat-kuat, sehingga tergetar tangan kanan Hun Thian-hi, kontan badannya mencelat ke tengah udara karena hentakan yang kuat dari gentakan tenaga Dayang kecil itu. Seiring dengan gerakannya itu, lincah sekali dayang kecil itu berputar selicin belut meluputkan diri dari pukulan Sam Kong Lama, tangannya merangsang ke belakang lengan membelakangi penyerangnya, namun cukup lihai tipunya ini karena telak sekali jalan darah pelemas Sam Kong Lama tertutuk, kontan ia terjungkal roboh dengan badan lamas tak mampu bergerak lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, Hun Thian-hi yang mencelat ke tengah udara beruntun jumpalitan dua kali baru mendarat turun di atas tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sembari tersenyum ejek Dayang kecil mengawasi Hun Thian-hi, sedikit kerahkan tenaga Seruling Batu Pualam yang dirampasnya itu seketika dipotes menjadi dua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah hebat rona wajah Hun Thian-hi. Maklum Seruling pualam itu sudah puluhan tahun malang melintang mengikuti gurunya, Akhirnya diturunkan kepadanya sampai sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat perubahan air muka Hun Thian-hi, Dayang kecil itu malah tertawa riang, ejeknya menggoda, “Apa, tidas terima?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpancar sinar kilat aneh dalam biji mata Hun Thian-hi, dengan mengertak gigi ia mengayun Badik Buntung sekeras-kerasnya, sejalur cahaya hijau pupus kelihatan menari bergelombang di tengah gelanggang disertai suara mendesis yang semakin nyata terus menungkrup ke arah dayang kecil baju hijau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semula dayang kecil perdengarkan tawa menghina langsung ia terbang maju memapak serangan lawan. Dimana jurus Jan-thian-ciat-te dilancarkan gelanggang pertempuran menjadi seperti dicekam dalam suasana yang menusuk perasaan, begitu kedua belah pihak saling sentuh si dayang kecil lantas merasa sesuatu yang luar biasa bakal terjadi, berubah air mukanya, sejalur cahaya hijau pupus langsung menyamber ke arah lehernya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara gerak reflek segera ia angkat kedua kutungan seruling di tangannya untuk menangkis. Terdengar sentuhan yang lirih nyaring, dengan pesona ia memandangi dua kutungan seruling di kedua tangannya, sekarang kedua kutungan itu telah terpapas lagi menjadi empat kutungan, dua yang lain jatuh di tanah, seruling di tangannya terpapas licin dan rajin sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu ia angkat kepala terlihat muka Hun Thian-hi bersemu merah kehitaman, ujung mulutnya melelehkan sealur daran segar, susah payah ia menguasai dirinya untuk tetap berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang kecil itu semakin dibakar kemarahan, sambil menggertak nyaring ia menyerbu lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong terdengar suara merdu seorang gadis dari tengah udara, “Siau Hong. Kembali, hari ini ia telah melepas jiwamu, kitapun melepasnya sekali ini, marilah pulang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dayang kecil yang bernama Siau Hong itu segera menghentikan aksinya, dengan seksama ia mengawasi Hun Thian-hi, diam-diam hatinya sangat menyesal dan mendelu, keadaan Hun Tnian-hi ini terang berusaha hendak menarik dan mengendalikan serangan ganas tadi sehingga tenaga murni sendiri membalik menerjang jantung sampai terluka dalam yang berat. Ia tahu bahwa dengan bekal yang dimiliki Hun Thian-hi terang takkan mampu melukai dirinya. namun demikian tak urung ia menjadi terharu dan merasa terima kasih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seekor burung besar berbulu hijau terbang rendah, pelan-pelan dayang kecil bernama Siau Hong itu lantas melompat tinggi naik ke atas punggungnya, sebentar saja burung besar berbulu hijau itu sudah menjulang tinggi ke tengah angkasa sambil berpekik nyaring dan panjang, dalam kejap lain sudah menghilang dari pandangan mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengantar menghilangnya burung besar itu Hun Thian-hi bengong sekian lamanya, lalu duduk bersila bersemadi mengembalikan tenaga dan semangatnya, setelah pikiranya jadi jernih kembali bergegas ia berdiri terus membetulkan tutukan jalan darah Sam Kong Lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Sam Kong Lama merayap bangun, rona wajahnya menunjukkan rasa yang malu yang tak terhingga, lambat-lambat dijemputnya medali putih pualam itu lalu katanya pada Hun Thian-hi, “Jurus yang kau lancarkan tadi itu belajar dari mana, aku tidak tahu dan belum pernah mengenalnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi bungkam tak bicara. Agak lama kemudian ia angkat kepala berkata sambil tersenyum, “Bukankah lebih kau tidak mengetahui saja?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu ia melangkah maju menjemput potongan kecil seruling pualamnya yang kutung terpapas oleh Badik Buntungnya sendiri, kutungan seruling yang lain dibawa pergi oleh dayang kecil tadi, memandangi kutungan dua seruling di tangannya Hun Thian-hi menjublek di temparnya seperti patung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Sam Kong Lama, “Medali putih pualam itu sudah berada di tanganku maka aku harus segera kembali. Aku percaya akan martabatmu, mungkin kau terdesak oleh peristiwa ini. Sekarang kau sudah bentrok dengan pihak Bu Bing Loni, kalau kau mau marilah kita pulang bersama. Ketahuilah ilmu silat di kolong langit ini hakikatnya bukan Bu Bing Loni saja yang paling tinggi.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi angkat kepala pandangannya menampilkan rasa haru yang tertekan, sahutnya, “Terima kasih, tapi aku tak ingin pergi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama terlongong sesaat lama, katanya tersenyum, “Seharusnya aku tahu kau takkan sudi ikut aku. Tapi kau harus ingat Bu Bing Loni bukan sembarang tokoh yang dapat dibuat main-main. Jangan sampai kau mengorbankan jiwa secara sia-sia.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bertaut alis Hun Thian-hi, menggelengkan kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sam Kong Lama menghela napas, ujarnya: “Perangaimu rada sama dengan sifat gurumu, akupun tak perlu banyak membujuk kau. Hari ini kau sangat banyak membantu kepadaku, jikalau kelak kau memerlukan bantuan, silakan datang ke tempatku. Setelah keluar dari perbatasan, jejakku akan gampang kau temukan asal kau bertanya sembarang orang disana.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tersenyum pahit, ia menganggukkan kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biji mata Sam Kong berkilat mengawasinya, ia menggeleng kepala dan berkata, “Sayang kau tak sudi ikut aku, kau sia-siakan kesempatan paling baik ini.” Setelah menghela napas panjang ia putar tubuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengantar punggung Sam Kong Lama yang semakin jauh itu, Hun Thian-hi menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tengah ia terlongong mendadak dari dalam hutan sebelah kiri sana terdengar gelak tawa orang yang keras nyaring. Sigap sekali Hun Thian-hi memutar tubuh sembari menghardik, “Siapa itu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun suasana hutan di depannya sangat hening lelap, gesit sekali badannya meluncur menuju ke arah dimana suara gelak tawa tadi terdengar, namun meski ia sudah bergerak begitu cepat, bayangan seorang pun tak terlihat olehnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot;&gt;03&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html&quot;&gt;04&lt;/a&gt; | 05 |&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-005-panggilan-medali-puti.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-7093031906052910139</guid><pubDate>Sat, 22 Jun 2013 03:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-01-30T11:44:22.198+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 004. Jurus Maut Membawa Petaka</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;004. Jurus Maut Membawa Petaka&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah susah payah kira-kira pada tengah hari baru ia sampai di atas, perut terasa lapar dan tenaga pun seperti terkuras habis, lagi-lagi ia duduk bersila memejamkan mata beristirahat, kira-kira setengah jam kemudian matanya terbuka lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak ia menerawang keadaan sekelilingnya, dalam benaknya terbayang wajah Su Tat-jin, Su Cin dan Su Giok-lan, ujung mulutnya mengulum senyum ejek dan mendengus hidung, pelan-pelan ia bangkit terus berlari pesat turun gunung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah matahari tenggelam tabir kegelapan malam mulai menelan bumi, tampak dimana-mana sudah menyulut pelita, saat itu Hun Thian-hi beranjak pula menuju ke gedung Su Tat-jin yang megah dan angker itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dimana tubuhnya bergerak melayang enteng ke arah samping sana seperti daun jatuh hinggap di atas wuwungan rumah, terus meluncur lagi turun ke dalam ruang besar perjamuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keadaan ruang besar terang benderang suasana ramai bersuka ria, agaknya Su Tat-jin tengah merayakan kemenangannya dan menjamu para tamunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu Hun Thian-hi melayang turun dalam ruang besar itu, seketika berubah hebat rona wajah Su Tat-jin, suasana yang riuh rendah tadi seketika menjadi sunyi senyap, begitu hening seumpama jarum jatuh juga bisa terdengar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi menggerakkan kepalanya dengan pandangan menghina dan memincingkan mata ia tatap semua hadirin, akhirnya pandangannya berhenti pada wajah Su Cin dan adiknya. Rada lama ia tatap mereka bergantian, akhirnya tercetus jengek sinis dari mulutnya, “Bagus benar-benar sepak terjang murid Pedang Utara.“&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kakak beradik ini menundukkan kepala saking malu, namun dikejap lain tiba-tiba Su Giok-lan angkat kepala dengan mata mendelik ke arah Hun Thian-hi semprotnya, “Orang she Hun, jangan kau mendesak dan menghina orang, peristiwa itu bukan perbuatan kita berdua, apa maksudmu dengan murid Pedang Utara apa segala!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menyeringai sinis kepalanya berpaling ke arah Su Tat-jin, katanya, “Sebetulnya tiada niatku mencari perkara kepadamu. Tapi sekarang aku tak bisa melepasmu lagi, marilah perhitungan lama dan baru ini kita selesaikan sekarang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin menyapu pandang kepara tamunya, matanya berjelilatan, katanya sembari bangkit dari tempat duduknya. “Banyak orang tahu, betapa besar budi Hun Siau-thian Hun-toako kepadaku laksana setinggi gunung. Meskipun aku Su Tat-jin tidak bisa membalas budi kebaikannya itu, tapi aku sudah bekerja sekuat tenagaku.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia menundukkan kepala lalu merendahkan suara, sambungnya, “Waktu Hun-toako menghilang dulu aku sudah berdaya upaya dengan seluruh kemampuanku untuk mencari jejaknya, akhirnya….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak ia angkat kepala serta bersuara keras, “Akhirnya aku tahu sebab musabab menghilangnya Hun-toa, beliau menghilang karena Badik Buntung yang menjadi miliknya itu. Tokoh-tokoh lihai dalam dunia persilatan ini, ada berapa banyak yang ilmu silatnya bisa mengungguli Hun-toako?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata-katanya dilembari nada yang penuh keibaan, matanya dingin menyapu seluruh orang gagah yang hadir, akhirnya pandangan matanya berhenti pada wajah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bercekat hati Hun Thian-hi, terang dengan kata-katanya ini Su Tat-jin bermaksud mengobarkan kemarahan hati seluruh hadirin, meski ia tidak takut menghadapi profokasi ini, namun ia harus menghindari salah paham dengan orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka cepat ia bergerak dan berseru lantang, “Ucapan Su Tat-jin ini hanya bualan belaka, jangan kalian percaya akan obrolannya ini.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Banyak orang tahu bahwa musuh besar Hun-toako adalah &lt;b&gt;Sam Kong Lama&lt;/b&gt;,” begitulah cepat-cepat Su Tat-jin memainkan diplomasinya, “Untuk merebut Badik Buntung itulah maka ia mencelakai Hun-toako, dan Badik Buntung itu kini berada di tangannya. Coba kalian lihat, Badik Buntung itu kini berada di tangan bocah yang mengakui bernama Hun Thian-hi ini. Darimana ia bisa tahu sama yang hendak kukatakan? Darimana pula ia tahu kalau ucapanku ini bohong belaka?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi membalik tubuh menghadapi Su Tat-jin, semprotnya gusar, “Diplomasimu memang cukup lihai, kau kira kau bisa bebas dari kematian?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin melirik ke arah Su Cin dan Su Giok-lan, mestinya mereka sudah menggerakkan mulut hendak bicara, namun lantas urung dan menundukkan kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Tat-jin kepada Hun Thian-hi, “Kau tidak memandang mata seluruh orang gagah disini bukan?” Demikian pancingnya sembari menyapu pandang keseluruh gelanggang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menggerung keras, gesit sekali ia bergerak terus menubruk ke arah Su Tat-jin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi dalan waktu yang sama tiba-tiba seseorang membentak keras di belakangnya, “Bocah she Hun jangan kau takabur dan menghina orang.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum lenyap suara ini sepasang sumpit tahu-tahu meluncur kencang mengarah punggung Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Laksana angin lesus sebat sekali badan Hun Thian-hi bergerak memutar dan mengacungkan kedua jari tangan kanannya tahu-tahu kedua sumpit terbang itu sudah kejepit di celah-celah jari tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkilat matanya memandang ke arah sana, ternyata penyerang gelap ini adalah seorang laki-laki pertengahan umur yang mendelik memandang dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tidak tahu sikapnya yang sombong dan perbuatannya meniup seruling itu sudah menimbulkan rasa dongkol dan tak senang seluruh hadirin, kini dibakar dan diprofokasi lagi dengan ucapan Su Tat-jin yang tajam tepat menusuk ke lubuk hati mereka, semakin besar rasa benci seluruh hadirin terhadap dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesaat Hun Thian-hi menjadi melongo dan menjublek di tempatnya, tak tahu ia apa yang harus diperbuatnya atas laki-laki pertengahan umur ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat sikap Hun Thian-hi yang acuh tak acuh itu, laki-laki pertengahan umur itu mengira Hun Thian-hi sengaja bersikap tidak memandang sebelah mata pada dirinya, maka hardiknya, “Seluruh orang gagah di kolong langit banyak yang hadir disini, seumpama kau betul adalah murid Seruling Selatan, kita tidak akan membiarkan kau bertingkah dan main gagah-gagahan disini.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi coba berlaku sabar katanya pelan-pelan, “Kedatanganku hari ini bukan ingin mencari perkara dengan kalian. Tujuanku yang utama adalah Su Tat-jin.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai berkata pelan-pelan setindak demi setindak ia maju ke arah Su Tat-jin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin mandah menyeringai dingin, ia tahu sikap Hun Thian-hi ini tentu dapat mengobarkan kemarahan seluruh hadirin, maka untuk peristiwa selanjutnya dirinya boleh enak-enak duduk di tempatnya tinggal menonton pertarungan saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Salah besar dugaan Hun Thian-hi, sangkanya dengan sekedar penjelasannya tadi cukup menyelesaikan segala urusan. Tak disadarinya bahwa dengan perkataannya tadi justru lebih mempertebal keyakinan seluruh orang-orang gagah yang hadir akan sifatnya yang takabur dan memandang ringan seluruh hadirin. Maka begitu ia bergerak maju, lantas terlihat dua orang bangkit berdiri malah terus menerjang ke arah dirinya, yang satu menggablok punggung sedang seorang lain membabat pinggangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi menggerakkan Serulingnya, tanpa membalik tubuh serulingnya menutuk dan menangkis serangan kedua musuh pembokong ini, untuk menolong diri terpaksa kedua penyerang ini melompat mundur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seluruh hadirin terbakar kemarahannya, serempak semua berdiri dan meluruk maju bersikap mengancam, bila perlu akan main keroyok tanpa pandang bulu lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan Su Giok-lan menjadi gelisah, namun serta melihat Su Tat-jin tengah melirik dengan pandangan dingin ke arah mereka mencelos hatinya, kata Su Tat-jin sembari maju mendekat, “Hakikatnya Hun Thian-hi tidak percaya lagi pada kalian, buat apa kalian hendak menolong dia?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan Su Giok-lan bungkam sembari menundukkan kepala, waktu angkat kepala lagi terlihat Hun Thian-hi tengah melancarkan ilmu Thian-liong-chit-sek. Seruling di tangannya berputar lincah gagah perwira ia tengah berkutet melawan sekian banyak pengepungnya, namun dasar kepandaiannya memang hebat setiap kali terlihat sinar putih berkelebat dan menutuk, satu persatu para pengepungnya terjungkir balik dengan jalan darah tertutuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah air muka Su Tat-jin, katanya kepada Su Cin dan Su Giok-lan, “Sudah saatnya kita tinggal pergi.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tidak….” sahut su Giok-lan beragu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin berpaling menatap ke arahnya, tanyanya, “Kau tak mau pergi?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan menunduk tanpa menjawab. Maka Su Tat-jin segera mendahului beranjak masuk ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan bekal kepandaiannya yang lihai sebetulnya Hu Thian-hi tidak perlu gentar menghadapi keroyokan sedemikian banyak orang, namun semakin banyak pengeroyoknya gerak-geriknya menjadi sedikit terhalang. Kini melihat Su Tat-jin hendak melarikan diri, tiba-tiba ia menghardik keras. Jurus-jurus Thian-liong-chit-sek lantas dilancarkan semakin kencang, dengan tipu &lt;b&gt;Lui-thian-hwi-theng (Kilat dan Geledek Menyambar-Nyambar)&lt;/b&gt;, seruling pualamnya berputar menyilang menyapu mundur para pengepungnya, badannya lantas mencelat terbang mengejar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sudah tentu para orang gagah yang mengeroyoknya itu tak tinggal diam, beramai-ramai mereka pun memburu dengan kencang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan kepalang gusar Hun Thian-hi, tahu-tahu serulingnya menutuk membalik telak sekali, seorang yang memburu paling depan kena tertutuk jalan darahnya kontan terjungkal dan diinjak-injak oleh para kawannya sendiri. Gerakan Hun Thian-hi masih tidak berhenti, tanpa hiraukan korbannya kakinya menjejak tanah terus meluncur mengejar ke arah Su Tat-jin. Di lain kejap ia sudah tiba di serambi panjang, sesudah memutar dua pengkolan terlihatlah ketiga orang buronannya, laksana seekor burung elang segera ia menubruk tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin terkejut, katanya kepada Su Cin berdua, “Kalian maju rintangi dia sebentar.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak Su Cin “berdua” ragu-ragu, tapi akhirnya melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mengayun seruling mengembangkan tipu-tipuan ia mendesak mundur mereka berdua, mulutnya menjengek dingin, “Bukan kalian yang kucari!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin berdua menjadi serba runyam tiada tempo buat mereka untuk menerangkan, apalagi mendengar sindiran Hun Thian-hi ini hampir-hampir Su Giok-lan melelehkan air mata, dengan mengertak gigi ia nekad merangsak maju menusuk ke arah Hun Thain-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ilmu seruling Hun Thian-hi memang cukup hebat. Terlihat sedikit bergetar tahu-tahu serulingnya menjungkit dan menyampok turun, sekaligus ia tangkis dan sampok miring pedang panjang lawan, sebat sekali tahu-tahu ia menerobos lewat diantara celah-celah kosong ini terus mengejar ke arah mana Su Tat-jin telah melenyapkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan mengeluh tertahan Su Cin berdua kirim pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan kiri untuk merintangi tindakan Hun Thian-hi, terpaksa ia merandek sejenak sembari dan menggerakkan serulingnya mendesak mundur mereka berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedikit hambatan ini, sementara itu para orang gagah yang mengejar sudah tiba, tanpa kuasa Hun Thian-hi terkepung lagi dengan ketat….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sinar pedang berkelebat menyambar-nyambar, namun bayangan seruling Thian-hi pun tidak kalah gesit bergerak, namun menghadapi sekian banyak serangan dari berbagai penjuru akhirnya Thian-hi terdesak juga di bawah angin. Apalagi dengan rangsekan Su Cin berdua yang berkepandaian cukup tinggi, semakin payah keadaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu bayangan Su Tat-jin sudah tidak kelihatan lagi, saking murka dada Hun Thian-hi terasa hampir meledak, dengan menggertak keras tangan kirinya tiba-tiba terayun, tahu-tahu Badik Buntung sudah tergenggam di tangannya, dimana sinar hijau pupus berkelebat dua batang pedang yang menyamber tiba kontan terpapas kutung menjadi dua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para pengepung menjadi kaget, serempak mereka menyurut mundur dengan ketakutan. Terpecik dalam benak mereka bahwa ucapan Su Tat-jin barusan memang kenyataan. Bukankah Badik Buntung sudah berada di tangan Hun Thian-hi….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para pengepung itu hanya sedetik saja beragu lantas merangsek semakin hebat dengan kemurkaan yang berkobar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mandah tersenyum sinis sembari melirik ke arah Su Cin berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keruan hati Su Cin dan Su Giok-lan menjadi mendak seperti ditusuk sembilu, namun urusan sudah berkembang sedemikian larut terpaksa biarlah terus berlanjut tanpa berkesudahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan bersenjatakan Badik Buntung di tangannya, Hun Thian-hi bertambah besar, seruling pualam di tangan kanan ditanggalkan di pinggangnya, sedang Badik Buntung dipindah ke tangan kanan, dengan menggerung keras segera ia terjang para orang-orang gagah yang mengepung itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dimana sinar hijau pupus berkelebatan, para orang-orang gagah menjadi terdesak mundur tanpa berani melawan ketajaman senjata sakti ini, akhirnya mereka mundur-mundur terus sampai di halaman belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi bayangan Su Tat-jin memang sudah tak kelihan lagi entah sudah merat kemana, sudah tentu rasa dongkol dan kemarahannya lantas ditimpahkan kepada para pengepungnya, gesit sekali tubuhnya bergerak terbang menerobos serambi panjang terus menerjang ke dalam halaman tengah terus meluncur di tengah gelanggang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja ia hinggap di tanah lantas ia merasa situ rada ganjil, didapatinya bahwa perhatian seluruh hadirin ternyata tidak dipusatkan kepada dirinya sebaliknya terus mendelong mengawasi satu jurusan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia memutar tubuh memandang ke arah sana terlihat di atas tembok tinggi sana berdiri dua orang, itulah Su Tat-jin dan seorang tua yang mengenakan jubah hitam, dua mata orang tua jubah hitam ini tengah menatap tajam ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Secara langsung Hun Thian-hi lantas merasa bahwa orang tua jubah hitam ini agaknya punya wibawa yang cukup angker, kalau tidak kenapa seluruh hadirin menjadi bungkam dan tak berani sembarangan bergerak, sedang Su Tat-jin sendiri juga kelihatan sangat tenang dan perhatian?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak Hun Thian-ki menyapu pandang sekelilingnya, sebaliknya orang tua jubah hitam di sampingnya itu lantas membentak dengan nada rendah, “Siapa kau? berani bertingkah dan kurang ajar di hadapanku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menyeringai dengan jongkak, sahutnya, “Siapa kamu aku tidak perduli.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin berkata melengking, “Haha, kiranya masih bau kencur yang tidak tahu kebesaran nama &lt;b&gt;Toh-bing-cui-hun Cu Hwi&lt;/b&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rada bercekat benak Hun Thian-hi ketenaran nama Cu Hwi sudah pernah didengarnya, bukan saja tinggi ilmu silatnya, terutama permainan senjata rahasia boleh dikatan menjagoi seluruh dunia persilatan tiada tandingan. Adalah senjata rahasia pribadinya lain dari yang lain pula, begitu dikembangkan memang bukan gertakan belaka dapat mengejar sukma mencabut nyawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Hwi tertawa dingin jengeknya, “Sungguh tak kuduga martabat Seruling Selatan ternyata begitu rendah.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah air muka Hun Thian-hi, dengan seringai sombong ia berkata menghina, “Aku juga tak menduga, Toh-bing-cui-hun yang kenamaan itu ternyata adalah berotak tumpul gampang diapusi bajingan tengik.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Memang sombong dan takabur sekali!” teriak Cu Hwi murka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Hun Thian-hi kepada Su Tat-jin, “Su Tat-jin, sungguh pintar akalmu, seluruh orang gagah di kolong langit ini gampang saja kau peralat untuk menjuai nyawa demi kepentinganmu.” Habis berkata ia mendesak maju lebih dekat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Berhenti disitu!” bentak Cu Hwi di atas tembok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tak menghiraukan. Cu Hwi lantas mengulur tangan kanan jari tengahnya menjelentik, terdengarlah suara mendengung nyaring, sebuah gelang hitam berputar-putar di tengah udara terbang memutar terus melesat ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mendengus hidung, tahu dia inilah satu senjata rahasia andalan Cu Hwi yang kenamaan dinamakan &lt;b&gt;Gelang Pencabut Nyawa&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tak berani memandang enteng, dengan gagap dan penuh prihatin ia menggerakkan Badik Buntung terus menutul ke arah Gelang Pencabut Nyawa yang menyamber tiba. Namun ia kecele.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gelang hitam itu terbang melintang berputar-putar di tengah udara satu bundaran lalu terbang kembali ke tangan Cu Hwi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan senyum ejek dan dingin Cu Hwi menatap Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Merah jengah muka Hun Thian-hi, terang ia sudah kalah dalam selintas jurus ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alisnya bertaut dalam, tiba-tiba tubuhnya bergerak laksana burung manyar terus menerjang ke arah Cu Hwi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bocah sembrono!” maki Cu Hwi, lagi-lagi tangan kanannya bergerak dua bilah pisau terbang meluncur memapak kedatangan Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu badan Hun Thian-hi meluncur cepat, Badik Buntung lantas disodokkan ke depan tepat sekali menyambut kedua pisau terbang ini, maka dilain saat ia sudah hinggap di atas tembok dimana tadi Cu Hwi berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Cu Hwi mendengus keras, hatinya dongkol dan tak senang menghadapi sikap Hun Thian-hi yang berandal dan takabur. Namun demikian toh ia tidak gampang terjebak dalam tipu muslihat Su Tat-jin, tahu dia bahwa apa yang dikatakain Su Tat-jin belum tentu benar-benar, tapi juga kemungkinan ada betulnya, maka ia tidak segera ambil suatu kepastian total, yang pasti ia hanya ingin menyapu bersih sikap Hun Thian-hi yang sombong ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangannya membalik melolos pedang panjangnya terus meluncur menyerang ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi juga membalikkan tangan untuk memapas pedang panjang di tangan Cu Hwi. Segera Cu Hwi kembangkan ilmu pedangnya yang lihai, seketika ia lancarkan serangan berantai lima enam jurus, maksudnya hendak mendesak Hun Thian-hi terjungkal ke tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hebat kepandaian Hun Thian-hi, sembari menggertak keras, Badik Buntung bergerak lincah balas menyerang, tapi serangan Cu Hwi juga cukup gencar sehingga Hun Thian-hi terdesak mundur berulang-ulang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi merogoh keluar seruling pualamnya, dalam seribu kerepotannya menjaga diri segera dikembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek terus memberondong ke arah Cu Hwi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Hwi pun tidak mau kalah wibawa, pedang di tangannya ditarikan secepat kitiran, namun toh terdesak dua langkah, hatinya menjadi kaget sekali. Sungguh di luar perhitungannya bahwa Hun Thian-hi kiranya membekal kepandaian silat yang begitu tinggi, dalam jangka dua tiga tahun mendatang mungkin tiada tandingannya di kolong langit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena pikirannya ini serempak tangan kanannya dibolang-balingkan, selarik sinar putih berkilau meluncur bergantian saling susul, itulah pisau terbang yang disambitkan ke arah Hun Thain-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk menyelamatkan diri terpaksa Hun Thian-hi memutar dan menggerakkan seruling dan Badik Buntung bersama, namun timpukan pisau terbang musuh memang punya caranya sendiri, di tengah jalan mendadak luncuran pisau terbang itu berubah arah menukik ke bawah. Keruan kejut Hun Thian-hi bukan main, cepat-cepat ia menggeser kaki menyurut mundur ke samping, meski ia sudah berlaku sebat tak urung ketiga batang pisau terbang itu menembus lengan bajunya terus menancap di dinding di belakangnya…. Terdengar Cu Hwi tertawa dingin berulang-ulang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat Cu Hwi hanya main gertak belaka tiada tanda-tandanya hendak membunuh Hun Thian-hi, Su Tat-jin menjadi sengit segera ia berseru memberi aba-aba, “Hayo maju semua!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak diantara pengepung itu yang sudah merasakan kelihaian Hun Thian-hi, rasa dongkol dan penasaran belum sempat terlampias, kini mendengar aba-aba yang memberikan kesempatan untuk menuntut balas ini, segera mereka serabutan menerjang maju bersama secara membabi buta.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menggembor keras dan panjang, tangan kanannya menarik sekuat tenaga “bret!” lengan bajunya yang kepanjangan sobek separo, disusul ia mengayun Badik Buntung melancarkan jurus Jan-thian-ciat-te yang ganas itu. Lima tombak sekitar gelanggang pertempuran seketika terkurung dalam jangkauan serangan jurus yang lihai ini, sinar hijau kemilau hanya berkelebat cepat laksana kilat terus lenyap tanpa bekas. Namun akibatnya adalah dahsyat sekali dan mengerikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam gelanggang tampak mayat bergelimpangan, hanya Su Cin berdua dan Su Tat-jin serta Cu Hwi yang kehilangan sebelah lengannya saja yang masih ketinggalan hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi terlongong-longong menjublek di tempatnya. Seperti patung kayu tak bergerak. Dengan dihantui kemarahannya ia melancarkan jurus pelajaran dari orang tua rambut merah, sungguh di luar tahunya bahwa akibat dari serangannya itu ternyata begitu mengerikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu jurus ganas itu mulai dilancarkan lantas segulung tenaga yang begitu besar mengendalikan nuraninya sehingga tanpa kuasa Badik Buntung di tangannya terlanjur mengarah ke leher para musuhnya, dia sendiri sampai heran dan terkesima mengapa ia tak mampu mengendalikan diri lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan muka pucat pias Cu Hwi mendesis, “Kejam benar-benar! Asal aku Cu Hwi sehari masih hidup, akan datang saatnya pembalasanku!” Habis berkata ia terus berlari sipat kuping.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demikian juga keadaan Su Tat-jin yang pucat pasi, terhuyung-huyung ia tersurut mundur terus mendoproh di kaki dinding dengar badan lemas lunglai tak mampu bergerak lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Adalah Su Cin dan adiknya yang berdiri rada jauh di luar gelanggang selamat dari bencana mengerikan ini. Namun demikian menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini tak urung berubah pucat dan ketakutan, lama dan lama kemudian baru mereka saling pandang terus berlari sekencang-kencangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tinggal Hun Thian-hi yang kesima mengawasi mayat-mayat tak berkepala dengan muka pucat, seolah-olah ia tak sadar dan tak tahu apa yang telah terjadi barusan, yang masih terpercik dalam ingatannya hanyalah dengan jurus Jan-thian-ciat-te tadi sekaligus ia telah bunuh semua orang ini, tak tahu bagaimana ia bekerja dalam waktu sesingkat itu telah mengutungi sedemikian banyak kepala musuh, terasa pandangannya menjadi gelap otaknya seperti kosong hampa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agak lama kemudian baru tercetus gumam dari mulutnya, “Jurus sesat! Jurus sesat.” Sembari berteriak ia berlari sempoyongan dengan kedua tangan menutup mukanya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;03&lt;/a&gt; | 04 |&amp;#160; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-004-jurus-maut-membawa.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-8037544286540257274</guid><pubDate>Thu, 20 Jun 2013 13:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-20T20:44:49.000+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Chin Tung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Gan K. H</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 03. Kakek Buntung Berambut Merah</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-WAnuf0rqxIc/XVs2MIHkqWI/AAAAAAAAAw0/3XIanbxBbxonkveFJLwcMcMvYGr1592JACK8BGAs/s274/Badik%2BBuntung%255B2%255D&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: Chin Tung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;03. Kakek Buntung Berambut Merah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu, begitu melihat Badik Buntung meluncur tanpa pikir panjang serta melihat keadaan sekelilingnya Hun Thian-hi lantas melesat mengejar, syukur tangannya masih sempat meraih dan digenggamnya kencang, sementara itu badannya lantas meluncur turun. Tapi karena kabut sedemikian tebal pandangan menjadi gelap. Begitu tubuhnya meluncur turun terasa badannya kok terus melayang jatuh tanpa menyentuh tanah, keruan hatinya menjadi gugup, tanpa merasa ia lantas menjerit dengan kaget!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan tubuh untuk jumpalitan mumbul ke atas ngarai, tapi pandangan sekelilingnya remang-remang semuanya serba putih gelap. Begitulah badannya terus melayang ke bawah, kini hatinya diliputi hawa amarah, sungguh tidak terkirakan olehnya baru pertama terjun ke gelanggang kericuhan dunia persilatan dirinya lantas masuk jebakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Samar-samar di depannya sana menyongsong dekat sebuah bayangan hitam besar, sekilas pandang saja Hun Thian-hi lantas tahu bahwa itulah sebatang pohon besar yang menjolor keluar dari batu-batu gunung di tengah kabut, keruan bukan kepalang girang hatinya. Sontak bangkit semangatnya tenaga dalamnya juga lantas bergairah keseluruh badan, cepat-cepat ia ulurkan tangan untuk meranggeh, ternyata usahanya tidak sia-sia dengan kencang ia kena menyekap sebatang pohon sehingga sesaat luncuran tubuhnya menjadi membal bergelantungan, baru saja hatinya kegirangan tak kira mendadak terdengar suara “krak!” dahan pohon terlalu kecil tak kuat menahan berat pantulan badannya, seketika badannya terjungkal pula ke bawah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi terperanjat, nurani untuk tetap mempertahankan hidup masih menyadarkan pikirannya, sekuatnya ia mengendalikan badan dengan kesempatan dahan pohon patah dan meluncur jatuh, kedua tangannya kuat-kuat menekan ke bawah, sehingga tubuhnya lantas membal ke atas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan kencang ia berhasil sikap batu gunung untuk menahan badannya, suara gemuruh dari jatuhnya pohon besar tadi terus kumandang di bawah jurang sana, dengan saksama ia mendengarkan agak lama kemudian baru terdengar pohon besar itu jatuh menyentuh tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi menghela napas lega, hatinya bersyukur dan memanjatkan doa akan kebesaran hati Tuhan yang mulia. Jikalau pada batang pohon sebagai penangsang tubuhnya tadi, pasti dirinya sudah terbanting hancur lebur didasar jurang sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebentar ia mengheningkan cipta lalu angkat tangan mengamat-amati Badik Buntung di tangannya, terlihat olehnya Badik Buntung itu berkilau memancarkan cahaya hijau yang cemerlang, hawa dingin meresap tulang. Dengan hati-hati ia masukkan Badik Buntung ke dalam sarungnya, sejenak ia berpikir lalu pelan-pelan merambat turun ke dasar jurang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah susah payah menghabiskan banyak tenaga akhirnya ia berhasil mencapai dasar jurang, didapati bahwa dasar jurang ini merupakan sebuah lembah subur akan semak belukar banyak batu-batu gunung yang berserakan pula, disebelah sana malah kelihatan onggok demi onggok tulang-tulang putih manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan jijik dan penuh kelelahan Hun Thian-hi berjalan menyusuri pinggir jurang terus merambat maju ke arah kiri sana. Kira-kira ia berputar setengah lingkaran. Tiba-tiba di depan sana dilihatnya sebuah gua besar. Dari dalami gua besar ini terbaur keluar hawa amis yang memuakkan, diam-diam mencelos hati Hun Thian-hi, ia menjadi kuatir dan was-was kalau gua besar ini menjadi sarang binatang buas atau berbisa yang sangat ganas sekali, itu akan membuat dirinya berabe.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena kesangsiannya ini segera ia menghentikan langkahnya, baru saja ia hendak berputar tinggal pergi, mendadak dari dalam gua sana terdengar suara orang bertanya, “Siapa itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tersentak kaget, sungguh di luar sangkanya bahwa gua besar ini ternyata dihuni oleh manusia. Legalah hatinya, maka dengan tertawa lebar segera ia beranjak mendekati ke arah gua besar itu, ingin ia melihat orang macam apakah kiranya yang tinggal dalam gua berbau busuk ini!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja kakinya melangkah sampai di ambang gua, terdengar suara dengusan keras dari dalam, sejalur benang hitam terus melesat datang menerjang dirinya, Lagi-lagi Hun Thian-hi terperanjat dibuatnya, secara gerak reflek sebat sekali ia merogoh keluar Badik Buntung terus diayunkan keluar memapas maju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dimana sinar hijau berkelebat lewat bayangan hitam itu seketika putus menjadi dua terus terpental jatuh di atas tanah. Waktu ia menunduk ke bawah kiranya itulah seekor ular.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkat ketajaman matanya dengan cermat Hun Thian-hi memandang ke dalam, samar-samar terlihat olehnya di atas sebuah batu besar duduk bersila seorang tua, berambut panjang warna merah, demikian juga jenggotnya berwarna merah, sepasang sinar hijau bening dari sorot matanya menembus keluar dari aling-aling rambutnya yang awut-awutan menutupi mukanya, dengan seksama ia awasi Badik Buntung di tangan Hun Thian-hi. Di sekitar kakinya dimana ia duduk melingkar-lingkar banyak macam ular-ular aneh besar kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sinar mata hijau bening dari orang tua berambut merah beralih dari Badik Buntungnya kemuka Hun Thian-hi, biji matanya memancarkan rasa gusar dan kebencian yang meluap-luap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sendiri menjadi menjublek ditempatnya, hatinya tengah dirundung kecemasan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak si orang tua berambut merah mendengus hidung, tubuhnya mendadak mumbul ke atas terus terbang maju dengan tetap bergaya duduk langsung menerjang ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bertambah kejut lagi hati Hun Thian-hi, orang tua berambut merah ini tanpa bergaya atau bergerak ternyata bisa mencelat tinggi terus meluruk datang, betapa tinggi kepandaiannya agaknya sudah mencapai &lt;b&gt;Sia-ki-hwi-hing (Terbang Menghimpun Hawa)&lt;/b&gt;, kepandaian hebat begitu rupa bukan saja dirinya bukan tandingan, seumpama suhunya sendiri Seruling Selatan berhadapan secara langsung juga takkan mungkin dapat menandinginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahu ia bahwa aksi orang tua berambut merah ini tentu mempunyai tujuan yang tertentu, cepat-cepat ia bergerak mundur ke belakang seraya berseru, “Nanti dulu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pedulipun tidak akan seruan Hun Thian-hi ini, si orang tua berambut merah tetap melesat tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpaksa Hun Thian-hi mengayun tangan kanan, dengan jurus Jian-hong-in-long Badik Buntungnya menyapu ke arah si orang tua berambut merah, Tampak si orang tua berambut merah mengebutkan lengan baju tangan kanan, kontan Hun Thian-hi merasa seluruh lengannya pegal, jalan darah pergelangan tangannya tertutuk, sudah tentu Badik Buntung tak kuasa dipegangnya lagi langsung jatuh ke atas tanah. Tangkas sekali orang tua berambut merah menyamber dengan tangan kiri meraih Badik Buntung itu. Sedang tangan kanan menjinjing tubuh Hun Thian-hi terus mencelat balik ke atas batu besar lagi. Dalam sejurus saja Hun Thian-hi teringkus oleh lawan. hatinya menjadi uring-uringan, dua jari tangan kirinya segera diulurkan untuk mencolok kedua biji mata si orang tua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tidak kalah lihai dan sebatnya tahu-tahu Badik Buntung sudah mengancam ditenggorokan Hun Thian-hi. Baru sekarang Hun Thian-hi merasa bagaimana juga dirinya bukan menjadi tandingan si orang tua berambut merah ini, sudah terang kalah main licik pun tak unggulan. Akhirnya ia tertawa lebar sambil menurunkan tangan kirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan tajam si orang tua berambut merah memincingkan mata memandangi mukanya, sorot matanya mengunjuk rasa heran dan kejut2 aneh, sejenak kemudian ia me buka suara, “Apa yang kau tertawakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan pandangan aneh Hun Thian-hi juga pandang si orang tua berambut merah ini, sahutnya, “Apa? Tak boleh tertawa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua merenung sebentar. lalu katanya, “Badik Buntung berada di tanganmu, kau tahu cara bagaimana aku akan menghadapimu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebetulnya tengkuk Hun Thian-hi sudah merinding melihat sorot pandangan si orang tua yang bengis mengandung hawa membunuh, tapi mulutnya tetap bandel, “Itu kan urusanmu, buat apa aku main tebak?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang-tua berambut merah mendehem keras-keras, ujarnya, “Kau akan kujadikan umpan ular, supaya kau mati pelan-pelan.” — sambil berkata sinar matanya berkilat-kilat lalu sambungnya lagi, “Tapi jika kau minta ampun padaku, aku boleh memperingan hukumanmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertawa dengan angkuhnya, ujarnya, “Minta ampun? Selamanya aku belum pernah minta ampun kepada siapapun juga!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pandangan si orang tua berambut merah berubah beringas penuh kemarahan, katanya sesaat kemudian, “Apa betul?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terasa oleh Hun Thian-hi kelima jari si orang tua berambut merah mencengkram semakin kencang, sampai pergelangan tangan kanannya sakit bukan main seperti tulang-tulangnya hancur luluh. Tapi akhirnya ia tetap bersikap keras kepala dan adem-ajem malah dengan congkaknya ia tersenyum simpul seperti tidak merasakan sakit sedikit pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya pandangan si orang tua berambut merah menjadi guram putus asa, mulutnya terdengar menggumam, “Bocah yang keras kepala!” — lalu ia menundukkan kepala, sesaat kemudian ia angkat dagu memandang muka Hun Thian-hi, wajahnya mengulum senyum sadu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan pancaran sinar yang bersifat congkak dan berani Thian-hi bersiap menerima siksaan kedua dari si orang tua berambut merah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata pelan-pelan si orang tua berambut merah melepas pergelangan tangan Thian-hi. Sekilas dilihatnya Seruling Batu Pualam yang tergantung di pinggangnya, hidungnya lantas mendengus hina, pancaran matanya sekarang berganti penuh kemarahan dan bermusuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh si orang tua berambut merah, tapi dari sinar matanya yang penuh kebencian dan bermusuhan ini tak perlu dijelaskan lagi, hatinya sudah membadek (menebak) cara bagaimana si orang tua rambut merah ini hendak menjadikan dirinya bulan-bulanan. Apakah mungkin aku kuat menerima siksaan berat demikian, ia membatin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berkilat-kilat sebentar si orang tua berambut merah berkata, “Cara bagaimana kau turun kemari?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tercengang, hatinya menjadi heran kenapa si orang tua berbalik menanyakan hal ini, sejenak ia ragu-ragu dan curiga, akhirnya ia tertawa tawar, ujarnya, “Kau tak perlu tahu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Karena digasak oleh musuh besarmu?” tanya si orang tua rambut merah tak acuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi semakin heran akan perubahan sikap si orang tua yang menjadi sabar dan kalem, sejenak ia tatap mata orang tanpa membuka suara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua rambut merah tertawa aneh, ujarnya lagi, “Akupun digasak terjungkal kesini oleh musuhku, untung tidak sampai menemui ajal, sayang kedua kikiku ini buntung, jadi tak berdaya pula untuk dapat keluar dari tempat terkurung ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak ia berhenti, matanya memandang Hun Thian-hi, melihat orang tetap membisu lalu ia menyambung lagi, “Aneh, dengan bekal kepandaianmu ini, jatuh dari ngarai curam sedemikian tinggi tidak mati ini sudah cukup untung dan besar rejekimu, tapi kenapa sedikit luka saja tidak kau derita?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertawa, lebar dengan takabur, katanya, “Kau sangka aku digasak jatuh kesini? Tidak, hanya karena kebodohankulah sehingga aku tertipu jatuh kemari!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua berambut merah menjengek dingin; ujarnya, “Jangan kau terlalu membanggakan dirimu sendiri. Kena tipu? Apakah kau tidak merasa malu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kontan mendidih darah Hun Thian-hi bagai dibakar, raut muka merah padam saking menahan gusar, namun mulutnya tetap terkancing tiada alasan untuk main debat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata orang tua rambut merah lagi, “Apa kau ingin naik ke atas pula?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi melenggong, pikirnya, “apakah orang tua rambut merah ini sudah merubah maksudnya semula? Kenapa nada perkataannya berubah begitu besar? Karena berpikir demikian ia lantas tertawa riang, katanya, “Masa kau sendiri tidak ingin naik?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua menengadah memandang puncak gua, tiba-tiba ia tertawa aneh lagi, katanya, “Ya, benar-benar. Aku tidak ingin naik, tapi aku dapat membantumu naik!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini berbalik Hun Thian-hi mengerut kening, hatinya was-was, hidungnya mendengus tanpa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua itu menepekur sebentar lalu berkata lagi, “Tapi setelah kau naik ke atas, dengan bekal ilmu silatmu sekarang, apa pula yang dapat kau kerjakan?” habis berkata ia tertawa geli penuh nada menghina.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi pun tidak mau kalah congkaknya, debatnya, “Walaupun ilmu silatku sekarang belum cukup tinggi tapi usiaku masih muda, kau sendiri kau sudah tua bangka dan reyot, tinggal menunggu ajal saja masa kau tahu kalau kepandaianku tak bisa menandingi kau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terpancar rasa bangga dan puas dalam pandangan mata si orang tua rambut merah, katanya kemudian, “Punya pambek! Tapi kalau tidak berjodoh juga akan sia-sia belaka.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lama, dan, lama sekali Hun Thian-hi mengamat-amati si orang tua berambut merah tanpa membuka suara. Dia merasa heran kenapa si orang tua rambut merah ini tidak marah lagi, dan yang lebih menbuatnya tak habis mengerti kenapa orang tua ini tidak menyinggung lagi tentang Badik Buntung dan Seruling Batu Pualamnya? Kedua benda pusaka ini hakikatnya seperti mempunyai sesuatu hubungan erat dengan orang tua renta aneh ini, kenapa ia tidak menanyakan perihal kedua benda ini lebih lanjut?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ujar si orang tua, “Aku dapat mengangkatmu menjadi seorang tokoh silat nomor satu di seluruh kolong langit ini!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa menunjukkan sesuatu reaksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Jangan kau mengejek,” ujar si orang tua, “Ketahuilah jika dulu aku jadi melancarkan jurus tunggalku, yang terjatuh ke dalam jurang sini tentu bukan aku. sebaliknya adalah mereka berdua.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Nah, kenapa tidak kau lancarkan?” cemooh Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua terkekeh dua kali, ujarnya, “Mungkin kelak kau akan tahu sendiri!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menebak-nebak dalam hati, tapi ia tidak mau banyak tanya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua angkat tangan kirinya yang menyekal Badik Buntung, katanya, “Badik pusaka tiada tandingan di kolong langit ini, ditambah dengan jurus tipu ilmuku yang kunamakan &lt;b&gt;Jan-thian-ciat-te (Pencacat Langit Pelenyap Buana)&lt;/b&gt;, kiranya cukup untuk menjagoi di seluruh dunia persilatan!” Lalu ia tertawa nyengir penuh misterius, tiba-tiba ia lempar Badik Buntung itu ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan gugup Hun Thian-hi menampani Badik Buntung itu, hatinya penuh tanda tanya….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah mengerling ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul si orang tua mengambil sebatang pedang dari bawah batu, katanya, “Lihat dengan cermat jurusku Jan-thian-ciat-te ini!” &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berkata tubuhnya lantas bergerak melejit tinggi, berbareng pedang panjangnya melingkar terayun membuat setengah bundaran di tengah udara, seketika bayangan sinar pedang berkilau laksana bentuk gunung, berputar dan bergerak gesit laksana tebaran bintang-bintang di langit, hawa pedang berkembang dingin membeku laksana ular emas melingkar yang menari menjadi gambaran abstrak di tengah udara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lima tombak sekelilingnya dilingkupi samberan deras hawa pedang, terdengar suara “plak-plok” ledakan lirih di tengah udara berulang kali sampai memekakkan telinga!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sendiri juga terdesak mundur keterjang angin lesus yang berputar cepat sampai terhujung beberapa tindak, diam-diam hatinya mencelos, batinnya dengan kehebatan ilmu pedang yang tiada taranya ini, ucapan si orang tua berambut merah memang bukan omong kosong belaka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si orang tua menarik permainan pedangnya, sekilas ia melirik ke arah Hun Thian-hi, air mukanya lagi-lagi mengunjuk senyum misterius penuh arti, tanpa bertanya dulu pada Hun Thian-hi secara tekun dan pelan-pelan ia terangkan intisari pelajaran jurus tipu Jan-thian-ciat-te ini kepada Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil memberi keterangan dengan pelan secara terperinci sekali lagi ia praktekkan secara lamban supaya dapat diselami oleh Hun Thian-hi. Dengan tekun dan cermat Hun Thian-hi berdiri diam saja mendengarkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar orang tua rambut merah bertanya, “Masih adakah yang belum kau paham?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mandah tertawa-tawa saja, Badik Buntung di tangan kanannya tiba-tiba bergerak sekitar tubuhnya menjadi terang benderang disinari oleh cermerlangnya cahaya hijau pupus yang menyilaukan mata….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terunjuk sedikit perubahan pada air muka si orang tua rambut merah, sekilas biji matanya memancarkan hawa membunuh yang menyala-nyala, tapi hanya sebentar saja lantas hilang lagi. Sungguh tidak terduga olehnya bahwa Hun Thian-hi sedemikian berbakat dan pintar. Hampir-hampir ia tidak berani percaya akan penglihatannya sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil memasukkan Badik Buntung ke dalam kerangkanya, Hun Thian-hi berkata tawar, “Apakah begitu cara mainnya?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua rambut merah mendengus dongkol, matanya berputar lalu katanya, “Sungguh tak kuduga ternyata kau berbakat benar-benar, mengandal jurus tipu pedang tadi ditambah dengan Badik Buntungmu itu, aku berani pastikan di seluruh kolong langit ini kau tiada tandingan. Kau dapat turun dengan selamat menggunakan Badik Buntung itu pasti juga kau dapat naik, bolehlah kau segera berangkat!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi bimbang, katanya kepada orang tua rambut merah, “Bukankah katamu semula hendak menjadikan tubuhku sebagai umpan ular, kenapa sekarang kau lepas aku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lagi-lagi orang tua rambut merah menampilkan mimik wajahnya yang aneh dan lucu, serunya sambil gelak tawa, “Kelak kau akan tahu”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kalau kau juga ingin keluar, mari kubantu kau!” demikian ajak Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua aneh itu tercengang, matanya memancarkan cahaya aneh, dengan tajam ia pandang muka Hun Thian-hi, sebentar kemudian baru ia membuka mulut, “Kalau aku mau keluar, siang-siang aku sudah manjat ke atas, buat apa kau harus bantu aku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hati Hun Thian-hi diliputi pertanyaan yang tak terjawab, heran ia kenapa orang tua ini tidak mau diajak naik ke atas, diam-diam ia menimang, pernah Suhunya memberitahu bahwa tokoh silat kosen di seluruh kolong langit yang pernah diceritakan itu agaknya tiada seorang seperti orang tua berambut merah ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, pandangan si orang tua juga teralih ke kempat lain. Hun Thian-hi coba-coba hendak mengorek keterangan, “Tapi kau mengajari jurus lihai itu kepadaku, aku tidak sudi terima budimu secara gratis, adakah sesuatu urusanmu yang perlu kulaksanakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang tua rambut merah berpaling, ujarnya, “Kau merasa hutang budi? Karena aku mengajar sejurus ilmu pedang itu?” sampai disini ia bergelak tawa sekian lamanya, lalu sambungnya, “Kenapa aku menurunkan sejurus ilmu pedangku ini kelak kau akan maklum sendiri, sekarang silakan kau pergi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekian lama Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu dan tak enak hati, akhirnya menjadi kewalahan katanya, “Kalau begitu baiklah aku pergi!” sambil berkata ia putar tubuh terus keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memandang punggung Hun Thian-hi orang tua rambut merah menyengir seram dan menyeringai dingin, seolah-olah ia sudah melaksanakan sesuatu pekerjaan yang sangat menyenangkan hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai di ambang mulut gua, mendadak Hun Thian-hi memutar badan dan bertanya, “Tapi siapakah namamu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah airmuka orang tua rambut merah, jawabnya mendengus tak sabaran, “Dalam kelanamu di Bulim kau akan tahu siapa aku ini. Sudahlah berangkat jangan cerewet!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi memutar tubuh terus keluar gua, tak jauh kemudian ia duduk bersila memusatkan pikiran menghimpun tenaga, lalu dikeluarkan Badik Buntung, dengan senjata ampuh inilah ia selangkah demi selangkah merambat naik ke atas tebing yang curam itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html&quot;&gt;02&lt;/a&gt; | 03 |&amp;#160; &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/badik-buntung-03-kakek-buntung-berambut.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-4610913638421512840</guid><pubDate>Sun, 16 Jun 2013 23:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-20T06:42:36.433+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 21. Bersedia</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;font style=&quot;font-weight: bold&quot;&gt;21. Bersedia&lt;/font&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Di saat Pek Jau-hui masih memikirkan persoalan itu, mendadak ia merasa Ong Siau-sik secara diam-diam sedang menarik ujung bajunya dari belakang. Terpaksa dia pun memperlambat langkahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan suara setengah berbisik Ong Siau-sik berkata, &amp;quot;Aku merasa berterima kasih karena tadi kau telah melakukan penambahan dalam cerita dongengku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku selamanya paling suka ada orang tahu berterima kasih, aku memang orang yang gila hormat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku bicara serius. Pernah kau dengar, dari dulu hingga sekarang, banyak pejabat setia justru berakhir dalam kondisi yang mengenaskan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui berpikir sejenak, lalu sahutnya sambil tertawa, &amp;quot;Ini disebabkan para pejabat setia itu kelewat polos, kelewat jujur, biasanya tak suka mendengar nasehat orang, bahkan ada kalanya senang menampar mulut orang yang suka memberi nasehat kepadanya, tapi aku? Memangnya aku mirip dengan orang yang jujur dan polos?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau memang tidak mirip,&amp;quot; Ong Siau-sik menghela napas, &amp;quot;aku rasa selain kelewat polos dan jujur, para pejabat setia percaya diri, mereka anggap bicara pakai aturan sudah dapat menyelesaikan segala urusan, padahal tak ada manusia di dunia ini yang senang ditunjuk kesalahannya di hadapan orang lain, memangnya dianggap kalau bicara blak-blakan lantas semua orang mau menerimanya? Kalau seseorang tidak mempertimbangkan hal semacam ini, sering akibatnya menjadi runyam.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui terbungkam tanpa menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali Ong Siau-sik berkata, &amp;quot;Ada satu cerita lagi, dulu Chao-chao berulang kali menyerang sebuah kota, tapi tak pernah berhasil merebutnya, ketika kegagalan demi kegagalan dialaminya, ia pun berniat menarik mundur pasukannya, ketika berjalan mondar-mandir sambil berpikir itulah dia berseru, &lt;i&gt;&#39;sayap ayam, sayap ayam!&#39;&lt;/i&gt;. Anak buahnya kebingungan karena tak paham apa yang dimaksud, kemudian ada seorang yang merasa pintar berkata, &lt;i&gt;&#39;Mari kita bebenah&#39;&lt;/i&gt;, perdana menteri memerintahkan untuk menarik pasukan, rekannya pun bertanya kenapa ia berkesimpulan begitu? Si pintar menjawab, sayap ayam adalah bagian yang paling hambar, maksudnya dibuang sayang, ini berarti niatnya untuk mundur sudah bulat. Merasa perkataannya masuk akal maka semua orang bersiap untuk mundur. Ketika Cho-cho mengetahui kejadian ini, ia menjadi terperanjat, dia pikir, kenapa si pintar bisa membaca jalan pikirannya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbicara sampai di situ Ong Siau-sik berhenti sejenak, lalu tanyanya lagi, &amp;quot;Menurut dugaanmu, apa yang dilakukan Cho-Cho terhadap orang pintar itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Membunuhnya!&amp;quot; jawab Pek Jau-hui tanpa berkedip. &amp;quot;Menurut pendapatmu, benarkah tindakan yang dilakukan Cho-cho?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak bagus, tapi tindakan yang tepat. Ketika dua pasukan sedang berhadapan di medan laga, sebelum jenderal menurunkan perintah, orang pintar yang berlagak pintar hanya akan menggoyahkan pikiran pasukan, menurunkan semangat tempur dan menggoncangkan rasa percaya diri. Sudah tentu orang semacam ini harus dibunuh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jika kau adalah seorang yang amat cerdas, tapi tak mampu mengendalikan diri hingga memperlihatkan kecerdasannya, dan akibat perbuatan itu justru mengundang datangnya bencana kematian, apakah hal semacam ini tidak terlalu sayang?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui memiringkan wajahnya mengerling ke arah Ong Siau-sik sekejap, lalu serunya, &amp;quot;Apa yang barusan kau katakan bukan cerita dongeng tapi sejarah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sesungguhnya bukan hanya cerita sejarah saja, tapi juga serupa peringatan. Kalau sejarah hanya menceritakan kembali apa yang pernah terjadi dulu, sedang peringatan lebih mempertegas agar orang jangan meniru cara yang pernah dilakukan orang dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau bukan sedang membicarakan sejarah, tapi sedang membicarakan aku,&amp;quot; tukas Pek Jau-hui sambil menggendong tangan memandang ke angkasa, ia menarik napas panjang, &amp;quot;Aku sangat memahami maksudmu, tapi ... aku tetap akan menjadi diriku sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat itulah terlihat seseorang berjalan masuk ke dalam ruang loteng merah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang itu masih muda dan tampan, di atas jidatnya terlihat sebuah tahi lalat hitam yang besar, tingkah lakunya lembut, sopan dan sangat terpelajar, perawakan tubuhnya tinggi kurus, jauh lebih tinggi dari orang kebanyakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil tersenyum dia manggut-manggut, tampaknya sedang menyapa Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baik Ong Siau-sik maupun Pek Jau-hui sama sekali tidak kenal siapakah orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan sikap yang sangat menghormat orang itu masuk sambll menjinjing dua jilid buku yang sangat tebal, kemudian dilaporkan ke hadapan So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cepat So Bong-seng menyambut buku itu, lalu membnlok balik beberapa halaman dan keningnya pun berkerut. Tak ada yang tahu apa yang telah dilihatnya dan apa yang lelah dibaca dari buku itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kecuali So Bong-seng dan orang itu, siapa pun tidak tahu kenapa sebelum memasuki ruang utama loteng merah itu, So Bong-seng berhenti dulu di atas anak tangga dan membolak-balik beberapa halaman buku besar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah selanjutnya So Bong-seng akan mempelajari dulu Isi kitab itu kemudian baru melanjutkan pekerjaannya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu Mo Pak-sin berkata secara tiba-tiba, &amp;quot;Saudara berdua, dia adalah Yo-congkoan, Yo Bu-shia.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pek-tayhiap, Ong-siau-hiap,&amp;quot; pemuda itu segera menjura.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Darimana kau tahu kalau aku dari marga Pek?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ya, darimana kau bisa tahu kalau aku bermarga Ong?&amp;quot; sambung Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, kalian berdua memang senang bergurau,&amp;quot; seru Yo Bu-shia tersenyum, kepada Ong Siau-sik terusnya, &amp;quot;Kau adalah Ong-siau-hiap.&amp;quot; Kemudian sambil berpaling ke arah Pek Jau-hui terusnya, &amp;quot;Dan kaulah Pek-tayhiap.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita belum pernah berjumpa,&amp;quot; sela Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi kami mempunyai semua bahan, keterangan serta kasus yang pernah kalian berdua lakukan,&amp;quot; sambung So Bong-Seng tiba-tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia serahkan salah satu kitab tebal itu ke tangan Yo Bu-shia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan suara lantang Yo Bu-shia segera membaca, &amp;quot;Pek Jau-hui, dua puluh delapan tahun, berwatak angkuh lagi jumawa, senang menggendong tangan sambil memandang angkasa, jejak tidak menentu, kalau turun tangan selalu telengas dan tidak membiarkan musuhnya hidup, di bawah puting susu kirinya terdapat sebuah bisul daging, besarnya lebih kurang sekuku jari ....&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hmmm, rupanya ada orang senang mengintip orang lain sedang mandi!&amp;quot; sindir Pek Jau-hui sambil tertawa dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tidak menanggapi, dia hanya berdiri tanpa reaksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Yo Bu-shia membaca lebih lanjut, &amp;quot;... pernah memakai nama samaran Pek Yu-bong dan menyanyi di kebun &lt;b&gt;Sim-cun-wan&lt;/b&gt; kota &lt;b&gt;Lok-yang&lt;/b&gt;, memakai nama samaran Pek Ing-yang, bekerja sebagai piausu di perusahaan ekspedisi &lt;b&gt;Kim-hoa-piau-kiok&lt;/b&gt;, memakai nama samaran Pek Yu-kin, menjadi penulis dan pelukis di kota-kota besar, memakai nama samaran Pek Ko-tang, berhasil merebut juara pertama dalam pertandingan silat di kota &lt;b&gt;Sam-siang&lt;/b&gt; wilayah tiga sungai besar.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar sampai di situ, timbul perasaan kagum dan hormat di wajah Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semakin banyak nama samaran yang digunakan Pek Jau-hui, semakin mencerminkan betapa sengsara dan menderitanya masa lalu pemuda itu, juga mencerminkan betapa tersiksanya dia karena tak pernah orang mengagumi kebolehannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu paras muka Pek Jau-hui makin lama berubah semakin hebat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia menarik napas dalam-dalam, sepasang tangannya diletakkan di belakang punggung, tapi baru sebentar sudah bergeser ke samping kaki, kemudian dimasukkan lagi ke dalam saku.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua kejadian sebenarnya hanya dia seorang yang tahu. Kecuali dia sendiri, tak mungkin di kolong langit ada orang kedua yang mengetahui rahasia ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi kini, bukan saja pihak lawan mengetahui dengan sangat jelas bahkan seakan jauh lebih jelas daripada dia pribadi, malah semua sudah tercatat di dalam buku catatan besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yo Bu-shia membacakan lagi, &amp;quot;... pernah mengalami masa jaya ketika berusia dua puluh tiga tahun dan dua puluh enam tahun, ketika berusia dua puluh tiga tahun, dengan memakai nama samaran Pek Beng melakukan pembantaian terhadap enam belas orang panglima bangsa Kim di tebing &lt;b&gt;Boan-liong-po&lt;/b&gt;, oleh kalangan militer ia disebut &lt;b&gt;Naga sakti dari Luar Angkasa&lt;/b&gt; dan pernah memimpin tiga puluh laksa prajurit, tapi tak lama kemudian ia buron karena dicari pihak militer.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kemudian pada usia dua puluh enam tahun .......&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui mulai terbatuk-batuk ringan, ia nampak mulai jengah dan kelabakan sendiri, persis seperti semut di atas kuali panas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kemudian pernah menjadi sasaran yang diincar perkumpulan Lak-hun-poan-tong, hampir saja dia diangkat menjadi Tongcu untuk tiga belas kantor cabang .........&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak So Bong-seng menukas, &amp;quot;Coba dibacakan saja kehebatan kungfu serta asal usulnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik. Asal usul perguruan Pek Jau-hui tidak jelas, perguruan tidak tercatat, orangtua tak jelas, istri tak ada, senjata tak menentu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Yo Bu-shia membacakan lagi, &amp;quot;Ilmu silat andalannya mirip ilmu andalan &lt;b&gt;Lui Cian&lt;/b&gt;, ilmu jari &lt;b&gt;Sin-sin-ci&lt;/b&gt; dari &lt;b&gt;Lui-bun-ngo-hou-jiang&lt;/b&gt;, salah satu aliran &lt;b&gt;Bi-lek-tong&lt;/b&gt; dari wilayah Kanglam. Cuma kalau Lui Cian menggunakan ibu jari maka Pek Jau-hui menggunakan jari tengah, ilmu jarinya pun sedikit berbeda, ada orang bilang dia telah melebur semua jurus ilmu pedang yang dimiliki tujuh jago pedang kenamaan di dalam ilmu jarinya ...........&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cukup,&amp;quot; mendadak Pek Jau-hui berseru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng segera mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yo Bu-shia pun seketika berhenti membaca.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesudah membasahi bibirnya dengan air ludah, Pek Jau-hui baru bertanya, &amp;quot;Ada berapa orang dalam Kim-hong-si-yu-lau yang pernah membaca buku catatan itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Termasuk aku ada tiga orang!&amp;quot; jawab So Bong-seng tetap dingin, namun lamat-lamat terlihat jidatnya mulai dibasahi keringat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus,&amp;quot; Pek Jau-hui menarik napas panjang, &amp;quot;aku berharap tak akan ada orang keempat yang mendengarnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya Pek Jau-hui merasa agak lega, dia segera menghembuskan napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar-benar mengerikan,&amp;quot; bisik Ong Siau-sik, &amp;quot;baru saja kita berkenalan di tengah jalan, semua bahan dan keterangan tentang identitas kita sudah tercatat di dalam buku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oleh sebab itu akulah yang diutus datang ke Po-pan-bun untuk melindungi pertemuan di loteng Sam-hap-lau, dan bukan Yo-congkoan,&amp;quot; sambung Mo Pak-sin sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau keliru,&amp;quot; tiba-tiba So Bong-seng berkata kepada Ong Siau-sik sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku salah bicara?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukan cuma dia, bahkan semua keterangan dan identitasmu pun sudah tercatat di dalam buku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika ia memberi tanda, Yo Bu-shia pun mulai membaca, &amp;quot;Ong Siau-sik, ahli waris &lt;b&gt;Thian-gi Kisu&lt;/b&gt;. Menurut penyelidikan besar kemungkinan Thian-gi Kisu adalah ........ &amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagian yang ini jangan dibaca!&amp;quot; hampir serentak So Bong-seng, dan Ong Siau-sik berteriak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yo Bu-shia segera menghentikan pembacaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menghembuskan napas panjang, So Bong-seng berkata lagi, &amp;quot;Baca lebih lanjut!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Senjata andalan Ong Siau-sik adalah sebilah pedang. Gagang pedangnya bengkok setengah lingkaran bulan. Tak disangkal pedang itu pasti pedang sakti &lt;b&gt;Wan-liu-kiam&lt;/b&gt; yang sejajar namanya dengan Golok Merah &#39;Ang-siu&#39; milik So-kongcu, &lt;b&gt;Golok Iblis&lt;/b&gt; &#39;&lt;b&gt;Put-ing&lt;/b&gt;&#39; milik Lui Sun serta pedang sakti &#39;&lt;b&gt;Hiat-ho&lt;/b&gt;&#39; milik &lt;b&gt;Pui Ing-gan&lt;/b&gt;.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, rupanya pedang Wan-liu-kiam! Sangat sesuai dengan syairnya, &lt;i&gt;&#39;Hiat-ho-ang-siu, Put-ing-wan-liu&amp;quot; (baju merah sungai darah, tidak sepantasnya ditahan)&lt;/i&gt;!&amp;quot; kata Pek Jau-hui sambil berseru tertahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik mengangkat bahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, Yo Bu-shia baru melanjutkan pembacaannya, &amp;quot;Ong Siau-sik sensitip dan penuh perasaan, sejak berusia tujuh tahun sudah mulai berpacaran, hingga usianya yang kedua puluh tiga, ia sudah lima belas kali putus cinta, setiap kali selalu dia sendiri yang mulai bercinta, tapi akhirnya hanya kesedihan dan kehampaan yang diperoleh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Waduuh ....&amp;quot; jerit Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; tanya Pek Jau-hui sambil menyengir mengejek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Masa urusan macam begini pun dicatat di buku? Aku ....... &amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apa salahnya? Kau mulai berpacaran pada usia tujuh tahun, hingga usia dua puluh tiga tahun putus cinta sebanyak lima belas kali, berarti setiap tahun tak sampai satu kali, belum terhitung banyak.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi ....... ini .............&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar Yo Bu-shia membaca lagi, &amp;quot;Ong Siau-sik gemar berteman, ia tak pernah membedakan mana kaya mana miskin, suka mencampuri urusan orang, tapi bila berkelahi melawan orang yang tak pandai bersilat, ia tak pernah mengandalkan kungfunya untuk mencelakai lawan, maka ia pernah dihajar habis-habisan oleh tujuh orang bandit muda hingga mesti melarikan diri, kejadian ini ........&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tolong ............. tolong jangan dilanjutkan, boleh?&amp;quot; mendadak Ong Siau-sik berseru kepada So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Minta tolong apa?&amp;quot; tanya So Bong-seng sambil mengerling ke arahnya sekejap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Semua itu adalah urusan pribadiku, boleh tidak, jangan dilanjutkan pembacaannya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Boleh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yo Bu-shia segera menghentikan pembacaannya sambil memberi tanda, empat orang segera muncul, dua orang membawa kain pembungkus buku yang tebal dan dua orang berjaga-jaga di sampingnya, kemudian serentak mereka berjalan menuju ke loteng berwarna putih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah loteng berwarna putih itu merupakan tempat untuk menyimpan bahan serta catatan berharga, seperti halnya loteng penyimpan kitab dalam kuil Siau-lim-si?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil tersenyum So Bong-seng menjelaskan, &amp;quot;Semua arsip catatanku merupakan hasil karya Yo Bu-shia, sebetulnya bahan mengenai kalian berdua masih belum cukup lengkap.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya dia merasa amat bangga dan puas terhadap cara kerja anak buahnya ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku mengerti sekarang,&amp;quot; gumam Ong Siau-sik, &amp;quot;terhadap dua orang tak ternama macam kami pun kalian berhasil membuat catatan secermat itu, apalagi terhadap Lui Sun musuh tangguh kalian, bahan keterangannya tentu sudah teramat banyak.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Lagi-lagi kau keliru besar.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Keliru?&amp;quot; anak muda itu tertawa getir, &amp;quot;kelihatannya pikiranku memang agak terganggu hari ini, masa segalanya keliru?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kami memiliki tujuh puluh tiga bundel catatan mengenai Lui Sun, tapi setelah diperiksa Yo Bushia, hanya sekitar empat bundel yang sedikit bisa dipercaya keterangannya, dari keempat bundel itupun masih terdapat banyak bahan yang mencurigakan, kemungkinan besar Lui Sun sengaja menyebarkan berita salah itu untuk mengelabui orang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali sorot mata kagum dan memuji memancar keluar dari mata So Bong-seng, terusnya, &amp;quot;Yo Bu-shia punya julukan &lt;b&gt;Tong-siu-bu-khi (Bocah Ajaib Yang Sukar Dibohongi)&lt;/b&gt;, ketajaman mata serta kemampuannya untuk menganalisa sesuatu mungkin masih jauh di bawah kemampuan Ti Hui-keng, tapi dalam ketelitiannya mengumpulkan bahan keterangan serta kesabarannya mencari keterangan jelas jauh di atas kemampuan Ti Hui-keng.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yo Bu-shia sama sekali tidak sombong karena itu, tapi dia pun tidak merendah, hanya ujarnya lirih, &amp;quot;Kongcu, Su-tayhu sudah datang, luka di kakimu ......&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Suruh dia menunggu sebentar,&amp;quot; kata So Bong-seng. Tampaknya wibawa dan kekuasaan Locu Kim-hong-si-yu-lau ini bukan saja dapat mengundang tabib kerajaan untuk mengobati penyakitnya, bahkan bisa menyuruh tabib kenamaan itu menunggunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan kening berkerut So Bong-seng menghela napas panjang, katanya lagi, &amp;quot;Sewaktu di loteng Sam-hap-lau tadi, berulang kali Ti Hui-keng memanfaatkan kesempatan sewaktu menundukkan kepala untuk memeriksa luka di kakiku, jika dia menganggap ada kesempatan untuk digunakan, Lui Sun pasti sudah melompat turun dari atap rumah dan menantangku bertarung, sayang ketika dia memeriksa luka di kakiku, dijumpai lukanya tidak separah apa yang diinginkan, aaai ......... Wo Hu-cu dan Te Hoa telah menolong aku, tapi mereka ......&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bicara sampai di sini, suaranya jadi sesenggukan, untuk sesaat tak mampu dilanjutkan lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Ong Siau-sik menyela, &amp;quot;Toako, dari luka di kakimu sudah mengucur banyak darah, kau seharusnya istirahat sejenak.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ada satu hal, aku tak memberitahu kalian karena kalian berdua belum memanggil aku Toako, tapi sekarang, setelah kalian memanggilku begitu, aku pun perlu memberitahukan kepada kalian.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui segera pasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pui Siau Hou-ya yang berbincang denganku tadi adalah orang yang menunjang Kim-hong-si-yulau selama ini, tapi orang ini tak boleh dipandang enteng, sebab setiap perkataannya cukup berbobot di kalangan pembesar kerajaan, kedudukannya dalam dunia persilatan pun sangat terhormat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik tak tahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Alasannya kelewat banyak, salah satu di antaranya adalah dia mempunyai seorang ayah yang hebat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jangan-jangan ayahnya adalah .....&amp;quot; Pek Jau-hui berseru tertahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng membenarkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Siapa?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik tak habis mengerti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Masa kau tidak memperhatikan apa yang dikatakan saudara Yo tadi, &lt;b&gt;Pedang Sakti Sungai Darah&lt;/b&gt; berada di tangan Pui Ing-gan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi ayahnya adalah...&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Betul, ayahnya adalah Pui Ing-gan, jagoan hebat yang sudah diakui sebagai pendekar besar dalam dunia persilatan sejak tiga puluh tahun lalu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hmm, kalau sudah mempunyai ayah sehebat itu, yang jadi anaknya masih menguatirkan apa,&amp;quot; jengek Pek Jau-hui ambil tertawa dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pui Siau Hou-ya sendiri pun terhitung seorang lelaki berbakat yang sangat hebat. Ayahnya Pui Ing-gan tak berminat menjabat sebagai pembesar negara, untuk menghormati jasanya, pihak kerajaan menganugerahkan gelar Ongya atau raja muda kepadanya. Tapi selama ini dia anggap pangkat bagaikan sampah, dia lebih suka mengandalkan pedang berkelana ke empat penjuru. Akan tetapi Pui Ing-gan juga tahu, bila ingin berhasil dalam suatu pekerjaan besar, maka dia harus meminjam kekuatan pemerintah, maka Siau Hou-ya pun menjadi orang paling dekat dengan Baginda Raja. Padahal Pui Ing-gan sendiri belum tentu sanggup berbuat seperti apa yang berhasil dicapai anaknya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui berpikir sebentar, kemudian baru berkata, &amp;quot;Benar juga perkataanmu itu. Orang itu masih muda tapi berhasil mencapai jenjang karier yang luar biasa, manusia semacam ini memang tak boleh dipandang remeh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ada satu hal kau belum pernah menyampaikan kepada kami,&amp;quot; mendadak Ong Siau-sik menyela lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oya?&amp;quot; So Bong-seng agak melengak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukankah tadi kau mengatakan akan menyerahkan sebuah tugas kepada kami?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Haah, benar,&amp;quot; So Bong-seng tertawa, &amp;quot;sebetulnya bukan satu tugas, tapi dua tugas, seorang satu tugas.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tugas macam apakah itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau ingin tahu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sekarang kami sudah bersaudara, aku tak ingin menumpang makan secara gratis.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus. Menurut pandanganmu, mungkinkah Lui Sun akan membatalkan janjinya untuk bertemu pada pertemuan tiga hari mendatang?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Asal menguntungkan, Lui Sun pasti datang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi akulah yang mengajukan tawaran untuk pertemuan ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bila posisi ini tidak menguntungkan bagi pihak Kim-hong-si-yu-lau, tak nanti kau ajukan penawaran semacam itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau memang tidak menguntungkan bagi pihak perkumpulan Lak-hun-poan-tong, menurut kau apa yang akan dilakukan Lui Sun?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia tak akan memenuhi undangan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi dia adalah seorang jago tersohor, seorang pemimpin perkumpulan besar, mana mungkin dia tak hadir dalam pertemuan semacam ini?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia pasti akan berusaha mencari alasan, bahkan pasti akan memperketat penjagaan di sekelilingnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kali ini ucapanmu tepat sekali, salah satu alasan yang digunakan pasti menyangkut soal putrinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Putrinya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Satu bulan lagi putrinya akan menjadi biniku,&amp;quot; kata So Bong-seng hambar, &amp;quot;aku percaya kalian pasti pernah mendengar tentang kawin perdamaian bukan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi kau setuju dengan perkawinan semacam ini?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku setuju.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dan kau bersedia?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku bersedia.&amp;quot; So Bong-seng mengangguk, &amp;quot;sebetulnya perkawinan ini sudah dirembuk ayahku semenjak delapan belas tahun berselang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, terusnya, &amp;quot;Delapan belas tahun lalu, perkumpulan Lak-hun-poan-tong sudah menancapkan kaki di kotaraja, bahkan kian hari pengaruh perkumpulan ini makin meluas dan kuat. Waktu itu ayahku baru saja mendirikan Kim-hong-si-yu-lau, jangan lagi memperluas pengaruh, markas besar kami belum didirikan, waktu itu perkumpulan kami hanya sebuah organisasi kecil di bawah bayang-bayang perkumpulan Lak-hun poan-tong. Saat itulah Lui Sun sempat bertemu aku satu kali dan dia pun menetapkan tali perkawinan ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng menghela napas panjang, terusnya, &amp;quot;Dua puluh sembilan hari lagi adalah hari perkawinanku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau menyesal?&amp;quot; sindir Pek Jau-hui sambil tertawa dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tak ingin menyesal.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bila kau kuatir menjadi bahan pembicaraan orang di kemudian hari, cari saja sebuah alasan untuk membatalkan perkawinan ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tak ingin membatalkan perkawinan ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Karena aku mencintainya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 21&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;14&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;15&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;16&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/04/golok-kelembutan-17-pengalaman-aneh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;17&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/05/golok-kelembutan-18-wajah-penuh-senyum.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;18&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-19-saudara.html&quot;&gt;19&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;https://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-20-bukan-hanya-nomor.html&quot;&gt;20&lt;/a&gt; | 21 | &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-21-bersedia.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-3117977426353262271</guid><pubDate>Thu, 13 Jun 2013 23:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2019-08-20T06:37:45.597+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 20. Bukan hanya nomor satu</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;font style=&quot;font-weight: bold&quot;&gt;20. Bukan hanya nomor satu&lt;/font&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau jadi Lotoa?&amp;quot; tiba-tiba Pek Jau-hui bertanya sambil menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Manusia macam aku kalau tidak jadi Lotoa, siapa yang jadi Lotoa?&amp;quot; So Bong-seng balik bertanya sambi! mendelik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil menggendong tangan memandang langit Pek Jau-hui termenung beberapa saat lamanya, sampai lama kemudian ia baru menghembuskan napas panjang dan berkata, &amp;quot;Ada sepatah kata akan kusampaikan dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Katakan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Pek Jau-hui maju ke depan, menggerakkan sepasang tangannya, dan memegang bahu So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan Su Bu-kui yang menggenggam golok pembabat seketika nampak mengejang keras hingga otot-otot hijaunya kelihatan nyata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sorot mata Mo Pak-sin yang tersembunyi di balik kelopak matanya yang bengkak pun tiba-tiba memancarkan cahaya setajam sembilu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila sepasang tangan itu dibiarkan memegang bahu So Bong-seng, maka paling tidak ada tujuh delapan macam cara untuk menguasainya dan tujuh delapan belas jalan darah ke-matian akan terancam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apalagi tangan yang menggenggam itu milik Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sama sekali tak bergerak, mengedipkan mata pun tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cepat sepasang tangan Pek Jau-hui sudah menempel di atas sepasang bahu So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa perintah dari So Bong-seng, siapa pun tak berani turun tangan secara sembarangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu tangannya memegang bahu So Bong-seng, dengan suara lantang Pek Jau-hui berseru, &amp;quot;Toako!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia memandang Ong Siau-sik sekejap, kemudian memandang pula Pek Jau-hui sekejap, sinar mata penuh senyuman terpancar dari balik matanya. Begitu ia tertawa, semua kebekuan pun sirna, seakan bukit salju yang tiba-tiba mencair dan airnya mengalir masuk ke dalam sungai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tahukah kalian apa bedanya senyumanku sekarang dengan senyumanku tadi?&amp;quot; ia bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tadi palsu, senyuman palsu!&amp;quot; seru Ong Siau-sik tertawa geli.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dan sekarang asli, tertawa asli!&amp;quot; sambung Pek Jau-hui pula sambil tertawa, suara tawanya ibarat hembusan angin musim semi yang menggoyangkan permukaan air.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hahaha, tepat sekali jawaban kalian!&amp;quot; So Bong-seng tertawa tergelak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketiga orang itu segera tertawa keras, tertawa penuh kegembiraan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mo Pak-sin segera maju ke depan, serunya cepat, &amp;quot;Kionghi Locu, hari ini kita benar-benar telah menaikkan bendera kemenangan, bukan saja dalam perundingan berhasil meraih di atas angin, bahkan bisa berkenalan dengan dua saudara yang baik!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau jangan merasa iri dulu,&amp;quot; kata So Bong-seng sambil tertawa, &amp;quot;persaudaraan kami tidak terjadi dengan gampang, tugas pertama yang harus mereka kerjakan selain ganas juga luar biasa susahnya. Sementara kau adalah anak buah andalanku, kau bersama si To tua, A Si, Siau-kwik semuanya merupakan malaikat penunggu perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, tanpa kehadiran kalian, mungkin sejak awal perkumpulan kita sudah ambruk, sudah runtuh dan bubar!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas perubahan terpancar dari wajah Mo Pak-sin, perasaan terharu yang amat sangat. Gejolak emosi itu meski menyelimuti hatinya, namun dia berupaya untuk menahannya. Tapi dia tak sanggup menahan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gejolak emosi yang didorong perasaan terharu itu datang semakin menggelora, bagaikan hantaman ombak besar di atas batu karang menimbulkan gelombang besar dalam hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba So Bong-seng bertanya, &amp;quot;Mana To Lam-sin? Apakah Pasukan Angin Puyuhnya sudah ditarik mundur?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesaat kemudian setelah berhasil mengendalikan gejolak perasaannya, Mo Pak-sin baru menjawab, suaranya tenang, &amp;quot;Sudah ditarik mundur, katanya dia akan menarik pasukannya kembali ke markas, mungkin malam nanti baru akan datang ke loteng untuk memberi laporan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng manggut-manggut, kepada Su Bu-kui tanyanya, &amp;quot;Kau tahu, kau adalah apaku?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku adalah pasukan berani mati dari Kongcu,&amp;quot; jawab Su Bu-kui tanpa berpikir lagi, &amp;quot;jika Kongcu menginginkan aku mati, aku segera akan pergi mati!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau keliru besar,&amp;quot; tukas So Bong-seng serius, &amp;quot;bila seseorang benar-benar sangat baik terhadap orang lain, dia pasti tak akan berharap dia mati demi dirinya, kau harus ingat terus perkataanku ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi aku rela mati demi Kongcu, mati tanpa penyesalan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hal itu hanya menunjukkan kesetiaanmu terhadapku, tapi aku lebih suka kau hidup demi aku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, tambahnya, &amp;quot;Kau adalah orang kepercayaanku, bukan pasukan berani matiku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas cahaya mata yang tak terlukiskan dengan kata memancar keluar dari balik mata Su Bu-kui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terharu? Gejolak emosi yang meluap? Rasa terima kasih yang berlebihan? Mungkin satu di antaranya, mungkin juga meliputi keseluruhannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng menghela napas panjang, katanya lagi, &amp;quot;Sayang Wo Hu-cu, Hoa Bu-ciok, si Barang antik dan Te Hoa sudah pergi jauh ... coba kalau mereka masih ada dan menyaksikan aku berhasil mengangkat saudara dengan dua adik yang setia kawan, mereka pasti akan ikut gembira.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cahaya air mata terbias di balik mata Su Bu-kui. Dia tahu, So-kongcu selalu meluangkan banyak waktu hanya untuk mengenang dan memikirkan orang kepercayaannya, sayang mereka semua tak mungkin bisa berkumpul jadi satu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bedanya, dalam kenangannya kali ini Hoa Bu-ciok dan si Barang antik telah mati karena pengkhianatannya, Wo Hu-cu dan Te Hoa tewas karena dibokong musuh, yang tersisa sekarang tinggal Yo Bu-shia dan dirinya, tapi terlepas apakah dia telah berkhianat atau tetap setia, So Bong-seng tetap sama saja akan mengenangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak kuasa lagi Pek Jau-hui menghela napas panjang. Mengapa dia menghela napas?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah dia pun mempunyai pengalaman yang tak diketahui orang, pengalaman sedih yang selalu terpendam di dasar hatinya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang jago berilmu tinggi yang sudah berusia mendekati tiga puluh tahun tapi masih belum ada orang yang mengetahui kehadirannya, sebetulnya pengalaman luar biasa apa yang pernah dialaminya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas perasaan simpati bercampur rasa ingin tahu melintas secara tiba-tiba dari balik mata Ong Siau-sik, tentu saja ia tak berani memperlihatkan perasaan simpatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia tahu beberapa orang yang kini berjalan bersama di tengah jalan raya ini merupakan jago-jago sangat tangguh, siapa pun di antara mereka, asal menggerakkan sebuah jari tangannya saja, pasti akan menimbulkan gelombang besar dalam dunia persilatan, manusia semacam ini apa mau menerima rasa simpati orang?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang membutuhkan rasa simpati dari orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi seorang lelaki sejati yang hidup dalam dunia persilatan, mereka lebih suka mengucurkan darah ketimbang melelehkan air mata, sejarah pedih yang ada dalam sepenggal kehidupan masa lalunya ibarat luka yang menyayat di tubuh hingga merasuk ke tulang. Dalam keheningan malam yang sunyi, hanya bisa dirasakan kepedihannya seorang diri, tapi mereka tak nanti memohon simpati orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika kau memperlihatkan rasa simpatimu kepadanya, itu berarti kau memandang rendah dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang lelaki sejati mungkin akan merentangkan tangannya untuk memeluk dan menyambut kau untuk minum arak bersama, membunuh musuh bersama, dengan penuh kehangatan mengajak kau mengayun tinju menyambut datangnya hembusan angin topan, memutar golok menghancurkan impian indah, tapi mereka tak akan membiarkan kau menyampaikan rasa simpati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya si lemah, si pecundang yang suka menerima simpati orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rasa simpati Ong Siau-sik hanya muncul di dasar hatinya yang paling dalam, dia tahu apa yang mesti diperbuatnya, mengubah rasa simpati menjadi sebuah kenangan. Sementara rasa ingin tahu memang merupakan ciri khas seorang anak muda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemuda mana yang tak punya rasa ingin tahu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara semua orang masih termenung dengan perasaan masing-masing, mendadak So Bong-seng menghentikan langkahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata mereka telah tiba di suatu tempat... Kim-hong-si-yu-lau!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu melihat bangunan itu, tak tahan Ong Siau-sik segera berseru, &amp;quot;Itu sih bukan loteng, tapi sebuah pagoda!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tempat manakah ini?&amp;quot; tanya So Bong-seng sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebuah bukit&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukit apa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukit &lt;b&gt;Thian-swan-san&lt;/b&gt;,&amp;quot; jawab Ong Siau-sik setelah berpikir sejenak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Di atas bukit sumber langit ini terdapat tempat terkenal apa saja?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kali ini Ong Siau-sik tak perlu berpikir lagi, segera jawabnya, &amp;quot;Tentu saja terdapat pagoda &lt;b&gt;Giok-hong-tha&lt;/b&gt; yang tersohor di seantero jagad serta mata air nomor wahid di bawah pagoda itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kali ini kau keliru besar!&amp;quot; kata So Bong-seng sambil tertawa, &amp;quot;ketika perkumpulan Kim-hong-siyu-lau mendirikan partai dan markasnya, kalau tidak dibangun di tempat seperti ini, tempat mana lagi yang jauh lebih pantas?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik agak melengak, sahutnya kemudian, &amp;quot;Benar juga perkataanmu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukan hanya nomor satu di kolong langit,&amp;quot; tiba-tiba Pek Jau-hui menyela.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkilat sepasang mata So Bong-seng sesudah mendengar perkataan itu, sekujur badannya nampak agak bergetar, tegurnya kemudian, &amp;quot;Apa maksud perkataanmu itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau cuma ingin menjadi kekuatan paling berpengaruh di kotaraja, bahkan menjadi perkumpulan nomor satu di kolong langit, perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau sudah mampu melakukannya sejak dulu,&amp;quot; Pek Jau-hui berpaling ke arah Ong Siau-sik, kemudian tanyanya, &amp;quot;Kau pernah mendengar cerita seputar pagoda mestika yang ada di bukit Thian-swan-san?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pernah,&amp;quot; sahut Ong Siau-sik, &amp;quot;konon dulunya tempat ini adalah sebuah telaga, banyak orang bercocok tanam di tanah ini, setiap menjelang musim panas, dari tengah telaga akan memancar keluar mata air yang menyemburkan air setinggi ratusan kaki, karena itu semua orang menyebut tempat ini sebagai mata samudra.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui memandang sekejap pemandangan sekeliling tempat itu, lalu katanya, &amp;quot;Tapi sekarang, tempat ini sudah berubah menjadi sebuah tempat dengan pemandangan alam yang sangat indah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Konon ada seorang pembesar setempat yang kemudian berniat meratakan mata samudra itu, dia perintahkan orang untuk menggali tanah membongkar batu cadas, namun sudah lima tahun mereka bekerja, mata samudra belum berhasil juga diratakan. Setelah itu datang tujuh orang, mereka adalah tujuh saudara angkat, sang Lotoa pun berkata, &#39;Biar kami yang menyelesaikan persoalan ini.&#39;, kemudian dia kerahkan tujuh puluh ribu orang untuk bekerja di situ, dia membangun sebuah tanah perbukitan batu di puncak utara mata samudra dengan menggunakan jutaan mantau.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, di antara ketujuh bersaudara itu, Lotoa mereka yang bermarga Li merupakan seorang pemimpin yang bernyali, setelah dia mengusulkan begitu, maka saudara yang lain pun segera mendukung usulannya. Saudara kedua Tauw-ji bertugas memasak baja menjadi cairan, Kiong-sam memerintahkan orang menuang cairan baja itu ke atas bukit mantau, Hong-si pandai ilmu perkayuan, dia bertugas mengukur kekuatan air tanah., Che-lak pandai mengatur keuangan, untuk membiayai proyek besar ini dibutuhkan dana besar, dialah yang bertanggung jawab mencari sokongan dan sumbangan, Siang-jit bertugas mengurusi segala transportasi peralatan, selama tiga bulan mereka bekerja siang malam. Dan otak arsitek yang merencanakan proyek besar ini adalah Liu-ngo, selama ini Liu-ngo merupakan pembantu paling andal dari Li-lotoa.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, selanjutnya mereka menuang cairan baja itu di atas bukit mantau dan menggugurkannya ke bawah bukit sehingga persis menyumbat mata samudra, karena mata air tersumbat, tanah di sekelilingnya pun mengering dan berubah jadi sawah, sawah menghasilkan padi, dari padi berubahlah jadi beras yang wangi lagi pulen.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kedengarannya macam cerita dongeng saja,&amp;quot; komentar So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dulunya aku pun menganggap cerita itu hanya isapan jempol, tapi kemudian aku dengar dari cerita para Cianpwe, katanya tujuh bersaudara itu tak lain adalah cikal bakal pendiri &lt;b&gt;Perkumpulan Kolong Langit Thiari-he-pang&lt;/b&gt;. Jadi aku pikir, mungkin saja cerita itu merupakan sebuah kejadian yang nyata.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui manggut-manggut, katanya, &amp;quot;Tampaknya cerita dongeng hanya merupakan sebuah impian, impian adalah satu langkah lebih awal dari khayalan, bila sebuah khayalan diwujudkan menjadi kenyataan, maka khayalan itu akan muncul sebagai sebuah karya dan kejadian seperti ini bukannya tak mungkin terjadi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sorot matanya dialihkan untuk memandang sekejap bangunan pagoda tujuh tingkat itu, kemudian lanjutnya, &amp;quot;Seperti pendirian perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, sebetulnya merupakan saru kejadian yang tak mungkin bisa diwujudkan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dan kebetulan kita sekarang berada di tengah kejadian yang kau katakan tak mungkin bisa diwujudkan itu,&amp;quot; sambung Ong Siau-sik dengan sorot mata seterang lampu lentera. &amp;quot;Cuma sayang kau sudah ketinggalan satu hal dalam ceritamu itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Seingatku, semua yang kuketahui sudah kuceritakan,&amp;quot; sahut Ong Siau-sik setelah berpikir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ini disebabkan kau belum pernah mendengar sebelumnya,&amp;quot; kata Pek Jau-hui, &amp;quot;di dalam kolam mata air di bawah pagoda Giok-hong-tha masih terdapat sebuah pagoda lagi, pagoda itu hanya separuh yang muncul di permukaan air, orang menyebutnya &lt;b&gt;Tin-hay-tha&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Pagoda Penenang Samudra&lt;/b&gt;.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apa? Di bawah pagoda masih ada pagoda? Pagoda di dalam air?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Coba kau tengok ke arah sana, bukankah lamat-lamat masih terlihat,&amp;quot; kata Pek Jau-hui sambil menuding ke arah depan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengikuti arah yang ditunjuk, Ong Siau-sik berpaling, benar juga terlihat sebuah pagoda berwarna putih yang runcing, atasnya mencuat keluar dari permukaan air.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau jangan memandang enteng separuh pagoda itu,&amp;quot; ujar Pek Jau-hui lebih jauh, &amp;quot;orang menyebutnya &#39;Mata Batu Penenang Samudra&#39;, dikarenakan setiap permukaan air naik maka pagoda itupun ikut naik, setiap permukaan air turun maka pagoda itupun ikut turun. Konon di bawahnya terdapat seekor naga emas yang menjaga benteng itu. Oleh karena masuk keluarnya air terkendali maka air yang mengalir keluar dari mata air itu tak pernah bisa menenggelamkan kotaraja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hahaha, benar-benar cerita dongeng yang menarik&amp;quot; Ong Siau-sik tertawa tergelak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cerita dongengnya bukan cuma sampai di situ, konon setelah permukaan air menyusut, di situ hanya tertinggal sebuah mata air kecil yang menyemburkan air bersih, air itu bening bagai mutiara, manis bagai madu, orang menyebutnya Thian Swan, Mata Air Langit. Suatu saat ada seorang kaisar yang tertarik dengan cerita mata air itu sempat menginap selama beberapa hari di sana, ketika mendengar cerita tentang naga emas yang menjaga kota air, dia pun memerintahkan tiga puluh ribu orang pekerja untuk menyumbat mata air itu dan kemudian menggali ke bawah. Konon para pekerja berhasil menggali keluar sebuah pagoda batu setinggi tujuh tingkat, ketika sang kaisar memeriksa dinding pagoda itu, ditemukan ada dua bait syair terukir di sana, syair itu berbunyi, &lt;i&gt;&#39;Di bawah mata air langit ada sebuah mata air, pagoda menampilkan wujud, kekuasaan pun ambruk&#39;&lt;/i&gt;, membaca syair itu Sri baginda terperanjat, lekas dia memerintahkan orang untuk menutup kembali bekas galian itu dan membiarkan air tetap menggenangi pagoda agar kerajaaannya tidak ikut ambruk.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bicara sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke wajah So Bong-seng, tanyanya, &amp;quot;Kau mendirikan Kim-hong-si-yu-lau di atas bukit Thian-swan-san, sebenarnya dikarenakan mata air kemala itu atau demi pagoda batu, atau mungkin dikarenakan bait syair yang tertera di bawah pagoda itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apa pun, sorot matanya masih sedingin salju. Senyuman yang selalu menghiasi wajahnya semenjak mengangkat saudara tadi, kini secara tiba-tiba berubah jadi dingin membeku lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Ong Siau-sik merasakan hatinya ikut membeku. Dipandang oleh sorot mata sedingin ini, dia merasa tubuhnya seolah terkubur dalam longsoran salju. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah termenung sejenak, cepat pemuda itu menimbrung, &amp;quot;Aku lihat Kim-hong-si-yu-lau bukan dibangun di tengah air, peduli amat dalam air ada naga atau ada pagoda, aku rasa justru bangunan loteng persegi empat itulah baru merupakan tempat yang utama.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; tanya Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Coba kau lihat, warna keempat bangunan loteng itu kuning, hijau, merah dan putih, seandainya ada musuh datang menyerang, sudah pasti mereka tak akan bisa memastikan di-manakah letak markas besar yang sebenarnya, padahal di balik setiap bangunan loteng itu justru sudah dilengkapi dengan berbagai alat jebakan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalian semua keliru besar,&amp;quot; mendadak So Bong-seng berkata, &amp;quot;akulah Kim-hong-si-yu-lau, Kim-hong-si-yu-lau adalah aku! Kim-hong-si-yu-lau hidup dalam hatiku, hidup dalam hati setiap anggota, tak seorang pun sanggup memusnahkannya, orang lain hanya tahu apa yang pernah ia lakukan, tapi tak akan tahu apa yang hendak dilakukan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian ia berjalan lebih dulu meninggalkan tempat itu, lalu ajaknya, &amp;quot;Ayo, kita beristirahat dulu di loteng merah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Loteng merah dibangun sangat megah dan mewah, tiang bangunan terbuat dari batu kemala, tampaknya tempat ini memang khusus disiapkan untuk menerima tamu, menjamu tamu dan mengadakan perjamuan kehormatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu apa kegunaan ketiga bangunan loteng yang lain?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 21&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;14&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;15&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;16&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/04/golok-kelembutan-17-pengalaman-aneh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;17&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/05/golok-kelembutan-18-wajah-penuh-senyum.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;18&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-19-saudara.html&quot;&gt;19&lt;/a&gt; | 20 | &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-20-bukan-hanya-nomor.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-3985619525301335538</guid><pubDate>Tue, 11 Jun 2013 15:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2018-03-23T22:06:39.004+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 19. Saudara</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;font style=&quot;font-weight: bold&quot;&gt;19. Saudara&lt;/font&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Baru saja So Bong-seng, Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui turun dari loteng Sam-hap-lau, segera ada orang memanggilnya, &amp;quot;So-kongcu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul kemudian orang itu bertanya, &amp;quot;Bagaimana hasil pertarunganmu melawan perkumpulan Lak-hun-poan-tong?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si penanya masih berada di dalam kereta kuda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kereta kuda itu sangat mewah dan megah, saisnya ada tiga orang, semuanya mengenakan baju halus yang mahal harganya, sekilas pandang mereka mirip pejabat tinggi dari kerajaan, mirip juga pengurus kelenteng besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi sekarang, mereka hanya menjadi sais, sais orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di luar kereta berdiri delapan orang pengawal bergolok, kedelapan orang itu berdiri mematung bagaikan patung baja. Sekilas Pek Jau-hui segera tahu bahwa paling tidak ada dua orang di antaranya merupakan jago golok kenamaan, tiga orang yang lain merupakan Ciangbunjin partai besar, satu di antaranya malah merupakan ahli waris &lt;b&gt;Ngo-hou-toan-hun-to (Lima Harimau Golok Pemutus Sukma) Phang Thian-pa&lt;/b&gt; yang bernama &lt;b&gt;Phang Jian&lt;/b&gt;, selain itu hadir juga Ciangbunjin angkatan ketujuh &lt;b&gt;Keng-hun-to (Golok Pengejut Sukma) Tiau Lian-thian&lt;/b&gt; serta ahli waris &lt;b&gt;Siang-kianpo-to (Golok Mestika Perjumpaan) Beng Khong-khong&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ilmu Golok Lima Harimau Pemutus Sukma tak pernah diwariskan kepada orang lain, selain sadis, enam puluh empat jurus serangannya khusus diciptakan untuk menyerang pertahanan bawah musuh, oleh karena itu anak murid keluarga Phang yang sudah dihajar sampai terjatuh ke tanah pun, kemampuannya tak boleh dipandang enteng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ngo-hou-phang-bun atau perguruan keluarga Phang ini sama seperti keluarga Tong di wilayah &lt;b&gt;Siok-tiong&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Bi-lek-tong&lt;/b&gt; dari wilayah &lt;b&gt;Kanglam&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Perkumpulan Gagang Golok&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Perguruan Kaisar Hijau&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Perkampungan Ikan Terbang&lt;/b&gt;, merupakan sebuah perguruan dengan segala peraturan yang sangat ketat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada orang berkata, bila sudah menjadi ketua dari beberapa perguruan itu maka posisinya jauh lebih stabil ketimbang menjadi seorang kaisar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ciangbunjin keluarga Phang yang bernama Phang Jian sudah termashur di kolong langit dengan ilmu golok andalannya sejak berusia dua puluh lima tahun, tapi sejak berusia tiga puluh lima tahun ia meninggalkan perguruan keluarga Phang untuk menjadi pengawal orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok Pengejut Sukma Tiau Lian-thian terhitung juga keturunan orang kaya, ilmu goloknya merupakan aliran yang luar biasa, sudah banyak jagoan tangguh yang lahir dalam perguruan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiau Lian-thian sendiri pun termasuk seorang jago berbakat alam, dia sanggup mengubah ilmu Golok Pengejut Sukma menjadi ilmu &lt;b&gt;Golok Pengejut Impian&lt;/b&gt;, kehebatannya luar biasa, tapi sekarang dia hanya seorang pelindung kereta mewah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siang-kian-po-to (Golok Mestika Perjumpaan) didirikan oleh keluarga Beng, ketika diwariskan ke tangan Beng Khong-khong, nama besar dan pamornya sudah amat tersohor di kolong langit, sepak terjangnya selama ini mengutamakan kejujuran dan kebenaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi kini Beng-kongcu yang amat termashur itu hanya menjadi salah satu pelindung orang dalam kereta.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu siapakah orang yang berada di dalam kereta?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selama ini Pek Jau-hui selalu santai, acuh tak acuh dan tak pernah serius, tapi sekarang dia celingukan ke sana kemari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah orang di dalam kereta mengucapkan perkataan tadi, dua orang berbaju putih segera maju ke depan dan dengan sangat hati-hati mulai menyingkap tirai yang menutupi kereta mewah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki Ong Siau-sik tidak seluas Pek Jau-hui, namun setelah menyaksikan tangan kedua orang yang sedang menyingkap tirai kereta itu, diam-diam ia terkesiap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata bentuk tangan kedua orang itu sangat aneh, telapak tangan yang sebelah tebal lagi kasar, ibu jari tangannya pendek, kasar lagi gemuk sementara keempat jari lainnya nyaris menyusut dan layu di dalam telapak tangan, bentuk telapak tangannya persis seperti sebuah palu besi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya telapak tangan yang lain lembek seakan tak bertulang, kelima jari tangannya panjang dan ramping mirip ranting pohon &lt;i&gt;yang-liu&lt;/i&gt;, ujung jarinya ramping dan runcing mirip sebatang lidi, tapi sayang tidak kelihatan ada kuku yang menempel di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas pandang saja Ong Siau-sik segera tahu kalau telapak tangan yang kasar dan kaku bagai palu besi itu paling tidak sudah terlatih tenaga pukulan &lt;b&gt;Bu-ci-ciang (Telapak Tanpa Jari)&lt;/b&gt; hampir enam puluh tahun lamanya, sementara telapak tangan yang lembek bagai kapas itu paling tidak sudah melatih ilmu lembek &lt;b&gt;Soh-sim-ci (Ilmu Jari Hati Suci)&lt;/b&gt; selama tiga puluh tahun dan tenaga yinkang &lt;b&gt;Lok-hong-jiau (Cakar Perontok Angin)&lt;/b&gt; selama tiga puluh tahun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ilmu Cakar Perontok Angin adalah ilmu andalan &lt;b&gt;Kiu-yu Sin-kun&lt;/b&gt;, sedang Ilmu Jari Hati Suci merupakan ilmu jari aliran sesat, kedua macam ilmu itu sesungguhnya mustahil bisa dilatih bersama, selama ini hanya satu orang saja yang berhasil menguasai kedua ilmu itu sekaligus, orang itu adalah &lt;b&gt;Lam-hoajiu si Tangan Bunga Anggrek Thio Liat-sim&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika orang ini adalah Thio Liat-sim, berarti orang yang satunya adalah si &lt;b&gt;Telapak Tanpa Jari Thio Thiat-su&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila kedua orang itu bergabung menjadi satu, mereka berjuluk Thiat-su-kay-hoa atau Pohon Besi Mulai Berbunga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biasanya pohon besi mulai berbunga merupakan gejala yang sangat menguntungkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi bagi Thio Liat-sim dan Thio Thiat-su, bukan begitu arti yang dimaksud.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Arti dari &#39;berbunga&#39; adalah bunga kaca yang mulai mekar atau tegasnya berarti retak, jadi dimana telapak tangan mereka lewat maka baik tulang atau daging tubuh lawan, semuanya tetap akan &#39;berbunga&#39;, bahkan pasti akan &#39;berbunga&#39;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jangankan orang biasa, sepasang tangan milik &lt;b&gt;Liu Tiong-mo&lt;/b&gt;, seorang guru besar &lt;b&gt;Thiat-sah-ciang&lt;/b&gt; pun pernah dibikin &#39;berbunga&#39; oleh serangan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&#39;Berbunga&#39; masih mengandung sebuah arti lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pekerjaan yang tak mungkin diselesaikan orang lain, asal jatuh ke tangan mereka, maka semuanya tetap akan lancar dan berhasil, seperti juga &#39;pohon besi yang berbunga&#39;, rejeki seolah jatuh dari langit, apa pun yang diinginkan selalu terkabulkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ilmu jari dan ilmu telapak semacam ini biasanya butuh latihan puluhan tahun lamanya untuk bisa mencapai tingkatan tertentu, bahkan mereka harus melakukan pengorbanan yang sangat menakutkan, tapi kalau dilihat usia kedua bersaudara Thio ini, sekalipun usia mereka digabungkan menjadi satu juga belum mencapai enam puluhan tahun, semestinya ilmu Bu-ci-ciang yang mereka miliki belum mencapai tingkat kesempurnaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah sebabnya jarang ada orang yang mau berlatih ilmu Telapak Tanpa Jari ini, sebab walau sudah menguasainya, belum tentu bisa mencapai puncak kesempurnaan di usia senja mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu Ilmu Jari Hati Suci Soh-sim-ci dan ilmu Cakar Perontok Angin merupakan dua ilmu yang bertolak belakang, satu dari aliran lurus sedang yang lain berasal dari aliran sesat, kedua macam ilmu itu mustahil bisa dilatih bersamaan waktu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi hal itu terkecuali bagi si pohon besi berbunga ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dan kenyataannya sekarang, biarpun mereka memiliki kepandaian yang luar biasa, tugasnya sekarang hanya membukakan tirai di atas kereta orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu siapakah orang di dalam kereta itu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik adalah pemuda yang besar rasa ingin tahunya, kini bukan saja dia ingin tahu, pada hakikatnya sudah terangsang untuk mencari tahu persoalan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu tirai kereta tersingkap, ketiga orang sais, ke delapan pengawal dan kedua orang pembuka tirai itu serentak menunjukkan sikap yang sangat menaruh hormat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak seseorang menongolkan dulu kepalanya dari balik kereta, kemudian baru perlahan-lahan turun dari keretanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jelas orang yang ada di dalam kereta itu mempunyai kedudukan yang tinggi dan terhormat, namun terhadap So Bong-seng ternyata dia tak berani ayal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang itu berwajah sangat tampan, meskipun pakaian yang dikenakan sangat bersahaja, namun sikap maupun penampilannya tetap anggun dan penuh wibawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng segera menghentikan langkahnya, senyuman yang sangat jarang mampir di wajahnya tiba-tiba menghiasi ujung bibirnya, sembari menjura sapanya, &amp;quot;Siau Hou-ya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cermat Siau Hou-ya memeriksa raut mukanya, kemudian baru berkata, &amp;quot;Aku lihat kalian belum turun tangan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Betul, kami hanya bersilat lidah,&amp;quot; sahut So Bong-seng tertawa, &amp;quot;kecuali memang dibutuhkan, kalau tidak, bisa tidak bertempur lebih baik janganlah bertarung.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, setelah mendengar penjelasanmu itu, aku pun bisa berlega hati.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tentu saja kami pun tidak berharap kejadian ini menyusahkan Siau Hou-ya.&amp;quot; Siau Hou-ya tertawa getir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Nama besar Kongcu dan Lui-tongcu sudah menggetarkan seluruh jagad, ditambah masing-masing pihak memiliki kekuatan hingga ratusan ribu jiwa, seandainya sampai terjadi pertempuran terbuka, mungkin aku pun susah untuk bertanggung jawab.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kami pasti tak akan menyusahkan Siau Hou-ya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus,&amp;quot; Siau Hou-ya tertawa lebar, &amp;quot;setelah mendengar perkataanmu ini, aku pun bisa berlega hati sekarang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya, &amp;quot;Bagaimana hasil perundingan tadi?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sangat bagus.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sangat bagus?&amp;quot; sela Siau Hou-ya ragu. &amp;quot;Memang sangat bagus.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siau Hou-ya termenung sesaat dengan wajah penuh tanda tanya, mendadak sambil tertawa tergelak katanya, &amp;quot;Hahaha, kelihatannya isi pembicaraan itu merupakan rahasia perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau dan perkumpulan Lak-hun-poan-tong!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ketika masalah ini sudah boleh dibuka untuk umum, Siau Hou-ya pasti akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus, bagus sekali,&amp;quot; sambil mengelus jenggotnya Siau Hou-ya manggut-manggut dan tertawa, perlahan pandangan matanya dialihkan ke wajah Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik, kemudian tanyanya lagi, &amp;quot;Apakah mereka berdua adalah jenderal utama dari perkumpulan Kim-hong-si-yulau?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bukan, mereka bukan anak buahku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oya?&amp;quot; Siau Hou-ya mengangkat alis matanya, &amp;quot;jadi mereka adalah sahabatmu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Juga bukan,&amp;quot; sahut So Bong-seng sambil tertawa, kemudian sepatah demi sepatah lanjutnya, &amp;quot;Mereka adalah saudaraku!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu perkataan itu diucapkan, yang terperanjat justru Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik, kedua orang pemuda ini benar-benar kaget bercampur terperangah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan anak buahnya, bukan sahabatnya, tapi saudaranya?!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Saudara&amp;quot;, sebutan ini bagi banyak orang gagah dalam dunia persilatan merupakan daya tarik yang luar biasa besarnya, merupakan rayuan yang luar biasa, banyak orang mau berkorban dan melelehkan darah demi sebutan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saudara! Persaudaraan!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Saudara&amp;quot;, banyak orang telah menyia-nyiakan sebutan ini, banyak orang berjuang mati hidup demi sebutan itu, banyak orang punya banyak saudara tapi belum pernah memiliki saudara sejati, banyak orang meski tak bersaudara namun memiliki saudara yang tak terhingga di kolong langit, banyak orang saling menyebut saudara namun perbuatannya justru tidak mencerminkan persaudaraan, banyak orang tak punya saudara tapi empat arah delapan penjuru justru dipenuhi persaudaraan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saudara!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana kita harus &#39;susah sama dijinjing senang sama dinikmati&#39; sehingga pantas disebut saudara?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah dengan berjabat tangan, bahu membahu, darah panas menggerakkan darah panas, perasaan saling bertautan dengan perasaan, keadaan semacam ini baru disebut saudara?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya Siau Hou-ya ikut melengak dibuatnya, tapi cepat dia berseru, &amp;quot;Kionghi! Kionghi! Walaupun selama ini So-kongcu malang melintang dalam dunia persilatan, namun selalu hidup sebatang kara, dan kini menjelang hari perkawinanmu, ternyata kau pun mendapat dua saudara sejati! Aku orang she Pui betul-betul ikut merasa gembira dan senang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Perkataan Siau Hou-ya kelewat serius, siapa yang tidak kenal &lt;b&gt;Sin-jiang-hiat-kiam Siau Hou-ya (Tombak Sakti Pedang Darah)&lt;/b&gt; yang nama besarnya tersohor di seantero kotaraja? Kami sebagai rakyat kecil mana berani mendapat sanjungan seperti ini!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sudahlah, kita tak usah berkata sungkan lagi,&amp;quot; tukas Siau Hou-ya sambil tertawa, &amp;quot;setelah menyaksikan keadaan Kongcu, aku pun bisa segera pulang untuk memberi laporan kepada perdana menteri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Merepotkan Siau Hou-ya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;So-kongcu, semoga tak lama kemudian kau sudah mendirikan lagi beberapa buah kantor cabang, dengan begitu keamanan di kotaraja tentu akan bertambah stabil.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai berkata ia segera masuk kembali ke dalam ruang keretanya, kereta pun bergerak meninggalkan tempat itu, masih seperti tadi, tiga orang bertindak sebagai sais kuda, dua orang berjaga di depan tirai dan delapan orang mengawal dari kiri, kanan, depan dan belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak lama kemudian kereta pun lenyap di ujung jalan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kecuali kereta kuda yang ditumpangi Siau Hou-ya, sejak So Bong-seng memasuki wilayah &#39;pasar&#39;, tak pernah ada seorang pun yang bisa memasuki daerah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja terkecuali Cu Gwe-beng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia pun termasuk manusia istimewa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sama seperti Siau Hou-ya, dia bertugas mencari tahu hasil perundingan antara ketua perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau dan perkumpulan Lak-hun-poan-tong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu berita apa yang berhasil mereka peroleh?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Menurut kau, Siau Hou-ya akan memberikan jawaban macam apa kepada perdana menteri,&amp;quot; ujar So Bong-seng kepada Mo Pak-sin yang berada di sampingnya, &amp;quot;semua orang ingin tahu kuat lemah, menang kalah antara perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau dan perkumpulan Lak-huri-poan-tong, siapa mempunyai keyakinan enam puluh persen maka dialah yang akan berhasil merebut peluang utama, sayang jawaban itu susah untuk dijawab, jangan lagi mereka, bahkan aku dan Lui Sun sendiri pun tidak tahu. Kami hanya tahu banyak orang menaruh perhatian kepada kita, padahal kenyataan mereka ingin sekali kami cepat mampus atau mampus salah satu di antaranya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan susah payah Mo Pak-sin mengangkat kelopak matanya yang bengkak besar seakan ditonjok orang, kemudian sahutnya, &amp;quot;Selama ini Kongcu tertawa terus, barang siapa yang selalu tersenyum sehabis perundingan dilakukan, biasanya orang akan mengira dialah pemenangnya, padahal bagaimana keadaan selama perundingan, siapa pun tak bisa menebaknya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia memang bebal dalam cara berbicara, sehingga perkataannya itu terasa amat telanjang tanpa tedeng aling-aling.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Terkadang tertawa memang jauh lebih berguna ketimbang kepalan!&amp;quot; So Bong-seng manggut-manggut, &amp;quot;aku rasa sewaktu Cu-tayjin yang diutus bagian kejaksaan dan bagian sekretariat negara mengunjungi Lui Sun, dia pun pasti sedang tertawa.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bolehkah aku mengajukan tiga pertanyaan kepadamu?&amp;quot; tiba-tiba Pek Jau-hui menyela.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Katakan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka berbicang sambil berjalan, sepanjang jalan Mo Pak-sin selalu melindungi mereka dengan pasukan dan barisannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pertama, orang yang muncul tadi apa benar orang paling top dari kantor perdana menteri yang berjuluk &lt;b&gt;Sin Thong-hou, si Bangsawan Serba Bisa Pui Ing-gan&lt;/b&gt;?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Di kolong langit dewasa ini, kecuali Pui Siau Hou-ya yang sanggup mengajak delapan raja golok sebagai pelindungnya, si pohon besi berbunga sebagai penyingkap tirainya dan kusir paling top dari negeri &lt;b&gt;Cidan&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Mongol&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;Li-tin&lt;/b&gt; sebagai saisnya dalam satu kali perondaan, siapa lagi yang bisa berbuat begitu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui segera manggut-manggut, kembali tanyanya, &amp;quot;Tadi sebetulnya gampang saja bagimu untuk turun tangan membunuh Ti Hui-keng sehingga pihak lawan akan kehilangan salah satu tenaga andalannya, mengapa tidak kau lakukan itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pertanyaanmu ini tidak jujur,&amp;quot; dengan sorot mata yang dingin So Bong-seng menatap pemuda itu, &amp;quot;padahal kau sudah tahu jawabannya, buat apa mesti ditanyakan kepadaku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi kau sudah tahu kalau di atas atap rumah telah bersembunyi seorang jago tangguh, maka kau tidak membunuhnya?&amp;quot; kata Pek Jau-hui sambil menarik napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Mungkin saja aku memang tak berniat untuk membunuh Ti Hui-keng aku rasa kau sudah mengajukan tiga pertanyaan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Semua pertanyaan sudah kau mentahkan kembali, hingga kini belum satu pun yang kau jawab.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bertanya adalah urusanmu, sedang mau menjawab atau tidak adalah urusanku,&amp;quot; tukas So Bong-seng cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau aku hanya ada satu pertanyaan,&amp;quot; tiba-tiba Ong Siau-sik menimbrung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar perkataan itu So Bong-seng segera memperlambat langkahnya sambil berpaling ke arah pemuda itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan suara lantang Ong Siau-sik segera bertanya, &amp;quot;Tadi kau ... kau berkata pada Siau Hou-ya bahwa kita ... kita adalah saudara?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Memangnya kau tuli?&amp;quot; So Bong-seng tertawa lebar, &amp;quot;masa inipun kau anggap sebagai pertanyaan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik tertegun, katanya agak ragu, &amp;quot;Tapi kita baru kenal belum setengah hari lamanya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi kita pernah mati hidup bersama.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Memangnya kau tahu siapa kami?&amp;quot; tanya Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tak peduli siapa kalian!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau siapa kami saja tidak kau ketahui, bagaimana mungkin bisa mengangkat saudara dengan kami?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Siapa yang membuat peraturan semacam itu?&amp;quot; seru So Bong-seng sambil melotot besar, &amp;quot;siapa bilang kalau ingin mengangkat saudara kita mesti menyelidiki dulu asal-usul keluarga, nenek moyang, perguruan dan asal daerahnya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau...&amp;quot; Pek Jau-hui melengak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa kau ingin mengangkat saudara dengan kami?&amp;quot; ujar Ong Siau-sik pula.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Angkat saudara ya angkat saudara, buat apa mesti tanya alasannya? Memangnya kita harus seia sekata, ada rejeki dinikmati bersama ada bencana dihadapi berbareng dan peduli apa segala tetek bengek omongan yang memuakkan itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebetulnya kau punya berapa saudara angkat sih?&amp;quot; tanya Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dua orang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Siapa mereka?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau dan kau!&amp;quot; tuding So Bong-seng ke arah Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seketika itu juga Ong Siau-sik merasakan hawa darah yang amat panas menerjang naik ke atas kepalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara Pek Jau-hui menarik napas dalam-dalam, mendadak katanya dingin, &amp;quot;Aku tahu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian sambil menatap wajah So Bong-seng, katanya lagi, &amp;quot;Apakah kau ingin mengundang kami masuk menjadi anggota perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah tertawa, dia pun mulai terbatuk-batuk, sambil terbatuk sambil tertawa....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Biasanya ketika orang mengira dia sudah tahu, sesungguhnya ia sama sekali tidak tahu, ungkapan ini memang tepat,&amp;quot; kata So Bong-seng, &amp;quot;kalian anggap dirimu adalah manusia macam apa? Buat apa aku mesti menggunakan cara begini untuk memaksa kalian masuk perkumpulan? Kalian anggap kemampuanmu sudah cukup untuk memangku jabatan besar? Kenapa tidak terpikir mungkin aku yang sedang memberi peluang kepada kalian? Manusia berbakat di dunia ini sangat banyak, kenapa aku justru harus menggaet kalian berdua?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bicara sampai di situ, dengan nada dingin tambahnya, &amp;quot;Jika kalian merasa tak senang, sekarang juga boleh pergi, biarpun mulai detik ini hingga selamanya kita tak pernah bersua kembali, kalian masih tetap adalah saudaraku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah terbatuk beberapa saat, katanya lagi, &amp;quot;Sekalipun kalian tidak menganggap aku adalah saudaramu, tidak masalah, aku tak peduli.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik tak kuasa menahan diri lagi, mendadak ia berlutut sambil menyembah, serunya, &amp;quot;Toako!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 20&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;14&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;15&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;16&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/04/golok-kelembutan-17-pengalaman-aneh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;17&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/05/golok-kelembutan-18-wajah-penuh-senyum.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;18&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 19 |&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/06/golok-kelembutan-19-saudara.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-3560011527101394822</guid><pubDate>Thu, 06 Jun 2013 16:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-12-03T23:12:33.364+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><title>Badik Buntung 02</title><description>&lt;p&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 4px 4px 0px; display: inline; float: left&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://lh3.googleusercontent.com/-RzSUQbs1qSU/WELrlitoFAI/AAAAAAAABog/e9KmoHUbOIsaeyFQiOuJI614QCD3aGlKwCKgB/s0/Badik%2BBuntung.jpg&quot; /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: ?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebentar saja tiga hari sudah mendatang. Pagi hari itu cuaca masih gelap Hun Thian-hi sudah beranjak dari penginapannya, berlari cepat menuju ke Giok-hong-gay di gunung Sian-sia-nia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Udara gelap dingin kabut masih tebal, dengan kepandaian dan latihan lwekang Hun Thian-hi yang sudah cukup sempurna juga tidak lebih hanya dapat melihat setombak jauhnya. Sejenak ia mengerutkan kening, sebentar ia berdiri di atas ngarai lalu memandang ke arah hutan sebelah sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak lama kemudian diantara kabut tebal muncul tiga bayangan orang, langsung berlari kencang menuju ke puncak ngarai ini. Itulah Su Tat-jin bersama Su Cin dan Su Giok-lan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat Hun Thian-hi sudah menunggu disitu, Su Giok-lan tersenyum ejek, ujarnya, “Kiranya kau bisa menepati janji?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menggendong tangan sambil angkat dahi tanpa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Cin, “Hun Siauhiap! Sudah beberapa kali kutanyakan kepada pamanku, bahwa Badik Buntung memang tiada di tangannya, mungkin Hun Siauhiap salah duga!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi berpaling menatap Su Tat-jin dengan tajam tanpa bersuara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Keluarkan Serulingmu!” tantang Su Giok-lan uring-uringan, “ingin aku belajar kenal kepandaian hebat apa yang dimiliki oleh murid Lam-siau yang diagungkan itu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Hun Thian-hi tengah menerawang dalam hati, ia tahu pasti bahwa Badik Buntung itu benar-benar berada di tangan Su Tat-jin, namun dengan adanya Su Cin dan Su Giok-lan sebagai pelindungnya urusan menjadi rada runyam. Bahwasanya Lam-siau (Seruling Selatan) dan &lt;b&gt;Pak-kiam (Pedang Utara)&lt;/b&gt; sama tenar sama derajat, betapa juga ia tidak mungkin bermusuhan dengan mereka, sebaliknya Badik Buntung itu bagaimana juga harus direbut kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tengah ia berpikir Su Giok-lan sudah tidak sabaran lagi “sreng!” ia cabut keluar pedang panjangnya, katanya menuding Hun Thian-hi, “Bagaimana, apakah murid Lam-siau sedemikian pengecut?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi menjadi dongkol pelan-pelan ia putar tubuh, ujarnya, “Apakah nona Su mendesak aku turun tangan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Bukankah kau minta kembali Badik Buntung?” dengus Su Giok-lan, “Kalau mau minta kembali silakan keluarkan serulingmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan angkuhnya Hun Thian-hi menyeringai tawa, pelan-pelan dikeluarkan serulingnya. Tanpa banyak mulut segera Su Giok-lan menerjang maju sambil menusuk membabat dan membacok bergantian, beruntun ia lancarkan empat jurus serangan berantai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seenaknya saja Hun Thian-hi menggerakkan serulingnya, entah menyampok atau menangkis gampang saja ia punahkan seluruh serangan Su Giok-lan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat serangan gencarnya tak dapat mendesak lawan Su Giok-lan menjadi sengit, sambil menggertak pedang panjangnya mendadak menekan ke bawah tiba-tiba terus menukik ke atas menusuk lambung, kiranya ia sudah mulai kembangkan pelajaran tunggal yang diandalkan pihak Pak-kiam (Pedang Utara) yaitu ilmu pedang yang dinamakan &lt;b&gt;Hian-thian-kiam-hoat&lt;/b&gt; badan dan pedang seakan bersatu padu bergerak lincah mengikuti gerak badan dan samberan pedang. Sejalur pelangi panjang menggubat dan melilit kencang ke arah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan angkernya Hun Thian-hi tetap berdiri di tempatnya tanpa menggeser sesenti pun. Serulingnya terayun ke kiri menyampok ke kanan lalu menekan ke bawah bergantian sedikit pun tidak menjadi gugup atau terpengaruh oleh serangan gencar lawannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meskipun Hian-thian-kiam-hoat yang dikembangkan Su Giok-lan mengandung banyak perubahan yang susah diraba, sayang lwekangnya setingkat lebih rendah, sedikit pun ia tak mampu menyentuh atau mendesak Hun Thian-hi yang berlaku tenang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekejap saja kedua belah pihak sudah saling serang sebanyak lima puluh jurus. Dimana ayunan seruling Hun Thian-hi bergerak sekarang mulai mengambil inisiatif pertempuran dari banyak membela diri mulai melancarkan serangan balasan. Begitu lwekang dikerahkan seiring dengan ayunan serulingnya terpancarlah sinar cahaya putih bergerak lincah menari-nari terus menyerang lebih deras dan ketat ke arah Su Giok-lan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semakin lama Su Giok-lan terdesak di bawah angin, untuk membela diri saja menjadi kerepotan jangan kata balas menyerang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya Su Cin menjadi cemas dan kuatir, sreng! Pedangnya lantas dilolos keluar, teriaknya, “Adik Lan, kau mundurlah!” — lalu iapun berteriak ke arah Hun Thian-hi, “Hun Siau-hiap, biarlah aku pun belajar kenal dengan kepandaianmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil menyapukan pedangnya Su Cin terus menerjang maju. Su Giok-lan mendapat peluang dengan sengit dan gemes ia berteriak, “Aku belum terkalahkan, buat apa kau ikut maju?” seiring dengan kata-katanya, pedang panjangnya mendadak bergerak lincah, beruntun ia lancarkan lagi serangan ketat kepada Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin menjadi serba susah, maju mundur menjadi sulit baginya, kedua belah pihak adalah murid perguruan ternama yang sejajar ketenarannya, bagaimana mungkin dirinya melawan orang dengan cara keroyokan. Tapi keadaan Su Giok-lan sudah di ambang bahaya, tidak bisa tidak aku harus maju membantu, terpaksa mengeraskan kepala ia terus menerjang maju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi bergelak tawa lantang, dimana Serulingnya menari kencang mendadak tubuhnya terbang ke atas, di tengah udara jumpalitan terus mengembangkan &lt;b&gt;Thian-liong-cit-sek&lt;/b&gt; atau &lt;b&gt;Tujuh Gaya Naga Langit&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jurus pertama yang bernama &lt;b&gt;Liok-liong-wi-hian (Enam Naga Terbang Berputar)&lt;/b&gt; dikembangkan berpetalah bayangan seruling samar-samar seperti ada seperti tiada serentak meluncur ke arah dua sasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan Su Giok-lan merupakan murid didikan Pak-kiam yang kenamaan apalagi dengan dua mengeroyok satu sudah tentu tidak gampang mereka dikekang dan terkepung. Serempak pedang panjang mereka silang menyilang di tengah udara ke kanan kiri inilah jurus &lt;b&gt;Ban-liu-ing-hong (Dahan Pohon Liu Menyambut Angin)&lt;/b&gt; jalur sinar pedang terpancang menjadi pepat merintangi serangan melandai tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi di tengah jalan tubuh Hun Thian-hi mendadak melenting lebih tinggi lagi, Seruling Batu Pualam putihnya lagi-lagi meluncur dengan serangan yang dinamakan &lt;b&gt;Gin-liong-jip-cui (Naga Sakti Masuk Air)&lt;/b&gt;. Seruling batu itu menukik dari atas meluntiur seperti burung menyambar belalang langsung menutuk ke jalan darah &lt;i&gt;Bi-sim-hiat&lt;/i&gt; Su Cin dan Su Giok-lan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekali lagi pedang panjang mereka bekerja sama bersatu padu melancarkan tipu &lt;b&gt;Loan-ciok-bing-hun (Batu Kalut Menerjang Awan)&lt;/b&gt;, sinar pedang berubah setitik bintang menutul balik merangsak ke arah Hun Thian-hi lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi tertawa tawar, lagi-lagi lawan bergabung menyerang dirinya, memang inilah yang sedang diharapkan. Tiba-tiba tubuhnya mengkerut turun, dimana seruling batunya terayun maju langsung memapak ke arah kedua batang pedang lawan yang terbang meninggi mengarah dirinya. Di tengah jalan jurus serangan Thian-hi ini lagi-lagi dirubah menjadi &lt;b&gt;Hun-liong-pian-yu&lt;/b&gt;, bayangan seruling mendadak berubah menjadi beribu banyaknya, seperti menyerang tapi juga membela diri langsung menyapu ke depan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Naga Terbang Menyapu Bayu&lt;/b&gt; yang dilancarkan Hun Thian-hi ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Thian-liong-cit-sek yang paling banyak perubahan dan paling sulit di jajaki. Su Cin dan Su Giok-lan tidak mengira Hun Thian-hi bakal melancarkan jurus-jurus yang sangat lihai ini, keruan bercekat hati mereka, tak tahu mereka kemana juntrungan Hun Thian-hi melancarkan serangan berbahaya ini, tanpa merasa gerak-gerik mereka sedikit merandek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara serangan Hun Thian-hi ini sampai di tengah jalan mendadak juga memperlihatkan setitik kelemahan, dimana jurus serangan yang seharusnya menutuk maju rada-rada kelihatan sedikit lamban seperti hendak membela diri malah, karuan sedikit lubang kelemahan ini cukup ketahui oleh kakak beradik didikan Pak-kiam ini, keruan bukan kepalang girang hati mereka, tanpa berjanji seperti sudah terjadin ikatan batin saja mendadak pedang mereka berbareng membabat dan menyontek ke atas membabat kaki dan menusuk perut Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak kira perbuatan Hun Thian-hi ini memang disengaja untuk memancing gerakan musuh, sedikit lamban mendadak Hun Thian-hi lincah sekali menyelonong maju, lenyap gaya membela diri semula mendadak berubah menjadi serangan telak, berbareng dengan gerak tubuhnya yang lincah lantas menyelinap ke tengah diantara mereka berdua, serulingnya menutuk pundak dan mengetuk batok kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karuan Su Cin berdua berjingkrak kaget seperti disengat kala. Berbareng mereka mundur kedua samping untuk menghindar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan tipu jurus yang indah Hun Thian-hi berhasil memisahkan kedua musuhnya, mendapat angin yang menguntungkan ini serulingnya bergerak semakin sebat lagi, jurus demi jurus tipu-tipu serangan serulingnya membadai tiada habisnya, dengan jurus &lt;b&gt;Jian-hong-ing-long (Menuntun Angin Menyambut Gelombang)&lt;/b&gt; ia tumplek seluruh kekuatan untuk menyerang kedua lawannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan dan Su Cin harus melompat mundur kesamping lagi, namun sambil berkelit ini tiba-tiba pedang panjang mereka menukik balik, dengan jurus &lt;b&gt;Yau-ci-thian-lam (Jauh-Jauh Menuding Langit Selatan)&lt;/b&gt; pedang mereka tepat sekali memapaki kedatangan serangan Hun Thian-hi, begitu seruling dan pedang kedua belah pihak saling bentur, kontan Su Cin dan Su Giok-lan tergetar mundur satu langkah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gerakan Hun Thian-hi tidak berhenti sampai disitu saja, lagi-lagi serulingnya menyapu tiba dengan tipu &lt;b&gt;Ci-ang-yau-sut (Pelangi Menggubat Saka)&lt;/b&gt; dimana sinar putih berkelebat masing-masing menutuk ke arah jalan darah &lt;i&gt;Thian-to-hiat&lt;/i&gt; di atas tubuh Su Cian dan Su Giok-lan. Karena terdesak untuk membebaskan diri dari tutukan berbahaya ini terpaksa mereka mundur berulang-ulang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wajah Hun Thian-hi menampilkan senyum tawar. Seorang diri bukan saja dirinya mampu melawan keroyokan mereka malah mendesak mundur kedua musuhnya, betapa hatinya takkan senang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu dengan kesima Su Tat-jin menonton pertempuran seru ini dengan seksama, lambat laun berubah rona wajahnya, kedua biji matanya memancarkan rasa kebencian yang meluap-luap, samar-samar juga terunjuk rasa ragu sulit mengambil suatu keputusan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu, sinar putih kemilau dari seruling Hun Thian-hi terus berkembang berputar-putar di tengah gelanggang mengepung dua musuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum lama Su Cin serta adiknya kelana, baru pertama kali ini mereka menghadapi musuh tangguh, dalam waktu singkat mereka menjadi kelabakan dan keripuhan tak tahu cara bagaimana untuk bekerja sama menghadapi musuh karena kehilangan pegangan, maka gerak pedang mereka lambat laun juga menjadi tak terkontrol lagi, begitulah dalam suatu ketika mereka harus mengayun pedang untuk menangkis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat kedua musuhnya mengangkat pedang menangkis serangannya Hun Thian-hi tersenyum riang, tahu dia kalau pedang dan serulingnya saling bentrok tak ampun lagi pasti pedang kedua musuhnya bakal terpental terbang ke tengah udara terlepas dari cekalannya. Mereka adalah murid Pak-kiam yang sejajar dengan gurunya, hal inilah yang menjadikan penghambat gerak geriknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semakin lama hati Su Tat-jin semakin berang dan kebat-kebit, pancaran matanya semakin buas dan mengandung hawa membunuh. Mendadak ia menghardik keras sekali, “Ni, sambutlah Badik Buntung!” sejalur sinar hijau melesat terbang dari tangannya langsung melayang lewat di samping gelanggang pertempuran tiga kaki tingginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu mendengar bentakan, Hun Thian-hi sangat terkejut, sedikit pun tiada tempo untuk ia pikir, sebat sekali tubuhnya bergerak terus mengejar ke arah Badik Buntung yang meluncur itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan Su Giok-lan sendiri juga terperanjat, dengan muka merah padam mereka mengawasi Su Tat-jin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di tengah gelapnya kabut di sebelah sana terdengar pekik kejut yang tertahan, sinar hijau kelihatan berloncat dan terus melayang jatuh ke bawah jurang sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin serta adiknya berdiri terlongo tanpa membuka suara, wajah mereka menjadi pucat pias. Tak lama kemudian Su Giok-lan membuka mulut kepada Su Tat-jin, “Paman! Ternyata Badik Buntung itu betul berada di tanganmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin tertawa kering dua kali, ujarnya menyeringai, “Benar-benar! Badik Buntung berada di tanganku. Tapi kalian harus tahu bahwa perbuatanku tadi adalah demi untuk kebaikan kamu berdua. Kalau aku tidak bertindak cepat, kukuatir kalian bakal terjungkal di tangannya”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Tapi paman,” sela Su Cin cepat, “seharusnya kau tidak boleh berbuat demikian, dia adalah murid tunggal Seruling Selatan….”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Justru karena dia adalah murid tunggal Seruling Selatan, maka aku bertindak demikian.” Demikian sambung Su Tat-jin, “apa kalian sudah lupa bahwa kalian adalah murid Pedang Utara? Kalau kalian terkalahkan kemana muka guru kalian hendak ditaruh. Seruling Selatan dan Pedang Utara tergabung menjadi Hwe-siang-ki (sepasang manusia aneh di majapada) tapi hakikatnya mereka sendiri belum pernah saling jajal kepandaian masing-masing, apa kalian sudah tahu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Cin dan adiknya bungkam. Mereka insaf bahwa dengan kekalahan mereka berdua melawan Hun Thian-hi mungkin akan merupakan noda hitam bagi ketenaran nama baik Pedang Utara, bukankah sejak saat ini taraf antara Seruling Selatan dan Pedang Utara harus dibagi tingkatannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Su Tat-jin pula, “Cin-ji! Lan-ji! Kalian harus tahu bahwa peristiwa pagi ini sekali-kali tidak boleh diketahui orang luar, kalau tidak bukan saja kalian aku pun terseret pula, bagaimana selanjutnya kita harus berkecimpung di kalangan Kangouw. Kukira guru kalian juga menjadi sulit untuk angkat kepala di dunia persilatan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbareng Su Cin dan Su Giok-lan angkat dagu memandang ke arah Su Tat-jin, hati mereka maklum bahwa kata-kata tadi merupakan ancaman halus terhadap mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan tajam Su Tat-jin juga tatap mereka berdua, apa boleh buat akhirnya mereka menundukkan kepala. Su Tat-jin tertawa kering lagi dengan puas akan kemenangan, sambungnya lagi, “Sudah tentu, kalau kalian tidak mengobral mulut aku pun tetap bungkam. Sudahlah, mari kita turun gunung,” habis berkata ia mendahului berlari-lari kecil ke bawah gunung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan lesu dan rawan Su Cin dan Su Giok-lan ikut turun gunung dengan langkah berat bergoyang gontai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a title=&quot;Badik Buntung 01&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2012/11/badik-buntung-01.html&quot;&gt;01&lt;/a&gt; | 02 &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/06/badik-buntung-02.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://lh3.googleusercontent.com/-RzSUQbs1qSU/WELrlitoFAI/AAAAAAAABog/e9KmoHUbOIsaeyFQiOuJI614QCD3aGlKwCKgB/s72-c/Badik%2BBuntung.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1842042686338685398</guid><pubDate>Mon, 03 Jun 2013 10:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-12-03T17:16:56.903+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Badik Buntung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Gan K. H</category><title>Badik Buntung 01</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi1jAK7X7soFtZE3DHCFG5qFKrLp-uDpemjMMQ0kbjQYzLRI-b4S5G_H_W3GQhWJQq_epnoDbBgE1SDKxI9GvYSsU15MvslrUTtPb9yroFsZLEvxB5frI0Pvy2Tj2mWAMvZbdqkReKGVBQ/s1600-h/Badik%252520Buntung%25255B2%25255D.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;background-image: none; border-right-width: 0px; margin: 0px 4px 4px 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; display: inline; float: left; border-top-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; padding-top: 0px&quot; title=&quot;Badik Buntung&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;Badik Buntung&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/?imgmax=800&quot; width=&quot;179&quot; height=&quot;244&quot; /&gt;&lt;/a&gt;BADIK BUNTUNG&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Karya: ?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Saduran: Gan K. H&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kabut malam mulai menyelimuti seluruh kota &lt;b&gt;Hangciu&lt;/b&gt;. Disebelah timur kota Hangciu terdapat sebuah bangunan gedung mentereng yang berdiri megah dan angker di kegelapan malam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari dalam gedung yang megah dan angker ini lapat-lapat terdengar gelak tawa orang banyak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang pemuda mengenakan jubah panjang warna putih, seperti pemuda pelajar umumnya tengah beranjak cepat menuju ke arah gedung besar ini, pemuda itu berpaling menengadah melihat cuaca, memandang sang putri malam yang memancarkan cahayanya yang terang cemerlang. Ditimpah cahaya sang bulan purnama kelihatan sikap tegas dan watak keras dari wajah pemuda yang putih cakap itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak ia berhenti mengamat-amati gedung besar dihadapannya, ujung mulutnya mengulum senyum, sedikit pundaknya bergoyang gerak tubuhnya sudah terbang tinggi ke tengah udara langsung melesat ke atas wuwungan ruangan besar terus meluncur turun memasuki ruangan pesta itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suara tawa dan percakapan ramai dalam ruangan besar seketika sirap. Dengan berputar tubuh pemuda itu menjelajahkan pandangannya keseluruh ruang besar itu. Penerangan terpasang terang benderang, meja besar perjamuan berputar tiga lingkaran. yang terletak paling tengah sana duduk seorang tua bermuka merah, dua lilin besar di belakangnya tengah terbakar menyala menerangi sebuah huruf &lt;i&gt;“SIU” (panjang umur)&lt;/i&gt; yang besar dari kertas emas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua mata memandang heran ke arah si pemuda. Mereka merasa takjub akan kepandaian silatnya begitu lihainya sampai sudah mendarat di dalam ruangan besar itu baru hadirin mengetahuinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berputar memeriksa keadaan seluruh ruangan pesta ini si pemuda langsung menghadap ke arah si orang tua bermuka merah itu, serunya sambil menjura, “&lt;i&gt;Siautit&lt;/i&gt; &lt;b&gt;Hun Thian-hi&lt;/b&gt;, mendapat perintah dari orangtua untuk menyampaikan salam panjang umur, setindak telah terlambat harap paman suka memberi maaf!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu Hun Thian-hi memperkenalkan diri si orang tua muka merah mengerutkan kening dan mengunjuk rasa heran dan curiga, dengan tajam ia awasi Hun Thian-hi. Bibirnya bergerak seperti hendak berkata apa, tapi urung diucapkan. Selanjutnya air mukanya lantas menunjukkan rasa kejut dan marah. Sekilas kedua biji matanya melirik keseluruh ruang, sekejap saja wajahnya berubah lagi menjadi beringas dan gusar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi seakan tidak merasa dan tidak tahu akan segala perubahan air muka si orang tua muka merah, acuh tak acuh seperti anak kecil yang ketarik akan sesuatu yang memincut hatinya ia berputar dan celingukan menatapi itu persatu seluruh hadirin. Setelah sepasang mata tajam berkilat menerawang seluruh isi ruang pesta ini, ujung mulutnya lagi-lagi menampilkan senyum dikulum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak berkelebat cahaya aneh dan mengejutkan terpancar dari kedua biji matanya tanpa merasa sebelah tangannya mengelus &lt;b&gt;Seruling Batu Pualam&lt;/b&gt; di pinggangnya. Ternyata bahwa di kedua samping kiri kanan si orang tua merah duduk sepasang muda mudi, sorot pandangan mereka berdua juga berkilat mengandung ketajaman yang luar biasa, pandangan muda-mudi itu juga tertuju ke arah dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan muka gusar si orang tua muka merah membentak kepada Hun Thian-ki, “Siapa kau? Berani kau mengaku sebagai putra &lt;b&gt;Hun Siau-thian&lt;/b&gt; Hun-toako untuk menyampaikan salam hormat kepadaku?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seluruh hadirin yang terdiri dari orang-orang gagah persilatan terkejut, begitu mendengar nama Hun Siau-thian disebut. Harus diketahui bahwa Hun Siau-thian adalah tetua dari &lt;b&gt;Bulim-sam-ciat&lt;/b&gt; pada dua puluh tahun yang lalu, dengan menggembol dan bersenjatakan &lt;b&gt;Badik Buntung&lt;/b&gt; ia belum pernah mendapat tandingan di seluruh jagat. Selama dua puluh tahun terakhir jejaknya menghilang tak karuan paran. Sungguh di luar dugaan hari ini ada seseorang yang berhubungan dekat dengan beliau muncul disini menyampaikan salam hormat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mengulum senyum tawar, katanya pelan-pelan, “Jangan takut! Aku tidak akan menuntut balas, kedatanganku ini hanya mau minta balik Badik Buntung saja, apa kau minta bukti?” — dari dalam lengan baju tangan kanannya ia melolos keluar sarung pedang pendek sepanjang satu kaki entah terbuat besi atau emas, yang terang sarung pedang ini memancarkan cahaya terang terus diangsurkan ke depan orang tua muka merah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seluruh hadirin bertambah kejut dan heran lagi. Badik Buntung sudah menghilang ikut lenyapnya Hun Siau-thian selama dua puluh tahun tak duga bisa berada disini!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Merah Padam muka si orang tua, mendadak ia berjingkrak bangun terus membentak sambil menuding Hun Thian-hi, “Badik Buntung berada di tangan Hun Siau-hian, seluruh orang gagah di jagat ini mengetahui. Siapa kau sebenar-benarnya? Kau kira aku &lt;b&gt;Hoan-thian-chiu Su Tat-jin&lt;/b&gt; gampang dihina dan dipermainkan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru lenyap suara Su Tat-jin, seseorang yang duduk disebelah samping kanannya sudah bergegas berdiri serta serunya, “Su Toako, biar kuberi hajaran kepadanya!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalem saja Hun Thian-hi memutar tubuh menghadapi si orang pembicara ini, dengan seksama ia awasi orang ini. Kiranya seorang tosu pertengahan umur mengenakan jubah pendeta warna hijau mulus. Matanya juling seperti mata garuda menyorotkan sinar dingin mendelik ke arah dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekonyong-konyong wajah putih Hun Thian-hi menampilkan senyum tawa yang aneh. Seketika si Tosu itu berhenti dan berdiri melongo, matanya berkilat ragu-ragu, agaknya tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah melihat senyum tawa Hun Thian-hi yang penuh arti itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Harap tanya siapakah gelaran &lt;i&gt;Totiang&lt;/i&gt; ini?” tanya Hun Thian-hi dengan nada mengejek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Tosu pertengahan umur ini tersentak kaget seperti sadar dari suatu lamunan, dimakluminya sekarang bahwa senyum tawa Giok-liong tadi hakikatnya mengandung sindiran dan memandang ringan dirinya, saking gusar selebar mukanya menjadi merah padam, teriaknya, “&lt;b&gt;Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu&lt;/b&gt; itulah aku adanya!” habis berkata kakinya terus bergerak menubruk maju ke hadapan Hun Thian-hi disertai dengan mulutnya membentak, “Lihat pukulan!” sebelah tangannya tahu-tahu nyelonong menjotos ke dada Hu Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sedikit menekuk dengkul lalu menggeser mundur, ringan sekali tubuhnya ikut berputar menghindar. Maka pukulan lawan dengan mudah sekali dapat dihindarkan menyamber lewat di samping dadanya terpaut seurat saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ling-ci-cu menggerung murka, tangan kiri berputar menyusul tiba terus menepuk ke punggung Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil tetap mengulum senyum Hun Thian-hi menggoyangkan sedikit badan indah sekali ia bergaya berkelit dari serangan musuh. Gerak tubuhnya enteng laksana awan mengembang seperti air mengalir ia main mundur ke tengah ruangan. Dimana sepasang matanya berkilat menyapu pandang ke seluruh keadaan meja perjamuan dalam ruang pesta besar ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam terkejut hati seluruh hadirin. Siapa yang tak kenal akan ketenaran nama Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu yang berkepandaian tinggi, dengan gerak tubuh serta bekal lwekangnya ternyata dua kali serangannya dengan mudah telah dihindarkan oleh pemuda pelajar ini. Ini betul-betul suatu hal yang luar biasa. Seandainya pemuda ini betul adalah anak kandung Hun Siau-thian, dengan usia yang masih muda betapapun latihannya takkan mungkin mencapai tingkat yang sempurna sekian baiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beruntun serangan berantainya dengan mudah kena kelit oleh lawan, hati Ling-ci-cu menjadi dongkol seperti dibakar, gesit sekali ia menerjang datang lagi sambil kirim serangan lebih gencar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Nanti dulu!” tiba-tiba Hun Thian-hi berseru menghentikan pertempuran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ling-ci-cu segera menghentikan aksinya, dengusnya, “Ada omongan apa lagi yang hendak kau katakan?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-ki tertawa lebar, sekilas ia menyapu pandang ke sekelilingnya lalu berkata kepada Su Tat-jin, “Hari ini aku sudah datang kemari. Perihal Badik Buntung yang di tanganmu itu betapa juga pasti akan tersiar luas, dengan kemampuanmu kau takkan mungkin kuat melindunginya. Biarlah kutekankan lagi bahwa kedatanganku ini bukan hendak menuntut balas. Serahkan saja Badik Buntung itu kepadaku, segalanya beres!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum lagi Su Tat-jin membuka suara Ling-ci-cu telah menyelak, “Nanti dulu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi memutar badan menghadapi Ling-ci-cu sambil memicingkan mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Ling-ci-cu dengan gusar, “Bocah keparat jangan kau terlalu sombong, tak perlu dikatakan apakah benar-benar Badik Buntung itu berada disini. Seumpama betul ada disini, berani kau dihadapan kita sekalian hendak mengambilnya begitu gampang?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi celingukan melihat reaksi seluruh hadirin, satu pun tiada yang berani bersuara. Terang bahwa mereka sudah setuju akan kata-kata profokasi dari Ling-ci-cu itu. Dengan sabar dan kalem ia hadapi Ling-ci-cu, lalu katanya acuh tak acuh, “Lalu bagaimana maksudmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Hatimu tahu sendiri,” jengek Li-ci-cu, “kenapa perlu tanya lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Alis lentik Hun Thian-hi terangkat tinggi, ujung mulutnya mengulum senyum manis, berturut-turut ia mundur dan mundur terus sampai di ambang pintu lalu dirogohnya keluar Seruling batu giok di pinggangnya langsung diangkat ke depan mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis yang duduk di sebelah kanan Su Tat-jin bergegas bangun, matanya memancarkan sinar tajam penuh kejut dan heran, tak kuasa mulutnya juga berteriak, “&lt;b&gt;Lam-siau&lt;/b&gt;!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemuda yang duduk di sebelah kiri juga tersentak bangun berdiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seluruh hadirin juga sama terkejut, siapapun tak mengira bahwa Hun Thian-hi kiranya adalah murid &lt;b&gt;Lam-siau (Seruling Selatan)&lt;/b&gt; salah satu dari &lt;b&gt;Hwe-siang-ki (Sepasang Manusia Aneh Dalam Dunia)&lt;/b&gt;. Tak heran dengan mudah dan seenaknya saja ia tadi berkelit dan menghindari serangan Ling-ci-cu yang cukup hebat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak sorot mata Hun Thian-hi memancarkan rasa bimbang dan ragu, namun demikian mulutnya sudah mulai meniup serulingnya, dilain saat irama seruling yang merdu sudah kumandang mengalun di tengah udara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beramai-ramai seluruh hadirin mengerahkan tenaga murni dan lwekang untuk mempertahankan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi sendiri juga prihatin dan penuh keseriusan, karena dia sendiri harus memusatkan pikiran dan mengerahkan seluruh kekuatan lwekangnya disalurkan ke dalam irama serulingnya untuk menundukkan musuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain kedua muda mudi itu, seluruh hadirin sudah mulai mandi keringat, mati-matian mereka tengah bertahan sekuat tenaga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil meniup serulingnya pandangan Hun Thian-hi menyapu ke seluruh ruangan besar, lagi-lagi matanya memancarkan rasa ragu dan bimbang, sejalur irama melengking tinggi memecah angkasa, dinding di empat penduru gedung ini terdengar bergetar dan mulai retak hampir roboh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pelan-pelan Hun Thian-hi menarik turun Serulingnya, pandangannya menyapu ke seluruh hadirin, nyata tiada satupun yang lolos semua telah tertutuk jalan darahnya oleh getaran irama serulingnya, sebentar ia menarik napas panjang terus tertawa lebar langsung ia melangkah menghampiri Su Tat-jin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertama-tama ia bebaskan jalan darah Su Tat-jin yang tertutuk. Dengan penuh rasa kejut gusar dan takut-takut Su Tat-jin menyapu pandang ke seluruh tamu-tamunya. Dilihatnya kedua muda mudi itu juga telah tertutuk jalan darahnya, dengan penuh rasa murka dan hampir tak percaya ia tatap Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kata Hun Thian-hi tanpa menunjukkan expresi, “Su Tat-jin, semasa hidup ayahku betapa baik sikapnya terhadap kau. Tak duga, dalam keadaan beliau sedang sakit kau rebut Badik Buntung itu lalu melarikan diri menghilang!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil mundur ke dalam ruangan dalam, Su Tat-jin menyahut cepat, “Bukan aku, itulah Ling Ci-cu yang melakukan!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mendengus hina, katanya, “Sekarang aku tidak ingin tahu segala tetek bengek itu, serahkanlah Badik Buntung itu kepadaku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin kempas-kempis berusaha mengendalikan pembawaannya, sikapnya ragu-ragu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Lekas!” desak Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin membuka pintu terus membawa Hun Thian-hi masuk ke rumah dalam. Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka tiba pada pada sebuah kamar. Sekilas Hun Thian-hi memeriksa keadaan kanan kirinya, mulutnya lantas berkata kepoda Su Tat-jin, “Jangan kau mengatur tipu daya, aku takkan bisa terjebak oleh tipu muslihatmu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mata Su Tat-jin berjelilatan, akhirnya apa boleh buat ia menghampiri ke depan tempat tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan ketat Hun Thian-hi mengintil di belakangnya. Mendadak ia memutar tubuh sambil mengulur serulingnya menekan jalan darah di punggung Su Tat-jin lalu berpaling ke belakang ke arah pintu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di depan kamar tidur sana berdiri berendeng kedua muda mudi tadi, masing-masing tangannya menyoreng pedang panjang, dengan tajam dan gusar mereka tatap Hun Thian-hi….&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi diam saja mengawasi mereka. Dalam hati ia menyesal kenapa waktu menutuk jalan darah mereka dengan irama serulingnya tadi tidak gunakan tenaga berat, sehingga begitu cepat mereka sudah bisa ikut mengintil datang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar pemuda itu buka suara, “Hun Thian-hi, kau adalah murid Lam-siau, lepaskan pamanku, mari kita bicara di luar!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi merenung sebentar, akhirnya ia menjawab, “Tidak! Suruh dia mengembalikan Badik Buntung kepadaku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Tat-jin menjadi gugup, serunya, “Anak Cin, jangan kau percaya omongannya, hakikatnya aku tidak menyimpan Badik Buntung apa segala.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Lalu kenapa kau bawa aku kemari?” jengek Hun Thian-hi menyeringai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Adalah kau yang mendesak aku begitu rupa!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi mendengus hidung, sedikit menerawang hati-hati sekali mendadak sebuah kakinya menendang ke tempat tidur Su Tat-jin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Blang!” seketika ranjang kena ditendang terbalik dimana terdengar suara pegas berbunyi serentetan pisau terbang melesat keluar berseliweran, sigap sekali Hun Thian-hi jinjing tubuh Su Tat-jin melompat terbang keluar kamar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan selamat Hun Thian-hi mendaratkan kakinya di tanah, hidungnya mendengus hina.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas Su Tat-jin memandang ke arah muda mudi itu lalu berkata, “Memangnya Badik Buntung tidak berada di tanganku, terpaksa aku berbuat begitu!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbareng muda mudi itu melolos pedang panjangnya terus menerjang ke arah Hun Thian-hi. Cepat sekali biji mata Hun Thian-hi menjelajah keadaan sekitarnya, tiba-tiba tangannya diayun ke belakang melemparkan tubuh Su Tat-jin keluar rumah sana, disusul tubuhnya sendiri juga ikut berkelebat keluar hinggap di pelataran luar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebetulnya Su Tat-jin bukan kaum kroco, tadi sedikit pun ia tidak berontak karena di bawah ancaman Hun Thian-hi, sekarang setelah lepas dari tangan Hun Thian-hi seiring dengan luncuran tubuhnya ini tiba-tiba ia jumpalitan di tengah udara badannya terus membalik naik hinggap di atas dahan sebuah pohon besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meski kepandaian Hun Thian-hi tinggi, pengalaman masih cetek sedikit gegabah ia lemparkan Su Tat-jin keluar, setelah ia melempar tubuh orang baru menyesal juga sudah kasep.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu badan Hun Thian-hi melenting keluar, kedua muda mudi itu juga sudah terbang mengejar tiba, pedang panjang mereka sebat sekali menusuk tiba dari kanan kiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Hum Thian-hi memutar tubuh di tengah udara, serempak tangannya dibalikkan ke belakang sambil menyapukan serulingnya dengan jurus &lt;b&gt;Hoat-hi-pit-thian&lt;/b&gt;, sejalur kabut putih dari kekuatan tenaga dalamnya segera menyampok ke arah muda-mudi itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru tusukan sampai di tengah jalan sebelum pedang mereka dan seruling Hun Thian-hi saling sentuh, pedang sudah ditarik balik, disusul pedang dibalikkan berputar terus menusuk ke depan dari atas dan bawah, masing-masing mengarah tenggorokan dan perut Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pancaran mata Thian-hi menampilkan rasa kejut dan heran, serulingnya diputar dan disurutkan mundur, berbareng lincah sekali tubuhnya menggeser terus hinggap di atas tanah. Saat itu juga kedua muda mudi itu juga sudah meluncur turun, sesaat ketiga orang ini saling tatap tanpa bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejenak kemudian Hun Thian-hi baru membuka mulut, “Apakah kalian murid &lt;b&gt;Pak-kiam&lt;/b&gt;?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Betul!” sahut si pemuda, “Aku bernama, &lt;b&gt;Su Cin&lt;/b&gt;. Dan ini adikku bernama, &lt;b&gt;Su Giok-lan&lt;/b&gt;.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Giok-lan mencemooh, “Apakah kau murid Lam-siau?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi manggut-manggut, ujarnya; “Kalau begitu lebih baik, harap kalian suka bujuk paman kalian untuk mengembalikan Badik Buntung itu kepadaku!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kau punya bukti apa berani menuduh bahwa Badik Buntung itu berada di tangan pamanku.” semprot Su Giok-lan aseran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Dulu pamanmu menggunakan akal muslihat licik merebut Badik Buntung itu dikala ayahku terluka berat,” demikian Hun Thian-hi memberi keterangan, “Kalau nona benar-benar adalah murid Pak-kiam Siau-cianpwe tentu mengenal juga betapa pentingnya Badik Buntung ini, kuharap nona suka membujuk paman kalian untuk kembalikan Badik Buntung itu kepada aku yang rendah, kupandang muka kalian aku tidak akan menuntut segala peristiwa yang sudah lalu.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Enak benar-benar kau mengudal mulutmu,” jengek Su Giok-lan. “Ada bukti apa kau berani bicara begitu takabur?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apakah murid Lam-siau juga bisa membual?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Apakah murid Pak-kiam bisa berlaku ceroboh?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berkobar hawa amarah Hun Thian-hi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kau….” katanya berhenti, lalu sambungnya, “Kalau nona hendak mengetahui duduk perkara yang berbelit-belit itu silakan tanyakan kepada Hun-tiong-it-ho dan pamanmu itu, tentu kalian akan jelas segalanya.”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Jangan kau kira kau ini paling pintar,” dengus Giok-lan, “apa hakmu menyuruh kami mengompes keterangan mereka. Murid Lam-siau punya kepandaian apa?”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak bercekat hati Hun Thian-hi, pikirnya, “Ooo, jadi begitu!” — mungkin karena tadi mereka kena tertutuk jalan darahnya oleh irama seruling jadi mereka uring-uringan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hun Thian-hi berdiri diam, bungkam seribu bahasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Adik Lan!” Cegah Su Cin sambil berpaling ke arah adiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;“Kenapa engkoh bantu orang luar!” teriak Giok-lan keras, lalu ia menghadapi Hun Thian-hi lagi, ujarnya, “Jangan banyak mulut lagi, tiga hari kemudian jam empat subuh kita bertemu di &lt;b&gt;Giok-hong-gay&lt;/b&gt; di gunung &lt;b&gt;Sian-sia-nia&lt;/b&gt;. Kalau kau menang bagaimana juga kita berusaha mengembalikan Badik Buntungmu, kalau kau kalah sudah jangan cerewet lagi!”&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian-hi berpaling ke arah Su Cin, melihat orang tidak membuka suara, lalu ia mengawasi pula ke arah Su Tat-jin, pelan-pelan baru ia berkata, “Begitupun baik, kita bertemu tiga hari kemudian!” Selesai berkata ia memutar tubuh terus berlari bagai terbang sekejap saja ia sudah menghilang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Badik Buntung &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;01 | &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/11/badik-buntung-01.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMY31v8S3c_FXbcDT2803Q1Fq1rash0Aw6YQq0F0iRv1i8f8aI3qN3UQBz_fzlZ0Xu5My-K7Nk8n2IJ73uLoCxt2MAsDOmrNBz97-I95F18LwS-NBN_GTb90qfRpFxBDNjxYOwbiVbIkk/s72-c?imgmax=800" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-2563788569611377296</guid><pubDate>Thu, 30 May 2013 09:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-30T16:49:05.882+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 18. Wajah penuh senyum</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6&gt;18. Wajah penuh senyum&lt;/h6&gt;  &lt;p&gt;Pengalaman aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Masalah yang tak bisa dijelaskan dengan berbagai alasan masih bisa dijelaskan dengan satu kata, yaitu pengalaman aneh!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Menurut aturan, bila ditinjau dari kondisi penyakit yang dideritanya, dia semestinya sudah mati sejak tiga-empat tahun lalu, tapi kenyataannya hingga hari ini dia masih tetap hidup bahkan masih mengemban tugas paling berat dalam perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, benar-benar kejadian seperti ini merupakan kejadian aneh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun termenung tanpa berkata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Manusia macam dia, dengan kedudukannya, tentu saja tahu kalau perkataan itu tak perlu banyak diucapkan, tapi setiap perkataan yang diucapkan harus berbobot. Biasanya dia malah lebih banyak mendengarkan perkataan orang lain, hanya dalam situasi banyak mendengar, analisa dan kesimpulannya baru lebih akurat, perkataannya baru lebih berbobot.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka dengan sangat berhati-hati ia bertanya, &amp;quot;Jadi maksudmu, semestinya kan So-kongcu bisa menunggu, tak perlu terburu-buru karena situasi telah berkembang ke arah menguntungkan pihaknya, dia tak perlu terburu-buru menyelesaikan pertikaian antara perkumpulan kita ... tapi dia tak bisa menahan diri, jadi menurut dugaanmu, kemungkinan besar ...&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia merasa kurang leluasa untuk melanjutkan perkataannya, maka ucapan itu terhenti di tengah jalan, karena kata berikut seharusnya Ti Hui-keng yang lebih berhak untuk bicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia tidak menunggu berarti ada alasan tertentu yang membuatnya tak mungkin menunggu, atau situasinya berbeda dengan dugaan kita semula,&amp;quot; Ti Hui-keng segera melanjutkan perkataannya, dia selalu mengerti kapan tugas dan tanggung jawabnya harus dilaksanakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam sebuah organisasi, setiap orang pasti mempunyai peranan sendiri, ada orang harus bicara secara langsung, ada orang kalau bicara mesti menyisakan sedikit, ada orang berperan jadi &#39;orang baik&#39;, ada pula yang harus berperan sebagai &#39;orang jahat&#39;, berbicara di saat tidak seharusnya bicara dan tidak bicara di saat harus berbicara, sama halnya dengan seseorang yang tidak tahu posisi sendiri, cepat atau lambat orang semacam ini pasti akan didepak keluar dari organisasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Posisi Ti Hui-keng selama ini mantap bagaikan bukit Thay-san, dia tahu tindak-tanduk serta sepak terjang yang ia lakukan sangat berkaitan erat dengan kekuasaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Perkataanmu memang benar,&amp;quot; sahut Lui Sun, &amp;quot;baik soal waktu maupun masalah situasi, semuanya menguntungkan posisinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi sekarang telah terjadi pergeseran, situasi memang masih menguntungkan pihaknya, tapi soal waktu kemungkinan besar justru menguntungkan pihak kita,&amp;quot; kata Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Maksudmu kondisi kesehatannya semakin parah?&amp;quot; pertanyaan Lui Sun ini diajukan dengan sangat berhati-hati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng tidak langsung menjawab, dengan sorot matanya yang tajam dia memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, kemudian baru sahutnya, &amp;quot;Benar!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun merasa sangat puas, memang jawaban ini yang sedang dinantikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jawaban itu bukan saja menyangkut mati hidup dia pribadi, bahkan menyangkut mati hidup beberapa puluh ribu orang, menyangkut berjaya atau runtuhnya sebuah kota.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena jawaban itu keluar dari mulut Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada kalanya ucapan Ti Hui-keng jauh lebih ampuh daripada firman kaisar. Sebab meski firman kaisar penuh dengan kekuasaan, namun kaisarnya adalah kaisar lalim, sementara Ti Hui-keng adalah seorang jenius.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekalipun sasaran analisa itu adalah Lui Sun atau bahkan dia sendiri, ia akan memberikan pandangan secara jujur, adil dan bijaksana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, Ti Hui-keng mulai menyeka butiran keringat yang membasahi jidatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jawaban itu sama beratnya seperti pertempuran sengit melawan seseorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal untuk memutuskan sebuah kesimpulan atas seseorang atau suatu masalah, dibutuhkan kemampuan seluruh pengalaman yang dimiliki serta ketajaman menganalisa yang akurat, sama halnya dengan seseorang yang mengerahkan segenap tenaga dalam dan jurus silat yang diketahuinya untuk bertarung melawan seseorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun melayang turun dari atap rumah, waktu itu hujan masih turun di luar sana, anehnya pakaian yang ia kenakan sama sekali tidak basah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba terdengar Ti Hui-keng bertanya lagi, &amp;quot;Bagaimana pendapat Congtongcu tentang janji pertemuan tiga hari lagi?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia jarang sekali bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terhadap Lui Sun dia tahu, seharusnya dia banyak menjawab, bukan banyak bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja terkecuali dia butuh tahu tentang persoalan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal dalam pandangan Lui Sun, seringkali pertanyaan yang diajukan Ti Hui-keng sama bobotnya dengan jawaban yang dia berikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau memang waktu menguntungkan kita, kenapa kita tidak berusaha mengulur waktu?&amp;quot; jawabnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya Lui Sun menyadari akan hal itu, segera ujarnya, &amp;quot;Kau merasa kuatir?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng membenarkan. &amp;quot;Apa yang kau kuatirkan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau toh dia bermaksud menyelesaikan persoalan ini secepatnya, tak nanti akan memberi kesempatan kepada kita untuk mengulur waktu, lagi pula ...&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Lagi pula kenapa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Ti Hui-keng berganti nada pembicaraan, katanya, &amp;quot;Congtongcu, apakah kau memperhatikan juga kedua orang anak muda itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun tak bisa menahan diri lagi, dia menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ai, dalam situasi seperti ini ternyata muncul dua orang macam mereka, kejadian ini benar-benar di luar dugaan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah Congtongcu tahu siapakah kedua orang itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku sedang menunggu keterangan darimu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku hanya tahu mereka baru setengah tahun tiba di kotaraja, yang satu bermarga Pek, yang lain bermarga Ong, kepandaiannya cukup bisa diandalkan, aku sangka mereka hanya bisa bertahan selama dua tiga bulan, asal tetap tak bisa menonjolkan diri, secara otomatis akan meninggalkan kotaraja.&amp;quot; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di luar dugaan Perkumpulan Lak-hun-poan-tong tahu tentang kedua orang ini, namun mereka tidak memandang sebelah mata terhadap kemampuan mereka, maka Ti Hui-keng hanya menitahkan orang untuk mengawasi dan tidak mengusik kedua orang pemuda yang asal-usulnya tak jelas tapi memiliki kungfu hebat itu, sebab dia tahu, kecuali benar-benar menghadapi musuh tangguh, alangkah baiknya bila dapat menghindari perkelahian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada sementara orang, asal kau tidak menggubrisnya maka beberapa saat kemudian dia akan lenyap dengan sendirinya, bahkan tak perlu mengganggu atau menggunakan kekerasan, cara seperti ini bukan saja merupakan cara yang cerdik, bahkan tak usah membuang tenaga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sungguh tak disangka, begitu mereka menampilkan diri, ternyata sudah bergabung dengan So-kongcu dan bersama-sama menjebol Ku-swi-po dan menyerbu Po-pan-bun,&amp;quot; kata Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap kali menyinggung soal So Bong-seng, dia selalu menyebut So-kongcu, peduli di sana ada atau tidak orang luar, dia selalu bersikap sungkan, menaruh hormat dan hati-hati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kenapa begitu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah dia sedang mempersiapkan sebuah jalan mundur untuk berjaga-jaga terhadap segala sesuatu? Apakah dia tak ingin hubungannya dengan So Bong-seng menjadi retak hingga tak mungkin bisa diobati?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja tak ada orang yang berani mengajukan pertanyaan ini, tapi setiap orang tahu, berada di depan orang atau tidak, So Bong-seng selalu menyebut Lui Sun langsung dengan namanya, sikapnya dengan Lui Sun yang selalu menghormatinya sebagai So-kongcu sama sekali bertolak belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tampaknya kita benar-benar telah melupakan kedua orang yang tak terkenal itu,&amp;quot; kata Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Orang ternama mana pun selalu dimulai dari seorang yang tidak terkenal.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi sejak hari ini, kedua orang tak ternama itu akan menggetarkan kotaraja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan-lahan Lui Sun menarik keluar tangan kirinya dari dalam saku bajunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan itu sangat kurus bahkan kering kerontang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang lebih mengerikan lagi adalah jari tangan yang tersisa hanya jari tengah dan ibu jari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebuah cincin zamrud hijau dikenakan pada ibu jarinya itu. Tampaknya jari telunjuk, jari manis dan kelingkingnya telah dipapas kutung seseorang dengan menggunakan senjata tajam, bahkan masih meninggalkan bekas luka yang sangat kentara kendatipun kejadiannya sudah berlangsung lama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dapat diduga betapa sengit dan ngerinya pertempuran itu. Banyak jago tangguh dalam dunia persilatan yang mulai menancapkan kaki setelah melalui berbagai pertempuran sengit, tidak terkecuali Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng tahu bila Lui Sun sudah mengeluarkan tangan itu, berarti dia sudah menurunkan perintah membunuh, jika Lui Sun menggerakkan tangan kanannya yang utuh, berarti dia akan berkenalan dan bersahabat dengan orang itu, tapi sekarang dia telah mengeluarkan tangan kirinya yang penuh bekas luka, berarti dia sudah siap membasmi lawan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena itu segera ujarnya, &amp;quot;Walaupun kedua orang itu berjalan bersama So Bong-seng, bukan berarti mereka adalah anggota perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Maksudmu?&amp;quot; Lui Sun menghentikan tangannya di tengah jalan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Mereka bisa menjadi pembantu andal bagi So Bong-seng, tapi juga bisa menjadi ancaman serius baginya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia tidak seperti Lui Sun, menyebut So Bong-seng sebagai So-kongcu, tapi dia pun tidak meniru Lui Kun dengan memaki So Bong-seng sebagai setan penyakitan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebenarnya apakah dia segan menyebut So Bong-seng sebagai So-kongcu karena posisi Lui Sun sedang bermusuhan dengannya, sehingga dia merasa kurang leluasa untuk menyebutnya begitu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kadang kala Lui Sun pun pernah memikirkan persoalan ini, namun tak pernah memperoleh jawaban.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selama ini memang hanya Ti Hui-keng yang memahami orang lain, jarang ada orang lain bisa memahami dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan-lahan Lui Sun memasukkan kembali tangan kirinya ke dalam saku, senyuman mulai muncul di balik sorot matanya, &amp;quot;Kalau mereka bisa menjadi musuh kita, sama saja mereka pun bisa menjadi sahabat kita,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Antara musuh dan teman, sebenarnya hanya dibatasi sebuah benang yang tipis, mereka bertemu lebih dulu dengan So Bong-seng, maka bergaul dengannya, kita pun dapat pergi mencari mereka.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak Lui Sun mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya, &amp;quot;Tadi mengapa kau tidak menyinggung soal perkawinan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;So Bong-seng diserang duluan di Ku-swi-po kemudian baru melancarkan serangan balasan ke Po-pan-bun, kedatangannya sangat garang dan buas, hanya dalam waktu singkat dia telah mendatangkan pasukan &#39;Berbuat keonaran semau sendiri&#39; pimpinan Mo Pak-sin dan Pasukan Angin Puyuh pimpinan To Lam-sin untuk mengepung sekeliling tempat itu, posisinya waktu itu sangat kuat karena sudah memegang tujuh puluh persen kemungkinan menang,&amp;quot; kata Ti Hui-keng, &amp;quot;jika dalam situasi semacam itu kita tawarkan soal perkawinan, mungkin dia malah memandang enteng kita. Tujuannya kemari kan untuk berunding.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus sekali,&amp;quot; Lui Sun tertawa, &amp;quot;mau jadi &lt;i&gt;jingke (besan)&lt;/i&gt; atau musuh besar, biar dia sendiri yang memutuskan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bila kedatangan So Bong-seng tidak segarang hari ini, urusan perkawinan mungkin sudah beres sejak tadi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perkataan itu tampaknya amat cocok dengan selera semua orang, Lui Sun segera tertawa terbahak-bahak. Ti Hui-keng ikut tertawa, kecuali satu orang yang baru saja menaiki anak tangga, sekilas perasaan murung yang sangat tebal melintas dari balik sorot matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di mulut tangga muncul seseorang, dia adalah Lui Heng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cu-tayjin dari kantor kejaksaan kotaraja mohon bertemu Congtongcu,&amp;quot; lapor Lui Heng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun segera mengerling sekejap ke arah Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng sendiri tetap duduk santai, matanya tetap bening dan wajahnya tanpa perubahan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat itu Lui Sun segera berseru, &amp;quot;Persilakan masuk.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Heng menyahut dan segera berlalu. Sambil tertawa Ti Hui-keng berkata, &amp;quot;Cepat betul pihak kejaksaan memperoleh laporan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;&lt;b&gt;Cu Gwe-beng&lt;/b&gt; memang selalu muncul tepat pada waktunya,&amp;quot; kata Lui Sun tertawa, &amp;quot;di saat harus datang, ia segera datang, di saat harus pergi dia segera pergi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tak heran kalau belakangan pangkatnya cepat sekali naiknya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara pembicaraan masih berlangsung, Cu Gwe-beng sudah muncul di mulut tangga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Gwe-beng adalah seorang lelaki gemuk, ramah dan berwajah penuh senyuman, bukan saja tidak nampak cekatan atau cerdas, malah sedikit kelihatan bebal dan kedodoran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja dia bukan datang seorang diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan posisinya sebagai kepala kantor kejaksaan, bukan satu kejadian aneh bila kemana pun dia pergi, selalu dikawal tiga empat ratusan oang pengawal, tapi kali ini dia hanya mengajak tiga orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang lelaki setengah umur berkulit hitam, sekilas pandang tangannya seakan sedang menggenggam senjata tajam. Padahal orang itu datang dengan tangan kosong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak pernah ada yang berani membawa senjata atau menggembol senjata rahasia sewaktu datang bertemu Lui Sun. Tapi sepasang tangan milik orang itu tidak mirip sepasang lengan, tapi lebih mirip sepasang senjata tajam. Sepasang senjata tajam yang dalam waktu singkat dapat mencabik-cabik tubuh manusia hingga hancur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang seorang lagi adalah seorang kakek yang alis mata serta jenggotnya sudah putih, tak berbeda dengan orang tua biasa, hanya saja sewaktu berjalan dan naik anak tangga, jenggot maupun air matanya seolah kawat baja, sama sekali tidak bergerak barang sedikitpun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang seorang lagi adalah seorang anak muda yang sedikit agak kemalu-maluan, dia nyaris menempel terus di samping lengan Cu Gwe-beng. Kalau dilihat dari tingkah lakunya, dia seakan senang sekali berdiri di bawah bayang-bayang orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi orang yang tak tahu, mereka pasti akan mengira orang itu adalah seorang bocah idiot atau seorang kacung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu bersua dengan Lui Sun dan Ti Hui-keng, Cu Gwe-beng segera menjura dan berseru dengan penuh kegembiraan, &amp;quot;Lui-congtongcu, Ti-lotoa, kelihatannya kalian bertambah makmur saja belakangan ini!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nada suaranya mirip dengan lagak seorang saudagar, sama sekali tak terkesan kejam dan angkernya seorang kepala kejaksaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cu-tayjin, selamat bersua,&amp;quot; sahut Lui Sun sambil tertawa, &amp;quot;berkat anugerahmu, meski suasana dalam kota makin lama makin bertambah kalut, namun untuk hidup pas-pasan sih masih cukup.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hahaha, kalau aku, mana punya anugerah, justru karena Sri Baginda Sinbeng, maka kami semua ikut kecipratan hok-kinya, tapi yang pasti damai melahirkan kehormatan, aman menimbulkan rejeki, bukankah begitu Congtongcu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, akhirnya dia singgung juga masalah ini,&amp;quot; pikir Lui Sun dalam hati, buru-buru sahutnya, &amp;quot;Lohu hanya tahu Tayjin bukan cuma sukses di bidang kejaksaan, dalam perdagangan pun makin lama semakin bertambah kaya. Ucapan Cu-tayjin ibarat emas dan kemala, sungguh bikin kagum orang yang mendengarnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Gwe-beng mengerdipkan mata, lalu tertawa terbahak-bahak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hahaha, padahal kalau menyinggung soal dagang, selama ini aku hanya mendompleng perlindungan Congtongcu, sehingga tak perlu kelewat menyerempet bahaya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cu-tayjin terlalu memuji, antara sahabat memang seharusnya saling membantu,&amp;quot; Lui Sun tertawa hambar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, benar,&amp;quot; sela Ti Hui-keng tiba-tiba, &amp;quot;darimana Cu-tayjin tahu kalau kami berada di loteng Samhap-lau? Atau mungkin Tayjin pun sedang mencari kesenangan, hingga khusus kemari untuk menikmati pemandangan alam?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paras muka Cu Gwe-beng segera berubah jadi serius, dengan merendahkan suaranya ia berkata, &amp;quot;Terus terang, pertemuan dan perundingan yang diadakan Congtongcu serta Toatongcu dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong dengan Locu perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau sudah tersebar di seantero kota, bukan saja semua orang sedang membicarakan kejadian ini, bahkan atasan kami pun sudah mengalihkan perhatian kemari, malah sang Baginda ... hehehe ... beliau pun sudah mendengar kabar ini!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Padahal kejadian ini hanya urusan kecil, sungguh memalukan kalau sampai Koan-ya sekalian turut menaruh perhatian.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Gwe-beng melangkah maju, kemudian katanya lagi sambil tertawa, &amp;quot;Kalian berdua pasti tahu bukan, kalau aku bertugas di bagian kejaksaan, banyak urusan dan kejadian mau tak mau harus dibuatkan laporan, ah, betul, dalam pertemuan di Sam-hap-lau tadi, siapa yang keluar sebagai pemenang?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun dan Ti Hui-keng saling bertukar pandang sekejap kemudian tertawa, mereka bisa menduga, siapa menang siapa kalah di antara perkumpulan Lak-hun-poan-tong dan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau sudah menjadi urusan yang paling diperhatikan seluruh penduduk kota, meski Cu Gwe-beng datang dengan alasan dinas, padahal dia pun hanya ingin mencari tahu kabar berita terakhir tentang peristiwa itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bicara sejujurnya, Cu Gwe-beng sebenarnya termasuk salah seorang yang selama ini menunjang perkumpulan Lak-hun-poan-tong, alasannya, jika perkumpulan Lak-hun-poan-tong tidak menunjang Cu Gwe-beng, maka baginya tidak segampang sekarang dalam memecahkan setiap kasus besar yang terjadi, dan lagi meski dia punya kekuasaan, bukan berarti dia gampang dapat duit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila seseorang sudah memperoleh kekuasaan, otomatis dia akan senang duit, bila duit dan kekuasaan sudah didapat, maka dia mulai memburu nama, jika nama pun sudah diperoleh, maka dia akan mulai mencari benda mestika yang memungkinkan dia panjang umur, pokoknya napsu manusia untuk memperoleh sesuatu yang lebih, tak pernah akan puas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun dan Ti Hui-keng sama sekali tidak menjawab, akan tetapi wajahnya penuh senyuman, mereka merasa sangat bangga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cu Gwe-beng mulai panik, paling tidak ada dua tiga orang atasannya yang ingin mengetahui situasi di situ, tentu saja ia tak boleh pulang dengan tangan hampa. Maka kembali desaknya, &amp;quot;Sobat berdua, kita kan sahabat lama, tolong tanya siapa di antara kalian yang berhasil menempati posisi di atas angin? Siapa menang dan siapa kalah?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Masa kau tidak melihat kalau wajah kami penuh senyuman?&amp;quot; tanya Ti Hui-keng sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa kau tidak menanyakan langsung kepada So-kongcu?&amp;quot; sambung Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam hati Cu Gwe-beng tahu, sejak awal sudah ada orang lain yang pergi mencari So Bong-seng, tentu saja dia tak ingin ketinggalan dari rekannya itu, paling tidak dia pun harus mendapat berita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun sampai sekarang ia belum tahu keadaan yang sebenarnya, paling tidak ia sudah memperoleh sedikit masukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun ia belum jelas bagaimana hasil perundingan antara So Bong-seng dan Lui Sun, tapi setelah perundingan itu, dia masih menyaksikan wajah Lui Sun dan Ti Hui-keng penuh senyuman.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika seseorang masih bisa menampilkan wajah penuh senyuman, paling tidak hasil yang diperoleh tidak kelewat jelek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memandang senyuman yang menghias wajah Lui Sun, pada hakikatnya dia mirip seekor musang yang baru saja berhasil menemukan sarang anak ayam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka sekembalinya dari loteng Sam-hap-lau, Cu Gwe-beng pun segera memberi laporan kepada atasannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kelihatannya perkumpulan Lak-hun-poan-tong telah berhasil menempati posisi di atas angin.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; tanya atasannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Karena wajah Lui Sun dan Ti Hui-keng penuh dengan senyuman, senyuman yang amat cerah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekalipun atasannya merasa agak sangsi, namun dia terpaksa harus menerima kesimpulan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 18&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;14&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;15&lt;/a&gt; | &lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html&quot;&gt;16&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 17. Pengalaman aneh&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/04/golok-kelembutan-17-pengalaman-aneh.html&quot;&gt;17&lt;/a&gt; | 18&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/05/golok-kelembutan-18-wajah-penuh-senyum.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-6253289509914247441</guid><pubDate>Mon, 29 Apr 2013 19:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-30T02:18:01.178+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Tjan ID</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 17. Pengalaman aneh</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6&gt;17. Pengalaman aneh&lt;/h6&gt;  &lt;p&gt;Perundingan babak kedua telah berakhir. Ti Hui-keng sama sekali tidak kaget.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia mengangkat kelopak matanya, terpancar sinar mata yang bening. Dengan tenang ditatapnya wajah So Bong-seng, menunggu So Bong-seng selesai batuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena tengkuknya terkulai ke bawah maka kelopak matanya mesti diangkat ke atas agar bisa melihat So Bong-seng. Biji matanya pun bergeser ke arah atas, hal ini membuat matanya nampak putih kebiru-biruan, tajam, mantap dan sangat menawan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia seakan sudah menduga kalau So Bong-seng bakal mengucapkan perkataan semacam itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang merasa terkejut justru Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka tidak menyangka begitu buka suara So Bong-seng langsung minta perkumpulan Lak-hun-poan-tong, perkumpulan nomor wahid di kolong langit untuk menyerah kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini So Bong-seng sudah selesai batuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jarang ada orang yang bisa bersabar menanti sampai dia selesai batuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penyakit batuknya mungkin tidak terlampau parah, tapi begitu mulai batuk, setiap bagian tubuhnya seolah mulai berubah bentuk, suaranya begitu parau seakan pita suaranya segera akan retak dan pecah, lambungnya mengejang keras seakan dijepit orang dengan tanggam baja, seluruh tubuhnya melengkung bagai busur, jantungnya seolah ditusuk hingga berdarah, bola matanya penuh dengan jaringan darah, otot wajahnya menonjol keluar, jalan darah Tay-yang-hiat naik turun tak menentu, otot tubuhnya mengejang, jari tangan pun ikut kejang, begitu hebat batuknya sampai sepasang kakinya tak sanggup berdiri tegak, suaranya menyayat seolah paru-parunya mulai retak dan hancur, hancur berkeping dan ikut menyembur keluar bersama suara batuknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya selesai juga ia berbatuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu batuknya berhenti, dengan hati-hati dia melipat kembali saputangan putihnya dan dimasukkan ke dalam saku, caranya memasukkan saputangan persis seperti seorang yang sedang menyimpan selembar cek yang bernilai seratus juta tahil perak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah kau punya pendapat atau usul lain?&amp;quot; tanyanya kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu pertanyaan itu diutarakan, berarti perundingan babak ketiga dimulai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak perundingan yang diselenggarakan di dunia ini memang tak bisa diselesaikan dalam waktu singkat apalagi terburu-buru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa terburu-buru berarti dia tak bisa mengendalikan diri, berarti pula dia tak punya kesempatan untuk meraih kemenangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa tak dapat mengendalikan diri, dia selalu akan menderita rugi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Makna yang sebenarnya dari sebuah perundingan adalah bertujuan agar tidak menderita rugi atau sedikit menderita kerugian, atau juga membiarkan orang lain yang rugi, oleh sebab itu semakin berunding harus semakin pandai mengendalikan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa bukan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau yang menyerah kepada perkumpulan Lak-hun-poan-tong?&amp;quot; Ti Hui-keng balik bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pertanyaan itu diajukan dengan perasaan tenang dan datar, sama sekali tak diselipi gejolak emosi, dia seakan sedang merundingkan satu persoalan yang sama sekali tak ada sangkut-paut dengan dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebab situasi saat ini sudah amat jelas, Phang-ciangkun yang semula menunjang kalian, sekarang telah berbalik menunjang kami, Yan Yu-si yang semula menjadi bukit sandaran kalian, sekarang malah mengajukan laporan yang merugikan kalian di depan Kaisar, Lui Sun tiga kali mengajukan permohonan untuk bertemu perdana menteri tapi selalu ditolak, masa kau belum bisa menganalisa situasi semacam ini?&amp;quot; tanpa sungkan So Bong-seng langsung menyerang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Semua yang kau ungkap memang kenyataan,&amp;quot; Ti Hui-keng mengakui dengan cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oleh sebab itu kalian sudah mulai menunjukkan gejala kekalahan, bila tidak segera menyerah, yang kalian tuai hanya kekalahan dan kematian, mencari penyakit buat diri sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Walaupun fakta yang kau kemukakan benar,&amp;quot; ujar Ti Hui-keng hambar, &amp;quot;akan tetapi kami masih mempunyai tujuh puluh ribu anggota perkumpulan Lak-hun-poan-tong yang tinggal di kotaraja, mereka rela mati dalam pertempuran dan tak sudi menjadi seorang lelaki yang menyerah kalah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau keliru besar,&amp;quot; tukas So Bong-seng cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pertama, kalian tidak memiliki tujuh puluh ribu anggota, hingga kemarin sore, anggota kalian hanya tersisa lima puluh enam ribu lima ratus delapan puluh dua orang, tapi kemarin tengah malam, delapan ribu empat ratus enam puluh tiga orang yang berada di wilayah &lt;b&gt;Keng-hoa-to&lt;/b&gt; telah bergabung ke pihakku, maka hari ini sisa anggota kalian tinggal empat puluh delapan ribu seratus sembilan belas orang, itu belum dipotong lagi dengan kematian si &lt;b&gt;Hwesio Perlente&lt;/b&gt; barusan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, So Bong-seng berkata lebih jauh, &amp;quot;Kedua, dari sisa anggotamu yang empat puluh delapan ribu seratus delapan belas orang itu, paling tidak ada setengahnya bukan manusia yang setia, sisanya yang setengah lagi, di antaranya ada empat puluh persen yang tidak tahan menerima godaan dan rayuan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau kami, sisanya yang enam puluh persen ada tiga puluh persen di antaranya tak sudi mati demi perkumpulan Lak-hun-poan-tong, jadi kekuatan yang benar-benar dapat kalian gunakan bukan berjumlah tujuh puluh ribu orang melainkan hanya tujuh ribu orang, jadi kau tak perlu ragu lagi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng membuka daun jendela yang menghadap ke arah timur, sambil menuding keluar katanya lagi, &amp;quot;Ketiga, coba kau lihat sendiri!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di kejauhan sana, dipandang dari tempat yang tinggi, di antara lamat-lamatnya cuaca mendung dan langit berwarna keabu-abuan, tampak satu pasukan manusia berbaju hijau yang menggembol golok besar di punggungnya, berdiri berjajar di tengah terpaan hujan gerimis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di belakang pasukan bergolok itu, berjajar pula sepasukan berkuda yang dipimpin seorang lelaki berbaju perang warna putih, membawa tombak panjang yang sangat menyolok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun anggota pasukan itu banyak sekali jumlahnya, namun suasana amat hening dan sepi, mereka berdiri angker di bawah derasnya air hujan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pasukan itu sama sekali tidak bergerak, hanya panji kebesarannya yang berkibar ketika terhembus angin, di atas panji itu tersulam sebuah huruf yang sangat besar, &amp;quot;To&amp;quot; atau golok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan-lahan Ti Hui-keng bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela lalu dengan susah payah melongok sekejap ke tempat jauh, setelah itu dia baru berkata, &amp;quot;Ooh, rupanya To Lam-sin telah membawa Pasukan Angin Puyuhnya datang kemari.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oleh karena kalian sudah terkepung, maka pasukan Lui Moay tak berani bergerak maju secara sembarangan,&amp;quot; kata So Bong-seng menerangkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sayang kalian pun tidak sungguh-sungguh berani melancarkan serangan, sebab jika sampai geger, penggunaan pasukan kerajaan untuk kepentingan organisasi bisa menjadi masalah yang amat serius, sudah pasti perdana menteri dan raja muda akan tak senang,&amp;quot; kata Ti Hui-keng cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, &amp;quot;Kecuali kalau pihak kami yang menyerang duluan, To Lam-sin dengan alasan menumpas pemberontakan bisa saja melancarkan pembersihan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Perkataanmu tepat sekali,&amp;quot; kata So Bong-seng manggut-manggut, &amp;quot;oleh sebab itu kalian pun tak akan melancarkan serangan, tapi kau mesti tahu, dua puluh persen kekuatan pasukan yang ditempatkan di kotaraja berada dalam genggaman kami, ini fakta, inipun kekuatan nyata, padahal kalian tidak memilikinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Betul, kami memang tidak punya,&amp;quot; kali ini Ti Hui-keng mengangguk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Makanya lebih baik kalian menyerah saja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sekalipun kami bersedia menyerah, belum tentu Cong-tongcu akan menyetujuinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Orang yang sudah terbiasa jadi orang nomor satu memang tak ingin jadi orang nomor dua, tapi bagaimana dengan kau?&amp;quot; tatapan So Bong-seng tajam bagai sembilu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pun sudah terbiasa menjadi orang nomor dua,&amp;quot; jawaban Ti Hui-keng masih tetap santai, &amp;quot;jadi, mau pindah kemana pun tetap aku jadi orang nomor dua, apa gunanya? Apalagi kalau sampai dijadikan orang nomor tiga atau orang nomor empat, waah ... bedanya bisa jauh sekali.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Belum tentu, bisa saja kau malah jadi orang nomor satu?&amp;quot; tukas So Bong-seng cepat, kemudian setelah mengatur nada suaranya, ia melanjutkan, &amp;quot;Orang nomor satu perkumpulan Lak-hun-poan-tong dan orang nomor satu perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau boleh saja tetap ada, asalkan si penanggung jawab perkumpulan Lak-hun-poan-tong mau bertanggung jawab juga terhadap perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng mencibirkan bibir sebagai ganti senyuman, &amp;quot;Sayang selama ini aku terbiasa memberi pertanggungan jawab kepada Lui Sun.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Lui Sun sudah tua, sudah tak becus, kau tak usah bertanggung jawab lagi kepadanya, sudah waktunya bagimu untuk bertanggung jawab kepada diri sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng seakan agak tertegun, sesaat dia tak berkata-kata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng berkata lebih jauh, &amp;quot;Setelah tujuh-delapan tahun menjadi orang nomor dua, sekarang menjadi orang nomor satu, rasanya hal ini menarik juga.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng menghela napas panjang, tapi suaranya sangat lirih, sedemikian lirih hingga nyaris tak terdengar oleh orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah kau masih punya pendapat lain?&amp;quot; kembali So Bong-seng bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng mendongakkan kepala dan memandang lawan lekat-lekat, sesaat kemudian ia baru menjawab, &amp;quot;Aku sudah tak punya pendapat apa-apa lagi. Tapi Congtongcu pasti mempunyai pendapatnya sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau ingin menanyakan pendapatnya?&amp;quot; So Bong-seng tiba-tiba menarik kelopak matanya hingga pandangan matanya nampak dingin menggidikkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau sendiri tak sanggup mengambil keputusan?&amp;quot; desak So Bong-seng lagi dengan sorot mata setajam sembilu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng mengawasi sepasang tangannya. Sepasang tangan yang putih dan bersih, jari tangannya panjang tapi ramping, ruas jarinya kelihatan sangat bertenaga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku selalu memberikan pertanggungan jawab kepadanya, sedang dia bertanggung jawab atas keseluruhan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, bagaimanapun aku harus menanyakan pendapatnya, setelah itu baru mulai mempertimbangkan pendapatku sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng mulai bersikap tenang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik yang selama ini hanya membungkam, mendadak mulai merasa kuatir. Dia menguatirkan Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Asal So Bong-seng melolos goloknya, mungkin dalam waktu singkat Ti Hui-keng sudah roboh bersimbah darah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyaksikan Ti Hui-keng dengan tubuhnya yang begitu lemah, ditambah lagi mengidap cacad yang begitu mengenaskan, dia tak tega menyaksikan orang itu mati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untung So Bong-seng tidak turun tangan, dia hanya berkata dengan nada dingin, &amp;quot;Tengah hari tiga hari kemudian, di tempat yang sama, suruh Lui Sun datang kemari, aku ingin berbicara hingga jelas dengannya. Jika ia tidak datang, segala akibat tanggung jawab dia sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu selesai bicara ia segera beranjak pergi, pergi tanpa melirik lagi ke arah Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perundingan tiga babak pun kini berakhir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng membalikkan badan dan berlalu, turun dari loteng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena ia pergi secara tiba-tiba, mau tak mau Ong Siau-sik mengikut di belakangnya turun dari loteng itu, Pek Jau-hui sebetulnya ingin membangkang, tapi situasi dan kondisi tidak mengizinkan dia mengumbar watak sendiri, maka dia pun ikut turun dari situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng memang selalu memiliki kekuatan untuk menggerakkan orang lain mengikuti kehendaknya. Kendatipun dia sendiri sudah didera penyakit yang membuatnya nyaris kehilangan segenap tenaga dan kekuatan yang dimilikinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kekuatan dalam kehidupan!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sudah turun dari loteng, namun Ti Hui-keng sama sekali tak bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beberapa saat kemudian, ia menjumpai gerombolan payung hijau yang semula memenuhi tengah jalan raya, kini sudah bubar dan lenyap dari pandangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak selang berapa saat kemudian, pasukan berkuda yang berada di kejauhan pun dengan tanpa menimbulkan suara telah bergeser dan meninggalkan tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng masih duduk dengan santai, persis seperti seorang siucay yang sedang menikmati pemandangan alam di tengah hujan sambil membuat pantun dan syair.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul kemudian ia mendengar suara tiupan seruling yang berkumandang dari kejauhan, dua kali tiupan panjang tiga kali tiupan pendek, seakan ada orang yang sedang memanggil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sungguh aneh,&amp;quot; kala itulah Ti Hui-keng baru berbisik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Meskipun mengucapkan dua patah kata yang singkat, tapi jelas dia bukan sedang bergumam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia seakan sedang berbicara dengan seseorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi ... dalam ruangan loteng itu hanya ada dia seorang, dengan siapa dia berbicara?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru selesai dia bicara, mendadak terdengar seseorang menanggapi, &amp;quot;Apanya yang aneh?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seseorang terlihat &#39;berjalan&#39; turun dari atap rumah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia tidak menggunakan gerakan tubuh apa pun, hanya membuka jendela dekat atap rumah lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Di antara atap bangunan dengan lantai ruangan tingkat dua, sama sekali tak tersedia anak tangga, namun dia telah berjalan turun ke bawah dengan santainya, seolah sedang berjalan di tanah datar saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang ini mengenakan jubah lebar berwarna abu-abu, tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku, sewaktu turun ke dalam ruangan, tiba-tiba Ti Hui-keng merasa kalau saat itu turun hujan, benar-benar langit gelap dan hujan turun, suasana hujan yang akan amat menggidikkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai kapan hujan akan turun?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika musim hujan lewat, salju pun akan mulai turun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila salju sudah turun, harus menunggu sampai berapa lama lagi matahari baru menampakkan diri?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pikiran semacam itu hanya berkecamuk di dalam benaknya, di luar ia segera menyapa, &amp;quot;Congtongcu sudah menunggu lama di atap rumah?&amp;quot; Kakek itu tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Loji, kau pasti sangat lelah,&amp;quot; katanya, &amp;quot;cucilah dulu matamu, kemudian cucilah tanganmu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu perkataan itu diucapkan, dua orang gadis cantik dengan membawa sebuah baskom perak berisikan air bersih dan sebuah handuk berwarna putih telah muncul dalam ruangan, kemudian dengan sangat hati-hati meletakkannya di atas meja, persis di samping Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyaksikan hal ini Ti Hui-keng tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia benar-benar mencuci matanya dengan air, lalu mencelupkan handuk putih itu ke dalam air dan membilas wajahnya perlahan, setelah itu dia celupkan juga sepasang tangannya ke dalam air.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selang beberapa saat baru ia mencuci tangan itu dengan sangat teliti, mencucinya dengan serius, sangat hati-hati dan tak ada bagian tangannya yang tidak dibersihkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kakek itu hanya mengawasi dari kejauhan, jenggotnya kelihatan agak berguncang, entah karena terhembus angin atau alasan lain, tapi yang jelas bukan cuma jenggotnya yang bergoyang, jubah yang dikenakan pun ikut bergelombang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan sabar dan hati-hati Ti Hui-keng mencuci matanya, mencuci tangannya, lalu satu demi satu dilap dengan handuk hingga kering, dia tidak membiarkan setetes air pun masih membasahi jari tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si kakek pun dengan sabar menunggu, menanti hingga dia menyelesaikan semua pekerjaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Usianya sudah cukup tua, dia tahu, semua keberhasilan harus melalui kesabaran dan keuletan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika masih muda dulu, dia lebih membara ketimbang orang lain, itulah sebabnya ia berhasil memperoleh dunia, tapi dunia bisa diperoleh dengan semangat yang berkobar, namun begitu harus mempertahankan dunianya, kobaran api yang kelewat panas justru bakal membikin runyam masalah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab yang diutamakan adalah kesabaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena itu dia bisa bersabar jauh melebihi kemampuan siapa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap kali dia membutuhkan orang, dia dapat begitu sabar. Apalagi ingin memanfaatkan orang berbakat, dibutuhkan kesabaran yang luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia sadar banyak persoalan tak akan selesai bila terburu-buru, bahkan ada persoalan tertentu yang semakin susah dicapai bila kelewat bernapsu, maka dia belajar menjadi seorang pemburu, menjadi seorang nelayan, menebarkan jaring dan perangkap, kemudian menyingkir agak menjauh dan menunggu dengan sabar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sabar memang mempunyai banyak keuntungan, paling tidak bisa membuat orang lebih jelas melihat situasi, bisa mengatur langkah dengan lebih tepat, memperkuat diri, mengubah posisi lemah menjadi kuat. Jika seorang tak punya kesabaran, dia tak akan berhasil menciptakan karya besar, paling yang bisa dilakukan hanya usaha kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja perkumpulan Lak-hun-poan-tong bukan sebuah usaha kecil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka ia harus sabar, khususnya sabar menghadapi Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena Ti Hui-keng adalah orang paling berbakat di antara orang berbakat lainnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng memiliki dua kelebihan, kelebihan yang dimilikinya terhitung nomor satu di kotaraja, tak nanti ada orang lain sanggup mengunggulinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepasang tangan Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepasang mata Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka dari itu dia harus merawat sepasang tangannya ekstra hati-hati, melindungi sepasang matanya ekstra ketat. Lui Sun sangat memahami akan hal ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hari ini dia mengatur rencana secara cermat, menyusun strategi dengan sempurna, tujuannya tak lain adalah untuk mengatur suatu pertemuan antara Ti Hui-keng dengan So Bong-seng, jelas pertemuan ini bertujuan melakukan perundingan, bagaimana hasil perundingan itu tidak terlalu penting baginya, justru kesimpulan yang diambil Ti Hui-keng jauh lebih penting dari segalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inilah yang disebut kekuatan dari suatu pengamatan, jika pandai memanfaatkannya, maka pengamatan dari seseorang justru jauh lebih berharga daripada harta kekayaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah So Bong-seng berlalu, Ti Hui-keng hanya mengucapkan sepatah kata, &amp;quot;Aneh!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kenapa aneh?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apanya yang aneh?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun tak perlu terburu-buru, sebab dia tahu Ti Hui-keng pasti akan menjelaskan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa pun orangnya, bila dia memiliki bobot seperti Ti Hui-keng, memiliki kemampuan yang hebat dalam menganalisa sesuatu dan mengambil suatu kesimpulan, dia berhak untuk jual mahal, berbicara bila dia merasa senang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Akhirnya Ti Hui-keng bicara juga, ujarnya, &amp;quot;Aneh, kenapa So Bong-seng begitu terburu-buru?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Maksudmu dia terburu-buru ingin bertanding melawanku?&amp;quot; tanya Lui Sun hati hati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng menundukkan kepala, mengalihkan sorot matanya mengawasi sepasang tangannya yang putih mulus, &amp;quot;Sebenarnya dia tak perlu terburu-buru, karena situasi makin lama semakin menguntungkan bagi dirinya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun tidak menjawab, dia menunggu Ti Hui-keng bicara lebih jauh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia tahu, Ti Hui-keng pasti akan melanjutkan kata-katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekalipun Ti Hui-keng bukan sedang memberi laporan kepada atasannya tentang hasil pantauan dan analisanya, dia tetap akan mengatakannya, sebab pandangan seseorang yang kelewat istimewa, pendapat yang kelewat sempurna, selalu berharap ada orang bisa menikmatinya, ada orang memujinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak disangkal Lui Sun adalah seorang pendengar, penikmat dan pemuja yang amat pandai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benar saja, Ti Hui-keng berkata lebih jauh, &amp;quot;Jika seseorang sudah terburu-buru ingin menyelesaikan segala sesuatunya, berarti dia sudah berada dalam kondisi tak bisa menunggu lagi, jelas hal ini merupakan kesulitannya, kesulitan seseorang besar kemungkinan merupakan titik kelemahannya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bicara sampai di situ ia segera membungkam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah dengan mencari titik kelemahan itu berarti kita bisa menemukan cara untuk menyelamatkan diri dari kekalahan?&amp;quot; Lui Sun segera menimpali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi kesulitan apa yang sedang ia hadapi?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita tidak tahu, kita hanya bisa menebak ...&amp;quot; sekilas perasaan bimbang muncul di wajah Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kondisi kesehatannya?&amp;quot; tanya Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Inilah tujuan utamanya mempersilakan Ti Hui-keng berjumpa dengan So Bong-seng, hanya Ti Hui-keng seorang yang bisa melihat apakah So Bong-seng benar-benar berpenyakit, bagaimana penyakitnya dan apa penyakitnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng merupakan seorang jago yang tak mudah dikalahkan, dia nyaris tak punya kelemahan, musuh-musuhnya pun tak berhasil menemukan titik kelemahannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi setiap orang tentu punya kelemahan, biasanya jago tangguh pandai menyembunyikan kelemahan, bahkan pandai mengubah titik kelemahannya menjadi titik yang paling kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sehebat apa pun kepandaian silat yang dimiliki seseorang, dia tak akan lolos dari kematian, begitu juga dengan kondisi kesehatan seseorang, seprima apa pun kondisi tubuhnya, suatu ketika pasti akan sakit juga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi penyakit apa yang diderita So Bong-seng? Bila orang lain tak sanggup merobohkan dia, mungkin setan penyakit dapat merobohkan dirinya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berita semacam inilah yang paling ingin diketahui Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia benar-benar sakit,&amp;quot; ungkap Ti Hui-keng tegas, dia tahu analisa yang baru saja dilontarkan itu sudah lebih dari cukup untuk menggemparkan seluruh kotaraja, menggetarkan separuh dunia persilatan, &amp;quot;Seluruh tubuhnya tak ada yang tidak sakit, paling tidak ia menderita tiga empat macam penyakit, hingga kini penyakitnya boleh dibilang termasuk penyakit parah yang tak ada obatnya, di samping itu dia pun menderita lima-enam macam penyakit yang hingga kini belum diketahui namanya. Sampai sekarang dia masih belum mati karena dia mempunyai tiga kemungkinan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah termenung sejenak, terusnya, &amp;quot;Kemungkinan pertama, tenaga dalamnya kelewat tinggi, sanggup mengendalikan penyakitnya hingga tidak menjalar. Namun, sehebat apa pun tenaga dalamnya, mustahil dia bisa mengendalikan penyakitnya dalam jangka waktu yang panjang, mustahil bisa membuat penyakitnya tidak memburuk.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sinar matanya dialihkan ke atap bangunan dan menerawang sampai lama sekali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun menanti dengan tenang, menanti dia melanjutkan perkataannya, wajahnya tak ada rasa gusar, tak ada perasaan mendongkol, yang ada hanya keseriusan, keseriusan untuk mendengar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mimik seperti inilah yang paling ditakuti Ti Hui-keng, sebab dari balik mimik muka seperti ini, sulit baginya untuk menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kemungkinan kedua, bisa jadi tujuh delapan macam penyakit yang dideritanya saling mengendalikan, saling berbenturan hingga untuk sementara tak akan kambuh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apa pula kemungkinan yang ketiga?&amp;quot; tanya Lui Sun cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pengalaman aneh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 17&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 14. Orang dalam pasar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;14&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 15. Manusia berpayung&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;15&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 16. Batuk dan menundukkan kepala&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html&quot;&gt;16&lt;/a&gt; } 17&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/04/golok-kelembutan-17-pengalaman-aneh.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-2260522047049265985</guid><pubDate>Fri, 29 Mar 2013 10:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-29T17:08:16.162+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 16. Batuk dan menundukkan kepala</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6&gt;16. Batuk dan menundukkan kepala&lt;/h6&gt;  &lt;p&gt;Mengharapkan persahabatan hingga di hari tua, di kolong langit hanya ada Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila kau tidak mempunyai sahabat, carilah Ti Hui-keng, Ti Hui-keng adalah sahabatmu yang paling setia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila tak ada orang yang bisa memahami dirimu, carilah Ti Hui-keng, Ti Hui-keng akan menjadi seorang teman yang bisa memahami perasaanmu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila kau bertemu kesulitan, carilah Ti Hui-keng, sebab dia dapat menyelesaikan seluruh kesulitan yang sedang kau hadapi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila kau ingin mengambil jalan pendek, carilah Ti Hui-keng, dia pasti dapat membangkitkan kembali semangat hidupmu, dan waktu itu sekalipun sang Kaisar bersedia memberi hadiah sepuluh juta tahil emas murni untuk kematianmu pun tak nanti kau sudi melukai ujung jari sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semuanya ini merupakan kabar yang tersiar dalam kota.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sayang Ti Hui-keng hanya ada satu, dan itupun tidak gampang untuk menjumpainya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di kolong langit hanya ada satu orang yang setiap saat dapat bertemu dengannya, dia bukan putri Ti Hui-keng karena Ti Hui-keng tak punya anak perempuan, juga bukan bini Ti Hui-keng karena dia belum beristri. Sepanjang hidupnya Ti Hui-keng hanya punya teman, tak punya keluarga, dia hidup sebatang kara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya Lui Sun seorang yang setiap saat dapat bertemu dengannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa yang bisa bersahabat dengan Ti Hui-keng, dia pasti bisa menghasilkan sebuah karya yang menggemparkan, tapi sayang sahabat karib Ti Hui-keng hanya Lui Sun seorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malah ada orang bilang, Ti Hui-keng bisa memahami kolong langit sementara Lui Sun dapat memanfaatkan Ti Hui-keng, itulah sebabnya dia bisa &#39;memperoleh seluruh jagad&#39;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi ada juga yang berkata, sebuah gunung tak akan menerima dua ekor macan, sekarang Lui Sun memang tak akan bentrok dengan Ti Hui-keng, tapi bila dunia sudah aman, jagad sudah mereka kuasai, pasti akan terjadi bentrokan di antara kedua ekor macan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau peristiwa ini sampai terjadi, sudah pasti akan menjadi satu kehilangan bagi perkumpulan Lak-hun-poan-tong, merupakan sebuah aib yang harus dihindari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja So Bong-seng pernah juga mendengar berita itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentang berita yang terakhir, konon dia sendiri yang menciptakan, ia sengaja menyiarkan berita ini ke dunia persilatan, kemudian menunggu reaksi yang akan diperlihatkan kedua orang gembong utama perkumpulan Lak-hun-poan-tong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cara yang paling jitu untuk melenyapkan musuh adalah membiarkan mereka saling melenyapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agar musuh bisa saling membunuh, pertama-tama dia harus membangkitkan dulu rasa curiga di masing-masing pihak. Kalau sudah timbul perasaan saling curiga, maka mereka pun tak bisa bekerja sama, asal tak bisa bekerja sama, berarti ada peluang baginya untuk menyusup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka So Bong-seng pun menciptakan isu itu, isu memang selalu mendatangkan manfaat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sehebat apa pun kemampuanmu, setinggi apa pun ilmu silatmu, sulit bagi mereka untuk menghindari isu, mereka mudah dipengaruhi berita yang tersiar di luar, sebab isu itu sendiri bisa menciptakan semacam daya tekanan, seperti bola salju, semakin menggelinding akan semakin bertambah besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun kau termasuk orang yang tak mau percaya dengan isu, namun apa yang bisa kau perbuat tak lebih hanya semacam menghindar, atau dengan perkataan lain isu tetap meninggalkan daya pengaruh, karena itu dia tak berani menghadapi kenyataan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya orang yang bisa menghadapi isu, berani menghadapi isu dan menyelesaikan berita isu terhitung seorang pemberani.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menyebarkan isu itu, So Bong-seng tinggal menunggu reaksi dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong, jika musuh merupakan sebuah gudang mesiu, dia tak perlu memindahkan isi gudang itu, tapi cukup menyulut sumbunya dengan api.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia percaya apa yang telah dilakukan ibarat menuang sebaskom air ke dalam sekarung gandum, tak selang lama gandum dalam karung akan menjamur lalu membusuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika kau menginginkan sepasang suami istri cekcok, gampang sekali, cukup menyiarkan kejelekan masing-masing pihak di luar, sebarkan isu itu dan tak lama kemudian percekcokan segera akan berlangsung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terkadang So Bong-seng juga percaya, asalkan persahabatan antara Lui Sun dan Ti Hui-keng mulai retak, kekuatan dan pengaruh perkumpulan Lak-hun-poan-tong selanjutnya pasti akan mulai goyah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh sebab itu dia &#39;menuangkan sebaskom air, kemudian dengan sabar menanti hasilnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu apa yang berhasil dia dapatkan? Tidak mendapat apa-apa!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun tetap Lui Sun, sama sekali tidak menderita Sun (rugi), Ti Hui-keng tetap Ti Hui-keng, dia tidak jadi Keng (kaget) karena perubahan itu, yang satu tetap menjadi Congtongcu perkumpulan Lak-hun-poan-tong, yang lain tetap menjadi Toa-tongcu perkumpulan Lak-hun-poan-tong, tak ada yang lebih unggul tak ada yang lebih asor, keduanya tetap seimbang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaskom air&#39; itu ibarat dibuang ke tengah laut, sama sekali tidak bereaksi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejak itu pandangan So Bong-seng terhadap Ti Hui-keng semakin mengherankan, semakin ingin tahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang Loji memang harus mengalah kepada sang Lotoa, sebab kekuasaan Lotoa jauh lebih besar dari Loji, kalau Loji tak bisa menahan diri, maka ia tak bisa menjadi Loji, dia boleh jadi Lotoa, tapi sebagai Loji sudah menjadi kewajibannya untuk mengalah kepada sang Lotoa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi dengan cara apa sang Loji dapat membuat Lotoa tak perlu curiga kepadanya, tak perlu waspada kepadanya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di sinilah letak kehebatan Ti Hui-keng, selain itu juga merupakan kelebihan yang tak boleh diabaikan dari seorang Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng merasa sangat heran, tapi ia tidak lepas tangan begitu saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia tahu, di antara Ti Hui-keng dan Lui Sun pasti terdapat satu alasan yang membuat kedua belah pihak sama-sama menaruh kepercayaan, alasan itu besar kemungkinan adalah sebuah rahasia, asal dia berhasil menemukan rahasia itu, mungkin tak sulit untuk mengetahui hubungan mesra di antara mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng ingin sekali menemukan rahasia itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Demi rahasia itu, dia tak segan menitahkan penyusupnya yang sudah berada dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong untuk mencari tahu hubungan antara Lui Sun dan Ti Hui-keng sebagai tugas paling utama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini dia sudah mulai memperoleh titik terang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia telah berjumpa dengan Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun adalah pemimpin perkumpulan Lak-hun-poan-tong, dia merupakan orang lapangan, orang yang berada di garis depan, tak sulit bagi So Bong-seng untuk bersua dengan Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi hingga kini So Bong-seng belum pernah bertemu dengan Ti Hui-keng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng bukan seorang jagoan yang gemar menampakkan diri, dan sekarang dia berada di atas loteng, dia sedang menuju ke situ untuk bertemu dengannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini ia telah berjumpa dengan Ti Hui-keng. Tapi apa yang dilihat membuatnya amat terkejut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng sebenarnya terhitung seorang pemuda ganteng, kesepian dan sedikit agak lugu, sedemikian tampannya sampai Pek Jau-hui yang melihat pun timbul perasaan iri dalam hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itu Ti Hui-keng sedang menundukkan kepala, mengawasi jubah panjang sendiri, mungkin juga sedang memperhatikan ujung sepatu sendiri, sikap dan tingkah lakunya persis seperti seorang nona pemalu, tak berani mendongakkan kepala untuk memandang ke arah orang lain&#39;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang nona tak berani mengangkat wajahnya untuk memandang orang lain, karena dia memang seorang gadis. Maklum, seorang gadis biasanya memang pemalu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja Ti Hui-keng bukan seorang gadis, dia malah seorang Toatongcu dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong, tapi mengapa sewaktu berbicara dengan orang lain, ia tak pernah mendongakkan kepala?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah dia tidak merasa tindakannya itu kurang sopan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi tak pernah ada orang menegurnya, tak pernah menyalahkan sikapnya, bahkan tak tega untuk memarahinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebab begitu melihat So Bong-seng bertiga naik ke atas loteng, Ti Hui-keng segera berkata dengan nada minta maaf, &amp;quot;Tolong, jangan salahkan kalau aku kurang hormat, tulang kepalaku ada kendala hingga tak bisa didongakkan, sungguh aku minta maaf!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng, Ong Siau-sik maupun Pek Jau-hui tidak tahu apakah Ti Hui-keng sedang bicara jujur atau tidak, namun perasaan mereka bertiga segera terkesiap dibuatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang lelaki yang begitu tampan ternyata tulang tengkuknya patah, ini menyebabkan dia tak pernah bisa mendongakkan kepala, tak pernah bisa menikmati pemandangan alam di kejauhan sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas perasaan sedih melintas dalam hati ketiga orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka merasa sedih dan ikut berduka atas ketidak beruntungan pemuda ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah dikarenakan alasan ini, maka Ti Hui-keng diangkat menjadi orang kedua?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tengkuk Ti Hui-keng terkulai lemas ke bawah, siapa pun dapat melihat dengan jelas kalau tulang tengkuknya memang patah, justru yang membuat orang terperangah adalah dia tidak mati lantaran hal itu, bahkan masih bisa hidup sehat hingga sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Nada suaranya amat lirih dan lembut, seakan ada seakan tak ada, kadang terputus kadang tersambung kembali, ini disebabkan ia tak sanggup menyelesaikan sepotong kalimat sekaligus.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bisa hidup hingga hari ini dalam kondisi semacam ini pula, dapat dibayangkan betapa tersiksa dan menderitanya dia selama ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak punya tengkuk, napas pun sangat pendek hingga sukar berbicara, apa mungkin manusia dengan kondisi tubuh semacam ini memiliki kepandaian silat yang luar biasa?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jelas kehidupan semacam ini merupakan sebuah kehidupan yang amat menyiksa!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi Ti Hui-keng tetap tersenyum, dia seolah merasa amat puas dengan kondisi tubuhnya itu, senyuman yang tersungging di ujung bibirnya yang pucat menimbulkan suatu perasaan yang sangat aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng selalu menundukkan kepala, maka dengan sangat mudah ia dapat melihat rombongan So Bong-seng naik ke atas loteng tapi setelah rombongan tamunya itu berada di atas, ia jadi tidak leluasa lagi, karena dia harus bicara dengan kepala tetap tertunduk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyaksikan semua ini, rasa iri yang muncul dalam hati Pek Jau-hui seketika hilang lenyap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata di dunia ini memang tiada kejadian yang sempurna, oleh sebab itu tak mungkin pula terdapat manusia yang sempurna.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh karena Ti Hui-keng duduk dengan kepala tertunduk, tubuhnya jadi nampak lebih pendek dari siapa pun, Ong Siau-sik yang melihat hal ini ingin sekali menjatuhkan diri berlutut, agar bisa berbicara saling bertatap muka dengan orang ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin hanya dengan berbuat begitu mereka bisa duduk sejajar, bisa berbicara sambil bertatap muka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dengan So Bong-seng? Apa pula jalan pikirannya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng berjalan menuiu ke depan jendela.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejauh mata memandang, pemandangan di luar jendela ibarat seutas ikat pinggang kemala, bayangan pagoda di atas permukaan telaga, bayangan pohon yang bergoyang terhembus angin, wuwungan rumah yang berjejer ..........&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil menggendong tangan, So Bong-seng membuang pandangannya keluar jendela, dia tidak memandang ke tempat jauh tapi memperhatikan suasana di tengah jalan raya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hujan masih membasahi bumi, awan kelabu masih menyelimuti angkasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi di tengah jalan raya hanya ada dua macam warna.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kuning dan hijau!!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Payung kuning dan payung hijau telah terbentang menjadi sebuah lukisan, masing-masing bergerombol pada kelompoknya, tapi mereka tidak berdiam diri, terkadang mereka bergerak cepat, terkadang saling serobot posisi, dipandang dari kejauhan, pemandangan itu sangat indah karena ibarat bunga kuning dan hijau yang sedang menari di tengah guyuran air hujan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja orang-orang itu berada di bawah payung.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng yang memandang dari atas loteng hanya menyaksikan lautan payung, tidak nampak bayangan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Payung berwarna hijau adalah barisan &#39;Berbuat Onar Semau Sendiri&#39; pimpinan Mo Pak-sin. Sementara payung kuning adalah pasukan Lui Moay.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat So Bong-seng membalikkan tubuh, lagi-lagi dia terbatuk hebat, begitu mulai berbatuk, setiap otot tubuhnya seakan mengejang keras, setiap sarafnya seolah ikut bergetar keras, membuat setiap jengkal badannya seakan ikut tersiksa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali ia mengeluarkan saputangan putih dan ditutupkan ke sisi mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apakah saputangan putihnya kembali ternoda darah?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kali ini Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui tak sempat melihat, sebab begitu selesai batuk, So Bong-seng segera memasukkan kembali saputangannya ke dalam saku.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau ditinjau dari keadaan kedua tokoh silat ini, penderitaan Ti Hui-keng jauh lebih tersiksa?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ataukah siksaan So Bong-seng jauh lebih menderita?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beginikah pengorbanan yang harus dibayar untuk memperoleh kekuasaan dan nama besar?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhargakah bila dibayar dengan pengorbanan sebesar ini?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk sesaat Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui termenung, perasaan aneh itu seketika muncul di hati mereka berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba So Bong-seng buka suara, caranya berbicara sama sekali tak sungkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia hanya melongok sekejap keluar jendela, sekali pandang ia sudah mengambil kesimpulan, Situasi sudah terkendali!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk sementara waktu, pasukan payung hijau pimpinan Mo Pak-sin dapat membendung serbuan pasukan payung kuning pimpinan Lui Moay, bahkan menurut kode rahasia yang dipancarkan melalui gerakan payung, ia mendapat tahu kalau sesaat lagi Yo Bu-shia, salah seorang jenderal andalannya segera akan tiba di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia tahu, Yo Bu-shia tak nanti datang seorang diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Boleh dibilang ia bersama pasukan intinya yang ada di bawah loteng sudah seia sekata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Asal situasi sudah terkendali, berarti sekarang mulai merundingkan syarat perjanjian. Itulah salah satu sebab mengapa So Bong-seng harus mengetahui terlebih dulu keadaan di luar sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Syarat perundingan apa pun yang akan diajukan selalu terbentuk atas dasar kekuatan yang dimiliki, jika seseorang tak memiliki kekuatan, maka dia tak akan bisa mengajak orang lain berunding dan mengajukan syarat, yang bisa dilakukan hanya minta bantuan orang, memohon kemurahan hatinya, bimbingan dan perlindungannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sangat memahami teori ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia harus dapat menganalisa kekuatan sendiri dalam situasi yang kalut, setelah yakin situasi menguntungkan pihaknya, perundingan baru bisa dimulai. Dia selalu berpendapat, berunding adalah jenis lain dari sebuah serangan. Sebuah serangan yang tidak perlu menggunakan pasukan maupun senjata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ada apa dengan kepalamu?&amp;quot; pertanyaan yang diajukan So Bong-seng langsung ke tujuan. Dia berpendapat kalau bisa menghindari segala liku-liku, kenapa tidak dilakukan, yang penting tujuannya tercapai, maksud dipahami dan apa yang ingin disampaikan dimengerti orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Langsung pada tujuan memang sistim yang paling aman dan bisa diandalkan, satu sistim yang sangat menghemat waktu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja bila orang tak punya kekuatan untuk menggunakannya, belum tentu sistim ini akan bermanfaat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi So Bong-seng, biarpun sedang berhadapan dengan sang Kaisar pun dia berhak bicara begitu, tidak usah mesti munduk-munduk di depan orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin di sinilah letak daya tarik sebuah kekuasaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu So Bong-seng buka suara, dia langsung mengorek titik kelemahan orang. Ketika seseorang tertusuk bagian tubuhnya yang sakit, kau baru dapat melihat sampai dimana kemampuannya untuk mengatasi persoalan, sebab bila seseorang tersentuh titik kelemahannya, ia baru akan menampilkan sisi kuatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tulang tengkukku patah!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata jawaban Ti Hui-keng pun langsung, bahkan sangat halus dan sopan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jika memang tulang tengkukmu patah, kenapa tak diobati?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tulang tengkukku sudah patah lama sekali, bila dapat diobati, sejak awal sudah diobati.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Su-tayhu dari balai pengobatan negara adalah salah satu tabib andalan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, datang saja ke loteng kami, akan kuundang dia untuk mengobati penyakitmu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tabib kenamaan tidak menjamin dia adalah seorang tabib yang hebat, kau anggap hidangan yang dimasak oleh koki kerajaan pasti merupakan hidangan yang paling lezat?&amp;quot; jawaban Ti Hui-keng sangat cepat bahkan tajam nadanya, &amp;quot;jika dia benar-benar seorang tabib hebat, sekarang kau tak usah terbatuk-batuk lagi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku sendiri yang memilih batuk. Di antara kematian dan batuk, aku lebih memilih batuk, bukankah batuk lebih baik ketimbang mampus?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Selalu menundukkan kepala pun merupakan nasibku, ada kalanya seorang harus menundukkan kepalanya, sering menundukkan kepala ada juga faedahnya, paling tidak, tak usah kuatir menumbuk tiang rumah, bila aku harus memilih antara menundukkan kepala dan batuk, aku tetap akan memilih menundukkan kepala.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku mengerti maksudmu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku memang sudah bicara sangat jelas.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bila seseorang dapat memilah secara jelas apa yang dilakukan, dia patut diajak bersahabat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Terima kasih.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sayang kita bukan sahabat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita memang bukan sahabat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng kembali terbatuk-batuk, sementara Ti Hui-keng masih menundukkan kepalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya dalam satu gebrakan, perundingan telah diakhiri dengan satu keputusan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng telah menyatakan posisinya, dia menampik undangan yang disampaikan So Bong-seng dan mewakili perkumpulan Lak-hun-poan-tong tetap menyatakan permusuhan-nya dengan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh sebab itu mereka adalah musuh, bukan sahabat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi bukankah sahabat yang paling memahami diri kita justru merupakan musuh yang paling berbahaya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka segera memulai perundingan babak kedua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Belakangan pihak kerajaan berupaya menggalang kekuatan, biasanya cara yang digunakan untuk menggalang kekuatan adalah mencari musuh dari luar, provokasi dari musuh luar biasanya paling gampang membangkitkan perasaan nasionalis warganya, jika patriotisme dan nasionalisme sudah tumbuh, maka bangsa pasti bersatu dan negara bertambah kuat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam hal ini, So Bong-seng pun berpendapat begitu. Bila menginginkan Lui Sun gontok-gontokan dengan Ti Hui-keng, mungkin harus menunggu sampai perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau roboh lebih dulu, dunia mulai aman, mereka berdua baru mulai saling bermusuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menghadapi serangan musuh yang muncul di depan mata, malah sebaliknya membuat mereka semakin bersatu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sayang So Bong-seng tak dapat menunggu sampai saat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pernah mendengar soal itu,&amp;quot; jawab Ti Hui-keng santun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jika kau ingin menggerakkan pasukan, maka negara harus dibuat aman dan tenteram terlebih dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tentu saja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau keadaan di luar tidak aman kan tidak jadi masalah, yang penting keadaan di dalam harus tenang. Di tempat kejauhan tidak tenteram juga tak masalah, tapi di depan kaisar mesti aman dan tenteram.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Padahal kaki kaisar berada di kotaraja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, itulah sebabnya situasi di kotaraja mesti aman tenteram dan sentosa, untuk itu pertama-tama kita mesti mengurangi para pembuat keputusan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Semakin sedikit pembuat keputusan, kekuatan semakin terpusat, dapat memusatkan kekuatan berarti menguasai, ini sangat menguntungkan jika membawa pasukan untuk melakukan penyerangan ke tempat jauh.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oleh sebab itu para pembesar tinggi kerajaan berharap di dalam kotaraja hanya tersisa sebuah perkumpulan saja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Perkumpulan &lt;b&gt;Mi-thian-jit-seng (Tujuh Rasul Pembius Langit)&lt;/b&gt; termasuk kekuatan yang datang dari luar, jadi tak masuk hitungan, berarti antara perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau dan Lak-hun-poan-tong harus menyingkir salah satunya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Menurut pendapatmu, mungkinkah kita melebur jadi satu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak mungkin.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Karena kau tak bakal setuju.&amp;quot; &amp;quot;Kenapa aku tak bakal setuju?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebab kau selalu ingin jadi Lotoa, bila harus melebur jadi satu, apa mungkin kau mau turun pangkat? Apa mau kau diperintah oleh satu persekutuan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi menurut kau lebih baik membuat persekutuan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak mungkin.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebab Lui-congtongcu juga ingin menjadi Lotoa, bila bergabung dalam persekutuan, maka dia mesti menerima juga peleburan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oleh sebab itu kita selalu beda pendapat?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dan di kaki kaisar hanya boleh tersisa perkumpulan Lak-hun-poan-tong atau Kim-hong-si-yu-lau.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ternyata kau memang orang pandai.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Biarpun aku jarang mendapat kesempatan untuk mendongakkan kepala,&amp;quot; sekilas senyuman pedih melintas di wajah Ti Hui-keng, &amp;quot;namun aku selalu pandai mengatur pekerjaan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Orang yang pandai mengatur pekerjaan memang selalu merupakan orang yang kurang beruntung,&amp;quot; tampak sekilas kehangatan melintas di mata So Bong-seng, &amp;quot;karena dia tak boleh bloon, tak boleh pikun, bahkan tak boleh menuruti suara hati sendiri, biasanya tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ya, jika tugas kelewat banyak, otomatis kehidupan pun jadi kurang bergairah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tahukah kau, tugas berat apa yang harus kau pikul kali ini?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau ingin aku memikul tugas apa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sangat sederhana,&amp;quot; sahut So Bong-seng cepat, &amp;quot;suruh Lu Sun menyerah!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu selesai mengucapkan perkataan itu, kembali terbatuk-batuk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 17&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 14. Orang dalam pasar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;14&lt;/a&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 15. Manusia berpayung&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html&quot;&gt;15&lt;/a&gt; | 16&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/03/golok-kelembutan-16-batuk-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1009719284712670947</guid><pubDate>Thu, 28 Feb 2013 09:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2016-11-29T16:55:51.319+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 15. Manusia berpayung</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h6&gt;15. Manusia berpayung&lt;/h6&gt;  &lt;p&gt;Lui Heng sangat pendendam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selama hidup dia memang selalu mendendam kepada orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Membenci seseorang jauh lebih membuang waktu ketimbang mencintai seseorang, terlebih orang yang dibencinya jauh lebih banyak daripada orang yang dikenalnya, dia pun dapat membenci orang yang belum pernah dikenalnya, ada kalanya dia malah membenci diri sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya satu orang yang tak berani dia benci, hanya Lui Sun seorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang yang paling dibencinya saat ini adalah So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia membenci orang ini karena So Bong-seng telah menerjang masuk ke Po-pan-bun, pusat kekuatan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, membunuh orang-orang mereka kemudian pergi begitu saja. Setiap kali terbayang peristiwa ini, Lui Heng merasa bencinya setengah mati, kalau bisa, dia ingin menelan So Bong-seng kulit berikut tulangnya ke dalam perut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti-toatongcu pernah berkata tentang dirinya, &amp;quot;Jika Lui-losu sudah membenci seseorang, sekalipun kungfunya tak mampu mengungguli lawan, mengandalkan rasa bencinya itu, ia tetap bisa memaksa musuhnya kabur ketakutan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di dalam pasar sudah siap sembilan puluh dua orang jago berilmu tinggi, semua adalah pasukan inti di bawah pimpinannya, asal Ti Hui menurunkan perintah, dalam waktu singkat mereka dapat mencincang tubuh So Bong-seng hingga hancur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi hingga kini Ti-toatongcu belum juga menurunkan perintahnya, sementara pasukan orang-orang berpayung sudah muncul di arena pertarungan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini, Lui Heng benar-benar merasa amat benci, sedemikian bencinya hingga nyaris dia seakan ingin menelan diri sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dia tidak benci? Kedua puluh sembilan orang berpayung itu sudah merangsek maju, sudah semakin mendekati posisi pertahanan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu rombongan ini muncul, barisan yang dia dan anak buahnya persiapkan nyaris terhadang dan berantakan. Sekalipun Lui Heng bencinya sampai ingin menghancurkan kepala sendiri, kali ini dia tak berani bertindak gegabah, ia sama sekali tak berani sembarangan bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena dia tahu, rombongan itu adalah &#39;Berbuat Onar Semau Sendiri&#39;!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berbuat Onar Semau Sendiri merupakan satu kelompok pasukan inti di bawah pimpinan So Bong-seng, dan kini paling tidak ada setengahnya sudah muncul di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Heng sadar, dalam keadaan seperti ini jika ia berani bertindak sembarangan, bisa jadi dia tak pernah bisa membenci orang lain lagi, yang diperolehnya waktu itu hanya penyesalan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahkan bisa jadi kemungkinan untuk menyesal pun ikut lenyap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang pemuda yang tampangnya agak ketolol-tololan, dengan membawa sebuah payung berwarna hitam, melewati rombongan manusia berpayung hijau dan berjalan menuju ke hadapan So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sewaktu lewat di samping tubuh Su Bu-kui, sorot matanya yang semula tampak bloon, tiba-tiba memancarkan suatu perasaan yang sulit dilukiskan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Semuanya sudah tewas?&amp;quot; bisiknya lirih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Si Barang antik dan Hoa Bu-ciok adalah pengkhianat,&amp;quot; jawab Su Bu-kui sambil tertawa getir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pemuda bloon itu kelihatan sedikit bergetar, namun tetap melanjutkan langkahnya menuju ke hadapan So Bong-seng, ujarnya sembari menjura, &amp;quot;Hamba datang terlambat!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau tidak terlambat, kedatanganmu tepat waktu,&amp;quot; sahut So Bong-seng sembari manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu Ong Siau-sik sudah celingukan memandang sekeliling tempat itu, setelah melihat sejenak ke timur, barat, kiri, kanan, depan, belakang dan yakin kalau kali inipun tak akan mati, tak tahan serunya, &amp;quot;Wah, ternyata benar-benar ditemukan jalan hidup di tengah jalan kematian, tak kusangka kejadian bisa muncul pada saatnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tertawa hambar, namun dari balik sorot matanya terpancar sikap memandang hina lawan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyaksikan mimik muka pimpinannya itu, Su Bu-kui segera memberi penjelasan, katanya, &amp;quot;Sewaktu menyerbu Po-pan-bun tadi, sepanjang jalan Kongcu telah meninggalkan tanda rahasia, dia yakin orang-orang perkumpulan Lak-hun-poan-tong pasti akan melakukan penghadangan di saat kami pulang nanti, karena itu Mo Pak-sin diminta segera membawa pasukan untuk menyusul kemari.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ooh, rupanya Mo Pak-sin,&amp;quot; kata Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa aku tidak melihat kalian meninggalkan tanda rahasia?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik keheranan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau kalian pun bisa melihatnya, mana bisa disebut tanda rahasia?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar juga perkataanmu itu,&amp;quot; kata Pek Jau-hui sambil menghela napas, &amp;quot;jika So-kongcu dari perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau setiap kali membunuh orang dilakukan dengan cara tidak mudah, di dunia persilatan tentu tak akan ada sebutan si golok nomor wahid di kolong langit.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ooh, jadi kalian hendak memancing pihak perkumpulan Lak-hun-poan-tong mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk bertarung habis habisan di sini?&amp;quot; kata Ong Siau-sik agak tertegun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak terdengar So Bong-seng bertanya, &amp;quot;Dari pihak mereka siapa yang telah datang? Lui Sun? Atau &lt;b&gt;Ti Hui-keng&lt;/b&gt;?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ti Hui-keng!&amp;quot; jawab Mo Pak-sin, si pemuda bloon itu segera.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau begitu persoalan hari ini akan diakhiri dengan perundingan, bukan pertarungan habis-habisan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Pek Jau-hui sudah memberi tanda kepada Ong Siau-sik sambil berkata, &amp;quot;Tampaknya cerita ini telah memberi pelajaran yang sangat berharga buat kita berdua, bahwa semua yang kita alami dalam sepuluh hari belakangan, tak satu pun yang merupakan kejadian untung-untungan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ya, benar, kelihatannya kisah ini sudah mengatur peranan kau dan aku,&amp;quot; sambung Ong Siau-sik sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dan aku rasa, kisah ini baru saja akan dimulai,&amp;quot; ujar Pek Jau-hui lagi sambil memandang ke tempat jauh dan menghela napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengikuti arah pandangan Ong Siau-sik, dia segera dapat melihat munculnya satu rombongan manusia, kawanan manusia yang baru muncul itu memegang payung berwarna kuning.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Mo Pak-sin membuka mata lebar-lebar, biji matanya yang memancarkan sinar tajam seolah baru menerobos keluar dari balik lapisan kulit mata yang berlapis-lapis banyaknya, memancar keluar bagai pancaran sinar matahari. Terdengar ia berseru, &amp;quot;&lt;b&gt;Lui Moay&lt;/b&gt; telah datang!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja Lui Moay adalah seorang wanita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, kini Lui Moay sudah menjadi salah satu wanita paling misterius, paling cantik dan berkuasa di antara tiga wanita lainnya, dengan tiga kemampuan yang dimilikinya, nyaris seluruh pria di dunia ini gampang jatuh hati kepadanya, paling tidak akan menaruh rasa ingin tahu terhadap perempuan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut berita burung, ada orang bilang sesungguhnya Lui Moay adalah putri tunggal &lt;b&gt;Lui Ceng-lui&lt;/b&gt;, pendiri yang sesungguhnya dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong, tapi kemudian kekuasaan tertinggi perkumpulan itu berhasil direbut oleh Lui Sun, salah satu jagoan kosen dari aliran sesat dalam keluarga Lui, mengingat Lui Ceng-lui punya jasa dalam pendirian perkumpulan itu, maka ia mengangkat Lui Moay menjadi Tongcu kedua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi ada juga yang bilang Lui Moay jatuh hati kepada Lui Sun, maka dia tak segan menyerahkan posisi ketua umum perkumpulan itu kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi ada juga yang bilang, lantaran Lui Moay sadar kalau kepintaran maupun kepandaian silatnya jauh di bawah Lui Sun, demi kejayaan dan kemajuan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, maka dia serahkan posisi puncak itu kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada lagi cerita, sebetulnya Lui Moay berasal dari aliran sesat dalam keluarga Lui, sejak awal dia memang kekasih gelap Lui Sun. Semenjak bini resminya yaitu &lt;b&gt;Bong-huan-thian-lo&lt;/b&gt;, si &lt;b&gt;Impian Jagad Kwan Siau-te&lt;/b&gt; meninggalkan Lui sun, dia selalu berhubungan gelap dengan perempuan ini, malah ada yang menaruh curiga, bisa jadi Kwan Siau-te sudah tewas di tangan Lui Moay, itulah sebabnya perempuan itu lenyap semenjak tujuh belas tahun lalu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja Pek Jau-hui juga tahu kalau di dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong terdapat seorang jago wanita yang bernama Lui Moay, dia malah pernah mencari tahu segala hal yang berhubungan dengan perempuan itu dari mulut Tio Thiat-leng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu itu Tio thiat-leng hanya berkata sambil tertawa getir, &amp;quot;Dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong terdapat tiga orang yang selamanya tak akan pernah dipahami orang lain, pertama adalah Lui Sun, tak ada yang tahu jelas manusia macam apakah dia, karena dia tak pernah membiarkan orang lain memahami tentang dirinya. Orang kedua adalah Ti Hui-keng, hanya dia yang memahami orang lain, tak ada orang lain bisa memahami tentang dirinya. Orang ketiga adalah Lui Moay, dia gampang sekali membuat orang lain memahami dirinya, tapi dengan cepat kau akan menemukan bahwa pemahaman tiap orang terhadap dirinya berbeda satu dengan yang lain, tergantung ke arah mana dia menginginkan kau &#39;memahaminya&#39;, jika dia ingin kau memahami dirinya dalam bidang A, maka yang bisa kau pahami hanya bidang A saja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karena Pek Jau-hui sudah banyak mendengar tentang Lui Moay, dia pun ingin sekali dapat berjumpa dengan Lui Moay.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui adalah seorang lelaki yang tinggi hati, namun seangkuh apa pun kadang kala timbul juga perasaan ingin tahunya terhadap perempuan kenamaan, apalagi kalau dia amat cantik. Paling tidak ia ingin melihatnya sekejap, melihat sebentar saja sudah merasa amat puas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik juga pernah mendengar dalam dunia persilatan terdapat seorang wanita yang bernama Lui Moay. Di dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong, Lui Moay memegang tampuk kekuasaan pasukan yang misterius, dia merupakan panglima kesayangan Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang bilang dalam dunia persilatan dewasa ini terdapat tiga orang wanita cantik yang penuh misteri, pertama adalah istri Lui Sun, kedua adalah putri Lui Sun dan ketiga adalah anak buah andalan Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Manusia yang bernama Lui Sun ini memang orang hokki, bukan saja memiliki jagoan yang amat banyak, rata-rata anak buahnya yang lelaki berwajah tampan, yang perempuan berparas cantik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba satu ingatan aneh melintas dalam benaknya, mungkinkah suatu hari nanti, dia pun mempunyai anak buah semacam itu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila seseorang ingin memiliki ilmu silat yang hebat, maka dia perlu tekad yang besar, kesabaran, keberanian serta bakat, asal syarat itu terpenuhi maka tak sulit untuk mendapatkannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun apabila seseorang ingin memperoleh kekuasaan yang besar, maka dia perlu ambisi yang besar, cara bertindak yang keji serta kemampuan untuk mengendalikan orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik sadar, dia mampu melaksanakan tugas besar yang belum tentu bisa dilaksanakan orang lain, tapi tidak memiliki ambisi yang terlalu besar untuk merebut posisi tinggi. Bila dia harus mengorbankan segalanya, mengubah wataknya hanya ditukar dengan kekuasaan, baginya lebih baik tidak usah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlepas dari semua itu, sebagai seorang anak muda, dia pun mempunyai harapan, dia ingin melihat bagaimana bentuk wajah Lui Moay yang dibilang merupakan panglima andalan Lui Sun. Oleh sebab itu dia segera berpaling, menoleh ke arah datangnya perempuan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi mereka tidak menemukan apa-apa, tak menemukan perempuan yang bernama Lui Moay.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Satu rombongan gadis berusia tujuh-delapan belas tahun dengan mengenakan baju berwarna kuning, berpinggang ramping, bermata bening, membawa payung berwarna kuning perlahan-lahan berjalan ke tengah arena.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rombongan gadis itu rata-rata berwajah cantik rupawan, membuat orang tak tahu siapakah Lui Moay yang sesungguhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu rombongan gadis itu muncul, kecuali Lui Heng, semua jago yang berkumpul di dalam pasar serentak bergeser ke arah jalan Tang-sam-pak, seakan sedang memberi jalan lewat buat rombongan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paras muka Mo Pak-sin kembali menampilkan perubahan mimik yang aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua puluh sembilan orang berpayung hijau tua itu serentak mulai bergerak, mengikuti perubahan barisan mereka, ikut bergeser, gerakannya lamban tapi mantap, sama sekali tak terlihat ada celah yang ditimbulkan, tapi jelas mereka sedang mengatur sebuah barisan khusus untuk menyongsong kedatangan rombongan gadis-gadis cantik itu. Sebuah barisan tangguh untuk membendung kedatangan gadis-gadis lemah lembut itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Yang mana bernama Lui Moay?&amp;quot; tak tahan Ong Siau-sik bertanya kepada Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Masa kau tidak melihat kemunculan kawanan gadis itu?&amp;quot; jawab Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi di situ hadir belasan orang gadis, mana yang sebenarnya bernama Lui Moay?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Menurut kau, gadis-gadis itu cantik tidak?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cantik sekali,&amp;quot; jawab Ong Siau-sik jujur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Nah, asal ada gadis cantik yang bisa ditonton, peduli amat mana yang bernama Lui Moay.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar juga katamu,&amp;quot; Ong Siau-sik manggut-manggut setelah berpikir sebentar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia mengerti arti perkataan Pek Jau-hui itu, gunakan kesempatan untuk menikmati apa yang bisa dinikmati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya situasi bertambah gawat dan berbahaya, dalam keadaan seperti ini, orang memang dituntut berpikir positip saja, jangan berpikir negatip.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sorot mata So Bong-seng yang dingin menyeramkan sedang mengawasi rombongan gadis berpayung kuning itu, kemudian memperhatikan pula rombongan &#39;Berbuat Onar Semau Sendiri&#39; yang dipimpin Mo Pak-sin, setelah itu dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya, mengambil beberapa butir pil lalu ditelannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Air hujan membasahi wajahnya, seakan hendak mengurai lelehan air mata penderitaannya. Setiap kali dia sedang minum obat, baik dia Mo Pak-sin maupun Su Bu-kui, tak seorang pun berani mengusik, apalagi merecoki dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lewat beberapa saat kemudian So Bong-seng baru mengurut dadanya dengan sebelah tangan, lalu dengan sorot mata yang tajam dia menyapu sekali lagi sekeliling arena.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ti Hui-keng ada dimana?&amp;quot; tanyanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia ada di loteng Sam-hap-lau,&amp;quot; jawab Mo Pak-sin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng berpaling dan mengawasi bangunan loteng nomor tiga di sisi jalan raya, bangunan itu adalah sebuah rumah makan karena di depan pintu terdapat sebuah tiang dengan panji bertuliskan &amp;quot;arak&amp;quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali S6 Bong-seng berkata kepada Mo Pak-sin, &amp;quot;Kau tetap di sini!&amp;quot; Sedang kepada Su Bu-kui, ajaknya, &amp;quot;Kau ikut aku naik ke sana.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik!&amp;quot; Su Bu-kui maupun Mo Pak-sin serentak menyahut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagaimana dengan kami?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tidak menjawab, mendadak ia terbatuk-batuk, batuk dengan sangat hebatnya. Dari sakunya dia mengeluarkan saputangan berwarna putih, kemudian digunakan untuk menutupi mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sewaktu batuk, sepasang bahunya berguncang keras, seperti sebuah kotak angin yang sudah rusak sedang berusaha memompa udara, napasnya begitu berat dan sesak, seakan setiap saat kemungkinan besar bisa terputus.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lama kemudian ia baru menggeser saputangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas pandang Ong Siau-sik dapat melihat noda darah yang membekas di atas saputangan berwarna putih itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, kemudian baru membuka matanya kembali, kepada Ong Siau-sik tanyanya, &amp;quot;Kau tahu siapa yang berada di atas loteng itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik menatapnya tanpa berkedip. Sewaktu menyaksikan ia terbatuk dengan hebatnya tadi, dalam hati kecilnya ia segera mengambil keputusan, apa yang bisa dia lakukan akan segera dilakukannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tahu,&amp;quot; jawabnya cepat, &amp;quot;di situ ada Ti Hui-keng.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau tahu siapakah Ti Hui-keng?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Toatongcu dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng kembali menuding bangunan loteng itu dengan jari tangannya yang tak bertenaga, katanya lebih jauh, &amp;quot;Tahukah kau, sekali kamu naik ke situ, maka siapa pun tak bisa menjamin adakah peluang lain bagimu untuk turun lagi dalam keadaan selamat?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ketika memasuki pintu Po-pan-bun bersamamu tadi, aku pun tak tahu apakah ada jalan ketiga yang bisa kulewati untuk keluar dari situ,&amp;quot; sahut Ong Siau-sik hambar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng menatapnya sekejap, hanya sekejap! Kemudian tanpa berpaling ke arah Pek Jau-hui, tanyanya, &amp;quot;Bagaimana dengan kau?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tidak menjawab pertanyaan itu, dia malah balik bertanya, &amp;quot;Apakah ilmu silat yang dimiliki Ti Hui-keng memang sangat hebat?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jika kau naik ke atas, segera akan kau peroleh jawabannya,&amp;quot; sahut So Bong-seng dengan wajah senyum tak senyum, &amp;quot;bila tak ingin naik ke situ, buat apa mesti banyak bertanya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui menarik napas dalam-dalam, katanya kemudian, &amp;quot;Baik, aku ikut naik.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka mereka berempat pun mengayunkan langkah menuju ke bangunan loteng itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di bawah bangunan loteng itu hanya ada meja dan bangku yang ditumpuk, tak nampak manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau berjaga di sini,&amp;quot; perintah So Bong-seng kepada Su Bu-kui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa banyak bicara Su Bu-kui melintangkan goloknya di depan dada sambil berdiri tegap di muka pintu, sekarang biarpun ada ribuan ekor kuda dan pasukan yang menyerbu masuk, dia tak akan membiarkan mereka bergerak maju setengah langkah pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan langkah santai So Bong-seng menaiki anak tangga menuju ke tingkat dua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini, mau tak mau Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik segera mengikut di belakangnya naik ke atas loteng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kedua orang pemuda itu jalan bersanding, bahu menempel bahu, ketika berjalan dengan cara begini, muncul perasaan aneh di hati mereka, seakan dengan jalan seperti itu, bukan saja mereka tak takut menghadapi hujan badai dan angin puyuh, ancaman bahaya sebesar apa pun seolah pasti dapat mereka atasi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di atas loteng ternyata memiliki dua ruang loteng, apa yang terdapat di atas loteng?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal setiap orang, dalam kehidupannya selalu mendapat kesempatan untuk naik ke loteng, tapi tak ada yang tahu apa yang sedang menanti mereka di atas loteng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka yang belum pernah naik ke atas loteng, berupaya dengan segala kemampuan untuk menaikinya, tujuannya adalah ingin menaikkan pamor sendiri, sebaliknya bagi mereka yang sudah ada di atas loteng, orang-orang itupun berkeinginan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi, bahkan berusaha dengan segala tipu daya agar dirinya tak sampai jatuh menggelinding ke bawah loteng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Loteng makin dinaiki semakin terjal, loteng makin tinggi semakin dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Angin di atas loteng amat kencang, padahal loteng yang tinggi tak punya sandaran, namun justru banyak orang suka naik ke loteng yang tinggi, semakin tinggi semakin senang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal di tempat ketinggian justru lebih banyak ancaman mara bahaya!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng, Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui hampir pada saat yang bersamaan tiba di atas loteng. Oleh karena itu hampir pada saat yang bersamaan pula mereka melihat seseorang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ti Hui-keng!, Toatongcu perkumpulan Lak-hun-poan-tong.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di dalam perkumpulan ini, dia hanya di bawah kekuasaan satu orang, tapi di atas puluhan ribu orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahkan sebagian besar orang menganggap bahwa orang yang paling disanjung dan paling dihormati dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong adalah dia, bukan Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi Ong Siau-sik serta Pek Jau-hui sama sekali tidak menyangka kalau orang yang muncul di hadapan mereka adalah manusia semacam ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 16&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;a title=&quot;Golok Kelembutan 14. Orang dalam pasar&quot; href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.co.id/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html&quot;&gt;14&lt;/a&gt; | 15&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/02/golok-kelembutan-15-manusia-berpayung.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-673531332953465031</guid><pubDate>Tue, 08 Jan 2013 08:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-08T15:52:17.096+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 14. Orang dalam pasar</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;14. Orang dalam pasar&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Seandainya Lui Sun tidak mengeluarkan jurus serangan &lt;b&gt;Hong-yu-siang-sat (Angin Hujan Sepasang Malaikat)&lt;/b&gt;, mungkin kerugian yang dialaminya tidak sampai membuatnya sangat sedih dan menderita.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun keberhasilannya di kemudian hari pun mungkin tak akan sedemikian besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam kehidupan manusia banyak tersedia langkah yang bisa ditempuh, banyak keputusan yang bisa diambil, sekali kau melangkah keluar, sekali kau mengambil keputusan, mungkin pada saat ini kau menilai langkah dan keputusanmu itu keliru, namun di kemudian hari bisa saja kekeliruan itu justru merupakan kebenaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin saja hari ini kau merasa langkah dan keputusanmu itu sudah benar, tapi setelah berkembang hari esok, bisa saja langkah dan keputusanmu itu justru merupakan sebuah kesalahan besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kesalahan kerap kali ibarat golok dengan dua sisi, membelah sebab dan akibat, jodoh dan berpisah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika seseorang sudah terbiasa merasakan kesuksesan dan keberhasilan, kemungkinan besar dia tak akan menikmati keberhasilan atau kesuksesan yang lebih besar lagi, sebaliknya jika seseorang sudah terbiasa menderita dan tersiksa, keadaan itu tak bisa dibilang satu kejadian yang jelek.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau tak ada gunung yang tinggi, mana mungkin ada tanah yang datar?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lalu bagaimana pula dengan hasil serangan yang dilancarkan Lui Sun kali ini?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemana perginya golok merah So Bong-seng? Hawa pembunuhan yang mengerikan itu apakah bisa berkembang tapi tak bisa dikendalikan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebelum sepasang senjata martil milik Lui Sun dilontarkan, senjata itu sudah berputar kencang bagaikan gangsing, kemudian setelah dilontarkan, senjata itupun saling membentur hingga menimbulkan suara keras, tak ada orang yang bisa memastikan dari sudut mana serangan akan dilancarkan, juga tak ada yang tahu dengan cara bagaimana serangan itu akan menghajar bagian tubuh yang mematikan, bahkan termasuk Lui Sun sendiri pun tak bisa menentukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia hanya bisa memastikan satu hal, bila seseorang terhajar oleh sepasang martilnya secara telak, jangan harap tulang belulangnya bisa utuh, dan jangan harap nyawanya dapat diselamatkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini keadaan Lui Sun ibarat orang yang menunggang di punggung harimau, sudah kepalang basah untuk turun lagi, dia mulai menyadari akan kemampuan sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seandainya serangan sepasang martilnya tak mampu mencabut nyawa So Bong-seng, paling tidak dia harus menghadiahkan sebuah tanda mata di atas tubuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa sangka peristiwa lain telah terjadi, bahkan sebelumnya sama sekali tidak menunjukkan pertanda atau gejala apa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika sepasang martilnya tiba di hadapan So Bong-seng, tidak terlihat musuh melakukan sesuatu gerakan, tahu-tahu rantai baja pengikat sepasang senjatanya telah putus jadi dua bagian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagus apa pun permainan senjata martilnya, asal rantai pengaitnya putus, maka martil itu tak beda jauh dengan buah semangka, yang satu menggelinding keluar ruangan, memaksa kawanan jago perkumpulan Lak-hun-poan-tong yang mengepung tempat itu harus memberi jalan lewat, sementara yang lain membentur dada wakil Tongcu yang sedang bertarung sengit melawan Su Bu-kui, akibatnya tulang dada orang itu remuk dan amblas ke dalam, darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hingga kini, So Bong-seng masih belum juga melirik ke arah Lui Sun walau hanya sekejap, bahkan sepatah kata pun tak sudi diucapkan kepadanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia tetap melanjutkan ayunan kakinya berjalan keluar dari situ, berjalan sambil berseru kepada Su Bu-kui yang sedang membendung serbuan dari anggota Perkumpulan Enam Setengah Bagian, &amp;quot;Kita segera pergi dari sini!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepasang martil yang masih menggelinding di atas tanah pun seolah sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Bu-kui segera menarik kembali goloknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia menarik kembali senjatanya secara tiba-tiba dan dilakukan sangat cepat, akibatnya sebilah golok, tiga bilah pedang dan lima batang tombak yang sedang bertarung sengit nyaris menghujam semua ke atas tubuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tindakan Su Bu-kui yang menarik golok secara mendadak membuat pertahanan tubuhnya sama sekali terbuka, tapi tindakannya ini justru membuat kawanan jago yang sedang bertarung melawannya serentak ikut menarik kembali senjatanya, mereka mengira tindakan itu merupakan sebuah perangkap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bahkan salah satu di antara kawanan jago itu segera menancapkan tombaknya di atas tanah guna mengerem gerakan tubuhnya yang sudah telanjur menerjang ke depan, percikan bunga api berhamburan kemana-mana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu Su Bu-kui sudah menyusul di belakang So Bong-seng, berjalan keluar dari situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak seorang pun berani menghalangi mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak seorang pun mampu menahan mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba di depan pagar pekarangan, So Bong-seng menggerakkan kakinya menendang, martil sebarat sembilan puluh tiga kati itu mencelat ke udara dan meluncur balik ke dalam halaman.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semua orang menjadi sangat panik, suasana menjadi gempar, berbondong-bondong kawanan jago itu menyingkir ke samping menghindarkan diri, siapa pun tak ingin tertimpa sial.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Blaaam!&amp;quot; diiringi suara benturan keras, martil berat itu menghajar di atas dinding bangunan dan menghancurkan tulisan &amp;quot;enam&amp;quot; yang tertera jelas di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dinding batu itu hancur berantakan, di antara debu dan pasir yang beterbangan di angkasa, tahu tahu bayangan tubuh So Bong-seng sudah lenyap dari pandangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini yang tersisa di atas dinding tembok itu tinggal tiga huruf besar yaitu &amp;quot;perkumpulan ... Setengah bagian&amp;quot;, ditambah sebuah senjata martil yang tergeletak di tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di luar sana hujan masih turun membasahi permukaan bumi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini hujan sudah mulai mereda, yang tersisa hanya hujan gerimis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walau begitu, awan gelap masih bergelantung di angkasa, awan basah yang membawa air masih merapatkan barisannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sudah keluar menuju ke jalan raya, langkahnya sangat cepat, Su Bu-kui mengintil terus di belakangnya, setengah jengkal pun tak mau ketinggalan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tadi So Bong-seng menyuruh dia &amp;quot;segera pergi&amp;quot; dan bukan &amp;quot;pergi&amp;quot;, maka begitu mendapat perintah, ia segera menghentikan serangannya bahkan tanpa mempedulikan keselamatan jiwa sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pergi&amp;quot; dan &amp;quot;segera pergi&amp;quot; memang beda artinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia sangat mengenal watak So Bong-seng, dia sudah hapal dengan kebiasaan pemimpinnya, terutama sewaktu menurunkan perintah, ia tak pernah membawa embel-embel kata, setiap penambahan satu kata berarti mempunyai tujuan tertentu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Situasi sudah dikuasai, pembunuh pun sudah membayar dengan nyawanya, mengapa So-kongcu masih ingin pergi secepatnya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah meninggalkan Po-pan-bun, So Bong-seng segera melihat dari sudut kiri dan kanan jalan muncul dua orang yang jalan berdampingan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bu-kui berjalan di belakang pemimpinnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dua orang yang baru saja muncul itu, salah satu di antaranya masih berdiri santai di bawah curahan hujan, sikapnya yang tenang dan santai tak beda jauh dengan keadaannya di saat biasa, seseorang yang tak pernah menganggap air hujan sebagai hal yang memuakkan, baginya setiap butir air hujan seakan sama berharganya dengan sebutir mutiara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tentu saja mereka adalah Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika berjumpa So Bong-seng dari balik mata mereka segera terpancar perubahan cahaya yang aneh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sinar mata Pek Jau-hui membara seakan sedang terbakar, sementara sinar mata Ong Siau-sik berkilauan seakan bintang di langit.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng sama sekali tidak mengajukan pertanyaan, bicara pun tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia telah mengutus Ong Siau-sik untuk menyerang jalan muka dan mengirim Pek Jau-hui untuk menyerang jalan belakang, tentu saja kedua penyerangan itu hanya penyerangan tipuan, tujuannya hanya untuk mengalihkan konsentrasi dan perhatian lawan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia baru pertama kali bertemu dengan mereka berdua, tapi dia telah menyerahkan &#39;tugas sulit&#39; ini kepada mereka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika mereka gagal dalam menjalankan tugas, bila kekuatan di jalan depan dan jalan belakang terhimpun jadi satu, maka So Bong-seng tak nanti bisa menggetarkan sukma semua orang, dia tak mungkin bisa lolos dari kepungan lautan manusia secara mudah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi So Bong-seng sangat berlega hati, dia tahu, kedua orang itu pasti sanggup melaksanakan tugasnya, bahkan melaksanakan tugas itu dengan baik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sanggup melaksanakan tugas dan bisa melaksanakan tugas beda sekali artinya, sama seperti seseorang yang bisa menyanyi, bisa menyanyikan lagu yang merdu dan bisa membuat nyanyian yang terdengar merdu, jelas mempunyai arti yang berbeda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang mereka sudah muncul di situ, sama artinya mereka telah berhasil menggiring pergi pasukan yang ada di jalan depan dan jalan belakang kemudian baru berkumpul di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu bertemu mereka, So Bong-seng hanya berhenti sejenak, lalu berseru, &amp;quot;Bagus sekali.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu katanya pula, &amp;quot;Ayo, pergi!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi So Bong-seng, &amp;quot;Bagus sekali&amp;quot; sudah merupakan kata pujian yang paling tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, paling hanya delapan belas orang yang pernah mendapat pujian &amp;quot;bagus&amp;quot;, di antara mereka mungkin tak ada sepertiganya yang pernah memperoleh kata pujian &amp;quot;bagus sekali&amp;quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ayo, pergi&amp;quot;, jelas sebuah perintah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Pergi?&amp;quot; Pek Jau-hui segera mengulang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tidak menanggapi. Dia memang tak suka mengulang kata yang sama dua kali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Mau pergi kemana?&amp;quot; kembali tanya Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kembali ke Kim-hong-si-yu-lau!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita tidak saling mengenal, paling hanya berjodoh untuk bertarung bahu membahu, kenapa kita tidak segera menyudahi pertemuan ini?&amp;quot; kata Pek Jau-hui seraya menjura.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan sorot mata bagaikan bintang berapi, So Bong-seng menyapu sekejap wajahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Perkataan itu bukan muncul dari dasar hatimu,&amp;quot; katanya, kemudian terusnya, &amp;quot;sekarang kalian enggan ikut aku pun sudah tidak mungkin!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; kali ini Ong Siau-sik yang bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tampaknya penghadangan dan usaha pembunuhan yang dilakukan di Ku-swi-poh bukan maksud Lui Sun, pimpinan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, tapi menggunakan kesempatan di saat aku membalas dendam ke Po-pan-bun lalu melakukan penghadangan dan pembunuhan di saat aku pulang baru merupakan maksud tujuan Lui Sun yang sebenarnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, tambahnya, &amp;quot;Oleh sebab itu kalian tak punya pilihan lain, perjuangan kita belum berakhir, tak seorang pun dapat mengundurkan diri dari rombongan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi orang yang terkepung pasukan musuh, biasanya hanya tersedia dua pilihan, menerjang keluar dari kepungan atau menyerahkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika ingin menerjang keluar dari kepungan berarti harus bertempur, jika ingin menyerah berarti membiarkan orang menghukum semaunya, mau dicincang seperti seekor anjing atau disembelih seperti seekor babi, tak mungkin bisa melawan maupun membangkang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa suruh menyerah?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila seseorang sudah pasrah pada nasib, sudah menyerah, apa dan bagaimanapun sikap musuh, orang hanya bisa menurut dan menerimanya tanpa membantah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah sebabnya lebih banyak orang yang rela berjuang hingga titik darah penghabisan ketimbang menyerah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui menghela napas panjang, katanya, &amp;quot;Aku lihat, semenjak menyelamatkan dirimu, bibit bencana ini sudah sulit terlepas dari tubuh kami.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah kalian berharap setiap persoalan yang terjadi di kotaraja sama sekali tak ada hubungannya dengan kalian?&amp;quot; kata So Bong-seng sambil mengerling sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tidak menanggapi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mereka berempat tiba di jalan raya &lt;b&gt;Tang-sam-pak&lt;/b&gt;, tampak jalan raya itu masih ramai orang berjualan kendatipun hujan masih turun tiada hentinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di sebuah istal terikat beberapa ekor kuda, ada dua tiga orang sedang memberi rangsum kuda-kuda tunggangan itu. Di situ pun terdapat tiga pedagang daging, satu pedagang daging sapi, satu pedagang daging kambing dan satu pedagang daging babi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selain itu terdapat juga sebuah toko asah pisau, di sampingnya warung penggilingan kedelai, di depan toko itu ada orang menjual tahu, ada penjual sayuran, penjual ayam, bebek, ikan, udang, ada juga pedagang kaki lima yang menjual sau-pia, kue apem, bakpao, malah ada pedagang air gula, kue manis, air tebu, bakso, di samping pemain wayang potehi, penjual gangsing dan layang-layang, penjual gula-gula, penjual kulit hewan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Asal benda itu biasa terlihat dijual di pasar, semuanya hampir ada juga di tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal kejadian ini bukan kejadian aneh, karena jalanan itu memang merupakan sebuah pasar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang aneh justru adalah orang-orang itu, tidak seharusnya mereka muncul di tengah hari hujan begini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Para pedagang kaki lima itu pada hakikatnya tidak menganggap saat itu hujan sedang turun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka semua tetap bertransaksi, tetap menjajakan barang dagangannya, seakan mereka menganggap saat itu adalah saat yang cerah, matahari bersinar cerah, angin berhembus sepoi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Satu-satunya yang berbeda di situ adalah tak ada orang yang berbelanja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pedagang mana pun di dunia ini pasti berdagang untuk para pembeli, tapi keempat lima puluhan orang pedagang itu seakan tidak melayani pembeli umum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ya, mereka hanya khusus melayani satu orang &#39;pembeli&#39; saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pembeli itu tak lain adalah Locu atau ketua perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau So Bong-seng, seorang jagoan yang disebut nomor wahid dalam ilmu golok, seorang pemimpin organisasi besar yang asal-usulnya penuh misterius, namun mengendalikan sebagian besar jago golongan hek-to maupun pek-to dalam dunia persilatan dan mengendalikan para pejabat negara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mereka berbelok ke jalan Tang-sam-pak, para pedagang dan penjaja kaki lima yang memenuhi jalanan itu sudah menantikan kedatangan &#39;pembeli&#39;nya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa terasa Pek Jau-hui menarik napas panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal, ia menarik napas dalam-dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap kali sedang merasa tegang, dia pasti akan menarik napas dalam-dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejak kecil ia sudah diberitahu, bila seseorang berada dalam keadaan tegang maka tariklah napas dalam-dalam, sebab dengan menarik napas dalam, maka emosinya akan mendatar, jika emosi sudah datar, perasaan pun tenang, bila perasaan sudah tenang, konsentrasi pun akan mencapai puncaknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang ia butuh konsentrasi, karena musuh besar sudah muncul di depan mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sudah delapan tahun ia terjun dalam dunia persilatan, sudah membunuh musuh tangguh dalam jumlah yang tak sedikit, tapi hingga kini masih jarang orang mengenal nama &amp;quot;Pek Jau-hui&amp;quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hal ini disebabkan dia masih belum ingin ternama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila harus punya nama, dia ingin punya nama besar, nama yang amat tersohor, nama kecil keuntungan kecil masih tidak dipandang sebelah mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agar sementara waktu ia tidak peroleh nama besar yang tak berarti, dia tak segan melenyapkan mereka yang tahu kalau dia memiliki kepandaian silat yang luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang berilmu tinggi, bercita-cita setinggi langit yang mampu bersabar dan bertahan menjadi seorang jago tak bernama selama delapan tahun, tentu saja ia termasuk orang yang pandai menahan diri, pandai mengendalikan perasaan sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi kini, setelah menyaksikan pemandangan yang terpampang di bawah curah hujan, ternyata dia tak sanggup menahan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Manusia yang terlihat berdiri di bawah curah hujan berjumlah tujuh puluh dua orang, di antaranya ada enam belas orang yang menyembunyikan diri, apabila orang-orang itu melancarkan serangan secara bersama, maka keadaannya akan tiga belas kali lipat lebih menakutkan ketimbang diancam bidikan panah oleh empat ratus orang pemanah di Ku-swi-po tadi. Tidak lebih tidak kurang, persis tiga belas kali lipat! Setelah memperhitungkan situasi yang dihadapinya, sekalipun Pek Jau-hui dapat menahan diri, kini keyakinannya mulai goyah, dia mulai tak mampu mengendalikan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika ia mulai tak sanggup mengendalikan diri, terpaksa ditariknya napas panjang-panjang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun setelah menarik napas panjang tidak berarti perasaannya berhasil dikendalikan, paling tidak tarikan napas yang dalam ini membuktikan kalau dia masih hidup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya manusia hidup yang bisa menikmati tarikan napas, karena bisa bernapas bukan satu kejadian yang terlalu buruk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Ong Siau-sik merasakan tangan dan kakinya mulai membeku, membeku karena kedinginan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia paling tak suka reaksi seperti ini. Setiap kali perasaannya mulai tegang, biarpun napasnya tidak kalut, biar detak jantungnya tak bertambah cepat, biar kelopak matanya tidak melompat-lompat, tapi tangan dan kakinya selalu berubah jadi beku, dingin kaku bagaikan direndam dalam kolam salju, membuat seluruh badannya kaku karena kedinginan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila ada orang memegang tangan atau menyentuh kakinya dalam keadaan seperti ini, mereka pasti akan salah mengira kalau ia sedang ketakutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal dia tidak takut, tak pernah merasa takut, dia tak lebih hanya merasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tegang beda dengan takut, tegang bisa meninggikan semangat tempur, tapi takut justru menurunkan semangat juang. Ong Siau-sik memang gampang merasa tegang, jangan kan menghadapi situasi segawat ini, bertemu Un Ji saja tangan dan kakinya jadi dingin, ketika pertama kali bersua dengan So Bong-seng, kaki tangannya juga dingin membeku seolah baru keluar dari rendaman salju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itu semua bukan berarti dia takut pada Un Ji, takut pada So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika bersama Un Ji, Ong Siau-sik merasa teramat gembira, ketika bergaul dengan So Bong-seng, ia justru merasakan rangsangan yang luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlepas gejolak perasaan mana yang dialaminya, semua itu tak ada sangkut-pautnya dengan perasaan takut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi setiap kali orang lain mengetahui kaki dan tangannya jadi dingin, semua orang salah mengira dia sedang ketakutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal bagi Ong Siau-sik, kecuali mati, dia tak pernah takut pada apa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang dia bukan sedang takut mati, tapi setelah menyaksikan barisan yang dipersiapkan lawan berupa sebuah pasar di tengah jalan, dimana barisan itu jauh lebih susah dihadapi ketimbang barisan &lt;b&gt;Pat-tin-toh&lt;/b&gt; yang pernah digelar Khong Beng dulu, bahkan menyisipkan inti kehebatan dari barisan itu membaur dengan pelaku pasar sehingga membuat orang sukar menduga, semua ini semakin merangsang semangat tempur Ong Siau-sik, dan akibatnya dia merasa semakin tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu mulai tegang, secara tak sadar kakinya mulai gemetar keras, jari tangannya ikut bergetar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kaki dan tangannya yang gemetar keras merupakan salah satu cara untuk melenyapkan rasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di dunia ini terdapat pelbagai jenis manusia, menggunakan cara yang berbeda satu dengan yang lain untuk menghilangkan rasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada orang akan membaca buku, membaca doa atau menulis bahkan pergi tidur ketika rasa tegang mulai menyerang, tapi ada pula yang kebalikannya, di saat sedang merasa tegang, ada kalanya mereka mulai mencaci maki, mulai memukul bahkan membunuh manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada pula cara melepaskan rasa tegang yang normal seperti pergi mandi, main opera atau mencari perempuan untuk pelampiasan. Tapi ada pula dengan cara yang aneh seperti minta digebuki orang berhenti bekerja atau sekaligus melahap sepuluh biji cabe pedas bahkan menangkap seseorang, mencincang daging tubuhnya dan menyantapnya mentah-mentah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dengan So Bong-seng?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cara apa dia melepaskan ketegangannya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak ada yang tahu, karena tak pernah ada orang melihat So Bong-seng merasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekalipun ketika berada di Ku-swi-po, sewaktu dikepung empat ratus orang pemanah jitu yang sudah mementangkan busurnya, dia hanya sedikit berubah wajah, tapi sama sekali tidak tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia selalu beranggapan, tegang hanya akan mengacaukan urusan, sama sekali tak dapat menyelesaikan persoalan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika persoalan mulai datang, dia hanya tahu menyelesaikannya dengan sepenuh tenaga, dia tak ingin menciptakan masalah lain bagi diri sendiri, inilah prinsip yang dipegang teguh So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi setelah dihadapkan dengan barisan sebuah &#39;pasar di tengah jalan&#39;, bukan saja So Bong-seng mulai merasakan kepalanya pusing tujuh keliling, bahkan ia mulai gemetar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal begitulah yang disebut manusia, semakin dia tak pernah sakit, sekali waktu jatuh sakit maka sukarlah untuk disembuhkan, sebaliknya orang yang sering kena penyakit, biasanya dia memiliki daya tahan lebih kuat ketika menghadapi penyakit parah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang yang gemar minum arak jarang mabuk, tapi sekali mabuk, dia akan muntah jauh lebih hebat ketimbang orang lain!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng termasuk orang yang jarang merasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu merasa tegang, dia segera akan berbicara. Berbicara merupakan rahasia pelepasan rasa tegangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Oleh sebab itu orang hanya mendengar So Bong-seng sedang berbicara, sama sekali tidak pernah melihat So Bong-seng merasa tegang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal kebanyakan orang tidak selalu memandang dengan matanya, berkeluh kesah dengan mulutnya. Kalau tidak, mana mungkin sikap yang garang justru bisa membesarkan nyali? Kenapa asal perkataan itu diucapkan seorang kaya raya maka ucapannya seakan kata emas yang wajib dituruti?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tadi ketika berada di Po-pan-bun, Lui Sun pernah mengucapkan sepatah kata, kata makian terhadap &lt;b&gt;Lu Sam-cian&lt;/b&gt;, dia berkata &amp;quot;Panglima yang kalah perang tak usah bicara besar&amp;quot;. Padahal umpatan itu salah besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menurut So Bong-seng, &amp;quot;Orang di dunia ini yang paling berhak bicara besar adalah panglima kalah perang yang berperang lagi. Hanya panglima yang pernah kalah perang tahu dimana letak kekalahannya, tahu dimana keunggulan lawannya. Panglima yang sering menang tidak akan mengetahui hal ini, justru mencari kemenangan di tengah kekalahan baru merupakan impian seorang panglima sejati.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui menarik napas dalam-dalam, sindirnya, &amp;quot;Panglima yang pernah kalah perang memang bisa bangkit lagi, tapi panglima yang mampus mana mungkin bisa bangkit kembali?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apa maksud perkataanmu itu?&amp;quot; tanya So Bong-seng sambil mengerling sekejap ke arahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku sedang berpikir, dengan cara apa aku bisa menggiring para jago unggulan dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong ini hanya membunuh kau dan tidak membunuh aku,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Itu sih gampang!&amp;quot; seru So Bong-seng cepat, &amp;quot;asal kau tangkap aku, mempersembahkan kepada musuh, maka kau bisa memperoleh imbalan dan jasa, mengubah musuh jadi sahabat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hahaha ... sebuah usul yang sangat bagus!&amp;quot; Pek Jau-hui tertawa tergelak, mendadak ia melejit ke muka dan langsung menerjang ke tengah arena.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ditinjau dari caranya menerjang ke depan, paling tidak pasti ada sepuluh orang yang bakal tewas di tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah Pek Jau-hui turun tangan, tentu saja Ong Siau-sik tak ingin berpangku tangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja dia hendak mencabut pedangnya, mendadak terdengar Su Bu-kui mengucapkan sepatah kata yang dipahami artinya, tapi tidak mengerti kenapa mengucapkan perkataan itu di saat seperti ini, &lt;i&gt;&amp;quot;Berbuat onar semau sendiri!&amp;quot;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu perkataan itu diucapkan, sikap So Bong-seng seketika berubah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan satu gerakan cepat dia menarik lengan Pek Jau-hui yang sedang melesat maju ke muka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gerakan tubuh Pek Jau-hui saat ini amat cepat dan kuat, meski ada delapan puluh orang lelaki kekar, belum tentu sanggup menahan gerakan tubuhnya, tapi So Bong-seng hanya sedikit menggerakkan badannya, tahu-tahu ia sudah ditariknya balik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkinkah Pek Jau-hui memang sengaja membiarkan tangannya ditarik?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menahan gerak maju Pek Jau-hui, So Bong-seng hanya mengucapkan sepatah kata, &amp;quot;Kita menonton dulu, kemudian baru turun tangan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat itulah tiba-tiba berdatangan segerombolan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada yang datang dari jalan raya sebelah timur, utara dan ada pula yang datang dari jalan simpang tiga. Orang-orang itu datang dengan sikap santai, tenang, mantap dan tenteram.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka terdiri dari tua, muda, laki, perempuan, tinggi, pendek, ganteng, jelek, kuat, cantik, namun ada dua hal persamaan yang dimilikinya, dalam genggaman semua orang terlihat sebuah payung kertas minyak berwarna hijau tua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kepala orang-orang itu semuanya diikat dengan secarik kain saputangan berwarna putih.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Payung di tangan mereka bisa digunakan untuk menahan air hujan, tapi membuat mereka tak mampu melihat angkasa. Kain putih yang membungkus kepala membuat rambut mereka pun tak kelihatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kawanan manusia itu bermunculan dari arah timur, selatan, barat, utara dan langsung bergerak menuju ke posisi tengah, gerak langkah mereka tidak cepat namun juga tidak lamban, tapi bergerak secara teratur dan langsung mengepung barisan &#39;pasar di tengah jalan&#39;, dengan demikian bisa memperlihatkan kehebatannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebuah barisan yang sudah tertata rapi, dalam waktu singkat berubah jadi kacau karena disumbat oleh beberapa orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat kemunculan orang-orang itu, kawanan manusia yang berada dalam pasar hanya bisa saling berpandangan tanpa tahu apa yang mesti dilakukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kawanan manusia berpayung itu masih melanjutkan langkahnya, ada yang menghampiri si pedagang ikan, ada yang mendekati istal kuda, beberapa orang mendekati penjual daging, dua tiga orang mendekati tauke penjual bakpao. Dalam waktu singkat hampir semua orang yang ada di dalam pasar telah saling berhadapan dengan orang-orang berpayung itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kawanan jago tangguh perkumpulan Lak-hun-poan-tong yang sejak awal bersembunyi di dalam pasar itu paling tidak berjumlah delapan-sembilan puluhan orang, sementara manusia berpayung itu jumlahnya hanya dua tiga puluhan orang, tapi begitu muncul, justru kawanan manusia berpayung itulah yang telah mengepung para jago di dalam pasar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suasana tegang segera mencekam semua orang, khususnya para jago yang berada di dalam pasar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perasaan tegang mencekam pula seorang lelaki yang duduk di pasar bagian depan, seorang lelaki kurus kering yang memiliki tulang pelipis penuh berotot hijau, otot-otot hijau yang mengelilingi jalan darah Tay-hiang-hiat. Dia tak lain adalah Lui Heng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 15&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;13&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 14 &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-14-orang-dalam-pasar.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1752657660990236169</guid><pubDate>Tue, 08 Jan 2013 07:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-08T14:39:30.364+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 13. Golok dan Batok Kepala</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;13. Golok dan Batok Kepala&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;So Bong-seng bukan manusia!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dalam keadaan dia sudah terhajar senjata rahasia kacang hijau milik Hoa Bu-ciok, kemudian aku, si Barang antik dan Hoa Bu-ciok bersama-sama menghajarnya, di luar pun masih ada empat ratusan panah yang diarahkan ke tubuhnya, tapi begitu goloknya berada di dalam genggaman, sekali tebas dia mengiris sepotong daging di kakinya sendiri, tebasan kedua mendesak aku dan Hoa Bu-ciok sehingga harus mundur, bacokan ketiga berhasil membunuh si Barang antik. Golok iblisnya nampak menyala semakin merah setelah menghirup darah segar!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Andai kata kami terlambat satu langkah saja untuk kabur, mungkin...&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Golok milik So Bong-seng bukan sembarang golok, golok itu bukan dilancarkan ke arah kita, tapi mendatangkan rasa ngeri dan seram yang sukar dilawan, kengerian dan keseraman yang diciptakan golok itu belum pernah kami saksikan dan alami sebelumnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ketika menyaksikan So Bong-seng mengayunkan goloknya ke arah si Barang antik, gaya serangannya begitu indah menawan, begitu anggun mengagumkan, tapi hanya sekali tebasan, kepala si Barang antik sudah terlepas dari badannya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok macam apakah itu?!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Manusia macam apakah So Bong-seng?!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kalau dia manusia, kenapa bisa memiliki golok seperti itu?!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Nenek Kedelai masih merasa ngeri setiap kali teringat keganasan dan kehebatan golok itu, laporan yang sebenarnya hendak disampaikan kepada Lui Kun seketika jadi tergagap dan beberapa kali tak sanggup diucapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku bersembunyi di belakang dinding, menutup seluruh pernapasan, menutup semua pikiran, bahkan berusaha menahan detak jantung dan denyut nadiku, tujuannya tak lain agar telur busuk dari marga So itu tidak menyadari akan kehadiranku, itulah sebabnya aku baru berhasil dengan seranganku, Wo Hu-cu terhajar tiga batang Jarum Pelumat Tulangku, dengan kemampuan &lt;b&gt;Sau-yang-jui-pit-jiu&lt;/b&gt; milik Wo Hu-cu, siapa yang sanggup menguasai keadaan jika dia tidak dirobohkan terlebih dulu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pun memaksakan diri untuk bertarung melawan Te Hoa, memaksa racunnya kambuh hingga tewas, kemudian bertarung habis-habisan membendung serbuah Su Bu-kui, agar dia tak sanggup mendekati telur busuk So dan memberikan pertolongan kepadanya, tapi siapa sangka, di saat kemenangan hampir kita raih, tiba-tiba muncul dua orang bocah busuk yang tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, coba kalau tidak ada mereka berdua, orang she So itu pasti sudah terkapar di tanah, selamanya dia tak mampu berlagak jadi seorang Hohan lagi dalam dunia persilatan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Butiran air telah membasahi jidat Hwesio Perlente, entah air keringat atau air hujan, coba kalau tiada bekas sundutan hio di atas jidatnya, ditinjau dari pakaian yang dikenakan, dandanannya yang perlente, orang pasti mengira dia bukan seorang Hwesio melainkan seorang lelaki botak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku telah mempersiapkan empat ratus orang pemanah jitu, sebenarnya ingin kuciptakan empat ratus lubang di tubuh So-kongcu, tapi kemunculan kedua orang itu membuat barisan kami kacau, membuat pemanah kami kalang kabut dan tak keruan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Banyak kejadian di dunia ini tercipta pada situasi yang tak terduga. Banyak sekali urusan kecil yang sepele atau pemikiran sesaat berakibat terjadinya perubahan besar atas suatu masalah atau keadaan, bahkan bisa terjadi pergantian dinasti atau pemerintahan, aku rasa penyebab utama dalam kegagalan yang kita alami kali ini adalah tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan terjadinya peristiwa di luar dugaan itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cambang lebat memenuhi seluruh wajah Panglima Tiga Panah, jenggotnya pun tumbuh tebal tapi kacau bagai rumput liar, dia memiliki wajah kurus dengan jidat tinggi dan sempit, alis matanya kusut dan tebal, sekilas pandang, orang akan menyaksikan gumpalan hitam di bawah kopiah perangnya, sulit untuk melihat jelas bagaimana tampangnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Habis sudah kali ini, So Bong-seng adalah orang yang akan membalas setiap sakit hatinya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalian mengatakan dalam operasi kita kali ini pasti akan berhasil membinasakan So Bong-seng, karena itulah aku baru berani turun tangan. Tapi dalam operasi sepenting ini kenapa Congtongcu tidak datang? Bahkan Toatongcu pun tidak turut muncul di sini? Sekarang So Bong-seng gagal dibunuh, dia pasti tak akan melepaskan kita semua, paling tidak dia pasti akan datang untuk membunuhku, Ngo-tongcu, kau harus mencari jalan keadilan bagiku!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekujur badan Hoa Bu-ciok gemetar keras, sejak dilahirkan hingga setua ini, belum pernah dia merasakan ketakutan seperti apa yang dialaminya sekarang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dulu setiap kali menghadapi saat yang gawat, saat penentuan mati hidup, dia selalu tampil berani dan penuh semangat, tapi sekarang dia merasakan kegugupan yang luar biasa, rasa tak berdaya yang luar biasa, karena secara tiba-tiba dia telah kehilangan keberanian dan kegagahan yang pernah dimiliki dulu, kehilangan kekuatan yang luar biasa itu. Kekuatan apakah itu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengapa di saat dia berkhianat, di saat dia menjual junjungannya dan selesai membantai saudara sendiri, tiba-tiba kekuatan itu hilang lenyap tak berbekas?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini giliran Lui Sun yang berbicara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepasang mata besarnya yang berwibawa dan bersinar tajam, bagaikan sambaran petir menyapu wajah setiap anak buahnya, Si Nenek Kedelai, si Hwesio Perlente, Hoa Bu-ciok dan Panglima Tiga Panah, semua orang merasa hatinya bergetar keras ketika tertimpa sorot matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan suara keras menggelegar bagai bunyi guntur, ujar Lui Sun, &amp;quot;Nenek Kedelai, perkataanmu hanya memadamkan semangat orang sendiri, padahal hasil yang kalian capai kali ini tidak terhitung jelek, paling tidak kalian telah berhasil membantai dua orang jenderal andalan si setan penyakitan itu dan membuat kekuatannya terpukul, untuk memulihkan kembali kekuatannya, dia butuh banyak waktu untuk mengumpulkan kembali tenaga baru. Jelas apa yang kalian lakukan merupakan sebuah jasa yang amat besar. Kalian semua harus tahu, orang she So itu hanya seorang manusia, manusia yang menggunakan golok, senjata yang digunakan pun tak lebih hanya sebilah golok, kenapa kau mesti mengagulkan kehebatannya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, &amp;quot;Dalam penggropyokan kali ini, kalian semua telah menyerempet bahaya dan mempertaruhkan nyawa, maka semua orang akan mendapat imbalan, khususnya Hwesio Perlente yang mempertaruhkan nyawa untuk membantai orang she So itu, andaikata kau berhasil membunuhnya, tentu saja jasamu luar biasa, tapi sekarang orang she So itu belum mampus, maka kau mesti berjuang lebih hebat lagi!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Lu Sam-cian, tampaknya kau lebih tahu diri, atau mungkin kau ingin lari dari tanggung jawab? Jangan lupa, panglima yang kalah perang lebih baik tak usah bicara takabur, kau membawa empat ratus orang pemanah jitu tapi tak mampu membunuh seorang setan penyakitan yang hampir mampus, kalau harus melakukan pemeriksaan, mungkin kau sendiri pun tak bisa menjawab semua pertanyaan secara jelas.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kini operasi pun sudah telanjur dilaksanakan, seharusnya kita tak perlu takut pembalasan dari orang she So itu! Lebih baik lagi jika si setan penyakitan itu berani datang kemari, aku Lui-longo akan menanti kedatangannya di sini. Wahai Hoa Bu-ciok, kau jangan macam orang kehilangan sukma, uang taruhan pun sudah kau pasang, jangan tunjukkan sikap lemahmu itu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekali lagi Lui Sun menatap wajah setiap anak buahnya dengan sorot mata yang tajam, kemudian baru berkata lagi, &amp;quot;Kali ini manusia she So itu sudah menderita luka parah, anak buahnya pun banyak yang mampus, paling tidak dia mesti mengatur barisan terlebih dulu sebelum melakukan pembalasan, aku rasa langkah kita kali ini sudah tepat sekali, bukankah begitu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika dia mengajukan pertanyaan yang diakhiri dengan pertanyaan &amp;quot;bukankah begitu&amp;quot;, tentu saja dia berharap jawaban yang diperoleh adalah &amp;quot;Benar&amp;quot; dan tentu tak ingin mendengar kata &amp;quot;tidak benar&amp;quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jika dia menginginkan orang lain menjawab dengan kata &amp;quot;tidak benar&amp;quot;, tentu saja pertanyaan yang diajukan tak akan memberi kesempatan kepada orang lain untuk tidak menjawab &amp;quot;Benar&amp;quot;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kadang kala dalam sebuah rapat, ada orang yang pada hakikatnya berharap orang lain hanya membawa telinga dan tak usah disertai dengan mulut. Tentu saja terkecuali di saat dia butuh pujian dan sanjungan dari orang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di saat dia mengucapkan kata &amp;quot;bukankah begitu&amp;quot;, tiba-tiba dari balik suara hujan yang berderai di luar sana terdengar suara pekikan melengking yang ditimbulkan dari suara seruling besi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suara seruling itu tinggi menusuk pendengaran, suaranya bersahut-sahutan tiada putusnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berubah hebat paras muka Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiga orang lelaki bercelana pendek berbaju longgar serentak masuk ke tengah ruangan dan menjatuhkan diri berlutut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Cepat katakan!&amp;quot; hardik Lui Sun cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dua orang yang ada di belakang segera menyingkir ke samping, sementara lelaki di tengah melapor, &amp;quot;Di depan jalan telah kedatangan musuh tangguh, Tongcu kesebelas sedang melakukan perlawanan sekuat tenaga!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar laporan itu, paras muka Hoa Bu-ciok seketika berubah jadi pucat keabu-abuan, sekujur badannya gemetar keras, gemetar saking takutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kurang ajar, besar amat nyalinya!&amp;quot; bentak Lui Sun penuh amarah, kepada Panglima Tiga Panah segera perintahnya, &amp;quot;kau segera bawa pasukan berjaga di jalan belakang! Saat ini mereka menyerang jalan depan, kita mesti waspada terhadap ancaman yang datang dari jalan belakang!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik!&amp;quot; Panglima Tiga Panah segera bangkit dan beranjak pergi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu Hoa Bu-ciok semakin ketakutan, dengan badan menggigil dan bibir gemetar, bisiknya, &amp;quot;Dia ... dia telah datang!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun menarik napas panjang, beruntun dia turunkan tujuh perintah darurat untuk memohon bantuan, kemudian pikirnya, &amp;quot;Kemana perginya Congtongcu dan Toatongcu? Mestinya Loji, Losam dan Losu harus segera menyusul kemari.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya, dalam waktu singkat dia harus berhadapan dengan So Bong-seng, si jagoan yang amat menggetarkan sungai telaga, dia tak tahu apakah kemampuannya sanggup menandingi kehebatan orang itu, tanpa terasa peluh dingin mulai membasahi telapak tangannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi sejenak kemudian ia sudah dapat mengendalikan diri, ujarnya kemudian, &amp;quot;Baiklah, kalau dia memang sudah datang, mari kita sambut kedatangannya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak usah!&amp;quot; mendadak terdengar seseorang menyahut, suara itu bergema persis di depan tubuh Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul kemudian tampak cahaya golok beterbangan di angkasa, selapis cahaya golok menyambar lewat persis di atas kepala Hoa Bu-ciok!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cahaya golok itu muncul dari sisi tubuh dua orang lelaki bercelana pendek itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun membentak nyaring, sepasang senjata martil bintang kejoranya yang mempunyai bobot sembilan puluh tiga kati berada di tangan kiri dan lima puluh sembilan kati di tangan kanan, segera meluncur ke udara dengan kecepatan luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Senjata aneh dengan bobot yang berbeda ini merupakan senjata yang paling sulit dipelajari, tapi bila berhasil dikendalikan, maka akan berubah menjadi sepasang senjata yang paling susah dihadapi, bukan saja mampu menjangkau jarak jauh bahkan memiliki daya membunuh yang luar biasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul meluncurnya sepasang martil bintang kejora itu menembus angkasa, bayangan tubuhnya ikut lenyap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cahaya golok masih menyambar kian kemari, bagai hembusan angin tahu-tahu senjata itu sudah mampir di atas kepala gundul si Hwesio Perlente.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyadari datangnya ancaman, si Hwesio Perlente segera membentak nyaring, senjata mangkuk tembaga dalam genggamannya kontan disambitkan untuk membendung datangnya ancaman. Bukan hanya itu, seratus delapan biji tasbih yang ada dalam genggamannya turut dilontarkan ke depan, menyusul badannya menerobos melalui jendela dan berusaha kabur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekarang dia hanya berharap bisa menangkis bacokan maut dari So Bong-seng, kemudian memanfaatkan peluang yang ada untuk melarikan diri dari ancaman kematian. Anggapannya dalam ruangan itu hadir banyak sekali jago tangguh, asal dia berhasil lolos dari bacokan itu, niscaya ada orang lain yang akan membendung serangan dari So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Daun jendela hancur berantakan tertumbuk tubuhnya, di luar hujan masih turun dengan derasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Benar saja, dia berhasil melarikan diri keluar dari ruangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi bagaimana mungkin dia tahu kalau berhasil kabur?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam waktu singkat dia menyadari akan sesuatu, ternyata tubuhnya yang berhasil melompat keluar dari balik jendela, namun tubuh tanpa kepala.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengapa tubuhnya bisa tak berkepala?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukankah jelas tubuh itu miliknya? Pakaian yang dikenakan pun miliknya, tapi....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jangan-jangan...........&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya sampai di situ yang bisa dibayangkan si Hwesio Perlente, dia tak berpikir lebih jauh lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ya, dia memang tak mampu berpikir lagi, karena dia sudah kehilangan kemampuannya untuk berpikir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Nenek Kedelai dengan jelas telah menyaksikan bacokan golok So Bong-seng ketika menebas kutung batok kepala Hoa Bu-ciok, caranya menebas persis sama seperti ketika ia memotong kepala si Barang antik, indah, cepat dan sedikit membawa romantika yang tak terlukiskan dengan kata-kata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul kemudian tebasan golok yang kedua, Hwesio Perlente sebagai sasarannya, dan ia berhasil menemukan sang Hwesio itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cahaya golok yang membawa warna merah berputar satu lingkaran di sekeliling tengkuk Hwesio perlente di saat tubuhnya baru saja melompat ke depan siap menerjang daun jendela, saat itu kebetulan kepala sang Hwesio baru saja berhasil menjebol jendela,- maka batok kepalanya mencelat terlebih dahulu keluar dari jendela kemudian baru disusul tubuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah itu golok merah tadi melayang balik ke tangan So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat itulah So Bong-seng berpaling, sorot matanya yang lebih tajam dari sembilu sedang memandang ke arahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam waktu singkat si Nenek Kedelai nyaris menangis saking panik dan takutnya, belum sempat pecah isak tangisnya, terdengar Lui Sun sudah meraung keras, suaranya menggelegar bagai guntur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lui Sun betul-betul tidak habis mengerti, tatkala ada bayangan abu-abu berkelebat tadi, sepasang martilnya secepat petir telah mengejar ke situ, karena dia tahu bayangan abu-abu itu adalah So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng ternyata berani melanggar wilayahnya, padahal dia adalah orang yang hendak dibunuhnya!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kenyataan yang sedang berlangsung saat ini ibarat sekeping ujung pisau yang sudah terbakar membara, menghujam di atas lantai dimana ia sedang berada!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Reaksi kelewat emosi membuat seluruh tubuhnya nyaris melejit ke udara, bahkan dipenuhi semangat tempur yang tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat ini semangat tempur bahkan jauh lebih membara ketimbang kekuatan hidupnya!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia lebih rela mati, tapi pertarungan tak boleh tak terselenggara!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila ia berhasil membunuh So Bong-seng, maka posisinya dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong pasti akan terangkat, kedudukannya pasti lebih berbobot!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan membunuh So Bong-seng, nama besarnya akan berkibar di antero jagad, wibawanya akan menggetarkan delapan penjuru!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila seseorang ingin melakukan satu pekerjaan yang menghebohkan, tapi ia tak berani melangkahi atasan, tak berani mendahului atasan, padahal dia tak pernah mau takluk pada orang kenamaan lainnya, maka dalam hati kecilnya dia akan menciptakan seorang musuh besar, musuh besar yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang melampaui kemampuannya, mengalahkannya bahkan membunuhnya, untuk membuktikan kemampuan dan kehebatan dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Musuh besar yang diciptakan Lui Sun di hati kecilnya adalah So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apalagi ketika orang lain memandangnya setengah mengejek. Menganggapnya bagai cahaya kunang-kunang yang hendak menandingi sinar rembulan, Lui Sun akan merasa semakin gelisah, panik bercampur gusar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suatu hari nanti, dia harus berhasil mengalahkan So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya dengan mengalahkan So Bong-seng, dia baru bisa membuktikan keberadaan dirinya!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka saat ini, ia sudah dibakar hingga sakit oleh semangat tempurnya, dia mulai menyerang dan menggempur So Bong-seng secara kalap, biarpun kalap, tidak berarti jurus serangan yang digunakan ikut kalap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sepasang senjata martilnya diayunkan, martil yang berat bergerak dari belakang mengejar ke depan sementara martil yang enteng dari depan melakukan penghadangan, satu depan yang lain belakang melakukan penggencetan, asal terbentur salah satu saja di antaranya niscaya batok kepala musuh akan hancur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada waktu itu martil ringannya jelas terlihat seakan dapat menggempur tubuh lawan dari arah depan, siapa tahu So Bong-seng hanya sedikit menggerakkan tubuh, tahu-tahu serangan itu sudah lewat begitu saja tanpa sanggup menyentuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara martil beratnya yang jelas segera akan menghajar belakang kepala lawan, tapi entah mengapa, ketika berada pada jarak setengah inci dari sasaran, tahu-tahu rambut belakang kepala So Bong-seng berdiri tegak bagai landak, bukan saja serangannya gagal mengenai sasaran, bahkan terasa seakan ditangkis dengan toya baja, senjata itu mencelat ke arah lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah So Bong-seng dengan dua kali lompatan telah berhasil memenggal kepala Hoa Bu-ciok serta si Hwesio Perlente.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok yang semula berwarna semu merah, kini telah berubah jadi merah membara, merah bagaikan kilatan halilintar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Merah membara sepasang mata Nenek Kedelai, ia sadar nyawanya sudah di ujung tanduk, mendadak ia lepaskan pakaian compang-camping yang dikenakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika pakaian compang-camping itu digetarkan keras, mendadak benda itu menggulung jadi satu dan terbentuk sebatang tongkat panjang yang bisa digunakan secara keras maupun lembek, sambil mengayunkan senjatanya itu dia menangkis babatan golok yang menyambar ke arah batok kepalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Cahaya merah segera menyelimuti angkasa, diikuti hamburan hujan bunga menyebar keempat penjuru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata senjata gulungan kain yang berada dalam genggaman Nenek Kedelai telah hancur berantakan jadi ribuan keping dan tersebar keempat penjuru, dengan tergopoh-gopoh nenek itu melesat mundur untuk menghindar, namun desingan angin tajam tetap membabat di atas kepalanya, tahu-tahu sebagian besar rambutnya sudah terpapas kutung dan berhamburan kemana-mana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekali lagi cahaya golok berkelebat, kali ini senjata itu balik kembali ke dalam baju So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak mudah untuk menangkis serangan golokku ini,&amp;quot; terdengar So Bong-seng berkata dengan suara dingin, &amp;quot;ingat, hari ini aku memang sengaja tidak membunuhmu, ini kulakukan karena satu alasan, karena kau tidak pernah membunuh saudaraku dengan tanganmu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, dengan suara yang lebih menyeramkan ia menambahkan, &amp;quot;Siapa yang membunuh saudaraku, dia harus mampus!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai berkata, ia membalikkan badan dan segera berlalu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan saja ia tak memandang sebelah mata terhadap keempat ratus delapan puluh enam anggota perkumpulan Lak-hun-poan-tong yang mengepung rapat sekeliling tempat itu, bahkan dia pun seakan tidak melihat kalau di situ hadir seorang jagoan yang bernama Lui Sun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak heran bila Lui Sun mencak-mencak macam orang kebakaran jenggot.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penghinaan ini dirasakan olehnya jauh lebih menderita, jauh lebih tersiksa ketimbang dibunuh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paling tidak ia merasa sangat dipermalukan saat ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;OoOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 14&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;12&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 13&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2013/01/golok-kelembutan-13-golok-dan-batok.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-2731491240536994942</guid><pubDate>Sun, 07 Oct 2012 09:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-10-07T16:14:57.058+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 12. Tak Pernah Mencurigai Saudara Sendiri</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot;&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;12. Tak Pernah Mencurigai Saudara Sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt; &lt;p&gt;Orang bilang &quot;Tombak gampang dihindari, panah gelap susah dihindari&quot;, padahal panah yang datang secara terang-terangan pun tidak mudah untuk ditangkis.  &lt;p&gt;Seperti misalnya terkepung rapat oleh pemanah yang sangat terlatih saat ini, menanti mereka melepaskan keseratus anak panah yang digembolnya, kendatipun sangat hebat dan amat tangguh juga akan berubah jadi seekor landak dan tak sanggup melancarkan serangan balasan.  &lt;p&gt;Kini barisan pemanah yang ada di deretan depan sudah mulai melepaskan panahnya.  &lt;p&gt;Mendadak So Bong-seng melakukan satu tindakan. Ia sambar mayat si Barang antik, lalu dilemparkan ke tubuh Su Bu-kui. Tindakannya itu menyelamatkan Su Bu-kui dari ancaman kematian!  &lt;p&gt;Berhasil dengan tindakannya itu, So Bong-seng kembali menggunakan mayat si Barang antik sebagai tameng untuk melindungi diri dari ancaman.  &lt;p&gt;Wo Hu-cu tidak tinggal diam, ia berteriak keras sambil melompat bangun, kemudian badannya berputar kencang bagaikan gangsing. Dia melindungi belakang tubuh So Bong-seng.  &lt;p&gt;Dengan adanya perlindungan pada bagian belakang, maka cukup bagi So Bong-seng untuk menangkis datangnya panah yang mengarah dari kiri, kanan serta depan.  &lt;p&gt;Tak heran begitu selesai serangan itu dilancarkan, tubuh Wo Hu-cu ikut roboh ke tanah, namun ia tidak membiarkan badannya terjerembab, ia tetap mencoba berjongkok, menopang di atas panah yang menghujam tubuhnya.  &lt;p&gt;Rupanya dia menjadi sasaran tembak para pemanah itu.  &lt;p&gt;Dua batang anak panah kembali menghajar tubuh Su Bu-kui, sementara Te Hoa terhajar empat batang panah.  &lt;p&gt;Kini barisan kedua pemanah itu sudah bersiap, mulai melepaskan panah mereka.  &lt;p&gt;Anak panah bagaikan hujan deras segera berhamburan ke seluruh penjuru ruangan.  &lt;p&gt;Akhirnya, dari balik mata So Bong-seng memancar keluar sekilas cahaya yang sangat aneh, cahaya keputusasaan seorang Enghiong yang sudah terdesak dan menemui jalan buntu, cahaya nekat seorang pahlawan yang siap mengadu nyawa.  &lt;p&gt;Di saat yang amat kritis itulah mendadak kawanan pemanah yang berjajar rapi tahu-tahu sudah bergelimpangan ke sana kemari bagaikan digulung ombak samudra, mereka yang tak roboh segera membalikkan tubuh melakukan perlawanan, sayang, ibarat salju yang terkena air panas, tak lama kemudian hampir sebagian besar sudah terkapar di tanah.  &lt;p&gt;Tampak dua orang pemuda berlompatan di tengah kerumunan orang banyak, siapa yang terbentur seketika roboh terjengkang, tak lama kemudian sudah empat-lima puluhan orang yang roboh terkapar.  &lt;p&gt;Para pemanah sisanya jadi keder, melihat kepungan mereka sudah bobol, khususnya ketika terbayang keampuhan golok di tangan So Bong-seng, hampir sebagian besar di antara mereka segera membuang busurnya ke tanah, kemudian membalikkan badan dan melarikan diri terbirit-birit.  &lt;p&gt;Kelebihan dari kerja kelompok adalah di saat mereka bersatu-padu, maka kekuatannya kukuh bagaikan batu karang, tapi jeleknya, bila masing-masing sudah mulai memikirkan keselamatan sendiri, kelompok itu akan buyar bagaikan setumpuk pasir tersapu angin.  &lt;p&gt;Asal ada satu orang saja di antara mereka yang melarikan diri, maka rekan lainnya pasti akan mengikuti jejaknya.  &lt;p&gt;Alhasil, kecuali mreka yang sudah telanjur roboh, delapan puluh persen pemanah lainnya segera meninggalkan medan laga dan berusaha melarikan diri.  &lt;p&gt;Ketika terjadi penyergapan secara tiba-tiba tadi, Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui segera menyadari kalau keadaan tak beres, secepat kilat mereka segera mengeluyur keluar dari puing bangunan itu.  &lt;p&gt;Untungnya perhatian para penyergap hanya tertuju pada So Bong-seng seorang, sehingga mereka sama sekali tak mempedulikan tingkah laku mereka.  &lt;p&gt;Menanti kawanan pemanah itu mengepung rapat seluruh puing bangunan itu, Pek Jau-hui baru bertanya kepada Ong Siau-sik, &quot;Bagaimana? Apakah kita perlu turun tangan?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Perlu!&quot; sahut Ong Siau-sik cepat, &quot;aku rasa So-kongcu adalah seorang lelaki saleh yang berjiwa ksatria, anak buahnya pun hebat dan bagus, bagaimana dengan pandanganmu?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Aku pikir, inilah saat yang tepat bagi kita untuk belajar praktek.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Tapi kau harus mengabulkan satu permintaanku.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Katakan saja.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Sebisa mungkin jangan membunuh orang.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Baik,&quot; sahut Pek Jau-hui cepat, &quot;aku bersedia bukan lantaran mengabulkan permintaanmu, tapi demi kepentinganku sendiri, aku pun tak ingin terlalu dimusuhi orang-orang perkumpulan Lak-hun-poan-tong, terlebih tak ingin dimusuhi Lui Sun!&quot;  &lt;p&gt;Walaupun dia hanya berbicara beberapa patah kata, namun belum lagi dia menyelesaikan kata-katanya, So Bong-seng sudah terancam bahaya maut, maka tanpa membuang waktu lagi Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui segera turun tangan bersama.  &lt;p&gt;Mereka menerjang dari belakang barisan kawanan pemanah itu, begitu turun tangan langsung mengumbar kehebatannya dengan tujuan agar nyali musuh pecah dan keder.  &lt;p&gt;Jari tangan Pek Jau-hui menyambar kian kemari bagai sambaran petir, semua sodokannya diarahkan ke jalan darah penting di tubuh lawan.  &lt;p&gt;Sementara Ong Siau-sik menggunakan tepi telapak tangannya sebagai pengganti golok, bacokan demi bacokan dilancarkan, kekuatan yang digunakan pun tidak berat juga tidak enteng, tujuannya hanya membuat pingsan orang-orang itu.  &lt;p&gt;Begitu melihat munculnya kedua pemuda itu mengobrak-abrik barisan musuh, sekali lagi sorot mata So Bong-seng berubah jadi angkuh, dingin bahkan menggidikkan siapa pun yang melihatnya.  &lt;p&gt;Ia menghampiri Wo Hu-cu dan membangunkannya, namun sekujur badan anak buahnya itu sudah dipenuhi anak panah, tubuhnya bagaikan sasaran bidikan, persis seperti seekor landak.  &lt;p&gt;Kemudian dia pun menengok Te Hoa, tapi sayang Te Hoa sudah tewas, orang ini mati dengan mata melotot, seakan dia mati dengan perasaan tak rela, mati penasaran, mati dengan penuh kemarahan yang meluap.  &lt;p&gt;So Bong-seng tidak melakukan apa-apa, dia hanya berbisik, &quot;Aku pasti akan membalaskan dendam kematianmu!&quot; Ucapan yang diutarakan dengan sangat tegas, setegas paku yang terbuat dari baja.  &lt;p&gt;Setetes air hujan meleleh jatuh dari atap bangunan, persis jatuh di bawah alis mata Te Hoa, di atas kelopak matanya, tiba- tiba Te Hoa memejamkan matanya rapat-rapat, hatinya seakan merasa tenteram setelah mendengar perkataan So Bong-seng itu, karena itu dia mati dengan mata meram.  &lt;p&gt;Perlahan-lahan So Bong-seng bangkit berdiri. Saat itulah Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui telah berhasil menguasai keadaan.  &lt;p&gt;Su Bu-kui terhajar empat batang panah, tapi beruntung tidak bersarang di bagian tubuh yang mematikan, dia biarkan anak panah tetap menancap di tubuhnya, sama sekali tak berniat mencabutnya keluar.  &lt;p&gt;Sisi wajahnya yang hitam kini terlihat semakin hitam, sementara sisi yang berwarna putih nampak jauh lebih putih.  &lt;p&gt;&quot;Mengapa kau tidak mencabut anak panah itu?&quot; So Bong-seng menegurnya.  &lt;p&gt;&quot;Sekarang bukan saat yang tepat untuk mengobati luka,&quot; jawab Su Bu-kui sambil tetap berdiri tegak.  &lt;p&gt;&quot;Bagus sekali, si Barang antik mengkhianati kita, menjual nyawa lima ratus orang saudara kita, kusuruh Hoa Bu-ciok pergi membekuknya, tapi ternyata dari enam orang saudara sejatiku, kini hanya tersisa kau serta Yo Bu-shia,&quot; sorot mata sebara kobaran api memancar dari balik matanya, &quot;kematian Wo Hu-cu dan Te Hoa disebabkan ulah si Barang antik dan Hoa Bu-ciok, kini si Barang antik sudah mampus, Hoa Bu-ciok pun sama saja, sudah mati.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Benar,&quot; Su Bu-kui mengangguk.  &lt;p&gt;Menyaksikan berlangsungnya tanya jawab itu Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui hanya bisa saling pandang.  &lt;p&gt;Lama kemudian Pek Jau-hui baru berseru lantang, &quot;He, kami telah menolongmu, kenapa kau tidak berterima kasih kepadaku?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Aku tak pernah mengungkapkan rasa terima kasihku melalui ucapan,&quot; jawab So Bong-seng hambar.  &lt;p&gt;&quot;Kau pun tidak mencoba bertanya siapa nama kami?&quot; kata Ong Siau-sik pula.  &lt;p&gt;&quot;Sekarang bukan saat yang tepat untuk saling bertanya nama.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Kapan saatnya?&quot; tanya Ong Siau-sik keheranan.  &lt;p&gt;Sambil menuding jenazah Wo Hu-cu dan Te Hoa yang tergeletak di lantai, sahut So Bong-seng, &quot;Tunggu sampai aku selesai membalas dendam dan balik lagi kemari dalam keadaan hidup.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Balas dendam adalah urusan kalian,&quot; jengek Pek Jau-hui sambil tertawa dingin.  &lt;p&gt;&quot;Juga urusan kalian berdua.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Mereka sama sekali tak ada urusan dengan kami berdua.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Aku pun tak punya hubungan apa pun dengan kalian.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Menolong kau hanya terdorong oleh perasaan iseng, kami hanya menganggap pertarungan ini sebagai sebuah permainan.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Sayang permainan ini belum waktunya selesai.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Jadi kau menyangka kami akan ikut bersamamu pergi membalas dendam?&quot; sela Ong Siau-sik keheranan.  &lt;p&gt;&quot;Bukan menyangka, tapi kalian pasti akan ikut,&quot; sahut So Bong-seng seraya menggeleng.  &lt;p&gt;Ong Siau-sik semakin tercengang dibuatnya.  &lt;p&gt;&quot;Kapan kau akan berangkat?&quot; tanya Pek Jau-hui tiba-tiba.  &lt;p&gt;&quot;Kapan?&quot; So Bong-seng tertawa dingin, &quot;tentu saja sekarang.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Sekarang?!&quot; Pek Jau-hui maupun Ong Siau-sik menjerit berbareng saking kagetnya.  &lt;p&gt;Mereka punya mata dan sepasang mata mereka dalam keadaan sehat, tentu saja kedua orang itu dapat melihat kalau So Bong-seng sudah terluka, anak buahnya juga tinggal satu orang.  &lt;p&gt;&quot;Tapi ... tapi ... kau hanya memiliki seorang saudara, itupun sudah terluka,&quot; seru Ong Siau-sik tak tahan.  &lt;p&gt;&quot;Aku terluka, dia terluka, sisanya sudah mati semua,&quot; So Bong-seng tertawa perlahan, &quot;kami sudah tak mungkin pulang lagi, bukankah saat ini merupakan saat yang sangat tepat?&quot;  &lt;p&gt;Dengan sorot mata yang dingin dan tajam ia memandang Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui sekejap, seketika itu juga kedua pemuda itu merasa seakan ada hawa dingin yang membekukan tubuh menyusup ke hulu hati mereka.  &lt;p&gt;&quot;Penyergapan licik yang dilancarkan perkumpulan Lak-hun-poan-tong baru saja lewat, terlepas mereka sedang merayakan kemenangan ini atau mulai melakukan persiapan lagi, kita langsung membuntuti mereka sambil melancarkan serangan balasan, maka mereka pasti belum sempat mengatur kembali kekuatannya, mereka pasti tak akan menyangka dan menduga akan serbuan ini. Bila kita tunda penyerangan sampai besok, mereka pasti sudah menghimpun kekuatan untuk melindungi Hoa Bu-ciok, bisa jadi mereka justru akan menggunakan dia sebagai umpan untuk memancing kita masuk perangkap, lalu menghabisi kita semua. Sayang kami justru melancarkan serangan balasan pada saat ini juga!&quot;  &lt;p&gt;Bicara sampai di sini, sikap angkuh dan jumawanya kembali melintas di wajahnya, dia melanjutkan, &quot;Apalagi sebagai seorang lelaki sejati, pertarungan boleh kalah, namun harga diri tak boleh hilang. Perkumpulan Lak-hun-poan-tong telah menewaskan empat orang anak buahku, maka aku pun harus membuat dia merasakan bagaimana tersiksanya bila kehilangan lengan kanannya!&quot;  &lt;p&gt;Lalu kepada anak buahnya dia bertanya, &quot;Bu-kui, sudah siap?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Sudah siap!&quot; jawab Su Bu-kui cepat, biarpun tubuhnya sudah terhajar empat batang panah, namun ia masih berdiri tegar bagaikan seorang panglima perang.  &lt;p&gt;&quot;Menurut penilaianmu, orang-orang perkumpulan Lak-hun-poan-tong akan membawa Hoa Bu-ciok pergi kemana?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Po-pan-bun.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Berapa bagian keyakinanmu?&quot;  &lt;p&gt;&quot;Enam bagian.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Baik, asal ada keyakinan enam bagian, kita bisa segera melaksanakan rencana ini.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Apakah kau akan berangkat sekarang juga?&quot; tiba-tiba Pek Jau-hui bertanya.  &lt;p&gt;So Bong-seng tertawa, wajahnya kelihatan sedikit mengejang, &quot;Memangnya harus menunggu sampai hujan reda?&quot; balik tanyanya.  &lt;p&gt;&quot;Orang-orang yang tergeletak di sini kebanyakan hanya tertotok jalan darahnya, bila kau tidak membantai mereka semua, kemungkinan besar mereka akan melaporkan kejadian ini kepada atasannya, kau akan meninggalkan bibit penyakit di kemudian hari.&quot;  &lt;p&gt;So Bong-seng mendengus angkuh.  &lt;p&gt;&quot;Hmm, aku tak akan membunuh mereka, pertama, aku tak pernah membunuh prajurit tanpa nama, apalagi manusia lemah yang sudah kehilangan tenaga perlawanannya, kedua, jika sekarang juga aku berangkat, secepat apa pun mereka berjalan, tak nanti bisa mendahului kecepatan kami. Ketiga, aku memang berniat menyerang mereka, jadi aku tak kuatir mereka melakukan persiapan, yang ingin kuhancurkan adalah seluruh perkumpulan Lak-hun-poan-tong, bukan cuma seorang pemanah.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Aduh celaka!&quot; mendadak Ong Siau-sik berteriak.  &lt;p&gt;&quot;Apanya yang celaka?&quot; tanya So Bong-seng agak tertegun.  &lt;p&gt;&quot;Kalau ada pertunjukkan sebagus ini, tidak bagus kalau aku tak ikut pergi!&quot; sembari berkata dia melepas kain pembungkus sarung pedangnya, lalu dibuang.  &lt;p&gt;Sorot mata So Bong-seng yang semula dingin membekukan, kini seakan memancarkan sinar kehangatan.  &lt;p&gt;&quot;Betul!&quot; sambung Pek Jau-hui sambil menghentakkan kakinya, &quot;kalau benar bakal terjadi pertunjukkan sebagus ini, mana boleh tak ada aku?&quot;  &lt;p&gt;Sambil berkata dia pun ikut membuang tumpukan lukisan yang semula dijepit di bawah ketiaknya.  &lt;p&gt;Kini sinar yang mengandung senyuman mulai memancar keluar dari balik mata So Bong-seng, tapi hanya sebentar, kemudian sorot matanya kembali murung dan dingin.  &lt;p&gt;Tanpa banyak bicara dia segera melesat keluar, menerobos hujan.  &lt;p&gt;Su Bu-kui tak mau ketinggalan, ia segera menyusul di belakangnya.  &lt;p&gt;ooOOoo  &lt;p&gt;&quot;Perkumpulan Lak-hun-poan-tong mempunyai dua belas orang Tongcu, sejak Ho Tong tewas di wilayah Ouw-pak, sisanya tinggal sebelas orang. Jagoan yang tadi melakukan penyergapan adalah Tongcu ketujuh si Nenek Kedelai serta Tongcu kedelapan si Hwesio Perlente.  &lt;p&gt;&quot;Kawanan pemanah yang mereka datangkan tadi adalah pasukan pemanah yang sudah menjalani pendidikan secara ketat dan penuh disiplin, biasanya kehadiran mereka selalu diiringi Tongcu kesepuluh &lt;b&gt;Sam-cian Ciangkun&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Panglima Tiga Panah&lt;/b&gt;, jadi menurut dugaanku, dia pasti sudah muncul di sini. Sementara daerah Po-pan-bun biasanya dijaga secara ketat oleh anggota keluarga Lui, yaitu &lt;b&gt;Lui Kun&lt;/b&gt;.&quot;  &lt;p&gt;Demikian Su Bu-kui memberi penjelasan kepada Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui tentang keadaan musuh mereka sepanjang perjalanan.  &lt;p&gt;&quot;Kali ini Lui Sun tidak turut dalam penyerangan, aku rasa hal ini disebabkan dia sudah termakan laporan Hoa Bu-ciok yang mengatakan kalau Si Say-sin dan &lt;b&gt;Mo Pak-sin&lt;/b&gt; dari empat Malaikat Sakti perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau berada di empang &lt;b&gt;Tiok-lu-tong&lt;/b&gt;, mungkin dia akan turun tangan sendiri untuk melenyapkan kedua orang musuh bebuyutannya itu hingga tidak ikut serta dalam penyerbuan tadi.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Kalau begitu, bukankah posisi Si Say-sin dan Mo Pak-sin jadi sangat berbahaya?&quot; tanya Ong Siau-sik penuh rasa ingin tahu. Dia jadi teringat luka yang diderita Tio Thiat-leng.  &lt;p&gt;&quot;Padahal berita itu sebenarnya hanya berita bohong, kepergian Lui Sun pasti akan menubruk tempat kosong bahkan bila kurang hati-hati, dia malah bisa terperangkap oleh jebakan yang kami persiapkan,&quot; Su Bu-kui menerangkan, &quot;saudara Yo dan &lt;b&gt;Kwik Tang-sin&lt;/b&gt; dari perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau telah mempersiapkan segala sesuatunya secara hebat, kami tak kuatir Lui Sun mengirim penyusup ke situ untuk mencari berita.&quot;  &lt;p&gt;&quot;Kalau toh sejak awal kalian sudah waspada terhadap Hoa Bu-ciok, kenapa kalian tetap membiarkan dia masuk perangkap?&quot; tanya Pek Jau-hui.  &lt;p&gt;&quot;Sewaktu menyiarkan berita bohong itu, kami sama sekali tak berniat mempermainkan Hoa Bu-ciok, aku pun tidak tahu siapa pengkhianat yang telah dikirim perkumpulan Lak-hun-poan-tong untuk menyusup jadi mata-mata, waktu itu aku bermaksud melepas berita bohong, baru setibanya di &lt;b&gt;Ku-swi-po&lt;/b&gt; aku ceritakan kejadian yang sebenarnya kepada semua anggota rombongan. Tak disangka Hoa Bu-ciok ternyata adalah seorang pengkhianat yang kemaruk harta. Jika Lui Sun pulang dengan hasil nihil, sementara rombongan mereka yang berusaha mencabut nyawa kami pun pulang dengan kegagalan, pertunjukkan bagus pasti akan segera terjadi.&quot;  &lt;p&gt;Kemudian setelah tertawa dingin, lanjutnya, &quot;Padahal meskipun hari ini dia berhasil membunuhku, dengan tindakannya memberi laporan palsu, Lui Sun pasti tak akan melepaskan dirinya begitu saja. Hmmm, kalian tahu manusia macam apakah Lui Sun itu?!&quot;  &lt;p&gt;Air hujan telah membasahi alis matanya yang mirip alis setan, namun tak mampu memadamkan cahaya api yang memancar keluar dari balik matanya, &quot;Aku tak pernah mencurigai Hoa Bu-ciok ... aku tak pernah mencurigai saudara sendiri!&quot;  &lt;p&gt;Mereka berlarian di tengah hujan deras, menentang angin, menerjang air hujan, hawa dingin yang membekukan badan tak mampu memadamkan api yang membakar hati semua orang.  &lt;p&gt;Api itu telah melekat pada keempat orang itu, bara api membuat mereka seakan terhubung satu dengan yang lain.  &lt;p&gt;Kehidupan manusia di dunia ini panjang dan penuh lika-liku, kapan harus melepas budi kapan harus bertemu dendam, siapa pun tak bisa meramalkan. Jika suatu saat dapat bersenang-senang kenapa tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk melampiaskan kesenangan?  &lt;p&gt;Keacuhan Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik seketika tersapu sirna oleh keangkuhan So Bong-seng, semangat tempur tiba-tiba berkobar di hati setiap orang, bergabung dengan Su Bu-kui, mereka serentak berangkat menuju ke Po-pan-bun.  &lt;p&gt;Sebenarnya tempat macam apakah &lt;b&gt;Po-pan-bun (Pintu Papan Rongsok)&lt;/b&gt; itu?  &lt;p&gt;Sebenarnya Po-pan-bun adalah nama sebuah simpang tiga, bisa dinamakan demikian karena jalan keluar dari ketiga buah jalan itu harus melalui sebuah papan nama yang sudah kuno dan rongsok.  &lt;p&gt;Lorong di belakang ketiga buah jalanan itu terdapat sebuah pagar papan yang sangat tinggi, pagar papan itu mengelilingi seputar jalan hingga memisahkan antara daerah di depan jalan dengan bagian belakang jalan.  &lt;p&gt;Di belakang jalan merupakan sebidang tanah yang amat luas, seringkali orang menggembalakan sapi dan kambingnya di situ karena sekelilingnya hanya ada rumah bobrok kaum papa miskin tak berduit, sementara di bagian depan ketiga buah jalan itu berdiam orang-orang kaya berduit dan punya kedudukan.  &lt;p&gt;Oleh karena para orang kaya merasa sangat terganggu dengan kegiatan kaum miskin yang menggembalakan hewan peliharaannya di situ, maka mereka mendirikan pagar kayu mengelilingi tempat itu sebagai pemisah.  &lt;p&gt;Setelah bertahun-tahun, papan pagar itu mulai lapuk dimakan waktu, itulah sebabnya orang pun menyebut tempat itu sebagai Pintu Papan Rongsok.  &lt;p&gt;Ketiga buah jalanan itu termasuk dalam wilayah kekuasaan perkumpulan Lak-hun-poan-tong.  &lt;p&gt;Waktu itu, dalam gedung bangunan besar deretan ketiga pada jalanan kedua, berkumpul sekelompok manusia, namun dari kelompok manusia itu hanya ada lima orang yang duduk, empat di antara mereka adalah Tongcu perkumpulan Lak-hun-poan-tong.  &lt;p&gt;Keempat orang itu adalah si Hwesio Perlente, si Nenek Kedelai, Panglima Tiga Panah serta Tongcu kelima Lui Kun, orang kelima yang mendapat kehormatan untuk ikut duduk dibangku adalah Hoa Bu-ciok.  &lt;p&gt;Waktu itu Hoa Bu-ciok duduk dengan kepala terpekur, keadaannya persis seperti burung yang baru kena panah.  &lt;p&gt;Hwesio Perlente dan Nenek Kedelai duduk dengan perasaan tak tenang, bahkan Panglima Tiga Panah yang berperawakan tinggi besar pun kelihatan sedikit tegang.  &lt;p&gt;Hanya seorang yang tetap duduk santai dan tenang bahkan menunjukkan sikap percaya diri.  &lt;p&gt;Orang itu duduk di kursi utama, duduk persis di tengah ruangan, bangkunya paling tinggi, menunjukkan kekuasaannya paling besar di antara semua yang hadir.  &lt;p&gt;Orang itu tak lain adalah Lui Kun.  &lt;p&gt;Lui Kun memang pantas percaya diri, selain berasal dari keluarga penguasa yaitu keluarga Lui, dia pun sangat mengandalkan sepasang senjatanya, &lt;b&gt;Hui-thian-siang-liu-seng (Sepasang Bintang Kejora Terbang ke Angkasa)&lt;/b&gt;.  &lt;p&gt;Orang bermarga Lui yang bergabung dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong berjumlah tiga ratus tujuh puluhan orang, di antaranya banyak yang merupakan jago tangguh berilmu tinggi, namun ia tetap bisa menempati posisi nomor enam dalam jajaran kepemimpinan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, hal ini membuktikan kepandaiannya memang luar biasa.  &lt;p&gt;Selain dia, anggota keluarga Lui lain yang bisa bercokol di jajaran Tongcu adalah Tongcu kedua &lt;b&gt;Lui Tong-thian&lt;/b&gt;, Tongcu ketiga &lt;b&gt;Lui Bi&lt;/b&gt; dan Tongcu keempat &lt;b&gt;Lui Heng&lt;/b&gt;.  &lt;p&gt;Inilah salah satu alasan mengapa Lui Kun begitu percaya diri.  &lt;p&gt;Dia tahu, bila suatu ketika terjadi sesuatu atas dirinya, semisal melakukan kesalahan besar, Tongcu kedua, ketiga dan keempat serentak pasti akan berusaha melindunginya dan memintakan ampun untuknya, bahkan meski Lui Sun mau mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi pun, kesalahan itu tak nanti akan dilimpahkan ke atas pundaknya.  &lt;p&gt;Dalam aksinya kali ini, dialah yang merancang dan mengatur semua siasat dan persiapan.  &lt;p&gt;Tentu saja dia pun telah memperoleh persetujuan dari atasan, hanya satu hal yang belum dia ketahui secara jelas, dalam aksi pembunuhan terhadap So Bong-seng ini, sebenarnya ide ini muncul dari Toatongcu &lt;b&gt;Ti Hui&lt;/b&gt; atau justru kemauan Congtongcu Lui Sun.  &lt;p&gt;Tapi dia percaya, ide ini pasti bukan muncul dari benak Lui Sun.  &lt;p&gt;Orang luar banyak yang bilang, selama beberapa tahun terakhir ini, wilayah kekuasaan perkumpulan Lak-hun-poan-tong banyak yang sudah berpindah tangan ke dalam kekuasaan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, bahkan orang bilang Lui Sun ibarat seekor singa tua yang ompong dan sudah dicabuti taringnya, dia sudah bertemu musuh yang lebih muda, lebih tangguh dan ganas melebihi anak panah, So Bong-seng!  &lt;p&gt;Kini pengaruh keluarga Lui sudah dihajar babak belur hingga tak punya kemampuan lagi untuk melancarkan serangan balasan!  &lt;p&gt;Tentu saja Lui Kun tidak puas dengan pernyataan itu.  &lt;p&gt;Dia sangat yakin dan percaya kalau kekuatan yang dimiliki perkumpulan Lak-hun-poan-tong sama sekali tidak di bawah kemampuan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, memang harus diakui hubungannya dengan pihak pemerintah dan kerajaan pihak lawan jauh lebih tangguh, tapi kalau bicara soal kemampuan dalam penyusupan dan perekrutan anggota, khususnya kerja sama dan jalinan hubungan dengan para jago kalangan hek-to, pek-to maupun liok-lim, kemampuan mereka jauh mengungguli perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.  &lt;p&gt;Atau dengan perkataan lain, dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki perkumpulan Lak-hun-poan-tong sekarang, mereka mampu bertarung habis-habisan melawan musuh.  &lt;p&gt;Itulah sebabnya selama ini dia selalu diliputi tanda tanya besar dan perasaan tak habis mengerti, kenapa Lui-congtongcu selalu berusaha menghindar, selalu bersikap mengalah terhadap tekanan yang dilakukan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau!  &lt;p&gt;Dia tidak percaya So Bong-seng si setan sakit-sakitan itu benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa!  &lt;p&gt;Jika keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, besar kemungkinan reputasi dan kekuatan perkumpulan Lak-hun-poan-tong akan bertambah surut dan lemah.  &lt;p&gt;Maka Lui Kun memutuskan untuk melancarkan serangan, dia harus memberi hajaran dan  &lt;p&gt;pelajaran yang setimpal kepada perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.  &lt;p&gt;Dia tak peduli siapa yang mengusulkan dan ide itu datang dari mana, yang dia ketahui hanya segera menjalankan aksinya, siap menghajar dan menghabisi nyawa So Bong-seng. Sayang rencana besarnya mengalami kegagalan. Hasil yang diperolehnya hari ini membuat Lui Kun merasa sangat kecewa, bukan saja kawanan jago yang melakukan pengepungan pada kabur menyelamatkan diri, bahkan mata-mata mereka si Barang antik yang berhasil menyusup jauh ke dalam tubuh perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau harus membayar mahal dengan nyawanya, sementara penyusup yang lain, Hoa Bu-ciok terbongkar kedoknya. Kejadian ini membuat perkumpulan Lak-hun-poan-tong mengalami kerugian yang fatal, pukulan telak khususnya dalam hal penyusupan mata-mata.  &lt;p&gt;Pihak lawan telah kehilangan dua orang panglima perang utamanya yaitu Te Hoa dan Wo Hu-cu, tapi kini si Hwesio Perlente, si Nenek Kedelai dan Panglima Tiga Panah dirundung ketakutan akan pembalasan yang dilakukan So Bong-seng, kontan saja membuat Lui Kun menjadi sangat berang.  &lt;p&gt;&quot;So Bong-seng itu manusia macam apa? Aku tak percaya kalau dia berkepala tiga berlengan enam!&quot; demikian dia mengumpat, &quot;kalian semua memang gentong nasi yang tak berguna, sudah balik dengan membawa kerugian, sekarang ketakutan setengah mati macam tikus ketemu kucing, benar-benar membuat perkumpulan Lak-hun-poan-tong kehilangan muka!&quot;  &lt;p&gt;Mengikuti petunjuk dari atasan, Lui Kun melakukan persiapan di sekeliling tempat itu, kemudian memerintahkan Tongcu kesebelas Lim Ko-ko untuk berjaga di pintu masuk Po-pan-bun, sementara dia sendiri mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk melakukan perundingan.  &lt;p&gt;Tentu saja dia tak perlu kuatir So Bong-seng datang menyerang, sebab pertama, ia pernah enam kali berhasil memukul mundur serangan musuh yang berusaha menerobos masuk melalui pintu Po-pan-bun, malah di antaranya termasuk serangan Mi Thian-jit yang memimpin tiga ratusan orang pasukan gerak cepat, tapi semuanya berhasil dia pukul mundur.  &lt;p&gt;Kedua, dia berpendapat So Bong-seng baru saja lolos dari bahaya maut, saat ini mungkin yang dipikirkan adalah bagaimana menyelamatkan diri, tak mungkin dia punya cukup nyali untuk melancarkan serbuan.  &lt;p&gt;Oleh sebab itulah Lui Kun tidak terlalu serius melakukan pertahanan, dia ingin mendengarkan pendapat Tongcu ketujuh, Tongcu kedelapan dan Tongcu kesepuluh sebelum mengambil keputusan.  &lt;p&gt;Dia lebih suka berbicara dulu dengan mereka sejelas-jelasnya sebelum akhirnya mengambil keputusan, dia berpendapat, usulan yang dikemukakan mereka selalu jauh lebih hebat daripada usulan oang lain, dia menganggap cara seperti ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat cengkeramannya terhadap mereka, salah satu cara memperlihatkan kemampuan serta kekuasaannya.  &lt;p&gt;Dia pun berpendapat, hanya orang yang sudah memiliki kemampuan hebat dan kekuasaan tinggi saja yang mampu mempergunakan cara seperti ini.  &lt;p&gt;Hal ini membuat dia selalu menikmati indahnya kekuasaan yang dimilikinya.  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 13&lt;/strong&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;11&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 12&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/10/golok-kelembutan-12-tak-pernah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-9010426828279507019</guid><pubDate>Tue, 08 May 2012 14:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-08T21:14:05.955+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 11. Manusia di Tengah Puing</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; align=&quot;left&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;11. Manusia di Tengah Puing&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Memandang air hujan yang turun dengan derasnya, tanpa terasa Pek Jau-hui bergumam, &amp;quot;Hujan kali ini sungguh deras.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, hujan memang amat deras,&amp;quot; sahut Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kongcu berpenyakitan yang berdiri di samping mereka tiba-tiba mendongakkan kepala, memandang hujan di luar puing bangunan, lalu katanya pula, &amp;quot;Benar-benar hujan yang amat deras!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka bertiga sama-sama membicarakan soal hujan, tanpa terasa sorot mata pun dialihkan ke depan sana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di luar puing bangunan hanya suara hujan yang memekakkan telinga, seorang nenek berbaju compang-camping, berambut putih, sedang berjongkok di sudut dinding sambil mengais barang rongsok yang bertumpuk di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seekor semut tampak sedang merangkak di atas dinding bobrok, beberapa kali berusaha merangkak naik, namun selalu tertahan hembusan angin kencang dari luar, lelaki tinggi besar yang kebetulan berdiri di sisinya menjadi tak sabar, dia menggerakkan jari tangannya, siap menginjak mati semut itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;&lt;b&gt;Te Hoa&lt;/b&gt;!&amp;quot; mendadak Kongcu penyakitan itu menegur, &amp;quot;sekalipun kau tak sabar melihatnya, tidak perlu mesti membunuhnya, dia toh tidak mengganggumu, tidak menutupi jalanmu, kenapa kau mesti berniat membunuhnya? Kenapa tidak membiarkan dia mencari hidup di dunia ini?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik, Kongcu,&amp;quot; sahut orang tinggi besar itu sambil meluruskan tangannya ke bawah dengan kepala tertunduk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun usia Kongcu ini belum terlalu tua, namun sikapnya seakan orang dewasa sedang menegur seorang anak kecil, kembali ujarnya, &amp;quot;Apakah kau kuatir &lt;b&gt;Hoa Bu-ciok&lt;/b&gt; gagal menemukan &lt;i&gt;barang antik&lt;/i&gt; itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, aku kuatir terjadi sesuatu dengan dirinya,&amp;quot; jawab lelaki tinggi besar itu dengan perasaan tak tenang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali Kongcu penyakitan itu mengalihkan pandangan matanya ke arah hujan yang masih turun dengan deras, sekali lagi bara api memancar dari balik matanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Selama ini Hoa Bu-ciok pintar dan cekatan, dia tak akan membuat aku kecewa,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si nenek yang kurus kering dan sedang mengais rongsok di pojok ruangan itu nampak gemetaran keras, mungkin lantaran udara sangat dingin sementara mantel yang dikenakan tak cukup tebal, dia nampak sangat kedinginan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;&lt;b&gt;Wo Hu-cu&lt;/b&gt;!&amp;quot; tiba-tiba Kongcu itu berseru.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Salah satu di antara dua lelaki yang berdiri di teras depan, seorang lelaki berdandan pegawai keuangan segera menyahut, &amp;quot;Siap!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Nenek itu nampak kasihan sekali, beri sedekah kepadanya!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wo Hu-cu menyahut dan segera mengeluarkan dua tahil perak yang diserahkan ke tangan nenek itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya selama hidup belum pernah nenek itu menerima derma sebesar itu, sesaat ia nampak terperangah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah terdengar lelaki yang masih ada di teras depan berseru lirih, &amp;quot;Kongcu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sudah datang?&amp;quot; sekilas perasaan girang melintas di wajah Kongcu penyakitan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lelaki itu berpaling, ternyata orang ini memiliki wajah yang aneh, separuh bagian berwarna hitam dan separuh yang lain berwarna putih, sahutnya pada Kongcu penyakitan, &amp;quot;Hoa Bu-ciok telah datang, di punggungnya menggendong seorang.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa terperanjat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata lelaki itu bukan &#39;melihat&#39; ada orang datang, melainkan mendengar ada orang mendekatinya dari belakang. Jika hal ini terjadi di waktu biasa, kejadian itu tak aneh, tapi waktu itu hujan sedang turun dengan amat derasnya, suara angin gemuruh keras sementara si pendatang bergerak dengan langkah ringan, bahkan Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik pun tidak mendengar apa-apa, tapi nyatanya orang itu bisa mendengar dengan amat jelas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mengikuti arah yang ditunjuk, Te Hoa ikut berpaling, kemudian serunya dengan nada girang, &amp;quot;Ah, ternyata yang digendong Hoa Bu-ciok adalah si &lt;i&gt;barang antik&lt;/i&gt;, barang antik telah berhasil dia tawan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendapat laporan itu, Kongcu penyakitan itu tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui saling bertukar pandang sekejap, ternyata yang dia maksud Barang antik bukan barang antik beneran, melainkan seorang manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hoa Bu-ciok dengan membopong seseorang berlarian kencang menerobos air hujan menuju ke dalam puing bangunan, gerakan tubuhnya cepat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu tiba di ruang dalam, ia segera berlutut di hadapan Kongcu penyakitan itu sambil melapor, &amp;quot;Hamba Hoa Bu-ciok memberi salam pada Locu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sudah berulang kali kukatakan, sembah hormat macam ini tak perlu dilaksanakan, bila kau memang benar-benar menghormati aku, turuti permintaanku ini. Di dalam perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, semua anggota adalah sederajat, apalagi berada di tempat musuh yang begini gawat! Masa kau lupa pada pesanku ini?&amp;quot; tegur Kongcu penyakitan dengan hambar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik, Kongcu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik semakin terkesiap dibuatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata Kongcu penyakitan yang terbatuk tiada hentinya dan berbadan kurus kering macam tengkorak ini tak lain adalah ketua dari perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlebih mereka tak menyangka kalau di tengah puing bangunan yang begini berantakan, di tengah hujan yang begitu deras, mereka dapat berjumpa dengan tokoh sakti yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagaimana dengan tugasmu?&amp;quot; terdengar So Bong-seng bertanya lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hamba telah menggelandang si barang antik datang kemari.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus, sadarkan dia!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hoa Bu-ciok segera menggerakkan tangannya menepuk bebas beberapa totokan di punggung orang itu, kemudian menempeleng wajahnya empat lima kali, sementara Te Hoa mengguyurkan segayung air hujan yang dingin ke wajahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak selang berapa lama, orang itu tersadar kembali dari pingsannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng tidak berkata apa-apa, dia hanya mengawasi orang itu dengan pandangan dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika orang itu membuka matanya dan melihat So Bong-seng sedang berdiri di hadapannya, ia nampak terkesiap, saking kagetnya sampai berseru tertahan, &amp;quot;So ... So-kongcu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Barang antik!&amp;quot; kata So Bong-seng sambil menatap tajam wajahnya, &amp;quot;kau memang bernyali, sayang tidak setia kawan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Barang antik menggelengkan kepala berulang kali, sahutnya sambil tertawa getir, &amp;quot;Kongcu, selama ini Kongcu mengetahui segala sesuatu tentang hamba, di antara enam orang kepercayaan Kongcu, nyaliku terhitung paling payah!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau paling payah?&amp;quot; sekilas cahaya aneh memancar dari balik mata So Bong-seng, seakan bara api di tengah gumpalan salju, &amp;quot;Kau hebat, kau paling bernyali, lihatlah, hingga sekarang pun kau tidak nampak jeri atau takut menghadapiku, tampaknya selama ini aku telah salah menilaimu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kongcu harap maklum, Kongcu harap maklum ...&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendengar sampai di situ, Ong Siau-sik segera berbisik kepada Pek Jau-hui, &amp;quot;Tampaknya mereka sedang menyelesaikan urusan dalam perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, ada baiknya kita menyingkir saja.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi hujan masih turun sangat deras di luar sana,&amp;quot; kata Pek Jau-hui dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik masih kelihatan agak sangsi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali Pek Jau-hui berkata, &amp;quot;Seluruh kota Kay-hong toh bukan daerah kekuasaan mereka.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya, &amp;quot;Apalagi tempat yang kita pijak saat ini tidak seberapa besar.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perkataan itu seketika menyadarkan Ong Siau-sik akan saru hal, ia berbisik pula, &amp;quot;Benar, selama ini wilayah &lt;b&gt;Ku-sui-poh&lt;/b&gt; merupakan daerah kekuasaan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, kedatangan So-kongcu untuk menangkap orang di tempat ini boleh dibilang sudah merupakan satu pelanggaran daerah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui manggut-manggut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau sampai Locu perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau datang sendiri kemari, jelas persoalan ini bukan urusan kecil.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar So Bong-seng kembali berkata dengan suara dalam, &amp;quot;Sekarang, Wo Hu-cu, &lt;b&gt;Su Bu-kui&lt;/b&gt;, Te Hoa, Hoa Bu-ciok dan kau sudah datang, tinggal &lt;b&gt;Yo Bu-shia&lt;/b&gt; yang belum hadir, coba katakan, perlakuanku yang mana terhadap kau yang dianggap kurang baik? Mengapa kau begitu tega menjual enam kantor cabang berikut keempat ratusan anggotanya termasuk tulang belulang mereka kepada perkumpulan Lak-hun-poan-tong?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si Barang antik menundukkan kepala, tak sanggup menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ayo, katakan!&amp;quot; hardik So Bong-seng lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Te Hoa yang berada di sampingnya ikut berseru sambil tertawa dingin, &amp;quot;Kau tak mengira bakal kami tangkap bukan! Hmmm, jangan dianggap setelah bersembunyi di wilayah Ku-sui-poh lantas kau bisa menikmati kehidupan yang mewah dan sentosa. Kau telah membuat beribu orang anggota Kim-hong-si-yu-lau jadi yatim piatu, biar bersembunyi di ujung langit pun kami tetap akan menyeretmu keluar!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Andaikata bukan berkat jasa Hoa Bu-ciok, kami pun belum tahu kalau sejak setengah bulan lalu perkumpulan Lak-hun-poan-tong telah memindahkan kekuatannya ke wilayah seputar &lt;b&gt;Po-pan-bun&lt;/b&gt;,&amp;quot; kata So Bong-seng lagi, &amp;quot;kedatangan kami kali ini memang sengaja membawa serta saudara senasib sependeritaanmu, kami hanya ingin bertanya satu hal saja kepadamu, mengapa kau berbuat begitu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perkataannya yang terakhir ini diucapkan dengan suara keras bagai guntur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekujur badan si Barang antik bergetar keras, bibirnya kelihatan gemetar namun tak sepatah kata pun yang diucapkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu, lelaki berwajah hitam putih itu masih tetap berjaga di depan teras rumah, Wo Hu-cu pun tetap berdiri di depan si nenek itu, tampaknya mereka telah meningkatkan kewaspadaannya untuk mengawasi gerak-gerik Ong Siau-sik dan Pekjau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ayo, jawab!&amp;quot; terdengar Te Hoa kembali menghardik, &amp;quot;jawab, apakah kau tidak malu terhadap Kongcu, tidak malu terhadap kami semua?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak si Barang antik mendongakkan kepalanya, lalu balik bertanya, &amp;quot;Kau benar-benar menyuruh aku menjawab?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hmmm, akan kulihat perkataan apa yang bisa kau ucapkan!&amp;quot; Te Hoa mulai tertawa seram, tertawa penuh kegusaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baik, akan kukatakan,&amp;quot; setelah menghembuskan napas panjang, lanjutnya, &amp;quot;Kesalahan kalian justru terletak pada kasus ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu selesai dia mengucapkan perkataan itu, terjadilah perubahan yang luar biasa di tengah arena kejadian, perubahan yang di luar dugaan siapa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sedemikian hebat terjadinya perubahan itu sehingga Pek Jau-hui serta Ong Siau-sik yang berada di sisi arena pun ikut terkesiap dibuatnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba tubuh si Barang antik melejit ke tengah udara.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Padahal tadi ia terkapar dalam keadaan lemas, paling tidak ada empat-lima buah jalan darah penting di tubuhnya masih tertotok, namun loncatannya kali ini luar biasa, tampaknya sudah dipersiapkan sejak tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil melejit ke udara, tangannya diayunkan berulang kali, melolos sebilah golok baja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampak sekilas cahaya hijau berkelebat, tahu-tahu golok itu sudah dihujamkan ke lambung Te Hoa. Menghujam dari bawah menuju ke atas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mimik muka Te Hoa nampak mengenaskan, mimik muka seorang yang menahan rasa sakit, rasa sakit yang luar biasa hebatnya karena jantung dan paru-parunya hancur tersayat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat bersamaan, ketika So Bong-seng siap melancarkan serangan, Hoa Bu-ciok sudah turun tangan terlebih dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu kepalanya ditundukkan ke depan, dari belakang punggungnya paling tidak muncul dua puluh lima jenis senjata rahasia yang serentak menyergap ke tubuh So Bong-seng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setiap ujung senjata rahasia itu terbias warna biru yang menggidikkan, jelas semuanya telah dibubuhi dengan racun jahat bahkan dilepaskan dari sebuah alat pelontar dengan alat pegas yang kuat, cepat, tepat, ganas, pada hakikatnya sulit untuk dihindari, susah dihadapi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu itu konsentrasi So Bong-seng sudah terpecah karena serangan bokongan dari si Barang antik, selain itu dia pun sedang berusaha menyelamatkan jiwa Te Hoa, orang kepercayaannya dari serangan maut Hoa Bu-ciok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini So Bong-seng segera membentak keras, jubah panjangnya dikebaskan berulang kali, dalam waktu sekejap dia melakukan gulungan, puntiran, kebasan dan kebutan di sekeliling tubuhnya, dalam waktu sekejap seluruh senjata rahasia yang menyelimuti angkasa itu sudah lenyap tak berbekas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun sayang, masih ada sebatang, sebuah jarum sebesar kacang kedelai yang menghajar kakinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat gelagat tidak menguntungkan, buru-buru Wo Hu-cu menggerakkan tubuhnya, siap menerjang ke depan So Bong-seng untuk memberi bantuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum sempat ia bertindak, tiba-tiba si nenek yang sedang mengais barang rongsok itu telah mengayunkan tangannya, selimut dekil yang berada dalam genggamannya langsung menyapu wajah Wo Hu-cu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selapis angin berbau amis menyebar ke udara dan menyambar ke arah wajahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wo Hu-cu terkesiap, dia tahu bau amis itu merupakan ciri khas dari &lt;b&gt;Bu-mia-thian-ih (Baju Langit Tak Bernyawa)&lt;/b&gt; milik &lt;b&gt;To-cu-popo&lt;/b&gt; si &lt;b&gt;Nenek Kacang Kedelai&lt;/b&gt; yang berasal dari bukit &lt;b&gt;Ci-lian-san&lt;/b&gt;, bila terkena sambaran itu, niscaya sekujur badannya akan membusuk dan akhirnya mati, apalagi jika kepalanya sampai terkerudung?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bu-mia-thian-ih dengan membawa deruan angin tajam langsung menyambar tiba dan mengurung sekeliling arena, Wo Hu-cu tak berani ayal, lekas dia melejit ke samping, berusaha menghindarkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekali melejit ia sudah melompat naik ke atas tiang penglari, kemudian melejit sekali lagi melambung di atas puing bangunan dan bergerak ke dalam, targetnya saat itu adalah berusaha menolong So-kongcu, sementara keselamatan sendiri merupakan urusan kedua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sungguh cepat gerakan tubuhnya, tapi ada tiga batang senjata rahasia yang bergerak jauh lebih cepat, jauh lebih ringan daripada gerakan tubuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Wo Hu-cu segera sadar akan datangnya bahaya, segera dia mengegos ke samping berusaha menghindarkan diri, sayang ketiga batang jarum lembut itu bergerak lebih cepat, belum sempat ia mengegos, ketiga batang senjata itu tanpa menimbulkan suara sudah menembus tulang punggungnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyusul melesatnya jarum beracun, dinding bangunan hancur berantakan dan terberai di atas permukaan tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Si pembokong muncul dari balik reruntuhan dinding, ternyata dia adalah seorang Hwesio kepala gundul, di tangan kirinya dia membawa mangkuk, tasbih tergantung di leher, sementara tangan kanan digunakan untuk melepaskan jarum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rupanya semenjak tadi ia sudah bersembunyi di belakang dinding sambil menunggu kesempatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Entah sudah berapa lama orang ini bersembunyi di belakang dinding, tujuannya tak lain hanya ingin melepaskan ketiga batang jarum lembut yang lebih ringan dari angin, lebih cepat dari petir dan lebih bening daripada air hujan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali terjadi perubahan dalam arena pertarungan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tubuh Wo Hu-cu yang bergerak ke depan tiba-tiba menggeliat beberapa kali, gerakan ini tidak membuat gerak serangannya menjadi kendor ataupun melemah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tahu-tahu badannya sudah meluncur tiba di depan So Bong-seng dan membendung datangnya serangan Hoa Bu-ciok.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Blaaaamm!&amp;quot;, diiringi suara benturan nyaring, Hoa Bu-ciok memuntahkan darah segar, segera ia melompat mundur ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil membalikkan badan, sekali lagi Wo Hu-cu melancarkan satu bacokan, ketika si Barang antik harus menyambut serangan itu dengan kedua tangannya, lagi-lagi dia menjerit kesakitan, badannya mencelat sejauh beberapa tombak dan mulai memuntahkan darah segar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah si nenek sudah merangsek tiba, dalam keadaan begini lagi-lagi Wo Hu-cu membalikkan tubuh sambil melepaskan sebuah pukulan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Blaaam!&amp;quot;, sekali lagi terjadi benturan keras, si nenek harus membendung datangnya ancaman, dengan sebuah tangkisan keras lawan keras ia terdorong mundur sejauh tujuh delapan langkah sebelum berhasil berdiri tegak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebaliknya Wo Hu-cu sudah tak mampu menahan diri lagi, ia mendengus tertahan, tubuhnya goyah dan darah warna hitam mulai meleleh keluar dari ujung mata dan lubang hidungnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat lawannya sudah terluka parah, si Nenek Kedelai, Hoa Bu-ciok dan si Barang antik baru bisa menghembuskan napas lega, kembali mereka merangsek maju menghampiri Wo Hu-cu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka tahu saat ini adalah saat penentuan mati hidup mereka, tapi juga merupakan kesempatan terbaik untuk mengukir jasa dan menciptakan nama besar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa pun tak ingin melepaskan kesempatan emas ini, bahkan siapa pun tak dapat melepaskannya begitu saja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kini keadaan ibarat anak panah yang sudah dipentang di atas busur, mau tak mau harus dilepaskan juga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bila serangan ini gagal mengenai sasaran, dapat dipastikan So Bong-seng pasti akan mencari mereka untuk membuat perhitungan!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu So Bong-seng telah menyingkap jubah panjangnya sambil berjongkok, senjata rahasia sekecil kacang hijau itu sudah menghajar kaki kirinya secara telak, luka yang membuatnya tak leluasa untuk bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tanpa pikir panjang lagi segera ia melolos sebilah golok, sebilah golok yang sangat indah, seindah bisikan lirih seorang gadis cantik, sangat menggetarkan perasaan, sangat membetot sukma.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mata golok berwarna hijau bening dengan tubuh golok bergaris merah, bagaikan sebuah kaca kristal yang tembus pandang membungkus tulang berwarna merah, cahaya golok pun bening bagai selapis air berwarna merah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok itu sangat pendek, lekukan golok ramping bagai pinggang seorang gadis, ketika golok itu bergerak, lamat-lamat membawa suara dentingan lirih bagai suara lonceng dari surga, bahkan terendus pula bau harum yang semerbak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok itu merupakan sebilah golok yang membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat orang sukar untuk melupakannya sepanjang masa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;So Bong-seng mengayunkan golok ke tubuh sendiri, menyayat segumpal daging di sekeliling kaki kirinya yang terhajar senjata rahasia sebesar kacang hijau itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika mengiris sepotong daging tubuh sendiri, dia seakan sedang memetik sebiji buah masak dari atas ranting pohon, begitu sederhana, begitu leluasa ....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Darah dengan cepat meleleh keluar dari lukanya, membasahi celananya dan tercecer ke atas lantai, namun ia tidak merintih, tidak mengaduh, mengernyitkan alis mata pun tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malah penyakit batuk yang dideritanya pun seakan turut hilang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai menyayat segumpal daging di atas kakinya, kembali ia tempelkan tangan kanannya ke punggung tubuh Wo Hu-cu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mendadak golok aneh yang berada dalam genggamannya itu mulai memancarkan sinar aneh, sinar berwarna merah darah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan kanannya bagaikan sedang memetik alat musik saja mengayun, menotok, menjojoh, menepuk, mendorong, mencengkeram, melumat dan meremas ke setiap sudut udara, sementara golok di tangan kirinya membendung datangnya serangan mematikan dari si Nenek Kedelai, Hoa Bu-ciok dan si Barang antik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan hanya itu saja, malah dengan satu ayunan kilat dia tebas batok kepala si Barang antik!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri si Nenek Kedelai serta Hoa Bu-ciok menghadapi serangan balasan semacam ini, segera mereka melompat mundur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekilas Hoa Bu-ciok sempat menyaksikan batok kepala si Barang antik terbang lepas dari tubuhnya, dia malah sempat menyaksikan sepasang biji matanya yang melotot keluar karena ketakutan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak kuasa menahan rasa ngeri dan seramnya, ja segera menjerit keras, &amp;quot;Golok Ang-siu-to!&amp;quot; Golok Baju Merah, Ang-siu-to!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan kanan So Bong-seng masih tetap digunakan untuk menolong Wo Hu-cu sementara golok di tangan kirinya telah berhasil membunuh seorang musuh dan memukul mundur dua musuh lainnya, terbukti betapa hebat kemampuan yang dimiliki orang ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai memenggal batok kepala seorang lawannya, tampak cahaya merah yang memancar keluar dari golok itu bertambah terang dan bercahaya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Golok apakah itu? Sebilah golok dewa? Atau sebilah golok iblis?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana pula dengan si pemegang senjata itu? Apakah dia adalah Dewa Golok? Atau justru Iblis Golok?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tatkala Wo Hu-cu meluncur ke depan berusaha menolong So Bong-seng tadi, si Hwesio gundul berbaju perlente itupun sudah muncul dari tempat persembunyiannya, dia berniat menghadang jalan pergi Wo Hu-cu, tapi Te Hoa segera menghadang jalan perginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu itu Te Hoa sudah mencabut keluar pisau belati yang menancap di atas dadanya dan melibatkan diri dalam pertarungan sengit melawan Hwesio itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan seperti ini dia hanya tahu akan satu hal, beri waktu dan kesempatan secukupnya untuk So-kongcu agar ia bisa menarik napas sambil mempersiapkan diri!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Asal So Bong-seng punya kesempatan untuk menarik napas dan mempersiapkan diri, biar harus mati, dia akan mati dengan mata meram.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bukan hanya Te Hoa seorang yang berpikiran begitu, Wo Hu-cu juga mempunyai pemikiran demikian, bahkan Su Bu-kui pun mempunyai pikiran yang sama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika So Bong-seng, Wo Hu-cu dan Te Hoa berada di dalam puing bangunan disergap oleh si Hwesio berbaju perlente, Nenek Kedelai, Barang antik dan Hoa Bu-ciok, di luar bangunan runtuh itu masih ada seorang jago yang sedang berjaga, dia adalah si wajah Im-yang, Su Bu-kui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi musuh berhasrat membinasakan So Bong-seng, mana mungkin mereka membiarkan Su Bu-kui tetap berdiri menganggur?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hampir pada saat bersamaan, dinding bangunan kuno yang ada di Ku-sui-poh itu roboh ke tanah. Bersama dengan robohnya seluruh dinding bangunan itu, paling tidak ada empat ratusan anak panah bersama-sama dilepaskan ke tengah arena.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menyaksikan datangnya ancaman itu, mustahil bagi Su Bu-kui untuk menghindarkan diri.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia memang tak mungkin bisa menghindar, sebab sekali dia berkelit, maka seluruh ancaman anak panah itu akan meluncur ke arah So-kongcu!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini, hanya ada satu jalan yang bagi Su Bu-kui, yaitu menghadapinya dengan keras lawan keras.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika dua ratusan batang anak panah meluncur datang, paling tidak ia sudah membendung seratus delapan puluhan panah di antaranya, senjata andalannya adalah sebilah golok besar berkepala naga, golok yang diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan suara menderu dan lapisan bayangan yang menyilaukan mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sehebat dan setangguh apa pun ilmu goloknya, mustahil baginya untuk merontokkan semua anak panah yang diarahkan ke dalam puing bangunan, maka ia tetap terhajar dua batang anak panah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja serangan gelombang pertama selesai meluncur, kini giliran serangan gelombang kedua dibidikkan para pemanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Su Bu-kui meraung keras, goloknya menyapu melintang, kembali sebagian dinding bangunan tersapu roboh dan berserakan kemana-mana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hujan deras, awan mendung ditambah debu yang beterbangan karena ambruknya dinding, membuat para pemanah kesulitan mengarah sasarannya secara tepat, kembali Su Bu-kui memutar goloknya menyapu ke belakang, berusaha mendesak mundur si Hwesio perlente dari posisinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu musuh berhasil dipaksa mundur, Te Hoa pun roboh lemas dalam rangkulannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Paras muka rekannya itu pucat kehijau-hijauan, mengenaskan sekali keadaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam pada itu So Bong-seng dengan mengandalkan goloknya kembali berhasil membantai seorang musuhnya dan membuat takut dua orang musuh yang lain, sementara telapak tangannya masih menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Wo Hu-cu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak selang lama, dari belakang punggung Wo Hu-cu mencuat keluar dua batang jarum berwarna bening, mencelat keluar dari balik daging dan rontok ke tanah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah Wo Hu-cu mendengus tertahan, paras mukanya jauh lebih merah cerah, serunya sambil tertawa getir, &amp;quot;Kongcu, aku sudah tak tahan lagi, aku tak sempat menghimpun tenaga untuk menghadang jalannya racun, sebatang &lt;b&gt;Jarum Pelumat Tulang&lt;/b&gt; telah menyusup ke otakku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu itu si Hwesio perlente, si Nenek Kedelai maupun Hoa Bu-ciok sudah mundur dari arena, sementara keempat ratus orang pemanah itu menerobos maju ke depan dan mengepung puing bangunan itu dengan rapat, mereka terbagi dua barisan, satu baris berdiri dan satu baris berjongkok, mereka telah mementang busur dan siap melepaskan anak panah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 12&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;strong&gt;10&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 11&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-11-manusia-di-tengah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-5048608132335987663</guid><pubDate>Tue, 08 May 2012 14:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-08T21:10:27.664+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 10 - Manusia dan Ikan</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; align=&quot;left&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;10. Manusia dan Ikan&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Bila empat orang yang sudah biasa berkumpul, lalu pada suatu hari tiba-tiba rombongan itu kehilangan satu orang, bagaimanakah perasaannya waktu itu?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jangan kan manusia, sebuah cincin pun terkadang bisa mendatangkan perasaan yang tak enak, mungkin di saat pertama kali mengenakannya, kau akan merasa tak leluasa, tapi bila sudah terbiasa mengenakannya, bila suatu ketika harus dilepas kembali, pasti akan merasa sangat kehilangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlebih kalau dia bukan sebuah cincin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terlebih jika dia adalah seorang gadis cantik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang gadis yang masih polos, lembut, halus, terkadang pipinya bisa berubah merah jengah, terkadang nampak sedikit gelisah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hari itu dia telah pergi, pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dapat dibayangkan, bagaimana perasaan ketiga orang yang ditinggalkannya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak tahan Un Ji mulai mengomel, &amp;quot;Thian Tun itu Cici macam apa? Kenapa pergi tanpa pamit? Kenapa ia berbuat begitu? Kenapa ia bersikap begitu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik sendiri pun ikut merasa sedih, ujarnya, &amp;quot;Mungkin dia pergi karena ada urusan penting, mungkin ia mempunyai kesulitan yang tak ingin diketahui orang, padahal kita sudah satu rombongan, sekalipun ada urusan penting, kan bisa kita kerjakan bersama, kalau ada kesulitan, kita bisa pecahkan bersama, hanya saja....&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak dan menghela napas panjang, tambahnya, &amp;quot;Terkadang untuk menyelesaikan satu masalah, pergi beramai malah tidak leluasa, kalau toh ada kesulitan, mana mungkin bisa dibicarakan secara terbuka?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ia tahu Pek Jau-hui selama ini hanya diam saja, bahkan dengan wajah gelap sedang duduk di tepi sungai sambil memancing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik pun meminjam alat pancing pada seorang tukang perahu, kemudian duduk di samping Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tinggal Un Ji seorang yang tak tertarik untuk berbuat begitu, menggunakan kesempatan itu dia naik ke darat dan pergi ke kota terdekat untuk melihat keramaian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai lama sekali, pancingan Pek Jau-hui belum juga disentuh ikan, begitu pula dengan pancingan Ong Siau-sik. Pek Jau-hui tetap membungkam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik ikut membungkam, dia memang sedang menemaninya memancing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak orang mulai berlalu lalang di sepanjang pantai, suasana tambah lama tambah ramai, tapi kedua orang pemuda itu tetap duduk tenang di tepi pantai, duduk sambil memegangi alat pancing.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menjelang tengah hari, Un Ji balik dengan penuh kegembiraannya, sambil membawa barang bawaannya ia naik ke perahu, ia mulai ribut untuk meneruskan kembali perjalanannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah tidak ditunggu sebentar lagi?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak usah ditunggu,&amp;quot; sahut Pek Jau-hui tanpa berpaling.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka bertiga bersantap di dalam perahu, hidangan yang disajikan adalah ikan leihi masak cuka.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ikan ini hasil pancingan siapa?&amp;quot; tanya Un Ji sambil membersihkan mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian sambil menuding Ong Siau-sik dengan sumpitnya dia menambahkan, &amp;quot;Kau?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik menggeleng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau begitu tentu kau!&amp;quot; seru si nona sambil menuding ke arah Pek Jau-hui, tapi yang ditunjuk sama sekali tidak menggubris.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Un Ji meletakkan kembali sumpitnya seraya berseru, &amp;quot;Kalau bukan hasil pancingan kalian berdua, sudah pasti ikan itu meloncat sendiri ke atas daratan dan mengubah diri jadi sepiring hidangan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat gadis itu sewot, Ong Siau-sik mengerling sekejap ke arah Pek Jau-hui, kemudian katanya, &amp;quot;Bukan aku, bukan juga dia, tukang perahu yang membelinya di pasar.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi bukankah kalian sudah memancing setengah hari lamanya, masa tanpa hasil seekor pun?&amp;quot; tanya Un Ji tidak habis mengerti.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tidak langsung menanggapi, dia menghirup dulu secawan arak, lalu berpaling ke arah Ong Siau-sik sembari bertanya, &amp;quot;Jadi kau pun tak berhasil mendapatkan seekor ikan pun?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagaimana dengan kau sendiri?&amp;quot; pemuda itu balik bertanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kailku tanpa umpan, mana mungkin ada ikan mau mendekat?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pun bukan bertujuan memancing ikan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau bukan memancing ikan, memangnya ingin dipancing sang ikan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik segera tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku hanya menonton ikan. Biarkan saja sang ikan berenang bebas di dalam air, kenapa kita mesti memancingnya? Kita toh tidak harus memakannya, bayangkan sendiri, andai kata yang sedang berenang di air adalah manusia sementara sang pemancing adalah ikan, apa jadinya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tapi kenyataan sekarang kita adalah manusia dan mereka adalah ikan. Orang yang hidup di dunia ini memang sudah terbagi sejak lahir, ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang bodoh, ada yang pintar, ada pula yang beruntung dan ada yang tidak, semua ini alami, begitu juga seandainya ikan adalah manusia dan manusia adalah ikan, ikan pun akan memasang umpan untuk memancing manusia. Kini kau dan aku bukan ikan, maka sang ikanlah yang menjadi mangsa kita. Memang begitulah alam kehidupan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik mengalihkan sorot matanya ke tepi pantai, sambil mengawasi orang-orang yang sedang berlaluTalang, ia menggeleng kepala dan berkata sambil tertawa, &amp;quot;Siapa bilang kita bukan ikan? Bukankah kita semua adalah ikan peliharaan Thian? Tinggal kapan Thian akan menangkap salah satu di antara kita. Siapa sih di antara kita yang bisa lolos dari tangkapan Yang di Atas?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui mendengus dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hmmm, sekarang aku sudah menebar kail, berarti aku harus mendapatkan sang ikan, andai kata akhirnya aku terseret masuk ke air oleh tarikan ikan, atau sebaliknya malah dipancing oleh sang ikan, hal itu bukan dikarenakan tanganku kurang kuat atau umpanku kurang banyak, sebaliknya karena aku memang sebetulnya berhati tulus, tak ingin memancingnya, tapi dia malah kabur.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum selesai dia berkata, Un Ji sudah menyumpit seekor kepala ikan yang besar dan disodorkan ke dalam mangkuknya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku jadi heran,&amp;quot; seru gadis itu sambil tertawa, &amp;quot;tak ada hujan tak ada angin, kenapa kalian mengumpamakan diri sebagai ikan atau manusia, memangnya kalian berdua sudah terkena tenung atau sudah dibuat kesemsem siluman ikan waktu memancing tadi? Ayo, cicipi dulu kepala ikan itu baru kemudian bicara lagi!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan murung Pek Jau-hui mengawasi mangkuk sendiri, tampak olehnya kepala ikan yang tergeletak dalam mangkuknya seolah sedang mengawasi dia dengan matanya yang putih keabu-abuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kotaraja semakin dekat, mereka bertiga pun naik ke daratan dan berencana melanjutkan perjalanan darat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan uang sebanyak 270 tahil perak mereka membeli tiga ekor kuda jempolan, tentu saja Pek Jau-hui yang mengeluarkan duitnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik segera menuntun kuda-kuda itu, sementara Un Ji mengajukan protes kepada Pek Jau-hui, &amp;quot;Udara begini panas, kenapa tidak menyewa tandu saja, kalau mesti menempuh perjalanan di udara terbuka, kulit tubuh kita bakal hitam terbakar.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau merasa kulit sendiri kelewat halus, sewalah sendiri tandumu,&amp;quot; sahut Pek Jau-hui mendongkol, &amp;quot;dunia persilatan memang tidak cocok untuk Toasiocia macam kau!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi kalian berdua tega menyaksikan seorang gadis muda diterpa angin, dibakar sinar matahari, diguyur air hujan dan didera pasir serta debu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, apa urusannya dengan diriku,&amp;quot; sahut Pek Jau-hui setengah mengejek, &amp;quot;apalagi terhadap manusia macam kau, lelaki tidak perempuan pun bukan. Selagi ada keuntungan buru-buru jadi perempuan, kalau sudah tidak menguntungkan berlagak macam lelaki.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah dua kali kena batunya, Un Ji jadi mendongkol, teriaknya, &amp;quot;Ada apa sih dengan kau? Selama beberapa hari belakangan selalu saja sewot tanpa sebab, siapa yang telah menyalahi kau? Terus terang saja, aku tidak terbiasa dengan watak macam kau itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tertawa dingin.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pun tidak terbiasa melayani Toasiocia macam dirimu, terserahlah, apa maumu, lakukan sendiri, kami segera akan melanjutkan perjalanan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tahu, kau hanya bersedia melayani Thian-toasiocia, hmmm! Sayangnya, orang justru kabur tanpa meninggalkan pesan, kenapa? Kau jengkel? Sedih? Kalau sudah tak tahan, kenapa tidak menceburkan diri ke dalam sungai saja? Buat apa kau berlagak sok di hadapanku?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya perkataan itu mengena telak luka di hati Pek Jau-hui, sesaat dia tertegun, tapi kemudian serunya dengan suara keras, &amp;quot;Aku mau melayani siapa, peduli amat dengan kau? Asal aku senang, kau tak usah turut campur. Ong Siau-sik mungkin saja menahanmu, tapi aku tidak, kau boleh saja pergi sendiri ke ujung langit, apa urusannya dengan aku!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji merasa amat sakit hati, ucapan itu menusuk perasaannya hingga merasuk ke tulang sumsum, dengan wajah merah padam menahan amarah, serunya, &amp;quot;Bagus, bagus sekali manusia she Pek, kau boleh senang sekarang! Baik, nonamu akan berangkat sendirian, kita bertemu lagi di kota Kay-hong!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Silakan saja kalau mau pergi, aku tak akan mengantar lagi. Ah, kebetulan si Batu Kecil sudah balik, bagaimana? Suruh dia pergi bersamamu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan air mata mengembeng di mata, Un Ji segera melompat naik ke atas kudanya kemudian dilarikan kencang meninggalkan tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik yang tidak tahu urusan hanya bisa berdiri tertegun sambil mengawasi bayangan hitam yang makin menjauh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lewat beberapa saat kemudian Pek Jau-hui baru berkata kepada rekannya, &amp;quot;Batu kecil, aku yang membuat gara-gara, membuatnya pergi dengan marah.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah dia ... dia akan balik kemari?&amp;quot; gumam Ong Siau-sik seperti orang yang kehilangan sukma, &amp;quot;apakah dia pergi sendiri ke kotaraja?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku ... aku pun tidak tahu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik mengira Un Ji bakal balik lagi secara diam-diam, seperti apa yang dia lakukan ketika berada di Han-swe tempo hari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata tidak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji tidak kembali lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka tidak segera melanjutkan perjalanan, dua hari lamanya mereka menanti di situ namun tiada hasil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini terpaksa Pek Jau-hui mengajak Ong Siau-sik melanjutkan perjalanannya menuju ibukota.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di kotaraja tersedia pelbagai macam atraksi, ada tempat perjudian yang bisa membuat kaya mendadak, ada wanita cantik yang bisa membuat hati terhanyut, tersedia berbagai hiburan yang diimpikan setiap orang, terdapat pula hal yang sama sekali tidak terduga.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kota besar merupakan sumber segala kehidupan, di situ tersedia ranjang hangat yang bisa membuat kau dapat nama dan kedudukan, tapi juga merupakan jurang paling dalam dari segala dosa dan kenistaan. Di situ seorang Enghiong bisa termashur, bisa mendapat posisi terhormat, tapi di situ juga orang gagah akan terlupakan, akan memperoleh segala kenistaan dan penghinaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sejak dulu hingga kini, banyak sekali Enghiong Hohan, pelajar dan sastrawan yang berdatangan ke sana, ingin mendapat nama dan kedudukan dalam waktu singkat, ingin meniti karier dan mencapai puncak ketenaran, tapi akhirnya lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mungkin karena itulah keberhasilan selalu merupakan satu kejadian yang amat berharga. Mungkin dikarenakan hal ini maka segenap orang pintar yang berkumpul di kotaraja selalu berusaha menunggu peluang secara seksama, kecuali mereka yang memiliki kemampuan luar biasa, saat dan kesempatan merupakan kunci yang menentukan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hampir semua Enghiong Hohan berhasil dengan kariernya karena pandai menangkap kesempatan, bila kau paksakan diri menentang kebiasaan ini, seringkah bukan saja usahamu akan gagal total, mungkin nyawa akan jadi taruhannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa yang bisa menduga angin yang tertiup ke arah sini, besok akan bertiup ke arah mana?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa pula yang tahu jalanan yang nampak buntu pada hari ini, mungkin besok akan berubah jadi sebuah jalanan yang lebar?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jalan kematian belum tentu merupakan jalan mati, siapa tahu besok akan berubah jadi sebuah jalan kehidupan?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ya, siapa yang bisa meramalkan keberhasilan atau kegagalan yang akan menimpa seseorang?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui tidak tahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik pun tidak tahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Itulah sebabnya walaupun sudah setengah tahun mereka tiba di ibukota, namun apa yang dicita-citakan belum juga terwujud.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Banyak kejadian di dunia ini butuh banyak waktu untuk meraba, butuh banyak pengalaman untuk melacak dan butuh banyak pelajaran, menang kalah tidak mudah untuk diraih, kendatipun kau adalah seorang cerdik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik termasuk orang-orang cerdas, orang berbakat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka berdua memiliki ilmu silat yang tangguh, namun setibanya di tempat yang sangat asing ini, mereka toh tak mungkin mencari nama dengan membunuh orang lain, jika hal ini yang dilakukan, bukan saja mereka akan berurusan dengan pengadilan dan para opas, bahkan akan diburu oleh jago-jago tangguh kerajaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka pun tahu bahwa di kota besar itu terdapat perkumpulan Lak-hun-poan-tong dan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau yang sedang berebut pengaruh, namun mereka menganggap kekuatan itu merupakan sebuah dunia lain, dunia yang sama sekali tak ada hubungannya dengan mereka berdua.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sekalipun apa yang dicita-citakan belum terwujud, namun kedua orang pemuda ini justru hidup dengan riang gembira, mereka sudah menjadi sahabat karib.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Apa yang disebut karib?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang sahabat karib akan memikul penderitaan bersama, mencicipi kegembiraan bersama, di saat kau kedinginan, dia datang membawa penghangat, di saat kau kepanasan, dia datang membawa salju.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sahabat karib tidak mengharapkan sesuatu dan tidak butuh sesuatu, namun mau berkorban demi yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui bersama-sama datang ke kota Kay-hong, sama-sama dimaki orang, hapal setiap sudut kota, kehilangan semangat dan sama-sama mabuk di jalan....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selama ini, mereka pun bersama-sama menimba banyak pengalaman, kenal dengan banyak manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai akhirnya, uang persediaan yang dibawa Pek Jau-hui mulai menipis dan nyaris habis ....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan begini, Pek Jau-hui terpaksa membuka dasaran di tepi jalan dengan menjual tulisan dan lukisan, dia memang pandai menulis, lukisannya pun cukup indah, hanya sayang tak ternama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lukisan hasil karya orang yang tidak ternama, biasanya murah harganya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk hidup terus, orang butuh uang. Bagi Pek Jau-hui, lebih halal menjual lukisan dan tulisan ketimbang melakukan perdagangan tanpa modal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebelum balik ke rumah penginapan &lt;b&gt;Toa-kong&lt;/b&gt;, ia menyempatkan diri mampir di &lt;b&gt;Hwe-cun-tong&lt;/b&gt; untuk menjenguk Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rekannya ini bekerja di Hwe-cun-tong sebagai tukang obat, Hwe-cun-tong adalah toko obat kenamaan di kota itu, lantaran dia pandai mengobati luka dana patah tulang, pemilik toko obat itu sangat menghargai kemampuannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagi Ong Siau-sik sendiri, dia menganggap pekerjaan ini sebagai sebuah karya seni, lebih mendingan ketimbang dia mesti &#39;jual pedang&#39;.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika Pek Jau-hui dengan membawa beberapa gulung lukisan tiba di toko obat Hwe-cun-tong, kebetulan Ong Siau-sik sedang beristirahat, maka seperti biasanya, mereka berdua pergi ke warung makan &lt;b&gt;It-tek-kie&lt;/b&gt; untuk memesan beberapa piring sayur dan sepoci arak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat seperti ini biasanya merupakan saat yang paling menggembirakan bagi mereka berdua sejak tiba di kotaraja.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum lama mereka berdua bersantap, hujan mulai turun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mula-mula hanya setetes, dua tetes, tiga tetes, akhirnya hujan makin deras dan rapat, seluruh angkasa diselimuti awan gelap, burung mulai beterbangan mencari tempat persembunyian, orang yang berlalu-lalang pun berlarian mencari tempat berteduh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui tahu, hujan bakal turun semakin deras, buru-buru mereka berlari di antara air hujan dan menyusup ke dalam sebuah puing bangunan bekas kebakaran.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun tempat itu dipenuhi puing yang berserakan serta semak setinggi lutut, namun ada beberapa bagian bangunan yang belum roboh sehingga bisa digunakan untuk berteduh.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dalam keadaan setengah basah, kedua orang itu tiba di tengah puing bangunan, menyaksikan hujan yang turun semakin deras, mereka merasa seakan seperti kehilangan sesuatu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Deras amat hujan kali ini!&amp;quot; gumam Ong Siau-sik sambil menyeka air yang membasahi badan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar, tampaknya kita bakal berteduh cukup lama.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak lama setelah mereka berteduh, tampak ada empat orang yang berlarian di tengah hujan memasuki puing bangunan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Berhubung waktu itu hujan memang turun sangat deras, Pek Jau-hui tidak merasa heran ketika melihat ada empat orang yang ikut berteduh di puing bangunan itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah memasuki bangunan yang terbengkalai itu, terlihat dua orang berjaga-jaga di depan pintu, sementara dua orang lainnya berjalan masuk ke dalam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari dua orang yang berjalan masuk itu, seorang berperawakan tinggi besar, berwajah keren dan bermata tajam, dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui sekejap.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara seorang yang lain tiba-tiba terbatuk, batuknya sangat keras.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan selembar saputangan dia mencoba menutupi mulutnya, tetapi batuknya semakin keras hingga membuat badannya terbungkuk-bungkuk, tubuhnya jadi melingkar macam kura-kura, dari suara batuknya, bisa dirasakan betapa menderitanya orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang bertubuh tinggi besar itu segera menghampiri rekannya dan berniat menggosok tubuhnya yang basah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi pemuda yang sedang terbatuk-batuk itu segera menggeleng.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Noda darah telah membasahi saputangannya yang berwarna putih, sementara sepasang matanya nampak semakin sayu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tampaknya penyakit yang ia derita cukup parah,&amp;quot; bisik Ong Siau-sik kemudian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita pun segera akan tertular penyakitnya,&amp;quot; sambung Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Penyakit apa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Penyakit miskin!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka berdua segera tertawa tergelak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kembali Pek Jau-hui berkata, &amp;quot;Tak heran orang bilang, kemiskinan bisa mematikan orang, jika kita rudin, jangan singgung soal lain, nomor satu yang bakal terhapus dari benak kita adalah semangat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Benar,&amp;quot; Ong Siau-sik mengangguk, &amp;quot;orang bilang kota Kay-hong adalah sarang naga gua macan, harimau sudah banyak bertemu, tapi naga masih bersembunyi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu suara batuk pemuda itu sudah mulai berhenti, namun dadanya masih nampak bergelombang tak teratur, selangkah demi selangkah ia berjalan menuju ke sisi Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui, dengan demikian mereka bertiga berdiri berjajar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hujan masih turun dengan derasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Deras sekali, bagaikan dicurahkan dari langit!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 11&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;strong&gt;09&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 10&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-10-manusia-dan-ikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-1020705589331483964</guid><pubDate>Tue, 08 May 2012 14:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-08T21:01:26.030+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 09 - Angin, Rembulan, Bayangan Manusia</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; align=&quot;left&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;9. Angin, Rembulan, Bayangan Manusia&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Kini suasana di atas perahu pesiar itu sudah pulih dalam ketenangan. Dari lima orang dayang yang ikut dalam perjalanan ini, empat di antaranya berhasil lolos dari maut, namun mereka sudah telanjur dibuat ketakutan setengah mati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari delapan orang pengawal yang ikut di atas perahu itu, enam orang di antaranya tewas karena terkena obat pembius dalam kadar yang banyak, sisanya dua orang harus diguyur air dingin berulang kali sebelum akhirnya tersadar kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di antara mereka, hanya gadis cantik bak bidadari itu yang tetap bersikap tenang, ia perintahkan para pembantunya untuk menolong rekannya, memasang lentera dan membersihkan ruangan, kemudian setelah berterima kasih kepada Pek Jau-hui, ia masuk ke ruang dalam untuk bertukar pakaian.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika muncul kembali, ia sudah mengenakan sebuah gaun berwarna kuning jeruk, ia mempersilakan Pek Jau-hui bertiga mengambil tempat duduk, kemudian memerintahkan orang untuk menyiapkan meja perjamuan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baik Pek Jau-hui maupun Ong Siau-sik, diam-diam amat mengagumi sikap tenang gadis itu, mereka tahu orang ini pasti bukan orang sembarangan, tidak semua orang bisa bersikap begitu tenang dalam menghadapi kejadian seperti ini, terkecuali ia berasal dari satu keluarga kenamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah menanyakan nama ketiga orang penolongnya, gadis itu baru berkata, &amp;quot;Malam ini seandainya tidak ada kalian bertiga, entah bagaimana nasibku sekarang, budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Walaupun perkataan itu ditujukan pada ketiga orang, namun sewaktu berbicara dia melirik terus ke arah Pek Jau-hui, membuat pemuda itu merasakan jantungnya berdebar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sambil tertawa Ong Siau-sik menjawab, &amp;quot;Sebetulnya budi ini bukan milik kami, aku dan Un-lihiap hanya secara kebetulan tiba di sini, coba kalau tak ada saudara Pek, mungkin ....&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ketujuh orang itu memang kelompok penyamun berhati keji,&amp;quot; tiba-tiba Pek Jau-hui menyela, &amp;quot;mereka sudah terbiasa merampok, memperkosa dan membunuh, selama ini berlindung di bawah panji Mi-thian-jit dan menyebut diri sebagai &lt;b&gt;Jit-sat&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Tujuh Malaikat Bengis&lt;/b&gt;. Tampaknya sebelum turun tangan terhadap perahu ini, mereka telah menyusun rencana yang matang, boleh aku tahu apa sebabnya mereka mengincar kalian?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis cantik itu tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Biarpun mereka menyebut diri sebagai Tujuh Malaikat Bengis, kenyataannya di tangan &lt;i&gt;Inkong (tuan penolong)&lt;/i&gt; mereka tak lebih hanya sebangsa tikus.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui ikut tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sewaktu bersembunyi di luar jendela tadi, aku sempat mencuri dengar pembicaraan mereka,&amp;quot; katanya, &amp;quot;aku rasa kehadiran mereka ada hubungannya dengan kelompok Mi-thian-jit serta perkumpulan Lak-hun-poan-tong. Setahuku kelompok &lt;b&gt;Mi-thian-jit (Pembius Tujuh Langit)&lt;/b&gt; adalah organisasi misterius yang didirikan di kota Kay-hong, kantor cabang dan pengaruh mereka sudah menyebar ke antero propinsi, memiliki kekuatan yang tak boleh dianggap enteng, sementara perkumpulan Lak-hun-poan-tong adalah perkumpulan nomor satu di kolong langit. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana mungkin dua organisasi besar itu bisa berhubungan dengan Tujuh Malaikat Bengis?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tidak seberapa tahu tentang masalah dunia persilatan, kenapa tidak kau tanyakan sendiri kepada &lt;b&gt;Ci Thian-jiu&lt;/b&gt;?&amp;quot; kata nona itu sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Siapa itu Ci Thian-jiu?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ci Thian-jiu adalah pemimpin kawanan penyamun ini,&amp;quot; Pek Jau-hui menerangkan, &amp;quot;walaupun aku tahu mereka disebut Tujuh Malaikat Bengis, namun nama mereka tak ada yang kukenal.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku juga tidak tahu,&amp;quot; sambung Ong Siau-sik dengan mata berbinar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji tidak paham apa maksud pembicaraan kedua orang lelaki itu, segera serunya, &amp;quot;Aku pernah mendengar tentang hal ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Betul, Ci Thian-jiu adalah salah satu di antara Tujuh Malaikat Bengis.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Selain itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia ... dia seorang lelaki,&amp;quot; agak gugup Un Ji menerangkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Terus?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dia adalah seorang telur busuk yang sudah banyak melakukan kejahatan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kejahatan apa saja yang telah dia lakukan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis cantik itu tersenyum, setelah mengerling pada Pek Jau-hui sekejap, ia memandang ke arah Un Ji dan katanya, &amp;quot;Seorang gadis suci dari perguruan lurus, mana bisa mengingat semua perbuatan bejat yang pernah dilakukan manusia macam Ci Thian-jiu? Hanya kaum jalanan yang memperhatikan perbuatan busuknya. Un-lihiap, ketidaktahuanmu dalam hal ini malah menunjukkan bahwa kau memang selalu berjalan lurus.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Nah, itulah dia,&amp;quot; tanpa pikir panjang Un Ji berseru, kemudian katanya lagi pada gadis cantik itu sambil tertawa, &amp;quot;Ciri, pengetahuanmu sungguh luas, boleh tahu siapa namamu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku bermarga Thian, bernama Tun.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Oooh, rupanya cici Thian Tun!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Memandang rambutnya yang hitam berkilauan di bawah cahaya lentera, kembali Un Ji berseru, &amp;quot;Cici, rambutmu sangat indah!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Senyuman adik pun segar bagai sekuntum bunga.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Menurut kau, bunga apa yang paling cocok untukku?&amp;quot; suara tawa Un Ji semakin melengking. &amp;quot;Aku rasa mirip sekali dengan bunga anggrek.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah kau menganggap suara ter kelewat keras?&amp;quot; kembali Un Ji cekikikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, tidak,&amp;quot; Thian Tun menggeleng, &amp;quot;aku rasa semua bunga indah sewaktu mekar, bentuknya pasti mirip dirimu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji makin kegirangan, kembali serunya, &amp;quot;Betul, betul sekali, dulu di halaman rumahku juga tumbuh banyak jenis bunga, ada ....&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;He, bunga anggrek bulan, sudah selesai belum kau ribut?&amp;quot; mendadak Pek Jau-hui menyela.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan perasaan mendongkol Un Ji mengerling sekejap ke arah pemuda itu, ia merasa kegembiraannya sangat terganggu dengan teguran itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi Pek Jau-hui sama sekali tidak menggubrisnya, kepada Thian Tun katanya, &amp;quot;Nona Thian, apa boleh kupinjam sebentar tempatmu ini untuk menginterogasi orang itu, jika kau merasa tak tega, biar aku gelandang dia ke perahuku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak apa apa.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui pun membanting tubuh Ci Thian-jiu ke atas tanah, belum sempat ia berbicara, Un Ji dengan mata melotot sudah berseru duluan, &amp;quot;Jadi dia adalah ketua dari Tujuh Malaikat Bengis, Ci Thian-jiu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Hmmm, dia memang Ci Thian-jiu yang sudah banyak melakukan kejahatan, tapi sayang, saat ini sudah menjadi Ci Thian-jiu yang mampus,&amp;quot; sahut Pek Jau-hui dengan wajah membesi, setelah termenung sejenak, lanjutnya, &amp;quot;Sejahat dan sebuas apa pun, jika sudah mampus maka tak nanti ia mampu mencelakai orang lain lagi.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jadi kau tidak akan membunuhnya?&amp;quot; tanya Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau totok jalan darahnya?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Itulah sebabnya dia tak mampu membunuh diri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik berjongkok sambil memeriksa kelopak mata si orang mati, kemudian memeriksa juga mulutnya, setelah diamati sesaat, ujarnya, &amp;quot;Dia mati karena keracunan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Mungkin sudah ia selipkan obat racun di antara sela-sela giginya,&amp;quot; sambung Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bisa jadi Ci Thian-jiu tak ingin rahasianya terbongkar,&amp;quot; kata Thian Tun pula, &amp;quot;maka begitu tertangkap oleh Pek-tayhiap, ia terpaksa menelan racun untuk menghabisi nyawa sendiri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ya, rasanya jalan ini memang merupakan jalan terakhir baginya&amp;quot; sahut Pek Jau-hui sambil mengangkat bahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan tewasnya Ci Thian-jiu, berarti sumber berita pun terputus di tengah jalan, dalam keadaan begini Pek Jau-hui hanya bisa termenung sambil membayangkan kembali semua kejadian itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tio Thiat-leng pernah bilang, masih ada satu pekerjaan besar lainnya yang mesti diselesaikan, mungkinkah pekerjaan besar yang dimaksud adalah peristiwa ini? Apa hubungannya dengan Thian Tun, si gadis cantik ini? Tio Thiat-leng sudah kabur dengan membawa luka, kenapa Mi-thian-jit kembali mengirim anak buahnya untuk mencegat Thian Tun? Apa yang dia mau dan apa tujuannya?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari pembicaraan yang kemudian berlangsung, diketahui bahwa Thian Tun sesungguhnya adalah putri seorang pejabat tinggi di kotaraja, waktu itu mereka dalam perjalanan pulang setelah pergi menengok famili.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baik Ong Siau-sik maupun Un Ji tahu, saat itu sedang berangsung perebutan pengaruh antara perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau melawan perkumpulan Lak-hun-poan-tong, untuk memperluas pengaruh dan daerah kekuasaan, kedua belah pihak sama-sama tak segan bersekongkol dengan para pejabat tinggi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya peristiwa yang menimpa Thian Tun kali ini, kejadian itu tak terlepas dari perebutan pengaruh yang sedang berlangsung, malah kekuatan nomor tiga, perkumpulan Mi-thian-jit pun ada minat turut serta dalam pertikaian ini.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jelas kota Kay-hong akan semakin bertambah semarak!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka berempat berbincang-bincang hingga kentongan kedua, karena merasa cocok satu dengan lainnya, kebetulan Thian Tun yang sudah kehilangan banyak pengikut pun hendak balik ke kotaraja, maka mereka sepakat untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya Thian Tun amat menyukai Un Ji, segera katanya sambil tertawa, &amp;quot;Bagus sekali, dengan dilindungi adikku, Cici tak usah kuatir keselamatan lagi sepanjang perjalanan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Setelah berhenti sejenak, ia berpaling ke arah Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui, lalu katanya lagi, &amp;quot;Aku hanya merasa kurang enak karena harus merepotkan kalian berdua.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tak usah sungkan,&amp;quot; tukas Ong Siau-sik tersenyum, &amp;quot;kami malah merasa gembira karena punya teman dalam perjalanan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sampai di sini dia pun berpaling ke arah Pek Jau-hui, ternyata rekannya sudah berdiri di ujung geladak sambil memandang rembulan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rembulan bersinar terang menyinari permukaan sungai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Riak ombak saling kejar bagaikan gulungan perak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika menjelang fajar, Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui berpamitan untuk kembali ke perahu sendiri dan beristirahat, sementara Un Ji tetap tinggal di perahu itu dan terpulas dengan nyenyak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di tengah keheningan yang mulai mencekam seluruh jagat itulah Thian Tun dengan gerak-gerik yang amat lambat dan berhati-hati turun dari pembaringan, berjalan menuju ke depan cermin dan memperhatikan sekejap raut wajah sendiri yang cantik bak siluman rase.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiada senyuman yang menghiasi raut muka cantiknya, ia nampak serius bahkan sedikit tegang, dengan sangat hati-hati ia lepaskan sebuah jepitan rambut berwarna hitam dari gulungan rambut Ci Thian-jiu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian dengan jari tangannya yang lentik pelan-pelan dia lepaskan penjepit rambut itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Satu sisi dari penjepit rambut itu terbuat dari baja, ujungnya kelihatan runcing dan tajam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ketika tertimpa cahaya lentera, ujung jarum itu membiaskan cahaya biru yang menyilaukan mata, cahaya semu biru dikelilingi tujuh warna lain yang agak samar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari balik sanggulnya, kembali ia melepaskan sebuah tusuk konde, ujung tusuk konde dibukanya dengan hati-hati, lalu jarum berwarna biru yang barusan dijepit keluar dari balik kepala Ci Thian-jiu itu dimasukkan ke balik tusuk konde itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesudah tusuk konde itu diselipkan kembali di balik sanggulnya, ia baru mengulum senyum di ujung bibirnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia yakin perbuatannya itu, kecuali seluruh rambut di kepala Ci Thian-jiu dicukur hingga gundul, kemudian dilakukan pemeriksaan dengan seksama, kalau tidak, tak mungkin orang bisa menemukan lubang lembut di kepala itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Selesai dengan pekerjaannya, pelan-pelan ia berjalan keluar dari ruang perahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Fajar belum lagi menyingsing, suasana di sekeliling sungai itu amat hening dan sepi, hanya cahaya rembulan yang menyaksikan seluruh perbuatannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seluruh perbuatannya, seluruh tingkah lakunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Termasuk juga pakaiannya, wajahnya, hatinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mereka berada di satu perahu, melakukan perjalanan bersama-sama, makan, minum, tertawa dan bergurau bersama, berkumpul jadi satu membicarakan persoalan dunia persilatan, berkumpul membahas situasi dunia persilatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sikap Pek Jau-hui sudah tidak seangkuh dulu, seperti apa yang pernah dia katakan, &amp;quot;Bila seseorang kelewat banyak tertawa, dia sudah tak mampu angkuh dan jumawa&amp;quot;, mungkin saja hal ini disebabkan selama beberapa hari terakhir dia kelewat banyak tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian Tun pun bersikap sangat lembut dan halus, terkadang ia bersikap seperti pendekar wanita, ia pandai minum, Pek Jau-hui maupun Ong Siau-sik tak ada yang mampu mengungguli dirinya, dia pun pandai bermain dadu, begitu asyik bermain, kemahirannya setara dengan tauke pemilik sarang judi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi sebagian waktu dia hanya duduk di samping, mengawasi semua orang dengan sepasang matanya yang bening, atau tersenyum dengan tertawanya yang manis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ada kalanya dia pun menertawakan Un Ji, kepolosan dan kenakalan gadis itu membuatnya merasa geli bercampur senang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Bagaimana dengan Ong Siau-sik? Dia hanya mengikuti semua itu dengan mulut bungkam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia memang bergabung dengan perasaan tulus, berhubungan dengan perasaan penuh persahabatan, tapi dia pun merasa bahwa perjalanan yang mereka tempuh bersama-sama ini telah meninggalkan kenangan yang mendalam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malam itu, di tengah pancaran sinar rembulan yang terang dan alunan ombak yang tenang, sambil tertawa Un Ji bertanya, &amp;quot;Setibanya di ibukota, kalian mau apa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak ada yang menjawab.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau duluan!&amp;quot; ucap Un Ji kemudian sambil menunjuk ke arah Ong Siau-sik.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku akan mengadu nasib,&amp;quot; sahut pemuda itu sambil tersenyum.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kalau aku ingin berjuang agar bisa membangun satu usaha,&amp;quot; sambung Pek Jau-hui sambil mendongakkan kepala memandang rembulan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Apakah sebagai seorang lelaki, dia harus memiliki nama dan jabatan?&amp;quot; tanya Thian Tun tiba-tiba, nadanya agak sendu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sebagai seorang lelaki, bila tak mampu berjasa, tak mampu membangun usaha dan tak mampu punya nama, apakah artinya hidup di dunia ini?&amp;quot; sahut Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perlahan Thian Tun mendongakkan kepala sambil memandang kejauhan, katanya lagi, &amp;quot;Bukankah lebih enak hidup gembira, hidup aman sentosa?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Itu sih pemikiran orang yang tak punya ambisi, aku bukan jenis manusia begini. Ketenangan merupakan penderitaan, hidup sebagai nelayan, petani, tukang kayu, sastrawan merupakan pekerjaan yang membosankan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku pun hanya ingin mencoba,&amp;quot; kata Ong Siau-sik pula, &amp;quot;belum tentu perjalananku kali ini akan menghasilkan nama atau kedudukan, aku tak peduli, tapi aku tak boleh tidak harus mencoba, melepaskan kesempatan merupakan orang bodoh, perbuatan yang akan disesali di kemudian hari. Dan bagaimana dengan kau? Mau apa kau datang ke kotaraja?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku?&amp;quot; Thian Tun tersenyum lirih, &amp;quot;aku bukan pergi ke kotaraja, aku dalam perjalanan pulang ke rumahku.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian setelah mengerdipkan matanya yang jeli, dia menambahkan, &amp;quot;Pulang ke rumah merupakan keinginanku yang paling utama, bagaimana dengan kau, adikku?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji berpikir sejenak, mendadak ia jengah sendiri, pipinya berubah jadi merah dadu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa? Mencari jodoh?&amp;quot; goda Thian Tun sambil tertawa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ah, kau, justru kau yang ingin kawin sampai-sampai rada sinting.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Masa selama hidup kau tak akan kawin?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku ingin menjumpai Suhengku terlebih dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terbayang Un Ji memiliki seorang Suheng yang amat tersohor di antero jagad, So Bong-seng, Ong Siau-sik seketika merasa tengkuknya agak gatal, begitu juga dengan Pek Jau-hui. Maka ujarnya kemudian, &amp;quot;Nona Thian, hari ini pemandangan alam sangat indah, suasana pun nyaman, bagaimana kalau kau memainkan sebuah lagu dengan alat khim?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Darimana kau tahu kalau aku bisa memetik khim?&amp;quot; tanya Thian Tun seraya berpaling.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Dengan jari jemarimu yang begitu indah, aneh jika tak pandai memainkan khim.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Siapa yang bilang? Kesepuluh jari tanganku ini justru paling pandai membunuh orang!&amp;quot; seraya berkata pelan-pelan ia bangkit berdiri dan mengambil sebuah khim yang kelihatan agak hangus karena bekas terbakar dari atas sebuah rak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Khim yang bagus!&amp;quot; puji Ong Siau-sik tanpa terasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Thian Tun tersenyum manis, jari jemarinya segera menari di atas senar dan melantunkan sebuah lagu yang merdu merayu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ilmu jari yang hebat!&amp;quot; puji Pek Jau-hui cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik ikut bangkit kegembiraannya, segera ia mencabut keluar serulingnya dan mengimbangi permainan khim itu, melantunkan irama lagu yang indah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui pun tak kuasa menahan diri, ia bangkit berdiri dan mulai menari.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitulah, di tengah sungai, di bawah cahaya rembulan, di tengah hembusan angin, di dalam perahu, seruling, khim dan tarian menghiasi sekeliling tempat itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sayang, aku tak pandai menari maupun memainkan alat musik,&amp;quot; keluh Un Ji penuh rasa sesal, &amp;quot;apa pun aku tak mampu, Cici, kau memang hebat!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kau toh bisa menyanyi,&amp;quot; hibur Thian Tun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Suaraku jelek, aku tak bisa menyanyi,&amp;quot; sahut Un Ji dengan wajah memerah, &amp;quot;tatkala masih di rumah dulu, aku pernah menyanyi, baru kulantunkan dua bait, ayam dan burung tetangga pada jatuh sakit selama dua hari. Untung aku tidak ikut menyanyi saat ini, kalau tidak, mungkin pemain khim, pemain seruling dan penarinya sudah menceburkan diri ke dalam sungai lantaran pada mabuk.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ucapan itu kontan disambut gelak tertawa semua orang. Angin, rembulan, irama lagu dan tarian yang berlangsung malam itu dilewatkan dengan penuh kegembiraan, meninggalkan kesan yang mendalam di hati semua orang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Keesokan harinya, ketika Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik balik lagi ke perahu besar itu, mereka jumpai Thian Tun beserta para dayang dan barang bawaannya telah lenyap, yang tersisa hanyalah Un Ji yang masih terlelap tidur. Thian Tun telah pergi entah kemana.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dia hanya meninggalkan sepucuk surat, sepucuk surat dengan bekas noda air mata.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 10&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;08&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 09&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-09-angin-rembulan.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2371984028516295375.post-3594181468750995461</guid><pubDate>Sat, 05 May 2012 08:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-05T15:37:05.397+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">- Wen Rui An</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Golok Kelembutan</category><title>Golok Kelembutan 08 - Perempuan Cantik di Tengah Sungai</title><description>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan &lt;/strong&gt;(Wen Rou Yi Dao)&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;Seri Pendekar Sejati&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Karya: &lt;strong&gt;Wen Rui An&lt;/strong&gt; / Penyadur: &lt;strong&gt;Tjan ID&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;#160;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;big&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px 10px 0px 5px&quot; align=&quot;left&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s280/golok-kelembutan.jpg&quot; /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/b&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h5&gt;&lt;strong&gt;8. Perempuan Cantik di Tengah Sungai&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;  &lt;p&gt;Riak air di permukaan sungai &lt;b&gt;Han-swe&lt;/b&gt; nampak tenang bagaikan cermin, sedemikian tenangnya hingga memantulkan bayangan perahu, gunung, lentera dan pepohonan di atas permukaan sungai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Yang tak nampak justru hanya bayangan manusia.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebagian besar penghuni perahu itu sudah terlelap tidur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hanya ada dua tiga buah lentera yang tergantung di atas tiang, memancarkan cahayanya yang redup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Suasana di sepanjang tepi sungai hening dan amat sepi, hingga saat itu Un Ji belum juga balik kembali ke atas perahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di kejauhan sana terlihat ada orang sedang tidur, dengkurnya tenang penuh damai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di ujung jembatan ada orang sedang meniup seruling, menemani rembulan, bercermin permukaan air.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji wahai Un Ji, kemanakah kau pergi?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik mulai cemas, mulai menguatirkan keselamatan gadis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kita jangan sembarangan bergerak,&amp;quot; Pek Jau-hui telah berpesan begitu kepadanya senja tadi, &amp;quot;aku yakin mereka yang ada dalam perahu itu mempunyai asal-usul yang luar biasa, jelas bukan jago sembarangan, aku percaya menjelang tengah malam nanti kawanan jago yang menyaru sebagai kelasi itu akan turun tangan. Kita baru turun tangan setelah tahu keadaan yang sebenarnya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui memang lebih cenderung bertahan sambil menunggu datangnya kesempatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Malam itu Ong Siau-sik tidak bisa tidur nyenyak, dia hanya membolak-balikkan badan namun mata tak mau terpejam, entah karena sedang memikirkan sesuatu atau karena sedang meningkatkan kewaspadaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu berlalu amat lambat ... ....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Beberapa saat sudah lewat, dari kejauhan terdengar suara kentongan pertama telah tiba.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat itulah dia merasa perahu yang ditumpanginya sedikit berguncang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik tahu perahu mereka telah kedatangan seorang jago tangguh, buru-buru dia melompat bangun dari tidurnya dan duduk.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sesosok bayangan manusia melintas dari depan jendela perahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan satu gerakan cepat Ong Siau-sik membuka jendela sambil melompat keluar, dengan sekali gerakan dia mencengkeram tengkuk orang itu sementara tangan yang lain menghantam belakang kepalanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Orang itu berseru tertahan, baru saja akan meronta, Ong Siau-sik telah mencengkeramnya kuat-kuat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anak muda itu segera merasa tangannya seakan sedang menyentuh sebuah tubuh yang halus, lembut dan empuk, lamat-lamat terendus bau harum tubuh seorang perawan, apalagi ketika lengannya tanpa sengaja menyentuh dada orang itu, ia menjadi kaget setengah mati hingga tanpa sadar melepaskan genggamannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Lepas tangan,&amp;quot; terdengar orang itu menghardik, &amp;quot;kau memang orang jahat, cepat lepas tangan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik amat terperanjat, lekas dia lepaskan genggamannya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa bisa kau?&amp;quot; tegurnya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis itu membalikkan badannya, rambutnya yang semula menempel di wajah pemuda itu segera menyiarkan bau harum semerbak, tampak dengan wajah girang bercampur mendongkol sedang memelototi dirinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Siapa lagi dia kalau Un Ji, gadis yang dipikirkan selama ini?&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik girang setengah mati, sebaliknya Un Ji kelihatan hampir menangis saking jengkelnya, lagi-lagi dia mengayunkan tangannya menghadiahkan sebuah tempelengan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kali ini Ong Siau-sik masih tetap tidak menghindar, untuk kedua kalinya dia harus menerima tempelengan gadis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Melihat tampang bloon yang ditunjukkan anak muda itu, tak tahan Un Ji tertawa cekikikan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Senyum gadis itu membuat Ong Siau-sik semakin kesemsem, dia hanya bisa mengawasi nona itu dengari mata terbelalak dan mulut melongo.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Agaknya Un Ji mulai menyadari kalau dia sedang dipandang pemuda itu lekat-lekat, pipinya kontan merah jengah, untung waktu itu cahaya rembulan tidak terlalu cerah sehingga tidak kelihatan warna merah di pipinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pada saat itulah mendadak dari kejauhan sana terdengar suara deburan air yang tersentuh benda berat, menyusul kemudian berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan hati.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tindakan pertama yang dilakukan Ong Siau-sik saat itu adalah mencari Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata Pek Jau-hui tidak berada di atas perahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Celaka!&amp;quot; pekiknya tanpa terasa.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ada apa?&amp;quot; tanya Un Ji keheranan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sementara itu suara pertarungan yang amat seru sudah mulai berkumandang dari atas perahu pesiar yang mewah itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tak sempat memberi penjelasan, lebih baik menyeberang dulu ke sana!&amp;quot; seru Ong Siau-sik cepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baik dia maupun Un Ji sama-sama tak pandai berenang, terpaksa dari sampan mereka melompat naik ke daratan, lalu dari tanggul sepanjang pantai melompat naik ke atas perahu pesiar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja mendekati sasaran, mendadak terlihat sesosok bayangan orang terlempar keluar dari atas perahu dan tercebur ke dalam sungai, begitu tenggelam, orang itu tak pernah muncul kembali.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik segera mengajak Un Ji menyelinap ke atas perahu, tapi lagi-lagi sesosok bayangan orang terlempar keluar dan tercebur ke dalam sungai, kali ini orang itu tampak berusaha meronta di dalam air, namun tak selang beberapa saat kemudian dia pun berhenti bergerak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sewaktu Ong Siau-sik dan Un Ji menerjang masuk ke dalam ruang perahu, kembali sesosok tubuh terlempar keluar, kali ini Ong,Siau-sik menyambutnya dengan tepat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ternyata dia adalah seorang lelaki yang berdandan sebagai kelasi perahu, hanya alis matanya sudah berubah menjadi hitam keungu-unguan, darah memancar keluar dari panca indranya, orang itu sudah tewas.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji menyelinap masuk dengan gerakan cepat, kebetulan seseorang sedang menerobos keluar, nyaris mereka saling berbenturan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lekas gadis itu melolos goloknya, tapi orang itu segera menahan gagang goloknya sehingga tak mampu dicabut keluar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tangan Un Ji masih menggenggam gagang golok, tapi orang itu segera mencengkeram tangannya sebelum ia sempat melakukan suatu tindakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cepat Un Ji dapat merasakan bau pria yang kuat menusuk hidungnya, bau kelakian yang sudah tidak asing lagi baginya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar orang itu berbisik dengan suara dalam, &amp;quot;Kau jangan melolos golok, kini hawa napsu membunuhku sedang bangkit, aku kuatir tak sanggup menahan diri.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sewaktu mengucapkan perkataan itu, dalam tangannya yang lain terlihat mencengkeram seseorang, dan kini dia mengayunkan tangannya, melemparkan tubuh orang yang dibekuknya itu hingga mencelat sejauh tiga tombak.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Di bawah cahaya rembulan, terlihat jelas kalau orang itu adalah seorang lelaki yang berdandan sebagai kelasi kapal.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tak ampun tubuh orang itu tercebur ke dalam sungai dan segera lenyap terseret arus sungai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah Ong Siau-sik tiba di dalam ruang perahu, ketika melihat di sisi Un Ji berdiri seseorang, tanpa banyak bicara dia pun siap melancarkan serangan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Anak muda ini tak habis mengerti, padahal dia tahu kalau musuh yang sedang dihadapinya sangat tangguh, namun rasa ingin membunuhnya tahu-tahu sudah mencekam perasaannya, terutama setiap kali menyaksikan gadis itu terancam.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Perasaan aneh ini belum pernah dialami sebelumnya, bahkan sejak terjun ke dalam dunia persilatan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Belum sempat serangan dilontarkan, terdengar orang itu telah berseru, &amp;quot;Ooh, rupanya kau pun sudah datang, bagus sekali.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan cepat Ong Siau-sik dapat mengenali suara orang itu, suara rekannya. Pek Jau-hui!&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Satu ingatan melintas dalam benaknya, selain gembira karena berhasil menjumpai rekannya, dia pun merasakan timbulnya perasaan sedih, dia tak tahu mengapa bisa muncul perasaan itu ....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat itulah cahaya lentera memancar keluar dari dalam ruang perahu, seseorang berjalan keluar sambil menggenggam sebuah lentera.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebuah lentera dengan penutup kaca yang indah.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tapi yang indah bukan lentera kaca itu, melainkan tangan yang memegang lentera.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jari jemari yang tersorot cahaya lentera, halus dan lembut bagai kuncup bunga anggrek yang belum mekar, dengan tangan sebelah memegang lentera, tangan yang lain melindungi api agar tidak padam, berjalan perlahan menyusuri suasana yang redup.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sebuah tangan dengan jari jemari yang sangat indah, sedemikian indah hingga susah untuk dilupakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik dapat melihat dengan jelas, dia adalah seorang gadis yang amat cantik, seorang gadis dengan rambut sebahu yang terurai, seorang gadis dengan sepasang mata yang jeli dan bening bagaikan air di musim gugur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pakaian bagian bahunya dalam keadaan terbuka, namun tertutup oleh mantel sutera milik Pek Jau-hui, menutupi baju tipisnya yang berwarna hijau muda.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Namun yang membuat orang terbuai adalah sepasang matanya yang jeli bagai cahaya intan, bening bagaikan air jernih, seakan sebuah telaga yang dalam tertutup awan impian yang sedang mengalir.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Ong Siau-sik hanya memandangnya sekejap, namun ia merasa dirinya seakan sedang bermimpi, bertemu dengan orang dalam impian. Namun ketika terbangun dari mimpi, ia baru sadar bahwa dirinya bukan sedang bermimpi, di hadapannya benar-benar terdapat seorang gadis yang begitu cantik dan menawan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji ikut terbelalak begitu bertemu dengan gadis ini, dia pun dapat merasakan betapa cantik dan lembutnya gadis itu, selembut namanya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dulu, ketika masih kecil, dia pernah bermimpi menjadi gadis yang halus dan lembut, setelah menanjak dewasa, menjadi gadis lemah gemulai yang dicinta dan disayang banyak orang. Tapi kenyataan, setelah tumbuh dewasa, dia lebih suka berkelana, lebih suka bergaya seorang pendekar gagah, dia merasa dirinya saat ini jauh berbeda dengan yang dicita-citakan dulu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Untuk sesaat dia terbayang kembali pada lamunannya di saat kecil dulu, hanya sejenak, kemudian pikirnya lebih jauh, &amp;quot;Aku adalah aku, dia adalah dia, kenapa aku mesti menyesali keputusan yang telah kuambil?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Un Ji menganggap setelah berjumpa dengan gadis ini, dia merasa dirinya ibarat siang hari, sementara gadis itu ibarat malam hari....&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Hampir pada saat bersamaan Un Ji dan Ong Siau-sik berseru, &amp;quot;Kau adalah ....?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian mereka pun mengalihkan pandangannya ke arah Pek Jau-hui.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Buru-buru Pek Jau-hui mengangkat bahu seraya menggeleng, &amp;quot;Aku sendiri pun tidak tahu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Kemudian sambil menuding seorang kelasi bergolok yang sudah tertotok jalan darahnya, ia menambahkan, &amp;quot;Coba tanyakan saja kepada orang ini, siapa tahu dia bisa bercerita banyak.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tampaknya saat itu Pek Jau-hui sudah mengendalikan seluruh keadaan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Semula dia berada dalam perahu bersama Ong Siau-sik, tapi begitu mendengar ada gerakan di perahu besar itu, dia pun seketika melakukan tindakan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tatkala tiba di atas perahu itu, tidak dijumpai sesuatu apa pun di situ.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Mula-mula Pek Jau-hui agak tercengang, tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan terkesiap pekiknya di dalam hati, &amp;quot;Aduh, celaka!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tidak ada gerakan dalam perahu itu bukan berarti tidak terjadi sesuatu di situ, kawanan manusia yang sedang melaksanakan rencana busuk itu sudah menyusup ke dalam perahu sejak tadi, bahkan mereka terhitung jago kawakan yang berpengalaman, andai kata benar-benar berniat melakukan perbuatan jahat, niscaya mereka akan berusaha tidak menimbulkan sedikit suara pun.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sadar akan situasi yang gawat, tak sempat memanggil Ong Siau-sik lagi, Pek Jau-hui segera melompat naik ke daratan lalu menyusup naik ke dalam perahu besar itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru saja menginjakkan kakinya di dalam ruang perahu, hidungnya segera mengendus bau anyir darah yang amat tebal, perasaannya kontan tercekat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Betul juga, ia saksikan ada beberapa orang pelayan yang terkapar bersimbah darah, ternyata sebagian di antara mereka dibantai orang di saat masih dalam alam mimpi.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Pek Jau-hui menyesal karena kehadirannya sedikit terlambat, saat itulah dia mendengar dari balik ruangan ada seorang gadis dengan suara yang merdu sedang berkata, &amp;quot;Bukankah orang yang menjadi sasaran kalian adalah aku? Kenapa mesti membantai mereka yang tak tahu urusan? Apakah kalian tidak malu kalau perbuatan itu akan mencemari nama besar kalian?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar seseorang dengan suara parau menjawab sambil tertawa, &amp;quot;Kami bukan orang gagah, juga tak ingin berlagak macam orang gagah, meski Jit-he sudah menurunkan perintah agar kami menghabisi nyawamu, tapi asal kau bersedia menuruti kemauan Toaya, hehehe ... bukan saja akan kau peroleh kesenangan, bahkan bisa kubuat kau lolos dari kematian.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar gadis itu mendengus dingin, kemudian terdengar berpuluh kata ungkapan jorok dan kotor dilontarkan ke arah gadis itu, di balik kata-kata cabul terselip jeritan gugup dan panik dari kawanan gadis.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui mengintip dari balik jendela, ia lihat ada enam tujuh orang lelaki kekar sedang mengerubuti tiga empat orang gadis muda, dengan wajah menyeringai cabul mereka sedang mempermainkan gadis-gadis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang di antara gadis muda itu terlihat mengenakan jubah lebar terbuat dari sutera tipis, sedemikian tipisnya hingga kelihatan pakaian dalamnya yang berwarna merah, payudaranya setengah menonjol keluar, kulitnya nampak putih mulus, penampilan si nona setengah bugil itu membuat kawanan lelaki itu bertambah beringas, sorot mata mereka seakan tak pernah lepas dari tubuh nona itu, mengawasinya terus tanpa berkedip.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Terdengar seorang lelaki di antaranya berkata sambil tertawa tergelak, &amp;quot;Sudah sejak awal kami menguntit dan mengawasi terus gerak-gerik manusia she Tio dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong, kami pun dapat melihat kalau orang she Tio itu menguntit terus di belakangmu, entah rencana busuk apa yang sedang dia persiapkan, sungguh tak nyana, kejadian apa yang dia alami, mendadak dia kabur terbirit-birit dari sini. Hahaha ... jadinya, kamilah yang diuntungkan, coba kalau dia tidak kabur, belum tentu malam ini kami mendapat giliran.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sekarang urusan menjadi gampang, karena kau bakal terjatuh ke tangan kami, tak perlu membangkang, puaskan kami semua dan kau pun tak perlu mampus. Hmm, kalau masih mengharap bantuan dari orang lain, hehehe ... lebih baik padamkan saja harapan itu, beberapa orang gentong nasi yang kau bawa sudah terkena obat pembius kami, sekarang mereka sudah tertidur macam babi, tak perlu bersusah-payah kami bisa mengirim mereka pulang ke langit barat.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gadis itu segera tertawa dingin, ujarnya, &amp;quot;Hmmm, sungguh tak nyana &lt;b&gt;Mi-thian-jit&lt;/b&gt; yang nama besarnya sudah tersohor di seantero jagad, ternyata memiliki anak buah dungu dan pandainya hanya melakukan tindakan tak terpuji.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Wah, coba kalian lihat,&amp;quot; seru seorang lelaki dengan suara aneh, &amp;quot;tajam benar mulut bocah perempuan ini, berani amat dia mengejek dan mencemooh kita.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Seorang yang lain berseru pula dengan suaranya yang aneh, &amp;quot;Kami pun tahu kalau di atas perahu ini kau membawa beberapa orang jagoan yang memiliki kungfu hebat, kami pun tahu mereka punya sedikit nama di dunia persilatan, tapi sayangnya yang kami adu bukan otot, tapi akal, kini kalian sudah menaiki kapal penyamun, maka jangan salahkan bila kami kaum penyamun menikmati hasil jarahannya.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Ci-lotoa,&amp;quot; seorang penyamun yang lain menyela, &amp;quot;semakin kupandang gadis ini, sekujur badanku terasa makin gatal, napsuku makin membara, bagaimana kalau kau serahkan dulu kepadaku, tak akan kulupakan budi kebaikanmu itu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aaah, kau ini menduduki urutan keberapa?&amp;quot; jengek rekannya yang lain, &amp;quot;sampai tujuh keturunan pun belum tiba giliranmu untuk menikmati duluan. Ci-lotoa yang akan menjadi pembuka untuk menikmati cewek itu, sedang yang lain tunggu giliran sesuai dengan tingkatan.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Mana boleh jadi,&amp;quot; protes lelaki itu lagi, &amp;quot;coba kau lihat nona itu, dia begitu lembut dan lemah, belum tiba giliranku mungkin dia sudah telanjur mampus duluan. Tadi ketika melancarkan sergapan, aku yang bekerja duluan, apa salahnya kalau sekarang aku pun mencicipinya paling dulu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Gelak tawa mengejek segera bergema gegap gempita. Kembali seseorang menjengek, &amp;quot;Siapa suruh kau tidak jadi pemimpin kami?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Betul, siapa suruh posisimu paling buncit,&amp;quot; sambung yang lain, &amp;quot;kalau masih dapat giliran, anggap saja kau sangat beruntung karena menemukan mestika di tengah jalan, kalau tak dapat giliran, anggap saja bukan keberuntunganmu!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Tidak, tidak,&amp;quot; seseorang yang lain berseru pula, &amp;quot;aku lihat cewek ini makin dipandang semakin menawan, aku lebih suka tidak menerima emas dan intan permata ketimbang tak bisa menikmati kehangatan tubuh cewek ini.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Begini saja,&amp;quot; seorang lelaki mengusulkan, &amp;quot;daripada saling berebut, mendingan kita undi, siapa yang mendapat nomor keberuntungan dialah yang boleh menikmati perempuan itu lebih dulu. Tergantung rezeki masing-masing, ini merupakan cara penyelesaian yang paling adil.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku setuju. Seandainya tidak mendapat cewek itupun masih ada beberapa orang dayang, mendingan dapat yang lain ketimbang tidur sendirian.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Bagus, bagus sekali!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku tidak setuju,&amp;quot; sela orang yang disebut Ci-lotoa itu cepat, &amp;quot;sekalipun tidak menuruti urutan posisi, paling tidak harus diatur menurut urutan tua muda, aku rasa siapa yang usianya paling tua, dia boleh mengambil undian terlebih dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Sudah, kita tak perlu ribut, mendingan kita minta nona ini yang memilih sendiri, siapa yang terpilih maka dialah yang berhak menemaninya tidur, bagaimana? Setuju bukan?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Setuju, setuju ...!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Maka ada enam orang lelaki kekar yang maju mengerubuti gadis itu, sambil mendekat mereka berteriak keras, &amp;quot;Nona, coba lihat aku tampan tidak?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Aku yang paling hebat, pilih aku saja nona manis!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Jangan pilih dia, orang itu tak punya hati nurani, pilih aku saja ...!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Biarpun dikerubut banyak lelaki, gadis itu tidak nampak ketakutan, dengan matanya yang jeli dia mengawasi sekejap wajah kawanan penyamun itu, kemudian ujarnya halus, &amp;quot;Selama ini aku paling mengagumi orang gagah, tunjukkan dulu kemampuan kalian, siapa yang berilmu paling tangguh, dialah seorang &lt;i&gt;Enghiong&lt;/i&gt;.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui yang bersembunyi di luar ruangan diam-diam bersorak memuji, dia tidak menyangka kalau gadis cantik itu masih bisa bersikap tenang, kendati sudah terjerumus dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Baiklah, mau bertanding juga boleh,&amp;quot; teriak Lo-sim cepat, &amp;quot;memangnya aku takut mengadu kepandaian ...?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tiba-tiba Ci-lotoa menghampiri lelaki itu dan menempelengnya sambil mengumpat, &amp;quot;Kalian semua memang goblok, gentong nasi, masa kamu semua tidak sadar kalau perempuan berhati keji ini sedang mengadu domba kita semua?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kenapa?&amp;quot; kembali gadis itu mengejek, &amp;quot;mengadu domba? Aku hanya seorang wanita lemah, sementara pengiringku kalau bukan sudah mati, sebagian sudah tak mampu bergerak, memangnya kalian masih takut terhadapku? Karena kulihat semua gagah dan hebat, maka aku menaruh hormat dan kagum atas keberanian kalian, ingin kulihat sejauh mana kehebatan kungfu kalian, sejak kapan aku menyuruh kalian saling membunuh? Tapi ... ya, sudahlah, kalau memang takut, tentu saja kalian tak perlu bertanding, biarkan saja yang menjadi Lotoa mendapat keuntungan terlebih dulu.&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lelaki yang melontarkan usul tadi segera berseru, &amp;quot;Betul, siapa pun tak boleh memperoleh keuntungan hanya karena kedudukan! Maknya sialan, siapa yang tak berani bertanding, lebih baik menyingkir jauh-jauh, kita mesti tentukan menang kalah dengan mengandalkan tinju masing-masing, jangan tunjukkan kelemahan kita di hadapan seorang perempuan!&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Rekan-rekannya segera mendukung usul itu, maka suasana pun jadi gaduh, tampaknya pertarungan segera akan dim lai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Pek Jau-hui yang menyaksikan kejadian itu kembali berpikir, &amp;quot;Baguslah kalau begitu, akan kusaksikan dulu dengan cara apa perempuan lemah ini membereskan kawanan penyamun yang berotot namun tak berotak itu?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Baru berpikir sampai di situ, mendadak dari sisi tubuhnya terdengar seorang menghardik, &amp;quot;Siapa kau?&amp;quot;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Diam-diam Pek Jau-hui mengeluh, karena kelewat kesemsem menyaksikan peristiwa yang terjadi dalam ruang perahu, dia sampai lupa posisi sendiri yang sedang mengintip, baginya kejadian semacam ini boleh dibilang baru terjadi untuk pertama kalinya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu orang itu menghardik dan belum sempat melakukan sesuatu tindakan, Pek Jau-hui sudah menerjang ke hadapannya, sekali sambar ia cengkeram tulang tenggorokan orang itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&amp;quot;Kraaak!&amp;quot;, sekali remas ia gencet tulang tenggorokan orang itu hingga hancur.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dari dalam ruangan perahu bermunculan lima sosok bayangan, mereka saksikan ada sesosok bayangan manusia terlempar ke udara dan tercebur ke tengah sungai.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menghadapi datangnya kelima orang itu, Pek Jau-hui sama sekali tidak bersuara, apalagi bicara, dengan gerak cepat ia menghampiri seorang di antaranya dan langsung menyodok keningnya dengan satu tonjokan maut.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Jeritan ngeri yang menyayat hati seketika bergema memecah keheningan, suara jeritan inilah yang didengar Ong Siau-sik dan Un Ji dari atas perahunya.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Menanti mereka berdua tiba di atas perahu besar, dari ketujuh orang penyamun itu, ada lima orang di antaranya yang sudah tewas di tangan Pek Jau-hui dan mayatnya dilempar ke dalam sungai, bahkan salah seorang di antaranya masih dicengkeram pemuda itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Sisanya yang seorang sebetulnya bertugas menjaga gadis itu dalam ruang perahu, ketika terjadi pertarungan sengit di atas geladak, orang itu segera menjulurkan kepalanya keluar jendela, niatnya ingin melihat keadaan di luar.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu menyaksikan lelaki itu sedang menjulurkan kepala keluar jendela, si nona cantik segera menyambar sebatang bambu kemudian dihantamkan ke atas kepala lelaki itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Tatkala sang penyamun menarik kembali kepalanya dengan gelagapan, mendadak gadis cantik itu melolos sebilah golok tajam dari balik sakunya dan langsung dihujamkan ke hulu hati penyamun itu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Begitu berhasil menyarangkan goloknya, dengan wajah pucat-pias gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Penyamun itu menjerit kesakitan, belum sempat mengucapkan sesuatu, nyawanya sudah telanjur melayang meninggalkan raganya, sungguh mengenaskan nasib orang ini, dia harus mengakhiri nyawanya di tangan seorang gadis yang sama sekali tak mengerti ilmu silat.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Waktu itulah Pek Jau-hui sambil mencengkeram Ci-lotoa memburu masuk ke dalam, sementara Ong Siau-sik dan Un Ji juga telah melompat naik ke atas perahu.&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;ooOOoo&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bersambung ke bagian 09&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Golok Kelembutan: &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-01-manusia-yang-tak.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;01&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-02-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;02&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-03-orang-ketiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;03&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-04-siapakah-dia.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;04&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-05-orang-membunuh.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;05&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2011/11/golok-kelembutan-06-secawan-arak-tiga.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;06&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | &lt;/strong&gt;&lt;a href=&quot;http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-07-manusia-dalam.html&quot;&gt;&lt;strong&gt;07&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; | 08&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  </description><link>http://tempat-baca.blogspot.com/2012/05/golok-kelembutan-08-perempuan-cantik-di.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjyX_TUGYm63w6vP3XNRivKUKzreyLNNKfjtujQe_eT9O711qZtzGKKwKG5ViGSaCBMGJGJlNBRWFaLz3SMvH8gzWkVSQK5efKWyxIyl1X1Wgpbp5Q08lgkzVeTNLvW2LMa7Dn8J_YfQ7I/s72-c/golok-kelembutan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>